<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>Misteri Dunia Unik Aneh</title><link>http://yasirmaster.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Yasirmaster" /><description>Misteri Dunia, Tips dan Trik Computer,Free Download game online, Tutorial Computer, mp3 free downloads, Tips Promosi Blog, Free Soundtrack, E-book, Free Software Update,Dunia Misteri Yang Belum TerPecahkan,Astronomi, Teknologi Sains</description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (Yasirmaster)</managingEditor><lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:59:32 PST</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">3933</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info uri="yasirmaster" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">Science &amp; Medicine/Social Sciences</media:category><itunes:owner><itunes:email>suak_cot@yahoo.co.id</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:subtitle>Misteri Dunia, Tips dan Trik Computer,Free Download game online, Tutorial Computer, mp3 free downloads, Tips Promosi Blog, Free Soundtrack, E-book, Free Software Update,Dunia Misteri Yang Belum TerPecahkan,Astronomi, Teknologi Sains</itunes:subtitle><itunes:category text="Science &amp; Medicine"><itunes:category text="Social Sciences" /></itunes:category><item><title>7 Februari: Pembajakan Kapal Amerika di Kuala Batee</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/hY1yI3aEu3c/7-februari-pembajakan-kapal-amerika-di.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:58:15 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-3058677341151617759</guid><description>&lt;img alt="" src="http://www.atjehpost.com/ckeditor/kcfinder/upload/images/Sejarah/kuala-batee--content.jpg" style="margin: 5px; width: 590px; height: 324px; float: left;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa Bilang Amerika Tidak pernah menjajah aceh ni tanggal mainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;181 tahun lalu, tepatnya 7 Februari 1831, sebuah kapal milik Amerika Serikat berlabuh di Kuala Batee, Aceh Barat Daya (sebelum pemekaran masuk wilayah Aceh Selatan). Kapal bernama Friendship itu dinakhodai Charles Moore Endicot. Kapal ini datang ke Kuala Batee untuk membeli lada di Kuala Batee yang ketika itu menjadi salah satu pusat perdagangan lada Aceh.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Tiba di daratan, kapal itu dibajak sekelompok penduduk Kuala Batee. Tiga awak kapal terbunuh. Kerugian diperkirakan sebesar US$ 50 ribu. Beruntung, kapal itu diselamatkan oleh kapal Amerika lain yang sedang melintas di perairan Kuala.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Peristiwa itu tertuang dalam buku karya M.Nur El Ibrahimy berjudul Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Ibrahimy menulis, setiap tahun diangkut sekitar 3 ribu ton lada dari Aceh untuk dijual ke benua lain, dari Amerika hingga Eropa.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Pembajakan itu menimbulkan tanda tanya besar bagi Amerika. Sebab, itulah kali pertama kapal Amerika dibajak. Menurut Ibrahimy, peristiwa itu dipicu kemarahan orang Aceh karena merasa selalu ditipu Amerika dalam perdagangan lada. Pernah kejadian, ketika dibeli berat ladanya 3.986 pikul, tapi ketika dijual kembali oleh Amerika beratnya menjadi 4.583 pikul.  &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Rupanya, pedagang Amerika berlaku curang dengan memalsukan takaran timbangan. Caranya? "Melalui sebuah sekrup yang dapat dibuka di dasar timbangan yang berbohot 56 lbs., diisi 10 atau 15 pon timah sehingga dalam satu pikul lada orang Aceh dikecoh sebanyak 30 kati,” tulis Ibrahimy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Itu hanya satu faktor. Penyebab lain, Belanda berhasil memprovokasi orang Aceh untuk menyerang kapal-kapal Amerika. Tujuannya, Belanda ingin merusak nama baik Kerajaan Aceh sehingga terkesan tidak mampu melindungi kapal asing yang berlabuh di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tentu saja Kerajaan Aceh sibuk memberi klarifikasi. Belakangan, diketahui Belanda yang membayar dan mempersenjatai kapal Aceh yang dikhodai Lahuda Langkap untuk menyerang kapal Amerika dengan menggunakan bendera Kerajaan Aceh.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Lepas dari pembajakan, Kapal Friendship itu kembali ke Amerika. Dan, kabar pembajakan pun tersiar dan membuat geram sejumlah pejabat Amerika. Apalagi, salah satu pemilik kapal itu adalah Senator Nathanian Silsbee. Silsbee pun menyurati Presiden Jackson dan meminta Amerika menuntut ganti rugi atas kerugian yang dialami, dan mengirim kapal perang ke perairan Aceh. Surat serupa juga dikirim Robert Stones, pemilik kapal yang lain, mendesak Menteri Angkatan Laut, Levy Woodbury agar mengirim kapal perang ke Aceh.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Singkat cerita, Presiden Jackson setuju. Maka, dikirimlah kapal perang Potomac ke Aceh. Ini adalah kapal perang terbaik yang dimiliki Amerika saat itu. Berangkat dari New York, kapal ini tiba di Aceh pada 29 Agustus dengan membawa 260 marinir.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;img alt="" src="http://www.blogger.com/ckeditor/kcfinder/upload/images/Sejarah/kuala-batee-kini.jpg" style="margin: 5px; float: left; width: 445px; height: 277px;" /&gt;Perang pecah menjelang matahari terbit pada 6 Februari 1832. Warga Kuala Batee yang sudah mencium kedatangan kapal Amerika itu bersiap-siap di pantai Kuala Batee. Amerika menyerbu benteng-benteng perlawanan. Sayangnya, Ibrahimy tak menyebut berapa orang Aceh yang terbunuh. Namun, katanya, penyerangan itu juga menyasar anak-anak dan wanita. Di pihak Amerka, dua tewas dan sembilan luka-luka.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Sebelum meninggalkan Kuala Batee, Kapal Potomac menembakkan pelabuhan dengan meriam. Pelabuhan yang disebut Amerika dengan Kuallah Battoo itu pun tinggal puing-puing.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Tak semua orang Amerika setuju dengan penyerangan itu. Media bisnis di Amerika, Nile's Weekly Register mengecam habis penyerangan itu. Namun, oleh Presiden Jackson, peristiwa itu berusaha ditutupi.  "Peristiwa pembakaran Kuala Batee oleh marinir Amerika telah dipeti-eskan," tulis M Nur El Ibrahimy.&lt;/p&gt;Penyerangan Kuala Batee pun hilang bersama waktu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-3058677341151617759?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YAbYed0ZeFVe97ovlPMesWr6Q2s/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YAbYed0ZeFVe97ovlPMesWr6Q2s/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YAbYed0ZeFVe97ovlPMesWr6Q2s/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YAbYed0ZeFVe97ovlPMesWr6Q2s/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/hY1yI3aEu3c" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T13:58:15.372-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/7-februari-pembajakan-kapal-amerika-di.html</feedburner:origLink></item><item><title>Melawat ke Benteng Jepang di Ujong Blang</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/0A4lSs6bKfo/melawat-ke-benteng-jepang-di-ujong.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:59:32 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-1507229208457887374</guid><description>&lt;img alt="" src="http://www.atjehpost.com/ckeditor/kcfinder/upload/images/Sejarah/benteng-jepan-content.jpg" style="width: 590px; height: 347px; margin: 5px; float: left;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai Ujong Blang. Di sinilah saya berada kini. Ombak berkejaran dan berlomba-lomba menghantam tanggul penahan yang mencegahnya tumpah ruah ke jalan yang jaraknya hanya beberapa meter.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;Dari sini, cerobong-cerobong dan tangki gas PT Arun terlihat di kejauhan, membayang diantara para nelayan yang sedang melempar jaring di tengah laut.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Terletak di kota Lhokseumawe, Pantai Ujong Blang ramai dikunjungi warga di setiap akhir pekan. Ada yang ingin menikmati semburat matahari pagi, ada pula yang sekedar menghibur diri sambil mendengar kecipak air laut menabrak tanggul ombak. Pantai Ujong Blang terhampar dari muara sungai Cunda (Kuala Cangkoi) yang meliputi empat wilayah desa: Desa Ujong Blang, Ulee Jalan, Hagu Barat Laut, dan Desa Hagu Tengah.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Lhokseumawe memang dikelilingi laut. Jika diartikan, kata 'lhok' bisa berarti dalam, teluk, atau palung laut. Sedangkan 'seumawe'  bermakna air yang berputar-putar atau pusat mata air pada laut sepanjang lepas pantai.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt; Selain pesona pemandangan laut, tak banyak yang tahu Ujong Blang juga  merekam jejak sejarah. Di sana, berdiri kokoh sebuah  benteng peninggalan Jepang. Bunker tentara Jepang itu tersebar di enam lokasi pesisir pantai Ujong Blang. Bunker pertahanan tentara Jepang di pesisir pantai Ujong Blang, letaknya terpisah-pisah antara satu bunker dengan bunker lainnya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Bentuk benteng peninggalan Jepang itu tidak semegah Tembok Besar Cina. Ukurannya kira-kira hanya 2x3 meter. Benteng yang berkontruksi beton tersebut itulah tempat pertahanan Pasukan Jepang yang mendarat ke Aceh sekitar tahun 1942-1945.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Mengarah ke lepas pantai, benteng itu dilapisi dengan beton yang kuat sehingga sangat tangguh walau digempur dengan terpedo sekalipun. Jepang memang dikenal jago dalam hal membangun pertahanan. Hampir di setiap tempat yang pernah disinggahi, 'saudara tua' itu membangun benteng, bahkan menggali lubang di bawah tanah, serupa tikus membuat lubang persembunyian dari kejaran musuh.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img alt="" src="http://www.atjehpost.com/ckeditor/kcfinder/upload/images/Sejarah/benteng-jepang-2.jpg" style="width: 445px; height: 283px; margin: 5px; float: left;" /&gt;Sayangnya, benteng di tepi laut Ujong Blang itu kini tak terawat. Keberadaannya  semakin mengkhawatirkan. Padang ilalang tumbuh liar di sekitar Benteng. Bahkan, sebagian lokasi tempat berdirinya benteng tersebut telah dikuasai oleh masyarakat setempat, karena Pemerintah setempat kurang respon terhadap peninggalan sejarah itu.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Dapat ditebak, masyarakat yang setiap hari libur bertamasya ke Pantai Ujong Blang banyak yang tidak mengetahui Benteng peninggalan Jepang itu, karena Benteng yang terletak lebih kurang 4 kilometer dari pusat Kota Lhokseumawe terbiarkan begitu saja, seperti kebanyakan tembok-tembok tua yang seakan-akan tidak memberi makna apapun.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Selain bungker, di Lhokseumawe juga terdapat gua peninggalan tentara Dai Nippon yang terletak di Cot Panggoi atau tidak jauh dari lokasi pabrik pencairan gas alam PT Arun NGL.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Kepala Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, Miswar, pernah berjanji akan memugar Benteng peninggalan Jepang, dan gua peninggalan tentara Dai Nippon tersebut, untuk melestarikan peninggalan sejarah dan menjadikannya sebagai objek wisata. Namun, sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan dipugar.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Padahal, bangunan sejarah ini sangat penting keberadaannya bagi generasi penerus bangsa sebagai sumber ilmu pengetahuan bahkan juga bisa menjadi potensi wisata daerah yang ujung-ujungnya akan menguntungkan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;img alt="Peninggalan sejarah di Pulau Pinang, Malaysia" src="http://www.atjehpost.com/ckeditor/kcfinder/upload/images/Sejarah/fort-cornwallis-01.jpg" style="width: 350px; height: 229px; margin: 5px; float: left;" /&gt;Pulau Pinang di Malaysia, misalnya, hingga hari ini masih merawat bangunan-bangunan tua peninggalan Inggris. Karena itu pula, pulau ini menjadi salah satu World Heritage, kota warisan sejarah dunia dan hampir tak pernah sepi dikunjungi wisatawan mancanegara.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Andai saja pemerintah Lhokseumawe mengikuti jejak Pulau Pinang, bukan tak mungkin akan menyedot wisatawan dari Jepang yang dikenal gemar mengunjungi lokasi bersejarah warisan pendahulunya yang terserak di negara-negara lain. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Tapi, di tepi pantai Ujong Blang, benteng peninggalan Jepang itu kini hanya seonggok tembok yang berteman debur ombak dan padang ilalang. Ya, tak lebih dari itu.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-1507229208457887374?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/55vmexfAYM4dO-V3jlRTZ9bLSCM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/55vmexfAYM4dO-V3jlRTZ9bLSCM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/55vmexfAYM4dO-V3jlRTZ9bLSCM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/55vmexfAYM4dO-V3jlRTZ9bLSCM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/0A4lSs6bKfo" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T13:59:32.683-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/melawat-ke-benteng-jepang-di-ujong.html</feedburner:origLink></item><item><title>Sadahurip: Wisata Alam dan Kebebasan Berfikir</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/KJAlYsYErGs/sadahurip-wisata-alam-dan-kebebasan_08.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:56:12 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-935486695308828098</guid><description>&lt;img class="alignleft" style="margin-left:4px;margin-right:4px;border-color:initial;border-style:initial;border-width:0;" src="http://www.rakyatmerdekaonline.com/images/berita/normal/305415_08291931012012_sadahurip.jpg" alt="" border="0" height="240" hspace="4" width="200" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GUNUNG SADAHURIP/IST&lt;br /&gt;“Manusia tidak dipenjara oleh takdir, melainkan dipenjarakan oleh pikirannya sendiri”- Franklin Delano Roosevelt  (1882-1945).&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Mamat,  Ade dan teman-temannya dengan sigap dan cekatan mengikuti  perjalanan kami komunitas Geotrek Indonesia menaiki Gunung Sadahurip.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sepanjang perjalanan, Mamat yang berusia 8 tahun dengan gembira bercerita tentang hiruk pikuk  para tamu yang mendatangi Gunung Sadahurip. Mamat dengan cekatan menawarkan sebagai porter kami untuk membawa tas. Mamat mengatakan sudah biasa menjadi porter sejak Gunung Sadahurip diberitakan ada Piramida di dalamnya, bahkan sebagai pengantar logistik orang-orang yang bermalam di Gunung Sadahurip.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span id="more-7716"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Perdebatan dan kontroversi Gunung Sadahurip yang diduga di dalamnya ada Piramida membawa Komunitas Geotrek Indonesia berkunjung ke Desa Cisapar di kaki  Gunung Sadahurip yang Indah. Komunitas Geotrek Indonesia bukan berniat mencari Piramid atau menambah sengit perdebatan, namun kami berminat piknik dan mendiskusikan apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana hal ini menjadi polemik yang belum selesai.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Perjalanan yang ditempuh dua jam cukup melelahkan kami. Sampai di desa Cisapar kaki gunung Sadahurip kami disambut oleh tatapan ramah penduduk desa yang sudah terbiasa dengan kedatangan para pengujung yang penasaran tentang Piramida.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Setelah makan siang, narasumber kami yang biasa disebut Kepala Sekolah Bapak Awang H Satyana (geolog BP Migas) mulai membentangkan poster lengkap tentang struktur Gunung Sadahurip, penelitian geolistrik dan radar serta gambar tentang tipe-tipe arsitektur Piramida di seluruh dunia. Sebuah penjelasan yang multidisiplin dari Bapak Awang H Satyana.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Hal yang menarik dalam kuliah pengantar di kaki gunung Sadahurip adalah bagaimana penjelasan Pak Awang menghipnotis penduduk desa untuk berkumpul dari mulai ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak diam membisu, tanpa kita ajak dan dengan serius mendengarkan materi yang diberikan Bapak Kepala Sekolah. Pak Awang menjelaskan aspek geologi, sejarah dan kearifan lokal dengan bahasa awam dan mudah dimengeriti oleh penduduk desa.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Salah seorang penduduk desa membisikan kepada temannya “Oh kitau nya cara neangan piramid teh…Kudu digali heula jeung cang tangtu aya nya…. Oh kitu nya eusina gunung teh” (Oh begitu ya cara mencari piramida itu…harus digali terlebih dahulu dan itu juga belum tentu ada…oh begitu ya isi gunung itu)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sebuah pencerahan bagi kami peserta dan penduduk desa yang sering kali bingung dengan kedatangan para pengunjung. Lalu apa yang didapatkan komunitas dari perjalanan ke Sadahurip, tentu akan saya sampaikan mungkin hanya sebagian materi saja karena sangat banyak ilmu yang kami dapatkan dari Bapak Awang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pertama mungkinkah ada budaya piramida di Indonesia? Jawabnya “mungkin dan ada” tetapi kita tidak harus berpikir dengan kerangka Piramida Mesir, karena menurut sejarah budaya Piramida Mesir adalah adalah salah satu bentuk dari model Piramida yang muncul hanya pada satu masa periode pemerintahan Firaaun. Jadi dalam gambar yang di bawa Pak Awang sangat banyak tipe Piramida.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Di luar Mesir, piramida pun ditemukan di berbagai negara dengan masa dan bentuk yang berbeda. Misalnya piramida Ziggurat di Persia, piramida Indian Maya di Amerika tengah, Piramida Nsude di Nigeria, Piramida El Castillo-Chichen Itza di Mexico, Nubian di Sudan dan Piramida Hellinikon di Yunani. Bentuk Piramida ini bermacam-manam tetapi menunjukkan kesamaan yang khas, yaitu memusat di puncaknya seperti gunung.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Di Indonesia sendiri budaya Piramida dikenal dengan modal punden berundak. Punden berundak adalah suatu variasi step piramid. Contoh step pramid adalah Situs Gunung Padang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ketika kami sampai di puncak kami merasakan sebuah suasana psikologis yang berbeda Gunung Sadahurip dikeliling banyak gunung, seperti Gunung Galungung, Talaga Bodas, Rakutak, Gunung Guntur, Gunung Sadakeling. Gunung Sadahurip bagai sebuah pusat  “kosmologi”.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Di puncak Sadahurip, Pak Awang membahas filosofi ilmu, membahas banyak fakta dan interpretasi  gunung Sadahurip agar kita tidak terjebak dalam polemik yang melelahkan dan saling menyerang. Kontroversi Sadahurip: dogma dalam sains, perdebatan dan kebebasan berpikir.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Menurut Pak Awang, antara  yang pro bahwa Sadahurip adalah piramida dan yang pro gunung api mereka memiliki fakta-fakta sendiri yang bisa diinterpretasikan masing-masing. Namun penelitian Geolistrik yang dilakukan pro piramida dapat menjawab dua hal piramida atau vulkanik semua belum selesai. Ada beberapa fakta Sadahurip yang disampaikan Pak Awang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pertama, Sadahurip merupakan bukit setinggi 1493 mdpl.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kedua, ia berbentuk piramida.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ketiga, beberapa batuan yang tersingkap didindingnya atau yang bertebaran di sekitarnya menunjukan disusun oleh batuan andesit.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Keempat, secara geologi regional Sadahurip merupakan jalur dominan gunung api di Jawa Barat.