<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Blog Abu Furqan</title>
	
	<link>http://abufurqan.com</link>
	<description>Meniti Jalan Para Ulama</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 May 2012 03:20:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/abufurqan" /><feedburner:info uri="abufurqan" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>abufurqan</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Dunia yang Melenakan atau Akhirat yang Abadi?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/CdeexmZkGnE/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/05/02/dunia-yang-melenakan-atau-akhirat-yang-abadi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 00:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikrah]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat yang abadi]]></category>
		<category><![CDATA[dunia yang melenakan]]></category>
		<category><![CDATA[fikrah]]></category>
		<category><![CDATA[neraka]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1524</guid>
		<description><![CDATA[Beruntunglah –keberuntungan yang tak akan ada kerugian lagi setelahnya– orang yang menggunakan waktunya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah ta’ala, dan merugi besarlah orang yang menghabiskan waktunya dalam kubangan kemaksiatan. Inilah makna surah al-‘Ashr yang bisa saya pahami. Keberuntungan yang tiada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/05/awan.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1525" title="awan" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/05/awan-300x201.jpg" alt="" width="240" height="161" /></a>Beruntunglah –keberuntungan yang tak akan ada kerugian lagi setelahnya– orang yang menggunakan waktunya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah ta’ala, dan merugi besarlah orang yang menghabiskan waktunya dalam kubangan kemaksiatan. Inilah makna surah al-‘Ashr yang bisa saya pahami.</p>
<p style="text-align: left;">Keberuntungan yang tiada henti, tentulah merupakan harapan dan keinginan semua orang. Bayangkan jika di pagi hari saat Anda bangun tidur, Anda dapat hadiah dari seseorang, barang yang sebelumnya sangat Anda harap-harapkan. Siangnya, Anda ditraktir oleh teman, makan siang di restoran mahal yang menyajikan banyak makanan yang sesuai dengan selera Anda. Sorenya Anda kembali dapat hadiah dari seseorang, sebuah mobil yang Anda idam-idamkan. Malamnya, ada teman yang menghubungi Anda, mengajak Anda dan keluarga besar Anda umrah bersamanya, gratis. Dan, besoknya serta hari-hari setelahnya, Anda terus mendapatkan  berbagai dan beragam kejutan yang membahagiakan, tanpa henti. Adakah kenikmatan hidup yang melebihi hal tersebut?</p>
<p style="text-align: left;">Sebaliknya, kesengsaraan yang terus-menerus tentu ingin dihindari oleh setiap orang. Tak ada orang yang ingin dirinya dihinakan, fisiknya disiksa terus-menerus, dan ia tak punya kesempatan untuk membela diri. Coba tanyakan ke siapapun yang pernah masuk penjara, dan diperlakukan tak manusiawi, bersediakah mereka mengulangi pengalaman yang tak mengenakkan tersebut? Jawabannya tentu tidak bersedia. Lalu, bagaimana jika Anda diancam untuk masuk ke dalam penjara besar, yang isinya hanya siksaan, tak ada kenikmatan di dalamnya, tak ada kesempatan untuk melarikan diri dari penjara tersebut, dan yang paling mengerikan, Anda akan mengalaminya dalam jangka waktu yang sangat lama? Bersediakah Anda masuk ke dalam penjara besar tersebut?<br />
<span id="more-1524"></span></p>
<p style="text-align: left;">Keberuntungan yang tiada henti dan kebalikannya, kesengsaraan yang terus-menerus, memang tak akan kita temui di dunia yang fana ini. Namun, salah satunya benar-benar akan kita temui, di kehidupan pasca dunia. Pasca dunia, pilihan kita hanya dua, keberuntungan dan kebahagiaan yang tiada henti, atau kesengsaraan dan penderitaan yang terus-menerus. Tinggal kita mau pilih yang mana.</p>
<p style="text-align: left;">Normalnya, tak ada satupun yang akan memilih kesengsaraan dan penderitaan, semua tentu ingin mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan. Sayangnya, ternyata tak banyak yang bisa bersabar untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut. Mereka lebih memilih kenikmatan semu, yang sebenarnya akan menjerumuskan mereka dalam kesengsaraan abadi, dibanding bersabar sebentar, sakit dan pedih hati sebentar, namun setelahnya mereka akan beruntung dan bahagia selamanya. Ya, neraka, tempat siksaan abadi, ternyata berhiaskan jutaan kenikmatan semu yang melenakan manusia. Sedangkan surga, tempat paling indah dan paling membahagiakan, dihiasi oleh kesulitan hidup dan cibiran manusia, yang seandainya setiap orang bisa sabar sementara waktu menerima hal tersebut, tentu ia akan meraih surga.</p>
<p style="text-align: left;">Jalan ke surga sudah sangat jelas. <a href="http://abufurqan.com/2012/04/02/menghindari-kerusakan-dan-kebinasaan/" target="_blank">Al-‘Ashr dengan 3 ayat pendeknya</a> telah menunjukkannya kepada kita. Kita cukup beriman, beramal shalih, taat pada Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya, Allah akan memberikan surga kepada kita. Dan jika kita melakukan sebaliknya, neraka tempat kembali kita. Begitu simpel. Namun ternyata tak banyak manusia yang sanggup menahan diri dari godaan dunia. Dunia, yang fana, serba terbatas, dan menipu, ternyata lebih dipilih oleh kebanyakan kita, dibanding akhirat, kehidupan sebenarnya nan abadi. <em>Na’udzubillahi min dzaalik</em>.</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2012/03/18/adakah-bidah-hasanah/" title="Adakah Bid&#8217;ah Hasanah?">Adakah Bid&#8217;ah Hasanah?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/11/beberapa-sikap-ilmiah-dalam-pengkajian-pemikiran-islam/" title="Beberapa Sikap Ilmiah dalam Pengkajian Pemikiran Islam">Beberapa Sikap Ilmiah dalam Pengkajian Pemikiran Islam</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/02/makna-rahmatan-lil-aalamiin-antara-pluralisme-dan-islam/" title="Makna Rahmatan Lil ‘Aalamiin, Antara Pluralisme dan Islam">Makna Rahmatan Lil ‘Aalamiin, Antara Pluralisme dan Islam</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/01/islam-adalah-diin-yang-sempurna/" title="Islam adalah Diin yang Sempurna">Islam adalah Diin yang Sempurna</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/12/perbedaan-ushul-fiqih-melahirkan-perbedaan-fiqih-antar-mujtahid/" title="Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid">Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/12/29/mengkaji-posisi-madzhab-fiqih-dalam-peradaban-keilmuan-islam-dulu-dan-sekarang/" title="Mengkaji Posisi Madzhab Fiqih dalam Peradaban Keilmuan Islam, Dulu dan Sekarang">Mengkaji Posisi Madzhab Fiqih dalam Peradaban Keilmuan Islam, Dulu dan Sekarang</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/26/khilafah-kewajiban-yang-terlupakan/" title="Khilafah, Kewajiban yang Terlupakan">Khilafah, Kewajiban yang Terlupakan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/22/haruskah-kita-bangga-menjadi-orang-indonesia/" title="Haruskah Kita Bangga Menjadi Orang Indonesia?">Haruskah Kita Bangga Menjadi Orang Indonesia?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/16/waspadalah-terhadap-tipu-daya-dunia/" title="Waspadalah Terhadap Tipu Daya Dunia!">Waspadalah Terhadap Tipu Daya Dunia!</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/27/khilafah-menurut-haji-sulaiman-rasjid/" title="Khilafah Menurut Haji Sulaiman Rasjid">Khilafah Menurut Haji Sulaiman Rasjid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/22/kewajiban-menaati-rasulullah-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam-dalam-perintah-dan-larangan/" title="Kewajiban Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam Perintah dan Larangan">Kewajiban Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam Perintah dan Larangan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/17/perlukah-negara-islam/" title="Perlukah Negara Islam?">Perlukah Negara Islam?