<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;DkAGQHg5fyp7ImA9WhRbFUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228</id><updated>2012-02-06T14:52:01.627+07:00</updated><category term="Puisi" /><category term="Kehidupan" /><category term="Motivasi" /><category term="Modul" /><category term="Berita" /><title>Val's Book</title><subtitle type="html">Kumpulan catatan yang membuat diri hanyut dalam suatu kenikmatan, kebahagiaan, keindahan, kedewasaan dan motivasi agar menjadi lebih baik.</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>146</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/ValensPranasetyawan" /><feedburner:info uri="valenspranasetyawan" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;DkAGQHg_eSp7ImA9WhRbFUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-1001247918684470055</id><published>2012-02-06T14:51:00.001+07:00</published><updated>2012-02-06T14:52:01.641+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-06T14:52:01.641+07:00</app:edited><title>Menjadi Orang Tua Bagi Manusia, Bukan Robot</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-VbbGaxg77hA/Ty-GZdihm2I/AAAAAAAAA8E/kvFcbPEFKGQ/s1600/gm-robot-marvin.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-VbbGaxg77hA/Ty-GZdihm2I/AAAAAAAAA8E/kvFcbPEFKGQ/s320/gm-robot-marvin.jpg" width="235" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
“Dilihat dari faktor kemauan untuk maju, saya mengelompokkan guru menjadi tiga jenis. Pertama, &lt;b&gt;guru robot&lt;/b&gt;,
 yaitu guru yang bekerja persis seperti robot. Mereka hanya masuk kelas,
 mengajar, lalu pulang. Mereka hanya peduli pada beban materi yang harus
 disampaikan kepada siswa. Kedua, &lt;b&gt;guru materialistis&lt;/b&gt;, 
yaitu guru yang selalu melakukan perhitungan mirip dengan aktivitas 
bisnis jual beli. Parahnya yang dijadikan patokan adalah hak yang mereka
 terima, barulah kewajiban dilaksanakan sesuai hak yang mereka terima. 
Ketiga, &lt;b&gt;gurunya manusia&lt;/b&gt;, yaitu guru yang memiliki 
keikhlasan dalam belajar dan mengajar. Guru yang punya keyakinan bahwa 
target pekerjaannya adalah membuat para siswa berhasil memahami 
materi-materi yang diajarkan” (Munif Chatib dalam buku “Gurunya 
Manusia”, Kaifa, Jakarta, 2011, halaman 64).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Saya memang menyukai bukunya Munif Chatib, karena 
sangat inspiratif bagi saya. Dua tulisan saya sebelumnya, semua juga 
mengutip dan mangambil inspirasi dari buku bang Munif, untuk saya bawa 
ke dalam pembahasan tentang pendidikan di dalam keluarga. Hal ini karena
 saya sangat meyakini bahwa perbaikan bangsa dimulai dari pendidikan, 
dan pendidikan dimulai dari rumah dan sekolah.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Orang Tua Robot, Orang Tua Materialistis&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Ketika Munif mengelompokkan guru menjadi tiga 
jenis, yaitu guru robot, guru materialis dan gurunya manusia, maka dalam
 kehidupan keluarga, orang tuapun bisa dikelompokkan serupa itu. Orang 
tua adalah guru dan pendidik pertama dan utama di dalam kehidupan rumah 
tangga. Maka ada tipe orang tua robot, orang tua materialistis, dan 
orang tuanya manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Orang tua robot&lt;/b&gt; adalah ayah dan 
ibu yang bertindak seperti robot, tanpa perasaan. Bekerja mekanis : ayah
 bekerja mencari nafkah, ibu mengurus rumah tangga. Ayah pulang kerja, 
masuk rumah, membaca koran, nonton TV, makan, doa dan tidur. Ibu 
memasak, mencuci baju, membersihkan rumah, menyiapkan sarapan sebelum 
anak-anak berangkat sekolah, membaca tabloid, nonton sinetron, doa 
dan tidur.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Tidak ada kehangatan di dalam keluarga tersebut, 
yang ada adalah suasana formal dan sangat kaku. Tidak ada kelembutan dan
 membuncahnya cinta dan kasih sayang. Yang lebih tampak adalah suasana 
saling asing di antara suami, isteri, dan anak-anak. Mereka berinteraksi
 secara formal dan tidak tampak suasana keharmonisan sebuah keluarga, 
karena lebih dominan suasana kesibukan masing-masing anggota keluarga, 
seakan mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki ikatan 
kekeluargaan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Ayah dan ibu tidak mengerti mengapa anaknya 
menangis. Ayah merasa sudah menunaikan kewajibannya, namun ternyata anak
 masih merajuk. Ibu merasa sudah menyiapkan keperluan sekolah anak, 
namun anak masih malas berangkat sekolah. Mereka tidak memahami bahasa 
perasaan, tidak mengerti bahasa hati, yang diketahui adalah bahasa 
kegiatan dan perbuatan praktis.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Orang tua materialis&lt;/b&gt; adalah ayah 
dan ibu yang selalu menjadikan materi sebagai tolok ukur segala sesuatu.
 Sejak kecil saat anak menangis, yang terpikir adalah “ia memerlukan 
makanan atau mainan apa?” Begitu anak menangis, pertanyaan ibu adalah, 
“Mau apa nak ? Jelly, atau Chiki ?” Pertanyaan ayah adalah, “Ayo kita 
beli mainan, kamu pengin mainan apa?” Mereka berpikir bahwa anak akan 
diam jika mendapat pemenuhan materi.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Ayah merasa sudah menjadi orang tua hanya karena 
memberikan keperluan material bagi anak-anak. Ia bekerja mencari nafkah,
 agar bisa memberikan kecukupan makan, pakaian dan papan bagi keluarga. 
Membayar uang sekolah anak-anak, membiayai kesenangan anak-anak, 
membelikan handphone, laptop, pulsa, blackberry, dan seterusnya. 
Membayar keperluan kesehatan, membiayai keperluan rekreasi, mencukupi 
sarana transportasi, seperti motor, mobil dan segala asesorisnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Ibu merasa sudah menjadi orang tua hanya karena 
mencukupi keperluan sekolah dan bermain anak-anak. Ibu sudah memenuhi 
belanja untuk anak-anak. Memasakkan berbagai makanan yang disenangi 
anak. Membelikan makanan dan minuman kesukaan anak-anak. Membelikan 
seragam sekolah anak, membelikan buku-buku pelajaran anak. Mengajak 
anak-anak untuk mengikuti berbagai kursus dan bimbingan belajar.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Orang Tuanya Manusia&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Sedangkan &lt;b&gt;orang tuanya manusia&lt;/b&gt; 
adalah ayah dan ibu yang terus menerus berusaha untuk mendidik anak 
dengan sepenuh hati. Selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi 
anak-anak, selalu berusaha menyayangi anak dan mengarahkan mereka menuju
 kebaikan. Orang tua yang selalu belajar dan meningkatkan kapasitas diri
 agar menjadi ayah dan ibu yang unggul dan tangguh dalam mendidik dan 
membersamai proses tumbuh kembang anak-anak.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Ketika anak menangis, orang tua memahami bahwa yang
 diperlukan adalah perhatian dan kasih sayang. Ketika anak merajuk, 
orang tua memahami bahwa yang diperlukan adalah sentuhan hati dari ayah 
dan ibu, bukan sentuhan materi. Orang tuanya manusia memahami bahwa ada 
kewajiban yang tidak sekedar materi, lebih dari itu orang tua harus 
memberikan pemenuhan kebutuhan spiritual, kebutuhan intelektual, 
percontohan moral, dan dukungan amal.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Orang tuanya manusia merasakan dengan hati, menyapa
 penuh kelembutan, mendorong penuh motivasi, menyentuh dengan perasaan. 
Ayah dan ibu yang selalu berusaha memberikan ketaladanan dalam 
kehidupan, selalu berusaha mencetak generasi yang mengerti dan komitmen 
terhadap nilai-nilai. Ayah dan ibu yang mengerti bahwa mereka memiliki 
kewajiban mengarahkan segenap potensi anak-anak menuju kehidupan yang 
penuh berkah, kebahagiaan dan keberhasilan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Karena anak-anak yang kita lahirkan adalah manusia 
dengan segala potensi yang utuh, maka kita tidak boleh menjadikan mereka
 sebagai robot, tidak boleh pula menggunakan pendekatan materialistis 
dalam berinteraksi dengan anak-anak. Harus melakukan pendekatan dari 
hati ke hati, dengan perasaan, dengan bahasa jiwa. Hanya orang tua yang 
sadar akan kelengkapan potensi anak-anak ini yang akan bisa 
menghantarkan mereka menuju gerbang keberhasilannya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Konsekuensi logisnya adalah, orang tua seperti ini 
harus selalu rela belajar, rela meningkatkan kapasitas dan kapabilitas 
dirinya agar selalu bisa melakukan hal yang tepat dan memberikan hal 
terbaik bagi anak-anaknya. Mereka selalu belajar, mencari ilmu, 
pengetahuan dan ketrampilan yang bermanfaat bagi upaya mendidik 
anak-anak. Orang tua humanis seperti inilah yang akan bisa menjadikan 
anak-anak yang sukses dalam kehidupan dunia dan akhirat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Semoga kita bisa menjadi orang tuanya manusia, karena anak-anak kita adalah manusia dengan segala potensi yang utuh.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-1001247918684470055?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PF5cYJ_RRFoxakkwT3Q2-UTI5xM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PF5cYJ_RRFoxakkwT3Q2-UTI5xM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PF5cYJ_RRFoxakkwT3Q2-UTI5xM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PF5cYJ_RRFoxakkwT3Q2-UTI5xM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/VhkTrxLrnxY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/1001247918684470055/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2012/02/dilihat-dari-faktor-kemauan-untuk-maju.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/1001247918684470055?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/1001247918684470055?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/VhkTrxLrnxY/dilihat-dari-faktor-kemauan-untuk-maju.html" title="Menjadi Orang Tua Bagi Manusia, Bukan Robot" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-VbbGaxg77hA/Ty-GZdihm2I/AAAAAAAAA8E/kvFcbPEFKGQ/s72-c/gm-robot-marvin.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2012/02/dilihat-dari-faktor-kemauan-untuk-maju.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE4GQnk4eCp7ImA9WhRUFk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-3159583346412079933</id><published>2012-01-27T08:15:00.000+07:00</published><updated>2012-01-27T08:15:23.730+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-27T08:15:23.730+07:00</app:edited><title>Hidup Itu Memilih</title><content type="html">&lt;div class="isi_artikel" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;

                        &lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apa target kamu dalam menjalani kehidupan? 
menjadi orang pinterkah?, orang kayakah? orang baikkah? orang bodohkah?,
 orang miskinkah?, orang jahatkah?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semua pasti akan memenuhi targetnya masing-masing sesuai dengan kemampuan masing- masing pula.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

namun masalahnya, tidak ada orang yang disebut baik, pinter, dan kaya jika tidak ada orang yang disebut bodoh, miskin, jahat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nah, disitu target kita untuk memilih menjadi orang yang mana, namun 
bukan berarti orang yang disebut bodoh, miskin, dan jahat tidak bisa 
memilih.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Orang-orang tersebut harus berusaha dan belajar dan berperilaku lebih lagi agar bisa menjadi orang yang disebut sebaliknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semua itu bisa terjadi hanya jika ada pilihan, sebagai contoh, jika ada 
orang yang mengajarkan ketidakbergunaan, berarti dia memilih untuk 
menjadi orang yang tidak baik dan seterusnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tetapi jika kita sudah mempunyai kriteria berhasil tersebut bukan 
berarti kita bisa memanfaatkan orang yang mempunyai kriteria sebaliknya,
 tetapi kita malah harus bekerjasama, walaupun masing- masing 
mendapatkan hasilnya berbeda sesuai pilihannya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika semua orang memenuhi kriteria yang bagus semua, maka keseimbangan itu tidak akan terjadi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

itulah yang dinamakan dinamika hidup dalam keseimbangan hidup.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jalu apa yang akan terjadi, jika pilihan pad diri sendiri itu mengandung
 unsur yang negatif dan positif, itu dinamakan piihan yang tidak stabil.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lalu jangan berpikiran bahwa pilihan negatif akan membawa kenikmatan, 
karena disitu akan ada peranan hukum dan kewenangan Tuhan YME, agar 
tidak terjadi kebar-baran hidup.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pilih yang manakah anda?&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-3159583346412079933?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vGd1r--KSNd9vtlpxFcx4B2B-W8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vGd1r--KSNd9vtlpxFcx4B2B-W8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vGd1r--KSNd9vtlpxFcx4B2B-W8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vGd1r--KSNd9vtlpxFcx4B2B-W8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/ynC-kr5S7Zk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/3159583346412079933/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2012/01/hidup-itu-memilih.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/3159583346412079933?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/3159583346412079933?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/ynC-kr5S7Zk/hidup-itu-memilih.html" title="Hidup Itu Memilih" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2012/01/hidup-itu-memilih.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUcMRHo-eCp7ImA9WhRVEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-7457790383391179747</id><published>2012-01-10T07:58:00.000+07:00</published><updated>2012-01-10T07:58:05.450+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-10T07:58:05.450+07:00</app:edited><title>Membaca Tidak Efektif Tanpa Menulis</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Saya jadi ingat potongan lagu anak-anak yang sering dinyanyikan dahulu :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;“.. Berhitung, menulis, membaca. Tak lupa diulang di rumah. Ingin akupun demikian, seperti Ruri abangku.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat ini anak saya yang berusia 5,5 tahun, duduk di tahun pertama 
sekolah dasar sedang mengalami masa awal belajar yang ‘beneran’ di 
sekolahnya. Dalam catatan guru sebelum liburan kemarin, para orangtua 
diharapkan membantu anak-anak untuk matang berhitung 1-20 dan 
mengenalkan konsep dasar tambah dan kurang. Selain itu kami juga diminta
 untuk menekankan latihan baca-tulis agar anak bisa mencapai harapan 
lancar membaca sebelum naik kelas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRtr2gk1qpKiPE3-eg-6Mhg6ZpIJ_6UItt2pDToJig6DnG6swmcbSWxKyNT" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRtr2gk1qpKiPE3-eg-6Mhg6ZpIJ_6UItt2pDToJig6DnG6swmcbSWxKyNT" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Anak saya sangat berminat membaca. Di bulan pertama saya sering latih 
dia membaca kata-kata pendek yang dibekali oleh guru kelas. Pendekatan 
membaca dengan peka pada bunyi cukup membantu anak saya untuk 
menggabungkan huruf. Ada yang bilang ini pendekatan fonetik. Bahwa 
setiap huruf punya bunyinya. Apa yang terdengar, itulah yang tertulis. 
Namun rupanya saya melakukan kesalahan fatal ketika tidak membarengi 
kegiatan membaca ini dengan aktivitas menulis yang juga intens.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karena sesungguhnya ada beberapa kata yang tidak terlalu simpel 
peluruhan bunyinya. Dengan sering membaca dibarengi menulis, anak 
terbiasa mengenal bentuk kata juga. Kegiatan mengenal bunyi dan bentuk 
kata sebenarnya sudah bisa dilakukan sejak bayi. Setelah anak mahir 
menulis, bentuk dan bunyi itu menjadi konkrit dari pengalaman dia 
menorehkan sendiri ‘gambar’nya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari sekedar menuliskan kata per kata, mengajak anak menulis kalimat 
juga sangat menolongnya mengerti makna kata. Karena walaupun ia lancar 
membaca, bisa jadi itu hanya manifestasi kelancarannya menggabungkan 
bunyi, mengingat bentuk katanya atau gabungan keduanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-I97wrD_VgZ0/TcVBCXj6hZI/AAAAAAAAAEU/GYJBYv8AlTo/s1600/reading.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-I97wrD_VgZ0/TcVBCXj6hZI/AAAAAAAAAEU/GYJBYv8AlTo/s320/reading.jpg" width="319" /&gt;&lt;/a&gt;Kegiatan kita, para dewasa yang gemar membaca dan menulis, yang kemudian
 menjadi tontonan lazim bagi anak-anak juga memotivasi mereka untuk ikut
 membaca dan menulis. Anak saya sangat penasaran untuk bisa membaca 
karena saya dan suami menghabiskan waktu di perjalanan dengan membaca. 
