<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-28990430</atom:id><lastBuildDate>Sat, 05 Oct 2024 02:34:37 +0000</lastBuildDate><category>Filsafat</category><category>Artikel</category><category>Menu</category><category>Blog</category><title>Welcome to amien_coy</title><description>HIDUP YANG TIDAK DIPERTARUHKAN TAKKAN PERNAH DIMENANGKAN</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-2258554034139001093</guid><pubDate>Wed, 08 Oct 2008 11:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-08T20:39:01.112+08:00</atom:updated><title>MAAF... (Dilarang Memaafkan!!)</title><description>bagi Rendra&lt;br /&gt;.........Hidup adalah pelaksanaan kata2 &lt;br /&gt;bagi si SB&lt;br /&gt;.........Hidup adalah perbuatan&lt;br /&gt;bagi Dewa 19&lt;br /&gt;.........Hidup adalah perjuangan tanpa henti-2 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sehingga Maaf tak mesti hadir dalam diri&lt;br /&gt;sebab kata,perbuatan dan perjuangan...&lt;br /&gt;mesti memiliki tempat tuk dinilai dan dipertanggungjawabkan!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali kita sadar bahwa&lt;br /&gt;.........Hidup adalah panggung sandiwara&lt;br /&gt;seperti kata nike ardilla (alm.)&lt;br /&gt;dan......Hidup adalah Perbualan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka kesalahan kemarin, hari ini, dan esok...&lt;br /&gt;cukup menunggu ramadhan tuk diputihkan dan diulangi kembali&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2008/10/maaf-dilarang-memaafkan.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-3274227234099724141</guid><pubDate>Mon, 23 Jun 2008 12:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-23T20:57:10.830+08:00</atom:updated><title>DAFTAR CEKAL TAHUN 2008</title><description>Dewi Persik, Julia Perez Dicekal di Tangerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inul Daratista, Anissa Bahar Dicekal di Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uut Permatasari, Trio Macan Dicekal di Canjur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAHASISWA KKN UNHAS DICEKAL DI BANTAENG!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artis dangdut akhir2 ini banyak di cekal di beberapa daerah, utamanya mereka yang dianggap mempertontonkan hal2 Seronok (dialek malaysia) dalam penampilannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entah dengan alasan apa (belum ada konfirmasi dari pemkot maupun Unhas red.) mahasiswa kkn unhas dicekal di Bantaeng, tapi mudah2an bukan karena sesuatu yang &quot;seronok pula&quot;. khususnya kondisi bantaeng yang akan melakukan Pilkada dalam waktu dekat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Kenapa dicekal...?&lt;br /&gt;Apakah Unhas (Dosen) Sudah terlibat dalam Politik di Bantaeng?&lt;br /&gt;entahlah, tapi yang rugi sudah jelas Mahasiswa... Kasihan, Dipulangkan....(diusir maksudnya)&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2008/06/daftar-cekal-tahun-2008.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-1088893713545576828</guid><pubDate>Sat, 31 May 2008 05:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-31T14:09:38.630+08:00</atom:updated><title>Mahasiswa Semester 14</title><description>&quot;sulit untuk masuk Universitas (Mahasiswa) dan lebih sulit lagi keluar universitas (Sarjana)&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepertinya anekdot itu masih berlaku untuk saya, sore ini saya mencoba memulai untuk menulis proposal skripsi di lego-lego fkm. tapi, belum banyak yang mampu aku tulis, pikiranku tiba-tiba terbuyarkan oleh sapaan seorang teman yang menepuk pundak kiriku. seorang teman angkatan di fkm, tapi bedanya dia telah sarjana (SKM) dan lanjut di Pasca. ia kemudian membuka laptopnya dan browsing, cari apa tanyaku.. bahan tesis ucapnya santai!! Tesis... pikirku dalam hati, akh... sangat kontras dengan diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami sama-sama masuk kampus ini, di-opspek bersama, kuliah sama-sama, tapi nasib berbeda. aku duduk disini menulis proposal skripsi dan ia sudah menulis tesis... hahaha....hahaha.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anekdot itu (mungkin) tidak lagi berlaku bagi mahasiswa generasi hari ini. Paradigma pendidikan di kampus-kampus besar telah banyak berubah, dengan asumsi ingin mencapai kualitas didik yang lebih baik, kampus berlomba-lomba untuk mengubah konsep pendidikannya. keberhasilan Universitas dimata para konsumennya adalah sejauh mana Universitas mampu meluluskan mahasiswanya secepat mngkin dan memberikan nilai (IPK) setinggi mungkin. alhasil, hari ini kita tidak perlu kaget jika mendapat mahasiswa yang menyelesaikan studinya dengan 3,4 tahun dengan IPK 3,8 atau bahkan 4,00 serta di fakultas-fakultas yang terbilang rumit atau susah seperti Fak. Kedokteran dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ajaran baru akan dimulai, Setiap Universitas berlomba-lomba (baca:mengemis) untuk mendapatkan mahasiswa baru dengan mempromosikan dirinya sejak awal kepada siswa-siswa SMU dan orang tua siswa. diskursus hari ini menempatkan Universitas sebagai sebuah lahan industri, dengan berfokus pada seberapa besar laba yang didapat dari mahasiswa yang masuk kuliah. jualan cepatnya mahasiswa menyelesaikan studi dan IPK tinggi ternyata tidak sesuai dengan kondisi faktual yang mesti diperoleh oleh mahasiswa tersebut setelah lepas dari kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;universitas yang berkobar-kobar mempromosikan diri ketika penerimaan mahasiswa baru ternyata lulusannya banyak yang menganggur, alias tidak punya pekerjaan dan karena tidak menemukan tempat kerja. Jika didata, jumlah penganggur sarjana lulusan universitas setelah krisis ekonomi 1997 tidak jauh beda dengan angka pengangguran tahun 1989 dan 1995, yakni 10,93 persen pada 1989 dan 12,36 persen pada 1995. Sedangkan data Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi menunjukkan bahwa dari tahun 2000-2005 jumlah penganggur sarjana universitas cenderung mengalami pasang surut, tetapi pada 2005 data pengangguran universitas semakin melonjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tahun 2000 jumlah penganggur sarjana lulusan universitas mencapai 277.000 orang, 2001 meningkat sedikit menjadi 289.000 orang, 2002 menurun sedikit menjadi 270.000 orang, 2003 menurun lagi menjadi 245.000 orang, dan pada 2004 meningkat tajam jadi 348.000 orang, tahun 2005 lebih meningkat lagi menjadi 385.418 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Time edisi November 2007, yang mengeluarkan suplemen Pendidikan Tinggi yang memuat 200 universitas terbaik di dunia. Tidak satu pun universitas Indonesia yang masuk dalam kategori 200 universitas terbaik di dunia. Asumsi paling mendasar yang menyebabkan banyaknya pengangguran alumni universitas adalah disebabkan oleh rendahnya mutu pendidikan universitas di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal ini tentunya didukung oleh perilaku civitas akademika di kampus, mahasiswa senang    jika dosennya tidak masuk ngajar dan dosen pun senang terlambat masuk ngajar. sederhananya adalah, Dosen Kejar Proyek dan Mahasiswa Kejar Ijazah. saatnya kualitas pendidikan di kampus diperbaiki, kampus mestinya adalah ruang belajar dan berproses bagi mahasiswa, bukan sebagai tempat kursus bagi ribuan orang. hingga lulusan universitas mampu menjadi pemikir-pemikir di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CEPAT KELUAR sebelum DIKELUARKAN oleh kampus kata teman tadi.&lt;br /&gt;Hati-hati Kataku...&lt;br /&gt;Sudah Baca Novelnya &#39;DO&#39;?&lt;br /&gt;Ada 3 Hal Yang tidak Boleh Diganggu dan Jika diganggu, langsung dapat akibatnya:&lt;br /&gt;1. Membangunkan Macan Tidur&lt;br /&gt;2. Melawan Ibu Mertua&lt;br /&gt;3. Mengganggu Mahasiswa Semester 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hehehe.... untuk ketua forum mahasiswa Semester 14 UNHAS. Semangat Kawan!!!!!&lt;br /&gt; &lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2008/05/mahasiswa-semester-14.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-9024400831007346810</guid><pubDate>Wed, 28 May 2008 18:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-29T02:07:32.932+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menu</category><title></title><description>BERSATU BERSAMA RAKYAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h20&gt; TOLAK KENAIKAN HARGA BBM &lt;/20&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2008/05/bersatu-bersama-rakyat-tolak-kenaikan.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-4575055458029116924</guid><pubDate>Fri, 22 Feb 2008 17:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-23T01:59:34.083+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menu</category><title>Microsoft Beberkan Rahasia Softwarenya</title><description>Raksasa bisnis komputer Microsoft menyatakan, akan membuka informasi teknis dari sebagian software produksinya untuk memudahkan pengembang open source memanfaatkannya secara gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Tujuannya untuk mempromosikan interoperabilitas yang lebih besar serta kesempatan bagi konsumen dan pengembang. Hal ini dilakukan dengan membuat produk kami lebih terbuka dan membagi informasi mengenai teknologinya,&#39; ungkap CEO Microsoft, Steve Ballmer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Microsoft memaparkan, akan membeberkan beberapa detail kode-kode teknis dari software populernya seperti Office 2007 dan sistem operasi Windows Vista. Microsoft memposting sekitar 30.000 halaman mengenai informasi protokol softwarenya secara online yang sebelumnya dirahasiakan, sehingga bisa diakses mereka yang membutuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Steve Ballmer menambahkan, Microsoft tak akan lagi menempuh langkah hukum untuk menggugat developer open source jika mereka hendak memanfaatkan keterbukaan software ini untuk tujuan non-komersial. Sebelumnya, Microsoft sering menggugat pengembang open source dengan tuduhan pelanggaran hak cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, langkah Microsoft ini ada latar belakangnya. Seperti dikutip detikINET dari AFP, Jumat (22/2/2008), tindakan ini dilakukan setelah Komisi Eropa berulangkali menginvestigasi Microsoft atas tuduhan monopoli bisnis. Menurut Microsoft, mereka akan melakukan langkah yang diperlukan untuk memenuhi hukum di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, Komisi Eropa yang pernah mendenda Microsoft karena dinilai bersalah memanfaatkan dominasinya di pasaran, tampaknya tak begitu terkesan. &quot;Pengumuman ini tak ada kaitannnya dengan pertanyaan apakah Microsoft telah memenuhi aturan hukum Eropa atau tidak,&quot; demikian pernyataan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2008/02/microsoft-beberkan-rahasia-softwarenya.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-6813990079162195837</guid><pubDate>Fri, 22 Feb 2008 17:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-23T01:34:04.137+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menu</category><title>Memikirkan Kembali Sikap Keberagaman Kita</title><description>Oleh Luthfi Assyaukanie&lt;li&gt;&lt;a href=&#39;http://islamlib.com/id/index.php?page=article&amp;id=112&#39;&gt;www.islamlib.com&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;Hari raya ini adalah momentum yang tepat bagi kita semua untuk memposisikan diri kita masing-masing, apakah kita seorang muslim yang dewasa, yang matang, yang tidak terpengaruh oleh isu-isu politik murahan. Marilah kita jadikan hari raya ini sebagai tonggak kehidupan kita di masa depan yang lebih jujur, adil, dan terhormat. &lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada pagi 1 Syawal 1422 H ini, sekitar satu miliar muslim di seluruh dunia berkumpul di mesjid-mesjid dan di tempat-tempat lapang, untuk menyambut hari yang amat penting dalam salah satu episode kehidupan mereka. Hari raya Iedul Fitri, bagi umat Islam, bukan hanya sekadar hari bersenang-senang dan merayakan kegembiraan, tapi hari itu juga merupakan tanda bagi lembar kehidupan mereka yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari raya Iedul Fitri bukan hanya momen untuk kita berpakaian baru dan merasakan keakraban baru. Tapi, lebih dari itu, hari raya Iedul Fitri adalah momen untuk kita melihat kembali sejarah hidup kita selama satu tahun ke belakang. Hari raya Iedul Fitri adalah sebuah buku harian yang melaluinya kita membuka catatan-catatan masa lalu kita, untuk kita baca, kita renungkan, dan kita ambil hikmahnya. Iedul Fitri adalah tonggak bagi kita semua untuk me-review atau melihat kembali segala perbuatan dan aktivitas kita di masa silam, untuk kemudian memulai kehidupan baru yang lebih baik dan lebih membahagiakan di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku Menjengkelkan. Salah satu review yang akan kita lakukan pada hari yang mulia ini adalah menyangkut sikap dan cara keberagamaan kita selama ini yang berimplikasi pada kehidupan sosial kita, pada pergaulan kita sehari-hari, dan bahkan pada kondisi sosial, ekonomi dan politik negara kita. Mungkin ada di antara saudara-saudara yang bertanya, bagaimana mungkin sikap keberagamaan seseorang dapat mempengaruhi kondisi ekonomi-politik sebuah negara? Bukankah cara beragama itu urusan privat (individu) sedangkan persoalan ekonomi-politik adalah urusan publik (masyarakat luas)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku keberagamaan pada dasarnya adalah urusan individual, karena menyangkut hubungan antara seseorang dengan Tuhannya. Tapi, ketika perilaku keberagamaan ini telah disusupi dengan kepentingan-kepentingan tertentu dan dimaknai dengan tafsir-tafsir tertentu, maka urusannya bukan lagi menjadi urusan privat, urusan antara manusia dengan Tuhannya, tetapi telah menjadi urusan publik, urusan yang berimplikasi pada tatanan sosial yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin memberi satu contoh kecil saja dari perilaku keagamaan yang meskipun tampak sepele tapi mempunyai dampak ekonomi politik yang cukup besar. Beberapa waktu lalu, ketika isu rencana aksi serangan Amerika Serikat ke Afghanistan merebak, sekelompok orang yang mengatasnamakan diri sebagai pembela Islam berencana melakukan sweeping (pembersihan) terhadap warga asing. Orang-orang ini meyakini betul bahwa perbuatan mereka didukung oleh ajaran Islam. Mereka menyitir dan mengeksploitasi dalil-dalil agama (Alquran dan Hadis) untuk membenarkan rencana kekerasan yang akan mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati tindakan sweeping itu tak sempat terjadi, tapi sikap semacam itu sangat fatal akibatnya, bukan hanya bagi citra Islam yang tercemar akibat diidentikkan dengan kekerasan, tapi juga bagi kondisi ekonomi-politik negeri kita. Kita tahu, setelah ancaman itu, pemerintah AS tak lama kemudian melarang warganya mengunjungi Indonesia dan melarang para investornya menanamkan modalnya di negeri ini. Akibatnya, bukan hanya investor Amerika saja yang takut untuk menanam modalnya di sini, tapi juga para investor dan turis asing lainnya, takut berkunjung ke negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang tidak mengerti persoalan ekonomi dengan baik, peristiwa semacam itu mungkin tak terlalu berarti. Tapi bagi para ahli ekonomi yang bergelut dan berusaha mengatasi krisis berkepanjangan negeri ini, “sikap keberagamaan” semacam itu pastilah sangat menjengkelkan. Apalagi Indonesia saat ini sangat memerlukan bantuan luar negeri untuk menopang kehidupan ekonominya yang sudah bangkrut. Ini hanyalah contoh kecil saja dari sikap-sikap keberagamaan umat Islam yang tampaknya sepele tapi memiliki implikasi yang sangat besar bagi kehidupan sosial-politik kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran Harfiah. Sikap-sikap keberagamaan yang keliru muncul dari penafsiran dan pemahaman terhadap agama yang keliru. Kita selalu menganggap bahwa Islam adalah agama perdamaian, agama yang menebarkan kasih-sayang bagi siapa saja, agama yang memiliki Tuhan dengan sifat rahman dan rahim, tapi sayangnya, pada saat yang sama, kita menampakkan wajah Islam yang angker, yang keras, yang berdarah-darah, seolah kita ingin membenarkan tuduhan media Barat selama ini bahwa Islam identik dengan terorisme, bahwa Islam identik dengan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala kekerasan yang mengatasnamakan agama tak hanya berlaku pada sikap-sikap anti-Amerika pasca peristiwa 11 September. Beberapa kasus pengeboman yang terjadi akhir-akhir ini di Jakarta maupun daerah lainnya, patut disayangkan, juga mengatasnamakan Islam. Semangat puritanisme agama yang cenderung merusak tatanan hidup, seperti perusakan terhadap kepentingan umum, jalan-jalan, dan gedung pendidikan, merupakan cerminan keputusasaan dan kehancuran moralitas umat beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan itu, selain bertentangan dengan aturan dan undang-undang yang berlaku di negeri ini, juga bertentangan dengan semangat ajaran Islam yang paling fundamental. Ketika Nabi Muhammad s.a.w ditanya para sahabatnya tentang siapakah orang yang disebut muslim, Nabi menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang muslim adalah orang yang dapat memberikan keselamatan kepada orang lain baik dari tangan maupun lidahnya. Orang mukmin adalah orang yang dapat menjaga harta dan jiwa orang lain. (HR. Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah Anda mengaku sebagai seorang muslim jika orang lain terancam dengan keberadaan Anda, dan janganlah Anda mengaku sebagai seorang muslim jika Anda masih merusak jalan, pohon, rumah ibadah, gedung sekolah, dan kepentingan-kepentingan umum lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita selalu dianjurkan untuk memahami agama dengan benar. Kita diperintahkan agar jangan mengikuti seseorang tanpa kita mengetahui secara pasti kapabilitas dan integritas keilmuannya. Seorang muslim sejati bukanlah diukur dari pakaian yang dikenakannya, atau dengan sorban dan ikat kepalanya. Islam tak berurusan dengan pakaian, Islam tak berurusan dengan jenggot, dengan sorban, dan dengan aksesori-aksesori kesalihan yang dimaksudkan agar para pemakainya dihormati atau disegani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebodohan dan kekeliruan sering bersembunyi di balik busana. Ketakwaan dan kesalihan sering disalahpahami dengan mengaitkannya dengan pakaian. Seseorang akan dianggap salih kalau dia memakai “baju tertentu” yang dibelinya dari toko busana muslim. Karena salah persepsi ini, para artis dan selebritis berbondong-bondong mengenakan jilbab atau busana muslim agar dianggap lebih islami dan lebih salih. Kesalihan dan ketakwaan dipahami benar-benar secara literal dan formal. Orang yang tidak mengenakan pakaian khusus dianggap kurang Islami atau kurang pintar ilmu agamanya, padahal kesalihan dan kepintaran tak ada sangkut-pautnya dengan pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik beragama dan pemahaman keagamaan yang literal atau harfiah semacam itu, sangat berbahaya jika terus didiamkan. Pada tingkat pakaian, malapetaka itu mungkin belum terlihat, tapi pada tingkat yang lebih jauh, pemahaman-pemahaman literal dapat menjerumuskan sebuah bangsa kepada kekacauan dan kebangkrutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengambil Afghanistan sebagai contoh sebuah negara yang bangkrut akibat pemahaman Islam yang literal-formalistik. Penguasa Taliban yang memaksakan kehendak mereka untuk menerapkan Islam Literal terbukti tak cukup kuat untuk bertahan lebih lama lagi, karena diprotes dan dikecam oleh masyarakatnya sendiri maupun oleh dunia internasional. Terlepas dari tindakan brutal Amerika Serikat yang membombardir kekuatan mereka, Islam Taliban adalah sebuah jenis Islam Literal yang berbahaya jika diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa menyaksikan bagaimana Talibanisme melakukan represi dan kekerasan kepada warganya sendiri yang nota bene kaum muslim juga. Dengan mengatasnamakan Islam, mereka mengharamkan hampir semua aspek kehidupan, dari TV, radio, musik, lipstik, kamera, gambar, patung, dan karya seni lainnya. Islam yang mereka pahami dan praktikkan adalah Islam yang lusuh, terbelakang, dan penuh dengan aroma darah dan kekerasan. Mereka melarang kaum wanita bekerja dan keluar rumah, mereka memaksa para wanita mengenakan burqa atau busana penutup seluruh tubuh. Kaum pria dipaksa memelihara jenggot, dan jika didapati tak berjenggot, mereka akan ditangkap dan dipenjarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralitas dan Keragaman. Mungkin Talibanisme adalah bentuk paling ekstrem dari pemahaman dan penerapan Islam secara literal. Kita tentu tak ingin praktik-praktik semacam itu berkeliaran di sini, di negeri ini. Karenanya, merupakan tugas kita sebagai kaum muslim terpelajar untuk selalu mengingatkan teman-teman dan masyarakat kita akan bahaya pemahaman Islam secara literal. Pemahaman Islam secara literal bukan hanya dapat menghancurkan citra Islam, tapi juga dapat membuat bangkrut sebuah sistem kehidupan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam mengajarkan kita untuk menyampaikan ajarannya dengan baik dan penuh kebijakan. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surah al-Nahl ayat 125. Menyampaikan Islam dengan cara-cara kekerasan bukanlah bagian dari Islam. Mengajak orang kepada kebaikan dengan cara mengancam atau merusak hak-miliknya bukanlah perbuatan Islami. Membela Islam dengan cara meneror dan merusak kepentingan umum bukanlah anjuran Islam, meskipun orang-orang yang mengajak itu “berbusana muslim,” mengenakan serban, dan mengklaim sebagai tokoh Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menganjurkan kita agar menyuruh manusia kepada kebaikan dan melarang mereka dari kemunkaran (amar makruf nahi munkar). Tapi kita tidak boleh menghapuskan kemunkaran dengan kemunkaran lain. Memperingatkan orang dengan cara merusak adalah kemunkaran. Mengajak orang secara paksa dan dengan kekerasan adalah bentuk lain dari kemunkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ingin membuat orang simpati kepada kita, maka hadirkanlah Islam yang menarik; Islam yang penuh mau’idzah dan hasanah. Sudah saatnya kita memahami kembali konsep-konsep agama yang selama ini merugikan kita dengan pemahaman baru yang lebih sesuai dengan semangat dasar Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak mungkin menolak pluralitas atau keragaman, karena semangat dasar Islam adalah plural, seperti dinyatakan Allah dalam surah al-Hujarat ayat 13. Kita juga tak boleh menganggap diri kita paling benar, dan menganggap kita satu-satunya sebagai umat yang berhak masuk surga, sementara orang dari agama lain tak layak masuk surga. Ini jelas-jelas bertentangan dengan ajaran dasar Islam yang ada di dalam Alquran (al-Maidah: 65).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran-ajaran dasar Islam tentang pluralitas dan keragaman seperti yang dinyatakan dalam Alquran itu sangat penting untuk kita angkat kembali, khususnya di tengah kondisi sosial kita sekarang ini yang terancam konflik dan perpecahan. Jika kita meyakini bahwa Alquran adalah sumber Islam paling utama, marilah kita kembali kepada Alquran, bukan kepada ajakan dan slogan orang-orang yang mengatasnamakan Islam tapi sesungguhnya tak mengerti Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, saya ingin mengajak kita semua untuk berpikir jernih, berpikir dengan akal sehat yang tidak dikuasai oleh emosi dan obsesi berlebihan. Marilah kita kembali kepada semangat dasar Islam yang damai, adil, dan toleran. Marilah kita memahami Islam secara subtansial dan bukan secara literal. Marilah kita mementingkan isi dan bukan kulit, muatan dan bukan bentuk, makna dan bukan simbol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari raya ini adalah momentum yang tepat bagi kita semua untuk memposisikan diri kita masing-masing, apakah kita seorang muslim yang dewasa, yang matang, yang tidak terpengaruh oleh isu-isu politik murahan. Marilah kita jadikan hari raya ini sebagai tonggak kehidupan kita di masa depan yang lebih jujur, adil, dan terhormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2008/02/memikirkan-kembali-sikap-keberagaman_4852.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-5708992089659133068</guid><pubDate>Fri, 22 Feb 2008 17:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-23T01:14:08.192+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Blog</category><title>Sejarah Komputer</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBHGwSkB1oy7heaBxNtG-7YcMjFaFVD7ZG_HUi-o8V5xD7IJveewU-JQ_p7_AwunjbfYi-s4xpqMQMFqPCVudK1Bde_hoSJLAnCQ8xtaRTECr0TgJ679EtDlGB7fV4HOTA2z-vKQ/s1600-h/komputer.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBHGwSkB1oy7heaBxNtG-7YcMjFaFVD7ZG_HUi-o8V5xD7IJveewU-JQ_p7_AwunjbfYi-s4xpqMQMFqPCVudK1Bde_hoSJLAnCQ8xtaRTECr0TgJ679EtDlGB7fV4HOTA2z-vKQ/s320/komputer.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5169853802113151266&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Manusia menggunakan jari untuk mengenali dan membilang nombor satu hingga sepuluh.  Selepas itu mereka  mula mengenali  nombor-nombor yang lebih besar tetapi masih menggunakan  digit-digit asas dari 0 hingga 9.  Ini mewujudkansistem nombor  perpuluhan.   Jari-jari digunakan untuk campur dan tolak nombor.   Campur tolak nombor-nombor membantu mereka mengira dalam  perniagaan barter.   Apabila perniagaan semakin  berkembang, jari-jari tidak dapat menampung keperluan  pengiraan yang bertambah rumit.   &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;               Ahli-ahli perniagaan dari negeri China, Turki dan Yunani menggunakan abakus (sempua) untuk melakukan pengiraan asas campur, tolak dan darab bermula beribu tahun lepas.   Abakus mengandungi batu-batu yang dipasang pada beberapa bar.   Semua pengiraan dilakukan dengan mengubah kedudukan batu-batu itu.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt; Pada tahun 1617, John Napier  mengemukakan sifir  logaritma dan alat dipanggil tulang Napier (Napier&#39;s bones).  Di samping pengiraan asas campur, tolak, darab dan bahagi, alat ini juga boleh mencari punca kuasa nombor.  Tulang Napier      diperbuat daripada tulang, kayu, logam dan kad.  Pengiraan dilakukan dengan menyilang nombor-nombor pada segiempat dengan tangan.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;                Blaise Pascal mencipta mesin kira mekanikal pertama pada  tahun 1642.  Mesin ini beroperasi dengan menggerakkan gear  pada roda.  Pascal juga telah banyak menyumbang idea dalam  bidang matematik dan ilmu kebarangkalian.  Mesin kira Pascal  telah dimajukan oleh William Leibnitz.&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;                 Pada tahun 1816, Charles Babbage membina &#39;the difference engine&#39;.  Mesin ini boleh menyelesaikan masalah pengiraan sifir matematik seperti logaritma secara mekanikal dengan tepat sehingga dua puluh digit.  Mengikut draf yang dicadangkannya, mesin ini menggunakan kad tebuk sebagai input, boleh menyimpan kerja-kerja sebagai ingatan, melakukan pengiraan secara otomatik dan seterusnya mengeluarkan output dalam bentuk cetakan pada kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 Konsep mesin ini  memeranjatkan ahli-ahli sains pada masa itu kerana dianggap  terlalu maju. Projek pembinaan ini walau bagaimanapun  terbengkalai kerana ketiadaan sokongan teknikal yang dianggap  terlalu maju pada masa tersebut.   Babbage kemudian  menumpukan perhatiannya kepada &#39;the                       analytical engine&#39;.  Kekurangan teknologi pada masa tersebut juga menyebabkan projek ini ditangguhkan.  Walaupun gagal menyiapkan kedua-dua mesin, idea Babbage didapati amat berguna kepada  pembentukan komputer moden pada hari ini.   Semua komputer  pada hari ini menggunakan model mesin seperti yang dicadangkan oleh Babbage, iaitu input, ingatan, pemprosesan dan output.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                  Kad tebuk pertama kali digunakan sebagai alat input dalam industri tekstil pada mesin penenunan otomatik  ciptaan Joseph Jecquard pada tahun 1801.   Mesin ini  membaca data dengan  mengenalisa kod-kod lubang pada kertas.   Konsep lubang dan tiada lubang ini menandakan permulaan penggunaan nombor binari dalam pemprosesan data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   Herman Hollerith  mempopularkan penggunaan kad tebuk sebagai alat input data.  Mesinnya yang menggunakan kad tebuk berjaya memproses data untuk membanci penduduk Amerika  Syarikat pada tahun 1887.   Penggunaan kad tebuk kemudiannya diperluaskan kepada bidang-bidang seperti insuran, analisa  jualan dan sistem akuan kereta.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   Howard Aiken memperkenalkan penggunaan mesin elektromakenikal dipanggil Mark I pada tahun 1937.   Satu bahagian mesin ini adalah elektronik dan sebahagian lagi mekanikal.   Bentuknya besar dan berat serta mengandungi talian       wayer yang panjang.  Semua operasi di dalam komputer dijalankan oleh geganti elektromagnetik.  Mark I boleh menyelesaikan masalah fungsi-fungsi trigonometri di samping pengiraan asas.   Sungguhpun demikian ia masih dianggap lembab dan terhad oleh kerana jumlah storan ingatan yang sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Komputer-komputer selepas tahun 1940 adalah elektronik sepenuhnya.  Di samping pengiraan yang kurang tepat mesin-mesin mekanikal sebelum ini adalah terlalu besar, menggunakan kos yang tinggi untuk mengendalikannya dan memerlukan terlalu banyak tenaga manusia untuk pengawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   Evolusi komputer selepas tahun 1940 boleh dikelaskan kepada lima generasi.  Angka dalam kurungan menandakan tarikh anggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   Generasi Pertama (1940 - 1959)&lt;br /&gt;                   Generasi Kedua (1959 -1964)&lt;br /&gt;                   Generasi Ketiga (1964 - awal 80-an)&lt;br /&gt;                   Generasi Keempat (awal 80-an - ?)&lt;br /&gt;                   Generasi Kelima (masa depan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi Pertama&lt;br /&gt;                    Komputer-komputer generasi pertama menggunakan  tiub-tiub vakum untuk memproses dan menyimpan maklumat.  Tiub vakum berukuran seperti mentol lampu kecil.  Ia menjadi cepat panas dan mudah terbakar.  Beribu-ribu tiub vakum diperlukan pada satu masa supaya setiap yang terbakar tidak menjejaskan operasi keseluruhan komputer.  Komputer juga menggunakan tenaga elektrik yang banyak sehingga             kadang-kadang menyebabkan gangguan pada kawasan sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                     Komputer ini adalah 100% elektronik, berfungsi untuk  membantu ahli sains menyelesaikan masalah pengiraan trajektori dengan pantas dan tepat.   Saiznya amat besar dan boleh dikelaskan sebagai kerangka utama (main frame) . Contoh komputer generasi pertama seperti ENIAC (Electronic Numerical Integrator And Calculator) dicipta oleh Dr John Mauchly dan Presper Eckert pada tahun 1946.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                     Perkembangan yang paling dihargai ialah permulaan komputer menyimpan ingatan di dalamnya, dikenali sebagai konsep aturcara tersimpan (stored program concept).  Konsep yang dicadangkan oleh John von Neumann ini juga                 menitikberatkan penggunaan nombor binari untuk semua tugas pemprosesan dan storan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                      Dr. Mauchly dan Eckert juga membantu pembinaan  komputer EDVAC (Electronic Discrete Variable Automatic Computer) yang mengurangkan penggunaan tiub-tiub vakum.   Pengiraan juga menjadi lebih cekap daripada ENIAC.  EDVAC     menggunakan sistem nombor binari dan konsep aturcara tersimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                       Komputer EDSAC (Electronic Delay Storage Automatic Calculator) memperkenalkan penggunaan raksa (merkuri) dalam tiub untuk menyimpan ingatan.  Cara ini didapati lebih ekonomi daripada tiub vakum tetapi pada amnya ia masih dianggap terlalu   mahal.  EDSAC dimajukan oleh Unviersiti Cambridge,  England.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Pada tahun 1951 Dr. Mauchly dan Eckert mencipta  UNIVAC I (Universal Automatic Calculator) komputer pertama  yang digunakan untuk memproses data perniagaan.  Turut menggunakan tiub raksa (merkuri) untuk storan.   UNIVAC I     digunakan oleh Biro Banci Penduduk Amerika Syarikat.  Selepas kejayaan ENIVAC I banyak komputer-komputer berkaitan pengurusan dan perniagaan muncul selepasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genarasi kedua&lt;br /&gt;                        Komputer-komputer genarasi kedua menggunakan transistor dan diod untuk menggantikan tiub-tiub vakum, menjadikan saiz komputer lebih kecil dan murah.  Daya ketahanan transistor didapati lebih baik kerana ia tidak mudah terbakar jika dibandingkan dengan tiub vakum.  Cara baru menyimpan ingatan juga diperkenalkan iaitu teras magnetik.  Teras magnetik menggunakan besi-besi halus yang dililit oleh litaran elektrik.  Keupayaan pemprosesan dan saiz ingatan utama komputer juga bertambah.   Ini menjadi komputer lebih pantas menjalankan tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Kemunculan FORTRAN dan COBOL menandakan permulaan bahasa peringkat tinggi untuk menggantikan pengaturcaraan dalam bahasa mesin yang lebih sukar.  Dengan yang demikian pengendalian komputer menjadi lebih mudah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Era ini juga menandakan permulaan minikomputer iaitu yang kedua terbesar dalam famili komputer.  Harganya lebih murah berbanding daripada kerangka utama.   Komputer DEC PDP- 8 ialah minikomputer pertama dicipta pada tahun 1964 bagi memproses data-data perniagaan.  Lain-lain komputer dalam generasi ini ialah IBM 7090 dan IBM 7094.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi ketiga&lt;br /&gt;                Penyelidikan mikroelektronik yang pesat berjaya menghaluskan transistor kepada saiz mikroskopik.   Beberapa ratus ribu transistor ini dapat dipadatkan ke dalam kepingan segiempat silikon melalui proses yang dipanggil pengamiran skala besar (large scale integration, LSI), untuk menghasilkan litar terkamir atau lebih dikenali dengan panggilan cip.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;                Cip mula menggantikan transistor sebagai bahan logik komputer.  Saiz cip yang kecil menjadikannya popular digunkan dalam kebanyakan alat elektronik dan harganya jauh lebih murah berbanding dengan komponen elektronik yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Jenis terkecil dalam famili komputer, mikrokomputer muncul dalam generasi ini.   Mikrokomputer menjadi lebih cepat popular  seperti jenama Apple II, IBM PC, NEC PC dan Sinclair.  Mikrokomputer didapati amat praktikal kepada semua peringkat masyarakat kerana saiznya lebih kecil, harga yang murah dan kebolehannya berfungsi bersendirian.  Sebuah mikrokomputer berupaya mengatasi komputer ENIAC dalam menjalankan sesuatu tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 Banyak bahasa pengaturcaraan muncul seperti BASIC, Pascal dan PL/1.  Kebanyakan mikrokomputer dibekalkan dengan pentafsir bahasa secara bina-dalam di dalam cip ROM untuk membolehkan bahasa BASIC digunakan.  Ini menjadikan BASIC bahasa pengaturcaraan yang paling popular pada mikrokomputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi keempat&lt;br /&gt;                  Cip masih digunakan untuk pemprosesan dan menyimpan ingatan.  Ia lebih maju, mengandungi sehingga beratus ribu komponen transistor didalamnya.  Proses pembuatan cip teknologi tinggi ini dipanggil pengamiran skala amat besar (very large scale integration, VLSI).  Pemprosesan dapat dilakukan dengan lebih pantas, sehingga berjuta bit sesaat.  Ingatan utama komputer menjadi lebih besar sehingga menyebabkan storan skunder  kurang penting.  Teknologi cip yang maju ini mendekatkan jurang di antara mikrokomputer dengan minikomputer dan juga mikrokomputer dengan kerangka utama.   Ini juga mewujudkan satu lagi kelas komputer dipanggil superkomputer, yang lebih pantas dan cekap berbanding kerangka utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi kelima&lt;br /&gt;                            Generasi kelima dalam siri evolusi komputer mungkin belum wujud lagi dan ia merupakan komputer impian masa depan.  Rekabentuk komputer generasi kelima adalah lebih kompleks.   Ia dijangka mempunyai lebih banyak unit pemproses yang berfungsi serentak untuk menyelesaikan lebih daripada satu tugas dalam satu masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                            Komputer generasi ini juga mempunyai ingatan yang amat besar supaya membolehkannya menyelesaikan lebih banyak masalah yang kompleks.  Unit pemprosesan pusat juga mungkin boleh berfungsi kepada paras seperti otak manusia.  Komputer impian ini dijangka mempunyai kepandaian tersendiri, mengesan keadaan sekeliling melalui pengelihatan dan bijak mengambil sesuatu keputusan bebas daripada kawalan manusia.  Sifat luar biasa ini disebut sebagai &quot;artificial intelligence&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2008/02/sejarah-komputer.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBHGwSkB1oy7heaBxNtG-7YcMjFaFVD7ZG_HUi-o8V5xD7IJveewU-JQ_p7_AwunjbfYi-s4xpqMQMFqPCVudK1Bde_hoSJLAnCQ8xtaRTECr0TgJ679EtDlGB7fV4HOTA2z-vKQ/s72-c/komputer.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-4815235013517017951</guid><pubDate>Wed, 12 Dec 2007 16:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-23T01:41:06.446+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><title>DILEMA ISLAM POLITIK DAN DEMOKRATISASI</title><description>DILEMA ISLAM POLITIK DAN DEMOKRATISASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Studi kasus Indonesia dan Iran)&lt;br /&gt;Pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada tingkat tertentu, masyarakat agama dewasa ini dihadapkan pada situasi keagamaan dalam menghadapi proses globalisasi. Kekhawatiran bahwa perkembangan teknologi meminggirkan nilai-nilai agama, menghancurkan ikatan unit-unit sosial masyarakat dan pada akhirnya memisahkan agama dari dasar-dasar organisasinya, sepenuhnya dapat dipahami. Meskipun demikian, hendaknya masyarakat agama tidak kehilangan penglihatannya yang lebih luas.&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanding dengan berkembangnya proses globalisasi, sebenarnya disana sini muncul apa yang disebut revitalisasi agama. Hal ini berkembang terutama sejak awal dasawarsa 1980-an. Pada periode itu, pendulum kehidupan sosial politik Amerika Serikat –untuk menyebut contoh kasus sebuah negara yang sering dipandang sebagai “sekuler” – bergerak ke “kanan” (Effendi, 2000:16). Fenomena ini, dapat dilihat sebagai pertanda bangkitnya kesadaran kolektif masyarakat akan arti pentingnya agama dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan politik negara itu. Tapi gerakan keagamaan seperti apa yang sesuai dengan konteks sosio historis ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam Dan Negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, fenomena kebangkitan agama dan demokratisasi banyak menyedot perhatian. Prinsip kebebasan dan arus budaya global hampir merebak ke semua negara. Penguasa dan negara ototiter sudah tidak lagi menarik perhatian dunia, bahkan dihalangi kehadirannya. Revitalisasi agama yang mengarah pada politisasi dan gerakan radikal menjadi pemberitaan yang tak habis diperbincangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diluar wilayah praksis diatas, di sana sini juga muncul wacana teoritis yang membangkitkan optimisme masyarakat agama bahwa perubahan sosial tidak secara otomatis merupakan ancaman, sosiolog kenamaan seperti Robert Bellah (Bellah, 2000:237) misalnya melihat saling berkaitnya nilai-nilai agama dengan masalah-masalah keduniaan dalam perspektif civil religion yang tumbuh di Amerika Serikat dalam perspektif bahwa agama dalam banyak hal bukan merupakan persoalan yang bersifat “pribadi” (private), tetapi justru berwatak “publik” (public). Artinya, agama sebenarnya lebih banyak mengandung berkaitan dengan kemaslahatan umum, daripada pribadi. Karenanya, agama adalah sesuatu yang seharusnya dan pada dasarnya deprivatized.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian John L. Esposito dan John O. Voll (1996) menyentakkan kesadaran masyarakat Islam, bahwa dari sekian banyak negara Islam, lebih banyak yang otoriter daripada yang demokratis (Esposito dan Voll, 1996:266). Dalam penelitiannya atas enam negara (Malasya, Iran, Sudan, Aljazair, Mesir, Pakistan), terbukti hanya Malaisya dan Pakistanlah yang gerakan keagamaan dan rakyatnya mendekati kultur demokrasi. Sedang yang lainnya justru masih menjalankan gerakan radikal, fundamental, dan merongrong kekuasaan yang sah. Mereka juga menjelaskan, bahwa kesesuaian Islam dan demokrasi tergantung tradisi yang ada pada negara-negara masing-masing. Walaupun pemerintahan yang resmi dikuasai Islam hanyalah Iran dan Sudan, namun itu belum menjamin adanya demokrasi di negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan di atas harus kita akui secara obyektif, bahwa meskipun Rasulullah di Madinah telah mewariskan Piagam Madinah yang menurut Robert N. Bellah lebih modern dari zamannya akan tetapi perilaku umatnya masih jauh dari sikap Nabi yang diteladaninya (Bellah, 2000:56). Masyarakat egaliter dan penghargaan sesama yang nampak pada zaman Nabi, lambat laun terhapus dengan terciptanya sistem monarki pada zaman dinasti Umawiyah, Abbasiyah, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca wafatnya Nabi, perdebatan epistemologis tentang hubungan agama dan negara pun mengemuka dengan ramai di kalangan Islam, tentunya berdasarkan pemahaman keagamaan yang disandarkan pada teks Al-Qur’an dan As-Sunnah. Begitu juga perdebatan tentang kesesuaian antara Islam dan Demokrasi, Islam dan Hak non Muslim, serta permasalahannya kontemporer lainnya. Tidak kurang dari Fazlur Rahman, Ali Abdur Raziq, Husain Haekal, Abdul Karim Soroush, dan sebagainya menyumbangkan pemikiran tentang hal itu. Secara lebih lengkap, Charles Kurzman dalam Wacana Islam Liberal (2001) menuliskan dan mengumpulkan tentang pengelompokan pola keIslaman dan isu-isu yang diangkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan ini tentu saja positif, akan tetapi tentu ada aspek lain yang mesti diperhatikan, yaitu aspek aksiologis dan problem transformasi umat. Anehnya, perdebatan epistemologis yang ramai menyeruak itu, kurang diimbangi oleh pelaksanaan konsep demokrasi. Bahkan pembangunan sistem dan pembentukan struktur demokrasi nyaris absen dari agenda penguasa dan pemikir Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juan J. Linz (2001) menyebutkan standar negara yang bisa dikategorikan demokratis. Standar itu adalah: adanya masyarakat sipil yang otonom, adanya masyarakat politik yang berjiwa negarawan, adanya efektivitas birokrasi, adanya masyarakat ekonomi yang bebas dan tekendali, dan terakhir adanya konstitusi (hukum) yang harus dipatuhi dan ditegakkan secara bersama-sama (Linz, 2001:38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, umat Islam baik yang duduk sebagai penguasa ataupun yang menjadi warga negara biasa, harus bersama-sama mewujudkan keenam hal tersebut. Karena, justru penegakan hukum dan prinsip kebebasanlah yang kurang tampak pada mayoritas pemerintahan Islam atau negara yang mayoritas penduduknya Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercermin dari kasus Indonesia dan Iran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara Islam dan politik di Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang. Akar-akar geneologisnya dapat ditarik ke belakang hingga akhir abad ke 13 dan awal abad ke 14, ketika Islam pertama kali diperkenalkan dan disebarkan di nusantara ini. Dalam perjalanan sejarahnya yang kemudian inilah, dalam dialognya yang bermakna dengan realitas sosio-kultural dan politik setempat, Islam terlibat politik (Effendi, 1998:21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, sepanjang perkembangannya di Indonesia, Islam telah menjadi bagian integral dari sejarah politik negeri yang berpenduduk mayoritas muslim ini. Meskipun demikian, menurut sejumlah pengamat, hal ini tidak serta merta mengandaikan bahwa Islam secara inheren adalah agama politik (Smith, 1974).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan latar belakang sejarah yang demikian, maka wajar apabila organisasi berbasis umat Islam, yang lahir di Indonesia, memiliki watak pergerakannya yang tidak lepas dari keterhubungannya dengan persoalan politik (kenegaraan). Setidaknya terdapat tiga aliran pemikiran politik yang menjelaskan hubungan Islam dan negara (Sjadjali, 1990:132). Aliran pertama berpendirian bahwa Islam bukanlah semata-mata agama dalam pengertian barat, yakni yang hanya mengyangkut hubungan antra manusia dan Tuhannya. Sebaliknya, Islam adalah suatu agama yang sempurna dan lengkap dengan pengaturan bagi segala aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan bernegara. Aliran ini disebut revivalisme, yakni suatu faham politik yang menginginkan kebangkitan Islam lewat praktek politik Islam yang diteladani oleh nabi Muhammad SAW dan Khulafau Al-Rasydun. Tokoh-tokoh utama aliran ini adalah Syekh Hasan Al Banna, Sayid Qutb, syekh Muhammad Rasyd Ridha dan Maulana A. Al Maududi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliran Kedua berpendirian bahwa Islam adalah agama dalam pengertian barat, yang tidak ada hubungannya dengan masalah kenegaraan. Aliran ini berpendapat bahwa nabi Muhammad hanyalah seorang rasul biasa seperti halnya rasul-rasul sebelumnya, dengan tugas mengajak manusia untuk kembali pada kehidupan yang mulia, dan nabi tidak pernah dimaksudakan untuk mendirikan dan mengepalai sebuah negara. Aliran ini disebut sekularisme, yakni suatu paham yang memisahkan agama dari negara, juga menolak determinisme bentuk negara (politik) pada Islam. Paham ini di dukun oleh Ali Abd Al Raziq dan Thaha Husein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliran Ketiga menolak pendapat bahwa Islam adalah agama yang serba lengkap. Yang juga memiliki sistem ketatanegaraan. Tetapi juga menolak anggapan bahwa Islam adalah agama dalam pengertian barat. Aliran ini berpendapat bahwa dalam Islam tidak terdapat sistem ketatanegaraan, tetapi terdapat seperangkat tata nilai bagi kehidupan bernegara. Pentingnya tata nilai bagi kehidupan bernegara, sebagaimana tujuan negara yang harus mewujudkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan subtansial masyarakat, membuat negara memerlukan agama. Dalam konteks inilah, disebut simbiotisme. Adapun tokoh-tokohnya adalah Al Mawardi. Al gozali, Dr. Muhammad Husein Haikal dan Muhammad Abduh, seorang tokoh pembaharu yang berpendapat bahwa Islam bukan agama yang semata-mata, melainkan juga mempunyai hukum-hukum yang mengatur sesama muslim dan sesama mahluk hidup lainnya, yang untuk pelaksanaan dan pengawasannya memerlukan penguasa, lengkap dengan aparatnnya. Dan tugas tersebut merupakan tanggung jawab kepala negara beserta perangkat pemerintahannya (Ibid :132).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, hubungan antara Islam dan negara di Indonesia sendiri pada sebagian tahapan sejarahnya merupakan cerita antagonistis, saling berhadap-hadapan. Hal ini terutama disebabkan oleh perbedaan pandangan para pendiri republik ini – yang pada dasarnya sebagian besar muslim - mengenai Indonesia yang dicita-citakan. Salah satu butir terpenting dalam perbedaan pendapat di atas adalah apakah negara bercorak Islam atau nasionalis (Effendi, Opcit : 160).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konstruk kenegaraan pertama mengharuskan agar Islam diakui dan diterima sebagai dasar idiologi negara. Sementara konstruk kenegaraan yang kedua menghendaki agar Indonesia didasarkan atas Pancasila, sebuah idiologi yang sudah di-dekonfessionalisasi (Ibid : 23-38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut taufik Abdullah, dasa warsa 1920-an dan 1930-an merupakan dasawarsa ideologi dalam sejarah modern Indonesia. Dimasa-masa inilah berbagai jenis ideologi yang kemudian akan berpengaruh dalam pertumbuhan keagamaan dan dasar ideologi perjuangan mulai diperdebatkan di kalangan kaum pergerakan nasional (Abdullah, 1987:15). Ideologisasi ini mengakibatkan, pertama makin diperjelasnya struktur intern panji-panji Islam, sehingga perbedaan yang kemudian bersifat aliran ini bertambah rumit karena adanya pengaruh ide yang bersumber dari Barat, seperti Marxisme dan Nasionalisme sekuler (Ibid : 30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik Olivier Roy sesungguhnya ada yang relevan untuk politik Islam Indonesia, yaitu adanya keengganan kalangan politik Islam untuk membangun sumberdaya manusia, terutama lewat pengkajian ilmu pengetahuan secara mendalam dan pengaturan manajemen yang efisien (Oliver, 2001:18). Selama ini, kekuatan politik Islam lebih banyak dikerahkan pada aspek ideologis, simbolis, dan kekuasaan yang bersifat semu dan sesaat, hal ini tidak beda dengan kondisi negara Iran yang hampir saja menjadi rujukan pola pemerintahan Islam di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak segi, republik Islam Iran adalah bentuk pemerintahan yang paling mendekati demokrasi. Khomeini mendirikan negara Islam melalui konsensus rakyat sebagian besar orang Iran masih tetap mendukung rezim itu. Akan tetapi, bagi mereka yang keberatan dengan hukum Islam, konsekuensi-konsekuensi itu sangat mengerikan.” Banyak orang mungkin memperdebatkan dukungan mayoritas rakyat terhadap rezim itu. Namun, sifat semidemokratisnya sangat jelas (Esposito dan Voll, 1999:84).