<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;CkINRHw9fyp7ImA9WhRRFEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108</id><updated>2011-11-27T16:36:35.267-08:00</updated><category term="Pribadi" /><category term="Ekonomi" /><category term="Pendidikan" /><category term="Featured" /><category term="Profil" /><category term="Agama" /><category term="Umum" /><category term="News" /><category term="Bahan Kuliah" /><title>MIAZ AL-BARSANY</title><subtitle type="html">GARDEN OF KWOWLEDGE AND ETHICS</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>56</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Zaim_msiyahoocom" /><feedburner:info uri="zaim_msiyahoocom" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;A0EBRncyeSp7ImA9Wx5bFEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-3547000579658684870</id><published>2010-10-29T23:18:00.000-07:00</published><updated>2010-10-29T23:20:57.991-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-10-29T23:20:57.991-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Agama" /><title /><content type="html">&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut sebuah cerita pewayangan, Prabu Jayabaya merupakan seorang raja Kediri yang sakti mandraguna, keberadaannya sangat ditakuti oleh siapapun pada zamannya. Disamping itu Prabu Jayabaya mempunyai kemampuan membaca kala atau zaman yang akan terjadi. Suatu kehebatan yang sangat luar biasa, dan sampai-sampai kehebatan ramalan Jayabaya selalu dikaitkan dengan situasi tertentu, misalkan pemerintahan, gejala bumi dll. Pembaca boleh percaya atau tidak dengan ramalan tersebut, namun setidaknya dapat menjadi pelajaran hikmah bagi kita semua.&lt;br /&gt;Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yang dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga.Asal Usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabayalah yg membuat Ramalan-ramalan tersebut.&lt;br /&gt;Berikut adalah sepenggal kisah tentang asal muasal dan isi kitab ramalan prabu Jayabaya yang saya kutip dari berbagai informasi salah satunya adalah id.wikipedia.org/wiki/Ramalan_Jayabaya&lt;br /&gt;Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak jamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M).&lt;br /&gt;Kitab Jangka Jayabaya pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah "Perdikan" yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak! Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong.&lt;br /&gt;Disamping itu beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala jamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.&lt;br /&gt;Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan tahun 1669 Jawa (1744 M). Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam'iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada jamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 M.&lt;br /&gt;AnalisaJangka Jayabaya yang kita kenal sekarang ini adalah gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut "Kitab Asrar" Karangan Sunan Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para pujangga dibelakang juga menyebut nama baru itu.&lt;br /&gt;Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak jaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah kerajaan Islam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedaton". Giri Kedaton ini nampaknya Merupakan jaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang berlangsung antara 1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M. Namun demikian adanya keraton Islam di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai jaman Sunan Giri ke-3.&lt;br /&gt;Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya berakhir karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram; Sejak Raden Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun tahta kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kira berdiri antara 1478-1481 M atau lebih lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M (882 H). Setelah kesultanan Demak jatuh pada masa Sultan Trenggono, lalu tahta kerajaan jatuh ke tangan raja yang mendapat julukan sebagai "Ratu Bobodo") ialah Sultan Pajang. Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi setengah Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Siti Jenar, yang juga hendak di basmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup.&lt;br /&gt;Setelah Kerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh penguasa baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram bertahta dengan gelar Prabu Hanyokro Kusumo (Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura. Di kelak kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari Mataram ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan Sundarowang ini ialah seorang raja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu Herucakra yang berkuasa di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya.&lt;br /&gt;Wasiat Sultan Agung itu mengandung kalimat ramalan, bahwa kelak sesudah beliau turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih kembali kewibawaannya, justru nanti dijaman jauh sesudah Sultan Agung wafat. Ini berarti raja-raja pengganti beliau dinilai (secara pandangan batin) sebagai raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi. Bisa kita maklumi, karena pada tahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628 &amp;amp; 1629 yang diluruk ke Jakarta/ Batavia oleh Sultan Agung).&lt;br /&gt;Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil pokok/permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama mana diketahui dari Kakawin Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157 M atas titah Sri Jayabaya di Daha/ Kediri. Setelah mendapat pathokan/data baru, raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang pujangga (Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan "JANGKA JAYABAYA" dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya sebelumnya dalam bentuk babad.&lt;br /&gt;Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari.&lt;br /&gt;Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai jaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung. Jika kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama "REPUBLIK INDONESIA"!. Kedua sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga yang hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga terkenal R.Ng., cucu buyut pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I.&lt;br /&gt;Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/19 M dan sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan Jayabaya yang hanya bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur jangka atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang dihubungkan dengan lingkungan historisnya satu sama lain sehingga merupakan tambahan riwayat buat negeri ini.&lt;br /&gt;Semua itu telah berasal dari satu sumber benih, yakni Kitab Asrar karya Sunan Giri ke-3 dan Jangka Jayabaya gubahan dari kitab Asrar tadi, plus serat Mahabarata karangan Mpu Sedah &amp;amp; Panuluh. Dengan demikian, Jangka Jayabaya ini ditulis kembali dengan gubahan oleh Pangeran Wijil I pada tahun 1675 Jawa (1749 M) bersama dengan gubahannya yang berbentuk puisi, yakni Kitab Musarar. Dengan begitu menjadi jelaslah apa yang kita baca sekarang ini.&lt;br /&gt;Kitab Musasar JayabayaAsmarandana&lt;br /&gt;Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.&lt;br /&gt;Beliau sakti sebab titisan Batara wisnu. Waktu itu Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja.&lt;br /&gt;Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di Pagedongan. Sangat raharja negara-nya.&lt;br /&gt;Hal tersebut menggembirakan Sang Prabu. Waktu itu tersebutkan Sang Prabu akan mendapat tamu, seorang raja pandita dari Rum bernama, Sultan Maolana.&lt;br /&gt;Lengkapnya bernama Ngali Samsujen. Kedatangannya disambut sebaik-baiknya. Sebab tamu tersebut seorang raja pandita lain bangsa pantas dihormati.&lt;br /&gt;Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu menge.nai Kitab Musarar.&lt;br /&gt;Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak Dewata.&lt;br /&gt;Sang Prabu segera menjadi murid sang Raja Pandita. Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui semua. Beliaupun ingat tinggal menitis 3 kali.&lt;br /&gt;Kelak akan diletakkan dalam teken Sang Pandita yang ditinggal di Kakbah yang membawa Imam Supingi untuk menaikkan kutbah,&lt;br /&gt;Senjata ecis itu yang bernama Udharati. Dikelak kemudian hari ada Maolana masih cucu Rasul yang mengembara sampai ke P. Jawa membawa ecis tersebut. Kelak menjadi punden Tanah Jawa.&lt;br /&gt;Raja Pandita pamit dan musnah dari tempat duduk. Kemudian terkisahkan setelah satu bulan Sang Prabu memanggil putranya.&lt;br /&gt;Setelah sang putra datang lalu diajak ke gunung Padang. Ayah dan putra itu setelah datang lalu naik ke gunung.&lt;br /&gt;Di sana ada Ajar bernama Ajar Subrata. Menjemput Prabu Jayabaya seorang raja yang berincoknito termasuk titisan Batara Wisnu.&lt;br /&gt;Karenanya Sang Prabu sangat waspada, tahu sebelum kejadian mengenai raja-raja karena Sang Prabu menerima sasmita gaib.&lt;br /&gt;Bila Islam seperti Nabi. Prabu Jayabaya bercengkrama di gunung sudah lama. Bertemu dengan ki Ajar di gunung Padang. Yang bertapa brata sehingga apa yang dikehendaki terjadi.&lt;br /&gt;Tergopoh-gopoh menghormati. Setelah duduk ki Ajar memanggil seorang endang yang membawa sesaji. Berwarna-warni isinya. Tujuh warna-warni dan lengkap delapan dengarn endangnya&lt;br /&gt;Jadah (ketan) setakir, bawang putih satu talam, kembang melati satu bungkus, darah sepitrah, kunir sarimpang, sebatang pohon kajar dan kembang mojar satu bungkus&lt;br /&gt;Kedelapan endang seorang. Kemudian ki Ajar menghaturkan sembah : “Inilah hidangan kami untuk sang Prabu”. Sang Prabu waspada kemudian menarik senjata kerisnya.&lt;br /&gt;Ki Ajar ditikam mati. Demikian juga endangnya. Keris kemudian dimasukkan lagi. Cantrik-cantrik berlarian karena takut. Sedangkan raja putra kecewa melihat perbuatan ayahnya.&lt;br /&gt;Sang putra akan bertanya merasa takut. Kemudian merekapun pulang. Datang di kedaton Sang Prabu berbicara dengan putranya.&lt;br /&gt;Heh anakku. Kamu tahu ulah si Ajar yang saya bunuh. Sebab berdosa kepada guru saya Sultan Maolana Ngali Samsujen tatkala masih muda.&lt;br /&gt;Sinom&lt;br /&gt;Dia itu sudah diwejang (diberitahu) oleh guru mengenai kitab Musarar. Sama seperti saya. Namun dia menyalahi janji, musnah raja-raja di P. Jawa. Toh saya sudah diberitahu bahwa saya tinggal 3 kali lagi.&lt;br /&gt;Bila sudah menitis tiga kali kemudian ada jaman lagi bukan perbuatan saya. Sudah dikatakan oleh Maolana Ngali tidak mungkin berobah lagi. Diberi lambang Jaman Catur semune segara asat.&lt;br /&gt;Itulah Jenggala, Kediri, Singasari dan Ngurawan. Empat raja itu masih kekuasaan saya. Negaranya bahagia diatas bumi. Menghancurkan keburukan.&lt;br /&gt;Setelah 100 tahun musnah keempat kerajaan tersebut. Kemudian ada jaman lagi yang bukan milik saya, sebab saya sudah terpisah dengan saudara-saudara ditempat yang rahasia.&lt;br /&gt;Di dalam teken sang guru Maolana Ngali. Demikian harap diketahui oleh anak cucu bahwa akan ada jaman Anderpati yang bernama Kala-wisesa.&lt;br /&gt;Lambangnya: Sumilir naga kentir semune liman pepeka. Itu negara Pajajaran. Negara tersebut tanpa keadilan dan tata negara, Setelah seratus tahun kemudian musnah.&lt;br /&gt;Sebab berperang dengan saudara. Hasil bumi diberi pajak emas. Sebab saya mendapat hidangan Kunir sarimpang dari ki Ajar. Kemudian berganti jaman di Majapahit dengan rajanya Prabu Brawijaya.&lt;br /&gt;Demikian nama raja bergelar Sang Rajapati Dewanata. Alamnya disebut Anderpati, lamanya sepuluh windu (80 tahun). Hasil negara berupa picis (uang). Ternyata waktu itu dari hidangan ki Ajar.&lt;br /&gt;Hidangannya Jadah satu takir. Lambangnya waktu itu Sima galak semune curiga ketul. Kemudian berganti jaman lagi. Di Gelagahwangi dengan ibukota di Demak. Ada agama dengan pemimpinnya bergelar Diyati Kalawisaya.&lt;br /&gt;Enam puluh lima tahun kemudian musnah. Yang bertahta Ratu Adil serta wali dan pandita semuanya cinta. Pajak rakyat berupa uang. Temyata saya diberi hidangan bunga Melati oleh ki Ajar.&lt;br /&gt;Negara tersebut diberi lambang: Kekesahan durung kongsi kaselak kampuhe bedah. Kemudian berganti jaman Kalajangga. Beribukota Pajang dengan hukum seperti di Demak. Tidak diganti oleh anaknya. 36 tahun kemudian musnah.&lt;br /&gt;Negara ini diberi lambang: cangkrama putung watange. Orang di desa terkena pajak pakaian dan uang. Sebab ki Ajar dahulu memberi hidangan sebatang pohon kajar. Kemudian berganti jaman di Mataram. Kalasakti Prabu Anyakrakusuma.&lt;br /&gt;Dicintai pasukannya. Kuat angkatan perangnya dan kaya, disegani seluruh bangsa Jawa. Bahkan juga sebagai gantinya Ajar dan wali serta pandita, bersatu dalam diri Sang Prabu yang adil.&lt;br /&gt;Raja perkasa tetapi berbudi halus. Rakyat kena pajak reyal. Sebab waktu itu saya mendapat hidangan bawang putih dari ki Ajar. Rajanya diberi gelar: Sura Kalpa semune lintang sinipat.&lt;br /&gt;Kemudian berganti lagi dengan lambang: Kembang sempol Semune modin tanpa sreban. Raja yang keempat yang penghabisan diberi lambang Kalpa sru kanaka putung. Seratus tahun kemudian musnah sebab melawan sekutu. Kemudian ada nakhoda yang datang berdagang.&lt;br /&gt;Berdagang di tanah Jawa kemudian mendapat sejengkal tanah. Lama kelamaan ikut perang dan selalu menang, sehingga terpandang di pulau Jawa. Jaman sudah berganti meskipun masih keturunan Mataram. Negara bernama Nyakkrawati dan ibukota di Pajang.&lt;br /&gt;Raja berpasukan campur aduk. Disegani setanah Jawa. Yang memulai menjadi raja dengan gelar Layon keli semune satriya brangti. Kemudian berganti raja yang bergelar: semune kenya musoni. Tidak lama kemudian berganti.&lt;br /&gt;Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi(Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka wanita) kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki (Raja yang disegani/ditakuti, namun nista.) Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan.&lt;br /&gt;Waktu itu pajaknya rakyat adalah Uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak berkasiat, pemerintah rusak. Rakyat celaka. Bermacam-macam bencana yang tidak dapat ditolak.&lt;br /&gt;Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka(Raja-raja yang saling balas dendam.). Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram(Dua kekuatan pimpinan yang saling jegal ingin menjatuhkan).&lt;br /&gt;Nakhoda(Orang asing)ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (Orang arif dan bijak) tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu , randa loro nututi pijer tetukar(( Ratu yang selalu diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya)&lt;br /&gt;Tidak berkesempatan menghias diri(Raja yang tidak sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan ), sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.&lt;br /&gt;Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. orang jahat makin menjadi-jadi Orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.&lt;br /&gt;Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.&lt;br /&gt;Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.&lt;br /&gt;Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.&lt;br /&gt;Kemudian kelak akan datang Tunjung putih semune Pudak kasungsang(Raja berhati putih namun masih tersembunyi). Lahir di bumi Mekah(Orang Islam yang sangat bertauhid). Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.&lt;br /&gt;Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa(Orang Islam yang sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (kawruh Jawa)). Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.&lt;br /&gt;Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali.&lt;br /&gt;Isi Ramalan&lt;br /&gt;Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran --- Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.&lt;br /&gt;Tanah Jawa kalungan wesi --- Pulau Jawa berkalung besi.&lt;br /&gt;Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang --- Perahu berjalan di angkasa.&lt;br /&gt;Kali ilang kedhunge --- Sungai kehilangan mata air.&lt;br /&gt;Pasar ilang kumandhang --- Pasar kehilangan suara.&lt;br /&gt;Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak --- Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.&lt;br /&gt;Bumi saya suwe saya mengkeret --- Bumi semakin lama semakin mengerut.&lt;br /&gt;Sekilan bumi dipajeki --- Sejengkal tanah dikenai pajak.&lt;br /&gt;Jaran doyan mangan sambel --- Kuda suka makan sambal.&lt;br /&gt;Wong wadon nganggo pakeyan lanang --- Orang perempuan berpakaian lelaki.&lt;br /&gt;Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman--- Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik&lt;br /&gt;Akeh janji ora ditetepi --- Banyak janji tidak ditepati.&lt;br /&gt;keh wong wani nglanggar sumpahe dhewe--- Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.&lt;br /&gt;Manungsa padha seneng nyalah--- Orang-orang saling lempar kesalahan.&lt;br /&gt;Ora ngendahake hukum Hyang Widhi--- Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.&lt;br /&gt;Barang jahat diangkat-angkat--- Yang jahat dijunjung-junjung.&lt;br /&gt;Barang suci dibenci--- Yang suci (justru) dibenci&lt;br /&gt;Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit--- Banyak orang hanya mementingkan uang.&lt;br /&gt;Lali kamanungsan--- Lupa jati kemanusiaan.&lt;br /&gt;Lali kabecikan--- Lupa hikmah kebaikan.&lt;br /&gt;Lali sanak lali kadang--- Lupa sanak lupa saudara.&lt;br /&gt;Akeh bapa lali anak--- Banyak ayah lupa anak.&lt;br /&gt;Akeh anak wani nglawan ibu--- Banyak anak berani melawan ibu.&lt;br /&gt;Nantang bapa--- Menantang ayah&lt;br /&gt;Sedulur padha cidra--- Saudara dan saudara saling khianat.&lt;br /&gt;Kulawarga padha curiga--- Keluarga saling curiga.&lt;br /&gt;Kanca dadi mungsuh --- Kawan menjadi lawan.&lt;br /&gt;Akeh manungsa lali asale --- Banyak orang lupa asal-usul.&lt;br /&gt;Ukuman Ratu ora adil --- Hukuman Raja tidak adil&lt;br /&gt;Akeh pangkat sing jahat lan ganjil--- Banyak pejabat jahat dan ganjil&lt;br /&gt;Akeh kelakuan sing ganjil --- Banyak ulah-tabiat ganjil&lt;br /&gt;Wong apik-apik padha kapencil --- Orang yang baik justru tersisih.&lt;br /&gt;Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin --- Banyak orang kerja halal justru merasa malu.&lt;br /&gt;Luwih utama ngapusi --- Lebih mengutamakan menipu.&lt;br /&gt;Wegah nyambut gawe --- Malas untuk bekerja.&lt;br /&gt;Kepingin urip mewah --- Inginnya hidup mewah&lt;br /&gt;Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka --- Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.&lt;br /&gt;Wong bener thenger-thenger --- Orang (yang) benar termangu-mangu.&lt;br /&gt;Wong salah bungah --- Orang (yang) salah gembira ria.&lt;br /&gt;Wong apik ditampik-tampik--- Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).&lt;br /&gt;Wong jahat munggah pangkat--- Orang (yang) jahat naik pangkat.&lt;br /&gt;Wong agung kasinggung--- Orang (yang) mulia dilecehkan&lt;br /&gt;Wong ala kapuja--- Orang (yang) jahat dipuji-puji.&lt;br /&gt;Wong wadon ilang kawirangane--- perempuan hilang malu.&lt;br /&gt;Wong lanang ilang kaprawirane--- Laki-laki hilang perwira/kejantanan&lt;br /&gt;Akeh wong lanang ora duwe bojo--- Banyak laki-laki tak mau beristri.&lt;br /&gt;Akeh wong wadon ora setya marang bojone--- Banyak perempuan ingkar pada suami.&lt;br /&gt;Akeh ibu padha ngedol anake--- Banyak ibu menjual anak.&lt;br /&gt;Akeh wong wadon ngedol awake--- Banyak perempuan menjual diri.&lt;br /&gt;Akeh wong ijol bebojo--- Banyak orang tukar istri/suami.&lt;br /&gt;Wong wadon nunggang jaran--- Perempuan menunggang kuda.&lt;br /&gt;Wong lanang linggih plangki--- Laki-laki naik tandu.&lt;br /&gt;Randha seuang loro--- Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).&lt;br /&gt;Prawan seaga lima--- Lima perawan lima picis.&lt;br /&gt;Dhudha pincang laku sembilan uang--- Duda pincang laku sembilan uang.&lt;br /&gt;Akeh wong ngedol ngelmu--- Banyak orang berdagang ilmu.&lt;br /&gt;Akeh wong ngaku-aku--- Banyak orang mengaku diri.&lt;br /&gt;Njabane putih njerone dhadhu--- Di luar putih di dalam jingga.&lt;br /&gt;Ngakune suci, nanging sucine palsu--- Mengaku suci, tapi palsu belaka.&lt;br /&gt;Akeh bujuk akeh lojo--- Banyak tipu banyak muslihat.&lt;br /&gt;Akeh udan salah mangsa--- Banyak hujan salah musim.&lt;br /&gt;Akeh prawan tuwa--- Banyak perawan tua.&lt;br /&gt;Akeh randha nglairake anak--- Banyak janda melahirkan bayi.&lt;br /&gt;Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne--- Banyak anak lahir mencari bapaknya.&lt;br /&gt;Agama akeh sing nantang--- Agama banyak ditentang.&lt;br /&gt;Prikamanungsan saya ilang--- Perikemanusiaan semakin hilang.&lt;br /&gt;Omah suci dibenci--- Rumah suci dijauhi.&lt;br /&gt;Omah ala saya dipuja--- Rumah maksiat makin dipuja.&lt;br /&gt;Wong wadon lacur ing ngendi-endi--- Perempuan lacur dimana-mana.&lt;br /&gt;Akeh laknat--- Banyak kutukan&lt;br /&gt;Akeh pengkianat--- Banyak pengkhianat.&lt;br /&gt;Anak mangan bapak---Anak makan bapak.&lt;br /&gt;Sedulur mangan sedulur---Saudara makan saudara.&lt;br /&gt;Kanca dadi mungsuh---Kawan menjadi lawan.&lt;br /&gt;Guru disatru---Guru dimusuhi.&lt;br /&gt;Tangga padha curiga---Tetangga saling curiga.&lt;br /&gt;Kana-kene saya angkara murka --- Angkara murka semakin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;Sing weruh kebubuhan---Barangsiapa tahu terkena beban.&lt;br /&gt;Sing ora weruh ketutuh---Sedang yang tak tahu disalahkan.&lt;br /&gt;Besuk yen ana peperangan---Kelak jika terjadi perang.&lt;br /&gt;Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor---Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.&lt;br /&gt;Akeh wong becik saya sengsara--- Banyak orang baik makin sengsara.&lt;br /&gt;Wong jahat saya seneng--- Sedang yang jahat makin bahagia.&lt;br /&gt;Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul--- Ketika itu burung gagak dibilang bangau.&lt;br /&gt;Wong salah dianggep bener---Orang salah dipandang benar.&lt;br /&gt;Pengkhianat nikmat---Pengkhianat nikmat.&lt;br /&gt;Durjana saya sempurna--- Durjana semakin sempurna.&lt;br /&gt;Wong jahat munggah pangkat--- Orang jahat naik pangkat.&lt;br /&gt;Wong lugu kebelenggu--- Orang yang lugu dibelenggu.&lt;br /&gt;Wong mulya dikunjara--- Orang yang mulia dipenjara.&lt;br /&gt;Sing curang garang--- Yang curang berkuasa.&lt;br /&gt;Sing jujur kojur--- Yang jujur sengsara.&lt;br /&gt;Pedagang akeh sing keplarang--- Pedagang banyak yang tenggelam.&lt;br /&gt;Wong main akeh sing ndadi---Penjudi banyak merajalela.&lt;br /&gt;Akeh barang haram---Banyak barang haram.&lt;br /&gt;Akeh anak haram---Banyak anak haram.&lt;br /&gt;Wong wadon nglamar wong lanang---Perempuan melamar laki-laki.&lt;br /&gt;Wong lanang ngasorake drajate dhewe---Laki-laki memperhina derajat sendiri.&lt;br /&gt;Akeh barang-barang mlebu luang---Banyak barang terbuang-buang.&lt;br /&gt;Akeh wong kaliren lan wuda---Banyak orang lapar dan telanjang.&lt;br /&gt;Wong tuku ngglenik sing dodol---Pembeli membujuk penjual.&lt;br /&gt;Sing dodol akal okol---Si penjual bermain siasat.&lt;br /&gt;Wong golek pangan kaya gabah diinteri---Mencari rizki ibarat gabah ditampi.&lt;br /&gt;Sing kebat kliwat---Yang tangkas lepas.&lt;br /&gt;Sing telah sambat---Yang terlanjur menggerutu.&lt;br /&gt;Sing gedhe kesasar---Yang besar tersasar.&lt;br /&gt;Sing cilik kepleset---Yang kecil terpeleset.&lt;br /&gt;Sing anggak ketunggak---Yang congkak terbentur.&lt;br /&gt;Sing wedi mati---Yang takut mati.&lt;br /&gt;Sing nekat mbrekat---Yang nekat mendapat berkat.&lt;br /&gt;Sing jerih ketindhih---Yang hati kecil tertindih&lt;br /&gt;Sing ngawur makmur---Yang ngawur makmur&lt;br /&gt;Sing ngati-ati ngrintih---Yang berhati-hati merintih.&lt;br /&gt;Sing ngedan keduman---Yang main gila menerima bagian.&lt;br /&gt;Sing waras nggagas---Yang sehat pikiran berpikir.&lt;br /&gt;Wong tani ditaleni---Orang (yang) bertani diikat.&lt;br /&gt;Wong dora ura-ura---Orang (yang) bohong berdendang.&lt;br /&gt;Ratu ora netepi janji, musna panguwasane---Raja ingkar janji, hilang wibawanya.&lt;br /&gt;Bupati dadi rakyat---Pegawai tinggi menjadi rakyat.&lt;br /&gt;Wong cilik dadi priyayi---Rakyat kecil jadi priyayi.&lt;br /&gt;Sing mendele dadi gedhe---Yang curang jadi besar.&lt;br /&gt;Sing jujur kojur---Yang jujur celaka.&lt;br /&gt;Akeh omah ing ndhuwur jaran---Banyak rumah di punggung kuda.&lt;br /&gt;Wong mangan wong---Orang makan sesamanya.&lt;br /&gt;Anak lali bapak---Anak lupa bapa.&lt;br /&gt;Wong tuwa lali tuwane---Orang tua lupa ketuaan mereka.&lt;br /&gt;Pedagang adol barang saya laris---Jualan pedagang semakin laris.&lt;br /&gt;Bandhane saya ludhes---Namun harta mereka makin habis.&lt;br /&gt;Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan---Banyak orang mati lapar di samping makanan.&lt;br /&gt;Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara---Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.&lt;br /&gt;Sing edan bisa dandan---Yang gila bisa bersolek.&lt;br /&gt;Sing bengkong bisa nggalang gedhong---Si bengkok membangun mahligai.&lt;br /&gt;Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil---Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.&lt;br /&gt;Ana peperangan ing njero---Terjadi perang di dalam.&lt;br /&gt;Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham---Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.&lt;br /&gt;Durjana saya ngambra-ambra---Kejahatan makin merajalela.&lt;br /&gt;Penjahat saya tambah---Penjahat makin banyak.&lt;br /&gt;Wong apik saya sengsara---Yang baik makin sengsara.&lt;br /&gt;Akeh wong mati jalaran saka peperangan---Banyak orang mati karena perang.&lt;br /&gt;Kebingungan lan kobongan---Karena bingung dan kebakaran.&lt;br /&gt;Wong bener saya thenger-thenger---Si benar makin tertegun.&lt;br /&gt;Wong salah saya bungah-bungah---Si salah makin sorak sorai.&lt;br /&gt;Akeh bandha musna ora karuan lungane---Banyak harta hilang entah ke mana&lt;br /&gt;Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe---Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.&lt;br /&gt;Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram---Banyak barang haram, banyak anak haram.&lt;br /&gt;Bejane sing lali, bejane sing eling---Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.&lt;br /&gt;Nanging sauntung-untunge sing lali---Tapi betapapun beruntung si lupa.&lt;br /&gt;Isih untung sing waspada---Masih lebih beruntung si waspada.&lt;br /&gt;Angkara murka saya ndadi---Angkara murka semakin menjadi.&lt;br /&gt;Kana-kene saya bingung---Di sana-sini makin bingung.&lt;br /&gt;Pedagang akeh alangane---Pedagang banyak rintangan.&lt;br /&gt;Akeh buruh nantang juragan---Banyak buruh melawan majikan.&lt;br /&gt;Juragan dadi umpan---Majikan menjadi umpan.&lt;br /&gt;Sing suwarane seru oleh pengaruh---Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.&lt;br /&gt;Wong pinter diingar-ingar---Si pandai direcoki.&lt;br /&gt;Wong ala diuja---Si jahat dimanjakan.&lt;br /&gt;Wong ngerti mangan ati---Orang yang mengerti makan hati.&lt;br /&gt;Bandha dadi memala---Hartabenda menjadi penyakit&lt;br /&gt;Pangkat dadi pemikat---Pangkat menjadi pemukau.&lt;br /&gt;Sing sawenang-wenang rumangsa menang --- Yang sewenang-wenang merasa menang&lt;br /&gt;Sing ngalah rumangsa kabeh salah---Yang mengalah merasa serba salah.&lt;br /&gt;Ana Bupati saka wong sing asor imane---Ada raja berasal orang beriman rendah.&lt;br /&gt;Patihe kepala judhi---Maha menterinya benggol judi.&lt;br /&gt;Wong sing atine suci dibenci---Yang berhati suci dibenci.&lt;br /&gt;Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat---Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.&lt;br /&gt;Pemerasan saya ndadra---Pemerasan merajalela.&lt;br /&gt;Maling lungguh wetenge mblenduk --- Pencuri duduk berperut gendut.&lt;br /&gt;Pitik angrem saduwure pikulan---Ayam mengeram di atas pikulan.&lt;br /&gt;Maling wani nantang sing duwe omah---Pencuri menantang si empunya rumah.&lt;br /&gt;Begal pada ndhugal---Penyamun semakin kurang ajar.&lt;br /&gt;Rampok padha keplok-keplok---Perampok semua bersorak-sorai.&lt;br /&gt;Wong momong mitenah sing diemong---Si pengasuh memfitnah yang diasuh&lt;br /&gt;Wong jaga nyolong sing dijaga---Si penjaga mencuri yang dijaga.&lt;br /&gt;Wong njamin njaluk dijamin---Si penjamin minta dijamin.&lt;br /&gt;Akeh wong mendem donga---Banyak orang mabuk doa.&lt;br /&gt;Kana-kene rebutan unggul---Di mana-mana berebut menang.&lt;br /&gt;Angkara murka ngombro-ombro---Angkara murka menjadi-jadi.&lt;br /&gt;Agama ditantang---Agama ditantang.&lt;br /&gt;Akeh wong angkara murka---Banyak orang angkara murka.&lt;br /&gt;Nggedhekake duraka---Membesar-besarkan durhaka.&lt;br /&gt;Hukum agama dilanggar---Hukum agama dilanggar.&lt;br /&gt;Prikamanungsan di-iles-iles---Perikemanusiaan diinjak-injak.&lt;br /&gt;Kasusilan ditinggal---Tata susila diabaikan.&lt;br /&gt;Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi---Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.&lt;br /&gt;Wong cilik akeh sing kepencil---Rakyat kecil banyak tersingkir.&lt;br /&gt;Amarga dadi korbane si jahat sing jajil---Karena menjadi kurban si jahat si laknat.&lt;br /&gt;Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit---Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.&lt;br /&gt;Lan duwe prajurit---Dan punya prajurit.&lt;br /&gt;Negarane ambane saprawolon---Lebar negeri seperdelapan dunia.&lt;br /&gt;Tukang mangan suap saya ndadra---Pemakan suap semakin merajalela.&lt;br /&gt;Wong jahat ditampa---Orang jahat diterima.&lt;br /&gt;Wong suci dibenci---Orang suci dibenci.&lt;br /&gt;Timah dianggep perak---Timah dianggap perak.&lt;br /&gt;Emas diarani tembaga---Emas dibilang tembaga&lt;br /&gt;Dandang dikandakake kuntul---Gagak disebut bangau.&lt;br /&gt;Wong dosa sentosa---Orang berdosa sentosa.&lt;br /&gt;Wong cilik disalahake---Rakyat jelata dipersalahkan.&lt;br /&gt;Wong nganggur kesungkur---Si penganggur tersungkur.&lt;br /&gt;Wong sregep krungkep---Si tekun terjerembab.&lt;br /&gt;Wong nyengit kesengit---Orang busuk hati dibenci.&lt;br /&gt;Buruh mangluh---Buruh menangis.&lt;br /&gt;Wong sugih krasa wedi---Orang kaya ketakutan.&lt;br /&gt;Wong wedi dadi priyayi---Orang takut jadi priyayi.&lt;br /&gt;Senenge wong jahat---Berbahagialah si jahat.&lt;br /&gt;Susahe wong cilik---Bersusahlah rakyat kecil.&lt;br /&gt;Akeh wong dakwa dinakwa---Banyak orang saling tuduh.&lt;br /&gt;Tindake manungsa saya kuciwa---Ulah manusia semakin tercela.&lt;br /&gt;Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi---Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.&lt;br /&gt;Wong Jawa kari separo---Orang Jawa tinggal setengah.&lt;br /&gt;Landa-Cina kari sejodho --- Belanda-Cina tinggal sepasang.&lt;br /&gt;Akeh wong ijir, akeh wong cethil---Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.&lt;br /&gt;Sing eman ora keduman---Si hemat tidak mendapat bagian.&lt;br /&gt;Sing keduman ora eman---Yang mendapat bagian tidak berhemat.&lt;br /&gt;Akeh wong mbambung---Banyak orang berulah dungu.&lt;br /&gt;Akeh wong limbung---Banyak orang limbung.&lt;br /&gt;Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka---Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.&lt;br /&gt;Meskipun beberapa ramalan di masa yang akan datang tentang bangsa ini masih dalam kategori dugaan, atau terawangan Prabu Jayabaya, setidaknya dari beberapa ramalan sudah dapat kita saksikan pada zaman kita, dan hal itu akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi generasi saat ini dan yang akan datang untuk terus waspada dan berhati-hati dalam menjaga kelangsungan kehidupan manusia. Wallahu a’lam&lt;br /&gt;Kepustakaan&lt;br /&gt;Alan H. Feinstein.1994. Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, hlm. 276-280.&lt;br /&gt;Pranala luar&lt;br /&gt;http://samiajisamiasih.blogspot.com/2009/10/jaya-baya.html&lt;br /&gt;http://themesias.host56.com/index.php?p=1_19_Musarar-Joyoboyo&lt;br /&gt;http://masaji-id.blogspot.com/2008/11/jayabaya-salah-seorang-raja-kediri&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-3547000579658684870?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cVdOPpiERVxlF87x_OIdpDSgK8I/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cVdOPpiERVxlF87x_OIdpDSgK8I/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cVdOPpiERVxlF87x_OIdpDSgK8I/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cVdOPpiERVxlF87x_OIdpDSgK8I/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/KahZr7c8HZI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/3547000579658684870/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/10/menurut-sebuah-cerita-pewayangan-prabu.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/3547000579658684870?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/3547000579658684870?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/KahZr7c8HZI/menurut-sebuah-cerita-pewayangan-prabu.html" title="" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/10/menurut-sebuah-cerita-pewayangan-prabu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0MMRX07cCp7ImA9WxFaGUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-6596274716794612382</id><published>2010-07-23T22:17:00.000-07:00</published><updated>2010-07-23T22:31:24.308-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-23T22:31:24.308-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi" /><title>Musim Paceklik: Bagaimana Nasibmu Kini?</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(sisi lain nelayan kita……)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa bulan kedepan para nelayan di se-antero Indonesia mengalami kondisi yang cukup memprihatinkan, Persoalannya bukan kemalasan, tidak ada biaya melaut ataupun yang sifatnya teknis tetapi lebih dari itu kondisi cuaca yang tidak menguntungkan bagi mereka untuk bekerja dilaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut hitungan bulan, antara bulan pebruari-juni merupakan bulan semi paceklik, bulan juli-oktober, merupakan bulan paceklik dan nopember-januari merupakan bulan-bulan “penuh berkah” bagi nelayan, ya, apalagi kalau bukan bulan panen atau panen raya. Kondisi yang demikian ini, secara gradual berlangsung terus-menerus, seiring dengan rotasi bulan. Bagi nelayan, tentu bulan-bulan panen yang diharapkan namun kenyataan alam berkata lain. Ada beberapa bulan dimana “ikan hilang dari peredaran” karena kondisi air yang berubah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Orang sering mengatakan dan bahkan men-genaralisasikan bahwa nelayan itu identik dengan kemiskinan, jawabannya bisa ya, bisa tidak, tergantung dengan nelayan mana, alat tangkapnya apa dan yang lebih penting adalah pola hidupnya bagaimana. Kenyataan bahwa nelayan kita hanya memiliki alat tangkap yang sederhana baik perahu dan alat tangkapnya sehingga berdampak pada wilayah jangkauan penangkapan, hal ini akan berdampak pula pada hasil tangkapannya. Disisi lain, beberapa nelayan mempunyai perahu dan alat tangkap yang lebih modern dan mempunyai jangkauan penangkapan yang lebih jauh sehingga berdampak pula pada hasil tangkapan ikannya. Kondisi yang demikian ini, sebenarnya menjadi jawaban genaralisasi kemiskinan nelayan yang saya maksud didepan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun demikian, dari pengamatan diberbagai wilayah penangkapan, seperti muncar (banyuwangi), bantul (yogyakarta), pekalongan (jawa tengah), ngliyep (malang) dan lain-lain, terdapat sisi lain tentang kemiskinan nelayan disamping beberapa faktor penyebab kemiskinan nelayan itu sendiri yaitu pola hidup yang oportunis atau dalam istilah ekonomi pola hidup yang konsumtif. Misalnya, pada bulan panen raya pendapatan nelayan melimpah. Pada kondisi ini, rata-rata nelayan mempunyai mindset yang sama yaitu “aji mumpung”, sehingga uang yang diperoleh dari keuntungan hasil tangkapannya lebih banyak digunakan untuk kepentingan konsumsi, dan bahkan banyak pula ditemukan apa yang diperoleh sekaligus itulah yang dikonsumsi. Sehingga nyaris tidak ada saving sama sekali. Maka dari itu, pada bulan antara nopember-januari boleh dibilang kehidupan nelayan makmur. Mereka dapat membeli pakaian, televisi, kulkas bahkan sepeda motor. Namun disaat paceklik “kekayaan sesaat” tersebut di gadaikan bahkan dijual lagi, hanya untuk “menyulam” kehidupan yang semakin tidak menentu akibat pendapatan ikannya tidak seimbang dengan biaya penangkapan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Realitas yang demikian ini terjadi dibanyak tempat di Indonesia. Bahwa budaya saving yang semestinya dilakukan oleh nelayan disaat panen raya tidak banyak dilakukan. Sehingga pada musim semi paceklik dan paceklik para nelayan “kebingungan” karena pendapatannya berubah drastis dan bahkan nyaris adanya, bahkan boleh dibilang bisa kembali modal sudah bagus…..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam teori ekonomi kelautan, ketika seseorang mengalami kondisi yang demikian maka harus ada persiapan-persiapan untuk masa depannya, dengan kata lain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“sedia payung sebelum hujan”.&lt;/span&gt; Istilah yang demikian ini lebih populer dikenal dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;saving&lt;/span&gt; dalam ekonomi makro. Hal ini menuntut nelayan untuk dapat memahami dan memperhitungkan perolehan selama bulan panen dengan bulan-bulan paceklik, sehingga ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;live equilibrium pattern.&lt;/span&gt; Yaitu adanya keseimbangan pembagian pendapatan dan pemanfaatan keuangan secara proporsional secara gradual antar bulan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Musim paceklik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seperti yang sudah saya ungkapkan didepan bahwa ada tiga musim dalam teori penangkapan ikan dilaut. Yaitu musim panen, musim semi dan musim paceklik. Pada saat kondisi paceklik (juli-oktober) merubah suhu udara pada dasar laut menjadi lebih dingin dan menyebabkan ikan dasar/demersal akan berpindah tempat kedasar laut, hal ini menyebabkan sulitnya nelayan tradisional khususnya untuk menangkap ikan, karena daya jangkau yang sangat terbatas. Disamping adanya perubahan suhu yang menyebabkan munculnya angin kencang dan berpotensi mendatangkan gelombang yang besar juga menjadi penghambat proses penangkapan ikan nelayan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Musim paceklik adalah permasalahan klasik, dikarenakan musim paceklik akan senantiasa datang setiap tahun. Dengan kata lain, setiap tahun itu juga masyarakat nelayan “harap-harap cemas” akan berhadapan dengan musim yang dapat membuatnya “sengsara”. Ironisnya, hingga saat ini nelayan tidak mendapatkan dana asuransi dan tabungan untuk jaminan keselamatan atau masa depan keluarganya dalam menghadapi musim paceklik itu. Namun yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa mereka tetap bertahan menjadi nelayan meskipun selalu terjebak dalam kubangan kemiskinan? dan bagaimana caranya mereka keluar dari jebakan kemiskinan di musim paceklik ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dibanyak tempat, pada kondisi paceklik biasanya digunakan oleh nelayan untuk memperbaiki perahu ataupun jaring, dan hanya ada beberapa nelayan saja yang berani melaut untuk menangkap ikan diakibatkan oleh gelombang yang tinggi. Namun bagi nelayan yang mempunyai perahu yang besar, bukan disebabkan karena takut melaut tetapi lebih dikarenakan sepinya ikan akibat perubahan suhu tersebut. Ironisnya, mayoritas nelayan tidak mempunyai pekerjaan lain selain menangkap ikan, sehingga pada saat paceklik banyak juga yang menganggur dirumah dan sesekali melaut dikala persediaan makanan habis. