<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104</id><updated>2024-11-01T17:41:22.170+07:00</updated><category term="Sahabat Nabi"/><category term="as-Salafush-Shalih"/><category term="Tabiin"/><category term="Ulama"/><category term="Ahlul Bait"/><category term="Khulafa&#39;ur Rasyidin"/><category term="al-&#39;Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah"/><category term="as-Sabiqun al-Awwalun"/><category term="Perawi Hadits"/><category term="Home"/><category term="Ummul Mu&#39;minin"/><category term="al-Hafizh"/><category term="Aqidah"/><category term="Tabiut Tabiin"/><category term="al-&#39;Abadillah al-Arba&#39;ah"/><category term="al-Fuqaha as-Sab&#39;ah"/><title type='text'>Waratsatil Anbiya</title><subtitle type='html'>Menelusuri jejak para as-Salafush Shalih</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-8908640847275540516</id><published>2012-01-11T20:02:00.003+07:00</published><updated>2012-01-11T20:18:25.356+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="al-Hafizh"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ulama"/><title type='text'>al-Imam al-Hafizh al-Hujjah al-Muarrikh ats-Tsiqah Imaduddin Abu al-Fida&#39; Isma&#39;il ibn Umar ibn Katsir rahimahullah</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Nama Lengkap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama lengkap beliau adalah Imaduddin Abul Fida&#39; Isma&#39;il ibn Umar ibn Katsir ibn Dhau ibn Katsir ibn Zara&#39; al-Qurasyi al-Bashrawi ad-Dimasyiq asy-Syafi&#39;i, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ibn Katsir. Beliau dilahirkan di desa Mijdal, wilayah Bushra, sebelah timur Dasmaskus. Sedangkan tahun kelahirannya, para ahli sejarah Islam berbeda pendapat. al-Husaini, pengarang kitab Zailu Thabaqatil Hufadz mengatakan tahun kelahiran Ibn Katsir adalah 701 H. Ibn Hajar dalam kitab ad-Duraru al-Kaminah mengatakan tahun 700 atau lebih sedikit. Sedang as-Suyuti dalam Zailu Tazkiratil Hufadz mengatakan Ibn Katsir dilahirkan tahun 700 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara tiga pendapat ini, yang menurut &#39;Ulama kontemporer lebih tepat adalah pendapat al-Husaini yang mengatakan tahun kelahiran Ibn Katsir pada 701 H/1301 M. Hal ini didasarkan pada fakta hidup Ibn Katsir dan al-Husaini yang semasa, kemudian dari penelusuran pernyataan Ibn Katsir sendiri dalam kitab karangannya al-Bidayah wa an-Nihayah bahwa beliau (Ibn katsir) tengah berusia tiga tahun di saat ayahnya wafat pada tahun 703 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Katsir rahimahullah adalah anak paling bungsu. Beliau dinamai Isma&#39;il sesuai dengan nama kakaknya yang paling tua yang telah wafat sebelum beliau lahir. Ayah beliau, Syaikh Syihabuddin Abu Hafsh Umar ibn Katsir adalah &#39;Ulama yang faqih dan berpengaruh di daerahnya. Ketika ayahnya meninggal dunia, Ibn Katsir kemudian diasuh dan dididik oleh kakaknya yang bernama &#39;Abdul Wahab ibn Umar. Dan ketika berusia lima tahun, beliau dikirim oleh kakaknya ke Damaskus untuk menuntut ilmu-ilmu Islam. Dan dari Damaskus itulah, beliau kemudian memulai pengembaraannya untuk menuntut ilmu ke berbagai kota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ad-Daawi dalam kitab Thabaqatu al-Mufassirin mengomentari masa muda Ibn Katsir yang rajin menuntut ilmu, ia berkata: &quot;Ibn Katsir banyak menyimak pelajaran, semangat dalam menghafal matan hadits, menguasai ilmu sanad, rijal hadits dan sejarahnya, sehingga beliau benar-benar menjadi orang yang sangat menguasai ilmu-ilmu tersebut di saat usianya yang masih muda.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Wafatnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Katsir rahimahullah wafat pada hari Kamis, 26 Sya&#39;ban 774 H pada usia 74 tahun. Beliau dikuburkan di pemakaman shufiyah Damaskus, di sisi makam guru yang sangat dicintai dan dihormatinya yaitu Ibn Taimiyah rahimahullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Karya-Karyanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Katsir rahimahullah adalah &#39;Ulama yang sangat produktif dalam karya, telah banyak karya-karya yang lahir dari tangan dan ketajaman berpikirnya. Di antara karya-karya beliau adalah :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ilmu Tafsir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Katsir rahimahullah menulis tafsir Qur&#39;an yang terkenal yang bernama Tafsir Ibn Katsir. Hingga kini, tafsir al-Qur&#39;an al-Karim sebanyak 10 jilid ini masih menjadi bahan rujukan sampai sekarang dalam dunia Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di samping itu, beliau juga menulis buku Fadha&#39;il al-Qur&#39;an (Keutamaan al-Qur&#39;an), berisi ringkasan sejarah al-Qur&#39;an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau memiliki metode sendiri dalam bidang ini, yakni:&lt;br /&gt;
1. Tafsir yang paling benar adalah tafsir al-Qur&#39;an dengan al-Qur&#39;an sendiri.&lt;br /&gt;
2. Selanjutnya bila penafsiran al-Qur&#39;an dengan al-Qur&#39;an tidak didapatkan, maka al-Qur&#39;an harus ditafsirkan dengan hadits Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam, sebab menurut al-Qur&#39;an sendiri Nabi Muhammad shallallahu &#39;alaihi wa sallam memang diperintahkan untuk menerangkan isi al-Qur&#39;an.&lt;br /&gt;
3. Jika yang kedua tidak didapatkan, maka al-Qur&#39;an harus ditafsirkan oleh pendapat para &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/sahabat-nabi.html&#39;&gt;Sahabat&lt;/a&gt; karena merekalah orang yang paling mengetahui konteks sosial turunnya al-Qur&#39;an.&lt;br /&gt;
4. Jika yang ketiga juga tidak didapatkan, maka pendapat dari para &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/mengenal-tabiin.html&#39;&gt;Tabi&#39;in&lt;/a&gt; dapat diambil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ilmu Hadits&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Katsir rahimahullah pun banyak menulis kitab ilmu hadits. Di antaranya yang terkenal adalah :&lt;br /&gt;
1. Jami&#39; al-Masanid wa as-Sunan (Kitab Penghimpun Musnad dan Sunan) sebanyak 8 jilid, berisi nama-nama Sahabat yang banyak meriwayatkan hadits.&lt;br /&gt;
2. al-Kutub as-Sittah (Kitab-kitab Hadits yang Enam) yakni suatu karya hadits.&lt;br /&gt;
3. at-Takmilah fi Mar&#39;ifat as-Sigat wa ad-Dhua&#39;fa wa al-Mujahal (Pelengkap dalam Mengetahui Perawi-perawi yang Dipercaya, Lemah dan Kurang Dikenal).&lt;br /&gt;
4. al-Mukhtasar (Ringkasan) merupakan ringkasan dari Muqaddimmah-nya Ibn Salah&lt;br /&gt;
5. Adillah at-Tanbih li Ulum al-Hadits (Buku tentang Ilmu Hadits) atau lebih dikenal dengan nama al-Ba&#39;its al-Hadits.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ilmu Sejarah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa karya Ibn Katsir rahimahullah dalam ilmu sejarah ini antara lain :&lt;br /&gt;
1. al-Bidayah wa an-Nihayah (Permulaan dan Akhir) atau nama lainnya Tarikh Ibn Katsir sebanyak 14 jilid.&lt;br /&gt;
2. al-Fusul fi Sirah ar-Rasul (Uraian Mengenai Sejarah Rasul).&lt;br /&gt;
3. Thabaqat asy-Syafi&#39;iyah (Peringkat-peringkat &#39;Ulama Mazhab Syafi&#39;i).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kitab sejarahnya yang dianggap paling penting dan terkenal adalah al-Bidayah wa an-Nahayah. Ada dua bagian besar sejarah yang tertuang menurut buku tersebut, yakni sejarah kuno yang menuturkan mulai dari riwayat penciptaan hingga masa kenabian Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan sejarah Islam mulai dari periode da&#39;wah Nabi ke Makkah hingga pertengahan abad ke-8 H. Kejadian yang berlangsung setelah hijrah disusun berdasarkan tahun kejadian tersebut. Tercatat, kitab al-Bidayah wa an-Nihayah merupakan sumber primer terutama untuk sejarah Dinasti Mamluk di Mesir. Dan karenanya kitab ini seringkali dijadikan bahan rujukan dalam penulisan sejarah Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ilmu Fiqh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ilmu fiqh, Ibn Katsir rahimahullah juga tidak diragukan keahliannya. Oleh para penguasa, beliau kerap dimintakan pendapat menyangkut persoalan-persoalan tata pemerintahan dan kemasyarakatan yang terjadi kala itu. Misalnya saja saat pengesahan keputusan tentang pemberantasan korupsi pada tahun 1358 M serta upaya rekonsiliasi setelah perang saudara atau peristiwa Pemberontakan Baydamur pada tahun 1361 M dan dalam menyerukan jihad (1368 - 1369 M). Selain itu, beliau menulis buku terkait bidang fiqh didasarkan pada al-Qur&#39;an dan hadits. Ibn Katsir rahimahullah wafat tidak lama setelah beliau menyusun kitab al-Ijtihad fi Thalab al-Jihad (Ijtihad Dalam Mencari Jihad).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Para Guru dan Muridnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Katsir rahimahullah memiliki 16 orang guru seperti yang dituliskan dalam kitab Thabaqatul Mufassirin, mereka itu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Syaikh Burhanuddin &#39;Abdurrahman al-Fazaari, terkenal dengan nama al-Farkah&lt;br /&gt;
2. Syaikh Kamaluddin ibn Qadhi Syuhbah&lt;br /&gt;
3. Syaikh Jamaluddin Abul Hajjaj Yusuf ibn az-Zaki al-Mizzi yang kemudian menjadi mertuanya&lt;br /&gt;
4. Syaikh Ibn Suwaid&lt;br /&gt;
5. Syaikh Qasim ibn Asaakir&lt;br /&gt;
6. Syaikh Ibn Sahnah&lt;br /&gt;
7. Syaikh Muhammad ibn Zuraad&lt;br /&gt;
8. Syaikh Ishaq al-Aamidi&lt;br /&gt;
9. Syaikh Ibn Raadhi&lt;br /&gt;
10. Syaikh Abu al-Fatah ad-Dabuusiy&lt;br /&gt;
11. Syaikh al-Waani&lt;br /&gt;
12. Syaikh al-Hutni&lt;br /&gt;
13. Syaikh Ibn Taimiyah&lt;br /&gt;
14. Syaikh al-Ashfahaani&lt;br /&gt;
15. Syaikh al-Hajjaar&lt;br /&gt;
16. Syaikh az-Zahabi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Murid-murid Beliau&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak muda Ibn Katsir rahimahullah telah menduduki banyak jabatan penting di bidang pendidikan, beliau juga menjadi guru besar di Masjid Umayyah Damaskus. Sedang terkait dalam jumlah murid-muridnya, kitab sejarah tidak banyak menyebutkan secara jelas jumlah muridnya, yang pasti Ibn Katsir memiliki murid yang sangat banyak. Hal ini karena beliau pernah menjabat sebagai guru besar pada sebuah sekolah Daarul Hadits al-Asyrafiyyah setelah wafatnya Imam Subkhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara nama muridnya yang terkenal adalah Syaikh Syihabuddin ibn Hijji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Sifat dan Kedudukan Ilmunya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
adz-Dzahabi berkata tentang sifat Ibn Katsir: &quot;Ia pandai memberikan fatwa, juga dalam berdebat, menguasai fiqh, tafsir, nahwu, dan sangat menguasai ilmu rijal hadits....&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
adz-Dzahabi juga mengatakan dalam Thabaqatul Hufadz: &quot;Ibn Katsir seorang yang ahli fiqh yang sangat teliti, ahli hadits yang cermat, dan ahli tafsir yang sangat kritis.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ad-Dawi dalam Thabaqatul Mufassirin mengatakan: &quot;Ibn Katsir adalah&lt;br /&gt;
panutan para &#39;Ulama dan para hufadz&lt;br /&gt;
hadits, serta rujukan para ahli&lt;br /&gt;
semantik...&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana juga dikatakan oleh muridnya sendiri Ibn Hijji: &quot;Ibn Katsir adalah orang yang paling hafal atas matan-matan hadits, yang paling tahu takhrij hadits-haditsnya, semua orang dari murid dan gurunya mengetahui realita ini, sering pula dalam tulisannya beliau menyertakaan pengetahuannya tentang fiqh dan sejarah, jarang sekali lupa, seorang ahli fiqh yang sangat baik pemahamannya, pemikirannya sangat cerdas, beliau telah hafal kitab tanbih sampai beliau meninggal, memahami ilmu bahasa Arab secara luar biasa, juga pembuat syair yang indah, tidak pernah aku merasa sering bertemu dengannya kecuali aku selalu mendapatkan manfaat dari dirinya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam asy-Syaukani dalam al-Badru ath-Thaali berkata: &quot;Ibn Katsir sangat pandai dalam fiqh, tafsir, nahwu, sangat faham dalam ilmu rijal hadits, selain mengajar beliau juga memberikan fatwa.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian biografi singkat al-Imam al-Hafizh al-Hujjah al-Muarrikh ats-Tsiqah Imaduddin Abu al-Fida&#39; Isma&#39;il ibn Umar ibn Katsir rahimahullah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai beliau dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabbnya. Amiin.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/8908640847275540516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/8908640847275540516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/ibn-katsir.html' title='al-Imam al-Hafizh al-Hujjah al-Muarrikh ats-Tsiqah Imaduddin Abu al-Fida&#39; Isma&#39;il ibn Umar ibn Katsir rahimahullah'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-3472164524834545661</id><published>2012-01-11T00:05:00.005+07:00</published><updated>2012-01-11T00:11:04.897+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="al-Hafizh"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ulama"/><title type='text'>al-Imam al-Alamah al-Hafizh asy-Syaikh Ibn al-Jauzi rahimahullah</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Nama Lengkap dan Nasabnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama lengkap beliau adalah Jamalludin &#39;Abdul Faraj &#39;Abdurrahman ibn &#39;Ali ibn Muhammad ibn &#39;Ali al-Qurasyi at-Taimi al-Bakri al-Baghdadi al-Hambali. Nasab beliau sampai kepada &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/khulafaur-rasyidin.html&#39;&gt;Khalifah ar-Rasyidin&lt;/a&gt; yang pertama &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abu-bakar-ash-shiddiq.html&#39;&gt;Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu. Nasab lengkapnya yaitu Jamalludin &#39;Abdul Faraj &#39;Abdurrahman ibn &#39;Ali ibn Muhammad ibn &#39;Ali ibn &#39;Ubaidillah ibn &#39;Abdullah ibn Hammadi ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ja&#39;far ibn &#39;Abdullah ibn al-Qasim ibn an-Nadr ibn al-Qasim ibn Muhammad ibn &#39;Abdullah al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar ash-Shiddiq al-Quraysi at-Taimi al-Bakri al-Baghdadi al-Hambali. Beliau diberi gelar Ibn al-Jauzi dinisbatkan kepada kakeknya yang ketujuh yang bernama Ja&#39;far. Kakeknya tersebut terkenal dengan sebutan Ibn al-Jauzi (anak kelapa), karena kelapa yang ia miliki di Wasith, dimana di sana sama sekali tidak ada kelapa selain milik beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn al-Jauzi rahimahullah hidup pada zaman Dinasti Abbasiyah (132-656 H). Beliau lahir di Darbu Habib yang terletak di Baghdad, dan diperselisihkan mengenai tanggal kelahirannya. Ada yang mengatakan beliau lahir pada tahun 507 H, ada pula yang mengatakan pada tahun 509 H atau tahun 510 H. Pendapat yang paling tepat adalah beliau dilahirkan sesudah tahun 510 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada muqadimah dalam beberapa karyanya, dikatakan bahwa beliau mulai menulis kitab pada tahun 527 H, saat berumur 17 tahun. Juga sebagaimana dinukilkan dari dirinya sendiri, pada bagian akhir Kitab Tarikh Baghdad karya Ibn an-Najar, &quot;Aku tidak bisa memastikan tahun kelahiranku, hanya saja ayahku meninggal pada tahun 514 H. Sementara ibuku mengatakan bahwa umurku pada saat itu adalah 3 tahun.&quot; Berdasarkan tulisan itu, tahun kelahirannya adalah 511 H atau 1117 M.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluarganya adalah pedagang tembaga, karena itu didapati beberapa nama kuno-nya yang terkenal adalah &#39;Abdurrahman ibn &#39;Ali al-Jauzi ash-Shafar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ayahnya meninggal lalu beliau diasuh oleh bibinya (dari pihak ayah). Ketika beliau mulai tumbuh, bibinya membawa beliau kepada al-Hafizh Abu al-Fadhl ibn Nashir, lalu beliau belajar kepadanya. Dari Ibn Nashir, beliau mendapat seluruh perhatian dan pendidikan yang baik, hingga Ibn Nashir memperdengarkan hadits kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak masa kanak-kanaknya, Ibn al-Jauzi hidup dengan wara&#39;, taqwa, dan zuhud. Beliau juga tidak suka berkumpul dengan orang banyak, karena khawatir waktunya terbuang sia-sia dan menghindari terjadinya kesalahan. Dengan demikian, dia telah menjaga diri, ruh, dan waktunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Imam Ibn Katsir berkomentar, &quot;Saat masih kecil, beliau (Ibn al-Jauzi) adalah orang yang taat beragama dan menutup diri, tidak suka bergaul dengan seorang pun, tidak memakan suatu yang mengandung syubhat, tidak keluar dari rumahnya kecuali untuk shalat berjama&#39;ah, dan tidak bermain-main dengan anak-anak lainnya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Ciri-Ciri Fisik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn al-Jauzi rahimahullah memiliki perawakan yang lembut, tabiat yang manis, suara yang merdu dan gerakan yang teratur, beliau tidak pernah menyia-nyiakan waktu sedikit pun, sehingga beliau dapat menulis empat buku setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Ujian dalam Kehidupannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn al-Jauzi rahimahullah mendapat ujian di akhir umurnya. Hal itu disebabkan karena suatu peristiwa. Saat pemerintahan menteri Ibn Yunus al-Hambali telah diadakan pembubaran majelis ar-Rukn &#39;Abdussalam ibn &#39;Abdul Wahhab ibn &#39;Abdul Qadir al-Kili, dan kitab-kitabnya pun dibakar. Di dalam kitab-kitab tersebut terdapat banyak ajaran atheisme, penyembahan kepada bintang-bintang, dan berbagai pendapat orang-orang terdahulu. Itu dilakukan di hadapan Ibn al-Jauzi dan para &#39;Ulama lainnya. Sang menteri menyita sebuah madrasah milik kakek &#39;Abdussaalam dan menyerahkannya kepada Ibn al-Jauzi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatkala Ibn al-Qashshab menjabat sebagai menteri -sedang dia adalah seorang penganut Syi&#39;ah Rafidhah- dia berusaha menangkap Ibn Yunus dan mengejar teman-temannya. ar-Rukn berkata, &quot;Apa tindakanmu terhadap Ibn al-Jauzi? Sesungguhnya dia adalah penentangku dan termasuk anak Abu Bakar, dialah sahabat Ibn Yunus yang paling dekat. Ibn Yunus telah memberinya madrasah milik kakekku dan kitab-kitab kakekku juga dibakar atas saran Ibn al-Jauzi.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Ibn al-Qashshab menulis surat kepada Khalifah an-Nashir -yang memiliki kecenderungan kepada Syi&#39;ah-. Ibn al-Qashshab bermaksud menyakiti Ibn al-Jauzi dan memerintahkan agar dia diserahkan kepada ar-Rukn &#39;Abdussalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
an-Nashir pun datang ke rumah Ibn al-Jauzi, lalu memaki-maki, menghina, menyegel rumah, dan mencerai-beraikan keluarga beliau. Kemudian beliau dimasukkan ke dalam kapal menuju tempat bernama Wasith. Di sana beliau ditahan di dalam suatu ruangan. Kondisi itu beliau jalani selama lima tahun dan pada saat itu beliau masih beraktifitas seperti biasa. Beliau tetap mencuci pakaiannya dan memasak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujian dengan berbagai jenisnya, kesabaran dalam menghadapinya, dan terus berdiri tegar menghadapi kebathilan, kedzaliman dan thaghud, semuanya merupakan bentuk kegigihan para &#39;Ulama dan para Mujahid yang ikhlas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Wafatnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ibn al-Jauzi rahimahullah wafat pada tengah malam Jum&#39;at, 13 Ramadhan 597 H di Baghdad, mendekati 90 tahun dari usianya. Jenazah beliau dimandikan pada waktu sahur. Penduduk Baghdad pun berkumpul dan memikul jenasah beliau di atas kepala mereka. Jumlah mereka amat banyak, sampai-sampai jenasah tiba di lubang kuburnya pada waktu shalat Jum&#39;at, saat muadzin tengah mengucapkan, &quot;Allahu akbar&quot;. Beliau dimakamkan di Bab Harb, dekat makam Imam Ahmad ibn Hanbali rahimahullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Karya-Karyanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau memiliki peran dalam semua bidang ilmu, beliau adalah seorang yang sangat menonjol dalam bidang tafsir, memiliki gelar al-Hafizh dalam bidang hadits, termasuk &#39;Ulama yang sangat luas dalam bidang sejarah, bahkan beliau memiliki satu buku dalam bidang kedokteran yang diberi nama Kitab al-Luqath.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Rajab meriwayatkan dari al-Qathi&#39;i dalam kitab tariknya, bahwa telah terbukti karya tulis yang dibuat oleh Ibn al-Jauzi dengan tulisan tangannya mencapai kira-kira 199 judul buku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karya-karya Ibn al-Jauzi rahimahullah, antara lain: Talqih Fuhum Ahl al-atsar fi Mukhtashar al-Sayr wa al-Akhbar, al-Adzkiya&#39; wa Akhbaruhum, al-Mawdhu&#39;at, Manaqib Umar ibn &#39;Abd al-Aziz, Ruh al-Arwah, Syudzur al-Uqud fi Tarikh al-Uhud (manuskrip), Zad al-Masir fi Tafsir, al-Muntazhim fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam (enam jilid), al-Dzahab al-Masbuk fi Sayr al-Muluk (manuskrip), al-Humuqa wa al-Mughfilin, al-Wafa fi Fadhail al-Musthafa, Manaqib Umar ibn al-Khaththab, Manaqib Ahmad ibn Hanbal, Gharib al-Hadits, al-Tahqiq. Dan banyak lagi karya lain beliau dalam berbagai disiplin ilmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Para Guru dan Murid-murid Ibn al-Jauzi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn al-Jauzi telah mengarang satu buku khusus mengenai para gurunya. Di dalamnya beliau menyebutkan sekitar 80 orang syaikh. Pada pendahuluan buku tersebut, beliau menyebutkan perhatian beliau dalam memilih para guru yang paling unggul dan paling paham. Beliau berkata, &quot;Syaikh kami, Ibn Nashir membawaku kepada beberapa syaikh, di waktu aku masih kecil. Ia memperdengarkan kepadaku hadits-hadits &#39;Ali, menegaskan bahwa aku telah mendengar hadits-hadits tersebut dengan bukti tertulis darinya, dan memintakan ijazah-ijazah dari mereka untukku. Tatkala aku telah paham tentang menuntut ilmu, aku tetap berguru kepada beberapa syaikh yang paling pandai dan mengutamakan para guru periwayatan hadits yang paling paham. cita-citaku saat itu adalah memperbaiki semangatku, bukan memperbanyak jumlahnya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Di antara guru beliau&lt;/b&gt; adalah:&lt;br /&gt;
1. Abu Bakar Muhammad ibn &#39;Abdul Baqi ibn Muhammad ibn &#39;Abdullah ibn &#39;Abdurrahman ibn ar-Rabi ibn Tsabit.&lt;br /&gt;
2. Abu Bakar Muhammad ibn al-Hasan ibn &#39;Ali ibn Ibrahim, yang terkenal dengan nama al-Muzarra&#39;i.&lt;br /&gt;
3. Abu al-Hasan &#39;Ali ibn &#39;Abdul Wahid ad-Dinawari.&lt;br /&gt;
4. Abu al-Fath &#39;Abdul Malik ibn Abi al-Qasim al-Karukhi.&lt;br /&gt;
5. Abu Sa&#39;ad Ahmad ibn Muhammad ibn al-Hasan ibn &#39;Ali al-Baghdadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Beberapa Muridnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. al-Hafizh &#39;Abdul Ghani &#39;Abdul Wahid ibn &#39;Ali ibn Surur.&lt;br /&gt;
2. Yusuf ibn Farghali ibn &#39;Abdullah Abu al-Muzhaffar al-Wa&#39;izh.&lt;br /&gt;
3. Ahmad ibn &#39;Abdul Da&#39;im ibn Ni&#39;mah, al-Katib al-Muhaddits.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Pujian &#39;Ulama terhadap Beliau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para &#39;Ulama merasa takjub terhadap kepribadian dan usaha kerasnya yang hebat, sehingga mereka memuji dan menyanjungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Khalliqan berkata, &quot;Sesungguhnya beliau merupakan simbol pada masanya sekaligus imam dalam bidang hadits dan nasihat. Beliau mengarang dalam banyak bidang ilmu.&quot; Lalu Ibn Khaliqan menyebutkan beberapa karangan Ibn al-Jauzi dan melanjutkan, &quot;Secara garis besar, kitab-kitab karyanya hampir tidak terhitung. Beliau telah menulis tentang banyak hal dengan goresan penanya, hingga orang-orang memberikan komentar secara berlebihan dalam hal itu dengan mengatakan, &#39;Sesungguhnya jika kitab atau buku yang telah ditulisnya dikumpulkan dan lama umur beliau dihitung, lalu jumlah buku hasil tulisannya dibagi dengan umur beliau, maka hasilnya tidak kurang dari sembilan buku yang beliau tulis dalam sehari&#39;.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
adz-Dzahabi berkomentar dalam at-Tarikh al-Kabir, &quot;Menurut kami, Ibn al-Jauzi tidak digelari sebagai seorang hafizh hadits berdasarkan keahliannya menghafal hadits, tapi didasarkan banyaknya ilmu yang dia miliki dan karya yang dia tulis.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Hafiz ad-Dubaisi meriwayatkan dari Ibn al-Jauzi, &quot;Beliau termasuk orang yang paling mahir dalam berbicara, urutan pembicaraannya paling tertata rapi, paling enak bahasanya, paling bagus dalam memberikan penjelasan, dan diberikan keberkahan pada usia dan amalnya. Beliau meriwayatkan dari banyak &#39;Ulama, dan masyarakat mendengar pelajaran dari beliau selama lebih dari empat puluh tahun, serta beberapa kali beliau membicarakan karya-karyanya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Katsir berkata, &quot;Ibn al-Jauzi memiliki keistimewaan tersendiri dalam tehnik memberikan nasihat yang belum pernah disamai oleh seorang pun dan ambisinya dalam bidang ini belum ada yang menyamainya; juga dalam metodenya, bicaranya, kemanisan untaian kalimatnya, kemanjuran nasihatnya, kedalaman pembahasannya mengenai makna-makna yang indah, pendekatan yang beliau lakukan terhadap hal-hal&lt;br /&gt;
asing dan perkara-perkara indrawi yang bisa dilihat melalui ungkapan yang ringkas lagi cepat dipahami dan dimengerti, dimana beliau menggabungkan banyak makna dalam satu kalimat ringkas.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian biografi singkat dari al-Imam al-Alamah al-Hafizh asy-Syaikh Ibn al-Jauzi. Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai beliau dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabbnya. Amiin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Untuk memperdalam lagi wawasan tentang biografi Ibn al-Jauzi, silahkan lihat:&lt;br /&gt;
- Dzail Thabaqaat al-Hanaabilah karya Ibn Rajab [I/399-433]&lt;br /&gt;
- Tadzkirah al-Huffaazh karya adz-Dzahabi [1342]&lt;br /&gt;
- al-Bidaayah wa an-Nihaayah [13/28-30]&lt;br /&gt;
- Thabaqaat al-Mufassiriin karya as-Suyuthi [50]&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/3472164524834545661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/3472164524834545661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/ibn-al-jauzi.html' title='al-Imam al-Alamah al-Hafizh asy-Syaikh Ibn al-Jauzi rahimahullah'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-9184563317134218966</id><published>2012-01-08T17:43:00.001+07:00</published><updated>2012-01-08T17:46:17.038+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tabiin"/><title type='text'>Tabi&#39;in : Syaikh Muhammad ibn Sirin rahimahullah</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Nama Lengkap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Sirin al-Anshary, beliau adalah seorang ahli fiqh yang zuhud dan tekun beribadah, ayahnya bekas sahaya Anas ibn Malik radhiyallahu &#39;anhu yang membelinya dari Khalid ibn al-Walid radhiyallahu &#39;anhu yang menawannya di &#39;Ain at-Tamr di gurun pasir Iraq dekat al-Anbar. Sebelumnya Anas menjanjikan kebebasan bagi budaknya itu bila Sirin membayar sejumlah uang. Sirin melunasinya dan bebaslah ia. Ibu Muhammad ibn Sirin bernama Shaffiyah yang pernah menjadi sahaya &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abu-bakar-ash-shiddiq.html&#39;&gt;Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Muhammad ibn Sirin rahimahullah lahir 2 tahun menjelang berakhirnya masa pemerintahan Khalifah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/utsman-ibn-affan.html&#39;&gt;&#39;Utsman ibn &#39;Affan&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu. Beliau sempat bertemu dengan 30 orang &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/sahabat-nabi.html&#39;&gt;Sahabat Nabi&lt;/a&gt;, tetapi tidak pernah melihat Abu Bakar ash-Shiddiq dan Abu Dzar al-Ghiffari radhiyallahu &#39;anhuma. Beliau juga tidak mendengar langsung hadits dari Ibn Abbas atau Abu Darda&#39; atau Imran ibn Hushain, atau Sayyidah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/aisyah-binti-abu-bakar-ash-shiddiq.html&#39;&gt;&#39;Aisyah&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhuma. Namun beliau meriwayatkan dari beberapa hadits musnad dari Zaid ibn Tsabit, Anas ibn Malik, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abu-hurairah.html&#39;&gt;Abu Hurairah&lt;/a&gt;, Hudzaifah ibn al-Yaman radhiyallahu &#39;anhuma dan beberapa lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara orang yang meriwayatkan dari Ibn Sirin adalah asy-Sya&#39;bi, al-Auza&#39;i, &#39;Ashim al-Ahwal, Malik ibn Dinar dan Khalid al-Hadzdza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hisyam ibn Hisan rahimahullah berkata tentangnya: &quot;Dia orang paling jujur yang pernah aku jumpai.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Awanah rahimahullah berkata, &quot;Aku pernah melihat Ibn Sirin dan tak seorangpun melihatnya tanpa sedang berdzikir kepada Allah Ta&#39;ala.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Sa&#39;ad rahimahullah berkata, &quot;Dia dipercaya memang teguh amanat, tinggi kedudukannya dan banyak ilmunya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Wafatnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Muhammad ibn Sirin rahimahullah wafat pada tahun 110 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai Muhammad ibn Sirin dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabbnya. Amiin.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/9184563317134218966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/9184563317134218966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/muhammad-ibn-sirin.html' title='Tabi&#39;in : Syaikh Muhammad ibn Sirin rahimahullah'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-5606095152690250784</id><published>2012-01-08T17:22:00.002+07:00</published><updated>2012-01-08T17:31:14.415+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="al-&#39;Abadillah al-Arba&#39;ah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Perawi Hadits"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><title type='text'>Sahabat Nabi : &#39;Abdullah ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma</title><content type='html'>&#39;Abdullah ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma dilahirkan tidak lama setelah Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam diutus. Beliau adalah putra khalifah ke-2 &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/umar-ibn-al-khaththab.html&#39;&gt;Umar ibn al-Khaththab&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu, saudara kandung Hafshah Ummul Mu&#39;minin radhiyallahu &#39;anha. Beliau salah seorang di antara orang-orang yang bernama &#39;Abdullah (al-&#39;Abadillah al-Arba&#39;ah) yang terkenal sebagai pemberi fatwa. Tiga orang lain ialah &#39;Abdullah ibn Abbas, &#39;Abdullah ibn &#39;Amr ibn al-Ash dan &#39;Abdullah ibn az-Zubair radhiyallahu &#39;anhuma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;KeIslaman &#39;Abdullah ibn Umar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Abdullah ibn Umar radhiyallahu &#39;anhu masuk Islam saat umurnya 10 tahun ketika ikut masuk bersama ayahnya, Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhu. Kemudian mendahului ayahnya beliau hijrah ke Madinah. Pada saat perang Uhud usia beliau 13 tahun dan masih terlalu kecil untuk ikut perang, sehingga Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam tidak mengizinkannya. Perang pertama yang beliau ikuti adalah perang Khandaq. Beliau ikut berperang bersama Ja&#39;far ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu pada perang Mu&#39;tah, dan turut pula dalam pembebasan Makkah (Fathu Makkah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam meninggal, beliau mengikuti peperangan lainnya, seperti perang Qadisiyah, Yarmuk, Penaklukan Afrika, Mesir dan Persia, serta penyerbuan Bashrah dan Madain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Keutamaan &#39;Abdullah ibn Umar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Abdullah ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma adalah seorang yang dikaruniai Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala kefaqihan (kedalaman pemahaman) dalam ilmu-ilmu mengenai dienullah al-Islam. Beliau juga terkenal seorang yang zuhud (tidak terikat hati dengan dunia) dan &#39;abid (rajin ber-ibadah kepada Allah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sewaktu masih muda belia, &#39;Abdullah ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma berangan-angan seandainya beliau dapat bermimpi sesuatu yang menyebabkan dirinya punya alasan untuk berkonsultasi langsung kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Beliau iri melihat seorang yang menceritakan mimpinya kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Kisahnya disampaikan di dalam hadits di bawah ini oleh dirinya sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abdullah ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma, beliau berkata: Apabila ada seseorang yang bermimpi pada masa Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam maka ia pun akan menceritakan mimpi itu kepada Rasulullah, hingga saya juga ingin sekali bermimpi dan menceritakannya kepada beliau. Ketika remaja, pada masa Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, saya pernah tertidur di masjid. Dalam tidur itu saya bermimpi bahwa ada dua malaikat yang menangkap saya dan membawa saya ke neraka yang tepinya berdinding seperti sumur dengan dua tali seperti tali sumur. Ternyata di dalam sumur tersebut ada beberapa orang yang saya kenal dan segera saya ucapkan: &#39;Aku berlindung kepada Allah dari siksa neraka. Aku berlindung kepada Allah dari siksa neraka. Aku berlindung kepada Allah dari siksa neraka.&#39; Tak lama kemudian, kedua malaikat tersebut ditemui oleh satu malaikat lain dan ia berkata kepada saya: &#39;Kamu akan aman.&#39; Lalu saya ceritakan mimpi saya itu kepada Hafshah radhiyallahu &#39;anha dan Hafshah menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda: &#39;Sebaik-baik orang adalah &#39;Abdullah ibn Umar&lt;br /&gt;
radhiyallahu &#39;anhuma, jika ia berkenan melaksanakan shalat di sebagian malam.&#39; Salim radhiyallahu &#39;anhu berkata: &#39;Setelah itu &#39;Abdullah ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma tidak pernah tidur di malam hari kecuali sebentar.&#39; (Muslim [4528]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hadits di atas kita dapat melihat betapa kedekatan &#39;Abdullah ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma dengan Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala sehingga beliau dikaruniai Allah nikmat berupa mimpi yang semakin mendorongnya untuk lebih banyak lagi beribadah. Dalam hal ini ibadah shalat malam atau shalat Tahajjud. Beliau memang terkenal seorang &#39;abid, tetapi rupanya Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala menghendaki agar beliau menjadi seorang &#39;abid yang lebih baik lagi sehingga beliau didorong untuk membiasakan dirinya tidak melewati malam kecuali dengan menegakkan shalat Tahajjud. Beliau akhirnya menjadi seorang hamba Allah yang tidak tidur di malam hari kecuali sedikit saja. Sisanya beliau habiskan waktu malamnya untuk ber-khalwat (berdua-duaan) dengan Rabbnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu Ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma menjadi rujukan bagi &#39;Ulama-ulama pada masanya dan setelahnya. az-Zuhri rahimahullah tidak pernah meninggalkan pendapat Ibn Umar untuk beralih kepada pendapat orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Malik dan az-Zuhri rahimahullah berkata: &quot;Sungguh, tak ada satupun dari urusan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan para Sahabatnya yang tersembunyi bagi Ibn Umar.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Perawi Hadits&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Abdullah ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma adalah seorang perawi hadits Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam paling banyak sesudah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abu-hurairah.html&#39;&gt;Abu Hurairah&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu. Beliau meriwayatkan 2.630 hadits. Hal ini dikarenakan beliau selalu mengikuti kemana Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pergi. Bahkan &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha pernah memujinya dan berkata: &quot;Tak seorang pun mengikuti jejak langkah Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam di tempat-tempat pemberhentiannya, seperti yang telah dilakukan Ibn Umar&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau bersikap sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits Nabi. Demikian pula dalam mengeluarkan fatwa, beliau senantiasa mengikuti tradisi dan sunnah Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, karenanya beliau tidak mau melakukan ijtihad. Biasanya beliau memberi fatwa pada musim haji dan pada kesempatan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Abdullah ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma meriwayatkan hadits dari &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abu-bakar-ash-shiddiq.html&#39;&gt;Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/a&gt;, Umar ibn al-Khaththab, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/utsman-ibn-affan.html&#39;&gt;&#39;Utsman ibn Affan&lt;/a&gt;, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/aisyah-abu-bakar-ash-shiddiq.html&#39;&gt;&#39;Aisyah&lt;/a&gt; Ummul Mu&#39;minin, saudari kandungnya Hafshah dan &#39;Abdullah ibn Mas&#39;ud radhiyallahu &#39;anhuma. Yang meriwayatkan dari Ibn Umar banyak sekali, di antaranya &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/said-ibn-al-musayyab.html&#39;&gt;Sa&#39;id ibn al-Musayyab&lt;/a&gt;, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/al-hasan-al-bashri.html&#39;&gt;al-Hasan al-Bashri&lt;/a&gt;, Ibn Syihab az-Zuhri, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/muhammad-ibn-sirin.html&#39;&gt;Ibn Sirin&lt;/a&gt;, Nafi&#39;, Mujahid, Thawus dan Ikrimah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanad paling shahih yang bersumber dari Ibn Umar adalah yang disebut Silsilah adz-Dzahab (silsilah emas), yaitu Malik, dari Nafi&#39;, dari &#39;Abdullah ibn Umar. Sedang yang paling Dhaif, Muhammad ibn &#39;Abdullah ibn al-Qasim dari bapaknya, dari kakeknya, dari Ibn Umar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Wafatnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Abdullah ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma hidup sampai 60 tahun setelah wafatnya Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Beliau kehilangan penglihatannya pada masa tuanya. Beliau wafat pada tahun 73 H pada usia 84 tahun, dan merupakan salah satu Sahabat paling akhir yang meninggal di Makkah. Ada yang mengatakan bahwa al-Hajjaj ibn Yusuf menyusupkan seorang ke rumahnya yang lalu membunuhnya. Dikatakan mula-mula diracun kemudian ditombak dan direjam. Pendapat lain mengatakan bahwa Ibn Umar meninggal secara wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Salamah ibn &#39;Abdurrahman mengatakan: &quot;Ibn Umar meninggal dan keutamaannya sama seperti Umar. Umar hidup pada masa banyak orang yang sebanding dengan dia, sementara Ibn Umar hidup pada masa yang tidak ada seorang pun yang sebanding dengan dia.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai &#39;Abdullah ibn Umar dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabbnya. Amiin.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/5606095152690250784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/5606095152690250784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/abdullah-ibn-umar-radhiyallahu-anhuma.html' title='Sahabat Nabi : &#39;Abdullah ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-306706625867619302</id><published>2012-01-05T13:38:00.004+07:00</published><updated>2012-01-10T19:11:51.588+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Khulafa&#39;ur Rasyidin"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tabiin"/><title type='text'>Tabi&#39;in : Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah, Khulafaur Rasyidin ke-5</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Nama Lengkap dan Nasab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama lengkap beliau adalah Umar ibn &#39;Abdul Aziz ibn Marwan ibn al-Hakam ibn Abu al-&#39;Ash ibn Umayyah ibn &#39;Abdusy Syams ibn &#39;Abdi Manaf ibn Qushay al-Qurasyi al-Umawi. Beliau dilahirkan di Halawan, sebuah kampung yang terletak di Mesir tahun 61 H/682 M, pada masa pemerintahan Yazid ibn Mu&#39;awiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya adalah &#39;Abdul Aziz ibn Marwan yang menjabat gubernur Mesir. &#39;Abdul Aziz merupakan laki-laki yang shalih dan baik pemahaman agamanya. Beliau merupakan murid dari &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/sahabat-nabi.html&#39;&gt;Sahabat Nabi&lt;/a&gt; shallallahu &#39;alaihi wa sallam, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/abu-hurairah.html&#39;&gt;Abu Hurairah&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan ibu dari Umar ibn &#39;Abdul Aziz adalah Laila (Ummu &#39;Ashim) binti &#39;Ashim ibn Umar ibn al-Khaththab. &#39;Ashim ibn Umar adalah laki-laki dengan perawakan tegap dan jangkung, dan merupakan salah seorang yang mulia di kalangan &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/mengenal-tabiin.html&#39;&gt;Tabi&#39;in&lt;/a&gt;. Ia sering meriwayatkan hadits Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam dari &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/umar-ibn-al-khaththab.html&#39;&gt;Umar ibn al-Khaththab&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada hal yang menarik mengenai kisah pernikahan &#39;Ashim ibn Umar, kisah ini cukup penting karena dampak kejadian ini membekas kepada keturunannya, yakni Umar ibn&lt;br /&gt;
&#39;Abdul Aziz rahimahullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita ini dikisahkan oleh &#39;Abdullah ibn Zubair ibn Aslam dari ayahnya dari kakeknya yang bernama Aslam. Ia menuturkan: Suatu malam aku sedang menemani Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhu berpatroli di Madinah. Ketika Umar merasa lelah, beliau bersandar ke dinding di tengah malam, beliau mendengar seorang wanita berkata kepada putrinya, &quot;Wahai putriku, campurlah susu itu dengan air.&quot; Maka putrinya menjawab, &quot;Wahai ibunda, apakah engkau tidak mendengar maklumat Amirul Mu&#39;minin hari ini?&quot; Ibunya bertanya, &quot;Wahai putriku, apa maklumatnya?&quot; Putrinya menjawab, &quot;Dia memerintahkan petugas untuk mengumumkan, hendaknya susu tidak dicampur dengan air.&quot; Ibunya berkata, &quot;Putriku, lakukan saja, campur susu itu dengan air, kita di tempat yang tidak dilihat oleh Umar dan petugas Umar.&quot; Maka gadis itu menjawab, &quot;Ibu, tidak patut bagiku menaatinya di depan khalayak demikian juga menyelesihinya walaupun di belakang mereka.&quot; Sementara Umar radhiyallahu &#39;anhu mendengar semua perbincangan tersebut. Maka beliau berkata, &quot;Aslam, tandai pintu rumah tersebut dan kenalilah tempat ini.&quot; Lalu Umar bergegas melanjutkan patrolinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pagi hari Umar radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Aslam, pergilah ke tempat itu, cari tahu siapa wanita yang berkata demikian dan kepada siapa dia mengatakan hal itu. Apakah keduanya mempunyai suami?&quot; Aku pun berangkat ke tempat itu, ternyata ia adalah seorang gadis yang belum bersuami dan lawan bicaranya adalah ibunya yang juga tidak bersuami. Aku pun pulang dan mengabarkan kepada Umar radhiyallahu &#39;anhu. Setelah itu, Umar langsung memanggil putra-putranya dan mengumpulkan mereka, Umar radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Adakah di antara kalian yang ingin menikah?&quot; &#39;Ashim menjawab, &quot;Ayah, aku belum beristri, nikahkanlah aku.&quot; Maka Umar radhiyallahu &#39;anhu meminang gadis itu dan menikahkannya dengan &#39;Ashim. Dari pernikahan ini lahir seorang putri yang di kemudian hari menjadi ibu bagi Umar ibn &#39;Abdul Aziz.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan bahwa pada suatu malam Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhu bermimpi, kemudian beliau menceritakan mimpinya itu kepada keluarganya, &quot;Seandainya mimpiku ini termasuk tanda salah seorang dari keturunanku yang akan memenuhinya dengan keadilan (setelah sebelumnya) dipenuhi dengan kedzaliman.&quot; &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/abdullah-ibn-umar.html&#39;&gt;&#39;Abdullah ibn Umar&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu mengatakan, &quot;Sesungguhnya keluarga al-Khaththab mengira bahwa Bilal ibn &#39;Abdullah yang mempunyai tanda di wajahnya.&quot; Seluruh keluarga Umar ibn al-Khaththab semula mengira bahwa Bilal ibn &#39;Abdullah ibn Umar adalah orang yang dimaksud, hingga Allah kemudian menghadirkan Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Ciri-Ciri Fisik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah berkulit cokelat, berwajah lembut dan tampan, berperawakan ramping, berjanggut rapi, bermata cekung, dan di keningnya terdapat bekas luka akibat sepakan kaki kuda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada pula yang mengatakan, beliau berkulit putih, berwajah lembut dan tampan, berperawakan ramping dan berjenggot rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Kehidupan Umar ibn &#39;Abdul Aziz&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kecil Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah sangat rajin menuntut ilmu dan sudah hafal al-Qur&#39;an. Suatu hari, beliau pernah mengunjungi &#39;Abdullah ibn Umar radhiyallahu &#39;anhu. Sepulangnya dari kunjungan tersebut beliau pun berkata kepada ibunya, &quot;Ibu! Aku ingin sekali menjadi seperti kakek &#39;Abdullah ibn Umar&quot;, hal itu beliau katakan berulang-ulang. (Lihat al-Atsar al-Waridah An Umar ibn &#39;Abdul Aziz fi al-&#39;Aqidah [1/56]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian beliau merantau ke Madinah untuk berguru pada &#39;Ulama-ulama di sana. Beliau mendapat bimbingan langsung dari &#39;Abdullah ibn Umar radhiyallahu &#39;anhu dan beliau juga banyak belajar agama dari para Sahabat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam lainnya. Sehingga menjadikan beliau seorang yang ahli ibadah, penghafal hadits, dan zuhud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara para &#39;Ulama yang pernah menjadi guru beliau adalah Shalih ibn Kaisan dan &#39;Ubaidillah ibn &#39;Abdullah ibn Utbah ibn Mas&#39;ud. Beliau sangat terinspirasi oleh keluhuran budi pekerti keduanya. (Lihat Tahdzib at-Tahdzib [7/22]. Dinukil dari al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn &#39;Abdul Aziz hal. 20).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/said-ibn-al-musayyab.html&#39;&gt;Sa&#39;id ibn al-Musayyab&lt;/a&gt;, Salim ibn &#39;Abdullah ibn Umar dan masih banyak lagi yang lainnya. Kesemuanya berjumlah 33 orang yang terdiri 8 orang dari kalangan Sahabat dan 25 orang dari Tabi&#39;in. (Musnad Umar ibn &#39;Abdul Aziz hal. 33. Lihat al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn &#39;Abdul Aziz hal. 20).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah tinggal di Madinah sampai kematiannya ayahnya, &#39;Abdul Aziz ibn Marwan. Kemudian beliau dipanggil ke Damaskus oleh Khalifah &#39;Abdul Malik ibn Marwan dan dinikahkan dengan anak perempuannya yaing bernama Fathimah. Setelah &#39;Abdul Malik ibn Marwan meninggal dunia, maka kekhalifahan diteruskan oleh putra tertuanya, al-Walid ibn &#39;Abdul Malik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada bulan Rabi&#39;ul Awwal tahun 87 H/706 M, Khalifah al-Walid ibn &#39;Abdul Malik mengeluarkan keputusan resmi, mengangkat Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah sebagai gubernur untuk wilayah Madinah dan Thaif (Hijaz). Begitu mengetahui dirinya terpilih, Umar ibn &#39;Abdul Aziz tidak langsung menerima mandat tersebut, melainkan mengajukan tiga persyaratan, jika ditolak beliau memilih mengundurkan diri dan jika dikabulkan beliau segera bertolak berangkat menuju Madinah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga syarat itu ialah:&lt;br /&gt;
1. Beliau diberi kebebasan untuk menegakkan kebenaran dan memutuskan perkara dengan asas keadilan di wilayah kekuasaan barunya, serta diberi kelonggaran untuk tidak memaksa seorang pun agar membayar pajak ke Baitul Mal, bagi mereka yang memang mempunyai kewajiban untuk membayar. Tentunya hal ini berimbas pada sedikitnya pajak yang akan disetorkan ke pusat pemerintahan.&lt;br /&gt;
2. Diizinkan untuk menunaikan ibadah Haji di tahun pertama kerjanya, kebetulan Umar ibn &#39;Abdul Aziz saat itu belum menunaikan rukun Islam kelima.&lt;br /&gt;
