<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0' gd:etag='W/&quot;A0QHSH87eSp7ImA9WhJRFEo.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658</id><updated>2012-07-16T15:55:39.101-07:00</updated><title>_..::CunG::.._</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default?redirect=false&amp;v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry gd:etag='W/&quot;A0QHSH86eSp7ImA9WhJRFEo.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-5123651650261755885</id><published>2012-07-16T15:51:00.002-07:00</published><updated>2012-07-16T15:55:39.111-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-07-16T15:55:39.111-07:00</app:edited><title>Tanah Genting KRA</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;
   &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;
   &lt;m:dispdef&gt;
   &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;
   &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;
   &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;
   &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;
   &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;
   &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;
  &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;
&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
 {font-family:"Cambria Math";
 panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
 mso-font-charset:1;
 mso-generic-font-family:roman;
 mso-font-format:other;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}
@font-face
 {font-family:Calibri;
 panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:swiss;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
 {mso-style-unhide:no;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 margin-top:0in;
 margin-right:0in;
 margin-bottom:10.0pt;
 margin-left:0in;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
a:link, span.MsoHyperlink
 {mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 color:blue;
 text-decoration:underline;
 text-underline:single;}
a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed
 {mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 color:purple;
 mso-themecolor:followedhyperlink;
 text-decoration:underline;
 text-underline:single;}
.MsoChpDefault
 {mso-style-type:export-only;
 mso-default-props:yes;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
 {mso-style-type:export-only;
 margin-bottom:10.0pt;
 line-height:115%;}
@page Section1
 {size:8.5in 11.0in;
 margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
 mso-header-margin:.5in;
 mso-footer-margin:.5in;
 mso-paper-source:0;}
div.Section1
 {page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;

&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-U0CIRUnDWrc/UASazIUUCsI/AAAAAAAAAPw/OR0MBnc-hho/s1600/Tanah+KRA.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-U0CIRUnDWrc/UASazIUUCsI/AAAAAAAAAPw/OR0MBnc-hho/s320/Tanah+KRA.JPG" width="246" /&gt;&lt;/a&gt;Banyak orang tidak begitu mengetahui di mana Terusan Kra
(tanah genting Kra) ini, dan apa pentingnya sehingga bisa mengubah geo-ekonomi
global (khususnya Asia Timur). Kita tahu Asia Timur saat ini semakin hari
semakin menjadi pusat ekonomi dunia, seiring dengan semakin turunnya pengaruh
AS sebagai negara adidaya (terutama akibat krisis akhir-akhir ini).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak yang mengatakan bahwa kelompok negara-negara Barat akan segera disaingi
oleh kelompok BRIC (Brazil-Russia-India-China). Mereka adalah negara-negara
yang sungguh-sungguh mampu berdikari dan punya tradisi otonom dari Barat.
Terutama Russia dan China akan bangkit luar biasa. Ini semua mengindikasikan
akan terjadinya perubahan geo-ekonomi global secara mendasar dalam waktu dekat
ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terusan Thai (sebelumnya disebut Terusan Kra atau Terusan tanah genting Kra)
adalah rencana untuk terusan yang akan melewati Thailand selatan untuk
mempersingkat transportasi di wilayah tersebut, seperti Terusan Panama dan
Terusan Suez. Kemungkinan besarnya pemerintah Thailand akan membuka Terusan Kra
pada 2011 mendatang. Thailand menganggarkan dana 21, 2 milyar Dollar AS untuk
pengerukan Terusan Kra tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Alasan utamanya adalah karena Semenanjung Malaya memperpanjang rute
transportasi di sekitar Asia. Kondisi kemacetan di Selat Malaka ini akan terus
bertambah parah, melihat geliat pelayaran ke dan dari Cina. Belum lagi masalah
terorisme maritim, perompak dsb.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembangunan Terusan Kra tersebut didasari data yang ada bahwa Selat Malaka
sebagai jalur pelayaran sepanjang 612 mil yang menghubungkan antara laut Cina
Selatan dengan Samudera Hindia. Selama ini kita tahu bahwa selat Malaka
merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Kurang lebih 50 ribu
kapal melintasi jalur ini setiap tahunnya dan lebih dari setengah kebutuhan
energi Jepang dan Cina melewati selat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas Singapura akan bangkrut (hampir) total. The little dot yang penghasilan
utamanya ada pada bidang jasa dan infrastruktur (selain industri manufaktur)
jelas ekonominya akan goyang. Sumatra khususnya pelabuhan singgah juga akan
terpengaruh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun disisi lain, Sabang yang berada di ujung barat Indonesia bisa menjadi
kota pelabuhan yang besar. Pemerintah sendiri sebenarnya telah melihat potensi
besar tersebut. Dengan dikeluarkannya UU No 37/ 2000 menetapkan kembali Sabang
menjadi kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas. Namun sayang, hingga
saat ini Sabang belum tergarap secara optimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi ini membuat keberadaan Sabang Freeport sangat strategis. Ditunjang
kedalaman laut yang memadai bagi kapal-kapal besar berukuran 100 000 ton untuk
merapat ke dermaga. Sabang Freeport bisa menjadi pelabuhan transit menggantikan
pelabuhan Singapura, yang overloaded.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelabuhan Sabang merupakan salah satu pelabuhan yang bebas pendangkalan,
sehingga tidak perlu biaya pengerukan serbamahal seperti pelabuhan lain di
Indonesia. Tapi Sabang Freeport sendiri masih harus berbenah dan mendatangkan
banyak investor untuk terus memenuhi kelengkapan infrastruktur yang menjadi
kebutuhan mutlak kota pelabuhan dan perdagangan, seperti tanki minyak raksasa,
dok terapung, gudang dan fasilitas lainnya. Sementara di luar pelabuhan,
infrastrukturnya juga harus menunjang keberadaan bank, pusat-pusat pelayanan
jasa sampai dengan restoran, toko, rumah-rumah penginapan dan tentu saja Hotel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika pengembangan Sabang sebagai kawasan pelabuhan bebas dan perdagangan bebas
berhasil, maka efek positifnya akan merambat ke wilayah-wilayah sekitar Sabang.
Hasilnya akan sangat membantu mempercepat pemulihan Aceh pasca tragedi tsunami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://politikana.com/baca/2010/01/30/terusan-thailand-kra-dan-membuat-indonesia-lesu" target="_blank"&gt;http://politikana.com/baca/2010/01/3...indonesia-lesu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sigh, andaikan pemimpin kita ada yang sadar bahwa pengembangan Sabang sebagai
pelabuhan sudah sangat penting Di
masa depan kanal ini sudah pasti akan terbangun. Melihat bangkitnya RRT dan
India, mereka pasti akan berinvestasi dalam kanal ini untuk menghemat cost
mereka.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-5123651650261755885?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/5123651650261755885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=5123651650261755885' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/5123651650261755885?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/5123651650261755885?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/07/tanah-genting-kra.html' title='Tanah Genting KRA'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-U0CIRUnDWrc/UASazIUUCsI/AAAAAAAAAPw/OR0MBnc-hho/s72-c/Tanah+KRA.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CEcFR3kzeCp7ImA9WhJSFU4.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-3633245682959112589</id><published>2012-07-05T16:46:00.002-07:00</published><updated>2012-07-05T16:46:56.780-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-07-05T16:46:56.780-07:00</app:edited><title>Kasus Penghianatan Amandemen Pasal 33 UUD 1945 Terhadap Pertanahan</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;
   &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;
   &lt;m:dispdef&gt;
   &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;
   &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;
   &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;
   &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;
   &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;
   &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;
  &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;
&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
 {font-family:"Cambria Math";
 panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:roman;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}
@font-face
 {font-family:Calibri;
 panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:swiss;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
 {mso-style-unhide:no;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 margin-top:0in;
 margin-right:0in;
 margin-bottom:10.0pt;
 margin-left:0in;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
p
 {mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-margin-top-alt:auto;
 margin-right:0in;
 mso-margin-bottom-alt:auto;
 margin-left:0in;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:12.0pt;
 font-family:"Times New Roman","serif";
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
.MsoChpDefault
 {mso-style-type:export-only;
 mso-default-props:yes;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
 {mso-style-type:export-only;
 margin-bottom:10.0pt;
 line-height:115%;}
@page Section1
 {size:8.5in 11.0in;
 margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
 mso-header-margin:.5in;
 mso-footer-margin:.5in;
 mso-paper-source:0;}
div.Section1
 {page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;