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;It’s reality.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-6596274716794612382?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/t2hF0VDe1GgnPO9v0T--DFUQn90/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/t2hF0VDe1GgnPO9v0T--DFUQn90/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/t2hF0VDe1GgnPO9v0T--DFUQn90/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/t2hF0VDe1GgnPO9v0T--DFUQn90/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/eKDwuJPSqvo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/6596274716794612382/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/musim-paceklik-bagaimana-nasibmu-kini.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/6596274716794612382?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/6596274716794612382?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/eKDwuJPSqvo/musim-paceklik-bagaimana-nasibmu-kini.html" title="Musim Paceklik: Bagaimana Nasibmu Kini?" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/musim-paceklik-bagaimana-nasibmu-kini.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUUDRnk-fSp7ImA9WxFaF0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-6064227922516168548</id><published>2010-07-22T00:54:00.000-07:00</published><updated>2010-07-22T01:27:57.755-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-22T01:27:57.755-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bahan Kuliah" /><title>BAHAN KULIAH MIKRO EKONOMI 2010</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_0"&gt;RENCANA&lt;/span&gt; PROGRAM &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1"&gt;KEGIATAN&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_2"&gt;PEMBELAJARAN&lt;/span&gt; SEMESTER&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_3"&gt;RPKPS&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_4"&gt;JURUSAN&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_5"&gt;AKUNTANSI&lt;/span&gt; SEMESTER I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_6"&gt;UNIVERSITAS&lt;/span&gt; ISLAM &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_7"&gt;NEGERI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_8"&gt;MAULANA&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_9"&gt;MALIK&lt;/span&gt; IBRAHIM &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_10"&gt;MALANG&lt;/span&gt; 2010/2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;   &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_11"&gt;Dosen&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;            : &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_12"&gt;Zaim&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_13"&gt;Mukaffi&lt;/span&gt;, SE., M.Si&lt;br /&gt;2.    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mata &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_14"&gt;Kuliah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;        : &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_15"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_16"&gt;Mikro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;3.    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_17"&gt;Kode&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_18"&gt;SKS&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;       : 952206 / 2 &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_19"&gt;SKS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;4.    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_20"&gt;rasayarat&lt;/span&gt;        :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_21"&gt;Tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_22"&gt;ada&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_23"&gt;mengingat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_24"&gt;mata&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_25"&gt;kuliah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_26"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_27"&gt;diberikan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_28"&gt;pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_29"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_30"&gt;tingkat&lt;/span&gt;  &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_31"&gt;awal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Status Mata &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_32"&gt;Kuliah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; : &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_33"&gt;wajib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_34"&gt;Deskripsi&lt;/span&gt; Mata &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_35"&gt;Kuliah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mata &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_36"&gt;kuliah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_37"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_38"&gt;membahas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_39"&gt;konsep&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_40"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_41"&gt;dasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_42"&gt;ilmu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_43"&gt;ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_44"&gt;ditinjau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_45"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_46"&gt;aspek&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_47"&gt;mikro&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_48"&gt;Pembahasan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_49"&gt;meliputi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_50"&gt;pengertian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_51"&gt;dasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_52"&gt;ilmu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_53"&gt;ekonomi&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_54"&gt;penentuan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_55"&gt;harga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_56"&gt;pasar&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_57"&gt;bentuk&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_58"&gt;bentuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_59"&gt;pasar&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_60"&gt;serta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_61"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_62"&gt;faktor&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_63"&gt;produksi&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_64"&gt;Tujuan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_65"&gt;Supaya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_66"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_67"&gt;mendapatkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_68"&gt;dasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_69"&gt;Mikro&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_70"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_71"&gt;Aplikasi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_72"&gt;diberikan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_73"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_74"&gt;maksud&lt;/span&gt; agar &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_75"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_76"&gt;memperoleh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_77"&gt;gambaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_78"&gt;riil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_79"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_80"&gt;teori&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_81"&gt;teori&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_82"&gt;diperolehnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_83"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_84"&gt;dapat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_85"&gt;dilaksanakan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_86"&gt;Materi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_87"&gt;Pembahasan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_88"&gt;Materi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_89"&gt;ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_90"&gt;mikro&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_91"&gt;terdiri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_92"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_93"&gt;beberapa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_94"&gt;pokok&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_95"&gt;bahasan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_96"&gt;sebagai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_97"&gt;berikut&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;a.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_98"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_99"&gt;pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;b.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_100"&gt;Penawaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_101"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_102"&gt;Permintaan&lt;/span&gt; I  : &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_103"&gt;Bagaimana&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_104"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_105"&gt;bekerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;c.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_106"&gt;Penawaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_107"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_108"&gt;Permintaan&lt;/span&gt; II : &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_109"&gt;Pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_110"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_111"&gt;kesejahteraan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;d.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_112"&gt;Ilmu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_113"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_114"&gt;Sektor&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_115"&gt;Publik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;e.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_116"&gt;Perilaku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_117"&gt;perusahaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_118"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_119"&gt;organisasi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_120"&gt;industri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;f.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_121"&gt;Ilmu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_122"&gt;ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_123"&gt;tentang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_124"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_125"&gt;tenaga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_126"&gt;kerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;g.    &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Topic Advance&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_127"&gt;Kompetensi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_128"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_129"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_130"&gt;akhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_131"&gt;pembelajaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_132"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_133"&gt;diharapkan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_134"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_135"&gt;dasar&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_136"&gt;dasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_137"&gt;ilmu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_138"&gt;ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_139"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_140"&gt;cara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_141"&gt;manusia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_142"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_143"&gt;mengambil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_144"&gt;keputusan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_145"&gt;Menggunakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_146"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_147"&gt;menerapkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_148"&gt;dasar&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_149"&gt;dasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_150"&gt;ilmu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_151"&gt;ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_152"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_153"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_154"&gt;akhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_155"&gt;pembelajaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_156"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_157"&gt;diharapkan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_158"&gt;Mengetahui&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_159"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_160"&gt;mamahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_161"&gt;teori&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_162"&gt;kebutuhan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_163"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_164"&gt;ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_165"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_166"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_167"&gt;saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_168"&gt;ketergantungan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_169"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_170"&gt;perekonomian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_171"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_172"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_173"&gt;ketergantungan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_174"&gt;antar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_175"&gt;manusia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_176"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_177"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_178"&gt;akhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_179"&gt;pembelajaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_180"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_181"&gt;diharapkan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_182"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_183"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_184"&gt;permintaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_185"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_186"&gt;faktor&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_187"&gt;faktor&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_188"&gt;mempengaruhi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_189"&gt;permintaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_190"&gt;Mengetahui&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_191"&gt;bagaimana&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_192"&gt;suatu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_193"&gt;pasar&lt;/span&gt;  &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_194"&gt;bekerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_195"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 4&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_196"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_197"&gt;akhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_198"&gt;pembelajaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_199"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_200"&gt;diharapkan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_201"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_202"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_203"&gt;mengerti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_204"&gt;arti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_205"&gt;elastisitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_206"&gt;Menggunakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_207"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_208"&gt;menerapkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_209"&gt;elastisitas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_210"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_211"&gt;perekonomian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_212"&gt;Menerapkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_213"&gt;permintaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_214"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_215"&gt;analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_216"&gt;kebijakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_217"&gt;pemerintah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_218"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_219"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_220"&gt;akhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_221"&gt;pembelajaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_222"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_223"&gt;diharapkan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_224"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_225"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_226"&gt;penawaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_227"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_228"&gt;faktor&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_229"&gt;faktor&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_230"&gt;mempengaruhi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_231"&gt;penawaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_232"&gt;Mengetahui&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_233"&gt;bagaimana&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_234"&gt;suatu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_235"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_236"&gt;bekerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_237"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_238"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_239"&gt;akhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_240"&gt;pembelajaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_241"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_242"&gt;diharapkan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_243"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_244"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_245"&gt;mengerti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_246"&gt;arti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_247"&gt;elastisitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_248"&gt;Menggunakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_249"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_250"&gt;menerapkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_251"&gt;elastisitas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_252"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_253"&gt;perekonomian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_254"&gt;Menerapkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_255"&gt;penawaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_256"&gt;bersama&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_257"&gt;sama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_258"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_259"&gt;analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_260"&gt;kebijakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_261"&gt;pemerintah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_262"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 7&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_263"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_264"&gt;akhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_265"&gt;pembelajaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_266"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_267"&gt;diharapkan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_268"&gt;Memahami&lt;/span&gt; surplus &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_269"&gt;konsumen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_270"&gt;Memahami&lt;/span&gt; surplus &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_271"&gt;produsen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_272"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_273"&gt;efisiensi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_274"&gt;pasar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_275"&gt;Menggunakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_276"&gt;perhitungan&lt;/span&gt; surplus &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_277"&gt;produsen&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_278"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_279"&gt;konsumen&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_280"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_281"&gt;analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_282"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_283"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_284"&gt;kesejahteraan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_285"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 8&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_286"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_287"&gt;akhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_288"&gt;pembelajaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_289"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_290"&gt;diharapkan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_291"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_292"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_293"&gt;ilmu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_294"&gt;ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_295"&gt;publik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_296"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_297"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_298"&gt;eksternalitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_299"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_300"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_301"&gt;barang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_302"&gt;publik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_303"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_304"&gt;sumberdaya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_305"&gt;umum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_306"&gt;Menggunakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_307"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_308"&gt;menerapkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_309"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_310"&gt;eksternalitas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_311"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_312"&gt;analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_313"&gt;ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_314"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_315"&gt;MIDLE&lt;/span&gt; TEST&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_316"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_317"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_318"&gt;akhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_319"&gt;pembelajaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_320"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_321"&gt;diharapkan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_322"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_323"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_324"&gt;perilaku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_325"&gt;perusahaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_326"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_327"&gt;organisasi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_328"&gt;industri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_329"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_330"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_331"&gt;biaya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_332"&gt;produksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_333"&gt;Menggunakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_334"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_335"&gt;biaya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_336"&gt;produksi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_337"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_338"&gt;analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_339"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_340"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 11&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_341"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_342"&gt;akhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_343"&gt;pembelajaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_344"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_345"&gt;diharapkan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_346"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_347"&gt;bentuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_348"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_349"&gt;sifat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_350"&gt;perusahaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_351"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_352"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_353"&gt;persaingan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_354"&gt;sempurna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_355"&gt;Mengetahui&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_356"&gt;karakteristik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_357"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_358"&gt;persaingan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_359"&gt;sempurna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_360"&gt;Menggunakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_361"&gt;analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_362"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_363"&gt;persaingan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_364"&gt;sempurna&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_365"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_366"&gt;analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_367"&gt;ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_368"&gt;Minggu&lt;/span&gt;12&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_369"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_370"&gt;bentuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_371"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_372"&gt;sifat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_373"&gt;perusahaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_374"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_375"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_376"&gt;monopoli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_377"&gt;Mengetahui&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_378"&gt;karakteristik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_379"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_380"&gt;monopoli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_381"&gt;Menggunakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_382"&gt;analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_383"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_384"&gt;monopoli&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_385"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_386"&gt;analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_387"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_388"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 13&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_389"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_390"&gt;bentuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_391"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_392"&gt;sifat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_393"&gt;perusahaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_394"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_395"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_396"&gt;oligopoli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_397"&gt;Mengetahui&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_398"&gt;karakteristik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_399"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_400"&gt;oligopoli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_401"&gt;Menggunakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_402"&gt;analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_403"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_404"&gt;oligopoli&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_405"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_406"&gt;analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_407"&gt;ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_408"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 14&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_409"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_410"&gt;bentuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_411"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_412"&gt;sifat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_413"&gt;perusahaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_414"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_415"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_416"&gt;persaingan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_417"&gt;monopolistik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_418"&gt;Mengetahui&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_419"&gt;karakteristik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_420"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_421"&gt;persaingan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_422"&gt;monopolistic&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_423"&gt;Menggunakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_424"&gt;analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_425"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_426"&gt;persaingan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_427"&gt;monopolistik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_428"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_429"&gt;analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_430"&gt;ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_431"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 15&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_432"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_433"&gt;akhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_434"&gt;pembelajaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_435"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_436"&gt;diharapkan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_437"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_438"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_439"&gt;faktor&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_440"&gt;faktor&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_441"&gt;produksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_442"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_443"&gt;ilmu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_444"&gt;ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_445"&gt;tentang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_446"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_447"&gt;tenaga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_448"&gt;kerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_449"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_450"&gt;analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_451"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_452"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_453"&gt;tenaga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_454"&gt;kerja&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_455"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_456"&gt;perekonomian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_457"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 16&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_458"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_459"&gt;akhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_460"&gt;pembelajaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_461"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_462"&gt;diharapkan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_463"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_464"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Earning and &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_465"&gt;discrimination&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_466"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_467"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_468"&gt;distribusi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_469"&gt;pendapatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_470"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 17&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_471"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_472"&gt;akhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_473"&gt;pembelajaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_474"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_475"&gt;diharapkan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_476"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_477"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_478"&gt;teori&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_479"&gt;pilihan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_480"&gt;konsumen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_481"&gt;Memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_482"&gt;konsep&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_483"&gt;perilaku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_484"&gt;konsumen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_485"&gt;Menggunakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_486"&gt;analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_487"&gt;teori&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_488"&gt;konsumen&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_489"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_490"&gt;perekonomian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_491"&gt;Minggu&lt;/span&gt; 18&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;FINAL TEST&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_492"&gt;RENCANA&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_493"&gt;KEGIATAN&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_494"&gt;PEMBELAJARAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_495"&gt;Minggu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_496"&gt;Ke&lt;/span&gt;    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_497"&gt;Pokok&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_498"&gt;Bahasan&lt;/span&gt;    Sub &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_499"&gt;Pokok&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_500"&gt;Bahasan&lt;/span&gt;    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_501"&gt;Metode&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_502"&gt;Pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_503"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_504"&gt;Dasar&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_505"&gt;dasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_506"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_507"&gt;Mikro&lt;/span&gt;    •    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_508"&gt;Kuliah&lt;/span&gt; / &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_509"&gt;ceramah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;2        •    Cara &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_510"&gt;berfikir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_511"&gt;seperti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_512"&gt;seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_513"&gt;ekonom&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_514"&gt;Saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_515"&gt;ketergantungan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_516"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_517"&gt;keuntungan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_518"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_519"&gt;perdagangan&lt;/span&gt;    • &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_520"&gt;kuliah&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_521"&gt;Diskusi&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_522"&gt;kuis&lt;/span&gt;/Media LCD&lt;br /&gt;3    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_523"&gt;Permintaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_524"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_525"&gt;Penawaran&lt;/span&gt; I  : &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_526"&gt;Bagaimana&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_527"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_528"&gt;bekerja&lt;/span&gt;    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_529"&gt;Permintaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_530"&gt;pasar&lt;/span&gt;    • &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_531"&gt;kuliah&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_532"&gt;diskusiMedia&lt;/span&gt; LCD&lt;br /&gt;4        •    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_533"&gt;Elastisitas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_534"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_535"&gt;aplikasinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_536"&gt;Permintaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_537"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_538"&gt;kebijakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_539"&gt;pemerintah&lt;/span&gt;    • &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_540"&gt;kuliahDiskusi&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_541"&gt;tugasMedia&lt;/span&gt; LCD&lt;br /&gt;5        •    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_542"&gt;Penawaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_543"&gt;Pasar&lt;/span&gt;    • &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_544"&gt;kuliah&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_545"&gt;diskusi&lt;/span&gt;/Media LCD&lt;br /&gt;6        •    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_546"&gt;Elastisitas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_547"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_548"&gt;aplikasinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_549"&gt;Penawaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_550"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_551"&gt;kebijakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_552"&gt;pemerintah&lt;/span&gt;    • &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_553"&gt;kuliah&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_554"&gt;Diskusi&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_555"&gt;tugasMedia&lt;/span&gt; LCD&lt;br /&gt;7    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_556"&gt;Penawaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_557"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_558"&gt;Permintaan&lt;/span&gt; II : &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_559"&gt;Pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_560"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_561"&gt;kesejahteraan&lt;/span&gt;    Surplus &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_562"&gt;konsumen&lt;/span&gt;, surplus &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_563"&gt;produsen&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_564"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_565"&gt;efisiensi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_566"&gt;pasar&lt;/span&gt;    • &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_567"&gt;kuliah&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_568"&gt;Diskusi&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_569"&gt;kuis&lt;/span&gt;/Media LCD&lt;br /&gt;8    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_570"&gt;Ilmu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_571"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_572"&gt;Sektor&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_573"&gt;Publik&lt;/span&gt;    •    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_574"&gt;eksternalitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_575"&gt;Barang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_576"&gt;publik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_577"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_578"&gt;sumberdaya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_579"&gt;publik&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_580"&gt;kuliah&lt;/span&gt; /&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_581"&gt;diskusi&lt;/span&gt;/Media LCD&lt;br /&gt;9    &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_582"&gt;MIDLE&lt;/span&gt; TEST&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;10    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_583"&gt;Perilaku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_584"&gt;perusahaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_585"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_586"&gt;organisasi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_587"&gt;industri&lt;/span&gt;    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_588"&gt;Biaya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_589"&gt;produksi&lt;/span&gt;: &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_590"&gt;kuliah&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_591"&gt;Diskusi&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_592"&gt;tugas&lt;/span&gt;/Media LCD&lt;br /&gt;11    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_593"&gt;Pasar&lt;/span&gt;    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_594"&gt;Perusahaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_595"&gt;pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_596"&gt;Pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_597"&gt;persaingan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_598"&gt;sempurna&lt;/span&gt;    •    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_599"&gt;Kuliah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_600"&gt;Diskusi&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_601"&gt;tugas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    Media LCD&lt;br /&gt;12        &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_602"&gt;Monopoli&lt;/span&gt;    •    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_603"&gt;Kuliah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_604"&gt;Diskusi&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_605"&gt;kuis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    Media LCD&lt;br /&gt;13        &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_606"&gt;Oligopoli&lt;/span&gt;     • &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_607"&gt;kuliah&lt;/span&gt; / &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_608"&gt;diskusi&lt;/span&gt; / Media LCD&lt;br /&gt;14        &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_609"&gt;Persaingan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_610"&gt;monopolistik&lt;/span&gt;    • &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_611"&gt;kuliah&lt;/span&gt; / &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_612"&gt;Diskusi&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_613"&gt;tugas&lt;/span&gt; / Media LCD&lt;br /&gt;15    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_614"&gt;Ilmu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_615"&gt;ekonomi&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_616"&gt;pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_617"&gt;tenaga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_618"&gt;kerja&lt;/span&gt;    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_619"&gt;Pasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_620"&gt;faktor&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_621"&gt;faktor&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_622"&gt;produksi&lt;/span&gt;    • &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_623"&gt;kuliah&lt;/span&gt; / &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_624"&gt;Diskusi&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_625"&gt;tugas&lt;/span&gt; / Media LCD&lt;br /&gt;16        &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Earning and &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_626"&gt;discrimination&lt;/span&gt;    &lt;/span&gt;• &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_627"&gt;kuliah&lt;/span&gt; / &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_628"&gt;diskusi&lt;/span&gt; / Media LCD&lt;br /&gt;17    Topic advance    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_629"&gt;Teori&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_630"&gt;pilihan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_631"&gt;konsumen&lt;/span&gt;    • &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_632"&gt;kuliah&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_633"&gt;Diskusi&lt;/span&gt;/&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_634"&gt;kuis&lt;/span&gt;/Media LCD&lt;br /&gt;18    &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;FINAL TEST&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_635"&gt;METODE&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_636"&gt;PEMBELAJARAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_637"&gt;Metode&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_638"&gt;penyampaian&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_639"&gt;Untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_640"&gt;membantu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_641"&gt;mahasiswa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_642"&gt;memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_643"&gt;materi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_644"&gt;mata&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_645"&gt;kuliah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_646"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_647"&gt;digunakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_648"&gt;berbagai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_649"&gt;metode&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_650"&gt;atau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_651"&gt;alat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_652"&gt;pedagogis&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_653"&gt;yaitu&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_654"&gt;Kuliah&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(lecturing)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_655"&gt;Diskusi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(discussion)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_656"&gt;Tugas&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(assignments)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•  &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_657"&gt;kuis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_658"&gt;REFERENSI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;          &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_659"&gt;Buku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_660"&gt;Boediono&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_661"&gt;Seri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_662"&gt;Sinopsis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_663"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_664"&gt;Mikro&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_665"&gt;BPFE&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_666"&gt;Edisi&lt;/span&gt; 16, 1998&lt;br /&gt;2.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_667"&gt;Jogiyanto&lt;/span&gt; H., (1999). &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_668"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_669"&gt;Mikro&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_670"&gt;Analisis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_671"&gt;Matematika&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_672"&gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;: ANDI&lt;br /&gt;3.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_673"&gt;Mankiw&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Principles of Economics, 2&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_674"&gt;nd&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; edition&lt;/span&gt;, 2002&lt;br /&gt;4.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_675"&gt;Maryatmo&lt;/span&gt;, (2000). &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_676"&gt;Ilmu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_677"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_678"&gt;Mikro&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_679"&gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;: ANDI OFFSET&lt;br /&gt;5.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_680"&gt;Masyhuri&lt;/span&gt;, (2007). &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_681"&gt;Teori&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_682"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_683"&gt;Mikro&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_684"&gt;Malang&lt;/span&gt;: &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_685"&gt;UIN&lt;/span&gt; Press.&lt;br /&gt;6.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_686"&gt;Masyhuri&lt;/span&gt;, (2008). &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_687"&gt;Pengantar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_688"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_689"&gt;Mikro&lt;/span&gt;. Jakarta: &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_690"&gt;Prestasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;7.    Muhammad, (2003) &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_691"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_692"&gt;Mikro&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_693"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_694"&gt;Perspektif&lt;/span&gt; Islam. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_695"&gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;: &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_696"&gt;BPFE&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_697"&gt;Anggota&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_698"&gt;IKAPI&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;8.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_699"&gt;Nopirin&lt;/span&gt;, (2000). &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_700"&gt;Pengantar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_701"&gt;Ilmu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_702"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_703"&gt;Mikro&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_704"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_705"&gt;Makro&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_706"&gt;Edisi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_707"&gt;Pertama&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_708"&gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;:&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_709"&gt;BPFE&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_710"&gt;Anggota&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_711"&gt;IKAPI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;9.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_712"&gt;Prathama&lt;/span&gt; R. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_713"&gt;dan&lt;/span&gt; Mandala M., (1999). &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_714"&gt;Teori&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_715"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_716"&gt;Mikro&lt;/span&gt;. Jakarta: &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_717"&gt;Lembaga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_718"&gt;Penerbit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_719"&gt;Fakultas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_720"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;10.    Samuelson, P. A. and &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_721"&gt;Nordhaus&lt;/span&gt;, W.D., Economics, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_722"&gt;Mc&lt;/span&gt;.  Hill, 17&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_723"&gt;th&lt;/span&gt; Edition, 2002&lt;br /&gt;11.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_724"&gt;Sudarsomo&lt;/span&gt;, (1984). &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_725"&gt;Pengantar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_726"&gt;Ekonomi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_727"&gt;Mikro&lt;/span&gt;. Jakarta: LP3S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_728"&gt;Bahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_729"&gt;penunjang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.    &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_730"&gt;Jurnal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_731"&gt;atau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_732"&gt;karya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_733"&gt;ilmiah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_734"&gt;ekonomi&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_735"&gt;terkait&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_736"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_737"&gt;materi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-6064227922516168548?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/SxzRS9T_qLAKyPEwV-9mvay2RaU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/SxzRS9T_qLAKyPEwV-9mvay2RaU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/SxzRS9T_qLAKyPEwV-9mvay2RaU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/SxzRS9T_qLAKyPEwV-9mvay2RaU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/8wUWG-iy9_4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/6064227922516168548/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/bahan-kuliah-mikro-ekonomi-2010.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/6064227922516168548?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/6064227922516168548?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/8wUWG-iy9_4/bahan-kuliah-mikro-ekonomi-2010.html" title="BAHAN KULIAH MIKRO EKONOMI 2010" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/bahan-kuliah-mikro-ekonomi-2010.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0YMRXc8eSp7ImA9WxFaFU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-7952401949952701965</id><published>2010-07-19T01:59:00.000-07:00</published><updated>2010-07-19T02:19:44.971-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-19T02:19:44.971-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="News" /><title>Pengumuman</title><content type="html">Syarat dan Ketentuan Kegiatan Perkuliahan&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;keterlambatan mengikuti perkuliahan 10 menit&lt;/span&gt;,&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;memakai pakaian yang sopan&lt;/span&gt;,&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;tidak boleh berambut panjang bagi laki-laki,&lt;br /&gt;wajib mengisi / menandatangani daftar kehadliran,&lt;br /&gt;sudah mempelajari tema yang akan dipelajari,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-7952401949952701965?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/RR4LbpJReFbycfkZzLEIzRFOfCY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/RR4LbpJReFbycfkZzLEIzRFOfCY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/RR4LbpJReFbycfkZzLEIzRFOfCY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/RR4LbpJReFbycfkZzLEIzRFOfCY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/B1I1o1RXi4w" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/7952401949952701965/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/pengumuman.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/7952401949952701965?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/7952401949952701965?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/B1I1o1RXi4w/pengumuman.html" title="Pengumuman" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/pengumuman.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ak4GRn06fSp7ImA9WxFaFU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-8844667476426938643</id><published>2010-07-19T01:40:00.000-07:00</published><updated>2010-07-19T01:42:07.315-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-19T01:42:07.315-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bahan Kuliah" /><title>Bahan Ajar  Ekonomi Makro Pertemuan 16 Akuntansi FE-UIN Semester II 2009/2010</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap negara tidak dapat hidup sendiri. Hal ini disebabkan karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu, suatu negara akan membutuhkan negara lain. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan, setiap negara melakukan hubungan perdagangan. Hubungan perdagangan antarnegara ini disebut juga perdagangan internasional. Mengapa setiap negara melakukan perdagangan internasional? Karena dengan melakukan perdagangan internasional banyak keuntungan yang diperoleh, meskipun ada juga kerugian yang akan didapat. Nah, untuk lebih memahami mengenai semua hal yang berkaitan dengan perdagangan internasional, kalian dapat menyimak pokok-pokok pembahasan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Perdagangan internasional&lt;br /&gt;1. Pengertian Perdagangan Internasional&lt;br /&gt;Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya negara. Setiap negara membutuhkan negara lain untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya agar dapat hidup makmur dan sejahtera. Kerja sama dalam bentuk hubungan dagang antarnegara sangat dibutuhkan oleh setiap negara. Hal ini disebabkan setiap negara tidak dapat menghasilkan semua barang dan jasa yang dibutuhkan oleh rakyatnya. Selain itu, juga disebabkan adanya perbedaan sumber daya yang dimiliki, iklim, letak geografis, jumlah penduduk, pengetahuan, dan teknologi. Alasan-alasan inilah yang menyebabkan munculnya perdagangan internasional. Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan suatu negara dengan negara lain atas dasar saling percaya dan saling menguntungkan. Perdagangan internasional tidak hanya dilakukan oleh negara maju saja, namun juga negara berkembang. Perdagangan internasional ini dilakukan melalui kegiatan ekspor impor. Ekspor adalah kegiatan menjual barang dan jasa dari dalam negeri ke luar negeri. Adapun impor adalah kegiatan membeli barang dan jasa dari luar negeri ke dalam negeri. Dengan melakukan perdagangan internasional melalui kegiatan ekspor impor, negara maju akan memperoleh bahan-bahan baku yang dibutuhkan industrinya sekaligus dapat menjual produknya ke negara-negara berkembang. Sementara itu, negara berkembang dapat mengekspor hasil-hasil produksi dalam negeri sehingga memperoleh devisa. Negara berkembang juga membutuhkan pinjaman dalam bentuk investasi dan modal yang dapat diperoleh dari negara-negara maju. Devisa dan pinjaman dalam bentuk investasi dan modal ini dapat digunakan negara berkembang untuk memajukan perekonomian dalam negerinya.&lt;br /&gt;2. Faktor Pendorong Perdagangan Internasional&lt;br /&gt;Ada beberapa faktor yang mendorong semua negara di dunia melakukan perdagangan luar negeri. Faktor-faktor pendorong tersebut terdiri atas hal-hal berikut ini:&lt;br /&gt;a) Perbedaan Sumber Daya Alam yang Dimiliki&lt;br /&gt;Barang kebutuhan yang dapat dihasilkan oleh suatu negara tergantung pada sumber daya alam yang dimiliki. Perbedaan sumber daya ini juga tergantung pada kondisi wilayah di negara tersebut. Misalnya di Indonesia wilayah daratannya luas dan subur, sehingga sangat cocok untuk pertanian, yang sebagian besar hasil produksinya berupa kelapa sawit, karet, kopi, dan sebagainya. Sedangkan negara Singapura wilayah daratannya relatif sempit, sehingga kegiatan pertanian atau perkebunan cukup sedikit. Singapura dikenal sebagai negara industri yang menghasilkan beraneka ragam barang, salah satunya adalah alat-alat elektronik. Kebutuhan hasil-hasil pertanian dipenuh dengan cara mengimpor dari negara lain&lt;br /&gt;b) Teknologi&lt;br /&gt;Setiap negara memiliki teknologi yang berbeda, sehingga barang yang dihasilkannya juga berbeda. Perbedaan-perbedaan inilah yang mendorong kegiatan pertukaran barang antarnegara. Perbedaan teknologi tersebut memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih modern dan mengimpor mesin-mesin atau alat-alat yang lebih modern untuk mewujudkan teknik dan cara produksi yang lebih baik&lt;br /&gt;c) Penghematan Biaya Produksi&lt;br /&gt;Perdagangan internasional memungkinkan suatu negara memproduksi barang dalam jumlah besar sehingga biaya produksi menjadi rendah. Misalnya Indonesia banyak menghasilkan barang-barang seperti padi, minyak kelapa sawit, kayu lapis, dan sebagainya. Namun, yang paling menguntungkan Indonesia bila memproduksi tekstil dan kayu lapis untuk diekspor ke berbagai negara, karena dapat menghemat biaya produksi&lt;br /&gt;d) Perbedaan Selera&lt;br /&gt;Setiap negara dalam memproduksi barang-barang, kemungkinan mempunyai kesamaan. Meskipun demikian setiap negara mempunyai selera yang berbeda-beda. Hal inilah yang mendorong kegiatan perdagangan antarnegara. Misalnya Jepang dan Korea Selatan samasamamenghasilkan barang-barang elektronik dan ikan tuna dalam jumlah yang hampir sama, tetapi orang Jepang lebih suka ikan tuna dan orang Korea Selatan lebih suka produk elektronik. Pada kondisi tersebut, negara Jepang lebih baik mengekspor barang-barang elektronik, sedangkan Korea Selatan lebih baik untuk mengekspor ikan tuna. Dengan demikian, kepuasan dari setiap negara dapat terpenuhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Manfaat Perdagangan Internasional&lt;br /&gt;Perdagangan internasional merupakan kegiatan yang cukup penting di setiap negara. Tidak ada satu negara di dunia ini yang tidak melakukan perdagangan internasional. Mereka yang melakukan perdagangan internasional, sudah tentu merasakan manfaatnya. Berikut ini beberapa manfaat dari perdagangan internasional:&lt;br /&gt;a) Meningkatkan Hubungan Persahabatan Antarnegara&lt;br /&gt;Adanya perdagangan antarnegara, dapat mewujudkan hubungan di antara negara-negara yang mengadakan perdagangan. Hubungan ini apabila terjalin dengan baik dapat meningkatkan hubungan persahabatan di antara negara-negara tersebut. Mereka dapat semakin akrab dan saling membantu bila mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan&lt;br /&gt;b) Kebutuhan Setiap Negara dapat Tercukupi&lt;br /&gt;Dengan adanya perdagangan internasional, suatu negara yang masih kekurangan dalam memproduksi suatu barang dapat dipenuhi dengan mengimpor barang dari negara yang mempunyai kelebihan hasil produksi. Sebaliknya negara yang mempunyai kelebihan hasil produksi barang dapat mengekspor barang tersebut ke negara yang kekurangan. Dengan demikian kebutuhan setiap negara dapat tercukupi.&lt;br /&gt;c) Mendorong Kegiatan Produksi Barang secara Maksimal&lt;br /&gt;Salah satu tujuan suatu negara melakukan perdagangan internasional yaitu untuk memperluas pasar di luar negeri. Semakin luasnya pasar di luar negeri dapat mendorong peningkatan produksi barang di dalam negeri. Dengan demikian akan mendorong para pengusaha untuk menghasilkan barang produksi secara besar-besaran.&lt;br /&gt;d) Mendorong Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi&lt;br /&gt;Adanya perdagangan antarnegara memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih efisien. Perdagangan luar negeri memungkinkan negara tersebut mengimpor mesin-mesin atau alat-alat modern untuk melaksanakan teknik produksi dan cara produksi yang lebih baik. Dengan demikian, adanya teknologi yang lebih modern dapat meningkatkan produktivitas dan dapat mempercepat pertambahan produksi&lt;br /&gt;e) Setiap Negara dapat Mengadakan Spesialisasi Produksi&lt;br /&gt;Perdagangan internasional dapat mendorong setiap negara untuk mengadakan spesialisasi produksi dengan memanfaatkan sumber daya alam, tenaga kerja, modal, dan keahlian secara maksimal. Dengan demikian suatu negara akan memiliki produk-produk unggulan sehingga dapat bersaing dengan produk-produk dari luar negeri&lt;br /&gt;f) Memperluas Lapangan Kerja&lt;br /&gt;Semakin luasnya pasar di luar negeri, maka barang atau jasa yang dihasilkan juga semakin bertambah. Dengan meningkatnya hasil produksi, maka perusahaan akan semakin banyak membutuhkan tenaga kerja. Hal ini dapat membuka kesempatan kerja baru. Semakin luasnya kesempatan kerja maka pengangguran dapat dikurangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hambatan-hambatan Perdagangan Internasional&lt;br /&gt;Setiap negara selalu menginginkan perdagangan yang dilakukan antarnegara dapat berjalan dengan lancar. Namun, terkadang kegiatan perdagangan antarnegara juga mengalami beberapa hambatan. Hambatan-hambatan inilah yang dapat merugikan negara-negara yang melakukan perdagangan internasional. Berikut ini beberapa hambatan yang sering muncul dalam perdagangan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Perbedaan Mata Uang Antarnegara&lt;br /&gt;Pada umumnya mata uang setiap negara berbeda-beda. Perbedaan inilah yang dapat menghambat perdagangan antarnegara. Negara yang melakukan kegiatan ekspor, biasanya meminta kepada negara pengimpor untuk membayar dengan menggunakan mata uang negarapengekspor. Pembayarannya tentunya akan berkaitan dengan nilai uang itu sendiri. Padahal nilai uang setiap negara berbeda-beda. Apabila nilai mata uang negara pengekspor lebih tinggi daripada nilai mata uang negara pengimpor, maka dapat menambah pengeluaran bagi negara pengimpor. Dengan demikian, agar kedua negara diuntungkan dan lebih mudah proses perdagangannya perlu adanya penetapan mata uang sebagai standar internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Kualitas Sumber Daya yang Rendah&lt;br /&gt;Rendahnya kualitas tenaga kerja dapat menghambat perdagangan internasional. Mengapa? Karena jika sumber daya manusia rendahmaka kualitas dari hasil produksi akan rendah pula. Suatu negara yang memiliki kualitas barang rendah, akan sulit bersaing dengan barang-barang yang dihasilkan oleh negara lain yang kualitasnya lebih baik. Hal ini tentunya menjadi penghambat bagi negara yang bersangkutan untuk melakukan perdagangan internasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Pembayaran Antarnegara Sulit dan Risikonya Besar&lt;br /&gt;Pada saat melakukan kegiatan perdagangan internasional, negara pengimpor akan mengalami kesulitan dalam hal pembayaran. Apabilamembayarnya dilakukan secara langsung akan mengalami kesulitan. Selain itu, juga mempunyai risiko yang besar. Oleh karena itu negara pengekspor tidak mau menerima pembayaran dengan tunai, akan tetapi melalui kliring internasional atau telegraphic transfer atau menggunakan L/C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Adanya Kebijaksanaan Impor dari Suatu Negara&lt;br /&gt;Setiap negara tentunya akan selalu melindungi barang-barang hasil produksinya sendiri. Mereka tidak ingin barang-barang produksinya tersaingi oleh barang-barang dari luar negeri. Oleh karena itu, setiap negara akan memberlakukan kebijakan untuk melindungi barang-barang dalam negeri. Salah satunya dengan menetapkan tarif impor. Apabila tarif impor tinggi maka barang impor tersebut akan menjadi lebih mahal daripada barang-barang dalam negeri sehingga mengakibatkan masyarakat menjadi kurang tertarik untuk membeli barang impor. Hal itu akan menjadi penghambat bagi negara lain untuk melakukan perdagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Terjadinya Perang&lt;br /&gt;Terjadinya perang dapat menyebabkan hubungan antarnegara terputus. Selain itu, kondisi perekonomian negara tersebut juga akan mengalami kelesuan. Sehingga hal ini dapatmenyebabkan perdagangan antarnegara akan terhambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Adanya Organisasi-Organisasi Ekonomi Regional&lt;br /&gt;Biasanya dalam satu wilayah regional terdapat organisasiorganisasi ekonomi. Tujuan organisasi-organisasi tersebut untuk memajukan perekonomian negara-negara anggotanya. Kebijakan serta peraturan yang dikeluarkannya pun hanya untuk kepentingan negara-negaraanggota. Sebuah organisasi ekonomi regional akan mengeluarkan peraturan ekspor dan impor yang khusus untuk negara anggotanya. Akibatnya apabila ada negara di luar anggota organisasi tersebut melakukan perdagangan dengan negara anggota akan mengalami kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Komoditas Ekspor dan Impor Indonesia&lt;br /&gt;a) Komoditas Ekspor&lt;br /&gt;Komoditas ekspor adalah barang-barang yang dijual ke luar negeri. Orang yang melakukan kegiatan ekspor disebut eksportir.&lt;br /&gt;b) Komoditas Impor&lt;br /&gt;Komoditas impor adalah barang-barang yang dibeli dari luar negeri. Barang-barang yang diimpor terdiri atas kelompok barang konsumsi, bahan baku, dan barang modal.&lt;br /&gt;B. Alat Pembayaran dalam Perdagangan Internasional&lt;br /&gt;Ketika melakukan transaksi jual beli, untuk mendapatkan barang yang kalian inginkan, tentunya kalian akan membayarnya dengan uang yang berlaku di tempat tersebut. Sama halnya perdagangan internasional, pada saat terjadi kegiatan ekspor dan impor barang, uang yang digunakan sebagai alat pembayarannya, yaitu berupa devisa.&lt;br /&gt;1. Pengertian Devisa&lt;br /&gt;Devisa adalah alat pembayaran luar negeri atau semua barang yang dapat diterima di dunia internasional sebagai alat pembayaran. Beberapa barang yang dapat digunakan sebagai devisa atau alat pembayaran luar negeri, yaitu emas dan perak, valuta asing, dan wesel asing. Negara yang mempunyai banyak devisa berarti mempunyai kekayaan dalam bentuk mata uang asing yang besar di dalam negeri. Devisa yang diperoleh suatu negara dapat berupa devisa umum dan devisa kredit. Devisa umum adalah devisa yang diperoleh dari kegiatan perdagangan antarnegara dan tidak ada kewajiban untuk mengembalikan. Adapun devisa kredit adalah devisa yang diperoleh dari pinjaman atau bantuan dari luar negeri dan ada kewajiban untuk mengembalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Fungsi Devisa&lt;br /&gt;Setiap negara memerlukan devisa untuk melancarkan perdagangannya dengan negara lain. Negara yang memiliki devisa tidak akan mengalami kesulitan dalam pembayaran luar negeri. Devisa mempunyai beberapa fungsi berikut ini&lt;br /&gt;a. Membiayai perdagangan luar negeri yang berupa impor barang dan jasa&lt;br /&gt;b. Membayar pokok utang, cicilan utang, bunga utang atau utang luar negeri&lt;br /&gt;c. Membiayai pembinaan dan pemeliharaan hubungan luar negeri, yaitu untuk kedutaan, konsulat, biaya kontingen olahraga, misi kebudayaan ke luar negeri.&lt;br /&gt;d. Mengatasi kesulitan perekonomian negara dalam kaitannya dengan pembayaran luar negeri.&lt;br /&gt;e. Memudahkan terjadinya transaksi dalam perdagangan internasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sumber Devisa&lt;br /&gt;Devisa yang diperoleh suatu negara dapat berasal dari berbagai sumber. Berikut ini beberapa sumber devisa&lt;br /&gt;a. Ekspor barang&lt;br /&gt;Apabila suatu negara mengekspor barang ke negara lain, maka negara tersebut akan memperoleh devisa dari negara pengimpor berupa devisa. Semakin banyak barang yang diekspor, maka devisa yang akan diperoleh juga semakin banyak&lt;br /&gt;b. Penerimaan jasa&lt;br /&gt;Penerimaan jasa adalah penerimaan devisa yang berasal dari pengiriman jasa-jasa ke luar negeri. Apabila suatu negara mengadakan atau menyelenggarakan jasa untuk negara lain, maka negara tersebut akan memperoleh devisa. Misalnya Indonesia mengirimkan tenaga kerjanya ke negara lain, berarti Indonesia akan memperoleh devisa atas jasa yang telah digunakan oleh negara lain. Selain pengiriman jasa tenaga kerja, ekspor jasa dapat berupa jasa pengiriman barang-barang ke luar negeri serta jasa dari pelabuhan dan bandar udara.&lt;br /&gt;c. Penerimaan dari Turis mancanegara&lt;br /&gt;Banyaknya turis yang datang ke Indonesia dapat menambah devisa negara. Turis-turis yang datang dari negara lain, tentunya akan membawa uang dari negara asalnya. Akan tetapi uang dari negaranya tidak bisa digunakan di Indonesia. Untuk itu, para turis harus menukarkan uangnya menjadi mata uang rupiah. Penukaran uang asing menjadi uang rupiah akan menjadi devisa bagi Indonesia. Semakin banyak turis mancanegara yang datang maka pemasukan devisa akan semakin banyak.&lt;br /&gt;d. Pinjaman luar neger negeri&lt;br /&gt;Pinjaman luar negeri yang berupa uang, secara langsung dapat menambah devisa. Pinjaman ini dapat digunakan untuk membayar semua pembiayaan ke luar negeri. Meskipun ada kewajiban untuk mengembalikan, akan tetapi uang yang diperoleh dari luar negeri tetap akan menambah devisa negara.&lt;br /&gt;e. Bantuan luar negeri&lt;br /&gt;Bantuan yang diperoleh dari luar negeri dapat berupa barang ataupun uang. Apabila bantuannya berupa barang, maka hal ini dapat menghemat devisa negara. Mengapa? Karena negara dapat memperoleh barang tanpa harus membayarnya. Sedangkan bantuan yang berupa uang, otomatis dapat langsung menambah devisa negara.&lt;br /&gt;f. Pungutan bea masuk&lt;br /&gt;Bea masuk yang diperoleh dari pungutan biaya barang-barang luar negeri yang dimasukkan ke Indonesia, dapat menambah devisa. Semakin banyak arus barang luar negeri yang masuk ke Indonesia maka devisa yang diperoleh akan semakin banyak. Akan tetapi pada kenyataannya, banyak barang-barang yang masuk tanpa ada izin (diselundupkan), sehingga hal ini dapat mengurangi perolehan devisa bagi negara&lt;br /&gt;g. Kiriman uang asing dari luar negeri ke dalam negeri&lt;br /&gt;Jumlah TKI yang bekerja di luar negeri cukup banyak, sehingga dapat memberikan sumbangan devisa ke negara kita cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pengiriman uang asing dari TKI yang bekerja di luar negeri untuk keluarganya yang ada di Indonesia. Uang asing yang dikirimkan dari luar negeri harus ditukar menjadi uang rupiah di bank devisa. Penukaran inilah yang dapat menambah simpanan devisa bagi negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Valuta Asing&lt;br /&gt;Setiap negara mempunyai mata uang yang berbeda-beda. Mata uang yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran di negara lain dinamakan valuta asing. Misalnya Pak Andre ingin mengimpor alat-alat elektronik dari Singapura. Untuk membayar barang-barang yang diimpornya, Pak Andre harus menukarkan mata uang rupiahnya menjadi mata uang Singapura. Mata uang Singapura ini disebut valuta asing.&lt;br /&gt;Apabila sesuatu barang ditukar dengan barang lain, tentu di dalamnya terdapat perbandingan nilai tukar antara keduanya. Nilai tukar itu sebenarnya merupakan harga di dalam pertukaran tersebut. Demikian pula pertukaran antara dua mata uang yang berbeda, terdapat perbandingan nilai/harga antara kedua mata uang tersebut. Perbandingan nilai inilah yang sering disebut kurs (exchange rate). Misalnya US$1 sama dengan Rp9.200,00, berarti untuk mendapatkan satu dollar Amerika Serikat dibutuhkan Rp. 9.200,00. Kurs valuta asing seringkali mengalami perubahan, kadang menguat, namun terkadang juga melemah. Perubahan ini disebabkan karena permintaan dan penawaran mata uang asing. Sebagai contoh, pada tanggal 31 Maret 2008 nilai rupiah terhadap dollar Amerika Serikat sebesar Rp9.200,00 (US$1 = Rp9.200,00). Pada tanggal 1 April 2008, besarnya nilai rupiah terhadap dollar Amerika Serikat Rp9.203,00 (US$1 = Rp9.203,00). Berubahnya kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat menunjukkan bahwa harga dollar Amerika Serikat semakin tinggi sehingga dapat disebut dollar Amerika Serikat menguat. Bagaimana dengan kurs rupiah terhadap dollar? Kuatnya nilai dollar terhadap rupiah menyebabkan nilai rupiah menurun.&lt;br /&gt;Mata uang asing dapat diperjualbelikan. Tempat untuk jual beli valuta asing di bank devisa atau money changer. Penghitungan dalam jual beli valuta asing didasarkan pada kurs jual dan kurs beli. Kurs jual adalah kurs yang diberlakukan oleh bank apabila bank menjual mata uang asing. Adapun kurs beli adalah kurs yang diberlakukan oleh bank apabila membeli mata uang asing.&lt;br /&gt;Apabila kita perhatikan di tempat-tempat penukaran valuta asing, harga kurs jual akan lebih tinggi dibandingkan kurs belinya. Mengapa demikian? Karena mereka ingin mendapatkan keuntungan. Keuntungan jual beli valuta asing dapat diperoleh dari selisih kurs jual dengan kurs beli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Kebijakan Perdagangan Internasional&lt;br /&gt;Kebijakan yang diberlakukan pada perdagangan internasional, bertujuan untuk melindungi industri dalam negeri. Kebijakan untuk melindungi barang-barang dalam negeri dari persaingan barang-barang impor disebut proteksi. Proteksi dalam perdagangan internasional terdiri atas kebijakan tarif, kuota, larangan impor, subsidi, dan dumping.