<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Majalah Warisan Indonesia</title>
	
	<link>http://warisanindonesia.com</link>
	<description>Bacaan Populer Seni dan Budaya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 28 Jun 2012 10:56:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/WarisanIndonesia" /><feedburner:info uri="warisanindonesia" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item>
		<title>Mari Menari Bersama Indonesia</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/WarisanIndonesia/~3/ekqZlrJTkMo/</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/06/mari-menari-bersama-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2012 10:49:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela]]></category>
		<category><![CDATA[Pentas]]></category>
		<category><![CDATA[jendela]]></category>
		<category><![CDATA[menari]]></category>
		<category><![CDATA[tari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5737</guid>
		<description><![CDATA[Penari papan atas dan akademisi tari di Indonesia, seperti Nungki Kusumastuti, Melina [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/06/mari-menari-bersama-indonesia/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5738" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/mari-menari.jpg" rel="lightbox[5737]" title="mari-menari"><img class="size-full wp-image-5738" title="mari-menari" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/mari-menari.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Warisan Indonesia/Ibnu Setiadi</p></div>
<p><strong>Penari papan atas dan akademisi tari di Indonesia, seperti Nungki Kusumastuti, Melina Surja Dewi, Maria Darmaningsih, Sal Mugiyanto, yang didukung penuh oleh Djarum Apresiasi Budaya menyelenggarakan Indonesian Dance Festival (IDF) yang ke-11 sejak April hingga awal Juni lalu.</strong></p>
<p>BERTEMAKAN “Let’s Move, Outreaching the Possibilities”, IDF kali ini memang ditujukan bukan lagi untuk penari profesional, melainkan masyarakat luas. Dengan konsep dasar mengajak Indonesia Menari, rangkaian acara yang diselenggarakan pun beragam, mulai dari pertunjukan tari di ruang publik, seminar, lokakarya koreografi, lomba tari, hingga belajar dari master tari kenamaan.</p>
<p>Indonesia Menari Flash Mob, satu dari rangkaian acara IDF, dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pada 13 Mei lalu. Acara yang diikuti ribuan peserta tersebut meraih rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri) untuk kategori Menari Tarian Nusantara. Hal tersebut menandakan Indonesia Menari bisa menjadi ajang memasyarakatkan kegiatan menari.</p>
<p>Dimulai dari Bundaran Hotel Indonesia (HI), para penari profesional, berbagai komunitas, model, seniman, serta para warga Ibu Kota menari sepanjang Jalan M.H. Thamrin, Jakarta. Hadir pula Duta IDF Dewi Gita, dan figur publik Fifi Aleyda Yahya, Haykal Kamil, Tommy Tjokro, dan Zivanna Letisha untuk makin menyemarakkan Indonesia Menari. Demam tari itu semakin terasa dengan kehadiran Abang None Jakarta yang menari Nandak, tarian khas Betawi, beserta ondel-ondel raksasa.</p>
<p>Selain itu, IDF kali ini juga mengadakan lomba tari yang diikuti penari pemula. Konsep ini dituangkan untuk mencari koreografer pemula berbakat agar regenerasi penari Indonesia bisa berjalan baik. Hal tersebut disampaikan Ketua Panitia Lomba Nungki Kusumastuti. “Jenis tarian yang dinilai tidak terlepas dari gerakan tradisi, tetapi tetap ada improvisasi dari setiap penari. Kelompok tari yang ambil bagian hampir merata, bahkan dari Papua dan Aceh pun ada,” tambahnya beberapa waktu lalu. Dukungan penuh yang diberikan Bakti Budaya Djarum Foundation bukanlah yang pertama. Ini kali keempat Renitasari, sebagai Direktur Program, terjun langsung dalam berjalannya rangkaian acara IDF.</p>
<p>“Djarum Foundation, sebagaimana keinginan pemilik PT Djarum, sedang mewujudkan kedigdayaan Indonesia seutuhnya, termasuk dalam seni tari. Atas alasan itulah saya hadir dan ikut langsung dalam setiap penyelenggaraan acara,” ucap Renitasari.</p>
<p>Pada malam pembukaan yang digelar 1 Juni lalu, IDF memberikan penghargaan kepada insan tari Indonesia, antara lain Farida Oetoyo, Edi Sedyawati, dan Julianti Parani. Tamu dan undangan yang hadir pun terlihat banyak sosialita Jakarta dan seniman, hal tersebut bisa menjadi acuan bahwa tari tidak hanya milik penari.</p>
<p>Maria Darmaningsih, selaku Direktur IDF, sangat berbahagia atas sambutan penikmat dan pelaku tari yang hadir dalam IDF kali ini. Menurut dia, penonton selalu memenuhi kursi yang tersedia di setiap hari kegiatan. Selain itu, timnya mendapatkan banyak pujian dengan mendatangkan sembilan negara di sembilan hari.</p>
