<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645</id><updated>2026-05-28T19:25:30.449-07:00</updated><title type='text'>URURUREAOKA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-4412898712957129079</id><published>2011-12-04T10:41:00.000-08:00</published><updated>2011-12-04T10:41:52.784-08:00</updated><title type='text'>PELACURAN ANAK</title><content type='html'>Sekurangnya 150.000 anak Indonesia menjadi korban pelacuran anak dan pornografi tiap tahun. Angka itu meningkat 100 persen lebih dari statistik badan PBB, Unicef tahun 1998 yang mencatat sekitar 70.000 anak Indonesia menjadi korban pelacuran dan pornografi. Berdasarkan data ILO, pada 2002-2006 ditemukan sebanyak 165 ribu pelacur sekitar 30 persennya atau 49 ribu jiwa adalah anak di bawah usia 18 tahun.&lt;br /&gt;
Koordinator Koalisi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) Ahmad Sofian yang menjelaskan, 70 persen anak yang jadi korban berusia antara 14 tahun dan 16 tahun. Kejahatan yang menimpa mereka bervariasi, dari sindikat pelacuran, pedofilia, pornografi dan sebagainya. &lt;br /&gt;
Jumlah pelacur anak di kota besar Indonesia mencapai angka ribuan orang. Di Jakarta diperkirakan sekurangnya ada 10.000. Sedangkan mereka yang ditemukan di Sumatera Utara sebanyak 1.500 anak. Jumlah lebih kecil dari kenyataan karena pelacuran anak merupakan fenomena gunung es. &lt;br /&gt;
Muhammad Jailani, Direktur Eksekutif Kelompok Kerja Sosial Perkotaan, mengatakan, data tersebut masih merupakan jumlah sebagian yang sempat terdata. Jumlah pasti pelacur anak diperkirakan lebih besar dibanding angka yang sudah ditemukan&lt;br /&gt;
Tarif kencan pelacur anak lebih tinggi ketimbang pelacur dewasa bahkan mahasiswi. Sofian menjelaskan, tarif kencan pelacur anak Rp 400.000 hingga Rp 1,5 juta. Mereka terjun ke pelacuran karena materialisme dan mengikuti gaya hidup mewah.&lt;br /&gt;
Jaringan pelacuran anak di kalangan siswi sekolah memiliki database dan daftar nomor telepon pelacur anak. Kondisi itu terjadi merata di kota-kota besar. Kota-kota yang menjadi pusat ESKA adalah Batam, Bali, Jakarta, Surabaya, Medan, dan tiga kota berdekatan, yakni Yogyakarta, Semarang, dan Solo. Anak-anak itu juga kerap diselundupkan ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Jepang dengan pelbagai modus.&lt;br /&gt;
Ahmad Taufan Damanik, Ketua Yayasan KKSP (Kelompok Kerja Sosial Perkotaan) yang berbasis di Medan menyatakan, persoalan anak yang dilacurkan umumnya terjadi di perkotaan. Mereka sebagian besar berasal dari daerah-daerah yang datang ke kota karena iming-iming penghasilan lumayan, tapi dijerumuskan jadi pekerja seks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukum lemah&lt;br /&gt;
Menurut Jailani, Direktur Eksekutif Kelompok Kerja Sosial Perkotaan, penanganan anak yang dilacurkan di Indonesia masih setengah hati dibandingkan negara-negara lain. Di Sumatera Utara pelarangan tidak diikuti dengan intrumen pelaksana serta anggaran yang cukup.&lt;br /&gt;
Eddie Imanuel Doloksaribu dari Lembaga Penelitian Atma Jaya Jakarta menjelaskan, laporan-laporan lembaga advokasi atas kasus ESKA tidak dapat ditindaklanjuti karena ketentuan hukum yang ada belum mengatur, termasuk pada Undang-Undang Anti Pornografi dan Porno Aksi yang baru saja disetujui DPR. &lt;br /&gt;
Di negara lain eksploitasi seksual atas anak diganjar hukuman keras. Semisal dua warga negara Indonesia yang ditangkap di Melbourne, Australia, diancam hukuman hingga 10 tahun dan denda Rp 2,3 miliar karena terlibat ESKA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas Sejarah Pelacuran di Indonesia&lt;br /&gt;
Pelacuran telah terjadi sepanjang sejarah manusia. Namun menelusuri sejarah pelacuran di Indonesia dapat dirunut mulai dari masa kerajaan-kerajaan Jawa, di mana perdagangan perempuan di pada saat itu merupakan bagian pelengkap dari sistem pemerintahan feodal (Hull; 1997:1-22). Dua kerajaan yang sangat lama berkuasa di Jawa berdiri tahun 1755 ketika kerajaan Mataram terbagi dua menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanana Yogyakarta. Mataram merupakan kerajaan Islam Jawa yang terletak di sebelah selatan Jawa Tengah. Pada masa itu, konsep kekuasaan seorang raja digambarkan sebagai kekuasaan yang sifatnya agung dan mulia (binatara). Kekuasaan raja Mataram sangat besar. Mereka seringkali dianggap menguasai segalanya, tidak hanya tanah dan harta benda, tetapi juga nyawa hamba sahaya. Anggapan ini apabila dikaitkan dengan eksistensi perempuan saat ini mempunyai arti tersendiri.&lt;br /&gt;
Raja mempunyai kekuasaan penuh. Seluruh yang ada di atas Jawa, bumi dan seluruh kehidupannya, termasuk air, rumput, daun, dan segala sesuatunya adalah milik raja. Tugas raja pada saat itu adalah menetapkan hukum dan menegakkan keadilan; dan semua orang diharuskan mematuhinya tanpa terkecuali. Kekuasaan raja yang tak terbatas ini juga tercermin dari banyaknya selir yang dimilikinya. Beberapa orang selir tersebut adalah puteri bangsawan yang diserahkan kepada raja sebagai tanda kesetiaan. Sebagian lagi merupakan persembahan dari kerajaan lain, ada juga selir yang berasal dari lingkungan keluarganya dengan maksud agar keluarga tersebut mempunyai keterkaitan dengan keluarga istana. &lt;br /&gt;
Sebagian selir raja ini dapat meningkat statusnya karena melahirkan anak-anak raja. Perempuan yang dijadikan selir tersebut berasal dari daerah tertentu yang terkenal banyak mempunyai perempuan cantik dan memikat. Reputasi daerah seperti ini masih merupakan legenda sampai saat ini. Koentjoro (1989:3) mengidentifikasi 11 kabupaten di Jawa yang dalam sejarah terkenal sebagai pemasok perempuan untuk kerajaan; dan sampai sekarang daerah tersebut masih terkenal sebagai sumber wanita pelacur untuk daerah kota. Daerah-daerah tersebut adalah Kabupaten Indramayu, Karawang, dan Kuningan di Jawa Barat; Pati, Jepara, Grobogan dan Wonogiri di Jawa Tengah; serta Blitar, Malang, Banyuwangi dan Lamongan di Jawa Timur. Kecamatan Gabus Wetan di Indramayu terkenal sebagai sumber pelacur; dan menurut sejarah daerah ini merupakan salah satu sumber perempuan muda untuk dikirim ke istana Sultan Cirebon sebagai selir. (Hull, at al. 1997:2).&lt;br /&gt;
Makin banyaknya selir yang dipelihara, menurut Hull, at al. (1997:2) bertambah kuat posisi raja di mata masyarakat. Dari sisi ketangguhan fisik, mengambil banyak selir berarti mempercepat proses reproduksi kekuasaan para raja dan membuktikan adanya kejayaan spiritual. Hanya raja dan kaum bangsawan dalam masyarakat yang mempunyai selir. Mempersembahkan saudara atau anak perempuan kepada bupati atau pejabat tinggi merupakan tindakan yang didorong oleh hasrat untuk memperbesar dan memperluas kekuasaan, seperti tercermin dari tindakan untuk memperbanyak selir. Tindakan ini mencerminkan dukungan politik dan keagungan serta kekuasaan raja. Oleh karena itu, status perempuan pada zaman kerajaan Mataram adalah sebagai upeti (barang antaran) dan sebagai selir. &lt;br /&gt;
Perlakuan terhadap perempuan sebagai barang dagangan tidak terbatas hanya di Jawa, kenyataan juga terjadi di seluruh Asia, di mana perbudakan, sistem perhambaan dan pengabdian seumur hidup merupakan hal yang biasa dijumpai dalam sistem feodal. Di Bali misalnya, seorang janda dari kasta rendah tanpa adanya dukungan yang kuat dari keluarga, secara otomatis menjadi milik raja. Jika raja memutuskan tidak mengambil dan memasukkan dalam lingkungan istana, maka dia akan dikirim ke luar kota untuk menjadi pelacur. Sebagian dari penghasilannya harus diserahkan kepada raja secara teratur (ENI, dalam Hull; 1997:3).&lt;br /&gt;
Bentuk industri seks yang lebih terorganisasi berkembang pesat pada periode penjajahan Belanda (Hull; 1997:3). Kondisi tersebut terlihat dengan adanya sistem perbudakan tradisional dan perseliran yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan seks masyarakat Eropa. Umumnya, aktivitas ini berkembang di daerah-daerah sekitar pelabuhan di Nusantara. Pemuasan seks untuk para serdadu, pedagang, dan para utusan menjadi isu utama dalam pembentukan budaya asing yang masuk ke Nusantara.&lt;br /&gt;
Dari semula, isu tersebut telah menimbulkan banyak dilema bagi penduduk pribumi dan non-pribumi. Dari satu sisi, banyaknya lelaki bujangan yang dibawa pengusaha atau dikirim oleh pemerintah kolonial untuk datang ke Indonesia, telah menyebabkan adanya permintaan pelayanan seks ini. Kondisi tersebut ditunjang pula oleh masyarakat yang menjadikan aktivitas memang tersedia, terutama karena banyak keluarga pribumi yang menjual anak perempuannya untuk mendapatkan imbalan materi dari para pelanggan baru (para lelaki bujangan) tersebut. Pada sisi lain, baik penduduk pribumi maupun masyarakat kolonial menganggap berbahaya mempunyai hubungan antar ras yang tidak menentu. Perkawinan antar ras umumnya ditentang atau dilarang, dan perseliran antar ras juga tidak diperkenankan. Akibatnya hubungan antar ras ini biasanya dilaksanakan secara diam-diam. Dalam hal ini, hubungan gelap (sebagai suami-istri tapi tidak resmi) dan hubungan yang hanya dilandasi dengan motivasi komersil merupakan pilihan yang tersedia bagi para lelaki Eropa. Perilaku kehidupan seperti ini tampaknya tidak mengganggu nilai-nilai sosial pada saat itu dan dibiarkan saja oleh para pemimpin mereka. (Hull; 1997:4).&lt;br /&gt;
Situasi pada masa kolonial tersebut membuat sakit hati para perempuan Indonesia, karena telah menempatkan mereka pada posisi yang tidak menguntungkan secara hukum, tidak diterima secara baik dalam masyarakat, dan dirugikan dari segi kesejahteraan individu dan sosial. Maka sekitar tahun 1600-an, pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang keluarga pemeluk agama Kristen mempekerjakan wanita pribumi sebagai pembantu rumah tangga dan melarang setiap orang mengundang perempuan baik-baik untuk berzinah. Peraturan tersebut tidak menjelaskan apa dan mana yang dimaksud dengan perempuan “baik-baik”. Pada tahun 1650, “panti perbaikan perempuan” (house of correction for women) didirikan dengan maksud untuk merehabilitasi para perempuan yang bekerja sebagai pemuas kebutuhan seks orang-orang Eropa dan melindungi mereka dari kecaman masyarakat. Seratus enam belas tahun kemudian, peraturan yang melarang perempuan penghibur memasuki pelabuhan “tanpa izin” menunjukkan kegagalan pelaksanaan rehabilitasi dan juga sifat toleransi komersialisasi seks pada saat itu (ENOI, dalam Hull; 1997:5).&lt;br /&gt;
Tahun 1852, pemerintah mengeluarkan peraturan baru yang menyetujui komersialisasi industri seks tetapi dengana serangkaian aturan untuk menghindari tindakan kejahatan yang timbul akibat aktivitas prostitusi ini. Kerangka hukum tersebut masih berlaku hingga sekarang. Meskipun istilah-istilah yang digunakan berbeda, tetapi hal itu telah memberikan kontribusi bagi penelaahan industri seks yang berkaitan dengan karakteristik dan dialek yang digunakan saat ini. Apa yang dikenal dengan wanita tuna susila (WTS) sekarang ini, pada waktu itu disebut sebagai “wanita publik” menurut peraturan yang dikeluarkan tahun 1852. Dalam peraturan tersebut, wanita publik diawasi secara langsung dan secara ketat oleh polisi (pasal 2). Semua wanita publik yang terdaftar diwajibkan memiliki kartu kesehatan dan secara rutin (setiap minggu) menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi adanya penyakit syphilis atau penyakit kelamin lainnya (pasal 8, 9, 10, 11).&lt;br /&gt;
Jika seorang perempuan ternyata berpenyakit kelamin, perempuan tersebut harus segera menghentikan praktiknya dan harus diasingkan dalam suatu lembaga (inrigting voor zieke publieke vrouwen) yang didirikan khusus untuk menangani perempuan berpenyakit tersebut. Untuk memudahkan polisi dalam menangani industri seks, para wanita publik tersebut dianjurkan sedapat mungkin melakukan aktivitasnya di rumah bordil. Sayangnya peraturan perundangan yang dikeluarkan tersebut membingungkan banyak kalangan pelaku di industri seks, termasuk juga membingungkan pemerintah. Untuk itu pada tahun 1858 disusun penjelasan berkaitan dengan peraturan tersebut dengan maksud untuk menegaskan bahwa peraturan tahun 1852 tidak diartikan sebagai pengakuan bordil sebagai lembaga komersil. Sebaliknya rumah pelacuran diidentifikasikan sebagai tempat konsultasi medis untuk membatasi dampak negatif adanya pelacuran. Meskipun perbedaan antara pengakuan dan persetujuan sangat jelas bagi aparat pemerintah, tapi tidak cukup jelas bagi masyarakat umum dan wanita publik itu sendiri. (Hull; 1997:5-6).&lt;br /&gt;
Dua dekade kemudian tanggung jawab pengawasan rumah bordil dialihkan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Peraturan pemerintah tahun 1852 secara efektif dicabut digantikan dengan peraturan penguasa daerah setempat. Berkaitan dengan aktivitas industri seks ini, penyakit kelamin merupakan persoalan serius yang paling mengkhawatirkan pemerintah daerah. Tetapi terbatasnya tenaga medis dan terbatasnya alternatif cara pencegahan membuat upaya mengurangi penyebaran penyakit tersebut menjadi sia-sia (ENOI dalam Hull; 1997:6).&lt;br /&gt;
Pengalihan tanggung jawab pengawasan rumah bordil ini menghendaki upaya tertentu agar setiap lingkungan permukiman membuat sendiri peraturan untuk mengendalikan aktivitas prostitusi setempat. Di Surabaya misalnya, pemerintah daerah menetapkan tiga daerah lokalisasi di tiga desa sebagai upaya untuk mengendalikan aktivitas pelacuran dan penyebaran penyakit kelamin. Selain itu, para pelacur dilarang beroperasi di luar lokalisasi tersebut. Semua pelacur di lokalisasi ini terdaftar dan diharuskan mengikuti pemeriksaan kesehatan secara berkala (Ingleson dalam Hull; 1997:6).&lt;br /&gt;
Tahun 1875, pemerintah Batavia (kini Jakarta), mengeluarkan peraturan berkenaan dengan pemeriksaan kesehatan. Peraturan tersebut menyebutkan, antara lain bahwa para petugas kesehatan bertanggung jawab untuk memeriksa kesehatan para wanita publik. Para petugas kesehatan ini pada peringkat kerja ketiga (tidak setara dengan eselon III zaman sekarang yaitu kepala biro pada organisasi pemerintahan) mempunyai kewajiban untuk mengunjungi dan memeriksa wanita publik pada setiap hari Sabtu pagi. Sedangkan para petugas pada peringkat lebih tinggi (peringkat II) bertanggung jawab untuk mengatur wadah yang diperuntukkan bagi wanita umumnya yang sakit dan perawatan lebih lanjut. Berdasarkan laporan pada umumnya meskipun telah dikeluarkan banyak peraturan, aktivitas pelacuran tetap saja meningkat secara drastis pada abad ke-19, terutama setelah diadakannya pembenahan hukum agraria tahun 1870, di mana pada saat itu perekonomian negara jajahan terbuka bagi para penanam modal swasta (Ingleson dalam Hull; 1997:6).&lt;br /&gt;
Perluasan areal perkebunan terutama di Jawa Barat, pertumbuhan industri gula di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pendirian perkebunan-perkebunan di Sumatera dan pembangunan jalan raya serta jalur kereta api telah merangsang terjadinya migrasi tenaga kerja laki-laki secara besar-besaran. Sebagian besar dari pekerja tersebut adalah bujangan yang akan menciptakan permintaan terhada aktivitas prostitusi. Selama pembanguna kereta api yang menghubungkan kota-kota di Jawa seperti Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Cilacap, Yogyarakta dan Surabaya tahun 1884, tak hanya aktivitas pelacuran yang timbul untuk melayani para pekerja bangunan di setiap kota yang dilalui kereta api, tapi juga pembangunan tempat-tempat penginapan dan fasilitas lainnya meningkat bersamaan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan konstruksi jalan kereta api. Oleh sebab itu dapat dimengerti mengapa banyak kompleks pelacuran tumbuh di sekitar stasiun kereta api hampir di setiap kota. Contohnya di Bandung, kompleks pelacuran berkembang di beberapa lokasi di sekitar stasiun kereta api termasuk Kebonjeruk, Kebontangkil, Sukamanah, dan Saritem.&lt;br /&gt;
Hull juga menambahkan, (1997:7) di Yogyakarta, kompleks pelacuran didirikan di daerah Pasarkembang, Balongan, dan Sosrowijayan. Di Surabaya, kawasan pelacuran pertama adalah di dekat Stasiun Semut dan di dekat pelabuhan di daerah Kremil, Tandes, dan Bangunsari. Sebagian besar dari kompleks pelacuran ini masih beroperasi sampai sekarang, meskipun peranan kereta api sebagai angkutan umum telah menurun dan keberadaan tempat-tempat penginapan atau hotel-hotel di sekitar stasiun kereta api juga telah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&lt;br /&gt;
www.tempointeraktif.com&lt;br /&gt;
http://www.kompas.com&lt;br /&gt;
http://akhmadsudrajat.wordpress.com</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/4412898712957129079/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/12/pelacuran-anak.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/4412898712957129079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/4412898712957129079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/12/pelacuran-anak.html' title='PELACURAN ANAK'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-5719043940018348224</id><published>2011-12-04T10:34:00.000-08:00</published><updated>2011-12-04T10:34:23.391-08:00</updated><title type='text'>GENDER DAN IKLAN</title><content type='html'>Dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari, secara sadar atau tidak sadar, sengaja atupun tidak sengaja kita melihat iklan yang melakukan atau menunjukan diskriminasi gender. Media massa yang perkembangannya makin lama makin cepat menjadi kunci penting penanaman ideologi yang ada dalam masyarakat. Iklan-iklan tersebut tidak hanya berusaha mempengaruhi pihak konsumen untuk menggunakan produk tersebut tetapi juga sarat akan bias gender.&lt;br /&gt;
Dalam penyampaian pesannya iklan selalu menyesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat yang menjadi sasaran produk tersebut. Kondisi masyarakat yang slalu menganggap pria lebih tinggi status sosialnya dari perempuan mau tidak mau, suka tidak suka akan membuat pihak pembuat iklan harus tunduk dan patuh terhadap aturan yang berlaku dalam masyarakat apabila ingin merebut simpati mereka terhadap produk yang ditawarkan.&lt;br /&gt;
Hampir setiap iklan saat ini selalu mengaitkan watak ikon yang mempunyai citra dalam pengiklanannya. Kecenderungan untuk membentuk image dan pertukaran nilai semakin memacu kreativitas para pembuat iklan agar bagaimana nilai dari produk tersebut dapat menarik selera atau menciptakan kebutuhan akan suatu komoditi. Para desainer iklan akan membuat iklan suatu produk seperti terlihat natural, kesatuan tanda yang diambil dari simbol-simbol sosial, serta nilai-nilai budaya yang ada dimasyarakat. Dari upaya membentuk citra inilah yang kemudian ditafsirkan menyentuh bias-bias gender.&lt;br /&gt;
Perubahan iklan kadang muncul dalam visualisasinya sebagai konsekuensiuntuk menjabarkan citra suatu komoditi agar dapat bersaing dengan produk kompetitor, dan juga sebagai ujung tombak daya tarik iklan. Pemahaman daya tarik (awareness) ini pun sering pula menjadi permasalahan para desainer iklan ketika membuat iklan sebuah komoditi yang mempunyai jumlah pesaing relatif banyak. Sehingga daya tarik serta citra telah menjadi fenomena yang tidak dapat terelakkan dalam merancang sebuah iklan. Kecenderungan yang kemudian tampak dalam visualisasi iklan adalah menempatkan obyek-obyek pilihan yang diakui sebagai ikon yang dapat diposisikan menempati urutan atas daya tarik visualisasi representasi iklan. &lt;br /&gt;
Perempuan sering menjadi alternatif pilihan sebagai obyek yang dapat menciptakan daya tarik serta merefleksikan citra. Bisa dilihat bahwa hanya untuk mengiklankan sebuah produk elektronik seperti televisi, perempuan pun di-casting dengan kostum yang agak sensual, atau bahkan ada representasi iklan televisi yang menampakkan perempuan dengan pakaian serba ketat serta dengan tarian yang erotik dimunculkan sebagai pendamping produk. Ada pula iklan permen yang diidentikkan dengan sebuah tarian tango, yang menampakkan perempuan dengan berbagai pose erotis.&lt;br /&gt;
Perempuan memang telah menjadi fenomena komoditas yang tak terelakkan dalam kancah komunikasi iklan. Perempuan telah menjadi sarana bagi daya tarik terhadap aktualisasi nilai produk. Sebuah produk yang pada kenyataannya mempunyai fungsi yang umum, telah dikomunikasikan tidak lagi bersifat fungsional tetapi sudah bergeser ke arah konsep gender. Femininitas seringkali menjadi ajang untuk membuat produk mempunyai nilai tertentu. ‘jantan’, ‘maskulin’, ‘eksklusif’, Pemberani telah menjadi idiom yang dimiliki oleh komoditi seperti rokok,suplemen, parfum, jamu/obat kuat lelaki, otomotif, dan lain sebagainya. Sedangkan sabun, shampoo, peralatan rumah tangga dan dapur sampai elektronik sering pula diartikan sebagai komoditi yang dekat dengan wilayah femininitas.&lt;br /&gt;
Perempuan saat ini sudah dijerumuskan lewat iklan. Perempuan dalam iklan telah menjadi korban kapitalisme yang dibelakangnya mengandung budaya patriakal semata. &lt;br /&gt;
Solusi&lt;br /&gt;
• Perempuan harus ditingkatkan kemampuan dengan cara meningkatkan ketrampilan, pengetahuan dan akses mereka terhadap teknologi informasi. Hal tersebut akan memperkuat kemampuan mereka untuk menghadapi gambaran-gambaran negatif tentang perempuan di media massa baik secara nasional maupun international, karena kebanyakan perempuan, terutama di negara-negara berkembang tidak mampu mengakses secara efektif jalur-jalur informasi elektronik yang semakin berkembang luas. &lt;br /&gt;
• Penggambaran citra perempuan yang negatif dan merendahkan secara terus menerus dalam media massa elektronik, cetak dan audio visual harus diubah. Media cetak dan elektronik dikebanyakan negara tidak memberikan gambaran yang seimbang tentang kehidupan dan sumbangsih perempuan kepada masyarakat. Selain itu juga produk-produk media massa yang penuh kekerasan dan menurunkan martabat perempuan atau bersifat pornografi juga membawa dampak negatif terhadap perempuan. &lt;br /&gt;
• Penempatan perempuan dalam suatau perfilman, periklanan dan sebagai hibur&lt;br /&gt;
an dalam penayangan televisi acapkali menyuguhkan bentuk pelecehan tersembunyi terhadap perempuan.&lt;br /&gt;
• Untuk menyikapi berbagai pemberitaan dan tayangan yang tidak berperspektif &lt;br /&gt;
Gender pemerintah dan insan media massa sudah berusaha untuk memperbaiki citranya. &lt;br /&gt;
• Mendorong media massa untuk menahan diri dan tidak menampilkan perempuan sebagai insan yang lemah dan menggunakan perempuan sebagai obyek dan komoditas seks. Sebaliknya media massa diharapkan mampu menampilkan perempuan sebagai insan yang kreatif, sebagai pelaku dan penyumbang utama dalam pembangunan serta penerima manfaat dari proses pembangunan. &lt;br /&gt;
• Meningkatkan kampanye secara luas dengan menggunakan program-program pendidikan umum dan swasta untuk memperluas informasi dan meningkatkan kesadaraan hak-hak perempuan. &lt;br /&gt;
• Mengadakan pelatihan media massa yang berperspektif gender bagi tenaga profesional media massa termasuk para pemilik dan pengelola media massa.&lt;br /&gt;
Untuk mendorong dihasilkannya kreasi-kreasi/produk media yang berperspektif gender. &lt;br /&gt;
• Mengajukan konsep yang mampu menggambarkan bahwa stereotipe-stereotipe wanita yang ditampilkan dalam media adalah diskriminatif terhadap gender serta menurunkan martabat dan merupakan penghinaan. &lt;br /&gt;
• Mengambil tindakan efektif atau melembagakan tindakan –tindakan semacam itu, termasuk melakukan tindakan hukum terhadap pornografi dan penonjolan kekerasan terhadap wanita dan anak-anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&lt;br /&gt;
frderikus-fandi.blogspot.com&lt;br /&gt;
puslit.petra.ac.id&lt;br /&gt;
www.menegpp.go.id</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/5719043940018348224/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/12/gender-dan-iklan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/5719043940018348224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/5719043940018348224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/12/gender-dan-iklan.html' title='GENDER DAN IKLAN'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-6733869394153759185</id><published>2011-10-23T22:00:00.003-07:00</published><updated>2011-12-04T11:02:27.594-08:00</updated><title type='text'>BEHAVIOR THERAPY</title><content type='html'>Perkenalan&lt;br /&gt;
 Behaviour therapy adalah sebuah pendekatan secara klinis yang dapat dipakai untuk mengobati bermacam-macam gangguan, dalam berbagai tempat dan berbagai macam kelompok populasi sosial. Gangguan kecemasan, depresi, penyalahgunaan zat, gangguan makan, kekerasan dalam rumah tangga, penyimpangan seksual, manajemen penderitaan, dan hipertensi semuanya telah berhasil diobati dengan memakai pendekatan ini. &lt;br /&gt;
Prosedur perilaku ini digunakan pada beberapa area termasuk pengembangan ketidakmampuan, sakit mental, pendidikan dan special pendidikan, komunitas psikologi, psikologi klinis, rehabilitasi, bisnis, manajemen diri, psikologi olahraga, hubungan perilaku yang sehat, dan gerontology.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Latar belakang&lt;br /&gt;
 Pada tahun 1960 Albert Bandura mengembangkan teori pembelajaran sosial yang mengkombinasikan classical dan operant conditioning dengan observational learning. Sejak tahun 1970anlah behaviour therapy terbukti sebagai sebuah kekuatan utama dalam psikologi dan membuat pengaruh yang signifikan pada pendidikan, psikologi, psikoterapi, psikiatri, dan pekerjaan sosial. Teknik-teknik perilaku dikembangkan dan diperluas dan teknik-teknik tersebut juga dipakai pada bidang-bidang seperti bisnis, industri, dan membesarkan anak. Pendekatan ini sekarang dipandang sebagai pilihan perlakuan untuk berbagai masalah psikologi.&lt;br /&gt;
 Pada tahun 1980an dicirikan dengan sebuah penelitian untuk pembaharuan dimasa mendatang dalam konsep dan metode-metode yang akan melebihi teori pembelajaran tradisional. &lt;br /&gt;
Pada akhir tahun 1990an, behaviour therapy ditandai oleh adanya perbedaan sudut pandang dan prosedur, tetapi semua pelaksanaannya terfokus pada perilaku yang tampak, faktor-faktor yang menentukan perilaku, pengalaman-pengalaman pembelajaran untuk memajukan perubahan, dan penilaian serta evaluasi yang setepat-tepatnya.&lt;br /&gt;
4 Area Perkembangan&lt;br /&gt;
1. Classical Conditioning&lt;br /&gt;
Classical conditioning melihat perilaku tertentu responden, seperti lutut tersentak dan saliva, keduanya diperoleh dari organisme yang pasif. Pada tahun 1950an, Joseph Wolpe dan Arnold Lazarus serta Hans Eysenck mulai menggunakan penemuan-peneuan penelitian eksperimental dengan memakai hewan-hewan untuk membantu menangani phobia ditempat-tempat klinis. Pekerjaan mereka berdasarkan pada teori belajar Hulian dan Pavlovian (classical) Conditioning.&lt;br /&gt;
Tokoh utama adalah Ivan Pavlov, yaitu yang mengilustrasikan classical conditioning yang bereksperimen dengan anjing. Ketika makanan dikeluarkan, mulut anjing mengeluarkan air liur yang merupakan perilaku responden. Ketika makanan dimunculkan secara berulang-ulang dengan diikuti suara bel, kemungkinan anjing akan mengeluarkan air liurnya untuk suara dari bel itu sendiri. Bagaimanapun juga, jika bel dibunyikan berulang kali tapi tidak dipasangkan lagi dengan makanan, respon air liur stidaknya akan berkurang dan menjadi hilang.&lt;br /&gt;
2. Operant Conditioning&lt;br /&gt;
Termasuk tipe pembelajaran dimana perilaku dipengaruhi oleh sebagian besar konsekuensi-konsekuensi yang mengikutinya. Jika perubahan-perubahan lingkungan ditimbulkan oleh perilaku yang dikuatkan , maka jika mereka menyediakan tiap reward untuk organisme atau aversive stimuli yang dilenyapkan, mungkin sekali perilaku itu akan datang kembali. Jika perubahan-perubahan lingkungan menghasilkan aversive stimuli, kesempatan perilaku akan terulang lagi dan akan berkurang positif dan negative reinforcement, hukuman, dan teknik-teknik extinction.&lt;br /&gt;
Skinner berpendapat bahwa pembelajaran tidak dapat terjadi pada ketiadaan tiap jenis penguatan, salah satunya positif atau negative. Menurut Skiner, tindakan-tindakan yang dikuatkan cenderung diulangi dan tindakan yang tidak mendapat penguatan cenderung berkurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Social Learning Theory&lt;br /&gt;
Pendekatan belajar sosial dikembangkan oleh Albert BAndura Richard Walters (1963) yaitu saling berhubungan, saling disiplin, dan multimodal (Bandura, 1977, 1982). Perilaku dipengaruhi oleh tiap-tiap stimulus, baik dari penguatan eksternal maupun proses-proses mediational kognitif. Belajar sosial dan teori kognitif menghasilkan triadic hubungan resiprokal, diantaranya adalah lingkungan, faktor-faktor personal,(keyakinan, pilihan, pengharapan, persepsi diri dsb) dan perilaku individu. Menurut Bandura (1982, 1997) efikasi diri adalah keyakinan atau pengharapan individu bahwa mereka dapat menguasai situasi dan memberikan perubahan yang diinginkan. Teori efikasi diri mempresentasikan suatu wacana utama tentang kesatuan penjelasan teoritis bagaimana prosedur terap behaviour dan psikoterapi lain bekerja.&lt;br /&gt;
4. Cognitive Behaviour Therapy&lt;br /&gt;
Beberapa teknik yang dikembangkan dalam 3 dekade terakhir ini, menegaskan bahwa proses-proses kognitif menghasilkan event-event tersendiri seperti self-talk klien sebagai mediator perubahan perilaku. Pendekatan ini menawarkan metode-metode action-oriented yang bervariasi untuk  membantu orang merubah apa yang mereka pikir dan lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KONSEP-KONSEP UTAMA&lt;br /&gt;
sudut pandang alami manusia&lt;br /&gt;
 Terapy behaviour modern didasarkan pada sebuah sudut pandang perilaku manusia yang alami yang menunjukkan sebuah pendekatan yang terstruktur dan sistematis untuk konseling. Sudut pandang ini tidak terletak pada sebuah asumsi deterministic bahwa manusia-manusia adalah hasil dari kondisi sosiokultural mereka. Sepertinya sudut pandang yang sekarang yang menyatakan bahwa seseorang merupakan produser sekaligus hasil dari lingkungan mereka.&lt;br /&gt;
 Pada behaviour therapy jaman sekarang lebih ke arah prosedur-prosedur perkembangan yang secara aktual memberi control pada klien dan meningkatkan tingkat kebebasan mereka. Behaviour therpy bertujuan untuk meningkatkan skill-skill seseorang sehingga mereka mempunyai pilihan yang lebih untuk merespon.&lt;br /&gt;
 Secara filosofis, pendekatan behavioural dan humanistik mempunyai sudut pandang yang berbeda seperti kutub yang berlawanan. Lingkungan yang keras melihat dasar alami manusia pada sebuah stimulus-respon atau respon-konsekuensi model perilaku yang telah ditentang oleh Bandura (1974, 1977, 1986). Dia menolak model mekhanistic dan deterministik karena memiliki kepercayaan yang terpisah pada hal-hal yang menentukan lingkungan, dimana terdapat kesulitan-kesulitan yang mengingat akan kapasitas yang dimiliki untuk memberikan efek lingkungan yang nyata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KARAKTERISTIK DAN ASUMSI DASAR&lt;br /&gt;
10 karakteristik kunci dari terapi behavior berdasarkan deskripsi dari Kazdin (2001), Miltenberger (2004), dan Spiegler dan Guevremont (2003) antara lain:&lt;br /&gt;
1. Terapi behavior didasarkan pada prinsip dan prosedur dari metode ilmiah. Dengan penelitian diperoleh dari prinsip-prinsip pembelajaran untuk membantu mengubah tingkah laku maladaptif. Terapis behavior menguraikan tujuan treatmen dalam tujuan konkret yang objektif untuk membuat adanya kemungkinan replikasi intervensi mereka. Tujuan ini disetujui oleh kedua pihak. Metode penelitian digunakan untuk mengevaluasi efektifitas prosedur assessmen dan treatmen. Secara singkat, konsep dan prosedur behavioral dinyatakan secara eksplisit, diuji secara empiris dan diperbaiki secara terus-menerus.&lt;br /&gt;
2. Terapi behavior memperlakukan masalah klien dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, yang menentang analisis kemungkinan determinan-determinan historikal. Penekanannya pada faktor-faktor spesifik yang mempengaruhi keberfungsian saat ini dan faktor-faktor yang dapat digunakan untuk memodifikasi performance. Terapis menggunakan teknik behavioral untuk mengubah faktor-faktor saat ini yang mempengaruhi TL klien serta dengan melihat masa lalu sebagai tambahan informasi kejadian yang berhubungan dengan TL saat ini.&lt;br /&gt;
3. Klien yang dilibatkan dalam terapi behavior diharapkan berperan aktif dengan ikut serta dalam aksi-aksi memperlakukan masalah mereka. Klien memantau TL mereka baik selama maupun di luar sesi terapi, belajar dan praktek skil coping dan role-play TL baru. Terapi behavior adalah pendekatan berorientasi tindakan, dan belajar adalah inti dari terapi.&lt;br /&gt;
4. Pendekatan behavioral menekankan mengajari klien skil-skil manajemen diri, dengan harapan bahwa mereka akan bertanggung jawab atas pergantian yang mereka pelajari dalam ruang terapis menuju kehidupan sehari-hari. Terapi behavior secara umum dibawa dalam lingkungan natural klien sebanyak mungkin.&lt;br /&gt;
5. Fokusnya adalah menilai TL baik yang jelas maunpun tersembunyi secara langsung, mengidentifikasi masalah, dan mengevaluasi perubahan. Assessmen langsung dari target masalah dilakukan melalui observasi atau pemantauan diri (self-monitoring). Terapis juga menilai kebudayaan klien sebagai bagian dari lingkungan sosial mereka, termasuk jaringan dukungan sosial yang berhubungan dengan target TL.&lt;br /&gt;
6. Terapi behavior menekankan pendekatan kontrol diri dimana klien belajar strategi-strategi manajemen diri. Terapis melatih klien untuk memulai, mengadakan dan mengevaluasi terapi mereka sendiri.&lt;br /&gt;
7. Intervensi treatmen behavioral secara individual disesuaikan dengan masalah spesifik yang dialami klien. Beberapa teknik terapi digunakan untuk memperlakukan masalah individu klien. Dalam hal ini harus disesuaikan treatmen apa, untuk siapa yang paling efektif dan tiap klien berbeda.&lt;br /&gt;
8. Praktek dari terapi behavior didasarkan pada hubungan kolaborasi antara terapis dan klien, dan setiap usaha dibuat untuk memberitau klien tentang bentuk dan jalannya treatmen.&lt;br /&gt;
9. Penekanannya adalah pada aplikasi prakteknya. Intervensi diaplikasikan dari berbagai segi dari kehidupan sehari-hari dimana TL maladaptif dikurangi dan TL adaptif ditingkatkan.&lt;br /&gt;
10. Terapis berusaha mengembangkan prosedur kultur spesifik dan memelihara ketaatan serta kooperasi klien.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PROSES TERAPEUTIK&lt;br /&gt;
Tujuan Terapeutik&lt;br /&gt;
Tujuan umum terapi behavior adalah meningkatkan pilihan individu dan menciptakan kondisi baru bagi pembelajaran. Klien dan terapis pada awal sesi membatasi tujuan proses terapeutik. Assessmen formal terlebih dulu dilakukan terhadap treatmen untuk menentukan tingkah laku yang menjadi target perubahan. Assessmen berkelanjutan selama terapi dapat menentukan apakah tujuannya sudah dicapai atau belum. Terapi behavior kontemporer menekankan peran aktif klien dalam menentukan treatmen mereka. Terapis membantu klien membuat tujuan spesifik yang dapat diukur. Terapis behavior dan klien mengubah tujuan selama proses terapeutik bila perlu.&lt;br /&gt;
 Rangkaian dari tujuan yang dipilih dideskripsikan oleh Cormier dan Nurius. Proses ini menunjukkan hubungan kolaboratif dasar yang penting :&lt;br /&gt;
• Konselor menyediakan tujuan yang rasional, menjelaskan peranan tujuan dalam terapi, maksud atau kegunaan dari tujuan itu, dan partisipasi klien dalam proses penentuan tujuan.&lt;br /&gt;
• Klien mengenali hasil yang diinginkan dengan menentukan perubahan-perubahan yang dia inginkan dari konseling.&lt;br /&gt;
• Klien adalah orang yang mencari bantuan, dan hanya dia yang dapat melakukan perubahan. Konselor membantu klien menerima tanggung jawab atas perubahan.&lt;br /&gt;
• Nilai efek manfaat semua tujuan yang diidentifikasi diselidiki. Konselor dan klien mendiskusikan kemungkinan manfaat dan ketidakmanfaatan tujuan ini.&lt;br /&gt;
• Klien dan konselor kemudian memutuskan untuk melanjutkan mengikuti tujuan yang telah dipilih, untuk mempertimbangkan kembali tujuan awal klien, atau untuk mencari pelayanan dari praktisi lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fungsi Dan Peranan Terapis &lt;br /&gt;
Terapis behavior cenderung untuk aktif dan langsung dan berfungsi sebagai konsultan dan pemecah masalah. Praktisi memperhatian tanda-tanda yang diberikan klien kemudian mengikuti dugaan klinis dari klien. Mereka menggunakan beberapa teknik umum seperti summarizing, refleksi, klarifikasi, serta pertanyaan terbuka dan tertutup. Tetapi, klinisi behavioral melaksanakan fungsi lainnya juga yaitu :&lt;br /&gt;
• Melaksanakan sebuah assessmen fungsional yang seksama untuk mengidentifikasi kondisi yang dipertahankan dengan pengumpulan informasi yang sistematis tentang penyebab situasi, dimensi masalah tingkah laku, dan akibat dari masalah itu.&lt;br /&gt;
• Membuat tujuan treatmen awal, dan mendisain serta menerapkan rencana treatmen untuk melaksanakan tujuan ini.&lt;br /&gt;
• Menggunakan strategi untuk menciptakan generalisasi dan memelihara perubahan tingkah laku.&lt;br /&gt;
• Mengevaluasi kesuksesan rencana perubahan dengan mengukur kemajuan ke arah tujuan selama durasi treatmen.&lt;br /&gt;
• Melaksanakan assessmen lanjutannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengalaman Klien dalam Terapi  &lt;br /&gt;
Kontribusi unik dari terapi behavior adalah behavior terapi menyediakan terapis dengan sistem yang bagus dari prosedur yang dipakai. Baik terapis maupun klien memiliki peran yang jelas, dan ditekankan akan pentingnya kesadaran serta partisipasi klien dalam proses terapeutik. Terapi behavior dicirikan dengan peran aktif terapis dan klien. Peran terapis adalah mengajari skil-skil konkrit melalui pemberian instruksi, modeling, dan melalui feedback performance. Klien campur tangan dalam pengulangan behavioral dengan feedback sampai skil-skil telah dipelajari dengan baik dan umumnya menerima aktif tugas-tugas rumah (seperti pemantauan diri dari masalah behavioral). Klien harus dimotivasi untuk mengubah dan bekerja sama dalam aktivitas terapeutik, baik dalam sesi terapi maupun dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;
 Klien diberi semangat untuk bereksperimen terhadap tujuan untuk meningkatkan repertoir tingkah laku adaptif mereka. Mereka dibantu untuk menggeneralisasikan dan mentransfer pembelajaran yang didapat dalam situasi terapi menuju situasi di luar terapi. Verbalisasi dalam konseling digunakan ketika transfer perubahan dibuat dari sesi terapi menuju kehidupan sehari-hari dan ketika efek dari terapi diperluas di luar pengakhiran dimana treatmen dapat dianggap berhasil. &lt;br /&gt;
 Klien memiliki frame of reference untuk menilai kemajuan mereka dalam menyelesaikan tujuan mereka. Ketika tujuan telah diselesaikan, maka klien dan terapis mengakhiri treatmen. Setelah terapi behavior yang sukses, klien mengamalkan pilihan-pilihan yang lebih baik dalam berperilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan Antara Terapis dan Klien&lt;br /&gt;
Hubungan terapeutik yang baik dapat membantu proses perubahan behavioral dimana meningkatkan kesempatan klien agar mudah menerima terapi, bekerja sama dengan prosedur terapeutik, dan klien memiliki penerimaan positif serta harapan sukses mengenai efektivitas terapi. Kebanyakan praktisi behavioral mempertahankan faktor-faktor seperti kehangatan, empati, keautentikan, kepermisivan, dan penerimaan sangat dibutuhkan agar perubahan behavioral terjadi namun juga harus disertai dengan teknik-teknik behavioral sehingga tujuan dapat tercapai. Hubungan klien-terapis adalah fondasi dimana strategi terapeutik dibangun untuk membantu perubahan klien pada arah yang mereka harapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aplikasi teknik dan prosedur terapeutik&lt;br /&gt;
Penilaian tingkah laku, yang diawali dengan deskripsi tentang keluhan klien merupakan hal yang utama untuk terapi tingkah laku. Klien menyimpan catatan/memori tentang frekuensi dan intensitas kejadian, dan ini menjadi alat dalam membuat sebuah rencana pengobatan dan memutuskan apakah terapinya bekerja/berjalan. Ada beberapa instrumen penilaian yang praktis dan mudah digunakan, termasuk laporan isi laporan diri tak terhitung, skala rating tingkahlaku/kebiasaan, format penelitian diri, dan teknik penelitian sederhana untuk mengumpulkan informasi yang berguna untuk permasalahan klien. Metode penilaian tingkah laku dapat sepenuhnya digunakan untuk bekerja dengan klien dengan cakupan permasalahan yang berbeda.&lt;br /&gt;
Kekuatan dari pendekatan tingkah laku adalah pengembangan dari prosedur pengobatan spesifik yang harus ditunjukkan agar efektif dalam mencapai sasaran. Terapis tingkah laku memiliki hipotesis yang mereka jalankan dari menerapkan prosedur pengobatan, yang mana dapat diuji untuk kebenarannya. Hasil dari intervensi mereka menjadi jelas karena mereka memperoleh umpan balik secara berkesinambungan dari klien mereka.&lt;br /&gt;