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kelima, tidak dilaporkan keberadaan kawah di puncak atau dindingnya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Fakta-fakta tersebut merupakan faktor penyulit untuk segera ditafsirkan Sadahurip piramida atau gunung berapi tidak bisa diselesaikan dengan cepat. Pembelajaran yang  paling berharga dari materi yang diberikan dari Pak Awang adalah:&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Kebenaran yang telah menjadi mutlak dan menutup semua pintu terhadap kemungkinan lain adalah sebuah dogma. Sains berkembang tidak melalui dogma, sebab ketika dogma mengemuka selesailah sains. Sains berkembang melalui jalan perdebatan. Dari sejarah sains kita melihat bahwa apa yang telah dianggap benar dan telah menjadi teori, ternyata dapat gugur di kemudian hari sekalipun perubahan itu memakan waktu cukup lama puluhan bahkan ratusan tahun. Biarlah perdebatan berjalan fakta tak dapat merubah apa pun yang dipikirkan orang, metode penelitian bisa membantu tetapi bisa juga mengelabui. Marilah kita berpikir bebas tanpa terbelenggu dogma”. (penggalan kutipan materi filosofi ilmu dari Awang H Satyana).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Ummy Latifah&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Salam Geotrek Indonesia!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-935486695308828098?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yHj0Zv5ef1KeczZZKmTKiKhgUZc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yHj0Zv5ef1KeczZZKmTKiKhgUZc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yHj0Zv5ef1KeczZZKmTKiKhgUZc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yHj0Zv5ef1KeczZZKmTKiKhgUZc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/KJAlYsYErGs" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T13:56:12.438-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/sadahurip-wisata-alam-dan-kebebasan_08.html</feedburner:origLink></item><item><title>Sadahurip: Wisata Alam dan Kebebasan Berfikir</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/eiJqYuW3S6A/sadahurip-wisata-alam-dan-kebebasan.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:55:39 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-1324588166340302878</guid><description>&lt;img class="alignleft" style="margin-left:4px;margin-right:4px;border-color:initial;border-style:initial;border-width:0;" src="http://www.rakyatmerdekaonline.com/images/berita/normal/305415_08291931012012_sadahurip.jpg" alt="" border="0" height="240" hspace="4" width="200" /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;GUNUNG SADAHURIP/IST&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="10" cellspacing="10" align="right"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Manusia tidak dipenjara oleh takdir, melainkan dipenjarakan oleh pikirannya sendiri”- Franklin Delano Roosevelt  (1882-1945).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Mamat,  Ade dan teman-temannya dengan sigap dan cekatan mengikuti  perjalanan kami komunitas Geotrek Indonesia menaiki Gunung Sadahurip.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sepanjang perjalanan, Mamat yang berusia 8 tahun dengan gembira bercerita tentang hiruk pikuk  para tamu yang mendatangi Gunung Sadahurip. Mamat dengan cekatan menawarkan sebagai porter kami untuk membawa tas. Mamat mengatakan sudah biasa menjadi porter sejak Gunung Sadahurip diberitakan ada Piramida di dalamnya, bahkan sebagai pengantar logistik orang-orang yang bermalam di Gunung Sadahurip.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span id="more-7716"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Perdebatan dan kontroversi Gunung Sadahurip yang diduga di dalamnya ada Piramida membawa Komunitas Geotrek Indonesia berkunjung ke Desa Cisapar di kaki  Gunung Sadahurip yang Indah. Komunitas Geotrek Indonesia bukan berniat mencari Piramid atau menambah sengit perdebatan, namun kami berminat piknik dan mendiskusikan apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana hal ini menjadi polemik yang belum selesai.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Perjalanan yang ditempuh dua jam cukup melelahkan kami. Sampai di desa Cisapar kaki gunung Sadahurip kami disambut oleh tatapan ramah penduduk desa yang sudah terbiasa dengan kedatangan para pengujung yang penasaran tentang Piramida.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Setelah makan siang, narasumber kami yang biasa disebut Kepala Sekolah Bapak Awang H Satyana (geolog BP Migas) mulai membentangkan poster lengkap tentang struktur Gunung Sadahurip, penelitian geolistrik dan radar serta gambar tentang tipe-tipe arsitektur Piramida di seluruh dunia. Sebuah penjelasan yang multidisiplin dari Bapak Awang H Satyana.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Hal yang menarik dalam kuliah pengantar di kaki gunung Sadahurip adalah bagaimana penjelasan Pak Awang menghipnotis penduduk desa untuk berkumpul dari mulai ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak diam membisu, tanpa kita ajak dan dengan serius mendengarkan materi yang diberikan Bapak Kepala Sekolah. Pak Awang menjelaskan aspek geologi, sejarah dan kearifan lokal dengan bahasa awam dan mudah dimengeriti oleh penduduk desa.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Salah seorang penduduk desa membisikan kepada temannya “Oh kitau nya cara neangan piramid teh…Kudu digali heula jeung cang tangtu aya nya…. Oh kitu nya eusina gunung teh” (Oh begitu ya cara mencari piramida itu…harus digali terlebih dahulu dan itu juga belum tentu ada…oh begitu ya isi gunung itu)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sebuah pencerahan bagi kami peserta dan penduduk desa yang sering kali bingung dengan kedatangan para pengunjung. Lalu apa yang didapatkan komunitas dari perjalanan ke Sadahurip, tentu akan saya sampaikan mungkin hanya sebagian materi saja karena sangat banyak ilmu yang kami dapatkan dari Bapak Awang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pertama mungkinkah ada budaya piramida di Indonesia? Jawabnya “mungkin dan ada” tetapi kita tidak harus berpikir dengan kerangka Piramida Mesir, karena menurut sejarah budaya Piramida Mesir adalah adalah salah satu bentuk dari model Piramida yang muncul hanya pada satu masa periode pemerintahan Firaaun. Jadi dalam gambar yang di bawa Pak Awang sangat banyak tipe Piramida.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Di luar Mesir, piramida pun ditemukan di berbagai negara dengan masa dan bentuk yang berbeda. Misalnya piramida Ziggurat di Persia, piramida Indian Maya di Amerika tengah, Piramida Nsude di Nigeria, Piramida El Castillo-Chichen Itza di Mexico, Nubian di Sudan dan Piramida Hellinikon di Yunani. Bentuk Piramida ini bermacam-manam tetapi menunjukkan kesamaan yang khas, yaitu memusat di puncaknya seperti gunung.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Di Indonesia sendiri budaya Piramida dikenal dengan modal punden berundak. Punden berundak adalah suatu variasi step piramid. Contoh step pramid adalah Situs Gunung Padang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ketika kami sampai di puncak kami merasakan sebuah suasana psikologis yang berbeda Gunung Sadahurip dikeliling banyak gunung, seperti Gunung Galungung, Talaga Bodas, Rakutak, Gunung Guntur, Gunung Sadakeling. Gunung Sadahurip bagai sebuah pusat  “kosmologi”.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Di puncak Sadahurip, Pak Awang membahas filosofi ilmu, membahas banyak fakta dan interpretasi  gunung Sadahurip agar kita tidak terjebak dalam polemik yang melelahkan dan saling menyerang. Kontroversi Sadahurip: dogma dalam sains, perdebatan dan kebebasan berpikir.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Menurut Pak Awang, antara  yang pro bahwa Sadahurip adalah piramida dan yang pro gunung api mereka memiliki fakta-fakta sendiri yang bisa diinterpretasikan masing-masing. Namun penelitian Geolistrik yang dilakukan pro piramida dapat menjawab dua hal piramida atau vulkanik semua belum selesai. Ada beberapa fakta Sadahurip yang disampaikan Pak Awang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pertama, Sadahurip merupakan bukit setinggi 1493 mdpl.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kedua, ia berbentuk piramida.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ketiga, beberapa batuan yang tersingkap didindingnya atau yang bertebaran di sekitarnya menunjukan disusun oleh batuan andesit.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Keempat, secara geologi regional Sadahurip merupakan jalur dominan gunung api di Jawa Barat.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kelima, tidak dilaporkan keberadaan kawah di puncak atau dindingnya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Fakta-fakta tersebut merupakan faktor penyulit untuk segera ditafsirkan Sadahurip piramida atau gunung berapi tidak bisa diselesaikan dengan cepat. Pembelajaran yang  paling berharga dari materi yang diberikan dari Pak Awang adalah:&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Kebenaran yang telah menjadi mutlak dan menutup semua pintu terhadap kemungkinan lain adalah sebuah dogma. Sains berkembang tidak melalui dogma, sebab ketika dogma mengemuka selesailah sains. Sains berkembang melalui jalan perdebatan. Dari sejarah sains kita melihat bahwa apa yang telah dianggap benar dan telah menjadi teori, ternyata dapat gugur di kemudian hari sekalipun perubahan itu memakan waktu cukup lama puluhan bahkan ratusan tahun. Biarlah perdebatan berjalan fakta tak dapat merubah apa pun yang dipikirkan orang, metode penelitian bisa membantu tetapi bisa juga mengelabui. Marilah kita berpikir bebas tanpa terbelenggu dogma”. (penggalan kutipan materi filosofi ilmu dari Awang H Satyana).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Ummy Latifah&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Salam Geotrek Indonesia!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-1324588166340302878?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/__lj2OWyCmlAqazJjy0J58cHybQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/__lj2OWyCmlAqazJjy0J58cHybQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/__lj2OWyCmlAqazJjy0J58cHybQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/__lj2OWyCmlAqazJjy0J58cHybQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/eiJqYuW3S6A" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T13:55:39.352-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/sadahurip-wisata-alam-dan-kebebasan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Situs Megalitik Gunung Padang, Cianjur: Harmoni Bumi dan Langit</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/G3v0axcTzCc/situs-megalitik-gunung-padang-cianjur_08.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:51:21 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-3125554062123565471</guid><description>&lt;a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2010/11/bromocaldera.jpg"&gt;&lt;strong&gt;&lt;img class="alignleft" src="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/06/awang.jpg?w=141&amp;amp;h=188" alt="Pak Awang" height="188" width="141" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Situs arkeologi Gunung Padang di Kabupaten Cianjur belum tentu diketahui semua orang. Padahal, situs megalitik ini, dengan luas 3 ha, diklaim sebagai situs megalitik terbesar di Asia Tenggara. Tentu sangat disayangkan bila kita tak mengenalnya. Kabupaten Cianjur berkehendak ingin menjadikan situs ini sebagai andalan tujuan wisata sekaligus pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sabtu 19 Februari 2011 yang lalu, bersama sekitar 60 orang saya mengunjungi situs ini dalam acara “jajal geotrek Gunung Padang”. Para peserta acara ini berasal dari berbagai kalangan dan profesi di masyarakat dan pemerintah daerah. Jajal geotrek ini diorganisasi Truedee Publishing, Bandung dengan pemandu lapangan (interpreter) berasal dari kalangan geologist (Pak Budi Brahmantyo ITB), archaeologist (Pak Lutfi Yondri dari Balai Arkeologi) dan budayawan (Pak Lucky Hendrawan, sekolah seni Bandung). Saya diajak penyelenggara jajal geotrek ini untuk mengamati situs ini dan barangkali bisa memberikan penafsiran bersifat ‘multidimensi’.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2010/11/bromocaldera.jpg"&gt;&lt;img class="alignleft" src="http://arkeologi.web.id/images/stories/articles/gunungpadang02.jpg" alt="gunungpadang02" height="167" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Rombongan berangkat dari Bandung menggunakan bus dan kereta api ekonomi. Rombongan bertemu dengan peserta dari luar Bandung (Jabodetabek) di kantor Dinas Pariwisata dan Budaya Cianjur. Rombongan jajal geotrek Gunung Padang menggunakan bus tanggung dan berbagai kendaraan jeep dan sejenisnya serta motor berangkat dari Cianjur menuju Warungkondang-Lampegan. Kondisi jalan sampai Lampegan bervariasi dari buruk-bagus.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span id="more-7705"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align:center;"&gt;&lt;img class="aligncenter" src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/317272_282541775119186_100000900986918_885419_1294204079_n.jpg" alt="" height="346" width="518" /&gt;Setelah mengunjungi terowongan historis rel kereta api dan stasiun Lampegan yang dibangun pada 1879-1882, rombongan menuju target utama yaitu situs Gunung Padang. Jalan ke arah situs ini merupakan areal perkebunan teh dan karet. Kondisi jalan terlalu berbahaya untuk bus, maka hanya kendaraan jeep dan sejenisnya serta motor yang bisa meneruskan sampai di lokasi situs.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Situs Gunung Padang terletak di puncak sebuah bukit, untuk mencapainya dari dasar, maka harus meniti tangga curam setinggi 95 meter terbuat dari tiang-tiang batuan andesit yang ditidurkan sebanyak hampir 400 anak tangga. Tentu saja ini melelahkan, membuat dada sesak dan kaki pegal. Tetapi kelelahan itu terbayar dengan betapa menakjubkannya pemandangan di atas ke sekeliling bukit dan bangunan situs megalitiknya sendiri. Di pelataran situs megalitik ini, para peserta mendengarkan para interpreter menjelaskan situs ini dari berbagai pendekatan keilmuan, berdiskusi, juga melihat-lihat ribuan tiang-tiang batu andesit basaltik dan basal membentuk tiang-tiang bersisi empat atau lima yang disusun sedemikian rupa untuk berbagai fungsi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Semua bangunan megalitik di seluruh dunia yang dibangun pada masa prasejarah (mis.: Piramida, Mesir dan Stonehenge, Inggris) atau masa sejarah (Machu Picchu, Peru) dibangun dengan mempertimbangkan posisi “geomantik” (posisi bangunan terhadap unsur-unsur alam di Bumi seperti gunung dan mata angin) atau “astromantik” (posisi bangunan terhadap garis edar rasi-rasi bintang, planet atau Matahari). Untuk keperluan meneliti posisi geomantik situs Gunung Padang ini saya membawa kompas orientasi Sunto dan GPS tipe 60CSx yang akan dipakai untuk mempelajari lokasi, ketinggian dan orientasi situs ini terhadap arah mataangin dan semua gunung/bukit di sekitarnya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2010/11/bromocaldera.jpg"&gt;&lt;img src="http://arkeologi.web.id/images/stories/articles/gunung-padang-foto-hendijo.jpg" alt="gunung-padang-foto-hendijo" height="225" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;Sebelum berangkat ke sini, saya juga sudah melakukan pemrograman astronomik menggunakan software ‘planetarium’ untuk melihat peta langit saat situs ini dibangun. Software ini memungkinkan pelacakan peta langit ribuan tahun ke masa lalu. Ini saya lakukan untuk melihat posisi astromantik situs Gunung Padang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Situs Gunung Padang merupakan Punden Berundak yang tidak simetris, berbeda dengan punden berundak simetris seperti Borrobudur, juga berbeda dengan punden berundak simetris lainnya yang ditemukan di Jawa Barat seperti situs Lebak Sibedug di Banten Selatan. Sebuah punden berundak tidak simetris menunjukkan bahwa pembangunan punden ini mementingkan satu arah saja ke mana bangunan ini menghadap.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Lokasi situs Gunung Padang berada di titik 06°59,522′ LS dan 107°03,363 BT. Situs Gunung Padang terdiri atas lima teras (tingkatan). Dasar situs terdapat di ketinggian 894 m dpl, data setiap teras adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;1. teras pertama berada pada ketinggian 983 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 335° UT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. teras kedua berada pada ketinggian 985 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 337° UT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. teras ketiga berada pada ketinggian 986 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 335° UT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. teras keempat berada pada ketinggian 987,5 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 330° UT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. teras kelima berada pada ketinggian 989 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 345° UT.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Data koordinat GPS untuk setiap teras ada, tidak saya sertakan di sini karena terlalu detail, tetapi dari teras 1-5 tersusun dari utara ke selatan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Berdasarkan data di atas, tinggi punden berundak situs Gunung Padang adalah 95 meter dengan arah utama teras menuju utara baratlaut dengan rata-rata azimut 336,40 ° UT. Seluruh teras situs Gunung Padang ini mengarah kepada Gunung Gede (2950 m dpl) yang terletak sejauh sekitar 25 km dari situs ini.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Bahan bangunan pembuat situs adalah batu-batu besar andesit, andesit basaltik, dan basal berbentuk tiang-tiang dengan panjang dominan sekitar satu meter berdiameter dominan 20 cm. Tiang-tiang batuan ini mempunyai sisi-sisi membentuk segibanyak dengan bentuk dominan membentuk tiang batu empat sisi (tetragon) atau lima sisi (pentagon). Setiap teras mempunyai pola-pola bangunan batu yang berbeda-beda yang ditujukan untuk berbagai fungsi. Teras pertama merupakan teras terluas dengan jumlah batuan paling banyak, teras kedua berkurang jumlah batunya, teras ke-3 sampai ke-5 merupakan teras-teras yang jumlah batuannya tidak banyak.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh peneliti kepurbakalaan zaman Belanda: N.J. Krom. Laporan pertama tentang Gunung Padang muncul dalam laporan tahunan Dinas Purbakala Hindia Belanda tahun 1914 (Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie). N.J. Krom tidak melakukan penelitian mendalam atasnya, hanya menyebutkan bahwa situs ini diperkirakannya sebagai sebuah kuburan purbakala. Situs ini kemudian dilaporkan kembali keberadaannya pada tahun 1979 oleh penduduk setempat kepada penilik kebudayaan dari pemerintah daerah. Sejak itu, situs ini telah diteliti cukup mendalam secara arkeologi meskipun masih menyisakan berbagai kontroversi. Para ahli arkeologi sepakat bahwa situs ini bukan merupakan sebuah kuburan seperti dinyatakan oleh Krom (1914), tetapi merupakan sebuah tempat pemujaan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pengamatan di lapangan; pengukuran posisi, ketinggian dan azimut setiap teras; pengolahan data posisi situs menggunakan program astronomi (”arkeoastronomi); memperhatikan semua keterangan para interpreter serta diskusi-diskusi dengan para peserta; membawa saya kepada sebuah kesimpulan yang pada intinya adalah bahwa situs megalitikum Gunung Padang adalah sebuah situs megalitikum prasejarah yang dibangun untuk keperluan penyembahan dan dibangun pada posisi yang telah memperhatikan geomantik dan astromantik.