<p>Banyak hadirin memuji improvisasi penyelenggara, mengucapkan selamat. Tujuan IDF bisa dikatakan tercapai, tetapi harus dilakukan terus-menerus. Gerakan budaya ini perlu diproses agar tari tidak hanya milik gedung pertunjukan, tetapi tari ada di jalanan, di mal, dan semua orang Indonesia bisa menari. Seperti nenek moyang kita menari ketika panen,” pungkas Maria. (WI/Viesta Karwila)<!-- PHP 5.x --></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WarisanIndonesia/~4/ekqZlrJTkMo" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/06/mari-menari-bersama-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://warisanindonesia.com/2012/06/mari-menari-bersama-indonesia/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=mari-menari-bersama-indonesia</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Patung Jakarta Pasca Bung Karno</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/WarisanIndonesia/~3/MWk_IaVuMYA/</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/06/patung-jakarta-pasca-bung-karno/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2012 10:29:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Senirupa]]></category>
		<category><![CDATA[bung karno]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[patung jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5726</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun Presiden Indonesia dan Gubernur DKI Jakarta silih berganti, belum ada yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/06/patung-jakarta-pasca-bung-karno/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5727" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/patung-jakarta-pasca-bung-karno.jpg" rel="lightbox[5726]" title="patung-jakarta-pasca-bung-karno"><img class="size-full wp-image-5727" title="patung-jakarta-pasca-bung-karno" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/patung-jakarta-pasca-bung-karno.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Warisan Indonesia/Ibnu Setiadi</p></div>
<p><strong>Meskipun Presiden Indonesia dan Gubernur DKI Jakarta silih berganti, belum ada yang bisa menandingi Bung Karno dalam hal menghias Jakarta dengan patung-patung publik yang monumental. Mengapa?</strong></p>
<p>Siapakah yang meragukan jiwa seni Ir. Soekarno, proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia? Bung Karno, demikian panggilan presiden pertama RI, amat peduli dengan kecantikan wajah Jakarta, sebagai ibu kota negara, ibu dari seluruh warga bangsa dari Sabang sampai Merauke, yang sudah sepantasnya dibanggakan.</p>
<p>Seperti Amerika Serikat bangga dengan patung Liberty, Prancis bangga dengan menara Eiffel, Jepang bangga dengan patung Hachiko Anjing Setia, patung-patung publik dalam bentuk tugu, monumen maupun relief yang digagas sekaligus warisan era Bung Karno, patut dibanggakan. Antara lain Monumen Nasional (Monas), Monumen Selamat Datang, Monumen Pembebasan Irian Barat di Jakarta Pusat, dan Monumen Dirgantara di Jakarta Selatan yang kesemuanya dikerjakan oleh seniman-seniman Indonesia dengan medium perunggu. Selain itu, Patung Tani di seberang hotel yang merupakan hadiah dari Pemerintah Rusia dan Patung Diponegoro di Taman Monas sumbangan Italia.</p>
<p>Selain dapat kita apresisasi, patung-patung itu, dan patung lainnya yang terletak di puluhan titik, secara artistik dan historis, telah menjadi penanda, simbol, dan bagian yang membanggakan bagi warga Jakarta dan secara luas, Indonesia.</p>
<p>Meskipun demikian, ada satu pertanyaan dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef, mengapa Bung Karno yang amat peduli dengan monumen-monumen, justru tidak menyelamatkan rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur 56 (kini Jalan Proklamasi), Jakarta.</p>
<p>Bukankah di halaman rumah itu sejarah kemerdekaan bangsa dimulai dengan Bung Karno—didampingi Hatta—membacakan teks proklamasi, pada hari Jumat, pukul 10.00 WIB, tanggal 17 Agustus 1945, bulan suci Ramadan, yang kemudian berkumandang ke seluruh penjuru dunia.</p>
<p>Gubernur DKI Ali Sadikin waktu itu “mengganti” Rumah Proklamasi yang telah rata dengan tanah pada tahun 1960 dengan Monumen Proklamasi pada era Soeharto. Namun, nilai historis rumah itu tetap saja tidak tergantikan. Menurut sebuah sumber, sesungguhnya bukan niat Bung Karno menghancurkannya.</p>
<p>Yang terjadi, pada waktu Presiden Soekarno sudah bermukim di Istana Negara, kemudian menyetujui usul Wakil Gubernur DKI Henk Ngantung yang dipercayainya bahwa rumah tersebut akan direnovasi. Henk Ngantung, yang juga pelukis, secara khusus ditugasi Presiden Soekarno menata keindahan Jakarta.</p>
<p>Namun, ternyata renovasi itu tidak pernah terjadi. Bahkan, dalam situasi politik yang gonjang-ganjing pada 1965, Henk Ngantung pun diganti dengan tuduhan terlibat PKI, meski sampai wafatnya pada 1991 tidak pernah terbukti.</p>
<p>Semasa menjadi presiden, Bung Karno yang dalam dirinya mengalir darah pejuang, politisi, arsitek, pengagum keindahan, dan pelukis, akrab dengan para seniman: pelukis, penari, penyanyi, sastrawan, dan lain-lain. Tidak mengherankan kalau jatuh cinta pada sebuah lukisan, ia akan membeli, tak jarang dengan cara mencicil. (WI/Yusuf Susilo Hartono)</p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-18/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.18 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WarisanIndonesia/~4/MWk_IaVuMYA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/06/patung-jakarta-pasca-bung-karno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://warisanindonesia.com/2012/06/patung-jakarta-pasca-bung-karno/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=patung-jakarta-pasca-bung-karno</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Museum Taman Prasasti, Serpihan Kisah Nisan-nisan Tua</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/WarisanIndonesia/~3/56eOXRYTYrs/</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/06/museum-taman-prasasti-serpihan-kisah-nisan-nisan-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2012 09:30:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Museum]]></category>