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/06/jangan-tertipu-dengan-dukungan-mayoritas/" title="Jangan Tertipu dengan Dukungan Mayoritas">Jangan Tertipu dengan Dukungan Mayoritas</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/08/19/%d8%a3%d9%88%d8%b5%d8%a7%d9%81%d9%8f-%d9%84%d9%8a%d9%84%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d9%82%d8%af%d8%b1/" title="أوصافُ ليلة القدر">أوصافُ ليلة القدر</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/21/menggugat-pluralisme-3-memelintir-makna-surah-al-baqarah-ayat-256/" title="Menggugat Pluralisme [3]: Memelintir Makna Surah Al-Baqarah Ayat 256">Menggugat Pluralisme [3]: Memelintir Makna Surah Al-Baqarah Ayat 256</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/19/menggugat-pluralisme-2-mematikan-truth-claim-menghidupkan-kebimbangan/" title="Menggugat Pluralisme [2]: Mematikan &#8216;Truth Claim&#8217;, Menghidupkan Kebimbangan">Menggugat Pluralisme [2]: Mematikan &#8216;Truth Claim&#8217;, Menghidupkan Kebimbangan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/16/menggugat-pluralisme-1-kesalahan-tafsir-surah-al-baqarah-62/" title="Menggugat Pluralisme [1]: Kesalahan Tafsir Surah Al-Baqarah 62">Menggugat Pluralisme [1]: Kesalahan Tafsir Surah Al-Baqarah 62</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/06/6-ghibah-yang-diperbolehkan/" title="6 Ghibah yang Diperbolehkan">6 Ghibah yang Diperbolehkan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/01/syukur/" title="Syukur">Syukur</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/19/5-karakter-muslim-sejati-bagian-kedua/" title="5 Karakter Muslim Sejati [bagian kedua]">5 Karakter Muslim Sejati [bagian kedua]</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/CdeexmZkGnE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/05/02/dunia-yang-melenakan-atau-akhirat-yang-abadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/05/02/dunia-yang-melenakan-atau-akhirat-yang-abadi/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Menghindari Kerusakan dan Kebinasaan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/PBODaw7BdYw/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/04/02/menghindari-kerusakan-dan-kebinasaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2012 00:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[al-'ashr]]></category>
		<category><![CDATA[surah al-'ashr]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1517</guid>
		<description><![CDATA[Dalam surah al-&#8217;Ashr ayat 1-3, Allah jalla wa &#8216;alaa berfirman: والعصر . إن الإنسان لفي خسر . إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر Artinya: &#8220;Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/04/والعصر.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1519" title="والعصر" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/04/والعصر-300x212.jpg" alt="" width="259" height="184" /></a>Dalam surah al-&#8217;Ashr ayat 1-3, Allah jalla wa &#8216;alaa berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>والعصر . إن الإنسان لفي خسر . إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih serta saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">Menurut Imam Ibn Katsir rahimahullah di kitab tafsir beliau, pada ayat di atas, Allah ta&#8217;ala bersumpah bahwa sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerusakan dan kebinasaan (<em>khasaarah wa halaak</em>). Menurut Imam al-Baidhawi rahimahullah di kitab tafsir beliau, <em>alif lam ma&#8217;rifah</em> pada kata <em>al-insan</em> menunjukkan jenis (<em>lil jins</em>), artinya untuk seluruh manusia. Sedangkan <em>nakirah</em> pada kata <em>khusrin</em> adalah <em>lit ta&#8217;zhiim</em>, artinya menunjukkan begitu besarnya kerugian yang akan didapatkan.</p>
<p style="text-align: left;">Bisa kita simpulkan, mengikuti pendapat dua imam mufassir, di ayat pertama dan kedua di atas, Allah ta&#8217;ala bersumpah bahwa seluruh manusia benar-benar akan mendapatkan kerugian yang teramat besar, kerusakan dan kebinasaan.</p>
<p style="text-align: left;">Ayat ketiga merupakan pengecualiannya. Allah subhanahu wa ta&#8217;ala mengecualikan orang-orang yang beriman, beramal shalih, dan saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran dari ancaman kebinasaan di ayat kedua.<br />
<span id="more-1517"></span></p>
<p style="text-align: left;">Imam Ibn Katsir rahimahullah menyatakan bahwa beriman kepada Allah ta&#8217;ala dan beramal shalih maksudnya adalah mengimani Allah ta&#8217;ala dalam hati, dan mengerjakan amal shalih dengan anggota badan mereka. Imam ath-Thabari rahimahullah dalam kitab tafsir beliau menyatakan bahwa maksud <em>alladziina aamanuu wa &#8216;amilush shaalihaat</em> adalah membenarkan dan mentauhidkan Allah ta&#8217;ala, mengakui keesaan dan kewajiban taat kepada-Nya, beramal shalih, menunaikan segala yang diwajibkan oleh Allah ta&#8217;ala atas mereka, dan menjauhi seluruh yang dilarang-Nya.</p>
<p style="text-align: left;">Imam ath-Thabari rahimahullah menafsirkan frase <em>tawaashau bil haqq</em> dengan saling berwasiat untuk selalu beramal berdasarkan perintah yang telah diturunkan oleh Allah dalam Kitab-Nya, dan menjauhi apapun yang dilarang-Nya dalam Kitab-Nya. Beliau juga mengutip pernyataan dua imam tabi&#8217;in, Qatadah dan Hasan al-Bashri –rahmatullahi &#8216;alaihima–, bahwa yang dimaksud dengan <em>al-haqq</em> dalam ayat ini adalah Kitabullah.</p>
<p style="text-align: left;">Untuk frase <em>tawaashau bish shabr</em>, imam ath-Thabari rahimahullah menafsirkannya dengan saling berwasiat untuk bersabar dalam beramal ketaatan kepada Allah. Untuk frase ini, beliau juga mengutip pernyataan imam Qatadah dan Hasan al-Bashri –rahimahumaLlah–, bahwa yang dimaksud dengan <em>ash-shabr</em> dalam ayat ini adalah ketaatan kepada Allah.</p>
<p style="text-align: left;">Dari penjelasan mufassir terhadap surah al-&#8217;Ashr di atas, bisa kita simpulkan bahwa untuk menyelamatkan diri kita dari kerusakan dan kebinasaan, dari kerugian yang teramat besar, di dunia dan akhirat, maka kita wajib mentauhidkan Allah ta&#8217;ala, menunaikan segala yang diwajibkan oleh-Nya dan menjauhi seluruh yang dilarang-Nya, serta saling berwasiat untuk selalu mengikuti Kitab Allah dan bersabar dalam ketaatan kepada-Nya.</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/07/makna-fitnah-dalam-ungkapan-al-fitnatu-asyaddu-minal-qatli/" title="Makna &#8216;Fitnah&#8217; dalam Ungkapan &#8216;al-Fitnatu Asyaddu minal Qatli&#8217;">Makna &#8216;Fitnah&#8217; dalam Ungkapan &#8216;al-Fitnatu Asyaddu minal Qatli&#8217;</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/10/siapakah-orang-orang-yang-beruntung/" title="Siapakah Orang-Orang yang Beruntung?">Siapakah Orang-Orang yang Beruntung?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/15/tidak-ada-hukum-yang-lebih-baik-dan-lebih-adil-dari-hukum-allah/" title="Tidak Ada Hukum yang Lebih Baik dan Lebih Adil dari Hukum Allah">Tidak Ada Hukum yang Lebih Baik dan Lebih Adil dari Hukum Allah</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/03/taat-pada-ulil-amri/" title="Taat Pada Ulil Amri">Taat Pada Ulil Amri</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/07/highly-recommended-website-waqfeya-com/" title="Highly Recommended Website: waqfeya.com">Highly Recommended Website: waqfeya.com</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/23/timbangan-di-hari-kiamat/" title="Timbangan di Hari Kiamat">Timbangan di Hari Kiamat</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/05/selain-islam-pasti-celaka/" title="Selain Islam Pasti Celaka">Selain Islam Pasti Celaka</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/14/ciri-ciri-orang-yang-bertakwa/" title="Ciri-ciri Orang yang Bertakwa">Ciri-ciri Orang yang Bertakwa</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/13/tidak-ada-paksaan-dalam-agama/" title="Tidak Ada Paksaan dalam Agama">Tidak Ada Paksaan dalam Agama</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/12/fakta-umat-islam-sekarang/" title="Fakta Umat Islam Sekarang">Fakta Umat Islam Sekarang</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/04/kewajiban-terikat-pada-aturan-allah-secara-menyeluruh/" title="Kewajiban Terikat Pada Aturan Allah Secara Menyeluruh">Kewajiban Terikat Pada Aturan Allah Secara Menyeluruh</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/03/totalitas-dalam-keberislaman/" title="Totalitas Dalam Keberislaman">Totalitas Dalam Keberislaman</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/PBODaw7BdYw" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/04/02/menghindari-kerusakan-dan-kebinasaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/04/02/menghindari-kerusakan-dan-kebinasaan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Doa Penutup Majelis</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/51fouKsFlNM/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/03/29/doa-penutup-majelis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2012 00:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[doa kaffaratul majlis]]></category>
		<category><![CDATA[doa penutup majelis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1508</guid>