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tentang umurnya, ada yang berpendapat bahwa situs ini dibangun pada masa Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda sekitar abad ke-15 karena ditemukan guratan senjata kujang dan ukiran tapak harimau pada dua bilah batu. Tetapi para ahli arkeologi berpendapat bahwa situs ini umurnya adalah 1500 SM berdasarkan bentuk monumental megalit dan catatan perjalanan seorang bangsawan dari Kerajaan Sunda, Bujangga Manik , yang semasa dengan Prabu Siliwangi, yang menulis bahwa situs ini sudah ada sebelum Kerajaan Sunda. Dan, tidak mungkin Bujangga Manik tidak tahu kalau situs ini dibangun oleh Kerajaan Sunda sebab ia pun seorang bangsawan dari Kerajaan Sunda. Tidak ditemukannya artefak berupa manik-manik atau peralatan perunggu menyulitkan penentuan umur situs ini. Kebanyakan artefak megalitik di Indonesia dan Asia Tenggara ditemukan pada saat Kebudayaan Dongson (500 SM) berlangsung (Sukmono, 1977, 1990).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Situs megalitikum Gunung Padang telah dibangun dalam harmoni geologi sebab ia dibangun memanfaatkan sebuah bukit punggungan/puncak lava andesit basaltik dan lava basaltik berumur Pliosen (2,1 juta tahun, lihat peta geologi lembar Cianjur – dipetakan oleh Mang Okim, 1973, direvisi 2003 dan lembar Sindangbarang) yang terbuat dari tiang-tiang batuan andesit dan basal yang telah terlepas secara alami karena retakan oleh pendinginan lava (kekar tiang, columnar jointing). Batu-batu tiang ini kemudian ditambang oleh manusia pada zaman itu untuk membangun punden berundak-undak.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Situs megalitikum Gunung Padang telah dibangun dalam harmoni geomantik untuk tujuan religiositas berupa penyembahan Sang Hyang atau sang penguasa alam saat itu yang oleh manusia pada masa itu diyakini bermukim di puncak Gunung Gede. Gunung dalam kosmologi agama purba Jawa adalah personifikasi pemberi dan pengambil (Magnis-Suseno, 2006). Ia pemberi kesuburan tanah yang menumbuhkan tanaman untuk dimakan, tetapi ia juga adalah sang pengambil yang letusannya bisa membinasakan siapa saja. Maka gunung harus disembah agar ia tak marah dan selalu memberi berkah. Bahwa situs ini dipakai untuk tempat penyembahan dengan orientasi sang penguasa di Gunung Gede dibuktikan oleh kelima teras situs ini dari yang paling rendah (teras 1) sampai yang paling tinggi (teras 5) selalu diarahkan ke Gunung Gede yang posisinya berada pada arah azimut rata-rata 336,40 ° UT. Di teras 2 terdapat dua menhir dan satu dolmen kecil yang kelihatannya dipakai untuk duduk, dan itu tepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengarah ke puncak Gunung Gede. Arah azimut rata-rata ini pun membentuk kelurusan dengan semua bukit/gunung yang ada di sekitar Gunung Padang yaitu : Pasir Pogor, Gunung Kancana, Gunung Gede, Gunung Pangrango.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Situs Gunung Padang pun secara geologi berada pada area yang secara kegempaan cukup aktif, yaitu tidak jauh dari Sesar Cimandiri. Sesar Cimandiri adalah sesar besar yang memanjang dari Teluk Pelabuhanratu sampai sekitar Padalarang. Bila ada pengaktifan gaya geologi di sekitar Teluk Pelabuhanratu atau Jawa Barat Selatan, maka sesar ini sering menjadi media penerus gaya goncangan gempa. Beberapa menhir yang terguling dan patah di area situs ini diperkirakan diakibatkan gempa. Pembangunan situs ini juga, terutama di teras 1 telah cukup memperhatikan masalah kelabilan area ini yaitu dengan cara menyusun tiang-tiang batu secara mendatar dan saling menumpuk untuk penguatan. Dalam hubungannya dengan penyembahan, situs ini pun dapat dibangun untuk maksud agar manusia dijauhkan dari bencana gempa atau gunungapi yang memang sumber-sumbernya tidak jauh dari Gunung Padang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tidak seperti banyak banyak situs megalitikum lainnya (seperti Piramida, Stonehenge, Machu Picchu) yang dibangun untuk menyembah atau mengindahkan (dewa) Matahari, situs Gunung Padang dibangun untuk diorientasikan seluruhnya kepada Gunung Gede. Ini nampak dari pola bangunan punden berundaknya yang asimetris, tidak dibangun simetris ke semua sisi seperti Candi Borrobudur, tetapi hanya ke satu sisi, yaitu Gunung Gede. Dengan demikian, Gunung Gede menempati posisi geomantik yang sangat kuat bagi situs Gunung Padang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Yang unik dari situs megalitik Gunung Padang adalah ditemukannya bilah-bilah batuan yang diperuntukkan sebagai alat musik. Ini adalah penemuan pertama di Indonesia. Dahlan dan Situngkir (2008) dari Bandung Fe Institute berbekal alat perekam dan analisis Fourier transform pernah meneliti musikologi situs ini dan menyimpulkan bahwa terdapat tiga bilah batu yang bisa mengeluarjan nada musik dengan dentingan (pitch) berfrekuensi dari 2600-5200 kHz selaras dengan nada-nada f”’, g”’, d”’, a”’. Saya mengambil batu basal kecil dan memukul-mukulkannya ke alat musik batu ini, menakjubkan mendengar batu bisa punya dentingan yang tinggi dan teratur. Dapat dibayangkan bahwa manusia pada zaman dahulu ini melakukan penyembahan dengan iringan musik-musik batu. Menurut cerita, konon penduduk kampung di bawah situs ini masih suka mendengarkan riuh musik dari bukit ini pada malam-malam tertentu.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Secara astronomis, situs Gunung Padang pun mempunyai harmoni dalam naungan bintang-bintang di langit. Analisis astronomi menggunakan program ‘planetarium’ menunjukkan bahwa posisi situs ini pada pada masa prasejarah (pemrograman dilacak sampai ke tahun 100 M) berada tepat di bawah bagian tengah lintasan padat bintang di langit berupa jalur Galaksi Bima Sakti. Dan, lokasi situs Gunung Padang pun di sisi atas dan bawah kakilangitnya masing-masing ‘dikawal’ oleh dua rasi yang merupakan penguasa dunia bawah (Bumi) yaitu rasi serpens (ular) dan dunia atas (Langit) yaitu rasi aquila (elang). Secara kosmologis, para pembangun situs ini telah memperhatikan tatalangit di atasnya. Bila situs ini benar dibangun pada masa prasejarah, pembangunannya adalah ras Austronesia yang merupakan pendatang-pendatang pertama di Indonesia. Mereka melintasi Nusantara dari tanah asalnya dengan cara berlayar, dan penguasaan ilmu perbintangan/falak adalah salah satu hal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mutlak dalam pelayaran antarpulau. Mungkin juga bahwa situs ini digunakan untuk menjadi tempat pengamatan bintang pada masa lalu.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Situs Gunung Padang, situs prasejarah megalitik yang menurut beberapa sumber merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara, terletak di Kabupaten Cianjur, ternyata sarat makna yang melibatkan faktor geologi, arkeologi, religiositas, dan astronomi yang dibangun dalam harmoni bumi dan langit.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tak sulit mencapai situs ini, hanya perlu niat. Jangan kalah dengan turis2 mancanegara yang saya lihat kemarin itu ternyata ada juga yang sampai ke Gunung Padang. Ketika meninggalkan lokasi ini, saya pun melihat dua fotomodel nan ayu duduk di atas dolmen di antara bilah-bilah menhir dan berfoto ria.. Unik sekali menjadikan situs megalitik sebagai latar pemotretan…Hm.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Bila ingin melihat bahwa situs ini duduk manis tepat di bawah riuh milyaran bintang bagian tengah Galaksi Bima Sakti, dan dikawal rasi serpens dan aquila, yang masing2 mewakili dunia bawah dan atas, datanglah ke sini pada malam-malam yang cerah di bulan Juli. Pemandangan pada saat malam ber-Purnama pun mestinya tak kalah eksotisnya. Mudah2-an pula kita bisa mendengarkan alunan musik megalitik…2500-3500 tahun yang lalu.&lt;/p&gt;Demikian catatan dan penafsiran ‘multidimensi’ saya melibatkan geologi, arkeologi, religiositas, dan astronomi atas situs Gunung Padang.&lt;p&gt; Semoga bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Awang HS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-3125554062123565471?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TR8Bk6ubXTHXz-XjZqPgmhy2h6g/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TR8Bk6ubXTHXz-XjZqPgmhy2h6g/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TR8Bk6ubXTHXz-XjZqPgmhy2h6g/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TR8Bk6ubXTHXz-XjZqPgmhy2h6g/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/G3v0axcTzCc" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T13:51:21.916-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/situs-megalitik-gunung-padang-cianjur_08.html</feedburner:origLink></item><item><title>Situs Megalitik Gunung Padang, Cianjur: Harmoni Bumi dan Langit</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/ABJO05B4qe4/situs-megalitik-gunung-padang-cianjur.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:50:37 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-608195290677343212</guid><description>&lt;a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2010/11/bromocaldera.jpg"&gt;&lt;strong&gt;&lt;img class="alignleft" src="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/06/awang.jpg?w=141&amp;amp;h=188" alt="Pak Awang" height="188" width="141" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Situs arkeologi Gunung Padang di Kabupaten Cianjur belum tentu diketahui semua orang. Padahal, situs megalitik ini, dengan luas 3 ha, diklaim sebagai situs megalitik terbesar di Asia Tenggara. Tentu sangat disayangkan bila kita tak mengenalnya. Kabupaten Cianjur berkehendak ingin menjadikan situs ini sebagai andalan tujuan wisata sekaligus pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sabtu 19 Februari 2011 yang lalu, bersama sekitar 60 orang saya mengunjungi situs ini dalam acara “jajal geotrek Gunung Padang”. Para peserta acara ini berasal dari berbagai kalangan dan profesi di masyarakat dan pemerintah daerah. Jajal geotrek ini diorganisasi Truedee Publishing, Bandung dengan pemandu lapangan (interpreter) berasal dari kalangan geologist (Pak Budi Brahmantyo ITB), archaeologist (Pak Lutfi Yondri dari Balai Arkeologi) dan budayawan (Pak Lucky Hendrawan, sekolah seni Bandung). Saya diajak penyelenggara jajal geotrek ini untuk mengamati situs ini dan barangkali bisa memberikan penafsiran bersifat ‘multidimensi’.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2010/11/bromocaldera.jpg"&gt;&lt;img class="alignleft" src="http://arkeologi.web.id/images/stories/articles/gunungpadang02.jpg" alt="gunungpadang02" height="167" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Rombongan berangkat dari Bandung menggunakan bus dan kereta api ekonomi. Rombongan bertemu dengan peserta dari luar Bandung (Jabodetabek) di kantor Dinas Pariwisata dan Budaya Cianjur. Rombongan jajal geotrek Gunung Padang menggunakan bus tanggung dan berbagai kendaraan jeep dan sejenisnya serta motor berangkat dari Cianjur menuju Warungkondang-Lampegan. Kondisi jalan sampai Lampegan bervariasi dari buruk-bagus.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span id="more-7705"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align:center;"&gt;&lt;img class="aligncenter" src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/317272_282541775119186_100000900986918_885419_1294204079_n.jpg" alt="" height="346" width="518" /&gt;Setelah mengunjungi terowongan historis rel kereta api dan stasiun Lampegan yang dibangun pada 1879-1882, rombongan menuju target utama yaitu situs Gunung Padang. Jalan ke arah situs ini merupakan areal perkebunan teh dan karet. Kondisi jalan terlalu berbahaya untuk bus, maka hanya kendaraan jeep dan sejenisnya serta motor yang bisa meneruskan sampai di lokasi situs.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Situs Gunung Padang terletak di puncak sebuah bukit, untuk mencapainya dari dasar, maka harus meniti tangga curam setinggi 95 meter terbuat dari tiang-tiang batuan andesit yang ditidurkan sebanyak hampir 400 anak tangga. Tentu saja ini melelahkan, membuat dada sesak dan kaki pegal. Tetapi kelelahan itu terbayar dengan betapa menakjubkannya pemandangan di atas ke sekeliling bukit dan bangunan situs megalitiknya sendiri. Di pelataran situs megalitik ini, para peserta mendengarkan para interpreter menjelaskan situs ini dari berbagai pendekatan keilmuan, berdiskusi, juga melihat-lihat ribuan tiang-tiang batu andesit basaltik dan basal membentuk tiang-tiang bersisi empat atau lima yang disusun sedemikian rupa untuk berbagai fungsi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Semua bangunan megalitik di seluruh dunia yang dibangun pada masa prasejarah (mis.: Piramida, Mesir dan Stonehenge, Inggris) atau masa sejarah (Machu Picchu, Peru) dibangun dengan mempertimbangkan posisi “geomantik” (posisi bangunan terhadap unsur-unsur alam di Bumi seperti gunung dan mata angin) atau “astromantik” (posisi bangunan terhadap garis edar rasi-rasi bintang, planet atau Matahari). Untuk keperluan meneliti posisi geomantik situs Gunung Padang ini saya membawa kompas orientasi Sunto dan GPS tipe 60CSx yang akan dipakai untuk mempelajari lokasi, ketinggian dan orientasi situs ini terhadap arah mataangin dan semua gunung/bukit di sekitarnya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2010/11/bromocaldera.jpg"&gt;&lt;img src="http://arkeologi.web.id/images/stories/articles/gunung-padang-foto-hendijo.jpg" alt="gunung-padang-foto-hendijo" height="225" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;Sebelum berangkat ke sini, saya juga sudah melakukan pemrograman astronomik menggunakan software ‘planetarium’ untuk melihat peta langit saat situs ini dibangun. Software ini memungkinkan pelacakan peta langit ribuan tahun ke masa lalu. Ini saya lakukan untuk melihat posisi astromantik situs Gunung Padang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Situs Gunung Padang merupakan Punden Berundak yang tidak simetris, berbeda dengan punden berundak simetris seperti Borrobudur, juga berbeda dengan punden berundak simetris lainnya yang ditemukan di Jawa Barat seperti situs Lebak Sibedug di Banten Selatan. Sebuah punden berundak tidak simetris menunjukkan bahwa pembangunan punden ini mementingkan satu arah saja ke mana bangunan ini menghadap.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Lokasi situs Gunung Padang berada di titik 06°59,522′ LS dan 107°03,363 BT. Situs Gunung Padang terdiri atas lima teras (tingkatan). Dasar situs terdapat di ketinggian 894 m dpl, data setiap teras adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;1. teras pertama berada pada ketinggian 983 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 335° UT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. teras kedua berada pada ketinggian 985 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 337° UT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. teras ketiga berada pada ketinggian 986 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 335° UT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. teras keempat berada pada ketinggian 987,5 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 330° UT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. teras kelima berada pada ketinggian 989 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 345° UT.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Data koordinat GPS untuk setiap teras ada, tidak saya sertakan di sini karena terlalu detail, tetapi dari teras 1-5 tersusun dari utara ke selatan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Berdasarkan data di atas, tinggi punden berundak situs Gunung Padang adalah 95 meter dengan arah utama teras menuju utara baratlaut dengan rata-rata azimut 336,40 ° UT. Seluruh teras situs Gunung Padang ini mengarah kepada Gunung Gede (2950 m dpl) yang terletak sejauh sekitar 25 km dari situs ini.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Bahan bangunan pembuat situs adalah batu-batu besar andesit, andesit basaltik, dan basal berbentuk tiang-tiang dengan panjang dominan sekitar satu meter berdiameter dominan 20 cm. Tiang-tiang batuan ini mempunyai sisi-sisi membentuk segibanyak dengan bentuk dominan membentuk tiang batu empat sisi (tetragon) atau lima sisi (pentagon). Setiap teras mempunyai pola-pola bangunan batu yang berbeda-beda yang ditujukan untuk berbagai fungsi. Teras pertama merupakan teras terluas dengan jumlah batuan paling banyak, teras kedua berkurang jumlah batunya, teras ke-3 sampai ke-5 merupakan teras-teras yang jumlah batuannya tidak banyak.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh peneliti kepurbakalaan zaman Belanda: N.J. Krom. Laporan pertama tentang Gunung Padang muncul dalam laporan tahunan Dinas Purbakala Hindia Belanda tahun 1914 (Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie). N.J. Krom tidak melakukan penelitian mendalam atasnya, hanya menyebutkan bahwa situs ini diperkirakannya sebagai sebuah kuburan purbakala. Situs ini kemudian dilaporkan kembali keberadaannya pada tahun 1979 oleh penduduk setempat kepada penilik kebudayaan dari pemerintah daerah. Sejak itu, situs ini telah diteliti cukup mendalam secara arkeologi meskipun masih menyisakan berbagai kontroversi. Para ahli arkeologi sepakat bahwa situs ini bukan merupakan sebuah kuburan seperti dinyatakan oleh Krom (1914), tetapi merupakan sebuah tempat pemujaan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pengamatan di lapangan; pengukuran posisi, ketinggian dan azimut setiap teras; pengolahan data posisi situs menggunakan program astronomi (”arkeoastronomi); memperhatikan semua keterangan para interpreter serta diskusi-diskusi dengan para peserta; membawa saya kepada sebuah kesimpulan yang pada intinya adalah bahwa situs megalitikum Gunung Padang adalah sebuah situs megalitikum prasejarah yang dibangun untuk keperluan penyembahan dan dibangun pada posisi yang telah memperhatikan geomantik dan astromantik.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tentang umurnya, ada yang berpendapat bahwa situs ini dibangun pada masa Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda sekitar abad ke-15 karena ditemukan guratan senjata kujang dan ukiran tapak harimau pada dua bilah batu. Tetapi para ahli arkeologi berpendapat bahwa situs ini umurnya adalah 1500 SM berdasarkan bentuk monumental megalit dan catatan perjalanan seorang bangsawan dari Kerajaan Sunda, Bujangga Manik , yang semasa dengan Prabu Siliwangi, yang menulis bahwa situs ini sudah ada sebelum Kerajaan Sunda. Dan, tidak mungkin Bujangga Manik tidak tahu kalau situs ini dibangun oleh Kerajaan Sunda sebab ia pun seorang bangsawan dari Kerajaan Sunda. Tidak ditemukannya artefak berupa manik-manik atau peralatan perunggu menyulitkan penentuan umur situs ini. Kebanyakan artefak megalitik di Indonesia dan Asia Tenggara ditemukan pada saat Kebudayaan Dongson (500 SM) berlangsung (Sukmono, 1977, 1990).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Situs megalitikum Gunung Padang telah dibangun dalam harmoni geologi sebab ia dibangun memanfaatkan sebuah bukit punggungan/puncak lava andesit basaltik dan lava basaltik berumur Pliosen (2,1 juta tahun, lihat peta geologi lembar Cianjur – dipetakan oleh Mang Okim, 1973, direvisi 2003 dan lembar Sindangbarang) yang terbuat dari tiang-tiang batuan andesit dan basal yang telah terlepas secara alami karena retakan oleh pendinginan lava (kekar tiang, columnar jointing). Batu-batu tiang ini kemudian ditambang oleh manusia pada zaman itu untuk membangun punden berundak-undak.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Situs megalitikum Gunung Padang telah dibangun dalam harmoni geomantik untuk tujuan religiositas berupa penyembahan Sang Hyang atau sang penguasa alam saat itu yang oleh manusia pada masa itu diyakini bermukim di puncak Gunung Gede. Gunung dalam kosmologi agama purba Jawa adalah personifikasi pemberi dan pengambil (Magnis-Suseno, 2006). Ia pemberi kesuburan tanah yang menumbuhkan tanaman untuk dimakan, tetapi ia juga adalah sang pengambil yang letusannya bisa membinasakan siapa saja. Maka gunung harus disembah agar ia tak marah dan selalu memberi berkah. Bahwa situs ini dipakai untuk tempat penyembahan dengan orientasi sang penguasa di Gunung Gede dibuktikan oleh kelima teras situs ini dari yang paling rendah (teras 1) sampai yang paling tinggi (teras 5) selalu diarahkan ke Gunung Gede yang posisinya berada pada arah azimut rata-rata 336,40 ° UT. Di teras 2 terdapat dua menhir dan satu dolmen kecil yang kelihatannya dipakai untuk duduk, dan itu tepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengarah ke puncak Gunung Gede. Arah azimut rata-rata ini pun membentuk kelurusan dengan semua bukit/gunung yang ada di sekitar Gunung Padang yaitu : Pasir Pogor, Gunung Kancana, Gunung Gede, Gunung Pangrango.