		<category><![CDATA[Situs]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[museum taman prasasti]]></category>
		<category><![CDATA[situs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5711</guid>
		<description><![CDATA[Ada kisah yang tersembunyi pada nisan-nisan tua bekas kuburan kaum elite masa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/06/museum-taman-prasasti-serpihan-kisah-nisan-nisan-tua/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5712" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/museum-taman-prasasti.jpg" rel="lightbox[5711]" title="museum-taman-prasasti"><img class="size-full wp-image-5712" title="museum-taman-prasasti" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/museum-taman-prasasti.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Warisan Indonesia/Ibnu Setiadi</p></div>
<p><strong>Ada kisah yang tersembunyi pada nisan-nisan tua bekas kuburan kaum elite masa kolonial. Sayang, salah satu kompleks permakaman paling tua di dunia itu tak terurus. Di situ bersemayam jenazah para gubernur jenderal, panglima perang, hingga aktivis yang mati muda, Soe Hok Gie. Di taman ini terlukis peristiwa sepanjang massa dari goresan prasasti mereka yang pergi.</strong></p>
<p>Di sini pula tertanam kehijauan yang kita dambakan. Pesan itu tertulis di batu penanda peresmian Museum Taman Prasasti, Jalan Tanah Abang 1, Gambir, Jakarta Pusat. Tertanggal 9 Juli 1977 oleh Pejabat Gubernur KDKI Jakarta Letjen TNI (Marinir) Ali Sadikin. Warga sekitar lebih suka menyebutnya Taman Prasasti Kebun Jahe. Pada masa penjajahan Belanda, bangunan itu adalah sebuah permakaman mewah buat orangorang terpandang saat itu. Namun, Pemerintah DKI Jakarta mengubahnya menjadi museum. Dari kejauhan, museum itu sangat kentara.</p>
<p>Gaya arsitekturnya kontras dengan bangunanbangunan lain di sekitarnya. Delapan belas pilar kokoh yang menjulang tinggi di gerbang amat menyita perhatian. Saat membangun museum ini pada tahun 1844, para perancangnya sengaja mengadopsi arsitektur klasik gaya Doria. Hal yang kerap ditemui di kantor-kantor pengadilan.</p>
<p>Dua meriam perunggu di kanan-kiri museum seolah-olah menyambut para pengunjung. Di pagar sekeliling tembok depan terpajang sekitar 35 nisan dari batu gunung biru atau batu pantai yang keras dari India Selatan. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin bagus kualitas batu yang digunakan.</p>
<p>Berbeda dengan museum pada umumnya, Museum Taman Prasasti ini tidak memajang koleksinya di ruang pamer yang berhias sorotan lampu dan ruangan dengan pengatur suhu. Bangunan itu sejatinya memang dirancang sebagai museum terbuka.</p>
<p>Nisan-nisan kuburan orang yang meninggal pada zaman kolonial Belanda pun dibiarkan apa adanya. Namun, ada juga yang sudah diinventaris dan dikelompokkan. Kesan angker dan seram pun sirna dengan suasana rindangnya pepohonan, kicauan burung, bentuk nisan dan patung yang beraneka corak unsur dan bahasa. (WI/Sari Hardiyanto)</p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-18/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.18 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WarisanIndonesia/~4/56eOXRYTYrs" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/06/museum-taman-prasasti-serpihan-kisah-nisan-nisan-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://warisanindonesia.com/2012/06/museum-taman-prasasti-serpihan-kisah-nisan-nisan-tua/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=museum-taman-prasasti-serpihan-kisah-nisan-nisan-tua</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Mencari Pemimpin Berbudaya</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/WarisanIndonesia/~3/te9swI9wce4/</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/06/mencari-pemimpin-berbudaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2012 09:09:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gong]]></category>
		<category><![CDATA[ali sadikin]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[gong]]></category>
		<category><![CDATA[gubernur]]></category>
		<category><![CDATA[gubernur jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5704</guid>
		<description><![CDATA[“Kalau ingin menjadi gubernur yang baik di Jakarta, masalah kebudayaan harus diurus. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/06/mencari-pemimpin-berbudaya/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5705" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/gubernur-jakarta.jpg" rel="lightbox[5704]" title="gubernur-jakarta"><img class="size-full wp-image-5705" title="gubernur-jakarta" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/gubernur-jakarta.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Warisan Indonesia/Ibnu Setiadi</p></div>
