<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798</atom:id><lastBuildDate>Fri, 01 Jun 2012 11:25:46 +0000</lastBuildDate><category>kekeringan</category><category>SAHABAT WALHI</category><category>Siaran Pers</category><category>Pernyataan Sikap</category><category>FOTO-FOTO</category><category>mesuji</category><category>Donasi Musi</category><category>Petisi</category><category>ARTIKEL(OPINI)</category><category>Berita-berita</category><category>FILM-FILM</category><category>agraria</category><category>agraria 2012</category><category>Bima</category><category>Kebakaran Hutan</category><title>WALHI SUMSEL</title><description>WALHI adalah forum organisasi Non Pemerintah, Organisasi Masyarakat dan kelompok pecinta Alam terbesar di Indonesia.WALHI bekerja membangun gerakan menuju tranformasi sosial, kedaulatan rakyat dan keberlanjutan Lingkungan Hidup. Selamatkan Bumi dengan Tanganmu !!!</description><link>http://walhi-sumsel.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>519</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/WalhiSum-sel" /><feedburner:info uri="walhisum-sel" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">Government &amp; Organizations/Non-Profit</media:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>WALHI adalah forum organisasi Non Pemerintah, Organisasi Masyarakat dan kelompok pecinta Alam terbesar di Indonesia.WALHI bekerja membangun gerakan menuju tranformasi sosial, kedaulatan rakyat dan keberlanjutan Lingkungan Hidup. Selamatkan Bumi dengan Tan</itunes:subtitle><itunes:category text="Government &amp; Organizations"><itunes:category text="Non-Profit" /></itunes:category><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-7079272484933215491</guid><pubDate>Fri, 01 Jun 2012 11:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-06-01T18:25:46.225+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>Warga Ultimatum PTPN VII Cinta Manis</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-CFVyV6aR9Ag/T8imFMJ-XzI/AAAAAAAAAgI/HhUI0o_BorU/s1600/0106cintamasin1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-CFVyV6aR9Ag/T8imFMJ-XzI/AAAAAAAAAgI/HhUI0o_BorU/s1600/0106cintamasin1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;5000 orang Massa dari 14 desa tuntut PTPN VII kembalikan tanah rakyat. Foto Sripoku.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="text_article" style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="text_article" style="text-align: justify;"&gt;
INDRALAYA, —Warga akhirnya 
memberi waktu 7 hari kepada PTPN VII Cinta Manis untuk membahas ulang 
tuntutan warga. PTPN diminta untuk segera mengembalikan lahan warga pada
 7 Juni mendatang.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Hal ini terungkap dalam pertemuan warga dan PTPN VII Cinta Manis yang difasilitasi Pemkab OI, DPRD, Polres, Kodim, Kamis (31/5).&lt;br /&gt;Dari PTPN Cinta Manis dihadiri Bambang Hariyanto SH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya,
 sejumlah komentar pedas dilayangkan sekitar 40 perwakilan warga dari 15
 desa yang hadir dalam ruang paripurna DPRD OI. Warga menilai PTPN VII 
tidak mau menyerahkan lahan yang dituntut warga sehingga, suasana sempat
 memanas ketika perwakilan warga atas nama Firmansyah dari Desa 
Sribandung Kecamatan Tanjung Batu angkat bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan para 
petinggi daerah, yang hadir seperti Wakil Bupati HM Daud Hasyim, Ketua 
DPRD OI, Iklim Cahya, Arhandi, Yulian Gunhar dan perwakilan dari aparat 
seperti Kapolres OI, AKBP Deni Dharmapala dan Dandim Kayuagung Letkol 
Firmansyah menegaskan kepada hadirin agar tidak main-main dan 
mengulur-ulur waktu terhadap tuntutan warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firmansyah 
menegaskan saat ini ribuan warga dari puluhan desa tidak tahan lagi 
ingin mengambil lahan mereka kembali untuk berkebun. Dia menilai sudah 
cukup 30 tahun PTPN VII mengusahakan tanah warga tanpa memberikan 
kontribusi berarti bagi warga desa setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memberikan limit
 waktu dua hari kepada Direksi PTPN VII Cinta Manis untuk menyampaikan 
tuntutan warga ke jajaran Komisaris dan pemegang saham serta Menteri 
BUMN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada Firmansyah, Alamsyah perwakilan warga Desa 
Sribandung, menyebutkan jika warga kini siap bergerak untuk mengambil 
lahan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Alamsyah, jika ditanya soal surat tanah, 
pada waktu itu tahun 1982 hampir semua lahan kebun warga tidak ada 
surat.&amp;nbsp; Baru sekarang inilah pemerintah gencar membuat aturan agar lahan
 dan tanah warga harus punya surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, lanjut Firman,
 warga waktu itu tidak berani melawan ketika tanah mereka diambil untuk 
perkebunan tebu PTPN VII Cinta Manis. “Nyatanya sudah 30 tahun ini PTPN 
VII beroperasi, gula saja kami beli gula impor dari Thailand,” 
ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan perwakilan warga ini, dibenarkan Ketua DPRD
 OI, Iklim Cahya menyebutkan bahwa pada saat itu, orang tuanya warga 
Meranjat memiliki lahan dan diambil PTPN VII tetapi dibayar dengan harga
 yang rendah. “Tapi itu tidak masalah, hanya saja kenyataan itu dapat 
disimpulkan jika hadirnya PTPN VII ini memang sudah ada masalah dalam 
hal pemilikan lahannya,’ ujar Iklim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Arhandi wakil Ketua 
DPRD OI warga asli Desa Sribandung ikut bicara. Ia menyebutkan, sebagai 
warga Desa Sribandung masalah pembebasan lahan yang dilakukan pihak PTPN
 VII ketika itu penuh dengan intrik dan paksaan. “Apa yang dikatakan 
warga ketika itu tidak sempat memanen tanam tumbuh mereka ada benarnya,”
 ungkap Arhandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Hari&lt;br /&gt;Bambang Hariyanto SH, kuasa Direksi 
PTPN VII Cinta Manis, yang menjadi perantara satu-satunya dari pihak 
PTPN VII, meskipun ada beberapa petinggi PTPN yang hadir, mengharapkan 
warga bersikap dan bertindak dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas saran dan 
pendapat para hadirin termasuk Kapolres, dan Wabup, HM Daud Hasyim, 
akhirnya warga melunak dan memberikan batas waktu tujuh hari terhitung 
sejak Kamis (31/5) kepada PTPN VII untuk mengadakan pertemuan interen 
mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi kami tidak mau lagi menghadiri acara pertemuan 
seperti ini, kami mau, tanggal 7 Juni 2012 nanti, keputusannya PTPN VII 
harus menyerahkan lahan mereka,” tegas Firman.&lt;/div&gt;
&lt;div class="text_article" style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="text_article" style="text-align: justify;"&gt;
Sumber : Sripoku.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-7079272484933215491?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/V45oqfyQn0c/warga-ultimatum-ptpn-vii-cinta-manis.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/-CFVyV6aR9Ag/T8imFMJ-XzI/AAAAAAAAAgI/HhUI0o_BorU/s72-c/0106cintamasin1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/06/warga-ultimatum-ptpn-vii-cinta-manis.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-8103707073085599673</guid><pubDate>Thu, 31 May 2012 09:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-31T16:01:49.780+07:00</atom:updated><title>Cinta Manis Klaim merugi Milyaran.</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
JAKARTA. PT Perkebunan Nusantara VII (PTPN VII) mengaku rugi Rp 15,52
 miliar akibat tidak beroperasinya Pabrik Gula (PG) Cinta Manis di Ogan 
Ilir, Sumatera Selatan. PG Cinta Manis berhenti operasi setelah terjadi 
sengketa lahan kebun tebu dengan masyarakat dan penutupan akses jalan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sony Soediastanto, Sekretaris Perusahaan PTPN VII mengatakan, 
kerugian itu kemungkinan bertambah karena aksi pemblokiran jalan masih 
akan berlangsung hingga 31 Mei nanti. "Kami harap masyarakat bisa 
melepas pendudukan lahan dan membuka akses jalan sebelum perundingan 
dilakukan 31 Mei nanti," katanya kepada KONTAN, Selasa (29/5).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika benar blokade jalan akan berhenti Kamis (31/5), maka itu akan 
menjadi hari kelima penutupan akses. "Penutupan akses jalan mulai 
dilakukan sejak 25 Mei, otomatis pabrik berhenti beroperasi satu hari 
setelahnya," katanya. Agar kerugian tidak bertambah, Sony meminta 
kepolisian dan kepala daerah setempat menjadi penengah dan menjaga 
aset-aset perusahaan agar tidak dirusak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sony merinci, sejak adanya sengketa lahan itu, terjadi aksi 
pembakaran areal tebu seluas 310,8 hektar dengan nilai kerugian Rp 6,05 
miliar. Kejadian itu juga membuat tebu yang telah ditebang sebanyak 
2.465 ton tidak bisa diangkut sehingga kerugian bertambah Rp 1,37 
miliar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akibat tidak adanya pasokan bahan baku tebu di PG Cinta Manis, PTPN 
VII merugi Rp 660 juta karena operasi giling yang tidak 
berkesinambungan. PTPN juga rugi karena produksi gula tidak tercapai, 
yaitu sebanyak 827,7 ton, senilai Rp 7,43 miliar. "Buruh tebangan dan 
karyawan pabrik juga rugi karena tidak mendapat penghasilan," imbuhnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Walau begitu, secara keseluruhan Sony optimistis target produksi gula
 PTPN VII tahun ini bakal tercapai. PTPN VII tahun ini menargetkan 
produksi gula sebanyak 142.167 ton, naik sekitar 29,2% ketimbang tahun 
lalu sebesar 110.000 ton.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Agar target produksi tercapai, perusahaan mengandalkan produksi PG 
Bunga Mayang yang memiliki kapasitas 7.500 tone cane per day (tcd). 
Sedangkan PG Cinta Manis berkapasitas 5.500 tcd.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain mengandalkan produksi Bunga Mayang, PTPN VII akan mempercepat 
produksi gula di PG Cinta Manis setelah perundingan selesai. 
"Penggilingan tebu akan kami kebut. Rendemen tahun ini juga meningkat 
sebesar 8,3%, dibandingkan tahun lalu yang sebesar 7,5%," tutur Sony.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hadi Jatmiko, Kepala Divisi Pengembangan dan pengorganisasian WALHI 
Sumatera Selatan mengatakan, sengketa lahan yang terjadi antara 
masyarakat dan PTPN VII sudah lama berlangsung. Sengketa itu bermula 
ketika masyarakat menuntut pengembalian tanah yang diklaim milik mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurutnya, dari 14.000 hektare lahan tebu yang dikuasai PTPN VII, 
hanya 6.000 ha yang memiliki hak guna usaha (HGU). "Suasana sudah 
kondusif. Tidak ada pembakaran lahan oleh warga dan blokade juga sudah 
dibuka," klaim Hadi. Menurutnya, masyarakat hanya mematok lahan yang 
diyakini merupakan milik mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-8103707073085599673?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/BpU_BGAoP60/cinta-manis-klaim-merugi-milyaran.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/cinta-manis-klaim-merugi-milyaran.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-4673489131537283713</guid><pubDate>Wed, 30 May 2012 10:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-30T17:26:37.985+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>Kapolda Sumsel: Kondisi PTPN VII Cinta Manis Kondusif</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;INDRALAYA -&lt;/b&gt; Kapolda Sumsel Irjen Pol Didik M Arief Mansyur, 
melalui Kabag Humas AKBP Drs R Djarod Pandakova, kepada Sripoku.com, 
Selasa (29/5), menegaskan, suasana di PTPN VII Cinta Manis dalam keadaan
 aman dan kondusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pergolakan massa. Hanya saja manajemen perusahaan menghentikan sementara produksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal
 ini disampaikan Djarod, ketika menyambangi Mapolres OI, saat akan 
meninjau langsung lokasi pabrik dan perkebunan tebu PTPN VII Cinta Manis
 serta mengadakan dialog dengan warga setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada 
aktivitas warga yang berbuat cenderung anarkis, namun untuk menghindari 
hal-hal yang tidak diinginkan sejak beberapa hari ini manajemen 
perusahaan menyetop dahulu produksi perusahaan," kata Djarod.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut
 Djarod, Polda Sumsel datang ke lokasi untuk menyampaikan imbauan supaya
 warga tetap tenang dan tidak merusak karena dapat merugikan warga 
sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyebutkan, rencananya pada hari Kamis mendatang 
akan dilakukan negosiasi dan pertemuan antara pihak kepolisian, Direksi 
PTPN, masyarakat dan anggota dewan guna untuk membahas kelanjutan dari 
tuntutan warga yang menghendaki lahan mereka dikembalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami 
akan memberikan pengamanan dan pengawalan ketat untuk pelaksanaan 
pertemuan tersebut, agar tidak ricuh," tuturnya kepada Sripoku.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti
 diberitakan sebelumnya, tuntutan warga agar lahan mereka dikembalikan 
sudah meluas hingga ke seluruh desa yang berbatasan dan di daerahnya ada
 kebun tebu PTPN VII Cinta Manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga beralasan, waktu lahan 
mereka diambil untuk jadi kebun tebu antara tahun 1982 hingga 1983 ada 
unsur intimidasi dan paksaan sehingga mereka tidak terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk 
membuktikan mereka tetap bersikukuh agar lahan mereka dikembalikan, saat
 ini warga sudah membangun posko-posko di lahan yang akan mereka rebut 
kembali tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Sripo, setidaknya lebih dari 10 desa 
dalam beberapa kecamatan di OI yang berbatasan langsung dengan kebun 
tebu PTPN VII sudah bergerak untuk siap mematok lahan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa-desa itu seperti Sribandung, Tanjung Atap, Srikembang masuk dalam Kecamatan Tanjung Batu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Desa Meranjat I, II, Ilir, Kecamatan Indralaya Selatan, Desa Betung, Ketiau dalam Kecamatan Kubuk Keliat dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga dengan tegas menolak kompromi dan memilih harga mati untuk lahan mereka dikembalikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber : sripoku.com &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-4673489131537283713?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/e-K-fpAtMcA/kapolda-sumsel-kondisi-ptpn-vii-cinta.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/kapolda-sumsel-kondisi-ptpn-vii-cinta.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-60420146002997535</guid><pubDate>Wed, 30 May 2012 10:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-30T17:00:02.796+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><title>Kisruh Warga-Cinta Manis- Disperindag Jamin Persediaan Gula</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
PALEMBANG – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi 
Sumsel segera menurunkan tim ke PTPN VII unit usaha Cinta Manis untuk 
mengetahui kondisi di lapangan serta dampak permasalahan terhadap 
pasokan gula di Provinsi Sumsel.&lt;br /&gt;



&lt;br /&gt;“Besok (hari ini) atau lusa kita 
turunkan tim langsung ke lapangan untuk mempersiapkan langkah- langkah 
antisipatif yang mesti dilakukan untuk menjamin ketersediaan gula di 
Sumsel, khususnya menjelang bulan puasa,” ujar Kepala Disperindag Sumsel
 Nasrun Umar di ruang kerjanya kemarin. Hasil tinjauan,kata dia,akan 
disampaikan ke pemprov supaya dapat dipelajari pengaruhnya terhadap 
persediaan gula di Sumsel.“Mudah-mudahan Senin mendatang sudah ada hasil
 dari tim yang kita turunkan. Kalau nanti ditemukan indikasi berbahaya 
akan dicari solusi terbaik agar stok gula di Sumsel aman, khususnya 
bulan puasa mendatang,”ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stok gula saat ini,menurut 
dia,aman karena cukup sampai tiga bulan ke depan dan tidak ada kenaikan 
harga gula di pasaran.Namun, permasalahan PTPN VII unit usaha Cinta 
Manis harus segera diselesaikan. “Karena pabrik gula milik negara 
tersebut merupakan salah satu pemasok gula terbesar untuk provinsi,” 
katanya. Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dalam Negeri (PDN) 
Disperindag Sumsel Uron menuturkan, untuk mengetahui kenaikan atau 
kelangkaan sembilan bahan pokok (sembako) di pasaran,harus dilakukan 
kontrol harga dan stok pada distributor setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita 
memiliki petugas khusus yang setiap hari melakukan monitor harga di 
lapangan dan setiap seminggu sekali melakukan monitor stok barang di 
tangan para distributor. Hasilnya masih bagus dan aman hingga akhir 
bulan enam mendatang atau sampai musim giling tebu dimulai,” ungkapnya. 