Setiap malam ‘mantengin’ komputer, membaca banyak teks, tak tik di 
keyboard sambil sesekali mencatat di kertas. Mungkin baginya kegiatan 
itu terlihat begitu mengasyikkan sampai kami kadang-kadang 
mengacuhkannya! Jadi ia ingin sekali merasakan rasa asyiknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengenai menulis, dari hasil pengamatan anak saya yang ada 3 orang ini, 
si kecil yang belum dua tahun mulai belajar membuat oret-oretan. Si tiga
 tahun sedang memperlancar mewarnai dengan ’sempurna’, tidak keluar 
garis, membuat lingkaran utuh, membuat bentuk-bentuk, sambil belajar 
menulis namanya. Si besar sejak 4 tahun sudah percaya diri menulis 
namanya dengan ejaan yang benar. Jika saat itu saya mulai ajak agar 
terbiasa menuliskan kata lain (tanpa mencontoh) mungkin saat ini ia 
lebih lancar membaca dan menulisnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tapi konon sebagai orangtua kita juga tidak boleh memaksakan dan harus 
menyesuaikan dengan kesiapan anak tersebut. Tanggung jawab kita adalah 
memberi lingkungan yang kondusif baginya untuk memaksimalkan setiap 
tahapan pertumbuhan. Sekarang saya baru sadar tentang pentingnya 
menulis. Baru sebentar saja saya belikan alat tulis yang lucu dengan 
buku serbaguna (boleh digambar, boleh ditulis, boleh digunting), 
sekarang si besar dan tengah mulai sering menulis. Bahkan si besar 
menenteng buku dan pensilnya kemanapun pergi dan menuliskan kata-kata 
yang dia lihat. Terasa signifikan kemampuannya memaknai kata sekarang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya jadi berfikir, kalau efek membaca diimbangi dengan menulis pada 
anak sekecil itu saja bisa begitu besar, apalagi bagi orang dewasa. Jadi
 marilah kita lebih sering menulis. Ketika menulis, otak kita 
‘olahraga’, kitapun jadi lebih mengerti apa yang kita fikirkan 
sebelumnya. Kata dosen saya dulu, saat menulis jangan langsung diedit 
dan rendah diri bahwa tulisan itu tidak perlu atau tidak bagus. Yang 
penting keluarkan dulu apa yang terfikir. Menulis jurnal harian saja 
(untuk konsumsi pribadi) juga sudah cukup sebagai langkah awal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yuk sering-sering menulis!&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
oleh &lt;a href="http://www.kompasiana.com/finaisme" target="_blank"&gt;finaisme &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-7457790383391179747?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mGhe9h4zD-kqpLwjsrLih9PIOqc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mGhe9h4zD-kqpLwjsrLih9PIOqc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mGhe9h4zD-kqpLwjsrLih9PIOqc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mGhe9h4zD-kqpLwjsrLih9PIOqc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/TbUEOUcvHrs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/7457790383391179747/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2012/01/membaca-tidak-efektif-tanpa-menulis.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/7457790383391179747?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/7457790383391179747?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/TbUEOUcvHrs/membaca-tidak-efektif-tanpa-menulis.html" title="Membaca Tidak Efektif Tanpa Menulis" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-I97wrD_VgZ0/TcVBCXj6hZI/AAAAAAAAAEU/GYJBYv8AlTo/s72-c/reading.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2012/01/membaca-tidak-efektif-tanpa-menulis.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0YEQXg4cCp7ImA9WhRXE0k.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-4193625971950340407</id><published>2011-12-20T08:38:00.001+07:00</published><updated>2011-12-20T08:38:20.638+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-20T08:38:20.638+07:00</app:edited><title>Ibuku dan Petuah Sederhananya</title><content type="html">&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;

Ibu saya suka sekali mendongeng. Kalau anak-anak lain didongengi &lt;em&gt;&lt;strong&gt; Kancil Nyolong Timun&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, beda dengan saya. Ibu selalu mendongengi saya tentang kehidupan. Dengan sabar dia mengulang-ulang dongeng kehidupan &lt;strong&gt;laksana air yang melubangi &amp;nbsp;batu, setetes demi setetes akhirnya si batu pun perlahan berlubang&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-29aAxRqAmc0/TcV-J6ghN-I/AAAAAAAABcQ/YlCoV9KH718/s1600/kasih-ibu.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-29aAxRqAmc0/TcV-J6ghN-I/AAAAAAAABcQ/YlCoV9KH718/s320/kasih-ibu.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Ibu saya hanyalah wanita sederhana, hampir buta huruf karena sekolah SD 
hanya sampai kelas 5. Beliau lahir di pertengahan tahun ‘60an dimana 
penghidupan sangat sulit karena banyak kejadian penting terjadi di 
Indonesia pada tahun-tahun tersebut, tapi itu tidak membuatnya jadi 
orang yang kolot. Bahkan saya tidak habis pikir darimana dia mendapat 
ide &amp;nbsp;mendidik kami anak-anaknya dengan cara yang tidak konvensional.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Saya sebut tidak konvensional karena sejak kami kecil, Ibu selalu menerapkan sistem &amp;nbsp;&lt;em&gt;demokrasi&lt;/em&gt;. &lt;strong&gt;Dia
 juga dapat menempatkan diri sesuai situasi, kadang berjalan di depan 
kami (jadi tauladan dan pemimpin bagi anak-anaknya), kadang berjalan 
beriringan dengan kami (jadi sahabat dan tempat curhat) dan juga 
berjalan di belakang kami (jadi pemandu sorak, pemasok semangat dan 
dukungan untuk anak-anaknya). &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Banyak sekali ajarannya yang masih saya ingat. Dari yang klise sampai ke
 hal sederhana yang kadang kita lewatkan. Saya tidak tahu secara persis 
bagaimana dia terpikir dengan hal-hal itu. Mungkin karena hidupnya yang 
keras? Entahlah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Nasehat yang paling membekas di ingatan saya adalah ketika Ibu berkata, &lt;strong&gt;“Nduk, nanti kalau sudah dewasa jadilah orang yang &lt;em&gt;ngerti&lt;/em&gt;. Di dunia banyak sekali orang pintar tapi belum tentu mereka &lt;em&gt;ngerti&lt;/em&gt;
 karena untuk jadi pintar lebih mudah daripada belajar ngerti. Dengan 
ngerti, kamu dituntut melepas egomu dan lebih memahami orang lain, harus
 mau &amp;nbsp;mengalah. Lebih baik lagi kalau kamu bisa jadi orang pintar yang 
mengerti agar kamu tidak keblinger seperti orang-orang pinter yang suka 
memintari orang lain.”&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Kejujuran juga hal yang harus dipegang teguh menurutnya karena dengan 
modal jujur, kemana pun kita pergi, di mana pun kita menetap, kita akan 
selalu dilimpahi keberuntungan dan kemudahan. Hal yang terlihat sepele 
tapi punya makna dalam dan susah penerapannya. Berapa banyak dari kita 
yang bisa &lt;strong&gt;murni jujur? Jadi orang jujur itu tidak mudah memang tapi bukan tidak mungkin, kan?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Satu hal lagi yang membuat saya bangga padanya, bukan hanya karena dia 
telah melahirkan dan membesarkan saya &amp;nbsp;yang menjadikannya wanita 
teristimewa. Dia seorang pekerja keras yang tak mengenal lelah. &amp;nbsp;Dia 
suka membantu orang dan selalu menerapkan motto &lt;strong&gt;sepi ing pamrih, rame ing gawe&lt;/strong&gt;. Satu-satunya pamrih mungkin ketika dia berharap suatu saat jika dia 
kesusahan, ada yang mau menolongnya seperti dia menolong orang lain. 
Selflessness :)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Dia juga yang menginspirasi saya untuk tidak berhenti belajar, karena 
suatu saat nanti saya ingin menjadi wanita yang kuat dan hebat seperti 
dia. Entah apa saya akan sanggup tapi saya akan berusaha semampu saya. 
Sisi optimis saya berkata, “Kalau orang lain sanggup, kenapa aku 
tidak?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Tak kan pernah cukup kata-kata untuk mengungkap terimakasihku , Ibu. 
Selamat Hari Ibu kepadamu , Ibu. Selamat Hari Ibu juga bagi ibu-ibu di 
Kompasiana. Salutku untuk kalian para wanita cerdas nan perkasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Every day is Mother’s Day.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-4193625971950340407?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0RjN-xRUY_EdaSsTo5pDMzbGxmg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0RjN-xRUY_EdaSsTo5pDMzbGxmg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0RjN-xRUY_EdaSsTo5pDMzbGxmg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0RjN-xRUY_EdaSsTo5pDMzbGxmg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/_C_5bgNxNzY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/4193625971950340407/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/12/ibuku-dan-petuah-sederhananya.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/4193625971950340407?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/4193625971950340407?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/_C_5bgNxNzY/ibuku-dan-petuah-sederhananya.html" title="Ibuku dan Petuah Sederhananya" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-29aAxRqAmc0/TcV-J6ghN-I/AAAAAAAABcQ/YlCoV9KH718/s72-c/kasih-ibu.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/12/ibuku-dan-petuah-sederhananya.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUQCQHsyeCp7ImA9WhRQEU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-4421656975070007449</id><published>2011-12-06T09:07:00.001+07:00</published><updated>2011-12-06T09:09:21.590+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-06T09:09:21.590+07:00</app:edited><title>Sudahkan Berfikir Kritis, Kreatif, dan Problem Solving?</title><content type="html">&lt;div class="isi_artikel" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;

                        
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Anak adalah masa depan kita. Benar tidak ??? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Perkembangan
 anak dipengaruhi oleh pola asuh kita saat ini, tentunya dipengaruhi 
juga oleh lingkungan belajar anak di sekolah. Pembelajaran adalah hal 
utama dalam pendidikan. Proses belajar akan mencapai hasil yang optimal 
apabila terjadi interaksi antara pendidik dan peserta didik. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Proses
 pendidikan masa lalu seperti menuang air di dalam botol sudah banyak di
 tinggalkan. Dan saat ini perlu adanya inovasi pembelajaran yang 
mendorong kemampuan berfikir mereka diantaranya berfikir kritis, kreatif
 dan problem solving.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Berpikir kritis merupakan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;kemampuan
 dan kesediaan untuk membuat penilaian terhadap berbagai pernyataan dan 
mengambilkan keputusan, yang didasarkan pada alasan dan fakta yang 
memiliki dukungan yang baik, bukan berdasarkan emosi atau anekdot. 
Berfikir kritis dapat muncul pada anak yang memiliki keingin tahuan yang
 tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Lalu seperti apakah anak kritis ini ???????&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Ciri-ciri
 anak kritis ini adalah memiliki kemampuan dalam berkomunikasi, Percaya 
Diri (PD) yang tinggi, dan yang terakhir memiliki kemampuan bahasa dan 
rasa yang baik. Sebuah cara yang mendorong anak berfikir kritis adalah 
dengan menghadapkan mereka pada topik-topik kontroversional. Dengan 
debat, dapat memitivasi siswa untuk meneliti topik secara mendalam dan 
menguji masalah-masalah, dan apabila guru tidak menyatakan pandangan 
mereka, maka siswa akan bebas untuk mengeksplorasikan 
perspektif-perspektif mereka yang beragam. Tahapan berfikir kritis 
yatitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; Keterampilan menganalisis,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Keterampilan mensintesis,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;
Keterampilan mengenal dan memecahkan masalah,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Keterampilan 
menyimpulkan, dan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Keterampilan mengevaluasi atau menilai.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Setelah
 berfikir kritis, selanjutnya adalah kreatif. Kreatif dapat diartikan 
dengan kemampuan menghasilkan suatu pekerjaan atau hasil karya yang baru
 dan bermanfaat. Novelty (sesuatu yang baru) adalah komponen utama dalam
 kreativitas. Novelty merupakan keaslian dan ide yang benar-benar baru 
serta merupakan penggabungan dari dua hal ataupun dua pemikiran atau 
lebih. Menurut tokoh yaitu Munadar, sifat utama yang menjadikan anak 
kreatif adalah Kepekaan terhadap masalah, aliran gagasan (memunculkan 
gagasan baru dan terlatih), keaslian (anak lebih menantang sesuatu yang 
asli secara sistematis), dan terakhir adalah fleksibilitas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Hal
 terpenting bagi guru dalam mendidik siswa yang kreatif adalah dengan 
menerima ide-ide siswa dan membantu siswa untuk membangun ide-ide yang 
lebih cemerlang. Pembelajaran yang baik pun juga mencakup dari belajar 
mengajar yang kreatif pula, dan memerlukan kualitas seperti sebuah 
pengetahuan, kemampuan untuk membaca situasi, sanggup mengambil resiko, 
dan kemampuan untuk memonitor dan mengavaluasi peristiwa-peristiwa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Lalu, bagaimana dengan problem solving ??????&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dan
 tujuan akhir dari pembelajaran yaitu menghasilkan siswa yang memiliki 
pengetahuan dan ketrampilan dalam memecahkan masalah yang dihadapi kelak
 di masyarakat.Tingkat belajar Problem solving merupakan tingkat belajar
 tertinggi sehingga dapat berlangsung jika proses belajar fundamental 
lainnya telah dikuasai. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Belajar
 pemecahan massalah mengacu pada proses mental individu dalam menghadapi
 suatu masalah untuk selanjutnya menemukan cara mengatasi masalah itu 
melalui proses berpikir yang sistematis dan cermat. Agar siswa dapat 
berhasil dalam memecahkan masalah, maka mereka harus memiliki : 
kemampuan mengingat konsep, informasi yang terorganisasi, dan kemampuan 
strategi kognitif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Guru
 sebaiknya mengajukan permasalah yang menarik bagi siswa, memberi 
petunjuk yang jelas, memberi kebebasan untuk siswa untuk berlatih 
merumuskan dan mencari alternatif dari masalah tersebut, dan memberi 
kesempatan untuk mencoba mengalami sendiri dan pembuktiannya sendiri. 
Dengan ini, guru dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar 
pemecahan masalah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Hmmmmmm…..
 Bagaimana dengan anda dan siswa-siswi di sekitar anda ??? sudahkah 
berfikir secara kritis, kreatif, dan problem solving ???&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-4421656975070007449?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8_u7BfN4lQiBE5GN8Dlu1sOAyME/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8_u7BfN4lQiBE5GN8Dlu1sOAyME/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8_u7BfN4lQiBE5GN8Dlu1sOAyME/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8_u7BfN4lQiBE5GN8Dlu1sOAyME/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/uWnb0ZMoo-c" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/4421656975070007449/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/12/sudahkan-berfikir-kritis-kreatif-dan.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/4421656975070007449?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/4421656975070007449?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/uWnb0ZMoo-c/sudahkan-berfikir-kritis-kreatif-dan.html" title="Sudahkan Berfikir Kritis, Kreatif, dan Problem Solving?" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/12/sudahkan-berfikir-kritis-kreatif-dan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkQFR3s8cCp7ImA9WhRRFkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-6307594783280142652</id><published>2011-11-30T06:43:00.001+07:00</published><updated>2011-11-30T06:45:16.578+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-30T06:45:16.578+07:00</app:edited><title>Nasihat Seekor Katak</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Suatu  hari, terpampang sebuah pengumuman. Kerajaan katak mengadakan  
sayembara. Sebuah mutiara diletakkan di puncak sebuah menara. Semua  
rakyat katak boleh mengikuti sayembara itu dan memenangkan hadiahnya.  