<p><strong>“Kalau ingin menjadi gubernur yang baik di Jakarta, masalah kebudayaan harus diurus. Meskipun bukan budayawan, feeling-feeling terhadap kebudayaan harus ada.”</strong></p>
<p>Kutipan kalimat di atas disampaikan mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta periode 1966 &#8211; 1977, Ali Sadikin, saat peresmian Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, 30 Mei 1978.</p>
<p>Tentu bukan tanpa alasan bila Bang Ali—panggilan akrabnya—mengingatkan kepada gubernurgubernur penerusnya untuk terus memperhatikan masalah kebudayaan di Ibu Kota, agar kota yang menjadi titik temu beragam suku bangsa di Nusantara ini memiliki wajah yang humanis, beradab, dan tidak eksploitatif.</p>
<p>Bang Ali tidak hanya memberikan janji-janji kosong. Berbeda dengan pemimpin sekarang yang lebih menggunakan medium kebudayaan sebagai sarana propaganda guna mencari sekaligus melanggengkan kekuasaan, Bang Ali tidak. Meski berlatar belakang militer dan sama sekali tidak memahami masalah kebudayaan, tetapi ia telah melakukan tindakan-tindakan nyata agar Jakarta sejajar dengan ibu kota negara lain.</p>
<p>Pada masa kepemimpinannya, sekitar tahun 1968, Jakarta memiliki pusat kesenian yang dikenal dengan nama Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jalan Cikini Raya. Areal yang dulunya merupakan kebun binatang itu dia sulap menjadi pusat kegiatan seni. Sementara kebun binatang dipindahkan ke Ragunan, Jakarta Selatan.</p>
<p>Atas usulan seniman-seniman ternama pada waktu itu, seperti Trisno Sumardjo, Mochtar Lubis, Ajip Rosidi, Wahyu Sihombing, dan Djajakusuma, di lokasi yang sama juga didirikan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Lembaga yang sekarang menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu dimaksudkan sebagai lahan persemaian calon seniman.</p>
<p>Bukan itu saja, pada masa Ali Sadikin pula gelanggang remaja dibangun di lima wilayah di Jakarta, seperti Gelanggang Remaja Bulungan, Planet Senen, Grogol, Kampung Melayu, serta di Kebon Bawang, Jakarta Utara. Beberapa seniman, seperti Radhar Panca Dahana, Anto Baret, Teguh Esha, Neno Warisman, lahir dari gelanggang remaja yang pada masanya sangat produktif berkreasi.</p>
<p>Kini gelanggang remaja seperti ditelan zaman, ruh gelanggang meredup seiring gempitanya pembangunan yang menyandarkan pada keberhasilan fisik semata, tanpa merawat ruang batin warga kota. (WI/E. Pudjiachirusanto)</p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-18/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.18 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WarisanIndonesia/~4/te9swI9wce4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/06/mencari-pemimpin-berbudaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://warisanindonesia.com/2012/06/mencari-pemimpin-berbudaya/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=mencari-pemimpin-berbudaya</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Pak Raden Menunggu Si Unyil</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/WarisanIndonesia/~3/2LePeysP1Ro/</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/06/pak-raden-menunggu-si-unyil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2012 08:27:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[pak raden]]></category>
		<category><![CDATA[si unyil]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[unyil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5689</guid>
		<description><![CDATA[Drs Suyadi, yang lebih dikenal dengan Pak Raden, nyaris terlupakan. Kreator serial [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/06/pak-raden-menunggu-si-unyil/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5691" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/pak-raden.jpg" rel="lightbox[5689]" title="pak-raden"><img class="size-full wp-image-5691" title="pak-raden" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/pak-raden.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Warisan Indonesia/Ibnu Setiadi</p></div>
<p><strong>Drs Suyadi, yang lebih dikenal dengan Pak Raden, nyaris terlupakan. Kreator serial boneka Si Unyil ini tengah berjuang untuk mendapatkan kembali hak cipta Unyil yang selama ini entah ke mana.</strong></p>
<p>Dari balik jendela tampak Suyadi tengah asyik melukis sendirian di ruang berukuran 2 meter x 4 meter. Mengenakan baju batik, celana pendek, ia duduk di bangku kayu menghadap kanvas yang nyaris selesai itu. Di ruang sempit dan pengap itulah sehari-hari ia menggores dan menghabiskan waktunya, kecuali ada yang nanggap untuk mendongeng.</p>
<p>Laki-laki yang pada tahun ini menginjak usia 77 tahun sudah sering sakit-sakitan terutama encok. “Kalau dulu Pak Raden akting, ‘waduh biyung encokku kumat’, sekarang beneran. Selain encok, yang sakit kantongnya,” ujar Suyadi yang hidup menumpang di rumah kakaknya, di Jalan Petamburan, Jakarta Pusat.</p>
<p>Namun, ia tetap bersemangat menjalani pekerjaannya mendongeng, ilustrator buku, dan melukis, meskipun secara ekonomis belum mampu mencukupi kebutuhannya sehari-harinya. Sebagai pendongeng, Suyadi punya ciri khas mendongeng dan menggambar.</p>
