<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>The Visioning</title><description>"Sebuah upaya berkarakter bagi pengelolaan sumber daya alam di sekeliling kita untuk memastikan adanya dukungan publik terhadap pro-environment dan pro-socioeconomic justice"</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</managingEditor><pubDate>Thu, 19 Dec 2024 11:29:07 +0800</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">65</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>"Sebuah upaya berkarakter bagi pengelolaan sumber daya alam di sekeliling kita untuk memastikan adanya dukungan publik terhadap pro-environment dan pro-socioeconomic justice"</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Penilaian Asing</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2012/07/penilaian-asing.html</link><category>ekonomi; indonesia; survey</category><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Sun, 22 Jul 2012 11:34:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-4733144167500693412</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqLynAUQXncocd1b2Oh3xOUdKcsiZQsFeeGNcZZeLS5Xywkm39NSlcEUnVX-o3-lhu1sROF96JHBzO__VS_gaJROtQ0TpsVHd-80-acOxHxEAAnih1vnt5vaRZ5g1uKfZwWe6-YO9_J70/s1600/1331706477.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Penilaian Asing" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqLynAUQXncocd1b2Oh3xOUdKcsiZQsFeeGNcZZeLS5Xywkm39NSlcEUnVX-o3-lhu1sROF96JHBzO__VS_gaJROtQ0TpsVHd-80-acOxHxEAAnih1vnt5vaRZ5g1uKfZwWe6-YO9_J70/s200/1331706477.gif" title="Penilaian Asing" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
EKONOMI Indonesia kembali mendapatkan penilaian positif dari lembaga-lembaga asing. Hal yang patut dibanggakan, tetapi tidak boleh membuat pemerintah lupa diri.

Lembaga survei global, Nielsen, baru-baru ini, menempatkan indeks kepercayaan konsumen Indonesia pada kuartal II 2012 sebagai yang tertinggi di dunia.

Dalam hasil survei yang dirilis pada Senin (16/7) itu, disebutkan bahwa 82% konsumen Indonesia percaya keadaan keuangan pribadi mereka terlihat baik atau sangat baik. Angka itu jauh lebih tinggi daripada angka rata-rata Asia Pasifik dan dunia yang hanya mencapai 52% dan menggeser posisi India yang sebelumnya berada di posisi teratas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penilaian positif lainnya juga datang dari Moody’s. Lembaga pemeringkat internasional itu awal pekan ini mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level Baa3 dengan prospek stabil.

Artinya, di tengah ketidakpastian ekonomi global, ekonomi Indonesia dianggap masih bagus dan memiliki prospek cerah.

Sah-sah saja pemerintah bangga dengan pujian dan penilaian positif dari pihak asing itu. Namun, jangan sampai itu membuat pemerintah menutup mata terhadap lubang-lubang ekonomi yang terus menganga.

Haruslah diingat bahwa masih banyak rakyat kita hidup di bawah garis kemiskinan. Di atas kertas, perekonomian kita memang tumbuh di atas 6%, tetapi dalam kenyataan, ketimpangan justru semakin dapat kita rasakan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus bunuh diri akibat kemiskinan semakin banyak bermunculan. Fakta bahwa semakin bertambah orang miskin yang memilih bunuh diri sebagai solusi tidak bisa ditutup-tutupi. Fenomena itu tentu kontras dengan penilaian asing yang selalu memuji kinerja ekonomi Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, pembangunan ekonomi juga belum mampu menjadikan kita bangsa produktif. Data empiris cenderung menunjukkan kita semakin menjadi bangsa konsumtif.

Defisit perdagangan di sektor pertanian yang terus berlangsung enam tahun terakhir menjadi bukti perekonomian kita sejatinya tidak hebat. Kita jauh lebih banyak mengimpor daripada mengekspor. Artinya, daya saing kita rendah. Kalau itu terus dibiarkan, ekonomi kita justru tengah mengarah ke bahaya.

Karena itu, alih-alih menepuk dada dan berbangga diri, lebih baik pemerintah bersikap kritis atas penilaian positif pihak asing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penilaian asing atas perekonomian Indonesia bukan penilaian yang bebas kepentingan. Dengan menilai positif dan memuji, pemerintah Indonesia diharapkan bekerja sesuai ukuran dan kepentingan mereka.

Ekonomi Indonesia dinilai positif karena memang kelewat ramah terhadap investor. Contohnya, asing diizinkan memiliki saham bank hingga 99%. Di bidang pertambangan dan migas pun, pemerintah membuat investor asing seperti berada di surga dengan memberikan konsesi seakan tanpa batas.

Tidak selamanya ukuran-ukuran positif asing menguntungkan rakyat. Karena itu, pemerintah harus berhenti menjadi good boy atas kepentingan asing dan mulai lebih memperhatikan penderitaan rakyat. [MediaIndonesia.com]&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqLynAUQXncocd1b2Oh3xOUdKcsiZQsFeeGNcZZeLS5Xywkm39NSlcEUnVX-o3-lhu1sROF96JHBzO__VS_gaJROtQ0TpsVHd-80-acOxHxEAAnih1vnt5vaRZ5g1uKfZwWe6-YO9_J70/s72-c/1331706477.gif" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PENGELOLAAN HUTAN JATI DI JAWA (Aspek Sosio-Teknis)</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2012/06/pengelolaan-hutan-jati-di-jawa-aspek.html</link><category>Hindia Belanda</category><category>Hutan Jati</category><category>Jawa</category><category>timber extraction</category><category>timber management</category><category>VOC</category><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Sat, 9 Jun 2012 20:47:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-5735005314591060451</guid><description>&lt;h2&gt;

&lt;span style="font-size: small;"&gt;
Ringkasan Buku:&lt;br /&gt;Hasan Simon,&lt;br /&gt;Pustaka Pelajar,&lt;br /&gt;Jogjakarta, 2004&lt;br /&gt;289 halaman&lt;br /&gt;ISBN: 979-3477-70-9&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;
Pengelolaan hutan jati di Jawa telah melewati sejarah sangat panjang. Pengalaman yang panjang itu kiranya dapat diambil hikmahnya untuk melanjutkan pengembangan pengelolaan hutan jati di Jawa ke depan maupun untuk meletakkan dasar-dasar pengelolaan hutan di luar Jawa. Bahkan tidak mustahil, pengalaman dari Jawa itu bisa menjadikan pengembangan pengelolaan hutan tropis di seluruh dunia.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Sejarah panjang pengelolaan hutan jati di Jawa tersebut dimulai dari penambangan kayu (&lt;i&gt;timber extraction&lt;/i&gt;), dilanjutkan dengan pengelolaan hutan tanaman (&lt;i&gt;timber management&lt;/i&gt;), dan terakhir uji-coba ke paradigma kehutanan sosial (&lt;i&gt;social forestry&lt;/i&gt;). Penambangan kayu pada hutan jati di Jawa berlangsung selama kurang lebih 10 abad (abad ke-8 s/d ke-18). Periode yang panjang itu dapat dibagi menjadi dua, yaitu penambangan kayu konvensional dan penambangan kayu modern oleh VOC. Penambangan kayu oleh VOC yang berlangsung selama 150 tahun itu telah menyebabkan hancurnya hutan jati di Jawa pada akhir abad ke-18. Pemerintah Hindia Belanda yang dikomandani oleh DAENDELS sebagai Gubernur Jenderal (1808-1811), membangun kembali hutan yang rusak tersebut dengan mengadopsi model pengelolaan hutan tanaman dari Jerman. Setelah berbagai rintangan dapat diatasi, cita-cita DAENDELS tersebut baru terwujud pada kurun waktu 1890-1942 dengan hasil gemilang.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Dalam perjalanan panjang tersebut berbagai aspek telah dilewati, mulai dari aspek sosial ekonomi masyarakat, aspek teknik kehutanan, maupun aspek kebijakan. Karena pengalaman berharga itu kurang difahami oleh rimbawan Indonesia pada umumnya, termasuk para pengambil kebijakan di republik ini. Kini hutan jati di Jawa karya Djatibedreijfs itu kembali hancur berantakan. Sejarah 200 tahun yang lalu telah terulang, dan nampaknya diperlukan seorang DAENDELS baru untuk membangun kembali hutan di Jawa.(SY)&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Biogas Minimalkan Perubahan Iklim</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2012/05/biogas-minimalkan-perubahan-iklim.html</link><category>climate change</category><category>lingkungan</category><category>sulawesi tengah</category><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Mon, 14 May 2012 13:42:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-5507475924024533410</guid><description>&lt;div id="ygrp-text"&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: 'times new roman', 'new york', times, serif;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKdv-ER0xxViGFOzE1eaQGOd6DQvpnKflDWVvOV2AVkzozuvFkXoXybDB2G7XlkClFDn-DsI5f7mDHe_BrEFuBY-SaI7XFQ_hyphenhypheniLPbVhi2PMFNyuDkml9vnuB_iv-ThzcIWj_Uf9P_q9U/s1600/do+better.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKdv-ER0xxViGFOzE1eaQGOd6DQvpnKflDWVvOV2AVkzozuvFkXoXybDB2G7XlkClFDn-DsI5f7mDHe_BrEFuBY-SaI7XFQ_hyphenhypheniLPbVhi2PMFNyuDkml9vnuB_iv-ThzcIWj_Uf9P_q9U/s1600/do+better.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;FBC-Padang Pariaman. “&lt;/span&gt;&lt;i style="font-size: 10pt;"&gt;Cik jawi baserak di laman, di laman cik jawi baserak.&amp;nbsp; Cik jawi baguno untuak biogas, untuak biogas
cik jawi baguno&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;” (Kotoran sapi berserakan di halaman, di halaman kotoran
sapi berserakan. Kotoran sapi berguna untuk biogas, untuk biogas kotoran sapi
berguna).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Demikian sebuah penggalan lagu
dinyanyikan dengan irama mars oleh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura
Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Ir. Djoni, Senin (7/5).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;Hal demikian dinyanyikan oleh Djoni, saat
kegiatan &lt;i&gt;hari temu lapangan petani&lt;/i&gt;
yang digelar oleh kelompok sekolah lapangan (SL) Jorong Sungai Pinang, Nagari
Kasang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;Menurut Djoni, kotoran sapi selama ini sudah
mulai dimanfaatkan oleh petani organik di Sumbar sebagai bahan baku
kompos.&amp;nbsp; “Kan tidak hanya sampai pada
kompos, kotoran sapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber biogas,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;Dia menjelaskan, dari kotoran sapi segar
sampai menjadi kompos, terjadi proses fermentasi.&amp;nbsp; “Pada saat fermentasi inilah gas metana
dihasilkan,” sambungnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;Djoni menambahkan, bila petani dapat
memanfaatkan gas hasil fermentasi ini, otomatis petani sudah tidak banyak
bergantung pada bahan bakar fosil.&amp;nbsp; “Ini
juga bisa menghemat pengeluaran keluarga,” tandas Djoni.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;Ditempat yang sama, ketua panitia &lt;i&gt;hari temu lapangan&lt;/i&gt;, Indra Medi, 51, sepakat
dengan apa yang disampaikan Djoni.&amp;nbsp;
Menurutnya, biogas bukan hanya soal memanfaatkan limbah menjadi sesuatu
yang bermanfaat, namun pengelolaan biogas sesungguhnya dilakukan untuk
melakukan pengurangan emisi gas metana itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;“Gas metana kalau diemisikan ke udara akan
memperbanyak konsentrasi gas rumah kaca” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;Menurut Indra, metan merupakan salah satu gas
penyumbang gas rumah kaca di udara selain karbondioksida, nitrogen oksida dan
gas lainnya.&amp;nbsp; Konsentrasi gas metana
diudara sangat menentukan peningkatan panas bumi.&amp;nbsp; “Jika bumi makin panas, maka es di kutub akan
mencair dan perubahan iklim tidak dapat dihindarkan” tandasnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;Indra mengakui, &amp;nbsp;dalam beberapa tahun belakangan telah
merasakan perubahan iklim yang cukup berdampak atas usaha taninya.&amp;nbsp; Menurutnya, saat ini musim hujan dan kering
sudah agak sulit diperkirakan.&amp;nbsp; Dampaknya,
sulitnya memperkirakan musim hujan dan kering, sehingga sulit pula bagi petani
untuk menentukan musim tanam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;Lebih jauh dia menjelaskan, buangan padat dari
instalasi biogas dapat dimanfaatkan sebagai kompos.&amp;nbsp; “Kompos hasil biogas sangat sempurna karena
fermentasi juga berlangsung dengan sempurna” kata Indra.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;Di tempatnya tingga, di Korong Sungai Pinang
Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman, Indra Medi telah membantu
pemasangan 4 unit biogas.&amp;nbsp; Bukan hanya
sampai disitu, Indra Medi juga telah memasang 1 unit biogas di Nagari Taratak
Tampati, Batang Kapas di Kabupaten Pesisir Selatan, 1 unit di nagari Sungai
Buluh Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman dan 1 lagi di Malalak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;Menyusul, ia akan memasang 13 instalasi biogas
lainnya di wilayah itu, 1 instalasi di Nagari Ulakan dan 1 lagi di Nagari Kudu
Gantiang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;Indra Medi tertarik mengembangkan biogas sejak
terlibat dalam sekolah lapangan yang difasilitasi FIELD-Bumi Ceria, sebuah
program yang mendukung ketangguhan masyarakat terhadap perubahan iklim dan
pengurangan risiko bencana pada komunitas petani di Kabupaten Padangpariaman,
Sumatera Barat.&amp;nbsp; Program ini didukung
oleh United State Agency for International Development (USAID) dan
diimplementasikan oleh Yayasan FIELD Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-size: 12pt;"&gt;
&lt;span lang="EN-ID" style="font-size: 10pt;"&gt;“Saya bertekad untuk tetap menggalakkan biogas
untuk petani.&amp;nbsp; Karena biogas adalah
energi terbarukan yang murah, mudah dan terjangkau oleh masyarakat petani”
pungkasnya. [milis]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;


    &lt;/div&gt;
