<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Waris Djati</title><description>Waris Djati berisi ragam pengetahuan dunia Mistik, Gaib, Supranatural, Spiritual serta Melayani Konsultasi Problem Kehidupan, Pengobatan, Rezeki, Pengasihan, Benda Bertuah dan Pengijazahan Ilmu Ghaib warisan leluhur.</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Waris Djati)</managingEditor><pubDate>Fri, 25 Oct 2024 07:02:47 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">435</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://warisdjati.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Waris Djati berisi ragam pengetahuan dunia Mistik, Gaib, Supranatural, Spiritual serta Melayani Konsultasi Problem Kehidupan, Pengobatan, Rezeki, Pengasihan, Benda Bertuah dan Pengijazahan Ilmu Ghaib warisan leluhur.</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title/><link>http://warisdjati.blogspot.com/2019/10/kami-juga-hadir-di-youtube-silahkan.html</link><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Thu, 3 Oct 2019 02:21:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-1206026002562991719</guid><description>Kami juga hadir di youtube, silahkan searching channel kami dengan nama :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arnes cergam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berisi beragam cerita dan kisah yg dilengkapi ilustrasi bergambar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://1.bp.blogspot.com/-z3NrfNmPxzA/XZT4hNrN9eI/AAAAAAAABaU/SQa-tWtd1twCmmblRkhb8THnJMGJuupdACLcBGAsYHQ/s1600/Photo_1570040203276.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="708" data-original-width="1206" height="187" src="https://1.bp.blogspot.com/-z3NrfNmPxzA/XZT4hNrN9eI/AAAAAAAABaU/SQa-tWtd1twCmmblRkhb8THnJMGJuupdACLcBGAsYHQ/s320/Photo_1570040203276.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://1.bp.blogspot.com/-z3NrfNmPxzA/XZT4hNrN9eI/AAAAAAAABaU/SQa-tWtd1twCmmblRkhb8THnJMGJuupdACLcBGAsYHQ/s72-c/Photo_1570040203276.png" width="72"/></item><item><title>Keris Jawa  dan  Empu Keris</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/06/keris-jawa-dan-empu-keris.html</link><category>Keris</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Tue, 10 Jun 2014 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-2078412796063667154</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengetahuan tentang empu keris dan kehidupannya pada jaman dahulu yang mungkin tidak disadari sepenuhnya oleh orang-orang pada jaman sekarang sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Profesi sebagai seorang empu keris tidak seperti yang dipikirkan oleh manusia jaman sekarang bahwa seorang empu perkerisan adalah sama dengan seorang pandai besi atau pengrajin keris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang empu keris jaman dulu sama sekali tidak dapat disamakan dengan itu. Disamakan dengan pengrajin benda-benda senjata saja tidak bisa, apalagi disamakan dengan seorang pandai besi atau pengrajin yang membuat alat-alat pertanian dan perlengkapan memasak. Keris-keris hasil karya mereka pun tidak dapat disamakan dengan golok, pisau, kapak, arit, atau jenis senjata lain. Seorang empu keris juga tidak dapat disamakan dengan pedagang dan pengrajin keris jaman sekarang, juga tidak dapat disamakan dengan praktisi paranormal dan praktisi ilmu gaib jaman sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pembuatan keris-kerisnya empu keris jaman dulu mendatangkan gaib keris jenis wahyu, karena selain bisa dipastikan bahwa gaib kerisnya itu adalah dari golongan yang baik, juga supaya perpaduan antara wahyu dewa yang sudah ada pada diri si pemilik keris dengan gaib wahyu dari kerisnya bisa menghasilkan suatu sinergi kegaiban yang selaras dan berlipat-lipat ganda kekuatan pengaruhnya. Dengan keris buatannya itu si empu keris memadukan kinerja wahyu dewa yang ada pada diri seseorang dengan wahyu gaib keris buatannya, suatu tindakan spiritual yang sangat tinggi yang tidak dapat dicapai kebanyakan manusia jaman sekarang yang hanya sampai pada tahapan kebatinan atau ilmu gaib / khodam saja, yang mampu membuat jimat beserta kegaibannya, tetapi tidak mengetahui ada / tidaknya suatu wahyu pada diri seseorang, apalagi memadukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya dalam membuat keris para empu melakukan berbagai proses ritual gaib, yang menurut pandangan awam jaman sekarang dianggap tidak perlu lagi dan para empu keris jaman sekarang pun sudah tidak lagi melakukan yang sedemikian itu. Berbagai proses ritual itu memang suatu keharusan supaya keris yang dihasilkan oleh si empu benar-benar sempurna sebagai pendamping manusia pemiliknya. Berbagai proses ritual tersebut justru dilakukan oleh para empu karena mereka benar-benar menguasai bidangnya dan tercapainya tujuan seperti tertulis di atas, hanya mereka yang menguasai spiritual tingkat tinggi saja yang mampu melakukannya. Jelas sekali bahwa seorang empu keris lebih daripada sekedar seorang pengrajin keris atau seorang pandai besi atau seorang dukun / paranormal jaman sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Seorang empu keris adalah seorang yang secara spiritual keagamaan mendarma-baktikan hidupnya kepada&amp;nbsp; “Tuhan” – nya melalui jalur perkerisan. Jalur perkerisan itu adalah jalan yang ditempuhnya, sama dengan jalan agama, sebagai darma-bakti-nya kepada Tuhan. Dalam perjalanan menjadi seorang empu keris, seseorang harus menguasai pengetahuan agama (agama pada waktu itu) dan ritual keagamaan, kebatinan dan spiritual, yang kemudian dituangkan dalam bentuk keris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Derajat seorang empu keris dalam dunia keagamaan sangat dihormati setingkat dengan seorang pemuka agama, seorang brahmana atau seorang panembahan. Seorang empu keris juga kerap diminta untuk memimpin ritual yang mirip dengan ritual keagamaan, misalnya ritual bersih desa, selametan, syukuran, ruwatan sengkolo, pembersihan dan pemberkatan pembukaan lahan baru, pengangkatan pejabat / pembesar kerajaan / kadipaten / kabupaten, dsb.&amp;nbsp; Seringkali seorang empu keris juga menjadi tempat bertanya bagi rakyat bahkan raja mengenai permasalahan kehidupan, kearifan keagamaan, bahkan mengenai aspek kenegaraan dan suksesi pemerintahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuai kepercayaan keagamaan pada masa itu sebuah keris yang diterima langsung dari seorang empu keris juga dianggap sebagai 'berkah' dan perkenan Dewa bagi si penerima keris. Itulah sebabnya keris-keris yang diterima langsung dari seorang empu keris akan menjadi pusaka bagi si penerima keris dan akan sangat dipelihara dan dijaga olehnya, bahkan akan 'dikeramatkan', lebih daripada sekedar jimat dan senjata, karena sebuah keris adalah bentuk "restu Tuhan" dan berisi doa-doa keselamatan dan kesejahteran dari seorang spiritualis dan pemuka agama untuk si pemilik keris, selain karena keris itu juga melambangkan kehormatan pemiliknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Seorang empu keris adalah seorang yang sudah mandito, sama dengan seorang brahmana atau panembahan (walaupun mungkin umurnya masih muda). Dia tetap membutuhkan materi duniawi, terutama untuk istri dan anak-anaknya, tetapi secara pribadi tidak memiliki pamrih atas kekayaan. Justru pamrih atas kekayaan itu akan menjadi penghambat pekerjaannya, karena dia harus selalu menekuni berbagai laku prihatin dan tirakat untuk dapat terus berkarya. Bahkan mungkin seumur hidupnya sebagai seorang empu keris, dia sama sekali tidak pernah menikmati kekayaannya, karena harus selalu menjalani laku prihatin dan tirakat untuk menjaga spiritualitasnya. Mungkin satu-satunya yang dia nikmati adalah rasa bangga, bahagia, rasa terima kasih, penghormatan dan penghargaan dari seseorang yang keris pesanannya telah selesai dibuat dan telah diserahkan kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang empu keris tetap membutuhkan materi duniawi, terutama untuk istri dan anak-anaknya, tetapi secara pribadi tidak memiliki pamrih atas kekayaan. Empu-empu keris ternama, yang pesanan kerisnya banyak berasal dari seorang raja, pembesar kerajaan dan para bangsawan, dan orang-orang kaya, mereka tidak memasang tarif atau harga, tetapi setelah keris pesanannya selesai dibuat dan diserahkan kepada pemesannya, biasanya sang empu mendapatkan penghargaan berupa materi yang banyak, bahkan juga dianugerahi gelar kebangsawanan dan jabatan kepala daerah atau kekuasaan atas tanah dan wilayah yang luas yang diberikan kepadanya. Walaupun mendapatkan imbalan berlimpah, sang empu keris dan keluarganya juga tidak hidup bermewah-mewah. Biasanya anak-anaknya pun akan meneladani kehidupan ayahnya, bersama cantrik-cantrik yang lain membantu dan mendampingi sang empu dalam pembuatan keris berikut laku prihatin dan tirakatnya. Biasanya mereka menjadi keluarga yang sangat religius dan menjadi panutan banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; Tidak seperti orang jaman sekarang dalam membuat sebuah jimat, yang seringkali hanya dibutuhkan bacaan amalan / mantra saja dan sesaji kembang atau minyak, pembuatan keris lebih daripada itu. Dan walaupun ada juga keris-keris yang dibuat secara masal, terutama pesanan dari kerajaan, kadipaten dan kabupaten untuk keseragaman senjata tingkatan prajurit (biasanya jenis tombak) dan keris-keris yang untuk rakyat umum, tetap saja laku ritualnya dilakukan secara khusus, apalagi untuk membuat keris yang bersifat pesanan individu. Itu adalah bentuk tanggung jawab moral sang empu supaya keris-keris buatannya memiliki tuah yang baik bagi pemiliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada kata pasrah kepada Tuhan dalam proses pembuatan keris dan dalam mendatangkan gaib keris, karena&amp;nbsp; harus sesuai dengan orang yang akan menjadi pemiliknya. Semua persyaratan dan daya upaya dilakukan supaya hasilnya sesuai dengan tujuannya. Itulah yang disebut laku.&amp;nbsp; Itu adalah wujud tanggung jawab moral dari sang empu. Karena itu dalam satu pesanan keris yang bersifat khusus biasanya oleh sang empu tidak hanya dibuat satu keris, minimal dibuat dua. Dari kedua keris itu akan dipilih salah satu yang paling cocok dengan karakter si pemesan. Sedangkan yang satunya lagi akan diberikannya kepada orang lain yang dianggapnya sesuai dengan karakter keris tersebut, setelah dilakukan pembedaan pada kerisnya, tentunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; Bentuk keris, karakter gaib keris dan tingkat kesaktiannya selalu disesuaikan dengan status, karakter dan kehidupan pemiliknya. Mengenai kelengkapan dan kemewahan keris adalah tergantung akan diberikan kepada siapa keris itu nantinya. Selain kesanggupan untuk membayar biaya pembuatan keris, status pribadi si pemilik keris di masyarakat itulah yang menentukan kepantasan keris yang akan dia kenakan. Semakin tinggi status duniawi sang pemilik keris, maka akan semakin lengkap dan mewah hiasan kerisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp; Sepasang keris Nagasasra dan Sabuk Inten memiliki hiasan dan kelengkapan aksesoris emas dan intan yang mahal dan mewah, memiliki tingkat kesaktian yang tinggi, dan tuahnya melingkupi area kekuasaan kerajaan, karena sejak awal pembuatannya keris-keris tersebut memang ditujukan bukan hanya akan menjadi sebuah pusaka andalan sebuah kerajaan, tetapi juga akan menjadi lambang kebesaran sebuah keraton, sehingga bukan hanya harus sakti, tetapi juga harus mewah dan berwibawa dan berkuasa di wilayahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penggunaan bahan meteorit dalam bahan keris biasanya akan menimbulkan gambar / motif pada badan keris yang disebut pamor keris. Tetapi penggunaan bahan meteorit dalam pembuatan keris Nagasasra sama sekali tidak menimbulkan motif pamor. Satu-satunya gambar yang ada pada badan kerisnya adalah gambar naga yang terbuat dari emas. Begitu juga penggunaan bahan meteorit dalam pembuatan keris Sengkelat yang sama sekali tidak menimbulkan motif pamor, karena keris tersebut keleng, hitam gelap tidak berpamor. Ini juga adalah salah satu keistimewaan teknis penempaan logam sang empu pembuat kerisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepasang keris Nagasasra - Sabuk Inten dan keris Sengkelat adalah hasil karya yang luar biasa, sebuah maha karya dalam dunia perkerisan. Keris-keris tersebut mendapatkan banyak pujian dan pengakuan dari dunia perkerisan dan banyak orang yang ingin memilikinya, sehingga banyak dibuat tiruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp; Keris Sengkelat, sebuah keris yang sangat indah bentuknya dan sangat tinggi kualitas tempaan logamnya, tetapi sangat sederhana dan sama sekali tidak memiliki aksesoris mewah dan hitam gelap tidak berpamor (keleng), tetapi lebih sakti daripada sepasang keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Sesuai karakter kerisnya, keris ini ditujukan untuk seseorang yang berwatak ksatria, aktif membela kebenaran dan menolong orang-orang yang tertindas. Bahkan bila keris-keris lain sudah tidak mampu lagi bertindak, maka keris ini selalu siap sedia kapan saja diperlukan oleh sang ksatria untuk bertindak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keris-keris yang ditujukan untuk digunakan oleh seorang ksatria pilihan, biasanya dibuat khusus dari bahan-bahan pilihan dan bentuknya indah sesuai penghormatan sang empu pada watak ksatrianya, tetapi tidak mempunyai hiasan-hiasan mewah pada badan kerisnya maupun sarungnya. Biasanya kesaktian keris tersebut lebih tinggi daripada kesaktian rata-rata keris, berguna untuk mengalahkan kesaktian lawan-lawannya dan untuk menandingi kesaktian pusaka yang disalahgunakan untuk kejahatan dan kezaliman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, seorang empu keris, ketika sedang tidak sibuk mengerjakan pesanan keris, mereka membuat sebuah keris, yang kemudian setelah selesai pembuatannya akan disimpannya sendiri. Ke dalam keris itu dituangkannya isi hatinya, doa-doa keselamatan, kesejahteraan dan perlindungan untuk orang-orang yang lemah dan tertindas. Walaupun sederhana tanpa hiasan mewah, tetapi bentuk kerisnya akan dibuat indah dan berisi kesaktian gaib yang tinggi. Suatu hari ketika telah bertemu dengan seorang ksatria yang dia merasa cocok dan berkenan, maka akan diberikannya keris itu kepadanya. Keris-keris jenis ini biasanya akan aktif berinteraksi dengan kebatinan pemiliknya, walaupun kerisnya sedang tidak dikeluarkan dari sarungnya, karena berisi harapan dan doa sang empu keris, supaya keris itu selalu bermanfaat untuk keselamatan dan kesejahteraan banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp; Karena keris Sengkelat terkenal keindahan dan kesaktiannya, mungkin ada seorang bupati / adipati yang juga memesan sebuah keris berdapur sengkelat kepada seorang empu keris. Jika si pemesan itu dalam kesehariannya tidak aktif membela kebenaran, menolong orang yang tertindas, maka sifat orang itu tidak sesuai dengan watak keris sengkelat. Sang empu yang mengetahui karakter si pemesan tersebut tidak akan mendatangkan gaib keris yang berkarakter sama dengan gaib keris sengkelat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Supaya sesuai dengan karakter pemiliknya, maka mungkin yang kemudian didatangkannya adalah gaib keris yang berkarakter sama dengan keris pulanggeni atau singa barong, untuk kebangsawanan. Dengan demikian walaupun kerisnya sakti dan berdapur sengkelat, tetapi watak kerisnya tidak sejalan dengan watak keris sengkelat. Lagipula, mungkin kemudian keris berdapur sengkelat tersebut akan diberi banyak hiasan mewah sesuai status si pemesan, yang jelas akan tidak sejalan dengan kesederhanaan watak keris sengkelat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Keris-keris yang khusus dibuat untuk seorang raja, adipati atau bupati, pasti mewah dan sakti dan tuahnya selalu terkait dengan wibawa kekuasaan, karena seorang kepala pemerintahan harus berwibawa dan harus senantiasa mengayomi dan melindungi orang-orang di wilayah kekuasaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp; Seorang senopati atau panglima perang, walaupun memiliki banyak kekayaan sesuai status dan jabatannya, tetapi tidak selalu hidup mewah. Hidup mereka keras dan disiplin, penuh tanggung jawab. Mungkin hidup mereka penuh dengan peperangan dan pertarungan. Sesuai karakter dan kehidupan mereka, maka keris-keris yang diperuntukkan bagi mereka biasanya adalah keris-keris sakti, berbiaya tinggi karena dibuat dari bahan-bahan yang baik untuk keris tarung, dan memiliki simbol-simbol sebagai tanda status mereka di kerajaan, tetapi bentuknya sederhana, dan sekalipun juga memiliki kelengkapan mewah pada kerisnya, tetapi tidak semewah keris-keris untuk pembesar lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Berbeda dengan keris-keris untuk para saudagar / orang-orang kaya dan pejabat / pembesar yang sering menjadi “tikus kantor” dan menggerogoti wibawa dan harta kerajaan. Sesuai pesanan mereka, keris-keris untuk mereka biasanya penuh dengan hiasan mewah, karena disesuaikan dengan pemakainya yang biasanya mengagungkan statusnya di masyarakat dan menonjolkan kekayaan dan kemewahan. Keris-keris untuk mereka biasanya dibuat dari bahan yang bagus dan dibuat mewah, meliputi badan keris yang berkinatah emas, sarung keris dari jenis kayu yang mahal dan diselimuti pendok emas, gagang keris dengan mendak dan salut berbalut emas dan intan dan ganja keris berkinatah emas, sehingga walaupun tidak dikeluarkan dari sarungnya, kemewahan kerisnya tampak jelas terlihat dari luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keris-keris untuk mereka tingkat kesaktiannya relatif lebih rendah daripada keris yang diperuntukkan untuk seorang ksatria atau senopati / panglima perang, tetapi cukup sakti karena disesuaikan juga dengan tingkat kesaktian yang diperlukan untuk menjaga kewibawaan mereka dan untuk melindungi mereka dari serangan gaib yang mungkin ditujukan kepada mereka, dan tetap lebih sakti daripada keris-keris yang diperuntukkan untuk prajurit dan rakyat kebanyakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp; Keris untuk rakyat biasa. Biasanya bentuknya sederhana dan tidak memiliki hiasan-hiasan yang mewah, sesuai budaya dan kebiasaan mereka untuk merendahkan hati. Biasanya keris-keris untuk mereka dibuat masal, sehingga biaya pembuatannya menjadi rendah dan harganya terjangkau untuk rakyat umum. Sesuai pemiliknya, biasanya tuah utama keris-keris tersebut bukan untuk kesaktian, tetapi untuk kerejekian, kesuburan dan ketentraman keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp; Keris-keris pribadi sang empu keris, keris untuk seorang panembahan dan keris untuk raja atau keluarga raja yang sudah mandito. Biasanya bentuknya sederhana dan tidak memiliki hiasan-hiasan yang mewah, tetapi sakti. Sesuai kondisi kebatinan pemiliknya, biasanya tuah utama keris-keris tersebut bukan untuk kesaktian, tetapi untuk kharisma pengayoman dan kesepuhan, auranya teduh dan tidak angker, tetapi pasti sakti karena berguna untuk melindungi rakyat dan orang-orang yang berlindung kepada mereka (juga supaya sebanding dengan panembahan itu sendiri yang biasanya juga sakti).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Keris-keris tua berdapur Banyak Angrem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keris-keris tua berdapur Banyak Angrem adalah jenis-jenis pusaka yang sangat sederhana bentuk dan modelnya dan sejak dulu sampai sekarang tidak banyak mendapatkan sentuhan variasi di dalam pembuatannya. Karena kesederhanaannya itu tidak banyak orang yang memberikan perhatian atau keinginan untuk memilikinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi satu hal yang tidak diketahui oleh banyak orang adalah bahwa keris-keris tua berdapur banyak angrem ternyata memiliki keistimewaan dan kekuatan kegaiban yang jauh lebih baik daripada keris-keris atau pun pusaka-pusaka jenis lain yang umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awal pembuatannya, keris-keris banyak angrem biasanya menjadi pusaka pribadi seorang empu keris / panembahan / pemuka kerohanian, tetapi banyak juga yang kemudian diberikan kepada raja-raja dan orang-orang yang sedang berkuasa untuk keteduhan dan pengayoman moral. Tetapi karena bentuknya yang sederhana dan ketidaktahuan manusia akan manfaatnya, banyak jenis keris itu yang diterlantarkan, tidak diinginkan dan / atau diberikan kepada orang lain, sehingga hilang dari daftar perbendaharaan pusaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gaib dari keris-keris banyak angrem memiliki sifat karakter yang mirip dengan sifat karakter gaib mustika keong buntet dan kegaiban di dalam perkutut majapahit. Keris-keris banyak angrem bisa memberikan tuah apa saja yang bisa diberikan oleh keris-keris dan pusaka lain, tuah-tuah untuk kesaktian, keselamatan, wibawa kekuasaan, kerejekian, pengasihan, pengobatan gaib, keilmuan, kesepuhan, pengayoman dan banyak macam kegaiban lain sesuai yang diinginkan oleh pemiliknya (banyak fungsinya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gaib di dalam keris-keris banyak angrem bila sudah cocok dengan manusia pemiliknya atau pembawanya, akan menyelaraskan dirinya dan membantu setiap usaha / aktivitas yang dilakukan oleh orang tersebut, apalagi bila orang tersebut menunjukkan rasa sayang dan merawatnya dan dapat mengsugesti sang gaib keris untuk membantunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gaib di dalam keris-keris banyak angrem berkarakter seperti Dewa Semar, yaitu berwatak keras dan berwibawa, tetapi bersifat mengayomi seperti orang tua, sehingga sifat wataknya serupa dengan keris tindih, dan mampu meredam gangguan / keanehan gaib dari jimat, pusaka atau gaib-gaib lain di sekitarnya. Tuah dari keris-keris ini juga melunturkan (meredam) ilmu kesaktian dan jimat / pusaka yang bersifat agresif dan menonjolkan kegagahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Makhluk Halus yang Menakutkan dari Kalimantan Barat </title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/05/makhluk-halus-yang-menakutkan-dari.html</link><category>Mistik</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Sat, 31 May 2014 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-2250442304206357426</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKrz2vQcSHVJP3i7MhMVn3USUjNhbVHg3CQXXJQKxaq6s2eHlbasorhINPLV_fCxoewkh7wRxwiM0afVxHtYlBVrQHEbNGrWNKAlDNHvmMZF64SoumwL-jQCb1kXBXZwlJGWnuV5K5E00x/s1600/hantu_kalimantan.jpeg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKrz2vQcSHVJP3i7MhMVn3USUjNhbVHg3CQXXJQKxaq6s2eHlbasorhINPLV_fCxoewkh7wRxwiM0afVxHtYlBVrQHEbNGrWNKAlDNHvmMZF64SoumwL-jQCb1kXBXZwlJGWnuV5K5E00x/s1600/hantu_kalimantan.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Berikut ini ada Makhluk mahluk mistik yang menakutkan dari Kalimantan Barat berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Kuntilanak (Pontianak)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuntilanak atau Pontianak merupakan jenis hantu yang sangat umum diketahui oleh penduduk Kalimantan Barat bahkan oleh semua warga Indonesia. Hantu Pontianak sering digambarkan sebagai wujud wanita cantik yang berambut sangat panjang dan berbaju putih. Suara tertawanya seram dan kebanyakan meringkih.Lokasi diduga sering ditemukan : kuburan, pohon, rumah tua dan hutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Hantu jaring (hantu hujan panas)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hantu ini muncul pada saat hujan panas. Diyakini oleh orang Kalimantan Barat sering menggangu anak kecil denga menyembunyikannya. Untuk menangkalnya biasanya dengan menyisipkan daun atau rumput di daun telinga. Lokasi diduga sering ditemukan : belakang rumah, sawah dan lapangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Jembalang tanah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hantu yang berada di hutan-hutan. Diyakini sering mengganggu pejalan kaki dan mengakibatkan kaki korban bengkak tidak bisa berjalan. Lokasi diduga sering ditemukan : hutan dan lapangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Hantu Penanggal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hantu ini berwujud kepala yang dilengkapi dengan organ dari leher sampai perut tetapi tanpa badan (hanya organnya saja). Mobilisasi dengan terbang menggunakan telinganya yang lebar. Sering mengganggu hewan atau manusia yang akan melahirkan serta diyakini biasanya memakan telur ayam peliharaan penduduk. Menurut cerita, hantu leak memiliki badan seperti manusia dan pada saat akan mengganggu penduduk, kepalanya beserta organ dalamnya keluar dari tubuh. Untuk membunuhnya dapat menggunakan daun jeruju atau duri dan dimasukkan ke dalam rongga tubuh yang ditinggalkan tadi. Ada juga yang mengatakan dapat dibunuh dengan memutar posisi badan yang ditinggalkannya. Lokasi diduga sering ditemukan : kandang ayam, rumah bersalin dan rumah penduduk yang akan melahirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Bute&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hantu ini berwujud sapi dengan ukuran yang besar. Dapat mengganggu manusia yang masuk ke hutan, tetapi biasanya mengganggu sapi ternak penduduk yang dapat mengakibatkan kematian ternak dengan mukut yang berbuih. Lokasi diduga sering ditemukan : hutan, kebun, lapangan, semak dan kandang sapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6. Balai seribu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenis hantu ini sering menggangu orang yang masuk ke hutan yang lebat. Kedatangannya ditandai dengan angin kencang. Tidak begitu jelas deskripsi atau wujudnya.Diyakini dapat menyebabkan kematian. Lokasi diduga sering ditemukan : hutan belantara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;7. Hantu kambe’&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hantu kambe’ merupakan jenis hantu yang berwujud setengah kambing (binatang) dan setengah manusia. Ada yang menceritakan hantu ini memiliki badan manusia dengan rambut yang panjang dan berkaki kambing (seperti faun dalam dongeng eropa), tetapi ada juga yang meyakini hantu ini berwujud seperti kambing dengan surai yang panjang. Hntu ini bertubuh kerdil dan biasanya mengganggu kambing. Kehadirannya biasanya diikuti dengan suara kambing ribut yang diyakini disebabkan hantu ini ikut menyusu pada induk kambing. Lokasi diduga sering ditemukan : semak berlukar dan kandang kambing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;8. Rabing&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rabing berwujud seperti tikar yang terdapat di dalam air. Biasanya mendiami sungai-sungai yang angker dan sewaktu-waktu muncul kepermukaan. Hantu ini dapat menggulung manusia yang berenang sehinga dapat kehilangan nyawa karena lemas. Kadang-kadang juga digambarkan sebagai sosok makhluk seperti labi-labi. Lokasi diduga sering ditemukan : sungai dan danau. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKrz2vQcSHVJP3i7MhMVn3USUjNhbVHg3CQXXJQKxaq6s2eHlbasorhINPLV_fCxoewkh7wRxwiM0afVxHtYlBVrQHEbNGrWNKAlDNHvmMZF64SoumwL-jQCb1kXBXZwlJGWnuV5K5E00x/s72-c/hantu_kalimantan.jpeg" width="72"/></item><item><title>Keris Dan Pria</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/05/keris-dan-pria.html</link><category>Keris</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Tue, 20 May 2014 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-888875232904562093</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dimasa lalu, setiap pria Jawa terutama bangsawan dan priyayi, pada saat menjalankan tugasnya sehari-hari, selalu mengenakan busana tradisional lengkap dengan sebilah keris dipinggangnya. Setiap priyayi paling tidak memiliki dua buah, satu untuk dipakai harian, sedangkan yang lain untuk upacara resmi dan upacara di karaton. Tentu saja, keris yang kedua mempunyai kualitas dan penampilan yang lebih bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dizaman kuno, keris dipergunakan sebagai senjata untuk berperang ataupun untuk bertarung satu lawan satu. Pada saat ini, fungsi keris adalah untuk pelengkap busana tradisional. Namun demikian, keris tetap dihargai, diperlakukan dengan baik. Orang tradisional menghargai keris sebagai pusaka yang berharga dan barang seni yang bernilai tinggi. Keris dinilai berkualitas tinggi, kalau mempunyai penampilan fisik yang anggun dan punya daya spiritual yang bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Orang Yang Sempurna&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut penilaian tradisional Jawa, seseorang telah dianggap sempurna kalau dia telah mempunyai lima hal, yaitu: Wismo, Wanito, Kukilo, Turonggo dan Curigo/Keris. Penjelasan singkatnya sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1. Wismo artinya rumah. Orang yang telah mempunyai rumah tentunya penghasilannya cukup dan hidupnya mapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2. Wanito. Orang yang telah kawin dan punya istri ( demikian pula tentunya seorang wanita yang telah menikah), artinya telah memilih jalan hidup yang benar dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3. Kukilo artinya burung. Penjelasan filosofisnya adalah : nyanyian burung itu merdu bagai music atau alunan gamelan. Mendengar suara lembut, orang merasa tenang, enak, bahagia. Alangkah indahnya, bila seorang ayah,kepala keluarga berbicara dengan suara lembut ,itu tentu sangat menenangkan dan menyenangkan seluruh keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4. Turonggo artinya kuda. Kuda adalah alat trransportasi yang praktis dimasa lalu. Dia bisa dipakai menarik andong ataupun bisa ditunganggi untuk bepergian. Dalam hal ini, orang hendaknya memiliki kendaraan kehidupan ( mempunyai jalan hidup) yang bisa dengan baik dikendalikan supaya hidupnya mapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; 5. Curigo atau Keris. Kris itu tajam ujungnya. Ini melambangkan ketajaman pikir. Adalah sangat penting orang punya pikiran yang tajam dengan wawasan yang luas. Itu adalah urutan dimasa dulu. Kini, ada yang menyatakan bahwa urutan pertamanya adalah keris dengan alasan : otak yang cemerlang, intelligentsia adalah paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Wahyu Keraton di dalam Keris Jawa</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/05/wahyu-keraton-di-dalam-keris-jawa.html</link><category>Keris</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Sat, 10 May 2014 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-5936088991932346438</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di dalam dunia perkerisan dikenal adanya keris-keris khusus yang hanya patut dimiliki oleh orang-orang tertentu saja sesuai peruntukkan kerisnya, tidak semua orang cocok memilikinya dan tidak semua orang bisa mendapatkan manfaat dari keris-keris itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian keris-keris yang bersifat khusus adalah yang disebut sebagai Keris Keraton, yaitu keris-keris yang maksud dan tujuan pembuatannya adalah untuk menjadi lambang kebesaran sebuah kerajaan / kadipaten / kabupaten, yang biasanya terkandung di dalamnya apa yang disebut sebagai Wahyu Keraton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud sebagai Keris Keraton bukanlah semua keris yang dimiliki oleh sebuah keraton, atau pun semua keris yang menjadi perbendaharaan sebuah keraton dan disimpan di dalam ruang pusaka kerajaan. Keris Keraton ini adalah keris-keris yang dalam pembuatannya khusus ditujukan untuk menjadi pusaka lambang kebesaran sebuah keraton (kerajaan, kadipaten / kabupaten), untuk dipasangkan dengan wahyu kepemimpinan yang sudah ada pada orang yang menjadi pemimpin di keraton tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengertian keraton adalah bukan semata-mata sebuah bangunan keraton yang menjadi istana raja / adipati / bupati. Sebuah keraton melambangkan kebesaran sebuah pemerintahan. Bangunannya sendiri hanyalah simbol dari adanya sebuah pemerintahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keris Keraton dan Keris Pusaka Kerajaan agak sulit membedakannya. Orang harus memiliki spiritualitas yang tinggi untuk bisa membedakan kandungan wahyu di dalam masing-masing keris untuk bisa membedakan mana yang adalah Keris Keraton dan mana yang bukan Keris Keraton tetapi dijadikan Pusaka Kerajaan dan diperlakukan sama seperti sebuah Keris Keraton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pengertian Keris Keraton, pusaka yang menjadi lambang kebesaran sebuah keraton, terkandung di dalamnya apa yang biasa disebut Wahyu Keraton. Jenis-jenis pusaka itu tidak boleh dipakai oleh sembarang orang, termasuk walaupun ia adalah anak seorang raja. Hanya orang-orang yang sudah menerima wahyu keraton / keprabon saja yang boleh memakainya, sehingga wahyu di dalam orang itu dan wahyu dari kerisnya akan mewujudkan sebuah sinergi kegaiban, yang kegaibannya tidak akan bisa disamai oleh jenis-jenis pusaka lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keris-keris yang dalam pembuatannya khusus ditujukan untuk menjadi pusaka lambang kebesaran dan yang untuk menjadi keris-keris pusaka keraton (kerajaan, kadipaten / kabupaten), yang maksud pembuatannya ditujukan untuk dipasangkan dengan wahyu keprabon atau wahyu kepemimpinan yang sudah ada pada diri seseorang, memiliki tuah yang luar biasa, yang tidak bisa disejajarkan dengan keris-keris yang umum ataupun jimat-jimat dan mustika. Selain biasanya kerisnya berkesaktian tinggi, tuah dan wibawanya pun tidak sebatas hanya melingkupi diri manusia pemakainya, tetapi melingkupi suatu area yang luas yang menjadi wilayah kekuasaan yang harus dinaunginya. Biasanya sosok gaibnya juga adalah raja dan penguasa di alamnya. Karakter isi gaibnya menyerupai perwatakan wahyu keprabon yang menjadikan para mahluk halus dan manusia di dalam lingkup kekuasaannya menghormati si keris dan si manusia sebagai pemimpin dan penguasa di wilayah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuai sebutannya sebagai Keris Keraton, keris-keris itu mengandung di dalamnya apa yang disebut sebagai Wahyu Keraton, yaitu wahyu kepemimpinan dan kepangkatan, yang akan dapat mengantarkan manusia pemiliknya kepada posisi yang tinggi sebagai seorang kepala pemerintahan, menjadi raja, kepala negara atau kepala daerah, sesuai kelas dan peruntukkan kerisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah keris keraton, ada keris-keris lain yang mengandung di dalamnya apa yang disebut sebagai wahyu kepangkatan dan derajat, yaitu wahyu yang akan dapat mengantarkan manusia pemiliknya kepada posisi / jabatan yang tinggi setingkat menteri atau wakil kepala pemerintahan di dalam pemerintahan pusat ataupun daerah, sesuai kelas dan peruntukkan kerisnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keris-keris yang bersifat khusus di atas hanya patut dimiliki oleh orang-orang tertentu saja yang sesuai dengan tujuan keris-keris itu