Sementara itu, Kapolda Sumsel Inspektur Jenderal Polisi Dikdik M Arief 
Mansur kemarin sekitar 10.00 WIB meninjau lokasi pabrik PTPN VII unit 
usaha Cinta Manis di Kecamatan Tanjung Raja,Kabupaten Ogan Ilir (OI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapolda
 meninjau tiga rayon PTPN, yakni III, IV, dan V, yang sebagian lahannya 
disengketakan warga. Pantauan SINDO, kondisi pabrik di tiga rayon 
tersebut terlihat lumpuh total. Tidak ada kegiatan operasional maupun 
produksi dilakukan. Sementara, di luar lokasi pabrik terlihat kondusif 
dan warga setempat menjalankan rutinitas seperti biasanya. “Sejumlah 
petugas kepolisian sampai saat ini masih bersiaga menjaga lokasi pabrik 
PTPN VII Cinta Manis guna meminimalisasi aksi lanjutan. Apabila warga 
melanjutkan aksi serupa dan mengarah ke anarkistis, kami segera 
mengambil tindakan tegas,” paparnya kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, 
Direktur Produksi PTPN VII unit usaha Cinta Manis Muhammad Nasir 
menuturkan tidak dapat berbuat banyak terkait tuntutan warga. “Kami 
tidak berwenang melepas aset negara karena itu adalah hak Menteri BUMN. 
Sampai saat ini persoalan sengketa lahan antara PTPN dengan warga masih 
dilakukan pembahasan bersama di Kementerian BUMN,” ungkapnya. 
cr2/darfian jaya suprana &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-60420146002997535?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/QkPn5bvVLeI/kisruh-warga-cinta-manis-disperindag.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/kisruh-warga-cinta-manis-disperindag.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-2598778554224904969</guid><pubDate>Wed, 30 May 2012 09:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-30T16:11:46.253+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>Walhi ingatkan kewajiban laksanakan reforma agraria</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bandarlampung - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia 
mengingatkan jajaran pemerintahan untuk segera menjalankan kewajiban 
melaksanakan Reforma Agraria, sehingga tidak ada lagi warga miskin 
akibat ketiadaan sumber daya lahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap Walhi itu disampaikan kepada ANTARA di Bandarlampung, Selasa, 
berkaitan dengan pernyataan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII yang 
berkantor pusat di Lampung atas konflik lahan dengan warga Desa 
Sribandung, Kecamatan Tanjungbatu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan
 yang mengakibatkan penggilingan tebu di Pabrik Gula Cinta Manis 
terhenti dan menimbulkan kerugian belasan miliar rupiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Direktur Eksekutif Walhi Sumsel, Anwar Sadat, didampingi Kepala Divisi 
Pengembangan dan Pengorganisasian, Hadi Jatmiko, dalam pernyataan 
sikapnya, mendesak Pemprov Sumsel, khususnya Pemerintah Kabupaten Ogan 
Ilir, untuk segera menjalankan Reforma Agraria sejati sesuai mandat UU 
Pembaharuan Agraria Nomor 5 Tahun 1960.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kami yakin, bila ini dilaksanakan, dapat dipastikan tak akan ada lagi 
kemiskinan melanda masyarakat di perdesaan, dan kami pastikan juga tidak
 akan terjadi konflik agraria yang setiap tahunnya terus mengalami 
peningkatan secara signifikan," kata Sadat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walhi minta dalam penyelesaian sengketa lahan warga Sribandung dengan 
PTPN VII, lahan milik warga seluas 3.000 hektare segera dikembalikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, pihak PTPN VII harus menghentikan upaya provokasi berupa 
kebohongan publik dan pengkambinghitaman terhadap warga Desa Sribandung 
karena semua itu hanya akan memperkeruh keadaan yang saat ini telah 
kondusif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kami mendukung setiap upaya rakyat di mana pun berada yang ingin 
merebut hak atas tanahnya yang direbut paksa oleh korporasi," kata dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sadat menyatakan bahwa sengketa agraria merupakan masalah yang cenderung selalu dibiarkan oleh aparatur pemerintahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konflik terjadi akibat adanya ketimpangan penguasaan tanah di Indonesia,
 mengingat data statistik menurut Badan Pertanahan Nasional (BPN) tahun 
2010, hanya sekitar 0,2 persen penduduk Indonesia yang kini justru 
menguasai 56 persen aset nasional, termasuk tanah. Sisanya dikuasai 
korporasi asing maupun nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menanggapi pihak PTPN VII Unit Usaha Cinta Manis, Sabtu (26/5), 
menyatakan bahwa perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp15 miliar lebih
 akibat terbakar seluas 310,8 hektare areal tebu dan pemblokiran akses 
jalan oleh warga, seperti disampaikan Syufri Gunawan, Kepala Tanaman 
Unit Usaha Cinta Manis, Walhi selaku pendamping warga itu berbalik 
menyatakan bahwa selama ini masyarakat Desa Sribandung yang tergabung 
dalam Petani Sri Bandung Bersatu (PSB) tidak melakukan perusakan 
sebagaimana yang dituduhkan oleh pihak PTPN VII.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tindakan warga Desa Sri Bandung melakukan pematokan lahan seluas 3.000 
ha itu merupakan akumulasi kekecewaan warga akibat pihak PTPN VII tidak 
pernah menanggapi keinginan warga setempat, katanya menandaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, pembukaan perkebunan tebu PTPN VII Unit Usaha Cinta Manis 
pada tahun 1982, dituding penuh dengan pemaksaan, intimidasi, dan proses
 ganti rugi yang tidak layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu contoh, lahan 5 hektare milik warga, hanya 1 hektare saja 
yang diganti rugi, dan hingga hari ini masih ada warga yang memiliki 
lahan belum diganti rugi oleh pihak perusahaan milik negara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya, berdasarkan hasil kesepakatan antara warga dan PTPN VII di 
gedung DPRD Ogan Ilir pada tanggal 23 Mei lalu, difasilitasi serta 
disaksikan oleh Kapolres, Dandim, Ketua dan Wakil Ketua DPRD Ogan Ilir, 
menyepakati bahwa pihak perusahaan tidak keberatan warga Sribandung 
melakukan pematokan lahan dan mendirikan tenda selama tidak mengganggu 
aktivitas perusahaan hingga jenjang waktu negosiasi tanggal 31 Mei 
nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu tercantum dalam surat perjanjian dan rekomendasi yang 
ditandatangani oleh semua pihak, baik perusahaan, masyarakat, aparat 
kepolisian,TNI, dan DPRD Ogan ilir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walhi menyatakan, di lapangan warga Sribandung tetap mematuhi 
kesepakatan yang telah dibuat, sejak Rabu (23/5) sore telah membuka 
blokade jalan dan mempersilakan pihak PTPN VII untuk memanen tebu tanpa 
gangguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, kata Sadat, tuduhan serta pernyataan dari PTPN VII bahwa 
kerugian yang mereka alami akibat dari terjadi kebakaran di lahan tebu 
seluas 310 ha adalah pernyataan bohong karena berdasarkan fakta di 
lapangan tidak ada 1 hektare pun lahan tebu milik perusahaan ini yang 
dibakar oleh masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jika pun terjadi kebakaran, bukanlah di lahan tebu produktif, melainkan
 di lahan yang di atasnya terdapat sampah bekas tanaman tebu yang telah 
dipanen oleh perusahaan," ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebakaran itu pun telah dipadamkan oleh masyarakat secara bersama sama, 
dengan sebelumnya telah dikoordinasikan dulu kepada pihak kepolisian 
bahwa ada titik api di lahan dimaksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut dia, bila perusahaan menyatakan mengalami kerugian besar akibat 
dari aksi yang dilakukan masyarakat beberapa hari belakangan ini, 
seharusnya perusahaan juga menghitung kerugian materi maupun non-materi 
yang dialami masyarakat selama 30 tahun (sejak 1982) akibat lahan 
produktif milik mereka diambil paksa oleh PTPN VII.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Asumsi kami, jika lahan seluas 3.000 hektare tersebut diusahakan oleh 
masyarakat dengan tanaman karet, maka dalam satu bulan per hektare-nya 
masyarakat dapat mengantongi keuntungan rata rata sebesar Rp5 juta, jika
 dikalikan selama 30 tahun, dipastikan tidak akan ada kemiskinan yang 
melanda sedikitnya 800 KK di desa itu," ujar Sadat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi menurut keterangan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumsel bahwa 
PTPN VII Unit Usaha Cinta Manis hanya mengantongi Hak Guna Usaha (HGU) 
seluas 6.000 ha, dan itu tidak berada di desa Sribandung tetapi berada 
di Desa Burai, Kecamatan Tanjung Alai, Kabupaten Ogan Ilir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelumnya, menurut warga Desa Sribandung, pendudukan lahan PTPN VII 
Unit Usaha Cinta Manis, akibat upaya dialog dan mediasi sebelumnya 
dinilai gagal dan tidak memberikan keputusan yang jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koordinator Petani Sri Bandung Bersatu (PSB), Abdul Muis, menjelaskan, 
justru aksi warga itu dipicu oleh kejadian perampasan tanah warga Desa 
tersebut oleh PTPN VII Cinta Manis yang sudah berlangsung lama sejak 
tahun 1982.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu, kata dia, warga tidak memiliki pilihan selain pasrah ketika 
kebun karet dan nanas mereka digusur oleh pihak PTPN VII tanpa 
mendapatkan ganti rugi yang layak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses ganti rugi tahun 1982 pun menurut dia, dipenuhi tekanan, intimidasi dan sikap represif aparat keamanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ganti rugi itu pun dinilai warga di sini tidak adil, seperti dari lima 
ha lahan hanya satu hektare saja yang diganti, dan lebih parah kagi, 
hingga saat ini masih ada tanah warga yang masih belum diganti rugi oleh
 pihak PTPN VII, kata dia lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai upaya dialog dan mediasi juga telah ditempuh warga, namun pihak
 PTPN VII dituding selalu mengulur waktu dan cenderung tidak memberi 
keputusan yang tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, pada Senin (21/5), warga memutuskan untuk memblokade akses 
jalan menuju pabrik pengolahan gula pasir PTPN VII Unit Cinta Manis, dan
 warga kemudian mendirikan tenda serta mematok lahan seluas 3.000 ha di 
sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi tersebut merupakan puncak kekecewaan warga terhadap keberadaan PTPN
 VII yang dinilai selama ini tidak menguntungkan rakyat sekitar, ujar 
dia lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyebutkan, dari jumlah tenaga kerja 70 persen didatangkan dari luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, sungai di daerah itu yang tadinya bisa dijadikan tempat 
mencari ikan, kini sudah tercemar dan ikan-ikan sudah mulai punah akibat
 limbah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya, debu pembakaran tebu dari Pabrik Gula (PG) Cinta Manis PTPN
 VII masuk ke permukiman warga dan mengganggu aktivitas mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, warga Sribandung menuntut, agar tanah warga yang telah 
dirampas oleh PTPN VII sejak tahun 1982 segera dikembalikan kepada 
warga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila hal itu tidak dipenuhi, warga akan terus menginap dan melakukan 
aktivitas penanaman serta pematokan di lokasi, kata Abdul Muis pula.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penggilingan Tebu Berhenti&lt;br /&gt;
Menanggapi aksi warga Sribandung itu, PTPN VII menyayangkan aksi mereka 
yang berakibat buruk bagi aktivitas perusahaan badan usaha milik negara 
(BUMN) di Kabupaten Ogan Ilir itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekretaris Perusahaan PTPN VII, Sonny Soediastanto, atasnama Direksi 
yang berkantor di Bandarlampung, membenarkan aksi unjuk rasa disertai 
dengan pendudukan lahan dan pemblokiran jalan oleh warga di PTPN VII 
Unit Usaha Cinta Manis di Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel itu terus meluas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, menurut Sonny, aktivitas Pabrik Gula Cinta Manis di sana yang menggiling tebu, berhenti total sejak 25 Mei lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain mengancam produksi gula pasir nasional, aktivitas perekonomian 
masyarakat pada mata rantai produksi gula juga terancam, akibat aksi 
pendudukan lahan yang membuat penggilingan tebu terhenti, kata dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Banyak yang kehilangan pendapatan dengan penghentian aktivitas pabrik, 
seperti pekerja tebang, muat, usaha angkutan, dan ikutannya yang 
melibatkan ribuan orang," ujar Sonny lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi unjuk rasa menuntut pengembalian lahan yang dilakukan warga hingga 
sepekan ini, bukan saja hanya dilakukan oleh warga Desa Sribandung, 
Kecamatan Tanjungbatu, melainkan juga dilakukan oleh warga 13 desa di 
sekitar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terus melakukan pematokan lahan dan memblokir jalan, sehingga 
aktivitas tebang, muat, dan angkut tebu tak bisa dilakukan, ujar dia 
pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Sonny, dengan berhenti giling, bukan hanya perusahaan yang 
dirugikan, melainkan juga masyarakat dan pekerja yang pendapatannya 
bergantung dari proses produksi gula pasir di PG Cinta Manis itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada musim giling saat ini saja, ada sekitar 2.500 orang tenaga borong 
tebang dan muat, dan sekitar 250 tenaga sopir angkutan yang 
menggantungkan hidupnya dari proses produksi gula pasir itu, kata dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau pabrik berhenti, mereka kehilangan mata pencaharian yang dikhawatirkan akan menimbulkan kerawanan sosial," ujar dia lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila banyak warga yang kehilangan mata pencaharian, juga akan 