Atas undangan ini, berduyun-duyunlah segala jenis katak untuk  
mendaftarkan diri dan mengikuti sayembara. Tak urung ratusan katak  
mengikuti sayembara dimaksud.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah  peluit dibunyikan, semua katak berlomba untuk memanjat menara. 
Karena  jalanan sempit, banyak katak saling berdesakan dan terjepit. 
Tidak  sedikit pula katak terjatuh. Bahkan, ada pula katak meninggal 
dunia  karena kalah kuat bersaing, berdesakan, dan saling mendorong 
dengan  katak yang lebih kuat. Tentu saja jumlah katak pun berkurang. 
Kini,  tinggal katak yang agak kuat dan besar terus bersaing untuk 
mendapatkan  mutiara di puncak menara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ChkqPQ9Y6X8/Tdt7W-F9czI/AAAAAAAAAuw/AhmTS1_ClxA/s1600/2101anak-katak-.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-ChkqPQ9Y6X8/Tdt7W-F9czI/AAAAAAAAAuw/AhmTS1_ClxA/s1600/2101anak-katak-.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di  tengah perjalanan menuju puncak menara, banyak katak tak kuat dan  
akhirnya terjatuh. Mereka tak kuat menahan terpaan angin. Tidak sedikit 
 katak kelelahan dan kehabisan tenaga. Lalu, katak-katak itu  
berteriak-teriak, “Aduh, saya menyerah saja. Tak ada gunanya kita  
bersaing ini. Ayo, kita turun saja!”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teriakan  katak-katak itu menyurutkan semangat katak-katak lainnya. 
Lalu,  katak-katak itu mengiyakan kebenaran teriakan teman-temannya. 
“Untuk apa  kita memerebutkan mutiara di atas menara. Bikin capek saja. 
Toh mutiara  tidak enak dimakan!” Maka, berbalik arahlah katak-katak 
itu. Mereka pun  mulai menuruni menara itu. &lt;strong&gt;Mereka menyerah!&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun,  seekor katak terlihat terus menaiki menara itu. Seekor katak 
kecil itu  tidak menghiraukan teriakan teman-temannya. Katak kecil itu 
terlihat  sempoyongan karena diterpa angin yang semakin kencang 
meniupnya. Katak  itu terus bertahan untuk menaiki menara untuk 
mendapatkan mutiara.&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;Setelah bekerja keras menahan gempuran angin, katak kecil itu pun berhasil mendapatkan mutiara&lt;strong&gt;. &lt;/strong&gt;Sorak-sorai
  dan tepuk tangan pun membahana memecah angkasa. Mereka riuh-rendah  
memuji ketangguhan sang katak kecil yang berhasil mendapatkan mutiara.  
Setelah dikira cukup di puncak, katak itu pun turun dengan membawa  
mutiara yang baru saja didapatkannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah  tiba di daratan, banyak wartawan mengerubungi katak juara itu. 
Lalu,  katak kecil itu pun diserbu pertanyaan-pertanyaan dari sang 
wartawan.  “Apa konsep Anda sehingga dapat meraih juara?” teriak 
wartawan yang  berdesakan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun,  katak kecil itu tidak menjawab pertanyan para wartawan itu. 
Katak kecil  itu hanya tersenyum ramah. Katak kecil itu terus menebar 
senyum ramah  kepada semua hadirin dan wartawan. Tiba-tiba, seorang 
katak lain  menyahut, “Maaf, telinga katak saudaraku itu ditutupi kapas 
sehingga &lt;strong&gt;ia TULI&lt;/strong&gt; dan tidak mendengar pertanyaan 
Saudara-saudara. Saya lepas dulu  kapasnya” Setelah kapas itu dilepas, 
barulah katak kecil itu dapat  mendengar pertanyaan dan menjawabnya 
dengan ramah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Saudaraku,  banyak orang tidak menginginkan kita sukses. Banyak 
orang menginginkan  kita agar gagal meraih masa depan. Banyak orang 
berusaha menipu kita.  Banyak orang berusaha menggembosi semangat kita 
menuju sukses. Mereka  menginginkan kita agar menjadi manusia seperti 
mereka, yakni manusia  gagal. Lalu, apakah kita akan menuruti 
omongan-omongan dan ajakan-ajakan mereka?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jangan  bersikap demikian, Saudaraku. Meskipun banyak teman itu penting,
  sedikit teman dengan kualitas baik tentu menjadi pilihan terbaik. Oleh
  karena itu, kadang kita memang perlu bersikap tuli agar semangat kita 
 tidak mengendor. Tak perlu semua suara didengar karena itu justru dapat
  berakibat buruk bagi semangat kita.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-6307594783280142652?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/F4lyfZ2AqeggCp0UM_QFXGBdif4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/F4lyfZ2AqeggCp0UM_QFXGBdif4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/F4lyfZ2AqeggCp0UM_QFXGBdif4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/F4lyfZ2AqeggCp0UM_QFXGBdif4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/TF85SIyOVhA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/6307594783280142652/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/11/nasihat-seekor-katak.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/6307594783280142652?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/6307594783280142652?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/TF85SIyOVhA/nasihat-seekor-katak.html" title="Nasihat Seekor Katak" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-ChkqPQ9Y6X8/Tdt7W-F9czI/AAAAAAAAAuw/AhmTS1_ClxA/s72-c/2101anak-katak-.gif" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/11/nasihat-seekor-katak.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkYCQn86eip7ImA9WhRRFkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-2370801334188351748</id><published>2011-11-30T06:40:00.001+07:00</published><updated>2011-11-30T06:42:43.112+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-30T06:42:43.112+07:00</app:edited><title>Berdiam untuk Menang</title><content type="html">&lt;div class="isi_artikel" style="text-align: justify;"&gt;

                        &lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setiap orang mempunyai hal - hal yang positif
 dan negatif, begitupun juga dengan kehidupan ini ada negatif dan 
positif, ada hitam dan putih, ada gelap ada terang, ada sebab dan akibat, 
semua itu tidak bisa di hindari karena sudah ada dari dulu sampai 
sekarang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seberapapun buruknya kehidupan ini pasti ada titik terangnya tinggal 
kita sabar menghadapinya dan tawakal atas ujian dan cobaan tersebut. 
Dilihat dari kedua sisi tersebut apakah negara dan para orang yang 
berkepentingan sudah berpikir sampai sana..??? yang pasti jaman era 
sekarang ini semuanya serba terbalik hanya segelintir orang yang sadar 
akan negara ini tetapi mereka tidak bisa bertindak karena tidak 
mempunyai power yang kuat unutk melawannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika diperhatikan ternyata keterbalikan sudah mendarah daging dari 
atas sampai kalangan bawah, kita tidak bisa dipungkiri hal - hal semacam
 ini terjadi di sekitar kita..orang orang yang lemah dan tidak mempunyai
 power yang kuat tertindas oleh yang kuat, mereka hanya mengurut dada 
dan bersabar,, ada kata bijak yang sekarang ini berguna sekali “BERDIAM 
UNTUK MENANG DARI PADA BICARA LANTANG TAPI SALAH”. Dari kata-kata 
tersebut sudah jelas yang lemah hanya bisa berdiam dan yang kuat terus 
berbicara lantang merasa paling benar, akan tetapi sampai kapan ini 
berakhir.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hanya doa yang di panjatkan kepada-NYA bagi orang yang lemah supaya hal 
ini berakhir dan keadilan segera terungkap, maka dari itu bencana yang 
terjadi di negara ini jangan menyalahkan alam di sekitar kita tapi coba 
berintropreksi diri bagi yang merasa kuat, bencana tersebut merupakan 
teguran bagi mereka supaya berpikir bahwa Allah murka terhadap yang 
demikian. Coba cari di Kitab Suci ” DOA YANG DIKABULKAN OLEH ALLAH” yang 
salah satunya “DOA ORANG YANG TERANIYAYA”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya berharap kepada orang yang teraniyaya mudah - mudahan mendoakan 
negeri ini yang baik - baik saja jangan mendoakan supaya orang yang 
menganiyaya mereka supaya..????? AMIN…….&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari hal diatas sudah jelas dalam kehidupan ini terdapat pasangan - 
pasangan yang jelas dan nyata bahwa dalam kehidupan seseorang atau 
semuanya tidak akan terhindar dari hal - hal tersebut tetapi bagaimana 
kita menjalankan dan menerimanya, biarkan lah alurnya berjalan seperti 
apa yang diharapkan dan di cita - citakan asal jangan salah kaprah dan 
persepsi terhadap alur tersebut, hanya dengan AGAMA kita bisa 
menjalankan alur tersebut dengan baik dan benar.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-2370801334188351748?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yZOVPM6k3BWk6SyHNMZoPMHNPiQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yZOVPM6k3BWk6SyHNMZoPMHNPiQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yZOVPM6k3BWk6SyHNMZoPMHNPiQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yZOVPM6k3BWk6SyHNMZoPMHNPiQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/Gi-Ehox00Rw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/2370801334188351748/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/11/berdiam-untuk-menang.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/2370801334188351748?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/2370801334188351748?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/Gi-Ehox00Rw/berdiam-untuk-menang.html" title="Berdiam untuk Menang" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/11/berdiam-untuk-menang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk8ERns4eip7ImA9WhRREUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-5749569500895990077</id><published>2011-11-25T08:31:00.001+07:00</published><updated>2011-11-25T08:33:27.532+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-25T08:33:27.532+07:00</app:edited><title>Siapakah Aku?</title><content type="html">&lt;div class="isi_artikel" style="text-align: justify;"&gt;

                        &lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Setelah sekian lama terlahir di dunia aku 
terusik sebuah pertanyaan sederhana Siapakah AKU? Mungkin selama ini aku
 hanya tahu banyak sekali tentang orang lain Dari A sampai Z seseorang 
dengan segala kelebihan dan kekurangan bahkan aku akan berusaha mencari 
tahu sebanyak mungkin informasi tentang seseorang dengan bersusah payah.
 Bahkan aku dapat bercerita dengan lengkap tentang seseorang dengan 
segala bumbu tambahan bahkan dapat ku susun sebuah buku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-wEJXQFutvag/TnECkTjKlEI/AAAAAAAAANc/A9MVmAqganM/s1600/20090312-QuestionMark.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-wEJXQFutvag/TnECkTjKlEI/AAAAAAAAANc/A9MVmAqganM/s1600/20090312-QuestionMark.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Tetapi ketika aku dihadapkan sebuah pertanyaan sederhana Siapakah AKU? 
Aku menjadi kelimpukan bahkan malu dengan jawabannya. Bahwa aku hanya 
mengetahui sebagian kecil diriku bahkan aku akan berusaha dengan sekuat 
tenaga untuk menutup diri siapakah AKU? ini sebenarnya. Kadang-kadang 
aku merasa asing dengan diriku sendiri ketika aku mencoba melihat 
kedalam AKU ini.Apakah AKU mengetahui dengan benar Aku ini, bahkan 
dengan suara hatiku sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Ketika AKU termenung aku menyadari bahwa diriku ini kecil sekali 
dibandingkan dengan yang lain. AKU mencoba berdialog dengan diriku untuk
 mencoba mengetahui Siapakah AKU? Sejatinya diriku ini Siapa? Apakah 
mata hatiku sudah mulai terbuka untuk menghargai dan mencintai diri. 
Agar dapat melihat semua kebaikan dan keindahan dan anugerahNya&amp;nbsp; bahwa 
Ia begitu mencintai dan menyayangiku. Yang kadang tidak kurasakan. 
Kucoba hal ini dengan memulai dariku agar dapat melihat orang lain dan 
segala isi alam dengan hati yang dapat menciptakan sebuah simponi 
kedamaian dan keindahan dalam diri dan sesamaku.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-5749569500895990077?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5bcIJ9pSwUocdmqL3ay4RkTOvto/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5bcIJ9pSwUocdmqL3ay4RkTOvto/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5bcIJ9pSwUocdmqL3ay4RkTOvto/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5bcIJ9pSwUocdmqL3ay4RkTOvto/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/-9rKZS26P6I" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/5749569500895990077/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/11/siapakah-aku.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/5749569500895990077?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/5749569500895990077?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/-9rKZS26P6I/siapakah-aku.html" title="Siapakah Aku?" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-wEJXQFutvag/TnECkTjKlEI/AAAAAAAAANc/A9MVmAqganM/s72-c/20090312-QuestionMark.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/11/siapakah-aku.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkcCRnozeip7ImA9WhRREEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-1332356084522593222</id><published>2011-11-24T07:16:00.001+07:00</published><updated>2011-11-24T07:21:07.482+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-24T07:21:07.482+07:00</app:edited><title>HANACARAKA</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-wVKPErYcc00/Ts2NurokXzI/AAAAAAAAAr0/vYlRLRJksc8/s1600/hanacaraka_angka.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-wVKPErYcc00/Ts2NurokXzI/AAAAAAAAAr0/vYlRLRJksc8/s1600/hanacaraka_angka.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada ”utusan” yakni utusan hidup, berupa 
nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya 
ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk 
bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia (sebagai ciptaan)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ” 
saatnya (dipanggil) ” tidak boleh sawala ”mengelak” manusia (dengan
 segala atributnya) harus bersedia melaksanakan, menerima dan 
menjalankan kehendak Tuhan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup (Khalik) dengan 
yang diberi hidup (makhluk). Maksdunya padha ” sama ” atau sesuai, 
jumbuh, cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan
 keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh 
dan bukan menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang 
dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, 
sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, 
berusaha untuk menanggulanginya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-1332356084522593222?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qu30r0ciqM1jLTDyw59AtPDGGgg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qu30r0ciqM1jLTDyw59AtPDGGgg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qu30r0ciqM1jLTDyw59AtPDGGgg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qu30r0ciqM1jLTDyw59AtPDGGgg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/Oe9ugFDiCH8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/1332356084522593222/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/11/hanacaraka.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/1332356084522593222?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/1332356084522593222?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/Oe9ugFDiCH8/hanacaraka.html" title="HANACARAKA" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-wVKPErYcc00/Ts2NurokXzI/AAAAAAAAAr0/vYlRLRJksc8/s72-c/hanacaraka_angka.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/11/hanacaraka.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUMBRnc9fCp7ImA9WhRTGU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-214333839504878915</id><published>2011-11-10T18:01:00.001+07:00</published><updated>2011-11-10T18:10:57.964+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-10T18:10:57.964+07:00</app:edited><title>Jadi pahlawan untuk diri sendiri</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/untitled.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="226" src="http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/10/untitled.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mungkin kita memang tak punya kekuatan untuk jadi juru damai disebuah
 perang besar. Tapi Percayalah , setiap individu memiliki kemampuan 
untuk memberi sumbangan sekecil apapun demi terciptanya sebuah kehidupan
 yang damai dan penuh arti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menyumbang untuk keluarga korban perang atau mengangkat anak asuh, 
misalnya sudah amat berarti bagi mereka. Termasuk memberi makna 
tersendiri dalam hidup kita . Setidaknya bisa berbagi rasa sayang, 
cinta, sekaligus memberi arti bagi diri sendiri. Ada banyak cara kok, 
untuk menjadi “pahlawan” tanpa harus ikut kemedan perang namun tetap 
bermakna bagi lingkungan sekitar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Percaya atau tidak , Anda punya kemampuan untuk menciptakan perubahan 
positif bagi diri sendiri dan sekitar. Nah, Mengapa Anda tidak melakukan
 :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. “Memerangi” sesuatu.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Misalnya , jadi relawan&amp;nbsp; diorganisasi AIDS , gerakan anti NARKOBA, dan 
lainnya. Mungkin&amp;nbsp; apa yang kita perbuat disitu amat kecil, tapi jika ada 
banyaak orang yang berbuat sama , yang kecil tadi akan menjadi besar 
bukan?….betapa indahnya bila dunia tempat kita berteduh ini tak ada 
perang, tak ada yang kelaparan, tidak ada yang menderita…. Wahai sahabat,
 berbuatlah sesuatu untuk kebaikan…walau hanya sekecil butiran pasir, 
yakinlah esok akan bertunas dan menjelma menjadi pohon kehidupan !.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. “Besuara”.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jika suatu saat Anda mendengar ada orang yang berkomentar miring atau 
tak enak tentang sesuatu dan Anda tahu hal itu salah , jangan cuma diam.