diciptakan, bukan untuk orang kebanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keris-keris wahyu tersebut akan&amp;nbsp; efektif&amp;nbsp; bekerja&amp;nbsp; hanya&amp;nbsp; pada manusia pemiliknya yang sudah memiliki wahyu kepemimpinan / kepangkatan dalam dirinya, atau sesudah dimiliki oleh seorang keturunan yang cocok untuk menjadi wadah wahyunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika keris-keris itu sudah dimiliki oleh seseorang yang sesuai dengan peruntukkan kerisnya, keris-keris itu akan memancarkan aura wibawanya dan akan dapat mengantarkan orang tersebut kepada posisi yang tinggi sesuai dengan peruntukkan kerisnya dan akan membantunya mengamankan posisi dan jabatannya dari gangguan atau perbuatan orang lain yang merongrong martabat dan kewibawaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itulah pada masanya, mungkin juga sampai sekarang, banyak orang memiliki pengertian yang salah, seolah-olah siapa saja yang memiliki pusaka-pusaka keraton itu akan dapat menjadikannya lebih mudah menduduki tahta kekuasaan, sehingga banyak orang yang memiliki pamrih atas pusaka-pusaka tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal segala sesuatunya tergantung pada orang itu sendiri, dan tergantung kepadanya juga apakah jiwa pusaka-pusaka keraton itu dapat luluh atau tidak ke dalam dirinya. Itulah yang disebut wahyu. Dan wahyu itu tidak dapat diperoleh hanya melalui pemilikan keris saja. Untuk dapat menerima wahyu, seseorang harus menjadikan dirinya sebagai wadah yang sesuai dengan watak dan sifat-sifat wahyunya. Karena itulah untuk dapat menerima sebuah wahyu seseorang harus bekerja keras, mesu raga penuh keprihatinan dan membentuk sifat-sifat kepribadian dan perbuatan yang sesuai dengan sifat-sifat wahyunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang memiliki sebuah keris pusaka keraton, bukanlah jaminan bahwa orang itu akan dapat mencapai tampuk pemerintahan selama jiwa orang tersebut masih belum luluh dengan jiwa keris-keris itu. Apabila seseorang telah benar-benar menguasai keris-keris tersebut, serta jiwa keris-keris itu telah luluh ke dalam dirinya, barulah orang tersebut mendapatkan sipat kandel&amp;nbsp; yang sebenarnya. Selama masih ada selisih kebatinan antara seseorang dengan keris-keris itu, maka selama itu pula keris-keris keramat tersebut tidak akan berguna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itulah, meskipun seseorang berhasil menyimpan keris-keris itu untuk dirinya sendiri, dan seandainya dia ingin meraih tampuk pemerintahan, tidak akan dapat dicapainya dengan bantuan keris-keris itu, karena jiwa keris-keris itu tidak dapat luluh ke dalam dirinya. Itulah yang terjadi pada orang-orang yang berambisi menjadi penguasa, walaupun mereka membekali dirinya dengan bermacam-macam pusaka, tetapi tuah pusaka-pusaka itu tidak dapat menyatu dengan dirinya. Yang kemudian terjadi adalah keberadaan mereka hanya membuat kacau keadaan, pemerintahan yang tengah berjalan menjadi goyah karena digerilya oleh orang-orang tersebut. Rakyat yang menjadi korban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah keris-keris tersebut baru akan bermanfaat bagi pemiliknya apabila jiwa keris-keris itu telah luluh ke dalam dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contohnya adalah keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, yang fisiknya cemerlang seperti emas dan intan. Apabila mereka telah luluh ke dalam diri seseorang, maka kecemerlangannya akan hilang, menjadi seperti keris biasa saja yang bersalutkan emas dan intan. Dan orang, yang jiwa keris-keris itu luluh ke dalam dirinya, orang itu akan memiliki sifat-sifat khusus yang meresap di dalam dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kyai Nagasasra mempunyai karakter berwibawa, disujuti oleh kawula, dicintai dan dihormati rakyat, berperikemanusiaan, melindungi dan memberi kesejahteraan kepada rakyat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kyai Sabuk Inten mempunyai watak seperti lautan, luas tak bertepi, menampung arus sungai dan banjir yang bagaimanapun besarnya. Dan airnya selalu bergerak ke tempat yang membutuhkannya, tetapi gelombangnya dapat menunjukkan kedahsyatannya bila diperlukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten melambangkan perwatakan Dewa Wisnu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten masih harus dilengkapi dengan Kyai Sengkelat, keris yang juga tidak kalah pentingnya. Keris yang memiliki watak lengkap seorang prajurit sejati, mewakili perwatakan Dewa Hanoman, yang setia dan patuh pada kewajibannya, yang bekerja dan berjuang bukan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi untuk tanah tumpah darah dan rakyatnya dengan penuh kejujuran dan tanpa pamrih, dan setia menjalankan perintah-perintah Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Watak-watak manusia yang demikianlah yang dicari oleh mereka, yang diharapkan layak dan mampu menjadi pemimpin dan berbudi luhur, sejalan dengan watak dari keris-keris tersebut. Karenanya kesejahteraan rakyat dapat dijamin dan memberi kesempatan mengalirkan bantuannya kepada yang membutuhkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya keris-keris tersebut di atas dan keris-keris lain yang dahulu terkenal kesaktiannya, sekarang tidak ada lagi dalam kehidupan manusia. Mereka telah moksa, masuk ke alam gaib bersama dengan fisik kerisnya, karena tidak mau jatuh ke tangan orang-orang yang mereka tidak berkenan. Tetapi pada waktunya nanti sesudah ditemukan sosok manusia yang sesuai dengan perkenan mereka, dengan sendirinya mereka akan datang menggabungkan diri dengan orang tersebut tanpa perlu diminta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keris-keris tertentu dulu yang terkenal kesaktian dan tuahnya, karena banyak orang yang ingin memilikinya dan memesan untuk dibuatkan, kemudian banyak dibuatkan tiruan / turunan-nya, sehingga kemudian banyak keris yang bentuknya seragam. Contoh keris yang banyak ditiru adalah keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dan keris Kyai Sengkelat, dan keris-keris tiruannya sering disebut keris berdapur nagasasra (atau berdapur naga), berdapur sabuk inten atau berdapur sengkelat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila yang membuat keris-keris berdapur naga atau sengkelat itu adalah empu yang sama dengan yang membuat keris aslinya, maka keris-keris itu disebut keris turunannya, tetapi bila yang membuatnya adalah empu lain, maka keris-keris itu disebut keris tiruannya (tetiron).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Situs Pangrumasan Kyai Bagus Santri</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/05/situs-pangrumasan-kyai-bagus-santri.html</link><category>Budaya</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Sat, 3 May 2014 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-8245638952396745074</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama Pangrumasan merupakan sebuah dusun di Desa Banjarananyar Kecamatan Banjarsari merupakan sebuah desa , yang terletak di wilayah Ciamis, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Pamarican, Sebelah Timur dengan Kecamatan Padaherang, sebelah Utara dengan Desa Cigayam dan sebelah selatan dengan Kecamatan Langkaplancar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama Pangrumasan merupakan situs tinggalan di sebuah dusun Pangrumasan dengan luas kurang lebih 14 Ha , merupakan tinggalan makam keramat Kiyai Bagus Santri seorang ulama Islam penyebar agama Islam di Daerah Banjarananyar dan sekitarnya Dari Kerajaaan Demak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai bukti adanya tinggalan makam patilasan di Situs Pangrumasan adanya makam keramat Kiyai Bagus Santri beberapa peninggalan-peninggalan sejarah dan purbakala yang diperkirakan berupa situs antara lain :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Situs Pangrumasan&lt;br /&gt;
b. Situs Batu Gajah&lt;br /&gt;
c. Situs Curug Bandung&lt;br /&gt;
d. Kedung Bulan&lt;br /&gt;
e. Batu Pangsalatan sekarang terkubur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiyai Bagus Santri diperkirakan masuk ke daerah Banjarannyar Kecamatan Banjasari untuk menyebarkan agama Islam sekitar abad 14 dan 15 semasa kerajaaan Demak yang terkenal dengan Rajanya Raden Fatah. Kiayai Bagus Santri meskipun tokoh Islam yang berdialek suku Jawa akan tetapi tetap bisa diterima oleh masyarakar Banjarananyar dan sekitarnya karena sebagian mayoritas di daerah tersebut bisa berbahasa Jawa karena dimungkinkan adanya urbanisasi Dari daerah Cilacap dan Banyumas yang menetap di daerah tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Latar Belakang Sejarah&lt;br /&gt;
Syahdan salah seorang utusan Kiyai Bagus Santri Dari Kerajaan Demak bermaksud untuk menyebarkan agama Islam di daerah tanah Pasundan atas titah Raden Fatah di daerah Banjarananyar Banjarsari dan sekitarnya. Karena pada waktu itu di daerah Tatah Pasundan berdiri Kerajaan besar Galuh dan Galuh Kawali yang masih menganut agama Hindu, maka Kiyai bagus Santri bermaksud untuk mengIslamkan kedua kerajaan tersebut, akan tetapi karena kedua kerajaan tersebut sangat kuat dan besar pengaruhnya terhadap masyarakatnya, maka Kiyai Bagus Santri berusaha untuk menyebabarkan Agama Islam melalui daerah pinggiran perbukitan dan pegunungan daerah Ciamis Selatan. Karena untuk penyebaran Agama Islam Dari daerah Utara Ciamis dari Kerajaan Cirebon. Akhirnya Kiyai Bagus Santri mendatangi daerah Timiur dan Selatan Tatah Pasundan untuk menyebarkan Agama Islam. Akhirnya beliau di daerah Pangrumasan desa Cigayam yang kemudian dimekarkan menjadi desa Banjarananyar sekarang. Beberapa waktu kemudian akhirnya rombongan Kiyai Bagus Santri dapat diterima oleh masyarakat tersebut untuk memeluk dan bersedia masuk Islam dengan cara damai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ritual Adat Setempat&lt;br /&gt;
Ritual adat yang selalu dilaksanakan di situs Pangrumasan Patilasan Kiyai Bagus Santri adalah NYIMBUR yaitu : Ritual adat yang biasanya dilaksanakan pada tiap tanggal 14 Maulud, merupakan ungkapan rasa syukur pada Alloh Yang Maha Kuasa yang memberikan rejeki dan menafakuri ajaran Islam Kiyai Bagus santri yang telah menyebarkan Agama Islam pertama sampai sekarang. Ritual nyimbur diisi dengan mediasi tolak bala Dari berbagai penyakit supaya tidak berjangkit pada masyarakat Banjarananyar dan sekitarnya, dengan cara menyemburkan air dari seeng dengan daun hanjuang, air tersebut diambil dari mata air curug Bandung kemudian disemburkan oleh kuncen atau masyarakat kepada seluruh masyarakat yang hadir pada kegiatan tersebut. Kemudian secara bersama-sama membersihkan benda-benda pusaka tinggalan karuhun semasa Kiyai Bagus Santri di tempat Bale Bandung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ziarah&lt;br /&gt;
Ziarah kliwon biasa dilaksanakan setiap jumat kliwon kecuali jumat kliwon bulan mulud dan jumat kliwon bulan puasa. Biasanya dilaksanakan dengan cara tawasulan bermunajat pada Yang Maha Kuasa supaya diberi kesalamatan lahir dan batin dengan perantaraan mencari berkah di Patilasan Kiayai Bagus Santri, kemudian setelah melakukan ziarah Kliwon mereka makan nasi tumpeng secara bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan kondisi dan potensi situs Pangrumasan Patilasan Kiyai Bagus Santri Desa Banjaranyar Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis yang memiliki kurang lebih 14 Hektar telah ditemukan beberapa Benda Cagar Budaya yang sangat penting sebagai bukti temuan sejarah kepurbakaan yang ada di situs tersebut. Sehingga perlu ditindaklanjuti keberadanya untuk dijadikan bahan penelitian oleh para ahli kesejarahan dan kepurbakalaan serta arkeolog guna membuktikan bahwa BCB tersebut mempunyai kandungan nilai-nilai tradisi yang sangat tinggi sebagai bahan kajian untuk dijadikan telaahan sebagai bahan bukti untuk dijadikan sebuah situs yang bersifat nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benda Cagar Budaya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keris Kujang&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keris Kujang Kudi Jawa&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tombak berjagak&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Gerabah dan keramik&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tombak berjumlah 5 buah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Golok tua berjumlah 5 buah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keris kurang lebih berjumlah 100 buah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Padud Emas&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batu Peluru bulat&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batu Peluru Lonjong&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Buku Kitab Dari kulit kayu 1 buah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Buku Naskah wawacan 1 buah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Buku naskah berjumlah 4 buah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Waditra Bonang 3 buah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Goong kecil 1 buah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keris luk 9&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keris kecil lurus 1 buah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Batu buli-buli&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bokor lampu&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Filosofi, Spiritual dan Kebatinan Keris Jawa</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/05/filosofi-spiritual-dan-kebatinan-keris.html</link><category>Keris</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Thu, 1 May 2014 01:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-7234697676054935516</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada awalnya, di tanah Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur), keris diciptakan hanya untuk memberikan tuah kesaktian dan wibawa kekuasaan.&amp;nbsp; Keris (dan tombak) adalah sebuah benda yang menjadi kebanggaan masyarakat pada umumnya dan merupakan lambang status / derajat pemiliknya. Keris menjadi "keharusan" untuk dimiliki oleh para pejabat, baik raja, keluarga kerajaan atau bangsawan, orang-orang kaya, para senopati sampai prajurit (prajurit biasanya menggunakan jenis tombak), pejabat bupati sampai lurah desa. Di kalangan masyarakat umum, hampir semua orang laki-laki ingin memiliki keris, terutama mereka yang memiliki ilmu beladiri dan orang-orang tua yang memahami spiritualitas kejawen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jaman kerajaan dahulu, budaya perkerisan sedemikian memasyarakat dan empu-empu keris pun tersebar ke banyak daerah. Namun ketika terjadi perseteruan antara kerajaan Majapahit di Jawa Timur dengan kerajaan di Jawa Barat, empu-empu jawa yang berada di Jawa Barat diperintahkan untuk pulang kembali ke jawa (ke Jawa Tengah atau ke Jawa Timur). Empu-empu keris yang memilih untuk tetap tinggal di Jawa Barat masih diizinkan, tetapi dilarang membuat keris untuk orang Jawa Barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena keberadaan empu-empu jawa di Jawa Barat itu berkembanglah bentuk-bentuk senjata atau ageman yang teknik pembuatannya menyerupai teknik pembuatan keris (logam ditempa berlapis-lapis), misalnya kujang (yang berwarna hitam dan logamnya ditempa berlapis-lapis seperti keris) dan keris-keris jimat kecil (yang bisa dimasukkan ke dalam dompet dan logamnya juga ditempa berlapis-lapis seperti keris).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, kujang diakui sebagai asli milik orang Sunda dan menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Jawa Barat. Pada awalnya kujang tidak berbentuk seperti sekarang. Bentuknya lebih mirip "kudi" (di jawa) atau mirip sabit yang ujungnya melingkar keluar. Oleh kreasi para empu, kujang berkembang bentuknya menjadi seperti sekarang, lebih ramping dan menyerupai lambang tunas kelapa pramuka. Selain yang digunakan sebagai alat pertanian, kujang yang diperuntukkan sebagai pusaka dan senjata tarung biasanya dibuat sepasang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kujang adalah sebuah senjata yang unik dari segi bentuk &amp;amp; sejarahnya. Senjata tradisional Jawa Barat ini memang tidak sepopuler keris atau beberapa senjata lain di bumi nusantara ini, tetapi kujang bisa dimasukkan ke dalam kategori jenis keris, yaitu keris khas tanah pasundan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umumnya orang Jawa Barat jaman dulu menggunakan golok dan pisau belati panjang sebagai senjata tarung. Kujang biasanya hanya dimiliki oleh kalangan bangsawan saja. Secara umum kujang dibuat dari bahan besi, tetapi kujang yang berdaya magis tinggi adalah yang dibuat serupa dengan keris jawa, yaitu yang berwarna hitam, yang dibuat dari logam yang ditempa berlapis-lapis seperti keris. Empu jawa yang menjadi pembuatnya biasanya membuat 2 buah (sepasang), yang satu dibuat dari logam yang ditempa berlapis-lapis berwarna hitam seperti keris, yang satunya lagi dibuat dari bahan besi sebagai pasangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah masa kerajaan Majapahit berakhir,&amp;nbsp; para empu jawa di Jawa Barat tersebut mulai membuat keris lagi. Keris-keris yang dibuat di Jawa Barat kebanyakan fungsinya tidak lagi seperti keris jawa yang untuk kesaktian dan wibawa kekuasaan, tetapi untuk kemakmuran / kerejekian / pertanian. Namun keris-keris dan kujang yang dibuat oleh para empu tersebut, selain fungsi utamanya untuk kemakmuran, juga tetap memberikan fungsi untuk keselamatan / perlindungan gaib bagi pemiliknya. Keris-keris buatan para empu di Jawa Barat yang dibuat untuk tujuan kesaktian, kekuasaan dan kewibawaan, biasanya kerisnya berhawa panas dan angker. Mungkin sengaja dibuat demikian karena ada tendensi dari empu pembuatnya untuk menunjukkan bahwa keris adalah senjata yang sakti, yang berbeda dengan senjata tradisional setempat, sehingga juga membuat orang Sunda takut kepada keris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Empu-empu jawa di Jawa Barat tersebar di banyak tempat, terutama berada di sekitar pusat-pusat peradaban, yaitu di sekitar ibu kota kerajaan. Sejak jaman penyebaran agama Islam di Jawa, kebanyakan keris-keris jawa yang dibuat di Jawa Barat dibuat oleh empu-empu jawa yang tinggal di daerah Cirebon dan sekitarnya.&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Kramat Tajug Cilenggang</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/04/kramat-tajug-cilenggang.html</link><category>Tempat Keramat</category><category>Ziarah Spiritual</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Sun, 27 Apr 2014 02:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-4379921742795939951</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) yang juga salah satu dari panglima perang Kerajaan Banten yang dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa mendapatkan tugas untuk membantu rakyat di Tangerang tepatnya di Benteng Selatan dalam melawan penjajahan Belanda sekaligus menyiarkan agama Islam.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) sendiri adalah putra dari Sultan Ageng Tirtayasa yang ke enam. Sultan Ageng Tirtayasa sendiri berputrakan sembilan anak yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Sultan Haji&lt;br /&gt;
2. Pangeran Purbaya&lt;br /&gt;
3. Pangeran Setiri&lt;br /&gt;
4. Pangeran Jogya&lt;br /&gt;
5. Raden Shoheh&lt;br /&gt;
6. Reden Muhammad Atief (Tubagus Atief)&lt;br /&gt;
7. Ratu Ayu&lt;br /&gt;
8. Ratu Fatimah&lt;br /&gt;
9. Ratu Komala (meninggal sewaktu kecil)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyelesaikan tugasnya Di Benteng Selatan kemudian Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) kembali ke Banten dan mendapatkan gelar Tubagus Wetan dari ayahandanya sendiri Sultan Ageng Tyrtayasa. Karena jasa-jasanya kepada masyarakat disini maka masyarakat disini menikahkan Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) dengan Siti Almiyah wanita asli Desa Cilenggang ini dengan mas kimpoinya Masjid Jami Al Ikhlas (dahulu Surau atau Tajug) yang sekarang masih berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Y3Rz2hzSI5Y/UYT_9FUOGPI/AAAAAAAAA-4/n1tNPwgTzAI/s1600/karamat-tajug.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="326" src="http://1.bp.blogspot.com/-Y3Rz2hzSI5Y/UYT_9FUOGPI/AAAAAAAAA-4/n1tNPwgTzAI/s400/karamat-tajug.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Dikarenakan kondisi kesultanan Banten yang sedang mengalami kekacauan pada waktu itu yaitu adanya konflik antara Sultan Ageng Tyrtayasa dengan putranya sendiri Sultan Haji, hal ini menimbulkan kesulitan kepada Raden Muhammad Atief untuk memihak, maka Sultan Ageng Tyrtayasa memerintahkan kepada Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) untuk tinggal di Desa Cilenggang dengan membawa adiknya Ratu Ayu sambil tetap menyebarkan Agama Islam disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wasiatnya sebelum wafatnya kepada anak cucunya seandainya beliau wafat agar dimakamkan di dalam Surau atau Tajug (budaya masyarakat waktu itu dalam menyebut Surau) bersama dengan Ratu Ayu adik beliau yang wafat lebih dahulu. Dewasa ini masyarakat Desa Cilenggang pada khususnya dan masyarakat lain pada umumnya menyebut dengan istilah Kramat Tajug.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asal muasal Gunung Puyuh Kramat Tajug&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu Surau atau Tajug yang didirikan oleh Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) berdiri ditanah yang datar dan dikelilingi oleh persawahan. Ketika Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) dimakamkan di dalam Surau ini sesuai dengan wasiatnya, sebelumnya adik beliau Ratu Ayu juga dimakamkan disini. Maka lama kelamaan tanah yang tadinya datar berubah semakin meninggi yang sekarang dikenal oleh sebagian orang sebagai Gunung Puyuh. Tidak banyak orang mengetahui hal ini selain dari anak cucu keturunan Raden Muhammad Atief atau lebih dikenal sebagai Tugabus (Tb) Atief. Luas Gunung Puyuh ini diperkirakan sekarang mencapai sekitar dua hektar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raden Muhammad Atief (Tubagus Atief) menikah dengan Siti Almiyah memiliki empat putra yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Tubagus (Tb) Romadhon (dimakamkan di Kalipasir – Tangerang)&lt;br /&gt;
2. Tubagus (Tb) Arfah (dimakamkan di Kramat Tajug – Desa Cilenggang)&lt;br /&gt;
3. Tubagus (Tb) Raje (dimakamkan di Desa Kadubumbang - Cimanuk, Pandeglang)&lt;br /&gt;
4. Tubagus (Tb) Arja (dimakamkan di Gunung Sindur – Desa Jampang)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keanehan lainnya adalah luas tanah dari Kramat Tajug yang sejak zaman dahulu juga berfungsi sebagai tempat pemakaman warga atau masyarakat Desa Cilenggang seakan tidak pernah sempit atau selalu cukup untuk dijadikan areal pemakaman baik oleh anak cucu dari Tubagus (Tb) Atief maupun oleh warga Desa Cilenggang sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menjaga kelestarian dari Kramat Tajug ini telah didirikan Yayasan Tubagus Atief yang diketuai oleh H. Tubagus (Tb) Imammudin dan juga Paguyuban Keluarga Muhammad Atief yang diketuai oleh H. Tubagus (Tb) Muin Basyuni dan Sekertaris Umumnya Tubagus (Tb) Moh. Sholeh Sutisna atau lebih dikenal dengan panggilan Sos Rendra&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai saat ini ritual ziarah masih sering dilakukan oleh keluarga dari Kramat Tajug. Setiap minggu ketiga pada setiap bulannya H. Tubagus Imammudin yang juga Ketua dari Yayasan Tubagus Atief memimpin sekitar 300 orang dari keturunan Kramat Tajug untuk ziarah dan tahlil. Dan setiap tanggal empat belas di bulan Maulid diadakan pencucian benda-benda milik dari Raden Muhammad Atief atau Tubagus (Tb) Atief.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai sekarangpun masih banyak dari warga disekitar Desa Cilenggang dan masyarakat umum bahkan dari luar jawapun banyak yang datang untuk melakukan ziarah dan tirakat di Kramat Tajug. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="http://1.bp.blogspot.com/-Y3Rz2hzSI5Y/UYT_9FUOGPI/AAAAAAAAA-4/n1tNPwgTzAI/s72-c/karamat-tajug.jpg" width="72"/></item><item><title>Makam Roro Mendut</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/04/makam-roro-mendut.html</link><category>Tempat Keramat</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Wed, 23 Apr 2014 02:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-842942555184053752</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tempat ini berupa sebuah makam keramat yang terletak di sebelah timur kota Yogyakarta, tepatnya di&amp;nbsp;&amp;nbsp; wilayah Dusun Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman. Saking tuanya makam ini, bahkan sebelum kota Yogyakarta terbentuk, makam ini pun telah lama berdiam di kawasan pedesaan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat ini berupa sebuah makam keramat yang terletak di sebelah timur kota Yogyakarta, tepatnya di wilayah Dusun Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman. Saking tuanya makam ini, bahkan sebelum kota Yogyakarta terbentuk, makam ini pun telah lama berdiam di kawasan pedesaan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Ka0U1CUYrKY/UYUAkjsQozI/AAAAAAAAA-8/KgtFaNPesUI/s1600/makam+roro+mendut.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ka0U1CUYrKY/UYUAkjsQozI/AAAAAAAAA-8/KgtFaNPesUI/s400/makam+roro+mendut.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Makam ini cukup dikenal oleh warga, apalagi mereka yang berasal dari suku Jawa, lantaran di sinilah tempat dimakamkannya jasad Roro Mendut dan Pronocitro, sebuah legenda kisah nyata cerita cinta sejati yang pernah hidup di tanah Jawa, layaknya legenda bangsa Eropa tentang Romeo dan Juliet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makam tersebut memang benar makam Roro Mendut, cerita hidup yang dahulu memang pernah ada di tanah Jawa ini,” terang Rubiyo (55) sesepuh kampung Gandu, tempat dimana makam ini kini berada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diceritakan Rubiyo, cerita cinta dua anak manusia tersebut terjadi sekitar abad ke-17 atau kurang lebih pada tahun 1600-an, ketika jaman Kesultanan Mataram atau embrio dari Keraton Yogyakarta masih berkuasa dibawah pimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja pertamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa itu, Kraton Mataram adalah kerajaan yang menguasai hampir seluruh wilayah tanah Jawa. Guna memperluas wilayahnya, daerah-daerah di pesisir utara Jawa pun dirambah, salah satu wilayah yang ingin dikuasai oleh Mataram saat itu adalah wilayah Kadipaten Pesantenan, yang kini bernama Kabupaten Pati, masuk ke dalam wilayah Propinsi Jawa Tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tugas tersebut, Sultan Agung mengutus salah satu panglima tangguh Kerajaan Mataram berpangkat Tumenggung yang bernama Wiroguno untuk berangkat berperang menguasai Kadipaten Pati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
yang pernah hidup di tanah Jawa, layaknya legenda bangsa Eropa tentang Romeo dan Juliet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makam tersebut memang benar makam Roro Mendut, cerita hidup yang dahulu memang pernah ada di tanah Jawa ini,” terang Rubiyo (55) sesepuh kampung Gandu, tempat dimana makam ini kini berada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diceritakan Rubiyo, cerita cinta dua anak manusia tersebut terjadi sekitar abad ke-17 atau kurang lebih pada tahun 1600-an, ketika jaman Kesultanan Mataram atau embrio dari Keraton Yogyakarta masih berkuasa dibawah pimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja pertamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa itu, Kraton Mataram adalah kerajaan yang menguasai hampir seluruh wilayah tanah Jawa. Guna memperluas wilayahnya, daerah-daerah di pesisir utara Jawa pun dirambah, salah satu wilayah yang ingin dikuasai oleh Mataram saat itu adalah wilayah Kadipaten Pesantenan, yang kini bernama Kabupaten Pati, masuk ke dalam wilayah Propinsi Jawa Tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tugas tersebut, Sultan Agung mengutus salah satu panglima tangguh Kerajaan Mataram berpangkat Tumenggung yang bernama Wiroguno untuk berangkat berperang menguasai Kadipaten Pati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadipaten Pesantenan alias Kadipaten Pati ini bukanlah wilayah yang memiliki kekuatan perang yang tangguh, tak butuh waktu lama bagi Tumenggung Wiroguno untuk menguasainya. Tak dalam hitungan minggu, Pati berhasil dikuasai Tumenggung Wiroguno.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai tanda takluknya Kadipaten Pati terhadap Keraton Mataram, Adipati Pati menyerahkan upeti harta benda kepada keraton Mataram, berikut juga menyerahkan puteri angkatnya yang cantik jelita, bernama Roro Mendut. Roro Mendut adalah seorang gadis kelahiran Desa Trembagi, Pati, yang sudah sejak kecil diasuh oleh Adipati Pati ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diboyonglah Roro Mendut ke Mataram dan harta benda jarahan yang lainnya. Di Mataram, Roro Mendut tinggal di lingkungan keraton. Rencananya, gadis cantik ini akan dipersunting sendiri oleh Wiroguno jika usia Roro Mendut telah matang nantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun hasrat Sang Tumenggung bertepuk sebelah tangan, Roro Mendut enggan dipersunting oleh Wiroguno, lantaran Roro Mendut sebenarnya telah memiliki kekasih bernama Pronocitro, pemuda tampan dari daerah asalnya sana, Pati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diam-diam, Pronocitro pun menyusul Roro Mendut, kekasihnya. Berangkatlah pemuda ini dari Pati ke tanah Mataram. Di Yogyakarta alias Mataram, Pronocitro ini menyamar menjadi pekatik atau yang dalam bahasa Jawa berarti pegawai perawat kuda-kuda prajurit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar kalau Pronocitro mengikutinya ke Mataram, akhirnya Roro Mendut pun meminta kepada Wriguno untuk diperbolehkan hidup di luar lingkungan keraton yang selama itu membelenggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dipilihlah daerah Sendangtirto, Berbah, yang berjarak sekitar 25 km sebelah timur Kraton Mataram, agar dirinya tetap bisa selalu bertemu dengan kekasihnya, Pronocitro, tanpa diketahui pihak istana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama di pengasingannya, Roro Mendut tidak pernah di rawat oleh Wiroguno. Untuk menyambung hidupnya, gadis cantik ini hidup dengan cara berjualan rokok lintingan, yaitu rokok yang dibuat secara tradisional dari gulungan kertas yang diisi dengan tembakau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kala itu, rokok yang dipasarkan Roro Mendut sangat laris manis di kalangan prajurit Mataram, lantaran kertas rokok-rokok tersebut dalam proses akhir penggulungannya, selalu direkatkan dengan cara dijilat terlebih dahulu menggunakan lidah Roro Mendut yang sangat cantik dan menggoda tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, kepada setiap pembelinya, Roro Mendut yang pertama kali menghidupkan rokok tersebut. Artinya, Roro Mendut lah yang menyulutkan api, sekaligus yang pertama menghisapkan rokok tersebut untuk sang pembeli. Rokok bekas sedotan gadis muda ini konon akan lebih manis dan nikmat rasanya ketika dihisap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup lama Roro Mendut menjalin hubungan cinta sembunyi-sembunyi dengan Pronocitro melalui cara penyemaran yang demikian. Namun akhirnya, perjalanan cinta kedua muda-mudi inipun terendus juga oleh Wiroguno. Pada suatu hari, Tumenggung Wiroguno berhasil menangkap basah sejoli ini sedang berduaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wiroguno naik pitam melihat kejadian tersebut. Langsung, dicabutlah keris pusaka miliknya dan menghujamkan keris tersebut ke tubuh Pronocitro. Pasangan yang sedang bermadu kasih ini pun terkejut. Melihat Pronocitro yang diserang, segeralah Roro Mendut membalikkan badannya seolah menutupi dan menjadi perisai tubuh kekasihnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keris Wiroguno akhirnya menusuk punggung belakang Roro Mendut. Namun sayang, keris itupun juga akhirnya tembus sampai menusuk ke dada Pronocitro, tewaslah sepasang kekasih ini secara bersamaan. Roro Mendut tewas ketika memeluk kekasihnya, Pronocitro.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roro Mendut dan Pronocitro dikuburkan dalam satu kuburan. Jadi, di kuburan tersebut dimakamkan dua jasad sekaligus,” lanjut Rubiyo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, sepasang kekasih ini pun dimakamkan di tempat dimana kejadian tragis itu terjadi. Keduanya pun dimakamkan dalam satu liang lahat, masih dalam keadaan saling berpelukan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pedagang Yang Ingin Sukses&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dulu, makam Roro Mendut dan Pronocitro ini ada juru kuncinya. Namun sekarang sudah tidak ada lagi, karena juru kuncinya telah meninggal. Jadi makam tersebut sudah tidak ada yang merawat dan menjaganya,” kata ayah 3 orang anak ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makam Roro Mendut dan Pronocitro ini kini terketak di sebuah kebun warga yang tidak terawat. Dibuatlah sebuah rumah kecil, yang dalam bahasa Jawa disebut cungkup. Di bangunan cungkup berukuran sekitar 4 x 5 meter tersebut di dalamnya berisi pusara Roro Mendut dan Pronocitro.