&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Ht5sM46uz_o/T_YjKnTjmJI/AAAAAAAAAPI/cJGN4F1zvqA/s1600/Kalimantan-West-Mining.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="199" src="http://3.bp.blogspot.com/-Ht5sM46uz_o/T_YjKnTjmJI/AAAAAAAAAPI/cJGN4F1zvqA/s200/Kalimantan-West-Mining.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tentang
penghianatan pasal 33 UUD 1945 yang tercoreng atas nama “Amandemen
Undang-Undang Dasar 1945”. Pada Pembahasan sebelumnya juga telah sempat kita
menyinggung tentang Undang-undang Penanaman Modal dan Undang-undang Penanaman
Modal Asing (PMA) sadar ini berdampak salah satunya yakni tentang pertanahan
(Agraria).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pada kasus-kasus yang berkembang di masyarakat seperti
sengketa pertanahan adat dalam artikel ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desa Lelilef Sawai dan Gemaf,
Kabupaten Halmahera Tengah (Kalteng) adalah wilayah yang kaya akan sumber daya
alam. Hal itu terbukti dengan masuknya sejumlah perusahaan dari dalam dan luar
negeri yang melakukan eksplorasi tambang Nikel. Salah satunya adalah PT Weda
Bay Nikel. Persoalannya, sekitar 195 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di dua
desa tersebut merisaukan rencana perluasan eksplorasi perusahaan tambang yang
sahamnya sebagian besar dimiliki oleh negara Perancis itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Perluasan itu akan mengambil
alih lahan yang secara turun temurun sudah digunakan warga untuk tinggal dan
bercocok tanam. Selain bekerja sebagai nelayan, sebagian warga menggantungkan
hidup dari bertani dan berkebun di tanah yang&amp;nbsp; disebut sebagai tanah adat
itu. Sehingga perluasan yang dilakukan WBN akan berpengaruh signifikan terhadap
kehidupan warga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Pada intinya warga di dua desa
itu tidak mempersoalkan perluasan tersebut, tapi dengan syarat warga harus
diberi kompensasi yang sesuai. Salah satu warga desa Lelilef Sawai, Yosepus
Burnama, mengatakan sudah terdapat tanah warga yang diratakan oleh perusahaan,
padahal tanah itu belum dibebaskan. Menurutnya, sudah ada delapan warga yang
tanahnya diambil alih perusahaan tanpa ganti rugi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Yosepus melanjutkan, WBN akan
membangun pabrik untuk melakukan pengolahan serta eksplorasi di atas lahan adat
milik warga kedua desa itu. Sayangnya, nominal ganti rugi yang ditawarkan
harganya terlalu murah, yaitu Rp8 ribu/meter persegi. Pria yang sempat bekerja
di WBN itu mengatakan sebagian warga menerima penawaran itu, sebagian lagi
menolak dan menuntut ganti rugi dengan nominal Rp50 ribu/meter persegi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Tuntutan tersebut sudah
disuarakan oleh warga di kedua desa itu sejak 2009, namun tidak ditanggapi
dengan baik oleh WBN dan pemerintah daerah (Pemda) setempat. Bahkan, kata
Yosepus, sejumlah aparat desa terlihat berpihak kepada WBN ketimbang membela
warganya. Ditambah lagi Bupati Halteng, Yasin Ali, selalu mengklaim bahwa lahan
yang selama ini digunakan warga adalah tanah negara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
“Padahal tanah itu tanah
leluhur, tanah nenek moyang kami, tanah adat,” kata Yosepus, Jumat (25/5).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Lantaran Pemda setempat dinilai
tidak dapat menuntaskan persoalan, warga mengadu kepada Komnas HAM di Jakarta.
Komnas HAM sudah melakukan investigasi secara langsung di kedua desa itu pada
19–21 Juni 2011. Sayangnya, rekomendasi yang diterbitkan Komnas HAM tidak
diindahkan oleh pihak yang bersangkutan sehingga penyelesaian persoalan ini
berlarut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Tak menyerah, warga melaporkan
permasalahan ini kepada DPD. Pada Kamis (24/5), Komite II DPD menggelar Rapat
Dengar Pendapat Umum (RDPU) untuk menindaklanjuti laporan warga. Rapat yang
dipimpin Ketua Komite II, Bambang Susilo, dihadiri oleh perwakilan warga, WBN,
Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pusat, Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM) dan Bupati Halteng, Al Yasin Ali.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Komite II DPD akhirnya
menerbitkan sejumlah kesimpulan yakni mengimbau agar pihak berkepentingan
bermusyawarah untuk membahas persoalan ini. Pihak berkepentingan juga diimbau
untuk tidak hanya terpaku pada besaran kompensasi, namun lebih kepada perihal
yang realistis serta mempertimbangkan solusi lain seperti &lt;i&gt;Community Social
Responsibility&lt;/i&gt; (CSR) atau &lt;i&gt;Community Development&lt;/i&gt; (CD).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Terkait status tanah, Komite II
DPD akan melakukan &lt;i&gt;cross check&lt;/i&gt; dengan Kementerian Kehutanan dan BPN,
serta melakukan pengawasan agar ada kepastian yang jelas terkait lahan yang disengketakan.
Selain itu, Komite II DPD&amp;nbsp; meminta kepada WBN untuk tidak melakukan
kegiatan di tanah warga yang belum mempunyai status pembebasan lahan. Kegiatan
yang dilakukan WBN diperbolehkan jika sudah terdapat bukti status pengalihan
lahan yang jelas. Komite II DPD juga berjanji turun langsung ke lokasi untuk
menyelesaikan permasalahan yang ada.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Yosepus berharap pemerintah dan
anggota dewan mampu membantu menyelesaikan masalah ini. Bagi Yosepus,
berdirinya WBN akan berpengaruh besar terhadap kehidupan warga, terutama faktor
ekonomi. Soalnya, warga yang lahannya diserobot tanpa ganti rugi sudah tidak
dapat lagi bercocok tanam. “Lahan saya sendiri yang telah digunakan secara
turun-temurun terancam digusur,” keluhnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Di kesempatan yang sama, salah
satu anggota tim yang mengadvokasi warga dari LBH Projustisia, Ferry J
Mainassy, mengatakan upaya penyelesaian ini akan ditempuh dengan cara litigasi
dan non litigasi. Namun, upaya yang telah dilakukan sampai saat ini untuk
menyelesaikan persoalan baru pada tingkat non litigasi. Bagi Ferry, tidak
menutup kemungkinan jika nanti upaya litigasi dilakukan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Secara hukum, Ferry melihat
persoalan pembebasan lahan warga seharusnya mengacu pada peraturan
perundang-undangan yang ada,&amp;nbsp; salah satunya adalah UU No. 5 Tahun 1960
tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Dalam ketentuan itu, ia melihat
pembebasan lahan yang diperuntukkan bukan untuk kepentingan umum maka mekanisme
yang dilalui adalah musyawarah–mufakat, yaitu dilakukan negosiasi antara pihak
yang mau menggunakan dengan pemilik lahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Sayangnya, Ferry melihat
pembebasan lahan yang ditawarkan kepada warga menggunakan mekanisme untuk
kepentingan umum. Baginya, hal itu merugikan warga. “Pembebasan lahan itu
harusnya dilakukan bukan berdasarkan pendekatan kepentingan umum,” ujarnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Ferry melanjutkan, tuntutan
ganti rugi sebesar Rp50 ribu/meter persegi sebagaimana keinginan warga bukan
tanpa sebab. Pasalnya, harga tersebut sudah dipertimbangkan dengan matang oleh
warga dari berbagai macam aspek. Misalnya, perusahaan akan menggunakan lahan
dalam kurun waktu sangat lama, ada tanaman umur panjang milik warga yang
digusur dan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bantah Ikut Campur&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Sementara itu, Bupati Halteng,
Al Yasin Ali, mengatakan kompensasi yang diberikan kepada warga di dua desa
yang lahannya akan dibangun pabrik oleh WBN mengacu pada beberapa hal. Pertama,
mengacu pada harga yang sudah diterapkan di desa sekitar di mana terdapat
perusahaan serupa. Kedua, negosiasi antar kedua belah pihak yaitu WBN dan
warga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Jika mengacu harga sebelumnya dalam
soal ganti rugi lahan yang ada di kabupaten lain, Yasin mengatakan nominal
kompensasi lahan warga harganya bervariasi mulai dari Rp4–9 ribu/meter persegi.
Bahkan, jika lahan itu memiliki sertifikat harganya dapat mencapai Rp15
ribu/meter persegi. Dia juga menegaskan, Pemda tidak campur tangan dalam
penentuan harga tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Yasin, tugas Pemda hanya sebatas sosialisasi mengenai harga. Misalnya,
jika lahan itu digunakan untuk kepentingan umum seperti pembangunan jalan,
sekolah, rumah sakit dan lainnya, maka nominal kompensasi berkisar diangka
Rp2,5 ribu/meter persegi. Jika lahan diperuntukkan di luar kepentingan umum
maka harganya lebih tinggi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Ketika ditanya nilai kompensasi
untuk tanah adat/ulayat, Yasin mengatakan di Kabupaten Halteng tidak ada tanah
adat/ulayat. Namun, terdapat tanah yang berstatus Hutan Produksi Terbatas (HPT)
yang pengelolaannya berada di bawah wewenang Kementerian Kehutanan dan
tergolong dalam tanah negara. “Di sana tidak ada tanah adat/ulayat,” kata Yasin
ketika dikonfirmasi lewat telepon, Minggu (27/5).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Dia menambahkan, meski lahan
warga yang menjadi sengketa termasuk tanah negara, warga sudah mengolah tanah
itu secara turun-temurun. Sehingga di atas tanah itu terdapat tanaman berumur
panjang seperti kelapa, pisang dan lainnya. Atas dasar itu, ia mengatakan
kompensasi yang akan diberikan mengacu pada lahan yang sudah ditanami warga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Selain itu, negosiasi harga yang
dilakukan warga dapat juga mengarah pada kompensasi lainnya, seperti masyarakat
mendapat bagian dari setiap bahan baku mentah yang dijual perusahaan. Menurut
Yasin dana itu di luar dana CSR yang diberikan perusahaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Ketika ditanya soal izin WBN,
Yasin mengatakan perusahaan tersebut sudah mengantongi izin. Di atas lahan yang
terdapat di dua desa itu, katanya, akan digunakan untuk membangun pabrik dan
fasilitas pendukung untuk mengolah bahan baku mentah Nikel. Mengacu pada
potensi yang ada di Halteng, perusahaan tersebut akan beroperasi di sana dalam
waktu cukup lama. “Lebih dari 50 tahun,” pungkasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ft1qJfP0n9o/T_YjZXGyGiI/AAAAAAAAAPQ/3D_aeKr8q3U/s1600/foto+laput3-demo+sawit.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-ft1qJfP0n9o/T_YjZXGyGiI/AAAAAAAAAPQ/3D_aeKr8q3U/s1600/foto+laput3-demo+sawit.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4fc24c5f6a9f0/mengandung-nikel--tanah-adat-jadi-sengketa" target="_blank"&gt;hukumonline.com&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-3633245682959112589?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/3633245682959112589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=3633245682959112589' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/3633245682959112589?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/3633245682959112589?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/07/kasus-penghianatan-amandemen-pasal-33.html' title='Kasus Penghianatan Amandemen Pasal 33 UUD 1945 Terhadap Pertanahan'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Ht5sM46uz_o/T_YjKnTjmJI/AAAAAAAAAPI/cJGN4F1zvqA/s72-c/Kalimantan-West-Mining.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DEYMSHoyeip7ImA9WhJSEkg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-3235119910428155096</id><published>2012-07-02T12:06:00.003-07:00</published><updated>2012-07-02T12:09:49.492-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-07-02T12:09:49.492-07:00</app:edited><title>KONFLIK INDONESIA BELANDA Dan perjuangan bersenjata Mempertahankan kemerdekaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;  &lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;b&gt;1.1&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Latar Belakang Konflik Indonesia – Belanda&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menyerahnya
Jepang kepada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 membawa hikmah yang
sangat besar kepada perkembangan bangsa Indonesia sebagai sebuah Negara
yanag berdaulat. “Vacuum of Power”, yaitu kekosongan kekuasaan yang
terjadi di Indonesia dapat dimanfaatkan oleh para “Founding fathers”
untuk &lt;span lang="IN"&gt;memproklamasikan&lt;/span&gt; kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan dilanjutkan dengan upaya melengkapi kelengkapan Negara melalui sidang&amp;nbsp; PPKI
tanggal 18, 19 dan 22 Agustus 1945. Maka lengkap dan sah lah Indonesia
sebagai sebuah Negara berdaulat dengan nama Negara Kesatuan Republik
Indonesia. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berbagai
peristiwa telah terjadi di Indonesia setelah Soekarno Hatta
memproklamasikan kemerdekaan RI. Di daerah daerah muncul berbagai
peristiwa spontan dan heorik sebagai bentuk dukungan terhadap
proklamasi, seperti :&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;b&gt;1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Surat&lt;/b&gt;&lt;b&gt; Pernyataan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (5 September 1945) &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
Berisi
tentang pernyataan resmi Sri Sultan Hamengku Buwono IX, bahwa Kraton
Ngayogyakarto Hadiningrat menyatakan diri bergabung dengan RI sebagai
daerah Istimewa.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
&amp;nbsp;“&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;(Catatan Penting : &amp;nbsp;bahwa
Keraton Yogyakarta tidak pernah dijajah oleh Hindia Belanda, sehingga
ketika Indonesia merdeka Yogyakarta adalah Negara/kerajaan mandiri.
Karena menurut perjanjian internasional tahun 1896 wilayah Indonesia
adalah Bekas Hindia Belanda)”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
Dengan pernyataan ini secara resmi Yogyakarta menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republic Indonesia. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;
2)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Rapat Raksasa di Lap. Ikada (19 September 1945)&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;
3)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Insiden Bendera di Hotel Yamato (19 September 1945)&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;
4)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Pertempuran lima hari di Semarang&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;
5)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dsb (materi ini dibahas di kelas 8) &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagai
pemenang Perang Dunia II, tetap berusaha untuk masuk ke Indonesia.
Pasukan Sekutu yang diwakili oleh AFNEI (Allied Forces Netherlands East
Indies = Pasukan Sekutu dari Divisi Inggris) mendarat di Tanjung Priok
pada tanggal 29 September 1945 dibawah pimpinan Letnan Jenderal Sir
Philip Christisson. Kedatangan pasukan AFNEI ini pada awalnya disambut
dengan hangat oleh pemerintah RI, karena mereka mengemban tugas untuk :&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;
1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;melucuti sejata pasukan Jepang dan memulangkan tentara Jepang ke negaranya&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;
2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;membebaskan tawanan perang&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;
3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;mengadili dan menjatuhkan hukuman kepada para penjahat aperang&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;
&lt;span lang="IT"&gt;Di Indonesia pasukan AFNEI dibagi dalam 3 divisi, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;
1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Divisi India ke 23 ditempatkan di Jawa&amp;nbsp;Barat, dipimpin oleh Mayjend. DC. Hawthorn&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;
2)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Divisi India ke 5 di tempatkan di Jawa Timur, dipimpin oleh Mayjend EC Mansergh&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;
3)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Divisi India ke 26 ditempatkan di Sumatera, dipimpin oleh Mayjend HM Chambers&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Situasi
berubah menjadi kecurigaan setelah bangsa Indonesia mengetahui bahwa
kedatangan pasukan AFNEI diboncengi oleh NICA (Nederlands Indische
Civil Administratie) dibawah komando Mayjend HJ Van Mook dan Mayjend
Van der Plass. Kedatangan NICA ini menimbulkan kecurigaan bahwa Belanda
akan mengambil kembali kekuasaannya di Indonesia. Kecurigaan tersebut
semakin tampak setelah NICA mempersenjatai kembali KNIL (Pasukan
Belanda di Indonesia) yang telah dibebaskan dari tawanan Jepang.
Pasukan NICA mulai memancing perselisihan di berbagai daerah dengan
tindakan yang provokatif, sehingga menimbulkan insiden-insiden
pertempuran dengan para pejuang RI. Contoh konkrit tindakan provokatif
NICA adalah : Insiden Bendera di Hotel Yamato Surabaya pada tanggal 19
September 1945.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="border-collapse: collapse; margin-left: 23.4pt;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 191.35pt;"&gt;   &lt;td style="height: 191.35pt; padding: 0in 5.4pt; width: 168pt;" valign="top" width="224"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-4yP1xmQm4fo/T_HxFyTAFnI/AAAAAAAAANY/OHNeygtIGt4/s1600/jurek_20101909.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-rmPNGAgWReA/T_HxCsqGGgI/AAAAAAAAANQ/xaK9xGgZeoI/s1600/hotel-yamato.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-rmPNGAgWReA/T_HxCsqGGgI/AAAAAAAAANQ/xaK9xGgZeoI/s320/hotel-yamato.jpg" width="252" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img border="0" height="201" src="http://1.bp.blogspot.com/-4yP1xmQm4fo/T_HxFyTAFnI/AAAAAAAAANY/OHNeygtIGt4/s320/jurek_20101909.jpg" width="320" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; text-indent: -0.25in;"&gt;
1.2&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;   &lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;   &lt;td style="height: 191.35pt; padding: 0in 5.4pt; width: 3.75in;" valign="top" width="360"&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr style="height: 45pt;"&gt;   &lt;td colspan="2" style="height: 45pt; padding: 0in 5.4pt; width: 438pt;" valign="top" width="584"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dua peristiwa yang terjadi secara bersamaan pada tanggal   19 September 1945 :&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
1. Sebelah kiri&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;   : insiden bendera di Hotel Yamato Surabaya&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="FI"&gt;2. Sebelah   kanan : suasana rapat raksasa (Komite Van Aksi) di lap. &lt;/span&gt;Ikada Jakarta&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt;
1.2&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Perjuangan Rakyat dan Pemerintah di Berbagai Daerah Dalam Usaha Mempertahankan Kemerdekaan Indoneisa&lt;/div&gt;
&lt;ol start="1" style="margin-top: 0in;" type="A"&gt;
&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Peristiwa      Heroik di Surabaya (10 Nopember 1945)&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
Pasukan Sekutu
mulai memasuki kota Surabaya pada tanggal 20 Oktober 1945 dibawah
pimpinan Mayor Jenderal AWS Mallaby. Mereka langsung menyerbu penjara
republic untuk membebaskan tenatara sekutu dari tawanan para pejuang
RI. Tindakan profokatif ini memancing insiden-insiden kecil, dan
mencapai puncaknya dengan tewasnya Mallaby dalam insiden pertempuran di
Jembatan Merah. Peristiwa ini dijadikan alasan oleh sekutu untuk
mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Surabaya &lt;b&gt;&lt;i&gt;“ …………..para
pemimpin dan orang orang Indoneisa yang bersenjata harus melapor dan
menyerahkan senjatanya ditempat-tempat yang telah ditentukan.
Selanjutnya, menyerahkan diri dengan mengangkat tangan keaatas, dengan
batas waktu tanggal 10 Nopember 1945 jam 06.00 pagi. Bila tidak,
Saurabaya akan digempur dari darat, laut dan udara….”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
Ultimatum
in tidak dihiraukan oleh para pejuang Surabaya. Bung Tomo, dengan
pidatonya yang berkobar-kobar dari RRI Stasiun Surabaya membakar
semanagat juang rakyat Surabaya menentang kembalinya Sekutu dan Belanda.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
Maka
pada tanggal 10 Nopember 1945 terbuktilah ancaman dari Sekutu untuk
mebombardir Saurabaya dari darat, laut dan udara. Pertempuran yang
tidak seimbangpun terjadi. Sekutu dengan peralatan dan mesin tempur
yang canggih, sedangkan para pejuang RI dengan senjata seadanya hasil
rampasan dari Jepang.&lt;/div&gt;
&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="border-collapse: collapse; margin-left: 23.4pt;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr style="height: 191.35pt;"&gt;   &lt;td style="height: 191.35pt; padding: 0in 5.4pt; width: 2.5in;" valign="top" width="240"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: -0.25in;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;   &lt;td style="height: 191.35pt; padding: 0in 5.4pt; width: 250.85pt;" valign="top" width="334"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-zTbiE1m1MBY/T_HwtJH1E6I/AAAAAAAAANI/yFSUidhA4oc/s1600/bung_tomo.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-zTbiE1m1MBY/T_HwtJH1E6I/AAAAAAAAANI/yFSUidhA4oc/s320/bung_tomo.jpg" width="233" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;b&gt;“Sang Orator Bung Tomo”&lt;/b&gt;
; pembakar semangat juang dan pemimpin pertempuran 10 Nopember 1945 di
Surabaya. Beliau gugur dalam peristiwa yang sangat dahsyat itu. (Para
veteran Sekutu mengatakan bahwa peristiwa 10 Nop. 1945 di Surabaya
sebagai Inferno / neraka, yang kedahsyatan perangnya lebih mengerikan
dibandingkan perang dunia II)&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Sumber : 30 Th. Indonesia Merdeka&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;
Pasukan
BKR dari berbagai daerah di Indonesia berdatangan masuk ke Surabaya
untuk bertempur bersama-sama rakyat Surabaya melawan Sekutu.
Pertempuran baru berakhir tanggal 14 Desember 1945.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="2" style="margin-top: 0in;" type="A"&gt;
&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Palagan      Ambarawa (12 –&amp;nbsp; 15 Desember 1945)&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="IT"&gt;Peristiwa
ini bermula dari kedatnagan tentara Sekutu dibawah pimpinan Brigjend.
Bethel di Semarang. Tujuan semula poasukan ini adalah mengurus tawanan
perang Jepang. Namun NICA kemudian mempersenjatai para bekas tawanan
ini untuk membuat kekacauan di Kota Magelang dan Ambarawa. Pertempuran
sudah dimulai sejak 20 Nopember 1945. Pertempuran mencapai puncaknya
pada tanggal 12 – 15 Desember 1945 dibawah komando kolonel Sudirman.
Dengan strategi peperangan yang brillian dari Kolonel Sudirman, pasukan
BKR berhasil memukul mundur pasukan Sekutu dari Semarang. Karena
jasanya inilah Kolonel Sudirman kemudian diangkat sebagai Panglima TKR
(menggantikan Syudancho Supriyadi yang tidak pernah muncul) dengan
pangkat baru Panglima Besar Jenderal Sudirman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="IT"&gt;Peristiwa ini diperingati sebagai hari infanteri setiap tanggal 15 Desember.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="3" style="margin-top: 0in;" type="A"&gt;
&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Bandung&lt;/b&gt;&lt;b&gt;      lautan Api (24 Maret 1946)&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
Peristiwa ini bermula dari tindakan Sekutu yang memerintahkan para pejuang RI&amp;nbsp; di
Bandung untuk menyerahkan senjata rampasan dari Jepang. Pertempuran pun
pecah, dan mengakibatkan Kota Bandung terbagi menjadi dua dengan batas
demarkasi jalan/rel kereta api yang membelah kota Bandung. Bandung
Utara berhasil dikuasai Sekutu, sedangkan Bandung Selatan dikuasai TKR.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
Berdasarkan
Saurat Perintah Perdana Menteri Amir Syarifudin pada tanggal 20
Nopember 1945, antara pasukan Sekutu dan TKR harus mengadakan genjatan
senjata /menghentikan tembak menembak.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
Pada tanggal 23 Maret 1946 Sekutu mengeluarkan ultimatum&amp;nbsp; kepada
para pejuang RI untuk mengosongkan kota Bandung . Akibatnya pertempuran
pun kembali menghebat. Pada saat itu datang dua buah surat perintah
yang isinya membingungkan, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.25in;"&gt;
1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dari perdana Menteri Amir Syarifudin&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in;"&gt;
Bahwa para pejuang / pasukan RI harus mundur&amp;nbsp; dari kota Bandung sesuai dengan perjanjian antara pemerintah RI dengan Sekutu yanag saat itu sedang berlangsung di Jakarta.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.25in;"&gt;
2)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dari Panglima TKR (Jenderal Sudirman)&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in;"&gt;
Bahwa para pejuang/pasukan RI harus mempertahankan Kota bandung sampai titik darah penghabisan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
Menghadapi
dua perintah yang berbeda ini, akhirnya pada tanggal 24 Maret 1946
pasukan RI mengambil sikap untuk mundur dari kota Bandung dengan cara
membumi hanguskan kota Bandung, supaya semua fasilitas yang ada tidak
dapat dipergunakan oleh Sekutu. Maka terjadilah apa yang disebut dengan
Bandung Lautan Api.&lt;/div&gt;
&lt;ol start="4" style="margin-top: 0in;" type="A"&gt;
&lt;li class="MsoNormal"&gt;Medan Area (10      Dember 1945)&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
Pasukan Sekutu
memasuki Kota Medan dibawah pimpin Brigadir Jenderal Ted Kelly,
didahului oleh pasukan komando pimpinan Kapten Westerling&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
Pada tanggal 18 Oktober 1945 Sekutu mengeluarkan ultimatum yang isinya :&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.25in;"&gt;
1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;melarang rakyat membawa senjata&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.25in;"&gt;
2)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;semua senjata harus diserahkan kepada pasukan Sekutu&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
Karena
ultimatumnya tidak dihiraukan oleh rakyat Medan, Pasukan Sekutu
mengerahkan kekuatannya untuk menggempur kota Medan dan sekitarnya.
Serangan Sekutu ini dihadapi dengan gagah berani oleh pejuang RI
dibawah koordinasi kolonel Ahmad Tahir&lt;/div&gt;
&lt;ol start="5" style="margin-top: 0in;" type="A"&gt;
&lt;li class="MsoNormal"&gt;Puputan      Margarana di Bali (18 Desember 1946)&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
Dalam bahasa
bali, Puputan berarti perang sampai titik darah penghabisan. Peristiwa
inilah yang terjadi di desa Margarana, Tabanan Bali pada tanggal 18
Desember 1946. Pasukan Ciung Wanara pimpinan Kolonel I Gusti Ngurah Rai
dengan semangat puputan menyerbu tangsi / markas NICA di Tabanan untuk
menggagalkan pembentukan Negara Indonesia Timur dalam Konferensi
Denpasar yang saat itu sedang berlangsung. I Gusti Ngurah Rai dan
seluruh anggota pasukannya gugur dalam pertempuran tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;ol start="6" style="margin-top: 0in;" type="A"&gt;
&lt;li class="MsoNormal"&gt;Peristiwa      11 Nopember 1946 di Sulawesi Selatan&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
Pada saat
Belanda (Mayjend Van Mook) sedang mengadakan Konferensi Denpasar dalam
rangka pembentukan negara Indonesia Timur dan negara-negara boneka
lainnya, pada tanggal 11 Desember 1946 Belanda mengumumkan bahwa
Sulawesi berada dalam status darurat perang dan hukum militer (akibat
dari penolakan rakyat terhadap rencana (pembentukan Negara Indonesia
Timur). Rakyat Sulawesi Selatan yang diangap menolak atau tidak
setuju/menentang rencana tersebut dibantai habis oleh pasukan Belanda
pimpinan Raymond Westerling yang mengakibatkan lebih dari 40.000 jiwa
rakyat Sulawesi meninggal.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;
Robert
Wolter Monginsidi dan Andi Matalatta yang memimpin pasukan untuk
melawan kebiadaban Belanda akhirnya tertangkap dan dijatuhi hukuman
mati.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-3235119910428155096?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/3235119910428155096/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=3235119910428155096' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/3235119910428155096?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/3235119910428155096?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/07/konflik-indonesia-belanda-dan.html' title='KONFLIK INDONESIA BELANDA Dan perjuangan bersenjata Mempertahankan kemerdekaan'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-rmPNGAgWReA/T_HxCsqGGgI/AAAAAAAAANQ/xaK9xGgZeoI/s72-c/hotel-yamato.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;Ck4FRXczfyp7ImA9WhJSEUU.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-7654973602016185964</id><published>2012-07-01T15:14:00.000-07:00</published><updated>2012-07-01T15:15:14.987-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-07-01T15:15:14.987-07:00</app:edited><title>Penghianatan Terhadap Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
 {font-family:"Cambria Math";
 panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:roman;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}
@font-face
 {font-family:Calibri;
 panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:swiss;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
 {mso-style-unhide:no;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 margin-top:0cm;
 margin-right:0cm;
 margin-bottom:10.0pt;
 margin-left:0cm;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
 mso-fareast-language:EN-US;}
p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText
 {mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-link:"Footnote Text Char";
 margin:0cm;
 margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:10.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
 mso-fareast-language:EN-US;}
span.MsoFootnoteReference
 {mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 vertical-align:super;}
p
 {mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-margin-top-alt:auto;
 margin-right:0cm;
 mso-margin-bottom-alt:auto;
 margin-left:0cm;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:12.0pt;
 font-family:"Times New Roman","serif";
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
span.FootnoteTextChar
 {mso-style-name:"Footnote Text Char";
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-unhide:no;
 mso-style-locked:yes;
 mso-style-link:"Footnote Text";
 mso-ansi-font-size:10.0pt;
 mso-bidi-font-size:10.0pt;}
.MsoChpDefault
 {mso-style-type:export-only;
 mso-default-props:yes;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
 mso-fareast-language:EN-US;}
.MsoPapDefault
 {mso-style-type:export-only;
 margin-bottom:10.0pt;
 line-height:115%;}
 /* Page Definitions */
 @page
 {mso-footnote-separator:url("file:///C:/Users/user/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fs;
 mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/Users/user/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fcs;
 mso-endnote-separator:url("file:///C:/Users/user/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") es;
 mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/Users/user/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") ecs;}
@page WordSection1
 {size:595.3pt 841.9pt;
 margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;
 mso-header-margin:35.4pt;
 mso-footer-margin:35.4pt;
 mso-paper-source:0;}
div.WordSection1
 {page:WordSection1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Oleh : &lt;a href="http://cungkring-umj.blogspot.com/"&gt;Cungkring UMJ&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pasal 33&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;(1)
Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;(2)
Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;(3)
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara
dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=2846071874153429658#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pasal
33 UUD 1945 merupakan salah satu amanah Jiwa Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
dalam mensejahterakan Rakyat Indonesia, yang termaktub dalam alinea ke 4 Pembukaan
Undang-Undang Dasar1945 Yaitu “untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial...... serta dengan mewujudkan
suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=2846071874153429658#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sebenarnya
secara tegas Pasal 33 UUD 1945 beserta penjelasannya, melarang adanya
penguasaan sumber daya alam ditangan orang-seorang. Dengan kata lain monopoli,
oligopoli maupun praktek kartel dalam bidang pengelolaan sumber daya alam
adalah bertentangan dengan prinsip pasal 33. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Akan
tetapi Amandemen pasal 33 ini dengan ditambahkannya ayat 4 seakan mengingkari
secara halus ayat 1,2, dan 3-nya dimana perekonomian disusun secara prinsip
demokrasi. Jadi siapa saja dapat mengusahakan perekonomian secara bebas alias
liberalisasi perekonomian. hal ini tertuang dalam ayat selanjutnya yaitua ayt 5
diman ketentuan lebih lanjut diatur UU. UU yang mana? lihat saja UU penanaman
modal dan UU PMA yang kental sekali nuansa liberalnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bunyi pasal 33 UUD 1945 Amandemen sebagai berikut
.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;1.
Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;2.
Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh Negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;3. Bumi,
air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;4.
Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan
prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan
lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan
kesatuan ekonomi nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;5.
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam
undang-undang.&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=2846071874153429658#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
Ternyata sekarang sistem
ekonomi yang diterapkan bersikap mendua. Karena ternyata hak menguasai oleh
negara itu menjadi dapat didelegasikan kesektor-sektor swasta besar atau Badan
Usaha Milik Negara buatan pemerintah sendiri, tanpa konsultasi apalagi
sepersetujuan rakyat. “Mendua” karena dengan pendelegasian ini, peran swasta di
dalam pengelolaan sumberdaya alam yang bersemangat sosialis ini menjadi
demikian besar, dimana akumulasi modal dan kekayaan terjadi pada
perusahaan-perusahaan swasta yang mendapat hak mengelola sumberdaya alam ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
Sedangkan pengertian “untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat” menjadi sempit yaitu hanya dalam bentuk pajak
dan royalti yang ditarik oleh pemerintah, dengan asumsi bahwa pendapatan negara
dari pajak dan royalti ini akan digunakan untuk sebasar-besar kemakmuran
rakyat. Keterlibatan rakyat dalam kegiatan mengelola sumberdaya hanya dalam
bentuk penyerapan tenaga kerja oleh pihak pengelolaan sumberdaya alam tidak
menjadi prioritas utama dalam kebijakan pengelolaan sumberdaya alam di
Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
Sehingga akhirnya sumber daya
alam dan kenikmatan yang didapat hanya dikuasai oleh sekelompok orang saja.
Maka ada erosi makna pasal 33 yang seyogyanya diberikan untuk kepentingan orang
banyak. Contoh nyata dalam pemberian Hak Pengusahaan Hutan (HPH) oleh Menteri
Kehutanan pada 579 konsesi HPH di Indonesia yang didominasi hanya oleh 25 orang
pengusaha kelas atas. Masyarakat lokal yang masih menggantungkan hidupnya pada
sumberdaya hutan dan ari generasi ke generasi telah berdagang kayu, harus
diputuskan dari ekonomi kayu. Karena monopoli kegiatan pemanfaatan hutan dan
perdagangan kayu pun diberikan kepada para pemegang Hak Pemilikan Hutan (HPH)
ini. Monopoli kegiatan pemanfaatan ini malah disahkan melalui seperangkat
peraturan, mulai dari UU Pokok Kehutanan No. 5 tahun 1957 sampai peraturan pelaksanaannya
yang membekukan hak rakyat untuk turut mengelola hutan. Seperti pembekuan Hak
Pemungutan Hasil Hutan (HPHH) bagi masyarakat lokal hanya melalui teleks
Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-pVkFf9ls6FA/T_DLEUzduUI/AAAAAAAAAM0/V09aTGEV5c8/s1600/Untitled.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="156" src="http://2.bp.blogspot.com/-pVkFf9ls6FA/T_DLEUzduUI/AAAAAAAAAM0/V09aTGEV5c8/s320/Untitled.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
Begitu pula dalam bidang
pertambangan Migas (Minyak dan Gas Bumi) dan Pertambangan Umum. Untuk kontrak
bagi hasil dalam kuasa Pertambangan Migas, Pertamina (Perusahaan Minyak Negara)
memang pemegang tunggal kuasa pertambangan Migas, tetapi kontrak bagi hasil
dari eksploitasi sampai pemasarannya diberikan ke perusahaan-perusahaan besar.
Sedangkan dibidang pertambangan umum, rakyat penambang emas di Kalimantan
Tengah dan Barat misalnya (Pemerintah mengistilahkan mereka sebagai
PETI=Pengusaha Tambang Tanpa Ijin), harus tergusur untuk memberikan tempat bagi
penambang besar. Dengan logika yang sama seperti di sektor kehutanan, penambang
emas rakyat dianggap tidak mempunyai teknologi dan manajemen yang baik,
sehingga ‘layak’ digusur hanya dengan dalih tidak mempunyai ijin. Sedangkan
penambang emas besar dianggap akan memberikan manfaat besar karena kemampuan
teknologi dan manajemen mereka. Rakyat pendulang emas tidak mendapat tempat
sama sekali dalam kebijakan pengelolaan pertambangan di Indonesia, dan
kehidupan mereka semakin buruk.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
Praktek monopoli sumberdaya
alam ternyata telah merambah kesektor pariwisata. Tempat-tempat yang menjadi
tujuan wisata tidak bebas lagi menuju kepantai. Praktik ini banyak terlihat di
tempat-tempat wisata baru di Indonesia, seperti di Anyer-Jawa Barat dan
Senggigi-NTB.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
Sementara penghasilan negara
dari sektor pengelolaan sumberdaya alam ini tidaklah langsung ‘menetas’ pada
masyarakat lokal di sekitar sumberdaya alam itu sendiri (seperti yang
diagungkan oleh pendekatan trickle down effect), melainkan lebih banyak ke
kantong para pengusahanya dan ke pusat pemerintahannya. Tingkat korupsi yang
tinggi, lemahnya pengawasan, kurangnya transparansi serta akuntabilitas
pemerintah menyebabkan upaya untuk meningkatkan kemakmuran rakyat
sebesar-besarnya dari sektor pengelolaan sumberdaya alam menjadi kabur dalam
praktiknya.&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Ko42U6VhFPs/T_DLhTJW_JI/AAAAAAAAAM8/h9vZgmAubTk/s1600/547977_409486822435569_991513170_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-Ko42U6VhFPs/T_DLhTJW_JI/AAAAAAAAAM8/h9vZgmAubTk/s320/547977_409486822435569_991513170_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Jadi
KITA sadar apa maksud dan tujuan dari Amandemen UUD 1945, dan kemudian lahirlah
Undang-undang Penanaman Modal dan UU Penanaman Modal Asing (PMA) yakni tepatnya
UU No. 25 Pasal 10 (1), (2) Bab X, Tahun 2007.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Jadi untuk apa
amandemen?? dan kepentingan siapa itu &amp;nbsp;UU
No. 25 Pasal 10 (1), (2) Bab X, Tahun 2007??&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;
&lt;div id="ftn1"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=2846071874153429658#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 33
(Sebelum Amandemen)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn2"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=2846071874153429658#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
Alinea Ke 4&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn3"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=2846071874153429658#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Amandemen Ke 4 Tahun 2002 UUD 1945&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-7654973602016185964?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/7654973602016185964/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=7654973602016185964' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/7654973602016185964?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/7654973602016185964?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/07/penghianatan-terhadap-pasal-33-undang.html' title='Penghianatan Terhadap Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-pVkFf9ls6FA/T_DLEUzduUI/AAAAAAAAAM0/V09aTGEV5c8/s72-c/Untitled.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CEYCSX4zeSp7ImA9WhJSEUo.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-1355854236356990627</id><published>2012-07-01T12:49:00.001-07:00</published><updated>2012-07-01T12:49:28.081-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-07-01T12:49:28.081-07:00</app:edited><title>Monopoli di Tubuh PLN</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;
&lt;style&gt;
v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val="&amp;#45;-"/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;
   &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
 {font-family:"Cambria Math";
 panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
 mso-font-charset:1;
 mso-generic-font-family:roman;
 mso-font-format:other;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}
@font-face
 {font-family:Calibri;
 panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:swiss;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
 {mso-style-unhide:no;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 margin-top:0cm;
 margin-right:0cm;
 margin-bottom:10.0pt;
 margin-left:0cm;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
 mso-fareast-language:EN-US;}
.MsoChpDefault
 {mso-style-type:export-only;
 mso-default-props:yes;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
 mso-fareast-language:EN-US;}
.MsoPapDefault
 {mso-style-type:export-only;
 margin-bottom:10.0pt;
 line-height:115%;}
@page WordSection1
 {size:595.3pt 841.9pt;
 margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;
 mso-header-margin:35.4pt;
 mso-footer-margin:35.4pt;
 mso-paper-source:0;}
div.WordSection1
 {page:WordSection1;}
 /* List Definitions */
 @list l0
 {mso-list-id:1131873;
 mso-list-template-ids:-945901590;}
@list l0:level1
 {mso-level-start-at:3;
 mso-level-tab-stop:36.0pt;
 mso-level-number-position:left;
 text-indent:-18.0pt;}
@list l1
 {mso-list-id:220873766;
 mso-list-template-ids:1384916412;}
@list l1:level1
 {mso-level-start-at:4;
 mso-level-tab-stop:36.0pt;
 mso-level-number-position:left;
 text-indent:-18.0pt;}
@list l2
 {mso-list-id:644242243;
 mso-list-template-ids:-1348694502;}
@list l3
 {mso-list-id:977955769;
 mso-list-template-ids:-1893019492;}
@list l4
 {mso-list-id:1284770477;
 mso-list-template-ids:-1940499252;}
@list l4:level1
 {mso-level-start-at:2;
 mso-level-tab-stop:36.0pt;
 mso-level-number-position:left;
 text-indent:-18.0pt;}
@list l5
 {mso-list-id:1483887637;
 mso-list-template-ids:-222425502;}
@list l5:level1
 {mso-level-start-at:3;
 mso-level-tab-stop:36.0pt;
 mso-level-number-position:left;
 text-indent:-18.0pt;}
@list l6
 {mso-list-id:1483892575;
 mso-list-template-ids:-694517020;}
@list l6:level1
 {mso-level-start-at:2;
 mso-level-tab-stop:36.0pt;
 mso-level-number-position:left;
 text-indent:-18.0pt;}
@list l7
 {mso-list-id:2112505128;
 mso-list-template-ids:-1678096906;}
@list l7:level1
 {mso-level-start-at:5;
 mso-level-tab-stop:36.0pt;
 mso-level-number-position:left;
 text-indent:-18.0pt;}
@list l8
 {mso-list-id:2121491017;
 mso-list-template-ids:-1086916122;}
ol
 {margin-bottom:0cm;}
ul
 {margin-bottom:0cm;}
--&gt;
&lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0cm;
 mso-para-margin-right:0cm;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0cm;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-language:EN-US;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Warga negara Indonesia menganggap bahwa listrik
merupakan kebutuhan vital bagi kehidupannya sehari-hari. Setiap aktivitas yang
dilakukan oleh manusia tidak dapat terlepas dari listrik. Bahkan di desa
terpencil sekalipun saat ini sudah dapat menikmati fasilitas listrik. Namun
kini, Indonesia sedang mengalami krisis listrik. Listrik menjadi sesuatu yang
mahal dan langka disebabkan ketersediaannya yang sangat terbatas. Salah satu
faktor yang menjadi pemicu kelangkaan listrik ini adalah pertumbuhan akan
kebutuhan tenaga listrik yang semakin meningkat sementara tidak diimbangi oleh
usaha penyediaan tenaga listrik yang memadai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;PT. Perusahaan Listrik Negara Persero &lt;/span&gt;(PT. PLN)
merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki kewajiban untuk
menyediakan kebutuhan listrik di Indonesia. Namun faktanya, masih banyak kasus
di mana mereka malah justru merugikan masyarakat. Di satu sisi kegiatan &lt;span style="color: blue;"&gt;monopoli&lt;/span&gt; mereka dimaksudkan untuk kepentingan
mayoritas masyarakat dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai UUD 1945
Pasal 33, namun di sisi lain, tindakan PT. PLN ini justru belum atau bahkan
tidak menunjukkan kinerja yang baik dalam pemenuhan kebutuhan listrik
masyarakat&lt;a href="http://nenygory.wordpress.com/2011/05/30/kasus-monopoli-yang-dilakukan-oleh-perusahaan-listrik-negara-pt-pln/#_ftn1" title=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Wacana mengenai krisis listrik ini sebenarnya telah
muncul sejak awal tahun 2002 atau akhir tahun 2001. Pada waktu itu hingga
sekarang muncul pemikiran untuk keterlibatan pihak swasta terhadap pengelolaan
ketenagalistrikan di Indonesia yang selama ini dimonopoli oleh PLN. Keadaan
krisis listrik yang parah ditunjukkan oleh fenomena listrik padam serentak
se-Jawa Bali pada Rabu, 20 Februari 2008 karena terjadi defisit pasokan listrik
hingga 1.044 MW. Saat itu, pemerintah bersiap untuk mengumumkan keadaan darurat
jika defisit mencapai 1.500 MW. Krisis listrik di Indonesia bisa dikatakan
sudah berada dalam tahap yang mengkhawatirkan. Di beberapa wilayah, tiada hari
tanpa pemadaman berlgilir. Sistem Jawa-Bali yang paling maju dan
terinterkoneksi juga masih sering mengalami masalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Krisis listrik memuncak saat PT. Perusahaan Listrik
Negara (PT. PLN) memberlakukan pemadaman listrik secara bergiliran di berbagai
wilayah termasuk Jakarta dan sekitarnya, selama periode 11-25 Juli 2008. Hal
ini diperparah oleh pengalihan jam operasional kerja industri ke hari Sabtu dan
Minggu, sekali sebulan. Semua industri di Jawa-Bali wajib menaati, dan sanksi
bakal dikenakan bagi industri yang membandel. Dengan alasan klasik, PLN
berdalih pemadaman dilakukan akibat defisit daya listrik yang semakin parah
karena adanya gangguan pasokan batubara pembangkit utama di sistem kelistrikan
Jawa-Bali, yaitu di pembangkit Tanjung Jati, Paiton Unit 1 dan 2, serta
Cilacap. Namun, di saat yang bersamaan terjadi juga permasalahan serupa untuk
pembangkit berbahan bakar minyak (BBM) PLTGU Muara Tawar dan PLTGU Muara Karang&lt;a href="http://nenygory.wordpress.com/2011/05/30/kasus-monopoli-yang-dilakukan-oleh-perusahaan-listrik-negara-pt-pln/#_ftn2" title=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Minimnya pasokan listrik sebagian besar dipicu
stagnasi produksi PLN. PLN sebagai pemasok 90% kebutuhan listrik nasional sulit
meningkatkan produksi karena minimnya keuangan perusahaan sehingga sulit
diharapkan dapat melakukan ekspansi. Produksi PLN yang sudah ada juga tidak
optimal dan mahal karena sebagian besar pembangkit sudah tua, boros bahan
bakar, kekurangan pasokan energi primer, dan sering mengalami kerusakan. PLN
juga dikenal tidak efisien, seperti susut daya listrik yang besar, mahalnya
harga pembelian listrik swasta, tingginya kasus pencurian listrih hingga
korupsi. Stagnasi ini juga dipicu oleh pembangunan listrik yang tidak bervisi
ke depan akibat subsidi BBM regresif membuat sebagian besar pembangkit PLN
adalah pembangkit termal yang kini kian mahal. Selain mahal, konversi energi
bahan bakar fosil menjadi listrik juga sangat tidak efisien (hanya sekitar 30%)
dan tidak ramah lingkungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Hingga kini, sebagian besar produksi listrik nasional
masih mengandalkan bahan bakar fosil. Kodisi PLN yang demikian ini akan menjadi
semakin terpuruk apabila tidak dibenahi, karena permintaan listrik akan terus
meningkat seiring dengan pertambahan penduduk. Pertumbuhan konsumsi listrik
diperkirakan 8-10% per tahun hingga 2013. Dengan demikian krisis yang
disebabkan kesenjangan (&lt;i&gt;gap&lt;/i&gt;) antara permintaan dan pawaran sudah
terprediksi sejak lama. Jika tidak ada tambahan kapasitas yang berarti, krisis
pada sistem Jawa-Bali dan sistem interkoneksi Sumatra hanya tinggal menunggu
waktu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Beberapa dekade ini, fungsi PT. PLN sebagai
pembangkit, distribusi, dan transmisi listrik mulai dipecah. Swasta diizinkan
berpartisipasi dalam upaya pembangkitan tenaga listrik. Sementara untuk
distribusi dan transmisi tetap ditangani PT. PLN. Saat ini telah ada 27 &lt;i&gt;Independent
Power Producer di Indonesia&lt;/i&gt;. Mereka termasuk Siemens, General Electric,
Enron, Mitsubishi, Californian Energy, Edison Mission Energy, Mitsui &amp;amp; Co,
Black &amp;amp; Veath Internasional, Duke Energy, Hoppwell Holding, dan masih
banyak lagi. Tetapi dalam menentukan harga listrik yang harus dibayar
masyarakat tetap ditentukan oleh PT. PLN sendiri. Artinya bahwa pihak swasta
sangat dibutuhkan untuk ikut serta dalam usaha penyediaan tenaga listrik di
samping PLN sebagai salah satu pelaksana kegiatan usaha penyediaan tenaha
listrik di Indonesia. Hal ini dilakukan dalam koridor kepentingan masyarakat
luas terutama dalam hal menetapkan tarif yang dapat dijangkau masyarakat sesuai
dengan kemampuan ekonomi dan tingkat pendapatan masyarakat&lt;a href="http://nenygory.wordpress.com/2011/05/30/kasus-monopoli-yang-dilakukan-oleh-perusahaan-listrik-negara-pt-pln/#_ftn3" title=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt; [3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Keberadaan PLN saat ini sangat mendominasi dan
memonopoli ketenagalistrikan di Indonesia. Tetapi keberadaannya tersebut malah
tidak mampu melayani masyarakat pengguna listrik tersebut sementara
keterlibatan swasta dalam bisnis listrik secara langsung (menjadi kompetitor
PLN) sulit dilakukan karena terdapat preseden putusan Mahkamah Konstitusi (MK)
No. 001-021-022/PUU-I/2003 yang menyatakan bahwa UU No. 20 Tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan tidak memiliki kekuatan mengikat. UU No. 20 Tahun 2002
tentang Ketenagalistrikan memiliki perbedaan signifikan dengan UU No. 15 Tahun
1985 tentang Ketenagalistrikan yang lama.&lt;a href="http://nenygory.wordpress.com/2011/05/30/kasus-monopoli-yang-dilakukan-oleh-perusahaan-listrik-negara-pt-pln/#_ftn4" title=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dalam UU No.20 Tahun 2002 dijelaskan bahwa semua
pelaku usaha diberikan kesempatan yang lebih luas untuk dapat masuk dalam usaha
penyediaan tenaga listrik. Selain itu hal yang cukup berbeda ialah bahwa
undang-undang ini telah mengatur hal-hal yang terkait dalam penerapan kompetisi
di wilayah-wilayah tertentu. Sesungguhnya melalui UU No. 20 Tahun 2002 tersebut
akan dimungkinkan keterlibatan swasta menjadi pelaku usaha yang menyediakan
listrik di Indonesia. Telaah terhadap putusan MK tersebut menjadi menarik
dikarenakan secara tidak langsung mendukung PLN dalam memonopoli
ketenagalistrikan di Indonesia padahal secara prediktif pada tahun 2003 telah
tergambar akan adanya krisis listrik disebabkan kemampuan PLN yang tidak cukup
untuk menjamin pasokan listrik se Indonesia. Oleh karena itu, makalah ini akan
mendeskripsikan persoalan monopoli yang dilakukan oleh PLN dalam perspektif
hukum anti monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pengertian Monopoli&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Monopoli adalah suatu situasi dalam pasar dimana hanya
ada satu atau segelintir perusahaan yang menjual produk atau komoditas tertentu
yang tidak punya pengganti yang mirip dan ada hambatan bagi perusahaan atau
pengusaha lain untuk masuk dalam bidan industri atau bisnis tersebut. Dengan
kata lain, pasar dikuasai oleh satu atau segelintir perusahaan, sementara pihak
lain sulit masuk&amp;nbsp; di dalamnya. Karena itu, hampir tidak ada persaingan
berarti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Secara umum, perusahaan monopoli menyandang
dikonotasikan negatif dengan perolehan keuntungan yang melebihi normal dan
penawaran komoditas yang lebih sedikit bagi masyarakat, meskipun dalam
prakteknya tidak selalu demikian. Dalam ilmu ekonomi dikatakan ada monopoli
jika seluruh hasil industri diproduksi dan dijual oleh satu perusahaan yang disebut
monopolis atau perusahaan monopoli.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Jenis monopoli&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ada dua macam monopoli yaitu monopoli alamiah dan yang
kedua adalah monopoli artifisial. Monopoli alamiah lahir karena mekanisme murni
dalam pasar. Monopoli ini lahir secara wajar dan alamiah karena kondisi
objektif yang dimiliki oleh suatu perusahaan, yang menyebabkan perusahaan ini
unggul dalam pasar tanpa bisa ditandingi dan dikalahkan secara memadai oleh
perusahaan lain. Dalam jenis monopoli ini, sesungguhnya pasar bersifat terbuka.
Karena itu, perusahaan ain sesungguhnya bebas masuk dalam jenis industri yang
sama. Hanya saja, perusahaan lain tidak mampu menandingi perusahaan
monopolistis tadi sehingga perusahaan yang unggul tadi relatif menguasasi pasar
dalam jenis industri tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Yang menjadi masalah adalah jenis monopoli yang kedua,
yaitu monopoli artifisial. Monopoli ini lahir karena persekongkolan atau kolusi
politis dan ekonomi antara pengusaha dan penguasa demi melindungi kepentingan
kelompok pengusaha tersebut. Monopoli semacam ini bisa lahir karena
pertimbangan rasional maupun irasional. Pertimbangan rasional misalnya demi
melindungi industri industri dalam negeri, demi memenuhi &lt;i&gt;economic of scale&lt;/i&gt;,
dan seterusnya. Pertimbangan yang irasional bisa sangat pribadi sifatnya dan
bisa dari yang samar-samar dan besar muatan ideologisnya sampai pada yang kasar
dan terang-terangan. Monopoli ini merupakan suatu rekayasa sadar yang pada
akhirnya akan menguntungkan kelompok yang mendapat monopoli dan merugikan
kepentingan kelompok lain, bahkan kepentingan mayoritas masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ciri pasar monopoli&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ciri-ciri dari pasar monopoli adalah sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="1" type="1"&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pasar
     monopoli adalah industri satu perusahaan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dari definisi monopoli telah diketahui bahwa hanya ada
satu saja perusahaan dalam industri tersebut. Dengan demikian barang atau jasa
yang dihasilkannya tidak dapat dibeli dari tempat lain. Para pembeli tidak
mempunyai pilihan lain, kalau mereka menginginkan barang tersebut maka mereka
harus membeli dari perusahaan monopoli tersebut. Syarat-syarat penjualan
sepenuhnya ditentukan oleh perusahaan monopoli itu, dan konsumen tidak dapat
berbuat suatu apapun didalam menentukan syarat jual beli.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="2" type="1"&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tidak
     mempunyai barang pengganti yang mirip&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Barang yang dihasilkan perusahaan monopoli tidak dapat
digantikann oleh barag lain yang ada didalam pasar. Barang-barang tersebut
merupakan satu-satunya jenis barang yang seperti itu dan tidak terdapat barang
mirip yang dapat menggantikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="3" type="1"&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tidak
     terdapat kemungkinan untuk masuk kedalam industri&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sifat ini merupakan sebab utama yang menimbulkan
perusahaan yang mempunyai kekuasaan monopoli. Keuntungan perusahaan monopoli
tidak akan menyebabkan perusahaan-perusahaan lain memasuki industri tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="4" type="1"&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dapat
     mempengaruhi penentuan harga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Perusahaan monopoli merupakan satu-satunya penjual
didalam pasar, maka penentuan harga dapat dikuasainya. Oleh sebab itu
perusahaan monopoli dipandang sebagai penentu harga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="5" type="1"&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Promosi
     iklan kurang diperlukan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Oleh karena perusahaan monopoli adalah satu-satunya
perusahaan didalam industri, ia tidak perlu mempromosikan barangnya dengan
menggunakan iklan. Walau ada yang menggunakan iklan, iklan tersebut bukanlah
bertujuan untuk menarik pembeli, melainkan untuk memelihara hubungan baik dengan
masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Undang-undang tentang Monopoli&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dalam situasi tertentu kita membutuhkan perusahaan
besar dengan kekuatan ekonomi yang besar dalam hal praktek monopoli, oligopoli,
suap, harus dibatasi dan dikendalikan, karena apabila tidak dapat merugikan
kepentingan masyarakat pada umumnya dan kelompok-kelompok tertentu dalam
masyarakat. MakaIndonesiapun kemudian membuat sebuah peraturan antimonopoli
yaitu Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan
Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Undang-undang ini
menerjemahkan monopoli sebagai suatu tindakan penguasaan atas produksi dan atau
pemasaran barang dan atau atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku usaha
atau satu kelompok pelaku usaha.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sedangkan praktik monopoli pada UU tersebut dijelaskan
sebagai suatu pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang
mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa
tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan
kepentingan umum. UU ini dibagi menjadi 11 bab yang terdiri dari beberapa
pasal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kasus Monopoli Perusahaan Listrik Negara&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengakui
adanya dugaan pelanggaran UU No.5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat oleh PT PLN (Persero) apabila BUMN sektor listrik
itu meneruskan kebijakan &lt;i&gt;capping&lt;/i&gt; untuk TDL sektor industri. KPPU akan
mengkaji sesuai dengan prosedur lewat pemeriksaan selanjutnya. Kemungkinan
pasal yang akan dikaji KPPU ialah pasal 19d di dalam Undang-Undang Nomor 5/1999
yang mengatur masalah diskriminasi terkait penerapan tarif terhadap para pelaku
industri.Untuk itu, KPPU akan segera menelisik data-data PLN untuk melihat
siapa saja pelanggan industri yang menikmati &lt;i&gt;capping&lt;/i&gt; dengan yang tidak.
Sementara ini, KPPU mengakui pada 2010 memang terdapat perbedaan tarif untuk
golongan-golongan industri. Untuk golongan industri kecil atau rumah tangga
yang dikenakan &lt;i&gt;capping&lt;/i&gt; diganjar Rp803 per KWh. Sementara yang tidak kena
&lt;i&gt;capping&lt;/i&gt; dikenakan Rp916 per KWh. Sehingga ada disparitas harga sekitar
Rp113 per KWh. Sementara untuk golongan menengah berkapasitas tegangan menengah
berbeda Rp667 per KWh apabila dikenakan &lt;i&gt;capping&lt;/i&gt; dan Rp731 KWh untuk yang
tidak. Perbandingan bagi industri yang memakai &lt;i&gt;capping&lt;/i&gt; dengan yang
tidak, untuk tegangan menengah sebesar 23%. Untuk golongan tarif untuk
keperluan industri besar, mereka yang dikenakan &lt;i&gt;capping&lt;/i&gt; harus membayar
sebesar Rp594 per KWh sementara yang tidak menjadi Rp605 per KWh (disparitas
harga Rp11 per KWh). Berdasarkan indikasi-indikasi tersebut, KPPU akan segera
melakukan pemeriksaan sesuai prosedur yang ada berdasarkan surat yang masuk ke
pihaknya pada 11 Januari silam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;KPPU juga akan panggil pihak yang selama ini
diuntungkan dengan tarif lebih rendah atau yang iri terhadap perbedaan harga
karena mereka dikenakan beban yang lebih tinggi dibanding yang lain. Selain
itu, mereka juga akan memanggil Pemerintah dan Kementerian Keuangan dan Dirjen
Listrik Kementerian ESDM untuk meminta pandangan dari mereka dan akan
membuktikan di lapangan misal cek kuitansi supaya ada fakta dan data hukum
tidak hanya data statistik&lt;a href="http://nenygory.wordpress.com/2011/05/30/kasus-monopoli-yang-dilakukan-oleh-perusahaan-listrik-negara-pt-pln/#_ftn1" title=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Fungsi PT. PLN sebagai pembangkit, distribusi, dan
transmisi listrik sebenarnya sudah mulai dipecah. Swasta diizinkan
berpartisipasi dalam upaya pembangkitan tenaga listrik. Sementara untuk
distribusi dan transmisi tetap ditangani PT. PLN. Saat ini telah ada 27 &lt;i&gt;Independent
Power Producer&lt;/i&gt; di Indonesia. Mereka termasuk Siemens, General Electric,
Enron, Mitsubishi, Californian Energy, Edison Mission Energy, Mitsui &amp;amp; Co,
Black &amp;amp; Veath Internasional, Duke Energy, Hoppwell Holding, dan masih
banyak lagi. Tetapi dalam menentukan harga listrik yang harus dibayar
masyarakat tetap ditentukan oleh PT. PLN sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Krisis listrik kemudian juga memuncak saat PT.
Perusahaan Listrik Negara (PT. PLN) memberlakukan pemadaman listrik secara
bergiliran di berbagai wilayah termasuk Jakarta dan sekitarnya, selama periode
11-25 Juli 2008. Hal ini diperparah oleh pengalihan jam operasional kerja
industri ke hari Sabtu dan Minggu, sekali sebulan. Semua industri di Jawa-Bali
wajib menaati, dan sanksi bakal dikenakan bagi industri yang membandel. Dengan
alasan klasik, PLN berdalih pemadaman dilakukan akibat defisit daya listrik
yang semakin parah karena adanya gangguan pasokan batubara pembangkit utama di
sistem kelistrikan Jawa-Bali, yaitu di pembangkit Tanjung Jati, Paiton Unit 1
dan 2, serta Cilacap. Namun, di saat yang bersamaan terjadi juga permasalahan
serupa untuk pembangkit berbahan bakar minyak (BBM) PLTGU Muara Tawar dan PLTGU
Muara Karang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Akibat dari PT. PLN yang memonopoli kelistrikan
nasional, kebutuhan listrik masyarakat sangat bergantung pada PT. PLN, tetapi
mereka sendiri tidak mampu secara merata dan adil memenuhi kebutuhan listrik
masyarakat. Banyak daerah-daerah yang kebutuhan listriknya belum terpenuhi dan
juga sering terjadi pemadaman listrik secara sepihak. Kejadian ini menyebabkan
kerugian yang tidak sedikit bagi masyarakat, dan investor menjadi enggan untuk
berinvestasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Analisis Kasus&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kelistrikan di Indonesia adalah bentukan sejarah,
keadaan geografis, dan keteresediaan sumber daya alam dari zaman dahulu. Dalam
perjalanannya, pemerintah selalu mengambil peran yang sempurna dalam penyediaan
listrik bagi rakyat yang didasarkan pada Pasal 33 UUD 1945. Meskipun pada masa
pemerintahan Kolonial Belanda dan setelah kemerdekaan telah ada perusahaan swasta
komersial yang memproduksi listrik, namun pemerintah nasional mengambil peranan
dalam pembangunan sektor ini selama 50 tahun terakhir. Perusahaan Umum Listrik
Negara yang didirikan pada 1950 telah menjadi pemain kunci dalam cepanya
pembangunan sektor kelistrikan. Data statistik menunjukkan bahwa PLN adalah
salah satu perusahaan listrik terbesar di dunia dengan total pelanggan 22 juta
dan lebih dari 50.000 karyawan serta hampir seluruh bagian masyarakat adalah &lt;i&gt;stakeholders&lt;/i&gt;
bagi PLN.&lt;a href="http://nenygory.wordpress.com/2011/05/30/kasus-monopoli-yang-dilakukan-oleh-perusahaan-listrik-negara-pt-pln/#_ftn2" title=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;PLN berdiri dilandaskan pada UU No. 15 Tahun 1985
tentang Ketenagalistrikan dan pada tahun 2002 UU No.15 Tahun 1985 dinyatakan tidak
berlaku oleh UU No. 20 Tahun 2002. Namun kemudian melalui Putusan MK No
001-021-022/PUU-I/2003 yang dibacakan pada hari Rabu tanggal 15 Desember 2004
menyatakan bahwa UU No. 20 Tahun 2002 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Permasalahan inti dari persoalan UU No. 20 Tahun 2002 adalah pada Pasal 16, 17
dan 68 yang menjiwai dari UU ketenagalistrikan tersebut. Pasal 16 menyatakan
bahwa usaha penyediaan tenaga listrik dilakukan secara terpisah oleh Badan
Usaha yang berbeda. Pasal 17 menyatakan bahwa usaha pembangkitan listrik
dilakukan berdasarkan kompetisi dan dilarang menguasai pasar. Larangan
penguasaan pasar ini meliputi segala tindakan yang dapat mengakibatkan
terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="1" type="1"&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;menguasai
     kepemilikan;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;menguasai
     sebagian besar kapasitas terpasang pembangkitan tenaga listrik dalam satu
     wilayah kompetisi;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;menguasai
     sebagian besar kapasitas pembangkitan tenaga listrik pada posisi beban
     puncak;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;menciptakan
     hambatan masuk pasar bagi Badan Usaha lainnya;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;membatasi
     produksi tenaga listrik dalam rangka mempengaruhi pasar;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;melakukan
     praktik diskriminasi;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;melakukan
     jual rugi dengan maksud menyingkirkan usaha pesaingnya;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;melakukan
     kecurangan usaha; dan/atau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;melakukan
     persekongkolan dengan pihak lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sedangkan Pasal 68 menyatakan bahwa Pada saat
Undang-undang ini berlaku, terhadap Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan
(PKUK) sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang
Ketenagalistrikan dianggap telah memiliki izin yang terintegrasi secara
vertikal yang meliputi pembangkitan, transmisi, distribusi, dan penjualan
tenaga listrik dengan tetap melaksanakan tugas dan kewajiban penyediaan tenaga
listrik untuk kepentingan umum sampai dengan dikeluar-kannya Izin Usaha
Penyediaan Tenaga Listrik berdasarkan Undang-undang ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Keputusan MK dalam hal ini menyatakan bahwa Pasal 16,
17 ayat (3), serta 68 UU No. 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan berlawanan
dengan UUD 1945 dan oleh karenanya harus dinyatakan tidak mempunyai kekuatan
hukum mengikat. Meskipun yang berlawanan hanya tiga pasal tersebut, akan tetapi
karena pasal-pasal tersebut merupakan jantung dari UU No.20 Tahun 2002 padahal
seluruh paradigma yang mendasari UU Ketenagalistrikan adalah kompetisi atau
persaingan dalam pengelolaan dengan sistem unbundling dalam ketenagalistrikan
tidak sesuai dengan jiwa dan semangat Pasal 33 ayat (2) UUD 1945 yang merupakan
norma dasar perekonomian nasional Indonesia. MK berpendapat bahwa cabang produksi
dalam Pasal 33 ayat (2) UUD 1945 di bidang ketenagalisrikan harus ditafsirkan
sebagai satu kesatuan antara pembangkit transmisi dan distribusi sehingga
dengan demikian meskipun hanya pasal, ayat, atau bagian dari ayat tertentu saja
dalam undang-undang a quo yang dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum
mengkiat akan tetapi hal tersebut mengakibatkan UU No.20 Tahun 2002 secara
keseluruhan tidak dapat dipertahankan, karena akan menyebabkan kekacauan yang
menimbulkan ketidakpastian hukum dalam penerapannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dalam siaran Pers Koalisi Masyarakat Anti Kenaikan
Harga sebagai pihak yang mengajukan &lt;i&gt;Judicial Review&lt;/i&gt; atas UU No. 20 Tahun
2002 menyatakan bahwa dalam UU No. 20 Tahun 2002 terlihat bahwa negara tidak
lagi bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan usaha penyediaan tenaga listrik
untuk kepentingan umum dan tidak ada lagi ketentuan yang menyebutkan agar harga
listrik terjangkau oleh masyarakat sebagaimana semula ditetapkan dalam UU No.
15 Tahun 1985 terlebih lagi harga listrik diserahkan kepada pasar sehingga
tidak mempertimbangkan daya beli atau kondisi sosial ekonomi masyarakat. Hal
ini sangat merugikan kepentingan bangsa, negara dan rakyat Indonesia (merugikan
kepentingan publik).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Akibat adanya pertentangan antara UU No.20 Tahun 2002
dengan UUD Pasal 33, menimbulkan dampak yang merugikan kepentingan bangsa,
Negara dan masyarakat (publik) Indonesia, PLN juga terkena dampaknya. PLN yang
selama ini merupakan satu-satunya BUMN yang mengelola sektor ketenagalistrikan
dan telah memberikan sumbangsih bagi bangsa, Negara, dan masyarakat yang telah
menjalankan fungsi untuk menyediakan tenaga listrik bagi seluruh masyarakat
Indonesia dengan harga terjangkau dan juga telah memberikan peran yang besar
bagi perekenomian nasional, berdasarkan UU No. 20 tahun 2002 tidak lagi
merupakan cabang produksi yang penting yang menguasai hajat hidup orang banyak.
Akibatnya, tidak adanya jaminan dan kepastian bagi seluruh masyarakat untuk
memperoleh tenaga listrik dengan harga terjangkau dan justru akan merugikan
perekonomian Negara yang pada akhirnya akan mengurangi tingkat kesejahteraan
dan kemakmuran rakyat Indonesia. Bahkan dapat pula mengganggu keamanan negara
dan kedaulatan negara karena negara tidak lagi berkewajiban mengelola cabang
produksi terpenting untuk kepentingan dan kemakmuran rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Putusan MK ini sejalan dengan pengalaman dunia akan
tenaga kelistrikan yang telah membuktikan bahwa keberhasilan restrukturisasi
sektor tenaga listik adalah mitos belaka. Sejumlah negara baik negara maju dan
berkembang telah menerapkan restrukturisasi namun memberikan hasil yang serupa
yaitu kenaikan tarif listrik, terjadinya pemadaman, menurunnya tingkat
kehandalan, penguasaan sektor listrik oleh sebagian kecil perusahaan energi
multinasional dan kegagalan negara melindungi kepentingan ekonomi dan
kepentingan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Secara ekonomi, iklim kompetensi dan persaingan yang
sehat dapat menghemat miliaran atau bahkan terilyunan rupiah uang konsumen yang
harus dibayarakan ke produsen karena harga yang tidak wajar (&lt;i&gt;overcharge&lt;/i&gt;)
sebagai akibat kenaikan harga yang artifisial. Secara umum, terdapat beberapa
manfaat yang didapat perekonomian jika pada sektor ketenagalistrikan terjadi
kompetisi dan persaingan yang sehat, di antaranya adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="1" type="1"&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Harga
     yang wajar dilihat dari kualitas. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dalam iklim persaingan, produsen akan berlomba-lomba
menarik konsumen dengan menurunkan harga dan meningkatkan kualitas barang/jasa
yang dijualnya. Hanya barang/jasa dengan harga yang rendah dengan kualitas
terbaik yang akan dibeli oleh konsumen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="2" type="1"&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Konsumen
     memiliki banyak pilihan dalam membeli barang/jasa. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pasar yang kompetitif akan menghasilkan barang/jasa
yang ditawarkan pelaku usaha dengan pilihan harga dan kualitas yang bervariasi.
Setiap konsumen pada dasarnya memiliki daya beli dan selera yang berbeda-beda.
Karakteristik konsumen untuk memproduksi barang/jasa sesuai dengan kemampuan
dan keinginan konsumen. Produsen dituntut untuk sensitif terhadap daya beli dan
perubahan selera konsumen. Pelaku usaha yang tidak tanggap terhadap perubahan
daya beli dan perubahan selera konsumen lambat laun akan tersingkir di pasar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol start="3" type="1"&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Persaingan
     memungkinkan timbulnya inovasi. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Persaingan usaha akan merangsang pelaku usaha
berlomba-lomba membuat inovasi, baik inovasi produk untuk memenuhi selera
konsumen, inovasi teknologi maupun inovasi metode produksi yang lebih efisien.
Inovasi akan terus berkembang karena dalam pasar yang bersaing hanya pelaku
usaha inovatif yang dapat bertahan dan bersaing. Terkait dengan sektor
ketenagalistrikan, jika ada pesaing lain bagi PLN, tentunya akan mendorong PLN
berpikir dan melakukan yang terbaik dalam menentukan harga dan memberikan
pelayanan. Hal ini secara positif akan mendorong PLN pada efisiensi kinerja dan
inovasi teknologi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Namun, kompetisi yang dikehendaki agar dapat tercapai
suatu iklim usaha yang sehat tidak dapat dilakukan dalam bidang
ketenagalistrikan. Hal ini dikarenakan segmen yang bersifat monopoli alamiah
tidak dikompetisikan dan diprioritaskan untuk dikelola oleh BUMN. Pada dasarnya
usaha penyediaan ketenagalistrikan dilakukan secara monopoli, harga jual juga
tetap dilakukan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah berdasarkan
kewenangan dalam memberi izin tersebut. Meskipun demikian usaha penyediaan
ketenagalistrikan juga dapat dilakukan secara terintegrasi atau satu jenis
usaha saja. Namun karena PLN adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maka diberi
hak untuk diprioritaskan dalam memenuhi ketenagalistrikan. Dengan demikian
ketersediaan listrik sesungguhnya merupakan tugas Pemerintah untuk menenuhinya.
Keterlibatan swasta dalam penguasaan listrik tidak dapat dilakukan melalui
mekanisme pasar dikarenakan ketenagalistrikan merupakan sektor yang unik dan
perlu penanganan khusus demi untuk tersedianya listrik yang relatif murah bagi
seluruh rakyat Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Oleh karena itu, secara hukum masih terdapat berbagai
perdebatan, apakah usaha yang dilakukan oleh PLN adalah tindakan monopoli yang
diperbolehkan atau tidak. Namun melihat dari kerugian yang diterima oleh
masyarakat, seharusnya tindakan monopoli ini tidak boleh dilakukan. Kerugian
ini diduga karena kurang optimalnya kinerja PLN dalam penyedia listrik
masyarakat. Sedangkan dari segi persaingan usaha, monopoli yang dilakukan PLN
merupakan persaingan usaha yang tidak sehat karena mulai adanya pihak swasta
yang juga menyediakan tenaga listrik di Indonesia. Persaingan ini dianggap
sehat apabila PLN tidak menghalangi usaha perusahaan listrik swasta lainnya
untuk menyediakan listrik bagi masyarakat, sedangkan dalam hal ini PLN malahan
menghalangi perusahaan lain untuk bersaing di bidang ketenagalistrikan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) telah
melakukan tindakan monopoli, yang menyebabkan kerugian pada masyarakat.
Tindakan PT. PLN ini telah melanggar Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5
Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Namun, monopoli yang dilakukan oleh PLN dalam sektor ketenagalistrikan memiliki
landasan yuridis yang kuat yakni melalui konstruksi hukum Pasal 33 UUD 1945, UU
Ketenagalistrikan. Hanya saja, PLN belum mampu menunjukkan kinerjanya secara
optimal sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan listrik bagi seluruh rakyat
Indonesia secara layak. Demikian ini merupakan suatu hal yang dilematis bagi
penyelenggaraan ketenagalistrikan di Indonesia mengingat kedudukan PLN yang
kuat secara yuridis tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat
secara adil dan merata, sebaiknya pemerintah juga membuka kesempatan yang luas
bagi penyedia listrik lain baik investor swasta maupun internasional dalam persaingan
usaha ketenagalistrikan. Akan tetapi, Pemerintah harus tetap mengontrol dan
memberikan batasan bagi investor tersebut, sehingga tidak terjadi penyimpangan
yang merugikan masyarakat. Selain itu, Pemerintah hendaknya dapat memperbaiki
kinerja PLN saat ini, sehingga menjadi lebih baik demi tercapainya kebutuhan
dan kesejahteraan masyarakat banyak sesuai amanat UUD 1945 Pasal 33.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;