3. Diberi keluasan untuk berderma kepada penduduk Madinah tanpa terkecuali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu syarat ini dikabulkan oleh Khalifah al-Walid, Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah pun bertolak ke Madinah. Sedangkan di Madinah sendiri luapan kegembiraan penduduknya -yang mengetahui bahwa gubernur baru mereka adalah Umar ibn &#39;Abdul Aziz- sedang menunggu menyambutnya. (Lihat Sirah wa Manaqib Umar ibn &#39;Abdul Aziz hal. 41-42).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesampainya di Madinah, hal yang pertama kali dilakukan Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah adalah membentuk Majlis Syura yang beranggotakan sepuluh &#39;Ulama Madinah. Mereka antara lain: Urwah ibn Zubair, Ubaidullah ibn &#39;Abdullah ibn &#39;Utbah, Abu Bakar ibn &#39;Abdurrahman ibn Harits ibn Hisyam, Abu Bakar ibn Sulaiman ibn Abu Khaitsamah, Sulaiman ibn Yasar, Qasim ibn Muhammad, Salim ibn &#39;Abdullah ibn Umar, &#39;Abdullah ibn &#39;Abdullah ibn Umar, &#39;Abdullah ibn &#39;Amir ibn Rabi&#39;ah dan Kharijah ibn Zaid ibn Tsabit. Lalu Umar ibn &#39;Abdul Aziz pun berbicara di hadapan mereka, &quot;Aku memanggil kalian semua untuk sebuah kepentingan yang kalian akan diberi balasan karenanya dan mengajak kalian untuk berjibaku serta bahu membahu menegakkan kebenaran. Aku tidak ingin memutuskan satu perkara pun melainkan berdasarkan pendapat kalian atau salah satu dari kalian. Jika kalian mendapati seseorang berbuat aniaya atau menjumpai salah satu pegawaiku berbuat dzalim, beritahukanlkah padaku.&quot; (ath-Thabaqat [5/257]. Lihat al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn &#39;Abdul Aziz hal. 24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah pemerintahan Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah, Madinah berubah menjadi makmur dan sentosa. Salah satu prestasi kerjanya adalah perluasan Masjid Nabawi dengan panjang dan lebar: 200 X 200 hasta (Menurut Mu&#39;jam Lughah al-Fuqaha panjang 1 hasta adalah 46,2 cm, sedangkan al-Mu&#39;jam al-Wasath 64 cm), kemudian menghiasinya -meskipun sebenarnya Umar ibn &#39;Abdul Aziz sendiri tidak menyukai hal tersebut- berdasarkan perintah langsung dari Khalifah al-Walid ibn Abdul Malik. (Mausu&#39;ah Fiqh Umar ibn &#39;Abdul Aziz, karya Muhammad Rawwas Qal&#39;aji. Lihat al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn &#39;Abdul Aziz hal. 25).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak &#39;Ulama Madinah yang menolak perluasan Masjid Nabawi, karena perluasan tersebut mengakibatkan rumah Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam ikut dipugar. Sa&#39;id ibn al-Musayyab berkata: &quot;Sungguh aku berharap agar rumah Rasulullah tetap dibiarkan seperti apa adanya sehingga generasi Islam yang akan datang dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya tata cara hidup beliau yang sederhana.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan pada tahun 92 H, Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah mengundurkan diri dari jabatan gubernur disebabkan penyesalannya yang begitu mendalam karena telah memberi hukuman yang berujung kematian pada Khubaib ibn &#39;Abdullah ibn Zubair. Dan hal itu selalu terngiang-ngiang di benaknya hingga ajal menjemputnya. (Selengkapnya silahkan baca Sirah wa Manaqib Umar ibn &#39;Abdul Aziz hal. 43-44).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan Ibn Jarir dan yang lainnya menyebutkan, sebenarnya Umar ibn &#39;Abdul Aziz dibebastugaskan dari jabatan gubernur, karena &quot;perang urat syaraf&quot; yang terjadi antara beliau dan Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqafi, penguasa yang dzalim. Dan khalifah al-Walid ibn &#39;Abdul Malik sendiri lebih condong untuk menempuh jalan politik pemerintahan ala Hajjaj. (Tarikh ath-Thabari [7/383]. Dinukil dari al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn &#39;Abdul Aziz hal. 27).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikisahkan ketika Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah keluar meninggalkan Madinah, beliau menangis tersedu. Sesaat kemudian menoleh ke belakang, ke arah Madinah, seraya berkata kepada pembantunya, &quot;Hai Muzahim! Aku khawatir terhadap diriku sendiri. Jangan-jangan aku termasuk orang yang difilter Madinah&quot; (al-Bidayah wa an-Nihayah [12/683] dan Sirah Umar ibn &#39;Abdul Aziz, karya Ibn &#39;Abdul Hakam hal. 28, dinukil dari al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn &#39;Abdul Aziz hal. 28), sambil mengisyaratkan pada sebuah hadits, &#39;Ketahuilah! Madinah itu seperti pandai besi yang sedang membersihkan karat. Dan hari Kiamat tidak akan terjadi sampai Madinah ini memfilter penduduknya yang jelek, sebagaimana pandai besi membersihkan karat (yang menempel di besi)&#39;. (HR. Muslim [1381]. Lihat juga Sahih Bukhari hadits [1883] dan [1884]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Masa Kekhalifahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 716 M, Khalifah Sulaiman ibn &#39;Abdul Malik wafat. Sebelum wafatnya, ia telah menuliskan surat wasiat yang isinya agar mengangkat Umar ibn &#39;Abdul Aziz sebagai khalifah sepeninggalnya dan Yazid sebagai pengganti setelah Umar. (Lihat Tarikh ath-Thabari [7/445] dan ath-Thabaqat karya Ibn Sa&#39;ad [5/335-338]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah dibai&#39;at sebagai khalifah pada hari Jum&#39;at sepuluh hari terakhir bulan Shafar tahun 99 H. (al-Bidayah wa an-Nihayah [12/657]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam memimpin negara, beliau sangat menjunjung tinggi asas keadilan, tidak ada yang lebih penting dari itu. Disamping itu beliau juga berusaha menunaikan kewajibannya sebagai kepala negara dengan sebaik-baiknya dan menunaikan hak rakyat sebagaimana mestinya. Beliau berusaha agar tidak seorang pun -yang hidup di bawah pemerintahannya- merasa haknya terdzalimi, bahkan binatang pun tak luput dari perhatian beliau. (Lihat Al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn &#39;Abdul Aziz hal. 59).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebegitu besar sifat amanah yang dimilikinya sampai-sampai ketika ada seseorang yang bertanya, &quot;Wahai Amirul Mu&#39;minin! Kenapa engkau tampak bersedih?&quot;. Beliau menjawab, &quot;Siapa pun yang berada di posisiku sekarang ini pasti akan bersedih.&quot; &quot;Tidak seorang pun dari rakyatku kecuali aku ingin menunaikan haknya sebagaimana mestinya, meskipun ia tidak memintanya,&quot; lanjutnya. (Lihat Siyar A&#39;lam an-Nubala&#39; [5/132]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu mengutarakan alasan kenapa beliau bersedih, &quot;Aku bukanlah yang terbaik di antara kalian, tapi justru akulah yang paling berat beban dan tanggung jawabnya.&quot; (Lihat Siyar A&#39;lam an-Nubala&#39; [5/132]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keadilan, amanah dan tanggung jawabnya menjadikan rakyatnya hidup dalam kedamaian, aman, makmur dan sentosa. Hal itu terbukti dengan sedikitnya para penerima zakat di era pemerintahannya. Pernah seseorang mengeluarkan zakat dengan jumlah yang sangat besar, namun ketika ia mencari orang-orang yang berhak menerimanya, ia kembali dengan zakat masih utuh seperti semula. (Lihat Siyar A&#39;lam an-Nubala&#39; [5/132]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa pemerintahannya, beliau berhasil memulihkan keadaan negaranya dan mewujudkan masyarakat yang madani. Karena itu banyak ahli sejarah yang menyebut Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah sebagai &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/khulafaur-rasyidin.html&#39;&gt;Khulafaur Rasyidin&lt;/a&gt; yang ke-5.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Walid ibn Muslim menceritakan bahwa seorang lelaki dari Khurasan telah berkata, &quot;Aku telah beberapa kali mendengar suara datang dalam mimpiku yang berbunyi: &#39;Jika seorang yang berani dari Bani Marwan dilantik menjadi Khalifah, maka berilah bai&#39;at kepadanya karena dia adalah pemimpin yang adil&#39;. Lalu aku menanti-nanti sehinggalah Umar ibn &#39;Abdul Aziz menjadi Khalifah, akupun mendapatkannya dan memberi bai&#39;at kepadanya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Qais ibn Jabir berkata, &quot;Perbandingan Umar ibn &#39;Abdul Aziz di sisi Bani Ummaiyyah seperti orang yang beriman di kalangan keluarga Fir&#39;aun.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hassan al-Qishab telah berkata, &quot;Aku melihat serigala diternak bersama dengan sekumpulan kambing di zaman Khalifah Umar ibn &#39;Abdul Aziz.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar ibn Asid telah berkata, &quot;Demi Allah, Umar ibn &#39;Abdul Aziz tidak meninggal dunia sehingga datang seorang lelaki dengan harta yang bertimbun dan lelaki tersebut berkata kepada orang ramai: &#39;Ambillah hartaku ini sebanyak mana yang kamu mau&#39;. Tetapi tiada yang mau menerimanya (karena semua sudah kaya) dan sesungguhnya Umar telah menjadikan rakyatnya kaya-raya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Atha&#39; telah berkata, &quot;Umar ibn &#39;Abdul Aziz mengumpulkan para fuqaha&#39; setiap malam. Mereka saling ingat memperingati di antara satu sama lain tentang mati dan hari qiamat, kemudian mereka sama-sama menangis karena takut kepada azab Allah seolah-olah ada jenazah di antara mereka.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Istri-Istri dan Putra-Putri Umar ibn &#39;Abdul Aziz&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istri pertamanya adalah wanita yang shalihah dari kalangan Bani Umayyah, ia merupakan putri dari Khalifah &#39;Abdul Malik ibn Marwan yaitu Fathimah. Ia memiliki nasab yang mulia, putri khalifah, kakeknya juga khalifah, saudara perempuan dari para khalifah, dan istri dari khalifah yang mulia Umar ibn &#39;Abdul Aziz, namun hidupnya sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istrinya yang lain adalah Lamis binti &#39;Ali, Ummu &#39;Utsman binti Syu&#39;aib, dan Ummu Walad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari istri-istrinya tersebut, Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah mempunyai beberapa orang anak, di antara mereka adalah &#39;Abdul Malik, &#39;Abdul Aziz, &#39;Abdullah, Ibrahim, Ishaq, Ya&#39;qub, Bakar, al-Walid, Musa, &#39;Ashim, Yazid, Zaban, &#39;Abdullah, serta tiga anak perempuan, Aminah, Ummu Ammar dan Ummu &#39;Abdillah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Keutamaan Umar ibn &#39;Abdul Aziz&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Paling Takut Kepada Allah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari al-Mughirah ibn Hukaim, dia berkata: Fathimah binti &#39;Abdul Malik ibn Marwan, dia berkata kepadaku, &quot;Wahai Mughirah, mungkin saja ada orang yang lebih baik shalat dan puasanya daripada Umar ibn &#39;Abdul Aziz, akan tetapi aku belum pernah melihat seorangpun yang lebih banyak takut dan lebih banyak menangis di hadapan Tuhannya daripada Umar ibn &#39;Abdul Aziz. Jika dia masuk ke rumahnya, dia langsung bersujud, dia terus saja menangis hingga kedua matanya tertidur, kemudian terbangun dan menangis lagi dan lagi. Dia menghabiskan sebagian besar malamnya seperti itu.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ibadahnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Zaid ibn Aslam bahwa Anas ibn Malik radhiyallahu &#39;anhu telah berkata, &quot;Aku tidak pernah menjadi ma&#39;mum di belakang imam selepas wafatnya Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang mana shalat imam tersebut menyamai shalat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam melainkan daripada Umar ibn &#39;Abdul Aziz dan beliau pada masa itu adalah gubernur Madinah.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keilmuannya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ahli yang menulis biografi Umar ibn &#39;Abdul Aziz sepakat bahwa beliau termasuk salah satu Imam (panutan dalam ilmu pengetahuan) di zamannya, sebagaimana ditegaskan Malik dan Sufyan ibn Uyainah (Lihat al-Atsar al-Waridah An Umar ibn &#39;Abdul Aziz [1/67]). Di samping itu beliau juga digelari al-&#39;Allamah (yang luas ilmunya), al-Mujtahid (ahli Ijtihad), dan al-Hafidz (panutan dalam ilmu hadits). (Lihat Siyar A&#39;lam an-Nubala&#39; [5/114]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mujahid pernah bercerita: &quot;Dulu kami pernah mendatangi Umar ibn &#39;Abdul Aziz karena ingin mengajarinya beberapa hal, namun justru kamilah yang diajarinya.&quot; (Tahdzib at-Tahdzib, karya Ibn Hajar [7/419]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maimun ibn Mihran juga pernah berkomentar: &quot;Di hadapan Umar ibn &#39;Abdul Aziz, para &#39;Ulama hanyalah bagaikan murid.&quot; (Tahdzib at-Tahdzib, karya Ibn Hajar [7/419]. Lihat juga al-Bidayah wa an-Nihayah [12/682] dan Siyar A&#39;lam an-Nubala&#39; [5/120]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan para &#39;Ulama lain pun tidak segan-segan berhujjah dengan perkataan dan perbuatan beliau. Di antaranya: Laits ibn Sa&#39;id ketika menulis surat untuk Malik ibn Anas menyebutkan nama beliau berkali-kali untuk menguatkan pendapatnya sendiri dalam beberapa persoalan. (Lihat al-Atsar al-Waridah An Umar ibn &#39;Abdul Aziz [1/70]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih dari itu, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi&#39;i dan Imam Ahmad sering menyebut nama beliau dalam beberapa kitab mereka. (Selengkapnya silahkan baca al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn &#39;Abdul Aziz hal. 22).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ahmad berkomentar: &quot;Aku tidak mengetahui seorang pun dari kalangan Tabi&#39;in yang perkataannya dijadikan hujjah selain Umar ibn &#39;Abdul Aziz. Dan ini cukup (sebagai saksi akan keilmuan beliau).&quot; (Lihat al-Bidayah wa an-Nihayah [12/677]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau melanjutkan: &quot;Jika engkau mendapati seseorang yang mencintai Umar ibn &#39;Abdul Aziz, lalu menyebut-nyebut kebaikan dan menyebarkannya. Ketahuilah di balik itu semua ada kebaikan (yang menunggu), insya Allah.&quot; (Sirah wa Manaqib Umar ibn &#39;Abdul Aziz hal. 74).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kezuhudannya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Maslamah ibn &#39;Abdul Malik, dia berkata, Aku menemui Umar ibn &#39;Abdul Aziz untuk menjenguknya karena sakit. Saat itu dia mengenakan baju yang sudah jelek dan kotor, kemudian aku berkata kepada Fathimah binti &#39;Abdul Malik, istrinya, &quot;Wahai Fathimah, cucilah baju Amirul Mu&#39;minin.&quot; Sang istri berkata, &quot;Insya Allah akan aku lakukan.&quot; Selang beberapa waktu, aku pun kembali menjenguknya dan ternyata bajunya masih yang itu juga, sehingga aku pun berkata kepada istrinya, &quot;Wahai Fathimah, tidakkah aku telah memintamu untuk membersihkan dan mengganti pakaian Amirul Mu&#39;minin, karena banyak warga yang ingin menjenguknya?&quot; Fathimah berkata, &quot;Demi Allah, dia tidak mempunyai baju yang selain itu.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Malik ibn Dinar, dia berkata: Orang-orang berkata, &quot;Malik ibn Dinar adalah orang yang zuhud,&quot; akan tetapi sebenarnya orang yang bisa dikatakan zuhud itu adalah Umar ibn &#39;Abdul Aziz yang dikaruniai kemewahan dunia dengan segala isinya akan tetapi dia memilih untuk meninggalkannya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kewara&#39;annya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ja&#39;wanah berkata, &quot;Ketika &#39;Abdul Malik ibn Umar ibn &#39;Abdul Aziz meninggal dunia, Umar ibn &#39;Abdul Aziz terlihat bersyukur karenanya. Kemudian, sesorang berkata kepadanya, &quot;Wahai Amirul Mu&#39;minin, jika dia masih hidup, apakah anda akan mengangkatnya sebagai putra mahkota?&quot; Dengan tegas Umar menjawab, &quot;Tidak.&quot; Orang itu bertanya lagi, &quot;Mengapa tidak, dan anda malah bersyukur atas kematiannya?&quot; Dia menjawab, &quot;Aku takut dia akan menjadi perhiasan di mataku (yang dapat menghalanginya dari kebenaran), seperti perhiasan seorang anak pada orang tuanya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Yahya ibn Said, dia berkata, &quot;Abdul Humaid ibn &#39;Abdurrahman menulis sepucuk surat kepada Umar ibn &#39;Abdul Aziz. Dalam suratnya itu dia berkata, &quot;Sesungguhnya telah ada pengaduan kepadaku tentang seseorang yang mencaci anda, kemudian aku berniat membunuhnya. Akan tetapi, aku membatalkannya hingga akhirnya aku berinisiatif menulis surat kepada anda untuk meminta pendapat anda.&quot; Umar ibn &#39;Abdul Aziz berkata, &quot;Seseorang tidak berhak untuk dibunuh hanya karena mencaci orang lain, kecuali yang mencaci Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Jadi, caci makilah dia jika kamu menginginkannya, kemudian&lt;br /&gt;
lepaskan.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kerendahan Hatinya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Raja&#39; ibn Haiwah, dia berkata, &quot;Aku pernah begadang malam bersama Umar ibn &#39;Abdul Aziz, tiba-tiba lampu padam. Lalu aku bergegas untuk berdiri dan memperbaikinya, akan tetapi Umar ibn &#39;Abdul Aziz melarangku. Setelah itu, dia memperbaikinya sendiri dan duduk kembali, lalu dia berkata, &quot;Jika kamu duduk, maka aku tetap Umar ibn &#39;Abdul Aziz (orang biasa yang tak perlu diistimewakan). Dan jika kamu berdiri, maka aku juga tetap Umar ibn &#39;Abdul Aziz dan celakalah seseorang yang memperkerjakan tamunya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Wafatnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah meninggal dunia di Dir Sam&#39;an, pada tanggal 10 atau 5 bulan Rajab tahun 101 Hijriyah akibat diracun oleh pembantunya. Saat itu beliau genap berusia 39 tahun 6 bulan. Beliau meninggal setelah memerintah selama 2 tahun 5 bulan. Namun, di balik masa pemerintahannya yang singkat tersebut, beliau telah berbuat banyak untuk peradaban manusia dan Islam secara khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn al-Jauzi dalam kitab&lt;br /&gt;
sirah-nya, dia berkata: Ada yang memberitahukan kepadaku bahwa al-Manshur berkata kepada &#39;Abdurrahman ibn al-Qasim, &quot;Berilah aku nasehat!&quot; Dia berkata, &quot;Dengan apa yang pernah aku lihat atau dengan apa yang pernah aku dengar?&quot; Dia berkata, &quot;Dengan apa yang pernah yang anda lihat.&quot; Dia berkata, &quot;Umar ibn &#39;Abdul Aziz meninggal dunia, dengan meninggalkan 11 putra, harta warisannya 17 dinar. Harta itu lalu digunakan mereka untuk membeli kain kafan 5 dinar dan kuburannya 2 dinar. Dan yang tersisa dibagikan kepada semua anggota keluarga dan setiap mereka mendapat 19 dirham. Hisyam ibn &#39;Abdul Malik meninggal dunia, dia meninggalkan 11 putera, harta warisannya dibagikan kepada anak-anaknya itu dan masing-masing mendapatkan ribuan dinar. Dan aku pernah melihat seorang lelaki dari keturunan Umar ibn &#39;Abdul &#39;Aziz membawa seratus kuda perang untuk dishadaqahkan guna dipakai berperang di jalan Allah dalam satu hari, dan aku melihat seorang lelaki dari keturunan Hisyam ibn &#39;Abdul Malik diberikan shadaqah (karena sudah jatuh miskin).&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai Umar ibn &#39;Abdul Aziz, dan menempatkan beliau kepada kedudukan yang tinggi di sisi Rabbnya. Amiin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Biografi Umar ibn &#39;Abdul Aziz selengkapnya lihat kitab-kitab berikut:&lt;br /&gt;
- al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar ibn &#39;Abdul Aziz, karya Ibn Katsir&lt;br /&gt;
- Sirah wa Manaqib Umar ibn &#39;Abdul Aziz, karya Ibn al-Jauzi&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/306706625867619302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/306706625867619302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/umar-ibn-abdul-aziz.html' title='Tabi&#39;in : Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah, Khulafaur Rasyidin ke-5'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-4247692151092392650</id><published>2012-01-04T02:58:00.002+07:00</published><updated>2012-01-04T03:04:34.980+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ahlul Bait"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><title type='text'>Ahlul Bait : al-Imam as-Sayyid al-Hasan radhiyallahu &#39;anhuma</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Nama Lengkap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama lengkap beliau adalah al-Hasan ibn &#39;Ali ibn Abi Thalib ibn &#39;Abdul Muththalib ibn Hasyim ibn &#39;Abdi Manaf ibn Qushay al-Qurasyi al-Hasyimiy. Kunyahnya adalah Abu Zaid. Beliau adalah seorang imam yang mulia, cucu kesayangan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, di samping &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/al-husain-ibn-ali.html&#39;&gt;al-Husain&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhuma. Ayahnya adalah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/ali-ibn-abi-thalib.html&#39;&gt;&#39;Ali ibn Abi Thalib&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu dan ibunya yaitu &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/fathimah-binti-rasulullah.html&#39;&gt;Fathimah binti Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/a&gt;. Nama al-Hasan pertama kali digunakan untuk beliau dan diberikan langsung oleh Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Beliau mempunyai banyak gelar, di antaranya adalah al-Imam as-Sayyid, Raihanatu Rasulullah, serta Sayyidu Sabab Ahlul Jannah (pemimpin pemuda ahli surga), beliau juga bergelar Abu Muhammad al-Qurasyi al-Hasymi al-Madani asy-Syahid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau dilahirkan pada bulan Sya&#39;ban tahun ke-3 dari hijrahnya Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, ada juga yang mengatakan beliau dilahirkan pada pertengahan bulan Ramadhan, dan beliau di-aqiqahi langsung oleh Rasulullah dan juga memotong rambutnya, sebagaimana yang tertera dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ibn Abbas radhiyallahu &#39;anhu dengan sanad yang shahih: &quot;Rasulullah meng-aqiqahi al-Hasan dengan domba, dan juga kepada al-Husain.&quot; (HR. Abu Daud [2841]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sangat mencintai dan menyayangi kedua cucunya ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abdullah ibn Mas&#39;ud radhiyallahu &#39;anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam berkata tentang al-Hasan dan al-Husain, &quot;Mereka berdua adalah dua orang anakku. Barangsiapa mencintai mereka berdua, berarti mencintai aku, dan barangsiapa membenci mereka berdua, berarti membenciku.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan Rasulullah pernah mendo&#39;akannya kepada Allah yang tidak pernah seorangpun pernah mendapat do&#39;a seagung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam berdo&#39;a, &quot;Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia dan cintailah orang-orang yang mencintainya.&quot; (HR. Tirmidzi [3782]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Hasan dan al-Husain adalah penghulu dari para pemuda di surga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Sahabat Hudzaifah radhiyallahu &#39;anhu, &quot;Wahai Hudzaifah sesungguhnya telah datang Jibril kepadaku, dia menyampaikan kabar gembira kepadaku, bahwa kedua cucuku ini (al-Hasan dan al-Husain) penghulu pemuda di surga.&quot; (Diriwayatkan oleh Ahmad [4/172], Ibn Majah [3666], Baihaqi, dalam kitab Asma&#39; wa Sifat [164]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah ditanya siapakah orang yang paling beliau cintai dari keluarga beliau. Beliau bersabda, &quot;al-Hasan dan al-Husain.&quot; (Diriwayatkan oleh Tirmidzi [3772]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecintaan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam kepada cucunya al-Hasan ibn &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhuma terlihat jelas bahkan ketika beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam dalam keadaan shalat, yang mana ketika itu al-Hasan naik ke punggung Rasulullah ketika dalam keadaan sujud, akan tetapi Rasulullah menunggunya hingga ia pergi dan menyingkir dari punggung Rasulullah tersebut, dan setelah selesai menjalankan shalat para Sahabat berkata kepada beliau, &quot;Wahai Rasulullah, engkau lama dalam sujud, ada apa gerangan?&quot; Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menjawab, &quot;Sesungguhnya cucuku menaikiku, dan aku tidak suka apabila aku mendorongnya sampai ia selesai melaksanakan hajatnya kepadaku.&quot; (Dalam Musnad [3/493-494], Nasa&#39;i [2/229-230]). Dan dalam riwayat lain Sahabat berkata, &quot;Wahai Rasulullah, engkau sungguh sangat menyayangi anak ini yang tidak engkau lakukan kepada yang lainnya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah berkata tentang al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma, &quot;al-Hasan adalah seperti aku dan al-Husain seperti &#39;Ali.&quot; (Mu&#39;jam Thabrani [2622]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Hasan ibn &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhuma adalah sosok yang sangat dermawan, ketaqwaannya adalah yang terbaik di zamannya, bahkan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengabarkan bahwa &#39;al-Hasan adalah orang yang akan menjadi penyelesai masalah antara dua kelompok kaum Muslimin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abi Ishaq, dari Haritsah, beliau berkata bahwa &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhu pernah berseru, &quot;Wahai manusia sesunguhnya al-Hasan telah mengumpulkan harta yang banyak, dan ia ingin membagikannya kepada kalian.&quot; Maka berdatanganlah manusia, kemudian al-Hasan berkata, &quot;Sesungguhnya aku mengumpulkan harta selama ini hanya untuk orang faqir miskin.&quot; (Tahjib Ibn Asakir [4/217]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan bahwa al-Hasan radhiyallahu &#39;anhuma pernah membagi-bagikan hartanya seluruhnya sebanyak dua kali dan membagikan sebagian dari hartanya sebanyak tiga kali. (Siyar A&#39;lam Nubala&#39; [3/267]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan beliau pernah memberi hadiah kepada orang yang telah melengserkan beliau dari kekhalifahan yaitu Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan radhiyallahu &#39;anhu dengan hadiah yang tidak pernah beliau berikan kepada seorangpun yaitu 400.000 dinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan dari Mughayyirah ibn Muqsim dari Ummu Musa bahwasanya al-Hasan radhiyallahu &#39;anhuma apabila beranjak hendak ke tempat tidurnya beliau menuntaskan membaca surat al-Kahfi terlebih dahulu sebelum tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan diriwayatkan bahwa beliau pergi haji sebanyak 15 kali dengan berjalan kaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Hasan radhiyallahu &#39;anhuma pernah jatuh sakit selama sebulan, kamudian beliau paksa dirinya agar bisa berkhutbah di depan umum, beliau berkata, &quot;Bertaqwalah kepada Allah, aku adalah pemimpin kalian dan aku juga adalah orang yang paling lemah di antara kalian, dan Allah pernah berfirman tentang kami: &#39;Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya&#39;.&quot; Maka yang terjadi adalah jama&#39;ah yang mendengar itu semuanya menjadi menangis dan suasana menjadi hiruk pikuk dengan suara tangis yang banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau dikenal di kalangan kawan dan musuh sebagai orang yang pandai dalam bertutur kata dan berdebat, Mu&#39;awiyah pernah berpesan kepada para sahabatnya agar tidak melakukan perdebatan kepada al-Hasan ibn &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhuma karena kecakapan beliau dan kejeniusan serta mengeluarkan ide secara spontanitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Hasan radhiyallahu &#39;anhuma juga dikenal sebagai pemimpin berkat mewarisi tabiat ayahnya yang merupakan seorang Khalifah Rasulullah yang keempat, &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu. Beliau juga pernah menjabat sebagai khalifah mengantikan ayahnyanya pasca terbunuhnya ayahnyanya di tangan orang munafiq pada tahun 40 H. Saat itu beliau dibai&#39;at lebih dari 40000 orang, akan tetapi dengan pertimbangan kemaslahatan bagi ummat Islam agar tidak terjadinya perpecahan dan pembunuhan serta peperangan di kalangan ummat Islam beliau rela turun dari jabatannya setelah 6 bulan menjabat, kemudian tampuk kekuasaan diserahkan kepada Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan. Pada tahun itu disebut dengan Amm Jama&#39;ah (Tahun persatuan jama&#39;ah kaum Muslimin).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka benarlah sabda Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam akan beliau sebagai penyatu ummat Islam, Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah bersabda, &quot;Cucuku ini adalah pemimpin (sayyid), semoga kelak Allah mendamaikan dengan perantaranya dua kelompok besar kaum Muslimin.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama hidupnya, al-Hasan ibn &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhuma telah meriwayatkan 13 hadits dari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Beliau wafat di Madinah pada tahun 50 H, dan jasadnya dimakamkan di Baqi&#39;, Madinah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai al-Hasan ibn &#39;Ali dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/4247692151092392650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/4247692151092392650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/al-hasan-ibn-ali.html' title='Ahlul Bait : al-Imam as-Sayyid al-Hasan radhiyallahu &#39;anhuma'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-3599067678589217642</id><published>2012-01-04T02:44:00.002+07:00</published><updated>2012-01-04T02:55:12.160+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ahlul Bait"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><title type='text'>Ahlul Bait : al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma, Pemimpin Pemuda di Surga</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Nama Lengkap dan Nasab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama lengkap beliau adalah al-Husain ibn &#39;Ali ibn Abi Thalib ibn &#39;Abdul Muththalib ibn Hasyim ibn &#39;Abdi Manaf ibn Qushay al-Qurasyi al-Hasyimiy. Kunyahnya adalah Abu &#39;Abdillah. Beliau adalah seorang imam yang mulia, cucu  kesayangan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, di samping &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/al-hasan-ibn-ali.html&#39;&gt;al-Hasan&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhuma. Ayahnya adalah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/ali-ibn-abi-thalib.html&#39;&gt;&#39;Ali ibn Abi Thalib&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu dan ibunya yaitu &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/fathimah-binti-rasulullah.html&#39;&gt;Fathimah binti Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma dilahirkan pada tanggal 5 Sya&#39;ban tahun ke-4 Hijriyah, dan jarak umur antara beliau dengan al-Hasan radhiyallahu &#39;anhuma, kakaknya, menurut sebagian &#39;Ulama adalah satu kali masa suci ditambah masa kehamilan. (Lihat al-Bidayah wan Nihayah [7/149]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Beberapa Sifat al-Husain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara fisik, al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma lebih mirip dengan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pada bagian dada sampai kaki, sementara al-Hasan radhiyallahu &#39;anhuma lebih mirip dengan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pada wajahnya. (Lihat al-Bidayah wan Nihayah [8/150]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang sifat al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma lainnya, antara lain sebagaimana yang dibawakan oleh adz-Dzahabi rahimahullah dari riwayat Sa&#39;id ibn &#39;Amr, ia berkata: Sesungguhnya al-Hasan radhiyallahu &#39;anhuma pernah berkata kepada al-Husain radhiyallahu &#39;anhu: &quot;Betapa ingin aku memiliki sebagian kekerasan hatimu.&quot; Lalu al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma menjawab: &quot;Dan betapa ingin aku memiliki sebagian kelembutan lidahmu.&quot; (Lihat Siyar A&#39;lam Nubala&#39; [3/287]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Kedudukan al-Husain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Husain ibn &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhuma adalah seorang Imam di antara imam-imam Ahlussunnah, beliau memiliki kedudukan mulia di sisi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan sangat dicintainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibn Abi Nu&#39;mi rahimahullah, ia berkata: Aku mendengar Ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma ketika ditanya oleh seseorang (yang datang dari Iraq) tentang hukum orang yang berihram -(kata Syu&#39;bah: saya menduga ia bertanya tentang hukum) membunuh lalat-. Maka Ibn Umar berkata: &quot;(Lihatlah) orang-orang Irak bertanya tentang hukum membunuh seekor lalat, padahal mereka telah membunuh putra dari putri Rasululah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Padahal Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam telah bersabda: &#39;Keduanya (al-Hasan dan al-Husain) adalah dua buah tangkai bungaku di dunia&#39;.&quot; (Riwayat al-Bukhari dan lainnya, Fathul Bari [7/95], no. 3753).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
adz-Dzahabi rahimahullah dalam Siyar A&#39;lam Nubala&#39; membawakan riwayat dari Jabir radhiyallahu &#39;anhu yang ketika melihat al-Husain ibn &#39;Ali masuk ke dalam Masjid mengatakan: &quot;Barangsiapa yang ingin melihat seorang sayyid (pemuka) dari para pemuda ahli surga maka lihatlah al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma ini. Saya mendengar hal itu dari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. (Lihat Siyar A&#39;lam Nubala [3/282-283]. Dikatakan oleh pen-tahqiq Siyar A&#39;lam Nubala&#39; bahwa para perawinya adalah para perawi yang dipakai dalam Kitab Shahih, kecuali ar-Raba&#39; ibn Sa&#39;d, tetapi ia tsiqah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kitab yang sama, adz-Dzahabi rahimahullah juga membawakan riwayat dari Ummu Salamah radhiyallahu &#39;anha, ia berkata: Sesungguhnya Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam menyelimuti &#39;Ali, Fathimah serta kedua anaknya (al-Hasan dan al-Husain) dengan sebuah selimut, kemudian beliau bersabda: &quot;Ya Allah, mereka adalah ahli bait putriku dan kesayanganku. Ya Allah, hilangkanlah kotoran dari mereka, dan sucikanlah mereka dengan sesuci-sucinya.&quot; Aku (Ummu Salamah) bertanya: &quot;Apakah aku termasuk mereka?&quot; Beliau menjawab: &quot;Sesungguhnya engkau menuju kepada kebaikan.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini dikatakan oleh adz-Dzahabi rahimahullah bahwa isnad-nya jayyid (baik), diriwayatkan dari beberapa jalan dari Syahr. Sementara pen-tahqiq mengatakan, hadits itu shahih dengan syawahidnya. (Lihat Siyar A&#39;lam Nubala&#39; [3/283]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam juga bersabda: &quot;al-Husain termasuk bagian dariku dan aku termasuk bagian darinya, Allah akan mencintai siapa saja yang mencintai al-Husain. Dan al-Husain adalah satu ummat di antara ummat-ummat yang lain dalam kebaikannya.&quot; (Hadits ini hasan, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ibn Majah. Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi, karya Syaikh al-Albani [3/539] no. 3775 - Maktabah al-Ma&#39;arif - Riyadh, cet. I dari terbitan yang baru th. 1420 H/2000 M. Dan Shahih Sunan Ibn Majah karya Syaikh al-Albani [1/64-65] no. 118-143 - Maktabah al-Ma&#39;arif - Riyadh, cet. I dari terbitan yang baru th. 1417 H/1997 M).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah kedudukan al-Husain ibn &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhuma. Beliau sempat hidup bersama Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam selama sekitar 5 tahun. Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sangat menyayangi dan memuliakannya sebagaimana menyayangi dan memuliakan al-Hasan radhiyallahu &#39;anhuma hingga beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam wafat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepeninggal Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abu-bakar-ash-shiddiq.html&#39;&gt;Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/a&gt;, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/umar-ibn-al-khaththab.html&#39;&gt;Umar ibn al-Khaththab&lt;/a&gt; dan &#39;&lt;a href=&#39;waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/utsman-ibn-affan.html&#39;&gt;Utsman ibn Affan&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhuma pun sangat mencintai, memuliakan dan mengagungkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu diangkat menjadi khalifah, dan pusat pemerintahan pindah ke Kuffah, al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma ikut bersama ayahnya ke Kuffah. Dan beliau selalu menyertai ayahnya, &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu sampai wafatnya. Setelah Aam Jama&#39;ah, yaitu setelah al-Hasan radhiyallahu &#39;anhuma menyerahkan kekhalifahan kepada Mu&#39;awiyah ibn Sufyan pada tahun 41 H, beliau kemudian menetap di Madinah bersama kakaknya, al-Hasan radhiyallahu &#39;anhuma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/muawiyah-ibn-abu-sufyan.html&#39;&gt;Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu resmi menjadi khalifah, maka Mu&#39;awiyah juga sangat memuliakannya, bahkan sangat memperhatikan kehidupan al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma dan saudaranya, sehingga sering memberikan hadiah kepada keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, semua &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/sahabat-nabi.html&#39;&gt;Sahabat Nabi&lt;/a&gt; shallallahu &#39;alaihi wa sallam memuliakan al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma sebagaimana mereka memuliakan al-Hasan radhiyallahu &#39;anhuma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
adz-Dzahabi rahimahullah membawakan riwayat dari Ibn al-Muhazzim rahimahullah yang mengatakan: &quot;Pernah kami sedang menghadiri suatu jenazah. Lalu, datanglah Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu yang dengan bajunya mengibaskan debu-debu yang ada pada kaki al-Husain.&quot; (Lihat Siyar A&#39;lam Nubala&#39; [3/287]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, ketika Yazid ibn Mu&#39;awiyah diangkat sebagai khalifah, al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma bersama &#39;Abdullah ibn az-Zubair radhiyallahu &#39;anhu termasuk yang tidak mau berbai&#39;at kepadanya. Bahkan penolakan itu terjadi sebelum Mu&#39;awiyah radhiyallahu &#39;anhu wafat ketika Yazid sudah ditetapkan sebagai calon khalifah pengganti Mu&#39;awiyah. Oleh karena itu, beliau berdua keluar dari Madinah dan menuju Makkah. Kemudian keduanya menetap di Makkah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Wafatnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para &#39;Ulama berselisih pendapat tentang kapan al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma wafat. Tetapi, adz-Dzahabi, Ibn Katsir dan Ibn Hajar al-&#39;Asqalani lebih menguatkan bahwa wafatnya pada hari &#39;Asyura bulan Muharam tahun 61 H. (Lihat Siyar A&#39;lam Nubala [3/318], al-Bidayah wan Nihayah [8/172], Tahdzab at-Tahdzab [2/356]). Sedang umurnya juga diperselisihkan, ada yang mengatakan 58 tahun, 55 tahun dan 60 tahun. Tetapi Ibn Hajar rahimahullah menguatkan bahwa umur beliau 56 tahun. (Tahdzab at-Tahdzab [2/356]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauh hari sebelum al-Husain ibn &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhuma terbunuh, Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah menceritakan bahwa al-Husain akan wafat dalam keadaan terbunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
adz-Dzahabi rahimahullah membawakan beberapa riwayat tentang itu, di antaranya dari &#39;Ali radiyallahu &#39;anhu, beliau berkata: Aku datang kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam ketika kedua mata beliau bercucuran air mata, lalu beliau bersabda: &quot;Jibril baru saja datang, ia menceritakan kepadaku bahwa al-Husain kelak akan mati dibunuh. Kemudian Jibril berkata: &#39;Apakah engkau ingin aku ciumkan kepadamu bau tanahnya?&#39;. Aku menjawab: &#39;Ya.&#39; Jibril lalu menjulurkan tangannya, ia menggenggam tanah satu genggaman. Lalu ia memberikannya kepadaku. Sehingga karena itulah aku tidak kuasa menahan air mataku.&quot; (Lihat Siyar A&#39;lam Nubala&#39; [3/288-289]. Pen-tahqiq kitab ini (Muhammad Na&#39;im al-&#39;Arqasusy dan Ma&#39;man Shagharjiy) mengatakan, hadits itu dan yang senada diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Thabrani dan lain-lain, sedangkan para perawinya oleh al-Haitsami dikatakan sebagai para perawi yang tsiqah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata Ibnul Arabi dalam kitabnya al-Awashim minal Qawashim: &quot;Disebutkan oleh ahli tarikh bahwa surat-surat berdatangan dari ahli Kuffah kepada al-Husain (setelah meninggalnya Mu&#39;awiyah radhiyallahu &#39;anhu). Kemudian al-Husain mengirim Muslim ibn &#39;Aqil, anak pamannya kepada mereka untuk membai&#39;at mereka dan melihat bagaimana keikutsertaan mereka. Maka Ibn Abbas radhiyallahu &#39;anhu memberitahu&lt;br /&gt;
beliau (al-Husain) bahwa mereka dahulu pernah mengkhianati bapak dan saudaranya. Sedangkan Ibn Zubair mengisyaratkan kepadanya agar dia berangkat, maka berangkatlah al-Husain. Sebelum sampai beliau di Kuffah ternyata Muslim ibn &#39;Aqil telah terbunuh dan diserahkan kepadanya oleh orang-orang yang memanggilnya. &quot;Cukup bagimu ini sebagai peringatan bagi yang mau mengambil peringatan&quot; (kelihatannya yang dimaksud adalah ucapan Ibn Abbas kepada al-Husain -pent.). Tetapi beliau radhiyallahu &#39;anhu tetap melanjutkan perjalanannya dengan marah karena dien dalam rangka menegakkan al-haq. Bahkan beliau tidak mendengarkan nasehat orang yang paling &#39;alim pada zamannya yaitu Ibn Abbas radhiyallahu &#39;anhu dan menyalahi pendapat syaikh para Shahabat yaitu Ibn Umar. Beliau mengharapkan permulaan pada akhir (hidup -pent.), mengharapkan kelurusan dalam kebengkokan dan mengharapkan keelokan pemuda dalam rapuh ketuaan. Tidak ada yang sepertinya di sekitarnya, tidak pula memiliki pembela-pembela yang memelihara haknya atau yang bersedia mengorbankan dirinya untuk membelanya. Akhirnya kita ingin mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah al-Husain, maka datang kepada kita musibah yang menghilangkan kebahagiaan zaman.&quot; (Lihat al-Awashim minal Qawashim oleh Abu Bakar Ibnul &#39;Arabi dengan tahqiq dan ta&#39;liq Syaikh Muhibbuddin al-Khatib, hal. 229-232).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud oleh beliau dengan ucapannya &quot;Kita ingin mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah al-Husain&quot; adalah bahwa niat al-Husain dengan sebagian kaum Muslimin untuk mensucikan bumi dari khamr Yazid yang hal ini masih merupakan tuduhan-tuduhan dan tanpa bukti, tetapi hasilnya justru kita menodai bumi dengan darah al-Husain yang suci. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhibbudin al-Khatib dalam ta&#39;liq-nya terhadap buku al-Awashim minal Qawashim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma ditahan oleh tentara Yazid, Samardi al-Jausyan mendorong &#39;Abdullah ibn Ziyad untuk membunuhnya. Sedangkan al-Husain meminta untuk dihadapkan kepada Yazid atau dibawa ke front untuk berjihad melawan orang-orang kafir atau kembali ke Makkah. Namun mereka tetap membunuh al-Husain dengan dzalim sehingga beliau meninggal dengan syahid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah berkata: &quot;al-Husain terbunuh di Karbala di dekat Eufrat dan jasadnya dikubur di tempat terbunuhnya, sedangkan kepalanya dikirim ke hadapan &#39;Ubaidillah ibn Ziyad di Kuffah. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dan dari para imam yang lain. Adapun tentang dibawanya kepala beliau kepada Yazid telah diriwayatkan dalam beberapa jalan yang munqathi&#39; (terputus) dan tidak benar sedikitpun tentangnya. Bahkan dalam riwayat-riwayat tampak sesuatu yang menunjukkan kedustaan dan pengada-adaan riwayat tersebut. Disebutkan padanya bahwa Yazid menusuk gigi taringnya dengan besi, dan bahwasanya sebagian para Sahabat yang hadir seperti Anas ibn Malik, Abu Barzah dan lain-lain mengingkarinya. Hal ini adalah pengkaburan, karena sesungguhnya yang menusuk dengan besi adalah &#39;Ubaidillah ibn Ziyad. Demikian pula dalam kitab-kitab shahih dan musnad, bahwasanya mereka menempatkan Yazid di tempat &#39;Ubaidillah ibn Ziyad. Adapun &#39;Ubaidillah, tidak diragukan lagi bahwa dialah yang memerintahkan untuk membunuhnya (al-Husain) dan memerintahkan untuk membawa kepalanya ke hadapan dirinya. Dan akhirnya Ibn Ziyad pun dibunuh karena itu. Dan lebih jelas lagi bahwasanya para Sahabat yang tersebut tadi seperti Anas dan Abu Barzah tidak berada di Syam, melainkan berada di Iraq ketika itu. Sesungguhnya para pendusta adalah orang-orang jahil (bodoh), tidak mengerti apa-apa yang menunjukkan kedustaan mereka.&quot; (Lihat Majmu&#39; Fatawa [4/507-508]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Ubaidillah ibn Ziyad adalah Amir (Gubernur) Bashrah pada masa pemerintahan Yazid ibn Mu&#39;awiyah dan yang kemudian oleh Yazid diangkat pula sebagai Amir Kuffah menggantikan Nu&#39;man ibn Basyir radhiyallahu &#39;anhu. &#39;Ubaidillah ibn Ziyad inilah yang memobilisasi perang melawan al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma, dan bahkan menekan dengan ancaman kepada Umar ibn Sa&#39;ad ibn Abi Waqqash untuk memeranginya. Meskipun sesungguhnya Umar ibn Sa&#39;ad sangat tidak menyukai tugas ini. Bahkan akhirnya beliau menyesal dan mengatakan: &quot;Tidak ada seorang pun yang pulang kepada keluarganya dengan membawa suatu keburukan sebagaimana yang aku bawa. Aku telah menaati &#39;Ubaidillah ibn Ziyad, tetapi aku telah durhaka kepada Allah dan telah memutuskan tali silaturrahim.&quot; (Lihat Siyar A&#39;lam Nubala&#39; [3/300 dan 303]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah juga memberikan komentar tentang terbunuhnya al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma sebagai berikut: &quot;Ketika al-Husain ibn &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhuma terbunuh pada hari &#39;Asyura, yang dilakukan oleh sekelompok orang dzalim yang melampaui batas, dan dengan demikian berarti Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala telah memuliakan al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma untuk memperoleh kematian sebagai syahid, sebagaimana Allah Azza wa Jalla juga telah memuliakan Ahlu Baitnya yang lain dengan mati syahid, seperti halnya Allah Azza wa Jalla telah memuliakan Hamzah, Ja&#39;far, ayahnya yaitu &#39;Ali dan lain-lain dengan mati syahid. Dan mati syahid inilah salah satu cara Allah Azza wa Jalla untuk meninggikan kedudukan serta derajat al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma. Maka, ketika itulah sesungguhnya al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma dan saudaranya, yaitu al-Hasan radhiyallahu &#39;anhuma menjadi pemuka para pemuda ahli surga.&quot; (Lihat Majma&#39; Fatawa [25/302]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sisi lain Syaikhul Islam juga mengatakan: &quot;al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma telah dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala dengan mati syahid pada hari (&#39;Asyura) ini. Dengan peristiwa ini, Allah Azza wa Jalla juga berarti telah menghinakan pembunuhnya serta orang-orang yang membantu pembunuhan terhadapnya atau orang-orang yang senang dengan pembunuhan itu. al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma memiliki contoh yang baik dari para syuhada yang mendahuluinya. Sesungguhnya al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma dan saudaranya (yaitu al-Hasan) radhiyallahu &#39;anhuma merupakan dua orang pemuka dari para pemuda ahli surga. Keduanya merupakan orang-orang yang dibesarkan dalam suasana kejayaan Islam, mereka berdua tidak sempat mendapatkan keutamaan berhijrah, berjihad dan bersabar menghadapi beratnya gangguan orang kafir sebagaimana dialami oleh para Ahli Baitnya yang lain. Karena itulah, Allah Azza wa Jalla memuliakan keduanya dengan mati syahid sebagai penyempurna bagi kemuliaannya dan sebagai pengangkatan bagi derajatnya agar semakin tinggi. Pembunuhan terhadap al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma ini merupakan musibah besar. Dan Allah Azza wa Jalla mensyari&#39;atkan agar hamba-Nya ber-istirja&#39; (mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi raji&#39;un) ketika mendapatkan musibah dengan firman-Nya: &quot;Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: &quot;Inna lillah wa inna ilaihi raji&#39;un&quot;. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.&quot; (al-Baqarah: 155-157).&quot; (Lihat Majma&#39; Fatawa [4/511]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun yang dirajihkan oleh para &#39;Ulama tentang kepala al-Husain ibn &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhuma adalah sebagaimana yang disebutkan oleh az-Zubair ibn Bukar dalam kitabnya Ansab Quraisy dan beliau adalah seorang yang paling &#39;alim dan paling tsiqah dalam masalah ini (tentang keturunan Quraisy). Dia menyebutkan bahwa kepala al-Husain dibawa ke Madinah an-Nabawiyah dan dikuburkan di sana. Hal ini yang paling cocok, karena di sana ada kuburan saudaranya al-Hasan, paman ayahnya al-Abbas dan anak &#39;Ali dan yang seperti mereka. (Lihat Majma&#39; Fatawa [4/509]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala merahmati al-Husain ibn &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhuma dan mengampuni seluruh dosa-dosanya serta menerimanya sebagai syahid. Dan semoga Allah membalas para pembunuhnya dan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih. Amiin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallahu al-musta&#39;an.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/3599067678589217642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/3599067678589217642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/al-husain-ibn-ali.html' title='Ahlul Bait : al-Husain radhiyallahu &#39;anhuma, Pemimpin Pemuda di Surga'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-5883886786607467752</id><published>2012-01-04T01:15:00.006+07:00</published><updated>2012-01-09T23:59:46.683+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Perawi Hadits"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><title type='text'>Sahabat Nabi : Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, Perawi Hadits Terbanyak</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Nama Lengkap dan Nasab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama lengkapnya adalah &#39;Abdurrahman ibn Shakhr, keturunan Tsa&#39;labah ibn Salim ibn Fahm ibn Ghunm ibn Daus al-Yamani. Beliau berasal dari kabilah Daus, sebuah kabilah yang dinisbahkan kepada Daus ibn &#39;Adnan ibn &#39;Abdullah ibn Zahran ibn Ka&#39;ab ibn Harits ibn Ka&#39;ab ibn &#39;Abdullah ibn Malik ibn Nashr yaitu Sanu&#39;ah ibn Azad. Azad termasuk kabilah Arab terbesar dan terkenal. Nisbah kepada Azad ibn Ghauts ibn Nabt ibn Malik ibn Kahlan dari keturunan Arab Qahthaniyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Ishaq rahimahullah berkomentar tentang Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu: &quot;Abu Hurairah adalah seorang mulia. Berkedudukan tinggi dan dipercaya di kalangan Bani Daus. Bani Daus senang memilikinya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu diperkirakan lahir 21 tahun sebelum hijrah, dan sejak kecil sudah menjadi yatim. Semula beliau bernama Abdusy Syams, sebagaimana ditetapkan Imam al-Bukhari, at-Tirmidzi dan al-Hakim. Setelah memeluk Islam, Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam kemudian mengganti namanya menjadi &#39;Abdurrahman. Abu Ubaid rahimahullah berkata bahwa nama beliau adalah &#39;Abdullah, dan Ibn Khuzaimah rahimahullah terbiasa menggunakan nama itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Bukhari rahimahullah dalam kitab al-Adab al-Mufrad mengutip dari Musa ibn Ya&#39;qub al-Juma&#39;i rahimahullah yang telah bertemu dengan Sahabat-sahabat setia Abu Hurairah. Bahwa sebelumnya, Abu Hurairah bernama &#39;Abdullah. Hal ini membuat Ibn Hajar rahimahullah mengakui adanya kemungkinan benarnya dua nama tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunyah (julukan) beliau adalah Abu Hurairah, dan inilah yang masyhur. Tentang julukannya ini, Imam al-Hakim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, beliau berkata, &quot;Mereka memberikan gelar dan julukan kepadaku Abu Hurairah. Penyebabnya, tidak lain karena aku pernah menggembalakan kambing untuk keluargaku. Dan saat itu kudapati anak kucing liar, lalu aku masukkan ke kantong lenganku. Ketika aku pulang kembali ke rumah, mereka mendengar suara kucing di kamarku, kemudian bertanya, &#39;Suara apakah itu, wahai Abdusy Syams?&#39; Aku pun menjawab, &#39;Anak kucing yang kutemukan (saat menggembala kambing).&#39; Mereka berkata, &#39;Kalau begitu, engkau adalah Abu Hurairah.&#39; Semenjak itu, julukan dan gelar itu terus melekat padaku.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam memanggilku Abu Hirin dan orang-orang memanggilku Abu Hurairah,&quot; karenanya beliau berkata, &quot;Kalian memanggil dan menjulukiku dengan julukan laki-laki (Abu Hirin), lebih aku sukai daripada julukan wanita (Abu Hurairah).&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disebutkan di beberapa tempat dalam Shahih Bukhari, bahwa dalam berbagai kesempatan dan peristiwa Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam memanggil Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu dengan panggilan Abu Hirrin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Ciri Fisik Abu Hurairah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Abdurrahman ibn Abu Labibah rahimahullah memberikan sifat khusus bagi Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu. Beliau berkulit sawo matang, bahu dan pundaknya cukup lebar, rambutnya dikepang dan dibelah dua, dan gigi serinya renggang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dhamdhan ibn Jaus rahimahullah mensifatkannya sebagai seorang tua yang mengepang rambut kepalanya dan gigi serinya renggang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muhammad ibn Sirin rahimahullah memberikan ciri khusus, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu adalah seorang yang berkulit putih, halus, lembut dan tidak kasar. Beliau mengecat jenggotnya dengan hanna&#39; (pohon pacar) dan berpakaian dengan kain katun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;KeIslaman Abu Hurairah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika sampai seruan dakwah tauhid dari Makkah kepada seorang yang mulia, penyair ulung dan dermawan, yaitu ath-Thufail ibn &#39;Amr ad-Dausi radhiyallahu &#39;anhu. Kemudian ath-Thufail masuk Islam dan mengikuti Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam di Makkah, lalu kembali kepada kaumnya di wilayah Daus, Yaman. Ia menyeru kepada kaumnya, sehingga ada yang masuk Islam. Di antara mereka ialah Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Hajar rahimahullah menyebutkan riwayat Hisyam ibn al-Kalbi tentang kisah ath-Thufail. Bahwa ia mendakwahi kaumnya untuk masuk Islam, lalu ayahnya masuk Islam, sedangkan ibunya tidak. Dan Abu Hurairah saja yang memenuhi panggilannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu masuk Islam antara setelah perjanjian Hudaibiyyah dan sebelum perang Khaibar, kira-kira awal tahun ke-7 Hijriyah, ketika itu umur beliau telah mencapai 30 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu datang ke Madinah. Dan sekembalinya dari Khaibar beliau pun tinggal di Shuffah (teras Masjid Nabawi) dan bermulazamah kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dengan penuh kesungguhan. Beliau terus mengikuti kemana Rasulullah pergi. Terkadang Abu Hurairah juga makan di rumah Rasulullah, hal itu berlanjut sampai wafatnya Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Masa Persahabatan dengan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu&lt;br /&gt;