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu pihak, Iran telah memfungsikan pembagian kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Ia tetap berdiri setelah Ayatullah Khomeini meninggal, dan telah memilih seorang presiden dan parlemen yang melibatkan perdebatan seru dan, dalam batas-batas tertentu, bebas untuk berselisih pendapat dengan pemimpinnya. Di lain pihak, Iran menikmati pluralisme terbatas (Ibid : 97). Kebebasan untuk mengungkapkan diri dibatasi oleh ideologi Islam Iran dan kepercayaan bahwa hukum dan nilai-nilai Islam itulah yang merupakan tuntunan bagi masyarakat. Individu, organisasi, partai politik dan lembaga harus beroperasi di dalam parameter-parameter identitas dan komitmen Islam revolusioner Iran yang sering berubah-ubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, ideologi dan tuntunan Islami dari negara itu berimplikasi kepada kontrol negara atas pers dan media massa, serta penerapan aturan yang menetapkan minuman, pakaian (bagi kaum wanita dan kaum pria) dan Ibadah. Namun bahkan di sini, pers, sebagaimana parlemen Iran, sangat beraneka ragam dan, dalam batas-batas tertentu, bersikap kritis sejak soal kepemimpinan dan land reform hingga pendidikan, perdagangan dengan barat, dan kedudukan kaum perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal berdirinya republik Islam itu, betapapun karismatis dan berkuasanya Ayatullah Khomeini, berbagai fraksi ramai bersaing untuk meraih kekuasaan dan, demikian, tolenransi pemerintah terhadap pluralisme serta perbedaan pendapat benar-benar diuji (Azyumardi, 1996:75). Meskipun kepemimpinan di Irak tetap setia pada revolusi, perbedaan pendapat dan kebijakan yang penting berlangsung di antara fraksi-fraksi yang bersaing menyangkut isu-isu kebijakan dalam negeri dan luar negeri seperti land reform, nasionalisasi, penyebarluasan revolusi ke luar negeri dan hubungan dengan barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya-upaya pasca revolusi untuk menawarkan dan melaksanakan alternatif Islam bagi program modernisasi Syah itu telah memunculkan perbedaan yang mendalam antara pihak yang mendukung dan reformasi sosio-ekonomi radikal melalui kontrol negaea atas ekonomi. Tafsir-tafsir yang saling bersaing punmuncul akibat perbedaan tafsir ikhwal hukum Islam dan perbedaan kepentingan kelompok yang saling bertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara mayoritas dalam parlemen berupaya meloloskan undang-undang yang diharapkan dapat melahirkan reformasi sosial sejati melalui land reform, perluasan kontrol negara atas ekonomi, dan pembatasan usaha bebas. Para pedagang yang telah menjadi tulang punggung finansial bagi para ulama dan revolusi, bersama dengan para pemilik tanah(di antara mereka itu adalah sejumlah ulama) tegas-tegas menetang upaya semacam itu. Secara efektif mereka melobi Dewan Pelindung sehingga dewan itu secara konsisten menveto undang-undang reformasi tersebut karena bertentangan dengan hukum Islam. Sementara kaum tradisionalis ini cukup puas dengan mengutip norma-norma yang telah berusia berabad-abad, para tokoh pembaharu yang lebih radikal menegaskan bahwa keadaan-keadaan baru itu membutuhkan tafsir-tafsir hukum yang baru pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan menyangkut kebijakan ekonomi itu sama tajamnya dengan perbedaan politik di antara kaum pragmatis dengan kaum garis keras yang radikal. Kubu pertama pada 1980-an diwakili oleh Hashemi Rafsanjani, juru bicara parlemen, Ali Akbar Velayati, menteri luar negeri dan Ali Kha meini, presiden. Kubu kedua dipimpin oleh Hussein Musavi, perdana menteri, dan Ali Mohtashemi, menteri dalam negeri. Perbedaan antarfraksi ini tampak jelas dalam searngkaian peristiwa. Pada Oktober 1986, Mehdi Hashemi, kepala Biro yang bertanggung jawab mengekspor revolusi, ditangkap dan kemudian dihukum mati. Kubu garis keras membocorkan imformasi kepada pers mengenai pertemuan-pertemuan Robert McFarlane, mantan penasehat keamanan nsional AS, dan Rafsanjasi, dan mengenai penjualan persenjataan AS kepada Iran guna membebaskan para sandera Amerika di Libanon (Esposito dan Voll, Op.Cit. : 98).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara yang tercipta melalui revolusi mempunyai kekuatan populis yang istimewa. “mengingat kecongkakan dan kepongahan Syah, penggantinya yang bersorban itu justru mampu memimpin negara yang jauh lebih kukuh. Republik teokrasi itu telah menutup kesenjangan yang melumpuhkan antara negara dan mayarakat yang sebelumnya menjadi ciri kehidupan politik Persia (Esposito, 1990:249). Apakah upaya menjembatani kesenjangan antara negara dan masyarakat ini mennadai adanya gerakan menuju sistem politik yang lebih demokratis atau tidak, hal itu masih diperdebatkan. Namun ia telah memberikan landasan bagi perdebatan publik yang lebih besar dan bagi konsensus yang memungkinkan terjadinya transisi yang sukses menuju era pasca Khomeini. “Konsensus luas yang memungkinkan terjadinya transisi kekuasaan yang lancar di Iran tercapai di musim semi 1989 setelah melalui perdebatan terbuka yang luar biasa selama hampir satu tahun,” dan secara tepat diramalkan pada waktu itu bahwa pada era baru ini, “pilitik Iran akan banyak diwarnai tawar-menawar intrarezim, perdebatan nasional dan pencapaian dan pencapaian-ulang konsensus yang dapat diterima oleh sebagian besar aktor-aktor penting dan para pendukung mereka (Esposito dan Voll, Op.Cit.:99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ulang tahun keenam belas revolusi (1995), Republik Islam juga berhasil mempertahankan diri selama lebih dari setengah dasawarsa setelah khomeini, dan tidak lagi dipandang semat-mata sebagai rezim “pasca Khomaini”. Dalam kaitan dengan isu-isu dasar demokrasi dan Republik Islam, ada penegasan yang berkesinambungan atas pentingnya partisipasi rakyat, konsensus, dan kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam struktur politik Iran yang sedang berkembang, tidak ada sistem multipartai atau oposisi ekeftif yang diizinkan membuka suara. Bahkan kelompok-kelompok oposisi yang lebih mendukung perubahan damai dan revolusiner daripada penggulingan melalui kekerasan, pada kesempatan peringatan ulang tahun keenam belas, menyerukan kepada semua kelompok agar “bersatu untuk menekan para pemimpin Islam di Iran agar menghentikan gertakan mereka, menyelenggarakan pemilihan umum bebas, dan mengembalikan pemeritahan ke tangan rakyat. Namun pemilihan umum reguler telah diselenggarakan dan mereka tetap ditantang secara aktif oleh orang-orang yang mempunyai pendapat yang berbeda-beda, bahkan jika pendapat-pendapat itu berada dalam perspektif Republik Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling sedikit, pemilihan-pemilihan umum itu telah menjadi arena bagi perdebatan antara fraksi-fraksi utama. Ini tampak dengan jelas pada 1992 dalam pemilihan umum parlemen setelah kematian Khomeini. Pada waktu itu, dapat dikatakan bahwa penyelenggaraan pemilihan umum reguler secara lambat laun berkembang menjadi proses pengaturan persaingan fraksi di antara blok-blok kekuasaan agama di Iran (Ibid.:99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan HAM yang diterbitkan oleh Freedom House pada 1987-1988, sebuah lembaga independen HAM yang didirikan pada 1941, menunjukkan bahwa pelaksanaan HAM di negara-negara Islam cukup memprihatinkan. Laporan itu menunjukkan bahwa tidak ada negara Islam atau negara Muslim yang dapat dikategorikan “bebas”. Jika diperiksa, rekor negara-negara yang menjadi anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) adalah NF (not free (tidak bebas)) atau PF (partly free (setengah bebas)). Indonesia dan Malasiya, misalnya dinilai negara yang dikategorikan bernilai NF (Gastil, 1988:7). Laporan Freedom itu disusun berdasarkan masukan-masukan dari ahli-ahli kawasan, wartawan, konsultan internasional, berbagai organisasi nonpemerintah (NGO), dan pakar-pakar hak asasi manusia. Landasan klasifikasi Freedom House adalah studi komparatif dan empiris, dengan menggunakan seperangkat kriteria sebagai rujukan. Jadi, obyektifikasi laporan itu paling tidak relatif bisa diterima kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan dihapuskannya perbudakan, maka sekarang ini banyak negara Islam yang juga mengintrodusir hukum Barat sebagai pelengkap hukum Islam yang terkodifikasi dalam Syari’ah. Maka, banyak negara-negara Islam yang mengakui dan menjalankan persamaan antara kaum laki-laki dan perempuan, kebebasan beragama, dan hukum domestik lainnya. Namun, ada juga beberapa negara Islam yang hingga saat ini masih memberlakukan diskriminasi terhadap hak wanita dan kaum non agama selain Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iran, Pakistan, Saudi Arabia, dan Sudan adalah contoh negara-negara Islam yang belum menerima Deklarasi HAM Universal dan juga belum mengakui hak persamaan terhadap hak perempuan dan umat agama lain. Keempat negara itu masih berpegang teguh terhadap Syari’ah, karena ia dianggap sebagai cara hidup Islam berdasakan wahyu Ilahi yang tidak dapat digantikan oleh sistem apapun dan dari manapun. Menurut mereka juga, aturan-aturan Syari’ah harus terus berlaku dalam persoalan-persoalan keluarga dan waris di seluruh dunia Muslim. Akibatnya, seluruh aturan Syari’ah yang mungkin sudah tidak sesuai lagi dengan zaman atau melanggar hak asasi kaum perempuan dan kebebasan beragama tetap dilegalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Afghanistan, Bahrain, Irak, Libya dan Syria—meskipun hukum Islam di negara itu hanya memainkan peranan pinggiran, pelanggaran HAM di negara tersebut juga mendapatkan sorotan tajam. Karena, penghargaan dan akomodasi terhadap hak perempuan dan penghormatan terhadap umat agama lain di negara-negara tersebut berjalan secara kurang baik. Jadi, pada dasarnya pelanggaran HAM tidak tergantung pada pelaksanaan hukum Islam secara formal di suatu negara. Sebab, pelanggaran HAM tersebut bisa berbentuk tindakan penganiayaan rutin, pemenjaraan dan pembunuhan lawan politik, hukuman mati secara kilat pada pelaku tindak pidana, kekerasan terhadap kaum minoritas, penangkapan sewenang-wenang, dan proses peradilan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, tiga negara (Sudan, Pakistan, dan Iran) akan menjelaskan praktek HAM di kalangan masyarakat Islam kontemporer. Sejak Pakistan dan Sudan melakukan proyek Islamisasi, hak-hak kaum perempuan dan sipil yang sebelumnya mendapat legislasi dari Dewan Peradilan yang progresif, dicabut untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iran adalah negara yang juga disorot atas pelanggarannya terhadap HAM. Pasca jatuhnya rezim Shah Reza Pahlevi pada tahun 1979 oleh revolusi Islam Iran, maka negara Islam memproklamirkan dirinya sebagai negara Islam di bawah kepemimpinan para mullah. Imam Khomeini yang dinobatkan menjadi kepala Wilayah al-Faqih, memberlakukan hukum Islam sebagai dasar konstitusi negara yang mengatur segala urusan, baik agama maupun politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, pelaksanaan HAM yang mengalami ketersendatan pada masa Reza Shah, tidak mencapai kemajuan yang cukup berarti pada masa Khomeini. Karena, pada masa Khomeini, pelanggaran HAM seperti yang disebutkan di atas masih banyak terjadi di negeri ini. Bahkan, kebebasan perempuan dan penghormatan terhadap kaum non Muslim mengalami kemunduran yang cukup memprihatinkan. Hal ini terbukti dengan merosotnya porsi kursi keterwakilan perempuan di parlemen sangat mencolok. Di samping itu kasus fatwa pemurtadan dan hukuman mati dari Imam Khomeini terhadap Salman Rusdhie juga dianggap sebagai pelecehan terhadap kebebasan berpikir dan beragama (an-Na’im, 1996:347-349)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskriminasi atas nama agama dan gender jelas merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia (Ibid :339-344). Diskriminasi atas nama agama telah dibangun dengan berbagai alasan besar yang berasal dari konflik dan perang masa lalu yang tidak perlu dipelihara lagi. Sedangkan diskrimasi gender banyak berasal dari doktrin teks agama dan budaya masayarakat setempat pada masa lampau yang kurang menghargai perempuan. Sekarang ini, diskriminasi gender dan agama secara moral dan politik sekarang ini tentu tidak bisa diterima oleh masyarakat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Iran tidak memberikan jawaban pasti bagi persoalan hubungan antara Islam dan demokrasi, Iran memang telah menunjukan sejauh mana isu-isu seputar patisipasi politik rakyat dan konsesus telah menjadi bagian dari cakrawala politik di Republik Islam Iran, dan dimanfaatkan baik oleh pihak pemerintah maupun pihak oposisi, dan dengan demikian membuka berbagai jalan untukmendefinisikan demokrasi. Bagi sebagian orang, pengalaman Iran menegaskan kemungkinan untuk menciptakan suatu demokrasi Islam. Bagi sebagaian yang lain, ia hanya menegaskan watak ototriter pranata-pranata dan praktik politik Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik Islam Indonesia dan Iran ke depan haruslah melakukan –meminjam istilah Kuntowijoyo- obyektifikasi terhadap praktek perjuangan politiknya (Kuntowijoyo, 2001:300). Artinya, mereka yang bergerak di level partai dan ormas keIslaman seyogyanya memperjuangkan aspek-aspek substansi Islam, memperbaiki pendidikan, memberantas KKN, dan bersifat toleran terhadap umat agama lain demi melakukan pembebasan kemanusiaan. Di samping itu, umat Islam yang bergerak di jalur lain, hendaknya tidak apatis dan mau melakukan sinergi positif dengan kelompok di atas. Pola-pola oposisi biner seharusnya tidak lagi dijadikan paradigma pandangan umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami makna atau posisi agama sebagaimana digambarkan di atas adalah satu hal. Meletakanya dalam situasi yang lebih real, ketika agama secara empiris dihubungkan dengan dengan berbagai persoalan sosial –kemasyarakatan, merupakan hal lain. Dan dalam konteks yang terakhir ini sering ditemukan ketegangan-ketegangan antar kedua wilayah tersebut-agama dan persoalan keduniaan. Ini benar, khususnya jika pola hubungan antara agama dan persoalan keduniaan yang ingin dikembangkan bersifat legalistik dan formalistik. Sebab, pola seperti ini mempunyai kecenderungan untuk mengesampingkan realitas spasio-temporal dan partikularitas di mana suatu masyarakat agama hidup bertetangga. Simbol-simbol formal-legal dan bukan substansi akan dengan mudah berbenturan dengan realitas sosial yang majemuk (Azyumardi, 2000:149).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar dari pandangan seperti ini sebenarnya sederhana. Baik secara teologis maupun sosiologis, agama dapat dipandang sebagai instrumen untuk memahami dunia. Dalam konteks seperti itu, hampir-hampir tak ada kesulitan bagi agama apapun untuk menerima premis tersebut. Secara teologis, labih-lebih Islam, hal ini dikarenakan oleh watak omnipresent agama, yaitu bahwa agama, baik melalui simbol-simbol atau nilai-nilai yang dikandungnya “hadir di mana-mana”, ikut mempengaruhi dan bahkan membentuk struktur sosial, budaya. Ekonomi, politik serta kebijakan publik. Dengan ciri seperti itu, dipahami bahwa dimanapun suatu agama berada, ia diharapkan dapat memberi panduan nilai bagi seluruh wacana kegiatan manusia, baik yang bersifat sosial-budaya, ekonomi, maupun politik. Sementara itu, secara sosiologis, tak jarang agama menjadi faktor penentu dalam proses transformasi dan modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca dari ini semua akhirnya, politisi Islam sekarang sudah selayaknya tidak hanya terjebak pada simbol-simbol politik yang ada, entah sosialis, nasionalis, maupun agamis. Yang dibutuhkan sekarang adalah pemerintah yang cerdik melakukan prioritas tindakan dan kebijakan politik demi demokratisasi. Jadi, bukan pemerintahan atau partai yang hanya pandai beretorika dan mengelabui massa dengan mengedepankan ideologi tertentu. Krisis politik, ekonomi, hukum, moral, dan budaya yang terjadi di dunia Islam sudah waktunya diselesaikan bersama tanpa terjebak pada simbol warna golongan dan ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Anjar Nugroho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2007/12/dilema-islam-politik-dan-demokratisasi.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-2818853842408701013</guid><pubDate>Sat, 17 Nov 2007 09:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-23T01:42:30.658+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Filsafat</category><title>Filsafat Ilmu dalam Perspektif Al-Quran</title><description>Di dalam Al Qur’an terdapat kata-kata tentang ilmu dalam berbagai bentuk (‘ilma, ‘ilmi, ‘ilmu, ‘ilman, ‘ilmihi, ‘ilmuha, ‘ilmuhum) terulang sebanyak 99 kali, (Ali Audah, 1997: 278-279). Delapan bentuk ilmu tersebut di atas dalam terjemah Al Qur’an Departemen Agama RI, cetakan Madinah Munawwarah (1990), diartikan dengan: pengetahuan, ilmu, ilmu pengetahuan, kepintaran dan keyakinan. Sedangkan kata ‘ilmu itu sendiri berasal dari bahasa Arab ‘alima = mengetahui, mengerti. Maknanya, seseorang dianggap mengerti karena sudah mengertahui obyek atau fakta lewat pendengaran, penglihatan dan hatinya.&lt;br /&gt;Kata ilmu dalam pengertian teknis operasional ialah kesadaran tentang realitas. Pengertian ini didapat dari makna-makna ayat yang ada di dalam Al Qur’an. Orang yang memiliki kesadaran tentang realitas lewat pendengaran, penglihatan dan hati akan berfikir rasional dalam menggapai kebenaran (QS. 17 : 36).&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Pengetahuan (‘ilm) boleh merupakan suatu persepsi terhadap esensi segala sesuatu, mahiyat &quot;suatu bentuk persepsi yang bersahaja yang tidak disertai oleh hukum atau boleh merupakan oppersepsi; yaitu hukum bahwa sesuatu hal adalah hal itu&quot; (Ibn Khaldun, 2000: 669).&lt;br /&gt;&quot;Ilmu itu harus dinilai dengan konkrit. Hanya kekuatan intelektual yang menguasai yang konkritlah yang kana memberi kemungkinan kecerdasan manusia itu melampaui yang konkrit&quot; (Muhammad Iqbal, 1966, 129).&lt;br /&gt;Menyimak dari pandangan Ibn Khaldun dan Iqbal tentang ilmu, dapat ditarik satu garis lurus bahwa ilmu atau realitas kebenaran akan hadir secara utuh dalam persepsi individu, walaupun dalam pemahaman bisa berbeda atas suatu realitas atau obyek. Kehadiran secara utuh dari suatu obyek terhadap subyek adalah suatu realitas yang tak bisa dielakkan. Inilah yang oleh Iqbal dikatakan bahwa ilmu itu harus dinilai dengan konkrit, yakni ilmu harus bisa terukur kebenarannya.FILSAFAT ILMU DALAM PERSPEKTIF QUR’AN&lt;br /&gt;(Tafsir Ulang Epistemologi)&lt;br /&gt;Yusra Marasabessy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al Qur’an terdapat kata-kata tentang ilmu dalam berbagai bentuk (‘ilma, ‘ilmi, ‘ilmu, ‘ilman, ‘ilmihi, ‘ilmuha, ‘ilmuhum) terulang sebanyak 99 kali, (Ali Audah, 1997: 278-279). Delapan bentuk ilmu tersebut di atas dalam terjemah Al Qur’an Departemen Agama RI, cetakan Madinah Munawwarah (1990), diartikan dengan: pengetahuan, ilmu, ilmu pengetahuan, kepintaran dan keyakinan. Sedangkan kata ‘ilmu itu sendiri berasal dari bahasa Arab ‘alima = mengetahui, mengerti. Maknanya, seseorang dianggap mengerti karena sudah mengertahui obyek atau fakta lewat pendengaran, penglihatan dan hatinya.&lt;br /&gt;Kata ilmu dalam pengertian teknis operasional ialah kesadaran tentang realitas. Pengertian ini didapat dari makna-makna ayat yang ada di dalam Al Qur’an. Orang yang memiliki kesadaran tentang realitas lewat pendengaran, penglihatan dan hati akan berfikir rasional dalam menggapai kebenaran (QS. 17 : 36).&lt;br /&gt;&quot;Pengetahuan (‘ilm) boleh merupakan suatu persepsi terhadap esensi segala sesuatu, mahiyat &quot;suatu bentuk persepsi yang bersahaja yang tidak disertai oleh hukum atau boleh merupakan oppersepsi; yaitu hukum bahwa sesuatu hal adalah hal itu&quot; (Ibn Khaldun, 2000: 669).&lt;br /&gt;&quot;Ilmu itu harus dinilai dengan konkrit. Hanya kekuatan intelektual yang menguasai yang konkritlah yang kana memberi kemungkinan kecerdasan manusia itu melampaui yang konkrit&quot; (Muhammad Iqbal, 1966, 129).&lt;br /&gt;Menyimak dari pandangan Ibn Khaldun dan Iqbal tentang ilmu, dapat ditarik satu garis lurus bahwa ilmu atau realitas kebenaran akan hadir secara utuh dalam persepsi individu, walaupun dalam pemahaman bisa berbeda atas suatu realitas atau obyek. Kehadiran secara utuh dari suatu obyek terhadap subyek adalah suatu realitas yang tak bisa dielakkan. Inilah yang oleh Iqbal dikatakan bahwa ilmu itu harus dinilai dengan konkrit, yakni ilmu harus bisa terukur kebenarannya.&lt;br /&gt;SUMBER ILMU&lt;br /&gt;Jika ilmu diistilahkan sebagai kesadaran tentang realitas, maka realitas yang paling utama ketika manusia itu lahir adalah alam semesta (mikro kosmos dan makro kosmos). Di alam inilah manusia mulai mendengar, melihat dan merasakan obyek-obyek yang dialaminya berupa suara, bentuk dan perasaan. Alam ini merupakan satu titik kesadaran awal untuk mengenal realitas terutama diri sendiri. Setelah manusia mengalami kedewasaan dan sempurna akalnya, maka ia mulai berpikir tentang metarealitas, yakni suatu kekuatan supernatural yang ikut bermain dan sibuk mengurus proses-proses penciptaan dari tiada menjadi ada, dari ada menjadi tiada. Atau dari mati menjadi hidup, kemudian dari hidup menjadi mati (QS.2: 28).&lt;br /&gt;Kehadiran alam fisika sebagai realitas menjadi jembatan untuk melihat sesuatu yang bersifat metafisika yakni Yang Ada di balik fisik dan ciptaan-ciptaan itu. Keragaman alam semesta yang tak terhingga oleh manusia merupakan kenyataan-kenyataan yang tak bisa ditolak begitu saja tanpa argumentasi yang logis, yang berangkat dari kesadaran tentang realitas yang diperoleh dari pendengaran, penglihatan dan hati.&lt;br /&gt;Dengan demikian manusia akan menyadari dengan sendirinya tentang kehariran alam semesta sebagai realitas fisika dan kehadiran Allah SWT sebagai realitas metafisika. Alam fisika sebagai realitas terbuka, sedangkan alam metafisika sebagai realitas tertutup. Alam semesta yakni mikro kosmos dan makro kosmos hadir sebagai realitas untuk mengukuhkan eksistensi Tuhan sebagai pemilik mutlak yang tak pernah punah, sedangkan alam semesta itu sendiri bisa punah sebagai suatu yang nisbi alias tidak kekal.&lt;br /&gt;Alam semesta adalah sumber ilmu yang kedua yang merupakan ciptaan Allah SWT karena sebelum adanya alam semesta, Allah lebih dahulu ada yang tidak berpermulaan dan tak berakhir. Sedangkan alam memiliki permulaan dan masa akhir. Oleh karena itu ilmu dari Allah yang bersifat langsung bersifat absolut, sedangkan ilmu lewat alam semesta bersifat relatif.&lt;br /&gt;&quot;Menurut Al Qur’an, mempelajari kitab alam akan mengungkapkan rahasia-rahasianya kepada manusia dan menampakkan koherensi (keterpaduan), konsistensi dan aturan di dalamnya. Ini akan memungkinkan manusia untuk menggunakan ilmunya sebagai perantara untuk menggali kekayaan-kekayaan dan sumber-sumber yang tersembunyi di dalam alam dan mencapai kesejahteraan material lewat penemuan-penemuan ilmiahnya (Ghulsyani, 1990:54).&lt;br /&gt;Al Qur’an sebagai kitab &quot;tertutup&quot; yang merupakan kondifikasi wahyu yang menurut teori-teori keilmuan yang tak terhingga penafsirannya sampai hari Qiyamat. Sedangkan alam semesta sebagai kitab &quot;terbuka&quot; yang tak terhingga pula untuk dieksperimen sampai hari Qiyamat. Dua sumber mata air (pengetahuan, ilmu dan teknologi), yang abadi dan tak pernah kering dalam konteks kehidupan keduniaan. Al Qur’an sebagai &quot;kitab tertutup&quot; dan alam semesta sebagai &quot;kitab terbuka&quot; saling memperkuat kedudukannya masing-masing. Artinya, Al Qur’an memuat informasi-informasi tentang material dan struktur alam semesta, sedangkan rahasia-rahasia alam semesta bisa kita cari informasinya lewat Al Qur’an dan alam semesta itu sendiri, karena Al Qur’an merupakan wahyu Allah dan alam adalah ciptaan Allah. Dengan demikian, realitas kebenaran bisa ditemukan di dalam Al Qur’an sekaligus juga bisa ditemukan pada alam semesta karena berasal dari satu sumber yakni Allah SWT Maha Kreatif alias Pencipta.&lt;br /&gt;Selain alam semesta dan Al Qur’an, masih ada satu sumber lagi yakni Hadits yang berupa petunjuk-petunjuk Rasulullah SAW, berdasarkan pemberitahuan atau aplikasi dari petunjuk wahyu kepada Nabi SAW terutama pengetahuan dan ilmu tentang tata cara beribadah mahdhah yang kita lakukan selama ini seperti; shalat, zakat, puasa, dan haji, lebih banyak kita mendapat model atau contoh langsung dari Rasulullah SAW, yang secara esensial tidak bisa diubah atau ditukar dengan cara-cara yang lain.&lt;br /&gt;Di dalam kitab As-Sunnah Mashdaran li Al-Ma’rifah wa Al-Hadharah, dijelaskan bahwa &quot;Sunnah merupakan sumber kedua setelah Al Qur’an bagi fikih dan hukum Islam. Sunnah juga merupakan sumber bagi da’wah dan bimbingan bagi seorang muslim, ia juga merupakan sumber ilmu pengetahuan religius (keagamaan), humaniora (kemanusiaan), dan sosial yang dibutuhkan umat manusia untuk meluruskan jalan mereka, membetulkan kesalahan mereka ataupun melengkapi pengetahuan eksperimental mereka&quot; (Yusuf Al Qardhawy, 1997:101).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RASIONALITAS DAN SPIRITUALITAS DALAM ILMU&lt;br /&gt;Berangkat dari kesadaran tentang realitas atas tangkapan indra dan hati, yang kemudian diproses oleh akal untuk menentukan sikap mana yang benar dan mana yang salah terhadap suatu obyek atau relitas. Cara seperti ini bisa disebut sebagai proses rasionalitas dalam ilmu. Sedangkan proses rasionalitas itu mampu mengantarkan seseorang untuk memahami metarsional sehingga muncul suatu kesadaran baru tentang realitas metafisika, yakni apa yang terjadi di balik obyek rasional yang bersifat fisik itu. Kesadaran ini yang disebut sebagai transendensi, di dalam firman Allah (QS. 3: 191), artinya:&lt;br /&gt;(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): &quot;Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka.&lt;br /&gt;Bagi orang-orang yang beriman, proses rasionalitas dan spriritualitas dalam ilmu bagaikan keeping mata uang, antara satu sisi dengan sisi yang lain merupakan satu kesatuan yang bermakna. Bila kesadarannya menyentuh realitas alam semesta maka biasanya sekaligus kesadarannya menyentuh alam spiritual dan begitupun sebaliknya.&lt;br /&gt;Hal ini berbeda dengan kalangan yang hanya punya sisi pandangan material alias sekuler. Mereka hanya melihat dan menyadari keutuhan alam semesta dengan paradigma materialistik sebagai suatu proses kebetulan yang memang sudah ada cetak birunya pada alam itu sendiri. Manusia lahir dan kemudian mati adalah siklus alami dalam mata rantai putaran alam semesta. Atas dasar paradigma tersebut, memunculkan kesadaran tentang realitas alam sebagai obyek yang harus dieksploitasi dalam rangka mencapai tujuan-tujuan hedonistis yang sesaat. Alam menjadi laboratorium sebagai tempat uji coba keilmuan atheistic, di mana kesadaran tentang Tuhan atau spiritualitas tidak tampak bahkan sengaja tidak dihadirkan dalam wacana pengembangan ilmu. Orientasi seperti ini yang oleh Allah dikatakan dalam Al Qur’an, bukan untuk menambah kesyukuran dan ketakwaan, melainkan fenomena alam semesta yang diciptakan-Nya itu menambah sempurnanya kekufuran mereka (QS 17: 94-100)&lt;br /&gt;FILSAFAT ADALAH ENERGI DAN ILMU ITU CAHAYA&lt;br /&gt;Filsafat adalah pemikiran, sedangkan ilmu adalah ‘kebenaran’. Gampangnya, filsafat ilmu adalah pemikiran tentang kebenaran. Apakah benar itu benar? Kalau itu benar maka berapa kadar kebenarannya.? Apakah ukuran-ukuran kebenaran itu? Di mana otoritas kebenaran itu? Dan apakah kebenaran itu abadi?&lt;br /&gt;Tujuan filsafat dan ilmu yakni sama-sama mencari kebenaran. Hanya saja filsafat tidak berhenti pada satu garis kebenaran, tetapi ingin terus mencari kebenaran kedua, ketiga dan seterusnya sampai habis energinya. Sedangkan ilmu kadang sudah merasa cukup puas dengan satu kebenaran dan bila ilmu itu disuntik dengan filsafat alias pemikiran maka ia kan bergerak maju untuk mencari kebenaran yang lain lagi.&lt;br /&gt;Filsafat itu ibarat energi dan ilmu itu umpama mesin listrik. Jika energi dipasok ke turbin mesin, maka mesin akan bekerja menghasilkan setrum yang dipakai untuk menyalakan lampu yang memancarkan cahaya.&lt;br /&gt;Filsafat dan ilmu bahu-membahu mengusung kebenaran, namun kebenaran filsafat dan kebenaran ilmu masih tetap saja bersifat relatif sebagai proses yang tidak pernah selesai. Maksudnya, bahwa kebenaran yang didapatkan oleh filsafat dan ilmu tak pernah selesai dan terus berproses dan menjadi, yang dalam hukum dialektika (Thesis, Antithesis, Sinthesis) dan seterusnya sebagai tanda bahwa manusia, pemikirannya dan ciptaannya bersifat relatif. Sedangkan kebenaran itu sendiri identik dengan Pencipta kebenaran. Oleh karena itu, yang Maha Benar hanyalah Allah SWT (QS 34: 48)&lt;br /&gt;Dalm filsafat illuminasi, &quot;Tuhan kosmos ini adalah Sumber Cahaya, yang dari-Nya wujud diri yang beradiasi memancarkan suatu cahaya yang menyingkap semua wujud, dan ketika tiada lagi dunia privasi, non-wujud, dan kegelapan bersanding dengan dosa. Menurut epistimologi illuminasi, pengetahuan diperoleh ketika tidak ada rintangan antara keduanya. Dan hanya dengan begitu, subyek mengetahui dapat menangkap esensi obyek&quot; (Ziai, 1998: 13)&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Dalam konteks inilah, menurut hemat kami filsafat ilmu itu kiranya perlu dipelajari atau diajarkan di semua fakultas dan program studi khususnya di lengkungan UIKA, umumnya, di perguruan-perguruan tinggi, pada semester akhir untuk program S1 (sarjana). Karena filsafat ilmu bisa menjadi modal dasar untuk seorang calon sarjana, bagaimana cara ia mengaktualisasikan pemikirannya dalam menghadapi persoalan-persoalan keilmuan dan kehidupan dari tatanan teoritis sampai pada tataran aplikatif. Wallahua’lam bishshawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Abdul Azhim, Ali, Epistemologi dan Aksiologi Ilmu Perspektif Islam, Penerj. Khalilullah A.M.H, Rosda, Bandung: 1984&lt;br /&gt;Audah, Ali, Konkordasi Qur’an, Litera antar Nusa, Mizan, Bogor, Bandung: 1997&lt;br /&gt;Beerling dkk., Pengantar Filsafat Ilmu, alih bahasa Soedjono Soemargono, Tiara Wacana, Yogyakarta: 1986.&lt;br /&gt;Departemen Agama RI., Al Qur’an dan Terjemahnya, Khadim Al-Haramain Asy-Syarifain, Madinah Munawarah: 1411 H.&lt;br /&gt;Ghulsyani, Mahdi, Filsafat Sains Menurut Al Qur’an, penerj. Agus Efendi, Mizan, Bandung: 1990.&lt;br /&gt;Ha’iri Yazdi, Mehdi, Ilmu Hudhuri, penerj. Ahsin Mohamad, Mizan, Bandung: 1994.&lt;br /&gt;Iqbal, Muhammad, Membangun Kembali Pemikiran Agama dalam Islam, terj. Ali Audah dkk, Tintamas, Jakarta: 1986.&lt;br /&gt;Khaldun, Ibn, Mudaddimah, Penerj. Ahmadie Thaha, Pustaka Firdaus, Jakarta: 2000.&lt;br /&gt;Kartanegara, Mulyadhi, Pengantar Epistemologi Islam, Mizan, Bandung: 2003.&lt;br /&gt;Marasabessy, Yusra, (Kontributor), Desekularisasi Pemikiran Landasan Islamisasi, Mizan, Bandung: 1987.&lt;br /&gt;Qardhawy, Yusuf, As-Sunnah Sumber IPTEK dan Peradaban, penerj. Setiawan Budi Utomo, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta: 1998.&lt;br /&gt;Syarif, M.M., (Editor), Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung: 1989.&lt;br /&gt;Soemargono, Soedjono, Filsafat Pengetahuan, Nur Cahaya, Yogyakarta: 1983.&lt;br /&gt;Ziai, Hossain, Suhrawardi &amp; Filsafat Illuminasi, Penerj. Afif Muhammad dan Munir, Zaman Wacana Ilmu, Bandung: 1990.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2007/11/di-dalam-al-quran-terdapat-kata-kata.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-116646508069705344</guid><pubDate>Mon, 18 Dec 2006 17:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-23T01:43:44.760+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Filsafat</category><title>METAFISIKA</title><description>Apakah Filsafat Itu?&lt;br /&gt;Saudara-saudara, apakah filsafat itu? Saya awali kuliah ini dengan meminta anda menjawabnya. &lt;br /&gt;&quot;Bodoh,&quot; mungkin anda pikir, &quot;kami menempuh matakuliah ini karena tidak tahu apakah filsafat itu, jadi mengapa anda mengharap kami menjawab pertanyaan yang mendasar seperti itu pada menit-menit pertama kita?&quot;&lt;br /&gt;Percayalah! Sepuluh atau limabelas menit pertama yang kita sita untuk menjawab pertanyaan tersebut akan menjadi awal yang baik demi pemahaman kita tentang apakah filsafat itu. Sekarang, jika benak anda kosong, cobalah berpikir mengenai apa yang sedang kita lakukan saat ini. Apa yang sedang kita kerjakan pada detik ini yang berbeda dengan yang kita perbuat di matakuliah lain?&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;METAFISIKA DAN&lt;br /&gt;PENGAKUAN KEBEBALAN&lt;br /&gt;Wawasan: Membenahi Kehidupan&lt;br /&gt;Apakah Filsafat Itu?&lt;br /&gt;Saudara-saudara, apakah filsafat itu? Saya awali kuliah ini dengan meminta anda menjawabnya. &lt;br /&gt;&quot;Bodoh,&quot; mungkin anda pikir, &quot;kami menempuh matakuliah ini karena tidak tahu apakah filsafat itu, jadi mengapa anda mengharap kami menjawab pertanyaan yang mendasar seperti itu pada menit-menit pertama kita?&quot;&lt;br /&gt;Percayalah! Sepuluh atau limabelas menit pertama yang kita sita untuk menjawab pertanyaan tersebut akan menjadi awal yang baik demi pemahaman kita tentang apakah filsafat itu. Sekarang, jika benak anda kosong, cobalah berpikir mengenai apa yang sedang kita lakukan saat ini. Apa yang sedang kita kerjakan pada detik ini yang berbeda dengan yang kita perbuat di matakuliah lain?&lt;br /&gt;Mahasiswa. &quot;Hmm.&quot;&lt;br /&gt;Ayo, siapa yang ingin menjadi orang pertama? Jangan malu! … Tahukah kalian, ketika pertama kali saya ajarkan kuliah ini, mahasiswa pertama yang mencoba menjawab pertanyaan tersebut akhirnya memperoleh nilai &quot;A&quot;! Kini, siapa yang suka menjadi orang pertama?&lt;br /&gt;Mahasiswa A. &quot;Berpikir. Kita sedang berpikir. Apakah filsafat itu tentang berpikir?&quot;&lt;br /&gt;Ya. Memang itulah tugas pokok filsuf. Omong-omong, ketika saya mengajar kuliah ini untuk kedua kalinya, mahasiswa pertama yang mencoba menjawab pertanyaan tersebut akhirnya mendapatkan nilai &quot;D&quot;. Jadi, jangan harap nilai &quot;A&quot; itu mudah! Sesungguhnya, kita sering berpikir dengan cara yang tidak &quot;filosofis&quot;. Jadi, apa perbedaan antara berpikir secara filosofis dan berpikir secara lain?&lt;br /&gt;Mahasiswa B. &quot;Filsafat itu abstrak. Tidak ada jawaban yang pasti. Setiap orang punya ide sendiri-sendiri tentang persoalan filosofis, dan tak seorang pun dapat mengklaim bahwa ia memiliki kebenaran yang mutlak.&quot;&lt;br /&gt;Itu pandangan yang sangat umum. Banyak argumen filosofis yang memang abstrak, namun bukankah benar pula bahwa filsafat kadang-kadang sangat konkret dan juga praktis? Bahkan, saya lebih cenderung mengatakan: jawaban yang terang terhadap sebagian besar pertanyaan filosofis terlalu banyak. Namun biarlah kami nyatakan sendiri, anda telah mendapatkan suatu ciri khas persoalan filosofis yang membedakannya dari kebanyakan perburuan intelektual lainnya. Tidak peduli berapa kali pertanyaan terjawab, kelihatannya selalu ada sesuatu yang masih misterius. Karenanya, pada pandang pertama, filsafat menjadi sangat berbeda dengan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Namun demikian, mari kita amati terus apa yang kita lakukan saat ini, dan kita mencoba menangkap pertanda yang lebih jitu tentang alam filsafat. Beberapa filsuf mengutarakan bahwa dalam filsafat, sebagaimana dalam kehidupan kita sendiri, &quot;kita membangun perahu di tempat kita mengapungkannya.&quot; Lantas, apa yang — ya?&lt;br /&gt;Mahasiswa C. &quot;Pertanyaan dan jawaban. Apakah filsafat ada hubungannya dengan pertanyaan dan jawaban?&quot;&lt;br /&gt;Tentu saja. Pada kenyataannya, unsur-unsur filsafat dan bahkan aliran-aliran filsafat yang berlainan bisa dibedakan dengan memperhatikan perbedaan tipe pertanyaan yang diajukan. Akan tetapi, semua disiplin akademis pun menghajatkan pertanyaan dan jawaban. Jadi, apa yang membedakan pertanyaan filosofis dari tipe-tipe lainnya? Apa yang saya upayakan saat ini dengan meminta anda memikirkan pertanyaan “Apakah filsafat itu?”, dan mengapa saya tidak puas dengan jawaban yang sederhana, seperti &quot;filsafat adalah berpikir&quot;?&lt;br /&gt;Mahasiswa D. &quot;Karena anda berusaha membujuk kami untuk melihat hal-hal yang terdapat di bawah permukaan. Kita semua tahu bahwa para filsuf banyak berpikir, tetapi anda berupaya mendorong kami untuk menatap makna yang lebih dalam.&quot;&lt;br /&gt;Tepat. Alasan mengapa pertanyaan yang diajukan dalam kebanyakan disiplin akademis lain dapat dijawab dengan lebih pasti ialah karena jawaban non-filosofis biasanya hanya mempedulikan permukaan. Para filsuf, sekurang-kurangnya filsuf yang baik, tidak puas sampai mereka menggali sedalam-dalamnya persoalan yang mereka ajukan sendiri. Kadang-kadang, gagasan filosofis sulit dipahami bukan karena terlalu abstrak, terlampau melayang jauh dari kehidupan kita sehari-hari, melainkan justru karena teramat konkret! Filsafat ada kalanya menyentuh sedemikian-dalam hal-hal yang tak terpahami oleh kita karena obyek pembahasan itu terlalu dekat dengan kehidupan kita. Pernahkah anda mencoba melihat mata kanan anda dengan mata kiri anda?&lt;br /&gt;Mahasiswa E. &quot;Bisakah anda memberi kami satu contoh pertanyaan yang filosofis?&quot;&lt;br /&gt;Bisa, bahkan lebih dari satu. Saya akan mengemukakan empat contoh pertanyaan yang diajukan oleh filsuf-filsuf yang baik. Secara demikian, saya mengantarkan anda ke sesuatu yang saya yakini sebagai empat unsur utama dalam bidang filsafat. Dua unsur awal bersifat teoretis. Unsur pertama ialah metafisika; pertanyaan yang menetapkan tugas metafisika adalah &quot;Apa yang pada hakikatnya nyata?&quot;. Memeriksa jawaban atas pertanyaan ini merupakan kewajiban kita dalam Bagian Satu matakuliah ini. Bagian Dua berkenaan dengan unsur kedua, logika; penentuan persoalannya bisa diungkap sebagai &quot;Bagaimana kita memahami makna kata-kata?&quot;&lt;br /&gt;Dua unsur akhir bersifat praktis. Unsur ketiga dapat disebut &quot;filsafat terapan&quot;. Nah, penerapan kata-kata bermakna itu mestinya menimbulkan pengetahuan; kata Inggris &quot;science&quot; berasal dari kata Latin sciens yang berarti &quot;mengetahui&quot;, sehingga kita bisa menamakan unsur ketiga ini science (ilmu), [1] asalkan kita ingat bahwa kita menggunakan kata ini bukan seperti yang biasanya dimengerti dalam bahasa sehari-hari. Pertanyaan filosofis mengenai ilmu adalah &quot;Di manakah garis tapal batas yang tepat antara pengetahuan dan kebebalan?&quot;. Unsur keempat ialah ontologi, yang mengajukan pertanyaan &quot;Apa maksud keberadaannya?&quot; Dengan menanyakan dan menjawab pertanyaan ontologis, kita berharap meningkatkan pahaman kita tentang sifat dasar berbagai benda (umpamanya, Tuhan, manusia, hewan), atau tipe pengalaman yang berlainan (contohnya, keindahan, cinta, kematian).&lt;br /&gt;Pada matakuliah ini kita berkesempatan untuk mencari jawaban atas keempat pertanyaan tersebut, sehingga memperhatikan hubungan masing-masing sebagai satu keseluruhan bisa bermanfaat. Untuk mengungkap pandangan-pandangan dalam bentuk yang sederhana, namun sistematis, salah satu alat-bantu pengajaran kegemaran saya, seperti yang akan segera anda jumpai, adalah diagram-diagram—terutama salib, segitiga, dan lingkaran. Pada Pekan V, kita akan melihat bahwa semua diagram [di buku ini] dibangun menurut pola logis tertentu. Akan tetapi, untuk saat ini, kita hanya memperlakukannya sebagai seperangkat cara yang mudah untuk melihat pertalian antara rangkaian istilah-istilah tersebut. Mari kita manfaatkan sepotong salib sebagai sejenis &quot;peta&quot; untuk matakuliah kita dengan menempatkan keempat unsur filsafat pada keempat ujungnya, sebagaimana tergambar di bawah ini:&lt;br /&gt;                           IV. ontologi:&lt;br /&gt;                            Apa maksud&lt;br /&gt;                          keberadaannya?&lt;br /&gt;                  filsafat&lt;br /&gt;                   praktis&lt;br /&gt;     III. ilmu:                                    I. metafisika&lt;br /&gt;   Di mana garis                                   Apa yang pada&lt;br /&gt;batas pengetahuan?                               hakikatnya nyata?&lt;br /&gt;                                         filsafat&lt;br /&gt;                                         teoretis&lt;br /&gt;                            II. logika:&lt;br /&gt;                     Bagaimana kita memahami&lt;br /&gt;                         makna kata-kata?&lt;br /&gt;Gambar I.1: Empat Unsur Filsafat&lt;br /&gt;Tentu saja, kita akan mengajukan banyak pertanyaan filosofis lain pada kuliah-kuliah [di buku] ini, tetapi sifat fundamental keempat persoalan tersebut perlu diakui.&lt;br /&gt;Mahasiswa F. &quot;Hari ini anda beberapa kali mengacu pada &#39;filsuf yang baik&#39;. Kedengarannya agak gegabah. Apakah anda menyiratkan bahwa ada &#39;filsuf yang buruk&#39;? Apakah anda berhak menghakimi pendapat orang lain sebagai baik atau buruk? Betapapun juga, setiap orang memiliki hak atas pendapat mereka sendiri!&quot;&lt;br /&gt;Ya, memang benar. Akan tetapi, perbedaan antara filsuf yang baik dan yang buruk tidak berkaitan dengan &quot;opini&quot;. Ini mengenai penalaran. Nalar memungkinkan kita untuk membedakan yang baik dari yang buruk, tetapi tanpa perlu menghujat. Maka, saya berujar: memang ada filsuf yang buruk. Pada kenyataannya, tampaknya sayangnya seakan-akan filsuf yang buruk lebih banyak daripada yang baik. Jadi, jangan terkejut bila anda menyimak saya mengucapkan kata-kata sedemikian itu pada kuliah-kuliah kita ini. Namun demikian, saya harap anda tidak merasa terhina. Kata &quot;baik&quot; dan &quot;buruk&quot; di sini tidak dimaksudkan sebagai penilaian moral. Bahkan, bagi saya istilah-istilah ini mengacu pada filsuf-filsuf yang menyandang tugas filsafat dengan cara yang seimbang, yang berlawanan dengan mereka yang percaya bahwa bidang perhatian filsafat yang sebenarnya itu sangat sempit atau sangat luas. Biar saya perjelas lagi, apa yang saya maksud dengan pembedaan ini.&lt;br /&gt;Ada tiga arah pemahaman tugas filsafat. Yang pertama memandang tugas filsafat sebagai penggunaan pemikiran logis untuk memecahkan masalah-masalah yang sukar, melalui penjernihan konsep-konsep kita. Pada filsafat Barat abad keduapuluh, pandangan ini diangkat sebagai ciri khas aliran &quot;filsafat analitik&quot;, yang dalam berbagai wujudnya selama seabad ini mendominasi wacana yang berbahasa Inggris. Para filsuf analitik cenderung menganggap filsuf sebagai sejenis profesi ilmiah yang istimewa; mereka setiap-waktu menolak terang-terangan gagasan bahwa filsafat itu berkaitan erat dengan kehidupan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;Arah filsafat yang kedua menempati ancangan yang berlawanan, dengan memandang filsafat sebagai jalan hidup, sehingga tugas filsafat berkisar pada pemahaman hakikat dan tujuan keberadaan manusia beserta segala kerumitannya. Pada filsafat Barat abad keduapuluh, pandangan ini diangkat sebagai ciri khas aliran &quot;eksistensialisme&quot;, yang dalam berbagai wujudnya selama seabad ini mendominasi wacana yang berbahasa non-Inggris. Para filsuf eksistensialis cenderung menganggap filsafat sebagai disiplin-studi biasa yang meliputi hampir segala hal yang dapat membantu kita menjalani hidup dengan lebih benar atau lebih &quot;otentik&quot;; namun dalam prosesnya, tulisan-tulisan yang mereka susun tentang kehidupan semacam itu acapkali gelap sekali, sehingga pembaca awam amat kesulitan dalam memahaminya.&lt;br /&gt;Arah filsafat yang ketiga mengakui bahwa kedua pendapat tadi diperlukan untuk menggagas tugas filosofik dengan tepat. Filsuf yang baik mengikuti arah yang ketiga ini, dengan meyakini bahwa tujuan penjernihan konsep-konsep mengarah ke jalan hidup tertentu, dan bahwa penjelasan jalan hidup ini harus diungkap dengan gamblang dan jangan sampai terjerembab ke jurang kegelapan. Filsafat yang tidak ditatap sebagai jalan hidup kelihatannya lebih menyerupai ilmu yang bersifat teknis, sedangkan filsafat yang tidak menghajatkan upaya keras untuk menjernihkan konsep-konsep tampaknya lebih menyerupai agama yang bersifat mistis. Padahal, filsafat, sekurang-kurangnya filsafat yang baik, bukanlah ilmu dan juga bukan agama, melainkan disiplin unik yang tegak di atas tapal batas antara keduanya. Karenanya, kita dapat menggambarkan hubungan antara tiga tipe filsafat tersebut dengan memetakannya pada sepotong segitiga sederhana sebagai berikut:&lt;br /&gt;filsafat analitik:&lt;br /&gt;penjernihan konsep&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                  filsafat “yang baik”&lt;br /&gt;                  sintesis keduanya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;eksistensialisme:&lt;br /&gt;jalan hidup&lt;br /&gt;Gambar I.2: Tiga Tipe Filsafat&lt;br /&gt;Omong-omong, barangkali filsuf analitik &quot;yang baik&quot; sama banyaknya (atau sama sedikitnya!) dengan filsuf eksistensial &quot;yang baik&quot;. Filsuf analitik yang baik ialah yang bisa berbahasa dengan gamblang tanpa kehilangan wawasan terhadap bidikan-puncak pembelajaran, yakni untuk hidup dengan lebih baik. Sebaliknya, filsuf eksistensialis yang baik ialah yang dapat mengarahkan perhatian kita ke bidikan-puncak itu tanpa penggunaan bahasa yang ruwet atau menyesatkan, yang hanya mengaburkan kebenaran. Maksud saya, bolehjadi pendekatan terbaik untuk memandang filsafat adalah tidak sekedar berakar pada salah satu dari kedua tipe tersebut, tetapi justru berdiri di atas keduanya secara seimbang.&lt;br /&gt;Nah, jam pertama ini hampir habis, namun masih ada waktu untuk satu saran lagi tentang bagaimana kita bisa menjawab pertanyaan utama kita tadi. Saya penasaran, kalau-kalau ada di antara kalian yang mempunyai sepenggal jawaban yang berbeda dengan jawaban-jawaban yang telah diutarakan sejauh ini. Kita pada dasarnya baru membahas secuil kemungkinan jawaban, padahal filsafat itu mengenai banyak hal.&lt;br /&gt;Mahasiswa G. &quot;Saya pikir selalu, filsafat itu berkenaan dengan sikap takjub (wonder).&quot;&lt;br /&gt;Ketakjuban macam apa? Apakah maksud anda hanya bengong dan melamun? Ataukah terbersit dalam benak anda sesuatu seperti Alice di Negeri Ajaib?&lt;br /&gt;Mahasiswa G. &quot;Saya rasa tidak. Saya pikir, sikap takjub itu semacam semangat belajar untuk menuju kebenaran. Bukankah para filsuf tertarik pada upaya untuk menyelidiki mengapa benda-benda berada sedemikian rupa?&quot;&lt;br /&gt;Memang begitulah! Sebenarnya, kata &quot;filsafat&quot; itu sendiri berasal dari dua kata Yunani &quot;philos&quot; (mencintai) dan &quot;sophos&quot; (kealiman). [2] Jadi, secara harfiah, filsafat itu merujuk pada pencarian secara tak jemu-jemu kebenaran dan penerapannya yang pas pada kehidupan kita. Pencarian ini pasti berkobar dengan semangat &quot;ketakjuban&quot;. Oh ya, saya tidak bergurau kala mengacu pada Alice in Wonderland. Ceriteranya penuh dengan gagasan filosofis yang menarik!&lt;br /&gt;Oh ya, tentu saja kita belum selesai menjawab pertanyaan kita. Pertanyaan &quot;Apakah filsafat itu?&quot; memang akan selalu ada di benak kita di sepanjang matakuliah ini. Jika kita mampu menjawab tuntas hari ini, maka sampai di sini saja kuliah kita, dan tigapuluh-lima kuliah sisanya tidak kita perlukan. Akan tetapi, ternyata kita masih jauh dari hal itu. Alih-alih, saya ingin sekali menimbulkan kesan kepada anda bahwa hingga perkuliahan Pengantar Filsafat ini berakhir (mudah-mudahan) anda kurang tahu akan filsafat daripada sebelum anda memasuki kelas hari ini! &lt;br /&gt;Saya mengatakannya karena, seperti yang akan kita ulas, pada aktualnya filsafat berawal dengan pengakuan kebebalan. Alasan mengawali kuliah pengantar [filsafat] dengan menelaah metafisika tepatnya adalah bahwa metafisika dapat mengajarkan kita perbedaan antara hal-hal yang bisa kita ketahui dan yang tidak bisa kita ketahui. Hanya bila kita telah mempelajarinya, maka kita siap belajar dari logika tentang bagaimana memperoleh pemahaman kata-kata. Logika terutama mengajarkan kita perbedaan antara makna kata kala mengacu pada sesuatu yang dapat kita ketahui dan makna kata kala mengacu pada sesuatu yang tidak kita ketahui sama sekali. Segera seusai kita miliki pondasi teoretis ini, kita bisa menerapkan pahaman baru kita dengan cara-cara yang praktis. Kita melakukannya dengan menggapai kebenaran dan pengetahuan yang relevan dengan kehidupan manusia; mencari &quot;ilmu&quot; sejati inilah yang disebut cinta kealiman. Dengan mencintai kealiman, kita dapat memasuki tahap-keempat tugas filsafat tanpa menjadi &quot;tersesat di kawasan yang menakjubkan kita&quot;, begitulah perumpamaannya. Hal itu karena tugas terakhirnya adalah sungguh-sungguh menghargai sikap takjub berkeheningan. Dalam pengertian tertentu, semua filsafat berpangkal pada sikap takjub berkeheningan. Sekalipun begitu, filsafat berujung pada sikap takjub berkeheningan juga, sebagaimana yang akan kita saksikan pada Bagian Empat matakuliah ini.&lt;br /&gt;Hal itu akan banyak mendorong kita untuk memikirkan pelajaran pertama kita. Jadi, saya simpulkan saja dengan menambahkan bahwa keempat tugas filsafat yang baru saja saya paparkan tadi bersesuaian secara pas dengan empat &quot;unsur&quot; filsafat yang terlukis pada Gambar 1.1, dan dapat dipetakan pada salib yang sama sebagai berikut:&lt;br /&gt;               takjub berkeheningan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;cinta kealiman                     pengakuan kebebalan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;               pemahaman kata-kata&lt;br /&gt;Gambar I.3: Empat Tujuan Berfilsafat&lt;br /&gt;Masing-masing itu sebaiknya dipandang sebagai tugas yang tiada henti, bukan persyaratan yang harus dipenuhi dengan lengkap sebelum melangkah ke tahap berikutnya. Karena alasan ini, kita bisa memandangnya sebagai sasaran-sasaran yang kita tetapkan untuk kita sendiri pada setiap tahap berfilsafat.&lt;br /&gt;Beberapa Pedoman Penulisan Lembar Mawas&lt;br /&gt;Wawasan adalah batu pondasi semua pandangan filosofis. Tanpa wawasan, kita akan tiada kreativitas, sedikit-banyak selalu tetap sama, di suatu alam yang relatif tidak berakal, tidak berbeda dengan binatang. Bila hewan mempunyai [dorongan hati atau] naluri (instinct), manusia memiliki potensi [dorongan akal atau] wawasan (insight). Oleh sebab itu, salah satu pelajaran terpenting yang harus dipelajari di segala studi filsafat adalah apakah wawasan itu dan bagaimana cara mengembangkan kemampuan diri untuk berwawasan. Beberapa sifat wawasan akan kita bahas dalam matakuliah ini. Bahasan terpentingnya disinggung di Kuliah 12 [tentang Gambar IV.6], 15, 18 [tentang Gambar VI.5], 20 [paragraf kedua], 24 [satu paragraf sebelum dua paragraf terakhir], dan 28 [tentang Gambar X.1]. Itu semua sebaiknya sudah dibaca sebelum anda memulai penulisan lembar pertama anda. Namun keterampilan berwawasan hanya dapat muncul melalui praktek. Karena alasan ini, tanggung jawab anda selaku mahasiswa pada matakuliah ini terutama berpusat pada tugas penulisan serangkaian “lembar mawas” (insight papers). Entah anda membaca buku ini sebagai buku-ajar matakuliah yang sedang anda tempuh entah hanya karena minat anda, saya harap anda sungguh-sungguh mementingkan tindak lanjut dari hal-hal yang anda baca di sini dengan jalan menulis sesuatu untuk anda sendiri. Hal ini akan memberi anda peluang untuk berfilsafat melalui pencatatan hasil renungan anda sendiri terhadap persoalan filosofis tertentu. Pedoman yang hendak saya sarankan pada jam kuliah ini dimaksudkan untuk membantu anda dalam memilih topik yang tepat dan menulis lembar mawas yang baik.&lt;br /&gt;Pada akhir setiap bab atau “pekan” (yakni setiap tiga serangkai kuliah yang direkam di buku ini), saya menyediakan empat pasang “Pertanyaan Perambah”, dengan beberapa baris kosong di bawah masing-masing, tempat anda mencatat sepatah dua patah kata percikan pemikiran anda mengenai pertanyaan yang bersangkutan. Anda bisa memanfaatkan itu sebagai topik lembar mawas anda, kendati topik apa saja bisa diterima, asalkan anda memperlakukannya dengan cara filosofis. Anda pun jangan mencari “serangkaian” solusi di buku ini terhadap masalah pilihan anda yang akan anda renungkan dan anda tuliskan. Lembar mawas adalah arsip wawasan-anda-sendiri, bukan wawasan saya—walau tentu saja, akan anda dapati faedah penggunaan isi kuliah-kuliah saya sebagai batu loncatan untuk mengembangkan cara pikir khas anda sendiri.