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nisan tempat dimakamkan jasad kedua insan ini tidak terbuat dari batu seperti nisan pada umumnya, malainkan hanya sederhana saja terbuat dari kayu setinggi kurang lebih setengah meter, di sekitar nisan tersebut ditutupi oleh kain kafan berwarna putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diterangkan oleh Rubiyo, makam Roro Mendut dan Pronocitro ini banyak dikunjungi warga yang ingin mengalab berkah di hadapan pusara keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau pada hari biasa kuburan tua ini sering dikunjungi orang, namun pada hari tertentu, yaitu pada malam Jumat Kliwon atau pada malam Selasa Kliwon makam ini lebih ramai dikunjungi orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makam ini akan ramai didatangi orang pada malam Jumat Kliwon dan malam Selasa Kliwon, kadua hari inilah yang banyak dipilih orang untuk melakukan ritual dan diyakini akan membuat terkabul semua permintaan,” lanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sekian banyak permintaan, kebanyakan dari para pengalap berkah yang datang ke makam ini adalah mereka yang berprofesi sebagai padagang yang ingin bisnis serta dagangannya diberikan kelancaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini diyakini, karana semasa hidup, Roro Mendut adalah merupakan seorang pedagang rokok yang sukses. Jadi, tuah makam Roro Mendut ini dipercaya sangat membantu mendatangkan berkah pula bagi mereka yang berprofesi sebagai pedagang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak yang telah sukses dengan melakukan ritual di makam ini. Yang datang tak hanya warga dari wilayah sini saja, bahkan orang-orang dari daerah yang jauh pada datang ke makam Roro Mendut ini, ingin supaya permohonannya terkabul,” terang kekek seorang cucu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngeseks Di Kuburan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada serangkaian prosesi yang kudu dilakoni para peritual yang ingin mengalab berkah di makam Roro Mendut dan Pronocitro ini agar permohonan nantinya bisa terkabul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar proses ritual menjadi sempurna, siapapun orangnya yang melakukan kegiatan spiritual di makam tersebut disarankan untuk melakukan serangkaian ritual sebanyak 3 kali. Bisa 3 hari berturut-turut atau bisa pula dihari yang berbeda, yang penting jumlah ritualnya genap sebanyak 3 kali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peritual harus membawa sesajen berupa kembang setaman dan dupa atau pula kemenyan. Selain itu, peritual juga harus menyediakan pula bedak dan rokok untuk sesajen, karena perlengkapan inilah yang sering dibawa Roro Mendut ketika berjualan rokok dahulu semasa hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, barulah dupa dan kemenyan tersebut dibakar. Sambil meletakan sesajen berikut bedak dan rokok tersebut di dekat pusara nisan kayu itu, tak lupa kemudian peritual memanjatkan permohonan yang diharapkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah doa dan permohonan dipanjatkan di hadapan pusara Roro Mendut dan Pronocitro, para pengalab berkah ini harus melakukan prosesi ritual mengelilingi kompleks luar makam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjalanan mengelilingi makam ini cukup dilakukan sekali putaran saja. Gerak putaran mengelilingi makam ini harus berlawanan arah dengan putaran jarum jam alias bergerak dengan arah putaran ke arah kiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada hal mistis berbau erotis yang harus dilakukan setiap peritual sebagai tahap terakhir menyempurnakan serangkaian ritual permohonan di makam ini. Setelah mengelilingi makam, para pengalab berkah diwajibkan melakukan persetubuhan alias melakukan hubungan seksual antara pria dan wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang, kegiatan berhubungan badan di makam tersebut telah berlangsung sejak lama, dari dahulu hingga sekarang. Yang datang memohon ke makam tersebut pasti datang secara berpasang-pasangan. Saya juga pernah melihatnya sendiri,” tambahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persetubuhan diakhir ritual ini dimaknakan sebagai simbol penyatuan jiwa dan cinta antara dua insan manusia, seperti halnya cinta Roro Mendut dan Pronocitro yang dibawa sampai mereka berdua mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam melakukan hubungan badan di makam Roro Mendut tersebut, bisa dilakukan di luar kompleks, atau di dalam cungkup itu. Yang penting harus melakukan hubungan badan seperti suami istri,” beber Rubiyo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun diyakini, agar permohonannya menjadi makbul, persetubuhan yang dilakukan tersebut haruslah hubungan seks antar muhrim. Artinya, hubungan seksual tersebut haruslah hubungan badan antara suami atau istri yang sah, bukan dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peritual yang permohonannya terkabulkan, setelah melakukan serangkaian ritual di makam Roro Mendut dan Pronocitro ini sebanyak 3 kali, dalam mimpi tidurnya akan didatangi oleh sesosok perempuan cantik, dialah Roro Mendut. Dan bisa dirasakan, setelah itu akan terjadi kelancaran dan laris dalam usaha dagang yang digelutinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="http://1.bp.blogspot.com/-Ka0U1CUYrKY/UYUAkjsQozI/AAAAAAAAA-8/KgtFaNPesUI/s72-c/makam+roro+mendut.jpg" width="72"/></item><item><title>Syeh Siti Jenar (Lemah Abang) dalam Mengenal Tuhan</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/04/syeh-siti-jenar-lemah-abang-dalam.html</link><category>Cahaya Sufi</category><category>Kejawen</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Mon, 21 Apr 2014 02:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-8551525422389414777</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ajaran Siti Jenar memahami Tuhan sebagai ruh yang tertinggi, ruh maulana yang utama, yang mulia yang sakti, yang suci tanpa kekurangan. Itulah Hyang Widhi, ruh maulana yang tinggi dan suci menjelma menjadi diri manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hyang Widhi itu di mana-mana, tidak di langit, tidak di bumi, tidak di utara atau selatan. Manusia tidak akan menemukan biarpun keliling dunia. Ruh maulana ada dalam diri manusia karena ruh manusia sebagai penjelmaan ruh maulana, sebagaimana dirinya yang sama-sama menggunakan hidup ini dengan indera, jasad yang akan kembali pada asalnya, busuk, kotor, hancur, tanah. Jika manusia itu mati ruhnya kembali bersatu ke asalnya, yaitu ruh maulana yang bebas dari segala penderitaan. Lebih lanjut Siti Jenar mengungkapkan sifat-sifat hakikat ruh manusia adalah ruh diri manusia yang tidak berubah, tidak berawal, tidak berakhir, tidak bermula, ruh tidak lupa dan tidak tidur, yang tidak terikat dengan rangsangan indera yang meliputi jasad manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-HnNs-svVaDE/UYUB08078UI/AAAAAAAAA_I/Wz4z74YRaWA/s1600/syeikh+siti+jenar.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="288" src="http://4.bp.blogspot.com/-HnNs-svVaDE/UYUB08078UI/AAAAAAAAA_I/Wz4z74YRaWA/s400/syeikh+siti+jenar.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syeh Siti Jenar mengaku bahwa, “aku adalah Allah, Allah adalah aku”. Lihatlah, Allah ada dalam diriku, aku ada dalam diri Allah.&amp;nbsp; Pengakuan Siti Jenar bukan bermaksud mengaku-aku dirinya sebagai Tuhan Allah Sang Pencipta ajali abadi, melainkan kesadarannya tetap teguh sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan. Siti Jenar merasa bahwa dirinya bersatu dengan “ruh” Tuhan. Memang ada persamaan antara ruh manusia dengan “ruh” Tuhan atau Zat. Keduanya bersatu di dalam diri manusia. Persatuan antara ruh Tuhan dengan ruh manusia terbatas pada persatuan manusia denganNya. Persatuannya merupakan persatuan Zat sifat, ruh bersatu dengan Zat sifat Tuhan dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama. Inilah prinsip kemanunggalan dalam ajaran tentang manunggaling kawula Gusti atau jumbuhing kawula Gusti. Bersatunya dua menjadi satu, atau dwi tunggal. Diumpamakan wiji wonten salebeting wit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Syeh Lemah Abang Tentang Manusia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam memandang hakikat manusia Siti Jenar membedakan antara jiwa dan akal. Jiwa merupakan suara hati nurani manusia yang merupakan ungkapan dari zat Tuhan, maka hati nurani harus ditaati dan dituruti perintahnya. Jiwa merupakan kehendak Tuhan, juga merupakan penjelmaan dari Hyang Widdhi (Tuhan) di dalam jiwa, sehingga raga dianggap sebagai wajah Hyang Widdhi. Jiwa yang berasal dari Tuhan itu mempunyai sifat zat Tuhan yakni kekal, sesudah manusia raganya mati maka lepaslah jiwa dari belenggu raganya. Demikian pula akal merupakan kehendak, tetapi angan-angan dan ingatan yang kebenarannya tidak sepenuhnya dapat dipercaya, karena selalu berubah-ubah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
erbedaan karakter jiwa dan akal yang bertolak belakang dalam pandangan Siti Jenar, disebabkan oleh adanya garis demarkasi yang menjadi pemisah antara sifat hakikat jiwa dan akal-budi. Jiwa terletak di luar nafsu, sementara akal-budi letaknya berada di dalam nafsu. Mengenai perbedaan jiwa dan akal, dalam wirayat Saloka Jati diungkapkan bahwa akal-budi umpama kodhok kinemulan ing leng atau wit jroning wiji (pohon ada di dalam biji). Sedangkan jiwa umpama kodhok angemuli ing leng atau wiji jroning wit (biji ada di dalam pohon).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagi Syeh Siti Jenar, proses timbulnya pengetahuan datang secara bersamaan dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek. Maka pengetahuan mengenai kebenaran Tuhan akan diperoleh seseorang bersama dengan penyadaran diri orang itu. Jika ingin mengetahui Tuhanmu, ketahuilah (terlebih dahulu) dirimu sendiri. Syeh Lemah bang percaya bahwa kebenaran yang diperoleh dari hal-hal di atas ilmu pengetahuan, mengenai wahyu dan Tuhan bersifat intuitif. Kemampuan intuitif ini ada bersamaan dengan munculnya kesadaran dalam diri seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Syeh Lemah Bang Tentang Kehidupan Dunia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pandangan Syeh Jenar tentang dunia adalah bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya adalah mati. Dikatakan demikian karena hidup di dunia ini ada surga dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Manusia yang mendapatkan surga mereka akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, kesenangan. Sebaliknya rasa bingung, kalut, muak, risih, menderita itu termasuk neraka.&amp;nbsp; Jika manusia hidup mulia, sehat, cukup pangan, sandang, papan maka ia dalam surga. Tetapi kesenangan atau surga di dunia ini bersifat sementara atau sekejap saja, karena betapapun juga manusia dan sarana kehidupannya pasti akan menemui kehancuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Syeh Jenar mengumpamakan bahwa manusia hidup ini sesungguhnya mayat yang gentayangan untuk mencari pangan pakaian dan papan serta mengejar kekayaan yang dapat menyenangkan jasmani. Manusia bergembira atas apa yang ia raih, yang memuaskan dan menyenangkan jiwanya, padahal ia tidak sadar bahwa semua kesenangan itu akan binasa. Namun begitu manusia suka sombong dan bangga atas kepemilikan kekayaan, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya adalah bangkai. Manusia justru merasa dirinya mulia dan bahagia, karena manusia tidak menyadari bahwa harta bendanya merupakan penggoda manusia yang menyebabkan keterikatannya pada dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika manusia tidak menyadari itu semua, hidup ini sesungguhnya derita. Pandangan seperti itu menjadikan&amp;nbsp; sikap dan pandangan Siti Jenar menjadi ekstrim dalam memandang kehidupan dunia. Hidup di dunia ini adalah mati, tempat baik dan buruk, sakit dan sehat, mujur dan celaka, bahagia dan sempurna, surga dan neraka, semua bercampur aduk menjadi satu. Dengan adanya peraturan maka manusia menjadi terbebani sejak lahir hingga mati. Maka Syeh Siti Jenar sangat menekankan pada upaya manusia untuk hidup yang abadi agar tahan mengalami hidup di dunia ini. Siti Jenar kemudian mengajarkan bagaimana mencari kamoksan (mukswa/mosca) yakni mati sempurna beserta raganya lenyap masuk ke dalam ruh (warongko manjing curigo). Hidup ini mati, karena mati itu hidup yang sesungguhnya karena manusia bebas dari segala beban dan derita. Karena hidup sesudah kematian adalah hidup yang sejati, dan abadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syeh Siti Jenar Mengkritik Ulama dan Para Santrinya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alasan yang mendasari mengapa Syeh Siti Jenar mengkritik habis-habisan para ulama dan santrinya karena dalam kacamata Syeh Siti, mereka hanya berkutat pada amalan syariat (sembah raga). Padahal masih banyak tugas manusia yang lebih utama harus dilakukan untuk mencapai tataran kemuliaan yang sejati. Dogma-dogma, dan ketakutan neraka serta bujuk rayu surga justru membelenggu raga, akal budi, dan jiwa manusia. Maka manusia menjadi terkungkung rutinitas lalu lupa akan tugas-tugas beratnya. Manusia demikian menjadi gagal dalam upaya menemukan Tuhannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kritik Syeh Lemah Bang Atas Konsep Surga-Neraka&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Konsep surga-neraka dalam ajaran Siti Jenar berbeda sekali dengan apa yang diajarkan oleh para ulama. Menurut Syeh Siti Jenar, surga dan neraka adalah dalam hidup ini. Sementara para ulama mengajarkan surga dan neraka merupakan balasan yang diberikan kepada manusia atas amalnya yang bakal diterima kelak sesudah kematian (akherat).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Syeh Siti, orang mukmin telah keliru karena mengerjakan shalat jungkir balik, mengharap-harap surga, sedang surga sesudah kematian itu tidak ada, shalat itu tidak perlu dan orang tidak perlu mengajak orang lain untuk shalat. Shalat minta apa, minta rizki ? Tuhan toh tidak memberi lantaran shalat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Santri yang menjual ilmu dengan siapa pun mau menyembah Tuhan di masjid, di dalamnya terdapat Tuhan yang bohong. Para ulama telah menyesatkan manusia dengan menipu mereka jungkir balik lima kali, pagi, siang, sore, malam hanya untuk memohon-mohon imbalan surga kelak. Sehingga orang banyak tergiur oleh omongan palsunya, dan orang menjadi gelisah tak enak ketika terlambat mengerjakan shalat. Orang seperti itu sungguh bodoh dan tak tau diri, jikalau pun seseorang menyadari bahwa shalat itu dilakukan karena merupakan kebutuhan diri manusia sendiri untuk menyembah Tuhannya, manusia ternyata tidak menyadari keserakahannya; dengan minta-minta imbalan/hadiah surga. Orang-orang telah terbius oleh para ulama, sehingga mereka suka berzikir, dan disibukkan oleh kegiatan menghitung-hitung pahalanya tiap hari. Sebaliknya, lupa bahwa sejatinya kebaikan itu harus diimplementasikan kepada sesama (habluminannas).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lebih lanjut Syekh Siti Jenar menuduh para ulama dan murid mereka sebagai orang dungu dan dangkal ilmu, karena menafsirkan surga sebagai balasan yang nanti diterima di akhirat. Penafsiran demikian adalah penafsiran yang sangat sempit. Hidup para ulama adalah hidup asal hidup, tidak mengerti hakekat, tetapi jika disuruh mati mereka menolak mentah-mentah. Surga dan neraka letaknya pada manusia masing-masing. Orang bergelimang harta, hidupnya merasa selalu terancam oleh para pesaing bisnisnya, tidur tak nyeyak, makan tak enak, jalan pun gelisah, itulah neraka. Sebaliknya, seorang petani di lereng gunung terpencil, hasil bercocok tanam cukup untuk makan sekeluarga, menempati rumah kecil yang tenang, tiap sore dapat duduk bersantai di halaman rumah sambil memandang hamparan sawah hijau menghampar, hatinya sesejuk udaranya, tenang jiwanya, itulah surga. Kehidupan ini telah memberi manusia mana surga mana neraka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syeh Siti Jenar memandang alam semesta sebagai makrokosmos dan mikrokosmos (manusia) sekurangnya kedua hal ini merupakan barang baru ciptaan Tuhan yang sama-sama akan mengalami kerusakan, tidak kekal dan tidak abadi. Manusia terdiri&amp;nbsp; atas jiwa dan raga yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan zat Tuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera, sebagai organ tubuh seperti daging, otot, darah, dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat, setelah manusia terlepas dari kematian di dunia ini, akan kembali berubah asalnya yaitu unsur bumi (tanah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syeh Lemah Bang, mengatakan bahwa;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Bukan kehendak angan-angan, bukan ingatan, pikiran atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan pula kekosongan atau kehampaan. Penampilanku sebagai mayat baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, nafasku terhembus di segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, manusialah yang memberi nama”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pandangan Syeh Lemah Bang; tentang terlepasnya manusia dari belenggu alam kematian yakni hidup di alam dunia ini, berawal dari konsepnya tentang&amp;nbsp; ketuhanan, manusia dan alam. Manusia adalah jelmaan zat Tuhan. Hubungan jiwa dari Tuhan dan raga, berakhir sesudah&amp;nbsp; manusia menemui ajal atau kematian duniawi. Sesudah itu manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian. Pada saat itu semua bentuk badan wadag (jasad) atau kebutuhan jasmanisah ditinggal karena jasad merupakan barang baru (hawadist) yang dikenai kerusakan dan semacam barang pinjaman yang harus dikembalikan kepada yang punya yaitu Tuhan sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terlepas dari ajaran Siti Jenar yang sangat ekstrim memandang dunia sebagai bentuk penderitaan total yang harus segera ditinggalkan rupanya terinspirasi oleh ajaran seorang sufi dari Bagdad, Hussein Ibnu Al Hallaj, yang menolak segala kehidupan dunia. Hal ini berbeda dengan konsep Islam secara umum yang memadang hidup di dunia sebagai khalifah Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Kejawen Tentang Kehidupan di Dunia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Kejawen tentang makna hidup manusia&amp;nbsp; dunia ditampilkan secara rinci, realistis, logis dan mengena di dalam hati nurani; bahwa hidup ini diumpamakan hanya sekedar mampir ngombe, mampir minum, hidup dalam waktu sekejab, dibanding kelak hidup di alam keabadian setelah raga ini mati. Tetapi tugas manusia sungguh berat, karena jasad adalah pinjaman Tuhan. Tuhan meminjamkan raga kepada ruh, tetapi ruh harus mempertanggungjawabkan “barang” pinjamannya itu. Pada awalnya Tuhan Yang Mahasuci meminjamkan jasad kepada ruh dalam keadaan suci, apabila waktu “kontrak” peminjaman sudah habis, maka ruh diminta tanggungjawabnya, ruh harus mengembalikan jasad pinjamannya dalam keadaan yang suci seperti semula. Ruh dengan jasadnya diijinkan Tuhan “turun” ke bumi, tetapi dibebani tugas yakni menjaga barang pinjaman tersebut agar dalam kondisi baik dan suci setelah kembali kepada pemiliknya, yakni Gusti Ingkang Akaryo Jagad. Ruh dan jasad menyatu dalam wujud yang dinamakan manusia. Tempat untuk mengekspresikan dan mengartikulasikan diri manusia adalah tempat pinjaman Tuhan juga yang dinamakan bumi berikut segala macam isinya; atau mercapada. Karena bumi bersifat “pinjaman” Tuhan, maka bumi juga bersifat tidak kekal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa Maha Pemurahnya Tuhan itu, bersedia meminjamkan jasad, berikut tempat tinggal dan segala isinya menjadi fasilitas manusia boleh digunakan secara gratis. Tuhan hanya menuntut tanggungjawab manusia saja, agar supaya menjaga semua barang pinjaman Tuhan tersebut, serta manusia diperbolehkan memanfaatkan semua fasilitas yang Tuhan sediakan dengan cara tidak merusak barang pinjaman dan semua fasilitasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah tanggungjawab manusia yang sesungguhnya hidup di dunia ini; yakni menjaga barang “titipan” atau “pinjaman”, serta boleh memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan Tuhan untuk manusia dengan tanpa merusak, dan tentu saja menjaganya agar tetap utuh, tidak rusak, dan kembali seperti semula dalam keadaan suci. Itulah “perjanjian” gaib antara Tuhan dengan manusia makhlukNya. Untuk menjaga klausul perjanjian tetap dapat terlaksana, maka Tuhan membuat rumus atau “aturan-main“ yang harus dilaksanakan oleh pihak peminjam yakni manusia. Rumus Tuhan ini yang disebut pula sebagai kodrat Tuhan; berbentuk hukum sebab-akibat. Pengingkaran atas isi atau “klausul kontrak” tersebut berupa akibat sebagai konsekuensi logisnya. Misalnya; keburukan akan berbuah keburukan, kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Barang siapa menanam, maka mengetam. Perbuatan suka memudahkan akan berbuah sering dimudahkan. Suka mempersulit akan berbuah sering dipersulit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsep Kejawen Tentang Pahala dan Dosa&amp;nbsp; serta Pandangan Kejawen tentang Kebaikan-Keburukan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ajaran Kejawen tidak pernah menganjurkan seseorang menghitung-hitung pahala dalam setiap beribadat. Bagi Kejawen, motifasi beribadat atau melakukan perbuatan baik kepada sesama bukan karena tergiur surga. Demikian pula dalam melaksanakan sembahyang manembah kepada Tuhan Yang Maha Suci bukan karena takut neraka dan tergiur iming-iming surga. Kejawen memiliki tingkat kesadaran bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan seseorang kepada sesama bukan atas alasan ketakutan dan intimidasi dosa-neraka, melainkan kesadaran kosmik bahwa setiap perbuatan baik kepada sesama merupakan sikap adil dan baik pada diri sendiri. Kebaikan kita pada sesama adalah KEBUTUHAN diri kita sendiri. Kebaikan akan berbuah kebaikan. Karena setiap kebaikan yang kita lakukan pada sesama akan kembali untuk diri kita sendiri, bahkan satu kebaikan akan kembali pada diri kita secara berlipat. Demikian juga sebaliknya, setiap kejahatan akan berbuah kejahatan pula. Kita suka mempersulit orang lain, maka dalam urusan-urusan kita akan sering menemukan kesulitan. Kita gemar menolong dan membantu sesama, maka hidup kita akan selalu mendapatkan kemudahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut pandangan Kejawen, kebiasaan mengharap dan menghitung pahala terhadap setiap perbuatan baik hanya akan membuat keikhlasan seseorang menjadi tidak sempurna. Kebiasaan itu juga mencerminkan sikap yang serakah, lancang, picik, dan tidak tahu diri. Karena menyembah Tuhan adalah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Tuhan. Mengapa seseorang masih juga mengharap-harap pahala dalam memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri ? Dapat dibayangkan, jika kita menjadi mahasiswa maka butuh bimbingan dalam menyusun skripsi dari dosen pembimbing, maka betapa lancang, serakah, dan tak tahu diri jika kita masih berharap-harap supaya dosen pembimbing tersebut bersedia memberikan uang kepada kita sebagai upah. Dapat diumpamakan pula misalnya; kita mengharap-harapkan upah dari seseorang yang bersedia menolong kita..?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ajaran Kejawen memandang bahwa seseorang yang menyembah Tuhan dengan tanpa pengharapan akan mendapat pahala atau surga dan bukan atas alasan takut dosa atau neraka, adalah sebuah bentuk KEMULIAAN HIDUP YANG SEJATI. Sebaliknya, menyembah Tuhan, berangkat dari kesadaran bahwa manusia hidup di dunia ini selalu berhutang kenikmatan dan anugrah dari Tuhan. Dalam satu detik seseorang akan kesulitan mengucapkan satu kalimat sukur, padahal dalam sedetik itu manusia adanya telah berhutang puluhan atau bahkan ratusan kenikmatan dan anugerah Tuhan. Maka seseorang menjadi tidak etis, lancang dan tak tahu diri jika dalam bersembahyang pun manusia masih menjadikannya sebagai sarana memohon sesuatu kepada Tuhan. Tuhan tempat meminta, tetapi manusia lah yang tak tahu diri tiada habisnya meminta-minta. Dalam sikap demikian ketenangan dan kebahagiaan hidup yang sejati akan sangat sulit didapatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembahyang tidak lain sebagai cara mengungkapkan rasa berterimakasihnya kepada Tuhan. Namun demikian ajaran Kejawen memandang bahwa rasa sukur kepada Tuhan melalui sembahyang atau ucapan saja tidak lah cukup, tetapi lebih utama harus diartikulasikan dan diimplementasikan ke dalam bentuk tindakan atau perbuatan baik kepada sesama dalam kehidupan sehari-harinya. Jika Tuhan memberikan kesehatan kepada seseorang, maka sebagai wujud rasa sukurnya orang itu harus membantu dan menolong orang lain yang sedang sakit atau menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu lah pandangan yang menjadi dasar Kejawen bahwa menyembah Tuhan, dan berbuat baik pada sesama, bukanlah KEWAJIBAN (perintah) yang datang dari Tuhan, melainkan diri kita sendiri yang mewajibkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="http://4.bp.blogspot.com/-HnNs-svVaDE/UYUB08078UI/AAAAAAAAA_I/Wz4z74YRaWA/s72-c/syeikh+siti+jenar.jpg" width="72"/></item><item><title>Ziarah ke Makam Embah Kuwu Sangkan</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/04/ziarah-ke-makam-embah-kuwu-sangkan.html</link><category>Ziarah Spiritual</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Sat, 19 Apr 2014 02:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-750957115827786597</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ziarah atau berkunjung ke makam 
pada dasarnya merupakan salah satu rangkaian kegiatan religius manusia. 
Rachmat Subagio (1980) mengartikan bahwa ziarah mengandaikan kondisi 
manusia sebagai pengembara di dunia yang hanya mampir ngombe. Ziarah 
menuju ke tempat suci, pepundhan, pura, watu kelumpang, makam leluhur, 
nenek moyang atau cikal bakal desa. Orang yang berziarah ke makam pada 
umumnya dihubung-kan dengan tokoh orang keramat yang dimakamkan di 
tempat itu. Dalam kepercayaan orang Jawa, yang Koentjaraningrat 
menyebutkan dengan istilah agami Jawa (1984:325) yang termasuk orang 
keramat antara lain guru-guru agama, tokoh-tokoh historis maupun 
setengah historis, tokoh-tokoh pahlawan dari cerita mitologi yang 
dikenal melalui pertunjukan wayang dan lain-lain, juga tokoh-tokoh yang 
menjadi terkenal karena suatu kejadian tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi 
orang yang memiliki kesenangan melakukan ziarah ke tempat-tempat yang 
mereka anggap sebagai makam ulama, wali maupun makam tokoh sejarah yang 
telah memiliki pengaruh kuat di suatu daerah seperti halnya makam 
keramat Embah Kuwu Sangkan di Kampung Talun, Desa Cirebon Girang, 
bukanlah tempat yang asing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para peziarah seperti ini 
umumnya telah mengetahui kekeramatan tokoh yang dimakam-kan di tempat 
ini. Bahkan peziarah seperti ini melakukan ziarah secara berantai dari 
suatu makam keramat ke makam keramat yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Riwayat
 Embah Kuwu Sangkan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Embah Kuwu Sangkan adalah anak pertama Prabu 
Siliwangi dari hasil perkawinan dengan Nyai Mas Subanglarang, yaitu 
putri Mangkubumi Mertasinga Cirebon. Embah Kuwu Sangkan dilahirkan pada 
tahun 1423 Masehi di keraton Pajajaran. Semasa remajanya ia bersama 
adiknya bernama Nyai Mas Ratu Rara Santang pergi meninggalkan keraton 
Pajajaran, karena mereka memiliki keyakinan yang berbeda dengan ayahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam
 pengembaraannya, mereka mencari seorang guru yang sesuai dengan 
petunjuk dalam mimpinya. Mereka bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad 
Saw yang memerintahkan untuk mencari ajaran syariat Islam yang dapat 
menyelamatkan manusia di dunia maupun di akhirat. Akhir dari 
pengembaraannya, dan berdasarkan beberapa petunjuk, akhirnya mereka 
bertemu dengan Syech Nurul Jati di Gunung Jati yang mampu mengajarkan 
syariat Islam di antaranya mengajarkan tentang Dua Kalimah Syahadat, 
Sholawat, membaca Al-Qur’an, Dzikir, Sholat, Zakat, Puasa , Kitab Piqih,
 Ibadah Haji dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dianggap 
cukup menimba ilmu tentang Syariat Islam, akhirnya ia diberi kesempatan 
oleh Syech Nurul Jati untuk menyebar-kan ajaran Islam dan membuka 
pemukiman baru baik di wilayah Cirebon maupun daerah sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Motivasi
 Peziarah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Peziarah datang berkunjung dengan rombongan besar maupun
 perorangan tentu didorong oleh berbagai motivasi atau niat yang 
berlainan antara satu dengan lainnya, yang masing-masing mempunyai 
motivasi yang belum tentu sama, tergantung apa yang akan “diminta dan 
kepentingan”. Peziarah yang datang berkunjung ini kebanyakan mendengar 
dan diberitahu oleh teman, tetangga atau kerabatnya tentang 
“kekeramatan, karisma” Embah Kuwu Sangkan yang dapat memberi harapan 
untuk hidup yang lebih baik dan lain sebagainya Motivasi mereka untuk 
berziarah itu ada karena kemauan sendiri, tetapi ada juga yang diajak 
atau dianjurkan teman, tetangga atau kerabatnya yang merasa berhasil. 
Oleh karena itu, cara mereka berkunjung itu ada yang seorang diri, 
mengajak teman atau saudara, ada pula secara berombongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peziarah
 yang mengunjungi tempat keramat, termasuk mereka yang datang ke makam 
keramat Embah Kuwu Sangkan pada umumnya dilandasi oleh niat, tujuan yang
 didorong oleh kemauan batin yang mantap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan 
kenyataan di-lapangan terdapat berbagai macam motivasi para peziarah 
datang ke makam keramat tersebut. Salah satu di antara motivasi peziarah
 datang berkunjung ke makam Embah Kuwu Sangkan adalah untuk menenangkan 
bathin. Motivasi ini didukung oleh persepsi yang menyebutkan bahwa makam
 Embah Kuwu Sangkan itu adalah tempat yang sakral. Para peziarah merasa 
menemukan tempat yang cocok dengan maksud atau niat mereka datang ke 
tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapak Ukri (bukan nama sebenarnya) yang 
berusia 53 tahun, adalah peziarah dari Indramayu menjelaskan, “saya ke 
ke tempat ini bermaksud menenangkan bathin, karena banyak masalah yang 
mengganggu pikiran saya”. Ia yang berprofesi sebagai pedagang onderdil 
motor bekas. Dalam kehidupan keluarga ada permasalah yang melilit, di 
antaranya selain usahanya bangkrut juga ia perlu biaya untuk anak. 
Selama di makam keramat ini ia sudah melakukan puasa selama 37 hari. 
Menurutnya, ia berpuasa atas kemauan sendiri. Selain berpuasa. Ia 
melakukan sholat malam atau Sholat Tasbih, kemudian dzikir. Setelah 
beberapa kali melakukan kegiatan tersebut, Bapak Ukri sedikit demi 
sedikit pengalami perubahan dalam kehidupannya, bahkan akhirnya ia 
mendapat pekerjaan diperusahaan swasta. Selanjutnya, menurut bapak Ukri ,
 ia selalu melaksanakan wirid, di antaranya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wirid 
sebelum sholat fardu (qobla) dan sesudah sholat fardlu (ba’da) yang lima
 waktu, yaitu 2 s/d 4 rakaat sebelum dan sesudah sholat Maghrib, 2 s/d 4
 rakaat sebelum dan sesudah sholat Isya, 2 s/d 4 rakaat sebelum dan 
sesudah sholat Subuh, 2 s/d 4 rakaat sebelum dan sesudah sholat dhuhur, 2
 s/d 4 rakaat sebelum sholat Ashar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesudah matahari 
naik sepenggal kira-kira pukul 06.00, shalat Isroq, Isti’adah dan 
Istikharah.&lt;br /&gt;
Sholat Dhuha yang waktunya kurang lebih sampai pukul 
11.00 sebanyak 8 rakaat&lt;br /&gt;
Sholat Tasbih, dilakukan setiap malam&lt;br /&gt;
Sholat
 yang merupakan bagian penutup diteruskan dengan wirid dzikir 
sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sembahyang Magrib dilakukan
 wirid Dzikir sekurang-kurangnya 165 kali, dilanjutkan dengan khotaman 
dan witir-witir lainnya samapai waktunya shalat Isya. Kemudian dilakukan
 sholat malam hari, yaitu sholat Tahiyatul Masjid dan Syukrul wudhu 
sebelum kering air wudlu, sholat hayat yang lebih baik dilaksanakan di 
malam hari, sholat Taubat yang gunanya untuk mencuci dosa yang telah 
diperbuat oleh manusia, sholat Tahajud yaitu 40 malam mandi 40 kali 
tiap-tipa malam, 40 malam “melek” (tidak tidur), 40 hari berpuasa, 40 
hari tidak makan nasi atau ‘niis’, 40 hari tidak makan garam, 40 hari 
tidak minum, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peziarah lain yang mengaku 
bernama Karwati (bukan nama sebenarnya), usia 36 Tahun. Ia berasal dari 
Majalengka menyebutkan, ia datang ke Cirebon pada mulanya hanya diajak 
oleh tetangga. Sejak awal ia merasa tidak memiliki motivasi datang ke 
makam Embah Kuwu Sangkan, namun setelah beberapa kali datang makam 
keramat tersebut ia berperasaan lain. Sejak itulah memiliki itikad untuk
 merubah nasibnya. Ia di makam Embah Kuwu Sangkan bermalam sambil 
melakukan sembahyang malam dan membaca wirid dan dzikir. Wirid yang ia 
baca atau diamalkan dimakam itu bukan wirid seperti yang dianjurkan 
melainkan yang dia miliki sendiri. Setelah sholat subuh di masjid, 
biasanya ia membaca wirid dimakam keramat itu sampai pagi sekitar pukul 
06.15. Kegiatan dimakam dilakukan kembali setelah sholat Isya hingga 
larut malam. Ia tidak tidur di makam, melainkan di mesjid yang letaknya 
berdampingan dengan komplek makam keramat. Untuk keperluan makan tinggal
 pergi ke warung yang berada di dekat mesjid itu juga. Menurut 
pengakuannya, ia sering pergi ke tempat-tempat yang menurutnya merupakan
 tempat sakral. Menurutnya, baru ia pulang kerumah apabila setelah 
mendapat ilapat (ilham). Hingga sekarang, menurut pengakuan-nya 
kehidupannya sudah ada sedikit perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Motivasi 
peziarah yang lainnya menyebutkan bahwa ia datang ke makam Embah Kuwu 
Sangkan bermaksud untuk merubah nasib. Motivasi seperti ini disebutkan 
oleh Bapak Badru (bukan nama sebenarnya) 47 tahun peziarah dari Cirebon 
Utara yang profesinya sebagai buruh bangunan maupun Eko ( 23 tahun) yang
 belum memiliki pekerjaan tetap berziarah ke makam ini niatnya untuk 
mencari keberkahan sehingga ada perubahan pada nasibnya. Bapak Badru 
baru mengetahui bahwa makam keramat Embah Kuwu Sangkan itu sebagai makam
 yang banyak dikunjungi peziarah setelah diberitahu oleh teman 
sekerjanya. Namun terdorong oleh niatnya untuk mencoba melakukan ziarah 
sambil mencoba berusaha mengubah nasibnya, ia mengatakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya
 datang ke makam wali ini bermaksud berziarah, semoga dengan perantaraan
 ziarah ini ada perubahan kepada nasib saya. Semoga ada rizki saya 
dengan sebab ziarah ini).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal serupa dikatakan oleh Ibu
 Martina dari Probolinggo, Jatim ini bermaksud ziarah dan berharap 
dengan berziarah imudah-mudahan dapat menemukan kecocokan dalam 
berdagang. Katanya, selama berziarah ia sudah berpuasa 12 hari. Dengan 
berziarah ini mudah-mudahan menemukan jalan yang tepat sehingga ada 
kemajuan dalam usahanya. Keinginan Ibu Martina ini didorong karena telah
 menyaksikan temannya yang mencoba berdagang bermacam barang, tapi belum
 mendapat kecocokan “jodoh”. Setelah berziarah, dan mendapat jodoh, ia 
berubah usahanya dengan berjualan bakso tahu, ternyata jualannya ada 
perubahan dan mengalami kemajuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berlainan dengan 
Bapak Agus (40 tahun), ia berasal dari Sukabumi dan bekerja pegawai 
swasta, yakni dibidang bangunan. Selama berumah tangga ia belum 
mendapatka keturunan. Kesana-kemari ia telah berupaya baik ke dokter 
ataupun ke pengobatan Alternatif tetapi belum membuahkan hasil. Karena 
ia penasaran ia tekun beribadah, kemudian berziarah ke makam keramat 
Embah Kuwu Sangkan dan berdoa Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Secara 
berulang kali, ia berziarah sambil memohon barokah kepada Yang Maha 
Kuasa. Berkat kebesaran Yang Maha Kuasa, istri Bapak Agus dikaruniai 
anak. Menurut pengakuannya, sejak itu Bapak Agus sering ziarah ke makam 
Embah Kuwu Sangkan, baik untuk keperluan urusan keluarga maupun usaha. 