datang ke Khaibar pada bulan Shafar tahun ke-7 H, sedangkan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam wafat pada bulan Rabi&#39;ul Awwal tahun 11 Hijriyah. Sehingga lamanya bersahabat dengan Nabi sekitar 4 tahun lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa-masa itulah yang ditegaskan oleh Humaid ibn &#39;Abdurrahman al-Himyari rahimahullah dengan pernyataannya, &quot;Aku berteman dan berjumpa dengan orang-orang yang bersahabat dengan Nabi sebagaimana persahabatan Abu Hurairah dengan Nabi selama 4 tahun.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu sendiri menjelaskan dalam Shahih Bukhari, bahwa beliau menemani Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam selama 3 tahun. Seolah-olah Abu Hurairah menghitung masa menjadi pengikut setia &quot;mulazamah&quot; hanya selama 3 tahun, yaitu setelah kedatangan mereka dari Khaibar, atau beliau tidak menghitung waktu-waktu safar (perjalanan) bersama Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam, baik untuk berperang, berhaji maupun umrah. Sebab, mulazamahnya ketika berada di Madinah sangatlah berbeda dengan mulazamah sewaktu bepergian. Atau masa-masa tersebut diartikan sebagai waktu ketika beliau berada di Shuffah (menjadi Ahli Shuffah) yang sangat bersemangat dan antusias. Sedangkan pada waktu lainnya, sikap antusiasme tersebut tidak sebagaimana disebutkan. Wallahu a&#39;lam. Atau kurangnya hitungan masa tersebut dengan tidak memasukkan perhitungan saat bepergian ke Bahrain tahun ke-8 Hijriyah ditemani al-Alla&#39; al-Hadrami, gubernur Nabi untuk wilayah Bahrain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama bermulazamah (setia menemani) Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu banyak mendapatkan ilmu dari beliau. Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam adalah seorang sahabat, pembimbing (mursyid) dan juga guru baginya. Tak jarang Rasulullah sering menyampaikan nasehat-nasehatnya kepada Abu Hurairah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, &quot;Wahai, Abu Hurairah. Jadilah engkau sebagai seorang yang wara, niscaya engkau menjadi orang yang paling mengabdi kepada Allah. Jadilah engkau seorang yang qana&#39;ah (merasa cukup dengan yang dimiliki), niscaya engkau menjadi orang yang paling bersyukur. Cintailah untuk manusia apa yang engkau sukai untuk dirimu, niscaya engkau menjadi Mu&#39;min. Berbuat baiklah kepada tetangga yang bersebelahan denganmu, niscaya engkau menjadi seorang Muslim. Dan sedikitlah tertawa, sebab banyak tertawa itu mematikan hati.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu memahami pesan dari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam tersebut dan melaksanakannya dengan baik, sehingga menjadikan beliau sebagai seorang yang wara&#39; dan &#39;abid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau juga terkenal sebagai seorang yang memiliki semangat tinggi dalam memahamkan hadits, serta seorang yang selalu berbuat baik kepada tetangganya. Dalam hal ini &#39;Ammar ibn Yasir mengakui keutamaannya ini. Demikian pula &#39;Abdulah ibn Syaqiq yang menjadi muridnya setelah itu. Beliau seorang yang jauh dari senda gurau. Bahkan beliau sering menangis, seperti saat disebutkan nama Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam, ketika wafatnya &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/al-hasan-ibn-ali.html&#39;&gt;al-Hasan&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu dan setelah meninggalnya &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/utsman-ibn-affan.html&#39;&gt;&#39;Utsman ibn Affan&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Pernikahan Abu Hurairah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu bermulazamah bersama Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau tidak disibukkan dengan wanita. Namun, setelah Rasulullah wafat, beliau menikahi Bisrah binti Ghazwan al-Maziniyah, salah seorang Sahabiyah. Bisrah adalah saudara &#39;Utbah ibn Ghazwan al-Mazini radhiyallahu &#39;anhu, seorang Sahabat terkenal dan Gubernur Bashrah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Putra-Putri Abu Hurairah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pakar sejarah menyebutkan, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu memiliki 4 orang anak laki-laki dan seorang perempuan. Beliau selalu mengajak dan membiasakan istri serta anak-anaknya untuk zuhud, hidup sederhana dan beramal shalih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau mendidik putra-putranya dan menjadikannya sebagai seorang perawi handal. al-Muharrir ibn Abu Hurairah, putranya yang tertua dan paling terkenal adalah perawi hadits yang kaum Muslimin membutuhkan dan meriwayatkan hadits-hadits darinya yang belum didapatkan dari ayahnya. Imam al-Hatim dan Ibn Abi Hatim telah menulis sejarah singkat al-Muharrir, begitu juga Ibn Hajar dan Ibn Sa&#39;ad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Sa&#39;ad rahimahullah bercerita: &quot;al-Muharrir ibn Abu Hurairah meninggal di Madinah pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah. Dia meriwayatkan hadits dari ayahnya, namun termasuk orang yang sedikit meriwayatkan hadits.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu juga dengan anaknya yang lain, Muharriz ibn Abu Hurairah. Imam al-Bukhari dan Abu al-Faraj menyebutkan dalam kitabnya. Muharriz termasuk yang meriwayatkan hadits dari ayahnya. Sedangkan anak ketiganya adalah &#39;Abdurrahman ibn Abu Hurairah. Imam al-Bukhari, Ibn Abu Hatim dan Ibn Hibban mencantumkan biografinya dalam kitab mereka. Anak keempat bernama Bilal ibn Abu Hurairah. Ibn Abu Hatim dan yang selainnya menyebutkan hal ini. Bilal mempunyai anak yang bernama Muharrir ibn Bilal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun putri Abu Hurairah namanya tidak dikenal. Akan tetapi, Ibn Sa&#39;ad menceritakan bahwa &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/said-ibn-al-musayyab.html&#39;&gt;Sa&#39;id ibn al-Musayyab&lt;/a&gt; telah menikahinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di samping terhadap putra-putranya, Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu membiasakan pula putrinya hidup zuhud dan sederhana. Beliau pernah menasihati putrinya: &quot;Wahai, anakku. Janganlah engkau mengenakan perhiasan emas. Sebab, ayahmu ini khawatir api yang menyala-nyala akan menimpamu wahai, anakku. Dan janganlah engkau mengenakan sutera. Sebab, ayahmu ini mengkhawatirkanmu terbakar api neraka.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Pengajar al-Qur&#39;an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu menerima pengajaran al-Qur&#39;an secara langsung dari Ubay ibn Ka&#39;ab radhiyallahu &#39;anhu. Sedangkan Ubay ibn Ka&#39;ab merupakan salah satu dari empat Sahabat yang diakui Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam memiliki hafalan al-Qur&#39;an yang bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;br /&gt;
bersabda, &quot;Mintalah diajarkan al-Qur&#39;an dari empat orang, yaitu &#39;Abdullah ibn Mas&#39;ud, Salim maula (bekas budak) dari Abu Hudzaifah, Ubay ibn Ka&#39;ab dan Mu&#39;adz ibn Jabal.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu menjadi seorang pengajar al-Qur&#39;an. Dan yang telah belajar darinya, yaitu Abu Ja&#39;far Yazid ibn al-Qa&#39;qa al-Makhzumi al-Madani, salah seorang dari 10 ahli qira&#39;ah yang terkenal. Begitu juga &#39;Abdurrahman ibn Hurmuz al-A&#39;raj. Sedangkan Nafi&#39; ibn &#39;Abdurrahman ibn Abu Nu&#39;aim al-Madani, salah seorang imam ahli qira&#39;ah tujuh yang terkenal belajar dan mengambil al-Qur&#39;an dari al-A&#39;raj. Dengan demikian, bahwa bacaan al-Qur&#39;an yang banyak dikenal di kalangan Muslimin, sumbernya berasal dari Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tersirat pula dalam pernyataan Ibn al-Jauzi rahimahullah, bahwa tidak ada seorangpun yang mengalahkan Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu dalam masalah tersebut. Ibn al-Jauzi berkata, &quot;Berakhir pada Abu Hurairah bacaan al-Qur&#39;an yang dilakukan Abu Ja&#39;far dan Nafi.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu mengajarkan al-Qur&#39;an tidak hanya kepada dua orang saja, namun lebih dari itu. Sebagaimana perkataan Maina&#39; bekas budak &#39;Abdurrahman ibn &#39;Auf, &quot;Aku menerima pengajaran surat al-Baqarah dan surat Ali Imran dari lisan Abu Hurairah.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Perawi Hadits&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu walaupun hanya sebentar hidup bersama Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam, tetapi tidak menghalanginya untuk mendapatkan keistimewaan menjadi Sahabat terbanyak yang meriwayatkan hadits Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu sendiri pernah menjelaskan mengapa beliau bisa meraih keistimewaan tersebut. Hal ini beliau sampaikan ketika ada sebagian manusia yang meragukan hadits-hadits beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Sesungguhnya kalian berkata sungguh banyak Abu Hurairah meriwayatkan hadits dari Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Kalian juga berkata wallahul mau&#39;id-, mengapa para Sahabat Muhajirin tidak meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam hadits-hadits ini, mengapa para Sahabat Anshar tidak meriwayatkan hadits-hadits ini. (ketahuilah), sesungguhnya para Sahabatku dari kalangan Muhajirin agak tersibukkan dengan perdagangan mereka di pasar. Dan para Sahabatku dari kalangan Anshar agak disibukkan dengan pertanian mereka dan penjagaannya. Adapun aku adalah seorang yang selalu i&#39;tikaf (tinggal di masjid) dan selalu bermajlis dengan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Aku hadir ketika mereka berhalangan dan aku ingat ketika mereka lupa. Dan Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam suatu hari pernah berkata, &#39;Siapa yang mau membentangkan selendangnya sampai aku selesai menyampaikan haditsku kemudian dia dekap selendangnya pasti dia tidak akan pernah lupa setiap apa yang aku sampaikan selamanya.&#39; Maka akupun membentangkan selendangku kemudian aku mendekapnya. Demi Allah! Sejak itu aku tidak pernah lupa semua yang aku dengar dari beliau. Demi Allah! Seandainya bukan disebabkan satu ayat di dalam al-Qur&#39;an, tentu aku tidak akan menyampaikan hadits kepada kalian.&quot; Kemudian Abu Hurairah membaca ayat, &#39;Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk&#39;. Beliau membaca ayat selengkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang pernah mengadu kepada Thalhah ibn &#39;Ubaidillah radhiyallahu &#39;anhu, &quot;Wahai Abu Muhammad, tidakkah engkau melihat orang Yaman ini (maksudnya adalah Abu Hurairah), apakah dia lebih berilmu tentang hadits Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dari kalian? Kami mendengar darinya hadits-hadits yang tidak pernah kami dengar dari kalian. Ataukah dia menyampaikan dari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sesuatu yang tidak pernah ia dengar (berdusta)?&quot; Thalhah menjawab, &quot;Adapun kalau dia mendengar hadits yang tidak pernah kami dengar, aku tidak meragukannya. Aku akan beritahu sebabnya, sesungguhnya kami adalah para penghuni rumah, penggembala kambing, dan para pekerja. Kami mendatangi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam di waktu sore. (Adapun Abu Hurairah) adalah seorang yang miskin, sering dijamu oleh Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, tangannya bersama tangan beliau. (Atas dasar ini) kami tidak meragukan kalau ia mendengar apa yang tidak kami dengar.&quot; Dalam redaksi lain, &quot;(Sebenarnya) kami juga mendengar seperti yang ia dengar hanya saja dia ingat dan kami lupa.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asy&#39;ats ibn Sulaim rahimahullah meriwayatkan dari bapaknya, katanya: Aku mendengar Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu &#39;anhu meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah. Maka ada yang bertanya, &quot;Engkau adalah Sahabat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, mengapa meriwayatkan&lt;br /&gt;
dari Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu?&quot; Ia menjawab, &quot;Sesungguhnya Abu&lt;br /&gt;
Hurairah mendengar apa yang tidak kami dengar. Aku meriwayatkan darinya lebih aku sukai daripada aku harus meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam (hadits yang tidak pernah aku dengar).&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, &quot;Abu Hurairah sangat kokoh hafalannya, kami tidak mengetahui beliau pernah salah dalam satu hadits pun.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sa&#39;id ibn Abi al-Hasan rahimahullah memaparkan, &quot;Tidak ada seorangpun dari para Sahabat yang paling banyak haditsnya dari Abu Hurairah.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Shalih Dzakwan rahimahullah berkata, &quot;Abu Hurairah adalah Sahabat Muhammad shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang paling hafal.&quot; Dalam riwayat Abu Bakar ibn &#39;Ayyas, Abu Shalih berkata, &quot;Bukan yang paling afdhal tapi yang paling hafal.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam asy-Syafi&#39;i rahimahullah berkata, &quot;Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan hadits pada zamannya (masa Sahabat).&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Muhammad ibn Hazm rahimahullah mengatakan bahwa, dalam Musnad Baqiy ibn Makhlad terdapat lebih dari 5300 hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu juga meriwayatkan dari &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abu-bakar-ash-shiddiq.html&#39;&gt;Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/a&gt;, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/umar-ibn-al-khaththab.html&#39;&gt;Umar ibn al-Khaththab&lt;/a&gt;, al-Fadhl ibn al-Abbas, Ubay ibn Ka&#39;ab, Usamah ibn Zaid, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/aisyah-binti-abu-bakar.html&#39;&gt;&#39;Aisyah Ummul Mu&#39;minin&lt;/a&gt;, Bushrah al-Ghifari, dan Ka&#39;ab al-Ahbar radhiyallahu &#39;anhuma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sekitar 800 ahli ilmu dari kalangan &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/sahabat-nabi.html&#39;&gt;Sahabat&lt;/a&gt; maupun &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/mengenal-tabiin.html&#39;&gt;Tabi&#39;in&lt;/a&gt; yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu. Di antara Sahabat yang meriwayatkan adalah &#39;Abdullah ibn Abbas, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/abdullah-ibn-umar.html&#39;&gt;&#39;Abdullah ibn Umar&lt;/a&gt;, Jabir ibn &#39;Abdullah, dan Anas ibn Malik, sedangkan dari kalangan Tabi&#39;in antara lain Sa&#39;id ibn al-Musayyab, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/muhammad-ibn-sirin.html&#39;&gt;Ibn Sirin&lt;/a&gt;, Ikrimah, Atha&#39;, Mujahid dan asy-Sya&#39;bi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanad paling Shahih yang berpangkal daripadanya adalah Ibn Shihab az-Zuhr, dari Sa&#39;id ibn al-Musayyab, darinya (Abu Hurairah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun yang paling Dhaif adalah as-Sari ibn Sulaiman, dari Dawud ibn Yazid al-Audi dari bapaknya (Yazid al-Audi) dari Abu Hurairah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Keutamaan Abu Hurairah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sangat Berbakti Pada Ibunya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa besarnya bakti Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu kepada ibunya ketika beliau berharap keIslaman ibunya dan menjadi penyebab ibunya masuk Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, beliau berkata, &quot;Aku mendakwahi ibuku agar memeluk agama Islam, sedangkan ia masih musyrik. Pada suatu hari, aku mendakwahinya. Lalu ia menyatakan sesuatu kepadaku tentang Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang membuatku benci (mendengarnya). Akhirnya aku mendatangi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dalam keadaan menangis di hadapan Beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Aku berkata, &quot;Wahai, Rasulullah. Sungguh aku telah mendakwahi ibuku agar masuk Islam, namun ia enggan mengikuti ajakanku. Hingga akhirnya, pada suatu hari aku mendakwahinya, namun ia (justru) menyatakan sesuatu kepadaku tentang Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, yang aku benci (mendengarnya). Karenanya mintalah kepada Allah agar menunjuki ibu Abu Hurairah.&quot; Lalu Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam berkata, &quot;Ya, Allah. Berilah petunjuk kepada ibu Abu Hurairah.&quot; Aku pun meninggalkan rumah Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam dengan penuh kegirangan atas do&#39;a Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam bagi ibuku. Ketika sampai di rumah, aku langsung berdiri di depan pintu, ternyata pintu terkunci. Lalu ibuku mendengar suara hentakan kakiku, lalu (ia) berkata, &quot;Tetaplah di situ (tunggulah), wahai Abu Hurairah.&quot; Aku pun mendengar suara gemericik air, ternyata ia mandi, kemudian mengenakan baju dan bersegera mamakai jilbabnya dan membukakan pintu untukku, seraya berkata, &quot;Wahai, Abu Hurairah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar, kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya.&quot; Abu Hurairah berkata, &quot;Aku pun kembali menemui Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan menangis karena bahagia.&quot; Aku berkata, &quot;Wahai, Rasulullah. Berbahagialah, sungguh Allah telah memenuhi dan mengabulkan do&#39;a anda, dan ibuku telah mendapatkan petunjuk.&quot; Beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam memuji Allah dan mengagungkan-Nya, dan Beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, &quot;Baiklah.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecintaan Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu kepada ibunya juga dikisahkan oleh &#39;Abdullah ibn Wahb dalam kitab Jami&#39;inya dari jalan &#39;Abdullah ibn Lahi&#39;ah dari Khalid ibn Yazid dari Sa&#39;id ibn Abu Hilal, ia berkata: Setiap hari Abu Hurairah menemui ibunya dan berkata, &quot;Terima kasih untukmu, wahai ibuku. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, sebagaimana engkau telah mendidikku di waktu kecil.&quot; Maka ibunya berdo&#39;a, &quot;Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, sebagaimana engkau telah berbuat baik kepadaku ketika usiaku telah senja.&quot; Kisah ini juga dibawakan Imam Bukhari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ahli Ibadah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu &#39;Utsman an-Nahdi rahimahullah, ia berkata, &quot;Aku pernah bertamu kepada Abu Hurairah selama tujuh hari. Dan menjadi kebiasaan Abu Hurairah, istri dan pembantunya untuk saling bergantian menjadikan malam tiga bagian. Seorang dari mereka shalat kemudian membangunkan yang lainnya.&quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu sendiri menjelaskan kegiatan pada setiap malamnya, &quot;Aku membagi malam menjadi tiga bagian. Sepertiganya kugunakan untuk tidur, sepertiganya untuk shalat, dan sepertiga lainnya aku pergunakan untuk mengulang-ulang hadits Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Amar Ma&#39;ruf Nahi Mungkar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menjadi kebiasaan Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu pergi menuju masjid-masjid kaum Anshar yang tersebar di penjuru kota Madinah untuk mengajarkan dan memperdengarkan kepada mereka hadits-hadits Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Seperti kepergiannya ke masjid Bani Zuraiq dan mengajar di sana. Ini dibuktikan dengan banyaknya orang-orang dari Bani Zuraiq yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam al-Hakim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, bahwa seseorang dari Bani Amir telah melewati Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, lalu ada yang mengatakan: &quot;Orang ini adalah yang paling banyak hartanya&quot;, maka Abu Hurairah memanggilnya, seraya menanyakan hal tersebut. Ia menjawab, &quot;Benar, aku memiliki 100 ekor unta merah dan 100 ekor onta berwarna kecoklatan dan sekian banyak ekor kambing.&quot; Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Hati-hatilah kamu dari kaki-kaki onta dan kaki-kaki kambing tersebut. Sebab aku mendengar Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda: .....&quot; kemudian Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu memaparkan hadits yang panjang tersebut berisi diinjak-injaknya (pemilik harta onta dan kambing) dengan kaki onta dan kambing tersebut jika mendzaliminya. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim tanpa kisah laki-laki dari Bani Amir (al-Amiri) tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam al-Haitsami rahimahullah mengutip satu kisah, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu melewati pasar Madinah, lalu beliau berhenti di tempat itu, beliau berkata, &quot;Wahai, penghuni pasar. Alangkah tidak mampunya kalian.&quot; Mereka menimpali, &quot;Apa itu, wahai Abu Hurairah?&quot; Beliau menjawab, &quot;Itu, peninggalan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sedang dibagi-bagi, sedangkan kalian ada di sini? Tidakkah kalian mendatanginya, lalu mengambil bagian kalian?&quot; Mereka bertanya, &quot;Dimanakah dia?&quot; Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu menjawab, &quot;Di masjid.&quot; Maka mereka pun bergegas keluar menuju masjid, sedang Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu tetap berdiri menunggu mereka kembali. Beliau bertanya kepada mereka, &quot;Apa yang kalian dapati?&quot; Mereka menjawab, &quot;Wahai, Abu Hurairah. Kami telah mendatangi masjid dan memasukinya, namun tidak melihat sesuatu sedang dibagi di sana.&quot; Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Tidakkah kalian melihat seseorang di masjid?&quot; Mereka menjawab, &quot;Benar, kami melihat sekelompok orang sedang shalat, sekelompok membaca al-Qur&#39;an dan sekelompok lainnya sedang mempelajari perihal halal dan haram.&quot; Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Celakalah kalian. Itulah peninggalan Rasulullah.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Seorang yang &#39;Alim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Sa&#39;id al-Khudri radhiyallahu &#39;anhu, Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, &quot;Abu Hurairah adalah bejana (gudang) ilmu.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang datang kepada Ibn Abbas radhiyallahu &#39;anhu untuk menanyakan suatu permasalahan. Maka Ibn Abbas mengarahkannya kepada Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, katanya, &quot;Wahai Abu Hurairah, berilah ia fatwa.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam adz-Dzahabi rahimahullah ketika memaparkan biografi Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu menjelaskan, &quot;Panutan, faqih, mujtahid, hafizh, Sahabat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa Sallam, Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu ad-Dausi al-Yamani, pemimpin para Huffazh (penghafal hadits) yang kokoh.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tawadhu&#39; dengan Ilmu yang dimilikinya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu termasuk orang yang paling banyak hafalannya dari kalangan Sahabat, namun hal itu tidak membuatnya bangga diri. Ibn Abu Syaibah rahimahullah telah meriwayatkan dalam al-Mushannaf tentang pernyataan Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu kepada Ibn Abbas radhiyallahu &#39;anhu yang merupakan Sahabat muda (ashgharush shahabat): &quot;Anda lebih baik dariku dan lebih paham tentang Islam daripada aku.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu juga tawadhu&#39; di hadapan Tabi&#39;in besar &#39;Amr ibn Aus ats-Tsaqafi rahimahullah (wafat tahun 75 H). Abu Hurairah berkata kepada sekelompok orang yang telah bertanya kepadanya, padahal di antara mereka terdapat &#39;Abdurrahman ibn Nafi ibn Labibah rahimahullah: &quot;Kalian bertanya kepadaku, padahal di tengah-tengah kalian ada &#39;Amr ibn Aus.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hati-Hati dalam Berfatwa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Hazm rahimahullah menyebutkan ada 13 orang Sahabat yang fatwa-fatwa mereka diriwayatkan. Dia menempatkan Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu di urutan ke-4. Sedangkan yang lainnya adalah Ummu Salamah, Anas, al-Khudri, &#39;Utsman, &#39;Abdullah ibn &#39;Amr, Ibn az-Zubair, Abu Musa, Sa&#39;ad, Salman, Jabir, Mu&#39;adz dan Abu Bakar. Kemudian ia berkata, &quot;Mereka hanya 13 orang saja, yang memungkinkan fatwa-fatwa dari mereka dikumpulkan dalam juz yang kecil.&quot; Kemudian ia menambahkan tujuh orang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekalipun demikian, Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu sangat takut dan malu mengeluarkan fatwa. Karena termasuk sifat dan tabiat kaum Mu&#39;minin adalah tatsabut (bersikap hati-hati) dalam berfatwa. Sehingga banyak para Salaf yang enggan berfatwa dan tidak mau menjawab jika ada orang lain yang lebih layak untuk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam ad-Darimi rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, bahwa Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, &quot;Barangsiapa berfatwa sebelum yakin akan kebenarannya, maka dosanya bagi yang berfatwa.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa takut dan kekhawatiran Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu dalam berfatwa, telah membuatnya selalu bertanya jika tidak mantap dalam berfatwa. Ini berbeda dengan orang-orang yang mencelanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam al-Bukhari rahimahullah telah meriwayatkan satu kisah dari Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, beliau berkata ketika ditanya penduduk Bahrain tentang hukum memakan daging ikan yang telah mati terapung di laut. Beliau menjawab: &quot;Tidak&lt;br /&gt;
mengapa.&quot; Lalu beliaupun bertanya kepada Umar, dan Umar menjawab dengan jawaban yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dermawan dan Suka Menyantuni Anak Yatim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ath-Thahawi rahimahullah, ia berkata, &quot;Aku singgah menjadi tamu di rumah Abu Hurairah di Madinah. Aku belum pernah melihat seorangpun dari Sahabat-sahabat Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang lebih bersegera menyambut dan menghormati tamunya darinya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Sa&#39;ad rahimahullah meriwayatkan dari jalan al-Waqidi, bahwa Abu Hurairah menetap di Dzulhulaifah dan memiliki rumah di kota Madinah yang dishadaqahkan kepada para mantan budaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian juga Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu seorang penyantun anak yatim yang bernama Mu&#39;awiyah ibn Mut&#39;ib al-Hudzali. Beliau memelihara&lt;br /&gt;
dan mengajarkan semua yang diketahuinya, sampai akhirnya menjadi salah satu Tabi&#39;in terkenal. Mu&#39;awiyah ini memiliki banyak riwayat hadits dari Abu Hurairah dalam Musnad Imam Ahmad dan yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Orang-Orang yang Dimerdekakan Abu Hurairah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu memiliki budak yang dimerdekakan ketika beliau sampai di Khaibar pada awal hijrahnya. Dalam kisah ini terdapat dalil yang menunjukkan Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu bukanlah seorang faqir ketika hijrahnya. Namun, beliau menjadi faqir pada masa-masa Rasululllah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, karena memilih bermulazamah (tetap setia bersama) di Shuffah daripada bekerja dan sibuk berdagang di pasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, setelah itu beliau memiliki mawali (budak-budak yang telah beliau merdekakan). Ada sejumlah mawalinya yang terkenal, di antaranya ialah: Abu Maryam, Abu Yunus Sulaim atau Sulaiman ibn Jabir atau Jubair, Ibrahim ibn Muhammad, &#39;Abdurrahman ibn Mihran dan Tsabit ibn Musykil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Peperangan yang Diikuti Abu Hurairah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama hidupnya, Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu pernah mengikuti beberapa peperangan baik sewaktu Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam masih hidup maupun setelahnya, di antaranya yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Perang Khaibar dan perang di Wadi al-Qura&#39;.&lt;br /&gt;
- Perang Dzatur Riqa&#39;, sebagaimana disampaikan Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, beliau berkata, &quot;Aku shalat bersama Rasul shallallahu &#39;alaihi wa sallam pada peperangan yang kami mendapati shalat khauf (shalat karena takut).&quot; Juga dikuatkan oleh kisah yang diriwayatakan Abu Dawud dari Urwah ibn Zubair yang menceritakan dari Marwan ibn al-Hakam, bahwa ia bertanya kepada Abu Hurairah: &quot;Pernahkah anda shalat bersama Rasul shallallahu &#39;alaihi wa sallam shalat khauf?&quot; Abu Hurairah menjawab, &quot;Pernah.&quot; Marwan bertanya, &quot;Kapan?&quot; Abu Hurairah menjawab, &quot;Tahun terjadinya perang Dzaturiqa.&quot;&lt;br /&gt;
- al-Fath al-Akbar (penaklukan Makkah), Hunain dan Thaif. Dipaparkan Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, ia berkata: Maukah aku ajarkan pada kalian satu hadits tentang kalian, wahai seluruh kaum Anshar? (Lalu ia menyebut penaklukan kota Makkah), seraya berkata, &quot;Rasul shallallahu &#39;alaihi wa sallam berangkat ke Makkah. Setelah sampai di sana, lalu Beliau mengangkat az-Zubair (sebagai pemimpin pasukan) di salah satu sayap pasukan. Dan di sayap lainnya mengangkat Khalid. Beliau juga mengutus Abu Ubaidah (memimpin) pasukan infantri yang tidak berpakaian baju besi. Mereka pun mengambil tempat dan posisi di tengah-tengah lembah. Sementara itu, Rasul shallallahu &#39;alaihi wa sallam berada dalam kelompok kecil tersendiri. Beliau memandang sekeliling dan melihatku, Beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam bertanya, &quot;Abu Hurairahkah anda?&quot; Aku pun menjawab, &quot;Kupenuhi panggilan engkau, wahai Rasulullah.&quot; Beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, &quot;Tidak boleh menemuiku, kecuali dari kalangan Anshar -selain Syaiban, menambahkan- (tambahan dari salah seorang perawi hadits ini). &quot;Panggilkan kaum Anshar.&quot; Dia radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Mereka pun mengelilingi Rasul shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Sedangkan orang Quraisy dengan seluruh kabilah dan pengikutnya berkumpul sambil berkata, &quot;Kita dahulukan mereka. Jika mereka mendapatkan sesuatu (kemenangan), kita pun akan (merasakan) bersama mereka. Dan jika mereka mendapatkan musibah, kita akan berikan yang diminta dari kita.&quot; Rasul shallallahu &#39;alaihi wa sallam pun&lt;br /&gt;
bersabda, &quot;Tidakkah kalian menyaksikan kumpulan kabilah Quraisy dan pengikut-pengikut mereka?&quot; Lalu Beliau meletakkan salah satu telapak tangannya di atas yang lainnya dan berkata, &quot;Temuilah aku di Shafa.&quot; Abu Hurairah berkata, &quot;Kami pun bergegas berangkat. Maka tidak ada seorang pun dari kami yang ingin membunuh seseorang, kecuali membunuhnya. Dan tidak seorang pun dari mereka menghadang kami, sedikitpun.&quot;&lt;br /&gt;
- Perang Tabuk, sebagaimana diriwayatkan Imam ath-Thahawi dengan sanad yang shahih sampai kepada beliau radhiyallahu &#39;anhu, ia berkata, &quot;Kami keluar bersama Rasul shallallahu &#39;alaihi wa sallam pada perang Tabuk.&quot;&lt;br /&gt;
- Perang Mu&#39;tah.&lt;br /&gt;
- Perang Riddah, sebagaimana telah diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam kisah penumpasan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu terhadap gerakan pemurtadan setelah wafatnya Rasulujah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu berkata: Ketika Rasul shallallahu &#39;alaihi wa sallam telah wafat dan Abu Bakar radhiyallahu &#39;anhu diangkat sebagai pengganti Beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam, serta kufurlah orang-orang yang kufur dari bangsa Arab. Umar bertanya kepada Abu Bakar, &quot;Wahai, Abu Bakar. Bagaimana anda akan memerangi mereka? Padahal Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam telah bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi &#39;Tidak ada sesembahan yang benar selain Allah&#39;. Karenanya, barangsiapa telah mengucapkannya, ia telah terjaga dariku harta dan jiwanya, kecuali dengan cara yang haq. Dan hisab berikutnya berada pada Allah&#39;.&quot; Abu Bakar radhiyallahu &#39;anhu menjawab, &quot;Demi Allah. Aku akan memerangi orang-orang yang memisahkan antara shalat dan zakat, sebab zakat adalah haknya harta. Demi Allah. Jika mereka menghalangiku meskipun cuma sedikit -dalam riwayat lain (ikat kepala)- padahal sebelumnya (pada zaman Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam) mereka menunaikannya, niscaya aku perangi mereka karena keengganannya (itu).&quot; Umar pun menimpalinya, &quot;Demi Allah. Tidaklah aku melihat, melainkan Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka. Aku pun mengetahui dia (berada) pada kebenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa&#39;i juga memaparkan kisah ini. Tetapi lafadznya tidak menunjukkan keikutsertaan Abu Hurairah dalam peperangan itu, kecuali dalam riwayat an-Nasa&#39;i dengan sanad yang tidak kuat. Namun dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang telah dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir, terdapat pernyataan Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu setelah pemaparannya mengenai kisah tersebut: &quot;Kami berperang bersama Abu Bakar, lalu kami memandangnya sebagai keputusan yang sangat tepat.&quot;&lt;br /&gt;
- Perang Yarmuk, peperangan di Armenia dan daerah Jurjan, sebagaimana dipaparkan Ibn Asakir tentang kisah perang Yarmuk. Demikian juga Ibn Hajar menyebutkannya dalam al-Ishabah menukil dari Ibn Asakir juga. Sedangkan Ibn Khaldun memberikan catatan, bahwa pada masa kekhalifahan &#39;Utsman, Abu Hurairah tinggal bersama Gubernur Armenia &#39;Abdurrahman ibn Rabi&#39;ah. Ketika &#39;Abdurrahman terbunuh dalam peperangan melawan Turki, sebagian tentaranya menuju Jailan dan Jurjan. Di dalam barisan tentara tersebut terdapat Salman al-Farisi dan Abu Hurairah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Wafatnya Abu Hurairah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika berada di atas tempat tidur menghadapi kematian, Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu menangis. Maka ditanyakan kepadanya: &quot;Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Hurairah?&quot; Beliau menjawab, &quot;Aku sesungguhnya tidak menangisi dunia kalian ini. Namun aku menangis karena jauhnya perjalanan, sedangkan perbekalanku sedikit. Aku sekarang berada dalam tangga yang curam, antara surga dan neraka. Aku tidak tahu berjalan ke arah mana dari keduanya,&quot; kemudian beliau berwasiat, &quot;Jika aku meninggal, janganlah kalian meratapiku; sebab Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam tidak pernah meratapi kematian.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Marwan masuk menjenguknya sebelum saat-saat kematian dan berkata, &quot;Mudah-mudahan Allah memberimu kesembuhan, wahai Abu Hurairah,&quot; akan tetapi Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu menghadap ke arah lain dan tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Marwan. Beliau menoleh untuk bermunajat kepada Allah dengan penuh keyakinan. Beliau telah mengisi kehidupannya dengan berbagai macam amal kebaikan, yang menanti rahmat Allah, seraya berdo&#39;a: &quot;Ya, Allah. Sesungguhnya aku sangat gembira bertemu dengan-Mu, maka bersenanglah untuk bertemu denganku.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Muqbiri rahimahullah berkata, &quot;Belum sampai sahabat Marwan melangkahkan kakinya, Abu Hurairah pun telah meninggal dunia,&quot; namun kenangan baik tentangnya akan tetap tersimpan di hati kaum Mu&#39;minin hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terjadi perbedaan pendapat tentang tahun wafatnya Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu. Ada yang menyatakan beliau wafat tahun 57 H dan ada yang menyatakan bahwa wafatnya pada tahun 58 H, serta ada pula yang menyatakan wafatnya tahun 59 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau meninggal di al-Aqiq, lembah yang berdampingan dengan Madinah dan dikuburkan di Baqi&#39; di Madinah. al-Walid ibn &#39;Utbah ibn Abi Sufyan menjadi imam dalam shalat jenazahnya. Saat itu ia menjabat sebagai gubernur Madinah pada masa pemerintahan Mu&#39;awiyah radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Sa&#39;id al-Khudri radhiyallahu &#39;anhu dan Marwan ibn al-Hakam berjalan di depan jenazah. Begitu juga Ibn Umar ikut serta mengiringi jenazah Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu berjalan di depan jenazah dengan memperbanyak mengucapkan &quot;Rahimahullah&quot; atas Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, seraya berkata: &quot;Dia termasuk penjaga hadits Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam untuk kaum Muslimin.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian al-Walid ibn &#39;Utbah menulis surat kepada Mu&#39;awiyah radhiyallahu &#39;anhu, mengabarkan kematian Abu&lt;br /&gt;
Hurairah radhiyallahu &#39;anhu. Mu&#39;awiyah pun membalasnya seraya berpesan: &quot;Lihatlah, siapa saja yang ditinggalkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu dan serahkan kepada ahli warisnya 10.000 dirham serta perlakukanlah mereka dengan baik, dan berbuat baiklah kepada mereka; sebab, ia termasuk orang yang membela Khalifah &#39;Utsman dan berada di rumah &#39;Utsman.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai Abu Hurairah dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Lihat biografi lengkap Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu di kitab al-Ishabah fi Ma&#39;rifati ash-Shahabah karya al-Hafizh Ibn Hajar, Tadzkiratul Huffazh karya Imam adz-Dzahabi, dan Siyar karya Imam adz-Dzahabi.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/5883886786607467752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/5883886786607467752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/abu-hurairah.html' title='Sahabat Nabi : Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, Perawi Hadits Terbanyak'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-5717009303110592268</id><published>2012-01-04T01:10:00.003+07:00</published><updated>2012-01-04T01:26:12.714+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="al-Fuqaha as-Sab&#39;ah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tabiin"/><title type='text'>Tabi&#39;in : Syaikh Sa&#39;id ibn al-Musayyab rahimahullah, Tokoh Tabi&#39;in Paling Utama</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Nama Lengkap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama lengkapnya adalah Sa&#39;id ibn al-Musayyab ibn Hazn al-Quraisy al-Makhzumi, ayahnya dan kakeknya adalah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/sahabat-nabi.html&#39;&gt;Sahabat Nabi&lt;/a&gt; shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Beliau dilahirkan sebelum &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/umar-ibn-al-khaththab.html&#39;&gt;Umar ibn al-Khaththab&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu diangkat menjadi khalifah. Sejak usia muda beliau sudah hafal al-Qur&#39;an. Banyak Sahabat Nabi yang didatanginya untuk menimba ilmu, bahkan beliau juga belajar pada &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/ummul-muminin.html&#39;&gt;Ummahatul Mu&#39;minin&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Keutamaan Sa&#39;id ibn al-Musayyab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Sa&#39;id ibn al-Musayyab rahimahullah termasuk ahli fiqh Madinah dan seorang mujtahid besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Umar radhiyallahu &#39;anhu berkata: &quot;Sa&#39;id termasuk salah seorang mufti.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Qatadah rahimahullah berkata: &quot;Aku tidak pernah melihat orang sepandai Sa&#39;id ibn al-Musayyab.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/al-hasan-al-bashri.html&#39;&gt;Syaikh al-Hasan al-Bashri&lt;/a&gt; rahimahullah apabila menemui kesulitan seringkali menulis surat kepada Sa&#39;id untuk minta jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ahmad ibn Hambal rahimahullah berkata: &quot;Beliau Tabi&#39;in paling utama.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Makhul rahimahullah berkata: &quot;Aku telah menjelajahi bumi untuk menuntut ilmu, ternyata aku tidak bertemu seorangpun yang lebih pandai daripada Sa&#39;id ibn al-Musayyab.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh &#39;Ali ibn al-Madini rahimahullah menyatakan: &quot;Aku tidak tahu di kalangan Tabi&#39;in ada orang yang luas ilmunya daripada beliau, menurutku beliau Tabi&#39;in terbesar.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Perawi Hadits&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Sa&#39;id ibn al-Musayyab rahimahullah meriwayatkan hadits dari &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abu-bakar-ash-shiddiq.html&#39;&gt;Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/a&gt; secara mursal, dan beliau mendengar dari Umar ibn al-Khaththab, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/utsman-ibn-affan.html&#39;&gt;&#39;Utsman ibn Affan&lt;/a&gt;, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/abu-hurairah.html&#39;&gt;Abu Hurairah&lt;/a&gt;, Zaid ibn Tsabit, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/aisyah-binti-abu-bakar.html&#39;&gt;&#39;Aisyah Ummul Mu&#39;minin&lt;/a&gt; dan beberapa yang lainnya. Sedangkan yang meriwayatkan dari beliau antara lain Salim ibn &#39;Abdullah, az-Zuhri, Qatadah, Syuraik, Abu az-Zanad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Keluarga Sa&#39;id ibn al-Musayyab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kendati ada peluang bagi Sa&#39;id ibn al-Musayyab untuk memilih istri dari golongan Quraisy, tetapi beliau lebih mengutamakan menikah dengan putri &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/abu-hurairah.html&#39;&gt;Abu Hurairah&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu dan memiliki kekayaan mengenai riwayat hadits, yang beliau ingin juga mengambilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para &#39;Ulama meriwayatkan bahwa Sa&#39;id ibn al-Musayyab rahimahullah mengawinkan putrinya kepada Kutsayyir ibn Abi Wada&#39;ah hanya dengan mas kawin 2 dirham. Padahal sebelumnya beliau menolak lamaran Khalifah &#39;Abdul Malik ibn Marwan yang ingin menjodohkan putrinya dengan al-Walid ibn &#39;Abdul Malik. Dan ketika &#39;Abdul Malik hendak melaksanakan bai&#39;at bagi putranya, al-Walid, Hisyam ibn Ismail selaku pengganti &#39;Abdul Malik di Madinah memukul Sa&#39;id ibn al-Musayyab dan menghadapnya dengan pedang, untuk memaksanya melakukan bai&#39;at namun Sa&#39;id tetap menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Wafatnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Sa&#39;id ibn al-Musayyab rahimahullah wafat pada tahun 94 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai Syaikh Sa&#39;id ibn al-Musayyab dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/5717009303110592268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/5717009303110592268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/said-ibn-al-musayyab.html' title='Tabi&#39;in : Syaikh Sa&#39;id ibn al-Musayyab rahimahullah, Tokoh Tabi&#39;in Paling Utama'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-2989075297209915686</id><published>2011-12-31T22:32:00.002+07:00</published><updated>2012-01-04T03:30:01.109+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ahlul Bait"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><title type='text'>Ahlul Bait : Fathimah, Putri Kesayangan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Kelahiran dan Masa Kanak-kanak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelahiran Fathimah radhiyallahu &#39;anha merupakan rahmat yang dilimpahkan Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Fathimah lahir di kota Makkah pada tahun 35 sesudah kelahiran Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, atau 5 tahun sebelum Bi&#39;tsah atau sebelum Nubuwwah atau sebelum Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam diutus. Tepatnya pada hari Jum&#39;at, 20 Jumadil Akhir, bersamaan dengan selesainya Binaul Ka&#39;bah (pembangunan kembali Ka&#39;bah). Pada tahun itu kaum Quraisy membangun kembali Ka&#39;bah yang rusak akibat banjir yang melanda kota Makkah. Beliau adalah putri keempat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dari Ummul Mu&#39;minin Khadijah radhiyallahu &#39;anha, yang lainnya adalah Zainab, Ruqayah, dan Ummu Kaltsum radhiyallahu &#39;anhum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fathimah radhiyallahu &#39;anha tumbuh dan berkembang di bawah naungan wahyu Ilahi di saat kaum Mu&#39;min berjuang melawan kaum kufar Quraisy. Dalam keadaan masih kanak-kanak beliau sudah harus mengalami pahit getirnya perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan, merasakan penderitaan kehausan dan kelaparan. Lebih dari 3 tahun beliau bersama kedua orangtuanya hidup menderita di dalam Syi&#39;ib akibat pemboikotan orang-orang kufar Quraisy terhadap keluarga Bani Hasyim. Setelah bebas dari penderitaan selama di Syi&#39;ib, kesedihan kembali menghampiri diri Fathimah radhiyallahu &#39;anha, ibunda tercinta, Khadijah radhiyallahu &#39;anha dipanggil menghadap Ilahi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Putri Kesayangan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sangat mencintai putrinya ini. Fathimah radhiyallahu &#39;anha adalah putri bungsu yang paling disayang dan dikasihi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Demikian besar rasa cinta Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam kepada putri bungsunya itu. Beliau merasa tak ada seorang pun di dunia yang paling berkenan di hati beliau dan paling dekat di sisinya selain Fathimah radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibn Abbas radhiyallahu &#39;anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam berkata kepada &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu: &quot;Wahai &#39;Ali! Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dari aku. Dia adalah cahaya mataku dan buah hatiku. Barangsiapa menyusahkan dia, ia menyusahkan aku dan barangsiapa yang menyenangkan dia, ia menyenangkan aku.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam itu merupakan penegasan bagi ummatnya bahwa putri beliau itu merupakan lambang keagungan abadi yang ditinggalkan di tengah ummatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Pernikahan Fathimah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fathimah radhiyallahu &#39;anha mencapai puncak keremajaannya dan kecantikannya pada saat risalah yang dibawakan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sudah berkembang pesat di Madinah dan sekitarnya. Keelokan parasnya banyak menarik perhatian. Tidak sedikit pria terhormat yang menggantungkan harapan ingin mempersunting putri Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam itu. Beberapa orang terkemuka dari kaum Muhajirin dan Anshar telah berusaha melamarnya. Menanggapi lamaran itu, Rasulullah mengemukakan bahwa beliau sedang menantikan datangnya petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala mengenai putrinya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Datanglah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu yang meminta Fathimah untuk dijadikan istrinya. Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, &quot;Wahai Abu Bakar, tunggulah sampai ada keputusan.&quot; Hal itu kemudian diceritakan Abu Bakar pada Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhu. Umar berkata, &quot;Wahai Abu Bakar, beliau menolak permintaanmu.&quot; Lalu Abu Bakar berkata pada Umar, &quot;Lamarlah Fathimah kepada Nabi.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar ibn al-Khaththab pun melamarnya. Ternyata beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam melontarkan perkataan seperti yang dikemukakan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Umar menemui Abu Bakar seraya menceritakan hasilnya. Abu Bakar berkata, &quot;Wahai Umar, beliau menolakmu.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluarga &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu berkata kepada &#39;Ali, &quot;Lamarlah Fathimah kepada Rasulullah.&quot; &#39;Ali menjawab, &quot;Setelah Abu Bakar dan Umar ditolak?&quot; Akan tetapi, kerabatnya dari pihak Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam terus mendorongnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Ali ibn Abi Thalib kemudian menemui Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan memberi salam. Beliau bertanya, &quot;Wahai Ibn Abi Thalib, ada perlu apa?&quot; Dia menjawab, &quot;Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah.&quot; Beliau bersabda, &quot;Marhaban wa ahlan.&quot; Beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam hanya menjawab demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Ali ibn Abi Thalib menemui sejumlah keluarganya dan orang Anshar yang sejak tadi menunggunya. Mereka bertanya, &quot;Bagaimana hasilnya?&quot; &#39;Ali menjawab, &quot;Aku tidak tahu, beliau hanya mengucapkan &#39;Marhaban wa ahlan&#39;.&quot; Mereka berkata, &quot;Cukuplah sebagai tanda diterimanya lamaranmu salah satu perkataan Rasulullah, beliau memberimu istri dan memberimu ucapan selamat.&quot; (at-Thabwat [7/21]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diterimalah lamaran &#39;Ali ibn Abi Thalib pada Fathimah binti Rasulullah. Tidak lama kemudian, diserahkanlah maharnya kepada Fathimah berupa baju besi yang sudah usang. Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam memberikannya kepada Fathimah mewakili &#39;Ali ibn Abi Thalib. Beliau kemudian menjual unta dengan harga 480 dirham. Beliau bersabda, &quot;Belikanlah dua pertiga uang itu untuk makanan yang baik, dan sepertiganya untuk pakaian.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan dari Anas ibn Malik radhiyallahu &#39;anhu bahwasanya Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda kepada Anas, &quot;Pergilah dan sampaikanlah undanganku kepada Abu Bakar, Umar, &#39;Utsman, Thalhah, Zubair, dan beberapa orang Anshar.&quot; Aku berangkat untuk mengundang meraka. Setelah para undangan duduk di tempatnya masing-masing, beliau bersabda, &quot;Segala puji kepunyaan Allah yang terpuji karena nikmat-Nya, Yang disembah karena kekuasaan-Nya, Yang ditaati karena kekuasaan-Nya, Yang ditakuti siksa-Nya, dan Yang menerapkan urusan-Nya di langit dan bumi. Dia telah menciptakan makhluk dengan kekuasaan-Nya, menerangi meraka dengan hukum-hukum-Nya, memuliakan meraka dengan agama-Nya, dan memuliakan mereka dengan Nabi-Nya, yaitu Muhammad shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya Allah telah menjadikan hubungan karena perkawinan sebagai tali keturunan tambahan, perintah yang difardhukan, hukum yang adil, dan kebaikan yang menyeluruh. Dengan hubungan itu, kekerabatan diikat dan manusia diteguhkan. Allah Ta&#39;ala berfirman, &quot;Dan Dia pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia menjadikan manusia itu (mempunyai) keturunan dan Mushaharah, dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.&quot; (QS. al-Furqan: 54).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perintah Allah bermuara pada qadha-Nya, qadha-nya bermuara ke qadar-Nya. Setiap batas akhir&lt;br /&gt;