&lt;br /&gt;Sejauh ini, lembar mawas merupakan aspek terpenting matakuliah ini karena lembar mawas menggenapi tatapmuka perkuliahan dan bacaan-bacaannya dengan pengalaman pribadi berfilsafat yang nyata. Karena itu, lembar mawas yang relevan bisa digunakan sebagai basis diskusi kelas. Tugas pembahasan implikasi persoalan yang diangkat di berbagai lembar mawas acapkali cukup menarik untuk mengisi jam kuliah yang tersedia. Waktu sisanya dicurahkan untuk pembahasan pertanyaan yang muncul dari buku-ajar dan bacaan anjuran yang relevan. Ini berarti bahwa sejak jam kuliah kedua ini setiap mahasiswa diharap untuk membaca [bahan] kuliah yang relevan di buku ini sebelum memasuki kelas. Akan ada banyak gunanya pula bila anda membaca sekurang-kurangnya sebagian dari pustaka yang didaftar di seksi “Bacaan Anjuran” per pekan. Bacaan-bacaan itu biasanya disusun urut, yang berawal dengan bacaan-bacaan yang lebih singkat atau spesifik yang dikutip di dalam teks kuliah, dan berakhir dengan pustaka-pustaka yang lebih panjang dan/atau umum yang akan membantu anda dalam merambah secara lebih mendalam implikasi-implikasi dari topik-topik yang dibahas di kuliah-kuliah pekan yang bersangkutan. Bacaan-bacaan ini juga dapat digunakan untuk merangsang wawasan dan memberi topik yang baik untuk lembar mawas.&lt;br /&gt;Dengan mengingat-ingat kiat-kiat berikut ini, anda akan terbantu dalam membaca secara lebih mawas:&lt;br /&gt;1. 1.    Jangan khawatir kalau-kalau tidak setiap kata dan tidak setiap kalimat anda pahami!&lt;br /&gt;2. 2.    Alih-alih, fokuskan pada [pencarian] lokasi gagasan-gagasan utama dan upaya pemahamannya!&lt;br /&gt;3. 3.    Garis bawahilah kata-kata kuncinya, dan cobalah untuk menangkap alur umum argumentasinya! &lt;br /&gt;4. 4.    Garis bawah yang berlebihan akan mematahkan niat tersebut dan terlalu menyulitkan pengulasan.&lt;br /&gt;5. 5.    Untuk definisi singkat istilah-istilah kunci, mengaculah pada Daftar Definisi Istilah yang tercatat di halaman belakang buku-ajar ini! [3]&lt;br /&gt;6. 6.    Berinteraksilah dengan buku ini! Jika anda menolak [suatu gagasan di dalamnya], tulislah alasan anda di tepi halaman; kalau anda menerima, tulislah sesuatu seperti “ya!”. Jika itu mengingatkan sesuatu yang lain, buatlah catatan tentang hal itu; bila anda bingung, tulislah “?”, lalu tanyakan penjelasannya di kelas!&lt;br /&gt;7. 7.    Apabila anda mendapati pasal yang menarik di buku-ajar ini, luangkanlah lebih banyak waktu pada pasal tersebut, kemudian burulah Bacaan Anjuran atau mintalah acuan lebih lanjut kepada dosen anda!&lt;br /&gt;8. 8.    Jika suatu pasal membosankan anda, cobalah untuk membaca dengan lebih cepat atau sepintas-lalu sampai anda mencapai bagian yang lebih menarik! Anda dapat memandang isinya dengan cepat melalui membaca beberapa paragraf awal dan akhir dan kalimat pertama setiap paragraf sisanya. (Gunakan kiat ini terhadap Bacaan Anjuran, bukan terhadap buku ini!)&lt;br /&gt;9. 9.    Yang terpenting, percayalah kepada daya-paham anda sendiri! Ambillah semboyan Pencerahan untuk anda sendiri: Beranilah menggunakan akal anda sendiri!&lt;br /&gt;Filsafat harus dipelajari dengan bebas dan dengan desakan luar yang sesedikit mungkin, sehingga matakuliah ini praktis tidak menuntut anda membaca sebanyak-banyaknya karya-karya klasik. Akan tetapi, kuliah-kuliah kita nanti akan sering mengacu pada banyak teks klasik, sehingga diasumsikan bahwa siapa saja yang, atau mulai, termotivasi dari dalam untuk berfilsafat akan berupaya untuk mengakrabi bacaan-bacaan tambahan itu sebanyak mungkin.&lt;br /&gt;Nah, berikut ini jawaban singkat atas pertanyaan-pertanyaan paling dasar yang biasanya ditanyakan oleh mahasiswa-mahasiswa ketika mereka berusaha memahami hakikat dan maksud penulisan wawasan mereka:&lt;br /&gt;Apa? Lembar mawas adalah karya tulis singkat tentang pemikiran, pandangan, dan penalaran anda sendiri tentang topik apa saja, dengan ketentuan bahwa anda memperlakukannya secara filosofis. Penyiapan dan penulisan makalah semacam itu merupakan salah satu aspek terpenting kelas ini. Karena itu, anda seyogyanya menulis lembar mawas setelah beberapa saat seusai memikirkan dengan penuh konsentrasi atau merenungkan sesuatu yang filosofis, sekurang-kurangnya selama limabelas menit. Di samping pertanyaan-pertanyaan di akhir setiap pekan, inilah beberapa contoh jenis pokok bahasan yang bisa anda pilih untuk anda renungkan: segala pertanyaan atau persoalan yang diangkat di kuliah-kuliah di buku ini atau dibahas di kelas; pertanyaan tentang makna atau hakikat sesuatu; teori atau argumen yang diajukan oleh beberapa filsuf yang telah anda baca; obyek atau pandangan yang anda pikir indah atau aneh; pengalaman yang menurut anda sangat filosofis; dan sebagainya.&lt;br /&gt;Bagaimana? Padatkan! Jangan mengira bahwa makalah yang panjang akan selalu mencapai hasil yang baik. Itu tidak benar. Kadang-kadang beberapa kalimat sudah cukup untuk menunjukkan bahwa anda memiliki wawasan filosofis yang signifikan. Segala hal yang tidak langsung berkaitan dengan wawasan itu sendiri sebaiknya diringkas atau disingkirkan. Makalah anda mesti menyediakan tempat yang sesempit mungkin bagi pemerian informasi latar belakang, semisal ide-ide orang lain. Sebagian besar dari tempat itu harus dicurahkan untuk pemikiran, kritikan, analisis, dan ide-ide anda sendiri mengenai jawaban dan hal-hal lain yang masuk akal. Sebagai aturan umum, mestinya satu halaman kertas standar sudah cukup panjang. Kalau anda perlu menggunakan dua halaman, tolong lestarikan pepohonan dengan menulis kedua sisi (bolak-balik) satu lembar kertas. &lt;br /&gt;Berapa banyak? Tulislah lembar mawas sebanyak-banyaknya! Jika anda memakai buku ini sebagai buku-ajar perkuliahan, periksalah rincian jumlah lembar mawas yang disyaratkan, tanggal penyerahan, dan pedoman khusus lainnya.&lt;br /&gt;Mengapa? Maksud lembar mawas adalah melatih keterampilan berfilsafat anda, dengan membolehkan anda merambah ide-ide filosofis sedalam-dalamnya. Jadi, ingat-ingatlah hal ini ketika anda menulis lembar mawas. Ajukanlah pertanyaan-pertanyaan yang menggerakkan pemikiran anda yang melampaui kulitnya, seperti “mengapa?”, “apa maksudnya?”, “bagaimana saya tahu?”, “apakah ini?”, dan lain-lain. Jangan cuma mengulang pandangan orang lain. Anda dapat menyebut gagasan orang lain (umpamanya teori-teori dari beberapa filsuf yang telah anda kaji), namun cobalah melakukannya dengan sesingkat mungkin. Sebagian besar isi makalah harus dicurahkan untuk penjelasan dan analisis terhadap gagasan anda sendiri. Baik kreativitas maupun argumentasi yang berhati-hati akan sangat bernilai, di samping kejelasan dan keteraturan. Pernyataan opini anda sendiri belaka, tanpa alasan pendukungnya, tidak memadai. Opini dapat dicantumkan sebagai titik pangkal untuk penyelidikan lebih lanjut, tetapi wawasan asli lebih bernilai daripada opini yang tanpa dasar.&lt;br /&gt;Apa berikutnya? (Pembaca yang bukan mahasiswa [saya] silakan melompati jawaban atas pertanyaan ini dan dua paragraf di bawahnya.) Lembar mawas mesti dipakai sebagai basis diskusi, baik di dalam maupun di luar kelas. Untuk diskusi di dalam kelas, beberapa makalah akan dibacakan (secara anonim) di depan kelas. (Jika anda tidak ingin tulisan anda dibacakan di depan kelas, anda harus menulis di lembar anda sesuatu seperti “Harap lembar ini tidak dibacakan di kelas karena ...” dan jelaskan alasannya.) Normalnya, makalah-makalah itu akan dikembalikan pada akhir tatap-muka berikutnya; kata-kata pentingnya akan digarisbawahi dan beberapa pertanyaan atau komentar yang relevan akan dituliskan di lembar makalah anda. Catatan itu tidak selalu mencerminkan sudut pandang dosen-anda sendiri, namun dimaksudkan untuk membantu anda dalam memikirkan dengan lebih mendalam persoalan yang diangkat di dalamnya.&lt;br /&gt;Pertanyaan yang barangkali sekarang ada di benak kebanyakan pembaca dari kalangan mahasiswa adalah: bagaimana lembar mawas akan dinilai? Tentu saja, dosen-dosen tak pelak lagi akan mempunyai kriteria yang berlainan untuk menilai kelayakan-relatif tugas semacam itu. Tindakan saya sendiri adalah mencari keseimbangan antara kreativitas, kejelasan, dan ketegasan kritis (yakni mempertimbangkan seluk-beluk berbagai kemungkinan sudut pandang). Berikut ini skala penilaian kasar yang didasarkan langsung pada tiga kriteria itu. Lembar “A” adalah yang kuat di ketiga bidang. Lembar “B” harus kuat di dua bidang, walau agak lemah di bidang lainnya, atau kuat di satu bidang dan sedang-sedang saja di dua bidang  lainnya. Berikutnya, lembar “C” bisa kuat di salah satu area dan lemah di dua area lainnya, atau sedang-sedang saja di ketiga area. Lembar “D” adalah yang tidak kuat di ketiga bidang dan benar-benar lemah di satu atau dua bidang. Adapun lembar mawas yang gagal ialah yang lemah di ketiga area; hal ini biasanya lantaran kebanyakan atau seluruh isinya cuma menyalin dari sumber lain, atau kandungannya tidak lain kecuali paparan cerita, peristiwa, dan sebagainya, tanpa upaya sama sekali untuk memikirkan implikasinya.&lt;br /&gt;Sewaktu mengajar Pengantar Filsafat, saya beberapa kali menggunakan metode “lulus-gagal” untuk menilai lembar mawas: lembar-lembar dibubuhi tanda v jika mengandung isi filosofis yang cukup untuk mendapatkan sekurang-kurangnya nilai “C” dan diberi tanda minus jika di bawah level itu. (Dalam kasus itu, saya juga memberi tanda plus untuk menghargai makalah istimewa yang berstandar tinggi.) Kelebihan metode penilaian itu adalah bahwa, dengan melunakkan tekanan sebagian mahasiswa yang mungkin merasa menulis sesuatu hanya untuk mengesankan dosen, metode itu cenderung memberi rasa kebebasan yang lebih banyak untuk memilih topik-topik yang sesuai dengan minat mereka. Kelemahannya, tentu saja, adalah bahwa sebagian mahasiswa mungkin tidak berupaya keras untuk berlatih sebagai akibat dari mengetahui bahwa makalah yang sedang-sedang saja akan menerima nilai yang sama dengan makalah yang hebat.&lt;br /&gt;Berlandaskan asumsi bahwa kebanyakan mahasiswa akan tertarik untuk belajar menulis lembar mawas dengan lebih baik, tak peduli apakah (atau bagaimanakah) lembar itu dinilai, saya hendak menghabiskan jam kuliah ini dengan serangkaian saran untuk meningkatkan keterampilan anda di bidang ini. Pertama, anda jangan memilih topik sebelum anda memiliki wawasan dengan merenungkan topik yang tersedia. Kalau anda belum memilikinya, curahkanlah lebih banyak waktu untuk perenungan anda: pengembangan dayatangkap wawasan adalah disiplin yang memakan waktu! Pokoknya, anda harus melawan godaan untuk memperlakukan lembar mawas sebagai esai belaka, dengan memilih topik secara serampangan dan kemudian mencoba mereka-reka “wawasan” hanya untuk menjadikan makalah anda terlihat bagus. Apabila benak anda senantiasa terbuka dan merenungkan persoalan-persoalan yang anda cermati, maka akhirnya wawasan akan muncul; menyeleksi salah satu dari persoalan-persoalan itu untuk topik makalah anda akan memastikan bahwa anda mempunyai topik yang lebih menarik anda daripada kalau anda cuma memilih pertanyaan atau persoalan filosofis secara serampangan yang anda peroleh secara kebetulan.&lt;br /&gt;Segera seusai anda mempunyai wawasan dan memilih topik berdasarkan wawasan ini, anda harus melakukan lebih daripada sekadar menyatakan wawasan anda. Dengan kata lain, anda jangan cuma mengajukan pertanyaan dan kemudian memberi jawaban yang “benar”. Alih-alih, anda harus menganalisis kesahihan wawasan anda dengan mempertimbangkan kemungkinan penolakan orang lain dan menyediakan alasan untuk menopang pandangan anda. Pendekatan semacam ini akan menghindarkan wawasan anda dari penampilan yang hanya menyerupai ungkapan opini anda. Karena alasan yang sama, anda harus mempertimbangkan berbagai kemungkinan pandangan—bahkan barangkali semua kemungkinan pandangan, kalau bisa. Artinya, anda harus memikirkan persoalan dari berbagai perspektif sebanyak mungkin.&lt;br /&gt;Istilah “perspektif” itu akan menjadi salah satu istilah teknis terpenting pada keseluruhan matakuliah ini. Perspektif adalah cara pandang terhadap sesuatu, atau konteks umum untuk menafsirkan persoalan, dan sangat menentukan jenis jawaban yang akan diberikan. Salah satu pelajaran penting yang harus dipelajari seawal mungkin dalam pendidikan filsafat anda adalah bahwa pertanyaan yang sama dapat memiliki jawaban-jawaban benar yang berlainan, jika diambil perspektif yang berbeda. Hal ini akan banyak dibicarakan pada waktu kita menjalani matakuliah ini.&lt;br /&gt;Komentar-komentar yang saya tuliskan di lembar mawas mahasiswa biasanya dimaksudkan untuk membantu dalam proses tersebut, proses melihat persoalan dari berbagai perspektif. Akibatnya, yang saya tulis di lembar mawas mahasiswa tidak selalu mencerminkan pandangan saya sendiri; saya lebih sering mengajukan pertanyaan yang saya rasa terlupakan dan karenanya sebaiknya dipertimbangkan jika dilakukan perenungan lebih lanjut terhadap topik itu. Jika anda membaca buku ini bukan sebagai buku-ajar kuliah, maka saya sarankan anda mencari teman yang berpikiran-filosofis yang bisa anda ajak bertukar lembar mawas. Bacalah dan berilah komentar makalah teman anda itu secara teratur, dengan tujuan saling membantu memperdalam pemikiran persoalan yang dibicarakan.&lt;br /&gt;Saya banyak memusatkan perhatian pada pemerolehan keinsafan akan perspektif yang berlainan, karena inilah yang saya yakini paling signifikan, di antara segala keterampilan filosofis, dalam menyiapkan kita untuk mengarungi kehidupan dengan baik. Pernyataan Sokrates bahwa “kehidupan yang tak terperiksa bukan kehidupan yang berharga” (lihat Kuliah 5) itu benar hanya jika kita memiliki cara yang efektif untuk memeriksa kehidupan kita. Pemeriksaan-diri semacam itu memiliki dua segi yang berbeda, yang berhubungan dengan aspek kesadaran dan ketidaksadaran alam. Matakuliah ini hanya berkenaan dengan wawasan dan perspektif yang berhubungan dengan aspek pertama. Saya mengajar matakuliah lain tentang penakwilan mimpi dan pengembangan kepribadian yang terutama berkenaan dengan aspek kedua (lihat DW). Di matakuliah ini sebagaimana rangkaiannya, kesadaran akan perspektif merupakan kunci metode pemeriksaan-diri yang efektif. Tanpa itu, bagi kita wawasan kita tak akan lebih dari serangkaian prakonsepsi berat sebelah yang kita percayai tanpa tahu mengapa nyatanya kita mempercayainya, atau tanpa tahu apa pilihan-pilihannya. Namun dengan kesadaran semacam itu, kita pun dapat belajar menerima sahnya prakonsepsi tertentu, bila perspektif yang didukung oleh prakonsepsi itu terlihat lebih unggul daripada pilihan-pilihan lain. Pada faktanya, persoalan prakonsepsi itu amat mendasar untuk memahami hakikat dan fungsi filsafat. Oleh sebab itu, saya akan mencurahkan semua kuliah mendatang untuk memeriksa topik tersebut dengan lebih rinci.&lt;br /&gt;Filsafat Laksana Mitos&lt;br /&gt;Pernah ada pohon; namanya &quot;Filsafat&quot;. ...&lt;br /&gt;Di keseluruhan matakuliah ini, saya ingin kita semua memperlakukan cerita pendek tersebut seolah-olah sebagai kunci pintu alam filsafat. Gagasan serupa bisa kita ungkap dalam bentuk analogi yang lebih filosofis dengan mengatakan, &quot;filsafat itu laksana pohon&quot;. Dengan kata lain, kita asumsikan saja--sebagai titik tolak yang mapan untuk segala pemeriksaan kita--bahwa hakikat dan unsur-unsur pohon menunjukkan gelagat mengenai hakikat dan unsur-unsur filsafat. Akan tetapi, seperti halnya prakiraan tulus apa pun, kita tidak akan mati-matian mempertahankan titik tolak itu dengan bukti-bukti yang tak terbantah; yang bisa kita lakukan hanyalah meyakini nilai dan kebenarannya, dan kemudian merambah berbagai implikasinya. Andaikan hasil akhirnya kurang memuaskan, kita buang saja prakiraan itu, lalu kita bertolak lagi dengan hipotesis-hipotesis baru. Namun sementara ini, saya akan mengacu pada analogi tersebut berulang kali pada matakuliah ini dengan harapan memperoleh wawasan yang lebih luas dan lebih jelas dalam disiplin yang kita sebut &quot;filsafat&quot;.&lt;br /&gt;Maksudnya, asumsi bahwa pernah ada pohon yang bernama &quot;filsafat&quot; itu akan berlaku sebagai mitos yang memandu dan menjaga kesatuan berbagai ide yang kita bahas di sini. Makna kata &quot;mitos&quot;, bila digunakan dengan cara itu, bukan &quot;cerita khayalan atau takhayul&quot; yang lazim terpakai dalam bahasa sehari-hari. Di sini, saya justru memanfaatkan arti spesialnya, yang digunakan oleh antropolog-antropolog dalam paparan mereka tentang primitifnya asal-usul agama. Sekarang saya hendak merambah pengertian baru kata &quot;mitos&quot;, bukan hanya supaya kita bisa memahami lebih jelas maksud ungkapan bahwa &quot;pohon filsafat&quot; itu akan berlaku sebagai mitos kita [sekurang-kurangnya pada matakuliah ini], melainkan juga karena, seperti yang akan kita bahas, filsafat itu sendiri banyak berasal dari pola pikir mitologis spesial tersebut.&lt;br /&gt;Tentang bagaimana mitos berfungsi dalam masyarakat primitif, seperangkat penjelasan yang elok disodorkan pada Bab Pertama dalam Myth and Reality, karya Mircea Eliade, salah seorang cendekiawan abad keduapuluh yang paling berpengaruh dalam studi agama secara ilmiah. Karena makna yang ia rujuk pada kata &quot;mitos&quot; sangat mirip dengan asumsi yang saya maksud pada alinea di atas, saya hendak menyoroti beberapa hal penting yang ia catat. Yang paling berharga, ia mendefinisikan mitos sebagai suatu cerita lama tentang asal-usul dunia atau benda-benda di dunia, yang dengan berbagai jalan menjelaskan mengapa keberadaan manusia begitu adanya, atau mengapa norma-norma budaya masyarakat berkembang sedemikian rupa. Mitos Prometheus, misalnya, memberi tahu kita tentang asal-usul api di samping hal-hal lainnya. Subyek-subyek mitos yang paling umum di antaranya adalah kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan seksualitas, hubungan keluarga, dan kematian. &lt;br /&gt;Pelaku dalam mitos-mitos itu biasanya dewa, sesuatu yang adikodrati, atau pahlawan dengan kekuatan yang adikodrati. Sayangnya, para penyimak modern cenderung kurang menyadari fakta bahwa cerita-cerita itu terutama berfungsi sebagai model perilaku manusia. Namun bagaimanapun, dalam seabad ini sudah ada upaya untuk memperlihatkan bahwa mitos-mitos kuno itu mengisahkan riwayat, berbicara tentang manusia. Psikolog Sigmund Freud, misalnya, berpendapat bahwa mitos Oedipus, orang yang ditakdirkan untuk membunuh ayahnya dan menikahi ibunya, mengemukakan riwayat tentang pengalaman kanak-kanak semua lelaki, bukan hanya anak yang hidup pada masa Yunani Kuno. (Untuk rincian lebih lanjut, lihat DW, Kuliah 8.) Secara demikian, alangkah baiknya bila dalam menyimak suatu mitos kuno, kita menganggap semua tokoh itu dalam hal tertentu menuturkan cerita tentang siapakah kita. Ketika saya membaca mitos sebagai riwayat hidup saya sendiri, maka sesuatu yang dulu tampak aneh dan tidak relevan tiba-tiba mengilhami makna baru.&lt;br /&gt;Menurut Eliade, anggota-anggota suku menilai mitos mereka sebagai kisah yang paling sejati di antara semua kisah nyata. Kesejatiannya ditonjolkan berkali-kali oleh fakta bahwa mengaktifkan mitos dalam bentuk ritual memungkinkan mereka untuk berkuasa terhadap alam. Di samping itu, repetisi ritual kisah itu senantiasa menghidupkan mitos dalam jiwa dan benak orang-orang tersebut. Bahkan, tampaknya mereka memiliki dua jenis kisah yang berbeda. Pertama, cerita yang berhubungan dengan peristiwa yang berlangsung dalam kehidupan mereka sehari-hari; kedua, cerita yang berkaitan dengan kejadian yang berlangsung pada &quot;masa mitologis&quot; istimewa (yang terkadang diacu sebagai &quot;masa impian&quot;). Dalam bahasa Jerman, ada perbedaan di antara dua macam kisah ini. Untuk memaparkan cerita-cerita biasa, dipakai kata historie, sedangkan untuk memaparkan cerita-cerita dengan makna spesial yang lebih mendalam, digunakan kata geschichte. Jadi, kata heilsgeschichte mengacu pada &quot;sejarah suci&quot; istimewa yang eksis, sebagaimana adanya, pada tingkat yang beda dari sejarah biasa.&lt;br /&gt;Walaupun laporan Eliade itu sangat cermat sebagai paparan tentang mitos yang terdapat pada kebudayaan primitif, saya ingin menanamkan kesan bahwa, dengan sedikit revisi, kita bisa mendapati unsur mitologis dalam setiap kebudayaan, yang mana pun, termasuk kebudayaan kita sendiri. Mula-mula, alih-alih, saya sarankan agar pengertian mitos tidak kita batasi pada &quot;cerita lama&quot;, tetapi kita perluas sehingga mencakup segala keyakinan, riwayat, dan rancangan yang diperlakukan sebagaimana fungsi legenda bagi orang-orang primitif. Dengan kata lain, segala hal yang kita manfaatkan untuk menjelaskan mengapa hal-hal sedemikian adanya, atau segala sesuatu yang kita gunakan sebagai model untuk perilaku kita, bisa kita anggap sebagai mitos. Dengan cara ini, kita sisihkan tuntutan bahwa tokoh-tokoh di dalam mitos sangat jauh dari diri kita dan bahwa unsur-unsur ceritanya terlalu aneh bagi indera modern.&lt;br /&gt;Tentu saja, tidak semua penjelasan tentang realitas bersifat mitologis, sehingga kriteria Eliade mengenai nilai kebenaran mitos perlu kita ingat. Akan tetapi, saya pikir kita harus menolak kesaksiannya bahwa mitos melambangkan kebenaran yang paling sejati di antara yang benar. Alih-alih, saya percaya corak penentu keyakinan mitologis, selama mengenai nilai kebenarannya, adalah bahwa maknanya menjadikan mitos melampaui pertanyaan. [4] Dengan kata lain, bagi orang yang “hidup dengan bermitos”, pertanyaan tentang tepat atau sesatnya cerita atau keyakinan atau pandangan itu tidak relevan. Begitulah mitos. Dengan kata lain, pada tingkat sedalam itu bisa dimengerti bahwa mempertanyakannya pun tak terpikir sama sekali. (Revisi pandangan tentang nilai kebenaran mitos digambarkan oleh diagram yang terlihat di Gambar I.4.) Itu bukan berarti bahwa orang-orang yang hidup dengan bermitos tidak mampu mengajukan pertanyaan tentang makna mitos mereka, melainkan justru sebaliknya. Pembahasan pertanyaan-pertanyaan semacam itu acapkali memainkan peranan penting dalam masyarakat-masyarakat yang diatur dengan mitos tertentu. Satu-satunya pertanyaan yang tidak pernah timbul adalah pertanyaan dasar tentang apakah mitos itu sendiri benar ataukah tidak. &lt;br /&gt;                                                     sejarah:&lt;br /&gt;                                              riwayat, keyakinan, dan&lt;br /&gt;                                               lain-lain yang nyata&lt;br /&gt;             mitos:&lt;br /&gt; riwayat, keyakinan, dan hal-hal         mempertanyakan&lt;br /&gt;maknawi lain yang tak dipersoalkan&lt;br /&gt;                                                     dongeng:&lt;br /&gt;                                              riwayat, keyakinan, dan&lt;br /&gt;                                               lain-lain yang khayal&lt;br /&gt;Gambar I.4: Nilai Kebenaran Mitos&lt;br /&gt;Bilamana keyakinan akan mitos mereka dipersoalkan oleh orang lain, maka mereka sangat enggan untuk menanggapinya. Pernyataan Eliade bahwa mitos diyakini sebagai &quot;yang paling sejati&quot; di antara kisah-kisah nyata itu bersandar pada kesalahpahaman akan tanggapan itu. Orang-orang primitif itu secara naluriah mengetahui bahwa gagasan &quot;kebenaran&quot; tidak cocok sama sekali jika diterapkan pada mitos. Mempersoalkan &quot;kebenaran&quot; mitos berarti menyalahpahami makna mitos. Klaim Eliade tersebut lebih merupakan ide-ide prakiraan yang bersumberkan data dari bacaan antropolog-antropolog daripada niat aktual orang-orang primitif tersebut. Karena itu, demi tujuan kita, istilah “mitos” mengacu pada segala keyakinan yang maknanya sangat dekat dengan jalan hidup orang yang tak pernah mempertimbangkan pengajuan pertanyaan &quot;Benar atau salahkah ini?&quot;&lt;br /&gt;Kini saya harap anda mengerti dengan lebih jelas apa yang saya maksud ketika saya mengatakan bahwa cerita tentang suatu pohon yang berjuluk &quot;Filsafat&quot; akan menjadi mitos kita yang memandu matakuliah ini. Maksudnya, saya ingin anda mengakui kebenaran analogi &quot;filsafat itu seperti pohon&quot; begitu saja tanpa mempertanyakannya. Selanjutnya, saya menghendaki, gambar pohon filsafat berlaku sebagai model untuk segala perenungan anda mengenai apakah filsafat itu. Dengan melakukannya, akan anda dapati bahwa anda mempunyai semacam daya untuk memahami wawasan-wawasan filosofis yang biasanya di luar jangkauan para pemula. Namun sebelum kita mulai merambah beberapa wawasan filosofis itu, saya berniat mengulas asal-usul mitologis filsafat itu sendiri.&lt;br /&gt;Sebagian besar sejarah kebudayaan biasanya menoleh ke &quot;zaman keemasan&quot; yang kehidupan manusianya sangat berbeda dengan kehidupan masa sekarang. Kerinduan untuk kembali ke zaman keemasan ini (yang pada umumnya berkaitan erat dengan &quot;masa impian&quot; atau &quot;masa mitologis&quot; yang disebut di atas) merupakan penggerak perubahan-perubahan kebudayaan. Bagi orang-orang Yahudi terdahulu, zaman keemasannya adalah Taman Surga, yang di dalamnya Adam dan Hawa “berjalan-jalan dengan Allah di suatu sore hari yang sejuk”. Bagi orang Cina pada era Konfusius (551-479 S.M.), zaman keemasannya ialah periode &quot;kaisar-kaisar bijaksana&quot;, tatkala Cina diperintah dengan alim dan murah hati. Karena filsafat Barat, yang merupakan fokus utama kuliah ini, bermula di Yunani Kuno, perlu dicatat bahwa orang-orang Yunani itu juga mempercayai zaman keemasan. Oleh sebab itu, mari kita tengok secara ringkas sejarah Yunani Kuno supaya kita beroleh beberapa pahaman tentang bagaimana filsafat lahir dari mitos.&lt;br /&gt;Beberapa cendekiawan yakin, impian zaman keemasan di Yunani Kuno mengacu pada kebudayaan Minos-Misena, yang pudar pada masa Perang Troya (kira-kira 1200 S.M.). Zaman itu merupakan inspirasi untuk perekaan mitos-mitos Yunani (lihat MM 87-89 dan BM 213-215, 278). Perkembangan yang paling signifikan berikutnya dalam sejarah Yunani adalah &quot;penciptaan epos-epos Homer [kira-kira 900 S.M.], yang bahan-bahannya meluncur dari kompleks mitos ini&quot; (MM 88, BM 464). Epos-epos ini mengalihkan pelbagai mitos yang tak teratur menjadi bentuk yang puitis, sehingga makna mitos menjadi lebih gamblang (BM 256 dst.). Akan tetapi, budi (consciousness) manusia belum mencapai wujud modern seperti yang kita kenal saat ini. Menurut Jaynes, baru &quot;pada abad keenam S.M.&quot; pola pikir primitif tergusur oleh &quot;akal budi subyektif&quot; modern kita (BM 259-260, 285-286)--pada sekitar waktu itulah tampil filsuf pertama di Yunani Kuno, yang bernama Thales (kira-kira 624-546 S.M.). Ini lalu diikuti dengan kegiatan filosofis yang mendalam selama tiga abad, yang memuncak dengan karya seorang filsuf yang bernama Aristoteles (384-322 S.M.). Karya Aristoteles itu signifikan karena, sebagaimana yang akan kita amati pada Kuliah 6, dialah filsuf utama Yunani yang mula pertama membangun suatu sudut pandang &quot;ilmiah&quot;, dalam pengertian yang modern. Jika kita tempatkan perkembangan-perkembangan besar tersebut pada suatu jalur waktu; sketsa kasar sejarah Yunani Kuno itu terlihat seperti ini:&lt;br /&gt; 1200  900  600  300  0&lt;br /&gt;zaman       mitos      sastra      filsafat      ilmu&lt;br /&gt;keemasan&lt;br /&gt;     Perang      Epos       Thales    Aristoteles    Yesus&lt;br /&gt;     Troya      Homerik&lt;br /&gt;Gambar I.5: Alur Sejarah di Yunani Kuno&lt;br /&gt;Selang tigaratus tahun antara perubahan-perubahan utama yang dilambangkan dalam diagram itu tentu saja hanya perkiraan waktu kejadian perubahan yang sebenarnya. Namun bagaimanapun, adalah signifikan bahwa sejarah sendiri menyiratkan pola perkembangan yang teratur tersebut. Pola itu pada faktanya mengingatkan kita kepada rupa arloji, yang terdiri atas duabelas bagian (jam/abad) yang dikelompokkan dalam empat perempatan. (Di Pekan V kita akan memeriksa struktur logis pola ini, yang juga menyediakan basis untuk pengorganisasian bab-bab di buku ini.) Yang menarik, keseluruhan periode peradaban Yunani Kuno itu diakui oleh beberapa orang sebagai &quot;zaman keemasan&quot;--suatu fakta yang menyiratkan bahwa pola tersebut adalah sesuatu yang berulang sendiri secara terus-menerus. Jika demikian, maka cara baik lainnya untuk menggambarkan pertalian antara empat perkembangan itu adalah memetakannya ke dalam gambar rupa arloji (yakni sebuah lingkaran yang terbagi atas empat kuadran).&lt;br /&gt;Jika sekarang kita ingat kembali fakta bahwa kalender modern (Masehi) kita berawal pada titik hentian Gambar I.5 (yaitu tahun kelahiran Yesus, sekalipun bukan di Yunani), maka kita bisa menyaksikan bahwa cara terbaik untuk memetakan jalur-waktu itu pada lingkaran ialah membalikkannya (dengan cara menukar posisi antara angka 9:00 dan angka 3:00), sebagaimana penghitungan tahun S.M. (Sebelum Masehi) kita yang berkebalikan dengan penghitungan tahun Masehi kita. Hal ini menghasilkan peta bentuk-bentuk pemikiran manusia yang saling berhubungan yang terlihat di Gambar I.6.&lt;br /&gt;               Perang Troya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;            ilmu         mitos&lt;br /&gt;Aristoteles                    Homer&lt;br /&gt;            filsafat     sastra&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                  Thales&lt;br /&gt;Gambar I.6: Empat Bentuk Pemikiran di Yunani Kuno&lt;br /&gt;Saya ingin mengakhiri jam kuliah ini dengan menanamkan sebuah cara lebih lanjut untuk bisa memahami bagaimana empat ide tersebut--mitos, sastra, filsafat, dan ilmu--saling berhubungan. Kelirulah perkiraan bahwa tiada hubungan historis selain kebetulan belaka antara keempat ide itu. Pada aktualnya, ada landasan logis bagi pertalian tersebut, seperti yang tergambar dalam diagram yang terdapat pada Gambar I.7. Hidup dengan bermitos adalah seperti tinggal di suatu lingkaran tanpa mengetahui hal-hal tentang keberadaan lingkaran itu sendiri. Ini karena pemikiran mitologis itu bebal perihal tapal batasnya. Para pujangga menarik diri dari lingkaran mitos secukupnya sehingga mengakui eksistensi tapal batas itu. Sastra merupakan upaya untuk melisankan makna mitos dengan cara sedemikian rupa sehingga maknanya bisa dipahami oleh orang-orang yang sepenuhnya tinggal di luar tapal batas. Karenanya pujangga tinggal di tapal batas itu. Sebaliknya, para filsuf melangkah sepenuhnya di balik tapal batas. Akan tetapi, mereka masih cukup dekat dengan &quot;lingkaran&quot; mitos sehingga mereka mengakui realitas dan signifikansi &quot;makna tersembunyi&quot; yang terkandung di dalam ekspesi puitis mitos. Filsuf berupaya menjelaskan makna itu dengan cara yang lebih harfiah atau lebih obyektif: sementara pujangga bisa menulis karya sastra tanpa secara eksplisit mempertanyakan mitos, filsuf harus mempertanyakan mitos. Memang itulah salah satu dari tugas-tugas utama filsafat. Berbeda dengan para filsuf, para ilmuwan menarik diri mereka sendiri sejauh-jauhnya dari alam mitos sehingga mereka tidak bisa lagi mengamati adanya makna tersembunyinya sama sekali. Filsuf mempertanyakan nilai kebenaran mitos (yakni masih membuka kemungkinan untuk mencari kebenaran yang terungkap di dalamnya), sedangkan ilmuwan menolak mitos karena hanya merupakan &quot;cerita bohong&quot; (lihat Gambar I.4). Para ilmuwan tinggal sebegitu jauh dari mitos sehingga, jika mereka memandang lingkaran mitos sepenuhnya, mitos itu hanya tampak sebagai satu titik di kejauhan tanpa isi yang maknawi.&lt;br /&gt;ilmu&lt;br /&gt;                      sastra&lt;br /&gt;          filsafat&lt;br /&gt;                              mitos&lt;br /&gt;Gambar I.7: Peta Empat Bentuk Pemikiran Manusia&lt;br /&gt;Jelas bahwa penggunaan sehari-hari istilah &quot;mitos&quot; itu kita dapatkan maknanya dari kecenderungan budaya modern kita yang menaruh kepercayaan mutlak kepada sains. Namun ironisnya, cara kita dalam memakai istilah kunci ini menyingkapkan bahwa ilmu itu sendiri mempunyai beberapa ciri seperti mitos, umpamanya kebebalan akan garis-garis tapal batasnya. Nah, ini menimbulkan pertanyaan apakah empat bentuk pemikiran dasar tersebut bisa berfungsi sebagai lingkaran, yang dengannya ilmu itu sendiri pada bentuknya yang paling ekstrim merupakan semacam mitos juga. Karenanya, salah satu tugas utama kita dalam matakuliah ini, bila kita hendak menjadi filsuf yang baik dalam suasana sekarang ini, adalah mempersoalkan hak eksklusif pandangan dunia ilmiah atas benak kita. Oleh sebab itu, pada pekan depan, kita akan bertolak dari pemeriksaan sifat melingkarnya empat bentuk pemikiran manusia itu dengan lebih rinci. Lalu kita akan menaruh perhatian khusus pada perkembangannya di Yunani kuno, yang di dalamnya dihasilkan dua sistem filsafat yang paling berpengaruh, yaitu sistem-sistem yang melambangkan dua cara utama berfilsafat (bandingkan dengan Gambar I.2) sedemikian efektif sehingga sistem-sistem itu terus mengandung buah wawasan hingga hari ini.&lt;br /&gt; [1] Kata Indonesia &quot;ilmu&quot; berasal dari kata Arab &#39;ilm yang berarti &quot;pengetahuan&quot;.&lt;br /&gt; [2] Pada teks aslinya, Palmquist menulis “phileo” dan “sophia”, tetapi ia menyetujui perubahan yang saya buat. &lt;br /&gt; [3] Sangat bolehjadi, istilah-istilah khas (baik Inggrisnya maupun Indonesianya) di dalam buku ini memiliki definisi yang berbeda dengan makna yang selama ini anda pahami. Mengingat akan besarnya kebolehjadian ini, Daftar Definisi Istilah akan sangat membantu anda dalam menghindari kesalahpahaman.&lt;br /&gt; [4] Apa maksudnya? Palmquist menjelaskannya sebagai berikut. Kebermaknaan (subyektif) mitos bagi orang yang mempercayainya menyebabkan orang itu secara total tidak tertarik dan/atau tidak berkehendak untuk menyerahkan kepercayaan itu kepada penyidikan rasional yang disarankan oleh orang yang mengajukan pertanyaan tentang keabsahannya. (Orang yang memiliki suatu keyakinan mitologis mungkin cukup terbuka lebar-lebar untuk mengajukan sejenis pertanyaan tertentu, semisal “apa yang saya maksudkan dengan keyakinan ini?”; jenis pertanyaan yang tidak dibolehkan ialah “apakah pada kenyataannya kepercayaan ini benar?”)&lt;br /&gt; [5] Edisi Indonesianya, Filsafat untuk Pemula, diterbitkan oleh Kanisius, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2006/12/metafisika.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-116578119806348714</guid><pubDate>Sun, 10 Dec 2006 20:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-23T01:44:43.489+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Filsafat</category><title>Filsafat Ilmu</title><description>Apakah Kealiman Itu?&lt;br /&gt;Saya akan mengawali kuliah ini dengan memberi anda ikhtisar singkat isi buku yang saya sebut di akhir kuliah yang lalu, Jonathan Livingston Seagull, untuk kepentingan sebagian dari anda yang belum berkesempatan membacanya. Setelah itu, saya ingin mendengar jawaban dari anda yang sudah membaca cerita tersebut terhadap tiga pertanyaan berikut ini:&lt;br /&gt;1) 1)    Dalam cerita ini, kata terbang melambangkan apa?&lt;br /&gt;2) 2)    Mengenai perburuan kealiman, cerita ini mengatakan apa?&lt;br /&gt;3) 3)    Ke mana Jonathan pergi di Bagian Dua?&lt;br /&gt;Akhirnya, saya akan mengakhiri kuliah pada jam ini dengan menjelaskan bagaimana beberapa pelajaran yang terkandung dalam cerita ini berhubungan dengan berbagai persoalan yang akan kita periksa pada bagian ketiga dari matakuliah ini.&lt;br /&gt;Buku kecil tersebut, Jonathan Livingston Seagull, mengisahkan seekor burung yang aneh—burung camar, seperti yang ditunjukkan oleh judulnya. Pada mulanya, burung yang bernama Jonathan ini melakukan eksperimen berbagai cara terbang. Sementara semua kawannya menggunakan keterampilan terbang mereka hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam hidup mereka, Jonathan memandang bahwa terbang merupakan keterampilan yang harus dituntut demi cara terbang itu sendiri. Akan tetapi, ketika ia menguji-coba metode barunya untuk terbang dengan kecepatan tinggi, pemimpin-pemimpin kawanannya terusik, yang menanggapinya dengan mengasingkan dia ke “tebing-tebing yang jauh”. &lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Setelah ia tinggal lama sendirian, dua ekor burung misterius datang dan membawanya ke tempat lain. Di Bagian Dua, Jonathan belajar tentang cara terbang baru yang tidak berfokus pada sayap dan bulu, tetapi pada pikiran dan imajinasi. Ia jauh lebih cepat daripada semua burung lain di dunia baru ini, ketika tiba-tiba ia memutuskan bahwa ia harus kembali ke dunia lamanya. Jadi, ia pulang ke tebing-tebing yang jauh tersebut. Kemudian bagian ketiga dan terakhir dari kisah ini menceritakan bagaimana ia mengumpulkan beberapa burung buangan [seperti dirinya] dan mulai mengajari mereka cara terbang dan cara memahami penerbangan. Tidak lama setelah mereka mempelajari beberapa keterampilan dasar, murid-muridnya bersama-sama dengan Jonathan pulang ke kawanan lamanya, yang dulu membuang mereka. Di situlah mereka menyelenggarakan kursus di pantai, dan akhirnya sebagian dari burung-burung dari kawanan lamanya menunjukkan minat untuk mempelajari cara terbang. Ketika mereka mulai belajar demi mereka sendiri, Jonathan membiarkan mereka tetap mandiri.Nah, mari kita awali dengan pertanyaan pertama. Untuk melambangkan apa penerbangan dalam cerita itu? Siapa yang punya pandangan tentang hal ini? Omong-omong, jangan mengatakan “pencarian kealiman”, karena itu terlalu gamblang. Telah saya katakan, saya ingin kita memandang keseluruhan cerita itu lantaran memberi kita wawasan menuju pencarian kealiman; jadi, sekarang saya ingin [jawaban] kalian lebih spesifik. Kemudian, dalam pembahasan atas pertanyaan kedua, kita dapat mencoba menerapkan hal-hal yang kita pelajari dari simbolisme penerbangan pada persoalan hakikat mencintai kealiman. [1] Nah, siapa mau menjawab lebih dahulu?&lt;br /&gt;Mahasiswa N. “Kebebasan.”&lt;br /&gt;Ya, saya kira itu tempat yang baik untuk bertolak. Bahkan tanpa membaca kisah itu, kita bisa menduga bahwa ini merupakan bagian dari simbolisme yang dimaksudkan, karena mengasosiasikan penerbangan burung dengan kebebasan itu cukup lazim. Barangkali ini merupakan bagian dari alasan pengarangnya yang lebih memilih menulis dongeng tentang burung daripada ikan atau anjing, misalnya. Cerita itu sendiri menguatkan hal ini dengan menuturkan betapa Jonathan memandang bahwa dirinya bebas dari hal-hal yang menjebak camar-camar lain menuju kehidupan yang sia-sia dan menyedihkan, seperti nafsu makan, keberterimaan, dan kekuasaan politik. Ketika ia belajar terbang, ia juga belajar untuk semakin membebaskan diri dari jebakan semacam itu; dan dalam melakukannya, ia belajar mengarungi hidup yang benar-benar maknawi. Di Bagian Dua ia bahkan belajar membebaskan diri dari kecenderungannya yang sudah berlangsung lama yang memandang bahwa terbang harfiah (yakni terbang dengan tubuh fisiknya) merupakan tujuan hidupnya yang terdalam.&lt;br /&gt;Akan tetapi, kata “kebebasan” hampir menyerupai kata “kealiman” yang sulit dipahami. Jadi, adakah di antara kalian yang menemukan gelagat lain di cerita ini yang dapat membantu kita dalam memahami apakah kebebasan itu? Apa yang harus dilakukan oleh Jonathan supaya memperoleh wawasan tentang hakikat kebebasan?&lt;br /&gt;Mahasiswa O. “Bagi saya, Jonathan tampaknya mencari hal-hal yang tidak diketahui. Dan ini selalu menuntut dia untuk menerobos batas-batas yang sebelumnya telah dipasang olehnya atau oleh burung-burung lainnya.”&lt;br /&gt;Bagus sekali. Saya setuju bahwa unsur dari sesuatu yang tak diketahui itu memainkan peran penting di keseluruhan cerita tersebut. Jonathan berniat memburu tujuannya walaupun tampaknya ia tak pernah tahu apa kira-kira pelosok berikutnya—setidak-tidaknya sebelum ia kembali ke kawanannya di Bagian Tiga. Seperti kata anda, pencarian “kecepatan sempurna”-nya pada kenyataannya merupakan pencarian yang tak bisa tercapai. Akibatnya, secara paradoksis, ia mampu mencapai tujuannya hanya jika ia mau mengakhiri pandangan konvensionalnya mengenai bagaimana hal itu bisa dicapai, terutama asumsinya bahwa hal itu akan bisa dicapai dengan menggunakan “sayap dan bulu”. Begitu pula, saya pikir anda telah memilih kata-kata yang baik dengan tepat ketika anda mengatakan ia selalu “menerobos batas-batas …”. Pada faktanya, salah satu alasan mengapa penerbangan burung melambangkan kebebasan adalah bahwa burung-burung tampaknya telah menemukan rahasia pendobrakan rantai-rantai hukum gravitasi, yang membelenggu kita manusia di bumi dengan kencang. Lagipula, cerita itu sendiri menanamkan kesan bahwa penerobosan tapal batas lama merupakan salah satu kunci yang mendasar untuk menyelidiki diri sendiri. Apakah kalian memperhatikan bahwa, di Bagian Satu, Jonathan pada aktualnya mengacu pada salah satu penyelidikan utamanya mengenai penerbangan sebagai “penerobosan”? Lalu, di Bagian Dua, penemuannya bahwa “penerbangan” merupakan imajinasi itu bukan saja merupakan penerobosan tingkat keterampilannya, melainkan juga penerobosan pemahamannya. Adapun kepulangannya ke kawanannya di Bagian Tiga pun melambangkan sejenis penerobosan lain, yang juga berkaitan dengan simbolisme penerbangan sebagaimana yang dihadirkan di kisah tersebut.&lt;br /&gt;Adakah yang memperhatikan bagaimana penerobosan Jonathan yang terakhir memberi kita cara lain untuk menjelaskan simbolisme penerbangan?&lt;br /&gt;Mahasiswa P. “Kembalinya ia ke kawanannya pada akhir cerita tampaknya seperti tindakan pengorbanan nyata. Padahal, ia bisa terus belajar jauh lebih banyak jika ia tetap tinggal! Bisakah penerbangan melambangkan jenis pengorbanan diri?”&lt;br /&gt;Memang bisa. Ingat, Jonathan banyak berkorban di awal cerita hanya untuk memulai pencarian kecepatan sempurna. Pada faktanya, ide ini diungkapkan dengan tepat di salah satu dari pasal favorit saya di keseluruhan buku ini, namun dengan kata-kata yang berbeda dengan yang anda pakai. Tepat seusai Jonathan melakukan penerobosan awalnya di Bagian Dua, gurunya, Chiang, berkata bahwa ia akan segera siap untuk mulai mengerjakan hal yang “paling sulit, paling bertenaga, dan paling kuat di antara semuanya. Engkau akan siap untuk mulai terbang melayang dan mengetahui makna kebaikan hati dan cinta” (JLS 83). Begitu pula, kata-kata terakhir Chiang kepada Jonathan adalah “timbulkan cinta selalu” (84). Jonathan memperlihatkan bahwa ia mulai mempelajari pelajaran ini ketika ia sendiri menjadi guru, pada mulanya selaku pengganti Chiang, dan kemudian, Di Bagian Tiga, bagi camar-camar yang memunggungi tebing-tebing yang jauh. Namun ia baru sepenuhnya menunjukkan betapa baik pelajaran “terbang melayang”-nya ketika pada aktualnya ia pulang ke kawanan lamanya yang pernah mengusirnya.&lt;br /&gt;Pelajaran penting lain apa yang bisa kita pelajari dari simbol penerbangan? Di suatu kelas filsafat, salah satu jawaban gamblang, yang diusulkan oleh beberapa mahasiswa saya terdahulu, adalah bahwa penerbangan bagi burung bersesuaian dengan pemikiran, atau mungkin pemahaman-diri, bagi filsuf. Salah satu kemungkinan lain adalah bahwa keseluruhan cerita itu mengenai proses belajar pada umumnya, bagian dari kebebalan akan pengetahuan, yang tentu saja juga merupakan salah satu dari tema-tema utama yang kita kembangkan [sedikit demi sedikit] di matakuliah ini. Sebelum kita berlanjut ke pertanyaan kedua, apakah di antara kalian ada yang punya pandangan lain?&lt;br /&gt;Mahasiswa Q. “Saya pikir, penerbangan melambangkan kesempurnaan karena cerita tersebut beberapa kali menyebut ‘kecepatan sempurna’. Kendati kita tak dapat terbang, kita bisa berupaya untuk menjadi sempurna dalam hal-hal yang dapat kita usahakan.”&lt;br /&gt;Mungkin begitu, tetapi saya rasa kita harus waspada agar tidak salah paham akan jenis “kesempurnaan” yang dibicarakan. [2] Saya tidak memandang bahwa kata tersebut hanya mengacu pada yang benar atau yang baik sepanjang masa, kecuali, biarpun kadang-kadang bertentangan dengan “hukum sejati”, yakni “kebebasan”, kalau Jonathan berkewajiban mengikuti “Hukum Kawanan” (JLS 114). Betapapun, kesempurnaan itu amat sangat ideal untuk ditetapkan bagi diri sendiri. Apakah anda pikir pencarian kesempurnaan oleh Jonathan itu membuat dia baik? Apa yang bisa kita pelajari dari pengalaman-pengalamannya?&lt;br /&gt;Mahasiswa Q. “Ya, tanpa tujuan itu, saya tidak menganggap bahwa kehidupan Jonathan amat maknawi. Saya rasa penerbanganlah yang menjadikan kehidupan Jonathan bermakna.”&lt;br /&gt;Jadi, penerbangan bukan sekadar melambangkan pencarian kesempurnaan, melainkan pencarian jenis kesempurnaan yang bisa menganugerahkan makna nyata pada kehidupan duniawi kita secara lain. Ya, saya rasa itulah salah satu inti keseluruhan isi buku ini. Tidak setiap hal bisa berfungsi dengan jalan itu, dan ini berarti kita harus sangat berhati-hati dalam memilih obyek yang kita jadikan pencarian kehidupan kita. Jonathan sendiri, seperti yang telah saya katakan, mengubah cara pandangnya terhadap penerbangan beberapa kali di sepanjang cerita tersebut; setiap datang perubahan tersebut, keikutsertaan [Jonathan] dalam realitas maknawi semakin mendekati pencapaian tujuan terdalamnya.&lt;br /&gt;Kita pada aktualnya telah mulai menjawab pertanyaan kedua, yaitu mengenai pelajaran-pelajaran khas cerita ini yang bisa mengajarkan perburuan kealiman kepada kita. Segala ihwal yang disebut sejauh ini berimplikasi bagi pertanyaan kedua; ihwal-ihwal tersebut mestinya cukup jelas tanpa perlu disinggung lagi. Jadi, sebagai ganti terhadap pengulangan hal-hal yang telah kita sebut, mari kita perhatikan apakah dari cerita itu kita bisa menarik wawasan lebih lanjut tentang hakikat kealiman. Jika kita mengasumsikan bahwa keseluruhan cerita itu mengenai sebuah perburuan kealiman individual, maka pelajaran apa yang bisa kita petik?&lt;br /&gt;Mahasiswa R. “Mereka yang benar-benar serius dalam memburu kealiman mungkin menjalani kehidupan dengan sulit dan sendirian.”&lt;br /&gt;Mengingat pengalaman Jonathan, kata-kata anda itu tentu terlihat benar. Malahan, mereka mungkin juga disalahpahami oleh yang lain. Jonathan disalahpahami tidak hanya di Bagian Pertama, oleh anggota-anggota kawanannya, tetapi juga di Bagian Dua oleh Sullivan temannya, dan di Bagian Tiga oleh sebagian muridnya. Namun harus kita ingat bahwa kesulitan yang disebabkan oleh kesukaran semacam itu, dalam ertian tertentu, “mudah” ditangani bagi mereka yang memandang tinggi tujuan perburuan kealiman. (Omong-omong, ini mirip dengan klaim Yesus—kendati banyak “kata keras” yang ia pakai untuk memerikan mereka yang menyaksikan “kerajaan Allah”—bahwa barangsiapa yang mengikuti kerajaan surgawi ini akan mendapati bahwa “Pikulanku nyaman, dan bebanku ringan” [Matt. 11:30]!) Jonathan ialah pelajar yang semacam ini karena ia tidak membiarkan beban yang sejelas itu membebani dia sepanjang waktu. Secara demikian pula, walaupun kehidupan orang yang memburu kealiman tampaknya terpencil menurut standar umum kita, cerita itu sendiri mengatakan bahwa Jonathan “menjalani kehidupan cerah yang lama” di tebing-tebing yang jauh; dan tak pelak, alasannya adalah bahwa kesulitan-kesulitannya [justru] mencucinya dari “kebosanan dan kekhawatiran dan kemarahan”, inilah “alasan-alasan bahwa kehidupan camar amat singkat” (JLS 41). Jika cerita itu berlaku untuk kehidupan nyata, maka segala kesulitan, kegagalan, dan penderitaan yang jelas-terlihat itu merupakan harga yang bernilai tinggi: tanpa itu semua, mustahil ada penerobosan.&lt;br /&gt;Mahasiswa S. “Pencarian Jonathan tampaknya sinambung, kalau bukan tanpa akhir; ia memerlukan kekuatan kehendak untuk setia kepada tugas ini. Saya duga begitu pula untuk perburuan kealiman.”&lt;br /&gt;Ya, memang. Namun apa yang memberi kita kekuatan untuk setia kepada tugas yang tanpa akhir semacam itu? Apa yang mencegah kita dari kehilangan harapan dan dari menyerah dalam keputusasaan? Apakah cerita itu memberi kita suatu isyarat [dalam hal ini]?&lt;br /&gt;Mahasiswa S. “Saya percaya Jonathan mampu melanjutkan perburuan tujuannya semata-mata lantaran ia mampu melihat matra yang melampaui ruang dan waktu.”&lt;br /&gt;Ini ihwal yang sangat penting. Namun pada aktualnya, jawaban itu membawa kita langsung ke pertanyaan ketiga; jadi, sebelum saya mengomentari jawaban anda, adakah pandangan-pandangan lain mengenai di manakah tempat asing yang dituju oleh Jonathan di Bagian Dua?&lt;br /&gt;Mahasiswa T. “Tidakkah cerita itu mengatakan ia pergi ke surga? Saya mendapat kesan bahwa Jonathan dikira mati di akhir Bagian Satu, dan kedua camar [yang membawanya itu] seperti malaikat yang membawanya ke surga.”&lt;br /&gt;Saya tidak terkejut cerita itu memberi anda kesan ini. Memang, tentu saja ini merupakan salah satu interpretasi yang bolehjadi, khususnya karena Jonathan sendiri pada aktualnya menafsirkan tempat barunya dengan cara ini pada awal-mula Bagian Dua, ketika ia berkata dalam hati “Jadi, inilah surga …” (JLS 57). Namun demikian, tidak lama kemudian (64), setelah menyadari bahwa ia belum mencapai tujuan akhirnya, Jonathan menanyai Chiang “dunia ini bukan surga sama sekali, bukan?” dan Chiang menjawab “tiada tempat semacam itu. Surga bukan tempat dan bukan waktu. Surga adalah kesempurnaan.” Sayangnya, ketika Chiang baru saja menjelaskan dengan lebih rinci apa sebenarnya surga itu, Jonathan menyela dia (79)—namun bukan sebelum Chiang berkesempatan untuk memberi tahu Jonathan bahwa kesempurnaan itu sangat berkaitan dengan cinta. &lt;br /&gt;Jika tempat yang dituju oleh Jonathan di Bagian Dua bukan surga, karena cerita itu menggambarkan surga lebih sebagai keadaan, maka di manakah tempat itu? Atau, dengan kata lain, tempat itu melambangkan apa bagi kita?&lt;br /&gt;Mahasiswa U. “Bagaimana mengenai ‘diri’ atau ‘benak’?”&lt;br /&gt;Ini merupakan salah satu cara pandang yang baik, namun saya lebih suka mengatakan ia pergi menuju imajinasinya. Ini karena ia mampu melakukan hal-hal di tempat itu yang hanya bisa kita lakukan dalam imajinasi kita. Pada faktanya, salah satu gagasan utama Bagian Dua tampaknya adalah bahwa imajinasi itu sama nyatanya dengan bagian-bagian dari benak kita yang memberi kita pengetahuan tentang alam eksternal. Akan tetapi, betapapun kita hendak menafsirkan tempat itu, ini pastilah tempat yang dimensinya melampaui ruang dan waktu, dan tempat ini pasti lebih mudah kita jangkau daripada sebagian besar dimensi waktu. Jadi, jika kita mengatakan bahwa dalam Bagian Satu, Jonathan mendapati peti harta karun di dalam dirinya sendiri, tetapi peti ini masih terkunci, maka Bagian Dua merupakan tempat yang di dalamnya ia mendapati kuncinya, dalam imajinasi, atau jika anda lebih suka, dalam ide-ide yang terdapat di benaknya sendiri. Adapun di Bagian Tiga, ia membuka peti tersebut untuk membantu mereka yang pernah mengusirnya.