<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-26468452</atom:id><lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 04:38:13 +0000</lastBuildDate><category>Ekonomi</category><category>gay</category><category>Kota</category><category>Research</category><category>perempuan</category><category>Kemiskinan</category><category>puisi</category><category>petani</category><category>kesehatan</category><category>Kebijakan</category><category>Investment</category><category>Jakarta</category><category>Nusa Tenggara Timur</category><category>foto berita</category><category>Konflik</category><category>buruh migran</category><category>tanggapan masyarakat</category><category>masyarakat adat</category><category>Jember</category><category>Today Online</category><category>Malaysia</category><category>budaya</category><category>Mining</category><category>Human trafficking</category><category>Civil society</category><category>Kekerasan</category><category>politik</category><category>Liberalisasi</category><category>ID-Card</category><category>The Institute for Ecosoc Rights</category><category>Penggusuran</category><category>Leadership</category><category>Singapore</category><category>Indonesia</category><category>Gizi Buruk</category><category>gaya hidup</category><category>pemerintah</category><category>Publikasi</category><category>daerah</category><category>korupsi</category><category>Reform</category><category>hukum</category><category>Aku bertanya ..</category><category>lingkungan</category><category>Thailand</category><category>English-version</category><category>busung lapar</category><title>The Institute for Ecosoc Rights</title><description /><link>http://ecosocrights.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (The Institute for Ecosoc Rights)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>213</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/TheInstituteForEcosocRights" /><feedburner:info uri="theinstituteforecosocrights" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>TheInstituteForEcosocRights</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-5871825805950435712</guid><pubDate>Wed, 09 Nov 2011 09:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-09T16:06:27.713+07:00</atom:updated><title>Percaya Diri Cara SBY</title><description>&lt;strong&gt;Sri Palupi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/--bfUVV6P598/TrpCZRSOFrI/AAAAAAAAAis/X-pyE2_vafY/s1600/0955427p.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="483" src="http://3.bp.blogspot.com/--bfUVV6P598/TrpCZRSOFrI/AAAAAAAAAis/X-pyE2_vafY/s640/0955427p.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi Kompas&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Dalam 
pidatonya di Perancis, 2 November lalu, Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono menyatakan bahwa persoalan yang terjadi di Eropa melibatkan 
adanya tren penurunan kepercayaan diri. Oleh karena itu, ia menyarankan 
agar Eropa belajar percaya diri kepada Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut SBY, 
model demokrasi Indonesia yang merespons beragam aspirasi dari berbagai 
kalangan di Indonesia membuat Indonesia mampu menemukan kepercayaan diri
 untuk keluar dari krisis.&lt;br /&gt;
Pertanyaan saya, di manakah lokus 
kepercayaan diri yang dimaksudkan Presiden SBY? Saya yakin, kalaupun ada
 kepercayaan diri, lokusnya bukanlah pada pemerintahan SBY dan para 
elite sekarang. Sebab, pada para elite dan pemerintahan SBY yang sarat 
skandal bukan fenomena kepercayaan diri yang saya temukan, melainkan 
raibnya rasa malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Raibnya rasa malu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa
 yang disebut Presiden SBY sebagai demokrasi yang merespons aspirasi 
dari berbagai kalangan pada praktiknya adalah demokrasi uang yang 
responsif terhadap kepentingan para pejabat, pengusaha, dan elite 
politik. Demokrasi tak lebih sebagai alat untuk menjarah aset ekonomi 
dan anggaran negara.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sistem demokrasi seperti itu pemerintah
 bisa dengan mudah mengeluarkan ratusan triliun rupiah untuk menyubsidi 
korporasi dan perbankan yang bangkrut, tetapi terus merasa terbebani 
oleh subsidi bagi rakyat kecil meski nilainya jauh lebih kecil daripada 
subsidi untuk korporasi. Tidak heran kalau kesenjangan sosial di era 
pemerintahan SBY semakin merisaukan. Prakarsa mencatat, 40 orang terkaya
 di Indonesia memiliki aset setara dengan aset 60 juta penduduk paling 
miskin, dengan nilai sekitar Rp 680 triliun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang disebut 
Presiden SBY sebagai kepercayaan diri sesungguhnya adalah raibnya rasa 
malu. Meskipun kebijakan pemerintah telah banyak berpihak pada 
kepentingan pejabat, pengusaha, dan elite politik, mereka tak pernah 
merasa cukup. Korupsi pun menjadi solusi. Hasil survei PERC Hongkong dan
 Transparansi Internasional Jerman, tahun 2010, menempatkan Indonesia 
sebagai negara terkorup se-Asia Pasifik. Indonesia juga masuk dalam 
daftar empat besar negara yang pebisnisnya punya hobi menyuap.&lt;br /&gt;
Maraknya
 korupsi di era pemerintahan SBY mengindikasikan korupsi bukan lagi 
kejahatan yang memalukan. Sistem pencitraan yang dijalankan pemerintahan
 SBY sudah dilengkapi dengan mekanisme untuk menutupi aib para koruptor.
 Terbukti banyak koruptor yang divonis bebas, yang terpilih jadi pejabat
 atau kepala daerah, dan kalaupun ada yang masuk penjara, mereka bisa 
dengan mudah mendapat remisi dan jalan-jalan ke luar negeri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sistem
 pencitraan yang mengikis budaya malu membuat pemerintahan SBY bukan 
hanya suka mengumbar janji, melainkan juga menyembunyikan masalah di 
belakang angka-angka statistik. Dalam lima tahun terakhir, pemerintahan 
SBY menaikkan anggaran belanja sangat besar dari Rp 400 triliun menjadi 
Rp 1.200 triliun. Namun apa hasilnya? Peringkat Indonesia dalam Indeks 
Pembangunan Pendidikan untuk Semua di tahun 2011 turun dari posisi ke-65
 di tahun 2010 menjadi peringkat ke-69 dari 127 negara. Salah satunya 
disebabkan tingginya angka putus sekolah di jenjang sekolah dasar. 
Tercatat sebanyak 527.850 anak SD putus sekolah setiap tahunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peringkat
 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia juga merosot tajam, dari 
posisi ke-108 (dari 169 negara) menjadi peringkat ke-124 (dari 187 
negara). Ironisnya, IPM Indonesia merosot justru di bidang pendidikan, 
yang mendapatkan kucuran dana paling besar dari Anggaran Pendapatan dan 
Belanja Negara. Bukan hanya IPM yang merosot, bahkan ada yang mulai 
menyebut Indonesia sebagai negara gelandangan karena Indonesia termasuk 
dalam lima negara dengan jumlah gelandangan terbanyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Krisis kepercayaan diri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sistem
 pemerintahan korup dengan kebijakan yang bias ke kalangan atas telah 
melahirkan demikian banyak orang kaya baru di pusat dan daerah. Mereka 
ini cenderung menganut budaya komprador alias suka sekali dengan 
berbagai hal yang berbau luar negeri dan meninggalkan selera Indonesia. 
Ini bisa dilihat, salah satunya, dari maraknya bangunan berciri 
internasional dan hilangnya karakter lokal dalam banyak kota di 
Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tengoklah Surabaya, misalnya, yang membangun kawasan 
”Singapore of Surabaya”, lengkap dengan rumah-rumah banglo berpagar 
tinggi dan patung singa putih yang menjadi ikonnya. Hal serupa ditemukan
 di kota-kota lain. Sungguh memilukan, bangsa sebesar Indonesia malah 
memilih bermimpi untuk menjadi seperti Singapura. Bukankah ini pertanda 
krisis kepercayaan diri? Mengapa bangsa sebesar Indonesia tidak bermimpi
 menjadi Indonesia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah maraknya korupsi yang menciptakan 
krisis identitas dan kepercayaan diri, masih ada harapan untuk menjadi 
Indonesia, sebab masih banyak warga yang terus bekerja menggalang 
solidaritas dan memperjuangkan agar Indonesia tidak menjadi mitos. 
Sekarang ini bermunculan berbagai inisiatif yang dibuat 
komunitas-komunitas lokal untuk membangun kembali solidaritas dan 
kepercayaan diri sebagai bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam komunitas tenaga kerja 
Indonesia, misalnya, yang oleh para pejabat di Kementerian Luar Negeri 
dipandang sebagai perusak citra Indonesia—dan oleh Kepala Badan Nasional
 Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dianggap 
sebagai kelompok menjijikkan karena meninggalkan anak-anak mereka demi 
bekerja di luar negeri—muncul berbagai inisiatif untuk memberdayakan 
komunitas dengan cara membangun organisasi, menumbuhkan koperasi, 
menghidupkan pasar desa, dan bahkan membuat sekolah bagi anak-anak TKI. 
Mereka bergotong-royong untuk meringankan beban warga desa yang terimpit
 kemiskinan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kalangan petani muncul berbagai inisiatif untuk 
meningkatkan kepercayaan diri petani yang terus mendapatkan tekanan oleh
 maraknya produk impor. Bahkan ada petani yang, meskipun tidak lulus SD,
 punya kepercayaan diri untuk melakukan berbagai percobaan hingga 
berhasil mengembangkan benih unggul dari varietas lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Papua,
 di mana sekolah-sekolah tingkat dasar ditelantarkan, muncul berbagai 
inisiatif untuk menjaga keberlangsungan proses belajar-mengajar. Bahkan 
ada kelompok guru SD di sana yang rela memotong gajinya sendiri untuk 
membayar guru honorer demi mengatasi kurangnya tenaga guru.&lt;br /&gt;
Akhir 
kata, di tengah raibnya rasa malu di kalangan pejabat dan elite politik,
 tetap masih ada secercah harapan yang ditularkan oleh warga yang terus 
bekerja menggalang solidaritas dan memperjuangkan agar Indonesia tak 
berubah jadi mitos. Inisiatif itu datang dari komunitas-komunitas lokal 
untuk membangun kembali solidaritas dan kepercayaan diri kita sebagai 
bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sri Palupi &lt;em&gt;Ketua Institute for Ecosoc Rights&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;Sumber Opini Kompas Cetak edisi Rabu 9 November 2011&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h6&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/h6&gt;
&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-5871825805950435712?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DxcyWNEkU5pImRPNuqOgs89cXtg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DxcyWNEkU5pImRPNuqOgs89cXtg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DxcyWNEkU5pImRPNuqOgs89cXtg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DxcyWNEkU5pImRPNuqOgs89cXtg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/sGQbkVE4F7c/percaya-diri-cara-sby.html</link><author>noreply@blogger.com (Chelluz Pahun)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/--bfUVV6P598/TrpCZRSOFrI/AAAAAAAAAis/X-pyE2_vafY/s72-c/0955427p.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2011/11/percaya-diri-cara-sby.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-6192022901805832889</guid><pubDate>Fri, 14 Oct 2011 15:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-14T22:18:17.243+07:00</atom:updated><title>Anu Beta Tubat:  Pelajaran dari Maybrat</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;S&lt;/span&gt;ejak pendidikan menjadi komoditi yang diperdagangkan dan lembaga
pendidikan beralih fungsi dari lembaga sosial menjadi lembaga komersial,
pendidikan – apalagi pendidikan bermutu – semakin jauh dari jangkauan kelompok
miskin. Kian mahalnya biaya pendidikan membuat keluarga miskin seringkali harus
menyerah betapapun anak-anak mereka berprestasi. Bahkan sekadar&amp;nbsp; bermimpi dapat menyekolahkan anak hanya setingkat
SMA saja mereka tak berani lagi. Anak-anak pun mereka paksa untuk&amp;nbsp; menanggalkan mimpi sejak dini. &lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Ada anak lulusan SMP yang berprestasi – bahkan pernah
mengikuti olimpiade sains di daerahnya – terpaksa menjadi TKI karena orang tua
tak mampu lagi membiayai pendidikannya. Ada
lagi anak dari keluarga miskin yang nekat mengikuti tes dan diterima di
perguruan tinggi negeri terpaksa mengundurkan diri karena bapaknya yang hanya
buruh tani tak mampu membiayai. Rasa frustasi mendorongnya lari ke luar negeri
menjadi TKI. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Rupanya di negeri ini tengah berlangsung proses pemiskinan yang jauh
lebih buruk dari yang kita bayangkan. Dulu meskipun miskin, orang tua dan
anak-anak dari keluarga miskin masih berani bermimpi. Sebab dulu masih terbuka peluang
bagi anak-anak keluarga miskin untuk mewujudkan mimpinya. Tidak heran kalau
dulu banyak anak dari keluarga miskin berhasil meraih pendidikan tinggi. Tapi
sekarang sekadar bermimpi bisa menyekolahkan anak sampai SMA saja mereka sudah
tidak berani. Realitas di sekeliling mereka mengajarkan, anak-anak miskin yang nekat
menerobos masuk ke jenjang SMA berakhir dengan putus sekolah.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Fenomena tidak biasa terkait kemiskinan dan akses atas pendidikan kami
temukan di&amp;nbsp; pedalaman Papua, tepatnya di
Kabupaten Maybrat. Di kalangan masyarakat Papua, &amp;nbsp;Maybrat dikenal sebagai daerah yang banyak
warganya jadi sarjana. Bahkan tidak sedikit pejabat tinggi di kabupaten lain di
Papua berasal dari Maybrat. Padahal kondisi warga di Kabupaten Maybrat ini sama
miskinnya dengan warga di Kabupaten lain. Meskipun miskin, semangat masyarakat
Maybrat untuk memperoleh pendidikan sangatlah tinggi. Bahkan pendidikan mereka tempatkan
sebagai dasar sejak sebelum ada pemerintahan di Maybrat. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Apa yang membedakan Maybrat dengan masyarakat lain di Papua? Mengapa
banyak sarjana dihasilkan dari daerah ini? Apa yang membuat masyarakat Maybrat
punya animo tinggi terhadap pendidikan? Pertanyaan ini muncul ketika data yang
kami kumpulkan dari keluarga miskin di kampung-kampung menunjukkan, banyak keluarga
miskin di Maybrat menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke jenjang perguruan
tinggi. Tidak sedikit anak dari keluarga miskin di daerah ini mampu
menyelesaikan pendidikan tinggi. Bahkan tidak sedikit pula yang mengirimkan
anak-anak mereka menempuh pendidikan tinggi di Jawa. Jawaban atas pertanyaan
itu kami temukan dalam diskusi bersama komunitas-komunitas kampung di Kabupaten
Maybrat. Meski berbeda kadarnya, ada semacam spirit gotong royong yang berlaku umum
dan dipelihara oleh masyarakat kampung di Maybrat.&amp;nbsp; Spirit gotong royong ini dalam bahasa
setempat disebut “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;anu beta tubat”&lt;/i&gt;,
yang artinya bersama kami mengangkat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-GcGNfTulubI/TpfAp03wRDI/AAAAAAAAAOI/oVNNpNZMqEw/s1600/Diskusi+dengan+warga+kampung+seiya.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="227" src="http://2.bp.blogspot.com/-GcGNfTulubI/TpfAp03wRDI/AAAAAAAAAOI/oVNNpNZMqEw/s400/Diskusi+dengan+warga+kampung+seiya.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Diskusi pendidikan bersama warga kampung Seiya&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Spirit &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;anu beta tubat&lt;/i&gt; itulah yang
rupanya menyatukan masyarakat Maybrat untuk menempatkan pendidikan sebagai
prioritas. Ibarat lidi yang bila disatukan sulit untuk dipatahkan, demikian
pula dengan kekuatan spirit &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;anu beta
tubat&lt;/i&gt; bagi keluarga-keluarga miskin di Maybrat. Betapapun miskin, mereka
tidak menyerah dan bahkan gigih dalam memperjuangkan pendidikan anak-anak mereka
sampai ke tingkat tinggi. Berbagai hambatan dalam mengakses pendidikan mereka
atasi bersama. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Spirit &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;anu beta tubat&lt;/i&gt; ini semakin
menguat setelah masyarakat sendiri memetik dan merasakan buahnya. Setelah melihat
perubahan positif pada karakter anak-anak mereka yang mendapatkan pendidikan, para
orang tua tidak ragu lagi mengirimkan anaknya ke sekolah. Terlebih setelah mereka
melihat, anak-anak yang berpendidikan itu &amp;nbsp;mudah memperoleh pekerjaan atau mendapatkan posisi
di pemerintahan, masyarakat &amp;nbsp;berlomba
untuk menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke tingkat tinggi. Mereka bergotong
royong membiayai pendidikan anak dan berjibaku bersama mengangkat anak-anak
mereka agar dapat mengakses pendidikan yang lebih baik. Padahal dulu, untuk
mengirimkan anak ke sekolah saja para orang tua harus didorong-dorong dan
dipaksa-paksa. Kini, pendidikan mereka tempatkan sebagai prioritas dan spirit &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;anu beta tubat&lt;/i&gt; menjadi kekuatan untuk
mengatasi berbagai hambatan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Xu5rl1bK97o/TpfBZBsgkXI/AAAAAAAAAOQ/6dwYBkdWfGQ/s1600/Kayu+untuk+guru.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="298" src="http://4.bp.blogspot.com/-Xu5rl1bK97o/TpfBZBsgkXI/AAAAAAAAAOQ/6dwYBkdWfGQ/s400/Kayu+untuk+guru.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Kayu untuk guru&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Spirit gotong royong untuk mengakses pendidikan itu bisa ditemukan di
kampung-kampung dan di berbagai tingkatan pendidikan. Pada tingkatan sekolah
dasar, spirit itu mewujud dalam upaya masyarakat untuk menjaga keberlangsungan
pendidikan dasar di kampung mereka. Untuk membuat guru betah mengajar di
kampung, misalnya, mereka bergotong royong membuatkan kebun untuk guru, membangun
tempat tinggal guru, dan menyokong bahan makanan bagi guru yang baru
ditempatkan di kampung mereka. Agar proses belajar mengajar dapat berjalan
lancar, masyarakat juga bergotong yorong untuk membangun atau memperbaiki
bangunan sekolah, membantu pengadaan mebel untuk sekolah, membayar gaji guru
honorer, membeli buku-buku pelajaran untuk pegangan siswa, membantu membiayai
pelaksanaan ujian dan lainnya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-L5PbJl3VWSo/TpfNpDjtR2I/AAAAAAAAAPg/tSEUfP3ZKaM/s1600/Ambil+air+utk+guru.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="298" src="http://3.bp.blogspot.com/-L5PbJl3VWSo/TpfNpDjtR2I/AAAAAAAAAPg/tSEUfP3ZKaM/s400/Ambil+air+utk+guru.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Gotong royong ambil air untuk guru&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi, baik SMP atau SMA,
kebanyakan anak kampung di daerah Maybrat harus keluar dari kampung mereka dan sekolah
di kota kecamatan, di kecamatan lain, di kota kabupaten atau di kota provinsi. Mereka tinggal di asrama atau menumpang
pada keluarga-keluarga di kota.
Untuk bisa melanjutkan ke SMP atau SMA, orang tua harus mengeluarkan biaya yang
tidak sedikit. Baru tingkat SMP saja orang tua sudah merasakan sulitnya
membiayai pendidikan anak. Setiap bulan mereka harus mengirimkan uang tunai.
Padahal penghasilan mereka sebagai petani tidaklah menentu. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Untuk mendukung para keluarga yang anak-anaknya menempuh pendidikan di
tingkat SMP dan SMA, masyarakat kampung melakukan berbagai upaya. Salah satunya
adalah membangun asrama atau rumah tinggal bersama bagi anak-anak yang
bersekolah di kota.
Setiap kampung bergotong royong membangun rumah tinggal atau asrama sendiri dan
bersama pula membiayainya. Salah satu atau beberapa warga ditunjuk untuk mengurus
asrama dan mengawasi anak-anak dalam belajar. Biasanya yang mendapatkan
tanggung jawab mengurus asrama atau tempat tinggal bersama ini adalah warga
yang tinggal di kota
atau yang tinggal tak jauh dari sekolah. Sistem “asrama” atau “rumah tinggal
bersama” ini sangat membantu para orang tua yang tidak memiliki keluarga di kota. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-RWv8_kooxzw/TpfBwE3W7YI/AAAAAAAAAOY/oHSt14GlN54/s1600/Mengantar+sayur+utk+guru.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="298" src="http://4.bp.blogspot.com/-RWv8_kooxzw/TpfBwE3W7YI/AAAAAAAAAOY/oHSt14GlN54/s400/Mengantar+sayur+utk+guru.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sayur untuk guru&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-yt6PzwjZ_YE/TpfNf3VUfyI/AAAAAAAAAPY/KOHk81bVDgw/s1600/Air+utk+guru.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="298" src="http://3.bp.blogspot.com/-yt6PzwjZ_YE/TpfNf3VUfyI/AAAAAAAAAPY/KOHk81bVDgw/s400/Air+utk+guru.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Air untuk guru&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Pada tingkat perguruan tinggi, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;anu
beta tubat&lt;/i&gt; diwujudkan dalam bentuk dukungan untuk meringankan beban biaya
pendidikan yang ditanggung orang tua. Bagi orang tua yang anaknya masih bersekolah
di SMP dan SMA, biaya pendidikan kebanyakan mereka sendiri&amp;nbsp; yang menanggungnya. Sementara biaya hidup
anak selama belajar di kota, dibantu oleh masyarakat
kampung atau dibantu oleh keluarga yang tinggal di kota. Namun ketika anak-anak mereka
melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, orang tua mendapatkan dukungan biaya
pendidikan dari masyarakat. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Bentuk dukungan yang diberikan masyarakat kampung bagi keluarga yang
anaknya menempuh pendidikan tinggi bermacam-macam. Ada masyarakat kampung yang bergotong royong
menanggung biaya pendaftaran, ada pula yang menanggung biaya pembelian sarana
prasarana, seperti komputer, membantu membayar biaya skripsi, biaya wisuda, dan
lainnya. Dukungan paling besar kebanyakan datang dari keluarga besar para orang
tua masing-masing, baik dari pihak suami maupun istri. Keluarga besar bergotong
royong untuk menanggung sebagian (besar) biaya pendidikan anak yang belajar di
perguruan tinggi.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Spirit gotong royong itulah yang pada akhirnya memberi peluang bagi anak-anak&amp;nbsp; keluarga miskin di Maybrat untuk mengakses
pendidikan tinggi. Anak-anak yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi,
akan menjadi kekuatan dan modal bagi masyarakat kampung dalam menjalankan dan
memperkuat spirit &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;anu beta tubat&lt;/i&gt;.
Apalagi kalau anak-anak itu mendapatkan pekerjaan yang baik atau posisi di
pemerintahan. Mereka punya tanggung jawab lebih dalam mengangkat anak-anak yang
lain. Kalau tanggung jawab itu tidak mereka jalankan, masyarakat akan menempatkan
mereka dalam barisan orang-orang yang tidak berguna. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JoiYt3LyYF8/TpfB1P_W85I/AAAAAAAAAOg/FYogITkfL2w/s1600/Pertemuan+warga+dan+guru.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="239" src="http://2.bp.blogspot.com/-JoiYt3LyYF8/TpfB1P_W85I/AAAAAAAAAOg/FYogITkfL2w/s320/Pertemuan+warga+dan+guru.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pesta perpisahan untuk guru&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Meskipun kami baru sekilas mengenal masyarakat
Maybrat, namun perjumpaan yang sekilas itu sungguh memberikan banyak pelajaran bagi
kami yang tengah mendalami pendidikan dari sudut pandang hak asasi. Spirit &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;anu beta tubat&lt;/i&gt; memberi inspirasi tentang
bagaimana kemiskinan dan lemahnya akses kaum miskin atas pendidikan dapat
diatasi. Di saat negara tidak lagi menempatkan pendidikan sebagai hak asasi dan
karenanya pemerintah kurang serius dalam menjalankan komitmen untuk mewujudkan
pendidikan bagi semua, masyarakat dapat bahu membahu mengembalikan pendidikan
sebagai prioritas. Di saat negara kehilangan daya dalam memenuhi hak warga atas
pendidikan, masyarakat dapat berjibaku untuk secara bersama mencerdaskan
kehidupan bangsa. Kehidupan bangsa yang cerdas tidak akan dapat dicapai selama
kaum miskin masih sulit mengakses pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Kami membayangkan akan banyaknya kemajuan yang bisa kita capai sebagai
bangsa seandainya satu warga yang mampu secara ekonomi berkomitmen
menyekolahkan satu anak keluarga miskin. Kami yakin, sumberdaya warga yang
terbatas apabila disatukan akan menjadi kekuatan yang dapat mengembalikan bangsa
ini sebagai bangsa yang punya masa depan. Masyarakat Maybrat di Papua Barat
telah membuktikannya. *** &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-6192022901805832889?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/le6W-loQ_E4BpWUhqL2m9OcomeE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/le6W-loQ_E4BpWUhqL2m9OcomeE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/le6W-loQ_E4BpWUhqL2m9OcomeE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/le6W-loQ_E4BpWUhqL2m9OcomeE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/iakg5Jn-qaQ/anu-beta-tubat-pelajaran-dari-maybrat_14.html</link><author>noreply@blogger.com (Chelluz Pahun)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-GcGNfTulubI/TpfAp03wRDI/AAAAAAAAAOI/oVNNpNZMqEw/s72-c/Diskusi+dengan+warga+kampung+seiya.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2011/10/anu-beta-tubat-pelajaran-dari-maybrat_14.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-3889299779737582054</guid><pubDate>Fri, 14 Oct 2011 15:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-14T22:20:38.858+07:00</atom:updated><title>“Kalau Bukan Kami Siapa Lagi?”:  Kisah Guru SD di Pedalaman</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;Y&lt;/span&gt;ang namanya guru mangkir, tidak menjalankan
kewajibannya sebagai guru alias&amp;nbsp; libur
panjang tidak mengajar itu sudah jamak terjadi di sekolah dasar di Papua. Tidak
heran kalau banyak anak lulusan SD di Papua tidak tahu membaca, menulis dan
berhitung dengan baik. Di tengah fenomena guru mangkir, memang tidak mudah
menemukan sosok guru yang bisa jadi panutan. Tapi bukan berarti di sana tidak ada lagi guru yang
punya dedikasi terhadap profesinya. &amp;nbsp;Meski
sedikit jumlahnya, kita masih bisa temukan guru yang punya motivasi kuat menjadi
guru bukan sekadar untuk mendapatkan pekerjaan tetapi demi mendidik anak-anak.
Salah satu dari yang sedikit itu adalah Antonia Korain, guru sekaligus kepala
sekolah SD di Kampung Mosun, Distrik Aifat Utara, Kabupaten Maybrat, Papua
Barat. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-dCGEuOycUG4/TpfLCLILEGI/AAAAAAAAAOw/SZper47KlZg/s1600/Antonia+di+rumah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-dCGEuOycUG4/TpfLCLILEGI/AAAAAAAAAOw/SZper47KlZg/s400/Antonia+di+rumah.jpg" width="298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Antonia Korain&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Antonia Korain, 42 tahun, ibu tiga anak yang
lahir dan besar di kampung Mosun ini sejak kecil memang sudah bercita-cita
menjadi guru. Alasannya, sekolah di kampungnya kekurangan guru. Lebih dari itu,
ia ingin menjadi guru bukan sekadar untuk mendidik anak-anak tetapi juga
mendidik anak-anak supaya mau menjadi guru. “Bayangkan, kalau tidak ada lagi
yang mau menjadi guru, akan jadi apa bangsa ini”, katanya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Tekad kuatnya untuk menjadi guru itulah yang
membuatnya menolak beasiswa untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Kesukaannya
mengajar memantapkan pilihannya untuk melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG).
Sebelum diangkat menjadi kepala sekolah SD pada tahun 2008, ia sudah 20 tahun mengajar
di sekolah pedalaman. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Setelah membaca suka duka Antonia dalam
menjalani profesinya sebagai guru SD di pedalaman, anda akan sependapat dengan kami,
yaitu bahwa Antonia Korain adalah seorang guru istimewa. Simaklah kisahnya
berikut ini. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Sulitnya Jadi Guru di Pedalaman &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
“Kehidupan guru di pedalaman sangat sulit. Saya sendiri merasakan
bagaimana sulitnya jadi guru di pedalaman. Gaji dan fasilitas sangat minim, bahkan
tidak mencukupi untuk hidup di pedalaman yang semuanya serba mahal. Bayangkan,
untuk beli beras saja setiap bulan saya harus keluarkan Rp 300.000 untuk 40 kg
beras.&amp;nbsp; Padahal gaji saya hanya Rp 2 juta.
Belum lagi gaji sering terlambat. &amp;nbsp;Uang
lauk pauk dan insentif sudah lama tidak kami terima. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Karena gaji tidak mencukupi, saya harus cari usaha lain. Salah satunya
adalah berkebun. Dengan berkebun, selain menghemat pengeluaran juga menambah
penghasilan. Suami saya yang petani, sehari-hari kerjanya berkebun dan juga berburu.
Hasil buruan dijual untuk menambah penghasilan. Dengan gaji yang pas-pasan,
saya dan keluarga hidup apa adanya, tidak bermimpi yang muluk-muluk. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-GgsCsca5XJg/TpfKTE6p5OI/AAAAAAAAAOo/Pjnh7JEP9wI/s1600/Antonia+di+depan+para+murid.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="298" src="http://3.bp.blogspot.com/-GgsCsca5XJg/TpfKTE6p5OI/AAAAAAAAAOo/Pjnh7JEP9wI/s400/Antonia+di+depan+para+murid.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Antonia Korain di depan murid&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Di pedalaman tidak ada listrik dan tidak ada buku. Ini membuat guru kesulitan
untuk menyiapkan bahan mengajar. Keinginan saya sendiri untuk menambah wawasan
dalam mengajar terbentur oleh ketiadaan buku. Selain itu kerja kebun juga menyita
waktu dan melelahkan. Untunglah pengalaman selama bertahun-tahun mengajar
membantu saya untuk cepat menguasai materi pelajaran. Apalagi di sekolah saya bertugas
mengajar anak-anak kelas 1-3, yang tidak bisa dilimpahkan pada guru-guru muda. Mengajar
kelas 1-3 jauh lebih sulit daripada mengajar kelas 4-6. Makanya target saya
dalam mengajar anak-anak kelas 1-3 tidak muluk. Asalkan murid saya sudah bisa
membaca, saya sudah senang. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Saya memang hanya seorang guru SD dan suami saya petani. Tetapi saya punya
cita-cita tinggi untuk masa depan anak-anak saya. Saya ingin anak-anak bisa
sekolah sampai universitas. Terhadap anak tertua saya punya harapan, ia
bisa&amp;nbsp; melanjutkan kuliah di pertanian
agar kelak bisa membantu masyarakat mengembangkan pertanian.&amp;nbsp; Saya prihatin dengan masyarakat di sini yang
bertani dengan cara tebang bakar. Terhadap anak kedua saya punya harapan, ia
mau menjadi guru agar kelak bisa menggantikan saya mengajar anak-anak di
kampung. Terhadap anak ketiga suami saya punya keinginan, ia bisa menjadi
dokter atau pilot yang kelak bisa jadi kebanggaan masyarakat kampung. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Saya sendiri belum tahu bagaimana nanti membiayai anak-anak kuliah.
Sebab kalau hanya mengandalkan gaji guru memang tidak mampu kami ini membiayai
sekolah anak. Apalagi dua anak saya sekarang sudah SMA. Itulah mengapa
kami&amp;nbsp; mencari tambahan penghasilan. Hasil
berkebun dan berburu yang membantu kami dalam membiayai sekolah anak. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Pengajar Sekaligus Pendidik&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai guru, saya benar-benar prihatin dengan
kondisi sekolah sekarang yang kualitasnya semakin merosot. Sekolah di jaman
Belanda dulu mutunya justru lebih bagus dari sekolah di jaman sekarang. Dulu di
jaman Belanda, guru tidak hanya berkewajiban mengajar tetapi juga mendidik.
Sekarang ini tanggung jawab guru hanya sebatas mengajar. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-VKSoSQNg84w/TpfLJjHji5I/AAAAAAAAAO4/rR3UsnjNYF4/s1600/Antonia+mengajar.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="298" src="http://1.bp.blogspot.com/-VKSoSQNg84w/TpfLJjHji5I/AAAAAAAAAO4/rR3UsnjNYF4/s400/Antonia+mengajar.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Antonia&amp;nbsp; Mengajar&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Mengajar dan mendidik sangatlah berbeda. Bagi
saya mengajar itu menyampaikan informasi atau pengetahuan, jadi siapa saja bisa
mengajar. Sedangkan mendidik tidak semua orang bisa melakukannya. Sebab
mendidik bukan hanya menyampaikan pengetahuan tetapi juga membuat anak bisa
berkembang menjadi orang baik dan berkembang sesuai potensi yang dimilikinya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Banyak sekolah sekarang yang guru-gurunya hanya tahu mengajar. Guru tidak
lagi mau berpikir bagaimana membuat anak-anak tumbuh berkembang sesuai
potensinya dan memiliki karakter. Tapi semua ini bukan semata kesalahan guru.
Kebijakan pemerintah sendiri juga cenderung membatasi peran guru hanya sebatas
mengajar. Pemerintah menghapus pendidikan untuk guru (SPG) dan membuat program
sertifikasi guru. Dengan program sertifikasi ini tampaknya pemerintah hendak
menggarisbawahi peran guru sebatas mengajar dan bukan mendidik. Padahal dengan
sistem SPG dulu, guru-guru dididik untuk menjadi pengajar sekaligus pendidik.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Tidak Menguntungkan &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Kebijakan pemerintah yang menghapus SPG dan menerapkan program
sertifikasi tidak menguntungkan bagi sekolah di pedalaman. Dulu ketika masih
ada SPG keadaan tidak separah seperti sekarang. Sejak SPG ditutup, kondisi
tenaga guru kian memprihatinkan. Dengan hilangnya SPG, hilang pula kesempatan
bagi sekolah pedalaman untuk memperoleh tenaga guru. Demikian juga dengan
program sertifikasi, sangat sulit diakses oleh guru-guru di sekolah pedalaman.
Guru di pedalaman sulit dapat kesempatan untuk sekolah lagi. Kalau mengajar di kota masih memungkinkan
bagi guru untuk kuliah sambil mengajar. Tapi kalau di pedalaman jelas tidak
mungkin. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Saya sendiri ada keinginan untuk melanjutkan kuliah. Harapan saya,
dengan kuliah saya dapat meningkatkan kemampuan untuk mengajar. Tapi keinginan
ini hanya sebatas keinginan. Sebab saya tidak tega meninggalkan sekolah untuk
menempuh pendidikan di universitas. Sekolah di kampung saya kurang guru. Kalau saya
tinggalkan, maka pendidikan anak-anak di kampung akan terlantar. Saya tidak
ingin kampung saya seperti kampung-kampung lain yang pendidikan untuk anak-anaknya
mandeg karena guru tidak ada di sekolah. Jadi sampai sekarang saya masih
terpaku pada tugas, tidak sanggup lagi memikirkan bagaimana bisa melanjutkan
sekolah. Padahal tanpa sekolah lagi, saya tidak bisa mendapatkan sertifikasi. Tanpa
sertifikasi, nasib saya sebagai guru tidak akan ada perubahan, baik dalam hal
kesejahteraan maupun dalam hal fasilitas. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-kYIrxRNWpw4/TpfLz1D9x-I/AAAAAAAAAPQ/aZMNoG-XPwY/s1600/Sekolah+kayu.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="298" src="http://4.bp.blogspot.com/-kYIrxRNWpw4/TpfLz1D9x-I/AAAAAAAAAPQ/aZMNoG-XPwY/s400/Sekolah+kayu.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sekolah kayu&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Kebijakan terkait ujian nasional (UN) saya rasakan juga tidak adil bagi
sekolah di pedalaman. Sebenarnya ujian nasional dapat mendorong anak-anak untuk
lebih giat belajar. Tapi kondisi sekolah di Papua yang sarana-prasarananya
serba ketinggalan dan sangat terbatas, membuat para guru terdorong untuk melakukan
kecurangan. Adanya ujian nasional akhirnya tidak membantu ketenangan proses
belajar mengajar. Bayangkan saja, guru dan siswa di sini menjalani proses
belajar mengajar dengan sarana seadanya tetapi dituntut utk memenuhi prasyarat
kelulusan seperti halnya sekolah di kota.