mempunyai ketentuan. Allah berfirman, &quot;Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya lah terhadap Ummul-Kitab (lauhul-mahfuzh).&quot; (QS. ar-Ra&#39;du: 39).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Ta&#39;ala lalu menyuruhku agar mengawinkan Fathimah dengan &#39;Ali. Aku mempersaksikan kepada kalian bahwa sesungguhnya aku menikahkan Fathimah kepada &#39;Ali dengan mahar 400 Mitsqal perak jika &#39;Ali menerima, berdasarkan sunnah yang berlaku dan kewajiban yang ditetapkan. Semoga Allah menyatukan keduanya, memberkati keduanya, membaguskan keturunannya, dan menjadikan keturunannya sebagai kunci rahmat, sumber hikmah, dan kepercayaan ummat. Demikian aku menyampaikan ini. Aku meminta ampun kepada Allah untukku dan kalian.&quot; (Thabaqaat, Ibn Sa&#39;ad [7/15]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anas berkata bahwa saat pernikahan itu, &#39;Ali sedang pergi untuk mengerjakan kepentingan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Beliau menyuruhku kami menghidangkan semangkuk kurma. Beliau meletakannya di depan kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang berkata, &quot;Awas!&quot; Tiba-tiba datanglah &#39;Ali. Rasulullah tersenyum kepadanya dan bersabda, &quot;Wahai &#39;Ali, Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk menikahkanmu dengan Fathimah dan aku telah menikahkanmu dengan maskawin 400 mitsqal perak.&quot; &#39;Ali berkata, &quot;Ya Rasulullah, aku rela.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Ali lalu merebahkan diri untuk bersujud sebgai rasa syukur kepada Allah. Setelah selesai, Rasulullah bersabda, &quot;Semoga Allah memberkati kamu berdua, menjadikan nasibmu bahagia, dan melahirkan keturunan yang banyak lagi baik.&quot; (Thabaqaat, Ibn Sa&#39;ad [3/16]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kehidupan Rumah Tangga Fathimah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sekali riwayat yang menceritakan betapa beratnya kehidupan rumah-tangga &#39;Ali ibn Thalib dan Fathimah radhiyallahu &#39;anhum. Namun Fathimah radhiyallahu &#39;anha sanggup menunaikan tugas hidupnya yang penuh bakti kepada suami, taqwa kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam berkunjung ke kediaman Fathimah radhiyallahu &#39;anha. Waktu itu putri beliau tersebut sedang menggiling tepung sambil berlinang air mata. Baju yang dikenakannya terbuat dari kain kasar. Menyaksikan putrinya menangis, Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam ikut melinangkan air mata. Tak lama kemudian beliau menghibur putrinya: &quot;Fathimah, terimalah kepahitan dunia untuk memperoleh kenikmatan di akhirat kelak.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Riwayat lain mengatakan bahwa pada suatu hari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam datang menjenguk Fathimah radhiyallahu &#39;anha tepat pada saat Fathimah bersama suaminya, &#39;Ali ibn Abi Thalib sedang bekerja menggiling tepung. Beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam bertanya: &quot;Siapakah di antara kalian berdua yang akan kugantikan?&quot; &quot;Fathimah!&quot; jawab &#39;Ali. Fathimah lalu berhenti diganti oleh ayahandanya menggiling tepung bersama &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada satu hari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersama sejumlah Sahabat berada dalam masjid menunggu kedatangan Bilal ibn Rabbah radhiyallahu &#39;anhu yang akan mengumandangkan adzan sebagaimana biasa dilakukan sehari-hari. Ketika Bilal terlambat datang oleh Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam ditegur dan ditanya apa sebabnya. Bilal menjelaskan: &quot;Aku baru saja datang dari rumah Fathimah. Ia sedang menggiling tepung. al-Hasan, putranya yang masih bayi diletakkan dalam keadaan menangis keras. Kukatakan kepadanya &#39;Manakah yang lebih baik, aku menolong anakmu itu ataukah aku saja yang menggiling tepung&#39;. Ia menyahut: &#39;Aku kasihan kepada anakku&#39;. Gilingan itu segera kuambil lalu aku menggiling gandum. Itulah yang membuatku datang terlambat!&quot; Mendengar keterangan Bilal itu Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam berkata: &quot;Engkau mengasihani dia dan Allah mengasihani dirimu!&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah riwayat lagi yang berasal dari &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu, beliau mengatakan: Fathimah pernah mengeluh karena tapak tangannya menebal akibat terus menerus memutar gilingan tepung. Ia keluar hendak bertemu Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Karena tidak berhasil, ia menemui &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha. Kepadanya diceritakan maksud kedatangannya. Ketika Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam datang, beliau diberitahu oleh &#39;Aisyah tentang maksud kedatangan Fathimah yang hendak minta diusahakan seorang pembantu rumah-tangga. Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam kemudian datang ke rumah kami. Waktu itu kami sedang siap-siap hendak tidur. Kepada kami beliau berkata, &quot;Kuberitahukan kalian tentang sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta kepadaku. Sambil berbaring ucapkanlah tasbih 33 kali tahmid 33 kali dan takbir 34 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu yang akan melayani kalian.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal tersebut di atas adalah gambaran tentang kehidupan suatu keluarga mulia di tengah-tengah masyarakat Islam. Betapa sederhananya kehidupan pemimpin-pemimpin Islam pada masa itu. Sebuah contoh kehidupan masyarakat yang dibangun oleh Islam dengan prinsip ajaran keluhuran akhlaq.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Putra-putri Fathimah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fathimah radhiyallahu &#39;anha  satu-satunya yang menjadi sumber keturunan paling mulia dari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang dikenal ummat Islam di seluruh dunia. Beliau melahirkan dua orang putra dan dua orang putri. Putra-putranya bernama &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/al-hasan-ibn-ali.html&#39;&gt;al-Hasan&lt;/a&gt; dan &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/al-husain-ibn-ali.html&#39;&gt;al-Husain&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhuma. Sedang putri-putrinya bernama Zainab radhiyallahu &#39;anha dan Ummu Kaltsum radhiyallahu &#39;anha. Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dengan gembira sekali menyambut kelahiran cucu-cucunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu &#39;anhum mempunyai kedudukan tersendiri di dalam hati beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Dua orang cucunya itu beliau asuh sendiri. Kaum Muslimin pada zaman hidupnya Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menyaksikan sendiri betapa besarnya kecintaan beliau kepada al-Hasan dan al-Husain. Beliau menganjurkan supaya orang mencintai dua &quot;putra&quot; beliau itu dan berpegang teguh pada pesan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Hasan dan al-Husain meninggalkan jejak yang jauh jangkauannya bagi ummat Islam. al-Husain radhiyallahu &#39;anhu gugur sebagai syahid menghadapi penindasan dinasti Bani Umayyah. Semangatnya terus berkesinambungan melestarikan dan membangkitkan perjuangan yang tegas dan seru di kalangan ummat Islam menghadapi kedzaliman. Semangat al-Husain merupakan kekuatan penggerak yang luar biasa dahsyatnya sepanjang sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putri beliau yang bernama Zainab radhiyallahu &#39;anha merupakan pahlawan wanita Muslim yang sangat cemerlang dan menonjol sekali peranannya dalam pertempuran di Karbala membela al-Husain radhiyallahu &#39;anhu. Di Karbala itulah dinasti Bani Umayyah menciptakan tragedi yang menimpa al-Husain beserta segenap anggota keluarganya. al-Husain radhiyallahu &#39;anhu gugur dan kepalanya diarak sebagai pameran keliling Kufah sampai ke Syam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Keutamaan Fathimah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana kita ketahui, bahwa Fathimah radhiyallahu &#39;anha telah mendapat pendidikan langsung dari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, sehingga tidak diragukan lagi bahwa Fathimah telah mewarisi sifat-sifat baik ayahnya, seperti akhlaqul karimah (akhlak yang mulia), &#39;afwu&#39;indal magdirah (pemberian maaf di saat beliau dapat membalas) dan husnuddhon (baik sangka) serta sifat baik Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Aisyah Ummul Mu&#39;minin radhiyallahu &#39;anha berkata: &quot;Aku tidak pernah melihat seorangpun yang paling menyerupai Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dalam sikapnya, berdiri dan duduknya kecuali Fathimah putri Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&quot; Selanjutnya &#39;Aisyah berkata: &quot;Jika Fathimah datang kepada Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau berdiri menyambut kedatangannya, dan mempersilahkan duduk di tempat duduknya. Demikian juga jika Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam datang kepadanya ia berdiri menyambut kedatangan beliau dan mempersilahkan duduk di tempat duduknya.&quot; (Shahih at-Tirmidzi [2/319], bab keutamaan Fathimah; Shahih Bukhari, bab Qiyam ar-Rajul liakhihi, hadits ke 947; Shahih Muslim, kitab Fadhil ash-Shahabah, bab Fadha&#39;il Fathimah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fathimah radhiyallahu &#39;anhu dikenal sebagai seorang yang berakhlaq mulia, sopan santun, tidak sombong tapi rendah hati, walaupun beliau putri seorang Nabi. Beliau ramah serta lemah lembut dalam bertutur kata. Berjiwa besar, lapang dada serta pemaaf dan tidak mempunyai rasa ghil (rasa unek-unek tidak senang kepada orang lain). Sehingga tepat sekali kalau Fathimah mendapat gelar sebagai &quot;Sayyidatu Nisa&#39; Ahlul Jannah&quot; (pemimpin para wanita di surga).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha berkata: Fathimah datang kepada Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam dengan berjalan seperti jalannya Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Kemudian Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengucapkan: &quot;Selamat datang duhai putriku.&quot; Kemudian beliau mempersilahkan duduk di sebelah kanan atau kirinya kemudian beliau berbisik kepadanya lalu Fathimah menangis. Kemudian Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda kepadanya: &quot;Mengapa kamu menangis?&quot; Kemudian Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam berbisik lagi kepadanya. Lalu ia tertawa dan berkata: Aku tidak pernah merasakan bahagia yang paling dekat dengan kesedihan seperti hari ini. Lalu aku (&#39;Aisyah) bertanya kepada Fathimah tentang apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Fathimah menjawab: &quot;Aku tidak akan menceritakan rahasia Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sehingga beliau wafat.&quot; Aku bertanya lagi kepadanya, lalu ia berkata: &quot;(Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam berbisik kepadaku): Jibril berbisik kepadaku, al-Qur&#39;an akan menampakkan padaku setiap setahun sekali, dan ia akan menampakkan padaku tahun ini dua kali, aku tidak melihatnya kecuali datangnya ajalku, dan engkau adalah orang pertama dari Ahlul Baitku yang menyusulku.&quot; Lalu Fathimah menangis. Kemudian Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda: &quot;Tidakkah kamu ridha menjadi penghulu semua perempuan ahli surga atau penghulu semua istri orang-orang yang beriman?&quot; Kemudian Fathimah tertawa. (Shahih Bukhari, kitab Awal Penciptaan, bab tanda-tanda kenabian dalam Islam; Musnad Ahmad [6/282], hadits ke 25874).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau juga dikenal jujur dan tidak suka berdusta, sebagaimana kesaksian &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha. Di mana Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah berkata: &quot;Bertanyalah kepada Fathimah, sebab dia itu tidak suka dusta.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di samping itu semua, Fathimah sangat sabar dalam menerima segala ujian serta ridha dan tawakkal atas takdir yang dialaminya. Walaupun keadaan ekonominya dalam keadaan serba kekurangan, namun beliau menerimanya dengan senang hati. Itulah di antara sifat-sifat mulia putri Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Wafatnya Fathimah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar apa yang pernah dibisikkan oleh Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam kepada Fathimah radhiyallahu &#39;anha, bahwa putrinya itu akan menyusul meninggal tidak lama setelah beliau meninggal. Tepatnya 6 bulan setelah Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam meninggal, putrinya itu wafat. Fathimah wafat pada hari Senin malam Selasa, tanggal 3 Ramadhan tahun 11 Hijriyah dan umurnya saat itu 28 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berita kematian Fathimah radhiyallahu &#39;anha cepat sekali meluas ke seluruh Madinah, sehingga tidak lama kemudian para Sahabat sudah berdatangan mereka berduyun-duyun mengunjungi kediaman Imam &#39;Ali untuk berta&#39;ziah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka benar-benar merasa sedih, sebab baru enam bulan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam meninggalkan mereka, kini putrinya yang menjadi panutan bagi mereka, menyusul ayahnya. Sungguh satu kejadian yang tidak diinginkan oleh mereka sebab Fathimah itu sangat dicintai dan dihormati oleh semua sahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, sesuai dengan wasiatnya, maka yang memandikan adalah &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu dan Asma&#39; binti Umais (istri Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu). Bertindak selaku imam dalam shalatul Jinazah adalah &#39;Ali ibn Thalib. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa paman &#39;Ali ibn Abi Thalib, yaitu Abbas ibn &#39;Abdul Muththalib radhiyallahu &#39;anhu yang mengimami. Fathimah radhiyallahu &#39;anhu kemudian dimakamkan di pemakaman Baqi&#39;, tidak jauh dari Masjid Nabawi. Selanjutnya turun dalam kubur saat menguburkan Fathimah adalah &#39;Ali ibn Abi Thalib, Abbas ibn &#39;Abdul Muththalib dan Fadhl ibn Abbas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian Fathimah radhiyallahu &#39;anha telah berpulang ke rahmatullah. Namun suasana berkabung terus menyelimuti kota Madinah, karena putri Rasulnya telah tiada dan meninggalkan putra-putri yang masih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai Fathimah binti Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/2989075297209915686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/2989075297209915686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/fathimah-binti-rasulullah.html' title='Ahlul Bait : Fathimah, Putri Kesayangan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-3435244045936949273</id><published>2011-12-31T22:19:00.004+07:00</published><updated>2012-01-04T11:35:29.803+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Perawi Hadits"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ummul Mu&#39;minin"/><title type='text'>Ummahatul Mu&#39;minin : &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha, Wanita yang Dicintai Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Nama Lengkap dan Nasab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau adalah Ummul Mu&#39;minin Ummu &#39;Abdillah &#39;Aisyah binti Abu Bakar ibn &#39;Utsman, Shiddiqah binti Shiddiqul Akbar, istri tercinta Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Beliau lahir 4 tahun setelah Rasulullah diutus sebagai Nabi. Ibu beliau bernama Ummu Ruman binti &#39;Amir ibn Uwaimir ibn &#39;Abdi asy-Syams ibn Kinanah yang meninggal dunia pada waktu Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam masih hidup yaitu tepatnya pada tahun ke-6 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Menikah dengan Rasulullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menikahi &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha 2 tahun sebelum hijrah melalui sebuah ikatan suci yang mengukuhkan gelar &#39;Aisyah menjadi Ummul Mu&#39;minin, ketika itu &#39;Aisyah masih berumur 6 tahun. Dan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam membangun rumah tangga dengannya setelah berhijrah, tepatnya pada bulan Syawwal tahun ke-2 Hijriah dan ia sudah berumur 9 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha menceritakan, &quot;Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menikahiku pasca meninggalnya Khadijah sedang aku masih berumur 6 tahun, dan aku dipertemukan dengan beliau tatkala aku berumur 9 tahun. Para wanita datang kepadaku padahal aku sedang asyik bermain ayunan dan rambutku terurai panjang, lalu mereka menghiasiku dan mempertemukan aku dengan Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&quot; (Lihat Abu Dawud [9435]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menikahi &#39;Aisyah, beliau memberinya mahar sebesar 400 dirham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian bahtera rumah tangga itu berlangsung dalam suka dan duka selama 8 tahun 5 bulan, hingga Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam wafat pada tahun 11 H. Sedang &#39;Aisyah baru berumur 18 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha adalah seorang wanita berparas cantik berkulit putih, sebab itulah ia sering dipanggil dengan &quot;Humaira&quot;. Selain cantik, ia juga dikenal sebagai seorang wanita cerdas yang Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala telah mempersiapkannya untuk menjadi pendamping Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dalam mengemban amanah risalah yang akan menjadi penyejuk mata dan pelipur lara bagi diri beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari Jibril memperlihatkan (kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam) gambar &#39;Aisyah pada secarik kain sutra berwarna hijau sembari mengatakan, &quot;Ia adalah calon istrimu kelak, di dunia dan di akhirat.&quot; (HR. at-Tirmidzi [3880], lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi [3041]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain menjadi seorang pendamping setiap yang selalu siap memberi dorongan dan motivasi kepada suami tercinta di tengah beratnya medan dakwah dan permusuhan dari kaumnya, &#39;Aisyah juga tampil menjadi seorang penuntut ilmu yang senantiasa belajar dalam madrasah Nubuwwah di mana beliau menimba ilmu langsung dari sumbernya. Beliau tercatat termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadits dan memiliki keunggulan dalam berbagai cabang ilmu di antaranya ilmu fiqh, kesehatan, dan syair Arab. Setidaknya sebanyak 1.210 hadits yang beliau riwayatkan telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dan 174 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari serta 54 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Sehingga pembesar para Sahabat kibar tatkala mereka mendapatkan permasalahan, mereka datang dan merujuk kepada beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Kedudukan &#39;Aisyah di Sisi Rasulullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari orang-orang Habasyah masuk masjid dan menunjukkan atraksi permainan di dalam masjid, lalu Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam memanggil &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha, &quot;Wahai Humaira, apakah engkau mau melihat mereka?&quot; &#39;Aisyah menjawab, &quot;Iya.&quot; Maka Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam berdiri di depan pintu, lalu aku datang dan aku letakkan daguku pada pundak Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan aku tempelkan wajahku pada pipi beliau.&quot; Lalu ia mengatakan, &quot;Di antara perkataan mereka tatkala itu adalah, &#39;Abul Qasim adalah seorang yang baik&#39;.&quot; Maka Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengatakan, &quot;Apakah sudah cukup wahai &#39;Aisyah?&quot; Ia menjawab: &quot;Jangan terburu-buru wahai Rasulullah.&quot; Maka beliau pun tetap berdiri. Lalu Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengulangi lagi pertanyaannya, &quot;Apakah sudah cukup wahai &#39;Aisyah?&quot; Namun, &#39;Aisyah tetap menjawab, &quot;Jangan terburu-buru wahai Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&quot; &#39;Aisyah mengatakan, &quot;Sebenarnya bukan karena aku senang melihat permainan mereka, tetapi aku hanya ingin memperlihatkan kepada para wanita bagaimana kedudukan Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam terhadapku dan kedudukanku terhadapnya.&quot; (HR. an-Nasa&#39;i [5/307]), lihat ash-Shahihah [3277]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Canda Nabi kepada &#39;Aisyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha bercerita, &quot;Suatu waktu Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam datang untuk menemuiku sedang aku tengah bermain-main dengan gadis-gadis kecil.&quot; Lalu Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bertanya kepadaku, &quot;Apa ini wahai &#39;Aisyah?&quot; Lalu aku katakan, &quot;Itu adalah kuda Nabi Sulaiman yang memiliki sayap.&quot; Maka Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam pun tertawa. (HR. Ibn Sa&#39;ad dalam Thabaqat [8/68], lihat Shahih Ibn Hibban [13/174]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam berlomba lari dengan &#39;Aisyah dan &#39;Aisyah menang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha bercerita, &quot;Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam berlari dan mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku mendahuluinya. Tetapi, tatkala badanku gemuk, Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengajak lomba lari lagi namun beliau mendahului, kemudian beliau mengatakan, &#39;Wahai &#39;Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku yang dahulu&#39;.&quot; (HR. Thabrani dalam Mu&#39;jamul Kabir [23/47], lihat al-Misykah [2.238]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Keutamaan &#39;Aisyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sekali keutamaan yang dimiliki oleh Ummul Mu&#39;minin &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha, sampai-sampai Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah mengatakan dalam sabdanya: &quot;Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak, namun yang mulia dari kalangan wanita hanyalah Maryam binti &#39;Imran dan Asiyah istri Fir&#39;aun, dan keutamaan &#39;Aisyah atas semua wanita seperti keutamaan tsarid (makanan yang terbuat dari roti dan daging) atas segala makanan.&quot; (HR. Bukhari [5/2067] dan Muslim [2431]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Beberapa keutamaan &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha yang lain di antaranya&lt;/b&gt;:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau adalah satu-satunya istri Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang dinikahi tatkala gadis, berbeda dengan istri-istri Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang lain karena mereka dinikahi tatkala janda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha sendiri pernah mengatakan, &quot;Aku telah diberi sembilan perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun setelah Maryam. Jibril telah menunjukkan gambarku tatkala Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam diperintah untuk menikahiku, beliau menikahiku tatkala aku masih gadis dan tidaklah beliau menikahi seorang gadis kecuali diriku, beliau meninggal dunia sedang kepalanya berada dalam dekapanku serta beliau dikuburkan di rumahku, para Malaikat menaungi rumahku, al-Qur&#39;an turun sedang aku dan beliau berada dalam satu selimut, aku adalah putri kekasih dan sahabat terdekatnya, pembelaan kesucianku turun dari atas langit, aku dilahirkan dari dua orang tua yang baik, aku dijanjikan dengan ampunan dan rezeki yang mulia.&quot; (Lihat al-Hujjah Fi Bayan Mahajjah [2/398]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dari kalangan wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ketika &#39;Amr ibn al-Ash radhiyallahu &#39;anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, &quot;Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?&quot; Beliau menjawab, &quot;&#39;Aisyah.&quot; &quot;Dari kalangan laki-laki?&quot; tanya &#39;Amr. Beliau menjawab, &quot;Bapaknya.&quot; (HR. Bukhari [3662] dan Muslim [2384]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jibril &#39;alaihissallam menyampaikan salam kepadanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Syihab menyatakan bahwa Abu Usamah radhiyallahu &#39;anhu berkata: Sesungguhnya &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha pernah mengungkapkan bahwa pada suatu hari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam berkata kepadanya, &quot;Hai &#39;Aisyah, ini Jibril. la mengucapkan salam kepadamu.&quot; &#39;Aisyah membalas, &quot;Wa &#39;alaihis salaam wa rahmatullah wa barakaatuh (semoga Jibril juga mendapat kesejahteraan, limpahan kasih sayang dan berkah dari Allah), Engkau (Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam) melihat sesuatu yang tidak dapat kulihat.&quot; (Muttafaq &#39;alaih)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Aisyah adalah wanita yang paling &#39;alim daripada wanita lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata az-Zuhri, &quot;Apabila ilmu &#39;Aisyah dikumpulkan dengan ilmu seluruh para wanita lain, maka ilmu &#39;Aisyah lebih utama.&quot; (Lihat al-Mustadrak Imam Hakim [4/11]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata Atha&#39;, &quot;&#39;Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan pendapat-pendapatnya adalah pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk umum.&quot; (Lihat al-Mustadrak Imam Hakim [4/11]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata Ibn &#39;Abdil Barr, &quot;&#39;Aisyah adalah satu-satunya wanita di zamannya yang memiliki kelebihan dalam tiga bidang ilmu: ilmu fiqh, ilmu kesehatan, dan ilmu syair.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pembesar Sahabat apabila menjumpai ketidakpahaman dalam masalah agama, maka mereka datang kepada &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anhu dan menanyakannya hingga beliau menyebutkan jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata Abu Musa al-Asy&#39;ari radhiyallahu &#39;anhu, &quot;Tidaklah kami kebingungan tentang suatu hadits lalu kami bertanya kepada &#39;Aisyah, kecuali kami mendapatkan jawaban dari sisinya.&quot; (Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi [3044]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatkala istri-istri Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam diberi pilihan untuk tetap bersama Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam dengan kehidupan apa adanya, atau diceraikan dan akan mendapatkan dunia, maka &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha adalah orang pertama yang menyatakan tetap bersama Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam bagaimanapun kondisi beliau sehingga istri-istri Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang lain mengikuti pilihan-pilihannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tayammum disyari&#39;atkan karena sebab beliau, yaitu tatkala manusia mencarikan kalungnya yang hilang di suatu tempat hingga datang waktu shalat namun mereka tidak menjumpai air hingga disyari&#39;atkanlah tayammum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata &#39;Usaid ibn Khudair, &quot;Itu adalah awal keberkahan bagi kalian wahai keluarga Abu Bakar.&quot; (HR. Bukhari [334]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha adalah wanita yang dibela kesuciannya dari langit ketujuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prahara tuduhan zina yang dilontarkan orang-orang munafik untuk menjatuhkan martabat Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam lewat istri beliau telah tumbang dengan turunnya 16 ayat secara berurutan yang akan senantiasa dibaca hingga hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala mempersaksikan kesucian &#39;Aisyah dan menjanjikannya dengan ampunan dan rezeki yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, karena ketawadhu&#39;annya (kerendahan hatinya), &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anhu mengatakan, &quot;Sesungguhnya perkara yang menimpa atas diriku itu lebih hina bila sampai Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman tentangku melalui wahyu yang akan senantiasa dibaca.&quot; (HR. Bukhari [4141]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karenanya, apabila Masruq meriwayatkan hadits dari &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anhu, beliau selalu mengatakan, &quot;Telah bercerita kepadaku Shiddiqah binti Shiddiq, wanita yang suci dan disucikan.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barangsiapa yang menuduh beliau telah berzina maka dia kafir, karena al-Qur&#39;an telah turun dan menyucikan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebab beliau Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala mensyari&#39;atkan hukuman cambuk bagi orang yang menuduh wanita muhshanat (yang menjaga diri) berzina, tanpa bukti yang dibenarkan syari&#39;at.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sakit, beliau memilih tinggal di rumah &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha dan akhirnya beliau pun wafat dalam dekapan &#39;Aisyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata Abu Wafa&#39; ibn &#39;Aqil, &quot;Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam memilih untuk tinggal di rumah &#39;Aisyah tatkala sakit dan memilih bapaknya (Abu Bakar) untuk menggantikannya mengimami manusia, namun mengapa keutamaan agung semacam ini bisa terlupakan oleh hati orang-orang Rafidhah padahal hampir-hampir saja keutamaan ini tidak luput sampaipun oleh binatang, bagaimana dengan mereka.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Wafatnya &#39;Aisyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ummul Mu&#39;minin &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha wafat di Madinah malam Selasa tanggal 17 Ramadhan 57 H, pada masa pemerintahan Khalifah Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan radhiyallahu &#39;anhu, di usianya yang ke 65 tahun, setelah berwasiat untuk dishalati oleh Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu dan dikuburkan di pekuburan Baqi&#39; pada malam itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai &#39;Aisyah dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/3435244045936949273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/3435244045936949273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/aisyah-binti-abu-bakar-ash-shiddiq.html' title='Ummahatul Mu&#39;minin : &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha, Wanita yang Dicintai Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-2099108795688236845</id><published>2011-12-31T22:04:00.003+07:00</published><updated>2011-12-31T22:38:28.974+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="as-Salafush-Shalih"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tabiin"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ulama"/><title type='text'>Tabi&#39;in : Syaikhul Bashrah, al-Hasan ibn Yasar rahimahullah</title><content type='html'>Syaikh al-Hasan al-Bashri rahimahullah dilahirkan pada 2 tahun terakhir dari masa kekhalifahan &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/umar-ibn-al-khaththab.html&#39;&gt;Umar ibn al-Khaththab&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu (tahun 21 H/632 M). Asal keluarganya sebenarnya dari Sabi Misan, suatu desa yang terletak antara Bashrah dan Wasith. Namun kemudian mereka pindah ke Madinah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayah al-Hasan, Yasar adalah maula Zaid ibn Tsabit al-Anshary radhiyallahu &#39;anhu dan ibunya, Khairah adalah maula Ummu Salamah radhiyallahu &#39;anha, istri Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Ummu Salamah sering mengutus maulanya tersebut untuk suatu keperluan sehingga beliaulah yang menyusui al-Hasan yang waktu itu masih bayi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka masyarakat waktu itupun menduga bahwa ilmu dan hikmah yang diberikan kepada al-Hasan disebabkan barakah susuan tersebut. al-Hasan tumbuh di Madinah di lingkungan rumah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/ummul-muminin.html&#39;&gt;Ummahatul Mu&#39;minin&lt;/a&gt; dan bertemu dengan para &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/sahabat-nabi.html&#39;&gt;Sahabat Nabi&lt;/a&gt; serta mendengar ilmu dari mereka. Beliau pernah bertemu dengan tidak kurang dari 70 orang Sahabat yang ikut dalam perang Badar, dan 300 orang Sahabat lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika al-Hasan telah berumur 14 tahun, dan memasuki usia remaja, beliau pindah bersama orangtuanya ke Bashrah dan menetap di sana. Dan dari sinilah kemudian di akhir nama beliau dicantumkan &quot;al-Bashri&quot;, yaitu nisbah kepada kota Bashrah sehingga dikenal banyak orang dengan sebutan al-Hasan al-Bashri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu al-Hasan pindah ke sana, kota Bashrah merupakan benteng ilmu terbesar di negeri Islam. Dan masjidnya yang agung penuh dengan pembesar-pembesar Sahabat dan Tabi&#39;in yang pindah ke sana. Kajian-kajian ilmu dengan aneka ragamnya meramaikan ruangan masjid dan mushallanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Hasan kemudian mengikuti secara khusus pengajian yang dipandu &#39;Abdullah ibn Abbas radhiyallahu &#39;anhu. Darinya beliau belajar tafsir, hadits, qira&#39;at, fiqh, bahasa, sastra dan lain-lainnya. Dan beliau juga belajar kepada &#39;Ulama selainnya. Sehingga beliau menjadi seorang &#39;alim yang sempurna, dan ahli fiqh yang tsiqah. Maka layaklah jika beliau digelari dengan Syaikhul Bashrah dan Sayyidul Abidin. Para Sahabat Nabi yang hidup di zaman itu pun mengakui akan kedalaman ilmu beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh asy-Sya&#39;bi rahimahullah berkata pada seseorang yang hendak ke Bashrah, &quot;Jika anda melihat seseorang yang tertampan dari penduduk Bashrah dan yang paling disegani oleh mereka, maka dia-lah al-Hasan (al-Bashri), maka sampaikan salamku kepadanya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh al-Hasan al-Bashri rahimahullah juga dikenal sebagai seseorang yang sangat pemberani. Dan dulu, jika al-Muhallab ibn Abi Shafrah hendak memerangi orang-orang musyrik, maka beliau-lah yang dikedepankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Malik ibn Dinar rahimahullah bercerita tentang orang-orang yang memiliki pengaruh di hati-hati (manusia): &quot;Iya, demi Allah, sungguh kami melihat mereka itu adalah al-Hasan, Sa&#39;id ibn Jubair, dan orang-orang yang seperti mereka. Allah telah menghidupkan sejumlah besar manusia dengan sebab perkataan salah seorang dari mereka.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh al-A&#39;masy rahimahullah berkata: &quot;Dulu apabila al-Hasan disebut di sisi Abu Ja&#39;far Muhammad ibn &#39;Ali ibn al-Husain -yakni al-Baqir- beliaupun berkata: &quot;Dialah (al-Hasan) orang yang ucapannya menyerupai perkataan para Nabi.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam al-Ghazali rahimahullah berkata, &quot;al-Hasan al-Bashri adalah orang yang ucapannya lebih mirip dengan ucapan para Nabi, dan cara hidupnya mendekati cara hidup para Sahabat.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Abu Burdah ibn Abu Musa al-Asy&#39;ari rahimahullah berkata: &quot;Aku belum pernah melihat seseorang yang menyerupai para Sahabat Muhammad shallallahu &#39;alaihi wa sallam selain beliau (al-Hasan).&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Muhammad ibn Sa&#39;d rahimahullah berkata, &quot;al-Hasan al-Bashri memiliki banyak kebaikan, &#39;dlim (orang yang amat luas pengetahuannya), tinggi derajatnya, seorang pakar fiqh, ahli hujjah, dapat dipercaya, seorang &#39;ibid (orang yang banyak beribadah kepada Allah), luas wawasan ilmunya, fasih, dan tampan.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Khalid ibn Shafwan berkata, &quot;Ketika saya bertemu dengan Maslamah ibn &#39;Abdul Malik di Hairah (negeri tua di Iraq, 3 mil dari Kufah, namun sudah punah dan sekarang sudah tidak ada bekasnya), ia berkata, &quot;Kabarilah aku wahai Khalid, tentang al-Hasan al-Bashri, karena aku kira anda mengetahui sesuatu darinya yang tidak diketahui orang lain.&quot; Maka aku berkata, &quot;Semoga Allah memberi kebaikan kepada Amir al-Mu&#39;minin. Aku adalah orang yang paling baik yang menyampaikan beritanya kepada anda secara yakin karena aku adalah tetangganya, sering hadir di majelisnya, dan banyak tahu tentangnya.&quot; Maka dia berkata, &quot;Coba ceritakan apa yang anda ketahui.&quot; Lalu aku berkata, &quot;Sesungguhnya dia adalah seseorang yang rahasianya seperti dzahirnya dan ucapannya seperti perbuatan. Bila dia menyuruh orang berbuat ma&#39;ruf, dia adalah orang pertama yang mengerjakannya. Bila dia melarang kemungkaran, dia adalah orang pertama yang meninggalkannya. Sungguh aku melihatnya sebagai orang yang menjaga diri dari pemberian orang, zuhud dari apa yang dimiliki orang-orang. Aku melihat orang-orang membutuhkannya dan meminta apa yang dia miliki.&quot; Lalu Maslamah berkata, &quot;Cukup wahai Khalid, cukup wahai Khalid. Bagaimana mungkin suatu kaum dapat tersesat sementara orang seperti dia ada di antara mereka.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh al-Hasan al-Bashri rahimahullah adalah sosok Tabi&#39;in yang senantiasa bersedih karena banyaknya mengingat akhirat, akan tetapi tidaklah hal ini sampai membawa beliau kepada akhlak orang-orang a&#39;jam (asing) sebagaimana yang tersebar di zamannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau adalah orang yang sederhana dalam hal makanan, dan mengenakan pakaian yang mudah bagi beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Abir Hilal rahimahullah mengatakan, &quot;Ketika kami mengunjungi al-Hasan al-Bashri, sering kali kami mendapati periuknya mengeluarkan aroma masakan yang lezat.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau lebih suka buah-buahan. Mungkin beliau menganggap buah-buahan sebagai nawafil (suplemen penting) dalam makanan. Qatadah berkata, &quot;Kami mengunjungi Hasan al-Bashri ketika beliau sedang tidur. Di sekitar kepalanya terdapat keranjang. Kami melihat keranjang itu, dan ternyata penuh dengan roti dan buah-buahan. Kami pun menyantapnya. Setelah beliau terbangun dan melihat kami. Beliau terlihat senang dan tersenyum sambil mengutip ayat al-Qur&#39;an, &#39;Tidak ada halangan makan di rumah kawan-kawanmu&#39;.&quot; (QS. an-Nur: 61).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau juga pandai memilih busana yang serasi. Yunus melukiskan keadaan tersebut dengan mengatakan, &quot;Di musim dingin, al-Hasan al-Bashri memakai pakaian luar berbentuk selendang, baju (yang biasa dipakai para &#39;Ulama) suku Kurdi, dan serban hitam. Di musim panas beliau memakai sarung yang terbuat dari kain linen, baju, dan burd (selimut bergaris) berbentuk selendang.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Salam ibn Miskin rahimahullah berkata, &quot;Pada diri al-Hasan al-Bashri, aku melihat jubah seperti emas yang sangat serasi dengan dirinya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang pakaian yang paling disukainya, maka beliau menjawab: &quot;Yang paling tebal, paling kasar (tidak licin) dan paling rendah menurut manusia.&quot; Namun bukan berarti beliau membenarkan perbuatan sebagian ahlul ibadah dalam cara berpakaian mereka yang buruk, bahkan al-Hasan pernah mengingkarinya. Sungguh pernah disebutkan kepadanya tentang orang-orang yang memakai baju shuf (wol, bulu domba) maka beliau berkata: &quot;Kenapa mereka itu? Mudah-mudahan sebagian mereka kehilangan sebagian yang lain mereka itu menyembunyikan kesombongan di dalam hati-hati mereka.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perabotan rumahnya sangat sederhana. Syaikh Mathar al-Warraq rahimahullah berkata, &quot;Kami pernah menjenguk al-Hasan al-Bashri waktu sakit. Di rumahnya tak ada perabotan rumah tangga yang berharga. Tak ada kasur, karpet, bantal, ataupun tikar. Yang ada hanya ranjang terbuat dari tikar tempat beliau berbaring.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para &#39;Ulama sepakat memujinya, baik pada masa ketika beliau masih hidup maupun sesudah beliau wafat. Mereka suka mengutip berita-berita yang berkaitan dengan kehidupannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Abu Bakar al-Hadzali rahimahullah berkata: as-Saffah berkata kepada ku, &quot;Dengan cara apa al-Hasan al-Bashri bisa meraih apa yang beliau dapatkan sekarang?&quot; Aku menjawab, &quot;Dengan menghafal al-Qur&#39;an, padahal usianya baru 12 tahun. Beliau tidak beralih dari satu surat ke surat lainnya sampai beliau mengerti tafsirnya, dan mengapa surat itu diturunkan. Beliau tidak pernah menilap satu dirham pun dalam berniaga. Beliau tidak memegang jabatan. Beliau tidak pernah menyuruh seseorang berbuat baik kecuali beliau sendiri melakukannya, dan tidak melarang orang berbuat buruk kecuali beliau sendiri menjauhinya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama hidupnya Syaikh al-Hasan al-Bashri meriwayatkan hadits dari &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/utsman-ibn-affan.html&#39;&gt;&#39;Utsman ibn Affan&lt;/a&gt;, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/ali-ibn-abi-thalib.html&#39;&gt;&#39;Ali ibn Abi Thalib&lt;/a&gt;, Abu Musa al-Asy&#39;ari, &#39;Abdullah ibn Umar, &#39;Abdullah ibn Abbas, Annas ibn Malik dan Sahabat-sahabat Nabi lainnya. Kemudian hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Jarir ibn Abi Hazim, Humail ath-Thawil, Yazid ibn Abi Maryam, Abu al-Asyhab, Samma&#39; ibn Harb, Atha&#39; ibn Abi as-Saib, Hisyam ibn Hasan dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Wafatnya al-Hasan al-Bashri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Aban ibn Mujbir rahimahullah berkata, &quot;Ketika ajal hampir menjemput al-Hasan al-Bashri, banyak sahabat menjenguknya dan mengatakan, &quot;Wahai Abu Sa&#39;id, beri kami bekal dengan beberapa patah kata yang bermanfaat untuk kami.&quot; al-Hasan al-Bashri berkata, &quot;Aku membekalimu dengan tiga patah kata, setelah itu tinggalkan aku sendiri. Kepada semua yang dilarang, jadilah kamu orang yang paling menjauhinya. Kepada semua yang diperintahkan, jadilah kamu orang yang paling menekuninya. Ketahuilah bahwa langkahmu hanya dua: langkah yang akan menguntungkanmu dan langkah yang akan mencelakakanmu. Perhatikan dan pikirkanlah, ke mana kamu akan pergi melangkah di pagi hari dan di sore hari.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Salih al-Mari rahimahullah berkata: Aku mengunjungi al-Hasan al-Bashri ketika ajal hendak menjemputnya. Beliau banyak mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji&#39;un. Anaknya berkata kepadanya, &quot;Orang seperti ayah masih mengucap istrijha karena akan meninggalkan kesenangan dunia?