 Bicaralah. Minimal , luruskan kesalahan itu, dengan demikian Anda sudah
 membantu agar dunia semakin nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Kekuatan mendidik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Anda punya kekuatan untuk “mendidik” orang lain dan menyentuh hatinya. 
Selain baik untuknya, hal ini juga akan memperkaya bathin sendiri. untuk
 itu Anda bisa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencari dan mengkontak kembali teman-teman lama masa kecil. Jalinan 
hubungan yang telah lama terputus pun akan tersambung kembali dan siapa 
tahu , si teman memang sedang sangat memerlukan kehadiran kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Anda tak pandai berkomunikasi dengan kata-kata/lisan, bisa lewat 
lagu, puisi, (seperti web master kamu ini ;)….keren kan heh he he)….atau apa saja deh , yang penting orang bisa menangkap dan menerima 
sinyal pertemanan yang Anda kirimkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Jadi Pelatih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Anda juga punyta kemampuan untuk menjadi contoh/model yang baik bagi 
orang lain. Anda bisa berbagi kemampuan atau pengalaman yang mungkin 
berguna atau menjadi inspirasi bagi orang lain .&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Nah mengapa tidak:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menularkan keahlian Anda pada lingkungan sekitar. Jika Anda pandai 
membuat lagu, kue , lukisan atau kerajinan tangan , mengapa tidak 
menularkannya pada lingkungan… pasti akan lebih positif dan bermanfaat 
bagi khalayak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika banyak waktu luang , coba berikan sedikit pada mereka yang 
memerlukan. Misalnya jadi relawan dipanti asuhan, membaca cerita untuk 
orang jompo atau anak-anak tunanetra. Mereka terhibur , Anda pun merasa 
puas karena sudah bisa memberikan sesuatu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kumpulkan remaja disekitar&amp;nbsp; lingkungan. Ajak mereka diskusi tentang 
berbagai hal semisal masalah bahayanya narkoba, tawuran pelajar , dan 
beri solusi untuk kegiatan yang jauh lebih bermanfaat. Tidak sedikit kan, remaja yang salah gaul gara-gara tak bisa menjalin komunikasi yang 
enak dan terbuka dengan orang tuanya?!….Nah, kalau Anda memang kemampuan
 itu , mengapa tidak dimanfaatkan?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Memang , untuk melakukan hal itu, kendala kerap ada . Tapi jangan 
buru-buru putus asa. Seperti kata pepatah , ada banyak jalan menuju 
Roma…. tapi nggak semua orang pengen pergi kesana…. jadi carilah 
nilai-nilai kebaikan, kasih sayang,&amp;nbsp; persahabatan, dan cinta kasih….&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-214333839504878915?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DMAAB929PKVqlVWc5--spHVszU0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DMAAB929PKVqlVWc5--spHVszU0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DMAAB929PKVqlVWc5--spHVszU0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DMAAB929PKVqlVWc5--spHVszU0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/0c-SMyQvTL0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/214333839504878915/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/11/jadi-pahlawan-untuk-diri-sendiri.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/214333839504878915?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/214333839504878915?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/0c-SMyQvTL0/jadi-pahlawan-untuk-diri-sendiri.html" title="Jadi pahlawan untuk diri sendiri" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/11/jadi-pahlawan-untuk-diri-sendiri.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0ICQXk5cCp7ImA9WhdbF04.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-8571567488509361565</id><published>2011-10-16T10:25:00.003+07:00</published><updated>2011-10-16T10:26:00.728+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-16T10:26:00.728+07:00</app:edited><title>Mengapa Tidak Mau Mengalah Bila Memang Baik</title><content type="html">&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Satu
 watak manusia yang sangat susah dikendalikan adalah sifat tidak mau 
mengalah ibarat kata walau langit runtuh dan bumi tergoncang pokoknya 
pendapat ku tidak bisa kau ubah. Sifat ini sering menimbulkan masalah 
seperti salah pengertian, komunikasi yang mandek alias tidak berjalan 
smooth dan bisa juga membuat rumah tangga gonjang ganjing atau suasana 
perang dingin sehingga iklim dalam rumah sangat sensitive tersingung 
satu sama lain.&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nU9Os1KHGCs/S-PaLispr9I/AAAAAAAAAEc/nnGoH1gR36U/s400/kambing.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="313" src="http://1.bp.blogspot.com/_nU9Os1KHGCs/S-PaLispr9I/AAAAAAAAAEc/nnGoH1gR36U/s320/kambing.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Mereka
 yang berpendapat sangat keras biasanya susah mendengar pendapat orang 
karena dalam maind set atau pikirannya dialah yang maha benar sedang 
orang lain dianggap tidak benar dan tidak mengerti sehingga bila dia 
sudah menyatakan pendapat istilah yang dipaka&lt;strong&gt;i “pokoknya ini sudah tidak bisa ditawar” &lt;/strong&gt;jadi dia menetapkan harga mati sehingga tidak dapat ditawar lagi denga &lt;span&gt; &lt;/span&gt;kata
 seperti coba dipikir betul baik dan buruknya, atau cobalah dipikir 
masak masak atau mungkin kita dapat mempertimbangkan dengan cara lain&lt;span&gt; &lt;/span&gt;yang
 mungkin resikonya lebih sedikit dan seterusnya. Namun apapun alternaif 
yang ditawarkan padanya tidak mempan menerobos pendiriannya yang penuh 
percaya diri tapi kadang berlebihan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Biasanya mereka yang tidak mau mengalah adalah mereka sukar mendengar orang lain bicara&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; sehingga tidak paham yang dimaksud dan cepat menyimpulkan isi 
pembicaraan pada hal belum tentu benar maksud yang ingin disampaikan 
lawan bicara. Mereka juga sering tidak memberikan kesempatan lawan bicar
 bicara menjelaskan apa yang ingin diutarakannya dan pada akhirnya dia 
tidak pernah menghargai pendapat orang lain dan orang lain dia paksa itu
 menerima pendapatnya sendiri, kasihan betul. Kejadian seperti ini bisa 
dilakukan oleh seseorang mungkin dalam rumah tangga atau dilingkungan 
kerja bisa juga dilingkungan tempat tinggal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kalau
 disimak betul ada korelasi yang kuat antara banyak bicara dengan sifat 
rendah hati artinya mereka yang rendah hati pasti mampu dan bisa 
mendengar orang lain&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;
 bahkan menghargai pendapat orang lain. Salah satu ciri kerendahan hati 
adalah mau mendengar pendapat, saran dan menerima kritik dari orang 
lain. Sering dikatakan bahwa Tuhan memberi kita dua buah telinga dan 
satu mulut, yang dimaksudkan agar kita lebih banyak mendengar daripada 
berbicara. Kadang-kadang hanya dengan mendengarkan saja, kita dapat 
menguatkan orang lain yang sedang dilanda kesedihan atau kesulitan. 
Harus diakui, kegiatan mendengar bukanlah suatu pilihan yang kita ambil 
dengan perasaan suka cita. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Jadi
 dalam hidup ini kita harus bijak dalam menjaga keharmonisan hubungan 
antar sesama diantaranya bila memang diperlukan kita harus mengalah 
lakukanlah untuk mencapai keadaan yang lebih baik, hal ini sesuai dengan
 perintah Tuhan bahwa kita
 harus sabar artinya dalam mengalah ada unsur sabar yang harus dimiliki 
dan bila kita bisa bersabar percayalah Tuhan akan bersama mu dan pasti 
menolong mu. Mengalah bukanlah berarti merendahkan diri kita atau 
mengalah bukanlah bertujuan menghina diri seseorang tetapi mengalah 
adalah mengalahkan ego kita agar selaras dengan kemauan Tuhan karena 
Tuhan juga berkata &lt;strong&gt;“&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;apa yang engkau anggap 
baik belum tentu baik dihadapan Allah dan apa yang engkau anggap tidak 
baik boleh jadi itu adalah hal terbaik dihapadapan Allah “&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
                    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-8571567488509361565?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/G6eVCHCLMl54kLKfwsY_EHKhRTk/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/G6eVCHCLMl54kLKfwsY_EHKhRTk/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/G6eVCHCLMl54kLKfwsY_EHKhRTk/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/G6eVCHCLMl54kLKfwsY_EHKhRTk/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/TWhMepXqmBE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/8571567488509361565/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/10/mengapa-tidak-mau-mengalah-bila-memang.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/8571567488509361565?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/8571567488509361565?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/TWhMepXqmBE/mengapa-tidak-mau-mengalah-bila-memang.html" title="Mengapa Tidak Mau Mengalah Bila Memang Baik" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_nU9Os1KHGCs/S-PaLispr9I/AAAAAAAAAEc/nnGoH1gR36U/s72-c/kambing.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/10/mengapa-tidak-mau-mengalah-bila-memang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEIBQXsycCp7ImA9WhdbE0w.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-436547847924567954</id><published>2011-10-11T12:55:00.003+07:00</published><updated>2011-10-11T12:55:50.598+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-11T12:55:50.598+07:00</app:edited><title>Percaya dan Sukses</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Apa makna keyakinan sehingga dikatakan bahwa 
keyakinan membuat segalanya menjadi mungkin?. Keyakinan tidak lebih dan 
tidak kurang kata Ralph Waldo Trine hanyalah operasi tenaga pemikiran 
dalam bentuk hasrat yang sungguh-sungguh, ditambah dengan harapan 
terhadap pemenuhannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Keyakinan seperti yang biasa dilihat, lebih 
daripada sekedar kepercayaan. Keyakinan mengantisipasi pemenuhannya. 
Perbedaan utama antara penjual tanggung dengan penjual kelas kakap 
terletak pada derajat keyakinan terhadap diri sendiri dan keyakinan pada
 hasil yang dicapai merupakan syarat bagi semua peningkatan berharga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Kita akan berada pada jalan kehidupan yang 
benar kalau kita lebih dahulu yakin, percaya kepada yang Agung. Kita 
perlu menyadari bahwa diri kita adalah bagian dari paket penting dan 
rencana besar-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Dia yang telah menciptakan bertrilyun bintang
 yang beredar secara teratur di dunia ini, telah melengkapi diri kita 
dengan perlengkapan untuk sukses. Kita bisa saja menerima hal ini 
sebagai fakta dan berdiri tegap di dunia ini, seperti halnya kita juga 
bisa mabuk dalam teori kesempatan dan menjalani hari-hari kita seperti 
binatang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Ketika kita sampai pada realisasi keberadaan 
kita, kita juga telah sampai pada pengenalan nilai-nilai untuk 
peningkatan diri kita. Kita mengembangkan keyakinan pada pencapaian 
ambisi kita. Hal ini merupakan pembuka katup tenaga yang mengantarkan 
kita pada suatu peningkatan individual yang dahsyat. Hal ini merupakan 
sumber tenaga yang tidak pernah gagal. Percaya dan sukses. Milikilah dan
 anda tak akan gagal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-436547847924567954?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-bJcDVN-Lztr-xxYvAb8cSjY2xI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-bJcDVN-Lztr-xxYvAb8cSjY2xI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-bJcDVN-Lztr-xxYvAb8cSjY2xI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-bJcDVN-Lztr-xxYvAb8cSjY2xI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/8VnuoHM6zbM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/436547847924567954/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/10/percaya-dan-sukses.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/436547847924567954?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/436547847924567954?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/8VnuoHM6zbM/percaya-dan-sukses.html" title="Percaya dan Sukses" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/10/percaya-dan-sukses.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUAARnwzfSp7ImA9WhdUFE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-4365862602345368241</id><published>2011-10-01T07:09:00.000+07:00</published><updated>2011-10-01T07:09:07.285+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-01T07:09:07.285+07:00</app:edited><title>Bekerja Itu…….</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;b&gt;Etos pertama: kerja adalah rahmat.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai kantor, sampai buruh 
kasar sekalipun, adalah rahmat dari Tuhan. Anugerah itu kita terima 
tanpa syarat, seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya 
sepeser pun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bakat dan kecerdasan yang memungkinkan kita bekerja adalah anugerah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Dengan bekerja, setiap tanggal muda kita menerima gaji untuk memenuhi 
kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan bekerja kita punya banyak teman dan 
kenalan, punya kesempatan untuk menambah ilmu dan wawasan, dan masih 
banyak lagi. Semua itu anugerah yang patut disyukuri. Sungguh kelewatan 
jika kita merespons semua nikmat itu dengan bekerja ogah- ogahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Etos ke-dua: kerja adalah amanah.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apa pun pekerjaan kita, pramuniaga, pegawai negeri, atau anggota DPR, 
semua adalah amanah. Pramuniaga mendapatkan amanah dari pemilik toko.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pegawai negeri menerima amanah dari negara. Anggota DPR menerima amanah 
dari rakyat. Etos ini membuat kita bisa bekerja sepenuh hati dan 
menjauhi tindakan tercela, misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Etos ke-tiga: kerja adalah panggilan.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apa pun profesi kita, perawat, guru, penulis, semua adalah darma. 
Seperti darma Yudistira untuk membela kaum Pandawa. Seorang perawat 
memanggul darma untuk membantu orang sakit. Seorang guru memikul darma 
untuk menyebarkan ilmu kepada para muridnya. Seorang penulis menyandang 
darma untuk menyebarkan informasi tentang kebenaran kepada masyarakat. 
Jika pekerjaan atau profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa 
berucap pada diri sendiri, “I’m doing my best!” Dengan begitu kita tidak
 akan merasa puas jika hasil karya kita kurang baik mutunya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Etos ke-empat: kerja adalah aktualisasi.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apa pun pekerjaan kita, entah dokter, akuntan, ahli hukum, semuanya 
bentuk aktualisasi diri. Meski kadang membuat kita lelah, bekerja tetap 
merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita
 merasa “ada”. Bagaimanapun sibuk bekerja jauh lebih menyenangkan 
daripada duduk bengong tanpa pekerjaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secara alami, aktualisasi diri itu bagian dari kebutuhan psikososial 
manusia. Dengan bekerja, misalnya, seseorang bisa berjabat tangan dengan
 rasa pede ketika berjumpa koleganya. “Perkenalkan, nama saya Miftah, 
dari Bank Kemilau.” Keren `kan?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Etos kelima: kerja itu ibadah.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tak peduli apa pun agama atau kepercayaan kita, semua pekerjaan yang 
halal merupakan ibadah. Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat kita 
bisa bekerja secara ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jansen mengutip sebuah kisah zaman Yunani kuno seperti ini:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Seorang pemahat tiang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengukir 
sebuah puncak tiang yang tinggi. Saking tingginya, ukiran itu tak dapat 
dilihat langsung oleh orang yang berdiri di samping tiang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Orang-orang pun bertanya, buat apa bersusah payah membuat ukiran indah 
di tempat yang tak terlihat? Ia menjawab, “Manusia memang tak bisa 
menikmatinya. Tapi Tuhan bisa melihatnya.” Motivasi kerjanya telah 
berubah menjadi motivasi transendental.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Warisan tak ternilai&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Etos keenam: kerja adalah seni.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apa pun pekerjaan kita, bahkan seorang peneliti pun, semua adalah seni.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kesadaran ini akan membuat kita bekerja dengan enjoy seperti halnya 
melakukan hobi. Jansen mencontohkan Edward V Appleton, seorang fisikawan
 peraih nobel. Dia mengaku, rahasia keberhasilannya meraih penghargaan 
sains paling bergengsi itu adalah karena dia bisa menikmati 
pekerjaannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Antusiasmelah yang membuat saya mampu bekerja berbulan-bulan di 
laboratorium yang sepi,” katanya. Jadi, sekali lagi, semua kerja adalah 
seni. Bahkan ilmuwan seserius Einstein pun menyebut rumus- rumus fisika 
yang njelimet itu dengan kata sifat beautiful.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Etos ketujuh: kerja adalah kehormatan.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seremeh apa pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah kehormatan. Jika bisa 
menjaga kehormatan dengan baik, maka kehormatan lain yang lebih besar 
akan datang kepada kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jansen mengambil contoh etos kerja Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan 
Indonesia kawakan ini tetap bekerja (menulis), meskipun ia dikucilkan di
 Pulau Buru yang serba terbatas. Baginya, menulis merupakan sebuah 
kehormatan. Hasilnya, kita sudah mafhum. Semua novelnya menjadi karya 
sastra kelas dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Etos kedelapan: kerja adalah pelayanan.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apa pun pekerjaan kita, pedagang, polisi, bahkan penjaga mercu suar, semuanya bisa dimaknai sebagai pengabdian kepada sesama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada pertengahan abad ke-20 di Prancis, hidup seorang lelaki tua 
sebatang kara karena ditinggal mati oleh istri dan anaknya. Bagi 
kebanyakan orang, kehidupan seperti yang ia alami mungkin hanya berarti 
menunggu kematian. Namun bagi dia, tidak. Ia pergi ke lembah Cavennen, 
sebuah daerah yang sepi. Sambil menggembalakan domba, ia memunguti biji 
oak, lalu menanamnya di sepanjang lembah itu. Tak ada yang membayarnya. 