Kalau mau menjalankan ujian nasional, pemerintah perlu terlebih dahulu menstandarisasi
kualitas dan ketersediaan guru serta sarana prasarana sekolah. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Pengorbanan Guru Pedalaman&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Di saat banyak sekolah lain bermasalah di dalam pengelolaan dana BOS,
sebagai kepala sekolah sejak awal saya memutuskan untuk mengelola dana BOS
secara transparan. Semua guru tahu dana itu dipakai untuk apa saja. Sebab penggunaan
dana BOS kami putuskan bersama. Saya dan para guru sudah bersepakat, selain
untuk membeli perlengkapan belajar mengajar, dana BOS juga digunakan untuk
pembelian buku pegangan guru. Karena dana terbatas, pembelian buku pegangan
diprioritaskan untuk kelas atas. Buku pegangan untuk para siswa sampai sekarang
belum bisa kami beli karena dananya tidak mencukupi. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dana BOS lebih banyak dipakai untuk membiayai operasional sekolah,
termasuk untuk membeli perlengkapan sekolah dan membayar gaji guru honorer. Kami
menerima dana BOS setiap triwulan. Biasanya setelah terima dana BOS, saya
belanja kebutuhan sekolah untuk jangka waktu lebih dari tiga bulan. Kalau ada
kekurangan, kami gunakan uang pribadi dulu. Sebab kalau tidak belanja lebih
dari tiga bulan, bisa-bisa bahan untuk mengajar sudah habis sementara dana BOS
berikutnya belum cair. Kegiatan belajar mengajar bisa macet. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dana BOS tidak mencukupi untuk membiayai operasional sekolah. Transportasi
guru untuk keperluan dinas, misalnya, tidak tercakup dalam dana BOS, sehingga
guru seringkali harus keluar uang sendiri bila ada keperluan dinas. Padahal
transportasi di sini mahal sekali, sementara tidak ada fasilitas transportasi
bagi guru SD. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Cukup banyak pengorbanan guru SD pedalaman terhadap kelangsungan proses
belajar mengajar. Bahkan sebelum ada dana BOS kami para guru rela memotong gaji
kami sendiri demi membayar guru honorer. Karena tenaga guru kurang dan para
guru kewalahan, maka saya bersama para guru bersepakat untuk mempekerjakan guru
honorer. Guru honorer itu kami bayar dengan cara memotong gaji kami sendiri sebagai
kepala sekolah dan guru sebesar Rp 50.000 – 100.000 per bulan selama setahun
dan ditambah dengan sumbangan dari orang tua murid. Setiap orang tua murid kami
mintai sumbangan Rp 50.000 untuk membayar gaji guru honorer. Setelah ada dana
BOS, gaji guru honorer kami ambilkan dari dana BOS. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Kalau Bukan Kami Siapa Lagi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Program sertifikasi menambah alasan bagi guru untuk pergi ke kota.
Sekarang ini banyak guru yang melanjutkan kuliah untuk mengejar titel.&amp;nbsp; Tapi sayangnya banyak guru kemudian tidak mau
lagi ditempatkan di pedalaman.&amp;nbsp; Sementara
guru yang bertugas di pedalaman akhirnya juga lebih banyak pergi ke kota dan meninggalkan
kewajiban mengajarnya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-L7sBcwbCaU0/TpfLs60OIYI/AAAAAAAAAPI/L228qRNfFZU/s1600/Murid.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="298" src="http://4.bp.blogspot.com/-L7sBcwbCaU0/TpfLs60OIYI/AAAAAAAAAPI/L228qRNfFZU/s400/Murid.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Murid&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Seperti yang sudah saya sampaikan, tidak mudah hidup sebagai guru di pedalaman.
Itulah mengapa banyak guru lebih suka tinggal di kota. Tapi saya sendiri memilih untuk
bertahan di pedalaman. Ada
alasan kuat yang membuat saya bisa bertahan mengajar di sekolah pedalaman.
Salah satunya adalah keberlangsungan pendidikan anak-anak di kampung. Saya
berpikir, kalau saya yang orang asli pedalaman saja tidak mau berkorban untuk
menjadi guru di pedalaman, lalu siapa lagi yang mau mendidik anak-anak kami. Lagipula
orang tua saya yang asli dari kampung sini butuh perhatian saya. Mereka sudah
tua dan tidak kuat lagi bekerja. Ini pula yang membuat saya tetap bertahan
mengajar di kampung. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Yah begitulah kisah hidup saya sebagai guru SD di pedalaman. Semua serba
terbatas. &amp;nbsp;Saya sendiri bermimpi suatu
saat nanti nasib guru akan berubah seperti yang terjadi di negara-negara lain. Konon
khabarnya, di negara lain guru mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah,
terutama guru SD. &amp;nbsp;Konon katanya juga di
negara lain peran guru SD dianggap sangat penting dalam sistem pendidikan. Peran
penting guru SD bisa diibaratkan pandai besi yang dapat mengubah besi menjadi
parang. Tapi di negara ini saya merasakan, guru – terlebih guru SD –
benar-benar tidak dihargai.” &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Gerakan PGSD &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Setelah menuliskan kisah Antonia Korain, kami terpikir dan tergerak
untuk membangun solidaritas, bukan hanya bagi sekolah dasar di pedalaman,
tetapi juga bagi para guru SD yang memiliki dedikasi tinggi terhadap
keberlangsungan pendidikan dasar di pedalaman. Untuk itu kami mengajak anda terlibat
dalam &amp;nbsp;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Gerakan Peduli Guru dan Sekolah Dasar di Pedalaman (PGSD – Pedalaman). &lt;/b&gt;Gerakan
ini ditujukan untuk memberikan dukungan dan solidaritas bagi kerja-kerja para
guru SD yang tengah berupaya untuk menjaga keberlangsungan pendidikan dasar di
daerah pedalaman. Solidaritas dan dukungan tersebut dapat diberikan dalam berbagai
bentuk, di antaranya adalah buku untuk guru, buku untuk murid, alat peraga,
sarana transportasi untuk guru, beasiswa untuk anak-anak guru, dan lainnya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Adanya dukungan dan solidaritas bagi sekolah dasar di pedalaman
diharapkan dapat meringankan beban para guru SD dalam menjaga keberlangsungan
pendidikan dasar di pedalaman. Sementara dukungan dan solidaritas dalam bentuk
beasiswa bagi anak guru SD di pedalaman diharapkan dapat menjadi suatu bentuk
apresiasi terhadap para guru SD di pedalaman yang memiliki dedikasi tinggi
terhadap profesinya dan telah banyak berkorban bagi keberlangsungan pendidikan
dasar di daerah pedalaman, khususnya pedalaman Papua.&amp;nbsp; Bila anda tergerak untuk terlibat dalam
gerakan ini, silakan bergabung bersama kami. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Jakarta, 10 Oktober 2011&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Tim Kerja &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Gerakan Peduli Guru dan Sekolah
Dasar di Pedalaman (PGSD – Pedalaman)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Sekretariat: Institute for Ecosoc Rights&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Jl. Tebet Timur Dalam VI-C/17 &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Jakarta 12829&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Telp/fax. 021-8304153&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Email: &lt;a href="mailto:ecosoc@cbn.net.id"&gt;ecosoc@cbn.net.id&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Website: &lt;a href="http://www.ecosocrights.blogspot.com/"&gt;www.ecosocrights.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Nomor Rekening:&amp;nbsp; 701066227 a/n
Perkumpulan Institute for Ecosoc Rights, Bank Permata Cabang Gondangdia,
Menteng, Jakarta
Pusat&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Kontak person: Sri Palupi (081319173650)&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-3889299779737582054?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DviPvZZteXOHP8SdNYIRjlIZWPo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DviPvZZteXOHP8SdNYIRjlIZWPo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DviPvZZteXOHP8SdNYIRjlIZWPo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DviPvZZteXOHP8SdNYIRjlIZWPo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/ioUfmC4dbE4/kalau-bukan-kami-siapa-lagi-kisah-guru.html</link><author>noreply@blogger.com (Chelluz Pahun)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-dCGEuOycUG4/TpfLCLILEGI/AAAAAAAAAOw/SZper47KlZg/s72-c/Antonia+di+rumah.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2011/10/kalau-bukan-kami-siapa-lagi-kisah-guru.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-6573352365945418628</guid><pubDate>Tue, 04 Oct 2011 09:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-04T18:03:19.161+07:00</atom:updated><title>SURAT TERBUKA</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Untuk DIREKTUR SOEGENG SARJADI SCHOOL OF GOVERNMENT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENINJAUAN KEMBALI TERHADAP PEMBERIAN PENGHARGAAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK  ATAU AWARD ON GOOD GOVERNANCE DARI&lt;br /&gt;SOEGENG SARJADI SCHOOL OF GOVERNMENT (SSSG)&lt;br /&gt;Pada BADAN NASIONAL PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA (BNP2TKI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada&lt;br /&gt;Yth. Direktur Eksekutif&lt;br /&gt;Soegeng Sarjadi School of Government (SSSG)&lt;br /&gt;Di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dengan hormat,&lt;br /&gt;
Sebagaimana diketahui, pada peringatan dua tahun peringatan Sekolah Kepemerintahan Soegeng Sarjadi (Soegeng Sarjadi School of Government) dan peringatan hari Konstitusi UUD 1945 ke-66 tanggal 18 Agustus 2011, Soegeng Sarjadi School of Government telah memberikan penghargaan tata kelola pemerintahan yang baik atau award on good governance pada lembaga BNP2TKI. Penghargaan yang diberikan pada BNP2TKI adalah penghargaan untuk kategori “memberikan respon publik yang cepat dan tercapainya akuntabilitas” (public responsiveness and accountability).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kami sangat menyesalkan dan prihatin atas pemberian penghargaan kepada BNP2TKI. Kami menilai, Soegeng Sarjadi School of Government kurang cermat dalam memberikan penilaian terhadap kinerja BNP2TKI. Selain itu kami juga menilai keputusan Soegeng Sarjadi School of Government untuk memberikan award pada BNP2TKI lebih banyak didasarkan pada pertimbangan aspek legal formal, dan mengabaikan akurasi data terkait kenyataan di lapangan berikut azas manfaat yang diterima para TKI sebagai pihak yang paling berkepentingan terhadap kinerja BNP2TKI dalam menyelenggarakan pelayanan publik bagi TKI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penghargaan itu sendiri melukai keadilan bagi para TKI yang menjadi korban akibat lemahnya kinerja BNP2TKI dalam perlindungan TKI. Terlebih penghargaan itu diberikan di saat para TKI tengah mempersoalkan kebijakan BNP2TKI yang tidak transparan dan merugikan demikian banyak TKI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut adalah argumen keprihatinan dan penyesalan kami atas diberikannya penghargaan tata kelola pemerintahan yang baik pada BNP2TKI:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.BNP2TKI gagal dalam meningkatkan kinerja di dalam pengelolaan  penempatan TKI ke luar negeri melalui mekanisme G to G, khususnya penempatan TKI ke Korea. Sampai sekarang BNP2TKI tidak juga membenahi  sistem perekrutan TKI ke Korea yang tidak transparan dan eksploitatif terhadap TKI, meskipun sudah banyak kritik terhadap kinerja BNP2TKI. Sudah banyak pengaduan yang dilakukan TKI terkait percaloan dalam perekrutan TKI ke Korea, adanya jual beli jawaban test bahasa Korea, kecurangan sistematis dalam pelaksanaan test bahasa yang terus dibiarkan, dan tidak transparannya komponen biaya yang harus ditanggung TKI, di mana TKI dikenai biaya tinggi (sampai Rp 40 juta) tanpa tahu komponen biaya apa saja yang dibebankan pada mereka. Padahal biaya penempatan TKI lewat mekanisme G to G bisa ditekan kalau saja BNP2TKI transparan dalam mengelola penempatan TKI ke Korea. Tidak transparannya proses penempatan TKI dan lemahnya kinerja BNP2TKI dalam perlindungan TKI telah berdampak pada rendahnya kualitas/kemampuan TKI yang dikirim ke Korea dan tingginya beban biaya yang harus ditanggung TKI. Tidak sedikit TKI yang diberangkatkan ke Korea tanpa kemampuan berbahasa yang memadai sebagaimana dipersyaratkan oleh pihak Korea. Adanya BNP2TKI pada kenyataannya belum dirasakan membawa perubahan signifikan bagi perlindungan TKI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.Terkait pelayanan pemulangan TKI di terminal Selapajang, belum ada perubahan signifikan yang dibuat BNP2TKI dalam hal perlindungan bagi TKI yang pulang dari luar negeri melalui mekanisme terminal pendataan. TKI tetap membayar biaya transportasi jauh lebih mahal dari biaya transportasi bila tidak melalui terminal pendataan. Dalam perjalanan kembali ke daerah asal, TKI tetap dimintai uang pungutan oleh pihak travel, sementara pengaduan yang dibuat TKI pada BNP2TKI justru membuat TKI tersebut diteror oleh pihak-pihak yang tidak dikenal. TKI juga dipaksa membayar kurs lebih rendah dari yang berlaku di pasar ketika menukar valuta asing di terminal pendataan. TKI tetap dipungut biaya oleh portir, dan koper TKI bisa dengan mudah dibongkar dan dijarah isinya oleh pihak kargo yang melayani pengiriman barang-barang TKI. Hak TKI untuk bebas bergerak dan bebas dari diskriminasi tetap saja diabaikan. Pada akhirnya terminal pendataan di bawah pengelolaan BNP2TKI tetap menjadi terminal “teror dan eksploitasi” bagi para TKI sebagaimana yang selama ini terjadi dengan terminal 3. Sudah banyak pengaduan yang diberikan para TKI terkait lemahnya kinerja pelayanan di terminal pendataan, tetapi sampai sekarang belum ada respon perubahan dari BNP2TKI. Ada indikasi bahwa telah terjadi KKN dalam pengelolaan terminal pendataan, termasuk dalam pengurusan asuransi bagi TKI berkasus oleh lembaga yang ditunjuk BNP2TKI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkait integritas lembaga pelayanan publik, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2010 memberi nilai rendah terhadap layanan pemulangan TKI di Terminal Selapajang oleh BNP2TKI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.Terkait kebijakan tentang kartu identitas TKI (KTKLN), BNP2TKI telah menyelewengkan kebijakan KTKLN. Ide dari kebijakan KTKLN yang dibuat Kemenakertrans itu sendiri pada dasarnya baik, yaitu memadukan seluruh proses pendataan terkait penempatan TKI dalam satu kartu identitas yang bisa diakses oleh pihak-pihak yang terkait perlindungan TKI, baik di dalam maupun di luar negeri. Namun yang terjadi, pelaksanaan kebijakan terkait KTKLN telah diselewengkan oleh pihak-pihak di dalam BNP2TKI. KTKLN yang pembuatannya dibiayai oleh APBN dan seharusnya diberikan secara cuma-cuma pada TKI yang telah memenuhi  persyaratan untuk berangkat ke luar negeri, ternyata dijadikan sebagai alat untuk memeras TKI oleh pihak-pihak di dalam BNP2TKI. Yang terjadi di lapangan, TKI harus membayar sampai jutaan rupiah untuk mendapatkan KTKLN. Lemahnya sosialisasi terkait kebijakan KTKLN telah merugikan demikian banyak TKI.  Penyelewengan pelaksanaan KTKLN oleh pihak-pihak di dalam BNP2TKI telah menambah deret panjang proses eksploitasi terhadap TKI. Padahal TKI sendiri belum merasakan manfaat dari adanya KTKLN.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.Terkait dengan sistem online, sistem online yang dibangun BNP2TKI semestinya bisa meningkatkan akuntabilitas layanan BNP2TKI dalam perlindungan TKI. Tetapi ironisnya, sistem online itu justru memunculkan ‘bisnis’ baru di kalangan BNP2TKI. Salah satu sistem online yang dijalankan BNP2TKI adalah sistem online untuk pengawasan pelatihan TKI yang dilaksanakan balai latihan kerja PJTKI (BLK LN PJTKI). Untuk mendapatkan fasilitas “diawasi” itu, PJTKI wajib membayar. Apa yang terjadi apabila anda diawasi tetapi anda harus membayar ke pihak yang mengawasi anda. Yang terjadi pada akhirnya siapapun yang membayar bisa mengatur apa-apa saja yang perlu diawasi karena dalam hal ini uang sangat berperan. Sistem online telah melegalkan pungutan liar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pungli terbaru terkait sistem online yang dijalankan BNP2TKI menimpa klinik laboratorium TKI. Medical centre yang selama ini memroses cek medis TKI dikenai pungutan tambahan sebesar Rp 25.000 oleh pihak BNP2TKI. BNP2TKI menutup sistem online hasil cek medis TKI yang dikelola GAMCA (GCC APPROVED MEDICAL CENTER ASSOCIATION), asosiasi klinik yang disahkan oleh negara di Timur Tengah dan meminta semua laboratorium klinik tersebut untuk melaporkan hasil cek medis TKI lewat sistem online HIPTEK (Himpunan Kesehatan Tenaga Kerja Indonesia), asosiasi klinik yang telah mendapatkan sertifikasi untuk memeriksa kesehatan TKI dengan penempatan di beberapa negara Asia. Hanya saja sistem online HIPTEK tidak gratis sebagaimana sistem online GAMCA . Satu online hasil cek medis TKI hanya bisa masuk sampai ke BNP2TKI apabila membayar Rp 25.000.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ironis bahwa sistem online yang dijadikan dasar bagi Soegeng Sarjadi School of Government untuk menilai BNP2TKI sebagai lembaga yang mencapai akuntabilitas, pada kenyataannya sistem tersebut justru dijadikan alat untuk melakukan pungutan liar. Pada akhirnya sistem online menambah beban TKI karena pungutan liar yang dibayar PJTKI dan lembaga pemeriksa kesehatan TKI itu akan dibebankan pada TKI. Sistem online yang dijalankan BNP2TKI pada kenyataannya tidak identik dengan peningkatan akuntabilitas tetapi justru memperlemah akuntabilitas. Beban biaya yang ditanggung TKI meningkat tanpa disertai jaminan peningkatan layanan dalam hal pendidikan dan akurasi pemeriksaan medis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.Call centre sebagai layanan pengaduan yang dikampanyekan BNP2TKI, dalam pelaksanaannya hanya untuk politik pencitraan. Adanya call centre ini semakin menambah deret panjang kekecewaan para TKI terhadap kinerja BNP2TKI sebab selain tidak banyak berfungsi (karena sulit diakses TKI), dengan call centre BNP2TKI dinilai hendak membersihkan diri dari rendahnya kinerja dalam merespon kasus-kasus yang diadukan oleh TKI. Begitu banyak kasus TKI yang dilaporkan secara tertulis pada BNP2TKI dengan disertai bukti lengkap saja sampai sekarang tidak mendapat respon dari BNP2TKI, apalagi laporan yang hanya melalui telepon. Bahkan pihak di dalam BNP2TKI sendiri mengakui kalau sistem call centre ini lebih untuk  meningkatkan citra. Dengan call centre BNP2TKI hanya akan menampung masalah tetapi miskin komitmen untuk menyelesaikannya. Sistem semacam ini hanya akan menambah frustasi di kalangan TKI yang berkasus dan semakin meningkatkan ketidakpercayaan publik pada lembaga pemerintah.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.BNP2TKI telah membuat kebijakan yang bukan wewenangnya, salah satunya adalah melarang TKI mandiri untuk bekerja pada pengguna perorangan. BNP2TKI adalah lembaga pelaksana kebijakan dan bukan lembaga pembuat kebijakan. Dibuatnya kebijakan yang melarang TKI mandiri untuk bekerja pada pengguna perorangan telah merugikan para TKI yang tanpa bantuan PJTKI dan tanpa bantuan negara telah mendapatkan pekerjaan di luar negeri. Kebijakan ini juga didasarkan pada anggapan keliru BNP2TKI bahwa bekerja ke luar negeri melalui PJTKI lebih terjamin perlindungannya daripada menjadi TKI mandiri. Padahal data menunjukkan, 60 persen lebih korban perdagangan orang dikirim oleh PJTKI resmi. Kalau sama-sama tidak terjamin perlindungannya, menjadi TKI mandiri merupakan pilihan lebih baik karena biayanya lebih murah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7.Hasil pemeriksaan Semester II tahun 2010 Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menegaskan masih lemahnya kinerja lembaga pelayanan publik di bidang perlindungan TKI, termasuk di dalamnya adalah kinerja BNP2TKI. BPK menilai, rekrutmen TKI belum didukung proses yang valid dan transparan sehingga tidak ada jaminan kepastian, keadilan dan perlindungan TKI. Evaluasi yang berkelanjutan terhadap data dan informasi masalah TKI tidak ditangani secara tuntas dan komprehensif, dan data penempatan TKI tidak akurat sehingga tidak membantu upaya perlindungan TKI di luar negeri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan catatan-catatan di atas, kami sekali lagi menyesalkan keputusan Soegeng Sarjadi School of Government (SSSG) untuk memberikan penghargaan pada BNP2TKI sebagai lembaga yang memberikan respon publik yang cepat dan yang mencapai akuntabilitas. Kami juga menyesalkan atas proses pengambilan keputusan yang tidak didasarkan pada informasi akurat tentang BNP2TKI. Pemberian penghargaan yang tidak didasarkan pada pertimbangan yang cermat dan data akurat terkait kenyataan sesungguhnya yang terjadi di lapangan dapat menyesatkan publik, memperlemah advokasi perlindunganTKI, merugikan TKI yang terus dieksploitasi, dan memperkuat politik pencitraan pemerintahan SBY.&lt;br /&gt;
Untuk itu, kami mendesak pihak Soegeng Sarjadi School of Government (SSSG) untuk meninjau kembali pemberian penghargaan pada BNP2TKI dan ke depan dapat lebih cermat lagi dalam mengambil keputusan terkait pemberian penghargaan pada lembaga-lembaga yang bertanggung jawab dalam pelayanan publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jakarta, 20 September 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami yang Prihatin   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat sipil yang terlibat dalam advokasi perlindungan TKI:&lt;br /&gt;
1. Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI)&lt;br /&gt;
2. HRWG&lt;br /&gt;
3. Migrant Care&lt;br /&gt;
4. Jala PRT&lt;br /&gt;
5. Institute for Ecosoc Rights&lt;br /&gt;
6. Jaringan Advokasi Revisi Undang-Undang Penempatan dan Perlindungan TKI di&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luar Negeri (JARI – PPTKLN), yang beranggotakan:&lt;br /&gt;
1. Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI)&lt;br /&gt;
2. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI)&lt;br /&gt;
3. ASPEK Indonesia&lt;br /&gt;
4. Serikat Pekerja Migran Indonesia (SPMI)&lt;br /&gt;
5. Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Reformasi (FSPSI Reformasi)&lt;br /&gt;
6. Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI)&lt;br /&gt;
7. Serikat Buruh Sejahtera Indonesia 92 (SBSI 92)&lt;br /&gt;
8. Koalisi Tenaga Kerja Indonesia di Hongkong (KOTKIHO)&lt;br /&gt;
9. Biro Buruh Migran KASBI&lt;br /&gt;
10. Peduli Buruh Migran&lt;br /&gt;
11. Trade Union Rights Centre (TURC)&lt;br /&gt;
12. Konsorsium Pembela Buruh Migran Indonesia (KOPBUMI)&lt;br /&gt;
13. Solidaritas Perempuan (SP)&lt;br /&gt;
14. LBH APIK Jakarta&lt;br /&gt;
15. Federasi APIK&lt;br /&gt;
16. Koalisi Perempuan untuk Keadilan Buruh Migran (KPKB)&lt;br /&gt;
17. Migrant Care&lt;br /&gt;
18. Jaringan Advokasi Nasional untuk Perlindungan PRT (JALA PRT)&lt;br /&gt;
19. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta&lt;br /&gt;
20. Asosiasi Pengajar dan Peminat Hukum Berperspektif Gender Indonesia (APPHGI)&lt;br /&gt;
21. Komnas Perempuan&lt;br /&gt;
22. Jaringan Kerja Prolegnas Pro Perempuan (JKP3)&lt;br /&gt;
23. Relawan Kemanusiaan Buruh Migran Indonesia (REKAN BUMI)&lt;br /&gt;
24. Lembaga Penelitian SMERU&lt;br /&gt;
25. Forum Pemuda NTT Penggerak Keadilan dan Perdamaian (FORMADDA NTT)&lt;br /&gt;
26. Human Rights Working Group (HRWG)&lt;br /&gt;
27. K2NKSBSI&lt;br /&gt;
28. Institute for Ecosoc Rights&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontak Person:&lt;br /&gt;
1. Jamal (SBMI): 082124896004&lt;br /&gt;
2. Akbar (HRWG): 0812 86356456&lt;br /&gt;
3. Anis (Migrant Care): 081574722874&lt;br /&gt;
4. Fida (JARI – PPTKLN): 081317270250&lt;br /&gt;
5. Palupi (Institute Ecosoc): 081319173650&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-6573352365945418628?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Eh_n5j5JF0s4BnkemM_jsH4fCVo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Eh_n5j5JF0s4BnkemM_jsH4fCVo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Eh_n5j5JF0s4BnkemM_jsH4fCVo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Eh_n5j5JF0s4BnkemM_jsH4fCVo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/t8YBRjKekG8/surat-terbuka.html</link><author>noreply@blogger.com (Chelluz Pahun)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2011/10/surat-terbuka.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-2922245399527529846</guid><pubDate>Tue, 04 Oct 2011 08:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-04T18:04:48.003+07:00</atom:updated><title>Sekolah Dasar di Pedalaman Papua: Mereka Butuh Dukungan Kita</title><description>Seorang guru SMA di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat, terpaksa menghentikan pelajaran yang baru saja dimulainya. Sakit kepala berat tiba-tiba saja menyerangnya, setelah ia menunjuk beberapa muridnya untuk membaca. Segera ia tinggalkan kelas, masuk ke ruang guru dan menelan dua tablet obat sakit kepala. Ia begitu shock ketika menghadapi kenyataan, muridnya belum lancar membaca. Hari itu adalah hari pertamanya mengajar di Papua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-CRbMRnvxEkU/TorENI32OlI/AAAAAAAAAL8/p_0tAMDNyT8/s1600/Semagnat%2Banak-anak%2Butk%2Bnarasi.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659551611743517266" src="http://3.bp.blogspot.com/-CRbMRnvxEkU/TorENI32OlI/AAAAAAAAAL8/p_0tAMDNyT8/s400/Semagnat%2Banak-anak%2Butk%2Bnarasi.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 267px; margin: 0 10px 10px 0; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Kalau pada tingkat SMA saja masih ada murid yang belum lancar membaca, tentulah di tingkat SMP lebih banyak lagi siswa yang belum lancar membaca. Rupanya beban mengajar para guru SMP di Papua tidaklah ringan. Buruknya kondisi pelayanan pendidikan dasar di Papua memaksa mereka untuk mengambil sebagian besar tanggung jawab yang harusnya diemban oleh para guru SD, yaitu membuat anak-anak lancar membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beratnya beban guru membuat para guru SMP juga tidak tuntas dalam menyelesaikan masalah yang ditinggalkan para guru SD. Tidak ada pilihan bagi para guru SMP selain menyerahkan sisa masalah itu kepada guru SMA. Artinya, meskipun siswa di SMP-nya belum lancar membaca, mereka tetap saja melepaskan siswanya untuk melanjutkan pendidikan ke SMA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Rendahnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan dasar memaksa para guru  harus berbagi beban. Guru SD menyerahkan masalah untuk diselesaikan guru SMP dan guru SMP meneruskan masalah tersebut kepada guru SMA. Anda tentu bertanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan sekolah dasar di Papua?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Cn2VsBmROWA/TorEfoVpKDI/AAAAAAAAAME/q5blrS7Psgw/s1600/Sekolah%2Btanpa%2Bbuku.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659551929427634226" src="http://4.bp.blogspot.com/-Cn2VsBmROWA/TorEfoVpKDI/AAAAAAAAAME/q5blrS7Psgw/s400/Sekolah%2Btanpa%2Bbuku.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 308px; margin: 0 10px 10px 0; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Ketika mengunjungi kampung-kampung di kabupaten Maybrat dan menyaksikan sendiri bagaimana kondisi sekolah dasar di sana, sulit bagi kami untuk percaya bahwa anak-anak yang tengah bersekolah SD di kampung-kampung itu benar-benar  warga negara RI yang sudah 66 tahun merdeka. Sebab selain kibaran bendera merah putih yang sudah koyak dan pudar warnanya, kami tidak temukan tanda-tanda lain bahwa mereka itu adalah bagian dari Indonesia. Yang tampak menonjol dari kondisi sekolah SD di sana adalah fenomena bahwa sekolah mereka ditelantarkan.  Padahal semangat para orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka sangat tinggi. Sayang, semangat ini tidak didukung oleh perhatian pemerintah terhadap kualitas layanan pendidikan dasar. Berikut adalah sedikit gambaran tentang kondisi sekolah dasar di kabupaten Maybrat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SD di Kampung Seiya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah dasar di kampung ini sudah berjalan sejak 1952, bersamaan dengan berdirinya kampung Seiya. SD yang dibangun oleh Belanda ini biaya operasionalnya dulu juga disubsidi oleh Belanda. Sekolah ini menjadi satu-satunya sekolah dasar bagi lebih dari 134 KK dan 459 warga kampung Seiya. Warga di kampung ini mengaku, SD di kampung mereka sudah mencetak banyak lulusan yang menjadi sarjana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-t83NSrQgOao/TorFHCfQ5MI/AAAAAAAAAMM/Qgtgs6WxJ_g/s1600/Guru%2Bdan%2Bmurid.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659552606462207170" src="http://1.bp.blogspot.com/-t83NSrQgOao/TorFHCfQ5MI/AAAAAAAAAMM/Qgtgs6WxJ_g/s400/Guru%2Bdan%2Bmurid.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 299px; margin: 0 10px 10px 0; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Sayangnya kualitas pendidikan di SD ini semakin lama semakin merosot justru setelah berada dalam pengelolaan pemerintah RI. Sejak 2001 proses belajar mengajar di sekolah ini tersendat. Bahkan dari tahun 2005 sampai 2010 proses belajar mengajar praktis terhenti karena tidak ada guru. Hanya ada kepala sekolah yang merangkap sebagai guru. Guru yang hanya satu inipun sudah lama tidak hadir. Proses belajar mengajar macet dan siswanya terlantar. Sekitar 30 anak yang tengah menempuh pendidikan di SD itu akhirnya putus sekolah. Hanya ada tiga anak di kelas 6 yang masih terus bersekolah karena orang tua memindahkan mereka ke SD di kampung lain. Kondisi ini membuat kepala kampung mendatangi bupati, dinas pendidikan dan Uskup (kepala gereja setempat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 2010 proses belajar mengajar di SD ini mulai berjalan kembali setelah seorang pastor (rohaniwan Katolik) sukarela menjadi kepala sekolah dan mengajar di sekolah itu bersama seorang guru honorer. Namun gaji guru honorer inipun tersendat. Enam bulan berturut-turut guru honorer mengajar tanpa gaji. Demi menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar, masyarakat akhirnya bergotong royong mengumpulkan uang untuk membayar gaji guru honorer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain ketiadaan guru, masalah lain yang dihadapi sekolah ini adalah ruang kelas dan buku. Rombongan belajarnya ada enam, tetapi ruang kelasnya hanya ada tiga. Jadi satu kelas dipakai untuk dua rombongan belajar. Kantor guru pun tidak ada. Selain itu juga tidak ada buku paket untuk siswa. Bahkan buku pegangan untuk guru pun tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kampung Seiya sendiri adalah kampung terjauh di distrik Mare, berjarak 30 Km dari kampung Sire. Jarak tempuh yang jauh dan minimnya sarana prasarana sekolah serta minimnya fasilitas untuk guru, membuat guru tidak betah mengajar di kampung ini. Ini yang membuat  proses belajar mengajar di SD Seiya berjalan seadanya. Para orang tua di kampung ini merasa jadi korban pemerintah yang kurang memberikan perhatian terhadap pendidikan dasar. Ada orang tua yang mengaku anaknya baru bisa masuk SMP setelah berumur 15 tahun. Ketiadaan guru dan tersendatnya proses belajar mengajar membuat anaknya terlambat masuk SD. Setelah lulus SMP anaknya memutuskan untuk tidak melanjutkan ke SMA. Ia malu karena umurnya sudah lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SD di Kampung Sun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 1999/2000 kampung Sun mulai berdiri dan sejak saat itu pula berdiri sekolah dasar darurat yang dibuat warga dari bilik bambu. Meski sudah dibangun sejak tahun 2000, namun proses belajar mengajar baru berjalan tahun 2001. Waktu itu hanya ada satu guru yang mengajar. Tapi kemudian guru ini dipindahkan. Tahun 2002-2008 pendidikan berjalan tersendat dan pada akhirnya mandeg karena tidak ada guru. Masyarakat kemudian pergi ke Sorong Selatan menghadap dinas pendidikan. Mereka bicara soal pendidikan di kampung mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 2007 masyarakat berswadaya untuk membangun ruang kelas, mengganti bilik bambu menjadi bangunan permanen. Tahun 2008 bangunan sekolah berhasil diselesaikan. Setelah ruang kelas berdiri, masyarakat menghadap dinas pendidikan agar sekolah mereka diberi tenaga guru. Tahun 2009 ada tenaga guru yang ditempatkan di kampung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum ada tenaga guru tetap, siswa di SD ini diajar oleh seorang warga kampung yang secara sukarela mengajar anak-anak. Tenaga sukarela ini mengajar dari tahun 2007 sampai 2009.  Tahun 2009 guru sukarela ini berhenti mengajar karena diangkat  PNS dan ditempatkan di kecamatan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SD di kampung ini sebelumnya hanya menyelenggarakan pendidikan sampai kelas 3. Untuk melanjutkan ke kelas yang lebih tinggi mereka harus pergi ke SD induk yang yang ada di ibukota distrik. Namun sejak 2008/2009 SD ini mulai menyelenggarakan pendidikan untuk siswa kelas 4 dan 5. Kelas 6 baru dibuka pada tahun 2010.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang ada dua guru di SD ini. Satu guru merangkap sebagai kepala sekolah. Meski sudah ada dua guru tetap, tetapi proses belajar mengajar belum juga berjalan lancar. Kehadiran guru masih menjadi masalah. Warga mengaku, dalam satu tahun hanya 3-4 bulan saja guru hadir mengajar. Selebihnya,  guru pergi ke kota dan meninggalkan sekolah, entah untuk urusan dinas atau urusan keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain kehadiran guru, buku juga jadi masalah. Buku paket untuk murid dan buku pegangan untuk guru sangat tidak memadai, baik dari segi kurikulum, keutuhan kondisi buku, maupun jumlahnya. Meski guru sering tidak hadir dan buku tidak cukup tersedia, tapi anehnya saat ujian nasional siswa di SD ini lulus 100 persen. Padahal anak-anak menghadapi ujian nasional tanpa persiapan belajar karena guru tidak ada, buku juga tidak ada. Guru baru datang beberapa hari menjelang pelaksanaan ujian. Masyarakat dibuat tidak mengerti dengan kelulusan yang 100 persen ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rendahnya kualitas pendidikan dasar di sini membuat anak-anak dari kampung Sun  yang melanjutkan SMP di kota (Sorong) seringkali merasa minder karena pelajaran mereka tertinggal jauh dari anak-anak kota. Rasa minder ini seringkali juga membuat anak-anak dari kampung ini memutuskan untuk meninggalkan sekolah. Mereka merasa kesulitan untuk mengejar ketertinggalan pelajaran dengan siswa yang bersekolah di kota. Kondisi ini sangat disayangkan mengingat anak-anak kampung itu sebenarnya pintar. Tapi karena proses belajar mengajar di SD tidak lancar, akhirnya mereka yang jadi korban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;SD di Kampung Mosun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SD di kampung ini kondisinya lebih baik daripada SD di dua kampung pertama. Ada 4 tenaga guru yang mengajar di sana, terdiri dari kepala sekolah, dua guru tetap dan satu guru honorer. Kepala sekolah dan guru semuanya asli anak kampung setempat. Ruang kelas juga ada enam, jadi setiap rombongan belajar menempati satu ruang kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sudah ada 4 tenaga guru, tapi tetap saja guru dirasa kurang. Kepala sekolah sendiri mengajar tiga kelas (kelas 1,2, dan 3). Itulah mengapa ruangan di kelas 1,2, dan 3 dibuat tanpa sekat. Dengan cara demikian, guru bisa dengan mudah mengawasi dan pergi dari satu kelas ke kelas yang lain. Berbeda dengan dua SD yang terdahulu, kepala sekolah di SD ini lebih punya komitmen dan dedikasi terhadap pendidikan. Ini yang membuat kepala sekolah mengambil tanggung jawab untuk mengajar kelas 1,2, dan 3, yang menurutnya lebih butuh perhatian. Dengan mengambil tiga kelas pertama, kepala sekolah di SD ini punya target, siswa yang duduk di kelas 4 sudah lancar membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun jumlah guru relatif mencukupi dibandingkan SD di dua kampung lainnya, bukan berarti tidak ada lagi masalah di SD ini. Seperti dua SD sebelumnya, SD di sini juga menghadapi kendala ketiadaan buku paket untuk para siswa. Sebenarnya ada dana BOS yang bisa dipakai untuk beli buku. Namun pada kenyataannya dana BOS tidak mencukupi untuk beli buku. Pemberian dana BOS itu sendiri tidak memperhitungkan besarnya transportasi untuk pembelian perlengkapan belajar mengajar. Padahal membeli perlengkapan itu harus ke kota dan biaya transportasinya mahal sekali. Sekali jalan Rp 350.000.