<p>Pekerjaan mendongeng berawal sejak ia berperan sebagai Pak Raden di dalam “Si Unyil” yang diceritakan suka mendongeng sehingga banyak yang mengira Suyadi sebagai Pak Raden memang pendongeng. “Kalau manggil saya itu untuk mendongeng. Jadi lama-lama, ya, mau tidak mau,” ujar Suyadi.</p>
<p><strong>Galau &#8220;Si Unyil&#8221;</strong><br />
Kreator film “Si Unyil” sejak 1979 ini sedang galau karena hak cipta “Si Unyil” malah tidak berada di dalam genggamannya. “Ada persoalan hak cipta ‘Si Unyil’. Saya ingin dikembalikan kepada saya. Maka itu saya harus menghubungi lembaga Hak Atas Karya Intelektual (HAKI). Tapi baru mendaftar, sudah ditarik sekian juta. Nanti untuk pengacaranya juga harus ada lebih dananya,” tutur Suyadi.</p>
<p>Itu sebabnya, pada pertengahan April 2012, sejumlah anak muda seperti Prasodjo Chusnato (penulis biografi Pak Raden) bersama temantemannya, mengadakan penggalangan dana. Selain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari Suyadi, juga untuk mengurus hak cipta Si Unyil.</p>
<p>Seniman multibakat yang telah malang melintang di dunia hiburan Tanah Air ini sangat mengharapkan agar pemerintah dan masyarakat lebih menghargai seniman-senimannya. (WI/Bambang Triyono)</p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-18/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.18 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WarisanIndonesia/~4/2LePeysP1Ro" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/06/pak-raden-menunggu-si-unyil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://warisanindonesia.com/2012/06/pak-raden-menunggu-si-unyil/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=pak-raden-menunggu-si-unyil</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Among Tebal, Asa Petani Tembakau</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/WarisanIndonesia/~3/sTLbEqZaZNI/</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/06/among-tebal-asa-petani-tembakau/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2012 08:10:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adati]]></category>
		<category><![CDATA[Upacara Adat]]></category>
		<category><![CDATA[adati]]></category>
		<category><![CDATA[among tebal]]></category>
		<category><![CDATA[upacara adat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5683</guid>
		<description><![CDATA[Memasuki masa tanam, petani tembakau di lereng Gunung Sindoro, Sumbing, dan Perahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/06/among-tebal-asa-petani-tembakau/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5684" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/among-tebal.jpg" rel="lightbox[5683]" title="among-tebal"><img class="size-full wp-image-5684" title="among-tebal" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/among-tebal.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Anis Efizudin</p></div>
<p><strong>Memasuki masa tanam, petani tembakau di lereng Gunung Sindoro, Sumbing, dan Perahu setiap tahun melakukan ritual Among Tebal. Mereka memohon kepada Tuhan panen tahun ini melimpah.</strong></p>
<p>KABUT tebal warna melingkari lereng Gunung Sumbing membuat udara dingin terasa menusuk tulang. Ratusan warga berkumpul di rumah Kepala Desa Legoksari, Kecamatan Tlogorejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sibuk menyiapkan sesaji untuk ritual Among Tebal atau awal tanam tembakau tahun ini.<br />
Bagi petani tembakau, Among Tebal wajib dilakukan karena sudah menjadi tradisi turuntemurun dari nenek moyang. Tujuannya, meminta kepada Tuhan agar bibit tembakau yang ditanam tumbuh subur dan terhindar dari serangan hama. “Memohon bisa mendatangkan rezeki yang halal,” kata Subakir, Kepala Desa Legoksari.</p>
<p>Sesaji yang disiapkan berupa empat macam tumpeng nasi, tiga ingkung ayam (ayam utuh tanpa dipotong, Red.), dan jajanan pasar ditata rapi berjajar di ruang depan rumah. Para tamu yang hadir disuguhi teh panas dan makanan kecil. Adapun warga lain menyiapkan bibit tembakau di keranjang plastik di sekitar ladang untuk mengawali tanam tembakau.</p>
<p>Sejumlah pemuda mengusung berbagai sesaji untuk memulai ritual, mereka berjalan menuju sebuah mata air Kali Ringin, berjarak sekitar 500 meter dari rumah kepala desa. Dua tokoh adat berpakaian khas Jawa mendekati mata air, seorang di antara mereka membawa sebuah kendi (tempat air terbuat dari tanah liat, Red.).</p>
<p>Mereka duduk bersila sambil membakar kemenyan dan berdoa, kemudian mengisi kendi dengan air dari mata air tersebut. Air dalam kendi dan sejumlah sesaji diangkut menggunakan mobil bak terbuka menuju lereng Gunung Sumbing bagian atas, sambil diikuti warga dari belakang.</p>