&lt;br /&gt;Dengan menggunakan eisegesis, kita juga dapat membandingkan tempat yang dituju oleh Jonathan dengan kelas Filsafat. Bagian Satu menyerupai kehidupan kalian masing-masing yang hingga sekarang hidup di alam nyata, tempat belajar kalian mengenai berbagai cara hidup. Namun di Bagian Dua, Jonathan belajar mengenai pembelajaran; aktivitas “urutan kedua” ini merupakan salah satu cara pemerian tugas filsafat. Interpretasi ini menyiratkan bahwa mempelajari filsafat bukanlah untuk menjadi filsuf profesional yang menulis makalah teknis yang membosankan yang tak terpahami oleh siapa pun, dengan niat menerbitkannya di jurnal-jurnal yang tidak dibaca oleh siapa pun; alih-alih, maksudnya adalah menyiapkan anda untuk kembali ke tempat anda sebelumnya (atau sekurang-kurangnya ke cakrawalanya), namun dengan pengertian yang baru ditemukan dari hubungan anda dengan realitas yang lebih tinggi, suatu realitas yang mampu memberdayakan anda sehingga dapat menuntut ilmu kealiman hingga embusan napas terakhir anda, apa pun profesi anda. Di sepanjang garis-garis yang sama, jika kita pikir bahwa tiga bagian dari cerita tersebut bersesuaian dengan tiga tipe keterampilan, yang timbul dari aspek fisik, mental, dan spiritual manusia (bandingkan Gambar II.8), maka kita dapat menggunakan Gambar VII.1 sebagai peta proses perkembangan yang terlukis dalam kisah kehidupan Jonathan tersebut.&lt;br /&gt;II. keterampilan mental&lt;br /&gt;(bandingkan “langit”)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                  III. keterampilan spiritual&lt;br /&gt;                  (bandingkan cakrawala)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I. keterampilan fisik&lt;br /&gt;(bandingkan bumi)&lt;br /&gt;Gambar VII.1: Tiga Tahap Kehidupan Jonathan&lt;br /&gt;Dengan menengok kembali hal-hal yang telah kita bahas hari ini, kita bisa menyadari tiga pelajaran penting mengenai kealiman ini yang harus kita ingat-ingat di sepanjang bagian ketiga dari matakuliah ini. Pertama, kealiman mensyaratkan pengakuan kita bahwa ada tapal batas antara pengetahuan kita dan kebebalan kita. Hal ini telah banyak kita pelajari dari telaah kita tentang metafisika di Bagian Satu. Kedua, kealiman menghajatkan kepercayaan kita bahwa, kendati ada kebebalan-niscaya kita, bisa saja didapatkan jalan untuk menerobos garis tapal batas ini. Kajian kita tentang logika sintetik di Bagian Dua telah mengajarkan juga pelajaran ini kepada kita. Akhirnya, pelajaran barunya adalah bahwa kita baru benar-benar mulai memahami apakah kealiman itu manakala kita mengakui bahwa, juga sesudah kita berhasil dalam penerobosan batas-batas kita terdahulu, kita harus kembali ke rumah asli kita. Akan tetapi, ada perbedaan krusial antara keadaan-asal kita dan keadaan kita sewaktu kita kembali: sekarang kita memiliki sedikit-banyak kesadaran (walaupun kita tidak dapat menyebutnya “pengetahuan”) akan kedua sisi tapal batas itu. Salah satu cara yang baik untuk menggambarkan hal ini adalah bahwa ketika kita pulang, kita masih tinggal, sebagaimana adanya, pada tapal batas (atau “cakrawala”), seperti yang terlukis di Gambar VII.2.&lt;br /&gt;    II. Penerobosan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                  III. Pengembalian&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     I. Pengakuan kebebalan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar VII.2: Kealiman sebagai Pengembalian ke Tapal Batas&lt;br /&gt;Mari kita perhatikan secara singkat dua kisah lain yang dengan sangat kuat menggambarkan pentingnya pengembalian ke tapal batas alam terdahulu kita untuk berbagi wawasan yang kita peroleh dengan menerobos tapal batas tersebut. [Cerita] pertama adalah satu bagian dari cerita Plato tentang gua (lihat Gambar II.7) yang belum saya sebut di Kuliah 5. Orang-orang yang bisa menemukan jalan keluar menuju cahaya mentari dan mampu melihat alam sebagaimana adanya, dengan mempelajari keahlian filosofis yang memperhatikan benda-benda menurut formanya, begitu terkesan dengan kekuatan matahari sehingga mereka terpaksa kembali ke gua dengan harapan membebaskan orang-orang yang masih terbelenggu di alam bayangan. Jadi, cerita Plato pada aktualnya mengikuti bentuk yang sama dengan yang terlihat di Gambar VII.2. [Cerita] kedua, yang disadur dari cerita karya G.K. Chesterton (lihat CO), cukup berbeda dengan cerita Plato dan Jonathan, tetapi memiliki pesan yang serupa.&lt;br /&gt;Ada seorang anak yang dibesarkan di suatu desa kecil, terpencil di lembah antah-berantah. Pada masa kanak-kanaknya, ia sering mendengar cerita dari tetua desanya mengenai Gunung Besar yang berupa patung wajah orang. Pikirannya begitu terpenuhi dengan ketakjuban akan dongeng-dongeng yang ia dengar sehingga ia meninggalkan rumah, kendati masih belia, untuk mencari gunung masyhur tersebut. Namun demikian, sesudah bertahun-tahun melakukan pengembaraan yang menjemukan ke seluruh pelosok negeri, ia tak pernah menangkap isyarat akan patung yang ia cari. Dengan kekecewaan terhadap hal-hal yang kini ia anggap sebagai tipu muslihat yang muncul semasa remajanya, ia akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Akan tetapi, tatkala mendekati desanya, ia terkejut mendapati bahwa gunung yang terlihat di belakang [desa] itu berwujud khas wajah orang! Semasa remaja, ia tak pernah bepergian cukup jauh dari rumah untuk melihat “gambaran seutuhnya”, dan begitu ia pergi, ia belum pernah menengok ke belakang. Kini, tentu saja, perjalanannya banyak mengubahnya sehingga ia tak akan menjalani kehidupan di desanya seperti sedia kala: kita bisa mengatakan, ia akan selalu tetap “di tapal batas”.&lt;br /&gt;Nah, dengan memperhatikan wawasan baru ini, mari kita ingat bahwa Bagian Satu dan Dua dari matakuliah ini terutama berhadapan dengan dua bidang filsafat teoretis yang paling penting. Di Bagian Tiga dan Empat kita akan mengalihkan perhatian kita kepada dua bidang terpenting filsafat praktis. Yang pertama bisa disebut “filsafat terapan”, karena ini mensyaratkan bahwa kita menerapkan logika yang telah kita pelajari pada berbagai jenis ikhtiar manusia. Namun [bidang] ini bisa juga disebut ilmu, karena dalam hal masing-masing, tujuannya adalah menelurkan sejenis pengetahuan. Pada Bagian Tiga ini kita akan mengamati tiga cabang utama pohon filsafat: filsafat ilmu alamiah, ilmu moral, dan ilmu politis. Dalam hal masing-masing, tujuan kita adalah menemukan kondisi tapal batas yang bisa dilampaui (umpamanya dengan logika sintetik), namun masih merupakan rumah yang tepat bagi filsafat mana pun yang hendak memikirkan disiplin-disiplin ini. Dalam melakukannya, kita tidak banyak berbicara tentang kealiman begitu saja. Bagaimanapun, asumsi dasar di sepanjang pengamatan kita terhadap topik-topik ini adalah bahwa dalam pencarian posisi yang tepat bagi garis tapal batas, pada aktualnya kita melaksanakan salah satu dari tugas-tugas terpenting dalam pencarian kealiman.&lt;br /&gt;20. Ilmu dan Anatomi Kealiman&lt;br /&gt;Salah satu pelajaran terpenting yang kita pelajari dari bahasan kita di kuliah yang lalu adalah bahwa filsafat, sebagaimana belajar terbang, terutama merupakan keterampilan. Saya ingin memulai kuliah ini dengan menekankan gagasan tersebut, khususnya lantaran delapanbelas kuliah pertama kita terutama berhadapan dengan aspek teoretis pohon filsafat. Jika kajian anda tentang filsafat sejauh ini memberi anda kesan bahwa filsafat itu lebih berupa seperangkat teori atau doktrin daripada aktivitas, maka silakan melupakan kesan itu sekarang juga! Filsafat itu mula-mula dan terutama mengenai sesuatu yang dilakukan. Adapun belajar berfilsafat, dalam banyak hal, serupa dengan belajar bermain sepakbola atau bertutur bahasa. Ada teori-teori dan metode-metode tertentu yang harus dipelajari di sepanjang jalan ini; namun akhirnya anda tak akan menjadi pemain sepakbola yang baik tanpa melatih keterampilan anda di lapangan, dan anda tak akan mahir dalam suatu bahasa tanpa menjumpai beberapa orang yang berbicara dengan bahasa itu dan bercakap-cakap dengan mereka.&lt;br /&gt;Contoh-contoh tentang permainan dan bahasa tersebut menyiratkan bahwa dua tahap penting untuk mempelajari keterampilan adalah praktek dan peniruan; hal ini berlaku pula pada keterampilan berfilsafat. Inilah alasan mengapa saya mendorong siapa saja yang mengambil matakuliah ini untuk menyisihkan waktu secara teratur untuk merenungkan masalah-masalah filosofis yang diangkat di kuliah-kuliah ini atau terdaftar di subbab “Pertanyaan Perambah” pada setiap akhir pekan, dan kemudian menulis lembar mawas sebagai respon. Lembar mawas merupakan peluang anda untuk berlatih berfilsafat. Namun, kecuali jika anda telah punya bakat berfisafat, praktek belaka tidak cukup untuk menuju kesuksesan. Anda juga perlu seseorang untuk ditiru. Dengan mengingat hal ini, saya harap bahwa karena anda mengikuti (atau membaca) kuliah-kuliah ini, anda lebih menaruh perhatian pada cara berfilsafat saya daripada menghafal “fakta-fakta” mengenai beragam filsuf. Akan tetapi, tepat seperti bahwa ada banyak strategi yang berlainan untuk bermain sepakbola yang baik dan banyak ide yang berlainan mengenai cara terbaik untuk belajar bahasa, ada banyak konsepsi juga yang berbeda-beda tentang cara terbaik untuk berfilsafat, sebagaimana yang telah kita lihat. Inilah alasan mengapa anda juga perlu membaca tulisan-tulisan asli filsuf-filsuf lain (seperti yang disarankan di subbab “Bacaan Anjuran” di akhir setiap pekan). Ketika membaca teks-teks ini, anda jangan hanya belajar tentang isi gagasan filosofisnya, tetapi juga belajar meniru bagaimana filsuf itu berfilsafat. Akhirnya, anda harus mampu berfilsafat ketika anda membaca, dengan secara aktif menerapkan metode yang tepat melalui dialog dengan teks yang sedang anda baca.&lt;br /&gt;Filsafat merupakan keterampilan, namun tidak sama dengan keterampilan lain apa pun. Sesungguhnya, mudah diambil perbandingan yang terlalu jauh antara filsafat dan keterampilan-keterampilan lain. Ini lantaran filsafat pada aktualnya dapat dianggap sebagai keterampilan terdalam atau keterampilan tentang keterampilan. Dengan kata lain, filsafat yang terbaik, sebagai keterampilan pemerolehan gagasan dan penemuan kebenaran di dalamnya, menyediakan pondasi bagi semua keterampilan lain. Inilah alasan sebenarnya mengapa setiap disiplin akademik memiliki “filsafat ...” yang melekat padanya. Di samping cabang-cabang pohon filsafat yang diperhatikan di Bagian Tiga ini—filsafat ilmu, filsafat moral, dan filsafat politik—kita dapat mengkaji filsafat agama, filsafat fisika (dan filsafat ilmu spesifik lainnya), filsafat seni (dan filsafat seni spesifik lainnya), filsafat pendidikan—dan seterusnya. Bahwa keterampilan berfilsafat merupakan pondasi semua keterampilan itu tercermin pada penegakan pendidikan kita oleh fakta bahwa orang yang menguasai disiplin akademik tertentu biasanya diberi gelar [Ph.D., yakni] “doktor filsafat”. Walaupun sebagian besar gelar doktoral pada aktualnya tidak mensyaratkan kandidat untuk mengkaji filsafat sebagaimana adanya, nama gelar tersebut benar-benar menyiratkan bahwa si wisudawan telah menguasai pondasi disiplinnya—dan sehingga semestinya, setidak-tidaknya pada prinsipnya, mampu berfilsafat mengenai disiplinnya. Akan tetapi, keterampilan pun yang biasanya tidak ada hubungannya dengan pendidikan perguruan tinggi bisa memiliki “filsafat ...”, seperti filsafat bermain-catur, filsafat memasak, filsafat berburu, dan lain-lain, sehingga tentu saja ada filsafat kehidupan, belum lagi filsafat kematian. Kedua topik ini, yang akan dibahas di Pekan XII, mengacu pada terutama keterampilan: yaitu mempelajari cara hidup, atau mempelajari cara mati. &lt;br /&gt;Bagaimana padangan tentang filsafat sebagai keterampilan ideal itu berkaitan dengan mitos dasar matakuliah ini? Dengan kata lain, jika filsafat itu seperti pohon, maka keterampilan berfilsafat akan kita sebut apa? Kita menggambarkan filsuf dengan cara bagaimana? Filsuf-filsuf menggarap filsafat dengan cara yang banyak menyerupai tukang kebun yang menggarap tanaman di taman: tepat seperti tukang kebun yang tidak menciptakan atau bahkan membangun tanaman, tetapi merawat sesuatu yang telah ada (umpamanya dalam bentuk benih), filsuf pun tidak (atau sekurang-kurangnya jangan) memandang tugasnya sebagai menemukan argumen yang dimulai dari nol atau sebagai membangun sistem dengan corak yang sedikit-banyak mekanis, tetapi sebagai merawat kenyataan yang telah ada (umpamanya dalam bentuk gagasan). Dengan mengingat hal ini, mari kita lihat lebih dekat mitos dasar matakuliah ini.&lt;br /&gt;Pohon filsafat yang saya sajikan di matakuliah ini cukup berbeda dengan yang dipaparkan oleh Descartes (lihat Gambar III.1). Pada faktanya, satu-satunya kesamaan dua analogi ini adalah bahwa keduanya mengasosiasikan metafisika dengan akar pohon (lihat Gambar VII.3). Tepat seperti akar pohon yang hampir seluruhnya terbenam di dalam tanah, pokok persoalan metafisika pun hampir seluruhnya tersembunyi dari tatapan keingintahuan benak kognitif kita. Karenanya, pelajaran asasi yang kita petik dari belajar metafisika adalah bahwa, sebagaimana tukang kebun yang akan mudah mematikan pohonnya bila senantiasa mencabut akar pohon itu untuk melihat bagaimana akar-akar tersebut tumbuh, filsuf-filsuf yang menolak untuk mengakui pentingnya kebebalan kita tentang kenyataan hakiki, dan yang justru mengklaim telah menjangkau pengetahuan yang pasti tentang kenyataan hakiki (atau tentang non-eksistensinya), pun akan mudah dengan ceroboh mematikan organisme yang mestinya mereka rawat.&lt;br /&gt;akal&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;ontologi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;ilmu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;wawasan&lt;br /&gt;logika&lt;br /&gt;filsuf&lt;br /&gt;ilmu baru?&lt;br /&gt;metafisika&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;tradisi&lt;br /&gt;Gambar VII.3: Pohon Filsafat&lt;br /&gt;Batang dan cabangnya, sebagaimana yang telah kita lihat, bagi kita bukan fisika dan ilmu-ilmu lain, melainkan logika dan ilmu (yang di sini [istilah] “ilmu” diambil dari makna aslinya yang mengacu pada segala “pengetahuan” yang bisa dibuktikan kebenarannya, bukan hanya pada tipe pengetahuan yang terpola pada metode-metode ilmu fisis). Tepat seperti semua cabang pohon yang tumbuh dari batang, semua pengetahuan (yakni sciens) kita bisa diungkapkan dalam kata-kata (yakni logoi). Kita bisa menambahkan bahwa kulit batang pohon itu seperti logika analitik, yang menunjukkan permukaan pelindung cara pikir kita, sedangkan inti pohon itu seperti logika sintetik, yang membawa kita kepada jantung dan kehidupan pikiran itu sendiri.&lt;br /&gt;Walaupun Descartes tidak membawa analogi pohonnya melampaui cabang-cabang, kita akan melihat di Bagian Empat bahwa daun-daun pohon bisa disamakan dengan bidang penyelidikan filsafat yang biasanya dikenal sebagai ontologi (“telaah tentang yang-berada”). Tepat seperti kebanyakan daun-daun pohon yang gugur setiap tahun dan tumbuhlah daun baru di musim semi dalam suatu daur kelahiran, pertumbuhan, kematian, dan kelahiran kembali yang sinambung, fenomena yang akan kita telaah di Bagian Empat pun sering sekejap dan sementara. Sekalipun begitu, sebagaimana daun pohon yang memberinya ciri khas, ciri khas manusia pun ditentukan oleh pengalaman-pengalaman seperti pengalaman keindahan, cinta, keagamaan, dan kematian. Malahan, tepat seperti daun-daun mati yang jatuh ke tanah dan kemudian terurai, dengan tujuan membentuk tanah yang memberi gizi akar-akar pohon, akumulasi generasi pengalaman manusia pun membentuk tradisi yang tidak bisa diabaikan tanpa bahaya, karena inilah yang menjadi landasan pertumbuhan pohon filsafat.&lt;br /&gt;Mari kita ambil mitos pohon filsafat ini selangkah lebih maju, dengan asumsi bahwa kita merawat pohon yang mengandung buah. Jika demikian, apa sifat buah ini? Saya menyarankan kita memandangnya sebagai titik-awal berbagai ilmu. Sejarah memberi tahu kita bahwa sebagian besar disiplin yang kini kita akui sebagai ilmu pernah dianggap sebagai cabang filsafat. Matematika, misalnya, bisa dilacak jejaknya pada filsuf Yunani kuno yang bernama Pitagoras (yang “teorema Pitagoras”-nya barangkali anda pelajari di sekolah). Beraneka-macam ilmu seperti fisika, biologi, psikologi, dan ilmu politik semuanya memiliki asal-usul dalam empirisisme filosofis Aristoteles. Kimia (chemistry) pun berkembang dari disiplin kuasi-filosofis, yakni kimia kuno (alchemy), yang di dalamnya orang-orang yang menyebut diri-sendiri “filsuf” mencoba mencari cara pengubahan berbagai bahan biasa menjadi emas. (Para kimiawan-kuno pun menganggap “arbor philosophicus” [3] sebagai simbol proses transformasi ini, walaupun versi pohon filsafat ini, sebagaimana yang diperikan oleh Carl Jung (dalam PSA 420; lihat juga Gambar 122, 131, 135, 188, 221, 231), sangat berbeda dengan yang diberlakukan di matakuliah ini.) Sosiologi dan Ilmu Ekonomi juga berawal dengan segi-segi sistem filosofis. Begitu pula ilmu-ilmu lainnya. Mengapa ilmu-ilmu itu sering muncul dengan cara ini? Pohon filsafat menyediakan jawaban yang masuk akal: cabang pohon ini melambangkan ilmu dalam arti khusus, yaitu cinta akan kealiman; di atasnya tumbuh berbagai jenis buah; bila satu buah semacam ini luruh ke tanah, membusuk, dan kemudian berakar, lahirlah ilmu yang spesifik. Kebetulan, inilah yang menjelaskan mengapa usaha untuk membuat filsafat itu sendiri menjadi ilmu lain adalah sangat sia-sia: pohon filsafat tak akan menjadi suatu ilmu karena ia induk semua ilmu! Tragedinya adalah bahwa pohon-pohon yang lebih muda ini, kendati terlindung sebagai pucuk muda yang lemah di bawah bayangan pohon filsafat, sering mengancam untuk mencekik induk mereka ketika mereka mencapai kedewasaan.&lt;br /&gt;Jika pohon-pohon baru yang tumbuh dari buah pohon filsafat adalah ilmu-ilmu spesifik, maka biji yang kita dapati di tengah-tengah setiap buah itu apa? Mungkin biji ini melambangkan gagasan atau wawasan kita. Saya yakin sebagian besar dari kita, kalau tidak kita semua, mempunyai banyak wawasan yang berharga sepanjang hayat kita. Masalahnya adalah bahwa kita biasanya lalai untuk mengakui nilainya ketika biji itu mendatangi kita, sehingga kita menyantap buah manis yang berupa opini, untuk memuaskan nafsu kita, tetapi mencampakkan biji pahitnya, walaupun pada akhirnya biji-biji itu bisa melahirkan pengetahuan. Wawasan harus ditanam, diairi, dan dirawat dengan perhatian kita terus-menerus jika hendak ditumbuhkan menjadi ide yang patut dipertimbangkan oleh orang lain, tidak cuma kita anut sendiri sebagai opini pribadi.&lt;br /&gt;Pembedaan antara pengetahuan dan opini ini perlu dipahami sebelum kita melakukan diskusi tentang ilmu dan cinta akan kealiman. Kant, pada halaman-halaman akhir Critique of Pure Reason, menyarankan cara pembedaan yang menarik perihal pembedaan antara pengetahuan, keyakinan, dan opini. Katanya, untuk mengklaim bahwa kita “mengetahui” sesuatu, kita harus memiliki kepastian obyektif (eksternal) dan sekaligus kepastian subyektif (internal). “Keyakinan” bisa mempunyai tingkat kepastian yang sekuat pengetahuan, namun kepastiannya hanya subyektif; jika saya merasa pasti akan sesuatu, meskipun fakta-fakta eksternal tidak memadai untuk mengemukakan bukti obyektif (yakni bukti yang memaksa orang lain setuju), maka dan hanya maka saya harus mengatakan “Saya yakin ...”. Sebaliknya, pada situasi yang di dalamnya saya tidak yakin baik secara obyektif maupun secara subyektif, saya harus mengakui bahwa saya sendiri berpegang pada suatu opini.&lt;br /&gt;Pembedaan Kant tersebut pada aktualnya didasarkan pada dua pertanyaan yang membentuk suatu 2LAR: (1) Apakah secara subyektif kebenaran p pasti? dan (2) Apakah secara obyektif kebenaran p pasti? Kant menjelaskan tiga situasi-bolehjadi yang timbul dari dua pertanyaan itu, tetapi ia tidak menunjukkan kemungkinan keempat. Barangkali ia menganggap sia-sia memikirkan proposisi yang secara obyektif pasti, namun secara subyektif tidak pasti. akan tetapi, saya pikir sebaiknya kita tidak terburu-buru menganggap hal ini sebagai 2LAR yang tidak sempurna. Bagaimana dengan mengabaikan? Tidakkah mengabaikan merupakan keadaan sesuatu yang secara subyektif tidak pasti yang pada lubuknya memiliki suatu jenis kepastian obyektif? Jika demikian, maka kita dapat memetakan empat keadaan kognitif itu pada salib 2LAR, seperti pada Gambar VII.4.&lt;br /&gt;                             mengetahui&lt;br /&gt;                        (kepastian subyektif,&lt;br /&gt;                         kepastian obyektif)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        mengabaikan                               menyatakan&lt;br /&gt;(ketidakpastian subyektif,                 (ketidakpastian subyektif,&lt;br /&gt;    kepastian obyektif)                     ketidakpastian obyektif)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                              meyakini&lt;br /&gt;                        (kepastian subyektif,&lt;br /&gt;                       ketidakpastian obyektif)&lt;br /&gt;Gambar VII.4: Empat Keadaan Kognitif&lt;br /&gt;Wawasan tak pernah merupakan opini belaka; wawasan lebih menyerupai tercetusnya sesuatu yang baru secara mendadak, suatu kesadaran akan pengetahuan potensial tentang sesuatu yang sebelumnya kita abaikan sepenuhnya. Dengan demikian, segera seusai kita akui kebebalan kita, filsafat menyeru kita agar memfokuskan perhatian kita menuju pengetahuan dan keyakinan dan menjauhi opini. Sebaliknya, ilmu selalu menuju pengetahuan saja, dalam arti kepastian yang bisa dibuktikan secara obyektif. Ilmuwan menelaah hubungan antara fenomena alamiah tertentu dengan mengamati struktur umumnya, dan upaya untuk menemukan pola-pola yang akhirnya mengarahkan kita ke pemahaman beberapa hukum alam yang dipatuhi oleh fenomena yang dibicarakan. Jika suatu fenomena selalu terlaksana dengan cara tertentu, maka aktivitasnya bisa diprediksi; dan tentu saja, salah satu daya tarik terbesar ilmu adalah bahwa, manakala ilmu benar-benar mencapai tujuan puncaknya yang berupa mapannya pengetahuan yang secara obyektif bisa dibuktikan kebenarannya, ilmu itu memungkinkan kita untuk mengetahui masa depan! Sebaliknya, filsafat ilmu tidak dimaksudkan untuk membangun pasal-pasal pengetahuan empiris yang tertentu, tetapi menelaah sifat dasar keseluruhan asumsi dan metode ilmu. Jadi, filsuf ilmu itu bukan mengetengahkan pertanyaan tentang fenomena tertentu, melainkan mengajukan pertanyaan semacam: Apakah ilmu itu? Metode ilmiah apa yang tepat? Yang menghasilkan keandalan ilmu itu apa? dan Apakah ilmu itu memberi kita pengetahuan tentang kenyataan yang bebas seluruhnya dari benak kita?&lt;br /&gt;Pada matakuliah ini kita tidak akan mampu menyelidiki pertanyaan-pertanyaan ini dengan sangat cermat. Contohnya, kita takkan bisa lebih mendalami pertanyaan terakhir daripada yang kita lakukan di Kuliah 8, yang di situ kita lihat bahwa Kant, sekurang-kurangnya, yakin bahwa semua pengetahuan ilmiah itu bergantung pada “kondisi apriori sintetik” yang ditimpakan oleh benak itu sendiri pada obyek-obyek dengan tujuan agar obyek-obyek itu bisa diketahui. Karena itu, aspek kritisisme metafisika ini berkaitan erat dengan filsafat ilmu. Pada kuliah mendatang kita akan melihat lebih dekat salah satu argumen Kant, mengenai pondasi filosofis keandalan ilmu, yang juga mempunyai implikasi bagi hakikat metode ilmiah yang tepat. Namun untuk sekarang saya hendak menambah sedikit komentar tentang hakikat ilmu itu sendiri.&lt;br /&gt;Terdapat suatu pandangan umum, yang populer terutama di kalangan ilmuwan dan mahasiswa sains, bahwa kebenaran segala hal harus bisa dibuktikan secara ilmiah. Pandangan ini sering disebut “saintisme”. Suatu pandangan serupa, yang disebut “naturalisme”, bahkan memandang lebih jauh lagi, dengan menyatakan bahwa segala hal yang ada itu [bersifat] material, tetap, dan mekanis. Dua pandangan ini sering berjalan seiring, karena penghuni bumi yang “alamiah” sepenuhnya (dalam ertian khusus ini) takkan bisa menemukan kebenaran dengan metode non-ilmiah apa pun. Sebagaimana yang akan kita saksikan di Kuliah 21, para ilmuwan harus mengasumsikan bahwa fenomena yang mereka kaji itu [bersifat] alamiah pada sesuatu yang menyerupai ertian ini, karena kalau tidak, pengetahuan obyektif mengenai hal itu mustahil diperoleh. Akan tetapi, [kalangan] naturalis mengambilnya selangkah lebih dalam dengan mengklaim bahwa tidak ada apa pun di luar alam yang bisa diamati oleh ilmuwan. Bahkan di ilmu-ilmu sosial, yang pengetahuan mapannya sering berupa pengetahuan mengenai opini dan keyakinan orang, kadang-kadang ada kecenderungan untuk menganggap bahwa pengetahuan obyektif ilmuwan itu entah-bagaimana bebas dari segala noda subyektivitas. Akan tetapi, seperti siratan Gambar VII.4, pengetahuan sejati selalu mempunyai unsur subyektif di samping unsur obyektif. Bahkan, gagasan bahwa kita bisa memiliki pengetahuan obyektif murni itu amat menyesatkan, karena keadaan semacam itu pada aktualnya menetapkan kebebalan, bukan pengetahuan! Kebebalan yang menyertai segala pandangan yang memutlakkan pengetahuan obyektif bisa dipandang sebagai, minimal, kebebalan akan sifat mitologis keyakinan subyektif yang membentuk pondasi pokok pandangan-pandangan semacam itu.&lt;br /&gt;Gagasan utama yang ingin saya ajukan mengenai pandangan-pandangan seperti saintisme dan naturalisme adalah bahwa, berlawanan dengan asumsi banyak orang yang menganut pandangan-pandangan semacam itu, keduanya bukan bagian dari ilmu, bukan pula diwajibkan oleh hakikat ilmu; alih-alih, keduanya adalah filsafat ilmu. Saintisme adalah, atau mestinya dianggap sebagai, teori epistemologis, sedangkan naturalisme sebagai teori metafisis. Sekalipun begitu, dalam banyak hal, keduanya lebih merupakan hasil dari prasangka yang berat sebelah, suatu ketidakmampuan untuk melihat segala sesuatu dari lebih dari satu sudut pandang, daripada sebagai pondasi filosofis yang beralasan bagi ilmu. Faktanya adalah bahwa filsuf-ilmu lain mengakui bahwa dunia kita terdiri dari lebih dari sekadar materi yang ditentukan secara mekanis, bahwa ilmu adalah salah satu cara penemuan kebenaran yang sah, dan bahwa pandangan-pandangan tentang ilmu ini menyediakan pondasi yang baik untuk penelitian ilmiah di samping alternatif-alternatif yang lebih cenderung-sempit. Begitu kita sadari bahwa kebenaran mutlak itu tidak ada hubungannya dengan ilmu itu sendiri, ada banyak kekuatan yang tersingkir dari filsafat, seperti saintisme dan naturalisme.&lt;br /&gt;Perbedaan antara ilmu dan filsafat ilmu itu melukiskan bagaimana disiplin-disiplin filsafat terapan berkaitan dengan jenis kealiman yang dibahas di Bagian Tiga ini. Di sini kita telah sampai pada memandang “kealiman” dalam ertian umum, seperti yang mengacu pada aktivitas yang ditujukan untuk mengetahui bagaimana memutuskan mana yang nyata mana yang tidak; atau mengetahui di mana penempatan tapal batas antara pengetahuan dan kebebalan. Dengan kata lain, mencintai kealiman itu mensyaratkan kita untuk sampai tahu apa yang bisa kita sebut Jalan ilmu, bukan untuk menghimpun fakta ilmiah sebanyak mungkin. Sesungguhnya, gagasan ini oun tersirat dalam salah satu definisi “kealiman”, yang paling umum yaitu “mengetahui bagaimana menggunakan pengetahuan (scientia) kita”.&lt;br /&gt;Salah satu masalah yang timbul adalah bahwa filsafat terapan, yang terkait dengan cinta akan kealiman menurut pemahaman dengan cara tersebut, mungkin dianggap sia-sia oleh sebagian orang. Aduan seperti yang berikut ini, pada faktanya, diangkat oleh sebagian mahasiswa saya terdahulu: “Mengapa kita menelaah ‘filsafat sesuatu’ bila kita bisa menelaah sesuatu itu sendiri?” “Fakta-fakta ilmiah memungkinkan kita untuk menciptakan segala jenis kemajuan teknologi; namun perkembangan teknologi apa di masyarakat kita yang pernah dihasilkan oleh filsafat ilmu?” “Menelaah ‘cara’ misterius ini menghambur-hamburkan waktu, bila kita bisa menggunakan waktu kita yang berharga untuk mengkaji sesuatu yang pada kenyataannya bermanfaat!”&lt;br /&gt;Chuang Tzu, filsuf Cina kuno yang gagasannya kita jumpai sehubungan dengan pembahasan kita tentang logika sintetik, ialah jawara “Jalan” (yang dalam bahasa Cina disebut “Tao” atau “Dao”). Seperti yang mungkin kita duga, ia benar-benar sadar akan tuduhan bahwa penelaahan tentang Jalan ini sia-sia. Pada beberapa kesempatan, tanggapannya adalah menunjukkan bahwa pohon yang kita kira “berguna” mungkin memiliki kehidupan yang singkat. Jika kayunya sangat keras, kita ingin menggunakannya untuk membangun sesuatu. Jika kayunya sangat lunak, kita ingin memakainya untuk memahat sesuatu. Jika kayunya beraroma harum, kita ingin memanfaatkannya untuk membuat hiasan dekoratif. Namun jika pohon itu tidak berguna, kita lebih cenderung membiarkannya. Dari hal ini ia menyimpulkan bahwa kesia-siaan bisa sangat berguna: pohon yang tampaknya “tidak berguna” lebih berkemungkinan untuk hidup lama! Penerapan logika sintetik ini mungkin bukan cara yang paling persuasif untuk membela manfaat pohon filsafat; namun cara ini bukan tanpa kelebihan, karena ini menunjukkan bahwa kita harus meninjau kembali asumsi umum kita mengenai apa yang kita anggap “berguna”.&lt;br /&gt;Menurut Wittgenstein, filsafat berfaedah hanya bagi orang-orang yang terusik dengan sejenis “kram mental” tertentu, dan tugasnya selaku filsuf adalah bertindak sebagai “pemijat” yang harus meredakan kram itu. Karena terutama, kalau bukan hanya, filsuflah yang menderita kram ini, ia memandang tugasnya adalah membantu filsuf-filsuf dalam menghindari kejatuhan yang menuju cara pikir yang sia-sia. Akan tetapi, begitu kita akui bahwa orang awam juga cenderung menerapkan pengetahuan dengan cara yang sia-sia, manfaat menelaah filsafat bisa lebih dihargai sepenuhnya.&lt;br /&gt;Sesungguhnya, ketidakmampuan kita untuk memanfaatkan kealiman dalam pengertian instrumental—umpamanya, seperti pemakaian garpu dan pisau, atau sumpit, untuk makan—itulah yang memungkinkannya untuk berfungsi sebagai pondasi bagi semua yang berguna. Mengetahui belaka tapal batas antara pengetahuan dan kebebalan barangkali tidak memungkinkan kita untuk membangun sejenis roket baru untuk menjelajahi alam semesta dengan lebih cepat, tidak pula menjamin bahwa secara otomatis kita melakukan hal-hal yang benar bila kita berada dalam keadaan yang secara moral sulit, tidak pula memberdayakan kita untuk menciptakan perdamaian antara pemimpin-pemimpin dua bangsa yang berperang. Namun ini akan memungkinkan kita untuk melihat dengan lebih gamblang perbedaan antara penerapan yang penuh makna dan yang kurang bermakna perihal jenis pengetahuan ini dan sebagainya. Karenanya, kita dapat menggunakan pengetahuan filosofis untuk membantu orang-orang yang terlibat dalam kegiatan kemanusiaan agar tidak menggunakan kecakapan teknologis, atau penalaran moral mereka, atau kekuatan politis mereka, dengan cara yang tidak-rasional, destruktif, atau pun yang menghancurkan-diri.&lt;br /&gt;21. Kausalitas dan Tapal Batas Ilmu&lt;br /&gt;Saat ini kita akan melihat dengan lebih dekat salah satu persoalan mendasar dalam filsafat ilmu: keandalan induksi sebagai alat pemerolehan pengetahuan. Namun pertama-tama, mari kita arahkan perhatian kita kepada pertanyaan yang perlu kalian pikirkan selama beberapa pekan mendatang, walau ini tidak langsung berkaitan dengan filsafat ilmu. Pertanyaannya, yang dikutip oleh Kierkegaard (dalam CUP 97) dari Lessing (1729-1781), adalah:&lt;br /&gt;If God had all truth in his right hand &lt;br /&gt;and the lifelong search for truth in his left, &lt;br /&gt;which hand would you choose?&lt;br /&gt;(Jika Tuhan meletakkan seluruh kebenaran di tangan kanan-Nya&lt;br /&gt;dan pencarian kebenaran sepanjang hayat di tangan kiri-Nya,&lt;br /&gt;tangan mana yang akan anda pilih?)&lt;br /&gt;Dalam kuliah terdahulu, kira-kira pada waktu itu saya pikir kalian akan melupakan permintaan saya agar kalian merenungkan pertanyaan sulit ini; saya akan mengetengahkan beberapa saran tentang bagaimana mestinya tanggapan kita yang saya yakini.&lt;br /&gt;Ingatkah kalian akan bahasan kita di Kuliah 11 tentang metode argumen yang analitik dan sintetik? Pada saat itu kita membandingkan perbedaan antara deduksi (metode yang berawal dengan dua premis atau lebih dan menarik simpulannya yang niscaya) dan induksi (metode yang berawal dengan penghimpunan bukti dari observasi dan dari sini menggeneralisasikannya untuk membentuk simpulan yang bolehjadi). Ada banyak ilmuwan, sejak kelahiran ilmu hingga sekarang ini, yang berasumsi bahwa tugas mereka mensyaratkan observasi yang cermat lebih dari argumentasi yang ketat, sehingga cara yang tepat untuk berilmu adalah berjalan di jalur induksi. Masalah yang terangkat adalah bahwa para ilmuwan hampir selalu memandang tugas mereka sebagai pencarian fakta, dan mereka biasanya menganggap bahwa begitu “fakta” diperagakan, konon hal itu pasti benar; padahal, seperti yang kita lihat di Kuliah 11, induksi sendirian tidak bisa memberi pengetahuan yang sepasti itu, karena sedikit-banyak selalu bergantung pada dugaan. Pemecahan masalah ini merupakan hal terpenting bagi filsafat ilmu karena tampaknya mempersoalkan salah satu keyakinan kita yang paling mendasar mengenai pengetahuan ilmiah: bahwa fakta-fakta ilmiah adalah andal dan bisa dipercaya, karena para ilmuwan telah membuktikan bahwa [fakta-fakta] itu pasti benar.&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan ilmuwan yang secara filosofis memikirkan “problem induksi” yang mereka hadapi, solusinya adalah asumsi bahwa fenomena yang mereka amati itu entah-bagaimana terikat bersamaan melalui hubungan yang niscaya. Ini berarti pentingnya fakta-fakta ilmiah tidak berasal dari struktur logis metode ilmiah, tetapi dari suatu hukum di dalam fenomena itu sendiri. Adapun hukum alamiah yang paling dasar, yang mengatur semua hukum lain yang lebih spesifik mengenai bagaimana fenomena berinteraksi, adalah bahwa efek apa pun yang kita amati di alam itu niscaya ditentukan oleh suatu sebab yang mendahuluinya. Hal penting yang harus dipahami tentang solusi ini adalah bahwa penggunaan hukum sebab-akibat-niscaya itu merupakan asumsi filosofis, bukan sesuatu yang didasarkan pada bukti ilmiah apa pun. Bahkan, kita bisa menyebutnya “mitos” yang melandasi kebanyakan ilmu modern. Di abad keduapuluh ada sebagian ilmuwan, kebanyakan di antara mereka ialah fisikawan, yang menyatakan menolak mitos ini, atas dasar bahwa pada tingkat sub-atomik peristiwa-peristiwa “terjadi begitu saja”: jalur elektron, misalnya, diyakini acak sepenuhnya, dan dengan demikian tak bisa diprediksi pada suatu titik waktu tertentu, sehingga hanya “probabilitas” jalur yang ada itu yang bisa diketahui lebih dahulu. Akan tetapi, para ilmuwan lain yakin bahwa penjelasan semacam itu, di samping sebagai cara penghitungan pergerakan partikel-partikel sub-atomik yang misterius, merupakan pengakuan belaka bahwa para fisikawan telah sampai pada tujuan ilmu mereka. Memang, seolah-olah mereka “membenturkan kepala mereka” pada tapal batas terluar ilmu itu sendiri.&lt;br /&gt;Jika para fisikawan pada kenyataanya telah mencapai tapal batas alam fisis, maka asumsi bahwa peristiwa-peristiwa sub-atomik tidak bersebab itu sama mitologisnya dengan asumsi yang lebih tradisional bahwa semua peristiwa memiliki sebab. Dalam hal ini para ilmuwan mesti mengakui bahwa perdebatan tentang asumsi mana yang berfungsi sebagai mitos yang lebih baik untuk membangun ilmu itu terutama merupakan perdebatan filosofis, yang tak terjawab oleh observasi ilmiah melulu. Secara demikian, sekarang saya hendak memperkenalkan kepada kalian dua cara penanganan filsuf-filsuf terhadap persoalan tentang hubungan-niscaya yang acapkali diyakini memberi keandalan kepada pengetahuan induktif. Salah satunya datang dari keragu-raguan yang diangkat oleh David Hume (1711-1776), dan yang lain datang dari upaya Kant yang berpengaruh untuk membuktikan kesalahan pandangan Hume.&lt;br /&gt;Hume ialah filsuf Skotlandia yang sepenuhnya membela metode filsofis yang disebut “skeptisisme”. Para skpetis mempersoalkan keandalan pengetahuan kita (di bidang ilmu, moralitas, estetika, atau segala bidang lain yang di dalamnya orang-orang mengklaim kepememilikan pengetahuan), biasanya dengan menunjukkan bahwa pondasi (atau akar) pengetahuan itu tidak memadai atau tidak ada. Hume mempersoalkan banyak jenis pengetahuan, membela alternatif skeptisnya dengan beberapa argumen yang persuasif. Landasan semua argumennya adalah asumsi bahwa kebenaran bisa dicapai hanya melalui dua cara yang sah (bandingkan Gambar IV.4): melalui penalaran matematis (yakni deduksi, yang menghasilkan sesuatu yang kemudian oleh Kant disebut pengetahuan apriori analitik) dan melalui observasi empiris (yakni induksi, yang menghasilkan pengetahuan aposteriori sintetik). Dengan menggunakan asumsi ini, yang kadang-kadang disebut “garpu Hume”, ia berupaya menemukan dan membuang segala klaim pengetahuan yang tidak bersandar pada gagasan (pikiran) yang didasarkan pada logika atau kesan (perasaan) yang didasarkan pada indera. Dengan demikian, bukunya, An Enquiry Concerning Human Understanding (1748), menyimpulkan:&lt;br /&gt;When we run over libraries, persuaded of these principles, what havoc must we make? If we take in our hand any volume--of divinity or school metaphysics, for instance--let us ask, Does it contain any abstract reasoning concerning quantity or number? No. Does it contain any experimental reasoning concerning matter of fact and existence? No. Commit it then to the flames, for it can contain nothing but sophistry and illusion. (EHU §XII, Part III)&lt;br /&gt;(Kala kita kunjungi perpustakaan, terbujuk akan prinsip-prinsip ini, apa yang harus kita perbuat? Bila kita ambil dengan tangan kita buku apa saja—tentang metafisika haluan atau ilahi, misalnya—mari kita bertanya, Apakah itu mengandung penalaran abstrak mengenai kuantitas atau bilangan? Tidak. Apakah itu mengandung penalaran eksperimental mengenai materi fakta dan keberadaan? Tidak. Maka buanglah [buku] itu ke nyala api, karena tidak berisi apa-apa selain penyesatan dan khayalan.) (EHU §XII, Bagian III)&lt;br /&gt;Ketika sampai pada pengetahuan ilmiah, Hume menggunakan “garpu” ini tidak untuk menyangkal kesahihan semua pengetahuan sama sekali, tetapi untuk menyatakan bahwa kelirulah perkiraan bahwa pengetahuan semacam itu memberi kita pintu masuk menuju kebenaran-niscaya. Kita tidak bisa mengamati hukum semacam itu, dan kita tidak bisa membuktikannya dengan penalaran deduktif; jadi, itu pasti tidak benar! Ia mengungkapkan argumennya dengan beragam cara. Umpamanya, ketika membahas kemungkinan bahwa kehendak manusia bisa memberi kita pintu masuk ke hukum semacam itu, ia bernalar:&lt;br /&gt;Why has the will an influence over the tongue and fingers, not over the heart and liver? This question would never embarrass us, were we conscious of a power in the former case, not in the latter. We should then perceive, independent of experience, why the authority of will over the organs of the body is circumscribed within such particular limits. Being in that case fully acquainted with the power or force ... we should also know, why its influence reaches precisely to such boundaries, and no farther. (EHU §VII, Part I, my italics)&lt;br /&gt;(Mengapa kehendak itu mempunyai pengaruh pada mulut dan jari, bukan pada jantung dan hati? Pertanyaan ini tak akan membingungkan kita, bila kita sadar akan kekuatan pada kasus terdahulu, tidak pada yang terkemudian. Maka kita harus mencerap, bebas dari pengalaman, mengapa wewenang kehendak pada organ tubuh dibatasi di dalam batas-batas khusus semacam itu. Dalam kasus yang sepenuhnya terpahami dengan kekuasaan atau kekuatan ... kita harus tahu pula, mengapa pengaruhnya menjangkau tapal batas semacam itu dengan tepat, tidak lebih.) (EHU §VII, Bagian I, pemiringan huruf [merupakan tambahan] dari saya)&lt;br /&gt;Di sini Hume mengakui bahwa pencarian hubungan-niscaya adalah pencarian tapal batas, di luar pengalaman awam, yang akan memberi kita kesadaran akan mengapa hal-hal terhubung sedemikian adanya. Namun kemudian ia menolak kemungkinan semacam itu, atas dasar berikut ini:&lt;br /&gt;... consciousness never deceives. Consequently, neither in the one case nor in the other are we ever conscious of any power. We learn the influence of our will from experience alone. And experience only teaches us, how one event constantly follows another; without instructing us in the secret connection, which binds them together, and renders them inseparable.&lt;br /&gt;(... kesadaran tak pernah mengecoh. Akibatnya, dalam hal apa pun tak pernah kita sadar akan kekuasaan apa pun. Kita mempelajari pengaruh kehendak kita dari pengalaman saja. Adapun pengalaman hanya mengajar kita, bagaimana suatu peristiwa senantiasa mengikuti yang lain; tanpa menyuruh kita dengan hubungan rahasia, yang mengikatnya bersama-sama, dan menyebabkan [peristiwa-peristiwa] itu tak terpisahkan.)&lt;br /&gt;Argumen Hume di sini adalah bahwa untuk memahami alasan bekerjanya kehendak manusia sebagaimana adanya, kita harus sadar akan suatu daya atau kekuasaan yang melandasi dan menentukan pengalaman kita. Namun pada faktanya kita tidak sadar akan apa-apa selain pengalaman kita sendiri; kita bahkan tak pernah memiliki kilasan suatu daya yang tersembunyi semacam itu. Kita sampai pada keyakinan akan ide-ide semacam itu melalui penyalinan kesan-kesan dari indera kita dan “pengasosiasian” ide-ide yang dihasilkan satu sama lain. Salah satu contoh sederhananya adalah bahwa kita bisa membangun ide khayalan berupa “gunung emas” melalui penyalinan kesan-kesan absah yang kita miliki tentang emas dan gunung (EHU §II). Masalahnya adalah bahwa sebagian dari keyakinan kita yang paling terpercaya tampaknya berlandasan lemah (§VII, Bagian II):&lt;br /&gt;.. upon the whole, there appears not, throughout all nature, any one instance of [necessary] connection which is conceivable by us. All events seem entirely loose and separate. One event follows another; but we never can observe any tie between them. They seem conjoined; but never connected. And as we can have no idea of anything which never appeared to our outward sense or inward sentiment, the necessary conclusion seems to be that we have no idea of connection or power at all, and that these words are absolutely without any meaning, when employed either in philosophical reasonings or common life.&lt;br /&gt;(... pada keseluruhannya, semua sifatnya keseluruhannya, tampaknya tiada satu pun contoh hubungan[-niscaya] yang tertangkap oleh pikiran kita. Semua peristiwa tampaknya lepas dan terpisah sama sekali. Sebuah peristiwa mengikuti peristiwa lainnya; namun kita tak pernah bisa mengamati ikatan apa pun antara keduanya. Keduanya tampaknya tergabung; namun tak pernah terhubung. Dan sebagaimana kita tak bisa berpandangan tentang sesuatu yang tak pernah tampak pada indera-luar kita atau perasaan-dalam kita, simpulan niscayanya tampaknya adalah bahwa kita tak punya ide tentang hubungan atau daya sama sekali, dan bahwa kata-kata tersebut pasti tanpa makna, bila diterapkan pada penalaran filosofis atau pun pada kehidupan biasa.)&lt;br /&gt;Jika ide hubungan-niscaya sungguh-sungguh “tanpa makna”, maka hal ini tampaknya merupakan masalah yang tak teratasi bagi yang berpandangan bahwa untuk memantapkan fakta-fakta ilmiah metode induktif memadai. Cara pengikisan pondasi hal-hal yang sebelumnya dianggap pengetahuan ini merupakan metode skeptis yang khas dalam filsafat.&lt;br /&gt;Skeptisisme Hume mengenai pandangan umum bahwa ada hubungan-niscaya antara sebab dan akibat mengangkat secara tersirat dua tantangan, yang satu lebih tertuju pada ilmuwan, dan yang lain lebih tertuju pada filsuf. Kalau Hume benar, idenya itu menantang ilmuwan untuk memilih antara dua alternatif: mendapatkan metode ilmiah yang lebih cocok daripada induksi atau, kalau tidak, menghentikan gagasan bahwa ilmu bisa mencapai tujuan kepastian. Bahwa pilihan ini disiratkan oleh skeptisisme Hume mestinya cukup jelas, terutama bila kita lihat kembali Gambar IV.2b dengan mempertimbangkan argumen Hume sebagai berikut:&lt;br /&gt;                  Bukti                Bukti&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;celah           &lt;br /&gt;ketidak-             ide hubungan-niscaya&lt;br /&gt;pastian                 Simpulan Pasti&lt;br /&gt;Gambar VII.5: Ketidakpastian Pengetahuan Induktif&lt;br /&gt;Tentu saja, para filsuf-ilmu lebih sering menanggapi tantangan ini daripada para ilmuwan. Salah satu tanggapan menyiratkan bahwa Hume itu benar dalam menolak kepastian pengetahuan induktif, tetapi mengklaim bahwa pada faktanya, metode yang diikuti oleh ilmuwan terutama bukan induktif melainkan deduktif. Karl Popper, misalnya, mengemukakan bahwa pada aktualnya ilmuwan tidak berawal dengan observasi telanjang, tetapi dengan hipotesis yang berfungsi seperti premis deduksi. Ilmuwan mengasumsikan hipotesis ini, lalu mengujinya dengan mencoba “membuktikan kesalahan”-nya melalui berbagai eksperimen. Induksi saja takkan memungkinkan ilmuwan untuk mencapai simpulan faktual; namun deduksi dan induksi bersama-sama mampu melakukannya. Salah satu tangggapan lainnya sepakat dengan Hume saja, sehingga para ilmuwan tidak perlu memandang tugas mereka sebagai pencarian kepastian. Umpamanya, Paul Fayerabend mengemukakan bahwa, daripada mencari sebuah teori ilmiah yang sempurna, para filsuf dam ilmuwan lebih baik mendorong pengembangbiakan teori: semakin berbeda teori-teori ilmiah, semakin baik teoeri-teori itu—kendati tampaknya berlawanan satu sama lain. Filsuf-filsuf telah berupaya mengabsahkan ilmu dengan begitu banyak cara lain sehingga keterangan yang lebih penuh ada di luar ruang lingkup matakuliah ini.&lt;br /&gt;Tantangan filosofis yang lebih keras yang timbul dari skeptisisme Hume adalah mencari jalan untuk membela induksi dengan satu dari dua cara: [1] mengambil prinsip yang bukan hubungan-niscaya atau [2} menyerang argumen Hume dengan lebih terarah dan memperagakan bahwa bagaimanapun, ide hubungan-niscaya itu maknawi. Hume sendiri pada aktualnya memburu sesuatu yang menyerupai alternatif pertama. Ia mengakui bahwa suatu penjelasan harus diberikan terhadap rasa pengharapan kita bahwa hal-hal akan terjadi di masa mendatang seperti yang terjadi pada masa lampau. Secara demikian, ia mengemukakan bahwa perasaan ini, yang tampaknya menutup “celah” antara bukti dan simpulan dengan argumen induktif (lihat Gambar VII.5), pada aktualnya tidak lain merupakan hasil dari “kelaziman” atau “kebiasaan”:&lt;br /&gt;But there is nothing in a number of instances, different from every single instance, which is supposed to be exactly similar; except only, that after a repetition of similar instances, the mind is carried by habit, upon the appearance of one event, to expect its usual attendant, and to believe that it will exist. This connection, therefore, which we feel in the mind, this customary transition of the imagination from one object to its usual attendant, is the sentiment or impression from which we form the idea of power or necessary connection. Nothing farther is the case. Contemplate the subject on all sides; you will never find any other origin of that idea. (EHU §VII, Part II)&lt;br /&gt;(Namun di sejumlah contoh yang dikira sama persis, berbeda dengan setiap contoh secara sendiri-sendiri, tiada sesuatu selain bahwa selepas pengulangan contoh serupa pada tampilnya sebuah peristiwa, benak itu hanya terbawa oleh kebiasaan untuk menduga penyerta-lazimnya dan untuk meyakini bahwa [penyerta] ini akan ada. Karena itu, hubungan transisi imajinasi [secara] tradisional dari satu obyek ke penyerta-lazimnya yang kita rasakan di benak ini adalah sentimen atau kesan yang merupakan pangkal pembentukan ide kita tentang daya atau hubungan-niscaya. Tiada yang lebih daripada hal itu. Renungkanlah pokok-pembicaraan ini pada semua segi; takkan anda dapati sama sekali asal-usul ide tersebut.) (EHU §VII, Bagian II)&lt;br /&gt;Dengan kata lain, bilamana kita alami obyek-obyek dengan cara yang pasti, kita bayangkan bahwa cara ini niscaya, dan sehingga kita duga mengalaminya lagi dengan cara yang sama. Kita menduga, dan bahkan merasa “pasti” bahwa esok matahari akan terbit di timur, kendati tiada landasan faktual sama sekali bagi kepastian nyata, tetapi hanya bagi penimbangan kemungkinan berdasarkan kebiasaan yang kita kembangkan dari pengalaman masa lalu.&lt;br /&gt;Kita bisa membela jawaban Hume terhadap tantangannya sendiri dengan mencatat bahwa pada faktanya, beberapa orang tidak menduga matahari terbit di timur! Umpamanya, di kutub utara dan selatan ada waktu-waktu tertentu setiap tahun manakala matahari tak pernah terbit atau tak pernah tenggelam. Contohnya, sebetulnya saya lahir di Alaska barat-laut pada dini hari suatu musim panas. Ayah saya mengatakan bahwa ia berjalan ke rumah dari rumah sakit pada pukul 2 pagi itu, dengan menyaksikan matahari tenggelam di utara. Beberapa jam kemudian matahari itu terbit lagi, agak ke timur, tetapi masih di utara terutama. Jadi, contoh khas matahari yang terbit di timur juga melukiskan bahwa yang tampaknya merupakan simpulan yang masuk akal (“Matahari selalu terbit di timur”) pada aktualnya bisa beralih menjadi didasarkan pada kebiasaan kita dalam memandang alam dari perspektif pengalaman masa lalu kita yang terbatas. Baru tatkala kita dikejutkan oleh penemuan pengecualian yang tak terduga, kita menyadari pengaruh kebiasaan kita pada hal-hal yang kita yakini kebenarannya.&lt;br /&gt;Akan tetapi, Kant amat kecewa dengan cara penjelasan Hume tentang perasaan kita bahwa fenomena-fenomena saling berkaitan dengan cara yang niscaya. Karena itu, ia mengambil jalan kedua dalam menanggapi tantangan tersebut. Kant sepakat dengan Hume mengenai pentingnya pengakuan hubungan-niscaya sebagai tapal batas antara yang bisa dan yang tidak bisa diketahui oleh ilmu; namun ia menolak klaim Hume bahwa semua pengetahuan harus salah satu dari matematis dan observasional. Menurut Kant, tipe pengetahuan ketiga, yang disebut “transendental”, adalah sintetik dan sekaligus apriori—yaitu diungkap dengan proposisi yang niscaya benar, tetapi keniscayaannya ini tidak hanya berasal dari logika (lihat Kuliah 11). Alih-alih, tipe ini merupakan tipe khas pengetahuan filosofis. Siapa saja yang menerima garpu Hume dalam pengertiannya yang paling terbatas akan mendapati bahwa [garpu] tersebut akhirnya mengeluarkan filsafat itu sendiri dari alam pengetahuan yang laik diperhatikan! Namun bila kita akui bahwa garpu Hume berfungsi sebagai pondasi mitologis bagi sistemnya, kita akan bebas untuk menggantinya dengan mitos alternatif yang lebih tepat, seperti mitos “Copernican” Kant, bahwa benak itu menimpakan kondisi apriori sintetik tertentu pada obyek apa pun dalam proses menuju pengetahuan tentang obyek tersebut.