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru SD tidak mendapatkan fasilitas transportasi yang memudahkannya dalam menjalankan tugas. Sementara dalam dana BOS juga tidak ada komponen untuk membiayai transportasi guru untuk keperluan dinas. Jadi kalau ada keperluan dinas di kabupaten, guru harus membiayai sendiri transportasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum ada dana BOS, kepala sekolah, guru, dan masyarakat di kampung ini bergotong royong membayar guru honorer. Bahkan Kepala sekolah dan guru di SD ini secara sukarela menyerahkan gajinya Rp 50.000 – Rp 100.000 setiap bulan untuk membayar gaji guru honorer. Padahal gaji kepala sekolah hanya Rp 2 juta dan setelah dipotong macam-macam, setiap bulan gajinya tinggal tersisa Rp 1 juta untuk membiayai hidup keluarganya. Tingkat kesejahteraan guru SD sangat rendah. Selain gaji yang tidak mencukupi, sudah 11 bulan lebih guru belum terima jatah beras, uang lauk pauk dan insentif. Tidak heran kalau guru juga harus berkebun dan mencari tambahan penghasilan guna   menutupi kekurangan. Fasilitas untuk tempat tinggal guru juga tidak ada. Para guru masih numpang tinggal pada warga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SD di Kampung Konja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah Dasar di kampung ini sudah berjalan sejak tahun 1961. Hanya saja SD ini baru menyelenggarakan pendidikan untuk kelas 5 dan 6 tahun tahun 2005/2006. Sebelumnya hanya ada kelas 1 sampai kelas 4 karena sekolah ini statusnya masih SD basis, yang menyelenggarakan pendidikan hanya sampai kelas 4. Untuk melanjutkan ke kelas 5 dan 6 murid SD ini harus pergi ke SD induk yang ada di Ayawasi.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejauh ini proses belajar mengajar berjalan lancar karena tenaga guru lebih banyak daripada di SD lainnya. Ada enam guru – termasuk kepala sekolah – yang berstatus PNS. Selain guru tetap, ada juga guru relawan yang mengajar tanpa dibayar. Bahkan di sini ada guru relawan yang sudah 10 tahun mengajar. Guru yang mengajar di SD ini adalah juga warga kampung setempat. Karena itulah sekolah di sini tidak punya masalah dengan mangkirnya guru. Sebab para guru yang mengajar di sekolah ini punya komitmen dan dedikasi tinggi terhadap pendidikan di kampung mereka. Mereka punya prinsip, mengajar di sekolah kampung seperti membangun kampung sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-pPEXhfUlQts/TorFjrWHeyI/AAAAAAAAAMU/ov6sb4-qEw4/s1600/Belajar%2Bdi%2Bkelas.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659553098466032418" src="http://2.bp.blogspot.com/-pPEXhfUlQts/TorFjrWHeyI/AAAAAAAAAMU/ov6sb4-qEw4/s400/Belajar%2Bdi%2Bkelas.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 308px; margin: 0 10px 10px 0; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Terkait dengan tenaga guru, masalah yang dihadapi SD di kampung ini bukanlah ketiadaan atau ketidakhadiran guru tetapi usia para guru yang sudah mendekati pensiun. Padahal sampai sekarang belum ada tenaga guru muda yang diharapkan dapat menggantikan mereka. Selain itu, fasilitas bagi para guru juga minim. Para guru  belum punya rumah. Mereka masih tinggal menumpang di rumah-rumah warga. Kesejahteraan guru sangat rendah, sehingga guru terpaksa harus berkebun untuk dapat mencukupi kebutuhan keluarganya. Sama seperti di SD lainnya, listrik tidak ada, demikian juga dengan buku-buku yang menunjang kelancaran belajar mengajar. Buku paket yang ada sudah kadaluwarsa, tidak sesuai lagi dengan kurikulum yang berlaku. Kurikulum sudah beberapa kali berubah, sementara buku pegangan guru dan buku paket untuk murid dari dulu belum juga diganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Relatif lancarnya proses belajar mengajar di sini tidak terlepas dari peran masyarakat yang aktif mendukung kelancaran proses belajar mengajar. Dukungan masyarakat terhadap pendidikan dasar diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti swadaya menambah ruang kelas, pengadaan mebel (kursi dan bangku), pengadaan buku pelajaran untuk siswa, dan lainnya. Kalau tidak ada dukungan dari masyarakat, bisa jadi proses belajar mengajar juga akan tersendat seperti yang terjadi pada SD di kampung lain, mengingat dana BOS tidak mencukupi untuk membiayai operasional sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan saja pada tahun 2008 pemerintah memberikan bangku sekolah untuk SD di sini tanpa dilengkapi dengan kursi. Anak-anak pergi ke sekolah dengan membawa kursi sendiri. Kondisi ini membuat masyarakat bergotong royong membeli kursi untuk sekolah. Demikian juga dengan buku. Dengan dana BOS, sekolah hanya bisa membeli dua buku. Buku lainnya dibeli dari dana yang dikumpulkan oleh masyarakat. Bahkan pelaksanaan ujian nasional dan ujian sekolah pun dibiayai oleh masyarakat. Untuk mendapatkan dana bagi sekolah di kampung mereka, masyarakat memutuskan untuk membuat lelang hasil buruan, menarik sumbangan sukarela dari warga masyarakat yang bukan orang tua murid,  dan menarik sumbangan wajib dari para orang tua murid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Solidaritas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski hanya sedikit yang kami paparkan, namun yang sedikit ini dapat memberikan gambaran tentang kondisi sekolah dasar di pedalaman Papua. Sebab meskipun ragam masalah yang dihadapi sekolah-sekolah di pedalaman Papua berbeda-beda, namun perbedaan itu punya akar yang sama, yaitu miskinnya komitmen pemerintah terhadap kualitas pendidikan dasar di pedalaman. Semangat anak-anak untuk belajar dan animo masyarakat terhadap pendidikan seperti bertepuk sebelah tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita tidak bisa menutup mata terhadap kondisi pendidikan dasar bagi anak-anak di daerah pedalaman. Anak-anak di pedalaman itu butuh dukungan dan solidaritas kita. Kita bisa berbuat sesuatu bagi mereka. Kami sendiri juga tidak akan menutup mata. Kami tengah berupaya melakukan sesuatu untuk mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bila anda punya usulan atau apapun yang bisa mendukung upaya kami dalam membantu mereka, jangan ragu untuk menghubungi kami via email: ecosoc@cbn.net.id atau via telepon/fax (021-8304153) atau datang langsung ke kantor kami (Institute for Ecosoc Rights, Jl. Tebet Timur Dalam VI-C/17 Jakarta 12820).   Dukungan dalam bentuk buku (buku pelajaran dan buku bacaan), alat tulis dan alat peraga bisa dikirimkan langsung ke mitra kerja kami : Albertus Bambang Buntoro (SPVD) d/a Keuskupan Manokwari‐Sorong, Jln. Jenderal A. Yani No. 83, Kotak Pos 183 Sorong 98413 Papua Barat. ***&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-2922245399527529846?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ag9hx_SW1F8TQddWKWL3mS_WR7w/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ag9hx_SW1F8TQddWKWL3mS_WR7w/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ag9hx_SW1F8TQddWKWL3mS_WR7w/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ag9hx_SW1F8TQddWKWL3mS_WR7w/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/E5t0-YxEVX8/sekolah-dasar-di-pedalaman-papua-mereka.html</link><author>noreply@blogger.com (Chelluz Pahun)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-CRbMRnvxEkU/TorENI32OlI/AAAAAAAAAL8/p_0tAMDNyT8/s72-c/Semagnat%2Banak-anak%2Butk%2Bnarasi.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2011/10/sekolah-dasar-di-pedalaman-papua-mereka.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-7510539324429423595</guid><pubDate>Sat, 02 Jul 2011 03:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-04T18:05:13.656+07:00</atom:updated><title>Kepala Ruyati, Kepala Kita</title><description>&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cpatriot%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cpatriot%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cpatriot%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
 &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-ansi-language:IN;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-ansi-language:IN;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:2.0cm 72.0pt 2.0cm 72.0pt; 	mso-header-margin:35.45pt; 	mso-footer-margin:35.45pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; 
&lt;/style&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Sri Palupi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Terkait hukuman pancung yang telah dijalani Ruyati, respons Presiden Yudhoyono dan para menteri kompak dan seragam. Semua menegaskan, pemerintah sudah berbuat maksimal. Hukuman pancung tidak dapat dielakkan karena ketiadaan maaf dari keluarga majikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Dengan argumen ini pemerintah meletakkan persoalan Ruyati sebagai persoalan personal Ruyati dengan keluarga majikan, dan negara tak bisa campur tangan. Presiden lupa bertanya di manakah negara saat Ruyati dianiaya majikan hingga ia terpaksa membunuh. Di manakah negara ketika Ruyati dijual PJTKI yang memalsukan umurnya agar ia bisa lolos ke Arab Saudi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Dengan mengangkat pertanyaan itu kita bisa melihat betapa persoalan Ruyati adalah persoalan struktural yang melibatkan kejahatan negara. Bukan hanya pihak Arab Saudi yang memancung kepala Ruyati, melainkan Pemerintah Indonesia-lah yang pertama-tama mengirimkan Ruyati kepada algojo. Bukan hanya kepala Ruyati yang dipenggal, kita sebagai bangsa pun sudah kehilangan ”kepala”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Negeri algojo&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Dari mempelajari dokumen investigasi lembaga-lembaga internasional, saya menilai bahwa Arab Saudi termasuk negara yang sebenarnya tidak layak untuk menjadi negara tujuan TKI. Seperti Malaysia, Arab Saudi dikenal sebagai negara yang melegalkan perbudakan dan termasuk yang paling buruk dalam perlakuan terhadap buruh migran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Arab Saudi memberlakukan sistem sponsor dalam perekrutan buruh migran. Buruh migran datang ke Arab Saudi atas undangan majikan yang bertindak sebagai sponsor. Sebagai sponsor, majikan punya hak penuh atas hidup matinya buruh migran. Buruh migran tidak bisa pindah majikan atau pindah kerja tanpa izin tertulis dari sponsor. Bahkan, buruh migran tidak bisa kembali ke negara asal tanpa izin tertulis dari sponsor. Nasib buruh migran sangat bergantung pada belas kasih majikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Sistem sponsor ini memungkinkan majikan jahat untuk sepenuhnya mengontrol dan mengeksploitasi buruh migran. Dampaknya adalah serangkaian pelanggaran HAM yang diderita para buruh migran di Arab Saudi dalam bentuk penahanan paspor oleh majikan, pembatasan kebebasan bergerak, ketiadaan peluang untuk pindah kerja atau berganti majikan, gaji tidak dibayarkan atau tidak sesuai kontrak, berbagai tindak kekerasan, dan ketiadaan akses untuk memperoleh keadilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Buruh migran yang tidak tahan dengan kondisi eksploitatif itu cenderung memilih untuk lari dari majikan dan menjadi buruh migran tak berdokumen. Agence France-Presse (AFP) mencatat, di Jeddah saja setiap bulan terdapat sedikitnya 200 buruh migran yang ditangkap karena lari dari majikan. Mereka yang ditangkap ini sering kali kehilangan hak untuk membela diri dan juga tidak mendapatkan akses ke konsulat atau kedutaan negara asal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Mereka yang berhasil lari ke konsulat atau kedutaan pun condong akan dikembalikan lagi kepada sponsor. Mereka yang ditangkap itu sering kali ditahan tanpa tahu apa yang dituduhkan, dipaksa menandatangani pengakuan yang ditulis dalam bahasa Arab yang tidak mereka mengerti, ditahan dalam waktu lama, dan mendapat perlakuan sewenang-wenang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Saya tidak yakin kita masih mengingat kasus Siti Zaenab binti Duhri Rupa, TKI yang dijatuhi hukuman mati di Arab Saudi karena membunuh majikannya. Ia dijatuhi hukuman mati tanpa ada pendampingan hukum. Bahkan, KBRI dan pengacara dari pihak keluarga juga tak diizinkan mengunjunginya di penjara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Dalam sistem eksploitatif seperti itu, masihkah kita menempatkan kasus Ruyati sebagai kejahatan personal dan karena itu Presiden bisa dengan lantang mengatakan supremasi hukum di atas segalanya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Pemerintahan algojo&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Meskipun Presiden Yudhoyono menegaskan bahwa supremasi hukum di atas segalanya, dalam instruksi yang diberikan Presiden terkait penanganan TKI di luar negeri tidak saya temukan adanya instruksi untuk penegakan hukum di dalam negeri. Padahal, ada lebih dari 30 peraturan perundang-undangan terkait perlindungan TKI yang selama ini tidak dijalankan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Salah satunya adalah Pasal 27 Ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri. Dalam Ayat (1) ditegaskan, penempatan TKI di luar negeri hanya dapat dilakukan ke negara tujuan yang pemerintahnya telah membuat perjanjian tertulis dengan Pemerintah Republik Indonesia atau ke negara tujuan yang mempunyai peraturan perundang-undangan yang melindungi tenaga kerja asing. Meski aturannya sudah jelas, toh pemerintah selama ini menolak usulan untuk menghentikan penempatan TKI ke Arab Saudi dan negara pelanggar HAM lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Di mana supremasi hukum yang diagung-agungkan Presiden Yudhoyono ketika pemerintah sendiri telah melanggar hukum dengan mendorong dan memfasilitasi perdagangan TKI ke Arab Saudi, negara-negara Timur Tengah, dan negara-negara lain. Padahal, negara-negara itu tidak memiliki perjanjian tertulis dengan Pemerintah RI dan jelas-jelas melegalkan perbudakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Dalam instruksinya, Presiden juga tidak menyinggung soal ratifikasi Konvensi PBB Tahun 1990 tentang Perlindungan Buruh Migran dan Keluarganya, ratifikasi Konvensi ILO 189 tentang Pekerjaan yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga. Padahal, pemerintah sudah berjanji untuk melakukan ratifikasi konvensi yang urgen bagi peningkatan perlindungan TKI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Saya juga tidak menemukan instruksi presiden untuk revisi sesegera mungkin UU No 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri. Padahal, UU inilah yang menjadi sumber bencana dalam penanganan TKI karena menyerahkan urusan vital perlindungan TKI kepada PJTKI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;DPR sendiri sudah mengagendakan revisi UU No 39 Tahun 2004. Namun, tarik-menarik kepentingan antarlembaga pemerintah serta antara partai, lembaga pemerintah, dan PJTKI telah membuat kinerja DPR lemah dan keberpihakannya pada kepentingan perlindungan TKI diragukan. Sebab, bisnis perdagangan orang dengan modus penempatan TKI sungguh menggiurkan dan melibatkan banyak oknum di lembaga pemerintah, partai, dan DPR.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Tarik-menarik kepentingan ini membuktikan, kelemahan dan derita mereka (TKI) sesungguhnya adalah rezeki kita. Tidak mengherankan kalau kasus Ruyati direspons sebagai kejahatan personal. Sebab, meletakkan perkara Ruyati dalam koridor struktural akan menguak kejahatan pemerintah yang telah menjadi algojo bagi anak-anak bangsanya sendiri. Ketidakhadiran negara dalam banyak kasus TKI menegaskan, kita adalah bangsa tanpa kepala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Sri Palupi &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;Ketua Institute for Ecosoc Rights&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="color: dimgrey;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sumber &lt;/span&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cpatriot%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cpatriot%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cpatriot%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
 &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-ansi-language:IN;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-ansi-language:IN;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; 
&lt;/style&gt;  &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Opini : &lt;i&gt; Kompas&lt;/i&gt;, Edisi, 1 Juli 2011&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-7510539324429423595?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gFrDO6G2piol8B-vexh4PZ6EbZI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gFrDO6G2piol8B-vexh4PZ6EbZI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gFrDO6G2piol8B-vexh4PZ6EbZI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gFrDO6G2piol8B-vexh4PZ6EbZI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/ps7uvqYBx1Q/kepala-ruyati-kepala-kita.html</link><author>noreply@blogger.com (Chelluz Pahun)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2011/07/kepala-ruyati-kepala-kita.html</feedburner:origLink><enclosure url="http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~5/0n8HwZPnl1M/kepala.ruyati.kepala.kita" length="0" /><feedburner:origEnclosureLink>http://cetak.kompas.com/read/2011/07/01/02423614/kepala.ruyati.kepala.kita</feedburner:origEnclosureLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-7290592998948825710</guid><pubDate>Fri, 24 Jun 2011 03:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-04T18:05:46.075+07:00</atom:updated><title>PENDIDIKAN</title><description>&lt;h1 class="judul_artikel" style="text-align: center;"&gt;
Sekolah Tanpa Ruang Belajar&lt;/h1&gt;
&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Oleh &lt;strong&gt;Acep Iwan Saidi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di  SD terjadi contek massal. Di SMP-SMA  siswa acap berkelahi. Di  perguruan tinggi mahasiswa kerap tawuran. Itulah  potret muram sekolah  kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengapa  itu terjadi? Menurut hemat  saya, salah  satu sumber utama persoalan sekolah kita adalah kegagapan menyikapi dan  melaksanakan sistem pendidikan modern yang diadopsi dari Barat. Dahulu,  saat sistem modern  ini mulai dipakai, sejarah mencatatnya sebagai titik  awal pencerahan. Kini rupanya kita harus meninjau ulang. Bukankah  modernisme sendiri kini banyak dipertanyakan? Saya ingin mulai dari tata  kelola ruang kelas.&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Desain modernisme&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berbeda  dengan cara belajar tradisional yang umum berlangsung informal, seperti  di pondok pesantren di desa-desa hingga kini, ruang belajar modern  ditata  khusus:  siswa  duduk rapi di atas bangku yang berjejer  menghadap  guru di depan ruang. Desain itu kiranya bisa dibaca sebagai  metafora modernisme:  progresif menatap ke depan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adolf Loos  dalam Ornament and Crime   mengatakan, ornamen sebagai ciri tradisi pada  arsitektur adalah kriminal, siswa  dipatok  meraih kebaruan dari masa  depan. Di samping itu, beranalogi pada strukturalisme Ferdinand de  Saussure, tatanan  ini juga menciptakan pasangan berlawanan, oposisi  biner.  Guru  ordinat dan  siswa  subordinat. Guru adalah pembaru,   pusat kuasa yang memiliki kebenaran final.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tak berhenti sampai di  situ. Dalam perkembangannya, bangku belajar yang awalnya didesain untuk  tiga siswa bahkan lebih kian menyempit. Di perguruan tinggi mahasiswa  malah duduk sendiri di sebuah kursi, tiada lagi meja. Kolektivitas yang  di dalamnya terbangun komunikasi rasa antarsesama teman  kiri-kanan  terus dikikis. Siswa dan mahasiswa dituntut kian mengembangkan sikap  individualistis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejalan dengan itu, suasana belajar  harus pula  selalu tenang. Riuh di kelas adalah penanda kacau kelas. Kecuali suara  guru, suara lain harus diminimalkan. Kebiasaan membaca buku bersuara  harus dihentikan. Dari sinilah lantas dikenal kebiasaan membaca dalam  hati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tatanan ruang dan suasana belajar demikian membuat hubungan  guru-murid  mekanis. Guru dan murid berada dalam mesin struktur: hanya  mereka yang mengikuti permainan ini yang berhasil. Buktinya siswa yang  mampu dengan cepat menangkap pengetahuan adalah siswa yang taat pada  peraturan dan guru. Di kota besar dan di sekolah favorit yang didukung  fasilitas memadai bisa disaksikan betapa banyak siswa pintar dan mampu  menembus kompetisi berbagai disiplin ilmu di tingkat dunia. Mereka  umumnya  siswa  taat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Barangkali itu bisa dilihat sebagai aspek  positif. Namun, di balik  itu terlupakan satu hal besar:  tertanggalkannya nilai-nilai positif kolektivitas sebagai roh yang  mencipta dan menggerakkan perilaku masyarakat kita. Karakter kita  tak  berpijak pada kekuatan rasio, melainkan justru pada kecerdasan emosi  yang dibangun dengan guyub.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karena itu, saat hal ini  ditanggalkan, yang muncul adalah individu pandai, tapi tak berkarakter.  Sekolah sangat produktif menghasilkan lulusan brilian, tapi mereka  selesai saat terjun ke masyarakat. Mereka akan jadi pekerja dan sebagian  yang pandai bekerja di perusahaan asing yang beroperasi di sini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Lebih parah&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kegagapan  kita pada sistem pendidikan modern  lebih parah ketika sekolah  diharuskan juga  mengajarkan moral. Lihatlah, pendidikan moral  (Pancasila) juga dimodernisasi. Ia jadi bidang studi yang matematis.  Moralitas dikuantifikasi melalui angka dan nilai mutu pada akhir tahun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ironisnya  pendidikan moral menjadi demikian mudah sebab hafalan belaka. Soal  ujian moral yang berupa pilihan ganda  mudah dijawab karena biasanya  pilihan terpanjang adalah jawabannya: di negeri ini moral sering  dijelaskan berpanjang-panjang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karena moral   diukur secara  matematis, kita lantas  salah kaprah terhadap nilai kolektif sebagai  fondasi karakter bangsa seperti disinggung tadi. Kolektivitas direnggut  dari nilai positif hubungan kemanusiaan: ia justru didekatkan pada  rasionalitas. Akibatnya, jika di sekolah seorang teman berselisih dengan  seseorang dari sekolah lain,  siswa satu sekolah  membelanya.  Terjadilah tawuran antarsekolah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Contek massal yang disarankan  seorang guru di SDN Gadel, Surabaya, Jawa Timur,  terjadi dalam situasi  psikologis yang mirip. Guru merasa harus menyuruh murid  pintar  memberi  contekan kepada temannya agar perolehan nilai (angka) kolektif menjadi  tinggi. Moralitas kolektif lagi-lagi diukur  matematis, diabdikan pada  angka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Barangkali inilah yang ingin dicapai kurikulum berbasis  kompetensi, sesuatu yang kering dari moralitas sebagai perilaku (bukan  angka). Kurikulum ini  menjadikan sekolah bukan sebagai ruang belajar,  yakni  menjadikan siswa  individu yang lebih baik, melainkan untuk  menciptakan kecanggihan berpikir semata.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika begitu terus,  kita  tak bisa berharap sekolah melahirkan manusia berkarakter. Harus  dipikirkan kurikulum berbasis budaya. Pendidikan harus diletakkan dalam  kebudayaan sebagai ”ibunya” sehingga  peserta didik dapat memahami  dirinya sebagai individu dalam masyarakat berbangsa yang berkarakter.  Ini berarti modernisme pendidikan harus dipertanyakan bahkan mulai dari  desain dan tatanan  ruang kelasnya!&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Acep Iwan Saidi  &lt;em&gt;Dosen  Pascasarjana ITB; Ketua Forum Studi Kebudayaan Seni Rupa ITB&lt;br /&gt;(Kompas, 24 Juni 2011)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-7290592998948825710?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Dw30qGQWIaa5ay-W26SeGbdFYug/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Dw30qGQWIaa5ay-W26SeGbdFYug/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Dw30qGQWIaa5ay-W26SeGbdFYug/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Dw30qGQWIaa5ay-W26SeGbdFYug/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/DxYUVQq0Rvs/pendidikan.html</link><author>noreply@blogger.com (Chelluz Pahun)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2011/06/pendidikan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-6632953335279420823</guid><pubDate>Fri, 24 Jun 2011 02:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-04T18:06:11.610+07:00</atom:updated><title>DERITA TKI</title><description>&lt;h1 class="judul_artikel"&gt;
Ketika Pemerintah Tak Bisa Diandalkan&lt;/h1&gt;
&lt;div align="center"&gt;
Oleh &lt;strong&gt;Runik Sri Astuti&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika  Ruyati membunuh majikannya, Pemerintah Arab Saudi dengan tegas  menjatuhkan hukuman mati. Namun, ketika tenaga kerja Indonesia yang  diperlakukan buruk oleh majikan, pemimpin bangsa ini asyik berwacana dan  berpidato. Mereka tega membiarkan pekerja dan keluarganya berjuang  sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lebih dari setahun Sri pergi menghadap Sang Khalik.  Namun, Yanto, suaminya, belum juga mampu melupakan peristiwa kelabu yang  mengiringi kepergian ibunda dari tiga anaknya itu. Luka di hatinya  teramat dalam sehingga sulit menghapus kenangan pahit saat ia harus  berjuang sendiri menuntut  keadilan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sri  adalah tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Madiun, Jawa Timur,  yang berangkat Agustus 2009. Pekerja rumah tangga (PRT) ini tewas  dibunuh majikannya dengan tuduhan berbuat kriminal. Ia meninggal pada 1  Januari 2010, tetapi keluarga baru mendapat kabar pada 26 Maret 2010.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Alih-alih  mendapat pembelaan dari Pemerintah Indonesia, diuruskan jenazahnya saja  tidak. Yanto berusaha sendiri memulangkan jenazah istrinya yang  tertahan selama enam bulan pada 29 Juni 2010. Ia juga berhasil menuntut  keadilan sehingga majikan laki-laki dihukum mati dan istri majikannya  dipenjara.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak terbilang berapa besar biaya, pikiran, dan  tenaga yang dihabiskan, apalagi harus menyewa jasa  pengacara untuk  membantu selama persidangan di Arab Saudi. Dengan keterbatasan  pengetahuan, uang, dan kekuasaan, terbayang bagaimana sulitnya  perjuangan Yanto. Karena itu, pantas jika ia kesal terhadap  pemerintah yang memiliki segalanya, tetapi tak berbuat apa-apa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
”Pemerintah  kita  sangat lamban, benar-benar mengecewakan. Tidak punya inisiatif,  harus menunggu ada kejadian, baru melakukan tindakan. Mereka ini  benar-benar tidak bisa diharapkan. Kalau bukan rakyat sendiri yang  berusaha, tidak akan bisa,” katanya, Selasa (21/6).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perjuangan  yang tidak kalah hebat juga dilakukan oleh Bejo, suami Susianti, TKW  asal Kabupaten Madiun yang bekerja di kota Abha, Arab Saudi.  Hampir  tiga tahun ayahanda Edi Santosa (6) ini mencari kejelasan nasib istrinya  yang ditahan majikan sejak keberangkatannya pada  31 Desember 2007.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Susianti  tak hanya tidak bisa pulang, tetapi juga tidak digaji selama bekerja.  Kini, perempuan 25 tahun itu  berstatus pekerja ilegal setelah masa  kontrak kerjanya habis pada 31 Desember 2009. Jangankan pulang,  keluar rumah majikan pun ia tak berani,  takut ditangkap polisi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
”Katanya  jika tidak ada halangan, istri saya dijanjikan pulang tanggal 20 Arab  atau sekitar  4 Juli 2011. Semoga kali ini istri saya benar pulang.  Jangan seperti sebelumnya, janji-janji pemulangan itu tidak pernah  ditepati,” ujar Bejo di rumahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Petani  ini bercerita, istrinya berangkat melalui PJTKI di Jakarta, PT Sabrina  Pramitha. Sesuai kontrak, Susianti dibeli sebagai budak oleh Saad  Muhammad al-Syahroni. Namun, dalam perjalanannya, dia dipekerjakan di  rumah adik Saad bernama Sofiah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tahun pertama bekerja, Susi tak  bisa dikontak. Kiriman surat juga tak sampai. Saat itulah Bejo mulai  gelisah dan mencari tahu lewat perusahaan. Bejo nekat ke Jakarta dengan  modal uang Rp 3,5 juta hasil menjual sapinya. Namun, tanggapan yang  didapat sungguh mengecewakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tak mau menyerah, Bejo mengadu  kepada Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia  (BNP2TKI). Apes, pengaduan Bejo hanya dicatat pada  selembar kertas dan diminta bersabar karena ada ribuan TKI bermasalah yang  lebih dulu mengadu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akhirnya,  satu tahun berlalu tanpa kabar. Bejo nekat kembali ke Jakarta pada  November 2010 dengan modal uang hasil menjual sapi milik keluarga  mertua. Akan tetapi, uang Rp 4 juta itu pun habis tanpa hasil kecuali  selembar formulir laporan yang kembali  Bejo dapatkan dari petugas di  BNP2TKI.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sampai sekarang sudah empat sapi atau sekitar Rp 20 juta  dihabiskan untuk mencari kejelasan nasib istrinya. Selama itu belum  pernah sepeser uang pun terkirim dari Arab Saudi.   Jangankan dapat  rezeki,  semua uangnya ludes, bahkan ia harus berutang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meminta  bantuan ke lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga sudah dilakukan, tetapi  belum membuahkan hasil. Setelah usaha ke sana-sini, Bejo berhasil  menghubungi istrinya pada 2009. Namun, bukannya merasa lega karena  mengetahui keadaan Susi baik, Bejo malah sedih. Pasalnya, Susi tak bisa  pulang karena gajinya masih ditahan. Setelah negosiasi dengan majikan,  disepakati Susi dibayar 600 riyal (sekitar Rp 1, 4 juta) per bulan dari  kontrak 800 riyal per bulan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah semua pengorbanan yang  mereka lalui, Minggu (19/6), istrinya mengabarkan gajinya  belum cair,  bahkan diserahkan oleh majikannya kepada polisi. Alasannya, polisi akan  memberikan uang itu kepada Susi setelah ia mengurus dokumen resmi.  Alamak, masalah apa lagi ini?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yanto dan Bejo hanya contoh kecil  perjuangan keluarga pahlawan devisa ini demi menyelamatkan nyawa yang  berada di ujung petaka serta mencari keadilan. Di negeri penghasil buruh  migran ini terdapat ribuan, bahkan jutaan, keluarga yang melakukan  perjuangan serupa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lily Pujiati, koordinator Peduli Buruh Migran,  sebuah LSM advokasi hukum dan kesehatan buruh migran, mengatakan,  hampir setiap hari pihaknya menerima pengaduan dari buruh migran atau  keluarganya. Dalam sebulan ada lebih dari 30 kasus. Terbanyak masalah  penyiksaan, gaji tidak dibayar, dan pemutusan hubungan kerja secara  sepihak oleh majikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada hampir  semua kasus,  buruh migran dan  keluarganya  berjuang sendiri mencari keadilan. Peran pemerintah   hampir tidak terasa. &lt;span style="font-size: 78%; font-weight: bold;"&gt;(sumber Kompas, 23 Juni 2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-6632953335279420823?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zRMXqateemAUlhQW3XYMqj3wUpI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zRMXqateemAUlhQW3XYMqj3wUpI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zRMXqateemAUlhQW3XYMqj3wUpI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zRMXqateemAUlhQW3XYMqj3wUpI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/YrgBS-BlWPY/derita-tki.html</link><author>noreply@blogger.com (Chelluz Pahun)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2011/06/derita-tki.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-4036523957043970377</guid><pubDate>Fri, 24 Jun 2011 02:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-04T18:07:54.122+07:00</atom:updated><title>Realitas Ruyati di Balik Pidato SBY</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Anis Hidayah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Belum  luruh sepenuhnya dalam pendengaran kita, delegasi Indonesia yang  dipimpin  Ketua BNP2TKI mengklaim adanya kesepahaman untuk perlindungan  dengan Pemerintah Arab Saudi, datang kabar duka dari ”Negeri Onta” itu.  Pada  18 Juni 2011, masyarakat Indonesia dikejutkan  kabar  eksekusi mati  Ruyati binti Satubi, pekerja rumah tangga (PRT) migran Indonesia asal  Bekasi, Jabar, di Arab Saudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ironisnya, Ruyati dieksekusi  hanya  berselang dua hari  setelah Organisasi Buruh Internasional (ILO)  mengadopsi Konvensi Nomor 189 tentang Kerja Layak bagi PRT di Geneva,  Swiss, sebagai hasil  Sidang Ke-100 ILO. Bagi masyarakat  Indonesia, pemancungan Ruyati menegaskan realitas lain di balik yang  tampak dari yang disampaikan oleh para pejabat publik negeri ini. Tak  terkecuali  apa yang telah disampaikan  Presiden Susilo Bambang  Yudhoyono tentang perlindungan buruh migran yang didengar oleh  masyarakat dunia.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam rangkaian Sidang Ke-100 ILO, dalam  pidatonya, Presiden SBY dengan sangat meyakinkan menyampaikan bahwa  hak-hak buruh migran Indonesia telah dihormati dan terlindungi.   Indonesia telah memiliki regulasi dan institusi yang melindungi   pahlawan devisa tersebut. Sama sekali tak tergambar masalah serius yang  dihadapi buruh migran Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Padahal, menjelang keberangkatan  SBY ke Geneva, Isti Komariah (asal Banyuwangi, Jatim) meninggal  di  Malaysia akibat disiksa majikannya. Ia  diindikasikan tak diberi makan  selama berbulan-bulan. Sementara di Singapura, Sulastri (asal Banyumas,  Jateng) juga meninggal dunia karena mengalami kerusakan otak akibat  percobaan bunuh diri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Kegagalan pemerintah &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk  itu, sesungguhnya pemancungan Ruyati adalah bukti nyata kegagalan  Pemerintah Indonesia dalam membela dan melindungi warga negaranya.   Apalagi, menurut keluarga Ruyati, mereka tak menerima informasi resmi  apa pun dari pihak Pemerintah Indonesia menjelang eksekusi mati  tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Informasi resmi baru diterima oleh keluarga setelah  eksekusi dilakukan, yakni pada Minggu  (19/6) pagi, dari Kementerian  Luar Negeri. Informasi itu pertama kali datang kepada keluarga Ruyati  justru dari Migrant Care, LSM yang selama ini sering tidak dianggap  sebagai mitra strategis oleh pemerintah. Migrant Care menyampaikan  informasi itu kepada keluarga pada Minggu  pukul 01.00 setelah  mengetahui perihal eksekusi Ruyati  dari jejaring LSM dan media asing.