&lt;div style="color: white; height: 0;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKdv-ER0xxViGFOzE1eaQGOd6DQvpnKflDWVvOV2AVkzozuvFkXoXybDB2G7XlkClFDn-DsI5f7mDHe_BrEFuBY-SaI7XFQ_hyphenhypheniLPbVhi2PMFNyuDkml9vnuB_iv-ThzcIWj_Uf9P_q9U/s72-c/do+better.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Palu, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-0.898583 119.850601</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-1.0255965 119.6926725 -0.7715695 120.0085295</georss:box></item><item><title>Penasaran Ada Resleting di Logo Google Hari Ini? - teknologi.inilah.com</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2012/04/penasaran-ada-resleting-di-logo-google.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Tue, 24 Apr 2012 14:43:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-4071672860366949677</guid><description>&lt;a href="http://teknologi.inilah.com/read/detail/1854035/penasaran-ada-resleting-di-logo-google-hari-ini#.T5ZLHtkyyMA.blogger"&gt;Penasaran Ada Resleting di Logo Google Hari Ini? - teknologi.inilah.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Wapres: Selesaikan Sengketa Lahan Perkebunan</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2011/04/wapres-selesaikan-sengketa-lahan.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Sun, 3 Apr 2011 13:41:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-6254726263677143947</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;div id=ygrp-mlmsg&gt;  &lt;div id=ygrp-msg&gt;  &lt;div id=ygrp-text&gt;  &lt;p&gt;&lt;br&gt; VIVAnews - Wakil Presiden Boediono meminta Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi dan seluruh pihak terkait membantu menyelesaikan sengketa lahan perkebunan antara warga dengan perusahaan swasta. &lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;quot;Memang saya kira, harus ada upaya bersama untuk menyelesaikan. Masalah ini (sengketa lahan) menyangkut masyarakat. Dan saya ingin semua harus terlibat. Jadi, saya mohon Bapak Mendagri dapat menyampaikan beberapa hal untuk masalah ini,&amp;quot; kata Boediono saat mendengar keluhan langsung dari para petani karet di Dusun Rasau,&amp;nbsp; Kabupaten Batanghari, Jambi, Sabtu, 2 Maret 2011. &lt;br&gt; &lt;br&gt; Dalam dialog dengan Wapres Boediono, salah satu perwakilan petani karet, Habibullah menuturkan, banyak lahan milik petani yang diserobot perusahaan besar. &amp;quot;Banyak perusahaan besar menyerobot tanah milik warga. Kami minta Bapak Wapres membuat tim dari pusat, bergabung dengan tim dari kabupaten dan provinsi. Karena warga umumnya bertani,&amp;quot; tuturnya. &lt;br&gt; &lt;br&gt; Selama ini, kata Habibullah, tim dari kabupaten sudah melakukan langkah-langkah untuk mengantisipasi penyerobotan lahan tersebut, namun tim tidak memiliki pengaruh. &lt;br&gt; &lt;br&gt; Menanggapi hal tersebut, Mendagri Gamawan Fauzi mengatakan, seringkali di satu tempat perkebunan terjadi sengketa lahan antara warga dengan perusahaan swasta. &lt;br&gt; &lt;br&gt; Menurutnya, batas patok lahan antara perusahaan dan tanah rakyat menjadi dasar permasalahan. Untuk itu, penting untuk membuat tim khusus di setiap provinsi. &lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;quot;Dalam rangka menuju Jambi Emas, tadi saya sudah katakan kepada Pak Gubernur dan beliau segera akan membuat tim khusus yang mengurusi betul-betul batas tanah warga dengan perusahaan swasta,&amp;quot; ujar Mendagri. &lt;br&gt; &lt;br&gt; ⁠ &lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cinta Hamba Kepada Seseorang</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2011/03/cinta-hamba-kepada-seseorang.html</link><category>cinta</category><category>kasih</category><category>sulawesi tengah</category><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Mon, 28 Mar 2011 08:45:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-2619572577114198462</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjT9JmynKjq03A0bcJ_Ihd0UShoCHcngXpWohljQm7o40GWrH0L1dcNu16-cw_N1VMadRvhm6c1l1-frswYWg2p8Ay-f48Kys8upT7rPx870ng4dY-r_nxUbJOhtaMa1zTHjsY8_5WjBfU/s1600/mesra2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 127px; height: 181px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjT9JmynKjq03A0bcJ_Ihd0UShoCHcngXpWohljQm7o40GWrH0L1dcNu16-cw_N1VMadRvhm6c1l1-frswYWg2p8Ay-f48Kys8upT7rPx870ng4dY-r_nxUbJOhtaMa1zTHjsY8_5WjBfU/s400/mesra2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5588925961803394690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;PALU- Tak pelak lagi kisah kasih seorang hamba kepada seseorang telah menjadi sesuatu yang sangat menggiurkan bagi siapa pun di dunia ini. Cinta kadang mampu membutakan siapa saja yg tersangkut didalamnya, namun cinta juga kadang menjadikan seseorang menjadi hamba yg menjadi sangat bersyukur. Kisah kasih seorang hamba yang kutulis dalam blog ini menjadi sebuah tolok ukur bagi diriku sendiri dalam menggapai cinta itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meniti karir yang sangat penjang kurang lebih 10 tahun di lembaga non pemerintah telah membuat pola berpikir seseorang menjadi sbh pola tersendiri dalam membentuk pribadinya. Tak kalah seru adalah ketika hal itu kemudian dalam 1,5 tahun mengalami stagnasi menjadikannya sesuatu yang sangat menyakitkan. Pola itu pun berubah menjadi sesuatu yang sangat terbalik, katanya sih lebih negatif dan selalu negatif karena telah ditanggapinya dengan sangat JUJUR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara jujur, maka disini akan disodorkan teori sebab akiba kenapa kemudian menjadi sesuatu yang tidak jujur itu terjadi. MEnukil Az Zamakhsyari dalam sebuah syairnya berkata:&lt;br /&gt;"Malam2ku untuk merajut ilmu yang bisa dipetik, menjauhi wanita elok dan harumnya leher. Aku mondar mandir unuk menyelesaikan masalah sulit, lebih menggoda dan manis dari berkepi betis nan panjang. Bunyi penaku yang menari diatas kertas-kertas, lebih manis daripada berada di belaian wanita dan kekasih. Bagiku lebih indah  melemparkan pasir ke atas kertas daripada gadis-gadis yang menabuh dentum rebana. Hai orang2 yg berusaha mencapai kedudukanku lwt angannya. Sungguh jauh jarak antara orang yang diam dan yang lain, naik. Apakah aku yang tidak tidur selama dua purnama dan engkau tidur nyenyak, setelah itu engkau ingin menyamai derajatku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada diri dan hati katanya, semua hal akan menjadi murni dan teladan. Satu setengah tahun ini dirinya ingin menjadi seseorang yg telah hilang kasih dan sayangnya dg satu alasan, tekanan jiwa akibat post power syndrom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEmalingan peran kepada perempuan lain dalam bercinta danberkasih asmara pun terjadi, hingga diketahui oleh sang kekasih untuk mengakui dan memaafkannya. Kata maaf ternyata belum mampu untuk dapat menghapus dosa2nya.  Sekarang dia sedang dalam taraf yang memprihatinkan, tidak ada lagi kasih dan cinta serta sayang  karena masih dibenaknya rasa kecewa yang amat sangat. Keduanya sedang merasakan itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak ketiga lainnya, dia tdk mau mengakuinya untuk menjadi sesuatu ini berlarut2. Tapi analisisnya telah menunjuk adanya kekeliruan yang amat sangat. Barometernya adalah dasar-dasar agamanya yang blm terlalu kokok karena pernah ditinggalkannya. PErtanyaannya adalah barometer siapa lagi yang bisa mengajaknya untuk kembali kepada kebenaran. Tapi lagi2 hatinya sedang tidak baik lagi penuh kecewa dan duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu yang disebutnya adalah Raja Sukma menjadikannya sesuatu itu telah membutakannya. Namun ini belum diakuinya karena semua itu dia merasa masih dalam tahapan kebenaran yang hakiki. Wallohu alam bi showab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan dukun, bukan juga ahli pengobat. Tapi barometer kemanusiaany yang mungkin kebetulan diijabahi oleh NYA membuatnya sangat yakin akan kelakuan dan perangainya. Pengakuan2 tsb sangat jelas didengar oleh dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kala seseorang jelata dalam kesengsaraannya,&lt;br /&gt;ringan baginya untuk mendaki gundukan lumpur "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEnyum di pagi hari sangat sulit untuk merekah, keberkahan atas nikmat2NYA begitu tipis didada dan hatinya. Subhanalloh....!! Doa apa lagi yang mampu mendekatkan dirinya dan DIA Yang Maha Mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan isyara bahwa kesedihan hanya akan tersapu bersih dari seseorang tatkala ia sudah berada di surga kelak. Dan ini sama halnya dengan nasib kedengkian yang tak akan benar2 musnah kecuali setelah manusia masuk surga. Wallohu mustaan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjT9JmynKjq03A0bcJ_Ihd0UShoCHcngXpWohljQm7o40GWrH0L1dcNu16-cw_N1VMadRvhm6c1l1-frswYWg2p8Ay-f48Kys8upT7rPx870ng4dY-r_nxUbJOhtaMa1zTHjsY8_5WjBfU/s72-c/mesra2.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Susahnya Memberantas Kemiskinan di Indonesia</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2011/03/susahnya-memberantas-kemiskinan-di.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Sat, 12 Mar 2011 06:37:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-3815331477018496818</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;div id=center&gt;  &lt;div id=main&gt;  &lt;div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-size:13.5pt'&gt;Berikut artikel tentang kemiskinan yang dimuat di Harian Kompas terbitan hari jni Kamis 10 Maret 2011 yang berjudul Susahnya Memberantas Kemiskinan di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-size:13.5pt;color:#1F497D'&gt;KOMPAS: &lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:13.5pt'&gt;Nuansa kegusaran terasa benar di ruang seminar "Korupsi yang Memiskinkan" yang diselenggarakan harian "Kompas", akhir Februari lalu. Banyak yang tak habis pikir, bagaimana bisa, setelah 65 tahun merdeka dan beberapa dekade membangun, republik ini tak kunjung juga terbebas dari problem kemiskinan struktural yang kronis.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-size:13.5pt'&gt;Padahal, kita dianugerahi sumber daya alam melimpah. Kue pembangunan dalam bentuk produk domestik bruto (PDB) juga sudah menggelembung, kini masuk 20 terbesar dunia. Demikian pula volume APBN dan alokasi anggaran untuk penanggulangan kemiskinan, dari waktu ke waktu terus meningkat. Volume utang untuk pembiayaan pembangunan juga meningkat tajam. Tetapi, jumlah orang miskin sulit sekali turun.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-size:13.5pt'&gt;Sebelum krisis, volume APBN kita di bawah Rp 100 triliun dan PDB Rp 877 triliun. Saat itu kasus kemiskinan 22 juta orang. Kini APBN Rp 1.200 triliun dan PDB mendekati Rp 7.000 triliun, tetapi kasus kemiskinan justru meningkat menjadi 31 juta lebih orang.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-size:13.5pt'&gt;Angka kemiskinan 2010 menurut BPS adalah 31,2 juta jiwa atau 13,33 persen. Namun, angka ini hanya menghitung mereka yang masuk kategori miskin absolut diukur dari pendapatan, itu pun pada standar yang paling minim. Angka ini belum mengungkap wajah kemiskinan Indonesia yang sebenarnya, dari berbagai dimensi. Angka tersebut juga belum memasukkan mereka yang tergolong tidak miskin, tetapi sangat rentan terhadap kemiskinan, yang angkanya bahkan jauh lebih besar dari yang miskin absolut.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-size:13.5pt'&gt;Jika menggunakan standar garis kemiskinan yang berlaku internasional, yakni pendapatan 2 dollar AS per hari, jumlah penduduk miskin masih 42 persen atau hampir 100 juta lebih. Ini hampir sama dengan total penduduk Malaysia dan Vietnam digabungkan. Artinya, Indonesia adalah rumah sebagian besar penduduk miskin Asia Tenggara.&lt;/span&gt;&lt;span style='color:#1F497D'&gt; [resume]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>REDDplus Perlu Fokus pada Sisi Keadilan</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2011/02/reddplus-perlu-fokus-pada-sisi-keadilan.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Mon, 28 Feb 2011 17:27:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-634704916758574750</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Jakarta, kompas - Proyek pengurangan emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+) di Indonesia perlu fokus pada isu perbaikan birokrasi pemerintah, keadilan, serta kemanusian. Tanpa itu, kemiskinan masyarakat sekitar hutanlah yang akan lestari.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;color:dimgray'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Manajer Program Hutan dan Iklim Yayasan Pengembangan Hukum Lingkungan Indonesia (Indonesian Center for Environ- mental Law/ICEL) Giorgio Budi Indrarto, Minggu (27/2), menyampaikan hal itu menyusul konflik pelaksanaan proyek percontohan REDD+ di Jambi dan Kalimantan Tengah. Masyarakat di dua kawasan itu resah. Di Jambi, masyarakat bahkan sudah berbenturan dengan petugas keamanan PT Reki (Kompas, 26/2).&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;color:dimgray'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;&amp;#8221;Kasus di Jambi dan Kalimantan Tengah bisa jadi soal kebijakan atau orangnya. Namun, ini menunjukkan ada banyak masalah di proyek REDD+ ini,&amp;#8221; kata Giorgio.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt; color:dimgray'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Koordinator Program Per- ubahan Iklim HuMa Bernadinus Steni mengatakan, kelompok sipil mendorong pihak donor menentukan standar tinggi dalam proyek REDD+. Bila lebih rendah, pemerintah akan cenderung mengambil yang lebih rendah untuk mempercepat proses tanpa mau berurusan dengan masalah kehutanan yang merepotkan.