menimbulkan keresahan dan kegalauan yang bisa memicu konflik horizontal 
antara petani, pekerja, dan masyarakat yang akan merugikan banyak pihak,
 kata Sonny.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, manajemen PTPN VII berharap semua pihak, terutama aparat 
pemerintah dan aparat keamanan serta para tokoh masyarakat membantu 
memulihkan situasi dan kondisi agar menjadi kondusif sehingga aktivitas 
produksi gula bisa kembali dilakukan secepatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kami berharap, aksi tersebut tidak anarkis dan berkelanjutan, karena 
bisa mengancam perekonomian masyarakat dan perekonomian daerah," kata 
dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sonny juga mengatakan, sebenarnya tuntutan warga terhadap lahan 
perusahaan bisa dimusyawarahkan, meski sebenarnya lahan yang dituntut 
warga tersebut sebenarnya sudah "clear", dan perolehannya melalui 
prosedur yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perolehan lahan berdasarkan SK Gubernur Sumsel No: 379/Kpts/I/1981 
tanggal 16 November 1981, Perihal Pencadangan Tanah Negara seluas 20.000
 ha untuk Proyek Pabrik Gula di Kecamatan Tanjungraja, Muarakuang, 
Inderalaya, dan Tanjungbatu, Kabupaten Dati II Ogan Komering Ilir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu berdasarkan surat tugas Bupati Kdh. Tingkat II OKI No: 
AG.210-243/1981 tanggal 10 April 1981 untuk mengadakan inventarisasi 
tanah, tanam tumbuh, dan bangunan rakyat terhadap lokasi yang akan 
dibebaskan oleh PTP XXI-XXII (Persero) di Marga Tanjungbatu, Meranjat, 
Lubukkeliat, dan Marga Rambang IV Suku di Kecamatan Tanjungbatu dan 
Muarakuang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuai hasil inventarisasi itu, tanah rakyat di Rayon III, di Ketiau 
seluas 374 ha yang ganti ruginya diberikan kepada 133 warga; di 
Sribandung, Sritanjung, dan Tanjungatap seluas 1.479 ha, dan ganti 
ruginya diberikan kepada 894 warga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jadi lahan milik rakyat yang diganti rugi seluas 1.853 ha dengan jumlah pemilik sebanyak 1.027 orang," ujar dia pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan sisanya merupakan tanah negara eks tanah marga, kata Sonny, 
seraya menegaskan pula, berdasarkan kronologis tersebut, jelas PTPN VII 
telah melalui prosedur dalam memperoleh lahan dimaksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Polres Ogan Ilir berkaitan aksi pendudukan lahan itu, tetap meminta 
kepada warga untuk tidak melakukan tindakan anarkis dalam menuntut lahan
 tersebut, apalagi sampai melakukan pembakaran terhadap aset PTPN VII 
Cinta Manis yang merupakan aset negara dan harus dilindungi bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walhi Sumsel selaku pendamping warga juga tetap berharap aksi itu 
dilakukan tanpa terjadi bentrok atau tindakan anarkis, mengingat 
tuntutan warga adalah dapat mengembalikan hak mereka sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diharapkan ada dialog antara warga dengan pihak penentu kebijakan di 
PTPN VII, sehingga dapat segera dicarikan titik temu dan solusi yang 
dapat diterima para pihak dengan baik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber : lampung.antaranews.com &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-2598778554224904969?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/BcShVCQEw2I/walhi-ingatkan-kewajiban-laksanakan.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/walhi-ingatkan-kewajiban-laksanakan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-3719521798178402332</guid><pubDate>Tue, 29 May 2012 12:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-29T19:25:32.842+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Siaran Pers</category><title>WALHI : PETANI TAK BAKAR LAHAN PTPN VII</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-qOmg6NOZH3s/T8S5VeqtPCI/AAAAAAAAAf8/pEUFRtS20cs/s1600/DSC02933.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-qOmg6NOZH3s/T8S5VeqtPCI/AAAAAAAAAf8/pEUFRtS20cs/s320/DSC02933.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Cuma api dari Ban ini yang kami temui dilapangan, dan kami tidak menemukan lahan 310 ha yang kat pihak PTPN VII terbakar (Foto WALHI Sumsel) &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Petani Sribandung, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan yang 
bersengkata lahan dengan PT Perkebunan Nusantara VII menegaskan tidak 
membakar lahan milik perusahaan tersebut tetapi mereka hanya memblokade 
jalan sampai, Rabu (23/5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Selatan Anwar Sadat di Palembang, 
Senin, mengatakan pihaknya memastikan tidak ada pembakaran lahan yang 
dilakukan petani terkait dengan aksi blokade jalan menuju pabrik gula 
Cinta Manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, mereka membenarkan memang ada kebakaran di lokasi perkebunan yang
 tidak produktif lagi dan menjadi tempat pembuangan sampah tebu bekas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menjelaskan, mereka bersama petani Sribandung melakukan aksi menuntut
 dikembalikannya lahan seluas 3.000 hektare yang diklaim milik 
perusahaan perkebunan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuntutan itu telah berulangkali disampaikan petani sejak sengketa lahan 
terjadi tahun 1982. Memang ada warga yang menerima ganti rugi tetapi 
dari lima hektare yang diklaim PTPN VII hanya satu hektare yang 
dibayarkan kepada petani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut dia, terkait dengan aksi massa blokade jalan yang dilakukan 
petani Desa Sribandung dan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir itu 
merupakan akumulasi dampak dari sikap PTPN VII yang tidak pernah 
mengubris tuntutan masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan hanya ganti rugi lahan yang mereka tuntut tetapi perusahaan juga 
tidak pernah memberdayakan warga di daerah itu untuk bekerja di pabrik 
milik perkebunan tebu itu.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan, sesuai dengan kesepakatan bersama warga dan PTPN VII 
yang disaksikan perwakilan pemkab dan aparat kepolisian serta TNI, Rabu 
(23/5) petani dipersilahkan mematok lahan dan mendirikan tenda asal 
tidak menganggu aktivitas perusahaan sampai masa negosiasi,&amp;nbsp; Kamis 
(31/5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuai dengan kesepakatan tersebut, petani telah membuka blokade dan 
sama sekali tidak melakukan tindakan apapun yang menganggu aktivitas 
perusahaan termasuk kegiatan memanen tebu.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Anwar menegaskan bahwa sampai hari ini petani tidak pernah melakukan 
pembakaran lahan tebu seluas 310 hektare seperti yang dituduhkan 
perusahaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab, faktanya sejak tahun 1982 sebanyak 800 kepala keluarga dari dua 
desa itu mengalami 'pemaksaan' menjadi miskin karena lahan mereka 
dikuasai perusahaan perkebunan itu, padahal jika mereka tanami karet 
saja sudah berapa besar pendapatan yang dihasilkan dari produksi getah 
itu sejak 30 tahun lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan data Badan Pertanahan Nasional Sumsel perusahaan itu hanya 
mengantongi hak guna usaha lahan seluas 6.000 hektare dan lokasinya 
bukan di Desa Sribandung atau Tanjung Batu melainkan di Desa Burai 
Kecamatan Tanjung Alai-Ogan Ilir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Sjakhyakirti Palembang, Prof 
Edwar Juliartha menanggapi berlarut-larutnya masalah sengketa lahan 
antara PTPN VII dan warga bukti dari tidak berjalannya komunikasi yang 
baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semestinya perusahaan yang notabene menjadi pendatang di wilayah 
tersebut membangun komunikasi yang bagus sehingga masalah bisa 
diselesaikan bukan malah meruncing seperti saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi ia menambahkan kondisi di desa yang tidak jauh dari pabrik cinta
 manis tersebut kesejahteraan warga sangat berbeda dengan pegawai 
perusahaan yang berkecukupan sehingga wajar kalau terjadi kecemburuan 
sosial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, PTPN VII hendaknya tidak hanya mengandalkan hak guna usaha 
sebagai landasan operasional perusahaan tetapi memperhatikan masyarakat 
petani di daerah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat juga diharapkan memberikan keterangan yang jujur atas 
kepemilikan lahan mereka sehingga tidak adalagi masalah rebutan lahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemerintah juga diingatkan untuk memposisikan diri sebagai mediator yang
 tidak memihak tetapi mencarikan jalan keluar yang benar untuk 
kepentingan bersama, katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : sumsel.antaranews.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-3719521798178402332?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/473ffDGSl60/walhi-petani-tak-bakar-lahan-ptpn-vii.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/-qOmg6NOZH3s/T8S5VeqtPCI/AAAAAAAAAf8/pEUFRtS20cs/s72-c/DSC02933.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/walhi-petani-tak-bakar-lahan-ptpn-vii.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-248055371612590082</guid><pubDate>Mon, 28 May 2012 09:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-28T16:28:50.088+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>15 Ribu Hektar lahan PTPN VII Cinta Manis Belum HGU</title><description>&lt;b&gt;INDRALAYA&lt;/b&gt; - Ternyata dari 21 ribu hektare lahan yang 
dikuasai PTPN VII Cinta Manis, hanya sekitar 6.600 hektare yang 
mengantongi&amp;nbsp; surat Hak Guna Usaha (HGU) yang berada di Rayon I Desa 
Burai Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir (OI). Sementara 15 
hektare lagi di Rayon II kawasan Desa Payolingkung Kecamatan Lubuk 
Keliat dan Rayon III Desa Sribandung Kecamatan Tanjung Batu&amp;nbsp; masih dalam
 proses.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dari data Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumsel, 
justru hanya 6 ribu hektare lahan PTPN VII, berstatus HGU, sisanya belum
 memiliki status. “Sebetulnya, hanya 6 ribu hektare itulah lahan yang 
berhak dikelola Cinta Manis dan selebihnya harus dilepas,” ujar Ketua 
Walhi Sumsel Anwar Sadat, pendamping warga Sribandung, kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara
 Asisten Ogan Ilir, H Herman SH MSi ketika dikonfirmasi mengaku, kalau 
lahan PTPN VII yang sudah mengantongi HGU hanya 6.600 hektare di Rayon I
 Desa Burai. Sedangkan 8.866 hektare di Rayon II dan 4.883 hektar di 
Rayon III masih dalam proses pengajuan HGU. “Secara detail saya lupa, 
apakah lahan yang dirayon II dan III dalam rangka perpanjangan atau 
pengajuan baru HGU.&amp;nbsp; Namun yang jelas, baru 6.600 hektare itulah lahan 
yang dikelola PTPN VII sudah berstatus HGU sejak 1995,” ujar Herman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Herman
 juga menjelaskan, jika masa HGU berlaku 25-35 tahun dan bisa 
diperpanjang kembali sampai 25 tahun.Setelah perpanjangan itu habis, 
maka keberadaan perusahaan akan dievaluasi kembali. Jika ternyata masih 
produktif dan tidak bermasalah, maka perusahaan dapat melanjutkannya, 
namun bukan diperpanjang tapi melakukan izin kembali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara 
informasi terbaru, sudah 6 desa di Kecamatan Tanjung Batu dan Indralaya 
Selatan melakukan pematokan lahan yang dikuasai PTPN VII Cinta Manis, 
setelah lebih dulu ratusan warga Desa Sribandung menduduki dan mematok 
lahan perusahaan perkebunan tebu di Rayon III.Desa dimaksud,&amp;nbsp; warga 
Tanjung Atap, Kecamatan Tanjung Batu, kemudian Desa Meranjat I, Meranjat
 II, Meranjat Ilir dan Desa Beti, Kecamatan Indralaya selatan. “Sebab 
bukan hanya lahan di Desa Sribandung yang diserobot oleh PTPN VII, 
tetapi ada ribuan hektar lahan lagi milik warga lima Desa di Kecamatan 
Indrlaya utara dan Tanjung batu juga diambil paksa,” kata Ruslan, warga 
Desa Meranjat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Palembang-post.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-248055371612590082?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/QhsYV1WaSw4/15-ribu-hektar-lahan-ptpn-vii-cinta.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/15-ribu-hektar-lahan-ptpn-vii-cinta.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-5664112379833546174</guid><pubDate>Mon, 28 May 2012 07:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-28T14:49:18.297+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pernyataan Sikap</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria</category><title>PTPN VII jangan Provokasi dan Bohongi Rakyat.</title><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:UseFELayout/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
 &lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin:0in;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:10.0pt;
 font-family:"Times New Roman";
 mso-ansi-language:#0400;
 mso-fareast-language:#0400;
 mso-bidi-language:#0400;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;o:shapedefaults v:ext="edit" spidmax="1026"/&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;o:shapelayout v:ext="edit"&gt;
  &lt;o:idmap v:ext="edit" data="1"/&gt;
 &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Siaran Pers &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Eksekutif Daerah Walhi Sumatera Selatan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;“ PTPN VII
jangan Provokasi dan Bohongi Rakyat” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Salam
Adil Dan Lestari !!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Sengketa
agraria merupakan masalah yang selalu dibiarkan oleh aparatur pemerintahan.