&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;


&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No.
001-021-022/PUU-I/2003.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1999
tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2002
tentang Ketenagalistrikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;a href="http://nenygory.wordpress.com/2011/05/30/kasus-monopoli-yang-dilakukan-oleh-perusahaan-listrik-negara-pt-pln/#_ftnref1" title=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Anonim. &lt;i&gt;KPPU Duga PLN
Lakukan Praktek Monopoli&lt;/i&gt;, &lt;a href="http://hileud.com/hileudnews?title=KPPU+Duga+PLN+Lakukan+Praktek+Monopoli&amp;amp;id=511698"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;http://hileud.com/hileudnews?title=KPPU+Duga+PLN+Lakukan+Praktek+Monopoli&amp;amp;id=511698&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
diunduh pada tanggal 29 Mei 2011, pkl 13.20.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;a href="http://nenygory.wordpress.com/2011/05/30/kasus-monopoli-yang-dilakukan-oleh-perusahaan-listrik-negara-pt-pln/#_ftnref2" title=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Banu Muhammad H, 2005, &lt;i&gt;Urgensi
Persaingan Usaha pada Sektor Ketenagalistrikan di Indonesia&lt;/i&gt;, dalam Jurnal
Konstitusi Volume 3 Mei 2005.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;

&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;


&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;a href="http://nenygory.wordpress.com/2011/05/30/kasus-monopoli-yang-dilakukan-oleh-perusahaan-listrik-negara-pt-pln/#_ftnref1" title=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Rifqi, Mohammed. &lt;i&gt;Monopoli
PLN dan Persaingan Usaha dalam Bidang Ketenagalistrikan Indonesia&lt;/i&gt;. &lt;a href="http://rifqin.blogspot.com/2008/04/monopoli-pln-dan-persaingan-usaha-dalam.html"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;http://rifqin.blogspot.com/2008/04/monopoli-pln-dan-persaingan-usaha-dalam.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
diunduh 28 Mei 2011, pkl. 21.30.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;a href="http://nenygory.wordpress.com/2011/05/30/kasus-monopoli-yang-dilakukan-oleh-perusahaan-listrik-negara-pt-pln/#_ftnref2" title=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; LPP Community. &lt;i&gt;Etika
Bisnis: Monopoli-Kasus PT. Perusahaan Listrik Negara.&lt;/i&gt; &lt;a href="http://lppcommunity.wordpress.com/2009/01/08/etika-bisnis-monopoli-kasus-pt-perusahaan-listrik-negara/"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;http://lppcommunity.wordpress.com/2009/01/08/etika-bisnis-monopoli-kasus-pt-perusahaan-listrik-negara/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
diunduh 28 Mei 2011 pkl. 21.38.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;a href="http://nenygory.wordpress.com/2011/05/30/kasus-monopoli-yang-dilakukan-oleh-perusahaan-listrik-negara-pt-pln/#_ftnref3" title=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Taqdir. &lt;i&gt;Monopoli PLN&lt;/i&gt;. &lt;a href="http://www.taqdire.web.id/2010/10/monopoli-pt-pln.html"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;http://www.taqdire.web.id/2010/10/monopoli-pt-pln.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
diunduh 29 Mei 2011 pkl. 08.10.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;a href="http://nenygory.wordpress.com/2011/05/30/kasus-monopoli-yang-dilakukan-oleh-perusahaan-listrik-negara-pt-pln/#_ftnref4" title=""&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Rifqi, Mohammed. &lt;i&gt;Monopoli
PLN dan Persaingan Usaha dalam Bidang Ketenagalistrikan Indonesia&lt;/i&gt;. &lt;a href="http://rifqin.blogspot.com/2008/04/monopoli-pln-dan-persaingan-usaha-dalam.html"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;http://rifqin.blogspot.com/2008/04/monopoli-pln-dan-persaingan-usaha-dalam.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
diunduh 28 Mei 2011, pkl. 21.30.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-1355854236356990627?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/1355854236356990627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=1355854236356990627' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/1355854236356990627?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/1355854236356990627?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/07/monopoli-di-tubuh-pln.html' title='Monopoli di Tubuh PLN'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;D0cFSXo5eip7ImA9WhJSEEU.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-7291493665335181319</id><published>2012-06-30T12:36:00.004-07:00</published><updated>2012-06-30T12:36:58.422-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-06-30T12:36:58.422-07:00</app:edited><title>Napak Tilas Perjalanan Sejarah Bangsa Yang Terlupakan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;
   &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;
   &lt;m:dispdef&gt;
   &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;
   &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;
   &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;
   &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;
   &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;
   &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;
  &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;
&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
 {font-family:"Cambria Math";
 panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
 mso-font-charset:1;
 mso-generic-font-family:roman;
 mso-font-format:other;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}
@font-face
 {font-family:Calibri;
 panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:swiss;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
 {mso-style-unhide:no;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 margin-top:0in;
 margin-right:0in;
 margin-bottom:10.0pt;
 margin-left:0in;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoChpDefault
 {mso-style-type:export-only;
 mso-default-props:yes;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
 {mso-style-type:export-only;
 margin-bottom:10.0pt;
 line-height:115%;}
@page Section1
 {size:8.5in 11.0in;
 margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
 mso-header-margin:.5in;
 mso-footer-margin:.5in;
 mso-paper-source:0;}
div.Section1
 {page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0in;
 mso-para-margin-right:0in;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0in;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
 mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;&amp;nbsp;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-FFoxhmRvf9I/T-9VKEykEcI/AAAAAAAAAKo/56nmouuebRI/s1600/bendera+Indonesia.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="142" src="http://1.bp.blogspot.com/-FFoxhmRvf9I/T-9VKEykEcI/AAAAAAAAAKo/56nmouuebRI/s200/bendera+Indonesia.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Republik
Indonesia tidak lahir atas hadiah dengan karpet merah oleh Pemerintah Kerajaan
Belanda ataupun Sekutu. Tetapi berkat perjuangan rakyat Indonesia yang disertai
dengan pengorbanan jiwa, harta dan air mata.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Betapa hinanya mereka yang menodai
cita2 kemerdekaan bangsa Indonesia dengan korupsi, tindakan2 kekerasan dan
perpecahan yang bertentengan dengan UUD 45 dan Panca Sila.Dibawah
ini catatan sejarah selagi RI masih balita yang terus dilanda teror dan
serangan militer baik oleh Sekutu maupun Belanda yang tidak rela Indonesia
lepas dari genggamannya.

&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Kronologis
Sejarah Republik Indonesia 1945 – 1949&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;17 Agustus
1945&lt;/b&gt; jam 10:00. Pembacaan Proklamasi oleh Bung Karno dijalan Pegangsaan
Timur 56, Jakarta.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;18 Agustus
1945&lt;/b&gt;. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang dibentuk pada 7 Agustus
1945, menetapkan bahwa:1. Mengesahkan UUD 45 sebagai UUD RI.. 2. Memilih Ir
Soekarno dan Drs Mohd. Hatta sebagai presiden dan wakil presiden. 3. Sebelum
MPR terbentuk, presiden sementara dibantu oleh Komite Nasional.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;22 Agustus
1945&lt;/b&gt;, PPKI membentuk: 1. Komite Nasional 2. Partai Nasional Indonesia. 3.
Badan Keamanan Rakyat.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;29 Agustus
1945&lt;/b&gt;, Pelantikan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dengan ketua Mr
Kasman Singodimejo.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;31 Agustus
1945&lt;/b&gt;, Pemerintah menetapkan pekik perjuangan yang mulai berlaku 1
Sepetember 1945 yaitu pekik: “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;2 Sepetember
1945&lt;/b&gt;, Pelantikan Kabinet Pertama Republik Indonesia dan 8 orang Gubernur,
di jalan Peganggsaan Timur 56, Jakarta.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;5 Sepetember
1945&lt;/b&gt;, Sultan Hamengkubuwono IX, menyatakan bahwa “Negeri Ngayogyakarta
Hadiningrat” yang bersifat kerajaan sebagai Daerah Istimewa dalam Negara
Republik Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;8 September
1945&lt;/b&gt;, Misi Sekutu yang pertama diterjunkan di lapangan terbang Kemayoran.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;16 September
1945&lt;/b&gt;, Laksamana Muda WR Patterson, Wakil Panglima SEAC, mendarat di Tanjung
Priok.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;10 September
1945&lt;/b&gt;, Pengumuman Panglima Bala Tentara Kerajaan Jepang di Djawa menyatakan
Pemerintahan akan diserahkan kepada Sekutu dan tidak kepada pihak Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;19 September
1945&lt;/b&gt;, Di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya terjadi insiden bendera, Karena
beberapa orang Belanda menaikkan bendera merah putih biru di hotel tersebut
yang menimbulkan kemarahan rakyat Surabaya. Rakyat merebut dan merobek bagian
birunya menjadi hanya bendera Sang Saka Merah Putih tercinta.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;19 September
1945&lt;/b&gt;, Rapat Raksasa di-Lapangan Ikada, Jakarta untuk menyambut Proklamasi
Kemerdekaan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;29 September
1945&lt;/b&gt;. Pendaratan Tentara Sekutu (AFNEI- Allied Forces Netherlands East
Indies) yang terdiri dari 3 divisi di Jakarta.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;2 Oktober
1945,&lt;/b&gt; Markas Besar Tentara Jepang di Surabaya menyerah kepada rakyat.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;5 Oktober
1945&lt;/b&gt;, Pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;7 Oktober
1945&lt;/b&gt;, Tentara Jepang di Yogyakarta menyerah.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;15 Oktober
1945&lt;/b&gt;. Sekitar 30 km dari Semarang, 400 orang veteran AL Jepang dan 2000
orang dari batalion Jepang Kidobutai bersenjata lengkap memberontak dan
bertempuir dengan rakyat dan TKR selama 5 hari. Sekitar 2000 rakyat Indonesia
dan 100 orang Jepang tewas dalam pertempuran ini.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;25 Oktober
1945&lt;/b&gt;. Pertemuan pertama Presiden Soekarno dengan pimpinan tentara Sekutu
yaitu Panglima AFNEI, Letnan Jenderal Sir Philip Christison .&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;28 Oktober
1945&lt;/b&gt;. Pos-pos tentara Sekutu di seluruh kota Surabaya, diserang oleh rakyat
Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;10 November
1945&lt;/b&gt;. Pertempuran Surabaya pecah. Gugur beribu-ribu pejuang Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;14 November
1945&lt;/b&gt;. Pembentukan Kabinet Kedua RI (Kabinet Syahrir).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;17 November
1945&lt;/b&gt;. Pertemuan pertama antara RI, Belanda dan Sekutu.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;21 November
1945&lt;/b&gt;. Pertempuran Ambarawa. TKR melawan Sekutu. Bantuan rakyat mengalir
dari Yogyakarta, Surakarta, Salatiga, Purwekerto, Magelang, Semarang dan lain
lain.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;12 Desember
1945&lt;/b&gt;. Pasukan Indonesia berhasil menghalau tentara Inggeris dari Ambarawa dan
mereka mundur ke Semarang.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;18 Desember
1945&lt;/b&gt;. Pengangkatan Kolonel Soedirman menjadi Jenderal Panglima Besar TKR.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;19 Desember
1945&lt;/b&gt;. Daerah Karawang Bekasi digempur dari darat dan udara oleh tentara
Sekutu.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;4 Januari
1946&lt;/b&gt;. Presiden dan Wakil Presiden Pindah Ke Yogya. Di akhir 1945 keamanan
kota Jakarta semakin memburuk. Tentara Belanda kian meraja lela. Pendaratan
pasukan marinir Belanda di Tanjung Priok pada 30 Desmber 1945 menambah
gentingnya keadaan. Karena situasi yang terus memburuk di Jakarta, presiden dan
wapres pindah ke Yogyakarta dan ibukota pindah ke Yogya. PM Syahrir sementara
tetap di Jakarta.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;10 Februari
1946&lt;/b&gt;. Permulaan Perundingan- perundingan Indonesia – Belanda atas desakan
pihak Inggeris (Lord Killearn) pada Belanda. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;23 Maret 1946&lt;/b&gt;.
Bandung Lautan Api. Kota Bandung Selatan dibakar oleh TRI setelah dengan berat
hati mematuhi perintah Pemerintah RI untuk mengosongkan kota ini karena
diultimatum oleh tentara Sekutu. Selain kota Bandung, di Jawa Barat terjadi
pertempuran-pertempuran antara TRI melawan Sekutu dan NICA (Netherland Indies
Civil Administration)&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;28 April 1946&lt;/b&gt;
Penyerahan Tawanan Jepang kepada Sekutu.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;15 Juli 1946&lt;/b&gt;.
Konferensi Malino. Disebuah kota kecil di Sulawesi Selatan atas prakarsa Dr van
Mook, wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;20 September
1946&lt;/b&gt;. Perundingan Gencatan Senjata antara RI, Sekutu dan Belanda. Indonesia
Maj Jen Soedibyo, Kolonel Simbolon, Letkol Abdullah Kartawirana; Sekutu May Jen
JFR Forman dan Brig Jen Lauder; Belanda, May Jen DH Buurman van Vreeden. Perundingan
di Jakarta selama 10 hari hingga 30 September 1946, tetapi tidak membawa hasil&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;7 Oktober
1946.&lt;/b&gt; Perundingan Indonesia – Belanda. Perundingan antara delegasi
Indonesia dipimpin oleh PM Sutan Syahrir dan Belanda dipimpin oleh Prof.
Schermerhorn di kediaman Konsul Jenderal Inggeris di Jakarta.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;10 November
1946&lt;/b&gt;. Perundingan Linggajati. Dekat Cirebon. Antara Pemerintah RI dengan
Komisi Umum Belanda dipimpin oleh Lord Killearn&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;29 November
1946&lt;/b&gt;. Pertempuran Margarana , sebelah Utara Tabanan Bali. Letnan Kolonel I
Gusti Ngurah Rai gugur bersama anak buahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;18 Desember
1946&lt;/b&gt;. Konferensi Denpasar. Berdirinya Negara Indonesia Timur bentukan Dr.
Van Mook.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;1 Januari
1947&lt;/b&gt;. Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;5 Januari
1947&lt;/b&gt;. Pertempuran Laut di Teluk Cirebon. Tenggelamnya KRI Gajah Mada.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;25 Maret 1947&lt;/b&gt;.
Penandatanganan Persetujuan Linggajati di Istana Rijswijk, sekarang Istana
Negara.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;4 Mei 1947.&lt;/b&gt;
Proklamasi “Negara Pasundan” oleh Soeria Kartalegawa. Praktek politik memecah
belah oleh Belanda.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;9 Mei 1947.&lt;/b&gt;
Pembentukan Dewan Federal Borneo Tenggara dan Daerah Istimewa Borneo Barat.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;3 Juni 1947&lt;/b&gt;.
Penetapan Presiden berdirinya Tentara Nasional Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;21 Juli 1947&lt;/b&gt;.
Agresi Militer Belanda Pertama. (Dulu di Sekolah Rakyat tahun 50an diajarkan
bahwa ini adalah Aksi Polisionil Belanda, seolah-olah penertiban oleh
pemerintah Kerajaan Belanda pada pihak Indonesia yang mestinya sudah berdaulat
dan merdeka).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;27 Oktober
1947&lt;/b&gt;. Komisi Tiga Negara (KTN). Australia, Belgia dan Amerika Serikat untuk
menengahi sengketa RI dan Belanda. Australia dipilih oleh Indonesia; Belgia
oleh Belanda; Belgia dan Australia memilih Amerika Serikat.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;8 Desember
1947&lt;/b&gt;. Perundingan Renville. RI dan Belanda diatas kapal perang USS Renville
yang berlabuh diteluk Jakarta.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;13 Januari
1948&lt;/b&gt;. Perundingan Kaliurang. Selama perundingan Renville, delegasi
Indonesia selalu berkonsultasi dengan pemerintah pusat di Yogyakarta. Untuk
membicarakan daerah kekuasaan RI, bertempat di Kaliurang diadakan perundingan
antara KTN dan Republik Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;17 Januari
1948.&lt;/b&gt; Penanda Tanganan Perjanjian Renville dan perintah penghentian tembak
menembak pada 19 Januari 1948.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;23 Januari
1948&lt;/b&gt;. Pembentukan Negara Madura. Hasil politik memecah belah oleh Belanda.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;16 Februari
1948&lt;/b&gt;. Konferensi pembentukan “Negara Jawa Barat” (Pasundan).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;24 Maret 1948&lt;/b&gt;.
Pembentukan “Negara Sumatera Timur”.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;29 Mei 1948&lt;/b&gt;.
Konferensi Federal Bandung.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;18 September
1948&lt;/b&gt;. Pemberontakan PKI di Madiun.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;16 November
1948&lt;/b&gt;. Pembentukan “Negara Jawa Timur”.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;19 Desember
1948&lt;/b&gt;. Agresi Militer Belanda Kedua. Pukul 06:00 pagi, agresi militer kedua
dilancarkan Belanda. Dengan pasukan lintas udara, serangan langsung ditujukan
ke ibu kota RI, Yogyakarta. Lapangan terbang Maguwo dikuasai Belanda dan
selanjutnya seluruh kota Yogyakarta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Presiden, Wapres, dan beberapa pejabat tinggi lainnya ditawan Belanda. Presiden
Soekarno diterbangkan ke Prapat dan Wapres Hatta ke Bangka. Presiden Soekarno
kemudian dipindahkan ke Bangka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mr Syafruddin Prawiranegara diserahi tugas membentuk Pemerintahan Darurat Republik
Indonesia di Sumatera.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;19 Desember
1948&lt;/b&gt;. Long March Divisi Siliwangi yang berada di Jawa Tengah, kembali ke
Jawa Barat.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;24 Desember
1948&lt;/b&gt;. Long March Siliwangi diserang oleh tentara Belanda di Kebumen.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;1 Maret 1949&lt;/b&gt;.
Serangan Umum terhadap kota Yogya yang dikuasai Belanda.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;7 Mei 1949&lt;/b&gt;.
Persetujuan Roem Royen. Antara RI dipimpin oleh Mr Mohd Roem dan Belanda
dketuai oleh Dr. van Royen.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;29 Juni 1949&lt;/b&gt;.
TNI masuk kota Yogya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;6 Juli 1949&lt;/b&gt;.
Presiden dan Wapres kembali ke Yogyakarta. Setelah Yogyakarta dikosongkan dari
tentara Belanda dan TNI sepenuhnya menguasai kota ini, maka Presiden Soekarno
dan Wakil Presiden Hatta kembali ke Yogyakarta dari Bangka.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;10 Juli 1949&lt;/b&gt;.
Panglima Besar Soedirman kembali ke Yogyakarta.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;13 Juli 1949&lt;/b&gt;.
Pemerintahan Darurat RI di Sumatera Mengembalikan Mandat kepada Pemerintah
Pusat di Yogyakarta.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;19- 22 Juli
1949&lt;/b&gt;. Konferensi Inter – Indonesia di Yogyakarta.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;23 Agustus
1949&lt;/b&gt;. Konferensi Meja Bundar di Den Hag, Belanda.. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;14 November
1949&lt;/b&gt;. di Solo diadakan serah terima kekuasan militer Belanda kepada Letkol Slamet
Rijadi selaku wakil TNI.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;14 Desember
1949&lt;/b&gt;. Piagam Penandatanganan Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;15 Desember
1949&lt;/b&gt;. Pemilihan Presiden RIS.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;17 Desember
1949&lt;/b&gt;. Pelantikan Ir Soekarno sebagai Presiden RIS.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;27 Desember
1949&lt;/b&gt;. Mr Asaat sebagai Ketua KNIP diangkat oleh Presiden RIS Ir Soekarno
sebagai Pemangku Jabatan Presiden Republik Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;27 Desember
1949&lt;/b&gt;. Upacara Penandatangan Naskah Pengakuan Kedaulatan dilakukan serentak
pada waktu yang bersamaan yaitu di Yogyakarta, Indonesia oleh Sultan Hamengkubuwono
IX dan Wakil Tinggi Pemerintah Kerajaan Belanda. Di Belanda, di ruang takhta
Kerajaan Belanda, Ratu Juliana, PM Dr Willem Drees, dan Ketua Delegasi
Indonesia Drs Mohd. Hatta.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;28 Desember
1949&lt;/b&gt;. Presiden Soekarno kembali ke Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-7291493665335181319?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/7291493665335181319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=7291493665335181319' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/7291493665335181319?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/7291493665335181319?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/06/napak-tilas-perjalanan-sejarah-bangsa.html' title='Napak Tilas Perjalanan Sejarah Bangsa Yang Terlupakan'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-FFoxhmRvf9I/T-9VKEykEcI/AAAAAAAAAKo/56nmouuebRI/s72-c/bendera+Indonesia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;A0EMSXc_fSp7ImA9WhJTGU8.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-985831699192417849</id><published>2012-06-28T17:28:00.000-07:00</published><updated>2012-06-28T17:28:08.945-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-06-28T17:28:08.945-07:00</app:edited><title>Perdjoeangan Kita - Sutan Sjahrir</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;
   &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;
   &lt;m:dispdef&gt;
   &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;
   &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;
   &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;
   &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;
   &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;
   &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;
  &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;
&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
 {font-family:"Cambria Math";
 panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:roman;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}
@font-face
 {font-family:Calibri;
 panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:swiss;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
 {mso-style-unhide:no;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 margin-top:0in;
 margin-right:0in;
 margin-bottom:10.0pt;
 margin-left:0in;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
p
 {mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-margin-top-alt:auto;
 margin-right:0in;
 mso-margin-bottom-alt:auto;
 margin-left:0in;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:12.0pt;
 font-family:"Times New Roman","serif";
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
.MsoChpDefault
 {mso-style-type:export-only;
 mso-default-props:yes;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
 {mso-style-type:export-only;
 margin-bottom:10.0pt;
 line-height:115%;}
@page Section1
 {size:8.5in 11.0in;
 margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
 mso-header-margin:.5in;
 mso-footer-margin:.5in;
 mso-paper-source:0;}
div.Section1
 {page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0in;
 mso-para-margin-right:0in;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0in;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
 mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;

&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-yO00IUQm5yk/T-z1qkItn7I/AAAAAAAAAKc/MJwUC_qda1A/s1600/sahrir.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-yO00IUQm5yk/T-z1qkItn7I/AAAAAAAAAKc/MJwUC_qda1A/s1600/sahrir.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;K&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;eadaan setelah dua bulan
berdirinya Republik Indonesia dapat kita gambarkan sebagai berikut. Harapan dan
keinginan untuk turut serta akan dapat mempertahankan kemerdekaan kita, umum
ada pada segala lapisan bangsa kita. Belum pernah ditahun-tahun yang lalu
gerakan kemerdekaan memuncak seperti sekarang. Terutama pada pemuda tampak,
bahwa segenap jiwanya dipasangkan pada perjuangan kemerdekaan kita. Akan tetapi
lambat laun rakyat banyak didesa dan dikota yang memperhebat perjuangan kita.
Rakyat jelata turut tergolak kedalam gerakan kemerdekaan, didorong oleh
kegelisahannya yang disebabkan oleh suasana masyarakatnya. Bagi rakyat jelata
nyata, bahwa semboyan "merdeka" itu tidak saja berarti Negara
Indonesia yang berdaulat pun tidak pula saja bendera merah putih baginya
berarti simbol persatuan dan cita-citanya bangsa dan negara, akan tetapi
terutama kemerdekaan dirinya sendiri dari sewenang-wenang, dari kelaparan dan
kesengsaraan, dan merah-putih baginya terutama simbol perjuangan itu, yaitu
perjuangan kerakyatan.&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;


