<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798</atom:id><lastBuildDate>Thu, 16 Feb 2012 20:59:11 +0000</lastBuildDate><category>kekeringan</category><category>SAHABAT WALHI</category><category>Siaran Pers</category><category>Pernyataan Sikap</category><category>FOTO-FOTO</category><category>mesuji</category><category>Donasi Musi</category><category>Petisi</category><category>ARTIKEL(OPINI)</category><category>Berita-berita</category><category>FILM-FILM</category><category>agraria</category><category>agraria 2012</category><category>Kebakaran Hutan</category><category>Bima</category><title>WALHI SUMSEL</title><description>WALHI adalah forum organisasi Non Pemerintah, Organisasi Masyarakat dan kelompok pecinta Alam terbesar di Indonesia.WALHI bekerja membangun gerakan menuju tranformasi sosial, kedaulatan rakyat dan keberlanjutan Lingkungan Hidup. Selamatkan Bumi dengan Tanganmu !!!</description><link>http://walhi-sumsel.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>462</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/WalhiSum-sel" /><feedburner:info uri="walhisum-sel" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">Government &amp; Organizations/Non-Profit</media:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>WALHI adalah forum organisasi Non Pemerintah, Organisasi Masyarakat dan kelompok pecinta Alam terbesar di Indonesia.WALHI bekerja membangun gerakan menuju tranformasi sosial, kedaulatan rakyat dan keberlanjutan Lingkungan Hidup. Selamatkan Bumi dengan Tan</itunes:subtitle><itunes:category text="Government &amp; Organizations"><itunes:category text="Non-Profit" /></itunes:category><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-3449461473882111653</guid><pubDate>Mon, 13 Feb 2012 06:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-02-13T13:37:26.571+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><title>Bencana Besar Mengancam</title><description>PALEMBANG– Dampak pembangunan yang semakin menggeliat di Kota Palembang,
 terutama di kawasan resapan air, mengantarkan kota ini menuju bencana 
ekologi terdahsyat. 


&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Palembang kini tidak lagi 
terancam banjir besar, tapi sudah menuju musibah ekologi terdahsyat. 
Sebab, saat ini bencana banjir sudah dirasakan di berbagai wilayah, 
mulai Ulu hingga Ilir Kota Palembang,” ungkap Direktur Eksekutif Daerah 
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel Anwar Sadat kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah
 ekologi disebabkan tidak adanya keseriusan pemerintah daerah dalam 
memperhatikan lingkungan, terutama dalam proses perencanaan pembangunan.
 Kondisi ini semakin diperparah dengan penimbunan daerah resapan air 
utama di Palembang, yaitu wilayah Jakabaring.“ Terus saja membangun, 
tapi tidak memperhatikan lingkungan.Akibatnya, banjir juga akan terus 
terjadi,” tukasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar mengatakan,sejauh ini Perda No 5/2008 
tentang Pemanfaatan Rawa dinilai belum berjalan maksimal. Begitu juga 
dengan Undang-undang (UU) No 32/2009 tentang Perlindungan dan 
Pengelolaan Lingkungan Hidup, tidak ada keseriusan pemerintah daerah 
untuk menegakkan aturan tersebut. “Dari pantauan kami, pembangunan yang 
ada saat ini tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Artinya, 
pemerintah tidak serius dalam menegakkan aturan,” tuding Anwar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk
 menekan dampak kerusakan ekologi ini, pihaknya berharap ada aturan yang
 jelas mengenai wilayah resapan air, yang tidak boleh ditimbun untuk 
pembangunan. “Saat ini tidak jelas yang mana kawasan rawa konservasi dan
 mana rawa yang harus dilindungi. Seharusnya kejelasan itu 
ada,”tandasnya. Sementara iut, Ketua Komisi III Bidang Pembangunan DPRD 
Kota Palembang M Hidayat mengatakan, pengawasan yang dilakukan 
pemerintah kota terhadap pendirian bangunan di Palembang memang masih 
lemah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihaknya mencatat, lahan rawa yang banyak disalahgunakan 
terdapat di kawasan pinggiran, seperti Jakabaring, Kenten, Kalidoni, 
Tegal Binangun. “Penyalahgunaan rawa ini banyak dilakukan developer. 
Padahal, dalam perda sudah disebutkan bahwa beberapa persen dari lahan 
harus dimanfaatkan untuk rawa. Namun, selama ini pengembang perumahan 
tidak menyediakannya, dan pengawasan dari pihak eksekutif untuk hal ini 
juga kurang,”kata Hidayat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menilai makin maraknya penimbunan
 lahan resapan air ini, lantaran permohonan izin penimbunan dan izin 
mendirikan bangunan (IMB) yang diberikan developer kepada Dinas 
TataKotadijadikansatudari seharusnya dibuat berbeda. “Kalau sudah proses
 finishing untuk pembangunannya, pihak Pemkot tidak lagi 
memperhatikannya. Padahal, mereka juga harus melihat spek drainase, 
ketinggian bangunan, dan lahan resapan air yang dibangun developer.Untuk
 itu, pemerintah kota harus lebih aktif,”jelasnya. Sebelumnya,Wali Kota 
Palembang Eddy Santana Putra mengklaim, izin penimbunan rawa dan 
pendirian bangunan saat ini sudah diperketat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya 
pengetatan izin dan pemanfaatan rawa secara optimal, diharapkan dapat 
memperbaiki kondisi lingkungan agar tidak semakin rusak. Sebab, banjir 
yang terjadi di Palembang akibat banyaknya aktivitas penimbunan rawa, 
yang berdampak pada menurunnya daerah resapan air. Khusus mencegah 
banjir di pemukiman warga,kawasan pil banjir akan diperluas agar sebelum
 membangun rumah warga mengetahui kondisi lahan yang akan ditempatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain
 wilayah Mataram, Kecamatan Seberang Ulu 1,pemasangan pil banjir akan 
dikembangkan ke kawasan yang masuk tipologi daerah dataran rendah dan 
rawa, seperti di Gandus,Kertapati, Plaju.“Pil banjir ini seperti batasan
 dalam membangun rumah. Jadi, kalau bangun di daerah rendah,minimal 
ketinggian rumah itu diatur pada pil banjir ini,”ungkap Eddy.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-3449461473882111653?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/1boUXcZJir0/bencana-besar-mengancam.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/02/bencana-besar-mengancam.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-6463113057860883832</guid><pubDate>Sat, 04 Feb 2012 17:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-02-06T12:57:39.386+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pernyataan Sikap</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Siaran Pers</category><title>Segera selesaikan masalah Banjir yang dialami oleh Warga Pabrik Gelas Kalidoni</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-TF9yZ4Ym3uw/Ty1ouyU1FRI/AAAAAAAAAZ4/F9pAM80AQ2g/s1600/DSC09702.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-TF9yZ4Ym3uw/Ty1ouyU1FRI/AAAAAAAAAZ4/F9pAM80AQ2g/s320/DSC09702.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Siaran Pers &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
Segera selesaikan
masalah Banjir yang dialami oleh Warga Pabrik Gelas Kalidoni, akibat Penimbunan
rawa yang dilakukan Oleh PT. Vinayaka Abadi &lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Bencana banjir yang dialami oleh
Warga pabrik gelas Kelurahan Kalidoni Palembang sejak tahun 2009 lalu, sampai
dengan hari ini terus terjadi. Hal ini akibat dari aktifitas yang dilakukan
oleh PT.Vinayaka Abadi yang melakukan pembangunan RUKO sebanyak 17 pintu diatas
lahan rawa seluas 7.000 Meter persegi.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Selama ini lahan rawa tersebut berfungsi
sebagai salah satu daerah resapan dan penampung air alami, yang ada di
pemukiman warga .Namun oleh perusahaan dengan bermodal izin yang didapat dari
pemerintah kota Palembang melakukan pembangunan dengan cara
menimbun habis seluruh rawa tersebut, tanpa menyisahkan sedikitpun lahan rawa
untuk dipergunakan sebagai daerah penapungan air. Hal ini beretentangan dengan
PERDA Kota Palembang No 5 Tahun 2008 tentang rawa yang salah satu isinya
menjelaskan tentang kewajiban badan usaha maupun perorangan untuk menyisahkan
50 persen luas lahan rawa yang dimilikinya saat melakukan pembangunan diatasnya.
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Selain itu sampai dengan saat ini
aktifitas pembangunan yang dilakukan oleh perusahaan tidak memiliki kajian
Lingkungan hidup berupa UKL-UPL, merupakan dokumen wajib dimiliki oleh setiap
badan usaha dalam melakukan aktifitas yang berdampak terhadap lingkungan hidup,
sesuai UU no 32 tahun 2009 tentang Pengelolan dan pengendalian Lingkungan
Hidup, dan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 86 Tahun 2002
Tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup Dan Upaya
Pemantauan Lingkungan Hidup. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Atas persoalan lingkungan yang
dialami oleh masyarakat ini, pada bulan oktober yang lalu masyarakat melakukan
aksi kepemerintah kota palembang,menuntut pemerintah agar
menghentikan sementara aktifitas dari PT. Vinayaka Abadi sebelum persoalan
lingkungan yang mereka timbulkan dapat terselesaikan. Namun Hal itu tidaklah
mendapat respon dan tindakan nyata dari pemerintah Kota
palembang,
masyarakat hanya disuguhi dengan pertemuan pertemuan namun tidak ada tindakan
nyata yang dilakukan Pemkot dilapangan. Malah masyarakat mendapatkan tindakan
intimidasi dari preman preman perusahaan yang tidak menginginkan tindakan
protes yang dilakukan masyarakat. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Tidak adanya tanggapan serius
yang dilakukan pemerintah Kota palembang. Membuat masyarakat Pada awal
Desember 2011 lalu, melalui perwakilannya yang didampingi Walhi sumsel
mendatangi Lembaga dan Instansi Negara yang ada di Jakarta seperti Kementerian
Lingkungan Hidup, Depdagri, Komnas Ham dan Ombusdman RI. Dengan tujuan
mengadukan persoalan yang mereka hadapi dan meminta lembaga tersebut melakukan
tindakan nyata sesuai wewenangnya membantu penyelesaian.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Pengaduan tersebut mendapatkan
respon dari Komnas HAM dan Ombudsman RI yang pada 4 januari dan 2 februari
mengirimkan surat kepada Pemerintah kota palembang untuk segera melakukan
tindakan penyelesaian terhadap persoalan yang dihadapi warga Lorong Pabrik
Gelas kelurahan Kalidoni dengan jangka waktu yang diberikan selama 2 minggu (14
hari).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Jumat 3 februari 2012 Walikota
Palembang melakukan kunjungan di Lorong Pabrik Gelas kalidoni palembang,
yang berdasarkan informasi yang kami dapat dari Warga, kunjungan ini besar
kemungkinan adalah respon pemkot palembang atas surat diatas.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Akan tetapi melihat proses
kunjungan yang dilakukan oleh Walikota tersebut,perlu sampaikan bahwa kami
meyakini kegiatan ini hanya bentuk formalitas/justifikasi untuk menghindari dan
menjawab surat
2 Lembaga Negara tersebut , Namun secara substansi penyelesaian kasus
Lingkungan hidup masih sangat jauh dari harapan masyarakat. Malah berdasarkan
dialog informal antara Warga dan Walikota dilapangan (Rec video dialog)
terlihat tawaran solusi yang diberikan oleh Pemerintah hanya parsial yaitu
Person to Person. yang jika ini dijalankan hanya akan menimbulkan konflik
horizontal diantara warga. Selain itu dalam dialog tersebut pihak pemerintah kota juga terlihat malah
menyalahkan warga karena membangun rumah tanpa IMB, padahal secara fakta
bangunan bangunan rumah tersebut didirikan jauh sebelum peraturan tentang IMB
itu ada. Dan kondisi realnya dilapangan juga IMB hanya dijadikan syarat
formalitas belaka. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Selain dari hal yang diterangkan
diatas, pada saat kunjungan walikota tersebut juga diwarnai dengan tindakan Intimidasi
Penarikan paksa dan Ancaman oleh orang yang diduga Kuat merupakan Preman
Perusahaan, terhadap Direktur Walhi Sumsel Anwar sadat, yang saat itu sedang
berhadapan langsung dengan Walikota palembang guna menyambut serta menyampaikan
persoalan yang dihadapi warga.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Atas hal itu maka Walhi Sumsel
bersama Warga Pabrik gelas Kelurahan kalidoni palembang mendesak Pemerintah Kota Palembang
: &lt;/div&gt;
&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Segera selesaikan Persoalan Lingkungan Hidup berupa
     Banjir yang dialami Warga Pabrik Gelas Kelurahan Kalidoni Palembang,akibat
     pembangunan dengan cara menimbun Rawa oleh PT. Vinayaka Abadi melanggar
     PERDA No 5 Tahun 2008 tentang Rawa, UU No 32 Tahun 2009 tentang Lingkungan
     Hidup, dan Kepmen LH no 82 tahun 2002. &lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Hentikan Penyelesaian Persoalan Lingkungan Hidup