Sejak itu pula usahanya mengalami kemajuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peziarah 
lainnya yang mengaku bernama Ibu Sumarni ( 50 Tahun) berasal dari 
Indramayu. Menuturkan, ia berziarah ke makam Embah Kuwu Sangkan ini 
karena ingin berubah nasib, usahanya selalu gagal dan rugi atau 
dibohongi orang. Ia pada mulanya berziarah ke makam keramat Embah Kuwu 
Sangkan karena diberitahu oleh orang lain. Tetangganya dulu, yang 
sehari-harinya bekerja sebagai berjualan di Bandung setelah berziarah ke
 makam keramai ini jualan semakin laris. Bahkan sekarang sudah bisa 
membeli rumah kontraknya. Menurut Ibu Sumarni menuturkan keinginannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mudah-mudahan
 doa saya dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, saya hanya ikhtiar sedangkan 
yang menentukan hanya Dia. Oleh karena itu, semoga menjadi jalan untuk 
membuka rizki saya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu Sumarni bermalam di makam 
keramat Embah Kuwun Sangkan. Kegiatan yang dilakukan selama semalam 
yakni sholat Tasbih sembahyah dilanjutjkan dengan membaca wirid-wirid 
atau zikir. Setelah sembahyang subuh kembali membaca doa wirid dan tak 
henti-henti berzikir. Sebelum pulang, terlebih dahulu minta “air doa” . 
Air tersebut untuk diminum atau dipakai mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peziarah
 lainnya, Bapak Purwoto (45 Tahun) dari Cilacap menuturkan motivasi 
berziarah ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan ingin menyembuhkan adik 
perempuannya yang strees. Menurut ceritanya, awalnya adik perempuannya 
selalu mengurung diri di kamar, seolah-olah dirinya merasa putus asa 
(apatis), ia tidak mau melakukan apa-apa. Suatu ketika ia ada yang 
melamar, dan tak lama kemudian ia menikah. Setelah menikah malah justru 
ia menjadi-jadi, sehingga dapat dikatakan meresahkan tetangga sekitar. 
Puncaknya, suami menjadi tidak betah dan tidak bertanggung Jawab. 
Akhirnya, yang bertanggung-jawab Bapak Purwoto sebagai anak yang terua 
ini. Karena merasa bertanggungjawab, ia kesana-kemari berusaha 
menyembuhkan adiknya yang malang itu, baik berobat ke dokter jiwa, 
maupun ke orang pintar. Tapi usahanya nihil, dan nyaris putus asa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katanya,
 ia mengetahui ke makam keramat ini dari teman sekerjanya di kantor. 
Setelah berziarah ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan, kondisi jiwa 
adiknya menjadi tenang dan terbuka pikirannya karena banyak berdoa dan 
zikir memohon kepada yang punya-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut pengakuan 
peziarah, pada umumnya motivasi mereka berziarah kemakam menginginkan 
kelancaran dalam arti tidak ada gangguan atau sesuatu hal yang akan 
menyebabkan usahanya mengalami kegagalan. Pernyataan demikian di 
lontarkan oleh Bapak Bambang (50 Tahun) berasal dari Tegal. Ia berziarah
 ke makam keramat Embah Kuwu Sangkan bersama rombongan seprofesinya 
sebagai pengusaha kecil-kecilan di bidang pertukangan, terutama 
pemasangan Gypsum di setiap perumahan. Karena sekarang mengalami 
persaingan yang ketat antar seprofesinya, maka usahanya mengalami 
kembang kempis. Oleh karena ia, mencoba ziarah ke makam keramat Embah 
Kuwu Sangkan. Ia bersama rombongan, mengetahui ke makam keramat ini atas
 petunjuk seorang teman yang bekerja di PLN.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapak 
Bambang seorang tukang ojeg menyebutkan bahwa ia datang ke makam keramat
 ini sudah tiga hari. Selama di makam keramat Embah Kuwu Sangkan mereka 
melakukan sholat malam secara berjamaah dan membaca doa, wirid serta 
zkikir seperti umumnya dilaksanakan oleh peziarah lainnya. Setelah 
pajar, mereka melakukan sholat Subuh dan memohon doa restu kepada Allah 
SWT agar maksudnya dikabul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berziarah berarti 
mengunjungi atau mendatangi ke makam untuk mendoakan. Berziarah 
dianjurkan oleh Rasulullah, tetapi sebatas untuk mengingatkan kepada 
kita bahwa setiap makhluk hidup yang bernyawa akan mengalami mati, dan 
ada kehidupan tentu ada kematian. Oleh karena kita harus selalu 
mempersiapkan segalanya untuk bekal di akhirat nanti. Bagi yang shaleh 
dan beramal baik, selalu di dikenang dan dijadikan tauladan, sehingga 
tidak sedikit orang yang berkunjung ke makam tersebut untuk mendoakan 
agar yang bersangkutan ditempatkan disisi-Nya, dan sebagainya. Makam 
yang dikunjungi adalah makam seorang ajengan atau Kyai. Seorang tokoh 
yang tekun dan menyebarkan ajaran agama Islam serta dimitoskan oleh 
masyarakat yang percaya dan meyakininya sebagai penuntun hidup, yakni 
Pangeran Walangsungsang atau disebut Embah Kuwu Sangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatacara
 berziarah menurut ajaran Islam diatur dalam kitab fiqih, di antaranya 
bila memasuki makam pertama-tama mengucapkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Assalaamu’alaikum
 ya ahladiyaari minal mu’miniina wa innaa in syaa-allaahu bikum 
laahiquun(a). As-aalullaahalanaa wa lakumul’aafiyah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya
 semoga kesejahteraan selalu ada pada kalian, wahai penghuni kampung 
orang-orang yang beriman, Sesungguhnya kami jika Allah menghendaki akan 
bertemu dengan kalian. Kami memohon kepada Allah kesejahteraan untuk 
kami dan untuk kalian semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila memasuki ke tahan 
pekuburan dan mencari makam yang dikehendaki misalnya makam orang tua 
atau makam para wali Allah mengucapkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Assalamu’alaikum
 ayyatuhal arwaahul faaniyatu wal abdaanul baaliyatu wa’izhaamun 
nakhirah, allatii kharajat minaddun yaa wahiya billaahi mu’minah. 
Allaahumma adkhil’alaihim rauhan minka wasalaaman minnii”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya,
 Semoga keselamatan selalu ada pada kalian, wahai para ruh yang telah 
rusak dan badan yang telah busuk serta tulang-tulang yang telah hancur, 
yang telah keluar dari dunia dalam keadaan beriman kepada Allah. Ya 
Allah, masukkanlah kepada mereka rasa kenyamanan dari-Mu dan keselamatan
 dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah di atas makam mengharap ke timur 
berarti berhadapan dengan mayat kemudian membaca Al-fatihah dan Surat 
Yasiin atau bacaan Tahlil. Setelah itu membaca doa yang maksudnya agar 
pahala bacaan-bacaan bisa diterima oleh ahli kubur. Bacaan doa untuk 
ahli kubur sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bismillaahirrahmaanirrahim.Alhamdulillaahi
 raabil’aalamiin. Allahumma taqabbal wa aushiltsawaaba maaqara’naa 
liruuhi sayyidinaa muhammadin washshahaabati wattabi’iina wa 
mujtahidiina wal muqallidiina wal mushannifiina wal ulamaa-il ‘aamiliina
 wa arwahi aabaa-inaawa ummahaatinaa wa ajdaadinaa wajaddaatinaa wa 
a’maaminaa wa’ammaatinaa wa akhwaalinaa wakhaalaatinaa wa ustaadzinaa wa
 amwaatil muslimina wal muslimaati wal mu’miniina wal mu’minaat. 
Allahummaghfir lahum warhamhum wa’aafihim wa’fu ‘anhum wa nawwir 
qubuurahum wa adkhilhumul jannata ma’al abraari burahmatika yaa 
arhamarraahimiina wa hamdu lillaahi rabbil’aalamiin”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya:
 Dengan menyebut nama Allah Yang maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 
Segala puji bagi Allah seru sekalian alam. Ya Allah, terimalah dan 
sampaikanlah pahala dari semua yang telah kami baca kepada Ruh Jungjunan
 kita Nabi Muhammad saw, para sahabat, para Tabi’in, para Mujtahid, 
orang-orang yang taqlid dan para pengarang kitab-kitab agama, para ulama
 yang mengamalkan ilmunya, dan kepada para arwah bapak kami, ibu kami, 
nenek-nenek kami, paman-paman kami, dan kepada arwah guru-guru kami dan 
semua orang-orang Islam serta orang-orang Mukmin yang telah meninggal 
dunia. Ya Allah, ampunilah mereka, kasihanilah mereka, berilah 
kesejahteraan mereka, hapuskanlah dosa-dosa mereka, sinarilah kuburan 
mereka dan masukanlah mereka ke dalam sorga bersama-sama orang yang 
baik, berbat rahmat-Mu, wahai Dzat Yang maha Pengasih. Dan segala puji 
bagi Allah seru sekalian alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah tatacara 
berziarah ke makam yang dianjurkan oleh Rasulullah kepada umatnya. 
Ber-ziarah dianjurkan dan sunat hukumnya. Itu setelah keadaan berubah di
 mana umat Islam sudah kuat memegang Aqidah. Adapun larangan apabila 
berziarah ke makam tidak boleh menginjak atau menduduki kuburan, apalagi
 dibagian kepalanya. Seseorang yang sudah meninggal tidak boleh 
dibicarakan kejelekannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peziarah mendoakan ahli kubur
 memang sewajarnya, bukan sebaliknya peziarah mohon bantuan sesuatu 
kepada ahli kubur. Dalam hal berziarah/mengunjungi atau mendoakan ahli 
kubur ada dua pendapat: pertama, untuk mendoakan ahli kubur tidak selalu
 harus diucapkan di depan kuburan orang tersebut. Alasannya, doa itu 
bukan tali, walaupun disampaikan dari rumah, masjid, dan sebagainya 
tentu akan sampai kepada Tuhan; kedua, memang doa itu bukan tali tetapi 
ada tempat utama dan ada pula tempat yang lebih utama. Doa yang 
disampaikan dari rumah itu pun baik, tapi lebih utama jika secara 
langsung diucapkan di depan makam orang yang dimaksud. Di depan makam 
setidaknya akan membantu hati lebih khusuk dalam memanjatkan doa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara
 tidak disadari kegiatan peziarah dapat saja tergelincir kepada praktek 
syirik (menyekutukan Allah) yang bertentangan dengan aqidah Islam. Untuk
 mencegah dan menanggulangi hal tersebut, perlu adanya pembinaan atau 
pengarahan dari pemuka agama secara perlahan-lahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya
 bergantung pada motivasi itu sendiri, bila sebatas ingin mendoakan ahli
 kubur agar diberikan berkah dan diampuni dosanya oleh Allah SWT mungkin
 tidak tergolong menyekutukan Allah. Tapi bila motivasinya ngalap berkah
 (mencari berkah) atau mohon bantuan sesuatu yang dari sudah meninggal, 
tentu masalahnya menjadi lain. Jangankan untuk mengurusi atau membantu 
orang lain (yang masih hidup), untuk mempertanggungjawabkan diri sendiri
 pun repot. Jadi, sudah sewajarnya orang yang masih hidup mendoakan 
kepada orang yang sudah meninggal. Membaca ayat-ayat suci Al-Quran atau 
mendoakan orang yang sudah meninggal dunia termasuk pula ibadah. Bagi 
siapa saja yang membacakan ayat-ayatt suci tersebut tentu mendapat 
pahala dan berkah dari Allah swt.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, 
bergantung dari mana kita memandang segala sesuatu itu. Tidak dapat kita
 pungkiri, bahwa ada kesalahpahaman dalam memandang tetang ziarah itu. 
Kesalahpahaman itu semakin lama semakin merebak sehingga sulit 
dibedakan, mana yang dianjurkan dan mana yang dilarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlepas
 dari itu semua, ziarah itu sudah merupakan kebiasaan atau tradisi 
masyarakat yang sulit ditinggalkan atau dihilangkan. Biarlah itu hilang 
dengan sendirinya. Akan tetapi, selama kegiatan itu tidak menyesatkan 
dan tidak keluar dari rambu atau aturan-aturan yang ada, itu tidak 
menjadi masalah. Atau, selama masih memiliki nilai budaya yang dapat 
bermanfaat bagi kehidupan masyarakat pendukungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berziarah
 atau mengunjungi makam keramat merupakan suatu upaya untuk mencari 
berkah dari Allah swt. Bagi yang memiliki motivasi lain, kegiatan itu 
sangat bertentangan dengan ajaran Islam karena termasuk menyekutukan 
Tuhan. Perbuatan itu tidak dibenarkan karena hukumnya dosa besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peziarah
 hendaknya pandai memilah-milah agar jangan sampai terjerumus menjadi 
umat yang rugi. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman yang baik. Bagi 
yang belum dapat memahami, bila dirasakan besar manfaatnya maupun 
sebaliknya, merupakan suatu resiko yang harus diterimanya. Namun atas 
keyakinan, mereka siap melakukan apa saja walaupun memerlukan 
pengorbanan moril maupun materil. Secara materi misalnya, tidak sedikit 
jumlah biaya yang harus dikeluarkan, walaupun maksud dan tujuan yang 
diinginkan belum tentu terkabul. Rupanya masalah itu tidak menjadi 
problema, karena menyadari bahwa segala suatu itu perlu upaya, walaupun 
yang menentukan segalanya Allah Swt.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak dapat 
dipungkiri, itulah salahsatu sistem kepercayaan yang ada dan berkembang 
di masyarakat kita. Namun itu merupakan nilai budaya bangsa yang sarat 
dengan nilai luhur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Makam Keramat Godog</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/04/makam-keramat-godog.html</link><category>Ziarah Spiritual</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Thu, 17 Apr 2014 02:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-2461196341563384457</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terletak di Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan. Sunan Godog dikenal dengan sebutan Prabu Kiansantang yang hidup pada abad ke 15 masehi, pada masa kerajaan yang diperintah oleh Prabu Siliwangi yang beragama Hindu. Beliau mempunyai dua anak diantaranya bernama Kiansantang (Sunan Rahmat) yang terkenal dengan kesaktiannya. Dia termasuk penyebar agama Islam di Pulau Jawa khususnya di kerajaan Padjadjaran. Setelah menyebarkan agama Islam di daerah Garut, Sunan Rahmat kembali kedaerah Godog dan menetap sampai akhir hayatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang makam tersebut banyak dikunjungi oleh para peziarah dan merupakan obyek wisata makam Godog. Adapun daya tarik yang terdapat di makam Godog (Sunan Rahmat) berupa makam yang dikeramatkan dan barang pusaka peninggalan masa lalu yang dirawat dengan baik, seperti golok, keris dan yang lainnya. Barang-barang tersebut setiap setahun sekali dicuci dengan air bunga-bungaan dan digosok dengan minyak wangi supaya tidak berkarat. Biasanya dilakukan setiap tanggal 12 Mulud yang disebut upacara Ngalungsur atau panjang jimat, sekaligus merupakan atraksi wisata ritual. Untuk mencapai makam Godog diperlukan waktu 40 menit atau kira-kira 11 Km dari pusat kota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat 7 buah makam yang terdiri dari makam Kiai Santang yang terdapat pada ruang utama, makam Sembah Dalem Sarepeun Suci, Makam Sembah Dalem Sarepeun Agung, Sembah Dalem Kholipah Agung, dan Santuwaan Marjaya Suci yang kesemuanya berada pada ruang tertutup dengan ruangan yang berbeda dengan Makam Kiai Santang Kemudian di sebelah luar terdapat makam Syek Dora dan makam Sembah Pager Jaya yang berada pada ruang terbuka dengan letak yang terpisah. Sembah Pager jaya adalah penjaga makam pertama makam Godog dan keturunannya juga merupakan juru kunci atau kuncen makam tersebut. Sesepuh juru kunci kawasan Makam Keramat Godog adalah bapak H. Ahmad Endang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang menarik dari Makam Keramat Godog salah satunya adalah mengenai sejarah atau legendanya yang menceritakan tentang Kiansantang atau Syek Sunan Rohmat. Kiansantang menurut sejarahnya merupakan putra dari Prabu Siliwangi dari 3 bersaudara yaitu Dewi Rara Santang dan Walang Sungsang. Kiansantang lahir pada tahun 1315 Masehi di Padjadjaran yang sekarang Bogor. Pada usia 22 tahun tepatnya tahun 1337 masehi Kiansantang diangkat menjadi Dalem Bogor ke II. Dari kecil hingga dewasa yaitu sampai usia 33 tahun tepatnya tahun 1348 masehi, Prabu Kiansantang belum ada yang menandingi kegagahannya dan kesaktiannya di sejagat pulau Jawa. Prabu Kiansantang meninggalkan Padjadjaran menuju tanah Mekah untuk bertemu tandingannya yaitu Sayyidina Ali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bertemu dengan Sayyidina Ali Kiansantang yang diganti namanya Galantrang Setra merasa terkalahkan dan enggan sehingga Galantrang Setra masuk Islam. Setelah itu Kiansantang bermaksud pulang ke Padjadjaran untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya. Karena pada waktu itu Kiansantang belum bisa menyebarkan agama Islam dengan sempurna karena belum menguasai ajaran agama Islam beliau kembali ke Kota Mekah. Pada tahun 1362 masehi Prabu Kiansantang kembali ke tanah Jawa untuk menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Makna sekar Dhandhanggula Siraman</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/04/makna-sekar-dhandhanggula-siraman.html</link><category>Budaya</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Tue, 15 Apr 2014 03:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-1486033146471455434</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di dalam tradisi Jawa, khususnya di dalam rangkaian tatacara pernikahan, dikenal adanya upacara siraman. Upacara siraman adalah sebuah upacara yang dilaksanakan untuk membuka rangkaian acara pernikahan, yaitu dengan memandikan calon pengantin. Pelaksanaan upacara ini biasanya sehari sebelum upacara temu/panggih dilaksanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski akhir-akhir ini sudah jarang ditemui, di dalam upacara siraman biasanya dilantunkan Sekar/Tembang Macapat Dhandhanggula Siraman. Tembang tersebut digunakan untuk mengiringi ketika calon pengantin dimandikan. Bukan hanya sebagai pemanis, namun pelantunan Sekar Dhandhanggula Siraman tersebut dimaksudkan sebagai doa, permohonan, harapan, serta petuah bagi calon pengantin. Itulah salah satu kelebihan orang Jawa, yang mampu merakit banyak hal di dalam sebuah tembang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekar/Tembang/Lagu Macapat Dhandhanggula Siraman terdiri dari 7 pada (bait). Hal ini disesuaikan dengan jumlah beborèh (lulur) yang digunakan pada saat memandikan pengantin, dimana masing-masing dibedakan menurut warna. Adapun warna beborèh tersebut adalah merah (rekta), hitam (langking), kuning (jenar), biru, ungu (wungu), putih (séta), dan hijau (wilis). Di dalam penggunaannya juga tidak asal saja, melainkan diurutkan dari merah, hitam, kuning, biru, ungu, putih, dan terakhir hijau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-masing warna memiliki makna, maksud, dan tujuan tersendiri, seperti yang terungkap di dalam Sekar Dhandhanggula Siraman berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Gya siniram hangganya Sang Putri, Tirta wening kang amawa cahya, Beborèh rekta warnané, Ginosok hangganipun, Sinarengan mantra kang mijil, Larut memalanira, Ngaléla dinulu, Watak setya tinarbuka, Tangguh tanggon teguh tumanggaping kardi, Santosa budinira.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Segeralah disiram tubuh sang putri, Dengan air jernih yang berkilauan, Diluluri dengan lulur berwarna merah, Sembari digosok badannya, Disertai dengan doa dan pujian syukur yang terucapkan, Larutlah segala sakit dan luka, Sungguh mempesona bila dipandang, Berwatak setia dan terbuka, Tangguh, bisa dipercaya, teguh, cekatan dalam menyelesaikan pekerjaan/kewajiban, Sentosa/kuat dalam berpendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sumamburat cahyanya nelahi, Ngégla cetha katon angaléla, Datan sisip pamawasé, Langking beborèhipun, Puji harja mijil pangèsthi, Prawira watakira, Luhur budinipun, Tuhu tresna mring sasama, Luluh lulus lila legawa tan lali, Kalis ing sambékala.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Samar-samar terlihatlah cahaya menyinari, Tampak indah mempesona, Hitam warna lulurnya, Doa mohon keselamatan terucapkan, Berwatak berani laksana ksatria, Berbudi pekerti luhur, Sungguh-sungguh mengasihi sesama, Pandai membaur, tulus, sert selalu berbuat baik dengan ikhlas dan sepenuh hati, Terhindar dari segala marabahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Angenguwung malengkung kaèksi, Gilar-gilar sumunar ing warna, Mancorong jenar urubé, Warna jenar puniku, Watak sabar ingkang pinanggih, Utama lan narima, Waspadèng pandulu, Mardu mardawa micara, Mawuhara tata, titi, tatas, titis, Dadya tepa tuladha.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tampak membubung tinggi seolah melengkung, Bersinar terang dalam nuansa warna, Berpijar cahaya berwarna kuning, Warna kuning itu melambangkan watak yang selalu sabar, Berperilaku terpuji dan berserah diri kepada kehendak Tuhan, Memiliki sifat dan sikap yang selalu waspada dan hati-hati, Lemah-lembut dan menyenangkan dalam berbicara, Dalam bercakap-cakap menggunakan bahawa yang baik, berhati-hati, serta tiada hal penting yang terlewatkan, Sehingga mampu&amp;nbsp; menjadi suri-teladan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Katon&amp;nbsp; padhang&amp;nbsp; sumilaking&amp;nbsp; warni, Surya, candra, daru lan kartika, Dadya sajuga soroté, Beborèh warna biru, Setya tuhu ajrih lan asih, Tresna marang sudarma, Bekti watakipun, Trap susila anuraga, Datan sisip nggènira manembah Gusti, Bagya mulya sinedya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tampaklah terang benderang dalam nuansa warna-warni, Matahari, rembulan, komet dan bintang-gemintang, Semua sinar cahayanya menyatu, Lulur berwarna biru, Melambangkan kesetiaan, selalu menghormati dalam kasih sayang, Senantiasa mencintai kedua orang tua, Dan selalu berbakti kepada mereka, Sopan dan santun dalam bersikap, Tiada pernah lupa bersyukurdan berdoa&amp;nbsp; kepada Tuhan, Senantiasa mengupayakan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ganda arum ingkang angebeki, Warna-warna warnining kang sekar, Katingal wening tirtané, Wungu beborèhipun, Mengku werdi ingkang sejati, Lega lila ing nala, Éklas watakipun, Wahyu mulya kang sinedya, Bagus alus tulus lair trusing batin, Mulya tekèng delahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bau harum yang semerbak memenuhi, Berasal dari beraneka macam bunga, Air pun terlihat jernih, Lulur berwarna ungu, Mengandung makna yang mendalam, Tiada pernah berkeluh-kesah meski hanya di dalam hati, Ikhlas sepenuh hati menjadi wataknya, Mengharap dan mengupayakan turunnya berkah, Terpuji dan halus tingkah laku, tulus lahir maupun batin, Terpandang dan dihargai hingga akhir hayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Werdi agung pralambanging urip, Amancurat cahya kang katingal, Warna séta beborèhé, Langgeng nggènnya amengku, Datan wudhar dènnya angèsthi, Manembah Maha Nata, Gusti Maha Agung, Netepi jejering titah, Amung pasrah-sumarah ngarsa Hyang Widhi, Sandika ngèstu pada.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Makna luhur perlambang dan gambaran hidup, Terlihat memancar laksana cahaya, Lulur berwarna putih, Abadilah dalam kebersamaan, Tak pernah berhenti dalam berdoa dan bersyukur, Berbakti kepada Sang Maha Raja (Tuhan), Tuhan Yang Maha Agung, Memenuhi kewajiban sebagai umat manusia, Selalu berserah diri di hadapan Ilahi, Serta bersedia dan siap melaksanakan/menerima kehendak-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Paripurna nggènira sesuci, Siram jamas reresik sarira, Kang minangka pungkasané, Wilis beborèhipun, Wicaksana wataking jalmi, Kéblat panembahira, Pana ing pandulu, Cinaketan mring Hyang Suksma, Lekasira pantes tinulad sasami, Purwa madya wasana.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selesai sudah dalam bersuci, Mandi keramas membersihkan diri, Yang menjadi penutup, Lulur berwarna hijau, Bijaksanalah sebagai manusia, Tekun dalam bersujud syukur, Waspada, berhati-hati dalam berpikir dan bertindak, Dengan demikian pasti akan selalu dilindungi oleh Tuhan, Segala tingkah lakunya akan pantas menjadi suri-teladan, Dari awal, pertengahan, hingga akhir hayatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Hakikat Manusia</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/04/hakikat-manusia.html</link><category>Ilmu Hakikat</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Sun, 13 Apr 2014 02:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-8204702287830802701</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Hakikat Manusia,terdiri atas dua bagian, yaitu tentang Kesadaran Diri dan Kesadaran Universal.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kesadaran Diri&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Didalam filsafat kontemporer secara hakiki terpusat pada pribadi manusia. Boleh jadi, tanpa situasi historis kita tidak bisa memahami apa dan esensi diri yang sebenarnya. Al Qur'an membuka pintu dunia baru, tentang kesadaran diri secara berurutan sampai kepada kesadaran yang universal. Ungkapan ini tidak terikat oleh suatu aliran tertentu. Saat dimana muncul ketikan dihadapkan persoalan manusia terdorong untuk memikirkan eksistensi. Dimana keberadaannya bagaikan terlempar begitu saja. "Aku" yang kehilangan arah, berpaling dari dirinya sendiri, ia mawas diri dan menyelidiki dirinya. Demikianlah suatu motif yang mula-mula bersifat historis dan psikologis berubah menjadi suatu pertanyaan filosofis yang mendesak: "Siapakah aku ini? Dengan kegembiraan dan harapanku? Apakah tujuan hidup ini? Apakah artinya? Mengapa aku bereksistensi? Dan bukannya tidak bereksistensi?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengemukakan masalah mengenai pribadi dalam ungkapan-ungkapan tersebut, berarti mengemukakan masalah kebebasan, masalah tanggung jawab. Hal ini membawa kita kepada penelitian mengenai dasar dari asal usul. Baik dari sisi kebebasan maupun dari sisi tanggung jawab. Hal tersebut akhirnya memunculkan masalah ketuhanan. Apakah Allah itu masuk dalam definisi manusia atau tidak? Apakah eksistensi manusia itu bersifat teosentris ataupun antroposentris? Partisipasi ataupun cukup dalam dirinya sendiri? Ada apakah dengan pernyataan ulama populer "man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu?" (barang siapa tahu akan dirinya, maka ia tahu akan Tuhannya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam arti yang sebenarnya, kata "eksistensi" berarti data kosmis, sejauh manusia yang terlibat secara aktif di dalamnya. Hubungan erat antara masalah manusia dan masalah ketuhanan, terlihat baik pada mereka yang mengingkari Allah maupun pada mereka yang mengikuti-Nya. Kecenderungan tersebut pada dasarnya merupakan naluri manusia yang tidak bisa dipungkiri dan merupakan fitrah manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengatakan bahwa setiap pribadi memiliki naluri religiusitas dalam pengertian apapun, baik yang sejati maupun yang palsu. Sebenarnya adalah sama dengan mengatakan bahwa setiap pribadi memiliki naluri untuk berkepercayaan. Dalam tinjauan antropologi budaya, Naluri itu muncul berbarengan dengan hasrat memperoleh kejelasan tentang hidup ini sendiri dan alam sekitar yang menjadi lingkungan hidup itu. Karena itu setiap orang dan masyarakat pasti mempunyai keinsafan tertentu tentang apa yang dianggap "pusat" atau "sentral" dalam hidup seperti dikatakan oleh Mircea Elidae:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Setiap orang cenderung, meskipun tanpa disadari mengarah kepusat dan menuju pusat sendiri, dimana ia akan menemukan hakekat yang utuh yaitu rasa kesucian. Keinginan yang begitu mendalam berakar dalam diri manusia untuk menemukan dirinya pada inti wujud hakiki itu di pusat alam, tempat komunikasi dengan langit menjelaskan penggunaan dimana akan ungkapan pusat alam semesta"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini kita akan mencoba menelusuri secara beruntun dari dasar sekali. Al Qur'an menyebutkan dalam Surat Adz Dzariat 21:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dan juga pada dirimu, maka apakah kamu tiada memperhatikan"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga dalam surat Al Hijir 28-29:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya Ruh (cipataan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud". (QS Al Hijir 28-29).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kerangka ini kita mengambil garis yang jelas dari peristiwa kejadian manusia, dimana para makhluk baik itu setan maupun malaikat mempertanyakan kebijakan Allah yang akan menciptakan manusia, yang menurut pandangan malaikat "manusia" adalah makhluk yang selalu membuat keonaran dan pertumbahan darah (QS Al Baqarah 30). Tidak kalah sengitnya setan memprotes keberadaan manusia yang dipandang rendah, yang hanya diciptakan dari unsur tanah, sambil membanggakan dirinya yang dibuat dari api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam keadaan ini para malaikat gigit jari dan begitu terheran-heran: rahasia macam apa ini? Bumi yang hina-dina dipanggil kehadirat Zat yang maha tak terjangkau dengan segenap kehormatan dan kemuliaan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelembutan illahi dan kebijakan Tuhan berbisik lembut ke dalam relung rahasia dan misteri malaikat,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku tahu apa yang tidak kalian ketahui" (QS:2:30).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raga manusia termasuk kedalam derajat terendah, sementara ruh manusia termasuk ke dalam derajat tertinggi. Hikmah yang terkandung dalam hal ini ialah bahwa manusia mesti mengemban beban amanat pengetahuan tentang Allah. Karena itu mereka harus mempunyai kekuatan dalam kedua dunia ini untuk mencapai kesempurnaan. Sebab tidak sesuatupun di dunia ini yang memiliki kekuatan yang mampu mengemban beban amanat. Mereka mempunyai kekuatan ini melalui esensi sifat-sifatnya (sifat-sifat ruhnya), bukan melalui raganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena ruh manusia berkaitan dengan derajat tertinggi dari yang tinggi, tidak satupun di dunia ruh yang menyamai kekuatannya, entah itu malaikat maupun setan sekalipun atau segala sesuatu lainnya. Demikian pula, jiwa manusia berkaitan dengan derajat yang paling rendah, sehingga tidak sesuatupun di dunia jiwa bisa mempunyai kekuatannya, entah itu hewan dan binatang buas atau yang lainnya. Ketika mengaduk dan mengolah tanah, semua sifat hewan dan binatang buas, semua sifat setan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati diaktualisasikan. Hanya saja, tanah itu dipilih untuk mengejawantahkan sifat "dua tangan-Ku". Karena masing-masing sifat tercela ini hanyalah sekedar kulit luarnya saja, di dalam setiap sifat itu ada mutiara dan permata berupa sifat illahi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjelasan diatas merupakan urutan ungkapan mengenai hakekat diri yang sebenarnya, dimana manusia sebagai makhluk yang sangat lemah dan hina disisi lain dinobatkan sebagai "khalifah" (wakil Allah). Bertugas mengatur alam semesta dan merupakan wakil Allah untuk menjadi saksi-Nya serta mengungkapkan rahasia-rahasia firman-Nya. Para mahkluk yang lain tidak melihat ada dimensi yang tidak bisa dijangkau olehnya, ia hanya mampu melihat pada tingkat yang paling rendah dalam diri manusia. Sementara ia terhijab oleh ketinggian derajat manusia yang berasal dari tiupan illahi (QS Al Hijir 28-29).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ungkapan hakikat manusia mengacu kepada kecenderungan tertentu secara berurutan dalam memahami manusia. Hakikat mengandung makna sesuatu yang tetap, tidak berubah-ubah. Yaitu identitas esensial yang menyebabkan sesuatu menjadi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al Ghazaly yang hidup pada abad pertengahan tidak terlepas dari kecenderungan umum pada zamannya dalam memandang manusia. Didalam buku buku filsafatnya ia mengatakan bahwa manusia mempunyai identitas esensial yang tetap, tidak berubah-ubah yaitu An nafs (jiwanya). Yang dimaksud an nafs adalah substansi yang berdiri sendiri, tidak bertempat dan merupakan tempat pengetahuan intelektual (al makulat) yang berasal dari alam malakut atau alam amr. Ini menunjukkkan esensi manusia bukan fisiknya dan bukan fungsi fisik. Sebab fisik adalah sesuatu yang mempunyai tempat. Dan fungsi fisik adalah sesuatu yang tidak berdiri sendiri. Keberadaannya tergantung kepada fisik. Alam al amr atau alam malakut adalah realitas diluar jangkauan indra dan imaginasi, tanpa tempat, arah dan ruang. Sebagai lawan dari alam al khalq atau alam mulk yaitu dunia tubuh dan aksiden-aksidennya esensi manusia, dengan demikian an nafs adalah substansi immaterial yang berdiri sendiri dan merupakan subyek yang mengetahui (Bashirah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk membuktikan adanya substansi immaterial yang disebut an nafs, Al Ghazaly mengemukakan beberapa argumen. Persoalan kenabian, ganjaran perbuatan manusia dan seluruh berita tentang akhirat tidak ada artinya apabila an nafs tidak ada, sebab seluruh ajaran agama hanya ditujukan kepada yang ada (al maujud) yang dapat memahaminya. Yang mempunyai kemampuan bukanlah fisik manusia sebab apabila fisik manusia mempunyai kemampuan memahami, objek-obyek fisik lainnya juga mesti mempunyai kemampuan memahami. Kenyataan tidak demikian. Argumen bersifat keagamaan ini , bagaimanapun tidak dapat meyakinkan orang yang ragu terhadap kenabian dan hari akhirat. Karena untuk mempercayai argumen ini orang terlebih dahulu harus percaya akan kenabian dan hari akhirat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu Al Ghazaly juga mengemukakan pembuktian dengan kenyataan faktual dan kesederhanaan langsung, yang kelihatannya tidak berbeda dengan argumen-argumen yang dibuat oleh Ibnu Sina (wafat 1037) untuk tujuan yang sama, melalui pembuktian dengan kenyataan faktual. Al Ghazaly memperlihatkan bahwa; diantara makhluk-makhluk hidup terdapat perbedaan-perbedaan yang menunjukkan tingkat kemampuan masing-masing. Keistimewaan makhluk hidup dari benda mati adalah sifat geraknya. Benda mati mempunyai gerak monoton dan didasari oleh prinsip alam. Sedangkan tumbuhan makhluk hidup yang paling rendah tingkatannya, selain mempunyai gerak yang monoton, juga mempunyai kemampuan bergerak secara bervariasi. Prinsip tersebut disebut jiwa vegetatif. Jenis hewan mempunyai prinsip yang lebih tinggi dari pada tumbuh-tumbuhan, yang menyebabkan hewan, selain kemampuan bisa bergerak bervariasi juga mempunyai rasa. Prinsip ini disebut jiwa sensitif. Dalam kenyataan manusia juga mempunyai kelebihan dari hewan. Manusia selain mempunyai kelebihan dari hewan. Manusia juga mempunyai semua yang dimiliki jenis-jenis makhluk tersebut, disamping mampu berpikir dan serta mempunyai pilihan untuk berbuat dan untuk tidak berbuat. Ini berarti manusia mempunyai prinsip yang memungkinkan berpikir dan memilih. Prinsip ini disebut an nafs al insaniyyat. Prinsip inilah yang betul-betul membedakan manusia dari segala makhluk lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Argumen kesadaran langsung yang dikemukakan seorang manusia menghentikan segala aktivitas fisiknya1, sehingga ia berada dalam keadaan tenang dan hampa aktivitas. Ketika ia menghilangkan segala aktivitasnya, menurut Al Ghazaly, ada sesuatu yang tidak hilang di dalam dirinya yaitu "kesadaran" yakni kesadaran akan dirinya. Ia sadar bahwa ia ada. Bahkan ia sadar bahwa ia sadar. Pusat kesadaran itulah yang disebut an nafs al insaniyyat (diri sejati). Dikatakan dalam suatu tafsir shafwatu at tafasir karangan Prof. As Shabuny dalam surat Al Qiyamah ayat 14:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"akan tetapi di dalam diri manusia ada bashirah (yang tahu)."