Konflik terjadi akibat adanya ketimpangan penguasaan tanah di Indonesia. Hal
itu dapat dilihat dalam data statistik Badan Pertanahan Nasional (BPN) tahun
2010, hanya sekitar 0,2 persen penduduk Indonesia kini menguasai 56 persen aset
nasional termasuk tanah. Sisanya dikuasi korporasi asing maupun nasional.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Dengan
demikian, menanggapi siaran Pers yang dilakukan PTPN VII Unit Usaha Cinta Manis
(Sabtu,26/05) di Palembang yang salah satunya menyatakan bahwa “Perusahaan
alami kerugian sebesar Rp 15 Milyar lebih, akibat terbakarnya &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;310,8 hektare areal tebu dan diblokirnya akses
jalan oleh warga" kata Syufri gunawan Kepala Tanaman Unit Usaha Cinta
Manis, yang di kutip oleh &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;a href="http://www.sumsel.antaranews.com/"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;www.sumsel.antaranews.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Kami
menyatakan bahwa&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;selama ini masyarakat
Desa Sri Bandung Kecamatan Tanjung Batu-Ogan Ilir Sumatera Selatan yang
tergabung dalam Petani Sri Bandung Bersatu (PSB) tidak melakukan perusakan
sebagaimana yang dituduhkan oleh pihak PTPN VII dalam siaran persnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Tindakan
warga Desa Sri Bandung melakukan pematokan lahan seluas 3000 ha merupakan
akumulasi kekecewaan warga akibat pihak PTPN VII tidak pernah menanggapi keinginan
warga setempat. Selain itu, pembukaan perkebunan tebu PTPN VII Unit Usaha Cinta
Manis pada tahun 1982 penuh dengan pemaksaan, intimidasi dan proses ganti rugi
yang tidak layak. Salah satu contoh, lahan 5 ha milik warga, hanya 1 ha saja
yang diganti rugi, hingga hari ini masih ada warga yang memiliki lahan belum
diganti rugi oleh pihak perusahaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Selanjutnya,
berdasarkan hasil kesepakatan antara warga dan Pihak PTPN VII di gedung DPRD
Ogan Ilir pada tanggal 23 mei 2012 lalu, yang difasilitasi serta disaksikan
oleh Kapolres, Dandim, Ketua dan wakil ketua DPRD Ogan Ilir, bahwa pihak
perusahaan tidak keberatan jika warga desa Sri Bandung melakukan pematokan
lahan dan mendirikan tenda selama tidak mengganggu aktivitas perusahaan hingga
jenjang waktu negosiasi tanggal 31 Mei Mendatang. Hal ini tercantum dalam surat
perjanjian dan rekomendasi yang ditanda tangani oleh semua pihak baik
Perusahaan, Masyarakat, Aparat kepolisian,TNI, dan DPRD Ogan ilir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Berdasarkan
hal&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;tersebut, sejauh ini menurut
pantauan kami dilapangan warga Sri Bandung mematuhi kesepakatan yang telah
dibuat, mereka sejak rabu (23/5) sore telah membuka blokade jalan dan
mempersilahkan pihak PTPN VII untuk memanen tebu tanpa gangguan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Selain
itu tuduhan serta pernyataan dari Pihak PTPN VII bahwa kerugian yang mereka
alami akibat dari terjadinya kebakaran dilahan tebu seluas 310 hektar adalah
pernyataan bohong, karena berdasarkan fakta dilapangan tidak ada 1 hektarpun
lahan tebu milik Perusahaan dibakar oleh masyarakat, dan jikapun ada kebakaran
bukanlah dilahan tebu produktif tetapi dilahan yang diatasnya terdapat sampah
bekas tanaman tebu yang telah di panen oleh perusahaan dan itupun telah
dipadamkan oleh masyarakat secara bersama sama, yang sebelumnya telah
dikoordinasikan dulu kepada pihak kepolisian bahwa ada titik api dilahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Hal
lain, jika perusahaan menyatakan mengalami kerugian besar akibat dari aksi yang
dilakukan masyarakat beberapa hari belakangan ini, seharusnya perusahaan juga
menghitung kerugian materi maupun non materi yang dialami masyarakat selama 30
tahun (sejak 1982) akibat lahan produktif milik mereka diambil paksa oleh PTPN
VII. Yang asumsi kami jika lahan seluas 3000 hektar tersebut diusahakan oleh
masyarakat dengan tanaman karet, maka dalam 1 bulan perhektarnya masyarakat
dapat mengantongi keuntungan rata rata sebesar Rp 5 juta, yang jika dikalikan
selama 30 tahun maka dipastikan tidak akan ada kemiskinan yang melanda
sedikitnya 800 KK di desa ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Apalagi
menurut keterangan Badan Pertanahan Nasional (BPN) sumsel, bahwa PTPN VII Unit
Usaha Cinta Manis hanya mengantongi Hak Guna Usaha seluas 6000 ha dan itu tidak
berada di desa seri bandung tetapi berada di Desa Burai Kecamatan Tanjung
Alai-Ogan Ilir.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Atas
dasar hal yang kami uraikan diatas maka kami menyatakan : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="1" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;PTPN VII
     harus segera mengembalikan lahan milik warga seri Bandung kecamatan
     tanjung raja Ogan ilir seluas 3000 hektar. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;PTPN VII
     harus menghentikan upaya provokasi (kebohongan Publik) dan pengkambing
     hitaman terhadap warga desa seri bandung, karena hal itu hanya akan
     memperkeruh keadaan yang saat ini telah kondusif. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Kami
     mendukung setiap upaya rakyat dimanapun berada yang ingin merebut hak atas
     tanahnya yang direbut paksa oleh koorporasi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Menuntut
     Pemerintah Propinsi Sumatera selatan khususnya Pemerintah kabupaten ogan
     ilir untuk segera menjalankan Reforma Agraria Sejati sesuai mandat UU
     Pembaharuan Agraria no 5 tahun 1960. yang jika ini dilaksanakan maka kami
     pastikan tak akan ada lagi kemiskinan melanda masyarakat di pedesaan, dan
     kami pastikan juga tidak akan terjadi konflik agraria yang setiap tahunnya
     terus mengalami peningkatan secara signifikan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-left: .25in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Demikian siaran pers ini kami buat, besar
harapan kami dapat segera di publikasikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-left: .25in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;“Pulihkan Sumsel, utamakan keselamatan rakyat”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-left: .25in; text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Palembang,&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Mei 2012 &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-left: .25in; text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Eksekutif
Daerah Walhi Sumsel &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-left: .25in; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-left: .25in; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-left: .25in; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Anwar
Sadat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-left: .25in; text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Direktur&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-left: .25in; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-left: .25in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Kontak Person :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="1" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l1 level1 lfo2; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Anwar Sadat
     (Direktur)&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;: 08127855725&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l1 level1 lfo2; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Hadi
     Jatmiko ( Kadiv Pengembangan dan pengorganisasian) : 0812 731 2042&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-5664112379833546174?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/-UZM1AEFGLs/ptpn-vii-jangan-provokasi-dan-bohongi.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/ptpn-vii-jangan-provokasi-dan-bohongi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-8035394594012927602</guid><pubDate>Mon, 28 May 2012 06:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-28T13:19:29.119+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>Warga seri bandung duduki lahan setelah dialog gagal</title><description>Warga Desa Sribandung, Kecamatan Tanjungbatu, Kabupaten Ogan Ilir, 
Sumatera Selatan menduduki lahan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Unit
 Usaha Cinta Manis, akibat upaya dialog dan mediasi sebelumnya dinilai 
gagal dan tidak memberikan keputusan yang jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koordinator Petani Sri Bandung Bersatu (PSB), Abdul Muis, memberikan 
penjelasan yang diterima di Bandarlampung, Minggu, berkaitan aksi unjuk 
rasa dan diikuti pendudukan lahan PTPN VII itu, sekaligus untuk 
menanggapi penjelasan pihak PTPN VII sebelumnya atas aksi warga 
tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut dia, justru aksi warga itu dipicu oleh kejadian perampasan tanah
 warga Desa tersebut oleh PTPN VII Cinta Manis yang sudah berlangsung 
lama sejak tahun 1982.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu, kata dia, warga tidak memiliki pilihan selain pasrah ketika 
kebun karet dan nanas mereka digusur oleh pihak PTPN VII tanpa 
mendapatkan ganti rugi yang layak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses ganti rugi tahun 1982 pun menurut dia, dipenuhi tekanan, intimidasi dan sikap represif aparat keamanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ganti rugi itu pun dinilai warga di sini tidak adil, seperti dari lima 
ha lahan hanya satu hektare saja yang diganti, dan lebih parah kagi, 
hingga saat ini masih ada tanah warga yang masih belum diganti rugi oleh
 pihak PTPN VII, kata dia lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai upaya dialog dan mediasi juga telah ditempuh warga, namun pihak
 PTPN VII dituding selalu mengulur waktu dan cenderung tidak memberi 
keputusan yang tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, pada Senin (21/5), warga memutuskan untuk memblokade akses 
jalan menuju pabrik pengolahan gula pasir PTPN VII Unit Cinta Manis, dan
 warga kemudian mendirikan tenda serta mematok lahan seluas 3.000 ha di 
sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi tersebut merupakan puncak kekecewaan warga terhadap keberadaan PTPN
 VII yang dinilai selama ini tidak menguntungkan rakyat sekitar, ujar 
dia lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyebutkan, dari jumlah tenaga kerja 70 persen didatangkan dari luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, sungai di daerah itu yang tadinya bisa dijadikan tempat 
mencari ikan, kini sudah tercemar dan ikan-ikan sudah mulai punah akibat
 limbah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya, debu pembakaran tebu dari Pabrik Gula (PG) Cinta Manis PTPN
 VII masuk ke permukiman warga dan mengganggu aktivitas mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut dia, dari luas lahan 20.000 ha yang diusahakan PTPN VII Unit 
Cinta Manis, hanya 6.000 ha yang diketahui memiliki hak guna usaha (HGU)
 berlokasi di daerah Burai, Kecamatan Rantau Alai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, warga Desa Sribandung, Kecamatan Tanjungbatu, Kabupaten Ogan
 Ilir, Sumsel yang tergabung dalam organisasi Petani Sribandung Bersatu 
(PSB), menuntut agar tanah warga yang telah dirampas oleh PTPN VII sejak
 tahun 1982 segera dikembalikan kepada warga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila hal itu tidak dipenuhi, warga akan terus menginap dan melakukan 
aktivitas penanaman serta pematokan di lokasi, kata Abdul Muis pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel, 
Anwar Sadat, selaku pendamping warga, menyatakan, bila secara hukum 
pihak perusahaan dinilai telah banyak melakukan penyimpangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut dia, dari sekitar 20.000 hektare lahan yang dikelola PTPN VII 
itu, hanya 6.000 ha yang memiliki HGU dan lokasinya berada di Desa 
Burai, Kecamatan Tanjungbatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya lebih dari situ, lahan perusahaan itu tidak mempunyai alas hak, termasuk di kawasan Desa Sribandung, ujar dia lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, kata dia, tidak berlebihan bila warga Sribandung secara harga mati minta agar lahannya dikembalikan tanpa syarat.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pabrik Gula Berhenti Giling&lt;br /&gt;
Sebelumnya, pihak PTPN VII menyayangkan aksi warga itu, karena berakibat
 buruk bagi aktivitas perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) di 
Kabupaten Ogan Ilir itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekretaris Perusahaan PTPN VII, Sonny Soediastanto, atasnama Direksi 
yang berkantor di Bandarlampung, membenarkan aksi unjuk rasa disertai 
dengan pendudukan lahan dan pemblokiran jalan oleh warga di PTPN VII 
Unit Usaha Cinta Manis di Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel itu terus meluas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, menurut Sonny, aktivitas Pabrik Gula Cinta Manis di sana yang menggiling tebu, berhenti total sejak 25 Mei lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain mengancam produksi gula pasir nasional, aktivitas perekonomian 
masyarakat pada mata rantai produksi gula juga terancam, akibat aksi 
pendudukan lahan yang membuat penggilingan tebu terhenti, kata dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Banyak yang kehilangan pendapatan dengan penghentian aktivitas pabrik, 
seperti pekerja tebang, muat, usaha angkutan, dan ikutannya yang 
melibatkan ribuan orang," ujar Sonny lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi unjuk rasa menuntut pengembalian lahan yang dilakukan warga hingga 
sepekan ini, bukan saja hanya dilakukan oleh warga Desa Sribandung, 
Kecamatan Tanjungbatu, melainkan juga dilakukan oleh warga 13 desa di 
sekitar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terus melakukan pematokan lahan dan memblokir jalan, sehingga 
aktivitas tebang, muat, dan angkut tebu tak bisa dilakukan, ujar dia 
pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Sonny, dengan berhenti giling, bukan hanya perusahaan yang 
dirugikan, melainkan juga masyarakat dan pekerja yang pendapatannya 
bergantung dari proses produksi gula pasir di PG Cinta Manis itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada musim giling saat ini saja, ada sekitar 2.500 orang tenaga borong 
tebang dan muat, dan sekitar 250 tenaga sopir angkutan yang 
menggantungkan hidupnya dari proses produksi gula pasir itu, kata dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau pabrik berhenti, mereka kehilangan mata pencaharian yang dikhawatirkan akan menimbulkan kerawanan sosial," ujar dia lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau banyak warga yang kehilangan mata pencaharian, juga akan 
menimbulkan keresahan dan kegalauan yang bisa memicu konflik horizontal 
antara petani, pekerja, dan masyarakat yang akan merugikan banyak pihak,
 kata Sonny.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, manajemen PTPN VII berharap semua pihak, terutama aparat 
pemerintah dan aparat keamanan serta para tokoh masyarakat membantu 
memulihkan situasi dan kondisi agar menjadi kondusif sehingga aktivitas 
produksi gula bisa kembali dilakukan secepatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kami berharap, aksi tersebut tidak anarkis dan berkelanjutan, karena 
bisa mengancam perekonomian masyarakat dan perekonomian daerah," kata 
dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sonny juga mengatakan, sebenarnya tuntutan warga terhadap lahan 
perusahaan bisa dimusyawarahkan, meski sebenarnya lahan yang dituntut 
warga tersebut sebenarnya sudah "clear", dan perolehannya melalui 
prosedur yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perolehan lahan berdasarkan SK Gubernur Sumsel No: 379/Kpts/I/1981 
tanggal 16 November 1981, Perihal Pencadangan Tanah Negara seluas 20.000
 ha untuk Proyek Pabrik Gula di Kecamatan Tanjungraja, Muarakuang, 
Inderalaya, dan Tanjungbatu, Kabupaten Dati II Ogan Komering Ilir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu berdasarkan surat tugas Bupati Kdh. Tingkat II OKI No: 
AG.210-243/1981 tanggal 10 April 1981 untuk mengadakan inventarisasi 
tanah, tanam tumbuh, dan bangunan rakyat terhadap lokasi yang akan 
dibebaskan oleh PTP XXI-XXII (Persero) di Marga Tanjungbatu, Meranjat, 
Lubukkeliat, dan Marga Rambang IV Suku di Kecamatan Tanjungbatu dan 
Muarakuang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuai hasil inventarisasi itu, tanah rakyat di Rayon III, di Ketiau 
seluas 374 ha yang ganti ruginya diberikan kepada 133 warga; di 
Sribandung, Sritanjung, dan Tanjungatap seluas 1.479 ha, dan ganti 
ruginya diberikan kepada 894 warga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jadi lahan milik rakyat yang diganti rugi seluas 1.853 ha dengan jumlah pemilik sebanyak 1.027 orang," ujar dia pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan sisanya merupakan tanah negara eks tanah marga, kata Sonny, 
seraya menegaskan pula, berdasarkan kronologis tersebut, jelas PTPN VII 
telah melalui prosedur dalam memperoleh lahan dimaksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Polres Ogan Ilir berkaitan aksi pendudukan lahan itu, tetap meminta 
kepada warga untuk tidak melakukan tindakan anarkis dalam menuntut lahan
 tersebut, apalagi sampai melakukan pembakaran terhadap aset PTPN VII 
Cinta Manis yang merupakan aset negara dan harus dilindungi bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walhi Sumsel selaku pendamping warga juga tetap berharap aksi itu 
dilakukan tanpa terjadi bentrok atau tindakan anarkis, mengingat 
tuntutan warga adalah dapat mengembalikan hak mereka sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diharapkan berlangsung dialog antara warga dengan pihak penentu 
kebijakan di PTPN VII, sehingga dapat segera dicarikan titik temu dan 
solusi yang dapat diterima para pihak dengan baik&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : lampung.antaranews.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-8035394594012927602?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/aitTbudRDHw/warga-seri-bandung-duduki-lahan-setelah.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/warga-seri-bandung-duduki-lahan-setelah.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-3863415279102364055</guid><pubDate>Fri, 25 May 2012 12:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-25T19:18:50.478+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>Kembalikan Lahan Harga Mati</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Warga Sribandung Tolak Negoisasi&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;INDRALAYA -&lt;/strong&gt; Tekad warga Desa Sribandung Kecamatan 
Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir (OI), yang mendesak kembalikan lahan 
seluas 2.500 hektare yang dikuasai PTPN VII Cinta Manis merupakan harga 
mati. Mereka menolak negoisasi dengan pihak perusahaan yang menginginkan
 adanya pertemuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

“Saya memang sempat dihubungi lewat SMS oleh petinggi PTPN VII Cinta 
Manis yang ingin mengadakan pertemuan. Namun langsung saya balas, tidak 
ada negoisasi lagi. Permintaan warga hanya kembalikan lahan yang telah 
dikuasai 30 tahun silam,” ujar Rusdi Tahar, anggota DPRD Sumsel, 
sekaligus putra daerah Sribandung, kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Menurut Tahar, keinginan warga Sribandung sudah bulat untuk 
mendapatkan lahan mereka kembali. Masyarakat inginnya mengolah lahan 
untuk dijadikan perkebunan karet&amp;nbsp; dan sudah bosan menjadi buruh 
perusahaan yang hanya mendapatkan upah sangat minim. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;“Oleh sebab 
itu, apa pun yang terjadi mereka bertekad merebut lahan yang masih 
dikuasai perusahaan perkebunan tebu tersebut,” ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Saat ini warga memberi batas waktu sampai Rabu (23/5), kepada 
perusahaan&amp;nbsp; untuk memanen tebu. Jika tiba waktunya belum juga, maka 
warga Sribandung telah merencanakan untuk menebang paksa tebu-tebu yang 
terhampar dilokasi perkebunan itu. “Muda-mudahan keinginan warga sudah 
diketahui perusahaan, sehingga mereka dapat mengambil sikap,” ujar 
Tahar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Sementara Koordinator Gabungan Petani Sribandung Bersatu (GPSB), 
Abdul Muis juga menyatakan, saat ini bukan hanya warganya yang melakukan
 pematokan lahan, tapi sejumlah warga desa lainnya seperti Betung, 
Rengas, Tanjung Atap dan desa lainnya juga berbuat serupa. Sebab, ribuan
 hektare lahan mereka juga ikut dicaplok PTPN VII Cinta Manis sejak 
dibuka perkebunan tebu sejak 1982 silam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Hasil pantauan kemarin sore, situasi di rayon III Desa Sribandung 
terus dikerumuni warga. Bahkan sejak dua hari lalu, di lokasi tersebut 
sudah terpasang tenda sehingga menjadi pusat pertemuan masyarakat.&lt;br /&gt;Selain
 itu, tiga portal di tiga titik di sekitar Rayon III menuju pabrik Cinta
 Manis masih terpasang, sehingga aktivitas penggilingan tebu lumpuh 
total. Sebab, puluhan truk yang mengangkut batang tebu dari lokasi 
perkebunan masih tertahan, karena tidak bisa melintas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Sedangkan Direksi&amp;nbsp; PTPN VII Cinta Manis melalui Kabag Humas, Abdul 
Hamid yang sempat dihubungi masih belum mau berkomentar. “Maaf, kami 
masih melakukan rapat belum mau berkomentar,” ujar Abdul Hamid mengelak 
saat dimintai konfirmasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Sementara Kapolres OI, AKBP Deni Dharmapala ketika dimintai 
keterangan terkait aksi warga mengaku sudah menurunkan puluhan petugas, 
terutama sekitar pabrik untuk mengantisipasi aksi anarkis. “Kita tidak 
segan-segan bertindak tegas, jika sampai ada aksi pengrusakan atau 
anarkis lainnya,” tegas Deni. &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-3863415279102364055?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/SZlkvuTigCE/kembalikan-lahan-harga-mati.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/kembalikan-lahan-harga-mati.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-9108067941933224942</guid><pubDate>Fri, 25 May 2012 12:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-25T19:15:22.436+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>Tuntut Pengembalian Lahan, Warga Duduki Perkebunan Tebu PTPN VII</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
PALEMBANG - Aksi unjuk rasa warga Desa Sribandung, Kecamatan Tanjung 
Batu Kabupaten Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan (Sumsel) terus 
berlanjut. Pada Senin (21/5) , warga memasang patok di lahan BUMN 
perkebunan. Saat ini, Selasa (22/5) warga memilih menduduki lahan 
tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam aksi yang berlangsung sejak Ahad (20/5) warga 
tetap pada sikap mereka. Warta menuntut PTPN VII yang saat ini 
mengoperasikan pabrik gula (PG) Cinta Manis di tempat tersebut, 
mengembalikan lahan warga seluas 2.500 hektar yang dikuasai BUMN yang 
berkantor pusat di Bandarlampung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapapengunjuk 
rasa menyatakan menolak melakukan negosiasi atau pembicaraan ganti ruga 
dengan manajemen PTPN VII. “Kami menuntut lahan kami yang dikuasai PTPN 
dikembalikan ke warga,” kata seorang pengunjuk rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota 
DPRD Sumsel Rusdi Tahar yang mendampingi aksi warga tersebut menjelaskan
 bahwa ia sempat dihubungi oleh pimpinan PTPN VII melalui pesan singkat 
di telepon seluler. Dalam pesan singkat itu, PTPN, ungkap Rusdi 
menyatakan ingin mengadakan pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pesan itu saya balas, 
dengan melihat sikap dan tuntut warga di lapangan, warga menyatakan,&amp;nbsp; 
tidak ada negoisasi lagi.&amp;nbsp; Permintaan warga hanya meminta PTPN VII 
mengembalikan lahan kepada warga yang sudah dikuasai perusahaan sejak 30
 tshun silam,” kata Rusdi Tahar.