<p>Begitu sampai di ladang tanah kas desa yang akan ditanami tembakau, mereka berhenti dan menggelar terpal plastik sebagai alas meletakkan sesaji, warga duduk bersila membentuk lingkaran mengelilingi sesaji. Para petani yang bekerja di ladang ikut bergabung mengikuti ritual Among Tebal. (Ali Subchi)</p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-18/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.18 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WarisanIndonesia/~4/sTLbEqZaZNI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/06/among-tebal-asa-petani-tembakau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://warisanindonesia.com/2012/06/among-tebal-asa-petani-tembakau/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=among-tebal-asa-petani-tembakau</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Jakarta</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/WarisanIndonesia/~3/7UIRwtjJvQc/</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/06/jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2012 08:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Suluk]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[putu]]></category>
		<category><![CDATA[putu-wijaya]]></category>
		<category><![CDATA[suluk]]></category>
		<category><![CDATA[wijaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5677</guid>
		<description><![CDATA[Ke Jakarta aku kan kembali Walaupun apa yang kan terjadi. Lirik lagu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/06/jakarta/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5678" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/jakarta-suluk.jpg" rel="lightbox[5677]" title="jakarta-suluk"><img class="size-full wp-image-5678" title="jakarta-suluk" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/jakarta-suluk.jpg" alt="" width="620" height="463" /></a><p class="wp-caption-text">Repro_Ibnu Setiadi</p></div>
<p><strong>Ke Jakarta aku kan kembali Walaupun apa yang kan terjadi.</strong></p>
<p>Lirik lagu Koes Plus dari era ‘70-an itu sampai kini masih terasa menggigit. Bukan saja karena lagunya enak didengar, melainkan juga karena totokan dua kata, kembali dan Jakarta, yang terasa istimewa.</p>
<p>Pengertian “kembali” mengandung aspek dramatik. Terasa ada cerita panjang yang pernah membuat orang berpisah atau terpisah. Dan, tiba-tiba ada angin utara, arus balik yang menghanyutkan atau menyeretnya balik ke titik yang ditinggalkan. Yang kemudian meruap ke permukaan adalah luapan haru dan rindu.</p>
<p>Lalu tentang “Jakarta”. Sebagai ujung tombak dari republik ini, Jayakarta yang pernah dipanggil Batavia dan kini Jakarta, sebagai ibu kota Republik Indonesia merupakan pusat pandang setiap warga. Berbagai perasaan bercampur di balik tatapan itu. Ada yang kesal, benci, marah, bahkan muak. Tetapi, ada yang kagum, rindu, riang, berapi-api, dan heroik, serta menganggap Jakarta sebagai puncak.</p>
<p>Jakarta adalah miniatur Indonesia yang mengendapkan beberapa faktor. Di situ berkumpul segala yang berbeda dari seluruh pelosok Nusantara. Bergumul jadi satu, bagai gado-gado. Keaslian memudar, berbaur dalam gesekan yang tidak henti-hentinya, tetapi tidak sirna. Nuansa lokal dari berbagai kawasan pun masih tersirat, tergurat. Sementara unsur lokal Betawi, masih kental di sana-sini, membuat Jakarta jadi sebuah mozaik raksasa. Usmail Ismail pernah mencatatnya dalam sebuah judul film yang provokatif: Dusun Besar.</p>
<p>Ada yang lebih senang menyebut Jakarta sebagai belantara, tetapi tak sedikit yang memandang metropolitan itu sebagai Menara Gading. Sebuah etalase bohong, yang tak benar-benar bisa menggambarkan sejatinya Indonesia.</p>
<p>Yang terbaik dan yang terburuk sama-sama ada di Jakarta. Mau makan dabu ikan yang harganya Rp 8 juta, bisa; sementara kenyang dengan Rp 8.000 di warung padang pun ada. Tukang copet, tukang todong, perampok, penipu, pencuri, penculik berserakan dari kelas teri sampai kelas kakap. Tapi empu-empu, orang berhati emas yang mengabdikan dirinya untuk mengangkat nasib orang lain, tanpa pamrih pun, tak sedikit. Mereka mendidik anak-akan jalan di bawah jembatan, sebagai pengabdian yang tulus.</p>
<p>Jakarta berwajah seribu. Dibelah oleh Sungai Ciliwung yang airnya cokelat dan kadangkala bisa menghitam tercemar polusi. Jakarta terasa gemerlap sekaligus kuyu. Beringas selama 24 jam, seakan penduduknya tak pernah tidur. Namun, di beberapa sudut, masih hadir kawasan “kampung” yang tidur lesu. Bukan tidak disadari, memang tak berdaya. Inilah borok yang terjadi karena Jakarta “diperkosa” oleh berbagai ambisi yang bertentangan. (WI/Putu Wijaya)</p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-18/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.18 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WarisanIndonesia/~4/7UIRwtjJvQc" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/06/jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://warisanindonesia.com/2012/06/jakarta/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=jakarta</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Gambara Roadshow Bali</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/WarisanIndonesia/~3/2FI2Nkm1lFQ/</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/06/gambara-roadshow-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jun 2012 07:18:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program Afiliasi]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[gambara]]></category>
		<category><![CDATA[roadshow]]></category>
		<category><![CDATA[talkshow]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5656</guid>