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata bashirah ini disebut sebagai yang tahu atas segala gerak manusia yang sekalipun sangat rahasia. Ia biasa menyebut diri (wujud)-nya adalah "Aku".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wujud "Aku" yang memiliki sifat tahu yang memperhatikan dirinya atas perilaku hati, kegundahan, kebohongan, kecurangan, serta kebaikan. Ia tidak pernah bersekongkol dengan perasaan dan pikiran, ia jujur dan suci, sehingga manusia, setan dan jin tidak bisa menembus alam ini karena ia sangat dekat dengan Allah sekalipun manusia itu jahat dan kafir. Adalah pernyataan Allah atas pengangkatan sebagai wakil Allah, sehingga Allah menyebut tentang "Aku" ini sebagai ruh-Ku. Yang oleh As Shabuny sebagai penghormatan yang maha tinggi seperti penghormatan Allah terhadap Baitullah (rumah Allah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika itu yang disadari bukan fisik dan yang sadarpun bukan fisik. Kesadaran disini tidak melalui alat, tetapi bersifat langsung. Oleh karena itu subyek yang sadar itu jelas bukan fisik dan bukan fungsi fisik melainkan sesuatu substansi yang berbeda dengan fisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin juga dikatakan disini tidak bersifat langsung, tetapi melalui perantara, yaitu melalui perbuatanku. Dalam perbuatanku ada yang mendahului, yaitu kesadaran akan aku yang menjadi subyek perbuatan itu. Kesadaran disini bagaimanapun bersifat langsung dan terlepas dari aktivitas fisik. Dengan demikian subyek yang sadar, yang menjadi esensi manusia itu nyata ada dan merupakan substansi yang berbeda dengan fisik. Hal ini terbukti ketika manusia kehilangan aktivitas pada moment menjelang tidur. Sang "Aku" (kesadaran) mengetahui dengan sadar peristiwa yang dialami pada saat bermimpi. Begitupun Kehidupan keruhanian dalam mendasari kesadaran ihsan dengan menghentikan aktivitas fisik sebagai kendali sahwati, maka yang timbul adalah kesadaran diri yang mampu menembus alam malakut dan uluhiah. Dimana manusia mencapai puncak eksistensi yang sejati. Kesejatian inilah yang di tuntut oleh Allah dalam hal melakukan peribadatan, apakah puasa, zakat, dan shalat. Dengan konteks "ihklaskanlah peribadatanmu dengan tidak melakukan kesyirikan sedikitpun" (QS. Az Zumar 11 &amp;amp; 14). Aktivitas ruhani yang diajarkan oleh Allah adalah peribadatan saum yang mana manusia dalam sementara waktu diwajibkan mengendalikan emosinya dan aktivitas keinginan hawa nafsu selama satu bulan di bulan ramadhan. Selama satu bulan penuh menahan rasa dan keinginan ragawi, samar-samar akan terjadi proses transformasi kejiwaan yang tadinya emosional berubah menjadi ketenangan, dan fisik seolah tidak lagi menuruti keinginannya, sehingga sang fisik mengikuti kehendak-kehendak diri yang sejati. Maka oleh Allah dikatakan mereka itu telah mendapatkan karunia lailatul qadar, dimana ia mampu menembus seluruh semesta ruhani dan kembali sebagai manusia sejati dan fitrah. Keadaan Fitrah ini diungkap Al Qur'an, bahwa apabila telah terjadi fitrah pada diri manusia maka sesungguhnya fitrah itu sama dengan kehendak Allah (QS. 30:30):&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini manusia tersebut mendapat karunia kepatuhan dan ketaqwaan seperti patuhnya alam semesta serta patuhnya tubuh manusia, dimana dimengerti bahwa tidak pernah dirinya merencanakan ada, kemudian kenapa aku ini laki-laki? Atau nafas ini mengalir keluar masuk tanpa aku kehendaki dan bisakah aku menangguhkan jangan keburu tua dulu. Hal ini merupakan renungan hakiki, kenapa pikiran ini tidak sepatuh alam dan tubuh yang diselimuti kekuasaan Allah. Ia begitu tampak jelas dalam gerakan dan keberadaan alam dan diri ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan argumen di atas bahwa an nafs berdiri sendiri dipertegas bahwa ia tidak bertempat, baik didalam badan maupun diluar badan. Karena an nafs bukan materi maka dengan sendirinya tidak mengambil ruang dan tidak mempunyai tempat. Sifat dasar an nafs tidak mengandung kemungkinan bertempat. Artinya pernyataan tempat tidak sesuai dihubungkan kepada an nafs, sebagaimana tidak sesuai sifat mengetahui atau tidak mengetahui diletakkan pada benda mati. Al Ghazaly tidak menerima pandangan bahwa an nafs berada di luar badan. Sebab an nafs dalam keadaan demikian, menurutnya tidak mungkin mengatur badan, tetapi kalau an nafs berada di dalam badan keberatan lain akan timbul. An nafs bertempat di dalam badan tidak terlepas dua kemungkinan, yaitu bertempat pada seluruh badan atau pada sebagiannya saja. Kalau bertempat pada seluruh badan, an nafs semestinya menyusut atau berpindah, jika sebagian anggauta tubuh manusia terpotong dan ini tidak mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa esensi atau hakikat manusia adalah substansi immaterial yang berdiri sendiri, bersifat illahi (berasal dari alam amr), tidak bertempat di dalam badan, bersifat sederhana, mempunyai kemampuan mengetahui dan menggerakkan badan, diciptakan (tidak kadim) dan bersifat kekal pada dirinya. Ia berusaha menunjukkan bahwa kesadaran jiwa dan sifat-sifat dasarnya tidak dapat diperoleh melalui akalnya saja, tetapi dengan akal dan sara' . Untuk itu selain kutipan ayat 29 surat Al Hijir di atas juga ayat-ayat yang lain yang menerangkan esensi manusia seperti surat Ali Imron 169:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jangan engkau sangka orang-orang yang terbunuh pada jalan Allah itu mati, mereka itu hidup dan diberi rezeki disisi Tuhan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Katakan jiwa itu dari amr Tuhanku." (QS. Al Isra 85).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat yang pertama menunjukkan kekekalan jiwa dan ayat yang kedua untuk menunjukkan bahwa ia berasal dari dunia yang sangat dekat dengan Allah, alam amr.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembangkitan kesadaran akan diri, dikatakan para ulama kerohanian sebagai ajang mujahadah untuk menemukan kesejatian, dan dengan kesejatian itu pula manusia akan mencapai hakikat "diri" serta terbukanya kebenaran adanya Allah secara hakiki, yakni makrifatullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Periode pertengahan kejayaaan Islam di Jawa, berlangsung semaraknya hidup berkerohanian yang dipelopori para dai (wali songo) masa itu. Namun kita melihat kelebihan dan kekurangan metode yang diajarkan, masih banyak menyesuaikan budaya masyarakat kerohanian Hindu. Sehingga peribadatan yang masih tersisa sekarang kelihatan asimilasi peninggalan Hindu dan Budha. Akan tetapi kita melihat dengan jernih ajaran yang disampaikan oleh beliau dengan tetap memurnikan ketauhidan kita kepada Allah. Misalnya dalam mantra berbahasa Jawa, tentang perenungan hakiki manusia serta penyadaran dan pencarian kesejatian yang dikatakan dalam Al Qur'an sebagai "bashirah"(Aku yang mengetahui).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bismillahirrahmanirrahim (dengan nama Allah yang maha pengasih dan penyayang). Melebu Allah. Metu Allah (masuknya nafas karena Allah ... keluarnya nafas karena Allah). Anekadaken urip iku Allah (yang mengadakan hidup itu Allah). Utek dunungno kodrate Allah (otak letakkan atas kodrat Allah). Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah (ya hu ... Allah ya hu ... Allah ya hu ... Allah). Nabi Muhammad iku utusane Allah (nabi Muhammad itu rasullullah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya: (perlu diketahui dalam membaca kalimat mantra ini diperlukan penghayatan dan pendalaman makna yang hakiki).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masuk dan keluarnya nafas ini adalah kodrat Allah yang tidak bisa dicegah. Manusia hanya menerima dengan pasrah atas kekuasaan Allah yang meliputi nafas. Sehingga fikiran ini diajak patuh dan pasrah bersamaan dengan patuhnya nafas tanpa reserve (totalitas). Yang mengadakan hidup pada manusia (semesta) itu adalah Allah. Dimana seluruh makhluk, apakah itu binatang, manusia, tumbuhan serta bumi, matahari semuanya bergerak dinamis atas sifat hidup Allah (Al Hayyu). Otak adalah merupakan bentuk kekuasaan Allah atas manusia, yang mana manusia diwajibkan berfikir dan berkontemplasi untuk menyatakan sebagai wakil Allah (khalifah) maka dengan itu otak harus sesuai dengan kehendak-kehendak Allah (perintah Allah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai zat yang tidak sama dengan makhluknya.&lt;br /&gt;
Aku bersaksi bahwa nabi Muhammad itu rasulullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini kita melihat sejarah manusia ketika mensikapi atas dirinya dalam pencarian diri sejati secara universal. Al Qur'an telah memaparkan sebelum para pemikir barat memulai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Kampung Naga</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/04/kampung-naga.html</link><category>Budaya</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Sun, 13 Apr 2014 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-3604938429612835463</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kampung Naga adalah perkampungan masyarakat yang masih kuat memegang adat istiadat karuhun (leluhur). Kehidupan masyarakatnya bersahaja dan penuh kearifan tradisi. Keunikan Kampung Naga dengan segala aspeknya, merupakan sebuah perbedaan mencolok dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kampung Naga secara administratif masuk dalam wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah sebelah barat oleh leuweung karamat (hutan keramat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-BveKlylHsp4/UXYCTm6kgZI/AAAAAAAAAv8/b_wwqWinP5w/s1600/kampung-naga1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-BveKlylHsp4/UXYCTm6kgZI/AAAAAAAAAv8/b_wwqWinP5w/s400/kampung-naga1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam hutan inilah terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah Selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah Utara dan Timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut. Kampung ini merupakan miniatur masyarakat sunda tempo dulu. Perkembangan teknologi yang demikian ganas, tak dapat menembus kampung ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memasuki wilayah Kampung Naga, orang harus melewati sekitar 360 anak tangga. Jumlah 360 itu memiliki cerita yang unik. Ternyata, anak tangga yang menukik turun menuju lembah Kampung Naga ini tak pernah sama hitungannya. Setiap orang yang mencoba menghitungnya, pasti selalu berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada yang menghitung kurang dari 360 anak tangga, tapi tidak sedikit yang menghitung lebih dari itu. Bahkan pernah ada dua orang orang yang penasaran, lantas mereka menghitung secara bersamaan. Namun tetap saja mereka tidak bisa memperoleh jumlah hitungan yang sama. Semua ini merupakan teka-teki bagi pengunjung yang datang kesana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumah Panggung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kampung Naga diapit oleh tebing dan sungai yang mengalir disepanjang kawasan tersebut. Sungai inipun mereka manfaatkan sebagai kolam ikan. Setiap 3 bulan sekali mereka menanam dan menggambil ikan dari kubangan (leuwi) yang dibuat khusus oleh masyarakat setempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ornamen bangunan di Kampung Naga sangat langka kita temukan pada masyarakat sunda dewasa ini. Rumah itu berbentuk panggung dan posisinya seragam antara rumah satu dengan yang lain. Bahan baku utamanya berupa kayu, bambu serta atap injuk dari pohon aren yang diambil langsung dari hutan sekitar Kampung Naga. Dan secara keseluruhan, berjumlah 111 bangunan, yang terdiri dari 109 rumah hunian sebuah mesjid dan sebuah aula pertemuan yang kesemuanya menghadap arah Timur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Punduh Kampung Naga, Abah Maun, alasan mendirikan rumah panggung adalah untuk menghindari kecemburuan sosial masyarakat. Lagi pula jika mendirikan rumah permanen akan mengeluarkan biaya yang cukup besar. “Untuk jumlahnya masyarakat Kampung Naga tidak akan yang sudah ada, karena keterbatasan lahan serta telah menjadi hukum adat,” katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedang alasan mengapa semua bangunan menghadap arah timur, Abah Maun menjelaskan bahwa selain menyesuaikan dengan keadaan lahan dan menjaga kebersihan, juga agar sinar matahari bisa langsung sampai ke dalam rumah-rumah tanpa terhalangi oleh bangunan lain. Untuk membuat sebuah rumah atau memperbaikinya, hampir semua masyarakat ikut bergotong royong dalam pengerjaannya, sehingga pada proses pengerjaanya tidak menggunakan kuli bangunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum memasuki Kampung Naga, pengunjung sangat dianjurkan untuk meminta ijin terlebih dahulu pada sesepuh kampung. Selain meminta persetujuannya, diharap masyarakat kampung naga tidak merasa terganggu oleh kedatangan pengunjung. Seorang pemandu wisata Kampung Naga juga mengingatkan bagi pengunjung yang ingin memotret agar meminta ijin dulu, sebab hal itu tidak dilakukan, foto-fotonya tidak akan jadi atau terbakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sebelah utara Kampung Naga, berderet kolam-kolam ikan yang sengaja dibuat warga. Memang telah menggunakan tembok untuk pinggirnya, namun hampir disetiap kolam memiliki jamban (pacilingan) yang masih terbuat dari anyamam bambu. Jamban tersebut dipergunakan warga sebagai tempat MCK. Meski sederhana namun masyarakat naga telah memandang kesehatan sebagi suatu kebutuhan utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasil sensus penduduk tahun 2004 masyarakat Kampung Naga kurang lebih 326 jiwa, yang terdiri dari 106 kepala keluarga. Mayoritas dari mereka bermata pencaharian petani, disamping ada yang berdagang dan merantau ke luar kampung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kampung Naga, menurut kepercayaan masyarakatnya, adalah keturunan kerajaan Galunggung masa Islam. Mereka keturunan Sembah Dalem Singaparana, anak Prabu Rajadipuntang, Raja Galunggung VII. Prabu Rajadipuntang adalah Raja Galunggung terakhir yang menyingkir ke arah daerah Linggawangi. Menurut catatan sejarah, Kerajaan Galunggung runtuh di tangan Prabu Rajadipuntang pada 1520-an karena diserang oleh Kerajaan Pajajaran di bawah Prabu Surawisesa (1535-1543).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu ada perebutan kuasa antara kerajaan Islam dan asli. Kerajaan Galunggung telah menjadi pemeluk agama Islam dan berarti tidak lagi menjadikan Pajajaran sebagai pusat. Menghadapi serangan itu, Prabu Rajadipuntang menyelamatkan harta pusaka dan menyerahkannya pada anak bungsunya yang bernama Singaparana. Untuk melaksanakan tugas itu Singaparana dibekali ilmu kadigdayaan yang membuat dirinya bisa nyumput buni dina caang (bersembunyi di keramaian).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hutan Larangan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kampung Naga diapit dua bukit dan di sisi Sungai Ciwulan. Di seberang sungai itu terdapat bukit kecil yang dipenuhi pohon-pohon yang tampaknya berumur sangat tua. Itulah hutan yang oleh masyarakat Kampung Naga disebut dengan Leuweung Larangan atau hutan larangan. Sementara di sebelah barat atau di belakang perkampungan terdapat Leuweung Keramat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Leuweung Larangan, yang terletak di sebelah timur pemukiman, disebut sebagai hutan tempat para dedemit. Para dedemit itu mulanya menempati areal yang dihuni masyarakat Kampung Naga. Namun oleh Mbah Dalem Singaparana, para dedemit itu dipindahkan ke hutan tersebut. Leuweung Larangan merupakan tempat yang sama-sekali dilarang untuk diinjak oleh siapa pun, khususnya warga Kampung Naga. Jangankan memasukinya, menginjakkan sebelah kaki pun merupakan merupakan pantangan yang sangat keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara kosmologis, masyarakat Kampung Naga memilah dunia dalam tiga wilayah, yaitu Leuweung Keramat (tempat nenek moyang mereka dimakamkan) yang ada di sebelah barat. Lalu wilayah perkampungan tempat mereka hidup dan bercocok tanam yang terletak di tengah-tengah. Dan Leuweung Larangan tempat yang dihuni para dedemit yang terdapat di sebelah timur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Posisi perkampungan tidak secara langsung berhubungan dengan kedua hutan tersebut. Leuweung Larangan dibatasi oleh sebuah Sungai Ciwulan, sedangkan Leuweung Keramat dibatasi oleh tempat masjid, ruang pertemuan dan Bumi Ageung (tempat penyimpanan harta pusaka). Leuweung Larangan di arah timur dan leweung Keramat di arah barat merupakan sumber kekuatan sakral kehidupan keseharian mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan Leuweung Larangan merupakan wilayah kacau, tempat semua dedemit dan roh jahat berada. Leweung Karamat berada di sebelah barat adalah sumber kebaikan; masjid dan harta pusaka menjadi penghubung untuk mengalirkan kesakralan ke arah barat. Hutan Keramat dan Bumi Ageung yang berada di bagian barat masjid, di posisi kiblat, secara simbolis menunjukkan negosiasi ajaran Islam dan tradisi lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadap ke kiblat berarti membayangkan penghadapan pada Kabah yang harus melalui penghadapan terhadap harta pusaka dan hutan keramat. Keinginan mendapatkan kesakralan Kabah didahului oleh penghubungan diri terhadap nenek moyang yang dikuburkan di Leuweung Keramat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kosmologi ruang seperti ini barangkali yang menjadi dasar penolakan mereka terhadap warganya yang telah berhaji. Berhaji berarti berziarah secara langsung ke makam Orang Suci. Yang berhaji telah secara langsung berhubungan karena itu tak lagi membutuhkan kiblat yang dibungkus Bumi Ageung dan Leuweung Keramat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bumi Ageung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat kompisisi dan kedudukan Bumi Ageung tersebut memperlihatkan garis kosmologis yang tegas, yaitu bahwa seluruh rumah berpusat pada Bumi Ageung dan Bumi Ageung berhubungan atau berpusat pada Leuweung Keramat, tempat nenek moyang atau makam para Karuhun. Pandangan kosmologis yang menempatkan manusia (bumi tempat manusia berada) dalam impitan antara yang sakral (Leuweung Keramat) dan yang kacau (Leuweung Larangan), telah memosisikan manusia di antara dua keadaan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal tersebut tampak pada pandangan mereka tentang kosmologi waktu, yang secara umum dibagi dua, yaitu waktu nahas (tidak baik) dan waktu hade (baik). Keadaan kehidupan (dunia) manusia yang terimpit antara Leuweung Larangan (kebaikan, Yang Sakral) dan Leuweung Keramat (ketidakbaikan) tersebut mengharuskan manusia untuk teliti dan hati-hati dalam menjalani kehidupan karena kedua dunia yang mengimpit tersebut telah pula memengaruhi waktu kehidupan manusia, waktu baik dan waktu tidak baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terhadap waktu mereka membuat tiga patokan aktivitas, yaitu: Bismillah, berhubungan dengan awal dan asal (Yang Sakral), bernilai satu; Alhamdulillah, berhubungan dengan harapan hidup manusia yang baik (Dunia Tengah), dengan nilai dua; dan, Astaghfirullah, berhubungan dengan dunia yang tidak baik, bernilai tiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Patokan ini menjadi dasar aktivitas mereka dalam mencari keselamatan, kemakmuran, dan penghindaran dari malapetaka. Misalnya, bagi orang yang hendak berobat disarankan untuk mulai berangkat pada hari yang bernaktu satu, sedangkan terhadap ruang (alam) mereka memiliki patokan nyangcang munding dina batu ku tambang sajeungkal, seug mun eling moal luput hami nyangcang kuda sabatekan begung; gaduh satapak munding seug mun eling moal luput mahi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="http://3.bp.blogspot.com/-BveKlylHsp4/UXYCTm6kgZI/AAAAAAAAAv8/b_wwqWinP5w/s72-c/kampung-naga1.jpg" width="72"/></item><item><title>Ajaran Hastabrata</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/04/ajaran-hastabrata.html</link><category>Kejawen</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Fri, 11 Apr 2014 01:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-2381917959208365859</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wahyu Makutha Rama yang dikenal dengan nama ajaran HASTABRATA yang artinya HASTA adalah 8 dan BRATA adalah tingkah laku atau watak. Jadi HASTABRATA adalah merupakan 8 guidance (pedoman) ilmu standard perilaku manusia dalam leadership &amp;amp; Manajemen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama ilmu HASTABRATA telah di-wejangkan oleh Raden Regowo (Titisan Bhatara Wisnu) dari Ayodya kepada adiknya Barata sebelum dinobatkan menjadi raja di Ayodya bergelar Prabu Barata (Dalam Cerita Romo Tundung).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang kedua oleh Raden Regowo juga (Titisan Bhatara Wisnu) dari Ayodya kepada Raden Wibisono sebelum dinobatkan menjadi raja di Alengka yang berganti nama menjadi Sindelo bergelar Prabu Wibisono (Dalam Cerita Bedah Alengko).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang ketiga Sri Bathara Kresna (Juga Titisan Bhatara Wisnu) dari Dworowati mewejangkan rahasia ilmu HASTABRATA (Dalam Cerita Wahyu Makutoromo) kepada Raden Arjuna, sebagai penengah Pendawa yang telah menjalani “Perilaku” prihatin dengan cara bertapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan bahwa ke-delapan unsur alam semesta tersebut dapat menjadi teladan perilaku sehari-hari dalam pergaulan masyarakat terlebih lagi dalam rangka memimpin negara dan bangsa dengan implementasi prinsip-prinsip hukum alamiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ajaran HASTABRATA berisi 8 ajaran perilaku yang harus dipunyai seorang pemimpin, yang terdiri dari sbb;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Watak Surya atau matahari diteladani oleh Bhatara Surya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matahari memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin hendaknya mampu menumbuh kembangkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negara dengan bekal lahir dan batin untuk dapat tetap berkarya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Watak Candra atau Bulan diteladani oleh Bhatari Ratih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan memancarkan sinar kegelapan malam. Cahaya bulan yang lembut mampu menumbuhkan semangat dan harapan-harapan yang indah. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberikan dorongan atau motivasi untuk membangkitkan semangat rakyatnya, dalam suasana suka dan duka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Watak Kartika atau Bintang diteladani oleh Bhatara Ismoyo&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bintang memancarkan sinar indah kemilau, mempunyai tempat yang tepat di langit hingga dapat menjadi pedoman arah. Seorang pemimpin hendaknya menjadi suri teladan (Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tutwuri Handayani). Tidak ragu lagi menjalankan keputusan yang disepakati, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan menyesatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Watak Angkasa yaitu Langit diteladani oleh Bhatara Indra&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langit itu luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan batin dan kemampuan mengendalikan diri yang kuat, hingga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Watak Maruta atau Angin diteladani oleh Bhatara Bayu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Angin selalu ada di mana-mana, tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, bisa mengetahui keadaan dan keinginan rakyatnya. Mampu memahami dan menyerap aspirasi rakyat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Watak Samudra yaitu Laut atau Air diteladani oleh Bhatara Baruna&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laut, betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yang rata dan bersifat sejuk menyegarkan. Seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua orang pada derajat dan martabat yang sama, sehingga dapat berlaku adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Watak Dahana atau Api diteladani oleh Bhatara Brahma&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Api mempunya kemampuan untuk membakar habis dan menghancur leburkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan harus bisa menegakkan kebenaran dan keadilan secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Watak Bumi yaitu Tanah diteladani oleh Bhatara Wisnu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bumi mempunyai sifat kuat dan bermurah hati. Selalu memberi hasil kepada siapa pun yang mengolah dan memeliharanya dengan tekun. Seorang pemimpin hendaknya berwatak sentosa, teguh dan murah hati, senang beramal dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan rakyatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A. LAKON “WAHYU MAKUTARAMA”&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Pengantar&lt;br /&gt;
Lakon “Wahyu Makutarama” adalah bukti kepiawaian para pujangga Nusantara dalam mengadopsi cerita wayang, yang aslinya dari India. Epos India terdiri dari “Ramayana” dan “Mahabharata”.&lt;br /&gt;
Lakon “Wahyu Makutarama” adalah hasil karya leluhur Nusantara kita, merupakan “titik temu” atau “jembatan penghubung” antara kedua kisah tadi,&lt;br /&gt;
Dalam lakon ini ada tokoh Gunawan Wibisana dan Anoman, tokoh dalam kisah Ramayana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Ringkasan lakon “Wahyu Makutarama”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syahdan, para dewa mengabarkan kepada para insan marcapada, bahwa telah ada Mahkota yang diberi nama Sri Batara Rama. Barangsiapa memiliki mahkota itu, akan menjadi sakti, dan kelak akan menurunkan raja-raja yang memerintah di marcapada. Karena berkhasiat menurunkan raja-raja, kemudian sering disebut sebagai “Wahyu Makutarama”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prabu Duryudana dari Astina mengutus Adipati Karna untuk memperoleh mahkota sekaligus wahyu tadi. Adipati Karna, dengan diiringi para senapati Kurawa, pergi menemui Begawan Kesawasidi di pertapaan Kutharunggu. Karna meminta wahyu itu, yang diyakininya berada di tangan Kesawasidi. Kesawasidi mengatakan dia tidak punya Makutarama. Adipati Karna marah, dan melepaskan panahnya, yang disambut oleh Anoman, pendamping Kesawasidi. Panah itu ditangkap Anoman, kemudian dipersembahkan kepada Kesawasidi. Bukannya dipuji, Anoman malah ditegur Kesawasidi, karena, dapat dipandang sebagai meragukan kepiawaian kanuragan gurunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Karna pergi, datanglah Begawan Wibisana, adik Rahwana, yang sudah berusia lanjut dan ingin segera meninggalkan dunia, kembali ke alam asal. Tidak dilayani oleh Kesawasidi, hingga terjadi pertempuran. Kesawasidi “tiwikrama”, dan sadarlah WIbisana bahwa Kesawasidi titisan Rama, bekas junjungannya dulu. Kesawasidi memberi petunjuk cara kembali ke alam asal. Wibisana pamit, dan dalam perjalanan ke alam asal bertemu sukma Kumbakarna, kakaknya dulu, yang sedang gelisah. Wibisana menasehati Kumbakarna supaya menyatu dengan Bima, ksatria Pandawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, Arjuna juga berupaya mendapatkan Makutarama. Dia pergi diam-diam dari istananya, kemudian menyamar sebagai pendeta. Selagi bersemedi, Arjuna mendapat “wangsit” untuk menemui Begawan Kesawasidi.&lt;br /&gt;
Setelah Arjuna datang menghadap, tahulah Kesawasidi bahwa sudah tiba saatnya memberikan wahyu itu kepada orang yang tepat. Diwedarkannya rahasia bahwa Makutarama bukanlah berujud benda, tetapi berupa ajaran luhur yang patut dijadikan pedoman dan dilakoni oleh manusia, terutama yang mengemban tugas sebagai pemimpin. Ajaran luhur ini dinamakan “Asta Brata”, yang intinya meneladan sifat-sifat alam dalam melakoni kehidupan. Asta Brata ini dulunya diajarkan Rama kepada Wibisana, sepeninggal Rahwana, sebagai bekal bagi Wibisana menjadi raja Alengka menggantikan Rahwana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepeninggal Arjuna, Bima mencarinya. Dalam pencarian itu, ketemu sukma Kumbakarna, yang kemudian merasuk ke paha kiri Bima. Istri Arjuna, Sumbadra, juga mencari Arjuna. Sumbadra dibantu Betara Narada, dan berubah rupa menjadi ksatria, yang kemudian pergi ke Kutharunnggu menantang perang Arjuna.&lt;br /&gt;
Dalam perang tanding itu, Kesawasidi datang. dan “badar” lah semuanya. Kesawasidi kembali ke wujud Kresna, sang ksatria penantang kembali menjadi Sumbadra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arjuna mewarisi wahyu Makutarama berupa ajaran “Asta Brata”, yang kelak diwariskan kepada puteranya, Abimanyu. Anak Abimanyu, Parikesit, belakangan mewarisi tahta kerajaan Hastina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. “ASTA BRATA”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Inti ajaran Asta Brata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ajaran Astabrata pada awalnya merupakan ajaran yang diberikan olah Rama kepada Wibisana. Ajaran tersebut terdapat dalam Serat Rama Jarwa Macapat, tertuang pada pupuh 27 Pankur, jumlah bait 35 buah. Pada dua pupuh sebelumnya diuraikan kekalahan Rahwana dan kesedihan Wibisana. Disebutkan, perkelahian antara Rahwana melawan Rama sangat dahsyat. Seluruh kesaktian Rahwana ditumpahkan dalam perkelahian itu, namun tidak dapat menendingi kesaktian Rama. Ia gugur olah panah Gunawijaya yang dilepaskan Rama. Melihat kekalahan kakaknya, Wibisana segera bersujud di kaki jasad kakaknya dan menangis penuh kesedihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rama menghibur Wibisana dengan memuji keutamaan Rahwana yang dengan gagah berani sebagai seorang raja yang gugur di medan perang bersama balatentaranya. Oleh Rama, Raden Wibisana diangkat menjadi Raja Alengka menggantikan Rahwana. Rama berpesan agar menjadi raja yang bijaksana mengikuti delapan sifat dewa yaitu Indra, Yama, Surya, Bayu, Kuwera, Brama, Candra, dan Baruna. Itulah yang disebut dengan Asthabrata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam lakon Wahyu Makutarama, Prabu Rama menitis kepada Kresna untuk melestarikan Asta Brata dan menurunkannya kepada Arjuna. Setelah itu, Asta Brata diturunkan oleh Arjuna kepada Abimanyu dan diteruskan kepada Parikesit yang kemudian menjadi Raja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asta Brata adalah simbol alam semesta. Arti harfiahnya “delapan simbol alam”, tetapi sejatinya menyiratkan keharmonisan sistem alam semesta. Pada hakikatnya kedelapan sifat tersebut merupakan manifestasi keselarasan yang terdapat pada tata alam semesta yang diciptakan Tuhan, dan manusia harus menyelaraskan diri&lt;br /&gt;
dengan tata alam semesta kalau ingin selamat dan terhindar malapetaka. Bila manusia, sebagai ciptaan Tuhan, bisa selaras dengan alam semesta, maka selaraslah kehidupannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Delapan simbol alam itu adalah: bumi, geni, banyu, angin, srengenge, bulan, lintang, dan awan. Mengambil kedelapan simbol alam sebagai contoh, itu lah inti ajaran Asta Brata, sebagai pedoman tingkah laku seorang raja, yang secara singkat dapat dirangkum sebagai:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dapat memberikan kesejukan dan ketentraman kepada warganya; membasmi kejahatan dengan tegas tanpa pandang bulu; bersifat bijaksana, sabar, ramah dan lembut; melihat, mengerti dan menghayati seluruh warganya; memberikan kesejahteraan dan bantuan bagi warganya yang memerlukan; mampu menampung segala sesuatu yang datang kepadanya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; gigih dalam mengalahkan musuh dan dapat memberikan pelita bagi warganya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Beberapa versi rumusan Asta Brata&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Menurut Yasadipura I ((1729-1803 M) dari keraton Surakarta:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Asta Brata adalah delapan prinsip kepemimpinan sosial yang meniru filosofi/sifat alam, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Mahambeg Mring Kismo (meniru sifat bumi)&lt;br /&gt;
Seperti halnya bumi, seorang pemimpin berusaha untuk setiap saat menjadi sumber kebutuhan hidup bagi siapa pun. Dia mengerti apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya dan memberikan kepada siapa saja tanpa pilih kasih. Meski selalu memberikan segalanya kepada rakyatnya, dia tidak menunjukkan sifat sombong/angkuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Mahambeg Mring Warih (meniru sifat air)&lt;br /&gt;
Seperti sifat air, mengalir dari tinggi ke tempat yang lebih rendah dan sejuk/dingin. Seorang pemimpin harus bisa menyatu dengan rakyat sehingga bisa mengetahui kebutuhan riil rakyatnya. Rakyat akan&lt;br /&gt;
merasa sejuk, nyaman, aman, dan tentram bersama pemimpinnya. Kehadirannya selalu diharapkan oleh rakyatnya. Pemimpin dan rakyat adalah mitra kerja dalam membangun persada tercinta ini. Tanpa rakyat, tidak ada yang jadi pemimpin, tanpa rakyat yang mencintainya, tidak ada pemimpin yang mampu melakukan tugas yang diembannya sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Mahambeg Mring Samirono (meniru sifat angin)&lt;br /&gt;