		<description><![CDATA[Imam Abu &#8216;Isa at-Tirmidzi rahimahullah dalam kitab Sunan beliau meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu tentang apa yang harus dibaca jika mau beranjak dari sebuah majelis. Berikut redaksi doanya: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/03/دعاء-كفارة-المجلس.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1511" title="دعاء كفارة المجلس" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/03/دعاء-كفارة-المجلس-300x224.jpg" alt="" width="238" height="177" /></a>Imam Abu &#8216;Isa at-Tirmidzi rahimahullah dalam kitab <em>Sunan</em> beliau meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu tentang apa yang harus dibaca jika mau beranjak dari sebuah majelis. Berikut redaksi doanya:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: center;">&#8220;Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala pujian untuk-Mu. Aku bersaksi tidak ada yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">[Hadits ini terdapat dalam <em>Sunan at-Tirmidzi </em>Juz 5 hal. 494, hadits no. 3433 (<em>maktabah syaamilah</em>, <em>tarqiimul kitaab muwaafiq lil mathbuu'</em>). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ahmad, an-Nasa-i dalam <em>as-Sunan al-Kubra</em>, ad-Darimi, al-Hakim, al-Bazzar, ath-Thabrani, dan lain-lain dengan redaksi masing-masing]</p>
<p style="text-align: left;">Imam at-Tirmidzi mengomentari hadits yang beliau riwayatkan ini, &#8220;Hadits ini hasan shahih gharib dari sisi ini. Saya tidak mengetahuinya dari hadits Suhail kecuali dari sisi ini.&#8221; Al-Hakim dalam kitab <em>al-Mustadrak</em> mengomentari hadits ini (dengan sedikit perbedaan redaksi hadits), &#8220;Hadits ini hadits shahih sesuai syarat Muslim, namun mereka berdua (al-Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya.&#8221; Dalam kitab <em>Shahih wa Dha&#8217;if Sunan at-Tirmidzi</em>, al-Albani menyatakan hadits ini adalah hadits shahih.<br />
<span id="more-1508"></span></p>
<p style="text-align: left;">Tentang doa ini, sebagaimana disebutkan oleh at-Tirmidzi, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menyatakan bahwa setiap orang yang berada dalam sebuah majelis (tempat orang-orang berkumpul) dan banyak berbicara di dalamnya, kemudian sebelum beranjak dari majelisnya tersebut ia membaca <em>subhaanakaLlahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik</em>, maka dosa-dosa yang dilakukannya di majelis tersebut akan diampuni.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam riwayat Abu Dawud dan Ahmad dari Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu &#8216;anhu, setelah Rasulullah membaca doa ini, kemudian sebagian shahabat bertanya tentang doa tersebut yang belum pernah mereka dengar dari beliau sebelumnya. Rasulullah kemudian mengatakan, &#8220;Ia adalah penebus dosa yang terjadi di majelis ini.&#8221; Dari sini lah kemudian doa ini dikenal dengan istilah doa <em>kaffarah al-majlis</em> (penebus dosa dalam majelis).</p>
<p style="text-align: left;">Semoga kita bisa mengamalkan doa ini, setiap kita beranjak dari majelis apapun yang kita ikuti. <em>Wallahul musta&#8217;aan</em>.</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/16/contoh-contoh-akhlak-yang-baik-bagian-2/" title="Contoh-Contoh Akhlak yang Baik (Bagian 2)">Contoh-Contoh Akhlak yang Baik (Bagian 2)</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/17/sayyidul-istighfar/" title="Sayyidul Istighfar">Sayyidul Istighfar</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/12/15/mendahulukan-bagian-kanan-dalam-setiap-perkara-yang-mulia/" title="Mendahulukan Bagian Kanan dalam Setiap Perkara yang Mulia">Mendahulukan Bagian Kanan dalam Setiap Perkara yang Mulia</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/12/10/contoh-contoh-akhlak-yang-baik-bagian-1/" title="Contoh-Contoh Akhlak yang Baik (Bagian 1)">Contoh-Contoh Akhlak yang Baik (Bagian 1)</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/12/03/tanda-tanda-ilmu-yang-bermanfaat/" title="Tanda-Tanda Ilmu yang Bermanfaat">Tanda-Tanda Ilmu yang Bermanfaat</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/13/keutamaan-mengajar-dan-belajar-ilmu-agama/" title="Keutamaan Mengajar dan Belajar Ilmu Agama">Keutamaan Mengajar dan Belajar Ilmu Agama</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/07/pengaruh-maksiat-bagi-diri/" title="Pengaruh Maksiat Bagi Diri">Pengaruh Maksiat Bagi Diri</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/05/10/adab-adab-berdo%e2%80%99a/" title="Adab-Adab Berdo’a">Adab-Adab Berdo’a</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/09/ilmu-yang-bermanfaat/" title="Ilmu yang Bermanfaat">Ilmu yang Bermanfaat</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/23/kekuatan-istighfar/" title="Kekuatan Istighfar">Kekuatan Istighfar</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/19/tips-menghafal-al-qur%e2%80%99an/" title="Tips Menghafal Al-Qur’an">Tips Menghafal Al-Qur’an</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/18/penyakit-hati/" title="Penyakit Hati">Penyakit Hati</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/10/tak-sekedar-kesuksesan-dunia/" title="Tak Sekedar Kesuksesan Dunia">Tak Sekedar Kesuksesan Dunia</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/08/etika-mencari-ilmu/" title="Etika Mencari Ilmu">Etika Mencari Ilmu</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/51fouKsFlNM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/03/29/doa-penutup-majelis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/03/29/doa-penutup-majelis/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Islam yang Rasional dan Toleran</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/EiI8T3UozSw/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/03/28/islam-yang-rasional-dan-toleran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2012 00:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[islam rasional]]></category>
		<category><![CDATA[islam toleran]]></category>
		<category><![CDATA[JIL]]></category>
		<category><![CDATA[kritik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1498</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Senang saya membaca situs JIL. Isinya jauh dari emosi dan caci maki, dan selalu mengajak kita untuk berpikir tenang dan rasional. Di seberang sana, yang sebenarnya tidak jauh-jauh amat, ada situs yang isinya penuh dengan emosi dan kelihatannya tiada tulisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/03/JIL-Sesat.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1500" title="JIL Sesat" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/03/JIL-Sesat-258x300.jpg" alt="" width="185" height="216" /></a>&#8220;<em>Senang saya membaca situs JIL. Isinya jauh dari emosi dan caci maki, dan selalu mengajak kita untuk berpikir tenang dan rasional. Di seberang sana, yang sebenarnya tidak jauh-jauh amat, ada situs yang isinya penuh dengan emosi dan kelihatannya tiada tulisan tanpa caci maki, situs yang isinya mengajak kita untuk membenci sesama umat Islam. JIL sebaiknya mempertahankan sikapnya, yaitu istiqomah mengembangkan budaya Islam yang rasional dan toleran.</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: left;">Kutipan di atas merupakan komentar salah seorang pembaca tulisan Ulil Abshar-Abdalla yang berjudul &#8220;<a href="http://islamlib.com/id/artikel/demokrasi-dan-problem-konsensus" target="_blank">Demokrasi dan Problem Konsensus</a>&#8221; di situs islamlib.com (diakses pada tanggal 28 Maret 2012). Islam yang rasional dan toleran, itulah yang diusung oleh Jil, paling tidak menurut salah satu komentator situs JIL tersebut. Islam dengan tipe ini kemudian coba dihadap-hadapkan dengan Islam yang penuh emosi dan caci maki. Begitulah.</p>
<p style="text-align: left;">Pertanyaan besarnya, benarkah kelompok JIL dan kroni-kroninya memang benar-benar rasional dan toleran? Mari kita lihat.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>1. Kasus FPI</strong></p>
<p style="text-align: left;">&#8220;<em>Adalah kabar baik ketika Sabtu 11 Februari lalu masyarakat adat suku Dayak menegaskan sikapnya menolak kehadiran FPI di Bandar Udara Cilik Riwut, Palangkaraya. Mengapa kabar baik? Ini tidak berarti pihak-pihak yang selama ini dibuat gerah oleh satu kelompok kecil yang kerap melakukan tindakan anarkis dalam aksi-aksinya hendak merayakan sedikit kemenangan para pejuang pluralisme. Juga bukan berarti kita melanggar kebebasan suatu kelompok masyarakat dalam berserikat. Tetapi, ini berdasar pada kebutuhan mutlak manusia: kebebasan dari tekanan.</em>&#8221;<br />
<span id="more-1498"></span></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Pelbagai alasan di atas dan pertimbangan lainnya yang muncul dalam pertemuan itu, lantas pada sekitar pukul 17.00 WIB disepakati kelahiran “Gerakan Indonesia Tanpa FPI.” Gerakan ini memiliki satu visi: penolakan terhadap kekerasan atas nama apapun. Tugas pertama yang ingin diembannya adalah menolak secara tegas keberadaan FPI di Indonesia. Pernyataan sikap berupa petisi dan press release mengenai penolakan ini menjadi prakondisi yang akan ditempuh gerakan ini. Petisi akan diajukan di antaranya kepada Kemendagri, Kemenkumham, Polri dan kelompok FPI itu sendiri. Di samping itu, gerakan ini pun akan memanfaatkan momentum Valentine’s day (yang diharamkan FPI) sebagai hari di mana aksi penolakan terhadap FPI akan dilakukan secara massif di Jakarta.</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: left;">(Dua paragraf di atas merupakan kutipan artikel yang berjudul &#8220;<a href="http://islamlib.com/id/artikel/indonesia-tanpa-fpi" target="_blank">Indonesia Tanpa FPI</a>&#8220;, tulisan Evi Rahmawati di situs islamlib.com, diakses pada tanggal 28 Maret 2012)</p>