Temuan utama yang dihasilkan oleh penelitian dalam terapi tingkah laku adalah hasil perawatan memiliki segi yang banyak (bermacam-macam). Tidak semua ada perubahan atau tidak ada sama sekali. Peningkatan mungkin terjadi di beberapa area tetapi tidak pada area lainnya. Semua peningkatan tidak terjadi pada waktu yang sama, dan diperoleh dibeberapa area yang mungkin berhubungan dengan area lain (Kazdin, 1982; Voltz &amp; Evans, 1982).&lt;br /&gt;
Menurut Arnold Lazarus ( 1989, 1992b, 1997a, 2000b), seorang pelopor dalam terapi klinis perilaku, praktisi tingkah laku dapat disertakan dalam rencana perawatan mereka dengan semua teknik yang dapat ditunjukan demi keefektifan perubahan perilaku. Lazarus mendukung penggunaan teknik yang berbeda, dengan mengabaikan dasar teoritis mereka. Dalam pandangannya, semakin luas cakupan teknik terapi, semakin berpotensi efektif terapi tersebut. Jelas bahwa terapis perilaku tersebut harus tidak membatasi diri mereka untuk memperoleh metode dari teori belajar. Demikian juga, teknik tingkah laku dapat disatukan ke dalam pendekatan-pendekatan lain.&lt;br /&gt;
Prosedur pengobatan digunakan terapis perilaku secara rinci dan dirancang untuk klien tertentu. Terapis selalu kreatif dalam intervensi (campur tangan) mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penerapan analisis tingkah laku : teknik mempengaruhi keadaan&lt;br /&gt;
Bagian ini menguraikan beberapa prinsip utama dari mempengaruhi keadaan : penguatan positif, penguatan negatif, pemunahan, hukuman positif, dan hukuman negatif.&lt;br /&gt;
Dalam penerapan analisa perilaku, teknik pengaruh keadaan dan metode penilaian dan evaluasi diaplikasikan dalam sebuah cakupan luas permasalahan pada pengaturan yang berbeda (Kadzin, 2001).&lt;br /&gt;
Penguatan positif melibatkan penambahan sesuatu yang berharga pada individu seperti pujian, perhatian, uang atau makanan sebagai konsekuansi dari perilaku tertentu. Stimulus yang diikuti perilaku merupakan penguatan positif. Contohnya, seorang anak mendapat nilai sempurna dan dipuji orang tuanya. Bila dia menghargai pujian ini, ada kemungkinan dia akan memiliki keinginan untuk mengejar nilai yang baik dimasa mendatang. Jika tujuan dari suatu program adalah untuk mengurangi atau menghapuskan perilaku yang tidak diinginkan, penguatan positif sering digunakan untuk meningkatkan frekuensi dari perilaku yang lebih diinginkan, yang mengganti perilaku yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt;
Penguatan negatif melibatkan jalan keluar atau penghindaran rangsangan. Individu yang termotivasi untuk memperlihatkan suatu perilaku yang diinginkan untuk menghindari kondisi yang tidak diinginkan. Contohnya, seorang teman ku tidak suka dibangunkan dengan suara alarm jam yang melengking. Dia telah melatih dirinya untuk bangun beberapa menit sebelum alarm berbunyi.&lt;br /&gt;
Metode mengubah perilaku yang lain adalah pemunahan, yang mengacu pada penahanan penguatan dari penguatan respon sebelumnya. Dalam penerapan pengaturan, pemunahan dapat digunakan untuk perilaku yang telah dirawat oleh penguatan pasitif atau penguatan negatif. Sebagai contoh, anak-anak yang memperlihatkan tingkah marah dibantu dengan memberikan perhatian dari orang tua mereka. Suatu pendekatan untuk mangimbangi permasalahan perilaku adalah mengeliminasi koneksi antara perilaku tertentu (kemarahan) dan penguatan positif (perhatian). Bila itu dilakukan akan dapat mengurangi atau menghilangkan efek tersebut, seperti kemarahan dan agresi. Pemunahan dapat mengurangi maupun menghapuskan perilaku tersebut, tetapi pemunahan tidak akan mengganti respon tersebut yang telah dimusnahkan.  Karena alasan ini, pemunahan harus sering digunakan pada program pembenahan/perbaikan perilaku dengan beberapa strategi penguatan (Kazdin, 2001).&lt;br /&gt;
Cara lainnya perilaku dikontrol melalui hukuman, dimana konsekuensi pada beberapa perilaku tertentu mengakibatkan penurunan dari perilaku tersebut. Tujuan dari penguatan adalah untuk meningkatkan perilaku target, tetapi tujuan dari hukuman adalah untuk menurunkan perilaku target. Miltenberger (2004) menjelaskan 2 jenis hukuman yang mungkin terjadi sebagai konsekuensi dari perilaku : hukuman positif dan hukuman negatif. Dalam hukuman positif suatu stimulus ditambahkan pada perilaku untuk menurunkan frekuensi dari perilaku ( seperti tamparan di pantat seorang anak karena kelakuan buruk atau teguran pada seorang siswa karena nakal di kelas). Dalam hukuman negatif penguatan stimulus dihilangkan/dipindahkan mengikuti perilaku untuk mengurangi frekuensi perilaku target (seperti mengurangi gaji seorang pekerja karena jam kerja yang hilang, atau menghapus jam televisi dari anak-anak karena kelakuan buruk). Dalam jenis hukuman itu,perilaku akan lebih sedikit terjadi dimasa mendatang.&lt;br /&gt;
Skinner (1948) percaya hukuman memiliki nilai terbatas dalam mengubah perilaku dan selalu dengan cara yang tidak diinginkan untuk mengubah perilaku. Dia menentang penggunaan kendali atau hukuman, dan merekomendasikan penguatan positif sebagai pengganti. Prinsip kuncinya adalah menggunakan paling sedikit alat yang mungkin untuk merubah perilaku, dan penguatan positif merupakan yang terkuat sebagai pengganti. Skinner percaya pada nilai dalam menganalisis faktor lingkungan untuk kedua penyebab dan perbaikan untuk permasalahan perilaku dan menantang bahwa manfaat terbesar pada individu ke suatu masyarakat dengan penggunaan penguatan positif yang sistematis sebagai jalan menuju kendali perilaku (Nye, 2000). &lt;br /&gt;
Penulis lain juga telah menunjukkan efek samping dari hukuman dan menyimpulkan bahwa walaupun hukuman mungkin menghapuskan perilaku target tetapi penggunaan teknik ini terus menerus mengakibatkan efek samping yang tidak diinginkan dan sering susah untuk dikendalikan (Kazdin, 2001; miltenberger, 2004). Sebagian efek samping ini adalah reaksi emosional atas hukuman, mencari jalan keluar dan perilaku menghindar, penguatan negatif untuk penggunaan hukuman, modeling penggunaan hukuman, dan isu etis. Hukuman harus digunakan hanya setelah pendekatan yang telah diterapkan dan ditemukan untuk tidak efektif dalam mengubah masalah prilaku (Kazdin, 2001; miltenberger, 2004).&lt;br /&gt;
Ada suatu tempat untuk hukuman pada program perubahan perilaku, tapi hukuman harus digunakan hanya untuk melengkapi strategi penguatan yang mengarah pada pengembangan lain yang sesuai dengan perilaku (Kazdin, 2001).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model Assesmen Fungsional&lt;br /&gt;
Miltenberger ( 2004) menguraikan bagaimana cara untuk berhadapan dengan masalah perilaku melalui langkah demi langkah assesmen fungsional dan program perawatan :&lt;br /&gt;
1. Langkah pertama yaitu melakukan suatu dugaan fungsional untuk mengumpulkan data tentang masa lalu dan konsekuensi yang secara fungsional dihubungkan dengan kejadian dari permasalahan perilaku.&lt;br /&gt;
2. Untuk melakukan suatu dugaan fungsional, menggunakan kedua metode tidak langsung (interview perilaku atau kuisioner untuk mengumpulkan informasi tentang permasalahan perilaku) dan metode pengamatan langsung.&lt;br /&gt;
3. Berdasarkan pada pengumpulan informasi dari dugaan fungsional, terapis mengembangkan hipotesis tentang sifat alami dari masalah perilaku dan kondisi-kondisi yang mendukung perilaku ini.&lt;br /&gt;
4. Ketika fungsi masalah perilaku yang berbeda dikenali, perawatan fungsional ditujukan untuk menunjukkan masa lalu dan hipotesis konsekuensi untuk memelihara masalah perilaku. Perawatan fungsional meliputi teknik-teknik di bawah ini :&lt;br /&gt;
• Penguatan diferensial dari perilaku yang diinginkan untuk mengganti masalah perilaku, yang mungkin meliputi prosedur penguatan positif dan negative.&lt;br /&gt;
• Pemunahan masalah perilaku dengan menahan penguatan ( dikenali pada proses dugaan fungsional ) yang ditemukan untuk perawatan masalah.&lt;br /&gt;
• Mendahulukan prosedur control yang mana pendahuluan dimanipulasi dalam percobaan untuk mencegah terjadinya permasalah perilaku dan mempromosikan perilaku alternatif  untuk mengganti masalah perilaku.&lt;br /&gt;
5. Prosedur hukuman negatif mungkin digunakan untuk mengurangi masalah perilaku, tetapi hanya setelah pendekatan fungsional telah dicoba.&lt;br /&gt;
6. Setelah metode perawatan ini digunakan, sangat penting untuk mengembangkan strategi mempromosikan penyamarataan suatu pemeliharaan perilaku yang telah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelatihan relaksasi dan metoda yang berhubungan&lt;br /&gt;
Pelatihan relaksasi telah mulai popular sebagai metode mengajar orang untuk mengatasi tekanan yang disebabkan kehidupan sehari-hari. Hal itu mengarah pada keberhasilan otot dan relaksasi mental dan mudah dipelajari. Setelah klien belajar dasar dari prosedur relaksasi, sangat penting bagi mereka untuk berlatih latihan ini setiap hari nuntuk memperoleh hasil maksimal.&lt;br /&gt;
Pelatihan relaksasi melibatkan beberapa komponen yang secara khas diperlukan 4 hingga 8 jam instruksi. Klien diberi satu set instruksi yang menanyakan mereka untuk rileks. Mereka mengasumsikan suatu posisi pasif dan rileks dalam lingkungan yang tenang. Bernafas dalam dan tenang juga menghasilkan relaksasi. Pada waktu yang sama klien belajar untuk bermental “lepas”, mungkin dengan memfokuskan pada gambaran atau pikiran yang menyenangkan. Klien didukung untuk benar-benar merasakan dan mengalami kenaikan itu, untuk mengetahui otot mereka mulai tegang dan mempelajari kenaikan ini, dan untuk menahan dan sepenuhnya mengalami kenaikan ini. Ini juga berguna untuk klien dalam mengalami perbedaan antara suatu tegangan dan suatu relaksasi. Relaksasi menjadi ditanggapi dengan baik, yang mana menjadi suatu kebiasaan bila dilatih setiap hari dalam 20 atau 25 menit.&lt;br /&gt;
Desensitisasi Sistematis&lt;br /&gt;
Desensitisasi Sistematis yang didasarkan pada prinsip kondisi klasik, adalah dasar prosedur tingkah laku yang dikembangkan oleh Joseph Wolpe, seorang pelopor terapi perilaku. Bayangan klien lebih menimbulkan ketertarikan pada waktu yang sama bahwa mereka terlibat dalam suatu perilaku yang bersaing dengan kecemasan. Prosedur ini bisa dipertimbangkan sebagai format terapi pembukaan karena klien diminta untuk membuka diri mereka agar tertarik untuk membayangkan sesuatu sebagai jalan untuk menurunkan kecemasan&lt;br /&gt;
Sebelum menerapkan prosedur desensitisasi, terapis memeriksa interview awal untuk mengidentifikasi informasi spesifik untuk mengumpulkan informasi latar belakang yang relevan tentang klien. Interview ini, yang mungkin menjadi bagian terakhir, memberi terapis pengertian yang baik tentang siapakah klien. Terapis mempertanyakan pada klien tentang keadaan tertentu yang menimbulkan kondisi ketakutan.&lt;br /&gt;
Cormier dan Nurius (2003), mendeskripsikan beberapa langkah dalam menggunakan system desensitization: &lt;br /&gt;
1.Relaxation training&lt;br /&gt;
2.Development of the anxiety hierarchy&lt;br /&gt;
3.Sistem desentization yang benar&lt;br /&gt;
1.Relaxation training&lt;br /&gt;
Terapis bersikap sangat tenang, lembut dan berbicara dengan nyaman untuk meningkatkan relaksasi otot.Klien diminta untuk membayangkan lebih dahulu situasi-situasi yang menyenangkan,.Hal ini penting agar klien mendapatkan ketenangan dan kedamaian.Klien kemudian dibimbing bagaimana cara merelaksasi seluruh otot sambil memvisulisasikakan macam-macam bagian tubuh dengan tekanan pada otot wajah.Otot lengan direlaksasi terlebih dahulu, dilanjutkan otot kepala, leher dan bahu, punggung, perut dan ronga dada dan kemudian kaki.Klien diminta untuk berlatih relaksas diluar sesi selama 30 menit setiap hari.&lt;br /&gt;
2.Menyusun Tingkatan Kecemasan&lt;br /&gt;
Terapis bersama dengan klien menyusun suatu tingkatan kecemasan kedalam wilayah-wilayah tertentu, seperti penolakan, cemburu, ketidak setujuan, kritikan atau suatu phobia yang teranalisa.Terapis membuat sebuah daftar bertingkat mengenai situasi-situasi yang dapat menyebabkan peningkatan kecemasan atau penghindaran.Tingkatan disusun kedalam situasi yang paling buruk yang dapat dibayangkan oleh klien ke situasi yang dapat menimbulkan kecemasan yang tarafnya paling rendah.Jika klien telah ditentukan memiliki kecemasan yang berhubungan dengan penolakan.Misalnya, situasi yang dapat menimbulkan kecemasan tertinggi boleh jadi penolakan oleh pasangannya kemudian penolakan oleh teman dekat dan kemudian oleh teman kerja.Situasi yang tingkat mengganggunya paling rendah boleh jadi penolakan oleh orang yang tak dikenal klien dalam sebuah pesta.&lt;br /&gt;
3.Sistem Desensitisasi&lt;br /&gt;
Desensitization dimulai setelah beberapa sesi interview lengkap.Proses desensitisation dengan keadaan klien yang rileks dengan mata tertutup. Terapis menciptakan keadaan yang netral sementara klien diminta untuk membayangkan dirinya berada didalamnya.Jika klien mampu untuk tetap santai, mintalah dirinya untuk membayangkan dirinya berada dalm keadaan yang dapat menimbulkan kecemasan yang tingkatnya paling rendah.Terapis terus mengungkapkan secara bertingkat keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan kecemasan sampai klien menunjukkan bahwa dia mengalami kecemasan, dan pada saat itulah pengungkapan situasi oleh terapis diakhiri.Kemudan relaksasi dilakukan lagi dan terapis kembali mengungkapkan keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan kecemasan.Treatmen diakhiri saat klien mampu untuk tetap dalam kondisi relaks saat membayangkan kondisi yang sebelumnya paling mengganggu dan menimbulkan kecemasan.&lt;br /&gt;
Inti dari system desensitisasi adalah mengulang  proses membayangkan situasi-situasi yang dapat menimbulkan kecemasan tanpa mengalami konsekuensi negatif. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TERAPI EXPOSURE&lt;br /&gt;
Terapi exposure di desain untuk menangani ketakutan dan respon emosi negative lainnya dengan mengenalkan klien pada kondisi-kondisi yang dapat nenimbulkan kecemasan, di bawah kondisi yang terkontrol oleh terapis.&lt;br /&gt;
In Vivo Desensitization&lt;br /&gt;
Melibatkan klien untuk mengekspos situasi nyata yang menakutkan dalam kehidupan sehari-harinya.Klien dapat menghentikan exposure-nya jika dirinya mengalami kecemasan tingkat tinggi.&lt;br /&gt;
Flooding (Pembanjiran)&lt;br /&gt;
Bentuk lain terapi ekspose adalah flooding (pembanjiran), yang mengacu pada in vivo atau imaginal ekspose untuk menimbulkan stimulus pembangkit kecemasan untuk suatu periode yang diperpanjang.Karakteristik dari semua terapi ekspose adalah walaupun klien mengalami kecemasan sepanjang pengeksposan, konsekuensi negative tidak terjadi.&lt;br /&gt;
 In vivo flooding terdiri dari menguatkan dan memperpanjang ekspose yang menghasilkan stimuli untuk merangsang kecemasan  yang nyata  Secara umum,rasa takut yang tinggi pada klien mempertahankan kecemasan mereka melalui penggunaan perilaku maladaptive.di dalam flooding, klien dicegah dari penggunaan respon maladapitf saat berada dalam situasi yang membangkitkan kecemasan. &lt;br /&gt;
Imaginal flooding didasarkan pada prinsip-prisip yang sama  dan mengikuti prosedur yang sama kecuali terjadi ekspose pada imajinasi klien di kehiduapan sehari-harinyaKeuntungan menggunakan imaginal flooding pada in vivo flooding adalah bahwa tidak ada pembatasan sifat alami situasi-situasi yang membangkitkan kecemasan yang dapat diperlakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
EYE MOVEMENT DESENSITIZATION and REPROCESSING (EMDR)&lt;br /&gt;
EMDR adalah salah satu bentuk terapi exposure yang melibatkan imajinasi pembajiran (imaginal flooding), pembentukan ulang pola pikir dan menggunakan kecepatan, irama pergerakan mata dan rangsangan dari dua belah pihak untuk menangani klien yang mengalami traumatic stress. EMDR dikembangkan oleh Francine Shapiro (2001), Prosedur terapi ini mengambil cakupan luas dari intervensi behavioral.Di desain untuk membantu klien yang menghadapi gangguan stress pascatrauma.&lt;br /&gt;
EMDR terdiri atas delapan tahap inti yang banyak diambil dari prosedur yang digunakan dalam terapi behavior: &lt;br /&gt;
1. EMDR digunakan untuk menolong klien membentuk kembali pola pikir mereka atau untuk memproses ulang informasi yang mereka miliki.Seperti halnya pada terapi behavior, tahap awal pada perawatan ini membutuhkan pemahaman akan masalah klien, mengidentifikasi dan mengevaluasi tujuan perawatan secara spesifik.&lt;br /&gt;
2.  Tahap persiapan melibatkan sebuah terapi kelompok.Terapis menjelaskan proses dan pengaruh EMDR, mendiskusikan tujuan dan harapan yang mungkin dimiliki klien, tahap ini dimulai dengan melakukan relaksasi dan nenciptakan suasana yang nyaman saat klien dpat mempertahankan imajinasi emosinya.&lt;br /&gt;
3. Tahap assessment (pengukuran) meliputi, identifikasi memori traumatis yang menimbulkan kecemasan, identifikasi sensasi emosional dan fisik yang dihubungkan  dangan peristiwa traumatis, evaluasi terhadap skala  Subjective Unit of Disturbance (SUD), identifikasi terhadap kognisi negative yang dihubungkan dengan peristiwa yang mengganggu, dan menemukan suatu kepercayaan adaptif yang akan mengurangi tingkat kecemasan.&lt;br /&gt;
4. Di dalam tahap desentisasi, klien diminta untuk memvisualisasikan gambaran traumatiknya, menuturkan kepercayaan maladaptifnya, dan memperhatikan sensasi fisiknya.Proses pengeksposan terbatas, klien diminta untuk mengekspose keadaan yang paling mengganggu selama kurang dari semenit tiap sesinya..Klien diminta untuk (1)membuang pengalaman negatifnya.(2)melaporkan apa yang dibayangkannya, dirasakan dan dipikirkannya.&lt;br /&gt;
5. Tahap Instalasi terdiri dari penerapan dan peningkatan kekuatan pola pikir (kognisi) positif klien yang  telah teridentifikasi sebagai pengganti pola pikir negatif.Kenyataan untuk mengasosiasikan peristiwa traumatic dengan kepercayaan yang adaptif  sehingga memori tidak lagi mampu  menimbulkan kecemasan dan pikiran negatif.Fokus yang menjadi kekuatan pada klien adalah memiliki positive self assessment (penilaian diri yang positif), yang menjadi hal sangat penting untuk mencapai peningkatan terapi.&lt;br /&gt;
6. Setelah pola pikir positif ditanamkan, klien diminta untuk memvisualisasikan peristiwa traumatic dan pola pikir positifnya kemudian terapis memeriksa badannya  dari atas sampai bawah dan mengidentifikasi tegangan seluruh tubuhnya.Pemeriksaan selesai ketika klien mampu memvisualisasikan peristiwa tersebut, dan pada saat yang sama, sebagian kecil tubuh mengalami ketegangan dan tetap mampu berpikir positif.&lt;br /&gt;
7. Penting untuk menutup  tiap-tiap sesi dengan baik.Terapis hendaknya mengingatkan klien bahwa dirinya mungkin akan mengalami gangguan imajinasi, emosi, dan pemikiran antara tiap-tiap sesi.Klien diminta untuk mencatat dalam buku harian atau jurnal dan merekam hal-hal yang mengganggunya..Beberapa intervensi dari klien diharapkan untuk melakukan beberapa kegiatan selama proses perawatan seperti relaksasi, menciptakan imajinasi, meditasi, self monitoring, dan latihan pernafasan.&lt;br /&gt;
8. Mengevaluasi kembali perawatan yang sudah dijalani, hendaknya diterapkan pada awal masing-masing sesi baru.Tahap EMDR yang terakhir meliputi beberapa proses behavioural, yaitu: reconceptualisasi permasalahan klien, penetapan tujuan baru proses terapi, melaksanakan desensitisasi lebih lanjut , melanjutkan tugas merestukturisasi aspek kognitif, melanjutkan proses self monitoring , dan secara kolaboratif mengevaluasi hasil perawatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ASSERTION TRAINING&lt;br /&gt;
 Banyak orang yang merasa kesulitan untuk membuat keputusan yang tegas bagi diri mereka sendiri. Orang dengan keterampilan sosial yang kurang seringkali mengalami kesulitan interpersonal di rumah, di tempat kerja, di sekolah, dan selama waktu luang. Assertion training sangat berguna bagi:&lt;br /&gt;
1. orang yang tidak dapat menunjukkan kemarahan atau kejengkelan&lt;br /&gt;
2. orang yang kesulitan berkata ’tidak’&lt;br /&gt;
3. orang yang terlalu sopan dan membiarkan orang lain mengambil keuntungan dari dirinya&lt;br /&gt;
4. orang yang kesulitan mengekspresikan afeksi dan respon-respon positif lainnya&lt;br /&gt;
5. orang yang merasa bahwa mereka tidak punya hakuntuk menyatakan pemikiran, keyakinan, dan perasaannya&lt;br /&gt;
6. orang yang menderita phobia sosial&lt;br /&gt;
Asumsi dasar yang mendasari assertion training adalah bahwa seseorang mempunyai hak (bukan kewajiban) untuk mengekspresikan dirinya. Salah satu tujuan assertion training adalah untuk meningkatkan kemampuan berperilaku individu sehingga mereka dapat membuat pilihan reaksi apa yang akan ditunjukkan dalam situasi tertentu. Tujuan lainnya adalah mengajarkan seseorang untuk mengekspresikan dirinya dengan cara-cara yang merefleksikan sensitivitasnya terhadap perasaan dan hak-hak orang lain. Asersi bukan berarti agresi. Jadi, seseorang yang benar-benar asertif tidak akan egois hanya mempertahankan haknya saja dan mengabaikan perasaan orang lain.&lt;br /&gt;
Beberapa metode assertion training didasarkan pada prinsip-prinsip terapi kognitif behavioral. Umumnya, terapis mengajarkan dan memberi contoh perilaku yang diharapkan muncul pada klien. Perilaku-perilaku tersebut diajarkan dalam ruang terapi dan kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. &lt;br /&gt;
Assertion training biasa dilaksanakan berkelompok. Jika format kelompok digunakan, modeling dan instruksi-instruksi diberikan pada semua anggota kelompok. Para anggota kemudian berlatih kemampuan berperilaku secara bergantian (role-play). Setelah latihan tersebut, para anggota diberi feedback (umpan balik) yang berisi penguatan atas aspek-aspek perilaku yang benar dan instruksi-instruksi tentang bagaimana memperbaiki perilaku tersebut. Masing-masing anggota ikut  serta dalam latihan berperilaku asertif yang lebih jauh sampai kemampuannya ditunjukkan secara adekuat dalam berbagai situasi simulasi (latihan) (Miltenberger,2004).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SELF MANAGEMENT PROGRAMS &amp; SELF-DIRECTED BEHAVIOR &lt;br /&gt;
 Dalam program self management individu membuat keputusan mengenai perilaku spesifik yang ingin mereka kontrol/rubah. Beberapa contoh umum adalah mengendalikan perilaku merokok, mabuk atau memakai obat terlarang, belajar pembelajaran dan kemampuan mengatur waktu, serta menghadapi obesitas dan terlalu banyak makan. Seseorang kadang menemukan bahwa alasan utama mereka tidak dapat mencapai tujuan adalah kekurangan kemampuan-kemampuan tertentu atau pengharapan yang tidak realistis. Dalam area-area tertentu pendekatan self directed dapat menyediakan panduan untuk perubahan dan sebuah rencana yang akan mengarahkan pada perubahan.&lt;br /&gt;
 Lima karakteristik dari program self management yang efektif dikemukakan oleh Cormier dan Nurius :&lt;br /&gt;
1. Kombinasi dari berbagai strategi self  management biasanya lebih berguna daripada hanya satu strategi tunggal&lt;br /&gt;
2. Usaha self management harus dilakukan terus-menerus  dalam suatu periode atau efektivitasnya untuk memunculkan perubahan yang signifikan terbatasi&lt;br /&gt;
3. Klien perlu untuk membuat self evaluation dan menentukan tujuan-tujuan yang sanga bermakna pribadi bagi mereka &lt;br /&gt;
4. Pemakaian self reinforcement adalah sebuah komponen penting dari program self management&lt;br /&gt;
5. Kadang dukungan dari lingkungan dibutuhkan untuk mempertahankan perubahan-perubahan yang dihasilkan dari program self management&lt;br /&gt;
Meskipun harapan bisa menjadi faktor terapeutik yang menyebabkan perubahan, harapan yang tidak realistis dapat membuka jalan bagi suatu pola kegagalan dalam sebuah program self change. Jika ingin sukses dalam program seperti ini, dibutuhkan sebuah analisis yang hati-hati dan tahap-tahap dasar dari program self management yang disediakan oleh Watson dan Tharp (2002) ini harus diikuti:&lt;br /&gt;
1. Memilih tujuan&lt;br /&gt;
Tahap pertama dimulai dengan menetapkan perubahan apa yang diinginkan. Tujuan-tujuan harus ditetapkan sat itu juga dan tujuan itu harus dapat diukur, dapat dicapai, positif, dan penting bagi orang tersebut. Harapan sebaiknya realistis.&lt;br /&gt;
2. Mewujudkan tujuan-tujuan ke dalam perilaku target &lt;br /&gt;
Berikutnya, tujuan-tujuan yang telah dipilih diwujudkan dalam perilaku-perilaku target. Pertanyaan kuncinya adalah,”Perilaku spesifik apa yang ingin aku tingkatkan atau kurangi?”&lt;br /&gt;
3. Self monitoring&lt;br /&gt;
Satu tahap pertama yang penting dalam self directed change adalah proses self monitoring, di mana klien dengan sengaja dan sistematis mengobservasi perilaku mereka sendiri. Salah satu metode paling sederhana untuk mengobservasi perilaku adalah dengan membuat catatan harian behavioral. Kejadian dari perilaku-perilaku khusus dicatat oleh klien, bersama dengan komentar-komentar mengenai isyarat-isyarat anteseden yang relevan dan konsekuensi-konsekuensi.&lt;br /&gt;
4. Menyusun sebuah rencana perubahan&lt;br /&gt;
Tahap ini dimulai dengan membandingkan antara informasi yang dihasilkan dari self monitoring dan standar klien untuk perilaku spesifik. Setelah klien membuat evaluasi atas perubahan behavioral yang ingin mereka dapatkan, mereka melaksanakan sebuah perubahan aktual yang termasuk metode seperti punishment, stimulus control, behavioral contracts dan dukungan sosial. Beberapa tipe sistem self reinforcement diperlukan dalam rencana ini karena reinforcement adalah inti dari terapi behavior modern. Self reinforcement adalah strategi sementara yang digunakan klien sampai mereka sukses mengimplementasikan perilaku baru mereka dalam kehidupan sehari-hari. Sangatlah penting klien mengambil langkah-langkah untuk meyakinkan bahwa mereka mempertahankan perubahan yang telah mereka capai.&lt;br /&gt;
5. Evaluasi sebuah rencana aksi&lt;br /&gt;
Untuk menentukan sejauh mana klien mencapai tujuan mereka, sangat perlu untuk mengevaluasi rencana perubahan tersebut. Rencana tersebut terus menerus diperbaiki dan direvisi sambil klien mencari cara lain untuk mencapai tujuannya. Evaluasi adalah sebuah proses terus-menerus dan bukan hanya kejadian sesaat dan self change adalah sebuah latihan seumur hidup.&lt;br /&gt;
 Kesuksesan usaha self change dimulai dengan menentukan suatu tujuan realistis dan menyediakan sebuah rencana konkrit untuk mencapai perubahan perilaku. Strategi self management sudah diterapkan pada beberapa populasi dan masalah seperti kecemasan, depresi, dan rasa sakit. Penelitian atas self management telah dilaksanakan dalam berbagai macam masalah kesehatan antara lain arthritis, asma, kanker, penyakit jantung, penyalahgunaan zat, diabetes, sakit kepala, gangguan penglihatan, nutrisi dan perawatan kesehatan diri. (Cormier &amp; Nurius,2003).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TERAPI MULTIMODAL: TERAPI CLINICAL BEHAVIOR&lt;br /&gt;
 Terapi multimodal adalah sebuah sebuah pendekatan yang komprehensif, sistematis, dan holistik dalam terapi behavior yang dikembangkan oleh Arnold Lazarus. Pendekatan ini berkembang dalam teori belajar sosial dan teori kognitif dan menggunakan teknik-teknik behavioral dalam mengatasi berbagai macam permasalahan. Model ini menyatakan bahwa kita adalah makhluk sosial yang bergerak, merasa, mengerti, membayangkan, dan berpikir. &lt;br /&gt;
Terapi multimodal adalah sebuah sistem terbuka yang mendukung technical eclecticism. Teknik baru yang secara konstan diperkenalkan dan memperbaiki teknik-teknik yang sudah ada, namun tidak pernah digunakan dalam tatacara yang dipaksakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TECHNICAL ECLECTICISM&lt;br /&gt;
 Terapis multimodal meminjam teknik-teknik dari beberapa sistem terapi lain. Beberapa teknik yang mereka gunakan di dalam terapi individual antara lain: training manajemen kecemasan (Anxiety-Management Training), behavior rehearsal, bibliotherapy, biofeedback, communication training, contingency contracting, mediation, positive imagery, positive reinforcement, relaxation training, self instruction training, sensate focus training, time projection, dan thought stopping. Sebagian besar taknik-teknik tersebut adalah metode-metode behavioral standar yang diambil dari 4 cabang utama pendekatan behavioral.&lt;br /&gt;
 Para terapis mengakui bahwa beberapa klien yang datang mengikuti terapi perlu mempelajari keterampilan-keterampilan dan terapis harus mau mengajarkan, melatih, mendidik, memberi contoh, dan mengarahkan kliennya. Mereka secara ksusus berfungsi sebagai penyedia informasi, instruksi, dan reaksi. Mereka menantang keyakinan-keyakinan self defeating, menawarkan feedback yang konstruktif, memberikan reinforcement positif dan self disclosing yang tepat. Sangatlah perlu terapis memulai dari mana klien berada dan kemudian bergerak ke dalam area-area produktif lain untuk dieksplorasi. Kegagalan untuk memahami situasi klien dapat dengan mudah menyebabkan klien merasa terasing dan salah paham (Lazarus,2000b).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
THE BASIC I.D.&lt;br /&gt;
 Esensi dari pendekatan multimodal Lazarus adalah premis yang menyatakan bahwa kepribadian kompleks manusia dapat dibagi dalam 7 area fungsi utama, yaitu: B = Behavior, A = Affective responses, S = Sensations, I = Images, C = Cognitions, I = Interpersonal relationship, dan D = Drugs, biological functions, nutrition dan exercise (Lazarus). Meskipun modalitas-modalitas tersebut saling berpengaruh, mereka dapat dipertimbangkan sebagai fungsi-fungsi tersendiri.&lt;br /&gt;
 Terapi multimodal dimulai dengan sebuah asesmen komprehensif atas ketujuh modalitas fungsi manusia dan interaksi antar modalitas-modalitas tersebut. Sebuah asesmen yang komplit dan program treatment harus memberikan keterangan masing-masing modalitas dari BASIC ID tersebut, di mana peta kognitif saling berhubungan dengan masing-masing aspek kepribadian.&lt;br /&gt;
Pendekatan Multimodal ini didasarkan pada tipe-tipe pertanyaan yang diajukan Lazarus :&lt;br /&gt;
1. Behavior. Model ini mengarah pada perilaku berterus terang, termasuk di dalamnya tindakan, kebiasaan, reaksi yang dapat diamati dan dapat diukur. Contoh : “apa yang ingin kau ubah?” “seberapa aktif dirimu?”&lt;br /&gt;
2. Afeksi. Model ini mengarah pada emosi, suasana hati, perasaan yang kuat. Contoh : “apa yang dapat membuatmu tertawa, sedih, menangis, senang, takut?”&lt;br /&gt;
3. Sensasi.  Model ini mengarah pada panca indera.&lt;br /&gt;
Contoh : “sensasi seperti apa yang paling kau sukai atau tidak kau sukai dari melihat, memcium, mendengarkan, menyentuh, dan merasa?”&lt;br /&gt;
4. Imajinasi. Model ini mengarah pada cara dimana kita menggambarkan diri sendiri, dan di dalamnya terdapat kenangan, mimpi, dan fantasi. &lt;br /&gt;
Contoh : “bagaimana kamu melihat tubuhmu?” “bagaiman kamu melihat dirimu sendiri?”&lt;br /&gt;
5. Kognitif. Model ini mengarah pada kemampuan untuk mengerti, filosofi, ide, opini, dan judgement, juga sikap, dan kepercayaan.&lt;br /&gt;
Contoh : “bagaiman pemikiran-pemikiranmu dapat berdampak pada emosimu?” “apakah hal-hal negatif yang kau katakan pada dirimu?”&lt;br /&gt;
6. Hubungan Interpersonal. Model ini berhubungan pada interaksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;
Contoh : “apa yang kau harapkan dari orang-orang dalam hidupmu?” “adakah beberapa hubungan dengan beberapa orang yang ingin kau ubah?”&lt;br /&gt;
7. Obat-obatn/Biologis. Tidak hanya meliputi obat-obatan, tetapi juga kebiasaan-kebiasaan klien yang berhubungan dengan nutrisi dan olahraga mereka.&lt;br /&gt;
Contoh : “apakah anda memperhatikan kesehatan anda?” “apakah kebiasaan-kebiasaanmu &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terapi Ringkas dan Menyeluruh&lt;br /&gt;
Terapi komprehensif dan menyeluruh ini termasuk di dalamnya mengoreksi ketidakpercayaan, perilaku devian, perasaan tidak suka, dan kemungkinan biokemikal yang tidak seimbang. Terapis multimodal percaya bahwa klien belajar banyak dalam terapi sedangkan kemungkinana terkecilnya adalah masalah-masalah lama yang akan terjadi lagi.&lt;br /&gt;
Franks menyatakan : “Terapi ringkas multimodal adalah terapi behavior dalam salah satu bentuk paling popular. Efisien, efektif, teachable, dan menyeluruh tanpa menjadi kaku.&lt;br /&gt;
 Terapis mengidentifikasi satu isu specific dari masing-masing aspek dari BASIC I.D. Kerangka kerja sebagai sebuah target untuk mengubah dan mengajari klien sebuah susunan teknik yang dapat mereka gunakan untuk melawan pikiran yang bersalah, untuk belajar bersikap santai dalam situasi stres, dan untuk mendapat kemampuan interpersonal efektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terapis Peran Multimodal&lt;br /&gt;
Terapis multimodal menjaga untuk menjadi sangat aktif selama sesi terapi, memfungsikan sebagai trainer, pengajar, konsultan, dan contoh peran. Mereka memberikan informasi, instruksi, dan timbale balik seperti contoh perilaku asertif, menantang penolakan kepercayaan, menawarkan saran, menawarkan reinforcement positif, dan menjadi lebih membuka diri.&lt;br /&gt;
 Terapi panggilan efektif bagi konselor untuk menjadi “bunglon otentik”(Lazarus, 1993), yang berarti bahwa sesuatu dimainkan secara fleksibel  dalam gaya berhubungan adalah sama pentingnya dengan teknik meningkatkan hasil perawatan. Terapis butuh untuk membuat beberapa pilihan rasa menyesal dengan berbagai gaya berbeda dalam berhubungan dengan klien.  Mereka akan memutuskan kapan dan bagaimana secara langsung terlibat atau hanya sekadar mendukung, dingin atau hangat, formal atau informal, dan kuat atau lembut. Yang terpenting adalah kemampuan terapis untuk menggabungkan gaya berhubungan yang paling sesuai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penggabungan Teknik Behavioral dengan Pendekatan Psikoanalitik Kontemporer&lt;br /&gt;
Aspek-aspek terapi behavior dapat dikombinasikan dengan sejumlah pendekatan-pendekatan terapeutik.&lt;br /&gt;
• Dalam fase pertama, konselor harus mampu untuk mendengar cerita dari klien, untuk mengerti dunia fenomenologi mereka, dan untuk membangun rapor dengan mereka. Pada fase ini konselor harus menggali perasaan menyesal klien dari masa lalu dan keadaan sekarang dan contoh pemikiran yang mempengaruhi interpretasi klien terhadap dunia.&lt;br /&gt;
• Dalam fase kedua, insight ini jarang memungkinkan klien untuk mengakui dan mengekspresikan kenangan-kenangan buruk, perasaan-perasaan, dan pikiran-pikiran. Karena klien mampu untuk memproses yang direpresi sebelumnya dan memori disosiasi dan perasaan dalam konseling, perubahan-perubahan kognitif dalam persepsi diri dan yang jarang terjadi. Karena klien sedang mengusahakan secara kognitif proses penstrukturan ulang situasi hidup, mereka mandapatkan sesuatu yang baru dan beradaptasi dengan cara berpikir, berperasaan, dan meniru.&lt;br /&gt;
• Dalam fase ketiga dan perawatan fase akhir, dimana merupakan fase tindakan. Saat bagi klien untuk berusaha memperbarui perilaku berdasarkan pada kemampuan insight, pengertian, dan penstrukturan ulang kognitif yang dipeoleh pada fase konseling teradahulu. Pengakhiran konseling adalah sebuah keputusan yang berdasarkan pada perubahan kualitatif dalam hubungan klien dan gaya hidup.&lt;br /&gt;
Berdasarkan Morgan dan MacMillan (1999), terdapat peningkatan dalam literature bahwa teknik kognitif behavioral perlu diperhatikan, perubahan-perubahan kognitif klien. Mengadaptasi dari konsep dasar pemikiran psikoanalisis untuk menghubungkan terapi secara ringkas membuat pendekatan-pendekatan ini berguna dalam terapi waktu-terbatas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TERAPI BEHAVIOR DARI SEBUAH PERSPEKTIF MULTIKULTURAL&lt;br /&gt;
Kontribusi untuk Konseling Multikultural&lt;br /&gt;
 Terapi behavior memiliki beberapa keuntungan dibandingkan teori-teori lain yang bekerja dalam populasi multikultural. Karena kebudayaan dan latar belakang etnik mereka, beberapa klien memegang nilai-nilai yang berlawanan terhadap pengekspresian perasaan dan saling berbagi antarindividu. Konseling behavioral tidak menitikberatkan pada pengalaman katarsis. Yakni mengubah perilaku spesifik dan mengembangkan kemampuan menyelesaikan-masalah. Klien yang merencanakan tindakan dan perubahan behavioral memungkinkan untuk bekerja sama dengan pendekatan ini karena mereka dapat melihat bahwa hal itu menawarkan pada mereka metode-metode kongkrit untuk berdamai dengan permasalahan-permasalahan hidup mereka.&lt;br /&gt;
 Tanaka Matsumi dkk (2002) menyatakan bahwa terapi behavior berdasarkan pada sebuah analisis eksperimental behavior dalam lingkungan social klien. Pendekatan behavioral telah bergerak melebihi perlakuan terhadap masalah behavioral klien. Hal ini memberikan penekanan pada suatu assessment yang cermat untuk memastikan bahwa tidak hanya kondisi tertentu yang bias menimbulkan masalah pada klien, tetapi juga klien mau menerima perubahan pada tingkah lakunya dan apakah perubahan tesebut memberikan peranan yang penting dalam kehidupan klien.&lt;br /&gt;
Dalam membuat suatu assessment yang tepat terapis behavioral memasukkan konteks kebudayaan. Dimana tingkah laku klien juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan social budaya klien. Sumber-sumber atau pengaruh yang kuat yang didapat dari lingkungan disekeliling klien dapat membawa perubahan terhadap klien.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KETERBATASAN DALAM KONSELING MULTIKULTURAL&lt;br /&gt;
Menurut Spiegler &amp; Guevremont (2003), tantangan kedepan untuk terapis behavioral adalah untuk mengembangkan secara empiris didasarkan rekomendasi tentang bagaimana terapi behavioral dapat secara optimal melayani bermacam-macam klien dengan budaya yang berbeda-beda. Meskipun terapi behavioral sensitive terhadap perbedaan antara klien delam pengertian yang luas terapis behavioral memerlukan untuk menjadi lebih responsive terhadap isu-isu khusus yang menyinggung semua bentuk perbedaan. Karena ras, gender etnik dan orientasi seksual adalah factor yang kritis yang mempengaruhi proses dan hasil dari terapi. Ketika klien membuat perubahan secara personal yang signifikan sangat mungkin bahwa orang-orang disekeliling klien akan bereaksi secara berbeda terhadap perubahan tingkah laku klien. Oleh karena itu, sebelum memutuskan terlalu cepat dalam pencapaian tujuan terapi konselor dank lien memerlukan diskusi tentang keuntungan dan kerugian dari perubahan yang akan dialami oleh klien.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RANGKUMAN DAN EVALUASI.&lt;br /&gt;
Terapi behavioral mempunyai karaktiristik khusus dalam berbagai hal. Tidak hanya pada konsep dasar tetapi juga pada teknik-tekniknya yang dapat diaplikasikan langsung dalam menanggulangi masalah-masalah khusus. Pergerakan behavioral memasukkan 4 mayor area dalam perkembangannya : Operant Conditioning, Classical Conditioning, Teori Belajar Sosial dan meningkatkan perhatian kepada faktor-faktor kognitif yang mempengaruhi tingkah laku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontribusi Terapi Tingkah Laku&lt;br /&gt;
 Keuntungan seorang terapis tingkah laku yaitu memiliki spesifikasi teknik tingkah laku yang mereka berikan.Terapis menggunakan berbagai strategi tingkah laku untuk membantu klien menyatukan rencana dalam tindakannya untuk mengubah tingkah laku. Dasar terapi tingkah laku yaitu terpusat pada klien, terapis harus aktif mendengarkan, empati, respek, memberikan positif reinforcement dan memiliki kesiapan dalam memberikan kerangka tingkah laku. Terapi tingkah laku ini digunakan dalam dunia kesehatan, ilmu kesehatan anak, program rehabilitasi, dan manajemen stress. Pendekatan ini memiliki kontribusi untuk psikologi mental khususnya membantu klien mempertahankan hidup yang sehat.&lt;br /&gt;
 Kontribusi terapi tingkah laku juga menitikberatkan pada penelitian dan pengukuran hasil treatment. Seandainya hasil tidak diperoleh, maka terapis mengkaji ulang hasil analisis dan treatment yang direncanakan. Terapis tingkah laku menggunakan teknik pengalaman yang dirasakan oleh klien, dimana klien akan menerima treatment yang efektif dan relatif singkat. Kekuatan dalam pendekatan terapi tingkah laku adalah menitikberatkan pada tanggungjawab dan tingkah laku apa yang seharusnya dirubah. Klien memiliki kebebasan untuk memutuskan terapi apa yang akan digunakan.&lt;br /&gt;
Keterbatasan dan Kritikan dalam Terapi Tingkah Laku&lt;br /&gt;
1. Terapi tingkah laku mungkin dapat mengubah tingkah laku, tetapi tidak mengubah perasaan. Beberapa kritik menyatakan bahwa perasaan harus dirubah dahulu sebelum tingkah laku dirubah. Ahli tingkah laku berkeyakinan bahwa bukti empiris tidak menunjukkan bahwa perasaan harus dirubah terlebih dahulu dan ahli klinis menyatakan bahwa perasaan sebagai sebuah  bagian dari proses treatment yang diterapkan.&lt;br /&gt;