Seperti halnya sifat angin, dia ada di mana saja/tak mengenal tempat dan adil kepada siapa pun. Seorang pemimpin harus berada di semua strata/lapisan masyarakatnya dan bersikap adil, tak pernah diskriminatif (membeda-bedakan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Mahambeg Mring Condro (meniru sifat bulan)&lt;br /&gt;
Seperti sifat bulan, yang terang dan sejuk. Seorang pemimpin mampu menawan hati rakyatnya dengan sikap keseharian yang tegas/jelas dan keputusannya yang tidak menimbulkan potensi konflik. Kehadiran pemimpin bagi rakyat menyejukkan, karena aura sang pemimpin memancarkan kebahagiaan dan harapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Mahambeg Mring Suryo (meniru sifat matahari)&lt;br /&gt;
Seperti sifat matahari yang memberi sinar kehidupan yang dibutuhkan oleh seluruh jagat. Energi positif seorang pemimpin dapat memberi petunjuk/jalan/arah dan solusi atas masalah yang dihadapi rakyatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Mahambeg Mring Samodra (meniru sifat laut/samudra)&lt;br /&gt;
Seperti sifat lautan, luas tak bertepi, setiap hari menampung apa saja (air dan sampah) dari segala penjuru, dan membersihkan segala kotoran yang dibuang ke pinggir pantai. Bagi yang memandang laut, yang terlihat hanya kebeningan air dan timbulkan ketenangan. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan hati dan pandangan, dapat menampung semua aspirasi dari siapa saja, dengan penuh kesabaran, kasih sayang, dan pengertian terhadap rakyatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Mahambeg Mring Wukir (meniru sifat gunung)&lt;br /&gt;
Seperti sifat gunung, yang teguh dan kokoh, seorang pemimpin harus memiliki keteguhan-kekuatan fisik dan psikis serta tidak mudah menyerah untuk membela kebenaran maupun membela rakyatnya. Tetapi juga penuh hikmah tatkala harus memberikan sanksi. Dampak yang ditimbulkan dengan cetusan kemarahan seorang pemimpin diharapkan membawa kebaikan seperti halnya efek letusan gunung berapi yang dapat menyuburkan tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Mahambeg Mring Dahono (meniru sifat api)&lt;br /&gt;
Seperti sifat api, energi positif seorang pemimpin diharapkan mampu menghangatkan hati dan membakar semangat rakyatnya mengarah kepada kebaikan, memerangi kejahatan, dan memberikan perlindungan kepada rakyatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Menurut Serat Aji Pamasa (Pedhalangan) karya Raden Ngabehi Rangga Warsita. Pemimpin dituntut ngerti, ngrasa, dan nglakoni (Tri-Nga) 8 (delapan) watak alam. Hasta berarti delapan, brata berarti laku atau watak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Watak Surya atau srengenge (matahari); sareh sabareng karsa, rereh ririh ing pangarah.&lt;br /&gt;
2. Watak Candra atau rembulan (Bulan); noraga met prana, sareh sumeh ing netya, alusing budi jatmika, prabawa sreping bawana.&lt;br /&gt;
3. Watak Sudama atau lintang (Bintang); lana susila santosa, pengkuh lan kengguh andriya. Nora lerenging ngubaya, datan lemeren ing karsa. Pitayan tan samudana, setya tuhu ing wacana, asring umasung wasita. Sabda pandhita ratu tan kena wola wali.&lt;br /&gt;
4. Watak Maruta atau angin (Udara yang bergerak); teliti setiti ngati-ati, dhemen amariksa tumindake punggawa kanthi cara alus.&lt;br /&gt;
5. Watak Mendhung atau mendhung (Awan hujan); bener sajroning paring ganjaran, jejeg lan adil paring paukuman.&lt;br /&gt;
6. Watak Dahana atau geni atau latu (Api); dhemen reresik regeding bawana, kang arungkut kababadan, kang apateng pinadhangan.&lt;br /&gt;
7. Watak Tirta atau banyu atau samodra (Air); tansah paring pangapura, adil paramarta. Basa angenaki krama tumraping kawula.&lt;br /&gt;
8. Watak pratala atau bumi atau lemah (Tanah); tansah adedana lan karem paring bebungah marang kawula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Menurut lakon Wahyu Makutharama, diajarkan oleh Begawan Kesawasidi (Prabu Kresna) kepada Raden Arjuna, sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. “kapisan bambege surya, tegese sareh ing karsa, derenging pangolah nora daya-daya kasembadan kang sinedya. Prabawane maweh uriping sagung dumadi, samubarang kang kena soroting Hyang Surya nora daya-daya garing. Lakune ngarah-arah, patrape ngirih-irih, pamrihe lamun sarwa sareh nora rekasa denira misesa, ananging uga dadya sarana karaharjaning sagung dumadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Kapindho hambege candra yaiku rembulan, tegese tansah amadhangi madyaning pepeteng, sunare hangengsemake, lakune bisa amet prana sumehing netya alusing budi anawuraken raras rum sumarambah marang saisining bawana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Katelu hambeging kartika, tegese tansah dadya pepasrening ngantariksa madyaning ratri. Lakune dadya panengeraning mangsa kala, patrape santosa pengkuh nora kengguhan, puguh ing karsa pitaya tanpa samudana, wekasan dadya pandam pandom keblating sagung dumadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Kaping pate hameging hima, tegese hanindakake dana wesi asat; adil tumuruning riris, kang akarya subur ngrembakaning tanem tuwuh. Wesi asat tegese lamun wus kurda midana ing guntur wasesa, gebyaring lidhah sayekti minangka pratandha; bilih lamun ala antuk pidana, yen becik antuk nugraha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Kalima ambeging maruta, werdine tansah sumarambah nyrambahi sagung gumelar; lakune titi kang paniti priksa patrape hangrawuhi sakabehing kahanan, ala becik kabeh winengku ing maruta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Kaping nem hambeging dahana, lire pakartine bisa ambrastha sagung dur angkara, nora mawas sanak kadang pawong mitra, anane muhung anjejegaken trusing kukuming nagara.&lt;br /&gt;
7. Kasapta hambeging samodra, tegese jembar momot myang kamot, ala becik kabeh kamot ing samodra; parandene nora nana kang anabet. Sa-isene maneka warna, sayekti dadya pikukuh hamimbuhi santosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Kaping wolu hambeging bantala, werdine ila legawa ing driya; mulus agewang hambege para wadul. Danane hanggeganjar myang kawula kang labuh myang hanggulawenthah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. NILAI DAN TELADAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Relevansi Asta Brata dengan ajaran serupa di dunia Internasional.&lt;br /&gt;
Ada banyak rumusan Asta Brata. Bahkan, pernah dijadikan pelajaran wajib di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah ajaran ini bersifat Universal, dalam arti tidak hanya dihayati bangsa Indonesia saja?&lt;br /&gt;
Ternyata, memang benar. Ajaran Asta Brata bersifat Universal, dikenal pula di belahan dunia yang lain, walau pun berbeda sebutan dan rumusannya. Berupa apa sifat ajaran Universalnya?&lt;br /&gt;
Yaitu, bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Negeri China, Korea, dan Jepang dikenal “Fengshui” (harfiahnya Angin dan Air), yang berlandaskan teori lima proses: Logam, Kayu, Tanah, Air, dan Api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di anak benua India, dikenal pula Teori 5 Unsur: Api, Tanah, Air, Udara (Angin) dan Ruang.&lt;br /&gt;
Mengapa hanya lima? Berarti ajaran Asta Brata lebih lengkap?&lt;br /&gt;
Ternyata, tidak sesederhana itu.&lt;br /&gt;
Perhatikan, adakah unsur “Ruang” dalam ajaran Asta Brata?&lt;br /&gt;
Tanpa ruang, di manakah ke unsur-unsur alam itu berada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makna: Tidak semua yang terlihat berbeda itu benar-benar berbeda. Perluaslah wawasan kita untuk bisa melihat, bahwa ada kesamaan di antara perbedaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Esensi Makna Asta Brata&lt;br /&gt;
Asta Brata bukan hanya berlaku bagi para pemimpin saja. Setiap manusia, seyogyanya mengamalkannya, dalam arti “hidup selaras dengan alam”, dan “menjalankan peran yang diembannya, sehingga memberi manfaat bagi sesama”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pemimpin yang tidak mampu melaksanakan Asta Brata bagai raja tanpa mahkota. Sebaliknya, rakyat jelata yang dalam hidupnya mampu melaksanakan Asta Brata, berarti ia adalah rakyat jelata yang bermahkota, dialah manusia yang luhur budi pekertinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Puncak Ilmu Kejawen</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/04/puncak-ilmu-kejawen.html</link><category>Kejawen</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Sat, 5 Apr 2014 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-1077517580878411713</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrH3EVAnNwXKWrFQRbFu3qMda8ZX6RsJpwdMHjCRquSGt4syMGyy2dJLqmUMA_dk2x2sKRaLgxIjib5NyZCUEQbIC0Q2FxCEXujVAPMf9rnlu-JI6fbhmWYn3elacYAvU_MJz6PL3EEC5l/s1600/puncak_ilmu_kejawen.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrH3EVAnNwXKWrFQRbFu3qMda8ZX6RsJpwdMHjCRquSGt4syMGyy2dJLqmUMA_dk2x2sKRaLgxIjib5NyZCUEQbIC0Q2FxCEXujVAPMf9rnlu-JI6fbhmWYn3elacYAvU_MJz6PL3EEC5l/s1600/puncak_ilmu_kejawen.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ilmu “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah puncak Ilmu Kejawen. “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” artinya; wejangan berupa mantra sakti untuk keselamatan dari unsur-unsur kejahatan di dunia. Wejangan atau mantra tersebut dapat digunakan untuk membangkitkan gaib “Sedulur Papat” yang kemudian diikuti bangkitnya saudara “Pancer” atau sukma sejati, sehingga orang yang mendapat wejangan itu akan mendapat kesempurnaan. Secara harfiah arti dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah sebagai berikut; Serat = ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian. Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau lambang keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan.Pengertiannya; bahwa Serat Sastrajendra Hayuningrat adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asal-usul Sastra Jendra dan Filosofinya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Menurut para ahli sejarah, kalimat “Sastra Jendra” tidak pernah terdapat dalam kepustakaan Jawa Kuno.&amp;nbsp; Tetapi baru terdapat pada abad ke 19 atau tepatnya 1820. Naskah dapat ditemukan dalam tulisan karya Kyai Yasadipura dan Kyai Sindusastra dalam lakon Arjuno Sastra atau Lokapala. Kutipan diambil dari kitab Arjuna Wijaya pupuh Sinom pada halaman 26;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain daripada itu, sungguh heran bahwa tidak seperti permintaan anak saya wanita ini, yakni barang siapa dapat memenuhi permintaan menjabarkan “Sastra Jendra hayuningrat” sebagai ilmu rahasia dunia (esoterism) yang dirahasiakan oleh Sang Hyang Jagad Pratingkah. Dimana tidak boleh seorangpun mengucapkannya karena mendapat laknat dari Dewa Agung walaupun para pandita yang sudah bertapa dan menyepi di gunung sekalipun, kecuali kalau pandita mumpuni. Saya akan berterus terang kepada dinda Prabu, apa yang menjadi permintaan putri paduka. Adapun yang disebut Sastra Jendra Yu Ningrat adalah pangruwat segala segala sesuatu, yang dahulu kala disebut sebagai ilmu pengetahuan yang tiada duanya, sudah tercakup ke dalam kitab suci (ilmu luhung = Sastra). Sastra Jendra itu juga sebagai muara atau akhir dari segala pengetahuan. Raksasa dan Diyu, bahkan juga binatang yang berada dihutan belantara sekalipun kalau mengetahui arti Sastra Jendra akan diruwat oleh Batara, matinya nanti akan sempurna, nyawanya akan berkumpul kembali dengan manusia yang “linuwih” (mumpuni), sedang kalau manusia yang mengetahui arti dari Sastra Jendra nyawanya akan berkumpul dengan para Dewa yang mulia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ajaran “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” mengandung isi yang mistik, angker gaib, kalau salah menggunakan ajaran ini bisa mendapat malapetaka yang besar. Seperti pernah diungkap oleh Ki Dalang Narto Sabdo dalam lakon wayang Lahirnya Dasamuka. Kisah ceritanya sebagai berikut;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begawan Wisrawa mempunyai seorang anak bernama Prabu Donorejo, yang ingin mengawini seorang istri bernama Dewi Sukesi yang syaratnya sangat berat, yakni;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Bisa mengalahkan paman Dewi Sukesi, yaitu Jambu Mangli, seorang raksasa yang sangat sakti.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bisa menjabarkan ilmu “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Prabu Donorejo tidak dapat melaksanakan maka minta bantuan ayahandanya, Begawan Wisrawa yang ternyata dapat memenuhi dua syarat tersebut. Maka Dewi Sukesi dapat diboyong Begawan Wisrawa, untuk diserahkan kepada anaknya Prabu Donorejo.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selama perjalanan membawa pulang Dewi Sukesi, Begawan Wisrawa jatuh hati kepada Dewi Sukesi demikian juga Dewi Sukesi hatinya terpikat kepada Begawan Wisrawa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
“Jroning peteng kang ono mung lali, jroning lali gampang nindakake kridaning priyo wanito,” kisah Ki Dalang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Begawan Wisrawa telah melanggar ngelmu “Sastra Jendra”, beliau tidak kuat menahan nafsu seks dengan Dewi Sukesi. Akibat dari dosa-dosanya maka lahirlah anak yang bukan manusia tetapi berupa raksasa yang menakutkan, yakni;&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Dosomuko&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kumbokarno&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sarpokenoko&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Gunawan Wibisono&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah anak pertama lahir, Begawan Wisrawa mengakui akan kesalahannya, sebagai penebus dosanya beliau bertapa atau tirakat tidak henti-hentinya siang malam. Berkat gentur tapanya, maka lahir anak kedua, ketiga dan keempat yang semakin sempurna.Laku Begawan Wisrawa yang banyak tirakat serta doa yang tiada hentinya, akhirnya Begawan Wisrawa punya anak-anak yang semakin sempurna ini menjadi simbol bahwa untuk mencapai Tuhan harus melalui empat tahapan yakni; Syariat, Tarikat, Hakekat, Makrifat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Lakon ini mengingatkan kita bahwa untuk mengenal diri pribadinya, manusia harus melalui tahap atau tataran-tataran yakni;&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Syariat; dalam falsafah Jawa syariat memiliki makna sepadan dengan Sembah Rogo.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tarikat; dalam falsafah Jawa maknanya adalah Sembah Kalbu.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hakikat; dimaknai sebagai Sembah Jiwa atau ruh (ruhullah).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Makrifat; merupakan tataran tertinggi yakni Sembah Rasa atau sir (sirullah).&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Pun diceritakan dalam kisah Dewa Ruci, di mana diceritakan perjalanan Bima (mahluk Tuhan) mencari “air kehidupan” yakni sejatinya hidup. Air kehidupan atau tirta maya, dalam bahasa Arab disebut sajaratul makrifat. Bima harus melalui berbagai rintangan baru kemudia bertemu dengan Dewa Ruci (Dzat Tuhan) untuk mendapatkan “ngelmu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bima yang tidak lain adalah Wrekudara/AryaBima, masuk tubuh Dewa Ruci menerima ajaran tentang Kenyataan “Segeralah kemari Wrekudara, masuklah ke dalam tubuhku”, kata Dewa Ruci. Sambil tertawa Bima bertanya :”Tuan ini bertubuh kecil, saya bertubuh besar, dari mana jalanku masuk, kelingking pun tidak mungkin masuk”. Dewa Ruci tersenyum dan berkata lirih:”besar mana dirimu dengan dunia ini, semua isi dunia, hutan dengan gunung, samudera dengan semua isinya, tak sarat masuk ke dalam tubuhku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atas petunjuk Dewa Ruci, Bima masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga kiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tampaklah laut luas tanpa tepi, langit luas, tak tahu mana utara dan selatan, tidak tahu timur dan barat, bawah dan atas, depan dan belakang. Kemudian, terang, tampaklah Dewa Ruci, memancarkan sinar, dan diketahui lah arah, lalu matahari, nyaman rasa hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada empat macam benda yang tampak oleh Bima, yaitu hitam, merah kuning dan putih. Lalu berkatalah Dewa Ruci:”Yang pertama kau lihat cahaya, menyala tidak tahu namanya, Pancamaya itu, sesungguhnya ada di dalam hatimu, yang memimpin dirimu, maksudnya hati, disebut muka sifat, yang menuntun kepada sifat lebih, merupakan hakikat sifat itu sendiri. Lekas pulang jangan berjalan, selidikilah rupa itu jangan ragu, untuk hati tinggal, mata hati itulah, menandai pada hakikatmu, sedangkan yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih, itu adalah penghalang hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang hitam kerjanya marah terhadap segala hal, murka, yang menghalangi dan menutupi tindakan yang baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang baik, segala keinginan keluar dari situ, panas hati, menutupi hati yang sadar kepada kewaspadaan. Yang kuning hanya suka merusak. Sedangkan yang putih berarti nyata, hati yang tenang suci tanpa berpikiran ini dan itu, perwira dalam kedamaian. Sehingga hitam, merah dan kuning adalah penghalang pikiran dan kehendak yang abadi, persatuan Suksma Mulia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Bima melihat, cahaya memancar berkilat, berpelangi melengkung, bentuk zat yang dicari, apakah gerangan itu ?! Menurut Dewa Ruci, itu bukan yang dicari (air suci), yang dilihat itu yang tampak berkilat cahayanya, memancar bernyala-nyala, yang menguasai segala hal, tanpa bentuk dan tanpa warna, tidak berwujud dan tidak tampak, tanpa tempat tinggal, hanya terdapat pada orang-orang yang awas, hanya berupa firasat di dunia ini, dipegang tidak dapat, adalah Pramana, yang menyatu dengan diri tetapi tidak ikut merasakan gembira dan prihatin, bertempat tinggal di tubuh, tidak ikut makan dan minum, tidak ikut merasakan sakit dan menderita, jika berpisah dari tempatnya, raga yang tinggal, badan tanpa daya. Itulah yang mampu merasakan penderitaannya, dihidupi oleh suksma, ialah yang berhak menikmati hidup, mengakui rahasia zat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan Pramana dihidupi oleh suksma yang menguasai segalanya, Pramana bila mati ikut lesu, namun bila hilang, kehidupan suksma ada. Sirna itulah yang ditemui, kehidupan suksma yang sesungguhnya, Pramana Anresandani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ingin mempelajari dan sudah didapatkan, jangan punya kegemaran, bersungguh-sungguh dan waspada dalam segala tingkah laku, jangan bicara gaduh, jangan bicarakan hal ini secara sembunyi-sembunyi, tapi lekaslah mengalah jika berselisih, jangan memanjakan diri, jangan lekat dengan nafsu kehidupan tapi kuasailah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang keinginan untuk mati agar tidak mengantuk dan tidak lapar, tidak mengalami hambatan dan kesulitan, tidak sakit, hanya enak dan bermanfaat, peganglah dalam pemusatan pikiran, disimpan dalam buana, keberadaannya melekat pada diri, menyatu padu dan sudah menjadi kawan akrab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan Suksma Sejati, ada pada diri manusia, tak dapat dipisahkan, tak berbeda dengan kedatangannya waktu dahulu, menyatu dengan kesejahteraan dunia, mendapat anugerah yang benar, persatuan manusia/kawula dan pencipta/Gusti. Manusia bagaikan wayang, Dalang yang memainkan segala gerak gerik dan berkuasa antara perpaduan kehendak, dunia merupakan panggungnya, layar yang digunakan untuk memainkan panggungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila seseorang mempelajari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” berarti harus pula mengenal asal usul manusia dan dunia seisinya, dan haruslah dapat menguraikan tentang sejatining urip (hidup), sejatining Panembah (pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa), sampurnaning pati (kesempurnaan dalam kematian), yang secara gamblang disebut juga innalillahi wainna illaihi rojiuun, kembali ke sisi Tuhan YME dengan tata cara hidup layak untuk mencapai budi suci dan menguasai panca indera serta hawa nafsu untuk mendapatkan tuntunan Sang Guru Sejati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uraian tersebut dapat menjelaskan bahwa sasaran utama mengetahui “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah untuk mencapai Kasampurnaning Pati, dalam istilah RNg Ronggowarsito disebut Kasidaning Parasadya atau pati prasida, bukan sekedar pati patitis atau pati pitaka. “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” seolah menjadi jalan tol menuju pati prasida.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi mereka yang mengamalkan “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dapat memetik manfaatnya berupa Pralampita atau ilham atau wangsit (wahyu) atau berupa “senjata” yang berupa rapal. Dengan rapal atau mantra orang akan memahami isi Endra Loka, yakni pintu gerbang rasa sejati, yang nilainya sama dengan sejatinya Dzat YME dan bersifat gaib. Manusia mempunyai tugas berat dalam mencari Tuhannya kemudian menyatukan diri ke dalam gelombang Dzat Yang Maha Kuasa. Ini diistilahkan sebagai wujud jumbuhing/manunggaling kawula lan Gusti, atau warangka manjing curiga. Tampak dalam kisah Dewa Ruci, pada saat bertemunya Bima dengan Dewa Ruci sebagai lambang Tuhan YME. Saat itu pula Bima menemukan segala sesuatu di dalam dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah inti sari dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” sebagai Pungkas-pungkasaning Kawruh. Artinya, ujung dari segala ilmu pengetahuan atau tingkat setinggi-tingginya ilmu yang dapat dicapai oleh manusia atau seorang sufi. Karena ilmu yang diperoleh dari makrifat ini lebih tinggi mutunya dari pada ilmu pengetahuan yang dapat dicapai dengan akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam dunia pewayangan lakon “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dimaksudkan untuk lambang membabarkan wejangan sedulur papat lima pancer. Yang menjadi tokoh atau pelaku utama dalam lakon ini adalah sbb;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begawan Wisrawa menjadi lambang guru yang memberi wejangan ngelmu Sastrajendra kepada Dewi Sukesi. Ramawijaya sebagai penjelmaan Wisnu&amp;nbsp; (Kayun; Yang Hidup), yang memberi pengaruh kebaikan terhadap Gunawan Wibisono (nafsul mutmainah), Keduanya sebagai lambang dari wujud jiwa dan sukma yang disebut Pancer. Karena wejangan yang diberikan oleh Begawan Wisrawa kepada Dewi Sukesi ini bersifat sakral yang tidak semua orang boleh menerima, maka akhirnya mendapat kutukan Dewa kepada anak-anaknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dasamuka (raksasa) yang mempunyai perangai jahat, bengis, angkara murka, sebagai simbol dari nafsu amarah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kumbakarna (raksasa) yang mempunyai karakter raksasa yakni bodoh, tetapi setia, namun memiliki sifat pemarah. Karakter kesetiannya membawanya pada watak kesatria yang tidak setuju dengan sifat kakaknya Dasamuka. Kumbakarno menjadi lambang dari nafsu lauwamah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sarpokenoko (raksasa setengah manusia) memiliki karakter suka pada segala sesuatu yang enak-enak, rasa benar yang sangat besar, tetapi ia sakti dan suka bertapa. Ia menjadi simbol nafsu supiyah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gunawan Wibisono (manusia seutuhnya); sebagai anak bungsu yang mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan semua kakaknya. Dia meninggalkan saudara-saudaranya yang dia anggap salah dan mengabdi kepada Romo untuk membela kebenaran. Ia menjadi perlambang dari nafsul mutmainah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk yang tidak sesempurna manusia. Misal kisah prabu Salya yang malu karena memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi, istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti keburukan atau kejahatan). Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat tersendiri yang disebut “ Kayangan Setragandamayit “. Wujud Betari Durga adalah raseksi yang memiliki taring dan gemar membantu terwujudnya kejahatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan. Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna. Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya. Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud. Sekalipun manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat&amp;nbsp; Diyu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu. Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sifat Manusia Terpilih&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebelum memutuskan siapa manusia yang berhak menerima anugerah Sastra Jendra, para dewata bertanya pada sang Betara Guru. “ Duh, sang Betara agung, siapa yang akan menerima Sastra Jendra, kalau boleh kami mengetahuinya. “Bethara guru menjawab “ Pilihanku adalah anak kita Wisrawa “. Serentak para dewata bertanya “ Apakah paduka tidak mengetahui akan terjadi bencana bila diserahkan pada manusia yang tidak mampu mengendalikannya. Bukankah sudah banyak kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah menegur para dewata sang Betara Guru menjawab “Hee para dewata, akupun mengetahui hal itu, namun sudah menjadi takdir Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ilmu rahasia hidup justru diserahkan pada manusia. Bukankah tertulis dalam kitab suci, bahwa malaikat mempertanyakan pada Tuhan mengapa manusia yang dijadikan khalifah padahal mereka ini suka menumpahkan darah“. Serentak para dewata menunduk malu “ Paduka lebih mengetahui apa yang tidak kami ketahui”. Kemudian, Betara Guru turun ke mayapada didampingi Betara Narada memberikan Serat Sastra Jendra kepada Begawan Wisrawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ Duh anak Begawan Wisrawa, ketahuilah bahwa para dewata memutuskan memberi amanah Serat Sastra Jendra kepadamu untuk diajarkan kepada umat manusia”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “ Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betara Narada mengatakan “ Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 2 (dua). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “ Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang-orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Demikian lah pemaparan tentang puncak ilmu kejawen yang adiluhung, tidak bersifat primordial, tetapi bersifat universal, berlaku bagi seluruh umat manusia di muka bumi, manusia sebagai mahluk ciptaan Gusti Kang Maha Wisesa, Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang Maha Tunggal. Janganlah terjebak pada simbol-simbol atau istilah yang digunakan dalam tulisan ini. Namun ambilah hikmah, hakikat, nilai yang bersifat metafisis dan universe dari ajaran-ajaran di atas. Semoga bermanfaat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrH3EVAnNwXKWrFQRbFu3qMda8ZX6RsJpwdMHjCRquSGt4syMGyy2dJLqmUMA_dk2x2sKRaLgxIjib5NyZCUEQbIC0Q2FxCEXujVAPMf9rnlu-JI6fbhmWYn3elacYAvU_MJz6PL3EEC5l/s72-c/puncak_ilmu_kejawen.jpeg" width="72"/></item><item><title>Ilmu Asma Gunting</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/04/ilmu-asma-gunting.html</link><category>Ilmu Gaib</category><category>Mistik</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Thu, 3 Apr 2014 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-8473606699830211454</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada zaman dahulu banyak sekali para wali memiliki ilmu-ilmu yang langka, dan bahkan diluar akal manusia. Salah satu ilmu legendaris yang hampir punah ini yaitu ILMU ASMA' GUNTING. Ilmu ini termasuk ilmu yang sangat langka sekali, dan jarang orang yang memiliki kecuali para wali dan para sesepuh ilmu hikmah pada masa zamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0rMnGeJItXFG7Ev4d8kvtmYFkifn0GBSpSxDCpMAZiPcxmJ96izTw1A1Bvp0t7CESMpEx4xTmqD6mdclE8Zq8d0tkmrrQ0HPS-R74XXcATb2QZGzSI5oFpvQGFO4q3AIgBRNnAsqNT2aL/s1600/ilmu_asma_gunting.jpeg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0rMnGeJItXFG7Ev4d8kvtmYFkifn0GBSpSxDCpMAZiPcxmJ96izTw1A1Bvp0t7CESMpEx4xTmqD6mdclE8Zq8d0tkmrrQ0HPS-R74XXcATb2QZGzSI5oFpvQGFO4q3AIgBRNnAsqNT2aL/s1600/ilmu_asma_gunting.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Kehebatan ilmu ASMA' GUNTING ini memang tidak diragukan lagi, karena ilmu ini mempunyai kegunaan yang sangat banyak sekali&amp;nbsp; diantaranya yaitu sebagi keslamatan, berbagai, hajat, menghancurkan musuh baik yang secara terang terangan atau secara tersembunyi. Khusus untuk menghadapi musuh yang terang terangan atau tersembunyi, biasanya ilmu ASMA' GUNTING bekerja dengan banyak cara yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Mampu membutakan mata musuh bila musuh itu berbuat jahat kepada kita&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.Mampu membikin tuli pendengaran musuh bila musuh itu berbuat jahat kepada kita baik secara terang terangan atau secara tersembunyi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.Mampu mengakibatkan musuh atau orang yang berbuat jahat kepada kita mati mendadak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.Mampu mengakibatkan badan musuh sakit bila telah berbuat jahat kepada kita baik secara terang terangan atau tersembunyi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.Mampu mengahancurkan ekonominya musuh, bila berbuat jahat secara terang terangan atau tersembunyi kepada kita, dan orang atau musuh akan selalu kekurangan rezeki dan miskin dimanapun berada&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.Mampu mengakibatkan musibah pada musuh atau orang yang telah berlaku jahat kepada kita baik secara terang terangan ataupun secara tersembunyi dll&lt;br /&gt;
Dalam mengamalkan ILMU ASMA' GUNTING diperlukan kesabaran yang tinggi, karena ilmu ini syarat utamanya harus sabar, apabila orang yang mempunyai ilmu ini tidak mempunyai kesabaran, niscaya ilmu ASMA' GUNTING ini tidak berpengaruh pada musuh kita atau orang yang membenci kita baik secara terang terangan atau secara tersembunyi. Ilmu ini bisa juga digunakan pada orang yang iri, dengki, suka mefitnah, adu domba dll. Dalam jangka tertentu bila sipengamal ini sabar, maka orang yang berbuat jahat kepada kita baik yang pun ya ilmu atau tidak punya ilmu, maka akan menanggung akibatnya sesuai apa yang telah diperbuatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi ilmu ini tidak bisa untuk kejahatan karena ilmu ini hanya digunakan untuk membalas kejahatan yang ditujukan kepada kita baik itu kejahatan secara terang terangan, tersembunyi dan baik serangan fisik atau non fisik. Orang yang mempunyai ILMU ASMA' GUNTING biasanya orangnya sangat bijaksana dalam menyelesaikan masalah baik itu masalah pribadi atau masalah orang lain, karena orang yang memegang ilmu ini secara tidak langsung sebenarnya orang yang sangat berbahaya bagi musuh2nya.&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0rMnGeJItXFG7Ev4d8kvtmYFkifn0GBSpSxDCpMAZiPcxmJ96izTw1A1Bvp0t7CESMpEx4xTmqD6mdclE8Zq8d0tkmrrQ0HPS-R74XXcATb2QZGzSI5oFpvQGFO4q3AIgBRNnAsqNT2aL/s72-c/ilmu_asma_gunting.jpeg" width="72"/></item><item><title>Mistik Ilmu Palasik Minangkabau</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/04/mistik-ilmu-palasik-minangkabau.html</link><category>Kisah Mistik</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Tue, 1 Apr 2014 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-6562587301949257384</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagi orang Minang, kepercayaan pada Hantu Palasiak atau Palasik sama dengan kepercayaan Leak bagi masyarakat Bali, atau Kuyang bagi orang Kalimantan. Hantu Palasiak ini memang sudah lama tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Minang, terutama yang tinggal di pelosok Desa Sumatera Barat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFTR5q2poqGZaFywI_Tf4Mt1XJJGq-oUncC5kOtZuFfjcaT_jG1gZKSl9F99_5tJn3-JMzhHl7lGpk5aVEv7yjmvZFnAxsNf4vY2XO6HJN74OE21jhP64WjucM0iCUMx9Up8KJPEe0Epzr/s1600/Mistik_ilmu_palasik_ilmu_penanggal.png" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFTR5q2poqGZaFywI_Tf4Mt1XJJGq-oUncC5kOtZuFfjcaT_jG1gZKSl9F99_5tJn3-JMzhHl7lGpk5aVEv7yjmvZFnAxsNf4vY2XO6HJN74OE21jhP64WjucM0iCUMx9Up8KJPEe0Epzr/s320/Mistik_ilmu_palasik_ilmu_penanggal.png" width="190" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cerita tentang Hantu Palasiak ini sering pula dituturkan oleh salah seorang saudara ayah&amp;nbsp; yang memang berasal dari Ranah Minang. Menurut saudara ayah itu, ilmu hitam Palasik merupakan warisan turun temurun masyarakat Minah yang ada sejak zaman dahulu kala. Konon, mereka yang menganut ilmu ini biasanya akan membentuk komunitas tersendiri dalam masyarakat. Mereka dulu sangat dikucilkan oleh warga di sekitarnya. Konon, di zaman dahulu kala mereka hanya bisa menikah dengan sesama keturunan Palasiak. Tapi, di zaman sekarang ini, masyarakat sudah bisa menerima keberadaan mereka. Disamping itu, keberadaan mereka juga sulit untuk dikenali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun seseorang mewarisi darah keturunan Palasik dari leluhur, namun bukan berarti secara otomatis mereka akan menjadi Hantu Palasiak. Ada ritual yang harus dilaksanakan untuk bisa menguasai ilmu hitam yang satu ini, sehingga tidak setiap turunan Palasik menjadi Palasik seperti leluhurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa orang Minang punya ilmu Palasik? Dari mana asal muasal ilmu ini sebenarnya. Siapa pula orang pertama yang mengajarkannya, dan di daerah mana tempat asal ilmu yang masih sangat misterius ini? Tentu saja tak mudah untuk menjawab deretan pertanyaan tersebut. Kita berharap, semoga ada saudara kita yang berasal dari Ranah Minang bisa menjelaskanya pada pembaca setia majalah kasayangan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski misteri masih menyelimutinya, yang jelas Hantu Palasiak dapat diyakini benar ada dalam kenyataan. Hal ini setidaknya seperti yang dialami sendiri oleh saudara sepupu Misteri. Sebut saja Dasri, namanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisahnya terjadi 20 tahun yang lalu. Saat itu, Dasri baru duduk di kelas IV SD, usianya 10 tahun. Ketika itu musim libur panjang sekolah bertepatan dengan bulan Ramadhan. Ayah Dasri yang berasal dari Dusun Taratai, Desa Sungai Tarab, Batusangkar, berniat mengajak seluruh keluarganya pulang ke kampung halamannya yang jauh terpencil itu. Rencana ayah Dasri ini tentu saja disambut gembira, terutama oleh dasri. Apalagi, sudah lima tahun ini Dasri tidak bertemu dengan kakek dan nenek, serta saudara-suadara sepupunya yang tinggal di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada hari Minggu siang mereka berangkat dengan bus jurusan Medan-Bukittinggi. Sekitar pukul 8 pagi, bus yang ditumpangi Dasri bersama kedua orangtuanya, meninggalkan kantor pusatnya di Jl. Amaliun, Medan. Setelah melewati batas wilayah kota Medan, bus tancap gas. Semua bangku sudah terisi penuh, termasuk bangku tempel yang tersedia untuk penumpang yang menyetop di jalan.&lt;br /&gt;