&lt;br /&gt;Kant menanggapi skeptisisme Hume dengan beragam cara; namun tanggapannya yang paling berpengaruh muncul dalam teorinya tentang “prinsip-prinsip pemahaman murni”. Ia mengemukakan, prinsip-prinsip itu eksis di benak, namun menentukan corak pengalaman kita sebagaimana adanya. Salah satu prinsip yang dipertahankan oleh Kant dengan cara ini adalah sama dengan yang telah ditolak oleh Hume lantaran perasan belaka, yang didasarkan pada cara lazim penafsiran kita terhadap pengalaman masa lalu kita: ide hubungan-niscaya. Kant membela prinsip ini pada salah satu seksi dari Kritik pertamanya yang berjudul “Second Analogy”, dengan menyebutnya “prinsip rentetan waktu, sesuai dengan hukum kausalitas” (CPR 218). Prinsip ini menyatakan: “Semua perubahan berlangsung seirama dengan hukum hubungan sebab-akibat.” Ia mengetengahkan serangkaian argumen rumit yang saling berkaitan dalam mempertahankan prinsip ini—terlalu rumit bagi kita untuk diperiksa di sini. Namun demikian, kita bisa mendapatkan pandangan umum tentang bagaimana ia berargumen dengan mengutip sebuah paragraf dan memeriksanya dengan agak lebih rinci.&lt;br /&gt;Kant dan Hume keduanya setuju bahwa kita mempunyai pengalaman, tetapi mereka tidak sepakat atas siratan pengalaman subyektif kita mengenai alam obyektif. Hume mengemukakan bahwa pengalaman subyektif kita cuma “bundel persepsi”, yang sedikit atau tidak menyiratkan kenyataan obyektif. Adapun Kant mengemukakan bahwa “kita harus mengambil rentetan subyektif penangkapan dari rentetan obyektif penampakan”; kalau tidak, mustahil dijelaskan mengapa kita mencerap atau “menangkap” serangkaian peristiwa dalam urutan tertentu atau dalam sekelompok obyek yang berbeda satu sama lain (CPR 221). Dengan kata lain, pengalaman subyektif kita dimungkinkan hanya [jika berdasar] pada asumsi bahwa [pengalaman subyektif] itu “turun” ke suatu kenyataan obyektif. Dengan pikiran tersebut, Kant menyusun argumen berikut ini:&lt;br /&gt;If, then, we experience that something happens, we in so doing always presuppose that something precedes it, on which it follows according to a rule. Otherwise I should not say of the object that it follows. For mere succession in my apprehension [as in Hume&#39;s theory of &quot;habit&quot;], if there be no rule determining the succession in relation to something that precedes, does not justify me in assuming any succession in the object. I render my subjective synthesis of apprehension objective only by reference to a rule, in accordance with which the appearances in their succession, that is, as they happen, are determined by the preceding state. The experience of an event [i.e., of anything as happening] is itself possible only on this assumption. (223)&lt;br /&gt;(Maka, jika kita alami bahwa sesuatu terjadi, kita dalam melakukannya selalu memprakirakan bahwa sesuatu mendahuluinya, yang diikuti olehnya menurut suatu aturan. Kalau tidak, saya tidak bisa menebak obyek yang diikuti olehnya. [Ini] karena jika tiada aturan yang menentukan rentetan itu sehubungan dengan sesuatu yang mendahuluinya, [maka] rentetan belaka yang saya tangkap [sebagaimana dalam teori Hume tentang “kebiasaan”] tidak membuktikan kebenaran rentetan apa pun yang saya asumsikan di obyek tersebut. Saya hanya mengobyektifkan sintesis pemahaman subyektif saya dengan mengacu pada suatu aturan yang menyesuaikan rentetan penampakan-penampakan, sebagaimana terjadinya, menurut keadaan pendahulu. Pengalaman suatu peristiwa [yaitu terjadinya sesuatu] dimungkinkan hanya [jika berdasar] pada asumsi tersebut.) (223)&lt;br /&gt;Jika argumen Kant itu benar, maka prinsip bahwa ada hubungan-niscaya antara sebab dan akibat pasti benar, meskipun kita tidak bisa menggunakan observasi atau pun penalaran matematis untuk membuktikannya.&lt;br /&gt;Tipe argumen itu kemudian terkenal sebagai “argumen transendental”. Bentuk umum argumen semacam itu ialah:&lt;br /&gt;Supaya terjadi pengalaman, p pasti benar.&lt;br /&gt;Saya, sekurang-kurangnya, memiliki pengalaman.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, p pasti benar.&lt;br /&gt;Hume takkan menyangkal premis kedua; jadi, satu-satunya tangkisannya adalah premis pertama. Adakah sesuatu yang pada kenyataannya pasti benar supaya, bagi pengalaman kita, dimungkinkan sepenuhnya? Kalau begitu, maka kebenaran-kebenaran itu, secara bersama-sama, menetapkan garis tapal batas antara yang bisa dan yang tidak bisa diketahui. Bolehjadikah, misalnya, membayangkan sejenis pengalaman yang tidak menghajatkan kita untuk memprakirakan bahwa bagaimanapun kita ditentukan oleh sesuatu yang terjadi pada suatu waktu di masa lalu? Kant yakin bahwa dalam kasus semacam ini, klaim bahwa kita memiliki pengalaman apa pun tidak akan dibenarkan. “Pengalaman” di sini mengacu pada kesadaran akan “rentetan subyektif” dalam pencerapan kita; dan kalau tiada pula “rentetan obyektif”, maka tiada landasan untuk menangkap rentetan subyektif kita. Dengan kata lain, mendalihkan “kebiasaan” itu tidak relevan, karena tanpa rentetan obyektif sebagai basis bagi “kebiasaan” kita, kita juga tidak mungkin sadar akan kebiasaan-kebiasaan itu.&lt;br /&gt;Sebagian dari kalian barangkali agak bingung pada saat ini. Itu tidak mengejutkan, lantaran argumen-argumen yang kita ulas tersebut tergolong usulan yang paling sulit dari filsuf-filsuf. Para filsuf profesional yang menelaah Hume dan Kant sepanjang hayat mereka masih berdebat tentang bagaimanakah menafsirkan pandangan mereka dan yang manakah yang memberi paparan yang lebih baik tentang bagaimana sebenarnya dunia ini. Jadi, kita tak usah berharap untuk menempatkan pertanyaan tersebut secara definitif pada matakuliah pengantar! Namun bagaimanapun, dengan harapan menjernihkan hal-hal yang meliputi pandangan masing-masing dan, barangkali pada saat yang sama, membantu anda membulatkan tekad anda mengenai manakah yang lebih dekat dengan kebenaran, saya hendak melakukan sedikit “eksperimen-pikiran”.&lt;br /&gt;Bayangkanlah bahwa anda baru saja merampungkan semua kuliah anda seharian. Anggap saja anda tinggal di Shatin, seperti saya; maka, anda berjalan kaki menuju halte bus terdekat dan menunggu bus di sana. Sehabis beberapa menit saja, bus yang biasanya anda tumpangi tiba. Bus itu berpenumpang penuh; namun sopirnya, orang ramah yang telah anda kenal, menghentikan bus untuk memungkinkan anda naik. Kendati satu-satunya tempat bagi anda adalah berdiri dengan kikuk di samping si sopir, anda begitu mencintai filsafat sehingga anda segera membuka buku yang sekarang ini anda baca dari daftar Bacaan Anjuran, dan mulai membaca. Lalulintas tidak terlalu tersendat-sendat, sehingga sesudah satu atau dua menit saja bus itu memasuki terowongan Lion Rock Tunnel, pada jalur menuju Shatin. Anda hampir tidak memperhatikan hal ini, karena begitu asyik dalam berfilsafat. Lalu tiba-tiba anda merasa bus itu berhenti. Mula-mula anda terus membaca saja, dengan menganggap bahwa pasti ada kemacetan di lalulintas terowongan tersebut. Namun sesudah beberapa menit, anda mulai penasaran mengapa bus itu masih belum beranjak. Lantas anda berpaling dari buku anda untuk melihat kalau-kalau anda bisa mengetahui penyebab penangguhan. Anehnya, tidak ada kendaraan di depan bus; dan sopir bus itu masih duduk seperti sediakala, dengan tangannya di atas setir kemudi dan kakinya di atas pedal, seakan-akan ia masih mengemudi!&lt;br /&gt;Apa yang akan anda lakukan dalam kejadian semacam itu? Dugaan saya adalah bahwa, dengan adanya penangguhan yang cukup lama, akhirnya anda akan meminta sopir bus untuk menjelaskan mengapa ia menghentikan bus. Nah, mari kita bayangkan bahwa ia menjawab anda dengan mengatakan “Saya tidak menghentikan bus” (atau ungkapan serupa dalam bahasa Kanton). Barangkali anda akan menanggapinya dengan mengatakan “Kalau begitu, lebih baik anda mencari bantuan, karena bus ini pasti mengalami kerusakan mesin.” Namun sopir itu menukas: “Tidak, mesinnya berjalan dengan baik. Dengarlah!” Dengan cukup yakin, anda kemudian memperhatikan bahwa deru suara mesin itu sama biasanya dengan ketika bus melewati terowongan dengan kecepatan normal. Saya rasa anda akan agak kebingungan; namun sesaat kemudian, terutama bila anda akan terlambat untuk menghadiri perjamuan, anda akan kembali mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam: “Lantas, kalau anda tidak menghentikan bus, siapa yang melakukannya? Tuhan? Atau hantu?” Jika sopir itu lalu menjawab: “Tidak. Tentu saja tidak. Berapa kali harus saya katakan kepada anda, tiada yang menghentikan bus”, maka sebagian besar dari kita, saya kira, akan mengatakan, atau sekurang-kurangnya memikirkan, sesuatu seperti: “Lihat, tidak ada orang yang menghentikan bus ini dengan sengaja, tidak ada kerusakan mesin, padahal bus-bus tidak berhenti begitu saja tanpa alasan sama sekali!”&lt;br /&gt;Saya penasaran bagaimana tanggapan anda jika sopir bus itu menjawab klaim ini dengan menukas: “Ah! Anda hanya merasakan cara itu karena kebiasaan yang anda kembangkan selama bertahun-tahun tinggal di Hong Kong, mengira bahwa bus-bus tidak berhenti di terowongan berpolusi bila tiada alasan. Pada kenyataannya, bus-bus itu dapat dan memang beberapa kali berhenti tanpa alasan; hanya saja inilah pertama kalinya anda mengalami suatu pengecualian terhadap ekspektasi lazim anda.” Jika kemudian sopir itu berpaling dan duduk kembali dalam posisi mengemudi, seolah-olah tidak ada yang aneh, saya kira sebagian besar dari kita akan mencoba keluar dari bus itu secepat mungkin! Mengapa? Kita semua akan menganggap sopir ini bercanda secara sangat konyol (atau mungkin berbahaya) dengan penumpangnya, atau menganggapnya gila!&lt;br /&gt;Kita semua (bahkan juga para fisikawan yang yakin bahwa tiada sebab di belakang pergerakan partikel-partikel sub-atomik) biasanya mengasumsikan bahwa apa saja yang kita lihat dan alami dalam kehidupan kita sehari-hari disebabkan oleh sesuatu. Keajaiban pun merupakan peristiwa yang disebabkan, karena ini merupakan peristiwa yang diyakini disebabkan oleh Tuhan. Begitu pula, orang-orang yang hidup di dalam suku-suku primitif menganggap secara alamiah bahwa apa saja yang terjadi merupakan kejadian yang disebabkan, barangkali oleh suatu roh atau dewa. Jika kita tidak membuat sejenis asumsi kausal, kita tidak akan mampu berfungsi di masyarakat manusia mana pun. Kalau pandangan Kant benar, kita juga tidak mampu untuk menyadari pengalaman subyektif kita sendiri. Namun perlu dipahami bahwa prinsip Kant itu transendental, sedangkan “kebiasaan” Hume empiris. Itu berarti dua pandangan tersebut bukan niscaya tidak serasi, asalkan kita menolak prasangka sempit tentang garpu Hume. Pada akktualnya Hume benar manakala ia mengatakan tiada jalan untuk mengamati atau menghitung jalan kita menuju suatu pemahaman tentang hubungan-niscaya. Argumen Kant menunjukkan bahwa kekeliruan Hume ialah mengabaikan garis tapal batas transendental antara keduanya, lantaran itulah rumah hubungan-niscaya yang sejati, dan begitu pula pengabsahan terbaik yang bisa ditilik oleh ilmuwan tatkala mempertahankan penggunaan metode induktifnya.&lt;br /&gt;Walau anda tidak teryakinkan oleh argumen-argumen Kant, atau oleh eksperimen-pikiran tadi, untuk mempercayai bahwa prinsip kausalitas, atau hubungan-niscaya, merupakan syarat transendental untuk memungkinkan pengalaman, saya harap anda akan setuju mulai sekarang bahwa pandangan semisal pandangan Hume, sendirian, merongrong kebolehjadian ilmu. Bisa-bisa tiada fakta obyektif bila segala sesuatu bergantung pada kebiasaan subyektif kita sendiri. Saya kira sebagian besar dari kalian bisajadi setuju bahwa kebiasaan belaka belum cukup baik. Ada sesuatu yang mutlak mengenai ide kita tentang hubungan-niscaya antara sebab dan akibat, sesuatu yang tampaknya hampir tak tertanyakan! Kebetulan, fakta bahwa Hume tidak menyetujuinya itu tidak membuktikan bahwa ide tersebut “relatif”; teori Hume bisa tidak benar!&lt;br /&gt;Di sisi lain, jika kita terima argumen Kant dan menganggap segala hal yang terjadi ditentukan oleh sesuatu yang terjadi sebelumnya, muncul masalah baru: Bagaimana kita bisa menjelaskan perasaan kita, manusia, bahwa kita bebas? Jika segala sesuatu di alam ini ditentukan, apakah ini berarti kita harus mencampakkan keyakinan kita kepada kebebasan manusia? Itu akan menimbulkan masalah besar dengan adanya pertalian yang erat antara kebebasan dan kealiman (lihat Kuliah 19). Di sini filsafat ilmu langsung menghadapi salah satu pertanyaan inti pada cabang filsafat terapan yang akan kita panjat di kuliah mendatang, cabang filsafat moral. Di situ akan kita dapati sejauh mana pencarian kita terhadap kealiman bisa menyebabkan kita menerima determinisme ilmu dan sekaligus kebebasan tindakan moral.&lt;br /&gt;Bacaan Anjuran&lt;br /&gt;1. 1.     Richard Bach, Jonathan Livingston Seagull (JLS).&lt;br /&gt;2. 2.     Daniel N. Robinson, “Wisdom through Ages”, Bab 2 dalam Robert J. Sternberg (ed.), Wisdom: Its nature, origin, and development (New York: Cambridge University Press, 1990), pp. 13-24.&lt;br /&gt;3. 3.     Jostein Gaarder, Sophie’s World, terj. P. Møller (New York: Farrar, Strauss &amp; Giroux, Inc., 1994[1991]). [4]&lt;br /&gt;4. 4.     John Losee, A Historical Introduction to the Philosophy of Science (Oxford: Oxford University Press, 1980).&lt;br /&gt;5. 5.     David Hume, An Enquiry Concerning Human Understanding, §VII, “On the Idea of Necessary Connection” (EHU 62-85). [5]&lt;br /&gt;6. 6.     Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, “Second Analogy” (CPR 218-233). [6]&lt;br /&gt;7. 7.     Karl Popper, The Logic of Scientific Discovery (London: Hutchinson, 1972).&lt;br /&gt;8. 8.     Paul Feyerabend, Against Method: Outline of an anarchistic theory of knowledge (London: Verso, 1978).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2006/12/filsafat-ilmu-apakah-kealiman-itu-saya.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-116577846950596143</guid><pubDate>Sun, 10 Dec 2006 19:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-23T01:45:39.413+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Filsafat</category><title>Filsafat Ilmu</title><description>FILSAFAT ILMU DALAM PERSPEKTIF QUR’AN&lt;br /&gt;(Tafsir Ulang Epistemologi)&lt;br /&gt;Yusra Marasabessy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al Qur’an  terdapat kata-kata tentang ilmu  dalam berbagai bentuk (‘ilma, ‘ilmi, ‘ilmu, ‘ilman, ‘ilmihi, ‘ilmuha, ‘ilmuhum) terulang sebanyak 99 kali, (Ali Audah, 1997: 278-279). Delapan bentuk ilmu tersebut di atas dalam terjemah Al Qur’an Departemen Agama RI, cetakan Madinah Munawwarah (1990), diartikan dengan: pengetahuan, ilmu, ilmu pengetahuan, kepintaran dan keyakinan. Sedangkan kata ‘ilmu itu sendiri berasal dari bahasa Arab ‘alima = mengetahui, mengerti. Maknanya, seseorang dianggap mengerti karena sudah mengertahui obyek atau fakta lewat pendengaran, penglihatan dan hatinya.&lt;br /&gt;Kata ilmu dalam .....&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;pengertian teknis operasional ialah  kesadaran tentang realitas. Pengertian ini didapat dari makna-makna ayat yang ada di dalam Al Qur’an. Orang yang memiliki kesadaran tentang realitas lewat pendengaran, penglihatan dan hati akan berfikir rasional dalam menggapai kebenaran (QS. 17 : 36).&lt;br /&gt;&quot;Pengetahuan (‘ilm) boleh merupakan suatu persepsi terhadap esensi segala sesuatu, mahiyat &quot;suatu bentuk persepsi yang bersahaja yang tidak disertai oleh hukum atau boleh merupakan oppersepsi; yaitu hukum bahwa sesuatu hal adalah hal itu&quot; (Ibn Khaldun, 2000: 669).&lt;br /&gt;&quot;Ilmu itu harus dinilai dengan konkrit. Hanya  kekuatan intelektual   yang menguasai yang konkritlah yang kana memberi kemungkinan kecerdasan manusia itu melampaui yang konkrit&quot; (Muhammad Iqbal, 1966, 129).&lt;br /&gt; Menyimak dari pandangan Ibn Khaldun dan Iqbal tentang ilmu, dapat ditarik satu garis lurus bahwa ilmu atau realitas kebenaran akan hadir secara utuh dalam persepsi individu, walaupun dalam pemahaman bisa berbeda atas suatu realitas atau obyek. Kehadiran secara utuh dari suatu obyek terhadap subyek adalah suatu realitas yang tak bisa dielakkan. Inilah yang oleh Iqbal dikatakan bahwa ilmu itu harus dinilai dengan konkrit, yakni ilmu harus bisa terukur kebenarannya.&lt;br /&gt;SUMBER ILMU&lt;br /&gt;Jika ilmu diistilahkan sebagai kesadaran tentang realitas, maka realitas yang paling utama ketika manusia itu lahir adalah alam semesta (mikro kosmos dan makro kosmos). Di alam inilah manusia mulai mendengar, melihat dan merasakan obyek-obyek yang dialaminya berupa suara, bentuk dan perasaan. Alam ini merupakan satu titik kesadaran awal  untuk mengenal realitas terutama diri sendiri. Setelah manusia mengalami kedewasaan dan sempurna akalnya, maka ia mulai berpikir tentang  metarealitas, yakni   suatu kekuatan supernatural yang ikut bermain dan sibuk mengurus proses-proses penciptaan dari tiada menjadi ada, dari ada menjadi tiada. Atau dari mati menjadi hidup, kemudian dari hidup menjadi mati (QS.2: 28).&lt;br /&gt;Kehadiran alam fisika sebagai realitas menjadi jembatan untuk melihat sesuatu yang bersifat metafisika yakni Yang Ada di balik fisik dan ciptaan-ciptaan itu. Keragaman alam semesta yang tak terhingga oleh manusia merupakan kenyataan-kenyataan yang tak bisa ditolak begitu saja tanpa argumentasi yang logis, yang berangkat dari kesadaran tentang realitas yang diperoleh dari pendengaran, penglihatan dan hati.&lt;br /&gt;Dengan demikian manusia akan menyadari dengan sendirinya tentang kehariran alam semesta sebagai realitas fisika dan kehadiran Allah SWT sebagai realitas metafisika. Alam fisika sebagai realitas terbuka, sedangkan alam metafisika sebagai realitas tertutup. Alam semesta yakni mikro kosmos dan makro kosmos hadir sebagai realitas untuk mengukuhkan eksistensi Tuhan sebagai pemilik mutlak yang tak pernah punah, sedangkan alam semesta itu sendiri bisa punah sebagai suatu yang nisbi alias tidak kekal.&lt;br /&gt;Alam semesta adalah sumber ilmu yang kedua yang merupakan ciptaan Allah SWT karena sebelum adanya alam semesta, Allah lebih dahulu ada yang tidak berpermulaan dan tak berakhir. Sedangkan alam memiliki permulaan dan masa akhir. Oleh karena itu ilmu dari Allah yang bersifat langsung bersifat absolut, sedangkan ilmu lewat alam semesta bersifat relatif.&lt;br /&gt;&quot;Menurut Al Qur’an, mempelajari kitab alam akan mengungkapkan     rahasia-rahasianya kepada manusia dan menampakkan     koherensi      (keterpaduan), konsistensi dan aturan di dalamnya. Ini akan memungkinkan manusia untuk menggunakan ilmunya sebagai perantara untuk menggali kekayaan-kekayaan dan sumber-sumber yang tersembunyi di dalam alam dan mencapai kesejahteraan material lewat penemuan-penemuan ilmiahnya (Ghulsyani, 1990:54).&lt;br /&gt;Al Qur’an sebagai kitab &quot;tertutup&quot;  yang merupakan kondifikasi wahyu yang menurut teori-teori keilmuan yang tak terhingga penafsirannya sampai hari Qiyamat. Sedangkan alam semesta sebagai kitab &quot;terbuka&quot; yang tak terhingga pula untuk dieksperimen sampai hari Qiyamat. Dua sumber mata air (pengetahuan, ilmu dan teknologi), yang abadi dan tak pernah kering dalam konteks kehidupan keduniaan. Al Qur’an sebagai &quot;kitab tertutup&quot; dan alam semesta sebagai &quot;kitab terbuka&quot; saling memperkuat kedudukannya masing-masing. Artinya, Al Qur’an memuat informasi-informasi tentang material dan struktur alam semesta, sedangkan rahasia-rahasia alam semesta bisa kita cari informasinya lewat Al Qur’an dan alam semesta itu sendiri, karena Al Qur’an merupakan wahyu Allah dan alam adalah ciptaan Allah. Dengan demikian, realitas kebenaran bisa ditemukan di dalam Al Qur’an sekaligus juga bisa ditemukan pada alam semesta karena berasal dari satu sumber yakni Allah SWT Maha Kreatif alias Pencipta.&lt;br /&gt;Selain alam semesta dan Al Qur’an, masih ada satu sumber lagi yakni Hadits yang berupa petunjuk-petunjuk Rasulullah SAW, berdasarkan pemberitahuan atau aplikasi dari petunjuk wahyu kepada    Nabi SAW terutama pengetahuan dan ilmu tentang tata cara beribadah mahdhah yang kita lakukan selama ini seperti; shalat, zakat, puasa, dan haji, lebih banyak kita mendapat model atau contoh langsung dari Rasulullah SAW, yang secara esensial tidak bisa diubah atau ditukar dengan cara-cara yang lain.&lt;br /&gt;Di dalam kitab As-Sunnah Mashdaran li Al-Ma’rifah wa Al-Hadharah, dijelaskan bahwa &quot;Sunnah merupakan sumber kedua setelah Al Qur’an bagi fikih dan hukum Islam. Sunnah juga merupakan sumber bagi da’wah dan bimbingan bagi seorang muslim, ia juga merupakan sumber ilmu pengetahuan religius (keagamaan), humaniora (kemanusiaan), dan sosial yang dibutuhkan umat manusia untuk meluruskan jalan mereka, membetulkan kesalahan mereka ataupun melengkapi pengetahuan eksperimental mereka&quot; (Yusuf Al Qardhawy, 1997:101).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;RASIONALITAS DAN SPIRITUALITAS DALAM ILMU&lt;br /&gt;Berangkat dari kesadaran tentang realitas atas tangkapan indra dan hati, yang kemudian diproses oleh akal untuk menentukan sikap mana yang benar dan mana yang salah terhadap suatu obyek atau relitas. Cara seperti ini bisa disebut sebagai proses rasionalitas dalam ilmu. Sedangkan proses rasionalitas itu mampu mengantarkan seseorang untuk memahami metarsional sehingga muncul suatu kesadaran baru tentang realitas metafisika, yakni apa yang terjadi di balik obyek rasional yang bersifat fisik itu. Kesadaran ini yang disebut sebagai transendensi, di dalam  firman  Allah  (QS. 3: 191), artinya:&lt;br /&gt;(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): &quot;Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka.&lt;br /&gt;Bagi orang-orang yang beriman, proses rasionalitas dan spriritualitas dalam ilmu bagaikan keeping mata uang, antara satu sisi dengan sisi yang lain merupakan satu kesatuan yang bermakna. Bila kesadarannya menyentuh realitas alam semesta maka biasanya sekaligus kesadarannya menyentuh alam spiritual dan begitupun sebaliknya.&lt;br /&gt;Hal ini berbeda dengan kalangan yang hanya punya sisi pandangan material alias sekuler. Mereka hanya melihat dan menyadari keutuhan alam semesta dengan paradigma materialistik sebagai suatu proses kebetulan yang memang sudah ada cetak birunya pada alam itu sendiri. Manusia lahir dan kemudian mati adalah siklus alami dalam mata rantai putaran alam semesta. Atas dasar paradigma tersebut, memunculkan kesadaran tentang realitas alam sebagai obyek yang harus dieksploitasi dalam rangka mencapai tujuan-tujuan hedonistis yang sesaat. Alam menjadi laboratorium sebagai tempat uji coba keilmuan atheistic, di mana kesadaran tentang Tuhan atau spiritualitas tidak tampak bahkan sengaja tidak dihadirkan             dalam wacana pengembangan ilmu. Orientasi seperti ini yang oleh Allah dikatakan    dalam Al Qur’an, bukan untuk menambah kesyukuran dan ketakwaan, melainkan   fenomena   alam   semesta  yang diciptakan-Nya itu menambah sempurnanya kekufuran mereka (QS 17: 94-100)&lt;br /&gt;FILSAFAT ADALAH ENERGI DAN ILMU ITU CAHAYA&lt;br /&gt;Filsafat adalah pemikiran, sedangkan ilmu adalah ‘kebenaran’. Gampangnya, filsafat ilmu adalah pemikiran tentang kebenaran. Apakah benar itu benar? Kalau itu benar maka berapa kadar kebenarannya.? Apakah ukuran-ukuran kebenaran itu? Di mana otoritas kebenaran itu? Dan apakah kebenaran itu abadi?&lt;br /&gt;Tujuan filsafat dan ilmu yakni sama-sama mencari kebenaran. Hanya saja filsafat tidak berhenti pada satu garis kebenaran, tetapi ingin terus mencari kebenaran kedua, ketiga dan seterusnya sampai habis energinya. Sedangkan ilmu kadang sudah merasa cukup puas dengan satu kebenaran dan bila ilmu itu disuntik dengan filsafat alias pemikiran maka ia kan bergerak maju untuk mencari kebenaran yang lain lagi.&lt;br /&gt;Filsafat itu ibarat energi dan ilmu itu umpama mesin listrik. Jika energi dipasok ke turbin mesin, maka mesin akan bekerja menghasilkan setrum yang dipakai untuk menyalakan lampu yang memancarkan cahaya.&lt;br /&gt;Filsafat dan ilmu bahu-membahu mengusung kebenaran, namun kebenaran filsafat dan kebenaran ilmu masih tetap saja bersifat relatif sebagai proses yang tidak pernah selesai. Maksudnya, bahwa  kebenaran yang didapatkan oleh filsafat dan  ilmu tak  pernah  selesai  dan   terus berproses dan menjadi, yang dalam hukum dialektika    (Thesis,  Antithesis,  Sinthesis) dan seterusnya sebagai tanda bahwa manusia, pemikirannya dan ciptaannya bersifat relatif. Sedangkan kebenaran itu sendiri identik dengan Pencipta kebenaran. Oleh karena itu, yang Maha Benar hanyalah Allah SWT (QS 34: 48)&lt;br /&gt;Dalm filsafat illuminasi, &quot;Tuhan kosmos ini adalah Sumber Cahaya, yang dari-Nya wujud diri yang beradiasi memancarkan suatu cahaya yang menyingkap semua wujud, dan ketika tiada lagi dunia privasi, non-wujud, dan kegelapan bersanding dengan dosa. Menurut epistimologi illuminasi, pengetahuan diperoleh ketika tidak ada rintangan antara keduanya. Dan hanya dengan begitu, subyek mengetahui dapat menangkap esensi obyek&quot; (Ziai, 1998: 13)&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Dalam konteks inilah, menurut hemat kami filsafat ilmu itu kiranya perlu dipelajari atau diajarkan di semua fakultas dan program studi khususnya di lengkungan UIKA, umumnya, di perguruan-perguruan tinggi, pada semester akhir untuk program S1 (sarjana). Karena filsafat ilmu bisa  menjadi modal dasar untuk seorang calon sarjana, bagaimana cara ia mengaktualisasikan pemikirannya dalam menghadapi persoalan-persoalan keilmuan dan kehidupan dari tatanan teoritis sampai pada tataran aplikatif. Wallahua’lam bishshawab.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Abdul Azhim, Ali, Epistemologi dan Aksiologi Ilmu Perspektif Islam, Penerj. Khalilullah A.M.H, Rosda, Bandung: 1984&lt;br /&gt;Audah, Ali, Konkordasi Qur’an, Litera antar Nusa, Mizan, Bogor, Bandung: 1997&lt;br /&gt;Beerling dkk., Pengantar Filsafat Ilmu, alih bahasa Soedjono Soemargono, Tiara Wacana, Yogyakarta: 1986.&lt;br /&gt;Departemen Agama RI., Al Qur’an dan Terjemahnya, Khadim Al-Haramain Asy-Syarifain, Madinah Munawarah: 1411 H.&lt;br /&gt;Ghulsyani, Mahdi, Filsafat Sains Menurut Al Qur’an, penerj. Agus Efendi, Mizan, Bandung: 1990.&lt;br /&gt;Ha’iri Yazdi, Mehdi, Ilmu Hudhuri, penerj. Ahsin Mohamad, Mizan, Bandung: 1994.&lt;br /&gt;Iqbal, Muhammad, Membangun Kembali Pemikiran Agama dalam Islam, terj. Ali Audah dkk, Tintamas, Jakarta: 1986.&lt;br /&gt;Khaldun, Ibn, Mudaddimah, Penerj. Ahmadie Thaha, Pustaka Firdaus, Jakarta: 2000.&lt;br /&gt;Kartanegara, Mulyadhi, Pengantar Epistemologi Islam, Mizan, Bandung: 2003.&lt;br /&gt;Marasabessy, Yusra, (Kontributor), Desekularisasi Pemikiran Landasan Islamisasi, Mizan, Bandung: 1987.&lt;br /&gt;Qardhawy, Yusuf, As-Sunnah Sumber IPTEK dan Peradaban, penerj. Setiawan Budi Utomo, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta: 1998.&lt;br /&gt;Syarif, M.M., (Editor), Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung: 1989.&lt;br /&gt;Soemargono, Soedjono, Filsafat Pengetahuan, Nur Cahaya, Yogyakarta: 1983.&lt;br /&gt;Ziai, Hossain, Suhrawardi &amp; Filsafat Illuminasi, Penerj. Afif Muhammad dan Munir, Zaman Wacana Ilmu, Bandung: 1990.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2006/12/filsafat-ilmu_11.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-116577757714146556</guid><pubDate>Sun, 10 Dec 2006 19:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-23T01:46:58.985+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Filsafat</category><title>Filsafat Ilmu 3</title><description>&lt;b&gt;&lt;red&gt;FILSAFAT ILMU DALAM PERSPEKTIF QUR’AN&lt;br /&gt;(Tafsir Ulang Epistemologi)&lt;br /&gt;Yusra Marasabessy&lt;/red&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al Qur’an  terdapat kata-kata tentang ilmu  dalam berbagai bentuk (‘ilma, ‘ilmi, ‘ilmu, ‘ilman, ‘ilmihi, ‘ilmuha, ‘ilmuhum) terulang sebanyak 99 kali, (Ali Audah, 1997: 278-279). Delapan bentuk ilmu tersebut di atas dalam terjemah Al Qur’an Departemen Agama RI, cetakan Madinah Munawwarah (1990), diartikan dengan: pengetahuan, ilmu, ilmu pengetahuan, kepintaran dan keyakinan. Sedangkan kata ‘ilmu itu sendiri berasal dari bahasa Arab ‘alima = mengetahui, mengerti. Maknanya, seseorang dianggap mengerti karena sudah mengertahui obyek atau fakta lewat pendengaran, penglihatan dan hatinya.&lt;br /&gt;Kata ilmu dalam pengertian teknis operasional ialah  kesadaran tentang realitas. Pengertian ini didapat dari makna-makna ayat yang ada di dalam Al Qur’an. Orang yang memiliki kesadaran tentang realitas lewat pendengaran, penglihatan dan hati akan berfikir rasional dalam menggapai kebenaran (QS. 17 : 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&quot;Pengetahuan (‘ilm) boleh merupakan suatu persepsi terhadap esensi segala sesuatu, mahiyat &quot;suatu bentuk persepsi yang bersahaja yang tidak disertai oleh hukum atau boleh merupakan oppersepsi; yaitu hukum bahwa sesuatu hal adalah hal itu&quot; (Ibn Khaldun, 2000: 669).&lt;br /&gt;&quot;Ilmu itu harus dinilai dengan konkrit. Hanya  kekuatan intelektual   yang menguasai yang konkritlah yang kana memberi kemungkinan kecerdasan manusia itu melampaui yang konkrit&quot; (Muhammad Iqbal, 1966, 129).&lt;br /&gt; Menyimak dari pandangan Ibn Khaldun dan Iqbal tentang ilmu, dapat ditarik satu garis lurus bahwa ilmu atau realitas kebenaran akan hadir secara utuh dalam persepsi individu, walaupun dalam pemahaman bisa berbeda atas suatu realitas atau obyek. Kehadiran secara utuh dari suatu obyek terhadap subyek adalah suatu realitas yang tak bisa dielakkan. Inilah yang oleh Iqbal dikatakan bahwa ilmu itu harus dinilai dengan konkrit, yakni ilmu harus bisa terukur kebenarannya.&lt;br /&gt;SUMBER ILMU&lt;br /&gt;Jika ilmu diistilahkan sebagai kesadaran tentang realitas, maka realitas yang paling utama ketika manusia itu lahir adalah alam semesta (mikro kosmos dan makro kosmos). Di alam inilah manusia mulai mendengar, melihat dan merasakan obyek-obyek yang dialaminya berupa suara, bentuk dan perasaan. Alam ini merupakan satu titik kesadaran awal  untuk mengenal realitas terutama diri sendiri. Setelah manusia mengalami kedewasaan dan sempurna akalnya, maka ia mulai berpikir tentang  metarealitas, yakni   suatu kekuatan supernatural yang ikut bermain dan sibuk mengurus proses-proses penciptaan dari tiada menjadi ada, dari ada menjadi tiada. Atau dari mati menjadi hidup, kemudian dari hidup menjadi mati (QS.2: 28).&lt;br /&gt;Kehadiran alam fisika sebagai realitas menjadi jembatan untuk melihat sesuatu yang bersifat metafisika yakni Yang Ada di balik fisik dan ciptaan-ciptaan itu. Keragaman alam semesta yang tak terhingga oleh manusia merupakan kenyataan-kenyataan yang tak bisa ditolak begitu saja tanpa argumentasi yang logis, yang berangkat dari kesadaran tentang realitas yang diperoleh dari pendengaran, penglihatan dan hati.&lt;br /&gt;Dengan demikian manusia akan menyadari dengan sendirinya tentang kehariran alam semesta sebagai realitas fisika dan kehadiran Allah SWT sebagai realitas metafisika. Alam fisika sebagai realitas terbuka, sedangkan alam metafisika sebagai realitas tertutup. Alam semesta yakni mikro kosmos dan makro kosmos hadir sebagai realitas untuk mengukuhkan eksistensi Tuhan sebagai pemilik mutlak yang tak pernah punah, sedangkan alam semesta itu sendiri bisa punah sebagai suatu yang nisbi alias tidak kekal.&lt;br /&gt;Alam semesta adalah sumber ilmu yang kedua yang merupakan ciptaan Allah SWT karena sebelum adanya alam semesta, Allah lebih dahulu ada yang tidak berpermulaan dan tak berakhir. Sedangkan alam memiliki permulaan dan masa akhir. Oleh karena itu ilmu dari Allah yang bersifat langsung bersifat absolut, sedangkan ilmu lewat alam semesta bersifat relatif.&lt;br /&gt;&quot;Menurut Al Qur’an, mempelajari kitab alam akan mengungkapkan     rahasia-rahasianya kepada manusia dan menampakkan     koherensi      (keterpaduan), konsistensi dan aturan di dalamnya. Ini akan memungkinkan manusia untuk menggunakan ilmunya sebagai perantara untuk menggali kekayaan-kekayaan dan sumber-sumber yang tersembunyi di dalam alam dan mencapai kesejahteraan material lewat penemuan-penemuan ilmiahnya (Ghulsyani, 1990:54).&lt;br /&gt;Al Qur’an sebagai kitab &quot;tertutup&quot;  yang merupakan kondifikasi wahyu yang menurut teori-teori keilmuan yang tak terhingga penafsirannya sampai hari Qiyamat. Sedangkan alam semesta sebagai kitab &quot;terbuka&quot; yang tak terhingga pula untuk dieksperimen sampai hari Qiyamat. Dua sumber mata air (pengetahuan, ilmu dan teknologi), yang abadi dan tak pernah kering dalam konteks kehidupan keduniaan. Al Qur’an sebagai &quot;kitab tertutup&quot; dan alam semesta sebagai &quot;kitab terbuka&quot; saling memperkuat kedudukannya masing-masing. Artinya, Al Qur’an memuat informasi-informasi tentang material dan struktur alam semesta, sedangkan rahasia-rahasia alam semesta bisa kita cari informasinya lewat Al Qur’an dan alam semesta itu sendiri, karena Al Qur’an merupakan wahyu Allah dan alam adalah ciptaan Allah. Dengan demikian, realitas kebenaran bisa ditemukan di dalam Al Qur’an sekaligus juga bisa ditemukan pada alam semesta karena berasal dari satu sumber yakni Allah SWT Maha Kreatif alias Pencipta.&lt;br /&gt;Selain alam semesta dan Al Qur’an, masih ada satu sumber lagi yakni Hadits yang berupa petunjuk-petunjuk Rasulullah SAW, berdasarkan pemberitahuan atau aplikasi dari petunjuk wahyu kepada    Nabi SAW terutama pengetahuan dan ilmu tentang tata cara beribadah mahdhah yang kita lakukan selama ini seperti; shalat, zakat, puasa, dan haji, lebih banyak kita mendapat model atau contoh langsung dari Rasulullah SAW, yang secara esensial tidak bisa diubah atau ditukar dengan cara-cara yang lain.&lt;br /&gt;Di dalam kitab As-Sunnah Mashdaran li Al-Ma’rifah wa Al-Hadharah, dijelaskan bahwa &quot;Sunnah merupakan sumber kedua setelah Al Qur’an bagi fikih dan hukum Islam. Sunnah juga merupakan sumber bagi da’wah dan bimbingan bagi seorang muslim, ia juga merupakan sumber ilmu pengetahuan religius (keagamaan), humaniora (kemanusiaan), dan sosial yang dibutuhkan umat manusia untuk meluruskan jalan mereka, membetulkan kesalahan mereka ataupun melengkapi pengetahuan eksperimental mereka&quot; (Yusuf Al Qardhawy, 1997:101).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;RASIONALITAS DAN SPIRITUALITAS DALAM ILMU&lt;br /&gt;Berangkat dari kesadaran tentang realitas atas tangkapan indra dan hati, yang kemudian diproses oleh akal untuk menentukan sikap mana yang benar dan mana yang salah terhadap suatu obyek atau relitas. Cara seperti ini bisa disebut sebagai proses rasionalitas dalam ilmu. Sedangkan proses rasionalitas itu mampu mengantarkan seseorang untuk memahami metarsional sehingga muncul suatu kesadaran baru tentang realitas metafisika, yakni apa yang terjadi di balik obyek rasional yang bersifat fisik itu. Kesadaran ini yang disebut sebagai transendensi, di dalam  firman  Allah  (QS. 3: 191), artinya:&lt;br /&gt;(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): &quot;Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka.&lt;br /&gt;Bagi orang-orang yang beriman, proses rasionalitas dan spriritualitas dalam ilmu bagaikan keeping mata uang, antara satu sisi dengan sisi yang lain merupakan satu kesatuan yang bermakna. Bila kesadarannya menyentuh realitas alam semesta maka biasanya sekaligus kesadarannya menyentuh alam spiritual dan begitupun sebaliknya.&lt;br /&gt;Hal ini berbeda dengan kalangan yang hanya punya sisi pandangan material alias sekuler. Mereka hanya melihat dan menyadari keutuhan alam semesta dengan paradigma materialistik sebagai suatu proses kebetulan yang memang sudah ada cetak birunya pada alam itu sendiri. Manusia lahir dan kemudian mati adalah siklus alami dalam mata rantai putaran alam semesta. Atas dasar paradigma tersebut, memunculkan kesadaran tentang realitas alam sebagai obyek yang harus dieksploitasi dalam rangka mencapai tujuan-tujuan hedonistis yang sesaat. Alam menjadi laboratorium sebagai tempat uji coba keilmuan atheistic, di mana kesadaran tentang Tuhan atau spiritualitas tidak tampak bahkan sengaja tidak dihadirkan             dalam wacana pengembangan ilmu. Orientasi seperti ini yang oleh Allah dikatakan    dalam Al Qur’an, bukan untuk menambah kesyukuran dan ketakwaan, melainkan   fenomena   alam   semesta  yang diciptakan-Nya itu menambah sempurnanya kekufuran mereka (QS 17: 94-100)&lt;br /&gt;FILSAFAT ADALAH ENERGI DAN ILMU ITU CAHAYA&lt;br /&gt;Filsafat adalah pemikiran, sedangkan ilmu adalah ‘kebenaran’. Gampangnya, filsafat ilmu adalah pemikiran tentang kebenaran. Apakah benar itu benar? Kalau itu benar maka berapa kadar kebenarannya.? Apakah ukuran-ukuran kebenaran itu? Di mana otoritas kebenaran itu? Dan apakah kebenaran itu abadi?&lt;br /&gt;Tujuan filsafat dan ilmu yakni sama-sama mencari kebenaran. Hanya saja filsafat tidak berhenti pada satu garis kebenaran, tetapi ingin terus mencari kebenaran kedua, ketiga dan seterusnya sampai habis energinya. Sedangkan ilmu kadang sudah merasa cukup puas dengan satu kebenaran dan bila ilmu itu disuntik dengan filsafat alias pemikiran maka ia kan bergerak maju untuk mencari kebenaran yang lain lagi.&lt;br /&gt;Filsafat itu ibarat energi dan ilmu itu umpama mesin listrik. Jika energi dipasok ke turbin mesin, maka mesin akan bekerja menghasilkan setrum yang dipakai untuk menyalakan lampu yang memancarkan cahaya.&lt;br /&gt;Filsafat dan ilmu bahu-membahu mengusung kebenaran, namun kebenaran filsafat dan kebenaran ilmu masih tetap saja bersifat relatif sebagai proses yang tidak pernah selesai. Maksudnya, bahwa  kebenaran yang didapatkan oleh filsafat dan  ilmu tak  pernah  selesai  dan   terus berproses dan menjadi, yang dalam hukum dialektika    (Thesis,  Antithesis,  Sinthesis) dan seterusnya sebagai tanda bahwa manusia, pemikirannya dan ciptaannya bersifat relatif. Sedangkan kebenaran itu sendiri identik dengan Pencipta kebenaran. Oleh karena itu, yang Maha Benar hanyalah Allah SWT (QS 34: 48)&lt;br /&gt;Dalm filsafat illuminasi, &quot;Tuhan kosmos ini adalah Sumber Cahaya, yang dari-Nya wujud diri yang beradiasi memancarkan suatu cahaya yang menyingkap semua wujud, dan ketika tiada lagi dunia privasi, non-wujud, dan kegelapan bersanding dengan dosa. Menurut epistimologi illuminasi, pengetahuan diperoleh ketika tidak ada rintangan antara keduanya. Dan hanya dengan begitu, subyek mengetahui dapat menangkap esensi obyek&quot; (Ziai, 1998: 13)&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Dalam konteks inilah, menurut hemat kami filsafat ilmu itu kiranya perlu dipelajari atau diajarkan di semua fakultas dan program studi khususnya di lengkungan UIKA, umumnya, di perguruan-perguruan tinggi, pada semester akhir untuk program S1 (sarjana). Karena filsafat ilmu bisa  menjadi modal dasar untuk seorang calon sarjana, bagaimana cara ia mengaktualisasikan pemikirannya dalam menghadapi persoalan-persoalan keilmuan dan kehidupan dari tatanan teoritis sampai pada tataran aplikatif. Wallahua’lam bishshawab.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Abdul Azhim, Ali, Epistemologi dan Aksiologi Ilmu Perspektif Islam, Penerj. Khalilullah A.M.H, Rosda, Bandung: 1984&lt;br /&gt;Audah, Ali, Konkordasi Qur’an, Litera antar Nusa, Mizan, Bogor, Bandung: 1997&lt;br /&gt;Beerling dkk., Pengantar Filsafat Ilmu, alih bahasa Soedjono Soemargono, Tiara Wacana, Yogyakarta: 1986.&lt;br /&gt;Departemen Agama RI., Al Qur’an dan Terjemahnya, Khadim Al-Haramain Asy-Syarifain, Madinah Munawarah: 1411 H.&lt;br /&gt;Ghulsyani, Mahdi, Filsafat Sains Menurut Al Qur’an, penerj. Agus Efendi, Mizan, Bandung: 1990.&lt;br /&gt;Ha’iri Yazdi, Mehdi, Ilmu Hudhuri, penerj. Ahsin Mohamad, Mizan, Bandung: 1994.&lt;br /&gt;Iqbal, Muhammad, Membangun Kembali Pemikiran Agama dalam Islam, terj. Ali Audah dkk, Tintamas, Jakarta: 1986.&lt;br /&gt;Khaldun, Ibn, Mudaddimah, Penerj. Ahmadie Thaha, Pustaka Firdaus, Jakarta: 2000.&lt;br /&gt;Kartanegara, Mulyadhi, Pengantar Epistemologi Islam, Mizan, Bandung: 2003.&lt;br /&gt;Marasabessy, Yusra, (Kontributor), Desekularisasi Pemikiran Landasan Islamisasi, Mizan, Bandung: 1987.&lt;br /&gt;Qardhawy, Yusuf, As-Sunnah Sumber IPTEK dan Peradaban, penerj. Setiawan Budi Utomo, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta: 1998.&lt;br /&gt;Syarif, M.M., (Editor), Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung: 1989.&lt;br /&gt;Soemargono, Soedjono, Filsafat Pengetahuan, Nur Cahaya, Yogyakarta: 1983.&lt;br /&gt;Ziai, Hossain, Suhrawardi &amp; Filsafat Illuminasi, Penerj. Afif Muhammad dan Munir, Zaman Wacana Ilmu, Bandung: 1990.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2006/12/filsafat-ilmu.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-116577708865767362</guid><pubDate>Sun, 10 Dec 2006 18:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-23T01:48:55.000+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Filsafat</category><title>FISAFAT SEBAGAI KESANGSIAN MEDITATIF</title><description>&lt;strong&gt;&lt;red&gt;FILSAFAT SEBAGAI KESANGSIAN MEDITATIF&lt;/red&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan suatu pohon. Mungkin lukisan yang saya buat di sini (lihat Gambar III.1) akan mempermudah anda (walau ini juga menunjukkan bahwa anda tidak harus menjadi seniman untuk menjadi filsuf!). Nah, bagaimana filsafat itu menyerupai pohon? Sesungguhnya, ada banyak contoh kemungkinan penerapan analogi ini. Salah satu cara yang menarik dikemukakan oleh seorang filsuf yang ide–idenya akan kita bahas pada jam kuliah ini. Ia menyusun versinya sendiri mengenai mitos yang memandu kuliah ini, dengan mengklaim bahwa filsafat itu seperti pohon yang mempunyai metafisika sebagai akar–akarnya, fisika sebagai batangnya, dan ilmu-ilmu lain sebagai cabang–cabangnya. Dalam hal ini, yang semestinya merupakan pemikiran yang akurat tentang bagaimana filsafat berfungsi pada abad ke tujuhbelas, daun–daun pohonnya kemungkinan besar berkorelasi dengan pengetahuan, &lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;kendati filsuf yang kita bicarakan tidak menyangkut-pautkan analoginya sejauh itu. Demi maksud kita di Bagian Satu matakuliah ini, kita sekurang–kurangnya bisa setuju bahwa metafisika tentu saja mempunyai fungsi yang serupa dengan akar-akar pohon. Setelah kita tuntaskan sembilan kuliah pertama kita, saya harap alasan–alasan untuk itu cukup jelas. Namun pada saatnya nanti, saya akan menyarankan revisi terhadap beberapa aspek lain pada versi mitos ini, supaya tidak ketinggalan zaman (lihat Gambar III.1). &lt;br /&gt;Khazanah Modern&lt;br /&gt;Filsafat Sebagai Kesangsian Meditatif&lt;br /&gt;Bayangkan suatu pohon. Mungkin lukisan yang saya buat di sini (lihat Gambar III.1) akan mempermudah anda (walau ini juga menunjukkan bahwa anda tidak harus menjadi seniman untuk menjadi filsuf!). Nah, bagaimana filsafat itu menyerupai pohon? Sesungguhnya, ada banyak contoh kemungkinan penerapan analogi ini. Salah satu cara yang menarik dikemukakan oleh seorang filsuf yang ide–idenya akan kita bahas pada jam kuliah ini. Ia menyusun versinya sendiri mengenai mitos yang memandu kuliah ini, dengan mengklaim bahwa filsafat itu seperti pohon yang mempunyai metafisika sebagai akar–akarnya, fisika sebagai batangnya, dan ilmu-ilmu lain sebagai cabang–cabangnya. Dalam hal ini, yang semestinya merupakan pemikiran yang akurat tentang bagaimana filsafat berfungsi pada abad ke tujuhbelas, daun–daun pohonnya kemungkinan besar berkorelasi dengan pengetahuan, kendati filsuf yang kita bicarakan tidak menyangkut-pautkan analoginya sejauh itu. Demi maksud kita di Bagian Satu matakuliah ini, kita sekurang–kurangnya bisa setuju bahwa metafisika tentu saja mempunyai fungsi yang serupa dengan akar-akar pohon. Setelah kita tuntaskan sembilan kuliah pertama kita, saya harap alasan–alasan untuk itu cukup jelas. Namun pada saatnya nanti, saya akan menyarankan revisi terhadap beberapa aspek lain pada versi mitos ini, supaya tidak ketinggalan zaman (lihat Gambar III.1). &lt;br /&gt;                           Ilmu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                          Fisika&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                        Metafisika&lt;br /&gt;Gambar III.1: Pohon Filsafat Ala Descartes&lt;br /&gt;Nama filsuf tersebut yang akan segera anda akrabi lantaran sumbangan yang ia berikan di bidang matematika ialah René Descartes (1596–1650). Ia tidak hanya turut mengembangkan aljabar lebih lanjut, tetapi juga menemukan sistem koordinat geometri yang kita pelajari di sekolah. Ketika ia beralih perhatian ke filsafat, ia mengakui adanya masalah yang melekat dalam tradisi filsafat.&lt;br /&gt;Selama duaribu tahun, sistem Plato dan Aristoteles sedikit-banyak telah mendominasi semua pemikiran filosofis di Barat. Tatkala agama Nasrani muncul di kancah [filsafat untuk pertama kalinya], sebagian besar pater gereja mengambil beberapa versi idealisme Platonik sebagai basis bagi teologi mereka. Kecenderungan itu memuncak pada sistem filosofis dan teologis yang dibangun oleh St. Agustinus (354–430), yang pengaruhnya sepeninggalnya sedemikian dominan selama masa yang disebut Zaman Kegelapan sehingga Aristoteles benar–benar terlupakan di Eropa. Untungnya, cendekiawan–cendekiawan Muslim melestarikan tulisan–tulisan Aristoteles selama periode itu, terutama dengan bahasa Arab, yang menggunakannya sebagai landasan untuk penyusunan berbagai bentuk filsafat dan teologi Islam. Akhirnya, realisme Aristoteles kembali ke Eropa, terutama melalui karya St. Thomas Aquinas (1225–1274), yang sistem teologis berskala besarnya terus menjadi sumber teologi Katolik hingga hari ini. Sampai waktu Descartes terjun ke kancah [filsafat], tidak ada alternatif signifikan yang ditawarkan selain aliran idealis (Platonik–Agustinian) dan realis (Aristotelian–Thomis). Adakah sesuatu yang salah pada dua sistem ini yang menghalangi timbulnya kemajuan filsafat dari para filsuf lain? &lt;br /&gt;Descartes yakin, kedua tradisi tersebut menderita cacat yang sama. Kebuntuan itu tercipta oleh kurangnya  kebenaran mutlak total yang bisa berfungsi sebagai titik tolak yang tak terbantahkan untuk penyusunan sistem pengetahuan tulen (yaitu ilmu). Wawasan ini menimbulkan pertanyaan baru di benak Descartes: bagaimana bisa kepastian mutlak semacam itu dibuktikan? Metode dialog Plato ataupun metode teleologis Aristoteles tidak mampu menghasilkan pondasi yang kokoh bagi suatu ilmu yang benar–benar ketat. Lantas, bagaimana bisa pondasi semacam itu didapatkan? Dalam perenungan terhadap pertanyaan ini, Descartes menemukan ide baru yang akan memungkinkan kita untuk menetapkan kepastian untuk sekali ini dan selamanya. Dengan mengganti dialog dengan meditasi menyendiri, metode barunya adalah kesangsian (doubt). Dengan secara sistematis menyangsikan segala sesuatu mengenai dunia dan mengenai kita sendiri yang, menurut perkirakan kita, kita ketahui, kita berharap memperoleh sesuatu yang akan mustahil untuk diragukan. Ini kemudian bisa berfungsi sebagai titik pijak pasti secara mutlak bagi pembangunan sistem filosofis positif.&lt;br /&gt;Lantas, apa yang bisa kita ragukan? Bagaimana mengenai indera kita? Dapatkah anda mempercayai indera anda? Pada suatu hari, tidak lama setelah saya berpindah ke Hong Kong, saya berbelanja dengan keluarga saya di mal setempat. Setelah beberapa saat, kami mulai mencari tempat untuk makan. Seraya berjalan menuju suatu toserba yang memiliki kedai–kedai makan yang berderetan di depan, saya perhatikan sebuah etalase makanan Jepang yang amat menggiurkan. Saya sangat lapar, sampai-sampai mulut saya mulai basah oleh air liur. Kami sepakat untuk makan di sini saja, walau agak ramai. Ketika kami mendekat, saya betul–betul terkesan oleh makanan yang tampak bermutu tinggi yang mereka pajang di etalase. Hanya saja, tatkala kami sampai di kasir, baru saya sadari bahwa makanan di etalase itu bukan makanan sama sekali, melainkan plastik! Indera saya telah dibodohi sepenuhnya oleh kecerdikan agen pemasaran. Dan dengan ketawa kalian, saya bisa mengatakan bahwa banyak di antara kalian yang pernah membuat kekeliruan serupa.&lt;br /&gt;Di “meditasi” pertama dari enam meditasi yang dipaparkan dalam Meditations on First Philosophy, Descartes mulai mencari kepastian dengan memanfaatkan pengalaman terkelabui yang sedikit-banyak universal tersebut untuk menaruh kesangsian akan keandalan indera kita. Jika kita terkelabuhi pada satu contoh itu, bagaimana kita tahu bahwa kita tidak terkelabui dengan lebih sering? Memang, jika segala kesan yang tertanam melalui indera kita mungkin merupakan kesan yang salah, maka tampaknya tidak ada peluang untuk mendapatkan kepastian apa saja di indera kita. Itu menodai realisme Aristotelian, karena realisme ini didasarkan pada asumsi bahwa substansi, sebagaimana yang dicerap terutama melalui indera kita, pada hakikatnya nyata.&lt;br /&gt;Bagaimana mengenai idea kita? Barangkali Plato benar sepenuhnya, dan idea kita merupakan pondasi yang tepat bagi semua pengetahuan. Namun Descartes mendapati bahwa menaruh keraguan pada bidang ini mudah juga. Bahkan ide–ide yang bagi kita tampaknya pasti, ide-ide yang kesangsiannya tak pernah terbayangkan, bisa diragukan bila kita upayakan. Sebagai misal, ada banyak cara menaruh kesangsian pada pengalaman kita sehari-hari yang berhubungan dengan ruang dan waktu. Kebanyakan dari kita pernah bermimpi yang melanggar hukum–hukum keruangan semisal gravitasi (umpamanya, ketika dalam mimpi kita terbang) atau bermimpi yang waktu di dalamnya kelihatan lebih lambat atau lebih cepat daripada ketika kita tidak tidur. Bagaimana kita tahu bahwa pengalaman kita sehari–hari bukan mimpi belaka, bahwa sewaktu–waktu kita akan bangun dari mimpi ini? Barangkali ada jin jahat yang memperdaya kita semua sehingga kita salah menduga bahwa mimpi panjang ini merupakan dunia nyata kita. Walaupun tidak ada jin jahat itu, kita semua pernah mengalami keinsafan secara mendadak bahwa suatu ide yang karena kita kira benar kita pegang teguh ternyata salah. Ide apa pun bisa berbalik menjadi ilusi semacam itu, sehingga tidak ada ide yang tercegah dari kemungkinan ilusi. Karenanya, idealisme Plato tidak lebih berguna daripada realisme Aristoteles dalam pencarian kita akan sesuatu yang pasti mutlak.&lt;br /&gt;Bagaimana mengenai matematika? Descartes sendiri ialah seorang matematikawan dan tentu saja mempercayai kebenaran matematika. Bahkan, ada banyak filsuf yang semasa hidupnya memanfaatkan metode matematis dalam berfilsafat. Adakah kemungkinan untuk meragukan bahwa, sebagai misal, 2+2=4? Saya imbau anda memikirkannya sendiri agar anda tergerak untuk membaca buku Descartes demi anda sendiri. Di sini cukup saya katakan, Descartes percaya bahwa matematika pun tidak bisa menyediakan pondasi yang pasti mutlak bagi pengetahuan.