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kasus  Ruyati sebenarnya telah diketahui oleh berbagai instansi pemerintah  sejak Januari 2010. KJRI Jeddah telah mengirimkan informasi perihal  ancaman hukuman mati terhadap Ruyati kepada Kementerian Luar Negeri,  Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Kepala BNP2TKI pada 18  Januari 2010.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semestinya berbagai instansi tersebut berkoordinasi  dalam upaya pembelaan hukum untuk Ruyati. Namun, hingga eksekusi  dilaksanakan, hal itu tak tampak. Justru para pemangku jabatan negara  saling lempar tanggung jawab secara vulgar hingga kini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bisa  dipahami jika  keluarga Ruyati mengusir staf BNP2TKI yang mendatangi  rumah Ruyati sebagai ekspresi kekesalan mereka atas ketidakpedulian  pemerintah terhadap pihak keluarga yang berjuang mencari pembelaan dan  perlindungan terhadap Ruyati. Sampai dua hari pascaeksekusi Ruyati,  pemerintah juga belum bisa memberikan penjelasan mengenai kronologi  pembelaan hukumnya: siapa pengacaranya dan kapan sebenarnya vonis tetap  hukuman mati itu dijatuhkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hal yang disesalkan Pemerintah  Indonesia justru karena merasa kecolongan atas eksekusi mati Ruyati.  Meskipun apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Arab Saudi  dianggap  melecehkan  Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dan melanggar  Mandatory Consuler Notification  sebagaimana diatur dalam Konvensi  Vienna, tampaknya kita juga tak akan melihat sikap tegas pemerintah  apabila becermin pada kasus-kasus serupa sebelumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Harus bisa  melindungi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di  tengah situasi duka seperti saat ini, kita sangat menyesalkan  pernyataan Kepala BNP2TKI yang menegaskan bahwa eksekusi mati terhadap  Ruyati adalah peristiwa pidana dan bukan perselisihan perburuhan.  Pernyataan itu tentu saja menunjukkan cara pandang pejabat publik yang  hanya melihat persoalan ancaman hukuman mati dari sisi kriminalitas  semata.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Padahal, sejak tiga hari  bekerja, Ruyati telah mengalami penyiksaan fisik, tidak diberi  makan secara cukup, kurang   tidur, jam kerja tidak terbatas, tidak ada hari libur, tidak digaji  selama tujuh bulan, dan tidak ada akses keluar rumah. Situasi kerja yang  tidak layak seperti ini hampir dapat dipastikan akan memicu  perselisihan dan berbagai masalah, yang ujung-ujungnya menyudutkan PRT  migran. Situasi inilah sebenarnya  gambaran umum yang dihadapi  PRT  migran Indonesia di Arab Saudi, termasuk Darsem. Saat ini dia  tengah  menanti vonis hukuman mati dengan tuduhan membunuh majikannya karena  membela diri lantaran hendak diperkosa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat ini tak ada gunanya  lagi polemik di antara instansi pemerintah dan saling lempar tanggung  jawab setelah Ruyati kehilangan nyawa. Hal prioritas yang mesti  dilakukan adalah bagaimana meningkatkan keseriusan dalam memberikan  pembelaan dan bantuan hukum bagi 23 buruh migran yang saat ini juga  tengah menghadapi ancaman hukuman mati di Arab Saudi. Cukup sudah  kegagalan membela Ruyati dan Yanti Iriyanti yang dieksekusi mati pada   2008.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk itu, pemerintah perlu dan harus segera mengevaluasi  pejabat dan mekanisme bantuan hukum yang dilakukan selama ini.  Pengacara-pengacara yang selama ini terbukti tak bisa maksimal membela  buruh migran sudah semestinya tak disewa lagi. Upaya pendampingan  buruh  migran yang menghadapi proses hukum juga perlu  secara intensif  dilakukan, termasuk memberikan konseling dan memfasilitasi komunikasi  dengan keluarga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perlindungan untuk buruh migran Indonesia dengan  berbagai problematiknya—termasuk kasus ancaman hukuman mati—tidak  selesai dengan pidato, tetapi butuh langkah konkret. Rekomendasi Badan  Pemeriksa Keuangan  dan KPK mengenai perlunya evaluasi menyeluruh  terhadap kebijakan dan kinerja instansi harus ditindaklanjuti segera.  Juga moratorium dengan negara tujuan yang belum ada landasan MOU dengan  Pemerintah Indonesia, termasuk dalam hal ini Arab Saudi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di  samping itu, perbaikan perlindungan juga memerlukan transparansi dan  akuntabilitas dalam setiap pengambilan kebijakan dan penggunaan  anggaran, baik yang bersumber dari APBN maupun pungutan dari buruh  migran. Manajemen yang transparan akan memungkinkan keterlibatan dan  peran aktif segenap komponen masyarakat dalam perlindungan buruh migran.   Terakhir, kerentanan perempuan PRT migran  terhadap berbagai bentuk  kekerasan harus dijawab dengan segera meratifikasi Konvensi ILO Nomor  189 tentang Kerja Layak bagi PRT yang baru disahkan dalam Sidang Ke-100  ILO, pekan lalu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Anis Hidayah &lt;em&gt;Direktur Eksekutif Migrant Care&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber, Opini Kompas Edisi 23 Juni 2011&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-4036523957043970377?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4iABBnEtWnyojMdM3M1o_t8KeoU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4iABBnEtWnyojMdM3M1o_t8KeoU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4iABBnEtWnyojMdM3M1o_t8KeoU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4iABBnEtWnyojMdM3M1o_t8KeoU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/nVTRRQQiO3s/realitas-ruyati-di-balik-pidato-sby.html</link><author>noreply@blogger.com (Chelluz Pahun)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2011/06/realitas-ruyati-di-balik-pidato-sby.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-880768161707061500</guid><pubDate>Fri, 24 Jun 2011 02:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-04T18:08:29.830+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kebijakan</category><title>Ironi TKI dan Sapi</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh&lt;strong&gt; Hikmahanto Juwana&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam dua pekan ini, Indonesia didera oleh  dua kejadian di luar negeri yang berdampak pada negeri ini. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pertama adalah kebijakan   Pemerintah Australia menghentikan  selama enam  bulan  ekspor sapi ke  Indonesia. Kedua, terkait dengan eksekusi hukuman mati berupa  pemancungan atas tenaga kerja kita,  Ruyati, di Arab Saudi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pemerintah pun mendapat berbagai kritik atas kebijakan  dan pelaksanaan hubungan luar negeri. Pemerintah Indonesia   seharusnya tegas bersikap ketika kepentingan nasional atau nasib warga  negara menjadi taruhan. Ketidaktegasan pemerintah akan berakibat pada  merebaknya  kemarahan publik di dalam negeri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bila  dianalisis, paling tidak ada tiga sumber ketidaktegasan pemerintah.  Pertama adalah pencanangan kebijakan luar negeri ”seribu kawan dan   tiada lawan”.  Kebijakan ini seolah-olah membuat Indonesia tidak mau  memciptakan musuh, sebaliknya menganggap semua negara adalah teman.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Padahal,  dalam hubungan antarnegara, tak ada musuh dalam pengertian musuh  sebagaimana di masa kanak-kanak. Teman dalam konteks hubungan  internasional hanya ada bila kepentingan sejalan. Namun, bila  kepentingan   sudah tak sejalan, teman pun jadi musuh. Teman dan musuh  pun tak ada yang abadi.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh karena itu, bagi Indonesia,  sepanjang ada kepentingan nasional yang terancam ataupun ada warga  negara yang tidak terlindungi, pemerintah harus tegas dan menganggap  negara sahabat sebagai musuh. Bila itu yang terjadi, yang  terpenting   dilakukan adalah menjaga proporsi tindakan dan melokalisasi masalah  sehingga tidak mengganggu hubungan kedua negara yang lebih besar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kedua,  dalam hubungan bilateral sebenarnya tidak hanya menteri luar negeri  yang berperan. Dalam kasus Ruyati, berbagai institusi terlibat mulai  dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia  (BNP2TKI), Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta perwakilan  Indonesia di Arab Saudi. Sementara itu,  untuk kasus pemotongan sapi ada  Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan pemerintah daerah  yang menyelenggarakan rumah potong hewan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sayangnya, koordinasi  antarinstansi terkadang lemah dan  berakibat pada ketidaktegasan sikap  pemerintah. Semua kesalahan akan ditimpakan kepada Kementerian Luar  Negeri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terakhir, sumber kelemahan terletak pada bagaimana  pemerintah mengelola permasalahan. Pemerintah lebih menyibukkan diri   menjawab kritik daripada mengambil langkah konkret pada negara mitra.  Padahal, langkah konkret dibutuhkan untuk menjawab keraguan publik atas  lemahnya pelaksanaan urusan luar negeri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Harus tegas&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ilustrasi  dari tiga sumber kelemahan dapat terlihat dalam penanganan pemerintah  setelah  pemancungan Ruyati dan penghentian ekspor sapi Australia.  Pemerintah dinilai lemah dalam merespons kebijakan  Pemerintah Arab  Saudi dan Australia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam kasus Ruyati, bila notifikasi atas  eksekusi yang merupakan hak dari Indonesia dilalaikan oleh otoritas Arab  Saudi dan sistem hukum Arab Saudi yang tidak transparan serta  memperhatikan due process of law, apa tindakan konkret  pemerintah  terhadap Arab Saudi?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bukankah ada sejumlah pilihan  yang bisa  dilakukan dari sekadar menyampaikan nota protes, misalnya membawa  masalah ini ke Dewan HAM PBB? Demikian juga terkait dengan kebijakan  Pemerintah Australia atas penghentian ekspor sapi. Mengapa menteri  pertanian seolah-olah melunak bahkan memfasilitasi tim gabungan  Australia dan Indonesia membenahi  rumah hewan?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bukankah pihak  industri sapi Australia yang justru menderita akibat kebijakan  pemerintahnya sendiri? Lalu, mengapa pemerintah seolah-olah mau  memfasilitasi pencabutan terhadap hukuman yang dijatuhkan agar  dipercepat?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pemerintah harus tegas, baik kepada Pemerintah Arab  Saudi, Australia bahkan  Malaysia terkait masalah perbatasan ataupun  Singapura terkait ekstradisi. Di sinilah pentingnya perumusan kebijakan  luar negeri yang terkoordinasi, jelas,  dan tegas. Ini yang akan membuat  rakyat  bangga pada pemerintahnya bahkan  membuat negeri ini kembali  disegani  negara sahabat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jangan sampai pelaksanaan kebijakan  luar negeri menjadi suatu ironi di mata publik. Ketika TKI tak dihargai   negara sahabat, seperti Arab Saudi,  Indonesia seolah-olah tak berdaya.  Padahal, Australia bisa tegas terhadap Indonesia ketika sapinya  disembelih tanpa memperhatikan kesejahteraan binatang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jangan  pula diombang-ambing kebijakan salah satu Pemerintah Australia terkait  larangan ekspor sapi, sementara Indonesia maju mundur dengan rencana  moratorium pengiriman TKI ke Arab Saudi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hikmahanto Juwana &lt;em&gt;Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-880768161707061500?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WSzz_XfMgm1rY1-i0bUZD9YU9HM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WSzz_XfMgm1rY1-i0bUZD9YU9HM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WSzz_XfMgm1rY1-i0bUZD9YU9HM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WSzz_XfMgm1rY1-i0bUZD9YU9HM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/Vzl44zN0-cs/ironi-tki-dan-sapi.html</link><author>noreply@blogger.com (Chelluz Pahun)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2011/06/ironi-tki-dan-sapi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-4636819021458109953</guid><pubDate>Thu, 05 May 2011 07:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-05T14:59:36.783+07:00</atom:updated><title>Lamunan dan Mimpi Buruk</title><description>&lt;strong&gt;Sri Palupi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanggal  1 Mei diperingati secara internasional sebagai Hari Buruh. Hari itu  menandai perjuangan buruh keluar dari sistem eksploitatif: jam kerja  panjang, upah minim, dan kondisi kerja buruk. Meskipun berlangsung  puluhan tahun, perjuangan kaum buruh belum mampu mengantar mereka  sampai ke depan pintu gerbang kesejahteraan. Jangankan sejahtera, tetap  bisa bekerja saja sudah berkah bagi buruh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Visi tanpa eksekusi  adalah lamunan dan eksekusi tanpa visi adalah mimpi buruk. Begitulah di  sini. Meski visi pemerintah menyejahterakan rakyat, aturan dan  kebijakan prorakyat condong jadi onggokan dokumen di laci birokrasi.  Yang dijalankan justru aturan dan kebijakan yang tak punya visi  menyejahterakan. Disadari atau tidak, negeri ini dikendalikan politisi  yang mengelola republik ini dengan lamunan dan mimpi buruk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Inflasi lamunan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entah  berapa banyak janji pemerintah mewujudkan visi pemerintahannya. Di  sektor perburuhan, kita tengah mengalami inflasi aturan  perundang-undangan. Kini terdapat lebih dari 30 aturan  perundang-undangan yang terkait langsung atau tak langsung dengan  perlindungan buruh. Sementara defisit komitmen menjadikan aturan  perundang-undangan yang substansial berpihak pada kepentingan buruh  hanya tumpukan dokumen. Ratifikasi berbagai instrumen hak asasi yang  ditujukan bagi perlindungan hak buruh, misalnya, berhenti sebatas  ratifikasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu aturan perundang-undangan yang terus  ditagih pelaksanaannya oleh buruh adalah UU No 40/2004 tentang Sistem  Jaminan Sosial Nasional. UU ini seharusnya dilaksanakan paling lambat  lima tahun sejak diundangkan. Pemerintah belum menunjukkan itikad baik  menjalankannya. Alasannya, pemerintah telah membuat Jaminan Kesehatan  Masyarakat (Jamkesmas) untuk warga miskin.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jamkesmas bukanlah  jaminan sosial seperti diamanatkan UU. Ia ”derma” belaka bagi kelompok  miskin yang ingin mendapat layanan kesehatan gratis atau murah. Lagi  pula, tak semua warga miskin mendapatkan Jamkesmas, apalagi buruh yang  tak termasuk dalam kategori miskin menurut ukuran pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski  sudah banyak janji terkait kebijakan prorakyat yang belum dijalankan  pemerintah Yudhoyono, pada 22 Februari 2011 Presiden SBY kembali membuat  janji untuk kelompok miskin dengan mencanangkan enam program baru:  rumah murah, kendaraan umum murah, air bersih, listrik murah dan hemat,  peningkatan kehidupan nelayan, dan peningkatan kehidupan masyarakat  pinggiran kota. Tak satu pun program proburuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai kelompok  yang gigih memperjuangkan hak, buruh selalu dihadapkan pada realitas  mimpi buruk: aturan dan kebijakan pemerintah cenderung dijalankan tanpa  visi perlindungan terhadap hak buruh. Ini bisa dinilai dari upaya  pemerintah melucuti hak-hak buruh melalui hukum perburuhan yang  mengadopsi konsep kelenturan pasar tenaga kerja dalam bentuk kemudahan  pemutusan hubungan kerja (PHK), perluasan sistem kontrak dan  outsourcing, kelenturan upah dan jaminan sosial, serta kelenturan jam  kerja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebijakan upah minimum telah membuat kesejahteraan semakin  jauh dari jangkauan buruh. Meski upah minimum tiap tahun direvisi, tak  ada kenaikan upah riil bagi buruh karena kenaikan upah lebih rendah dari  kenaikan harga barang dan jasa. Sejak UU No 13/2003 tentang  Ketenagakerjaan berlaku, buruh kian rentan kena PHK, haknya kian  berkurang, dan keberlangsungan kerjanya kian tak terjamin akibat  kemudahan PHK, perluasan sistem kontrak, dan legalisasi praktik  outsourcing.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;UU Ketenagakerjaan telah mempersempit ruang gerak  buruh, sementara UU Serikat Pekerja dan UU&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyelesaian Perselisihan  Hubungan Industrial juga berandil memperlemah posisi tawar buruh.  Kebijakan pemerintah selama ini tak memperhitungkan buruh sebagai  kelompok miskin sehingga buruh tak tersentuh kebijakan mengatasi  kemiskinan. Padahal, dalam sistem ekonomi yang kian liberal, posisi  buruh kian rentan jatuh miskin atau makin miskin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Melanggar konstitusi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil  kajian Forum Pendamping Buruh Nasional menunjukkan, pada 2003 di Jawa  Timur tercatat hanya 7 persen buruh berstatus kontrak. Pada 2006  proporsi buruh berstatus kontrak meningkat menjadi 68 persen. Pada tahun  yang sama 62,6 persen buruh di 91 perusahaan di Jawa Barat berstatus  kontrak. Bisa dilihat, dalam waktu singkat buruh mengalami pemiskinan,  tetapi tak tersentuh kebijakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun menurut data Jamsostek  2010, dari sekitar 31 juta buruh formal, hanya sekitar 9 juta buruh atau  27 persen yang diikutkan program Jamsostek. Ini berarti 73 persen buruh  rentan jatuh miskin ketika sakit. Jangankan buruh yang tak diikutkan  Jamsostek, buruh peserta Jamsostek saja mudah jatuh miskin oleh tak  memadainya skema Jamsostek dalam memberikan perlindungan bagi buruh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika  buruh jatuh miskin atau semakin miskin, tak ada ske- ma bantuan bagi  mereka karena buruh tak termasuk dalam kelompok miskin. Kelompok miskin  bisa mendapatkan BLT atau raskin, tetapi buruh yang jatuh miskin tak  berhak atas bantuan. Satu-satunya harapan buruh bisa memperbaiki nasib adalah pelaksanaan sistem jaminan sosial sesuai dengan amanat konstitusi yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia bermartabat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau  pemerintah SBY tak juga menjalankan sistem jaminan sosial, tak salah  bila buruh menilai pemerintah SBY melanggar konstitusi. Tak salah juga  bila era pemerintahan SBY dicatat sebagai era inflasi janji dan tumpukan  lamunan. Rakyat tak akan melupakan janji pemerintah SBY: swasembada  pangan, reforma agraria, pembangunan 1.000 rumah susun,  pembangunan jalan tol sepanjang 340 km per tahun, dan janji-janji lain  yang sampai kini belum terealisasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sri Palupi &lt;em&gt;Ketua Institute for Ecosoc Rights&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Opini Kompas, 4 Mei 2011 &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-4636819021458109953?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jGCRDDDjDkfZNizG39Z6r6hXxCI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jGCRDDDjDkfZNizG39Z6r6hXxCI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jGCRDDDjDkfZNizG39Z6r6hXxCI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jGCRDDDjDkfZNizG39Z6r6hXxCI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/JuRCkXr_Fpo/lamunan-dan-mimpi-buruk.html</link><author>noreply@blogger.com (The Institute for Ecosoc Rights)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2011/05/lamunan-dan-mimpi-buruk.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-8310269623211372216</guid><pubDate>Tue, 05 Apr 2011 05:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-04-05T12:43:06.475+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kemiskinan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Penggusuran</category><title>Negara Terus Memainkan  “Festival” Pengusuran</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Cheluz Pahun&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Z1ca8awZjJY/TZqlkm4MSVI/AAAAAAAABUk/fgjrVg1kMSU/s1600/kolong+Jembatan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="210" src="http://3.bp.blogspot.com/-Z1ca8awZjJY/TZqlkm4MSVI/AAAAAAAABUk/fgjrVg1kMSU/s320/kolong+Jembatan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;Foto, Kompas : Warga DKI hidup dibawah kolong jembatan&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #444444; font-size: x-large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;eristiwa Pengusuran masih saja terus&amp;nbsp; terjadi. Tanggal 8 Maret 2011 lalu sedikitnya 200 lapak pedagang Kaki-5 di Pasar Ciampea Lama (PCL), di Jl. Letnan Sukarna, Kecamatan Ciampea, Selasa diobrak-abrik petgas Satpol PP Kabupaten Bogor. Sebelumnya Pemkab dan DPRD Kabupaten Bogor memberikan batas akhir Febuari untuk mereka mengosongkan PKL.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanpa ampun, para penegak perda Kabupaten Bogor ini membongkar puluhan lapak pedagang Kaki-5. Aksi saling dorong yang disertai perang mulut tak terhindarkan, namun sayang reaksi pedagang&amp;nbsp; mempertahan lapaknya tak digubris Sat Pol PP. Lapak-lapak pedagang Kaki-5 dalam hitungan menit roboh dihantam alat berat.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Neneng Surani, pedagang Kaki-5 yang sudah enam tahun berdagang di PCL seperti dikutip beberapa media mengaku pasrah menerima pembongkaran. Apalagi pembokran itu melibatkan puluhan aparat Polres Bogor dan TNI.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menunjukkan, tahun 2001, tercatat ada sekitar 718 kepala keluarga dengan 2.872 jiwa yang menjadi korban penggusuran. Mereka adalah warga Ancol Timur, Bantaran Kali Teluk Gong, dan Pesing Poglar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Jumlah ini bertambah pada tahun 2002. Penggusuran pada tahun ini setidaknya mengorbankan 1.198 keluarga dengan 4.792 jiwa. Mereka adalah warga Kampung Kapuk Poglar, Bantara Kali Angke, Kelurahan Pejagalan, Penjaringan, Kelapa Gading Barat, Rawasari, Cilandak, serta perumahan mantan Guru Olahraga SMU Ragunan dan Mangga Dua.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Selanjutnya, sepanjang tahun ini, jumlah korban bertambah lebih banyak lagi. Penggusuran pertama pada 26 Agustus 2003 terjadi di kelurahan Jembatan Besi, Tambora terhadap Kampung Kapuk Poglar, Bantara Kali Angke, Kelurahan Pejagalan, Penjaringan, Kelapa Gading Barat, Rawasari, Cilandak, serta perumahan mantan Guru Olahraga SMU Ragunan dan Mangga Dua.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menyusul kemudian penggusuran di Kampung Catering, Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tercatat sebanyak 100 keluarga atau 500 jiwa kehilangan tempat tinggal. Belum usai sampai di situ, penggusuran kembali terjadi di empat kampung di lahan milik Perum Perumnas, yaitu Kampung Baru, Karang Anyar, Rawa Gabus, dan Pedongkelan. Keempat kampung itu berada di wilayah Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Akibat penggusuran itu, sebanyak 1.640 keluarga atau 6.000 jiwa lebih kehilangan tempat tinggal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Cerita belum berakhir. Sedikitnya 500-an warga harus bentrok dengan 4.500 aparat kepolisian dan petugas tramtib DKI yang mengawal buldoser menggilas sedikitnya 190 rumah di Kampung Sawah Taman Anggrek. Berikutnya, buldoser kembali meratakan pemukiman 650 kepala keluarga di kampung nelayan Kali Adem, Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara. Menyusul kemudian, 429 rumah di bantaran kali Cipinang rata dengan tanah. Sepanjang tahun ini tak kurang dari 4.000 rumah rata dengan tanah atau sedikitnya 20.000 orang kehilangan tempat tinggal. Itu terjadi hanya dalam waktu kurang dari empat bulan. Luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Franz Magnis Suseno&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; dalam bukunya Etika Politik, 1994, mengatakan Eksistensi negara – seluruhnya -harus bermanfaat bagi masyarakat. Seperti setiap persekutuan, begitu pula negara bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, dan tidak diciptakan agar ada negara. Apalagi, dan berbeda dari, misalnya, sebuah kongsi perdagangan, tujuan negara bukanlah jaminan kehidupan dan pemerkayaan mereka yang mengurusnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Jadi negara hanya mempunyai arti sejauh berguna bagi masyarakat.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Mengacu pada gagasan Magnis Suseno, tujuan normatif negara adalah mengusahakan kemajuan kepentingan semua warga negara. &amp;nbsp;Itu berarti satu-satunya eksistensi negara adalah kepentingan umum. Namun kelakuan negara sepanjang tahun ini, menunjukan Indonesia masih berada jauh dari titik tujuan normatif itu. Pengabaian negara telah tercabut dari tujuan normatifnya. Drama penggusuran sepanjang tahun dipertontonkan Pemerintah. Tanpa rasa kemanusiaan, negara mengusir ribuan warga negaranya sendiri dari lahan mereka tinggal. Itulah yang terjadi sepanjang beberapa tahun terakhir. Negara mempertontonkan sebuah “festival” penggusuran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pengusiran yang dilakukan Pemerintah menunjukkan seolah-olah kesalahan semata-mata hanya dilakukan oleh warganegara karena tinggal di lahan yang bukan miliknya. Mereka diusir begitu saja. Dalam sekejab mereka kehilangan segalanya dan dengan wajah bingung terpaksa keleleran di pinggir jalan. Menghuni Kolong kolong Jembatan, Emperan pertokoan dan berkeliaran di pingir jalan. Masih dapatkah kita mengatakan pemerintah konsisten dengan eksistensinya. Negara sesunguhnya telah tercabut dari apa yang yang dikatakan Magnis Suseno. Negara kini berubah menjadi “penjajah” untuk rakyat miskin. Tak Ada Lagi tempat bagi rakyat miskin di wilayah DKI.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Keterpihakan Negara terlihat jelas hanya pada kelompok masyarakat berduit. Lihat saja begitu banyak rumah mewah, hotel, vila, Supermarket maupun bangunan lainnya yang berada di zona terlarang. Sebuah ironi membayangkan segelintir orang dengan sangat mudahnya mendapatkan mandat hak hukum atas tanah yang berstatus tanah negara, sementara ribuan manusia yang sekedar mencicipi nikmatnya secuil tanah negara yang tersebar di perkotaan harus digelandang dengan pentung dan gas airmata. Sangat menyedihkan warganegara tidak lebih berharga dari seekor anjing yang mendapat susu dari tuannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Perlu di ingat, Dewan Sosial dan Ekonomi PBB (Ecosoc) telah mengeluarkan komentar umum (general comment) sebagai respon terhadap masifnya praktik pemindahan paksa, yaitu komentar umum nomor 4. Komentar tersebut berkembang menjadi salah satu dokumen indikator untuk menilai kinerja penghormatan hak ekonomi sosial dan budaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Disebutkan, kalaupun praktik penggusuran terpaksa harus dilakukan, maka diprasyaratkan adanya solusi alternatif yang layak bagi korban. Selain itu, tindakan penggusuran harus dilakukan berdasarkan hukum yang sesuai dengan kovenan yang mengatur hak ekonomi sosial dan budaya. Setiap orang yang dipindahkan secara paksa berhak atas penggantian kerugian yang memadai atas barang milik yang terkena akibat penggusuran tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sering dilupakan bahwa hak asasi tidak dapat dibagikan dan bersifat saling tergantung sehingga pelanggaran hak asasi ini&amp;nbsp; mengakibatkan pelanggaran hak asasi lain yang menyertainya. Dalam kasus penggusuran, hak asasi lain yang juga terimbas adalah hak atas hidup yang layak dan hak atas pendidikan khususnya bagi anak-anak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Negara ada bukan untuk orang berduit, tapi untuk masyarakat yang tinggal di dalamnya. Pemerintah tidak bisa mengingkari bahwa kemiskinan adalah entitas nyata warganya. Data Bank Dunia menyebutkan, 16 persen atau 36 juta masyarakat Indonesia adalah orang miskin. Tidak bisa tidak rumusan kebijakan harus juga menempatkan mereka sebagai unsur pertimbangan utama. Kekumuhan mereka bukan sesuatu yang harus disingkirkan, tetapi dilindungi, dijaga, dan dikembangkan hak-haknya.***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-8310269623211372216?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rYnef3ghnlLcM-RAYfKBJf96m1k/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rYnef3ghnlLcM-RAYfKBJf96m1k/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rYnef3ghnlLcM-RAYfKBJf96m1k/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rYnef3ghnlLcM-RAYfKBJf96m1k/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/z2muuVpj-54/negara-terus-memainkan-festival.html</link><author>noreply@blogger.com (The Institute for Ecosoc Rights)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-Z1ca8awZjJY/TZqlkm4MSVI/AAAAAAAABUk/fgjrVg1kMSU/s72-c/kolong+Jembatan.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2011/04/negara-terus-memainkan-festival.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-7283374149707904612</guid><pubDate>Tue, 05 Apr 2011 04:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-04-05T12:09:15.230+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Human trafficking</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kekerasan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kebijakan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hukum</category><title>Pengiriman TKI Untuk Bayar Utang Luar Negeri</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;US$ 2,6 miliar kiriman TKI setiap tahun&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Chelluz Pahun &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-IF_pEYSsoHs/TZqhDoYGvZI/AAAAAAAABUg/yKG42cNgY5o/s1600/unjuk_rasa_teatrikal_mengecam_penyiksaan_tki_110117172920.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="231" src="http://1.bp.blogspot.com/-IF_pEYSsoHs/TZqhDoYGvZI/AAAAAAAABUg/yKG42cNgY5o/s320/unjuk_rasa_teatrikal_mengecam_penyiksaan_tki_110117172920.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Unjuk Rasa penolakan kekerasan terhadap TKI&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Direktur International Banking and Financial Institution BMI, Farouk A. Alwyni Bank Muamalat Indonesia (BMI) menandatangi kerja sama dengan Maybank Malaysia Berhad dan Bank Muamalat Malaysia di bidang usaha remittance atau jasa pengiriman uang. Ada 450 tempat yang bisa digunakan nasabah di seluruh Malaysia. Menurut Farouk tercatat US$ 2,6 miliar kiriman TKI setiap tahun. Hal ini sebagaimana diliris oleh TEMPO Interaktif (03/06/2011)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sementara itu Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemanakertrans) mengumumkan, sumbangan devisa dari tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri, selama tahun 2009 mencapai 6,6 milyar dolar AS.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), selama kuartal keempat tahun 2009, penerimaan devisa dari TKI mencapai 1,71 milyar dolar AS, naik 1,42 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, sebesar 1,68 milyar dolar AS. Namun walaupun pendapatan TKI mengalami kenaikan, nilai pengiriman uang (remittance) yang dilakukan mereka selama tahun 2009 dilaporkan stagnan dibandingkan dengan tahun 2008.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;BI juga mencatat Sepanjang tahun 2009, nilai uang remittance TKI tercatat sebesar 6,77 milyar dolar AS, hanya naik sedikit dibandingkan dengan tahun 2008, sebesar 6,7 milyar dolar AS. Nilai remittance yang stagnan ini diperkirakan sebagai dampak dari krisis finansial global, yang turut mengakibatkan melemahnya perekonomian negara-negara utama tujuan TKI, antara lain Malaysia, Singapura, Taiwan dan Korea Selatan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menurut Kemanakertrans, melemahnya perekonomian negara-negara itu tidak hanya berpengaruh terhadap nilai remittance, namun juga terhadap permintaan TKI di luar negeri. Selama kuartal pertama 2009, jumlah TKI yang berangkat ke luar negeri dilaporkan mengalami penurunan hingga 38 persen.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tak Ada Kepedulian Negara&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sumbangan yang diberikan TKI dan perhatian Pemerintah untuk melindungi para TKI hingga kini belum seimbang. Kita Masih mendengar Kabar TKI menjadi korban kekerasan, disiksa majikan, diperkosan, dibunuh, Upah tak dibayar serta pelbagai situasi kekerasan lainnya. Tidak sedikit yang mengalami luka luka yang cukup serius, cacat permanen bahkan ribuan meninggal dunia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="renggang" style="text-align: justify;"&gt;Lembaga Advokasi, Eliminasi dan Pencegahan Pekerja Anak NTT mencatat hingga Juni 2010 terdapat 14.848 tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bekerja di luar negeri, seperti Malaysia yang direkrut lewat jalur tidak resmi menjadi korban perdagangan manusia (&lt;i&gt;human trafficking)&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="renggang" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="renggang" style="text-align: justify;"&gt;Dengan keterbatasan pengetahuan banyak TKI menjadi korban kekerasan dari majikannya di luar negeri. Nirmala Bonat, misalnya, ia disiksa majikannya hingga nyaris tewas, beruntung Nirmala mendapat ganti rugi. Tidak sedikit TKI asal NTT menjadi korban kekerasan majikan di luar negeri. TKI Asal NTT yang dikirim ke luar negeri, minimal tenaga kerja yang terlatih dan menamatkan pendidikan SMA. Sedangkan anak-anak putus sekolah dari desa yang tidak berkesempatan bekerja ke luar negeri, menjadi pekerja anak di ibu kota kabupaten dan provinsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai Juni 2010, jumlah pekerja anak di NTT sebanyak 23.103 orang. Jumlah itu termasuk 13.369 orang yang tercatat telantar karena bekerja jauh dari orang tua, 66 pengamen, 195 gelandangan dan 1.335 pekerja seks komersial.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="renggang" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Banyak Yang Mati&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta mencacatat Dalam kurung waktu 4 tahun terakhir, sedikitnya 4.590 Warga Negara Indonesia (WNI) tewas dalam status sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Angka kematian tertinggi terjadi tahun 2007 yakni 2.081 WNI. Menyusul kemudian tahun 2009 sebanyak 1.107 WNI. Sementara tahun 2010 sebanyak 908 dan 2008 mencapai 494 jiwa melayang. Sayang data tersebut tidak merinci sebab kematian dan berbagai penanganannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dalam kasus terakhir, LBH menyebut Darsem, WNI yang terancam hukuman mati karena menolak diperkosa majikan. Menurut LBH keseriusan pemerintah sangat diragukan untuk melindungi TKI seperti Darsem. Sebab hingga hari ini tidak ada komitmen pemerintah untukk membayar kompensasi 2 juta riyal atau Rp 4,7 milyar kepada keluarga korban.