     yang dialami Warga dengan cara Parsial (personal) yang itu hanya akan
     menambah persoalan Baru bagi Lingkungan Hidup dan menimbulkan Konflik
     Horizontal antara Warga&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Menyesalkan tindakan Intimidasi dan ancaman
     terhadap Direktur Walhi Sumsel pada&amp;nbsp;
     jumat 3 Februari 2012 yang dilakukan oleh Preman bayaran Perusahaan
     dihadapan Walikota Palembang, yang tanpa diikuti tindakan pengamanan
     (refresif) terhadap Preman preman tersebut oleh Pemerintah kota, Hal ini
     menimbulkan dan menguatkan persepsi Publik bahwa pemerintah telah melakukan
     pembiaran terhadap tindakan criminal dan pelanggaran HAM bagi warganya. Apalagi
     hal ini bukan hal pertama terjadi terhadap warga dan aktifis yang
     melakukan protes terhadap aktifitas PT. Vinayaka Abadi.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Memberikan Apresiasi terhadap KOMNAS HAM dan
     OMBUDSMAN RI atas respon cepat nya terhadap pengaduan Warga pabrik Gelas
     palembang, namun tetap perlu menjadi catatan bagi ke dua lembaga Negara
     tersebut agar dalam menanggani kasus ini tidak hanya berhenti disini
     (surat) tapi harus dipastikan&amp;nbsp; bahwa
     persoalan ini segera diselesaikan oleh PEMKOT Palembang. &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="tab-stops: 54.75pt; text-align: justify;"&gt;
Demikian
Pernyataan ini kami buat, untuk segera dilaksankan oleh semua pihak terkhusus
Pemerintah Kota Palembang. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="tab-stops: 54.75pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
Palembang, 04 Februari 2012 &lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
ED Walhi Sumsel &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Anwar Sadat &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Eksekutif Direktur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
An. Warga Pabrik Gelas&lt;br /&gt;
Ahmad yani&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-6463113057860883832?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/8lWCg-r3SJo/segera-selesaikan-masalah-banjir-yang.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/-TF9yZ4Ym3uw/Ty1ouyU1FRI/AAAAAAAAAZ4/F9pAM80AQ2g/s72-c/DSC09702.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/02/segera-selesaikan-masalah-banjir-yang.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-1922084126914132725</guid><pubDate>Sun, 29 Jan 2012 07:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-29T14:43:13.057+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><title>Rombongan Walhi Sumsel Terombang-ambing Musi</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-uBPEw4w47Xw/TyT2CwRtdLI/AAAAAAAAAZw/yd7rdRbRo2c/s1600/402079_3011622325687_1116384081_33194085_231837976_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-uBPEw4w47Xw/TyT2CwRtdLI/AAAAAAAAAZw/yd7rdRbRo2c/s320/402079_3011622325687_1116384081_33194085_231837976_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Rombongan Walhi Sumsel sedang Menyusuri Sungai Sugihan guna mencapai Sungai Musi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;PALEMBANG,- &lt;/b&gt;Rombongan Wahana Lingkungan 
Hidup Indonesia   (Walhi)  Sumatera Selatan (Sumsel) sempat 
terombang-ambing di perairan   Sungai Musi di  Kabupaten Banyuasin, 
Sumsel. Hal ini terjadi setelah   perahu jukung yang  mereka tumpangi 
menabrak rumpun pohon yang mengapung   hingga ke tengah  perairan. &lt;br /&gt;
Rombongan
 terdiri dari 21 orang dan 4  anak buah kapal itu  terombang-ambing  
selama sekitar 3 jam, Jumat  (27/1/2012) sejak pukul  03.00 dini hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabrakan
  dengan rumpun  pohon menyebabkan kipas perahu jukung rusak  dan tak 
bisa  berjalan lagi.  Dua anak buah kapal sempat menyelam dalam  
kegelapan untuk  melihat kerusakan. Namun kipas yang  menentukan laju 
dan arah  perahu itu  tetap tak berhasil diperbaiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengemudi 
kapal mengaku mengantuk  setelah mengemudi selama 12 jam  pada hari  
sebelumnya sehingga ia tak  sempat melihat rumpun pohon di  kegelapan 
malam.  Lokasi kejadian berada  di daerah yang masih berupa  pepohonan 
rimbun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak  terlihat kehidupan  manusia di sekitar lokasi  
tersebut. Perahu pun jarang  lewat karena  sudah dini hari. Perahu  
jukung sewaan itu baru ditarik oleh  ketek  (sampan bermesin) sekitar  
pukul 06.00.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat menabrak rumpun,  rombongan Walhi Sumsel sedang
 dalam  perjalanan pulang  ke Palembang dari  menghadiri perayaan panen 
raya di  Desa Nusantara, Air  Sugihan,  Kabupaten Ogan Komering Ilir, 
Sumsel,  yang berlangsung sehari   sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perahu jukung 
disewa karena Desa  Nusantara hanya dapat  dicapai  dari jalur sungai, 
sekitar 8 jam dengan  perahu jukung dan 3 jam  dengan  perahu cepat (&lt;i&gt;speed boat&lt;/i&gt;). Jalan darat  dengan mobil sulit  dilakukan karena  belum memadainya fasilitas jalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibat
  peristiwa ini, perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh 8  jam  
terpaksa  ditempuh selama lebih dari 20 jam. Tak ada korban jiwa,  hanya
   rombongan terpaksa menahan lapar dan haus karena bekal sudah  
menipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Kompas.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-1922084126914132725?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/vhgyXyX50Ac/rombongan-walhi-sumsel-terombang-ambing.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/-uBPEw4w47Xw/TyT2CwRtdLI/AAAAAAAAAZw/yd7rdRbRo2c/s72-c/402079_3011622325687_1116384081_33194085_231837976_n.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/rombongan-walhi-sumsel-terombang-ambing.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-8177474096340652603</guid><pubDate>Fri, 27 Jan 2012 11:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-27T18:13:41.451+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>Lahan TPA Sampah Diserobot Warga</title><description>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;         &lt;/td&gt;
       &lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt;
    &lt;a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=463952" target="_blank" title="PDF"&gt;
     &lt;/a&gt;
   &lt;/td&gt;
       &lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt;
     &lt;a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=463952&amp;amp;pop=1&amp;amp;page=0&amp;amp;Itemid=37" target="_blank" title="Print"&gt;
      &lt;/a&gt;
    &lt;/td&gt;
       &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
    &lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&lt;/td&gt;
   &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
   &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;
    BATuRAJA – Lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Simpang Kadis di Desa 
Gunung Meraksa, Kecamatan Lubuk Batang, seluas 33 hektare (ha) ternyata 
bermasalah. &lt;br /&gt;



&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hampir separuh lahan seluas 15
 ha dari TPA tersebut diserobot dan diklaim milik warga.Bahkan,5 ha 
tanah TPA itu sudah ditanam karet sementara sisanya akan dibuka untuk 
kebun karet. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pasar dan Kebersihan 
Kota,Kabupaten OKU,Hilman bersama rombongan saat melakukan inspeksi 
mendadak (sidak) ke TPA kemarin. Hilman mengungkapkan, seluruh lahan 
yang digarap warga di TPA Simpang Kadis merupakan lahan milik Pemerintah
 Kabupaten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihaknya berkewajiban mengamankan seluruh kawasan 
TPA serta seluruh aset milik Pemkab OKU. “Lahan seluas 33 hektare di 
Desa Gunung merasa diklaim para penggarap. Padahal, seluruh lahan 
tersebut secara objektif milik Pemkab OKU,” katanya. Hilman menambahkan,
 untuk sementara pihaknya belum melakukan tindakan karena saat ini baru 
melakukan pengurusan sertifikat tanah. Pihaknya sudah mengumpulkan 
bukti-bukti kepemilikan TPA tersebut, yakni akta tanah dan surat jual 
beli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanah ini dibeli dari Kepala Desa (Kades) Gunung Meraksa 
Irwan pada 2008 sekitar Rp250 juta. Sementara, Kades membelinya dari 
warga. Kalau ada kesalahpahaman, bukan dengan Pemkab OKU,melainkan 
dengan Kades,” katanya. Apabila sertifikat tanah TPA ini sudah selesai, 
pihaknya akan melakukan penggusuran tanah yang dicaplok warga tersebut&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-8177474096340652603?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/DpCz4oHZ94s/lahan-tpa-sampah-diserobot-warga.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/lahan-tpa-sampah-diserobot-warga.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-8502938409178569181</guid><pubDate>Fri, 27 Jan 2012 11:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-27T18:06:44.164+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria</category><title>Potensi Konflik Harus Diredam</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
SEKAYU– Sekjen Dewan Ketahanan Nasional Marsekal Pertama TNI Edy 
Sunarwondo mengingatkan persoalan sengketa lahan yang rawan konflik 
fisik harus segera dicarikan solusi. 


&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita juga ingin tahu secara 
detail perkembangan Kabupaten Muba,seperti situasi politik, perbatasan 
wilayah, konflik lahan, dan bagaimana mewujudkan good governmentdan 
clean governance,” ungkap Edy di sela-sela pertemuan dengan Bupati Muba 
Pahri Azhari di ruang rapat Serasan Sekate kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edy 
mengungkapkan,informasi soal sengketa lahan simpang siur karena ada yang
 diakui sudah dibebaskan perusahaan, tapi masyarakat belum mendapatkan 
ganti rugi dari pembebasan lahan tersebut. “Kesimpangsiuran itu akhirnya
 membuat rawan terjadinya benturan fisik antara warga dan perusahaan. 
Untuk itu, perlu diketahui data pasti adanya permasalahan yang terjadi 
mengenai sengketa lahan antara warga dan perusahaan,” tandasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya,
 data perusahaan dan pemerintah yang tumpah tindih juga membuat konflik 
lahan di Kabupaten Muba rentan terjadi. Karena itu, dia berharap 
kedatangannya dapat mengetahui kondisi yang sebenarnya untuk dilaporkan 
kepada pemerintah pusat dan dicarikan solusi yang terbaik.Ke depan, Edy 
mengharapkan ada musyawarah yang melibatkan semua pihak untuk 
mengantisipasi kemungkinan konflik yang dapat terjadi di kemudian hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalah
 konflik lahan harus segera dituntaskan baik dari pihak perusahaan,warga
 dan pemda setempat. Kami tidak ingin konflik seperti di Sodong dan 
Mesuji terjadi kembali,”katanya. Sementara itu,Bupati Muba Pahri Azhari 
mengatakan terus mengawasi dan memberikan perhatian terkait konflik 
lahan di Kabupaten Muba supaya tidak terulang dan meluas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejauh
 ini alhamdulillah di Muba kondisinya kondusif berkat kerja sama yang 
baik antara Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) Muba bersama 
masyarakat Muba dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Meskipun, 
soal migas maupun sengketa lahan kadang masih terjadi di kabupaten ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-8502938409178569181?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/Q5kdrhaBxWg/potensi-konflik-harus-diredam.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/potensi-konflik-harus-diredam.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-6542797355762719804</guid><pubDate>Fri, 27 Jan 2012 11:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-27T18:01:58.353+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria</category><title>PT BMH Murni Kelola Hutan Produksi Tetap ?</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt;
    &lt;/td&gt;
       &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
    &lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&lt;/td&gt;
   &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
   &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;
    KAYUAGUNG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Komering Ilir 
menyatakan,PT Bumi Mekar hijau (BMH) memang mengelola lahan hutan 
produksi tetap.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Hal ini menyikapi tudingan 
warga Desa Ulak Kedondong, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering 
Ilir (OKI), yang menuduh bahwa PT Bumi Mekar hijau (BMH) telah 
menyerobot 8.000 ha lahan mereka, untuk lahan tanaman industri (HTI). 