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt; color:dimgray'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Hutan, lanjut Steni, merupakan sumber ekonomi masyarakat yang hidup di dalam dan sekitarnya. Kehilangan akses terhadap hutan menyebabkan masyarakat kehilangan sumber ekonomi penting dan bisa menyebabkan kemiskinan.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;color:dimgray'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Selama ini kebijakan pembangunan pemerintah cenderung gagal memberi nilai lebih kepada masyarakat sekitar hutan, tetapi sebaliknya, memiskinkan mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;color:dimgray'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;&amp;#8221;Masyarakat di sekitar hutan dipaksa untuk mencari jalan sendiri dan mengubah budaya mereka sejalan dengan pembatasan akses terhadap hutan,&amp;#8221; kata dia.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt; color:dimgray'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Rambu-rambu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;color:dimgray'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Menurut Steni, ada tiga rambu yang harus diperhatikan pemerintah dan pengelola sektor kehutanan. Rambu itu diperlukan.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;color:dimgray'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Pertama, wajib melakukan kajian strategi pengelolaan lingkungan hidup pada tahap awal proyek. Kedua, tidak ada perubahan fungsi ekologis di kawasan yang memiliki kerentanan dan keunikan hidrologi, sumber air bersih, struktur tanah, dan keanekaragaman hayati.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;color:dimgray'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Ketiga, proyek itu harus menjamin pemenuhan hak-hak dasar masyarakat sebelum, selama, dan sesudah pelaksanaannya. (AIK)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;http://syafrudin-syafii.blogspot.com &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Menhut: Stop Izin Hutan Primer Dan Gambut</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2011/01/menhut-stop-izin-hutan-primer-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Mon, 17 Jan 2011 23:28:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-3090175874710907605</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;div id=ygrp-mlmsg&gt;  &lt;div id=ygrp-msg&gt;  &lt;div id=ygrp-text&gt;  &lt;p&gt;Jambi (ANTARA News) - Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di Jambi menyatakan, moratorium atau penghentian pengeluaran ijin baru konversi hutan mulai efektif pada tahun 2011, yakni untuk hutan primer dan gambut.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;quot;Moratorium untuk hutan primer dan gambut,&amp;quot; kata Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli Hasan ketika melakukan kunjungan kerja di Jambi, Rabu. Menurut dia, penghentian pengeluaran ijin baru konversi hutan ini juga berlaku di Jambi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pelaksanaan moratorium konversi hutan primer dan gambut selama dua tahun merupakan salah satu bentuk kerjasama Indonesia dan Norwegia yang telah disepakati dengan ditandatanganinya Letter of Intent antara kedua belah pihak. &lt;br&gt; &lt;br&gt; Dalam dokumen Letter of Intent (LOI) antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Norwegia yang ditandatangani pada 26 Mei 2010 disebutkan bahwa penghentian pengeluaran ijin baru konversi hutan alam dan gambut selama dua tahun dimulai Januari 2011.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Dalam Dokumen LOI tersebut juga disebutkan bahwa peluncuran program uji coba propinsi REDD plus (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) yang pertama dimulai pada Januari 2011, yang dilanjutkan uji coba REDD plus untuk propinsi kedua pada 2012.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Mulai Januari 2011 juga telah dioperasionalkan instrumen pendanaan oleh pemerintah Norwegia sebesar 200 juta dolar AS sampai 2014. Pemerintah sementara menyiapkan sektor-sektor implementasi kerja sama tersebut.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Berbagai tindakan tersebut diantaranya adalah pembentukan badan khusus sebagai pelaksana moratorium yang memiliki kredibilitas dan transparan dan Penyusunan Rencana Aksi Nasional (RAN). &amp;quot;Persiapannya sendiri kita susun sejak Juni hingga Desember 2010,&amp;quot; ujarnya. &lt;br&gt; &lt;br&gt; Pemerintah Norwegia nantinya yang akan memilih salah satu dari lima usulan tersebut disesuaikan dengan pilot project REDD+ (Reduce Emissions from Deforestation and Forest Degradation).&lt;br&gt; &lt;br&gt; Menhut berharap, dengan morotarium selama dua tahun tersebut, Indonesia akan mampu menurunkan emisi karbon hingga 26 persen pada tahun 2020. Selain itu, kerja sama Indonesia-Norwegia itu adalah yang pertama dan metodenya diharapkan menjadi percontohan bagi negara-negara lain.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Menhut mengakui, kondisi kehutanan Indonesia termasuk Jambi mengalami krisis, karena itu penerapan moratorium diharapkan menjadi salah satu solusi. &amp;quot;Kami sudah menghentikan izin pengelolaan dan penebangan di lahan-lahan gambut dan kawasan hutan primer,&amp;quot; ujarnya. (YJ/K004)&lt;span style='color:#1F497D'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Dibawah Kolong Jembatan, Palu Kota Teluk</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2011/01/dibawah-kolong-jembatan-palu-kota-teluk.html</link><category>kolaborasi</category><category>lingkungan</category><category>palu</category><category>pemerintah</category><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Wed, 12 Jan 2011 10:22:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-8121013998039628437</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguJG03rrbZFI2npjWvsle4FF5NOJSnW6pxa-E8iZmaCM5-BEYUxwnoRjk4ydkpSH5Js0D9xndSUe9nOKloUn61MofbIAbtRDS-0aLtwdhwj3rOHl72RZ7xDwBrkO12inbd1jVjrwqAkM8/s1600/kolong+jembatan%252C+Palu+Kota+Teluk.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguJG03rrbZFI2npjWvsle4FF5NOJSnW6pxa-E8iZmaCM5-BEYUxwnoRjk4ydkpSH5Js0D9xndSUe9nOKloUn61MofbIAbtRDS-0aLtwdhwj3rOHl72RZ7xDwBrkO12inbd1jVjrwqAkM8/s400/kolong+jembatan%252C+Palu+Kota+Teluk.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561119677588629986" /&gt;&lt;/a&gt;PALU: Kota Lima Dimensi (hutan, lembah, urban people, teluk, sungai yang membelah kota) sedemikian lengkapnya landskap di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Jepretan camera digital di pagi hari dengan dihiasi aktivitas masyarakat nelayan dan para pemancing menjadikan mosaik kota yang indah tak terlupakan. Dimensi landskap yang lengkap tersebut menjadikan pula masyarakat sekelilingnya serasa dimanja kala pagi menjelang. Hempasan angin sepoi-sepoi pagi tak terasa menusuk pelan kulit para penduduknya. Bagi mereka yang suka memancing pun hal ini tak ayal untuk tidak dibiarkan hanyut begitu saja. Itu lah Palu, sebuah kota teluk yang memiliki dimensi landskap yang paling lengkap. Ohh, Palu Ngataku.... (Sy)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguJG03rrbZFI2npjWvsle4FF5NOJSnW6pxa-E8iZmaCM5-BEYUxwnoRjk4ydkpSH5Js0D9xndSUe9nOKloUn61MofbIAbtRDS-0aLtwdhwj3rOHl72RZ7xDwBrkO12inbd1jVjrwqAkM8/s72-c/kolong+jembatan%252C+Palu+Kota+Teluk.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Implementasi REDD Dihambat Via Lobi Industri</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2011/01/implementasi-redd-dihambat-via-lobi.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Tue, 11 Jan 2011 17:20:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-3756356692231418297</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;div id=ygrp-mlmsg&gt;  &lt;div id=ygrp-msg&gt;  &lt;div id=ygrp-text&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;JAKARTA--MICOM:&lt;/b&gt; Implementasi REDD Plus atau Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan kerap mendapat tantangan antara lain dari berbagai bentuk lobi dari pihak industri terkait dengan kepentingannya. &lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;quot;Langkah kita secara tajam diamati oleh lobi industri seperti pertambangan dan lobi perkebunan sawit,&amp;quot; kata Ketua Satuan Tugas terkait REDD Plus, Kuntoro Mangkusubroto, dalam pembukaan lokakarya nasional tentang aktivitas REDD yang digelar di Jakarta, Selasa (11/1). &lt;br&gt; &lt;br&gt; Namun, ujar dia, pihak swasta termasuk industri juga termasuk salah satu dari &amp;quot;stakeholders&amp;quot; atau pemangku kepentingan sehingga secara fakta aktivitas REDD Plus juga harus berembuk pula dengan mereka. &lt;br&gt; &lt;br&gt; Ia mengingatkan, yang terpenting adalah bagaimana berbagai pemangku kepentingan itu setuju bahwa pada saat ini kita tidak boleh lagi melakukan penebangan hutan. &lt;br&gt; &lt;br&gt; Karenanya, Kuntoro juga tidak menyetujui adanya usulan seperti bahwa penebangan hutan diperbolehkan asalkan ada penanaman kembali. &amp;quot;Sekali hutan berdiri, maka ia harus tetap berdiri,&amp;quot; katanya. &lt;br&gt; &lt;br&gt; Ketua Satgas REDD Plus juga memaparkan, pihaknya akan memastikan bahwa implementasi REDD Plus terlaksana dengan berhasil dan agar semua pihak terkait memiliki tujuan yang sama. &lt;br&gt; &lt;br&gt; Kemitraan Indonesia dan Norwegia terbentuk melalui ditandatanganinya &lt;i&gt;Letter of Intent&lt;/i&gt; pada Mei 2010 di Oslo. &lt;br&gt; &lt;br&gt; Tujuan utama kemitraan yang akan memberikan hibah sebesar US$1 miliar ini adalah untuk mengurangi deforestasi dan degradasi hutan, dengan tahapan pembayaran berdasarkan kemampuan Indonesia untuk menurunkan emisi. &lt;br&gt; &lt;br&gt; Implementasi tahap pertama adalah persiapan. Tahap 2 dari kemitraan ini akan dimulai awal tahun depan termasuk pembentukan Lembaga REDD plus Indonesia, pengembangan lanjutan yang menyeluruh dari strategi nasional REDD plus, penciptaan instrumen pembiayaan, pengembangan kerangka kerja &lt;br&gt; pelaporan, monitoring dan verifikasi (MRV), pelaksanaan provinsi percontohan, dan pelaksanaan moratorium selama dua tahun untuk konsesi baru atas hutan dan lahan gambut. &lt;br&gt; &lt;br&gt; Sedangkan Satgas REDD plus telah dibentuk pada September 2010, berdasarkan Keputusan Presiden No.19/2010, sebagai bagian dari program kemitraan pemerintah Indonesia dan Norwegia. (Ant/X-12)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sektor Lingkungan Belum Terlindungi</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2010/12/sektor-lingkungan-belum-terlindungi.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Fri, 17 Dec 2010 13:37:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-3585146041892561270</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;div id=ygrp-mlmsg&gt;  &lt;div id=ygrp-msg&gt;  &lt;div id=ygrp-text&gt;  &lt;div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Semarang, kompas - Hingga akhir tahun 2010, kondisi lingkungan dan kawasan pesisir di Jawa Tengah tidak kunjung membaik. Berbagai bencana ekologis terjadi karena peraturan yang dibuat pemerintah daerah belum mampu melindungi sektor lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Hal ini terangkum dalam catatan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dalam isu lingkungan dan pesisir tahun 2010 yang disusun Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang. &amp;#8221;Kebijakan pemerintah justru membuat lingkungan dan pesisir menjadi salah urus,&amp;#8221; kata Staf Operasional Isu Lingkungan dan Pesisir LBH Semarang, Erwin Dwi Kristanto, Senin (13/12) di Semarang.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Berdasarkan data LBH Semarang, selama 2010 terjadi 35 bencana ekologis di Jawa Tengah. Sebanyak 15 bencana ekologis di antaranya terjadi di Kota Semarang. Kasus konflik area tangkap dan reklamasi juga paling banyak terjadi di Kota Semarang.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Bencana ekologis itu meliputi kerusakan lingkungan pesisir akibat abrasi, akresi, dan rob yang sebagian besar disebabkan ulah manusia. Misalnya, abrasi di wilayah Kabupaten Kendal, Demak, dan Kota Semarang yang dipicu reklamasi pantai.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Menurut Erwin, kerusakan pesisir biasanya disebabkan oleh kalangan korporasi yang membangun pabrik dengan cara mereklamasi pantai. Namun, saat ini muncul kecenderungan bahwa pemerintah membuat peraturan baru yang lebih memudahkan pihak korporasi itu menguasai lahan pesisir.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Kota Semarang merupakan salah satu daerah di Jateng yang saat ini sedang menyusun rancangan peraturan daerah (perda) tentang pesisir. Proses ini menjadi sorotan tajam beberapa pihak termasuk LBH Semarang, karena ada upaya memasukkan Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP3) ke dalam perda itu.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;&amp;#8221;Jika HP3 diterapkan, pihak swasta semakin berkuasa dan kerusakan makin parah,&amp;#8221; kata Erwin. Dengan mendapat HP3, seseorang bebas mengelola kawasan pesisir dan perairan sepanjang 12 mil dari bibir pantai. Orang lain yang melanggar zona itu dapat dikenai sanksi pidana.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Contoh lain kegagalan pemerintah dalam melindungi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya adalah melalui program The Blue Revolution Policies. Program yang bertujuan memperkuat sektor perikanan itu tidak dapat diterapkan dengan baik di daerah. &amp;#8221;Di Jateng, 17 kabupaten/kota justru menerapkan retribusi terhadap nelayan kecil,&amp;#8221; kata Erwin.