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Situs Gunung Padang pun secara geologi berada pada area yang secara kegempaan cukup aktif, yaitu tidak jauh dari Sesar Cimandiri. Sesar Cimandiri adalah sesar besar yang memanjang dari Teluk Pelabuhanratu sampai sekitar Padalarang. Bila ada pengaktifan gaya geologi di sekitar Teluk Pelabuhanratu atau Jawa Barat Selatan, maka sesar ini sering menjadi media penerus gaya goncangan gempa. Beberapa menhir yang terguling dan patah di area situs ini diperkirakan diakibatkan gempa. Pembangunan situs ini juga, terutama di teras 1 telah cukup memperhatikan masalah kelabilan area ini yaitu dengan cara menyusun tiang-tiang batu secara mendatar dan saling menumpuk untuk penguatan. Dalam hubungannya dengan penyembahan, situs ini pun dapat dibangun untuk maksud agar manusia dijauhkan dari bencana gempa atau gunungapi yang memang sumber-sumbernya tidak jauh dari Gunung Padang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tidak seperti banyak banyak situs megalitikum lainnya (seperti Piramida, Stonehenge, Machu Picchu) yang dibangun untuk menyembah atau mengindahkan (dewa) Matahari, situs Gunung Padang dibangun untuk diorientasikan seluruhnya kepada Gunung Gede. Ini nampak dari pola bangunan punden berundaknya yang asimetris, tidak dibangun simetris ke semua sisi seperti Candi Borrobudur, tetapi hanya ke satu sisi, yaitu Gunung Gede. Dengan demikian, Gunung Gede menempati posisi geomantik yang sangat kuat bagi situs Gunung Padang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Yang unik dari situs megalitik Gunung Padang adalah ditemukannya bilah-bilah batuan yang diperuntukkan sebagai alat musik. Ini adalah penemuan pertama di Indonesia. Dahlan dan Situngkir (2008) dari Bandung Fe Institute berbekal alat perekam dan analisis Fourier transform pernah meneliti musikologi situs ini dan menyimpulkan bahwa terdapat tiga bilah batu yang bisa mengeluarjan nada musik dengan dentingan (pitch) berfrekuensi dari 2600-5200 kHz selaras dengan nada-nada f”’, g”’, d”’, a”’. Saya mengambil batu basal kecil dan memukul-mukulkannya ke alat musik batu ini, menakjubkan mendengar batu bisa punya dentingan yang tinggi dan teratur. Dapat dibayangkan bahwa manusia pada zaman dahulu ini melakukan penyembahan dengan iringan musik-musik batu. Menurut cerita, konon penduduk kampung di bawah situs ini masih suka mendengarkan riuh musik dari bukit ini pada malam-malam tertentu.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Secara astronomis, situs Gunung Padang pun mempunyai harmoni dalam naungan bintang-bintang di langit. Analisis astronomi menggunakan program ‘planetarium’ menunjukkan bahwa posisi situs ini pada pada masa prasejarah (pemrograman dilacak sampai ke tahun 100 M) berada tepat di bawah bagian tengah lintasan padat bintang di langit berupa jalur Galaksi Bima Sakti. Dan, lokasi situs Gunung Padang pun di sisi atas dan bawah kakilangitnya masing-masing ‘dikawal’ oleh dua rasi yang merupakan penguasa dunia bawah (Bumi) yaitu rasi serpens (ular) dan dunia atas (Langit) yaitu rasi aquila (elang). Secara kosmologis, para pembangun situs ini telah memperhatikan tatalangit di atasnya. Bila situs ini benar dibangun pada masa prasejarah, pembangunannya adalah ras Austronesia yang merupakan pendatang-pendatang pertama di Indonesia. Mereka melintasi Nusantara dari tanah asalnya dengan cara berlayar, dan penguasaan ilmu perbintangan/falak adalah salah satu hal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mutlak dalam pelayaran antarpulau. Mungkin juga bahwa situs ini digunakan untuk menjadi tempat pengamatan bintang pada masa lalu.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Situs Gunung Padang, situs prasejarah megalitik yang menurut beberapa sumber merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara, terletak di Kabupaten Cianjur, ternyata sarat makna yang melibatkan faktor geologi, arkeologi, religiositas, dan astronomi yang dibangun dalam harmoni bumi dan langit.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tak sulit mencapai situs ini, hanya perlu niat. Jangan kalah dengan turis2 mancanegara yang saya lihat kemarin itu ternyata ada juga yang sampai ke Gunung Padang. Ketika meninggalkan lokasi ini, saya pun melihat dua fotomodel nan ayu duduk di atas dolmen di antara bilah-bilah menhir dan berfoto ria.. Unik sekali menjadikan situs megalitik sebagai latar pemotretan…Hm.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Bila ingin melihat bahwa situs ini duduk manis tepat di bawah riuh milyaran bintang bagian tengah Galaksi Bima Sakti, dan dikawal rasi serpens dan aquila, yang masing2 mewakili dunia bawah dan atas, datanglah ke sini pada malam-malam yang cerah di bulan Juli. Pemandangan pada saat malam ber-Purnama pun mestinya tak kalah eksotisnya. Mudah2-an pula kita bisa mendengarkan alunan musik megalitik…2500-3500 tahun yang lalu.&lt;/p&gt;Demikian catatan dan penafsiran ‘multidimensi’ saya melibatkan geologi, arkeologi, religiositas, dan astronomi atas situs Gunung Padang.&lt;p&gt; Semoga bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Awang HS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-608195290677343212?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/doaOkv9Yzjf7-7uzKyhxxwDVdwo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/doaOkv9Yzjf7-7uzKyhxxwDVdwo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/doaOkv9Yzjf7-7uzKyhxxwDVdwo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/doaOkv9Yzjf7-7uzKyhxxwDVdwo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/ABJO05B4qe4" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T13:50:37.999-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/situs-megalitik-gunung-padang-cianjur.html</feedburner:origLink></item><item><title>Penguatan Penanganan Bencana Melalui Studi Bencana Alam Katastropik Purba</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/aMhJo7mbgX0/penguatan-penanganan-bencana-melalui.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:48:06 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-1356243351217614388</guid><description>Rentetan kejadian bencana alam besar di tanah air mulai dari bencana gempa-tsunami Aceh di tahun 2004 sampai bencana tsunami di Mentawai pada bulan September 2010 lalu menunjukan betapa dahsyatnya proses alam ini.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;“Sebagai mahluk yang berakal manusia harus berupaya untuk menjaga kelangsungan hidupnya di masa datang.  Oleh karenanya,  meneliti sumber-sumber ancaman bencana dan jejak-jejak peradaban masa lalu yang musnah karena dilanda bencana alam diharapkan dapat memberikan solusi untuk memperkuat ketahanan nasional dalam menghadapi ancaman bencana di masa depan,” demikian kutipan dokumen yang dirilis oleh Tim Staf Khusus Presiden bidang Bantuan sosial dan Bencana beserta Tim ahli Gempa dan Geologi yang diterima SIGAP, Jum’at (1/4).&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Dokumen yang bertajuk “Studi Bencana Alam Katastropik Purba Untuk Penguatan Ketahanan Nasional Dalam Menghadapi Ancaman Bencana Di Masa Datang (2010)” ini menyebutkan,  alam mempunyai dua sisi: memberi rahmat berupa kekayaan alam dan tempat tinggal, dan memberi bencana karena proses-proses alam yang destruktif, termasuk kejadian gempa, letusan gunung api, dan tsunami. Sudah banyak bukti ilmiah tentang  peradaban di masa purba yang hancur sebagian atau total karena dilanda bencana katastropik.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Latar belakang kegiatan penelitian ini dilakukan sesuai isi dokumen tersebut, karena dalam ilmu kebumian dikenal satu konsep utama, yaitu “The past is the key to the future”.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Untuk mitigasi bencana alam, hal ini diterjemahkan sebagai berikut, memahami ancaman bencana di masa datang, kita harus belajar dari bencana alam yang sudah pernah terjadi di masa lampau.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Bencana alam adalah produk dari siklus (proses) alam, seperti siklus gempabumi, siklus letusan gunung api, siklus gerakan tanah, siklus banjir dari skala kecil sampai dengan skala sangat  besar atau katastropik.  Sejarah peradaban manusia mencatat bahwa baik di wilayah nusantara ataupun dunia banyak sekali peradaban kuno yang runtuh bahkan seperti lenyap dari muka bumi karena peristiwa bencana alam katastropik.”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Selama  10 tahun terakhir, Indonesia dilanda oleh berbagai macam bencana alam yang mengakibatkan korban jiwa mencapai ratusan ribu dan kerugian material yang sangat banyak.  Tragedi fenomenal dari tsunami besar di Aceh tahun 2004 misalnya, adalah contoh konkrit masa kini tentang bagaimana suatu bencana alam dapat menghancurkan sebagian besar peradaban di Banda Aceh hanya dalam tempo sekejap saja.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sebelumnya masyarakat,  khususnya di wilayah Aceh, hampir tidak mengenal kata tsunami sehingga sama sekali tidak siap menghadapi bencana tsunami. Padahal dalam perbendaharaan di Aceh ada kata Ieu Beuna yang artinya air bah besar (=tsunami).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Di tempat lain, Pulau Simelue misalnya, masyarakat masih ingat akan peristiwa bencana besar  tsunami di masa lalu, karena kejadiannya belum begitu lama, yaitu tahun 1907. Sehingga orang Simelue yang masih mengenal tsunami atau &lt;em&gt;smong &lt;/em&gt;bisa menjadi lebih siap dan banyak yang selamat ketika peristiwa tsunami Aceh tahun 2004 terjadi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Baru-baru ini, penelitian yang dilakukan oleh Tim peneliti gempa dan tsunami dari Earth Observatory of Singapore (EOS) dan LIPI bekerjasama dengan ARKENAS berhasil menguak fakta, bahwa ternyata banyak  sisa-sisa bangunan kota kuno yang berada beberapa meter di dasar laut di lepas pantai Banda Aceh.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Data eskavasi geologi dan radiometric dating diketahui bahwa kota kuno tersebut musnah diterjang tsunami besar pada abad 14.  Pembelajaran mengenai sejarah bencana alam di masa lalu, dan upaya untuk mengurangi dampaknya menjadi hal yang penting guns meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana dimasa mendatang. Jadi seharusnya masyarakat di sana dapat belajar dari sejarah bencana alam di masa lalu sehingga bisa bersiap diri,” demikian disebutkan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kurangnya data sejarah dari kejadian bencana alam di masa lalu, di bumi Nusantara menyebabkan masyarakat tidak berdaya dan kehilangan memori akan pengalaman dan kearifan dari masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentetan kejadian gempa besar dan tsunami kemudian terjadi secara berantai setelah tahun 2004, termasuk kejadian gempa Nias tahun 2005, gempa Jogya tahun 2006, gempa-tsunami Pangandaran tahun 2006, gempa-tsunami  Bengkulu tahun 2007, dan terakhir gempa-tsunami Mentawai yang terjadi pada bulan September 2010.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pada tahun 2006, masyarakat Jogya juga tidak siaga terhadap ancaman bencana gempabumi, karena sebagian besar masyarakat menganggap wilayah ini aman dari bencana gempa.  “Padahal,  bencana gempa serupa dengan kekuatan lebih besar, pernah terjadi pada tahun 1857 menewaskan sekitar 500 orang.”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Hal ini juga menandakan betapa pendeknya memori masyarakat kita terhadap sejarah bencana dan peradaban. Sejak tahun lalu, Bumi Nusantara juga digonjang-ganjing oleh ancaman bencana alam lain, yaitu letusan gunung api.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Kita menyaksikan bagaimana letusan gunung merapi tahun 2010 yang dahsyat tersebut kembali memporakporandakan wilayah Jogyakarta setelah gempa tahun 2006.  Semburan awan panas gunung api atau piro-klastika atau dikenal sebagai wedus gembel menewaskan banyak jiwa dalam sekejap.  Demikian juga muntahan abu dan limpahan lahar dingin mengancan jiwa dan kesehatan penduduk setempat.”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Candi Borobudur yang sekarang menjadi kebanggaan nasional dan termasuk kedalam salah satu keajaiban dunia sebelum ditemukan pada tahun 1814, tertimbun oleh endapan gunung api muntahan dari Gunung Merapi yang sudah menjadi hutan sehingga sukar dikenali.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kenapa candi besar ini sampai terlantar dan ditinggalkan orang sampai saat ini masih misteri, namun boleh jadi endapan gunung api yang  menutupinya adalah saksi dari sebuah peristiwa letusan merapi yang sangat besar  di masa purba sehingga membinasakan seluruh masyarakat di sekitarnya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Candi Borobudur menjadi saksi bisu tentang punahnya peradaban masa lalu karena letusan gunung berapi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Indonesia, sebagai bagian dari “ring of fire” Lautan Pacific adalah negeri yang dipenuhi oleh gunung api.  Sejarah mencatat banyak letusan gunung api terbesar terjadi di Indonesia.  Yang paling fenomenal adalah letusan gunung raksasa Toba yang terjadi sekitar 70,000 tahun lalu.  Kaldera yang terbesar di dunia dari sisa letusan gunung api jaman kuno ini sekarang dikenal masyarakat sebagai Danau  Toba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kejadian letusan katastropik Toba itu, diperkirakan terjadi pemusnahan massal dari populasi mahluk hidup di seluruh dunia, termasuk manusia.  Hanya sebagian kecil yang dapat &lt;em&gt;survive&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Meskipun demikian,  tidak ada data yang cukup untuk mengetahui dengan jelas apa yang terjadi pada peradaban manusia sebelum dan sesudah letusan Toba.  Ilmu pengetahuan hanya tahu bahwa paling tidak sejak sekitar 90.000 – 100.000 tahun lalu bumi sudah dihuni oleh mahluk berakal dan mengenal Tuhan, seperti kita.  Dan sampai saat ini para ilmuwan sedunia percaya bahwa sampai sekitar 10.000 tahun lalu bangsa manusia masih hidup di jaman batu, alias hidup di alam, di hutan-hutan dan goa-goa seperti hewan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Letusan gunung api katastropik lainnya adalah letusan Gunung Krakatau purba. Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Isi teks Jawa Kuno itu antara lain menyebutkan,  &lt;em&gt;“Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara (i.e. Krakatau). Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung  Kamula…. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera &lt;/em&gt;“.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ledakan katastropik ini menghancurkan tiga perempat tubuh Krakatau Purba, hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung.  Penelitian tentang letusan gunung Krakatau Purba ini masih sangat sedikit, sehingga data ilmiah yang adapun sangat minim, termasuk tentang kapan peristiwa ini terjadi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Para peneliti geologi hanya bisa memperkirakan bahwa Gunung Krakatau Purba sebelum letusan mencapai ketinggian 2000 meter di atas muka laut, jauh lebih besar dan tinggi dibandingkan dengan Krakatau sebelum meledak tahun 1883, yaitu hanya setinggi 813 meter di atas muka laut.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Padahal letusan Krakatau yang terjadi 1883 saja  mengakibatkan tsunami setinggi 40 meter, dan membunuh lebih dari 36.000 jiwa pada saat itu.  Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya letusan “Embah Krakatau” pada zaman kuno tersebut.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Fakta ilmiah memperlihatkan bahwa zaman es terakhir terjadi sekitar 20.000 tahun lalu, dimana permukaan laut waktu itu sekitar 130 meter di bawah muka laut sekarang.  Oleh karena itu, Pulau Sumatra-Jawa-Kalimantan masih merupakan satu pulau (daratan) besar.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Selama ribuan tahun kemudian, air laut naik perlahan-lahan sampai sekitar 60 meter di bawah muka laut sekarang pada zaman sekitar 12.000 tahun lalu.  Dari sekitar tahun 11.600 tahun lalu data geologi mencatat, kenaikan muka air laut tiba-tiba atau yang sangat cepat dalam beberapa tahap, sampai muka air laut setinggi sekitar hanya 5 meter dari muka laut sekarang pada masa sekitar 7000 tahun lalu.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pada masa ini Pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan sudah terpisah dan wilayah bekas dataran rumput purba di Laut Jawa yang ketika itu diairi oleh sungai besar dan dikelilingi oleh dataran tinggi dan gunung-gunung api nan elok, sudah seluruhnya digenangi laut.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ada hipotesa yang mengatakan bahwa kenaikan muka air laut cepat pada sekitar 11.600 tahun lalu itu berkaitan dengan letusan Krakatau Purba, namun sampai sekarang belum ada penelitian untuk pembuktiannya.  Demikian juga tentang keberadaan peradaban Indonesia kuno sebelum dan setelah letusan yang diceritakan oleh Pustaka Raja Parwa tersebut.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Baru-baru ini dua ilmuwan dunia, yaitu Profesor Arsyo Santos dan Profesor Stephen Openheimer mempublikaskan hipotesanya,  bahwa daratan Atlantis yang tenggelam itu adalah Daratan Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka percaya bahwa letusan Krakatau berkaitan dengan musnahnya Kerajaan Kuno pada sekitar 11,600 tahun lalu tersebut.  Namun belum ada data dan analisis ilmiah yang cukup untuk mendukung hipotesanya ini.  Terlebih lagi sampai saat ini ilmuwan di seluruh dunia masih meyakini bahwa sampai 10.000 tahun lalu dunia masih ada dalam jaman batu, belum ada peradaban maju.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Peradaban yang kita kenal sekarang baru mulai berkembang pesat sejak sekitar 8000 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah dan fakta geologi sudah banyak memberikan pelajaran tentang bagaimana kejadian bencana alam di masa kuno dapat memusnahkan peradaban manusia.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Boleh jadi, para leluhur nusantara juga meninggalkan berbagai catatan-catatan yang belum tersentuh tentang pengalaman berhara, nasihat-nasihat atau bahkan teknik-teknik jitu dalam menghadapi berbagai bencana alam yang pernah terjadi di zaman mereka. “&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Adalah tugas kita untuk menggalinya.  Konsep siklus alam mengajarkan bahwa segala apa yang pernah terjadi di masa lampau pasti akan terjadi lagi di masa datang.   Pertanyaannya, sudah cukupkah kita belajar dan sudah siapkah kita?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Salah satu upaya pembelajaran dan peningkatan kesiapan kita yang efektif adalah dengan mengembangkan research center of excellent dan program pendidikan formal di universitas untuk mengembangkan Iptek sekaligus SDM unggul.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Oleh karena itu studi ini dapat disandingkan dengan Program GREAT  (Graduate Research on Earthquake and Active Tectonics) dan CrATER (Center for Active Tectonics and Earthquake Research) yang diselenggarakan atas kerjasama ITB dan LIPI dan difasilitasi oleh Staf Khusus Presiden Bidang Sosial dan Bencana Alam&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(SKP BSB)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-1356243351217614388?