Menurut Kepala Dinas Kehutanan H Alibuddin, melalui Kabid Perlindungan 
Hutan Irawan Syafril, wilayah kerja PT BMH sudah sesuai peraturan Kemhut
 RI. “Memang lahan yang saat ini sedang dibuka PT BMH di Desa Ulak 
Kedondong itu masuk dalam wilayah kerjanya,” ujar Irawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai
 surat rekomendasi dari Bupati OKI,hutan produksi di wilayah Cengal, 
Sungai Menang,Air Sugihan,atau dengan kata lain hutan produksi tetap 
Sungai Lumpur itu masuk wilayah kerja PT SBA Wood Industries Sinarmas 
Group Forestry yang bergerak di bidang HTI. ”Hal ini sudah kita ukur 
dengan GPS dan sudah sesuai dengan peta,dalam surat keputusan (SK) 
Menteri Kehutanan tahun 2004 untuk mengelola hutan produksi menjadi 
HTI,” ungkapnya. Kemudian, mengenai 22 surat keterangan tanah (SKT) atas
 nama 44 warga Desa Ulak kedondong, yang mengklaim bahwa memiliki lahan 
seluas 8.000 ha yang sekarang sedang dikelola PT BMH, menurut Irawan, 
SKT tersebut sudah gugur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”SKT tersebut ditanda-tangani camat 
tahun 1989, sementara sesuai keputusan Bupati OKI No 101/674/I/1988 yang
 telah diteruskan ke seluruh camat, yang isinya seluruh camat tidak lagi
 diberi kewenangan untuk mengeluarkan izin atau mengeluarkan SKT dan SPH
 bagi masyarakat. Dengan demikian, SKT yang mengklaim telah memiliki 
lahan 8.000 ha itu gugur dengan sendirinya,” katanya. Irawan 
melanjutkan, memang setelah menerima laporan warga, Pemkab Oki langsung 
membentuk tim untuk terjun ke lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tim tersebut terdiri 
dari Bagian Pemerintahan, Pertanahan, dan kehutanan, kita sudah 
melakukan pengukuran ulang menggunakan GPS,berkas kita kumpulkan lagi, 
dan hasilnya memang PT BMH tidak melanggar aturan,”jelasnya. Sementara 
itu, menurut Humas PT SBA Wood Industries Sinarmas Group Forestry Iwan, 
selama ini pihaknya bekerja dan beraktivitas sesuai aturan yang 
ada.“Dalam membuka lahan baru,kita mengutamakan prinsip kehati-hatian, 
kami tidak ingin di complain oleh masyarakat, apalagi karena sengketa 
lahan,” ujar Iwan kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai administrasi izin untuk 
aktivitas perusahaan HTI di bawah PT SBA Wood Group,itu sudah sesuai 
dengan aturan dari aturan Bupati OKI. ”Mengenai tuntutan masyarakat 
minta ganti rugi lahan, itu tidak bisa kami kabulkan, karena lahan itu 
bukan punya kami tetapi punya pemerintah, kita hanya meminjam untuk 
dijadikan HTI,” terangnya. Selama membuka lahan di Desa Ulak Kedondong 
sejak 2011, tidak ada masyarakat yang complain, karena sebelumnya 
pihaknya sudah terlebih dahulu melakukan sosialisasi ke masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tetapi
 setelah proses membuka lahan hampir rampung, baru ada yang mengakui 
kalau ada lahannya yang kita gusur,ini sangat aneh, selama ini mereka 
kemana,” jelasnya.&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-6542797355762719804?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/29qtKfg_wbs/pt-bmh-murni-kelola-hutan-produksi.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/pt-bmh-murni-kelola-hutan-produksi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-9034796227434145258</guid><pubDate>Fri, 27 Jan 2012 10:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-27T17:56:53.459+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria</category><title>PT SAML Diminta Stop Beroperasi</title><description>PALEMBANG –Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Selatan (Sumsel) Eddy Yusuf 
meminta PT Selatan Agro Makmur Lestari (SAML) menghentikan sementara 
aktivitasnya di wilayah Desa Nusantara, Air Sugihan, Ogan Komering Ilir 
(OKI). &lt;br /&gt;



&lt;br /&gt;Sebab, saat ini Pemerintah 
Provinsi (Pemprov) Sumsel tengah mengusulkan rekomendasi inklaf ke 
pemerintah pusat atas lahan sawah seluas 1.200 hektar (ha), yang menjadi
 sengketa antara petani dan pihak perusahaan. ”Saya meminta perusahaan 
menyetop dulu aktivitasnya. Jangan sampai membuat resah hingga memancing
 keributan, apalagi pertumpahan darah,” kata Eddy Yusuf dalam 
sambutannya pada acara panen raya rakyat Desa Nusantara,Kecamatan Air 
Sugihan,OKI,kemarin. Eddy Yusuf juga berpesan kepada aparat keamanan, 
dalam hal ini Polsek Air Sugihan dan Danramil, untuk lebih mengedepankan
 kepentingan masyarakat dalam menjalankan tugasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan 
begitu, permasalahan sengketa lahan antara petani dan pihak perusahaan, 
khususnya di Desa Nusantara, dapat terselesaikan secara damai. ”Cukuplah
 peristiwa di Desa Sodong, OKI, menjadi mimpi buruk yang harus kita 
simpan dalam-dalam.Saya berjanji, akan mengawal seluruh kasus sengketa 
lahan ini hingga selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Areal persawahan seluas 1.200 hektare 
di Desa Nusantara ini harus tercatat sebagai salah satu aset pertanian 
Provinsi Sumsel,” tukas Eddy Yusuf. Eddy Yusuf pun menyatakan, melihat 
besarnya hasil produksi padi para petani di Desa Nusantara, tentunya 
potensi ini dapat diandalkan sebagai salah satu sentra penghasil beras 
di Sumsel, sehingga program Sumsel sebagai lumbung pangan nasional dapat
 tetap berjalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Ketua Forum Petani Nusantara 
Suwaji mengatakan, warga Desa Nusantara ini merupakan eks transmigran, 
yang telah menempati lahan di desa tersebut, atas arahan pemerintah 
sejak 1980.Adapun lahan persawahan seluas 1.200 ha yang menjadi sengketa
 tersebut,semula merupakan lahan tidur yang kerap dirasakan menjadi 
penyebab gagalnya usaha pertanian warga,karena dinilai sebagai sarang 
hama, baik hama babi maupun tikus. ”Lantas, sejak 1996, kami 
parapetaniwargaDesaNusantara secara swadaya mulai mencoba membuka lahan 
tidur itu,dan mengelolanya menjadi areal persawahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski 
sempat beberapa kali mengalami kegagalan, akhirnya membuahkan hasil 
berupa panen padi sejak tahun 2000,”beber Suwaji. Selanjutnya,sejak 
2007,Pemerintah Kabupaten (Pemkab) OKI mulai menyosialisasikan program 
penanaman lahan sawit di daerah rawa di Desa Nusantara, yang kemudian 
dilanjutkan dengan kehadiran PT SAML. Entah mengapa,PT SAML lalu secara 
semenamena mengklaim memegang izin kepemilikan lahan itu, meski 
diketahui lahan seluas 1.200 ha tersebut merupakan milik Pemprov Sumsel,
 yang secara regulasi merupakan kawasan hijau bantaran sungai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami
 mohon pemerintah, untuk mendengarkan keluhan dan permohonan kami warga 
Desa Nusantara ini.Kehadiran Pemprov kali ini, kami harapkan menjadi 
dewa penyelamat bagi warga desa. Sebab, apa pun yang terjadi,kami akan 
tetap mempertahankan lahan ini demi untuk masa depan anak cucu 
kami,”tutur Suwaji. Dalam kesempatan yang sama,Direktur Eksekutif Wahana
 lingkungan hidup (Walhi) Sumsel Anwar Sadat memberikan apresiasi 
mendalam, atas kehadiran Wagub Sumsel dalam acara panen raya,yang 
digelar petani Desa Nusantara ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kedaulatan atas tanah dan 
perluasan lahan pertanian adalah syarat utama dalam memakmurkan rakyat 
khususnya petani, maka wajib hukumnya bagi pemerintah untuk melindungi 
dan memperluas pangan rakyat,”kata Sadat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Seputar indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-9034796227434145258?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/1gbW2bhZi_I/pt-saml-diminta-stop-beroperasi.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/pt-saml-diminta-stop-beroperasi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-588265664674589297</guid><pubDate>Tue, 24 Jan 2012 13:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-24T21:51:56.794+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><title>Sumsel dapat jatah program cetak ribuan Hektar sawah baru</title><description>&lt;div class="judulnews" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PALEMBANG–&lt;/span&gt;-Menteri
 Koordinator (Menko) Perekonomian, M Hatta Rajasa menegaskan, tahun ini 
pemerintah pusat bakal mencetak 100 ribu hektare sawah baru dan untuk di Sumsel, dialokasikan sekitar 30 ribu. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pencetakan sawah baru untuk di Sumsel itu, karena Sumsel adalah salah satu 
provinsi penyangga ketahanan pangan. “Pencetakan sawah baru ini untuk 
mencapai target surplus 10 ribu hektare pada 2014,” jelas Hatta, saat&amp;nbsp; 
menghadiri wisuda sarjana dan pascasarjana Stisipol Candradimuka 
Palembang kemarin.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hatta yang telah dipastikan oleh banyak politisi baik lokal maupun nasional sebagai calon presiden RI 2014, meminta program pemerintah pusat ini harus didukung oleh setiap kepala 
daerah. karena Pusat telah menyediakan 
dana dari APBN 2012, sekitar Rp1,7 triliun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Program ini rencananya berlangsung hingga 2014 mendatang. pusat mengharapkan pemerintah daerah bisa menyiapkan lahan seluas yang 
dibutuhkan untuk program ini. “Pendanaan dari pusat 
selain untuk pencetakan sawah baru, juga untuk berbagai fasilitas 
pendukung seperti pembangunan irigasi dan lainnya,” kata Hatta lagi. 
Pola pencetakan sawah baru, nantinya akan diatur oleh pemerintah daerah 
masing-masing, bukan pusat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk program ini, dikembangkan pola kerja sama dengan BUMN (in 
corporate).&amp;nbsp; Diungkapkan Hatta, pemerintah pusat juga sedang melakukan 
penataan kekayaan sumber daya alam di Indonesia. Juga me-reforma agraria
 agar rakyat Indonesia punya akses terhadap tanah. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Programnya sedang disusun, intinya tanah harus menjadi instrumen 
keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat,” cetusnya. Namun, ia belum 
mengatakan berapa lahan yang akan dibagikan kepada rakyat dari penataan 
pertanahan ini. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam upaya memperlancar arus barang di dermaga/pelabuhan, pemerintah 
pusat menyiapkan dana sekitar Rp2 triliun. Dana itu diperuntukkan bagi 
semua dermaga/pelabuhan di Indonesia, termasuk di Sumsel. “Dana itu 
untuk moderenisasi alat, perpanjangan dermaga, percepatan pembangunan 
dermaga baru dan membangun kapal perintis,”jelasnya. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Provinsi Sumsel tahun ini menargetkan produksi beras 3,8 juta ton. Tentu
 saja ada berbagai upaya yang akan dilakukan. Seperti menambah luas&amp;nbsp; 
areal persawahan di Sumsel. ”Kami akan bekerja sama dengan teman-teman 
dari Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan, untuk memanfaatkan 
lahannya sebelum tanaman pokoknya menghasilkan. Misalnya melalui sistem 
tumpang sari,” kata Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan 
Holtikultura Sumsel, Ir Hj Nelly Rasdiana MSi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat ini, areal potensial yang belum ditanami padi sekitar 280 ribu 
hektare. Upaya lain, mengganti varietas padi ke jenis yang lebih unggul 
dan produksinya tinggi. Mengantisipasi hama penyakit, Sumsel punya 
Brigade Pengendalian Hama dan Penyakit yang siap membantu petani 
mengatasi persoalan di lapangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tahun depan, anggaran yang disediakan untuk mewujudkan program 
pembangunan Sumsel Lumbung Pangan sekitar Rp23,2 miliar. Dalam bentuk 
kegiatan penyediaan dan pengembangan sarana dan prasarana pertanian, 
peningkatan produksi dan produktifitas dan mutu pangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terkait dukungan pupuk, Wagub Sumsel yang juga Ketua Komisi Pengawas 
Pupuk dan Pestisida (KP3) Sumsel, H Eddy Yusuf SH MM memastikan 
ketersediaan pupuk bersubsidi bagi para petani. Pihaknya juga memberikan
 kebebasan untuk pengadaan pupuk non subsidi. “Dengan kebersamaan dan 
pengawasan semua pihak, tidak ada lagi kebocoran dalam penyaluran pupuk 
bersubsidi di Sumsel,”imbuhnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ia mengatakan, pemerintah dan masyarakat yang ada di kabupaten/kota 
harus mendukung program pemerintah pusat ini. Salah satunya dengan 
konsisten di bidang pertanian. “Jangan pusat cetak sawah baru, sawah 