Sementara itu Sandri Kamil Humas PTPN VII yang berada di Bandarlampung&amp;nbsp; saat dihubungi&lt;em&gt; Republika&lt;/em&gt;
 mengatakan belum bisa memberikan penjelasan terhadap aksi warga 
tersebut. “Kita di kantor pusat belum memperoleh laporan resmi dari 
Cinta Manis. Memang sebelumnya pernah ada penjelasan bahwa ini masalah 
lama yang lembali dipermasalahkan warga,” ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Republika&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-9108067941933224942?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/jBpPG6IDtY4/tuntut-pengembalian-lahan-warga-duduki.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/tuntut-pengembalian-lahan-warga-duduki.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-5023412664619786620</guid><pubDate>Fri, 25 May 2012 12:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-25T19:11:48.987+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>Warga Duduki Lahan PTPN VII</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
NDERALAYA– Konflik antara warga dengan PTPN VII semakin memanas. 
Kemarin ratusan warga Desa Sribandung, Kabupaten Ogan Ilir (OI) 
menduduki lahan perusahaan tersebut. 


&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut staf Humas PTPN VII 
Hasanudin, ratusan buruh yang sudah meninggalkan perusahaan sebanyak 130
 orang jumlah tersebut dari 32 kepala keluarga (KK). ”Karena ratusan 
warga sudah menduduki lahan, sehingga buruh kita merasa ketakutan, 
sekarang mereka yang tinggal di Kamp rayon III sudah meninggalkan kamp 
untuk mencari tempat yang aman,”ujar Hasanudin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini warga 
sudah mendirikan tenda di lahan yang berjarak sekitar 100 meter dari 
Kamp Rayon III Desa Sribandung.” Kita berharap masyarakat tidak berbuat 
anarkistis dengan menyakiti para buruh kita, mereka tidak tahu apa-apa 
selama ini hanya sebagai buruh saja, para buruh itu mayoritas berasal 
dari pulau Jawa,”ungkapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang dihimpun 
SINDOkemarin,bahwa ratusan warga tersebut sudah menutup semua akses 
masuk ke lahan dan pabrik gula Cinta Manis, aksi ini sudah dilakukan 
sejak Senin (21/05) hingga sekarang. Selain itu pihak PTPN sendiri, juga
 mulai mengungsikan kendaraan seperti truk pengangkut tebu, alat berat 
untuk mencengkeram tumpukan tebu dan semua jenis mobil truk ke arah 
Kecamatan Rantau Alai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semantara aparat Kepolisian dari Brimob 
dan TNI masih melakukan penjagaan di lokasi untuk mencegah agar 
masyarakat tidak berbuat anarkistis. Ratusan warga juga sudah mulai 
memasang patok di lahan 3.000 hektare yang diklaim milik nenek moyang 
mereka di kawasan Rayon III dan sekitarnya. Selain itu, warga juga telah
 mencabut seluruh portal di jalan perlintasan yang menuju Pabrik Gula 
Cinta Manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang tokoh masyarakat Desa Sribandung 
Abdul Kori mengatakan, aksi pematokan lahan itu sudah mendapat izin 
pihak PTPN VII Cinta Manis sambil menunggu keputusan rapat berikutnya 
yang direncanakan, Kamis (31/5) mendatang.“Warga berani mematok lahan 
itu karena sudah diketahui pihak PTPN VII Cinta Manis, usai pertemuan 
warga dengan pihak perusahaan 2 hari lalu,”ujar Kori. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut 
Kori, sebagian besar lahan yang telah dipatok itu masih ditanami tebu 
PTPN VII.Oleh sebab itu,warga mendesak kepada pihak perusahaan agar 
segera memanen tebu yang siap digiling tersebut. “Seyogyanya mulai 
kemarin, pihak perusahaan sudah memanen tebu yang ada di Rayon III 
tersebut. Namun hingga sore kemarin belum terlihat. Ini sudah komitmen 
bersama, warga siap buka portal dan pihak PTPN VII segera memanen,”kata 
Kori. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu kondisi di Posko Rayon III di Desa 
Sribandung, ratusan warga mulai mendaftarkan diri untuk mendapatkan 
lahan tersebut. Namun mereka belum ditentukan banyaknya lahan yang bakal
 diterima, tapi hanya sebatas mendata jumlah kepala keluarga (KK) di 
setiap rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinator Gabungan Petani Sribandung Bersatu,
 Abdul Muis mengatakan, bila yang melakukan pematokan lahan itu bukan 
hanya warganya, namun banyak pula warga desa tetangganya yang ikut 
mamatok lahan mereka. Seperti Desa Tanjung Atap,Betung,Ketiau, Rengas 
dan lainnya.“Permasalahannya memang sama, sebab dulunya bukan saja lahan
 Desa Sribandung yang diambil paksa, tapi juga lahan warga desa-desa 
tersebut,”kata Abdul Muis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapolres OI AKBP Deni Darmapala, 
mengatakan saat ini personelnya terus melakukan penjagaan di lokasi 
untuk mencegah jangan sampai terjadi aksi anarkistis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : seputar Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-5023412664619786620?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/h2LioDofN64/warga-duduki-lahan-ptpn-vii.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/warga-duduki-lahan-ptpn-vii.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-1890876215768415433</guid><pubDate>Fri, 25 May 2012 11:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-25T18:49:04.767+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>PTPN VII Cinta Manis Terancam Bubar</title><description>&lt;b&gt;INDRALAYA&lt;/b&gt;-Keinginan warga 
Kabupaten Ogan Ilir, khususnya di kecamatan yang desanya ada kebun tebu 
milik PTPN VII Cinta Manis mulai bergerak mematok lahan, Kamis 
(24/5/2012). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula hanya warga Desa Sribandung yang mengadakan 
pertemuan dengan PTPN VII dan diperbolehkan untuk mematok lahan, 
kenyataannya, hampir seluruh desa yang di wilayahnya ada kebun tebu 
turut memberikan tanda lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang dihimpun dari warga 
Desa Sribandung Kecamatan Tanjung Batu OI, Kamis (24/5/2012) 
menyebutkan, warga yang ikut melakukan pematokan lahan terdiri dari 
warga Desa Sribandung, Srikembang, Tanjungatap, Sritanjung,&amp;nbsp; yang masuk 
dalam Kecamatan Tanjung Batu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan desa lainnya, seperti 
Desa Ketiau, Betung masuk wilayah Kecamatan Lubuk Keliat dan warga Desa 
Rengas Kecamatan Payaraman juga ikut mematok lahan tebu di desanya 
masing-masing. Sementara sebagian besar wilayah perkebunan tebu milik 
PTPN VII Cinta Manis di Kabupaten OI, berada di tiga kecamatan tersebut&amp;nbsp;
 Jika semua warga&amp;nbsp; sudah mematok kahan yang dikuasai PTPN VII tersebut, 
dipastikan PTPN VII Cinta Manis terancam bubar karena tidak memiliki 
lahan&amp;nbsp; lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Desa Sribandung sendiri sudah memulai mematok 
lahan tebu PTPN VII. Mereka memasang tiang tinggi yang diberi bendera 
dari sudut ke sudut lahan yang mereka anggap miliknya. Selain tiang 
tinggi berbendera, warga juga memasang patok kayu yang diberi cat merah 
di pinggir lahan tebu dengan jarak sekitar 50 meter antara satu patok 
dengan patok berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kordinator Petani Sribandung Bersatu, 
Abdul Muis dihubungi via ponselnya, kemarin menjelaskan, warga desa 
Sribandung kini sudah mulai mematok lahan. Hari pertama ini sudah 
sekitar 500 hektar yang berhasil dipatok. Namun, terjadi kendala karena 
masalah batas desa dengan desa lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab bukan Desa 
Sribandung saja yang melakukan pematokan, tetapi desa-desa lain dan desa
 dari kecamatan lain," ujar Abdul Muis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pihak PTPN VII,
 Cinta Manis, seperti terungkap dalam rapat pertemuan yang dihadiri 
langsung Manager Distrik PTPN Banyuasin, Bambang Santoso dan Manager 
PTPN VII Cinta Manis, Purwanto didampingi kuasa hukum PTPN VII, Fahmi 
SH, tidak protes keputusan warga diizinkan untuk mematok lahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya
 saja, kuasa hukumnya, menegaskan agar masyarakat yang merasa memiliki 
lahan tidak bisa sembarangan mengambil lahan tersebut. Menurutnya, harus
 melalui proses hukum terutama menyangkut bukti-bukti kepemilikan lahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-1890876215768415433?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/zk3yKEVTFGY/ptpn-vii-cinta-manis-terancam-bubar.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/ptpn-vii-cinta-manis-terancam-bubar.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-5289507070218406490</guid><pubDate>Fri, 25 May 2012 07:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-25T19:08:06.440+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>Ketika tebu Tak manis Lagi</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Langit menerangi
hamparan tebu. Pucuk&amp;nbsp; tanaman manis
setinggi badan itu nampak merunduk, pasrah menunggu parang para penebang.
Namun&amp;nbsp; langit bersih itu tak mampu
menghapus wajah muram warga dan terangi masa depan mereka. Puluhan tahun warga
teguh menanti bumi, karena menurut warga, meskipun langit itu indah, selama
ini&amp;nbsp; tak bisa&amp;nbsp; ditanami apa-apa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Tak seperti malam sebelumnya, tiga malam
terakhir pertengahan bulan mei ini hujan tidak turun, tak terbayangkan kalau
hal itu terjadi. Ibu –ibu&amp;nbsp; akan
berlarian, anak-anak&amp;nbsp; berebut mencari
tempat berteduh, tungku dapur umum pasti padam, sedangkan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;marung&lt;/i&gt; (pondok) didirikan warga hanya di pintu masuk dan keluar
akses perkebunan. Jika turun hujan, kami semua dipastikan menggigil dan lapar,
karena tenda induk tak bisa menampung&amp;nbsp;
seluruh warga yang menginap dilahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-UN6vTBMtP4M/T791AdlvTSI/AAAAAAAAAfs/C7i0V3C2xTY/s1600/Foto0357.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="185" src="http://4.bp.blogspot.com/-UN6vTBMtP4M/T791AdlvTSI/AAAAAAAAAfs/C7i0V3C2xTY/s320/Foto0357.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto Walhi Sumsel,(22/5) Blokade warga seri bandung di Jalan menuju PTPN VII&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Sejauh ini
masyarakat Desa Sri Bandung tetap bertahan menduduki lahan tebu PTPN VII Cinta
Manis Ogan Ilir-Sumsel. Mereka menuntut pengembalian lahan seluas 3000 ha yang
telah diambil paksa oleh perkebunan tebu PTPN VII Cinta Manis sejak tahun 1982.