Setelah menempuh perjalanan selama 15 jam, bus tiba di terminal Aur Kuning, Bukittinggi, menjelang pukul 10 pagi berikutnya. Perjalanan menuju Batusangkar dilanjutkan dengan menumpang angkutan antar kota dalam propinsi. Angkutan desa hanya sampai di ibu kota kecamatan saja. Menuju Desa Sungai Tarap, harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 5 km.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa warga satu kampung dengan ayah Dasri berjalan bersama menuju desa kelahiran mereka. Mereka terlihat bercerita akrab sekali. Memasuki desa Sungai Tarap, udara dingin pegunungan menyambut kedatangan Dasri. Sawah-sawah terbentang luas di lereng-lereng bukit. Rumah gadang berdiri megah di sepanjang jalan yang dilalui. Tiba di rumah Anggut, sebutan kakek bagi orang Minang, saudara dan sanak kadang sudah berkumpul menyambut kedatangan Dasri bersama kedua orangtuanya. Dalam tempo sekejap saja, rumah Anggut yang luas berbentuk rumah gadang penuh oleh sanak saudara dan kerabat ayah Dasri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berita kedatangan ayah Dasri menyebar dari mulut ke mulut ke pelosok kampung. Apalagi pada malam harinya. Teman-teman ayah Dasri semasa kecil berdatangan menemuinya untuk melepas rindu dan mengenang kembali masa-masa indah dahulu. Mereka berbincang-bincang hingga larut malam. Dua hari di kampung, akhirnya tiba juga hari pekan di desa itu. Dasri diajak ayahnya melihat suasana pekan. Waktu itu turut pula bersama mereka dua orang saudara sepupu Dasri, yakni Budin dan Durin. Usia kedua anak ini sebaya dengan Dasri. Tinggi dan besar, badan juga sama. Yang membedakan warna kulit tubuh mereka. Mungkin karena tinggal di kota, kulit wajah dan tubuh Dasri terlihat putih bersih. Berbeda dengan Budin dan Durin. Kulit kedua anak ini hitam pekat karena setiap hari terjemur di atas teriknya sinar matahari. Jika tidak berada di sawah membantu orangtua merumput, pagi-pagi sekali mereka pergi mengembalakan kerbau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perjalanan ke lokasi pecan itu, ayah Dasri selalu menyapa dengan ramah setiap warga desa yang ditemui atau berpapasan di tengah jalan. Mereka menyalami ayah Dasri dengan ramah pula, seraya bertanya tentang kabar dan kapan datangnya. Sementara itu, Dasri dan dua orang saudara sepupunya saling bercerita dan bercanda dalam perjalanan itu. Meski baru dua hari bertemu, namun mereka sudah kelihatan sangat akrab. Sampai akhirnya di sebuah tikungan jalan desa, mereka melewati sebuah rumah gadang yang lumayan megah. Pemilik rumah itu memanggil ayah Dasri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Singgahlah dulu kemari. Pasar masih sepi!” Kata si pemilik rumah, seorang kakek berusia lanjut, menawari ayah Dasri singgah di rumahnya. Karena menghormati tawaran itu, Ayah Dasri memutuskan singgah ke rumah gadang milik si kakek. Dia juga mengajak Dasri dan dua saudara sepupunya untuk singgah barang sebentar di rumah itu. Tapi, kedua saudara sepupu Dasri berkeras melarang. Budin menggelengkan wajahnya agar Dasri jangan mengikuti ayahnya. Tapi Dasri tetap mengikuti ayahnya berjalan memasuki pekarangan rumah gadang milik si kakek yang sepertinya amat ramah dan baik hati itu. Dasri dituntun ayahnya melewati jembatan terbuat dari batang bambu. Sementara. dua saudara sepupu Dasri hanya berdiri termangu di pinggir jalan. Berulangkali mereka menggelengkan wajahnya, yang memberi isyarat agar Dasri jangan ikut singgah di rumah gadang itu. Hingga wajah keduanya berubah menjadi pucat, Darsi tetap tak peduli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa Budin dan Durin melarang Dasri singgah di rumah itu? Mereka tahu persis pemilik rumah itu adalah suami isteri penganut Palasik. Rumah itu memang terlihat sangat sunyi, seperti tidak ada penghuni lain kecuali seorang kakek dan nenek yang sudah sangat renta. Diketahui, pemilik rumah itu bernama Anggut Adam. Usianya sudah mencapai 78 tahun. Sedangkan isterinya, Niek Syamsidah, usianya sekitar 70 tahun. Rambut kedua pasangan itu sudah memutih, dan kulit tubuhnya hitam keriput. Meski begitu gigi mereka masih utuh, walau nampak hitam berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasri dan ayahnya duduk di ruang tamu, membelakangi kamar tidur si pemilik rumah. Sesaat kemudian, Niek Syamsidah menghidangkan kopi dan ketan hitam. Nenek renta inipun duduk di sisi suaminya. “Berapa anakmu sekarang?” Tanya Niek Syamsidah. “Baru satu, Niek!” Jawab ayah Dasri. “Bawalah isterimu kemari!” Anggut Adam memberi tawaran. “Nantilah di lain waktu,” jawab Ayah Dasri. Perbincangan pun berjalan dengan akrab. Sampai setelah hampir setengah jam di rumah Anggut Adam, Dasri mengajak ayahnya pergi ke pekan. Mereka pun segera berpamitan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Anggut Adam dan isterinya mencoba menahan ayah Dasri agar lebih lama lagi berada di rumahnya. Tapi Dasri terus merengek meminta ayahnya agar meninggalkan rumah Anggut Adam. Dia tak sabar ingin melihat suasana hari pekan di desa. Anggut Adam dan isterinya melepas kepergian tamunya hingga ke pekarangan rumah. “Siapa nama anakmu?” Tanya Niek Syamsiah. “Dasri!” Jawab ayah Dasri. “Kapan-kapan main-main kemari lagi. Anggap ini rumah anggutmu sendiri,” kata Anggut Adam ramah, melepas kepergian Dasri bersama ayahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat keluar dari rumah gadang milik Anggut Adam, warga desa terlihat berjalan berbondong-bondong lewat di depan rumah Anggut Adam membawa seluruh anggota keluarganya. Memang, di hari pekan itu tidak seorang pun warga desa pergi ke sawah. “Rumah anggut Adam terlihat seram ya. Tidak terurus!” Cerus Dasri dalam perjalanan. “Maklum, mereka kan tinggal berdua di rumah itu. Pergi pagi ke sawah dan pulangnya menjelang senja. Jadi mereka tidak punya waktu untuk mengurus rumah,” jawab ayah Dasri. Setelah mendapat jawaban itu, Dasri tidak lagi bertanya pada ayahnya. Apalagi setibanya di lokasi pecan suasana memang sangat ramai. Para pedagang dari kota menjajakan bermacam-macam keperluan warga desa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah, Dasri mau bermain bersama Budin dan Durin ya!” Mohon Dasri sesaat setelah melihat Budin dan Durin berkumpul bersama dengan teman-temannya. “Pergilah!” Jawab ayah Dasri memberi izin.&lt;br /&gt;
Dasri pun segera bergabung dengan Budin dan Durin beserta teman-teman sebayanya. Waktu itulah Dasri sempat bertanya begini, “Mengapa kalian berdua tidak mau diajak singgah di rumah Anggut Adam?” “Anggut bersama isterinya itu Palasiak Kuduang,” jawab Budin. “Apa benar Palasiak itu ada?” Tanya Dasri lagi. “Rumah yang kau datangi tadi rumah Palasiak!” Jawab Durin. Sebelumnya, Dasri memang pernah mendengar cerita Hantu Palasiak dari orang-orang Minang yang tinggal di sekitar rumah orang tuanya di Medan. Menurut cerita mereka, Hantu Palasiak itu dapat melepaskan leher dari tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa jenis Palasiak. Satu di antaranya adalah Palasiak Kuduang. Disebut Palasiak Kuduang, karena si pemilik ilmu hitam ini dapat memotong kepalanya kemudian memasangnya kembali. Kuduang dalam bahasa Minang artinya potong atau penggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu Palasiak selama ini aku belum pernah mendengarnya?” Tanya Dasri, pura-pura tida tahu. “Apa ayahmu tidak pernah bercerita?” Tanya Budin. Dasri hanya mengggelengkan kepalanya. “Palasiak adalah hantu penghisap darah anak-anak seusiamu. Dia mendatangi mangsanya tengah malam. Anak-anak yang darahnya dihisap Palasiak, wajahnya menjadi pucat dan sering sakit-sakitan,” kata Budin menerangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana ada manusia hidup jadi hantu seperti Palasiak itu?” Protes Dasri. “Ada, contohnya Palasiak. Dia menghisap darah, terutama anak-anak yang datang dari kota,” ujar Durin menakuti Dasri. “Mengapa darah anak-anak dari kota yang dihisap Palasiak?” Tanya Dasri, penasaran. “Anak-anak dari kota darahnya manis. Sedangkan anak desa di sini darahnya pahit,” jawab Budin bercanda sembari tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedatangan Dasri bersama ayahnya ke rumah Anggut Adam, diceritakan pula oleh Budin dan Durin kepada kedua orangtua mereka. Etek Yusminah, adik ayah Dasri terperanjat mendengar cerita dari Budin. Saat itu juga, dia segera menemui ayah Dasri. “Mengapa Uda bawa Dasri ke rumah Pak Tuo Adam?” Tanyanya. “Beliaukan masih kerabat kita!” Jawab ayah Dasri. “Ya, tapi beliau suami isteri Palasik!” Sahut Etek Yusminah. Kelihatannya dia merasa sangat cemas. “Ah, memangnya masih ada apa ilmu hitam semacam itu di zaman seperti sekarang ini?” Sanggah ayah Dasri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin saja, Uda! Sebagaiknya segara bawa Dasri ke rumah Datuk Maruhun, untuk minta jimat penangkal padanya,” saran Etek Yusminah. Tapi saran itu tidak dihiraukan ayah Dasri. Datuk Maruhun adalah satu-satunya orang yang dapat memberikan jimat agar seorang anak tidak dihisap darahnya oleh Palasiak. Namun, ayah Dasri menyangsikan kekhawatiran Etek Yusminah. Dua hari berselang, pada malam sabtu, hujan deras turun sejak sore hari hingga malam harinya. Hingga tengah malam hujan tidak juga reda. Di luar rumah, angin bertiup kencang membut malam sangat dingin dan mencekam. Ayah Dasri malam itu tidak ada di rumah. Setelah mengerjakan shalat Jum’at, dia tidak pulang. Dia hanya berpesan pada Anggut Musa, bahwa malam ini dia akan menginap di rumah Pak Sabirin, teman sebangku ayah waktu sekolah di Makhtab Thawalib, Padangpanjang. Hingga tengah malam, hujan tinggal gerimis. Di luar angin masih juga bertiup kencang. Meskipun sudah memakai selimut tebal, tapi udara dingin masih dapat menembus pori-pori kulit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba berhembus angin sangat kencang menerpa pintu kamar tidur yang tidak terkunci. Tiupan angina itu mengempaskan pintu kamar. Suaranya sangat keras sehingga Dasri terjaga dari tidur. Dari balik gorden pintu yang terbuka diterbangkan angin, Dasri melihat seraut wajah nenek tua dan kakek tua muncul. Celakanya, hanya leher dan kepalanya saja yang melayang-layang memasuki kamar. Wajah mereka terlihat samar-samar mirip Anggut Adam dan isterinya, Niek Syamsiah. “Apakah mereka ini palasiak?” Hati Dasri diliputi tanda tanya. Tubuhnya gemetaran karena takut. Kedua potongan kakek dan nenek itu terbang di atas tubuh Dasri, dan melayang-layang dengan sangat menakutkan. Dasri tidak dapat berkata apa-apa. Lidahnya seolah-olah terkunci, sehingga tidak dapat berteriak membangunkan anggutnya yang tidur pulas di sisinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula dengan tubuhnya. Kaku dan gemetar, seperti terikat tali sehingga tidak dapat digerakkan. Hanya kedua bola matanya mengikuti kemana kedua potongan kepala itu bergerak. Setelah berputar-putar, akhirnya kedua potongan kepala itu berhenti di ujung jempol kaki Dasri. Dengan rakus keduanya menghisap darah Dasri melalui jempol kakinya. Dasri pun meringis kesakitan. Untunglah dia tidak jatuh pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah puas, kedua potongan kepala itu pergi meninggalkan mangsanya, melayang-layang keluar dari dalam kamar. “Anggut, ada hantu!” Teriak Dasri. Mendadak anggutnya terjaga dari tidur pulasnya. “Ada apa?” Tanyanya. Dasri lalu menceritakan peristiwa yang barusan menimpanya. Sang Anggut harus percaya sepenuhnya, sebab di atas lantai tampak berceceran darah segar hingga ke ruang tamu. “Mereka itu Palasiak!” Gumam sang anggut dengan wajah tuanya yang menegang. Pada pagi harinya, ayah Dasri bersama anggutnya membawa Dasri ke rumah Datuk Maruhun. Pada Datuk Maruhun, Dasri menceritakan kejadian yang menimpanya tadi malam. “Anakmu di hisap Palasiak,” jelas Datuk Maruhun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa yang tega menghisap darah anakku, Datuk?” Tanya ayah Dasri. Datuk Maruhun tidak dapat menjawabnya. Beliau hanya menggelengkan kepalanya. “Bawa segera pergi anakmu dari kampung kita. Banyak Palasiak yang ingin menghisap darahnya,” saran Datuk Maruhun. Oleh Datuk Maruhun, Dasri diberi jimat yang diikatkan di pergelangan kakinya. Memang, setelah dihisap darahnya oleh palasiak, wajah Dasri pucat, dan tubunnya lemah seperti kekurangan darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siang itu juga, berasma ayah dan ibunya Dasri kembali pulang ke Medan. Rencana untuk berlebaran di kampung pun batal…. Lima belas tahun kemudian, Dasri baru berani datang ke kampung halaman ayahnya. Kenangan menakutkan itu memang selalu membuatnya bernyali ciut bila ingin berkunjung ke kampong tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Postingan ini berdasarkan kisah nyata, adapun nama-nama pelaku dalam  kisah ini sengaja disamarkan untuk menghormati privacy yang  bersangkutan. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFTR5q2poqGZaFywI_Tf4Mt1XJJGq-oUncC5kOtZuFfjcaT_jG1gZKSl9F99_5tJn3-JMzhHl7lGpk5aVEv7yjmvZFnAxsNf4vY2XO6HJN74OE21jhP64WjucM0iCUMx9Up8KJPEe0Epzr/s72-c/Mistik_ilmu_palasik_ilmu_penanggal.png" width="72"/></item><item><title>Kegaiban Sungai Citarum</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/03/kegaiban-sungai-citarum.html</link><category>Mistik</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Sun, 23 Mar 2014 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-2575925974260608282</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sungai Citarum selalu&amp;nbsp; dituding sebagai penyebab utama terjadinya banjir di kawasan Kabupaten Bandung, juga daerah-daerah lain di sepanjang aliran sungai terbesar sekaligus terpanjang di Provinsi Jawa Barat itu. Induk sungai ini berhulu dari tujuh mata air yang berinduk dari sumber-sumber mata air lainnya yang ada di kawasan gunung-gunung besar yang berada di sekeliling kawasan Bandung. Dari selatan ada anak sungai besar bernama Cisangkuy, dan dari utara ada anak sungai Cikapundung. Kedua anak sungai tersebut bermuara di Citarum, kawasan bekas Ibukota Bandung lama, yakni Baleendah dan Dayeuhkolot. Karena itu sangat wajar kiranya, jika pada puncaknya musim penghujan tiba, kedua titik ini dapat dipastikan akan dilanda luapan air sungai yang melimpah, alias banjir.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tahun ini, berdasar pengakuan para penduduk perkampungan korban banjir di kedua daerah tersebut, merupakan banjir terbesar. Di samping luapan banjir yang begitu cepat, juga kawasana yang terkena banjir pun semakin luas. Rumah-rumah atau perkampungan yang biasanya tidak terkena, kini ikut terendam banjir. Bahkan jalan raya yang sengaja dibangun lebih tinggi pun, ikut pula tergenang, sehingga berdampak terputusnya arus transportasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terlepas dari cerita tentang banjir, sebagaimana hasil investigasi Misteri, di balik namanya yang terkenal itu, Citarum ternyata banyak menyimpan cerita misteri yang menarik digali sekaligus diketahui. Konon, nama Citarum sebagai sebuah sungai tua sudah ada sejak zaman sebelum kota Bandung terbentuk. Bahkan, nama Citarum sudah dikenal dan sudah ada jauh tatkala kawasan Bandung masih berupa cekungan, atau sebelum terjadinya pristiwa Bandung menjadi sebuah danau raksasa, yang lebih masyhur dikenal dengan nama telaga. Ini terjadi untuk jangka waktu ratusan tahun lamanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagaimana catatan sejarah yang dapat dibaca, bahwa konon kawasan Bandung dulunya masih berupa hutan, dengan cekungan yang ada di bawah kaki Gunung Sunda. Di bagian utara cekungan ini sejak dulunya telah dibelah oleh sebuah aliran sungai bernama Citarum, yang titik hulunya berasal dari sebuah gunung lain di kawasan selatan, dengan arah alirannya menuju ke barat hingga menembus sebuah gunung lainnya yang ada disana, sebelum akhirnya terus mengalir ke kawasan luar Bandung yang ada di sebelah barat. Karena suatu peristiwa alam yang menghebohkan, yakni meleutusnya Gunung Sunda yang disebutkan berada di bagian utara Bandung saat ini, maka dampaknya&amp;nbsp; antara lain terjadinya luapan larva, serta bebatuan-bebatuan besar. Kesemuanya itu mengalir memenuhi aliran Sungai Citarum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karena aliran Sungai Citarum menuju ke laut yang berada di bagian barat Pulau Jawa yang sebelumnya harus melewati terowongan sungai di bawah Gunung Sunda, oleh sebab banyaknya bebatuan yang terbawa serta limpahan larva akhirnya tersumbat. Aliran sungai yang melewati terowongan secara otomatis tertampung di antara cekungan Bandung. Karena peristiwa ini, konon, untuk sekian ratusan tahun lamanya kawasan Bandung pun terendam dan berubah menjadi sebuah danau atau telaga raksasa. Hingga pada priode ratusan tahun berikutnya sumbatan bebatuan itu kembali terkikis dan Bandung pun kembali berubah menjadi daratan yang dialiri oleh banyak sungai-sungai kecil, yang kesemuanya berinduk pada sebuah sungai besar bernama Citarum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kendati demikian, siapa sangka kalau Citarum yang selalu dituding sebagai pangkal penyebab banjir di kawasan Bandung itu asal muasalnya adalah dari sebuah selokan, atau setidaknya hanyalah sebuah sungai kecil&amp;nbsp; yang berasal dari kawasan hutan Gunung Wayang, Pangalengan. Menurut cerita, sedikitnya ada tujuh atau lima buah sumber mata air yang kemudian mengalir membentuk Sungai Citarum. Sumber-sumber mata air itu mengalir dari sela-sela bebatuan di puncak Gunung Wayang itu kesemuanya mengalir dan tertampung pada sebuah kolam penampungan kecil yang berada di bagian kaki gunung setinggi 2181 meter diatas permukaan laut tersebut. Akhirnya air tersebut mengalir melalui selokan-selokan kecil yang membelah areal pesawahan dan perkampungan. Namun, siapa sangka pula bahwa sumber air yang tertampung pada kolam kecil di kaki Gunung Wayang itu, sejak lama dikenal sebagai sumber air keramat. Pada setiap hari atau bulan-bulan tertentu, sumber air tersebut kerap didatangi banyak peziarah yang bertujuan mendapatkan berkah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Sumber air ini merupakan sumber air keramat yang ada di Gunung Wayang, di samping tempat-tempat lainnya yang berada di atas bagian gunung ini,” jelas Pak Oman (63), sesepuh setempat yang kepada Penulis&lt;br /&gt;
Disampikan pula oleh Pak Oman, bahwa disamping banyak didatangi oleh para peziarah yang tujuannya bermacam-macam, sejak lama sekali kawasan Gunung Wayang telah menjadi semacam tempat wajib yang mesti diziarahi oleh mereka yang berhasrat menjadi dalang. “Hampir semua dalang besar yang namanya kini terkenal, pasati pernah mendatangi gunung ini,” tandasnya. Selain sumber air keramat, di kawasan ini pun terdapat sebuah makam petilasan yang dianggap sebagai bagian leluhur pegunungan gaib hulu Citarum. Makam tersebut berada tepat di sebelah kanan sumber air dan dikenali dengan sebutan Makam Eyang Dipati Ukur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Bisanya, setelah melakukan ritual mandi di sumber air Citarum, maka selanjutnya para peziarah pun melakukan ziarah ke makam Eyang Dipati Ukur. Mereka umumnya melakukan ritual pengukuran tongkat,” tambah Pak Oman. Lebih lanjut kakek puluhan cucu ini menjelaskan, bahwa ritual tongkat yang dipotong sepanjang dua rentangan tangan (Sadeupa: B. Sunda) itu merupakan sibol keberuntungan. Biasanya, setelah melakukan ritual khusus peziarah akan melakukan pengukuran makam dengan tongkat tersebut. Kalau ternyata panjang makam sama dengan tongkat, maka segala permaksudan si peziarah akan tercapai. Sebaliknya, bila panjang tongkat tidak sama dengan panjang makam, maka permaksudannya masih belum saatnya terkabulkan. Uniknya, ada saja peziarah yang mengalami kejadian seperti ini. Aneh, memang. Tapi begitulah kenyataan yang terjadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berdasar informasi yang berhasil dihimpun penulis, alur Sungai Citarum yang mengalir dari hulu hingga ke titik paling akhir dari kawasan Bandung, konon terbagi dalam dua alur kekuatan dimensi gaib. Dari arah hulu hingga titik tengahnya yang berada di sekitaran kawasan Daeyeuhkolot, memiliki penguasa gaib yang berwujud seekor kerbau siluman yang tanduknya yang seperti patah menggelantung ke bawah, atau dalam istilah masyarakat setempatnya disebut Munding Dongkol. Menurut pengakuan kebanyakan masyarakat sepuh di sana, konon kemunculan kerbau jejadian ini biasanya terjadi menakala air Sungai Citarum akan meluap atau banjir. Kerbau jejadian tersebut jika kebetulan ada yang melihat penampakannya dan dia sedang berenang di tengah sungai dari arah hulu ke titik batas kekuasaannya, maka dapat dipastikan banjir besar akan berlangsung.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Seperti pada saat akan terjadinya banjir besar akibat meluapnya Sungai Citarum pada sekitar tahun 1986 silam. Dengan mata kepala sendiri, saya sempat menyaksikan penampakkan kerbau siluman Munding Dongkol itu. Dia sedang berenang-renang di tengah sungai. Namun pada saat menjelang banjir besar sekarang saya tidak melihatnya. Mungkin ada orang lain yang sempat melihatnya,” cerita Pak Oyo (50), penduduk sebuah perkampungan di Dayeuhkolot. Dijelaskan pula, Munding Dongkol yang biasanya muncul sebagai pertanda akan terjadinya banjir itu, yang akan terlihat cuma bagian kepalanya saja. “Dia akan nampak seperti kerbau yang tenggelam dan mengalir terbawa arus!” tandasnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara itu, dari kawasan Dayeuhkolot hingga ke alur paling akhir, yakni di ujung paling barat kawasan Badung, konon Sungai Citarum ini memiliki penunggu gaib lainnya, yang berwujud seekor ular besar berwarna hitam dengan lingkaran putih dibagian lehernya, atau menyerupai kalung. Ular jejadian ini oleh masyarakat setempat dikenali dengan sebutan Raden Kalung. Penamaan ini konon karena asal muasalsi ular merupakan seorang putera bupati yang sempat mengawini perempuan dari bangsa jin. Raden Kalung menjadi penguasa gaib Sungai Citarum konon tidak lain adalah atas perintah ayahandanya sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Raden Kalung itu merupakan penunggu sungai yang baik, karena biasanya dia akan membantu menolong orang-orang yang tenggelam di sungai. Terutamanya adalah mereka yang memiliki hubungan saudara dengannya, ” cerita Mardiyah (65), seorang ibu yang ditemui penulis dan ditinggal di sebuah perkampungan tepian Citarum. Lebih lanjut dijelaskan oleh wanita tua yang juga mengaku memiliki hubungan keturunan dengan sosok Raden Kalung ini, bahwa konon wujud sebenarnya dari ular jadi-jadian&amp;nbsp; itu ialah bagian kepalanya merupakan kepala manusia. Persisnya kepala seorang laki-laki berwajah tampan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengiringi cerita terjadinya banjir besar yang melanda kawasan Bandung tahun ini, warga di beberapa perkampungan yang ada di dua kecamatan berbeda, yakni Baleendah dan Dayeuhkolot, dalam selang waktu yang berbeda pula, sempat dihebohkan oleh sebuah kejadian aneh. Ketika air Sungai Citarum itu meluap hingga menggenangi daratan, warga di kedua perkampungan tersebut dikabarkan sempat mendapat dua ekor ular berukuran yang sangat besar. Ular tersebut berjenis sanca kembang dengan ukuran panjang sekitar enam meteran.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keanehan ular tersebut hingga kini masih menjadi cerita dan tanda tanya yang belum terjawab. Diceritakan, setelah kedua ular tersebut berhasil di tangkap secara beramai-ramai oleh masing-masing warga di kedua kampung tadi, esok paginya kedua hewan itu sama-sama hilang dari kandangnya. Padahal, kedua ular tersebut disimpan dalam sebuah tempat berupa peti dari kayu yang besar dan siangnya sempat menjadi tontonan di tengah bajir. Yang tak kalah aneh, peti tempat penyimpanannya masih dalam keadaan utuh. Apakah kedua ekor ular itu merupakan sosok gaib yang menjadi bagian dari penunggu Sungai Citarum? Atau jangan-jangan hewan itu merupakan perwujudan dari penguasa gaib bernama Raden Kalung? Sungguh sebuah pertanyaan menggelitik yang selamanya selalu menarik untuk terus diterlusuri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Golok Pusaka Langlangbuana</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/03/golok-pusaka-langlangbuana.html</link><category>Mistik</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Fri, 21 Mar 2014 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-4770983000599340513</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Warga Jawa Barat, masyarakat Pasundan khususnya, selama ini mungkin banyak mendengar cerita tentang adanya harimau gaib yang diyakini sebagai wujud penjelmaan dari Prabu Siliwangi. Harimau gaib ini digambarkan sebagai hewan berbulu loreng, atau ada juga yang mengatakan berbulu putih dan disebut sebagai Lodaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disamping harimau loreng dan Lodaya, yang diyakini sebagai jelmaan Prabu Siliwangi dan para pengikut setianya, sesungguhnya masih ada jenis harimau gaib lainnya, yakni harimau yang berbulu hitam pekat. Nah, jenis harimau hitam inilah yang mungkin masih kurang diketahui seperti apa asal-usulnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski terkesan musykil, namun bagi masyarakat Jawa Barat, khususnya yang tinggal di daerah pinggiran, masih meyakini kalau kesemua jenis harimau gaib tersebut hingga kini masih ada dan kerap menampakkan wujudnya di tempat-tempat tertentu. Fenomena itu utamanya kerap terjadi di sekitar Leuweung Sancang, Garut Selatan. Menurut cerita, di Leuweung Sancang inilah Prabu Siliwangi bersama para pengikut setianya memutuskan jalan gaib dengan cara ngahyang atau moksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Lantas, bagaimana asal-usul harimau hitam dari Pajajaran itu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut informasi yang penulis terima, sosok harimau hitam yang kini dijadikan lambang kesatuan kepolisian daerah di Jawa Barat ini tidak lain mulanya berasal dari salah seorang tokoh pengabdi setia di Pajajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Prabu Siliwangi berkuasa, sang tokoh mendapat kepercayaan jabatan sebagai pejabat tinggi keamanan, atau setara dengan Panglima Polri pada saat sekarang. Dialah petinggi polisi pertama yang sempat diangkat dilingkungan Kerajaan Pajajaran. Tokoh dimaksud tak lain adalah yang namanya populer dengan sebutan Eyang Langlangbuana. Dia pertama kali ditunjuk sebagai pengabdi polisi di lingkungan kerajaan pada&amp;nbsp; 1515, dan bersamanya sempat pula ditunjuk dua orang ajudannya, yaitu yang bernama Eyang Jagariksa dan Eyang Jagapirusa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disebutkan, ketiga tokoh inilah yang bertanggungjawab terhadap keamanan di lingkungan dalam kerajaan. Mereka juga memiliki pos pusat di Pakuan, juga sejumlah pos-pos jaga di kawasan Sukadana, Cibitu dan Cianjur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eyang Langlangbuana, atau yang dikenal pula sebagai Eyang Jagaraksa atau Jagasatru, menurut sejarah, sebenarnya bukanlah orang Pajajaran asli. Dia adalah pengembara yang berasal dari Kerajaan Bugis, Makasar. Kemudian dia menikah dengan wanita di Pajajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum singgah di Pajajaran, Eyang Langlangbuana sempat pula mengembara ke belahan bumi lain. Seperti ke Tanah Arab yang lamanya 77 tahun, dan terakhir ke Tanah Jawa, atau dalam hal ini adalah Pajajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti diceritakan, Prabu Siliwangi dan segenap pengikut setianya akhirnya sepakat memilih jalan gaib untuk mati secara moksa. Sementara. saat mendapati tekanan berat dari pihak musuh, Eyang Langlangbuana memilih jalan akhirnya sendiri, yaitu meninggal secara wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut sebuah sumber, makam Eyang Langlangbuana berada di kawasan Cibule, di kaki Gunung Pangrango, Cianjur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah barang tentu, Eyang Langlangbuana termasuk leluhur yang memiliki jasa besar bagi Pajajaran. Makamnya kini sangat dikeramatkan. “Namun, untuk dapat mencapainya, boleh dikata tidaklah gampang. Sebab, disamping lokasinya yang berada di kedalaman hutan yang rimbun, juga untuk tiba di sana kita pun harus siap berjalan jongkok dan merayap, dikarenakan makam itu terkurung oleh pohon-pohon yang besar,” tegas sumber penulis yang enggan disebutkan namanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara, berkaitan dengan cerita keleluhuran Eyang Langlangbuana yang nama besarnya kini diabadikan sebagai simbol kesatuan kepolisian Jawa Barat, terungkap sebuah informasi kalau ternyata senjata pusakanya adalah sebilah golok yang panjangnya sekitar satu meter. Pusaka ini sekarang berada di tangan seorang kolektor di Bandung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bahannya yang bukan sembarangan, pusaka Eyang Langlangbuana tersebut diyakini menyimpan tuah tertentu. Menurut sang pemilik, banyak kalangan yang berhasrat untuk dapat memilikinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Golok ini berkhodam seekor harimau gaib berbulu hitam, jelmaan dari Eyang Langlangbuana. Golok ini merupakan perangkat beladiri yang sangat ringan untuk dimainkan. Sehingga, banyaknya pihak yang berminat,” kata sang pemilik yang juga enggan disebut identitasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut pengakuannya, golok yang bergagang berupa ukiran kepala harimau hitam itu adalah benar-benar asli. Benda tersebut merupakan warisan dari para leluhurnya yang sempat mendalami dan menyusuri sejarah Pajajaran.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Asal Mula Kanjeng Kyai Plered</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/03/asal-mula-kanjeng-kyai-plered.html</link><category>Mistik</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Wed, 19 Mar 2014 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-6173310883549119853</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kala itu, kejayaan Majapahit pun mulai berangsur redup. Di Katumenggungan Wilwatikta yang tenang dan damai, di pagi nan cerah itu, sang Tumenggung yang dikaruniai sepasang anak yang mulai beranjak dewasa, yakni Raden Sahid dan Dewi Rasa Wulan memanggil keduanya untuk menghadap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah keduanya&amp;nbsp; menghaturkan sembah bakti, sang Tumenggung pun berkata; “Sahid, sekarang engkau sudah dewasa. Mulai sekarang, engkau harus bersiap-siap untuk menggantikan bila aku sudah tak mampu lagi melaksanakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelumnya, aku dan ibumu berharap agar engkau segera menikah. Katakanlah, gadis mana yang selama ini telah menjadi tambatan hatimu. Nanti aku yang akan melamarkan untukmu,” imbuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raden Sahid yang duduk bersila dengan takzim dan kepala menunduk sebagai tanda hormat kepada orang tua, hanya diam membisu. Hatinya benar-benar galau. Betapa tidak, sejatinya, di dalam hati ia menolak untuk segera menikah.&amp;nbsp; Tapi apa daya, jika menolak, ia takut membuat kedua orang tuanya kecewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal dalam hati yang sangat dalam, beliau menggerutu, belum siap memikirkan tentang arti sebuah mahligai rumah tangga. Di tengah-tengah suasana yang mencekam itu, mendadak terdengar suara Tumenggung Wilwatikta memecah kesunyian; “Mengapa engkau diam Sahid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah engkau menolak permintaanku?” Sambungnya cepat.&lt;br /&gt;
“Ampun … ayahanda,” sahtu Raden Sahid dengan terbata-bata, “tak ada maksud hamba untuk menolaknya.”&lt;br /&gt;
“Tetapi mengapa engkau diam dan tidak segera menjawab,” potong sang ayah dengan cepat.&lt;br /&gt;
“Ampun … ayahanda,” jawab Raden sahid dengan santun, “sampai saat ini, hamba masih menimbang-nimbang, wanita mana yang tepat untuk menjadi menantu ayahanda.”&lt;br /&gt;
Tumenggung Wilwatikta pun menarik napas lega, “Baiklah kalau begitu. Pertimbangkan dengan masak-masak, dan hati-hati dalam menentukan jodohmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dianggap cukup, maka, Raden Sahid pun diperkenankan untuk undur diri. Dan kepada Dewi Rasa Wulan, sang ayah hanya berpesan agar dirinya bersiap-siap untuk menerima pinangan dari pemuda&amp;nbsp; yang sudah ditetapkan kedua orang tuanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanpa berani membantah, Rasa Wulan pun hanya diam … lalu, ia pun undur diri dari hadapan ayahandanya.&lt;br /&gt;