&lt;br /&gt;Adakah sesuatu yang mustahil untuk diragukan? Kala Descartes berbaring di ranjangnya di ruang yang gelap dengan melakukan eksperimen pemikiran yang mendalam, tiba–tiba ia menemukan jawaban yang ia cari–cari. Ia dapati, ia tidak bisa menyangsikan bahwa pada saat itu ia sedang sangsi. Ini karena kesangsian itu mustahil eksis tanpa ada yang melakukan penyangsian! Kesangsian merupakan bentuk pemikiran, menurut Descartes dalam meditasinya yang kedua, sehingga pemikiran pasti menjadi dasar pembuktian kepastian akan eksistensinya sendiri. Karenanya, ia mengajukan pepatah yang kini terkenal, “saya berpikir; karena itu, saya ada” (dalam bahasa latin, Cogito ergo sum). Eksistensi “yang-berada yang berpikir” (thinking being) ini merupakan pondasi yang pasti mutlak bagi semua pengetahuan. “Saya” atau “ego” bertempat di luar sejarah dan kebudayaan sebagai asumsi metafisis dasar, tidak bergantung pada jenis iman apa pun, karena ketidakberadaannya itu mustahil selama saya tahu bahwa saya berpikir.&lt;br /&gt;Begitu mencapai simpulan tersebut, Descartes menyadari bahwa itu mengundang masalah baru yang perlu dipecahkan. Descartes sendiri menolak berpihak kepada Plato yang memperlakukan badan sebagai ilusi, karena sebagai ilmuwan ia percaya bahwa badan itu sama nyatanya dengan benak. Ia justru mengambil sudut pandang metafisis yang dikenal sebagai “dualisme”, yang berarti bahwa baik benak maupun badan itu sama–sama dipandang nyata. Yang pertama merupakan “substansi pikir“ (res cogitans), sedangkan yang kedua merupakan “substansi ekstensi“ (res extensa). Sekalipun demikian, sekarang ia menunjukkan bahwa pengetahuan kita tentang badan kita, beserta keseluruhan alam ekstensi, tak pernah bisa sepasti pengetahuan kita tentang alam pikir kita. Kalau begitu, realitas badan itu kita percaya berdasarkan apa? Bagaimana badan dan benak itu berkaitan? &lt;br /&gt;Pertanyaan pertama dijawab oleh Descartes di meditasinya yang ketiga dengan memanfaatkan Tuhan. Ia memulainya dengan menyusun suatu argumentasi yang kini disebut “argumen ontologis” tentang eksistensi Tuhan (yakni argumen yang hanya memanfaatkan pemahaman yang tepat mengenai konsep “Tuhan”). Bukti yang ia ajukan itu semacam ini: kita semua di dalam diri kita mempunyai idea “kesempurnaan”; setiap orang tahu bahwa “ego” yang ia yakini keberadaannya (yaitu benaknya sendiri) bukanlah Yang-Berada sempurna; [1] sekalipun begitu, Yang-Berada sempurna ini pasti eksis pada aktualnya, karena kalau tidak, ia akan kurang sempurna. Artinya, jika konsep kita tentang Yang-Berada yang paling sempurna itu mengacu pada suatu Yang-Berada yang pada kenyataannya tidak eksis, maka Yang-Berada ini tidak akan sesempurna Yang-Berada sempurna yang benar–benar eksis. Lalu Descartes menyatakan bahwa, karena dengan jalan itu kita bisa yakin bahwa suatu Yang-Berada sempurna (“Tuhan”) itu eksis, dan karena Yang-Berada semacam ini pasti baik supaya sempurna, kita pun bisa yakin bahwa Yang-Berada semacam ini tidak akan menipu kita. Dalam menanggapi kritik-kritik yang mengira bahwa argumen semacam itu tak berujung-pangkal (yaitu bahwa argumen itu telah mengasumsikan hal yang hendak ia buktikan), Descartes memanfaatkan gagasan tentang “idea bawaan” (idea-idea yang hadir di benak kita pada waktu kita lahir, dan karenanya otentik sendiri), yang menegaskan bahwa “Tuhan” merupakan idea bawaan seperti halnya idea “ego” saya sendiri.&lt;br /&gt;Kendati kita bisa menerima penjelasan teologis Descartes tentang alasan agar kita dapat mempercayai realitas dunia eksternal, masih ada persoalan tentang bagaimana pada aktualnya benak kita berkaitan dengan badan kita, jika memang keduanya pada hakikatnya merupakan dua substansi yang berbeda. Solusi Descartes atas masalah ini tidak begitu disetujui oleh rekan–rekannya sesama filsuf. Ia menduga bahwa suatu kelenjar kecil di dasar otak, yang disebut “kelenjar kerucut” bertanggung jawab untuk memastikan hubungan sebab-akibat antara benak dan badan. Pada zaman Descartes, ide yang dominan tentang badan manusia adalah bahwa badan itu mesin yang hidup, sehingga kapan saja suatu bagian bergerak, pergerakannya pasti disebabkan oleh suatu proses mekanis sedemikian rupa, sehingga beberapa bagian lain “tergeser” ke dalamnya sebagaimana adanya. Jadi, Descartes mengklaim bahwa bila benak ingin badan melakukan sesuatu, ini mempengaruhi kelenjar kerucutnya, entah bagaimana, sehingga memulai suatu reaksi berantai yang berakhir pada berlangsungnya tindakan yang dikehendaki. Jadi, jika benak saya menyuruh saya untuk melempar sepotong kapur tulis ini ke udara, gagasan ini berputar–putar di benak saya sampai mencapai cukup kekuatan untuk menimbulkan dampak yang signifikan, lalu gagasan ini memintas menuju kelenjar kerucut saya, yang menyampaikan serangkaian pergerakan melalui leher saya dan turun ke lengan saya, sampai akhirnya lengan saya mematuhi perintah itu, seperti ini! &lt;br /&gt;Setelah menjelaskan dua cara utama Descartes dalam mempertahankan dualisme metafisisnya, sekarang kita bisa meringkas teorinya sebagai berikut: [2]&lt;br /&gt;                           benak&lt;br /&gt;                       res cogitans&lt;br /&gt;           (argumen&lt;br /&gt;           ontologis)&lt;br /&gt;                          masalah&lt;br /&gt;Tuhan                   benak-badan            kelenjar kerucut&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                                   (penjelasan&lt;br /&gt;                                    biologis)&lt;br /&gt;                           badan&lt;br /&gt;                        res extensa&lt;br /&gt;Gambar III.2: Solusi Descartes atas Masalah Benak-Badan&lt;br /&gt;Dualisme Descartes mengandung beberapa konsekuensi penting. Untuk satu hal, paham ini mengganti definisi Aristoteles tentang manusia sebagai “hewan rasional” dengan gagasan tentang benak yang tertanam di mesin jasmani. Di bidang ilmu alam, gagasan ini berpengaruh besar dengan menyediakan pandangan kealaman bagi para ilmuwan yang memungkinkan mereka untuk mencapai (atau sekurang–kurangnya percaya bahwa mereka bisa mencapai) perspektif yang pada keseluruhannya obyektif tentang dunia eksternal, yang secara keseluruhan meredam segala pengaruh yang mungkin terdapat pada benak pengamat sendiri tentang pengetahuan yang kita capai. Dalam pengertian ini, dualisme Descartes bisa dianggap sebagai pembuka jalan bagi ilmu Newtonian. Pandangan bahwa ego manusia mengendalikan dunia material, walau kini dipersoalkan oleh banyak pemikir modern (lihat Kuliah 18, misalnya), merupakan pandangan yang memungkinkan teknologi berkembang dengan sangat pesat pada tigaratus tahun terakhir.&lt;br /&gt; Selama menyangkut metafisika, konsekuensi dualisme Descartes yang paling signifikan adalah bahwa dualisme ini memicu kontroversi baru, yang biasanya dikenal sebagai “masalah benak-badan”. Pandangan Descartes sendiri tampaknya sangat tidak masuk akal; namun adakah cara yang lebih baik untuk menjelaskan kesalingaruhan yang tampak antara benak dan badan? Perdebatan perihal jawaban yang tepat atas pertanyaan ini mulai berlangsung tidak lama kemudian dan sesungguhnya masih terjadi di beberapa lingkungan filosofis saat ini. Sebagai contoh, salah satu buku yang paling berpengaruh yang ditulis oleh seorang filsuf analitik abad keduapuluh, Gilbert Ryle, The Concept of Mind, bermula dengan argumen bahwa dualisme Descartes didasarkan pada “kekeliruan kategori” dan bahwa pemahaman yang tepat tentang cara pemakaian kata–kata seperti “benak” dan “badan” bisa memecahkan seluruh masalah benak–badan seketika dan selamanya. &lt;br /&gt;Kontroversi benak–badan mencapai puncaknya segera sesudah penerbitan karya Descartes, Meditations. Kita tidak punya waktu untuk analisis yang mendalam terhadap argumen–argumen yang mengemuka tadi. Namun demikian, memberi tinjauan singkat perihal lima alternatif yang paling menonjol terhadap posisi Descartes, yang masing–masing disajikan beserta penganjurnya yang paling berpengaruh, itu mungkin sangat berguna. Mereka ialah: &lt;br /&gt;(1) Materialisme: Thomas Hobbes (1588–1679) menyatakan bahwa yang sebenarnya eksis itu hanya materi. Benak itu hanya konfigurasi bahan (atau materi) otak secara khusus. Karena itu, tidak ada masalah interaksi, karena pada keseluruhannya sistem itu bersifat fisis. Pandangan ini serupa, walau tidak persis sama, dengan realisme Aristoteles.&lt;br /&gt;(2) Immaterialisme: George Berkeley (1685–1753) menyatakan bahwa sebenarnya yang eksis itu hanya persepsi. Tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa eksistensi materi itu mandiri di luar benak pencerap. Karena itu, tidak ada masalah interaksi, karena pada keseluruhannya sistem itu bersifat spiritual. Pandangan ini serupa, walau tidak persis sama, dengan idealisme Plato.&lt;br /&gt;(3) Paralelisme: Nicolas Malebranche (1638–1715) menyatakan bahwa sesungguhnya benak dan badan itu merupakan substansi yang terpisah, tetapi pada aktualnya tidak berinteraksi. Benak dan badan kelihatannya berinteraksi manakala pikiran, benak dan tindakan badan itu berjalan sejajar satu sama lain; namun dalam kejadian seperti ini, persesuaiannya diatur langsung oleh Tuhan.&lt;br /&gt;(4) Teori Aspek Ganda: Benedictus de Spinoza (1632-1677) menyatakan bahwa benak dan badan (seperti semua materi dan spirit) adalah dua aspek dari satu realitas dasar, yang bisa disebut “Tuhan” atau “Alam”, tergantung pada bagaimana subyek memandangnya. Realitas adalah seperti sekeping uang logam dengan dua muka yang cukup berlainan, tetapi keduanya sama–sama benar sebagai deskripsi tentang koin ini.&lt;br /&gt;(5) Epifenomenalisme: David Hume (1711-1776) menyatakan bahwa benak itu bukan apa–apa kecuali sebundel persepsi yang muncul dari badan. Di kemudian hari, para filsuf mempertajam pandangan ini dengan menyatakan bahwa badan (terutama otak) merupakan realitas utama, tetapi badan ini menciptakan benak. Sebagian filsuf menyatakan bahwa begitu benak muncul, benak itu mempunyai realitas sendiri. &lt;br /&gt;Saya hendak menyimpulkan kuliah ini dengan mengemukakan satu perbedaan yang sangat signifikan antara metafisika Descartes dan metafisika Plato-Aristoteles. Bagi Plato dan Aristoteles, dan bagi hampir semua filsuf selama duaribu tahun sepeninggal mereka, jawaban atas pertanyaan dasar epistemologi (“Apa yang bisa saya ketahui?”) tergantung pada jawaban terdahulu atas pertanyaan dasar metafisika (“Apa yang pada hakikatnya nyata?”) Bagi Descartes, justru sebaliknyalah yang benar. Sebagaimana yang telah kita amati, ia memulai penyelidikannya dengan menanyakan apa yang bisa kita ketahui dengan pasti, dan hanya atas dasar jawaban atas pertanyaan inilah ia menyusun dualisme metafisisnya. &lt;br /&gt;Seperti yang akan kita lihat di Kuliah 8, metafisikawan berikutnya yang gagasannya akan kita ulas juga memberi prioritas pada epistemologi. Karena itu dengan menjajagi kuliah tersebut sepintas lalu, kita dapat memanfaatkan salib sebagai peta pertalian antara metode–metode yang diterapkan oleh empat metafisikawan yang kita pelajari di Bagian Satu ini: &lt;br /&gt;                          Dialog Plato&lt;br /&gt;              prioritas pada&lt;br /&gt;                metafisika&lt;br /&gt;Ilmu Aristoteles                                Kritik Kant&lt;br /&gt;                                    prioritas pada&lt;br /&gt;                                     epistemologi&lt;br /&gt;                      Kesangsian Descartes&lt;br /&gt;Gambar III.3: Empat Metode Filosofis Pokok&lt;br /&gt;Salah satu bahaya besar bagi mahasiswa pemula dalam studi fisafat adalah bahwa mereka mungkin dijejali dengan anekaragam sudut pandang dan pendapat yang terungkap pada bidang studi yang ia kaji, semisal metafisika. Meskipun peta–peta seperti di atas itu tak pelak lagi terlampau menyederhanakan pertalian yang rumit di antara empat filsuf tersebut, peta-peta itu bisa membantu kita untuk mendapatkan pegangan tentang persamaan dan perbedaan mereka, di samping menyiratkan wawasan yang lebih luas tentang berbagai hal. Umpamanya, diagram tersebut menyiratkan bahwa perkembangan filsafat Barat dapat dianggap sebagai proses yang berjalan pelan–pelan, sebagaimana adanya, dari wawasan yang tertinggi dan paling jauh ke landasan penalaran insani yang terdalam. Di dua kuliah mendatang, kita akan membahas lebih lanjut siratan ini yang akan memberi kita paparan yang akurat mengenai kontribusi Kant terhadap akar–akar pohon filosofis kita. &lt;br /&gt;8. Filsafat Sebagai Kritik Transendental&lt;br /&gt;Filsuf terakhir yang ide-idenya tentang metafisika akan kita bahas secara rinci di Bagian Satu matakuliah ini ialah orang yang pengaruhnya terhadap filsafat pada duaratus tahun terakhir ini, baik di Barat maupun di Timur, tak bisa diremehkan. Ia hampir secara universal diakui sebagai filsuf terbesar sejak masa Aristoteles: seorang pemikir yang ide-idenya harus diterima atau ditolak, tetapi tidak bisa diabaikan. Bahkan, ada yang menyatakan, dengan sah, bahwa filsafat di duaratus tahun ini bagaikan serangkaian catatan kaki terhadap tulisan-tulisannya! Ada pula yang memandang bahwa sistem filsafatnya bagi dunia modern ini laksana Aristoteles bagi dunia skolastik: suatu sistem acuan intelektual yang berlaku. (Skolastikawan ialah para teolog abad pertengahan yang menggunakan filsafat untuk menafsirkan agama Kristen, yang juga berspekulasi pada persoalan–persoalan seperti berapa banyak malaikat yang dapat melewati sebuah lubang jarum. Skolastikisme mencapai puncaknya pada karya Thomas Aquinas, namun menjadi kurang berpengaruh setelah Descartes tampil.) Seperti Aristoteles, pemikir besar ini menulis tentang hampir semua tema pokok filsafat dan mempunyai pengaruh yang segera dan bertahan lama terhadap cara pikir orang–orang—filsuf dan non-filsuf. Kita akan sering menilik pemikir ini pada kuliah–kuliah mendatang, namun hari ini kita hanya akan memperhatikan segi filsafatnya yang paling dekat hubungannya dengan metafisika. &lt;br /&gt;Dialah Immanuel Kant (1724–1804) yang lahir dari keluarga kelas pekerja di Königsberg (kini Kaliningrad), kota pelabuhan Prusia. Ia hidup dengan tenang, teratur, tak pernah kawin, tak pernah bepergian lebih dari limapuluh kilometer dari tempat kelahirannya sepanjang hayatnya. Kant sering menjadi subyek karikatur secara agak tak wajar, semisal bahwa rutinitas hariannya amat kaku sampai–sampai para tetangganya menyetel arloji mereka menurut kedatangan dan kepergiannya setiap hari! Akan tetapi, saya lebih menganggap bahwa cerita semacam itu mencerminkan integritas kehidupannya yang bersesuaian dengan ide-idenya sendiri. Ini karena, seperti yang akan kita amati, barangkali pandangan filosofis Kant bersifat sitematis sepenuhnya, yang diatur dengan suatu pola ide teratur yang saling berkaitan. Sesudah ia meninggal, epitaf di batu nisannya hanya bertuliskan “Sang Filsuf“—sebuah sebutan yang tepat, dengan mempertimbangkan bahwa periode filsafat yang bermula dengan tampilnya Sokrates menjadi lengkap dalam banyak hal dengan hadirnya Kant.&lt;br /&gt;Kant terdorong untuk menggagas metode filosofis baru itu karena alasan yang sama dengan alasan Descartes: ia bertanya dalam hati mengapa ilmu–ilmu lain maju pesat, tetapi metafisika tidak demikian. Sekalipun begitu, jawabannya atas pertanyaan ini bukan hanya mengabaikan masalah benak-badan seluruhnya, melainkan juga kontribusi utama Descartes lainnya: yakni keyakinannya akan obyektivitas mutlak dunia eksternal. [3] Kant mengajukan pertanyaan baru: benarkah anggapan Descartes (dan kebanyakan filsuf lainnya) bahwa obyek yang kita alami dan menjadi kita ketahui merupakan benda di dalam lubuknya (thing in itself)? Istilah “benda di dalam lubuknya” merupakan istilah teknis yang ia pakai untuk membahas hakikat realitas terdalam; ini berarti “benda di alam, yang dipandang lepas dari kondisi-kondisi yang memungkinkan diketahuinya segala sesuatu tentang benda ini.” Dengan adanya definisi ini, tegas Kant, benda di dalam lubuknya pasti tak terketahui. Dengan berlawanan sama sekali dengan Descartes, yang mensyaratkan bahwa titik awalnya adalah unit pengetahuan yang kepastiannya mutlak, titik tolak sisten pemikiran filosofis Kant adalah yakin akan realitas benda-benda yang di dalam lubuknya masing-masing tak terketahui. (Ini hanya salah satu perbedaan metode filosofis antara Descartes dan Kant yang saling bertentangan.)&lt;br /&gt;Kant menamai sendiri cara berfilsafatnya: metode “Kritis”. Judul tiga buku utamanya, yang di dalamnya ia kembangkan Sistemnya, masing-masing dimulai dengan kata “Kritik”. Setiap buku itu menggunakan “sudut pandang” yang berlainan; masing-masing menghadapi semua pertanyaan masing-masing dengan ujung pandang khusus. Kritik pertamanya, (CPR), pusat perhatian kita pada kuliah ini, mengambil sudut pandang teoretis. Ini berarti jawaban-jawaban atas semua pertanyaan yang diajukan ini berkenaan dengan pengetahuan kita. Dua Kritik lainnya, seperti yang akan kita amati pada waktunya nanti, kadang-kadang menjawab pertanyaan yang sama itu dengan cara yang berbeda, karena mengambil sudut pandang yang berbeda. Oleh sebab itu, mengakui perbedaan antara sudut-sudut pandang itu penting sekali demi ketepatan pemahaman tentang filsafat Kant. Kita dapat menggambarkan kesalingterkaitan antara tiga bagian dari Sistem Kant dengan cara sebagai berikut:&lt;br /&gt;I. Kritik Akal Murni&lt;br /&gt;   (Critique of Pure Reason)&lt;br /&gt;   sudut pandang teoretis&lt;br /&gt;                           III. Kritik Penimbangan&lt;br /&gt;                                (Critique of Judgment)&lt;br /&gt;                                sudut pandang yudisial&lt;br /&gt;II. Kritik Akal Praktis&lt;br /&gt;    (Critique of Practical Reason)&lt;br /&gt;    sudut pandang praktis&lt;br /&gt;Gambar III.4: Kritik Kant dan Sudut Pandangnya&lt;br /&gt;Pembandingan Gambar III.4 dengan Gambar II.6 menyiratkan bahwa metode Kritis merupakan bentuk baru metode Sokratik. Perhatian utama Sokrates adalah mencermati diri-sendiri dan orang lain dalam pencarian kealiman, sedangkan metode Kritis Kant menghajatkan pemeriksaan terhadap akal itu sendiri. Dengan kata lain, “kritik” yang benar, bagi Kant, adalah suatu proses yang dengannya akal bertanya kepada akal itu sendiri mengenai jangkauan dan batas-batas kekuatannya sendiri. Tujuan pemeriksaan diri tersebut adalah menemukan, untuk sekali dan selamanya, semua tapal batas antara apa yang bisa dan yang tak bisa dicapai oleh akal manusia. Di setiap “pengetahuan”, kita mencapai “kondisi-transendental”—begitulah Kant menyebutnya—pengetahuan empiris. Jadi, metode kritisnya mensyaratkan “refleksi transendental”, yang arti sederhananya adalah memikirkan kondisi-niscaya (atau syarat-perlu) posibilitas pengalaman. Sesuatu yang transendental adalah sesuatu yang pasti benar; kalau tidak, pengalaman itu sendiri akan mustahil. Kant menyebut bahwa segala yang di luar tapal batas itu “transenden”; karena manusia tak pernah mengalami hal-hal sedemikian itu, yang disebut “nomena”, hal-hal tersebut tak bisa diketahui sama sekali oleh akal manusia. Akan tetapi, segala yang di dalam tapal batas itu menegaskan hal-hal yang terbuka untuk dipelajari melalui “refleksi empiris” umum. Obyek yang bisa diketahui secara empiris ini ia sebut “fenomena”. Pembedaan antara obyek empiris, “benda” transenden, dan perspektif transendental itu, seperti yang tampak di Gambar III.5, merupakan salah satu pembedaan terpenting di keseluruhan sistem teoretis Kant.&lt;br /&gt;kondisi transendental&lt;br /&gt;                             “benda” transendental&lt;br /&gt;                              yang tak terketahui&lt;br /&gt;                                    (nomena)&lt;br /&gt;         obyek empiris&lt;br /&gt;      yang bisa diketahui&lt;br /&gt;          (fenomena)&lt;br /&gt;Gambar III.5: Tapal Batas Transendental Ala Kant&lt;br /&gt;Pada ketiga Kritik masing-masing, Kant menampilkan tipe pemeriksaan-diri-akal yang berbeda-beda; ia menyelidiki tapal batas antara apa yang bisa dan yang tak bisa kita ketahui (teoretis) di Kritik pertama, antara apa yang harus dan yang jangan sampai kita lakukan (praktis) di Kritik kedua, dan antara apa yang bisa dan yang tak bisa kita harapkan (yudisial) di Kritik ketiga. Katanya, tiga perkara ini bisa dirangkum sebagai upaya untuk memahami identitas “manusia”; jadi, empat pertanyaan yang terlihat di Gambar III.6 memaparkan hubungan yang sistematis antara unit-unit karya filosofisnya sendiri. Pertalian antara empat pertanyaan tersebut perlu diperhatikan manakala kita membahas Kant (terutama pada Kuliah 22, 29, 32, 33), karena ia sendiri mengingatkan bahwa demi memahami ide-idenya dengan tepat, pembacanya harus menangkap “ide keseluruhannya” (CPR 37).&lt;br /&gt;               Apakah manusia itu?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apa yang bisa                       Apa yang bisa&lt;br /&gt;saya harapkan?                      saya ketahui?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Apa yang harus saya lakukan?&lt;br /&gt;Gambar III.6: Empat Pertanyaan Filosofis Ala Kant&lt;br /&gt;Metode baru Immanuel Kant mensyaratkan bahwa kita melihat kebenaran di kedua sisi yang bertolak belakang, mengakui bahwa itu saling membatasi, dan, akibatnya, mengambil sudut pandang yang mengiyakan hal-hal yang sah di kedua sisi itu. [4] Dengan mengharap bahwa anda ingat akan Kuliah 7, [perhatikanlah bahwa] metode baru ini berlawanan tajam dengan metode Descartes; metode Descartes memandang salah Plato atau pun Aristoteles, sedangkan metode Kant memandang benar keduanya, seperti yang terlihat di bawah ini:&lt;br /&gt;                        Dialog Plato&lt;br /&gt;                                      perspektif&lt;br /&gt;                                     transendental&lt;br /&gt;Kesangsian Descartes                               Kritik Kant&lt;br /&gt;(keduanya salah)                                   (keduanya benar)&lt;br /&gt;                                      perspektif&lt;br /&gt;                                        empiris&lt;br /&gt;                   Teleologi Aristoteles&lt;br /&gt;Gambar III.7: Descartes Lawan Kant tentang Plato Dan Aristoteles&lt;br /&gt;Menurut Kant, baik Plato maupun Aristoteles membuat kekeliruan, sebagaimana sebagian besar filsuf Barat lainnya, yang berupa pengabaian sudut pandang yang berkebalikan dan pengambilan posisi ekstrim yang akhirnya hanya mengungkap setengah kebenaran. Jika pandangan Kant tentang “benda di dalam lubuknya” benar, maka kata-kata Plato benar bahwa obyek-obyek pengalaman hanya merupakan penampakan dari benda di dalam lubuknya; karena kala mengatakannya, ia mengambil perspektif “transendental” Kant. Begitu pula, kata-kata Aristoteles pun benar bahwa penampakan merupakan obyek sejati ilmu (yakni pengetahuan); karena kala mengatakannya, ia mengambil perspektif “empiris” Kant. Pada keduanya, kekeliruan mereka disebabkan oleh kenyataan bahwa mereka belum mengakui kebebalan mereka perihal benda di dalam lubuknya. Kelalaian inilah yang menyebabkan Plato berkeyakinan keliru bahwa kita bisa mencapai pengetahuan mutlak dari idea belaka dan inilah yang menyebabkan Aristoteles berkeyakinan keliru bahwa substansi merupakan realitas terdalam. Jadi, metode Kritis mendorong kita untuk tidak hanya mensintesis idealisme Plato dan realisme Aristoteles, tetapi juga menjelaskan kebenaran keduanya, yang melestarikan paham-paham ini sedemikian lama, dan juga kekeliruan yang menyebabkan paham-paham itu berpembawaan tidak memuaskan. Nah, mari kitas selidiki bagaimana Kant menyelesaikan tugas itu.&lt;br /&gt;Pada Pengantar Kritik pertama edisi kedua, Kant beralih ke ilmu-ilmu yang mapan dengan harapan mendapatkan gelagat kesuksesan ilmu-ilmu itu. Ia dapati, logika bisa menjadi ilmu yang eksak hanya bila bidang penyelidikannya dibatasi dengan jelas (CPR 18). Matematika berkembang hanya kala orang-orang mulai mencari karakteristik yang niscaya dan semestawi yang terkandung dalam obyek-obyek yang kita pertalikan, bukan hanya karakteristik aksidentalnya (19). Ilmu-ilmu alamiah berhasil hanya tatkala berjalan menurut rencana yang ditentukan lebih dahulu (20). Dengan dilengkapi dengan isyarat-isyarat ini, Kant memperoleh satu gelagat akhir dengan beralih ke seorang ilmuwan istimewa, yang wawasan hebatnya banyak mengubah cara pandang kita terhadap alam semesta.&lt;br /&gt;Dialah Nicolaus Copernicas (1473-1543), seorang astronom Polandia yang berani mempersoalkan asumsi yang telah lama dianut bahwa bumi adalah piringan datar yang terletak di tengah-tengah alam semesta. Ia yakin, anggapan itu menjauhkan kita dari penjelasan mengapa sebagian planet bergerak memutar tatkala berjalan melewati langit dari malam ke malam, dan kemudian memutar lagi untuk melanjutkan perjalanan searah dengan bintang-bintang. Maka ia memutuskan untuk mencoba asumsi bahwa matahari pada aktualnya berada di tengah-tengah alam semesta, sedangkan bumi dan planet-planet lain semuanya adalah bola bundar yang berputar mengelilingi matahari. Dengan menggunakan asumsi baru ini, bersama-sama dengan klaim bahwa bumi pun berputar mengelilingi porosnya sendiri, ia merasa dapat menjelaskan secara matematis bagaimana semua planet pada kenyataannya selalu bergerak di suatu orbit yang menyerupai lingkaran, walaupun kelihatannya arahnya berbeda bila diamati oleh pengamat di bumi.&lt;br /&gt;Kant menyarankan, kita sebaiknya mencoba eksperimen serupa terhadap metafisika (lihat Gambar III.8). [5] Para filsuf di masa lalu bukan hanya selalu menganggap benda di dalam lubuknya bisa diketahui, melainkan juga selalu menganggap pengetahuan kita pasti dengan sendirinya cocok dengan obyek, bukan sebaliknya. Mengapa tidak mencoba asumsi yang sebaliknya? Mungkin di metafisika, seperti di astronomi, peri yang benar tentang apa yang kelihatannya benar itu berbeda dengan peri yang benar tentang apa yang pada kenyataannya benar. Dengan kata lain, Kant mengusulkan agar perihal metafisika, yang lebih tepat mungkin mengatakan bahwa obyek-obyek dengan sendirinya cocok dengan pengetahuan subyek (yakni cocok dengan benak manusia)!&lt;br /&gt;Matahari                       Bumi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        Bumi                           Matahari&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(a) Penampakan                (b) Realitas&lt;br /&gt;Kunci:&lt;br /&gt;Matahari = obyek&lt;br /&gt;Bumi = subyek&lt;br /&gt;pergerakan = sumber pengetahuan&lt;br /&gt;diam = cocok dengan sumber tersebut&lt;br /&gt;Gambar III.8: Revolusi Copernican Kant&lt;br /&gt;“Perspektif transendental” baru ini mungkin kedengarannya cukup ganjil. Bagaimana bisa dimengerti, sebagai misal, bahwa pengetahuan saya tentang kapur tulis ini bukan bergantung pada kapur tulis itu sendiri, melainkan pada benak saya? Menurut cara pikir (empiris) kita sehari-hari, pengetahuan saya bahwa kapur tulis ini putih tentu saja sama sekali tidak berasal dari penemuan oleh benak; namun pada faktanya, bisa diamati dengan gamblang bahwa kapur tulis ini tampak putih. Kant tidak pernah menyangkal kebenarannya. Yang ia sangkal adalah bahwa penampakan semacam itu merupakan realitas metafisisnya; penampakan itu justru berada dalam ranah fisika dan ilmu [alamiah] lainnya. Intinya adalah bahwa terdapat realitas transendental lain yang sama-sama sah sebagai cara pikir tentang obyek-obyek yang terungkap dengan lebih mendalam, dan bahwa bila kita berpikir dengan cara ini, ketika kita berpikir tentang kebenaran apa yang niscaya perihal pengalaman kita tentang sepotong kapur tulis ini, maka ternyata bahwa unsur-unsur pengetahuan kita ini berasal dari benak kita, bukan dari obyek itu sendiri. Oleh sebab itu, yang empiris dan yang transendental harus diakui sebagai dua sisi suatu koin, dua perspektif, yang keduanya memberi kita cara pandang yang benar terhadap dunia nyata, namun terbatas.&lt;br /&gt;Lantas, apa saja syarat-transendental posibilitas pengalaman? Dengan kata lain, unsur-unsur apa sajakah yang keniscayaannya mutlak yang, menurut Kant, “pergerakannya” merupakan tapal batas antara pengetahuan kita yang nirmustahil dan kebebalan kita yang niscaya? Setengah bagian pertama dari Critique of Pure Reason berupaya menemukan dan membuktikan kesahihah-niscaya serangkaian syarat-syarat itu. Dalam proses pemenuhan tugas ini, Kant mengemukakan bahwa semua pengetauan empiris tersusun dari dua unsur: intuisi dan konsep. Intuisi adalah segala hal yang “diberikan” kepada indera kita, dan merupakan material di luar benak (yang menghasilkan pengetahuan kita). Demi maksud kita di sini, kita bisa memandang “intuisi” sebagai “cara kerja indera kita”. Konsep adalah kata atau pikiran yang kita pakai untuk mengelola intuisi kita secara aktif menurut berbagai aturan berpikir.&lt;br /&gt;Kant berupaya membuktikan bahwa ruang dan waktu merupakan “bentuk intuisi” transendental, sedangkan sejumlah duabelas kategori tertentu merupakan “bentuk konsepsi” transendental. Kategori-kategori itu tertata dalam empat kelompok yang disebut “kuantitas”, “kualitas”, “relasi”, dan “modalitas”, yang masing-masing terdiri dari tiga kategori, seperti yang tampak pada Gambar III.9. Pada jam kuliah ini kita bebas mengabaikan rincian bagian-bagian dari teori Kant ini tanpa risiko, karena Kuliah 21 akan mencakup tinjauan yang lebih mendalam terhadap kategori terpenting, kausalitas. Lagipula, sebagaimana yang akan kita kaji di Pekan V, memahami bentuk logis serangkaian kategori tersebut lebih penting daripada memahami alasan Kant mengapa ia memilih duabelas kategori ini. Yang pokok dalam hal ini adalah memahami fungsi kategori-kategori tersebut, di samping ruang dan waktu, bentuk intuisinya yang berposisi berimbang.&lt;br /&gt;                               nasib&lt;br /&gt;              aktualitas                   kesatuan&lt;br /&gt;   posibilitas         Modalitas   Kuantitas         pluralitas&lt;br /&gt;timbal-balik                                           totalitas&lt;br /&gt;    kausalitas           Relasi     Kualitas         realitas&lt;br /&gt;               substansi                    negasi&lt;br /&gt;                              batasan&lt;br /&gt;Gambar III.9: Pembagian Kategori Lipat-Duabelas Ala Kant &lt;br /&gt;Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap teori Kant tentang forma intuisi dan forma konsepsi, kita harus cermat dalam menanggapi pertanyaan seperti “Bagaimana mungkin saya tahu segalanya tentang sepotong kapur tulis ini?” dengan mempertimbangkan apakah ini pertanyaan empiris ataukah transendental. Jika transendental, maka jawabannya, menurut Kant, adalah bahwa benak kita sendiri memaksakan suatu kerangka ruang dan waktu atas obyek itu, sehingga melalui kerangka ini kita mampu mencerap keberadaannya, dan suatu kerangka kategori, sehingga melalui kerangka ini kita mampu memikirkan hakikatnya. Saya pikir kita semua akan setuju bahwa jika sepotong kapur tulis ini tidak terlihat oleh kita di ruang dan waktu kita, maka kita takkan bisa mencerapnya, dan bahwa kita memerlukan suatu konsep (“kapur tulis”), di samping memerlukan aturan-aturan umum perihal berpikir, dengan maksud mendapatkan pengetahuan apa saja tentang cerapan ini (atau lainnya). Pemeriksaan atas tatapikir semacam itu akan menjadi salah satu dari tugas utama kita di Bagian Dua.&lt;br /&gt;Klaim Kant yang paling kontroversial adalah bahwa kedua kondisi-niscaya pengetahuan tersebut tidak bisa dijelaskan kecuali bila kita mengakui bahwa keduanya berakar pada benak manusia itu sendiri. Karena para filsuf saja selama duaratus tahun telah bersilang pendapat tentang apakah klaim yang disebut “Revolusi Copernican” dalam dunia filsafat ini pada kenyataannya masuk akal ataukah tidak, saya yakin kita tidak akan menyudahi persoalan ini sekarang; akan tetapi, saya harap anda sendiri memikirkan persoalan ini dengan lebih cermat. Di Kuliah 9 mendatang, saya akan membahas beberapa implikasi metafisis dari Kritik pertama dan mengulas secara singkat bagaimana Kant mempengaruhi metafisika selama duaratus tahun terakhir ini. Klaim saya nanti adalah bahwa pandangan Kant menggambarkan wawasan Sokrates, yang tersaji dalam bentuk benih, dalam versi yang dewasa sepenuhnya. &lt;br /&gt;9. Filsafat Selepas Kritik&lt;br /&gt;Khazanah epistemologis Kant segera berdampak kuat terhadap semua bidang penyelidikan filosofis, yang mendatangkan suatu zaman [baru] yang disebut “era modern” filsafat Barat dan membangkitkan serangkaian panjang filsafat “pascamodern” atau “pasca-Kritis”. Sebelum menyinggung bagaimana Kant mempengaruhi perkembangan metafisika sepeninggalnya, saya akan secara singkat memeriksa implikasi metafisis, yang diyakini oleh Kant sendiri, dari epistemologinya.&lt;br /&gt;Kant mengemukakan bahwa kondisi transendental pengetahuan (yakni ruang dan waktu dan kategori-kategori) memancangkan tapal batas mutlak yang memungkinkan kita untuk menimbang realitas yang bisa dan yang tidak bisa kita ketahui. Segala konsep yang tidak disertai dengan intuisi yang bersesuaian dengan ini, atau segala intuisi yang tidak bisa dikonsepkan, tidak akan bisa digunakan untuk membangun pengetahuan. Namun demikian, manakala seseorang memperoleh suatu pengetehuan empiris, akalnya tak pelak lagi membangun “idea-idea” tertentu tentang hal-hal yang berada di luar tapal batas pengetahuan kita. Menurut Kant, yang terpenting dalam hal ini adalah idea-idea metafisis tentang “Tuhan, kebebasan, dan keabadian”: akal memaksa kita untuk mengasumsikan keberadaan tiga idea tersebut, namun kita tak dapat membuktikan bahwa ketiganya merupakan obyek yang realitasnya kita ketahui. Kenyataan bahwa kita bebal perihal tiga aspek terpenting kehidupan manusia itu merupakan masalah, sebagaimana yang terlukis dalam Gambar III.10, yang solusinya merupakan tugas utama filsafat.&lt;br /&gt;     ruang dan waktu&lt;br /&gt;                          Tuhan, kebebasan, &lt;br /&gt;                            dan keabadian&lt;br /&gt;               idea-idea&lt;br /&gt;     pengetahuan empiris&lt;br /&gt;                          kebebalan-niscaya&lt;br /&gt;                              (“iman”)&lt;br /&gt;       12 kategori&lt;br /&gt;Gambar III.10: Masalah “Idea-Idea” Kantian&lt;br /&gt;Kant sendiri memecahkan masalah tersebut dengan menuntut bahwa kita harus mengubah sudut pandang pemikiran kita bila kita berhasrat untuk mengiyakan keyakinan kita akan idea-idea tersebut. Pada Kuliah 22 dan 29 kita akan menelaah dua contoh tindakan yang ia sarankan. Untuk kali ini, cukup dikatakan bahwa Kant sendiri yakin bahwa pengakuan batas-batas pengetahuan sangat baik demi metafisika. Dalam CPR 29, ia mengakui, “Saya telah … mendapati bahwa kita perlu menolak pengetahuan, supaya ada ruang bagi keyakinan.” Suatu pengakuan keterbatasan akal secara jujur dan berani mungkin membuat tugas filsafat lebih sulit dan rawan, tetapi sebagaimana yang akan kita pelajari di Kuliah 32 dan 33, inilah cara terbaik (kalau bukan satu-satunya cara) untuk melanggengkan kebermaknaan hidup manusia.&lt;br /&gt;Sekarang kita bisa merangkum corak utama metafisika Kant yang berkenaan dengan empat ajaran fundamental berikut ini:&lt;br /&gt;1. Realitas hakiki (“transenden”)—yakni realitas yang lepas dari kondisi-kondisi yang membatasi kita dalam mempelajarinya—merupakan benda di dalam lubuknya yang tak bisa diketahui.&lt;br /&gt;2. Realitas empiris—yakni aspek-khusus pengetahuan kita—ditentukan oleh “penampakan” yang kita alami (bandingkan Aristoteles).&lt;br /&gt;3. Realitas transendental-yakni aspek-umum pengetahuan kita (terutama ruang dan waktu sebagai “forma intuisi”, dan duabelas kategori sebagai “forma pikiran”)—ditentukan oleh subyek yang mengetahuinya (bandingkan Plato).&lt;br /&gt;4. Pengetahuan itu tentu menimbulkan ide-ide mengenai realitas hakiki yang bolehjadi, sekiranya kita bisa mengetahuinya; namun upaya untuk membuktikan ide-ide ini menyebabkan akal menjadi berkontradiksi-diri, sehingga ide-ide ini tidak akan menjadi unit-unit pengetahuan ilmiah.&lt;br /&gt;Implikasi dari Sistem filsafat Kant yang mencuat dari ajaran-ajaran tersebut berlipat-lipat. Dalam hal ini, mari kita amati empat implikasinya yang paling signifikan bagi metafisika.&lt;br /&gt;Pertama, bila kita pikir Sokrates menanam “benih” di sejarah filsafat Barat dengan gagasannya bahwa para filsuf harus bertolak dari pengakuan hal-hal yang tidak mereka ketahui, maka pohon yang tumbuh dari benih ini berbuah untuk pertama kalinya bersama-sama dengan Kant. Kant setuju bahwa filsafat bermula dengan pengakuan kebebalan; sesungguhnya, ia pun menegaskan bahwa “manfaat yang tak terhitung nilainya” dari Kritik Pertama adalah “bahwa semua keberatan atas moralitas dan agama akan terbungkam selamanya, dan [kebungkaman] ini dalam nuansa Sokratik, yakni [terbungkam] oleh bukti terjelas yang berupa kebebalan pengamat obyek” (CPR 30). Namun ia melangkah lebih jauh daripada Sokrates dengan menetapkan garis pemisah yang tajam, tapal batas yang berada tepat di antara kawasan “kebebalan-niscaya” dan “pengetahuan-nirmustahil”: kita mungkin dapat memikirkan suatu konsep yang tidak bisa diintuisikan, atau merasakan suatu intuisi yang tidak bisa dikoneptualkan; namun kita hanya bisa mengetahui hal-hal yang tampak dalam bentuk yang terbuka terhadap intuisi dan konsepsi. Selanjutnya, Kant memperbedakan antara dua tipe kebebalan (605-606): kebebalan-aksidental dalam hal persoalan empiris mesti mendorong kita untuk memperluas pengetahuan kita, sedangkan kebebalan-niscaya dalam hal persoalan metafisis mesti mendorong kita untuk melampaui pengetahuan menuju tujuan praktis berfilsafat—yakni untuk hidup dengan lebih baik.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, berkat Kant, metafisika akhirnya mencapai kedewasaan. Setelah selama duaribu tahun para filsuf berupaya memberantas kebebalan-niscaya dengan pengetahuan metafisis, Kant menuntaskan daur historis filsafat Barat dan, dengan demikian, menguak sejumlah masalah yang benar-benar baru. Ini karena implikasi berikutnya dari Sistem Kant adalah bahwa kini kita harus mendapatkan jalan untuk menanggulangi kebebalan-niscaya kita. Bagaimana kita bisa berfilsafat tanpa berpengetahuan tentang realitas terdalam? Duaratus tahun terakhir ini filsafat merupakan serentetan berbagai usulan tentang bagaimana hal itu bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Solusi Kant sendiri, teori “Copernican”-nya bahwa si subyek membaca kondisi transendental pengetahuan pada obyek, ditolak oleh kebanyakan filsuf sepeninggalnya. Akan tetapi, saya pikir sebaiknya kita tidak buru-buru menolak teori yang kedengarannya agak ganjil itu. Seperti halnya “cogito” Descartes melapangkan jalan bagi fisika Newtonian, saya yakin revolusi Copernican Kant melapangkan jalan bagi relativitas dan mekanika kuantum yang sama-sama berpandangan bahwa si pengamat turut-serta dalam pembentukan pengetahuan.&lt;br /&gt;Lantaran Kant telah menetapkan batas-batas pengetahuan manusia secara sedemikian tajam, kita bisa mengatakan bahwa filsafat menjadi lebih lengkap dengan kehadiran Kant daripada sebelumnya. Kant sendiri sangat menyadari aspek Sistemnya itu (CPR 10):&lt;br /&gt;I have made completeness my chief aim, and I venture to assert that there is not a single metaphysical problem which has not been solved, or for the solution of which the key at least has not been supplied.&lt;br /&gt;(Saya telah menuntaskan sasaran utama saya, dan saya terjun untuk menegaskan bahwa tidak ada satu masalah metafisis yang belum terpecahkan, atau sekurang-kurangnya solusi yang kuncinya belum tersedia.)&lt;br /&gt;Menariknya, bila anda menoleh ke bahasan kita tentang mitos di Kuliah 3, anda mungkin ingat bahwa mitos apa pun merupakan sesuatu yang terkurung dalam batas-batas [lihat Gambar I.7]. Jadi, saya pikir, benarlah pernyataan bahwa dengan kehadiran Kant, filsafat Barat mengalami suatu “pergeseran paradigma” sehingga kita bisa mengatakan, Kant memberi filsafat suatu “mitos” baru—mitos tentang benda di dalam lubuknya. Tentu saja, selama kita memperlakukan ini sebagai mitos yang “tercerahkan”—yakni selama kita selalu mengingat kemitosannya, sehingga tidak memperlakukannya sebagai kebenaran mutlak, tetapi sebagai asumsi dasar yang dipungut secara longgar berdasarkan keyakinan—kita bisa menghindari banyak kesukaran yang “hidup di dalam mitos”, kecuali kalau tak terelakkan. &lt;br /&gt;Implikasi keempat dari filsafat Kant adalah bahwa tuntutannya akan kawasan kebebalan-niscaya manusia itu menjadikan filsufnya rendah hati. Ini tampaknya mungkin mengejutkan, terutama bagi anda yang telah membaca beberapa tulisan Kant sendiri, karena jelas-jelas Kant tidak bebal perihal kehebatan prestasinya sendiri. Pada beberapa kesempatan, ia dengan bangga mengklaim bahwa Sistemnya lebih unggul daripada sistem-sistem para filsuf terdahulu semuanya. Yang saya tunjukkan di sini adalah bahwa, sementara kebanyakan filsuf memanfaatkan ide-ide spekulatif tertentu, yang memerlukan akses ke beberapa jenis pengetahuan transenden yang istimewa yang tidak bisa diakses oleh orang awam, filsafat Kant mengganti itu semua dengan hipotesis-hipotesis. Ia menempatkan para filsuf pada umumnya secara sejajar, bahkan juga sejajar dengan para non-filsuf, bila mengenai kemampuan untuk memperoleh pengetahuan mengenai persoalan-persoalan metafisis yang paling dasar. Implikasi dari filsafatnya ini acapkali terlewatkan, juga oleh mereka yang bertahun-tahun mengkaji tulisan-tulisannya, karena Kant mengungkap ide-idenya dengan peristilahan yang serumit itu. Sekalipun demikian, Kant menyatakan aspek “rendah hati” dari Sistem Kritisnya dengan cukup jelas beberapa kali. Salah satu contoh terbaiknya, menjelang halaman terakhir Kritik pertama (651-652), dikutip dengan seutuhnya:&lt;br /&gt;But, it will be said, is this all that pure reason achieves in opening up prospects beyond the limits of experience? … Surely the common understanding could have achieved as much, without appealing to philosophers for counsel in the matter.&lt;br /&gt;I shall not dwell here upon the service which philosophy has done to human reason through the laborious efforts of its criticism, granting even that in the end it should turn out to be merely negative … But I may at once reply: Do you really require that a mode of knowledge which concerns all men should transcend the common understanding, and should only be revealed to you by philosophers? Precisely what you find fault with is the best confirmation of the correctness of the [Critical philosophy]. For we have thereby revealed to us, what could not at the start have been foreseen, namely, that in matters which concern all men without distinction nature is not guilty of any partial distribution of her gifts, and that in regard to the essential ends of human nature the highest philosophy cannot advance further than is possible under the guidance which nature has bestowed even upon the most ordinary understanding.&lt;br /&gt;(Namun akan dikatakan, sungguhkah akal murni itu berhasil menyingkap tabir melantas batas-batas pengalaman? … Pikiran awam tentu bisa juga sampai di situ tanpa memohon wejangan kepada para filsuf dalam hal itu.&lt;br /&gt;Di sini saya tidak akan berpanjang-tutur tentang jasa filsafat yang telah dihibahkan kepada akal manusia melalui jerih payah kritikannya, yang juga memberi sesuatu yang pada akhirnya menjadi negatif belaka … Akan tetapi, saya bisa menukas seketika: Sesungguhnyakah anda menghajatkan bahwa ragam pengetahuan yang menyangkut semua orang harus melampaui pikiran awam, dan hanya bisa tersingkap kepada anda oleh para filsuf? Kesalahan yang anda dapati dengan cermat itu merupakan pengukuhan terbaik perihal kebenaran [filsafat Kritis]. Lantaran dengan demikian, kita mengungkap sendiri hal-hal yang pada awalnya tak terduga, yakni bahwa dalam hal-hal yang menyangkut semua manusia tanpa pandang bulu, alam tidak bersalah atas segala distribusi parsialnya, dan bahwa berkenaan dengan tujuan esensial bawaan manusia, filsafat tertinggi tidak mampu melangkah lebih jauh daripada yang mungkin [dicapai], di bawah panduan yang dilimpahkan oleh alam, oleh pikiran yang paling awam sekalipun.)&lt;br /&gt;Dengan kata lain, filsafat itu istimewa bukan karena membolehkan kita untuk berbangga mengklaim tingkat pengetahuan yang lebih tinggi daripada orang awam, melainkan karena merendahkan hati kita dengan memperlihatkan terbatasnya semua pengetahuan kita.&lt;br /&gt;Sayangnya, terdapat banyak filsuf sepeninggal Kant yang menolak untuk menerima implikasi penting dari sistemnya itu. Sejarah metafisika selama duaratus tahun terakhir ini justru banyak berisi aneka upaya untuk menghindari implikasi yang menggemaskan itu, bahwa para filsuf berkewajiban untuk rendah hati agar menjadi filsuf yang baik. Filsuf-filsuf telah mencoba lari dari konsekuensi itu dengan menyangkal, memberangus, atau menyalahartikan satu atau beberapa sudut pandang yang berusaha dipertahankan oleh Kant dengan keseimbangan yang rawan. Tokoh-tokoh kunci dalam empat pergerakan pasca-Kantian, yaitu idealisme Jerman, eksistensialisme (baik versi pesimistik/ateistik maupun optimistik/teistik), analisis linguistik, dan filsafat hermeneutik, akan diulas secara singkat pada sisa waktu jam kuliah ini.&lt;br /&gt;Para idealis Jerman (yang paling terkemuka ialah Fichte, Schelling, Hegel, dan Marx) merupakan contoh pasca-Kantian pertama dan paling terkenal yang berusaha memperoleh kembali kemampuan manusia untuk mengetahui realitas terdalam. Johann Fichte (1762-1814) pada mulanya oleh banyak orang dikira berkarakter sebagai pengganti pilihan Kant; akan tetapi, ia segera jelas-jelas putus dari Kant, dengan mengemukakan bahwa “ego transendental” pada aktualnya menghasilkan dunia ilmiah seluruhnya di luar dunia itu sendiri. Jadi, “benda di dalam lubuknya” yang bermasalah bisa dibuang karena segala yang keberadaannya lepas dari benak kita tidak diperlukan lagi. Friedrich Schelling (1775-1854) tergolong dalam Pergerakan Romantik dan sekaligus sebagai idealis; buktinya adalah penekanannya pada seni, perasaan, dan keragaman individu. Bukunya, System of Transcendental Idealism (1800), menguraikan posisi yang mirip dengan pandangan Fichte, dengan berpikiran bahwa ego itu “bertempat sendiri” (yakni membuat diri memasuki obyek), sehingga mencipatakan dunia eksternal dan menetapkan sendiri tugas untuk mengetahuinya. Kedua pandangan itu menolak mentah-mentah keberadaan realisme empiris Kant.&lt;br /&gt;Idealisme Jerman mencapai puncaknya pada Georg Friedrich Hegel (1770-1831), yang kontribusi utamanya adalah membawa sejarah ke dalam pusat perhatian metafisika. Ia mengemukakan bahwa proses tiga-tahap yang digunakan oleh Fichte dan Schelling (itu sendiri yang berakar kuat di Sistem Kant [lihat, umpamanya, Gambar III.1]) merupakan pola pasti dan logis yang memberi tahu kita bagaimana sesungguhnya sejarah berkembang. Itu memungkinkan kita untuk memperoleh akses apriori ke realitas hakiki dalam suatu forma yang oleh Hegel disebut “Spirit Mutlak“. (Kita akan melihat lebih dekat logika Hegelian pada Kuliah 12.) Tokoh yang bisa dianggap penyimpul tradisi ini ialah Karl Marx (1818-1883), bukan lantaran ia idealis, melainkan karena ia menyusun keseluruhan filsafatnya sebagai reaksi melawan sistem Hegelian. Ironisnya, hal itu mengharuskan dia untuk menerima asumsi-asumsi utama Hegel, termasuk mitos dasarnya bahwa kenyataan terdalam bisa diketahui melalui perkembangan historis. Namun lantaran fokusnya bukan metafisika, melainkan filsafat politik, kita menunda pembahasan lebih lanjut ide-ide Marx hingga Pekan IX.&lt;br /&gt;Dua filsuf Amerika, C.S. Peirce (1839-1914) dan John Dewey (1850-1952), walau bukan bagian dari idealisme Jerman, juga dipengaruhi oleh Hegel dalam mengembangkan pragmatisme, suatu pendekatan filsafat yang lebih menekankan pengertian awam daripada teori-teori metafisis seperti itu. Realitas tidak banyak ditentukan melalui penalaran filosofis, tetapi melalui penyelidikan hal-hal yang berjalan di dunia empiris. Persoalan realitas terdalam sedikit-banyak diabaikan. Secara demikian, pragmatisme tidak selalu anti-Kantian, tetapi juga tidak sepenuhnya mengambil posisi Kant (bandingkan dengan Kuliah 22 dan 29).&lt;br /&gt;Reaksi lain terhadap penyangkalan mutlak Hegel atas batas-batas Kantian menghasilkan eksistensialisme—kendati dalam hal ini mitos Hegel tentang sentralitas sejarah itu sendiri dipersoalkan dengan lebih mendasar. Dua tokoh utama paham ini ialah Arthur Schopenhauer (1788-1860) dan Søren Kierkegaard (1813-1855), yang mengembangkan alternatif terhadap Hegel; yang pertama bercorak pesimistik, yang kedua bercorak optimistik. Daripada Hegel, Schopenhauer lebih percaya kepada Kant; namun Schopenhauer memodifikasi Sistem Kant dengan menghubungkan alam benda di dalam lubuknya dengan suatu “kehendak” bawah-sadar yang mencakup segala hal yang tidak hanya berhubungan dengan persoalan moral, sebagaimana argumen Kant (lihat Kuliah 22). Ia yakin bahwa konflik antara kehendak ini dan alam eksternal menyebabkan penderitaan yang tak terelakkan, dan bahwa penderitaan ini merupakan makna sejati kehidupan. Kierkegaard juga menyerang Hegel dengan kembali kepada Kant, tetapi dengan jalan yang lebih optimistik, dengan mengakui penderitaan hidup sebagai kekuatan yang mengarahkan kita kepada Tuhan dan karenanya mesti dilalui. Posisinya akan menjadi fokus perhatian kita di Kuliah 34.&lt;br /&gt;Para pelopor tersebut selanjutnya mempengaruhi dua filsuf yang mengembangkan eksistensialisme dengan lebih eksplisit: Friedrich Nietzsche (1844-1900) dan Paul Tillich (1886-1971). Nietzsche, yang amat dipengaruhi oleh pesimisme suram Schopenhauer, menyusun suatu filsafat moral yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Kant, yang menjadi persemaian bagi hampir semua versi ateistik eksistensialisme yang selama seabad ini subur. Tillich, yang amat dipengaruhi oleh Kierkegaard, ialah filsuf-teolog yang mengembangkan kerangka eksistensialis dengan arah “optimistik” (yakni dibuktikan kebenarannya secara teologis) yang paling lengkap. Nietzsche akan menjadi fokus perhatian kita pada Kuliah 23, sedangkan Tillich pada Kuliah 17, 30, 31, dan 34.&lt;br /&gt;Yang banyak berlawanan dengan eksistensialisme selama seabad ini adalah filsafat analitik. Seperti yang akan kita amati di Kuliah 16, dua penggerak utamanya ialah Bertrand Russel (1872-1970) dan Ludwig Wittgenstein (1889-1951). Dalam tradisi ini mereka sering dipandang sebagai penerus langsung langkah-langkah Kant; akan tetapi, klaim ini didasarkan pada interpretasi yang amat anti-metafisis bahwa Kant mengenyahkan metafisika tanpa menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Untungnya, semakin banyak filsuf Anglo-Amerika [dan beberapa tipe filsuf lainnya] yang mengakui bahwa dikotomi lama antara pendekatan filsafat yang eksistensial dan analitik itu tidak sah—suatu perkembangan yang saya pikir sebaiknya disebut dengan satu kata saja, “baik” (bandingkan Gambar I.2)!