Tak ada yang memujinya. Ketika meninggal dalam usia 89 tahun, ia telah 
meninggalkan sebuah warisan luar biasa, hutan sepanjang 11 km! 
Sungai-sungai mengalir lagi. Tanah yang semula tandus menjadi subur. 
Semua itu dinikmati oleh orang yang sama sekali tidak ia kenal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di Indonesia semangat kerja serupa bisa kita jumpai pada Mak Eroh yang 
membelah bukit untuk mengalirkan air ke sawah-sawah di desanya di 
Tasikmalaya, Jawa Barat. Juga pada diri almarhum Munir, aktivis Kontras 
yang giat membela kepentingan orang-orang yang teraniaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;“Manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan dilengkapi keinginan untuk berbuat baik,” &lt;/b&gt;kata Jansen.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
sumber: &lt;span class="st"&gt;8&lt;em&gt; Etos &lt;/em&gt;Kerja Profesional - Buku bestseller karya Jansen &lt;em&gt;&lt;/em&gt; Sinamo&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-4365862602345368241?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8VCxEXQ1_CeUyRzgcJ19YaP8qFE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8VCxEXQ1_CeUyRzgcJ19YaP8qFE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8VCxEXQ1_CeUyRzgcJ19YaP8qFE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8VCxEXQ1_CeUyRzgcJ19YaP8qFE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/0bEDJ2XZf3U" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/4365862602345368241/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/10/bekerja-itu.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/4365862602345368241?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/4365862602345368241?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/0bEDJ2XZf3U/bekerja-itu.html" title="Bekerja Itu……." /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/10/bekerja-itu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0ECRno7eyp7ImA9WhdVGU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-1937011369698245627</id><published>2011-09-25T11:40:00.000+07:00</published><updated>2011-09-25T11:41:07.403+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-25T11:41:07.403+07:00</app:edited><title>Orang Terhormat dan Gila Hormat</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Orang Amerika punya anggapan, orang terhormat adalah mendapatkan sukses 
dalam hidupnya, entah dibidang perdagangan, ilmu dan pengetahuan, 
industri, entahlah di bidang ketentaraan atau politik. Orang Jepang 
punya anggapan, orang terhormat adalah yang mempunyai banyak sahabat.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Orang Jawa dahulu punya anggapan yang lain lagi,orang yang 
terhormat adalah yang mempunyai kekuasaan atas sesamanya, yang 
menentukan hidup dan mati mereka, ini kata Pramudya Ananta toer.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Padahal predikat terhormat pada diri seseorang sebetulnya sangat 
sederhana, ketika seseorang banyak memberikan manfaat pada orang lain, 
maka dengan sendirinya dia akan mendapatkan predikat tersebut, dan 
predikat itu yang memberikannya adalah orang-orang yang menghormati 
karena jasa-jasanya, jadi bukanlah karena posisi, pangkat dan 
jabatannya, justeru kadang kala posisi,pangkat dan jabatan tidak 
memberikan kehormatan pada orang yang memilikinya, apabila dia salah 
dalam memanfaatkan hal tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kebanyakan dari pemimpin kita mengadaptasi dari anggapan orang Jawa, 
orang terhormat adalah, orang yang mempunyai kekuasaan atas sesamanya, 
yang menentukan hidup dan mati mereka, pemaknaan seperti ini diterapkan 
dalam kehidupannnya, maka ketika dia berkuasa maka dia paksakan orang 
lain harus hormat kepadanya, padahal dia sendiri tidak punya kehormatan 
atas kekuasaan tersebut, hal ini dikarenakan prilaku yang buruk, 
korupsi, menindas sesama bahkan menzolimi orang-orang yang ada 
dibawahnya, inilah kekuasaan yang tidak memberikan kehormatan apa-apa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Betapa banyak yang kita lihat Pemimpin yang gila hormat, salah sedikit 
saja aturan protokoler penyambutannya apa bila dia berkunjung kesuatu 
daerah/tempat, maka habislah bawahannya yang mengatur penyambutan 
tersebut, sikap seperti ini adalah warisan feodal yang terus 
dilestarikan oleh para pemimpin kita, orang-orang seperti ini, ketika 
dia sudah tidak memiliki kekuasaan lagi biasanya akan terkena penyakit 
Post Power syndrome, sudah tidak punya kekuasaan dan kehormatan tapi 
masih merasa berkuasa dan tetap minta dihormati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak memiliki rasa kebangsaan juga bisa membuat orang lain hilang rasa 
hormatnya pada kita, adanya rasa kebangsaan akan mempertegas sikap hidup
 dan membangun kehormatan dalam diri setiap orang, dengan rasa 
kebangsaan akan timbul keinginan membangun kebersamaan, komunitas 
sebangsa yang membuat hidup akan terasa lebih hidup dan bermanfaat, 
seperti apa yang dikatakan seorang pemimpin Mesir yang termasyur, 
Mustafa Kamil;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;“Oleh karena rasa kebangsaanlah, maka bangsa-bangsa yang 
terkebelakang lekas mencapai peradaban, kebesaran dan kekuasaan. Rasa 
kebangsaanlah yang menjadi darah yang mengalir dalam urat-urat bangsa 
yang kuat dan rasa kebansaanlah yangn memberi hidup kepada tiap-tiap 
manusia yang hidup”&lt;br /&gt;
&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Bagaimana anggapan orang Indonesia tentang orang terhormat ? Aku tak 
tahu, kata Pramudya Ananta Toer. Tetapi baik di Amerika, Jepang, 
Indonesia, atau bagian dunia manapun, barangsaiapa mempunyai sumbangan 
pada kemanusiaan, dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan 
sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam 
hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin dia tidak 
mempunyai kekuasaan barang sesuilpun, namun umat manusia akan 
menghormati karena jasa-jasanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika hidup tanpa memberi manfaat apa-apa baik pada diri sendiri maupun bagi orang lain, maka kita akan hidup tanpa kehormatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apakah kita ingin menjadi orang terhormat ? jadilah orang yang banyak bermanfaat…..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
oleh &lt;a href="http://www.kompasiana.com/ajinatha"&gt;ajinatha&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-1937011369698245627?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sI3RfLPDtfgalv3O7tsczhEu9Ag/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sI3RfLPDtfgalv3O7tsczhEu9Ag/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sI3RfLPDtfgalv3O7tsczhEu9Ag/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sI3RfLPDtfgalv3O7tsczhEu9Ag/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/pxzKW-vtF1Y" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/1937011369698245627/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/09/orang-terhormat-dan-gila-hormat.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/1937011369698245627?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/1937011369698245627?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/pxzKW-vtF1Y/orang-terhormat-dan-gila-hormat.html" title="Orang Terhormat dan Gila Hormat" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/09/orang-terhormat-dan-gila-hormat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkMMQnk-fCp7ImA9WhdVEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-5717143142908540564</id><published>2011-09-17T20:01:00.001+07:00</published><updated>2011-09-17T20:01:23.754+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-17T20:01:23.754+07:00</app:edited><title>Tahukah Anda: Lupa Itu Nikmat!</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Selama ini, jika kita mendengar kata nikmat, maka 
yang terbayang adalah makanan yang enak, uang yang banyak, tubuh yang 
sehat dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Tapi tahukah anda, bahwa sifat lupa yang melekat 
pada setiap manusia itu, ternyata nikmat yang juga patut kita syukuri. 
Lho kok gitu ?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Setiap kita, tentu saja tidak akan lepas dari 
berbagai persoalan hidup yang melilit kita, berbagai persoalan ini bisa 
menimbulkan bermacam perasaan di hati kita, rasa marah, rasa benci, 
dendam dan sakit hati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dan tahukah anda bagaimana&lt;span&gt; &lt;/span&gt;perasaan yang tidak enak itu berangsur hilang, bahkan lenyap dari hati anda ?? ya dengan sifat lupa itu !!&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Seseorang yang baru saja mendapat teguran keras 
dari si Bos di kantor, boleh jadi memendam rasa sakit hati, bahkan 
hingga dia pulang ke rumah, ucapan &lt;em&gt;pedas&lt;/em&gt; dari si Bos masih &lt;em&gt;terngiang-ngiang &lt;/em&gt;di
 telinga, yang tentu saja mempengaruhi kondisi emosionalnya. Tapi dengan
 berlalunya waktu, perasaan itu hilang dari hatinya, karna dia telah 
melupakannya !&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Bisa anda bayangkan jika anda tidak memiliki sifat 
lupa, berbagai peristiwa akan terus tertancap dalam memori anda, yang 
jelas-jelas akan menguras energi dan emosi anda, hal ini tentu saja 
kontra produktif dengan semangat kita untuk terus maju dan berkarya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Maka kalau hari ini, anda masih memendam luka dan 
dendam akibat peristiwa di masa lalu, sungguh anda telah merugi. Tidak 
ada jalan terbaik bagi anda selain melupakannya, kalau anda tidak 
sanggup, maka ketahuilah, ada nikmat yang hilang dari diri anda !&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Mari syukuri sifat lupa yang ada pada diri kita, 
sebagai karunia dari Allah, tapi awas, jangan menjadi orang ‘pelupa’ 
apalagi kalau mau bayar hutang !!!&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Tabik... &lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-5717143142908540564?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ksA7tyR0p1osus6UICaqaPTjYa4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ksA7tyR0p1osus6UICaqaPTjYa4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ksA7tyR0p1osus6UICaqaPTjYa4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ksA7tyR0p1osus6UICaqaPTjYa4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/cUDVA3JMypE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/5717143142908540564/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/09/tahukah-anda-lupa-itu-nikmat.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/5717143142908540564?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/5717143142908540564?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/cUDVA3JMypE/tahukah-anda-lupa-itu-nikmat.html" title="Tahukah Anda: Lupa Itu Nikmat!" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/09/tahukah-anda-lupa-itu-nikmat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck8EQ3ozeCp7ImA9WhdXGE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-8420370389611360757</id><published>2011-08-31T21:26:00.002+07:00</published><updated>2011-08-31T21:26:42.480+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-31T21:26:42.480+07:00</app:edited><title>SEPI</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dalam sehari-hari terkadang menyeret kita ke bagian
 otak yang paling kesepian,seperti tak bisa ambil bagian dengan dunia 
ini. Lalu dihadapkan dengan soal: kenapa semua harus berlalu seperti ini
 ?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Mungkin kita membuat rumah dengan cara menakjubkan .
 memiliki pintu,jendela,lobang angin,kamar tidur,kamar mandi. Dari 
bangunan seperti ini kita membagi adanya “dunia luar dan di dalam 
“,sebagai pengertian yang berbeda.Pintu,jadi pengertian ambang batas 
antara keduanya. Membuka dan menutup pintu sering menjadi moment 
berdentangan gema kesunyian dari dia – sang manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vy0fwcmCqQ0/TGydv-3-yiI/AAAAAAAAACk/ADRdawUXhrk/s320/sepi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_vy0fwcmCqQ0/TGydv-3-yiI/AAAAAAAAACk/ADRdawUXhrk/s320/sepi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu kenyataan mau diterima disini. Dia itu 
manusia: Agung. Mereka membuat hubungan-hubungan ,aturan-aturan. Mencari
 penjelasan tentang keberadaan dan tujuannya. Membuat makanan sendiri 
sebagai kebudayaan.Pakaian,perhiasan,alat-alat. Membuat sendiri makamnya
 sebagai keindahan dan kesedihan dari kematian. Cinta tak tergantikan 
oleh apapun. Dia pun mencari hubungan logis-sang manusia itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Manusia jadi arkeolog&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dari hidup itu 
sendiri. Semua bersifat buruk dan salah,sebenarnya mustahil bisa 
menghinggapi mahluk yang bisa berpikir tentang dirinya sendiri ini. 
Keagungan manusia harus kembali dihadirkan kembali,walau seperti madu 
yang tumpah dalam kloset. Apapun yang telah diperbuatnya,dia sebenarnya 
tak pernah identic dengan seluruh yang pernah dihasilkannya. Ini tidak 
mudah. Sebab ini dasar seluruh kesepiannya,yangmembuat ia tak pernah 
bisa mengenal diri sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="mailto:joseph.praba54@gmail.com"&gt;Joseph Praba &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-8420370389611360757?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1j_-krbQEWZ7J2iNR7H5Cs52DeA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1j_-krbQEWZ7J2iNR7H5Cs52DeA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1j_-krbQEWZ7J2iNR7H5Cs52DeA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1j_-krbQEWZ7J2iNR7H5Cs52DeA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/TCnGTqdgUcU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/8420370389611360757/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/08/sepi.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/8420370389611360757?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/8420370389611360757?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/TCnGTqdgUcU/sepi.html" title="SEPI" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_vy0fwcmCqQ0/TGydv-3-yiI/AAAAAAAAACk/ADRdawUXhrk/s72-c/sepi.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/08/sepi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkYHQXY8fCp7ImA9WhdXEk4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-4110419982080877735</id><published>2011-08-25T08:02:00.000+07:00</published><updated>2011-08-25T08:02:10.874+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-25T08:02:10.874+07:00</app:edited><title>“Berprestasi, Jadilah Seperti Nasi!”</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Siapakah yang layak disebut sebagai mahasiswa berprestasi?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apakah mereka yang memperoleh banyak medali, memenangkan berbagai 
perlombaan, dipuja banyak orang, dan sering tampil di hadapan publik 
dengan berjuta pesona yang membuat manusia terpukau kagum?&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://khairuddinuad.files.wordpress.com/2011/03/sepiring-nasi.jpg?w=624&amp;amp;h=512" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="262" src="http://khairuddinuad.files.wordpress.com/2011/03/sepiring-nasi.jpg?w=624&amp;amp;h=512" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Barangkali kalau kita menyerap kata ‘prestasi’ persis dengan kata asal 
serapannya, jawabannya akan seperti itu. Prestasi berasal dari kata 
prestise yang berarti kebanggaan. Dengan kata lain setiap pekerjaan yang
 bisa membuat orang lain dan diri sendiri bangga, itu sudah layak 
disebut prestasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mahasiswa berprestasi membanggakan para dosen dan melambungkan reputasi 
institusi. Mereka menjadi figur panutan yang dianggap lebih unggul 
daripada mahasiswa yang lain. Mereka juga mampu menarik perhatian dunia 
dengan kemampuan ‘istimewa’ mereka. Persis seperti magnet yang menarik 
besi-besi tak bermuatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sayangnya, kata ‘prestasi’ yang ada pada bahasa Indonesia sangatlah 
sempit jika digunakan untuk menguraikan makna “prestasi” yang 
sesungguhnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Prestasi tidak hanya terbatas pada kemampuan memenangkan berbagai macam 
perlombaan, atau sekedar memiliki pengagum yang banyak. Prestasi adalah 
sebuah kerja nyata untuk masyarakat baik itu secara sembunyi-sembunyi 
maupun terang-terangan, dan dilakukan dengan &lt;span class="st"&gt; teguh dan terus menerus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karenanya, janganlah terlalu fokus mengejar prestasi. Mengapa? Lagi-lagi
 kita perlu mengembalikan makna asal dari prestasi, yaitu prestise 
(kebanggaan). Kalau asal bangga tetapi tidak diiringi dengan kerja nyata
 untuk masyarakat, maka itu adalah prestasi semu. Seharusnya sebagai 
mahasiswa kita fokus untuk mengejar kontribusi, bukan lagi ‘sekedar’ 
prestasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Dengan memperbanyak kontribusi, semakin besar peluang kita untuk meraih 
prestasi. Meskipun nantinya tidak ada piala dan medali yang disematkan 
kepada kita, setidaknya orang lain bisa merasakan manfaat dari apa yang 
kita kerjakan. Jika mentok tidak ada yang memberikan apresiasi atas 
kinerja kita, tidak ada yang menganggapnya, apalagi menghargainya, kita 
perlu meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui atas segara sesuatu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Cukuplah deretan piala itu menghiasi etalase-etalase di ruang tamu rumah
 kita. Itu hanyalah simbol yang bisa lenyap dan hancur. Yang mengabadi 
adalah kontribusi kita untuk masyarakat dan untuk seluruh umat manusia. 