lama malah jadi perkebunan,”ungkap Eddy&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Bukan reforma Agraria&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pendapat berbeda diutarakan oleh Direktur Walhi Sumsel Anwar sadat menurutnya program pencetakan sawah baru secara masif atau industrilisasi tanaman pangan (Food Estate), tak jauh beda dengan Program pembangunan perkebunan kelapa sawit 1 juta Hektar yang pernah dicanangkan oleh Pemerintah Sumsel beberapa tahun yang lalu, " bedanya hanya soal komoditas saja, kalo dulu sawit kini tanaman pangan sedangkan pelaku dan pihak yang diuntungkan pun tetap sama yaitu Pemilik Modal atau perusahaan" Ungkap sadat yang diwawancarai di Kantornya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu sadat juga mengkritik pernyataan Hatta rajasa yang mengatakan bahwa Program pencetakan sawah baru ini, adalah salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam menjalankan Reforma Agraria karena menurutnya Program ini hanya akan semakin meminggirkan hak rakyat atas tanah dan menciptakan kemiskinan baru dan pastinya ini bukanlah Reforma Agraria. " Program ini sangat jauh dari Reforma Agraria yang salah satu tujuannya adalah rakyat berdaulat atas tananhnya, kalo program cetak sawah baru ini sama halnya melepaskan rakyat dari mulut Buaya tapi masuk ke mulut singa" ungkap sadat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-588265664674589297?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/ZTsd4euyvUs/dicetak-100-ribu-hektar-sawah-baru.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/dicetak-100-ribu-hektar-sawah-baru.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-3177924726330620043</guid><pubDate>Tue, 24 Jan 2012 04:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-24T11:05:35.816+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><title>Sampah Banjiri Anak Sungai</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
LAHAT – Kesadaran warga Lahat untuk tidak membuat sampah di bantaran 
sungai ternyata masih perlu digugah. Betapa tidak, di sepanjang aliran 
anak Sungai Lematang, Ayek Apol, terlihat ribuan sampah rumah tangga 
yang sengaja dibuang masyarakat. &lt;br /&gt;



&lt;br /&gt;Jika kondisi ini terus dibiarkan, 
bukan tidak mungkin lambang supremasi tertinggi di bidang kebersihan, 
Piala Adipura kembali terlepas dari Kabupaten Lahat. Pengamatan di 
lapangan, anak sungai yang berada di tengah Kota Lahat tersebut, 
tepatnya Kelurahan Pasar Lama, dibanjiri ribuan sampah rumah 
tangga.Tumpukan sampah plastik, kayu, sisa durian terlihat menghiasi 
aliran sungai tersebut.Alhasil,aliran air yang semestinya menuju muara 
Sungai Lematang menjadi tersendat,bahkan terhenti.Ironisnya, lokasi ini 
juga berada di pemukiman padat penduduk dan tak jauh dari perlintasan 
rel kereta api. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya Pemkab Lahat melepas bibit ikan lele 
sebagai bentuk antisipasi mengurangi pembuangan sampah di sepanjang anak
 sungai. Menurut Iskandar,30,warga setempat, sampah rumah tangga itu 
berasal dari hulu yang terbawa hingga ke tengah kota. Camat Lahat Yusri 
mengatakan, sejauh ini pihaknya sudah mengetahui keberadaan sampah yang 
ada di lokasi tersebut. Bahkan, tidak hanya di titik tersebut. Meski 
demikian, pihaknya akan terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak Dinas
 PU Cipta Karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejauh ini kita sudah pantau keberadaan sampah 
tersebut.Namun, karena kewenangan itu ada di Pihak PU Cipta Karya,kita 
akan koordinasikan dahulu,” pungkasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : seputar Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-3177924726330620043?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/TMp4c9Dvj1I/sampah-banjiri-anak-sungai.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/sampah-banjiri-anak-sungai.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-1808403446413650240</guid><pubDate>Tue, 24 Jan 2012 04:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-24T11:02:40.769+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><title>Jalur Minyak Rawas Ilir Ditutup</title><description>MUARABELITI – Bupati Musi Rawas (Mura) H Ridwan Mukti membekukan 
(menutup) jalur angkutan minyak mentah di Kecamatan Rawas Ilir. Hal ini 
dilakukan untuk meredam konflik yang terjadi di kawasan itu. &lt;br /&gt;



&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pembekuan ini dimaksudkan 
untuk mencari solusi yang terbaik agar tidak terjadi konflik antara 
masyarakat,kepolisian, dan perusahaan,” ujar Ridwan saat menggelar rapat
 darurat di pendopoan rumah dinasnya kemarin. Dia meminta pihak 
perusahaan segera melakukan pembuatan pipanisasi pengangkutan minyak 
mentah,agar jangan sampai menimbulkan konflik di 
masyarakat.Sebab,pengangkutan minyak menggunakan angkutan darat memang 
tidak dibenarkan, meskipun tidak ada undang-undang yang melarangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan
 penutupan ini selaras dengan hasil rapat yang dilakukan Presiden 
bersama para gubernur, wali kota/ bupati, Kapolda dan Pangdam seluruh 
Indonesia beberapa waktu lalu.Dalam kesempatan itu, presiden meminta 
setiap kepala daerah menjaga stabilitas politik dan ketahanan pangan di 
daerah. Artinya, setiap ada masalah yang berpotensi konflik HAM di 
masyarakat segera kepala daerah mengambil tindakan terkait. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pembekuan
 ini sematamata untuk menghindari konflik. Sebab, jika berlarut-larut 
akan meluas ke daerah lainnya dan akan menimbulkan konflik HAM di 
masyarakat.Apalagi, konflik antara masyarakat dan aparat kepolisian 
pasti bersumber dengan pihak perusahaan,” katanya. Dia meminta para 
pengusaha tidak khawatir dengan keputusan ini. Sebab, kebijakan tersebut
 diambil untuk mencegah kerugian yang lebih besar. “Pembekuan ini untuk 
pengangkutan minyak mentah dan tidak merugikan perusahaan apakah sumur 
minyaknya akan berkurang jika dibekukan pengangkutannya,” ungkap Ridwan.
 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Pemkab Mura mengharapkan peran serta aktif 
masyarakat menjaga situasi yang ada.Sebab,Pemkab Mura senantiasa 
melakukan pembangunan dan membuka akses di Kecamatan Rawas Ilir. 
Secepatnya satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait melakukan tender
 perbaikan kawasan jalan di Rawas Ilir. Dia mengatakan dalam waktu dekat
 akan turun ke Rawas Ilir dan berdialog dengan masyarakat untuk 
menyelesaikan masalah yang ada. Meskipun saat kejadian pemblokadean 
jalan,wakil bupati, sekretaris daerah (sekda), dan asisten sudah turun 
ke lapangan menyelesaikan masalah yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silakan masyarakat 
berdialog dengan saya di pendopoan rumah dinas. Saya sambut demi 
kepentingan masyarakat,” tuturnya. Sementara itu,Kepala Bagian (Kabag) 
Humas Effendi Fery mengatakan, pembekuan kawasan minyak di Rawas Ilir 
untuk mencegah konflik di masyarakat dan tindakan pembekuan tidak 
mempengaruhi iklim investasi di masyarakat. “Pembekuan mulai efektif 
dilakukan seusai rapat ini dan dibuat surat tembusan ke aparat 
kepolisian dan TNI sehingga diketahui secara umum,”tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya
 sejumlah warga melakukan pemblokadean jalan dari jalan Rawas Ilir 
hingga Muara Rupit. Pemblokadean jalan dilakukan karena warga marah 
akibat jalan yang ada rusak akibat aktivitas perusahaan pertambangan dan
 perkebunan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-1808403446413650240?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/4-1R3gXDTlU/jalur-minyak-rawas-ilir-ditutup.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/jalur-minyak-rawas-ilir-ditutup.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-4481983062062728723</guid><pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-24T10:54:57.487+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria</category><title>2013, Sengketa Lahan Selesai</title><description>KAYUAGUNG – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menargetkan 
pada 2013 tidak ada lagi kasus sengketa lahan yang belum selesai. 


&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini pihaknya sudah 
berupaya menyelesaikan beberapa kasus sengketa lahan di Kabupaten OKI, 
baik sengketa antara masyarakat dan pihak perkebunan sawit ataupun 
dengan perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI). Menurut Bupati OKI Ishak
 Mekki, melalui Sekretaris Daerah Kabupaten OKI Ruslan Bahri, sesuai 
target Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, sengketa lahan di Sumsel 
harus sudah selesai semua pada 2013.”Kita akan penuhi target dari 
pemerintah provinsi bahwa pada 2013 di OKI tidak ada lagi masalah 
sengketa lahan,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengketa lahan di Kabupaten OKI 
didominasi masalah plasma, sedangkan masalah penyerobotan lahan oleh 
perusahaan terbilang sedikit.“Kita sebagai pemerintah daerah hanya bisa 
memediasi masyarakat dengan pihak perusahaan untuk mencari jalan keluar 
tanpa ada salah satu pihak yang dirugikan,”katanya. Penyelesaian 
sengketa lahan juga harus adanya peran aktif antara masyarakat dan pihak
 perusahaan. ”Artinya, jika masyarakat dan perusahaan yang bermasalah 
kita undang untuk dimediasi, tetapi salah satu pihak tidak koperatif, 
tentu sulit untuk dicari jalan keluarnya.Karena itu,koordinasi antara 
kedua belah pihak penting,”pungkasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini masih ada 
sembilan kasus sengketa lahan di Kabupaten OKI yang belum selesai, 
seperti PT Tania Selatan (Kelapa Sawit) di Desa Muara Burnai, Kecamatan 
Lempuing; PT Selatan Agro Makmur Lestari yang bermasalah dengan warga 
masyarakat Bukit Batu,Kecamatan Air Sugihan, lantaran menggarap lahan 
inti milik perusahaan tersebut. Sementara itu,Direktur Wahana Lingkungan
 Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel Anwar Sadat mengatakan, sengketa tanah 
untuk perkebunan sudah terjadi sejak 1987 seiring masuknya pihak swasta 
untuk membuka perkebunan dengan mengambil tanah rakyat. Persoalan 
konflik terjadi karena tingginya kepentingan pemegang modal yang 
diberikan izin oleh pemerintah sehingga hakhak atas tanah rakyat 
dirampas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam membuka kebun sawit untuk pihak swasta, biasanya
 pemerintah hanya melihat sisi formal kepemilikan lahan saja, tidak 
melihat sisi historis dan sosiologi.Akibatnya rakyat dirugikan karena 
kehilangan lahan produktif,” timpal Anwar. Dia menjelaskan, Walhi yang 
selalu aktif memberikan advokasi kepada warga sekaligus menginvestigasi 
kasus lahan konflik. Dia mengakui, banyak menemui kendala karena 
keterlibatan aparat dalam melindungi perusahaan swasta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-4481983062062728723?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/xeXOXgqB67A/2013-sengketa-lahan-selesai.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/2013-sengketa-lahan-selesai.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-2020173629755675541</guid><pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-24T10:47:15.355+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria</category><title>Bupati Diimbau Percepat Penyelesaian</title><description>WAKIL Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Eddy Yusuf menegaskan telah 
menyurati Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin (Muba) 
terkait langkah penyelesaian sengketa lahan. 


&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Saya menginginkan 
permasalahan konflik lahan segera diselesaikan supaya masyarakat tidak 
terluka atas permasalahan yang dialami,” ungkapnya di Palembang kemarin.
 Eddy mengimbau bupati/ wali kota mencari solusi sengketa lahan yang 
menguntungkan kedua belah pihak. ”Masyarakat tidak dirugikan dan 
perusahaan tidak bangkrut sehingga dari sisi perekonomian daerah dapat 
dicarikan solusi yang seharmonis- harmonisnya,” tuturnya. Saat ini 
Pemprov Sumsel terus mendorong para bupati/ wali kota yang memiliki 
permasalahan sengketa lahan membuat berkas laporan penyelesaian secara 
berkala sehingga setiap perkembangannya dapat diketahui. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Apalagi,
 pihak perusahaan perkebunan (OKI dan Muba) dalam pertemuan sudah 
memiliki iktikad baik.Ke depan,pemerintah daerah lebih berhatihati lagi 
memberikan izin lokasi perusahaan agar masyarakat tidak menjadi korban 
dan iklim investasi terus tumbuh serta berkembang baik,”kata dia. 
Sementara itu, pengamat sosial dan politik dari Universitas Sriwijaya 
(Unsri) Dr Ardian Saptawan MSi menegaskan, banyak hal yang harus 
dibenahi terkait sistem pertanahan di Indonesia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pemerintah 
perlu melakukan pendekatan ke masyarakat lokal secara langsung dalam 
mengakomodir aspirasi masyarakat,” katanya. Sebelum izin-izin diberikan,
 pemerintah harus turun ke lapangan secara langsung untuk memastikan 
status tanah tidak bermasalah dan memiliki peta yang jelas. “Sebelum 
mengeluarkan kebijakan perizinan atau saat menemukan indikasi bakal 
adanya persoalan lahan haruslah tanggap. Bagaimana supaya administrasi 
pertanahan tidak bermasalah harus ada koordinasi yang baik antara 
pemerintah (Kehutanan/ Pertanahan/pemda),kepolisian, perusahaan dan 
masyarakat,” tandasnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ardian pun mengimbau pemerintah segera 
memperbaiki sistem pertanahan supaya tidak terjadi lagi penyelesaian 
sengketa lahan dengan jalan kekerasan. “Iktikad baik semua pihak baik 
pemerintah, aparat,perusahaan dan masyarakat harus disinergikan. 