<p style="text-align: left;">Lihatlah. Ini salah satu bukti atas ketidak konsistenan mereka mengusung gagasan toleransi. JIL dan yang semisalnya hanya akan toleran terhadap kelompok, orang atau gagasan yang satu akar dengan mereka. Sedangkan kelompok, orang atau gagasan yang berbeda apalagi bertentangan, secara sistematis akan mereka upayakan tereliminasi dari negeri ini. Inilah watak mereka sesungguhnya.</p>
<p style="text-align: left;">Padahal, seandainya JIL dan kawan-kawannya konsisten, yang seharusnya disalahkan dan dikritik adalah kelompok penghadang FPI, karena mereka telah melakukan tindakan anarkis dan sangat intoleran terhadap kelompok yang berbeda. (berita tentang kasus ini, bisa dibaca di: <a href="http://www.eramuslim.com/berita/nasional/sikap-resmi-fpi-atas-penolakan-suku-dayak-terhadap-kehadiran-fpi.htm" target="_blank">http://www.eramuslim.com/berita/nasional/sikap-resmi-fpi-atas-penolakan-suku-dayak-terhadap-kehadiran-fpi.htm</a>, <a href="http://www.eramuslim.com/berita/nasional/siapa-yang-bermain-dalam-penolakan-fpi-di-dayak.htm" target="_blank">http://www.eramuslim.com/berita/nasional/siapa-yang-bermain-dalam-penolakan-fpi-di-dayak.htm</a>, <a href="http://hidayatullah.com/read/21133/13/02/2012/tokoh-adat%3A-justru-warga-dayak-meminta-pendirian-fpi.html" target="_blank">http://hidayatullah.com/read/21133/13/02/2012/tokoh-adat%3A-justru-warga-dayak-meminta-pendirian-fpi.html</a>, dan <a href="http://hidayatullah.com/read/21111/12/02/2012/habib-rizieq%3A-provokator-ingin-rusak-hubungan-baik-fpi-dengan-dayak.html" target="_blank">http://hidayatullah.com/read/21111/12/02/2012/habib-rizieq%3A-provokator-ingin-rusak-hubungan-baik-fpi-dengan-dayak.html</a>, semuanya diakses pada tanggal 28 Maret 2012).</p>
<p style="text-align: left;"><strong>2. Konsep Islam Nusantara dan Islam Substantif</strong></p>
<p style="text-align: left;">&#8220;<em>Ini adalah dampak dari Islam sebagai agama universal. Dalam quran disebut, &#8220;dan kami utus kamu ya Muhammad sebagai penebar kasih sayang.&#8221; Artinya Islam itu bukan hanya tumbuh di Timur Tengah tapi juga di seluruh dunia. di India berkembang sebagai Qadian, di Persia ada Syiah, di Asia, Eropa dan Amerika.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Ketika Islam menjadi agama universal, maka ekspresi-ekspresi dalam bentuk mazhab dan sekte adalah sesuatu bentuk keniscayaan, kita tidak mungkin membuat parameter tunggal terhadap Islam lalu mengatakan, ini yang paling absah dalam Islam. Ini yang terjadi pada masyarakat kita. bahwa pemahaman masyarakat terhadap Islam hanya bersifat tekstual dan tidak bersifat kontekstual sosiologis melihat bagaimana pengaruh-pengaruh sosial yang terjadi, ini akibat kita menjadikan Arab sebagai kiblat dalam beragama, mestinya kita mendudukan Arab sebagai salah satu parameter saja dan mencoba untuk memahami parameter-parameter lain, kasus Ahmadiyah ini kalau kita tak hati-hati, maka keberagaman islam di Indonesia akan punah, tidak bisa berkembang seperti hari ini, di mana islam beradaptasi atau berakulturasi dengan kebudayaan.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Karenanya kita harus merumuskan dengan apa yang disebut Islam Nusantara, yakni islam yang berbeda dengan Islam yang ada di Arab. Gus Dur dulu merumuskan, Islam yang lebih mendekati kepada substansi ajaran Islam bukan pada aksesorisnya atau simbol-simbolnya, atau hukum-hukumnya. Substansi Islam itu kalau kita tarik keadilan, kedamaian, kesetaraan, kebijaksanaan, kalau kita tarik akan memperkuat solidaritas di kalangan umat Islam sendiri dan umat agama lain, dan itu sesuai dengan misi kenabian yang dibawa oleh Nabi Muhammad.</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: left;">(Tiga paragraf di atas merupakan kutipan wawancara Kompas dengan Zuhairi Misrawi yang berjudul &#8220;<a href="http://oase.kompas.com/read/2011/02/16/15274043/Gus.Mis.Ghulam.Ahmad.Nabi.Bayangan" target="_blank">Gus Mis: Ghulam Ahmad Nabi Bayangan</a>&#8220;, diakses pada tanggal 28 Maret 2012)</p>
<p style="text-align: left;">Jika yang dimaksud dengan rasional adalah sesuai dengan akal pikiran yang sehat, maka gagasan yang dikemukakan oleh Zuhairi Misrawi di atas tidak rasional. Alasannya sederhana saja:</p>
<p style="text-align: left;">a) Bagi muslim yang aqidahnya lurus, meyakini kebenaran dan kesempurnaan ajaran islam adalah sebuah keniscayaan.</p>
<p style="text-align: left;">b) Mempertentangkan Islam Arab dengan Islam Nusantara sangat tidak relevan, karena dua istilah tersebut tidak dikenal dalam Islam. Islam <em>mainstream</em> (yang disebut oleh Zuhairi Misrawi sebagai Islam Arab. Istilah Islam <em>mainstream</em> pun sebenarnya kurang tepat, saya cuma menggunakannya untuk memperjelas saja) tidaklah lahir dari budaya Arab. Ia lahir dari wahyu.</p>
<p style="text-align: left;">Bagi yang pernah mengkaji sejarah Islam, tentu tahu bahwa banyak ajaran Arab yang ditentang oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam karena tidak sesuai dengan tuntunan wahyu dari Allah ta&#8217;ala. Karena gagasan Islam Arab tidak relevan, maka gagasan Islam Nusantara tentu lebih tidak relevan.</p>
<p style="text-align: left;">c) Mempertentangkan Islam substantif dengan Islam formalistik juga tidak relevan. Islam adalah aqidah dan syariah. Islam mencakup ibadah, muamalah, <em>siyasah</em>, <em>hudud</em>, akhlak dan ajaran-ajaran lainnya yang bersumber dari al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah, yang kemudian terkodifikasi dalam kitab-kitab fiqih yang ditulis oleh para ulama yang keilmuannya diakui selama rentang waktu yang panjang.</p>
<p style="text-align: left;">Jika ada yang menyatakan bahwa substansi Islam adalah keadilan, kedamaian dan persatuan, maka tiga hal tersebut hanya akan bisa terwujud jika hukum-hukum formal Islam seperti politik Islam, ekonomi Islam, <em>hudud</em>, pemerintahan Islam, dan seterusnya diterapkan. Keadilan misalnya –jika dipahami sebagai substansi Islam–, tanpa penerapan hukum Islam secara formal, hanya akan menjadi pepesan kosong belaka, tak akan pernah terwujud.</p>
<p style="text-align: left;">d) Keniscayaan beragamnya pemikiran dan pendapat di tubuh umat Islam memang benar. Lahirnya berbagai m adzhab dalam bidang fiqih dan aqidah misalnya menunjukkan hal tersebut. Namun, yang kadang ditutupi oleh kalangan liberal adalah, ulama (sebagai <em>waratsah al-anbiyaa</em> dalam ilmu) tetap punya standar dalam menilai perbedaan tersebut. Pada kelompok atau pemikiran yang jelas-jelas menyimpang dari pokok aqidah dan syariah Islam, ulama dengan tegas memvonis kekafiran dan kesesatan mereka. Saat ini, hal ini misalnya berlaku pada Ahmadiyah yang memiliki Nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>3. Konsep Islam Rahmatan Lil &#8216;Aalamiin</strong></p>
<p style="text-align: left;">Konsep lain yang juga menunjukkan tidak rasionalnya pemikiran JIL dan kawan-kawannya adalah tentang <em>rahmatan lil &#8216;aalamiin</em>. Untuk sedikit memahami kekeliruan fatal konsep <em>rahmatan lil &#8216;aalamiin­­</em>-nya kalangan liberal, silakan baca tulisan saya yang berjudul &#8220;<a href="http://abufurqan.com/2012/02/02/makna-rahmatan-lil-aalamiin-antara-pluralisme-dan-islam/" target="_blank">Makna Rahmatan Lil ‘Aalamiin, Antara Pluralisme dan Islam</a>&#8220;.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>4. Gugatan Terhadap Klaim Kebenaran</strong></p>
<p style="text-align: left;">&#8220;<em>Tentu, pelabelan sesat dan kafir terhadap pihak yang disandarnya menimbulkan dampak yang begitu besar. Kalau saya boleh katakan, pelabelan tersebut secara tidak langsung kita boleh membunuh orang yang sudah dklaim sesat dan kafir tersebut, atas berbedanya pandangan, pemikiran dan keyakinan. Begitu pula sebaliknya manusia yang di tuduh sesat dan kafir itu melakukan sebuah pembelaan atas haknya, bahkan saling tuduh kembali, melemparkan kesesatan itu pada yang menuduhnya. Masalah yang muncul selanjutnya adalah perang klaim kebenaran dan perang penyelamatan (truth claim-salvation). Kaum beragama mengaku bahwa agama sendirinyalah yang paling benar dan agama yang lain itu salah. Hal ini menurut D’adamo merupakan krisis epistemologis dalam agama berakar pada RWK (religion way of knowing). Mengklaim bahwa teks agama itu pertama: bersifat konsisten dan penuh dengan klaim kebenaran- tanpa kesalahan sama sekali. Kedua bersifat lengkap dan final- jadi tidak ada kebenaran (tidak ada kebenaran di agama lain), ketiga: teks-teks keagamaan itu dianggap satu-satunya jalan untuk keselamatan, pencerahan, pembebasan. Dan keempat dalam bahasa aslinya D’adamo have an inspired or divine author (god who is their true author).</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: left;">(Paragraf di atas merupakan kutipan artikel yang berjudul &#8220;<a href="http://islamlib.com/id/artikel/keyakinan-sebagai-otonomi-manusia" target="_blank">Keyakinan sebagai Wilayah Otonom Manusia</a>&#8220;, tulisan Muhamad Isomuddin di situs islamlib.com, diakses pada tanggal 28 Maret 2012)</p>