Warga tidak akan berhenti, sebelum tanah mereka bisa diolah kembali, menanam
nanas, menanam &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;balam&lt;/i&gt; (karet) yang
diimpikan selama puluhan tahun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Angin malam mulai
berhembus, meniupkan aroma tebu, sebagian menahan kantuk, sisanya menerawang
peristiwa puluhan tahun silam, mengenang derap langkah aparat, mengingat raung
buldozer.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Kisah Sri Bandung menginggatkan
peristiwa pada 4 desember 2009 silam, ketika aparat Brimob dengan bengisnya mengeluarkan
peluru dari moncong senjatanya kearah petani tanpa senjata, yang sedang berada
diatas lahan mereka, yang sejak puluhan tahun silam diklaim oleh PTPN VII.
Peristiwa berdarah ini menyisakan kisah tragis hingga saat ini, akan tetapi tindakan
kekerasan yang mereka alami tersebut tidaklah menyurutkan langkah warga untuk
tetap bertahan dan menanami lahan itu dengan pohon &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;balam&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;“ &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Balam kami la besa sekarang, dua tahun lagi
pacak kami panen&lt;/i&gt;”.Tutur Bu Adi (begitu
kami sering menyapanya) merupakan salah satu korban kekerasan aparat Brimob di
Desa Rengas, Payaraman-Ogan Ilir, Sumsel. Perempuan yang lahir 59 tahun silam
inisekarang agak lega, karena lahan yang dulu dirampas PTPN VII Cinta Manis
sekarang bisa ia kelola bersama warga lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“ Itu
Dek ! pisang dari lahan lemak nian kami makan, teraso mimpi kami makan pisang
dari lahan yang selama puluhan tahun kami harapkan”. &lt;/i&gt;Seusai menyapu
airmata, tangannya menunjuk tandan pisang yang ia letakan disudut dapur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Ibu Adi adalah salah satu warga&amp;nbsp; desa Rengas yang “lapar” tanah. Tidak ada
alasan lagi bagi negara untuk tidak memberikan hak yang mereka tuntut. Karena
menurut data PTPN VII tahun 2011, total luas lahan lahan tebu unit usaha Cinta
Manis sebanyak 9.990,20 ha. Sedangkan menurut keterangan Badan Pertanahan
Nasional (BPN) Provinsi Sumsel, Hak Guna Usaha (HGU) Cinta Manis hanya 6000 ha
yang berlokasi di Desa Burai Kecamatan Rantau Alai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Kembali kepada
peristiwa tiga tahun lalu , ketika menyaksi tangan Bu Adi bergetar, menemani
pertama kali ia tancapkan bibit karet dilahan yang ia damba selama 27 tahun
lamanya. Bapak-bapak pun menahan haru, menyaksi 25 &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;marung&lt;/i&gt; telah berdiri. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Marung&lt;/i&gt;
yang akan menjadi bukti kesetiaan mereka terhadap masa depan anak cucu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-pjrzCjWkY-Q/T790TFbSleI/AAAAAAAAAfk/-3wNJNWe-4Q/s1600/Marung.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-pjrzCjWkY-Q/T790TFbSleI/AAAAAAAAAfk/-3wNJNWe-4Q/s320/Marung.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Warga Dirikan Pondok di tengah perkebunan Tebu&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Kini gerakan rakyat
telah menyebar. Selain getah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;balam&lt;/i&gt;,
pisang dan buah nanas, Desa rengas telah membuahkan gerakan rakyat bagi
sejumlah desa disekitar PTPN VII Cinta Manis. Contohnya&amp;nbsp; Warga&amp;nbsp;
Desa Sri Bandung, Ketiaw, Lubuk Bandung, Betung mulai sadar, bahwa tebu
dihadapan mereka rasanya “ Tak Lagi Manis”. Bahwa tebu dihadapan mereka telah
menjadi simbol keserakahan para tuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Bersahutan kokok
ayam mulai terdengar, waktu sudah menjelang pagi. Dan pagi ini, seperti pagi
yang lain, menjadi hal terindah dalam hidup, menemani mereka menyemai bibit
perdana. kita bisa sakiskan raut muka, tangan mereka, degup jantung mereka dan
air mata mereka. sungguh sayang jika momentum itu dilewatkan, karena hari
selanjutnya kita sudah&amp;nbsp; “kesiangan”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Ditulis WALHI Sumsel &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-5289507070218406490?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/FvT7r8XGaV4/ketika-tebu-tak-manis-lagi.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/-UN6vTBMtP4M/T791AdlvTSI/AAAAAAAAAfs/C7i0V3C2xTY/s72-c/Foto0357.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/ketika-tebu-tak-manis-lagi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-3083427123264623944</guid><pubDate>Thu, 24 May 2012 10:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-24T17:09:02.119+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pernyataan Sikap</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Siaran Pers</category><title>PTPN VII harus Kembalikan Tanah Warga Seri Bandung</title><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
 &lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin:0cm;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:10.0pt;
 font-family:"Times New Roman";
 mso-ansi-language:#0400;
 mso-fareast-language:#0400;
 mso-bidi-language:#0400;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;

&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-LWOsJOiLIRk/T74IipSJiNI/AAAAAAAAAfU/hirx6IQ9y8w/s1600/Foto0360.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-LWOsJOiLIRk/T74IipSJiNI/AAAAAAAAAfU/hirx6IQ9y8w/s320/Foto0360.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;TUNTUTAN WARGA DESA SRI
BANDUNG&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;KECAMATAN TANJUNG BATU-OGAN
ILIR&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;SUMATERA SELATAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hidup Petani !&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perampasan tanah warga desa Sri Bandung Kecamatan Tanjung
Batu Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan Oleh PT. Perkebunan Nusantara ( PTPN
) VII Cinta Manis sudah berlangsung lama, yakni sejak jaman rezim Soherato
berkuasa, berkisar tahun 1982. Waktu itu warga tidak memilki pilihan selain
pasrah ketika kebun karet dan nanas mereka digusur oleh PTPN VII tanpa ganti
rugi yang layak.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Proses ganti rugi tahun
1982 pun penuh dipenuhi tekanan, intimidasi dan sikap refresif aparat keamanan.
Ganti rugi itu pun dinilai tidak adil, contohnya dari 5 ha lahan hanya 1 ha
saja yang diganti, lebih parah hingga saat ini ada tanah warga yang masih belum
diganti rugi oleh pihak PTPN VII.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Berbagai upaya dialog dan mediasi telah ditempuh warga,
namun pihak PTPN VII selalu mengulur waktu dan cenderung tidak memberi keputusan
yang tegas. Akhirnya, pada hari senin tanggal 21 Mei 2012, warga mmetuskan
untuk memblokade akses jalan menuju pabrik pengolahan gula PTPN VII, selain itu
warga mendirikan tenda dan mematok lahan seluas 3000 ha.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aksi tersebut merupakan puncak kekecewaan warga terhadap
keberadaan PTPN VII yang dinilai tidak menguntungkan rakyat sekitar. Hal itu
bisa dilihat, dari jumlah tenaga kerja yang 70 % didatangkan dari luar.
Kemudian, sungai yang tadinya bisa dijadikan tempat mencari ikan, kini sudah
tercemar dan ikan-ikan sudah mulai punah akibat limbah. Selanjutnya, debu
pembakaran tebu dari pabrik gula PTPN VII masuk ke pemukiman warga dan
menganggu aktivitas.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hal lain, dari luas lahan 20.000 ha yang diusahakan PTPN
VII Cinta Manis hanya 6000 ha&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;memilki
HGU berlokasi di daerah Burai kecamatan Rantau Alai. untuk itu, Warga Desa Sri
Bandung&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kecamatan Tanjung Batu,
Kabupaten Ogan Ilir-Sumatera Selatan yang tergabung dalam organisasi Petani Sri
Bandung Bersatu (PSB) menuntut : &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Agar
Tanah Warga yang telah dirampas oleh PTPN VII sejak tahun 1982 dikembalikan
kepada warga.&lt;/i&gt; Apabila hal itu tidak dipenuhi, warga akan terus menginap dan
melakukan aktivitas penanaman serta pematokan dilokasi.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sri Bandung 21 Mei 2012&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hormat Kami&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Koordinator Petani Sri Bandung Bersatu (PSB)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Abdul Muis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-3083427123264623944?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/OsWIVt_vjS0/ptpn-vii-harus-kembalikan-tanah-warga.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/-LWOsJOiLIRk/T74IipSJiNI/AAAAAAAAAfU/hirx6IQ9y8w/s72-c/Foto0360.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/ptpn-vii-harus-kembalikan-tanah-warga.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-3475546090918236543</guid><pubDate>Thu, 24 May 2012 10:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-24T17:03:29.100+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>Mediasi Warga Vs PTPN VII, Buntu.</title><description>INDERALAYA– Rapat Mediasi untuk mencari solusi konflik antara Warga Desa Seri bandung dengan Pihak PTPN VII, yang di mediasi oleh DPRD Ogan ilir,kemarin alami kebuntuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Rapat yang berlangsung selama 
kurang lebih 4 jam itu sempat memanas, karena perwakilan dari perusahaan Negara&amp;nbsp; PTPN VII Cinta 
Manis yang dalam hal ini dihadiri oleh manager cinta manis Purwanto dan manajer distrik PTPN VII banyuasin bambang santoso beralasan tidak bisa mengambil keputusan.Pertemuan dipimpin 
langsung Wakil Ketua DPRD OI Arhandi TB, sedangkan perwakilan dari pihak warga sebanyak 20 orang, dan dihadiri juga dari pihak Walhi&amp;nbsp; Sumsel selaku pendamping warga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Dalam rapat itu,perwakilan 
warga Sribandung menuntut agar lahan mereka seluas 3.000 hektare yang
 selama 30 tahun telah dirampas oleh perusahaan dan dijadikan perusahaan sebagai lahan perkebunan tebu agar 
segera dikembalikan. “kami minta agar perusahaan kembalikan ribuan hektare lahan kami,” kata latifudin, perwakilan warga. Namun pihak PTPN VII,menyatakan tidak dapat memnuhi permintaan warga dengan alasan penguasaan lahan itu 
sudah melalui pembebasan dan ganti rugi oleh Tim 9 waktu itu ditahun 
1982. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Advokat PTPN VII Cinta Manis,Fahmi menjelaskan,
 masyarakat tidak bisa meminta lahan yang dikelola 
perusahaan. Kalau pun masyarakat punya alas hak untuk membuktikan 
kepemilikannya juga harus melalui proses hukum. “Bagi warga yang merasa punya alas hak silakan menggugat ke pengadilan,”katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Pernyataan ini membuat suasana di ruangan ramai.Warga yang tidak menyetujui pernyataan tersebut mulai satu persatu membantah dan membeberkan fakta sejarah tentang praktek pelanggaran HAM (pemaksaan dan kekerasan) pada tahun 1982 yang dilakukan oleh Perusahaan untuk mendapatkan tanah mereka. “Pada saat pengambilan tanah oleh perusahaan di tahun 1982 lalu, kami diancam dipaksa untuk memberikan tanah kepada perusahaan dengan ganti rugi 
tidak sepadan dan malah banyak yang tidak mendapatkan ganti rugi ,” ujar masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Begitulah kondisi 
di zaman dulu sehingga rakyat ketakutan,” kata Latif,warga Sribandung. 
Seterusnya perbincangan meluas setelah anggota DPRD OI Sonedi menyatakan
 sangat menyesalkan upaya PTPN VII Cinta Manis yang tidak bisa mengambil
 keputusan.Karena janjinya, akan menghadirkan orang-orang yang dapat 
mengambil keputusan pada pertemuan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kira rapat ini 
sia-sia,karena pihak perusahaan tidak bisa memutuskan,” kata Sonedi. 
Ketua Walhi Sumsel Anwar Sadat pun juga ikut berbicara. Selaku 
pendamping warga,menyatakan, bila secara hukum pihak perusahaan banyak 
melakukan penyimpangan. Sebab dari sekitar 20.000 hektare lahan yang 
dikelola perusahaan, hanya 6.000 yang memiliki HGU dan lokasinya berada 
di Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu Artinya lebih dari situ, lahan 
perusahaan itu tidak mempunyai alas hak, termasuk di kawasan Desa 
Sribandung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lahan sekitar 14.000 hektare yang dikuasai PTPN VII
 itu hasil mencuri. Sehingga tidak berlebihan bila warga Sribandung 
secara harga mati minta agar lahannya dikembalikan tanpa syarat,” timpal
 Sadat. Kapolres OI AKBP Deni Dharmapala tetap meminta kepada warga 
untuk tidak melakukan tindakan anarkistis dalam mengambil alih lahan 
tersebut. Apalagi sampai melakukan pembakaran terhadap aset PTPN VII 
Cinta Manis&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-3475546090918236543?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/sAuDD9kNDFY/mediasi-warga-vs-ptpn-vii-buntu.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/mediasi-warga-vs-ptpn-vii-buntu.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-7948022770398467848</guid><pubDate>Thu, 24 May 2012 09:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-24T16:24:22.199+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>Lahan Diduduki Warga, Buruh PTPN VII Cinta Manis Sumsel Mengungsi</title><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
 &lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin:0cm;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:10.0pt;
 font-family:"Times New Roman";
 mso-ansi-language:#0400;
 mso-fareast-language:#0400;
 mso-bidi-language:#0400;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: SV; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;Jakarta &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: SV; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;Konflik lahan antara warga dengan PTPN VII Cinta Manis kembali mencuat. Sudah
tiga hari ini, ratusan warga menduduki lahan seluas 3.000 hektare yang dikuasai
perusahaan tersebut. Akibatnya sebanyak 130 warga dari 32 kepala keluarga yang
menghuni di kamp perusahaan tersebut di Rayon III Desa Sribandung kabur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya, suasana memang cukup mencemaskan mereka, sehingga mereka sebagian
sudah mengungsikan diri. Apalagi kamp berjarak sekitar 100 meter dengan tenda
yang didirikan warga," kata Hasanuddin, staf Humas PTPN VII yang dihubungi
detikcom, Kamis (24/05/2012).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dijelaskan Hasanuddin, pendudukan lahan oleh warga dilakukan sejak Senin
(21/05/2012) hingga Rabu (23/05/2012) malam. Mereka telah menutup semua akses
masuk ke lahan dan pabrik gula Cinta Manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ke-130 warga itu merupakan buruh PT PPN VII dan anggota keluarganya. Mereka ini
umumnya berasal dari pulau Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kami berharap massa tidak bersikap anarkis apalagi mencederai para buruh
tersebut," kata Hasanuddin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pihak PTPN sendiri, sejak sore kemarin mengungsikan kendaraan berat sepeti truk
pengangkut tebu, alat berat untuk mencengkeram tumpukan tebu dan semua jenis
mobil truk ke arah Kecamatan Rantau Alai. Di&lt;br /&gt;
lokasi ini sekitar dua peleton Brimob berjaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai informasi, ratusan warga datang silih berganti untuk merebut lahan
seluas 3.000 hektare yang dikuasai PTPN VII Cinta Manis khususnya di Rayon III
Desa Sribandung, Kecamatan Tanjung Batu&lt;br /&gt;
Kabupaten Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan. Sebagian warga ini senjata tajam
seperti parang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Mukodi (73) dan Subadi (35), dua warga Desa Ketiau Kecamatan Rantau
Alai, kepada wartawan, mengatakan pihaknya akan menuntut lahan mereka
dikembalikan PTPN VII seperti tuntutan warga Desa Rengas dan Desa Sribandung. Menurut,
Mukodi, dia adalah saksi sejarah sebagai pemilik lahan yang diambil PTPN tanpa
ganti rugi. Sementara PTPN VII menguasai lahan tersebut, berdasarkan ganti rugi
yang dilakukan Tim 9 pada tahun 1982.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara hasil dari pertemuan antara pihak PTPN VII dengan DPRD OI, disebutkan
pihak PTPN VII tidak berwenang untuk memberikan keputusan terhadap masalah
lahan yang dituntut warga tersebut. PTPN berjanji, mereka minta tenggang waktu
sampai Kamis, pekan depan. Dan, mulai hari ini Kamis (24/05/2012) warga
diperbolehkan mematok lahan tetapi diminta tidak merusak tanaman tebu yang
belum dipanen.&lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt;
&lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sumber : Detik.com &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-7948022770398467848?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/Bs8iueCkDos/lahan-diduduki-warga-buruh-ptpn-vii.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/lahan-diduduki-warga-buruh-ptpn-vii.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-7571940260720655806</guid><pubDate>Tue, 22 May 2012 05:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-22T12:38:16.054+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>Ratusan Warga Blokade Jalan PTPN VII</title><description>INDERALAYA – Ratusan warga Desa Sribandung,Kecamatan Tanjung Batu, 
Kabupaten Ogan Ilir (OI),yang semula melakukan aksi demo, kemarin 
memblokade jalan menuju PTPN VII Cinta Manis. 