&lt;br /&gt;1. Tarif&lt;br /&gt;Tarif adalah hambatan perdagangan berupa penetapan pajak atas barang-barang impor. Apabila suatu barang impor dikenakan tarif, maka harga jual barang tersebut di dalam negeri menjadi mahal. Hal ini menyebabkan masyarakat enggan untuk membeli barang tersebut, sehingga barang-barang hasil produksi dalam negeri lebih banyak dinikmati oleh masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kuota&lt;br /&gt;Kuota adalah bentuk hambatan perdagangan yang menentukan jumlah maksimum suatu jenis barang yang dapat diimpor dalam suatu periode tertentu. Sama halnya tarif, pengaruh diberlakukannya kuota mengakibatkan harga-harga barang impor menjadi tinggi karena jumlah barangnya terbatas. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya pembatasan jumlah barang impor sehingga menyebabkan biaya rata-rata untuk masing-masing barang meningkat. Dengan demikian, diberlakukannya kuota dapat melindungi barang-barang dalam negeri dari persaingan barang luar negeri&lt;br /&gt;3. Larangan Impor&lt;br /&gt;Larangan impor adalah kebijakan pemerintah yang melarang masuknya barang-barang tertentu ke dalam negeri. Kebijakan larangan impor dilakukan untuk menghindari barang-barang yang dapat merugikan masyarakat. Misalnya melarang impor daging sapi yang mengandung penyakit Anthrax&lt;br /&gt;4. Subsidi&lt;br /&gt;Subsidi adalah kebijakan pemerintah dengan memberikan bantuan kepada produk dalam negeri. Subsidi yang dilakukan pemerintah dapat berupa keringanan pajak, pemberian fasilitas, pemberian kredit bank yang murah ataupun pemberian hadiah atau insentif dari pemerintah. Adanya subsidi, harga barang dalam negeri menjadi murah, sehingga barang-barang hasil produksi dalam negeri mampu bersaing dengan barang-barang impor&lt;br /&gt;5. Dumping&lt;br /&gt;Dumping adalah kebijakan yang dilakukan oleh suatu negara dengan cara menjual barang ke luar negeri lebih murah daripada dijual di dalam negeri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Dampak Perdagangan Internasional Terhadap Perekonomian Indonesia&lt;br /&gt;Perdagangan internasional membawa pengaruh yang cukup besar dalam perekonomian Indonesia. Pengaruh tersebut ada yang bersifat positif, ada pula yang negatif. Berikut ini beberapa dampak yang ditimbulkan dari pedagangan internasional&lt;br /&gt;1. Dampak Positif Perdagangan Internasional&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa dampak positif perdagangan internasional&lt;br /&gt;a. Saling membantu memenuhi kebutuhan antarnegara&lt;br /&gt;Terjalinnya hubungan di antara negara-negara yang melakukan perdagangan dapat memudahkan suatu negara memenuhi barang-barang kebutuhan yang belum mampu diproduksi sendiri. Mereka dapat saling membantu mengisi kekurangan dari setiap negara, sehingga kebutuhan masyarakat terpenuhi&lt;br /&gt;b. Meningkatkan produktivitas usaha&lt;br /&gt;Dengan adanya perdagangan internasional, kemajuan teknologi yang digunakan dalam proses produksi akan meningkat. Meningkatnya teknologi yang lebih modern dapat meningkatkan produktivitas perusahaan dalam menghasilkan barang-barang&lt;br /&gt;c. Mengurangi pengangguran&lt;br /&gt;Perdagangan internasional dapat membuka kesempatan kerja baru, sehingga hal ini menjadi peluang bagi tenaga kerja baru untuk memasuki dunia kerja. Semakin banyak tenaga kerja yang digunakan oleh perusahaan, maka pengangguran dapat berkurang&lt;br /&gt;d. Menambah pendapatan devisa bagi negara&lt;br /&gt;Dalam kegiatan perdagangan internasional, setiap negara akan memperoleh devisa. Semakin banyak barang yang dijual di negara lain, perolehan devisa bagi negara akan semakin banyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dampak Negatif Perdagangan Internasional&lt;br /&gt;Selain dampak positif, perdagangan internasional juga memberikan dampak negatif bagi perekonomian Indonesia. Berikut ini beberapa dampak negatif dari perdagangan internasional:&lt;br /&gt;a. Adanya ketergantungan dengan negara-negara pengimpor&lt;br /&gt;Untuk memenuhi kebutuhan barang-barang yang tidak diproduksi dalam negeri, pemerintah akan mengimpor dari negara lain. Kegiatan mengimpor ini dapat mengakibatkan ketergantungan dengan negara pengimpor&lt;br /&gt;b. Masyarakat menjadi konsumtif&lt;br /&gt;Banyaknya barang-barang impor yang masuk ke dalam negeri menyebabkan semakin banyak barang yang ada di pasar baik dari jumlah, jenis, dan bentuknya. Akibatnya akan mendorong seseorang untuk lebih konsumtif, karena semakin banyak barang-barang pilihan yang dapat dikonsumsi&lt;br /&gt;c. Mematikan usaha-usaha kecil&lt;br /&gt;Perdagangan internasional, dapat menimbulkan persaingan industri dengan negara-negara lain. Industri yang tidak mampu bersaing tentu akan mengalami kerugian, sehingga akan mematikan usaha produksinya. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan pengangguran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-8844667476426938643?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4tIl8iJKv7amMhpTpcHvXE06CpI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4tIl8iJKv7amMhpTpcHvXE06CpI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4tIl8iJKv7amMhpTpcHvXE06CpI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4tIl8iJKv7amMhpTpcHvXE06CpI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/mPiq-tyX8HM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/8844667476426938643/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/bahan-ajar-ekonomi-makro-pertemuan-16_19.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/8844667476426938643?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/8844667476426938643?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/mPiq-tyX8HM/bahan-ajar-ekonomi-makro-pertemuan-16_19.html" title="Bahan Ajar  Ekonomi Makro Pertemuan 16 Akuntansi FE-UIN Semester II 2009/2010" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/bahan-ajar-ekonomi-makro-pertemuan-16_19.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUEEQn44fCp7ImA9WxFaFU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-2844347361815751094</id><published>2010-07-18T21:06:00.000-07:00</published><updated>2010-07-19T01:20:03.034-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-19T01:20:03.034-07:00</app:edited><title>CONTACT</title><content type="html">Zaim Mukaffi, SE., M.Si&lt;br /&gt;Komplek Pon. Pes Darush Sholah&lt;br /&gt;Jl. KH. M. Thohir No. 1 Tegalpare – Muncar Banyuwangi 68472 Jawa Timur&lt;br /&gt;Tlp. 081-249279574&lt;br /&gt;Email   : zaimmukaffi@yahoo.com&lt;br /&gt;Kantor : Fakultas Ekonomi UIN Maliki Malang. Jl. Gajayana No. 50&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-2844347361815751094?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dcIH1-d_2Rr7zfkFxil5JIl_CIU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dcIH1-d_2Rr7zfkFxil5JIl_CIU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dcIH1-d_2Rr7zfkFxil5JIl_CIU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dcIH1-d_2Rr7zfkFxil5JIl_CIU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/iSmzwwYn070" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/2844347361815751094/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/contact.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/2844347361815751094?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/2844347361815751094?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/iSmzwwYn070/contact.html" title="CONTACT" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/contact.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0IEQXc7cSp7ImA9WxFaFkU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-7662226659749358497</id><published>2010-07-18T20:54:00.001-07:00</published><updated>2010-07-20T21:11:40.909-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-20T21:11:40.909-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Profil" /><title>Zaim Mukaffi Luqman Al-Barsany</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/RtoN4TN_i8I/AAAAAAAAAAU/UyfHwYQmHhw/s1600/zaim.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/RtoN4TN_i8I/AAAAAAAAAAU/UyfHwYQmHhw/s200/zaim.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Dilahirkan pada tanggal 24 Nopember 1979, tepatnya di Desa Tegalpare, Brasan Kecamatan Muncar. Merupakan desa di ujung timur pulau jawa dengan segala potensi perikanan didalamnya. Sebagai anak desa, tentunya budaya setempat membentuk karakter dan budaya hidupnya. Selama hampir 18 tahun hidupnya dihabiskan di desa tersebut, meskipun sekarang hidup dikota namun karakter desanya masih sangat terasa. &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Putera ketiga dari tujuh bersaudara dari pasangan HM. Luqman Syah Masrury, BA dan Hj. Siti Fathimah Luqman, S.Pd.I (Almh), sejak kecil hidup di lingkungan pesantren yang di asuh oleh ayahnya sendiri. Sebagai anak yang dilahirkan di lingkungan pesantren, menjadikannya hidup disiplin, pekerja keras dan selalu mencintai pendidikan. Hal ini merupakan komitmen keluarga besarnya terhadap dunia pendidikan. Ayahnya sendiri sapanjang hidupnya dihabiskan di dunia pendidikan, baik pendidikan yang di kelolanya maupun pendidikan di lingkungan LP. Ma’arif bahkan beliau sempat memimpin LP. Maarif Cabang Banyuwangi. Meskipun Ayahnya sempat menjadi Anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi, namun komitmen terhadap pendidikan masih sangat tinggi. Sedangkan Ibunya, merupakan seorang guru di beberapa sekolah dan pesantren.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendidikan disiplin lebih dominan diperoleh dari ibunya, dengan segala kesibukan-nya. pengawasan dan pengajaran terhadap putera-puterinya selalu diberikan. Pola manajemen partisipatif selalu dikedepankan bagi ibu yang dua periode memimpin Muslimat kabupaten Banyuwangi ini, yang merupakan bagian terpenting dan diyakini akan membentuk character building bagi anak-anaknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pria yang berulang tahun pada tanggal 24 November ini juga pernah bergelut didunia politik, diantaranya PKB dan P. Demokrat. Bahkan sempat mencalonkan diri menjadi calon Anggota DPRD, meskipun dibatalkan pada saat detik-detik penutupan pendaftaran. Disamping itu, juga aktif diberbagai kegiatan sosial kemayarakatan diantaranya Yaspipda, karang taruna, LSM dll. Saat ini, beliau merubah haluan untuk menjadi tenaga pengajar di almamaternya, Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berikut ini beberapa aktifitas yang pernah dilakukannya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pendidikan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;A.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Pendidikan Formal&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Madrasah Ibtidaiyah Banyuwangi, 1988-1993&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Madrasah Tsanawiyah MH, 1993-1996&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Madrasah Aliyah MH, 1996-1998&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Malang 1999-2004&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;MEP Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2005-2007&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;B.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Pendidikan Non Formal&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Pesantren Darus Shalah Banyuwangi, 1993-1998&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Jonh’s English Course Banyuwangi, 1996-1997&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Basic English Course (BEC) Pare Kediri, 1998-1999&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Mahesa Institute Pare Kediri, 1998-1999&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Pesantren Fathul Ulum Wagean Kediri, 2004-2005&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pengalaman Organisasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Osis MA MH &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Ketua FKMB UIN Malang 2000-2003&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;BEM FE-UIN Malang, Humas 2001-2002&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Man. Pemasaran Lagzis UIN Malang, 2002-2003&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Ketua DPM banyuwangi Cab. Malang 2003-2004&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;PMII UIN Malang 1999&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pengalaman Kerja&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Guru IPS MTs Miftahul Huda Banyuwangi, 2008-2009&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Guru MA Miftahul Huda Banyuwangi, 2008-2009&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Dosen jurusan Ekonomi Syari’ah, STAIDU Banyuwangi 2008-2010&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Dosen FE-UIN Maliki Malang, 2009-sekarang&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-7662226659749358497?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mBn40eUvY_-tbxflwG_wFenrQ5k/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mBn40eUvY_-tbxflwG_wFenrQ5k/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mBn40eUvY_-tbxflwG_wFenrQ5k/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mBn40eUvY_-tbxflwG_wFenrQ5k/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/mzz_h70jwfQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/7662226659749358497/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/profil.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/7662226659749358497?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/7662226659749358497?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/mzz_h70jwfQ/profil.html" title="Zaim Mukaffi Luqman Al-Barsany" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/RtoN4TN_i8I/AAAAAAAAAAU/UyfHwYQmHhw/s72-c/zaim.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/profil.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A08CRno-fip7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-5743521670892931803</id><published>2010-07-15T23:52:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T01:44:27.456-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T01:44:27.456-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Umum" /><title>Belajar dari Kemenangan Abdullah Azwar Anas:</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kasus Pemilukada Kabupaten Banyuwangi 2010.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemilukada kabupaten Banyuwangi telah usai dan tinggal menunggu hasil perhitungan suara akhir dari KPU kabupaten Banyuwangi. Namun demikian, dari perhitungan beberapa Lembaga survei hampir dipastikan bahwa pasangan no. urut 1 (Dasyat) Abdullah Azwar Anas, M.Si dan Yusuf Widyatmoko, S.Sos akan menjadi Bupati dan wakil bupati Kabupaten Banyuwangi periode 2010-2015 dengan perolehan suara 50.98%, sedangkan pasangan Ir. H. Jalal dan Yusuf Nuris, SH., MH (Laris) memperoleh suara 31.60% dan terakhir pasangan Emilia Contesa dan Zainuri Ghozali memperoleh suara 17.42%.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun demikian, ada beberapa catatan penting dari proses pemilukada kabupaten banyuwangi, pertama, ditolaknya pasangan bupati Incumbent Ratna Ani Lestari dan pasangannya Pebdi Aristiawan dikarenakan kurangnya syarat dukungan minimal dari masyarakat –Bupati melewati jalur Independen- yang telah ditentukan oleh KPU. Kedua, banyaknya pemilih yang golput/tidak memilih. Berdasarkan catatan dilapangan lebih dari 40% masyarakat banyuwangi tidak menyalurkan hak suaranya dengan berbagai sebab. Ketiga, kemenangan pasangan Abdullah Azwar Anas, M.Si dan Yusuf Widyatmoko, S.Sos.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Tulisan sederhana ini tertarik untuk menjelaskan catatan ketiga dari proses pemilukada kabupaten Banyuwangi. Dengan maksud adalah untuk melihat sejauh mana dan apa yang sudah dilakukan oleh Abdullah Azwar Anas, M.Si dan Yusuf Widyatmoko, S.Sos selama proses menuju Pendopo hingga memenangkan Pemilukada. Dari beberapa temuan penulis selama pengamatan dilapangan dalam beberapa bulan terakhir di identifikasi bahwa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 1. Abdullah Azwar Anas, M.Si dan Yusuf Widyatmoko, S.Sos adalah satu-satunya pasangan Politisi. Dimana Anas seorang politisi PKB dan Yusuf dari PDIP, bahkan masih menjadi Ketua cabang PDIP Kabupaten Banyuwangi. Pada posisi ini, pasangan yang menggunakan jargon ‘Dasyat” ini sudah bisa dikatakan bahwa menang satu langkah. Mengapa? Karena sebagai seorang politisi, tentunya sudah tau apa yang akan dilakukan untuk meyakinkan masyarakat dengan pengalaman-pengalaman yang dimiliki. Sekedar catatan bahwa Anas sudah 2 kali menjadi Anggota DPR RI, bahkan karir politiknya menjadi ketua fraksi PKB-DPR RI. Sedangkan Yusuf sudah beberapa kali menjadi anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi dari PDIP. Disamping itu, Anas sudah menanamkan fundamen yang kuat di beberapa akar massa sejak menjadi anggota DPR RI, bahkan Anas tercatat sebagai anggota DPR RI yang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 2. Komunikasi Politik. Tentu tidak ada yang meragukan akan kesuksesan Abdullah Azwar Anas, M.Si dan Yusuf Widyatmoko, S.Sos dari segi komunikasi politiknya. Hal ini bisa dilihat dari fakta dilapangan bahwa Anas khususnya mampu menjalin komunikasi politik yang baik dengan Partai politik di kabupaten banyuwangi. Sebagai politisi pusat dengan berbagai pengalamannya Anas mampu meyakinkan beberapa Partai besar untuk mengusung Abdullah Azwar Anas, M.Si dan Yusuf Widyatmoko, S.Sos menjadi Calon Bupati dan Wakil Bupati kabupaten banyuwangi, diantaranya PDIP, Golkar, PKB, PKNU, PAN, PPP, yang merupakan partai dengan basis massa yang jelas dan Loyal. Dibandingkan dengan Jalal yang diusung partai Demokrat dan Emilia dengan Gerindra dan Hanura, merupakan partai yang belum punya basis massa yang jelas. Dimata saya, meskipun partai Demokrat mendapatkan 10 wakil di parlemen tetapi bukan disebabkan oleh basis massa PD sendiri, tetapi banyak faktor yang menyebabkan perolehan wakil tersebut, seperti sosok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tokoh-tokoh lokal, bahkan ada informasi kekuatan dana calon anggota DPRD saat itu, disamping konflik politik di tubuh partai lain. Pun demikian dengan Hanura dan Gerindra.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 3. Latar belakang Anas. Kita semua tahu bahwa Anas adalah sosok muda yang potensial. Sebagai pemuda yang di bentuk sejak kecil dari organisasi, seperti Osis, Organisasi kepemudaan dan terlebih Anas mantan Ketua Umum PB PMII. Adalah kenyataan bahwa ikatan emosional organisasi semacam PMII sangatlah kuat, secara sadar bahwa generasi atau kader PMII diberbagai daerah akan selalu mendukung seniornya sendiri dari pada orang lain. Inilah yang tidak dimiliki oleh calon Lain. Meskipun Yusuf Nuris mengklaim sebagai kader PMII tetapi Anas di untungkan oleh kelembagaan PMII itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; 4. Dukungan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muslimat. Secara eksplisit 2 lembaga tersebut jelas-jelas mendukung dan siap mensukseskan pasangan Anas dengan Yusuf. Bahkan secara terbuka baik melalui Anak Cabang maupun Media massa meminta warga nahdliyin untuk memilih pasangan tersebut.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-5743521670892931803?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cYXIMpGO4MhxMRATxX2oz7T1cHs/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cYXIMpGO4MhxMRATxX2oz7T1cHs/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cYXIMpGO4MhxMRATxX2oz7T1cHs/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cYXIMpGO4MhxMRATxX2oz7T1cHs/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/VNy-p0A4Vyk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/5743521670892931803/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/belajar-dari-kemenangan-abdullah-azwar.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/5743521670892931803?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/5743521670892931803?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/VNy-p0A4Vyk/belajar-dari-kemenangan-abdullah-azwar.html" title="Belajar dari Kemenangan Abdullah Azwar Anas:" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/belajar-dari-kemenangan-abdullah-azwar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CE8MQXo7fip7ImA9WxFaFUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-9082553723536071955</id><published>2010-07-07T20:38:00.000-07:00</published><updated>2010-07-18T21:14:40.406-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-18T21:14:40.406-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Featured" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pribadi" /><title>SEPAKBOLA, POLITIK DAN EKONOMI</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sihir sepakbola dalam beberapa dekade terakhir ini benar-benar mempesona dan menjadi ekstasi bagi setiap kalangan, tidak peduli laki-laki atau perempuan, tua-muda, orang kaya atau miskin, desa atau kota semua terhipnotis dengan kecepatan, akurasi dan atraksi pemainnya di atas lapangan. Apalagi era 21, dimana sepakbola sudah didesain secara modern dengan berbagai fasilitas penunjangnya yang sangat memadai sehingga atraksi seniman bola bisa dinikmati dengan mudah oleh segenap masyarakat di penjuru dunia.&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekarang ini, hampir semua negara menjadikan sepakbola sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pilot project&lt;/span&gt; promosi nama negaranya di seantero dunia, apa yang dimiliki oleh negara tersebut dapat secara nyata diperkenalkan melalui sepakbolanya. Maka tidak mustahil apabila banyak uang mengalir pada aktivitas ini. Tengok saja, bagaimana pemerintah Indonesia menyediakan dana 130 Milyar lebih untuk renovasi stadion yang akan dipakai untuk piala Asia, bagaimana Jerman menghasiskan hampir 3 trilyun untuk memperbaiki stadion dan fasilitas pendukungnya, dan yang terbaru Afrika Selatan sebagai negara miskin dengan rela menyediakan dana Negara sebesar 5 trilyun untuk membangun dan merenovasi stadion dan penunjang kegiatan piala dunia 2010. begitu menghipnotisnya sepakbola dimata masyarakat dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sepakbola dan politik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam sepakbola lazimnya dikenal dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;three strategic theory of football&lt;/span&gt; yaitu bertahan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(defense)&lt;/span&gt;, menyerang, dan Normal. Teori tersebut bisa dipakai oleh pelatih dimana saja dan kapan saja tergantung kebutuhan dan siapa lawan, misalnya Italia lebih senang menggunakan teori bertahan, sesekali menyerang balik dengan cepat, Belanda dengan total footballnya yang identik dengan penyerangan disemua lini, Jerman dengan gaya normal-normal saja. Semua itu adalah strategi yang digunakan oleh setiap pelatih untuk memenangkan pertandingan. Sebenarnya, strategi yang di gunakan dalam dunia sepakbola tidak berbeda dengan strategi yang digunakan dalam dunia militer, bahkan banyak pakar mengatakan bahwa strategi yang digunakan dalam sepakbola menyontek strategi militer. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Mari sejenak kita lihat awal mula sepakbola terkait hubungannya dengan politik. Dulu, orang mengira sepak bola lahir di negara Inggris. Tetapi pada kenyataannya bahwa sepak bola yang lahir di Inggris adalah sepak bola modern, sedangkan permainan sepak bola telah ditemukan jauh hari dari pada sepakbola yang dikembangkan pertama kalinya di Inggris yaitu sejak 3000 tahun yang lalu dan tentunya dalam bentuk yang berbeda-beda. Menurut Bill Muray (dalam Sembiring), pakar sejarah sepak bola, dalam bukunya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The World Game:&lt;/span&gt; A History of Soccer, sepak bola sudah dimainkan oleh orang-orang di era Mesir Kuno sejak awal Masehi. Saat itu, orang mesir sudah mengenal permainan membawa dan menendang bola yang dibuat dari buntalan kain linen. Sejarah Yunani Purba juga mencatat ada sebuah permainan yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;episcuro&lt;/span&gt;, yaitu permainan dengan menggunakan bola. Bukti itu dapat dilihat pada relief-relief di dinding museum yang melukiskan anak muda memegang bola bulat dan memainkannya dengan paha. Sepak bola juga disebut-sebut berasal dari daratan Cina. Dalam sebuah dokumen militer disebutkan bahwa sejak 206 SM, pada masa pemerintahan Dinasti Tsin dan Han, orang-orang sudah memainkan permainan bola yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tsu chu&lt;/span&gt;. Tsu mempunyai arti “menerjang bola dengan kaki“. Sedangkan chu, berarti “bola dari kulit dan ada isinya“. Mereka bermain bola yang terbuat dari kulit binatang dengan cara menendang dan menggiringnya ke sebuah jaring yang dibentangkan pada dua tiang. Jepang pun tidak mau ketinggalan. Sejak abad ke-8, konon masyarakatnya sudah mengenal permainan ini. Mereka menyebutnya sebagai Kemari. Bolanya terbuat dari kulit kijang berisi udara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Bagaimana dengan dinegeri unik seperti Indonesia, menurut dokumen sejarah Indonesia yang ada di negeri Belanda “masih perdebatan”, bahwa sejarah olahraga sepakbola di Indonesia diawali oleh pendatang dari luar negeri, bukan dari Indonesia asli, yakni para pedagang dari negeri Tiongkok sekitar abad 7 M yang mulai masuk wilayah nusantara khususnya diwilayah kerajaan Sriwijaya. Seperti diketahui permainan masyarakat Cina abad ke-2 sampai dengan ke-3 SM sudah mengenal olah raga sejenis sepak bola yang dikenal dengan sebutan “tsu chu “. Kemudian, olah raga itu tersebut juga ada sebagian dibawa dari para pedagang yang berasal dari negeri Belanda, awal masuknya ke Indonesia sekitar tahun 1602 M, dan kemudian selanjutnya pada perkembangan-Nya Sepakbola tersebut lahir dari proses aktifitas dagang mereka di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sepakbola sejagat yang dikenal dengan sepakbola piala dunia sudah memasuki akhir dari drama uforia manusia sejagat, semenjak Uruguai dikalahkan Belanda 3:2, dan Jerman dikalahkan Spanyol 1:0, dan dalam beberapa hari kedepan kita sudah memperoleh hasil akhirnya, siapa juara dunia sejati antara Belanda Vs Spanyol. Namun demikian bukan berarti magnet sepakbola berakhir begitu saja, masih banyak agenda-agenda sepakbola yang akan menghiasi beberapa stasiun televisi, dan yang demikian ini akan terus dan terus, sampai sulit menebak kapan cerita fenomenal bernama sepakbola ini berakhir. Dan realitasnya, magnet sepak bola begitu kolosal, dan sangat memikat perhatian umat manusia, sehingga manusia dari segala penjuru dunia dan dari aneka suku bangsa, negara, budaya, agama, ras, yang berbeda itu pun bisa menyatu menjalin persahabatan dan membangun kebersamaan. Tak pelak, perhelatan sepak bola piala dunia inipun dijadikan sebagai media diplomasi politik negara-negara di dunia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dan sangat mungkin sepakbola menjadi alat politik tidak hanya politik negara tetapi sudah merambah pada politik lokal. Sepak bola tidak lagi sekadar kegiatan netral, di mana sepak bola untuk sepak bola itu sendiri, melainkan ada kandungan politik, sekaligus menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran dalam politik. Artinya, lewat sepak bola seperti yang dipertontonkan pada piala dunia yang begitu akbar, setiap masyarakat dan bangsa-bangsa dapat saling mempelajari, saling berjuang membina relasi persaudaraan sambil menciptakan keuntungan-keuntungan sosial, politik, budaya, dan ekonomi.dan pertanyaan adalah apa hubungan antara sepakbola dan politik? Robert Kennedy (1960) dalam pidatonya yang fenomenenal mengatakan bahwa sepak bola dapat dijadikan sebagai alat politik karena dalam momentum akbar sepak bola, ia dapat dipandang sebagai suatu ukuran yang menunjukkan sejauh mana suatu bangsa di dunia internasional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Pada kenyataannya, sepak bola dijadikan sebagai alat politik bukan hanya dalam wacana, melainkan dalam perjalanan sejarahnya kerap dijadikan sebagai alat legitimasi politik dan kekuasaan dari para politisi atau penguasa. Mari kita telusuri, baik ditingkatan lokal maupun negara, banyak politisi atau penguasa menggunakan sepak bola untuk memperkuat dan menaikkan pamor politik, juga tidak jarang para politisi memiliki langsung sebuah klub sepak bola. Mantan Perdana Menteri Italia, Berlusconi, merupakan contoh yang paling pas seorang politisi memiliki klub sepak bola, yakni AC Milan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Tak beda jauh dengan Berlusconi, diktator Bennito Mussolini, penguasa Italia dan diktator Spanyol, Franco. Franco konon pernah memanfaatkan klub sepak bola Real Madrid sebagai alat legitimasi kekuasaannya, dan Mussolini, Italia kerap merasa dirinya penting ditampilkan dalam pose-pose olahraga, seperti bermain anggar, tenis, atau naik kuda. Tak jarang Mussolini berada di tengah-tengah tim sepak bola. Bagi Mussolini, seorang politikus sejati, haruslah serentak merupakan simbol kejantanan sportif, seperti halnya seorang pese-pak bola. Karena itulah, pada Piala Dunia 1934, sang diktator memaksakan untuk digelar di Italia, dan kesebelasan nasional Italia dipaksa harus menang meski harus "mati" di lapangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Di Indonesia, Bung Karno merupakan contoh dari politisasi sepakbola, karena ia menggunakan olahraga atau sepak bola sebagai alat legitimasi politik kekuasaan. Hal ini dapat dilihat melalui pembangunan Gelora Bung Karno (GBK), di masa pemerintahannya. Bangsa inipun diharumkan namanya lewat pembangunan GBK waktu itu, yang meskipun di balik itu ia dinilai terlalu mengorbankan aspek ekonomi rakyat dalam negeri dan membiarkan rakyatnya terpuruk dalam kemiskinan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Lebih sempit lagi, fenomena pengakuan sepakbola dalam politik tercermin ketika terjadi pemilihan umum daerah, dimana para calon baik Gubernur, Walikota/Bupati, yang sebelumnya tidak peduli dengan sepakbola lokalnya menjadi sangat peduli, bahkan menjanjikan akan mengayomi, menghidupi dan bahkan akan menyediakan dana dari APBD untuk kelangsungan kehidupan sepakbolanya, semua itu tidak lain adalah upaya politisasi kepentingan sesaat untuk mengejar ambisi politiknya, dengan suatu harapan bahwa suporter atau pecinta sepakbola setempat akan memilih calon tersebut menjadi gubernur, bupati atau walikota…..Aneh…!!! ada apa dengan sepakbola?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Belum lagi dalam permainan sepak bola itu sendiri secara nyata mengajarkan kepada kita aspek nilai atau perikehidupan politik, atau seperti strategi memenangkan pertarungan politik atau keterlibatan publik di dalamnya yang diidentikan ke dalam apa yang disebut demokrasi. Misalnya, dalam demokrasi, yang didahulukan adalah kepentingan umum, kemudian barulah kepentingan pribadi. Tujuan utama demokrasi adalah menciptakan ruang bagi terciptanya keadilan dan kesejahteraan bersama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Itulah yang terlihat secara jelas dalam permainan sepak bola, yaitu yang diutamakan adalah kebersamaan untuk menggapai kemenangan. Jika dalam politik, partai politik adalah arena atau lapangan politik bagi rakyat untuk membangun politik demokrasi, maka dalam sepak bola, lapangan hijau menjadi "lapangan politik" milik rakyat untuk membangun kepentingan bersama.Sayangnya, dalam praksis politik, yang menonjol adalah perjuangan para politisi untuk memenuhi ambisi pribadi, bukan kepentingan bersama seperti dalam permainan sepak bola.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sepakbola dan Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Satu sampai dua tahun yang lalu terjadi perubahan kebijakan yang dikeluarkan oleh Mendagri tentang penggunaan anggaran negara untuk kepentingan sepakbola lokal. Dimana ada pembatasan pembiayaan terhadap klub sepakbola yang dimiliki oleh daerah maksimal 10 Milyar. Padahal dalam prakteknya dana belanja klub jauh diatas dana pembatasan mendagri tersebut. Hal ini berdampak bagi kelangsungan kehidupan klub yang selama ini sangat menggantungkan pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Infus&lt;/span&gt; dana APBD. Tengok saja Persebaya yang membutuhkan dana 25 Milyar, Persib Bandung 25 Milyar, Persija 35 Milyar dan lain-lain. Melihat kenyataan yang demikian ada kegelisahan yang sangat luar biasa dari stakeholder klub, baik itu pemilik, pemain dan suporter, bahwa klub yang mereka cintai, klub yang menjadi kebanggaan daerahnya bahkan klub yang menjadi sumber nafkah akan mati sia-sia. Wou…luar biasa…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Upaya yang dilakukan oleh Menteri dalam Negeri tidak lain dan tidak bukan –sebenarnya- adalah menjadikan industri sepakbola sebagai industri perseroan, artinya bahwa sepakbola akan menjadi institusi bisnis yang tidak hanya menghasilkan keindahan seniman bolanya tetapi juga menghasilkan keuntungan secara ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam industri sepak bola yang selama ini berkembang dinegara-negara Eropa, sepakbola benar-benar menjadi business potential yang menjanjikan. Betapa Gilleth menyediakan dana 8 trilyun untuk memiliki Liverpool, betapa Real Madrid menghabiskan dana 3.2 trilyun hanya untuk membeli paket Ronaldo, Kaka dan Albiol. Terlebih lagi gaji pemain Real Madrid yang rata-rata 1 Milyar/Minggu. Luar biasa…..Dan masih banyak fenomena ekonomi yang irrasional dalam sepakbola. Oleh sebab itu, betapa pentingnya industri bisnis ini dalam kegiatan ekonomi suatu daerah bahkan negara. Sejenak kita gali beberapa pengaruh kegiatan sepak bola terhadap kegiatan ekonomi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, terjadinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;effect multiplier,&lt;/span&gt; dengan kata lain bahwa adanya kegiatan sepakbola akan menjadikan stadion baru, dengan stadion baru secara otomatis akan mendatangkan pedagang-pedagang baru baik makanan, tiket, bahkan Merchandis klub/tim dan seterusnya. Sehingga secara sederhana dapat dikatakan bahwa munculnya sepakbola (yang profesional) akan menambah jumlah tenaga kerja disemua kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan sepakbola, dan lain sebagainya. Sehingga kegiatan ekonomi di daerah tersebut akan berjalan dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, sepakbola dapat menjadi “iklan” bagi daerah ataupun negara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, sepakbola akan menjadi magnet industri yang berbasis kompetitif bagi pngusaha-pengusaha baik lokal maupun domestik terhadap kepemilikan sebuah klub. Dll.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dari fenomena di atas dapat di simpulkan bahwa sepak bola bisa menjadi magnet yang luar biasa bagi kelangsungan kehidupan manusia tanpa membedakan suku, budaya, ras, agama atau apapun. Oleh sebab itu, mari kira jadikan sepakbola sebagai satu seni yang mampu menghipnotis batin kita sehingga muncul ketenangan dan kesenangan bersama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Bravo sepak bola Indonesia……&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-9082553723536071955?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/By-zQ-rIrjnJTjGstgpt3OqZh-M/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/By-zQ-rIrjnJTjGstgpt3OqZh-M/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/By-zQ-rIrjnJTjGstgpt3OqZh-M/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/By-zQ-rIrjnJTjGstgpt3OqZh-M/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/t4M5BspQ0HE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/9082553723536071955/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/sepakbola-politik-dan-ekonomi.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/9082553723536071955?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/9082553723536071955?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/t4M5BspQ0HE/sepakbola-politik-dan-ekonomi.html" title="SEPAKBOLA, POLITIK DAN EKONOMI" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/sepakbola-politik-dan-ekonomi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C08NRHw4fCp7ImA9WxFaFU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-4718560853434856893</id><published>2010-07-05T00:02:00.000-07:00</published><updated>2010-07-19T02:31:35.234-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-19T02:31:35.234-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Umum" /><title>REFRESHING DI BUMI BLAMBANGAN</title><content type="html">&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/TDGF0U3aNxI/AAAAAAAAAGA/DFmRh0K8rMo/s1600/Plengkung.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5490316554742150930" src="http://3.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/TDGF0U3aNxI/AAAAAAAAAGA/DFmRh0K8rMo/s320/Plengkung.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 100px; margin: 0pt 4px 4px 0pt; width: 100px;" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah satu semester berkutat dengan pekerjaan di kampus, banyak persoalan yang syarat dengan emosi, kejenuhan, atau mungkin penat dengan kesibukan yang penuh dengan pekerjaan di kantor saja, kira-kira itulah yang kami rasakan, sehingga terencana untuk refreshing ditempat-tempat yang menyenangkan. Terpikir oleh kami beberapa alternatif lokasi/tempat tersebut, misalnya pulau sempu, bali atau banyuwangi. Setelah berpikir kira-kira satu minggu diambillah kesimpulan bahwa lokasi refreshing di Banyuwangi dan Bali, dengan rencana 3 hari.&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Diawali perjalanan kami menuju kabupaten banyuwangi pada hari jum’at, 02 juli 2010 pukul 15.00 dari kampus UIN Maliki Malang dengan menggunakan Mobil Fakultas Ekonomi tipe Avanza, ada 6 orang yang ikut dalam perjalanan tersebut yaitu Saya, Romi Faslah, Muis, Khadi, Tamam dan salah satu temannya Muis dari Kalimantan (saya lupa namanya). Sebenarnya, banyak teman-teman lain yang ingin bergabung dalam perjalanan ini namun ada beberapa kendala yang kemudian tersisa 6 orang tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam perjalanan menuju banyuwangi –memang tujuan kami adalah refreshing- banyak tempat yang kita singgahi diantaranya adalah rumah Khadi di Pasuruan, sesampai di rumahnya kira-kira pukul 16.30, sejenak kita santai, sholat Asar, sambil mencari kebutuhan logistik diperjalanan selanjutnya. Kemudian perjalanan kita lanjutkan menuju Jember, tepat jam 21.00 perjalanan kita sampai di sebuah kecamatan bernama Silo, kita bingung mencari tempat untuk Nonton bareng piala dunia antara Brazil Vs Belanda, akhirnya ditengah perjalanan ada kelompok masyarakat yang mengadakan nonton bareng sepak bola, dan kamipun menyempatkan untuk bergabung dengan mereka, yah…nonton bareng. Dari 6 orang yang ikut dalam perjalanan ini 3 orang, Muis, Tamam dan 1 teman  yang dukung Brazil dan 3 orang yaitu saya, romi dan Khadi mendukung belanda, tampak suasana asyik sambil gojlok-gojlokan ketika tim yang didukung masing-masing menyerang atau bahkan hampir mencetak gol. Suasana semakin panas ketika umpan terobosan Filipe Melo di eksekusi dengan baik oleh Robinho dan menjadi Gol, brazil unggul 1:0 atas belanda, bagi kami yang mendukung Belanda tentu mendapat “bonus gojlokan” dari temen-temen yang mendukung Brazil, sampai babak pertama pertandingan kedudukan masih sama. Dalam suasana yang penuh dengan kesenangan tersebut membuat kami terlena bahwa kita sudah ada janjian sama pemilik nelayan di Muncar banyuwangi pada pukul 02.00, akhirnya kami sudahi nonton bareng meskipun masih tersisa satu babak lagi, untukngnya RRI menyiarkan langsung pertandingan tersebut, sehingga dalam perjalanan kami menuju Banyuwangi tetap tahu perkembangan dari menit-ke menit pertandingan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Ditengah perjalanan menuju banyuwangi tersebut suasana gojlokan masih terasa dari pihak pendukung brazil, namun gojlokan tersebut berakhir  ketika filipe melo memasukkan bola ke gawangnya sendiri dan bahkan ketika Sneijder mencetak gol ke 2 untuk Belanda, suasana yang semula menjadi sebaliknya….