Kemudian komitmen perusahaan tak semata mengeruk keuntungan sebagai 
gambaran imperialisme dan sistem kapitalisme,” tuturnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-2020173629755675541?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/GKTJhdFrS-0/wakil-gubernur-sumatera-selatan-sumsel.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/wakil-gubernur-sumatera-selatan-sumsel.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-6010397021873143707</guid><pubDate>Fri, 20 Jan 2012 12:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-20T19:56:45.001+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria</category><title>Izin Lokasi Perusahaan Perkebunan Dievaluasi</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;PALEMBANG, KOMPAS.com&lt;/strong&gt; -- Pemerintah Provinsi 
Sumatera Selatan rekomendasikan  evaluasi terhadap izin lokasi sembilan 
perusahaan perkebunan yang tengah  berkonflik lahan dengan masyarakat di
 Kabupaten Musi Banyuasin dan Ogan  Komering Ilir. Evaluasi diperlukan 
untuk membuktikan izin lokasi di belasan  desa itu menyalahi prosedur 
atau tidak, sebagaimana dilaporkan masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tiga dari sembilan 
perusahaan perkebunan itu terdapat di Kabupaten Ogan Komering Ilir,  
yaitu PT Sumber Wangi Alam, PT Selatan Agro Mulia Lestari dan PT Bumi  
Sriwijaya Sentosa. Enam perusahaan lainnya di Kabupaten Musi  Banyuasin,
 yaitu PT Berkat Sawit Sejati, PT Hindoli, PT Sentosa Mulia  Bahagia, PT
 Pakerin, PT Bumi Persada Permai, dan PT Proteksindo Utama Mulia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Surat
 rekomendasi untuk segera mengevaluasi sembilan perusahaan  itu akan 
dikirim ke Bupati Ogan Komering Ilir dan Bupati Musi Banyuasin. 
Rekomendasi dihasilkan dalam pertemuan yang  berlangsung di Palembang, 
Jumat (20/1/2012).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pertemuan itu dipimpin Wakil Gubernur Sumsel 
Eddy Yusuf dan dihadiri oleh  ratusan masyarakat dari belasan desa yang 
tengah berkonflik dengan sembilan  perusahaan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rekomendasi itu
 merupakan janji Pemrpov Sumsel setelah  unjuk rasa sekitar 2.000 warga 
desa berkonflik lahan 27 Desember 2011.  Dalam unjuk rasa itu, 
masyarakat menuntut pencabutan izin lokasi  perusahaan perkebunan 
tersebut karena dinilai tak memenuhi  prosedur maupun tak menepati janji
 kebun plasma.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bambang, warga Desa Danau Cala, Kecamatan Lais, 
Musi Banyuasin, mengatakan bahwa  Desa Danau Cala terancam kehilangan 
lahan seluas 3.000 ha karena masuk dalam  izin lokasi perusahaan 
perkebunan kelapa sawit PT Proteksindo Utama Mulia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Izin lokasi 
ini jelas-jelas menyalahi aturan, yaitu izin lokasi dulu  keluar baru 
diikuti pembebasan lahan. Masyarakat tak pernah dimintai  persetujuan 
atas izin lokasi itu," katanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hal yang sama diutarakan Sukirman 
dari Desa Nusantara yang bersengketa lahan  dengan PT Selatan Agro Mulia
 Lestari di lahan garapan masyarakat seluas 900 ha. Lahan ini merupakan 
persawahan yang menjadi mata pencaharian utama  masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut
 Sukirman, masyarakat Desa Nusantara, Kecamatan Air Sugihan, Ogan 
Komering Ilir, mengatakan, masyarakat telah menggarap lahan sejak tahun 
 1995. Mereka juga membayar pajak desa atas lahan sawah itu sebesar Rp 
30.000  per ha per tahun selama tiga tahun, yaitu 2002-2005. Namun, 
sejak 2005, PT Selatan Agro Mulia Lestari memperoleh izin usaha di  
lahan tersebut dengan hanya memberi uang tali asih Rp 1 juta untuk lahan
  seluas 900 Ha.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Lahan itu dulunya lahan terlantar. Kami membuka 
dan membayar pajak dengan  tertib. Tapi saat mengurus surat kepemilikan 
selalu dipersulit. Tanpa ada  pembubuhan persetujuan masyarakat, 
perusahaan itu tiba-tiba menurunkan alat  berat untuk buka lahan di 
sawah kami," kata Sukirman.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Warga desa menyatakan kecewa atas 
rekomendasi Pemprov Sumsel yang hanya  berupa imbauan tanpa disertai 
ketegasan dan keputusan yang jelas.  Rekomendasi dinilai belum sampai 
pada akar permasalahan yaitu mengenai  kepemilikan lahan. "Masalah kami 
tetap belum selesai karena belum ada keputusan siapa yang  berhak atas 
lahan sengketa. Apakah masyarakat atau perusahaan. Semua masih  
mengambang," kata Mulyadi, wakil Desa Tomang, Kecamatan Tulung Selapan, 
 Ogan Komering Ilir, yang mengajukan pencabutan izin lokasi perkebunan 
tebu PT  Bumi Sriwijaya Sentosa di desanya seluas 3.826 ha.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terkait
 hal itu, Wakil Gubernur Eddy Yusuf mengemukakan sulitnya keputusan  
akhir yang mengikat, karena Pemprov Sumsel kesulitan menghadirkan 
perwakilan  perusahaan maupun kepala daerah. Dari sembilan perusahaan 
tersebut, hanya empat perwakilan perusahaan yang  hadir. Bupati Musi 
Banyuasin dan dan Bupati Ogan Komering Ilir yang diundang pun hanya 
diwakilkan para pejabat  pemerintahan kabupaten.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Keputusan final 
hanya bisa dibuat dengan kehadiran pejabat-pejabat yang  berwenang 
memberi kebijakan. Kalau begini, mereka hanya diminta hadir  pimpinannya
 dan mendengarkan. Kami tak bisa berbuat banyak karena kuncinya  ada di 
bupati dan pemimpin perusahaan," kata Eddy.                            &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-6010397021873143707?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/W6U2nlAXEH8/izin-lokasi-perusahaan-perkebunan.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/izin-lokasi-perusahaan-perkebunan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-5992056277883346783</guid><pubDate>Fri, 20 Jan 2012 12:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-20T19:48:24.239+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria</category><title>Penyelesaian Konflik Lahan di Sumsel- Pemda-DPRD-Perusahaan Lakukan Pertemuan</title><description>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&lt;/td&gt;
   &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
   &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;
    PALEMBANG – Polemik penyelesaian masalah konflik lahan yang terjadi di 
beberapa wilayah di Sumsel bakal diselesaikan dalam rapat bersama. 
Namun, bentuk keputusan final tersebut masih tanda tanya. &lt;br /&gt;



&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Hari ini,Jumat (20/1),Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel, perusahaan 
perkebunan, dan Komisi I DPRD Sumsel akan duduk satu meja untuk 
merampungkan semua persoalan antara perusahaan perkebunan dan 
masyarakat. Sedikitnya ada 10 kasus yang akan diselesaikan,yakni masalah
 tuntutan masyarakat terhadap HGU dan lokasi PT Sumber Wangi Alam, PT 
Selatan Agro Makmur Lestari,PT Bumi Sriwijaya Sentosa di wilayah 
Kabupaten OKI. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian,PT Berkat Sawit Sejati, PT Hindoli, PT Sentosa Mulia Bahagia, 
PT Pakerin,PT Bumi Persada Permai, dan PT Proteksindo Utama Mulia di 
wilayah Kabupaten Muba. Lalu, sengketa lahan antara warga transmigrasi 
UPT Parit I Desa Tanjung Pule,Kecamatan Indralaya Utara; UPT II 
Rambutan, Desa Rambutan, Kecamatan Indralaya Utara; dan TSM Tanjung 
Pule,Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir (OI); dengan pemilik
 lahan KTM dan sejumlah perusahaan sawit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam surat yang disampaikan Pemprov (Sumsel) kepada kami, disebutkan 
bahwa Pemprov akan menggelar rapat besok (hari ini) itu sudah keputusan 
final. Artinya keputusan finalnya ada besok hari (hari ini),”kata Ketua 
Komisi I DPRD Sumsel Erza Saladin di Gedung DPRD Sumsel kemarin. Meski 
begitu, Erza mengaku belum mengetahui bentuk keputusan finalnya itu 
seperti apa, apakah akan didefinitifkan, misalkan HGU-nya di evaluasi, 
apakah HGU-nya dibatalkan atau yang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Intinya nasib bagaimana masyarakat, jangan sampai masyarakat 
transmigrasi terkatung- katung lagi,”kata dia. Menurut politikus Partai 
Keadilan Sejahtera (PKS) itu, sebenarnya masalah ini dapat 
disederhanakan. Contohnya kalau memang peruntukan lahan itu untuk 
transmigrasi maka sebaiknya dikembalikan saja. Namun, misalkan ada win 
win solution dan masyarakat ingin dipin-dahkan, yakinkan bahwa lahan 
yang akan digunakan itu tidak bermasalah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan sampai nanti, dipindahkan ke suatu tempat ternyata bermasalah 
lagi. Karena kami baru saja dari lapangan. Ada kasus PT TBL, di mana 
sekitar 300-an hektare luas lahan yang seharusnya lahan itu untuk 
transmigrasi tapi malah masuk ke HGU ke PT TBL, itu terjadi di Desa 
Prambahan Baru, Kecamatan Banyuasin I,”jelas Erza. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, anggota Komisi I DPRD Sumsel Syaiful Islam menyatakan, 
pada prinsipnya Dewan ingin ada progres yang jelas terhadap penyelesaian
 kasus tersebut.“Artinya sudah berapa kali kita tindak lanjuti. Sehingga
 dengan pertemuan besok (hari ini), kita harapkan pihak-pihak perusahaan
 yang hadir itu punya hak untuk memberikan keputusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kalau itu tidak bisa memberikan keputusan yang jelas, maka 
pertemuan itu tidak ada manfaatnya,”ujar dia. Politikus asal Partai 
Demokrat ini mengungkapkan, persoalan-persoalan sengketa ini kan sudah 
menjadi area publik yang ditunggu-tunggu. Untuk itulah Dewan harus mampu
 menyelesaikan secara tuntas. Karena pertemuan dengan perusahaan 
tersebut sudah dilakukan beberapa kali pertemuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, intinya persoalan yang menjadi hak masyarakat harus 
diselesaikan. Kewajiban-kewajiban perusahaan, seperti kawasan yang 
selama ini diklaim oleh perusahaan yang di dalamnya ada hak 
masyarakat,diingkari oleh perusahaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi kita harus bahas substansinya yang betulbetul mencari solusi,” 
ungkap Syaiful. Kemudian, tandas dia, kalau semuanya sudah menjadi 
keputusan dan kesepakatan untuk masyarakat maka harus komit dengan kedua
 belah pihak. Perusahaan harus memenuhi kewajibannya, masyarakat juga 
harus menjaga asetaset milik perusahaan.Selama ini terhadap 
perusahaan-perusahaan perkebunan yang besar, yang mereka kirimi untuk 
rapat dengan kita adalah orang-orang yang tidak bisa mengambil 
keputusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau memang terjadi pengingkaran rapat yang tidak sesuai dengan yang 
dinginkan, paling tidak harus ada sanksi. Misalnya HGU-nya dievaluasi. 