<p style="text-align: left;">Membaca kutipan paragraf di atas, saya bisa menyimpulkan satu hal, kelompok yang menggugat <em>truth claim</em> bukan saja tidak rasional, namun sangat bodoh. Sederhana saja kita melihatnya, jika kita sebagai muslim tak meyakini bahwa hanya agama Islam saja yang akan menunjukkan jalan keselamatan dunia akhirat bagi kita, lalu untuk apa kita menjadi muslim? Toh, agama lain pun –yang mungkin &#8216;beban&#8217; perintah dan larangannya tak seberat Islam– juga bisa menyelamatkan kita. Lihatlah kedunguan logika ini.</p>
<p style="text-align: left;">Untuk tema <em>truth claim </em>ini, silakan baca juga tulisan saya yang berjudul &#8220;<a href="http://abufurqan.com/2011/04/19/menggugat-pluralisme-2-mematikan-truth-claim-menghidupkan-kebimbangan/" target="_blank">Menggugat Pluralisme [2]: Mematikan ‘Truth Claim’, Menghidupkan Kebimbangan</a>&#8220;.</p>
<p style="text-align: left;">*****</p>
<p style="text-align: left;">Seandainya ingin diungkap lebih lanjut, maka banyak sekali bukti yang menunjukkan bahwa konsep &#8216;Islam yang rasional dan toleran&#8217; yang dijajakan oleh JIL dan yang serupa dengannya ternyata gagal mereka praktikkan sendiri. Gagasan mereka adalah gagasan yang absurd.</p>
<p style="text-align: left;">Alhamdulillah, saat ini sudah banyak kalangan, baik muda maupun tua, yang sudah mengetahui dan menyadari kebobrokan pemikiran liberal yang diusung oleh JIL dan semisalnya. Namun, sayangnya kesadaran tersebut masih belum sampai ke akar persoalan. Bagaimanapun, pemikiran <em>nyeleneh</em> ala Cak Nur, Gus Dur, dan Ulil hanya bisa tumbuh dan berkembang di negara yang tidak berfungsi menjaga aqidah umat. Dalam negara yang sekularisme menjadi asas berdirinya, pemikiran sesesat apapun akan diizinkan menetap di dalamnya. Di tengah-tengah masyarakat yang pemikiran dan perasaannya teracuni oleh gagasan-gagasan sekuler dan anti syariah, keberadaan JIL dan yang semisalnya akan selalu dan terus ada, paling <em>banter</em> mereka hanya akan ganti baju.</p>
<p style="text-align: left;">Inilah akar masalahnya. Akar masalah dari berkembangnya pemikiran liberal yang diusung JIL dan konco-konco­nya adalah tidak diterapkannya Islam secara kaffah. Dan penerapan Islam secara kaffah hanya bisa terwujud jika ada institusi (negara, <em>state</em>, <em>daulah</em>) yang berasaskan aqidah Islam yang menjaga keberlangsungan penerapannya.</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/22/saya-orang-indonesia-atau-orang-islam/" title="Saya Orang Indonesia atau Orang Islam?">Saya Orang Indonesia atau Orang Islam?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/05/soekarno-hatta-founding-fathers-sekularisme-indonesia/" title="Soekarno-Hatta, &#8220;Founding Fathers&#8221; Sekularisme Indonesia">Soekarno-Hatta, &#8220;Founding Fathers&#8221; Sekularisme Indonesia</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/04/konsep-keliru-desakralisasi-al-qur%e2%80%99an/" title="Konsep Keliru Desakralisasi Al-Qur’an">Konsep Keliru Desakralisasi Al-Qur’an</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/03/puisi-untuk-ahmadiyah/" title="Puisi Untuk Ahmadiyah">Puisi Untuk Ahmadiyah</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/01/jujur-melihat-sejarah-umat-islam/" title="Jujur Melihat Sejarah Umat Islam">Jujur Melihat Sejarah Umat Islam</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/18/membendung-arabisasi-ala-abdul-moqsith-ghazali/" title="Membendung Arabisasi Ala Abdul Moqsith Ghazali">Membendung Arabisasi Ala Abdul Moqsith Ghazali</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/17/wacana-kebenaran-islam-pluralis/" title="Wacana Kebenaran Islam Pluralis">Wacana Kebenaran Islam Pluralis</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/15/islam-antara-agama-dan-ideologi/" title="Islam, Antara Agama dan Ideologi">Islam, Antara Agama dan Ideologi</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/13/sampah/" title="Sampah">Sampah</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/11/penyebab-utama-umat-islam-tak-bisa-bersatu/" title="Penyebab Utama Umat Islam Tak Bisa Bersatu">Penyebab Utama Umat Islam Tak Bisa Bersatu</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/EiI8T3UozSw" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/03/28/islam-yang-rasional-dan-toleran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/03/28/islam-yang-rasional-dan-toleran/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>7 Tingkatan Hadits Shahih</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/mQR8MyT6U1M/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/03/21/7-tingkatan-hadits-shahih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2012 00:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulumul Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hadits shahih]]></category>
		<category><![CDATA[syarat al-Bukhari Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[syarat syaikhan]]></category>
		<category><![CDATA[ulumul hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1489</guid>
		<description><![CDATA[Hadits shahih, menurut ulama Hadits, memiliki beberapa tingkatan, yang satu tingkat lebih shahih dibandingkan tingkat di bawahnya. Dilihat dari kitab-kitab yang mengeluarkan Hadits-Hadits shahih tersebut, Hadits shahih terbagi menjadi 7 tingkat, sebagai berikut: 1. Hadits shahih yang disepakati/dikeluarkan oleh al-Bukhari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/03/صحيح-مسلم.jpeg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1494" title="صحيح مسلم" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/03/صحيح-مسلم-213x300.jpg" alt="" width="170" height="240" /></a>Hadits shahih, menurut ulama Hadits, memiliki beberapa tingkatan, yang satu tingkat lebih shahih dibandingkan tingkat di bawahnya. Dilihat dari kitab-kitab yang mengeluarkan Hadits-Hadits shahih tersebut, Hadits shahih terbagi menjadi 7 tingkat, sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: left;">1. Hadits shahih yang disepakati/dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Ini adalah tingkatan Hadits yang paling tinggi.</p>
<p style="text-align: left;">2. Hadits shahih yang dikeluarkan oleh al-Bukhari, namun tidak dikeluarkan oleh Muslim.</p>
<p style="text-align: left;">3. Hadits shahih yang dikeluarkan oleh Muslim, namun tidak dikeluarkan oleh al-Bukhari.</p>
<p style="text-align: left;">4. Hadits shahih yang sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim, namun mereka berdua tidak mengeluarkannya.</p>
<p style="text-align: left;">5. Hadits shahih yang sesuai dengan syarat al-Bukhari saja, namun beliau tidak mengeluarkannya.</p>
<p style="text-align: left;">6. Hadits shahih yang sesuai dengan syarat Muslim saja, namun beliau tidak mengeluarkannya.</p>
<p style="text-align: left;">7. Hadits yang dishahihkan oleh imam-imam ahli Hadits selain al-Bukhari dan Muslim, yang tidak memenuhi syarat al-Bukhari dan Muslim, atau salah satu di antara keduanya. Ini adalah tingkatan Hadits shahih yang paling rendah.<br />
<span id="more-1489"></span></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Keterangan:</strong></p>
<p style="text-align: left;">Sebenarnya al-Bukhari dan Muslim tidak secara eksplisit menyebutkan syarat-syarat hadits shahih versi mereka. Syarat-syarat tersebut ditemukan oleh para ulama peneliti hadits al-Bukhari dan Muslim berdasarkan pengkajian, penelusuran dan penelaahan terhadap <em>uslub-uslub </em>yang digunakan oleh mereka berdua.</p>
<p style="text-align: left;">Menurut Dr. Mahmud ath-Thahhan, yang dimaksud dengan syarat Syaikhan (al-Bukhari dan Muslim) atau salah satu di antara keduanya adalah ditinjau dari para perawi yang meriwayatkan hadits di dua kitab tersebut atau salah satunya serta tata cara yang diambil oleh Syaikhan dalam meriwayatkan hadits dari para perawi tersebut.</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p style="text-align: left;">Bahan Bacaan:</p>