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Akhirnya, tepat pukul 23.00 mobil yang kami tumpangi masuk di kabupaten Banyuwangi, tanpa terasa perut kami keroncongan, sebab sejak sore perut kami belum terisi makanan, dan saya mengajak teman-teman untuk makan di warung pedas mak In, di desa Blambangan Muncar dengan spesial menu cumi-cumi pedas, setelah selesai makan malam perjalanan kita lanjutkan menuju “heaven village” tempat kelahiran saya, tepat pukul 24.00 kami tiba di rumah saya. Kalau dihitung-hitung, perjalanan kami dari Malang sampai tempat saya menyita kurang lebih 9 jam, wah..tentu perjalanan yang melelahkan……&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Kemudian sejenak kami santai di teras rumah sambil menikmati kopi asli banyuwangi, ngobrol kesana kemari seakan-akan tidak ada habisnya bahan obrolan, dan tanpa kita sadari jam sudah menunjukkan pukul 02.30, itu artinya bahwa uji adrenalin tahap satu siap dimulai, kami menyiapkan keperluan seperti makanan, minuman, kail, panjing dan beberapa kebutuhan memancing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Uji Adrenalin Tahap satu (hari pertama)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Setelah kebutuhan yang diperlukan siap, maka tepat pukul 02.45 perjalanan dilanjutkan menuju desa kawang, tempat bersandarnya perahu, dengan 7 personil + satu teman dari banyuwangi. Banyak orang mengingatkan kita tentang kondisi cuaca yang tidak bersahabat, termasuk pemilik perahu yang kita tumpangi. Yah…benar saja, pada pukul 03.00 pengujian di mulai. Kira-kira perjalanan laut kurang lebih 15 menit, perahu yang kita tumpangi sudah di hantam ombak yang cukup besar sampai air ombak tersebut masuk di dalam perahu. Melihat kondisi tersebut, teman yang belum terbiasa menghadapi gelombang, tentu sangat ketakutan, dan kejadian tersebut berulang-ulang sampai kira-kira 30 menit perjalanan lepas pantai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Akhirnya, sampailah kita di lokasi pemancingan yang kita inginkan… semua menyiapkan peralatan masing-masing, game di mulai….baru 1 menit melemparkan kail di laut, kailku langsung di santap sama ikan terongan…wou…strike……terus dan terus….kira-kira pukul 07.00, kita pindah lokasi yang agak ditengah, umpan di masukkan dan strike. Satu persatu dari kami menarik ikan dari kail masing-masing…tetapi semua terdiam ketika romi mendapatkan ikan merah yang cukup besar. Baru satu jam menikmati pesta ikan, gangguan sudah muncul, yaitu angin disertai dengan gelombang yang cukup tinggi….tau gak apa yang terjadi….? Satu persatu pemula…plek…plek…alias teler karena hantaman gelombang yang bertubi-tubi, akhirnya kita memilih lokasi yang aman dari gelombang yaitu di barat gunung sembulungan, benar saja, karena angin dari timur, kita terhindar dari amukan gelombang nyai roro kidul. Namun sayangnya, lokasi yang nyaman dan aman tidak ada ikan yang kita dapat, hanya saya yang dapat 2 ikan kerapu, itupun kecil-kecil…..kemudian hunting lokasi lagi, dan seterusnya. Sampailah kita di lokasi yang namanya bagang, beberapa dari kami masih mencoba untuk strike lagi, dan tiga teman memanfaatkannya untuk istirahat. Benar-benar suasana yang penuh dengan tantangan….dari kegiatan memancing ikan tersebut kita menghabiskan waktu kurang lebih 9 jam, tepat pukul 12.00 aktivitas di hentikan dan go back…untuk istirahat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pada pukul 15.00 kami memanfaatkan waktu luang untuk menikmati suasana pelabuhan ikan muncar, benar saja, suasana yang begitu nyaman, asri disertai angin sepoi basah dari laut sungguh menjadi penghilang rasa capek yang luar biasa sewaktu memancing di selat Bali. Kurang lebih 2 jam di pelabuhan perjalananya dilanjutkan ke masakan khas Banyuwangi, bakso. Sambil asyik ngobrol kesana kemari, kita juga memanfaatkan untuk “rapat darurat” membahas kegiatan hari minggunya. Hasil keputusannya bahwa agenda hari minggu dimanfaatkan untuk ke Plengkung/G-Land, satu zona surfing kelas dunia. Namun ada satu teman yang pergi ke bali dan memang ada kegiatan di Bali. Akhir cerita, perut kenyang dan kembali ke home.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sesampainya di rumah, para “Stricker dadakan” ini sudah disibukkan dengan berdebat tentang jago bola masing-masing ada yang menjago Argentina dan Ada yang menjago jerman. Sambil menikmati makan malam hasil tangkapan sendiri, kita memanfaatkan untuk mencari strategi tentang kegiatan di G-Land pada hari minggunya, sedangkan mas romi asyik dengan menonton GP. Ketika asyik ngobrol, tiba-tiba adik-ku memberi tahu bahwa piala dunia sudah di mulai dan kami pun bergegas menuju lokasi nonton bareng dengan beberapa teman yang sudah stand di situ sebelumnya. Dan hasilnya 4:0 untuk jerman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Uji Adrenalin Tahap dua (hari ke-dua)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Jam 06.00 pagi kami telah selesai menyiapkan beberapa kebutuhan selama kegiatan di G-Land nantinya. Dan pukul 06.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Plengkung/G-land. Sebelum melanjutkan cerita saya mau perkenalkan dulu tentang G-Land/ Plengkung:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Plengkung atau yang dikenal oleh wisatawan mancanegara dengan nama G-Land merupakan surga bagi para peselancar profesional dari dalam negeri ataupun mancanegara. Huruf G berasal dari kata Grajagan, nama dari sebuah teluk yang memiliki ombak yang besar. G-Land dikelilingi oleh hutan hujan tropis yang masih alami. Bulan Mei sampai Oktober adalah bulan terbaik untuk surfing. G-Land menawarkan olahraga surfing yang paling digemari oleh para pesurfer dan disarankan hanya untuk para pesurfer profesional karena ombaknya yang dapat mencapai 5 meter.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Kebanyakan dari para peselancar berangkat dari Bali, melalui Banyuwangi langsung ke G-Land atau ke Grajagan, kemudian menyewa boat ke pantai Plengkung. Untuk menginap tersedia Cottage dan Jungle camp dekat pantai bagi para pengunjung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Bagaimana Mencapai Pantai Plengkung atau G-Land?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pantai Plengkung terletak di pantai selatan Banyuwangi, ujung timur Jawa Timur. Para pengunjung dapat mencapai Pantai ini dengan dua jalur; darat maupun darat dan laut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Lewat Darat : Banyuwangi-Kalipahit (59 Km) naik Bus, Kalipahit-Pasaranyar (3 Km) dengan ojek atau menyewa mobil, Pasaranyar Trianggulasi-Pancur (15 Km), Pancur-Plengkung (9 Km) dengan Mobil Khusus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Lewat Darat-Laut : Banyuwangi-Benculuk (35 Km) naik Bus atau kendaraan umum lainnya, Benculuk-Grajagan (18 Km) dan Grajagan Plengkung dengan Speet Boat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Kedua jalur menuju Plengkung tersebut semuanya tidak ada masalah. Jika pengunjung memilih melalui Grajagan penginapan di pantai Grajagan tersedia, dan para pengunjung bisa menikmati keindahan pantai Grajagan sebelum berangkat ke pantai Plengkung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Singkat cerita, pada pukul 09.00 mobil kita sudah memasuki kawasan hutan alas purwo, yang merupakan satu-satunya hutan lindung dan masih alamiah di pulau jawa. Tidak seperti awal dibukanya lokasi wisata alas purwo, sekarang jalan/akses menuju lokasi sudah rusak parah. Aspal hotmik yang dulu mulus sekarang tinggal bebatuan akibat mengelupasnya aspal, dan itu seluruh jalan menuju beberapa lokasi di wisata alas purwo, termasuk Plengkung yang kita tuju. Jarak pintu masuk hutan dengan pancur (tempat akhir kendaraan wisata/pribadi) hanya 13 KM, namun karena kondisi jalan yang rusak tersebut membuat waktu perjalanan kami mencapai 1 jam lebih 15 menit, yang idealnya maksimal hanya ditempuh 15 menit saja. Tetapi itulah tantangan yang kami dapat, meskipun perjalanannya lambat ada hikmah yang bisa di peroleh, pertama, kita bisa menikmati suasana hutan yang sejuk dengan beberapa hewan yang sesekali melintas di jalan yang kami lalui. Kedua, banyak pelajaran yang kita peroleh dari keadaan hutan. Singkatnya, sampailah kita di pancur, selanjutnya naik kendaraan lokal untuk mencapai kawasan plengkung. Lokasi pancur menuju plengkung berjarak 9 KM darat. Meskipun hanya 9 KM perjalanan yang kami tempuh mencapai setengah jam dengan kendaraan lokal tersebut. Keadaan ini wajar mengingat kondisi jalan yang masih berbentuk tanah liat dan bebatuan, apalagi kondisinya hujan sehingga jalannya semakin rusak dan sulit di lewati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Setelah kira-kira setengah jam, sampailah kita di tempat yang kita tuju. Ya, tidak salah lagi Plengkung, disana tampak para surfer asing menikmati gulungan gelombang setinggi 3 meter. Kami sendiri hanya bisa menikmati suasana alam dan pantai yang sangat luar biasa, penuh dengan kesempurnaan alam. Beberapa dari kami begitu menikmatinya, seperti khadi yang asyik bermain pasir, sony dan Nus sibuk mengumpulkan pasir bola, dan yang lain asyik jalan-jalan menikmati “The Truly Paradise”. Kira-kira pukul 13.00 kami semua berkumpul lagi menikmati makan bersama di tepi pantai Plengkung. Perpaduan antara keindahan alam dan kenikmatan masakan yang kami bawa serasa mempu melupakan kepenatan selama ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dan akhirnya, perjalanan kami begitu menyenangkan dan sejenak melupakan kepenatan tugas kantor yang membombardir terus menerus…..dan malamnya, tepat pukul 19.00 kami meninggalkan “Negeri Minakjinggo” menuju “Negeri Ken Arok” malang…..wassalam..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-4718560853434856893?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lr10lVkNnczcxPRmPQl4FTCPLj0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lr10lVkNnczcxPRmPQl4FTCPLj0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lr10lVkNnczcxPRmPQl4FTCPLj0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lr10lVkNnczcxPRmPQl4FTCPLj0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/x0Wykjcnqus" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/4718560853434856893/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/refreshing-di-bumi-blambangan.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/4718560853434856893?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/4718560853434856893?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/x0Wykjcnqus/refreshing-di-bumi-blambangan.html" title="REFRESHING DI BUMI BLAMBANGAN" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/TDGF0U3aNxI/AAAAAAAAAGA/DFmRh0K8rMo/s72-c/Plengkung.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/07/refreshing-di-bumi-blambangan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkcNSXs4fSp7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-9024293990046219710</id><published>2010-06-28T20:43:00.002-07:00</published><updated>2010-07-16T00:08:18.535-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T00:08:18.535-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi" /><title>Entrepreneurship VS Teknopreneurship</title><content type="html">&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/TClvMnDJjzI/AAAAAAAAAF4/Yx2AHczJFOU/s1600/Bedulan.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5488039883358965554" src="http://3.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/TClvMnDJjzI/AAAAAAAAAF4/Yx2AHczJFOU/s320/Bedulan.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 100px; margin: 0pt 4px 4px 0pt; width: 100px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;( Sebuah Peluang…………?? )&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang sering berpandangan bahwa segala yang berurusan dengan bisnis selalu terkait dengan modal, artinya bahwa bagi orang yang bermodal –ber-uang- dapat menjalankan bisnis apapun sesuai dengan selera, tetapi bagi khalayak umum yang tidak bermodal, berbisnis merupakan hal yang tabu dan sulit dilakukan. Statemen tersebut kiranya wajar mengingat selama ini pola/sistem yang mendukung kearah tersebut nyaris tidak ada. Bahkan berpikir untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“berbisnis”&lt;/span&gt; pun tidak ada.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Orientasi pendidikan kita selama ini (yang saya pahami) menjadi salah satu indikator utama pembentukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bussines character&lt;/span&gt; bagi lulusannya ternyata kurang memberikan porsi kewirausahaan atau bahkan nyaris adanya. Hal yang demikian ini secara alamiah akan menciptakan paradigma berpikir abstrak terkait dengan bisnis/kewirausahaan. Orientasi pendidikan yang lebih mengarah pada pembentukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;thought approach&lt;/span&gt; tereduksi dalam sistem pendidikan membentuk masyarakat yang berfikir dari pada masyarakat yang bertindak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Kesadaran terhadap kenyataan bahwa masyarakat kita mengalami bussines phobia semakin dirasakan oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stakeholder &lt;/span&gt;kita. Minimal dapat kita lihat dengan perubahan komposisi/prosentase jumlah sekolah kejuruan dengan sekolah menengah, dimana proses sebelumnya dari 30:70 untuk sekolah menengah dan sekarang (dan yang akan datang) menjadi sebaliknya, dimana 70:30 untuk sekolah kejuruhan. Proses perubahan ini diyakini dapat merubah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;style&lt;/span&gt; yang lebih berorientasi pada pembentukan bussines character bagi setiap lulusannya. Makanya tidak mustahil apabila pemerintah betul-betul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“gethol” &lt;/span&gt;terhadap sekolah-sekolah yang berbasis kejuruhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Disamping itu, peningkatan lembaga penunjang ketrampilan masyarakat semakin ditumbuh kembangkan sebagai bagian dari orientasi tersebut. Sehingga diharapkan dapat menciptakan keterampilan bagi masyarakat yang ending point-nya dapat tertanam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bussines character&lt;/span&gt; yang saya maksud. Dengan kata lain bahwa, upaya yang dilakukan oleh pemerintah melalui peningkatan pelatihan dan keterampilan tidak lain dimaksudkan agar kelak lulusannya bisa berwirausaha sendiri dengan kemampuan yang diperolehnya dari sekolah kejuruan dan lembaga keterampilan lainnnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Banyak kalangan Bisnis berpendapat bahwa Kematangan tidak dinilai dari berapa usia yang dimiliki, sukses sejak muda adalah hal yang mungkin. Kunci untuk mendapat sebuah keberhasilan dan kesuksesan diperoleh dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Work hard&lt;/span&gt; sedangkan kepandaian dan faktor lainnya hanyalah pendukung. Semakin sering diasah kemampuan usahanya, maka semakin besar peluang untuk menjadi pengusaha sukses. Wirausahawan adalah orang yang memiliki seni dan ketrampilan tertentu dalam menciptakan usaha atau bisnis yang baru dengan diperhadapkan dengan resiko dan ketidakpastian dalam memperoleh keuntungan dan mengembangkan bisnis dengan cara mengenali kesempatan dan memanfaatkan sumber daya yang diperlukan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Kita dapat berkontribusi secara nyata kepada lingkungan masyarakat kita, ketimbang menunggu uluran tangan pemerintah dalam bertindak. Kontribusi swasta yang diberikan oleh perusahaan besar maupun UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) sangat signifikan dalam pembangunan ekonomi Negara. Beberapa konstribusi langsung adalah kegiatan wirausaha dapat meningkatkan lapangan pekerjaan, meningkatkan kualitas hidup, meningkatkan pemerataan pendapatan, memanfaatkan dan memobilisasi sumber daya untuk meningkatkan produktivitas nasional, serta meningkatkan penerimaan pemerintah melalui pajak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Menurut beberapa pakar, pembangunan kewirausahaan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka banyak lapangan kerja baru (Schumpeter,1971), melahirkan banyak kreativitas dan inovasi baru dalam melakukan usaha maupun teknologi (Porter,1990), meningkatkan kualitas kompetisi yang berujung pada nilai tambah bagi masyarakat (lumpkin dan Dess,1996), menurunkan biaya dan waktu yang timbul akibat ketidakpastian (McGrath, 1992), dan kesejahteraan yang pada dasarnya adalah sebuah created wealth (Porter,2004). Satu lompatan raksasa ditentukan oleh langkah kecil yang anda ambil hari ini, siapa takut jadi entrepreneur. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Selanjutnya, perlu juga saya tulis juga tentang beberapa perbedaan dari jenis usaha dilihat dari sisi pelaku usaha, diharapkan dapat memberikan tambahan pemahaman dari pembaca tentang pelaku usaha kecil, entrepreneur tradisional, dan teknopreneurship yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Usaha Kecil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Motivasinya bekerja sendiri, lebih ke pesonaliti pemilik dan biasanya memiliki ide-ide khusus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepemilikan biasanya langsung dari pendiri atau dengan rekan bisnis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Gaya manajerial lebih hanya ke trial and error dan masih sering menghindari resiko, juga arus kas keuangan masih stabil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepemimpinan dari usaha kecil memiliki hubungan baik dengan bawahan, saling berkolaborasi, dan biasanya sering menghasilkan kemenangan kecil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Inovasi dari usaha kecil memerlukan waktu yang lama sesuai dengan tanggung jawab pemilik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Outsourcing atau jaringan kerja usaha kecil masih sederhana dan jika lobi bisnis biasanya langsung ke pemilik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Potensi pertumbuhan stabil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Target pasar local dan melakukan penekanan biaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Entrepreneur Tradisional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Motivasi lebih ke banyak konsep dan ide, eksploitasi banyak kesempatan dan akumulasi kekayaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepemilikan berada di saham pengendali dengan keuntungan yang maksimal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Gaya manajerial yang professional dan mau menerima resiko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepemimpinan dengan otoritas tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Inovasi bukan prioritas utama, namun mengandalkan franchise dan lisensi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Outsourcing penting, namun saying sulit mendapatkan tenaga ahli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Potensi pertumbuhan menggunakan proteksi, monopoli, oligopoly, sehingga pertumbuhan secara global lambat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Target pasar lebih ke nasional dan memakan waktu lama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Teknopreneur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Motivasi demi kesuksesan dengan teknologi baru, penuh kompetisi dan resiko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepemilikan berasal dari saham kecil hingga besar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Gaya manajerial dengan pengalaman terbatas, namun fleksibel, dan memiliki semangat inovasi yang berkelanjutan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepemimpinan selalu menghargai kontribusi dan pencapaian, juga berjuang secara kolektif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Dalam inovasi selalu menjadi pemimpin dalam riset, IT dan biotek global, plus kecepatan peluncuran produk ke pasar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Berkembang bersama dalam satu tim &lt;span style="font-style: italic;"&gt;outsourcing &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Potensi pertumbuhan sangat besar karena selalu mengakuisisi teknologi dan pasar berubah seiring teknologi baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Target pasar global dan mendidik konsumen teknologi baru&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Teknopreneurship sudah seharusnya didorong pengembangannya oleh pemerintah. Sebab dengan bertambahnya jumlah mereka itulah, maka bangsa Indonesia akan mampu menjadi bangsa yang bersaing pada tataran persaingan global. Dimana tidak sekedar ‘menjual’ barang komoditas ataupun barang industri yang persaingan pasarnya relatif ketat. Tetapi mereka juga menjual produk inovatif yang mampu menjadi subsitusi maupun komplemen dalam kemajuan peradaban manusia. Wallahu a’lam….trims.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-9024293990046219710?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wVsyY6WYdJkkN-oBTjPDy0QvmlI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wVsyY6WYdJkkN-oBTjPDy0QvmlI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wVsyY6WYdJkkN-oBTjPDy0QvmlI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wVsyY6WYdJkkN-oBTjPDy0QvmlI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/NR0y94bb2n8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/9024293990046219710/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/06/entrepreneurship-vs-teknopreneurship.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/9024293990046219710?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/9024293990046219710?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/NR0y94bb2n8/entrepreneurship-vs-teknopreneurship.html" title="Entrepreneurship VS Teknopreneurship" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/TClvMnDJjzI/AAAAAAAAAF4/Yx2AHczJFOU/s72-c/Bedulan.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/06/entrepreneurship-vs-teknopreneurship.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkYDSXY6fCp7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-3585449137154868936</id><published>2010-06-27T23:58:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T00:09:38.814-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T00:09:38.814-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi" /><title>SPIRIT NIPPON</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentu tidak asing lagi bagi kita dalam berbagai versi sejarah tentang Nippon alias Jepang, dengan simbol ‘Jepang pemimpin, pelindung, dan cahaya Asia”.  Mampu Mengilhami setiap generasi japannes untuk selalu menjadi yang “ter” dalam segala hal di daratan asia bahkan dunia. sebuah catatan penting tentang semangat juang negeri Sakura tersebut kalau kita telaah lebih mendalam ternyata menjadikan sebuah spirit yang luar biasa, tidak hanya untuk bangsa jepang sendiri tetapi untuk bangsa-bangsa lain di luar jepang, bahkan lintas generasi.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sebagai negara kecil dengan potensi Sumberdaya alam yang tergolong minus, -baca: seadanya- menjadikan jepang berpikir dua kali untuk menghidupi seluruh rakyatnya. Mereka sadar bahwa jika mengandalkan potensi alam yang dimilikinya maka mereka -jangka panjang- akan mengalami kondisi yang sangat sulit. Dengan wujud kesadaran itu – terlepas Jepang sebagai penjajah- Sehingga pemimpin besar jepang, Akihito merubah orientasi pengembangan dari pendekatan sumberdaya alam menjadi pengembangan sumberdaya manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Perubahan struktur tersebut bukan tanpa liku, tetapi penuh lika-liku dan membutuhkan beberapa dekade. Singkat cerita, jepang menjadi seperti saat ini. Sumberdaya manusianya yang matang dan profesional, insfrastruktur yang sangat memadai, bahkan perekonomiannya termasuk salah satu yang terbaik di dunia….yah, itulah jepang saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Semua itu, menurut saya tidak lain adalah semangat yang luar biasa yang ditanamkan oleh pemimpin negeri sakura tersebut dengan motto seperti di atas. Dengan keterbatasan yang dimiliki mampu membakar semangat anak-anak sakura menjadi yang “ter” tadi..apakah perubahan yang sangat ekstrem tersebut Luar biasa…??? Saya kira tidak. Sebab kalau kita cermati, apa yang dilakukan oleh jepang adalah sesuatu yang sederhana, bukanlah perkara yang istimewa. Ada 3 hal yang menurut saya yang dilakukan oleh Jepang:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 1. Komitmen bersama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Hal ini bisa diartikan bahwa jepang dengan semangat yang tinggi dalam bekerja dan dilandasi oleh komitmen bersama dengan mengedepankan kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi atau golongan masing-masing mampu merubah segalanya. Yang selama ini sulit dicerna akal sehat apalagi sampai dibayangkan ternyata jepang bisa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 2. Etos kerja yang tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Secara teori manajemen, logis jika jepang mempunyai semangat/etos kerja yang tinggi. Dibanding negara-negara yang lain. Mengapa, keberadaan, kepemilikan, dan kenyataan bahwa jepang bukan negeri yang makmur tetapi mempunyai potensi sumberdaya yang luar biasa menjadikan mata mereka terbuka lebar. Mereka menyadari akan keterbatasan tersebut, sehingga mereka memanfaatkan betul potensi yang dimilikinya untuk kemajuan mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 3. Profesional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam teori perencanaan Pembangungan sering di ajarkan tentang Cluster Models atau pemahaman yang sederhana adalah bagaimana menjadikan potensi di daerah masing-masing di kelola dengan baik sesuai dengan identitas, kultur, input dll. Sehingga akan membentuk kondisi ekonomi/usaha yang lebih efisien dan efektif karena mengelompok, tentunya didukung oleh beberapa pihak misalnya pemerintah –pendanaan-. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Jepang, saya kira memanfaatkan teori ini. Bagaimana memanfaatkan sumberdaya di daerah dengan segala potensinya di manfaatkan untuk membuat produk sesuai dengan kultur yang ada. Maka jepang di istilahkan sebagai negara yang Maju tetapi masih mempertahankan kultur atau jati dirinya, jepang sebagai jepang apa adanya. Hubungan dengan sub tema di atas adalah bahwa keberadaan/kepemilikan yang ada dilaksanakan dengan sebaik mungkin atau istilah populernya adalah profesional, seperti yang saya maksud dalam subtema tersebut. Maka prinsip profesional tersebut benar-benar dijalankan oleh jepang hingga kini…..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Bagaimana dengan negara kita…INDONESIA??? Negeri yang kata orang “gemah ripah loh jinawi’, surga dunia, kayu di tanamkan dimanapun bisa tumbuh, garis katulistiwa…..atau apaun lah julukan untuk negeri ini….. saya kira benar juga statemen itu, tanah luas, hutan banyak, laut membentang dari sabang sampai merauke….potensi laut yang sangat luar biasa. Manusianya 239 juta…….apalagi???…tidak ada kata lain selain LUAR BIASA….namun, negeri yang menjadi surga-nya dunia ini seakan-akan hanya Antah berantah. Kita punya segalanya, tetapi kita belum bisa seperti jepang yang tidak punya apa-apa. Ada apa dengan Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Mari secara Simbolik kita bandingkan dengan Jepang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dengan jumlah penduduk yang 239 juta, betapa sulitnya mendapatkan pemain sepakbola yang profesional yang jumlahnya hanya 11 orang, sedangkan jepang dengan penduduk yang 175 juta, ternyata sampai pada 16 besar “the greatest football in Africa”……&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Mungkinkah Indonesia di ciptakan untuk memberi kehidupan orang lain atau kita hanya dititipi Indonesia untuk orang lain…wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-3585449137154868936?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/F1K6_vaSKYVlCtCBnFpRLeud1JM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/F1K6_vaSKYVlCtCBnFpRLeud1JM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/F1K6_vaSKYVlCtCBnFpRLeud1JM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/F1K6_vaSKYVlCtCBnFpRLeud1JM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/o13jmhyvHW8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/3585449137154868936/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/06/spirit-nippon.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/3585449137154868936?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/3585449137154868936?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/o13jmhyvHW8/spirit-nippon.html" title="SPIRIT NIPPON" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/06/spirit-nippon.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkUDRnY_fyp7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-8806778894673690924</id><published>2010-06-10T00:48:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T00:11:17.847-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T00:11:17.847-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi" /><title>PEMIMPIN DALAM PERSPEKTIF TAQWA</title><content type="html">&lt;div style="text-align: center;"&gt;"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (Qs. Ali Imran : 102)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Seorang hamba tidak dapat mencapai derajat taqwa (muttaqin) sehingga meninggalkan apa yang tidak berdosa , semata-mata karena khawatir terjerumus   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; dalam dosa (H.R. At-Tirmidzi, Ibnu Majah)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Islam sebagai agama yang Rahmatan lil ‘alamin mengajarkan kepada kita bahwa pada hakikatnya, perbedaan manusia tidak berada pada kedudukan, jabatan, pangkat, kekayaan dan lainnya. Manusia dibedakan dengan kadar dan bobot nilai mereka di mata Allah. Perbedaan antara manusia dengan manusia yang lain di dalam perspektif Islam terletak pada sejauh mana manusia tersebut mampu mengoptimalkan kadar ruhaninya untuk mendekat pada Allah. Perbedaan manusia dan kemuliaan manusia ditentukan oleh nilai dan kadar taqwanya yang bergolak dalam dadanya. (QS. Al-Hujurat: 13) Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudhari disebutkan, Hendaknya kamu bertaqwa sebab ia adalah kumpulan segala kebaikan, dan hendaknya engkau berjihad karena ia sikap kependetaan seorang muslim, dan hendaknya engkau selalu berdzikir menyebut nama Allah karena dia cahaya bagimu (HR. Ibnu Dharis dari Abu Said Al-Khudhari)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Definisi Taqwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Para ulama telah berusaha memberikan definisi taqwa yang mudah dicerna. Dan banyak sekali definisi taqwa dengan berbagai perspektif, dalam tulisan ini saya mengutip beberapa definisi taqwa dari beberapa ulama. Diantaranya adalah Hasan Al-Bashri, beliau mengatakan bahwa taqwa adalah takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah, dan menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah. Taqwa juga berarti kewaspadaan, menjaga benar-benar perintah dan menjauhi larangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sepintas, definisi taqwa tersebut cukup sederhana, namun dalam konteks amal, sangat memerlukan upaya yang sungguh-sungguh untuk meraihnya. Seorang sahabat Rasul SAW, Ubay bin Ka’ab pernah memberikan gambaran yang jelas tentang hakikat taqwa. Pada saat itu, Umar bin Khaththab bertanya kepada Ubay tentang apa itu taqwa. Ubay balik bertanya : “Apakah Anda tidak pernah berjalan di tempat yang penuh duri?” Umar menjawab : “Ya.” Ubay bertanya lagi : “Lalu Anda berbuat apa?” Umar menjawab: “Saya sangat hati-hati dan bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duri itu.” Ubay menimpali : “Itulah (contoh) taqwa.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Definisi tentang taqwa menurut Hasan Al-Bashri (yang juga diikuti dan disepakati  oleh para ulama) di atas, memberikan kejelasan bahwa duri yang menghadang para muttaqin adalah apa-apa yang diharamkan atau dilarang oleh Allah SWT. Oleh karena itu, kita seharusnya berjalan secara hati-hati, waspada, dan takut terhadap semua larangan Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Istilah taqwa sepertinya memang sudah mulai kehilangan makna. Padahal, bagi kaum muslimin, paling sedikit satu kali dalam seminggu, dalam khutbah Jum’at, khatib mengingatkan kepada jama’ah untuk senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita. Dalam Al Qur’anul Karim,  banyak ayat yang memerintahkan kita untuk bertaqwa. Allah SWT menjanjikan bahwa sesungguhnya manusia yang paling mulia di sisi-Nya adalah manusia yang paling bertaqwa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Taqwa adalah bentuk peribadatan kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya dan jika kita tidak melihat-Nya maka ketahuilah bahwa Dia melihat kita. Taqwa adalah tidak terus menerus melakukan maksiat dan tidak terpedaya dengan ketaatan. Taqwa kepada Allah adalah jika dalam pandangan Allah seseorang selalu berada dalam keadaan tidak melakukan apa yang dilarang-Nya, dan Dia melihatnya selalu melakukan kebaikan. Menurut Sayyid Quth dalam tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—taqwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua duri kehidupan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sedangkan Menurut Bahtiar Ahmad taqwa ada beberapa definisi tentang Taqwa, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 1. Taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 2. Taqwa itu berarti takut, tapi tidak persis seperti takut. Katanya sudah ada kata lain di Al Qur’an untuk kata takut, yaitu  khasyiya dan khawf &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 3. Taqwa itu mengetahui dengan akal, memahami dengan hati dan melakukan dengan perbuatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 4. Ada yang membagi dalam 2 Definisi Taqwa =  a. Hati-hati   b. Meninggalkan yang tidak berguna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 5. Taqwa : merupakan kosekuensi logis dari keimanan yang kokoh yang dipupuk dengan murrukobatullah, merasa takut terhadap murka dan azab-Nya dan selalu berharap atas limpahan karuni dan magfir-Nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 6. Taqwa : hendaklah Allah tidak melihat kamu berada dalam larangan-larangan-Nya dan tidak kehilangan kamu didalam perintah-perintah-Nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 7. Ada yang bilang ; Taqwa terambil dari akar kata yang berarti menghindar. Perintah untuk bertaqwa berarti perintah untuk menghindarkan siksa dan ancaman Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 8. Taqwa adalah sikap abstrak yang tertanam dalam hati setiap muslim, yang aplikasinya berhubungan dengan syariat agama dan kehidupan sosial. Seorang muslim yang bertaqwa pasti selalu berusaha melaksanakan perintah Tuhannya dan menjauhi segala laranganNya dalam kehidupan ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib K.W. tentang apa itu taqwa. Beliau menjelaskan bahwa taqwa itu adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 1. Takut (kepada Allah) yang diiringi rasa cinta, bukan takut karena adanya neraka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 2. Beramal dengan Alquran yaitu bagaimana Alquran menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari seorang manusia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 3. Ridho dengan yang sedikit, ini berkaitan dengan rizki. Bila mendapat rizki yang banyak, siapa pun akan ridho tapi bagaimana bila sedikit? Yang perlu disadari adalah bahwa rizki tidak semata-mata yang berwujud uang atau materi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 4. Orang yg menyiapkan diri untuk "perjalanan panjang", maksudnya adalah hidup sesudah mati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menyatakan bahwa orang bertaqwa adalah orang yang telah menjadikan tabir penjaga antara dirinya dan neraka. Pernyataan ulama besar salaf ini memiliki kandungan yang lebih spesifik lagi. Orang bertaqwa berarti dia telah mengetahui hal-hal apa saja yang menyebabkan Allah murka dan menghukumnya di neraka. Selain itu, ia juga harus mengetahui batasan-batasan (aturan-aturan) Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Di sinilah peran penting dari perintah Rasul SAW untuk menuntut ilmu dari mulai lahir hingga liang lahat. Ketaqwaan sangat memerlukan landasan ilmu yang benar dan lurus, sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT sangat mencela kepada orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan tentang batasan-batasan yang telah disampaikan kepada Rasul-Nya. Hal ini sejalan pula dengan firman Allah bahwa Alah akan meninggikan orang-orang berilmu beberapa derajat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam perjalanan meraih derajat taqwa diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu, bisikan Setan yang sangat halus dan sering membuat manusia terpedaya. Sikap istiqamah dalam memegang ajaran Allah sangat diperlukan guna menghantarkan kita menuju derajat taqwa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Syekh Abdul Qadir pernah memberikan nasihat : ”Jadilah kamu bila bersama Allah tidak berhubungan dengan makhluk dan bila bersama dengan makhluk tidak bersama nafsu. Siapa saja yang tidak sedemikian rupa, maka tentu ia akan selalu diliputi syaitan dan segala urusannya melewati batas.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Seseorang yang bertaqwa akan meninggalkan dosa-dosa, baik kecil maupun besar. Baginya dosa kecil dan dosa besar adalah sama-sama dosa. Ia tidak akan memandang remeh dosa-dosa kecil, karena segala sesuatu diawali oleh yang kecil-keci. Dosa yang kecil, jika dilakukan terus-menerus akan berubah menjadi dosa besar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Tidak hanya hal-hal yang menyebabkan dosa saja yang ditinggalkan oleh orang-orang bertaqwa, hal-hal yang tidak menyebabkan dosa pun, jika itu meragukan, maka ditinggalkan pula dengan penuh keikhlasan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Aa’ Gym (KH. Abdullah Gymnastiar) sering kali mengingatkan kita dalam berbagai kesempatan, bahwa taqwa bisa dilakukan apabila ada kekuatan iman pada diri seorang muslim. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk berusaha menjadi orang yang muttaqin, yaitu diawali dengan cara 3 pendekatan dasar, pertama, Mulai dari diri kita, Kedua, Mulai dari yang kecil-kecil, beliau mendefinisikannya bahwa seseorang melakukan dosa biasanya di mulai dari perkara/dosa yang kecil, terbiasa dengan dosa kecil untuk selanjutnya menjadi melakukan dosa besar. Secara alamiah manusia cenderung ingin mencoba sesuatu, dan kemudian terbiasa, pun dengan dosa. Oleh sebab itu, segala sesuatu yang menyebabkannya harus diminimalisir dan dimuali dari yang kecil-kecil. Ketiga, mulai saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Buah Taqwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Manusia taqwa akan mendapatkan mahabbah Allah (Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa, (QS. At-Taubah: 4), Allah akan selalu bersama langkah dan pikirnya (Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. An-Nahl; 128), mendapat manfaat dari apa yang dibaca di dalam Al-Qur`an (QS. Al-Baqarah; 2), lepas dari gangguan syetan –“sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa apabila ditimpa was-was dari syetan, mereka ingat kepada Allah maka seketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya” (QS. Al-A’raf: 35), diterima amal-amalnya (QS. Al-Maidah: 27), mendapatkan kemudahan setelah kesulitan dan mendapat jalan keluar setelah kesempitan (QS. Ath-Thalaq: 2 dan 4).