2. Terapi tingkah laku mengabaikan faktor hubungan yang penting dalam terapi. Perubahan terjadi apabila dalam hubungan klien dan terapis terabaikan dalam proses terapi tingkah laku. Walaupun terapis tidak menempatkan bobot dalam variabel hubungan, tetapi mereka mengetahui bahwa hubungan pekerjaan yang baik dengan klien merupakan pondasi/dasar yang diperlukan untuk keefektifan teknik yang digunakan. Lazarus menyatakan “ hubungan adalah tanah yang memungkinkan teknik untuk berakar”&lt;br /&gt;
3. Terapi tingkah laku tidak menyediakan pemahaman yang mendalam. Seandainya pernyataan itu benar terapis tingkah laku seharusnya merespon bahwa pemahaman yang mendalan tidak diperlukan. Mereka tidak fokus pada insight sebab tidak ada fakta yang jelas bahwa insight adalah hasil kritikan. Perilaku dapat berubah secara langsung. &lt;br /&gt;
4. Terapi tingkah laku menangani gejala-gejala daripada sebab-sebabnya. Asumsi psikoanalisis bahwa peristiwa traumatik merupakan akar permasalahan. Terapis tingkah laku mengetahui bahwa respon tingkah laku yang menyimpang memiliki sejarah dan sejarah hidup seseorang penting dalam menyelesaikan masalah. Akan tetapi terapis tingkah laku mengutamakan perubahan keadaan lingkungan untuk mengubah tingkah laku. Mereka tidak menerima bahwa gejala-gejala merupakan manifestasi dalam konflik intrapsikis.&lt;br /&gt;
5. Terapi tingkah laku melibatkan kontrol dan manipulasi oleh terapis. Semua terapis memiliki hubungan yang kuat dan kontrol dengan klien. Kadzin (2001) percaya tidak ada persoalan  kontrol dan manipulasi yang dihubungkan dengan strategi tingkah laku yang tidak juga dilakukan oleh pendekatan terapi yang lain.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/6733869394153759185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/10/behavior-therapy_23.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/6733869394153759185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/6733869394153759185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/10/behavior-therapy_23.html' title='BEHAVIOR THERAPY'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-3931580503017507156</id><published>2011-10-23T22:00:00.001-07:00</published><updated>2011-10-23T22:00:26.628-07:00</updated><title type='text'>BEHAVIOR THERAPY</title><content type='html'>Perkenalan&lt;br /&gt;
 Behaviour therapy adalah sebuah pendekatan secara klinis yang dapat dipakai untuk mengobati bermacam-macam gangguan, dalam berbagai tempat dan berbagai macam kelompok populasi sosial. Gangguan kecemasan, depresi, penyalahgunaan zat, gangguan makan, kekerasan dalam rumah tangga, penyimpangan seksual, manajemen penderitaan, dan hipertensi semuanya telah berhasil diobati dengan memakai pendekatan ini. &lt;br /&gt;
Prosedur perilaku ini digunakan pada beberapa area termasuk pengembangan ketidakmampuan, sakit mental, pendidikan dan special pendidikan, komunitas psikologi, psikologi klinis, rehabilitasi, bisnis, manajemen diri, psikologi olahraga, hubungan perilaku yang sehat, dan gerontology.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Latar belakang&lt;br /&gt;
 Pada tahun 1960 Albert Bandura mengembangkan teori pembelajaran sosial yang mengkombinasikan classical dan operant conditioning dengan observational learning. Sejak tahun 1970anlah behaviour therapy terbukti sebagai sebuah kekuatan utama dalam psikologi dan membuat pengaruh yang signifikan pada pendidikan, psikologi, psikoterapi, psikiatri, dan pekerjaan sosial. Teknik-teknik perilaku dikembangkan dan diperluas dan teknik-teknik tersebut juga dipakai pada bidang-bidang seperti bisnis, industri, dan membesarkan anak. Pendekatan ini sekarang dipandang sebagai pilihan perlakuan untuk berbagai masalah psikologi.&lt;br /&gt;
 Pada tahun 1980an dicirikan dengan sebuah penelitian untuk pembaharuan dimasa mendatang dalam konsep dan metode-metode yang akan melebihi teori pembelajaran tradisional. &lt;br /&gt;
Pada akhir tahun 1990an, behaviour therapy ditandai oleh adanya perbedaan sudut pandang dan prosedur, tetapi semua pelaksanaannya terfokus pada perilaku yang tampak, faktor-faktor yang menentukan perilaku, pengalaman-pengalaman pembelajaran untuk memajukan perubahan, dan penilaian serta evaluasi yang setepat-tepatnya.&lt;br /&gt;
4 Area Perkembangan&lt;br /&gt;
1. Classical Conditioning&lt;br /&gt;
Classical conditioning melihat perilaku tertentu responden, seperti lutut tersentak dan saliva, keduanya diperoleh dari organisme yang pasif. Pada tahun 1950an, Joseph Wolpe dan Arnold Lazarus serta Hans Eysenck mulai menggunakan penemuan-peneuan penelitian eksperimental dengan memakai hewan-hewan untuk membantu menangani phobia ditempat-tempat klinis. Pekerjaan mereka berdasarkan pada teori belajar Hulian dan Pavlovian (classical) Conditioning.&lt;br /&gt;
Tokoh utama adalah Ivan Pavlov, yaitu yang mengilustrasikan classical conditioning yang bereksperimen dengan anjing. Ketika makanan dikeluarkan, mulut anjing mengeluarkan air liur yang merupakan perilaku responden. Ketika makanan dimunculkan secara berulang-ulang dengan diikuti suara bel, kemungkinan anjing akan mengeluarkan air liurnya untuk suara dari bel itu sendiri. Bagaimanapun juga, jika bel dibunyikan berulang kali tapi tidak dipasangkan lagi dengan makanan, respon air liur stidaknya akan berkurang dan menjadi hilang.&lt;br /&gt;
2. Operant Conditioning&lt;br /&gt;
Termasuk tipe pembelajaran dimana perilaku dipengaruhi oleh sebagian besar konsekuensi-konsekuensi yang mengikutinya. Jika perubahan-perubahan lingkungan ditimbulkan oleh perilaku yang dikuatkan , maka jika mereka menyediakan tiap reward untuk organisme atau aversive stimuli yang dilenyapkan, mungkin sekali perilaku itu akan datang kembali. Jika perubahan-perubahan lingkungan menghasilkan aversive stimuli, kesempatan perilaku akan terulang lagi dan akan berkurang positif dan negative reinforcement, hukuman, dan teknik-teknik extinction.&lt;br /&gt;
Skinner berpendapat bahwa pembelajaran tidak dapat terjadi pada ketiadaan tiap jenis penguatan, salah satunya positif atau negative. Menurut Skiner, tindakan-tindakan yang dikuatkan cenderung diulangi dan tindakan yang tidak mendapat penguatan cenderung berkurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Social Learning Theory&lt;br /&gt;
Pendekatan belajar sosial dikembangkan oleh Albert BAndura Richard Walters (1963) yaitu saling berhubungan, saling disiplin, dan multimodal (Bandura, 1977, 1982). Perilaku dipengaruhi oleh tiap-tiap stimulus, baik dari penguatan eksternal maupun proses-proses mediational kognitif. Belajar sosial dan teori kognitif menghasilkan triadic hubungan resiprokal, diantaranya adalah lingkungan, faktor-faktor personal,(keyakinan, pilihan, pengharapan, persepsi diri dsb) dan perilaku individu. Menurut Bandura (1982, 1997) efikasi diri adalah keyakinan atau pengharapan individu bahwa mereka dapat menguasai situasi dan memberikan perubahan yang diinginkan. Teori efikasi diri mempresentasikan suatu wacana utama tentang kesatuan penjelasan teoritis bagaimana prosedur terap behaviour dan psikoterapi lain bekerja.&lt;br /&gt;
4. Cognitive Behaviour Therapy&lt;br /&gt;
Beberapa teknik yang dikembangkan dalam 3 dekade terakhir ini, menegaskan bahwa proses-proses kognitif menghasilkan event-event tersendiri seperti self-talk klien sebagai mediator perubahan perilaku. Pendekatan ini menawarkan metode-metode action-oriented yang bervariasi untuk  membantu orang merubah apa yang mereka pikir dan lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KONSEP-KONSEP UTAMA&lt;br /&gt;
sudut pandang alami manusia&lt;br /&gt;
 Terapy behaviour modern didasarkan pada sebuah sudut pandang perilaku manusia yang alami yang menunjukkan sebuah pendekatan yang terstruktur dan sistematis untuk konseling. Sudut pandang ini tidak terletak pada sebuah asumsi deterministic bahwa manusia-manusia adalah hasil dari kondisi sosiokultural mereka. Sepertinya sudut pandang yang sekarang yang menyatakan bahwa seseorang merupakan produser sekaligus hasil dari lingkungan mereka.&lt;br /&gt;
 Pada behaviour therapy jaman sekarang lebih ke arah prosedur-prosedur perkembangan yang secara aktual memberi control pada klien dan meningkatkan tingkat kebebasan mereka. Behaviour therpy bertujuan untuk meningkatkan skill-skill seseorang sehingga mereka mempunyai pilihan yang lebih untuk merespon.&lt;br /&gt;
 Secara filosofis, pendekatan behavioural dan humanistik mempunyai sudut pandang yang berbeda seperti kutub yang berlawanan. Lingkungan yang keras melihat dasar alami manusia pada sebuah stimulus-respon atau respon-konsekuensi model perilaku yang telah ditentang oleh Bandura (1974, 1977, 1986). Dia menolak model mekhanistic dan deterministik karena memiliki kepercayaan yang terpisah pada hal-hal yang menentukan lingkungan, dimana terdapat kesulitan-kesulitan yang mengingat akan kapasitas yang dimiliki untuk memberikan efek lingkungan yang nyata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KARAKTERISTIK DAN ASUMSI DASAR&lt;br /&gt;
10 karakteristik kunci dari terapi behavior berdasarkan deskripsi dari Kazdin (2001), Miltenberger (2004), dan Spiegler dan Guevremont (2003) antara lain:&lt;br /&gt;
1. Terapi behavior didasarkan pada prinsip dan prosedur dari metode ilmiah. Dengan penelitian diperoleh dari prinsip-prinsip pembelajaran untuk membantu mengubah tingkah laku maladaptif. Terapis behavior menguraikan tujuan treatmen dalam tujuan konkret yang objektif untuk membuat adanya kemungkinan replikasi intervensi mereka. Tujuan ini disetujui oleh kedua pihak. Metode penelitian digunakan untuk mengevaluasi efektifitas prosedur assessmen dan treatmen. Secara singkat, konsep dan prosedur behavioral dinyatakan secara eksplisit, diuji secara empiris dan diperbaiki secara terus-menerus.&lt;br /&gt;
2. Terapi behavior memperlakukan masalah klien dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, yang menentang analisis kemungkinan determinan-determinan historikal. Penekanannya pada faktor-faktor spesifik yang mempengaruhi keberfungsian saat ini dan faktor-faktor yang dapat digunakan untuk memodifikasi performance. Terapis menggunakan teknik behavioral untuk mengubah faktor-faktor saat ini yang mempengaruhi TL klien serta dengan melihat masa lalu sebagai tambahan informasi kejadian yang berhubungan dengan TL saat ini.&lt;br /&gt;
3. Klien yang dilibatkan dalam terapi behavior diharapkan berperan aktif dengan ikut serta dalam aksi-aksi memperlakukan masalah mereka. Klien memantau TL mereka baik selama maupun di luar sesi terapi, belajar dan praktek skil coping dan role-play TL baru. Terapi behavior adalah pendekatan berorientasi tindakan, dan belajar adalah inti dari terapi.&lt;br /&gt;
4. Pendekatan behavioral menekankan mengajari klien skil-skil manajemen diri, dengan harapan bahwa mereka akan bertanggung jawab atas pergantian yang mereka pelajari dalam ruang terapis menuju kehidupan sehari-hari. Terapi behavior secara umum dibawa dalam lingkungan natural klien sebanyak mungkin.&lt;br /&gt;
5. Fokusnya adalah menilai TL baik yang jelas maunpun tersembunyi secara langsung, mengidentifikasi masalah, dan mengevaluasi perubahan. Assessmen langsung dari target masalah dilakukan melalui observasi atau pemantauan diri (self-monitoring). Terapis juga menilai kebudayaan klien sebagai bagian dari lingkungan sosial mereka, termasuk jaringan dukungan sosial yang berhubungan dengan target TL.&lt;br /&gt;
6. Terapi behavior menekankan pendekatan kontrol diri dimana klien belajar strategi-strategi manajemen diri. Terapis melatih klien untuk memulai, mengadakan dan mengevaluasi terapi mereka sendiri.&lt;br /&gt;
7. Intervensi treatmen behavioral secara individual disesuaikan dengan masalah spesifik yang dialami klien. Beberapa teknik terapi digunakan untuk memperlakukan masalah individu klien. Dalam hal ini harus disesuaikan treatmen apa, untuk siapa yang paling efektif dan tiap klien berbeda.&lt;br /&gt;
8. Praktek dari terapi behavior didasarkan pada hubungan kolaborasi antara terapis dan klien, dan setiap usaha dibuat untuk memberitau klien tentang bentuk dan jalannya treatmen.&lt;br /&gt;
9. Penekanannya adalah pada aplikasi prakteknya. Intervensi diaplikasikan dari berbagai segi dari kehidupan sehari-hari dimana TL maladaptif dikurangi dan TL adaptif ditingkatkan.&lt;br /&gt;
10. Terapis berusaha mengembangkan prosedur kultur spesifik dan memelihara ketaatan serta kooperasi klien.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PROSES TERAPEUTIK&lt;br /&gt;
Tujuan Terapeutik&lt;br /&gt;
Tujuan umum terapi behavior adalah meningkatkan pilihan individu dan menciptakan kondisi baru bagi pembelajaran. Klien dan terapis pada awal sesi membatasi tujuan proses terapeutik. Assessmen formal terlebih dulu dilakukan terhadap treatmen untuk menentukan tingkah laku yang menjadi target perubahan. Assessmen berkelanjutan selama terapi dapat menentukan apakah tujuannya sudah dicapai atau belum. Terapi behavior kontemporer menekankan peran aktif klien dalam menentukan treatmen mereka. Terapis membantu klien membuat tujuan spesifik yang dapat diukur. Terapis behavior dan klien mengubah tujuan selama proses terapeutik bila perlu.&lt;br /&gt;
 Rangkaian dari tujuan yang dipilih dideskripsikan oleh Cormier dan Nurius. Proses ini menunjukkan hubungan kolaboratif dasar yang penting :&lt;br /&gt;
• Konselor menyediakan tujuan yang rasional, menjelaskan peranan tujuan dalam terapi, maksud atau kegunaan dari tujuan itu, dan partisipasi klien dalam proses penentuan tujuan.&lt;br /&gt;
• Klien mengenali hasil yang diinginkan dengan menentukan perubahan-perubahan yang dia inginkan dari konseling.&lt;br /&gt;
• Klien adalah orang yang mencari bantuan, dan hanya dia yang dapat melakukan perubahan. Konselor membantu klien menerima tanggung jawab atas perubahan.&lt;br /&gt;
• Nilai efek manfaat semua tujuan yang diidentifikasi diselidiki. Konselor dan klien mendiskusikan kemungkinan manfaat dan ketidakmanfaatan tujuan ini.&lt;br /&gt;
• Klien dan konselor kemudian memutuskan untuk melanjutkan mengikuti tujuan yang telah dipilih, untuk mempertimbangkan kembali tujuan awal klien, atau untuk mencari pelayanan dari praktisi lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fungsi Dan Peranan Terapis &lt;br /&gt;
Terapis behavior cenderung untuk aktif dan langsung dan berfungsi sebagai konsultan dan pemecah masalah. Praktisi memperhatian tanda-tanda yang diberikan klien kemudian mengikuti dugaan klinis dari klien. Mereka menggunakan beberapa teknik umum seperti summarizing, refleksi, klarifikasi, serta pertanyaan terbuka dan tertutup. Tetapi, klinisi behavioral melaksanakan fungsi lainnya juga yaitu :&lt;br /&gt;
• Melaksanakan sebuah assessmen fungsional yang seksama untuk mengidentifikasi kondisi yang dipertahankan dengan pengumpulan informasi yang sistematis tentang penyebab situasi, dimensi masalah tingkah laku, dan akibat dari masalah itu.&lt;br /&gt;
• Membuat tujuan treatmen awal, dan mendisain serta menerapkan rencana treatmen untuk melaksanakan tujuan ini.&lt;br /&gt;
• Menggunakan strategi untuk menciptakan generalisasi dan memelihara perubahan tingkah laku.&lt;br /&gt;
• Mengevaluasi kesuksesan rencana perubahan dengan mengukur kemajuan ke arah tujuan selama durasi treatmen.&lt;br /&gt;
• Melaksanakan assessmen lanjutannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengalaman Klien dalam Terapi  &lt;br /&gt;
Kontribusi unik dari terapi behavior adalah behavior terapi menyediakan terapis dengan sistem yang bagus dari prosedur yang dipakai. Baik terapis maupun klien memiliki peran yang jelas, dan ditekankan akan pentingnya kesadaran serta partisipasi klien dalam proses terapeutik. Terapi behavior dicirikan dengan peran aktif terapis dan klien. Peran terapis adalah mengajari skil-skil konkrit melalui pemberian instruksi, modeling, dan melalui feedback performance. Klien campur tangan dalam pengulangan behavioral dengan feedback sampai skil-skil telah dipelajari dengan baik dan umumnya menerima aktif tugas-tugas rumah (seperti pemantauan diri dari masalah behavioral). Klien harus dimotivasi untuk mengubah dan bekerja sama dalam aktivitas terapeutik, baik dalam sesi terapi maupun dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;
 Klien diberi semangat untuk bereksperimen terhadap tujuan untuk meningkatkan repertoir tingkah laku adaptif mereka. Mereka dibantu untuk menggeneralisasikan dan mentransfer pembelajaran yang didapat dalam situasi terapi menuju situasi di luar terapi. Verbalisasi dalam konseling digunakan ketika transfer perubahan dibuat dari sesi terapi menuju kehidupan sehari-hari dan ketika efek dari terapi diperluas di luar pengakhiran dimana treatmen dapat dianggap berhasil. &lt;br /&gt;
 Klien memiliki frame of reference untuk menilai kemajuan mereka dalam menyelesaikan tujuan mereka. Ketika tujuan telah diselesaikan, maka klien dan terapis mengakhiri treatmen. Setelah terapi behavior yang sukses, klien mengamalkan pilihan-pilihan yang lebih baik dalam berperilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan Antara Terapis dan Klien&lt;br /&gt;
Hubungan terapeutik yang baik dapat membantu proses perubahan behavioral dimana meningkatkan kesempatan klien agar mudah menerima terapi, bekerja sama dengan prosedur terapeutik, dan klien memiliki penerimaan positif serta harapan sukses mengenai efektivitas terapi. Kebanyakan praktisi behavioral mempertahankan faktor-faktor seperti kehangatan, empati, keautentikan, kepermisivan, dan penerimaan sangat dibutuhkan agar perubahan behavioral terjadi namun juga harus disertai dengan teknik-teknik behavioral sehingga tujuan dapat tercapai. Hubungan klien-terapis adalah fondasi dimana strategi terapeutik dibangun untuk membantu perubahan klien pada arah yang mereka harapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aplikasi teknik dan prosedur terapeutik&lt;br /&gt;
Penilaian tingkah laku, yang diawali dengan deskripsi tentang keluhan klien merupakan hal yang utama untuk terapi tingkah laku. Klien menyimpan catatan/memori tentang frekuensi dan intensitas kejadian, dan ini menjadi alat dalam membuat sebuah rencana pengobatan dan memutuskan apakah terapinya bekerja/berjalan. Ada beberapa instrumen penilaian yang praktis dan mudah digunakan, termasuk laporan isi laporan diri tak terhitung, skala rating tingkahlaku/kebiasaan, format penelitian diri, dan teknik penelitian sederhana untuk mengumpulkan informasi yang berguna untuk permasalahan klien. Metode penilaian tingkah laku dapat sepenuhnya digunakan untuk bekerja dengan klien dengan cakupan permasalahan yang berbeda.&lt;br /&gt;
Kekuatan dari pendekatan tingkah laku adalah pengembangan dari prosedur pengobatan spesifik yang harus ditunjukkan agar efektif dalam mencapai sasaran. Terapis tingkah laku memiliki hipotesis yang mereka jalankan dari menerapkan prosedur pengobatan, yang mana dapat diuji untuk kebenarannya. Hasil dari intervensi mereka menjadi jelas karena mereka memperoleh umpan balik secara berkesinambungan dari klien mereka.&lt;br /&gt;
Temuan utama yang dihasilkan oleh penelitian dalam terapi tingkah laku adalah hasil perawatan memiliki segi yang banyak (bermacam-macam). Tidak semua ada perubahan atau tidak ada sama sekali. Peningkatan mungkin terjadi di beberapa area tetapi tidak pada area lainnya. Semua peningkatan tidak terjadi pada waktu yang sama, dan diperoleh dibeberapa area yang mungkin berhubungan dengan area lain (Kazdin, 1982; Voltz &amp; Evans, 1982).&lt;br /&gt;
Menurut Arnold Lazarus ( 1989, 1992b, 1997a, 2000b), seorang pelopor dalam terapi klinis perilaku, praktisi tingkah laku dapat disertakan dalam rencana perawatan mereka dengan semua teknik yang dapat ditunjukan demi keefektifan perubahan perilaku. Lazarus mendukung penggunaan teknik yang berbeda, dengan mengabaikan dasar teoritis mereka. Dalam pandangannya, semakin luas cakupan teknik terapi, semakin berpotensi efektif terapi tersebut. Jelas bahwa terapis perilaku tersebut harus tidak membatasi diri mereka untuk memperoleh metode dari teori belajar. Demikian juga, teknik tingkah laku dapat disatukan ke dalam pendekatan-pendekatan lain.&lt;br /&gt;
Prosedur pengobatan digunakan terapis perilaku secara rinci dan dirancang untuk klien tertentu. Terapis selalu kreatif dalam intervensi (campur tangan) mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penerapan analisis tingkah laku : teknik mempengaruhi keadaan&lt;br /&gt;
Bagian ini menguraikan beberapa prinsip utama dari mempengaruhi keadaan : penguatan positif, penguatan negatif, pemunahan, hukuman positif, dan hukuman negatif.&lt;br /&gt;
Dalam penerapan analisa perilaku, teknik pengaruh keadaan dan metode penilaian dan evaluasi diaplikasikan dalam sebuah cakupan luas permasalahan pada pengaturan yang berbeda (Kadzin, 2001).&lt;br /&gt;
Penguatan positif melibatkan penambahan sesuatu yang berharga pada individu seperti pujian, perhatian, uang atau makanan sebagai konsekuansi dari perilaku tertentu. Stimulus yang diikuti perilaku merupakan penguatan positif. Contohnya, seorang anak mendapat nilai sempurna dan dipuji orang tuanya. Bila dia menghargai pujian ini, ada kemungkinan dia akan memiliki keinginan untuk mengejar nilai yang baik dimasa mendatang. Jika tujuan dari suatu program adalah untuk mengurangi atau menghapuskan perilaku yang tidak diinginkan, penguatan positif sering digunakan untuk meningkatkan frekuensi dari perilaku yang lebih diinginkan, yang mengganti perilaku yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt;
Penguatan negatif melibatkan jalan keluar atau penghindaran rangsangan. Individu yang termotivasi untuk memperlihatkan suatu perilaku yang diinginkan untuk menghindari kondisi yang tidak diinginkan. Contohnya, seorang teman ku tidak suka dibangunkan dengan suara alarm jam yang melengking. Dia telah melatih dirinya untuk bangun beberapa menit sebelum alarm berbunyi.&lt;br /&gt;
Metode mengubah perilaku yang lain adalah pemunahan, yang mengacu pada penahanan penguatan dari penguatan respon sebelumnya. Dalam penerapan pengaturan, pemunahan dapat digunakan untuk perilaku yang telah dirawat oleh penguatan pasitif atau penguatan negatif. Sebagai contoh, anak-anak yang memperlihatkan tingkah marah dibantu dengan memberikan perhatian dari orang tua mereka. Suatu pendekatan untuk mangimbangi permasalahan perilaku adalah mengeliminasi koneksi antara perilaku tertentu (kemarahan) dan penguatan positif (perhatian). Bila itu dilakukan akan dapat mengurangi atau menghilangkan efek tersebut, seperti kemarahan dan agresi. Pemunahan dapat mengurangi maupun menghapuskan perilaku tersebut, tetapi pemunahan tidak akan mengganti respon tersebut yang telah dimusnahkan.  Karena alasan ini, pemunahan harus sering digunakan pada program pembenahan/perbaikan perilaku dengan beberapa strategi penguatan (Kazdin, 2001).&lt;br /&gt;
Cara lainnya perilaku dikontrol melalui hukuman, dimana konsekuensi pada beberapa perilaku tertentu mengakibatkan penurunan dari perilaku tersebut. Tujuan dari penguatan adalah untuk meningkatkan perilaku target, tetapi tujuan dari hukuman adalah untuk menurunkan perilaku target. Miltenberger (2004) menjelaskan 2 jenis hukuman yang mungkin terjadi sebagai konsekuensi dari perilaku : hukuman positif dan hukuman negatif. Dalam hukuman positif suatu stimulus ditambahkan pada perilaku untuk menurunkan frekuensi dari perilaku ( seperti tamparan di pantat seorang anak karena kelakuan buruk atau teguran pada seorang siswa karena nakal di kelas). Dalam hukuman negatif penguatan stimulus dihilangkan/dipindahkan mengikuti perilaku untuk mengurangi frekuensi perilaku target (seperti mengurangi gaji seorang pekerja karena jam kerja yang hilang, atau menghapus jam televisi dari anak-anak karena kelakuan buruk). Dalam jenis hukuman itu,perilaku akan lebih sedikit terjadi dimasa mendatang.&lt;br /&gt;
Skinner (1948) percaya hukuman memiliki nilai terbatas dalam mengubah perilaku dan selalu dengan cara yang tidak diinginkan untuk mengubah perilaku. Dia menentang penggunaan kendali atau hukuman, dan merekomendasikan penguatan positif sebagai pengganti. Prinsip kuncinya adalah menggunakan paling sedikit alat yang mungkin untuk merubah perilaku, dan penguatan positif merupakan yang terkuat sebagai pengganti. Skinner percaya pada nilai dalam menganalisis faktor lingkungan untuk kedua penyebab dan perbaikan untuk permasalahan perilaku dan menantang bahwa manfaat terbesar pada individu ke suatu masyarakat dengan penggunaan penguatan positif yang sistematis sebagai jalan menuju kendali perilaku (Nye, 2000). &lt;br /&gt;
Penulis lain juga telah menunjukkan efek samping dari hukuman dan menyimpulkan bahwa walaupun hukuman mungkin menghapuskan perilaku target tetapi penggunaan teknik ini terus menerus mengakibatkan efek samping yang tidak diinginkan dan sering susah untuk dikendalikan (Kazdin, 2001; miltenberger, 2004). Sebagian efek samping ini adalah reaksi emosional atas hukuman, mencari jalan keluar dan perilaku menghindar, penguatan negatif untuk penggunaan hukuman, modeling penggunaan hukuman, dan isu etis. Hukuman harus digunakan hanya setelah pendekatan yang telah diterapkan dan ditemukan untuk tidak efektif dalam mengubah masalah prilaku (Kazdin, 2001; miltenberger, 2004).&lt;br /&gt;
Ada suatu tempat untuk hukuman pada program perubahan perilaku, tapi hukuman harus digunakan hanya untuk melengkapi strategi penguatan yang mengarah pada pengembangan lain yang sesuai dengan perilaku (Kazdin, 2001).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model Assesmen Fungsional&lt;br /&gt;
Miltenberger ( 2004) menguraikan bagaimana cara untuk berhadapan dengan masalah perilaku melalui langkah demi langkah assesmen fungsional dan program perawatan :&lt;br /&gt;
1. Langkah pertama yaitu melakukan suatu dugaan fungsional untuk mengumpulkan data tentang masa lalu dan konsekuensi yang secara fungsional dihubungkan dengan kejadian dari permasalahan perilaku.&lt;br /&gt;
2. Untuk melakukan suatu dugaan fungsional, menggunakan kedua metode tidak langsung (interview perilaku atau kuisioner untuk mengumpulkan informasi tentang permasalahan perilaku) dan metode pengamatan langsung.&lt;br /&gt;
3. Berdasarkan pada pengumpulan informasi dari dugaan fungsional, terapis mengembangkan hipotesis tentang sifat alami dari masalah perilaku dan kondisi-kondisi yang mendukung perilaku ini.&lt;br /&gt;
4. Ketika fungsi masalah perilaku yang berbeda dikenali, perawatan fungsional ditujukan untuk menunjukkan masa lalu dan hipotesis konsekuensi untuk memelihara masalah perilaku. Perawatan fungsional meliputi teknik-teknik di bawah ini :&lt;br /&gt;
• Penguatan diferensial dari perilaku yang diinginkan untuk mengganti masalah perilaku, yang mungkin meliputi prosedur penguatan positif dan negative.&lt;br /&gt;
• Pemunahan masalah perilaku dengan menahan penguatan ( dikenali pada proses dugaan fungsional ) yang ditemukan untuk perawatan masalah.&lt;br /&gt;
• Mendahulukan prosedur control yang mana pendahuluan dimanipulasi dalam percobaan untuk mencegah terjadinya permasalah perilaku dan mempromosikan perilaku alternatif  untuk mengganti masalah perilaku.&lt;br /&gt;
5. Prosedur hukuman negatif mungkin digunakan untuk mengurangi masalah perilaku, tetapi hanya setelah pendekatan fungsional telah dicoba.&lt;br /&gt;
6. Setelah metode perawatan ini digunakan, sangat penting untuk mengembangkan strategi mempromosikan penyamarataan suatu pemeliharaan perilaku yang telah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelatihan relaksasi dan metoda yang berhubungan&lt;br /&gt;
Pelatihan relaksasi telah mulai popular sebagai metode mengajar orang untuk mengatasi tekanan yang disebabkan kehidupan sehari-hari. Hal itu mengarah pada keberhasilan otot dan relaksasi mental dan mudah dipelajari. Setelah klien belajar dasar dari prosedur relaksasi, sangat penting bagi mereka untuk berlatih latihan ini setiap hari nuntuk memperoleh hasil maksimal.&lt;br /&gt;
Pelatihan relaksasi melibatkan beberapa komponen yang secara khas diperlukan 4 hingga 8 jam instruksi. Klien diberi satu set instruksi yang menanyakan mereka untuk rileks. Mereka mengasumsikan suatu posisi pasif dan rileks dalam lingkungan yang tenang. Bernafas dalam dan tenang juga menghasilkan relaksasi. Pada waktu yang sama klien belajar untuk bermental “lepas”, mungkin dengan memfokuskan pada gambaran atau pikiran yang menyenangkan. Klien didukung untuk benar-benar merasakan dan mengalami kenaikan itu, untuk mengetahui otot mereka mulai tegang dan mempelajari kenaikan ini, dan untuk menahan dan sepenuhnya mengalami kenaikan ini. Ini juga berguna untuk klien dalam mengalami perbedaan antara suatu tegangan dan suatu relaksasi. Relaksasi menjadi ditanggapi dengan baik, yang mana menjadi suatu kebiasaan bila dilatih setiap hari dalam 20 atau 25 menit.&lt;br /&gt;
Desensitisasi Sistematis&lt;br /&gt;
Desensitisasi Sistematis yang didasarkan pada prinsip kondisi klasik, adalah dasar prosedur tingkah laku yang dikembangkan oleh Joseph Wolpe, seorang pelopor terapi perilaku. Bayangan klien lebih menimbulkan ketertarikan pada waktu yang sama bahwa mereka terlibat dalam suatu perilaku yang bersaing dengan kecemasan. Prosedur ini bisa dipertimbangkan sebagai format terapi pembukaan karena klien diminta untuk membuka diri mereka agar tertarik untuk membayangkan sesuatu sebagai jalan untuk menurunkan kecemasan&lt;br /&gt;
Sebelum menerapkan prosedur desensitisasi, terapis memeriksa interview awal untuk mengidentifikasi informasi spesifik untuk mengumpulkan informasi latar belakang yang relevan tentang klien. Interview ini, yang mungkin menjadi bagian terakhir, memberi terapis pengertian yang baik tentang siapakah klien. Terapis mempertanyakan pada klien tentang keadaan tertentu yang menimbulkan kondisi ketakutan.&lt;br /&gt;
Cormier dan Nurius (2003), mendeskripsikan beberapa langkah dalam menggunakan system desensitization: &lt;br /&gt;
1.Relaxation training&lt;br /&gt;
2.Development of the anxiety hierarchy&lt;br /&gt;
3.Sistem desentization yang benar&lt;br /&gt;
1.Relaxation training&lt;br /&gt;
Terapis bersikap sangat tenang, lembut dan berbicara dengan nyaman untuk meningkatkan relaksasi otot.Klien diminta untuk membayangkan lebih dahulu situasi-situasi yang menyenangkan,.Hal ini penting agar klien mendapatkan ketenangan dan kedamaian.Klien kemudian dibimbing bagaimana cara merelaksasi seluruh otot sambil memvisulisasikakan macam-macam bagian tubuh dengan tekanan pada otot wajah.Otot lengan direlaksasi terlebih dahulu, dilanjutkan otot kepala, leher dan bahu, punggung, perut dan ronga dada dan kemudian kaki.Klien diminta untuk berlatih relaksas diluar sesi selama 30 menit setiap hari.&lt;br /&gt;
2.Menyusun Tingkatan Kecemasan&lt;br /&gt;
Terapis bersama dengan klien menyusun suatu tingkatan kecemasan kedalam wilayah-wilayah tertentu, seperti penolakan, cemburu, ketidak setujuan, kritikan atau suatu phobia yang teranalisa.Terapis membuat sebuah daftar bertingkat mengenai situasi-situasi yang dapat menyebabkan peningkatan kecemasan atau penghindaran.Tingkatan disusun kedalam situasi yang paling buruk yang dapat dibayangkan oleh klien ke situasi yang dapat menimbulkan kecemasan yang tarafnya paling rendah.Jika klien telah ditentukan memiliki kecemasan yang berhubungan dengan penolakan.Misalnya, situasi yang dapat menimbulkan kecemasan tertinggi boleh jadi penolakan oleh pasangannya kemudian penolakan oleh teman dekat dan kemudian oleh teman kerja.Situasi yang tingkat mengganggunya paling rendah boleh jadi penolakan oleh orang yang tak dikenal klien dalam sebuah pesta.&lt;br /&gt;
3.Sistem Desensitisasi&lt;br /&gt;
Desensitization dimulai setelah beberapa sesi interview lengkap.Proses desensitisation dengan keadaan klien yang rileks dengan mata tertutup. Terapis menciptakan keadaan yang netral sementara klien diminta untuk membayangkan dirinya berada didalamnya.Jika klien mampu untuk tetap santai, mintalah dirinya untuk membayangkan dirinya berada dalm keadaan yang dapat menimbulkan kecemasan yang tingkatnya paling rendah.Terapis terus mengungkapkan secara bertingkat keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan kecemasan sampai klien menunjukkan bahwa dia mengalami kecemasan, dan pada saat itulah pengungkapan situasi oleh terapis diakhiri.Kemudan relaksasi dilakukan lagi dan terapis kembali mengungkapkan keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan kecemasan.Treatmen diakhiri saat klien mampu untuk tetap dalam kondisi relaks saat membayangkan kondisi yang sebelumnya paling mengganggu dan menimbulkan kecemasan.&lt;br /&gt;
Inti dari system desensitisasi adalah mengulang  proses membayangkan situasi-situasi yang dapat menimbulkan kecemasan tanpa mengalami konsekuensi negatif. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TERAPI EXPOSURE&lt;br /&gt;
Terapi exposure di desain untuk menangani ketakutan dan respon emosi negative lainnya dengan mengenalkan klien pada kondisi-kondisi yang dapat nenimbulkan kecemasan, di bawah kondisi yang terkontrol oleh terapis.&lt;br /&gt;
In Vivo Desensitization&lt;br /&gt;
Melibatkan klien untuk mengekspos situasi nyata yang menakutkan dalam kehidupan sehari-harinya.Klien dapat menghentikan exposure-nya jika dirinya mengalami kecemasan tingkat tinggi.&lt;br /&gt;
Flooding (Pembanjiran)&lt;br /&gt;
Bentuk lain terapi ekspose adalah flooding (pembanjiran), yang mengacu pada in vivo atau imaginal ekspose untuk menimbulkan stimulus pembangkit kecemasan untuk suatu periode yang diperpanjang.Karakteristik dari semua terapi ekspose adalah walaupun klien mengalami kecemasan sepanjang pengeksposan, konsekuensi negative tidak terjadi.&lt;br /&gt;
 In vivo flooding terdiri dari menguatkan dan memperpanjang ekspose yang menghasilkan stimuli untuk merangsang kecemasan  yang nyata  Secara umum,rasa takut yang tinggi pada klien mempertahankan kecemasan mereka melalui penggunaan perilaku maladaptive.di dalam flooding, klien dicegah dari penggunaan respon maladapitf saat berada dalam situasi yang membangkitkan kecemasan. &lt;br /&gt;
Imaginal flooding didasarkan pada prinsip-prisip yang sama  dan mengikuti prosedur yang sama kecuali terjadi ekspose pada imajinasi klien di kehiduapan sehari-harinyaKeuntungan menggunakan imaginal flooding pada in vivo flooding adalah bahwa tidak ada pembatasan sifat alami situasi-situasi yang membangkitkan kecemasan yang dapat diperlakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
EYE MOVEMENT DESENSITIZATION and REPROCESSING (EMDR)&lt;br /&gt;
EMDR adalah salah satu bentuk terapi exposure yang melibatkan imajinasi pembajiran (imaginal flooding), pembentukan ulang pola pikir dan menggunakan kecepatan, irama pergerakan mata dan rangsangan dari dua belah pihak untuk menangani klien yang mengalami traumatic stress. EMDR dikembangkan oleh Francine Shapiro (2001), Prosedur terapi ini mengambil cakupan luas dari intervensi behavioral.Di desain untuk membantu klien yang menghadapi gangguan stress pascatrauma.&lt;br /&gt;
EMDR terdiri atas delapan tahap inti yang banyak diambil dari prosedur yang digunakan dalam terapi behavior: &lt;br /&gt;
1. EMDR digunakan untuk menolong klien membentuk kembali pola pikir mereka atau untuk memproses ulang informasi yang mereka miliki.Seperti halnya pada terapi behavior, tahap awal pada perawatan ini membutuhkan pemahaman akan masalah klien, mengidentifikasi dan mengevaluasi tujuan perawatan secara spesifik.&lt;br /&gt;
2.  Tahap persiapan melibatkan sebuah terapi kelompok.Terapis menjelaskan proses dan pengaruh EMDR, mendiskusikan tujuan dan harapan yang mungkin dimiliki klien, tahap ini dimulai dengan melakukan relaksasi dan nenciptakan suasana yang nyaman saat klien dpat mempertahankan imajinasi emosinya.&lt;br /&gt;
3. Tahap assessment (pengukuran) meliputi, identifikasi memori traumatis yang menimbulkan kecemasan, identifikasi sensasi emosional dan fisik yang dihubungkan  dangan peristiwa traumatis, evaluasi terhadap skala  Subjective Unit of Disturbance (SUD), identifikasi terhadap kognisi negative yang dihubungkan dengan peristiwa yang mengganggu, dan menemukan suatu kepercayaan adaptif yang akan mengurangi tingkat kecemasan.&lt;br /&gt;
4. Di dalam tahap desentisasi, klien diminta untuk memvisualisasikan gambaran traumatiknya, menuturkan kepercayaan maladaptifnya, dan memperhatikan sensasi fisiknya.Proses pengeksposan terbatas, klien diminta untuk mengekspose keadaan yang paling mengganggu selama kurang dari semenit tiap sesinya..Klien diminta untuk (1)membuang pengalaman negatifnya.(2)melaporkan apa yang dibayangkannya, dirasakan dan dipikirkannya.&lt;br /&gt;
5. Tahap Instalasi terdiri dari penerapan dan peningkatan kekuatan pola pikir (kognisi) positif klien yang  telah teridentifikasi sebagai pengganti pola pikir negatif.Kenyataan untuk mengasosiasikan peristiwa traumatic dengan kepercayaan yang adaptif  sehingga memori tidak lagi mampu  menimbulkan kecemasan dan pikiran negatif.Fokus yang menjadi kekuatan pada klien adalah memiliki positive self assessment (penilaian diri yang positif), yang menjadi hal sangat penting untuk mencapai peningkatan terapi.&lt;br /&gt;
6. Setelah pola pikir positif ditanamkan, klien diminta untuk memvisualisasikan peristiwa traumatic dan pola pikir positifnya kemudian terapis memeriksa badannya  dari atas sampai bawah dan mengidentifikasi tegangan seluruh tubuhnya.Pemeriksaan selesai ketika klien mampu memvisualisasikan peristiwa tersebut, dan pada saat yang sama, sebagian kecil tubuh mengalami ketegangan dan tetap mampu berpikir positif.&lt;br /&gt;
7. Penting untuk menutup  tiap-tiap sesi dengan baik.Terapis hendaknya mengingatkan klien bahwa dirinya mungkin akan mengalami gangguan imajinasi, emosi, dan pemikiran antara tiap-tiap sesi.Klien diminta untuk mencatat dalam buku harian atau jurnal dan merekam hal-hal yang mengganggunya..Beberapa intervensi dari klien diharapkan untuk melakukan beberapa kegiatan selama proses perawatan seperti relaksasi, menciptakan imajinasi, meditasi, self monitoring, dan latihan pernafasan.&lt;br /&gt;
8. Mengevaluasi kembali perawatan yang sudah dijalani, hendaknya diterapkan pada awal masing-masing sesi baru.Tahap EMDR yang terakhir meliputi beberapa proses behavioural, yaitu: reconceptualisasi permasalahan klien, penetapan tujuan baru proses terapi, melaksanakan desensitisasi lebih lanjut , melanjutkan tugas merestukturisasi aspek kognitif, melanjutkan proses self monitoring , dan secara kolaboratif mengevaluasi hasil perawatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ASSERTION TRAINING&lt;br /&gt;
 Banyak orang yang merasa kesulitan untuk membuat keputusan yang tegas bagi diri mereka sendiri. Orang dengan keterampilan sosial yang kurang seringkali mengalami kesulitan interpersonal di rumah, di tempat kerja, di sekolah, dan selama waktu luang. Assertion training sangat berguna bagi:&lt;br /&gt;
1. orang yang tidak dapat menunjukkan kemarahan atau kejengkelan&lt;br /&gt;
2. orang yang kesulitan berkata ’tidak’&lt;br /&gt;
3. orang yang terlalu sopan dan membiarkan orang lain mengambil keuntungan dari dirinya&lt;br /&gt;
4. orang yang kesulitan mengekspresikan afeksi dan respon-respon positif lainnya&lt;br /&gt;
5. orang yang merasa bahwa mereka tidak punya hakuntuk menyatakan pemikiran, keyakinan, dan perasaannya&lt;br /&gt;
6. orang yang menderita phobia sosial&lt;br /&gt;
Asumsi dasar yang mendasari assertion training adalah bahwa seseorang mempunyai hak (bukan kewajiban) untuk mengekspresikan dirinya. Salah satu tujuan assertion training adalah untuk meningkatkan kemampuan berperilaku individu sehingga mereka dapat membuat pilihan reaksi apa yang akan ditunjukkan dalam situasi tertentu. Tujuan lainnya adalah mengajarkan seseorang untuk mengekspresikan dirinya dengan cara-cara yang merefleksikan sensitivitasnya terhadap perasaan dan hak-hak orang lain. Asersi bukan berarti agresi. Jadi, seseorang yang benar-benar asertif tidak akan egois hanya mempertahankan haknya saja dan mengabaikan perasaan orang lain.&lt;br /&gt;
Beberapa metode assertion training didasarkan pada prinsip-prinsip terapi kognitif behavioral. Umumnya, terapis mengajarkan dan memberi contoh perilaku yang diharapkan muncul pada klien. Perilaku-perilaku tersebut diajarkan dalam ruang terapi dan kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. &lt;br /&gt;
Assertion training biasa dilaksanakan berkelompok. Jika format kelompok digunakan, modeling dan instruksi-instruksi diberikan pada semua anggota kelompok. Para anggota kemudian berlatih kemampuan berperilaku secara bergantian (role-play). Setelah latihan tersebut, para anggota diberi feedback (umpan balik) yang berisi penguatan atas aspek-aspek perilaku yang benar dan instruksi-instruksi tentang bagaimana memperbaiki perilaku tersebut. Masing-masing anggota ikut  serta dalam latihan berperilaku asertif yang lebih jauh sampai kemampuannya ditunjukkan secara adekuat dalam berbagai situasi simulasi (latihan) (Miltenberger,2004).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SELF MANAGEMENT PROGRAMS &amp; SELF-DIRECTED BEHAVIOR &lt;br /&gt;