&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Ucapan-ucapan kegelisahan rakyat
yang kerapkali merupakan perbuatan-perbuatan yang kejam serta pelanggaran hak
milik dengan kekerasan, dapa dimengerti, jika dicari sebab-sebanya yang lebih
dalam. Selama tiga setengah tahunpenjajahan Jepang sendi-sendi masyarakat
didesa diobrak-abrik serta diruntuhkan dengan kerja paksa, dengan penculikan
orang desa dijadikan romusha jauh dari tempat tinggalnya, dijadikan serdadu,
dengan penyerahan hasil bumi dengan paksa, dengan penanaman hasil bumi dengan
paksa, dengan sewenang-wenang yang tiada batasnya. Demikian pula diantara
rakyat jelata dikota, ketidak pastian dalam kedudukannya, menyebabkan
kegelisahan. Beribu-ribu orang yang sebelum Jepang datang, mempunyai
pencaharian sebagai buruh, kehilangan mata pencahariannya. Berpuluh ribu
orang-orang desa melarikan dirinya kekota untuk meluputkan diri dari
sewenang-wenang serta kelaparan yang ada didesa. Berpuluh ribu pula orang
pelarian romusha, heiho dan kerja paksa lainnya menambah banyaknya jiwa dikota
yang tidak mempunyai pencaharian tertentu. Segala ini menyebabkan bahwa
kegelisahan didalam masyarakat dikota terus memuncak. Bahaya segala ini akan
meletus didalam pemberontakan dan kerusuhan terus bertambah besar untuk Jepang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Setelah Jepang rubuh dan ia
bersedia untuk ditawan, sehingga kekuasaan pemerintahannya lemah, bahaya akan
meledaknya tenaga yang terhimpun didalam masyarakat itu, terus bertambah besar.
Untuk menghindarkan bahaya itu, macam-macam muslihat Jepang yang digunakannya;
antara lain diikhtiarkan untuk mengalirkan kegelisahan orang itu terhadap
golongan-golongan lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Kebencian yang tambah lama
tambah besar terhadap Jepang diputarkan oleh dengan agitasi dan propagandanya
terhadap bangsa kulit putih, orang Tionghoa, pangrehpraja dan selanjutnya tak
dapat kita mungkiri, bahwa propaganda dan agitasi Jepang itu banyak pengaruhnya
dan berhasil juga baginya. Selama tiga setengah tahun negeri kita dikuncinya
dari luar negeri, sehingga kita tidak mengetahui keadaan diluar dan ia leluasa
mejual dustanya yang menjadi dasar propagandanya. Tatkala kebencian rakyat kita
terhadap Jepang telah umum dan disana-sini timbul kerusuhan, digunakannya
perasaan kebangsaan kita untuk mendinginkan kepanasan terhadap dia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Dibentuknya Angkatan Muda untuk
memperhebat agitasi kebangsaan, supaya dapat menghindarkan bahaya sosial yang
mengancamnya. Agitasi kebangsaan itu memang memuaskan untuk pemuda-pemuda serta
kaum terpelajar kita yang berada dalam kegelisahan dan kebimbangan. Pada
umumnya adalah gerakan rahasia Jepang seperti Naga Hitam, Kipas Hitam dan
lain-lain buatan kolone kelima Jepang, buatan Kempetai, Kaigun dan lain-lain
sangat menunjukkan kegiatannya terhadap pemuda-pemuda kita dan memang ada juga
yang dapat mempengaruhi jiwanya, meskipun pada lahirnya umum pemuda kita
membenci Jepang. Degan tidak sadar, biasanya jiwanya terpengaruh juga oleh
propaganda Jepang itu dan tingkah lakunya, hingga cara ia berfikir, adalh
kerapkali mencontoh-contoh Jepang. Kegiatan jiwanya, terutama terlihat sebagai
kebencian kepada bangsa-bangsa asing, yaitu sebenarnya yang ditujukan oleh
Jepang untuk dimusuhi, bangsa Sekutu, bangsa Belanda, bangsa Indo (bangsa kita
sendiri), Ambon Menado, kedua-duanya bangsa kita sendiri, Tionghoa,
pangrehpraja; maksudnya tak lain, seluruh dunia boleh dibenci asalkan jangan
membenci Jepang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Demikian keadaan sebelum
pernyataan Indonesia Merdeka, demikian pula bahan-bahan untuk mendirikan
perumahan Indonesia Merdeka. Merdeka didirikan, rata-rata orang yang
mengemudikannya adalah bekas pegawai dan pembantu Jepang. Hal ini menjadi
halangan untuk membersihkan masyarakat kita dari penyakit Jepang yang berbahaya
untuk jiwa pemuda kita itu. Pendidikan politik yang diwaktu jaman jajahan
Belanda telah begitu tipis, didalam jaman Jepang sama sekali tidak ada, jiwa
pemuda dibentuk untuk dapat menerima perintah saja, untuk tunduk dan
mendewa-dewakan, seperti orang Jepang tunduk kepada Tenno dan
mendewa-dewakannya. Demikian pula hanya diajar tunduk pada pemimpin dan
mendewa-dewakannya, tidak diajar dan tidak cakap bertindak dengan bertanggung
jawab sendiri. Kesadaran revolusioner yang harus berdasar pada pengetahuan
kemasyarakatan, tipis benar. Oleh karena itu, kecakapannya untuk menyusun dan
mempergunakan kemungkinan yang ada dalam masyarakat, sangat kecil. Oleh karena
itu pula, maka senjata dan alat perjuangan yang seharusnya dapat dibentuk dari
tenaga yang terhimpun dalam masyarakat sebagai kebencian terhadap penindasan
dan pemerasan Jepang tidak terbentuk.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Segala kegelisahan yang ada
didalam masyarakat dijuruskan oleh pemuda-pemuda kita, pada kebencian terhadap
bangsa-bangsa asing yang hidup didalam negeri kita, pada berbaris-baris dengan
tombak yang sekarang menjalar menjadi pembunuhan dan perampokan serta rupa-rupa
kegiatan lain lagi, yang ditilik dengan kacamata peruangan kemasyarakatan tidak
berarti atau reaksioner, seperti tiap-tiap tindakan fasis itu selamanya
reaksioner.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Terlambat datangnya balatentara
Sekutu untuk menggantikan balatentara Jepang yang tidak berkemauan lagi untuk
memerintah, sebenarnya memberikan kesempatan yang baik bagi pemerintahan Negara
Republik Indonesia. Akan tetapi hal ini tiada tercapai seperti seharusnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Sebab yang pertama ialah bahwa
yang mengendalikan pemerintahan Negara Republik Indonesia bukan orang yang
berjiwa kuat. Kebanyakan dari mereka telah terlalu biasa membungkuk serta
berlari untuk Jepang atau Belanda; jiwanya bimbang dan nyata tidak sanggup
bertindak dan bertanggung jawab.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Sebab yang kedua adalah bahwa
banyak diantara mereka merasa berhutang budi kepada Jepang, yang mengkurniakan
persediaan Indonesia Merdeka pada mereka. Akhirnya dianggapnya, bahwa ia
menjadi pemerintah, ialah oleh karena bekerja bersama dengan Jepang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Oleh karena itu maka sesudah
kekuasaan Jepag menjadi lemah dan kemudian runtuh, serta pula belum digantikan
oleh kekuasaan militer Sekutu, idak pula Negara Republik Indonesia dapat
medirikan kekuasaan bangsa kita sendiri sehingga berupa negeri dan bangsa yang
tak berpemerintah, sedangkan rakyat gelisah belum mendapat didikan dan belum
mempunyai pengetahuan tenatng menyelesaikan soal kemasyarakatannya berhubung
dengan pemerintahan. Maka timbullah kekacauan yang menjalar terus, didalam
keadaan begini agitasi kebangsaan berakibat rupa-rupa yang tiada dikehendaki
atau dikuasai oleh orang yang membuat agitasi. Pembunuhan bangsa asing serta
perampokan yang jika kita tilik keadaan rakyat dapat dimengerti, tidak urung
pula menyatakan kelemahan pemerintah Republik Indonesia yang belum dapat
merasakan dirinya sebagai pemerintah yang dipandang dan dihormati oleh
rakyatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Pemuda-pemuda kita yang
berikhtiar mempergunakan kegelisahan rakyat itu, tiada pula mempunyai
syarat-syarat yang perlu untuk dapat memimpin rakyat dalam perjuangan yang
seharusnya dilakukan. Pemuda kita umumnya hanya mempunyai keckapan untuk
menjadi serdadu, yaitu berbaris, menerima perintah menyerang, menyerbu dan
berjibaku dan tidak pernah diajar memimpin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Oleh karena ia tidak
berpengetahuan lain, cara ia megadakan propaganda dan agitasi pada rakyat
banyak itu seperti dilihatnya dan diajarkannya dari Jepang, aitu fasistis. Sangat
menyedihkan keadaan jiwa pemuda kita. Mereka terus didalam kebimbangan,
meskipun semangatnya meluap-luap, mereka belum mempunyai pengertian tentang
kemungkinan serta kedudukan perjuangan yang diperjuangkannya sehingga
pandangannya tak dapat jauh. Pegangannya banyak kali tidak lain dari semboyan
merdeka atau mati. Tiap kali kalau terasa, bahwa kemerdekaan belum pasti serta
ia belum pula menghadapi mati, mereka berada terus didalam kebimbangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Obat untuk kebimbangan itu
umumnya dicari dengan perbuatan yang terus-menerus, sehingga perbuatan
dijadikan madat untuk jiwa. Bagi bangsa kita, mabuk perbuatan pemuda-pemuda
ini, sebenarnya suatu keuntungan yang besar benar dan memang pula
peruatan-perbuatan merekalah yang menjadi pendorong keras bagi perjuangan kita
pada permulaannya, akan tetapi tentu pula perbuatan yang sebenarnya tiada
berpengertian ini, banyak pula salah tubruk, sehingga merusakkan dan merugikan
perjuangan kita. Dengan demikian umpamanya hasutan-hasutan dan
perbuatan-perbuatan terhadap bangsa-bangsa asing, ang melemahkan kedudukan
perjuangan kita didalam pandangan dunia internasional.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Terhadap cita-cita kita hendak
mendirikan negara kita sendiri, dunia luar mulanya menyatakan simpatinya. Boleh
dikatakan, bahwa pandangan umum dunia mula-mula memihak kita, terutama seluruh
kaum buruh didunia, akan tetapi dengan bertambah banyaknya kejadian yang
menunjukkan kekacauan diantara rakyat kita, yang sulit dapat dipahamkan sebagai
ucapan perjuangan kemerdekaan, seperti pembunuhan serta perampokan, perasaan
umum didunia terhadap perjuangan kita dapat berubah, seperti terbukti juga
diwaktu yang akhir ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Pada umumnya sekalian tanda
kekacauan dinegeri kita, hanya akan mengecewakan tidak saja kaum kapitalis akan
tetapi juga kaum buruh seluruh dunia. Kaum kapital kecewa akan kemungkinan
untuk modalnya yang diharapkan akan memberikan hasil jika keamanan sudah ada
dinegeri kita. Kaum buruh kecewa akan tanda-tanda kekejaman fasistis, yang
telah sangat terkenal didunia pada waktu ini, serta akan payah juga akan dapat
menelan pembunuhan-pembunuhan orang asing, apalagi pembunuhan dan kekejaman
terhadap orang Indo, Ambon dan Menado yang bangsa kita sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Sekalian ini hanya akan
dimengerti sebagai kementahan didalam perasaan kebangsaan yang sebenarnya musti
mengandung kesadaran politik kebangsaan pada pokoknya. Kebencian terhadap orang
Indo, Ambon dan Menado hanya dapat diartikan oleh luar negeri, bahwa kesadaran
diantara rakyat banyak terbukti masih sangat tipis atau belum ada sama sekali.
Selama penduduk daerah yang satu masih dapat diadu-dombakan dengan penduduk
daerah yang lain, memang sulit bagi dunia akan menerimanya sebagai bangsa baru
yang pantas dihormati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Untuk itulah akan dikemukakan
dalam risalah ini beberapa kenyataan politik yang seharusnya dijadikan dasar di
dalam perhitungan kita, demi berhasilnya perjuangan kita terhadap luar dan juga
dalam negeri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;1. Kedudukan Indonesia Didunia Sekarang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Letak Indonesia dalam lingkungan
daerah pengaruh kapitalisme-imperialisme Inggris-Amerika. Nasib Indonesia
tergantung pada nasib kapitalisme-imperialisme Inggris-Amerika. Dalam waktu
lebih dari satu abad terakhir ini, kekuasaan Belanda atasnegeri dan bangsa ini
adalah buah dari pada perhitungan dan penetapan politikluar negeri Inggris.
Kita ketahui bahwasetelah dipermulaaan abad kesembilan belas Inggris merampas
dan mengembalikan Indonesia dari dan pada Belanda, sebenarnya Belanda berada
dinegeri kita ini tidak lagi atas kekuatan sendiri akan tetapiatas kurnia
Inggris serta bergantung semata-mata daripada politik Inggris. Politik Inggris
terhadap Asia Timur ini dapatdijalankannya lebih dari seabad lamanya, meskipun
tenaga dan keadaan baru timbul, seperti Rusia, Jepang, Amerika Serikat,
Revolusi Tiongkok, akan tetapitak urung pula kedudukannya berobah, terutama di
Tiongkok.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Perubahan yang besar terhadap
daerah kita terjadi dengan pengusiran kekuasaan Belanda dari Indonesia oleh
militer Jepang. Oleh karena Jepang kalah ia untuk sementara akan hilang dari
alam politik Asia Tenggara ini, akan tetapi sebaliknya boleh dikatakan segala
kedudukan Jepang itu akan jatuh ketangan Amerika Serikat yang sekarang telah
menjadi kekuaan Pasifik yang jauh dan terbesar. Terhadap politik Inggris yang
telah lebih dari seabad umurnya ia sekarang merasakan dirinya diseluruh Asia
dan juga dinegeri kita sebagai perubah dan pembaru keadaan. Jika Inggris tidak
dapat menyesuaikan dirinya dengan politik Amerika Serikat yang dikuasai oleh
hukum kehidupan kapitalismenya sendiri, nyata ia akhirnya akan kalah dengan
tenaga Amerik Serikat. Nyata bahwa kekuasaan Belanda hingga waktu ini hanya
suatu alat didalam percaturan politik Inggris. Nyata pula bahwa untuk politik
AmerikaSerikat kekuasaan Belanda atas negeri kita tidak sama dengan untuk
politik Inggris. Didalam kebenaran ini berada kemungkinan untuk kita mendapat
kedudukan baru yang cocok dengan kehendak politik kekuatan raksasa Pasifik
Amerika Serikat ini, akan tetapi juga batas kemungkinan bagi kita selama
susunan dunia berupa kapitalistis dan imperialistis sepertis ekarang. Selama
itu kita tetap akan berada didalam dan diliputi leh alam
imperialisme-kapitalisme Amerika-Inggris,dan bagaimana juga usaha kita, kita
sendiri tidak akan cukup tenaga untuk meruntuhkan alam itu, yang akan dapat
memberi kita kemerdekaan yang sepenuh-penuhnya. Oleh karena itu maka nasib
Indonesia, lebih dari daripada nasib bangsa-bangsa lain didunia tergantung pada
keadaan dan sejarah internasional dan lebih pula dari bangsa lain, bangsa kita
memerlukan berobahnya dasar-dasar pergaulan hidup kemanusiaan, yang akan
menghilangkan imperialisme dan kapitalisme didunia ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Selama ini belum terjadi, maka
perjuangan kebangsaan kita tidak akan dapat memuaskan sepenuh-penuhnya, serta
kemerdekaan yang kita dapat, jika kita peroleh sepenuhnya terhadap Belanda, pun
hanya berupa kemerdekaan seperti yang terlihat pada lain-lain negeri kecil,
yang dibawah pengaruh negeri kapitalis besar, yaitu berupa kemerdekaan nama
saja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;2. Revolusi Kerakyatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Revolusi kita ini yang keluar
berupa revolusi nasional, jika dipandang dari dalam berupa revolusi kerakyatan.
Meskipun kita telah berpuluh tahun berada didalam lalu-lintas dunia modern,
meskipun masyarakat negeri kita telah sangat dirobah dan dipengaruhi olehnya,
akan tetapi diseluruh kehidupan rakyat kita terutama didesa, alam kehidupan
serta pikiran orang masih feodal. Penjajahan Belanda berpegang pada sisa-sisa
feodalisme itu untuk menahankemajuan sejarah bangsa kita. Begituumpamanya
pangrehpraja tak lain daripada alat yang dibuat oleh penjajah Belanda dari
warisan feodal masyarakat kita. Berupa-rupa aturan yang dilakukan atas rakyat
kita tak lain daripada lanjutan yang lebih teratur dari kebiasaan feodal,
demikian penghargaan yang begitu rendah terhadap diri orang desa, yang masih
dipandang setengah budak-belian, bukan saja dalam mata kaum ningrat kita, akan
tetapi juga didalam pandangan kaum penjajah Belanda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Penjajahan Belanda itu mencari
kekuatannya dengan perkawinan ratio-modern dengan feodalisme Indonesia, menjadi
akhirnya contoh fasisme yang terutama yang terutama didunia ini. Fasisme
ditanah jajahan jauh mendahului fasisme Hitler ataaupun Mussolini. Sebelum
Hitler mengadakan consentratie kampBuchenwald atau Belzen, Boven-Digul sudah
lebih dahulu diadakan. Oleh karena itu maka pergerakan rakyat kitadari sejak
mula didalam menentang penjajahan asing sebenarnya menentangfeodal-bureaukratie
dan akhirnya autokratie dan fasisme jajahan Belanda, danoleh karena itu
pergerakan kerakyatan yang sejati. Tuntutan kedaulatan rakyat didalam
pergerakankita itu memang sebagai gambaran yang sebenarnya tentang persoalan bangsa
kita terhadap penjajahan asing yang autokratis dan fasistis itu. Rakyat didalam
perjuangan sebagai bangsa menuntut hak-hak kemanusiaannya, yang akan memberi
jaminan, bahwa ia tak akan diperlakukan lagi sebagai budak belian.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Oleh karena itu maka didalam
pandangan kita revolusi kita sekarang adalah revolusi nasional dan revolusi
kerakyatan yang bersangkutan dengan alam feodal dinegeri dan dimasyarakat kita,
terutama didesa. Akan tetapi tentu saja kita tak dapat menyamakan revolusi kita
ini dengan umpamanya revolusi Perancis. Kita berada didalam dunia yang telah
dapat mempergunakan atom, dengan tehnik dan susunan serta kepintaran yang sama
sekali tak dapat disamakan dengan dunia dan keadaan waktu jaman revolusi
Perancis. Masyarakat kita sendiri mengenal susunan trust dan kartel, telegrap,
radio, pabrik-pabrik dan perusahaan kapital besar seperti minyak dll, yang
menyatakan pada kita, bahwameskipun kita menetapkan bawa revolusi kita ini
revolusi kerakyatan,sekali-kali jangan keliru hingga hendak menyamakannya
dengan revolusi Perancis,didalam kedudukan dan kemungkinannya. Tatkala revolusi
Perancis belm ada kapitalisme dan imperialisme dunia, sepertiyang digambarkan
diatas, serta dunia belum pula menjadi satu didalam perhubungan ekonomi seperti
sekarang, dan pula susunan dan kedudukan masyarakat serta negeri Perancis
berbeda sama sekali dengan susunan dan kedudukanmasyarakat dan negeri kia
Indonesia sekarang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Perancis serta revolusi Perancis
adalah perintis serta pembuka jalan untukdunia yang kapitalistis-imperialistis,
sedangkan revolusi kita ini sebenarnya harus dipandang revolusi yang akan turut
menutup sejarah kapitalis-imperialistis, sehingga perjuangan sosial yang telah
berlaku didunia sebagai akibat dari sistem kapitalis-imperialistis, yang
merupakan perjuangan kaum buruh, perjuangan kaum sosialistis dan segala
kemenangan-kemajuannya,seperti terdapat didunia pada waktu ini, tentu
membedakan benar kedudukanrevolusi kita dari revolsi Perancis yang hanya
demokratis-burgerlijk itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Jadi memang revolusi kita ini
tak dapat lain dari juga bercorak sosial. Bahwa didalam revolusi kita ini kaum
buruh berkedudukan yang pada pokoknya lain daripada kaum buruh dinegeriPerancis
dijaman revolusi Perancis, meskipun dalam mentaliteitnya terdapat beberapa
persamaan, yaitu tanda mudanya dan kekurangan kesadaran kelas.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Corak sosial revolusi kita ini menunjukkan pula kemungkinan sosial yang
adadidalam revolusi kita. Sebab segala faktor ini dinamis. Tetapi seperti telah
dikemukakan diatas segala-gala ini terutama bergantung pada keadaan serta
kemungkinan internasional, untuk negeri kita. Subjektif memang corak sosial
revolusi kita akan lebih jelas dan mendalam, akan tetapi objektif kemungkinan
berlanjutnya akan sama sekali tergantung daripada perubahan-perubahan yang akan
berlaku didunia. Batas-batasnya telah saya kemukan diatas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;3. Revolusi nasional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Keluar bentuk revolusiberupa
nasional, kedalam menurut hukum masyarakat demokratis dengan corak sosial. Jika
kurang memahamkan kebenaransehingga kedalam pun yang kita anjurkan hanya revolusi
nasional saja dengantidak ada atau kurang pengertian tentang kedudukan
demokrasi didalam pengobahanmasyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Bahaya sangat besar bahwa kita,
oleh karena tidak dapat mengukur musuh kita feodalisme, kita berkawan dengan
semangat feodalisme yang masih hidup menjadi nasionalisme yang mempunyai
semacam solidarisme, yaitu solidarisme-fodal (yang hierarchis) menjadi fasisme
alias musuh kemajuan dunia dan rakyat yang sebesar-besarnya. Ideologi yang
kelihatan seperti kacau sekarang kerapkali taampak sebagai semacam nasionalisme
atau nasional-komunisme ala Hitler atau Mussolini. Oleh karenaitu maka didalam
menyusun kekuatan masyarakat dalam revolusi nasional, kita tidak boleh lupa
mengadakanrevolusi-demokrasi, revolusi nasional hanya merupakan hasil dari revolusi-demorasi
kita. Bukannasionalisme harus nomor satu akan tetapi demokrasi, meskipun
kelihatannyalebih gampang kalau orang banyak dihasut membenci orang asing saja.
Memang benar bahwa cara demikian buatsementara berhasil (lihat saja sukses
Mussolini, Hitler, Franco, Chiang Kai Sek dll.), akan tetapi untuk kemajuan
masyarakat perbuatan demikian tetapreaksioner dan bertentangan dengan kemajuan
dunia dan perjuangan sosial seluruhdunia. Orang yang menganjurkannya tetap
musuh rakyat, meskipun sedikit waktu didewakan rakyat seperti Hitler
danMussolini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;4. Revolusi dan Pembersihan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Dengan penentuan alam perjuangan
kita seperti diatas, maka nyata bahwarevolusi kita ini harus dipimpin oleh
golongan demokratis yang revolusioner danbukan oleh golongan nasionalistis yang
pernah membudak kepada fasis-fasis lain,fasis kolonial Belanda atau fasis
militer Jepang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Perjuangan demokrasi
revolusioner itu memulai dengan membersihkan diri darinoda-noda fasis Jepang,
mengngkung penglihatan orang-orang yang masih jiwanyaterpengaruh oleh
propaganda Jepang dan didikan Jepang. Orang-orang yang sudah menjual jiwa
dankehormatannya kepada fasis Jepang disingkirkan dari pimpinan revolusi
kita(orang-orang yang pernah bekerja didalam propaganda, polisi rahasia Jepang,umumnya
didalam usaha kolone kelima Jepang). Orang-orang ini harus dianggap sebagai
pengkhianat perjuangan danharus dibedakan dari kaum buruh biasa yang bekerja
hanya untuk sekedar memenuhikebutuhan hidupnya. Jadi sekalian kolaborasi
politik dengan fasis Jepangseperti yang disebutkan diatas harus dipandang
sebagai fasis sendiri atauperkakas dan kaki tangan fasis Jepang dan tentu sudah
berkianat pada perjuangandan revolusi rakyat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Negara Republik Indonesia yang
kita jadikan alat dalam revolusi rakyat kitaharus kita jadikan alat perjuangan
demokratis, dibersihkan dari sisa-sisaJepang dan fasismenya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;5. Memperjuangkan Isi Kemerdekaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Negara Republik Indonesia yang
kita perjuangkan sebagai alat di dalam revolusi kerakyatan kita mendapat harga
yang penuh, jika kita isi dengankerakyatan yang tulen. Bagi kita kemenangan
yang berarti itu ialah kemenangan yang berisi, bukan kemenangan namadan
kehormatan saja. Pedoman yangsebenarnya untuk perjuangan politik kita harus
ditujukan kepada isi itu. Perjuangan kebangsaan pada umumnya, tak luputdaripada
bahaya terlalu terpengaruh oleh nama dan rupa. Oleh karena itu kerap kali apa
yang dinamakankemenangan kebangsaan itu, terbukti kosong untuk rakyat banyak.
Jika kita hargakan Indonesia Merdeka kitadengan harga demokrasi tulen, maka
didalam perjuangan politik kita terhadapdunia, isinya itu yang dipertarungkan.
Negara Republik Indonesia hanya nama yang kita berikan pada isi yangkita
maksudkan dan kehendakkan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;6. Pembencian Bangsa Asing&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Salah satu hal yang terpenting
didalam perjuangan kita adalah sikap dan politik kita terhadap
golongan-golongan yang agak mengasing diantara penduduk negeri kita, yaitu
orang-orang asing, orang peranakan, Eropa atau Asia, orang yang beragama
Kristen, orang Ambon, Menado dan sebagainya. Hingga sekarang kita belum
mempunyai sikap dan politik yang memuaskan terhadap semua golongan ini. Malah
dihari kemudian ini terjadi hal-hal yang terang salah dan merusakkan pada
perjuangan kerakyatan kita. Sifat membenci pada golongan dan bangsa asing itu,
memang suatu sifat yang tersembunyi dalam tiap-tiap gerakan kebangsaan,
terlebih pada golongan atau bangsa yang rupanya berkedudukan dengan privilese,
akan tetapi tiap gerakan kebangsaan yang memabukkan dirinya dengan nafsu
membenci bangsa-bangsa asing untuk mendapat kekuatan, niscaya pada akhirnya
pada akhirnya akan berhadapan dengan seluruh dunia dan kemanusiaan. Nafsu
kebangsaan yang pada mulanya dapat merupakan suatu kekuatan itu mesti tiba pada
satu jalan buntu dan akhirnya mencekik dirinya sendiri dalam suasana jibaku.
Kekuatan yang kita cari, adalah pada pengobaran perasaaan keadilan dan
kemanusiaan. Hanya semangat kebangsaan yang dipikul oleh perasaan keadilan dan
kemanusiaan dapat mengantar kita maju dalam sejarah dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Sebab pada akhirnya semua kebangsaan
harus menemui ajalnya didalam suatu kemanusiaan yang meliputi seluruh dunia
menjadi satu bangsa yaitu bangsa manusia yang hidup didalam pergaulan yang
berdasarkan keadilan dan kebenaran, tidak lagi terbatas oleh perasaan-perasaan
sempit yang memecah manusia sesama manusia oleh karena kulitnya berlainan
warna, aau oleh karena turunan darahnya berlainan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Pada habisnya perasaan-perasaan
sempit ini sebagai pendorong tindakan dan kelakuan kita, baru habis ikatan buta
kita pada sejarah kebiadaban kita. Bau kita dapat melihat terang perbedaan
antara cinta pada tanah air dan perasaan membenci orang asing atau membenci
golongan-golongan dalam negeri kita yang sebagai perbuatan sejarah terasing
atau mengasingkan diri oleh karena turunan darahnya, darah yang bodoh dan darah
yang biadab itu. Sikap kita terhadap sekalian ini harus berdasar penglihatan
kemasyarakatan, berdasar atas penyelidikan yang jujur dan perhitungan didalam
berbakti kepada cita-cita kemanusiaan dan keadilan sosial.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;7. Kaum Buruh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Pada tingkatan kapitalisme ini
dimana kapital dunia mengalami konsentrasi yang lebih besar, terutama di New
York dan London, maka segenap produksi dunia yang kapitalistis lebih dahulu
dikuasai oleh satu atau dua pusat kapital, terutama Wallstreet. Sebagai akibat
peperagan ini maka boleh dikatakan seluruh dunia terikat hutang pada Wallstreet
itu. Hal ini membuat bahwa kedudukan dan kekuatan dunia itu menjadi
sungguh-sungguh internasional. Oleh karena itu maka pertahanan dan perjuangan
kaum buruh terhadapnya hanya akan dapat berhasil baik, jika disusun dengan
mengakui kenyataan ini. Susunan dan perjuangan kaum buruh pun harus berdasarkan
internasional.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Kaum buruh kita sekarang
menujukan perjuangan pada pertahanan Negara Indonesia Merdeka. Hal ini sudah
selayaknya, akan tetapi didalam itu perlu kita kemukakan kebenaran yang diatas,
oleh karena didalam perjuangan selanjutnya solidaritas kebangsaan kaum buruh
itu mesti dapat solidaritas kebangsaan kaum buruh itu mesti dapat meningkatkan
diri seukur dengan perjuangan kaum buruh didunia seluruhnya. Bagi kaum buruh
semangat kebangsaan yang melupa-luap itu dapat menjadi halangan untuk melihat
perjuangan internasionalnya dan penghargaan serta kesadaran tentang kedudukan
didalam masyarakat kapitalis, sehingga membawanya kejurusan yang salah dan
memundurkan dan melemahkan kedudukannya. Untuk menghindarkan bahaya, bahwa
didalam perjuangan kebangsaan ia melupakan dan melepaskan dasar-dasar
perjuangan sendiri, sehingga mudah tertipu dan diperkuda golongan masyarakat
yang lain, maka juga didalam peruangan kebangsaan kaum buruh harus tahu
memperjuangkan kedudukannya sebagai orang Indonesia dengan caranya sendiri,
yaitu didalam susunan buruh dengan alat-alat perjuangan kaum buruh. Semangat
yang perlu untuk dapat mengadakan perjuangan secara itu, ialah semangat
kelasnya dan solidaritas kelasnya yang tidak boleh dilemahkan oleh semangat
kebangsaan. Syarat-syarat untuk dapat menjernihkan kedudukannya itu, adalah
didalam peruangan politiknya kaum buruh menuntut segala hak kerakyatan yang
sepenuhnya, pun juga dari Negara Indonesia Merdeka sendiri, hak berbicara,
menulis, berkumpul, berapat, bermogok, kepastian pencaharian, keadaan
kesehatan, pelajaran untuk anak-anaknya, ketentuan gaji dan sebagainya.
Kesadaran dan pengertian kelas itu harus terus diperdalam dan diperkuat hingga
pada satu saat yang secepat-cepatnya dapat menjadi perasaan dan kesadaran kelas
internasional, sehingga mudah dapat rapat pada saat penggabungan perjuangan
kaum buruh kita dengan gabungan kaum buruh internasional.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Susunan serikat sekerja harus
disusun menurut ukuran modern, yaitu didalam jalur industri, pendidikan kaum
buruh harus sesuai dengan keperluan perjuangannya, yaitu setingkat pada
kesadaran dan pengertian perjuangan internasional untuk menyusun dunia yang
sosialistis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Didalam berjuang untuk
kemerdekaan Indonesia kaum buruh sejalan harus berjuan untuk mendapatkan
kedudukannya sendiri yang terkuat, supaya sanggup menjadi pelopor didalam
peruangan menentang imperialisme di Indonesia ini dan memperkuat perjuangan
kaum buruh internasional terhadap kapitalisme dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;8. Kaum Tani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Bagi kaum tani kita perjuangan
kemerdekaan ini hanya akan berarti jika kerakyatan dirasakan olehnya. Jika
revolusi bangsa Indonesia yang sedang berlangsung sepenuhnya dapat dirasakan
sebagai revolusi kerakyatan bagi Pak Tani sehingga ia tak dapat diperlakukan
sewenang-wenang lagi oleh pemerintahan, sehingga ia dapat mengecap hasil
keringatnya sepenuhnya dan tidak diganggu dengan rupa-rupa aturan yang
dimaksudkan untuk menyenangkan orang yang memerintah. Revolusi kita harus
membeantas feodalisme dilar kota-kota yang berupa tuan tanah, aturan
pemerintahan feodal, pengerahan tenaga dan dan hasil orang tani secara feodal
seperti digunakan oleh penjajahan Belanda. Penduduk desa sudah sesak padat,
sehingga meskipun penghasilan tanah di Jawa dikerjakan dengan kekuatan yang
sepenuhnya, untuk memberi makan penduduknya masih tak mencukupi untuk
mempertinggi kehidupan rakyat kita umumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Hal ini lebih hari lebih
mendesak. Selain dri ikhtiar untuk membagi penduduk Indonesia lebih rata pada
kepulauan Indonesia dengan interimigrasi, maka menilik bangun dan kedudukan
pulau Jawa tak dapat dihindarkan, bahwa jawab yang langsung pada soal penduduk
dan penghasilan di Jawa adalah industrialisasi. Jika kelebihan jiwa didesa dikurangkan
sehingga desa lapang untuk meninggikan kehidupan dengan jalan usaha bersama
(kooperasi), maka dengan industrialisasi yang diadakan menurut rencana dibawah
pimpinan pemerintah sebagian besar kelebihan jiwa didesa dapat menghadapi
kehidupan sebagai pekerja pabrik yang tetap bertambah baik dengan bertambahnya
kemakmuran Indonesia umumnya, terutama dengan dasar kehidupan pak tani yang
makmur. Pemerintahan didesa disehatkan dengan melaksanakan kerakyatan yang
sempurna dengan menggunakan kebiasaan lama juga, pemilihan, rapat desa, yang
diberi kekuasaan sepenuhnya dan ditambah kecerdasannya dengan mempertinggi
pelajaran dan pendidikan didesa. Mengadakan pimpinan didalam segala usaha desa,
memperbaharui dasar masyarakat kita, membawa rasionalisasi dan efisiensi, yang
akan merombak tradisi didesa, supaya dengan tidak menjalani kehidupan kota dan
pabrik, juga didesa timul modernisasi, elektrifikasi dan mesin pun dapat masuk
menolong manusia didesa mempertinggikan derajat kehidupan manusia. Sarekat Tani
yang harus didirikan harus menjadi perintis didalam mencocokkan semangat kaum
tani pada tempo yang kita kehendaki itu. Persatuan tani memudahkan tidak saja
urusan ini secara teratur dan besar-besaran, akan tetapi juga memudahkan
persatuan dan perhubungannya dengan persatuan kaum buruh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;9. Pemuda&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Soal yang kelihatan besar pada
waktu ini adalah soal pemuda. Tak dapat dipungkiri, bahwa kelihatannya
kebanguan kebangsaan yang kita alami ini, seolah-olah digugat oleh
pemuda-pemuda kita. Seolah-olah mereka yang menentukan tempo perjuangan kita.
Seolah-olah revolusi yang kita alami sekarang ini, bermula pada semangat dan
kekerasan hati pemuda, jadi didorong oleh cita-cita semata-mata. Ini semua
sepintas lalu. Akan tetapi jelaslah dari apa yang diuraikan diatas, bahwa kemungkinan
meluapnya semangat pemuda itu dan kemungkinan disambutnya oleh masyarakat itu,
adalah terletak pada keadaan masyarakat sendiri. Bagaimana keadaan itu telah
digambarkan dengan singkat diatas, akan tetapi nyata pula bahwa kaum pemuda,
terutama yang terpelajar yang sekarang berkobar-kobar dengan semangat
kebangsaan tak akan dapat menjalankan terus kewajibannya sebagai perintis, jika
semangat kebangsaannya itu tidak diisi dengan semangat kerakyatan dan semangat
kemasyarakatan. Jika tidak, ia akan menemui jalan buntu yang dihadapi tiap-tiap
semangat kebangsaan. Ia akan menemui saat, ia tidak akan dituruti lagi oleh
rakyat ataupun ia akan ditentang. Dan ia akan mengalami bahwa bukan serdadu
yang akan memenangi revolusi kita ini, akan tetapi rakyat banyak, kaum buruh
dan kaum tani bersama-sama dengan kaum terpelajar , kaum muda. Saat kaum muda
ini meluaskan pandangannya kepada dasar-dasar masyarakat telah tiba, dan pada
itu ia harus mengerti, bahwa tenaga perjuangan tidak terpusat diantara angkatan
muda, akan tetapi pada rakyat banyak, terutama pada kaum buruh yang tersusun
serta mempunyai kesadaran yang tajam, pengertian tentang perjuangan buruh
didunia umum. Jika pemuda-pemudi kita mengerti hal ini, ia tahu bahwa
kedudukannya ada sebagai pahlawan kaum buruh dan kaum tani.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Nyata bahwa anggapan, yang
angkatan muda harus memimpin perjuangan kemerdekaan kita, suatu kekeliruan yang
akan dapat merusak perjuangan kita. Yang harus memimpin revolusi kita ini tidak
lain daripada pusat kekuatan politiknya, merupakan partai kerakyatan yang
revolusioner, pada larasnya angkatan muda hanya dapat menjadi lasykar perintis
dari partai yang memimpin perjuangan. Keliru pula sama sekali orang yang
mengirakan bahwa pemuda yang tergabung didalam ikatan balatentara, yaitu
barisan dan pimpinan militer yang akan dapat memimpin revolusi kita. Kekeliruan
ini dapat dimengerti. Tahun-tahun yang kemudian ini kita terlalu merasakan
kekuasaan militer. Tak urung hal ini dan didikan militer yang diberikan pada
pemuda-pemuda serta rakyat kita umumnya, dapat menimbulkan kekeliruan ,
seolah-olah perjuangan kita ini perjuangan militer yang harus dipimpin orang
militer. Hanya pengertian tentang dasar kemasyarakatan perjuangan kita ini
dapat menghindarkan kekeliruan ini. Pemuda kita tak mungkin berpembawaan
fasistis atau feodal militeristis. Pengertian yang masih kurang benar didalam
segala-galanya hal terhadap soal ini diselenggarakan. Sedang pemuda berjuang
sekarang ini harus pengertiannya diisi dan penglihatannya dirobah supaya ia
jangan merendah menjadi binatang berkelahi saja, akan tetapi dapat menjadi
pemuda revolusioner yang menghadapi dunia baru, pemuda yang bercita-cita dan
mempunyai kesadaran serta pengertian yang jernih tentang duduk perjuangannya
untuk rakyat kita serta kemanusiaan umumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;10. Tentara&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Meskipun demikian didalam
keadaan dunia yang sekarang ini, memang perlu kita mempertinggi kesanggupan
kita membela tanah air serta rakyat kita dengan susunan pertahanan yang
selengkapnya. Kita memerlukan balatentara yang teratur menurut ukuran jaman
sekarang. Pemuda kita seluruhnya harus dididik didalam kesanggupan itu. Oleh
karena itu bukan saja kita memerlukan balatentara yang tersusun dan bersenjata
modern, akan tetapi juga latihan militer segenap rakyat kita, terutama pemuda.
Selekas mungkin kita harus dapat mengadakan milisi untuk rakyat kita, pada mana
seluruh pemuda dari umur tertentu harus melalui latihan militer yang lamanya
tertentu. Oleh karena syarat-syarat serta alat-alat yang terbatas serta segala
syarat dan alat yang kurang dilengkapi. Terutama sekali tentunya harus diadakan
pendidikan. Si pendidik yaitu akademi darat dan laut. Dalam hal ini kekurangan
dalam negeri dapat dilengkapi dengan pertolongan dari luar negeri untuk
dijadikan guru dan instruktur. Untuk melengkapi alat pertahanan yang berupa
persenjataan pantas kita didalam keadaan kita sekarang, mengorbankan lain-lain
keperluan. Pembikinan dan pembelian senjata itu dimasukkan dalam hal terutama
didalam keadaan sekarang. Akan tetapi dengan pengakuan bahwa pengertian perkara
dengan secara militer ini, sekali-kali kita tidak boleh melupakan sekejap mata
perjuangan apa yang dikemukakan diatas, bahwa sekali-kali tak boleh kita keliru
didalam penghargaan hal militer ini didalam revolusi. Dalam perjuangan kita
yang berupa dan memakai alat Negara Indonesia, kita terpaksa harus mengadakan
alat perjuangan kenegaraan yaitu balatentara. Itu tak boleh berarti bahwa kita
menjadi abdi kenegaraan atau kemiliteran, alias fasis dan militeristis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
Batas-batasi hal ini, dengan
semangat revolusi kerakyatan kita harus ditajamkan sehingga jangan kita
membunuh semangat serta revolusi kita, oleh karena kita sesat pada militerisme
dan fasisme.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-985831699192417849?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/985831699192417849/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=985831699192417849' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/985831699192417849?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/985831699192417849?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/06/perdjoeangan-kita-sutan-sjahrir.html' title='Perdjoeangan Kita - Sutan Sjahrir'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-yO00IUQm5yk/T-z1qkItn7I/AAAAAAAAAKc/MJwUC_qda1A/s72-c/sahrir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DkcHQXw5eSp7ImA9WhJTFkQ.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-4711289125291381861</id><published>2012-06-26T00:00:00.000-07:00</published><updated>2012-06-26T00:00:30.221-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-06-26T00:00:30.221-07:00</app:edited><title>JALAN KERAKYATAN - Pemikiran Sjahrir Dalam Konteks Kekinian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val="&amp;#45;-"/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;
   &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
 {font-family:"Cambria Math";
 panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:roman;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}
@font-face
 {font-family:Calibri;
 panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:swiss;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
 {mso-style-unhide:no;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 margin-top:0cm;
 margin-right:0cm;
 margin-bottom:10.0pt;
 margin-left:0cm;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-fareast-language:EN-US;}
p
 {mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-margin-top-alt:auto;
 margin-right:0cm;
 mso-margin-bottom-alt:auto;
 margin-left:0cm;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:12.0pt;
 font-family:"Times New Roman","serif";
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
.MsoChpDefault
 {mso-style-type:export-only;
 mso-default-props:yes;
 font-size:10.0pt;
 mso-ansi-font-size:10.0pt;
 mso-bidi-font-size:10.0pt;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-hansi-font-family:Calibri;}
@page WordSection1
 {size:595.3pt 841.9pt;
 margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;
 mso-header-margin:35.4pt;
 mso-footer-margin:35.4pt;
 mso-paper-source:0;}
div.WordSection1
 {page:WordSection1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin:0cm;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
 mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Oleh Adie Marzuki&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Tujuan Berdirinya Republik Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini didirikan, yang secara resmi
dicantumkan dalam konstitusi Negara sebagai kontrak sosial institusi Negara
dengan seluruh entitas bangsa, adalah untuk membentuk suatu Pemerintahan yang
melindungi segenap rakyatnya, memajukan kesejahteraan rakyatnya, mencerdaskan
rakyatnya, serta mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat
negerinya. Dalam mencapai tujuan ini, telah disepakati dalam konstitusi
tersebut untuk menempuh sebuah jalan yang pada dasarnya bertumpu kepada konsep
Kedaulatan Rakyat, atau yang umum disebut dengan demokrasi. Baik dalam hal
politik maupun ekonomi, jalan yang disepakati para pendiri untuk ditempuh oleh
Negara adalah Kedaulatan Rakyat, atau demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.
Ketika mendirikan Negara ini, semangat para pendiri adalah menumbuhkan
demokrasi berdasarkan ikatan solidaritas kolektif untuk merdeka dan keutamaan
partisipasi politik rakyat yang jauh dari sistem ekonomi kapitalisme. Semangat
Negara untuk berperan aktif, tidak saja dalam wilayah politik namun juga sosial
ekonomi untuk memenuhi hajat hidup warganegaranya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Definisi demokrasi politik yang dijabarkan dalam konstitusi tersebut mengacu
kepada suatu sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Merujuk kepada definisi itu, makna dari demokrasi ekonomi adalah suatu sistem
ekonomi, dimana permasalahan produksi adalah diselenggarakan oleh rakyat dan
untuk rakyat, dan karenanya mengandung pengertian partisipasi dan pemerataan.
Secara umum, demokrasi ekonomi itu mencakup aspek akses terhadap sumber daya
ekonomi, aspek tingkat pendapatan masyarakat, dan aspek partisipasi kaum
pekerja dalam kegiatan ekonomi. Dengan mengacu kepada tujuan berdirinya Negara
Kesatuan ini, maka terdapat pengertian bahwa nama Republik Indonesia adalah
sebuah sebutan bagi pencapaian cita-cita kesejahteraan segenap rakyat
didalamnya, berdasarkan kedaulatan rakyat yang berkeadilan sosial.&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Demokrasi dan Sosialisme&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam kaidah ilmu pengetahuan mengenai kenegaraan, pencapaian cita-cita akan
masyarakat Indonesia yang adil, makmur, tanpa eksploitasi manusia dan sumber
daya alam seperti yang tersirat dan tersurat di dalam konstitusi, hanya dapat
diwujudkan melalui sebuah jalan yang disebut sosialisme. Kedaulatan rakyat
tanpa sosialisme tidak akan dapat mewujudkan keadilan sosial. Sedangkan
sosialisme tanpa demokrasi adalah kediktatoran, yang berarti masih terdapat
penindasan manusia. Dengan kata lain, sosialisme menekankan dan memperjuangkan
demokrasi di segala bidang kehidupan masyarakat, sebagai prakondisi terciptanya
masyarakat sosialis yang sejahtera dan berdaulat penuh. Dalam konteks ini,
demokrasi politik adalah pintu masuk ke arah pengembangan demokrasi di bidang
lain yang lebih mendasar sifatnya, seperti demokrasi ekonomi dan demokrasi
pendidikan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Membangun masyarakat sosialis suatu bangsa harus diletakkan pada konteks
historisnya, berdasarkan situasi riil yang dihadapi dan sangat tergantung pada
tingkat perkembangan masyarakat suatu bangsa. Seperti yang sering dikatakan
para pemikir sosialis di dunia, tidak ada model yang baku dalam
mengimplementasikan sosialisme di setiap Negara, yang masing-masing memiliki
perbedaan karakteristik dan kultur. Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari
beragam kultur dan karakter geografis yang unik. Sejarah panjang bangsa yang
hidup di bumi Indonesia ini terdiri dari banyak kebudayaan dan etnis yang
beragam. Kebudayaan-kebudayaan tersebut tumbuh dalam sistem monarki yang antara
lain berbasis Hinduisme, sedikit Buddhisme, animisme dan agama Islam, yang
tersebar di seluruh kepulauan dalam teritori Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Sosialisme
Kerakyatan &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berkembangnya sosialisme di Eropa pada mulanya adalah merupakan gerakan
buruh, yang muncul akibat terjadinya penindasan masyarakat kelas dominan atau
pemodal terhadap masyarakat kelas pekerja. Sedangkan sosialisme di Indonesia
tumbuh dalam masyarakat feudal yang kurang dapat menerima ide pertentangan
kelas. Munculnya sosialisme di Indonesia adalah lahirnya perlawanan kepada
sejarah feudalisme dan birokrasi feudal yang diciptakan pada era kolonial.
Faktor kebudayaan yang cenderung feudal dalam karakter Bangsa Indonesia
menyebabkan masyarakat justru terbiasa dengan struktur masyarakat dengan kelas
bertingkat, dan oleh karenanya tidak mampu menyerap substansi ajaran sosialisme
Marxis yang mengedepankan pertentangan kelas. Walaupun demi pencapaian
cita-cita bangsa ini tetap memerlukan proses revolusi diktum nilai-nilai secara
kognitif, namun untuk mengakomodir karakteristik rakyatnya, Indonesia perlu
mengembangkan sistem sosialisme sendiri yang berpihak pada kerakyatan dan
kemanusiaan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari kondisi-kondisi tersebut, nyata terlihat bahwa prioritas obyek awal
revolusi di Indonesia adalah kesadaran manusia-manusia yang menjadi rakyatnya.
Kesadaran ini bukan hanya tentang kemanusiaan, tetapi kesadaran untuk berpikir
secara rasional, kritis dan berdaulat. Yaitu kedaulatan di semua bidang
kehidupan, kesamaan kesempatan serta kedudukan bagi seluruh rakyat, dan
mengedepankan hak-hak rakyat di atas segala kepentingan golongan atau individu.
Dalam hal ini, terlihat perlunya penegasan bahwa sosialisme yang paling ideal
bagi karakteristik dan psikografis rakyat Indonesia adalah sosialisme yang
berpegang pada asas persamaan derajat manusia, tanpa memandang perbedaan suku,
agama atau kelas social, yang oleh Soetan Sjahrir disebut dengan Sosialisme
Kerakyatan. Kerakyatan di sini mengandung makna perjuangan mengangkat nasib,
martabat dan harkat kaum yang lemah dalam posisi sebagai bangsa yang berdaulat.
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Negara dan Pemimpinnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengacu kepada hal-hal tersebut, maka Negara sebagai pembawa cita-cita
Sosialisme Kerakyatan harus mampu mengakomodir dinamika masyarakat dan
mengharmonisasikan sosio-diversifikasi yang ada di dalamnya. Fungsi Negara
sebagai perangkat institusi yang dibutuhkan oleh sebuah bangsa dalam mencapai
cita-cita bersama, harus juga peka terhadap kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang
berubah sesuai perkembangan jaman dan teknologi. Untuk tujuan tersebut, sudah
sewajarnya jika Negara Republik Indonesia yang membawa cita-cita kesejahteraan
dari segenap rakyatnya harus dipimpin oleh Pimpinan yang mampu
merepresentasikan setiap golongan atau kepentingan tanpa kecuali, dan lahir
dari kelompok-kelompok terbaik dalam masyarakat sosialis. Para Pimpinan
tersebut harus tersusun dalam sebuah sistem yang menjamin terlaksananya
desentralisasi pemerintahan agar dapat mewakili setiap kepentingan daerah
secara merata, dan terpilih oleh rakyat yang berdaulat. &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun pada perkembangan selama 66 tahun sejak Indonesia diproklamirkan,
kondisi Negara saat ini telah melenceng jauh dari cita-cita pendiriannya. Di
era globalisasi saat ini, Indonesia hanyut terombang-ambing dalam tarik-menarik
hegemoni politik dan ekonomi antara Amerika Serikat dan Cina sebagai pemeran
utama baru di panggung dunia. Analisa kronologi mengenai hilangnya kedaulatan
tersebut dapat menyimpulkan bahwa Pemerintah sentralistik Indonesia yang
kekuasaannya sangat besar, lebih memilih pendekatan jalan pintas dalam
mengatasi permasalahan ekonomi. Langkah ini selain membawa pertumbuhan ekonomi
yang semu, juga mengantarkan Indonesia ke tangan imperialisme model baru
berbasis neoliberalisme. Akibatnya, sebagai kompensasi dari pertolongan tangan-tangan
neoliberalisme asing yang hanya untuk kepentingan sesaat, kedaulatan rakyat
Indonesia di berbagai bidang tergadaikan. Konsekuensi logis berikutnya adalah
adanya belenggu kapital dan kepentingan penguasa yang dengan ketat membatasi
peningkatan kualitas pemahaman dan pemerataan wawasan demokrasi dan sosialisme
dalam masyarakat dengan segala cara, demi mempertahankan stabilitas kekuasaan
tersebut. &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Formalisme Negara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kondisi ini telah menempatkan Indonesia pada posisi tanpa daya tawar dan
tanpa daya kompetitif dalam arus deras globalisasi yang masuk dari segala pintu
yang terbuka lebar. Indonesia tidak mampu memanfaatkan kondisi geopolitiknya
untuk mengambil posisi tawar. Kuantitas impor yang semakin hari semakin
meningkat, selain menciptakan ketergantungan yang tinggi terhadap Negara lain,
juga menghilangkan kemampuan dan potensi produksi nasional. Di sisi lain,
kekuasaan Pemerintah yang dibangun oleh sekelompok elit di masyarakat semakin
menguat. Dukungan dari kepentingan neoliberalis asing dibelakang Pemerintah
berhasil membangun hegemoni kekuasaan yang semakin menguat. Hegemoni yang
dibangun dengan cara merasuk ke alam bawah sadar mayoritas rakyat, dan memaksa
rakyat secara halus untuk menerima nilai-nilai moral, politik, prinsip ekonomi,
etika dan budaya, melalui cara yang sistematis. Salah satu cara yang ditempuh
adalah sistem formalisme yang melahirkan para pemegang titel dan melahirkan
kelompok rakyat informal dalam masyarakat. Formalisme oleh Negara adalah satu
bentuk imperialisme yang berbahaya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara intelektual saat ini terjebak dalam upaya untuk menyamakan antara
realitas bangsa Indonesia dengan negeri lain, dan tidak melakukan upaya serius
untuk mengidentifikasi karakteristik realitas nasional dan situasi konkret di
dalam negeri, golongan mayoritas yang terdiri dari kalangan rakyat informal
telah kehilangan kepercayaannya pada sistem kapitalis liberal yang diterapkan
Negara. Mereka tidak lagi percaya kepada kalangan intelektual yang kerap
mengacu pada praktik masa lalu untuk menjawab atau menyelesaikan tuntutan
praktis di masa sekarang, dan kelompok ini sudah hampir sampai di ujung
kesabarannya. Di sisi lain, kelompok masyarakat informal yang sederhana ini
kurang menyukai pendekatan ilmiah dan kurang minat terhadap ilmu pengetahuan,
sehingga mereka terjebak dalam situasi sulit tanpa solusi. Kelompok pembawa
kepentingan modal sangat memahami hal ini, dan mereka mampu mengambil
keuntungan secara optimal dari kurangnya wawasan masyarakat informal tersebut
untuk kemudian memarjinalkan kelompok mayoritas tersebut dari percaturan
ekonomi dan politik.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Masyarakat Informal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ironinya, kelompok masyarakat pekerja informal ini adalah pelaku utama dalam
perekonomian yang semakin vital perannya, karena jumlah pekerja formal atau
buruh terus merosot, khususnya pekerja di sektor industri modern. Saat ini,
jumlah pekerja informal mencapai 70-80% dari keseluruhan pekerja. Sedangkan
pekerja di sektor manufaktur tidak melebihi 15 juta orang, dimana sekitar 55,21
juta orang atau 52,65 persen dari total angkatan kerja hanya mengantongi ijazah
Sekolah Dasar. Industrialisasi pendidikan telah menutup jalan rakyat mayoritas
untuk meraih kedaulatannya melalui pendidikan yang layak. Akibatnya, rakyat
terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan. Sementara Negara mendorong de-industrialisasi
dengan mendorong sebagian besar usaha ekonomi untuk bergerak pada sektor
informal dan Usaha Kecil Menengah yang terfragmentasi, yang lebih mirip dengan
ekonomi keluarga ketimbang ekonomi kapitalistis yang bertumpu pada industri
modern. &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kondisi tersebut diperburuk dengan tertutupnya akses permodalan bagi
masyarakat informal. Semangat kerakyatan yang dibawa dalam konstitusi Negara
tertutup dengan besarnya kepentingan sekelompok masyarakat elit yang didukung
oleh kepentingan asing yang lebih besar. Sistem formalisme yang dibentuk oleh
kelompok-kelompok kepentingan Neoliberal itu nyata-nyata sangat bertentangan
dengan semangat kerakyatan yang di cita-citakan Negara di awal pendiriannya.
Sistem ini membawa semangat buruk sangka terhadap rakyatnya sendiri, dan
mengutamakan kepentingan pemodal diatas segalanya, serta cenderung memposisikan
rakyat hanya sebagai obyek pertumbuhan modal, ketimbang subyek pembangunan
Negara. Rakyat kelas informal yang bercirikan kepemilikan kecil,
terfragmentasi, dan kurang politis ini terdiri antara lain mulai dari para
pedagang kaki lima, perdagangan kecil, pengrajin kecil, pertanian dalam skala
kecil, nelayan kecil, dan lain-lain sampai wiraswasta kelas menengah. Golongan
rakyat informal inilah yang paling menderita akibat penyelewengan cita-cita
Negara oleh sekelompok elit pembawa kepentingan pemodal serta aparat
politikusnya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Kelompok Pembawa Kepentingan Modal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kelompok elit pemodal ini menguasai kelompok-kelompok lain seperti
politikus, militer, organisasi masyarakat, sampai jajaran pemerintah pusat dan
daerah. Oleh karena itu mereka dengan mudah memproteksi kepentingan dan
modalnya melalui pembuatan kebijakan-kebijakan yang berindikasi anti-rakyat.
Kedaulatan rakyat yang menjadi salah-satu cita-cita utama berdirinya Negara ini
pun dapat dengan mudah digerus oleh mereka melalui hegemoni di segala bidang.
Sektor yang dikuasai pemodal seperti politik, industri informasi, industri
teknologi, sistem pemerintahan daerah, sampai ke industri mikro, membuat rakyat
semakin sulit melepaskan ketergantungannya terhadap para pemodal tersebut. Apa
yang telah nyata menjadi penyelewengan cita-cita bangsa ini adalah terjadinya
industrialisasi pendidikan, industrialisasi kesehatan, industrialisasi
keamanan, bahkan semakin jelas mengarah ke industrialisasi agama dan lain-lain
kebutuhan yang menjadi hak asasi manusia. Namun dengan cerdiknya mereka mampu
mempertahankan keberpihakan kelas menengah dengan segala cara, demi kestabilan
ekonomi dan politiknya. Cara-cara yang ditempuh seringkali adalah pembodohan,
penyanderaan masa depan, dan lain-lain cara yang membuat ketergantungan kelas
menengah terhadap pembawa kepentingan modal tersebut sulit dihilangkan. Jalan
bagi rakyat untuk mendapatkan kembali kedaulatannya telah ditutup dengan rapi
dan sistematis.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam kondisi ini, revolusi social pun seperti bukan solusi yang tepat.
Fakta sejarah mengenai beberapa kali revolusi yang terjadi di masa lalu,
memperlihatkan kegagalan substansial yang terjadi. Revolusi hanya mampu
mengganti struktur pemerintahan, tetapi tidak mampu memberi solusi dari
permasalahan utama, yaitu adanya sistem yang menggerakkan arus modal dan
kepentingan segelintir elit untuk berkuasa di negeri ini. Faktor mendasar yang
selama ini terjadi adalah kurangnya pemahaman dan wawasan di masyarakat
mengenai arah dan proses pencapaian tujuan bangsa yang di cita-citakan. Reaksi
masyarakat yang didorong oleh emosi sesaat hanya mampu mendorong terjadinya
revolusi yang hanya merubah struktur, namun gagal mengganti sistem karena
kurangnya ilmu dan wawasan. Apa yang terjadi pada tahun 1966 dan 1998 adalah
contoh kongkrit bahwa diperlukan lebih dari sekedar revolusi fisik yang
bergelora untuk menahan arus kepentingan modal, yang sebetulnya menjadi inti
permasalahan. Peristiwa sejarah tersebut juga memberikan contoh kasus sempurna,
bahwa perjuangan tidak cukup dengan semangat saja, tapi haruslah dilaksanakan
dengan cerdas dan berintegritas.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Apakah Revolusi Menjadi Solusi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apakah masyarakat harus mengubur cita-cita yang dicanangkan diawal
berdirinya Negara ini? Tentunya tidak! Pertama-tama harus disadari bahwa
perjuangan mencapai tujuan tersebut lebih membutuhkan suatu kesabaran
revolusioner daripada sebuah revolusi fisik. Tetapi jika diperlukan, revolusi
fisik tidak ditabukan. Hanya persiapan kondisi subyektif masyarakat haruslah
matang dan benar-benar siap mengambil alih jalannya pemerintahan yang
benar-benar terputus dari jaringan arus modal. Rakyat haruslah dipersiapkan
untuk mengisi situasi pasca revolusi dengan konsep kenegaraan yang ideal, dan
para wakil-wakil rakyat yang diusung untuk mengambil alih jalannya roda
pemerintahan haruslah muncul dari kalangan rakyat itu sendiri, dan bersih dari
pengaruh kepentingan modal. Dalam hal ini, rakyat yang dimaksudkan adalah
keseluruhan rakyat dari segenap pelosok negeri.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagaimana jalannya proses pengkondisian subyek dan obyek revolusi yang
sesuai konsep kerakyatan itulah yang harus menjadi aspirasi dan semangat
masyarakat. Aspirasi dan semangat rakyat tersebut harus dibawa dalam sebuah
wadah yang tepat, yaitu wadah yang benar-benar memberikan komitmen 100 persen
bagi berlangsungnya jalan Sosialisme Kerakyatan, yang saat ini telah nyata
sebagai satu-satunya jalan ideal dalam proses meraih cita-cita kesejahteraan
bangsa ini. Beberapa tahapan ideal dalam situasi dan kondisi yang berkembang
saat ini mensyaratkan bentuk gerakan yang sistematis, terpola dan massif namun
terkoordinir. Tahapan yang ditujukan untuk membangun kesadaran masyarakat
secara massif untuk kembali mengusung cita-cita kesejahteraan rakyat yang berkeadilan
sosial, seperti yang dicanangkan diawal berdirinya Negara.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Tahapan Revolusioner&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tahapan awal yang harus dilewati adalah penyebaran wawasan dan proses
kristalisasi gagasan dalam sebuah kegiatan pendidikan kader Sosialisme
Kerakyatan yang matang, berintegritas dan berkomitmen tinggi terhadap cita-cita
bangsa. Kader-kader tersebut akan menjadi agen-agen perubahan di setiap entitas
yang diwakilinya, dan menjadi motor penggerak masyarakat yang memiliki
keterikatan emosional yang tinggi terhadap cita-cita bangsa. Kader-kader
tersebut dipilih dari daerah-daerah tingkat II yang nantinya akan dilatih untuk
memiliki rasa Kebangsaan, Kerakyatan, Kemandirian, Integritas, Militansi dan
berkarakter Problem Solver serta memiliki visi Negarawan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Pembangunan Jalan Kerakyatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tahapan berikutnya adalah mendobrak sistem perindustrian dan formalitas
ekonomi yang ada dengan memberdayakan sector informal dan membangun
bisnis-bisnis jaringan, yang nantinya juga akan menjadi pendukung operasional
gerakan. Beberapa pilihan usaha yang ideal adalah yang berkaitan dengan
lingkungan, sesuai dengan visi rakyat sosialis yang tidak menghendaki
eksploitasi manusia dan sumber daya alam. Gagasan-gagasan seperti desalinasi
air laut untuk penyediaan air bersih bagi masyarakat pesisir pantai atau
pembangunan reactor mikro hidro untuk penyediaan tenaga listrik yang
berkelanjutan dan ramah lingkungan adalah pilihan utama. Bisnis-bisnis tersebut
akan dikelola dan dimiliki oleh rakyat setempat, dengan bantuan permodalan
serta teknologi yang dikoordinir oleh pusat gerakan. Dalam pelaksanaannya,
kegiatan ini juga membawa misi-misi penyadaran akan perlunya perhatian tarhadap
lingkungan, sebagai antisipasi perubahan iklim yang semakin menggejala. &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara itu, permasalahan-permasalahan dalam masyarakat yang timbul akibat
aspek hegemoni kepentingan modal harus diselesaikan dengan solusi-solusi yang
berdasarkan kerakyatan.&amp;nbsp; Pengupayaan hal tersebut selain memperluas sebaran
pemahaman sosialistis dalam masyarakat, juga menjadi langkah taktis dalam mengkondisikan
masyarakat agar siap dengan antisipasi-antisipasi permasalahan yang bersumber
dari gagasan neoliberalisme. Untuk itu perlu dibangun sebuah lembaga pengkajian
ilmiah yang membahas permasalahan social dangan pendekatan Sosialisme
Kerakyatan. Lembaga ini akan terdiri dari sekelompok pemikir intelektual yang
bertugas menggali serta mengidentifikasi permasalahan kemasyarakatan yang
timbul akibat gesekan kepentingan dengan kaum neoliberalis. Hasil kajian
tersebut selain di carikan jalan pengimplementasiannya, juga diterbitkan dalam
bentuk tabloid, yang disirkulasikan ke pusat-pusat masyarakat di seluruh
negeri.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Lembaga Keuangan Mikro&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Langkah taktis berikutnya adalah mengaktifkan para Kader yang telah siap
dengan tugas-tugas kemasyarakatan, untuk segera terjun ke organisasi-organisasi
masyarakat di daerahnya. Mereka akan mensosialisasikan gagasan Sosialisme
Kerakyatan dan membuat wacana-wacana solusi yang diperlukan oleh setiap
daerahnya masing-masing. Kegiatan ini bertujuan memperluas jejaring dan peningkatan
kualitas masyarakat daerah agar siap menghadapi perubahan social yang mungkin
terjadi akibat perubahan system yang sedang diperjuangkan. Dari perputaran
bisnis-bisnis yang terjadi di setiap daerah, harus dialokasikan beberapa bagian
keuntungan untuk pembentukkan suatu komunitas bisnis yang baru, melalui
komunitas masyarakat yang di pilih oleh Kader-Kader yang diterjunkan di
organisasi kemasyarakatan tersebut. Skema yang paling ideal adalah sebuah
lembaga keuangan mikro, yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah tempat
organisasi masyarakat itu berada. Model yang saat ini berjalan di Sumatera
Barat adalah pilihan yang ideal.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perputaran dana di setiap daerah tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk
membangun bisnis-bisnis berikutnya, yang focus kepada penyediaan kebutuhan
dasar masyarakat. Alokasi tahapan berikutnya adalah membangun sekolah-sekolah
lanjutan yang memberi solusi pendidikan bagi rakyat informal di setiap daerah.
Pada tahapan ini, setiap kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan harus mendapatkan
akses pemberitaan di media masa local di setiap daerahnya. Kegiatan-kegiatan
tersebut akan membutuhkan sebuah wadah-wadah atau badan-badan hukum tersendiri,
yang dikhususkan untuk mengurusi setiap jenis kegiatan tersebut. Maka
pembentukan organisasi badan hukum seperti yayasan atau koperasi akan
diperlukan sebagai penanggung jawab hukum dari setiap kegiatan tersebut. &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Mengembalikan Tujuan Negara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika kegiatan yang berlangsung telah mencapai taraf kemandirian dan
kematangan masyarakat luas secara ekonomi, social dan politik, maka tunailah
revolusi kesadaran di masyarakat. Pada saat itu, kondisi politik dan ekonomi
dunia sangat menentukan langkah berikutnya. Pada suatu kondisi tertentu,
pencapaian gerakan masyarakat sudah cukup untuk mengambil alih jalannya roda
pemerintahan secara demokratis, tanpa revolusi fisik. Kondisi yang dimaksud
adalah melemahnya Negara-Negara pemain utama dunia, dan berkurangnya
ketergantungan Indonesia atas bantuan atau dukungan produksi dari luar. Dalam
kondisi tersebut, rakyat yang telah memiliki kesadaran serta wawasan yang cukup
akan memiliki juga kekuatan politik yang signifikan. Rakyat tersebut akan
sanggup mengembalikan cita-cita berdirinya bangsa ini ke tempatnya semula,
yaitu membentuk suatu Pemerintahan yang melindungi segenap rakyat Indonesia,
memajukan kesejahteraannya, mencerdaskannya, serta mewujudkan suatu keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-4711289125291381861?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/4711289125291381861/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=4711289125291381861' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/4711289125291381861?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/4711289125291381861?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/06/jalan-kerakyatan-pemikiran-sjahrir.html' title='JALAN KERAKYATAN - Pemikiran Sjahrir Dalam Konteks Kekinian'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;D0QNSXo5fCp7ImA9WhJTEkw.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-220315757848524653</id><published>2012-06-20T11:03:00.001-07:00</published><updated>2012-06-20T11:03:18.424-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-06-20T11:03:18.424-07:00</app:edited><title>Proses Terjajahnya Kembali Indonesia Sejak Bulan November 1967</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Keterjajahan Indonesia Semakin Jelas
Hari Ini dan pengaburan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai cita-cita dan
tujuan Indonesia Merdeka semakin nyata, pada dasarnya hal ini sudah menjadi
bahan pembicaraan dan pemikiran-pemikiran secara terbuka dan langsung dalam
seminar-seminar dan diskusi serta forum-forum kebangsaan baik dikampus maupun
diluar kampus dari tahun 2008 diantaranya artikel ini yang dikeluarkan pada
September 2008.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Oleh : Kwiek Kian Gie&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;65 tahun sudah usia kemerdekaan
Republik ini. Tetapi masih banyak rakyat bangsa ini yang mempertanyakan makna
dan manfaat kemerdekaan itu bagi mereka. Betulkan kita sudah merdeka? Kalau
sudah?! Mengapa sumber-sumber kekayaan alam negeri ini banyak yang dikelola dan
dikuasai pihak asing? Dan Mengapa masih banyak rakyat bangsa ini hidup bergumul
dalam kemiskinan dan tidak mempunyai pekerjaan yang jelas, dan mengapa pula
sejak zaman penjajahan pertumbuhan ekonomi negeri ini tidak pernah bergerak
dari angka 4-7%. Itulah sederet pertanyaan yang timbul setiap rakyat bangsa ini
merayakan hari kemerdekaan 17 Agustus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Jawaban atas pertanyaan tersebut
dapat kita temui dan kita dengar salah satuya dari buku yang ditulis John
Pilger dan yang juga ada film dokumenternya, dengan judul The New Rulers of the
World, antara lain, dikatakan: "Dalam dunia ini, yang tidak dilihat oleh
bagian terbesar dari kami yang hidup di belahan utara dunia, cara perampokan
yang canggih telah memaksa lebih dari sembilan puluh negara masuk ke dalam
program penyesuaian struktural sejak tahun delapan puluhan, yang membuat
kesenjangan antara kaya dan miskin semakin menjadi lebar”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Penyesuaian struktural ini kemudian
lebih dikenal istilah nation building dan good governance oleh “empat
serangkai” yang mendominasi World Trade Organisation (WTO) yakni, Amerika
Serikat, Eropa, Canada dan Jepang, dan triumvirat Washington (Bank Dunia, IMF
dan Departemen Keuangan AS. Mereka mengendalikan setiap aspek detail dari
kebijakan pemerintah di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kekuasaan
mereka diperoleh dari utang yang belum terbayar, yang memaksa negara-negara
termiskin membayar 100 juta dolar AS per hari kepada para kreditor Barat.
Akibatnya adalah sebuah dunia yang elitenya – dengan jumlah lebih sedikit dari
satu miliar orang – menguasai 80 persen kekayaan seluruh umat manusia di muka
bumi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sesungguhnya kita rakyat bangsa ini
memang belum seutuhnya menikmati alam kemerdekaan. Coba simak cerita yang
diungkapkan oleh John Pilger, dia antara lain mengungkapkan bahwa, ....“dalam
bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, hasil
tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsosri konferensi istimewa
di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia. Para
pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang
seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili:
perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical
Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express,
Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang
meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut
“ekonom-ekonom Indonesia yang Top”. “Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan
sebutan ‘the Berkeley Mafia’, karena beberapa di antaranya pernah menikmati
beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas
California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan
hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir
yang dijual dari negara dan bangsanya, mereka menawarkan: .... buruh murah yang
melimpah.... cadangan besar dari sumber daya alam.... pasar yang besar, ungkap
John Pilger.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pada hari kedua konferensi di Jenewa
tersebut, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ‘Ini dilakukan
dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffry Winters, guru besar pada Northwestern
University, Chicago, yang dengan mahasiswanya yang sedang bekerja untuk gelar
doktornya, Brad Sampson, telah mempelajari dokumen-dokumen konferensi tersebut.
‘Mereka membaginya ke dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa
di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar
lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi
yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para
investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling
dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan: ini yang kami inginkan: ini, ini,
dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk
berinvesatsi di Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kesimpulan dari konferensi tersebut,
ssst... ini rahasia negara tolong jangan disebarluaskan.... ketahuilah ...
Freeport mendapatkan bukit dengan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk
dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua Barat. Sang raksasa
Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok
perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang, dan Prancis mendapat hutan-hutan tropis
di Sumatera, Papua dan Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal
asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini
bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali ekonomi
Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang
anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Australia, dan,
yang terpenting, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Jadi sesungguhnya, sejak tahun 1967
Indonesia sudah tidak berdaulat – mulai dirampok atas dukungan para elit bangsa
Indonesia sendiri yang saat itu berkuasa. Sebenarnya banyak lagi rahasia negara
yang ingin saya bagikan kepada anda.... tapi saya takut diciduk... apalagi UU
Rahasia Negara sudah di sahkan oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang
terhormat.... cukup ini saja dulu... bahaya tau nggak.......... &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="-moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; background: white none repeat scroll 0% 0%; line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;
Sumber:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;Artikel Ke 4 Kwiek Kian Gie&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://adf.ly/9u6qG" target="_blank"&gt;&amp;gt;&amp;gt;DOWNLOAD ARTIKEL&amp;lt;&amp;lt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-220315757848524653?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/220315757848524653/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=220315757848524653' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/220315757848524653?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/220315757848524653?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/06/proses-terjajahnya-kembali-indonesia.html' title='Proses Terjajahnya Kembali Indonesia Sejak Bulan November 1967'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DUMBQn0-fip7ImA9WhJTEEQ.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-6944113095298467839</id><published>2012-06-17T14:02:00.001-07:00</published><updated>2012-06-19T02:17:33.356-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-06-19T02:17:33.356-07:00</app:edited><title>Demokrasi Telah Melunturkan Semangat Jiwa Pembukaan UUD 1945</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV"&gt;Apakah istilah demokrasi ini sudah
tepat di implementasikan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara di
Republik Indonesia? dalam pembukaan UUD’45 alenia ke-empat menyatakan
bahwa negara republik indonesia berkedaulatan rakyat yang berdasarkan
kepada pancasila. dimana dalam pancasila sila ke-empat menyatakan bahwa
kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah (ilmu) kebijaksanaan dalam
permusyawaratan (bangsa) / perwakilan (negara).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV"&gt;Indonesia menggunakan sistem
demokrasi yang pertama kali sejak tahun 1955, dengan menggunakan
UUDS’50 sebagai landasan konstitusionalnya. hal itu ditandai dengan
pelaksanaan proses pemilihan umum untuk yang pertama kalinya
diindonesia, pemilu ini bertujuan untuk membentuk dewan konstituante.
dewan ini kemudian bertugas merumuskan kembali undang-undang dasar,
untuk dijadikan sebagai landasan konstitusi negara yang baru
menggantikan UUD’45. namun mengalami kegagalan, mengapa demikian?&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV"&gt;Istilah demokrasi ini berasal dari
bahasa yunani, yakni demokratia yang berarti “kekuasaan rakyat”. yang
terbentuk dari kata demos (rakyat) dan kratos (kekuasaan), merujuk pada
sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke-5 M dan abad ke4 SM
di negara kota yunani khususnya athena. istilah demokrasi diperkenalkan
pertama kali oleh aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu
pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada ditangan orang
banyak (rakyat).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Benarkah kekuasaan itu berada di tangan rakyat?&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Mungkin saya selaku penulis akan
menjelaskannya secara mendasar berdasar sesuai dengan sejarahnya, tidak
ada maksud negative hanya ingin mendalami panggilan kesejarahan
terhadap berdirinya Negara Kesatuan ini yang berbentuk Republik sesuai
dengan cita-cita kemerdekaan yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945
dimana ada beberapa kalimat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke empat
tersebutkan kalimat yang pada akhirnya kita sebagai rakyat Indonesia
mengenal nya akrab dengan sebutan Pancasila dan kita yakini bahwa
Pancasila sebagai Dasar Negara kita.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Pancasila dalam sila ke-empat dengan tegas
dan jelas menyatakan bahwa rakyat indonesia dipimpin oleh orang-orang
yang senantiasa menggali ilmu kebijaksanaan dalam sebuah proses
permusyawaratan untuk mencapai kemufakatan (perwakilan), yakni
orang-orang terbaik yang terpilih untuk bertugas dinegara (eksekutif,
legislatif, yudikatif). dimana mereka bermusyawarah? dalam UUD’45
sebelum amandemen pasal 1 ayat 2 dijelaskan bahwa “kedaulatan adalah
ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya (100%) oleh majelis
permusyawaratan rakyat, maknanya bahwa MPR adalah lembaga yang
menegakkan kedaulatan rakyat. sehingga MPR menjadi sebuah wadah formal,
yakni, tempat berkumpulnya orang-orang yang berilmu dan bijaksana untuk
merumuskan Undang-Undang Dasar dan Garis-Garis Besar dari pada Haluan
Negara. sebagai koridor yang harus dikerjakan oleh negara dalam periode
tertentu. maknanya kekuasaan itu berada ditangan para pemimpin yang
berilmu dan bijaksana, yakni mereka para putra terbaik bangsa. sangat
jelas &amp;nbsp;sekali! lalu bagaimana bila kekuasaan berada ditangan rakyat?&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Namun, selama sejarah perjalanan bangsa
indonesia telah terjadi pemahaman yang salah. terutama mengenai
kedaulatan rakyat. berbagai macam pandangan mengenai makna kedaulatan
rakyat yang berkembang dimasyarakat, seperti kekuasaan rakyat yang
mengandung makna pemilihan umum secara langsung (hak suara). bentuk
pemahaman yang salah mengenai paradigma demokrasi tanpa akal yang
dilakukan melalui proses pamilihan yang dilakukan secara berulang-ulang
hingga membangun budaya dan adat istiadat baru telah membangun sebuah
keyakinan yang menyesatkan seluruh rakyat indonesia dari sabang sampai
merauke. dimana dalam sebuah proses pemilihan umum, kedaulatan seluruh
rakyat indonesia &amp;nbsp;diukur hanya dengan mencontreng / mencoblos gambar
partai, foto caleg, foto capres. serendah itukah makna sebuah
kedaulatan rakyat yang berdasar kepada pancasila?&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Bila kita analogikan, sebetulnya demokrasi
sangat tidak tepat digunakan oleh bangsa indonesia. mengapa demikian?
karena bangsa indonesia adalah bangsa yang beradab. nilai-nilai yang
terkandung dalam pancasila merupakan nilai-nilai luhur bangsa indonesia
yang digali berdasarkan perjalanan sejarah panjang bangsa indonesia.
yakni nilai-nilai luhur bangsa indonesia yang memaknakan bahwa bangsa
indonesia adalah bangsa yang bertuhan, berprikemanusiaan yang adil dan
beradab melalui persatuan indonesia, rakyat yang dipimpin oleh
pemimpin-pemimpin yang berilmu dan bijaksana, yakni mereka putra
terbaik bangsa yang bertugas untuk mewujudkan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat indonesia, melalui negara sebagai lembaga perwakilan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dampak yang ditimbulkan oleh sistem
pemilihan umum yang digunakan oleh bangsa indonesia sejak tahun 1955,
yang katanya pemilu yang paling demokratis. tanpa disadari perlahan
tapi pasti telah membangun budaya politik diindonesia, yakni budaya
politik yang melahirkan pemimpin bermental jongos dan penjilat dalam
bentuk koruptor, kolusi dan nepotisme. sehingga negara sebagai sebuah
simbol tatanan moral yang menjadi panutan melalui sosok keteladanan
&amp;nbsp;bagi rakyat yang dipimpinnya, mengalami kebobrokan moral yang sangat
akut. kebobrokan moral ini kemudian membangun tatanan etika yang rusak
dilingkungan bangsa indonesia, tatanan etika yang rusak ini berubah
menjadi adat istiadat dan budaya yang baru saat ini, itulah faktanya.
dan nilai-nilai luhur pancasila pun habis tergerus tanpa sisa. mengapa
bisa terjadi demikian?&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Katakanlah (Wahai Muhammad): “Wahai Tuhan
Yang mempunyai Kuasa pemerintahan !&amp;nbsp; Engkaulah Yang memberi Kuasa
pemerintahan kepada sesiapa Yang Engkau kehendaki, dan Engkaulah Yang
mencabut Kuasa pemerintahan dari sesiapa Yang Engkau kehendaki.
Engkaulah juga Yang memuliakan sesiapa Yang Engkau kehendaki, dan
Engkaulah Yang menghina sesiapa Yang Engkau kehendaki. Dalam kekuasaan
Engkaulah sahaja adanya segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa
atas tiap-tiap sesuatu. (Q.S Ali Imran Ayat 26).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Sehingga makna dari kedaulatan rakyat yang
sesungguhnya adalah sebuah kehendak untuk mengangkat harkat dan
martabat hidup rakyat indonesia. arti Kedaulatan Rakyat secara bahasa
yakni, Kedaulatan berasal dari kata daulat yang berarti memposisikan,
sehingga Kedaulatan Rakyat mengandung makna memposisikan rakyat
(kepemimpinan) di dalam membangun aturan-aturan dasar yang di gunakan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai bentuk terangkatnya
harkat dan martabat hidup rakyat Indonesia. mengapa demikian? karena
Allah SWT sesungguhnya akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu
dan bertaqwa beberapa derajat.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Semenjak Indonesia memasuki masa demokrasi
dan reformasi yang dimulai pada tahun 1998, telah banyak perubahan yang
terjadi dalam dunia politik di tanah air. Terjadi perubahan sistem yang
mendasar mencakup amandemen UUD 1945, struktur politik dan
perundangan-undangan. Melalui mekanisme demokrasi, &amp;nbsp;perubahan dilakukan
secara bertahap dan terukur pada berbagai aspek kehidupan politik.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Keberadaan MPR sebagai Lembaga Pelaksana
Kedaulatan Rakyat pun tergantikan, karena pasca amandemen UUD 1945 pada
tahun 2002 kemarin, Kedaulatan rakyat sepenuhnya di atur oleh
Undang-Undang dan hal ini merupakan pemahaman yang keliru atau sebuah
kebijakan politik yang sesat pikir karena kedaulatan rakyat di
gantungkan dan di atur secara otomatis menjadi hak pembuat
Undang-Undang, lagi-lagi penguasa dalam hal ini memegang peranan yang
sangat dominan dalam menentukan nasib bangsa dan Negara.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Saat ini, demokrasi di Indonesia masih pada tahapan &lt;i&gt;“Broadening Democracy”&lt;/i&gt; yaitu
masa euforia di mana setiap orang merasa bebas berbuat dan mengatakan
apa saja setelah bebas dari masa rezim Orde Baru. Tahapan ini sungguh
tidaklah sehat. Terlihat dari tumpang-tindih dan tidak terkoordinasinya
berbagai macam kepentingan dalam &lt;i&gt;public policy&lt;/i&gt; yang
dihasilkan. Hal itu disebabkan oleh semua pihak merasa boleh berbuat
apa saja tanpa memperhatikan hak-hak dari pihak lain yang seringkali
berbenturan dengan hak mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Sistem politik demokrasi sekalipun, jika tidak mampu menghasilkan &lt;i&gt;public policy&lt;/i&gt; yang unggul maka hal itu akan sia-sia. Selama masa reformasi, Indonesia belum mampu menghasilkan dan mengelola &lt;i&gt;public policy&lt;/i&gt;; yang baru dihasilkan adalah hanya beberapa peraturan dan perundangan. Padahal &lt;i&gt;public policy&lt;/i&gt; adalah
tugas pertama dan utama dari lembaga negara terutama eksekutif dan
legislatif. Hal itu membuat biaya demokrasi di Indonesia terasa sangat
mahal harganya. Bukan hanya ketidakmampuan lembaga negara untuk
mengelolanya, namun juga makin menyebarnya korupsi pada
“kerajaan-kerajaan kecil” yang lahir dari kebijakan otonomi daerah.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Sudah saatnya Indonesia masuk kepada tahapan &lt;i&gt;“deepening democracy”&lt;/i&gt; di
mana memperdalam kualitas dari demokrasi itu adalah tujuan utamanya
karena sesungguhnya Demokrasi bukanlah hal yang harus di prioritaskan,
Analogi sederhananya Demokrasi adalah seperti halnya sebuah pakaian
sebagai pembukus atau kemasannya saja tapi sesungguhnya Kedaulatan
Rakyat lah yang menjadi Tubuh Telanjang Badan ataupun isi dari apa yang
ada di dalam kemasan (Menjadi Percuma Pakaian kita bagus, Rapi dan
bahkan mahal tapi Tubuh Telanjang badannya penuh dengan luka dan bahkan
mungkin cacat).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Demokrasi di Indonesia meluas secara
kuantitas politik namun bukan kualitasnya. Sistem multipartai yang
muncul pasca Orde Baru - dan juga pemekaran wilayah dan otonomi daerah
membuat APBN semakin menggelembung untuk membiayai para elite politik
di daerah. Padahal anggaran tersebut seharusnya bisa digunakan untuk
kesejahteraan rakyat; mengentaskan kemiskinan dan pengangguran. Dalam
waktu 5 tahun, Indonesia yang mempunyai 33 provinsi dan semuanya akan
mengadakan Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada secara langsung yang
berarti setiap 4 hari sekali ada dilangsungkan Pilkada di Indonesia.
Sungguh hal yang tak diperkirakan sebelumnya sebagai efek dari
kehidupan demokrasi politik pasca Orde Baru.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Seseorang yang mencalonkan diri menjadi
bupati atau wali kota membelanjakan dana antara Rp 5 miliar hingga Rp
10 miliar. Untuk gubernur, percalon diperkirakan membelanjakan dana
antara Rp 10 miliar hingga Rp 30 miliar. Di sebuah kabupaten kecil di
Sumut, seorang calon membelanjakan Rp 15 miliar untuk menang, padahal
Pendapatan Asli Daerah atau PAD dari daerah tersebut hanya Rp 5 miliar.
Bagaimana membayangkan kepala daerah yang fokus kepada pembangunan jika
ia harus terlebih dahulu mengembalikan investasi - semacam &lt;i&gt;return on investment&lt;/i&gt; (ROI)
- sebelum memikirkan rakyatnya. Terlihat bahwa demokrasi dan reformasi
saja tidak cukup. Demokrasi sendiri tidaklah menyelesaikan masalah
nasional kita. Demokrasi tidak secara otomatis menyelesaikan suatu
permasalahan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Yang lebih menarik lagi adalah Mantan
Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin politisi yang kini
menjadi tersangka kasus korupsi yakni di duga merampok sejumlah proyek
APBN yang nilainya mencapai 6,037 triliun, atau bahkan begitu juga
kasus Anggelina Sondakh Public Figure yang juga menjadi anggota DPR RI
dari Partai Demokrat yang kini menjadi tersangka dalam kasus korupsi
mendiknas. Kasus itu seolah menyadarkan publik, bahwa demokrasi liberal
pasca Orde Baru ternyata tak menyurutkan aksi perampokan anggaran
negara.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Perampokan itu dinilai terjadi karena biaya
demokrasi liberal yang semakin mahal dari satu periode ke periode lain.
Partai politik, sebagai satu tonggak demokrasi, justru menjadi ‘biang
keladi’ perampokan pundi-pundi pendapatan dan belanja negara. Kenyataan
miris yang harus di alami Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Kebenaran fakta sejarah perjalanan sejarah
perjuangan bangsa indonesia, telah membuktikan bahwa bangsa indonesia
yang lahir pada saat momentum sumpah pemuda pada tanggal 28 oktober
1928 dengan komitmen untuk mengangkat harkat dan martabat hidup rakyat
indonesia melalui proses musyawarah/perwakilan, menetapkan pancasila
sebagai dasar indonesia merdeka indonesia dalam sidang BPUPKI melalui
proses musyawarah/perwakilan, memproklamasikan kemerdekaan bangsa
indonesia pada tanggal 17 agustus 1945 melalui proses
musyawarah/perwakilan, kemudian membentuk Negara Kesatuan Republik
Indonesia pada tanggal 18 agustus 1945 sebagai amanat penderitaan
rakyat yang tertuang dalam dalam pembukaan UUD’45 melalui proses
musyawarah/perwakilan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Spirit pemuda pemudi Indonesia kemudian
dikonsolidasikan menuju Kongres Pemuda I hingga lahirlah Sumpah Pemuda
28 Oktober 1928. Meskipun hanya persatuan yang menjadi utama dalam
seluruh naskah Sumpah Pemuda (tanpa kesetaraan dan keadilan), tetapi
tetap dihargai sebagai dasar kebangkitan Indonesia menuju proklamasi
Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Lahar ideologi Kebangkitan
Nasional&amp;nbsp;kemudian dikongkritkan dalam Pancasila, selanjutnya teknisnya
disusun&amp;nbsp;&lt;i&gt;founding fathers &lt;/i&gt;dalam Undang-Undang Dasar&amp;nbsp;1945. Indonesia Merdeka.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Sehingga berdasarkan fakta kebenaran sejarah
tersebut,sesungguhnya secara filosofi Negara Kesatuan Republik
Indonesia memiliki konstruksi bangsanya lahir terlebih dahulu, merdeka,
membentuk negaranya kemudian. mengandung makna filosofi bangsa
indonesia yang terlahir dan merdeka terlebih dulu ini berfungsi sebagai
pondasi yang sangat menentukan kokoh atau tidak nya bentuk Negara
Kesatuan Republik Indonesia sebagai sebuah bangunan. yakni sebuah
pemahaman yang unik tentang NKRI. dimana bangsa indonesia sebagai
pondasi merupakan tatanan etika (permusyawaratan) dan negara sebagai
bangunan merupakan tatanan moralnya (parwakilan), yakni bentuk
keteladanan seorang pemimpin (putra terbaik bangsa) kepada rakyatnya.
yang dijelaskan dalam UUD’45 pasal 1 ayat 1 yakni negara indonesia
adalah negara kesatuan (kebangsaan) yang berbentuk republik (negara
perwakilan) dan &amp;nbsp;terangkatnya harkat dan martabat hidup rakyat
indonesia (ukuran keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia) adalah
suatu bentuk keniscayaan bagi bangsa indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Berdasarkan uraian singkat diatas, apakah
masih relevan bila bangsa indonesia dikatakan sebagai bangsa yang
demokratis? dengan menggunakan sistem pemilihan umum secara langsung
yang dijadikan sebagai ukuran yang menjamin tegaknya kedaulatan rakyat
yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia sebagai bentuk dari
terangkatnya harkat dan martabat hidup rakyat indonesia. cita-cita
luhur bangsa indonesia terlahir, merdeka dan membentuk negara, yakni
hakikat kemerdekaaan 100%. ataukah memang benar bahwa realita kehidupan
bernegara hari ini, jelas-jelas telah makar atau melakukan
pengkhianatan terhadap pembukaan UUD’45 sebagai amanat penderitaan
rakyat dan tujuan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Menjadi penting untuk di garis bawahi adalah
bahwa Demokrasi yang relevan terhadap Situasi Kehidupan Berbangsa dan
bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Demokrasi yang
bertujuan dan berorientasi kepada Kedaulatan Rakyat, karena hal itu lah
yang sebenarnya menjadi amanat dari Pembukaan UUD 1945.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Jangan Biarkan Sejarah hanya menjadi
Interprestasi Penguasa, karena itu kita sebagai Generasi wajib
meluruskannya. Dan Berdasarkan hal itu maka penulis beranggapan
sekiranya menjadi wajar apabila: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
BANGSA INDONESIA MENGGUGAT NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify;"&gt;
1. Negara
wajib mengakui kebenaran fakta sejarah &amp;nbsp;bahwa tanggal 28 oktober 1928
adalah hari lahirnya bangsa indonesia, yang tertulis sangat jelas dalam
isi teks sumpah pemuda.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify;"&gt;
2. Negara
wajib mengakui kebenaran fakta sejarah bahwa tanggal 1 juni 1945 adalah
hari ditetapkanya pancasila sebagai dasar indonesia merdeka, sebagai
landasan filosofis yang menjadi sumber dari segala sumber ilmu
pengetahuan, sumber tehnik, sumber manajemen yang berlaku dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify;"&gt;
3. Negara
wajib mengakui kebenaran fakta sejarah bahwa tanggal 17 agustus 1945
adalah hari proklamasi kemerdekaan bangsa indonesia, bukan sebagai hari
ulang tahun terbentuknya negara (HUT RI). berdasarkan isi teks
proklamasi serta fakta sejarah bahwa pada saat itu negara belum
dibentuk.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify;"&gt;
4. Negara
wajib mengakui kebenaran fakta sejarah bahwa tanggal 18 agustus 1945
adalah hari dibentuknya negara kesatuan republik indonesia sebagai
amanat dari penderitaan rakyat. berdasarkan isi teks pembukaan UUD’45.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify;"&gt;
5. Negara
wajib mengedepankan Kedaulatan Rakyat sebagai wujud konsistensi
terhadap semangat Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila sebagai Dasar Negara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mudah-mudahan ini menjadi koreksi yang membangun untuk kita semua
sebagai Generasi Penerus Bangsa yang seharusnya mampu meluruskan semua
sehingga Bangsa ini menjadi Bangsa yang Besar dan akhirnya Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat menjadi Negara kuat yang mampu
menjadi mercusuar dunia. Seperti pesan Founding Father kita yang
sekaligus sang Proklamator bahwa “ Jangan Sekali-kali Melupakan
Sejarah” ( JAS MERAH). Saya Selaku Penulis hanya ingin menjelaskan
bahwa apa yang saya tulis hanya bagian kecil dari panggilan kesejarahan
saya sebagai anak bangsa. &lt;b&gt;(PRAS_A)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://politik.kompasiana.com/2012/06/16/demokrasi-telah-melunturkan-semangat-dari-pembukaan-uud-1945/" target="_blank"&gt;Kompasian&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://adf.ly/9nv5p" target="_blank"&gt;&amp;gt;&amp;gt;DOWNLOAD ARTIKEL&amp;lt;&amp;lt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-6944113095298467839?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/6944113095298467839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=6944113095298467839' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/6944113095298467839?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/6944113095298467839?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/06/demokrasi-telah-melunturkan-semangat.html' title='Demokrasi Telah Melunturkan Semangat Jiwa Pembukaan UUD 1945'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CkYFSXs_cCp7ImA9WhVbF08.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-7359614034814571502</id><published>2012-06-03T03:41:00.003-07:00</published><updated>2012-06-03T03:41:58.548-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-06-03T03:41:58.548-07:00</app:edited><title>Jenderal Sepuh dan Jati Diri Bangsa</title><content type='html'>&lt;b&gt;Oleh : Buya Syafii Ma'arif&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak tahu mengapa Jenderal Sepuh angkatan Jenderal Rudini ini
selalu saja mengontak saya, apakah itu untuk seminar atau saat ia
mendapat buku dan informasi baru yang berkaitan dengan karakter
manusia. Sebagai orang yang lebih muda dalam usia sekalipun sudah
kepala tujuh, saya benar-benar merasa sangat diperhatikan oleh jenderal
yang satu ini.&lt;br /&gt;