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Ketua Panitia Khusus Rancangan Perda Pengelolaan Pesisir dan Perikanan DPRD Kota Semarang, Agung Budi Margono, mengatakan, proses penyusunan perda itu terhenti karena menunggu Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang. &amp;#8221;Tetapi, kami terima aspirasi masyarakat mengenai HP3 itu,&amp;#8221; katanya.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Dalam monitoring LBH Semarang terhadap sektor lingkungan nonpesisir, Kota Semarang juga menduduki peringkat terburuk. Dari 14 kasus persoalan lingkungan yang disorot di Kota Semarang, 5 di antaranya merupakan kasus pencemaran lingkungan, dan 4 kasus di antaranya merupakan penerbitan izin bermasalah atau tanpa kajian lingkungan. (DEN)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Sumber: &lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/12/14/06375782/sektor.lingkungan.belum.terlindungi"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/12/14/06375782/sektor.lingkungan.belum.terlindungi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Fadel: Laut Belum Jadi "Mainstream" Pembangunan Nasional</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2010/12/fadel-laut-belum-jadi-mainstream.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Tue, 14 Dec 2010 22:03:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-1609231217966545234</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;div id=ygrp-mlmsg&gt;  &lt;div id=ygrp-msg&gt;  &lt;div id=ygrp-text&gt;  &lt;div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Jakarta (ANTARA) - Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengatakan, sektor kelautan dan perikanan masih belum menjadi &amp;quot;mainstream&amp;quot; (arus utama) dalam pembangunan nasional sehingga potensinya belum maksimal dimanfaatkan.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;&amp;quot;Faktor utama yang menjadi kendala adalah laut belum menjadi `mainstream` dalam pembangunan nasional,&amp;quot; kata Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Karenanya, menurut Fadel, melalui momentum Hari Nusantara yang diperingati setiap 13 Desember, pemerintah dan rakyat harus menyadari bahwa Indonesia memiliki jati diri sebagai bangsa maritim dan negara kepulauan terbesar serta berbudaya bahari di dunia.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Oleh sebab itu pula, ujar dia, peringatan Hari Nusantara pada tahun 2010 ini mengambil tema &amp;quot;Hari Nusantara Membangkitkan Budaya Bahari&amp;quot;.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Menteri Kelautan dan Perikanan juga mengatakan, berbicara kenusantaraan tidak terlepas dari soal kewilayahan.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;&amp;quot;Secara fisik wilayah negara Indonesia yang didasarkan pada UNCLOS 1982, wilayah laut mendominasi luas Indonesia, yaitu kurang lebih 75 persen,&amp;quot; katanya.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Ia mengutarakan harapannya agar momentum peringatan Hari Nusantara kali ini dapat digunakan untuk lebih memahami akan kehidupan masyarakat pesisir dan di pulau-pulau terdepan wilayah perbatasan.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Di tempat terpisah Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) M Riza Damanik kepada ANTARA mengatakan, perayaan Hari Nusantara setiap 13 Desember patut dioptimalkan oleh negara untuk melindungi dan menjamin keselamatan setiap warga di Kepulauan Indonesia dari ancaman bencana iklim.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Riza juga mendesak agar pemerintah juga tidak melakukan kebijakan yang hanya menyiratkan adanya ekspansi perekonomian dari darat ke laut.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Sebagaimana diketahui, perayaan Hari Nusantara dibuat untuk memperingati Deklarasi Djuanda yang dibuat pada 1957.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Deklarasi Djuanda adalah deklarasi yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Sebelum deklarasi Djuanda, wilayah negara Republik Indonesia mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939, yang mengatakan bahwa pulau-pulau di wilayah Nusantara dipisahkan laut di sekelilingnya dan setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Dengan demikian, sebelum adanya Deklarasi Djuanda, kapal asing bebas berlayar di kawasan perairan yang memisahkan pulau-pulau tersebut.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Tahoma","sans-serif"'&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://id.news.yahoo.com/antr/20101213/tbs-fadel-laut-belum-jadi-mainstream-pem-251e945.html" target="_blank"&gt;http://id.news.yahoo.com/antr/20101213/tbs-fadel-laut-belum-jadi-mainstream-pem-251e945.html&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style='color:#1F497D'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='color:white'&gt;__,_._,___&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tujuh Puluh Lima Persen Hutan Bakau di Sumut Rusak</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2010/12/tujuh-puluh-lima-persen-hutan-bakau-di.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Tue, 14 Dec 2010 10:12:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-2401953953493450486</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div id=ygrp-mlmsg&gt;  &lt;div id=ygrp-msg&gt;  &lt;div id=ygrp-text&gt;  &lt;table class=MsoNormalTable border=0 cellspacing=0 cellpadding=0&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td valign=top style='padding:0in 0in 0in 0in'&gt;   &lt;div&gt;   &lt;div&gt;   &lt;p class=MsoNormal&gt;Medan, Kompas - Kerusakan kawasan pesisir akibat   perambahan dan konversi lahan menjadi perkebunan sawit membuat kawasan   tutupan hutan bakau di Sumatera Utara tersisa 25 persen. Sebanyak 75 persen   atau 62.800 hektar di antaranya sudah rusak.&lt;br&gt;   &lt;br&gt;   Data Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Utara menunjukkan, kerusakan   terbesar terjadi di Kabupaten Langkat. Dari 35.500 hektar hutan bakau di   daerah itu, sebanyak 25.300 hektar atau 71,6 persen di antaranya rusak. Di   Tanjung Balai-Asahan, dari 14.400 hektar hutan bakau, sebanyak 12.900 hektar   atau 89,5 persen di antaranya rusak. Sementara di Deli Serdang-Asahan, 12.900   hektar atau 64,5 persen dari total 20.000 hektar hutan bakau rusak.&lt;br&gt;   &lt;br&gt;   Kerusakan juga terjadi pada hutan bakau di Nias, Labuhan Batu, Tapanuli   Tengah, Mandailing Natal, dan Medan. Di Medan, dari 250 hektar hutan bakau,   kerusakan terjadi pada 150 hektar. Sementara di Nias, kerusakan baru sekitar   6 persen atau 650 hektar dari 7.200 hektar yang dimiliki. Data didasarkan   foto citra satelit yang dibuat Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut.&lt;br&gt;   &lt;br&gt;   Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut Matius   Bangun hari Rabu (27/1) mengatakan, hutan bakau ditangani tiga instansi.   Dinas Kehutanan menangani areal kawasan hutan, Dinas Kelautan dan Perikanan   di kawasan budidaya, serta Badan Lingkungan Hidup mengurusi bakau di zona   kawasan industri. Namun, kerusakan terus bertambah.&lt;br&gt;   &lt;br&gt;   Penyelamatan&lt;br&gt;   &lt;br&gt;   Kerusakan terutama terjadi karena perambahan kawasan pesisir yang sudah   terjadi puluhan tahun. Kini, kondisi kawasan hutan bakau sudah beralih fungsi   menjadi banyak hal, seperti permukiman dan perkebunan, terutama lahan kelapa   sawit.&lt;br&gt;   &lt;br&gt;   Menurut Matias, ada 10.000 hektar lahan perikanan budidaya udang di Sumut   yang tidak berfungsi lagi karena bisnis ini tak berkembang. "Semestinya lahan   dialihfungsikan menjadi hutan bakau kembali. Namun, kini lahan   dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit," tuturnya.&lt;br&gt;   &lt;br&gt;   Upaya penyelamatan sudah dilakukan sejumlah pihak, baik instansi pemerintah   maupun swasta, tetapi belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Badan   Lingkungan Hidup menyatakan perlu waktu sedikitnya 10 tahun untuk memperbaiki   hutan bakau yang ada di Sumut. (WSI)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;   &lt;div&gt;   &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;   &lt;div&gt;   &lt;p class=MsoNormal&gt;http://regional.kompas.com/read/2010/01/30/02533281/75.Persen.Hutan.Bakau.di.Sumut.Rusak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/table&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Banyak Negara Ditekan Soal Iklim</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2010/12/banyak-negara-ditekan-soal-iklim.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Mon, 13 Dec 2010 21:38:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-4715050488261777886</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;div id=ygrp-mlmsg&gt;  &lt;div id=ygrp-msg&gt;  &lt;div id=ygrp-text&gt;  &lt;div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif";color:#1F497D'&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif";color:#1F497D'&gt;KOMPAS: &lt;/span&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Kawat-kawat diplomatik menunjukkan bagaimana Amerika Serikat memanipulasi perjanjian soal iklim, memperlihatkan bagaimana AS menggunakan peran mata-mata, ancaman, dan janji-janji bantuan untuk meraih dukungan demi terciptanya kesepakatan Kopenhagen pada Desember 2009.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Tersembunyi di balik retorika penyelamatan dunia, terdapat realitas politik yang berlepotan dengan absurditas. Demikian bagian dari petikan berita-berita harian Inggris, The Guardian, selama beberapa hari pada awal Desember ini setelah menganalisis kawat-kawat diplomatik AS yang meluncur di situs WikiLeaks.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Dokumen tak resmi pun muncul dari pertemuan puncak soal iklim di Kopenhagen. Sejumlah negara miskin bersedia mengurangi emisi, dengan tawaran bantuan yang sebenarnya tidak akan pernah diterima.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Namun, dengan kesediaan ini, Uni Eropa dan Amerika Serikat merasa telah menolong pengurangan emisi karena membantu sejumlah negara mengurangi emisi lewat bantuan, dijuluki carbon trading.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Perundingan untuk pencapaian traktat ini merupakan permainan dengan taruhan tingkat tinggi. Ini adalah perekayasaan kembali perekonomian global dengan model karbon rendah, yang menyaksikan pembalikan arus uang miliaran dollar AS. Dengan mengurangi emisi, negara-negara berkembang meredam laju pembangunan ekonomi. AS dan UE terus bebas memuncratkan polusi demi pembangunan ekonomi, juga menjual "teknologi hijau".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Untuk meraih kekuatan negosiasi, yang berakhir dengan penandatanganan kesepakatan itu, Deplu AS mengirim kawat rahasia pada 31 Juli 2009, yang mengincar para diplomat berbagai negara yang bertugas di PBB, termasuk yang menangani perubahan iklim. Permintaan itu berasal dari CIA. Tujuannya, melihat posisi dan tawaran negara-negara menjelang pertemuan Kopenhagen. Para diplomat diminta mengincar rancangan traktat dan kesepakatan yang akan disetujui.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Pembicaraan AS-China gagal meraih kesepakatan global di Kopenhagen. China cukup lihai melihat permainan AS, yang dinilai hanya menekan dan tidak mau menekan emisi global. Namun, AS, polluter terbesar dunia dan paria iklim yang terisolasi, memiliki sesuatu untuk disepakati sejumlah negara. Persetujuan itu dipalu di jam-jam menentukan, tetapi tidak lewat proses PBB. Persetujuan itu dicapai karena pendiktean. Perjanjian ini tak menjamin pengurangan emisi yang dibutuhkan dunia untuk menghindari pemanasan, itu pun jika pemanasan itu benar-benar terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Kesepakatan itu juga bertujuan meredam PBB untuk memperpanjang protokol Kyoto, yang mewajibkan negara-negara kaya mengurangi polusi. Hal ini kemudian membuat banyak negara mendadak menentang kesepakatan yang sudah diteken.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Lepas dari itu, untuk merangkul sejumlah negara agar bersedia mengikat dirinya pada kesepakatan, demi melayani kepentingan AS, serangan-serangan diplomatik diluncurkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Kawat-kawat diplomatik mengalir keras dan cepat antara akhir pertemuan Kopenhagen dan Februari 2010. Sejumlah negara berhasil dibujuk untuk sebuah kesepakatan, yang menjanjikan bantuan 30 miliar dollar AS, khususnya bagi negara-negara miskin yang terpukul pemanasan global, yang bukan mereka buat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Dua minggu setelah Kopenhagen, Menlu Maladewa Ahmed Shaheed menulis kepada Menlu AS Hillary Clinton. Dia mengekspresikan keinginan untuk mendukung kesepakatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Pada 23 Februari 2010, Dubes Maladewa yang yang dirancang untuk posisi AS Abdul Ghafoor Mohamed berkata kepada wakil utusan iklim AS, Jonathan Pershing, negaranya menginginkan "bantuan nyata". Ghafoor mengatakan, negara lain kemudian akan tergiur merealisasikan "manfaat bantuan yang diraih dengan mengikuti perjanjian" yang dilakukan Maladewa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;"Ghafoor merujuk beberapa proyek berbiaya 50 juta dollar AS. Pershing menyemangatinya untuk memberi contoh konkret dan biaya dengan tujuan meningkatkan bantuan bilateral."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Kreativitas akuntansi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Menurut kawat pada 11 Februari, Pershing bertemu dengan Ketua Komisi Aksi Iklim Uni Eropa Connie Hedegaard di Brussels, Belgia. Hedegaard mengatakan, "Negara-negara kecil bisa menjadi sekutu terbaik sehubungan dengan kebutuhan mereka akan bantuan."