&quot; al-Hasan al-Bashri menjawab, &quot;Wahai anakku, aku mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji&#39;un karena menyesali diriku yang tidak pernah mendapatkan musibah seperti ini.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh al-Hasan al-Bashri rahimahullah wafat pada malam Jum&#39;at, awal bulan Rajab pada tahun 110 H, dan umur beliau sekitar 88 tahun sebagaimana telah dikatakan oleh putra beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ribuan orang melayat jenazahnya. Beliau dishalati setelah shalat Jum&#39;at, di kota di Masjid Jami&#39; kota Bashrah. Ribuan orang berdesak-desakan mengantarkan jenazahnya ke pemakaman. Humaid al-Thawil melukiskan keadaan tersebut, &quot;Kami membawa jenazahnya setelah shalat Jum&#39;at dan menguburkannya. Semua orang turut serta mengantarkan jenazahnya, sampai-sampai tidak ada shalat berjama&#39;ah Ashar di masjid. Aku tidak pernah menyaksikan jama&#39;ah shalat Ashar ditinggalkan sejak awal masa Islam kecuali pada hari itu. Karena semua orang mengantarkan jenazahnya, di masjid tidak ada satu orang pun yang menunaikan shalat Ashar.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai Syaikh al-Hasan al-Bashri dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallahu a&#39;lam bish-shawab.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/2099108795688236845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/2099108795688236845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/al-hasan-al-bashri.html' title='Tabi&#39;in : Syaikhul Bashrah, al-Hasan ibn Yasar rahimahullah'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-5449204966142511526</id><published>2011-12-27T12:58:00.001+07:00</published><updated>2011-12-27T15:28:43.416+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="al-&#39;Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="as-Salafush-Shalih"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><title type='text'>al-&#39;Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah</title><content type='html'>al-&#39;Asyaratu al-Mubasysyaruna bil Jannati atau 10 Orang yang dijamin masuk surga yang tercatat dalam &quot;ar-Riyadh an-Nadhirah fi Manaqibil &#39;Asyarah&quot; dari Sahabat Abu Dzar radhiyallahu &#39;anhu, bahwa Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam masuk ke rumah &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha dan bersabda: &quot;Wahai &#39;Aisyah inginkah engkau mendengar kabar gembira?&quot; &#39;Aisyah lalu menjawab, &quot;Tentu ya Rasullulah.&quot; Lalu baginda Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda: &quot;Ada sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk surga, yaitu: Ayahmu (&lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abu-bakar-ash-shiddiq.html&#39;&gt;Abu Bakar&lt;/a&gt;) masuk surga dan kawannya adalah Ibrahim; &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/umar-ibn-al-khaththab.html&#39;&gt;Umar&lt;/a&gt; masuk surga dan kawannya Nuh; &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/utsman-ibn-affan.html&#39;&gt;&#39;Ustman&lt;/a&gt; masuk surga dan kawannya aku; &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/ali-ibn-abi-thalib.html&#39;&gt;&#39;Ali&lt;/a&gt; masuk surga dan kawannya Yahya ibn Zakaria; Thalhah masuk surga dan kawannya Daud; az-Zubair masuk surga dan kawannya Ismail; Sa&#39;ad ibn Abi Waqqash masuk surga dan kawannya Sulaiman; Said ibn Zaid masuk surga dan kawannya Musa ibn &#39;Imran; &#39;Abdurrahman ibn Auf masuk surga dan kawannya &#39;Isa ibn Maryam; Abu Ubaidah ibn al-Jarrah masuk surga dan kawannya Idris &#39;alaihissalam.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesepuluh &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/sahabat-nabi.html&#39;&gt;Sahabat Nabi&lt;/a&gt; shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang mendapat kabar gembira masuk surga tersebut adalah para pendahulu kita yang patut diteladani keimanan dan keshalihannya. Bagi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam mereka adalah kawan dan pendamping setia dalam segala kesulitan dan kesempitan. Amal perbuatan, perilaku dan pengorbanannya merupakan teladan bagi ummat manusia. Mereka tidak pernah absen dalam membela panji Islam dan tidak lupa bahwa tujuan utamanya adalah akhirat. Puncak ambisi mereka adalah keridhaan Allah dan Rasul-Nya dan mereka amat mendambakan datangnya saat-saat mendengar seruan Allah.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/5449204966142511526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/5449204966142511526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/al-asyarah-al-mubasysyiriina-bil-jannah.html' title='al-&#39;Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-2772174317716536537</id><published>2011-12-27T00:30:00.006+07:00</published><updated>2011-12-27T00:51:06.921+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><title type='text'>Sahabat Nabi : Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan, Pendiri Daulah Umayyah</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Nama Lengkap dan Nasab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama lengkapnya adalah Mua&#39;wiyah ibn Abu Sufyan ibn Harb ibn Umayyah ibn &#39;Abd asy-Syams ibn &#39;Abdi Manaf ibn Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam pada &#39;Abdu Manaf. Nama panggilan Mu&#39;awiyah adalah Abu Abdurrahman al-Umawi. Ayah beliau, Abu Sufyan ibn Harb radhiyallahu &#39;anhu adalah seorang tokoh paling terkemuka dari kaum Quraisy. Orang yang memimpin pasukan Quraisy pada perang Uhud. Juga seorang yang sukses dalam perniagaan dan hampir menguasai separo perdagangan semenanjung Arab pada zaman itu. Abu Sufyan juga pernah memimpin pasukan Quraisy pada perang Khandaq dan ia menjadi orang nomor satu di Makkah hingga akhirnya Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam berhasil menaklukan Makkah pada peristiwa Fathu Makkah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan radhiyallahu &#39;anhu lahir dari seorang wanita bangsawan Quraisy bernama Hindun binti Utbah, seorang wanita yang ikut menggerakkan semangat pasukan Quraisy pada perang Uhud. Hal ini ia lakukan sebagai pembalasan mereka atas kekalahan pada perang Badar. Hindun binti Utbah kehilangan ayah, paman, saudara dan puteranya. Untuk menuntut bela terhadap keluarganya itu, ia mengupah seorang budak keturunan Habsyah bernama Wahsyi untuk membunuh Hamzah ibn &#39;Abdul Muththalib, paman Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Usaha menuntut bela yang diinginkan Hindun dapat dicapainya, Hamzah radhiyallahu &#39;anhu syahid di medan perang dengan cara yang mengenaskan. Beberapa tahun kemudian Makkah berhasil ditaklukkan oleh Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan para Sahabatnya. Setelah Makkah ditaklukkan pada tahun 8 Hijriyah, bersamaan dengan suami dan anaknya Hindun binti Utbah pun masuk Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;KeIslaman Mu&#39;awiyah ibn Sufyan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan dan para Sahabat Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam dari kalangan ath-Thulaqaa` -yang masuk Islam setelah era Fath Makkah-, seperti Ikrimah ibn Abu Jahal, Harits ibn Hisyam, Suhail ibn Amr, Shafwan ibn Umayyah, dan Abu Sufyan ibn Harits ibn &#39;Abdul Muththalib. Mereka termasuk yang baik Islamnya dengan kesepakatan kaum Muslimin. Tidak seorangpun menuduh mereka setelah hijrah sebagai munafik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan radhiyallahu &#39;anhu adalah penulis wahyu Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Hal ini pernah dimintakan oleh ayahnya, Abu Sufyan ibn Harb kepada Rasulullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya dari hadits Ikrimah ibn Ammar, dari Abi Zamil Sammak ibn Walid dari Ibn Abbas bahwasanya Abu Sufyan berkata, &quot;Wahai Rasulullah berikanlah tiga perkara kepadaku?&quot;&lt;br /&gt;
Rasulullah menjawab, &quot;Ya.&quot; Beliau berkata, &quot;Perintahkanlah aku supaya memerangi orang-orang kafir sebagaimana dulu aku memerangi orang-orang Islam.&quot; Rasulullah menjawab, &quot;Ya.&quot; Beliau berkata lagi, &quot;Dan Mu&#39;awiyah engkau jadikan sebagai penulis di sisimu?&quot; Rasulullah menjawab, &quot;Ya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Irbadh ibn Sariyyah as-Sulami radhiyallahu &#39;anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah bersabda, &quot;Ya Allah, ajarkanlah ia Kitab dan hisab, dan peliharalah dia dari adzab.&quot; (Hasan Lighairihi. Diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah [1938], Ibn Hibban [2278], Ahmad [4/127], dan Fadha&#39;il ash-Shahihah [1748], al-Bazzar [2723], al-Fai dalam Tarikh [2/345], ath-Thabrani dalam al-Mu&#39;jam [18/252/628], al-Haitsami berkata di kitab al-Majma [9/359], &quot;Di dalamnya ada Harits ibn Ziyad dan tidak aku dapati ada yang mentsiqahkannya, rijal-rijal lainnya tsiqah dan sebagian ada yang diperselisihkan&quot;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sewaktu &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abu-bakar-ash-shiddiq.html&#39;&gt;Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu menjabat sebagai khalifah, Mu&#39;awiyah ikut bersama pasukan Muslimin menyerbu pasukan Romawi di Syam. Pasukan Muslimin waktu itu di bawah pimpinan Yazid ibn Abu Sufyan yang merupakan kakaknya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serbuan ini berlangsung sukses dan kepemimpinan atau wali negeri Syam (Damsyiq) dipegang oleh Yazid ibn Abu Sufyan. Setelah Yazid meninggal, Mu&#39;awiyah mengambil alih pimpinan pemerintahan dan kemudian oleh Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ditetapkan menjadi wali negeri Syam sebagai pengganti kakaknya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa Khalifah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/umar-ibn-al-khaththab.html&#39;&gt;Umar ibn al-Khaththab&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu, ia masih menjadi wali negeri Damsyiq. Ketika Khalifah Umar radhiyallahu &#39;anhu meninjau Syam, beliau mendapatkan Mu&#39;awiyah di istananya yang sangat mewah. Hal ini sangat tidak disukai oleh Umar, beliau merasa bahwa yang dilakukan ini sudah tidak wajar maka khalifah yang terkenal zuhud ini berkata lantang, &quot;Ini adalah Kisra dari Arab!&quot;. Khalifah Umar pun kembali mempertimbangkan posisi Mu&#39;awiyah dan setelah melalui berbagai penelusuran maka beliau mencabut sementara posisi Mu&#39;awiyah dan digantikan oleh Said ibn Amir radhiyallahu &#39;anhu, seseorang yang terkenal shalih dan hidup sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru kemudian pada masa Khalifah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/utsman-ibn-affan.html&#39;&gt;&#39;Utsman ibn Affan&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu, Mu&#39;awiyah diangkat kembali menjadi wali negeri seluruh Syam, termasuk Palestina. Banyak pengaduan rakyat kepada Khalifah &#39;Utsman tentang tindakan Mu&#39;awiyah, termasuk tindakan semena-mena yang kerap dilakukan anak-anaknya. Akan tetapi sebagian besar surat pengaduan itu tidak disampaikan kepada Khalifah oleh sekretaris beliau yang bernama Marwan ibn Hakam (saudara sepupu Mu&#39;awiyah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal inilah yang menjadi cikal bakal fitnah atas terbunuhnya Khalifah &#39;Utsman. Pengkhianatan oleh Marwan kelak akan menimbulkan pemberontakan dari sebagian kaum Muslimin kepada Khalifah &#39;Utsman ibn Affan radhiyallahu &#39;anhu. Dari sinilah awal fitnah yang menimpa dunia Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mu&#39;awiyah menentang Khalifah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/ali-ibn-abi-thalib.html&#39;&gt;&#39;Ali ibn Abi Thalib&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu dan berkonfrontasi dengan &#39;Ali dalam perang Shiffin pada tahun 37 H/657 M yang berakhir dengan sebuah arbitrase. Setelah &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu syahid akibat terbunuh, kedudukan khalifah digantikan oleh putra beliau, al-Hasan ibn &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu. Setelah beberapa bulan menjabat sebagai khalifah, untuk menghindari perpecahan ummat Islam akhirnya al-Hasan menyerahkan kekhalifahan pada Mu&#39;awiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Kekhalifahan Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan radhiyallahu &#39;anhu dinobatkan menjadi khalifah pada bulan Rabi&#39;ul Awwal atau Jumadil Ula, tahun 41 H. Tahun ini disebut sebagai Aam Jama&#39;ah (Tahun Kesatuan), sebab pada tahun inilah ummat Islam bersatu dalam menentukan satu khalifah. Kemudian ibukota pemerintahan beliau pindahkan ke Damaskus, Suriah. Setelah kekuasaan di tangan Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan, kekhalifahan kemudian diwariskan secara turun temurun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Perawi Hadits&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata bahwa hadits-hadits riwayat Mu&#39;awiyah berjumlah 163 hadits dalam Musnad Baqiyi (ibn Makhlad). al-Ahwazi telah menyusun Musnad Mu&#39;awiyah dalam satu jilid kitab. Haditsnya (Mu&#39;awiyah) yang disepakati Bukhari-Muslim sebanyak 4 hadits, dan yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sebanyak 4 hadits dan Imam Muslim sebanyak 5 hadits. (Siyar A&#39;lam Nubala [3/162]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa Sahabat dan Tabi&#39;in yang meriwayatkan hadits darinya antara lain: &#39;Abdullah ibn Abbas, &#39;Abdulah ibn Umar, &#39;Abdullah ibn az-Zubair, Abu Darda&#39;, Jarir al-Bajali, Nu&#39;man ibn Basyir dan yang lain. Sedangkan dari kalangan Tabi&#39;in antara lain: Sa&#39;id ibn al-Musayyib, Hamid ibn &#39;Abdurrahman dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Keutamaan Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mu&#39;awiyah adalah orang yang Faqih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada zaman Khalifah Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhu pernah seorang mengadu kepada Ibn Abbas radhiyallahu &#39;anhu bahwa Mu&#39;awiyah melaksanakan shalat Witir dengan hanya satu raka&#39;at. Ibn Abbas menjawab, &quot;(Biarkan), sesungguhnya dia seorang yang faqih (faham agama).&quot; (Shahih al-Bukhari [3765]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mu&#39;awiyah adalah orang yang dido&#39;akan untuk mendapat hidayah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abdurrahman ibn Abi Umairah al-Muzanni, berkata Said dan dia termasuk Sahabat Nabi, dari Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam bahwa beliau berdo&#39;a untuk Mu&#39;awiyah, &quot;Ya Allah, jadikanlah dia penunjuk dan yang memberi petunjuk, tunjukilah ia dan berilah manusia petunjuk karenanya.&quot; (Hasan Shahih. Diriwayatkan al-Bukhari dalam Tarikh [4/1/327], at-Tirmidzi [2/316], Ibn Asakir [16/684-686], dan adz-Dzahabi dalam Siyar [8/38]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sikap &#39;Ali ibn Abi Thalib terhadap Mu&#39;awiyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibn Tharif dan Ibn Alwan dari Ja&#39;far dari ayahnya, bahwa &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu mengatakan pada pasukannya: &quot;Kami tidak memerangi mereka karena mereka kafir, juga bukan karena mereka menganggap kami kafir, tetapi merasa kami-lah yang benar, mereka pun demikian.&quot; (Biharul Anwar jilid 32 hal. 321-330, Bab hukum memerangi Amirul Mu&#39;minin &#39;Ali. Diriwayatkan juga oleh Himyari dari kitab Qurbul Isnad hal. 45).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abdullah ibn Ja&#39;far al-Himyari dalam kitab Qurbul Isnad dari Harun ibn Muslim dari Mas&#39;adah ibn Ziyad, dari Ja&#39;far, dari ayahnya, bahwa &#39;Ali ibn Abi Thalib tidak pernah memvonis orang yang memeranginya sebagai musyrik maupun munafik, tetapi &#39;Ali hanya mengatakan: Mereka adalah saudara kami yang membangkang. (Qurbul Isnad, dari Wasa&#39;ilu asy-Syi&#39;ah jilid 15 hal. 69-87).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu memang tidak pernah menganggap Mu&#39;awiyah radhiyallahu &#39;anhu sebagai munafik, tapi hanya pengikutnya saja yang berpandangan keliru dan menganggap Mu&#39;awiyah sebagai kafir dan munafik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sikap as-Salafush-Shalih terhadap Mu&#39;awiyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam menyikapi masalah perbedaan ijtihad yang terjadi antara &#39;Ali ibn Abi Thalib dan Mu&#39;awiyah ibn Sufyan sepatutnya kita tetap berprasangka baik kepada mereka karena khilaf atau selisih pendapat di antara pemimpin (&#39;Ulama&#39;) itu adalah rahmat. Dan sikap kita dalam menilai mereka dapat kita nukil kembali jawaban dari Amirul Mu&#39;minin Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah ketika beliau ditanya tentang siapakah yang benar dan siapakah yang salah dalam konflik berdarah tersebut. Umar ibn &#39;Abdul Aziz rahimahullah dengan tenang menjawab, &quot;Sesungguhnya Allah telah mensucikan mereka dari tangan-tangan kita maka janganlah kalian mengotori mereka dengan lisan-lisan kalian.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah jawaban yang telah menjadi rujukan &#39;Ulama-ulama arif billah hingga saat ini, yaitu agar kita tidak berbicara yang kotor tentang mereka karena Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah mengingatkan ummatnya agar jangan sekali-sekali mencela Sahabat-sahabatnya, karena ditakutkan nanti akan timbul sifat munafik pada diri orang tersebut. Bahkan amal yang kita lakukan setinggi dan sehebat apapun tidak akan pernah mampu mengungguli amal mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah bersabda, &quot;Sesungguhnya infak fisabilillah yang dikeluarkan oleh Sahabat-sahabatku meski hanya segenggam jauh lebih utama dari pada infak fisabilillah yang dikeluarkan oleh ummat akhir zaman meski mereka mengeluarkan infak emas sebesar gunung Uhud.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya seseorang, &quot;Siapakah yang lebih mulia, apakah Mu&#39;awiyah radhiyallahu &#39;anhu atau Khalifah Umar ibn &#39;Abdul Aziz?&quot; Maka Imam Hasan al-Bashri rahimahullah menjawab, &quot;Sehelai bulu mata dari Mu&#39;awiyah radhiyallahu &#39;anhu jauh lebih utama dari Khalifah Umar ibn &#39;Abdul Aziz.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang &#39;Ulama lainnya, &#39;Abdullah ibn al-Mubarak rahimahullah pernah juga ditanya dengan hal yang sama, maka beliau menjawab, &quot;Kamu bertanya tentang perbandingan keutamaan antara mereka berdua. Demi Allah! Debu kotoran yang masuk ke dalam hidung Mu&#39;awiyah sewaktu sedang berjihad bersama Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam adalah lebih baik dari Umar ibn &#39;Abdul Aziz.&quot; (al-Bidayah wan-Nihayah jilid 8 no. 139).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah jawaban dari &#39;Ulama &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/manhaj-salaf.html&#39;&gt;as-Salafush-Shalih&lt;/a&gt; tentang persoalan yang terjadi antara &#39;Ali ibn Abi Thalib dan Mu&#39;awiyah. Para &#39;Ulama itu telah memberi kita contoh teladan dalam memuliakan para Sahabat karena memang demikianlah kedudukan mereka. Semoga kita tak terjerumus dalam kotor dan nistanya lisan apabila sedang berbicara tentang mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pendapat para &#39;Ulama tentang Mu&#39;awiyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Muafa ibn Amran rahimahullah pernah ditanya,&quot; Wahai Abu Mas&#39;ud, siapakah yang lebih utama Umar ibn &#39;Abdul Aziz atau Mu&#39;awiyah?&quot; Beliau langsung marah sekali seraya berkata, &quot;Seorang Sahabat tidak dibandingkan dengan seorang pun. Mu&#39;awiyah adalah Sahabat Nabi, iparnya, penulis wahyunya.&quot; (Tarikh Dimasyq [59/208]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang Mu&#39;awiyah dan Amr ibn al-Ash, &quot;Apakah dia Rafidhah?&quot; Katanya, &quot;Tak seorang pun berani mencela keduanya kecuali mempunyai tujuan jelek.&quot; (Tarikh Dimasyq [59/210]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Qudamah al-Maqdisi rahimahullah berkata, &quot;Mu&#39;awiyah adalah paman kaum Mu&#39;minin, penulis wahyu Alloh, salah seorang khalifah Muslimin -semoga Allah meridhai mereka-.&quot; (Lum&#39;atul I&#39;tiqad hal. 33).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ka&#39;ab al-Ahbar berkata, &quot;Tidak ada orang yang akan berkuasa sebagaimana berkuasanya Mu&#39;awiyah.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
adz-Dzahabi berkata: Ka&#39;ab meninggal sebelum Mu&#39;awiyah menjadi khalifah, maka benarlah apa yang dikatakan Ka&#39;ab. Sebab Mu&#39;awiyah menjadi khalifah selama dua puluh tahun, tidak ada pemberontakan dan tidak ada yang menandinginya dalam kekuasaannya. Tidak seperti para khalifah yang datang setelahnya. Mereka banyak yang menentang, bahkan ada sebagian wilayah yang menyatakan melepaskan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Wafatnya Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan radhiyallahu &#39;anhu meninggal pada bulan Rajab tahun 60 H. Beliau dimakamkan di antara Bab al-Jabiyyah dan Bab ash-Shaghir. Disebutkan bahwa usianya mencapai 77 tahun. Beliau memiliki beberapa helai rambut Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan sebagian potongan kukunya. Beliau mewasiatkan agar dua benda itu di diletakkan di mulut dan kedua matanya pada saat kematiannya. Dia berkata, &quot;Kerjakan itu, dan biarkan saya menemui Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallahu a&#39;lam bish-shawab.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/2772174317716536537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/2772174317716536537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/muawiyah-ibn-abi-sufyan.html' title='Sahabat Nabi : Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan, Pendiri Daulah Umayyah'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-4200492367253191103</id><published>2011-12-25T13:40:00.003+07:00</published><updated>2011-12-25T13:42:01.802+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="as-Salafush-Shalih"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tabiin"/><title type='text'>Tabi&#39;in : Keutamaan Uwais al-Qarni rahimahullah</title><content type='html'>Uwais lahir di sebuah desa terpencil bernama Qaran di dekat Nejed, Yaman. Ayahnya bernama Amir ibn Juz ibn Muraad al-Qairani dan telah meninggal dunia. Kecuali ibunya, Uwais tidak mempunyai sanak famili sama sekali. Para ahli sejarah tidak menceritakan tanggal dan tahun berapa beliau dilahirkan. Walaupun Uwais hidup sezaman dengan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, tapi beliau tidak pernah melihat Rasulullah secara langsung dikarenakan beliau harus selalu menjaga ibunya yang sudah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Keutamaan Uwais al-Qarni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rabi&#39; ibn Khutsaim berkata, &quot;Aku pergi ke tempat Uwais al-Qarni. Aku mendapati beliau sedang duduk setelah selesai menunaikan shalat Subuh. Aku berkata (pada diriku), &quot;Aku tidak akan mengganggunya dari bertasbih. Setelah masuk waktu Dzuhur, beliau mengerjakan shalat Dzuhur, dan begitu masuk waktu Ashar, beliau shalat Ashar. Selesai shalat Ashar, beliau duduk sambil berdzikir hingga tiba waktu Maghrib. Setelah shalat Maghrib, beliau menunggu waktu Isya&#39;, kemudian shalat Isya&#39;. Selesai shalat Isya&#39;, beliau mengerjakan shalat hingga menjelang Subuh. Setelah shalat Subuh, beliau duduk dan tanpa sengaja tertidur. Tiba-tiba saja beliau terbangun. Ketika itu aku mendengar dia berkata, &#39;Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mata yang senang tidur, dan perut yang tidak merasa kenyang.&#39;&quot;  (az-Zuhdul Awa&#39;il, Musthafa Hilmi, 84).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tabi&#39;in Terbaik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uwais ibn Amir al-Qarni rahimahullah adalah Tabi&#39;in terbaik sebagaimana sabda Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda, &quot;Sebaik-baik Tabi&#39;in adalah seorang yang disebut dengan Uwais dan ia memiliki seorang ibu dan juga punya penyakit kusta; maka mintalah kepadanya agar ia memohonkan ampunan kepada Allah untuk kalian.&quot; (Shahih Muslim, juz IV: 1968; Musnad Ahmad, juz I: 38).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata Imam an-Nawawi rahimahullah, &quot;Ini jelas menunjukkan bahwa Uwais adalah Tabi&#39;in terbaik, mungkin saja dikatakan &#39;Imam Ahmad dan para imam yang lainnya mengatakan bahwa Sa&#39;id ibn al-Musayyib adalah Tabi&#39;in terbaik&#39;, maka jawabannya, maksud mereka adalah Sa&#39;id ibn al-Musayyib adalah Tabi&#39;in terbaik dalam sisi ilmu syari&#39;at seperti tafsir, hadits, fiqh, dan yang semisalnya dan bukan pada keafdhalan di sisi Allah.&quot; (al-Minhaj [XVI/95]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkaitan dengan diri Uwais al-Qarni rahimahullah inilah, dalam sebuah riwayat yang berasal dari Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, disebutkan bahwa Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda: &quot;Iman ada di Yaman dan hikmah pun ada di Yaman (dalam riwayat lain ada tambahan: dan aku cium nafas ar-Rahman dari arah Yaman, atau, dan aku cium nafas Tuhanmu dari arah Yaman).&quot; (Shahih al-Bukhari, III: 1289; Shahih Muslim, I: 72 dan Shahih Ibn Hibban, XVI: 288).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nafas ar-Rahman yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah Uwais al-Qarni. Dia adalah wali Allah yang paling besar pada masanya, disembunyikan oleh Allah di tengah-tengah rakyat jelata sehingga orang-orang tidak mengetahuinya dan bahkan sering mengejeknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dia berasal dariku dan aku berasal darinya,&quot; sabda Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. (al-Firdaus bi Ma&#39;tsur al-Khithab, juz I: 113).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ungkapan Rasul ini menunjukkan kepada hubungan spiritual antara Uwais al-Qarni rahimahullah dan Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam meskipun ia belum pernah bertemu dengan beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uwais di sisi Allah memiliki kedudukan yang tinggi dan hal yang menyebabkan ini sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam adalah ia memiliki seorang ibu yang ia berbakti kepada ibunya tersebut. Sikapnya yang berbakti kepada ibunya menjadikannya seorang yang dikabulkan do&#39;anya. Nabi tidak menyebutkan amalan lain yang dilakukan oleh Uwais kecuali bahwasanya ia berbakti kepada ibunya. Hal ini menunjukkan sikapnya yang berbakti kepada ibunya merupakan salah satu sebab utama yang menjadikannya menjadi Tabi&#39;in yang terbaik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallahu a&#39;lam bish-shawab.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/4200492367253191103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/4200492367253191103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/tabiin-uwais-al-qarni-rahimahullah.html' title='Tabi&#39;in : Keutamaan Uwais al-Qarni rahimahullah'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-1981597850232442126</id><published>2011-12-24T15:11:00.013+07:00</published><updated>2012-01-04T11:32:27.592+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ahlul Bait"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="al-&#39;Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="as-Sabiqun al-Awwalun"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="as-Salafush-Shalih"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Khulafa&#39;ur Rasyidin"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><title type='text'>Sahabat Nabi : &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Nama Lengkap dan Nasab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Ali adalah putra dari paman Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam, Abi Thalib ibn &#39;Abdul Muththalib ibn Hasyim ibn &#39;Abdu Manaf ibn Qushay. Ibunya bernama Fathimah binti Asad ibn Hasyim ibn &#39;Abdu Manaf, salah satu wanita yang terdahulu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadi &#39;Ali adalah keturunan Hasyim dari ibu-bapaknya. Beliau lahir pada tahun 602 M. Nama asli &#39;Ali adalah Haydar yang berarti Singa, nama yang diberikan Abi Thalib karena berharap kelak &#39;Ali akan menjadi petarung sejati di kalangan suku Quraisy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikemudian hari &#39;Ali ibn Abi Thalib memang tumbuh menjadi petarung sejati, tokoh yang disegani suku Quraisy dan panglima perang yang tak kenal rasa takut. Beliau dedikasikan seluruh jiwa, raga dan hidupnya untuk membela, mengembangkan ajaran Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan nama &#39;Ali adalah pemberian Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang berarti tinggi derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala. Sedangkan kunyah beliau adalah Abul Hasan dan Abu Turab. Abu Turab yang berarti Bapaknya Tanah adalah panggilan yang paling disenangi &#39;Ali karena nama kehormatan ini kenang-kenangan berharga dari Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Ali kemudian dijadikan anak angkat Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam karena pernikahan beliau dengan Khadijah tidak dikaruniai anak laki-laki sekaligus sebagai wujud terimakasih Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam kepada pamannya, Abi Thalib yang juga pernah mengasuhnya waktu kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Ciri-ciri Fisik &#39;Ali ibn Abi Thalib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu memiliki kulit berwarna sawo matang, bola mata beliau besar dan berwarna kemerah-merahan, berperut besar dan berkepala botak. Berperawakan pendek dan berjanggut lebat. Dada dan kedua pundak beliau padat dan putih, beliau memiliki bulu dada dan bahu yang lebat, berwajah tampan dan memiliki gigi yang bagus, ringan langkah saat berjalan. (Silakan lihat penjelasan tentang sifat jasmani beliau dalam kitab ath-Thabaqatul Kubra karangan Ibn Sa&#39;ad [3/25] dan [27], dan Tarikh ath-Thabari [5/153]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Putra-putri &#39;Ali ibn Abi Thalib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah wafatnya Fathimah binti Rasulullah, &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu menikah dengan beberapa orang wanita lainnya lagi. Menurut catatan sejarah hingga wafatnya &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhu menikah sampai 9 kali. Tentu saja menurut ketentuan-ketentuan yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Dalam satu periode tidak pernah lebih 4 orang istri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita pertama yang dinikahi &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhu sepeninggal Fathimah radhiyallahu &#39;anha ialah Umamah binti Abi al-Ashiy. Ia anak perempuan iparnya sendiri, Zainab binti Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, kakak perempuan Fathimah. Pernikahan dengan Umamah radhiyallahu &#39;anha ini mempunyai sejarah tersendiri yaitu untuk melaksanakan pesan Fathimah radhiyallahu &#39;anha kepada suaminya sebelum ia wafat. Nampaknya pesan itu didasarkan kasih sayang yang besar dari Umamah kepada putra-putrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menikah dengan Umamah, &#39;Ali ibn Abi Thalib menikah lagi dengan Khaulah binti Ja&#39;far ibn Qais. Berturut-turut kemudian Laila binti Mas&#39;ud ibn Khalid, Ummul Banin binti Hazzan ibn Khalid dan Ummu Walad. Istri &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu yang ke-6 patut disebut secara khusus karena ia tidak lain adalah Asma&#39; binti Umais sahabat terdekat Fathimah radhiyallahu &#39;anha. Asma&#39; inilah yang mendampingi Fathimah dengan setia dan melayaninya dengan penuh kasih sayang hingga detik-detik terakhir hayatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istri-istri &#39;Ali ibn Abi Thalib yang ke-7, ke-8 dan ke-9 ialah ash-Shuhba, Ummu Sa&#39;id binti &#39;Urwah ibn Mas&#39;ud dan Muhayah binti Imruil Qais. Saat &#39;Ali ibn Abi Thalib mendapatkan mati syahid, beliau meninggalkan empat orang istri yang merdeka, yaitu: Umamah, Laila, Ummul Banin, dan Asma&#39;. Serta 18 orang hamba sahaya wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari 9 istri di luar Fathimah, &#39;Ali ibn Abi Thalib mempunyai banyak anak. Jumlahnya yang pasti masih menjadi perselisihan pendapat di kalangan para penulis sejarah. al-Mas&#39;udiy dalam bukunya &quot;Murujudz Dzahab&quot; menyebut putra-putri &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhu semuanya berjumlah 25 orang. Sedangkan dalam buku &quot;Almufid Fil Irsyad&quot; dikatakan 27 orang anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Sa&#39;ad dalam bukunya yang terkenal &quot;Thabaqat&quot; menyebutnya 31 orang anak dengan perincian 14 orang anak lelaki dan 17 orang anak perempuan. Ini termasuk putra-putri &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu dari istrinya yang pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keturunannya yang mulia kemudian mengalir dari al-Hasan, al-Husain, Muhammad ibn al-Hanafiyyah, Umar, dan Abbas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;KeIslaman &#39;Ali ibn Abi Thalib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsistensi dan totalitas &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu dalam mendukung dakwah Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam terlihat dari sikapnya sebagai orang yang pertama kali mempercayai wahyu-wahyu Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala yang diturunkan kepada Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Saat itu usia &#39;Ali baru sekitar 10 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap seperti ini sungguh sulit pada masa itu mengingat sudut pandang, pemikiran, dan pengetahuan suku Quraisy yang masih dalam masa kegelapan (Jahiliyah). Sikap yang diambil &#39;Ali juga bukan tanpa resiko. Cercaan, hinaan bahkan ancaman nyawa selalu mengintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam telah menjadi orangtua dan guru bagi &#39;Ali. &#39;Ali memiliki ikatan emosi dan menjadi orang terdekat Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam hingga akhirnya pada usia dewasa dijadikan menantu Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam dengan mempersunting Fathimah. Ini terjadi setelah Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Rasulullah menimbang &#39;Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti nasab keluarga (Bani Hasyim), sekaligus orang yang pertama kali mempercayai kenabian beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam setelah Khadijah. Selain itu Rasulullah jelas memahami seluk beluk kepribadian, watak dan karakter &#39;Ali. Gemblengan secara langsung dari Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam, menjadikan &#39;Ali seorang pemimpin yang komplit, cerdas, berani, bijaksana dan berpengetahuan luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberanian &#39;Ali ibn Abi Thalib terlihat dari kesediannya tidur di kamar Rasulullah untuk mengecoh orang-orang kafir Quraisy yang berencana membunuh Rasulullah dan menggagalkan hijrah beliau. Kaum kafir Quraisy pun terkecoh ketika menjelang Subuh ternyata sosok yang tidur di kamar Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam adalah &#39;Ali. Sementara Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam sudah berangkat menuju Madinah bersama &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abi-bakar-ash-shiddiq.html&#39;&gt;Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Perang Badar (perang pertama dalam sejarah Islam) &#39;Ali dan Hamzah ibn &#39;Abdul Muththalib (paman Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam) menjadi pahlawan. Pedang &#39;Ali meluluhlantakkan barisan kaum musyrik sehingga perang ini akhirnya dimenangkan kaum Muslimin. Perang Khandaq juga saksi nyata keberanian &#39;Ali ibn Abi Thalib ketika memerangi Amr ibn &#39;Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama Dzulfikar, Amr ibn &#39;Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecah perang. Kaum Yahudi bertahan di benteng Khaibar yang sangat kokoh, sehingga perang ini dikenal dengan nama Perang Khaibar yang terjadi pada bulan Shafar tahun 7 H. &#39;Ali ibn Abi Thalib adalah orang yang mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh Marhab lalu menebasnya dengan sekali pukul hingga terbelah menjadi dua bagian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua peperangan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menghadapi kaum kafir selalu diikuti &#39;Ali ibn Abi Thalib. Dan ia menjadi bagian penting dari setiap peperangan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Kekhalifahan &#39;Ali ibn Abi Thalib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/utsman-ibn-affan.html&#39;&gt;&#39;Utsman ibn Affan&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain mengangkat &#39;Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah. Waktu itu &#39;Ali berusaha menolak, tetapi az-Zubair ibn al-Awwam dan Thalhah ibn Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya &#39;Ali menerima bai&#39;at mereka. Pembai&#39;atan beliau dilakukan di Masjid Nabawi pada hari Jum&#39;at tanggal 25 Dzulhijah 35 H/4 Juni 656 M. Hal ini menjadikan &#39;Ali satu-satunya khalifah yang dibai&#39;at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun, masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah khalifah sebelumnya, &#39;Utsman ibn Affan radhiyallahu &#39;anhu. Untuk pertama kalinya perang saudara antara ummat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, yaitu terjadinya Perang Jamal. 20.000 pasukan pimpinan Khalifah &#39;Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan az-Zubair ibn al-Awwam, Thalhah ibn Ubaidillah, dan Ummul Mu&#39;minin &#39;Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah. Perang tersebut akhirnya dimenangkan oleh pihak &#39;Ali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa pembunuhan Khalifah &#39;Utsman ibn Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam ketika beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman &#39;Utsman ibn Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum Muslim sehingga menyebabkan perang tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Perang Shiffin, yaitu peperangan antara Khalifah &#39;Ali dengan &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/muawiyah-ibn-abi-sufyan.html&#39;&gt;Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan&lt;/a&gt; yang semakin melemahkan kekhalifahannya juga berawal dari masalah tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Ali ibn Abi Thalib seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekhalifahan &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu berlangsung selama 4 tahun 9 bulan, sejak 19 Dzulhijah tahun 35 Hijriyah hingga 19 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Kemudian al-Hasan ibn &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu dibai&#39;at menjadi khalifah setelah wafatnya ayahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada bulan Rabi&#39;ul Awwal tahun 41 Hijriyah al-Hasan menyerahkan urusan kekhalifahan kepada Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan radhiyallahu &#39;anhu (dan kemudian Mu&#39;awiyah menjadi raja pertama dalam sejarah perjalanan pemerintahan Islam).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Keutamaan &#39;Ali ibn Abi Thalib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedudukan &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu di sisi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam seperti kedudukan Nabi Harun di sisi Nabi Musa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Sa&#39;id ibn Abi Waqqash radhiyallahu &#39;anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu &#39;alahi wa sallam telah menyuruh &#39;Ali ibn Abi Thalib agar tidak ikut serta dalam Perang Tabuk untuk mewakili beliau mengurus keluarganya. Maka &#39;Ali berkata, &quot;Wahai Rasulullah, apakah Anda akan membiarkanku bersama-sama dengan para wanita dan anak-anak?&quot; Rasulullah shallallahu &#39;alahi wa sallam bersabda, &quot;Apakah kamu tidak ridha kalau posisimu di sisiku sama dengan posisi Harun di sisi Musa? Hanya saja memang tidak ada seorang nabi lagi sesudahku.&quot; (HR. Bukhari - Muslim dalam kitab Shahihain. Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3706] dan Muslim [Fadha&#39;il ash-Shahabah/32] pada bab Min Fadha&#39;ilu &#39;Ali ibn Abi Thalib. Diriwayatkan juga Imam Ahmad [I/99]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau juga sangat dikenal dengan kepandaian dan ketepatan dalam memecahkan berbagai masalah yang sangat rumit sekalipun, dan beliau juga seorang yang memiliki `abqariyah qadha&#39;iyah (kejeniusan dalam pemecahan ketetapan hukum) dan dikenal sangat dalam ilmunya. (Lihat &#39;Aqidah Ahlussunnah fi ash-Shahabah, jilid I, hal. 283).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu termasuk dalam golongan &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/al-asyarah-al-mubasysyiriina-bil-jannah.html&#39;&gt;al-&#39;Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah&lt;/a&gt; atau 10 orang yang telah mendapat &quot;busyra bil-jannah&quot; (berita gembira sebagai penghuni surga), sebagaimana dinyatakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Wafatnya &#39;Ali ibn Abi Thalib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh &#39;Abdurrahman ibn Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami shalat Subuh di Masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan &#39;Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 H/661 M. Kemudian &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu dimakamkan secara rahasia di Najaf. Semasa hidupnya, &#39;Ali ibn Abi Thalib telah meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sebanyak 586 hadits (yang diangap shahih, 50).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai &#39;Ali ibn Abi Thalib dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/1981597850232442126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/1981597850232442126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/ali-ibn-abi-thalib.html' title='Sahabat Nabi : &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-8853166719850549900</id><published>2011-12-23T15:43:00.011+07:00</published><updated>2012-01-04T11:08:25.537+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="al-&#39;Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="as-Sabiqun al-Awwalun"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="as-Salafush-Shalih"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Khulafa&#39;ur Rasyidin"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><title type='text'>Sahabat Nabi : &#39;Utsman ibn Affan radhiyallahu &#39;anhu</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Nama Lengkap dan Nasab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama lengkap beliau adalah &#39;Utsman ibn Affan ibn Abil &#39;Ash al-Umawi al-Qurasy. Beliau lahir pada tahun 574 M. dan berasal dari keluarga yang kaya raya dari kabilah Bani Umayyah. Nasab beliau adalah &#39;Utsman ibn Affan ibn Abil &#39;Ash ibn Umayyah ibn &#39;Abdu asy-Syams ibn &#39;Abdu Manaf ibn Qushay ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka&#39;ab ibn Lu&#39;ay ibn Ghalib ibn Fihr ibn Malik ibn an-Nadhr ibn Kinanah ibn Khuzaimah ibn Mudrikah ibn Ilyas ibn Mudhar ibn Nizar ibn Ma&#39;addu ibn Adnan. Sedang ibu beliau bernama Arwa binti Kuraiz ibn Rabi&#39;ah ibn Hubaib ibn &#39;Abdu asy-Syam dan neneknya bernama Ummu Hakim Bidha&#39; binti &#39;Abdul Muththalib, bibi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Ibu beliau kemudian menganut Islam yang baik dan teguh. Pada masa Jahiliyah, &#39;Utsman ibn Affan biasa dipanggil dengan Abu &#39;Amr dan pada masa Islam, nama julukannya (kunyah) adalah Abu &#39;Abdillah. Dan juga beliau digelari dengan sebutan &quot;Dzun-Nurain&quot; yang berarti yang memiliki dua cahaya, dikarenakan beliau menikahi dua puteri Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam yaitu Ruqayyah dan Ummu Kaltsum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khaitsamah meriwayatkan di dalam kitab al-Fadha&#39;il dan ad-Daruqthuni di dalam kitab al-Farad, bahwa pernah disebutkan nama &#39;Utsman di hadapan &#39;Ali. Ternyata &#39;Ali berkata, &quot;Dialah seseorang yang dipanggil dengan sebutan Dzun-Nurain di surga.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Ciri Fisik &#39;Utsman ibn Affan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Utsman ibn Affan radhiyallahu &#39;anhu adalah seseorang yang postur tubuhnya sedang-sedang saja dan berkulit putih, namun ada juga yang mengatakan bahwa warna kulit &#39;Utsman adalah sawo matang. Beliau adalah seorang laki-laki yang berkulit luar tipis, berwajah tampan, memiliki tulang persendian yang besar, jarak antara kedua pundaknya lebar, berambut lebat, dan memiliki jenggot yang diberi warna kuning.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari al-Hasan rahimahullahu, dia berkata, &quot;Aku telah melihat &#39;Utsman, ternyata dia adalah seorang laki-laki yang berwajah tampan. Di bagian atas pipinya terdapat tahi lalat kecil yang menonjol, dan rambutnya telah menutupi bagian hastanya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Putra-putri &#39;Utsman ibn Affan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara putra &#39;Utsman yang berasal dari Ruqayyah bernama &#39;Abdurrahman. Putranya yang lain adalah &#39;Abdullah al-Ashgar yang berasal dari istrinya yang bernama Fahkitah binti Ghazwan. Amru, Khalid, Aban, Umar dan Maryam, yang berasal dari istrinya yang bernama Ummu Amru binti Junzud dari kabilah Uzd. al-Walid, Sa&#39;id dan Ummu Sa&#39;id, yang berasal dari istrinya yang bernama Fathimah binti al-Walid. &#39;Abdul Malik yang berasal dari istrinya yang bernama Ummul Banin binti Uyainah ibn Hashn; &#39;Aisyah, Ummu Aban dan Ummu Amru, yang berasal dari istrinya yang bernama Ramlah binti Syaibah ibn Rabi&#39;ah. Maryam yang berasal dari istrinya yang bernama Na&#39;ilah binti al-Farafishah. Dan Ummul Banin yang berasal dari istrinya yang merupakan Ummu Walad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;KeIslaman &#39;Utsman ibn Affan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Utsman ibn Affan radhiyallahu &#39;anhu masuk Islam sebelum Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam masuk ke Darul Arqam. Beliau masuk Islam atas ajakan &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abu-bakar-ash-shiddiq.html&#39;&gt;Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu dan beliau termasuk golongan &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/as-sabiqun-al-awwalun.html&#39;&gt;as-Sabiqun al-Awwalun&lt;/a&gt; (golongan yang pertama-tama masuk Islam).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat seruan hijrah pertama oleh Rasullullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam ke Habsyah karena meningkatnya tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam, &#39;Utsman ibn Affan bersama istri dan kaum Muslimin lainnya memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke Habsyah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Tak lama setelah kembali dan tinggal di Makkah, &#39;Utsman mengikuti perintah Nabi Muhammad shallallahu &#39;alaihi wa sallam untuk hijrah ke Madinah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada peristiwa Hudaibiyah, &#39;Utsman ibn Affan dikirim oleh Rasullullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam untuk menemui Abu Sufyan di Makkah. &#39;Utsman diperintahkan Rasulullah untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka&#39;bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Makkah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan berkecamuk, dimana Rasullullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam memimpin perang, &#39;Utsman dipercaya menggantikan Rasulullah untuk mengurus Madinah. Saat Perang Tabuk, &#39;Utsman mendermakan 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut. &#39;Utsman ibn Affan juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli mata air yang bernama &quot;Rumah&quot; dari seorang lelaki suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Mata air itu beliau wakafkan untuk kepentingan rakyat umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam terjun dalam Perang Badar, &#39;Utsman menggantikan Rasulullah untuk merawat putrinya yang bernama Ruqayyah ketika sedang menderita sakit. Maka, Rasulullah menetapkan jatah rampasan perang untuk &#39;Utsman yang pada waktu itu absen dalam perang Badar. Dalam hal ini &#39;Utsman dianggap seperti orang yang ikut perang Badar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, &#39;Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Utsman ibn Muhib, dia berkata: Ada seorang laki-laki penduduk Mesir melakukan ibadah haji. Lalu dia melihat ada beberapa orang sedang duduk-duduk. Dia pun bertanya, &quot;Siapakah mereka itu?&quot; Orang-orang menjawab, &quot;Mereka itu adalah orang-orang suku Quraisy.&quot; Lelaki itu kembali bertanya, &quot;Siapakah syaikh di antara mereka?&quot; Mereka menjawab, &quot;&#39;Abdullah ibn Umar.&quot; Lelaki itu berkata, &quot;Wahai Ibn Umar, sesungguhnya aku akan bertanya kepadamu tentang sesuatu. Beritahukan kepadaku, apakah kamu mengetahui bahwa &#39;Utsman sempat melarikan diri pada waktu perang Uhud?&quot; Ibn Umar menjawab, &quot;Ya.&quot; Lelaki itu kembali bertanya, &quot;Apakah kamu tahu bahwa dia tidak ikut hadir pada waktu perang Badar?&quot; Ibn Umar menjawab, &quot;Ya.&quot; Lelaki itu berkata lagi, &quot;Apakah kamu juga tahu bahwa dia tidak ikut peristiwa bai&#39;at Ridhwan?&quot; Ibn Umar menjawab, &quot;Ya.&quot; Maka lelaki itu berkata, &quot;Allahu Akbar.