Perhatian itu tidak ada pertautannya dengan urusan duniawi, tetapi
sepenuhnya menyangkut dunia ide: jati diri dan karakter bangsa.
Jenderal Sepuh ini jika berjalan sudah pakai tongkat dan bahkan tidak
jarang dipapah, tetapi ia adalah di antara sedikit elite Indonesia yang
telah menghabiskan sebagian besar usianya untuk memikirkan bagaimana
memulihkan jati diri dan karakter bangsa yang semakin tidak jelas saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Mungkin karena kimia perasaan dan gelombang pemikirannya sebangun
dengan apa yang sering saya lontarkan tentang hari depan bangsa ini,
maka Jenderal Sepuh ini sudah sejak sekitar tiga tahun ini membangun
komunikasi intensif dengan saya.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Tentu saya merasa mendapat kehormatan dan berterima kasih
kepadanya. Saya banyak punya teman jenderal, tetapi yang satu ini
sangat impresif. Bukan karena perawakan fisiknya yang masih gagah dan
tinggi, tetapi karena ekspresi cintanya kepada bangsa ini teramat
tajam, dalam, dan tulus, sesuatu yang saya kagumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Jenderal Sepuh ini tidak pernah lelah meneriakkan kepada kita semua
agar jati diri dan karakter bangsa yang semakin kabur dan melemah
jangan dibiarkan terus meluncur. Kita harus awas membaca iklim kultur
yang serba kumuh ini, sebenarnya adalah pertanda SOS bagi bangsa ini
secara keseluruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Carut-marut politik dan sengketa para elite yang tak kunjung usai
adalah bagian dari karakter bangsa yang sedang tenggelam proses
pembusukan oleh kelakuan anak-anaknya sendiri yang larut dalam filosofi
mumpungisme. Sahabat kita sang jenderal ini amat sangat prihatin, lalu
bertanya: mengapa begini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan sulit ini, Jenderal Sepuh terus merenung,
berpikir, menulis, dan berbuat, akhirnya ketemu jawaban: yang rusak
adalah jati diri dan karakter bangsa. Jika pengamatan ini benar, dan
saya cenderung untuk setuju, maka penyakit kita sudah terlalu serius
dan kronis untuk dapat disembuhkan dalam tempo singkat. Karena itu
Jenderal Sepuh sudah mengontak Depdiknas dan Depag untuk bergerak
secara strategis, dan pasti akan memakan waktu lama, untuk berupaya
mengobatinya melalui jalur pendidikan dan pencerahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Ini artinya Jenderal Sepuh sudah angkat tangan dengan kelakuan anak
bangsa yang sedang menjadi pemain di panggung politik, ekonomi, dan
bahkan di panggung agama dan budaya sejak beberapa dasawarsa terakhir
ini. Hampir semuanya tenggelam dalam budaya hura-hura atau kebanggaan
semu sambil berebut tulang dalam menggerogoti harta negara tanpa rasa
malu. Dalam makalah yang baru saja saya terima dari Jenderal Sepuh,
inilah filosofi tentang karakter yang menjadi acuannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;When wealth is lost, nothing is lost&lt;br /&gt;
When health is lost, something is lost&lt;br /&gt;
When character is lost, everything is lost&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Saya terjemahkan:&lt;br /&gt;
Manakala kekayaan yang hilang, tak satu pun yang hilang; manakala
kesehatan yang hilang, ada sesuatu yang hilang; tetapi manakala
karakter yang hilang, semuanya menjadi musnah. Jenderal Sepuh merasa
sangat risau jika Indonesia terjerembab ke dalam bait ketiga itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Kalau begitu apa sebenarnya jati diri dan karakter itu? Jenderal
Sepuh meringkasnya dalam ungkapan: "Jati diri adalah potensi yang
merupakan perpaduan dari cipta, karsa, dan rasa yang mengacu kepada
fitrah manusia, cahaya Tuhan, dan sifat-sifat dasar yang murni dari
Tuhan." Sedangkan karakter adalah: "Nilai-nilai yang terpatri dalam
diri kita melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan, dan
pengaruh lingkungan, menjadi nilai intrinsik yang melandasi sikap dan
prilaku kita." Lalu dilanjutkan bahwa "Jati diri adalah terberi
(given)", sedangkan "Jati diri bangsa adalah pilihan (choice)".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Tentu pada akhirnya pembaca akan bertanya, siapa gerangan Jenderal
Sepuh itu? Dia adalah Jenderal H. Soemarno Soedarsono, Ketua Umum
Yayasan Jati Diri Bangsa, sahabat saya sejak beberapa tahun belakangan.
Saya masih akan menulis tentang topik ini pada saatnya nanti, karena
Jenderal Sepuh juga telah mengirimi saya fotokopi sebuah buku menarik
tentang karakter manusia yang baru selintas saya baca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber :&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.maarifinstitute.org/content/view/205/89/lang,indonesian/"&gt;maarifinstitute&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-7359614034814571502?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/7359614034814571502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=7359614034814571502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/7359614034814571502?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/7359614034814571502?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/06/jenderal-sepuh-dan-jati-diri-bangsa.html' title='Jenderal Sepuh dan Jati Diri Bangsa'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CkUAQnY9eCp7ImA9WhVbF08.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-5430954189179101582</id><published>2012-06-02T19:32:00.001-07:00</published><updated>2012-06-03T03:44:03.860-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-06-03T03:44:03.860-07:00</app:edited><title>Ongkos Demokrasi</title><content type='html'>&lt;b&gt;Oleh : Buya Syafii Ma'arif &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesulitan kita dengan era modern adalah kenyataan peradaban umat
manusia sampai detik ini belum menemukan sistem yang lebih baik dan
lebih unggul dari demokrasi. Sistem kerajaan yang adil sekalipun,
misalnya, jelas tidak menempatkan warga negara biasa pada posisi yang
sama dibandingkan dengan mereka yang punya darah biru. Hak kerajaan
adalah hak warisan. Dalam kerajaan absolut, lembaga pemilihan umum
(pemilu) tidak diperlukan, sebab prinsip egalitarian yang membuka pintu
pada semua warga untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan
penting sama sekali tidak dikenal. 