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Manusia taqwa akan memiliki firasat yang tajam, mata hati yang peka dan sensitif sehingga dengan mudah mampu membedakan mana yang hak dan mana pula yang batil. (QS. Al-Anfaal : 29). Mata hati manusia taqwa adalah mata hati yang bersih yang tidak terkotori dosa-dosa dan maksiat, karenanya akan gampang baginya untuk masuk surga yang memiliki luas seluas langit dan bumi yang Allah peruntukkan untuk orang-orang yang bertaqwa (QS. Ali Imran: 133 dan Al-Baqarah: 211).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Taqwa yang terhimpun dalam individu-individu ini akan melahirkan keamanan dalam masyarakat. Masyarakat akan merasa tenteram dengan kehadiran mereka. Sebaliknya pupusnya taqwa akan menimbulkan sisi negatif yang demikian parah dan melelahkan. Umat ini akan lemah dan selalu dilemahkan, akan menyebar penyakit moral dan penyakit hati. Kezhaliman akan merajalela, adzab akan banyak menimpa. Masyarakat akan terampas rasa aman dan kenikmatan hidupnya. Masyarakat akan terenggut keadilannya, masyarakat akan hilang hak-haknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Semakin taqwa seseorang -baik dalam tataran individu, sosial, politik, budaya, ekonomi- maka akan lahir pula keamanan dan ketenteraman, akan semakin marak keadilan, akan semakin menyebar kedamaian. Taqwa akan melahirkan individu dan masyarakat yang memiliki kepekaaan Ilahi yang memantulkan sifat-sifat Rabbani dan insani pada dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Akankah kita seperti hamba Allah lainnya menghadap kepadaNya dengan kebanggan dan tingkat taqwa setinggi-tinggi untuk menemui Dzat Yang Maha Agung Allah SWT. Smoga kita termasuk ke dalam golongan orang beriman dan mendapat SyafaatNya di hari Pembalasan. Amin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Teori Kepemimpinan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Kepemimpinan atau Leadership mempunyai arti yang berbeda-beda tergantung pada sudut pandang atau perspektif-perspektif dari para peneliti yang bersangkutan, misalnya dari perspektif individual dan aspek dari fenomena yang paling menarik perhatian mereka. Stogdill (1974: 259) menyimpulkan bahwa terdapat hampir sama banyaknya definisi tentang kepemimpinan dengan jumlah orang yang telah mencoba mendefinisikannya. Lebih lanjut, Stogdill (1974: 7-17) menyatakan bahwa kepemimpinan sebagai konsep manajemen dapat dirumuskan dalam berbagai macam definisi, tergantung dari mana titik tolak pemikirannya. Misalnya, dengan mengutip pendapat beberapa ahli, Paul Hersey dan Kenneth H Blanchard (1977: 83-84) mengemukakan beberapa definisi, antara lain:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepemimpinan adalah kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok (George P Terry)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum (H.Koontz dan C. O'Donnell)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi pada suatu keadaan dan diarahkan melalui proses komunikasi ke arah tercapainya sesuatu tujuan (R. Tannenbaum, Irving R, F. Massarik). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sedangkan Yukl (1996: 2), mengutip beberapa pendapat tentang definisi kepemimpinan antara lain: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi (Katz dan Kahn)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan (Rauch dan Behling)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepemimpinan adalah proses memberi arti terhadap usaha kolektif yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran (Jacobs dan Jacques)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Menurut Wahjosumidjo (1984: 26) butir-butir pengertian dari berbagai definisi kepemimpinan, pada hakekatnya memberikan makna :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepemimpinan adalah sesuatu yang melekat pada diri seorang pemimpin yang berupa sifat-sifat tertentu seperti kepribadian, kemampuan, dan kesanggupan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepemimpinan adalah serangkaian kegiatan pemimpin yang tidak dapat dipisahkan dengan kedudukan serta gaya atau perilaku pemimpin itu sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepemimpinan adalah proses antar hubungan atau interaksi antara pemimpin, bawahan dan situasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dari berbagai definisi yang ada, maka dapat dikatakan bahwa Kepemimpinan adalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Seni untuk menciptakan kesesuaian paham&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Bentuk persuasi dan inspirasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kepribadian yang mempunyai pengaruh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Tindakan dan perilaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Titik sentral proses kegiatan kelompok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Hubungan kekuatan/kekuasaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Sarana pencapaian tujuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Hasil dari interaksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Peranan yang dipolakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Inisiasi struktur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Berbagai pandangan atau pendapat mengenai batasan atau definisi kepemimpinan di atas, memberikan gambaran bahwa kepemimpinan dilihat dari sudut pendekatan apapun mempunyai sifat universal dan merupakan suatu gejala sosial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Menurut kaidah, para pemimpin atau manajer adalah manusia-manusia super lebih daripada yang lain, kuat, gigih, dan tahu segala sesuatu (White, Hudgson &amp;amp; Crainer, 1997). Para pemimpin juga merupakan manusia-manusia yang jumlahnya sedikit, namun perannya dalam organisasi merupakan penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai. Berangkat dari ide-ide pemikiran, visi, misi para pemimpin ditentukan arah perjalanan suatu organisasi. Walaupun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dari tingkat kinerja organisasi, akan tetapi kenyataan membuktikan tanpa kehadiran pemimpin, suatu organisasi akan bersifat statis dan cenderung berjalan tanpa arah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam sejarah peradaban manusia, gerak hidup dan dinamika organisasi sedikit banyak tergantung pada sekelompok kecil manusia penyelenggara organisasi. Bahkan dapat dikatakan kemajuan umat manusia datangnya dari sejumlah kecil orang-orang “istimewa” yang tampil kedepan. Orang-orang ini adalah perintis, pelopor, ahli-ahli pikir, pencipta dan ahli organisasi. Sekelompok orang-orang istimewa inilah yang disebut pemimpin. Oleh karenanya kepemimpinan seorang merupakan kunci dari manajemen. Para pemimpin dalam menjalankan tugasnya tidak hanya bertanggungjawab kepada atasannya, pemilik, dan tercapainya tujuan organisasi, mereka juga bertanggungjawab terhadap masalah-masalah internal organisasi termasuk didalamnya tanggungjawab terhadap pengembangan dan pembinaan sumber daya manusia. Secara eksternal, para pemimpin memiliki tanggungjawab sosial kemasyarakatan atau akuntabilitas publik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dari sisi teori kepemimpinan, pada dasarnya teori-teori kepemimpinan mencoba menerangkan dua hal yaitu, faktor-faktor yang terlibat dalam pemunculan kepemimpinan dan sifat dasar dari kepemimpinan. Penelitian tentang dua masalah ini lebih memuaskan daripada teorinya itu sendiri. Namun bagaimanapun teori-teori kepemimpinan cukup menarik, karena teori banyak membantu dalam mendefinisikan dan menentukan masalah-masalah penelitian. Dari penelusuran literatur tentang kepemimpinan, teori kepemimpinan banyak dipengaruhi oleh penelitian Galton (1879) tentang latar belakang dari orang-orang terkemuka yang mencoba menerangkan kepemimpinan berdasarkan warisan. Beberapa penelitian lanjutan, mengemukakan individu-individu dalam setiap masyarakat memiliki tingkatan yang berbeda dalam inteligensi, energi, dan kekuatan moral serta mereka selalu dipimpin oleh individu yang benar-benar superior.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Perkembangan selanjutnya, beberapa ahli teori mengembangkan pandangan kemunculan pemimpin besar adalah hasil dari waktu, tempat dan situasi sesaat. Dua hipotesis yang dikembangkan tentang kepemimpinan, yaitu ; (1) kualitas pemimpin dan kepemimpinan yang tergantung kepada situasi kelompok, dan (2), kualitas individu dalam mengatasi situasi sesaat merupakan hasil kepemimpinan terdahulu yang berhasil dalam mengatasi situasi yang sama (Hocking &amp;amp; Boggardus, 1994).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dua teori yaitu Teori Orang-Orang Terkemuka dan Teori Situasional, berusaha menerangkan kepemimpinan sebagai efek dari kekuatan tunggal. Efek interaktif antara faktor individu dengan faktor situasi tampaknya kurang mendapat perhatian. Untuk itu, penelitian tentang kepemimpinan harus juga termasuk ; (1) sifat-sifat efektif, intelektual dan tindakan individu, dan (2) kondisi khusus individu didalam pelaksanaannya. Pendapat lain mengemukakan, untuk mengerti kepemimpinan perhatian harus diarahkan kepada (1) sifat dan motif pemimpin sebagai manusia biasa, (2) membayangkan bahwa terdapat sekelompok orang yang dia pimpin dan motifnya mengikuti dia, (3) penampilan peran harus dimainkan sebagai pemimpin, dan (4) kaitan kelembagaan melibatkan dia dan pengikutnya (Hocking &amp;amp; Boggardus, 1994).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Beberapa pendapat tersebut, apabila diperhatikan dapat dikategorikan sebagai teori kepemimpinan dengan sudut pandang “Personal-Situasional”. Hal ini disebabkan, pandangannya tidak hanya pada masalah situasi yang ada, tetapi juga dilihat interaksi antar individu maupun antar pimpinan dengan kelompoknya. Teori kepemimpinan yang dikembangkan mengikuti tiga teori diatas, adalah Teori Interaksi Harapan. Teori ini mengembangkan tentang peran kepemimpinan dengan menggunakan tiga variabel dasar yaitu; tindakan, interaksi, dan sentimen. Asumsinya, bahwa peningkatan frekuensi interaksi dan partisipasi sangat berkaitan dengan peningkatan sentimen atau perasaan senang dan kejelasan dari norma kelompok. Semakin tinggi kedudukan individu dalam kelompok, maka aktivitasnya semakin sesuai dengan norma kelompok, interaksinya semakin meluas, dan banyak anggota kelompok yang berhasil diajak berinteraksi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Pada tahun 1957 Stogdill mengembangkan Teori Harapan-Reinforcement untuk mencapai peran. Dikemukakan, interaksi antar anggota dalam pelaksanaan tugas akan lebih menguatkan harapan untuk tetap berinteraksi. Jadi, peran individu ditentukan oleh harapan bersama yang dikaitkan dengan penampilan dan interaksi yang dilakukan. Kemudian dikemukakan, inti kepemimpinan dapat dilihat dari usaha anggota untuk merubah motivasi anggota lain agar perilakunya ikut berubah. Motivasi dirubah dengan melalui perubahan harapan tentang hadiah dan hukuman. Perubahan tingkahlaku anggota kelompok yang terjadi, dimaksudkan untuk mendapatkan hadiah atas kinerjanya. Dengan demikian, nilai seorang pemimpin atau manajer tergantung dari kemampuannya menciptakan harapan akan pujian atau hadiah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Atas dasar teori diatas, House pada tahun 1970 mengembangkan Teori Kepemimpinan yang Motivasional. Fungsi motivasi menurut teori ini untuk meningkatkan asosiasi antara cara-cara tertentu yang bernilai positif dalam mencapai tujuan dengan tingkahlaku yang diharapkan dan meningkatkan penghargaan bawahan akan pekerjaan yang mengarah pada tujuan. Pada tahun yang sama Fiedler mengembangkan Teori Kepemimpinan yang Efektif. Dikemukakan, efektivitas pola tingkahlaku pemimpin tergantung dari hasil yang ditentukan oleh situasi tertentu. Pemimpin yang memiliki orientasi kerja cenderung lebih efektif dalam berbagai situasi. Semakin sosiabel interaksi kesesuaian pemimpin, tingkat efektivitas kepemim-pinan makin tinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Teori kepemimpinan berikutnya adalah Teori Humanistik dengan para pelopor Argryris, Blake dan Mouton, Rensis Likert, dan Douglas McGregor. Teori ini secara umum berpendapat, secara alamiah manusia merupakan “motivated organism”. Organisasi memiliki struktur dan sistem kontrol tertentu. Fungsi dari kepemimpinan adalah memodifikasi organisasi agar individu bebas untuk merealisasikan potensi motivasinya didalam memenuhi kebutuhannya dan pada waktu yang sama sejalan dengan arah tujuan kelompok. Apabila dicermati, didalam Teori Humanistik, terdapat tiga variabel pokok, yaitu; (1), kepemimpinan yang sesuai dan memperhatikan hati nurani anggota dengan segenap harapan, kebutuhan, dan kemampuan-nya, (2), organisasi yang disusun dengan baik agar tetap relevan dengan kepentingan anggota disamping kepentingan organisasi secara keseluruhan, dan (3), interaksi yang akrab dan harmonis antara pimpinan dengan anggota untuk menggalang persatuan dan kesatuan serta hidup damai bersama-sama. Blanchard, Zigarmi, dan Drea bahkan menyatakan, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang Anda lakukan terhadap orang lain, melainkan sesuatu yang Anda lakukan bersama dengan orang lain (Blanchard &amp;amp; Zigarmi, 2001).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Teori kepemimpinan lain, yang perlu dikemukakan adalah Teori Perilaku Kepemimpinan. Teori ini menekankan pada apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin. Dikemukakan, terdapat perilaku yang membedakan pemimpin dari yang bukan pemimpin. Jika suatu penelitian berhasil menemukan perilaku khas yang menunjukkan keberhasilan seorang pemimpin, maka implikasinya ialah seseorang pada dasarnya dapat dididik dan dilatih untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif. Teori ini sekaligus menjawab pendapat, pemimpin itu ada bukan hanya dilahirkan untuk menjadi pemimpin tetapi juga dapat muncul sebagai hasil dari suatu proses belajar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Selain teori-teori kepemimpinan yang telah dikemukakan, dalam perkembangan yang akhir-akhir ini mendapat perhatian para pakar maupun praktisi adalah dua pola dasar interaksi antara pemimpin dan pengikut yaitu pola kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional. Kedua pola kepemimpinan tersebut, adalah berdasarkan pendapat seorang ilmuwan di bidang politik yang bernama James McGregor Burns (1978) dalam bukunya yang berjudul “Leadership”. Selanjutnya Bass (1985) meneliti dan mengkaji lebih dalam mengenai kedua pola kepemimpinan dan kemudian mengumumkan secara resmi sebagai teori, lengkap dengan model dan pengukurannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Pemimpin Dalam Perspektif Taqwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sungguh ironis, jika kita perhatikan istilah taqwa ini digunakan sebagai pajangan di bingkai persyaratan lembaga-lembaga formal. Misalnya, persyaratan untuk menjadi anggota MPR/DPR, presiden, atau jabatan-jabatan lain, adalah harus bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ternyata, setelah lolos sebagai pejabat, perilaku taqwa tidak sejalan dengan perilakunya, seperti korupsi dan kolusi masih meraja lela. Arogansi, kesewenang-wenangan dan bentuk kejahatan lainnya malah semakin menggejala. Seperti itukah pejabat-pejabat bertaqwa sebagaimana yang disyaratkan dalam peraturan perundang-undangan di negeri ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam tulisan ini penulis mencoba mendefinisikan teori kepemimpinan dalam perspektif Taqwa menurut pandangan Imam Qusyairi, beliau mendefinisikan taqwa dalam 4 kategori yaitu Tawadhu’, Qona’ah, Wara’, Yaqin. Yang selanjutnya di integrasikan kedalam teori kepemimpinan versi penulis. Berikut Penjelasannya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 1. Tawadhu’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Tawadhu’ adl ketundukan kepada kebenaran dan menerima dari siapapun datang baik ketika suka atau dlm keadaan marah. Arti janganlah kamu memandang dirimu berada di atas semua orang. Atau engkau menganggap semua orang membutuhkan dirimu. Lawan dari sifat tawadhu’ adl takabbur sifat yg sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah mendefinisikan sombong dgn sabdanya: “Kesombongan adl menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Tahukah anda apa yg diperbuat Allah subhanahu wa ta’ala terhadap Iblis yg terkutuk? Dan apa yg diperbuat Allah kepada Fir’aun dan tentara-tentaranya? Kepada Qarun dgn semua anak buah dan hartanya? Dan kepada seluruh penentang para Rasul Allah? Mereka semua dibinasakan Allah subhanahu wa ta’ala krn tdk memiliki sikap tawadhu’ dan sebalik justru menyombongkan dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Tawadhu’ di Hadapan Kebenaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Menerima dan tunduk di hadapan kebenaran sebagai perwujudan tawadhu’ adl sifat terpuji yg akan mengangkat derajat seseorang bahkan mengangkat derajat suatu kaum dan akan menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Negeri akhirat itu Kami jadikan utk orang2 yg tdk menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi dan kesudahan yg baik bagi orang2 yg bertakwa”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Fudhail bin Iyadh ditanya tentang tawadhu’ beliau menjawab: “Ketundukan kepada kebenaran dan memasrahkan diri kepada serta menerima dari siapapun yg mengucapkannya.” . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Tidak akan berkurang harta yg dishadaqahkan dan Allah tdk akan menambah bagi seorang hamba yg pemaaf melainkan kemuliaan dan tidaklah seseorang merendahkan diri krn Allah melainkan akan Allah angkat derajatnya”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Ibnul Qayyim t dlm kitab Madarijus Salikin berkata: “Barangsiapa yg angkuh utk tunduk kepada kebenaran walaupun datang dari anak kecil atau orang yg dimarahi atau yg dimusuhi mk kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Allah krn Allah adl Al-Haq ucapan haq agama haq. Al-Haq datang dari Allah dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri utk menerima kebenaran berarti dia menolak segala yg datang dari Allah dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Perintah utk Tawadhu’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam pembahasan masalah akhlak kita selalu terkait dan bersandar kepada firman Allah subhanahu wa ta’ala:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasul teladan yg baik.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam hal ini banyak ayat yg memerintahkan kepada beliau utk tawadhu’ tentu juga perintah tersebut utk umat dlm rangka meneladani beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang2 yg mengikutimu yaitu orang2 yg beriman.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Sesungguh Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri sehingga seseorang tdk menyombongkan diri atas yg lain dan tdk berbuat zhalim atas yg lain.” Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita bahwa tawadhu’ itu sebagai sebab tersebar persatuan dan persamaan derajat keadilan dan kebaikan di tengah-tengah manusia sebagaimana sifat sombong akan melahirkan keangkuhan yg mengakibatkan memperlakukan orang lain dgn kesombongan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Macam-macam Tawadhu’Telah dibahas oleh para ulama sifat tawadhu’ ini dlm karya-karya mereka baik dlm bentuk penggabungan dgn pembahasan yg lain atau menyendirikan pembahasannya. Di antara mereka ada yg membagi tawadhu’ menjadi dua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Tawadhu’ yg terpuji yaitu ke-tawadhu’-an seseorang kepada Allah dan tdk mengangkat diri di hadapan hamba-hamba Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Tawadhu’ yg dibenci yaitu tawadhu’- seseorang kepada pemilik dunia krn menginginkan dunia yg ada di sisinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dari penjelasan tentang tawadu’ di atas, kiranya kita perlu berpikir lebih mendalam mengenai kondisi pemimipin kita di semua lini. Sebagai pemimpin seharusnya memahami bahwa jabatan itu adalah sebuah amanah yang harus dijalankan sesuai dengan aturan yang berlaku, baik aturan positif (hukum) maupun aturan agama. Dalam sebuah kaidah di terangkan bahwa, jabatan itu adalah amanah, menyia-nyiakan amanah adalah dosa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sekarang ini terjadi kegelisahan yang sangat luar biasa dari perilaku pemimpin mulai dari tingkat yang paling rendah sampai yang paling atas. Dimulai dari pasca reformasi yang ditandai dengan kebebasan berekpresi sampai saat ini. Kebebasan di maknai oleh sebagian besar masyarakat kita sebagai kebebasan yang tanpa batas. Sehingga perilaku yang bebas dan tak terkendali menyebabkan amburadulnya kondisi bangsa, bahkan terkesan hilangnya perilaku “tawadu’” terhadap pemimpin, saling tidak percaya terhadap sesama bahkan yang lebih tragis adalah segala sesuatunya di nilai dengan “fulus”….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Oleh sebab itu, prinsip tawadu’ yang mengedepankan aspek ‘andap ashor”. Perlu kiranya menjadi kerangka berpikir positif yang dijadikan landasan bagi para pemimpin untuk selalu mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah. Allah di jadikan alat motivasi dalam perilaku kepemimpinannya, sehingga sebagai pemimpin minimal dapat menghilangkan perilaku sombong dan selalu mementingkan rakyatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Kalau kita flashback jauh kebelakang, Nabi Muhammad SAW mencontohkan sikap sebagai pemimpin yang baik, bertanggungjawab, dan bisa menjadi contoh bagi masyarakatnya.......beliau menjadi “uswah”  bagi semua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; (Bersambung)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-8806778894673690924?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4MwSpkQHxfD45tN2-XlkBmQA7XY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4MwSpkQHxfD45tN2-XlkBmQA7XY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4MwSpkQHxfD45tN2-XlkBmQA7XY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4MwSpkQHxfD45tN2-XlkBmQA7XY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/hypiGcd3tJE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/8806778894673690924/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/06/pemimpin-dalam-perspektif-taqwa.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/8806778894673690924?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/8806778894673690924?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/hypiGcd3tJE/pemimpin-dalam-perspektif-taqwa.html" title="PEMIMPIN DALAM PERSPEKTIF TAQWA" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/06/pemimpin-dalam-perspektif-taqwa.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkQGRH46eCp7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-5735203869151107505</id><published>2010-06-10T00:43:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T00:12:05.010-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T00:12:05.010-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi" /><title>Pentingnya Berwirausaha sejak Dini</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dilandasi dari kebutuhan dan tuntutan yang ada, mampu mengubah pola pikir sebagian besar masyarakat Indonesia yang selama ini tertumpu pada peran “besar pemerintah dalam menciptakan peluang kerja, namun pola pikir semacam itu mulai hilang perlahan-lahan seiring dengan tuntutan keadaan.&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Kebanyakan masyarakat sudah mulai berpikir lebih praktis dengan mengalihkan budaya menunggu kue dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menambah incomenya dari usahanya sendiri. Dulu, Setiap pelajar atau bahkan mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan di Indonesia memiliki sebuah paradigma yang secara kebetulan mengakar dan bukan saja menjadi bumerang dan kelemahan pendidikan di Indonesia, para murid/mahasiswa dibentuk dengan pemikiran setelah lulus hanya jadi employee atau secara harfiah dapat diartikan sebagai pegawai. Setiap orang menjadi nyaman dengan keadaan tersebut dan beranggapan menjadi kaya sebagai hal yang tabu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sebagai salah satu batu loncatan dalam hidup anda, dalam hal ini saya ingin memperkenalkan konsep bagaimana kita berwirausaha. Kematangan tidak dinilai dari berapa usia anda, sukses sejak muda adalah hal yang mungkin. Kunci untuk mendapat sebuah keberhasilan diperoleh dari kerja keras sedangkan kepandaian dan faktor lain hanyalah pendukung. Semakin sering anda mengasah diri menjadi pengusaha , maka semakin besar peluang untuk menjadi pengusaha sukses. Wirausahawan adalah orang yang memiliki seni dan ketrampilan tertentu dalam menciptakan usaha atau bisnis yang baru dengan diperhadapkan dengan resiko dan ketidakpastian dalam memperoleh keuntungan dan mengembangkan bisnis dengan cara mengenali kesempatan dan memanfaatkan sumber daya yang diperlukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Akhir-akhir ini, (ilmu) kewirausahaan mulai menjadi alternatif. Dibanyak perguruan tinggi mulai memberikan porsi kurikulum kewirausahaan yang cukup banyak. Dunia pendidikan mulai berpikir bahwa kewirausahaan dapat menjadi jawaban atas kegagalan sistem pendidikan yang lebih mengedepankan pada aspek teori. Ambil contoh, di Fakultas Ekonomi UIN Maliki Malang, ilmu kewirausahaan mulai dikembangkan lebih intensif lagi, dosennya tidak hanya mengajarkan teori tentang dan bagaimana kewirausahaan semata, tetapi juga ada kuliah luar/praktek berwirausaha bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah Kewirausahaan. Langkah nyata semacam ini diperlukan sebagai modal bagi mahasiswa kedepan, dengan suatu harapan “teori ketergantungan” terhadap kue pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Selanjutnya, Langkah apa saja yang dapat kita lakukan untuk menjawab itu semua? Pertama, meningkatkan lapangan pekerjaan, kedua, meningkatkan kualitas hidup, ketiga, meningkatkan pemerataan pendapatan, keempat, memanfaatkan dan memobilisasi sumber daya untuk meningkatkan produktivitas nasional, dan kelima,  meningkatkan penerimaan pemerintah melalui pajak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Menurut beberapa pakar, pembangunan kewirausahaan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka banyak lapangan kerja baru (Schumpeter,1971), melahirkan banyak kreativitas dan inovasi baru dalam melakukan usaha maupun teknologi (Porter,1990), meningkatkan kualitas kompetisi yang berujung pada nilai tambah bagi masyarakat (lumpkin dan Dess,1996), menurunkan biaya dan waktu yang timbul akibat ketidakpastian (McGrath, 1992), dan kesejahteraan yang pada dasarnya adalah sebuah created wealth (Porter,2004). Satu lompatan raksasa ditentukan oleh langkah kecil yang anda ambil hari ini, sanggupkah anda menjadi entrepreneur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Terinspirasi dari kreasi Mahasiswa FE UIN Malang Angkatan 2007…selamat untuk kalian semua…teruskan Kreasimu…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-5735203869151107505?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/H7Kb6sc3HuBPRBAfWEhUxHT3lyY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/H7Kb6sc3HuBPRBAfWEhUxHT3lyY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/H7Kb6sc3HuBPRBAfWEhUxHT3lyY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/H7Kb6sc3HuBPRBAfWEhUxHT3lyY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/oBW0GYRlkFg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/5735203869151107505/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/06/pentingnya-berwirausaha-sejak-dini.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/5735203869151107505?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/5735203869151107505?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/oBW0GYRlkFg/pentingnya-berwirausaha-sejak-dini.html" title="Pentingnya Berwirausaha sejak Dini" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/06/pentingnya-berwirausaha-sejak-dini.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkQMR38zfip7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-6274600509482435292</id><published>2010-05-31T00:04:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T00:13:06.186-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T00:13:06.186-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi" /><title>Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PBB diatur dalam UU no. 12 tahun 1994. obyek pajak PBB adalah bumi dan bangunan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. subyek pajak bumi dan bangunan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;orang pribadi atau badan yang memiliki hak dan memperoleh manfaat atas bumi dan bangunan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. pengecualian obyek pajak&lt;br /&gt;
yaitu obyek pajak yang semata-mata untuk kepentingan umum, misalnya;&lt;br /&gt;
- digunakan sebagai tempat ibadah, tempat kesehatan, pendidikan,sosial dan yang bukan mencari untung.&lt;br /&gt;
- Digunakan untuk tanah kuburan, museum, hutan lindung, hutan wisata, taman nasional&lt;br /&gt;
- Digunakan untuk perwakilan diplomatik/konsulat Negara lain dengan perlakuan asas timbal balik.&lt;br /&gt;
- Digunakan untuk perwakilan badan-badan internasional.&lt;br /&gt;
3. tata cara penghitungan PBB&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PBB = 0.5% x NJKP atau&lt;br /&gt;
= 0.5% x20% x (NJOP – NJOTKP)&lt;br /&gt;
= 0.5% x 40% x (NJOP – NJOTKP)&lt;br /&gt;
Keterangan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
NJOP = Taksiran harga rata-rata bumi dan bangunan dari transaksi wajar/perbandingan dengan obyek sejajar.&lt;br /&gt;
NJKP = Nilai jual kena pajak sebagai dasar pengenaan pajak dengan ketentuan&lt;br /&gt;
1. untuk obyek pajak yang nilainya kurang dari 1.000.000.000 dihitung dengan 20%x (NJOP-NJOTKP)&lt;br /&gt;
2. untuk obyek pajak yang nilainya lebih dari 1.000.000.000 dihitung dengan 40% x (NJOP – NJOTKP)&lt;br /&gt;
NJOTKP = Nilai jual obyek tidak kena pajak, besarnya 8.000.000&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh:&lt;br /&gt;
“A” mempunyai tanah 500 m, harga jual 500.000/m. rumah 120 m, nilai jual rumah 400.000/m. maka PBB yang harus dibayar “A” adalah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawab:&lt;br /&gt;
NJOP bumi 500 x 500.000 = 250.000.000&lt;br /&gt;
NJOP bangunan 120 x 400.000 = 48.000.000&lt;br /&gt;
Taksiran nilai jual bumi dan bangunan = 298.000.000&lt;br /&gt;
NJOTKP = (8.000.000)&lt;br /&gt;
NJOP = 290.000.000&lt;br /&gt;
NJKP= 20% x 290.000.000 = 58.000.000&lt;br /&gt;
PBB yang harus dibayar = 0.5% x 58.000.000&lt;br /&gt;
= Rp290.000&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-6274600509482435292?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sh1QJ0vxUFG14qDnD2jslNpJk28/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sh1QJ0vxUFG14qDnD2jslNpJk28/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sh1QJ0vxUFG14qDnD2jslNpJk28/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sh1QJ0vxUFG14qDnD2jslNpJk28/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/cZAUvdJaQbY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/6274600509482435292/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/05/pajak-bumi-dan-bangunan-pbb.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/6274600509482435292?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/6274600509482435292?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/cZAUvdJaQbY/pajak-bumi-dan-bangunan-pbb.html" title="Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/05/pajak-bumi-dan-bangunan-pbb.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkMARXk-eyp7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-5978581631369130194</id><published>2010-05-28T19:17:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T00:14:04.753-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T00:14:04.753-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi" /><title>Belajar Enterprenaurship dari Bawah</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tadi malam saya sempatkan waktu berkunjung di salah satu saudara di kawasan Griya Santa, meskipun kondisi badan kurang fit. Bukan tanpa alasan saya ketempat itu, karena orang yang saya kunjungi adalah seorang pengusaha lokal yang bergerak di bidang “repacking” kue. Bersama dengan adik, saya datang ke tempat itu untuk belajar tentang usaha yang telah dijalaninya tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kira-kira pukul 19.00 saya bersama adik saya sampai di rumah saudara tersebut, diawali dengan perbincangan kecil, ngobrol kemana-mana dan sampailah pada tujuan yang saya inginkan. Saudara tersebut mengawali cerita tentang awal usaha yang dirintis sejak 2002 tersebut. Awalnya, didasari dengan masalah keuangan keluarga yang semakin menipis, mulailah tergerak hatinya untuk mencari tambahan penghasilan, yang sekedar untuk mengurangi beban hidup keluarganya. Dibantu tetangganya yang kebetulan mempunyai usaha repacking kue, dengan cara meminjami kue dan alat packing, mulailah dikerjakan pekerjaan itu sedikit demi sedikit. Dia berusaha untuk memasarkan sendiri kue hasil packingnya tersebut ke toko-toko disekitar rumahnya, lama kelamaan mulai berkembang usahanya, sehingga bisa menambah kuantitas kue dan toko-toko tempat dia menitipkan kue, bahkan hanya beberapa bulan saja penjualannya sampai di kawasan Dinoyo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Memang keberuntungan bisa datang kapan saja, dimana saja, selama tuhan menghendakinya, itulah kira-kira ungkapan yang saya tangkap dari pernyataan dia. Betapa tidak, ketika usahanya sudah mulai berkembang, tetangganya yang membantu usaha tutup, dan outlet yang dimiliki disewakan, maka tanpa berpikir panjang disewalah outlet di kawasan kuping gajah untuk mengembangkan usahanya. Pelan tapi pasti, dan dengan semangat yang pantang menyerah, mulailah dia mengembangkan usaha repacking kue kering.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Namun demikian, apa yang dibanyangkan ternyata tidak serta merta mulus, banyak hambatan-hambatan yang mengganggu kegiatan usahanya, seperti modal, pemasaran, input, dll. Dengan kondisi terpaksa dijalanilah usaha itu dengan apa adanya, dimana pengepakannya dilakukan sendiri, sampai pada pemasarannya. Dengan menerapkan semangat yang tinggi, dijalanilah usaha itu selama 2 tahun. Dengan penuh keyakinan yang tinggi usahanya tersebut membuahkan hasil yang cukup menggembirakan hingga saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Dengan bangga dia mengatakan bahwa apa yang dijalaninya tersebut telah menghasilkan “doku” yang lumayan dan sudah bisa menganggat pegawai 3 orang dengan area penjualan se-Malang Raya, bahkan jumlah toko yang dia stoki sudah mencapai 1100 toko se-Malang raya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, saya akhiri perbincangan tersebut. Namun demikian dari perbincangan yang hampir 3 jam tersebut, banyak hal yang saya pelajari dari perjalanan usahanya, mulai dari semangat pantang menyerah, istiqomah, tanggungjawab, dan kesungguhan dalam bekerja, yang menurutnya merupakan kunci keberhasilannya selama ini. BAGAIMANA dengan KITA, Mampukah?&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-5978581631369130194?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DGXlC9BL8GFmfU2bLBa909qRxno/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DGXlC9BL8GFmfU2bLBa909qRxno/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DGXlC9BL8GFmfU2bLBa909qRxno/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DGXlC9BL8GFmfU2bLBa909qRxno/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/P2E2iBh-KBw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/5978581631369130194/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/05/belajar-enterprenaurship-dari-bawah.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/5978581631369130194?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/5978581631369130194?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/P2E2iBh-KBw/belajar-enterprenaurship-dari-bawah.html" title="Belajar Enterprenaurship dari Bawah" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/05/belajar-enterprenaurship-dari-bawah.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkIFRHgzeyp7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-7962240307258757163</id><published>2010-04-16T19:22:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T00:15:15.683-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T00:15:15.683-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Agama" /><title>HIKMAH KHITAN</title><content type="html">&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S8kx0Fvt6lI/AAAAAAAAAFo/2eC3gcP78qA/s1600/PISANG.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460950794128714322" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S8kx0Fvt6lI/AAAAAAAAAFo/2eC3gcP78qA/s320/PISANG.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 100px; margin: 0pt 0pt 4px 4px; width: 120px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abu Hurairah juga mengatakan Rasulullah saw bersabda,”Barang siapa masuk Islam, hendaklah ia berkhitan walaupun sudah dewasa.” Khitan merupakan ajuran Rasul saw. Didalamnya terkandung hikmah-hikmah tertentu yang mungkin masih belum terungkap nilai manfaatnya secara menyeluruh dan utuh. Dengan demikian, berbagai dugaan bisa saja muncul. Berbagai penelitian masih mungkin untuk dilakukan&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Menurut Islam, Khitan merupakan ajaran agama yang sekaligus mempunyai hikmah dalam menjaga kebersihan dan kesehatan. Khitan adalah ajaran yang diwariskan oleh nabi Ibrahim kepada nabi Muhammad saw. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori disebutkan bahwa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Nabi Ibrahim melaksanakan khitan ketika berumur 80 tahun dengan  menggunakan kapak”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Perintah untuk mengikuti ajaran nabi Ibrahim, jelas sekali terdapat dalam beberapa ayat al Qur’an, diantaranya dalam QS An-Nahl 123 :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Katakanlah, benarlah (apa yang difirmankan )Allah, maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Kewajiban melaksanakan khitan secara nyata disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; “Khitan itu wajib bagi laki-laki dan perbuatan yang terhormat bagi perempuan”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Secara medis dikatakan bahwa khitan sangat menguntungkan bagi kesehatan. Banyak penyakit yang dapat dicegah dengan khitan, diantaranya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 1. Penyakit kanker ganas dan praganas pada alat kelamin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 2. Penyakit phimosis dan paraphimosis, yaitu perlengketan antara kulit dan kepala penis &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 3. Penyakit akibat jamur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 4. Dan berbagai penyakit infeksi lainnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Namun demikian, kiranya perlu kami sampaikan bahwa akhir-akhir ini, ada banyak kelompok yang mulai mempertanyaan manfaat dari khitan, ada juga yang mulai memandang sinis dan tidak sedikit pula yang menghujat pelaksanaan khitan. Lebih jauh dari itu bahkan ada sebuah Organisasi Internasional Hak Azasi Manusia yang sampai mengeluarkan deklarasi menentang pelaksanaan khitan. Salah satu isi deklarasi tersebut berbunyi “Kami menyatakan bahwa Khitan menyebabkan korban yang tidak dapat diterima”. Jelas deklarasi ini menolak dengan tegas ajaran khitan. Berbagai alasan dikemukakan oleh kelompok yang menentang khitan ini, diantaranya adalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 1. Khitan dianggap sebagai perbuatan yang melanggar Hak Asasi Manusia, sebab khitan biasanya dilakukan pada saat anak belum dewasa, yang belum bisa mengambil putusan sendiri, hanya mengikuti perintah orang tuanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 2. Khitan dianggap sebagai praktek yang merusak bagian tubuh manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 3. Khitan banyak menimbulkan efek samping, terutama khitan bagi anak perempuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam sebuah kesempatan, KH. Zainudin MZ., pernah menyatakan bahwa, khitan secara Islam mempunyai beberapa hikmah, diantaranya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 1. khitan mampu membentuk pribadi muslim yang soleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 2. sebagai pondasi perjuangan hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 3. peletakan batu pertama sebagai hamba Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 4. menempatkan kepentingan Allah dari pada kepentingan pribadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 5. kesehatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 6. kepentingan biologis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; secara syari’at pelaksanaan khitan merupakan proses keberlanjutan dari ajaran Hanif, artinya bahwa proses keberibadahan nabi muhammad sebenarnya adalah keberlanjutan dari nabi-nabi sebelumnya begitu juga dengan saat ini. Sehingga syari’at tersebut wajib dilaksanakan oleh setiap laki-laki muslim, dan baik bagi perempuan muslimah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Ada sebuah anekdot kecil: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Terdapat diskusi kecil Disebuah pesantren di ujung timur pulau Jawa. antara kyai dengan santriwati-nya. Ketika membahas masalah khitan, si santri bertanya kepada Kyai-nya: Kyai, kenapa laki-laki harus dikhitan?: (dengan santainya) sang Kyai balik bertanya kepada santriwati-nya: kalau kamu makan pisang, enak mana dikupas dulu atau dimakan dengan kulit-kulitnya?....si santriwati tersenyum malu.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-7962240307258757163?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ii36MzZsdfttuAWHs23aKoWT-SU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ii36MzZsdfttuAWHs23aKoWT-SU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ii36MzZsdfttuAWHs23aKoWT-SU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ii36MzZsdfttuAWHs23aKoWT-SU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/0M3f_-VMlKY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/7962240307258757163/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/04/hikmah-khitan.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/7962240307258757163?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/7962240307258757163?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/0M3f_-VMlKY/hikmah-khitan.html" title="HIKMAH KHITAN" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S8kx0Fvt6lI/AAAAAAAAAFo/2eC3gcP78qA/s72-c/PISANG.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/04/hikmah-khitan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkINQ3o4eSp7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-6021930444321091412</id><published>2010-04-16T18:22:00.001-07:00</published><updated>2010-07-16T00:16:32.431-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T00:16:32.431-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi" /><title>Mati lagi, macet lagi…….</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PLN, PDAM WHAT’S HAPPENED WITH U….?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;07 Maret 2010&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Dalam teori harga, perusahaan monopoli dapat memaksimalkan keuntungan setinggi mungkin sampai pada batas keuntungan maksimal. Kiranya kondisi ini wajar, mengingat perusahaan monopoli merupakan satu-satunya perusahaan yang memproduksi barang atau jasa tertentu, dan barang atau jasa tersebut umumnya barang publik. Sebelum terjadinya Privatisasi Badan Hukum Milik Negara/Daerah (BUMN/D), barang publik –baca:barang yang sangat dibutuhkan masyarakat- memang haruslah dimonopoli, sebab tanpa adanya peran pemerintah me-monopoli perusahaan publik maka masyarakat akan kesulitan membeli. Hal ini diperkuat dalam UUD 1945 bahwa segala yang terkait dengan hajat hidup oleh masyarakat dikuasai negara. Kenyataan yang demikian ini, apabila dikelola oleh swasta/privat dimungkinkan akan memaksimalkan keuntungan dan tentunya berdampak pada tingginya harga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berbeda dengan satu dekade terakhir ini, ketika situasi ekonomi berubah dengan cepat, dimana negara seakan-akan tidak mampu menghadang laju perekonomian masyarakat. Maka solusi yang diyakini ideal bagi pemerintah adalah menyerahkan agenda/aktifitas ekonomi kepada masyarakat (invisible hand). Kenyataan ini diperkuat oleh semakin strength-nya kekuatan pasar sebagai bagian dari beberapa sistem ekonomi di dunia dan di Indonesia khususnya. Pengakuan akan AFTA, NAFTA dan lain-lain merupakan suatu bukti bahwa ketidakmampuan pengelolaan/campur tangan besar pemerintah terhadap kegiatan ekonomi publik tersebut.&lt;br /&gt;