Tidak seperti biasanya, keceriaan yang biasa diperlihatkan keduanya di kadipaten mendadak hilang. Hingga malam menjelang, Raden Sahid masih disungkupi kegelisahan. Bahkan, matanya pun tak bisa dipejamkan walau malam terus merangkak. Hatinya teramat sedih …&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk menghindar dari paksaan ayah, kiranya aku harus pergi dari sini,” demikian bisik hatinya. Dan benar, seiring dengan malam yang terus merangkak dan seisi katumenggungan sedang terbuai dalam mimpi indahnya masing-masing, diam-diam Raden Sahid pun ke luar dari kamarnya dan pergi ….&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paginya, tatkala Dewi Rasa Wulan mengetahui bahwa kakaknya tak ada di kamarnya, sontak, hatinya pun khawatir. Dengan harap-harap cemas ia pun mencari sang kakak di berbagai penjuru katumenggungan. Tapi apa daya, sang kakak seolah lenyap bak ditelan bumi. Dewi Rasa Wulan pun yakin, sang kakak telah pergi meninggalkan katumenggungan tanpa meminta izin pada kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa Kangmas Sahid tidak mengajakku,” bisik hati Rasa Wulan, “padahal aku juga bermaksud pergi agar terhindar dari paksaan ayah.” Dengan langkah gontai, Dewi Rasa Wulan pun masuk ke kamarnya untuk menyiapkan pakaian dan langsung menyusul kakaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu terus berlalu. Malamnya, barulah seisi katumenggungan heboh. Mereka baru sadar jika Raden Sahid dan Rasa Wulan telah pergi tanpa sepengetahuan orang tuanya. Mendengar laporan bahwa kedua anaknya pergi, Tumenggung Wilatikta pun terkejut. Dengan cepat ia memerintahkan seluruh telik sandi katumenggungan untuk menelisik keberadaan kedua anaknya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa daya, keduanya seolah lenyap ditelan bumi. Hari bergangti minggu dan minggu berganti bulan bahkan bulan bergantiu tahun, tapi, keberadaan keduanya tetap saja tidak terendus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbilang waktu, dalam pengembaraannya, Raden Sahid mengalami pahit dan getirnya penderitaan serta menghadapi berbagai macam cobaan hingga di kemudian hari ia dikenal sebagai sosok waliyullah yang sangat masyhur, Khanjeng Sunan Kalijaga&amp;nbsp; lewat bimbingan seorang Waliyulloh A’dzom Sunan Bonang, yang diteruskan kepada Sunan Gunung Jati, sampai pada akhirnya mendapat derajat kewalian secara sempurna lewat talqin Nabiyulloh Hidir AS, hingga akhirnya beliau diambil mantu dan dijadikan tangan kanan paling setia oleh Sunan Gunung Jati Cirebon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak jauh berbeda dengan sang kakak, di dalam pengembaraannya, setelah berbilang tahun tidak juga berhasil menemukan Raden Sahid, akhirnya, Dewi Rasa Wulan pun bertapa ngidang (bertapa seperti kijang, hidup bersama-sama kawanan kijang dan mengerjakan apa yang dikerjakan oleh kijang, termasuk memakan makanan yang biasa dimakan oleh kijang-Jw) di tengah hutan Glagahwangi (perbatasan Pasundan, Jawa Barat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam hutan&amp;nbsp; nan lebat dan angker itu terdapat sebuah danau bernama Sendhang Beji, yang ditepiannya tumbuh dengan subur sebatang pohon besar yang batangnya menjorok dan menaungi permukaannya. Dan tak ada yang menyangka jika pada salah satu cabangnya yang menjorok ke atas permukaan Sendhang Beji itu terdapat seseorang yang sedang bertapa ngalong (bertapa seperti kalong, bergantungan pada cabang pohon-Jw). Ya … sosok linuwih itu tak lain adalah Syekh Maulana Mahgribi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu terus berlalu. Dan pada suatu nan terik, Rasa Wulan pun mendatangi Sendhang Beji. Ia berniat ingin mandi, untuk menyegarkan badannya. Ia sama sekali tak tahu jika di atas permukaan air sendhang itu ada seorang laki-laki yang sedang bertapa dan tanpa malu-malu Rasa Wulan pun membuka seluruh pakaian penutup tubuhnya. Dalam keadaan tanpa sehelai benang pun, dengan perlahan-lahan ia berjalan menghampiri danau dan mandi di Sendhang Beji. Kesejukan air danau membuat tubuhnya jadi terasa sangat nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, Syekh Maulana Mahgribi yang sedang bertapa tepat di atas danau memandang kemolekan tubuh Rasa Wulan dengan penuh pesona. Melihat kecantikan dan kesintalan tubuhnya, sontak, birahi Syekh Maulana Mahgribi pun bangkit hingga meneteskan bibit hidup (sperma-Jw) dan jatuh tepat diatas tempat Rasa Wulan mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena peristiwa itu, maka, Rasa Wulan pun hamil. Akhirnya, Rasa Wulan pun tahu jika laki-laki yang bergantungan pada cabang pohon di atas danau itulah yang menyebabkan kehamilannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa engkau tega berbuat demikian?” Protes Rasa Wulan sambil menunjuk sengit ke arah Syekh Maulana Mahgribi. “Mengapa engkau menghamiliki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syekh Maulana Mahgribi hanya diam. Ia seakan tidak mendengar apa-apa.&lt;br /&gt;
“Karena telah berbuat, maka, engkau harus bertanggung jawab!” Sergah Rasa Wulan semakin sengit.&lt;br /&gt;
“Mengapa engkau menuduhku?” Tanya Syekh Maulana Mahgribi dengan sabar.&lt;br /&gt;
“Lihat! Aku hamil,” sahut Rasa Wulan.&lt;br /&gt;
“Engkau yakin jika aku yang menghamilimu?” Tanya Syekh Maulana Mahgribi meminta ketegasan.&lt;br /&gt;
“Ya. Aku yakin!” Sahut Rasa Wulan tegas.&lt;br /&gt;
“Karena di tempat ini tidak ada laki-laki lain, maka, engkaulah yang kutuduh menghamiliku,” imbuhnya dengan berapi-api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menghindarkan diri dari tuduhan itu, Syekh Maulana Mahgribi pun langsung mencabut kemaluannya kemudian menyingkapkan sarungnya dan menunjukkan kepada Rasa Wulan bahwa ia tidak memiliki kemaluan. Syekh Maulana Mahgribi pun berujar, “Lihat, aku bukan laki-laki. Jadi mana mungkin aku menghamilimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana pun juga aku tetap menuduhmu yang menghamiliku” kata Rasa Wulan, “karena itu, engkau harus bertanggung jawab terhadap kehidupan bayi yang tengah kukandung ini.”&lt;br /&gt;
“Aku yang harus bertanggung jawab?” Tanya Syekh Maulana Mahgribi.&lt;br /&gt;
“Ya. Engkau yang harus bertanggung jawab,” sahut Rasa Wulan, “mengasuh dan memeliharanya kelak setelah lahir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syekh Maulana Mahgribi tidak dapat mengelak. Dan pada waktunya, setelah anak yang dikandung oleh Rasa Wulan itu lahir, maka, si jabang bayi pun yang diberi nama Kidang Telangkas pun diserahkan kepada Syekh Maulana Mahgribi. Kelak dikemudian hari, secara turun temurun, keturunan Kidang Telangkas menjadi raja di tanah Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali ke perdebatan sengit antara Dewi Rasa Wulan dengan Syekh Maulana Maghribi, saat itu, ternyata kemaluannya yang dicabut berubah wujud menjadi sebilah mata tombak yang akhirnya menjadi “sipat kandel” (senjata andalan) dari raja-raja Jawa. Dan tombak itu dinamakan Khanjeng Kyai Plered.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini Khanjeng Kyai Plered itu merupakan salah satu dari senjata pusaka Keraton Yogyakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun dalam perdebatan lain, tombak Khanjeng Plered, yang asli telah raib dan dimiliki oleh seorang Waliyulloh Kamil, yang turun temurun selalu dijaga dan dirawat secara baik, sebab hal semacam ini sudah menjadi ilmu Waris bagi ahli generasi sesama Waliyulloh “Di mana hak yang terlahir dari seorang waliyulloh, maka, akan kembali kepada hak sederajat lainnya” Juga seperti maqolahnya Rosululloh SAW: “Sesungguhnya hak warisku akan terpenuhi oleh keturunanku kelak, dan tiada kuberikan pengganti kecuali yang memahamiku, maka sambutlah pemberianku hingga kamu menggantikanku”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap yang aku miliki (sisa peninggalan hidup) adalah bagian wujud kasar yang tiada berarti dan hakikat sebenarnya adalah kembali ke yang&amp;nbsp; punya, maka peliharalah apa yang menjadi izin langsungku hingga kau menikmati dengan apa yang sesungguhnya kau pahami ”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Asal Muasal Adanya Dana Gaib</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/03/asal-muasal-adanya-dana-gaib.html</link><category>Ilmu Pesugihan</category><category>Mistik</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Mon, 17 Mar 2014 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-4287803273820748345</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengenai asal muasal dana gaib hingga kini belum terjadi kesepakatan. Namun demikian dapat diambil dua kesimpulan umum mengenai dana gaib itu, yakni dana gaib putih dan dana gaib hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kalangan spiritualis meyakini bahwa dana gaib hitam ini sama dengan pesugihan atau ngipri. Penguasa dana ini berasal dari golongan siluman, iblis atau setan. Untuk mengambilnya, harus didahului dengan laku atau melakukan ritual-ritual&amp;nbsp; tertentu yang menyeramkan dan biasanya dilakukan di tempat terpencil pada malam hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang menginginkan harta gaib tidak bisa melakukan sendiri. Mereka harus memanfaatkan mediator yang kebanyakan kuncen atau juru kunci tempat-tempat yang dipercaya dihuni siluman yang bisa diajak kerjasama untuk mencari dan mendatangkan dan gaib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, meski telah memanfaatkan mediator, tidak serta merta dana gaib itu akan muncul dengan sendirinya. Ada beberapa ujian yang harus dilaksanakan. Bahkan jika melenceng sedikit saja akan batal dan berakibat fatal. Beberapa di antara ujian itu adalah harus menemui siluman yang diajak kerja sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengerikan, kendati siluman itu sudah berganti fisik berupa hewan, tetapi bentuknya tidak seperti hewan pada umumnya. Bentuk siluman ini bisa lebih mengerikan dibanding hewan yang dimanfatkan fisiknya sebagai media. Misalnya hewan babi. Bisa saja babi siluman itu memiliki taring yang sangat panjang serta suaranya yang memekakkan telinga atau baunya sangat busuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat pertemuan pertama ini, jika mengalami ketakutan akan langsung gagal. Dan, jika menginginkannya lagi, harus melaksanakan ritual dari awal yang tentunya memerlukan dana lagi untuk membeli ubo rampe (sesajen) dan mahar sesuai perjanjian. Biasanya, pada ritual kedua ini, siluman yang muncul bentuk fiiknya tidak seperti silkuman yang pertama. Bisa saja, siluman yang kedua ini tampangnya lebih menakutkan. Misalnya babi raksasa yang siap memangsa manusia. Atau baunya luar biasa busuk hingga menimbulkan rasa enek ingin muntah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika pada ritual yang kedua ini peminatnya bergidik, maka dinyatakan batal. Dan untuk melanjutkan harus memulai lagi ritual seperti semula. Beginilah seterusnya. Tetapi biasanya, jika peminat terlanjur nekat, yang muncul terakhir bukan lagi mahkluk menyeramkan, melainkan siluman yang berwujud manusia cantik atau tampan luar biasa. Pada tahap seperti inilah peminat langsung terpikat hingga terjadi perjanjian. Tetapi, perjanjian ini biasanya berlangsung timpang. Bagaimana tidak, siluman yang memberi harta bukan hartanya sendiri, melainkan harta curian. Sedangkan dia meminta imbalan berupa fisik maupun nyawa dari keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, untuk mendapatkan dana ini, diperlukan tekad yang luar biasa besar sehingga tidak semua orang bisa melaksanakannya. Pun demikian dengan orang yang mendapatkan dana gaib hitam dan memanfatkannya untuk biaya hidupnya beserta keluarganya, kelak di kemudian hari harus memberikan gantinya. Ganti rugi ini bisa berupa istri, anak dan seluruh keturunannya. Atau sesuai dengan perjanjian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang pasti, dana gaib terbanyak bukan dana gaib yang berasal dari harta kekayaan yang terdapat di alam gaib. Tapi biasanya berupa harta yang berasal dari alam nyata hanya saja telah digaibkan oleh bangsa gaib. Misalkan saja harta karun peninggalan perang dunia kedua.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Ular Siluman Penunggu Pasar Sukoharjo </title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/03/ular-siluman-penunggu-pasar-sukoharjo.html</link><category>Kisah Mistik</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Sat, 15 Mar 2014 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-2326807202156632365</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pasar Kota Sukoharjo sudah beberapa kali direncanakan akan dipugar oleh Pemerintah Kabupaten Sukoharjo beberapa waktu yang silam. Namun baru tahun 2012 ini pasar kota Sukoharjo terealisasi akan dibangun bersamaan dengan beberapa pasar tradisional lainnya di seluruh Indonesia yang rencananya akan dipugar oleh pemerintah Pusat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain sebagai Pasar tradisional, Pasar utama Kota Sukoharjo ini sekaligus sebelahnya dipergunakan sebagai terminal angkutan umum dari dalam kota ke daerah pedesaan lainnya di seluruh Kabupaten Sukoharjo. Pasar tradisional ini sudah ada sejak jaman sebelum kemerdekaan Indonesia, pasar ini menurut cerita para pini sepuh (orang tua jaman dulu) dulu pernah diresmikan oleh Presiden Soekarno. Bahkan masyarakat saat itu menyebut Pasar Tradisional ini dengan nama pasar Bung Karno, seiring dengan perkembangan jaman, lambat laun Pasar Tradisional Sukoharjo beralih nama menjadi pasar kota Sukoharjo.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pasar yang dahulu dipergunakan sebagai tempat jual beli maupun tukar menukar hasil kebun dan panen bagi para pedagang oprokan kini makin lama semakin lebih modern. Pada bulan Maret tahun2012 sesaat setelah Pasar kota ini di bongkar akan di revitalisasi menjadi pasar tradisional lagi, Bupati Sukoharjo secara resmi mengganti lagi nama Pasar Kota Sukoharjo menjadi pasar Ir. Soekarno. Pemberian nama baru yang dikembalikan ke nama semula dilakukan pada bulan Juni bersamaan dengan bulan Bung karno yang jatuh pada bulan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun dalam pembangunan pasar tradisional ini ada saja ganjalan yang menghambat pengerjaannya, salah satunya saat mengawali pembongkaran pasar tradisional ini terjadi hujan yang sangat lebat dan angin kencang yang terjadi hanya di sekitar Pasar ini. “Angin berhembus kencang menghempaskan apa yang ada saat itu, bahkan pohon yang semula akan dirobohkan oleh kontraktor, tumbang dengan sendirinya akibat dari kencangnya hembusan angin di daerah itu,” kata ibu pemilik titipan sepeda yang tak mau di sebutkan namanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rumahnya yang berada tepat di belakang pasar Kota Sukoharjo dan juga warga asli daerah itu, Ibu pemilik titipan sepeda ini setiap hari sering menyaksikan keganjilan maupun keanehan yang terjadi pada saat awal pembangunan Pasar. Tak hanya keanehan hujan dan angin puting beliung yang datang saat pembongkaran pasar dimulai. Bahkan semasa masih menjadi Pasar kota, keanehan itu sering kali terjadi di pasar ini. Di dalam pasar ini dulu terdapat sebuah pohon beringin yang telah berusia ratusan tahun. Tak ada angin dan tak ada hujan pohon itu tiba tiba tumbang dengan sendirinya, padahal selama itu pohon beringin tak menampakkan tanda-tanda layu sebelumnya. Selain itu satu peristiwa naas juga pernah dialami salah seorang lurah pasar yang bertugas di pasar Kota Sukoharjo waktu itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di sisi sebelah barat pohon beringin dulu dibangun beberapa kamar mandi umum yang dipergunakan bagi siapa saja yang membutuhkanya. Di samping kamar mandi sebuah mushola dan sumur juga dibangun diperuntukan oleh umum. Berhimpitan dengan mushola terdapat lahan kosong seluas 1×2 meter persegi, lahan kosong persegi lantai keramik ini dipergunakan bagi para pedagang dan pembeli untuk istirahat seusai menjalankan Sholat di Mushola. Oleh lurah pasar, lahan kosong ini dijual kepada salah seorang pedagang yang waktu itu sangat membutuhkan tempat berjualan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beberapa pedagang yang mendengar kabar ini sebetulnya telah menyarankan, agar lahan kosong itu jangan sampai dijual. Tempat itu sudah menjadi kebiasaan di gunakan sebagai tempat istirahat, namun saran dari pedagang tak dihiraukan oleh Lurah pasar, yang paling penting dirinya mendapatkan uang dari hasil penjualan lahan kosong tersebut. Sebagai kepala pemimpin pasar, siapapun tak ada yang berani melarang dirinya menjual aset daerah yang sebenarnya bukan hak miliknya, tapi rakus akan uang membuat Lurah pasar itu lupa akal sehatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak selang beberapa lama kemudian setelah menjual lahan kosong itu, Lurah pasar jatuh sakit, dirinya merasa ada orang yang mengikuti kemanapun dia pergi. Bahkan dalam mimpinya, lurah itu merasa ditemui seseorang kakek tua yang mengenakan sorban dan pakaian serba putih berkata, “Tanah itu bukan hakmu, kenapa kamu jual? Kamu harus merasakan buah akibat dari keserakahanmu sendiri,” katanya. Hingga akhirnya lurah pasar tersebut meninggal dunia, setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit karena tak jelas sakitnya. Kini setelah pembangunan pasar tardisional ini dimulai, keanehan dan keganjilan masih seringkali terjadi di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejadian aneh pada saat pembongkaran pun sempat membuat orang orang di sekitar pasar bingung. Kejadian ini berlangsung setelah pasar tradisional dirobohkan, saat pembongkaran ini pihak terkait Pemkab maupun kontraktor sama sekali tak pernah memberi sesaji seperti pada umumnya pembangunan. Mereka melupakan bahwa pasar sebagai tempat menghasilkan rejeki sudah semestinya harus ditempatkan sebagaimana juga mestinya. Selama ini beberapa bangunan berupa los bagi pedagang oprokan dan toko kelontong di serambi depan terlebih dulu telah dibongkar, menyusul kemudian terminal angkot yang berada di sisi utara pasar juga ikut dibongkar pada saat yang bersamaan. Pembongkaran yang berlangsung lebih dari sepekan ini telah meratakan bangunan pasar lama maupun&lt;br /&gt;
terminal angkot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun beberapa bengunan ternyata masih sulit dirobohkan, bangunan lama ini tegar berdiri di tengah-tengah pasar, meski beberapa bagian bangunan seperti atap telah terlebih dulu dibongkar para pekerja. Alat berat yang dipergunakan untuk pembongkaran ternyata tak mampu menyentuh Mushola, kamar mandi dan sebuah sumur. Bangunan inilah yang masih berdiri tegak di tengah-tengah pasar dan kenapa bangunan ini tak bisa dirobohkan? Kejadian sulitnya merobohkan bangunan ini terkait dengan peristiwa pada saat pembongkaran sisa bangunan pasar yang terdiri dari tiga bangunan itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selama ini pembongkaran pasar yang dilakukan pihak Pemkab selalu menggunakan alat berat, dikarenakan tenggang waktu kontrak pembangunan pasar dari Pemkab kepada kontraktor tak lebih dari empat bulan saja, hingga pasar harus segera diratakan dengan tanah agar pihak kontraktor bisa segera memulai pembangunanya. Tapi alat berat yang digunakan membongkar tiga bangunan itu tak bisa jalan saat akan merobohkan bangunan masjid, sumur dan bekas kamar mandi, meski ketiga bangunan ini hanya tersisa tembok-temboknya saja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Operator alat berat merasa aneh dengan kejadian ini, alat yang sebelumnya lancar di gunakan merobohkan bangunan lain kini macet saat akan merobohkan ketiga bangunan itu. Namun saat alat berat ini diarahkan kebeberapa bangunan lainya ternyata juga lancar-lancar saja. Keanehan ini semakin menjadi-jadi saat sang operator alat berat tiba-tiba meloncat turun sambil berteriak-teriak, “Aku takut, aku takut ada hantu” teriaknya membuat siapa saja bingung,” kenang Tumi (36), pedagang buah yang melihat peristiwa itu pada saat kejadian. Operator alat berat lari tunggang langang kemudian mencegat bis angkutan umum terus balik ke rumah. Sesampainya di rumah, orang tua si operator alat berat meninggal dunia tak diketahui sebab musababnya. Kejadian ini diketahui para pekerja yang saat kejadian itu beberapa orang pekerja mengikuti operator sampai ke rumah, karena takut terjadi apa apa dengan peristiwa siang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah seorang anak indigo yang mampu melihat siapa penunggu dan apa yang ada di tempat itu mengatakan, “Tempat itu dijaga seorang kakek tua tinggi besar mengenakan sorban dan pakaian putih, selain kakekseekor ular yang sangat besar juga ada di tempat itu.” ujar Putra (11), anak indigowarga Sukoharjo. “Kalau mau merobohkan tempat itu terlebih dulu harus kulo nuwun (permisi). Selama ini mereka (pekerja) tak mempedulikan lagi dengan apa yang sudah ada sebelumnya di tempat itu. Dianggapnya mereka itu tidak ada,” keluh Putra.&lt;/div&gt;
</description></item><item><title>Meraih Karir dan Jabatan dengan Air Sumur Mas di Banyumas</title><link>http://warisdjati.blogspot.com/2014/03/meraih-karir-dan-jabatan-dengan-air.html</link><category>Tempat Keramat</category><author>noreply@blogger.com (Waris Djati)</author><pubDate>Thu, 13 Mar 2014 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6106424839025697296.post-8089279731999152133</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Banyumas merupakan surga wisata alam dan budaya di Jawa Tengah bagian Barat. Beragam pesona tersebar di sejumlah wilayah, terutama di tiga kecamatan yakni Baturaden, Wangon, dan Banyumas. Di antara tiga kecamatan tersebut, Baturaden dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di Kabupaten Banyumas yang memang kaya keindahan panorama hutan di kaki Gunung Slamet.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di Baturaden terdapat 2 obyek wisata, yakni lokawisata dan wanawisata. Sedangkan di Kecamatan Banyumas terdapat berbagai wisata religi dan budaya berupa Pesarean Dawuhan, Sumur atau Sendang Mas, Museum Wayang, Masjid Nur Sulaiman, dan Klenteng Boen Tek Bio. Pesarean Dawuhan merupakan kompleks pemakaman para mantan bupati Banyumas, salah satunya bupati pertama yakni Raden Joko Kahiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dalem Kadipaten&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalem Kadipaten Banyumas (Pendopo Si Panji) diperkirakan mulai dibangun paska Perjanjian Giyanti tahun 1755, yaitu pada saat Bupati Banyumas, Raden Tumenggung Yudanegara III diangkat menjadi Patih Sultan Yogyakarta bergelar Danureja I. Dalem Kadipaten Banyumas memiliki ciri perpaduan antara Barat (Belanda) dan Timur (Jawa). Dari keseluruhan bangunan ini, bagian-bagian yang bercirikan budaya Jawa dapat dijumpai pada falsafah Jawa yang tertuang pada wujud fisik bangunan.Ajaran sinkretis yang mempengaruhi falsafah Jawa berimbas pada bangunan fisik mulai dari alun-alun, 4 pintu di keempat arah mata angin, bangunan pendopo, serta penataan ruang di Dalem Kadipaten, seperti adanya ruang-ruang yang ditengarai sebagai longkangan, dalem ageng, griya ageng, boga sasana, senthong kiwa, senthong tengen, bale peni, bale warni, pringgitan, dan tamansari. Adapun gaya khas Barat dapat dijumpai pada wujud fisik bangunan lantai, ornamen dan ragam desain interiornya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalem Kadipaten ini berada di sebelah Selatan alun-alun Banyumas. Di sebelah Barat alun-alun terdapat Masjid Nur Sulaiman yang dibangun tahun 1755 dengan Kyai Nur Daiman sebagai arsitek sekaligus Penghulu pertama. Masjid tertua di Banyumas ini dibangun setelah pembangunan Pendopo Si Panji. Masjid&amp;nbsp; ini juga merupakan salah satu cagar budaya. Di dalam kompleks Kadipaten terdapat Museum Wayang. Musium ini mengoleksi berbagai jenis wayang yang ada di Indonesia, khususnya Jawa. Musium ini merupakan salah satu tujuan wisata budaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sekitar 300 meter di belakang Pendopo terdapat Kelenteng Boen Tek Bio yang merupakan kelenteng tertua di Kabupaten Banyumas. Keberadaan kelenteng ini turut melengkapi pesona wisata religi di wilayah ini Adapun Sumur Mas yang menjadi objek penulisan kali ini terletak di bagian belakang Dalem Kadipaten, Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas atau sekira 20 kilometer dari Purwokerto, pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas. Dari nama Sumur Mas inilah asal-usul nama daerah Banyumas (air emas, bhs.Jawa).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sumur Mas&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejauh ini tidak diketahui secara pasti kapan dan bagaimana Sumur Mas itu dibuat. Tidak ada bukti otentik yang menyebutkannya. Berdasarkan tutur masyarakat, sumur itu dipercaya sudah ada sebelum berdirinya Kabupaten Banyumas. Uniknya, sumur ini hanya berdiameter beberapa sentimeter saja. Diameternya tak sebanding dengan diameter sumur pada umumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Sumur itu dibuat oleh orang-orang yang pertama kali menempati Banyumas. Mereka membabat hutan untuk dijadikan hunian. Mereka juga membuat sumur untuk keperluan sehari-hari,” kata Darsun (78 tahun), juru kunci Sumur Mas. “Sejak itulah tempat ini ramai dihuni orang. Mungkin pada masa itu air Sumur Mas hanya untuk keperluan biasa. Tidak ada yang mengeramatkan,” lanjutnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Darsun, istilah mas atau emas itu tidak diketahui pasti asal mulanya. Apakah karena airnya bersinar keemasan atau ada emas di dalam sumur itu. Bisa juga dulunya sumur itu merupakan sumur satu-satunya yang dimanfaatkan penduduk yang paling awal menempati Banyumas. Atau mungkin mereka yang memanfaatkan air sumur itu memperoleh kegemilangan hidup, karir dan jabatan tinggi dan lain-lain, yang kemudian disimbolkan dengan istilah emas (keemasan).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lebih jauh dikatakan, diameter sumur yang hanya beberapa sentimeter ini menimbulkan pertanyaan bagaimana orang-orang di zaman dulu memanfaatkan air sumur ini. “Saya sering ditanya para peziarah seputar kecilnya diameter sumur ini. Jujur saja, saya tidak tahu jawabannya. Ada yang mengatakan sumur ini tadinya berukuran biasa. Lalu mengecil seperti ukuran yang sekarang ini,” kilahnya. “Untuk mengambil airnya saja sulit. Tetapi justru&amp;nbsp; banyak orang yang menginginkan airnya,” katanya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Raih Jabatan dan Karir&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Air Sumur Mas diyakini dapat memberikan berkah bagi para peziarah. Mereka datang dari penjuru tanah air, khususnya Jawa. Biasanya mereka datang pada hari Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon. Peziarah datang dengan berbagai hajatnya masing-masing. Ada yang berharap dapat jodoh, kesehatan, usahanya maju, cepat naik pangkat dan jabatan, dan lain-lain. Menurut Darsun, hajat yang paling menonjol dari peziarah yang mengambil air Sumur Mas adalah berharap mendapatkan berkah berupa kenaikan karir,&amp;nbsp; kedudukan atau jabatan. Umumnya mereka bekerja di pemerintahan, perusahaan dalam negeri atau swasta.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dia memberi contoh, pegawai negeri yang ingin pangkat golongannya naik, karyawan perusahaan yang ingin jabatannya naik dan orang-orang yang ingin menjadi wakil rakyat (DPR dan DPRD) datang mengambil air Sumur Mas. Ada pula artis yang ingin terkenal datang meminum airnya. “Umumnya mereka memang hanya mengambil airnya saja, lalu pulang. Tetapi ada juga yang digunakan untuk mandi di sini,” katanya. “Tidak sedikit diantara mereka yang tirakat di dekat Sumur Mas sambil membawa ubo rampe,” lanjutnya. Selanjutnya dikatakan, mereka yang berhasil memeroleh keinginan biasanya datang lagi dan menceritakan keberhasilannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kanjeng Eyang Panji Cokrobuwono&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Darsun mengisahkan, sejak muda dirinya sudah mengetahui mengenai karomah air Sumur Mas. Meski begitu, dia tidak mengetahui secara persis apa yang menyebabkan sumur itu menjadi pilihan bagi orang-orang yang mengingkan karir dan jabatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Saya baru percaya setelah mengalami peristiwa aneh,” kenangnya. Suatu malam Darsun tidur di teras belakang Dalem Kadipaten di dekat Sumur Mas. Antara sadar dan tidak, dirinya merasa ada yang mengguncang tubuhnya. Darsun pun bangun dan duduk sambil bersandar di tembok. Masih dalam keadaan mengantuk, dia melihat seberkas asap putih keluar dari dalam sumur. Sesaat kemudian, asap itu berubah wujudnya menjadi manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Darsun menatap ke arah sosok pria berjubah putih dengan sorban dikepalanya yang berdiri persis dihadapannya. Pria bersorban itu memberikan bunga Wijayakusuma. sambil mengeluarkan kata-kata bernada nasehat kepada Darsun. Beberapa saat kemudian pria itu pun menghilang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Saya sempat heran dengan peristiwa yang saya alami. Saya seperti terkesima melihat penampilan sosok yang gagah itu. Apalagi kata-kata yang diucapkan sangat bijak persis seorang ulama atau kyai. Dia memerkenalkan dirinya bernama Kanjeng Eyang Panji Cokrobuwono,” kenang Darsun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah kesadarannya pulih, dia tersentak kaget. Secara refleksi matanya melihat telapak tangannya. Tetapi bunga Wijayakusuma yang diberikan tidak ada. Padahal posisi tangannya masih tegak seperti sedang memegang sesuatu. Ketika penulis menanyakan apa saja yang dikatakan sosok gaib Eyang Panji, Darsun menggelengkan kepala sambil mengatakan tidak ingat lagi perkataannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagaimana diketahui, dalam bahasa Jawa, Wijayakusuma bermakna kemenangan atau&amp;nbsp; lambang kemenangan dan kejayaan. Bunga ini memiliki mitos yang panjang. Bagi raja-raja Mataram yang baru dinobatkan, tidak akan sah diakui sebagai raja, baik dunia nyata ataupun gaib, sebelum berhasil memetik dan mendapatkan bunga Wijayakusuma untuk dijadikan Pusaka Keraton.&amp;nbsp; Diyakini pula, siapapun yang bisa memiliki bunga wijayakusuma, kelak akan menurunkan raja-raja yang besar dan lama berkuasa di Tanah Jawa. Karena itu Wijayakusuma menjadi kembang raja-raja Jawa. Panglima Besar Jenderal Soedirman (sebelum masuk militer) memberi nama koperasi yang didirikannya Persatuan Koperasi Indonesia Wijayakusuma. Bunga Wijayakusuma juga menjadi salah satu lambang dari wilayah Banyumasan dan sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;WANGSIT GAIB SANG BUPATI&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Benarkah air Sumur Mas dapat mendongkrak karir dan jabatan? Jawaban terhadap pertanyaan ini memang tidak mudah. Hal itu lebih disebabkan tipikal orang-orang yang pernah datang mengambil air Sumur Mas dikategorikan intelektual, bersikap modern dan cenderung tidak percaya hal-hal mistik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam kenyataannya, orang-orang tersebut datang meski secara diam-diam. Terkadang&amp;nbsp; malah ada yang datang malam hari agar tidak dikenali orang. Sebenarnya wajar saja jika mereka tidak ingin kedatangannya dikenali orang. Mereka itu orang-orang yang dalam kehidupan sosialnya bersikap rasional. Tentu harga dirinya akan runtuh jika dikemudian hari diketahui karir dan jabatannya naik hanya karena mengambil air Sumur Mas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Darsun mengungkapkan dirinya sering mendapat telpon dari pejabat yang pernah datang. Selain uluk salam, mereka juga berterima kasih. Meski&amp;nbsp; ucapan itu sekadar basa basi belaka. Ada pula yang datang dan bersilaturahmi sambil mengatakan hajatnya berhasil. “Apakah Bapak menerima sesuatu (hadiah) dari orang-orang yang berhasil hajatnya itu?” Tanya penulis. “Sekadarnya saja. Saya itu tidak mengharapkan apapun dari mereka. Tugas saya hanya merawat dan melestarikan warisan leluhur,” Jawabnya dengan ringan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika penulis menanyakan apa saja hadiah yang diterimanya jika ada peziarah yang berhasil, dia sedikit bercerita bahwa ada politisi yang berhasil terpilih menjadi wakil rakyat, setelah mengambil air Sumur Mas. Setelah berhasil dalam pemilu lalu, politisi itu datang lagi dan mengucapkan terima kasih. Sebelum politisi itu pamit pulang, sempat merogoh dompetnya lalu mengeluarkan selembar uang 50.000 rupiah.Tentu saja penulis tertegun mendengar ceritanya. Darsun memang hidup dalam kesederhanaan. Padahal mereka yang datang adalah orang-orang yang memiliki ambisi-ambisi besar dalam hidupnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tetapi sebuah keunikan yang belum lama terjadi adalah pro kontra seputar pembuatan sumur baru. Sebagaimana penulis saksikan sendiri, di dalam ruang Dalem Kadipaten terdapat sebuah sumur baru yang dibangun atas perintah Bupati Banyumas saat ini, Mardjoko. Konon beliau mendapat wangsit gaib dalam bentuk mimpi agar membangun sebuah sumur di dalam salah satu ruang Pendopo Kecamatan tersebut. Wangsit gaib tersebut oleh Bupati Mardjoko direalisasikan pembangunannya. Tentu saja sikap ini mendapat reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat, mengingat didekatnya ada sumur peninggalan leluhur yang dikeramatkan dan dijaga kelestariannya. Tidak diketahui secara pasti alasan persisnya Sang Bupati membuat sumur baru itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagaimana tampak dalam gambar, letak sumur itu terasa janggal berada di dalam ruangan yang biasanya untuk rapat tersebut. Apalagi berjarak hanya sekira 10 meter dari Sumur Mas. Tentu saja air dalam sumur baru tersebut berada dalam reservoir yang sama dengan sumur mas. Meski tidak diketahui pasti manfaat sumur baru itu, namun keinginan Sang Bupati membuat sumur yang didasarkan atas sebuah wangsit gaib malah menimbulkan spekulasi Sang Bupati ini pernah memanfaatkan kekeramatan air Sumur Mas sebelum beliau menjabat bupati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Boleh jadi, setelah keinginannya menjadi bupati tercapai, lalu beliau mendapat wangsit gaib agar membangun sumur baru. Sikap Sang Bupati ini semakin mengukuhkan mitos air Sumur Mas yang selama ini diyakini dapat memenuhi keinginan peziarah memeroleh jabatan prestisius.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description></item></channel></rss>