&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi pemblokadean jalan yang 
dilakukan warga ini sebagai wujud merebut kembali lahan mereka yang 
dikuasai perusahaan sekitar 30 tahun silam. Akibat pemblokadean dan 
pemasangan portal, aktivitas perusahaan di Desa Ketiau,Kecamatan Lebuk 
Keliat, yang melakukan penggilingan tebu lumpuh total. Sebab, puluhan 
truk yang biasa mengangkut batang tebu dari lokasi perkebunan menuju 
pabrik PTPN VII Cinta Manis tidak bisa melintas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, 
warga memasang tenda di tengah jalan serta mematok lahan sekitar 2.500 
hektare yang sekarang ditanami tebu. Hasil pantauan SINDO, pemblokadean 
jalan yang dibarengi pemasangan portal berupa pipa itu dilakukan di 
kawasan work shop rayon III Desa Sribandung atau arah menuju pabrik. 
Portal lain juga dipasang di tengah jalan menuju Desa Betung dengan 
menggali lubang sedalam 1 meter menggunakan ekskavator. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan 
portal itu,semua kendaraan roda empat tidak bisa melintas, termasuk truk
 perusahaan yang mengangkut batang tebu. Di samping itu, di setiap 
pemasangan portal, warga juga membakar ban bekas sehingga dari kejauhan 
terlihat seperti lahan tebu yang terbakar.Warga berjanji terus memasang 
portal sampai pihak PTPN VII mau menyerahkan lahan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan,warga
 mendesak pihak perusahaan segera memanen tebunya karena akan ditanami 
pohon pisang oleh masyarakat. Koordinator Gabungan Petani Sribandung 
Bersatu (GPSB) Abdul Muis mengatakan, tujuan pemasangan portal itu 
sebagai bentuk protes masyarakat terhadap perusahaan yang telah 
mencaplok lahan mereka sejak 1982. “Kini saatnya kami harus bangkit 
untuk mengambil kembali lahan yang telah dikuasai Cinta Manis,” ujar 
Muis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Muis yang didampingi anggota DPRD Sumsel Rusdi 
Tahar, lahan yang dicaplok perusahaan pabrik gula itu sekitar 2.500 
hektare merupakan milik masyarakat. “Memang sebagian kecil warga yang 
mempunyai lahan pernah diganti rugi tapi tidak sesuai 
harga.Bahkan,sebagian besar warga justru tidak diganti rugi, dengan 
alasan tidak punya surat. Padahal, sejak zaman nenek moyang, warga sudah
 mengusahakan lahan tersebut,”katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, anggota 
DPRD Sumsel Rusdi Tahar mengatakan, sejak lahan warganya dicaplok pihak 
perusahaan, masyarakat Desa Sribandung yang kehidupannya tergantung dari
 hasil perkebunan menjadi miskin.“Mereka hanya menjadi buruh di 
perusahaan pabrik gula itu dengan upah sangat minim. Karena itu, sudah 
saatnya PTPN VIICintaManishengkang dari Bumi Caram Seguguk ini dan lahan
 itu dikembalikan kepada masyarakat selaku yang berhak,”kata dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah
 seorang warga Sribandung, Adnan, 58, yang mengaku memiliki lahan 3 
hektare, hanya bisa meratapi nasibnya sejak investor PTPN VII Cinta 
Manis berkuasa di wilayahnya. “Kami dulu dipaksa harus menjual lahan 
dengan harga murah karena bila tidak dituruti akan ditangkap. Akhirnya, 
sebagian besar warga ketakutan dan terpaksa merelakan lahannya diambil 
paksa pihak lain,”katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi pemblokadean jalan itu masih 
dalam kawalan ketat aparat Polres OI yang dipimpin Kasat Reskrim AKP 
Yuskar Effendi dan Kapolsek Tanjung Batu AKP Edhie Suratno. Namun, 
petugas berharap aksi warga itu tidak menimbulkan anarkistis dan 
pelanggaran hukum lainnya. Sementara, dari pihak perusahaan hanya 
terlihat memantau dari kejauhan, tapi belum dapat memberikan keterangan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-7571940260720655806?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/-NsZ8OfE5iE/ratusan-warga-blokade-jalan-ptpn-vii.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/ratusan-warga-blokade-jalan-ptpn-vii.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-4930696552566200394</guid><pubDate>Tue, 22 May 2012 05:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-22T12:22:46.478+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>Ratusan Massa Patok Lahan PTPN VII</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
 &lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin:0in;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:10.0pt;
 font-family:"Times New Roman";
 mso-ansi-language:#0400;
 mso-fareast-language:#0400;
 mso-bidi-language:#0400;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;

&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Ratusan warga kembali mematok
lahan di PTPN VII di Cinta Manis Rayon III Desa Sri Bandung Tanjungbatu,
Kabupaten Ogan Ilir (OI), Senin (21/5/2012).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


Mereka mematok sekitar 2.500 hektare lahan yang mereka klaim sebagai lahan
warga yang diambil PTPN VII tanpa prosedur. Kejadian itu terjadi sekitar tahun
1980 silam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


Warga saat ini masih berkumpul di lahan yang hendak mereka kuasai. Hingga
berita ini diturunkan, warga berangsur-angsur meninggalkan lokasi dan berencana
akan mengulangi aksi mereka, Selasa (22/5/2012) besok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Aksi warga ini belum mendapat
respon dari aparat keamanan dan pihak PTPN VII. Namun adabeberapa anggota
Polres yang berada di sekitar lokasi tempat warga beraksi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Rusdi Tahar, anggota DPRD Sumsel
yang juga warga Desa Sribandung membenarkan aksi ratusan warga tersebut. Menurutnya,
aksi itu tindaklanjut dari aksi unjuk rasa yang dilaksanakan Minggu (20/5/2012)
di Timbangan Indralaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-4930696552566200394?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/l8pn_eN9WfU/ratusan-massa-patok-lahan-ptpn-vii.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/ratusan-massa-patok-lahan-ptpn-vii.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-592259159559830162</guid><pubDate>Tue, 22 May 2012 05:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-22T12:21:40.038+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>Warga Payaraman Tuntut Bubarkan PTPN Cinta Manis</title><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
 &lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin:0in;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:10.0pt;
 font-family:"Times New Roman";
 mso-ansi-language:#0400;
 mso-fareast-language:#0400;
 mso-bidi-language:#0400;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Sekitar 500 ratusan warga Desa Rengas Kecamatan Payaraman,
Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, menggandeng HMI dan Walhi, menggelar
aksi di Simpang Timbangan 32 Indralaya, Minggu (20/5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum menuju Timbangan, mereka berkumpul di Terminal Indralaya sekitar pukul
14.30 dan diadakan briefing dengan koordinator dan keamanan dari Polres OI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu warga mengaku salah satu tuntutan warga dalam aksi ini adalah
mendesak pemerintah membubarkan Perusahaan Tebu Perusahaan Negara (PTPN) VII
Cinta Manis di Kabupaten Ogan Ilir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasannya keberadaan PTPN VII tidak banyak memberikan kesejahteraan bagi
masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampak dalam rombongan aksi itu anggota dewan Sumsel dan anggota dewan OI dan
para perwira di jajaran Polres OI yang mengawal aksi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-592259159559830162?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/BDYJtapxQsE/warga-payaraman-tuntut-bubarkan-ptpn.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/warga-payaraman-tuntut-bubarkan-ptpn.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-5731484218515556380</guid><pubDate>Mon, 21 May 2012 06:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-21T13:34:14.795+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><title>Yakin Atasi Banjir, Tapi Palembang Terendam Air</title><description>&lt;strong&gt;INILAH.COM, Jakarta - Alex Noerdin, Gubernur Sumatera Selatan 
dan calon gubernur DKI Jakarta, berjanji mengatasi banjir di ibu kota 
dalam tiga tahun. Padahal, sejak 2008 hingga kini, Palembang selalu 
direndam banjir.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Easy said than done." Pepatah bule itu
 benar adanya. Memang lebih mudah berbicara daripada melakukan, apalagi 
merealisasikan. Kalimat itu, agaknya, pas disematkan buat Alex Noerdin, 
calon Gubernur DKI Jakarta yang kini masih menjabat Gubernur Provinsi 
Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak? Dalam berbagai aksi 
sosialisasi pencalonannya, Alex berulang kali berbicara soal 
penanggulangan banjir di Jakarta. Ia bahkan berjanji bakal membebaskan 
masyarakat Jakarta dari banjir, dalam waktu tiga tahun sejak dirinya 
terpilih. Artinya, jika dia memenangkan Pilkada dan menjadi gubernur 
pada 2012 ini, Jakarta bakal tak kebanjiran lagi di tahun 2015.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu
 pun dalam hal mengatasi kemacetan, Alex sangat optimistis. “Komitmen 
saya, kalau tidak bisa menyelesaikan masalah kemacetan dalam waktu tiga 
tahun, saya akan mundur,” kata Alex saat mengumumkan bahwa dirinya 
berpasangan dengan Nono Sampurno untuk maju sebagai kandidat, pada Maret
 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampukah janji-janji itu dipenuhi? Kita lihat saja nanti. 
Sebab, mengatasi banjir Jakarta juga kemacetannya bukanlah perkara 
gampang. Dan reputasi Alex dalam hal ini, maaf, belum teruji. Lihat saja
 yang terjadi pada pertengahan April lalu, saat hujan deras mengguyur 
Palembang. Kantor Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, tempat Alex 
berkantor, ternyata ikut-ikutan terendam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, banjir di 
Kota Palembang juga bukan masalah baru. Pada November 2008, saat Alex 
baru saja menjabat gubernur, Palembang juga dihajar banjir besar. Saat 
itu, Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Sumatera Selatan bahkan menyebut 
angka kerugian akibat kerusakan dan kehilangan harta benda mencapai Rp5 
miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akibat banjir selama November (2008) saja, banyak 
sekolah yang terendam sehingga harus diliburkan. Selain itu, banyak 
dampak lain, seperti imateriil yang jumlahnya bisa jauh lebih besar," 
kata Sri Lestari Kadariah, Direktur eksekutif Walhi Sumsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, 
agaknya problem sejak 2008 silam, tak juga terurai hingga memasuki 2012 
ini. Banjir yang sempat menggenangi kantor Pak Gubernur, jalan protokol,
 hingga pemukiman warga, pada April lalu, membuktikan bahwa tidak ada 
upaya serius dari pemerintah provinsi untuk mengatasi problem tahunan 
tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK ADA ANGGARAN&lt;br /&gt;Toh, Alex tak kehabisan akal. 
Menurutnya, persoalan banjir di Palembang merupakan pekerjaan rumah bagi
 eddy Santana Putra, Walikota Palembang. Sementara dirinya sebagai 
gubernur, hanya bertugas membantu pemerintah kota dalam mengatasi 
genangan yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Alex, banjir di Kota Palembang 
hanya terjadi pada saat hujan, dan itu disebabkan kurangnya perencanaan 
atau masterplan dalam penanggulangan banjir. Pemerintahan Kota Palembang
 telah diminta oleh Alex untuk membuat masterplan penanganan banjir yang
 terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ya, masterplan mengenai penanggulanan banjir itu mesti
 dikerjakan dulu oleh Pemerintah Kota Palembang. Nah, jika telah ada 
masterplan, baru setelah itu perencanaannya. Jadi bisa dipadukan, 
komprehensif dan tidak sepotong-sepotong,” ujarnya, seusai mengikuti 
acara debat kandidat Gubernur DKI, di universitas Indonesia, Depok, pada
 Jumat (27/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut Alex, Pemprov Sumsel pasti akan 
membantu dalam menangani banjir di Kota Palembang, dan akan menyediakan 
anggaran untuk itu. Tetapi, Pemerintah Kota Palembang harus membuat 
surat resmi kepada Pemprov Sumsel dalam hal administrasinya. “Kami lebih
 dari siap untuk membantu Pemkot Palembang dalam menanggulangi banjir. 
Tapi perlu adanya surat resmi untuk permintaan bantuan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak
 hanya itu. Dalam pandangan Alex, ada perbedaan men dasar antara banjir 
di Palembang dan Jakarta. “Itu beda. Itu (di Palembang) bukan banjir. 