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2X_4MIpksPbtADNt51GaBVmUxVI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2X_4MIpksPbtADNt51GaBVmUxVI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2X_4MIpksPbtADNt51GaBVmUxVI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2X_4MIpksPbtADNt51GaBVmUxVI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/aMhJo7mbgX0" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T13:48:06.005-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/penguatan-penanganan-bencana-melalui.html</feedburner:origLink></item><item><title>Andi Arief: Pemberitaan Kompas tentang Gunung Sadahurip Terlalu Dipaksakan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/Nb5qDdRpuho/andi-arief-pemberitaan-kompas-tentang.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:52:51 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-5635322906222267928</guid><description>&lt;img class="alignleft" style="margin-left:4px;margin-right:4px;border-color:initial;border-style:initial;border-width:0;" src="http://www.rakyatmerdekaonline.com/images/berita/normal/728224_07563503022012_464830_09045001022012_1_inzet.jpg" alt="" border="0" height="132" hspace="4" width="109" /&gt;&lt;strong&gt;RMOL.&lt;/strong&gt; Pakar genetik dan DNA dari Oxford University, Inggris, Prof. Stephen Oppenheimer, tak bisa menjawab pertanyaan apakah benar ada benda buatan manusia yang tertimbun di bawah Gunung Sadahurip di Garut, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Oppenheimer menemui SBY bersama International Conference and Summer School on Indonesian Studies (ICSSIS) dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia hari Kamis kemarin (2/2). ICSSIS keempat akan digelar pada 9-10 Februari mendatang. Oppenheimer yang percaya bahwa peradaban yang pernah berkembang di Nusantara adalah induk dari semua peradaban di dunia akan menjadi&lt;em&gt;keynote speaker&lt;/em&gt; dalam seminar itu.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Penulis buku &lt;em&gt;Eden of the East&lt;/em&gt; yang terbit tahun 1999 itu mengatakan dirinya belum pernah meneliti Gunung Sadahurip. Itu sebabnya dia belum punya jawaban.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Saya kira itu sikap seorang periset sejati,” ujar Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB), Andi Arief, kepada&lt;strong&gt;Rakyat Merdeka Online&lt;/strong&gt; beberapa saat lalu (Jumat malam, 3/2).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span id="more-7710"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Beberapa waktu lalu Kantor SKP BSB membentuk Tim Bencana Katastropik Purba untuk memperlajari catatan mengenai bencana-bencana besar di masa lalu yang kemungkinan besar memiliki kaitan dengan berbagai bencana di masa kini dan di masa datang. Dalam melakukan penelitian di sejumlah patahan aktif di Pulau Jawa, tim yang diperkuat oleh sejumlah geolog ini menemukan indikasi benda-benda buatan manusia di zaman purba yang kemungkinan besar tertimbun, baik disengaja maupun akibat fenomena bencana alam.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Salah satunya adalah benda buatan manusia yang diperkirakan tertimbun di bawah Sadahurip. Benda inilah yang belakangan kerap disebut sebagai “piramida Sadahurip” karena dari salah satu sisi Gunung Sadahurip tampak seperti piramida di Giza, Mesir.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Andi Arief menyinggung pemberitaan media nasional &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt; yang dianggapnya tendesius, karena di saat bersamaan dengan pertemuan Oppenheimer menurunkan berita yang mematahkan dugaan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Di hari kedatangan Prof. Oppenheimer, &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt; menurunkan dua berita sama yang dipaksakan dengan 16 jam selang waktu yang berbeda, tanpa dasar, tanpa sumber berdasar riset dan sebagainya,” ujar Andi Arief yang dalam penjelasannya menyertakan dua tautan berita dimaksud.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Dia khawatir kedua berita itu bernuansa politik. Saat berita ini diturunkan, kedua tautan itu masih menurunkan dua berita yang sama dan hanya berbeda judul Pertama berjudul &lt;em&gt;Nihil… Tak Ada Peninggalan Berbentuk Piramida&lt;/em&gt; yang terbit pada pukul 00.07 WIB dan kedua berjudul &lt;em&gt;Piramida di Gunung Sadahurip Tak Terbukti&lt;/em&gt; yang terbit pada pukul 18.11 WIB.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Di sisi lain, Andi Arief mengatakan bahwa Tim Bencana Katastropik Purba melakukan penelitian dengan mengikuti kaidah ilmiah untuk mendapatkan kepastian mengenai dugaan benda buatan manusia yang tertimbun di bawah Gunung Sadahurip.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Aktivis mahasiswa di era 1998 itu juga mengatakan, ada tiga hal penting dari penjelasan yang disampaikan Oppenheimer dalam pertemuan dengan SBY.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pertama, kejadian bencana alam seperti tiga kali banjir besar dalam kurun 11.600, 8.000 tahun lalu menyebabkan migrasi etnis ke berbagai tempat terekam di dalam DNA manusia yang hidup zaman sekarang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Lalu, rekaman khas dari rantai DNA itu ternyata bisa melacak jauh sampai migrasi keluar dari Afrika sekitar 200.000 tahun lalu dan keluar dari dataran Sunda Besar sekitar 60.000 tahun yang lalu. Ketiga, hipotesis periode ulang bencana katastropik purba bisa ditemukan dari forensik DNA untuk masyarakat daerah Sabuk Api Padang, Aceh, Jawa Tengah, pesisir barat Pulau Sumatra dan selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Flores, serta Biak. [zul]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rakyatmerdekaonline&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-5635322906222267928?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/b23yZtLwrFUgXPhlTwKP5kBpZVg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/b23yZtLwrFUgXPhlTwKP5kBpZVg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/b23yZtLwrFUgXPhlTwKP5kBpZVg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/b23yZtLwrFUgXPhlTwKP5kBpZVg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/Nb5qDdRpuho" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T13:52:51.468-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/andi-arief-pemberitaan-kompas-tentang.html</feedburner:origLink></item><item><title>Direstui SBY, Gunung Sadahurip di Garut Bakal Dibor Maret</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/MYn4CfvJcJ8/direstui-sby-gunung-sadahurip-di-garut.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:46:14 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-1919676574919603373</guid><description>&lt;img class="aligncenter" src="http://images.detik.com/content/2012/02/07/10/gunung-piramida-dlm.jpg" alt="" height="281" width="375" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; Tim Studi Bencana Katastropik Purba dipastikan tidak akan mencari piramida di Gunung Sadahurip, Garut, Jawa Barat. Namun mereka akan memastikan keberadaan ada tidaknya bangunan purba di sana. Hal ini penting untuk mengetahui ada tidaknya bencana katastropik di kawasan tersebut bertahun lalu.”Penelitian masih terus dilakukan. Bukan mencari piramida, tetapi piramida ini sudah terlanjur beredar. Maret nanti akan dilakukan pemboran di sana,” ucap Staf khusus Kepresidenan bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief, dalam diskusi bertajuk ‘Menguak tabir peradaban dan bencana katastropik purba di nusantara untuk memperkuat karakter dan ketahanan nasional’ di Gedung Krida Bakti, Jl Veteran, Jakarta, Selasa (7/2/2012).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span id="more-7692"&gt;&lt;/span&gt;Penelitian yang dilakukan Tim Studi BKP ini dilakukan terkait kebencanaan, namun bukan tidak mungkin bakal menemukan sesuatu yang tidak dibayangkan sebelumnya. “ini akan menjadi kerja keras kita bersama,” sambungnya.Dia menambahkan, secara geolistrik ada kemiripan antara Sadahurip dengan Gunung Padang di Cianjur. Nah, di Gunung Padang itu ditemukan bangunan purba yang sulit dibantah bahwa bangunan itu bukanlah piramida. Apalagi pasir piramida di Gunung Padang mirip dengan piramida yang ditemukan di Mesir.”Pengeboran dilakukan untuk mencocokan data geolistrik, untuk memastikan yang di dalam tanah itu apa. Tidak perlu banyak-banyak ngebornya, di 4 titik saja,” sambung Andi.Jika nantinya memang benar ada bangunan purbakala di Sadahurip, maka kalaupun ada penggalian bukan lagi tugas tim tersebut. Andi memastikan pengeboran tidak akan merusak gunung tersebut.”Dipakai metode scientific, bukan cangkul. Tidak boleh merusak,” sambungnya.Presiden SBY pun telah merestui penelitian itu dilanjutkan. Meskipun memang Tim Studi BKP bekerja dengan uang sendiri. “Kata Pak SBY, salah atau benar nanti belakangan,” lanjutnya.Namun menurut Andi, penelitian ini bukan sesuatu yang mahal jika dibandingkan dengan perkembangan pengetahuan. Dia juga memastikan tidak akan menyerahkan penelitian dan pengembangan ini ke pihak asing. Jika ada negara lain yang ingin terlibat maka sifatnya adalah joint research.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;“Mungkin untuk pengeboran itu sekitar Rp 100-200 juta,” ucap Andi.&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(nvt/ndr)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;h1&gt;Andi Arief: Peneliti Katastropik Purba Tidak Mencari Piramida Garut&lt;/h1&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Belakangan mencuat kehebohan terkait keberadaan ‘harta karun’ berbentuk piramida ribuan tahun di dalam Gunung Sadahurip, Garut, Jawa Barat. Bahkan kabar beredar, ada tim yang sengaja dibentuk untuk mencari piramida itu.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Staf Khusus Kepresidenan bidang Bencana Alam, Andi Arief, menegaskan Tim Bencana Katastropik Purba yang dibentuk tahun 2011 bukan untuk mencari piramida. Namun tim ini mencari data bencana di masa lalu.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Ada simpang siur di luar, kita tidak cari piramida, tapi cari data kegempaan,” ujar Andi dalam diskusi bertajuk ‘Menguak tabir peradaban dan bencana katastropik purba di nusantara untuk memperkuat karakter dan ketahanan nasional’ di Gedung Krida Bakti, Jl Veteran, Jakarta, Selasa (7/2/2012).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Jika dalam penelitian itu ada fakta tertentu yang ditemukan, maka akan diteruskan ke instansi terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi cari bencana di masa lalu, nanti apakah berhubungan dengan temuan itu, serahkan ke ahli,” ucap Andi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tim ini dibentuk pada 2011 lalu berdasar minat dan hobi para peneliti kebencanaan. Yang diteliti tim ini adalah terkait unsur peradaban dan bencana.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Penelitian yang dilakukan Tim BKP bukan pada sumber bencana langsung, tapi pada peninggalan purba. Selain itu tim juga akan mencari pusat peradaban di masa kerajaan seperti Majapahit, Sriwijaya, Sunda dan Galuh yang belum ketahuan.&lt;/p&gt;&lt;strong&gt;(nvt/l)/&lt;/strong&gt;Nurvita Indarini - detikNews&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-1919676574919603373?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ajt9N4Ycnb8CdT5IJ9QSsVTLYpg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ajt9N4Ycnb8CdT5IJ9QSsVTLYpg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ajt9N4Ycnb8CdT5IJ9QSsVTLYpg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ajt9N4Ycnb8CdT5IJ9QSsVTLYpg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/MYn4CfvJcJ8" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T13:46:14.317-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/direstui-sby-gunung-sadahurip-di-garut.html</feedburner:origLink></item><item><title>Kamal Ashnawi Mengaku Pewaris Kekayaan Raja Jawa</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/bpKik6CEwdo/kamal-ashnawi-mengaku-pewaris-kekayaan.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:36:10 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-1722278599359458396</guid><description>Kamal Ashnawi atau Raden Mas Prabhu Gusti Agung Ki Asmoro Wijoyo yang memiliki garis keturunan Maharaja Jawa mengaku sebagai pewaris kekayaan berlimpah hingga triliunan dollar AS yang tersimpan di perbankan di London, Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Harta kekayaan itu dalam bentuk emas, batu permata, dan lainnya yang bila dijumlahkan sangat besar. Mungkin nilainya setara tiga perempat dana dunia saat ini," katanya saat dijumpai di sebuah hotel berbintang di kawasan Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamal memberitahu, kekayaan yang diperoleh berasal dari warisan Maharaja Jawa yang terdapat dalam rekening dalam Combined International Collateral of the Global Debt Facility yang dibuat keluarga diraja dunia pada 1875.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hingga saat ini dana tersebut belum bisa dicairkannya karena pihak perbankan selalu menolak dengan alasan masih terikat dengan banyak pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan dana tersebut, dirinya mengaku memiliki surat wasiat dari keluarganya yang tersimpan dengan baik dan sewaktu-waktu dapat diperlihatkan untuk menjelaskan kebenaran dari kekayaan yang diwariskan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya punya surat wasiat itu dan disimpan dengan baik serta bisa diperlihatkan bila memang diperlukan," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANT/kcm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-1722278599359458396?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_eZbkLQw2WRG8W4QSgd7hqY_8OY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_eZbkLQw2WRG8W4QSgd7hqY_8OY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_eZbkLQw2WRG8W4QSgd7hqY_8OY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_eZbkLQw2WRG8W4QSgd7hqY_8OY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/bpKik6CEwdo" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T13:36:10.420-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/kamal-ashnawi-mengaku-pewaris-kekayaan.html</feedburner:origLink></item><item><title></title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/wjE8hhqimB0/makhluk-yang-memiliki-bentuk-seperti.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:27:46 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-8445090774858587978</guid><description>&lt;img src="http://static.inilah.com/data/berita/foto/1827799.jpg" alt="Headline" /&gt;&lt;br /&gt;Makhluk yang memiliki bentuk seperti ular raksasa ini ‘melata’ menuju Islandia. Alhasil, hewan mistis ini membuat gaduh dunia maya. Ingin tahu?&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lake Lagarfljot yang memiliki panjang 40 kilometer dan kedalaman 111 meter di negara itu terkenal merupakan rumah dari hewan legendaris Lagarfljotsormurinn atau monster Loch Ness untuk versi Skotlandia. Demikian seperti dilaporkan &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.huffingtonpost.com/2012/02/07/icelands-loch-ness-worm-monster_n_1260467.html?ref=weird-news#s272963&amp;amp;title=BowNessie" target="_blank"&gt;HuffPost&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada 2 Februari lalu. Hjortur Kjerulf berhasil merekam makhluk yang tampak menyerupai ular ini sedang berenang di air dingin danau itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di sisi lain, Loch Ness Skotlandia digambarkan berwujud besar dengan tubuh seperti dinosaurus dengan ekor dan leher panjang dan kepala menyerupai kuda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Direktur International Cryptozoology Museum Loren Coleman, makhluk legendaris Islandia ini pertama muncul pada 1345 dan digambarkan sebagai makhluk pucat berpunuk dengan panjang sekitar 15 meter dan leher sepanjang 1,8 meter.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penasaran? Ini &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=8OmyyHyya64&amp;amp;feature=player_embedded" target="_blank"&gt;videonya&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;huffingtonpost&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-8445090774858587978?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zmRR8TjoruBM36mC4i-jaH2eXJ4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zmRR8TjoruBM36mC4i-jaH2eXJ4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zmRR8TjoruBM36mC4i-jaH2eXJ4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/zmRR8TjoruBM36mC4i-jaH2eXJ4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/wjE8hhqimB0" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T13:27:46.645-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/makhluk-yang-memiliki-bentuk-seperti.html</feedburner:origLink></item><item><title>Suhu Bumi Mulai Bertambah Dingin</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/jBnv0ctYT_U/suhu-bumi-mulai-bertambah-dingin.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:26:46 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-4359659874515254040</guid><description>&lt;img src="http://static.inilah.com/data/berita/foto/1827802.jpg" alt="Headline" /&gt; Sebelumnya, banyak yang berdebat mengenai pemanasan global membuat Bumi makin panas. Namun bukti ilmiah menunjukkan suhu planet hunian manusia ini akan menurun.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sulur api matahari yang muncul beberapa waktu lalu merupakan puncak siklus aktivitas matahari. Namun, ‘siklus 25’ yang akan terjadi pada 11 tahun mendatang merupakan salah satu paling lemah di abad ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;NASA memperkirakan, sulur matahari ini akan mengalami penurunan. “Jika sulur ini berkurang, suhu global akan turun 0,13C,” kata BMKG Inggris. Penurunan ini mungkin bukan perubahan besar namun aktivitas matahari mendatang akan menurunkan suhu dunia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Hasil riset menunjukkan, output matahari saat ini tak akan berdampak besar pada suhu global,” ungkap ilmuwan deteksi perubahan iklim dari BMKG Inggris, Gareth Jones seperti dikutip &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.foxnews.com/scitech/2012/01/31/with-suns-activity-set-to-diminish-is-global-cooling-coming/" target="_blank"&gt;Foxnews&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Foxnews&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-4359659874515254040?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qybWOPyJ7ZEAaspRTE2B7s1NbVY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qybWOPyJ7ZEAaspRTE2B7s1NbVY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qybWOPyJ7ZEAaspRTE2B7s1NbVY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qybWOPyJ7ZEAaspRTE2B7s1NbVY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/jBnv0ctYT_U" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T13:26:46.372-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/suhu-bumi-mulai-bertambah-dingin.html</feedburner:origLink></item><item><title>Permukaan Mars Dipastikan Tak Bisa Dihuni</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/q4ETAjp0QyA/permukaan-mars-dipastikan-tak-bisa.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:20:40 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-269577612028641612</guid><description>Hasil penelitian menunjukkan bahwa planet itu sudah gersang selama ratusan juta tahun.