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Namun, pasangan ini berpikir soal cara pencarian bantuan 30 miliar dollar AS. Hedegaard mengajukan ide beracun. Apakah semua bantuan AS berbentuk tunai? Hedegaard bertanya apakah AS sekadar melakukan "kreativitas akuntansi".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Pershing mengatakan, "Para donor harus menyeimbangkan keperluan politik soal bantuan itu dengan kendala ketatnya anggaran negara."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Dari sini, negara berkembang melihat bahwa banyak dari janji bantuan untuk lingkungan itu merupakan pengalihan dari bantuan yang sudah pernah dijanjikan untuk urusan lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Pada bagian lain dari kawat itu, Hedegaard bertanya mengapa AS tidak sepakat dengan China dan India atas apa yang dia lihat sebagai tawaran yang bisa diterima untuk pengurangan emisi pada masa datang. China dan India sama-sama siap mengurangi emisi jika AS dan UE juga siap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Berikut ini adalah isi kawat lain. Pada 2 Februari 2009, sebuah kawat dari Addis Ababa melaporkan pertemuan antara Wakil Menlu AS Maria Otero dan PM Etiopia Meles Zenawi, yang akan memimpin pertemuan perubahan iklim Uni Afrika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Kawat rahasia itu memuat ancaman tegas AS terhadap Zenawi: "Tanda tangani perjanjian atau diskusi harus berakhir sekarang". Zenawi merespons bahwa Etiopia mendukung kesepakatan, tetapi jaminan personal Presiden Barack Obama soal bantuan tidak dipenuhi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Determinasi AS untuk menemukan lawan beratnya—Brasil, Afrika Selatan, India, dan China—tertuang dalam kawat lain dari Brussels pada 17 Februari 2010. Kawat ini melaporkan pertemuan antara Wakil Penasihat Keamanan Nasional Michael Froman, Hedegaard, dan para pejabat UE lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Froman mengatakan, UE dan AS harus menyembunyikannya ketidakcocokan untuk mengatasi perlawanan negara-negara ketiga. Hedegaard menjamin Froman akan dukungan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Hedegaard dan Froman juga mendiskusikan keperluan untuk "menetralisasi, mengooptasi, atau memarginalkan negara-negara yang tidak tertangani, termasuk Venezuela dan Bolivia". Kemudian, pada April 2010, AS menghentikan bantuan kepada Bolivia dan Ekuador karena menolak kesepakatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Setelah pertemuan Kopenhagen, pengikatan lebih jauh bantuan keuangan demi dukungan politik mencuat. Para pejabat Belanda juga menjadi sasaran. Belanda awalnya menolak tekanan AS, tetapi akhirnya membuat pernyataan pada 25 Januari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Menurut kawat itu, perunding Belanda soal iklim, Sanne Kaasjager, "... menyusun pesan-pesan ke berbagai kedutaan di negara-negara penerima bantuan Pemerintah Belanda untuk mendukung kesepakatan. Ini sebuah langkah yang tak pernah dilakukan sebelumnya oleh Pemerintah Belanda, yang secara tradisional menolak pengaitan bantuan utang untuk kepentingan politik."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Sekarang 140 negara sudah di tangan, dan ini diungkapkan Pershing dalam pertemuannya dengan Hedegaard pada 11 Februari. Sebanyak 140 negara itu mewakili 75 persen dari 193 negara yang menjadi peserta konvensi PBB soal perubahan iklim. Negara-negara ini juga menegaskan, mereka bertanggung jawab atas 80 persen emisi global.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Pada pertemuan iklim di Cancun, Meksiko, muncul kejutan terbesar. Jepang mengumumkan tidak akan mendukung perpanjangan traktat Kyoto. Ini memberi dukungan besar kepada AS. Roda diplomatik AS dan deal-deal-nya tampaknya memberi hasil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Di Cancun, Amy Godman dari New America bertanya pada Stern soal kawat-kawat itu. "Saya tidak punya komentar," kata Stern yang mengecam bocoran kawat itu. Hedegaard juga berkomentar, "Kawat-kawat itu cuma berisi sepenggal dari serangkaian pembicaraan." (MON)&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sumber: &lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/12/12/03194298/banyak.negara..ditekan.soal.iklim" target="_blank"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/12/12/03194298/banyak.negara..ditekan.soal.iklim&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bangun PLTA, Perambah Harus Ditertibkan</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2010/12/bangun-plta-perambah-harus-ditertibkan.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Mon, 13 Dec 2010 21:32:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-7972159204326959122</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;div id=ygrp-mlmsg&gt;  &lt;div id=ygrp-msg&gt;  &lt;div id=ygrp-text&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style='font-weight:normal'&gt;Posmetrojambi.com, 13 Desember 2010 &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAMBI &lt;/strong&gt;- Organisasi lingkungan hidup KKI Warsi meminta pemerintah untuk menertibkan perambah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Permintaan ini disampaikan terkait dengan rencana pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Telun Berasap di Kabupaten Kerinci. &amp;#8220;Kami sangat mendukung rencana pembangunan PLTA tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan adanya PLTA akan menjawab pertanyaan yang&amp;nbsp; selama ini diungkapkan, apa sih manfaat yang diberikan TNKS?&amp;#8221; kata Rudi Syaff, Manajer Komunikasi KKI Warsi.Namun, pembangunan PLTA tersebut akan sia-sia jika pemerintah membiarkan perambahan terus berlangsung. Perambahan akan mengakibatkan tutupan hutan di TNKS menjadi berkurang. &amp;#8220;PLTA tersebut akan menggunakan air dari Danau Gunung Tujuh yang ada di dalam kawasan TNKS. Jika banyak perambahan, maka daerah resapan airnya akan berkurang. Jika&amp;nbsp; kawasan resapan berkurang, akan menyebabkan suply air ke Danau Gunung Tujuh juga akan berkurang. Akibat lebih jauh, jika air Danau Gunung Tujuh berkurang dan debit air terjun Telun Berasap akan berkurang. Maka, nasib PLTA Gunung Tujuh tak akan jauh beda dengan PLTA Koto Panjang yang saat ini tidak bisa dioperasikan karena ketiadaan sumber air,&amp;#8221; jelas Rudi Syaff.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Rudi menambahkan, pemerintah harus bersikap tegas terhadap para perambah. Jika terus dibiarkan, bukannya tidak mungkin hutan TNKS akan habis berganti menjadi kebun kentang. Namun demikin, tambah Rudi, pemerintah juga harus memberikan solusi kepada para penggarap lahan TNKS. &amp;#8220;Harus ada solusi buat mereka, jangan asal usir. Harus dipikirkan bagaimana penghidupan mereka setelah keluar dari kawasan TNKS,&amp;#8221; tegas Rudi Syaff.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Menurut data Balai Besar TNKS, saat ini ada sekitar 6 ribu Kepala Keluarga (KK) yang merambah kawasan taman nasional. Mereka telah mengolah lahan di dalam kawasan TNKS seluas sekitar 25 ribu hektar. Sebelumnya, pemerintah telah mengultimatum para perambah agar meninggalkan lahan garapannya paling lambat 1 Desember lalu. Namun, setelah melewati tenggat waktu tersebut, mayoritas perambah memilih bertahan. Hanya sedikit perambah yang meninggalkan lokasi secara suka rela. &lt;br&gt; &lt;br&gt; Pemerintah sendiri tidak melakukan pengusiran perambah yang bertahan. Menurut Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar TNKS, Persada Agussetia Sitepu, pihaknya tidak mungkin melakukan pengusiran perambah di Kerinci. &amp;#8220;Berbeda dengan di Lembah Masurai yang mana perambahnya adalah para pendatang. Sementara di Kerinci perambahnya adalah warga setempat. Kami tidak mungkin melakukan tindakan tegas karena bisa menimbulkan kekisruhan,&amp;#8221; kata Agussetia. &lt;strong&gt;(usm)&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Inilah 12 Perusahaan Pelaku Pencemar Lingkungan</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2010/12/inilah-12-perusahaan-pelaku-pencemar.html</link><category>lingkungan</category><category>pemerintah</category><category>pencemaran</category><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Sun, 5 Dec 2010 10:55:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-6145898873770246107</guid><description>JAKARTA-Sebanyak 33 atau 15 persen dari 215 perusahaan yang bergerak di sektor agroindustri memperoleh predikat hitam dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Dua belas di antaranya sudah berpredikat hitam 2 kali, yakni di tahun 2009 dan 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada Laporan Hasil Penilaian Program Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup 2010 yang disiarkan KLH bahwa peringkat warna hitam didefinisikan sebagai usaha dan atau kegiatan yang sengaja melakukan perbuatan atau melakukan kelalaian yang mengakibatkan pencemaran dan atau kerusakan lingkungan serta pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku atau tidak melaksanakan sanksi administrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila sanksi administratif tidak dilaksanakan, maka pemidanaan pelaku pencemaran lingkungan hidup sudah sepatutnya dilakukan oleh KLH. Apalagi 12 perusahaan tersebut memperoleh predikat hitam selama 2 kali. Hal ini jelas bertentangan dengan amanah UU PPLH yang tegas melarang terjadinya pencemaran&lt;br /&gt;lingkungan” jelas Koordinator Program Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Abdul Halim, dalam rilisnya yang diterima Tribunnews.com, Sabtu (4/12/2010).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ke-12 perusahaan tersebut bergerak di bidang pengolahan ikan dan agar-agar yang terdiri dari 7 perusahaan beroperasi di region Jawa, 4 perusahaan beroperasi di region Sumapapua, dan 1 perusahaan beroperasi di Bali Nusra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiadanya itikad baik untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup, sebagaimana diatur dalam UU PPLH, dapat diancam pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 10 tahun dan denda paling sedikit Rp 3 miliar dan paling banyak Rp 10 miliar. “Jelas ada unsur kesengajaan dari 12 pelaku pencemaran tersebut. Faktanya, dua kali mereka memperoleh predikat hitam,” ungkap Halim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 78 sudah menegaskan bahwa sanksi administratif, yang terdiri dari (1) teguran tertulis; (2) paksaan pemerintah; (3) pembekuan izin lingkungan; dan (4) pencabutan izin lingkungan; tidak membebaskan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dari tanggung jawab pemulihan dan pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terlampau mubazir anggaran dihabiskan untuk penilaian kinerja perusahaan dalam&lt;br /&gt;pengelolaan lingkungan hidup tiap tahunnya, jika penegakan hukum lingkungan sebagaimana dimandatkan UU PPLH tidak dilakukan. Untuk menghindari preseden buruk, sudah seharusnya ke-12 perusahaan ini dipidanakan. KLH harus bergegas, karena ada kecenderungan besar pemerintah daerah yang menjadi lokasi ke-12perusahaan beroperasi tidak menindaklanjuti penilaian tersebut,” terang Halim.&lt;br /&gt;Daftar Perusahaan Berpredikat Hitam 2009-2010&lt;br /&gt;1. PT Centram (agar-agar) - Jawa&lt;br /&gt;2. CV Pasific Harvest (pengolahan ikan) - Jawa&lt;br /&gt;3. PT Avila Prima Intra Makmur (pengolahan ikan) - Jawa&lt;br /&gt;4. PT Bali Maya Permai (pengolahan ikan) - Bali Nusra&lt;br /&gt;5. PT Bitung Mina Utama (pengolahan ikan)- Sumapapua&lt;br /&gt;6. PT Blambangan Raya Foodpackers (ikan) - Jawa&lt;br /&gt;7. PT Deho canning Company (ikan) - Sumapapua&lt;br /&gt;8. PT Manadomina Citrataruna (ikan) - Sumapapua&lt;br /&gt;9. PT Maya Muncar (pengolahan ikan) – Jawa&lt;br /&gt;10. PT Rex Canning Indonesia (pengolahan ikan) - Jawa&lt;br /&gt;11. PT Rex Canning Indonesia (pengolahan ikan) - Sumapapua&lt;br /&gt;12. PT Sumber Yalasamudera (ikan) - Jawa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Artikel BAKTi NEWS</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2010/11/artikel-bakti-news.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Wed, 17 Nov 2010 12:42:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-8170731629778487400</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;div id=center&gt;  &lt;div id=main&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p style='mso-margin-top-alt:0in;margin-right:0in;margin-bottom:12.0pt; margin-left:0in'&gt;&lt;b&gt;&lt;span style='font-size:13.5pt'&gt;GLOBAL IPM 2010 DAN KITA: PATUTKAH SI MISKIN BERHARAP?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='margin:0in;margin-bottom:.0001pt'&gt;&lt;span style='font-size:13.5pt'&gt;Hari ini (5 November 2010, waktu Indonesia), UNDP meluncurkan Laporan&amp;nbsp;Pembangunan Manusia (LPM), termasuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mengalami&amp;nbsp;reformasi. IPM adalah rangkuman perkembangan jangka panjang dari tiga dimensi dasar&amp;nbsp;Pembangunan Manusia (PM). Selama ini, tiga indikator pengukurnya adalah angka harapan&amp;nbsp;hidup, persentase melek aksara orang dewasa dikombinasikan dengan angka partisipasi (kotor)&amp;nbsp;sekolah bagi anak dan GDP (Gross Domestic Product) per kapita dalam Dollar AS.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='margin:0in;margin-bottom:.0001pt'&gt;&lt;span style='font-size:13.5pt'&gt;Tahun lalu, IPM Indonesia berada pada peringkat ke-111 dari 182 negara. Sebenarnya,&amp;nbsp;dari tahun ke tahun nilai Indonesia selalu naik, tapi kenaikan itu belum cukup mendongkrak&amp;nbsp;secara drastic posisi peringkat IPM Indonesia. Sejak 2004 angka IPM Indonesia tercatat sebesar&amp;nbsp;0,714, kemudian naik menjadi 0,723 (2005), 0,729 (2006) dan 0,734 (2007).