&lt;br /&gt;Salah seorang filsuf yang sering dianggap eksistensialis walaupun ia berupaya tidak mengaitkan diri dengan pergerakan itu ialah Martin Heidegger (1889-1976). Pendekatannya terhadap filsafat, yang akan disinggung secara singkat di Kuliah 17 dan 34, melahirkan salah satu dari perkembangan yang paling berpengaruh di paruh-kedua abad keduapuluh: filsafat hermeneutik. Kuliah 18 akan memeriksa lebih rinci bagaimana Hans Georg Gadamer (1900- ) menyusun suatu teori interpretasi yang masih sangat berpengaruh hingga hari ini. Salah satu dari alasan utama berpengaruhnya teori ini, menurut saya, adalah bahwa teori ini tidak berfokus pada persoalan tradisional metafisika. Bahkan, pada titik yang paling ekstrim, filsafat hermeneutik membangkitkan suatu pergerakan yang disebut “dekonstruksionisme”, yang dipelopori oleh filsuf-filsuf seperti Jacques Derrida (1930- ), yang percaya bahwa bukan hanya metafisika, melainkan filsafat itu sendiri pun telah tamat. Karena kita akan membahas ide-ide ini dengan lebih lengkap di Kuliah 18 dan 24, ide-ide ini tidak perlu dirangkum di sini.&lt;br /&gt;Bila anda menempuh matakuliah metafisika, dosen anda mungkin akan berfokus pada masalah-masalah dasar tertentu yang cenderung menarik minat para metafisikawan kontemporer. Masalah-masalah itu pada khususnya berkaitan dengan salah satu dari empat “realitas” berikut ini: (1) hakikat benda-benda fisik dan persepsi kita perihal benda-benda ini (warna, misalnya); (2) hakikat benak dan identifikasi yang tepat perihal obyek-obyek mental; (3) hakikat ruang dan waktu, dan hubungan-hubungan di dalam ruang dan waktu (umpamanya: kausalitas, nasib, dan kebebasan); dan (4) hakikat entitas-entitas abstrak (contohnya: bilangan, dunia nirmustahil, dan Tuhan). Masalah sedemikian itu tidak baru; kita telah menyinggung sebagian besar dari masalah-masalah itu dalam pembahasan kita tentang metafisika klasik dan modern pada dua pekan terakhir ini, walau kadang-kadang dengan istilah lain: sifat metafisika (debat idealisme-realisme, misalnya), kodrat manusia (debat benak-badan, misalnya), dan sebagainya. Nama-namanya bisa berubah, dan metode yang dipakai oleh para filsuf kontemporer untuk menghadapi masalah-masalah tersebut cenderung semakin rumit, namun tema-tema pokoknya masih belum berubah.&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana masa depan “akar-akar” filsafat itu kala kita masuki milenium baru ini? Terdapat banyak hal yang dijalani demi metafisika selama seabad ini yang sayangnya [hanya] sedikit lebih baik daripada kemunduran pada filsafat Skolastik yang secara khas dipraktekkan di Abad Pertengahan. Di zaman ini agaknya sungguh-sungguh tiada filsafat yang diperuntukkan bagi setiap orang yang berada di luar dunia akademis. Saya yakin, satu-satunya cara untuk mencegah akhir yang tragis itu adalah belajar dari ajaran Kant yang dicoba disampaikan di Kritik pertamanya. Tujuan penyusunan epistemologinya, yang oleh banyak filsuf masih diakui sebagai yang paling lengkap dan beralasan kuat, adalah meletakkan metafisika “pada jalan ilmu yang meyakinkan” (CPR 21). Maksudnya adalah bahwa kita menelaah metafisika itu semata-mata untuk mengakui kebebalan kita akan realitas terdalam. Segera sesudah ini diselesaikan, kita jangan sampai tergoda untuk terus mencari jawaban di tempat yang salah, agar tidak mencabut akar pohon kita (yang berarti menumbangkannya) atau pun menanam kepala kita sendiri di tanah (yang berarti mematikan potensinya akan wawasan yang lebih lanjut). Sebagai tukarannya, untuk mendapatkan sesuatu yang menyerupai “pengetahuan” tentang bagaimana pertanyaan-pertanyaan tentang kebermaknaan-hidup harus dijawab, satu-satunya jalan adalah menerima bahwa jawaban-jawaban itu tidak mungkin terdapat di metafisika, tetapi di bagian lain dari pohon filsafat. Memahami bagaimana itu menjadi nirmustahil merupakan perhatian utama kita di Bagian Dua dan di keseluruhan matakuliah ini.&lt;br /&gt;Daftar pustaka&lt;br /&gt;1. 1.     Renè Descartes, Meditations on First Philosophy 2nd Edition, terj. Laurence J. Lafleur (New York: Bobbs-Merrill, 1960[1951]). [6]&lt;br /&gt;2. 2.     Gilbert Ryle, The Concept of Mind (New York: Barnes &amp; Noble, 1949), Bab I, “Descartes’ Myth”, pp. 13-25.&lt;br /&gt;3. 3.     Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, “Preface” (kedua edisi) (CPR 7-37). [7]&lt;br /&gt;4. 4.     Immanuel Kant, Prolegomena to Any Future Metaphysics, terj. Lewis White Beck (New York: The Bobbs-Merrill Company, 1950). [8]&lt;br /&gt;5. 5.     Stephen Palmquist, Kant’s System of Perspectives: An architectonic interpretation of the Critical philosophy (Lanham: University Press of America, 1993), Bab IV-VI, pp. 107-193. [9]&lt;br /&gt;6. 6.     Will Durant, The Story of Philosophy: The lives and opinions of the greater philosophers 3rd Edition (New York: Simon and Schuster, 1982[1928]).&lt;br /&gt;7. 7.     John Passmore, A Hundred Years of Philosophy 2nd Edition (Harmondsworth: Penguin, 1966[1957]).&lt;br /&gt;8. 8.     Michael Jubien, Contemporary Metaphysics: An introduction (Oxford: Blackwell Publishers Ltd, 1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Catatan kaki&lt;br /&gt; [1] Anak-kalimat ini merupakan saduran, sepersetujuan Palmquist,  dari teks “no human being is perfect, so the perfect Being is not the “I” of whose existence I am certain;”&lt;br /&gt; [2] Palmquist belum menjelaskan arti garis putus-putus yang terdapat di dalam gambar. Penjelasannya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;Garis putus-putus itu untuk menunjukkan penekanan perbedaan dua metode “pemecahan” masalah benak-badan. Argumen yang berbasis “Tuhan” adalah yang rasional, yang karenanya berfokus pada apa yang disediakan oleh benak kepada kita. Argumen berbasis “kelenjar kerucut” adalah yang biologis, yang berfokus pada apa yang disediakan oleh badan kepada kita. Garis putus-putus itu juga menunjukkan bahwa kedua argumen tersebut merupakan upaya untuk menjembatani celah di situ, namun gagal lantaran masing-masing hanya berfokus pada satu sisi persamaan.&lt;br /&gt; [3] Menurut Palmquist, “obyektivitas mutlak” bisa dibaca sebagai “eksistensi yang independen secara mutlak”. Intinya, dengan mendalilkan bahwa dunia mental kita terpisah total dari dunia fisis, namun bersikeras bahwa kedua jenis dunia ini sama nyatanya (walau substansinya berlainan), pada dasarnya Descartes menetapkan sesuatu yang di kemudian hari dikenal sebagai “pandangan dunia ilmiah”.&lt;br /&gt; [4] Tentu saja ada kemungkinan bahwa satu sisi benar total, sedangkan sisi lainnya salah total, atau bahwa kedua sisi salah total. Jika itu terjadi, maka “metode Kritis” tidak dibutuhkan. Akan tetapi, dalam pandangan Palmquist, kasus semacam itu relatif jarang. Yang ia maksud (dan yang sekarang ia terangkan di kelasnya, tahun 2001) adalah bahwa dalam pembahasan filosofis yang serius, ketika dua pihak, atau lebih, yakin bahwa klaim mereka (yang berlawanan) masing-masing benar, pemicu perdebatan itu hampir selalu berupa perbedaan perspektif. Ia mengharap bahwa pembaca mengasumsikan bahwa pihak-pihak yang berdebat itu sama-sama memiliki “fakta yang benar” namun masih tidak sepakat. Singkatnya, metode Kritis adalah alat filosofis (untuk menilai perspektif), bukan alat ilmiah (untuk menilai fakta).&lt;br /&gt; [5] Perihal Gambar III.8a, saya mempunyai wawasan sebagai berikut. Gambar ini, bila Matahari merupakan forma obyek, yang dikombinasikan dengan satu gambar bumi yang dikelilingi oleh bulan (= bahan obyek), melambangkan idealisme Plato dan realisme Aristoteles. Plato mungkin mengklaim bahwa kita biasanya hidup di “malam hari” dengan sinar bulan yang hanya merupakan pantulan (ilusi) dari sumber sinar sejati. Padahal, menurut Plato, realitas universal (tunggal) itu terdapat di “siang hari” dengan cahaya matahari yang merupakan sumber sinar sejati. Akan tetapi, Aristoteles mungkin melihat bahwa matahari merupakan salah satu bintang, dan bahwa bintang-bintang dan bulan lebih terlihat di malam hari. Maka Aristoteles memandang bahwa realitas-realitas partikular (jamak) itu justru terdapat di “malam hari”.&lt;br /&gt;Wawasan tersebut disetujui oleh Palmquist. Bahkan ia menilai bahwa upaya pengaitan “gua Plato” dengan Gambar III.8 adalah “hebat”, sedangkan pembandingan gambar tersebut dengan realisme Aristoteles bisa dinilai “bagus”).&lt;br /&gt; [6] Untuk alternatif, lihat http://www.utm.edu/research/iep/text/descart/des-med.htm&lt;br /&gt; [7] Untuk alternatif, lihat http://www.hkbu.edu.hk/~ppp/cpr/prefs.html&lt;br /&gt; [8] Untuk alternatif, lihat http://www.utm.edu/research/iep/text/kant/prolegom/prolegom.htm&lt;br /&gt; [9] Untuk alternatif, lihat http://www.hkbu.edu.hk/~ppp/ksp1/KSP4.html http://www.hkbu.edu.hk/~ppp/ksp1/KSP5.html http://www.hkbu.edu.hk/~ppp/ksp1/KSP6.html&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2006/12/fisafat-sebagai-kesangsian-meditatif.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-116577698024459733</guid><pubDate>Sun, 10 Dec 2006 18:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-11-18T02:57:33.380+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Filsafat</category><title></title><description>&lt;strong&gt;&lt;red&gt;FILSAFAT SEBAGAI KESANGSIAN MEDITATIF&lt;/red&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan suatu pohon. Mungkin lukisan yang saya buat di sini (lihat Gambar III.1) akan mempermudah anda (walau ini juga menunjukkan bahwa anda tidak harus menjadi seniman untuk menjadi filsuf!). Nah, bagaimana filsafat itu menyerupai pohon? Sesungguhnya, ada banyak contoh kemungkinan penerapan analogi ini. Salah satu cara yang menarik dikemukakan oleh seorang filsuf yang ide–idenya akan kita bahas pada jam kuliah ini. Ia menyusun versinya sendiri mengenai mitos yang memandu kuliah ini, dengan mengklaim bahwa filsafat itu seperti pohon yang mempunyai metafisika sebagai akar–akarnya, fisika sebagai batangnya, dan ilmu-ilmu lain sebagai cabang–cabangnya. Dalam hal ini, yang semestinya merupakan pemikiran yang akurat tentang bagaimana filsafat berfungsi pada abad ke tujuhbelas, daun–daun pohonnya kemungkinan besar berkorelasi dengan pengetahuan,  &lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;kendati filsuf yang kita bicarakan tidak menyangkut-pautkan analoginya sejauh itu. Demi maksud kita di Bagian Satu matakuliah ini, kita sekurang–kurangnya bisa setuju bahwa metafisika tentu saja mempunyai fungsi yang serupa dengan akar-akar pohon. Setelah kita tuntaskan sembilan kuliah pertama kita, saya harap alasan–alasan untuk itu cukup jelas. Namun pada saatnya nanti, saya akan menyarankan revisi terhadap beberapa aspek lain pada versi mitos ini, supaya tidak ketinggalan zaman (lihat Gambar III.1).&lt;br /&gt;Khazanah Modern&lt;br /&gt;Filsafat Sebagai Kesangsian Meditatif&lt;br /&gt;Bayangkan suatu pohon. Mungkin lukisan yang saya buat di sini (lihat Gambar III.1) akan mempermudah anda (walau ini juga menunjukkan bahwa anda tidak harus menjadi seniman untuk menjadi filsuf!). Nah, bagaimana filsafat itu menyerupai pohon? Sesungguhnya, ada banyak contoh kemungkinan penerapan analogi ini. Salah satu cara yang menarik dikemukakan oleh seorang filsuf yang ide–idenya akan kita bahas pada jam kuliah ini. Ia menyusun versinya sendiri mengenai mitos yang memandu kuliah ini, dengan mengklaim bahwa filsafat itu seperti pohon yang mempunyai metafisika sebagai akar–akarnya, fisika sebagai batangnya, dan ilmu-ilmu lain sebagai cabang–cabangnya. Dalam hal ini, yang semestinya merupakan pemikiran yang akurat tentang bagaimana filsafat berfungsi pada abad ke tujuhbelas, daun–daun pohonnya kemungkinan besar berkorelasi dengan pengetahuan, kendati filsuf yang kita bicarakan tidak menyangkut-pautkan analoginya sejauh itu. Demi maksud kita di Bagian Satu matakuliah ini, kita sekurang–kurangnya bisa setuju bahwa metafisika tentu saja mempunyai fungsi yang serupa dengan akar-akar pohon. Setelah kita tuntaskan sembilan kuliah pertama kita, saya harap alasan–alasan untuk itu cukup jelas. Namun pada saatnya nanti, saya akan menyarankan revisi terhadap beberapa aspek lain pada versi mitos ini, supaya tidak ketinggalan zaman (lihat Gambar III.1). &lt;br /&gt;                           Ilmu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                          Fisika&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                        Metafisika&lt;br /&gt;Gambar III.1: Pohon Filsafat Ala Descartes&lt;br /&gt;Nama filsuf tersebut yang akan segera anda akrabi lantaran sumbangan yang ia berikan di bidang matematika ialah René Descartes (1596–1650). Ia tidak hanya turut mengembangkan aljabar lebih lanjut, tetapi juga menemukan sistem koordinat geometri yang kita pelajari di sekolah. Ketika ia beralih perhatian ke filsafat, ia mengakui adanya masalah yang melekat dalam tradisi filsafat.&lt;br /&gt;Selama duaribu tahun, sistem Plato dan Aristoteles sedikit-banyak telah mendominasi semua pemikiran filosofis di Barat. Tatkala agama Nasrani muncul di kancah [filsafat untuk pertama kalinya], sebagian besar pater gereja mengambil beberapa versi idealisme Platonik sebagai basis bagi teologi mereka. Kecenderungan itu memuncak pada sistem filosofis dan teologis yang dibangun oleh St. Agustinus (354–430), yang pengaruhnya sepeninggalnya sedemikian dominan selama masa yang disebut Zaman Kegelapan sehingga Aristoteles benar–benar terlupakan di Eropa. Untungnya, cendekiawan–cendekiawan Muslim melestarikan tulisan–tulisan Aristoteles selama periode itu, terutama dengan bahasa Arab, yang menggunakannya sebagai landasan untuk penyusunan berbagai bentuk filsafat dan teologi Islam. Akhirnya, realisme Aristoteles kembali ke Eropa, terutama melalui karya St. Thomas Aquinas (1225–1274), yang sistem teologis berskala besarnya terus menjadi sumber teologi Katolik hingga hari ini. Sampai waktu Descartes terjun ke kancah [filsafat], tidak ada alternatif signifikan yang ditawarkan selain aliran idealis (Platonik–Agustinian) dan realis (Aristotelian–Thomis). Adakah sesuatu yang salah pada dua sistem ini yang menghalangi timbulnya kemajuan filsafat dari para filsuf lain? &lt;br /&gt;Descartes yakin, kedua tradisi tersebut menderita cacat yang sama. Kebuntuan itu tercipta oleh kurangnya  kebenaran mutlak total yang bisa berfungsi sebagai titik tolak yang tak terbantahkan untuk penyusunan sistem pengetahuan tulen (yaitu ilmu). Wawasan ini menimbulkan pertanyaan baru di benak Descartes: bagaimana bisa kepastian mutlak semacam itu dibuktikan? Metode dialog Plato ataupun metode teleologis Aristoteles tidak mampu menghasilkan pondasi yang kokoh bagi suatu ilmu yang benar–benar ketat. Lantas, bagaimana bisa pondasi semacam itu didapatkan? Dalam perenungan terhadap pertanyaan ini, Descartes menemukan ide baru yang akan memungkinkan kita untuk menetapkan kepastian untuk sekali ini dan selamanya. Dengan mengganti dialog dengan meditasi menyendiri, metode barunya adalah kesangsian (doubt). Dengan secara sistematis menyangsikan segala sesuatu mengenai dunia dan mengenai kita sendiri yang, menurut perkirakan kita, kita ketahui, kita berharap memperoleh sesuatu yang akan mustahil untuk diragukan. Ini kemudian bisa berfungsi sebagai titik pijak pasti secara mutlak bagi pembangunan sistem filosofis positif.&lt;br /&gt;Lantas, apa yang bisa kita ragukan? Bagaimana mengenai indera kita? Dapatkah anda mempercayai indera anda? Pada suatu hari, tidak lama setelah saya berpindah ke Hong Kong, saya berbelanja dengan keluarga saya di mal setempat. Setelah beberapa saat, kami mulai mencari tempat untuk makan. Seraya berjalan menuju suatu toserba yang memiliki kedai–kedai makan yang berderetan di depan, saya perhatikan sebuah etalase makanan Jepang yang amat menggiurkan. Saya sangat lapar, sampai-sampai mulut saya mulai basah oleh air liur. Kami sepakat untuk makan di sini saja, walau agak ramai. Ketika kami mendekat, saya betul–betul terkesan oleh makanan yang tampak bermutu tinggi yang mereka pajang di etalase. Hanya saja, tatkala kami sampai di kasir, baru saya sadari bahwa makanan di etalase itu bukan makanan sama sekali, melainkan plastik! Indera saya telah dibodohi sepenuhnya oleh kecerdikan agen pemasaran. Dan dengan ketawa kalian, saya bisa mengatakan bahwa banyak di antara kalian yang pernah membuat kekeliruan serupa.&lt;br /&gt;Di “meditasi” pertama dari enam meditasi yang dipaparkan dalam Meditations on First Philosophy, Descartes mulai mencari kepastian dengan memanfaatkan pengalaman terkelabui yang sedikit-banyak universal tersebut untuk menaruh kesangsian akan keandalan indera kita. Jika kita terkelabuhi pada satu contoh itu, bagaimana kita tahu bahwa kita tidak terkelabui dengan lebih sering? Memang, jika segala kesan yang tertanam melalui indera kita mungkin merupakan kesan yang salah, maka tampaknya tidak ada peluang untuk mendapatkan kepastian apa saja di indera kita. Itu menodai realisme Aristotelian, karena realisme ini didasarkan pada asumsi bahwa substansi, sebagaimana yang dicerap terutama melalui indera kita, pada hakikatnya nyata.&lt;br /&gt;Bagaimana mengenai idea kita? Barangkali Plato benar sepenuhnya, dan idea kita merupakan pondasi yang tepat bagi semua pengetahuan. Namun Descartes mendapati bahwa menaruh keraguan pada bidang ini mudah juga. Bahkan ide–ide yang bagi kita tampaknya pasti, ide-ide yang kesangsiannya tak pernah terbayangkan, bisa diragukan bila kita upayakan. Sebagai misal, ada banyak cara menaruh kesangsian pada pengalaman kita sehari-hari yang berhubungan dengan ruang dan waktu. Kebanyakan dari kita pernah bermimpi yang melanggar hukum–hukum keruangan semisal gravitasi (umpamanya, ketika dalam mimpi kita terbang) atau bermimpi yang waktu di dalamnya kelihatan lebih lambat atau lebih cepat daripada ketika kita tidak tidur. Bagaimana kita tahu bahwa pengalaman kita sehari–hari bukan mimpi belaka, bahwa sewaktu–waktu kita akan bangun dari mimpi ini? Barangkali ada jin jahat yang memperdaya kita semua sehingga kita salah menduga bahwa mimpi panjang ini merupakan dunia nyata kita. Walaupun tidak ada jin jahat itu, kita semua pernah mengalami keinsafan secara mendadak bahwa suatu ide yang karena kita kira benar kita pegang teguh ternyata salah. Ide apa pun bisa berbalik menjadi ilusi semacam itu, sehingga tidak ada ide yang tercegah dari kemungkinan ilusi. Karenanya, idealisme Plato tidak lebih berguna daripada realisme Aristoteles dalam pencarian kita akan sesuatu yang pasti mutlak.&lt;br /&gt;Bagaimana mengenai matematika? Descartes sendiri ialah seorang matematikawan dan tentu saja mempercayai kebenaran matematika. Bahkan, ada banyak filsuf yang semasa hidupnya memanfaatkan metode matematis dalam berfilsafat. Adakah kemungkinan untuk meragukan bahwa, sebagai misal, 2+2=4? Saya imbau anda memikirkannya sendiri agar anda tergerak untuk membaca buku Descartes demi anda sendiri. Di sini cukup saya katakan, Descartes percaya bahwa matematika pun tidak bisa menyediakan pondasi yang pasti mutlak bagi pengetahuan.&lt;br /&gt;Adakah sesuatu yang mustahil untuk diragukan? Kala Descartes berbaring di ranjangnya di ruang yang gelap dengan melakukan eksperimen pemikiran yang mendalam, tiba–tiba ia menemukan jawaban yang ia cari–cari. Ia dapati, ia tidak bisa menyangsikan bahwa pada saat itu ia sedang sangsi. Ini karena kesangsian itu mustahil eksis tanpa ada yang melakukan penyangsian! Kesangsian merupakan bentuk pemikiran, menurut Descartes dalam meditasinya yang kedua, sehingga pemikiran pasti menjadi dasar pembuktian kepastian akan eksistensinya sendiri. Karenanya, ia mengajukan pepatah yang kini terkenal, “saya berpikir; karena itu, saya ada” (dalam bahasa latin, Cogito ergo sum). Eksistensi “yang-berada yang berpikir” (thinking being) ini merupakan pondasi yang pasti mutlak bagi semua pengetahuan. “Saya” atau “ego” bertempat di luar sejarah dan kebudayaan sebagai asumsi metafisis dasar, tidak bergantung pada jenis iman apa pun, karena ketidakberadaannya itu mustahil selama saya tahu bahwa saya berpikir.&lt;br /&gt;Begitu mencapai simpulan tersebut, Descartes menyadari bahwa itu mengundang masalah baru yang perlu dipecahkan. Descartes sendiri menolak berpihak kepada Plato yang memperlakukan badan sebagai ilusi, karena sebagai ilmuwan ia percaya bahwa badan itu sama nyatanya dengan benak. Ia justru mengambil sudut pandang metafisis yang dikenal sebagai “dualisme”, yang berarti bahwa baik benak maupun badan itu sama–sama dipandang nyata. Yang pertama merupakan “substansi pikir“ (res cogitans), sedangkan yang kedua merupakan “substansi ekstensi“ (res extensa). Sekalipun demikian, sekarang ia menunjukkan bahwa pengetahuan kita tentang badan kita, beserta keseluruhan alam ekstensi, tak pernah bisa sepasti pengetahuan kita tentang alam pikir kita. Kalau begitu, realitas badan itu kita percaya berdasarkan apa? Bagaimana badan dan benak itu berkaitan? &lt;br /&gt;Pertanyaan pertama dijawab oleh Descartes di meditasinya yang ketiga dengan memanfaatkan Tuhan. Ia memulainya dengan menyusun suatu argumentasi yang kini disebut “argumen ontologis” tentang eksistensi Tuhan (yakni argumen yang hanya memanfaatkan pemahaman yang tepat mengenai konsep “Tuhan”). Bukti yang ia ajukan itu semacam ini: kita semua di dalam diri kita mempunyai idea “kesempurnaan”; setiap orang tahu bahwa “ego” yang ia yakini keberadaannya (yaitu benaknya sendiri) bukanlah Yang-Berada sempurna; [1] sekalipun begitu, Yang-Berada sempurna ini pasti eksis pada aktualnya, karena kalau tidak, ia akan kurang sempurna. Artinya, jika konsep kita tentang Yang-Berada yang paling sempurna itu mengacu pada suatu Yang-Berada yang pada kenyataannya tidak eksis, maka Yang-Berada ini tidak akan sesempurna Yang-Berada sempurna yang benar–benar eksis. Lalu Descartes menyatakan bahwa, karena dengan jalan itu kita bisa yakin bahwa suatu Yang-Berada sempurna (“Tuhan”) itu eksis, dan karena Yang-Berada semacam ini pasti baik supaya sempurna, kita pun bisa yakin bahwa Yang-Berada semacam ini tidak akan menipu kita. Dalam menanggapi kritik-kritik yang mengira bahwa argumen semacam itu tak berujung-pangkal (yaitu bahwa argumen itu telah mengasumsikan hal yang hendak ia buktikan), Descartes memanfaatkan gagasan tentang “idea bawaan” (idea-idea yang hadir di benak kita pada waktu kita lahir, dan karenanya otentik sendiri), yang menegaskan bahwa “Tuhan” merupakan idea bawaan seperti halnya idea “ego” saya sendiri.&lt;br /&gt;Kendati kita bisa menerima penjelasan teologis Descartes tentang alasan agar kita dapat mempercayai realitas dunia eksternal, masih ada persoalan tentang bagaimana pada aktualnya benak kita berkaitan dengan badan kita, jika memang keduanya pada hakikatnya merupakan dua substansi yang berbeda. Solusi Descartes atas masalah ini tidak begitu disetujui oleh rekan–rekannya sesama filsuf. Ia menduga bahwa suatu kelenjar kecil di dasar otak, yang disebut “kelenjar kerucut” bertanggung jawab untuk memastikan hubungan sebab-akibat antara benak dan badan. Pada zaman Descartes, ide yang dominan tentang badan manusia adalah bahwa badan itu mesin yang hidup, sehingga kapan saja suatu bagian bergerak, pergerakannya pasti disebabkan oleh suatu proses mekanis sedemikian rupa, sehingga beberapa bagian lain “tergeser” ke dalamnya sebagaimana adanya. Jadi, Descartes mengklaim bahwa bila benak ingin badan melakukan sesuatu, ini mempengaruhi kelenjar kerucutnya, entah bagaimana, sehingga memulai suatu reaksi berantai yang berakhir pada berlangsungnya tindakan yang dikehendaki. Jadi, jika benak saya menyuruh saya untuk melempar sepotong kapur tulis ini ke udara, gagasan ini berputar–putar di benak saya sampai mencapai cukup kekuatan untuk menimbulkan dampak yang signifikan, lalu gagasan ini memintas menuju kelenjar kerucut saya, yang menyampaikan serangkaian pergerakan melalui leher saya dan turun ke lengan saya, sampai akhirnya lengan saya mematuhi perintah itu, seperti ini! &lt;br /&gt;Setelah menjelaskan dua cara utama Descartes dalam mempertahankan dualisme metafisisnya, sekarang kita bisa meringkas teorinya sebagai berikut: [2]&lt;br /&gt;                           benak&lt;br /&gt;                       res cogitans&lt;br /&gt;           (argumen&lt;br /&gt;           ontologis)&lt;br /&gt;                          masalah&lt;br /&gt;Tuhan                   benak-badan            kelenjar kerucut&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                                   (penjelasan&lt;br /&gt;                                    biologis)&lt;br /&gt;                           badan&lt;br /&gt;                        res extensa&lt;br /&gt;Gambar III.2: Solusi Descartes atas Masalah Benak-Badan&lt;br /&gt;Dualisme Descartes mengandung beberapa konsekuensi penting. Untuk satu hal, paham ini mengganti definisi Aristoteles tentang manusia sebagai “hewan rasional” dengan gagasan tentang benak yang tertanam di mesin jasmani. Di bidang ilmu alam, gagasan ini berpengaruh besar dengan menyediakan pandangan kealaman bagi para ilmuwan yang memungkinkan mereka untuk mencapai (atau sekurang–kurangnya percaya bahwa mereka bisa mencapai) perspektif yang pada keseluruhannya obyektif tentang dunia eksternal, yang secara keseluruhan meredam segala pengaruh yang mungkin terdapat pada benak pengamat sendiri tentang pengetahuan yang kita capai. Dalam pengertian ini, dualisme Descartes bisa dianggap sebagai pembuka jalan bagi ilmu Newtonian. Pandangan bahwa ego manusia mengendalikan dunia material, walau kini dipersoalkan oleh banyak pemikir modern (lihat Kuliah 18, misalnya), merupakan pandangan yang memungkinkan teknologi berkembang dengan sangat pesat pada tigaratus tahun terakhir.&lt;br /&gt; Selama menyangkut metafisika, konsekuensi dualisme Descartes yang paling signifikan adalah bahwa dualisme ini memicu kontroversi baru, yang biasanya dikenal sebagai “masalah benak-badan”. Pandangan Descartes sendiri tampaknya sangat tidak masuk akal; namun adakah cara yang lebih baik untuk menjelaskan kesalingaruhan yang tampak antara benak dan badan? Perdebatan perihal jawaban yang tepat atas pertanyaan ini mulai berlangsung tidak lama kemudian dan sesungguhnya masih terjadi di beberapa lingkungan filosofis saat ini. Sebagai contoh, salah satu buku yang paling berpengaruh yang ditulis oleh seorang filsuf analitik abad keduapuluh, Gilbert Ryle, The Concept of Mind, bermula dengan argumen bahwa dualisme Descartes didasarkan pada “kekeliruan kategori” dan bahwa pemahaman yang tepat tentang cara pemakaian kata–kata seperti “benak” dan “badan” bisa memecahkan seluruh masalah benak–badan seketika dan selamanya. &lt;br /&gt;Kontroversi benak–badan mencapai puncaknya segera sesudah penerbitan karya Descartes, Meditations. Kita tidak punya waktu untuk analisis yang mendalam terhadap argumen–argumen yang mengemuka tadi. Namun demikian, memberi tinjauan singkat perihal lima alternatif yang paling menonjol terhadap posisi Descartes, yang masing–masing disajikan beserta penganjurnya yang paling berpengaruh, itu mungkin sangat berguna. Mereka ialah: &lt;br /&gt;(1) Materialisme: Thomas Hobbes (1588–1679) menyatakan bahwa yang sebenarnya eksis itu hanya materi. Benak itu hanya konfigurasi bahan (atau materi) otak secara khusus. Karena itu, tidak ada masalah interaksi, karena pada keseluruhannya sistem itu bersifat fisis. Pandangan ini serupa, walau tidak persis sama, dengan realisme Aristoteles.&lt;br /&gt;(2) Immaterialisme: George Berkeley (1685–1753) menyatakan bahwa sebenarnya yang eksis itu hanya persepsi. Tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa eksistensi materi itu mandiri di luar benak pencerap. Karena itu, tidak ada masalah interaksi, karena pada keseluruhannya sistem itu bersifat spiritual. Pandangan ini serupa, walau tidak persis sama, dengan idealisme Plato.&lt;br /&gt;(3) Paralelisme: Nicolas Malebranche (1638–1715) menyatakan bahwa sesungguhnya benak dan badan itu merupakan substansi yang terpisah, tetapi pada aktualnya tidak berinteraksi. Benak dan badan kelihatannya berinteraksi manakala pikiran, benak dan tindakan badan itu berjalan sejajar satu sama lain; namun dalam kejadian seperti ini, persesuaiannya diatur langsung oleh Tuhan.&lt;br /&gt;(4) Teori Aspek Ganda: Benedictus de Spinoza (1632-1677) menyatakan bahwa benak dan badan (seperti semua materi dan spirit) adalah dua aspek dari satu realitas dasar, yang bisa disebut “Tuhan” atau “Alam”, tergantung pada bagaimana subyek memandangnya. Realitas adalah seperti sekeping uang logam dengan dua muka yang cukup berlainan, tetapi keduanya sama–sama benar sebagai deskripsi tentang koin ini.&lt;br /&gt;(5) Epifenomenalisme: David Hume (1711-1776) menyatakan bahwa benak itu bukan apa–apa kecuali sebundel persepsi yang muncul dari badan. Di kemudian hari, para filsuf mempertajam pandangan ini dengan menyatakan bahwa badan (terutama otak) merupakan realitas utama, tetapi badan ini menciptakan benak. Sebagian filsuf menyatakan bahwa begitu benak muncul, benak itu mempunyai realitas sendiri. &lt;br /&gt;Saya hendak menyimpulkan kuliah ini dengan mengemukakan satu perbedaan yang sangat signifikan antara metafisika Descartes dan metafisika Plato-Aristoteles. Bagi Plato dan Aristoteles, dan bagi hampir semua filsuf selama duaribu tahun sepeninggal mereka, jawaban atas pertanyaan dasar epistemologi (“Apa yang bisa saya ketahui?”) tergantung pada jawaban terdahulu atas pertanyaan dasar metafisika (“Apa yang pada hakikatnya nyata?”) Bagi Descartes, justru sebaliknyalah yang benar. Sebagaimana yang telah kita amati, ia memulai penyelidikannya dengan menanyakan apa yang bisa kita ketahui dengan pasti, dan hanya atas dasar jawaban atas pertanyaan inilah ia menyusun dualisme metafisisnya. &lt;br /&gt;Seperti yang akan kita lihat di Kuliah 8, metafisikawan berikutnya yang gagasannya akan kita ulas juga memberi prioritas pada epistemologi. Karena itu dengan menjajagi kuliah tersebut sepintas lalu, kita dapat memanfaatkan salib sebagai peta pertalian antara metode–metode yang diterapkan oleh empat metafisikawan yang kita pelajari di Bagian Satu ini: &lt;br /&gt;                          Dialog Plato&lt;br /&gt;              prioritas pada&lt;br /&gt;                metafisika&lt;br /&gt;Ilmu Aristoteles                                Kritik Kant&lt;br /&gt;                                    prioritas pada&lt;br /&gt;                                     epistemologi&lt;br /&gt;                      Kesangsian Descartes&lt;br /&gt;Gambar III.3: Empat Metode Filosofis Pokok&lt;br /&gt;Salah satu bahaya besar bagi mahasiswa pemula dalam studi fisafat adalah bahwa mereka mungkin dijejali dengan anekaragam sudut pandang dan pendapat yang terungkap pada bidang studi yang ia kaji, semisal metafisika. Meskipun peta–peta seperti di atas itu tak pelak lagi terlampau menyederhanakan pertalian yang rumit di antara empat filsuf tersebut, peta-peta itu bisa membantu kita untuk mendapatkan pegangan tentang persamaan dan perbedaan mereka, di samping menyiratkan wawasan yang lebih luas tentang berbagai hal. Umpamanya, diagram tersebut menyiratkan bahwa perkembangan filsafat Barat dapat dianggap sebagai proses yang berjalan pelan–pelan, sebagaimana adanya, dari wawasan yang tertinggi dan paling jauh ke landasan penalaran insani yang terdalam. Di dua kuliah mendatang, kita akan membahas lebih lanjut siratan ini yang akan memberi kita paparan yang akurat mengenai kontribusi Kant terhadap akar–akar pohon filosofis kita. &lt;br /&gt;8. Filsafat Sebagai Kritik Transendental&lt;br /&gt;Filsuf terakhir yang ide-idenya tentang metafisika akan kita bahas secara rinci di Bagian Satu matakuliah ini ialah orang yang pengaruhnya terhadap filsafat pada duaratus tahun terakhir ini, baik di Barat maupun di Timur, tak bisa diremehkan. Ia hampir secara universal diakui sebagai filsuf terbesar sejak masa Aristoteles: seorang pemikir yang ide-idenya harus diterima atau ditolak, tetapi tidak bisa diabaikan. Bahkan, ada yang menyatakan, dengan sah, bahwa filsafat di duaratus tahun ini bagaikan serangkaian catatan kaki terhadap tulisan-tulisannya! Ada pula yang memandang bahwa sistem filsafatnya bagi dunia modern ini laksana Aristoteles bagi dunia skolastik: suatu sistem acuan intelektual yang berlaku. (Skolastikawan ialah para teolog abad pertengahan yang menggunakan filsafat untuk menafsirkan agama Kristen, yang juga berspekulasi pada persoalan–persoalan seperti berapa banyak malaikat yang dapat melewati sebuah lubang jarum. Skolastikisme mencapai puncaknya pada karya Thomas Aquinas, namun menjadi kurang berpengaruh setelah Descartes tampil.) Seperti Aristoteles, pemikir besar ini menulis tentang hampir semua tema pokok filsafat dan mempunyai pengaruh yang segera dan bertahan lama terhadap cara pikir orang–orang—filsuf dan non-filsuf. Kita akan sering menilik pemikir ini pada kuliah–kuliah mendatang, namun hari ini kita hanya akan memperhatikan segi filsafatnya yang paling dekat hubungannya dengan metafisika. &lt;br /&gt;Dialah Immanuel Kant (1724–1804) yang lahir dari keluarga kelas pekerja di Königsberg (kini Kaliningrad), kota pelabuhan Prusia. Ia hidup dengan tenang, teratur, tak pernah kawin, tak pernah bepergian lebih dari limapuluh kilometer dari tempat kelahirannya sepanjang hayatnya. Kant sering menjadi subyek karikatur secara agak tak wajar, semisal bahwa rutinitas hariannya amat kaku sampai–sampai para tetangganya menyetel arloji mereka menurut kedatangan dan kepergiannya setiap hari! Akan tetapi, saya lebih menganggap bahwa cerita semacam itu mencerminkan integritas kehidupannya yang bersesuaian dengan ide-idenya sendiri. Ini karena, seperti yang akan kita amati, barangkali pandangan filosofis Kant bersifat sitematis sepenuhnya, yang diatur dengan suatu pola ide teratur yang saling berkaitan. Sesudah ia meninggal, epitaf di batu nisannya hanya bertuliskan “Sang Filsuf“—sebuah sebutan yang tepat, dengan mempertimbangkan bahwa periode filsafat yang bermula dengan tampilnya Sokrates menjadi lengkap dalam banyak hal dengan hadirnya Kant.&lt;br /&gt;Kant terdorong untuk menggagas metode filosofis baru itu karena alasan yang sama dengan alasan Descartes: ia bertanya dalam hati mengapa ilmu–ilmu lain maju pesat, tetapi metafisika tidak demikian. Sekalipun begitu, jawabannya atas pertanyaan ini bukan hanya mengabaikan masalah benak-badan seluruhnya, melainkan juga kontribusi utama Descartes lainnya: yakni keyakinannya akan obyektivitas mutlak dunia eksternal. [3] Kant mengajukan pertanyaan baru: benarkah anggapan Descartes (dan kebanyakan filsuf lainnya) bahwa obyek yang kita alami dan menjadi kita ketahui merupakan benda di dalam lubuknya (thing in itself)? Istilah “benda di dalam lubuknya” merupakan istilah teknis yang ia pakai untuk membahas hakikat realitas terdalam; ini berarti “benda di alam, yang dipandang lepas dari kondisi-kondisi yang memungkinkan diketahuinya segala sesuatu tentang benda ini.” Dengan adanya definisi ini, tegas Kant, benda di dalam lubuknya pasti tak terketahui. Dengan berlawanan sama sekali dengan Descartes, yang mensyaratkan bahwa titik awalnya adalah unit pengetahuan yang kepastiannya mutlak, titik tolak sisten pemikiran filosofis Kant adalah yakin akan realitas benda-benda yang di dalam lubuknya masing-masing tak terketahui. (Ini hanya salah satu perbedaan metode filosofis antara Descartes dan Kant yang saling bertentangan.)&lt;br /&gt;Kant menamai sendiri cara berfilsafatnya: metode “Kritis”. Judul tiga buku utamanya, yang di dalamnya ia kembangkan Sistemnya, masing-masing dimulai dengan kata “Kritik”. Setiap buku itu menggunakan “sudut pandang” yang berlainan; masing-masing menghadapi semua pertanyaan masing-masing dengan ujung pandang khusus. Kritik pertamanya, (CPR), pusat perhatian kita pada kuliah ini, mengambil sudut pandang teoretis. Ini berarti jawaban-jawaban atas semua pertanyaan yang diajukan ini berkenaan dengan pengetahuan kita. Dua Kritik lainnya, seperti yang akan kita amati pada waktunya nanti, kadang-kadang menjawab pertanyaan yang sama itu dengan cara yang berbeda, karena mengambil sudut pandang yang berbeda. Oleh sebab itu, mengakui perbedaan antara sudut-sudut pandang itu penting sekali demi ketepatan pemahaman tentang filsafat Kant. Kita dapat menggambarkan kesalingterkaitan antara tiga bagian dari Sistem Kant dengan cara sebagai berikut:&lt;br /&gt;I. Kritik Akal Murni&lt;br /&gt;   (Critique of Pure Reason)&lt;br /&gt;   sudut pandang teoretis&lt;br /&gt;                           III. Kritik Penimbangan&lt;br /&gt;                                (Critique of Judgment)&lt;br /&gt;                                sudut pandang yudisial&lt;br /&gt;II. Kritik Akal Praktis&lt;br /&gt;    (Critique of Practical Reason)&lt;br /&gt;    sudut pandang praktis&lt;br /&gt;Gambar III.4: Kritik Kant dan Sudut Pandangnya&lt;br /&gt;Pembandingan Gambar III.4 dengan Gambar II.6 menyiratkan bahwa metode Kritis merupakan bentuk baru metode Sokratik. Perhatian utama Sokrates adalah mencermati diri-sendiri dan orang lain dalam pencarian kealiman, sedangkan metode Kritis Kant menghajatkan pemeriksaan terhadap akal itu sendiri. Dengan kata lain, “kritik” yang benar, bagi Kant, adalah suatu proses yang dengannya akal bertanya kepada akal itu sendiri mengenai jangkauan dan batas-batas kekuatannya sendiri. Tujuan pemeriksaan diri tersebut adalah menemukan, untuk sekali dan selamanya, semua tapal batas antara apa yang bisa dan yang tak bisa dicapai oleh akal manusia. Di setiap “pengetahuan”, kita mencapai “kondisi-transendental”—begitulah Kant menyebutnya—pengetahuan empiris. Jadi, metode kritisnya mensyaratkan “refleksi transendental”, yang arti sederhananya adalah memikirkan kondisi-niscaya (atau syarat-perlu) posibilitas pengalaman. Sesuatu yang transendental adalah sesuatu yang pasti benar; kalau tidak, pengalaman itu sendiri akan mustahil. Kant menyebut bahwa segala yang di luar tapal batas itu “transenden”; karena manusia tak pernah mengalami hal-hal sedemikian itu, yang disebut “nomena”, hal-hal tersebut tak bisa diketahui sama sekali oleh akal manusia. Akan tetapi, segala yang di dalam tapal batas itu menegaskan hal-hal yang terbuka untuk dipelajari melalui “refleksi empiris” umum. Obyek yang bisa diketahui secara empiris ini ia sebut “fenomena”. Pembedaan antara obyek empiris, “benda” transenden, dan perspektif transendental itu, seperti yang tampak di Gambar III.5, merupakan salah satu pembedaan terpenting di keseluruhan sistem teoretis Kant.&lt;br /&gt;kondisi transendental&lt;br /&gt;                             “benda” transendental&lt;br /&gt;                              yang tak terketahui&lt;br /&gt;                                    (nomena)&lt;br /&gt;         obyek empiris&lt;br /&gt;      yang bisa diketahui&lt;br /&gt;          (fenomena)&lt;br /&gt;Gambar III.5: Tapal Batas Transendental Ala Kant&lt;br /&gt;Pada ketiga Kritik masing-masing, Kant menampilkan tipe pemeriksaan-diri-akal yang berbeda-beda; ia menyelidiki tapal batas antara apa yang bisa dan yang tak bisa kita ketahui (teoretis) di Kritik pertama, antara apa yang harus dan yang jangan sampai kita lakukan (praktis) di Kritik kedua, dan antara apa yang bisa dan yang tak bisa kita harapkan (yudisial) di Kritik ketiga. Katanya, tiga perkara ini bisa dirangkum sebagai upaya untuk memahami identitas “manusia”; jadi, empat pertanyaan yang terlihat di Gambar III.6 memaparkan hubungan yang sistematis antara unit-unit karya filosofisnya sendiri. Pertalian antara empat pertanyaan tersebut perlu diperhatikan manakala kita membahas Kant (terutama pada Kuliah 22, 29, 32, 33), karena ia sendiri mengingatkan bahwa demi memahami ide-idenya dengan tepat, pembacanya harus menangkap “ide keseluruhannya” (CPR 37).&lt;br /&gt;               Apakah manusia itu?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apa yang bisa                       Apa yang bisa&lt;br /&gt;saya harapkan?                      saya ketahui?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          Apa yang harus saya lakukan?&lt;br /&gt;Gambar III.6: Empat Pertanyaan Filosofis Ala Kant&lt;br /&gt;Metode baru Immanuel Kant mensyaratkan bahwa kita melihat kebenaran di kedua sisi yang bertolak belakang, mengakui bahwa itu saling membatasi, dan, akibatnya, mengambil sudut pandang yang mengiyakan hal-hal yang sah di kedua sisi itu. [4] Dengan mengharap bahwa anda ingat akan Kuliah 7, [perhatikanlah bahwa] metode baru ini berlawanan tajam dengan metode Descartes; metode Descartes memandang salah Plato atau pun Aristoteles, sedangkan metode Kant memandang benar keduanya, seperti yang terlihat di bawah ini:&lt;br /&gt;                        Dialog Plato&lt;br /&gt;                                      perspektif&lt;br /&gt;                                     transendental&lt;br /&gt;Kesangsian Descartes                               Kritik Kant&lt;br /&gt;(keduanya salah)                                   (keduanya benar)&lt;br /&gt;                                      perspektif&lt;br /&gt;                                        empiris&lt;br /&gt;                   Teleologi Aristoteles&lt;br /&gt;Gambar III.7: Descartes Lawan Kant tentang Plato Dan Aristoteles&lt;br /&gt;Menurut Kant, baik Plato maupun Aristoteles membuat kekeliruan, sebagaimana sebagian besar filsuf Barat lainnya, yang berupa pengabaian sudut pandang yang berkebalikan dan pengambilan posisi ekstrim yang akhirnya hanya mengungkap setengah kebenaran. Jika pandangan Kant tentang “benda di dalam lubuknya” benar, maka kata-kata Plato benar bahwa obyek-obyek pengalaman hanya merupakan penampakan dari benda di dalam lubuknya; karena kala mengatakannya, ia mengambil perspektif “transendental” Kant. Begitu pula, kata-kata Aristoteles pun benar bahwa penampakan merupakan obyek sejati ilmu (yakni pengetahuan); karena kala mengatakannya, ia mengambil perspektif “empiris” Kant. Pada keduanya, kekeliruan mereka disebabkan oleh kenyataan bahwa mereka belum mengakui kebebalan mereka perihal benda di dalam lubuknya. Kelalaian inilah yang menyebabkan Plato berkeyakinan keliru bahwa kita bisa mencapai pengetahuan mutlak dari idea belaka dan inilah yang menyebabkan Aristoteles berkeyakinan keliru bahwa substansi merupakan realitas terdalam. Jadi, metode Kritis mendorong kita untuk tidak hanya mensintesis idealisme Plato dan realisme Aristoteles, tetapi juga menjelaskan kebenaran keduanya, yang melestarikan paham-paham ini sedemikian lama, dan juga kekeliruan yang menyebabkan paham-paham itu berpembawaan tidak memuaskan. Nah, mari kitas selidiki bagaimana Kant menyelesaikan tugas itu.&lt;br /&gt;Pada Pengantar Kritik pertama edisi kedua, Kant beralih ke ilmu-ilmu yang mapan dengan harapan mendapatkan gelagat kesuksesan ilmu-ilmu itu. Ia dapati, logika bisa menjadi ilmu yang eksak hanya bila bidang penyelidikannya dibatasi dengan jelas (CPR 18). Matematika berkembang hanya kala orang-orang mulai mencari karakteristik yang niscaya dan semestawi yang terkandung dalam obyek-obyek yang kita pertalikan, bukan hanya karakteristik aksidentalnya (19). Ilmu-ilmu alamiah berhasil hanya tatkala berjalan menurut rencana yang ditentukan lebih dahulu (20). Dengan dilengkapi dengan isyarat-isyarat ini, Kant memperoleh satu gelagat akhir dengan beralih ke seorang ilmuwan istimewa, yang wawasan hebatnya banyak mengubah cara pandang kita terhadap alam semesta.&lt;br /&gt;Dialah Nicolaus Copernicas (1473-1543), seorang astronom Polandia yang berani mempersoalkan asumsi yang telah lama dianut bahwa bumi adalah piringan datar yang terletak di tengah-tengah alam semesta. Ia yakin, anggapan itu menjauhkan kita dari penjelasan mengapa sebagian planet bergerak memutar tatkala berjalan melewati langit dari malam ke malam, dan kemudian memutar lagi untuk melanjutkan perjalanan searah dengan bintang-bintang. Maka ia memutuskan untuk mencoba asumsi bahwa matahari pada aktualnya berada di tengah-tengah alam semesta, sedangkan bumi dan planet-planet lain semuanya adalah bola bundar yang berputar mengelilingi matahari. Dengan menggunakan asumsi baru ini, bersama-sama dengan klaim bahwa bumi pun berputar mengelilingi porosnya sendiri, ia merasa dapat menjelaskan secara matematis bagaimana semua planet pada kenyataannya selalu bergerak di suatu orbit yang menyerupai lingkaran, walaupun kelihatannya arahnya berbeda bila diamati oleh pengamat di bumi.&lt;br /&gt;Kant menyarankan, kita sebaiknya mencoba eksperimen serupa terhadap metafisika (lihat Gambar III.8). [5] Para filsuf di masa lalu bukan hanya selalu menganggap benda di dalam lubuknya bisa diketahui, melainkan juga selalu menganggap pengetahuan kita pasti dengan sendirinya cocok dengan obyek, bukan sebaliknya. Mengapa tidak mencoba asumsi yang sebaliknya? Mungkin di metafisika, seperti di astronomi, peri yang benar tentang apa yang kelihatannya benar itu berbeda dengan peri yang benar tentang apa yang pada kenyataannya benar. Dengan kata lain, Kant mengusulkan agar perihal metafisika, yang lebih tepat mungkin mengatakan bahwa obyek-obyek dengan sendirinya cocok dengan pengetahuan subyek (yakni cocok dengan benak manusia)!&lt;br /&gt;Matahari                       Bumi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        Bumi                           Matahari&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(a) Penampakan                (b) Realitas&lt;br /&gt;Kunci:&lt;br /&gt;Matahari = obyek&lt;br /&gt;Bumi = subyek&lt;br /&gt;pergerakan = sumber pengetahuan&lt;br /&gt;diam = cocok dengan sumber tersebut&lt;br /&gt;Gambar III.8: Revolusi Copernican Kant&lt;br /&gt;“Perspektif transendental” baru ini mungkin kedengarannya cukup ganjil. Bagaimana bisa dimengerti, sebagai misal, bahwa pengetahuan saya tentang kapur tulis ini bukan bergantung pada kapur tulis itu sendiri, melainkan pada benak saya? Menurut cara pikir (empiris) kita sehari-hari, pengetahuan saya bahwa kapur tulis ini putih tentu saja sama sekali tidak berasal dari penemuan oleh benak; namun pada faktanya, bisa diamati dengan gamblang bahwa kapur tulis ini tampak putih. Kant tidak pernah menyangkal kebenarannya. Yang ia sangkal adalah bahwa penampakan semacam itu merupakan realitas metafisisnya; penampakan itu justru berada dalam ranah fisika dan ilmu [alamiah] lainnya. Intinya adalah bahwa terdapat realitas transendental lain yang sama-sama sah sebagai cara pikir tentang obyek-obyek yang terungkap dengan lebih mendalam, dan bahwa bila kita berpikir dengan cara ini, ketika kita berpikir tentang kebenaran apa yang niscaya perihal pengalaman kita tentang sepotong kapur tulis ini, maka ternyata bahwa unsur-unsur pengetahuan kita ini berasal dari benak kita, bukan dari obyek itu sendiri. Oleh sebab itu, yang empiris dan yang transendental harus diakui sebagai dua sisi suatu koin, dua perspektif, yang keduanya memberi kita cara pandang yang benar terhadap dunia nyata, namun terbatas.&lt;br /&gt;Lantas, apa saja syarat-transendental posibilitas pengalaman? Dengan kata lain, unsur-unsur apa sajakah yang keniscayaannya mutlak yang, menurut Kant, “pergerakannya” merupakan tapal batas antara pengetahuan kita yang nirmustahil dan kebebalan kita yang niscaya? Setengah bagian pertama dari Critique of Pure Reason berupaya menemukan dan membuktikan kesahihah-niscaya serangkaian syarat-syarat itu. Dalam proses pemenuhan tugas ini, Kant mengemukakan bahwa semua pengetauan empiris tersusun dari dua unsur: intuisi dan konsep. Intuisi adalah segala hal yang “diberikan” kepada indera kita, dan merupakan material di luar benak (yang menghasilkan pengetahuan kita). Demi maksud kita di sini, kita bisa memandang “intuisi” sebagai “cara kerja indera kita”. Konsep adalah kata atau pikiran yang kita pakai untuk mengelola intuisi kita secara aktif menurut berbagai aturan berpikir.&lt;br /&gt;Kant berupaya membuktikan bahwa ruang dan waktu merupakan “bentuk intuisi” transendental, sedangkan sejumlah duabelas kategori tertentu merupakan “bentuk konsepsi” transendental. Kategori-kategori itu tertata dalam empat kelompok yang disebut “kuantitas”, “kualitas”, “relasi”, dan “modalitas”, yang masing-masing terdiri dari tiga kategori, seperti yang tampak pada Gambar III.9. Pada jam kuliah ini kita bebas mengabaikan rincian bagian-bagian dari teori Kant ini tanpa risiko, karena Kuliah 21 akan mencakup tinjauan yang lebih mendalam terhadap kategori terpenting, kausalitas. Lagipula, sebagaimana yang akan kita kaji di Pekan V, memahami bentuk logis serangkaian kategori tersebut lebih penting daripada memahami alasan Kant mengapa ia memilih duabelas kategori ini. Yang pokok dalam hal ini adalah memahami fungsi kategori-kategori tersebut, di samping ruang dan waktu, bentuk intuisinya yang berposisi berimbang.&lt;br /&gt;                               nasib&lt;br /&gt;              aktualitas                   kesatuan&lt;br /&gt;   posibilitas         Modalitas   Kuantitas         pluralitas&lt;br /&gt;timbal-balik                                           totalitas&lt;br /&gt;    kausalitas           Relasi     Kualitas         realitas&lt;br /&gt;               substansi                    negasi&lt;br /&gt;                              batasan&lt;br /&gt;Gambar III.9: Pembagian Kategori Lipat-Duabelas Ala Kant &lt;br /&gt;Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap teori Kant tentang forma intuisi dan forma konsepsi, kita harus cermat dalam menanggapi pertanyaan seperti “Bagaimana mungkin saya tahu segalanya tentang sepotong kapur tulis ini?” dengan mempertimbangkan apakah ini pertanyaan empiris ataukah transendental. Jika transendental, maka jawabannya, menurut Kant, adalah bahwa benak kita sendiri memaksakan suatu kerangka ruang dan waktu atas obyek itu, sehingga melalui kerangka ini kita mampu mencerap keberadaannya, dan suatu kerangka kategori, sehingga melalui kerangka ini kita mampu memikirkan hakikatnya. Saya pikir kita semua akan setuju bahwa jika sepotong kapur tulis ini tidak terlihat oleh kita di ruang dan waktu kita, maka kita takkan bisa mencerapnya, dan bahwa kita memerlukan suatu konsep (“kapur tulis”), di samping memerlukan aturan-aturan umum perihal berpikir, dengan maksud mendapatkan pengetahuan apa saja tentang cerapan ini (atau lainnya). Pemeriksaan atas tatapikir semacam itu akan menjadi salah satu dari tugas utama kita di Bagian Dua.&lt;br /&gt;Klaim Kant yang paling kontroversial adalah bahwa kedua kondisi-niscaya pengetahuan tersebut tidak bisa dijelaskan kecuali bila kita mengakui bahwa keduanya berakar pada benak manusia itu sendiri. Karena para filsuf saja selama duaratus tahun telah bersilang pendapat tentang apakah klaim yang disebut “Revolusi Copernican” dalam dunia filsafat ini pada kenyataannya masuk akal ataukah tidak, saya yakin kita tidak akan menyudahi persoalan ini sekarang; akan tetapi, saya harap anda sendiri memikirkan persoalan ini dengan lebih cermat. Di Kuliah 9 mendatang, saya akan membahas beberapa implikasi metafisis dari Kritik pertama dan mengulas secara singkat bagaimana Kant mempengaruhi metafisika selama duaratus tahun terakhir ini. Klaim saya nanti adalah bahwa pandangan Kant menggambarkan wawasan Sokrates, yang tersaji dalam bentuk benih, dalam versi yang dewasa sepenuhnya. &lt;br /&gt;9. Filsafat Selepas Kritik&lt;br /&gt;Khazanah epistemologis Kant segera berdampak kuat terhadap semua bidang penyelidikan filosofis, yang mendatangkan suatu zaman [baru] yang disebut “era modern” filsafat Barat dan membangkitkan serangkaian panjang filsafat “pascamodern” atau “pasca-Kritis”. Sebelum menyinggung bagaimana Kant mempengaruhi perkembangan metafisika sepeninggalnya, saya akan secara singkat memeriksa implikasi metafisis, yang diyakini oleh Kant sendiri, dari epistemologinya.