&lt;br /&gt; &lt;img src="http://media.vivanews.com/thumbs2/2010/11/24/100207_ilustrasi-permukaan-planet-mars_300_225.jpg" width="315" id="att_fotoimg" /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;div class="tgl_artikel" id="att_fotocaption"&gt;Permukaan planet Mars gersang selama ratusan juta tahun. (fineartamerica.com)&lt;/div&gt;Anda pecinta film-film sains fiksi atau kehidupan di angkasa luar? Siap-siap untuk kecewa. Dari studi terakhir, permukaan planet Mars dipastikan merupakan tempat yang sangat tidak memungkinkan untuk menampung kehidupan. Apalagi setelah mengalami kekeringan selama 600 juta tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut peneliti dari Imperial College London, Inggris, planet merah itu telah benar-benar gersang selama kurun waktu tersebut dan sangat sulit bagi kehidupan untuk mampu bertahan di permukaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam studi, peneliti mengamati data yang dikumpulkan oleh Phoenix, satelit ruang angkasa milik NASA yang pada tahun 2008 lalu berangkat ke Mars. Seperti diketahui, tugas utama Phoenix sendiri adalah mendarat di sana dan mencari tanda-tanda apakah planet itu bisa dihuni. Phoenix juga digunakan untuk menganalisa es dan tanah yang ia dikumpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, hasil penelitian terhadap tanah yang diambil menunjukkan bahwa planet itu sudah gersang selama ratusan juta tahun. Kondisi ini terjadi meski ditemukan adanya serpihan-serpihan es di planet itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian sebelumnya, memang diperkirakan bahwa Mars kemungkinan lebih hangat dan lebih basah di masa lalu. Namun jika demikian adanya, kondisi tersebut berada di kisaran 3 miliar tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut peneliti, Phoenix memang hanya sempat menjelajah sebagian kecil saja dari planet itu. Namun dari citra satelit, serta dari penelitian-penelitian terdahulu, indikasinya adalah tanah yang serupa dengan sampel yang diambil oleh Phoenix, tersebar di seluruh Mars. Artinya, temuan terbaru ini bisa jadi berlaku di seluruh permukaan Mars.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;ldquo;Kami mendapati bahwa meski banyak ditemukan es di Mars, planet itu telah mengalami kekeringan yang luar biasa yang kemungkinan telah berlangsung selama ratusan juta tahun,&amp;rdquo; kata Tom Pike, ketua tim peneliti, dikutip dari Mad Shrimps, 8 Februari 2012.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, Pike menyebutkan, ia dan timnya memperkirakan bahwa Mars yang kita ketahui saat ini sangat berbeda dengan Mars di masa lalu. &amp;ldquo;Misi NASA dan ESA di masa depan akan melakukan penggalian lebih dalam untuk mengetahui lebih lanjut peluang adanya kehidupan di bawah tanah,&amp;rdquo; ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Firman, Amal Nur Ngazis Vivanews&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-269577612028641612?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/L5W4fMe_1rSjecUTH724LwFnjrY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/L5W4fMe_1rSjecUTH724LwFnjrY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/L5W4fMe_1rSjecUTH724LwFnjrY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/L5W4fMe_1rSjecUTH724LwFnjrY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/q4ETAjp0QyA" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T13:20:40.710-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/permukaan-mars-dipastikan-tak-bisa.html</feedburner:origLink></item><item><title>Kembalikan Keemasaan Muslim</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/gGl5cH7uiXI/kembalikan-keemasaan-muslim.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:38:03 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-3137764098924361548</guid><description>Islam pernah mengalami kejayaan pada abad pertama hingga abad ketujuh Hijrah atau abad ketujuh hingga abad ke 13 Masehi.Zaman Kejayaan Islam (sek. 750 M – sek. 1258 M) adalah masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan insinyur di Dunia Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. Daerah yang tunduk di sebelah Timur sampai ke Parsi dan ke sebelah Barat, selain ke Afrika juga ke Konstantinopel (Turki) dan semenanjung Andalusia di Eropa atau dikenal sebagai Spanyol sekarang ini. Setelah kekuasaan Kekhalifahan Umayyah yang berpusat di Damaskus digulingkan Bani Abbasiyah pada 750 M, dinasti itu tak sepenuhnya terbenam. Lima tahun setelah runtuhnya Umayyah yang berpusat di Damaskus, Suriah, Abdurrahman I yang bergelar Al-Dakhil berhasil mendirikan Kekhalifahan Umayyah baru di daratan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhalifahan baru ini bahkan mampu mengimbangi kejayaan Dinasti Abbasiyah, khususnya dalam bidang sains dan teknologi. Kemilau sains dan teknologi di wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah Andalusia berawal dari zaman kekuasaan Abdurrahman Al-Aushat. Menurut Ahmad Syalabi, Abdurrahman Al-Aushat dikenal sebagai pemimpin yang cinta ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Amir yang berkuasa di Cordoba.ibu kota pemerintahan Umayyah Spanyol.Al-Aushat mengundang para ahli dari dunia Islam untuk bertandang ke negeri yang dipimpinnya. Sejak itulah, aktivitas ilmu pengetahuan mulai menggeliat di Spanyol Mus lim. Sains dan teknologi kian berkembang pesat ketika Dinasti Umayyah di Spanyol dipimpin Abdurrahman III yang bergelar An-Nasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa ke-Khilafahan Bani Umayyah hanya berumur 90 tahun yaitu dimulai pada masa kekuasaan Muawiyah bin Abu Sufyan, yaitu setelah terbunuhnya Ali bin Abi Thalib, dan kemudian orang-orang Madinah membaiat Hasan bin Ali namun Hasan bin Ali menyerahkan jabatan kekhalifahan ini kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang pada masa itu sedang dilanda bermacam fitnah yang dimulai sejak terbunuhnya Utsman bin Affan, pertempuran Shiffin, perang Jamal dan penghianatan dari orang-orang Khawarij dan Syi’ah,dan terakhir terbunuhnya Ali bin Abi Thalib. Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjutkan di zaman Al-Walid bin Abdul-Malik Disamping ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang. Muawiyah bin Abu Sufyan mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri, Qadhi adalah seorang spesialis dibidangnya. Abdul Malik bin Marwan mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Khalifah Abdul Malik bin Marwan juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Keberhasilan ini dilanjutkan oleh puteranya Al-Walid bin Abdul-Malik (705-715 M) meningkatkan pembangunan, diantaranya membangun panti-panti untuk orang cacat, dan pekerjanya digaji oleh negara secara tetap. Serta membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun keberhasilan banyak dicapai daulah ini, namun tidak berarti bahwa politik dalam negeri dapat dianggap stabil. Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan inilah suksesi kekuasaan bersifat monarchiheridetis (kepemimpinan secara turun temurun) mulai diperkenalkan, dimana ketika dia mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, yaitu Yazid bin Muawiyah. Muawiyah bin Abu Sufyan dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di Persia dan Bizantium, istilah khalifah tetap digunakan, namun Muawiyah bin Abu Sufyan memberikan interprestasi sendiri dari kata-kata tersebut dimana khalifah Allah dalam pengertian penguasa yang diangkat oleh Allah. Masa lalu sehatusnya menjadi pelajaran untuk umat muslim agar bangkit kembali meraih kejayaan yang pernah dirasakan oleh umat terdahulu. Bila kejayaan Islam masa lalu muncul karena da’wah Islam yang banyak ditopang oleh para pemuda Islam yang memiliki sikap perjuangan yang gigih, sanggup menyisihkan waktunya siang malam demi perjuangan Islam, maka demikian juga dengan masa depan Islam. Sunnatullah tidak berubah. Siapa yang unggul maka dialah yang memimpin. Umat Islam di masa lalu terutama para pemudanya unggul karena mereka memeluk Islam secara kaffah, lurus aqidahnya dan taat pada syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangkitkan umat, diperlukan pemuda-pemuda yang mau bergerak secara ikhlas dan sungguh-sungguh untuk meraih kembali kejayaan Islam. Pemuda yang dibutuhkan adalah para pemuda Islam sekualitas para sahabat yang memiliki tauhid yang lurus, keberanian menegakkan kebenaran serta memiliki ketaatan pada Islam. Dengan dorongan peran pemuda inilah maka perjuangan penegakan kembali aturan Allah di muka bumi ini akan berlangsung dengan giat sehingga Islam kembali tegak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakinlah pada diri kita bahwa kita mampu menjadi pribadi-pribadi muslim yang tangguh dan berpengaruh seperti Ali bin Abi Thalib, Imam Syafi’I dll. Insya Allah dengan izin Allah kita akan bisa menjadi seperti mereka asal kita mau serta diiringi dengan usaha yang sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita yakin bisa meraih kejayaan dan kegemilangan prestasi seperti dahulu dengan satu syarat umat islam bersatu dan berpikir untuk kejayaan bersama dan kemaslahatan umat.&lt;br /&gt;semoga hal ini dapat terwujud, Amien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilham Ibn Ishak Albantany&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-3137764098924361548?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FBYKJUkA1UayvbFAGaq6qiFW9WA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FBYKJUkA1UayvbFAGaq6qiFW9WA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FBYKJUkA1UayvbFAGaq6qiFW9WA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FBYKJUkA1UayvbFAGaq6qiFW9WA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/gGl5cH7uiXI" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-08T13:38:03.244-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/kembalikan-keemasaan-muslim.html</feedburner:origLink></item><item><title>Kisah Candi Gebang</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/cq2BvlbaBLg/kisah-candi-gebang.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Tue, 07 Feb 2012 21:20:48 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-2892623656805621130</guid><description>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;img class="aligncenter size-full wp-image-159894" title="1328674563462240615" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/02/1328674563462240615.jpg" alt="1328674563462240615" height="315" width="450" /&gt;&lt;/p&gt;Bangunan candi seringkali menjadi saksi biksu kemegahan peradaban masa lalu. Seperti halnya sebuah cerita, candi memiliki kisah, latar belakang, konflik bahkan pesan moral yang ditampilkan di setiap bagiannya. Kemegahan dan indahnya cerita masa lalu ini tersebar di segala penjuru Nusantara. Salah satunya Candi Gebang, di Dusun Gebang, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Jika Anda ingin mengunjungi candi itu, Anda harus cukup sabar. Selain karena hanya ada satu papan penunjuk arah, jalanan menuju kesana belum terlalu mulus. Batu-batu berukuran sebesar genggaman tangan orang dewasa menyebar di jalan tanah yang turun naik. Lalu, beberapa puluh meter sebelum pintu masuk, jalanan konblok membentang sepanjang sekitar 20 meter. Bagi Anda yang membawa mobil harus rela berhenti di ujung jalan, lalu meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.&lt;/p&gt;Kisah mengenai candi ini berawal pada November 1936, ketika salah satu penduduk mencangkul tanah dan menemukan Arca Ganesha. Lalu, pada&lt;span&gt; &lt;/span&gt;1937 sampai 1939 Prof. Ir. F.R. Van Romondt memugar candi ini. Salah satu bukti pemugaran tampak dari puncak atap berbentuk Lingga Silinder. Arca Ganesha, Nandhiswara dan Yoni ada di relung sebelah barat, timur dan di sebelah kiri pintu masuk dan bilik candi.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Dewa-dewa yang dipuja ada di dalam bilik utama. Keunikan lain dari candi ini ialah tak ada ada tangga, yang biasanya berbentuk batu berundak, untuk menghubungkan kaki candi dengan bilik utama. Tentu saja, keadaan ini menyulitkan pengunjung yang ingin menyaksikan dewa-dewa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;Tidak ada tangga masuk menuju bilik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;Salah satu dugaan yang muncul menyebutkan bahwa Wangsa Sanjaya membangun candi ini bukan untuk dimasuki. Jadi, siapa saja yang ingin melihat dewa di dalam bilik harus menggunakan tangga kayu atau bambu.&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;Arca Ganesha duduk&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;Arca Ganesha di Candi Gebang mempunyai posisi duduk di atas sebuah yoni tersendiri di belakang dinding candi. Lalu, pada puncak candi bentuknya berbeda, bukan stupa atau ratna, melainkan lingga di atas bantalan berbentuk bunga seroja.&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;Candi Polos&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;Wangsa Sanjaya membangun Candi Gebang sekitar 730 – 800 M.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Itu tampak dari bentuk dan arsitektur candi yang polos atau tanpa relief.&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bagi Anda yang ingin berkunjung ke candi ini memang agak sulit untuk menemukan lokasinya karena tempatnya yang terpencil. Jika Anda merasa kesulitan, Anda bisa meminta diantarkan oleh pengojek di Pasar Condongcatur dengan biaya sekitar Rp.10.000,00. Sedangkan, tiket masuk kawasan candi ini relatif murah, hanya Rp.2000,- untuk dewasa dan Rp.1000,- untuk anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Al. Indratno/Gudegnet&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-2892623656805621130?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cNSBUxo7bjqXmh4QQuY6Kd5XlF4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cNSBUxo7bjqXmh4QQuY6Kd5XlF4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cNSBUxo7bjqXmh4QQuY6Kd5XlF4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cNSBUxo7bjqXmh4QQuY6Kd5XlF4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/cq2BvlbaBLg" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-07T21:20:48.692-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/kisah-candi-gebang.html</feedburner:origLink></item><item><title>Piramida Di Indonesia menurut Gde Pitana Tidak ada Sejarahnya</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/AJ0uX77aRTY/piramida-di-indonesia-menurut-gde.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Tue, 07 Feb 2012 21:19:37 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-2594378012075065051</guid><description>&lt;img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2011/12/09/2038578620X310.jpg" width="630" /&gt;&lt;br /&gt;      &lt;span class="pb_10"&gt;ALMERIA ALLEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      ilustrasi&lt;br /&gt;Piramida tidak pernah ada sejarahnya di Indonesia, kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif I Gde Pitana menanggapi "penemuan" struktur batu mengerucut yang mirip piramida di kawasan Gunung Lalakon, Bandung, dan Gunung Saduhurip, Garut, Jawa Barat.&lt;p&gt;"Dalam sejarah Indonesia belum pernah dan tidak pernah ada sejarah piramida," kata Pelaksana Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) I Gde Pitana di Jakarta, Minggu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain itu, menurut dia, secara logika, umumnya piramida dibangun manusia guna kepentingan spiritual untuk menyembah para dewa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di Indonesia, kata dia, sudah terlalu banyak puncak-puncak gunung sehingga kemungkinan besar manusia di Indonesia pada zaman dahulu cenderung tidak memerlukan untuk membangun piramida. "Sampai saat ini belum ada temuan arkeologis satu pun yang memberikan indikasi di Indonesia ada piramida," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, pihaknya menampung apa saja bentuk informasi yang disampaikan sejumlah kalangan masyarakat dan sesegera mungkin menindaklanjuti kebenaran ataupun ketidakbenarannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pihaknya sendiri menugaskan secara resmi Balai Arkeologi Bandung untuk melakukan pengujian, penelitian, pengkajian, dan ekskavasi untuk membuktikan struktur batuan tersebut piramida atau bukan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Jadi, belum bisa dipastikan informasi yang kami terima ada struktur batu yang mengerucut ke atas menyerupai piramida bertangga-tangga. Saya belum bisa mengatakan itu benar (piramida) atau tidak," kata Gde Pitana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menambahkan, seorang arkeolog dari Institut Teknologi Bandung (ITB) sebelumnya berpendapat, struktur serupa itu banyak ditemui di daerah kepulauan di mana banyak daratan muncul sebagai akibat air laut yang naik. "Struktur seperti itu banyak terjadi di Indonesia. Kalau memang demikian, berarti ini bukan hasil kebudayaan manusia," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meski begitu, pihaknya akan tetap menindaklanjuti laporan dari masyarakat dan membuktikan kebenaran teori tentang piramida di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANT/kcm&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-2594378012075065051?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HQRrS0TsAlkSrFfLh1qfqBeLuC4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HQRrS0TsAlkSrFfLh1qfqBeLuC4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HQRrS0TsAlkSrFfLh1qfqBeLuC4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HQRrS0TsAlkSrFfLh1qfqBeLuC4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/AJ0uX77aRTY" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-07T21:19:37.628-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/piramida-di-indonesia-menurut-gde.html</feedburner:origLink></item><item><title>Diduga Terdapat Peninggalan Bersejarah di Gunung Piramida</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/hjcPLyetDW4/diduga-terdapat-peninggalan-bersejarah_07.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Tue, 07 Feb 2012 21:16:47 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-5665651435374168403</guid><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Sekitar Gunung Sadahurip yang disebut sebagai Gunung "Piramida" diduga terdapat peninggalan bersejarah di kawasan Kecamatan Pangatikan dan Karangtengah, Kabupaten Garut, Jawa Barat, tidak pernah ditemukan situs sebagai indikator membuktikan telah terjadi peradaban manusia massa lampau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kalau ada situs saja itu bisa dikembangkan tapi sampai sekarang belum pernah ditemukan situs-situs bersejarah," kata Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Garut, Warjita kepada wartawan, Rabu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apabila ditemukan situs atau peninggalan bersejarah atau benda lainnya yang digunakan orang terdahulu, Disbudpar Kabupaten Garut tentu akan berupaya untuk mengembangkannya, katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia mencontohkan seperti menemukan prasasti, batu lumpang atau benda kerajaan tentu daerah tersebut pernah ada kehidupan manusia zaman kerajaan atau zaman prasejarah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kalau di Gunung Sadahurip itu ditemukan situs atau prasasti atau benda bersejarah lainnya, pasti disana itu ada unsur budaya," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun dugaan di Gunung Sadahurip yang dikabarkan oleh peneliti terdapat bangunan mirip Piramida seperti di Mesir,  Dibudpar Kabupaten Garut belum mengetahuinya, katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara sejumlah tim peneliti yang dikabarkan masyarakat setempat pernah melakukan penelitian di Gunung Sadahurip, Disbudpar tidak pernah mendapatkan laporan atau koordinasi dalam melakukan penelitian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Tidak ada peneliti khusus yang berkoordinasi dengan kami (Disbudpar) kalau memang ada dari Arkeolog Bandung itu selalu koordinasi, tapi kalau peneliti lain, kami tidak tahu," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu ia berharap tim peneliti yang sudah melakukan penelitian di Gunung Sadahurip dan menyatakan ada bangunan piramid yang terkubur di gunung tersebut sebaiknya memberitahukan terlebih dahulu kepada Disbudpar Kabupaten Garut. "Saya tidak tahu, dari peneliti mana, saya tahu dari para jurnalis," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu Kepala Dusun Cicaparpasir, Desa Sukahurip, Kecamatan Pamatikan atau sekitar kaki Gunung Sadahurip, Nahrudin membenarkan disekitar gunung tidak pernah ditemukan situs peninggalan bersejarah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun di kawasan Gunung tersebut,  dipercaya warga terdapat unsur mistis yang kuat, seperti keberadaan makam di sekitar puncak gunung yang dikeramatkan warga terkadang dapat dilihat oleh orang tertentu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Disana di gunung itu ada makam tapi seperti yang saya bilang tadi kadang terlihat kadang tidak, hanya bisa dilihat oleh orang tertentu secara kebetulan saja," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun di Desa Sukahurip jauh dari kawasan puncak Gunung Sadahurip,  terdapat makam keramat bernama Kiancandra atau sering disebut warga mbah Dalem.