Bahkan,kalau menyalahi aturan HGU-nya harus dicabut. Itu harus karena 
kalau terjadi benturan dengan masyarakat seolah- olah antara pemerintah 
dan masyarakat.Padahal yang ingkar janji itu perusahaan,” pungkasnya.&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-5992056277883346783?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/09YWFxAO7jM/penyelesaian-konflik-lahan-di-sumsel.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/penyelesaian-konflik-lahan-di-sumsel.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-5780184112051774118</guid><pubDate>Thu, 19 Jan 2012 07:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-19T14:53:16.461+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><title>Petani Sumsel : Pemerintah jangan Bohongi kami lagi</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-UZYG7Dhyf9g/TxfJ8MF89sI/AAAAAAAAAZo/23hgeOR7Q88/s1600/DSC09112.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-UZYG7Dhyf9g/TxfJ8MF89sI/AAAAAAAAAZo/23hgeOR7Q88/s400/DSC09112.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr style="color: red;"&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sukirman (40) di salah satu kegiatan yang diadakan Walhi Sumsel&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Palembang.(News). Di tundanya pertemuan penyelesaian
konflik agrarian di sumatera selatan beberapa hari lalu (selasa 17/1), secara
sepihak oleh Pemerintah sumsel, telah&amp;nbsp;
menimbulkan rasa kecewa terhadap petani dari 17 desa yang berasal dari
MUBA dan OKI. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Hal ini diungkapkan oleh Sukirman
salah satu perwakilan warga desa Nusantara OKI di Sekretariat Walhi Sumsel “
Penundaan kemarin memberikan Isyarat kepada kami, bahwa Pemerintah sumsel tidak
serius untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi rakyatnya”. Kata kirman
yang di iyakan oleh warga lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Menurut kirman “Harusnya
pemerintah berpikir juga dengan jarak desa kami dengan palembang yang jauh, dan otomatis memakan
biaya besar, karena pembatalan ini warga harus menyisihkan uangnya kembali
untuk membiayai 10 orang dari kami yang ditunjuk sebagai perwakilan dalam
pertemuan” &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dijelaskan Kirman, untuk menuju
desa nusantara tempat tinggal mereka, jalan satu satunya harus menggunakan
transportasi sungai dengan jarak tempuh mencapai 9 jam dengan biaya tranportasi
p/p sebesar 150 ribu rupiah, maka kalo ditotalkan untuk biaya berangkat 10
orang sebesar 1.5 Juta. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
“ Jalan darat hancur mas, tidak bisa
dilewati oleh kendaraan apapun, kami seperti hidup di negara yang belum merdeka”
kata syaiful ketua Forum Komunikasi Petani desa Nusantara Bersatu (FKPNB) coba
melengkapi pernyataan kirman.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV"&gt;Sekedar meninformasikan Desa Nusantara merupakan salah satu desa yang sedang
berkonflik dengan PT. SAML yang bergerak di perkebunan kelapa sawit. Konflik ini
dimulai sejak tahun 2008, saat masyarakat tahu bahwa 1.200 hektar lahan persawahan
yang telah bertahun tahun di kelolah oleh masyarakat, diklaim oleh perusahaan
masuk sebagai lahan HGU perusahaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV"&gt;Kini petani desa nusantara telah berada di Sekretariat Walhi Sumsel, mereka
datang untuk memenuhi kembali undangan pertemuan penyelesaian konflik Agraria,
yang kemarin telah di jadwalkan ulang oleh Pemerintah Propinsi Sumsel melalui
Wakil gubenur Eddy yusuf pada Jumat Besok (20/1). Mereka berharap dalam
pertemuan besok pemerintah tidak lagi membohongi mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-5780184112051774118?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/gig9K_eUfvE/petani-sumsel-pemerintah-jangan-bohongi.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/-UZYG7Dhyf9g/TxfJ8MF89sI/AAAAAAAAAZo/23hgeOR7Q88/s72-c/DSC09112.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/petani-sumsel-pemerintah-jangan-bohongi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-5758722828194123881</guid><pubDate>Wed, 18 Jan 2012 06:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-18T13:06:31.358+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mesuji</category><title>Selesaikan Kasus Agraria-Pemprov Dinilai Tak Serius</title><description>PALEMBANG – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Selatan (Sumsel) 
menilai Pemprov Sumsel tidak serius menyelesaikan kasus sengketa lahan 
antara masyarakat dengan perusahaan perkebunan. “Ditundanya pelaksanaan 
pertemuan untuk membahas sejumlah kasus sengketa lahan yang terjadi 
antara masyarakat dan perusahaan diwilayah OKI dan Muba yang dijadwalkan
 hari ini (kemarin) tidak wajar karena diputuskan sepihak oleh Pemprov 
Sumsel tanpa alasan yang jelas,” papar Kadiv PPER Walhi Sumsel, Hadi 
Jatmiko, saat aksi demonstrasi bersama puluhan petani dari Kabupaten OKI
 dan Muba diKantor Gubernur Sumsel,kemarin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Hadi, 
penundaan yang terjadi mengisyaratkan Pemprov tidak serius ingin 
menyelesaikan konflik agraria yang terjadi di Sumsel khususnya yang 
melibatkan 10 perusahaan perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI) di 
Kabupaten OKI dan Muba. Akibat penundaan tersebut Hadi menuntut Pemprov 
Sumsel tidak menunda lagi pertemuan selanjutnya pada Jumat (20/1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami
 ingin pertemuan mendatang tidak lagi ditunda agar dapat membahas 
seluruh konflik yang diangkat dan secara konkrit menuntaskannya yaitu 
dikembalikannya hak-hak rakyat,”tukasnya. Asisten I Setda Pemprov 
Sumsel, Mukti Sulaiman, atas nama Gubernur Sumsel Alex Noerdin berjanji 
pada pertemuan yang akan dilakukan pada 20 Januari mendatang tidak akan 
terjadi penundaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Kita sepakat bahwa akan dilakukan pertemuan 
antara Pemprov Sumsel dengan jajaran pemerintahan Kabupaten OKI dan 
Muba, Walhi, serta utusan masyarakat yang dipimpin langsung Wagub Sumsel
 pada 20 Januari 2012 pukul 08.00 WIB,”jelas Mukti. Sementara itu, Wakil
 Gubernur (Wagub) Sumsel Eddy Yusuf ketika dikonfirmasi mengenai 
penundaan penyelesaian lahan yang telah dijanjikan bukan karena faktor 
kesengajaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya tidak ada batas waktu untuk 
penyelesaian sengketa tanah. Mana yang bisa diselesaikan,maka segera 
kita selesaikan. Jadi harus bijaksana menyikapinya dan jangan sampai 
ribut,”katanya di Martapura kemarin. Sebelumnya, Bupati Muba Pahri 
Azhari menyatakan telah mengevaluasi secara keseluruhan permasalahan 
sengketa lahan yang terjadi di wilayahnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Semua permasalahan 
akan diselesaikan dengan baik dengan mengajak semua instansi terkait 
mulai dari perusahaan hingga BPN. Karena senegketa lahan tidak bisa 
diselesaikan sepihak oleh pemerintah,” katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Sumber : Seputar Indonesia

&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-5758722828194123881?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/eCPbNUcg1fU/selesaikan-kasus-agraria-pemprov.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/selesaikan-kasus-agraria-pemprov.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-7125906742027420974</guid><pubDate>Tue, 17 Jan 2012 07:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-17T16:29:46.503+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pernyataan Sikap</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><title>Pernyataan Sikap : Penundaan Pertemuan Penyelesaian Konflik Agraria di Sumsel</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Pemerintah tidak
seriusan menyelesaikan kasus kasus Agraria&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-BE-mKEIvolc/TxUpx-_MAkI/AAAAAAAAAZg/CPLr9W7lBqA/s1600/DSC09180.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-BE-mKEIvolc/TxUpx-_MAkI/AAAAAAAAAZg/CPLr9W7lBqA/s320/DSC09180.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Perwakilan Masyarakat Tanyakan Komitmen Pemerintah Selesaikan Konflik Agraria di Sumsel&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Adalah hal yang tidak wajar
dilakukan oleh Pemerintah dengan struktur perangkat dinas yang lengkap
(professional) menunda agenda yang telah disepakati bersama dijauh hari
sebelumnya, tanpa ada alasan yang jelas. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Hal tersebut terjadi saat ini,
dimana secara sepihak pemerintah sumatera selatan memutuskan untuk menunda
pertemuan (rapat) Penyelesaian Konflik agrarian yang ada di Sumsel . Dimana pertemuan
ini telah disepakati bersama antara pemerintah sumsel dengan Perwakilan
masyarakat beberapa waktu lalu, tepatnya 27 Desember 2011, adapun isi dari kesepakatan
tersebut adalah Pemerintah sumsel akan memfasilitasi pertemuan penyelesaian
Konflik agrarian yang sedang dihadapi Masyarakat pada 17 Januari 2012. Saat itu
sedikitnya 2000 orang petani melakukan aksi massa di halaman Pemrov sumsel,
untuk menuntut pemerintah sesegera mungkin menyelesaikan Persoalan agrariaia
yang dihadapi masyarakat, seperti perampasan tanah rakyat yang dilakukan
Perusahaan yang difasilitasi oleh Pemerintah. serta meminta Pemerintah untuk
menarik Pasukan Polisi dan TNI dari wilayah Konflik agrarian.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Penundaan ini mengisyarakatkan bahwa
pemerintah Sumsel saat ini tidak serius untuk menyelesaikan konflik agraria
yang terjadi di Sumatera Selatan. Terkhusus terhadap Konflik yang sedang di
hadapi rakyat 17 desa, melibatkan sedikitnya 9 Perusahaan Perkebunan dan Hutan
Tanaman Industri, antara lain PT. &lt;span lang="SV"&gt;Sumber
Wangi Alam, PT. Selatan Agro Makmur Lestari dan PT. Bumi Sriwijaya Sentosa yang
berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) serta&amp;nbsp; PT. Berkat Sawit Sejati, PT. Hindoli, PT.
Sentosa mulia Bahagia, PT. Pakerin, PT. Pakerin, PT. Bumi Persada Permai dan
PT. Proteksindo Utama Mulia di Kabupaten Musi Banyuasin. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Atas Kondisi ini maka kami
menuntut kepada Pemerintah Sumsel untuk : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Memastikan pertemuan yang diagendakan
     selanjutnya pada Hari Jum’at, Tanggal 20 Januari 2012 tidak lagi ditunda&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Agar dalam pertemuan tersebut dapat
     membahas seluruh konflik yang diangkat dan secara konkret menuntaskannya,
     yakni dikembalikannya hak-hak rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV"&gt;Demikianlah hal ini disampaikan,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV"&gt;Palembang, 17 Januari 2012&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;Dto&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;u&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hadi Jatmiko &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV"&gt;WALHI Sumsel&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-7125906742027420974?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/ExqEWzV8gOE/pernyataan-sikap-penundaan-pertemuan.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/-BE-mKEIvolc/TxUpx-_MAkI/AAAAAAAAAZg/CPLr9W7lBqA/s72-c/DSC09180.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/pernyataan-sikap-penundaan-pertemuan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-3472466242641097934</guid><pubDate>Sun, 15 Jan 2012 07:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-15T14:35:32.458+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mesuji</category><title>Warga Sei Sodong Waspadai Provokator</title><description>&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: arial; font-size: 14px; line-height: 20px; text-align: -webkit-left;"&gt;
Warga Desa Sei Sodong, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, memperketat pengawasan di sekitar desa menjelang pelaksanaan zikir dan doa bersama terkait konflik lahan. Pengawasan dimaksudkan untuk mencegah masuknya provokator pada aksi damai yang rencananya dihadiri 1.000-2.000 orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sejak semalam beberapa warga berjaga di tenda yang didirikan di sekitar desa guna memantau orang luar yang masuk. Kami juga menghubungi kepolisian. Beberapa petugas kepolisian pun sudah datang ikut memantau,” kata Chichan, tokoh pemuda Sei Sodong, Kamis (12/1/2012).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga khawatir masuknya provokator dapat menyebabkan keadaan memanas. Pasca-bentrokan yang menewaskan tujuh orang April lalu, warga desa Sei Sodong hanya berharap kehidupan tenteram dan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Masyarakat Sei Sodong sebenarnya tetap mengutamakan kedamaian dan tidak akan menyerang lebih dulu. Tapi adat kami memang akan membela diri jika diserang duluan,” ujar Chichan menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zikir dan doa bersama mengundang perwakilan masyarakat yang juga tengah berkonflik dengan perusahaan di beberapa wilayah Sumatera Selatan dan Mesuji, Lampung. Pada April lalu, warga Sei Sodong bentrok dengan pekerja perusahaan perkebunan kelapa sawit PT SWA yang mengakibatkan tujuh orang tewas. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-3472466242641097934?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/7kdso4Be-Zo/warga-sei-sodong-waspadai-provokator.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/warga-sei-sodong-waspadai-provokator.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-4603808178665797797</guid><pubDate>Fri, 13 Jan 2012 14:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-13T21:13:16.358+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pernyataan Sikap</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Siaran Pers</category><title>Reforma Agraria, Pembaruan Desa dan Keadilan Ekologis Jalan Indonesia Berkeadilan Sosial</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jakarta, 12-01-2012 -&amp;nbsp;Kami dari “Sekretariat Bersama Pemulihan 