&quot; (Mendengar lelaki tersebut berkata seperti itu) Ibn Umar berkata, &quot;Kemarilah kamu, aku akan menjelaskannya untukmu! Adapun kalau &#39;Utsman lari pada waktu perang Uhud, maka aku bersaksi bahwa Allah telah memaafkan dan mengampuninya. Adapun kalau dia tidak hadir pada waktu perang Badar, maka itu karena dia harus mengurus putri Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang pada waktu itu sedang menderita sakit. Lalu Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda kepadanya, &#39;Sesungguhnya kamu mendapatkan pahala dan jatah bagian perang seorang laki-laki yang ikut perang Badar.&#39; Adapun absennya beliau pada peristiwa bai&#39;at Ridhwan, maka seandainya ada seseorang yang lebih mulia di lembah Makkah melebihi &#39;Utsman, pasti Rasulullah akan mengutus orang itu untuk menggantikan posisi &#39;Utsman. Namun, ternyata Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam telah mengutus &#39;Utsman, sedangkan peristiwa bai&#39;at Ridhwan sendiri baru terjadi setelah kepergian &#39;Utsman ke Makkah. Rasulullah bersabda dengan (memberikan isyarat) tangan kanannya, &#39;Ini adalah tangan Utsman.&#39; Lalu beliau mempertemukan tangan itu ke tangan yang satunya lagi sambil bersabda, &#39;Ini (bai&#39;at) untuk &#39;Utsman.&#39;&quot; Akhirnya Ibn Umar berkata kepada lelaki itu, &quot;Sekarang, pergilah kamu dengan membawa keterangan ini.&quot; (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Kekhalifahan &#39;Utsman ibn Affan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Utsman ibn Affan radhiyallahu &#39;anhu menjabat sebagai khalifah sesudah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/umar-ibn-al-khaththab.html&#39;&gt;Umar ibn al-Khaththab&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu berdasarkan kesepakatan ahlu syura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah wafatnya Umar ibn al-Khaththab akibat dibunuh oleh Abu Lu&#39;luah pada 25 Dzulhijjah 23 H., maka diadakanlah musyawarah untuk memilih khalifah selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu &#39;Ali ibn Abi Thalib, &#39;Utsman ibn Affan, &#39;Abdurrahman ibn Auf, Sa&#39;ad ibn Abi Waqqash, az-Zubair ibn al-Awwam dan Thalhah ibn Ubaidillah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya &#39;Abdurrahman ibn Auf, Sa&#39;ad ibn Abi Waqqash, az-Zubair ibn al-Awwam, dan Thalhah ibn Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya &#39;Utsman dan &#39;Ali yang tertinggal. Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih &#39;Utsman menjadi khalifah ketiga. Maka diangkatlah &#39;Utsman yang waktu itu telah berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga dan yang tertua, serta yang pertama dipilih dari beberapa calon. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan Masjid al-Haram (Makkah) dan Masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai ummat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Beliau mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat yang digunakan dalam perang Dzatu Sawari. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk memperbanyak salinan al-Qur&#39;an yang telah tersusun dalam satu mushaf kemudian menyebarkannya ke berbagai wilayah kekuasaan Islam. Serta memerintahkan ummat Islam agar berpatokan kepadanya dan memusnahkan mushaf yang dianggap bertentangan dengan salinan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau terus menjabat khalifah hingga terbunuh sebagai syahid pada bulan Dzulhijah tahun 35 Hijriyah dalam usia 82 tahun menurut salah satu pendapat &#39;Ulama. (Lihat Syarh Lum&#39;ah, hal. 141).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekhalifahan beliau berlangsung selama 12 tahun kurang 12 hari, beliau wafat dalam keadaan mati syahid pada tanggal 18 Dzulhijah tahun 35 Hijriyah. (Lihat al-Is&#39;aad, hal. 71-72).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Keutamaan &#39;Utsman ibn Affan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn &#39;Asakir dan yang lainnya menjelaskan dalam kitab Fadha&#39;il ash-Shahabah bahwa &#39;Ali ibn Abi Thalib ditanya tentang &#39;Utsman, maka beliau menjawab, &quot;&#39;Utsman itu seorang yang memiliki kedudukan yang terhormat yang dipanggil dengan Dzun-Nuraini, dimana Rasulullah menikahkannya dengan kedua putrinya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ummul Mu&#39;minin &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha, bahwa Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah duduk dengan kondisi paha terbuka. Lalu Abu Bakar memohon izin untuk masuk dan Rasulullah tetap dalam kondisi semula. Kemudian Umar memohon izin untuk masuk sedangkan Rasulullah masih dalam kondisi seperti sedia kala. Namun ketika &#39;Utsman memohon izin untuk masuk, maka beliau segera menggeraikan pakaiannya. Ketika mereka semua berdiri, maka aku berkata, &quot;Wahai Rasulullah, ketika tadi Abu Bakar dan Umar memohon izin untuk masuk menjumpai Anda, Anda telah mengizinkan keduanya dimana Anda tetap dalam posisi semula. Namun ketika &#39;Utsman yang memohon izin, maka Anda menggeraikan pakaian Anda.&quot; Rasulullah bersabda, &quot;Wahai &#39;Aisyah, apakah aku tidak merasa malu kepada seorang laki-laki dimana Allah dan para Malaikat-Nya juga merasa malu kepadanya?&quot; (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Fadha&#39;il ash-Shahabah 26 pada bab &quot;Min Fadha&#39;ili &#39;Utsman ibn &#39;Affan radhiyallahu &#39;anhu).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Utsman ibn Affan radhiyallahu &#39;anhu termasuk dalam golongan &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/al-asyarah-al-mubasysyiriina-bil-jannah.html&#39;&gt;al-&#39;Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah&lt;/a&gt; atau 10 orang yang telah mendapat &quot;busyra bil-jannah&quot; (berita gembira sebagai penghuni surga), sebagaimana dinyatakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Wafatnya &#39;Utsman ibn Affan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa pembunuhan &#39;Utsman ibn Affan radhiyallahu &#39;anhu berawal dari pengepungan rumah beliau oleh para pemberontak (kaum Khawarij) selama 40 hari, dimulai dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Meski &#39;Utsman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun beliau berprinsip untuk tidak menumpahkan darah ummat Islam. &#39;Utsman ibn Affan akhirnya wafat sebagai syahid pada pertengahan tasyrik tanggal 12 Dzulhijah 35 H. ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh beliau saat sedang membaca al-Qur&#39;an. Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam perihal kematian &#39;Utsman yang syahid nantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Sahl ibn Sa&#39;ad radhiyallahu &#39;anhu, ia berkata, &quot;Gunung Uhud pernah goncang, sedangkan di atas gunung tersebut ada Nabi shallallahu &#39;aiaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan &#39;Utsman. Maka Nabi bersabda, &#39;Tenanglah kamu wahai Gunung Uhud! Yang sedang berada di atasmu sekarang ini adalah seorang Nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid!&quot; (HR. Ahmad. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari [3699] dari Anas dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad [III/112]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan oleh Abu Nu&#39;aim dalam kitabnya Hulyah al-&#39;Auliya dari Ibn Sirrin bahwa ketika &#39;Utsman terbunuh, maka istri beliau berkata, &quot;Mereka telah tega membunuhnya, padahal ia telah menghidupkan seluruh malam dengan al-Qur&#39;an.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Utsman ibn Affan radhiyallahu &#39;anhu wafat dalam usia 82 tahun dan dimakamkan di kuburan Baqi&#39;, Madinah. Semasa hidupnya, &#39;Utsman ibn Affan telah meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sebanyak 146 hadits (Bukhari memasukkan 9 hadits, Muslim 5 hadits).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai &#39;Utsman ibn Affan dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/8853166719850549900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/8853166719850549900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/utsman-ibn-affan.html' title='Sahabat Nabi : &#39;Utsman ibn Affan radhiyallahu &#39;anhu'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-912229319391473088</id><published>2011-12-22T21:39:00.008+07:00</published><updated>2012-01-04T11:06:34.111+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="al-&#39;Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="as-Sabiqun al-Awwalun"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="as-Salafush-Shalih"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Khulafa&#39;ur Rasyidin"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><title type='text'>Sahabat Nabi : Amirul Mu&#39;minin Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhu</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Nama Lengkap dan Nasab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhu dilahirkan di kota Makkah tahun 581 M. dari Bani Adi, salah satu kabilah dari suku Quraisy. Beliau dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Ayahnya bernama al-Khaththab ibn Nufail as-Shimh al-Quraisyi. Nasabnya adalah Umar ibn Khaththab ibn Nufail ibn &#39;Abdul Uzza ibn Riyah ibn &#39;Abdullah ibn Qarth ibn Razah ibn &#39;Adi ibn Ka&#39;ab ibn Lu&#39;ay ibn Ghalib. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam pada Ka&#39;ab ibn Lu&#39;ay. Antara beliau dengan Nabi selisih 8 kakek. lbu beliau bernama Hantamah binti Hasyim ibn Mughirah ibn &#39;Abdullah ibn Umar ibn Makhzum. Rasulullah memberi beliau &quot;kunyah&quot; Abu Hafshah (bapak Hafshah) karena Hafshah adalah anaknya yang paling tua; dan memberi &quot;laqab&quot; (julukan) al-Faruq, yang berarti orang yang bisa memisahkan antara yang haq dan yang bathil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhu termasuk dalam golongan &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/al-asyarah-al-mubasysyiriina-bil-jannah.html&#39;&gt;al-&#39;Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah&lt;/a&gt; atau 10 orang yang telah mendapat &quot;busyra bil-jannah&quot; (berita gembira sebagai penghuni surga), sebagaimana dinyatakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Ciri-ciri Fisik Umar ibn al-Khaththab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar ibn Khaththab radhiyallahu &#39;anhu mempunyai perawakan yang tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya putih kemerah-merahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Putra-putri Umar ibn al-Khaththab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara putra-putri Umar ibn Khaththab yang berasal dari istrinya yang bernama Zainab binti Mazh&#39;un adalah &#39;Abdullah, &#39;Abdurrahman, Hafshah dan Ruqayyah. Dari istrinya yang bernama Ummu Kultsum binti Jarul adalah Zaid al-Ashgar dan Ubaidillah. Dari istrinya yang bernama Jamilah hanya memilki satu orang putra yang bernama Ashim. Dari istrinya yang bernama Lahiyyah juga hanya seorang putra yang bernama &#39;Abdurrahman al-Ausath. Dari istrinya yang merupakan Ummu Walad (hamba sahaya wanita yang digauli tuannya) juga membuahkan seorang putra yang bernama &#39;Abdurrahman al-Ashgar. Dari istrinya yang bernama Fakihah hanya mendapatkan seorang putri yang bernama Fathimah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;KeIslaman Umar ibn Khaththab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum masuk Islam, Umar ibn Khaththab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum Jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah ibn &#39;Abdul Muththalib masuk Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masuknya Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhu ke dalam Islam adalah berkat do&#39;a Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sebagaimana hadits dari Ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam berdo&#39;a, &quot;Ya Allah, kokohkanlah agama Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, yakni Umar ibn Khaththab atau dengan Amar ibn Hisyam (Abu Jahal).&quot; Ternyata diantara kedua orang itu yang lebih dicintai adalah Umar ibn Khaththab radhiyallahu &#39;anhu. (Kualitas hadits ini shahih dan diriwayatkan oleh at-Tirmidzi [3681]. Dalam hal ini at-Tirmidzi berkata bahwa hadits ini berkualitas hasan shahih gharib serta berasal dari hadits Ibn Umar).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Kekhalifahan Umar ibn al-Khaththab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KeIslaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum Muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid&#39;ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang al-Qur&#39;an dan as-Sunnah setelah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abu-bakar-ash-shiddiq.html&#39;&gt;Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hamzah ibn &#39;Amr berkata, &quot;Abu Bakar radhiyallahu &#39;anhu meninggal dunia pada malam Selasa tanggal 8 Jumadil Akhir 13 H. Maka, Umar menggantikan kursi kekhalifahan pada pagi hari kematian Abu Bakar.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Jami&#39; ibn Syadad, dari ayahnya, dia berkata: Kalimat pertama yang diucapkan Umar ketika naik ke atas mimbar (pelantikan sebagai khalifah) adalah, &quot;Ya Allah, sesungguhnya aku ini orang yang keras, maka lunakkanlah aku! Sesungguhnya aku adalah orang yang lemah, kuatkanlah aku! Sesungguhnya aku adalah orang yang bakhil, maka jadikanlah aku orang yang dermawan.&quot; (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Sa&#39;ad di dalam kitab Thabaqat-nya. Disebutkan pula oleh Abu Nu&#39;aim di dalam kitab al-Hilyah [I/53]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Askari berkata, &quot;Umar ibn Khaththab adalah orang yang pertama kali diberi julukan Amirul Mu&#39;minin, menetapkan penangggalan tahun Hijriyah, membuat Baitul Mal, mengadakan shalat qiyamu Ramadhan (tarawih) secara berjama&#39;ah, mengadakan inspeksi pada malam hari, menjatuhkan hukuman bagi tukang fitnah, menghukum peminum khamr sebanyak 80 kali dera, mengharamkan nikah mut&#39;ah, mengharamkan penjualan hamba sahaya perempuan yang telah melahirkan anak untuk majikannya, mengadakan shalat jenazah berjama&#39;ah dengan empat takbir, membentuk departemen-departemen, mengirim makanan dari Mesir ke Madinah melalui jalur laut Ablah, menentukan aturan &#39;aul dalam ilmu faraid, menarik zakat kuda, dan orang yang pertama kali berkata, &#39;Ayyadakallah (semoga Allah mengokohkanmu) kepada &#39;Ali. Demikianlah akhir keterangan yang disampaikan oleh al-Askari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekhalifahan Umar ibn al-Khaththab berlangsung selama 10 tahun 6 bulan lebih 3 hari. Semenjak tanggal 23 Jumadil Akhir 13 Hijriyah hingga 26 Dzulhijjah tahun 23 Hijriyah. (al-Is&#39;aad fi Syarhi Lum&#39;atil I&#39;tiqad, hal. 71, Syarh Lum&#39;ah, hal. 143).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Keutamaan Umar ibn al-Khaththab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Sa&#39;ad ibn Abi Waqqash radhiyallahu &#39;anhu, dari Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam bahwa beliau pernah bersabda kepada Umar, &quot;Demi Dzat yang menguasai jiwaku, tidak akan ada syaitan yang bertemu denganmu di sebuah jalan, kecuali dia akan memilih jalan lain yang tidak kamu lewati.&quot; (HR. Bukhari-Muslim dalam kitab Shahihain. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari [3683] dan Muslim [Fadha&#39;il ash-Shahabah 23] pada bab Min Fadha&#39;il Umar radhiyallahu &#39;anhu).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain pemberani, Umar ibn Khaththab juga seorang yang cerdas. Dalam masalah ilmu diriwayatkan oleh al-Hakim dan Thabrani dari Ibn Mas&#39;ud radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Seandainya ilmu Umar ibn Khaththab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar ibn Khaththab lebih berat dibandingkan ilmu mereka.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Imam Ibn Majah rahimahullah berkata, &quot;Telah menceritakan kepada kami Hisyam ibn &#39;Ammar: Telah menceritakan kepada kami Sufyan (ibn &#39;Uyainah), dari al-Hasan ibn al-Umarah, dari Firas, dari asy-Sya&#39;bi, dari al-Harits, dari &#39;Ali, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, &quot;Abu Bakar dan Umar adalah dua orang pemimpin bagi orang-orang dewasa penduduk surga, dari kalangan terdahulu maupun yang kemudian selain para Nabi dan Rasul. Jangan engkau khabarkan hal ini kepada mereka wahai &#39;Ali, selama mereka masih hidup.&quot; (Sunan Ibn Majah [95]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Aktivitas Ibadah Umar ibn al-Khaththab&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma, dia berkata, &quot;Umar tidak meninggal dunia sampai beliau telah menunaikan ibadah puasa secara terus-menerus.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Sa&#39;id ibn al-Musayyib rahimahullah, dia berkata, &quot;Umar senang sekali melakukan ibadah shalat di tengah malam, tepatnya di pertengahan malam.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketawadhu&#39;an Umar ibn al-Khaththab&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disebutkan di dalam al-Mudawwanah al-Kubra: Ibn al-Qasim mengatakan, &quot;Aku pernah mendengar Malik membawakan sebuah kisah bahwa pada suatu ketika di masa kekhalifahan Abu Bakar ada seorang lelaki yang bermimpi bahwa ketika itu hari kiamat telah terjadi dan seluruh ummat manusia dikumpulkan. Di dalam mimpi itu dia menyaksikan Umar mendapatkan ketinggian dan kemuliaan derajat yang lebih di antara manusia yang lain. Dia mengatakan: Kemudian aku berkata di dalam mimpiku, &#39;Karena faktor apakah Umar ibn al-Khaththab bisa mengungguli orang-orang yang lain?&#39; Dia berkata: Lantas ada yang berujar kepadaku, &#39;Dengan sebab kedudukannya sebagai khalifah dan orang yang mati syahid, dan dia juga tidak pernah merasa takut kepada celaan siapapun selama dirinya tegak berada di atas jalan Allah.&#39; Pada keesokan harinya, laki-laki itu datang dan ternyata di situ ada Abu Bakar dan Umar sedang duduk bersama. Maka dia pun mengisahkan isi mimpinya itu kepada mereka berdua. Ketika dia selesai bercerita maka Umar pun menghardik orang itu seraya berkata kepadanya, &#39;Pergilah kamu, itu hanyalah mimpi orang tidur!&#39; Lelaki itupun bangkit meninggalkan tempat tersebut. Ketika Abu Bakar telah wafat dan Umar memegang urusan pemerintahan, maka beliau pun mengutus orang untuk memanggil si lelaki itu. Kemudian Umar berkata kepadanya, &#39;Ulangi kisah mimpi yang pernah kamu ceritakan dahulu.&#39; Lelaki itu menjawab, &#39;Bukankah anda telah menolak cerita saya dahulu?!&#39; Umar mengatakan, &#39;Tidakkah kamu merasa malu menyebutkan keutamaan diriku di tengah-tengah majelis Abu Bakar sementara pada saat itu dia sedang duduk di tempat itu?&#39; Syaikh &#39;Abdul Aziz as-Sadhan mengatakan, &#39;Umar radhiyallahu &#39;anhu tidak merasa ridha keutamaan dirinya disebutkan sementara di saat itu ash-Shiddiq (Abu Bakar) -dan Abu Bakar radhiyallahu &#39;anhu jelas lebih utama dari beliau- hadir mendengarkan kisah itu, walaupun sebenarnya dia tidak perlu merasa berat ataupun bersalah mendengarkan hal itu, akan tetapi inilah salah satu bukti kerendahan hati beliau radhiyallahu &#39;anhu&#39;.&quot; (lihat Ma&#39;alim fi Thariq Thalabil &#39;Ilmi, hal. 103-104).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sifat Zuhud Umar ibn al-Khaththab&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Mush&#39;ab ibn Sa&#39;ad, dia berkata: Hafshah telah berkata kepada Umar, &quot;Wahai Amirul Mu&#39;minin, andai saja Anda mengenakan pakaian yang lebih halus dibandingkan dengan pakaian Anda (sekarang ini) dan juga mengkonsumsi makanan yang lebih baik dari makanan yang Anda makan (sekarang ini). (Bukankah) Allah telah melapangkan rezeki dan memberikan banyak kebaikan!&quot; Umar menjawab, &quot;Sesungguhnya aku akan memusuhimu (kalau terus menganjurkanku melakukan hal itu). Tidakkah kamu ingat bahwa Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam senantiasa mengalami hidup yang sangat payah? Begitu juga dengan Abu Bakar?&quot; Umar terus mengingatkan Hafshah hingga akhirnya putrinya itu menangis. Lalu Umar berkata kepadanya, &quot;Ingatlah, demi Allah pasti aku akan menjalani hidupku seperti kehidupan mereka berdua yang sangat sulit! Mungkin saja aku akan mendapatkan kehidupan sejahtera seperti keduanya (di alam berikutnya).&quot; (HR. Ahmad).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Wafatnya Umar ibn al-Khaththab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada hari Rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H/644 M., Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhu wafat. Beliau ditikam ketika sedang melakukan Shalat Subuh oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu&#39;luah (Fairuz), budak milik al-Mughirah ibn Syu&#39;bah, diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi yang dendam pada Khalifah Umar ibn Khaththab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amr ibn Maimun berkata, &quot;Pada pagi hari terbunuhnya Umar, aku berdiri dekat sekali dengan Umar. Penghalang antara aku dan beliau hanyalah &#39;Abdullah ibn Abbas. Kebiasaannya, jika beliau berjalan disela-sela shaf, beliau selalu berkata, &#39;Luruskan!&#39; Setelah melihat barisan telah rapat dan lurus, beliau maju dan mulai bertakbir. Pada waktu itu mungkin beliau sedang membaca surat Yusuf atau an-Nahl ataupun surat lainnya pada raka&#39;at pertama hingga seluruh jama&#39;ah hadir berkumpul. Ketika beliau bertakbir, tiba-tiba aku mendengar beliau menjerit, &#39;Aku dimakan anjing (aku ditikam)&#39;. Ternyata beliau ditikam oleh seorang budak, kemudian budak kafir itu lari dengan membawa pisau belati bermata dua. Setiap kali melewati orang-orang, dia menikamkan belatinya ke kanan maupun ke kiri hingga menikam tiga belas orang kaum Muslimim dan tujuh di antaranya meninggal. Ketika salah seorang dari kaum Muslimin melihat peristiwa itu, ia melemparkan burnus (baju berpenutup kepala) untuk menangkapnya. Ketika budak kafir itu yakin bahwa dia akan tertangkap, dia langsung bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar segera menarik tangan &#39;Abdurrahman dan menyuruhnya maju menjadi imam. Siapa saja yang berdiri di belakang Umar pasti akan melihat apa yang aku lihat. Adapun orang-orang yang berada disudut-sudut masjid, mereka tidak tahu apa yang telah terjadi, hanya saja mereka tidak mendengar suara Umar. Di antara mereka ada yang mengatakan, Subhanallah&#39;. Maka akhirnya &#39;Abdurrahman yang menjadi imam shalat mereka dan ia sengaja memendekkan shalat. Selesai orang-orang mengerjakan shalat, Umar berkata, &#39;Wahai Ibn Abbas, lihatlah siapa yang telah menikamku&#39;. Ibn Abbas pergi, sesaat kemudian kembali sambil berkata, &#39;Pembunuhmu adalah budak milik al-Mughirah. Umar bertanya, &#39;Budaknya yang lihai&lt;br /&gt;
bertukang itu?&#39; Ibn Abbas menjawab, &#39;Ya&#39;. Umar berkata, &#39;Semoga Allah membinasakannya. Padahal aku telah menyuruhnya kepada kebaikan. Alhamdulillah yang telah menjadikan sebab kematianku di tangan orang yang tidak beragama Islam. Engkau dan ayahmu (Abbas) menginginkan agar budak-budak kafir itu banyak tinggal di Madinah&#39;.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Utsman ibn Affan radhiyallahu &#39;anhu dia berkata, &quot;Aku adalah orang yang terakhir kali menyaksikan kematian Umar di antara kalian. Aku mengunjunginya ketika kepalanya berada di pangkuan anaknya yang bernama &#39;Abdullah. Lalu Umar berkata kepada putranya itu, &#39;Letakanlah pipiku di atas permukaan bumi!&#39; &#39;Abdullah berkata, &#39;Bukankah pahaku dan permukaan bumi sama saja?&#39; Umar berkata lagi, &#39;Letakanlah pipiku di atas permukaan bumi!&#39; Umar mengucapkan kalimat itu sampai dua atau tiga kali. Aku juga mendengarnya berkata, &#39;Sungguh celaka aku jika Engkau tidak mengampuniku&#39;. Sampai akhirnya nyawanya dicabut dari jasadnya.&quot; (Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari hadits Ibn Umar radhiyallahu &#39;anhuma dengan kualitas hasan menurut al-Hafizh al-Haitsami. Lihat kitab al-Majma [9/76]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhu wafat tiga hari setelah peristiwa itu, beliau dikebumikan pada hari Ahad di awal bulan Muharram tahun 24 Hijriyah dan dikebumikan di kamar Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam di samping Abu Bakar ash-Shiddiq setelah mendapat izin dari Ummul Mu&#39;minin &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha. Semasa hidupnya, Umar ibn al-Khaththab telah meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sebanyak 537 hadits (yang dianggap shahih, 50).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Ma&#39;syar berkata, &quot;Umar terbunuh pada tanggal 25 Dzulhijjah tepat penghujung tahun 23 Hijriyah. Masa kekhalifahannya adalah 10 tahun 6 bulan 4 hari. Setelah itu &#39;Utsman diba&#39;iat menjadi khalifah.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar ibn al-Khaththab wafat saat beliau berumur 63 tahun, dan dalam riwayat yang lain beliau wafat ketika berusia 57 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mu&#39;awiyah radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Usia Umar ketika meninggal dunia adalah 63 tahun.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari asy-Sya&#39;bi rahimahullah disebutkan bahwa Abu Bakar meninggal dunia pada usia 63 tahun. Begitu juga dengan Umar yang meninggal dunia pada usia 63 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Salim ibn &#39;Abdullah rahimahullah, Umar meninggal dunia pada usia 65 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai Umar ibn al-Khaththab dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/912229319391473088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/912229319391473088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/umar-ibn-al-khaththab.html' title='Sahabat Nabi : Amirul Mu&#39;minin Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhu'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-675980462774131761</id><published>2011-12-21T23:29:00.005+07:00</published><updated>2011-12-24T19:41:32.456+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="as-Salafush-Shalih"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tabiut Tabiin"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ulama"/><title type='text'>Mengenal Tabi&#39;ut Tabi&#39;in</title><content type='html'>Tabi&#39;ut Tabi&#39;in artinya pengikut &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/mengenal-tabiin.html&#39;&gt;Tabi&#39;in&lt;/a&gt;, adalah orang Islam teman sepergaulan dengan para Tabi&#39;in dan tidak mengalami masa hidup &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/sahabat-nabi.html&#39;&gt;Sahabat Nabi&lt;/a&gt;. Tabi&#39;ut Tabi&#39;in disebut juga murid Tabi&#39;in.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut banyak literatur hadits: Tabi&#39;ut Tabi&#39;in adalah orang Islam dewasa yang pernah bertemu atau berguru pada Tabi&#39;in dan sampai wafatnya beragama Islam. Dan ada juga yang menulis bahwa Tabi&#39;in yang ditemui harus masih dalam keadaan sehat ingatannya. Karena Tabi&#39;in yang terahir wafat sekitar 110-120 Hijriyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kalangan 4 Imam Mazhab Ahlussunnah wal-Jama&#39;ah, Imam Hanafi tidak termasuk dalam Tabi&#39; Tabi&#39;in karena beliau pernah berguru dengan Sahabat Nabi. Sedangkan 3 Imam yaitu Imam Malik, Imam Syafi&#39;i dan Imam Hambali adalah Tabi&#39; Tabi&#39;in karena mereka berguru dengan Tabi&#39;in.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Tokoh-tokoh Tabi&#39;ut Tabi&#39;in&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malik ibn Anas&lt;br /&gt;
al-Auza&#39;i&lt;br /&gt;
Sufyan ats-Tsauri&lt;br /&gt;
Sufyan ibn Uyainah al-Hilali&lt;br /&gt;
al-Laits ibn Saad&lt;br /&gt;
&#39;Abdullah ibn al-Mubarok&lt;br /&gt;
Waki&#39;&lt;br /&gt;
asy-Syafi&#39;i&lt;br /&gt;
&#39;Abdurrahman ibn Mahdi&lt;br /&gt;
Yahya ibn Said al-Qathan&lt;br /&gt;
Yahya ibn Ma&#39;in&lt;br /&gt;
&#39;Ali ibn al-Madini&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/675980462774131761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/675980462774131761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/blog-post_21.html' title='Mengenal Tabi&#39;ut Tabi&#39;in'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-8455358350963456743</id><published>2011-12-21T12:39:00.010+07:00</published><updated>2012-01-04T11:04:46.562+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="al-&#39;Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="as-Sabiqun al-Awwalun"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="as-Salafush-Shalih"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Khulafa&#39;ur Rasyidin"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><title type='text'>Sahabat Nabi : Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu, Khalifah Pertama Kaum Muslimin</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Nama Lengkap dan Nasab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama lengkapnya adalah &#39;Abdullah ibn &#39;Utsman ibn Amir ibn &#39;Amru ibn Ka&#39;ab ibn Sa&#39;ad ibn Taim ibn Murrah ibn Ka&#39;ab ibn Lu&#39;ay ibn Ghalib ibn Fihr al-Quraishy at-Tamimi. Bertemu nasabnya dengai Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam pada kakeknya Murrah ibn Ka&#39;ab bin Lu&#39;ai. Dan ibu dari Abu Bakar adalah Ummu al-Khair salma binti Shakhr ibn Amir ibn Ka&#39;ab ibn Sa&#39;ad ibn Taim, yang ketika meninggal dunia telah menjadi seorang wanita Muslimah. Berarti ayah dan ibunya sama-sama dari kabilah Bani Taim suku Quraisy. Abu Bakar ash-Shiddiq, lahir pada 573 M di Makkah, usianya dua tahun lebih muda dari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama pada zaman Jahiliyah adalah &#39;Abdul Ka&#39;bah artinya &#39;hamba Ka&#39;bah&#39;, yang kemudian setelah masuk Islam diubah oleh Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menjadi &#39;Abdullah artinya &#39;hamba Allah&#39;. Panggilan Abu Bakar ash-Shiddiq sebenarnya adalah sebagai gelar saja. &quot;Abu&quot; artinya bapak, &quot;Bakar&quot; artinya dengan segera (beliau dinamai demikian karena beliau masuk Islam dengan segera, mendahului yang lain).&lt;br /&gt;
Kemudian &quot;ash-Shiddiq&quot; artinya yang amat membenarkan. Karena beliau amat membenarkan berbagai pengalaman dan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu &#39;alaihi wa sallam, terutama peristiwa Isra&#39; Mi&#39;raj.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Hakim ibn Sa&#39;ad, dia berkata, &quot;Aku telah mendengar &#39;Ali bersumpah dengan nama Allah bahwa Dia menurunkan dari langit nama ash-Shiddiq untuk Abu Bakar.&quot; (al-Haitsami berkata, &quot;Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dengan para perawi yang tsiqah.&quot; Lihat kitab al-Majma&#39; [9/41]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu termasuk dalam golongan &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/al-asyarah-al-mubasysyiriina-bil-jannah.html&#39;&gt;al-&#39;Asyarah al-Mubasysyiriina bil Jannah&lt;/a&gt; atau 10 orang yang telah mendapat &quot;busyra bil-jannah&quot; (berita gembira sebagai penghuni surga), sebagaimana dinyatakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Ciri-ciri Fisik Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan dari Mu&#39;awiyah radhiyallahu &#39;anhu, dia berkata, &quot;Aku bersama ayahku berkunjung ke rumah Abu Bakar ash-Shiddiq. Lalu aku melihat Asma&#39; berdiri di hadapan beliau, sedangkan rambut Abu Bakar sudah putih semua. Aku benar-benar melihat Abu Bakar sebagai seorang yang telah beruban dan berperawakan kurus. Dia menaikanku dan ayahku ke atas dua ekor kuda. Kemudian kami pamit kepadanya, dan diapun mempersilakan kami untuk pergi.&quot; (al-Haitsami berkata, &quot;Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dengan para perawi yang biasa meriwayatkan di dalam kitab ash-Shahih.&quot; Lihat al-Majma&#39; [9/41]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Putra-putri Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara putra-putri Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu adalah &#39;Abdullah dan Asma&#39; yang mendapatkan julukan Dzatun-Nithaqain. Ibu dari kedua anak ini adalah Qutailah. Anak Abu Bakar yang lainnya adalah &#39;Abdurrahman dan &#39;Aisyah, keduanya berasal dari ibu yang bernama Ummu Ruman. Kemudian anak beliau yang lain lagi adalah Muhammad. Ibu anak ini bernama Asma&#39; binti Umais.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak Abu Bakar lainnya adalah Ummu Kultsum. Ibu dari putrinya yang satu ini adalah Habibah binti Kharijah ibn Zaid. Ceritanya, ketika Abu Bakar ash-Shiddiq hijrah ke Madinah, beliau singgah di rumah Kharijah. Lalu beliau menikah dengan putrinya yang bernama Habibah tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai &#39;Abdullah, dia sempat ikut serta pada perang Tha&#39;if. Sedangkan Asma&#39;, dia dinikahi oleh az-Zubair ibn al-Awwam dan sempat melahirkan beberapa putra. Namun kemudian az-Zubair menceraikannya. Dia terus hidup bersama putranya yang bernama &#39;Abdullah sampai akhirnya putranya tersebut terbunuh. Asma&#39; sendiri meninggal dalam usia 100 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun &#39;Abdurrahman, dia sempat ikut perang Badar bersama-sama orang musyrik. Namun kemudian dia memeluk agama Islam. Berbeda lagi dengan Muhammad, dia termasuk ahli ibadah dari kalangan orang-orang Quraisy. Dia memberikan pertolongan kepada &#39;Utsman ibn &#39;Affan radhiyallahu &#39;anhu pada hari kekhalifahannya dikudeta. Pada masa kekhalifahan &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu, dia diangkat sebagai penguasa di Mesir. Ketika terjadi perselisihan antara Khalifah &#39;Ali dengan Mu&#39;awiyah, dia terbunuh di negeri tersebut. Sedangkan Ummi Kultsum, dia dinikahi oleh Thalhah ibn Ubaidillah radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;KeIslaman Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu adalah salah satu Sahabat yang paling awal memeluk Islam, sehingga beliau termasuk ke dalam golongan &quot;&lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/as-sabiqun-al-awwalun.html&#39;&gt;as-Sabiqun al-Awwalun&lt;/a&gt;&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan oleh Abu Hasan al-Athrabulusi, sebagaimana disebutkan dalam al-Bidayah [3/29] &#39;dari &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha, ia berkata, &quot;Sejak zaman Jahiliyah, Abu Bakar adalah kawan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Pada suatu hari, dia hendak menemui Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, ketika bertemu dengan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, dia berkata, &#39;Wahai Abul Qosim (panggilan Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam), ada apa denganmu, sehingga engkau tidak terlihat di majelis kaummu dan orang-orang menuduh bahwa engkau telah berkata buruk tentang nenek moyangmu dan lain-lain lagi?&#39; Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, &#39;Sesungguhnya aku adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala dan aku mengajak kamu kepada Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala.&quot; Setelah selesai Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam berbicara, Abu Bakar pun langsung masuk Islam. Melihat keIslamannya itu beliau gembira sekali, tidak ada seorangpun yang ada di antara kedua gunung di Makkah yang merasa gembira melebihi kegembiraan beliau. Kemudian Abu Bakar menemui &#39;Utsman ibn &#39;Affan, Thalhah ibn &#39;Ubaidillah, az-Zubair ibn al-Awwam, dan Sa&#39;ad ibn Abi Waqqash radhiyallahu &#39;anhum, mengajak mereka untuk masuk Islam. Lalu, merekapun masuk Islam. Hari berikutnya Abu Bakar menemui &#39;Utsman ibn Mazhum, Abu Ubaidah ibn al-Jarrah, &#39;Abdurrahman ibn Auf, Abu Salamah ibn &#39;Abdul Saad, dan al-Arqam ibn Abu al-Arqam radhiyallahu &#39;anhum, juga mengajak mereka untuk masuk Islam.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hassan ibn Tsabit, Ibn Abbas, Asma&#39; binti Abu Bakar, dan Ibrahim an-Nakha&#39;i berkata, &quot;Orang yang pertama kali memeluk agama Islam adalah Abu Bakar.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yusuf ibn Ya&#39;qub ibn al-Majasyun berkata, &quot;Aku masih sempat menjumpai kehidupan ayahku dan beberapa orang syaikh-ku. Mereka itu adalah Muhammad ibn al-Munkadir, Rabi&#39;ah ibn Abi &#39;Abdirrahman, Shalih ibn Kaisan, Sa&#39;ad ibn Ibrahim, dan &#39;Utsman ibn Muhammad al-Akhnasi. Mereka semua tidak meragukan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang yang pertama kali memeluk agama Islam.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Hafizh berkata, &quot;Jumhur &#39;Ulama sepakat bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang yang pertama kali memeluk agama Islam dari kalangan laki-laki dewasa.&quot; (Lihat Fathul Bari [7/207]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Asakir meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang baik dari Muhammad ibn Sa&#39;ad ibn Abi Waqqash, bahwa dia berkata kepada ayahnya, &quot;Apakah Abu Bakar ash-Shiddiq merupakan orang yang pertama kali masuk Islam di antara kalian?&quot; Sa&#39;ad menjawab, &quot;Tidak, akan tetapi ada sekitar lima orang yang memeluk Islam lebih dahulu dibandingkan dia. Hanya saja dia memang orang yang kualitas Islamnya paling bagus di antara kita.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Katsir berkata, &quot;Yang jelas, anggota keluarga Rasulullah adalah orang-orang yang memeluk Islam lebih awal dibandingkan orang lain. Mereka itu adalah istri beliau Khadijah, hamba sahaya beliau yang bernama Zaid, istri Zaid yang bernama Ummu Aiman, kemudian &#39;Ali dan Waraqah.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muhammad ibn Ishaq menyebutkan bahwa dari 10 orang yang pertama kali masuk Islam, ada 5 orang yang menyatakan keIslamannya di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu. Mereka itu adalah &#39;Utsman ibn &#39;Affan, Thalhah ibn Ubaidillah, az-Zubair ibn al-Awwam, Sa&#39;ad ibn Abi Waqqash, dan &#39;Abdurrahman ibn Auf radhiyallahu &#39;anhum. (Lihat dalam kitab Sirah Ibn Hisyam [I/250]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para &#39;Ulama ahli sejarah menyebutkan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq ikut perang Badar bersama-sama dengan Rasulullah dan juga ikut pada peperangan yang lain. Dia tidak pernah absen dalam setiap peperangan. Pada waktu perang Uhud, tepatnya ketika orang-orang Islam sudah mulai terdesak, Abu Bakar masih setia di barisan peperangan. Abu Bakar juga telah dipercaya Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam untuk memegang panji kebesaran ummat Islam pada waktu perang Tabuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq memeluk agama Islam, dia memiliki uang sebesar 40.000 Dirham. Uang itulah yang beliau gunakan untuk memerdekakan para hamba sahaya yang disiksa tuannya karena memeluk agama Allah. Uang itu juga digunakan untuk memperkuat perjuangan kaum Muslimin. Beliau-lah orang yang pertama kali mengkodifikasikan kitab suci al-Qur&#39;an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu senantiasa menjauhkan dirinya dari segala jenis khamr (minuman keras), baik pada masa Jahiliyah maupun masa Islam. Beliau juga orang yang menjauhkan dirinya dari sesuatu yang bersifat syubhat. Pernah suatu kali beliau memuntahkan kembali makanan yang telah ditelannya karena ragu akan kehalalan makanan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu adalah orang pertama yang diangkat sebagai khalifah setelah wafatnya Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan waktu itu ayahandanya masih hidup. Ia juga khalifah yang pertama kali digaji oleh rakyatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Bukhari meriwayatkan dari &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha, dia berkata, &quot;Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, dia pun berkata, &#39;Kaumku telah mengetahui bahwa mata pencaharianku masih mampu mencukupi kebutuhan keluargaku. Namun aku disibukkan menangani urusan kaum Muslimin. Oleh karena itu, keluarga Abu Bakar akan makan dari harta (gaji) ini dan Abu Bakar sendiri akan menangani urusan kaum Muslimin&#39;.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Masa Kekhalifahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibn &#39;Abbas radhiyallahu &#39;anhuma, dia berkata: Umar ibn Khaththab telah berkata, &quot;Di antara berita yang beredar di tengah-tengah kami pada hari wafatnya Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam adalah &#39;Ali dan az-Zubair berada di rumah Fathimah, sedangkan para Sahabat kalangan Anshar sedang berada di Saqifah Bani Sa&#39;idah. Berbeda dengan para Sahabat kalangan Muhajirin yang pada waktu itu berkumpul di sekitar Abu Bakar. Maka aku (Umar) berkata kepadanya, &#39;Wahai Abu Bakar, mari beranjak bersama kami menuju saudara-saudara kita dari kalangan Anshar!&#39;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya kami semua bertolak sampai akhirnya bertemu dengan dua orang lelaki shalih. Keduanya memberitahu kami tentang apa yang sedang dikerjakan orang-orang. Keduanya berkata, &#39;Wahai orang-orang Muhajirin, kalian semua hendak pergi kemana?&#39; Aku menjawab, &#39;Kami hendak mengunjungi saudara-saudara kami dari kalangan Anshar&#39;. Namun keduanya malah berkata, &#39;Kalian tidak usah mengunjungi mereka, kerjakan saja urusan kalian!&#39; Maka aku berkata, &#39;Demi Allah, kami tetap akan mengunjungi mereka.&#39;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami terus bertolak sampai akhirnya tiba di tengah-tengah mereka, tepatnya di Saqifah Bani Sa&#39;idah. Ternyata mereka semua telah berkumpul. Di hadapan mereka ada seorang laki-laki berselimut. Maka aku pun bertanya, &#39;Siapakah ini?&#39; Orang-orang menjawab, &#39;Sa&#39;ad ibn Ubadah&#39;. Aku kembali berkata, &#39;Ada apa dengannya?&#39; Mereka kembali menjawab, &#39;Dia tengah menderita sakit&#39;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kami duduk, tiba-tiba orator kaum Anshar berdiri sambil melafazhkan kalimat pujian kepada Allah &#39;Azza wa Jalla sebagai Dzat yang memang layak untuk menerima segala bentuk pujian. Dia juga berkata, &#39;Amma ba&#39;du, kita semua adalah para penolong Allah sekaligus juga sebagai pasukan berkuda agama Islam. Sedangkan kalian -wahai sekalian orang-orang Muhajirin- hanyalah sekelompok orang dari kita. Sesungguhnya ada sekelompok orang dari kalian yang diam-diam hendak menyingkirkan kami dan menjauhkan kami dari sebuah urusan yang besar&#39;.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar berkata, &quot;Ketika orang itu telah diam, maka aku hendak berbicara. Sungguh aku telah mempersiapkan sebuah kalimat yang menurutku sangat bagus untuk diutarakan. Aku hendak mengutarakannya juga di hadapan Abu Bakar, sebab aku juga pernah tidak sependapat dengannya dalam beberapa hal. Namun, bagaimanapun juga, Abu Bakar adalah orang yang lebih sabar dan lebih berwibawa dibandingkan aku. Ternyata Abu Bakar berkata kepadaku, &#39;Bersikaplah agak pelan!&#39; Tentu saja aku tidak suka kalau marah kepadanya. Demi Allah, ternyata Abu Bakar tidak meninggalkan beberapa konsep kalimat yang aku persiapkan. Semua ide yang ada dalam benakku telah dia lontarkan di hadapan orang-orang dengan redaksi yang sangat santun. Dia terus mengucapkan hal itu sampai akhir perkataannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini Abu Bakar berkata, &#39;Amma ba&#39;du, adapun hal-hal positif yang telah kalian utarakan, memang sudah terbukti kalian lakukan. Namun tidak ada orang Arab yang mengetahui permasalahan (kekhilafahan) ini kecuali memang berada di tangan salah seorang penghuni kampung dari kalangan suku Quraisy ini. Mereka itu adalah orang-orang yang memiliki nasab dan tempat tinggal yang paling baik. Aku ridha kalau salah seorang dari kedua orang ini menjadi pemimmpin kalian. Terserah, mana di antara keduanya yang akan kalian pilih&#39;.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar berkata, &quot;Ternyata Abu Bakar mengandeng tanganku dan tangan Abu Ubaidah ibn al-Jarrah. Sesungguhnya semua perkataan Abu Bakar yang telah dilontarkan tidak ada yang aku benci kecuali hanya yang terakhir ini. Demi Allah, hal itu sama dengan aku disuruh maju kemudian tengkukku dipenggal. Tidak ada sesuatu yang mendekatkan aku kepada sebuah dosa, kecuali dia masih lebih aku sukai daripada harus memimpin sebuah kaum sedangkan di tengah-tengah mereka masih ada Abu Bakar, kecuali apabila dia memang membujukku untuk menerima jabatan tersebut ketika dia sudah hendak meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba ada seseorang dari kalangan Anshar berkata, &#39;Aku adalah orang yang bisa dipercaya pendapatnya lagi berpengalaman. Aku juga tokoh yang cukup dihormati. (Lebih baik) di antara kita ada seorang pemimpin dan di antara kalian juga ada seorang pemimpin&#39;. Maka, suara gaduh pun terdengar sampai aku khawatir kalau persatuan orang-orang Muslimin pecah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika itulah aku berkata, &#39;Julurkanlah tanganmu, wahai Abu Bakar! Karena aku akan membai&#39;atmu sebagai khalifah&#39;. Maka, Abu Bakar dibai&#39;at oleh orang-orang Muhajirin yang kemudian diikuti oleh orang-orang Anshar.&quot; (HR. Imam Ahmad).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Humaid ibn Hilal, dia berkata: Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, maka para Sahabat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam berkata, &quot;Tetapkanlah gaji yang mencukupi untuk khalifah Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&quot; Lalu sebagian yang lain berkata, &quot;Ya, berilah dia dua helai kain beludru. Apabila kedua kain itu telah usang, maka hendaklah dia mengembalikannya dan mengambil lagi kain yang lain. Berikanlah juga fasilitas kendaraan jika dia bepergian dan sejumlah uang belanja untuk keluarganya, sebagaimana yang dia berikan sebelum diangkat sebagai khalifah.&quot; Maka Abu Bakar radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Aku rela dengan hal itu.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umair ibn Ishaq berkata, &quot;Abu Bakar pernah keluar memanggul beban di atas pundaknya. Maka ada seorang lelaki berkata kepadanya, &#39;Biarkanlah aku yang membawa barang itu untukmu!&#39; Abu Bakar berkata, &#39;Jangan memperdulikan aku, dan jangan pula memperdaya diriku! Sebab, Ibn Khaththab telah mencukupi kebutuhan keluargaku&#39;.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut para &#39;Ulama ahli sejarah, Abu Bakar menerima jasa memerah susu kambing untuk penduduk desa. Ketika beliau telah dibai&#39;at menjadi khalifah, ada seorang wanita desa berkata, &quot;Sekarang Abu Bakar tidak akan lagi memerahkan susu kambing kami.&quot; Perkataan itu didengar oleh Abu Bakar sehingga dia berkata, &quot;Tidak, bahkan aku akan tetap menerima jasa memerah susu kambing kalian. Sesungguhnya aku berharap dengan jabatan yang telah aku sandang sekarang ini sama sekali tidak merubah kebiasaanku di masa silam.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Asakir meriwayatkan keterangan dari Aniah. Dia berkata, &quot;Abu Bakar berada di tengah-tengah kita selama setahun sebelum diangkat sebagai khalifah, dan setahun setelah beliau menjabat sebagai khalifah. Ketika itu kaum perempuan desa itu datang dengan membawa kambing mereka kepada Abu Bakar, sebab Abu Bakar menerima jasa memerahkan susu kambing.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, dia memerintahkan Umar untuk mengurusi urusan haji kaum Muslimin. Barulah pada tahun berikutnya Abu Bakar menunaikan haji. Sedangkan untuk ibadah umrah, beliau lakukan pada bulan Rajab tahun 12 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memasuki kota Makkah sekitar waktu dhuha dan langsung menuju rumahnya. Pada waktu itu, Abu Quhafah -ayah beliau- sedang duduk di depan pintu rumahnya. Dia ditemani oleh beberapa orang pemuda yang sedang berbincang-bincang dengannya. Lalu dikatakan kepada Abu Quhafah, &quot;Ini putramu (telah datang)!&quot; Maka, Abu Quhafah berdiri dari tempatnya. Abu Bakar bergegas menyuruh untanya untuk bersimpuh. Dia turun dari untanya ketika unta itu belum sempat bersimpuh dengan sempurna sambil berkata, &quot;Wahai ayahku, janganlah Anda berdiri!&quot; Lalu Abu Bakar memeluk Abu Quhafah dan mengecup keningnya. Tentu saja Abu Quhafah menangis sebagai luapan rasa bahagia dengan kedatangan putranya tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, datanglah beberapa tokoh kota Makkah seperti Attab ibn Usaid, Suhail ibn Amru, Ikrimah ibn Abi Jahal, dan al-Harits ibn Hisyam. Mereka semua mengucapkan salam kepada Abu Bakar, &quot;Assalaamu&#39;alaika, wahai khalifah Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam!&quot; Mereka semua menjabat tangan Abu Bakar. Lalu Abu Quhafah berkata, &quot;Wahai Atiq (julukan untuk Abu Bakar), mereka itu adalah orang-orang (yang baik). Oleh karena itu, jalinlah persahabatan yang baik dengan mereka!&quot; Abu Bakar berkata, &quot;Wahai ayahku, tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya dengan pertolongan Allah. Aku telah diberi beban yang sangat berat, tentu saja aku tidak akan memiliki kekuatan untuk menanggungnya kecuali hanya dengan pertolongan Allah.&quot; Lalu Abu Bakar berkata, &quot;Apakah ada orang yang akan mengadukan sebuah perbuatan dzalim?&quot; Ternyata tidak ada seorang pun yang datang kepada Abu Bakar untuk melaporkan sebuah kedzaliman. Semua orang malah menyanjung pemimpin mereka tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq berlangsung selama 2 tahun 3 bulan 9 hari. Semenjak 13 Rabi&#39;ul Awwal 11 H hingga 22 Jumadil Akhir 13 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kebijakan Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Memerangi Golongan yang tidak mau membayar Zakat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, beliau meriwayatkan: Setelah Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam wafat dan kemudian Abu Bakar radhiyallahu &#39;anhu diangkat sebagai khalifah sesudahnya, maka pada saat itu sebagian bangsa Arab kembali kepada kekafiran. Ketika itu Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhu berkata kepada Abu Bakar, &quot;Bagaimana engkau akan memerangi orang-orang itu -maksudnya adalah kaum yang enggan membayar zakat- sementara Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, &#39;Aku&lt;br /&gt;
diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan la ilaha illallah. Barangsiapa yang telah mengucapkan la ilaha illallah maka dia telah menjaga harta dan jiwanya dariku kecuali apabila ada alasan yang benar -untuk mengambilnya-. Adapun hisabnya adalah terserah kepada Allah Ta&#39;ala?&#39;&quot; Maka Abu Bakar pun mengatakan, &quot;Demi Allah! Benar-benar aku akan memerangi orang-orang yang membeda-bedakan antara sholat dengan zakat. Karena sesungguhnya zakat itu adalah hak atas harta. Demi Allah! Seandainya mereka tidak mau menyerahkan kepadaku seikat karung (zakat) yang dahulu biasa mereka tunaikan kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam niscaya aku akan memerangi mereka kalau mereka tetap berkeras tidak mau menyerahkannya.&quot; Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhu pun mengatakan, &quot;Demi Allah! Tidaklah mungkin hal itu berani dilakukannya melainkan karena aku yakin bahwa Allah telah melapangkan dada Abu&lt;br /&gt;
Bakar untuk berperang. Dari situlah Aku mengetahui bahwa dia berada di atas kebenaran.&quot; (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Minnatul Mun&#39;im fi Syarh Shahih Muslim [1/69-70], dan Syarh Muslim li an-Nawawi [2/50-51]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq memerangi mereka bukan karena murtad -walaupun ada juga yang murtad di antara mereka-. Namun hal itu beliau lakukan karena mereka telah membatalkan ikatan perjanjian keselamatan yang berupa pembayaran zakat, sehingga mereka dikategorikan sebagai pemberontak (ahlul baghyi). Sebagaimana orang yang menolak kewajiban shalat berhak untuk diperangi, maka demikian pula orang yang menolak membayar zakat. Oleh sebab itu Abu Bakar mengatakan, &quot;Sungguh, aku akan memerangi orang yang membeda-bedakan antara shalat dengan zakat. Karena sesungguhnya zakat adalah hak atas harta.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Perang Riddah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perang Riddah peperangan terbesar adalah memerangi &quot;Ibn Habib al-Hanafi&quot; yang lebih dikenal dengan nama Musailamah al-Kazab (Musailamah si pembohong), yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru menggantikan Nabi Muhammad shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musailamah kemudian dikalahkan pada pertempuran Akraba oleh Khalid ibn Walid radhiyallahu &#39;anhu. Perang Riddah (perang melawan kemurtadan) pun berjalan alot. Di bawah kepemimpinan Khalid ibn Walid, akhirnya perang dapat diakhiri dengan kemenangan di tangan pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq. Namun akibat yang muncul adalah tewasnya banyak di antara Sahabat yang hafal al-Qur&#39;an (Qori) karena keikutsertaan mereka dalam perang tersebut. Mereka adalah penghafal bagian-bagian al-Qur&#39;an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pembukuan al-Qur&#39;an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 12 H., Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu memerintahkan Zaid ibn Tsabit radhiyallahu &#39;anhu agar mengumpulkan al-Qur&#39;an dari berbagai tempat penulisan, baik yang ditulis di kulit-kulit, dedaunan, maupun dari hafalan yang tersimpan dalam dada kaum Muslimin. Peristiwa itu terjadi setelah para Qari penghafal al-Qur&#39;an banyak yang terbunuh dalam peperangan Yamamah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zaid ibn Tsabit radhiyallahu &#39;anhu pernah berkata, &quot;Abu Bakar mengirim surat kepadaku tentang orang-orang yang terbunuh di perang Yamamah. Pada saat aku mendatanginya, aku melihat Umar ibn Khaththab berada di sampingnya. Abu bakar lalu berkata, &#39;Umar mendatangiku dan berkata, &#39;Sesungguhnya banyak Qari penghafal al-Qur&#39;an yang telah gugur dalam peperangan Yamamah. Aku takut jika para Qari yang masih hidup, lalu di kemudian hari terbunuh dalam peperangan, akan mengakibatkan hilangnya sebagaian besar dari ayat al-Qur&#39;an. Menurut pendapatku, engkau harus menginstruksikan agar segera mengumpulkan dan membukukan al-Qur&#39;an.&#39; Aku (Abu Bakar) bertanya kepada Umar, &#39;Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah?&#39; Umar menjawab, &#39;Demi Allah, ini adalah kebaikan!&#39;&quot; Dan Umar terus menuntut Abu Bakar hingga Allah melapangkan dadanya untuk segera melaksanakannya, akhirnya Abu Bakar pun setuju dengan pendapat Umar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zaid ibn Tsabit radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Kemudian Abu Bakar berkata kepadaku, &#39;Engkau adalah seorang pemuda yang jenius, berakal, dan penuh amanah. Selain itu, engkau pun telah terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah, maka carilah seluruh ayat al-Qur&#39;an yang berserakan dan kumpulkanlah.&#39;&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, Zaid berkata pada dirinya sendiri, &quot;Demi Allah, jika mereka memerintahkan aku untuk memikul gunung, tentulah lebih ringan bagiku daripada melaksanakan perintah Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Qur&#39;an.&quot; Kemudian Zaid ibn Tsabit pun mulai mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur&#39;an yang tertulis di daun-daunan, kulit, maupun dari hafalan para penghafal al-Qur&#39;an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ekspansi Islam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebijakan lain yang dijalankan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq adalah melakukan ekspansi/perluasan wilayah Islam. Ada dua ekspansi yang dilakukan Abu Bakar ash-Shiddiq, yaitu :&lt;br /&gt;
1. Ekspansi ke wilayah Persia di bawah pimpinan Khalid ibn Walid. Dalam ekspansi ini (tahun 634 M), pasukan Islam dapat menguasai dan menaklukkan Hirah, sebuah kerajaan Arab yang loyal kepada Kisra di Persia. Daerah ini merupakan penyebaran bangsa Arab dari selatan, namun mereka dijadikan pintu masuk penyebaran islam ke wilayah belahan timur dan utara.&lt;br /&gt;
2. Ekspansi ke Romawi di bawah empat panglima perang, yaitu Ubaidah ibn al-Jarrah, &#39;Amr ibn al-&#39;Ash, Yazid ibn Sufyan dan Syurahbil. Ekspansi ke wilayah Romawi yakni kerajaan Ghassaniyah, yang merupakan daerah protektorat Romawi dan menjadi benteng pertahanan dari serbuan Persia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pembela Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Bazzar meriwayatkan dari Muhammad ibn &#39;Ali, dari ayahnya bahwa dia telah berkhutbah sebagai berikut, &quot;Siapakah orang yang&lt;br /&gt;
paling berani?&quot; Orang-orang&lt;br /&gt;
menjawab, &quot;Engkau, wahai Amirul Mu&#39;minin.&quot; &#39;Ali -yang tidak lain ayah Muhammad- berkata, &quot;Kalau aku, maka tidak pernah berduel dengan seorang pun kecuali aku yang akan jadi pemenangnya. Akan tetapi orang yang paling pemberani adalah Abu Bakar. Aku pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam telah dianiaya oleh orang-orang kafir Quraisy. Beberapa orang telah menyakiti dan menzhalimi beliau. Orang-orang Quraisy berkata kepada Rasulullah, &quot;Apakah kamu akan menggantikan beberapa Tuhan yang ada hanya menjadi satu Tuhan saja?&#39; Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kita yang menerima ajakan beliau (untuk memeluk Islam) kecuali hanya Abu Bakar. Tetapi, tetap saja ada orang yang berusaha menyakiti Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&quot; Maka Abu Bakar berkata, &quot;Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki yang berkata, &#39;Tuhanku adalah Allah?&#39;&quot; &#39;Kemudian &#39;Ali menangis sambil berkata, &quot;Aku bersumpah dengan nama Allah di hadapan kalian, apakah orang Mu&#39;min pada masa Fir&#39;aun lebih utama dibandingkan dengan Abu Bakar?&quot; Maka semua orang terdiam. &#39;Ali kembali berkata, &quot;Demi Allah, itulah waktu paling baik yang dimiliki oleh Abu Bakar. Orang Mu&#39;min pada masa Fir&#39;aun adalah orang yang menyembunyikan keimanannya. Sedangkan lelaki ini (Abu Bakar) adalah orang yang mengumumkan keimanannya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Khusyu&#39; dalam Shalat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun kekhusyukan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu serta tangisan beliau di dalam shalat, benar-benar berpengaruh besar kepada orang-orang di sekelilingnya. Hal ini menyebabkan orang-orang Quraisy yang menguasai Makkah pada waktu itu mengajukan sejumlah syarat kepada beliau ketika beliau menunaikan shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya kaum kafir Quraisy menemui Ibn ad-Daghinah yang saat itu memberikan jaminan keamanan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Mereka berkata kepadanya, &quot;Wahai Ibn ad-Daghinah, suruhlah Abu Bakar untuk beribadah kepada Rabb-nya di rumahnya, hendaklah dia shalat dan membaca apa yang dia kehendaki dan janganlah dia menyakiti kami. Sesungguhnya kami khawatir perkara itu menjadi fitnah bagi anak dan istri kami.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn ad-Daghinah pun mengatakan hal itu kepada Abu Bakar, sehingga beliau mulai beribadah kepada Allah di rumahnya, dengan tidak mengeraskan shalatnya begitupun dengan bacaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq mulai membangun sebuah masjid di halaman rumahnya, beliau shalat dan membaca al-Qur&#39;an di masjid itu. Pada saat itu, berkumpullah istri-istri dari kalangan orang musyrik dan anak-anak mereka, mereka begitu kagum akan shalat yang didirikan Abu Bakar dengan terus memperhatikannya. Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang sering menangis, beliau tidak bisa menahan air matanya ketika membaca al-Qur&#39;an (Kisah ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Ibn Hiban).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sahl ibn Sa&#39;ad berkata, &quot;Abu Bakar radhiyallahu &#39;anhu tidak pernah melirik ketika dalam shalat.&quot; (Fadha&#39;il ash-Shahabah [I/208], Imam Ahmad).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mujahis menuturkan, &quot;Keadaan Ibn az-Zubair ketika dia berdiri menunaikan shalat, seperti sebuah kayu yang kokoh (tidak bergerak).&quot; Dikisahkan pula bahwa Abu Bakar pun seperti itu ketika shalat. Abdurrazaq berkata, &quot;Penduduk Makkah menuturkan bahwa Ibn az-Zubair mencontoh shalat dari Abu Bakar, dan Abu Bakar mencontohnya dari Nabi Muhammad shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&quot; (Fadha&#39;il ash-Shahabah [I/208], Imam Ahmad).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sifat Dermawan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Umar ibn Khaththab, dia berkata: Rasulullah menyuruh kami untuk mengeluarkan sedekah. Kebetulan saat itu aku sedang memiliki harta. Lalu aku katakan, &quot;Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar dimana aku tidak pernah mengalahkan Abu Bakar sebelum ini. Aku datang kepada Rasulullah untuk menginfakkan sebagian dari harta milikku. Rasulullah bertanya kepadaku, &quot;Lalu apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?&quot; Aku katakan kepada Rasulullah bahwa aku meninggalkan (untuk keluargaku) seperti apa yang aku infakkan (masih tersisa setengah harta untuk keluargaku) Kemudian Abu Bakar datang kepada Rasulullah dengan menginfakkan seluruh hartanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah menanyakan padanya, &quot;Lalu apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?&quot; Abu Bakar menjawab, &quot;Aku menyisakan untuk mereka Allah dan Rasulullah.&quot; Aku (Umar) berkata setelah itu bahwa aku tidak mungkin untuk mengalahkannya dalam segala hal untuk selamanya.&quot; (Hadits ini berkualitas shahih dan diriwayatkan oleh Abu Daud [1678] dari riwayat Ahmad ibn Shalih dan &#39;Utsman ibn Abi Syaibah. Tirmidzi juga menyebutkan hadits ini di dalam kitab al-Manaqib [3675] dari Harun ibn &#39;Abdillah. Ketiga perawi hadits ini mendapatkan riwayat hadits ini dari Abu Nu&#39;aim al-Fadhl ibn Dakin, dari Hisyam ibn Sa&#39;ad. Sedangkan Tirmidzi sendiri telah berkata, &quot;Hadits ini berkualitas hasan shahih).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Do&#39;a Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam kepada Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah mendo&#39;akan Abu Bakar ash-Shiddiq ketika dalam perjalanan hijrah ke Madinah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Anas radhiyallahu &#39;anhu, dia berkata: Pada waktu malam di dalam gua, Abu Bakar berkata, &quot;Wahai Rasulullah, biarkanlah aku yang masuk terlebih dahulu sebelum Anda. Jika memang ada seekor ular atau hewan penyengat yang lain, maka dia akan menyengatku terlebih dahulu sebelum menyengat Anda. Rasulullah bersabda, &quot;Kalau begitu masuklah!&quot; Maka, Abu Bakar masuk sambil menutup setiap lubang yang dilihatnya. Dia menutup lubang-lubang itu dengan sobekan pakaiannya. Abu Bakar terus melakukan hal itu sampai dia menyobek seluruh bajunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anas berkata, &quot;Namun ternyata masih ada satu lubang yang tersisa. Maka, Abu Bakar menyumbat lubang itu dengan tumitnya. Barulah setelah itu Abu Bakar mempersilahkan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam untuk masuk. Pada keesokan harinya, Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda kepadanya, &#39;Dimana bajumu wahai Abu Bakar?&#39; Abu Bakar memberituhukan apa yang telah dia perbuat semalam. Maka Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya sembari berdo&#39;a, &#39;Ya Allah, jadikanlah Abu Bakar berada di derajatku pada hari kiamat nanti&#39;. Lalu Allah &#39;Azza wa Jalla memberikan wahyu kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, &#39;Sesungguhnya Allah Ta&#39;ala akan mengabulkan permohonanmu itu&#39;.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam juga pernah mendo&#39;akan Abu Bakar ash-Shiddiq agar bisa masuk surga dari semua pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan di dalam Shahih mereka berdua hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu, Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, &quot;Barangsiapa yang menginfakkan sepasang hartanya di jalan Allah maka dia akan dipanggil -oleh Malaikat- dari pintu-pintu surga, &#39;Wahai hamba Allah! Inilah kebaikan -yang akan kamu peroleh-.&#39; Barangsiapa yang tergolong ahli shalat, maka dia akan dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa yang tergolong ahli jihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa yang tergolong ahli sedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah. Barangsiapa yang tergolong ahli puasa, maka dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan.&quot; Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, &quot;Wahai Rasulullah, bahaya apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Lantas, apakah ada orang yang dipanggil dari ke semua pintu itu&quot;. Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menjawab, &quot;Ada. Dan aku berharap semoga kamu termasuk di dalamnya.&quot; (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di beberapa tempat; Kitab ash-Shaum [hadits no. 1897]; Kitab al-Jihad wa as-Siyar [hadits no. 2841]; Kitab Bad&#39;u al-Khalq [hadits no. 3216], [4] Kitab Fadha&#39;il ash-Shahabah [hadits no. 3666], dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim di Kitab az-Zakah [hadits no. 1027], lihat Fathul Bari [4/132] dan Syarh Shahih Muslim [4/351]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini menunjukkan keutamaan yang ada pada diri Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu. Karena Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengatakan tentang beliau, &quot;Aku berharap semoga kamu termasuk di dalamnya.&quot; Yaitu golongan orang-orang yang dipanggil dari semua pintu surga. Hal itu karena harapan dari Allah atau Nabi-Nya pasti terjadi, sebagaimana yang diterangkan oleh para &#39;Ulama. (lihat Fathul Bari [7/31] dan Syarh Shahih Muslim [4/353]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq yang lainnya adalah sebagaimana yang telah dikatakan oleh al-Hakim sebagai berikut, &quot;Julukan yang pertama kali muncul dalam Islam adalah julukan yang diberikan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu. Beliau dijuluki dengan sebutan &#39;Atiq (orang yang terbebas dari api neraka).&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Paling &#39;Alim di antara para Sahabat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu sebagaimana tergambar dengan jelas dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Sa&#39;id al-Khudri radhiyallahu &#39;anhu, Suatu saat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam duduk berceramah di atas mimbar. Beliau mengatakan, &quot;Seorang hamba yang telah diberikan pilihan oleh Allah untuk mendapatkan segala perhiasan dunia ataukah apa yang ada di sisi-Nya. Maka hamba tersebut lebih memilih apa yang ada di sisi-Nya.&quot; Abu Bakar pun menangis dan menangis. Lalu dia berkata, &quot;Kami rela untuk menebus anda dengan bapak-bapak dan anak-anak kami (ya Rasulullah).&quot; Dia (Abu Bakar) berkata, &quot;Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam itulah hamba yang diberi pilihan tersebut.&quot; Ternyata Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami tentangnya...&quot; (HR. Bukhari di beberapa tempat; Kitab ash-Shalah [hadits no. 466]; Kitab Fadha&#39;il ash-Shahabah [hadits no. 3654], Kitab Manaqib al-Anshar [hadits no. 3904] dan Muslim di Kitab Fadha&#39;il ash-Shahabah [hadits no. 2382], lihat Syarh Shahih Muslim [8/7]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Masa Sakit dan Wafat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibn Hisyam, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq dan al-Harits ibn Kaladah pernah memakan makanan yang bernama harirah, yang dihadiahkan kepada Abu Bakar. Lalu al-Harits berkata kepada Abu Bakar, &quot;Angkatlah (tanganmu), wahai khalifah Rasulullah! Demi Allah, sesungguhnya dalam makanan itu terdapat racun. Aku dan dirimu akan mati pada hari yang sama.&quot; Lalu Abu Bakar mengangkat tangannya (untuk menyudahi makannya). Ternyata, keduanya sama-sama jatuh sakit sampai akhirnya meninggal dunia (pada hari yang sama pula), tepatnya di penghujung tahun.&quot; (Kualitas sanad hadits ini shahih. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim (III/64) dari Ibn Syihab, juga dengan kualitas sanad yang shahih. Bahkan, al-Hafizh as-Suyuthi juga mengakui keshahihannya. Diriwayatkan juga oleh Ibn Sa&#39;ad di dalam kitab Thabaqatnya dengan kualitas sanad yang shahih).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abdurrahman ibn &#39;Abdillah ibn Sabith, dia berkata: Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq mengalami sakaratul maut, maka dia memanggil Umar. Lalu Abu Bakar berkata, &quot;Bertakwalah kamu kepada Allah, wahai Umar! Ketahuilah, sesungguhnya Allah memiliki sebuah amalan yang dikerjakan pada siang hari sehingga tidak akan diterima apabila dikerjakan pada malam hari. Begitu juga sebaliknya, Allah memiliki amalan yang dikerjakan pada malam hari sehingga tidak akan diterima apabila dikerjakan pada siang hari. Allah tidak akan menerima amalan sunnah sampai kefardhuan-Nya ditunaikan terlebih dahulu. Bobot neraca seseorang akan berat pada hari kiamat hanya dengan cara mengikuti hal-hal yang benar ketika di dunia. Sesuatu yang benar akan menjadi berat apabila diletakkan di atas neraca timbangan amal. Namun bobot neraca akan ringan apabila ditumpuki kabathilan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya Allah Ta&#39;ala mengingat para penghuni surga melalui amal baik mereka dan upaya mereka menjauhi keburukan. Jika aku mengingat para ahli surga, maka aku sangat khawatir kalau tidak termasuk dalam golongan mereka. Sesungguhnya Allah juga akan mengingat penduduk neraka melalui amal perbuatan buruk mereka. Jika aku telah mengingat para penghuni neraka, maka sesungguhnya aku berharap tidak termasuk golongan mereka. Hendaklah seorang senantiasa merasa harap cemas. Janganlah dia hanya berangan-angan mengenai Allah (tanpa beramal apapun). Hendaklah dia juga tidak putus asa terhadap rahmat Allah. Jika kamu memelihara wasiatku ini, maka tidak ada sebuah perkara ghaib yang paling kamu sukai melebihi kematian. Sebab, dia pasti akan mendatangimu. Jika kamu sampai menyia-nyiakan wasiatku, maka tidak ada perkara ghaib yang paling kamu benci melebihi kematian, dan kamu tidak akan bisa mengelak darinya.&quot; (&#39;Abdurrahman ibn &#39;Abdillah ibn Sabith adalah seorang perawi yang tsiqah. Dia menilai hadits tersebut mursal dari Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh al-Hafizh di dalam kitab at-Tahdzib [3/364]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha, dia berkata: Ketika Abu Bakar jatuh sakit yang akhirnya menyebabkannya meninggal dunia, maka dia berkata, &quot;Periksalah harta milikku, apa yang masih lebih semenjak aku menjabat sebagai khalifah! Kalau memang ada hartaku yang lebih, maka kirimkanlah kepada khalifah yang akan menjabat setelah aku!&quot; Maka kami memeriksa harta miliknya. Ternyata kami menemukan seorang hamba yang biasa mengasuh anaknya dan seekor hewan tunggangan yang dipergunakan untuk menyiram kebunnya. Maka kami menyerahkan kedua harta itu kepada Umar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Aisyah berkata, &quot;Aku diberi kabar oleh kakekku bahwa Umar menangis (ketika menerima harta tersebut). Lalu Umar berkata, &#39;Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Abu Bakar. Dia telah memberikan contoh yang sangat sulit bagi para penggantinya&#39;.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha, dia berkata: Ketika sedang mengalami sakaratul maut, Abu Bakar duduk sambil mengucapkan kalimat syahadat. Kemudian dia berkata, &quot;Amma ba&#39;du, wahai putriku, sesungguhnya orang yang paling aku sukai kekayaannya sepeninggalku adalah dirimu. Sesungguhnya orang yag paling mulia kefakirannya sepeninggalku adalah dirimu. Aku telah meninggalkan untukmu buah kurma sebanyak dua puluh wasaq. Demi Allah, aku ingin kamu mengumpulkannya! Sesungguhnya harta itu juga menjadi milik dua saudara laki-laki dan dua orang saudara perempuanmu.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Aisyah berkata, &quot;Aku berkata, &#39;Ini memang dua saudara laki-lakiku. Lalu, siapakah saudara perempuanku (selain Asma&#39;)?&#39; Abu Bakar menjawab, &#39;Anak yang ada di dalam kandungan Habibah binti Kharijah, karena aku menduganya akan terlahir sebagai anak perempuan&#39;.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam sebuah riwayat disebutkan dengan menggunakan redaksi, &quot;Telah terlintas dalam hatiku bahwa anak itu akan terlahir sebagai anak perempuan.&quot; Lalu terbukti lahirlah anak perempuan, yakni Ummu Kultsum. (Hadits diriwayatkan oleh Imam Malik).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha, dia berkata: Ketika sakit Abu Bakar semakin parah, maka dia berkata, &quot;Ini hari apa?&quot; Kami menjawab, &quot;Hari Senin.&quot; Abu Bakar berkata lagi, &quot;Sesungguhnya aku berharap aku meninggal dunia maksimal pada malam ini.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha berkata, &quot;Di atas tubuh Abu Bakar ada pakaian yang terdapat bekas parfum dari bahan misik. Maka Abu Bakar berkata, &#39;Jika aku meninggal dunia nanti, basuhlah pakaianku ini kemudian gabung dengan dua kain baru yang lain. Kafanilah tubuhku dengan ketiga kain tersebut!&#39; Maka kami berkata, &#39;Apakah tidak lebih baik kita menyediakan tiga lembar kain yang baru semua?&#39; Abu Bakar menjawab, &#39;Tidak, karena pakaian yang lama akan terkena nanah yang mengalir di badan (kalau jenazahku sudah dimakamkan nanti)&#39;. Ternyata Abu Bakar meninggal pada malam Selasa.&quot; (Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut para &#39;Ulama ahli sejarah, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu meninggal dunia pada malam Selasa, tepatnya antara waktu Maghrib dan Isya&#39; pada tanggal 8 Jumadil Akhir 13 H. Usia beliau ketika meninggal dunia adalah 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma&#39; binti Umais, istri beliau. Maka, Asma&#39; memandikan jenazahnya kemudian dikebumikan di samping makam Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang berada di kamar &#39;Aisyah (sekarang lokasinya di areal Masjid Nabawi, Madinah). Umar ibn al-Khaththab menshalati jenazahnya di antara makam Nabi dan mimbar. Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama &#39;Abdurrahman, Umar ibn al-Khaththab, &#39;Utsman ibn &#39;Affan, dan Thalhah ibn Ubaidillah. Semasa hidupnya, Abu Bakar ash-Shiddiq telah meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sebanyak 142 hadits (yang dimasukkan dalam Bukhari, 22).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai Abu Bakar ash-Shiddiq dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Amiin.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/8455358350963456743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/8455358350963456743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abu-bakar-ash-shiddiq.html' title='Sahabat Nabi : Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu, Khalifah Pertama Kaum Muslimin'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-274297398735577877</id><published>2011-12-18T23:34:00.007+07:00</published><updated>2012-01-02T13:32:33.247+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="as-Salafush-Shalih"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tabiin"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ulama"/><title type='text'>Mengenal Tabi&#39;in</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Definisi Tabi&#39;in&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara bahasa kata Tabi&#39;in merupakan bentuk jamak dari Tabi&#39;i atau Tabi&#39;. Tabi&#39; merupakan Ism Fa&#39;il dari kata kerja Tabi&#39;a. Bila dikatakan, Tabi&#39;ahu fulan, maknanya Masya Khalfahu (si fulan berjalan di belakangnya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara istilah adalah orang yang bertemu dengan &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/sahabat-nabi.html&#39;&gt;Sahabat Nabi&lt;/a&gt; dalam keadaan Muslim dan meninggal dunia dalam Islam pula. Ada yang mengatakan, Tabi&#39;i adalah orang yang menemani Sahabat Nabi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Faedah Mengenal Tabi&#39;in&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara faedah mengenal Tabi&#39;in adalah agar dapat membedakan mana hadits Mursal (ucapan Tabi&#39;i yang meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Sahabat) dan mana hadits Muttashil (bersambung sanadnya hingga kepada Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Thabaqat Tabi&#39;in&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para &#39;Ulama berbeda pendapat mengenai thabaqat (tingkatan) Tabi&#39;in. Karena itu, mereka mengklasifikasikannya berdasarkan pandangan masing-masing, di antaranya:&lt;br /&gt;
a. Imam Muslim menjadikannya tiga thabaqat&lt;br /&gt;
b. Ibn Sa&#39;d menjadikannya empat thabaqat&lt;br /&gt;
c. al-Hakim menjadikannya lima belas thabaqat, yang pertamanya adalah orang yang bertemu dengan sepuluh Sahabat yang diberi kabar gembira untuk masuk surga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Mukhadhramin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Mukhadhramin merupakan bentuk jamak dari kata Mukhadhram. Pengertiannya adalah orang yang hidup pada masa Jahiliyah dan masa Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam lalu masuk Islam akan tetapi ia tidak sempat melihat Beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Menurut pendapat yang shahih, Mukhadhramin dimasukkan ke dalam kategori kalangan Tabi&#39;in.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah mereka ditaksir sebanyak 20 orang seperti yang dihitung oleh Imam Muslim. Akan tetapi pendapat yang tepat, bahwa jumlah mereka lebih dari itu, di antara nama mereka terdapat Abu &#39;Utsman an-Nahdi dan al-Aswad ibn Yazid an-Nakha&#39;i.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;al-Fuqaha as-Sab&#39;ah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara deretan para tokoh besar Tabi&#39;in adalah mereka yang disebut al-Fuqaha as-Sab&#39;ah (Tujuh Fuqaha). Mereka-lah para &#39;Ulama besar kalangan Tabi&#39;in dan semuanya berasal dari Madinah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah:&lt;br /&gt;
1. &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2012/01/said-ibn-al-musayyab.html&#39;&gt;Sa&#39;id ibn al-Musayyab&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
2. al-Qasim ibn Muhammad&lt;br /&gt;
3. &#39;Urwah ibn az-Zubair&lt;br /&gt;
4. Kharijah ibn Zaid&lt;br /&gt;
5. Abu Salamah ibn &#39;Abdurrahman&lt;br /&gt;
6. &#39;Ubaidillah ibn &#39;Abdullah ibn &#39;Utbah&lt;br /&gt;
7. Sulaiman ibn Yasar&lt;br /&gt;
(Dalam hal ini, Ibn al-Mubarak memasukkan Salim ibn &#39;Abdullah ibn Umar menggantikan Abu Salamah. Sedangkan Abu az-Zinad memasukkan Abu Bakar ibn &#39;Abdurrahman menggantikan dua nama; Salim dan Abu Salamah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Kalangan Tabi&#39;in yang Paling Utama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para &#39;Ulama mengenai siapa di antara kalangan Tabi&#39;in tersebut yang paling utama. Pendapat yang masyhur bahwa yang paling utama di antara mereka adalah Sa&#39;id ibn al-Musayyib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu &#39;Abdillah, Muhammad ibn Khafif asy-Syairazi berkata, &quot;Ahli Madinah mengatakan, Tabi&#39;in paling utama adalah Sa&#39;id ibn al-Musayyab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahli Kufah mengatakan, &quot;&lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/tabiin-uwais-al-qarni-rahimahullah.html&#39;&gt;Uwais al-Qarni&lt;/a&gt;.&quot; Ahli Bashrah mengatakan, &quot;&lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/al-hasan-al-bashri.html&#39;&gt;al-Hasan al-Bashri&lt;/a&gt;.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Kalangan Tabi&#39;iyyat yang Paling Utama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Bakar ibn Abu Daud berkata, &quot;Dua wanita tokoh utama kalangan Tabi&#39;iyyat (para wanita kalangan Tabi&#39;in) adalah Hafshah binti Sirin dan &#39;Amrah binti &#39;Abdurrahman. Setelah itu, Ummu ad-Darda.&quot; (Yang dimaksud di sini adalah Ummu ad-Darda ash-Shugra, istri muda Abu ad-Darda yang bernama Hujaimah, ada yang menyebutnya Juhaimah. Sedangkan Ummu ad-Darda al-Kubra, istri tua Abu ad-Darda bernama Khairah adalah seorang Shahabiyah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Karya-Karya yang Paling Masyhur Tentang Tabi&#39;in&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antaranya adalah kitab Ma&#39;rifah at-Tabi&#39;in karya Abu al-Mithraf ibn Futhais al-Andalusi. (Lihat ar-Risalah al-Mustathrifah, dari hal. 105).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Sumber artikel:&lt;br /&gt;
Alsofwah.or.id; Mengenal Tabi&#39;in; Dinukil dari Taysir Mushtholah al-Hadits karya Dr. Mahmud ath-Thahhan, hal. 202-203, penerbit Maktabah al-Ma&#39;arif, Riyadh, Cet. IX, tahun 1997/1417 H)&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/274297398735577877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/274297398735577877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/mengenal-tabiin.html' title='Mengenal Tabi&#39;in'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-60606312688591037</id><published>2011-12-18T22:56:00.009+07:00</published><updated>2011-12-22T00:29:44.225+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Aqidah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="as-Salafush-Shalih"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Home"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tabiin"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ulama"/><title type='text'>Manhaj Salaf, Mengikuti Pemahaman para Sahabat Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Definisi Manhaj Salaf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; Manhaj dan Salaf. Manhaj dalam bahasa Arab sama dengan Minhaj, yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibn Katsir [2/63], al-Mu&#39;jamul Wasith [2/957]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Ta&#39;ala berfirman, yang artinya, &quot;Untuk tiap ummat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang...&quot; (QS. al-Maidah: 48).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedang menurut istilah, Manhaj ialah kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi setiap pelajaran-pelajaran ilmiyyah, seperti kaidah-kaidah bahasa Arab, ushul &#39;Aqidah, ushul Fiqh, dan ushul Tafsir dimana dengan ilmu-ilmu ini pembelajaran dalam Islam beserta pokok-pokoknya menjadi teratur dan benar. Dan Manhaj yang benar adalah jalan hidup yang lurus dan terang dalam beragama menurut pemahaman para Sahabat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salaf berasal dari kata Salafa - Yaslufu - Salafun, artinya telah lalu. Salaf menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibn Mandhur [7/234]). Karena itu generasi pertama dari ummat ini dari kalangan para &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/mengenal-tabiin.html&#39;&gt;Tabi&#39;in&lt;/a&gt; disebut sebagai as-Salafush-Shalih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan definisi Salaf menurut istilah adalah sifat yang khusus dimutlakkan untuk para &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/sahabat-nabi.html&#39;&gt;Sahabat Nabi&lt;/a&gt;. Ketika yang disebutkan Salaf maka yang dimaksud pertama kali adalah para Sahabat Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dalam terminologi syari&#39;at, Salaf bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para Sahabat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, Tabi&#39;in (murid-murid Sahabat) dan &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/blog-post_21.html&#39;&gt;Tabi&#39;ut Tabi&#39;in&lt;/a&gt; (murid-murid Tabi&#39;in). (Lihat Manhajul Imam asy-Syafi&#39;i fii Itsbatil &#39;Aqidah, karya asy-Syaikh Dr. Muhammad ibn &#39;Abdul Wahhab al-&#39;Aqil [1/55]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun selain mereka itu ikut serta dalam makna Salaf ini, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka. Artinya, bila mereka mengikuti para Sahabat maka disebut Salafiyyin (jamak dari as-Salafi), yaitu orang-orang yang mengikuti as-Salafush-Shalih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata: &quot;as-Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas Manhaj Salaf.&quot; (Siyar A&#39;lamin Nubala [6/21]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang yang mengikuti Manhaj Salaf (Salafiyyin) biasa disebut dengan Ahlussunnah wal-Jama&#39;ah dikarenakan berpegang teguh dengan al-Qur&#39;an dan as-Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal-Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal. Disebut juga al-Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka. Dan disebut juga ath-Thaifah al-Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah. (Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah an-Najiyyah, karya asy-Syaikh Dr. Rabi&#39; ibn Hadi al-Madkhali).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Yang Termasuk dalam Golongan Salaf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman, yang artinya: &quot;Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.&quot; (QS. at-Taubah: 100).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan dalam sebuah hadits juga dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Salaf pertama kali adalah Sahabat. Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, Sebaik-baik manusia adalah pada masa-ku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi&#39;in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi&#39;ut Tabi&#39;in). Demikian juga yang dikatakan oleh para &#39;Ulama bahwasannya yang dimaksud dengan Salaf adalah para Sahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi pembatasan secara waktu tidaklah mutlak tepat karena kita mengetahui bahwa beberapa sekte bid&#39;ah dan sesat sudah muncul pada masa-masa tersebut. Karena itulah keberadaan mereka pada masa-masa itu (tiga kurun yang dimuliakan) tidaklah cukup untuk menghukumi bahwa dirinya berada di atas Manhaj Salaf, selama dirinya tidak mengikuti Sahabat radhiyallahu &#39;anhum dalam memahami al-Qur&#39;an dan as-Sunnah. Karena itulah &#39;Ulama memberi batasan as-Salafush-Shalih (pendahulu yang shalih).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam al-Auza&#39;i rahimahullah, seorang Imam Ahlussunnah dari Syam berkata, &quot;Bersabarlah dirimu di atas sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Sahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan as-Salafush-Shalih karena akan mencukupimu apa saja yang mencukupi mereka.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan keterangan di atas, menjadi jelaslah bahwa kata Salaf mutlak ditujukan untuk para Sahabat Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, semoga Allah Ta&#39;ala meridhai mereka semua. Maka barangsiapa yang mengikuti mereka semua dalam agama yang haq ini, maka ia adalah generasi penerus dari sebaik-baik pendahulu yang mulia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Dalil tentang Kewajiban untuk Mengikuti Manhaj Salaf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun ayat-ayat al-Qur&#39;an yang menjelaskan agar kita benar-benar mengikuti Manhaj Salaf adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Firman Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala, yang artinya, &quot;Kamu (ummat Islam) adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu menyuruh) berbuat yang ma&#39;ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.&quot; (QS. Ali &#39;Imran: 10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya Naqdul Mantiq menjelaskan: &quot;Kaum Muslimin telah sepakat bahwa ummat ini adalah sebaik-baik ummat dan paling sempurna, dan ummat yang paling sempurna dan utama adalah generasi yang terdahulu yaitu generasi para Sahabat.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman: &quot;Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.&quot; (QS. al-Fathihah: 6-7).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata: &quot;Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para Sahabat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah.&quot; (Madaarijus Saalikin [1/72]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjelasan al-Imam Ibnul-Qayyim tentang ayat di atas menunjukkan bahwa para Sahabat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, yang mereka itu adalah as-Salafush-Shalih, merupakan orang-orang yang lebih berhak menyandang gelar &quot;orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah&quot; dan &quot;orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus&quot;, dikarenakan betapa dalamnya pengetahuan mereka tentang kebenaran dan betapa konsistennya mereka dalam mengikutinya. Gelar ini menunjukkan bahwa Manhaj yang mereka tempuh dalam memahami dienul Islam ini adalah Manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti Manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh Manhaj yang benar, dan berada di atas jalan yang lurus pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman: &quot;Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang Mu&#39;min, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.&quot; (QS. an-Nisa&#39;: 115).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Imam Ibn Abi Jamrah al-Andalusi rahimahullah berkata: &quot;Para &#39;Ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang Mu&#39;min di sini adalah para Sahabat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan generasi pertama dari ummat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syari&#39;at ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pun telah menjawabnya dengan&lt;br /&gt;
jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah shallallahu &#39;laihi wa sallam, juga dengan Allah Ta&#39;ala.&quot; (al-Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata: &quot;Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang Mu&#39;min) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang Mu&#39;min. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang Mu&#39;min maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.&quot; (Majmu&#39; Fatawa [7/38]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan dari Sahabat al-&#39;Irbadh ibn Sariyah radhiyallahu &#39;anhu, ia berkata, &quot;Suatu hari Rasulullah shalallahu &#39;alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata, &#39;Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami?&#39; Maka Rasulullah shalallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, &#39;Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh orang yang hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa&#39;ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid&#39;ah, dan setiap bid&#39;ah itu adalah sesat.&quot; (HR. Ahmad [IV/126-127], Abu Dawud [4607], at-Tirmidzi [2676], ad-Darimi [I/44], al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [I/205], al-Hakim [I/95]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sabda Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam di atas terdapat perintah untuk berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah dan Sunnah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/khulafaur-rasyidin.html&#39;&gt;Khulafa&#39;ur Rasyidin&lt;/a&gt; sepeninggal beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kita mengetahui bahwa orang-orang Mu&#39;min dalam ayat ini adalah para Sahabat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam (as-Salaf), dan juga keterkaitan yang erat antara menentang Rasul dengan mengikuti selain jalannya orang-orang Mu&#39;min, maka dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti Manhaj Salaf, jalannya para Sahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab bila kita menempuh selain jalan mereka di dalam memahami dienul Islam ini, berarti kita telah menentang Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan akibatnya sungguh mengerikan akan dibiarkan leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kesudahannya masuk ke dalam neraka Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali, na&#39;udzu billahi min dzaalik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman, yang artinya: &quot;Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.&quot; (QS. at-Taubah: 100).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan jannah (surga)-Nya untuk para Sahabat Muhajirin dan Anshar (as-Salaf) semata, akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah dan jaminan surga seperti mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Hafidz Ibn Katsir rahimahullah berkata: &quot;Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.&quot; (Tafsir Ibn Katsir, 2/367).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menunjukkan bahwa mengikuti Manhaj Salaf akan mengantarkan kepada ridha Allah dan jannah Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu).&quot; (QS. al-Baqarah: 137).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun hadits-hadits Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda: &quot;Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnahku, dan Sunnah al-Khulafa&#39;ur Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham.&quot; (Shahih, HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, ad-Darimi, Ibn Majah dan lainnya dari Sahabat al-&#39;Irbadh ibn Sariyah. Lihat Irwa&#39;ul Ghalil [2455]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak di dalam memahami dienul Islam, dan jalan satu-satunya yang mengantarkan kepada keselamatan ialah dengan mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan Sunnah al-Khulafa&#39;ur Rasyidin (as-Salafush-Shalih).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam memerintahkan agar kita&lt;br /&gt;
senantiasa berpegang teguh dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Imam asy-Syathibi rahimahullah berkata: &quot;Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam -sebagaimana yang engkau saksikan- telah mengiringkan Sunnah al-Khulafa&#39;ur Rasyidin dengan Sunnah Beliau, dan bahwasanya di antara konsekuensi mengikuti Sunnah Beliau adalah mengikuti Sunnah mereka, yang demikian itu dikarenakan apa yang mereka sunnahkan benar-benar mengikuti Sunnah Nabi mereka atau mengikuti apa yang mereka pahami dari Sunnah Beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.&quot; (al-I&#39;tisham [1/118]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda: &quot;Terus menerus ada sekelompok kecil dari ummatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.&quot; (Shahih, HR. al-Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari Sahabat Tsauban [1920]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Imam Ahmad ibn Hambal rahimahullah berkata (tentang tafsir hadits di atas): &quot;Kalau bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka?&quot; (Syaraf Ashhabil Hadits, karya al-Khatib al-Baghdadi, hal. 36).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Imam Ibnul Mubarak, al-Imam al-Bukhari, al-Imam Ahmad ibn Sinan al-Muhaddits, semuanya berkata tentang tafsir hadits ini: &quot;Mereka adalah Ahlul Hadits.&quot; (Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26, 37). asy-Syaikh Ahmad ibn Muhammad ad-Dahlawi al-Madani berkata: &quot;Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian (Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam), di dalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan setiap masa dari zaman ini tidak akan lengang dari mereka. Beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam mendo&#39;akan mereka dan do&#39;a itupun terkabul. Maka Allah &#39;Azza wa Jalla menjadikan pada tiap masa dan zaman, sekelompok dari ummat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil di atasnya dan menerangkannya kepada ummat manusia dengan sebenar-benarnya keterangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekelompok kecil ini secara yakin adalah Ahlul Hadits insya Allah, sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejumlah &#39;Ulama yang tangguh, baik terdahulu ataupun di masa kini.&quot; (Tarikh Ahlil Hadits, hal 131).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahlul Hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti Manhaj Salaf. Atas dasar itulah, siapa saja&lt;br /&gt;
yang ingin menjadi bagian dari &quot;sekelompok kecil&quot; yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dalam hadits di atas, maka ia harus mengikuti Manhaj Salaf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda: &quot;Ummatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu&lt;br /&gt;
golongan. Beliau ditanya: &quot;Siapa dia wahai Rasulullah?&quot; Beliau menjawab: &quot;Golongan yang aku dan para Sahabatku mengikuti.&quot; (Hasan, riwayat at-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari Sahabat &#39;Abdullah ibn &#39;Amr ibn al-&#39;Ash).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
asy-Syaikh Ahmad ibn Muhammad ad-Dahlawi al-Madani rahimahullah berkata: &quot;Hadits ini sebagai nash (dalil) dalam perselisihan, karena ia dengan tegas menjelaskan tentang tiga perkara: 1) Bahwa ummat Islam sepeninggal beliau akan berselisih dan menjadi golongan-golongan&lt;br /&gt;
yang berbeda pemahaman dan pendapat di dalam memahami agama. Semuanya masuk ke dalam neraka, dikarenakan mereka masih terus berselisih dalam masalah-masalah agama setelah datangnya penjelasan dari Rabb Semesta Alam. 2) Kecuali satu golongan yang Allah selamatkan, dikarenakan mereka berpegang teguh dengan al-Qur&#39;an dan Sunnah Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan mengamalkan keduanya tanpa adanya takwil dan penyimpangan. 3) Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam telah menentukan golongan yang selamat dari sekian banyak golongan itu. Ia hanya satu dan mempunyai sifat yang khusus, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sendiri (dalam hadits tersebut) yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir. (Tarikh Ahlil Hadits hal. 78-79).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya, golongan yang ditentukan oleh Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam itu adalah yang mengikuti Manhaj Salaf, karena mereka di dalam memahami dienul Islam ini menempuh suatu jalan yang Rasulullah dan para Sahabatnya berada di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Pendapat para &#39;Ulama tentang Mengikuti Manhaj Salaf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Imam &#39;Abdurrahman ibn &#39;Amr al-Auza&#39;i rahimahullah berkata: &quot;Wajib bagimu untuk mengikuti jejak Salaf walaupun banyak orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).&quot; (asy-Syari&#39;ah, karya al-Imam al-Ajurri, hal. 63).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Imam Abu Hanifah an-Nu&#39;man ibn Tsabit rahimahullah berkata: &quot;Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh Salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid&#39;ah.&quot; (Shaunul Manthiq, karya as-Suyuthi, hal. 322, saya nukil dari kitab al-Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 54).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Imam Abul Mudhaffar as-Sam&#39;ani rahimahullah berkata: &quot;Syi&#39;ar Ahlussunnah adalah mengikuti Manhaj Salafush-Shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).&quot; (al-Intishaar li Ahlil-Hadits, karya Muhammad ibn Umar Bazmul hal. 88).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Imam Qawaamus Sunnah al-Ashbahani rahimahullah berkata: &quot;Barangsiapa menyelisihi Sahabat dan Tabi&#39;in (Salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.&quot; (al-Hujjah fii Bayaanil Mahajjah [2/437-438], saya nukil dari kitab al-Intishaar li Ahlil-Hadits, hal. 88).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Imam asy-Syathibi rahimahullah berkata: &quot;Segala apa yang menyelisihi Manhaj Salaf, maka ia adalah kesesatan.&quot; (al-Muwafaqaat [3/284]), saya nukil melalui al-Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata: &quot;Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan Manhaj Salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena Manhaj Salaf pasti benar.&quot; (Majmu&#39; Fatawa [4/149]). Beliau juga berkata: &quot;Bahkan syi&#39;ar Ahlul Bid&#39;ah adalah meninggalkan Manhaj Salaf.&quot; (Majmu&#39; Fatawa [4/155]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dienul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal &#39;alamin. Wallahu a&#39;lamu bish-shawaab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Sumber artikel:&lt;br /&gt;