&lt;br /&gt;
Raja atau sebutan lain seperti kaisar, khalifah, amir, sultan,
selalu berada di posisi puncak. Perkara mereka adil atau zalim tidak
pernah dipermasalahkan secara terbuka. Darah biru menutup pintu
rapat-rapat bagi rakyat untuk 'menyeberang' pagar dinastik itu. Dengan
bergulirnya zaman, sistem kerajaan semakin ditinggalkan, digantikan
bentuk republik dengan demokrasi sebagai sistem politik yang dipilih.
Kerajaan pun punya berbagai bentuk. Ada yang konstitusional, ada yang
absolut, dan ada pula bercorak gabungan dari keduanya. Tetapi dalam
satu hal, semuanya pasti menempatkan darah biru sebagai faktor penentu
untuk jabatan puncak.&lt;br /&gt;
Pergerakan nasional kita telah memilih demokrasi sejak awal dan
menolak sistem kerajaan. Pilihan itu, menurut saya, sudah benar dan
tepat. Tapi, dalam perjalanan bangsa kita pascaproklamasi selama 63
tahun, apakah demokrasi yang telah dipilih itu semakin membawa kita
pada tujuan kemerdekaan? Inilah masalah serius yang sedang kita hadapi,
mengapa pertanyaan ini menjadi sangat relevan dengan situasi kita.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Untuk melaksanakan demokrasi, media pemilu adalah bagian yang
menyatu dengan sistem itu. Indonesia telah mempraktikkan berbagai corak
demokrasi: Liberal, Terpimpin, Pancasila, tanpa nama, seperti yang
berlaku sejak reformasi. Demokrasi Liberal punya keunggulan dan
kelemahan. Unggul karena memberi kebebasan kepada warga untuk terlibat
secara bebas dalam proses politik; kelemahannya terletak pada kekuasaan
partai yang terlalu dominan, sehingga kabinet jatuh-bangun dalam tempo
singkat, tergantung kepada selera elite partai untuk memutuskan,
bertahan atau keluar dari kabinet. Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi
Pancasila hanyalah demokrasi dalam nama, tidak dalam kenyataan. Dua
corak demokrasi ini sama-sama berujung pada malapeta yang harus dibayar
mahal oleh bangsa ini.&lt;br /&gt;
Sekarang sudah berjalan 10 tahun kita berada dalam kultur demokrasi
tanpa nama. Banyak kemajuan yang dicapai dalam makna memberi kebebasan
kepada warga untuk sepenuhnya menggunakan haknya dalam proses
pengambilan keputusan politik melalui pemilu secara reguler. Jabatan
presiden, gubernur, bupati/wali kota telah dibatasi sampai dua kali,
dan mereka pun dipilih secara langsung. Bukankah ini sebuah terobosan
politik yang penting? Tetapi, selalu ada 'tetapi'-nya.&lt;br /&gt;
'Tetapi' yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa tujuan
kemerdekaan berupa 'keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia'
tidak semakin mendekat. Lautan kemiskinan seperti tontonan saja, di
samping elite politik yang tidak tahu diri. Mereka menikmati keadaan
yang sedang membusuk ini. Belum lagi kita berbicara tentang perpecahan
partai disebabkan oleh perbedaan kepentingan jangka pendek di antara
elite mereka. Jor-joran dalam meraup kekayaan negara sudah sangat
nyata, sementara rakyat miskin semakin kehilangan harapan.&lt;br /&gt;
Berapa biaya demokrasi dengan sistem pemilihan langsung (pilsung)
yang sekarang sedang&amp;nbsp; berjalan? Baru-baru ini Prof Sofian Effendi,
mantan rektor Universitas Gadjah Mada dengan mengutip hasil penelitian
LIPI, mengatakan ongkos pilsung kita selama lima tahun yang harus
dikeluarkan negara tidak kurang dari Rp 400 triliun. Cukup dahsyat,
bukan? Sekiranya dengan ongkos itu ada bayangan bahwa tujuan
kemerdekaan akan semakin dekat, mungkin dapat dipahami. Tetapi, yang
terbayang adalah masa depan yang suram. Gejala golput semakin menguat,
sebagai indikasi demokrasi kita tidak semakin sehat, boroknya malah
bertambah.&lt;br /&gt;
Pertanyaan terakhir: apakah demokrasi harus diganti dengan sistem
lain? Jawaban saya tunggal: demokrasi harus bertahan karena itu sudah
menjadi pilihan kita sejak awal. Yang harus digugat secara keras adalah
pelaku demokrasi yang semakin teler, menjadi penikmat demokrasi, sebuah
pengkhianatan politik yang harus segera diakhiri. Bangsa ini harus
berani menghalau dengan berani borok-borok kultur politiknya yang dapat
membunuh masa depan kita semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber :&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;www.republika.co.id&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.maarifinstitute.org/content/view/282/90/lang,indonesian/"&gt;maarifinstitute&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-5430954189179101582?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/5430954189179101582/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=5430954189179101582' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/5430954189179101582?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/5430954189179101582?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/06/ongkos-demokrasi.html' title='Ongkos Demokrasi'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CkQFQHoyeCp7ImA9WhVbFkQ.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-5805443649457157689</id><published>2012-06-02T19:25:00.001-07:00</published><updated>2012-06-02T19:25:11.490-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-06-02T19:25:11.490-07:00</app:edited><title>BERGELIMANG DALAM BUDAYA KUMUH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Oleh : Buya Syafii Ma'arif &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, susunan J.S.
Badudu-Sutan Mohammad Zain (Jakarta: Pustaka Sinara Harapan, 1994), perkataan
“kumuh” mengandung tiga makna: 1. kotor; 2. kotor dan tidak teratur, tampak mesum;
3. keji. Untuk makna pertama, contoh kalimat yang diberikan adalah: “mukanya
kumuh benar, cucilah dulu”; kedua, “perkampungan yang kumuh”; ketiga, “kelakuan
keji yang dipertunjukkannya sungguh memuakkan.” Rasanya ketiga makna yang mirip
itu telah lama membebani kultur Indonesia modern, apakah itu dalam politik, ekonomi, sosial, dan moral.