 Dalam program self management individu membuat keputusan mengenai perilaku spesifik yang ingin mereka kontrol/rubah. Beberapa contoh umum adalah mengendalikan perilaku merokok, mabuk atau memakai obat terlarang, belajar pembelajaran dan kemampuan mengatur waktu, serta menghadapi obesitas dan terlalu banyak makan. Seseorang kadang menemukan bahwa alasan utama mereka tidak dapat mencapai tujuan adalah kekurangan kemampuan-kemampuan tertentu atau pengharapan yang tidak realistis. Dalam area-area tertentu pendekatan self directed dapat menyediakan panduan untuk perubahan dan sebuah rencana yang akan mengarahkan pada perubahan.&lt;br /&gt;
 Lima karakteristik dari program self management yang efektif dikemukakan oleh Cormier dan Nurius :&lt;br /&gt;
1. Kombinasi dari berbagai strategi self  management biasanya lebih berguna daripada hanya satu strategi tunggal&lt;br /&gt;
2. Usaha self management harus dilakukan terus-menerus  dalam suatu periode atau efektivitasnya untuk memunculkan perubahan yang signifikan terbatasi&lt;br /&gt;
3. Klien perlu untuk membuat self evaluation dan menentukan tujuan-tujuan yang sanga bermakna pribadi bagi mereka &lt;br /&gt;
4. Pemakaian self reinforcement adalah sebuah komponen penting dari program self management&lt;br /&gt;
5. Kadang dukungan dari lingkungan dibutuhkan untuk mempertahankan perubahan-perubahan yang dihasilkan dari program self management&lt;br /&gt;
Meskipun harapan bisa menjadi faktor terapeutik yang menyebabkan perubahan, harapan yang tidak realistis dapat membuka jalan bagi suatu pola kegagalan dalam sebuah program self change. Jika ingin sukses dalam program seperti ini, dibutuhkan sebuah analisis yang hati-hati dan tahap-tahap dasar dari program self management yang disediakan oleh Watson dan Tharp (2002) ini harus diikuti:&lt;br /&gt;
1. Memilih tujuan&lt;br /&gt;
Tahap pertama dimulai dengan menetapkan perubahan apa yang diinginkan. Tujuan-tujuan harus ditetapkan sat itu juga dan tujuan itu harus dapat diukur, dapat dicapai, positif, dan penting bagi orang tersebut. Harapan sebaiknya realistis.&lt;br /&gt;
2. Mewujudkan tujuan-tujuan ke dalam perilaku target &lt;br /&gt;
Berikutnya, tujuan-tujuan yang telah dipilih diwujudkan dalam perilaku-perilaku target. Pertanyaan kuncinya adalah,”Perilaku spesifik apa yang ingin aku tingkatkan atau kurangi?”&lt;br /&gt;
3. Self monitoring&lt;br /&gt;
Satu tahap pertama yang penting dalam self directed change adalah proses self monitoring, di mana klien dengan sengaja dan sistematis mengobservasi perilaku mereka sendiri. Salah satu metode paling sederhana untuk mengobservasi perilaku adalah dengan membuat catatan harian behavioral. Kejadian dari perilaku-perilaku khusus dicatat oleh klien, bersama dengan komentar-komentar mengenai isyarat-isyarat anteseden yang relevan dan konsekuensi-konsekuensi.&lt;br /&gt;
4. Menyusun sebuah rencana perubahan&lt;br /&gt;
Tahap ini dimulai dengan membandingkan antara informasi yang dihasilkan dari self monitoring dan standar klien untuk perilaku spesifik. Setelah klien membuat evaluasi atas perubahan behavioral yang ingin mereka dapatkan, mereka melaksanakan sebuah perubahan aktual yang termasuk metode seperti punishment, stimulus control, behavioral contracts dan dukungan sosial. Beberapa tipe sistem self reinforcement diperlukan dalam rencana ini karena reinforcement adalah inti dari terapi behavior modern. Self reinforcement adalah strategi sementara yang digunakan klien sampai mereka sukses mengimplementasikan perilaku baru mereka dalam kehidupan sehari-hari. Sangatlah penting klien mengambil langkah-langkah untuk meyakinkan bahwa mereka mempertahankan perubahan yang telah mereka capai.&lt;br /&gt;
5. Evaluasi sebuah rencana aksi&lt;br /&gt;
Untuk menentukan sejauh mana klien mencapai tujuan mereka, sangat perlu untuk mengevaluasi rencana perubahan tersebut. Rencana tersebut terus menerus diperbaiki dan direvisi sambil klien mencari cara lain untuk mencapai tujuannya. Evaluasi adalah sebuah proses terus-menerus dan bukan hanya kejadian sesaat dan self change adalah sebuah latihan seumur hidup.&lt;br /&gt;
 Kesuksesan usaha self change dimulai dengan menentukan suatu tujuan realistis dan menyediakan sebuah rencana konkrit untuk mencapai perubahan perilaku. Strategi self management sudah diterapkan pada beberapa populasi dan masalah seperti kecemasan, depresi, dan rasa sakit. Penelitian atas self management telah dilaksanakan dalam berbagai macam masalah kesehatan antara lain arthritis, asma, kanker, penyakit jantung, penyalahgunaan zat, diabetes, sakit kepala, gangguan penglihatan, nutrisi dan perawatan kesehatan diri. (Cormier &amp; Nurius,2003).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TERAPI MULTIMODAL: TERAPI CLINICAL BEHAVIOR&lt;br /&gt;
 Terapi multimodal adalah sebuah sebuah pendekatan yang komprehensif, sistematis, dan holistik dalam terapi behavior yang dikembangkan oleh Arnold Lazarus. Pendekatan ini berkembang dalam teori belajar sosial dan teori kognitif dan menggunakan teknik-teknik behavioral dalam mengatasi berbagai macam permasalahan. Model ini menyatakan bahwa kita adalah makhluk sosial yang bergerak, merasa, mengerti, membayangkan, dan berpikir. &lt;br /&gt;
Terapi multimodal adalah sebuah sistem terbuka yang mendukung technical eclecticism. Teknik baru yang secara konstan diperkenalkan dan memperbaiki teknik-teknik yang sudah ada, namun tidak pernah digunakan dalam tatacara yang dipaksakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TECHNICAL ECLECTICISM&lt;br /&gt;
 Terapis multimodal meminjam teknik-teknik dari beberapa sistem terapi lain. Beberapa teknik yang mereka gunakan di dalam terapi individual antara lain: training manajemen kecemasan (Anxiety-Management Training), behavior rehearsal, bibliotherapy, biofeedback, communication training, contingency contracting, mediation, positive imagery, positive reinforcement, relaxation training, self instruction training, sensate focus training, time projection, dan thought stopping. Sebagian besar taknik-teknik tersebut adalah metode-metode behavioral standar yang diambil dari 4 cabang utama pendekatan behavioral.&lt;br /&gt;
 Para terapis mengakui bahwa beberapa klien yang datang mengikuti terapi perlu mempelajari keterampilan-keterampilan dan terapis harus mau mengajarkan, melatih, mendidik, memberi contoh, dan mengarahkan kliennya. Mereka secara ksusus berfungsi sebagai penyedia informasi, instruksi, dan reaksi. Mereka menantang keyakinan-keyakinan self defeating, menawarkan feedback yang konstruktif, memberikan reinforcement positif dan self disclosing yang tepat. Sangatlah perlu terapis memulai dari mana klien berada dan kemudian bergerak ke dalam area-area produktif lain untuk dieksplorasi. Kegagalan untuk memahami situasi klien dapat dengan mudah menyebabkan klien merasa terasing dan salah paham (Lazarus,2000b).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
THE BASIC I.D.&lt;br /&gt;
 Esensi dari pendekatan multimodal Lazarus adalah premis yang menyatakan bahwa kepribadian kompleks manusia dapat dibagi dalam 7 area fungsi utama, yaitu: B = Behavior, A = Affective responses, S = Sensations, I = Images, C = Cognitions, I = Interpersonal relationship, dan D = Drugs, biological functions, nutrition dan exercise (Lazarus). Meskipun modalitas-modalitas tersebut saling berpengaruh, mereka dapat dipertimbangkan sebagai fungsi-fungsi tersendiri.&lt;br /&gt;
 Terapi multimodal dimulai dengan sebuah asesmen komprehensif atas ketujuh modalitas fungsi manusia dan interaksi antar modalitas-modalitas tersebut. Sebuah asesmen yang komplit dan program treatment harus memberikan keterangan masing-masing modalitas dari BASIC ID tersebut, di mana peta kognitif saling berhubungan dengan masing-masing aspek kepribadian.&lt;br /&gt;
Pendekatan Multimodal ini didasarkan pada tipe-tipe pertanyaan yang diajukan Lazarus :&lt;br /&gt;
1. Behavior. Model ini mengarah pada perilaku berterus terang, termasuk di dalamnya tindakan, kebiasaan, reaksi yang dapat diamati dan dapat diukur. Contoh : “apa yang ingin kau ubah?” “seberapa aktif dirimu?”&lt;br /&gt;
2. Afeksi. Model ini mengarah pada emosi, suasana hati, perasaan yang kuat. Contoh : “apa yang dapat membuatmu tertawa, sedih, menangis, senang, takut?”&lt;br /&gt;
3. Sensasi.  Model ini mengarah pada panca indera.&lt;br /&gt;
Contoh : “sensasi seperti apa yang paling kau sukai atau tidak kau sukai dari melihat, memcium, mendengarkan, menyentuh, dan merasa?”&lt;br /&gt;
4. Imajinasi. Model ini mengarah pada cara dimana kita menggambarkan diri sendiri, dan di dalamnya terdapat kenangan, mimpi, dan fantasi. &lt;br /&gt;
Contoh : “bagaimana kamu melihat tubuhmu?” “bagaiman kamu melihat dirimu sendiri?”&lt;br /&gt;
5. Kognitif. Model ini mengarah pada kemampuan untuk mengerti, filosofi, ide, opini, dan judgement, juga sikap, dan kepercayaan.&lt;br /&gt;
Contoh : “bagaiman pemikiran-pemikiranmu dapat berdampak pada emosimu?” “apakah hal-hal negatif yang kau katakan pada dirimu?”&lt;br /&gt;
6. Hubungan Interpersonal. Model ini berhubungan pada interaksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;
Contoh : “apa yang kau harapkan dari orang-orang dalam hidupmu?” “adakah beberapa hubungan dengan beberapa orang yang ingin kau ubah?”&lt;br /&gt;
7. Obat-obatn/Biologis. Tidak hanya meliputi obat-obatan, tetapi juga kebiasaan-kebiasaan klien yang berhubungan dengan nutrisi dan olahraga mereka.&lt;br /&gt;
Contoh : “apakah anda memperhatikan kesehatan anda?” “apakah kebiasaan-kebiasaanmu &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terapi Ringkas dan Menyeluruh&lt;br /&gt;
Terapi komprehensif dan menyeluruh ini termasuk di dalamnya mengoreksi ketidakpercayaan, perilaku devian, perasaan tidak suka, dan kemungkinan biokemikal yang tidak seimbang. Terapis multimodal percaya bahwa klien belajar banyak dalam terapi sedangkan kemungkinana terkecilnya adalah masalah-masalah lama yang akan terjadi lagi.&lt;br /&gt;
Franks menyatakan : “Terapi ringkas multimodal adalah terapi behavior dalam salah satu bentuk paling popular. Efisien, efektif, teachable, dan menyeluruh tanpa menjadi kaku.&lt;br /&gt;
 Terapis mengidentifikasi satu isu specific dari masing-masing aspek dari BASIC I.D. Kerangka kerja sebagai sebuah target untuk mengubah dan mengajari klien sebuah susunan teknik yang dapat mereka gunakan untuk melawan pikiran yang bersalah, untuk belajar bersikap santai dalam situasi stres, dan untuk mendapat kemampuan interpersonal efektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terapis Peran Multimodal&lt;br /&gt;
Terapis multimodal menjaga untuk menjadi sangat aktif selama sesi terapi, memfungsikan sebagai trainer, pengajar, konsultan, dan contoh peran. Mereka memberikan informasi, instruksi, dan timbale balik seperti contoh perilaku asertif, menantang penolakan kepercayaan, menawarkan saran, menawarkan reinforcement positif, dan menjadi lebih membuka diri.&lt;br /&gt;
 Terapi panggilan efektif bagi konselor untuk menjadi “bunglon otentik”(Lazarus, 1993), yang berarti bahwa sesuatu dimainkan secara fleksibel  dalam gaya berhubungan adalah sama pentingnya dengan teknik meningkatkan hasil perawatan. Terapis butuh untuk membuat beberapa pilihan rasa menyesal dengan berbagai gaya berbeda dalam berhubungan dengan klien.  Mereka akan memutuskan kapan dan bagaimana secara langsung terlibat atau hanya sekadar mendukung, dingin atau hangat, formal atau informal, dan kuat atau lembut. Yang terpenting adalah kemampuan terapis untuk menggabungkan gaya berhubungan yang paling sesuai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penggabungan Teknik Behavioral dengan Pendekatan Psikoanalitik Kontemporer&lt;br /&gt;
Aspek-aspek terapi behavior dapat dikombinasikan dengan sejumlah pendekatan-pendekatan terapeutik.&lt;br /&gt;
• Dalam fase pertama, konselor harus mampu untuk mendengar cerita dari klien, untuk mengerti dunia fenomenologi mereka, dan untuk membangun rapor dengan mereka. Pada fase ini konselor harus menggali perasaan menyesal klien dari masa lalu dan keadaan sekarang dan contoh pemikiran yang mempengaruhi interpretasi klien terhadap dunia.&lt;br /&gt;
• Dalam fase kedua, insight ini jarang memungkinkan klien untuk mengakui dan mengekspresikan kenangan-kenangan buruk, perasaan-perasaan, dan pikiran-pikiran. Karena klien mampu untuk memproses yang direpresi sebelumnya dan memori disosiasi dan perasaan dalam konseling, perubahan-perubahan kognitif dalam persepsi diri dan yang jarang terjadi. Karena klien sedang mengusahakan secara kognitif proses penstrukturan ulang situasi hidup, mereka mandapatkan sesuatu yang baru dan beradaptasi dengan cara berpikir, berperasaan, dan meniru.&lt;br /&gt;
• Dalam fase ketiga dan perawatan fase akhir, dimana merupakan fase tindakan. Saat bagi klien untuk berusaha memperbarui perilaku berdasarkan pada kemampuan insight, pengertian, dan penstrukturan ulang kognitif yang dipeoleh pada fase konseling teradahulu. Pengakhiran konseling adalah sebuah keputusan yang berdasarkan pada perubahan kualitatif dalam hubungan klien dan gaya hidup.&lt;br /&gt;
Berdasarkan Morgan dan MacMillan (1999), terdapat peningkatan dalam literature bahwa teknik kognitif behavioral perlu diperhatikan, perubahan-perubahan kognitif klien. Mengadaptasi dari konsep dasar pemikiran psikoanalisis untuk menghubungkan terapi secara ringkas membuat pendekatan-pendekatan ini berguna dalam terapi waktu-terbatas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TERAPI BEHAVIOR DARI SEBUAH PERSPEKTIF MULTIKULTURAL&lt;br /&gt;
Kontribusi untuk Konseling Multikultural&lt;br /&gt;
 Terapi behavior memiliki beberapa keuntungan dibandingkan teori-teori lain yang bekerja dalam populasi multikultural. Karena kebudayaan dan latar belakang etnik mereka, beberapa klien memegang nilai-nilai yang berlawanan terhadap pengekspresian perasaan dan saling berbagi antarindividu. Konseling behavioral tidak menitikberatkan pada pengalaman katarsis. Yakni mengubah perilaku spesifik dan mengembangkan kemampuan menyelesaikan-masalah. Klien yang merencanakan tindakan dan perubahan behavioral memungkinkan untuk bekerja sama dengan pendekatan ini karena mereka dapat melihat bahwa hal itu menawarkan pada mereka metode-metode kongkrit untuk berdamai dengan permasalahan-permasalahan hidup mereka.&lt;br /&gt;
 Tanaka Matsumi dkk (2002) menyatakan bahwa terapi behavior berdasarkan pada sebuah analisis eksperimental behavior dalam lingkungan social klien. Pendekatan behavioral telah bergerak melebihi perlakuan terhadap masalah behavioral klien. Hal ini memberikan penekanan pada suatu assessment yang cermat untuk memastikan bahwa tidak hanya kondisi tertentu yang bias menimbulkan masalah pada klien, tetapi juga klien mau menerima perubahan pada tingkah lakunya dan apakah perubahan tesebut memberikan peranan yang penting dalam kehidupan klien.&lt;br /&gt;
Dalam membuat suatu assessment yang tepat terapis behavioral memasukkan konteks kebudayaan. Dimana tingkah laku klien juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan social budaya klien. Sumber-sumber atau pengaruh yang kuat yang didapat dari lingkungan disekeliling klien dapat membawa perubahan terhadap klien.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KETERBATASAN DALAM KONSELING MULTIKULTURAL&lt;br /&gt;
Menurut Spiegler &amp; Guevremont (2003), tantangan kedepan untuk terapis behavioral adalah untuk mengembangkan secara empiris didasarkan rekomendasi tentang bagaimana terapi behavioral dapat secara optimal melayani bermacam-macam klien dengan budaya yang berbeda-beda. Meskipun terapi behavioral sensitive terhadap perbedaan antara klien delam pengertian yang luas terapis behavioral memerlukan untuk menjadi lebih responsive terhadap isu-isu khusus yang menyinggung semua bentuk perbedaan. Karena ras, gender etnik dan orientasi seksual adalah factor yang kritis yang mempengaruhi proses dan hasil dari terapi. Ketika klien membuat perubahan secara personal yang signifikan sangat mungkin bahwa orang-orang disekeliling klien akan bereaksi secara berbeda terhadap perubahan tingkah laku klien. Oleh karena itu, sebelum memutuskan terlalu cepat dalam pencapaian tujuan terapi konselor dank lien memerlukan diskusi tentang keuntungan dan kerugian dari perubahan yang akan dialami oleh klien.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RANGKUMAN DAN EVALUASI.&lt;br /&gt;
Terapi behavioral mempunyai karaktiristik khusus dalam berbagai hal. Tidak hanya pada konsep dasar tetapi juga pada teknik-tekniknya yang dapat diaplikasikan langsung dalam menanggulangi masalah-masalah khusus. Pergerakan behavioral memasukkan 4 mayor area dalam perkembangannya : Operant Conditioning, Classical Conditioning, Teori Belajar Sosial dan meningkatkan perhatian kepada faktor-faktor kognitif yang mempengaruhi tingkah laku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontribusi Terapi Tingkah Laku&lt;br /&gt;
 Keuntungan seorang terapis tingkah laku yaitu memiliki spesifikasi teknik tingkah laku yang mereka berikan.Terapis menggunakan berbagai strategi tingkah laku untuk membantu klien menyatukan rencana dalam tindakannya untuk mengubah tingkah laku. Dasar terapi tingkah laku yaitu terpusat pada klien, terapis harus aktif mendengarkan, empati, respek, memberikan positif reinforcement dan memiliki kesiapan dalam memberikan kerangka tingkah laku. Terapi tingkah laku ini digunakan dalam dunia kesehatan, ilmu kesehatan anak, program rehabilitasi, dan manajemen stress. Pendekatan ini memiliki kontribusi untuk psikologi mental khususnya membantu klien mempertahankan hidup yang sehat.&lt;br /&gt;
 Kontribusi terapi tingkah laku juga menitikberatkan pada penelitian dan pengukuran hasil treatment. Seandainya hasil tidak diperoleh, maka terapis mengkaji ulang hasil analisis dan treatment yang direncanakan. Terapis tingkah laku menggunakan teknik pengalaman yang dirasakan oleh klien, dimana klien akan menerima treatment yang efektif dan relatif singkat. Kekuatan dalam pendekatan terapi tingkah laku adalah menitikberatkan pada tanggungjawab dan tingkah laku apa yang seharusnya dirubah. Klien memiliki kebebasan untuk memutuskan terapi apa yang akan digunakan.&lt;br /&gt;
Keterbatasan dan Kritikan dalam Terapi Tingkah Laku&lt;br /&gt;
1. Terapi tingkah laku mungkin dapat mengubah tingkah laku, tetapi tidak mengubah perasaan. Beberapa kritik menyatakan bahwa perasaan harus dirubah dahulu sebelum tingkah laku dirubah. Ahli tingkah laku berkeyakinan bahwa bukti empiris tidak menunjukkan bahwa perasaan harus dirubah terlebih dahulu dan ahli klinis menyatakan bahwa perasaan sebagai sebuah  bagian dari proses treatment yang diterapkan.&lt;br /&gt;
2. Terapi tingkah laku mengabaikan faktor hubungan yang penting dalam terapi. Perubahan terjadi apabila dalam hubungan klien dan terapis terabaikan dalam proses terapi tingkah laku. Walaupun terapis tidak menempatkan bobot dalam variabel hubungan, tetapi mereka mengetahui bahwa hubungan pekerjaan yang baik dengan klien merupakan pondasi/dasar yang diperlukan untuk keefektifan teknik yang digunakan. Lazarus menyatakan “ hubungan adalah tanah yang memungkinkan teknik untuk berakar”&lt;br /&gt;
3. Terapi tingkah laku tidak menyediakan pemahaman yang mendalam. Seandainya pernyataan itu benar terapis tingkah laku seharusnya merespon bahwa pemahaman yang mendalan tidak diperlukan. Mereka tidak fokus pada insight sebab tidak ada fakta yang jelas bahwa insight adalah hasil kritikan. Perilaku dapat berubah secara langsung. &lt;br /&gt;
4. Terapi tingkah laku menangani gejala-gejala daripada sebab-sebabnya. Asumsi psikoanalisis bahwa peristiwa traumatik merupakan akar permasalahan. Terapis tingkah laku mengetahui bahwa respon tingkah laku yang menyimpang memiliki sejarah dan sejarah hidup seseorang penting dalam menyelesaikan masalah. Akan tetapi terapis tingkah laku mengutamakan perubahan keadaan lingkungan untuk mengubah tingkah laku. Mereka tidak menerima bahwa gejala-gejala merupakan manifestasi dalam konflik intrapsikis.&lt;br /&gt;
5. Terapi tingkah laku melibatkan kontrol dan manipulasi oleh terapis. Semua terapis memiliki hubungan yang kuat dan kontrol dengan klien. Kadzin (2001) percaya tidak ada persoalan  kontrol dan manipulasi yang dihubungkan dengan strategi tingkah laku yang tidak juga dilakukan oleh pendekatan terapi yang lain.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/3931580503017507156/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/10/behavior-therapy.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/3931580503017507156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/3931580503017507156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/10/behavior-therapy.html' title='BEHAVIOR THERAPY'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-6299705425439338673</id><published>2011-10-23T21:58:00.000-07:00</published><updated>2011-10-23T21:58:02.993-07:00</updated><title type='text'>Asertivitas</title><content type='html'>1. Definisi Perilaku Asertif&lt;br /&gt;
Menurut Lazarus (dalam Fensterhein &amp; Buer, 1980;10) perilaku asertif adalah perilaku yang penuh ketegasan yang timbul karena adanya kebebasan emosi dari setiap usaha untuk membela hak-haknya serta adanya keadaan efektif yang mendukung meliputi : 1) mengetahui hak pribadi, 2) berbuat sesuatu untuk mendapatkan hak-hak tersebut dan melakukan hal itu sebagai usaha untuk mencapai kebebasan emosi. Ditambahkan lagi bahwa dalam berperilaku untuk mendapatkan hak-haknya sesuai dengan adat sosial yang berlaku, tanpa menunjukkan kekerasan terhadap orang yang dihadapi.&lt;br /&gt;
Menurut Richard (dalam Lloyd, 1991;10) mengatakan bahwa orang yang memiliki perilaku asertif adalah mereka yang menilai bahwa orang boleh berpendapat dengan orientasi dari dalam dan biasanya memperhatikan sungguh-sungguh hak orang lain. Menurut Lloyd (1991;10) perilaku asertif adalah gaya wajar yang tidak lebih dari sikap langsung, jujur, dan penuh respek saat berinteraksi dengan orang lain dan pada umumnya memiliki kepercayaan diri yang kuat, tanpa meninggalkan kesopanan. Sebaliknya orang-orang nonasertif adalah mereka yang terlihat terlalu mudah mengalah (lemah), mudah tersinggung, cemas, kurang percaya diri sendiri dan sukar mengatakan masalah atau hal-hal yang diinginkan (Fensterheim &amp; Buer, 1980;25).&lt;br /&gt;
Lazarus (1971;138) mendefinisikan perilaku asertif adalah perilaku dimana individu mengekspresikan perasaan (baik positif dan negative) dan pikirannya secara tegas dan bebas dengan tetap memperhatikan perasaan orang lain atau dengan kata lain mempertahankan hak sendiri tanpa mengganggu hak orang lain. Secara umum perilaku manusia dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu : perilaku nonasertif (pasif), asertif (tegas), dan agresif.&lt;br /&gt;
Definisi lain yang dikemukakan oleh Galassi &amp; Galassi (1977;3) menyatakan bahwa perilaku asertif adalah pengungkapan secara langsung kebutuhan, keinginan dan pendapat seseorang tanpa menghukum, mangancam atau menjatuhkan orang lain. Asertif juga meliputi hak mutlak seseorang tanpa melanggar hak orang lain.&lt;br /&gt;
Dari beberapa pendapat dari para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah kemampuan seseorang untuk menyatakan perasaannya kepada orang lain, baik perasaan positif maupun negative tanpa menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain. Dengan kata lain perilaku asertif adalah kemampuan seseorang untuk menyatakan haknya tanpa melanggar hak orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Perkembangan Perilaku Asertif&lt;br /&gt;
Menurut Burley Allen (dalam Prastut¬i. dkk, 2003), perilaku asertif sebagaimana bentuk perilaku lainnya, merupakan perilaku sebagai hasil belajar. Pengalaman awal pada masa kanak-kanak yang diterima dari orang yang penting dalam kehidupan individu (significant other), baik berupa pesan verbal maupun non verbal mempengaruhi penghargaan diri (self recognitioin) pada individu. Selain itu keyakinan – keyakinan, pikiran – pikiran dan perasaan – perasaan yang terbentuk selama fase perkembangan individu akan berperan dalam membentuk perilaku pasif, agresif, atau asertif.&lt;br /&gt;
Berkembangnya perilaku asertif dipengaruhi oleh faktor – faktor yang dialami individu dalam lingkungan sepanjang hidupnya. Tingkah laku ini berkembang secara bertahap sebagai hasil interaksi antara anak dan orang tua serta orang dewasa lain di sekitarnya.&lt;br /&gt;
Galassi &amp; Galassi (1977;4) mengemukakan bahwa, “ Orang mungkin merasa ragu bagaimana dia harus mempelajari atau tidak mengembangkan kebiasaan menyatakan diri dalam situasi tertentu. Hal tersebut bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab, sebab setiap orang memiliki jawaban yang berbeda. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan perilaku asertif yang meliputi hukuman, ganjaran, modeling, kesempatan untuk mengembangkan perilaku yang sesuai, standar budaya dan keyakinan pribadi, serta keyakinan akan hak mutlak sebagai individu, dimana hal inilah yang turut mendukung proses perkembangan perilaku asertif seseorang”.&lt;br /&gt;
Faktor yang mempengaruhi perkembangan perilaku asertif yaitu :&lt;br /&gt;
a. Hukuman&lt;br /&gt;
  Orang kadang gagal untuk menjadi asertif dalam situasi – situasi tertentu karena di masa lalu dalam situasi yang sama ia merasa terhukum baik secara fisik maupun mental sehingga ia kesulitan dalam mengungkapkan dirinya. Hukuman demi hukuman yang terjadi berulang – ulang tersebut lama – kelamaan akan membentuk perilaku seseorang menjadi asertif, pasif, ataupun agresif.&lt;br /&gt;
b. Ganjaran&lt;br /&gt;
  Perilaku asertif dapat terbentuk karena perilakunya terganjar. Perilaku yang terganjar tersebut cenderung untuk muncul kembali dalam situasi yang sama. Reinforcement (penguatan) yang diberikan dapat membuat orang merasa termotivasi untuk melakukan kembali perilaku tersebut. Pemberian penguatan yang dilakukan secara tepat dapat membentuk perilaku asertif sesorang.&lt;br /&gt;
c. Modeling&lt;br /&gt;
  Perilaku yang ditunjukkan oleh orang-orang terdekat di sekitar individu memberikan pengaruh dalam perkembangan perilaku asertifnya. Hal ini bisa di dapat orang dari hasil modeling. Modeling meliputi proses mengamati dan meniru tingkah laku dari orang-orang tersebut. Dari proses modeling inilah individu belajar untuk berperilaku asertif, nonasertif, atau agresif.&lt;br /&gt;
d. Kesempatan untuk mengembangkan perilaku yang sesuai&lt;br /&gt;
  Orang bisa gagal berperilaku asertif sebab mereka tidak memiliki kesempatan di masa lalu untuk belajar cara berperilaku yang tepat. Ketika dihadapkan pada situasi – situasi yang baru, orang tidak tahu harus berperilaku seperti apa atau merasa gugup karena kurangnya pengetahuan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;
e. Standar budaya dan keyakinan pribadi&lt;br /&gt;
  Ragam budaya yang telah dipelajari seseorang dalam kelompok mereka, membuat berbeda pula cara mereka berperilaku dalam suatu situasi sosial tertentu. Dalam hal ini keyakinan pribadi orang juga mempengaruhi cara orang tersebut untuk berperilaku dalam interaksi – interaksi sosialnya. Keyakinan ini meliputi keyakinan akan hak setiap orang dalam hubungannya dengan orang lain.&lt;br /&gt;
f. Keyakinan akan hak mutlak sebagai individu&lt;br /&gt;
  Orang sering gagal berperilaku asertif dalam suatu situasi karena mereka tidak yakin akan haknya dalam situasi tersebut (Galassi dan Galassi, 1977;6). Dalam hal ini orang tidak mempelajari apa yang menjadi haknya. Jika orang tidak yakin akan hak yang dimilikinya dan tidak memahami pula hak orang lain, kemungkinan dalam situasi yang kurang mantap orang akan sulit berperilaku asertif.&lt;br /&gt;
  Salah satu catatan penting yang dikemukakan oleh Galassi &amp; Galassi mengenai perkembangan perilaku asertif yaitu bahwa “perkembangan perilaku asertif antara satu orang dengan orang lainnya tidak selalu sama” (Galassi dan Galassi, 1977;4). Orang dapat berperilaku asertif maupun tidak asertif tergantung bagaimana orang itu belajar diikuti dengan kebiasaan dalam cara berperilaku dalam situasi sosial tertentu.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
3. Indikator Asertivitas&lt;br /&gt;
Individu dapat menunjukkan perilaku asertif, agresif, ataupun pasif dalam berhubungan dengan orang lain. Triyono (1993;28) mengemukakan ada tiga gaya dasar dalam berinteraksi dengan orang lain, yaitu : gaya tidak tegas, gaya agresif, dan gaya tegas. Hal ini sejalan dengan pandangan Galassi dan Galassi (1977;14) yang mengemukakan adanya tiga perilaku individu yaitu nonasertif, agresif, dan asertif.&lt;br /&gt;
Perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang baik nonasertif, agresif, maupun asertif tersebut terlihat dalam interaksi yang ditunjukkan oleh individu. Perilaku asertif berbeda dari dua perilaku yang lain yaitu nonasertif dan agresif. Galassi dan Galassi (1977;7) menggolongkan bentuk-bentuk perilaku asertif dalam tiga kategori, yaitu :&lt;br /&gt;
a. Pengungkapan perasaan – perasaan positif&lt;br /&gt;
Pengungkapan perasaan positif merupakan kemampuan seseorang untuk memberi dan menerima pujian, meminta bantuan dan pertolongan, mengungkapkan perasaan suka, cinta, dan kasih saying, mengungkapkan empati serta memulai dan terlibat dalam perbincangan.&lt;br /&gt;
b. Afirmasi Diri&lt;br /&gt;
Afirmasi diri merupakan perilaku yang menunjukkan posisi seseorang dalam suatu situasi dengan tetap menghargai orang lain. Dalam hal ini, afirmasi diri meliputi tiga perilaku, yaitu perilaku mengungkapkan hak mutlak, menolak permintaan dan mengungkapkan ketidaksetujuan.&lt;br /&gt;
c. Pengungkapan perasaan – perasaan negatif&lt;br /&gt;
Pengungkapan perasaan negatif adalah kemampuan seseorang dalam mengungkapkan perasaan negatifnya yang berkaitan dengan mengungkapkan ketidaksenangan dan kekecewaan serta mengungkapkan kemarahan.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/6299705425439338673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/10/asertivitas.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/6299705425439338673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/6299705425439338673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/10/asertivitas.html' title='Asertivitas'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-62820341163996436</id><published>2011-07-29T07:49:00.000-07:00</published><updated>2011-07-29T07:49:55.695-07:00</updated><title type='text'>ENURESIS (Tidak Berkaitan Dengan Kondisi Medis Umum)</title><content type='html'>Diagnosis features&lt;br /&gt;
a. Ciri-ciri dasar dari enuresis adalah buang air pada siang atau malam hari di tempat tidur atau pakaian yang berulang (kriteria A). Kebanyakan hal ini terjadi tanpa sengaja tapi adakalanya terjadi dengan sengaja. &lt;br /&gt;
b. Untuk memenuhi persyaratan diagnosis enuresis, buang air tersebut harus terjadi setidaknya dua kali seminggu dalam jangka waktu 3 bulan atau harus menyebabkan distress yang signifikan secara klinis atau memburuknya fungsi sosial, akademik (pekerjaan), dan area-area fungsi penting lainnya (kriteria B). &lt;br /&gt;
c. Anak harus sudah mencapai usia dimana pada usia tersebut anak seharusnya sudah bisa menahan kencing (tidak mengompol), (misalnya : usia kronologis anak setidaknya harus sudah 5 tahun, atau pada anak yang mengalami keterlambatan perkembangan usia mentalnya setidaknya harus sudah 5 tahun) (kriteria C). &lt;br /&gt;
d. Kejadian mengompol tersebut tidak berkaitan ekslusif dengan efek-efek fisiologis langsung dari zat-zat (misalnya: efek diuretik) atau kondisi medis umum (misalnya: diabetes, spina bifida, sebuah seizure disorder (gangguan serangan tiba-tiba)) (kriteria D).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Subtipe&lt;br /&gt;
Situasi di mana enuresis terjadi bisa berupa salah satu dari beberapa subtipe berikut:&lt;br /&gt;
a. Hanya pada siang hari (Nocturnal): adalah subtipe yang paling umum dan didefinisikan sebagai keluarnya urine hanya pada waktu tidur di malam hari. Kejadian mengompol umumnya terjadi pada periode sepertiga malam pertama. Adakalanya kencing terjadi selama tahap tidur REM (Rapid Eye Movement), dan anak mungkin mengalami mimpi yang berkaitan dengan kegiatan kencing.&lt;br /&gt;
b. Hanya pada siang hari (Diurnal): subtipe ini didefinisikan sebagai keluarnya urine pada saat anak belum tidur (siang hari). Enuresis diurnal lebih sering didapati pada anak perempuan daripada anak laki-laki dan sangat jarang terjadi setelah anak berusia 9 tahun. Anak-anak dengan enuresis diurnal dapat dibagi ke dalam dua kelompok. Satu kelompok dengan “ketidakmampuan menahan buang air (urge incontinence)” memiliki enuresis dengan ciri-ciri simptom tiba-tiba ingin kencing dan ketidakstabilan detrusor pada cystometry. Kelompok yang lain dengan “penundaan kencing (voiding postponement)” secara sadar menunda keinginan kencing sampai tidak dapat ditahan lagi, penundaan ini kadang diakibatkan oleh keengganan memakai toilet karena kecemasan sosial atau karena terlalu asyik dengan aktivitas sekolah atau bermain. Kelompok yang terakhir ini mempunyai simptom-simptom gangguan perilaku tingkat tinggi. Peristiwa mengompol pada umumnya terjadi pada siang hari pada jam sekolah. &lt;br /&gt;
c. Nocturnal dan diurnal: Subtipe ini didefinisikan sebagai kombinasi kedua subtipe di atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ciri-ciri dan gangguan-gangguan yang berkaitan&lt;br /&gt;
Sejumlah pemburukan yang berkaitan dengan enuresis adalah fungsi eliminasi pada aktivitas-aktivitas soial anak (misal:kemah menginap yang tidak terhindarkan) atau efeknya pada harga diri anak, tingkat pengasingan sosial oleh teman sebaya, dan kemarahan, hukuman, dan penolakan dari pihak penanggungjawab anak. Meskipun sebagian besar anak dengan enuresis tidak mengalami gangguan mental, kecenderungan munculnya simptom-sipmtom behavioral yang mengiringi lebih tinggi pada anak dengan enuresis daripada anak yang tidak mengalami enuresis. Keterlambatan perkembangan, termasuk kemampuan berbicara, berbahasa, belajar, dan keterlambatan kemampuan motorik, juga muncul pada sebagian anak dengan enuresis.Encopresis, tidur sambil berjalan, dan gangguan teror tidur (sleep terror disorder) juga mungkin muncul. Infeksi saluran kencing lebih lazim pada anak dengan enuresis, khususnya pada tipe diurnal, daripada anak-anak yang sudah bisa menahan kencing. Enuresis biasanya tetap berlangsung setelah treatment yang sesuai untuk infeksi yang berkaitan. Sejumlah faktor yang mempengaruhi telah dikemukakan, termasuk di dalamnya keterlambatan atau bahkan tidak adanya toiet training, stress psikososial, keterlambatan dalam perkembangan ritme circadian normal (normal circadian rhythms) pada produksi urine yang menyebabkan polyuria nokturnal atau abnormalitas pada kepekaan reseptor vasopressin pusat, dan menurunnya kapasitas fungsional kandung kemih dengan hiperaktivitas kandung kemih (sindrom ketidakstabilan kandung kemih).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prevalensi&lt;br /&gt;
Kecenderungan terjadinya enuresis adalah sekitar 5%-10% pada anak berusia 5 tahun, 3%-5% pada anak berusia 10 tahun, dan sekitar 1% pada individu berusia 15 tahun ke atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian&lt;br /&gt;
Dua tipe yang menjadi bagian enuresis dikemukakan: tipe “primer” di mana anak tidak pernah berhasil menahan kencing, dan tipe “sekunder” di mana gangguan timbul setelah sebuah periode keberhasilan menahan kencing. Menurut definisi, enuresis primer dimulai pada usia 5 tahun. Saat paling umum terjadinya serangan enuresis sekunder adalah pada usia antara 5 dan 8 tahun, tapi hal ini juga bisa terjadi kapan saja. Setelah usia 5 tahun, taraf remisi spontan adalah antara 5% dan 10% per tahun. Sebagian besar anak dengan gangguan ini dapat menahan kencing ketika remaja, tapi kira-kira sebanyak 1% kasus gangguan ini berlanjut hingga masa dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pola Keluarga&lt;br /&gt;
Kira-kira sebanyak 75% anak dengan enuresis mempunyai kerabat tingkat pertama yang juga mengalami gangguan tersebut. Resiko mengalami enuresis adalah sebesar 5-7 kali lebih besar pada anak-anak dengan orangtua yang memiliki sejarah enuresis. Indeks terjadinya gangguan lebih tinggi pada anak kembar monozigot daripada kembar dizigot (dua zigot). Meskipun analisa genetis molekular mendeteksi adanya hubungan dengan beberapa kromosom, tapi tidak ada persatuan signifikan di antara hubungan interval kromosom dan tipe enuresis yang teridentifikasi.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Diagnosis Diferensial&lt;br /&gt;
Diagnosis enuresis tidak dikenakan pada sebuah kandung kemih neurogenik atau pada kondisi medis umum yang menyebabkan polyuria atau ingin kencing (kebelet) (misal: diabetes mellitus yang tidak diobati atau diabetes insidipus) atau infeksi saluran kencing. Meski demikian, sebuah diagnosis enuresis kompatibel dengan kondisi-kondisi seperti itu jika ketidakmampuan menahan kencing terjadi dengan teratur sebelum perkembangan kondisi medis umum atau jika tetap terjadi setelah  pelaksanaan treatment yang sesuai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kriteria Diagnostik untuk enuresis&lt;br /&gt;
a. Mengompol di tempat tidur atau pakaian berulang-ulang (baik sengaja maupun tidak disegaja).&lt;br /&gt;
b. Perilaku ini signifikan secara klinis sebagaimana ditunjukkan dengan frekuensi sebanyak dua kali seminggu dalam waktu 3 bulan berturut-turut atau terjadinya distress yang signifikan secara klinis atau memburuknya area fungsi sosial, akademik (pekerjaan), dan area fungsi penting lainnya.&lt;br /&gt;
c. Usia kronologis setidaknya 5 tahun (atau  tahap perkembangan yang sama).&lt;br /&gt;
d. Perilaku tersebut tidak berkaitan secara eksklusif dengan efek fisiologis dari zat-zat (misalnya efek diuretik) atau kondisi medis umum (misalnya:  diabetes, spina bifida, sebuah gangguan serangan tiba-tiba (seizure disorder).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: DSM IV-TR</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/62820341163996436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/07/enuresis-tidak-berkaitan-dengan-kondisi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/62820341163996436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/62820341163996436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/07/enuresis-tidak-berkaitan-dengan-kondisi.html' title='ENURESIS (Tidak Berkaitan Dengan Kondisi Medis Umum)'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-8603852161728041222</id><published>2011-07-19T20:46:00.000-07:00</published><updated>2011-07-19T20:46:40.593-07:00</updated><title type='text'>GANGGUAN SEKSUAL PADA ANAK DAN REMAJA</title><content type='html'>Dalam bahan yang kami miliki tentang gangguan seksual, tak ada yang membahas gangguan seksual yang terjadi pada anak dan remaja secara khusus. Maka dari itu, untuk menemukan bahan tentang gangguan seksual pada anak dan remaja, kami membaca uraian pada masing-masing gangguan  dan melihat gangguan manakah yang disebutkan diperkirakan muncul pada masa kanak-kanak atau remaja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Macam-macam gangguan seksual pada anak dan remaja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Gangguan identitas gender (gender identity disorder / GID)&lt;br /&gt;
Definisinya adalah terjadinya konflik antara anatomi gender seseorang dengan identitas gendernya. Gangguan ini dapat bermula ketika masih pada masa kanak-kanak. Anak-anak dengan gangguan ini menemukan bahwa anatomi gender mereka merupakan sumber distress yang terus menerus dan intensif. Diagnosis ini diterapkan pada anak-anak yang secara kuat menolak sifat anatomi mereka (contoh: anak laki-laki yang menolak testis mereka).&lt;br /&gt;
Gangguan ini bisa berakhir atau berkurang pada masa remaja ketika anak lebih dapat menerima identitas gender mereka. Atau bisa juga tetap bertahan pada masa remaja atau dewasa dan menyebabkan identitas transeksual. &lt;br /&gt;
Berikut ini adalah ciri-ciri klinis gangguan identitas gender :&lt;br /&gt;
a. Untuk diagnosis apakah seorang anak mengalami gangguan identitas gender atau tidak, perhatikan ciri berikut :&lt;br /&gt;
  Ekspresi yang berulang dari hasrat untuk menjadi anggota dari gender lainnya (atau kepercayaan bahwa dia adalah bagian dari gender lain)&lt;br /&gt;
  Preferensi untuk mengenakan pakaian yang mereupakan stereotipikal dari gender lainnya&lt;br /&gt;