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Sejarahnya bagaimana tentang makam keramat yang ada disini, para orang terdahulu tidak mau menjelaskannya, tapi katanya ada sejarahnya tertulis di Pamijahan (wisata religi di Kabupaten Tasikmalaya)," jelas Nahrudin yang dibenarkan sejumlah aparat Desa Sukahurip.&lt;br /&gt;                           &lt;/p&gt;&lt;div class="left"&gt;ANT/kcm &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-5665651435374168403?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Zf6HeQBNFE_lv2XDxbE166APBzI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Zf6HeQBNFE_lv2XDxbE166APBzI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Zf6HeQBNFE_lv2XDxbE166APBzI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Zf6HeQBNFE_lv2XDxbE166APBzI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/hjcPLyetDW4" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-07T21:16:47.877-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/diduga-terdapat-peninggalan-bersejarah_07.html</feedburner:origLink></item><item><title>Piramida di Gunung Sadahurip Tak Terbukti</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/E0PNdAtWTRE/piramida-di-gunung-sadahurip-tak.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Tue, 07 Feb 2012 21:13:12 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-424443206200133068</guid><description>&lt;img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2011/12/01/2045169620X310.jpg" width="630" /&gt;&lt;br /&gt;      &lt;span class="pb_10"&gt;&lt;/span&gt;Gunung Sadahurip yang diduga terdapat bangunan Piramida di Desa Sukahurip,  Pangatikan, Garut, Jabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                      &lt;div class="isi_berita2011 pt_5"&gt;Kabar mengenai peninggalan bersejarah di Gunung Sadahurip di Desa Sukahurip, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, seperti bangunan piramida, tidak dapat dibuktikan.&lt;p&gt;"Gunung Sadahurip yang berbentuk menyerupai piramida itu terbentuk secara alami, jadi tidak bisa dikatakan kalau di dalam Gunung Sadahurip memendam piramida peninggalan sejarah," kata Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kabupaten Garut, Warjita, kepada wartawan, Rabu (1/2/2012).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pernyataan Warjita tersebut berdasarkan laporan tim ahli geologi dan arkeologi dari ITB yang datang melakukan penelitian di Gunung Sadahurip beberapa waktu lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menjelaskan, berdasarkan laporan yang diterima dari tim peneliti ITB, Gunung Sadahurip tidak memendam peninggalan bersejarah atau bangunan piramida yang disebut-sebut oleh Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam Andi Arief.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut tim penelitian yang dipimpin oleh ahli geologi ITB, Sujatmiko, kata Warjita, Gunung Sadahurip yang membentuk mengerucut seperti piramida karena proses pembentukan alam dan tidak ada yang istimewa terbentuk oleh manusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Terbentuk secara alami dan tidak bisa dikatakan kalau di dalam Gunung Sadahurip memendam piramida peninggalan sejarah," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adanya pernyataan tim peneliti sebelumnya yang ditirukan oleh Staf Khusus Kepresidenan itu, kata Warjita, berdasarkan penilaian tim dari ITB menyayangkan langkah penelitian oleh tim sebelumnya yang menyalahi aturan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tim peneliti dari ITB, kata Warjita, menilai tim peneliti Gunung Sadahurip sebelumnya langsung melakukan pendeteksian pada lapisan tanah, tidak terlebih dahulu menempuh jalur historis dan tanda-tanda peninggalan sejarah sekitar gunung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apalagi dikaji dari sejarah di Indonesia, kata Warjita, tidak pernah mengenal adanya peradaban pembuatan piramida, kecuali mengenal dengan adanya punden berundak dan candi. "Langkah penelitian tim dari pusat pun sudah menyalahi prosedur penggalian benda-benda bersejarah. Dilihat historis di Indonesia tak pernah mengenal peradaban pembuatan piramida," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;ANT/KCm&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-424443206200133068?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/fqkRAMCexJR0Ss06NmyW8NHd3OM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/fqkRAMCexJR0Ss06NmyW8NHd3OM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/fqkRAMCexJR0Ss06NmyW8NHd3OM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/fqkRAMCexJR0Ss06NmyW8NHd3OM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/E0PNdAtWTRE" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-07T21:13:12.910-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/piramida-di-gunung-sadahurip-tak.html</feedburner:origLink></item><item><title>Diduga Terdapat Peninggalan Bersejarah di Gunung Piramida</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/gqCigLXaoHQ/diduga-terdapat-peninggalan-bersejarah.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Tue, 07 Feb 2012 21:11:02 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-7418681157131448522</guid><description>&lt;img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2011/12/01/2045169620X310.jpg" width="630" /&gt;&lt;br /&gt;      &lt;span class="pb_10"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;      Gunung Sadahurip yang diduga terdapat bangunan Piramida di Desa Sukahurip,  Pangatikan, Garut, Jabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar Gunung Sadahurip yang disebut sebagai Gunung "Piramida" diduga terdapat peninggalan bersejarah di kawasan Kecamatan Pangatikan dan Karangtengah, Kabupaten Garut, Jawa Barat, tidak pernah ditemukan situs sebagai indikator membuktikan telah terjadi peradaban manusia massa lampau.&lt;p&gt;"Kalau ada situs saja itu bisa dikembangkan tapi sampai sekarang belum pernah ditemukan situs-situs bersejarah," kata Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Garut, Warjita kepada wartawan, Rabu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apabila ditemukan situs atau peninggalan bersejarah atau benda lainnya yang digunakan orang terdahulu, Disbudpar Kabupaten Garut tentu akan berupaya untuk mengembangkannya, katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia mencontohkan seperti menemukan prasasti, batu lumpang atau benda kerajaan tentu daerah tersebut pernah ada kehidupan manusia zaman kerajaan atau zaman prasejarah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kalau di Gunung Sadahurip itu ditemukan situs atau prasasti atau benda bersejarah lainnya, pasti disana itu ada unsur budaya," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun dugaan di Gunung Sadahurip yang dikabarkan oleh peneliti terdapat bangunan mirip Piramida seperti di Mesir,  Dibudpar Kabupaten Garut belum mengetahuinya, katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara sejumlah tim peneliti yang dikabarkan masyarakat setempat pernah melakukan penelitian di Gunung Sadahurip, Disbudpar tidak pernah mendapatkan laporan atau koordinasi dalam melakukan penelitian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Tidak ada peneliti khusus yang berkoordinasi dengan kami (Disbudpar) kalau memang ada dari Arkeolog Bandung itu selalu koordinasi, tapi kalau peneliti lain, kami tidak tahu," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu ia berharap tim peneliti yang sudah melakukan penelitian di Gunung Sadahurip dan menyatakan ada bangunan piramid yang terkubur di gunung tersebut sebaiknya memberitahukan terlebih dahulu kepada Disbudpar Kabupaten Garut. "Saya tidak tahu, dari peneliti mana, saya tahu dari para jurnalis," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu Kepala Dusun Cicaparpasir, Desa Sukahurip, Kecamatan Pamatikan atau sekitar kaki Gunung Sadahurip, Nahrudin membenarkan disekitar gunung tidak pernah ditemukan situs peninggalan bersejarah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun di kawasan Gunung tersebut,  dipercaya warga terdapat unsur mistis yang kuat, seperti keberadaan makam di sekitar puncak gunung yang dikeramatkan warga terkadang dapat dilihat oleh orang tertentu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Disana di gunung itu ada makam tapi seperti yang saya bilang tadi kadang terlihat kadang tidak, hanya bisa dilihat oleh orang tertentu secara kebetulan saja," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun di Desa Sukahurip jauh dari kawasan puncak Gunung Sadahurip,  terdapat makam keramat bernama Kiancandra atau sering disebut warga mbah Dalem.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Sejarahnya bagaimana tentang makam keramat yang ada disini, para orang terdahulu tidak mau menjelaskannya, tapi katanya ada sejarahnya tertulis di Pamijahan (wisata religi di Kabupaten Tasikmalaya)," jelas Nahrudin yang dibenarkan sejumlah aparat Desa Sukahurip.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;ANT/Kompas&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-7418681157131448522?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0iB9qXjOk7VguMXPQUgE8ZuLMJg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0iB9qXjOk7VguMXPQUgE8ZuLMJg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0iB9qXjOk7VguMXPQUgE8ZuLMJg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0iB9qXjOk7VguMXPQUgE8ZuLMJg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/gqCigLXaoHQ" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-07T21:11:02.917-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/diduga-terdapat-peninggalan-bersejarah.html</feedburner:origLink></item><item><title>Situs Gunung Padang Lebih Tua dari Piramida Giza</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/ajJP5_i7CNc/situs-gunung-padang-lebih-tua-dari.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Tue, 07 Feb 2012 21:07:44 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-4559609979394072833</guid><description>&lt;img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2012/02/08/0554508620X310.jpg" width="630" /&gt;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;       Anak tangga dari batu menuju puncak situs megalitik Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_5"&gt;&lt;br /&gt;                   &lt;!--TERKAIT END --&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita2011 pt_5"&gt;&lt;p&gt;Tim Peneliti Bencana Katastropik Purba menduga  kuat adanya bangunan piramida di situs Gunung Padang di Kabupaten  Cianjur dan Gunung Sadahurip di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dugaan itu  mengundang kontroversi para ahli arkeologi dan geologi yang selama ini  meneliti situs-situs geologi dan peninggalan arkeologi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut  salah satu anggota Tim Peneliti Bencana Katastropik Purba, Danny Hilman,  mereka mengebor hingga sedalam 20 meter di Gunung Padang, tak jauh dari  situs megalitikum, dan menemukan tiga rongga di badan gunung. Satu dari  ketiga ruangan itu berukuran 10 meter x 20 meter. Posisi ketiga ruangan  bertingkat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hasil penelitian itu dipaparkan di  Kantor Sekretariat Kabinet, Selasa (7/2/2012). ”Selama ini para ahli arkeologi hanya  meneliti situs megalitikum di lapisan atas. Belum banyak meneliti ke  bagian lebih dalam,” kata Danny.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut dia, para peneliti  terdahulu menganggap temuan di Gunung Padang hanya situs megalitikum  biasa. Hasil pengeboran tim menemukan lapisan dasar fondasi bangunan  berumur 4700 SM. Lebih tua dari piramida Giza di Mesir yang berusia 3500  SM.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Andang Bachtiar, yang juga anggota Tim Peneliti Bencana  Katastropik Purba, mengatakan, pengeboran menemukan lapisan pasir. ”Kami  mencari apakah lapisan itu bagian teknologi antigempa,” tuturnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Belum  lagi ada klarifikasi tentang keberadaan piramida, tim juga menduga ada  piramida di Gunung Sadahurip. Tim juga mengamati bentuk fisik kedua  gunung itu mirip piramida.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penemuan di situs Sadahurip dan Padang  diklaim sebagian temuan Tim Bencana Katastropik Purba yang dibentuk  Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Andi Arief.  Tim beranggota sembilan orang dari berbagai disiplin ilmu, seperti  geologi, geofisika, paleotsunami (ilmu tsunami purba), paleosedimentasi,  geodinamika, arkeolog, filolog (ahli naskah kuno), dan antropolog.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tim  ini juga meneliti beberapa situs di tempat lain. Tujuannya untuk  memahami apa ada kejadian alam hebat sehingga menghancurkan peradaban  manusia waktu itu. Penelitian akan dilanjutkan 2,5 tahun ke depan  melalui pendekatan riset, survei, manuskrip kuno, dan lain-lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bantahan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa  geolog dan arkeolog menampik adanya bangunan piramida di kedua gunung  itu. Sutikno Bronto, geolog yang mendalami gunung api purba, mengatakan,  kedua gunung itu ”hanya” gunung api purba. Bukan gundukan tanah berisi  piramida.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ciri-ciri lokasi gunung purba, lanjut Sutikno,  adalah batuan penyusunnya merupakan hasil aktivitas gunung berapi setempat. Usia gunung  api purba Padang lebih dari 2 juta tahun, sedangkan Sadahurip ribuan  tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Geolog dari BP Migas, Awang Harun Satyana, mengatakan,  Indonesia mengenal bentuk piramida, yakni punden berundak. Untuk  membuktikan ada tidaknya piramida di Sadahurip dan Padang, diperlukan  penelitian secara menyeluruh.&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;(IND/CHE)/&lt;/strong&gt;&lt;span class="pb_10"&gt;KOMPAS/RINI KUSTIASIH&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-4559609979394072833?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0qzXGouKnZfsSfsU1yl039xckEk/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0qzXGouKnZfsSfsU1yl039xckEk/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0qzXGouKnZfsSfsU1yl039xckEk/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0qzXGouKnZfsSfsU1yl039xckEk/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/ajJP5_i7CNc" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-07T21:07:44.534-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/situs-gunung-padang-lebih-tua-dari.html</feedburner:origLink></item><item><title>Misteri Piramida Gunung Sadahurip</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/egNmcp83uhM/misteri-piramida-gunung-sadahurip.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Tue, 07 Feb 2012 14:23:18 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-2675960608220197273</guid><description>&lt;img alt="Gunung Sadahurip " src="http://images.detik.com/customthumb/2012/02/07/1025/img_20120207153718_4f30e2bec9112.jpg?w=600" style="max-width: 530px;" img="" border="0" height="200" width="400" /&gt;&lt;br /&gt;Kontroversi&lt;br /&gt;mengenai adanya bangunan berbentuk piramida di perut Gunung Sadahurip&lt;br /&gt;atau Gunung Putri di Garut, Jawa Barat, akan diuji kebenarannya. Setelah&lt;br /&gt;melakukan beberapa cara untuk menyelidiki hal tersebut dengan&lt;br /&gt;menggunakan teknologi georadar, geolistrik, foto kontur dan foto IFSAR,&lt;br /&gt;Kini Tim Katastropik Purba dalam waktu dekat akan melakukan pengeboran.&lt;br /&gt;&lt;div  style="background- line-height: 20px; text-align: justify;color:white;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;“Kemungkinan&lt;br /&gt;pada Maret nanti sebagai eskavasi awal, akan kami selidiki batuan di&lt;br /&gt;dalamnya,” kata Iwan Samule, salah satu anggota tim,  Senin (30/1/2012).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengeboran akan dilakukan sebagai bagian dari proses eskavasi untuk menemukan&lt;br /&gt;fakta empirik apa saja yang ada dalam perut gunung tersebut. Sebelumnya&lt;br /&gt;sudah sempat melakukan pengeboran, namun kali ini akan kembali akan&lt;br /&gt;dilakukan ke lapisan yang lebih dalam. Jika memang benar terdapat&lt;br /&gt;piramida di Gunung Sadahurip, Tim menduga piraida tersebut lebih besar&lt;br /&gt;dan lebih tua dari Piramida Giza di Mesir, yang telah tersohor tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="  text-align: center;font-family:inherit;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Kontroversi  mengenai adanya bangunan berbentuk piramida di perut Gunung Sadahurip  atau Gunung Putri di Garut, Jawa Barat, akan diuji kebenarannya. Setelah  melakukan beberapa cara untuk menyelidiki hal tersebut dengan  menggunakan teknologi georadar, geolistrik, foto kontur dan foto IFSAR,  Kini Tim Katastropik Purba dalam waktu dekat akan melakukan pengeboran.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div   style="background-color: white;   line-height: 20px; text-align: center;font-family:inherit;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemungkinan  pada Maret nanti sebagai eskavasi awal, akan kami selidiki batuan di  dalamnya,” kata Iwan Samule, salah satu anggota tim,  Senin (30/1/2012).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="  text-align: center;font-family:inherit;color:black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="background-color: white;   line-height: 20px; text-align: center;font-family:inherit;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="  text-align: center;font-family:inherit;color:black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="background-color: white;   line-height: 20px; text-align: center;font-family:inherit;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Pengeboran  akan dilakukan sebagai bagian dari proses eskavasi untuk menemukan  fakta empirik apa saja yang ada dalam perut gunung tersebut. Sebelumnya  sudah sempat melakukan pengeboran, namun kali ini akan kembali akan  dilakukan ke lapisan yang lebih dalam. Jika memang benar terdapat  piramida di Gunung Sadahurip, Tim menduga piraida tersebut lebih besar  dan lebih tua dari Piramida Giza di Mesir, yang telah tersohor tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="  text-align: center;font-family:inherit;color:black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="  line-height: 20px; text-align: center;font-family:inherit;color:black;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="background-;color:#eeeeee;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="  text-align: center;font-family:inherit;color:black;"&gt;Fenomena unik dan misteri piramida, menjadikan Gunung Sadahurip di Garut  sebagai bahan perbincangan banyak orang. Lambat laun orang berdatangan  dan Sadahurip pun bisa menjelma menjadi tujuan wisata baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh iya, &lt;i&gt;automatically&lt;/i&gt;!  Kita minta bantuan ke Pemda sana untuk mengembangkan wisata di sana,"  kata  Staf Khusus Kepresidenan Bidang Bencana Alam, Andi Arief.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia  mengatakannya di sela-sela diskusi bertajuk 'Menguak tabir peradaban  dan bencana katastropik purba di Nusantara untuk memperkuat karakter dan  ketahanan nasional' di Gedung Krida Bakti, Jl Veteran, Jakarta, Selasa  (7/2/2012).