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bayar Utang Luar Negeri&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Jika diperhatikann ada korelasi antara pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar negeri dengan utang Indonesia sehingga pengiriman penghasil terbesar devisa negara tersebut terus dilakukan meski banyak terjadi permasalahan. TKI memang pahlawan devisa bagi negara, namun itu untuk membayar utang luar negeri yang kian menumpuk. Persoalan TKI kemungkinan baru akan selesai jika utang Indonesia terlunasi. Namun yang sebenarnya besaran utang yang diambil Indonesia tiap tahunnya, lebih sedikit dibandingkan bunga utang yang harus dibayarkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ada dua alasan menjadi TKI diluar negeri, diantaranya kapabilitas dan kondisi sosial ekonomi bangsa saat ini. TKI yang bekerja dengan keahlian spesifik dan penguasaan yang bagus, pasti dihormati, namun sebaliknya dengan yang tanpa pendidikan dan kemampuan memadai, maka tidak dihargai dengan baik. Kebanyakan TKI yang kurang memiliki keahlian lebih dominan menjadi korban kekerasan dari Majikannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kondisi kemiskinan di Indonesia menjadi faktor utama lemahnya daya saing bangsa, selain kesempatan bekerja di dalam negeri yang terbatas serta rendahnya tingkat pendidikan yang juga sangat berpengaruh. Jika orang sudah miskin dan ditambah sempitnya kesempatan kerja mendorong untuk mau kerja apa saja dengan daya saing yang rendah. Inilah persoalannya di Indonesia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Berdasarkan data Kemanakertrans, hingga awal bulan Februari silam, tercatat jumlah TKI yang sedang bekerja di luar negeri sebanyak 2,67 juta orang. Malaysia menjadi negara penempatan terbesar bagi TKI, yaitu mencapai 1,2 juta orang. Sedangkan Arab Saudi menempati urutan kedua dengan 927.500 orang TKI. Selain itu, jumlah TKI yang bekerja di Taiwan sebanyak 130.000 orang, Hongkong 120.000 orang, dan Brunei Darussalam 40.450 orang. Kenyataan ini seharusnya mendorong pemerintah melakukan gebrakan dalam dunia tenaga kerja di Indonesia khusunya yang akan bekerja di luar negeri. Pemerintah harus cermat dalam menyeleksi tenaga kerja ke luar negeri, TKI yang dikirim keluar negeri mustinya yang memiliki kemampuan serta cakap berbahasa Inggris agar tidak dieksploitasi. ***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-7283374149707904612?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PE1BObas4S0J8Smd3mlpkSX0xVc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PE1BObas4S0J8Smd3mlpkSX0xVc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PE1BObas4S0J8Smd3mlpkSX0xVc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PE1BObas4S0J8Smd3mlpkSX0xVc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/BlVllVhFMUA/pengiriman-tki-untuk-bayar-utang-luar.html</link><author>noreply@blogger.com (The Institute for Ecosoc Rights)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-IF_pEYSsoHs/TZqhDoYGvZI/AAAAAAAABUg/yKG42cNgY5o/s72-c/unjuk_rasa_teatrikal_mengecam_penyiksaan_tki_110117172920.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2011/04/pengiriman-tki-untuk-bayar-utang-luar.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-160144824468641435</guid><pubDate>Sat, 02 Apr 2011 12:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-04-02T19:56:31.615+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kebijakan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">buruh migran</category><title>“PASAR RINTISAN TKI” (Bagian 2) :</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Mimpi dan Perjuangan Seorang Mantan TKI&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sri Palupi &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0vbVuuodGUE/TZcb4jHjycI/AAAAAAAAABo/L2j1eeJici4/s1600/situasi+conter+berti.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://2.bp.blogspot.com/-0vbVuuodGUE/TZcb4jHjycI/AAAAAAAAABo/L2j1eeJici4/s320/situasi+conter+berti.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Situasi Konter Berti&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Perempuan Tangguh &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Luar biasa mimpi dan kerja keras seorang mantan TKI itu. Tapi ngomong-ngomong, siapa sebenarnya Berti Sarova?&amp;nbsp; Perempuan tangguh yang tidak hanya bisa bermimpi tapi juga ulet dalam mewujudkannya itu lahir pada 8 September 1976 di Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Bandar Lampung. Anak pertama dari tiga bersaudara itu telah menikah sebelum menjadi TKI di Taiwan. Ketika berangkat ke Taiwan, ia meninggalkan anak pertamanya yang baru berumur tiga bulan dalam asuhan orang tuanya. Suaminya sudah lebih dulu berangkat ke Taiwan dan bekerja di pabrik mesin jahit. Kini ia sudah memiliki dua anak dan anak pertamanya sudah berumur 11 tahun. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Usahanya mengembangkan pasar dan koperasi TKI tidak terlepas dari peran suaminya Eko Dedi Setiawan, yang sama-sama mantan TKI Taiwan. Dia jugalah yang setia mendukung dan membantu Berti mewujudkan mimpinya. Mereka telah bekerjasama membangun usaha sejak keduanya belum menjadi TKI. Baik Berti maupun suaminya sama-sama merasakan suka duka menjadi TKI. Keduanya juga sama-sama merasakan bagaimana menjadi TKI sukses dan apa artinya menjadi TKI gagal. Sebelumnya tidak pernah terpikir bahwa mereka akan menjadi TKI. Namun usaha rakit &lt;i&gt;speaker&lt;/i&gt; yang hancur di masa krisis ekonomi 1998 memaksa mereka mencari penghidupan lain dengan menjadi TKI. &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berti sendiri berangkat ke Taiwan pertama kali pada tahun 1999 dan pulang tahun 2001. Ia termasuk TKI yang beruntung karena mendapatkan PJTKI, agency, dan juga majikan yang baik. Ketika banyak TKI di Taiwan dikenai potongan gaji 14 bulan, ia hanya dikenai potongan gaji 7 bulan. Meski belum sampai dua bulan di penampungan PJTKI dan juga belum menguasai bahasa Mandarin ataupun bahasa Inggris, ia sudah diberangkatkan ke Taiwan. Beruntunglah majikannya baik, sehingga tidak terlalu mempermasalahkan kemampuannya dalam berbahasa. Ia berkomunikasi dengan majikan menggunakan bahasa campuran: Mandarin, Inggris, dan juga bahasa isyarat. Agency-nya yang tergolong baik membantunya berkomunikasi dengan majikan ketika ia punya kesulitan dengan makanan yang disediakan majikan. Atas bantuan agency, majikan membebaskan Berti untuk memilih makanannya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Selama kerja di Taiwan, Berti punya cukup banyak waktu luang. Sesuai kontrak, pekerjaannya hanyalah menjaga ama (nenek). Namun ketika tiba di Taiwan, ama ternyata meninggal dan ia diminta majikan menjaga akong (suami ama), seorang pensiunan dokter militer. Pekerjaannya tergolong ringan. Selain belanja dan masak, setiap pagi dan sore ia mengantar Akong pergi ke taman. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kemampuan Berti sebagai wirausahawan sudah ia tunjukkan sejak bekerja di Taiwan. Di antara aktivitasnya bekerja di rumah majikan ataupun di saat belanja dan menemani akong pergi ke taman, Berti memanfaatkan peluang bisnis. Ketika pergi ke pasar ia membeli baju-baju yang kemudian ia jual kembali ke teman-teman TKI yang ia temui di taman. Ide&amp;nbsp; jualan baju muncul ketika para TKI menyukai baju-baju yang ia pakai. Ia membeli baju-baju di pasar seharga 50 – 100 NT dan menjualnya dengan harga 200 NT. Ketika ia tahu teman-teman TKI suka memutar VCD lagu-lagu, muncul gagasan untuk menggandakan VCD dan menjualnya ke teman-teman TKI. Dengan komputer hasil rakitan suaminya yang sama-sama kerja di Taiwan, Berti menggandakan VCD dan mengemas VCD hasil copy-an itu ke dalam paket-paket VCD. Satu paket berisi 12 VCD, ia jual dengan harga 1000 NT. Ia dapat untung lumayan besar karena untuk menggandakan satu paket VCD cuma butuh modal 100 NT. Bukan hanya baju dan VCD, ia juga melayani pembelian berbagai macam barang yang dipesan para TKI yang tidak punya waktu sebanyak dirinya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Usaha penggandaan VCD bisa berjalan atas kebaikan majikan. Majikan tidak keberatan ia menjalankan penggandaan VDC sebagai usaha sampingan. Bahkan majikan senang melihat kreativitas dan keuletannya dalam memanfaatkan peluang. Tentu saja ini semua bisa terjadi karena majikan sudah lebih dulu puas dengan hasil kerja Berti. Terlebih setelah Berti mengembalikan uang 10.000 USD yang ia temukan di saku jaket majikan. Jaket itu diberikan majikan untuk dipakai Berti. Majikan sama sekali sudah lupa kalau di dalam saku jaket itu masih tersimpan uang ribuan dollar. Makanya majikan senang sekali ketika Berti menyerahkan uang ribuan dollar yang sudah tak diingatnya lagi itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dari hasil kerja sampingan selama di Taiwan, Berti bisa membeli kebun, pekarangan rumah dan juga sawah. Namun apa yang ia beli ini kemudian ludes dijual ntuk menutup kerugian atas usahanya yang bangkrut akibat ditipu teman. Ceritanya cukup panjang. Sepulang dari Taiwan, seperti yang sudah saya ceritakan di atas, ia membuka usaha wartel di kapling pasar yang baru dibuka oleh desa, dengan modal Rp 15 juta. Awalnya wartel ini cukup ramai karena belum ada saingan. Dari usaha wartel itu, setiap bulan Berti bisa memperoleh penghasilan bersih Rp 10-15 juta. Dari usaha wartel ini pula ia bisa membeli tanah dan membangun kios toko sebanyak 10 unit dan tiga kios sayur. Kios yang dibangun dengan modal paling banyak Rp 7 juta itu ia jual dengan harga Rp 10 juta. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Usaha wartel mulai merosot dan pemasukan semakin berkurang setelah ada telepon masuk desa. Akhirnya ia dan suami beralih usaha dengan membuka dealer motor Cina. Usaha ini awalnya cukup maju karena belum ada saingan. Dalam satu bulan penjualan bisa mencapi 30-40 motor, dengan penghasilan bersih mencapai Rp 9 juta per bulan. Setelah dealer motor Cina menjamur, penghasilan pun berkurang. Usaha dealer bangkrut setelah uang angsuran sebesar Rp 124 juta dibawa kabur teman. Untuk mengganti uang angsuran itu, seluruh aset tanah ia jual. Dari dealer motor ia kemudian beralih usaha ke jual beli barang elektronik. Usaha ini pun tidak berlangsung lama karena kalah bersaing dengan usaha jual beli elektronik dengan sistem kredit. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketika semua aset tanah sudah dijual dan tidak ada lagi modal usaha, Berti dan suaminya memutuskan untuk kembali menjadi TKI.&amp;nbsp; Keberangkatan ke Taiwan kali kedua ini tidak menguntungkan bagi Berti dan suaminya. Suaminya gagal berangkat, kena tipu PJTKI. Padahal uang penempatan sebesar Rp 8 juta sudah ia bayarkan ke PJTKI. Selain suaminya, ada 8 orang lain dari Lampung yang sama-sama kena tipu. Sementara keberangkatan Berti ke Taiwan untuk kali kedua berakhir dengan kegagalan. Bukan hanya kegagalan tetapi juga memberinya pengalaman berharga akan perilaku para pejabat publik Indonesia, yang menurutnya sebelah mata saja memandang TKI. Berti menilai, persoalan TKI tidak pernah dianggap penting oleh para pejabat yang mengaku peduli TKI. Itulah mengapa ia bertekad untuk membuat sebanyak mungkin warga desa menyingkirkan cita-cita menjadi TKI dari hati dan pikiran mereka. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah gagal sebagai TKI di Taiwan, Berti kembali lagi ke daerah. Pada saat itu ia hanya punya uang Rp 2 juta. Dengan modal sebesar itu, ia bersama suami&amp;nbsp; memulai usaha dengan jualan pulsa telepon seluler. Pelan-pelan modal usaha bertambah. Dari jualan pulsa ia membuka kios telepon seluler, termasuk servis dan jual beli telepon seluler beserta asesorisnya. Dua tahun berjalan, hasilnya lumayan. Ia kemudian membuka dua cabang. Kembali nasib sial mendatanginya. Dalam satu malam modalnya habis disikat maling yang mengambil semua barang di dua kios, termasuk semua telepon seluler yang sedang diservis. Ia mengeluarkan Rp 15 juta untuk mengganti semua telepon seluler milik pelanggan yang tengah diservis.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Meski berulangkali jatuh dan kehilangan modal usaha, namun Berti dan suaminya tidak pernah menyerah. Selalu saja mereka berani memulainya kembali dari nol. Berti sendiri punya keyakinan, kalau berusaha jangan takut bangkrut. Meski modal mereka habis, namun usaha servis telepon seluler tetap berjalan. Sedikit demi sedikit mereka mulai mengumpulkan modal dan kembali membuka kios telepon seluler yang melayani pembelian pulsa, jual beli telepon seluler dan asesorisnya. Dalam waktu 1,5 tahun, sudah ada 100 kios yang menyabang atau mengambil pulsa, telepon seluler dan asesorisnya dari kiosnya. Yang patut dibanggakan, meski usahanya telah berkembang dan secara ekonomi boleh dibilang sudah mulai mapan, namun Berti tetap berorganisasi di SBMI sebagai pengurus tingkat kecamatan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rupanya bukan hanya di organisasi TKI Berti beraktivitas. Ia juga merintis pendirian koperasi di SMA tempat ia dulu bersekolah. Koperasi yang ia dirikan ini beranggotakan alumni dan siswa yang masih bersekolah. Meski baru berdiri di tahun 2011, namun koperasi rintisan Berti ini sudah berhasil menjaring lebih dari 3.000 orang yang menjadi anggota dan mengumpulkan modal sebesar Rp 85 juta. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Buruknya Perlindungan TKI &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apa yang membuat Berti begitu bertekad bisa menghapus keinginan menjadi TKI dari pikiran dan hati orang-orang di desanya? Apa yang membuatnya berharap bahwa semua warga di desanya dan di desa-desa manapun di Indonesia tidak sudi lagi menjadi TKI? Rupanya ada luka dan kekecewaan mendalam yang dirasakan Berti sebagai seorang mantan TKI yang gagal. Ia sendiri mengalami bagaimana TKI telah dilecehkan dan dipandang sebelah mata oleh para pejabat pengurus TKI di negeri ini. Ia juga merasakan bagaimana sulitnya memperolah keadilan sebagai TKI yang telah ditipu dan dieksploitasi oleh PJTKI dan agency di luar negeri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kekecewaan itu bersumber dari pengalaman pahitnya di tahun 2007. Tahun 2007, Berti berangkat kembali ke Taiwan untuk kedua kalinya melalui PJTKI PT. Bidar Putra Sukses dan dipekerjakan di rumah sakit jompo. Tidak seperti keberangkatannya yang pertama, kali ini ia mendapatkan PJTKI dan agency yang buruk. Cilakanya, keburukan agency dan PJTKI ini juga ditopang oleh buruknya sistem pelayanan perlindungan TKI dalam pemerintahan RI. Kenapa bisa begitu? Simaklah bagaimana perlakuan para pejabat publik Indonesia yang berwenang melindungi TKI terhadap Berti, seorang TKI korban eksploitasi PJTKI dan agency yang gigih dalam berjuang mendapatkan keadilan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketika berangkat ke Taiwan, Berti menandatangani surat perjanjian kerja (SPK) di kantor PJTKI. Dalam perjanjian kerja yang ia tandatangani&amp;nbsp; tertulis, Berti Sarova dipekerjakan sebagai perawat di rumah sakit jompo, dengan gaji pokok 17.280 NT dan uang lembur untuk 1 jam 100 NT. Tertulis juga bahwa ia wajib bekerja selama 12 jam sehari atau 8 jam kerja dan ditambah dengan 4 jam lembur. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setiba di Taiwan, Berti langsung diantar agency ke rumah sakit tempat ia bekerja. Esoknya, agency HENSIN datang dan memintanya menandatangani berkas-berkas kosong. Entah berapa lembar kertas kosong yang telah ditandatanganinya. Ia sendiri sebenarnya keberatan menandatangani berkas kosong. Tapi mau menolak juga tidak bisa, karena agency memaksanya. Kata agency, semua TKI yang baru datang wajib tanda tangan. Merasa ada yang tidak beres dengan tanda tangan di atas kertas kosong,&amp;nbsp; ia menuliskan tanggal yang berbeda-beda di atas tanda tangannya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah dua bulan bekerja di rumah sakit jompo, ia mendapati kenyataan, agency telah menipunya. Sudah dua bulan kerja ia belum juga terima gaji. Padahal janjinya, setiap bulan gaji akan ditransfer ke rekeningnya. Ketika ia menanyakan perihal gajinya, agency malah marah dan memintanya untuk pulang ke Indonesia. Tentu saja ia menolak dipaksa pulang. Ia juga tidak tahu mengapa agency marah dan memaksanya pulang. Karena berniat memulangkan Berti, agency kemudian membawanya ke Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI). Pada KDEI pihak agency melaporkan, Berti berniat untuk kembali ke Indonesia. Tetapi di depan petugas KDEI Berti menyangkalnya karena ia memang tidak mau pulang. Bahkan Berti sempat bertanya pada pihak KDEI berapa sebenarnya gaji yang diterima TKI yang kerja di rumah sakit. Mendengar pertanyaan Berti, pihak KDEI marah pada agency karena TKI-nya tidak diberi tahu gajinya berapa. Berti&amp;nbsp; juga melaporkan pada pihak KDEI kalau gajinya belum dibayar. Pihak KDEI memaksa agency untuk mengembalikan Berti ke rumah sakit. Sayangnya, pihak KDEI tak bicara sedikitpun pada agency tentang gajinya yang belum dibayar. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bukannya dikembalikan ke tempat ia bekerja, Berti justru disekap oleh agency.&amp;nbsp; Ia disekap di kamar khusus yang ada di kantor agency. Kamar itu menurutnya khusus untuk menyekap para buruh migran yang membangkang. Kamar itu dikunci dari luar sehingga Berti tidak bisa keluar. Makanan untuknya disorongkan pihak agency lewat pintu. Selama dalam kurungan agency, ia terus menerus ditekan secara psikis agar menyerah dan bersedia dipulangkan. Selama dalam kurungan agency, ia merasa depresi dan putus asa. Meski dalam kondisi depresi, ia masih bisa memikirkan cara keluar dari kantor agency. Satu akal ia temukan. Ia bicara pada agency kalau ia bersedia dipulangkan asalkan ia boleh berbicara dengan pihak KDEI. Karena bagaimanapun juga, menurut Berti, ada aturan di Taiwan bahwa kalau agency hendak memulangkan pekerja migran harus ada surat pengantar dari pihak perwakilan pemerintah asal pekerja migran. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Untuk kedua kalinya Berti dibawa agency ke KDEI. Berti senang sekali ketika yang&amp;nbsp; menemuinya di KDEI adalah petugas yang sama yang sebelumnya telah membelanya. Berti berterus terang pada petugas di KDEI kalau sebenarnya agencylah yang memaksanya pulang. Ia sendiri tetap pada keputusan untuk menolak dipulangkan. Untuk kedua kalinya pihak KDEI menegur agency. Agency kecewa sekali dengan sikap Berty yang bersikeras untuk tidak mau pulang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penolakannya untuk pulang membuatnya dikurung kembali oleh agency. Beruntunglah pada saat itu ada seorang pekerja migran asal Thailand yang juga dikurung di kamar yang sama. Pekerja asal Thailand ini meminjaminya telepon.&amp;nbsp; Ia kemudian mengontak KDEI dan menceritakan keadaannya yang sebenarnya. Sayang bahwa tidak ada petugas KDEI yang mengambil tindakan. Mereka hanya menelpon agency dan meminta agency untuk mengembalikan Berti ke tempat bekerjanya di rumah sakit. Pihak KDEI sama sekali tidak mengecek keadaan Berti yang telah melaporkan kalau dirinya tengah disekap. Sulit dipahami bahwa informasi tentang adanya TKI yang disekap agency sama sekali tidak membuat pihak KDEI tergerak untuk mengambil tindakan atau setidaknya mengecek kondisi Berti. Mereka merasa sudah cukup berbuat hanya dengan menelpon agency. Bisa dipahami kalau perwakilan RI di luar negeri sering terlambat tahu tentang kondisi TKI yang dikenai hukuman mati, disiksa atau yang mati. Sudah tahu ada TKI disekap saja, mereka juga tidak bertindak.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berti sendiri sadar mengapa agency bersikukuh memaksanya pulang dan tidak mau mengembalikannya ke rumah sakit Jompo. Mereka takut ia akan membongkar dan menceritakan keburukan agency pada teman-teman TKI di rumah sakit. Berti tahu, 23 TKI yang bekerja di rumah sakit itu sebenarnya telah menjadi korban penipuan agency. Sama seperti dirinya, mereka juga dipaksa menandatangani kertas kosong&amp;nbsp; yang mereka sendiri tidak tahu untuk apa. Ada juga yang dipaksa menandatangani kertas berisi tulisan dalam bahasa Cina yang tidak mereka mengerti. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berti sendiri mempertanyakan masalah gaji, selain karena dua bulan kerja belum&amp;nbsp; terima gaji, ia juga melihat besaran gaji yang diterima teman-teman TKI jauh di bawah ketentuan yang tertulis dalam kontrak. Dalam kontrak tertulis gaji pokok 17.280 NT, dengan tambahan uang lembur sebesar 100 NT per jam. Sementara para TKI yang sudah bekerja 12 jam sehari hanya terima gaji sebesar 13.000 NT, sudah termasuk uang lembur. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berbagai upaya telah dilakukan agency untuk membuat Berti menyerah dan bersedia dipulangkan. Penyekapan dan tekanan psikis&amp;nbsp; tidak membuat Berti menyerah meski ia sudah dalam kondisi depresi. Ia bertahan dengan menuliskan semua peristiwa yang ia alami selama berada dalam penyekapan agency dalam buku yang ia simpan sampai sekarang. Satu pertanyaan berulangkali ia tuliskan dalam buku itu, “Mengapa agency begitu takut sama aku?” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Untuk ketiga kalinya agency membawa Berti ke KDEI. Kali ini Berti dihadapkan pada petugas yang berbeda. Ia masih ingat nama petugas KDEI itu karena berbeda dengan petugas sebelumnya, kali ini ia justru dipojokkan dan ditakut-takuti oleh petugas KDEI. Kali ketiga ini agency membawa surat pernyataan yang di dalamnya tertera tanda tangan Berti. Menurutnya, isi surat pernyataan itu semuanya fitnah. Di dalamnya tertulis bahwa ia mengakui kalau selama bekerja di rumah sakit ia lupa menutup oksigen, ia sengaja memasukkan tissue ke pantat pasien, ia juga memberikan bedak ke pasien tanpa terlebih dahulu membersihkan tubuh pasien, dan lain-lain fitnah yang ia sendiri sudah lupa detilnya. Tertulis juga bahwa karena kesalahan-kesalahannya itu ia bersedia dipulangkan. Padahal semua itu tidak benar. Ia tidak pernah merasa menandatangani surat pernyataan yang semua isinya adalah kebohongan. Pada saat itu sadarlah ia apa artinya tanda tangan di atas kertas kosong yang agency paksakan di saat ia baru tiba di Taiwan. Rupanya tandatangan di atas kertas kosong itu mereka pakai untuk membuat surat fitnah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setengah mati Berti menjelaskan pada petugas KDEI kalau surat pernyataan itu fitnah dan ia tidak pernah menandatangani surat semacam itu. Ia sangat kecewa pada KDEI karena tidak mempercayai apa yang ia katakan. Betapapun ia menyatakan bersedia dibawa ke pengadilan untuk membuktikannya, petugas di KDEI sama sekali tidak percaya. Bahkan pihak KDEI menakut-nakuti dia dengan mengatakan, ia bisa dijebloskan ke penjara kalau menolak dipulangkan. Pada saat itu Berti bersikukuh tidak mau pulang dan dipenjara pun ia siap karena ia merasa tidak bersalah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kembali Berti dikurung di kantor agency. Pada suatu hari Berti dikeluarkan dari kurungan. Agency bilang padanya kalau ia akan diantar ke rumah sakit untuk bekerja kembali. Namun ternyata agency menipunya. Ia dibawa ke bandara bersama&amp;nbsp; tujuh orang suruhan agency. Sesampai di bandara Berti diseret oleh tujuh orang itu karena dia menolak turun. Berti berteriak-teriak minta tolong. Namun apalah artinya seorang asing yang depresi di hadapan polisi dan petugas bandara. Betapapun ia berteriak minta tolong tak satupun yang peduli. Pihak agency yang turut mengantar Berti ke bandara mendekati polisi dan petugas bandara. Berti yakin, pihak agency pasti mengatakan pada para petugas itu kalau dirinya kurang waras. Ia berpikir&amp;nbsp; demikian karena setelah pihak agency bicara dengan polisi dan petugas bandara, petugas bandara bersama pihak agency kemudian membawanya melalui lorong khusus. Keluar dari lorong ia sudah berada di depan pesawat. Pada saat itu agency memberinya uang 1.500 NT yang mereka katakan sebagai gajinya selama bekerja.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sampai di Bandara Soekarno-Hatta, Berti kembali mengontak pihak KDEI di Taiwan dan ia disarankan untuk melapor ke BNP2TKI.&amp;nbsp; Mengikuti saran KDEI, ia mengadukan kasusnya ke BNP2TKI. Pasca pengaduan itu, PJTKI yang menempatkannya memberinya uang asuransi sebesar Rp 2 juta. Berti tidak puas. Bukan uang asuransi yang ia tuntut, tetapi keadilan. Gajinya tidak dibayar dan ia dipaksa pulang tanpa alasan. Padahal ia sudah bayar uang penempatan sebesar Rp 7 juta pada PJTKI. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berti datang lagi ke BNP2TKI menanyakan penyelesaian kasusnya. Pada saat itu rupanya pihak BNP2TKI sudah mendapatkan laporan dari pihak PJTKI bahwa gaji Berti sudah dibayar dan sudah sesuai dengan yang tertulis dalam kontrak kerja. Pihak PJTKI juga sudah menyerahkan berkas kontrak kerja pada BNP2TKI. Namun setelah Berti mengecek berkas kontrak kerja yang diserahkan PJTKI ke BNP2TKI itu ia mendapati tanda tangannya dipalsukan. Berti tak kuasa menanggung kemarahan dan mendesak BNP2TKI dan PJTKI untuk membuktikan kalau ia benar-benar sudah terima gaji. Pihak agency di Taiwan kemudian mengirimkan bukti print gaji yang di dalamnya ada tanda tangan Berti. Melihat kertas berisi print gaji yang di dalamnya tertera tanda tangannya, sadarlah ia untuk kedua kalinya akan arti kertas kosong yang ia tanda tangani sewaktu tiba di Taiwan. Ternyata pihak agency menggunakannya juga untuk mengeprint bukti pembayaran gaji yang sama sekali tidak ia terima. Bukan hanya itu. Pihak agency juga mengirimkan surat pernyataan yang isinya fitnahan yang sama sebagaimana surat yang diberikan agency pada pihak KDEI. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Meski sangat jelas PJTKI telah memalsukan tanda tangannya dan agency telah memperdayanya, namun toh BNP2TKI lebih percaya pada bukti palsu yang disodorkan PJTKI dan agency. Padahal kalau mau sedikit berpikir, BNP2TKI tidak akan bisa diperdaya agency. Bayangkan saja, dalam bukti print gaji, tanggal penandatanganan tertulis tanggal satu bulan sembilan tahun 2008. Padahal ia pulang dari Taiwan tanggal 12 Januari 2008. Demikian juga dengan surat pernyataan berisi fitnahan itu tertulis tanggal satu bulan tujuh tahun 2008. Jelas semua itu mereka print di atas kertas kosong yang dipaksakan pada Berti untuk ditandatangani saat ia tiba di Taiwan. Agency sendiri tidak sadar kalau tanggal penandatanganan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Tapi apa mau dikata, setali tiga uang dengan dikap KDEI, BNP2TKI lebih percaya pada PJTKI dan agency. Buktinya, mereka tidak mengambil tindakan meski sudah jelas PJTKI dan agency menipunya. Mereka juga tidak mengambil tindakan meski PJTKI akhirnya mengakui kalau telah memalsukan tanda tangan Berti untuk membuat SPK palsu. Maklum, PJTKI dan agency adalah orang-orang berduit, begitulah yang ada dalam pikiran Berti. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kekecewaan lain terhadap BNP2TKI adalah bahwa BNP2TKI menganggap kasus Berti selesai setelah BNP2TKI memfasilitasi pertemuannya dengan PJTKI. Dalam pertemuan itu pihak PJTKI menyanggupi akan mengembalikan biaya penempatan yang sudah dibayar Berti dan kemudian semua persoalan dianggap selesai. Padahal Berti tidak sepakat dengan tawaran PJTKI karena ia menghendaki BNP2TKI mengambil tindakan terhadap PJTKI yang telah memalsukan tanda tangannya untuk membuat kontrak kerja palsu. Tapi apalah daya seorang TKI di hadapan para pejabat BNP2TKI yang dengan tegas mengatakan, mereka tidak punya kewenangan mengurus kasus Berti. Terkait kasus pemalsuan tanda tangan itu BNP2TKI menyarankan agar Berti melaporkannya ke Depnakertrans. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mengikuti saran BNP2TKI ia datang mengadukan kasusnya ke Depnakertrans. Apa yang terjadi kemudian adalah ia merasa dipermainkan. Sebelum mengadukan kasusnya, Berti terlebih dahulu berkonsultasi dengan pihak Depnakertrans tentang apa yang terjadi kalau ada PJTKI memalsukan tanda tangan TKI. Pada saat konsultasi pihak Depnakertrans memberikan jawaban bahwa PJTKI yang memalsukan tanda tangan TKI bisa terkena sanksi. Tapi apa yang disampaikan pihak Depnakertrans itu ternyata kosong belaka. Terbukti, setelah ia mengadukan kasus yang dialaminya terkait pemalsuan tanda tangan oleh PJTKI untuk membuat surat perjanjian kerja palsu, pihak Depnakertrans justru menyarankan untuk melaporkan kasusnya ke polisi saja. Alasannya, pihak Depnakertrans tidak berwewenang menangani kasus pemalsuan tanda tangan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mengikuti saran Depnakertrans, Berti datang ke Mabes POLRI dan mengadukan kasus pemalsuan tanda tangan oleh PJTKI yang telah merugikannya. Yang terjadi, pihak Mabes POLRI juga menyatakan tidak berwenang menangani kasusnya kalau tidak ada surat dari Depnakertrans. Berti kembali lagi ke Depnakertrans untuk mendapatkan surat yang diminta Mabes Polri, namun usahanya sia-sia belaka. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bukan hanya ke BNP2TKI dan Depnakertrans Berti mencari keadilan. Ia juga telah melaporkan kasusnya ke Deplu dan Komnas HAM. Harapannya, dengan mengadu ke Deplu, pihak Deplu bisa melakukan tindakan terhadap agency yang jelas-jelas telah menipu banyak TKI dan membuat laporan palsu. Dengan ditindaknya agency ia berharap bisa mengurangi TKI yang jadi korban. Tapi semuanya sia-sia. Para pejabat yang menurut undang-undang berwenang melindungi TKI itu ternyata sama sekali tidak memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan. Di sinilah Berti belajar tentang apa artinya menjadi TKI di republik ini. Kemarahannya semakin menjadi ketika beberapa hari kemudian ia mendapat khabar, Titin, TKI asal Banyuwangi yang diurus oleh PJTKI yang sama, mengalami nasib seperti dirinya. Titin dipaksa pulang oleh agency karena ia juga mempermasalahkan gajinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pesan Simbolik&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Betapapun Berti pernah punya luka dan kekecewaan mendalam dengan lembaga-lembaga negara yang berwenang dalam perlindungan TKI, Berti toh tetap menyimpan&amp;nbsp; harapan suatu saat akan ada perubahan pada kinerja lembaga-lembaga negara pengurus TKI. Harapannya ini ia tunjukkan dengan mengundang BNP2TKI untuk meresmikan pasar desa “Rintisan TKI”. Ia kesampingkan segala luka dan marahnya pada BNP2TKI. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dengan mengundang BNP2TKI untuk meresmikan “Pasar Rintisan TKI”, ia sebenarnya ingin menunjukkan bahwa para mantan TKI yang selama ini mereka pandang sebelah mata itu ternyata punya kemampuan untuk berbuat sesuatu bagi diri, keluarga dan juga masyarakat. Ia berharap, dengan melihat hasil kerja dan perjuangan TKI di daerahnya, BNP2TKI tergugah untuk lebih kerja keras&amp;nbsp;&amp;nbsp; meningkatkan kinerjanya dalam memberikan perlindungan pada TKI dan mewujudkan keadilan bagi para TKI yang mengalami masalah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya sendiri menilai, pesan simbolik yang disampaikan Berti pada BNP2TKI itu sejatinya ditujukan bukan hanya pada para pejabat BNP2TKI tetapi juga pada semua pejabat publik di negeri ini. Dari lubuk hati mereka yang paling dalam, para mantan TKI yang sudah dipandang sebelah mata oleh para pejabat publik itu hendak menyampaikan pesan, “Jangan pernah merasa sudah bekerja dan berbuat banyak untuk rakyat”. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah menuliskan kisah hidup dan perjuangan Berti ini, muncul pertanyaan di benak saya. Seandainya Ketua DPR Marzuki Alie, semua anggota DPR/D dan para pejabat negara yang berwewenang mengurus dan melindungi TKI itu membaca kisah hidup dan perjuangan Berti dan teman-temannya itu, apakah mereka masih memandang sebelah mata pada TKI? *** &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-160144824468641435?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EdW3IghH3x3yV60oW-CuPdwszkk/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EdW3IghH3x3yV60oW-CuPdwszkk/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EdW3IghH3x3yV60oW-CuPdwszkk/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EdW3IghH3x3yV60oW-CuPdwszkk/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/FQ0mqTf4Wfo/pasar-rintisan-tki-bagian-2.html</link><author>noreply@blogger.com (Chelluz Pahun)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-0vbVuuodGUE/TZcb4jHjycI/AAAAAAAAABo/L2j1eeJici4/s72-c/situasi+conter+berti.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2011/04/pasar-rintisan-tki-bagian-2.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-6674263070236365081</guid><pubDate>Fri, 01 Apr 2011 12:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-04-01T19:26:40.407+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kebijakan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">buruh migran</category><title>“PASAR RINTISAN TKI” (Bagian 1) :</title><description>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Xn62vJwqjPc/TZW-iAmlN2I/AAAAAAAAABY/bWSjYofj5j8/s1600/pasar%2Bdesa%2Brintisan%2Btki1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Mimpi dan Perjuangan Seorang Mantan TKI&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sri Palupi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-qXbE3PL24yM/TZXB-zG1vvI/AAAAAAAAABg/CaBQ4Pette0/s1600/Foto+Berti.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-qXbE3PL24yM/TZXB-zG1vvI/AAAAAAAAABg/CaBQ4Pette0/s320/Foto+Berti.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Berti&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;  &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tentu kita masih ingat pernyataan ketua DPR Marzuki Alie yang menyatakan, rendahnya kemampuan TKI yang bekerja sebagai PRT telah merusak citra Indonesia. Jauh dari stigma “kualitas rendah” yang ditempelkan Marzuki Alie terhadap para TKI, di berbagai pelosok Indonesia kita bisa menjumpai para TKI yang kiprahnya sungguh membuat Indonesia bangga punya warga seperti mereka. Dengan modal awal menjadi TKI, mereka berhasil mengukir prestasi. Mereka juga berhasil membuktikan diri memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi dari kemampuan ketua dan bahkan ribuan anggota DPR/DPRD di dalam memperjuangkan kesejahteraan warga. Salah satunya ditunjukkan oleh Berti Sarova, mantan TKI asal Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Bandar Lampung, yang pernah dua kali bekerja di Taiwan sebagai Pekerja Rumahtangga (PRT).  Mengapa Berti Sarova? Apa yang dilakukannya hingga ia pantas menyandang gelar TKI berprestasi? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berbagai usaha dilakukan Berti di kampung halamannya untuk memperbaiki tingkat kehidupan para mantan TKI dan keluarganya. Salah satunya adalah Pasar Desa “Rintisan TKI” yang berlokasi di Desa Gunung Terang, Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Bandar Lampung. Pasar desa ini benar-benar dirintis perkembangannya oleh Berti. Prestasi seorang mantan TKI ini diakui setidaknya oleh Kepala Desa Gunung Terang, Bapak Fachrul IB. Atas prestasinya ini, pihak desa memberi nama pasar yang baru dibuka itu sesuai dengan nama yang diusulkan para mantan TKI, yaitu “Pasar Rintisan TKI”.  Nama ini diberikan sebagai penghargaan pihak desa kepada para TKI dan keluarganya yang telah berjasa dalam merintis berkembangnya pasar desa. Kepala desa itu sendiri mengakui, sebelum diambil alih oleh para TKI, pasar desa itu mati. Bahkan pihak desa sudah dua kali mencoba membuka pasar desa, namun dua kali pula pasar desa yang baru dibuka itu mati.