Itulah prestasi yang sesungguhnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Sebuah Prioritas&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Jangan salah sangka dengan pernyataan saya pada pembahasan sebelumnya. 
Tidak ada niatan untuk mendiskreditkan mereka yang ber-‘prestasi’, 
karena prestasi merupakan hal yang wajar untuk dikejar. Bahkan Islam 
menganjurkan agar pemeluknya untuk senantiasa berlomba-lomba dalam 
kebaikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Barangkali perlu diingatkan kepada mereka para peraih prestasi –temasuk 
diri saya sendiri-, bahwa prestise (kebanggaan) hanyalah sekelumit 
dampak yang bisa kita ambil dari ranah kontribusi yang begitu luas. Bisa
 jadi orang tidak bangga dengan pekerjaan kita, tetapi ada ungkapan yang
 lebih tinggi dari hanya sekedar bangga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://stat.kompasiana.com/files/2010/10/nasi1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://stat.kompasiana.com/files/2010/10/nasi1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Kita tidak akan bangga dengan apa yang dilakukan oleh para petani, 
tetapi kita sangat menghargainya. Para korban bencana alam memang tidak 
bangga dengan apa yang dilakukan oleh para relawan, namun mereka sudah 
pada tingkatan haru. Seorang anak yang memiliki orang tua penyayang, 
tidak hanya bangga dengan ibu-bapaknya. Dia merasa sangat beruntung. 
Seorang pasangan suami-istri yang saling memadu kasih, tidak hanya 
merasa bangga satu sama lain. Lebih dari itu, mereka sama-sama merasakan
 kebahagiaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebaliknya, tidak selamanya kebanggaan itu membawa dampak yang baik. 
Kita bisa melihat fenomena suporter sepak bola yang ada di Indonesia. 
Karena kebanggan yang berlebih, para suporter rela berdesak-desakan di 
tribun penonton, hanya untuk melihat tim mereka berprestasi. Kalau tim 
kesayangan mereka mendapatkan juara, mereka akan berpawai di jalan-jalan
 untuk meluapkan kegembiraan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lantas, adakah dampak signifikan bagi mereka setelah tim yang mereka 
bangga-banggakan meraih prestasi? Barangkali tidak ada. Bahkan tidak 
sedikit dari kejadian-kejadian itu yang membawa petaka. Mulai dari 
luka-luka sampai hilangnya nyawa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebenarnya kalau mahasiswa ingin berprestasi, tidak perlu memikirkan 
sejauh itu. Yang ditekankan di sini adalah masih banyak yang perlu kita 
raih daripada sekedar kebanggaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk meraih prestasi yang benar-benar ‘prestasi’, maka jadilah seperti 
nasi. Dia merupakan makanan pokok yang dibutuhkan oleh semua orang. 
Tidak seperti obat ataupun racun. Obat memang menyembuhkan, tetapi ia 
hanya dibutuhkan pada saat-saat tertentu saja. Pada saat yang lain, ia 
bisa menjadi zat yang berbahaya untuk dikonsumsi. Apalagi racun, tidak 
ada yang mau meminumnya kecuali orang-orang depresi yang sudah tidak 
tahan hidup di dunia ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;blockquote&gt;
“…sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain.” (HR Bukhari)&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Kita mendapati bahwa prioritas utama kita dalam berkontribusi adalah 
kemanfaatan bagi orang lain. Untuk apa kita berpayah-payah berprestasi 
sedangkan masih banyak urusan umat yang belum terselesaikan? Untuk apa 
berpayah-payah berprestasi sedangkan dampaknya hanya terhenti pada taraf
 bangga? Sekali lagi bukan untuk mendiskreditkan mereka yang 
berprestasi. Hanya kembali mengingatkan bahwa masih banyak yang perlu 
kita raih daripada sekedar kebanggaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Setelah Paham, Berprestasilah!&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Saya takut setelah membaca tulisan pada pembahasan sebelumnya jadi 
banyak di antara kita yang enggan mengikuti perlombaan dan kompetisi 
dengan alasan, “yang penting kontribusi”. Sungguh, saya sama sekali 
tidak berniat untuk menghambat potensi berprestasi yang kita miliki. 
Saya hanya ingin mengubah mindset dari semangat berprestasi kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setiap manusia memiliki potensi untuk berprestasi. Ketika kita ingin 
mengejar sebuah prestasi, sebenarnya yang kita kejar adalah potensi yang
 ada pada diri kita sendiri. Jadi tidak ada alasan untuk tidak 
berprestasi. Kuncinya, “Perbanyak kontribusi, prestasi akan mengikuti.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Semoga mencerahkan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-4110419982080877735?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/3DJB3uajl_NZ-QrLrrgPSJJlEsg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/3DJB3uajl_NZ-QrLrrgPSJJlEsg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/3DJB3uajl_NZ-QrLrrgPSJJlEsg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/3DJB3uajl_NZ-QrLrrgPSJJlEsg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/2WmDcENq9bU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/4110419982080877735/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/08/berprestasi-jadilah-seperti-nasi.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/4110419982080877735?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/4110419982080877735?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/2WmDcENq9bU/berprestasi-jadilah-seperti-nasi.html" title="“Berprestasi, Jadilah Seperti Nasi!”" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/08/berprestasi-jadilah-seperti-nasi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUMBQX84eip7ImA9WhdXEEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-8793111733566404462</id><published>2011-08-23T08:37:00.002+07:00</published><updated>2011-08-23T08:37:30.132+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-23T08:37:30.132+07:00</app:edited><title>Bekerja dan Menikmati Pekerjaan</title><content type="html">&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Membicarakan &lt;span&gt; &lt;/span&gt;pekerjaan sama halnya dengan membicarakan hidup itu sendiri.&lt;/strong&gt;
 Sebab faktanya, hidup adalah bekerja. Aktivitas yang paling besar 
menyita waktu dalam kehidupan kita adalah bekerja. Bahkan, bekerja 
adalah satu-satunya aktivitas yang mampu kita lakukan selama lebih dari 
delapan jam dalam sehari. Sebagian orang sanggup melakukannya melampaui 
12 jam. Oleh karenanya, sebuah pekerjaan harus merupakan sesuatu 
aktivitas yang dapat dinikmati.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Coba kita pikirkan sama-sama&lt;/strong&gt;.
 Siapa diantara anda yang mampu melakukan aktivitas makan, minum, tidur,
 atau bahkan bercinta sekalipun, selama lebih dari delapan jam sehari, 
nonstop? Hanya aktivitas “bekerja” yang sanggup mengambil waktu kita 
senilai itu. Itulah sebabnya saya mengemukakan sebelumnya bahwa 
membicarakan bekerja sama halnya dengan membicarakan “hidup” itu 
sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Persoalannya, tidak jarang dibalik kesanggupan bekerja yang “menggila” &lt;span&gt; &lt;/span&gt;justru malah terjadi “stressing” atau tekanan yang sangat tinggi. Mengapa? &lt;strong&gt;Sebab mereka yang dilanda stress tidak pandai menikmati, atau &lt;span&gt; &lt;/span&gt;tidak pintar menikmati, atau tidak bisa menikmati pekerjaannya.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Ketidakmampuan
 menikmati pekerjaan disebabkan karena memilih pekerjaan tidak 
mendengarkan panggilan jiwa. Bekerja sesuai dengan panggilan jiwa 
menghadirkan kenikmatan yang luar biasa. Bekerja tidak sesuai dengan 
panggilan jiwa menimbulkan stress.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Bagaimana
 cara memilih sebuah kehidupan pekerjaan yang mengungkap panggilan jiwa?
 Bekerja yang nikmat selaras dengan kualitas pembentuk kartu panggilan. &lt;em&gt;Richard J. Leider dan David A Shapiro, &lt;/em&gt;dalam &lt;em&gt;“Whistle While You Work, Heeding Your Life’s Calling”&lt;/em&gt; menyarankan &lt;span&gt; &lt;/span&gt;untuk meninjau&lt;strong&gt; 3 kualitas penting yang membentuk “kartu panggilan” kita, yaitu bakat, hasrat dan nilai. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Bakat.&lt;/strong&gt; Satu cara untuk menemukan bakat adalah dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri:&lt;strong&gt; “pekerjaan apa yang ketika sedang kulakukan, membuat aku begitu asyik mengerjakannya, sehingga aku &lt;span&gt; &lt;/span&gt;lupa waktu?”&lt;/strong&gt;
 Nah, disitulah jawabannya jika anda ragu apakah pekerjaan yang sekarang
 sudah sesuai dengan panggilan jiwa atau tidak. Jika anda tidak pernah 
merasa senang dan bahkan asyik dalam mengerjakan pekerjaan anda, bakat 
anda tidak di sana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Hasrat.&lt;/strong&gt;
 Hasrat muncul dalam berbagai bentuk. Anda mungkin sangat menyukai 
spiritualitas, sehingga tidak berhenti memikirkan untuk mengembangkan 
kesadaran spiritual orang seluruh dunia. Anda juga bisa jadi 
menghabiskan waktu luang dengan melakukan kegiatan menentang penindasan.
 Anda mungkin mempunyai ketertarikan yang besar dan terus menerus 
memikirkan persoalan masyarakat. Itulah hasrat. Pertanyaan-pertanyaan 
soal hasrat antara lain: &lt;strong&gt;“Hal atau tujuan apa yang menggerakkan 
anda dalam bekerja? Masalah apa yang di dalam dunia atau dalam 
lingkungan pekerjaan yang menurut anda memerlukan pemecahan? Ketika anda
 terjaga di malam hari, lantas memikirkan keadaan alam semesta, apa yang
 paling memenuhi pikiran anda? &lt;/strong&gt;Dalam jawaban itulah dapat 
ditemukan hasrat. Ketika menghubungkan bakat dan hasrat kita, kita 
mempunyai alasan yang jelas untuk bangun setiap pagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Nilai. &lt;/strong&gt;Adalah &lt;strong&gt;dorongan dibalik pilihan sebuah pekerjaan&lt;/strong&gt;. Nilai adalah &lt;strong&gt;api yang menyalakan hasrat&lt;/strong&gt;.
 Nilai memperlihatkan kepribadian dan ciri khas kita. Jika sebuah 
pekerjaan tidak selaras dengan nilai/dorongan/kepribadian seseorang, 
maka pekerjaan itu bukanlah merupakan panggilan dan ini kelak yang dapat
 menimbulkan ketidaknikmatan atau stress dalam bekerja. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;“Tetapi, saya sudah sampai di sini dalam lingkar pekerjaan yang tidak sesuai dengan panggilan jiwa, &lt;strong&gt;apakah saya bisa mengubah arah dan menemukan jalan kembali kepada diri saya yang sebenarnya?”&lt;/strong&gt; Agar bekerja bisa menjadi lebih nikmat?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Bisa.&lt;/strong&gt; Periksa kembali bakat, hasrat dan nilai anda. Selaraskah dengan pekerjaan yang sedang dilakukan? Jika tidak, saatnya memang memulai perubahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-8793111733566404462?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ib5OpIjcPop2IsJ8LLsU6i0o5AA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ib5OpIjcPop2IsJ8LLsU6i0o5AA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ib5OpIjcPop2IsJ8LLsU6i0o5AA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ib5OpIjcPop2IsJ8LLsU6i0o5AA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/lskJVdkbGXc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/8793111733566404462/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/08/bekerja-dan-menikmati-pekerjaan.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/8793111733566404462?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/8793111733566404462?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/lskJVdkbGXc/bekerja-dan-menikmati-pekerjaan.html" title="Bekerja dan Menikmati Pekerjaan" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/08/bekerja-dan-menikmati-pekerjaan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C08FSXw_eyp7ImA9WhdQGUo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-1992443503329919243</id><published>2011-08-22T07:10:00.001+07:00</published><updated>2011-08-22T07:10:18.243+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-22T07:10:18.243+07:00</app:edited><title>CARA MEMBANGKITKAN MOTIVASI BELAJAR DAN MOTIVASI KERJA</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Motivasi merupakan dorongan jiwa yang membuat seseorang melakukan suatu kegiatan yang memiliki tujuan tertentu. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Dalam hal&lt;span&gt; &lt;/span&gt;ini yang kita bahas tentunya adalah motivasi yang terkait dengan perbuatan yang memiliki tujuan baik seperti&lt;span&gt; &lt;/span&gt;motivasi belajar dan motivasi kerja.
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://belindaferdiekariyasi.files.wordpress.com/2010/05/images2.jpg?w=121&amp;amp;h=104" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://belindaferdiekariyasi.files.wordpress.com/2010/05/images2.jpg?w=121&amp;amp;h=104" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Di dalam kehidupan sehari-hari motivasi dapat 
dilihat dari semangat seseorang di saat ia melakukan suatu aktivitas. 