Hak-Hak Rakyat Indonesia”, aliansi dari organisasi Petani, Buruh, 
Masyarakat Adat, Perempuan, Pemuda Mahasiswa, Perangkat Pemerintahan 
Desa, dan NGO.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hari ini, Kamis 12 Januari 2012 melakukan aksi serentak di Ibu kota 
Negara DKI Jakarta dan 27 Provinsi di wilayah Sumatera, Jawa, 
Kalimantan, Sulawesi, Bali NusaTenggara, Maluku dan 4 wilayah di luar 
negeri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hari ini, kami menyatakan Perlawanan dan Membentuk Aliansi Gerakan 
Perlawanan Terhadap Perampasan Tanah-Tanah Rakyat yang difasilitasi oleh
 rezim SBY-Boediono di seluruh Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Kami Berpandangan:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bahwa masalah utama agraria (tanah, air, dan kekayaan alam) di 
Indonesia adalah konsentrasi kepemilikan, penguasaan dan pengusahaan 
sumber-sumber agraria baik tanah, hutan, tambang dan perairan di tangan 
segelintir orang dan korporasi besar, di tengah puluhan juta rakyat 
bertanah sempit bahkan tak bertanah. Ironisnya, ditengah ketimpangan 
tersebut, perampasan tanah-tanah rakyat masih terus terjadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perampasan tanah tersebut terjadi karena persekongkolan jahat antara 
Pemerintah, DPR-RI dan Korporasi. Mereka menggunakan kekuasaannya untuk 
mengesahkan berbagai Undang-Undang seperti: UU No.25/2007 Tentang 
Penanaman Modal, UU No.41/1999 Tentang Kehutanan, UU 18/2004 Tentang 
Perkebunan, UU No.7/2004 Tentang Sumber Daya Air, UU No. 27/2007 Tentang
 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, UU No. 4/2009 
Mineral dan Batubara, dan yang terbaru pengesahan UU Pengadaan Tanah 
Untuk Pembangunan. Keseluruhan perundang-undangan tersebut sesungguhnya 
telah melegalkan perampasan hak-hak rakyat atas tanah, hutan, tambang, 
wilayah tangkap nelayan, wilayah kelola masyarakat adat dan desa, 
kesemuanya hanya untuk kepentingan para pemodal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perampasan tanah berjalan dengan mudah dikarenakan pemerintah pusat 
dan daerah serta korporasi tidak segan-segan mengerahkan aparat 
kepolisian dan pam swakarsa untuk membunuh, menembak, menangkap dan 
bentuk-bentuk kekerasan lainnya jika ada rakyat yang berani menolak dan 
melawan perampasan tanah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kasus yang terjadi di Mesuji dan Bima adalah bukti bahwa Polri tidak 
segan-segan membunuh rakyat yang menolak perampasan tanah. Hal ini 
terjadi karena Kepolisian Republik Indonesia (Polri) secara jelas dan 
terbuka telah menjadi aparat bayaran perusahaan perkebunan, 
pertambangan, dan kehutanan. Kasus PT.Freeport &amp;nbsp;dan Mesuji Sumatera 
Selatan membuktikan bagaimana polisi telah menjadi aparat bayaran 
tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cara-cara yang dilakukan oleh pemerintahan SBY-Boediono dalam 
melakukan perampasan tanah dengan menggunakan perangkat kekerasan 
negara, mulai dari pembuatan undang-undang yang tidak demokratis hingga 
pengerahan institusi TNI/polri untuk melayani kepentingan modal asing 
dan domestik sesungguhnya adalah sama dan sebangun dengan cara-cara 
Rezim Fasis Orde Baru.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kami menilai bahwa perampasan hak-hak rakyat atas tanah, hutan, 
tambang, wilayah tangkap nelayan, wilayah kelola masyarakat adat dan 
desa yang terjadi sekarang ini adalah bentuk nyata dari perampasan 
kedaulatan rakyat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagi Kami Kaum Tani, Nelayan, Masyarakat Adat, dan Perempuan 
perampasan tersebut telah membuat kami kehilangan tanah yang menjadi 
sumber keberlanjutan kehidupan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagi Kami Kaum Buruh, perampasan tanah dan kemiskinan petani pedesaan
 adalah sumber malapetaka politik upah murah dan sistem kerja out 
sourcing yang menindas kaum buruh selama ini. Sebab politik upah murah 
dan system kerja out sourcing ini bersandar pada banyaknya pengangguran 
yang berasal dari proses perampasan tanah. Lebih jauh, perampasan tanah 
di pedesaan adalah sumber buruh migran yang dijual murah oleh pemerintah
 keluar negeri tanpa perlindungan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melihat kenyataan tersebut, kami berkesimpulan: Bahwa dasar atau 
fondasi utama dari pelaksanaan sistem ekonomi neoliberal yang tengah 
dijalankan oleh SBY Boediono adalah Perampasan Tanah atau Kekayaan Alam 
yang dijalankan dengan cara-cara kekerasan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kami berkeyakinan bahwa untuk memulihkan hak-hak rakyat Indonesia 
yang dirampas tersebut harus segera dilaksanakan Pembaruan Agraria, 
Pembaruan Desa demi Keadilan Ekologis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pembaruan Agraria adalah penataan ulang atau restrukturisasi 
pemilikan, penguasaan, dan penggunaan sumber-sumber agraria, untuk 
kepentingan petani, buruh tani, perempuan dan golongan ekonomi lemah 
pada umumnya seperti terangkum dalam UUPA 1960 pasal 
6,7,9,10,11,12,13,14,15,17. Pembaruan Agraria adalah mengutamakan 
petani, penggarap, nelayan tradisional, perempuan dan masyarakat 
golongan ekonomi lemah lainnya untuk mengelola tanah, hutan dan perairan
 sebagai dasar menuju kesejahteraan dan kedaulatan nasional.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pembaruan Desa adalah pemulihan kembali hak dan wewenang di Desa atau
 nama lain yang sejenis, yang telah dilumpuhkan dan diseragamkan oleh 
kekuasaan nasional sejak masa Orba melalui UU No.7/1979 tentang 
Pemerintahan Desa. Penyeragaman tersebut telah menghilangkan pranata 
asli masyarakat pedesaan yang merupakan kekayaan “Bhineka Tunggal Ika” 
yang tak ternilai harganya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pembaruan Desa adalah pemulihan hak dan wewenang desa dalam mengatur 
sumber-sumber agraria di desa dengan cara memberikan wewenang desa dalam
 mengelola kekayaan sumber-sumber agraria untuk rakyat, memberikan 
keadilan anggaran dari APBN, menumbuhkan Badan Usaha Bersama Milik Desa 
untuk mempercepat pembangunan ekonomi pedesaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bingkai utama dari pelaksanaan Pembaruan Agraria dan Pembaruan Desa 
adalah menuju Keadilan Ekologis. Dengan demikian, keseluruhan pemulihan 
hak-hak agraria rakyat, pemulihan desa adalah untuk memulihkan Indonesia
 dari kerusakan ekologis akibat pembangunan ekonomi neoliberal selama 
ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melalui Aksi ini, kami Sekretariat Bersama Pemulihan Hak-Hak Rakyat 
menyerukan: Kepada seluruh rakyat Indonesia yang terhimpun dalam 
organisasi-organisasi gerakan untuk merebut dan menduduki kembali 
tanah-tanah yang telah dirampas oleh pemerintah dan pengusaha. Kami 
mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk membentuk organisasi-organisasi 
perlawanan terhadap segala bentuk perampasan tanah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kami juga mengajak kepada para cendikiawan, budayawan, agamawan, 
professional agar mengutuk keras dan melawan segala bentuk pelanggaran 
HAM berat yang dilakukan secara sistematis oleh pemerintah dalam 
melakukan perampasan tanah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk itu, Kami Sekretariat Bersama Pemulihan Hak-Hak Rakyat Indonesia menuntut :&lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Menghentikan Segala Bentuk Perampasan Tanah Rakyat dan Mengembalikan Tanah-Tanah Rakyat yang Dirampas.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Laksanakan Pembaruan Agraria Sejati sesuai dengan Konsitusi 1945 dan UUPA 1960&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tarik TNI/Polri dari konflik Agraria, membebaskan para pejuang rakyat yang ditahan dalam melawan perampasan tanah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Melakukan Audit Legal dan Sosial Ekonomi terhadap segala Hak 
Guna Usaha (HGU) Perkebunan, Hak Guna Bangunan (HGB), SK Hutan Tanaman 
Industri (HTI) dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH), Izin Usaha Pertambangan 
(IUP) baik kepada Swasta dan BUMN yang telah diberikan dan segera 
mencabutnya untuk kepentingan rakyat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membubarkan Perhutani dan memberikan hak yang lebih luas 
kepada rakyat, penduduk desa, masyarakat adat dalam mengelola Hutan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pengelolaan sumber-sumber alam yang sebesar-besarnya bagi 
kemakmuran rakyat dengan mensegerakan UU PA-PSDA sesuai amanat TAP MPR 
No IX/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penegakan Hak Asasi Petani dengan cara mengesahkan RUU 
Perlindungan Hak Asasi Petani dan RUU Kedaulatan Pangan sesuai tuntutan 
rakyat tani.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penegakan Hak Masyarakat Adat melalui Pengesahan RUU Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pemulihan Hak dan Wewenang Desa dengan segera menyusun RUU Desa
 yang bertujuan memulihkan hak dan wewenang desa atau nama lain yang 
sejenis dalam bidang ekonomi, politik hukum dan budaya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penegakan Hak Asasi Buruh dengan Menghentikan Politik Upah Murah
 dan Sistem Kerja Kontrak, Out Sourcing dan membangun Industrialisasi 
Nasional. Bentuk Undang-undang yang menjamin hak-hak Buruh Migran 
Indonesia dan Keluarganya&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penegakan Hak Asasi Nelayan Tradisional melalui perlindungan 
wilayah tangkap nelayan tradisional dengan mengesahkan RUU Perlindungan 
Nelayan, Menghentikan kebijakan impor ikan dan privatisasi perairan 
pesisir dan pulau-pulau kecil.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pencabutan sejumlah UU yang telah mengakibatkan perampasan 
tanah yaitu : UU No.25/2007 Penanaman Modal, UU 41/1999 Kehutanan, UU 
18/2004 Perkebunan, UU 7/2004 Sumber Daya Air, UU 27/2007 Pengelolaan 
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, UU 4/2009 Minerba, dan UU 
Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Demikian Pernyataan Sikap ini&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Koordinator Umum Aksi:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Agustiana / 085223207500&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Sekretariat Sekber Nasional :&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
WALHI: Jl. Tegalparang Utara 14, Mampang-Jakarta Selatan 12790 | T/F +6221 79193363/7941673&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Sumsel : Jalan Sumatera 1 No 771 Kel 26 Ilir kecamatan Ilir barat 1 Palembang &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-4603808178665797797?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/eCekKPhoX8Q/reforma-agraria-pembaruan-desa-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/reforma-agraria-pembaruan-desa-dan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-8433896885865853054</guid><pubDate>Fri, 13 Jan 2012 08:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-13T15:49:09.383+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mesuji</category><title>Doa Bersama Sei Sodong Bagian Aksi Serentak Nasional</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt; — Zikir dan doa bersama yang digelar di 
Desa Sei Sodong, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir, 
Sumatera Selatan, Kamis (12/1/2012) siang, merupakan bagian dari aksi 
nasional menentang penyerobotan lahan masyarakat oleh perusahaan. Aksi 
ini berlangsung serentak di sejumlah daerah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hari 
ini ada aksi serentak di berbagai daerah terkait konflik agraria. Ada 30
 organisasi masyarakat yang tergabung dalam sekretariat bersama yang 
berkoordinasi untuk aksi-aksi ini,” kata Direktur Wahana Lingkungan 
Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan Anwar Sadat yang tengah menuju 
lokasi zikir dan doa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus di Sumatera Selatan, aksi 
damai berupa zikir dan doa bersama dipusatkan di Desa Sei Sodong di 
mana&amp;nbsp; terjadi bentrokan antara warga dan pekerja perusahaan perkebunan 
sawit PT SWA April lalu. Kegiatan ini juga dimaksudkan mendorong 
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk memberi penyelesaian yang 
berpihak pada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Wakil Gubernur Sumatera 
Selatan berjanji memberi keputusan terkait 16 kasus sengketa lahan 
masyarakat dengan perusahaan pada 17 Januari mendatang. Sengketa lahan 
ini melibatkan delapan perusahaan di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan 
Musi Banyuasin dengan luas lahan yang disengketakan sekitar 10.000 
hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut data Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera 
Selatan, terdapat 37 kasus sengketa lahan masyarakat dan perusahaan. 