		<description><![CDATA[NBC-Roadshow Gambara Photo Award Flores Bangkit 2012 di Bali akan menggelar sejumlah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/06/gambara-roadshow-bali/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5658" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/gambara-roadshow-bali.jpg" rel="lightbox[5656]" title="gambara-roadshow-bali"><img class="size-full wp-image-5658" title="gambara-roadshow-bali" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/gambara-roadshow-bali.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Dokumentasi Gambara Photo Award 2012</p></div>
<p><strong>NBC-</strong>Roadshow Gambara Photo Award Flores Bangkit 2012 di Bali akan menggelar sejumlah acara menarik, Sabtu-Minggu, 18-19 Mei 2012. Kegiatan itu lanjutan dari rangkaian pameran foto realitas sosial Nias dan Flores di beberapa lokasi umum seperti Pantai Kuta, Bentara Budaya, Kantor Gubernur, bahu jalan Desa Seni Ubud.</p>
<p>Acara akhir pekan itu sendiri adalah workshop fotografi, pertunjukan sanggar seni budaya Flores Bliran Sina, talkshow budaya bertema &#8220;Nilai Warisan Budaya dalam Kajian Pengembangan berwawasan Pelestarian Budaya Indonesia&#8221; dengan pembicara budayawan Putu Wijaya, peneliti Balai Arkeologi Bali Wayan Suantika dan tokoh pariwisata I Gde Ardhika.</p>
<p>Menurut Trisakti Simorangkir, Pemimpin Umum Majalah Warisan Indonesia yang juga menjabat Program Director Gambara, dalam roadshow kali ini ada penambahan variasi kegiatan ketimbang yang sudah digelar di Medan dan Bandung.</p>
<p>“Pertimbangannya adalah karena Bali merupakan spot exsposure yang penting sehingga memungkinkan publikasi Gambara ke dunia luar,”ujar dia.</p>
<p>Gambara dan Majalah Warisan Indonesia, dalam hal ini, menaruh perhatian besar pada Bali menyusul besarnya dampak pariwisata. Gejala meningkatnya apresiasi seni budaya yang berjalan bareng dengan praktik mafia seni, merupakan salah satu keprihatinannya. Mafia itu terbukti kerap melakukan duplikasi karya seni secara membabi buta.</p>
<p>Keprihatinan berikutnya adalah kerusakan alam di sekitar tempat-tempat penting seperti Tanah Lot atau Ulu Watu. Dua warisan budaya itu, tentu bersama yang lainnya, terlanjur menjadi bahan ekploitasi ekonomi pariwisata, padahal seharusnya dijaga secara bersama. Dalam hal ini, Bali mesti mengoptimalkan kualitasnya <strong>(Don)</strong><!-- PHP 5.x --></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WarisanIndonesia/~4/2FI2Nkm1lFQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/06/gambara-roadshow-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://warisanindonesia.com/2012/06/gambara-roadshow-bali/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=gambara-roadshow-bali</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Flores Bangkit Roadshow ke Bandung</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/WarisanIndonesia/~3/yaOPd5MDSLc/</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/06/flores-bangkit-roadshow-ke-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jun 2012 11:37:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program Afiliasi]]></category>
		<category><![CDATA[gambara roadshow]]></category>
		<category><![CDATA[gambara-photo-award]]></category>
		<category><![CDATA[program afiliasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5651</guid>
		<description><![CDATA[Komunitas Gambara dan Majalah Warisan Indonesia memilih Bandung menjadi kota tujuan kedua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/06/flores-bangkit-roadshow-ke-bandung/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5652" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/gambara-roadshow-bandung.jpg" rel="lightbox[5651]" title="gambara-roadshow-bandung"><img class="size-full wp-image-5652" title="gambara-roadshow-bandung" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/gambara-roadshow-bandung.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Dokumentasi Gambara Photo Award 2012</p></div>
<p>Komunitas Gambara dan Majalah Warisan Indonesia memilih Bandung menjadi kota tujuan kedua setelah Medan untuk mengadakan roadshow. Tema kegiatan di kota kembang ini sama dengan sebelumnya, “Cinta Bhinneka Tunggal Ika”. Budaya dan realitas sosial suku Nias dan Flores sengaja diperkenalkan agar warga kota ini tidak menjadi asing dengan kedua wilayah itu.</p>
<p>”Nias dan Flores merupakan masyarakat yang kurang banyak dikenal. Keduanya seolah terlupakan,” ujar Trisakti Simorangkir, Project Director dan Pemimpin Umum Majalah Warisan Indonesia.</p>
<p>Dalam keterbatasan itu, tambah Trisakti, banyak hal yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Warga di wilayah itu terbukti amat mencintai negaranya. “Ketidakpedulian masyarakat luas, termasuk media, bukan penghalang untuk berbakti kepada bangsa. Hal itu penting untuk menjadi bahan renungan bagi semua,” kata Trisakti.</p>
<p>Puncak perhelatan berlangsung sehari penuh pada Sabtu, 28 April 2012. Adapun pameran foto sudah berlangsung sejak 15 April 2012. Dua acara penting yang berpusat di sebuah kafe di Jalan Citarum saat itu adalah lokakarya fotografi dan bincang-bincang bertema “Nilai Warisan Budaya dalam Kajian Pengembangan Berwawasan Pelestarian di Jawa Barat”.</p>