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; Berdirinya Pasar Desa “Rintisan TKI” berawal di tahun 2001, saat pihak Desa  Gunung Terang membuka kapling untuk pasar Desa. Setiap kapling seluas 7X7 meter persegi dijual seharga Rp 600.000. Pada saat itu Berti baru kembali dari Taiwan. Ia melihat pasar yang baru dibuka itu masih kosong dan ia pun tergerak untuk membeli kapling di sana. Meski masih banyak kapling kosong, namun Berti tertarik pada kapling yang berada di posisi paling depan. Sayang kapling itu sudah dibeli orang. Sebenarnya kalau membeli langsung ke desa, Berti cukup membayar Rp 600.000. Tapi karena kapling yang ia incar itu lokasinya strategis, Berti berani membayar setengah kapling ukuran 3.5x7 meter seharga Rp 2 juta kepada pemiliknya. Untuk membangun kapling menjadi kios, Berti mengeluarkan modal sedikitnya Rp 6 juta. Di kios itulah ia memulai usaha wartel. Wartel yang ia beri nama “ ALL IN” itu membuatnya banyak dikenal masyarakat dan warga akrab memanggilnya mbak Alin. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Usaha wartel ia pilih karena prospeknya cukup bagus. Di daerahnya banyak TKI dan sarana komunikasi sudah barang tentu menjadi kebutuhan vital bagi TKI dan keluarganya. Pada saat itu belum ada wartel di daerahnya dan penggunaan telepon seluler belum dikenal. Wartel yang dibuka Berti menjadi satu-satunya pilihan bagi TKI dan keluarganya untuk bisa berkomunikasi. Konsumen pengguna wartel kebanyakan memang keluarga TKI. Pelanggan wartel milik Berti mencakup warga dari tiga wilayah kecamatan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dari hasil usaha wartel Berti bisa membeli kapling-kapling lain di pasar desa itu dan kemudian ia buat kapling-kapling itu menjadi kios-kios. Karena kios yang ia punya sudah terlalu banyak, muncullah ide untuk mengajak keluarga-keluarga TKI membuka usaha di sana. Akhirnya satu persatu kios di pasar desa itu beralih ke tangan TKI, mantan TKI dan keluarganya. Terciptalah kemudian sebuah pasar desa yang hampir semua pedagangnya adalah para mantan dan keluarga TKI. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Dari hasil usaha wartel Berti bisa membeli kapling-kapling lain di pasar desa itu dan kemudian ia buat kapling-kapling itu menjadi kios-kios. Karena kios yang ia punya sudah terlalu banyak, muncullah ide untuk mengajak keluarga-keluarga TKI membuka usaha di sana. Akhirnya satu persatu kios di pasar desa itu beralih ke tangan TKI, mantan TKI dan keluarganya. Terciptalah kemudian sebuah pasar desa yang semua pedagangnya adalah para mantan dan keluarga TKI. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Meski kios-kios pasar sudah dikuasai para mantan TKI dan keluarga TKI, namun pasar desa yang baru dibuka itu tidak langsung begitu saja berubah menjadi pasar yang ramai pembeli. Masih perlu usaha dan kerja keras untuk menjadikannya pasar yang hidup. Dengan dibantu pihak desa, para pemilik kios – yang adalah para mantan dan keluarga TKI – melakukan promosi ke masyarakat. Promosi dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah pameran pasar murah. Untuk menarik semakin banyak pembeli, khususnya yang berasal dari desa-desa lain, mereka juga mengadakan pasar malam. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kerja keras para mantan TKI dan keluarganya itu terbukti membuahkan hasil. Pasar yang dulunya sepi pembeli, kini berkembang menjadi pasar yang ramai. Bukan hanya pasarnya, usaha para mantan TKI itu juga berkembang. Dulu belum banyak barang yang dijual di pasar desa. Kini Pasar Rintisan TKI telah berkembang menjadi pasar umum, yang menjual hampir semua barang kebutuhan masyarakat desa. Berawal dari pasar kecil dengan usaha sederhana, kini pasar telah berkembang menjadi pasar besar dengan beragam barang, termasuk sayur dan ikan. Di pasar ini terdapat sedikitnya 90 kios, 24 lapak sayur dan 4 (empat) lapak ikan. Kios, lapak sayur dan lapak ikan ini dimiliki oleh 120 TKI, mantan TKI dan keluarganya. Setiap hari mereka dikenai biaya retribusi untuk kebersihan sebesar Rp 1.000. Untuk keamanan, mereka membayar retribusi sebesar Rp 10.000 – 100.000 per bulan tergantung besarnya kios dan jenis barang yang dijual. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dari Pasar ke Koperasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-BLVxw0W2_EE/TZXCeBE1pNI/AAAAAAAAABk/e5GR2xYNPVU/s1600/pasar+desa+rintisan+tki1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://2.bp.blogspot.com/-BLVxw0W2_EE/TZXCeBE1pNI/AAAAAAAAABk/e5GR2xYNPVU/s320/pasar+desa+rintisan+tki1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pasar Rintisan TKI&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Perjuangan Berti tidak berhenti sampai pada pengembangan pasar desa. Setelah pasar yang mereka rintis itu berkembang, para mantan TKI dan keluarganya yang dikoordinir oleh Berti itu kemudian memikirkan bagaimana mereka bisa membantu para TKI yang mengalami masalah atau para keluarga TKI yang belum memiliki modal usaha. Muncullah gagasan untuk mendirikan koperasi simpan pinjam. Masing-masing anggota kemudian menyetor modal pokok sebesar Rp 100.000 per orang, dengan iuran wajib bulanan Rp 10.000 per orang. Pinjaman ke koperasi dikenai bunga rendah, hanya sebesar Rp 1,5 persen per bulan. Dalam satu tahun koperasi berhasil mengumpulkan modal sedikitnya Rp 80 juta dengan anggota sebanyak 350 orang. Karena koperasi ini dirintis oleh para mantan TKI, anggotanya pun masih sebatas para TKI, mantan TKI dan keluarganya. Koperasi ini mereka beri nama Koperasi TKI Bina Usaha Mandiri. Pendirian koperasi ini sungguh mereka perjuangkan karena mereka menyaksikan banyak kerabat dan teman-teman mereka yang terjerat utang pada  rentenir. Harapan mereka, dengan adanya koperasi ini para TKI dan keluarganya bisa membantu teman-teman lain yang selama ini punya masalah akibat ulah rentenir. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dari Soal Ekonomi ke Gerakan Sosial &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Koperasi yang didirikan para mantan TKI itu pada kenyataannya bukan hanya bicara soal modal atau uang dan kesejahteraan para mantan TKI dan keluarganya saja. Koperasi itu juga bicara soal organisasi TKI.  Selain untuk pengembangan ekonomi, usaha koperasi itu mereka arahkan juga untuk memperkuat basis organisasi TKI, yaitu Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI). Mengapa? Karena para TKI, mantan TKI dan keluarganya yang tergabung dalam koperasi itu adalah juga anggota SBMI. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebelum ada koperasi, Berti sebagai pengurus SBMI punya masalah dalam mengumpulkan anggota. Adanya koperasi telah mempermudahnya dalam mengumpulkan para anggota, terutama untuk sosialisasi masalah organisasi dan juga ketika ada TKI yang mengalami masalah. Koperasi TKI ini  ternyata juga menjadi media efektif dalam mewujudkan pembelajaran bagi para keluarga TKI terkait bekerja di luar negeri. Dulu para calon TKI banyak tertipu oleh para calo yang sukanya memberi janji-janji muluk tapi palsu. Kini para calon TKI dan keluarganya menjadikan organisasi SBMI sebagai media untuk konsultasi, baik konsultasi terkait masalah yang dihadapi TKI maupun konsultasi bagi para calon TKI yang hendak berangkat ke luar negeri. Pada akhirnya SBMI di daerah ini menjadi tempat pengaduan bagi calon TKI dan keluarga TKI yang menghadapi masalah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dengan menjalankan peran sebagai media konsultasi, SBMI yang dikoordinir Berti pada akhirnya juga menjadi basis perjuangan bagi perlindungan hak TKI. Bukan hanya berjuang untuk menyelesaikan masalah di tingkat daerah, mereka juga berjuang membawa masalah TKI ke tingkat nasional. Dalam satu setengah tahun terakhir ini mereka setidaknya telah menerima lebih dari 100 kasus TKI. Dalam menyelesaikan kasus-kasus ini, mereka tidak bekerja sendirian. Mereka bawa kasus-kasus tersebut ke  SBMI nasional atau langsung ke BNP2TKI. Sebagai wujud solidaritas terhadap para TKI yang mengalami masalah, para anggota koperasi bersepakat untuk menyisihkan 5 persen dana sisa hasil usaha koperasi untuk membantu membiayai penanganan kasus TKI. Untuk membantu menangani kasus TKI yang mengalami masalah, mereka selama ini merogoh kantong sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dari Kesejahteraan TKI ke Kesejahteraan Warga &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebelum ada pasar dan koperasi, para TKI, mantan TKI dan keluarganya hidup dalam kondisi serba miskin. Jangankan mimpi punya kios atau ruko, untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari saja sudah sulit. Apalagi masih ditambah dengan biaya sekolah anak. Kemiskinan itulah yang mendorong mereka memilih berangkat ke luar negeri menjadi TKI. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pasar dan koperasi yang dirintis Berti terbukti berhasil meningkatkan kualitas hidup para TKI. Begitu banyak perubahan terjadi pada kehidupan TKI, mantan TKI dan keluarganya setelah mereka memiliki kios dan menjadi anggota koperasi. Dengan adanya pasar dan koperasi TKI, mereka memiliki sumberdaya ekonomi yang bisa meningkatkan kualitas hidup mereka. Kini, mereka tidak  hanya berhasil memiliki rumah dan ruko yang cukup mentereng, tetapi juga punya mobil sendiri, punya sawah dan kebun yang luas, dan juga bisa naik haji. Cita-cita untuk memberikan pendidikan berkualitas bagi anak-anak juga terpenuhi. Kini, anak-anak mereka rata-rata bersekolah di sekolah unggulan, yang sebelumnya tak mampu mereka jangkau. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Para TKI, mantan TKI dan keluarganya itu rupanya tidak hanya mengalami perubahan secara ekonomi. Secara sosial mereka juga berkembang. Mereka berhasil menghapuskan cita-cita untuk menjadi TKI yang selama ini mengisi pikiran kebanyakan keluarga di desa mereka. Cita-cita menjadi TKI kini telah berganti menjadi cita-cita pergi ke luar negeri untuk belajar banyak hal. Dulu di antara TKI atau mantan TKI tidak saling kenal. Kini, dalam kondisi ekonomi mereka yang semakin membaik, solidaritas mereka terhadap para TKI juga semakin meningkat. Menurut Berti, meningkatnya solidaritas itu terjadi karena mereka merasakan betul kehidupan sulit semasa menjadi TKI. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Desa Mandiri untuk Indonesia Mandiri&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Adanya pasar dan koperasi TKI pada akhirnya menciptakan komunitas TKI yang menghidupi sistem ekonomi mandiri, tidak bergantung pada pihak luar, meski dalam lingkup yang masih sangat kecil. Dalam sistem ini para TKI dan keluarganya berperan sebagai pedagang sekaligus pembeli atau konsumen. Dengan cari ini uang tidak lagi keluar dari desa mereka. Uang yang mereka putar itu akhirnya  dikembalikan lagi ke desa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bersama para anggota koperasi, Berti bercita-cita untuk terus mengembangkan koperasi yang dirintisnya. Tidak hanya menjadi koperasi simpan pinjam, tetapi sekaligus juga koperasi produksi. Ia membayangkan, adanya koperasi produksi akan bisa mendukung upaya para TKI dan keluarganya untuk mengembangkan usaha dari hulu sampai hilir. Hal seperti ini ia pikirkan karena daerahnya adalah penghasil  kakao, kelapa, singkong, jagung, karet, dan lainnya. Tetapi sayangnya, para petani di daerahnya menjual langsung hasil produksi mereka ke para tengkulak. Tentu saja produk petani itu  dibeli dengan harga di bawah harga pasar. Dalam hal ini Berti bertekad bisa membantu para petani agar mereka dapat mengolah hasil pertanian mereka terlebih dahulu sebelum menjualnya ke pasar. Tentu hasilnya akan lebih besar. Apalagi kalau semua barang-barang yang selama ini didatangkan dari kota bisa diproduksi sendiri oleh masyarakat desa. Singkat kata, banyak hal yang ingin Berti kerjakan, salah satunya adalah mewujudkan desa mandiri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Desa mandiri yang dibayangkan Berti, sangat dekat hubungannya dengan kepentingan TKI. Dengan adanya desa mandiri, tidak perlu lagi warga Indonesia jadi TKI. Ini bisa dimulai dari sekarang dan oleh para TKI. Kalau semua TKI yang berhasil bisa memanfaatkan hasil kerjanya untuk memulai usaha di daerahnya sendiri, maka akan banyak warga desa yang terbantu oleh usaha yang dibangun oleh para TKI ini. Dengan cara ini para TKI itu tidak perlu lagi kembali ke luar negeri dan bahkan tidak akan ada lagi anggota keluarga yang memilih menjadi TKI. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bukan hanya Berti, para mantan TKI yang tergabung dalam Koperasi Bina Usaha Mandiri punya cita-cita untuk menjadikan TKI sebagai tuan di negeri sendiri melalui pengelolaan hasil kerja secara benar. Mereka prihatin, selama ini tidak ada yg memikirkan masa depan TKI dan keluarganya. Itulah mengapa banyak TKI yang terus menerus kembali keluar negeri karena hasil kerjanya habis dan tidak ada usaha produktif yang bisa menjamin kehidupan mereka ke depan. Kondisi seperti ini yang membuat Berti dan teman-temannya bertekad untuk bangkit, menjadi mandiri dan berusaha keras membangun masa depan anak-anak dengan kehidupan yang lebih baik. Bukan kehidupan seperti yang dialami orang tua mereka yang TKI. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Untuk mewujudkan mimpinya itu, Berti bertekad untuk memperjuangkan agar koperasi bisa menjadi basis gerak Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI). Ia membayangkan, kalau semua SBMI di daerah memiliki koperasi dan antar daerah bisa saling terhubung dan saling melengkapi, maka kita tidak butuh lagi yang namanya impor barang dari luar. Semua bisa dipenuhi oleh masyarakat sendiri. Tentu saja perjuangan mewujudkan mimpi itu masih panjang, tapi setidaknya ia sudah memulainya dengan pasar dan koperasi TKI. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-6674263070236365081?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aqwOqQ0c2LSXrj4gb3wWqEVUnp0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aqwOqQ0c2LSXrj4gb3wWqEVUnp0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aqwOqQ0c2LSXrj4gb3wWqEVUnp0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aqwOqQ0c2LSXrj4gb3wWqEVUnp0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/E5gfZmYk8u4/pasar-rintisan-tki-bagian-1.html</link><author>noreply@blogger.com (Chelluz Pahun)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-qXbE3PL24yM/TZXB-zG1vvI/AAAAAAAAABg/CaBQ4Pette0/s72-c/Foto+Berti.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2011/04/pasar-rintisan-tki-bagian-1.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-8273832447928001426</guid><pubDate>Wed, 22 Sep 2010 10:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-09-22T17:45:40.518+07:00</atom:updated><title>Menjadi Kader Kesehatan Tanpa Memandang Pendidikan</title><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/TJneLQrvreI/AAAAAAAABT8/fnoXHG2Hvdw/s1600/C:%5Cfakepath%5CFoto+kader+posyandu.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/TJneLQrvreI/AAAAAAAABT8/fnoXHG2Hvdw/s320/C:%5Cfakepath%5CFoto+kader+posyandu.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam penanganan masalah gizi yang diderita anak-anak, khususnya di wilayah Provinsi NTT, peran kader posyandu sangatlah penting. Namun peran mereka sering dipandang sebelah mata. Ini bisa kita lihat dari penghargaan terhadap kerja-kerja mereka. Penghargaan di sini tidak selalu harus diartikan dalam bentuk materi. Sebab tidak sedikit dari mereka yang punya dedikasi tinggi meski imbalan atas kerja-kerja mereka sangat kecil. Bahkan tidak sedikit yang bekerja sukarela tanpa imbalan. Padahal seperti di NTT, tidak sedikit kader Posyandu yang berasal dari keluarga miskin. Berikut adalah curahan hati seorang kader Posyandu, Yuliana Ha’e, yang kini ditunjuk sebagai ketua Posyandu Melati Kelurahan Hambala, Kecamatan Kota Waingapu. &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
“Saya adalah seorang pendatang dari tanah Flores – Maumere, datang ke Sumba Timur karena kecantol dengan seorang pria Sabu dari Sumba Timur yang sedang kerja proyek di Maumere saat itu. Kebetulan di Maumere pria pilihanku itu bekerja di dekat kampungku. Ketika saya berangkat ke sekolah (SMP) si pria ini sering menegurku, dan dengan tersipu malu aku balik menyapa. Lama-lama kami menjalin hubungan asmara dan pada akhirnya melarikan diri dari tanah kelahiran Maumere dan mengikuti Suami di tanah Sumba Timur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesampai di Sumba, kami hidup dengan penghasilan suami yang terbatas. Setelah hidup dalam keadaan serba terbatas itu, saya mulai berenung apa yang harus saya lakukan untuk membantu suami memperoleh penghasilan. Sebab semakin hari tuntutan hidup kian meningkat. Ditambah lagi dengan kelahiran anak. Mau tidak mau saya harus bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memilih pekerjaan yang menyenangkan atau yang sesuai dengan pendidikan merupakan hal yang sangat sulit bagi saya, mengingat tingkat pendidikan yang saya punya. Apalagi saya ini pemalu. Lain dari itu, saya juga adalah seorang pendatang. Pribadi seperti inilah yang membuat saya selalu mundur atau sulit dalam melakukan pekerjaan yang berhubungan atau menghadapi banyak orang. Sebenarnya, saya selalu ingin berubah dari sifat pemalu ini, tapi saya tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa mengubahnya. Akhirnya saya pasrah dengan kelemahan saya ini. Mungkin inilah pribadiku, yang terjadi karena pilihan hidupku sendiri. Aku memilih untuk lari bersama laki-laki yang kucintai tanpa pikir panjang dan kompromi dengan keluarga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sulitnya mencari pekerjaan di Sumba Timur, memaksa saya mencari informasi ke kelurahan. Satu-satunya peluang kerja yang saya dapat adalah menjadi kader posyandu. Kebetulan saat itu suami saya menjadi hansip di Kelurahan Hambala, sehingga memudahkan saya mendapatkan peluang untuk menjadi kader kesehatan di Posyandu Melati bersama dengan kawan kader lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekerja sebagai Kader Kesehatan bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun. Banyak kesulitan dan tantangan yang seringkali mendorong untuk mundur dari pekerjaan itu. Namun menghadapi berbagai situasi yang di luar dugaan dan pelum pernah dialami, bagi saya ini merupakan tantangan, apakah maju terus atau mundur. Ketika menghadapi pengenalan akan program pelayanan Posyandu yang disebut dengan sistim pelayanan 5 meja yang mau dijalankan, saya semakin takut dan bingung. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya tidak tahu apa-apa tentang program posyandu dan pelayanan 5 meja yang dijalankan oleh teman-teman terdahulu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu demi waktu terus berjalan. Proses demi proses saya alami di Posyandu ini. Yang tadinya hanya coba-coba dan terpaksa menerima kerja sebagai kader Posyandu, akhirnya saya bilang pada diri sendiri kalau saya mau belajar. Dan di tempat inilah saya merasa yakin akan mendapatkan pengalaman berharga dan belajar untuk mengubah diri saya yang pemalu. Pikir saya, kalau saya malu terus bagaimana mau mendapatkan uang untuk menghidupi anak-anak saya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pertama aktif sebagai kader Posyandu, saya diberi kepercayaan untuk mempelajati beberapa buku, termasuk Kartu Menuju Sehat (KMS), yang harus diisi setiap bulan atau setiap datang ke Posyandu. Ketika mempelajari buku-buku itu, ada rasa takut yang melanda. Rasanya seperti terjadi gempa lokal dalam diri saya. Saya mencoba mengatasi rasa takut ini. Sedikit demi sedikit saya yang dulunya pemalu menjadi sosok yang cerewet, mudah bergaul dan berteman dengan siapa saja, dan berhasil mengatasi semua keterbatasan saya. Akhirnya percaya diri saya meningkat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama menjadi kader Posyandu, saya mendapati ada beberapa kader yang keluar dengan alasan tidak ada honor dan hanya kerja sukarela. Saat itu sayapun hampir mengundurkan diri. Tapi kemudian saya berpikir, kalau saya mengundurkan diri pastilah teman-teman akan menganggap saya tidak mampu dan menganggap saya ini muka uang. Padahal saya ini memang tidak mampu namun memaksakan diri karena butuh uang untuk menghidupi anak-anak saya.  Saya urungkan niat mengundurkan diri. Meski saya tidak mampu, namun saya sering bertanya pada teman kader untuk minta masukan. Inilah yang membuat saya tambah maju dan pantang menyerah dalam menjalankan tugas sebagai kader Posyandu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seiring berjalannya waktu, satu persatu kader mengundurkan diri dengan cara tidak aktif lagi datang ke Posyandu tanpa alasan. Akhirnya saya berusaha sebatas yang saya mampu untuk tetap bertahan. Karena kesabaran saya dalam pelayanan Posyandu setiap bulan, akhirnya saya mendapat perhatian dari bidan di Puskesmas. Ketika sudah tidak ada lagi kader lain yang aktif, bidan mengulang lagi upaya mencari relawan kader yang mau membantu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kurun waktu yang tidak saya duga, saya dipercaya menjadi Ketua Posyandu Melati – Kelurahan Hambala –Kec. Kota Waingapu. Ketika saya ditunjuk untuk menjadi ketua Posyandu Melati, saya jadi bingung. Bagaimana kalau saya nanti disuruh menyampaikan data dan informasi tentang Posyandu, apakah saya bisa. Tapi akhirnya saya berkeyakinan bahwa itu semua bisa dilakukan kalau saya sungguh merasa terpanggil dengan pelayanan yang tulus. Kalaupun ada sesuatu yang tidak diketahui, harus ditanyakan. Itulah yang menjadi modalku untuk menerima tanggung jawab sebagai ketua Posyandu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang membanggakan saya dengan menerima tanggung jawab sebagai ketua Posyandu adalah saya bisa mengenal teman-teman kader dari kelurahan-kelurahan lain yang ada di tingkat Kecamatan Kota. Saya juga bisa mengenal banyak petugas. Dengan kenal banyak kader dan banyak petugas, saya juga bisa bertanya banyak. Dan yang lebih membanggakan, saya sudah bisa berulang-ulang pergi ke kantor BPM Sumba Timur untuk menyampaikan laporan dan sekaligus mengurus administrasi dan operasional Kader. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun mendapatkan sedikit saja penghasilan dengan menjadi kader, namun saya yakin masih ada berkat di tempat lain. Dan yang mendorong saya betah menjadi kader adalah tidak ada peluang kerja lain bagi saya di tempat lain. Belum tentu dengan keluar dari kader saya bisa mendapatkan pekerjaan lain. Apalagi pendidikan saya SMP saja tidak tamat. Singkat cerita...saat ini saya masih tetap menikmati berkat Tuhan lewat pelayanan Posyandu dan kepercayaan yang Tuhan berikan menjadi Ketua Posyandu.  Hal lain yang membuat saya bangga, saya hafal rumah Ibu Hamil dan Ibu-ibu yang mempunyai Balita. Karena kalau 1-2 kali tidak datang ke Posyandu, saya berkunjung ke rumah mereka. Satu persatu ibu hamil dan ibu pemilik anak balita yang  tidak datang ke posyandu saya kunjungi dan saya ajak untuk datang dan membawa anak-anaknya ke Posyandu....”&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Ninu Rambu&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-8273832447928001426?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GSHwft1XySkqtROrI6EAWVA176w/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GSHwft1XySkqtROrI6EAWVA176w/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GSHwft1XySkqtROrI6EAWVA176w/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GSHwft1XySkqtROrI6EAWVA176w/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/-Deohjxkolk/menjadi-kader-kesehatan-tanpa-memandang.html</link><author>noreply@blogger.com (The Institute for Ecosoc Rights)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/TJneLQrvreI/AAAAAAAABT8/fnoXHG2Hvdw/s72-c/C:%5Cfakepath%5CFoto+kader+posyandu.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2010/09/menjadi-kader-kesehatan-tanpa-memandang.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-7577503199038615923</guid><pubDate>Wed, 22 Sep 2010 10:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-09-22T17:41:44.440+07:00</atom:updated><title>Mengatasi Kemiskinan dengan Kebun Bersama</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/TJncw0LR20I/AAAAAAAABT0/otLd_gdc_ZQ/s1600/C:%5Cfakepath%5CAnak+muda+dan+ternak.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/TJncYHuR7OI/AAAAAAAABTw/C75uC7Z6l0w/s1600/C:%5Cfakepath%5CKolam+dan+kebun.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="239" src="http://2.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/TJncYHuR7OI/AAAAAAAABTw/C75uC7Z6l0w/s320/C:%5Cfakepath%5CKolam+dan+kebun.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Berawal dari Kebun Bersama&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Resah melihat apatisme masyarakat ditengah belitan kemiskinan membuat Chrispianus  Saku, seorang romo paroki di Gereja Katolik Gembala Baik di Kabupaten Alor,  Provinsi NTT, berpikir keras mencari jalan keluar. Apalagi setelah melihat banyaknya bantuan yang disalurkan pemerintah: bantuan langsung tunai, raskin, dan juga infrastruktur. Beragam bantuan yang diberikan dengan pendekatan yang kurang pas itu makin membuat masyarakat terlena. Mereka semakin tidak ada keinginan untuk hidup lebih baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Romo Christ, begitu romo itu biasa disapa, berpandangan, mengajak masyarakat berubah tidak cukup dengan kata-kata dalam khotbah di gereja. Gereja harus membuat contoh suatu usaha yang menumbuhkan hasil. Kalau masyarakat melihat bahwa suatu pekerjaan itu menghasilkan, dengan sendirinya mereka akan mengikuti. Demikianlah Romo Christ mengawali karyanya bersama masyarakat di Kabupaten Alor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Usaha untuk mengajak masyarakat itu diawali dengan membuat kebun bersama di atas tanah gereja di wilayah paroki Gembala Baik pada Agustus 2009. Kebun itu berada di atas tanah di daerah perbukitan terpencil di desa Wilai Selatan dan  Fisama, Kecamanata  Alor Tengah Utara. Selain itu kebun bersama juga ada di desa Mainang (Kecamatan Alor Selatan). Pembuatan kebun bersama ini bukanlah pekerjaan mudah, mengingat Paroki Gembaga Baik berada di pusat kota dan di sana hanya ada tiga imam Katolik yang memberikan pelayanan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebun bersama itu dimiliki dan dikelola oleh masyarakat. Di kebun-kebun itu mereka secara bersama menanam tanaman pangan. Hasilnya dipanen bersama dan dijual kota. Hasil penjualan dibagikan ke masyarakat dalam bentuk simpanan koperasi. Selain dijual, masyarakat juga bisa mengambil hasil kebun untuk konsumsi sehari-hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tanpa Perlu Dana&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Meskipun baru berjalan satu tahun, namun usaha kebun bersama ini telah berkembang pesat karena masyarakat merasakan hasilnya. Mereka tidak lagi hanya menanam tanaman pangan tetapi juga mengembangkan kebun sayuran dan buah-buahan. Mereka juga mengembangkan kolam ikan. Berbagai tanaman yang dihasilkan dari kebun bersama itu, di antaranya adalah jagung, ubi jalar, kacang panjang, wortel, labu jepang, kol, cabe rawit, bawang merah, oyong/gambas, pepaya, anggur, nanas, pepaya, dan lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kolam-kolam ikan itu mereka menanam ikan mas dan mujair. Sebagian kolam dipakai untuk pembibitan ikan. Pembibitan ikan ini dibuat, selain untuk menyediakan bibit ikan bagi kebun bersama, juga menyediakan bibit ikan bagi masyarakat yang ingin membuat kolam sendiri. Mereja yang ingin membuat kolam sendiri, diperbolehkan mengambil bibit dari kolam pembibitan. Adanya kolam pembibitan ini ternyata mendorong warga masyarakat untuk ikut membuat kolam di kebun masing-masing. Air kolam berasal dari air tanah. Padahal daerah ini berada di ketinggian perbukitan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain tanaman berumur pendek, gereja juga memelopori penanaman tanaman keras yang menghasilkan buah, seperti rambutan, mangga, kelengkeng dan lainnya. Buah-buahan ini ditanam di lereng-lereng bukit yang kering dan tandus, dengan menggunakan sistem irigasi tetes. Sistem irigasi tetes ini terbuat dari tabung bambu yang digantung didekat bibit tanaman yang baru ditanam. Bambu tersebut diisi air dan diberi lubang agar menetes sepanjang hari ditanah sekitar tanaman baru tersebut. Dengan cara demikian tanaman ini akan mendapatkan kelembaban secara terus menerus hingga akhirnya bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain untuk menghasilkan pangan, penanaman pohon berbuah ini juga bertujuan untuk penghijauan agar sumber mata air terlindungi. Selain pohon buah-buahan, masyarakat juga diajak untuk menanam pohon kenari dan kemiri. Saat ini masyarakat sudah mulai membuat lubang-lubang tanaman dikebun masing-masing. Mereka mulai mengikuti langkah gereja, menanam buah di kebun masing-masing. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usaha kebun bersama ini menyebar bukan hanya di kalangan warga Katolik, tetapi juga di kalangan umat Kristen dari dua gereja yang berbeda. Mereka turut menanam segala rupa tanaman di kebun-kebun mereka. Bukan hanya beragam pangan yang mereka dapat hasilkan, tetapi langkah penghijauan pun dapat dicapai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usaha mengajak masyarakat menanam sayuran, buah maupun pohon lainnya banyak mengalami kemajuan. Yang mengherankan, kegiatan sebesar ini tidak memerlukan uang sepersen pun. Semuanya dikerjakan oleh masyarakat secara swadaya dan swadana. Paroki hanya mengusahakan bibit awalnya. Bibit yang akan dibudidayakan masyarakat dikembangkan sendiri di pekarangan paroki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Rumah dan Kebun Bersama&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;span id="goog_945869844"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_945869845"&gt;&lt;/span&gt;Di desa Mainang,  Romo Christ mengumpulkan pemuda-pemuda yang ada di sana untuk diajak dan diajari menanam sayuran, beternak, dan berkebun. Mereka diajak untuk hidup bersama, memasak bersama, dan makan bersama di sebuah rumah yang disediakan gereja. Banyak anak muda yang berminat tinggal disana. Bahkan mereka berebut untuk bisa tinggal di rumah bersama itu, meskipun ibu mereka sering tidak merelakan anaknya pergi dari rumah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Upaya gereja untuk menggerakkan anak-anak muda tidaklah sia-sia. Kebun bersama yang dikelola anak-anak muda ini pun juga telah memberikan hasil. Saat pertama kali mereka memanen hasil kebun, panenan pertama mereka dalam bentuk sayuran itu mencapai tujuh truk. Hasil sayuran ini dijual ke kota dan hasil penjualan yang sebesar Rp 7 juta itu dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk simpanan koperasi. Mereka bisa memanfaatkan simpanan ini melalui mekanisme simpan pinjam. Dengan cara ini  gereja membiasakan masyarakat untuk menabung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila ditengok ke belakang, banyak pemuda-pemudi di Mainang yang bercita-cita pergi ke kota untuk menjadi tukang ojek, merantau ke jakarta untuk jadi PRT, dan  bahkan banyak yang ingin ke luar negeri untuk jadi TKI. Terhadap keinginan anak-anak muda ini, Romo Christ merasa bahwa keputusan mereka untuk pergi keluar desa merupakan cita-cita yang malah akan menghambat perkembangan masyarakat desa sendiri. Menurutnya, belum tentu pemuda yang keluar desa untuk menjadi tukang ojek, PRT atau TKI itu menjadi sejahtera. Justru dengan kepergian anak-anak muda itu, desa kehilangan sumberdaya potensial untuk membangun. Pertimbangan itulah yang mendorong Romo Christ melatih anak-anak muda di Mainang untuk bertani. Ternyata peminatnya banyak. Bahkan remaja-remaja desa berebut ingin tinggal di pondok tempat berlatih tersebut. Pernah ada ibu-ibu datang ke pondok itu dan menangis karena anaknya kabur dari rumah, ingin tinggal dan berlatih bertani di pondok. Melihat minat anak-anak muda ini, Romo Christ berpandangan bahwa seharusnya kegiatan ini bisa dijadikan model bagi pendidikan pertanian, terutama oleh pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip 3M &lt;br /&gt;
Dalam gerakan “kebun bersama” ini, gereja menanamkan prinsip 3M, yaitu menanam, menabung dan memelihara. Untuk menanamkan kebiasaan menabung, gereja juga membentuk koperasi. Kini sudah ada 900 orang yang menjadi anggota koperasi. Sedangkan untuk memacu semangat masyarakat, gereja menanamkan tiga prinsip pula, yaitu keinginan, kemauan, dan tekad yang kuat. Jika ketiga hal itu dimiliki, niscaya kemajuan yang dicita-citakan masyarakat akan tercapai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum usaha kebun bersama dikembangkan, Romo Christ melihat,  masyarakat tampak enggan untuk maju dan berkembang, terutama dalam meningkatkan penghasilan. Ini terjadi, menurutnya, karena sumberdaya alam berlimpah dan kebutuhan pangan tercukupi tanpa mereka harus kerja keras. Selain itu, masyarakat yang berada di daerah perbukitan cenderung kurang mengenal dunia luar sehingga parameter mengenai hidup cukup adalah sekedar makan kenyang. Untuk apa bekerja keras, toh para tetangga lain juga tak lebih darinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat tidak berfikir untuk menyekolahkan anak, memberi makanan yang cukup bergizi, atau memiliki tabungan. Pengalaman Romo Christ dalam melayani dan mendampingi masyarakat memberikan banyak pelajaran tentang kondisi dan karakter masyarakat. Pelajaran itu membawanya sampai pada kesimpulan bahwa  datangnya berbagai macam bantuan, baik berupa BLT, raskin, maupun bantuan lain malah membuat masyarakat makin tidak mau bekerja. ***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