Seorang pelajar yang memiliki motivasi tinggi dalam belajar dapat 
dilihat dari kerajinannya dalam belajar dengan penuh semangat&lt;span&gt; &lt;/span&gt;untuk mencapai prestasi&lt;span&gt; &lt;/span&gt;belajar yang maksimal.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Seorang pekerja&lt;span&gt; &lt;/span&gt;yang
 memiliki motivasi tinggi dalam bekerja dapat dilihat dari kerajinannya 
dalam bekerja dengan penuh semangat untuk mencapai prestasi kerja yang 
maksimal.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Jenis-jenis motivasi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Secara garis besarnya, motivasi dapat dibagi dalam 2 jenis yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
1. Motivasi intrinsik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Motivasi intrinsik adalah motivasi yang 
timbul dari dalam diri orang yang bersangkutan. Misalnya seseorang yang 
mengikuti kursus bahasa Inggris karena ia memang ingin bisa berbicara 
bahasa Inggris dengan tujuan tertentu seperti mau belajar atau bekerja 
di luar negeri, atau ingin menjadi guru bahasa Inggris&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
2. Motivasi ekstrinsik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Motivasi ekstrinsik&lt;span&gt; &lt;/span&gt;adalah motivasi yang timbul dari luar diri orang yang bersangkutan. Misalnya seseorang&lt;span&gt; &lt;/span&gt;yang mengikuti kursus bahasa Inggris karena ingin mencari teman atau pasangan hidup&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Baik motivasi intrinsic maupun motivasi 
ekstrinsik sama-sama mendatangkan manfaat dalam mendorong seseorang 
untuk berbuat baik seperti belajar, bekerja, berlatih, dll.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Dalam
 hal ini motivasi intrinsik memiliki nilai atau manfaat yang lebih 
tinggi karena akan mendorong seseorang untuk berbuat baik &lt;span&gt; &lt;/span&gt;dengan kesadaran sendiri.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span&gt;Dengan motivasi intrinsic, para pelajar 
dan mahasiswa akan belajar dengan kesadaran sendiri dan penuh semangat 
tanpa harus di suruh oleh orang tuanya. Di samping itu motivasi 
intrinsic sifatnya lebih permanen daripada motivasi ekstrinsik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Mengingat pentingnya motivasi dalam mendorong 
seseorang dalam melakukan sesuatu yang baik, seperti belajar atau 
bekerja, maka sangatlah perlu dipahami berbagai cara untuk membangkitkan
 motivasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Bagaimana membangkitkan motivasi ?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Motivasi dapat dibangkitkan dengan berbagai cara yang antara lain adalah:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
1. Memahami manfaat dari suatu aktifitas. Sebagai
 contoh seseorang akan memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar 
bahasa Inggris jika dia sudah memahami apa saja manfaat dari belajar 
bahasa Inggris.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
2. Menetapkan tujuan yang baik. Seorang pelajar 
yang sudah menetapkan tujuan belajar atau cita-cita, akan memiliki 
motivasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan pelajar yang 
belum menetapkan tujuan belajar atau cita-cita.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
3. Menciptakan suasana yang nyaman di lingkungan belajar atau di lingkungan pekerjaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
4. Mendapatkan nasehat atau saran dari orang lain dalam belajar atau bekerja dengan penuh kesadaran.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
5. Menjalin hubungan baik dengan orang-orang di 
sekitar lingkungan kerja, terutama dengan mereka yang terkait langsung 
dalam kerja sama bersama kita. Hindari permusuhan yang hanya akan 
membuat hati tidak tenang dan melemahkan motivasi kerja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
6. Mendapatkan sugesti positif dari orang lain di mana sugesti tsb berpengaruh untuk membangkitkan motivasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
7. Menerima &lt;span&gt; &lt;/span&gt;pembangkitan motivasi 
dari motivator yang tepat seperti orang tua, saudara, guru, konselor, 
therapis, atau relasi lain yang bisa berperan sebagai seorang motivator.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
8. Menghindari hal-hal yang bisa melemahkan motivasi seperti kejenuhan, pengaruh negatif&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dari&lt;span&gt; &lt;/span&gt;orang lain, dan kondisi negative atau tidak nyaman pada llingkungan yang bisa melemahkan semangat belajar atau bekerja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
9. Memperkuat self sugesti atau sugesti pada diri sendiri yang antara lain bisa diperoleh dengan latihan meditasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
10. Melengkapi berbagai fasilitas yang diperlukan untuk menunjang kegiatan belajar atau bekerja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
11. Menanamkan kesadaran bahwa belajar atau bekerja merupakan kegiatan yang bisa digolongkan sebagai ibadah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
Dari sekian banyak cara membangkitkan motivasi 
tsb, anda perlu lebih mengutamakan untuk membangkitkan motivasi 
intrinsic, karena motivasi intrinsic akan membuat anda bisa belajar atau
 bekerja dengan penuh kesadaran tanpa harus diperintah oleh orang lain. 
Dengan motivasi intrinsic, anda akan menjadi orang yang memiliki 
inisiatif sendiri dalam belajar atau bekerja. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Anda akan menjadi seorang yang &lt;span&gt; &lt;/span&gt;mandiri dan selanjutnya andapun akan bisa menjadi orang yang kreatif.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;object width="320" height="266" class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://1.gvt0.com/vi/MJ5NZ4_LjIk/0.jpg"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/MJ5NZ4_LjIk&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt;
&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;
&lt;embed width="320" height="266"  src="http://www.youtube.com/v/MJ5NZ4_LjIk&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-1992443503329919243?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IrFlrFBDkAV9RGFYoIl6L_UB7rM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IrFlrFBDkAV9RGFYoIl6L_UB7rM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IrFlrFBDkAV9RGFYoIl6L_UB7rM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IrFlrFBDkAV9RGFYoIl6L_UB7rM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/Cr3gHcacPqc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/1992443503329919243/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/08/cara-membangkitkan-motivasi-belajar-dan.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/1992443503329919243?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/1992443503329919243?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/Cr3gHcacPqc/cara-membangkitkan-motivasi-belajar-dan.html" title="CARA MEMBANGKITKAN MOTIVASI BELAJAR DAN MOTIVASI KERJA" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/08/cara-membangkitkan-motivasi-belajar-dan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUYCRn09fip7ImA9WhdQE0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-6934205416814621697</id><published>2011-08-15T11:39:00.002+07:00</published><updated>2011-08-15T11:39:27.366+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-15T11:39:27.366+07:00</app:edited><title>Cawanmu Cawanku, Ajak Namun Jangan Saling Beradu</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/08/1313368278393939316.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/08/1313368278393939316.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Manusia tercipta layaknya cawan kecil. Baik buruknya cawan, tergantung 
isinya. Saat ia berada diladang bunga, maka tetesan madu dari lebah akan
 mengisi cawan itu. Saat ia menari didalam gua, maka kotoran burung akan
 memenuhi cawan itu. Bukan mudah membersihkan cawan, terlebih jikalau 
cawan itu sudah berkerak kerak akibat kotoran burung yang menumpuk. 
Nampaknya, agak salah apabila hendak memuliakan cawan kotor dengan cara 
ditumpuk oleh tetesan madu. Bukankah dia perlu dibasuh terlebih dahulu?.
 Ya, cawan itu perlu dibasuh, dibasuh sesuai derajat kotornya. Sampai ia
 benar benar bersih. Bukankah percuma apabila mengisi secanting madu 
kedalam cawan yang penuh dengan kotoran burung.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/08/1313368513337309671_300x397.9274611399.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/08/1313368513337309671_300x397.9274611399.jpg" width="241" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun kotoran burung didalam cawan tidak selamanya merugikan. Terkadang 
apabila kotoran itu sampai meluap-luap keluar cawan, dan jatuh ketanah, 
itu adalah berkah bagi tanaman yang berada disekitarnya. Secara tidak 
langsung kotoran itu telah menjadi stimulus bagi lebah pencari madu agar
 ia lebih rajin menanggul madu didalam bunga. Bukankah kotoran burung 
adalah unsur hara yang cukup baik untuk pertumbuhan tanaman, salah 
satunya bunga. Dan ketika bunga tumbuh subur didalamnya bersembunyi 
limpahan madu, maka itu adalah incaran sang lebah. Semakin banyak madu 
yang dibawa lebah, bukankah semakin banyak pula cawan cawan bersih itu 
terisi madu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Namun apabila cawan kotor itu, terlalu lama dalam kekotorannya, dan 
terlalu penuh dengan kenajisan didalamnya. Bukankah cukup menyedihkan, 
bila kelak ia pecah dan hancur, sebelum ia dimuliakan. Ia pecah sebelum 
ada yang memungutnya kedalam lemari antik nan indah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hai, cawan penuh madu. Isyaratkan ia pada indahnya ladang bunga. Ajak ia
 dengan halus, dan lemah lebut, ajak ia kedalam ladang bunga, namun 
janganlah kau paksa ia, karena cawan itu mudah pecah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/08/13133684141256728469.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/08/13133684141256728469.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Cawan madu, sungguh pelik pula apabila engkau terus menerus menahan madu
 didalam dirimu. Bukankah masih sangat banyak cawan kosong yang 
seharusnya kau bagi, lalu kau isi kembali dirimu dengan madu yang baru. 
Bukankah madu yang terlalu lama kau pendam bisa membuatnya basi dan 
menjadikannya racun oleh karena bakteri didalamnya.Maka sebarkanlah 
manisnya madumu, lalu isi kembali cawanmu dengan madu dengan madu baru 
yang segar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-6934205416814621697?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/--XKwJuIHC_Tep0EjNbHOnnZBJA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/--XKwJuIHC_Tep0EjNbHOnnZBJA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/--XKwJuIHC_Tep0EjNbHOnnZBJA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/--XKwJuIHC_Tep0EjNbHOnnZBJA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/5Ab9SbkjyNI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/6934205416814621697/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/08/cawanmu-cawanku-ajak-namun-jangan.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/6934205416814621697?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/6934205416814621697?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/5Ab9SbkjyNI/cawanmu-cawanku-ajak-namun-jangan.html" title="Cawanmu Cawanku, Ajak Namun Jangan Saling Beradu" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/08/cawanmu-cawanku-ajak-namun-jangan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0ICRnszeyp7ImA9WhdQEUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-5384696314466224699</id><published>2011-08-12T18:46:00.001+07:00</published><updated>2011-08-12T18:46:07.583+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-12T18:46:07.583+07:00</app:edited><title>Janji seorang penikmat kopi</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Ketika ku seduh dan ku hirup wangi baumu&lt;br /&gt;
Kurasakan setengah kenikmatan dunia mulai masuk ke tubuhku&lt;br /&gt;
ketika ku sruput dan ku alirkan ke lidah dan tenggorokanku&lt;br /&gt;
Surga seakan di depanku&lt;br /&gt;
Seketika terletup semangat kerja&lt;br /&gt;
Membelalak mata ingin menaklukkan dunia&lt;br /&gt;
Dan melayangkan tubuh ini ke awang awang lamunan&lt;br /&gt;
serta menancapkan tonggak kokoh d kaki ini untuk enggan berdiri lagi&lt;br /&gt;
Ku ingin selalu menikmatimu&lt;br /&gt;
Sampai waktu yang memisahkan rasa ini&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kopi…. sepahitnya kamu, ku kan tetap setia karena aroma dan kenikmatanmu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
…….bagi  seorang kopier(sebutan bagi peminum kopi yang sudah addic atau 
 hoby), segelas kopi di pagi hari adalah setengah kenikmatan dunia.  
Mungkin itu terlalu 4L4y tapi jangan terlalu cepat mengambil keputusan  
untuk menilainya. Kenikmatan kopi akan membangkitkan rasa, gairah dan  
semangat hidup. minuman yang terbuat dari biji yang tercatat disejarah  
pertama kali ditemukan pada tahun 1000 SM oleh suku galla di  
ethiopia. Dan mulai booming ketika dibawa oleh pedagang arab yang  
tersohor pertama kali di yaman dengan sebutan mocca. sehingga tak terasa
  sekarang pun kopi menjadi salah satu minuman tekenal di seluruh 
pelosok  indonesia, memang kopi sangat kontroversial dari awal sampai  
sekarangpun bahkan pada masa pemerintahan  Raja Charles II tahun 1675 M,
  dia menutup seluruh kedai kopi di London, tuduhan utamanya adalah 
kedai  kopi sebagai tempat pemufakatan makar. Sampai sekarangpun kopi 
masih  menjadi buah simalakama,di suatu sisi amat digandrungi namun di 
sisi  lain terkadan efek buruk baik yang bersifat medis atupun sosial 
masih  kerap muncul.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
secara etimologi kopi sendiri berasal dari bahasa arab  qawwah yang 
berarti kekuatan kemudian diserap oleh bangsa belanda  menjadi koffie 
dan diasimilasi oleh mulut orang indonesia khusunya jawa  menjadi kopi. 
kopi sendiri secara biloginya dibagi dalam dua jenis genus  besar yaitu 
(coffea arabica dan coffea robusta), sebagai tambahan  informasi ada 
berbagai macam jenis minuman kopi :&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://farm1.static.flickr.com/152/389195281_4f1ae83ae7.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://farm1.static.flickr.com/152/389195281_4f1ae83ae7.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;li&gt;
kopi hitam&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
latte&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
espresso&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
cafe latte&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
cafe machiato&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
cappucino&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
dry cappucino&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
frappe&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
kopi instan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
kopi irlandia&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
kopi tubruk&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
melya&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
kopi moka&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
kopi oleng&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


Namun  dari sekian jenis tersebut yang terpenting sebenarnya apasih 
kandungan  kopi sendiri sehingga sedemikian hebohnya, kopi banyak 
mengandung kafein  sebuah senyawa  hasil metabolisme sekunder golongan 
alkaloid dari  tanaman kopi dan memiliki rasa yang pahit.Peranan utama 
kafein ini di  dalam tubuh adalah meningkatan kerja psikomotor sehingga 
tubuh tetap  terjaga dan memberikan efek fisiologis berupa peningkatan 
energi.Dan  penelitian terakhir kafein juga sebagai zat anti oksidan 
yang mampu  mengikat partikel radikal bebas yang merugikan tubuh. Namun 
dari semua  itu yang terpenting jangan terlalu mengkonsumsi yang 
berlebihan karena  semua yang berlebihan akan tidak baik……selamat 
mencoba “let’s try  the decision in your hand” &lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-5384696314466224699?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cTcIQf0P-HKYaQ-ZIpc46uiXHNo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cTcIQf0P-HKYaQ-ZIpc46uiXHNo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cTcIQf0P-HKYaQ-ZIpc46uiXHNo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cTcIQf0P-HKYaQ-ZIpc46uiXHNo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/FhmOtpr2Muo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/5384696314466224699/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/08/janji-seorang-penikmat-kopi.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/5384696314466224699?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/5384696314466224699?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/FhmOtpr2Muo/janji-seorang-penikmat-kopi.html" title="Janji seorang penikmat kopi" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://farm1.static.flickr.com/152/389195281_4f1ae83ae7_t.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/08/janji-seorang-penikmat-kopi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUEMRnY4fip7ImA9WhdRGUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-5808889137465219463</id><published>2011-08-10T23:21:00.004+07:00</published><updated>2011-08-10T23:28:07.836+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-10T23:28:07.836+07:00</app:edited><title>5 Hal Yang Tidak (Terpaksa) Harus Anda Lakukan</title><content type="html">&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;“&lt;i&gt;Love is never having to say you’re sorry&lt;/i&gt;”
 Ya. Cinta tidak mengharuskan anda untuk mengatakan menyesal. Sebuah 
frase terkenal dari film “Love Story”, tetapi kini sudah banyak 
bermetmorfisis—dimodifikasi, ditata ulang, direkompisisi, bahkan 
disatirkan menjadi film, lagu, seri TV, dan lain sebagainya&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Dan frase itu membuat saya menjadi berpikir: “&lt;i&gt;Adakah hal lain lagi yang sesungguhnya tidak harus saya lakukan untuk mendapatkan suatu kebaikan?&lt;/i&gt;”&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;1. Komitmen Tidak Harus Dengan Memaksakan Diri Untuk Disiplin&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Komitmen dapat membuat seseorang 
melakukan segala tugas dan pekerjaanya dengan konsiten dan optimal, 
tanpa harus memaksakan diri untuk disiplin.&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Lebih jauh dari itu komitmen yang dijaga dengan baik akan melahirkan sikap yang bertanggungjawab.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;2. Kebebasan Tidak Harus Mengubur Diri Dengan Kesenangan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang tidak ingin bebas? Siapa yang
 tidak menginginkan kesenangan? Tetapi, haruskah kebebasan itu diartikan
 sebagai: menikmati segala kesenangan yang diinginkan? Tidak.&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Kebebasan tidak mengharuskan 
sesorang untuk pergi ke diskotik setiap akhir pekan. Kebebasan tidak 
mengharuskan sesorang untuk berfoto bugil di depan kamera. Kebebasan 
tidak mengharuskan untuk menghujat dan memaki. Kebebasan adalah 
pelepasan diri dari ambisi dan keinginan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;3. Percaya Diri Tidak Harus Ditunjukan Dengan Citra Yang Keren&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Ada masa dimana sesorang suka 
meninggikan diri dengan mengatakan “aku punya pesawat terbang” padahal 
yang dipegangnya adalah pesawat-pesawatan dari kertas. Mendengar hal itu
 maka yang lain akan mengatakan, “Aku malahan punya jet, cepeeeet banget
 terbangnya”, padahal yang dipegang juga cuma pesawat-pesawatan dari 
kertas. Siapakah mereka? Anak-anak!&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Di awal kelahiran sosial 
media terutama sekali Facebook, banyak user yang berdandan khusus hanya 
untuk photo profile yang keren, atau memasang badge khusus sebagai photo
 profile. Semua itu adalah usaha untuk menutupi kekurangpercayaan diri.&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Ketika seseorang mencoba mengetakan 
dirinya hebat, keren, dan lain sebagainya, sesungguhnya dia tidak keren 
dan tidak hebat samasekali. Melainkan kekanak-kanakan.&amp;nbsp;Rasa percaya diri
 tidak harus ditunjukan dengan citra yang keren. Karya dan tindakanlah 
yang menunjukan jati diri yang sesungguhnya. Tidak perlu cape-cape buat 
pengumuman. Tunjukan dengan karya yang keren tanpa embel-embel “karyaku 
keren”, itu baru percaya diri!&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;4. Kreativitas Tidak Harus Menjadi ‘&lt;i&gt;Nyeleneh&lt;/i&gt;‘&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Orang-orang yang berkegiatan di dunia 
kreatif sering berpenampilan tidak lumrah, atau ‘nyeleneh’. Haruskah? 