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='margin:0in;margin-bottom:.0001pt'&gt;&lt;span style='font-size:13.5pt'&gt;Posisi Indonesia masih berada di bawah beberapa negara ASEAN seperti Singapura&amp;nbsp;(peringkat 23), Malaysia (66), Thailand (87) dan Filipina 105). Sementara posisi Vietnam (116)&amp;nbsp;dan beberapa negara seperti Mianmar, Laos, Kamboja berada di bawah Indonesia. Dibanding&amp;nbsp;negara-negara dengan kepadatan penduduk tertinggi, posisi Indonesia berada antara China (92)&amp;nbsp;dan India (134). Bagaimana dengan tahun 2010?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='margin:0in;margin-bottom:.0001pt'&gt;&lt;span style='font-size:13.5pt'&gt;Dalam perkembangannya, LPM yang ruh dasarnya adalah menempatkan manusia sebagai&amp;nbsp;titik pusat diskusi pembangunan dan rencana aksi, dari sisi indikator pengukurannya terus&amp;nbsp;menerus dikritisi dan disempurnakan.&amp;nbsp;Mengikuti perkembangan dan kompleksitas pembangunan di banyak negara LPM&amp;nbsp;Global tahun ini memperkenalkan IPM reformasi dengan indikator baru, yaitu lamanya&amp;nbsp;kehidupan yang sehat, lalu pendidikan dalam expected years of schooling (lama harapan&amp;nbsp;sekolah) dikombinasikan dengan means years of schooling (lama rata-rata sekolah) serta sebuah&amp;nbsp;kehidupan layak yang diukur lewat Gross National Income (GNI), bukan sekedar GDP yang&amp;nbsp;menafikan banyaknya produksi domestik yang sebagian keuntungannya mengalir ke luar negeri&amp;nbsp;serta menutupi kesenjangan antar individu.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tangani Lingkungan dengan "Ecoregion"</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2010/11/tangani-lingkungan-dengan-ecoregion.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Thu, 11 Nov 2010 11:32:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-3480106104186705478</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;div id=ygrp-mlmsg&gt;  &lt;div id=ygrp-msg&gt;  &lt;div id=ygrp-text&gt;  &lt;div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Jakarta, Kompas - Kementerian Lingkungan Hidup mengubah paradigma dalam penanganan isu lingkungan. Yang semula diserahkan ke setiap daerah kabupaten atau kota, kini penanganannya diharapkan lebih terintegrasi dengan dibentuknya lima ecoregion untuk seluruh Indonesia, yaitu ecoregion Sumatera; Balinusa untuk Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat; Sumapapua untuk Sulawesi, Maluku, dan Papua; Jawa; serta Kalimantan.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang dimaksud dengan ecoregion adalah wilayah geografis yang memiliki kesamaan ciri iklim, tanah, air, flora, dan fauna asli serta pola interaksi manusia dengan alam yang menggambarkan integritas sistem alam dan lingkungan hidup.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Untuk pertama kalinya perwakilan dari semua ecoregion, Rabu (10/11), berkumpul pada acara National Summit "Mewujudkan Sinergi Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup" yang digelar di Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Hadir sebagai pembicara, yaitu Koordinator Nasional Conservation and Spatial Planning World Wide Fund for Nature Indonesia Barano Sulistya Siswa, mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja, serta Sekretaris Menteri Negara Lingkungan Hidup Hermien Rosita. Dalam diskusi, antara lain, terungkap, dengan konsep ecoregion itu diharapkan sinergi, fungsi koordinasi, dan diseminasi informasi menjadi lancar. Tugas dari ecoregion, antara lain, menjadi fasilitator dan penghubung antarsektor dan antarwilayah.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Menahan kebijakan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;"Ecoregion bertugas menjahit kebijakan antardaerah dan memasukkan pertimbangan lingkungan dalam kebijakan pembangunan serta melakukan pengawasan," tutur Hermien.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt; color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Ecoregion juga bertugas menetapkan kriteria-kriteria lingkungan hidup, mengembangkan sistem informasi, serta mengarusutamakan pembangunan dengan memperhitungkan aspek keberlanjutan produktivitas dan aspek penyelamatan lingkungan. "Saat ini kita tidak pernah tahu berapa cadangan sumber daya alam kita," ujar Hermien.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt; color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Dia mengingatkan, pemanfaatan sumber daya alam dan perubahan tata ruang yang sedang dibuat harus selalu mempertimbangkan daya tampung dan daya dukung lingkungan. "Apalagi sekarang sudah banyak terjadi bencana banjir, longsor, dan sebagainya," ujar Hermien.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Dengan adanya ecoregion yang mengemban tugas dari Kementerian Lingkungan Hidup, menurut dia, "Harus tidak ada lagi izin usaha yang diperoleh tanpa ada izin lingkungan."&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt; color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Kesiapan melakukan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Memandang UU No 32/2009 yang memunculkan ecoregion, Sarwono berpendapat, peraturan itu terlalu bagus untuk bisa dilaksanakan semua orang.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;"Kalau tidak mampu melaksanakan, UU itu akan terdiskreditkan," ujar Sarwono.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Menurut dia, karena Indonesia luas dan masif, akan sulit untuk mencapai semua target sekaligus. Dia menyarankan untuk pertama kali dipilih beberapa bagian saja, terutama yang strategis.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;"Masalah gambut amat strategis karena merupakan persoalan eksklusif Indonesia. Masalah kehutanan banyak di berbagai negara, tetapi gambut hanya di Indonesia. Jika berhasil menangani masalah lingkungan melalui penanganan gambut, gengsi Indonesia akan naik sehingga dukungan dari luar negeri juga akan datang," ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt; color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Heart of Borneo&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta menegaskan, sekarang pihaknya memfokuskan pada Heart of Borneo. Heart of Borneo adalah kawasan yang menjadi daerah tangkapan air untuk sejumlah sungai besar di Kalimantan yang berada di wilayah tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Brunei.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Menurut Gusti, tahun depan Indonesia mendapat giliran untuk memimpin Heart of Borneo. "Kalimantan adalah megabiodiversitas jadi harus benar- benar kita jaga," tuturnya. Oktober lalu Gusti mengatakan, telah memaparkan rencana- rencana untuk Heart of Borneo dan berbagai sumber pendanaannya. Gusti menambahkan, semua gubernur di Sumatera juga sudah menandatangani kesepakatan untuk mengembalikan kondisi lingkungan Sumatera.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Sementara terkait persoalan inventarisasi, yang merupakan dasar untuk membuat perencanaan, Gusti yakin akan bisa menyelesaikan pada 2011. Sementara menurut Hermien, data yang ada sekarang memang terdapat di berbagai pihak, seperti Kementerian Kehutanan serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, tetapi setidaknya inventarisasi tidak berangkat dari titik nol.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sumber: Kompas, 11 November 2010, Halaman 13&lt;/span&gt;&lt;span style='color:white'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Merapi Peras Air Mata</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2010/11/merapi-peras-air-mata.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Sat, 6 Nov 2010 09:59:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-2661659689301793543</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;div id=ygrp-mlmsg&gt;  &lt;div id=ygrp-msg&gt;  &lt;div id=ygrp-text&gt;  &lt;div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;i&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Seorang pengungsi meneteskan air mata saat berhasil mencapai posko pengungsian di Stadion Maguwoharjo, Sleman, DI Yogyakarta, pascaerupsi Gunung Merapi, Jumat (5/11) dini hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:#1F497D'&gt;---&lt;/span&gt;&lt;span style='color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Yogyakarta, Kompas - Letusan eksplosif Gunung Merapi sepanjang Kamis (4/11) pukul 23.00 hingga Jumat petang memeras air mata penduduk DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Peristiwa itu sangat mencekam, mengacaukan, dan membawa korban tewas 64 orang, puluhan sapi mati, serta belasan rumah terbakar akibat awan panas atau runtuh akibat banjir lumpur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Hingga pukul 23.00 semalam, tercatat jumlah korban meninggal dunia 64 orang, semuanya penduduk Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, dan luka-luka 77 orang. Sejumlah sapi mati terbakar serta sejumlah rumah terbakar dan rusak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Semalam, pengungsi mencapai 150.255 orang, terdiri dari pengungsi di DIY 34.000 orang serta pengungsi di Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Klaten (semuanya di Jawa Tengah) 116.255 orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Sejak letusan pertama, 26 Oktober 2010, Merapi telah menyemburkan material vulkanik sekitar 100 juta meter kubik (m). Separuh di antaranya diperkirakan menyembur Jumat dini hari hingga petang, ditandai dengan luncuran awan panas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;"Letusan ini lebih besar dari letusan Gunung Galunggung tahun 1982. Waktu itu Galunggung mencicil erupsi selama 10 bulan. Merapi hanya dalam dua minggu," kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Sukhyar, Jumat. Sekitar 100 juta m material vulkanik itu menyebar ke sektor selatan, barat daya, tenggara, barat, dan utara yang di antaranya meliputi Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, serta Kabupaten Klaten, Boyolali, dan Magelang di Jawa Tengah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Berdasarkan observasi lapangan sementara petugas Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) pada Jumat pagi, jarak luncur awan panas terjauh akibat letusan Merapi, sepanjang Kamis-Jumat, tercatat sejauh 14 kilometer di Dusun Bronggang, Cangkringan, Sleman, DIY.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Akibat letusan itu, tiga alat pencatat gempa BPPTK di Stasiun Klatakan, Pusonglondon, dan Deles, rusak terkena awan panas. Saat ini seismograf yang masih berfungsi tinggal satu unit di Stasiun Plawangan. "Hari ini (kemarin) kami mencoba memasang satu seismometer di sisi Jrakah (Magelang)," kata Kepala BPPTK Subandriyo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Salah satu peringatan akan ancaman terbesar yang serius adalah aliran lahar dingin, yang bisa mencapai Kali Code, Kali Gajahwong, dan Kali Winongo di DIY. Ancaman menjadi kian serius apabila hujan terus mengguyur di kawasan lereng Merapi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Sepanjang Rabu hingga Jumat pagi, aktivitas Merapi meningkat dahsyat. Gelombang awan panas tak putus-putusnya keluar dari puncak beserta material letusan lava dan abu yang diiringi gemuruh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Puncaknya terjadi pada Jumat pukul 00.30. Suara gelegar besar terdengar hingga radius 30 km dan hujan pasir hingga radius 15 km. Hujan abu vulkanik juga terjadi hingga Kota Yogyakarta, yang berjarak lebih dari 30 km di selatan Merapi. Bahkan, dilaporkan hingga Kabupaten Tegal dan Brebes, Jawa Tengah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Di Magelang, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kesulitan membersihkan jalur evakuasi yang tertutup pohon-pohon tumbang. Hal itu dikhawatirkan berisiko apabila letusan Merapi datang lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Lima langkah Presiden&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style='color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Merespons kondisi Gunung Merapi yang kian mengancam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden kemarin menetapkan lima langkah ekstra penanggulangan bencana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Langkah pertama adalah penetapan kendali operasi tanggap darurat di tangan Kepala BNPB Syamsul Maarif. Kepala BNPB akan dibantu oleh Gubernur DIY, Gubernur Jawa Tengah, Panglima Kodam IV Diponegoro, Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah, dan Kepala Kepolisian Daerah DIY.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Langkah kedua, mendorong unsur pemerintah pusat berada di garis depan. Presiden menugaskan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono memastikan bantuan bagi masyarakat bisa diberikan dengan cepat, tepat, dan terkoordinasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Ketiga, Presiden memerintahkan TNI mengerahkan satu brigade penanggulangan bencana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Keempat, Presiden memerintahkan Polri mengerahkan satuan tugas kepolisian untuk penanggulangan bencana karena pergerakan lalu lintas masyarakat di tengah bencana berpotensi menimbulkan kekacauan. Kelima, Presiden menegaskan, pemerintah akan membeli sapi-sapi ternak milik penduduk kawasan Gunung Merapi dengan harga yang pantas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Secara mendadak, pada Jumat sore Presiden memutuskan berangkat lagi ke Yogyakarta untuk memastikan semua pihak menjalankan tugasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Ketua Komisi VIII DPR Abdul Kadir Karding menegaskan, pemerintah harus tegas memaksa warga di sekitar lereng Gunung Merapi untuk mengungsi ke tempat aman. Agar warga tidak cemas, pemerintah harus menjamin penggantian ternak warga yang mati serta memindahkan ternak yang masih hidup. "Petugas harus tegas melarang pengungsi yang kembali ke rumahnya. Warga harus dipaksa mengungsi," katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Gelombang pengungsi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style='color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Jumat dini hari, gelombang pengungsi datang dari utara. Di Jalan Kaliurang, ribuan sepeda motor dan mobil dipacu kencang ke arah Kota Yogyakarta di tengah hujan abu vulkanik, pasir, dan kerikil. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menaikkan radius aman primer Merapi dari 15 km menjadi 20 km.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Eksodus pengungsi pun terjadi, yang di antaranya terkonsentrasi di Stadion Maguwoharjo, Sleman, yang menampung hingga 30.000 jiwa. Di Masjid Agung Sleman di kompleks Pemerintah Kabupaten Sleman, ribuan pengungsi berdatangan dengan kondisi memprihatinkan mulai pukul 01.30. Tubuh mereka berlumuran abu vulkanik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Puluhan pengungsi terlihat di Masjid Agung Kauman di kompleks Keraton Ngayogyakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;RS Sardjito, Yogyakarta, hingga pukul 21.15 tercatat menerima 64 jenazah dan 66 korban luka bakar parah. Sejak subuh ambulans bergiliran datang membawa korban tewas ataupun luka bakar. Di Klaten, 80 warga dirawat di RSU Soeradji Tirtonegoro.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;"Tidak ada korban meninggal, tapi ada salah satu pengungsi yang hamil tua kehilangan calon bayinya karena shock dampak psikologis," ujar Kepala Instalasi Gawat Darurat RSU Soeradji Tirtonegoro, Klaten, dr Hartolo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;"Meski Jumat siang erupsi sudah relatif mereda dibandingkan dua hari sebelumnya, bukan berarti berhenti. Letusan besar lagi kemungkinan masih ada," kata Kepala BPPTK Subandriyo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Mengantisipasi membeludaknya jumlah pengungsi, Pemerintah Provinsi Yogyakarta menyiapkan gedung-gedung sekolah apabila diperlukan. Sejauh ini jumlah pengungsi terbesar ada di Stadion Maguwoharjo, Sleman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Sejak kemarin pagi Bandar Udara Adisutjipto, Yogyakarta, ditutup total. General Manager Bandara Adisutjipto Agus Adriyanto menuturkan, penutupan itu semula ditetapkan berlaku mulai pukul 06.00 hingga 09.00. Penutupan bandara diperpanjang hingga satu hari penuh. Akibat penutupan tersebut, sekitar 90 jadwal penerbangan dari dan menuju Yogyakarta dibatalkan. Sekitar 8.000 calon penumpang pesawat dari dan menuju Yogyakarta juga batal terbang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Kampus-kampus di DIY kemarin membuka pintu untuk para pengungsi Merapi. Selain kampus, para pengungsi juga memadati stadion olahraga&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sumber: Kompas, 6 November 2010, Halaman, 1&lt;/span&gt;&lt;span style='color:white'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SUKU MENTAWAI : Kami Tak Mengenal Tsunami</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2010/11/suku-mentawai-kami-tak-mengenal-tsunami.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Wed, 3 Nov 2010 16:13:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-6529813790126531007</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;Sebuah helikopter mendarat di Desa Eruparabuan, Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, untuk mengirimkan bantuan logistik, Senin (1/11). Tsunami yang menerjang daerah itu tidak dikenal suku Mentawai karena tradisi mereka sebenarnya adalah tradisi meramu di pedalaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;Ketua DPR Marzuki Alie jelas sangat tidak tahu bagaimana sebenarnya masyarakat Mentawai. Jika Marzuki sampai mengatakan konsekuensi tinggal di pulau seperti Mentawai adalah terkena tsunami, dia tentu tidak tahu bahwa sebenarnya masyarakat di sana tidak mengenal tsunami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;&amp;#8221;Masyarakat Mentawai itu aslinya yang peramu. Tinggal di hutan, di hulu sungai, jauh dari pesisir. Kultur masyarakat Mentawai bukan kultur pesisir atau lautan,&amp;#8221; ujar aktivis Yayasan Citra Mandiri, Yosep Sarogdok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;Yayasan Citra Mandiri adalah lembaga swadaya masyarakat yang memfokuskan kegiatannya pada persoalan di Kepulauan Mentawai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;Yosep yang merupakan penduduk asli dari Pulau Siberut menuturkan, tradisi sebagai peramu masih belum berubah banyak hingga sekarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;Domestifikasi ternak hingga tanaman baru dikenal masyarakat Mentawai awal tahun 1970-an. Sebelum masa itu, mereka adalah masyarakat yang hidup dari berburu dan meramu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;Pedalaman&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;Antropolog dari Yayasan Citra Mandiri, Tarida Hernawati, penulis buku tentang rumah adat tradisional masyarakat Mentawai, uma, menulis, penduduk asli Mentawai tinggal di pedalaman dan pinggir sungai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;Mereka sangat bergantung pada sumber daya alam dari hutan. Bukan dari lautan! Jadi, salah jika menyebut masyarakat Mentawai memiliki kultur pesisir atau lautan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;&amp;#8221;Kalau ada nelayan di Mentawai, hampir pasti pendatang, kalau enggak orang Minang, orang Batak, atau orang Nias. Penduduk asli Mentawai selalu tinggal di hulu sehingga kami tak mengenal tsunami,&amp;#8221; kata Yosep.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;Namun, masyarakat Mentawai mengenal apa yang disebut sigegeugeu alias gempa bumi. Bahkan, saking seringnya gempa bumi terjadi di Mentawai, penduduk asli pun tahu bagaimana menyikapi fenomena alam tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;&amp;#8221;Orang tua kami dulu selalu mengajarkan, jika ada sigegeugeu, berlindunglah di bawah pohon pisang. Jelas ini agar kami tak terkena batang kayu hutan yang besar,&amp;#8221; kata Yosep.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;Selain itu, sigegeugeu justru dianggap berkah oleh penduduk asli Mentawai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;&amp;#8221;Jika sigegeugeu datang pada pagi hari seperti waktu gempa kemarin, itu bertanda datangnya musim durian. Kami menyebut sigegeugeu yang terjadi di pagi hari sebagai sipananduk. Cek saja sekarang di Mentawai, pasti lagi banyak-banyaknya durian. Kalau gempanya siang atau sore, biasanya itulah waktu kami mencari induat atau sejenis jamur,&amp;#8221; katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;Lalu, bagaimana dengan tsunami yang terjadi setelah gempa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;&amp;#8221;Karena tinggal di hulu sungai, penduduk Mentawai hanya kenal yang namanya oju atau pasang sungai. Kadang kami heran pasangnya sungai bisa sampai ke hulu. Berarti ini limpahan dari muara. Kalau sudah begitu, kami biasa memindahkan permukiman lebih ke hulu lagi,&amp;#8221; kata Yosep. (KHAERUDIN)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='font-family:"inherit","serif"'&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/11/02/03543685/kami.tak.mengenal.tsunami" target="_blank"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/11/02/03543685/kami.tak.mengenal.tsunami&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Reorientasi ASEAN</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2010/11/reorientasi-asean.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Tue, 2 Nov 2010 09:33:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-4335556959648061943</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;div id=ygrp-mlmsg&gt;  &lt;div id=ygrp-msg&gt;  &lt;div id=ygrp-text&gt;  &lt;div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal style='background:white'&gt;&lt;span class=apple-style-span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style='font-size:8.5pt;font-family:"Arial","sans-serif";color:#555555'&gt;Senin, 1 November 2010 |Editorial&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:8.5pt; font-family:"Arial","sans-serif";color:#565656'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class=MsoNormal style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:8.5pt; font-family:"Arial","sans-serif";color:#565656'&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;Pertemuan ke-17 ASEAN di Hanoi, Vietnam, telah berakhir. Salah satu semangat yang berkembang dan menjadi hasil pertemuan itu adalah integrasi regional dan pembangunan komunitas ASEAN.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;Dalam semangat itu telah disepakati&amp;nbsp;&lt;em&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Master Plan on ASEAN Connectivity&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, yang akan menjadi payung kerjasama untuk menghubungkan ASEAN melalui pengembangan infrastruktur (&lt;em&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;physical connectivity&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;), kelembagaan yang efektif (&lt;em&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;institutional&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;), serta pemberdayaan masyarakat (&lt;em&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;people-to-people&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;Dengan rencana-rencana itu, ASEAN dan rekan-rekan negara mitra (Tiongkok, Jepang dan Amerika Serikat) menyatakan tekad untuk meningkatkan kerjasama dalam perdagangan, investasi dan bidang-bidang ekonomi lain untuk terus bergerak ke depan dengan landasan yang semakin kuat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;Tidak ada yang salah dengan integrasi regional dan pembangunan komunitas ASEAN, sepanjang itu ditujukan untuk kesejahteraan seluruh rakyat di kawasan ini dan dilakukan dengan prinsip; kersajama dan solidaritas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;Jika kita melihat kembali sejarah pembentukannya, maka ASEAN diciptakan sebagai tanggul Amerika Serikat dan barat untuk membendung pengaruh apa yang disebut &amp;quot;bahaya merah&amp;quot;&amp;#8212;komunisme. Dengan menjadikan negara-negara ASEAN sebagai mitra strategisnya, AS berupaya mengisolir negara-negara yang dianggap berada di bawah pengaruh merah, terutama sekali: Vietnam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;Pada tahun 1990-an, seiring dengan keruntuhan blok sosialis di Eropa timur dan Sovyet, ASEAN mulai bersikap fleksibel. Pada tahun 1995, Vietnam resmi menjadi anggota ASEAN, lalu disusul oleh Laos, Myanmar (Burma), dan Kamboja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;Namun, kendati banyak pengamat yang menyebut bahwa ASEAN telah berubah haluan, dari anti-komunis menjadi fleksible (regionalism), tetapi kenyataan tidak dapat membantah bahwa ASEAN masih lebih banyak memikul kepentingan ekonomi, politik, dan militer dari imperialisme AS.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;Apa kepentingan AS terhadap Asia Tenggara? Menurut kami, AS terus berusaha menjaga kekuatan hegemoniknya di kawasan ini untuk beberapa tujuan;&amp;nbsp;&lt;em&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;pertama&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, menjadikan ASEAN sebagai front kedua untuk mengisolasi Tiongkok dan Korea Utara, dua negara yang relatif mandiri dari kekuatan imperialisme global.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;Untuk alasan ini, ada benarnya melihat perkataan Bung Karno di pidato pembelaan &amp;quot;Indonesia Menggugat&amp;quot;, yang mengatakan; &amp;quot;Siapa kuasa di Tiongkok, dialah akan kuasa pula di seluruh daerah pasifik. Siapa yang menggenggam rumah tangga di Tiongkok, dialah yang akan menggenggam pula segala urusan rumah tangga seluruh dunia timur, baik tentang ekonomi maupun militer.