Upaya-upaya pemerintah terhadap alur pasar yang unconditioning adalah menyerahkan  mekanisme tata kepemilikan aset publik kepada swasta (invisible hand). Dengan artian bahwa swasta bisa memiliki aset-aset yang selama ini dianggap sebagai barang publik yang saya maksud diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perusahaan Listrik Negara (PLN)&lt;br /&gt;
Hubungan dari catatan di atas adalah eksistensi PDAM dan PLN. Sebagai perusahaan strategis dan monopoli, terasa aneh apabila kedua perusahaan tersebut merugi. Secara subtantif manfaatnya kedua perusahaan tersebut jelas berbeda. PLN sebagai industri listrik yang memonopoli listrik hampir seluruh Indonesia ternyata belum bisa memberikan pelayanan yang berarti, pun PDAM, lebih ironis lagi, sebagai perusahaan air minum daerah satu-satunya ternyata sama juga nasibnya dengan PLN.&lt;br /&gt;
Perlu kita pahami bahwa beberapa hari terakhir ini kedua perusahaan ini bukan memberikan solusi bagi masyarakat, khususnya di Malang, bahkan menjadi beban baik psikologis, sosial, maupun ekonomis.&lt;br /&gt;
Dalam tulisan saya yang saya beri judul “what wrongs with PLN”  minggu lalu tanggal 23 pebruari 2010, menyinggung persoalan PLN dari berbagai aspeknya di malang, yang disebabkan oleh blackout. Kejadian dalam cacatan saya tersebut terulang kembali hari ini (07 Maret 2010) dari Pukul 16.30-21.00. tentu dengan alasan yang sama/alasan klasik dari pihak PLN bahwa kemampuan daya yang dimiliki oleh PLN tidak mampu melayani kebutuhan masyarakat secara keseluruhan dan adanya “maling-maling” listrik.&lt;br /&gt;
Apapun masalah yang dihadapi oleh PLN adalah sebuah ironi yang sampai saat ini belum terpecahkan. Bagi orang yang paham terhadap persoalan yang dihadapi oleh BUMN yang paling strategis tersebut tentu maklum adanya tetapi bagi masyarakat awam tentu tidak peduli dengan keadaan itu, mereka hanya ingin kebutuhan mereka terpenuhi tanpa adanya persoalan seperti kasus beberapa hari terakhir. Wajar…ya..karena masyarakat awam merasa dirugikan khususnya secara ekonomis.&lt;br /&gt;
Ada anekdot – yang berulang-ulang saya kutip di beberapa tulisan saya – adalah “kalau kita terlambat membayar listrik, tentunya kita akan kena sanksi keterlambatan tersebut, tetapi apabila kita tepat atau bahkan lebih awal pembayarannya dari tanggal yang ditentukan oleh pihak PLN maka kita tidak mendapat reward”…..aneh…ya…!! itulah kenyataan dunia monopoli. Karena masyarakat sangat tergantung dengan produk perusahaan tersebut.&lt;br /&gt;
Maka dari itu, adalah sebuah harapan masyarakat apabila PLN ataupun lembaga yang secara sistematis sistemnya sama melakukan dan meningkatkan kualitas layanan dengan baik. Agar asas keadilan dari sistem take and give  seperti anekdot di atas bisa terealisir, dan setidaknya semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat atas layanan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)&lt;br /&gt;
Persoalan yang sama juga terjadi pada PDAM, sebagai perusahaan daerah yang monopoli akan lebih ironi apabila sampai mengalami kurang debit, sehingga konsumen sangat dirugikan. Air sebagai kebutuhan pokok, baik untuk mandi, mencuci, minum dan lain-lain merupakan kebutuhan dasar manusia.&lt;br /&gt;
Eksistensi PDAM sebenarnya diawali karena kebutuhan yang besar terhadap air minum dan karena keterbatasan sumber air yang diakibatkan oleh terlalu padatnya rumah penduduk –khususnya di Kota- sehingga tidak memungkinkannya pengadaan sumur-sumur untuk kebutuhan masyarakat kota tersebut, oleh karena itu keberadaan PDAM menjadi kebutuhan mutlak. &lt;br /&gt;
Harapan masyarakat terhadap PDAM sungguh sangat besar, sebagai solusi dari permasalahan di atas. Namun demikian, harapan tersebut tidak serta merta bisa terwujud dengan baik alias paradoks. Keberadaan PDAM seringkali mengecewakan dan kurang memuaskan. Seperti kasus beberapa hari yang lalu, dimana air jasa PDAM mengalami macet. Yang imbasnya meluas dibeberapa tempat di Malang. Kejadian ini tidak hanya terjadi di Malang saja, tetapi di berbagai daerah di Indonesia juga mengalami persoalan yang sama terhadap PDAM tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari dua kasus di atas, baik PDAM maupun PLN perlu memahami dan menanggapi persoalan ini lebih serius lagi, sebab dua Unit tersebut merupakan pokok atau kebutuhan dasar masyarakat kita… tidak ada alasan untuk mengalami hal tersebut secara berulang-ulang. Bukankah PDAM maupun PLN Monopoli? Pertanyaannya adalah: bagaimana kalau seandainya ada perusahaan atau beberapa perusahaan yang sama dengan kedua BUMN/D tersebut? Jawabannya sudah pasti, konsumen akan memilih yang lain dimana: pertama, pelayanan memuaskan. Kedua, murah/terjangkau oleh masyarakat. Ketiga, kualitas produk. Namun semua itu hanya sebuah mimpi yang kita semua tidak tahu kapan akan terealisasir,  mungkin hanya tuhan yang bisa memberikan solusinya. &lt;br /&gt;
Mungkin tepat kalau dulu Bu Megawati memulai melakukan kebijakan Privatisasi BUMN –baca: Indosat-, hal ini terlihat dari kinerja Indosat yang semakin lama semakin  membaik. Haruskah Pak SBY melakukan hal yang sama kepada publik soal PLN dan PDAM? Karena sudah terbukti perusahaan negara yang di privatisasi mengalami peningkatan yang luar biasa….setidaknya dapat memberikan kewenangan bagi pemilik  modal untuk membuat sejenis PLN maupun PDAM…Bukankah persaingan sempurna lebih menguntungkan masyarakat dari pada monopoli? Karena adanya invisible hand….Wallahu a’lam..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan ini tidak lepas dari ekspresi kekecewaan atas layanan dua perusahaan tersebut yang sering mati dan macet….Bukankah si “Komo” sudah lewat….&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-6021930444321091412?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4Z97uqh8zhgvI2Nirr40o374hic/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4Z97uqh8zhgvI2Nirr40o374hic/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4Z97uqh8zhgvI2Nirr40o374hic/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4Z97uqh8zhgvI2Nirr40o374hic/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/Dk_slSA0eU0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/6021930444321091412/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/04/mati-lagi-macet-lagi.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/6021930444321091412?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/6021930444321091412?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/Dk_slSA0eU0/mati-lagi-macet-lagi.html" title="Mati lagi, macet lagi……." /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/04/mati-lagi-macet-lagi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkEASX44fSp7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-4749140525375404943</id><published>2010-04-15T05:12:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T00:17:28.035-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T00:17:28.035-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Agama" /><title>Kenapa Islam Mengalami Kemunduran....??</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nabi Muhammad SAW pernah berkata "bahwa nanti akan terjadi, dimana Islam besar tetapi tinggal namanya" Al Hadits. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; para peneliti barat pernah meneliti kemajuan kuantitas umat islam di dunia, dilihat dari aspek &lt;span style="font-style: italic;"&gt;trend quantity&lt;/span&gt;, dalam penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa jumlah umat Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat dari segi kuantitas, namun mengalami penurunan kualitas keberagamaannya. bahkan yang membuat agak aneh adalah terjadi eksodus keberagamaan menjadi Islam secara besar-besaran di dunia barat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;eksodus besar-besaran tersebut karena terjadi kegelisahan dalam pola kehidupan mereka. mereka menganggap keberagamaan yang selama ini diyakini kurang memberikan kedamaian terhadap batin dan kehidupan bermasyarakat mereka dan menganggap Islam sebagai ajaran yang solutif untuk merubah pola yang selama ini hedonis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; kejadian yang demikian ini tentu memberikan harapan besar terhadap dunia islam dalam beberapa dekade terakhir ini, tinggal bagaimana sekarang keyakinan yang di anggap benar tersebut dapat secara alamiah mewarnai batin mereka. namun demikian besarnya Islam tidak semata-mata hanya kuantitas tetapi -diharapkan- kualitas juga mengiringi kebesaran tersebut. sebab besarnya Islam kalau hanya sebatas kuantitas percuma. islam hanya sebagai rumah yang besar tetapi kosong isinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; kenyataan bahwa kuantitas islam dalam beberapa dekade terakhir menjadi kegelisahan tersendiri di kalangan ulama. mereka mencoba untuk merubah islam secara kaffah, dengan cara mengembalikan islam sesuai dengan ajaran ala qur'ani/sunnah rosul.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; islam bukan agama yang anti perubahan, bahkan islam secara tegas menyarankan kepada ummatnya untuk melakukan perubahan, namun bukan perubahan yang mengacu pada urusan duniawiyah atau hedonis saja, seperti yang selama ini dipahami oleh sebagian besar umat islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; rasyid ridho pernah melakukan penelitian tentang kemunduran islam dari masa ke masa. beliau memperoleh 3 penyebab utama kemunduran di dunia islam: yaitu, umat islam terlalu mencintai permusuhan -khususnya terhadap saudara seiman yang berbeda pemahaman-,umat islam tidak mampu menginventarisir potensi keberagamaan yang dimilikinya, dan wahn....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-4749140525375404943?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6d_fiXHskMT_3ldfwayld4_litU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6d_fiXHskMT_3ldfwayld4_litU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6d_fiXHskMT_3ldfwayld4_litU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6d_fiXHskMT_3ldfwayld4_litU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/WywBjpbe26A" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/4749140525375404943/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/04/kenapa-islam-mengalami-kemunduran.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/4749140525375404943?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/4749140525375404943?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/WywBjpbe26A/kenapa-islam-mengalami-kemunduran.html" title="Kenapa Islam Mengalami Kemunduran....??" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/04/kenapa-islam-mengalami-kemunduran.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkENR38-cCp7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-831700088312718492</id><published>2010-03-16T00:14:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T00:18:16.158-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T00:18:16.158-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi" /><title>STRATEGI PEMASARAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya tertarik ketika Membaca bukunya johanes Liem yang berjudul hypnotis in selling, &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;salah satu kalimat yang membuat saya tertarik adalah success is not a matter of chance but a matter of choice : sukses bukanlah suatu kebetulan melainkan suatu pilihan. Dari ungkapan Liem tersebut dapat dimaknai sebagai sebuah implicit motivation in marketting mengapa? sebab kandungan statemen tersebut sangat dalam, terkait dengan proses kehidupan manusia dimana segala kehidupan manusia selalu melalui proses yang panjang. Didalam proses kehidupan setiap personal tersebut tidak serta merta berjalan lancar, mulus ataupun bebas hambatan bahkan sangat mungkin terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; saya mencoba merenungkan statemen tersebut tentang kehidupan manusia sebenarnya. Memang kalau kita merunut atau flashback tentang awal manusia diciptakan, di mana nabi Adam sebagai manusia pertama diciptakan juga melalui sebuah proses (Berlanjut...)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-831700088312718492?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XdSnm4u5u6DveZOuNQxyZ43l724/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XdSnm4u5u6DveZOuNQxyZ43l724/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XdSnm4u5u6DveZOuNQxyZ43l724/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XdSnm4u5u6DveZOuNQxyZ43l724/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/rO79MAkg4Is" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/831700088312718492/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/03/saya-tertarik-ketika-membaca-bukunya.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/831700088312718492?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/831700088312718492?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/rO79MAkg4Is/saya-tertarik-ketika-membaca-bukunya.html" title="STRATEGI PEMASARAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/03/saya-tertarik-ketika-membaca-bukunya.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk8BQn8zeCp7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-142508775467092397</id><published>2010-03-16T00:03:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T00:20:53.180-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T00:20:53.180-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi" /><title>PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR INDONESIA</title><content type="html">&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S58ue2bMClI/AAAAAAAAAFQ/JjyyB9b0H6o/s1600-h/Smiling%27+Master.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5449125181682092626" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S58ue2bMClI/AAAAAAAAAFQ/JjyyB9b0H6o/s320/Smiling%27+Master.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 100px; margin: 0pt 4px 4px 0pt; width: 80px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Oleh:&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;ZAIM MUKAFFI, SE., M.Si&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;(Buku Pertama)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
DAFTAR ISI &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1.BAB I: KAJIAN TENTANG EKONOMI KELAUTAN&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 2.BAB II: DESENTRALISASI PERIKANAN LAUT&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 3.BAB III: KONSEPSI KELEMBAGAAN SEKTOR PERIKANAN&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 4.BAB IV: PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 5.BAB V: REVITALISASI PERIKANAN BERKELANJUTAN&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 6.BAB VI: PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 7.BAB VII: MEMBANGKITKAN KEKUATAN EKONOMI NELAYAN&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; 8.BAB VIII: KEMISKINAN NELAYAN : PERMASALAHAN DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-142508775467092397?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vQxc4qisv3A8fCDVOYH8Zgni904/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vQxc4qisv3A8fCDVOYH8Zgni904/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vQxc4qisv3A8fCDVOYH8Zgni904/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vQxc4qisv3A8fCDVOYH8Zgni904/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/6FEw_wq5rpA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/142508775467092397/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/03/pemberdayaan-masyarakat-pesisir.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/142508775467092397?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/142508775467092397?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/6FEw_wq5rpA/pemberdayaan-masyarakat-pesisir.html" title="PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR INDONESIA" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S58ue2bMClI/AAAAAAAAAFQ/JjyyB9b0H6o/s72-c/Smiling%27+Master.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/03/pemberdayaan-masyarakat-pesisir.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk4HR384eyp7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-8092471831022923636</id><published>2010-02-21T23:02:00.000-08:00</published><updated>2010-07-16T00:22:16.133-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T00:22:16.133-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi" /><title>What's Wrong With PLN</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dua hari terakhir, tanggal 19 dan 20 Pebruari –kira-kira pukul 19.00-22.00 terjadi insiden yang cukup memprihatinkan, yaitu Blackout atau lampu padam di Malang raya. Mungkin sebagian orang mafhum dengan kejadian ini, tetapi – saya yakin- lebih banyak yang menyesalkan kejadian ini&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagi sebagian orang yang me-mafhum-isasi jangan diartikan tidak kecewa dengan padamnya lampu tetapi wujud ekspresi kepasrahan yang tidak tersolusikan. Sedangkan bagi yang secara nyata kecewa tentu padam 8 jam dalam 2 hari disaat Primary time menghadirkan buntut kekecewaan yang luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Pertanyaanya sederhananya adalah mengapa kok mesti mati? Padahal – walaupun hanya anekdot- kalau pelanggan terlambat membayar biaya penggunaan jasa PLN mereka kena denda tetapi bagaimana jika pihak PLN mematikan lampu sepihak???? Anekdot ini juga berlaku untuk kredit. Ketika kita kredit motor, jika terlambat membayar  akan dikenakan denda atau bahkan terlambat membayar beberapa bulan sangat mungkin barang akan disita. Tetapi sebaliknya, jika membayar tepat waktu berarti tidak ada persoalan, dan bahkan jika pembayaran cicilan kredit dibayarkan sebelum tanggal pembatasan pembayaran akhir, mengapa kok tidak mendapatkan reward? Kira-kira begitu…..adilkan metode ini..wallaua’lam..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam teori permintaan –asumsi pasar sempurna- dapat dikatakan bahwa jumlah yang diminta pelanggan terhadap jasa PLN harus diimbangi oleh kualitas layanan yang sesuai dengan nilai yang dikeluarkan oleh konsumen. Sehingga dalam teori pemasaran akan tercipta kepuasan pelanggan/konsumen. Inilah yang disebut dengan asas keadilan transaksi. Keadaan ini berbanding terbalik dengan pasar monopoli, dimana penjual dalam jangka pendek bisa memaksimalkan keuntungan setinggi mungkin, sehingga berdampak kepada harga yang ditawarkan. Konsekuensinya konsumen akan terbebani dengan biaya yang tinggi. Inilah kenyataan itu, baik tukang kredit maupun PLN sebenarnya berada pada posisi monopoli. Artinya hak konsumen terbelenggu oleh kebijakan dan aturan yang dikeluarkan oleh 2 instansi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Tulisan sederhana ini merupakan bentuk ekspresi kekecewaan dan bermaksud menyampaikan apa adanya serta memberikan sedikit gambaran kepada publik tentang dampak 8 jam yang “mematikan’ dan bukan bermaksud memprovokasi atau memanas-manasi pembaca. Maka dari itu tulisan ini akan mengungkap tentang sebagaian dampak Blackout 8 jam di sebagian besar Malang raya, khususnya dilingkungan kampus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 1. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagi Mahasiswa dan pelajar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa mahasiswa/pelajar umumnya belajar aktif dikelas antara pukul 07.00-14.00 setelah itu mereka istirahat. Ada yang bantu orang tua, maen ke tampat temen, sepakbola, bahkan ada yang les/kursus. Umumnya mahasiswa ataupun pelajar memanfaatkan waktu belajarnya dimalam hari yakni antara pukul 18.30-22.00, pertanyaannya adalah bagaimana kalo jam-jam tersebut lampu mati? Sedangkan 99% masyarakat Malang menggunakan jasa Listrik. Tentunya jawabannya gampang, ya tidak belajar…..akan timbul persoalan jika mahasiswa ataupun pelajar ada tugas atau pekerjaan rumah (PR)? Memang sederhana pemahamnnya, tetapi subtansinya sangat sulit dihitung kerugian kualitatif sebagai akibat dari blackout tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 2. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bagi dunia usaha/UMKM&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; dengan adanya blackout yang oleh istilah penulis sebagai premary time, tentu usaha kecil dan menengah paling merasakan dampak dari blackout tersebut. Ambil contoh, pedagang nasi goreng, lalapan, , minuman sampai kepada aspek jasa seperti counter HP dan warnet….pengamatan dilapangan dari sektor jasa terjadi efek yang luar biasa dan menanggung konsekuensi dari kejadian tersebut yaitu TUTUP. Masih mending sektor barang seperti para penjual nasi, lalapan, gorengan dll. Masih bisa menggunakan lampu tempel atau sejenisnya. Mari kita hitung contoh kerugian secara sederhana: misalkan ada 100 saja warnet, dengan tarif per jam 3000 rupiah, maka jika dikalikan 4 jam akan ketemu 12.000 rupiah jika dikalikan dengan 100 warnet maka diperoleh 120.000 rupiah yang hilang. Ini contoh sederhana. Persoalannya adalah bagaimana jika warnetnya lebih dari 100? Bagaimana jika penjual kopi lebih dari 1000 penjual? Bagaimana jika toko-toko terpaksa tutup lebih dari 5000 toko? Kemudian berapa nilai kerugian total akibat kejadian tersebut???? 1 milyar atau 2 milyar atau 10 milyar? LUAR BIASA…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; 3. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bagi peminat tayangan TV&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; di Malang Raya ini hampir 90% penduduknya –baik penduduk asli maupun pendatang- merupakan penikmat acara televisi dan kurang lebih 60% memiliki Televisi. Mungkin orang tidak begitu peduli ketika blackout dibawah pukul 18.00 atau mungkin diatas pukul 22.00 sebab orang Malang –mayoritas- masih disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Tetapi akan berbeda jika blackout terjadi pukul 19.00-22.00. mengapa? Karena waktu tersebut orang lebih banyak istirahat, kumpul sama keluarga, makan bersama sambil asik nonton TV. Belum lagi acara yang paling ditunggu oleh kaum hawa adalah sinetron yang tayang pada jam tersebut…………….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Oleh sebab itu, perlu adanya pemahaman yang sama antara pihak terkait –dalam hal ini PLN- untuk senantiasa melibatkan banyak pihak khususnya konsumen jasa dari produk PLN didalam mengambil keputusan melakukan Blackout, terutama dilandasi oleh efek yang multiplier dimasyarakat. Jangan sampai keputusan tersebut memutus kesempatan dari berbagai pihak masyarakat khususnya dunia usaha dan pelajar untuk terjadinya trade off bagi mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Masyarakat secara umum memang memaklumi kondisi sebenarnya yang terjadi dengan PLN, yaitu kurangnya daya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat. Belum lagi diperparah adanya “Maling Daya” yaitu orang-orang yang menyambung listrik secara ilegal. Tetapi persoalan tersebut dapat dipecahkan secara bersama-sama dengan masyarakat sehingga persoalannya dapat diatasi dengan baik. Minimal dapat mengurangi kekecewaan masyarakat akibat keputusan sepihak PLN. Tidak cukup hanya memberikan informasi Blackout saja tetapi perlu duduk bersama…..sebab waktu bagi masyarakat sangatlah penting….agar tidak merugikan masyarakat secara umum..wallahua’lam bisshowab….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-8092471831022923636?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Uj5zQFIxIPH1KwSt18bv1XRcZms/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Uj5zQFIxIPH1KwSt18bv1XRcZms/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Uj5zQFIxIPH1KwSt18bv1XRcZms/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Uj5zQFIxIPH1KwSt18bv1XRcZms/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/9le27Cplesc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/8092471831022923636/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/02/what-wrong-with-pln.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/8092471831022923636?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/8092471831022923636?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/9le27Cplesc/what-wrong-with-pln.html" title="What's Wrong With PLN" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/02/what-wrong-with-pln.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk4MSHczfCp7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-4340281850021248429</id><published>2010-02-14T23:48:00.000-08:00</published><updated>2010-07-16T00:23:09.984-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T00:23:09.984-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi" /><title>Mengurangi Resiko Dengan Mengembangkan Sistem Asuransi Bagi Nelayan</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam rentang 3 – 4 tahun terakhir, masa-masa paceklik seakan berlangsung sepanjang tahun. Cuaca tidak menentu, sehingga hasil tangkapan nelayan kecil menjadi menurun drastis. Bagi nelayan kecil yang biasanya hanya beroperasi di sekitar wilayah pantai, gejala over-fishing dan kerusakan lingkungan laut akibat pemakaian alat tangkap yang tidak ramah lingkungan (seperti jaring trawl, mini-trawl, bius, dan bom ikan) mulai tampak terasa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam sehari melaut, nelayan kecil seringkali pulang dengan tangan hampa tanpa hasil tangkapan. Kalaupun mendapatkan tangkapan, hasilnya hanya cukup meng-cover biaya melaut selama sehari dengan sedikit sisa untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang pas-pasan. Bahkan, kadangkala hasil tangkapan selama sehari melaut tidak cukup untuk meng-cover biaya melaut, apalagi kebutuhan hidup mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Melihat fenomena tersebut, setidaknya, diperlukan upaya yang semakin intensif memberdayakan masyarakat pesisir, terutama nelayan kecil dan buruh nelayan, agar mampu membangun semacam keterjaminan sosial di tengah ketidakpastian perolehan hasil dari penangkapan ikan di laut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Walaupun terhimpit oleh beban hidup yang semakin berat dalam hidup sehari-hari, sesungguhnya di kalangan masyarakat nelayan tetap muncul gagasan-gagasan lokal yang cerdas untuk sekedar menjamin kehidupannya secara terbatas. Gagasan lokal tersebut memang ada yang berjalan dengan baik, ada yang berhenti di tengah jalan, bahkan ada yang belum sempat berlaku di kalangan masyarakat nelayan. Seperti Jimpitan, Solidaritas, Santunan, Asuransi, (retribusi, potongan juragan, Premi), Asuransi Kesehatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Melihat kondisi objektif seperti itu, Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir bekerjasama dengan PT. MULTI DECON melakukan sebuah studi komprehensif yang diambil dari observasi mendalam di kalangan masyarakat nelayan, terutama berkaitan dengan sketsa kehidupan nelayan sampai pada khazanah indigenous knowledge.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Yang dilakukan nelayan sebagai strategi mempertahankan hidup mereka di tengah ketidakpastian. Dari rangkaian riset mendalam di beberapa lokasi komunitas nelayan, diambil beberapa model yang bisa dikembangkan sebagai kerangka program Sistem Asuransi Masyarakat Nelayan di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Penelitian ini bergerak dari observasi lapangan di lingkungan masyarakat nelayan secara langsung. Data-data diambil secara sampling dari empat komunitas nelayan di empat kabupaten, yaitu Cirebon, Pati, Takalar, dan Tulang Bawang. Dari sini, observasi kemudian dikembangkan secara snow-ball dengan berbagai pendekatan yang mendalam di kalangan masyarakat nelayan di empat komunitas tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Kerangka tujuan dari riset ini ialah mengetahui dan merekontruksikan sketsa kehidupan masyarakat nelayan beserta khazanah strategi lokal yang dikembangkan nelayan dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial mereka untuk mempertahankan keberlangsungan hidup mereka sehari-hari. Temuan-temuan dalam riset ini akan dijadikan rujukan mengembangkan berbagai model program jaminan sosial (system asuransi) bagi masyarakat nelayan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dengan kondisi yang berbeda-beda, ada beberapa model penjaminan sosial yang berkembang di banyak komunitas nelayan, baik yang institutionalized maupun yang masih tradisional-temporer.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; A. Jimpitan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Tradisi ini sebenarnya banyak berlaku di kalangan masyarakat pedesaan, terutama di kalangan masyarakat petani dalam bentuk sejimpit beras. Di kalangan masyarakat nelayan, tradisi ini dikembangkan menjadi gagasan social security untuk membantu kesejahteraan nelayan dan kepentingan bersama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Tradisi jimpitan di kalangan masyarakat nelayan ini dikembangkan secara berkelompok (sekitar 40 orang nelayan kecil). Masing-masing kelompok dikoordinasikan oleh ketua kelompok masing-masing. Kelompok-kelompok nelayan ini biasanya dibentuk berdasarkan lokasi tempat tinggal nelayan dalam kampung nelayan. Ide berkelompok ini biasanya dipelopori oleh tokoh masyarakat nelayan setempat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Bentuk jimpitan yang berlaku biasanya berupa setoran seekor ikan hasil tangkapan setiap kali melaut yang dikumpulkan kepada ketua kelompok masing-masing. Atas nama kelompok, ketua kelompok menjual ikan hasil setoran kepada pembeli. Adapun hasilnya kemudian kemudian disimpan sebagai simpanan bersama. Tradisi ini sempat berjalan di kalangan nelayan Mundu Pesisir, Kabupaten Cirebon. Ketua Rukun Nelayan di wilayah itu ialah Khaerun, seorang tokoh pemuda di desa itu. Gagasan yang sama pernah mau dikembangkan oleh nelayan di Kuala Teladas, Tulang Bawang, namun belum sempat terealisasi. Ada kemungkinan, kegagalan tersebut disebabkan jumlah jimpitan yang terlalu besar, yaitu sebesar satu kilogram setiap bulan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; B. Solidaritas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Di Kalangan nelayan kecil dan buruh nelayan, masih ditemukan solidaritas di antara mereka jika salah satu dari mereka mengalami musibah atau menghadapi bahaya bersama. Namun, solidaritas ini biasanya berlaku dalam kelompok (baik yang tergabung dalam satu juragan atau berdasarkan tempat tinggal).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Solidaritas yang terbangun dalam sebuah kelompok yang tergabung dalam satu juragan biasanya dalam bentuk iuran bersama untuk membantu salah satu anggota kelompok yang mengalami musibah, seperti sakit, kematian, atau kehilangan alat tangkap. Solidaritas ini biasanya juga diperkuat oleh Juragan dalam bentuk santunan yang paling besar di antara sumbangan para nelayan kecil dan buruh nelayan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam wawancara dengan nelayan migran dari Brebes di Kuala Teladas, Tulang Bawang, misalnya, diperoleh informasi bahwa diantara mereka yang berasal dari satu daerah di wilayah rantau saling menjaga solidaritas. Jika ada nelayan di antara mereka yang kebetulan menginduk pada satu juragan (Sali, kebetulan juga dari Brebes) yang kehilangan alat tangkap, maka mereka membantu iuran sekedarnya (sekitar Rp. 20.000) untuk diberikan kepada nelayan Brebes yang mengalami musibah itu. Iuran itu dikoordinasi oleh juragan, yang kemudian memberi tambahan yang lebih besar lagi dari hasil iuran itu untuk membeli peralatan tangkap yang baru (tambahan dana dari juragan kadangkala digratiskan, tetapi kadangkala dianggap hutang, atau sebagiannya dianggap hutang).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; C. Santunan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Hubungan antara juragan dengan buruh nelayan atau nelayan kecil sesungguhnya masih menyisakan mekanisme yang humanis, yaitu adanya santunan dari juragan. Mekanisme santunan ini diberikan bila ada buruh atau nelayan kecil yang menginduk kepada seorang juragan sedang mengalami musibah, seperti sakit, meninggal, atau kehilangan alat tangkap. Jika ada salah seorang nelayan kecil atau buruh mengajukan permohonan hutang kepada juragan untuk keperluan berobat atau pembelian alat tangkap yang hilang, misalnya, maka juragan biasanya memberinya pinjaman dan sedikit santunan kepada buruh atau nelayan kecil yang mengalami musibah itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; D. Asuransi Modern&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Di beberapa kalangan buruh nelayan sebenarnya sudah ada yang memberlakukan bentuk-bentuk asuransi modern, terutama asuransi kematian atau kecelakaan selama melaut. Modelnya juga berbeda-beda. Setidaknya, ada 3 model yang ditemukan sebagai bentuk asuransi modern, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; * Model 1 : Retribusi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Model seperti ini berlaku di Juwana, Pati, Jawa Tengah, di mana KUD Sarono Mino sebagai pengelola retribusi. Hal yang sama sebenarnya pernah dilakukan oleh KUD Mina Bahari di TPI Kejawaan, Cirebon, namun usaha ini akhirnya berhenti setelah KUD Mina Bahari mengalami kebangkrutan. Setiap transaksi di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di potong sebagai retribusi sebesar 5% dari hasil transaksi (3% diambil dari nelayan dan 2% diambil dari bakul). Dana asuransi diambilkan dari dana retribusi tersebut, yaitu asuransi paceklik sebesar 0,50% dan asuransi kecelakaan nelayan sebesar 0,15%.