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Ke mana pun kita bergerak, budaya kumuh itu sangat dirasakan
dan terus dipergunjingkan orang dari desa sampai ke
&lt;st1:city w:st="on"&gt;
&lt;st1:place w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Di kedai-kedai kecil di perkampungan,
di atas pesawat, di hotel-hotel mewah, dalam simposium dan seminar, bahkan di
dangau-dangau sawah, kekumuhan itu tetap menjadi topik pembicaraan. Memang baru
pada tingkat “pembicaraan,” perbaikannya pasti memerlukan waktu lama, sampai
bangsa benar-benar menjadi bangsa siuman. Setidak-tidaknya, kita masih punya
warga yang muak dengan segala bentuk kekumuhan ini, sekalipun tidak tahu cara
bagaimana yang efektif untuk terlepas dari cengkeramnnya. Sungguh sulit sekali.
Diperlukan energi eksra dan stamina spiritual yng prima untuk melawannya.
&lt;o:p&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Sekarang ini masih saja ramai dibicarakan tentang jaksa yang
tertangkap tangan saat menerima sogok, anggota DPR yang idem dito, kapolsek
yang “nyabu”, ujian yang bocor, si anu yang selingkuh dan tanpa rasa malu malah
digelar dalam acara tv, dan 1001 contoh kumuh yang tidak pernah kering untuk
diungkap. Kita sangat kaya dengan bermacam corak kekumuhan ini. Ketika KPK
hendak menggeledah ruang kerja anggota DPR, Bung Agung Laksono, ketua dewan,
tampil ke muka untuk melawannya. Bahkan ada anggota DPR yang mengusulkan agar
KPK dibubarkan saja karena dinilai sudah overacting. Tetapi tampaknya KPK tetap
saja bergerak tanpa menghiraukan perlawanan yang datang bertubi-tubi itu.
Sebagai salah seorang yang turut membidani lahirnya pimpinan KPK yang sekarang
ini, pesan saya tunggal: terus saja bergerak, tetapi jangan sampai tebang pilih.
Menegakkan hukum, riskonya memang besar: dicaci-maki, dimusuhi, bahkan tidak
mustahil dibunuh.
&lt;o:p&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Dalam lingkungan budaya kotor, mesum, dan keji, kejahatan
merajalela, aparat penegak hukum seperti tidak berdaya, uang maha kuasa. Sudah
menjadi rahasia umum bahwa sebagian aparat penegak hukum itu telah pula bergelimang
dan larut dalam budaya kumuh itu dan bahkan bersahabat dengan penjahat, demi
uang. Oleh sebab itu anda jangan terlalu berharap masalah BLBI akan tuntas
dalam beberapa tahun ini, jika pimpinan negara tetap saja dalam keraguan untuk
bertindak, sementara sebagian aparat penegak hukum tidak bisa membebaskan
dirinya dari lingkungan yang keji dan kumuh itu. Pada dasa warsa pertama abad
ke-21, tingkat peradaban
&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;
&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;
memang baru sampai di situ.
&lt;o:p&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Lalu, kepada siapa bangsa ini harus mengadu? Tidak kepada
siapa-siapa, kecuali kepada kekuatan moral yang masih tersisa dalam kultur
kita. Kita jangan tenggelam dalam keputusasaan. Orang baik masih ada di
mana-mana, sekalipun &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;surga dan neraka juga
bertetanga. Inilah dunia Bung. Kita tidak bisa lari dari lingkungan yang serba
kusam itu. Usul fiqh mengajarkan tentang “akhaffu al-dhararain” (pilih yang
paling ringan daya rusaknya), pada saat kita dihadapkan kepada lingkungan
budaya yang busuk. Jelas tidak selalu mudah. Pada sebuah unit kerja misalnya,
seseorang yang masih berupaya bertahan dalam idealisme, bisa saja tersingkir,
disisihkan oleh penganut filosofi mumpungisme, jika tidak sekarang, kapan lagi.
Tokh sebagian wakil rakyat, sebagian aparat penegak hukum, jangan ditanya lagi pengusaha
hitam, telah lama bergelimang dalam kubangan yang keruh-pekat ini. Pamor sementara
kiyai pun sudah merosot drastis karena rebutan posisi kekuasaan. Sekali agama
dijadikan alat pembenar kekuasaan, risikonya hanya satu: kerusakan. Al-Qur’an
menggunakan istilah al-fasād fī al-ardh (kerusakan di muka bumi). Korupsi
adalah salah satu bentuk kerusakan yang terparah di
&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;
&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Yang rumit adalah bahwa
para perusak itu merasa berbuat baik dan dipercaya pula oleh sebagian orang
sebagai manusia baik. Mereka sepintas lalu seperti layaknya para dermawan,
semata-mata untuk menyembunyikan prilaku jahatnya. “Lā tufsidū fī al-ardh, qālū
innamā nahnu mushlihūn”/Janganlah kalian melakukan kerusakan di muka bumi,
jawab mereka: “Kami justru adalah orang-orang yang membangun perbaikan.”&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(Al-Baqarah: 11).
&lt;o:p&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Saya yakin bahwa bangsa ini masih bisa dibenahi dengan
syarat agar orang-orang baik dan berani harus ke luar kandang dan terus
berteriak: hentikan kerusakan, hentikan kebinasaan. Jihad melawan kerusakan
adalah jihad sejati. Jangan biarkan bangsa ini menjadi puing peradaban!&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
(Untuk Gatra, minggu kedua Mei 2008)
&lt;o:p&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;st1:city w:st="on"&gt;
&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;span 12pt;="" ;="" font-family:="" font-size:="" new="" roman="" times=""&gt;Jogjakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span 12pt;="" ;="" font-family:="" font-size:="" new="" roman="" times=""&gt;, 3 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-5805443649457157689?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/5805443649457157689/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=5805443649457157689' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/5805443649457157689?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/5805443649457157689?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/06/bergelimang-dalam-budaya-kumuh.html' title='BERGELIMANG DALAM BUDAYA KUMUH'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;C0cEQH4_fSp7ImA9WhVUGEg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-900337576183345045</id><published>2012-03-19T17:19:00.004-07:00</published><updated>2012-05-24T02:16:41.045-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-05-24T02:16:41.045-07:00</app:edited><title>Terimalah Panggilan Sejarah, Mahasiswa Pemuda Pemimpin Strategis Bangsa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Adalah merupakan hak dan kewajiban serta tanggungjawab setiap
warga Negara untuk berfikir bebas, menyatakan pendapat tanpa rasa
takut, memperjuangkan keadilan, kebenaran, dan kemanusian dimuka bumi
ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak ada pantangan dan tekanan serta hambatan bagi setiap orang berpikir positif untuk bangsa dan negaranya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Bangsa ini telah terbagi menjadi rakyat kecil dan rakyat besar Rakyat
kecil merupakan bagian “terbesar”, sedangkan rakyat besar merupakan
bagian “terkecil”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rakyat besar yang merupakan bagian
terkecil bangsa ini telah menikmati segala-galanya dari hasil pasca
kemerdekaan Indonesia antara lain dalam bentuk KKN penguasa-pengusaha
dan pengusaha-penguasa, Negara ini telah mereka robah menjadi
NEGARA-MAFIA-KKN.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam masa kegelapan masa pasca
kemerdekaan Indonesia yang kembali bangsa berada dalam lilitan
penjajahan apa yang diperbuat oleh para waratsatul anbiya (Ulama dan
Kiayai)? Dan apa yang diperbuatnya dalam masa transisi pasca Orde Baru,
apa yang diperbuat oleh para cendikiawan muslim, para professor doctor
bidang ekonomi/hokum/social-politik dan kemasyarakatan, para pemimpin :
Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Gereja Katholik, Gereja Kristen
Protestan ?.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ditangan “mereka” yang tersebut diataslah
nasib bangsa ini terpetaruhkan, sadar maupun tidak sadar, mau atau
tidak mau, suka maupun tidak suka. Sejarah “menunjukannya” demikian,
terlepas hal ini mau disangkal atau tidak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yang sangat
menyedihkan adalah ternyata yang muncul sebagai pemimpin bangsa ini
adalah cukong dan/atau konglomerat karbitan sebagai mesin uang RRC.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Bangsa Apa Kita Ini ??&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Berbarengan dengan itu beroperasi pula tangan-tangan kapitalis dalam
sosok IMF, World Bank, ADB, dan IGGI/CGI. Kemunculan percukongan dan
tangan-tangan kapitalis tersebut merupakan pelaksanaan lapangan dari
suatu PERANG STRATEGI antara RRC versus Amerika Serikat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Remuklah bangsa ini dikerjain oleh dua raksasa itu.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Keremukan ini semakin menguat setelah keberhasilan “mereka” melancarkan
oprasi gergaji pembusukan dari dalam dengan operator-operator mereka
yang berhasil menguasai watak dan tingkah laku penguasa-penguasa
Triaspolitika beserta Tokoh-Tokoh Agama dan Masyarakat sehingga gerbang
pertahanan etika dan moral roboh tanpa pertahanan dimana Penguasa dan
Tokoh telah ditaklukan oleh Umara KKN atau Pejabat KKN maka mengalirlah
ayat fulus dikalangan generasi muda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dengan begitu telah
hancurlah benteng benteng PERTAHANAN MORAL dan mental bangsa, maka
merajalelalah percukongan, konglomerat karbitan peliharaan penguasa dan
tumbuhlah mental HIPOKRIT (Munafik) dan Jiwa OPORTUNIS di segala
lapisan masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Virus hipokrisi dan opportunistis telah
“merasuki” jiwa bangsa, hal mana telah sampai mempengaruhi “pandangan
hidup” generasi muda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Remuknya benteng pertahanan moral dan
mental bangsa ini meluncurkan kondisi Negara bangsa Indonesia berada
dalam situasi penjajahan yaitu Indonesia berada dipusaran perang
strategi dalam ancaman target Perang Moderen. Jadi bukan proses
DISENTEGRASI melaikan PENJAJAHAN dari hasil operasi intelijen dan
social politik serta penghancuran ekonomi, dari kekuatan-kekuatan 1 + 1
+ 1/2 +1/2 = AS + RRC + (Perancis + Jerman + Rusia) + (Inggris +
Belanda + Scandinavia + Australia).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rumus 1 + 1 + 1/2 +1/2 Inilah problem bangsa Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagaimana bisa mencapai kondisi (1 - 1) = (1/2 – 1/2)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
atau kondisi (1 + 1/2) =(1 + 1/2) atau (1 – 1/2) = (1 – 1/2)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Untuk itu sungguh-sungguh dibutuhkan seorang PEMIMPIN BANGSA. Dan
justru hal inilah yang tidak ada sejak Soekarno-Hatta-Sjahrir- Tan
Malaka pergi. Menyedihkan, tetapi itulah kenyataannya. Sepeninggalan
empat pemimpin terebut Indonesia engalam situasi hampa kepemimpinan
bangsa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan lebih menyedihkan lagi pada saat yang sama, bangsa
Indonesia mengalami HAMPA IDIOLOGI. Dua kehampaan ini sekaligus
datangnya, tetapi hanya sedikit anak bangsa ini yang sunggu-sungguh
menyadarinya. Bila datang prengisi kehampaan yang satu tanpa dibarengi
engan kehampaan yang satu lagi, itu berarti “pincang” bahwa bangsa ini
“olak-oleng” diterpa gelombang pukulan dari bangsa lain, dari system
kenegaraan lain, dari arus pemikiran opportunistis Internasional, dari
konsep-konsep pemikiran liar dan sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bangsa dan Negara ini membutuhkan “orang besar”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PEMIMPIN BANGSA dan IDIOLOGI BANGSA.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-900337576183345045?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/900337576183345045/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=900337576183345045' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/900337576183345045?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/900337576183345045?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/03/terimalah-panggilan-sejarah-mahasiswa.html' title='Terimalah Panggilan Sejarah, Mahasiswa Pemuda Pemimpin Strategis Bangsa'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;C0UNRnc-fCp7ImA9WhVUGEg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-1140102793268964723</id><published>2012-03-18T17:41:00.003-07:00</published><updated>2012-05-24T02:21:37.954-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-05-24T02:21:37.954-07:00</app:edited><title>Hiruk Pikuk Negeriku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Saudara-saudara beserta adek-adek ku Mahasiswa dan Pemuda.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Salam perjuangan sebangsa dan setanah air.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;Ketika
Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan BANGSA Indonesia, mungkin
tidak satu orang pun yang menyangka bahwa akan ada suatu periode yang
bernama Reformasi seperti saat ini, dan mungkin sangatlah terlalu jauh
dari jangkauan prediksi waktu itu bahwa Negara dan bangsa yang sudah
merdeka ini akan kembali berada dalam “PENJAJAHAN” dalam arti kwalitas
yang sangat menyakitkan.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebelum
kita masuk dalam penjelasan “PENJAJAHAN” rasanya saya perlu menjelaskan
sesuatu kepada adek-adek dan saudara ku sekalian. Bahwa kita sebagai
Negara merdeka berada dalam situasi “tawanan”, dimana setelah
kehancuran Uni Sovyet maka Negara-negara blok barat terutama Amerika
Serikat menjadi penguasa dunia. Pinjaman luar negeri, yang dipelesetkan
sebagai bantuan luar negeri telah menciptakan nuansa serta nilai-nilai
baru di kalangan pejabat Negara, kalangan pengusaha, kalangan politisi,
kalangan ilmuwan, dan sebagainya. Salah satu akibat langsung maupun
tidak langsung dari pengaruh Blok Barat yang kapitalistik itu adalah
terciptanya Golongan Ekonomi Lemah dan Golongan Ekonomi Kuat. Kondisi
ini berpengaruh kuat terhadap keadaan “tertawannya” Kemerdekaan
Indonesia karena kelanjutannya adalah alam KKN merajalela. Para
parvenue, tukang catut, kaum hipokrit, agen modal asing, agen intelejen
ekonomi asing bergemah ripah loh jinawi di atas penderitaan rakyat
mayoritas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Tetapi apakah semua orang menjadi mati rasa ? &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Atau menjadi penjilat menjadi budak modal asing, serta tunduk takluk kepada Amerika Serikat cs ?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Untuk
lebih mantap kita menempatkan diri baiklah sejenak kita pastikan bahwa
jatuhnya bung Karno tidak terlepas dari grand design serta campurtangan
Amerika Serikat dan Inggris. Jatuhnya Suharto tidak terlepas dari grand
design dan rekayasa CIA, MI-6, dengan penembakan di Trisakti serta
pembakaran, pemerkosaan, tindakan anarkis, perampokan, dan sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sehingga seharusnya menjadi jelas bagi kita apa itu alam reformasi dan diperkuat dengan alam demokrasi reformasi hari ini….?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Karena siapa yang berani menyangkal diantara kita bahwa :&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Alam
demokrasi reformasi telah berhasil mengikis dan melemahkan budaya KKN
(Korupsi, Kolusi dan Nepotime) yang menjadi pondasi dasar hancurnya
karakter bangsa sebagai bangsa yang berbudaya dan bersosial yang telah
ditanamkan dalam nilai-nilai Pancasila.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.&amp;nbsp;Alam
demokrasi telah menghancurkan tatanan nilai-nilai Jiwa Pembukaan UUD
1945 dengan melakukan Amandemen terhadap UUD 1945 sehingga kekisruhan
hukum dan politik terjadi bahkan berujung kepada hilangnya tata nilai
Bhineka Tunggal Ika dan eksistensi Negara Indonesia dalam bingkai
Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan alasan dan dilandasi
kesenjangan ekonomi yang kita tahu benar bahwa dampak akibat atonomi
daerah lebih kepada tumbuhnya raja-raja kecil dan terciptanya
wilayah-wilayah tergadaikan dalam investasi dan penanaman modal dengan
dasar pembangunan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Catatan kita tidak akan pernah
lupa dengan apa yang terjadi hari ini dengan Aceh atas nama demokrasi….
!!!, baru-baru ini dengan Irian Jaya atas kekayaan alam nya….!!! Dan
menanti beberapa daerah kambali yang bergejolak akibat pengelolahan
potensi sumber daya alam local….. sehingga menjadi pertanyaan besar
kita “ Desintegrasi atau kemerdekaan di dalam keterjajahan”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Alam
demokrasi reformasi telah menutup matanya terhadap laju gerak situsi
jurang perbedaan antara yang kaya dan yang miskin bertambah besar dalam
Republik tercinta ini yang sangat diperankan oleh gerak Negara-negara
kapitalis, neo kolonialis, dan imperialis gaya baru telah melancarkan
perang liberalisme dan perdagangan bebas terhadap kita serta
Negara-negara berkembang lainnya. Kita telah dicengkram oleh IMF, WTO,
ILO, Bank Dunia, embargo senjata, dan sebagainya. Bahkan kita semua
telah ditipu mentah-mentah oleh mesin quick count dilain itu alam
demokrasi reformasi juga membiarkan tanpa benteng pertahanan penguasa
kita dikuasai oleh cukong-cukong Cina, operasi suap cina, serta
dijadikan mesin uang RRC-Singapore-Hongkong-Taiwan. Keadaan inilah yang
semakin mejerumuskan katidak mampuan pertahanan ekonomi nasional
menjalankan peran dan fungsinya yang teramanatkan dalam nilai-nilai
Pancasila serta cita-cita Negara Indonesia merdeka yaitu Keadilan
Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. Alam
demokrasi reformasi tidak mampu membendung seluruh gerak operasi
intelejen asing yang telah berhasil menjadikan Indonesia sebagai Negara
yang penuh konflik, gerakan separatis dan tergedy-tragedy kemanusian
yang berbau sara. Sehingga situsi ini membuat peran Keamanan dan
Pertahanan yang di emban oleh TNI/POLRI tidak mampu berkutik menghadapi
ini karena tidak memiliki kekuatan hukum yang jelas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5.Total
Jendral alam demokrasi reformasi telah memporak porandakan empat pilar
eksistensi Negara Indonesia sebagai Negara merdeka yaitu hancurnya
nilai-nilai Pancasila, Pembukaan UUD 1945 serta batang tubuhnya UUD
1945, Bhineka Tunggal Ika dan eksistensi kesatuan Negara kita dalam
bingkai NKRI. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lima poin diatas
merupakan keperwakilan bahwa bangsa kita hari ini berada dalam
keterjajahan di akui ataupun tidak di akui walaupun semua kondisi lima
poin tadi menjadi sangat latent yang mudah dirasakan tapi sulit untuk
di akui, oleh karena itu situasi yang berkembang saat ini tidak
terputus dari rangkeyan lima poin diatas&amp;nbsp; dengan
mencuatnya kasus-kasus Bank Century, Gayus Tambunan, Susno Duaji,
Miranda Gultom dan Nazarudin yang memperlihatkan secara jelas seperti
apa Partai Demokrat hari ini serta kepemimpinan SBY, saya rasa public
sudah mampu mencerna kondisi ini ditambah lagi pernyataan Marjuki Ali
terhadap pembubaran KPK dan memaafkan koruptor yang sangat bertolak
belakang dengan pernyataan SBY “PALING DEPAN BERANTAS KORUPSI”. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Prediksi Perkembangan Situasi Menjelang 2014&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perkembangan
situasi menjelang 2014 menjadi perkembangan yang tidak menentu karena
perkembangan nasional sangat dipengaruhi oleh perkembangan
internasional hal ini disebabkan Pemerintahan demokrasi reformasi hari
ini banyak sekali meninggalkan PR yang dapat menimbulkan gejolak
situasi baik secara politik, ekonomi dan pertahanan keamanan. Kering
rasanya mulut kita bila kita membahas satu persatu PR pemerintahan hari
ini yang sangat berpotensi terhadap gejolak situasi menjelang 2014
tetapi yang jelas segela bentuk usaha yang sedang dilakukan oleh
pemerintah hari ini lebih tercium menjaga kelanggengan dan keamanan
kekuasaan pasca 2014 kondisi ini lah yang memperburuk citra dan
popularitas pemerintahan hari ini. Ini lah perkembangan situasi
nasional yang sangat mempengaruhi ketidak menentuan menjelang 2014.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dilain
sisi situasi Internasional baik secara langsung dan tidak langsung
merangsang situsi menjelang 2014 menjadi “peringatan” bagi pemerintahan
hari ini akan kelanggengannya sampai tahun 2014 karena situasi
Timur-Tengah yang bergejolak menjadikan bensin bagi beberapa pihak
kekuatan yang terbuka untuk memanfaatkan kepentingan dan kelompok
golongannya, begitu pula ini menjadi semangat kekuatan-kekuatan yang
tertimbun dalam api sekam untuk menyala dalam gerakannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Situasi
ini tidak ter-elakan dengan dikejutkannya peristiwa kerusuhhan yang
terjadi pada Negara Inggris karena hal ini menjadi momok tersendiri
bagi kerajaan Inggris sehingga menempatkan peran Inggris dalam
aktifitas melonggor keluar dan memperketat kedalam sehingga keadaan ini
berdampak kepada situasi gejolak Internasional dan Asia, yang terdekat
ini berdampak kepada Malasiya serta Singapore. RRC tahu benar bagaimana
dia harus berperan dalam kondisi situasi ini, sehingga hal ini
menempatkan Filipina menjadi penting bagi Amerika Serikat. Prediksi
situasi ini cepat atau lambat juga memperkuat bola salju situasi kepada
Indonesia dan tinggal lagi bagaimana “kita” mampu melihat manover gerak
Viatnam sebagai Negara tetangga kita menghadapi situasi gejolak ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Dampak Terhadap Kehidupan Bernegara dan Ber bangsa&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kembali
Indonesia berada di alam cobaannya sebagai Negara yang merdeka,
berdaulat dalam kesatuan NKRI dalam menghadapi perkembangan situasi
baik dalam negeri maupun luar negeri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dua
hal yang akan dihadapi Negara Indonesia sebagai Negara yang makmur atau
sebagai Negara yang gagal. Negara yang makmur adalah Negara yang secara
serius dan tulus Indonesia kembali kepada rel nya yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Menjunjung tinggi eksistensi Kemerdekaan Indonesia yang telah di Proklamirkan Kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Menegakkan Jiwa Pembukaan UUD 1945 sebagai filosofi dasar Negara-Bangsa yang berkedaulatan rakyat dalam bingkai NKRI.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Menjalankan sepenuhnya nilai-nilai Pancasila bukan hanya sebatas idiologi Negara tetapi juga sebagai falsafah bangsa&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. Atas
Kemerdekaannya Indonesia harus berdaulat di bidang politik, berdikari
di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Empat
pilar inilah yang akan membawa Negara Indonesia sebagai Negara yang
besar, aman dan makmur. Oleh karena itu perubahan boleh terjadi selama
perubahan itu membawa kembali Indonesia di dalam relnya. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apa
bila perubahan dan kesempatan situasi hanya menjadikan empat pilar
tersebut sebagai jargon perubahan maka bisa dipastikan Indonesia akan
meluncur sebagai Negara yang gagal dan tidak henti-hentinya kekacauan
akan terjadi karena sejarah telah mengajarkan kepada kita setiap dekade
orde setalah lahir Indonesia sebagai Negara Merdeka yaitu Orde Lama,
Orde Baru, Orde Reformasi, Orde Demokrasi Reformasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Penutup &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
saya kutipkan teks Pembukaan UUD 1945 untuk diresapi dan di jiwai oleh kita semua,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;TEKS PEMBUKAAN UUD 1945&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bahwa
sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab
itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai
dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan
perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat
yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke
depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka,
bersatu, berdaulat, adil dan makmur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Atas berkat
rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan
luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia
menyatakan dengan ini kemerdekaannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian
daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,
dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan
kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara
Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia
yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha
Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan
kerakyatan yang&amp;nbsp; dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rasanya
semua omongan saya tadi akan kehilangan roh dan makna jika disini saya
dan kita semua lupa menyatakan tegakkan empat pilar jati diri
Indonesia, perang terhadap koruptor. Target perang kita yang lain
adalah memusnakan kemiskinan dan kebodohan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Satu
hal lagi bahwa dalam situasi dan kondisi geo-politik, baik dihitungkan
pada tataran Internasional maupun posisi dalam peta bumi politik
nasional, bangsa, dan Negara :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Mahasiswa
dan Pemuda adalah kawan strategis saya, beserta seluruh
komponen-kompenen organisasi ke daerahan yang berbasiskan kebangsaan
terhadap &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;SEMANGAT FALSAFAH PANCASILA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PENEGAKKAN JIWA PEMBUKAAN UUD 1945&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;BHINEKA TUNGGAL IKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;MENJUNJUNG TINGGI KEUTUHAN NKRI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sekian. Terima kasih.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
TTD,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
ASRIL H. TANJUNG, S.IP&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
MAYOR JENDERAL TNI PURN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-vUr_Zl-ieHQ/T2aGjG9x1AI/AAAAAAAAACE/m5tZKlu2h9M/s1600/15547_173944786151_173936761151_3291934_3764452_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-vUr_Zl-ieHQ/T2aGjG9x1AI/AAAAAAAAACE/m5tZKlu2h9M/s320/15547_173944786151_173936761151_3291934_3764452_n.jpg" width="172" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-RMIH-v0_JZg/T2aGe-jUzTI/AAAAAAAAAB8/9Qx0Fc4m9fc/s1600/pasmar-1_16082011152802.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="269" src="http://4.bp.blogspot.com/-RMIH-v0_JZg/T2aGe-jUzTI/AAAAAAAAAB8/9Qx0Fc4m9fc/s320/pasmar-1_16082011152802.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-1140102793268964723?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/1140102793268964723/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=1140102793268964723' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/1140102793268964723?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/1140102793268964723?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/03/hiruk-pikuk-negeriku.html' title='Hiruk Pikuk Negeriku'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-vUr_Zl-ieHQ/T2aGjG9x1AI/AAAAAAAAACE/m5tZKlu2h9M/s72-c/15547_173944786151_173936761151_3291934_3764452_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;C0QHRX4ycCp7ImA9WhVUGEg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-6272451356404500019</id><published>2012-03-16T10:11:00.001-07:00</published><updated>2012-05-24T02:22:14.098-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-05-24T02:22:14.098-07:00</app:edited><title>Renungan KITA</title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;26 Maret 2012&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Seluruh Basis Sibuk untuk meyakinkan bahwa KUTIKA telah tiba... dan dengan sabar KITA mendengar ejekan serta cemooh sebagian mahasiswa mayoritas... kelompok pemimpi mau bergerak kembali.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Dengan sabar sambil membawa kardus dan selebaran pasukan Kaur Ka Ka Kha trus mensosialisasikan 27 Maret Mahasiswa Indonesia Telah Bersatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jam 17:00&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pasukan Kaur Ka Ka Kha menghitung berapa hasil penggalangan dana dan mengukur berapa istimasi masa untuk besok. Dengan satu yang lainnya memberi semangat Kaur Ka Ka Kha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Jam 21:00&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Seluruh Pasukan Kaur Ka Ka Kha tidur dalam kondisi yang tak nyenyak menanti sang fajar mengganti hari yaitu 27 Maret 2012.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;27 Maret 2012&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Menatap sang pagi sambil berbisik didalam hati secara hikmat "Bunda Relakan Darah Djuang Kami, Pada mu Kami Mengapdi" dengan hikmatnya tanpa sadar 2 mata kita menjadi basah mengingat kekejaman pemerintah yang telah menindas orang tua kita rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jam 09:00&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Berangkat kekampus dan terlibat aktif menggalang kekuatan untuk menuju titik berkumpulnya mahasiswa Indonesia bersatu&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;..........SELANJUTNYA.......&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Hanya Allah yang tahu......Tapi hari itu adalah hari janji ditepati yaitu :&lt;br /&gt;
Bersatunya barisan KAUR KA KA KHA yang disatukan dalam Pertautan Garis Ruh dalam perjalanan TRAH DAN FITRAHNYA....&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Yang di kemudian tahun menjadi cerita Kebanggaan Kesejarahan.....Karena Ratusan Pasukan &lt;b&gt;KAUR KA KA KHA&lt;/b&gt; menjadi gelombang Ribuan bahkan Jutaan &lt;b&gt;Pasukan KAUR KA KA KHA&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-6272451356404500019?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/6272451356404500019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=6272451356404500019' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/6272451356404500019?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/6272451356404500019?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/03/26-maret-2012-seluruh-basis-sibuk-untuk.html' title='Renungan KITA'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;C0MMQXY5cCp7ImA9WhVUGEg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-7327762273085541134</id><published>2012-03-15T06:55:00.001-07:00</published><updated>2012-05-24T02:24:40.828-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-05-24T02:24:40.828-07:00</app:edited><title>DOAKAN KAMI ORANG TUA “KU” RAKYAT INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div style="color: black;"&gt;
&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;
&lt;style&gt;
v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;
  &lt;o:RelyOnVML/&gt;
  &lt;o:AllowPNG/&gt;
 &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;
   &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;
   &lt;m:dispdef&gt;
   &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;
   &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;
   &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;
   &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;
   &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;
   &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;
  &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;
&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
 {font-family:Wingdings;
 panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
 mso-font-charset:2;
 mso-generic-font-family:auto;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}
@font-face
 {font-family:"Cambria Math";
 panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
 mso-font-charset:1;
 mso-generic-font-family:roman;
 mso-font-format:other;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}
@font-face
 {font-family:Calibri;
 panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:swiss;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
@font-face
 {font-family:"Lucida Handwriting";
 panose-1:3 1 1 1 1 1 1 1 1 1;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:script;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}
@font-face
 {font-family:"Berlin Sans FB";
 panose-1:2 14 6 2 2 5 2 2 3 6;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:swiss;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}
@font-face
 {font-family:"Bookman Old Style";
 panose-1:2 5 6 4 5 5 5 2 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:roman;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
 {mso-style-unhide:no;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 margin-top:0in;
 margin-right:0in;
 margin-bottom:10.0pt;
 margin-left:0in;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
 mso-ansi-language:EN-US;
 mso-fareast-language:EN-US;}
p
 {mso-style-priority:99;
 mso-margin-top-alt:auto;
 margin-right:0in;
 mso-margin-bottom-alt:auto;
 margin-left:0in;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:12.0pt;
 font-family:"Times New Roman","serif";
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
 mso-ansi-language:IN;
 mso-fareast-language:IN;}
.MsoChpDefault
 {mso-style-type:export-only;
 mso-default-props:yes;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
 {mso-style-type:export-only;
 margin-bottom:10.0pt;
 line-height:115%;}
@page Section1
 {size:8.5in 11.0in;
 margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
 mso-header-margin:.5in;
 mso-footer-margin:.5in;
 mso-paper-source:0;}
div.Section1
 {page:Section1;}
 /* List Definitions */
 @list l0
 {mso-list-id:3943021;
 mso-list-type:hybrid;
 mso-list-template-ids:-1018383024 69271575 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;}
@list l0:level1
 {mso-level-number-format:alpha-lower;
 mso-level-text:"%1\)";
 mso-level-tab-stop:none;
 mso-level-number-position:left;
 margin-left:1.0in;
 text-indent:-.25in;}
@list l1
 {mso-list-id:543056196;
 mso-list-type:hybrid;
 mso-list-template-ids:-1980206434 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;}
@list l1:level1
 {mso-level-tab-stop:none;
 mso-level-number-position:left;
 text-indent:-.25in;}
@list l2
 {mso-list-id:719598863;
 mso-list-type:hybrid;
 mso-list-template-ids:-1824629094 69271563 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557;}
@list l2:level1
 {mso-level-number-format:bullet;
 mso-level-text:;
 mso-level-tab-stop:none;
 mso-level-number-position:left;
 margin-left:1.5in;
 text-indent:-.25in;
 font-family:Wingdings;}
@list l3
 {mso-list-id:880215711;
 mso-list-type:hybrid;
 mso-list-template-ids:444116544 67698697 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l3:level1
 {mso-level-number-format:bullet;
 mso-level-text:;
 mso-level-tab-stop:none;
 mso-level-number-position:left;
 text-indent:-.25in;
 font-family:Wingdings;}
@list l4
 {mso-list-id:1161964047;
 mso-list-type:hybrid;
 mso-list-template-ids:1901877320 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;}
@list l4:level1
 {mso-level-tab-stop:none;
 mso-level-number-position:left;
 text-indent:-.25in;}
@list l5
 {mso-list-id:1714499487;
 mso-list-type:hybrid;
 mso-list-template-ids:1545488812 69271575 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;}
@list l5:level1
 {mso-level-number-format:alpha-lower;
 mso-level-text:"%1\)";
 mso-level-tab-stop:none;
 mso-level-number-position:left;
 margin-left:1.0in;
 text-indent:-.25in;}
ol
 {margin-bottom:0in;}
ul
 {margin-bottom:0in;}
--&gt;
&lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0in;
 mso-para-margin-right:0in;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0in;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
table.MsoTableGrid
 {mso-style-name:"Table Grid";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-priority:59;
 mso-style-unhide:no;
 border:solid black 1.0pt;
 mso-border-themecolor:text1;
 mso-border-alt:solid black .5pt;
 mso-border-themecolor:text1;
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-border-insideh:.5pt solid black;
 mso-border-insideh-themecolor:text1;
 mso-border-insidev:.5pt solid black;
 mso-border-insidev-themecolor:text1;
 mso-para-margin:0in;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;o:shapedefaults v:ext="edit" spidmax="1100"/&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;o:shapelayout v:ext="edit"&gt;
  &lt;o:idmap v:ext="edit" data="1"/&gt;
  &lt;o:rules v:ext="edit"&gt;
   &lt;o:r id="V:Rule1" type="connector" idref="#_x0000_s1042"/&gt;
   &lt;o:r id="V:Rule2" type="connector" idref="#_x0000_s1040"/&gt;
   &lt;o:r id="V:Rule3" type="connector" idref="#_x0000_s1044"/&gt;
   &lt;o:r id="V:Rule4" type="connector" idref="#_x0000_s1043"/&gt;
   &lt;o:r id="V:Rule5" type="connector" idref="#_x0000_s1041"/&gt;
   &lt;o:r id="V:Rule6" type="connector" idref="#_x0000_s1045"/&gt;
  &lt;/o:rules&gt;
 &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;

&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;DOAKAN KAMI ORANG TUA “KU” RAKYAT INDONESIA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;KARENA DOA MU ADALAH RAHMAT DARI-NYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;PUTRA-PUTRI MU&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;MAHASISWA PEMUDA PELAJAR INDONESIA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Surat telah kami sampaikan kepada mu orang tua ku
Rakyat Indonesia tertanggal 18 September 2011, dalam kesadaran penuh dan
mengemban tanggungjawab sikap Gerakan Kita terhadap Pemerintahan SBY-Budiono
yang tidak ada jalan lain harus segera dihentikan, karena Pemerintahan SBY-Budiono
telah menghianati kesejarahan eksistensi Indonesia Merdeka. Pesan telah kami
sampaikan selayaknya anak bangsa terdidik pada tanggal 20, 28 Oktober dan 10
November&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;2011, tapi yang kami terima
adalah kekerasan, dan kembali darah kami harus keluar dihari hari bersejarah
menuju Indonesia Merdeka yaitu Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kering sudah rasanya tenggorokan kita dan sudah
berbusa-busalah mulut kita dalam Gerakan Kita mengingatkan, dan menyampaikan
kepada Pemerintahan SBY-Budiono bahwa ada yang “SALAH” dan kesalahan yang
paling mendasar adalah penghianatan terhadap kesejarahan yang berarti penghianatan
kepada kakek, nenek kita yang telah gugur untuk menggapai Indonesia Merdeka.
“Penghianatan Kesejarahan Indonesia &lt;b&gt;berarti&lt;/b&gt;
Gelaplah sudah Kesejahtraan dan Keadilan bagi Rakyat Indonesia”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Keterpanggilan “KESEJARAHAN” Gerakan Kita hari ini merupakan
Renungan Dalam Cita-Cita dimana pada saat kami Mahasiswa, Pemuda dan Pelajar
Indonesia masih berbentuk janin dalam kandungan ibu, ibu berkata &lt;i&gt;“….Jadilah Anak yang berbakti kepada Negara
serta berguna untuk nusa dan bangsa sebagai bentuk kebanggaan orang tua..&lt;/i&gt; ”,
setelah berjuang selama 9 bulan dan ibu melahirkan kita ayah berkata “….&lt;i&gt;Jadilah Anak yang berbakti kepada Negara
serta berguna untuk nusa dan bangsa sebagai bentuk kebanggaan orang tua&lt;/i&gt;..”,
Tabungan yang telah dikumpulkan oleh jerih payah orang tua kita untuk
pendidikan kita bermulai dari TK, SD, SMP, SLTA dan Universitas semenjak
terhitung 6 s/d 23 tahun umur kita maka ada satu penanaman dasar yang sama dari
guru serta pengajar kita yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="left" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoTableGrid" style="border-collapse: collapse; border: medium none; margin-left: 6.75pt; margin-right: 6.75pt;"&gt;
 &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border: 1pt solid black; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div align="center" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tanggal Kesejarahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: black black black -moz-use-text-color; border-style: solid solid solid none; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;div align="center" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Keterangan Kesejarahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;17
  Agustus 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pembacaan
  Proklamasi oleh Bung Karno dijalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;18
  Agustus 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Panitia
  Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang dibentuk pada 7 Agustus 1945, menetapkan
  bahwa:1. Mengesahkan UUD 45 sebagai UUD RI.. 2. Memilih Ir Soekarno dan Drs
  Mohd. Hatta sebagai presiden dan wakil presiden. 3. Sebelum MPR terbentuk,
  presiden sementara dibantu oleh Komite Nasional.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;22
  Agustus 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;PPKI
  membentuk: 1. Komite Nasional 2. Partai Nasional Indonesia. 3. Badan Keamanan
  Rakyat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;29
  Agustus 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pelantikan
  Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dengan ketua Mr Kasman Singodimejo.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;31
  Agustus 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pemerintah
  menetapkan pekik perjuangan yang mulai berlaku 1 Sepetember 1945 yaitu pekik:
  “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;5
  Sepetember 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sultan
  Hamengkubuwono IX, menyatakan bahwa “Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat” yang
  bersifat kerajaan sebagai Daerah Istimewa dalam Negara Republik Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;19
  September 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di
  Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya terjadi insiden bendera, Karena beberapa
  orang Belanda menaikkan bendera merah putih biru di hotel tersebut yang
  menimbulkan kemarahan rakyat Surabaya. Rakyat merebut dan merobek bagian
  birunya menjadi hanya bendera Sang Saka Merah Putih tercinta.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;19
  September 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rapat
  Raksasa di-Lapangan Ikada, Jakarta untuk menyambut Proklamasi Kemerdekaan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;5
  Oktober 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pembentukan
  Tentara Keamanan Rakyat (TKR).&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;15
  Oktober 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sekitar
  30 km dari Semarang, 400 orang veteran AL Jepang dan 2000 orang dari batalion
  Jepang Kidobutai bersenjata lengkap memberontak dan bertempuir dengan rakyat
  dan TKR selama 5 hari. Sekitar 2000 rakyat Indonesia dan 100 orang Jepang
  tewas dalam pertempuran ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;b&gt;28
  Oktober 1945&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pos-pos
  tentara Sekutu di seluruh kota Surabaya, diserang oleh rakyat Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;10
  November 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pertempuran
  Surabaya pecah. Gugur beribu-ribu pejuang Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;17
  November 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pertemuan
  pertama antara RI, Belanda dan Sekutu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;21
  November 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pertempuran
  Ambarawa. TKR melawan Sekutu. Bantuan rakyat mengalir dari Yogyakarta,
  Surakarta, Salatiga, Purwekerto, Magelang, Semarang dan lain lain&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;12
  Desember 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pasukan
  Indonesia berhasil menghalau tentara Inggeris dari Ambarawa dan mereka mundur
  ke Semarang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;18
  Desember 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pengangkatan
  Kolonel Soedirman menjadi Jenderal Panglima Besar TKR.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;4
  Januari 1946&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Presiden
  dan Wakil Presiden Pindah Ke Yogya. Di akhir 1945 keamanan kota Jakarta
  semakin memburuk. Tentara Belanda kian meraja lela. Pendaratan pasukan
  marinir Belanda di Tanjung Priok pada 30 Desmber 1945 menambah gentingnya
  keadaan. Karena situasi yang terus memburuk di Jakarta, presiden dan wapres
  pindah ke Yogyakarta dan ibukota pindah ke Yogya. PM Syahrir sementara tetap
  di Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;23
  Maret 1946&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bandung
  Lautan Api. Kota Bandung Selatan dibakar oleh TRI setelah dengan berat hati
  mematuhi perintah Pemerintah RI untuk mengosongkan kota ini karena
  diultimatum oleh tentara Sekutu. Selain kota Bandung, di Jawa Barat terjadi
  pertempuran-pertempuran antara TRI melawan Sekutu dan NICA (Netherland Indies
  Civil Administration)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;7
  Oktober 1946.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Perundingan
  Indonesia – Belanda. Perundingan antara delegasi Indonesia dipimpin oleh PM
  Sutan Syahrir dan Belanda dipimpin oleh Prof. Schermerhorn di kediaman Konsul
  Jenderal Inggeris di Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;10
  November 1946&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Perundingan
  Linggajati. Dekat Cirebon. Antara Pemerintah RI dengan Komisi Umum Belanda
  dipimpin oleh Lord Killearn&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;1
  Januari 1947&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pertempuran
  Lima Hari Lima Malam di Palembang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;5
  Januari 1947&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pertempuran
  Laut di Teluk Cirebon. Tenggelamnya KRI Gajah Mada.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;25
  Maret 1947&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Penandatanganan
  Persetujuan Linggajati di Istana Rijswijk, sekarang Istana Negara.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;3
  Juni 1947&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Penetapan
  Presiden berdirinya Tentara Nasional Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;21
  Juli 1947&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Agresi
  Militer Belanda Pertama. (Dulu di Sekolah Rakyat tahun 50an diajarkan bahwa
  ini adalah Aksi Polisionil Belanda, seolah-olah penertiban oleh pemerintah
  Kerajaan Belanda pada pihak Indonesia yang mestinya sudah berdaulat dan
  merdeka).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;19
  Desember 1948&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Long
  March Divisi Siliwangi yang berada di Jawa Tengah, kembali ke Jawa Barat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;24
  Desember 1948&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Long
  March Siliwangi diserang oleh tentara Belanda di Kebumen.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black; border-style: none solid solid; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.7in;" valign="top" width="163"&gt;
  &lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;1
  Maret 1949&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td style="border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; border-style: none solid solid none; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 400.5pt;" valign="top" width="534"&gt;
  &lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Serangan
  Umum terhadap kota Yogya yang dikuasai Belanda.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div align="center" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kesejarahan ini lah yang menegaskan kita bahwa &lt;b&gt;penghianatan&lt;/b&gt; kesejarahan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;berarti &lt;i&gt;Gelaplah sudah Kesejahtraan dan Keadilan
bagi Rakyat Indonesia.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;
&lt;u&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;Maka kembali Gerakan Kita menegaskan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kesadaran Mahasiswa dan Pemuda sudah pada
puncaknya serta Kesabaran Mahasiswa dan Pemuda sudah pada batas akhirnya untuk
mengembalikan Indonesia kepada relnya yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Menjunjung
tinggi eksistensi Kemerdekaan Indonesia yang telah di Proklamirkan
Kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Menegakkan
Jiwa Pembukaan UUD 1945 sebagai filosofi dasar Negara-Bangsa yang berkedaulatan
rakyat dalam bingkai NKRI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Menjalankan
sepenuhnya nilai-nilai Pancasila bukan hanya sebatas idiologi Negara tetapi
juga sebagai falsafah bangsa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Atas
Kemerdekaannya Indonesia harus berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang
ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;Empat pilar inilah yang akan membawa Negara Indonesia
sebagai Negara yang besar, aman dan makmur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;Oleh karena itu, kehendak perubahanlah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;di dalam&lt;span&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;“&lt;b&gt;KESEJARAHAN&lt;/b&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;maka :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;PEMERINTAHAN SBY-BUDIONO&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;HARUS DIHENTIKAN dan PEMERINTAHAN TRANSISI
dalam KOMITE NASIONAL INDONESIA HARUS SEGERA DIBENTUK DENGAN PENGAWALAN
MAHASISWA PEMUDA SELAKU PEMIMPIN STRATEGIS BANGSA BERSAMA TNI-TENTARA RAKYAT
KEKUATAN STRATEGIS BANGSA YANG DIDUKUNG OLEH KEKUATAN RAKYAT ATAS RIDHO YANG
MAHA KUASA untuk membawa kembali Indonesia di dalam relnya:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 16pt; line-height: 150%;"&gt;Pemerintahan Transisi dalam bentuk Komite
Nasional Indonesia bertanggungjawab terhadap :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mengembalikan
Undang-Undang Dasar 1945 yang asli dan batalkan perubahan terhadap Pasal-Pasal
UUD 1945 yang telah terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Batalkan semua
“Undang-Undang penjajahan” yang telah ditelurkan oleh DPR susun Undang-Undang
pro bangsa dan negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Untuk itu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kumpulkan 100 atau
200 orang serjana Hukum dari berbagai jurusan dengan komposisi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;30%
Profesor-Doktor Hukum; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;30%
berpredikat S3 dan S2 dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;30%
dari praktisi hukum lainnya yang swasta diluar Pemerintahan; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;10%
Mahasiswa Pemuda aktifis yang disaring secara ketat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kumpulkan 100 orang
Profesor-Doktor bidang Ekonomi, Perbankan, Pertambangan, Pertanian, Lingkungan
Hidup, Kehutanan, Kelautan, Pertanahan, dsb. Kelompok Kerja ini bertitik berat
pada “PENYELAMATAN” Sumber Daya Alam dari penjajahan dan penjarahan bangsa
asing, kelompok a dan b bersinergi dan counter mengcounter setiap hari sampai
semua Undang-Undang Penjajahan itu bersih dari muka bumi Republik Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di luar kelompok a
dan b tersebut diatas, seluruh komponen masyarakat dan rakyat di seluruh daerah
harus membentuk “presurre group” untuk mendesak, mengontrol, menekan,
meng-inteli, mengamankan, dsb. Sampai Undang-Undang Penjajahan itu lenyap dari
muka bumi Republik Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tangkap dan Adili
seluruh Koruptor sebagai bentuk komitmen Pemerintahan Transisi terhadap
kehendak Kedaulatan Rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Membentuk suatu Badan
atau Lembaga Tinggi langsug dibawah Presiden pasca Pemerintahan Transisi yang
bekerja untuk menghadapi Perang Strategi secara setrategis untuk menghalau
bahaya pusaran Perang Modern terhadap Indonesia. Dengan itu Badan atau Lembaga
Tinggi ini bukan dibawah MENKO, Menteri, MABES TNI, BIN. Badan/Lembaga ini
harus “ber-hak” mendapatkan bahan apapun dari :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Seluruh Badan/lembaga
Eksekutif, Legislatif, Yudikatif diseluruh strata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;MABES TNI serta
MABES-MABES Angkatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;BIN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Organisasi-organisasi
apapun yang “hidup” di negeri ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Membentuk Badan
Intelejen Ekonomi yang berdiri sendiri dan “ber-hak” memperoleh
bahan-bahan/informasi dari Badan-Badan intel apapun yang sudah ada termasuk
dari BIN, dan aparatur ekonomi, keuangan, perbankan serta organisasi-organisasi
bergerak dibidang bisnis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" style="line-height: 150%; margin-left: 0.5in; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 16pt; line-height: 150%;"&gt;“SIKAP” TNI yang
positif mutlak diperlukan dalam hal ini sebagai wujud panggilan sejarah
selaku&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 16pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 16pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;TNI-Tentara &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 16pt; line-height: 150%;"&gt;R&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 16pt; line-height: 150%;"&gt;akyat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 16pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;KARENA GERAKAN
INI DILAKUKAN SEPENUHNYA ATAS DASAR MEMBAWA KEMBALI INDONESIA DI DALAM RELNYA
DENGAN KESEDARAN PENUH AKAN HAK DAN KONSTITUSI INDONESIA DENGAN BERPIJAKKAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;v&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;Menjunjung tinggi eksistensi
Kemerdekaan Indonesia yang telah di Proklamirkan Kemerdekaannya pada tanggal 17
Agustus 1945.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;v&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;Menegakkan Jiwa Pembukaan UUD
1945 sebagai filosofi dasar Negara-Bangsa yang berkedaulatan rakyat dalam
bingkai NKRI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;v&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;Menjalankan sepenuhnya
nilai-nilai Pancasila bukan hanya sebatas idiologi Negara tetapi juga sebagai
falsafah bangsa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;v&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;Atas Kemerdekaannya Indonesia
harus berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan
berkepribadian di bidang budaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="right" style="line-height: 150%; text-align: right;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;TTD&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="right" style="line-height: 150%; text-align: right;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt;MAHASISWA PEMUDA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt; PELAJAR&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;;"&gt; INDONESIA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&amp;nbsp;&lt;div style="color: black; text-align: right;"&gt;
(Putra - Putri Mu) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-7327762273085541134?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/7327762273085541134/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=7327762273085541134' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/7327762273085541134?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/7327762273085541134?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/03/doakan-kami-orang-tua-ku-rakyat.html' title='DOAKAN KAMI ORANG TUA “KU” RAKYAT INDONESIA'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DEACQ3k6eyp7ImA9WhVSGEw.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-2443827318170013556</id><published>2012-03-15T05:28:00.002-07:00</published><updated>2012-03-15T06:06:02.713-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-03-15T06:06:02.713-07:00</app:edited><title>Kesadaran Mahasiswa dan Pemuda sudah pada puncaknya</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-6Vpk5bkYvMc/T2Hf5LweHVI/AAAAAAAAAB0/O3b_BdrEFgA/s1600/karat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="186" src="http://4.bp.blogspot.com/-6Vpk5bkYvMc/T2Hf5LweHVI/AAAAAAAAAB0/O3b_BdrEFgA/s320/karat.jpg" width="320" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ckarat%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;
   &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;
   &lt;m:dispdef&gt;
   &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;
   &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;
   &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;
   &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;
   &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;
   &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;
  &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;
&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
 {font-family:"Cambria Math";
 panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
 mso-font-charset:1;
 mso-generic-font-family:roman;
 mso-font-format:other;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}
@font-face
 {font-family:Calibri;
 panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
 mso-font-charset:0;
 mso-generic-font-family:swiss;
 mso-font-pitch:variable;
 mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
 {mso-style-unhide:no;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 margin-top:0in;
 margin-right:0in;
 margin-bottom:10.0pt;
 margin-left:0in;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
 mso-ansi-language:EN-US;
 mso-fareast-language:EN-US;}
p
 {mso-style-priority:99;
 mso-margin-top-alt:auto;
 margin-right:0in;
 mso-margin-bottom-alt:auto;
 margin-left:0in;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:12.0pt;
 font-family:"Times New Roman","serif";
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
 mso-ansi-language:IN;
 mso-fareast-language:IN;}
.MsoChpDefault
 {mso-style-type:export-only;
 mso-default-props:yes;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:Calibri;
 mso-fareast-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
 {mso-style-type:export-only;
 margin-bottom:10.0pt;
 line-height:115%;}
@page Section1
 {size:8.5in 11.0in;
 margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
 mso-header-margin:.5in;
 mso-footer-margin:.5in;
 mso-paper-source:0;}
div.Section1
 {page:Section1;}
 /* List Definitions */
 @list l0
 {mso-list-id:543056196;
 mso-list-type:hybrid;
 mso-list-template-ids:-1980206434 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;}
@list l0:level1
 {mso-level-tab-stop:none;
 mso-level-number-position:left;
 text-indent:-.25in;}
ol
 {margin-bottom:0in;}
ul
 {margin-bottom:0in;}
--&gt;
&lt;/style&gt;