&amp;quot;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;Untuk tujuan ini, AS masih memelihara hubungan baik dengan beberapa negara mitra lokalnya, seperti Philipina, Thailand, Singapura, Indonesia, dan Malaysia. Sementara di kawasan Asia Timur, AS sangat bersahabat dengan Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;em&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;, peran hegemonik AS di Asia tenggara untuk memastikan atau mengamankan kontrolnya terhadap jalur-jalur perdagangan (selat malaka, sunda, Lombok, Makassar, dan laut Cina selatan&amp;#8212;jalur perdagangan sangat penting di dunia)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;em&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;, menjaga kepentingan &amp;nbsp;perdagangan dan investasi, mengingat bahwa kawasan ini memiliki; sumbe daya alam yang melimpah, tenaga kerja, dan potensi pasar yang besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;Itu pula yang membuat AS tidak bisa meninggalkan kawasan ini, bahkan berencana memperluas pangkalan militernya di kawasan ini. Sekaligus, bahwa sebagian besar negara di kawasan ini sangat tunduk dalam menjalankan agenda dari negeri paman sam, yaitu&amp;nbsp;&lt;em&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;Washington consensus&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;Meskipun kehadiran Tiongkok makin besar di kawasan ini, terutama melalui CAFTA/&lt;em&gt;&lt;span style='font-family:"Arial","sans-serif"'&gt;China-ASEAN Free Trade Agreement&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, namun hal itu belum mematahkan hegemoni AS di kawasan ini. Kerjasama ini masih dalam kerangka neoliberal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;Inilah yang membuat kami agak ragu dengan rencana &amp;quot;komunitas ASEAN&amp;quot; ini. Sebab, tanpa perubahan orientasi yang sangat pro-imperialisme itu, komunitas ASEAN hanya akan menjadi sarana &amp;quot;perdagangan bebas&amp;quot; yang saling membunuh ekonomi masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;ASEAN harus merubah haluan, yakni dari pro-imperialisme menjadi anti-imperialisme, jikalau mau membina kerjasama yang sehat dan damai di kawasan ini. Prinsip kerjasama ala &amp;quot;Washington consensus&amp;quot;, yang mengutamakan kompetisi ketimbang kerjasama saling menguntungkan, mestinya dibuang jauh-jauh. Sudah saatnya kerjasama regional di bangun di atas prinsip kemanusiaan, solidaritas, kesetaraan, dan penghargaan atas kedaulatan nasional masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style='background:white'&gt;&lt;span style='font-size:9.0pt;font-family:"Arial","sans-serif"; color:#111111'&gt;&lt;a href="http://berdikarionline.com/editorial/20101101/reorientasi-asean.html"&gt;&lt;i&gt;http://berdikarionline.com/editorial/20101101/reorientasi-asean.html&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Wood or climate change forestry</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2010/10/wood-or-climate-change-forestry.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Fri, 29 Oct 2010 17:54:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-2555952645157801049</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;div id=ygrp-mlmsg&gt;  &lt;div id=ygrp-msg&gt;  &lt;div id=ygrp-text&gt;  &lt;div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;div id=news-main&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:#1F497D'&gt;JAKARTA POST - &lt;/span&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Much is said about how forestry will be an important part of Indonesia's emission reduction plan.&amp;nbsp; Many in the conservation community believe that the best way to reduce net emissions is to reduce the area of forest harvested for wood products or land cleared for conversion to agriculture or other land uses. &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;On the surface, this sounds like a great idea, but what about the demand? How can we conserve while at the same time meeting the demand for wood and wood products?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Indonesia produces about 35 million cubic meters of legal round wood every year, but consumes substantially more than that — perhaps as much as 50 million cubic meters per year. This leaves a large gap between legal wood supply and demand for wood and wood products — a gap that is equivalent to over 170,000 hectares of selective forest harvest every year. As human population grows and per capita incomes increase, demand for wood and wood products will most likely continue to grow.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Now enters the idea of avoided deforestation and degradation — which means cutting fewer trees at a time when demand for wood is already higher than the legally sanctioned supply. Whether through a moratorium on new concessions or reductions in land cleared for agriculture or estate crops, the plans for reducing net emissions through avoided deforestation will result in decreasing the legal wood supply. &amp;nbsp;&lt;br&gt; It seems clear that taking forest land out of production means lower legal wood supply. This was demonstrated through experience of over the last decade when the selective logging concession area was reduced at the same time demand continued to grow. &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;The result was a gap of some 40 million cubic meters of legal timber and a matching an increase in illegal logging. It is wonderful to hope that forest law enforcement can be improved to reduce illegal logging, yet the practical realities of controlling illegal logging are stark – it is very difficult to control illegal logging when there is not enough legal timber in the marketplace. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;This is even more important as people's use of wood and paper products continues to grow as population and incomes both increase. The ultimate driver of forest loss and conversion of forest land to other land uses is a hunger for forest products and land for agriculture. These drivers are unlikely to change in the short-term.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Sustainable forest plantations on degraded lands can provide rural livelihoods, help meet future wood requirements and provide direct and indirect climate change benefits. Increasing the wood supply from such plantations is a key part of the legal wood supply picture — but these plantations need to come on line before other reductions are made in production from natural forest. Otherwise illegal harvest will increase as the legal harvests decrease.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;So does a reduction in legal wood supply result in lower emissions from forest land use?&amp;nbsp; Probably not. Illegal supplies will replace legal supplies and similar quantities of wood will be used. &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;It is clear that trying to reduce net emissions from natural forests will only be effective at the national level if wood supply needs are met first. Until then, a reduction in legal supplies will not result in significant net emission reductions — it will only provide market incentives for an increase in illegal logging.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style='color:black'&gt;&lt;br&gt; &lt;strong&gt;The writer is International Finance Corporation (IFC) program manager for Sustainable Forestry Program in Indonesia.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style='color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;&lt;span style='color:black'&gt;-The Jakarta Post, October 29, 2010, page 7-&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style='color:#1F497D'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sistem Peringatan Dini Tsunami Tidak Memadai</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2010/10/sistem-peringatan-dini-tsunami-tidak.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Thu, 28 Oct 2010 22:48:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-2389662816552977681</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;div id=ygrp-mlmsg&gt;  &lt;div id=ygrp-msg&gt;  &lt;div id=ygrp-text&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Jakarta, Kompas - Sistem peringatan dini bencana tsunami di Indonesia masih lemah, terutama dalam proses penyebarluasan peringatan dini kepada masyarakat. Penyebarluasan peringatan dini melalui televisi tidak menjangkau pulau terpencil dan kecil. Keterampilan masyarakat mengantisipasi bencana menentukan dalam upaya penurunan risiko timbulnya korban dalam bencana tsunami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Manajer Desk Bencana Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Irhash Ahmady menyatakan, kekeliruan informasi potensi tsunami di Kabupaten Kepulauan Mentawai pada Senin (25/10) menunjukkan keterbatasan sistem peringatan dini berbasis teknologi. Irhash juga menyatakan, sulit memastikan peringatan dini melalui televisi, misalnya, dapat diketahui masyarakat yang tinggal di pulau terpencil yang berpotensi tsunami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;"Keterbatasan itu bisa diatasi jika masyarakat di daerah rawan bencana memiliki keterampilan mengantisipasi tsunami. Keterampilan itu sebenarnya ada dalam kearifan lokal di setiap wilayah. Dahulu masyarakat pesisir tahu, jika pantai surut mendadak orang harus lari ke bukit. Kini pengetahuan lokal itu telah terkikis. Sementara sistem peringatan dini modern masih sulit mencegah timbulnya korban," kata Irhash.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Moch Riyadi menjelaskan, pemerintah daerah menjadi penentu dalam menyebarluaskan peringatan dini potensi tsunami kepada masyarakat luas. Dalam kasus tsunami Kabupaten Kepulauan Mentawai, Senin lalu, peringatan dini potensi tsunami dikeluarkan BMKG empat menit setelah gempa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;"Informasi itu kami sebarkan melalui berbagai moda komunikasi, seperti layanan pesan singkat melalui telepon seluler, faksimile, server, juga kepada pemerintah daerah melalui digital video broadcast. Namun, kami tidak tahu apakah peringatan dini itu sampai kepada masyarakat di bawah," kata Riyadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Kuncinya kearifan lokal&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style='color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Pakar tsunami yang juga Direktur Pesisir dan Lautan Kementerian Kelautan dan Perikanan Subandono Diposaptono pun menegaskan, antisipasi tsunami tidak bisa ditumpukan hanya kepada sistem peringatan dini berbasis teknologi. "Di Mentawai, tsunami biasanya sampai ke pantai lima menit setelah gempa. Peringatan dini menjadi tidak relevan lagi. Kuncinya memang pada kearifan lokal, seperti kearifan smong di Pulau Simeulue, Aceh. Intinya, kalau ada gempa keras langsung ke bukit, tidak perlu lihat pantai surut atau tidak atau tunggu peringatan dini," kata Subandono.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Subandono menyatakan, dari 22 buoy tsunami yang direncanakan, baru tiga buoy yang telah terpasang dan kini ketiganya tidak berfungsi karena dirusak atau dicuri. Irhash menyatakan, pencurian komponen buoy oleh nelayan menunjukkan nelayan tidak memahami apa fungsi buoy. "Itu terjadi karena nelayan tidak merasa terlibat dalam sistem peringatan dini tsunami dan manfaatnya bagi mereka," kata Irhash.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Arief Yuwono menyatakan, ilmu pengetahuan dan pengetahuan lokal harus dipadukan menjadi keterampilan antisipasi tsunami. "Kearifan lokal itu harus digali lagi," kata Arief.&lt;br&gt; &lt;br&gt; -Sumber: Kompas, 28 Oktober 2010, Halaman 12-&lt;/span&gt;&lt;span style='color:white'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Diingatkan, Pengelolaan Hutan Mesti Libatkan Komunitas</title><link>http://syafrudin-syafii.blogspot.com/2010/10/diingatkan-pengelolaan-hutan-mesti.html</link><author>noreply@blogger.com (Syafrudin Syafii)</author><pubDate>Tue, 26 Oct 2010 12:34:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6823765844381305341.post-6875971749506927356</guid><description>&lt;div class=Section1&gt;  &lt;div id=ygrp-mlmsg&gt;  &lt;div id=ygrp-msg&gt;  &lt;div id=ygrp-text&gt;  &lt;div&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Jakarta, Kompas - Wakil Presiden Boediono menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dan komunitas lokal di sekitar hutan dalam proyek kerja sama pengelolaan hutan. Sementara itu, tahap institusionalisasi dari kerja sama Indonesia-Norwegia dalam kerangka REDD-Plus ditargetkan selesai akhir tahun ini.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt; color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Juru Bicara Wakil Presiden Yopie Hidayat mengemukakan hal itu seusai pertemuan Wapres Boediono dengan Menteri Lingkungan Hidup Norwegia Erik Solheim di Istana Wapres, Jakarta, Senin (25/10).&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Norwegia-Indonesia telah menandatangani letter of intent untuk mengurangi emisi karbon dari hutan Indonesia. Untuk itu Indonesia merencanakan menerapkan moratorium penebangan hutan. Sementara Norwegia menjanjikan memberikan hibah 1 miliar dollar AS jika target tercapai.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;"Sekarang sampai tahap institusionalisasi. Dalam kerja sama ini perlu diatur secara teknis bagaimana mekanisme penyaluran dana, institusi mana yang mengajukan, dan apa kriteria-kriterianya," ujar Yopie.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Menurut dia, Wapres menekankan pentingnya tahapan institusionalisasi karena Indonesia ingin proyek pengelolaan hutan itu nanti dijalankan secara komprehensif. "Misalnya ada satu area yang dikerjasamakan, tentu saja pelibatan gubernur dan bupati krusial karena modelnya melibatkan pemerintahan lokal, kalau perlu ke level komunitas yang tinggal di sekitar hutan, untuk sama-sama menjaga hutan," ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size: 14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Yopie menjelaskan, tahap institusionalisasi ditargetkan selesai sebelum akhir tahun. Pemerintah Indonesia dan Norwegia berencana mengumumkan secara konkret pola kerja sama kedua negara ini pada Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Cancun, Meksiko, 29 November-10 Desember 2010.&lt;/span&gt;&lt;span style='font-size:14.0pt;color:black'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=MsoNormal&gt;&lt;span style='color:black'&gt;Indonesia berharap model kerja sama itu bisa diperluas, tak hanya melibatkan Norwegia. Menurut Yopie, Amerika Serikat menyampaikan ketertarikannya mengikuti model kerja sama Indonesia-Norwegia. Dalam kerja sama ini, jika hasil moratorium tak bisa diukur, tak bisa dilaporkan, dan tak bisa diverifikasi, hibah tak bisa dikucurkan.&lt;br&gt; &lt;br&gt; -Sumber: Kompas, 26 Oktober 2010-&lt;/span&gt;&lt;span style='color:white'&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>