<p style="text-align: left;">Kitab <em>Taysir Mushthalah al-Hadits</em> karya Dr. Mahmud ath-Thahhan</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2011/09/10/syarat-syarat-hadits-shahih/" title="Syarat-Syarat Hadits Shahih">Syarat-Syarat Hadits Shahih</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/12/16/definisi-syarat-syarat-hukum-dan-pembagian-hadits-mutawatir-menurut-syaikh-dr-mahmud-ath-thahhan/" title="Definisi, Syarat-Syarat, Hukum dan Pembagian Hadits Mutawatir Menurut Syaikh Dr. Mahmud ath-Thahhan">Definisi, Syarat-Syarat, Hukum dan Pembagian Hadits Mutawatir Menurut Syaikh Dr. Mahmud ath-Thahhan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/03/perbedaan-al-hadits-al-qudsi-dengan-al-qur%e2%80%99an-al-karim-menurut-kitab-%e2%80%98ash-shahih-al-musnad-min-al-ahadits-al-qudsiyah%e2%80%99/" title="Perbedaan al-Hadits al-Qudsi dengan al-Qur’an al-Karim Menurut Kitab ‘Ash-Shahih al-Musnad Min al-Ahadits al-Qudsiyah’">Perbedaan al-Hadits al-Qudsi dengan al-Qur’an al-Karim Menurut Kitab ‘Ash-Shahih al-Musnad Min al-Ahadits al-Qudsiyah’</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/09/28/penyebab-%e2%80%98ulama-menyelisihi-hadits-hadits-shahih/" title="Penyebab ‘Ulama Menyelisihi Hadits-Hadits Shahih">Penyebab ‘Ulama Menyelisihi Hadits-Hadits Shahih</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/09/14/istilah-istilah-penting-dalam-ulumul-hadits/" title="Istilah-Istilah Penting dalam &#8216;Ulumul Hadits">Istilah-Istilah Penting dalam &#8216;Ulumul Hadits</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/mQR8MyT6U1M" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/03/21/7-tingkatan-hadits-shahih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/03/21/7-tingkatan-hadits-shahih/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Adakah Bid’ah Hasanah?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/vb-75sF256w/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/03/18/adakah-bidah-hasanah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Mar 2012 00:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikrah]]></category>
		<category><![CDATA[adakah bid'ah hasanah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah hasanah]]></category>
		<category><![CDATA[fikrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1479</guid>
		<description><![CDATA[Bid&#8217;ah hasanah, sebuah istilah yang sering menjadi polemik di tengah umat. Ada yang mendukung, dan ada yang menolak. Bahkan ada yang menyatakan istilah bid&#8217;ah hasanah itu hanya dibuat-buat oleh pelaku bid&#8217;ah sebagai pembenaran atas aktivitas mereka. Benarkah seperti itu? Istilah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/03/البدعة-الحسنة.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1484" title="البدعة الحسنة" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/03/البدعة-الحسنة-300x200.jpg" alt="" width="240" height="160" /></a>Bid&#8217;ah hasanah, sebuah istilah yang sering menjadi polemik di tengah umat. Ada yang mendukung, dan ada yang menolak. Bahkan ada yang menyatakan istilah bid&#8217;ah hasanah itu hanya dibuat-buat oleh pelaku bid&#8217;ah sebagai pembenaran atas aktivitas mereka. Benarkah seperti itu?</p>
<p style="text-align: left;">Istilah bid&#8217;ah hasanah ternyata telah dikemukakan oleh ulama-ulama besar yang menjadi rujukan umat Islam. Berikut di antaranya:</p>
<p style="text-align: left;"><strong>1. Imam Nashir as-Sunnah Abu &#8216;Abdillah Muhammad ibn Idris asy-Syafi&#8217;i al-Muthallibi (w. 204 H)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Dalam kitab <em>Hilyah al-Auliyaa wa Thabaqat al-Ashfiyaa</em> [IX/113] karya Imam Abu Nu&#8217;aim al-Ashbahani (w. 430 H) dinukil pernyataan Imam asy-Syafi&#8217;i sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>البدعة بدعتان بدعة محمودة، وبدعة مذمومة. فما وافق السنة فهو محمود، وما خالف السنة فهو مذموم</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Bid&#8217;ah terbagi menjadi dua, bid&#8217;ah yang terpuji dan bid&#8217;ah yang tercela. Yang sesuai dengan as-Sunnah, maka ia terpuji. Sedangkan yang berlawanan dengan as-Sunnah, maka ia tercela.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">Beliau berhujjah dengan perkataan &#8216;Umar ibn al-Khaththab, &#8216;sebaik-baik bid&#8217;ah adalah ini&#8217;.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>2. Sulthan al-&#8217;Ulama Imam &#8216;Izz ad-Diin &#8216;Abd al-&#8217;Aziz ibn &#8216;Abd as-Salam ad-Dimasyqi (w. 660 H)</strong><br />
<span id="more-1479"></span></p>
<p style="text-align: left;">Dalam kitab <em>Qawa&#8217;id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam</em> [II/204], Imam &#8216;Izz ad-Diin ibn &#8216;Abd as-Salam menyatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>البدعة فعل ما لم يعهد في عصر رسول الله &#8211; صلى الله عليه وسلم -. وهي منقسمة إلى: بدعة واجبة، وبدعة محرمة، وبدعة مندوبة، وبدعة مكروهة، وبدعة مباحة، والطريق في معرفة ذلك أن تعرض البدعة على قواعد الشريعة: فإن دخلت في قواعد الإيجاب فهي واجبة، وإن دخلت في قواعد التحريم فهي محرمة، وإن دخلت في قواعد المندوب فهي مندوبة، وإن دخلت في قواعد المكروه فهي مكروهة، وإن دخلت في قواعد المباح فهي مباحة</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Bid&#8217;ah adalah aktivitas yang tidak ada di masa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan ia terbagi menjadi: bid&#8217;ah yang wajib, bid&#8217;ah yang diharamkan, bid&#8217;ah yang mandub, bid&#8217;ah yang makruh, dan bid&#8217;ah yang mubah. Dan metode untuk mengetahui hal ini adalah melihat hubungannya dengan kaidah-kaidah syari&#8217;ah. Jika masuk ke kaidah wajib, maka bid&#8217;ah tersebut menjadi wajib. Jika masuk ke kaidah pengharaman, maka ia menjadi haram. Jika masuk ke kaidah mandub, maka ia mandub. Jika masuk ke kaidah makruh, maka ia makruh. Dan jika masuk ke kaidah mubah, maka ia menjadi mubah.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">Beliau menyebutkan salah satu contoh bid&#8217;ah yang mubah adalah berjabat tangan setelah shalat shubuh dan &#8216;ashar.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>3. Imam Muhy ad-Diin Abu Zakariya Yahya ibn Syaraf an-Nawawi (w. 676 H)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Dalam kitab <em>Tahdzib al-Asma wa al-Lughat</em> [III/22], Imam an-Nawawi menyatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>البِدعة بكسر الباء في الشرع هي إحداث ما لم يكن في عهد رسول الله &#8211; صلى الله عليه وسلم -، وهي منقسمة إلى: حسنة وقبيحة</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Bid&#8217;ah, dengan huruf ba&#8217; di-kasrah, menurut syara&#8217; adalah perkara baru yang belum ada di masa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan ia terbagi menjadi dua, hasanah dan qabihah.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">Dalam kitab <em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim</em> [VII/104-105], Imam an-Nawawi ketika mengomentari hadits &#8220;<em>man sanna fil Islam sunnatan hasanatan…</em>&#8221; menyatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>وفي هذا الحديث تخصيص قوله صلى الله عليه وسلم كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وأن المراد به المحدثات الباطلة والبدع المذمومة وقد سبق بيان هذا في كتاب صلاة الجمعة وذكرنا هناك أن البدع خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Dan hadits ini merupakan <em>takhshish</em> (pengkhususan) dari sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8216;setiap yang baru adalah bid&#8217;ah, dan setiap bid&#8217;ah adalah sesat&#8217;. Yang dimaksud oleh hadits ini (<em>kullu bid&#8217;atin dhalalah</em>) adalah perkara baru yang batil dan bid&#8217;ah yang tercela. Dan sebelumnya sudah ada penjelasan dalam kitab (bab) Shalat Jum&#8217;at, disana kami menyebutkan bahwa bid&#8217;ah terbagi menjadi lima macam, yaitu bid&#8217;ah yang wajib, mandub, haram, makruh, dan mubah.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;"><strong>4. Imam al-Hafizh Abu al-Fadhl Ahmad ibn &#8216;Ali ibn Hajar al-&#8217;Asqalani (w. 852 H)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Dalam Kitab <em>Fath al-Bari </em>[IV/253], Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-&#8217;Asqalani menyatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>والبدعة أصلها ما أحدث على غير مثال سابق وتطلق في الشرع في مقابل السنة فتكون مذمومة والتحقيق أنها إن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي حسنة وأن كانت مما تندرج تحت مستقبح في الشرع فهي مستقبحة وإلا فهي من قسم المباح</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Dan bid&#8217;ah pada asalnya adalah perkara baru yang tidak ada contohnya di masa lalu. Dan disebutkan oleh syara&#8217;, jika bertentangan dengan as-Sunnah, maka ia tercela. Dan berdasarkan pengkajian, jika bid&#8217;ah tersebut termasuk dalam perbuatan yang dianggap baik oleh syara&#8217;, maka ia adalah bid&#8217;ah hasanah. Jika bid&#8217;ah tersebut termasuk dalam perbuatan yang dianggap jelek oleh syara&#8217;, maka ia adalah bid&#8217;ah yang buruk. Dan jika tidak termasuk dalam keduanya, maka ia termasuk dalam bid&#8217;ah yang mubah.