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; * Model 2 : Premi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Model seperti ini dilakukan beberapa juragan di Juwana, Pati, Jawa Tengah, dan juga dilakukan oleh beberapa perusahaan penangkapan ikan di Cirebon, Jawa Barat. Yang mengasuransikan biasanya juragan kapal atau perusahaan. Sebelum pelayaran dilakukan, juragan harus membayar premi kepada perusahaan jasa asuransi sejumlah jiwa yang terlibat dalam kapal nelayan miliknya yang akan berlayar. Jenis klaim yang ditanggung asuransi ialah kecelakaan dan atau kematian selama melaut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; * Model 3 : Potongan Juragan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; - Model seperti ini dilakukan oleh beberapa juragan di Juwana, Pati, Jawa Tengah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; - Potongan ini berdasarkan kesepakatan juragan, nahkoda, dan anak buah kapal (ABK) agar setiap hasil melaut di potong sebagai tabungan atau jaminan sosial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; - Jika sewaktu-waktu membutuhkan, para anak buah kapal (ABK) ataupun nahkoda bisa mengambil tabungan tersebut pada juragan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; - Pada hari raya, tabungan tersebut biasanya dibagikan sebagai tunjangan hari raya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; E. Asuransi Kesehatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Model penjaminan kesehatan bagi nelayan sesungguhnya pernah juga dilakukan oleh lembaga keuangan (Bank Perkreditan Rakyat) yang bergerak di kalangan masyarakat pesisir. Model ini dikembangkan oleh BPR Gerbang Masa Depan di Kecamatan Galesong Selatan. Dengan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar, program ini dimaksudkan untuk memberikan pinjaman sangat lunak kepada nelayan khusus untuk pembiayaan perawatan kesehatan di rumah sakit. Sifat penjaminan kesehatan ini ialah pre-finance, yaitu lembaga keuangan menanggung/menalangi terlebih dahulu seluruh biaya perawatan kesehatan pasien (dari kalangan nelayan) selama di rumah sakit. Selanjutnya, nelayan tinggal mengangsur biaya perawatan itu kepada lembaga keuangan tersebut. Syarat menjadi pasien yang tertangung ialah menjadi nasabah pada lembaga keuangan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dari sekian banyak model yang berkembang, agaknya, ada sebuah model yang bisa dikembangkan menjadi semacam ideal type dalam jaminan sosial, yaitu model yuwana, Pati, Jawa Tengah. Model ini menegaskan perlunya sebuah prasyarat bahwa dukungan pemerintah (bisa berupa peraturan daerah), civil society (seperti KUD dan kelompok-kelompok nelayan), dan pasar (dalam bentuk prosentase retribusi dari transaksi jual-beli antara nelayan dengan pedagang) saling sinergi dalam mengembangkan social insurance bagi masyarakat nelayan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dari seluruh rangkaian kajian, maka direkomendasikan beberapa hal yang berkaitan dengan pengembangan asuransi nelayan sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; * Penyaluran asuransi harus melalui salah satu lembaga lokal yang ada, baik pemerintah, KUD, PUSKUD, HNSI, atau Kelompok Nelayan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; * Jika semua lembaga lokal aktif, maka dipilih lembaga yang paling efektif menyentuh nelayan, dan disosialisasikan kepada semua lembaga yang ada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; * Jika semua lembaga tidak aktif, maka tanggung jawab penyaluran asuransi diserahkan kepada pemerintah lokal (bisa melalui pemerintah kabupaten/kecamatan, atau melalui TPI setempat).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; * Dengan demikian, ada beberapa pekerjaan yang perlu segera dilakukan untuk melakukan transformasi sosial menuju tipe ideal, di antaranya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; - Mendorong solidaritas nelayan menjadi lebih berdimensi sosial-ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; - Oleh karena itu, perlu ada upaya capacity building bagi institusi lokal sebagai pengelola asuransi nelayan secara institutional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; - Sosialisasi dan ujicoba Model Ideal Asuransi Nelayan (Model Yuwana) di wilayah lain. Dalam upaya sosialisasi dan ujicoba model ini memungkinkan modifikasi berbagai hal sesuai konteks lokal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; - Menyusun panduan umum tentang implementasi pengembangan asuransi nelayan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Kegiatan pengembangan asuransi bagi nelayan dilaksanakan melalui survey dan diskusi kepada beberapa lokasi konsentrasi nelayan. Seperti di Kabupaten Pati, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Tulang Bawang, dan Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Survey dan diskusi ini dimaksudkan untuk mencari model pengembangan asuransi yang sesuai dengan kondisi masyarakat pasisir di masing-masing lokasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Untuk tahun 2004 ini sebanyak 15.960 nelayan ikut program asuransi jiwa. Nilai premi sebesar Rp 399 juta Bantuan pembiayaan asuransi ini diberikan Departemen Kelautan dan Perikanan hanya selama dua tahun, setelah itu diharapkan timbul kesadaran sekaligus kemandirian nelayan untuk mengikuti program asuransi nelayan. Adapun nelayan peserta program ini diharapkan tersebar di beberapa Provinsi di seluruh Indonesia. Program ini terlaksana kerjasama antara Departemen Kelautan dan Perikanan dengan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) dan Asuransi Bumiputera. ***Sumber : Dit. PEMP – Ditjen P3K&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-4340281850021248429?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_cVg4kMqBxf65ANaQOty8EPPQJQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_cVg4kMqBxf65ANaQOty8EPPQJQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_cVg4kMqBxf65ANaQOty8EPPQJQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_cVg4kMqBxf65ANaQOty8EPPQJQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/tGR6Rf2dBZE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/4340281850021248429/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/02/mengurangi-resiko-dengan-mengembangkan.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/4340281850021248429?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/4340281850021248429?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/tGR6Rf2dBZE/mengurangi-resiko-dengan-mengembangkan.html" title="Mengurangi Resiko Dengan Mengembangkan Sistem Asuransi Bagi Nelayan" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/02/mengurangi-resiko-dengan-mengembangkan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0MASH87eCp7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-1299936746726904738</id><published>2010-02-14T23:46:00.000-08:00</published><updated>2010-07-16T00:30:49.100-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T00:30:49.100-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi" /><title>DISTRIBUSI SPASIAL UKM DI MASA KRISIS EKONOMI</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PENDAHULUAN &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah, tidak terkecuali di Indonesia. Sebagai gambaran, kendati  sumbangannya dalam output nasional (PDRB) hanya 56,7 persen dan  dalam  ekspor nonmigas hanya 15 persen, namun UKM memberi kontribusi sekitar 99 persen dalam jumlah badan usaha di Indonesia serta mempunyai andil 99,6 persen  dalam penyerapan tenaga kerja (Kompas, 14/12/2001). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun, dalam kenyataannya selama ini UKM  kurang mendapatkan perhatian. Dapat dikatakan bahwa kesadaran akan pentingnya UKM dapat dikatakan barulah muncul belakangan ini saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Setidaknya terdapat tiga alasan yang mendasari negara berkembang belakangan ini memandang penting  keberadaan UKM  (Berry, dkk, 2001).  Alasan pertama adalah karena kinerja UKM cenderung lebih baik dalam hal menghasilkan tenaga kerja yang produktif. Kedua, sebagai bagian dari dinamikanya, UKM sering mencapai peningkatan produktivitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi. Ketiga adalah karena sering diyakini bahwa UKM memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas ketimbang usaha besar.  Kuncoro (2000a) juga menyebutkan bahwa usaha kecil dan usaha rumah tangga di Indonesia telah memainkan peran penting dalam menyerap tenaga kerja, meningkatkan jumlah unit usaha dan mendukung pendapatan rumah tangga. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Alasan yang ketiga yang dikemukakan Berry dkk di atas  sangat  relevan dalam konteks Indonesia yang tengah mengalami krisis ekonomi. Aspek fleksibilitas  tersebut menarik pula dihubungkan dengan hasil  studi Akatiga berdasarkan survei di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Sulawesi Utara dan Sumatra Utara. Temuan   Akatiga tersebut seperti dikutip Berry dkk (2001) adalah  bahwa  usaha kecil di Jawa lebih menderita akibat krisis daripada luar Jawa, begitu pula  yang di perkotaan bila dibandingkan dengan yang di pedesaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sementara itu, berdasarkan data PDRB,  krisis ekonomi telah menyebabkan propinsi-propinsi di Jawa  mengalami kontraksi ekonomi yang lebih besar ketimbang daerah-daerah lain di Indonesia (lihat gambar berikut).  Lima propinsi di Jawa seluruhnya adalah lima besar propinsi di Indonesia yang mengalami kemorosotan ekonomi terparah. Pada tahun 1998, saat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi terparah,  hanya  Papua saja yang pertumbuhan ekonominya masih positif sedangkan propinsi-propinsi lainnya mengalami kontraksi.  Pada tahun tersebut,  seluruh propinsi di pulau Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang jauh lebih parah daripada propinsi-propinsi lainnya (lihat juga Akita dan Alisjahbana, 2002). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Demikianlah, selain  ekonominya mengalami kontraksi terparah, usaha kecil di propinsi-propinsi di pulau Jawa juga lebih menderita akibat krisis ekonomi.  Sementara itu,  menurut hasil analisis Watterberg, dkk (1999),  dampak sosial dari krisis ekonomi  amat terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan di Jawa, serta sejumlah propinsi di Indonesia bagian Timur.   Dengan kata lain, terdapat indikasi adanya dimensi spasial dari krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam konteks UKM, salah satu pertanyaan yang menarik untuk dimunculkan adalah apakah krisis ekonomi betul-betul membawa pengaruh pada dinamika spasial UKM? Tulisan ini hanya mengamati salah satu aspek  saja dari dinamika spasial UKM, yakni distribusi spasialnya.  Dapat dikemukakan bahwa selama ini sejumlah studi sudah dilakukan untuk mengamati  distribusi spasial industri manufaktur, khususnya yang berskala besar dan  menengah, misalnya Azis (1994), Hill (1996), Kuncoro (2000a), Sjöberg dan Sjöholm (2002). Namun, pengamatan serupa terhadap UKM tampaknya  masih belum banyak dilakukan (Kuncoro, 2000b).                         &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; BERTAHAN DENGAN UKM &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Krisis ekonomi, apalagi yang sangat parah, tentu telah menyulitkan masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam hal ini bukanlah hal yang mengejutkan  kalau pengangguran, hilangnya  penghasilan serta kesulitan memenuhi kebutuhan pokok merupakan persoalan-persoalan sosial yang sangat dirasakan masyarakat sebagai akibat dari krisis ekonomi.  Hasil survei  yang dilakukan Bank Dunia bekerjasama dengan Ford Foundation dan Badan Pusat Statistik (September-Oktober 1998) menegaskan bahwa  ketiga persoalan itu  oleh  masyarakat ditempatkan sebagai persoalan prioritas atau  harus segera mendapatkan penyelesaian (Watterberg dkk, 1999).  Dengan kata lain, ketiga hal itu merupakan persoalan sangat pelik yang dihadapi masyarakat pada umumnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Kondisi ketenagakerjaan  pada masa krisis kiranya dapat memberikan gambaran dampak sosial dari krisis ekonomi (Tabel 1). Tingkat pengangguran mengalami kenaikan dari 4,9 persen pada tahun 1996 menjadi 6,1 persen pada tahun 2000. Krisis ekonomi juga telah membalikkan tren formalisasi ekonomi sebagaimana tampak dari berkurangnya pangsa pekerja sektor formal menjadi 35,1.  Dengan kata lain, peran sektor informal menjadi terasa penting dalam periode krisis ekonomi. Sektor informal sendiri merupakan sektor dimana sebagian besar tenaga kerja Indonesia berada. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sementara itu, belakangan ini banyak diungkapkan bahwa UKM memiliki peran penting bagi masyarakat di tengah krisis ekonomi.  Dengan memupuk UKM diyakini pula akan dapat dicapai pemulihan ekonomi (Kompas. 14/12/2001). Hal serupa juga berlaku bagi sektor informal. Usaha kecil sendiri pada dasarnya  sebagian besar  bersifat informal dan karena itu relatif mudah untuk dimasuki oleh pelaku-pelaku usaha yang baru.  Pendapat mengenai peran UKM atau sektor informal tersebut ada benarnya setidaknya bila dikaitkan dengan perannya  dalam meminimalkan  dampak sosial dari krisis ekonomi khususnya  persoalan pengangguran dan hilangnya penghasilan masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; UKM boleh dikatakan merupakan salah satu solusi masyarakat untuk tetap bertahan dalam menghadapi krisis yakni dengan melibatkan diri dalam aktivitas usaha kecil terutama yang berkarakteristik informal.  Dengan hal ini maka persoalan pengangguran sedikit banyak dapat tertolong dan implikasinya adalah juga dalam hal pendapatan.  Bagaimana dengan anjloknya pendapatan masyarakat yang tentu saja mengurangi daya beli masyarakat terhadap produk-produk yang sebelumnya banyak disuplai oleh usaha berskala besar? Bukan tidak  mungkin produk-produk  UKM justru menjadi substitusi bagi produk-produk usaha besar yang mengalami kebangkrutan atau setidaknya masa-masa sulit akibat krisis ekonomi. Jika demikian halnya maka kecenderungan tersebut  sekaligus juga merupakan respon terhadap merosotnya daya beli masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Gambar di atas—disusun berdasarkan Hasil Survei Usaha Terintegrasi yang dilakukan BPS—kiranya dapat berguna untuk memberikan gambaran bagaimana peranan UKM bagi masyarakat di masa krisis.[1]  Survei tersebut terbatas hanya pada UKM  yang tidak berbadan hukum sehingga hasilnya dapat juga merefleksikan sektor informal. Seluruh sektor ekonomi dicakup oleh survei tersebut, kecuali sektor pertanian. Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian, maka hasil survei  tersebut akan lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. Hal ini menjadi penting  karena  Watterberg dkk (1999) juga menyimpulkan bahwa dampak sosial dari krisis ekonomi lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; [1] Data UKM tersebut bersumber dari publikasi BPS berjudul  Profil Usaha Kecil dan Menengah Tidak Berbadan Hukum Indonesia tahun 1998 dan tahun 2000.Hasil survei tersebut hanya  mencakup  UKM non-pertanian yang tidak berbadan hukum sehingga secara konseptual hasil survei tersebut  juga merefleksikan sektor informal kendati secara terbatas (www.bps.go.id). Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian, maka data yang ada di sini barangkali pula  lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. Perlu ditambahkan bahwa pada tahun 1997 tidak ada survei.   Selain itu, untuk tahun 1999 dan 2000 tidak ada data untuk Propinsi Maluku.  Selanjutnya, yang dimaksud dengan UKM dalam tulisan ini adalah sebagaimana definisi UKM tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Secara umum, hasil survei BPS di atas menunjukkan beberapa kecenderungan menarik. Dari gambar 1 tampak bahwa jumlah unit usaha UKM cenderung berkurang. Jumlah unit usaha pada tahun 2000 masih tetap lebih sedikit dibandingkan sebelum krisis ekonomi.  Hal yang sama juga terjadi pada jumlah tenaga kerja. Hanya saja, penurunan jumlah tenaga kerja tidaklah setajam penurunan jumlah unit usaha.   Oleh karena itu, tenaga kerja yang diserap oleh masing-masing unit usaha secara rata-rata justru mengalami kenaikan. Hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa UKM sebetulnya juga  mempunyai keunggulan dalam menyerap tenaga kerja di masa krisis ekonomi. Krisis ekonomi rupanya telah mempertinggi kemampuan masing-masing UKM untuk menyerap tenaga kerja.  Dengan kata lain, sektor  tersebut telah turut berperan dalam mengatasi persoalan pengangguran yang diakibatkan oleh krisis ekonomi.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Data-data tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa UKM memiliki kemampuan untuk menjadi pilar penting bagi perekonomian masyarakat dalam menghadapi terpaan krisis ekonomi. Hal ini tidak lepas dari  kemampuan UKM untuk merespon krisis ekonomi secara cepat dan fleksibel  dibandingkan kemampuan usaha besar (Berry dkk, 2001). Namun demikian, ada pendapat bahwa sektor informal tidaklah memberikan perbaikan secara berarti terhadap taraf hidup para pekerjanya. Hidup di sektor informal hanyalah hidup secara subsisten (Basri, 2002).   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; DISTRIBUSI SPASIAL UKM &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Pertanyaan awal yang perlu diperjelas di sini adalah apa indikator UKM yang digunakan. UKM pada dasarnya adalah aktivitas ekonomi sementara  aktivitas ekonomi sendiri secara umum dapat diindikasikan oleh tenaga kerja maupun nilai tambahnya (Sjöberg dan Sjöholm, 2002). Dalam tulisan ini, indikator yang akan digunakan adalah tenaga kerja UKM disertai jumlah unit usahanya sebagai pelengkap.[2] &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; [2] Dalam konteks industri manufaktur, penggunaan tenaga kerja dan nilai tambah secara bersama-sama sebagai  indikator  aktivitas ekonomi  dapat mencegah terjadi kesimpulan yang bias oleh karena perbedaan distribusi spasial dari industri-industri yang berbeda dimana ada yang bersifat padat tenaga kerja dan ada yang padat modal (Sjöberg dan Sjöholm, 2002). Namun dalam konteks UKM, bias itu mungkin tidak terlalu besar mengingat sebagian besar lebih mengandalkan tenaga kerja, termasuk yang tidak dibayar (lihat, Kuncoro, 2000a).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Seperti juga industri manufaktur besar dan menengah, distribusi spasial UKM dalam kurun waktu 1996-2000 juga terpusat di Pulau Jawa.  Pada tahun 1996, sekitar  66 persen UKM Indonesia berada di Jawa (Tabel 2). Sejak terjadi  krisis ekonomi, UKM justru makin memusat di Jawa, yakni menjadi sekitar 68 persen dari seluruh unit usaha UKM yang ada di Indonesia.  Dari lima propinsi di Jawa, hanya DKI Jakarta saja yang cenderung mengalami penurunan andil, sedangkan Jawa Tengah mengalami peningkatan secara sinambung. Selain  propinsi-propinsi Jawa, hanya Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan saja yang andilnya dalam jumlah UKM cukup tinggi.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Selain dari jumlah unit usaha, distribusi spasial tersebut tentu perlu pula dilihat dari sisi tenaga kerja. Tabel 2 juga menunjukkan bahwa  krisis ekonomi mulanya menurunkan pangsa pulau Jawa, namun mulai tahun 1998 pangsa Jawa kembali meningkat sampai menjadi 66 persen pada tahun 2000. Sedangkan Sumatera justru sebaliknya, yakni meningkat pada tahun 1998 namun kemudian terus menurun sampai menjadi kurang dari 16 persen pada tahun 2000.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih kuat, perkembangan penyebaran regional dari UKM dapat dilihat dari konsentrasi spasialnya. Konsentrasi spasial di sini menunjuk kepada terkonsentrasinya UKM pada beberapa daerah saja.  Sebagai contoh, dalam  studinya  yang mengukur trend konsentrasi spasial industri di Indonesia 1976-1995, Kuncoro menggunakan Indeks Entropi Theil (Kuncoro, 2000a).  Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996, Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Kuncoro menemukan bahwa sampai sebelum tahun 1988, konsentrasi spasial industri memiliki pola menurun, namun sejak memasuki periode deregulasi, konsentrasi spasial tersebut justru mengalami peningkatan. Dicatat pula bahwa peningkatan konsentrasi spasial jauh lebih mencolok di Jawa daripada Sumatera maupun pulau-pulau lainnya di Indonesia.  Masih menurut Kuncoro (2002b), dalam kasus Indonesia, deregulasi perdagangan bersama dengan serangkaian deregulasi yang diterapkan justru memperkuat konsentrasi spasial industri manufaktur. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996, Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser terhadap data tenaga kerja maupun nilai tambah yang dihasilkan industri manufaktur. Kesimpulan  yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan temuan Kuncoro.  Dari analisisnya, Sjöberg dan Sjöholm memukan bahwa tingkat konsentrasi spasial industri manufaktur dalam kurun waktu 1980-1996 tidaklah berkurang. Ditambahkan pula  bahwa liberalisasi perdagangan yang dimulai tahun 1983 telah gagal menurunkan tingkat konsentrasi industri manufaktur.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Kendati ukuran konsentrasi spasial yang digunakan berbeda, kedua studi tersebut di atas memperoleh kesimpulan yang relatif serupa.  Dalam tulisan  ini   ukuran konsentrasi spasial yang digunakan  adalah indeks Herfindahl yang diterapkan baik terhadap data unit usaha maupun jumlah pekerja UKM.  Hasil perhitungan indeks Herfindahl tersebut disajikan dalam Gambar 3.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sebelum krisis, tingkat konsentrasi spasial unit usaha UKM adalah 0,126. Sebagai perbandingan, indeks Herfindahl industri manufaktur Indonesia tahun 1996 adalah 0,190 (Sjöberg dan Sjöholm, 2002). Hal ini tidak berubah banyak pada satu tahun setelah terjadi krisis ekonomi. Namun pada tahun 1999 konsentrasi spasial unit usaha UKM  mengalami peningkatan cukup tinggi dan belum menurun secara berarti pada tahun 2000.  Namun jika dilihat dari tenaga kerja, setelah krisis justru terjadi penurunan tingkat konsentrasi spasial kendati relatif kecil. Tahun 1999 dan 2000, indeks Herfindahl pekerja UKM meningkat menjadi lebih dari 0,12. Hal ini memberikan indikasi bahwa sejak terjadi krisis ekonomi, ada kecenderungan menguatnya konsentrasi spasial UKM di Indonesia. Kendati demikian, peningkatan konsentrasi spasial tersebut sebetulnya relatit tidak terlalu besar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sejak terjadi krisis ekonomi 1997,  UKM memainkan peran dalam mengatasi persoalan ketenagakerjaan.  Data yang ada menunjukkan  bahwa peran tersebut cukup penting. Namun demikian bagaimana penyerapan tenaga kerja oleh UKM dari aspek spasial tampak masih kurang teramati.  Dalam tulisan ini yang diamati barulah soal distribusi spasial UKM dan belum sampai pada determinan dari dinamika spasial UKM itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dari analisis dapat disimpulkan bahwa  sampai dengan tahun 2000,  UKM (non pertanian yang tidak berbadan hukum) masih tetap terkonsentrasi di pulau Jawa,   baik dilihat dari sisi jumlah usaha maupun jumlah pekerjanya. Terdapat pula indikasi menguatnya  konsentrasi spasial UKM  tersebut sejak  krisis ekonomi melanda Indonesia. Indikasi tersebut  kiranya masih perlu dilengkapi dengan upaya mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dinamika spasial UKM sebagaimana dilakukan dalam studi-studi terhadap idustri manufaktur pada umumnya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-1299936746726904738?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/P8yLSH8aox6ITGtAiOKa7Eq0SAA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/P8yLSH8aox6ITGtAiOKa7Eq0SAA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/P8yLSH8aox6ITGtAiOKa7Eq0SAA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/P8yLSH8aox6ITGtAiOKa7Eq0SAA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/q3Y1nBUCVE4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/1299936746726904738/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/02/distribusi-spasial-ukm-di-masa-krisis.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/1299936746726904738?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/1299936746726904738?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/q3Y1nBUCVE4/distribusi-spasial-ukm-di-masa-krisis.html" title="DISTRIBUSI SPASIAL UKM DI MASA KRISIS EKONOMI" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/02/distribusi-spasial-ukm-di-masa-krisis.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0IMSX49eSp7ImA9WxFaEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8896998364836207108.post-5891540705377942137</id><published>2010-02-14T23:41:00.000-08:00</published><updated>2010-07-16T00:33:08.061-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T00:33:08.061-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ekonomi" /><title>Kemiskinan Nelayan : Permasalahan dan Upaya Penanggulangan</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama tiga dekade, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi kemiskinan. Upaya-upaya tersebut telah berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin dari 54,2 juta jiwa (40,1%) pada tahun 1976 menjadi 22,5 juta jiwa (11,3%) tahun 1996.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun, krisis ekonomi yang terjadi sejak Juli 1997, telah membawa dampak negatif bagi kehidupan masyarakat, termasuk menambah kembali jumlah penduduk miskin. Menurut perhitungan BPS, pada tahun 1998 jumlah penduduk miskin meningkat menjadi 49,5 juta jiwa (24,2%).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian, jumlah penduduk miskin menurun secara bertahap. Pada tahun 2004, jumlah penduduk miskin diperkirakan sebanyak 36,1 juta jiwa (16,6%). Dari jumlah tersebut, 11,5 juta jiwa (12,6%) berada di perkotaan dan 24,6 juta jiwa (19,5%) berada di perdesaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Terintegrasi dan Sistemik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Adanya penurunan jumlah penduduk miskin bukan berarti bahwa persoalan kemiskinan telah selesai. Di samping jumlah penduduk miskin eksisting masih terbilang banyak, belakangan Indonesia juga didera beragam persoalan, mulai dari bencana gempa bumi. tsunami, busung lapar, dll yang memperberat beban penduduk miskin dan diperkirakan menambah jumlah penduduk miskin hingga 1 juta jiwa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Krusialnya masalah kemiskinan dan betapa masalah ini sangat menyentuh kebutuhan masyarakat yang paling mendasar merupakan hal penting yang menjadi perhatian penuh pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah telah melakukan upaya pengarusutamaan (mainstreaming) program-program penanggulangan kemiskinan di seluruh kementerian dan lembaga pemerintah non departemen. Di samping itu, telah disusun pula Strategi Nasional penanggulangan kemiskinan yang menjadi acuan dalam penanggulangan kemiskinan dan dijabarkan dalam rencana kerja pemerintah setiap tahunnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Berbicara masalah kemiskinan, nelayan seringkali dipandang sebagai salah satu kelompok masyarakat yang identik dengan kemiskinan. Anggapan ini patut direnungkan bersama, mengingat kenyataan bahwa struktur usaha perikanan tangkap sejauh ini memang masih didominasi oleh usaha skala kecil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sebagian besar nelayan yang tergolong miskin merupakan nelayan artisanal yang memiliki keterbatasan kapasitas penangkapan baik penguasaan teknologi, metode penangkapan, maupun permodalan. Masalah kemiskinan juga disebabkan adanya ketimpangan pemanfaatan sumber daya ikan. Di satu sisi, ada daerah yang padat tangkap dengan jumlah nelayan besar terutama di Pantura Jawa. Di sisi lain ada daerah yang masih potential namun jumlah nelayannya sedikit seperti di Papua, Maluku, NTT dan Ternate. Masalah strukturaI yang dihadapi nelayan makin ditambah dengan persoalan kultural seperti gaya hidup yang tidak produktif dan tidak efisien.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Secara alami ada interaksi yang sangat kuat antara ketersediaan sumber daya ikan, jumlah, perilaku, dan kapasitas nelayan serta ekonomi dari hasil usaha penangkapan. Oleh karena itu, kemiskinan nelayan harus dipandang sebagai suatu sistem yang memiliki komponen saling berinteraksi. Dengan demikian pendekatan yang paling tepat dalam penanggulangan kemiskinan adalah dengan pendekatan kesisteman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dengan pendekatan kesisteman, Ditjen Perikanan Tangkap telah mencanangkan dan melaksanakan berbagai program untuk menanggulangi kemiskinan di kalangan nelayan. Berikut beberapa program penanggulangan kemiskinan dimaksud.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Unit Bisnis Perikanan Terpadu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Seringkali nelayan dihadapkan pada sistem tata niaga yang tidak berpihak bahkan sangat merugikan nelayan. Pada saat akan membeli faktor produksi nelayan dihadapkan pada harga yang sangat tinggi, sementara pada saat akan menjual hasil tangkapan, nelayan dihadapkan pada harga jual yang sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh panjang dan masih sangat berperannya para pedagang perantara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Untuk mengatasi masalah di atas, sejak tahun 2004 Ditjen Perikanan Tangkap mencanangkan pembangunan Unit Bisnis Perikanan Terpadu (UBPT) dil sentra-sentra nelayan (Pelabuhan Perikanan). Sasaran dari pendirian UBPT adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Terwujudnya kemudahan asses terhadap faktor (input) produksi dan pemasaran hasil bagi usaha perikanan tangkap skala kecil dengan harga yang wajar;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Makin terberdayakannya koperasi perikanan/KUB, termasuk dalam hal manajemen, penguatan modal maupun peningkatan fasilitas pendukung usaha.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sebagai satu bentuk unit bisnis terpadu, maka keberadaan UBPT tidak hanya perlu dukungan pemerintah, tetapi juga memerlukan peran serta aktif pihak swasta. Dengan demikian, diharapkan akan makin banyak investasi swasta di pelabuhan perikanan sehingga hal ini tidak saja menguntungkan nelayan, tetapi juga membawa manfaat bagi sektor swasta sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; SPBN/SPBN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Saat ini bahan bakar minyak (BBM) merupakan input produksi yang mempunyai peranan sangat penting bagi kelangsungan usaha penangkapan ikan. Hasil identifikasi dan supervisi di berbagai sentra kegiatan nelayan menunjukkan bahwa kontribusi komponen biaya BBM terhadap keseluruhan biaya operasi penangkapan ikan per trip berkisar antara 30-50% untuk kelompok nelayan skala menengah ke atas dan 40-60% untuk kelompok nelayan skala kecil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Dalam hal kebutuhan akan BBM, selain persoalan kenaikan harga BBM, nelayan juga dihadapkan pada harga eceran yang di atas harga yang ditetapkan pemerintah karena besarnya peran penyalur atau pengijon dalam memainkan harga di tingkat nelayan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Sebagai salah satu upaya terobosan untuk menjamin ketersediaan pasokan BBM dalam jumlah yang cukup, akses mudah, dan dengan harga yang sesuai dengan harga resmi pemerintah, Dijten Perikanan Tangkap bersama Pertamina mencanangkan program pembangunan SPDN/SPBN (Solar Pocked Dealer unluk Nelayan/Stasiun Pompa Bensin untuk Nelayan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Relokasi Nelayan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Saat ini wilayah Pantai Utara Jawa dan beberapa wilayah di pantai timur Sumatera memiliki tingkat kepadatan nelayan yang sangat tinggi. Selain berdampak langsung kepada penurunan tingkat pendapatan nelayan karena tingkat persaingan yang tinggi kondisi tersebut juga dikhawatirkan menimbulkan ekses negatif bagi kelestarian sumber daya ikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Program relokasi nelayan yang dirintis Departemen Kelautan dan Perikanan bersama Departemen Tenaga Kerja den Transmigrasi merupakan salah satu program terobosan untuk menjawab masalah ini. Dengan adanya program relokasi nelayan yang dilakukan secara selektif dan matang, diharapkan akan lebih terjamin keseimbangan antara jumlah nelayan dengan potensi sumber daya ikan. DI tamping itu. pendapatan nelayan pun dlharapkan akan lebih meningkat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Revitalisasi PP/PPI/TPI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Pelabuhan perikanan berperan sebagal entry point bagi kegiatan perikanan. Pelabuhan perikanan juga merupakan sentra kegiatan nelayan pada suatu wilayah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Lebih luas lagi, pelabuhan perikanan merupakan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis sektor kelautan dan perikanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Namun fungsi-fungsi pelabuhan perikanan tersebut saat ini belum optimal termanfataakan. Untuk itu dilakukan program revitalisasi pelabuhan perikanan, pangkalan pendaratan ikan dan tempat pelelangan ikan yang diarahkan kepada:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Pembangunan fasilitas baru, sesuai dengan dukungan potensi den tingkat kegiatan yang ada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Peningkatan kapasitas fasilitas, sesuai dengan skala layanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Mengembalikan produktifitas fasilitas sesuai kapasitas terpasang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Penetapan batas wilayah kerja dan wilayah pengoperasian PP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Peningkatan kualitas SDM pengelola&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Penyusunan SOP fasilitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Peningkatan status PP/PPI sesuai skala layanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Restrukturisasi dan Modernisasi Armada Perikanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Terkait dengan kebijakan restrukturisasi den modernisasi armada perikanan nasional, kapal penangkap ikken asing secara bertahap akan dikurangi dan sesuai perjanjian bilateral pemberian kesempatan operasional kapal asing akan berakhir tahun 2007. Kapal perikanan asing yang masih menginginkan beroperasi di ZEE Indonesia hanya dimungkinkan melalui penanaman modal pada industri perikanan terpadu di Indonesia dengan pola usaha patungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Perusahaan perikanan nasional didorong untuk dapat memanfaatkan kekayaan sumber daya ikan di ZEE Indonesia secara optimal dan bertanggung jawab dengan perangkat kapal dan alat penangkap yang tepat dan memadai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Seiring dengan itu, armada perikanan tangkap skala kecil yang sejauh ini masih dominan akan terus diberdayakan dan ditingkatkan skala usahanya sehingga struktur armada perikanan nasional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap Skala Kecil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Pengembangan usaha perikanan tangkap skala kecil merupakan upaya pemberdayaan nelayan yang mencakup usaha perikanan tangkap secara terintergrasi, baik itu usaha penangkapan, pengolahan, maupun pemasaran, termasuk di dalamnya perkuatan manajemen usaha serta penangkapan kualitas SDM, serta fasilitasi permodalan. Sasaran dari program ini adalah nelayan skala kecil yang rentan terhadap kemiskinan yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama. Program ini telah dilaksanakan sejak tahun 2002.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Pada tahun 2002, program PUPTSK dilaksanakan di 30 provinsi dengan total anggaran sekitar Rp 22,3 miliar. Pada tahun berikutnya, selian dilaksanakan di 30 provinsi, program PUPTSK juga dilaksanakan di 19 pelabuhan perikanan UPT pusat dengan anggaran sekitar Rp 39,24 miliar. Pada tahun 2004, program PUPTSK dllaksanakan di 82 kabupaten/kola yang tersebar di 30 provinsi serta di 19 pelabuhan perikanan UPT pusai dengan total anggaran sekitar Rp 44,91 miliar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Setelah melewati proses evaluasi dengan mempertimbangan penajaman substansi dan focus orientasi serta lingkungan strategic yang terus berkembang, program PUPTSK mengalami penyempurnaan. Oleh karena itu, pada tahun 2005 terjadi perubahan pada sub progam PUPTSK menjadi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Optimasi Penangkapan Ikan (OPTIKAPI)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Optimasl Pelelangan Ikan (OPTILANPI)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Optimasi Pengolahan dan Distritbusi lkan (OPTIHANDIS) dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Optimasi Kelompok Usaha Bersama (OPTIKUB).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Perubahan ini antara lain menunjukkan makin terfokusnya pembinaan kelembagaan dan manajemen usaha sebagai modal penting dalam menghadapi perkembangan pasar yang dinamis. Pada tahun 2005, total anggaran untuk program PUPTSK dlalokasikan sebesar Rp 46,32 miliar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Seiring dengan restrukturisasi organisasi Departemen Kelautan dan Perikanan, pelaksanaan PUPTSK tahun 2006 akan mengalami perubahan. Optimasi pengolahan dan pemasaran/distribusi yang selama ini menjadi sub program dalam PUPTSK akan menjadi kewenangan Ditjen P2HP. Sebagai gantinya, pada Program PUPTSK yang baru, akan dimunculkan sub program Optimasi Penanganan Hasil Perikanan, mulai dari sejak ditangkap di atas kapal hingga sampai di pelabuhan perikanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; Program PUPTSK termama difokuskan pada sentra-sentra nelayan yang terindikasi masih memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi. yakni :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Wilayah Pantura Jawa yang telah padat tangkap dengan tingkat produktivitas yang sangat kecil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Kawasan Timur Indonesia yang memiliki potensi sumber daya ikan yang besar, namun tingkat pemanfaatan dan sistem pemasarannya belum optimal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; • Daerah-daerah perbatasan dengan negara lain, khususnya yang memliki potensi sumber daya ikan yang tinggi. Pelaksanaan program PUPTSK di daerah perbatasan, di samping bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dan menumbuhkan perekonomian lokal, juga dimaksudkan untuk ikut menjaga integritas national.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8896998364836207108-5891540705377942137?l=zaim1979.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YgbCE4t8Jnks33ftX-xtjh_byhA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YgbCE4t8Jnks33ftX-xtjh_byhA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YgbCE4t8Jnks33ftX-xtjh_byhA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YgbCE4t8Jnks33ftX-xtjh_byhA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~4/QY9c4DtXyJg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://zaim1979.blogspot.com/feeds/5891540705377942137/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://zaim1979.blogspot.com/2010/02/kemiskinan-nelayan-permasalahan-dan.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/5891540705377942137?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8896998364836207108/posts/default/5891540705377942137?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Zaim_msiyahoocom/~3/QY9c4DtXyJg/kemiskinan-nelayan-permasalahan-dan.html" title="Kemiskinan Nelayan : Permasalahan dan Upaya Penanggulangan" /><author><name>My website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04548380323286366313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTjir0jaKjk/S3IQOJesE1I/AAAAAAAAAEA/onspMEF1Ino/S220/18062009(051)-005.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://zaim1979.blogspot.com/2010/02/kemiskinan-nelayan-permasalahan-dan.html</feedburner:origLink></entry></feed>