&lt;/div&gt;&lt;div class="thumb" style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Gunung Sadahurip (megame13.wordpress.com)" src="http://images.detik.com/customthumb/2012/02/07/1025/img_20120207153755_4f30e2e3be839.jpg?w=600" style="max-width: 530px;" title="blogbelajarpintar.blogspot.com" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div face="inherit" color="black" style="  text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;Wisata ke gunung ini adalah salah satu bagian dari  geotourism, tren baru yang tengah berkembang. Pakar geologi Sujatmiko  juga sepakat, Sadahurip kini memiliki potensi wisata luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Touring  sepeda dan aktivitas pencinta alam, kini mampir juga ke Gunung  Sadahurip. "Ada potensi luar biasa di Sadahurip. Anak-anak dan pelajar  pergi ke puncak sana. Sedikit ada mitos lalu ramai-ramai ke sana," kata  Sujatmiko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang menjadi Sekjen Kelompok Riset Cekungan  Bandung dan anggota IAGI ini mengatakan sejumlah tur sepeda kini  membidik Sadahurip sebagai tujuan mereka. "Ikatan Alumni ITB juga pernah  lakukan gowes di sana, dan alhamdulillah saya bisa ikut," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun  piramida di Gunung Sadahurip masih menjadi perdebatan, setidaknya kini  terbuka sebuah alternatif baru wisata alam. Gunung Sadahurip bisa  menjadi tujuan baru untuk mereka yang senang pergi ke gunung.Misteri Piramida Sadahurip&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:normal;font-size:12px;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--&lt;div align="right" id="summary"&gt;&lt;a href="#" class="deskripsi"&gt;&lt;img src="http://www.metrotvnews.com/img2011/btn_deskripsi.gif" width="79" height="19" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="clear:both"&gt;&lt;/div&gt;--&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="videonya" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="boxvideox" style="background-color: #FFF0F7; border: 2px solid #CCCCCC;  margin: 0 10px 5px 0; padding: 7px; width:430px;"&gt;&lt;br /&gt;       &lt;div style="float:left" id="video1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe name="frmMain" src="http://www.metrotvnews.com/develop2011/application/views/read/panel/mediaplayer/mediaplayer.php?video=11480&amp;amp;play=programs&amp;amp;index=1" frameborder="0" height="300" scrolling="no" width="400"&gt;&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;lt;br&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;gt;                &lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;       &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;       &lt;div style="float:left; cursor:pointer" class="btnvideo"&gt;&lt;img src="http://www.metrotvnews.com/img2011/btn_video_on.png" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="float:left; cursor:pointer" class="btnaudio"&gt;&lt;img src="http://www.metrotvnews.com/img2011/btn_audio.png" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="float:left; cursor:pointer" class="btndesc"&gt;&lt;img src="http://www.metrotvnews.com/img2011/btn_deskripsi2.png" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="clear:both"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;       &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;        &lt;div id="boxdescx" style="display:none;background-color: #FFF0F7; border: 2px solid #CCCCCC;  margin: 0 10px 5px 0; padding: 7px; width:430px;"&gt;&lt;br /&gt;       &lt;div style="float:left" id="desc2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;div style="height:300px;width:400px;text-align:left"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;div class="inlineboxpost" style="overflow:auto; height:280px"&gt;&lt;br /&gt;                   &lt;h3 class="marginbottom20"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-2675960608220197273?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GOX6rTihMoS0nYV5uQEex7Og0Ak/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GOX6rTihMoS0nYV5uQEex7Og0Ak/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GOX6rTihMoS0nYV5uQEex7Og0Ak/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GOX6rTihMoS0nYV5uQEex7Og0Ak/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/egNmcp83uhM" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-07T14:23:18.909-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/misteri-piramida-gunung-sadahurip.html</feedburner:origLink></item><item><title>Arkeolog: Penemuan Piramida Tak Masuk Akal</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/S5LWBKRx0ZI/arkeolog-penemuan-piramida-tak-masuk.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Tue, 07 Feb 2012 12:43:08 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-9063750549369101805</guid><description>Penemuan piramida di Gunung Sadahurip, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dinilai tak masuk akal. Sebab, Indonesia tak mengenal kebudayaan piramida.&lt;br /&gt;&lt;div id="news-content-text"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;"Lebih dari seperempat abad saya belajar arkeologi, baru kali ini saya mendengar adanya dugaan piramida di Indonesia. Kebudayaan Indonesia kuno itu tidak mengenal piramida, tetapi sangat akrab dengan bangunan suci bernama punden berundak atau candi," kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Bambang Sulistyanto di Jakarta, Ahad (18/12) pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang mengatakan, piramida itu kebudayaan Mesir dari abad sebelum Masehi, sedangkan kebudayaan Indonesia mengenal punden berundak pada masa prasejarah dan candi pada era klasik atau periode Hindu-Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang berkomentar, di lereng barat Gunung Lawu memang terdapat bangunan suci yang bentuknya mirip piramida bernama Candi Sukuh. Candi itu dibangun sekitar abad ke-15 Masehi. Namun, candi tersebut sangat berbeda baik fungsi maupun makna dengan piramida di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditegaskan Bambang, temuan piramida di Garut memerlukan bukti ilmiah, karena jika tidak, maka hal itu tak bisa dipercaya. "Boleh-boleh saja orang menduga, tetapi soal kebenarannya, nanti dulu. Tanpa bermaksud merendahkan pandangan, pendapat atau dugaan para ahli, adanya piramida di Sadahurip perlu pembuktian secara ilmiah," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengujian tersebut perlu dilakuka melalui ekskavasi (penggalian), sehingga bisa dibuktikan sejelas-jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi apa mungkin menggali Gunung? Sampai berapa meter batas kedalamannya? Dan berapa luas diameternya? Harus dipikirkan berapa kubik tanah galian yang harus digali dan dibuang kemana? Apa malah tidak merusak lingkungan?" ujarnya bertanya-tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga tidak bersedia berkomentar soal uji geo radar yang disebutkan sudah dilakukan tim katastropik purba di Gunung Sadahurip. Sebab, ia mengaku bukan ahlinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tidak yakin ada ahli yang berpendapat begitu. Jangan-jangan itu pendapat atau plintiran wartawan saja," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia malah menyarankan agar Bangsa Indonesia bangga mempunyai Candi Borobudur dan Prambanan yang berasal dari abad ke-9 Masehi yang tak kalah tingginya dengan peradaban piramida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Staf Khusus Presiden bidang Bencana Alam dan Bantuan Sosial Andi Arief mengatakan tim katastropik purba menemukan dugaanbangunan berbentuk piramida di Desa Sadahurip, Kabupaten Garut, Jawa Barat yang cukup mengagetkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi menambahkan dari beberapa gunung yang di dalamnya diduga ada bangunan menyerupai piramida, setelah diteliti secara intensif dan uji "karbon dating", dipastikan umurnya lebih tua dari Piramida Giza.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ant/Metrotvnews&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-9063750549369101805?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7MmfPoIywHUtSs_heEqyW_KdSOc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7MmfPoIywHUtSs_heEqyW_KdSOc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7MmfPoIywHUtSs_heEqyW_KdSOc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7MmfPoIywHUtSs_heEqyW_KdSOc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/S5LWBKRx0ZI" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-07T12:43:08.565-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/arkeolog-penemuan-piramida-tak-masuk.html</feedburner:origLink></item><item><title>Sejarah Politik Islam</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/sLRCuOp93-s/sejarah-politik-islam.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Tue, 07 Feb 2012 12:32:12 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-3570720821994537624</guid><description>Pada tahun 6 hijriah ,Telah Terjadi Perjanjian Hudaibiah yang  waktu itu  terjadi antara kaum muslimin yang pimpin oleh baginda Nabi besar Muhammad SAW dengan Kafir Quraisy Makkah , Perjanijan itu terjadi dikarenakan ketika rasulluloh saw akan ber haji ke makkah akan tetapi tidak di perbolehkan oleh pemimpin kaum musyrikin dan tertahan lah Rasulluloh saw dengan kaum muslimin di kota hudaibiah yang jaraknya hanya beberapa mile dari kota makkah,ketika itu terjadi satu kesepakatan antara rasulluloh saw dengan pemimpin kaum musyrikin yang  isinya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kesepakatan genjatan senjata dan kaum Muslimin harus menunda umrah dengan kembali ke Madinah, tetapi tahun depan diberikan kebebasan melakukan umrah dan tinggal selama tiga hari di Makkah. Rasulullah menyetujui perjanjian ini meskipun para sahabat banyak yang kecewa, namun tidak ada yang berani menentang keputusan Junjungan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas isi perjanjian kelihatannya merugikan kaum Muslimin, tetapi secara politis sangat menguntungkan. “Perjanjian Hudaibiyah” merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah Islam sebab untuk pertama kalinya kaum Quraisy di Makkah mengakui kedaulatan kaum Muslimin di Madinah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;politik apa yang dilakukan rasulluloh saw dalam mensisasati perjanjian tersebut yang dimana setelah perjanjian tersebut berlaku, kaum muslim diperbolehkan untuk datang ke makkah dan begitupun juga kaum musrikin bebas untuk datang ke madinah ,coba perhatikan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 .Rasulluloh saw ,sengaja mengirim kaum muslimin yang berkualitas&amp;amp;kuat datang ke makkah untuk melakukan dakwah di makkah terhadap kaum musyrikin dan lambat laun ,kaum muslimin di makkah membuat satu kekuatan di makkah ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Setiap kaum musyrikin yang datang ke madinah ,oleh rasulluloh saw dan umat muslim di sambut dengan sangat antusias ,ramah dan santun yang bertujuan mendakwahi mereka  untuk bisa mengenal islam dan membiarkan mereka kembali ke makkah yang tentunya mereka sudah di bekali pengetahuan tentang islam ,bahkan sekembalinya mereka ke makkah mereka sudah banyak yang memeluk agama islam ,dan pada akhirnya lambat laun penduduk makkah sangat banyak sekali yang ber islam ,hingga penaklukan kota makkah tidak dengan cara  perang tetapi dengan politik rasulluloh saw dalam  mensisasati isi perjanjian hudaibiah tersebut ,meskipun awalnya secara sepintas isi perjanjian tersebut merugikan kaum muslim ,di situlah cerdik nya muhammad rasulluloh saw yang setiap pemikiran dan segala tindakannya di bimbing oleh wahyu alloh swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah salah satu politik rasulluloh saw dalam menegakan islam dimuka bumi ini ..wassalam&lt;br /&gt;Ahmad Susanto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-3570720821994537624?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/U_y3dX6u6sfLMc1KzXProvGYZAk/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/U_y3dX6u6sfLMc1KzXProvGYZAk/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/U_y3dX6u6sfLMc1KzXProvGYZAk/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/U_y3dX6u6sfLMc1KzXProvGYZAk/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/sLRCuOp93-s" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-07T12:32:12.487-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/sejarah-politik-islam.html</feedburner:origLink></item><item><title>Tim Katastropik Purba: Baca Pola Bencana Indonesia</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/IszKTK0MF9w/tim-katastropik-purba-baca-pola-bencana.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Tue, 07 Feb 2012 12:26:41 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-3461454243637462151</guid><description>&lt;img title="Tim Katastropik Purba: Baca Pola Bencana Indonesia" src="http://nationalgeographic.co.id/admin/files/daily/201202071555380_n.jpg" alt="Tim Katastropik Purba: Baca Pola Bencana Indonesia" border="0" /&gt;&lt;p style="margin:0px; font-size:10px; font-family:Helvetica, Arial, sans-serif" align="right"&gt;Yudhi Halim/Fotokita.net&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="cleaning"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="daily-text"&gt;Sebagai negara yang terletak di atas tiga lempeng besar dunia dan sembilan lempeng kecil lainnya, Indonesia berisiko mengalami berbagai jenis bencana. Mulai dari tanah longsor, banjir, gempa, hingga Tsunami. Kesemua bencana ini lebih sering terjadi di satu dekade terakhir. Di mana bencana dengan dampak terbesar adalah Tsunami yang melanda Aceh di tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, masifnya bencana yang melanda Indonesia tak membuat sistem pendokumentasian bencana terorganisir dengan baik. Ini menyebabkan bencana-bencana yang pernah terjadi ribuan tahun lalu tak terekam jejaknya. Padahal hasil dokumentasi tersebut bisa dijadikan referensi pembelajaran untuk mengatasi bencana berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbentuklah Tim Katastropik Purba (KP), yang berisi ahli geologi juga beberapa keilmuan lain. Tim ini bertugas melakukan penelitian secara dalam terhadap bencana-bencana besar pada masa lalu terutama pada masa purba yang berpotensi mengulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang dipelajari oleh tim KP adalah meneliti peradaban dan bencana alam besar purba di Nusantara. Menyusun kronologi peradaban dan bencana serta kaitannya," kata Danny Hilman sebagai salah satu anggota KP dalam acara diskusi 'Menguak Tabir Peradaban dan Bencana Katastropik Purba di Nusantara untuk Memperkuat Karakter dan Ketahanan Nasional' di Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa (7/2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkan oleh Danny, jika pola bencana ini juga bisa jadi alasan kemunculan dan hilangnya suatu peradaban di masa lampau yang terkait dengan bencana saat ini. Serta bisa digunakan untuk meneliti ulang kronologi sejarah dan atau situs bangunan dengan motode geologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Temuan-temuan KP akan disampaikan ke beberapa pihak. Karena hampir semua riset gempa di Indonesia lebih bersifat pribadi dan tidak terorganisir," ujar Staf Ahli Presiden Bidang Bencana Andi Arief.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tak Terdokumentasi, Masyarakat 'Buta' Bencana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh buruknya pendokumentasian bisa terlihat dalam gempa pada 28 Agustus dan 3-4 September 2011 di Kabupaten Bandung Barat. Menurut peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gempa ini terjadi karena pergerakan Sesar Lembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga yang sudah menghuni lokasi itu selama enam generasi mengaku kaget, karena inilah kali pertama merasakan gempa di bawah kaki mereka. Padahal, kewaspadaan ini bisa ditumbuhkan oleh para pendahulu mereka. Sebab, dari hasil penelitian Eko Yulianto dalam &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;National Geographic Indonesia &lt;/span&gt;edisi Februari 2012, disebutkan jika wilayah ini pernah dilanda bencana gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="width: 312px; height: 208px;float: left; margin:10px 10px 0 0" src="http://img31.imageshack.us/img31/5125/26780977.jpg" /&gt;"Gempa dengan kekuatan besar pernah terjadi sekitar 500 tahun lalu dengan besaran 6,6 skala Richter. Sebelumnya, pada 2000 tahun yang lalu terjadi gempa yang pertama, dengan kekuatan sekitar 6,8 skala Richter," ujar Eko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah Sesar Lembang membentang dari timur ke barat—dari kaki Gunung Manglayang sampai ke tepian kawasan karst Padalarang. Dengan panjang sekitar 22-25 kilometer, wilayah ini dihuni oleh ribuan bangunan permukiman, restoran, hotel, asrama dan sekolah militer, juga tempat penelitian astronomi, berdiri di dasar patahan di sisi utara dan di puncak patahan di sisi selatan.&lt;br /&gt;NationalGeografic&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-3461454243637462151?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JX8UK8QCX64gF6Ai7PQNV2Ov3DU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JX8UK8QCX64gF6Ai7PQNV2Ov3DU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JX8UK8QCX64gF6Ai7PQNV2Ov3DU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JX8UK8QCX64gF6Ai7PQNV2Ov3DU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/IszKTK0MF9w" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-07T12:26:41.335-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/tim-katastropik-purba-baca-pola-bencana.html</feedburner:origLink></item><item><title>Balai Arkeologi Yogyakarta Petakan Zonasi Situs Patiayam</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Yasirmaster/~3/aTK6I6b8gKY/balai-arkeologi-yogyakarta-petakan.html</link><author>suak_cot@yahoo.co.id</author><pubDate>Tue, 07 Feb 2012 12:25:05 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1311888579207403717.post-213512351735575202</guid><description>&lt;img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2012/02/07/1221522620X310.JPG" width="630"/&gt;&lt;br /&gt;        &lt;span class="pb_10"&gt;KOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDI ISMANTO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Tim Balai Arkeologi Yogyakarta, Selasa (7/2/2012), kembali memetakan situs Patiayam di Jekulo, Kudus, untuk menentukan zonasi manusia dan hewan purba itu.&lt;br /&gt;Balai Arkeologi Yogyakarta memetakan lagi situs Patiayam yang berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Pemetaan itu bertujuan untuk menentukan zonasi situs manusia dan hewan purba itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta Siswanto, Selasa (7/2/2012), di Kudus, mengatakan, pemetaan itu menyangkut penentuan zona inti, penyangga, dan pengembangan situs Patiayam. Hal itu dilakukan menyusul meluasnya areal temuan fosil baru di sejumlah titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami akan meneliti formasi tanah dan bebatuan di sejumlah titik untuk membuat peta baru situs Patiayam. Kegiatan kami lakukan 8-10 hari,” kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Siswanto menambahkan, tim juga akan mencari lagi fosil-fosil baru dan meneliti budaya situs Patiayam. Penelitian budaya penting karena menyangkut temuan fosil manusia purba Homo Erectus dan alat batu beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setelah selesai, kami akan membuat rekomendasi untuk pemerintah, terutama menyangkut zonasi terbaru situs Patiayam yang luasnya 20 kilometer persegi,” kata Siswanto. &lt;br /&gt;Kompas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1311888579207403717-213512351735575202?l=yasirmaster.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WrJ0vGym1ULGEKmcWd-wtDJgUHc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WrJ0vGym1ULGEKmcWd-wtDJgUHc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WrJ0vGym1ULGEKmcWd-wtDJgUHc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WrJ0vGym1ULGEKmcWd-wtDJgUHc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Yasirmaster/~4/aTK6I6b8gKY" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-07T12:25:05.887-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://yasirmaster.blogspot.com/2012/02/balai-arkeologi-yogyakarta-petakan.html</feedburner:origLink></item><media:rating>adult</media:rating></channel></rss>