  Adanya fantasi yang terus menerus mengenai menjadi anggota dari gender lain, atau asumsi memainkan peran yang dilakukan oleh anggota gender lain dalam permainan ”pura-pura”.&lt;br /&gt;
  Hasrat untuk berpartisipasi dalam aktivitas waktu luang dan permainan yang merupakan stereotip dari gender lainnya.&lt;br /&gt;
  Preferensi yang kuat untuk memiliki teman bermain dari gender lainnya.&lt;br /&gt;
b. Perasaan tidak nyaman yang kuat dan terus ada dengan anatomi gendernya sendiri atau dengan perilaku dari peran gendernya. Misal, anak mengutarakan bahwa alat genital mereka menjijikkan.&lt;br /&gt;
c. Tidak ada kondisi ”interseks”, seperti anatomi seksual yang ambigu, ciri-ciri tersebut menyebabkan distress yang serius atau hendaya pada area penting yang terkait dengan pekerjaan, sosila atau fungsi lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Parafilia &lt;br /&gt;
 Tipe Fetishisme &lt;br /&gt;
Fetishisme adalah ketergantungan kepada benda-benda mati untuk menimbulkan gairah seksual. &lt;br /&gt;
Kriteria fetishisme dalam DSM-IV-TR :&lt;br /&gt;
 Berulang, intens, dan terjdi dalam  kurun waktu setidaknya 6 bulan, fantasi, dorongan, atau perilaku yang menimbulkan gairah seksual berkaitan dengan penggunaan benda-benda mati&lt;br /&gt;
 Menyebabkan distress atau hendaya yang jelas dalam fungsi sosial dalam pekerjaan&lt;br /&gt;
 Benda-benda yang menimbulkan gairah seksual tidak terbatas pada bagian pakaian perempuan yang dikenakannya sebagai lawan jenis atau alat-alat yang dirancang untuk menstimulasi alat kelamin secara fisik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gangguan tersebut biasanya berawal pada masa remaja meskipun fetis dapat memperoleh keistimewaannya pada masa lebih awal, yaitu masa kanak-kanak. Fetishis sering mengidap parafilia lain seperti sadisme, pedofilia dan masokisme.&lt;br /&gt;
Salah satu jenis fetishisme adalah fetishisme transvestik, yaitu seorang laki-laki mengalami gairah seksual ketika memakai pakaian perempuan meski ia tetap merasa sebagai laki-laki. &lt;br /&gt;
Kriteria fetishisme transvestik :&lt;br /&gt;
 Berulang, intens dan terjadi selama periode setidaknya 6 bulan pada laki-laki heteroseksual, fantasi, dorongan atau perilaku yang menimbulkan gairah seksual yang berkaitan dengan memakai pakaian lawan jenis&lt;br /&gt;
 Menyebabkan distress atau hendaya yang jelas dalam fungsi sosial atau pekerjaan&lt;br /&gt;
 Dapat berhubungan dengan distoria gender dalam kadar tertentu (merasa tidak nyaman dengan identitas gendernya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fetishisme transvestik biasanya diawali dengan separuh memakai pakaian lawan jenis di masa kanak-kanak atau remaja. Para transverstik adalah heteroseksual, selalu laki-laki dan secara umum hanya memakai pakaian lawan jenis secara episodik, bukan secara rutin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Tipe Voyeurisme&lt;br /&gt;
Voyeurisme adalah kondisi di mana seseorang memiliki preferensi tinggi untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat orang lain yang sedang tanpa busana atau sedang melakukan hubungan seksual di mana obyeknya tidak menduga bahwa dirinya sedang diobservasi. Orang yang melakukan voyeurisme biasanya tidak menginginkan aktivitas seksual dengan orang yang diobservasinya. Elemen resiko tampaknya penting karena voyeur merasa bergairah dengan kemungkinan reaksi si perempuan yang diintipnya jika mengetahuinya. Voyeurisme umumya berawal di masa remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Tipe Froterisme&lt;br /&gt;
Froteurisme adalah gangguan yang berkaitan dengan melakukan sentuhan yang berorientasi seksual pada bagian tubuh seseorang yang tidak menaruh curiga akan terjadinya hal itu. Belum pernah diteliti secara sangat ekstensif, namun ditengarai dimulai ketika masa remaja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Penyebab &lt;br /&gt;
1. Gangguan identitas gender (GIG)&lt;br /&gt;
 Tidak ada seorangpun mengetahui pasti penyebab gangguan identitas gender. &lt;br /&gt;
 Teoritikus psikodinamika menunjuk pada kedekatan hubungan ibu-anak laki-laki yang sangat ekstrem, hubungan yang renggang antara ibu dan ayah, dan ayah yang tidak ada atau jauh dari anaknya. Faktor-faktor keluarga ini dapat menjadi penyebab munculnya identifikasi yang kuat terhadap ibu dari para pria muda, mengakibatkan pembalikan identitas dan peran gender yang diharapkan.&lt;br /&gt;
 Teoretikus belajar menekankan pada ketidakhadiran ayah dalam kasus anak laki-laki – pada ketiadaan tokoh panutan laki-laki yang kuat.&lt;br /&gt;
 Predisposisi biologis : ketidak seimbangan hormonal di masa-masa prenatal. Otak dapat terdiferensiasikan pada identitas gender tertentu di satu arah sementara alat genital berkembang ke yang lain.&lt;br /&gt;
 Identitas gender dipengaruhi oleh hormon. Hormon seks yang dikonsumsi oleh ibu semasa hamil tampaknya memang menimbulkan minat dan perilaku lintas gender dalam tingkat yang lebih tinggi dari normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Parafilia &lt;br /&gt;
 Teoritikus psikodinamika melihat parafilia sebagai pertahanan terhadap kecemasan kastrasi yang tersisa dari periode Oedipal. Orang yang mengalami kelainan parafilia ini kemungkinan menghindar dari ancaman kecemasan kastrasi dengan memindahkan rangsangan seksual pada aktifitas yang lebih aman – contoh : pakaian dalam, anak-anak, dll.&lt;br /&gt;
 Fetishisme tansvetik : dengan melindungi penisnya di dalam pakaian dalam wanita, pria dengan gangguan ini melakukan tindakan simbolis bahwa wanita tidak memiliki penis dengan secara tidak sadar memberikan bukti atas keselamatan wanita (dan dirinya sendiri).&lt;br /&gt;
 Teoritikus belajar menghubungkan parafilia dengan conditioning dan observational learning dalam hal seksual. Misalnya, anak yang masturbasi sambil memandang stoking ibunya di jemuran mungkin bisa mengembangkan  fetish terhadap stoking.&lt;br /&gt;
 Ada pemikiran bahwa voyeur merasa sulit untuk melakukan hubungan seksual secara langsung dengan orang lain, mungkin karena tidak terampil dalam hubungan seksual, tindakan mengintip  yang mereka lakukan berfungsi sebagai pemuasan pengganti dan kemungkinan memberikan perasaan berkuasa atas orang yang diintipnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Penanganan &lt;br /&gt;
1. Gangguan Identitas Gender &lt;br /&gt;
Ada dua tipe intervensi yang dapat dilakukan, yaitu mengubah tubuh agar sesuai dengan psikologis individu, atau mengubah psikologis agar sesuai dengan tubuh orang yang bersangkutan.&lt;br /&gt;
 Orang yang yang mengalami GID yang mengikuti program yang mencakup perubahan tubuh umumnya diminta untuk menjalani selama 6-12 bulan dan hidup sesuai dengan gender yang diinginkan.&lt;br /&gt;
 Perubahan tubuh yang dilakukan pada individu yang ingin menyesuaikan tubuhnya dengan psikologisnya bisa berupa perubahan-perubahan kecil atau sampai pada perubahan tubuh menyeluruh termasuk operasi perubahan kelamin.&lt;br /&gt;
2. Parafilia&lt;br /&gt;
 Bukti menunjukkan bahwa sejumlah penanganan, terutama terapi perilaku dan terapi kognitif-behavioral (CBT) dapat membantu pelaku penyerangan seksual yang ingin mengubah perilaku mereka.&lt;br /&gt;
 Salah satu teknik behavioral yang digunakan untuk menangani parafilia adalah aversive conditioning. Tujuan dari penanganan ini adalah membangkitkan respon emosional negatif pada stimulus atau fantasi yang tidak tepat. Keterbatasan mendasar dari terapi inia adalah tidak dapat membantu individu untuk mendapatkan perilaku yang lebih adaptif sebagai ganti dari pola respon maladaptif.&lt;br /&gt;
  Salah satu variasi dari aversive conditioning adalah sensitisasi tertutup (covert sensitization) yaitu pemasangan stimulus aversif dengan perilaku bermasalah terjadi dalam imajinasi.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/8603852161728041222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/07/gangguan-seksual-pada-anak-dan-remaja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/8603852161728041222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/8603852161728041222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/07/gangguan-seksual-pada-anak-dan-remaja.html' title='GANGGUAN SEKSUAL PADA ANAK DAN REMAJA'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-7652574145584088029</id><published>2011-07-19T20:39:00.000-07:00</published><updated>2011-07-19T20:39:06.967-07:00</updated><title type='text'>PETA KOGNITIF</title><content type='html'>Peta kognitif adalah adalah sebuah alat mental yang berfungsi mengkodekan dan menyederhanakan cara penyusunan lingkungan spasial kita. Penelitian pada peta kognitif telah mengukur ruang spasial yang secara luas dibatasi besarnya, seperti ruang kelas, lingkungan rumah, kota, negara, dan area geografis lainnya. Studi tentang peta kognitif juga membahas topik yang lebih besar, yaitu memori spasial. Memori spasial adalah sebuah topik yang tidak hanya membahas peta kognitif, tetapi juga membahas lokasi dari kata-kata dan objek lain pada ruang spasial. Peta mental kita juga berisi pengetahuan survei yang menghubungkan lokasi yang dapat diarahkan dengan mempelajari sebuah peta atau mengamati lingkungan secara berulang-ulang sebagaimana yang kita bayangkan, peta mental kita akan lebih akurat jika kita memperoleh informasi spasial dari peta fisik yang diorientasikan pada arah yang kita hadapi.&lt;br /&gt;
Setiap orang dalam mengingat suatu tempat atau  keberadaan suatu benda menggunakan dua pengetahuan untuk  membantunya yaitu pengetahuan rute dan pengetahuan survei. Kapasitas manusia untuk menggambarkan adalah kekuatan dari memori seperti yang terlihat pada bagian mnemonics, tetapi itu hanya esensi di dalam keseharian kita seperti  ketika bekerja  atau melakukan sesuatu dan perubahan di lingkungan kita. Usaha mereka untuk mempelajari dunia spatial. pengetahuan tentang rute merealisasikan jalan kecil yang digunakan untuk menemukan lokasi tertentu. Sedangkan pengetahuan survei digunakan dalam mengenali lokasi tempat yang dicarinya. Setiap tanda-tanda yang ada di sekelilingnya akan membantu menemukan tempat yang dituju. Pengetahuan survei  sangat membantu dalam pembentukan peta kognitif.&lt;br /&gt;
Pada bagian peta kognitif ini, kita akan mempelajari bagaimana peta kognitif merepresentasikan jarak, bentuk, dan orientasi. Lalu kita akan mengetahui bagaimana kita dapat mengkonstruksi model mental dari lingkungan kita berdasarkan pada deskripsi verbal. Namun dalam mempresentasikan tersebut sering kali mengalami terjadinya penyimpangan. Kesalahan yang terjadi saat membuat tanda pada peta kognitif. Kesalahan ini adalah ditorsi sistematis dari kenyataan. Kesalahan ini merefleksikan tendensi pada dasar keputusan kita terhadap variabel yang secara umum relevan. Kita akan melihat distorsi sistematis pada jarak, bentuk, dan orientasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Peta Kognitif dan Jarak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sebagai contoh: Sejauh apa perpustakaan kampus kita dengan kelas dimana kuliah kognitif psikologi diajarkan? Berapa mil jarak tempat kita lahir dengan kota dimana kita tinggal sekarang? Kapan kita membuat perkiraan jarak seperti ini, estimasi kita sering dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti jumlah kota penghubung (the number of intervening cities), jarak rute jalan (road-route distance), dan kategori semantis (semantic categories).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah Kota Penghubung. Jumlah dari kota penghubung sangat mempengaruhi estimasi seseorang. Jika dua kota secara acak dikelompokkan menjadi beberapa daerah, dua kota akan terlihat lebih jauh jika dua kota tersebut terpisah oleh tiga kota penghubung antara dua kota tersebut. Dan dua kota akan terlihat lebih dekat bila tidak ada kota penghubung diantara keduanya. Jarak semakin jauh saat jarak dua kota tersebut masih harus melalui beberapa kota penghubung dibandingkan bila dua kota tersebut tanpa ada kota penghubungnya. Misalnya, saat bepergian dari malang ke Surabaya hanya butuh waktu 2 jam ini terkesan lebih dekat dibandingkan saat pernyataan diubah seperti ini, pergi ke Surabaya dari malang nanti akan melewati lawang, Pandaan, Pasuruan, Sidoarjo dan akan sampai ke Surabaya. Pernyataan kedua akan terlihat lebih lama dan jauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jarak Rute Jalan. Kita berpikir dua kota secara fisik akan lebih dekat jika jalan yang menghubungkan kedua kota tersebut lurus daripada jika jalannya tidak lurus (tidak langsung). Kita dapat mengkalkulasi secara rasional dan sempurna jarak dalam bentuk jarak rute jalan daripada jarak secara langsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kategori Semantik. Ketika tempat terlihat dekat secara semantik, kita percaya bahwa kedua tempat tersebut dekat secara geografis. Pada umumnya pengalaman hidup kita sesungguhnya memberitahukan kita bahwa tempat dengan fungsi yang sama sepertinya dekat satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penelitian oleh stephen hirtle dan koleganya mengilustrasikan bagaimana faktor semantik mempengaruhi estimasi jarak dari suatu tempat yang berada di kota. Setelah partisipan mempelajari lokasi pada peta, dan petanya diminta kembali dan partisipan diminta mengestimasikan jarak diantara pasangan diantara dua tempat. Hasilnya menunujukkan bahwa partisipan mengestimasi sebuah tempat pada kategori yang sama lebih dekat. Misalnya gedung pengadilan diingat oleh partisipan lebih dekat dengan kantor polisi dan balai kota. &lt;br /&gt;
walaupun kesalahan ini membuat tanda. Pada umumnya pengalaman kehidupan kita sesungguhnya memberitahukan kita bahwa tempat dengan fungsi yang sama sepertinya dekat satu sama lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Peta- Peta Kognitif dan Bentuk- Bentuk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Peta-peta kognitif kita tidak hanya menggambarkan jarak tetapi juga menggambarkan bentuk (dari suatu wilayah tertentu). Bentuk- bentuk tersebut begitu jelas tergambarkan dalam peta, sebagai contoh adalah sudut-sudut yang dibentuk dengan cara memotong atau menyilangkan jalan-jalan dan kurva yang menggambarkan belokan sungai. Sebuah penelitian menunjukkan adanya penyimpangan yang sistematis dimana orang cenderung untuk menggambar peta dengan bentuk yang dibuat lebih teratur daripada bentuk aslinya.&lt;br /&gt;
Sudut- sudut&lt;br /&gt;
Moar dan Bower (1983) menyatakan bahwa kita menerapkan pola “Heuristic” atau sebuah peraturan ibu jari yang sederhana. Secara umum, sebagaimana peraturan Ibu jari yang sederhana, jika dua jalan bertemu maka jalan tersebut akan membentuk sudut 90º. Menggambarkan sudut- sudut dalam peta sebagai sudut yang mendekati sudut 90º jauh lebih mudah daripada menggambarkannya sesuai dengan keadaan aslinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kurva&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Penelitian menunjukkan bahwa orang- orang memiliki kecenderungan untuk menggunakan “Symmetry Heuristic” dimana gambar- gambar dianggap lebih simetris dan lebih teratur daripada kondisi yang sebenarnya. Sebagai contoh, Tversky dan Schiano (1989) menunjukkan sebuah diagram yang mirip dengan peta kepada para siswanya. Di dalam diagram tersebut, sebuah kurva yang bentuknya tidak teratur dianggap sebagai sebuah sungai yang dibatasi oleh dua jalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pengaturan Ruang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sejauh ini, kita telah melihat bahwa orang- orang memiliki kecenderungan untuk membuat gambaran atau perkiraan mengenai bentuk- bentuk geografi yang lebih teratur daripada kondisi sesungguhnya. Kita kelihatannya beranggapan bahwa menyimpan versi skematis dari suatu realita jauh lebih mudah dari pada realita itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Peta- Peta Kognitif dan Posisi Relatif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Barbara Tversky (1981) menyatakan bahwa peta kognitif seringkali mengungkapkan dua jenis tambahan dari Heuristik. Kita biasanya menggunakan heuristic- heuristic ini pada saat kita berusaha menangkap orientasi dari gambar yang ada pada peta bayangan kita. Wilayah geografi biasanya memiliki bentuk yang tidak teratur, dan wilayah- wilayah yang menonjol (yang ditandai khusus) biasanya menyebar secara tidak teratur. Kita cenderung menggambarkan sesuatu secara lebih teratur daripada kondisi aslinya sebagaimana kita menggambarkan sudut- sudut yang terbentuk dari perpotongan jalan- jalan menjadi mendekati 90º dan menggambarkan kurva menjadi simetris. Dua jenis heuristic yang digunakan untuk menggambarkan posisi relative dari benda- benda  disebut “rotation Heuristic” dan “alignment Heuristic.” &lt;br /&gt;
Rotation Heuristik&lt;br /&gt;
Menurut Rotation Heuristik, gambar/ benda yang posisinya agak miring akan diingat sebagai benda yang lebih vertikal atau lebih horizontal daripada kondisi sebenarnya.&lt;br /&gt;
Alignment Heuristic&lt;br /&gt;
Menurut Alignment Heuristic, suatu gambar akan diingat sebagai gambar yang lebih lurus/ sejajar daripada kondisi sebenarnya.&lt;br /&gt;
Rotation Heuristic dan Alignment Heuristic, pada awalnya mungkin kelihatan sama. Namun demikian, Rotation Heuristic melibatkan adanya pemutaran dengan model searah ataupun berlawanan dengan arah jarum jam pada sebuah garis pantai, Negara, bangunan, atau benda lain sehingga garis batasnya diarahkan ke arah vertikal ataupun horizontal. Sebaliknya, Alignment Heuristic melibatkan adanya penyejajaran sejumlah negara yang terpisah, bangunan- bangunan, ataupun benda- benda lain dalam barisan yang lurus. Namun demikian, kedua heuristic tersebut sama, sebab mereka mendorong kita untuk menciptakan peta kognitif yang teratur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menggunakan Deskripsi Verbal untuk Menciptakan Model Mental&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar atau membaca deskripsi dari lingkungan secara khusus. Seorang teman menghubungi kita untuk memberikan petunjuk arah menuju ke rumahnya. Kita tak pernah berpergian kesana sebelumnya, dan juga kita belum membuat peta kognitif untuk merepresentasikan rutenya. Sekali lagi, kita membuat peta kognitif. Peta kognitif ini membuat kita menstimulasi aspek spasial dari lingkungan eksternal kita (rumelhart &amp; norman, 88). Representasi ini yang menggambarkan ulang situasi yang kita peroleh dari deskripsi verbal yang disebut model mental (millis &amp; cohen, 94). Pada bagian akhir ini kita akan mengetahui bagaimana seseorang membuat model mental berdasarkan deskripsi verbal. &lt;br /&gt;
Penelitian Franklin dan Tversky.&lt;br /&gt;
Franklin dan tversky memberikan deskripsi dari perbedaan dari 10 gambar, penggambaran lobi hotel, gedung opera, bar, dan lainnya. Setiap deskripsi menggambarkan lima objek yang ditempatkan pada posisi kenampakan yang dihubungkan pada pengamat  (atas, bawah, depan, belakang, juga tampak kanan dan kiri). Setelah membaca setiap deskripsi, partisipan diinstruksikan untuk membayangkan bahwa mereka diputar untuk melihat objek yang lain. Lalu mereka diminta untuk menentukan objek yang ditempatkan pada arah tampak yang lain.&lt;br /&gt;
Franklin dan tversky secara khusus tertarik untuk menemukan pengaruh waktu respon berdasarkan setiap lokasi dari objek yang diteskan. Dapatkah kita membuat semua keputusan dengan sama cepatnya. Franklin dan tversky menemukan bahwa seseorang dapat menjawab dengan objek di atas atau dibawah, waktu reaksi lebih pendek untuk penilaian ini. Seseorang membutuhkan beberapa saat yang lebih lama untuk memutuskan objek mana yang di depan atau di belakang. Maka keputusan tentang objek yang ditampakkan kanan dan kiri membutuhkan waktu yang paling lama untuk diputuskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kerangka kerja model spasial&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Secara khusus kerangka kerja model spasial menyatakan bahwa ketika kita berada pada posisi pojok kanan atas, dimensi vertikal atau atas/bawah secara khusus sudah ada. Dimensi ini memiliki dua alasan signifikan khusus, yaitu:&lt;br /&gt;
1. dimensi vertikal dihubungkan dengan gravitasi. Sebuah keuntungan bahwa dua dimensi lain dibagi. Gravitasi memiliki efek asimetris yang penting pada dunia dimana kita hidup, benda jatuh ke bawah, bukan ke atas. Karena hubungannya dengan gravitasi, dimensi atas/bawah seharusnya secara khusus penting.&lt;br /&gt;
2. dimensi vertikal pada bagian atas badan manusia secara fisik asimetris. Yang mana kepala dan kaki sangat mudah untuk digambarkan secara terpisah dan kita tidak membingungkan diantara keduanya&lt;br /&gt;
Dimensi selanjutnya yang sudah adalah dimensi depan/belakang. Kita dapat melihat dan berinteraksi dengan objek didepan kita dengan lebih siap daripada dengan objek yang ada di belakang kita, memperlihatkan asimetri. Dua karakteristik ini membimbing waktu penilaian untuk dimensi depan/belakang yang cepat, walaupun tidak secepat penilaian pada dimensi atas/bawah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimensi terakhir yang sudah ada adalah dimensi kiri/ kanan. Kita dapat melihat objek sama baiknya baik objek tersebut berada di kanan atau di kiri. Kita membutuhkan waktu proses tambahan untuk memastikan bahwa kita tidak melakukan kesalahan ini oleh karena keputusan kanan/kiri membutuhkan waktu yang lebih lama.&lt;br /&gt;
Jadi kerangka kerja model spasial dari Franklin dan tversky menawarkan bahwa dimensi vertikal atas/bawah adalah merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diteliti ke depannya. Dimensi depan belakang adalah sesuatu yang sangat penting kedua dan dimensi kanan/kiri adalah yang terakhir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penelitian selanjutnya tentang Model Mental&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Model mental didorong oleh deskripsi verbal merepresentasikan orientasi dan cara pandang. Sifat lain yang penting pada model mental ini adalah tanda tempat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh ferguson dan hegarty, kita akan membangun 2 tempat yang penting ketika kita mendengar atau membaca sebuah cerita. Kemudian kita menggunakan memori 2 tempat tersebut sebagai sebuah referensi, untuk menambahkan memori tentang lokasi lain pada model mental kita. Semua penelitian pada model mental menyebutkan banyak pendapat yang kuat untuk sifat dasar dari proses kognitif aktif manusia. Kita dapat memperoleh informasi dan pergi ke informasi yang telah diberikan itu, mengkonstruksi model untuk merepresentasikan pengetahuan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Peta Mental&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sejauh ini kita sebagai manusia menikmati pemandangan alam semesta secara geosentri. Local egosentrik memperlihatkan bentuk geografi yaitu merupakan  hasil dari bentukan yang telah dikenal lebih dahulu dan ikatan emosi yang muncul.  Rumah adalah satu yang paling nyaman dunia di dalam kamus hidup seseorang. Beberapa sugesti tentang peta dimana anggapan dasar tentang realitas geografis adalah refleksi dari obyek realitas dunia dan bagian dari refleksi subyek realitas dalam anggapan tersebut.&lt;br /&gt;
Peta dapat digambarkan dengan menciptakan ingatan seperti keadaan sebenarnya? ini adalah bentuk representasi digambarkan  dengan sangat jelas, seperti sketsa peta  dan bentuk grafis yang lain, mencerminkan gambaran subyektive kita tentang realitas sebagian besar peta dipelajari dengan menggunakan distorsi sistem dan akurasi peta kognitif, seperti layaknya sistem navigasi. &lt;br /&gt;
Seseorang cenderung menggangap tempat tinggal atau daerah dimana dia berada menjadi pusat dalam menggambarkan peta. Ini terlihat saat murid di Amerika yang menggambar peta dunia cenderung menjadikan amerika sebgai pusat dalam peta tersebut. Begitu pula murid australia menjadikan asia dan australia sebgai pusat pada peta mereka. Selain itu tidak menggambar secara detail dikarenakan tidak ada dalam tugas (negara-negara kecil tidak detail walau ada di sekitar pusat peta mereka)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&lt;br /&gt;
Solso, R.L. 2001. Cognitive Psychology. Sixth edition. Allyn &amp; Bacon.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/7652574145584088029/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/07/peta-kognitif.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/7652574145584088029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/7652574145584088029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/07/peta-kognitif.html' title='PETA KOGNITIF'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-8666010938714558538</id><published>2011-07-19T20:35:00.000-07:00</published><updated>2011-07-19T20:35:34.199-07:00</updated><title type='text'>Commitment Phobia</title><content type='html'>Masih banyak orang di negara maju, yang menganggap penyakit gangguan psikis sebagai kelemahan. Tidak banyak yang berani mengakui, mereka sebenarnya memiliki masalah yang tidak dapat dipecahkannya sendirian. Namun di sisi lainnya, mencari pakar yang tepat untuk membantu mengobati gangguan psikis ini, pun ibaratnya bermain lotre. Karenanya, sejumlah pakar psikologi menuntut, ditetapkannya kriteria yang jelas bagi pasien dan penolong yang profesional.&lt;br /&gt;
 Prof. Dr. Jürgen Margraf dari bagian psikologi klinik dan psikoterapi Universitas Basel di Swiss, menyebutkan, untuk diagnose adanya gangguan psikologi, paling tidak terdapat empat kriteria sebagai acuan. Pertama, apakah terasa ada gangguan? Kedua, apakah hal itu menyebabkan dampak negatif, baik dalam kehidupan pribadi maupun pekerjaan? Ketiga, apakah kita masih dapat mengendalikan gangguan tsb? Dan keempat, apakah reaksi kita masih dalam tahapan wajar? Jika terasa ada gangguan yang menimbulkan dampak negatif dan sulit dipecahkan sendiri, apalagi jika reaksi sudah tidak wajar lagi, itu artinya kita sudah memerlukan bantuan dokter atau pakar psikologi.&lt;br /&gt;
 Perubahan sosial, kini memainkan peranan besar bagi munculnya gangguan psikologi. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, dalam satu dekade terakhir jumlah kasus gangguan psikologi meningkat tajam apabila dibandingkan dengan kasus di tahun 50-an. Pemicunya adalah perubahan  sosial yang amat cepat, meningkatnya ancaman serta semakin longgarnya hubungan  sosial, seperti semakin banyak orang yang tidak menikah, dan semakin seringnya terjadi perceraian. Dalam masyarakat yang berubah cepat, jumlah penderita fobia atau ketakutan tidak beralasan secara otomatis semakin meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Fobia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
 Fobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap Fobia sulit dimengerti. Itu sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan bulanan oleh teman sekitarnya. Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek Fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. &lt;br /&gt;
 Menurut Dokter Bambang Eko, dokter spesialis jiwa (psikiater) Rumah Sakit Jiwa Jambi, yang dimaksud dengan fobia adalah ketakutan menetap terhadap objek atau situasi yang terlihat nyata, di mana ketakutan itu bisa mencetuskan rasa khawatir berlebihan atau rasa panik dan si penderita berusaha menghindari objek tersebut. Dikatakan, fobia termasuk ke dalam penyakit gangguan kejiwaan. Penyakit ini lebih banyak di derita wanita ketimbang  pria, selain itu fobia ini lebih sering terjadi pada usia remaja dibandingkan usia lainnya. &lt;br /&gt;
 Dokter Bambang memaparkan, fobia itu dibagi atas beberapa jenis. Yang pertama, agorafobia yakni rasa takut terhadap kondisi-kondisi atau situasi tertentu. Ia mencontohkan, takut terhadap tempat yang tinggi, suatu tempat yang lapang, tempat yang sempit, tempat yang tertutup atau bisa jadi takut terhadap tempat yang gelap dan berbagai situasi lainnya.&lt;br /&gt;
 Jenis fobia yang kedua, menurutnya, adalah fobia sosial. Fobia ini, dikatakan Bambang, adalah rasa takut terhadap suasana sosial seperti takut terhadap suasana yang ramai atau takut akan menjadi perhatian,  misalnya saja takut berkunjung ke tempat-tempat pertemuan atau pergi ke suasana pesta yang pasti ramai.&lt;br /&gt;
 Adapun jenis fobia yang ketiga, ujar Bambang, fobia khas, yakni rasa takut terhadap benda atau binatang. Fobia jenis ini paling banyak diderita pasien. Misalnya saja, takut binatang kelabang dan ular. Walaupun demikian, sambung dia, cukup banyak pula binatang lain yang menyebabkan seseorang menderita fobia ini, seperti binatang kecoa, tikus, kucing, dan berbagai binatang lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Commitment Phobia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
 Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa takut tersebut muncul ketika hubungan awal terbentuk (atau sebelumnya), atau bahkan ketika hubungan tersebut sedang berkembang. Commitment phobia lebih sering terbentuk ketika individu sedang menjalin dan berkembang ke arah yang lebih serius dalam sebuah hubungan cinta. Biasanya ia terjebak dalam hubungan tersebut dalam kebimbangan emosional untuk melangkah ke tahap selanjutnya.&lt;br /&gt;
  Penderita gangguan fobia komitmen sangat takut mendengar beberapa kalimat tertentu berupa komitmen bersama yang terucapkan dari pasangan cintanya, meningkatnya rasa cemas dan rasa takut ketika menghadapi beberapa situasi yang membuatnya merasa terjebak; misalnya saja memasuki tahap pernikahan, tahap pertunangan, mempunyai bayi dan sebagainya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Individu yang memiliki fobia komitmen:&lt;br /&gt;
• Sangat takut akan segala macam komitmen bersama pasangannya&lt;br /&gt;
• Takut untuk menikah&lt;br /&gt;
• Takut menjalin hubungan&lt;br /&gt;
• Takut akan perubahan hidup yang terbentuk dari hubungan dengan pasangannya&lt;br /&gt;
• Mempunyai hubungan cinta dengan beberapa orang sebelumnya&lt;br /&gt;
• Mempunyai perasaan curiga terhadap pasangannya&lt;br /&gt;
• Argumentatif (suka membantah)&lt;br /&gt;
• Menolak untuk memikirkan masa depan dan mempunyai rencana atau jadwal sendiri tanpa melibatkan pasangannya&lt;br /&gt;
• Tertutup, tidak suka menunjukkan muatan-muatan emosinya&lt;br /&gt;
• Perilaku hidup tidak teratur dan tidak siap untuk melakukan perubahan karena kebiasaan-kebiasaan sebelumnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Simptom&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Beberapa simtom yang dapat diprediksi tentang rasa takut ini adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1) Kritik meningkat pada pasangannya&lt;br /&gt;
Penderita fobia komitment suka memberikan kritikan tajam pada pasangannya, lingkungan sekitar mereka atau pada bentuk hubungan mereka. Individu ini sering menyalahkan pasangan terhadap kesalahan-kesalahan yang menimpa dirinya&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
2) Mencari-cari kesalahan hubungan&lt;br /&gt;
Individu yang memiliki fobia komitment merasa takut bila hubungan mereka lancar tanpa ada masalah, ia akan mencari permasalahan baru untuk membawa hubungan tersebut dalam pertengkaran. Tujuannya adalah untuk meyakinkan pasangannya bahwa hubungan mereka tidak dalam keadaan baik, belum matang dan belum siap melangkah pada jenjang selanjutnya. Individu ini kadang juga mencari pelbagai alasan tertentu yang tidak rasional untuk menghindari keterikatan dengan pasangannya, misalnya ia menggunakan alasan zodiak atau shio yang tidak cocok dan sebagainya&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
3) Menghindari kontak dengan orang lain&lt;br /&gt;
Fobia komitmen sangat jarang melakukan kontak dengan orang lain, ini bukanlah mereka mengalami gangguan sosial fobia; mereka tidak ingin terikat dengan orang lain begitu erat. Mereka juga menghindari situasi sosial tertentu, mengindari kontak mata, berkenalan dengan orang baru. Individu seperti ini juga menghindari berkenalan dengan ibu atau saudara dari pasangannya&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
4) Mencari pasangan yang mempunyai kemungkinan kecil tidak terikat&lt;br /&gt;
Individu dengan fobia komitmen akan mencari pasangan yang kemungkinan kecil tidak akan mengikatnya. Ia akan memilih pasangan yang lebih muda dengan asumsi bahwa bila hubungan bisa terus bertahan maka usia pernikahan akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Atau individu ini lebih suka terlibat dengan pasangan yang sudah menikah dengan tujuan pasangan tersebut tidak akan menuntutnya dalam suatu ikatan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
5) Mengulur-ulur waktu&lt;br /&gt;
Individu ini menyukai hubungan yang lebih lama, ia mempunyai kesempatan untuk &quot;bermain&quot; lebih lama dengan pasangannya. Ia menghindari keterikatan dengan mengulur waktu lebih lama untuk memasuki babak selanjutnya. Biasanya individu seperti ini akan memberi batas waktu tertentu akan tetapi kemudian mengundurkannya untuk jangka waktu tertentu.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
6) Menyukai hubungan yang putus-sambung&lt;br /&gt;
Individu seperti ini sangat menyukai hubungan putus-sambung, ia akan berusaha mencari masalah bahwa hubungan yang sedang dibina sedang memiliki masalah besar, memutuskan hubungan sepihak merupakan salah satu langkah yang sering ditempuh untuk menghindari hubungan yang semakin kuat. Ketika individu mulai merasakan kekosongan jiwanya, ia akan kembali berusaha untuk memperbaiki hubungan tersebut &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Faktor penyebab&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Beberapa penyebab kemunculan fobia komitmen:&lt;br /&gt;
a. Terbentuk ketika masa kecil dari keluarga percerain (divorce). Pada masa ini anak melihat dan menilai sendiri bahwa ikatan keluarga antara ayah dan ibunya mengalami hubungan yang sulit berupa pertengkaran-pertengkaran yang membuatnya merasa takut dan bernaggapan bahwa sebuah hubungan antara lawan jenis bukanlah hal menyenangkan.&lt;br /&gt;
b. Pengalaman trauma di masa kecil dapat berupa pelbagai kekerasan fisik, kekerasan seksual dan pangalaman trauma lainnya yang dialami sang anak yang dilakukan oleh orang dewasa&lt;br /&gt;
c. Kehilangan orang-orang yang dicintai. Ketika anak kehilangan salah satu atau kedua dari orangtuanya yang sangat dicintainya, anak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk penyembuhan luka-luka emosionalnya, akibatnya ketika dewasa rasa takut kehilangan orang yang dicintainya akan terulang kembali sehingga ia akan menjaga jarak untuk tidak terlibat lebih dekat agar rasa &quot;luka&quot; tersebut tidak terulang kembali.&lt;br /&gt;
d. Pengalaman trauma yang dialami sebelumnya. Misalnya saja individu yang patah hati dengan pasangan sebelumnya membentuk dalam pikirannya untuk tidak menjalani hubungan lagi dengan siapa pun.&lt;br /&gt;
e. Miskin &quot;role model&quot; ketika masa kanak-kanak. Anak-anak akan menilai dan meniru beberapa perilaku orang yang dikenalnya ketika kepribadian anak mulai terbentuk, kurangnya contoh model yang tepat ketika masa kecil membuat anak keliru secara persepsi dalam menilai sebuah bentuk hubungan.&lt;br /&gt;
f. Pengalaman yang tidak menyenangkan dari pasangan orangtua tiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&lt;br /&gt;
osdir.com/ml/culture.region.indonesia.ppi-india/2005-02/msg00319.html&lt;br /&gt;
www.jambi-independent.co.id/home/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=1818&lt;br /&gt;
www.pikirdong.org/psikologi/psi25coph.php&lt;br /&gt;
id.wikipedia.org/wiki/Fobia</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/8666010938714558538/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/07/commitment-phobia.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/8666010938714558538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/8666010938714558538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/07/commitment-phobia.html' title='Commitment Phobia'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-495832123832296057</id><published>2011-07-19T20:29:00.000-07:00</published><updated>2011-07-19T20:29:45.118-07:00</updated><title type='text'>Trancient Global Amnesia</title><content type='html'>&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Amnesia, mungkin kata ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Banyak sekali film, sinetron, ataupun buku-buku fiksi yang menyisipkan cerita mengenai amnesia di dalam alur ceritanya. Biasanya diceritakan bahwa seseorang mengalami amnesia setelah mengalami kecelakaan lalu lintas atau mengalami benturan di kepalanya. Korban tidak dapat mengingat semua peristiwa yang terjadi sebelumnya, bahkan tidak dapat mengingat namanya sendiri. &lt;br /&gt;
Di dalam cerita-cerita tersebut, amnesia dapat bertahan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dan penderita akan dapat mengingat kembali memorinya yang hilang seiring dengan berjalannya waktu. Seperti apakah sebenarnya fenomena amnesia itu? Apakah sama seperti yang tergambar di cerita-cerita fiksi tersebut ataukah berbeda? Berikut ini penulis mencoba membahas mengenai fenomena amnesia .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Otak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Otak terdiri dari dua hemisfer, yaitu hemisfer kanan dan hemisfer kanan. Kedua hemisfer ini bekerja mengikuti prinsip contralaterality di mana hemisfer kanan berfungsi untuk mengontrol bagian tubuh sebelah kiri dan hemisfer kiri berfungsi untuk mengendalikan bagian tubuh sebelah kanan. Bagian otak yang berperan pada fungsi kognitif disebut fungsi kortikal tingkat tinggi (higher brain function ).&lt;br /&gt;
Fungsi kortikal pertama:&lt;br /&gt;
• Penglihatan di kortex oksipital kiri dan kanan&lt;br /&gt;
• Pendengaran di kortex temporal kiri dan kanan &lt;br /&gt;
• Penciuman di kortex limbik frontal kiri dan kanan &lt;br /&gt;
• Perasa (eksteroseptif &amp; propioseptif) di kortex parietal kiri dan kanan &lt;br /&gt;
• Pengecap di kortex insula kiri dan kanan &lt;br /&gt;
• Pergerakan di kortex motorik frontal kiri dan kanan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada perkembangan individual otak, khususnya hemisferium terdapat spesialisasi otak yang berbeda, yaitu perbedaan fungsi luhur otak belahan kiri (hemisfer kiri) dan kanan (hemisfer kanan).&lt;br /&gt;
Belahan otak kiri :&lt;br /&gt;
• Merupakan pusat otak yang dominan untuk berbahasa lisan dan tulisan.&lt;br /&gt;
• Berperan dalam proses berpikir yang logis, analitis, linier dan bertindak yang rasional. &lt;br /&gt;
• Diperlukan untuk kemampuan akademik di sekolah formal .&lt;br /&gt;
Belahan otak kanan :&lt;br /&gt;
• Berperan dalam pengamatan diri, pengamatan ruang, dan pengamatan lingkungan (Visuospatial).&lt;br /&gt;
• Berbahasa non verbal, gaya bahasa, menyanyikan lagu yang dikenal &amp; mengenal nada lagu.&lt;br /&gt;
• Fungsi emosi yang berhubungan dengan visuospasial. Mengenal dan memahami orang lain dengan mimik gembira atau marah, bidang seni pahat, seni lukis, seni musik.&lt;br /&gt;
• Berperan dalam proses berpikir yang holistik, dimana berkaitan juga dengan fungsi emosi dan intuisi.&lt;br /&gt;
• Pusat berimajinasi, penting untuk kreativitas seseorang untuk berkarya.&lt;br /&gt;
• Berkembang dengan pengalaman formal dan non formal (pengalaman diluar sekolah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Memori&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Memori dipahami sebagai kumpulan dari kemampuan mental yang tergantung pada beberapa system dalam otak. Di sini akan dibahas secara singkat 4 sistem memori, yaitu : episodic memori, semantic memori, procedural memori, dan memori kerja. Perbedaan antar system memori tergantung pada perbedaan struktur neuroanatomical. Beberapa system dihubungkan dengan kesadaran (eksplisit) dan dengan sadar bias diulang atau dipanggil kembali (declarative), di mana lainnya diekspresikan oleh perubahan tingkah laku (implicit) dan tipe ketidaksadaran (non declarative).&lt;br /&gt;
 Episodic memori tergantung dari lobus medial temporal (termasuk hipokampus dan kortek entorinal dan peririnal). Pada kasus disfungsi system episodic memori , kemampuan belajar informasi tidak bisa diperoleh kembali (amnesia retrograde). &lt;br /&gt;
 Semantic memori tertuju pada penyimpanan umum konsep dan fakta pengetahuan yang tidak berhubungan dengan memori yang spesifik. Sepertihalnya episodic memori, semantic memori adalah system memori yang deklaratif dan eksplisit. Penyakit Alzheimer adalah kekacauan klinis yang paling sering terjadi pada kerusakan semantic memori.&lt;br /&gt;
 Procedural memori ditujukan pada kemampuan untuk belajar tentang bertingkahlaku, kemampuan kognitif, dan algoritma. Penyakit Parkinson adalah kekacauan yang paling umum yang mempengaruhi procedural memori.&lt;br /&gt;