Oleh: Sri Maryanti&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-7577503199038615923?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Jvzr3QTMstf1nudCadxOjNzdI88/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Jvzr3QTMstf1nudCadxOjNzdI88/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Jvzr3QTMstf1nudCadxOjNzdI88/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Jvzr3QTMstf1nudCadxOjNzdI88/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/r9p9TFx-cqQ/mengatasi-kemiskinan-dengan-kebun.html</link><author>noreply@blogger.com (The Institute for Ecosoc Rights)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/TJncYHuR7OI/AAAAAAAABTw/C75uC7Z6l0w/s72-c/C:%5Cfakepath%5CKolam+dan+kebun.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2010/09/mengatasi-kemiskinan-dengan-kebun.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-121150409562376671</guid><pubDate>Wed, 22 Sep 2010 10:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-09-22T17:30:20.352+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Gizi Buruk</category><title>Gizi Buruk di Tengah Kampung Lumbung Pangan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/TJnaGt8u11I/AAAAAAAABTo/pvK_6bU0U9k/s1600/C:%5Cfakepath%5CFoto+Okto.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/TJnaGt8u11I/AAAAAAAABTo/pvK_6bU0U9k/s320/C:%5Cfakepath%5CFoto+Okto.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Alimebung adalah sebuah desa yang letaknya berada di pinggiran Kota Kalabahi, ibu kota kabupaten Alor, atau jaraknya sekitar 10 kilometer dari jantung kota yang dijuluki Nusa Kenari tersebut.  Kendati letaknya berada di pinggiran, namun Alimebung merupakan ibukota dari sebuah kecamatan di Kabupaten Alor, Kecamatan Alor Tengah Utara (ATU). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata pencaharian warga desa Alimebung beragam, ada  pegawai negeri, wiraswasta, tukang, buruh, dan ada juga pedagang. Yang paling mendominasi atau 90 persen lebih warga Alimebung adalah petani. Usaha tani masyarakat di desa ini cukup maju, karena di dukung dengan lahan yang berada di dataran  tanah datar dengan kondisi tanah yang subur, dan persedian air yang berlimpah. Infrastruktur irigasi-pun dibangun secara rapih, mulai dari hulu air hingga ke pintu-pintu air yang siap membagi ke lahan pertanian masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Kondisi tanah yang subur dan didukung dengan topografi tanah yang datar ini, membuat petani di desa itu tidak hanya memanfaatkan lahan yang ada dengan menanam tanaman pertanian musiman, jagung dan padi sebagai makanan pokok, tetapi juga mengupayakan berbagai usahatani. Yang paling menonjol adalah masyarakat menanam berbagai jenis sayuran, mulai dari sawi, kangkung, kacang panjang, terung, pariak, paku, bayam, lombok dan tomat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap rumah tangga yang ada di desa itu – baik laki-laki maupun perempuan, semuanya mengusahakan tanaman sayuran. Sayuran yang ada bukan hanya untuk dikomsumsi sendiri setiap hari, tetapi juga di jual ke kota sebagai pendapatan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Tidak heran, kalau berkunjung ke pasar-pasar di kota kalabahi, baik Pasar Inpres atau Kadelang, sebagian besar pasokan sayur yang di jual di sana berasal dari desa Alimebung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Petani di desa itu tidak semuanya menjual kepada papalele atau tengkulak yang langsung datang membeli di kebun, tetapi ada juga yang membawa sendiri sayurannya ke pasar dan menjualnya secara langsung. Biasanya jualan sayur ini dilakukan oleh ibu-ibu petani. Meski demikian ada juga satu dua petani laki-laki yang turut menjual sayur. Ada perbedaan cara menjual sayur ini antara laki-laki dan perempuan. Perempuan menjual sayur dengan membuka lapak di pasar, sementara pria biasanya memikul sayur dengan pelepah dibahunya, berkeliling dari lorong-lorong pemukiman masyarakat di kota kalabahi untuk menjual sayurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukisan kehidupan petani di desa Alimebung menggambarkan bahwa ketersedian pangan masyarakat sangat mencukupi. Bahkan di luar stok pangan jagung dan padi hasil dari ladang, masih ada bantuan raskin dari pemerintah. Namun para petani di desa ini mempunyai pendapatan ekonomi tetap dengan mengandalkan hasil dari menjual sayur setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari aspek gizi, kalau merujuk dari ketersedian pangan, baik dari unsur pemenuhan karbohidrat (jagung dan padi), vitamin  (ada sayur-mayur yang lengkap), dan juga protein, potensi untuk kecukupan gizi sangatlah tinggi. Setidaknya tidak kurang persediaan pangan bergizi di tingkat masyarakat. Masyarakat memiliki peliharaan ayam (baik pedaging maupun petelur). Ikan segar juga tersedia, sebab posisi desa Alimebung tidak jauh dari laut, dekat dengan wilayah Maimol – pusat ikan di Kabupaten Alor. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak dinyana, meski masyarakat Alimebung hidup di tengah lumbung pangan, tetapi masalah kesehatan, khususnya menyangkut masalah gizi bagi anak-balita masih menjadi problem di desa ini. Kondisi balita yang mengalami masalah gizi ini, yang dikategorikan gizi buruk, misalnya, bisa ditemukan pada keluarga muda, pasangan Onisimus Manipada (24) dan Afliana Manipada (22). Keluarga muda ini tinggal di sebuah rumah semi permanen yang halamannya dikelilingi beragam tanaman sayuran. Keluarga petani yang memiliki lahan luas untuk tanaman sayur-sayuran ini memiliki seorang puteri, Yohana Jumina Manipada (1,9 th) yang tengah menderita gizi buruk. Hasil timbangan di posyandu terakhir (14/11/2009) berat badan Yohana hanya mencapai 8,7 kg. Padahal dengan usia seperti itu, berat badan Yohana mestinya sudah lebih dari 11 kg.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa penyebab Yohana menderita gizi buruk? Ibunya Afliana didampingi suaminya, Onisimus yang ditemui di kediaman mereka, di Desa Alimebung, Sabtu (2/1/2010) mengungkapkan, Yohana sejak bayi sudah mengalami masalah gizi. Kendati demikian, menurut mereka, Yohana tidak pernah menderita sakit serius. Menurut mereka, meski mereka hanya petani, tetapi makanan yang disiapkan bagi puteri mereka cukup lengkap dalam hal kandungan gizi. Untuk anak mereka, mereka sediakan susu, sayuran, dan juga telur. Tetapi, menurut Afliana, gairah makan dari anak mereka kurang. “Kita kasih makan telur, sayur, begitupun susu, Yohana tidak mau. Kita sudah berupaya dengan membujuknya, tetap tidak mau makan,”ungkap Afliana. Afliana mengungkapkan, kalau dirinya dan suaminya setiap hari bekerja keras dengan mengusahakan tanaman sayur untuk dijual agar uang yang mereka dapatkan bisa untuk membeli makanan bagi Yohana. Namun sayang, gairah makan anak mereka tetap rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika disinggung masalah makan anaknya apakah pernah di diskusikan dengan tenaga medis, Afliana mengatakan kalau hal itu belum dilakukan. Padahal biasanya setiap bulan mereka rajin membawa anaknya ke Posyandu. Di sana, kata mereka, selain dilakukan penimbangan juga ada pengarahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nasib yang sama juga dialami keluarga Sam Selan (36) dan Aflinjo Malmau (20). Puteri semata wayang mereka, Wehelmina Selan (3), juga mengalami gizi buruk. Saya bertemu Sam Selan di rumah Ketua Kader Posyandu Melati, Desa Alimebung. Ia mengungkapkan, Wehelmina ketika lahir berat badannya 1,6 kg. Proses persalinan Welhelmina dibantu oleh bidan puskesmas. Berat badan Welhelmina naik-turun. Hingga usianya yang telah mencapai 3 tahun, berat badannya hanya 8,6 kg.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Sam, masalah terjadinya gizi buruk yang dialami Wehelmina akibat kurangnya gairah makan. Padahal, katanya, setiap hari dirinya bersama istri selalu mendampingi atau bersama anaknya. “Saya kerja sebagai tukang bangunan, jadi pekerjaan saya di dekat rumah saja. Tiap hari selalu berada di rumah dan  kita terus membujuknya untuk makan, tetapi tidak ada nafsu makan,” ungkap Sam. Sam mengatakan, kendati puterinya mengalami gizi buruk, tetapi putrinya itu tidak pernah mengalami sakit serius. “Sakit yang dialami Wehelmina biasanya batuk-pilek atau demam,” tambah Sam yang masih hidup bersama istri dan anaknya disebuah rumah kontrakan semi permanen di desa Alimebung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sam menambahkan, kasus gizi yang dialami puterinya tersebut telah mendapat perhatian dari pemerintah. Meski baru sekali tetapi pemerintah telah memberikan bantuan makanan buat anaknya dalam bentuk Bubur SUN.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah kasus gizi ini juga dialami keluarga Markus Maure (Alm) dan Orpha Maure (38). Putra bungsu mereka dari lima bersaudara, Ade Markus Maure (1,8) menderita gizi kurang. Orpha yang ditemui di bedeng sayurnya di desa Alimebung mengatakan, anaknya sejak lahir mengalami kasus gizi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyebabnya, kata Orpha, mungkin akibat kurang perhatian dari dirinya. Sebab, ungkap Orpha, setiap hari dari pagi hingga petang dia bekerja menyiapkan sayur di ladang yang akan dibawa ke pasar. Pendapatan mereka – yang digunakan untuk menopang kehidupan sehari-hari – bergantung pada hasil penjualan sayur.  “Kalau saya pergi berjualan di pasar, maka Ade ditinggalkan pada kakak-kakanya untuk menjaga,”ungkap Orpha. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkait dengan masalah gizi yang dialami sejumlah anak-balita di desa Alimebung, data yang dihimpun dari Ketua Kader Posyandu Melati desa Alimebung, Lodia Mapada, di kediamannya, Sabtu (2/1/2010) menjelaskan, dari 70 balita yang ditangani posyandunya ada empat balita yang mengalami gizi buruk, dan belasan lainnya mengalami masalah gizi kurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lodia mengatakan, penyebab masalah gizi dari setiap balita di desa itu bermacam-macam. Menurut Lodia, seperti keluarga Onisimus dan Orpha Maure, dari pengamatannya, anak mereka kurang mendapat perhatian. Ini terjadi akibat kesibukan  mereka dalam berladang dan mencari penghasilan. “Masyarakat disini umumnya petani sayur, jadi suami-istri setiap harinya menyiapkan sayur atau sibuk diladang, setelah itu bawa ke pasar untuk jual. Anak mereka ditinggalkan di rumah. Akhirnya makanan anak kurang diperhatikkan,”ungkap Lodia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibat lainnya, kata Lodia, masalah makanan yang diberikan kepada anak kurang atau tidak memiliki nilai gizi. “Kita tahu bahwa daerah ini adalah daerah sayur, begitupun daging atau ikan segar ada. Tetapi masih menjadi pertanyaan, apakah pengolahan makanan yang diberikan kepada anak sudah mengandung nilai gizi atau tidak,”ungkap Lodia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Lodia, berdasarkan pengamatannya, masyarakat di desa ini belum terbiasa  dan juga belum memiliki ketrampilan untuk mengolah makanan sehingga punya nilai gizi tinggi. Padahal bahan makanan yang punya nilai gizi tinggi tersedia.  “Kalau mau omong susu, masyarakat disini walaupun petani bisa beli susu. Setiap hari sayur yang dijual mereka, bisa menghasilkan Rp 30.000 hingga Rp 60.000. Jadi sangat sanggup. Tetapi bagaimana membiasakan anak untuk minum susu?”tandas Lodia.&lt;br /&gt;
Lodia juga menyampaikan, Posyandu di desanya telah mendapat perhatian dari pemerintah dan juga LSM, salah satunya adalah ADP (WVI) . Mereka memberikan bantuan alat ukur tinggi badan dan berat badan. Menurut ketua kader Posyandu itu, penyuluhan dari petugas kesehatan kepada ibu-ibu perlu gencar dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh:Okto Manehat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-121150409562376671?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ATgTzYXRh1RPgZchad3Id85pAxM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ATgTzYXRh1RPgZchad3Id85pAxM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ATgTzYXRh1RPgZchad3Id85pAxM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ATgTzYXRh1RPgZchad3Id85pAxM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/9Tii-eR8dtE/gizi-buruk-di-tengah-kampung-lumbung.html</link><author>noreply@blogger.com (The Institute for Ecosoc Rights)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/TJnaGt8u11I/AAAAAAAABTo/pvK_6bU0U9k/s72-c/C:%5Cfakepath%5CFoto+Okto.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2010/09/gizi-buruk-di-tengah-kampung-lumbung.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-3865881812315942926</guid><pubDate>Sat, 24 Jul 2010 06:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-09-22T17:31:15.250+07:00</atom:updated><title>Pernyataan Sikap: Pohon Untuk Kehidupan, Bukan Tambang</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/TE0yPBJANGI/AAAAAAAABTY/orchm-BEU8A/s1600/IMG_1380.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/TE0yPBJANGI/AAAAAAAABTY/orchm-BEU8A/s320/IMG_1380.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Berangkat dari apa yang kami dengar, kami lihat  dan kami rasakan atas penderitaan yang dihadapi masyarakat ntt, yang langsung atau tidak langsung sebagai akibat dari aktifitas pertambangan :&lt;br /&gt;
- di kabupaten belu &lt;br /&gt;
- di kabupaten ttu &lt;br /&gt;
- di kabupaten tts &lt;br /&gt;
- di kabupaten kupang&lt;br /&gt;
- di kabupaten manggarai &lt;br /&gt;
- di kabupaten  manggarai timur &lt;br /&gt;
Berbagai  bentuk penderitaan yang ditimbulkan oleh aktivitas pertambangan diantaranya: &lt;br /&gt;
1.Kehilangan nyawa yang terus menerus akibat tertimbun longsoran dan sakit tanpa ada upaya dari pemerintah untuk menghentikannya.&lt;br /&gt;
2.Penderitaan fisik dalam bentuk sesak nafas, nyeri dada, sakit kulit, batuk berdarah dan berbagai bentuk sakit fisik lain yang belum teridentifikasi.&lt;br /&gt;
3.Menurunnya kualitas kesehatan akibat pencemaran udara, air dan suara.&lt;br /&gt;
4.Menurunnya kualitas lingkungan (hilangnya sumber air, hilangnya kesuburan tanah, dan kehancuran ekosistem) dan ancaman keselamatan warga akibat hilangnya hutan dan banyaknya lubang-lubang bekas galian yang semuanya itu mengakibatkan tanah longsor, banjir, kekeringan dan berbagai bencana lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dampak serius lain terkait kegiatan pertambangan yang selama ini luput  dari perhatian publik adalah :&lt;br /&gt;
1.Meningkatnya keterlibatan anak usia sekolah dalam penggalian mangan yang berdampak pada tingginya angka putus sekolah dan resiko kematian dini pada anak-anak.&lt;br /&gt;
2.Munculnya fenomena perbudakan akibat jeratan hutang pada masyarakat di lingkar tambang. pihak-pihak yang terkait dengan perusahan tambang meminjamkan sejumlah uang secara terus menerus sampai pemilik tanah tidak mampu membayar sehingga merelakan tanahnya diambil untuk kegiatan pertambangan. pemilik tanah selanjutnya menjadi buruh tambang. sementara warga yang tidak memiliki tanah mendapatkan kemudahan untuk berutang (uang dan barang) asalkan mereka menjadi pekerja tambang.&lt;br /&gt;
3.Munculnya ketegangan sosial dengan kehadiran dan keterlibatan aparat keamanan (polisi dan militer) dan pol pp. &lt;br /&gt;
4.Maraknya perjudian dan prostitusi di wilayah lingkar tambang.&lt;br /&gt;
5.Ancaman krisis pangan dan kelaparan akibat meningkatnya alih fungsi lahan produktif dan ditinggalkannya kerja-kerja bertani, berkebun, beternak dan menangkap ikan/melaut.&lt;br /&gt;
6.Masyarakat didorong untuk menjadi pelaku perusak lingkungan dengan adanya pertambangan rakyat. dalam sistem pertambangan ini, korporasi mengambil keuntungan sebesar-besarnya  dengan melepas tanggung jawab terhadap pemenuhan hak para penggali tambang dan tanggung jawab atas kerusakan lingkungan. &lt;br /&gt;
7.Diabaikannya hak atas informasi tentang bahaya bahan galian tambang ini terlihat dari beberapa fenomena berikut : warga meminum air yang keluar dari bekas galian tambang, warga mencicipi bahan galian untuk mengetes rasa bahan tambang, warga makan setelah menggali tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, bahkan ada warga yang menaruh batu mangan ke dalam sumur untuk mengurangi rasa asin air sumur.&lt;br /&gt;
8.Hilangnya investasi bernilai milyaran rupiah dalam bentuk infrastruktur jalan yang rusak akibat dilalui kendaraan berat yang memuat hasil tambang.&lt;br /&gt;
9.Diabaikannya kepentingan generasi yang akan datang yang juga memiliki hak atas bumi, air, udara dan kekayaan alam serta kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan keprihatinan di atas, kami sebagai pemegang amanat Allah untuk memelihara-melindungi-menjaga alam, dan sebagai manusia pencinta alam sekaligus pembela hak asasi manusia, dengan ini menyerukan kepada semua pihak yang bertanggung jawab, yakni pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota , korporasi pertambangan dan kaki tangannya untuk :&lt;br /&gt;
1.Hentikan eksplorasi &amp;amp; eksploitasi pertambangan yang tengah berlangsung  di kabupaten-kabupaten tersebut.&lt;br /&gt;
2.Hentikan pemberian ijin pertambangan di wilayah kabupaten yang belum terkena aktivitas pertambangan dan/ atau yang menjadi target pertambangan.&lt;br /&gt;
3.Bebaskan seluruh wilayah provinsi nusa tenggara timur dari aktivitas pertambangan yang destruktif terhadap kehidupan manusia dan alam.&lt;br /&gt;
4.Secara serius mengembangkan alternatif-alternatif sumber penghidupan yang berkelanjutan, seperti pertanian, perikanan/kelautan, kehutanan, pariwisata, dan industri kecil.&lt;br /&gt;
5.Hentikan segala bentuk praktik korupsi yang melahirkan kemiskinan, kebodohan dan kerusakan mental pejabat dan rakyat.    &lt;br /&gt;
6.Punya mata yang melihat pelbagai kerusakan akibat tambang, punya telinga  yang mendengarkan kesengsaraan rakyat dan punya hati yang merasakan penderitaan rakyat akibat tambang yang merampas hak-hak  rakyat.&lt;br /&gt;
7.Menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
JARINGAN TOKOH AGAMA PEDULI HAK EKONOMI, SOSIAL, BUDAYA&lt;br /&gt;
(JATAP – EKOSOB NTT)&lt;br /&gt;
1. P.DR.OTTO GUSTI, SVD (STFK LEDALERO/SIKKA)&lt;br /&gt;
2. Rm. PETRUS KANIS ALI, M.Si, Pr (PAROKI BENTENG JAWA/ MANGGARAI TIMUR)&lt;br /&gt;
3. Pdt. YAN LEIMANY,S.Th (GMIT/ ENDE)&lt;br /&gt;
4. ABDUL RAJAK, SE (KOMUNITAS MUSLIM/ MANGGARAI)&lt;br /&gt;
5. Pdt. LINDA KISEK, S.SI, M.SI (GMIT/KUPANG)&lt;br /&gt;
6. Pdt. FEBY BENGU, S.Th (GMIT/KUPANG)&lt;br /&gt;
7. Pdt. APLIANA RAMBU LEKI, S.Th (GKS/SUMBA)&lt;br /&gt;
8. Rm. EMANUEL F’KUN, S.FIL, Pr (KOMISI KEADILAN &amp;amp; PERDAMAIAN KEUSKUPAN ATAMBUA/BELU)&lt;br /&gt;
9. P. MARKUS TULU, S.FIL,M.Hum, SVD (KOMISI KEADILAN &amp;amp; PERDAMAIAN PROVINSI SVD ENDE)&lt;br /&gt;
10. Ir. ABDUL LATIF (KOMUNITAS MUSLIM/MANGGARAI)&lt;br /&gt;
11. Pdt. VICTOR NENOHAI, S.Th (GMIT/BELU)&lt;br /&gt;
12. DOMINGGUS KASE (GMIT/TTS)&lt;br /&gt;
13. P. VINSENSIUS N. BILI, S.FIL, CSsR (DEKENAT SUMBA TIMUR/SUMBA)&lt;br /&gt;
14. Pdt. ERITRIKA A. NULIK,S.Th (GMIT/PULAU SEMAU/KABUPATEN KUPANG)&lt;br /&gt;
15. Drs. VINSENSIUS B. LOE (YAYASAN SOLIDARITAS/BELU&lt;br /&gt;
16. Pdt. WISYE MAKATITA,S.Si (GMIT/MANGGARAI)&lt;br /&gt;
17. Rm. VINSENSIUS K. TENA, S.Fil, Pr (KOMISI PSE/DELSOS KEUSKUPAN WEETABULA/SUMBA)&lt;br /&gt;
18. SITI SARIFA (KOMUNITAS MUSLIM/MANGGARAI TIMUR)&lt;br /&gt;
19. MARTEN ROGA ATE,SE (TABLOID SABANA/SUMBA TIMUR)&lt;br /&gt;
20. Rm. CHARLES ROBERTO SUWENDI,S.Fil., Lic.Theol , Pr (KOMISI KEADILAN &amp;amp; PERDAMAIAN&lt;br /&gt;
KEUSKUPAN RUTENG/MANGGARAI)&lt;br /&gt;
21. Pdt. LOTH BA’UN, S.Th (GMIT/TTS)&lt;br /&gt;
22. Rm. GREGORIUS S. DUDY, S.Fil, Pr (KOMISI KEADILAN &amp;amp; PERDAMAIAN KEUSKUPAN&lt;br /&gt;
ATAMBUA/BELU)&lt;br /&gt;
23. RONNY MALELAK, ST FORUM MASYARAKAT SIPIL (FORMASI) SUMBA/SUMBA BARAT&lt;br /&gt;
24. P. MARSEL NAHAS,SVD (KOMISI KEADILAN &amp;amp; PERDAMAIAN PROVINSI SVD RUTENG/MANGGARAI&lt;br /&gt;
BARAT)&lt;br /&gt;
25. Pdt. MEL GERARD TH.MESSAKH,S.Th (GMIT/KUPANG)&lt;br /&gt;
26. Pdt. ISWARDI Y. S. LAY, S.Si (KOMUNITAS TUAK PEDIS/ROTE NDAO)&lt;br /&gt;
27. Pdt. YUNUS EDI W. MANU, S.Th (GMIT/ROTE)&lt;br /&gt;
28. SITI RAHMAH (KOMUNITAS MUSLIM/ MANGGARAI TIMUR)&lt;br /&gt;
29. P. MATEUS BATUBARA, S.Fil, OFM (KOMISI KEADILAN &amp;amp; PERDAMAIAN OFM&lt;br /&gt;
INDONESIA/MANGGARAI)&lt;br /&gt;
30. P. SIMON SUBAN TUKAN, S.Fil,M.Hum, SVD (KOMISI KEADILAN &amp;amp; PERDAMAIAN PROVINSI SVD&lt;br /&gt;
RUTENG/ MANGGARAI)&lt;br /&gt;
31. Kanis Deki,S.Fil,M.Th (Warga Masyarakat Sipil/Manggarai)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekretariat: Desa Oelua, Kec. Rote Barat Laut, Kab. Rote Ndao&lt;br /&gt;
Kontak Person:&lt;br /&gt;
1.Pdt. Iswardi Lay (081339419587)&lt;br /&gt;
2.Rm. Charles Roberto (081387421567&lt;br /&gt;
3.Siti Rahmah (085253236419)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-3865881812315942926?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JUn3N2aXAxkW8yXTIUvP20Mzq3I/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JUn3N2aXAxkW8yXTIUvP20Mzq3I/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JUn3N2aXAxkW8yXTIUvP20Mzq3I/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JUn3N2aXAxkW8yXTIUvP20Mzq3I/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/PMVAHpB50xw/pernyataan-sikap-pohon-untuk-kehidupan.html</link><author>noreply@blogger.com (The Institute for Ecosoc Rights)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/TE0yPBJANGI/AAAAAAAABTY/orchm-BEU8A/s72-c/IMG_1380.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2010/07/pernyataan-sikap-pohon-untuk-kehidupan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-8404599024643481748</guid><pubDate>Thu, 22 Apr 2010 11:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-22T19:11:57.173+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">The Institute for Ecosoc Rights</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">daerah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kemiskinan</category><title>Bantuan Anda Sangat Diperlukan untuk Anak-anak Papua</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/S9A6V2vi4HI/AAAAAAAABTE/1_uLgcfoaFg/s1600/Foto+anak2Sorong_Albert.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/S9A6V2vi4HI/AAAAAAAABTE/1_uLgcfoaFg/s320/Foto+anak2Sorong_Albert.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Albert B. Buntoro&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="dropcap"&gt;S&lt;/span&gt;ekali waktu Fredy Turot warga asli Papua datang berkunjung ke rumah sahabatnya. Ini adalah kali pertama Fredy keluar dari desanya yang sangat terpencil. Setelah lama mereka berdiskusi Fredy berujar, ‘Bapa, saya ingin sekali ke WC untuk kencing.’ Seperti kebiasaannya, si pemilik rumah hanya memberikan petunjuk sambil menunjukkan jarinya ke arah belakang bahwa letak WC ada di sebelah almari pendingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan wajah sedikit bingung Fredy mengikuti petunjuk tersebut. Selang beberapa menit Fredy kembali ke ruang tamu dengan raut wajah yang menampakkan kekaguman terhadap sahabatnya. Sebelum masuk dalam pembicaraan serius mereka, tiba-tiba Fredy berkata, ‘Saya kagum dengan Bapa punya WC. Rasanya begitu sejuk dan ada lampu menyala secara otomatis setiap kali saya membuka pintu WC untuk kencing.’ Spontan ketika mendengar cerita Fredy, sang pemilik rumah segera beranjak dari tempat duduk untuk membersihkan kulkasnya.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe align="right" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" scrolling="no" src="http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=B002UXDMT6&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=058935&amp;amp;bc1=FFFFFF&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr" style="height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;"&gt;&lt;/iframe&gt;Kisah ini adalah pengalaman sebenarnya yang diceritakan oleh salah seorang pastor yang sudah berkarya cukup lama di Papua. Buat saya cerita ini cukup menggelikan ketika pertama kali mendengarnya. Namun ketika menuliskannya kembali cerita tersebut ke dalam buku harian, terlintas pikiran akan rendahnya sumber daya manusia di Pupua. Indeks Pembangunan Manusia yang diberitakan meningkat sulit ditemukan acuan kenyataannya di pulau cendrawasih yang sebagian besar daerahnya jauh dari akses informasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu cara untuk meningkatkan ‘kualitas manusia’ di Papua, khususnya generasi sekarang ini adalah dengan mendekatkan akses informasi terhadap warga. Dan upaya yang bisa dilakukan dalam waktu dekat ini adalah dengan membangun sebuah ruang berkegiatan dan belajar bagi warga, termasuk anak-anak. Sebagai langkah awal yang sudah saya lakukan selama kurang lebih dua bulan berkarya di Papua adalah dengan mendekati orang-orang kunci dan membangun perpustakaan kampung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini perpustakaan kampung berukuran 40 meter persegi sudah terbangun. Sebagian besar buku-buku dari sumbangan para donatur sudah terkumpul, lebih dari 15 kardus berukuran sedang (seperti kardus air mineral gelas) dengan rata-rata berat 15–20 kg (1kg = Rp18.000 via Pos Indonesia) dan masih ada sumbangan lain yang akan datang. Kendala yang ada saat ini adalah belum tersedianya cukup dana untuk biaya pengiriman buku-buku ke desa kami. Jika anda terketuk untuk menyisihkan sebagian penghasilan dari hasil kerja keras anda, silahkan menghubungi Albertus Bambang Buntoro di nomor 081210835203&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usul lengkap saya kirim dapat Anda lihat pada links menuju ke penempatan files scribd.com ini. Mohon sekali klik di sini: &lt;a href="http://www.scribd.com/doc/30334586/Perpustakaan-Anak-di-desa-Ayawasi-Papua"&gt;Perpustakaan Anak-anak Ayawasi, Papua&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.scribd.com/doc/30334656/Perpustakaan-Anak-DiAyawasi-Papua-Anggaran"&gt;Pendanaannya&lt;/a&gt;. Dan sebagai pertanggungjawaban, saya akan mengirimkan laporan kemajuan baik berupa kegiatan yang sudah kami lakukan maupun laporan keuangan (penerimaan dan pengeluaran) kepada para penyumbang setiap bulannya via pos atau email.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe align="right" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" scrolling="no" src="http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=0868406767&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=058935&amp;amp;bc1=FFFFFF&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr" style="height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;"&gt;&lt;/iframe&gt;Perlu diketahui bahwa akses komunikasi ke desa saat ini masih menggunakan radio, karena belum ada sinyal; selain menggalang dana dari para donatur, upaya lain yang juga kami lakukan dalam rangka mencari dana guna penguatan kapasitas warga Papua adalah juga dengan membangun usaha di bidang perikanan, peternakan, dan perkebunan. Kegiatan ekonomi ini juga kami lakukan untuk menyokong kebutuhan pangan warga dengan harga terjangkau. Tidak adanya transportasi membuat harga barang di desa kami sangat tinggi. Dari dana pinjaman dengan syarat pengembalian yang relatif ringan, saat ini kami sudah membuat 10 kolam ikan yang sudah terisi kurang lebih 5.000 bibit ikan dan kebun sayur  seluas kurang lebih 500 meter persegi. Kami juga masih menerima sumbangan buku dari berbagai pihak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terimakasih atas partisipasi anda untuk karya-karya di desa kami. Surat dan proposal ini bisa disebarluaskan ke berbagai pihak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam hormat saya, Albert di Ayawasi, Papua&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-8404599024643481748?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OAokymwB7Z18nMGMVDWPK6xDm1Y/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OAokymwB7Z18nMGMVDWPK6xDm1Y/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OAokymwB7Z18nMGMVDWPK6xDm1Y/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OAokymwB7Z18nMGMVDWPK6xDm1Y/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/VOP9U4XxEls/bantuan-anda-sangat-diperlukan-untuk.html</link><author>noreply@blogger.com (The Institute for Ecosoc Rights)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/S9A6V2vi4HI/AAAAAAAABTE/1_uLgcfoaFg/s72-c/Foto+anak2Sorong_Albert.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2010/04/bantuan-anda-sangat-diperlukan-untuk.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-8524377397219251078</guid><pubDate>Wed, 14 Apr 2010 17:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-15T01:05:22.342+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kekerasan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Jakarta</category><title>Apakah Anda setuju Satpol PP dibubarkan?</title><description>&lt;iframe src="http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;o=1&amp;p=8&amp;l=bpl&amp;asins=0801473276&amp;fc1=000000&amp;IS2=1&amp;lt1=_blank&amp;m=amazon&amp;lc1=058935&amp;bc1=FFFFFF&amp;bg1=FFFFFF&amp;f=ifr" style="align:right;padding-top:5px;width:131px;height:245px;padding-right:10px;"align="right" scrolling="no" marginwidth="0" marginheight="0" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;Anda dapat mengikuti dalam &lt;i&gt;clip &lt;/i&gt;dalam &lt;i&gt;posting &lt;/i&gt;ini dampak buruk dari aksi kekerasan yang bermula dari Satpol PP ..&lt;script type="text/javascript" src="https://www.google.com/reader/ui/publisher-en.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript" src="https://www.google.com/reader/public/javascript/user/02697260446532363986/label/Jakarta Violence?n=10&amp;callback=GRC_p(%7Bc%3A%22black%22%2Ct%3A%22JAKARTA%20VIOLENCE%22%2Cs%3A%22true%22%2Cn%3A%22true%22%2Cb%3A%22false%22%7D)%3Bnew%20GRC"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-8524377397219251078?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/97CY5Dsgrw-OVSoeOVxN7Eb96Ec/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/97CY5Dsgrw-OVSoeOVxN7Eb96Ec/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/97CY5Dsgrw-OVSoeOVxN7Eb96Ec/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/97CY5Dsgrw-OVSoeOVxN7Eb96Ec/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/FEStAQFqUc0/apakah-anda-setuju-satpol-pp-dibubarkan.html</link><author>noreply@blogger.com (The Institute for Ecosoc Rights)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2010/04/apakah-anda-setuju-satpol-pp-dibubarkan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-3996436252968804944</guid><pubDate>Mon, 01 Mar 2010 23:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-06T04:47:36.906+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">busung lapar</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">English-version</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Nusa Tenggara Timur</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perempuan</category><title>Meeting at children ward</title><description>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;&lt;iframe align="left" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" scrolling="no" src="http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=159018677X&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr" style="height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;"&gt;&lt;/iframe&gt;By &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;SRI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;MARYANTI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;updated Nov 26, 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When I looked at them, I immediately asked why their face looks so old. Though the two women's age was not much different from mine. Even Mama Blandina's face looked as if she was fifties while in fact she was&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;&amp;nbsp;35 years old. There seemed to be a problem with these women. What I guessed was true, not long after talking with Ms. &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Blandina&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;, her eyes became wet as soon as she told me her live. So it was with Mama Helena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Holding her youngest child is two and a half years old, &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Blandina&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Mafani&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; told her story. In a relatively young age, she had given birth six times. And six times did he give birth without medical help. Even more sad, for most pregnant women from the &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Tulleng&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; village in &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Lembur&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;subdistrict&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; in &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Alor&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; have never checked the baby to a health center or clinic. Fortunately, there were traditional midwives in the village who could be asked during childbirth. So she did not know her baby's weight at birth. Thus she did not quite understand what normal and healthy child at birth.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Health center was far away. Midwives and health workers had never visited the house. But there were more problems. Her husband forbade her to go to the clinic for this. When her youngest child was seriously ill, he remained adamant not to take him to the hospital. After some neighbors forced her, she let his son suffering from malnutrition be taken to the clinic. It was the reason why the child ended in the ward because the health center was not able to serve him. She did not participate family planning because the husband prohibited her. Some people in &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Alor&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; still believe that family planning was not good. It can interfere with sexual relationship of husband and wife. So Mama &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Blandina&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; only drank traditional herb to prevent pregnancy. Yet she has six children.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mama &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Blandina&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; youngest is almost two and a half years. His weight is only six pounds. Her body thin, her legs withered, his eyes blank. &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Livianus&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; child's name. Since the age of one year he did not want to eat. Her mother did not have enough time to take care of it. Moreover, waiting for him at meals. All day he could work in the garden. If he was to the garden, the children cared for her brothers who are still children. If not to her husband often beat her garden. Return from the garden, he still had to find water and cooking.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Do not blame her if her son had to suffer from malnutrition. She lived with a lot of burden. Everyday she rarely has any money. Her husband sold directly the family orchards' harvest and often used for gambling. The money she never received. Her husband would just give her the money if rice stock is out and soap up. Each time she received money from her family, her husband always asked it back. Hers is unfortunate fate.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
While &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Halena&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; who also had already a week to stay in the children ward with her child to be treated experienced the same situation. Although not as unfortunate as Mama &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Blandina&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;, at the age of 36 years she already gave birth five times though she was never assisted by medical personnel during delivery. Although her husband is not as grumpy as Mama &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Blandina's&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; husband, this women who hails from &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Margeta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; village in south-west &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Alor&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; has also to work in the orchard. She left her at home while she and her husband worked in the orchard. No one then pay attention to pattern of children's meals. Eventually his daughter &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Vitriani&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Bagaihing&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;, only one-year-old was forced to be hospitalized. She is only six pounds. She has diarrhea and kept vomiting before rushed to the hospital. Like Mama &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Blandina&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;, Helena also did not join family planning program. When I asked why not join the program, she only glanced at her husband. When I asked him if he had forbidden his wife joined family planning, he blushed.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