1. Muslimah.or.id; Disarikan dari buku Mulia Dengan Manhaj Salaf karya Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawaz oleh Ummu Maryam Ismiyanti; Murojaah: Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;
2. AsySyariah.com; Dikutip dari tulisan al-Ustadz Ruwaifi&#39; bin Sulaimi al-Atsari, Lc; Judul asli: Mengapa Harus Bermanhaj Salaf, rubrik Manhaji - Majalah Asy Syariah&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/60606312688591037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/60606312688591037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/manhaj-salaf.html' title='Manhaj Salaf, Mengikuti Pemahaman para Sahabat Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-4680446905496520795</id><published>2011-12-18T00:09:00.008+07:00</published><updated>2011-12-21T01:42:41.383+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ahlul Bait"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ummul Mu&#39;minin"/><title type='text'>Ummahatul Mu&#39;minin, Istri-istri Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam</title><content type='html'>Dalam menjatuhkan reputasi agama Islam kaum Orientalis dan sarjana-sarjana barat sering menggunakan pernikahan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sebagai bahan serangan mereka. Berbagai tuduhan mereka lancarkan untuk memperlihatkan buruknya kondisi rumahtangga Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sehingga orang tak lagi bisa percaya pada ajaran Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah salah jika mereka menganggap Islam dapat dengan mudah dihancurkan. Islam adalah agama yang kuat dan selalu memiliki jawaban untuk segala pertanyaan. Salah satu alasan yang paling masuk akal mengapa orang cenderung menyerang Islam menggunakan rumahtangga Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sebagai senjata adalah karena mereka tidak mengenal istri-istri Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam secara pribadi, dan sebagiannya lagi karena tidak memahami kesulitan hidup yang mereka hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ummul Mu&#39;minin, yang memiliki pengertian Ibu kaum Mu&#39;min, merupakan gelar khusus yang hanya disandangkan pada istri-istri Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Mereka berjumlah dua belas orang dengan spesifikasi yang istimewa pada masing-masing individunya, mereka adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. &lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Khadijah binti Khuwailid&lt;/span&gt; ibn Asad al-Quraisyiyyah al-Asadiyah, istri pertama Rasulullah, dinikahi 15 tahun sebelum kerasulan ketika Nabi Muhammad jejaka 25 tahun, sedangkan Khadijah janda 40 tahun. Sebelumnya Khadijah telah menikah dua kali, pertama dengan Abu Halah ibn Zarah at-Tamimi dan kemudian dengan &#39;Atiq ibn Aziz at-Tamimi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum mereka menikah, Khadijah mempercayakan pengelolaan barang dagangannya kepada pemuda Muhammad. Tertarik akan pribadi dan kejujurannya, Khadijah meminangnya untuk menjadi suaminya. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai enam orang anak: Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummi Kaltsum, Fathimah, dan &#39;Abdullah. Dari keenam putra-putri mereka, hanya Fathimah yang menurunkan keturunan yang sampai sekarang tersebar di seluruh dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khadijah berperan besar pada masa-masa awal penyebaran Islam. Dia mendedikasikan hartanya bagi kepentingan Islam. Khadijah wafat 2 tahun sebelum Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam hijrah, dalam usia 65 tahun. Tahun wafatnya bersamaan dengan wafatnya Abi Thalib ibn &#39;Abdul Muththalib, paman Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. &lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Saudah binti Zam&#39;ah&lt;/span&gt;, istri kedua Rasulullah, dinikahi setelah Khadijah wafat. Sebelum menikah dengan Rasulullah ia istri Sakran ibn Umar al-Amiri. Suami istri ini termasuk orang-orang pertama yang beriman. Karena dinista kaum Quraisy, mereka hijrah ke Habsyah. Setelah kembali ke Makkah, Sakran meninggal. Saudah hidup sebagai janda lanjut usia, tanpa pelindung; bapaknya sendiri masih musyrik. Atas desakan bibinya, Khaulah binti Hakim, Rasulullah menikahinya. Meskipun berstatus sebagai istri, ia tidak pernah meminta haknya selaku umumnya seorang istri. Dia berkata: &quot;Demi Allah, sesungguhnya saya tidak ingin menikah. Tetapi saya ingin bangkit kelak di hari kiamat sebagai istri Rasulullah.&quot; Saudah wafat di akhir masa Khalifah Umar ibn Khaththab radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. &lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Zainab binti Huzainah&lt;/span&gt; ibn &#39;Abdullah ibn Umar ibn &#39;Abdi Manaf ibn Hilal ibn Amir ibn Sa&#39;sa&#39;ab al-Hilaliyah. Ia menikah dengan Rasulullah tahun 11 H. Sebelumnya dia pernah menikah dengan &#39;Abdullah ibn Jahsy, salah satu syuhada Uhud. Pernikahannya dengan Rasulullah tidak berlangsung lama karena wafat kira-kira dua bulan setelah pernikahannya. Ia terkenal dengan sebutan &lt;b&gt;Umm al-Masakin&lt;/b&gt; (Ibu kaum miskin), karena senang memberi makan dan sedekah kepada fakir miskin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. &lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;&#39;Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/span&gt;, lahir 2 tahun sebelum kerasulan. Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam tidak menghasilkan keturunan. Ia banyak mendengar al-Qur&#39;an dan hadits langsung dari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui &#39;Aisyah umat Islam mengetahui bagaimana Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menjalankan kewajibannya sebagai suami, sampai hal-hal yang sangat pribadi yang patut diketahui umat Islam untuk diteladani. &#39;Aisyah juga dikenal sebagai orang yang cerdas, banyak mengetahui hukum-hukum dan ilmu fara&#39;id (hukum pembagian harta waris) yang rumit. &#39;Aisyah wafat pada tahun 47 atau 48 H. Darinya para ulama menerima 2.210 hadis, termasuk hadis-hadis pergaulan suami-istri yang tidak akan diterima dari perawi lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. &lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Juariyah binti al-Harits&lt;/span&gt;, dinikahi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam enam tahun setelah hijrah. Pertemuannya dengan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam terjadi ketika Bani Mustaliq menyerang kaum Muslimin. Juariyah ikut di dalamnya. Serangan Bani Mustaliq dapat dipatahkan, Juariyah menjadi tawanan Qais ibn Sabit. Ia akan dibebaskan dengan syarat membayar tebusan. Oleh karena tidak memiliki uang tebusan, ia menghadap Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengadukan nasibnya. Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda: &quot;Apakah engkau menginginkan agar aku membayar tebusanmu, kemudian aku menikahimu?&quot; Juariyah setuju dan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menikahinya. Pernikahan mereka membuat hubungan kaum Muslim dengan Bani Mustaliq menjadi erat. Juariyah wafat tahun 56 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. &lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Shafiyah binti Huyay&lt;/span&gt; ibn Akhtab dinikahi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam beberapa saat setelah Perang Khaibar. Shafiyah adalah putri raja dan suaminya juga bangsawan Khaibar yang memiliki benteng Qumus, beragama Yahudi, bernama Kinanah ibn Rabi&#39;. Setelah terjadi perang Khaibar, orang-orang Khaibar menjadi tawanan, termasuk Shafiyah. Sebagai bekas permaisuri raja, keadaan itu teramat menyedihkan. Kemudian ia masuk Islam dan bersedia dinikahi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menjadi Ummul Mu&#39;minin, ia kembali menduduki tempat kehormatannya. Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam membuat orang-orang Khaibar ikut tergerak untuk masuk Islam. Shafiyah wafat sekitar tahun 50 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. &lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Ummu Salamah&lt;/span&gt;, nama aslinya adalah &lt;b&gt;Hindun binti Abu Ummayah&lt;/b&gt; ibn Mughirah ibn &#39;Abdullah ibn &#39;Amr ibn Mahzum, dinikahi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam pada tahun 2 H. Sebelum dinikahi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam ia pernah menikah dengan &#39;Abdullah ibn Asad al-Mudirah dan memiliki anak bernama Salamah. Itu sebabnya ia dikenal dengan nama Ummu Salamah (Ibu Salamah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaminya ikut perang Uhud dan sempat terluka. Dalam peperangan dengan Bani Asad dia meninggal dunia. Beberapa tahun setelah pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, Ummu Salamah mendampingi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dalam penakhlukan Makkah, perang dengan orang Tha&#39;if, perang melawan Bani Hawazin, dan perang melawan Bani Saqif. Ummu Salamah juga dikenal sebagai perawi hadits. Dia wafat sekitar tahun 59 atau 61 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. &lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Ramlah binti Abu Sufyan&lt;/span&gt;. Sebelum masuk Islam ia menikah dengan Ubaidillah ibn Yahsi al-Asadi, sepupu Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Ramlah dan suaminya masuk Islam, sementara orang tua mereka tetap musyrik bahkan memusuhinya. Karena tekanan dari kaum musyrik Quraisy Makkah, Ramlah beserta suaminya hijrah ke Habsyah. Di tengah perjalanan hijrah yang sulit itu, Ramlah melahirkan, sementara suaminya kembali murtad. Meskipun sendirian dan menderita diperantauan Ramlah tetap teguh mempertahankan keimanannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar penderitaannya itu sampai kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Melalui surat yang disampaikan Raja Najasyi, Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam meminangnya. Ramlah menerima pinangan itu dan menunjuk Kalid ibn Sa&#39;id ibn As ibn Umayah sebagai walinya. Ketika itu dia tetap tinggal di Habsyah karena pertimbangan keamanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesudah Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, beliau memerintahkan para Sahabat untuk mencari umat Islam yang terpencar-pencar di pengungsian termasuk yang masih ada di Habsyah. Ramlah ikut bersama mereka kembali ke Madinah dan untuk pertama kalinya bertemu dengan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Ramlah wafat tahun 44 H di masa pemerintahan adiknya, Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. &lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Hafshah binti Umar&lt;/span&gt; ibn Khaththab, lahir 5 tahun sebelum kerasulan. Pertama kali dia menikah dengan Hunain ibn Hufazah, salah seorang Sahabat yang ikut hijrah ke Habsyah dan ikut Perang Uhud. Ia wafat tahun 3 H. Setelah menjanda beberapa tahun Hafshah dinikahi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehadirannya di tengah-tengah rumahtangga Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sempat menimbulkan konflik. Ketika hadir Mariyah al-Qibtiyyah, Hafshah cemburu berat. Ia mengajak istri-istri Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang lain untuk mempengaruhi suami mereka agar membenci Mariyah. Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam sempat menjauhi Mariyah hingga turun ayat 1 Surat at-Tahrim menegur beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam wafat, atas usul Umar ibn Khaththab radhiyallahu &#39;anhu, Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu &#39;anhu mengumpulkan naskah al-Qur&#39;an yang tadinya berserakan baik di catatan-catatan pribadinya maupun hafalan para Sahabat. Naskah al-Qur&#39;an lengkap pertama yang dikenal dengan &#39;Mushaf Abu Bakar&#39; itu disimpan di rumah Hafshah. Naskah tersebut baru dikeluarkan pada zaman Khalifah &#39;Utsman ibn &#39;Affan radhiyallahu &#39;anhu untuk diperbanyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. &lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Maimunah binti al-Harits&lt;/span&gt; adalah seorang janda yang dinikahi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam beberapa saat setelah Fath Makkah. Ketika Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam beserta kaum Muslim memasuki kota Makkah, kaum musyrik yang tidak ingin bersahabat menyingkir keluar Makkah. Akan tetapi tiba-tiba datang Maimunah dengan mengendarai unta sambil berteriak-teriak: &quot;Unta ini beserta penunggangnya dipersembahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.&quot; Perbuatan Maimunah tersebut mengundang cemoohan khalayak ramai, karena belum tentu Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam mau. &#39;Abbas memberitahukan kemauan Maimunah ini kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliaupun menerima kemauan Maimunah dan menikahinya. Hal ini beliau lakukan semata-mata untuk menghindarkan Maimunah dari cemoohan dan rasa putus asa. Maimunah wafat pada tahun 15 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. &lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Zainab binti Jahsy&lt;/span&gt; ibn Rubab ibn Ya&#39;mar ibn Sabrah ibn Murrah ibn Kasir ibn Ghanam ibn Daudun ibn Asad ibn Khuzaimah. Ibunya bernama Umainah binti &#39;Abdul Muththalib ibn Hasyim; jadi masih saudara sepupu Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelumnya Zainab adalah istri Zaid ibn Haritsah, anak angkat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Ia dinikahi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam tahun 3 H. Pernikahannya ini sekaligus menghapus pandangan masyarakat Arab ketika itu yang menyamakan status anak angkat sama dengan anak kandung, termasuk pencantuman nama nasab bapak angkat, sehingga bekas istri anak angkat tidak boleh dinikahi bapak angkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zainab wafat tahun 20 H. Sebelum wafat ia berkata: &quot;Aku telah menyediakan kain kafan untukku. Umar akan mengirimkannya untukku. Oleh karena itu saya minta, salah satunya diberikan pada yang memerlukannya. Bila masih ada hak-hakku supaya disedekahkan kepada yang memerlukannya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. &lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Mariyah binti Syam&#39;un al-Qibtiyyah&lt;/span&gt;, ibunya berdarah Romawi. Ia lahir dan dibesarkan di Ansuna suatu desa sebelah timur Sungai Nil. Pada masa remajanya ia tinggal di istana Raja Muqauqis Mesir sebagai pelayan istana. Ketika Habib ibn Abu Balta&#39;ah diutus menyampaikan surat dari Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam kepada Raja Muqauqis, sebetulnya raja mengakui kerasulan Muhammad shallallahu &#39;alaihi wa sallam tetapi takut akan kehilangan kewibawaannya di hadapan rakyatnya, yang berarti pula akan kehilangan mahkotanya. Oleh karena itu ia membalas surat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dengan penuh penghormatan sambil mengirimkan Mariyah dan saudaranya, Sirin, serta 1.000 misqal mas, 20 stel pakaian tenunan Mesir, madu lebah, kayu cendana, minyak kesturi, keledai lengkap dengan pelananya dan seekor himar putih. Mereka tiba di Madinah pada tahun 7 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menikahi Mariyah, sementara adiknya, Sirin, dinikahkan dengan penyair Hassan ibn Tsabit. Kehadiran Mariyah di antara istri-istri Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam membuat mereka cemburu, terutama Hafshah dan &#39;Aisyah, lebih-lebih setelah Mariyah hamil dan melahirkan Ibrahim (wafat pada usia satu setengah tahun). Mariyah wafat pada tahun 16 H pada masa Khalifah Umar ibn Khaththab radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Ya Allah, wahai Tuhanku, muliakan oleh-Mu akan Muhammad, Nabi yang tidak pandai menulis dan membaca. Dan muliakan pulalah kiranya akan isteri-isterinya, ibu segala orang yang Mu&#39;min, akan keturunannya dan segala ahli baitnya, sebagaimana engkau telah memuliakan Ibrahim dan keluarga Ibrahim diserata alam. Bahwasanya Engkau, wahai Tuhanku, sangat terpuji dan sangat mulia.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Sumber: Ensiklopedia Islam Indonesia, Penerbit Djambatan&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/4680446905496520795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/4680446905496520795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/ummul-muminin.html' title='Ummahatul Mu&#39;minin, Istri-istri Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-9021324739911073701</id><published>2011-12-17T13:26:00.002+07:00</published><updated>2011-12-27T10:47:32.933+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="as-Sabiqun al-Awwalun"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><title type='text'>as-Sabiqun al-Awwalun, Pemeluk Islam Pertama</title><content type='html'>&quot;Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.&quot; (QS. at-Taubah: 100).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awal mulanya Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menampakkan Islam kepada orang-orang yang paling dekat dengan beliau, anggota keluarga dan Sahabat-sahabat karib beliau. Beliau menyeru mereka ini kepada Islam, juga menyeru siapa pun yang dirasa memiliki kebaikan, yang sudah beliau kenal secara baik dan mereka pun mengenal beliau secara baik, yaitu mereka yang memang diketahui mencintai kebaikan dan kebenaran, dan mereka mengenal kejujuran dan kelurusan beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka mereka yang diseru ini langsung memenuhi seruan beliau, karena mereka sama sekali tidak menyangsikan keagungan diri beliau dan kejujuran pengabaran yang beliau sampaikan. Dalam Tarikh Islam, mereka dikenal dengan sebutan as-Sabiqun al-Awwalun (yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah:&lt;br /&gt;
1. Istri beliau, Ummul Mu&#39;minin Khadijah binti Khuwailid&lt;br /&gt;
2. Pembantu beliau, Zaid ibn Haritsah ibn Syurahbil al-Kalbi. (Dulunya dia merupakan tawanan lalu dijadikan budak dan dimiliki Khadijah. Kemudian Khadijah memberikannya kepada Rasulullah. Bapak dan pamannya pernah menemuinya untuk dibawa kembali ke tengah kaumnya. Namun dia lebih suka memilih hidup bersama Rasulullah. Beliau mengangkatnya sebagai anak layaknya anak kandung seperti yang biasa berlaku di kalangan Bangsa Arab. Sehingga dikatakan, &quot;Zaid ibn Muhammad&quot;. Hingga datang Islam yang menghapus anak angkat)&lt;br /&gt;
3. Anak paman beliau, &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/ali-ibn-abi-thalib.html&#39;&gt;&#39;Ali ibn Abi Thalib&lt;/a&gt;, yang saat itu &#39;Ali masih anak-anak dan hidup dalam asuhan beliau dan Sahabat karib beliau.&lt;br /&gt;
4. &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abu-bakar-ash-shiddiq.html&#39;&gt;Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
Mereka ini masuk Islam pada hari pertama dimulainya dakwah, semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai mereka semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Bakar ash-Shiddiq sangat bersemangat dalam berdakwah kepada Islam. Dia adalah seorang laki-laki yang lemah lembut, pengasih dan ramah, memiliki akhlak yang mulia dan terkenal. Kaumnya suka mendatangi Abu Bakar dan menyenanginya, karena dia dikenal sebagai orang yang memiliki pengetahuan dan sukses dalam berdagang serta baik pergaulannya dengan orang lain. Maka dia menyeru orang-orang dari kaumnya yang biasa duduk-duduk bersamanya dan yang dapat dipercayainya. Berkat seruannya, ada beberapa orang yang masuk Islam, yaitu :&lt;br /&gt;
1. &#39;Utsman ibn &#39;Affan al-Umawi&lt;br /&gt;
2. az-Zubair ibn al-Awwam al-Asadi&lt;br /&gt;
3. &#39;Abdurrahman ibn Auf&lt;br /&gt;
4. Sa&#39;ad ibn Abi Waqqash az-Zuhriyah&lt;br /&gt;
5. Thalhah ibn Ubaidillah at-Taimi&lt;br /&gt;
Mereka ini adalah orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam, semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai mereka semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sahabat-sahabat lain yang juga lebih dahulu masuk Islam adalah :&lt;br /&gt;
1. Bilal ibn Rabbah al-Habsyi&lt;br /&gt;
2. Abu Ubaidah Amir ibn al-Jarrah dari Bani al-Harits ibn Fihr&lt;br /&gt;
3. Abu Salamah ibn &#39;Abdul Asad&lt;br /&gt;
4. Abu &#39;Abdillah al-Arqam ibn Abi al-Arqam al-Makhzum&lt;br /&gt;
5. &#39;Utsman ibn Mazh&#39;un dan kedua saudaranya, Qudamah dan &#39;Abdullah&lt;br /&gt;
6. Ubaidah ibn al-Harits ibn al-Muththalib ibn &#39;Abdi Manaf&lt;br /&gt;
7. Sa&#39;id ibn Zaid al-Adawi dan istrinya, Fathimah binti al-Khaththab al-Adawiyyah, saudara Umar ibn al-Khaththab&lt;br /&gt;
8. Khabbab ibn al-Aratt&lt;br /&gt;
9. &#39;Abdullah ibn Mas&#39;ud al-Hudzali&lt;br /&gt;
10. dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;
Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala meridhai mereka semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka ini juga disebut &quot;as-Sabiqun al-Awwalun&quot;, yang semuanya berasal dari kabilah Quraisy. Ibn Hisyam menghitung jumlah mereka lebih dari 40 orang. Namun siapa-siapa yang selain disebutkan di atas perlu diteliti lagi. (Lihat Sirah an-Nabawiyah, Ibn Hisyam [1/245-262]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Hisyam pernah menulis 40 nama as-Sabiqun al-Awwalun. Ia menulis Khadijah binti Khuwailid dalam nomor urut pertama, Asma&#39; binti Abu Bakar di nomor urut 18, dan &#39;Aisyah binti Abu Bakar di nomor urut 19. Umar ibn Khaththab berada jauh di bawah &#39;Aisyah. (Sirah an-Nabawiyah, Ibn Hisyam [1/245-262]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang termasuk as-Sabiqun al-Awwalun adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
- Khadijah binti Khuwailid&lt;br /&gt;
- Zaid ibn Haritsah&lt;br /&gt;
- &#39;Ali ibn Abi Thalib&lt;br /&gt;
- Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;br /&gt;
- Bilal ibn Rabbah&lt;br /&gt;
- Ummu Aiman&lt;br /&gt;
- Hamzah ibn &#39;Abdul Muththalib&lt;br /&gt;
- &#39;Abas ibn &#39;Abdul Muththalib&lt;br /&gt;
- &#39;Abdullah ibn &#39;Abdul Asad&lt;br /&gt;
- Ubay ibn Ka&#39;ab&lt;br /&gt;
- &#39;Abdullah ibn Rawahah&lt;br /&gt;
- &#39;Abdullah ibn Mas&#39;ud&lt;br /&gt;
- Mus&#39;ab ibn Umair&lt;br /&gt;
- Mua&#39;dz ibn Jabal&lt;br /&gt;
- &#39;Aisyah binti Abu Bakar&lt;br /&gt;
- Umar ibn Khaththab&lt;br /&gt;
- &#39;Utsman ibn &#39;Affan&lt;br /&gt;
- Arwa&#39; binti Kuraiz&lt;br /&gt;
- az-Zubair ibn al-Awwam&lt;br /&gt;
- &#39;Abdurrahman ibn Auf&lt;br /&gt;
- Saad ibn Abi Waqqash&lt;br /&gt;
- Thalhah ibn Ubaidillah&lt;br /&gt;
- &#39;Abdullah ibn Umar&lt;br /&gt;
- Miqdad ibn Aswad&lt;br /&gt;
- Abu &#39;Abdillah al-Arqam ibn Abi al-Arqam&lt;br /&gt;
- Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan&lt;br /&gt;
- Yasir ibn Amir&lt;br /&gt;
- Ammar ibn Yasir&lt;br /&gt;
- Sumayyah binti Khayyat&lt;br /&gt;
- Amr ibn &#39;Abdullah&lt;br /&gt;
- Ja&#39;far ibn Abi Thalib&lt;br /&gt;
- Khabbab ibn &#39;Art&lt;br /&gt;
- Ubaidah ibn Harits&lt;br /&gt;
- Ummu al-Fadl Lubaba&lt;br /&gt;
- Shafiyyah&lt;br /&gt;
- Asma&#39; binti Abu Bakar&lt;br /&gt;
- Fathimah binti Khaththab&lt;br /&gt;
- Suhayb ar-Rummi&lt;br /&gt;
(radhiyallahu &#39;anhum ajma&#39;in)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Ishaq berkata, &quot;Setelah itu banyak orang yang masuk Islam, baik laki-laki maupun wanita, sehingga nama Islam menyebar di seluruh Makkah dan banyak yang memblcarakannya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menemui mereka dan mengajarkan agama secara sembunyi-sembunyi dan secara perorangan. Wahyu diturunkan sedikit demi sedikit lalu berhenti setelah turunnya awal Surat al-Muddatstsir. Ayat-ayat dan potongan surat yang turun saat itu berupa ayat-ayat pendek, dengan penggalan-penggalan kata yang indah menawan dan sentuhan lembut, sesuai dengan iklim yang juga lembut pada saat itu, berisi sanjungan mensucikan jiwa dan celaan mengotorinya dengan keduniaan, berisi ciri-ciri surga dan neraka. yang seakan-akan keduanya tampak di depan mata, membawa orang-orang Mu&#39;min ke dunia lain tidak seperti dunia yang ada pada saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara wahyu yang pertama-tama turun adalah perintah shalat. Muqatil ibn Sulaiman berkata, &quot;Allah mewajibkan shalat dua raka&#39;at pada pagi hari dan dua raka&#39;at pada petang hari pada masa awal Islam, yang didasarkan pada firman Allah, &#39;Dan, bertasbihlah seraya memuji Rabb-mu pada waktu pagi petang.&#39; (QS. al-Mukmin: 55).&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Hajar menuturkan, sebelum Isra&#39; Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam sudah pernah shalat, begitu pula para Sahabat. Tapi terdapat perbedaan pendapat, adakah shalat yang diwajibkan sebelum ada kewajiban shalat lima waktu ataukah tidak? Ada yang berpendapat, yang diwajibkan pada masa itu adalah shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya matahari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
al-Harits ibn Usamah meriwayatkan dari jalan Ibn Luhai&#39;ah secara maushul dari Zaid ibn Haritsah radhiyallahu &#39;anhu, bahwa pada awal-awal turunnya, Jibril mendatangi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan mengajarkan wudhu&#39; kepada beliau. Seusai wudhu&#39;, beliau mengambil seciduk air lalu memercikkan ke kemaluan. Ibn Majah juga meriwayatkan hal ini dengan makna yang serupa. Juga diriwayatkan dari al-Barra&#39; ibn Azib dan Ibn &#39;Abbas di dalam hadits Ibn &#39;Abbas, dan hal itu termasuk kewajiban yang pertama diturunkan. (Mukhtashar Siratir-Rasul, an-Najdy [88]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Hisyam menyebutkan, bahwa jika tiba waktu shalat, Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan para Sahabat pergi ke tempat yang terpencil lalu secara sembunyi-sembunyi mengerjakan shalat, agar tidak dilihat kaumnya. Suatu kali Abi Thalib melihat Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengerjakan shalat bersama &#39;Ali. Maka Abi Thalib menanyakan shalat itu. Setelah mendapat penjelasan yang cukup memuaskan, Abi Thalib menyuruh beliau dan &#39;Ali agar menguatkan hati. (Sirah an-Nabawiyah, Ibn Hisyam [1/2477]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat beberapa kejadian di sana-sini, ternyata dakwah Islam sudah didengar orang-orang Quraisy pada tahapan ini. sekalipun dakwah itu masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan perorangan. Namun mereka tidak ambil peduli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam al-Ghazali rahimahullah menuturkan. kabar tentang dakwah Islam ini sudah mulai menyebar di kalangan orang-orang Quraisy, namun mereka tidak ambil peduli. Sebab mereka mengira bahwa Muhammad hanya salah seorang di antara mereka yang peduli terhadap urusan agama, yang suka berbicara tentang masalah ketuhanan dan hak-haknya, seperti yang biasa dilakukan Umayyah ibn ash-Shallat, Qus ibn Sa&#39;idah, Amr ibn Nufail dan orang-orang yang lain. Tapi lama-kelamaan ada pula perasaan khawatir yang mulai menghantui mereka karena pengaruh tindakan beliau. Oleh karena itu mereka mulai menaruh perhatian terhadap dakwah beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Madrasah Pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam mulai merasa perlu mencari sebuah tempat bagi para pemeluk Islam dapat berkumpul bersama. Di tempat itu akan diajarkan kepada mereka tentang prinsip-prinsip Islam, membacakan ayat-ayat al-Qur&#39;an, menerangkan makna dan kandungannya, menjelaskan hukum-hukumnya dan mengajak mereka untuk melaksanakan dan mempraktekkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam memilih sebuah rumah di bukit Shafa milik Abu &#39;Abdillah al-Arqam ibn Abi al-Arqam. Semua kegiatan itu dilakukan secara rahasia tanpa sepengetahuan siapa pun dari kalangan orang-orang kafir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumah Abu &#39;Abdillah al-Arqam ibn Abi al-Arqam ini merupakan Madrasah pertama sepanjang sejarah Islam, tempat ilmu pengetahuan dan amal shaleh diajarkan secara terpadu oleh sang guru pertama, yaitu Muhammad Rasulullah. Beliau sendiri yang mengajar dan mengawasi proses pendidikan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama tiga tahun dakwah masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan perorangan. Selama jangka waktu ini telah terbentuk sekelompok orang-orang Mu&#39;min yang senantiasa menguatkan hubungan persaudaraan dan saling bahu-membahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyampaikan dakwah terus dilakukan, hingga turun wahyu yang mengharuskan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menampakkan dakwah kepada kaumnya, menjelaskan kebathilan mereka dan menyerang berhala-berhala sesembahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Sumber artikel:&lt;br /&gt;
1. SobatMuslim.com; Jihad Untuk Berdakwah&lt;br /&gt;
2. Wikipedia; Pemeluk Islam Pertama&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/9021324739911073701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/9021324739911073701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/as-sabiqun-al-awwalun.html' title='as-Sabiqun al-Awwalun, Pemeluk Islam Pertama'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8398040517496908104.post-5671842321737575877</id><published>2011-12-17T02:20:00.003+07:00</published><updated>2011-12-27T09:26:53.239+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Khulafa&#39;ur Rasyidin"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><title type='text'>Khulafa&#39;ur Rasyidin, Pemimpin Kaum Mu&#39;min Setelah Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam</title><content type='html'>&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Definisi Khulafa&#39;ur Rasyidin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khulafa&#39;ur Rasyidin memiliki pengertian orang-orang yang terpilih dan mendapat petunjuk menjadi pengganti Nabi Muhammad shallallahu &#39;alaihi wa sallam setelah beliau wafat tetapi bukan sebagai Nabi ataupun Rasul. Khulafa&#39;ur Rasyidin berasal dari kata Khalifah yang artinya pengganti dan ar-Rasyidin yang artinya orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Pedoman yang dijadikan pegangan untuk memimpin Islam adalah al-Qur&#39;an dan al-Hadits.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa yang dimaksud Khulafa&#39;ur Rasyidin adalah para khalifah yang empat yaitu: Abu Bakar, Umar, &#39;Utsman dan &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhum. (ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 201).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ibn Daqiqil &#39;Ied juga menjelaskan bahwa mereka adalah keempat Khalifah tersebut berdasarkan ijma&#39;. (ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 202).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh al-&#39;Utsaimin rahimahullah mengatakan, &quot;Dan termasuk di dalamnya (Khulafa&#39;ur Rasyidin) adalah para Khalifah/pengganti Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam dalam hal ilmu, ibadah dan dakwah pada ummatnya, dan sebagai pemuka mereka ialah empat orang Khalifah yaitu Abu Bakar, Umar, &#39;Utsman dan &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhum.&quot; (ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 203).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&#39;font-size:14pt;&#39;&gt;Kedudukan Khulafa&#39;ur Rasyidin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khilafah merupakan sebuah kedudukan yang sangat agung dan sebuah tanggungjawab yang begitu besar. Karena dengan jabatan tersebut seorang Khalifah berkewajiban untuk mengurusi dan mengatur berbagai urusan kaum Muslimin. Khalifah-lah orang pertama yang paling bertanggungjawab dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adanya khilafah ini merupakan kewajiban yang sifatnya fardhu kifayah. Sebab urusan ummat manusia tidak akan terurusi dengan baik kecuali dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khilafah itu bisa didapatkan melalui salah satu dari tiga proses berikut ini :&lt;br /&gt;
1. Keputusan tegas dari Khalifah sebelumnya untuk menunjuk/mengangkat calon penggantinya. Sebagaimana yang terjadi pada saat pergantian kepemimpinan sesudah wafatnya Abu Bakar ash-Shiddiq dengan ditunjuknya Umar ibn al-Khaththab berdasarkan keputusan Abu Bakar radhiyallahu &#39;anhu sendiri.&lt;br /&gt;
2. Berdasarkan kesepakatan ahlul-halli wal-&#39;aqdi (badan permusyawaratan &#39;Ulama ummat). Baik pemilihan anggota ahlul-halli wal-&#39;aqdi itu bersumber dari penentuan yang sudah ditetapkan oleh Khalifah terdahulu sebagaimana terpilihnya &#39;Utsman ibn &#39;Affan radhiyallahu &#39;anhu sebagai Khalifah yang dipilih berdasarkan kesepakatan ahlul-halli wal-&#39;aqdi yang ditunjuk oleh Umar untuk bermusyawarah, ataupun pemilihan anggota ahlul-halli wal-&#39;aqdi itu bukan berdasarkan dari penentuan oleh Khalifah sebelumnya, sebagaimana yang terjadi pada pengangkatan Khalifah Abu Bakar radhiyallahu &#39;anhu menurut salah satu versi pendapat &#39;Ulama, dan juga sebagaimana pengangkatan Khalifah &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu.&lt;br /&gt;
3. Terjadinya penggulingan kekuasaan sehingga muncul Khalifah baru yang berhasil menguasai pemerintahan, sebagaimana proses terangkatnya Khalifah Abdul Malik ibn Marwan ketika Ibn Zubair terbunuh sehingga berakhirlah kekhilafahan di tangannya. (Disadur dari Syarh Lum&#39;atul I&#39;tiqad Syaikh Ibn &#39;Utsaimin, hal. 156-157).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Khalifah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/abu-bakar-ash-shiddiq.html&#39;&gt;Abu Bakar ash-Shiddiq&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Qudamah al-Maqdisi rahimahullah berkata, &quot;Ummat beliau yang paling utama adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian Umar al-Faruq, kemudian &#39;Utsman Dzunurain, kemudian &#39;Ali al-Murtadha, semoga Allah meridhai mereka semuanya.&quot; (Lihat Syarah Lum&#39;atul I&#39;tiqad Syaikh Ibn &#39;Utsaimin, hal. 138).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama aslinya adalah &#39;Abdullah ibn &#39;Utsman ibn &#39;Aamir dari suku Taim ibn Murrah ibn Ka&#39;ab. Beliau adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dari kalangan lelaki dewasa. Beliau adalah Sahabat yang menemani hijrah Rasulullah. Beliau jugalah orang yang menggantikan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam untuk menjadi imam shalat serta amir jama&#39;ah haji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada lima orang Sahabat yang termasuk orang-orang yang dijanjikan surga yang masuk Islam melalui perantara dakwahnya, mereka itu adalah: &#39;Utsman ibn &#39;Affan, az-Zubair ibn al-Awwam, Thalhah ibn Ubaidillah, &#39;Abdurrahman ibn &#39;Auf dan Sa&#39;ad ibn Abi Waqqash. Beliau wafat pada bulan Jumadil Akhir tahun 13 Hijriyah dalam usia 63 tahun. (Lihat Syarh Lum&#39;atul I&#39;tiqad Syaikh &#39;Utsaimin, hal. 141).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para &#39;Ulama berbeda pendapat tentang proses terpilihnya beliau sebagai Khalifah. Apakah beliau terpilih berdasarkan nash (dalil tegas) dari Nabi ataukah berdasarkan bai&#39;at (janji setia) seluruh para Sahabat kepada beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian &#39;Ulama sejarah yang pakar di bidang hadits berpendapat bahwa pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah itu berdasarkan nash yang khafi/samar. Sedangkan &#39;Ulama yang lain dari kalangan mutakallimin berpendapat bahwa beliau terpilih dengan proses pemilihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para &#39;Ulama golongan pertama berdalil dengan hadits yang terdapat di dalam Shahih Bukhari dari Jubair ibn Muth&#39;im tentang kisah seorang perempuan yang datang menemui Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam, kemudian beliau menyuruhnya untuk pulang. Maka perempuan itu pun mengatakan kepada beliau, &quot;Bagaimana kalau saya tidak dapat berjumpa dengan anda lagi?&quot; Seolah-olah yang dimaksudkannya adalah wafatnya beliau. Maka beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam pun menjawab, &quot;Apabila engkau tidak menemuiku maka temuilah Abu Bakar.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula dalil lainnya yang terdapat di dalam Shahihain dari hadits &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha yang mengkisahkan bahwa Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah bersabda, &quot;Panggilkan Abdurrahman ibn Abu Bakar untukku, aku akan suruh dia untuk menulis sebuah ketetapan, niscaya tidak akan ada perselisihan terhadap ketetapanku.&quot; Kemudian beliau mengatakan, &quot;Allah-lah tempat berlindung, jangan sampai umat Islam menyelisihi Abu Bakar.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu terdapat juga dalil lainnya seperti pengutamaan beliau sebagai imam apabila Rasulullah tidak bisa menjadi imam, dsb. (Lihat al-Is&#39;aad, hal. 71).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq berlangsung selama 2 tahun 3 bulan dan 9 hari. Semenjak 13 Rabi&#39;ul Awwal 11 Hijriyah hingga 22 Jumadil Akhir tahun 13 Hijriyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Muhammad ibn Shalih al-&#39;Utsaimin rahimahullah berkata, &quot;Sahabat yang paling berhak menjadi Khilafah sesudah Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam adalah Abu Bakar radhiyallahu &#39;anhu karena beliau adalah Sahabat paling utama dan paling terdepan dalam hal jasanya kepada Islam. Dan juga karena Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam telah mengutamakan beliau sebagai imam shalat (apabila beliau berhalangan). Dan juga karena para Sahabat radhiyallahu &#39;anhum telah sepakat untuk mendahulukannya dan memba&#39;iatnya, sedangkan Allah tidak akan pernah mengumpulkan mereka dalam kesesatan. Kemudian orang yang paling berhak sesudah beliau adalah Umar radhiyallahu &#39;anhu, karena dia adalah orang paling utama sesudah Abu Bakar, dan juga karena Abu Bakar telah berjanji untuk melimpahkan kekhilafahan kepadanya. Kemudian diikuti oleh &#39;Utsman radhiyallahu &#39;anhu dengan dasar keutamaannya dan keputusan ahlu syura untuk mendahulukan beliau, yaitu orang-orang yang disebutkan dalam sebuah bait sya&#39;ir : &#39;Ali, &#39;Utsman, Sa&#39;ad dan Thalhah, Zubair dan Dzu &#39;Auf, mereka itulah para tokoh yang bermusyawarah. Kemudian diikuti oleh &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhu karena keutamaan yang beliau miliki dan kesepakatan para Sahabat yang ada di masanya. Keempat orang itulah Khulafa&#39;ur Rasyidun yang telah mendapatkan anugerah hidayah yang Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam telah bersabda tentang mereka, &#39;Wajib bagi kalian untuk mengikuti Sunnahku dan Sunnah Khulafa&#39;ur Rasyidin yang mendapatkan hidayah sesudahku, gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian&#39;.&quot; (Syarh Lum&#39;atul I&#39;tiqad, hal. 142-143).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Khalifah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/umar-ibn-al-khaththab.html&#39;&gt;Umar ibn al-Khaththab&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama beliau adalah Abu Hafsh. Kunyah Abu Hafsh ini didapatkan beliau dari Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam karena Nabi melihat sifat tegas yang dimilikinya. Abu Hafsh adalah julukan bagi singa. Beliau adalah orang pertama yang dijuluki sebagai Amirul Mu&#39;minin secara luas oleh ummat. Beliau juga dijuluki dengan al-Faruq, karena sikap beliau yang sangat tegas dalam memisahkan kebenaran dari kebathilan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialah Sahabat pertama yang berani berterus terang memeluk Islam. Dengan keIslamannya inilah dakwah Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam semakin bertambah kuat. Masuk Islamnya Umar merupakan bukti dikabulkannya do&#39;a beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam, &quot;Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu di antara dua Umar yang lebih Kau cintai; Umar ibn Khaththab atau Amr ibn Hisyam/Abu Jahal.&quot; (Lihat Fawa&#39;id Dzahabiyah, hal. 10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau berasal dari suku &#39;Adi ibn Ka&#39;ab ibn Lu&#39;ai. Beliau masuk Islam pada tahun keenam setelah Nabi diutus (bukan 6 Hijriyah, sebagaimana tercantum dalam kitab al-Is&#39;aad fi Syarhi Lum&#39;atil I&#39;tiqad, hal. 71, mungkin penulis lupa atau bisa jadi salah cetak, wallahu a&#39;lam).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau masuk Islam setelah sekitar 40 orang Sahabat lelaki dan 11 wanita telah masuk Islam sebelumnya mendahului beliau. Abu Bakar menyerahkan urusan kekhalifahan untuk mengatur ummat Islam kepada beliau. Beliau pun menunaikan tugas Khalifah dengan baik hingga akhirnya mati syahid terbunuh pada bulan Dzulhijjah tahun 23 Hijriyah dengan usia 63 tahun. (Lihat Syarh Lum&#39;atul I&#39;tiqad Syaikh &#39;Utsaimin, hal. 141).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekhalifahan beliau berlangsung selama 10 tahun, 6 bulan lebih 3 hari. Semenjak tanggal 23 Jumadil Akhir 13 Hijriyah hingga 26 Dzulhijjah tahun 23 Hijriyah. (al-Is&#39;aad fi Syarhi Lum&#39;atil I&#39;tiqad, hal. 71, Syarh Lum&#39;ah, hal. 143).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Khalifah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/utsman-ibn-affan.html&#39;&gt;&#39;Utsman ibn &#39;Affan&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunyah beliau adalah Abu &#39;Abdillah. Sang pemilik dua cahaya. &#39;Utsman ibn &#39;Affan. Beliau berasal dari suku Umayyah ibn &#39;Abdu Syams ibn &#39;Abdu Manaf. Beliau masuk Islam sebelum Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam masuk ke Darul Arqam. Beliau adalah seorang yang kaya. Beliau menjabat sebagai Khalifah sesudah Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu &#39;anhuma berdasarkan kesepakatan ahlu syura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau terus menjabat Khalifah hingga terbunuh sebagai syahid pada bulan Dzulhijah tahun 35 Hijriyah dalam usia 90 tahun menurut salah satu pendapat &#39;Ulama. (Lihat Syarh Lum&#39;ah, hal. 141).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu prinsip yang diyakini oleh Ahlussunnah wal-Jama&#39;ah adalah barangsiapa yang mendahulukan &#39;Ali ibn Abi Thalib di atas &#39;Utsman dalam hal keutamaan maka dia adalah orang yang melontarkan ucapan yang jelek dan apabila ada orang yang menilainya (orang yang berkata jelek itu) sebagai ahli bid&#39;ah maka tidak boleh diingkari, inilah madzhab Imam Ahmad ibn Hambal sebagaimana diterangkan dalam as-Sunnah karya al-Khalaal. Dan apabila ada yang mendahulukan &#39;Ali di atas &#39;Utsman dalam hal hak menjabat khilafah maka dia telah sesat, bahkan lebih sesat daripada keledai tunggangannya, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekhalifahan beliau berlangsung selama 12 tahun kurang 12 hari, beliau wafat dalam keadaan mati syahid pada tanggal 18 Dzulhijah tahun 35 Hijriyah. (Lihat al-Is&#39;aad, hal. 71-72).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Khalifah &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/ali-ibn-abi-thalib.html&#39;&gt;&#39;Ali ibn Abi Thalib&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunyah beliau adalah Abul Hasan. Putra paman Rasulullah, Abi Thalib. Beliau juga dijuluki dengan Abu Turab oleh Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan remaja. Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menyerahkan kepadanya bendera jihad pada saat perang Khaibar yang dengan perantara perjuangannyalah Allah memenangkan umat Islam dalam pertempuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau dibai&#39;at sebagai Khalifah setelah Khalifah &#39;Utsman terbunuh. Beliau menjadi Khalifah secara syar&#39;i hingga wafat dalam keadaan mati syahid pada bulan Ramadhan tahun 40 Hijriyah dalam usia 63 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekhalifahan &#39;Ali berlangsung selama 4 tahun 9 bulan, sejak 19 Dzulhijah tahun 35 Hijriyah hingga 19 Ramadhan tahun 40 Hijriyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian kekhalifahan empat orang Khalifah ini berlangsung selama 29 tahun 6 bulan dan 4 hari. Kemudian al-Hasan ibn &#39;Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu &#39;anhu dibai&#39;at menjadi khalifah setelah wafatnya ayahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian pada bulan Rabi&#39;ul Awwal tahun 41 Hijriyah beliau menyerahkan urusan kekhalifahan kepada &lt;a href=&#39;http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/muawiyah-ibn-abu-sufyan.html&#39;&gt;Mu&#39;awiyah ibn Abu Sufyan&lt;/a&gt; radhiyallahu &#39;anhuma (dan kemudian Mu&#39;awiyah menjadi raja pertama dalam sejarah perjalanan pemerintahan Islam) sehingga genaplah usia khilafah menjadi 30 tahun, membuktikan kebenaran sabda Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam, &quot;Kekhalifahan sesudahku berlangsung selama 30 tahun.&quot; (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi dan dinilai hasan sanadnya oleh Syaikh al-Albani).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa itu juga membuktikan kebenaran sabda Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam, &quot;Sesungguhnya cucuku ini adalah pemimpin yang akan mendamaikan dua kelompok besar umat Islam yang bertikai.&quot; (HR. Bukhari). Oleh sebab itulah tahun 41 Hijriyah disebut sebagai &#39;Aamul Jama&#39;ah (tahun persatuan). (lihat Syarh Lum&#39;ah, hal. 141 dan 143, al-Is&#39;aad, hal. 72).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian berakhirlah masa yang disebut dengan masa Khulafa&#39;ur Rasyidin, dan dimulailah kekuasaan Bani Umayyah dalam sejarah politik Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika itu wilayah kekuasaan Islam sangat luas. Ekspansi ke negeri-negeri yang sangat jauh dari pusat kekuasaannya dalam waktu tidak lebih dari setengah abad, merupakan kemenangan menakjubkan dari suatu bangsa yang sebelumnya tidak pernah mempunyai pengalaman politik yang memadai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faktor-faktor yang menyebabkan ekspansi itu demikian cepat antara lain adalah:&lt;br /&gt;
1. Islam, disamping merupakan ajaran yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, juga agama yang mementingkan soal pembentukan masyarakat.&lt;br /&gt;
2. Dalam dada para Sahabat, tertanam keyakinan tebal tentang kewajiban menyerukan ajaran-ajaran Islam (dakwah) ke seluruh penjuru dunia. Semangat dakwah tersebut membentuk satu kesatuan yang padu dalam diri umat Islam.&lt;br /&gt;
3. Bizantium dan Persia, dua kekuatan yang menguasai Timur Tengah pada waktu itu, mulai memasuki masa kemunduran dan kelemahan, baik karena sering terjadi peperangan antara keduanya maupun karena persoalan-persoalan dalam negeri masing-masing.&lt;br /&gt;
4. Pertentangan aliran agama di wilayah Bizantium mengakibatkan hilangnya kemerdekaan beragama bagi rakyat. Rakyat tidak senang karena pihak kerajaan memaksakan aliran yang dianutnya. Mereka juga tidak senang karena pajak yang tinggi untuk biaya peperangan melawan Persia.&lt;br /&gt;
5. Islam datang ke daerah-daerah yang dimasukinya dengan sikap simpatik dan toleran, tidak memaksa rakyat untuk mengubah agamanya untuk masuk Islam.&lt;br /&gt;
6. Bangsa Sami di Syria dan Palestina dan bangsa Hami di Mesir memandang bangsa Arab lebih dekat kepada mereka daripada bangsa Eropa, Bizantium, yang memerintah mereka.&lt;br /&gt;
7. Mesir, Syria dan Irak adalah daerah-daerah yang kaya. Kekayaan itu membantu penguasa Islam untuk membiayai ekspansi ke daerah yang lebih jauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulai dari masa Abu Bakar ash-Shiddiq sampai kepada &#39;Ali ibn Abi Thalib dinamakan periode Khilafah Rasyidah. Para khalifahnya disebut al-Khulafa&#39; ar-Rasyidun, (khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk). Ciri masa ini adalah para khalifah betul-betul menurut teladan Nabi. Setelah periode ini, pemerintahan Islam berbentuk kerajaan. Kekuasaan diwariskan secara turun temurun. Selain itu, seorang Khalifah pada masa Khilafah Rasyidah, tidak pernah bertindak sendiri ketika negara menghadapi kesulitan; Mereka selalu bermusyawarah dengan pembesar-pembesar yang lain. Sedangkan para penguasa sesudahnya sering bertindak otoriter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Sumber artikel:&lt;br /&gt;
1. Wikipedia; Khulafaur Rasyidin&lt;br /&gt;
2. AbuMuslih.com; Khulafa&#39;ur Rasyidin&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br/&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/5671842321737575877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8398040517496908104/posts/default/5671842321737575877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://waratsatil-anbiya.blogspot.com/2011/12/khulafaur-rasyidin.html' title='Khulafa&#39;ur Rasyidin, Pemimpin Kaum Mu&#39;min Setelah Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>