 Memori kerja adalah kombinasi bagian tradisional dari perhatian, konsentrasi, dan memori jangka pendek. Memori kerja secara tradisional telah dibagi dalam komponen yaitu proses informasi fonologik atau informasi spasial dan system tersendiri yang menunjukkan pada sumber perhatian. Penyakit degeneratif yang dapat mengganggu fungsi dari memori kerja termasuk Alzheimer, Parkinson, dan Huntington. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Gangguan Amnestik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Gangguan amnestik (amnestic disorder) atau biasa disebut dengan amnesia didefinisikan sebagai hilangnya sebagian atau seluruh kemampuan untuk mengingat peristiwa yang baru saja terjadi atau peristiwa yang sudah lama berlalu di mana kondisi ini tidak berhubungan dengan keadaan delirium atau demensia.&lt;br /&gt;
Gangguan amnestik seringkali mengikuti sebuah peristiwa traumatis seperti benturan keras di kepala, kejutan listrik, atau suatu operasi. Amnesia hanya terjadi selama beberapa menit atau beberapa jam (tergantung pada beratnya cedera) dan akan menghilang dengan sendirinya. Secara umum terdapat dua bentuk amnesia, yaitu amnesia retrograde dan amnesia anterograde. Pada amnesia retrograde, penderita akan mengalami ketidakmampuan memunculkan kembali ingatan masa lalu yang lebih dari peristiwa lupa biasa. Sedangkan pada amnesia anterograde, penderitanya tidak akan bisa mengingat apapun yang terjadi setelah munculnya amnesia ini walaupun baru berlalu sesaat.&lt;br /&gt;
Suatu aspek yang menarik dari amnesia adalah tidak semua jenis memori terganggu. Walaupun penderita amnesia pada umumnya tidak mampu mengingat fakta lama tentang kehidupan mereka atau untuk mempelajari fakta baru, mereka tidak mengalami kesulitan dalam mengingat dan mempelajari kecakapan perceptual dan motorik.&lt;br /&gt;
Jenis memori yang bias terkena amnesia :&lt;br /&gt;
o Memori Jangka Pendek : ingatan akan peristiwa yang terjadi beberapa detik sebelumnya.&lt;br /&gt;
o Memori Jangka Menengah : ingatan akan peristiwa yang terjadi beberapa detik sampai beberapa hari sebelumnya.&lt;br /&gt;
o Memori Jangka Panjang : Ingatan akan peristiwa di masa lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umumnya amnesia yang terjadi adalah gangguan memori jangka pendek. Pada kelainan lobus temporalis kiri menyebabkan gangguan memori verbal (tidak ingat apa yang disebutkan) sedangkan kelainan pada lobus temporalis kanan menyebabkan gangguan memori visual (tidak ingat apa yang diperlihatkan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Transient Global Amnesia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Transient Global Amnesia (amnesia menyeluruh sekejap) merupakan serangan lupa akan waktu, tempat dan orang yang terjadi secara mendadak dan berat.amnesia jenis seperti ini sangat jarang terjadi dan umumnya terjadi pada orang lanjut usia dengan penyakit vaskuler. Serangan berlangsung selam 30 menit sampai 12 jam atau lebih.&lt;br /&gt;
Pada pria, TGA lebih sering terjadi setelah adanya kejadian pemicu yang bersifat fisik. Pada wanita, TGA berhubungan dengan kejadian-kejadian pemicu yang bersifat emosional, sejarah kecemasan, atau kepribadian patologis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Patofisiologi&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Patofisiologi yang tepat pada TGA sampai saat ini masih belum jelas. Laporan pemeriksaan dengan menggunakan PET (Positron Emission Tomography), DWI (Diffusion-Weighted MRI), SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography) dan MRS (MR Spectroscopy) mengindikasikan beberapa hal yang dapat mempengaruhi TGA, antara lain :&lt;br /&gt;
 Pada PET dan DWI, selama mengalami TGA, darah yang mengalir ke area-area otak tertentu yang berkaitan dengan pemunculan kembali memori terganggu. Hal ini termasuk thalamus dan atau struktur temporal mesial.&lt;br /&gt;
 Hakan dkk. menemukan adanya sedikit peningkatan sinyal di dalam parahippokampal gyrus kiri dan splenium pada korpus kalosum dengan menggunakan DWI pada seorang pasiennya. Eustache dkk dengan menggunakan PET melaporkan depresi yang menyebar di dalam korteks lateral frontal kiri. Strupp dkk dengan menggunakan DWI menemukan perubahan-perubahan terutama di bagian temporal medial pada pasien-pasien dengan TGA.&lt;br /&gt;
 Winbeck dkk menemukan perubahan DWI akut pada pasien dengan TGA.&lt;br /&gt;
 Yamane dkk melaporkan difus hipoperfusi serebral pada SPECT.&lt;br /&gt;
 Bartsch dkk menemukan bahwa dari 7 pasien TGA, 4 di antaranya memoloki abnormalitas difusi yang berhubungan dengan lesi T2 di dalam sektor CA-1 pada hipokampus. Sedangkan pada 3 pasien lainnya, MRS menunjukkan laktat maksimum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sejarah Klinis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sindrom TGA dikemukakan pertamakali oleh Morris Bender dalam Journal of the Hillside Hospital pada tahun 1956. kemudian Fisher dan Adams menulis secara khusus mengenai TGA dalam Acta Neurologica Scandinavia pada tahun 1964. sejak saat itu, TGA menjadi sindrom yang sering dibicarakan, namun etiologi sebenarnya masih belum sepenuhnya dimengerti.&lt;br /&gt;
 TGA secara spesifik mempengaruhi fungsi memori. Pasien dapat menyimpan informasi, namun tidak dapat memunculkan kembali memori tersebut.&lt;br /&gt;
 Pemicu TGA seringkali termasuk tekanan fisik, stress emosional berlebihan, rasa sakit, seksual intercourse, dan manuver Valsalva. Pemicu-pemicu ini memiliki ciri umum yaitu peningkatan venous kembali ke vena cava superior.&lt;br /&gt;
 Obat-obatan juga dapat memicu munculnya simptom-simptom yang sama. Misalnya, penggunaan obat sedatif-hipnotik, atau pramedikasi dengan midazolam. Alkohol berlebihan juaga dapat memperparah fenomena ini. &lt;br /&gt;
 Perlu dipertimbangkan juga latar belakang sosial dan keluarga pasien. Pantoni dkk menemukan bahwa pasien TGA sebagian besar memiliki anggota keluarga yang mengalami TIA (Transient Ischemic Attack).&lt;br /&gt;
 TGA sebagai manifestasi TIA biasanya dikenali dari perubahan tingkahlaku pasien. Pasien tampak seperti bingung, banyak bertanya mengenai apa yang dilakukan oleh dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daftar Rujukan:&lt;br /&gt;
Ashcraft, Mark H. 1994. Human Memory and Cognition second edition. New York : HarperCollins College Publishers.&lt;br /&gt;
Atkinson, Rita L. et al. Tanpa tahun. Pengantar Psikologi edisi ke-11 Jilid 1. Interaksara.&lt;br /&gt;
Nevid, Jeffrey S. et al. 2005. Psikologi Abnormal edisi ke-5 jilid 2. Jakarta : Erlangga.&lt;br /&gt;
Retnaningsih. 2008. Neurologi Update 2008: CEDERA KEPALA TRAUMATIK. (online :&lt;a href=&quot;http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&amp;dn=20080427234109&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Sucholeiki, Roy. 2008. Trancient Global Amnesia. online :&lt;a href=&quot;http://www.emedicine.medscape.com) http://www.nusantara-mc.com/highlights_detail.php?id=1&quot;&gt;&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/495832123832296057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/07/trancient-global-amnesia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/495832123832296057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/495832123832296057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/07/trancient-global-amnesia.html' title='Trancient Global Amnesia'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-5518263976233266321</id><published>2011-06-27T20:55:00.001-07:00</published><updated>2011-06-27T20:55:09.574-07:00</updated><title type='text'>Internet Addiction (Kecanduan Internet)</title><content type='html'>1. Pengertian&lt;br /&gt;
Seperti halnya adiksi terhadap zat, adiksi internet dapat diartikan sebagai pemakaian internet secara terus-menerus hingga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari penderitanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Kriteria-Kriteria Internet Addiction&lt;br /&gt;
Kriteria untuk mengetahui seseorang telah mengalami adiksi terhadap internet diadaptasi dari kriteria-kriteria ketergantungan zat seperti disebutkan di dalam DSM-IV, yaitu :&lt;br /&gt;
a. Toleransi, yang ditunjukkan dalam perilaku sebagai berikut :&lt;br /&gt;
• Kebutuhan meningkatkan waktu penggunaan internet untuk mendapatkan kepuasan dan mengurangi efek keinginan terus-menerus memakai internet&lt;br /&gt;
• Secara nyata mengurangi efek keinginan tersebut dengan melanjutkan pemakaian internet dengan waktu yang sama terus menerus&lt;br /&gt;
b. Withdrawal, yang termanifestasikan ke dalam salah satu ciri-ciri berikut :&lt;br /&gt;
• Kesulitan untuk menghentikan atau mengurangi pemakaian internet, agitasi psikomotor, kecemasan, secara obsesif memikirkan tentang apa yang sedang terjadi di internet, fantasi atau mimpi tentang internet, sengaja atau tidak sengaja menggerakkan jari-jari seperti gerakan sedang mengetik dengan komputer.&lt;br /&gt;
• Pemakaian internet atau layanan online yang mirip untuk melepaskan diri atau menghindarkan diri dari simptom-simptom withdrawal.&lt;br /&gt;
c. Sering menghabiskan waktu mengakses internet lebih lama dari yang direncanakan (kehilangan orientasi waktu).&lt;br /&gt;
d. Gagal mewujudkan keinginan untuk mengurangi atau mengontrol pemakaian internet.&lt;br /&gt;
e. Menghabiskan banyak waktu dengan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan internet (misalnya membeli buku-buku tentang internet, mencoba-coba browser WWW baru, dan mengatur material-material hasil dari download).&lt;br /&gt;
f. Terganggunya kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan keluarga, lingkungan, pekerjaan akibat pemakaian internet.&lt;br /&gt;
g. Tetap menggunakan internet secara berlebihan meskipun sudah memiliki pengetahuan mengenai dampak-dampak negatif dari pemakaian internet secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zsolt Demetrovics, et. al. (2008) mengembangkan kuisioner mengenai internet addiction yang disebut PIUQ (Problematic Internet Use Questionnaire). Faktor-faktor internet dalam kuisioner tersebut terbagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu:&lt;br /&gt;
a. Keterikatan mental dengan internet&lt;br /&gt;
Yang termasuk dalam kategori ini antara lain melamun, sering berfantasi tentang internet, menunggu kesempatan untuk ber-online lagi, di sisi lain, kecemasan, kekhawatiran, dan depresi karena kurangnya pemakaian internet.&lt;br /&gt;
b. Pengabaian aktivitas sehari-hari dan kebutuhan-kebutuhan dasar&lt;br /&gt;
Faktor ini adalah mengenai berkurangnya tingkat kepentingan urusan rumah tangga, pekerjaan, belajar, makan, hubungan sesama, dan aktivitas-aktivitas lain serta pengabaian aktivitas-aktivitas tersebut akibat peningkatan frekuensi pemakaian internet.&lt;br /&gt;
c. Kesulitan dalam mengontrol pemakaian internet&lt;br /&gt;
Yang termasuk dalam kategori ini adalah pemakaian internet yang lebih sering dan lebih lama dari yang sebelumnya direncanakan, disamping ketidakmampuan untuk mengurangi jumlah pemakaian internet. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Jenis-Jenis Internet addiction&lt;br /&gt;
Berikut ini adalah sub-sub tipe dari internet addiction menurut Kimberly S. Young, et. al. (2006):&lt;br /&gt;
a. Cybersexual Addiction,&lt;br /&gt;
Termasuk ke dalam cybersexual addiction antara lain adalah individu yang secara kompulsif mengunjungi website-website khusus orang dewasa, melihat hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas yang tersaji secara eksplisit, dan terlibat dalam pengunduhan dan distribusi gambar-gambar dan file-file khusus orang dewasa.&lt;br /&gt;
b. Cyber-Relationship Addiction&lt;br /&gt;
Cyber-relationship addiction mengacu pada individu yang senang mencari teman atau relasi secara online. Individu tersebut menjadi kecanduan untuk ikut dalam layanan chat room dan seringkali menjadi terlalu-terlibat dalam hubungan pertemanan online atau terikat dalam perselingkuhan virtual.&lt;br /&gt;
c. Net compulsions&lt;br /&gt;
Yang termasuk dalam sub tipe net compulsions misalnya perjudian online, belanja online, dan perdagangan online. &lt;br /&gt;
d. Information Overload&lt;br /&gt;
Information overload mengacu pada web surfing yang bersifat kompulsif. &lt;br /&gt;
e. Computer Addiction&lt;br /&gt;
Salah satu bentuk dari computer addiction adalah bermain game komputer yang bersifat obsesif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&lt;br /&gt;
Demetrovic, Zsolt, et.al. 2008. The Three-factor Model On Internet Addiction: The Development of the Problematic Internet Use Questionnaire.&lt;br /&gt;
Young, Kimberly S. 2006. Cyber Disorder: The Mental Health Concern for the New Millennium.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/5518263976233266321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/internet-addiction-kecanduan-internet.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/5518263976233266321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/5518263976233266321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/internet-addiction-kecanduan-internet.html' title='Internet Addiction (Kecanduan Internet)'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-8946618169794701326</id><published>2011-06-27T20:52:00.001-07:00</published><updated>2011-06-27T20:52:47.221-07:00</updated><title type='text'>Klasifikasi Kejahatan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Klasifikasi Kejahatan&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
A. Jenis-Jenis Delik (Kejahatan)&lt;br /&gt;
a. Delik formal , adalah kejahatan itu selesai kalau perbuatan sebagai mana di rurmuskan dalam peraturan pidana itu telah dilakukan&lt;br /&gt;
Delik materil, yang dilarang oleh UU ialah akibatnya&lt;br /&gt;
b. Delicta comissionis, pelanggaran terhadap larangan yang diadakan oleh UU&lt;br /&gt;
Delicta ommissionis, pelanggaran terhadap keharusan yang diadakan oleh UU&lt;br /&gt;
c. Delik yang dilakukan dengan sengaja (dolus)&lt;br /&gt;
Delik yang dilakukan dengan kelalaian (culpa)&lt;br /&gt;
d. Kejahatan yang berdiri sendiri&lt;br /&gt;
Kejahatan yang dijalankan terus&lt;br /&gt;
e. Kejahatan sederhana&lt;br /&gt;
Kejahatan tersusun&lt;br /&gt;
f. Kejahatan yang berjalan habis (kejahatan selesai pada suatu saat)&lt;br /&gt;
Kejahatan yang terus&lt;br /&gt;
g. Delik pengaduan&lt;br /&gt;
Delik commune (tidak membutuhkan pengaduan)&lt;br /&gt;
h. Delik politik (kejahatan yang ditujukan pada keamanan negara atau kepala negara langsung atau tidak langsung)&lt;br /&gt;
Delik umum (commune delict), adalah kejahatan yang dilakukan setiap orang&lt;br /&gt;
Delik Khusus (kejahatan yang hanya dapat dilakukan oleh orang tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Kejahatan menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana untuk di Indonesia :&lt;br /&gt;
1. Kejahatan melanggar keamanan negara antara lain: menghilangkan nyawa pimpinan negara, usaha meruntuhkan pemerintahan, memberikan rahasia-rahasia negara kepada agen asing, dan lain-lain (KUHP 104-129).&lt;br /&gt;
2. Kejahatan melanggar martabat raja dan martabat gubernur jenderal antara lain: penghilangan nyawa atau memerdekakan penjahat tersebut diatas dan penghinaan secara sengaja, dan lain-lain (KUHP 130-139).&lt;br /&gt;
3. Kejahatan melawan negara yang bersahabat dan melanggar kepala dan wakil negara yang bersahabat dan lain-lain (KUHP 139-145).&lt;br /&gt;
4. Kejahatan tentang melakukan kewajiban kenegaraan dan hak kenegaraan antara lain berupa: dengan ancaman dan kekerasan menceraiberaikan persidangan Dewan Permusyawaratan Rakyat, mengacau, damn merintangi pelaksanaan pemilihan umum dan lain-lain (KUHP 146-153).&lt;br /&gt;
5. Kejahatan melanggar ketertiban umum, antara lain secara terbuka dan dimuka umum menghasut serta menyatakan rasa permusuhan, kebencian, dan hinaan kepada pemerintahan, dengan kekerasan dan mengancam dan berusaha merobohkan serta melanggar pemerintahan yang sah, tidak melakukan tugas kewajiban jabatannya, menjadi anggota organisasi terlarang menurut hukum, melakukan keonaran, huru-hara dan mengganggu ketertiban umum, dan lain-lain (KUHP 153-181).&lt;br /&gt;
6. Kejahatan perang tanding (KUHP 182-186).&lt;br /&gt;
7. Kejahatan yang membahayakan keamanan umum dan barang antara lain: Mengakib atkan kebakaran, peletusan dan pembanjiran, merusak bangunan-bangunan listrik untuk umum, mendatangkan bahaya maut kepada orang, merusak bangunan dan jalan-jalan umum, dengan sengaja mendatangkan bahaya bagi lalu lintas umum dan pelayaran, meracuni sumber dan mata air minum untuk keperluan umum, dan lain-lain(KUHP 187-206).&lt;br /&gt;
8. Kejahatan melanggar kekuasaan umum, antara lain: dengan kekerasan melawan pegawai negeri yang sedang bertugas, mengambil barang sitaan, merusak dan membuka surat, mengajukan desersi, menghasut mengadakan pemberontakan serta huru-hara, dan lain- lain (KUHP 207-241).&lt;br /&gt;
9. Kejahatan sumpah palsu dan keterangan palsu (KUHPO 242 dan 243).&lt;br /&gt;
10. Kejahatan pemalsuan mata uang dan uang kertas negeri serta uang kertas bank (KUHP 244-252).&lt;br /&gt;
11. Kejahatan pemalsuan materai dan cap (KUHP 253-262).&lt;br /&gt;
12. Kejahatan pemalsuan dalam surat (KUHP 263-276).&lt;br /&gt;
13. Kejahatan melanggar duduk - perdata (KUHP 277-280).&lt;br /&gt;
14. Kejahatan melanggar kesusilaan (KUHP 281-303).&lt;br /&gt;
15. Kejahatan meninggalkan orang yang perlu ditolong (KUHP 304-309).&lt;br /&gt;
16. Kejahatan penghinaan (KUHP 310-321).&lt;br /&gt;
17. Kejahatan membuka rahasia (KUHP 322-323).&lt;br /&gt;
18. Kejahatan melanggar kemerdekaan orang (KUHP 324-337).&lt;br /&gt;
19. Kejahatan terhadap nyawa orang (KUHP 338-350).&lt;br /&gt;
20. Kejahatan penganiayaan (KUHP 351-358 ).&lt;br /&gt;
21. Kejahatan menyebabkan matinya atau lukanya orang karena kesalahan (perbuatan dengan tidak sengaja), (KUHP 362-367).&lt;br /&gt;
22. Kejahatan pencurian (KUHP 362-367).&lt;br /&gt;
23. Kejahatan pemerasan dan pengancaman (KUHP 368-371).&lt;br /&gt;
24. Kejahatan penggelapan (KUHP 372-377).&lt;br /&gt;
25. Kejahatan penipuan (KUHP 378-395).&lt;br /&gt;
26. Kejahatan merugikan orang yang berpiutang atau yang berhak (KUHP 396-405).&lt;br /&gt;
27. Kejahatan penghancuran atau perusakan barang (KUHP406-412).&lt;br /&gt;
28. Kejahatan-kejahatan bagi pegawai negeri, antara lain memalsukan, menggelapkan uang dan barang berharga, menghancurkan dan merusak arsip-arsip negara dan lain-lain (KUHP 413-437).&lt;br /&gt;
29. Kejahatan pelayaran (KUHP 438-479).&lt;br /&gt;
30. Kejahatan pemudahan, antara lain menadahkan barang-barang curian, menerbitkan serta mengedarkan tulisan-tulisan yang melanggar hukum (KUHP 480-485).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Menurut cara kejahatan dilakukan, bisa dikelompokkan dalam:&lt;br /&gt;
1. Menggunakan alat-alat bantu: senjata, senapan, bahan-bahan kimia dan racun, instrument kedokteran, alat pemukul, alat jerat, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
2. Tanpa menggunakan alat bantu, hanya dengan kekuatan fisik belaka, bujuk rayu dan tipu-daya.&lt;br /&gt;
3. Residivis, yaitu penjahat-penjahat yang berulang-ulang keluar masuk penjara. Selalu mengulangi perbuatan jahat, baik yang serupa ataupun yang berbeda bentuk kejahatannya.&lt;br /&gt;
4. Penjahat-penjahat berdarah dingin yang melakukan tindak durjana dengan pertimbangan-pertimbangan dan persiapan yang matang.&lt;br /&gt;
5. Penjahat kesempatan atau situasional, yang melakukan kejahatan dengan menggunakan kesempatan-kesempatan kebetulan.&lt;br /&gt;
6. Penjahat karena dorongan-dorongan impuls-impuls yang timbul seketika. Misalnya berupa “perbuatan kortsluiting” yang lepas dari pertimbangan akal dan lolos dari tapisan hati nurani.&lt;br /&gt;
7. Penjahat kebetulan, misalnya karena lupa diri, tidak sengaja, lalai, ceroboh, acuh-tak acuh, sembrono, dan lain-lain.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/8946618169794701326/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/klasifikasi-kejahatan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/8946618169794701326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/8946618169794701326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/klasifikasi-kejahatan.html' title='Klasifikasi Kejahatan'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-8931010821969003028</id><published>2011-06-26T15:12:00.000-07:00</published><updated>2011-06-26T15:12:13.460-07:00</updated><title type='text'>Pengembangan dan Evaluasi Kerja</title><content type='html'>&lt;b&gt;A. PENGEMBANGAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Definsi  Pengembangan&lt;br /&gt;
Ada berbagai macam perumusan  yang dikemukakan  oleh beberapa  ahli tentang definisi dari pengembangan. Pengembangan organisasi merupakan program yang berusaha meningkatkan efektifitas keorganisasian dengan mengintergrasikan keinginan individu akan pertumbuhan dan perkembangan dengan tujuan keorganisasian atau perusahaan. Secara khusus proses ini merupakan usaha mengadakan perubahan secara berencana yang meliputi suatu sistem total sepanjang periode tertentu, dan usaha mengadakan perubahan itu berkaitan dengan misi organisasi atau perusahaan (Wursanto,2005:319). Sedangkan Sutarto memberikan kesimpulan bahwa pengembangan organisasi adalah rangkaian kegiatan penataan dan penyempurnaan yang dilakukan secara berencana dan terus-menerus guna memecahkn masalah-masalah yang timbul sebagai akibat daro adanya perubahan sehingga organisasi dapat mengatasi serta menyesuaikan diri dengan perubahan dengan menerapkan ilmu perilaku yang dilakukan oleh pejabat dalam organisasi/ perusahaan itu sendiri atau dengan bantuan dari luar organisasi.&lt;br /&gt;
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan, pengembangan merupakan usaha yang dilakukan secara terus-menerus meliputi keseluruhan perusahaan demi meningkatkan efektifitas dan kesehatan sebuah organisasi atu perusahan dengan menetapkan asas-asas dan praktek yang dikenal dalam kegiatan organisasi.&lt;br /&gt;
Pengembangan adalah upaya meningkatkan keterampilan dan pengetahuan karyawan lama dan baru yang dibutuhkan untuk melakukan suatu pekerjaan baik untuk saat ini atau untuk masa mendatang. Pengembangan (development) mewakili usaha-usaha meningkatkan kemampuan para karyawan untuk menangani beraneka tugas dan untuk meningkatkan kapabilitas di luar kapabilitas yang dibutuhkan oleh pekerjaan saat ini (Mathis &amp; Jackson, 2006: 350). Para karyawan dan menejer  yang memiliki pengalaman dan kemampuan yang sesuai dapat meningkatkan daya saing organisasional dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah.&lt;br /&gt;
Pengembangan karyawan lebih berorientasi kepada masa depan dan lebih peduli terhadap pendidikan, yaitu terhadap peningkatan kemampuan seseorang untuk memahami dan menginterpretasi pengetahuan bukan mengajarkan keterampilan teknis.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Berbagai  Macam Jenis  Pengembangan&lt;br /&gt;
Pada makalah ini akan dijelaskan terlebih dahulu tentang berbagai macam pengembangan, pengembangan disini berbeda dengan pelatihan. Perbedaan akan tampak pada pembahasan selanjutnya. Jenis-jenis pengembangan yang dapat dilakukan ada beberapa yaitu yang pertama pengembangan organisasi, pengembangan sumber daya manusia (SDM), pengembangan manajemen. Pengembangan ini, satu dengan yang lain saling mendukung dan meinginkan keefisienan dan keefektifan perusahaan atau organisasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Tujuan dan  Fungsi  pengembangan SDM&lt;br /&gt;
Ada dua tujuan utama program pengembangan karyawan, pertama  pengembangan ini dilakukan untuk menutup “gap” anatara kecakapan atau kemampuan karyawan dengan permintaan jabatan. Kedua, program-program tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja karyawan dalam mencapai  sasaran-sasaran kerja yang telah ditetapkan. Selain itu pengembangan ini akan membantu menghindarkan diri dari keusangan dan melaksanakan pekerjaan dengan lebih baik.&lt;br /&gt;
Pertama dikemukakan oleh Admosudirjo, pengembangan organisasi atau organisasi development  mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi administrator dan fungsi spesialis. Fungsi administrator adalah merupakan  fungsi dan kewajiban daripada untuk selalu mengembangkan dan menyesuaikan perusahaan kepada perkembangan tugas pokok, kepada perkembangan keadaan lingkungan , kepada kemajuan teknologi yang dipegunakan, kepada  kemajuan personil  serta produktivitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Perbedaan antara Pengembangan dengan Pelatihan&lt;br /&gt;
Pelatihan lebih berorientasi pada pekerjaan saat ini, fokusnya kepada pekerjaan seseorang saat ini ditujukan untuk meningkatkan keterampilan-ketrampilan tertentu dan kemampuan untuk dapat melaksanakan pekerjaannya dengan segera mungkin. Pengembangan berfokus pada aspek-aspek kinerja yang kurang nyata, seperti sikap dan nilai.  Sebuah sistem pengalaman pengembangan yang terencana untuk semua karyawan, tidak hanya pada manajer, dapat membantu memperluas keseluruhan tingkat kapabilitas dalam sebuah perusahaan ataupun organisasi. Pengembangan memiliki ruang lingkup yang lebih luas dalam upaya dalam upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, sikap, dan sikap dan sifat-sifat kepribadian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Proses Pengembangan SDM&lt;br /&gt;
Menurut ( Mathis &amp; Jackson,   2006: 352-365), pengembangan dimulai dari rencana-rencana SDM organisasi karena rencana ini menganalis, meramalkan, dan menyebutkan kebutuhan organisasional untuk sumber daya manusia pada saat ini dan masa yang  akan datang. Perencanaan SDM yang juga membantu menyebutkan kapabilitas  yang dibutuhkan oleh organisasi tersebut di masa yang akan datang dan pengembangan yang dibutuhkan  agar orang-orang dapat tersedia untuk memenuhi kebutuhan tersebut.&lt;br /&gt;
a. Merumuskan Rencana SDM&lt;br /&gt;
Banyak organisasi lebih memilih “membeli” daripada “membuat” karyawan memilki kapabilitas-kapabilitas sumber daya manusia. Tapi kenyataannya, “membuat” atau mengembangkan karyawan lebih dapat memberikan kontribusi pada strategi keunggulan kompetisi yang terus-menerus melalui sumber daya manusia.&lt;br /&gt;
b. Menyebutkan Kapabilitas-kapalitas yang Penting&lt;br /&gt;
Beberapa kapablitas menejemen yang penting dan umum adalah orientasi tindakan, pembuatan keputusan yang berkualitas, nilai etika, dan keterampilan teknis. Selain itu, ada beberapa kemampuan nonteknis yang harus dikembangkan untuk keahlian teknologi yang memiliki tuntutan tinggi, yaitu kemampuan untuk bekerja di bawah tekanan, bekerja sendiri, menyelesaikan masalah-masalah dengan cepat, dan menggunaka pengetahuan masa lalu dalam situasi baru.&lt;br /&gt;
c. Menjalankan Rencana Suksesi&lt;br /&gt;
Perencanaan pergantian kepemimpinan atau suksesi (succession planning) adalah proses pen gidentifikasian rencana jangka panjang untuk penggantian karyawan-karyawan kunci sesuai urutan. Kebutuhan untuk mengganti karyawan kunci berasal dari promosi, pemindahan, pension, kematian, cacat jasmani, pengunduran  diri, atau alasan-alasan lain.&lt;br /&gt;
d. Menilai Kebutuhan Pengembangan&lt;br /&gt;
Baik perusahaan maupun individu dapat menganalisis apa yang dibutuhkan oleh seorang lewat pengembangan untuk menyebutan kelebihan dan kekurangan. Metode-metode yang digunakan antara lain penggunaan pusat-pusat penilaian (assessment centers), pengujian psikologis, dan penilaian kinerja.&lt;br /&gt;
e. Melaksanakan Rencana Pengembangan&lt;br /&gt;
Bila kebutuhan pengembangan fisik telah dianalisi , tentunya rencana pengembangan dapat dilaksanakan baik secara organisasional maupun individual. Pengembangan dilaksanakan pada kapabilitas-kapabilitas apa saja yang dianggap penting untuk  dikembangkan berdasarkan analisis yang telah dilakukan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
f. Menentukan Pendekatan-pendekatan Pengembangan&lt;br /&gt;
Pendekatan pengembangan dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu  (1) pengerabangan pada pekerjaan  (job side), antara lain: pelatihan (coaching); tugas/pertemuan komite, rotasi pekerjaan (job rotation), posisi “asisten”, pengembangan secara on line, pusat-pusat universitas korporasi, pusat pengembangan karier, dan organisasi pembenlajaran, serta( 2) pengembangan di luar pekerjaan (off –site) anatara lain: kursus dan perkuliahan, peatihan hubungan manusia, simulasi (permaianan bisnis), serta cuti panjang (sabbatical leave)&lt;br /&gt;
g. Mengevaluasi Keberhasilan Pengembangan&lt;br /&gt;
Keberhasilan proses pengembangan harus dievaluasi. Bila perlu dapat dilakukan perubahan sesuai kebutuhan SDM berikutnya, dimulai dari tahap pertama kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Diagnosis sebelum melakukan pengembangan&lt;br /&gt;
Sebelum melakukan pengembangan maka harus mengetahui secara jelas apa yang harus dikembangkan dalam diri maupun organisasi harus mengetahui kebutuhan agar mencapai efektifitas dan efisien kerja. Dalam pengembangan ada beberapa dignostik yang bisa digunakan. Namun biasanya hanya satu macam intervensi saja yang berasal dari metode diagnostik yang tersedia. Maka yang paling baik adalah metode diagnostik yang tersedia, maka yang paling baik adalah menangani diagnostik terlebij dahulu sebagai kategori kegiatan umm yang relevan untuk semua usaha pengembangan, kemudian melanjutkannya dengan mempertimbangkan intervensi secara lebih khusus. Proses pengidentifikasian kriteria yang dapat membantu dalam memilih metode diagnostik yang paling sesuai dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;
Ada 3 teknik dalam pengumpulan data dalam proses pengidentifikasian masalah yang akan di atasi dengan melakukan pengembangan, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Teknik dengan daftar pertanyaan survai&lt;br /&gt;
Lata atau teknik ini adalah yang paling banyak digunakan. Daftar pertanyaan dipergunakan secara universal karena banyak tujuan, sehingga kegunaannya, biayanya, dan manfaatnya dikenal oleh pengembangnya. Daftar pertanyaan pada umumnya merupakan cara tidak langsung untuk mengumpulkan jenis informasi tertentu dan yang paling sering diselesaikan dengan secara anonim yang memiliki keuntungan adalah terlindungnya identitas dari responden sehingga mampu memancing perasaan dan pendapat kuat yang tidak akan ditanyakan secara terbuka.&lt;br /&gt;
2. Teknik wawancara&lt;br /&gt;
Wawancara adalah cara langsung pengumpulan informasi melalui percakapan anatara seorang pewancara adan satu responden atau lebih responden dengan maksud tertentu.jika ada lebih dari satu responden itu dapat dikatakan sebagai wawancara kelompok. Sifat langsung teknik wawancara merupakan modalnya yang terkuat sekaligus kekurangan yang terbesar. Kesegaran interaksi bersemuka memungkinkan dengan diselidikinya hal-hal yang menarik perhatian secara mendalam dan dalam hubungan pembicaraan. Ini meningkatkan kecermatan diagnostik dan menjamin dapat dirasakannya perasaan dan sikap sesungguhnya dari para anggota. Keterbatasan utama wawancara bersemuka ialah kemustahilan memberikan jawaban anonim.&lt;br /&gt;
3. Teknik pengamatan langsung&lt;br /&gt;
Teknik ini meliputi teknik-teknik diagnostik yang mengumpulkan data mengenai organisasi dengan melihatnya secara langsung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Metode Pengembangan&lt;br /&gt;
Dalam kegiatan  pengembangan organisasi  terdapat berbagai macam metode pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam dua macam, yaitu: metode pengembangan perilaku dan meteode pengembangan keterampilan dan sikap&lt;br /&gt;
1. Metode Pengembangan Perilaku&lt;br /&gt;
Metode yang berusaha menyelidiki secara mendalam tentang proses perilaku kolompok dan individu. Menggunakan berbagai cara antara lain, jaringan menegerial, latihan kepekaan, pembentukan team, dan umpan balik survey&lt;br /&gt;
2. Metode Pengembangan Keterampilan&lt;br /&gt;
Metode ini berusaha mengembangkan keterampilan SDM yang berbeda dalam sebuah perusahaan atau organisasi. Keterampilan yang akan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dalam organisasi tersebut agar kinerja dapat berjalan lancar dan efektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;B.  EVALUASI KERJA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Pengertian&lt;br /&gt;
Penilaian kinerja (performance appraisal) adalah proses mengevaluasi seberapa baik karyawan melakaukan pekerjaan mereka jika dibandingkan dengan seperangkat standar, dan kemudian mengkomunikasikan informasi tersebut kepada karyawan (Mathis, 2006: 382). Sedangkan Jewell &amp; Siegall mengajukan pengertian penilaian unjuk kerja sebagai proses yang dipergunakan oleh sebuah organisasi untuk menilai sejauh mana anggotanya telah melakukan pekerjaannya dengan memuaskan (1998: 209).&lt;br /&gt;
Penilaian kinerja juga disebut pemeringkatan karyawan, evaluasi karyawan, tujuan kinerja, evaluasi kinerja, dan penilaian hasil. Apabila penilaian prestasi  kerja tersebut dilaksanakan dengan baik, maka akan dapat membantu meningkatkan motivasi kerja dan sekaligus juga meningkatkan loyalitas organisasi organisasional dari para karyawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.  Fungsi Penilaian Kinerja&lt;br /&gt;
Penilaian unjuk kerja merupakan sebuah sistem pengendali dengan aspek baik ”umpan balik (feedback)” maupun ”umpan maju (feedforward)” (Jewell &amp; Siegall, 1998: 209).&lt;br /&gt;
• Sebagai mekanisme  umpan balik (feedback)&lt;br /&gt;
Penilaian unjuk kerja memberikan umpan balik yang penting kepada karyawan secara priibadi dalam hal bagaimana unjuk kerjanya dipandang. Proses ini juga memberikan umpan balik yang penting kepada mereka yang bertugas dalam penerimaan karyawan, pemeriksaan, pemilihan, dan pelatihan karyawan perusahaan saat itu. Misalnya, pola hasil penilaian yang buruk di antara karyawan yang baru menunjukkan bahwa proses yang dipergunakan untuk menerima karyawan tersebut perlu ditinjau kembali.&lt;br /&gt;
• Sebagai mekanisme umpan maju (feedforward)&lt;br /&gt;
Penilaian unjuk kerja memberikan informasi untuk membuat keputusan administratif mengenai pemberian penghargaan kepada karyawan organisasi tersebut. Selain fungsi tersebut, penilaian unjuk kerja merupakan sumber informasi yang penting untuk kebutuhan dan kesempatan pengembangan karyawan pribadi. Dengan bekerjasama, para karyawan, supervisor dan manajer dapat menggunakan informasi ini untuk menilai kekuatan dan kelemahan mereka dan untuk membuat rencana guna mencapai unjuk kerja yang lebih baik dan tujuan serta kesempatan karir di masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Kriteria penilaian kinerja&lt;br /&gt;
Pada dasarnya terdapat tiga pilihan mengenai apa yang harus dinilai dalam penilaian unjuk kerja (Jewell &amp; Siegall, 1998: 212) yaitu :&lt;br /&gt;
• Penilaian tehadap karakteristik atau sifat pribadi&lt;br /&gt;
Pendekatan sifat pribadi untuk penilaian unjuk kerja ini secara tradisional memusatkan perhatian pada loyalitas, kepandaian, dan perangai orang tersebut. Pendekatan sifat pribadi terhadap penilaian unjuk kerja sangat tergantung dari persepsi penilai terhadap sifat tersebut, dan persepsi itu sendiri dipengaruhi oleh pendapat, pengalaman dan bias pribadi penilai. Oleh sebab itu, alat ukur pendekatan sifat pribadi mempunyai keandalan yang rendah dan jarang sekali dipergunakan.&lt;br /&gt;
• Penilaian unjuk kerja berdasarkan hasil yang dicapai&lt;br /&gt;
Pendekatan ini menilai unjuk kerja berdasarkan hasil yang diperoleh dari pekerjaan yang dilakukan. Meskipun pengukuran unjuk kerja berdasarkan hasil yang dicapai kelihatannya merupakan penyelesaian yang baik, tetapi hanya sedikit saja jenis pekerjaan yang cocok diukur dengan cara pendekatan ini. Pertama, pengukuran tersebut tergantung pada catatan yang tepat, dan catatan mungkin saja tidak tepat dan tidak lengkap (atau bahkan tidak ada sama sekali). Kedua, hasil yang dicapai suatu organisasi jarang sekali tergantung dari hasil pekerjaan pribadi.&lt;br /&gt;
• Penilaian berdasarkan perilaku&lt;br /&gt;
Pendekatan ini menilai unjuk kerja berdasarkan perillaku-perilaku tertentu yang mendukung keberhasilan kerja. Selain kualitas dan kuantitas sebagai kriteria utama, termasuk di sini pelaksanaan tugas-tugas dalam waktu yang ditentukan, kemampuan perencanaan ke depan, pemeriksaan sendiri pekerjaan yang dilakukannya, dan kerjasama dengan rekan kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Pihak Penilai Kinerja&lt;br /&gt;
Menurut Robbins (2002: 261) terdapat beberapa alternatif mengenai siapa yang harus menilai kinerja seorang karyawan, yaitu :&lt;br /&gt;
a. Atasan Langsung&lt;br /&gt;
Sembilan puluh lima persen dari keseluruhan evaluasi kinerja pada tingkat yang lebih rendah dan menengah dalam suatu organisasi dilaksanakan oleh atasan langsung para pekerja.&lt;br /&gt;
b. Rekan kerja&lt;br /&gt;
Evaluasi dari rekan kerja (peers) adalah salah satu cara yang dapat dijadikan sebagai sumber data penilaian yang paling dapat dipercaya. Pertama, evaluasi dari rekan kerja sangat erat hubungannya dengan kegiatan. Interaksi sehari-hari memberi mereka sebuah sudut pandang pemahaman yang menyeluruh terhadap kinerja pekerjaan seorang pekerja. Kedua, evaluasi dari rekan kerja, sebagai penghitung hasil, akan menghasilkan beberapa penilaian yang mandiri, sedangkan seorang pimpinan hanya dapat menghasilkan penilaian dalam bentuk evaluasi tunggal. Namun pada sisi lain evaluasi dari rekan kerja dapat dirusak oleh ketidakinginan rekan kerja untuk saling melakukan evaluasi dan oleh bias persahabatan maupun perselisihan.&lt;br /&gt;
c. Pengevaluasian Diri Sendiri&lt;br /&gt;
Karyawan yang mengevaluasi kinerjanya sendiri (self evaluation) konsisten dengan nilai-nilai seperti swakelola dan pemberdayaan. Evaluasi yang dilakukan sendiri memberikan nilai yang tinggi bagi pekerja; cara ini cenderung mengurangi sifat membela diri yang dilakukan karyawan pada saat proses penilaian; dan mereka membuat wahana yang baik untuk merangsang diskusi kinerja pekerjaan antara pekerja dengan atasan mereka. Namun cara ini dapat dihalangi oleh penilaian yang terlalu membumbung dan bias jasa diri.&lt;br /&gt;
d. Bawahan Langsung&lt;br /&gt;
Evaluasi yang dilakukan seorang bawahan langsung dapat memberikan informasi yang akurat dan rinci tentang perilaku seorang manajer karena si penilai secara khusus memiliki hubungan yang baik dengan manajer. Masalah yang muncul adalah kekhawatiran akan tindakan balasan dari pimpinan yang dinilai tidak baik waktu dievaluasi.&lt;br /&gt;
e. Pendekatan Menyeluruh: Evaluasi 360 Derajat&lt;br /&gt;
Cara ini memberikan umpan balik kinerja dari lingkaran penuh hubungan sehari-hari yang mungkin dilakukan oleh seorang pekerja, mulai dari hubungan dengan petugas ruangan surat, pelanggan, pimpinan, dan rekan kerja. Dengan mengandalkan umpan balik dari rekan kerja, pelanggan, dan bawahan diharapkan akan memberikan setiap orang lebih dari sekedar rasa berpartisipasi dalam proses penilaian, dan meraih hasil yang lebih tepat dalam menilai kinerja para pekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Metode Penilaian Kinerja&lt;br /&gt;
Berikut adalah metode umum penilaian sebuah kinerja (Robbins, 2002 : 262) :&lt;br /&gt;
• Esai Tertulis&lt;br /&gt;
Metode paling mudah untuk menilai suatu kinerja adalah dengan menulis sebuah narasi yang menggambarkan kelebihan, kekurangan, prestasi masa lampau, potensi dan saran-saran mengenai seorang karyawan untuk perbaikan. &lt;br /&gt;
• Keadaan Kritis&lt;br /&gt;
Metode keadaan kritis (critical incidence) memfokuskan perhatian si penilai pada perilaku-perilaku yang merupakan kunci untuk membedakan sebuah pekerjaan efektif atau yang tidak efektif. Di sini yang menjadi kunci adalah perilaku yang sifatnya khusus, dan bukan sifat-sifat personal yang samar, melainkan yang disebutkan.&lt;br /&gt;
• Grafik Skala Penilaian&lt;br /&gt;
Di dalam metode ini, dicatat faktor-faktor kinerja, seperti kualitas dan kuantitas kerja, tingkat pengetahuan, kerjasama, loyalitas, kehadiran, kejujuran, dan inisiatif. Selanjutnya si penilai memeriksa daftar tersebut dan menilai setiap faktor sesuai dengan skala peningkatan.&lt;br /&gt;
• Skala Peningkatan Perilaku&lt;br /&gt;
Skala ini mengkombinasikan elemen penting dari metode keadaan kritis dengan metode pendekatan grafik skala penilaian: si penilai menilai para pekerja berdasarkan pada hal-hal dalam rangkaian kesatuan, tetapi poin-poinnya merupakan contoh perilaku aktual di dalam pekerjaan, bukan sekedar deskripsi atau ciri-ciri umum.&lt;br /&gt;
• Perbandingan Multipersonal&lt;br /&gt;
Metode perbandingan multipersonal mengevaluasi satu kinerja individu dengan membandingkannya dengan individu atau individu-individu lainnya. Tiga pembanding yang sangat populer adalah peringkat urutan kelompok, peringkat individu, dan perbandingan berpasangan.&lt;br /&gt;