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">Dalam kitab <em>al-Hawi li al-Fatawa</em> [I/229] karya Imam as-Suyuthi, dinukil pernyataan Imam al-Hafizh Ibn Hajar tentang maulid sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة، ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة وإلا فلا</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Asal perbuatan maulid adalah bid&#8217;ah. Tidak diriwayatkan oleh satu orang pun dari kalangan salafus shalih di tiga ksurun pertama. Akan tetapi di dalamnya terdapat kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Barangsiapa melakukan kebaikan-kebaikan tersebut di dalamnya, dan menjauhi keburukan-keburukannya, maka itu adalah bid&#8217;ah hasanah, dan jika ia tidak melakukannya maka itu bukan bid&#8217;ah hasanah.&#8221;<strong></strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Imam &#8216;Abd ar-Rahman ibn Abi Bakr Jalal ad-Diin as-Suyuthi (w. 911 H)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Dalam kitab <em>al-Hawi li al-Fatawa</em> [I/221-222], Imam as-Suyuthi menyatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات، ثم</strong> <strong>يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك &#8211; هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Menurutku, pada dasarnya aktivitas maulid adalah berkumpulnya manusia sembari membaca yang mudah dari al-Qur&#8217;an, menyampaikan cerita tentang awal mula keadaan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan yang terjadi saat kelahiran beliau dari berbagai ayat. Kemudian disajikan kepada mereka hidangan untuk mereka makan. Jika mereka melakukan hal tersebut, tanpa ada tambahan yang lain, maka itu termasuk bid&#8217;ah hasanah, yang pelakunya akan mendapat pahala. Hal ini karena mereka mengagungkan kedudukan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam serta menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran beliau yang mulia.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">*****</p>
<p style="text-align: left;">Beginilah adanya. Jadi, jika ada orang yang menyatakan bahwa bid&#8217;ah hasanah tidak dikenal di kalangan ulama yang mu&#8217;tabar, kenyataannya adalah sebaliknya, istilah bid&#8217;ah hasanah bukan cuma dikenal, bahkan didukung oleh sebagian mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Memang, pembagian bid&#8217;ah semacam ini diperselisihkan di kalangan ulama. Ada yang menerima dan mendukung, ada juga yang menolak. Yang mendukung istilah ini pun, dalam rinciannya belum tentu sama. Namun, paling tidak, dari beberapa kutipan yang saya muat di atas, mudah-mudahan sedikit membuka mata dan telinga kita, bahwa pembagian semacam ini adalah perkara khilafiyah. Kita tentu boleh mengikuti salah satu pendapat, yang menurut kita kuat (silakan baca: <a href="http://abufurqan.com/2012/02/11/beberapa-sikap-ilmiah-dalam-pengkajian-pemikiran-islam/" target="_blank">http://abufurqan.com/2012/02/11/beberapa-sikap-ilmiah-dalam-pengkajian-pemikiran-islam/</a>), namun kita juga harus bisa berlapang dada terhadap pendapat yang berbeda.</p>
<p style="text-align: left;">Jika ada yang mengatakan bahwa yang harus kita ikuti adalah perkataan Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, bukan perkataan si fulan A atau si fulan B, pernyataan ini benar. Kita memang harus mengikuti Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.  Namun, yang juga perlu kita ketahui, untuk memahami secara benar al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah, itu tidaklah mudah. Perlu disiplin ilmu tertentu dengan kedalaman kajian tertentu, baru kita bisa secara langsung merujuk kepada al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah. Jika belum mampu, tentu kita wajib mengikuti pendapat ulama yang mumpuni dalam hal ini.</p>
<p style="text-align: left;">Jika kita kenal Imam asy-Syafi&#8217;i,&#8217;Izz ad-Diin ibn &#8216;Abd as-Salam, an-Nawawi, al-Hafizh Ibn Hajar dan as-Suyuthi, tentu kita tak bisa menerima jika ada yang menyatakan bahwa lima nama tersebut berpendapat mengikuti hawa nafsu mereka. Siapakah kita dibanding mereka?</p>
<p style="text-align: left;">Terakhir, perlu saya jelaskan bahwa di sini saya sama sekali tidak mengemukakan pendapat mana yang saya ikuti. Tulisan ini hanya ingin mendudukkan persoalan ini –semampu saya– secara lebih proporsional. Bahwa dalam persoalan ini terjadi ikhtilaf di kalangan ulama, ini harus diterima, karena faktanya memang demikian.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiq</em>.</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2012/05/02/dunia-yang-melenakan-atau-akhirat-yang-abadi/" title="Dunia yang Melenakan atau Akhirat yang Abadi?">Dunia yang Melenakan atau Akhirat yang Abadi?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/11/beberapa-sikap-ilmiah-dalam-pengkajian-pemikiran-islam/" title="Beberapa Sikap Ilmiah dalam Pengkajian Pemikiran Islam">Beberapa Sikap Ilmiah dalam Pengkajian Pemikiran Islam</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/02/makna-rahmatan-lil-aalamiin-antara-pluralisme-dan-islam/" title="Makna Rahmatan Lil ‘Aalamiin, Antara Pluralisme dan Islam">Makna Rahmatan Lil ‘Aalamiin, Antara Pluralisme dan Islam</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/01/islam-adalah-diin-yang-sempurna/" title="Islam adalah Diin yang Sempurna">Islam adalah Diin yang Sempurna</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/12/perbedaan-ushul-fiqih-melahirkan-perbedaan-fiqih-antar-mujtahid/" title="Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid">Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/12/29/mengkaji-posisi-madzhab-fiqih-dalam-peradaban-keilmuan-islam-dulu-dan-sekarang/" title="Mengkaji Posisi Madzhab Fiqih dalam Peradaban Keilmuan Islam, Dulu dan Sekarang">Mengkaji Posisi Madzhab Fiqih dalam Peradaban Keilmuan Islam, Dulu dan Sekarang</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/26/khilafah-kewajiban-yang-terlupakan/" title="Khilafah, Kewajiban yang Terlupakan">Khilafah, Kewajiban yang Terlupakan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/22/haruskah-kita-bangga-menjadi-orang-indonesia/" title="Haruskah Kita Bangga Menjadi Orang Indonesia?">Haruskah Kita Bangga Menjadi Orang Indonesia?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/16/waspadalah-terhadap-tipu-daya-dunia/" title="Waspadalah Terhadap Tipu Daya Dunia!">Waspadalah Terhadap Tipu Daya Dunia!</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/27/khilafah-menurut-haji-sulaiman-rasjid/" title="Khilafah Menurut Haji Sulaiman Rasjid">Khilafah Menurut Haji Sulaiman Rasjid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/22/kewajiban-menaati-rasulullah-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam-dalam-perintah-dan-larangan/" title="Kewajiban Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam Perintah dan Larangan">Kewajiban Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam Perintah dan Larangan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/17/perlukah-negara-islam/" title="Perlukah Negara Islam?">Perlukah Negara Islam?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/06/jangan-tertipu-dengan-dukungan-mayoritas/" title="Jangan Tertipu dengan Dukungan Mayoritas">Jangan Tertipu dengan Dukungan Mayoritas</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/08/19/%d8%a3%d9%88%d8%b5%d8%a7%d9%81%d9%8f-%d9%84%d9%8a%d9%84%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d9%82%d8%af%d8%b1/" title="أوصافُ ليلة القدر">أوصافُ ليلة القدر</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/21/menggugat-pluralisme-3-memelintir-makna-surah-al-baqarah-ayat-256/" title="Menggugat Pluralisme [3]: Memelintir Makna Surah Al-Baqarah Ayat 256">Menggugat Pluralisme [3]: Memelintir Makna Surah Al-Baqarah Ayat 256</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/19/menggugat-pluralisme-2-mematikan-truth-claim-menghidupkan-kebimbangan/" title="Menggugat Pluralisme [2]: Mematikan &#8216;Truth Claim&#8217;, Menghidupkan Kebimbangan">Menggugat Pluralisme [2]: Mematikan &#8216;Truth Claim&#8217;, Menghidupkan Kebimbangan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/16/menggugat-pluralisme-1-kesalahan-tafsir-surah-al-baqarah-62/" title="Menggugat Pluralisme [1]: Kesalahan Tafsir Surah Al-Baqarah 62">Menggugat Pluralisme [1]: Kesalahan Tafsir Surah Al-Baqarah 62</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/06/6-ghibah-yang-diperbolehkan/" title="6 Ghibah yang Diperbolehkan">6 Ghibah yang Diperbolehkan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/01/syukur/" title="Syukur">Syukur</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/19/5-karakter-muslim-sejati-bagian-kedua/" title="5 Karakter Muslim Sejati [bagian kedua]">5 Karakter Muslim Sejati [bagian kedua]</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/vb-75sF256w" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/03/18/adakah-bidah-hasanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/03/18/adakah-bidah-hasanah/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Sejarah Ilmu Ushul Fiqih</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/TshPnbaMKeY/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/03/16/sejarah-ilmu-ushul-fiqih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Mar 2012 00:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ushul Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[ar-risalah]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah ilmu ushul fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[ushul fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1472</guid>