Itukah identitas dari kreatifitas? Bagi saya kreatif adalah spirit jiwa.&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang sesorang tidak berhenti 
berkreasi: membuat (memodifikasi, menata ulang, melakukan percobaan, 
mengevaluasi, mencoba lagi, dan seterusnya), maka dia adalah orang yang 
kreatif. Tanpa perlu harus menjadi orang yang ‘nyeleneh’.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;5. Cinta Tak Pernah Memaksa Orang Lain Untuk Merubah Dirinya&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
Sedikit memaksa anak untuk mengubah 
kebiasaan yang dianggap buruk, masih boleh memakai alasan cinta. Tetapi 
memaksa pacar, pasangan, suami/istri (yang sudah dewasa, sudah tahu 
membedakan mana baik/mana buruk) bukanlah wujud dari cinta.&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;b&gt;Cinta adalah membiarkan dia selalu nyaman. Bukan memaksanya untuk merasa nyaman, apalagi memaksanya untuk mengatakan menyesal. “&lt;i&gt;Love is never having to say you’re sorry&lt;/i&gt;”&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-5808889137465219463?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Kdjf-R5s3DjUME_ig5sOsvWhVgw/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Kdjf-R5s3DjUME_ig5sOsvWhVgw/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Kdjf-R5s3DjUME_ig5sOsvWhVgw/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Kdjf-R5s3DjUME_ig5sOsvWhVgw/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/v5pK-IRXsmg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/5808889137465219463/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/08/5-hal-yang-tidak-terpaksa-harus-anda.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/5808889137465219463?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/5808889137465219463?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/v5pK-IRXsmg/5-hal-yang-tidak-terpaksa-harus-anda.html" title="5 Hal Yang Tidak (Terpaksa) Harus Anda Lakukan" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/08/5-hal-yang-tidak-terpaksa-harus-anda.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUMHQXw5eip7ImA9WhdRGE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-5523833941604816356</id><published>2011-08-08T18:37:00.001+07:00</published><updated>2011-08-08T18:37:10.222+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-08T18:37:10.222+07:00</app:edited><title>MUTIARA DI PASIR</title><content type="html">&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Alkisah, Seorang pemuda yang baru lulus kuliah mengalami perasaan 
sangat tertekan dan putus asa karena sulitnya mencari kerja sehingga ia 
memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan dirinya ke 
tengah laut, ketika dia sampai di pantai dilihatnya seorang tua yang 
ramah dan bijaksana yang kemudian mengajaknya berbicara sampai si pemuda
 tersebut mengutarakan niatnya bunuh diri dan alasannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Kemudian 
orang tua tersebut minta sang pemuda melihat apa yg dilakukannya, orang 
tua tersebut membungkuk mengambil segenggam pasir dan kemudian 
melemparkannya kembali kebawah, seketika pasir tersebut melebur dan 
menjadi satu dengan pasir lainnya yang ada dibawah, lalu kata orang tua 
tersebut kepada si pemuda “cobalah kamu ambil pasir yang tadi saya 
lemparkan ke bawah”, dan si pemuda keheranan dan berkata “mana mungkin 
saya dapat mengambil pasir tersebut karena pasir tersebut telah berbaur 
dan menjadi satu dengan pasir lainnya”, si orang tua tersebut tersenyum 
dan kemudian mengambil sebutir mutiara dari dalam kantongnya dan 
melemparkannya kebawah seraya berkata kepada pemuda tersbut “ambillah 
mutiara tersebut” , dan dengan mudahnya pemuda tersebut mengambilnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Orang
 tua tersebut berkata kepada pemuda tersebut bahwa untuk menjadi atau 
meraih apa yang kamu inginkan maka kamu harus berbeda denga orang lain, 
jikalau kamu sama dengan orang kebanyakan maka kamu tidak akan terlihat,
 demikian juga ketika kamu mencari kerja dan sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Note :&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Bila kita lemah terhadap diri kita maka kehidupan akan keras terhadap kita&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Bila kita keras terhadap diri kita maka kehidupan akan lemah terhadap kita&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-5523833941604816356?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wa6XhCWrm2GSq2P2HGL_Op5U_io/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wa6XhCWrm2GSq2P2HGL_Op5U_io/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wa6XhCWrm2GSq2P2HGL_Op5U_io/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wa6XhCWrm2GSq2P2HGL_Op5U_io/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/nllUoDvFP6o" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/5523833941604816356/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/08/mutiara-di-pasir.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/5523833941604816356?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/5523833941604816356?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/nllUoDvFP6o/mutiara-di-pasir.html" title="MUTIARA DI PASIR" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/08/mutiara-di-pasir.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0UNRn06eyp7ImA9WhdREko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-556128162207049761</id><published>2011-08-02T15:54:00.003+07:00</published><updated>2011-08-02T15:54:57.313+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-02T15:54:57.313+07:00</app:edited><title>Permulaan Kecil</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: justify;"&gt;
Biji sesawi adalah biji terkecil di antara benih yang biasa 
dibudidayakan para petani Israel. Bentuknya bundar, berdiameter 1-2 
milimeter. Hebatnya, benih paling kecil ini bila ditanam akan bertumbuh 
menjadi tanaman paling besar di ladang. Begitu besarnya, sampai burung 
pun dapat bersarang di cabang-cabangnya (Matius 13:31-32).&lt;/div&gt;
&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://sites.google.com/site/kalistusdeltamas/BijiSesawi_02.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="252" src="http://sites.google.com/site/kalistusdeltamas/BijiSesawi_02.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Biji sesawi mewakili salah satu prinsip  Kerajaan Allah: jangan 
terkelabui oleh ukuran dan penampilan. Nabi  Zakharia mengingatkan 
bangsa Israel akan hal itu ketika mereka membangun  kembali Bait Allah. 
Menurut Alkitab versi New Living Translation, ia  berkata, “Jangn 
meremehkan permulaan yang kecil ini, karena Tuhan  bersukacita melihat 
pekerjaan dimulai, melihat batu penjuru sudah ditangan Zerubabel” (ayat 
10).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Bait Allah yang baru ini jelas tidak akan dapat menandingi kebesaran  
dan ke-megahan bait yang dibangun Salomo. Mereka tidak memiliki sumber  
daya dan tenaga melimpah seperti dulu lagi. Namun, lebih besar dan lebih
  megah tidak selalu berarti lebih baik. Yang penting, Tuhan menyertai  
mereka dan mereka mengerjakannya dengan penuh dedikasi. Kalau Tuhan 
bersukacita atas permulaan kecil ini, mengapa kita tidak?&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kesempatan yang ada di tangan kita mungkin tampak tidak berarti.  Apakah
 kita akan ciut hati, lalu mengerjakannya dengan tidak  bersemangat? 
Biji sesawi mengingatkan bahwa Allah tidak dibatasi oleh  ukuran, sumber
 daya, atau kualifikasi kita. Kita dapat menjadi bagian  dari pelayanan 
Kerajaan Allah ketika kita mendayagunakan kesempatan  sekecil apa pun, 
dengan dedikasi sepenuh hati, dan menyerahkan hasil  akhirnya ke tangan 
Tuhan.&lt;br /&gt;
 &lt;i&gt;&lt;br /&gt;
sumber: &lt;a href="http://www.sabda.org/" target="_blank"&gt;www.sabda.org&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-556128162207049761?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zXWdcBqiq8q5Ejda2nCE1FZ8M_k/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zXWdcBqiq8q5Ejda2nCE1FZ8M_k/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zXWdcBqiq8q5Ejda2nCE1FZ8M_k/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zXWdcBqiq8q5Ejda2nCE1FZ8M_k/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/ALBSKc6xUgQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/556128162207049761/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/08/permulaan-kecil.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/556128162207049761?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/556128162207049761?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/ALBSKc6xUgQ/permulaan-kecil.html" title="Permulaan Kecil" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/08/permulaan-kecil.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEYEQHszeip7ImA9WhdREEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6547500937417666228.post-3935771860358416017</id><published>2011-07-29T08:08:00.002+07:00</published><updated>2011-07-31T07:28:21.582+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-31T07:28:21.582+07:00</app:edited><title>Bahasa Daerah Akan Punah?</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Sedikitnya  10 bahasa daerah di Papua dan Maluku Utara 
ditengarai punah dan 32  lainnya terancam punah. Pembinaan serta 
pengembangan bahasa oleh  pemerintah daerah dan penutur asli mendesak di
 lakukan untuk  menyelamatkan bahasa daerah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bahasa daerah merupakan  salah satu kekayaan budaya bangsa kita.
 Suku-suku yang tersebar di  berbagai kepulauan nusantara mempunyai 
bahasa daerah masing-masing yang  merupakan identitas mereka.  Namun 
perkembangan zaman membuat  bahasa daerah ini kian terpinggirkan. 
Pemakain bahasa daerah dirasa  kampungan dan tidak bergengsi. Tak heran 
jika kemudian banyak generasi  muda yang tidak lagi mampu berbahasa 
daerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="" border="0" src="http://banuaw.files.wordpress.com/2010/10/family.gif" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di seluruh wilayah Jawa Barat, termasuk  yang berbatasan dengan Jakarta,
 seperti Bekasi, Cibinong (Bogor), Depok, bahasa sunda masih diajarkan 
di sekolah-sekolah. Pelajaran bahasa sunda adalah salah satu pelajaran 
tersulit buat siswa, setidaknya ini menurut anak-anak di lingkunganku.  
Lingkungan tempat tinggal mereka, meskipun berada di wilayah Jawa Barat 
namun tidak lagi umum menggunakan bahasa sunda. Bahasa sunda hanya di 
gunakan oleh segelintir orang-orang tua.  Keseharian mereka berbahasa 
Indonesia dengan dialek Jakarta.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk Daerah-daerah di Jawa Barat yang relatif agak jauh dari Jakarta, 
memang bahasa  sunda masih digunakan sebapai bahasa pengantar 
sehari-hari. Sehingga  untuk pelajaran bahasa sunda mungkin tidaklah 
sesulit di daerahku ini.  Anak-anak didaerah sukabumi, cianjur,bandung, 
sumedang dan beberapa  daerah lainnya, masih fasih berbahasa sunda.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Banyak  hal yang membuat bahasa sunda di daerahku tidak lagi banyak di 
gunakan.  Salah satunya adalah masyarakat yang semakin heterogen, dengan
 berbagai  macam etnis dalam satu wilayah,  membuat bahasa sunda dirasa 
kurang efektif. Perkawinan campur antar etnis juga membuat bahasa ibu 
jarang diajarkan kepada anak.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alhasil, orang sunda  pun akhirnya gagap dalam berbahasa sunda. 
Pelajaran bahasa sunda di  sekolah menjadi beban tersendiri bagi siswa. 
Orang tua sebagai tempat  bertanyapun sudah banyak yang lupa dengan 
bahasa ibu mereka. Sumi  pembantu di sebelah rumahku,  yang asli 
Sukabumi akhirnya laku di panggil oleh para orang tua yang anaknya 
kesulitan mengerjakan PR bahasa sunda.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Banyak Orangtua didaerahku menganggap bahasa sunda tidak lagi sebagai 
pelajaran yang penting.  Mereka  lebih suka mengajarkan bahasa asing 
sedini mungkin kepada anak-anak  mereka. Tak heran bila anak-anak Tk 
didaerahku lebih fasih menyebut  white, buffalo, eyes dibandingkan 
bodas, munding atau soca. Buat orang  tua, anak yang mengerti bahasa 
inggris tentu jauh lebih membanggakan  dibandingkan dengan anak yang 
bisa bahasa sunda. Nilai  jelek bahasa sunda di raport pun mengalami 
pemakluman&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“ nilai merah, bahasa sunda sih ngak apa-apak nak”, begitu biasanya mereka berkata.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kelestarian suatu bahasa seseunguhnya terletak pada orang-orang yang 
menggunakannya.  Kepunahan suatu bahasa adalah hal yang biasa terjadi. 
Sudah banyak bahasa di seluruh dunia yang punah karena  tidak lagi ada 
yang bisa menggunakannya. Globaslisasai dengan segala  segi positif dan 
negative nya turut pula memberi andil punahnya  bahasa-bahasa minoritas 
diseluruh dunia.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Memggunakan bahasa  daerah bukan berarti tidak nasionalis. Bahasa daerah
 adalah kekayaan  budaya yang sudah seharusnya di lestarikan seperti 
juga produk-produk  kebudayaan lainnya. Bahasa daerah memperkaya 
khasanah bahasa nasional.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keluarga adalah benteng terakhir kelestarian suatu bahasa.  Jika orantua
 tidak lagi mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anaknya  maka dapat 
dipastikan kepunahan bahasa tersebut tinggal menunggu waktu  saja. 
Anak-anak yang tidak menguasai bahasa ibu mereka sudah pasti kelak  
tidak akan mengajarkannya lagi kepada keturunannya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6547500937417666228-3935771860358416017?l=valensprana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dcGExRRzVdqvu3NevJnPVPti1bw/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dcGExRRzVdqvu3NevJnPVPti1bw/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dcGExRRzVdqvu3NevJnPVPti1bw/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dcGExRRzVdqvu3NevJnPVPti1bw/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ValensPranasetyawan/~4/qmBqE9KU4VA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://valensprana.blogspot.com/feeds/3935771860358416017/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://valensprana.blogspot.com/2011/07/bahasa-daerah-akan-punah.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/3935771860358416017?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6547500937417666228/posts/default/3935771860358416017?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ValensPranasetyawan/~3/qmBqE9KU4VA/bahasa-daerah-akan-punah.html" title="Bahasa Daerah Akan Punah?" /><author><name>valens pranasetyawan</name><uri>https://profiles.google.com/102963785764238881342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-WhlNy7B_V4Y/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAog/87qvW5MO4Qo/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://valensprana.blogspot.com/2011/07/bahasa-daerah-akan-punah.html</feedburner:origLink></entry></feed>