<p>Dalam acara bincang-bincang, suasana diskusi berlangsung hangat. Suku Sunda, sebagaimana dengan suku lain, juga mendapatkan warisan budaya dari leluhurnya. Menurut salah seorang pembicara, Selly Riawanti, salah satu ciri penting orang Sunda adalah kelenturan. “Kelenturan itu merupakan sumber kreativitas luar biasa yang menghidupi semua orang yang tinggal di Jawa Barat, tak cuma orang Sunda saja,” ujar Selly.</p>
<p>Kebudayaan asing mulai India, Arab, hingga Eropa, ataupun dari Timur, seperti China, dengan nyaman diserap, dipakai dan digabung dengan unsur-unsur kebudayaan Sunda. “Misalnya saja, sekelompok pemusik rock metal memulai pertunjukan dengan ritual berbahasa Sunda, menyalakan dupa, menghunus kujang, dan menyanyikan lagu berirama cadas dengan tema aktual lokal, di hadapan lautan penonton yang mengenakan ikat kepala Sunda sebagai atribut identitas mereka,” ujar Selly Riawanti, antropolog dari Universitas Padjadjaran itu.</p>
<p>Praktik seperti itu merupakan bukti adanya unsur kebudayaan lama yang diangkat kembali dan ditempatkan dalam konteks baru sehingga mempunyai relevansi dengan keadaan sekarang. Hal itu penting mengingat ada kebutuhan akan otentisitas identitas dalam globalisasi seni publik yang kian kompetitif. (WI/Donny Iswandono)<!-- PHP 5.x --></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WarisanIndonesia/~4/yaOPd5MDSLc" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/06/flores-bangkit-roadshow-ke-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://warisanindonesia.com/2012/06/flores-bangkit-roadshow-ke-bandung/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=flores-bangkit-roadshow-ke-bandung</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Ada Puisi di Kebun Medini</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/WarisanIndonesia/~3/47cS6tVNm9U/</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/06/ada-puisi-di-kebun-medini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jun 2012 10:28:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela]]></category>
		<category><![CDATA[Pentas]]></category>
		<category><![CDATA[jendela]]></category>
		<category><![CDATA[kebun medini]]></category>
		<category><![CDATA[medini]]></category>
		<category><![CDATA[pentas]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5643</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah hamparan kebun teh yang menghijau di kawasan Kebun 2 Afdeling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/06/ada-puisi-di-kebun-medini/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5644" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/puisi-di-medini.jpg" rel="lightbox[5643]" title="puisi-di-medini"><img class="size-full wp-image-5644" title="puisi-di-medini" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/puisi-di-medini.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Yanuar Dwi Sarjono</p></div>
<p>Di tengah hamparan kebun teh yang menghijau di kawasan Kebun 2 Afdeling Medini, Babadan, Ngesrep Mbalong, Kecamatan Limbangan, Kendal, Jawa Tengah, sosok lelaki tiba-tiba muncul. Berjaket hitam dan bertopi, ia mendaraskan puisi dengan lantang, penuh ekspresi memecah keheningan alam Medini.</p>
<p>Dialah Bustan Basir Maras, pegiat Komunitas Gubuk Indonesia (KGI) Yogyakarta, yang menyenandungkan puisi “Memetik Teh di Kebun Puisi; sajak untuk Rama Iman Budhi Santosa”.</p>
<p>Bustan Basir adalah satu di antara puluhan penyair yang hadir di Kebun Medini di sela-sela peluncuran buku Merajut Sunyi, Membaca Nurani; Napak Tilas Jejak Penyair Iman Budhi Santosa di Medini oleh Komunitas Lerengmedini, akhir April lalu.</p>
<p>Para penyair dalam kegiatan “Wisata Sastra di Kebun Medini” ini bergantian membacakan puisi di tengah kebuh teh tersebut. Sebagian penyair membacakan puisi yang dimuat dalam buku yang diterbitkan Komunitas Lerengmedini berisi tulisan 12 penulis itu.</p>
<p>Ke-12 penulis itu, antara lain Sigit Susanto yang membacakan puisi berbahasa Jerman berjudul “Unbekannte”, Setia Naka Andrian (“Izinkan Aku Memetik Pialamu”), Kelana (“Perjalanan Merah”), Fitriyani (“Untuk Pendaki”), dan Daurie Bintang Reborn (“Kekayaan adalah Penyakit Menular”), dan Supamin (“Medini”).</p>
<p>Rombongan diikuti oleh 33 orang yang berasal dari Boja dan jejaring penggerak literasi di luar daerah, antara lain Ahmad Daurie Bintang Reborn (Bogor), Ubaidillah Muchtar (Lebak Banten), Bustan Basir, M Aswar, Wage Dagsinarga, M Iqbal, Irul (Yogyakarta), Kelana, Ali Murtadlo, Angga, Narti Kepal (Kebun Sastra Kendal), serta Bahrul Ulum (PSK Kaliwungu), dan Setia Naka Andrian (Rumah Diksi, Brangsong). (Iyan Dwi S)</p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-17/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.17 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WarisanIndonesia/~4/47cS6tVNm9U" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/06/ada-puisi-di-kebun-medini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://warisanindonesia.com/2012/06/ada-puisi-di-kebun-medini/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=ada-puisi-di-kebun-medini</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