These &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Alor&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; women are equally unfortunate. They share the heavy workload. Both had many children. Equally they are remote from access to health services. Neither have attended any school. None join with family planning. And both are equally caught in a social culture far from any development programs, a culture that still puts women as only half-human. Now they end in the children's ward hospital.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Many women like them could be found in &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;Alor&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; villages, although they do not always get to the hospital ward to carry her baby for malnutrition. Generally malnourished children are only brought to the hospital after their condition was classified as severe or already in the state of &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;marasmus&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;or &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;kwasiorkhor&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;or &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;kwasiorkhor&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="goog-spellcheck-word"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;marasmus&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333;"&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Regarding women concerns, in the last five years the average number of cases of violence against women in the police recorded 38 cases annually. Those who do not report to the police of course must be far greater. This condition occurs because people are still stuck in traditional male dominant society.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apparently resolving the problem of violence against women that often leads to the emergence of children with malnutrition would be more difficult when people are not getting an adequate education. It's hard to expect a change in the public consciousness if they are not also offered with education. Shall we blame the parents whose children suffer from malnutrition as their right to education has not fulfilled?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-3996436252968804944?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CzAH3HuIVaQ7z1WuKRue170Dau4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CzAH3HuIVaQ7z1WuKRue170Dau4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CzAH3HuIVaQ7z1WuKRue170Dau4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CzAH3HuIVaQ7z1WuKRue170Dau4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/erq8kgHZ7qE/meeting-at-children-ward.html</link><author>noreply@blogger.com (The Institute for Ecosoc Rights)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2010/03/meeting-at-children-ward.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-8570598669624780657</guid><pubDate>Wed, 25 Nov 2009 10:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-06T04:52:11.508+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">petani</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">busung lapar</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kebijakan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kemiskinan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Nusa Tenggara Timur</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kesehatan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">budaya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">masyarakat adat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perempuan</category><title>Pertemuan di Bangsal Anak</title><description>&lt;iframe align="left" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" scrolling="no" src="http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=0737743832&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr" style="height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;"&gt;&lt;/iframe&gt;Oleh SRI MARYANTI (&lt;i&gt;update 26/11/2009&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="dropcap"&gt;S&lt;/span&gt;aat aku menatap mereka, aku segera bertanya mengapa wajah mereka terlihat demikian tua. Padahal umur dua perempuan itu tidak berpaut jauh denganku. Bahkan wajah Mama Blandina yang masih berumur 35 tahun seperti perempuan usia limapuluhan. Sepertinya ada masalah dengan para perempuan di bangsal anak itu. Benar rabaanku, tidak lama setelah mengobrol dengan Ibu Blandina, matanya segera basah seiring dengan ceritanya. Demikian juga dengan Mama Helena. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menggendong anak bungsunya yang berusia 2,5 tahun, Ibu Blandina Mafani bertutur. Dalam usianya yang tergolong muda, ia telah melahirkan enam kali. Dan enam kali pula ia melahirkan tanpa pertolongan tenaga medis. Yang lebih miris lagi, selama hamil perempuan dari desa Tulleng, kecamatan Lembur, kabupaten Alor ini tak pernah memeriksakan bayinya ke puskesmas atau ke klinik. Untung ada dukun beranak di desanya yang bisa dimintai tolong saat melahirkan. Jadi ia tidak tahu berat badan anaknya ketika lahir. Dengan demikian ia juga tidak begitu paham apakah anaknya normal dan sehat saat lahir.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puskesmas memang jauh letaknya. Bidan maupun tenaga kesehatan tak pernah berkunjung ke rumahnya. Namun bukan hanya itu saja masalahnya. Suaminya melarangnya ke puskesmas selama ini. Saat anak bungsunya sakit parah, suaminya tetap bersikukuh untuk tidak membawanya ke rumah sakit. Setelah dipaksa beberapa tetangga, barulah ia mengijinkan anaknya yang gizi buruk ini dibawa ke puskesmas. Jadilah anak ini sampai di Bangsal Anak karena puskesmas sudah tidak bisa melayaninya. Ia tidak ikut KB karena dilarang suami. Sebagian masyarakat Alor masih percaya bahwa KB itu tidak baik. Bisa mengganggu hubungan seksual suami istri. Maka Mama Blandina hanya minum ramuan tradisional untuk mencegah kehamilan. Nyatanya anaknya tetap enam orang.&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;Anak bungsu Mama Blandina sudah hampir dua setengah tahun. Berat badannya hanya enam kilogram. Badannya kurus, kakinya layu, pandangan matanya kosong. Livianus nama anak itu. Sejak umur satu tahun ia tidak mau makan. Ibunya tak cukup punya waktu untuk mengurusnya. Apalagi menungguinya saat makan. Seharian ia bisa bekerja di kebun. Kalau ia ke kebun, anak-anaknya diasuh kakak-kakaknya yang juga masih anak-anak. Kalau tidak ke kebun suaminya sering memukulinya. Sepulang dari kebun, ia masih harus mencari air dan memasak.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/Sw0J0bTFx7I/AAAAAAAABPU/cYzdHdEPprY/s1600/p1010016-2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407989523827509170" src="http://2.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/Sw0J0bTFx7I/AAAAAAAABPU/cYzdHdEPprY/s320/p1010016-2.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 240px; margin: 0px 0px 10px 10px; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;Jangan salahkan dia kalau anaknya harus menderita gizi buruk. Ia hidup dengan banyak beban. Sehari-hari ia jarang memegang uang. Hasil kebun langsung dijual suami dan sering dipakai untuk berjudi. Uangnya tak pernah ia terima. Suaminya hanya akan kasih uang jika beras habis dan sabun habis. Setiap kali ia menerima uang dari keluarganya, selalu diminta suaminya kembali. Demikian malang nasibnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;Sedangkan Halena yang juga telah seminggu lebih tinggal di bangsal anak untuk menunggui anaknya yang dirawat mengalami hal yang sama. Meski tidak semalang Mama Blandina, pada usia 36 tahun ia telah melahirhan lima kali. Sekalipun ia tak pernah dibantu oleh tenaga medis saat melahirkan. Meski suaminya tidak segalak suami Mama Blandina, perempuan asal desa Margeta, Alor Barat Daya ini juga harus bekerja di kebun. Anaknya ditinggal di rumah sementara ia dan suaminya bekerja di kebun. Tidak ada yang memperhatikan pola makan anak-anaknya. Akhirnya putrinya, Vitriani Bagaihing yang berusia satu tahun ini terpaksa dirawat di rumah sakit. Berat badanya hanya enam kilogram. Ia diare dan muntah-muntah saat dibawa ke rumah sakit. Seperti Mama Blandina, ia juga tidak ikut KB. Waktu aku tanya mengapa tak ikut KB, ia hanya melirik suaminya. Waktu aku tanyakan pada suaminya apakah ia melarang istrinya ikut KB, suaminya tersipu malu.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;Kedua perempuan Alor itu sama-sama bernasib malang. Sama-sama menanggung beban kerja yang berat. Sama-sama punya anak banyak. Sama-sama jauh dari akses atas pelayanan kesehatan. Sama-sama tidak pernah sekolah. Sama-sama tidak boleh ikut KB. Dan sama-sama terjerat dalam budaya masyarakat yang masih belum tersentuh kemajuan, budaya yang masih menempatkan perempuan sebagai setengah manusia. Kini mereka bertemu di bangsal anak rumah sakit.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;Dan masih banyak perempuan seperti mereka bisa dijumpai di desa-desa walaupun tidak selalu sampai ke bangsal rumah sakit untuk membawa bayinya yang gizi buruk. Umumnya anak-anak gizi buruk baru dibawa ke rumah sakit setelah kondisinya parah atau sudah tergolong marasmus atau kwasiorkhor atau marasmus kwasiorkhor.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;Dalam lima tahun terakhir ini rata-rata jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang tercatat di kepolisian Alor sebanyak 38 kasus setiap tahunnya. Jumlah yang tidak diketahui karena tidak melapor ke kepolisian tentu jauh lebih besar lagi. Kondisi seperti ini terjadi karena masyarakat masih terkungkung dalam adat yang mendahulukan laki-laki.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;Tampaknya menyelesaikan masalah kekerasan terhadap perempuan yang sering berujung pada munculnya anak-anak penderita gizi buruk ini akan makin sulit saat masyarakat tidak mendapatkan pendidikan yang memadai. Sulit mengharapkan terjadinya perubahan kesadaran pada masyarakat tanpa dibarengi pendidikan. Masihkah kita akan menyalahkan para orang tua yang anaknya menderita gizi buruk ketika hak atas pendidikan mereka belum terpenuhi?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-8570598669624780657?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5wG9CLRYVkLzEwNVUPVerINLXWE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5wG9CLRYVkLzEwNVUPVerINLXWE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5wG9CLRYVkLzEwNVUPVerINLXWE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5wG9CLRYVkLzEwNVUPVerINLXWE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/9ruZPtVPyUA/pertemuan-di-bangsal-anak.html</link><author>noreply@blogger.com (The Institute for Ecosoc Rights)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/Sw0J0bTFx7I/AAAAAAAABPU/cYzdHdEPprY/s72-c/p1010016-2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><georss:featurename>Alor Archipelago, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-8.25 124.75</georss:point><georss:box>-10.967127 121.01464849999999 -5.532873 128.4853515</georss:box><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2009/11/pertemuan-di-bangsal-anak.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-4991641467175212286</guid><pubDate>Tue, 27 Oct 2009 11:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-06T04:54:23.355+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Konflik</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tanggapan masyarakat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Nusa Tenggara Timur</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mining</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">masyarakat adat</category><title>DEKLARASI: ALIANSI MASYARAKAT PEDULI NUSA TENGGARA TIMUR – ALMADI NTT</title><description>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/SubYTNCLcpI/AAAAAAAABNU/KgzJBdBlkL8/s1600-h/Aksi+1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5397239027878032018" src="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/SubYTNCLcpI/AAAAAAAABNU/KgzJBdBlkL8/s320/Aksi+1.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 320px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 309px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;K&lt;/span&gt;ami, perwakilan masyarakat dari 11 kabupaten di NTT, yang terdiri dari kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Sikka, Rote Ndao, Lembata, TTS, Sumba Barat, Sumba Tengah, Sumba Timur, hari-hari ini dikumpulkan oleh keprihatinan terhadap kondisi NTT kini dan ke depan terkait dengan pemiskinan akibat alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang tidak berpihak pada kepentingan masyarakat, maraknya korupsi dan merajalelanya kegiatan pertambangan yang mengancam kehidupan dan masa depan masyarakat NTT. Selain keprihatinan atas kondisi tersebut, kami juga disatukan oleh solidaritas atas penderitaan masyarakat NTT, khususnya masyarakat NTT yang hari-hari ini hidupnya dihancurkan oleh kegiatan pertambangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai bagian dari masyarakat sipil di Provinsi NTT, kami terpanggil untuk memperjuangkan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat NTT – khususnya kelompok yang rentan terhadap pelanggaran hak asasi. Kami menilai, ada persoalan mendasar terkait dengan kemerosotan dan pemiskinan hidup masyarakat NTT akibat penyelewengan APBD, korupsi dan kegiatan pertambangan yang semakin mempersempit ruang hidup masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;iframe align="left" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" scrolling="no" src="http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=B002CMLP12&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr" style="height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;"&gt;&lt;/iframe&gt;Di sektor APBD, meskipun mayoritas warga adalah penduduk miskin, namun APBD lebih banyak dialokasikan untuk kepentingan birokrasi. Potensi daerah yang pada umumnya di sektor pertanian, kelautan dan pariwisata, justru mendapatkan alokasi anggaran yang sangat rendah. Padahal sektor-sektor itulah yang selama ini memberikan kontribusi paling besar bagi pendapatan asli daerah (PAD) dan menjadi penopang hidup bagi mayoritas warga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal korupsi, provinsi NTT yang selama ini dikenal sebagai daerah paling miskin dan terbelakang, ternyata juga merupakan salah satu daerah dengan tingkat korupsi paling tinggi. Korupsi terjadi karena masyarakat disingkirkan dari seluruh proses pengambilan keputusan. Korupsi yang semakin tinggi selalu berarti berlangsungnya proses pemiskinan dan pembodohan masyarakat. Masyarakat hanya menjadi angka-angka untuk menciptakan proyek dan memperbesar kekayaan pribadi para pejabat dan orang-orang terdekat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kondisi tingginya korupsi dan wajah APBD yang mementingkan kepentingan birokrasi, maka kegiatan pertambangan tidak memberi nilai tambah pada kualitas hidup masyarakat. Bahkan sebaliknya, pertambangan hanya akan mendorong tingginya korupsi dan kian merampas hak hidup dan kesejahteraan masyarakat. Telah  terbukti bahwa pertambangan-pertambangan di NTT telah menghancurkan lingkungan dan sumberdaya masyarakat, memperburuk kualitas hidup masyarakat dan memperluas proses pemiskinan di NTT. Sementara logika pemerintah bahwa pertambangan adalah penyumbang pendapatan asli daerah terpenting, sama sekali tidak terbukti. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila APBD dikelola dengan baik, potensi-potensi yang ada di wilayah NTT dikembangkan secara bijaksana, maka sesungguhnya provinsi NTT tidak memerlukan investasi di sektor pertambangan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/SubYoqQlmXI/AAAAAAAABNk/YG-C5oq5Qmk/s1600-h/Aksi+4.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5397239396500347250" src="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/SubYoqQlmXI/AAAAAAAABNk/YG-C5oq5Qmk/s320/Aksi+4.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 239px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;Mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, kami, perwakilan masyarakat dari 11 kabupaten di wilayah provinsi NTT, bersepakat untuk bersatu dalam sebuah gerakan dalam wadah “ALIANSI MASYARAKAT PEDULI NTT – ALMADI NTT”. Bersama ini pula kami menyerukan dan mengajak komponen-komponen masyarakat sipil di wilayah NTT untuk bergabung bersama kami dalam merebut kembali hak-hak dan masa depan masyarakat NTT yang selama ini telah dijarah oleh para penguasa politik dan pemodal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara khusus kami mengajak masyarakat NTT pada umumnya dan masyarakat Manggarai pada khususnya untuk memberikan perhatian, dukungan dan pembelaan pada masyarakat di lingkar pertambangan di Sirise dan Torong Besi yang hidup dan masa depan mereka sungguh dihancurkan oleh pertambangan. Bertahun-tahun mereka hidup di lingkar tambang, namun bukan kesejahteraan yang mereka dapatkan tetapi pemiskinan yang kian dalam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, kami mengajak segenap komponen masyarakat sipil untuk bergabung bersama kami dalam merebut kembali hidup dan masa depan kita, masyarakat NTT, yang dijarah para penguasa politik dan pemodal yang hanya punya kepentingan untuk memperkaya diri sendiri, keluarga dan orang-orang terdekat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruteng, 8 Oktober 2009&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cornelis Rahalaka&lt;br /&gt;
Koordinator Manggarai Barat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emil Sarwandi&lt;br /&gt;
Koordinator Manggarai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nelty Renek&lt;br /&gt;
Koordinator Manggarai Timur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Stanislaus Wasa&lt;br /&gt;
Koordinator Ngada&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alexander Jebadu&lt;br /&gt;
Koordinator Sikka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eman Ubuk&lt;br /&gt;
Koordinator Lembata&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ernest Sula&lt;br /&gt;
Koordinator Rote Ndao&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adelbertus Nifu&lt;br /&gt;
Koordinator TTS&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Debby Rambu Kusuwatu&lt;br /&gt;
Koordinator Sumba Barat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Frenky&lt;br /&gt;
Koordinator Sumba Tengah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arni Djawa&lt;br /&gt;
Koordinator Sumba Timur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanisius Suman&lt;br /&gt;
Koordinator Masyarakat Robek&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belasius Odo&lt;br /&gt;
Koordinator Masyarakat Wangkung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bernadus Du&lt;br /&gt;
Koordinator Masyarakat Gincu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matius Batubara&lt;br /&gt;
Koordinator Umum&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-4991641467175212286?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1dwS77jwVpjesDnmfjDM3ZezXGc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1dwS77jwVpjesDnmfjDM3ZezXGc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1dwS77jwVpjesDnmfjDM3ZezXGc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1dwS77jwVpjesDnmfjDM3ZezXGc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/0bLwrLfnozc/deklarasi-aliansi-masyarakat-peduli.html</link><author>noreply@blogger.com (The Institute for Ecosoc Rights)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/SubYTNCLcpI/AAAAAAAABNU/KgzJBdBlkL8/s72-c/Aksi+1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2009/10/deklarasi-aliansi-masyarakat-peduli.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-26468452.post-3330393808327009771</guid><pubDate>Fri, 14 Aug 2009 11:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-06T04:57:03.723+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">petani</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lingkungan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kebijakan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pemerintah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Nusa Tenggara Timur</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">korupsi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">masyarakat adat</category><title>Proyek Hutan Bakau Memperdaya Petani Lembata??</title><description>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/SoVP4Nhh5RI/AAAAAAAABJE/z2hl4o-u8jM/s1600-h/Foto+bakau+1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369785957830747410" src="http://1.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/SoVP4Nhh5RI/AAAAAAAABJE/z2hl4o-u8jM/s320/Foto+bakau+1.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 320px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 240px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Terbuka untuk Menteri Kehutanan RI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang Terhormat Bapak Menteri Kehutanan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="dropcap"&gt;P&lt;/span&gt;ada akhir Juni 2009 telah datang pada kami sekelompok petani asal Kabupaten Lembata, provinsi NTT, yang dipimpin bapak AS. Hadung Boleng bin Yusuf. Kebetulan pada waktu itu kami sedang berada di Lembata, sehingga kami dapat bertemu langsung dengan mereka dan berkunjung ke lokasi di mana mereka tinggal. Mereka datang mewakili 214 petani anggota Kelompok petani Penyangga Abrasi Laut/Alam Darat (KLOMPPAL/D), yang pada tahun 2004 menjadi mitra kerja dinas kehutanan dalam pelaksanaan proyek pengembangan hutan mangrove pola partisipatif di Kabupaten Lembata. Mereka datang pada kami dengan satu tujuan, yaitu mengadukan masalah yang mereka hadapi terkait pelaksanaan proyek. Menurut mereka, sampai proyek berakhir, tidak diketahui secara pasti berapa sesungguhnya besar anggarannya. Mereka menilai, proyek pengembangan hutan mangrove itu telah dijalankan secara tidak transparan dan terkesan manipulatif.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/SoVQHAXSwbI/AAAAAAAABJM/K4s3p75NzE8/s1600-h/Foto+bakau+2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369786211996189106" src="http://2.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/SoVQHAXSwbI/AAAAAAAABJM/K4s3p75NzE8/s400/Foto+bakau+2.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 299px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;Sudah lama mereka mencium adanya ketidakberesan dalam proyek itu. Mereka mulai yakin akan adanya manipulasi sejak mereka diminta menandatangani Surat Perjanjian Kerjasama (SPKS) baru, yang isinya jauh berbeda dari SPKS lama. Pada SPKS lama, tertera anggaran proyek sebesar Rp 38.228.000. Selain itu, mereka juga diperintahkan untuk membakar SPKS lama. ‘Kenapa harus dibakar?’ pikir mereka. Apa yang tertulis dalam SPKS baru itulah yang membuat mereka kemudian merasa telah menjadi korban manipulasi pihak dinas kehutanan Kabupaten Lembaga. Mengapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe align="left" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" scrolling="no" src="http://rcm.amazon.com/e/cm?t=ecosocrights&amp;amp;o=1&amp;amp;p=8&amp;amp;l=bpl&amp;amp;asins=0374364826&amp;amp;fc1=000000&amp;amp;IS2=1&amp;amp;lt1=_blank&amp;amp;m=amazon&amp;amp;lc1=0000FF&amp;amp;bc1=000000&amp;amp;bg1=FFFFFF&amp;amp;f=ifr" style="height: 245px; padding-right: 10px; padding-top: 5px; width: 131px;"&gt;&lt;/iframe&gt;Saat melihat lembaran SPKS baru yang hendak mereka tandatangani, ketua kelompok petani membaca, dalam lembaran itu tertulis angka Rp 12.000 per hari kerja, 214 petani aktif dan 424 hari kerja. Jika dikalkulasikan secara matematis, jumlah uang yang diterima kelompok petani itu semestinya 1.088.832.000. Namun pada kenyataannya mereka hanya menerima uang sebesar Rp 32.128.666 yang dibagikan untuk 214 petani. Ini berarti, dengan 424 hari kerja sebagaimana tertulis dalam catatan pihak dinas kehutanan, setiap petani hanya dibayar Rp 400 per hari kerja. Padahal dalam SPKS baru itu disebutkan, petani dibayar Rp 12.000 per hari kerja. Jauh sekali selisih yang diterima petani dengan yang tertera dalam SPKS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indikasi manipulasi bukan hanya dalam hal pembayaran upah kerja. Ketua kelompok petani itu mengaku, pihaknya juga pernah diminta petugas dari dinas kehutanan untuk menandatangani berkas atau blanko kosong. Selain itu, ketua kelompok petani juga diminta menandatangani kwitansi pembayaran anakan pohon bakau dan ajir oleh pihak dinas kehutanan. Padahal anakan bakau dan ajir (kayu penyangga) itu didapat petani bukan dari dinas kehutanan, tetapi dari usaha para petani itu sendiri. Tak sepeser pun uang mereka terima sebagai ganti pengadaan anakan bakau dan ajir (kayu penyangga). Ironisnya, dengan target penanaman 50.000 pohon bakau dan 10.000 cadangan di lahan seluas 10 hektar (&lt;span style="color: #000099; font-style: italic;"&gt;maaf, sebelumnya kami salah ketik [50 hektar]&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt; red. 24/8/2009&lt;/span&gt;) yang ditetapkan pihak dinas kehutanan sebagai target, petani mengaku telah berhasil menanam bakau sebanyak 90.000 batang di lahan seluas 15,5 hektar. Jauh melebihi target yang ditetapkan pihak dinas kehutanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Awal Kisah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Apa sebenarnya yang mendorong para petani itu rela menanam bakau melebihi target? Selain kecintaan mereka pada lingkungan, rupanya ada iming-iming sejumlah besar uang dari pihak dinas kehutanan. Sebagai kelompok pecinta alam yang tinggal di pinggir-pinggir pantai di wilayah Lembata, tepatlah bila mereka dipilih pihak dinas kehutanan Kabupaten Lembata sebagai mitra kerja dalam pelaksanaan proyek pengembangan hutan mangrove. Para petani itu sendiri tak mampu menyembunyikan kegembiraan mereka ketika dalam sosialisasi proyek pihak dinas kehutanan mengatakan, ‘Proyek ini anggarannya sangat besar, sehingga kalian jangan kaget atau jantungan kalau melihat jumlah anggaran yang tertera dalam proyek itu nanti!’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang terjadi, ternyata tak sesuai janji. Meski proyek sudah cukup lama berjalan, papan proyek belum juga dipasang. Berulangkali petani mendesak agar dinas kehutanan segera memasang papan proyek. Mereka ingin tahu berapa sesungguhnya anggaran proyek yang dikatakan sangat besar itu. Setelah didesak para petani, pada 27 Desember 2004 seorang staf dinas kehutanan secara diam-diam, pada malam hari, memasang papan proyek di lokasi proyek. Setelah papan proyek dipasang, esok harinya seorang pegawai dinas kehutanan mendatangi salah seorang ketua kelompok yang tinggal di Lamahora, Kelurahan Lewoleba Timur dan menyampaikan pesan, ‘Papan proyek sudah dipasang. Jika kalian tidak senang dengan anggaran yang tertera, silahkan lapor ke mana saja!’ Dalam papan proyek itu tertera anggaran sebesar Rp 47.546.000. Jumlah yang jauh lebih rendah dari yang dibayangkan petani, mengingat ada 214 petani yang dilibatkan dinas kehutanan dalam proyek itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perjalanan, ketua kelompok petani diminta menandatangani kwitansi pembayaran sebesar Rp 32.128.686. Penyerahan uangnya sudah dilakukan sebelum penandatanganan kwitansi dilakukan. Padahal dalam SPKS yang ditandatangani petani pada 20 Oktober 2004 tertera anggaran proyek sebesar Rp 38.228.000. Ketua kelompok petani memang menandatangani kwitansi senilai 38 juta, namun uang yang mereka terima hanya sebesar Rp 32 juta. Sisanya, menurut pihak dinas kehutanan, untuk bayar pajak. Meski hanya terima uang satu kali, namun ketua kelompok petani itu mengaku menandatangani dua kwitansi. Satu kwitansi senilai Rp 32 juta – jumlah yang riil diterima petani dan satu lagi kwitansi senilai Rp 38 juta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SPKS Ganda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Persoalan ketidakberesan proyek sebenarnya sudah dianggap selesai oleh kelompok petani itu kalau saja pihak dinas kehutanan tidak membawa masalah baru. Pada tanggal 6 Januari 2005, pihak dinas kehutanan kembali mendatangi kelompok petani. Petugas itu merayu ketua kelompok petani agar bersedia menandatangani SPKS baru yang mereka katakan hanya sebagai persyaratan administratif untuk laporan ke Jakarta. Saat itu ketua kelompok petani mempertanyakan, mengapa dalam satu proyek bisa ada dua SPKS. Ditanya tentang adanya SPKS ganda, pihak dinas kehutanan meminta ketua kelompok agar SPKS yang lama dibakar saja. Meski merasakan adanya kejanggalan, namun toh ketua kelompok petani tidak kuasa menolak permintaan dinas kehutanan. Dengan berat hati, SPKS yang baru itu mereka tandatangani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum menandatangani SPKS baru, mereka sempat membaca, dalam lembaran SPKS itu tertera angka Rp 12.000 per hari kerja, 214 petani yang bekerja, dan rincian hari kerja sebagai berikut: 200 hari kerja, 100 hari kerja, 64 hari kerja, dan 60 hari kerja, yang jumlah totalnya ada 424 hari kerja. Logikanya, dengan ditandatanganinya SPKS yang baru itu, kelompok petani dan dinas tenaga kerja mengakui bahwa ada 214 petani yang telah bekerja selama 424 hari, dengan upah Rp 12.000 per hari kerja. Angka-angka inilah yang kemudian membuat petani berpikir. Kalau benar angka-angka itu yang dilaporkan ke Jakarta, berarti dalam proyek itu petani seharusnya menerima uang sebesar Rp 12.000 X 424 hari kerja X 214 orang = 1.088.832.000. Begitulah yang mereka pikirkan. Padahal mereka merasa hanya menerima uang sebesar Rp 32.128.686, tidak kurang dan tidak lebih. Ketika mencerna kembali apa artinya angka-angka yang mereka baca dalam lembaran SPKS yang baru, muncul kesadaran bahwa mereka telah diperdaya pihak dinas kehutanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak terima dengan ‘tipu daya’ yang dilakukan pihak dinas kehutanan, kelompok petani itu memutuskan untuk mempertanyakan perihal anggaran proyek itu ke instansi yang lebih tinggi. Mereka mengutus perwakilan kelompok datang ke Jakarta untuk meminta penjelasan langsung dari Bapak Menteri. Sampai di Departemen Kehutanan mereka mendapatkan informasi bahwa seorang anggoa DPRD Lembata, Drs. Arsyad Mohammad, baru saja bertemu Bapak Menteri. Utusan para petani itu hanya diterima oleh staf departemen kehutanan yang berjanji akan mengurus kasus mereka. Rupanya, menurut para petani itu, pihak dinas kehutanan Kabupaten Lembata telah mencium rencana petani untuk datang ke Jakarta. Jadi mereka mendahului para petani menemui Bapak Menteri. ‘Pantas’, pikir mereka, ‘staf departemen kehutanan itu sudah tahu bahwa kami datang dari Lembata, padahal kami belum memperkenalkan diri’. Mereka menduga, anggota DPRD Lembata itulah yang menginformasikan pada pihak departemen kehutanan perihal kedatangan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak berhasil bertemu dengan Bapak Menteri, para petani itu kemudian mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menanggapi laporan para petani itu, KPK mengirim surat ke Kejaksaan Agung. Dengan surat nomor R.757/D.PIPM/KPK/IV/2005 tertanggal 15 April 2005 yang ditandatangani Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat Junino Jahya, KPK meminta Kejaksaan Agung menindaklanjuti laporan para petani itu. Pihak Kejaksaan Agung sendiri telah memerintahkan Kejaksaan Kabupaten Lembata untuk segera menindaklanjuti pengaduan para petani. Diperintahkan pula agar dalam waktu kurang dari 54 hari berkas penanganan kasus sudah harus sampai di tangan Kejaksaan Agung RI. Namun yang terjadi, kasus ini dipetieskan oleh kejaksaan Kabupaten Lembata. Ketua kelompok petani memang sempat dipanggil pihak kejaksaan kabupaten Lembata untuk dimintai keterangan, namun tidak ada proses lebih lanjut. Bahkan pihak kejaksaan mengancam akan memenjarakan mereka bila keterangan mereka tidak benar. Berulangkali para petani itu mendatangi kejaksaan untuk mempertanyakan kasus mereka, namun tidak pernah ada jawaban yang memuaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai aksi telah mereka lakukan untuk menuntut penjelasan atas kasus yang mereka hadapi. Namun tidak ada satupun pihak pemerintah di Lembata yang memberikan perhatian pada kasus mereka. Ketidakpedulian ini bisa dimengerti mengingat begitu banyak kasus manipulasi dalam proyek-proyek besar bernilai milyaran di Kabupaten Lembata juga didiamkan. Padahal menurut pengakuan para petani itu, bukan uang yang pertama-tama mereka perjuangkan, tetapi kejelasan tentang anggaran proyek. Kalau benar terjadi manipulasi dalam pelaksanaan proyek, mereka ingin kasus manipulasi itu diproses secara hukum. Mengapa dalam satu proyek bisa ada dua SPKS dengan dua anggaran yang berbeda, itulah yang tidak bisa mereka terima. Ketika proyek akan dimulai, pihak dinas kehutanan bicara terbuka pada petani. Tetapi ketika proyek berjalan, mereka main kucing-kucingan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kami, para petani itu menitipkan sejumlah dokumen untuk diserahkan kepada pihak-pihak yang dapat membantu mereka mengungkap kasus tersebut. Berdasarkan pada apa yang mereka ceritakan dan dokumen-dokumen yang mereka berikan itulah kami menulis surat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui surat ini kami berharap Bapak Menteri bersedia memenuhi permohonan para petani yang menuntut adanya penjelasan secara jujur dan terbuka terkait kasus yang mereka alami sebagai mitra dinas kehutanan Kabupaten Lembata dalam pelaksanaan proyek pengembangan hutan mangrove tahun 2004. Kami yakin, dengan adanya penjelasan secara jujur dan terbuka akan dapat memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap Dinas dan Departemen Kehutanan. Demikian surat ini kami sampaikan, atas perhatian dan keseriusan Bapak dalam menanggapi pengaduan kelompok petani tersebut kami mengucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jakarta, 12 Agustus 2009&lt;br /&gt;
The Institute for Ecosoc Rights&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sri Palupi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Direktur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tembusan:&lt;br /&gt;
1. Yth. Kepala Kejaksaan Agung Jakarta&lt;br /&gt;
2. Yth. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi&lt;br /&gt;
3. Yth. Bapak Gubernur NTT&lt;br /&gt;
4. Yth. Bupati Lembata&lt;br /&gt;
5. Yth. Ketua DPRD Kabupaten Lembata&lt;br /&gt;
6. Yth. Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Lembata&lt;br /&gt;
7. Yth. Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Lembata&lt;br /&gt;
8. Yth. Ketua Komnas HAM Jakarta&lt;br /&gt;
9. Yth. Direktur ICW Jakarta&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/26468452-3330393808327009771?l=ecosocrights.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bpRSDz8xevF-ly8Y0h2xUvMDKc4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bpRSDz8xevF-ly8Y0h2xUvMDKc4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bpRSDz8xevF-ly8Y0h2xUvMDKc4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bpRSDz8xevF-ly8Y0h2xUvMDKc4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/TheInstituteForEcosocRights/~3/m-VWRuA_2H4/proyek-hutan-bakau-memperdaya-petani.html</link><author>noreply@blogger.com (The Institute for Ecosoc Rights)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_dH5vjl_KFZQ/SoVP4Nhh5RI/AAAAAAAABJE/z2hl4o-u8jM/s72-c/Foto+bakau+1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://ecosocrights.blogspot.com/2009/08/proyek-hutan-bakau-memperdaya-petani.html</feedburner:origLink></item></channel></rss>