&lt;br /&gt;Kant mengemukakan bahwa kondisi transendental pengetahuan (yakni ruang dan waktu dan kategori-kategori) memancangkan tapal batas mutlak yang memungkinkan kita untuk menimbang realitas yang bisa dan yang tidak bisa kita ketahui. Segala konsep yang tidak disertai dengan intuisi yang bersesuaian dengan ini, atau segala intuisi yang tidak bisa dikonsepkan, tidak akan bisa digunakan untuk membangun pengetahuan. Namun demikian, manakala seseorang memperoleh suatu pengetehuan empiris, akalnya tak pelak lagi membangun “idea-idea” tertentu tentang hal-hal yang berada di luar tapal batas pengetahuan kita. Menurut Kant, yang terpenting dalam hal ini adalah idea-idea metafisis tentang “Tuhan, kebebasan, dan keabadian”: akal memaksa kita untuk mengasumsikan keberadaan tiga idea tersebut, namun kita tak dapat membuktikan bahwa ketiganya merupakan obyek yang realitasnya kita ketahui. Kenyataan bahwa kita bebal perihal tiga aspek terpenting kehidupan manusia itu merupakan masalah, sebagaimana yang terlukis dalam Gambar III.10, yang solusinya merupakan tugas utama filsafat.&lt;br /&gt;     ruang dan waktu&lt;br /&gt;                          Tuhan, kebebasan, &lt;br /&gt;                            dan keabadian&lt;br /&gt;               idea-idea&lt;br /&gt;     pengetahuan empiris&lt;br /&gt;                          kebebalan-niscaya&lt;br /&gt;                              (“iman”)&lt;br /&gt;       12 kategori&lt;br /&gt;Gambar III.10: Masalah “Idea-Idea” Kantian&lt;br /&gt;Kant sendiri memecahkan masalah tersebut dengan menuntut bahwa kita harus mengubah sudut pandang pemikiran kita bila kita berhasrat untuk mengiyakan keyakinan kita akan idea-idea tersebut. Pada Kuliah 22 dan 29 kita akan menelaah dua contoh tindakan yang ia sarankan. Untuk kali ini, cukup dikatakan bahwa Kant sendiri yakin bahwa pengakuan batas-batas pengetahuan sangat baik demi metafisika. Dalam CPR 29, ia mengakui, “Saya telah … mendapati bahwa kita perlu menolak pengetahuan, supaya ada ruang bagi keyakinan.” Suatu pengakuan keterbatasan akal secara jujur dan berani mungkin membuat tugas filsafat lebih sulit dan rawan, tetapi sebagaimana yang akan kita pelajari di Kuliah 32 dan 33, inilah cara terbaik (kalau bukan satu-satunya cara) untuk melanggengkan kebermaknaan hidup manusia.&lt;br /&gt;Sekarang kita bisa merangkum corak utama metafisika Kant yang berkenaan dengan empat ajaran fundamental berikut ini:&lt;br /&gt;1. Realitas hakiki (“transenden”)—yakni realitas yang lepas dari kondisi-kondisi yang membatasi kita dalam mempelajarinya—merupakan benda di dalam lubuknya yang tak bisa diketahui.&lt;br /&gt;2. Realitas empiris—yakni aspek-khusus pengetahuan kita—ditentukan oleh “penampakan” yang kita alami (bandingkan Aristoteles).&lt;br /&gt;3. Realitas transendental-yakni aspek-umum pengetahuan kita (terutama ruang dan waktu sebagai “forma intuisi”, dan duabelas kategori sebagai “forma pikiran”)—ditentukan oleh subyek yang mengetahuinya (bandingkan Plato).&lt;br /&gt;4. Pengetahuan itu tentu menimbulkan ide-ide mengenai realitas hakiki yang bolehjadi, sekiranya kita bisa mengetahuinya; namun upaya untuk membuktikan ide-ide ini menyebabkan akal menjadi berkontradiksi-diri, sehingga ide-ide ini tidak akan menjadi unit-unit pengetahuan ilmiah.&lt;br /&gt;Implikasi dari Sistem filsafat Kant yang mencuat dari ajaran-ajaran tersebut berlipat-lipat. Dalam hal ini, mari kita amati empat implikasinya yang paling signifikan bagi metafisika.&lt;br /&gt;Pertama, bila kita pikir Sokrates menanam “benih” di sejarah filsafat Barat dengan gagasannya bahwa para filsuf harus bertolak dari pengakuan hal-hal yang tidak mereka ketahui, maka pohon yang tumbuh dari benih ini berbuah untuk pertama kalinya bersama-sama dengan Kant. Kant setuju bahwa filsafat bermula dengan pengakuan kebebalan; sesungguhnya, ia pun menegaskan bahwa “manfaat yang tak terhitung nilainya” dari Kritik Pertama adalah “bahwa semua keberatan atas moralitas dan agama akan terbungkam selamanya, dan [kebungkaman] ini dalam nuansa Sokratik, yakni [terbungkam] oleh bukti terjelas yang berupa kebebalan pengamat obyek” (CPR 30). Namun ia melangkah lebih jauh daripada Sokrates dengan menetapkan garis pemisah yang tajam, tapal batas yang berada tepat di antara kawasan “kebebalan-niscaya” dan “pengetahuan-nirmustahil”: kita mungkin dapat memikirkan suatu konsep yang tidak bisa diintuisikan, atau merasakan suatu intuisi yang tidak bisa dikoneptualkan; namun kita hanya bisa mengetahui hal-hal yang tampak dalam bentuk yang terbuka terhadap intuisi dan konsepsi. Selanjutnya, Kant memperbedakan antara dua tipe kebebalan (605-606): kebebalan-aksidental dalam hal persoalan empiris mesti mendorong kita untuk memperluas pengetahuan kita, sedangkan kebebalan-niscaya dalam hal persoalan metafisis mesti mendorong kita untuk melampaui pengetahuan menuju tujuan praktis berfilsafat—yakni untuk hidup dengan lebih baik.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, berkat Kant, metafisika akhirnya mencapai kedewasaan. Setelah selama duaribu tahun para filsuf berupaya memberantas kebebalan-niscaya dengan pengetahuan metafisis, Kant menuntaskan daur historis filsafat Barat dan, dengan demikian, menguak sejumlah masalah yang benar-benar baru. Ini karena implikasi berikutnya dari Sistem Kant adalah bahwa kini kita harus mendapatkan jalan untuk menanggulangi kebebalan-niscaya kita. Bagaimana kita bisa berfilsafat tanpa berpengetahuan tentang realitas terdalam? Duaratus tahun terakhir ini filsafat merupakan serentetan berbagai usulan tentang bagaimana hal itu bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Solusi Kant sendiri, teori “Copernican”-nya bahwa si subyek membaca kondisi transendental pengetahuan pada obyek, ditolak oleh kebanyakan filsuf sepeninggalnya. Akan tetapi, saya pikir sebaiknya kita tidak buru-buru menolak teori yang kedengarannya agak ganjil itu. Seperti halnya “cogito” Descartes melapangkan jalan bagi fisika Newtonian, saya yakin revolusi Copernican Kant melapangkan jalan bagi relativitas dan mekanika kuantum yang sama-sama berpandangan bahwa si pengamat turut-serta dalam pembentukan pengetahuan.&lt;br /&gt;Lantaran Kant telah menetapkan batas-batas pengetahuan manusia secara sedemikian tajam, kita bisa mengatakan bahwa filsafat menjadi lebih lengkap dengan kehadiran Kant daripada sebelumnya. Kant sendiri sangat menyadari aspek Sistemnya itu (CPR 10):&lt;br /&gt;I have made completeness my chief aim, and I venture to assert that there is not a single metaphysical problem which has not been solved, or for the solution of which the key at least has not been supplied.&lt;br /&gt;(Saya telah menuntaskan sasaran utama saya, dan saya terjun untuk menegaskan bahwa tidak ada satu masalah metafisis yang belum terpecahkan, atau sekurang-kurangnya solusi yang kuncinya belum tersedia.)&lt;br /&gt;Menariknya, bila anda menoleh ke bahasan kita tentang mitos di Kuliah 3, anda mungkin ingat bahwa mitos apa pun merupakan sesuatu yang terkurung dalam batas-batas [lihat Gambar I.7]. Jadi, saya pikir, benarlah pernyataan bahwa dengan kehadiran Kant, filsafat Barat mengalami suatu “pergeseran paradigma” sehingga kita bisa mengatakan, Kant memberi filsafat suatu “mitos” baru—mitos tentang benda di dalam lubuknya. Tentu saja, selama kita memperlakukan ini sebagai mitos yang “tercerahkan”—yakni selama kita selalu mengingat kemitosannya, sehingga tidak memperlakukannya sebagai kebenaran mutlak, tetapi sebagai asumsi dasar yang dipungut secara longgar berdasarkan keyakinan—kita bisa menghindari banyak kesukaran yang “hidup di dalam mitos”, kecuali kalau tak terelakkan. &lt;br /&gt;Implikasi keempat dari filsafat Kant adalah bahwa tuntutannya akan kawasan kebebalan-niscaya manusia itu menjadikan filsufnya rendah hati. Ini tampaknya mungkin mengejutkan, terutama bagi anda yang telah membaca beberapa tulisan Kant sendiri, karena jelas-jelas Kant tidak bebal perihal kehebatan prestasinya sendiri. Pada beberapa kesempatan, ia dengan bangga mengklaim bahwa Sistemnya lebih unggul daripada sistem-sistem para filsuf terdahulu semuanya. Yang saya tunjukkan di sini adalah bahwa, sementara kebanyakan filsuf memanfaatkan ide-ide spekulatif tertentu, yang memerlukan akses ke beberapa jenis pengetahuan transenden yang istimewa yang tidak bisa diakses oleh orang awam, filsafat Kant mengganti itu semua dengan hipotesis-hipotesis. Ia menempatkan para filsuf pada umumnya secara sejajar, bahkan juga sejajar dengan para non-filsuf, bila mengenai kemampuan untuk memperoleh pengetahuan mengenai persoalan-persoalan metafisis yang paling dasar. Implikasi dari filsafatnya ini acapkali terlewatkan, juga oleh mereka yang bertahun-tahun mengkaji tulisan-tulisannya, karena Kant mengungkap ide-idenya dengan peristilahan yang serumit itu. Sekalipun demikian, Kant menyatakan aspek “rendah hati” dari Sistem Kritisnya dengan cukup jelas beberapa kali. Salah satu contoh terbaiknya, menjelang halaman terakhir Kritik pertama (651-652), dikutip dengan seutuhnya:&lt;br /&gt;But, it will be said, is this all that pure reason achieves in opening up prospects beyond the limits of experience? … Surely the common understanding could have achieved as much, without appealing to philosophers for counsel in the matter.&lt;br /&gt;I shall not dwell here upon the service which philosophy has done to human reason through the laborious efforts of its criticism, granting even that in the end it should turn out to be merely negative … But I may at once reply: Do you really require that a mode of knowledge which concerns all men should transcend the common understanding, and should only be revealed to you by philosophers? Precisely what you find fault with is the best confirmation of the correctness of the [Critical philosophy]. For we have thereby revealed to us, what could not at the start have been foreseen, namely, that in matters which concern all men without distinction nature is not guilty of any partial distribution of her gifts, and that in regard to the essential ends of human nature the highest philosophy cannot advance further than is possible under the guidance which nature has bestowed even upon the most ordinary understanding.&lt;br /&gt;(Namun akan dikatakan, sungguhkah akal murni itu berhasil menyingkap tabir melantas batas-batas pengalaman? … Pikiran awam tentu bisa juga sampai di situ tanpa memohon wejangan kepada para filsuf dalam hal itu.&lt;br /&gt;Di sini saya tidak akan berpanjang-tutur tentang jasa filsafat yang telah dihibahkan kepada akal manusia melalui jerih payah kritikannya, yang juga memberi sesuatu yang pada akhirnya menjadi negatif belaka … Akan tetapi, saya bisa menukas seketika: Sesungguhnyakah anda menghajatkan bahwa ragam pengetahuan yang menyangkut semua orang harus melampaui pikiran awam, dan hanya bisa tersingkap kepada anda oleh para filsuf? Kesalahan yang anda dapati dengan cermat itu merupakan pengukuhan terbaik perihal kebenaran [filsafat Kritis]. Lantaran dengan demikian, kita mengungkap sendiri hal-hal yang pada awalnya tak terduga, yakni bahwa dalam hal-hal yang menyangkut semua manusia tanpa pandang bulu, alam tidak bersalah atas segala distribusi parsialnya, dan bahwa berkenaan dengan tujuan esensial bawaan manusia, filsafat tertinggi tidak mampu melangkah lebih jauh daripada yang mungkin [dicapai], di bawah panduan yang dilimpahkan oleh alam, oleh pikiran yang paling awam sekalipun.)&lt;br /&gt;Dengan kata lain, filsafat itu istimewa bukan karena membolehkan kita untuk berbangga mengklaim tingkat pengetahuan yang lebih tinggi daripada orang awam, melainkan karena merendahkan hati kita dengan memperlihatkan terbatasnya semua pengetahuan kita.&lt;br /&gt;Sayangnya, terdapat banyak filsuf sepeninggal Kant yang menolak untuk menerima implikasi penting dari sistemnya itu. Sejarah metafisika selama duaratus tahun terakhir ini justru banyak berisi aneka upaya untuk menghindari implikasi yang menggemaskan itu, bahwa para filsuf berkewajiban untuk rendah hati agar menjadi filsuf yang baik. Filsuf-filsuf telah mencoba lari dari konsekuensi itu dengan menyangkal, memberangus, atau menyalahartikan satu atau beberapa sudut pandang yang berusaha dipertahankan oleh Kant dengan keseimbangan yang rawan. Tokoh-tokoh kunci dalam empat pergerakan pasca-Kantian, yaitu idealisme Jerman, eksistensialisme (baik versi pesimistik/ateistik maupun optimistik/teistik), analisis linguistik, dan filsafat hermeneutik, akan diulas secara singkat pada sisa waktu jam kuliah ini.&lt;br /&gt;Para idealis Jerman (yang paling terkemuka ialah Fichte, Schelling, Hegel, dan Marx) merupakan contoh pasca-Kantian pertama dan paling terkenal yang berusaha memperoleh kembali kemampuan manusia untuk mengetahui realitas terdalam. Johann Fichte (1762-1814) pada mulanya oleh banyak orang dikira berkarakter sebagai pengganti pilihan Kant; akan tetapi, ia segera jelas-jelas putus dari Kant, dengan mengemukakan bahwa “ego transendental” pada aktualnya menghasilkan dunia ilmiah seluruhnya di luar dunia itu sendiri. Jadi, “benda di dalam lubuknya” yang bermasalah bisa dibuang karena segala yang keberadaannya lepas dari benak kita tidak diperlukan lagi. Friedrich Schelling (1775-1854) tergolong dalam Pergerakan Romantik dan sekaligus sebagai idealis; buktinya adalah penekanannya pada seni, perasaan, dan keragaman individu. Bukunya, System of Transcendental Idealism (1800), menguraikan posisi yang mirip dengan pandangan Fichte, dengan berpikiran bahwa ego itu “bertempat sendiri” (yakni membuat diri memasuki obyek), sehingga mencipatakan dunia eksternal dan menetapkan sendiri tugas untuk mengetahuinya. Kedua pandangan itu menolak mentah-mentah keberadaan realisme empiris Kant.&lt;br /&gt;Idealisme Jerman mencapai puncaknya pada Georg Friedrich Hegel (1770-1831), yang kontribusi utamanya adalah membawa sejarah ke dalam pusat perhatian metafisika. Ia mengemukakan bahwa proses tiga-tahap yang digunakan oleh Fichte dan Schelling (itu sendiri yang berakar kuat di Sistem Kant [lihat, umpamanya, Gambar III.1]) merupakan pola pasti dan logis yang memberi tahu kita bagaimana sesungguhnya sejarah berkembang. Itu memungkinkan kita untuk memperoleh akses apriori ke realitas hakiki dalam suatu forma yang oleh Hegel disebut “Spirit Mutlak“. (Kita akan melihat lebih dekat logika Hegelian pada Kuliah 12.) Tokoh yang bisa dianggap penyimpul tradisi ini ialah Karl Marx (1818-1883), bukan lantaran ia idealis, melainkan karena ia menyusun keseluruhan filsafatnya sebagai reaksi melawan sistem Hegelian. Ironisnya, hal itu mengharuskan dia untuk menerima asumsi-asumsi utama Hegel, termasuk mitos dasarnya bahwa kenyataan terdalam bisa diketahui melalui perkembangan historis. Namun lantaran fokusnya bukan metafisika, melainkan filsafat politik, kita menunda pembahasan lebih lanjut ide-ide Marx hingga Pekan IX.&lt;br /&gt;Dua filsuf Amerika, C.S. Peirce (1839-1914) dan John Dewey (1850-1952), walau bukan bagian dari idealisme Jerman, juga dipengaruhi oleh Hegel dalam mengembangkan pragmatisme, suatu pendekatan filsafat yang lebih menekankan pengertian awam daripada teori-teori metafisis seperti itu. Realitas tidak banyak ditentukan melalui penalaran filosofis, tetapi melalui penyelidikan hal-hal yang berjalan di dunia empiris. Persoalan realitas terdalam sedikit-banyak diabaikan. Secara demikian, pragmatisme tidak selalu anti-Kantian, tetapi juga tidak sepenuhnya mengambil posisi Kant (bandingkan dengan Kuliah 22 dan 29).&lt;br /&gt;Reaksi lain terhadap penyangkalan mutlak Hegel atas batas-batas Kantian menghasilkan eksistensialisme—kendati dalam hal ini mitos Hegel tentang sentralitas sejarah itu sendiri dipersoalkan dengan lebih mendasar. Dua tokoh utama paham ini ialah Arthur Schopenhauer (1788-1860) dan Søren Kierkegaard (1813-1855), yang mengembangkan alternatif terhadap Hegel; yang pertama bercorak pesimistik, yang kedua bercorak optimistik. Daripada Hegel, Schopenhauer lebih percaya kepada Kant; namun Schopenhauer memodifikasi Sistem Kant dengan menghubungkan alam benda di dalam lubuknya dengan suatu “kehendak” bawah-sadar yang mencakup segala hal yang tidak hanya berhubungan dengan persoalan moral, sebagaimana argumen Kant (lihat Kuliah 22). Ia yakin bahwa konflik antara kehendak ini dan alam eksternal menyebabkan penderitaan yang tak terelakkan, dan bahwa penderitaan ini merupakan makna sejati kehidupan. Kierkegaard juga menyerang Hegel dengan kembali kepada Kant, tetapi dengan jalan yang lebih optimistik, dengan mengakui penderitaan hidup sebagai kekuatan yang mengarahkan kita kepada Tuhan dan karenanya mesti dilalui. Posisinya akan menjadi fokus perhatian kita di Kuliah 34.&lt;br /&gt;Para pelopor tersebut selanjutnya mempengaruhi dua filsuf yang mengembangkan eksistensialisme dengan lebih eksplisit: Friedrich Nietzsche (1844-1900) dan Paul Tillich (1886-1971). Nietzsche, yang amat dipengaruhi oleh pesimisme suram Schopenhauer, menyusun suatu filsafat moral yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Kant, yang menjadi persemaian bagi hampir semua versi ateistik eksistensialisme yang selama seabad ini subur. Tillich, yang amat dipengaruhi oleh Kierkegaard, ialah filsuf-teolog yang mengembangkan kerangka eksistensialis dengan arah “optimistik” (yakni dibuktikan kebenarannya secara teologis) yang paling lengkap. Nietzsche akan menjadi fokus perhatian kita pada Kuliah 23, sedangkan Tillich pada Kuliah 17, 30, 31, dan 34.&lt;br /&gt;Yang banyak berlawanan dengan eksistensialisme selama seabad ini adalah filsafat analitik. Seperti yang akan kita amati di Kuliah 16, dua penggerak utamanya ialah Bertrand Russel (1872-1970) dan Ludwig Wittgenstein (1889-1951). Dalam tradisi ini mereka sering dipandang sebagai penerus langsung langkah-langkah Kant; akan tetapi, klaim ini didasarkan pada interpretasi yang amat anti-metafisis bahwa Kant mengenyahkan metafisika tanpa menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Untungnya, semakin banyak filsuf Anglo-Amerika [dan beberapa tipe filsuf lainnya] yang mengakui bahwa dikotomi lama antara pendekatan filsafat yang eksistensial dan analitik itu tidak sah—suatu perkembangan yang saya pikir sebaiknya disebut dengan satu kata saja, “baik” (bandingkan Gambar I.2)!&lt;br /&gt;Salah seorang filsuf yang sering dianggap eksistensialis walaupun ia berupaya tidak mengaitkan diri dengan pergerakan itu ialah Martin Heidegger (1889-1976). Pendekatannya terhadap filsafat, yang akan disinggung secara singkat di Kuliah 17 dan 34, melahirkan salah satu dari perkembangan yang paling berpengaruh di paruh-kedua abad keduapuluh: filsafat hermeneutik. Kuliah 18 akan memeriksa lebih rinci bagaimana Hans Georg Gadamer (1900- ) menyusun suatu teori interpretasi yang masih sangat berpengaruh hingga hari ini. Salah satu dari alasan utama berpengaruhnya teori ini, menurut saya, adalah bahwa teori ini tidak berfokus pada persoalan tradisional metafisika. Bahkan, pada titik yang paling ekstrim, filsafat hermeneutik membangkitkan suatu pergerakan yang disebut “dekonstruksionisme”, yang dipelopori oleh filsuf-filsuf seperti Jacques Derrida (1930- ), yang percaya bahwa bukan hanya metafisika, melainkan filsafat itu sendiri pun telah tamat. Karena kita akan membahas ide-ide ini dengan lebih lengkap di Kuliah 18 dan 24, ide-ide ini tidak perlu dirangkum di sini.&lt;br /&gt;Bila anda menempuh matakuliah metafisika, dosen anda mungkin akan berfokus pada masalah-masalah dasar tertentu yang cenderung menarik minat para metafisikawan kontemporer. Masalah-masalah itu pada khususnya berkaitan dengan salah satu dari empat “realitas” berikut ini: (1) hakikat benda-benda fisik dan persepsi kita perihal benda-benda ini (warna, misalnya); (2) hakikat benak dan identifikasi yang tepat perihal obyek-obyek mental; (3) hakikat ruang dan waktu, dan hubungan-hubungan di dalam ruang dan waktu (umpamanya: kausalitas, nasib, dan kebebasan); dan (4) hakikat entitas-entitas abstrak (contohnya: bilangan, dunia nirmustahil, dan Tuhan). Masalah sedemikian itu tidak baru; kita telah menyinggung sebagian besar dari masalah-masalah itu dalam pembahasan kita tentang metafisika klasik dan modern pada dua pekan terakhir ini, walau kadang-kadang dengan istilah lain: sifat metafisika (debat idealisme-realisme, misalnya), kodrat manusia (debat benak-badan, misalnya), dan sebagainya. Nama-namanya bisa berubah, dan metode yang dipakai oleh para filsuf kontemporer untuk menghadapi masalah-masalah tersebut cenderung semakin rumit, namun tema-tema pokoknya masih belum berubah.&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana masa depan “akar-akar” filsafat itu kala kita masuki milenium baru ini? Terdapat banyak hal yang dijalani demi metafisika selama seabad ini yang sayangnya [hanya] sedikit lebih baik daripada kemunduran pada filsafat Skolastik yang secara khas dipraktekkan di Abad Pertengahan. Di zaman ini agaknya sungguh-sungguh tiada filsafat yang diperuntukkan bagi setiap orang yang berada di luar dunia akademis. Saya yakin, satu-satunya cara untuk mencegah akhir yang tragis itu adalah belajar dari ajaran Kant yang dicoba disampaikan di Kritik pertamanya. Tujuan penyusunan epistemologinya, yang oleh banyak filsuf masih diakui sebagai yang paling lengkap dan beralasan kuat, adalah meletakkan metafisika “pada jalan ilmu yang meyakinkan” (CPR 21). Maksudnya adalah bahwa kita menelaah metafisika itu semata-mata untuk mengakui kebebalan kita akan realitas terdalam. Segera sesudah ini diselesaikan, kita jangan sampai tergoda untuk terus mencari jawaban di tempat yang salah, agar tidak mencabut akar pohon kita (yang berarti menumbangkannya) atau pun menanam kepala kita sendiri di tanah (yang berarti mematikan potensinya akan wawasan yang lebih lanjut). Sebagai tukarannya, untuk mendapatkan sesuatu yang menyerupai “pengetahuan” tentang bagaimana pertanyaan-pertanyaan tentang kebermaknaan-hidup harus dijawab, satu-satunya jalan adalah menerima bahwa jawaban-jawaban itu tidak mungkin terdapat di metafisika, tetapi di bagian lain dari pohon filsafat. Memahami bagaimana itu menjadi nirmustahil merupakan perhatian utama kita di Bagian Dua dan di keseluruhan matakuliah ini.&lt;br /&gt;Daftar pustaka&lt;br /&gt;1. 1.     Renè Descartes, Meditations on First Philosophy 2nd Edition, terj. Laurence J. Lafleur (New York: Bobbs-Merrill, 1960[1951]). [6]&lt;br /&gt;2. 2.     Gilbert Ryle, The Concept of Mind (New York: Barnes &amp; Noble, 1949), Bab I, “Descartes’ Myth”, pp. 13-25.&lt;br /&gt;3. 3.     Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, “Preface” (kedua edisi) (CPR 7-37). [7]&lt;br /&gt;4. 4.     Immanuel Kant, Prolegomena to Any Future Metaphysics, terj. Lewis White Beck (New York: The Bobbs-Merrill Company, 1950). [8]&lt;br /&gt;5. 5.     Stephen Palmquist, Kant’s System of Perspectives: An architectonic interpretation of the Critical philosophy (Lanham: University Press of America, 1993), Bab IV-VI, pp. 107-193. [9]&lt;br /&gt;6. 6.     Will Durant, The Story of Philosophy: The lives and opinions of the greater philosophers 3rd Edition (New York: Simon and Schuster, 1982[1928]).&lt;br /&gt;7. 7.     John Passmore, A Hundred Years of Philosophy 2nd Edition (Harmondsworth: Penguin, 1966[1957]).&lt;br /&gt;8. 8.     Michael Jubien, Contemporary Metaphysics: An introduction (Oxford: Blackwell Publishers Ltd, 1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Catatan kaki&lt;br /&gt; [1] Anak-kalimat ini merupakan saduran, sepersetujuan Palmquist,  dari teks “no human being is perfect, so the perfect Being is not the “I” of whose existence I am certain;”&lt;br /&gt; [2] Palmquist belum menjelaskan arti garis putus-putus yang terdapat di dalam gambar. Penjelasannya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;Garis putus-putus itu untuk menunjukkan penekanan perbedaan dua metode “pemecahan” masalah benak-badan. Argumen yang berbasis “Tuhan” adalah yang rasional, yang karenanya berfokus pada apa yang disediakan oleh benak kepada kita. Argumen berbasis “kelenjar kerucut” adalah yang biologis, yang berfokus pada apa yang disediakan oleh badan kepada kita. Garis putus-putus itu juga menunjukkan bahwa kedua argumen tersebut merupakan upaya untuk menjembatani celah di situ, namun gagal lantaran masing-masing hanya berfokus pada satu sisi persamaan.&lt;br /&gt; [3] Menurut Palmquist, “obyektivitas mutlak” bisa dibaca sebagai “eksistensi yang independen secara mutlak”. Intinya, dengan mendalilkan bahwa dunia mental kita terpisah total dari dunia fisis, namun bersikeras bahwa kedua jenis dunia ini sama nyatanya (walau substansinya berlainan), pada dasarnya Descartes menetapkan sesuatu yang di kemudian hari dikenal sebagai “pandangan dunia ilmiah”.&lt;br /&gt; [4] Tentu saja ada kemungkinan bahwa satu sisi benar total, sedangkan sisi lainnya salah total, atau bahwa kedua sisi salah total. Jika itu terjadi, maka “metode Kritis” tidak dibutuhkan. Akan tetapi, dalam pandangan Palmquist, kasus semacam itu relatif jarang. Yang ia maksud (dan yang sekarang ia terangkan di kelasnya, tahun 2001) adalah bahwa dalam pembahasan filosofis yang serius, ketika dua pihak, atau lebih, yakin bahwa klaim mereka (yang berlawanan) masing-masing benar, pemicu perdebatan itu hampir selalu berupa perbedaan perspektif. Ia mengharap bahwa pembaca mengasumsikan bahwa pihak-pihak yang berdebat itu sama-sama memiliki “fakta yang benar” namun masih tidak sepakat. Singkatnya, metode Kritis adalah alat filosofis (untuk menilai perspektif), bukan alat ilmiah (untuk menilai fakta).&lt;br /&gt; [5] Perihal Gambar III.8a, saya mempunyai wawasan sebagai berikut. Gambar ini, bila Matahari merupakan forma obyek, yang dikombinasikan dengan satu gambar bumi yang dikelilingi oleh bulan (= bahan obyek), melambangkan idealisme Plato dan realisme Aristoteles. Plato mungkin mengklaim bahwa kita biasanya hidup di “malam hari” dengan sinar bulan yang hanya merupakan pantulan (ilusi) dari sumber sinar sejati. Padahal, menurut Plato, realitas universal (tunggal) itu terdapat di “siang hari” dengan cahaya matahari yang merupakan sumber sinar sejati. Akan tetapi, Aristoteles mungkin melihat bahwa matahari merupakan salah satu bintang, dan bahwa bintang-bintang dan bulan lebih terlihat di malam hari. Maka Aristoteles memandang bahwa realitas-realitas partikular (jamak) itu justru terdapat di “malam hari”.&lt;br /&gt;Wawasan tersebut disetujui oleh Palmquist. Bahkan ia menilai bahwa upaya pengaitan “gua Plato” dengan Gambar III.8 adalah “hebat”, sedangkan pembandingan gambar tersebut dengan realisme Aristoteles bisa dinilai “bagus”).&lt;br /&gt; [6] Untuk alternatif, lihat http://www.utm.edu/research/iep/text/descart/des-med.htm&lt;br /&gt; [7] Untuk alternatif, lihat http://www.hkbu.edu.hk/~ppp/cpr/prefs.html&lt;br /&gt; [8] Untuk alternatif, lihat http://www.utm.edu/research/iep/text/kant/prolegom/prolegom.htm&lt;br /&gt; [9] Untuk alternatif, lihat http://www.hkbu.edu.hk/~ppp/ksp1/KSP4.html http://www.hkbu.edu.hk/~ppp/ksp1/KSP5.html http://www.hkbu.edu.hk/~ppp/ksp1/KSP6.html&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2006/12/filsafat-sebagai-kesangsian-meditatif.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-115166840867540559</guid><pubDate>Fri, 30 Jun 2006 11:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-06-30T19:53:28.706+08:00</atom:updated><title>HASIL POLLING ANDA</title><description>MENURUT ANDA, SIAPAKAH PEMENANG PIALA DUNIA 2006?&lt;br /&gt;inilah hasil polling anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selection   Votes &lt;br /&gt;Argentina   0% 0 &lt;br /&gt;Belanda     0% 0 &lt;br /&gt;Brazil     14% 1 &lt;br /&gt;Inggris    14% 1 &lt;br /&gt;Italia     57% 4 &lt;br /&gt;Jerman     14% 1 &lt;br /&gt;Spanyol     0% 0 &lt;br /&gt;lainnya     0% 0 &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;7 votes total &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2006/06/hasil-polling-anda.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-115090759182067330</guid><pubDate>Wed, 21 Jun 2006 16:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-06-22T00:33:11.903+08:00</atom:updated><title>DUKA SEMAKIN BERGESER KE TIMUR</title><description>Musibah kembali menimpa negeri ini, setelah aceh,jogja,jateng, akhirnya bencana itu bergeser ke timur indonesia. banjir bandang yang mengenai beberapa daerah kabupaten di sulsel pada tanggal 20/6 dengan daerah terparah di kabupaten sinjai. hingga malam 21/6 telah ditemukan korban meninggal dunia sebanyak 100an orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://photos1.blogger.com/blogger/4960/3078/1600/banjir%20sulsel.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;&quot; src=&quot;http://photos1.blogger.com/blogger/4960/3078/320/banjir%20sulsel.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;turut berduka cita atas bencana alam yang terjadi di sulsel, buat teman-teman yang ingin memberikan bantuan kepada korban bencana berupa makanan instan,selimut,tenda,pakaian,uang, dll. dapat disalurkan ke POSKO PENANGGULANGAN BENCANA di PINTU I UNHAS, &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2006/06/duka-semakin-bergeser-ke-timur.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-115030154782753213</guid><pubDate>Wed, 14 Jun 2006 15:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-06-15T00:12:28.683+08:00</atom:updated><title>sepak bola bukan politik, SCTV bangsat!!!</title><description>sindrom piala dunia telah mulai menyebar di seluruh dunia, tak terkecuali indonesia. sejenak melupakan seluruh kebobrokan bangsa ini, kasus korupsi, pengadilan soeharto, ham, masalah kesehatan, semakin tingginya angka pengangguran dan kemiskinan. virus piala dunia benar-benar telah meracuni sebagian besar masyarakat kita, hingga seolah-olah atau memang telah melupakan kalau bangsa kita bukanlah bangsa yang mapan, sehingga dengan banyak bersantai menikmati tontonan piala dunia hingga subuh hari. baik jika mereka tetp sadar bangun pada pagi hari dan bekerja kembali. &#39;beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa efektifitas kerja masyarakat indonsia khususnya bagi para pegawai negeri sangatlah kurang&#39; pertanyaannya kemudian? pada hari normal saja mereka sering datang terlambat, belum waktu pulang sudah ada di rumh dan di jam kerja pun terlihat di tempat umum seperti mall. apakah denan kondisi tuuh yang lemas karena kurang istirahat dapat menghasilkan sebuah kerja yang baik..?? mohon untuk direnungkan.....&lt;br /&gt;namun, ada hal yang menarik dalam perhelatan piala dunia ini. beberap hari berturut-turut di setiap penayangan pertandingan pertama piala dunia,pukul 21.00 WIB seorang sosok yang tidak asing bagi masyarakat indonesia, tapi bukanlah seorang penggemar bola, olahragawan, pembawa acara olahraga ataupun hal-hal yang menyangkut dunia olahraga. beliau adalah TITIK PRABOWO, bertindak sebagai seorang pembawa acara yang memandu para kmentator untuk mengulas jalannya pertandingan. teman-teman mungkin bertanya-tanya akan hal tersebut, bukan hanya karena tidak adanya hubungan dengan olahraga, bahkan orang awam pun dalam dunia sepakbola dapat menilai kalu dia tidaklah pantas membawa acara tersebut secara frofesional (memandu acara dengan baik), sangat burukkkk.... maka wajar ketika orang-orang mempetanyakannya. apa hubungannya petandingan ini dengan titik prabowo sebagai pembawa acara??? tak lain adalah sebuah panggung politik yang berusaha dibawa kedunia olah raga, yang tak terlepas dari pro kontra penanganan hukum kasus soeharto, keluarga cendana berusaha kembali tampil di kancah perpolitikan bangsa ini, dengan berbagai manuver yang dilakukan, termasuk menarik simpati masyarakat hususnya bagi penggila bola, seakan-akan kehadiran titik sebagai pembawa acara menegaskan bahwa tanpa mereka (cendana-red) tema-teman penggila bola mungkin sulit menonton piala dunia di SCTV, karena merekalah salah satu penggalang dana bagi kegiatan tersebut. dunia olahraga pun dengan slogan &quot;fair play&quot;-nya belum mampu seutuhnya untuk mewujudkan sebuah pertandingan yang sportif, bagaimana jika politik praktis pun mulai masuk di dalamnya???. &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2006/06/sepak-bola-bukan-politik-sctv-bangsat.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-114942061410247326</guid><pubDate>Sun, 04 Jun 2006 11:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-23T01:50:36.163+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><title>Marx Untuk Pemula</title><description>Mengenal Karl Marx Lewat Komik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karl Marx dan Marxisme, banyak orang merinding mendengarnya saat rezim orde baru berkuasa. Bagaimana tidak? ribuan orang telah menjadi tumbal politik karena dicap marxist dan komunis. Sedemikian mengerikankah Marx dan Marxismenya? sehingga rezim orde baru begitu ketakutan dan mengalami phobia yang berkepanjangan terhadap aliran pemikiran ini. Pelarangan ajaran Marxisme secara total, memang telah menutup pemahaman publik terhadap Marxisme itu sendiri, publik hanya mengenal bayangan hitam Marxisme sebagai &quot;setan&quot; yang berbahaya, tanpa kesempatan mengenal bagaimana Marxisme dipahami dalam wacana intelektual dan ilmiah.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Pergesekan wacana publik yang telah sedemikan lama membeku memang masih menyisakan trauma-trauma politik di masa lalu, tidak terkecuali di jaman reformasi sekarang ini. Memang akhir-akhir ini buku-buku kiri begitu marak diterbitkan, dan konon laku keras di pasaran. Bagaikan kran yang terbuka setelah tersumbat selama 32 tahun rezim orba, kini antusiasme publik terhadap hal-hal yang berbau kiri begitu tinggi dari buku hingga barang-barang merchandise semacam tas, poster atau syal. Bahkan ada kecenderungan terjadi komodifikasi hal-hal yang berbau kiri, apakah kiri telah bergeser menjadi trend bukan sebagai keterterikan ideologis? Saat kapitalisme, hedonisme dan budaya pop menemukan jamannya. Siapapun bisa membeli Che Guevara lewat sepotong poster dan tas atau menikmati Lenin dalam nyamannya kaos oblong. Nah, apa salahnya kita berkenalan dengan Marx melalui lembar-lembar komik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku komik Marx Untuk Pemula setebal 155 halaman ini--setelah sempat bergerilya dalam bentuk komik fotokopian dari tangan ke tangan di kalangan aktivis kiri di kampus-kampus--adalah terjemahan dari Marx for Begginer karangan Rius (seorang kartunis dari Mexico).. Pemikiran-pemikiran Marx yang radikal memang sangat akrab di sebagian kaum muda kita. Ide-ide tentang pertentangan kelasnya telah banyak diadopsi dalam berbagai pemikiran-pemikiran sosial. Terus terang. jika berbicara teori kelas kita tak bisa mengabaikan pemikiran Marx.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Marx dalam format komik tentu lebih menyenangkan daripada anda membacanya dalam buku-buku tebal (dijamin membikin kening anda pasti berkerut-kerut!). Sebagaimana judulnya, komik ini diperuntukkan bagi pemula yang ingin mengetahui siapakah Marx beserta Marxismenya. Melalui gaya yang jenaka Rius mengurai Marx dengan menelusuri latar belakang pemikirannya, kehidupan pribadi serta ide-ide besar yang dihasilkannya. Dengan menelusuri latar belakang pemikiran Marx, komik ini sekaligus menjadi pengantar filsafat yang ringkas. Di sini anda akan berjumpa dengan Hegel, Kant, Feuerbach, Descartes, Spinoza bahkan filsuf-filsuf seperti Heraclitus, Phytagoras, Socrates, Aristoteles, Democritus dan Plato tidak ketinggalan ikut nongol juga. Layaknya sebuah sejarah pemikiran, Marx adalah salah satu tonggaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya sebuah pemikiran tentu tidak bisa lepas dari konteks jamannya, begitu juga Marx. Penggambaran kehidupan pribadi Marx akan memudahkan kita memahami gejolak-gejolak pemikirannya. Kehidupan pribadi Marx sendiri ternyata sangat memprihatinkan, selalu dalam kubangan kemiskinan. Marx tersingkir dari pekerjaan dan negaranya justru karena tulisan-tulisan dan pemikirannya. Marx sekeluraga beruntung memiliki seorang sahabat seperti Engels yang membantunya di saat krisis. Engels juga yang kelak menyelessaikan dua jilid terkahir berdasar catatan Marx dari tiga jilid karya besar Das Kapital yang hanya sempat diselesaikan Marx satu jilid saja. Marx meninggal dalam keadaan sakit dengan kondisi yang sangat miskin. Ide-ide Marx telah mengubah dunia, banyak perubahan-perubahan dan gerakan-gerakan masyarakat seperti di Kuba, Rusia, China, Chili, Vietnam bahkan Indonesia terinspirasi oleh pemikiran-pemikiran Marx. Kritiknya terhadap kapitalisme, penindasan kelas, alienasi, dialektika, materialisme historis sampai cita-cita masyarakat tanpa kelas, masih menjadi perdebatan sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ringkas, komik ini cukup membantu untuk memahami Karl Marx dan pemikirannya. Gambar-gambar dan teks yang disajikan bisa diandaikan sebagai sebuah potongan-potongan rekaman sejarah perjalanan panjang pemikiran manusia. Karl Marx boleh mati, tapi Marxisme telah membelah dunia menjadi dua. Mereka yang memujanya dan mereka yang mencaci-makinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agung Arif Budiman&lt;br /&gt;Editor Komikaze99.com&lt;/span&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2006/06/marx-untuk-pemula.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-114941996709484326</guid><pubDate>Sun, 04 Jun 2006 11:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-06-04T19:19:27.103+08:00</atom:updated><title>tuk .......</title><description>&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;POHON&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang2 memanggilku &quot;POHON&quot; karena aku sangat baik dalam menggambar pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark pada semua lukisanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU telah berpacaran sebanyak 5 kali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu wanita yang sangat AKU cintai..tapi AKU tidak punya keberanian untuk mengatakannya...&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak cantik..tidak memiliki tubuh yang sexy..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sangat peduli dengan orang lain..religius tapi..dia hanya wanita biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU menyukainya..sangat menyukainya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayanya yang innocent dan apa adanya..kemandiriannya..kepandaiannya dan kekuatannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan AKU tidak mengajaknya kencan karena...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU merasa dia sangat biasa dan tidak serasi untukku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU takut...jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU takut kalau gosip2 yang ada akan menyakitinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU merasa dia adalah &quot;sahabatku&quot;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU akan memilikinya tiada batasnya...tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan yang terakhir..membuat dia menemaniku dalam berbagai pergumulan selama 3 tahun ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tau AKU mengejar gadis2 lain dan AKU telah membuatnya menangis selama 3 tahun...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika AKU mencium pacarku yang ke-2 terlihat olehnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hanya tersenyum dengan berwajah merah...&quot;lanjutkan saja&quot; katanya, setelah itu pergi meninggalkan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, matanya bengkak..dan merah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;but AKU tertawa...bercanda dengannya seharian di ruang itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut ruang itu dia menangis...dia tidak tau bahwa AKU kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk mengambil sesuatu yang tertinggal...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir 1 jam kulihat dia menangis disana....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah sekali mereka berdua perang dingin, AKU tau bukan sifatnya untuk memulai perang dingin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi AKU masih tetap bersama pacarku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama pacarku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya masih tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU tau dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tau bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU juga sedih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika AKU putus dengan pacarku yang ke 5, AKU mengajaknya pergi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kencan satu hari itu, AKU mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ingin mengatakan sesuatu padaku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU cerita tentang putusnya AKU dengan pacarku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata bahwa dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU tau pria itu...dia sering mengejarnya selama ini...Pria yang baik, penuh energi dan menarik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatiku, AKU hanya tersenyum dan mengucapkan selamat padanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat dan AKU tidak dapat menahannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ada batu yang sangat berat didadaku...AKU tak bisa bernapas dan ingin berteriak namun apa daya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mataku mengalir tak terasa aku menangis karenanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sering AKU melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handphoneku bergetar...ternyata ada SMS masuk...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS itu dikirim 10 hari yang lalu ketika aku sedih dan menangis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS itu berbunyi, &quot;DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAUN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU suka mengoleksi daun-daun, kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena AKU merasa bahwa DAUN untuk meninggalkan pohon yang selama ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditinggali membutuhkan banyak kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 3 thn AKU dekat dengan seorang pria, bukan sebagai pacar tapi &quot;Sahabat&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku pelajari sebelumnya - CEMBURU...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan di hati ini tidak bisa digambarkan dengan menggunakan Lemon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu seperti 100 butir lemon busuk. Mereka hanya bersama selama 2 bulan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka putus, AKU menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebulan kemudian dia bersama seorang gadis lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU menyukainya dan AKU tau bahwa dia juga menyukaiku, tapi mengapa dia tidak mau mengatakannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dia mencintaiku, mengapa dia tidak memulainya dahulu untuk melangkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia punya pacar baru lagi, hatiku sedih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan dan berjalan, hatiku sedih dan kecewa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi..mengapa dia memperlakukanku lebih dari sekedar seorang teman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati...AKU tahu kesukaannya...kebiasaannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tidak mengharapkan AKU seorang wanita untuk mengatakannya bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diluar itu, AKU mau tetap disampingnya...memberinya perhatian...menemani... dan mencintainya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharap suatu hari nanti dia akan datang dan mencintaiku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu seperti menunggu telephonenya tiap malam...mengharapkan mengirimku SMS...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU tau sesibuk apapun dia, pasti meluangkan waktunya untuk ku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, AKU menunggunya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 tahun cukup berat untuk kulalui dan AKU mau menyerah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang AKU berpikir untuk tetap menunggu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilema yang menemaniku selama 3 tahun ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir tahun ke-3, seorang pria mengejarku...setiap hari dia mengejarku tanpa lelah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala daya upaya telah dilakukan walau seringkali ada penolakan dariku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU berpikir...apakah aku ingin memberikan ruang kecil di hatiku untuknya?!..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seperti angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup daun untuk terbang dari pohon...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, AKU sadar bahwa AKU tidak ingin memberikan Angin ini ruang yang kecil di hatiku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU tau Angin akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh dan ketempat yang lebih baik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya AKU meninggalkan Pohon...tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANGIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU menyukai seorang gadis bernama Daun...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena dia sangat bergantung pada Pohon..jadi aku harus menjadi ANGIN yang kuat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin akan meniup Daun terbang jauh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kalinya..AKU melihat seseorang memperhatikan kami...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, dia selalu duduk disana sendirian atau dengan teman2nya memerhatikan Pohon...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Pohon berbicara dengan gadis2, ada cemburu di matanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum di matanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikannya menjadi kebiasaanku...seperti daun yang suka melihat Pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hari saja tak kulihat dia...AKU merasa sangat kehilangan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut ruang itu, ku lihat pohon sedang memperhatikan daun...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mengalir di mata daun ketika Pohon pergi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya...Ku lihat Daun di tempatnya yang biasa, sedang memperhatikan Pohon...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU melangkah dan tersenyum padanya...Kuambil secarik kertas..kutulis dan kuberikan padanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sangat kaget...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima kertas dariku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya...dia datang...menghampiriku dan memberikan kembali kertas itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi, hal itu karena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun tidak mau meninggalkan Pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU melihat kearahnya...kuhampiri dengan kata2 itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat pelan...dia mulai membuka dirinya dan menerima kehadiranku dan telponku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU tau orang yang dia cintai bukan AKU...tapi AKU akan berusaha agar suatu hari dia menyukaiku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 4 bln, AKU telah mengucapkan kata Cinta tidak kurang dari 20x kepadanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tiap kali dia mengalihkan pembicaraan...tapi AKU tidak menyerah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusanku bulat....AKU ingin memilikinya...dan berharap dia akan setuju menjadi pacarku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya,&quot; apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pernah membalas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kau selalu membisu?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata, &quot;AKU menengadahkan kepalaku&quot;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ah?&quot; Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Aku menengadahkan kepalaku&quot; dia berteriak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuletakkan telepon......melompat....berlari seribu langkah...ke rumahnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membuka pintu bagiku...Ku peluk erat-erat tubuhnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;DAUN terbang karena tiupan ANGIN atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIKA KAU MENGINGINKAN CINTA DARI SESEORANG...TUNJUKKAN CINTAMU !!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CINTA TIDAK MEMBUTUHKAN KERAGUAN...TUNJUKKAN SAJA !!!!&lt;/span&gt;</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2006/06/tuk.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-114900301809210514</guid><pubDate>Tue, 30 May 2006 15:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-05-30T23:30:18.103+08:00</atom:updated><title>relung-relung kehidupan</title><description>Renungan Semiotika Gempa Jogja dan Jateng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada makna yang tak dapat terungkap dengan kata...&lt;br /&gt;tuk sebuah waktu yang dilalui&lt;br /&gt;dalam ruang yang tak bergerak&lt;br /&gt;setiap tempat dalam sisi  kehidupan&lt;br /&gt;kita mesti menilai hidup di setiap relungnya&lt;br /&gt;bahwa makna tak sekedar dari kata...&lt;br /&gt;tapi juga dari sebuah aksiden.....</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2006/05/relung-relung-kehidupan.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-28990430.post-114900138346891940</guid><pubDate>Tue, 30 May 2006 15:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-05-30T23:03:03.493+08:00</atom:updated><title>Selamat Datang di Mata Air Kehidupan</title><description>Selamat datang di Rumah ini.. semoga berkesan..</description><link>http://amien-coy.blogspot.com/2006/05/selamat-datang-di-mata-air-kehidupan.html</link><author>noreply@blogger.com (AMIEN_COY)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>