Peringkat urutan kelompok menuntut si penilai untuk menempatkan pekerja ke dalam sebuah klasifikasi khusus. Pendekatan peringkat individu menggolongkan para pekerja mulai dari yang terbaik hingga yang terburuk. Pendekatan perbandingan berpasangan membandingkan setiap pekerja dengan masing-masing pekerja lainnya dan menilai pekerja mana yang lebih baik atau yang lebih buruk satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Permasalahan Potensial&lt;br /&gt;
Meskipun suatu organisasi mungkin mencoba untuk membuat proses penilaian kinerja yang bebas dari unsur-unsur bias pribadi, prasangka, atau dari ketidakwajaran, permasalahan potensial dapat terbentuk dalam proses (Robbins, 2002 : 265). Evaluasi seorang karyawan akan mengalami penyimpangan, jika faktor-faktor berikut ini berlaku menyeluruh.&lt;br /&gt;
• Kriteria Tunggal&lt;br /&gt;
Di saat para pekerja dinilai dengan sebuah kriteria kerja tunggal, walaupun kinerja yang berhasil pada pekerjaan tersebut menuntut kinerja yang lebih baik berdasarkan beberapa kriteria, para pekerja hanya akan berkonsentrasi pada kriteria tunggal tersebut dan mengesampingkan faktor-faktor terkait lainnya.&lt;br /&gt;
• Kesalahan yang Ditolerir&lt;br /&gt;
Pada saat si penilai memiliki toleransi positif di dalam penilaiannya, kinerja seorang individu dinilai lebih, sehingga penilaian tersebut lebih tinggi dari yang seharusnya.&lt;br /&gt;
• Lingkaran Kesalahan&lt;br /&gt;
Lingkaran kesalahan (hallo error) adlah kecenderungan seorang penilai untuk sifat seseorang mempengaruhi penilaiannya terhadap sifat yang lain dari orang tersebut.&lt;br /&gt;
• Kesalahan yang Sama&lt;br /&gt;
Ketika si penilai menilai orang lain dengan mempertimbangkan pertimbangan khusus pada kualitas yang mereka rasa ada dalam diri mereka sendiri, mereka membuat kesalahan yang sama (similarity error).&lt;br /&gt;
• Perbedaan yang rendah&lt;br /&gt;
Orang-orang yang bekerja untuk seorang penilai yang memiliki perbedaan yang rendah cenderung dinilai lebih merata daripada keadaan mereka yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
• Memperkuat informasi untuk menyesuaikan kriteria nonkinerja&lt;br /&gt;
Walaupun di dalam praktiknya jarang dianjurkan, kadang-kadang penilaian formal dilakukan setelah keputusan tentang kinerja perorangan telah dibuat. Hal ini memperlihatkan keputusan yang subjektif, namun formal, sering muncul sebelum adanya informasi yang objektif untuk mendukung keputusan yang telah dihimpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Memperbaiki Penilaian Kinerja&lt;br /&gt;
Langkah-langkah yang dapat diambil untuk memecahkan kebanyakan masalah yang telah diidentifikasi (Robbins, 2002 : 267)antara lain:&lt;br /&gt;
 Penggunaan Kriteria Ganda&lt;br /&gt;
Karena kinerja yang berhasil pada kebanyakan pekerjaan memerlukan pelaksanaan sejumlah hal dengan baik, keseluruhan hal tersebut harus diidentifikasi dan dievaluasi. Aktivitas-aktivitas penting yang menunjukkan kinerja yang efektif atau tidak efektif adalah hal-hal yang harus dinilai.&lt;br /&gt;
 Sifat Menghilangkan Penekanan&lt;br /&gt;
Banyak sifat yang dianggap berhubungan dengan kinerja yang baik, tetapi dalam kenyataannya sering tidak atau memiliki sedikit kaitan dengan kinerja.&lt;br /&gt;
 Penekanan Perilaku&lt;br /&gt;
Apabila memungkinkan, lebih baik menggunakan ukuran yang didasarkan pada perilaku, karena pengukuran kita bisa menghindari permasalahan penggunaan pengganti yang tidak tepat untuk kinerja aktual, selain itu kita dapat meningkatkan kemungkinan yang dilihat sama oleh dua atau lebih penilai.&lt;br /&gt;
 Mendokumentasikan Perilaku Kinerja di Dalam Catatan Harian&lt;br /&gt;
Dengan pencatatan buku harian yang berisikan keadaan-keadaan kritis khusus untuk tiap pekerja, penilai dapat terbantu dalam membuat keputusan agar lebih akurat.&lt;br /&gt;
 Menggunakan Penilai Ganda&lt;br /&gt;
Seiring dengan bertambahnya jumlah penilai, kemungkinan mendapatkan informasi yang akurat juga meningkat.&lt;br /&gt;
 Menilai Secara Selektif&lt;br /&gt;
Penilai harus melakukan evaluasi hanya pada area di mana mereka memiliki keahlian.&lt;br /&gt;
 Melatih Penilai&lt;br /&gt;
Dengan melatih para penilai, kita dapat membuat mereka menjadi penilai yang lebih akurat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rujukan&lt;br /&gt;
1. As’ad, Moh. 2003. Psikologi Industri seri Ilmu Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Liberty.&lt;br /&gt;
2. Griffin. Manajemen, Jilid 1 Edisi 7.&lt;br /&gt;
3. Handoko,T. Hani. 1987. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta. BPFE.&lt;br /&gt;
4. Jewell, L.N. &amp; Marc Siegall.1998. Psikologi Industri/Organisasi Modern, Edisi 2. Jakarta: Arcan.&lt;br /&gt;
5. Mathis, Robert L. &amp; Jackson, John H. 2006. Human Resource Management. Jakarta. Salemba Empat.&lt;br /&gt;
6. Mc. Gill, 1986. Pedoman Pengembangan Organisasi.&lt;br /&gt;
7. Munandar, A.S. 2006. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: UI Press.&lt;br /&gt;
8. Panggabean, Mutiara S. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bogor: Ghalia Indonesia.&lt;br /&gt;
9. Robbins, Stephen P. 1999. Prinsip-Prinsip Perilaku Organisasi, Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.&lt;br /&gt;
10. Robbins, Stephen P. 2001. Perilaku Organisasi, Konsep, Kontroversi, Aplikasi Edisi 8 Jilid 2. Jakarta: Prenhallindo.&lt;br /&gt;
11. Sukamti, N.,MM Umi. 1989. Management Personalia/ Sumber Daya Manusia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.&lt;br /&gt;
12. Wursanto, Ig. 2002. Dasar-Dasar Ilmu Organisasi.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/8931010821969003028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/pengembangan-dan-evaluasi-kerja.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/8931010821969003028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/8931010821969003028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/pengembangan-dan-evaluasi-kerja.html' title='Pengembangan dan Evaluasi Kerja'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-5348743175890223735</id><published>2011-06-26T15:09:00.001-07:00</published><updated>2011-06-26T15:09:53.781-07:00</updated><title type='text'>Sinopsis Penelitian</title><content type='html'>&lt;b&gt;Prevalensi Adiksi Internet dan Korelasinya Dengan Faktor-Faktor Keluarga Di Antara  Remaja Korea Selatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi internet yang sangat pesat di Korea Selatan dengan pemakai terbesar adalah remaja. Bagi remaja Korea Selatan, internet tidak hanya digunakan untuk kebutuhan yang berkaitan dengan pendidikannya tapi juga merupakan sarana rekreasi yang sangat praktis dan efektif. Namun seiring dengan semakin mudahnya akses untuk menggunakan internet, semakin besar pula resiko munculnya dampak-dampak negatif yang tidak diinginkan. Dampak-dampak yang mungkin timbul antara lain adalah adiksi, peredaran konten-konten yang tidak diinginkan, penyebaran informasi-informasi pribadi, pemakaian berorientasi hiburan yang ekstrim, permasalahan tata bahasa, penurunan kemampuan penglihatan, dan kurang tidur.&lt;br /&gt;
Penelitian oleh Soo Kyung Park, Jae Yop Kim, dan Choo Bum Cho ini dilaksanakan untuk mengetahui prevalensi dari adiksi internet pada kalangan remaja Korea Selatan dan menyelidiki faktor-faktor keluarga yang menyertai jenis adiksi ini.&lt;br /&gt;
Penelitian ini melibatkan para siswa SMP dan SMA yang berlokasi di Seoul yang  merupakan daerah metropolitan terbesar di Korea Selatan. Kyung dkk. memilih 903 siswa dengan cara survey yang bersifat self-administered, yang digunakan sebagai sampel yang 69,6%-nya remaja laki-laki, 60,5% adalah senior di SMP dan sisanya sebanyak 39,5% adalah siswa SMA. Sebanyak 24,9% berasal dari keluarga dengan status ekonomi tinggi, 57,9% kelas ekonomi menengah, dan 17,1% dari kelas ekonomi rendah.&lt;br /&gt;
Alat yang digunakan untuk mengukur tingkat adiksi internet pada penelitian ini adalah dengan menggunakan Skala Adiksi Internet Young yang direkonstruksi agar sesuai. Sedangkan untuk mengukur efek dari kekerasan perkawinan, Kyung dkk. memodifikasi CTS (Conflict Tactics Scale) yang dikembangkan oleh Straus. Untuk mengukur keharmonisan dan komunikasi dalam keluarga penelitian ini menggunakan skala yang sudah dimodifikasi dan diverifikasi oleh M.O.Kim berdasarkan teori Walsh.&lt;br /&gt;
Komponen yang termasuk ke dalam skala adiksi internet antara lain adalah: perilaku obsesif yang berkaitan dengan internet atau chatting, simptom-simptom withdrawal, toleransi, kemerosotan prestasi di sekolah, pengabaian kehidupan keluarga dan sekolah, permasalahan hubungan sesama, permasalahan behavioral, gangguan kesehatan, dan masalah-masalah emosional. Sedangkan kekerasan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kekerasan verbal, kekerasan fisik minor dan kekerasan fisik serius.&lt;br /&gt;
Dari penelitian diketahui bahwa remaja laki-laki lebih berpotensi untuk menjadi adiksi terhadap internet daripada remaja perempuan. Berdasarkan tingkat pendidikan, siswa SMA lebih beresiko menjadi adiksi internet. Dan berdasarkan tingkat ekonomi keluarga, siswa yang berasal dari kalangan berstatus ekonomi tinggi lebih beresiko menjadi adiksi internet.&lt;br /&gt;
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak hanya faktor-faktor protektif seperti pola asuh, komunikasi keluarga, dan keharmonisan keluarga, tapi faktor-faktor resiko kekerasan dalam keluarga juga sangat mempengaruhi adiksi terhadap internet. Seorang remaja yang mengalami atau melihat kekerasan di dalam keluarga sangat beresiko untuk menjadi seseorang yang mengalami adiksi internet karena bagi remaja-remaja ini internet dapat membuat mereka melupakan tekanan-tekanan dan stress yang dialami akibat dari kekerasan tersebut. Dari begitu banyak kalangan, remaja yang masih menjalani pendidikan lebih beresiko untuk mengalami adiksi terhadap internet mengingat semakin mudah dan murahnya akses internet di Korea Selatan.&lt;br /&gt;
Hasil penelitian ini juga konsisten dengan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya bahwa pola asuh dan komunikasi juga mempengaruhi adiksi yang terjadi di kalangan remaja Korea selatan. Faktanya, remaja yang menerima dukungan yang lebih dari orangtuanya cenderung kurang ikut ambil bagian dalam perilaku-perilaku yang bersifat anti sosial ataupun perilaku-perilaku negatif, sementara remaja yang orangtuanya kurang memberikan perhatian dan dukungan akan mengalami ketidakstabilan psikis sehingga mereka memilih memakai internet secara berlebihan sebagai cara melarikan diri dari kondisi tersebut.  Sebaliknya, lama waktu berdiskusi dengan orangtua tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap adiksi internet. Kualitas hubungan antara anak dengan orangtua lebih penting daripada kuantitas waktu yang dihabiskan bersama-sama dan kualitas hubungan tersebut memiliki pengaruh yang signifikan pula terhadap perilaku negatif remaja. &lt;br /&gt;
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kyung dkk. ini memiliki beberapa implikasi yang sangat penting antara lain, pertama, tingginya prevalensi adiksi internet pada kalangan remaja menuntut setiap orang agar lebih waspada dan lebih tanggap mengingat banyaknya faktor-faktor yang berasal dari keluarga yang mempengaruhinya. Kedua, perlunya dikembangkan sebuah program untuk meningkatkan kemampuan mengasuh dan komunikasi bagi orangtua agar dapat mempererat hubungan antar anggota keluarga serta program untuk meningkatkan kemampuan koping stress, konseling, treatment untuk adiksi dan aktivitas-aktivitas rekreasional aktif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&lt;br /&gt;
PREVALENCE OF INTERNET ADDICTION AND CORRELATIONS WITH FAMILY FACTORS AMONG SOUTH KOREAN ADOLESCENTS&lt;br /&gt;
Soo Kyung Park, Jae Yop Kim, Choon Bum Cho. Adolescence. Roslyn Heights: Winter 2008. Vol. 43, Edisi 172; pg. 895, 15 pgs</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/5348743175890223735/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/sinopsis-penelitian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/5348743175890223735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/5348743175890223735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/sinopsis-penelitian.html' title='Sinopsis Penelitian'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-1004527969286847727</id><published>2011-06-26T15:07:00.000-07:00</published><updated>2011-06-26T15:07:43.505-07:00</updated><title type='text'>Insomnia</title><content type='html'>Intervensi Farmakologi Dalam Mengatasi Insomnia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidur merupakan salah satu kebutuhan yang sang sangat penting bagi manusia karena tidur mengendalikan irama kehidupan kita sehari-hari. Setiap manusia menghabiskan paling tidak seperempat atu sepertiga dari harinya untuk tidur.&lt;br /&gt;
Tidur adalah suatu proses yang diperlukan oleh manusia untuk terjadinya pembentukan sel-sel tubuh yang baru, perbaikan sel-sel yang telah rusak (natural healing mechanism), memberi waktu organ tubuh untuk beristirahat maupun untuk menjaga keseimbangan metabolisme dan biokimiawi tubuh.&lt;br /&gt;
Bagi sebagian besar orang tidur adalah pekerjaan yang mudah semudah membalikkan telapak tangan, namun bagi sebagian orang tidur merupakan suatu hal yang sangat sulit. Di Amerika, satu dari tiga orang dewasa melaporkan kesulitan untuk tertidur dan atau menjaga agar tetap tertidur, dengan 17% diantaranya melaporkan masalah ini sebagai hal yang signifikan. Kondisi sulit tidur saat ini lebih populer disebut sebagi insomnia.&lt;br /&gt;
Dari pengamatan penulis, jumlah penderita insomnia tidak pernah mengalami penurunan bahkan cenderung semakin meningkat tiap tahunnya dan ada kemungkinan semakin meningkat. Beberapa ahli menyebutkan bahwa insomnia merupakan simptom sekunder dari depresi yang akan hilang dengan sendirinya jika kita mampu mengatasi penyebab utama dari depresi yang dialami pasien.&lt;br /&gt;
Menurut pendapat penulis, insomnia adalah suatu kondisi yang bisa menjadi sebab sekaligus juga menjadi akibat dari depresi. Seseorang yang menderita insomnia akan mengalami kelelahan yang berlebihan di mana hal ini dapat mengganggu aktivitas keseharian pasien, produktivitas kerja menurun, hilang konsentrasi, bahkan dapat juga muncul penyakit-penyakit berbahaya akibat insomnia, kondisi-kondisi seperti ini kemungkinan dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman dan tertekan yang berujung depresi. Sebaliknya, individu yang sedang mengalami depresi akibat dari permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapinya akan sulit tertidur karena ia terus-menerus merasa gelisah, hal ini dapat mengganggu siklus tidurnya dan jika individu tidak dapat segera mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya, siklus tidurnya akan menjadi berantakan samasekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Insomnia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengertian&lt;br /&gt;
Secara etimologi, istilah insomnia berasal dari bahasa Latin in-, yang artinya ‘tidak’ atau ‘tanpa’ dan somnus yang artinya ‘tidur’. Sedangkan menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder-IV) mendefinisikan insomnia sebagai kesulitan yang berulang untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, merasa tidak segar saat bangun di pagi hari dan mengalami suatu episode tidur dengan kualitas yang buruk. Di dalam DSM-IV-TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder-IV-Text Revision), insomnia diklasifikasikan ke dalam axis I yaitu, Gangguan Klinis atau Kondisi-Kondisi Lainnya Yang Mungkin Menjadi Fokus Perhatian Klinis dan masuk ke dalam kategori gangguan tidur.&lt;br /&gt;
. &lt;br /&gt;
Klasifikasi Insomnia&lt;br /&gt;
The International Classification of Sleep Disorder mengklasifikasikan insomnia ke dalam 11 kategori sebagai berikut :&lt;br /&gt;
1. Insomnia Akut&lt;br /&gt;
Insomnia kategori ini disebabkan oleh kondisi stres individu di mana stressor-stressornya dapat diidentifikasi, misalnya perubahan hubungan interpersonal, kehilangan orang dekat, stress kerja, kehilangan pekerjaan dan lain sebagainya. Insomnia jenis ini dapat hilang dengan sendirinya ketika individu dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dialaminya atau individu mampu beradaptasi dengan kondisi-kondisi tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Insomnia Kronis&lt;br /&gt;
Ciri-ciri dari insomnia kronis adalah kesulitan yang berulang untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, durasi tidur yang tidak teratur, dan mengalami tidur yang berkualitas buruk yang terjadi secara terus-menerus selama paling tidak empat minggu dan mengakibatkan gangguan dalam kehidupan sehari-hari individu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Insomnia Psikofisiologis (Insomnia Primer)&lt;br /&gt;
Para pasien memiliki kecenderungan untuk sulit tidur atau terjadi peningkatan pergerakan di atas tempat tidur (gelisah) yang diindikasikan oleh satu atau lebih kondisi di bawah ini :&lt;br /&gt;
 Fokus yang terlalu berlebihan dan kecemasan mengenai tidur&lt;br /&gt;
 Kesulitan untuk tertidur ketika ada keinginan untuk tidur, tapi tidak mengalami kesulitan tidur di tengah aktivitas-aktivitas yang membosankan di mana sebenarnya individu tersebut tidak memiliki keinginan tidur&lt;br /&gt;
 Lebih mudah tidur selain di rumahnya sendiri&lt;br /&gt;
 Tidak mampu merilekskan tubuh saat akan tidur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Insomnia Paradoksial&lt;br /&gt;
o Pasien melaporkan adanya pola yang kronis yaitu tidur yang terlalu singkat atau samasekali tidak tidur setiap malamnya. Biasanya pola ini diselingi dengan tidur normal selama beberapa hari kemudian hari-hari berikutnya pasien kembali tidak bisa tidur.&lt;br /&gt;
o Pasien dengan insomnia jenis ini dapat menyadari keadaan di sekitarnya meskipun dalam keadaan tertidur, misalnya pasien masih dapat mendengar suara-suara berisik di sekitarnya saat ia tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Insomnia Akibat Kondisi Medis&lt;br /&gt;
Individu mengalami insomnia karena ia memiliki penyakit tertentu yang menyebabkan tidurnya terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Insomnia Akibat Gangguan Mental&lt;br /&gt;
Insomnia kadang-kadang dihubungkan dengan gangguan mental, pada beberapa kasus, insomnia muncul beberapa hari atau beberapa hari sebelum munculnya gangguan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Insomnia Akibat Penyalahgunaan Obat dan Zat&lt;br /&gt;
Penderita memiliki riwayat atau sedang mengalami ketergantungan akibat penyalahgunaan zat di mana diketahui zat-zat tersebut memiliki efek samping yang dapat mengganggu tidurnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Insomnia Yang Tidak Diakibatkan Zat ataupun Kondisi Fisiologis, Tidak Terspesifikasi&lt;br /&gt;
Diagnosis ini digunakan untuk bentuk-bentuk insomnia yang tidak dapat diklasifikasikan di manapun dalam ICSD-2.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Tidur yang Tidak Cukup&lt;br /&gt;
Penyebab :&lt;br /&gt;
o Jadwal tidur yang tidak teratur.&lt;br /&gt;
o Penggunaan rutin produk-produk yang mengandung alkohol, nikotin,atau kafein, khususnya sesaat sebelum tidur.&lt;br /&gt;
o Melakukan sesuatu yang menstimulasi mental, aktivitas fisik, atau aktivitas yang mengecewakan emosi sesaat sebelum tidur.&lt;br /&gt;
o Sering menggunakan tempat tidur untuk melakukan aktivitas-aktivitas selain tidur.&lt;br /&gt;
o Kegagalan untuk menciptakan lingkungan yang sesuai untuk tidur.&lt;br /&gt;
10. Insomnia Idiopatis&lt;br /&gt;
Insomnia jenis ini merupakan efek jangka panjang dari insomnia yang dialami sejak masa kanak-kanak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Perilaku Insomnia pada Anak-Anak&lt;br /&gt;
o Tipe 1&lt;br /&gt;
 Anak-anak membutuhkan kondisi-kondisi khusus agar bisa tertidur&lt;br /&gt;
 Anak-anak terbangun di tengah malam dan memerlukan campur tangan orangtua agar ia dapat tertidur kembali&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
o Tipe 2 &lt;br /&gt;
 Anak-anak kesulitan untuk mulai tidur atau tidak dapat mempertahankan tidurnya&lt;br /&gt;
 Anak-anak menolak untuk tidur pada waktuyang sudah ditentukan atau menolak untuk kembali ke tempat tidurnya setelah terbangun di tengah malam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
FISIOLOGI TIDUR&lt;br /&gt;
Fisiologi tidur dapat diterangkan melalui gambaran aktivitas sel-sel otak selama tidur. Aktivitas tersebut dapat direkam dalam alat EEG. Untuk merekam tidur, cara yang dipakai adalah dengan EEG Polygraphy. Dengan cara ini kita tidak saja merekam&lt;br /&gt;
gambaran aktivitas sel otak (EEG), tetapi juga merekam gerak bola mata (EOG) dan tonus otot (EMG).  Di dalam otak, terdapat empat macam gelombang, yaitu :&lt;br /&gt;
1. Gelombang Alfa&lt;br /&gt;
Pada keadaan mata tertutup dan relaks, gelombang Alfa akan muncul, dan akan menghilang sesaat kita membuka mata. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Gelombang Beta&lt;br /&gt;
Gelombang ini merupakan gelombang dominan pada keadaan terjaga terutama bila mata terbuka. Pada keadaan tidur REM juga muncul gelombang Beta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Gelombang Teta&lt;br /&gt;
Gelombang Teta dengan amplitudo rendah tampak pada keadaan terjaga pada anak-anak sampai usia 25 tahun dan usia lanjut di atas 60 tahun. Pada keadaan normal orang dewasa, gelombang teta muncul pada keadaan tidur (stadium 1, 2, 3, 4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Gelombang Delta&lt;br /&gt;
Pada keadaan normal, gelombang Delta muncul pada keadaan tidur (stadium 2, 3, 4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
STADIUM TIDUR&lt;br /&gt;
1. Stadium Jaga (Stadium W = wake)&lt;br /&gt;
EEG  : Pada keadaan relaks, mata tertutup, gambaran didominasi oleh gelombang Alfa. &lt;br /&gt;
EOG : Biasanya gerakan mata berkurang. Kadang-kadang terdapat artefak yang disebabkan oleh gerakan kelopak mata.&lt;br /&gt;
EMG : Kadang-kadang tonus otot meninggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Stadium 1&lt;br /&gt;
EEG : Biasanya terdiri dari gelombang campuran Alfa, Beta dan kadang-kadang Teta. &lt;br /&gt;
EOG  : Tak terlihat aktifitas bola mata yang cepat.&lt;br /&gt;
EMG  : Tonus otot menurun dibandingkan dengan pada Stadium W.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Stadium 2&lt;br /&gt;
EEG : Biasanya terdiri dan gelombang campuran Alfa, Teta dan Delta.&lt;br /&gt;
EOG : Tak terdapat aktivitas bola mata yang cepat.&lt;br /&gt;
EMG : Kadang-kadang terlihat peningkatan tonus otot secara tiba-tiba, menunjukkan bahwa otot-otot tonik belum seluruhnya dalam keadaan rileks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Stadium 3&lt;br /&gt;
EEG : Persentase gelombang Delta berada antara 20 - 50%.&lt;br /&gt;
EOG : Tak tampak aktivitas bola mata yang cepat.&lt;br /&gt;
EMG : Gambaran tonus otot yang lebih jelas dari stadium 2.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Stadium 4&lt;br /&gt;
EEG : Persentase gelombang Delta mencapai lebih dari 50%.&lt;br /&gt;
EOG : Tak tampak aktivitas bola mata yang cepat.&lt;br /&gt;
EMG : Tonus otot menurun dari pada stadium sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Stadium REM&lt;br /&gt;
EEG  : Terlihat gelombang campuran Alfa, Beta dan Teta.&lt;br /&gt;
EOG  : Terlihat gambaran REM (Rapid Eye Movement) yang&lt;br /&gt;
khas.&lt;br /&gt;
EMG  : Tonus otot sangat rendah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insomnia&lt;br /&gt;
 Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi insomnia antara lain adalah faktor-faktor genetis dan neurobiologis. Beberapa penelitian mengindikasikan kerentanan genetis yang berbeda-beda terhadap pengaruh-pengaruh eksogenus seperti caffeine, rokok, dan stress. Penelitian-penelitian klinis juga menunjukkan bahwa pasien-pasien dengan insomnia kronis menunjukkan kecenderungan peningkatan aktivitas otak. Lebih jauh lagi, pasien-pasien dengan insomnia memliki suhu tubuh, urine dan sekresi adrenalin yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien tanpa insomnia.&lt;br /&gt;
Insomnia juga dipengaruhi oleh lingkungan fisik yang dapat berupa suara bising didekat tempat tinggal, misalnya bunyi mesin pabrik atau kereta api yang melintas. Suhu lingkungan yang terlalu panas atau dingin, demikian pula perubahan suasana lingkungan, dapat pula menimbulkan insomnia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faktor-Faktor yang Memicu &lt;br /&gt;
 Faktor-faktor yang memicu insomnia antara lain adalah terjadinya perubahan struktur kimia otak dan hormon otak, serta adanya gangguan psikiatrik seperti kecemasan, depresi dan pemakaian zat-zat  tertentu.&lt;br /&gt;
Terlalu banyak minum kopi atau minuman berkafein, mengisap rokok, atau minum minuman beralkohol menjelang tidur, dapat memicu insomnia. Kafein dapat meningkatkan denyut jantung, alkohol menguras vitamin B yang mendukung sistem saraf, dan nikotin bersifat neurostimulan yang justru membangkitkan semangat.&lt;br /&gt;
Berikut ini adalah beberapa kondisi medis yang dapat menjadi pemicu insomnia :&lt;br /&gt;
o Sindrom pain kronis&lt;br /&gt;
o Sindrom kelelahan kronis&lt;br /&gt;
o Gagal jantung&lt;br /&gt;
o Angina di malam hari akibat penyakit jantung&lt;br /&gt;
o Acid reflux disease (GERD)&lt;br /&gt;
o Gangguan pulmonari kronis (COPD)&lt;br /&gt;
o Asma nocturnal &lt;br /&gt;
o Gangguan tidur apnea&lt;br /&gt;
o Penyakit-penyakit degeneratif seperti Parkinson, dan Alzheimer&lt;br /&gt;
o Tumor otak, stroke, atau trauma otak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faktor-Faktor yang Memperparah&lt;br /&gt;
Faktor yang dapat semakin memperparah insomnia adalah adanya kesalahan konsepsi mengenai tidur normal dan adanya kekhawatiran yang berlebihan tentang efek percabangan dari kekurangan tidur terhadap kehidupan sehari-harinya. Akibatnya, individu dengan insomnia akan menjadi lebih terobsesi dengan tidurnya sendiri dan mencoba terlalu keras agar dirinya bisa tertidur. Keyakinan-keyakinan irasional ini seringkali perilaku-perilaku yang merusak tidur seperti membalas dendam kekurangan tidur di malam sebelumnya dengan tidur siang di hari berikutnya atau tidur terlampau larut yang akan merusak keseimbangan alami kebutuhan tidur mereka serta merusak kebiasaan jam tidur mereka.&lt;br /&gt;
Berikut ini adalah beberapa kesalahan anggapan mengenai tidur :&lt;br /&gt;
 Kita membutuhkan sedikitnya delapan jam tidur setiap malam&lt;br /&gt;
 Kita harus menggantikan tidur yang kurang dengan menambah jam tidur pada kesempatan lain&lt;br /&gt;
 Obat tidur dapat membantu kita untuk tertidur&lt;br /&gt;
 Minum minuman beralkohol dapat membantu kita untuk tertidur&lt;br /&gt;
 Masalah tidur bukanlah suatu hal yang serius&lt;br /&gt;
 Insomnia akan hilang dengan sendirinya jika kita mengabaikannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelompok Yang Beresiko  Tinggi Mengalami Insomnia&lt;br /&gt;
 Penelitian yang dilakukan oleh Strine menunjukkan bahwa wanita memiliki kesempatan 2,4 kali lebih besar untuk  mengalami insomnia daripada pria. Namun hingga saat ini masih belum diketahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan hal tersebut. Berikut ini adalah kelompok-kelompok tertentu yang memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami insomnia :&lt;br /&gt;
• Orang yang sedang bepergian&lt;br /&gt;
• Pekerja dengan sistem kerja shift yang sering bergantian shift&lt;br /&gt;
• Lanjut Usia&lt;br /&gt;
• Pelajar atau remaja&lt;br /&gt;
• Wanita hamil&lt;br /&gt;
• Wanita yang sudah mengalami menopause&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dampak Insomnia&lt;br /&gt;
Berikut ini adalah beberapa dampak yang ditimbulkan oleh insomnia :&lt;br /&gt;
 Turunnya produktivitas kerja individu&lt;br /&gt;
 Kualitas hidup yang menurun&lt;br /&gt;
 Kesehatan fisik menurun&lt;br /&gt;
 Depresi&lt;br /&gt;
 Gangguan konsentrasi&lt;br /&gt;
 Kualitas hubungan interpersonal dengan orang lain memburuk&lt;br /&gt;
 Secara tidak langsung dapat meningkatkan angka kecelakaan lalu lintas&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Riwayat Klinis Pasien&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Riwayat Tidur Pasien&lt;br /&gt;
Yang tercakup di sini adalah hal-hal yang berkaitan dengan kebiasaan tidur pasien, antara lain :&lt;br /&gt;
 Timing dari Insomnia&lt;br /&gt;
Pasien harus ditanyai mengenai kesulitan tidur apapun yang dialaminya, frekuensi bangun lebih awal di pagi hari, problem untuk mengawali tidur, dan apakah pasien merasa mengantuk saat mereka di tempat tidur.&lt;br /&gt;
 Jadwal Tidur&lt;br /&gt;
Pasien harus ditanyai jam berapa biasanya mereka tidur di malam hari dan jam berapa dia terbangun di pagi hari.&lt;br /&gt;
 Lingkungan Sekitar Saat Tidur&lt;br /&gt;
Pasien harus ditanyai mengenai kondisi-kondisi sekitarnya seperti temperatur, kenyamanan tempat tidur, kebisingan, dan pencahayaan. Dapat ditanyakan juga apakah pasien merasa nyaman tidur di tempat tidurnya sendiri atau merasa lebih nyaman tidur di kursi atau di lingkungan yang asing.&lt;br /&gt;
 Kebiasaan Tidur&lt;br /&gt;
Yang harus ditanyakan antara lain aktivitas-aktivitas yang dilakukan sebelum tidur dan apa yang dilakukan ketika ia tidak bisa tertidur atau ketika terbangun pada tengah malam.&lt;br /&gt;
 Indikasi Gangguan Tidur Lainnya&lt;br /&gt;
Pasien juga harus ditanyai apakah ia memiliki gangguan tidur lain seperti apnea dan sindrom restless.&lt;br /&gt;
 Efek Yang Dirasakan Pada Siang Hari&lt;br /&gt;
Apakah pasien memiliki keluhan-keluhan seperti kepenatan, kelelahan, kekurangan energi, merasa terganggu, penurunan performansi kerja, dan kesulitan konsentrasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendekatan Medis dalam Penanganan Insomnia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awal abad ke 19, pengobatan untuk insomnia adalah dengan menggunakan alkohol dan obat-obatan opioid. Pada akhir abad ke 19, digunakan kombinasi antara kloral hidrat dan alkohol, dan di awal abad ke 20, barbiturat digunakan hingga sampai pada awal tahun 1960an ketika Benzodiazepine Reseptor Agonists (BZRAs) pertama kali diakui manjur untuk mengobati pasien-pasien insomnia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benzodiazepin Receptor Agonist (BzRA)&lt;br /&gt;
Merupakan pengobatan untuk insomnia yang paling umum digunakan, yang bekerja pada reseptor GABA. BZRA digolongkan menjadi tiga tipe yaitu tipe long-acting misalnya flurazepam dan quazepam, intermediate-acting misalnya temazepam dan estazolam dan short-acting misalnya triazolam. Penggunaan BZRAs tipe intermediate-acting hingga saat ini masih dapat ditemukan. Namun pada saat ini penggunaan flurazepam dan quazepam sudah jarang karena adanya efek samping berupa sedasi sepanjang hari, kerusakan kognisi, dan peningkatan resiko jatuh bagi pasien yang berusia lanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedatif-hipnotik, Nonbenzodiazepin Reseptor Agonist&lt;br /&gt;
Obat-obatan ini memiliki struktur nonbenzodiazepin dan mengikat subunit alpha1 dari resptor GABA dengan lebih spesifik.  Jenis obat-obatan yang dipakai antara lain :&lt;br /&gt;
 Zaleplon &lt;br /&gt;
Sedatif-hipnotik dari kelas pyrazolopyrimidin, memiliki waktu aksi yang sangat singkat, merupakan pilihan yang cocok untuk pengobatan gangguan dalam memulai tidur.&lt;br /&gt;
Peringatan : kegagalan penurunan insomnia setelah 7-10 hari mengindikasikan perlunya evaluasi lebih lanjut pada penyakit medis atau psikiatris primer, batas penggunaan adalah 7-10 hari, sakit kepala pada pasien yang menunjukkan sinyal-sinyal atau simptom depresi saat menggunakan dosis 20 mg hs.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Zolpidem &lt;br /&gt;
Sedatif-hipnotik dari kelas imidazopyridin, memiliki waktu aksi yang cepat, pilihan pertama dalam pengobatan gangguan memulai tidur, tidak memiliki efek sedasi residual yang signifikan di pagi hari.&lt;br /&gt;
Peringatan : pengawasan harus dilakukan pada orang-orang tua dengan performansi motor atau kognitif yang lemah, obat harus ditelan sekaligus (tidak boleh dibagi, dikunyah, atau dihancurkan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Eszopiclone&lt;br /&gt;
Nonbenzodiazepin dari kelas cyclopyrolone. Mekanisme dari obat ini masih belum diketahui namun diyakini bahwa eszopiclone berinteraksi dengan reseptor GABA dalam mengikat domain-domain yang berada di dekat reseptor benzodiazepin. Digunakan untuk meningkatkan kemampuan untuk mempertahankan tidur. &lt;br /&gt;
Peringatan : bisa menyebabkan disgeusia, sakit kepala, atau simptom mirip flu, efek-efek samping yang langka ketika digunakan bersama dengan hipnotik seperti amnesia jangka pendek, kebingungan, agitasi, halusinasi, depresi semakin memburuk, atau pikiran-pikiran bunuh diri, dosis yang tinggi dapat menyebabkan efek euforik yang mirip pada penggunaan diazepam 20 mg, kecemasan, mimpi-mimpi tidak normal, kemuakan, dan sakit perut mungkin terjadi sekitar 48 jam setelah penggunaan yang tidak diteruskan, harus digunakan secara hati-hati saat mengoperasikan mesin atau saat sedang mengendarai mobil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Triazolam &lt;br /&gt;
Menekan semua tingkatan CNS, kemungkinan dengan meningkatkan aktivitas GABA.&lt;br /&gt;
Peringatan : penggunaan yang hati-hati dan perlunya pengawasan bagi penderita disfungsi hati, menurunkan level albumin, penyakit-penyakit renal atau pulmonari, dapat menyebabkan sedasi sepanjang hari, kerusakan kognisi, dan meningkatnya resiko jatuh pada pasien yang sudah tua; penggunaan secara hati-hati bersama dengan depresan CNS lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Estazolam&lt;br /&gt;
Memiliki waktu aksi yang lambat dan durasi yang lama, bagus bagi penderita insomnia dengan kesulitan untuk mempertahankan tidur.&lt;br /&gt;
Peringatan : penggunaan hati-hati pada pasien yang mengalami depresi; efek samping yang umumnya terjadi termasuk mengantuk, hipokinesia, pusing, dan koordinasi tidak normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Temazepam&lt;br /&gt;
Memiliki waktu aksi dan waktu paro lebih lama, dapat membantu pasien insomnia dengan kesulitan untuk mempertahankan tidur.&lt;br /&gt;
Peringatan : gunakan secara hati-hati pada pasien depresi; efek samping umumnya ringan  termasuk mengantuk, sakit kepala, gugup, dan pusing; penggunaan hati-hati bersama dengan depresan CNS lainnya, menurunkan level albumin, atau penyakit hati (dapat meningkatkan toksisitas).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Amitriptylin &lt;br /&gt;
Antidepresan trisiklik dengan efek sedatif. Menghambat reuptake dari serotonin dan norepinephrin pada membran neuronal presinaptik, yang meningkatkan konsentrasi di dalam CNS.&lt;br /&gt;
Peringatan : efek samping yang umum terjadi adalah antikolinergik (retensi urine, konstipasi, dan pandangan kabur); penggunaan hati-hati pada gangguan konduksi lambung dan sejarah hipertiroidisme, kerusakan renal atau hepar, hindari pemakaian pada orang yang sudah lanjut usia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Doxepin&lt;br /&gt;
Meningkatkan konsentrasi serotonin dan norepinephrine di dalam CNS dengan menghambat proses reuptake yang dilakukan oleh membran neuronal presinaptik.&lt;br /&gt;
Peringatan : hati-hati terhadap penyakit kardiovaskular, gangguan konduksi, retensi urin, hipertiroidisme, dan pasien yang mendapatkan pengganti tiroid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Nortriptylin&lt;br /&gt;
Terbukti efektif dalam usaha pengobatan sakit kronis. Dengan menghambat reuptake serotonin dan norepinephrin yang dilakukan oleh membran neuronal presinaptik, obat ini meningkatkan konsentrasi sinaptik neurotransmitter  di dalam CNS.&lt;br /&gt;
Peringatan : hati-hati terhadap gangguan konduksi lambung dan riwayat hipertiroidisme, kerusakan hepatis atau renal, hindari pemakaian pada orang yang sudah lanjut usia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Trazodon &lt;br /&gt;
Antidepresan non-trisiklik dengan waktu aksi yang singkat.  Antagonis bagi reseptor 5-HT2 dan menghambat reuptake 5-HT.&lt;br /&gt;
Peringatan : efek samping yang umumnya terjadi antara lain mulut kering, pandangan kabur, konstipasi (sembelit), dan retensi urin; priapisme; hipotensi; dapat menyebabkan kantuk dan pusing, pasien yang menjalani pengobatan ini harus berhati-hati saat mengemudi atau saat sedang melakukan aktivitas-aktivitas lain yang membutuhkan kesiagaan, koordinasi atau ketangkasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Nefazodon&lt;br /&gt;
Ditarik dari pasaran pada Mei 2004 karena adanya resiko hepatotoxicity. &lt;br /&gt;
Peringatan : hati-hati terhadap penyakit lambung, penyakit serebrovaskular; hentikan terapi jika terjadi priapisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Mirtazapin&lt;br /&gt;
Menunjukkan aktivitas noradregenik dan serotonergik. Mirtazapine bertindak sebagai antagonis reseptor alpha2-adrenergic, sekaligus juga sebagai antagonis poten reseptor postsynaptic 5-HT2 dan 5-HT3. Akibatnya, mirtazapine bisa menstimulasi pelepasan norepinephrine dan serotonin.&lt;br /&gt;
Peringatan : dapat menyebabkan kantuk; hentikan pemakaian jika pasien menunjukkan gejala-gejala infeksi tenggorokan, demam, dan gejala-gejala lain; ide bunuh diri yang melekat dengan depresi; neutropenia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Ramelteon&lt;br /&gt;
o Ramelteon bekerja pada potensi reseptor agonist MT1/MT2 yang selektif&lt;br /&gt;
o Tidak menyebabkan kecanduan, toleransi, penyalahgunaan dan efek samping negatif seperti pada obat-obatan BZRA&lt;br /&gt;
o Merupakan anti-insomnia pertama dengan kandungan yang tidak mengontrol &lt;br /&gt;
Ramelteon telah diakui oleh Badan Administrasi Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) pada bulan Juli 2005 sebagai obat resep untuk gangguan tidur pertama dan satu-satunya anti insomnia yang bukan merupakan obat yang dikontrol dan tidak menunjukkan bukti terjadinya penyalahgunaan dan ketergantungan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan antidepresan sedatif-hipnotik antara lain :&lt;br /&gt;
 Penggunaannya sebaiknya dalam dosis efektif minimal&lt;br /&gt;
 Penggunaan di malam hari harus dikurangi pada sebagian besar pasien&lt;br /&gt;
 Obat-obatan sedatif-hipnotik dapat digunakan hingga 3-4 minggu&lt;br /&gt;
 Lebih disarankan menggunakan obat-obatan hipnotik yang bebas efek residual di pagi hari &lt;br /&gt;
 Obat-obatan hipnotik seperti zolpidem, zaleplon, triazolam, dan eszopiclone lebih disarankan jika permasalahan yang dialami adalah kesulitan untuk tidur. Jika penggunaannya untuk mempertahankan kondisi tidur sebaiknya menggunakan obat hipnotik yang memiliki waktu aksi lebih panjang seperti zolpidem-CR dan eszopiclone. Jika pasien mengalami depresi, antidepresan dengan efek menenangkan seperti trazodone dan mirtazapine dapat dipergunakan.&lt;br /&gt;
 Obat-obatan hipnotik tidak boleh digunakan bersama dengan alkohol karena dapat menimbulkan sedasi berlebihan atau timbulnya parasomnia&lt;br /&gt;
 Tidak boleh digunakan pada  ibu hamil&lt;br /&gt;
 Penggunaan benzodiazepin harus secara hati-hati pada pasien yang menderita apnea karena dapat memperburuk keadaannya&lt;br /&gt;
 Pada pasien yang berusia lanjut sebaiknya diberikan dengan dosis yang kecil&lt;br /&gt;
 Pada sebagian besar pasien, resiko ketergantungan adalah rendah. Namun, harus dihindari penggunaan obat-obatan hipnotik ini pada pasien dengan sejarah penyalahgunaan zat&lt;br /&gt;
 Pada beberapa pasien mungkin akan terjadi rebound jika penggunaan obat-obatan ini dihentikan secara tiba-tiba. Oleh karena itu lebih disarankan menggunakan dosis yang kecil untuk mengurangi resiko rebound&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daftar Rujukan:&lt;br /&gt;
Nevid, Jeffrey S, et all. 2005. Psikologi Abnormal Edisi ke-5 jilid 2. Jakarta : Erlangga&lt;br /&gt;
Trull, Timothy J. 2005. Clinical Psychology 7th Edition. USA : Thomson Learning, Inc.&lt;br /&gt;
Passaro, Erasmo A. 2008. Insomnia. (Online : &lt;a href=&quot;http://emedicine.medscape.com/article/&quot;&gt;&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;
Susilowati, Pudji. 2008. Insomnia : Kategori Klinis. (Online : &lt;a href=&quot;http://www.e-psikologi.com/epsi/klinis_detail.asp?id=483&quot;&gt;&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=156&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://medicastore.com/berita/137/Launching_Product__Ramelteon_Obat_Baru_untuk_Insomnia.html&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