&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Kesadaran Mahasiswa dan Pemuda sudah pada puncaknya serta
Kesabaran Mahasiswa dan Pemuda sudah pada batas akhirnya untuk mengembalikan
Indonesia kepada relnya yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: black; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;1.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Menjunjung tinggi eksistensi Kemerdekaan
Indonesia yang telah di Proklamirkan Kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus
1945.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: black; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;2.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Menegakkan Jiwa Pembukaan UUD 1945 sebagai
filosofi dasar Negara-Bangsa yang berkedaulatan rakyat dalam bingkai NKRI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: black; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;3.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Menjalankan sepenuhnya nilai-nilai Pancasila
bukan hanya sebatas idiologi Negara tetapi juga sebagai falsafah bangsa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: black; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;4.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Atas Kemerdekaannya Indonesia harus berdaulat
di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang
budaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: black; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Empat pilar inilah yang akan membawa Negara Indonesia
sebagai Negara yang besar, aman dan makmur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: black; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;Oleh karena itu, kehendak perubahanlah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;di dalam&amp;nbsp; “&lt;b&gt;KESEJARAHAN&lt;/b&gt;”
&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;maka
:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: black; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: black; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="IN" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: black; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; PEMERINTAHAN
SBY-BUDIONO&amp;nbsp; HARUS DIHENTIKAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dan PEMERINTAHAN
TRANSISI dalam KOMITE NASIONAL INDONESIA HARUS SEGERA DIBENTUK DENGAN
PENGAWALAN MAHASISWA PEMUDA SELAKU PEMIMPIN STRATEGIS BANGSA BERSAMA
TNI-TENTARA RAKYAT KEKUATAN STRATEGIS BANGSA YANG DIDUKUNG OLEH KEKUATAN RAKYAT
ATAS RIDHO YANG MAHA KUASA untuk membawa kembali Indonesia di dalam re&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;l nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-2443827318170013556?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/2443827318170013556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=2443827318170013556' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/2443827318170013556?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/2443827318170013556?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/03/kesadaran-mahasiswa-dan-pemuda-sudah.html' title='Kesadaran Mahasiswa dan Pemuda sudah pada puncaknya'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-6Vpk5bkYvMc/T2Hf5LweHVI/AAAAAAAAAB0/O3b_BdrEFgA/s72-c/karat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;Ck4HRHw5cCp7ImA9WhVSFkU.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-6920577379504877786</id><published>2012-03-13T16:22:00.000-07:00</published><updated>2012-03-13T16:22:15.228-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-03-13T16:22:15.228-07:00</app:edited><title>Sikap Anak Bangsa</title><content type='html'>&lt;div style="color: black; text-align: center;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;PERNYATAAN SIKAP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; KONSOLIDASI NASIONAL MAHASISWA INDONESIA-JAKARTA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; KONAMI JAKARTA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; color: black; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-zhcaulGFYDo/T1_Vr12WZcI/AAAAAAAAABs/Fz843qBCFl0/s1600/konami+jakarta2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="235" src="http://2.bp.blogspot.com/-zhcaulGFYDo/T1_Vr12WZcI/AAAAAAAAABs/Fz843qBCFl0/s320/konami+jakarta2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" style="color: black;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;br /&gt; Mari kita renungkan sejenak “KUTIPAN” ini:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;
&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" style="color: black;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh
sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak
sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.&lt;br /&gt; Dan perjuangan
pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang
berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke
depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka,
bersatu, berdaulat, adil dan makmur.&lt;br /&gt; Atas berkat rahmat Allah Yang
Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya
berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan
dengan inikemerdekaannya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;b&gt;Kemudian daripada itu untuk membentuk
suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan
Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang
terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang
berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa,
kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;/b&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;
&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" style="color: black;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;br /&gt; (Teks Pembukaan UUD 1945)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Kutipan di atas merupakan Lembaran dan pernyataan yang syah di Negara
Republik Indonesia tercinta, artinya sangat dijunjung kebenaran sejarah
dan konstitusinya hal ini lah yang menjadi dasar strategis objektif
kenapa Gerakan Kita Mahasiswa Pemuda Indonesia kembali mengambil jalan
turun ke jalan dalam bentuk gerakkan ekstra parlementer dan menyatukan
tekat persatuan untuk menghentikan segera pemerintahan SBY-Boediono
yang telah dengan tegas menghinati jiwa dan roh kesejarahan Indonesia
yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;
&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" style="color: black;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;br style="font-weight: normal;" /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; 1. Menjunjung tinggi eksistensi Kemerdekaan Indonesia yang telah di Proklamirkan Kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-weight: normal;" /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; 2. Menegakkan Jiwa Pembukaan UUD 1945 sebagai filosofi dasar Negara-Bangsa yang berkedaulatan rakyat dalam bingkai NKRI.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-weight: normal;" /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; 3. Menjalankan sepenuhnya nilai-nilai Pancasila bukan hanya sebatas idiologi Negara tetapi juga sebagai falsafah bangsa&lt;/span&gt;&lt;br style="font-weight: normal;" /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
4. Atas Kemerdekaannya Indonesia harus berdaulat di bidang politik,
berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;
&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" style="color: black;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;br style="font-weight: normal;" /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
Dimana pernyataan ini merupakan bagian pandangan Propinsi yang telah
disampaikan di depan mimbar paripurna pertemuan Konsolidasi Nasional
Mahasiswa Indonesia di USNI-Jakarta (KONAMI) dengan pernytaan 21
Propinsi lainya sebagai dasar penguat &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;
&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" style="color: black;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;br /&gt; &lt;u&gt;MAKLUMAT MAHASISWA BERSATU UNTUK RAKYAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; MENGGUGAT SBY-BOEDIONO UNTUK MUNDUR DARI JABATANNYA DAN HARUS DI ADILI SEADIL ADIL NYA DAN MENCABUT MANDAT DPR MPR&lt;/u&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
Maklumat ini harus segera diwujudkan sebagai bentuk tanggungjawab
mahasiswa dan pemuda yang merupakan pengemban amanat penderitaan
rakyat, yang sebentar lagi dalam hitungan hari akan kembali menerima
beban “PENDERITAAN” yang berkepanjangan dengan niat pemerintah akan
menaikan BBM dan TDL maka dengan tegas Konsolidasi Nasioanal Mahasiswa
Indonesia Jakarta menyatakan sikap :&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;
&lt;ul style="color: black;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;  &lt;b&gt;MENGGUGAT SBY-BOEDIONO UNTUK MUNDUR DARI JABATANNYA DAN HARUS DI ADILI SEADIL ADIL NYA DAN MENCABUT MANDAT DPR MPR.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;ul style="color: black;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;
TOLAK KENAIKAN HARGA BBM DAN TDL SEBAGAI BENTUK SIKAP MELAWAN “BUNG
GUBERNUR JENDRAL BESERTA KOMPRADOR-KOMPRADORNYA”YANG TELAH MEMBAWA
KEMBALI INDONESIA DIDALAM KETERJAJAHAN INTERVENSI ASING.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;ul style="color: black;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;  MENGECAM TEGAS TINDAKAN POLRI YANG TELAH MELAKUKAN PENCULIKAN TERHADAP MAHASISWA UNHALU KENDARI.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" style="color: black;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;br /&gt; DIKELUARKAN OLEH :&lt;br /&gt; JAKARTA 12 MARET 2012&lt;br /&gt;
USNI, UMJ, UBK, UNAS, UNPAM, UKI, UMT, USAHID, UNSADA, UIJ, UIN, IISIP,
GUNADARMA, THAMRIN, STIKIP KN, STIT, BSI KRAMAT, BSI CIPULIR, UNINDRA,
JAGAT RI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-6920577379504877786?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/6920577379504877786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=6920577379504877786' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/6920577379504877786?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/6920577379504877786?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/03/sikap-anak-bangsa.html' title='Sikap Anak Bangsa'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-zhcaulGFYDo/T1_Vr12WZcI/AAAAAAAAABs/Fz843qBCFl0/s72-c/konami+jakarta2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CEUGR3k4eSp7ImA9WhVTF0g.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-1311449423431321423</id><published>2012-03-02T09:05:00.000-08:00</published><updated>2012-03-02T21:23:46.731-08:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-03-02T21:23:46.731-08:00</app:edited><title>LUPAKAH “KAU” BUNG PRESIDEN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-zPga56BXRQs/T1GquyVQCUI/AAAAAAAAABk/WG3FuyAF5ng/s1600/419829_340534452651605_100000851596347_949282_1910594142_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://3.bp.blogspot.com/-zPga56BXRQs/T1GquyVQCUI/AAAAAAAAABk/WG3FuyAF5ng/s320/419829_340534452651605_100000851596347_949282_1910594142_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;

&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;LUPAKAH “KAU” BUNG PRESIDEN KENAPA ADA SERANGAN UMUM 1 MARET 1949&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;Dengan ini Gerakan Kita Jarigan Garda Teritorial Republik &lt;a data-hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=1839973471" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1839973471" style="font-weight: normal;"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; (JAGAT RI) mengingatkan kepada “BUNG” yang telah menghianati kesejarahan Indonesia apa itu serangan umum 1 Maret 1949.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; “Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
Serangan yang dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap kota
Yogyakarta secara besar-besaran yang direncanakan dan dipersiapkan oleh
jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan
mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat
berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman, untuk membuktikan
kepada dunia internasional bahwa TNI - berarti juga Republik Indonesia
- masih ada dan cukup kuat, sehingga dengan demikian dapat memperkuat
posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan
Keamanan PBB dengan tujuan utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda
serta membuktikan pada dunia internasional bahwa Tentara Nasional
Indonesia (TNI) masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
Sekitar awal Februari 1948 di perbatasan Jawa Timur, Letkol. dr.
Wiliater Hutagalung - yang sejak September 1948 diangkat menjadi
Perwira Teritorial dan ditugaskan untuk membentuk jaringan pesiapan
gerilya di wilayah Divisi II dan III - bertemu dengan Panglima Besar
Sudirman guna melaporkan mengenai resolusi Dewan Keamanan PBB dan
penolakan Belanda terhadap resolusi tersebut dan melancarkan propaganda
yang menyatakan bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Melalui Radio Rimba Raya, Panglima Besar Sudirman juga telah mendengar berita tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
Panglima Besar Sudirman menginstruksikan untuk memikirkan
langkah-langkah yang harus diambil guna meng-counter propaganda Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
Hutagalung yang membentuk jaringan di wilayah Divisi II dan III, dapat
selalu berhubungan dengan Panglima Besar Sudirman, dan menjadi
penghubung antara Panglima Besar Sudirman dengan Panglima Divisi II,
Kolonel Gatot Subroto dan Panglima Divisi III, Kol. Bambang Sugeng. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
Pemikiran yang dikembangkan oleh Hutagalung adalah, perlu meyakinkan
dunia internasional terutama Amerika Serikat dan Inggris, bahwa Negara
Republik Indonesia masih kuat, ada pemerintahan (Pemerintah Darurat
Republik Indonesia – PDRI), ada organisasi TNI dan ada tentaranya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
Untuk membuktikan hal ini, maka untuk menembus isolasi, harus diadakan
serangan spektakuler, yang tidak bisa disembunyikan oleh Belanda, dan
harus diketahui oleh UNCI (United Nations Commission for Indonesia) dan
wartawan-wartawan asing untuk disebarluaskan ke seluruh dunia. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
Untuk menyampaikan kepada UNCI dan para wartawan asing bahwa Negara
Republik Indonesia masih ada, diperlukan pemuda-pemuda berseragam
Tentara Nasional Indonesia, yang dapat berbahasa Inggris, Belanda atau
Perancis. Panglima Besar Sudirman menyetujui gagasan tersebut dan
menginstruksikan Hutagalung agar mengkoordinasikan pelaksanaan gagasan
tersebut dengan Panglima Divisi II dan III.” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Jelas adanya
kenapa Serangan Umum 1 Maret 1949 itu dilakukan bahwa menunjukan dan
menyatakan kepada dunia Internasional Indonesia telah merdeka yang
telah dinyatakan pada tanggal 17 Agustus 1945 dari keterjajahan dan
sebagai bangsa yang dijajah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Dan bung presiden harus ingat
bahwa pada tanggal 18 Agustus 1945 disitulah ditetapkan Pembukaan UUD
1945 yang setiap alineanya memperjelas dan mempertegas tujuan kenapa
Indonesia Merdeka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Dan Gerakan Kita Jaringan Garda Teritorial
Republik Indonesia (JAGAT RI) tidak akan pernah melupakan demi tujuan
Indonesia Merdeka bahwa bukan hanya terjadi peristiwa serangan umum 1
Maret 1949 saja karena telah terjadi rangkeyan patriotic dari
leluhur-leluhur orang tua kakek kami yang juga telah gugur di
pertempuran heroik &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; di Medan (Medan Area, Oktober 1945), &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Palagan Ambarawa (12 – 15 Desember 1945), &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Bandung Lautan Api (April 1946),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Perang Puputan Margarana Bali (20 November 1946), Pertempuran 5 hari 5 malam di Palembang (1 – 5 Januari 1947) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
dan juga tidak melebihi semangat berjuang Divisi Siliwangi, ketika
melakukan long march, yaitu berjalan kaki selama sekitar dua bulan –
sebagian bersama keluarga mereka - dari Yogyakarta/Jawa Tengah ke Jawa
Barat, dalam rangka melancarkan operasi Wingate untuk melakukan perang
gerilya di Jawa Barat, setelah Belanda melancarkan Agresi II tanggal 19
Desember 1948. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Dan masih banyak lagi pertempuran heroik di
daerah lain. Hingga waktu itu, yang sangat menonjol dan dikenal oleh
rakyat Indonesia adalah perjuangan arek - arek Suroboyo pada
Pertempuran di Surabaya / Peristiwa 10 November 1945, yang
dimanifestasikan dengan pengukuhan tanggal 10 November sebagai Hari
Pahlawan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Kesejarahan ini lah menjadi modal dasar Gerakan Kita
hari ini dimana gerakan kita meyakini kebenaran akan kesejarahan menuju
Indonesia merdeka dengan satu tujuan yang termaktup di dalam Teks
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dan
Pembukaan UUD 1945, serta nilai-nilai PANCASILA dengan karenanya atas
kemerdekaan Indonesia harus berdaulat dibidang politik, berdikari di
bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; @. Lalu
apa hak “BUNG” Presiden menempatkan kembali Indonesia di dalam
keterjajahan apa pun itu alasannya karena gerakan kita diajarkan bahwa
posisi Presiden RI merupakan posisi yang mulia untuk menerima mandat
menjalankan tujuan Indonesia Merdeka, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; @. Lalu apa hak “BUNG”
Presiden merendahkan kedudukan Presiden RI hanya sebatas Gubernur
Jendral dan menjadikan perangkat jajaran “BUNG” hanya sebagai
komprador-komprador intervensi asing di Republik Indonesia ini yang
telah dinyatakan kemerdekaannya oleh Soekarno-Hatta atas nama Rakyat
Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; @. Dan catatan keras kami Gerakan Kita JAGAD RI :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Apa hak bung SBY menodai kesejarahan orang tua kami SARWO EDI yang merupakan satu diantara tokoh-tokoh bangsa kami.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
Kondisi ini lah maka menempatkan Kesadaran Gerakan Kita Mahasiswa dan
Pemuda sudah pada puncaknya serta Kesabaran Gerakan Kita Mahasiswa dan
Pemuda sudah pada batas akhirnya....Sebab sudah tidak ada jalan lain,
sehingga gerakan mahasiswa dan pemuda harus kembali turun kejalan dan
selanjutnya menyerahkan kepada kekuatan Yang Maha Kuasa untuk
menggerakan kekuatan kesadaran rakyat bersatu kembali membela dan
melindunggi Gerakan Kita Mahasiswa dan Pemuda yang menghendaki
Perubahan hakiki menuju Kedaulatan Kesejahtraan Rakyat seperti kehendak
hati kecil rakyat mengharapkan kesejatiaan kemerdekaan Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Karena siapa yang berani menyangkal diantara kita bahwa :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
1. Alam demokrasi reformasi tidak mampu mengikis dan melemahkan budaya
KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang menjadi pondasi dasar
hancurnya karakter bangsa sebagai bangsa yang berbudaya dan bersosial
yang telah ditanamkan dalam nilai-nilai Pancasila.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; 2. Alam
demokrasi telah menghancurkan tatanan nilai-nilai Jiwa Pembukaan UUD
1945 dengan melakukan Amandemen terhadap UUD 1945 sehingga kekisruhan
hukum, politik dan ekonomi terjadi terkhusus terhadap Pasal 33.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
Sehingga bahkan berujung kepada hilangnya tata nilai Bhineka Tunggal
Ika dan eksistensi Negara Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan
Republik Indonesia dengan alasan dan dilandasi kesenjangan ekonomi yang
kita tahu benar bahwa dampak akibat atonomi daerah lebih kepada
tumbuhnya raja-raja kecil dan terciptanya wilayah-wilayah tergadaikan
dalam investasi dan penanaman modal dengan dasar pembangunan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Ini
adalah hasi Perang Strategy dimana Indonesia berada dalam objek Perang
Modern yang sama sekali tidak diantisipasi oleh tokoh-tokoh atau
Pemimpin hari ini yang menjunjung tinggi alam Demokrasi Reformasi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Catatan kita  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
Tidak akan pernah lupa dengan apa yang terjadi hari ini dengan Aceh
atas nama demokrasi…. !!!, baru-baru ini dengan Irian Jaya atas
kekayaan alam nya….!!! Dan menanti beberapa daerah kambali yang
bergejolak akibat pengelolahan potensi sumber daya alam local…..
sehingga menjadi pertanyaan besar kita “ Desintegrasi atau kemerdekaan
di dalam keterjajahan”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; 3. Alam demokrasi reformasi telah
menutup matanya terhadap laju gerak situasi jurang perbedaan antara
yang kaya dan yang miskin bertambah besar dalam Republik tercinta ini
yang sangat diperankan oleh gerak Negara-negara kapitalis, neo
kolonialis, dan imperialis gaya baru telah melancarkan perang
liberalisme dan perdagangan bebas terhadap kita serta Negara-negara
berkembang lainnya. Kita telah dicengkram oleh IMF, WTO, ILO, Bank
Dunia, embargo senjata, dan sebagainya. Bahkan kita semua telah ditipu
mentah-mentah oleh mesin quick count dilain itu alam demokrasi
reformasi juga membiarkan tanpa benteng pertahanan penguasa kita
dikuasai oleh cukong-cukong Cina, operasi suap cina, serta dijadikan
mesin uang RRC-Singapore-Hongkong-Taiwan. Keadaan inilah yang semakin
mejerumuskan katidak mampuan pertahanan ekonomi nasional menjalankan
peran dan fungsinya yang teramanatkan dalam nilai-nilai Pancasila serta
cita-cita Negara Indonesia merdeka yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh
Rakyat Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Menjadi jelas dan tegas bahwa Indonesia berada
dalam pusaran Perang Strategy antara Blok RRC vs Blok AS sehinnga
Indonesia berada dalam cengkraman Perang Modern.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; 4. Alam
demokrasi reformasi tidak mampu membendung seluruh gerak operasi
intelejen asing yang telah berhasil menjadikan Indonesia sebagai Negara
yang penuh konflik, gerakan separatis dan tergedy-tragedy kemanusian
yang berbau sara. Sehingga situsi ini membuat peran Keamanan dan
Pertahanan yang di emban oleh TNI/POLRI tidak mampu berkutik menghadapi
ini karena tidak memiliki kekuatan hukum yang jelas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; 5. Total
Jendral alam demokrasi reformasi telah memporak porandakan empat pilar
eksistensi Negara Indonesia sebagai Negara merdeka yaitu hancurnya
nilai-nilai Pancasila, Pembukaan UUD 1945 serta batang tubuhnya UUD
1945, Bhineka Tunggal Ika dan eksistensi kesatuan Negara kita dalam
bingkai NKRI. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; &lt;b&gt;Maka kembali Gerakan Kita menegaskan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
Kesadaran Mahasiswa dan Pemuda sudah pada puncaknya serta Kesabaran
Mahasiswa dan Pemuda sudah pada batas akhirnya untuk mengembalikan
Indonesia kepada relnya yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; 1. Menjunjung tinggi eksistensi Kemerdekaan Indonesia yang telah di Proklamirkan Kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; 2. Menegakkan Jiwa Pembukaan UUD 1945 sebagai filosofi dasar Negara-Bangsa yang berkedaulatan rakyat dalam bingkai NKRI.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; 3. Menjalankan sepenuhnya nilai-nilai Pancasila bukan hanya sebatas idiologi Negara tetapi juga sebagai falsafah bangsa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
4. Atas Kemerdekaannya Indonesia harus berdaulat di bidang politik,
berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Empat pilar inilah yang akan membawa Negara Indonesia sebagai Negara yang besar, aman dan makmur. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Oleh karena itu, kehendak KESEJARAHANLAH maka :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Jaringan Garda Teritorial Republik Indonesia (JAGAT RI) menyatakan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; &lt;b&gt;* &lt;/b&gt;TURUNKAN  SBY-BUDIONO ADILI SEADIL-ADILNYA serta CABUT MANDAT DPR/MPR.  (Maklumat  Mahasiswa Bersatu untuk Rakyat –KONAMI- )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;br style="font-weight: normal;" /&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="font-weight: normal;" /&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;MENYERAHKAN MANDAT PENDERITAAN RAKYAT KEPADA MAHASISWA PEMUDA SELAKU PEMIMPIN STRATEGIS BANGSA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; “SIKAP” TNI yang positif mutlak diperlukan dalam hal ini sebagai wujud panggilan sejarah selaku     TNI-Tentara rakyat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
KARENA GERAKAN INI DILAKUKAN SEPENUHNYA ATAS DASAR MEMBAWA KEMBALI
INDONESIA DI DALAM RELNYA DENGAN KESEDARAN PENUH AKAN HAK DAN
KONSTITUSI INDONESIA DENGAN BERPIJAKKAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Menjunjung tinggi eksistensi Kemerdekaan Indonesia yang telah di Proklamirkan Kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Menegakkan Jiwa Pembukaan UUD 1945 sebagai filosofi dasar Negara-Bangsa yang berkedaulatan rakyat dalam bingkai NKRI.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Menjalankan sepenuhnya nilai-nilai Pancasila bukan hanya sebatas idiologi Negara tetapi juga sebagai falsafah bangsa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;
Atas Kemerdekaannya Indonesia harus berdaulat di bidang politik,
berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; 01 Maret 2012&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;

&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;                                                 &lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-1311449423431321423?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/1311449423431321423/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=1311449423431321423' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/1311449423431321423?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/1311449423431321423?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/03/lupakah-kau-bung-presiden.html' title='LUPAKAH “KAU” BUNG PRESIDEN'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-zPga56BXRQs/T1GquyVQCUI/AAAAAAAAABk/WG3FuyAF5ng/s72-c/419829_340534452651605_100000851596347_949282_1910594142_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DE8BRXY9eip7ImA9WhVTEEk.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-7490422719271334825</id><published>2012-02-23T17:25:00.000-08:00</published><updated>2012-02-23T17:27:34.862-08:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-23T17:27:34.862-08:00</app:edited><title>Surat Buat Ye</title><content type='html'>&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" style="font-weight: normal;"&gt;

&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;S&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;urat &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;B&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;uat &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Y&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;ee&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;
&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" style="font-weight: normal;"&gt;

&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;b style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;bu Pertiwi sekarang merintih sedih...&lt;br /&gt; &lt;b style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;egri ini terjajah kembali...&lt;br /&gt; &lt;b style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;engan dalih globalisasi...&lt;br /&gt;&lt;b style="color: black;"&gt;&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;b style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;O&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;toritas negara telah menjadi budak ... Hantu...&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;N&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;eoliberalisme dan Kapitalisme...&lt;br /&gt; &lt;b style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;E&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;ntah sudah berapa banyak energi dan kekayaan serta uang rakyat yang sudah di hisapnya...&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;S&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;ampai anak cucu bangsa ini menanggung derita...&lt;br /&gt; &lt;b style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;ngatlah... hey rezim Penguasa...&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;A&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;manat penderitaan negri ini...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;
&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" style="font-weight: normal;"&gt;

&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;D&lt;/span&gt;emokrasi liberal yang kamu anut sama dengan transaksional...&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;I&lt;/span&gt;nternasional paham-mu, sama dengan menjual diri untuk kepentingan asing...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;A&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;kal-akalan, adalah wujud dari GOMBALISASI di segala bidang...&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;M&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;unafik...&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;B&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;ohong kepada rakyat...&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;A&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;dalah citra yang kau bangun...!!!&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;N&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;egeri ini akan kau bawa kemana...???&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;G&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;enderang perang sudah di depan mata...!!!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;K&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;oalisi-koalisi dan Korupsi adalah menu makananmu sehari-hari...&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;E&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;ntah sampai kapan sandiwara ini kau ahiri...&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;H&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;anya Tuhan dan Rakyat Semesta yang dapat menghakimi...&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;A&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;kankah perubahan segera terjadi...???&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;N&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;iscaya Pasti Terjadi...!!!&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;C&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;oba Kau renungkan di lubuk hati yang paling dalam...&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;U&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;murmu tingal se umur jagung...&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;R&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;akyat sudah kesal, muak, dan marah...&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;A&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;kan segera melakukan Perlawanan dan....&lt;br /&gt; &lt;span style="color: black; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;N&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;antikan, di hari engkau telah ingkar janji kepada Rakyatmu...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;b style="color: black;"&gt;INDONESIA DI AMBANG KEHANCURAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-7490422719271334825?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/7490422719271334825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=7490422719271334825' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/7490422719271334825?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/7490422719271334825?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/02/surat-buat-ye.html' title='Surat Buat Ye'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CUADRX09fyp7ImA9WhRaGUk.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2846071874153429658.post-2850180636653288202</id><published>2012-02-22T10:03:00.002-08:00</published><updated>2012-02-22T12:49:34.367-08:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2012-02-22T12:49:34.367-08:00</app:edited><title>Surat Untuk Orang Tua Ku</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SURAT UNTUK ORANG TUA KU RAKYAT INDONESIA DAN TERIMALAH PANGGILAN SEJARAH MU WAHAI MAHASISWA DAN PEMUDA SERTA TNI-TENTARA RAKYAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;Kesadaran Gerakan Kita Mahasiswa dan Pemuda sudah pada puncaknya serta Kesabaran Gerakan Kita Mahasiswa dan Pemuda sudah pada batas akhirnya....Sebab sudah tidak ada jalan lain, sehingga gerakan mahasiswa dan pemuda harus kembali turun kejalan dan selanjutnya menyerahkan kepada kekuatan Yang Maha Kuasa untuk menggerakan kekuatan kesadaran rakyat bersatu kembali membela dan melindunggi Gerakan Kita Mahasiswa dan Pemuda yang menghendaki Perubahan hakiki menuju Kedaulatan Kesejahtraan Rakyat seperti kehendak hati kecil rakyat mengharapkan kesejatiaan kemerdekaan Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Karena siapa yang berani menyangkal diantara kita bahwa :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Alam demokrasi reformasi tidak mampu mengikis dan melemahkan budaya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang menjadi pondasi dasar hancurnya karakter bangsa sebagai bangsa yang berbudaya dan bersosial yang telah ditanamkan dalam nilai-nilai Pancasila.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Alam demokrasi telah menghancurkan tatanan nilai-nilai Jiwa Pembukaan UUD 1945 dengan melakukan Amandemen terhadap UUD 1945 sehingga kekisruhan hukum, politik dan ekonomi terjadi terkhusus terhadap Pasal 33. Sehingga bahkan berujung kepada hilangnya tata nilai Bhineka Tunggal Ika dan eksistensi Negara Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan alasan dan dilandasi kesenjangan ekonomi yang kita tahu benar bahwa dampak akibat atonomi daerah lebih kepada tumbuhnya raja-raja kecil dan terciptanya wilayah-wilayah tergadaikan dalam investasi dan penanaman modal dengan dasar pembangunan. Ini adalah hasi Perang Strategy dimana Indonesia berada dalam objek Perang Modern yang sama sekali tidak diantisipasi oleh tokoh-tokoh atau Pemimpin hari ini yang menjunjung tinggi alam Demokrasi Reformasi.&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="fbUnderline"&gt;&lt;em&gt;Catatan kita&lt;/em&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="fbUnderline"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;Tidak akan pernah lupa dengan apa yang terjadi hari ini dengan Aceh atas nama demokrasi…. !!!, baru-baru ini dengan Irian Jaya atas kekayaan alam nya….!!! Dan menanti beberapa daerah kambali yang bergejolak akibat pengelolahan potensi sumber daya alam local….. sehingga menjadi pertanyaan besar kita “ Desintegrasi atau kemerdekaan di dalam keterjajahan”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Alam demokrasi reformasi telah menutup matanya terhadap laju gerak situasi jurang perbedaan antara yang kaya dan yang miskin bertambah besar dalam Republik tercinta ini yang sangat diperankan oleh gerak Negara-negara kapitalis, neo kolonialis, dan imperialis gaya baru telah melancarkan perang liberalisme dan perdagangan bebas terhadap kita serta Negara-negara berkembang lainnya. Kita telah dicengkram oleh IMF, WTO, ILO, Bank Dunia, embargo senjata, dan sebagainya. Bahkan kita semua telah ditipu mentah-mentah oleh mesin quick count dilain itu alam demokrasi reformasi juga membiarkan tanpa benteng pertahanan penguasa kita dikuasai oleh cukong-cukong Cina, operasi suap cina, serta dijadikan mesin uang RRC-Singapore-Hongkong-Taiwan. Keadaan inilah yang semakin mejerumuskan katidak mampuan pertahanan ekonomi nasional menjalankan peran dan fungsinya yang teramanatkan dalam nilai-nilai Pancasila serta cita-cita Negara Indonesia merdeka yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Menjadi jelas dan tegas bahwa Indonesia berada dalam pusaran Perang Strategy antara Blok RRC vs Blok AS sehinnga Indonesia berada dalam cengkraman Perang Modern.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Alam demokrasi reformasi tidak mampu membendung seluruh gerak operasi intelejen asing yang telah berhasil menjadikan Indonesia sebagai Negara yang penuh konflik, gerakan separatis dan tergedy-tragedy kemanusian yang berbau sara. Sehingga situsi ini membuat peran Keamanan dan Pertahanan yang di emban oleh TNI/POLRI tidak mampu berkutik menghadapi ini karena tidak memiliki kekuatan hukum yang jelas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Total Jendral alam demokrasi reformasi telah memporak porandakan empat pilar eksistensi Negara Indonesia sebagai Negara merdeka yaitu hancurnya nilai-nilai Pancasila, Pembukaan UUD 1945 serta batang tubuhnya UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan eksistensi kesatuan Negara kita dalam bingkai NKRI.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Maka kembali Gerakan Kita menegaskan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;Kesadaran Mahasiswa dan Pemuda sudah pada puncaknya serta Kesabaran Mahasiswa dan Pemuda sudah pada batas akhirnya untuk mengembalikan Indonesia kepada relnya yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Menjunjung tinggi eksistensi Kemerdekaan Indonesia yang telah di Proklamirkan Kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Menegakkan Jiwa Pembukaan UUD 1945 sebagai filosofi dasar Negara-Bangsa yang berkedaulatan rakyat dalam bingkai NKRI.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Menjalankan sepenuhnya nilai-nilai Pancasila bukan hanya sebatas idiologi Negara tetapi juga sebagai falsafah bangsa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Atas Kemerdekaannya Indonesia harus berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;Empat pilar inilah yang akan membawa Negara Indonesia sebagai Negara yang besar, aman dan makmur. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;Oleh karena itu, kehendak perubahanlah maka :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;PEMERINTAHAN SBY-BUDIONO &lt;span&gt; &lt;/span&gt;HARUS DIHENTIKAN dan PEMERINTAHAN TRANSISI dalam KOMITE NASIONAL INDONESIA HARUS SEGERA DIBENTUK DENGAN PENGAWALAN MAHASISWA PEMUDA SELAKU PEMIMPIN STRATEGIS BANGSA BERSAMA TNI-TENTARA RAKYAT KEKUATAN STRATEGIS BANGSA YANG DIDUKUNG OLEH KEKUATAN RAKYAT ATAS RIDHO YANG MAHA KUASA untuk membawa kembali Indonesia di dalam relnya:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Pemerintahan Transisi dalam bentuk Komite Nasional Indonesia bertanggungjawab terhadap :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Mengembalikan Undang-Undang Dasar 1945 yang asli dan batalkan perubahan terhadap Pasal-Pasal UUD 1945 yang telah terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Batalkan semua “Undang-Undang penjajahan” yang telah ditelurkan oleh DPR susun Undang-Undang pro bangsa dan negara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;Untuk itu :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kumpulkan 100 atau 200 orang serjana Hukum dari berbagai jurusan dengan komposisi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;30% Profesor-Doktor Hukum; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;30% berpredikat S3 dan S2 dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;30% dari praktisi hukum lainnya yang swasta diluar Pemerintahan; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;10% Mahasiswa Pemuda aktifis yang disaring secara ketat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kumpulkan 100 orang Profesor-Doktor bidang Ekonomi, Perbankan, Pertambangan, Pertanian, Lingkungan Hidup, Kehutanan, Kelautan, Pertanahan, dsb. Kelompok Kerja ini bertitik berat pada “PENYELAMATAN” Sumber Daya Alam dari penjajahan dan penjarahan bangsa asing, kelompok a dan b bersinergi dan counter mengcounter setiap hari sampai semua Undang-Undang Penjajahan itu bersih dari muka bumi Republik Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Di luar kelompok a dan b tersebut diatas, seluruh komponen masyarakat dan rakyat di seluruh daerah harus membentuk “presurre group” untuk mendesak, mengontrol, menekan, meng-inteli, mengamankan, dsb. Sampai Undang-Undang Penjajahan itu lenyap dari muka bumi Republik Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Tangkap dan Adili seluruh Koruptor sebagai bentuk komitmen Pemerintahan Transisi terhadap kehendak Kedaulatan Rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Membentuk suatu Badan atau Lembaga Tinggi langsug dibawah Presiden pasca Pemerintahan Transisi yang bekerja untuk menghadapi Perang Strategi secara setrategis untuk menghalau bahaya pusaran Perang Modern terhadap Indonesia. Dengan itu Badan atau Lembaga Tinggi ini bukan dibawah MENKO, Menteri, MABES TNI, BIN. Badan/Lembaga ini harus “ber-hak” mendapatkan bahan apapun dari :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Seluruh Badan/lembaga Eksekutif, Legislatif, Yudikatif diseluruh strata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;MABES TNI serta MABES-MABES Angkatan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;BIN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;d)&lt;span&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Organisasi-organisasi apapun yang “hidup” di negeri ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Membentuk Badan Intelejen Ekonomi yang berdiri sendiri dan “ber-hak” memperoleh bahan-bahan/informasi dari Badan-Badan intel apapun yang sudah ada termasuk dari BIN, dan aparatur ekonomi, keuangan, perbankan serta organisasi-organisasi bergerak dibidang bisnis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;“SIKAP” TNI yang positif mutlak diperlukan dalam hal ini sebagai wujud panggilan sejarah selaku &lt;span&gt;    &lt;/span&gt;TNI-Tentara rakyat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;KARENA GERAKAN INI DILAKUKAN SEPENUHNYA ATAS DASAR MEMBAWA KEMBALI INDONESIA DI DALAM RELNYA DENGAN KESEDARAN PENUH AKAN HAK DAN KONSTITUSI INDONESIA DENGAN BERPIJAKKAN&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Menjunjung tinggi eksistensi Kemerdekaan Indonesia yang telah di Proklamirkan Kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Menegakkan Jiwa Pembukaan UUD 1945 sebagai filosofi dasar Negara-Bangsa yang berkedaulatan rakyat dalam bingkai NKRI.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Menjalankan sepenuhnya nilai-nilai Pancasila bukan hanya sebatas idiologi Negara tetapi juga sebagai falsafah bangsa&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Atas Kemerdekaannya Indonesia harus berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;TTD&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;MAHASISWA PEMUDA INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;(PUTRA-PUTRI MU)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2846071874153429658-2850180636653288202?l=cungkring-umj.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/feeds/2850180636653288202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2846071874153429658&amp;postID=2850180636653288202' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/2850180636653288202?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2846071874153429658/posts/default/2850180636653288202?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cungkring-umj.blogspot.com/2012/02/surat-untuk-orang-tua-ku-rakyat.html' title='Surat Untuk Orang Tua Ku'/><author><name>__CunG__</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06305559041059445248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_lA-cXPz7PFc/SB7grmAoVII/AAAAAAAAAAM/SNF8-HBLYN8/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>