Namun, versi Walhi Sumatera Selatan terdapat 57 kasus yang beberapa di 
antaranya berpotensi menimbulkan konflik terbuka seperti di Sei Sodong.&amp;nbsp;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-8433896885865853054?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/xsgtx9f2bSw/doa-bersama-sei-sodong-bagian-aksi.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/doa-bersama-sei-sodong-bagian-aksi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-2060394847110917656</guid><pubDate>Fri, 13 Jan 2012 08:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-13T15:43:06.135+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mesuji</category><title>Peringati Tragedi Sodong, Walhi Gelar Dzikir</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Rombongan Walhi Sumsel dan beberapa elemen persatuan petani dari 
Banyuasin dan Muba baru saja tiba di Kecamatan Mesuji, Kabupaten OKI 
Kamis (12/1/2012) pukul 05.30. Saat ini mereka sedang beristirahat di 
rumah seorang perwakilan Walhi Sumsel yang ada di OKI.Banyaknya anggota yang datang membuat rumah seperti sebuah gubuk. Padahal, rumah tersebut bisa dibilang berukuran sangat besar.&lt;br /&gt;
Karena
 keterbatasan ruang, beberapa anggota terpaksa beristirahat di luar 
ruangan. Diantara mereka ada yang tidur dan ada juga yang menghabiskan 
malam dengan bercerita.&lt;br /&gt;
Rombongan ini berangkat dari Kantor Walhi 
Sumsel Rabu (11/1/2012) pukul 22.00. Mereka berangkat dengan menumpang 
dua bis kota Indralaya-Palembang. Satu mobil Toyota Avanza juga tampak 
mengiringi dua bis tersebut.&lt;br /&gt;
Rombongan dijadwalkan tiba di Desa 
Sodong Kecamatan Mesuji pada pukul 13.00. Rencananya di sana mereka akan
 mengadakan zikir bersama di tempat terjadinya Tragedi Sodong.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-2060394847110917656?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/LNoNKT5dvhY/peringati-tragedi-sodong-walhi-gelar.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/peringati-tragedi-sodong-walhi-gelar.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-6115929679535457530</guid><pubDate>Fri, 13 Jan 2012 08:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-13T15:34:11.626+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mesuji</category><title>Walhi Sumsel Gelar Zikir Bersama dengan Warga Sungai Sodong Mesuji</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Palembang &lt;/strong&gt; -
                Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera 
Selatan akan menggelar zikir bersama warga Sungai Sodong, Kecamatan 
Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Zikir 
bersama tersebut dilakukan di lokasi konflik yang menewaskan sejumlah 
pada April lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rencananya kami akan melakukan zikir di lokasi 
tragedi,” kata Direktur Walhi Sumsel Anwar Sadat, yang dihubungi, Kamis 
(12/01/2012).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan Sadat, selain aktivis Walhi Sumsel 
bersama mereka juga ada perwakilan petani dari daerah lain di Sumatera 
Selatan. Mereka baru sampai di Kecamatan Mesuji sekitar pukul 05.15, dan
 istirahat sejenak di rumah seorang warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian melanjutkan 
perjalanan ke Sungai Sodong, yang diperkirakan akan tiba sekitar pukul 
13.00 WIB. Selanjutnya melakukan zikir bersama di lokasi konflik 
berdarah antara warga Sungai Sodong dengan karyawan PT Sumber Wangi Alam
 (SWA) yang menewaskan sejumlah orang pada April&lt;br /&gt;2011 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para
 aktifis Walhi Sumsel itu sendiri berangkat dari sekretariat Walhi 
Sumsel, Bukitkecil, Palembang, pada Rabu (11/01/2012) sekitar pukul 
23.00 WIB. Mereka menggunakan dua bus dan sebuah mobil minibus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : Detik.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-6115929679535457530?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/sPfFR3CCSbI/walhi-sumsel-gelar-zikir-bersama-dengan.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/walhi-sumsel-gelar-zikir-bersama-dengan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-377271827183192954</guid><pubDate>Fri, 13 Jan 2012 08:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-13T15:21:55.868+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><title>Siang Ini Warga Sodong Mesuji Gelar Doa Bersama</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Metrotvnews.com, Palembang: &lt;/strong&gt;Warga Desa Sungai Sodong, 
Kecamatan Mesuji,  Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan, 
Kamis (12/1) nanti siang,  menyiapkan acara doa dan zikir bersama 
sebagai tanda upaya  mengembalikan hak kelola lahan yang masih 
bersengketa dengan perusahaan  sawit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Informasi diperoleh dari perwakilan warga dan LSM  pendamping warga 
Sungai Sodong, di Palembang, Rabu tadi malam, menyebutkan  bahwa acara 
doa dan zikir bersama di Desa Sungai Sodong, Mesuji,  dijadwalkan 
digelar Kamis pukul 13.30 WIB.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 "Kami siap datang  bergabung dan bersama-sama menggalang kehadiran 
sedikitnya 1.000 orang  dalam zikir dan doa bersama itu," kata Direktur 
Eksekutif Wahana  Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel, Anwar 
Sadat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Seribuan warga diharapkan merupakan perwakilan dari berbagai  komunitas
 masyarakat dan elemen yang selama ini memperjuangkan dan  mendukung 
pengembalian hak atas lahan yang masih bersengketa dengan  perusahaan 
perkebunan kelapa sawit setempat, antara lain PT Sumber Wangi  Alam 
(SWA).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 "Rencananya selain warga Sungai Sodong, akan  hadir dan bergabung pula 
warga dari sejumlah wilayah di Mesuji, Provinsi  Lampung bersama 
perwakilan LSM dan pendamping masyarakat dari kedua  daerah," ujar Hadi 
Jatmiko, staf Walhi Sumsel menambahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Menurut Hadi, doa dan zikir bersama itu sekaligus mendoakan dua warga  
setempat yang telah meninggal dunia akibat bentrok dengan pam swakarsa  
PT SWA pada April 2011 lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Dia menegaskan, bersama aksi  warga, LSM dan berbagai elemen masyarakat
 di Sungai Sodong itu, secara  bersamaan akan digelar pula aksi serupa 
dan aksi keprihatinan serta  tuntutan untuk pengembalian hak sumberdaya 
alam/lahan petani dan  masyarakat yang telah dirampas perusahaan maupun 
pihak lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Informasi dari beberapa aktivis di Mesuji, Lampung, membenarkan pada  
Kamis, mereka juga akan menggelar aksi keprihatinan dan tuntutan kepada 
 pemerintah untuk segera menuntaskan sengketa lahan yang masih terjadi 
di  Lampung dan berbagai daerah lain di Tanah Air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Aksi  tersebut juga akan mengusung sejumlah tuntutan, antara lain 
desakan  pengaturan kembali distribusi dan revisi perizinan pengelolaan 
lahan  yang selama ini dinilai lebih berpihak kepada kalangan pengusaha,
  dibandingkan dengan petani dan masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Sementara itu,  Pemprov Sumsel bersama DPRD dan perwakilan masyarakat 
serta  pendampingnya, dijadwalkan akan menggelar rapat terpadu 
penyelesaian  konflik lahan di Sumsel pada 17 Januari mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Gubernur  Sumsel H Alex Noerdin menyebutkan, sedikitnya masih ada 50-an
 kasus  sengketa lahan yang masih harus segera diselesaikan di 
daerahnya, dan  ditargetkan hingga 2013 separuhnya sudah bisa tuntas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Komisi  I DPRD Sumsel menyebutkan terdapat pengaduan sebanyak 37 kasus sengketa  lahan yang masuk kepada para wakil rakyat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Walhi Sumsel  yang membuka Posko Pengaduan Sengketa Lahan menyebutkan, 
terdapat  sedikitnya 57 kasus sengketa lahan belum tuntas di daerahnya, 
baik kasus  lama maupun baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 "Kami juga masih menerima pengaduan kasus  sengketa lahan di Sumsel, 
baik disampaikan langsung, melalui surat,  telepon atau sarana 
komunikasi lainnya," ujar Kepala Divisi PPER Walhi  Sumsel, Hadi 
Jatmiko.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber : www.metrotvnews.com &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-377271827183192954?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/NzLsRqx_3Vs/siang-ini-warga-sodong-mesuji-gelar-doa.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/siang-ini-warga-sodong-mesuji-gelar-doa.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-2740174702087465328</guid><pubDate>Fri, 13 Jan 2012 08:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-13T15:12:47.941+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><title>Ribuan Petani Mesuji Zikir di Lahan Sengketa</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;strong&gt;Palembang&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
 - Ribuan petani dari berbagai desa di Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan 
Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Kamis, 12 Januari 2012 sekitar 
pukul 14.00 akan menggelar zikir dan doa bersama di di Desa Sungai 
Sodong. Kegiatan juga diikuti petani dan pegiat lingkungan dari Mesuji 
Lampung. Mereka berharap tanah yang telah menjadi kebun sawit PT Sumber 
Wangi Alam (SWA) segera dikembalikan ke masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mualimin P. Dahlan, wakil Desa Sungai Sodong, kepada &lt;em&gt;Tempo&lt;/em&gt;
 mengatakan hingga kini masih menyangsikan iktikad baik perusahaan 
memulihkan hak masyarakat Sodong. "Harapan kami, dengan cara seperti ini
 (doa bersama), akan membuka hati perusahaan dan pemerintah untuk 
menyelesaikan kasus ini," kata Mualimin P. Dahlan, Kamis, 12 Januari 
2012, melalui sambungan telepon dari Palembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu 
Kepala Divisi Pengembangan Organisasi dan Pengorganisasian (PPER) Walhi 
Sumatera Selatan Hadi Jatmiko mengingatkan pemerintah dan instansi 
berwenang segera mencari solusi sengketa lahan masyarakat dan perusahaan
 di daerah tersebut. Hadi khawatir insiden berdarah 21 April 2011 
kembali terjadi bila tak segera ditanggulangi. "Kami mendesak setiap 
konflik lahan antara masyarakat dengan perusahaan dicari akar masalahnya
 untuk ditangani,” kata Hadi Jatmiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menegaskan solusi 
penyelesaian konflik lahan memerlukan keberanian semua pihak mencari 
terobosan alternatif penyelesaiannya. Hadi mengungkapkan lahan produktif
 di Sumatera Selatan sebagian besar diserahkan pengelolaannya kepada 
perusahaan, sehingga petani dan masyarakat daerah tidak lagi memiliki 
akses memadai pada sumber daya alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak sengketa lahan yang 
terjadi dari tahun 1997 lalu antara warga Desa Sungai Sodong dan PT 
Sumber Wangi Alam membawa insiden berdarah 21 April 2011. Dua warga desa
 dan karyawan PT SWA tewas mengenaskan. Sabar, satpam perusahaan, 
meninggal di Blok 19, yang termasuk blok yang disengketakan. Sedangkan 
empat lainnya terbunuh di &lt;em&gt;base camp&lt;/em&gt; PT SWA. Mereka adalah Hardi
 dan Hambali--asisten kebun--yang mengalami luka bacok dan tusuk di 
sekujur tubuh, serta Saimun dan Agus Manto--pam swakarsa--yang ditemukan
 kepalanya terpisah dari tubuh. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Warga Desa Sodong berduka 
karena dua warganya tewas. Mereka adalah Saktu Macan dan Indra Syafeii. 
Dua bersahabat ini tewas di Blok 19. Mereka mengalami luka tusuk di 
beberapa bagian tubuh. Bahkan leher Saktu Macan nyaris putus akibat 
sabetan senjata tajam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber : Tempo.co &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-2740174702087465328?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/SwVEOI41DR0/ribuan-petani-mesuji-zikir-di-lahan.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/ribuan-petani-mesuji-zikir-di-lahan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-8397469293615729939</guid><pubDate>Wed, 11 Jan 2012 11:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-11T18:31:52.847+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><title>Republik Genting - Rakyat Bergerak Pulihkan Indonesia 12.01.12</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
 Kami aliansi dari 77 organisasi Petani, Buruh, Masyarakat Adat, Perempuan,Pemuda Mahasiswa, Perangkat Pemerintahan Desa, dan NGO yang tergabung dalam "Sekretariat Bersama Pemulihan Hak-Hak Rakyat Indonesia" Akan melakukan aksi serentak pada hari Kamis/ 12 Januari 2012 di Jakarta dan 27 Provinsi di wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali NusaTenggara. Menyerukan Perlawanan dan Membentuk Aliansi Gerakan Perlawanan Terhadap Perampasan Tanah-Tanah Rakyat yang difasilitasi oleh rezim SBY-Boediono di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan Kami adalah sebagai berikut; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  Hentikan Segala Bentuk Perampasan Tanah Rakyat dan kembalikan Tanah&lt;br /&gt;Rakyat yang Dirampas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  Laksanakan Pembaruan Agraria Sejati sesuai dengan Konsitusi 1945&lt;br /&gt;dan UUPA 1960&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  Tarik TNI/Polri dari konflik Agraria, bebaskan para pejuang rakyat&lt;br /&gt;yang ditahan dalam melawan perampasan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  Melakukan Audit Legal dan Sosial Ekonomi terhadap segala Hak Guna&lt;br /&gt;Usaha (HGU) Perkebunan, Hak Guna Bangunan (HGB), SK Hutan Tanaman Industri&lt;br /&gt;(HTI) dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH), Izin Usaha Pertambangan (IUP) baik&lt;br /&gt;kepada Swasta dan BUMN yang telah diberikan dan segera mencabutnya untuk&lt;br /&gt;kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  Membubarkan Perhutani dan memberikan hak yang lebih luas kepada&lt;br /&gt;rakyat, penduduk desa dan masyarakat adat dalam mengelola Hutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  Penegakan Hak Asasi Petani dengan cara mengesahkan RUU Perlindungan&lt;br /&gt;Hak Asasi Petani dan RUU Kedaulatan Pangan sesuai tuntutan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  Penegakan Hak Masyarakat Adat melalui Pengesahan RUU Pengakuan dan&lt;br /&gt;Perlindungan Hak - Hak Masyarakat Adat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  Pemulihan Hak dan Wewenang Desa dengan segera menyusun RUU Desa&lt;br /&gt;yang bertujuan memulihkan hak dan wewenang desa atau nama lain yang sejenis&lt;br /&gt;dalam bidang ekonomi, politik hukum dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;  Penegakan Hak Asasi Buruh dengan Menghentikan Politik Upah Murah&lt;br /&gt;dan Sistem Kerja Out Sourcing dan membangun Industrialisasi Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.&amp;nbsp;  Penegakan Hak Asasi Nelayan Tradisional melalui perlindungan wilayah&lt;br /&gt;tangkap nelayan tradisional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.&amp;nbsp;  Pencabutan sejumlah UU yang telah mengakibatkan perampasan tanah yaitu&lt;br /&gt;: UU No.25/2007 Penanaman Modal, UU 41/1999 Kehutanan, UU 18/2004&lt;br /&gt;Perkebunan, UU 7/2004 Sumber Daya Air, UU 27/2007 Pengelolaan Wilayah&lt;br /&gt;Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, UU 4/2009 Minerba, UU Pengadaan Tanah Untuk&lt;br /&gt;Pembangunan, dan Cabut UUPPTKILN No.39 tahun 2004 dan Bentuk Undang-undang&lt;br /&gt;yang menjamin hak-hak Buruh Migran Indonesia dan Keluarganya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-8397469293615729939?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/S3yfiKxCTaY/republik-genting-rakyat-bergerak.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/01/republik-genting-rakyat-bergerak.html</feedburner:origLink></item><language>en-us</language><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