www.emedicinehealth.com/insomnia/page2_em.htm#Insomnia%20Causes</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/1004527969286847727/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/insomnia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/1004527969286847727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/1004527969286847727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/insomnia.html' title='Insomnia'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-4912188489074207810</id><published>2011-06-19T05:02:00.000-07:00</published><updated>2011-06-19T05:02:00.498-07:00</updated><title type='text'>Hikikomori</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Pada tahun 2000-an, sebuah penyakit sosial baru yang unik ditemukan di Jepang. Hikikomori, istilah tesebut diajukan oleh Tamaki Saito, seorang psikolog Jepang, untuk menyebut sebuah sindrom yang mengarah pada penarikan diri total di kalangan remaja Jepang. Menteri kesehatan  Jepang mendefinisikan seorang hikikomori sebagai seseorang yang menolak untuk keluar dari rumah kedua orangtuanya dan mengisolasi diri mereka dari lingkungan sekitarnya sedikitnya selama enam bulan. Masa hikikomori bervariasi tergantung individu bersangkutan, beberapa remaja tetap mengisolasi diri mereka selama beberapa tahun, bahkan pada beberapa kasus hingga beberapa dekade. &lt;br /&gt;
 Hikikomori lebih sering ditemukan pada keluarga menengah ke atas, biasanya menimpa anak laki-laki tertua, mereka menolak untuk keluar dari rumah orangtuanya setelah mengalami banyak episode traumatik dalam hidupnya atau mengalami kegagalan akademik. Menurut pendapat Sadatsugu Kudo, penulis buku Hey Hikikomori! It’s Time, Let’s go Out (2001), fenomena hikikomori  sebenarnya sudah ada sejak dua puluh tahun yang lalu, dan dikenal dengan nama tokokyohi, yang mengarah pada perilaku dropout dari sekolah dan penolakan untuk bersekolah. &lt;br /&gt;
 Dalam suatu penelitian untuk mengetahui distribusi usia seseorang yang melakukan hikikomori, diperoleh hasil sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usia Prosentase&lt;br /&gt;
10-15 tahun 8,4 %&lt;br /&gt;
16-20 tahun 19,8 %&lt;br /&gt;
21-25 tahun 20,8 %&lt;br /&gt;
26-30 tahun 18,2 %&lt;br /&gt;
31-35 tahun 10,2 %&lt;br /&gt;
36 ke atas 8,6 %&lt;br /&gt;
Tidak diketahui 14,1 %&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Pada data tersebut diketahui bahwa para hikikomori yang berusia muda sangatlah sedikit, hanya 8,4 %, sangat jauh dari perkiraan untuk dikatakan sebagai ’penyakit remaja’. Prosentase terbesar justru terdapat pada kalangan yang berusia 21-25 tahun. Dari hasil tersebut dapat dapat disimpulkan bahwa hikikomori bukanlah ’penyakit remaja’ melainkan ’penyakit pelajar universitas’. Para ’hikikomori yang lebih tua’ ini mungkin memilih untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya karena beberapa masalah yang menimpanya selama mereka masih sekolah ketika masih lebih muda, namun penarikan diri mereka tidak terdiagnosa sehingga mereka tetap melakukan isolasi diri selama beberapa tahun. Sebuah survey dilakukan untuk mengetahui berapa lama biasanya seseorang mengisolasi diri mereka, dan hasilnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu Prosentase&lt;br /&gt;
6 bulan-1 tahun 17,9 %&lt;br /&gt;
1-3 tahun 25,3 %&lt;br /&gt;
3-5 tahun 14,7 %&lt;br /&gt;
5-7 tahun 9,7 %&lt;br /&gt;
7-10 tahun 5,9 %&lt;br /&gt;
10 tahun ke atas 7,7 %&lt;br /&gt;
Tidak diketahui 17,8 %&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembahasan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Simptom-Simptom&lt;br /&gt;
 Di saat kebanyakan orang menghadapi tekanan-tekanan dari dunia luar, hikikomori justru bereaksi dengan menarik diri secara total dari kehidupan sosialnya. Remaja yang menarik diri secara sosial biasanya mengunci diri mereka di dalam kamar tidur dan menolak untuk melakukan kontak sosial dengan dunia luar. Mereka biasanya memiliki sedikit teman bahkan tidak memiliki samasekali. Hikikomori seringkali mengatur jadwal tidur mereka, biasanya mereka bangun pada sore hari dan pergi tidur menjelang pagi. Mereka memiliki jam tidur yang panjang pada siang hari, dan pada malam hari mereka menghabiskan waktu dengan menonton TV, menggambar, bermain game komputer, surfing internet, membaca, mendengarkan musik, dan aktivitas-aktivitas non-sosial lainnya. Karena hikikomori lebih menyukai aktivitas indoor daripada aktivitas outdoor, maka mereka lebih memilih untuk melakukan aktivitasnya pada malam hari. Belum ada data statistik resmi mengenai jumlah hikikomori, namun dipekirakan bahwa lebih dari satu juta remaja Jepang pernah atau sedang melakukan hikikomori.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Efek-Efek&lt;br /&gt;
• Pada Individu&lt;br /&gt;
Miskinnya kontak sosial dan rasa kesepian yang terlalu panjang memberikan efek pada mental para hikikomori, yang secara bertahap kehilangan keterampilan sosialnya, referensi sosial dan kebutuhan-kebutuhan lain untuk berinteraksi dengan dunia luar. Akibat kurangnya stimulus interpersonal, seorang hikikomori  mengalami perkembangan yang stagnan dan terus-menerus melakukan hal yang sama dalam waktu yang lama.&lt;br /&gt;
• Pada keluarga&lt;br /&gt;
Memiliki anggota keluarga yang mengalami hikikomori seringkali menimbulkan rasa malu bagi keluarga tersebut. Sebagian besar orangtua hanya menunggu dan berharap anaknya akan mampu mengatasi permasalahannya dan kembali ke kehidupan sosial dengan keinginannya sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, tingginya perhatian media terhadap hikikomori menimbulkan stigma sosial bahwa hikikomori berkaitan dengan penyakit mental. Akibatnya, beberapa keluarga merahasiakan kondisi anaknya dan membiarkan saja anaknya berada dalam kondisi seperti itu.&lt;br /&gt;
 Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Hikikomori&lt;br /&gt;
Terdapat berbagai macam penyebab perilaku Hikikomori, antara lain:&lt;br /&gt;
• Kekayaan Keluarga&lt;br /&gt;
 Keluarga dari kelas menengah biasanya mengijinkan anak-anaknya yang sudah dewasa untuk tinggal di rumah saja. Korban hikikomori bisa dengan leluasa tinggal di rumah, bermain video game, dan menonton televisi. Keluarga dengan pendapatan yang lebih rendah tidak memiliki anak hikikomori karena biasanya mereka mendorong anaknya untuk bekerja di luar rumah.&lt;br /&gt;
• Ambiguitas peran Laki-laki&lt;br /&gt;
 Remaja laki-laki merasa tidak yakin dengan masa depannya dan tidak mempunyai model dalam perannya sebagai laki-laki.&lt;br /&gt;
• Ijime (bullying)&lt;br /&gt;
 Kekerasan oleh teman-teman sekolah. Seperti pepatah jepang, paku yang menonjol akan dipalu untuk menjadi seragam, seorang hikikomori yang biasanya memiliki kelebihan dibandingkan dengan teman-temannya, akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-temannya.&lt;br /&gt;
• Tokokyohi&lt;br /&gt;
 Penolakan bersekolah. Hal ini diindikasikan dengan absen dari sekolah selama 50 hari atau lebih.&lt;br /&gt;
• Tekanan Akademik di Sekolah&lt;br /&gt;
Sistem pendidikan di Jepang, seperti halnya di China, Singapura, dan Taiwan memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi dan ketat. Penetapan ’grade’ yang tinggi dan tidak adanya kesempatan kedua bagi seseorang yang gagal dalam ujian, sangat berpengaruh terhadap kondisi mental remaja Jepang.&lt;br /&gt;
• Visibilitas Media&lt;br /&gt;
 Sorotan media yang terlalu berlebihan terhadap fenomena hikikomori menyebabkan semakin mengemulasi jumlah korban serius.&lt;br /&gt;
• Harapan-Harapan Orangtua&lt;br /&gt;
 Adanya harapan-harapan yang digantungkan pada remaja kelas menengah agar meraih kesuksesan dalam hidup, adapun yang dimaksud kesuksesan adalah mendapat pendidikan di tempat yang prestisius kemudian setelah lulus mendapatkan karir yang prestisius pula. &lt;br /&gt;
• Hubungan Ibu-Anak&lt;br /&gt;
 ”Di Jepang, ibu dan anak memiliki hubungan simbiotik. Seorang ibu akan mengurus anaknya sampai anaknya berusia 30 atau 40 tahun.” (Rees,2002)&lt;br /&gt;
• Kamar anak&lt;br /&gt;
 Di Jepang, bagi orangtua kamar anak merupakan tempat paling keramat. Sangatlah normal jika orangtua tidak bertemu samasekali dengan anaknya dalam satu hari. Komunikasi yang kurang dapat semakin memperparah penarikan diri remaja hikikomori.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hikikomori sebagi Stigma: Kekerasan dan Penyakit Mental&lt;br /&gt;
 Hikikomori sering dihubung-hubungkan dengan kekerasan. Hal ini disebabkan adanya pemberitaan-pemberitaan berlebihan atas beberapa kasus kriminal yang kebetulan pelakunya adalah seorang ’hikikomori’,di antaranya:&lt;br /&gt;
• Pada tanggal 3 Mei 2000 seorang remaja berusia 17 tahun yang disebut-sebut seorang hikikomori membajak sebuah bus dan membunuh satu orang penumpangnya&lt;br /&gt;
• Seorang remaja berusia 17 tahun lainnya, dalam sebuah perselisihan mengenai model rambut, memukul anggota satu tim baseball dengan pemukul baseball lalu pulang ke rumah dan membunuh ibunya dengan alat yang sama karena tidak diberi uang&lt;br /&gt;
• Pada tahun 1990, seorang laki-laki berusia 27 tahun menculik anak perempuan berusia 9 tahun, Sano Fusako dan menyekapnya selama sembilan tahun dua bulan di kamarnya tanpa diketahui keluarganya.&lt;br /&gt;
Sebagai hasil dari pemberitaan negatif media, hikikomori memiliki stigma sosial sebagai pelaku kekerasan dan berpenyakit mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggambarkan kembali Batasan-batasan untuk Klasifikasi Hikikomori&lt;br /&gt;
Dalam bukunya, Hey Hikikomori! It’s Time, Let&#39;s Go Out, Kudo mengelompokkan hikikomori ke dalam empat kategori dasar:&lt;br /&gt;
1. Pencari Kesenangan (disebut juga sebagai delinquents)&lt;br /&gt;
2. Orang yang malas (seseorang yang tidak suka pergi sekolah)&lt;br /&gt;
3. Komori (seseorang yang selalu merasa khawatir jika orang lain melihatnya, dan ingin keluar dari situasi tidak menyenangkan tersebut tapi tidak bisa). [Mirip dengan taijin kyofusho dan agorafobia].&lt;br /&gt;
4. Kasus-Kasus Khusus (Seseorang yang berhenti sekolah karena bermasalah dengan kekerasan, teman, guru, karena tidak menyukai sesuatu seperti belajar atau matapelajaran tertentu, atau mereka merasa rendah diri karena kedua orangtuanya berpisah atau bercerai)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk melengkapi klasifikasi Kudo tersebut, ditambahakan klasifikasi sebagai berikut:&lt;br /&gt;
5. Penyakit Mental (seseorang yang tidak bisa berfungsi secara semestinya tanpa pengobatan dan bahkan mungkin tidak memiliki kemampuan kognitif untuk menghadapi dunia luar saat sakit).&lt;br /&gt;
6. Pelaku Kekerasan (Seseorang yang berperilaku merugikan keluarga maupun dirinya sendiri seperti ‘hikikomori wrist cutters’ yang memotongi tubuhnya sendiri.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Treatment&lt;br /&gt;
 Terdapat berbagai macam opini untuk mengatasi hikikomori, dan seringkali berlawanan antara sudut pandang Barat dan sudut pandang orang Jepang. Orang Jepang biasanya menyarankan untuk menunggu sampai hikikomori tersebut muncul kembali dalam kehidupan  sosialnya, sedangkan ahli-ahli dari Barat menyarankan untuk menarik hikikomori kembali ke komunitasnya, bahkan jika perlu dengan paksa.&lt;br /&gt;
 Pada umumnya, treatment yang diberlakukan terhadap para hikikomori mengikuti dua filosofi, yaitu psikologis dan sosialisasi.&lt;br /&gt;
1. Metode Psikologis&lt;br /&gt;
Metode psikologis menekankan pada pendampingan untuk membantu penderita hikikomori menghadapi penyakit mereka. Beberapa menekankan untuk membawa penderita dari rumah mereka dan menempatkan mereka ke dalam sebuah lingkungan rumah sakit, sedangkan sebagian lagi lebih mendukung cara-cara yang bisa dilakukan tanpa harus mengeluarkan penderita dari rumahnya, misalnya konseling online. &lt;br /&gt;
2. Metode Sosialisasi&lt;br /&gt;
Metode sosialisasi dilakukan dengan jalan menjauhkan penderita dari lingkungan rumahnya dan memasukkannya ke dalam sebuah lingkungan baru di mana di dalamnya terdapat penderita hikikomori lainnya yang sudah sembuh, pendekatan ini menunjukkan kepada para  hikikomori bahwa mereka tidak sendirian dalam kondisi tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: &lt;br /&gt;
Dziesinski, Michael J. 2003. Hikikomori: Investigations into the phenomenon of acute social withdrawal in contemporary Japan. Final paper. Honolulu: Hawaii</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/4912188489074207810/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/hikikomori.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/4912188489074207810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/4912188489074207810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/hikikomori.html' title='Hikikomori'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-7747925875075881186</id><published>2011-06-05T22:37:00.000-07:00</published><updated>2011-06-05T22:37:08.317-07:00</updated><title type='text'>Cerpen titipan</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val=&quot;Cambria Math&quot;/&gt;    &lt;m:brkBin m:val=&quot;before&quot;/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val=&quot;--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val=&quot;off&quot;&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val=&quot;0&quot;&gt;    &lt;m:rmargin m:val=&quot;0&quot;&gt;    &lt;m:defjc m:val=&quot;centerGroup&quot;&gt;    &lt;m:wrapindent m:val=&quot;1440&quot;&gt;    &lt;m:intlim m:val=&quot;subSup&quot;&gt;    &lt;m:narylim m:val=&quot;undOvr&quot;&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState=&quot;false&quot; DefUnhideWhenUsed=&quot;true&quot;
  DefSemiHidden=&quot;true&quot; DefQFormat=&quot;false&quot; DefPriority=&quot;99&quot;
  LatentStyleCount=&quot;267&quot;&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;0&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Normal&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 7&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 8&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 9&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 7&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 8&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 9&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;35&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;caption&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;10&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Title&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; Name=&quot;Default Paragraph Font&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;11&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtitle&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;22&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Strong&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;20&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Emphasis&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;59&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Table Grid&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Placeholder Text&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;No Spacing&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Revision&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;34&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;List Paragraph&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;29&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Quote&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;30&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Quote&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;19&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Emphasis&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;21&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Emphasis&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;31&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Reference&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;32&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Reference&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;33&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Book Title&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;37&quot; Name=&quot;Bibliography&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;TOC Heading&quot;/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;;
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:&quot;&quot;;
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin:0cm;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
 mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&amp;nbsp;Masih dari penulis yang sama dengan sebelumnya.....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: center; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;KATAKU&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Ayo Dian, untuk kali ini saja dengarkan aku. Tidak. Bukan untuk kali ini saja. Nanti pada saatnya, kau juga lagi-lagi harus mendengarkanku. Karena aku adalah penasehatmu yang utama. Aku mengenalmu sedalam kau mengenal dirimu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Tapi, aku berbeda darimu. Sebab terkadang atau bahkan seringkali kau mengabaikan hati dan pikiranmu, kebutuhanmu sendiri, bersikap seolah-olah itu tak pernah ada. Sedang aku? Aku ada untuk mengingatkanmu tentang hal-hal yang kau abaikan, hal-hal yang seharusnya kau lakukan tapi tak pernah kau perdulikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Untuk kali ini Dian, dengarkan aku. Buang semua harga dirimu, telan dan jangan kau jadikan petunjuk. Sebab jika tidak, kau sendiri yang akan hancur. Dengarkan aku. Apa yang kau inginkan, lakukan. Untuk kali ini, tak perlu lah ada pengekangan. Tak perlu kau sok tegar, sok kuat, sok membusungkan dada menjadikan semua yang lahir dari gerak penamu bermakna. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Dengarkan aku, kau butuh istirahat. Kau butuh mengembalikan lagi kebahagiaan dan sensasinya menggerakkan pena. Kalau memang tulisanmu tak ingin selesai, biarkan saja. Kau butuh pelepasan setelah menahan diri untuk terfokus begitu lama. Kalau tulisan-tulisan yang lahir dari pemikiranmu tak ingin beraturan, biarkan saja. Lepaskan, bebaskan. Ya karena saat itu pikiranmu memang sedang tak beraturan. Dan kelelahan yang membebanimu membuat dirimu tak mampu mengaturnya.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Lakukan semua yang kau inginkan. Kalau kau memang sedang tak ingin peduli dengan kebaikan dan segala tata norma, lakukan saja. Tidak masalah. Sisakan saja sedikit, yang betul-betul penting dan memang tak boleh ditinggalkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Kalau memang saat-saat ini, yang lahir dari tanganmu hanyalah sebuah pelepasan, lepaskan saja. kata L.A.Light, kalau tidak salah, ekspresikan aksimu. Lakukan saja semua yang kau mau. Tidak usah peduli orang akan mengatakan apa. Yang terpenting, kau sembuh dulu. Setelah itu, baru boleh kau pikirkan segala macam kebaikan dan tata norma.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Kau masih mendengarku kan? Lahirkan apapun yang ingin kau lahirkan, tanpa perlu kau berfikir apa ia akan lahir sempurna ataukan cacat permanen sebab hanya terlahir separuh, tak perlu berfikir akan seperti apa orang menilainya. Kau dengar, kau sedang perlu mengosongkan isi otakmu. Sebelum mengisinya kembali. Ibarat gelas, kau harus disikat sampai bersih sebelum dipakai untuk minum lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Jangan hanya tunduk diam, kau dengar? Aku paling tidak suka itu. Aku mengenalmu, Dian. Sebab menerima tanpa perdebatan itu bukan watakmu. Tanpa perdebatan dan tanpa pertanyaan bagimu adalah berarti kau akan meninggalkan semua petuahku begitu saja. lenyap bersama angina.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Kau camkan baik-baik, untuk pelepasan ini, untuk pengosongan ini, lupakan bahwa kau hampir selalu punya tujuan. Kembalikan sensasi dan bahagianya dalam dadamu, agar kau bisa kembali berjalan dengan tatapan ke depan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Akupun mengatakan ini padamu tanpa pernah berfikir bagaimana urutan kata-kataku. Yang terpenting bagiku adalah berusaha memahamkanmu bahwa selalu mengacungkan harga diri dan menekan kebebasan berfikirmu hanya akan mematikan dirimu sedikit demi sedikit. Mematikan kebahagiaan yang selama ini berusaha kau susun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Kau ingat, kau pernah mengatakan padaku bahwa menulis bagimu sudah seperti candu. Candu yang tidak akan pernah kau lepaskan, candu yang sudah menyatu dengan denyut nadimu, aliran darahmu. Apa kau mau denyut nadi dan aliran darahmu berhenti tiba-tiba karena kesalahanmu? Aku tahu kau tidak akan menerima itu. Karena itu, kau harus mendengarku. Melakukan semua yang kuminta darimu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Malang, 2 Juni 2011&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/7747925875075881186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/cerpen-titipan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/7747925875075881186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/7747925875075881186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/cerpen-titipan.html' title='Cerpen titipan'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299813280538351645.post-364555712242307868</id><published>2011-06-05T22:35:00.000-07:00</published><updated>2011-06-05T22:35:30.897-07:00</updated><title type='text'>Cerpen</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val=&quot;Cambria Math&quot;/&gt;    &lt;m:brkBin m:val=&quot;before&quot;/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val=&quot;--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val=&quot;off&quot;&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val=&quot;0&quot;&gt;    &lt;m:rmargin m:val=&quot;0&quot;&gt;    &lt;m:defjc m:val=&quot;centerGroup&quot;&gt;    &lt;m:wrapindent m:val=&quot;1440&quot;&gt;    &lt;m:intlim m:val=&quot;subSup&quot;&gt;    &lt;m:narylim m:val=&quot;undOvr&quot;&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState=&quot;false&quot; DefUnhideWhenUsed=&quot;true&quot;
  DefSemiHidden=&quot;true&quot; DefQFormat=&quot;false&quot; DefPriority=&quot;99&quot;
  LatentStyleCount=&quot;267&quot;&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;0&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Normal&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 7&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 8&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 9&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 7&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 8&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 9&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;35&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;caption&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;10&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Title&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; Name=&quot;Default Paragraph Font&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;11&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtitle&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;22&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Strong&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;20&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Emphasis&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;59&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Table Grid&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Placeholder Text&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;No Spacing&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Revision&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;34&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;List Paragraph&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;29&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Quote&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;30&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Quote&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;19&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Emphasis&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;21&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Emphasis&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;31&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Reference&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;32&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Reference&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;33&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Book Title&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;37&quot; Name=&quot;Bibliography&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;TOC Heading&quot;/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;;
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:&quot;&quot;;
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin:0cm;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
 mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: left; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Dapat titipan cerpen dari teman. Belum kubaca juga sih....hehe&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val=&quot;Cambria Math&quot;/&gt;    &lt;m:brkBin m:val=&quot;before&quot;/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val=&quot;--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val=&quot;off&quot;&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val=&quot;0&quot;&gt;    &lt;m:rmargin m:val=&quot;0&quot;&gt;    &lt;m:defjc m:val=&quot;centerGroup&quot;&gt;    &lt;m:wrapindent m:val=&quot;1440&quot;&gt;    &lt;m:intlim m:val=&quot;subSup&quot;&gt;    &lt;m:narylim m:val=&quot;undOvr&quot;&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState=&quot;false&quot; DefUnhideWhenUsed=&quot;true&quot;
  DefSemiHidden=&quot;true&quot; DefQFormat=&quot;false&quot; DefPriority=&quot;99&quot;
  LatentStyleCount=&quot;267&quot;&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;0&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Normal&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 7&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 8&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 9&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 7&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 8&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 9&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;35&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;caption&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;10&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Title&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; Name=&quot;Default Paragraph Font&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;11&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtitle&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;22&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Strong&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;20&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Emphasis&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;59&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Table Grid&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Placeholder Text&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;No Spacing&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Revision&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;34&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;List Paragraph&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;29&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Quote&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;30&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Quote&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;19&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Emphasis&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;21&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Emphasis&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;31&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Reference&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;32&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Reference&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;33&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Book Title&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;37&quot; Name=&quot;Bibliography&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;TOC Heading&quot;/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;;
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:&quot;&quot;;
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin:0cm;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
 mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: center; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;BUNGKUS ROKOKMU&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: center; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Oleh: Jayaning S A&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Oke, oke. Aku tahu aku salah kalau tak mengatakan ini padamu. Tapi mau bagaimana, kita tidak kenal baik. Nanti malah menyulut pertengkaran. Jadi kurasa lebih baik diam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Tapi jengkel juga tak bisa mengatakannya. Betul-betul mengganggu. Dengan pemikiran kalau tidak mengungkapkannya itu salah, dan emosi tinggi karena kau tak sadar kalau itu salah, membuat kepalaku makin sakit. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Tidak enak sekali menahan diri begini. Ah rasanya aku tahu cara meluapkan emosi dengan aman. Kuambil polpen dari dalam tas dan kugenggam erat. Ya, polpen ini kuanggap sebagai ganti dirimu. Kugumamkan semua yang ingin kukatakan sembari mencengkeram kuat-kuat, seolah-olah sedang kulakukan ini padamu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Kau harusnya tidak membuang bungkus rokokmu dengan melemparkannya begitu saja lewat jendela bus. Apalagi bus sedang melaju kencang. Coba kau pikir, bagaimana kalau saat itu di luar sedang banyak kendaraan lalu lalang dengan kecepatan tinggi dan bungkus rokokmu memecah konsentrasi salah satu pengemudi sepeda motor? Motornya akan oleng. Dan bagaimana kalau motor-motor di sampingnya juga sedang melaju kencang? Kalau sampai terjadi kecelakaan, kaulah yang jadi penyebab sebenarnya. Meski tidak secara langsung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Tapi kau kan laki-laki. Kau pasti tak suka kalau ada yang mengkritik perilakumu. Sebab menurutmu, kritikan itu melukai harga diri dan kebanggaanmu sebagai laki-laki. Aduh, apalagi berseragam SMA. Orang-orang seumurmu paling tidak suka nasehat apalagi kritik. Komplainku pasti kau anggap sebagai permusuhan. Dan kau pasti melawan, bagaimanapun caranya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Atau kau sudah memilih kondisi dimana tak ada kendaraan lain di sekitar bus kita saat melempar bungkus rokokmu, tapi kemudian ia terlempar ke pinggir jalan, tertutup debu, dan sedikit demi sedikit tertimbun tanah. Jika ada satu orang sepertimu setiap harinya, maka keturunan kita harus membersihkan dulu tanah-tanah yang memadat sebelum mulai menanam. Dan ketika tanh-tanah yang dibersihkan, satu diantara sekian banyak yang disingkarkan adalah bungkus rokokmu. Artinya, kau ikut bertangggungjawab atas ketidaksuburan tanah itu, juga biaya besar yang harus dikeluarkan anak turun kita hanya agar tanahnya dapat ditanami kembali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Atau bagaimana kalau di dekat-dekat sini ada sungai dan pada akhirnya bungkus rokokmu terjun bebas ke sungai? Misalnya saja ada satu orang sepertimu tiap harinya, coba kau pikirkan bagaimana keadaan sungai itu dalam setahun? Pernah terfikir tidak sih di benakmu betapa tidak cantiknya sungai yang bersampah? Sungai yang harusnya jadi tempat air mengalir, berubah makna jadi tempat air yang berbau.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Aduh, bagaimana ini? Semakin banyak yang kungkapkan, bukannya semakin lega. Malah makin marah diriku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Aku punya cerita tentang seorang nenek penjual pisang. Bukan cerita klasik tentang putri cantik dan pangeran kaya sih, tapi kau harus tetap dengarkan. Ini penting. Waktu aku datang ke tempat biasa ia berjualan, nenek itu tak ada. Kuedarkan pandang sekeliling, dan kulihat nenek itu berjalan dari tepi sungai kecil di samping tembok sebuah gedung. Pikirku, nenek itu darimana. Kuikuti jalan yang ia susuri dengan pandangku, dan kutemukan satu gubug reyot menempel pada tembok. Lalu pandangku terpaku pada ceceran sampah di aliran sungainya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Coba bayangkan bungkus rokokmu itu jatuh ke sungai, terbawa arus air, dan tersangkut bersama ceceran sampah lain yang mana rumah-rumah penduduk dibangun tepat di pinggir sungai. Bagaimana perasaanmu? Kalau kau berani katakan, ‘Aku memang buang ke sungai, tapi tidak ke sungai yang banyak rumahnya seperti itu. Jadi tidak apa-apa.’ Pasti kugebuk kepalamu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Pernah tahu majalah Mentari Putra Harapan yang terbit sekitar empat belasan tahun yang lalu? Dengan tokoh Tiwuk yang selalu membawa palu godam untuk memukul teman-temannya tatkala ia jengkel? Aku ingin pinjam palu itu sebentar saja. Khusus untuk menggebuk kepalamu.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Kubayangkan saja kalau aku sudah menggebuk kepalamu dengan palu Tiwuk. Saat itu juga aku merasa lega. Jangan pikir enak ya menahan diri dari sesuatu yang sangat ingin dilakukan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Nah karena sekarang sudah lega, kumasukkan kembali polpenku ke dalam tas. Kupalingkan wajah ke luar jendela, melahap hamparan hijau pegunungan. Lebih nyaman begitu. Pura-pura tidak tahu saja dengan yang terjadi di dalam bus. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Saat hampir tertidur, kudengar suara seseorang meminta ijin untuk duduk di sampingku. Segera aku menoleh dan betapa tidak enaknya mendapati bahwa kaulah itu. Terpaksa sekali kukatakan ‘Iya’. Tanpa embel-embel Mas tentunya. Mas adalah panggilan kehormatan, untuk orang yang dihormati. Tapi kau dan bungkus rokokmu? Tidak, kau tidak berhak mendapat sebutan itu. Hah, duduk bersamamu pasti menjengkelkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Sekilas kulirik, bukan seragam SMA ternyata. Hanya warnanya saja yang sama : putih lengan pendek. Dan saat kulihat wajahmu, mestinya &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;seumuran denganku. Atau mungkin lebih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Hmm, kelihatannya kau mahasiswa. Atau pekerja yang baru saja menapaki jenjang karirnya. Penampilanmu meyakinkan. Kalau begitu, harusnya kau itu pintar. Dan karena kau pintar, kau tentunya tahu keadaan lingkungan di negara-negara maju. Bersih. Apa kau tidak iri? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Rasanya ingin kulemparkan lirikan sinis padamu. Tapi mungkin bakal sia-sia. Kan kau tidak tahu sebab kemarahanku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Ah, kau sama sekali tak ambil pusing dengan ketidaknyamananku. Baik, kalau begitu aku juga tidak mau ambil pusing denganmu. Tapi kenapa tindakan dan bungkus rokokmu tak juga mau hilang dari kepalaku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Bingung aku. Apa seharusnya aku bicara saja padamu tentang bungkus rokokmu? Tapi kau lempar bungkus rokok itu sudah sejam yang lalu. Kalau bicara sekarang rasanya terlambat sekali. Bagaimana ini baiknya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Saat aku masih kebingungan bagaimana harus bersikap, kau turun. Ya sudah, mau apalagi. Semoga saja aku tidak bertemu denganmu lagi dengan perkara bungkus rokokmu. Sudah cukup sekali saja kau buat pusing kepalaku. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 42.55pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Malang, 31 Mei 2011&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val=&quot;Cambria Math&quot;/&gt;    &lt;m:brkBin m:val=&quot;before&quot;/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val=&quot;--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val=&quot;off&quot;&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val=&quot;0&quot;&gt;    &lt;m:rmargin m:val=&quot;0&quot;&gt;    &lt;m:defjc m:val=&quot;centerGroup&quot;&gt;    &lt;m:wrapindent m:val=&quot;1440&quot;&gt;    &lt;m:intlim m:val=&quot;subSup&quot;&gt;    &lt;m:narylim m:val=&quot;undOvr&quot;&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState=&quot;false&quot; DefUnhideWhenUsed=&quot;true&quot;
  DefSemiHidden=&quot;true&quot; DefQFormat=&quot;false&quot; DefPriority=&quot;99&quot;
  LatentStyleCount=&quot;267&quot;&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;0&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Normal&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 7&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 8&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 9&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 7&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 8&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 9&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;35&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;caption&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;10&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Title&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; Name=&quot;Default Paragraph Font&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;11&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtitle&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;22&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Strong&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;20&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Emphasis&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;59&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Table Grid&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Placeholder Text&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;No Spacing&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Revision&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;34&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;List Paragraph&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;29&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Quote&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;30&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Quote&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 1&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 2&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 3&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 4&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 5&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 6&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;19&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Emphasis&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;21&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Emphasis&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;31&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Reference&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;32&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Reference&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;33&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Book Title&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;37&quot; Name=&quot;Bibliography&quot;/&gt;   &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;TOC Heading&quot;/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;;
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:&quot;&quot;;
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin:0cm;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
 mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ururureaoka.blogspot.com/feeds/364555712242307868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/cerpen.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/364555712242307868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299813280538351645/posts/default/364555712242307868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ururureaoka.blogspot.com/2011/06/cerpen.html' title='Cerpen'/><author><name>Mio Heilig-Ahn</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10036385186690837043</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMkAjMJy1l_Wx5DDDM3yvO5rtXBFZr387nBMLtl_58jFwz3Ry1X7BiXhbNh8mthp4qijaSnjqduGec9Pbgf8Mgr39HLCyfxVggYs_Kms7c8TNklzV9f5GDtzhoYyTGHKU/s220/Cat_Super_Cute.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>