Itu karena sistem kita belum selesai,” katanya. Sementara banjir di 
Jakarta, menurutnya, lebih disebabkan kurang sterilnya 13 sungai kecil 
yang datang dari daerah yang berbatasan dengan Jakarta. “Oleh sebab itu,
 penanganan banjir di Jakarta tak bisa ditangani oleh Jakarta sendiri,” 
katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari opini Alex soal banjir di Jakarta, agaknya
 menarik melihat fakta yang disampaikan Yudha Rinaldi, Sekretaris Komisi
 IV DPRD Provinsi Sumsel. Menurutnya, di dalam APBD Sumsel tahun 2012 
yang diajukan gubernur, sama sekali tidak ada anggaran untuk 
penanggulangan masalah banjir. “untuk penanggulangan masalah banjir pada
 APBD Sumsel tahun 2012, memang tidak ada anggarannya,” kata Yudha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih
 menurut yudha, anggaran di Dinas Pekerjaan umum Pengairan Sumsel pada 
tahun ini, hanya sedikit untuk normalisasi air di kawasan olahraga 
Jakabaring, Palembang. “Sedangkan di daerah perkotaan seperti Palembang 
tidak ada,” katanya menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun melihat kondisi Kota 
Palembang saat banjir April lalu, pihak DPRD Sumsel mulai berpikir untuk
 mengusulkan anggaran penanggulangan banjir dalam APBD perubahan 
mendatang. “Meski sejauh ini memang belum ada usulan mengenai anggaran 
untuk mengatasi banjir di Palembang,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, agaknya 
sinyalemen Gubernur Alex kepada Walikota eddy Santana Putra tadi bakal 
terbukti. yakni agar Eddy ‘berkirim’ surat resmi meminta bantuan kepada 
gubernur. Jadi, jangan-jangan birokrasi seperti ini pula yang kelak 
bakal diterapkan di Jakarta. Dan buat para walikota di DKI, 
bersiap-siaplah menerima ‘pekerjaan rumah’ untuk mengatasi banjir di 
wilayah masing-masing. Karena Pak Gubernur nanti hanya akan sekedar 
membantu. [mah]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-5731484218515556380?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/AwkvWFWbzas/yakin-atasi-banjir-tapi-palembang.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/yakin-atasi-banjir-tapi-palembang.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-8922395873390153360</guid><pubDate>Mon, 14 May 2012 04:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-14T11:35:32.772+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><title>Taman Kota Disulap Jadi Taman Buah</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
PALEMBANG– Usaha untuk terus melakukan penghijauan Kota Palembang terus 
digencarkan. Penghijauan dengan memberikan sentuhan baru dalam bentuk 
penanaman pohon buahbuahan dinilai lebih bermanfaat.&lt;br /&gt;



&lt;br /&gt;Berdasarkan program penghijauan, 
Dinas Pertanian,Perikanan dan Kehutanan (DP2K) Kota Palembang,menilai 
2.285 hektare wilayah Palembang dapat dijadikan hutan kota. “Kita sudah 
terus lakukan beberapa upaya penghijauan disetiap titik Kota Palembang 
seperti di Pulau Kemaro, Pulo Kerto di Gandus, Jakabaring dan daerah 
lainnya.Progres tersebut sudah mencapai 20% penambahan dari 2.285 
hektare wilayah Palembang yang dapat dijadikan kawasan hijau,”kata 
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DP2K) Kota Palembang 
SudirmanTegoeh kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan Sudirman,penghijauan 
difokuskan kepada penanaman pohon yang bermanfaat. Selain berdampak 
kepada subtansi target penghijauan kota, daerah hijau bisa lebih 
berguna.“Sekarang kita tidak lagi fokus kepada penanaman pohon kayu 
untuk penghijauan. Strateginya lebih kepada penanaman pohon buahbuahan 
karena lebih bermanfaat dan bisa berguna bagi masyarakat,”ujar dia. 
Dengan demikian memberikan intruksi lebih banyak menamam pohon 
buah-buahan terutama mangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Semua buah-buahan akan kita tanam.
 Tetapi yang lebih bermanfaat adalah buah mangga. Sebab, selain buahnya 
bisa dimakan konsep penghijauan lebih terasa karena pohonnya lebih 
rindang,”tuturnya. Lebih lanjut, untuk mencapai target penghijauan kota 
progres penanaman pohon dilakukan secara cepat tanpa pembibitan. “Kita 
langsung menanam pohon tidak lagi bibit biar cepat tumbuh. Upaya ini 
tidak hanya kami yang melaksanakan tetapi juga masyarakat sangat 
berperan. Banyak sudah dilakukan penghijauan. Harapan saya masyarakat 
menanam pohon buahbuahan dan bisa dimanfaatkan hasilnya,”pungkasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpisah,DirekturEksekutif
 Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Selatan Anwar Sadat meminta 
pemerintah konsisten menjalankan program penghijauan. ”Sangat bagus dan 
baik menurut saya.Tapi pemerintah tidak hanya menambah penghijauan kota 
dengan menanam pohon saja. Dikhawatirkan nantinya program tidak 
berkelanjutan,”katanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-8922395873390153360?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/HjXYfM3Sp3g/taman-kota-disulap-jadi-taman-buah.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/taman-kota-disulap-jadi-taman-buah.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-5791459799301177353</guid><pubDate>Thu, 03 May 2012 15:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-03T22:01:37.304+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><title>Walhi dan WBH Soroti 5 Masalah Lingkungan di Muba</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sedikitnya lima masalah lingkungan di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba)
 mendapatkan sorotan. Kelima masalah tersebut berkaitan dengan kasus 
illegal logging, pengelolaan kawasan hutan tanpa izin, sengketa 
pertanahan, banjir dan pencemaran.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Manajer Kampanye Dan Riset Yayasan Wahana Bumi Hijau (WBH), Aidil 
Fitri yang bekerjasama dengan Walhi Sumsel mengatakan kelima masalah 
lingkungan di Muba harus mendapatkan perhatian penuh Pemkab Muba dengan 
memasukkan ke dalam&amp;nbsp; rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) 
untuk 5 tahun yang berbasiskan pada kelestarian lingkungan hidup dan 
keselamatan warga. langkah dua lembaga swadaya lingkungan ini agak 
berbeda dengan kebiasaan yang mereka jalankan. Jika selama ini mereka 
fokus di lapangan berupa pendampingan ke masyarakat, kali ini Walhi dan 
WBH masuk ke dalam sistem perencanaan pembangunan dengan sistem 
asistensi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Kelima masalah itu terjadi di Kabupaten Muba seperti illegal 
logging, Pengelolaan kawasan hutan tanpa izin, sengketa pertanahan, 
banjir dan pencemaran menjadi permasalah serius. Kalau terus dibiarkan 
maka bisa memicu ketidakpuasan masyarakat yang berakibat pada 
tindakan-tindakan negatif dan melanggar hukum, “ ungkap Aidil di Sekayu 
kemarin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Aidil, perlu dilakukan tindak pencegahan dan penyelamatan 
lingkungan sehingga sejalan dengan visi misi Muba dengan slogan Permata 
Muba diantaranya meningkatkan pemerataan pembangunan berkelanjutan dan 
berkeadilan dan berwawasan lingkungan . “Disini kita yakin pemerintah 
daerah (Pemda) Kabupaten Muba memiliki komitmen yang cukup tinggi untuk 
menyelesaikan permasalahan lingkungan,” terangnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk itu, WBH dan Walhi&amp;nbsp; memanfaatkan celah rentang waktu penyusunan
 RPJMD dengan merekomendasikan dua point penting untuk masalah 
lingkungan yakni memisahkan antara misi pembangunan berbasis 
infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi yang terfokus terhadap masalah 
lingkungan hidup. Yang diantarannya bagaimana penataan tata ruang 
perkotaan, kawasan budidaya dan daerah rawan bencana. Juga melakukan 
pengawasan terhadap potensi sumberdaya&amp;nbsp; alam dan pengelolaan secara 
terus menerus. Mengembangkan pengelolaan hutan berbasis masyarakat 
(PHBM), pembangunan pengendalian eksternalitas negatif dari kegiatan 
usaha atau bisnis, pembangunan masyarakat sadar lingkungan. Dan 
melakukan pengawasan dan penegakkan hukum secara ketat dan tegas serta 
peningkatan kawasan konservasi daerah tangkapan dan resapan air.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Dengan langkah masuk ke dalam sistem pemerintahan, baik Walhi maupun 
WBH meyakini dapat mencegah terjadinya perusakan lingkungan&amp;nbsp; secara 
dini. Selain itu, menurutnya, perlu juga pengembangan energi alternatif 
berbasis limbah kelapa sawit penyediaan energi listrik. Dengan program 
tersebut akan memperkuat dan berorientasi untuk pengembangan sumber daya
 lokal. “Bisa dikembangkan sumber energi alternatif seperti microhydro, 
solar cell dan bio energy,” terangnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber : www.Beritapagi.co.id&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-5791459799301177353?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/lI7M-x31Exc/walhi-dan-wbh-soroti-5-masalah.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/walhi-dan-wbh-soroti-5-masalah.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-7372873484366687615</guid><pubDate>Thu, 03 May 2012 14:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-03T21:57:22.344+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agraria 2012</category><title>Ratusan Warga Sinar Harapan Minta PT BPP  Kembalikan Lahan</title><description>Ratusan warga dari Desa Sinar Harapan 
Kecamatan Tungkal Jaya Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) Selasa (27/3) 
sekitar pukul 10.00 WIB kemarin menggelar unjuk rasa di depan Kantor 
Pemkab Muba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kedatangan ratusan warga dengan menggunakan 4 unit 
truk bersama tiga organisasi yakni&amp;nbsp; Serikat Hijau Indonesia (SHI) dan 
Mahasiswa Hijau Indonesia (MHI) serta Walhi Sumsel mendesak Pemkab Muba 
untuk segera menyelesaikan konflik sengketa lahan warga Sinar Harapan 
seluas 915 Ha dengan&amp;nbsp; PT Bumi Persada Permai (BPP) dan 72 Ha terhadap PT
 Sinar Mas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang satu jam menggelar orasi, perwakilan warga 
bersama ketiga organisasi tersebut diterima oleh Plt Sekda Muba di ruang
 rapat Setda Muba. Dalam pertemuan berlangsung cukup tegang dimana 
perwakilan warga meminta pemkab untuk serius menangani konflik lahan 
warga Sinarmas. Jika tidak dikhawatirkan akan terjadi kasus Sodong II di
 Kabupaten Muba.



&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diancam akan ada “Sodong Dua”, membuat Plt Setda Pemkab Muba, 
Drs Yuliansyah, naik pitam. Pernyataan tersebut langsung dicatat oleh 
pihak Polres Muba atas perintah Setda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Awalnya, pertemuan dengan
 perwakilan dari Desa Sinar Harapan, Kecamatan Tungkal Jaya tersebut 
berjalan alot. Satu per satu perwakilan memberikan pernyataan terkait 
perampasan lahan dari dua perusahaan atas tanah hak mereka seluas 920 
hektare dari PT Bumi Persada Permai (BPP) dan PT Sinar Mas seluas 72 
hektare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun, saat Koordinator Aksi, Dedek Chaniago memberikan
 pernyataan, membuat naik pitam Plt Setda Pemkab Muba. ”Akan ada aksi 
Sodong Dua jika kasus ini tidak selesai,” ujar Dedek Chaniago saat 
pertemuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mendengar pernyataan ini, Setda langsung 
meminta perwakilan Polres Muba untuk mencatat pernyataan Koordinator 
Aksi ini. ”Polres, catat pernyataan tersebut bahwa akan ada aksi Sodong 
Dua,” pinta Setda bernada marah. Sehingga, suasana pertemuan menjadi 
panas walaupun berpendingin udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun, pertemuan ini sedikit 
mencair saat salah seorang perwakilan menjelaskan bahwa pernyataan 
tersebut tidak mengenai aksi anarkis yang akan dilakukan seperti di 
Sodong. ”Kami takutnya, kalau tidak ada penyelesaiannya, warga akan 
bertindak anarkis, itu yang kami takutkan, jadi kalau bisa cepat 
diselesaikan terkait perampasan lahan yang menjadi hak kami,” ujar 
Sudarto Marelo dari Serikat Hijau Indonesia (SHI) ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aksi 
unjuk rasa ini, merupakan aksi pertama seteah dua bulan sebelumnya 
melayangkan surat ke Muba, Pahri Azhari untuk meminta penyelesaiannya. 
Namun, hingga saat ini tidak ada tanggapan dari Pemkab Muba, sehingga 
warga berjumlah 400 orang yang semuanya transmigran ini langsung datang 
ke Pemkab Muba. Mereka datang menumpang enam truk pengangkut untuk 
melakukan aksi unjuk rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aksi unjuk rasa ini dilakukan oleh 
tiga organisasi yakni Serikat Hijau Indonesia (SHI) dan Mahasiswa Hijau 
Indonesia (MHI) serta Walhi Sumsel yang didatangi secara langsung oleh 
Direktur Walhi Sumsel, Anwar Sadat. Mereka mendesak agar hak tanah 
mereka dikembalikan untuk dikelola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Tanah tersebut merupakan 
tanah warga dan harus dikembalikan, karena mereka punya anak dan istri 
yang harus dihidupi,” teriak Anwar Sadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anwar Sadat 
menjelaskan, tanah warga yang diklaim jadi milik perusahaan, dijaga oleh
 beberapa oknum anggota Brimobda Sumsel. Bahkan, warga pernah diusir dan
 ditangkap saat mengolah tanah di tempat mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ada 
tiga ribu warga di desa tersebut yang mata pencahariannya sebagai petani
 yang mencari makan dari tanah seluas dua hektare per kepala keluarga,” 
ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selain itu, permasalahan lainnya yakni ada kepemilikan 
dua sertifikat tanah di wilayah mereka yakni milik warga dan milik 
perusahaan. Sehingga, membuat warga menjadi bingung dengan adanya dua 
sertifikat tersebut. Ini juga yang menjadi permasalahan warga di 
lapangan atas kalim kepemilikan lahan.
"Tanah diusahakan masyarakat, terbit 
izin WKS tahun 2004, sementara masyarakat sudah membuka lahan sebelum 
itu. ciri-cirinya ada tanam tumbuh," ungkap Syarial Ahmad mantan Kepala 
Desa (Kades) Sinar Harapan yang turut hadir dalam kesempatan itu.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Sumselpost.com 28 maret 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-7372873484366687615?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/Ix6alAQm4cY/ratusan-warga-sinar-harapan-minta-pt.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/ratusan-warga-sinar-harapan-minta-pt.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8255464785758378798.post-6451395855638919628</guid><pubDate>Thu, 03 May 2012 06:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-03T13:04:04.026+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita-berita</category><title>Masalah Lingkungan Jadi Perhatian</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
SEKAYU - Sedikitnya lima masalah lingkungan di Kabupaten Muba harus 
mendapatkan perhatian. Kelima masalah tersebut berkaitan dengan illegal 
logging, pengelolaan kawasan hutan tanpa izin, sengketa pertanahan, 
banjir dan pencemaran. 


&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajer Kampanye dan Riset 
Yayasan Wahana Bumi Hijau (WBH) Aidil Fitri yang bekerja sama dengan 
Walhi Sumsel, mengatakan,kelima masalah lingkungan itu harus mendapatkan
 perhatian penuh dari Pemkab Muba dalam menyusun rencana pembangunan 
jangka menengah daerah (RPJMD). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau terus dibiarkan, bisa 
memicu ketidakpuasan masyarakat yang berakibat pada tindakan-tindakan 
negatif dan melanggar hukum,” kata Aidil di Sekayu kemarin. Menurut dia,
 perlu dilakukan tindak pencegahan dan penyelamatan lingkungan yang 
sejalan dengan visi-misi Muba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, WBH dan Walhi 
merekomendasikan dua poin penting untuk masalah lingkungan, yakni 
memisahkan antaramisipembangunanberbasis infrastruktur dan pertumbuhan 
ekonomi yang terfokus pada masalah lingkungan hidup. Sementara 
itu,Kepala Bappeda Kabupaten Muba Akmal Edi mengatakan,masalah 
lingkungan hidup sudah menjadi bagian dalam program pembangunan di Muba.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8255464785758378798-6451395855638919628?l=walhi-sumsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/WalhiSum-sel/~3/OBP-tGcF6hM/masalah-lingkungan-jadi-perhatian.html</link><author>noreply@blogger.com (Hadi jatmiko ( Malixs ))</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://walhi-sumsel.blogspot.com/2012/05/masalah-lingkungan-jadi-perhatian.html</feedburner:origLink></item><language>en-us</language><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