		<description><![CDATA[Fase Pertama: Masa Shahabat dan Tabi&#8217;in Allah ta&#8217;ala mengutus Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagai Rasul dengan membawa ajaran Islam untuk seluruh umat manusia. Seruan tersebut dimulai di negeri Arab, dan kitab suci al-Qur&#8217;an pun diturunkan dengan bahasa Arab. Ajaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/03/الرسالة-للشافعي.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1476" title="الرسالة للشافعي" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/03/الرسالة-للشافعي-214x300.jpg" alt="" width="171" height="240" /></a>Fase Pertama: Masa Shahabat dan Tabi&#8217;in</strong></p>
<p style="text-align: left;">Allah ta&#8217;ala mengutus Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagai Rasul dengan membawa ajaran Islam untuk seluruh umat manusia. Seruan tersebut dimulai di negeri Arab, dan kitab suci al-Qur&#8217;an pun diturunkan dengan bahasa Arab. Ajaran Islam dengan kitab suci al-Qur&#8217;an al-Karim yang berbahasa Arab ini hadir di tengah-tengah masa keemasan bahasa Arab. Syair dan sastra Arab di masa ini berada di puncak kegemilangan, dan kabilah-kabilah Arab biasa bersaing menunjukkan kepiawaian mereka dalam sastra Arab.</p>
<p style="text-align: left;">Di masa ini, orang-orang Arab bisa memahami makna yang terkandung dalam al-Qur&#8217;an dan al-Hadits tanpa kesulitan yang berarti, karena bahasa al-Qur&#8217;an dan al-Hadits adalah bahasa sehari-hari yang mereka gunakan dan telah mendarah daging dalam diri mereka. Mereka mengerti makna-makna lafazh dalam al-Qur&#8217;an dan al-Hadits, serta memahami gaya bahasanya. Oleh karena itu, mereka bisa mengambil hukum syara&#8217; dari keduanya tanpa kesulitan.</p>
<p style="text-align: left;">Masa ini berlangsung selama masa shahabat dan tabi&#8217;in, atau hingga awal abad ke-2 hijriyah.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Fase Kedua: Sebelum Masa Imam asy-Syafi&#8217;i</strong><br />
<span id="more-1472"></span></p>
<p style="text-align: left;">Setelah itu, negara Islam meluas. Berbagai bangsa masuk ke dalam Islam, seperti bangsa Romawi, Persia, India dan Barbar. Orang-orang Arab kemudian berbaur, berkumpul dan berkomunikasi dengan mereka. Akhirnya kemampuan berbahasa orang Arab melemah, karena dipengaruhi oleh masuknya lafazh, dialek, dan gaya bahasa non Arab.Akibatnya, sebagian besar orang Arab tidak terlalu mampu lagi memahami nash-nash syar&#8217;i. Mereka akhirnya memerlukan kaidah-kaidah bahasa untuk bisa memahami al-Qur&#8217;an dan al-Hadits sebagaimana pemahaman kaum muslimin di masa awal.</p>
<p style="text-align: left;">Mengatasi masalah yang muncul, para ulama kemudian menetapkan beberapa metode untuk menjelaskan tatacara menggunakan dan menarik kesimpulan (beristidlal) dari al-Kitab dan as-Sunnah sehingga menjadi hukum syara&#8217; yang bisa diamalkan. Dari kumpulan kaidah kebahasaan dan kaidah syar&#8217;i di atas, tersusunlah ilmu ushul fiqih. Ilmu ini pertama kali tersusun pada abad ke-2 hijriyah.</p>
<p style="text-align: left;">Yang pertama kali mengumpulkan sebagian kaidah ini dalam sebuah kitab adalah Imam Abu Yusuf, murid Imam Abu Hanifah, sebagaimana disebutkan oleh Ibn an-Nadim di kitabnya, <em>al-Fahrasat</em>. Sayangnya, kitab Abu Yusuf ini tidak sampai ke kita.</p>
<p style="text-align: left;">Orang-orang syi&#8217;ah mengatakan bahwa yang pertama kali menyusun kitab dalam bidang ushul fiqih adalah Imam Abu Ja&#8217;far Muhammad al-Baqir. Namun pendapat ini tidak punya dasar yang kuat.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Fase Ketiga: Masa Imam asy-Syafi&#8217;i (150 – 204 H)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Ulama-ulama sebelum asy-Syafi&#8217;i memang sudah membicarakan pembahasan ushul fiqih, sekaligus beristidlal dan saling mengkritik antar mereka. Namun, belum ada kitab yang disusun secara khusus yang menjadi rujukan mereka. Imam asy-Syafi&#8217;i lah yang pertama kali menulis sebuah kitab dalam bidang ushul fiqih yang sampai kepada kita, yaitu kitab <em>ar-Risalah</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Kitab <em>ar-Risalah </em>ini memuat pembahasan tentang dalil-dalil ijmali, yaitu Kitab, Sunnah, Qiyas dan Ijma&#8217;. Kitab ini juga memuat pembahasan tentang kaidah-kaidah kebahasaan, dan tata cara penggunaannya dalam penggalian hukum-hukum syara&#8217;.</p>
<p style="text-align: left;">Ilmu ushul fiqih yang ditetapkan oleh asy-Syafi&#8217;i menjadi dasar dan standar yang kokoh untuk membedakan pendapat yang shahih dan yang tidak shahih, sekaligus menentukan apakah pendapat tersebut berasal dari syara&#8217; atau bukan. Dengan metode ini juga lah asy-Syafi&#8217;i melakukan penggalian hukum-hukum syara&#8217;, yang kemudian tersusun menjadi fiqih madzhabnya, yaitu madzhab asy-Syafi&#8217;i, yang termuat di kitab beliau, <em>al-Umm</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai contoh, Imam asy-Syafi&#8217;i di kitabnya <em>ar-Risalah </em>telah menetapkan tingkatan dalil-dalil ijmali, dan menentukan derajatnya masing-masing, sebagaimana yang ia katakan, &#8220;Kami berhukum dengan al-Kitab dan as-Sunnah yang disepakati atasnya, yang tidak ada perbedaan pendapat tentang kedudukannya yang utama. Oleh karena itu, tidak ada qiyas ketika ada khabar (hadits).&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">Salah satu ahli sejarah yang menyatakan bahwa asy-Syafi&#8217;i adalah orang yang pertama kali menulis buku tentang ushul fiqih adalah Ibn Khaldun. Dalam kitab <em>Muqaddimah</em>-nya, ketika membahas tentang ushul fiqih, beliau menyatakan, &#8220;Dan yang pertama kali menulis tentang ushul fiqih adalah asy-Syafi&#8217;i radhiyallahu &#8216;anhu. Beliau mendiktekannya dalam risalahnya yang masyhur. Beliau berbicara tentang perintah dan larangan, <em>bayan</em>, <em>khabar</em>, <em>nasakh</em>, hukum <em>&#8216;illat</em> <em>manshush</em> pada <em>qiyas</em>, …&#8221;.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Fase Keempat: Masa Setelah Imam asy-Syafi&#8217;i</strong></p>
<p style="text-align: left;">Pasca asy-Syafi&#8217;i, banyak ulama dan fuqaha yang kemudian melakukan pengkajian dan pendalaman terhadap ushul fiqih yang telah disusun oleh asy-Syafi&#8217;i. Mereka juga memberikan tambahan, memperbaiki, dan menyusunnya berdasarkan bagian-bagian tertentu agar pembahasan dalam ushul fiqih ini bertambah jelas dan terang. Dan upaya mereka ini tetap mengacu dan berdasar pada ushul fiqih yang telah ditetapkan oleh asy-Syafi&#8217;i.</p>
<p style="text-align: left;">Ushul fiqih yang disusun oleh asy-Syafi&#8217;i belumlah lengkap sebagaimana pembahasan ushul fiqih di masa sekarang. Kemudian ulama setelah beliau menyempurnakan bangunan ushul fiqih yang dimulai oleh asy-Syafi&#8217;i. Ada ulama yang mengikuti metode asy-Syafi&#8217;i secara terperinci, ada juga yang memasukkan kaidah-kaidah baru, dan ada juga yang menentang dan mengkritik sebagian kaidah yang telah disebutkan asy-Syafi&#8217;i.</p>
<p style="text-align: left;">Pembahasan ushul fiqih di masa ini hanya terbatas pada pembahasan <em>syarah</em> terhadap ushul fiqih asy-Syafi&#8217;i, tambahan beberapa kaidah baru, dan kritik terhadap sebagian kaidah. Belum membahas kajian ushul fiqih secara keseluruhan, seperti yang dikenal di masa sekarang.</p>
<p style="text-align: left;">Beberapa ulama yang menyusun kitab <em>syarah</em> terhadap <em>ar-Risalah</em>-nya asy-Syafi&#8217;i di masa ini adalah:</p>
<p style="text-align: left;">1. Syarah Abu Bakr Muhammad ash-Shairafi (w. 330 H), dikenal dengan nama <em>Dala-il al-I&#8217;lam</em>.</p>
<p style="text-align: left;">2. Syarah Abu Muhammad al-Qaffal asy-Syasyi (w. 365 H).</p>
<p style="text-align: left;">3. Syarah Abu Muhammad &#8216;Abdullah ibn Yusuf al-Juwaini (w. 438 H).</p>
<p style="text-align: left;">Beberapa ulama yang pertama kali menulis kitab yang berisi pembahasan ushul fiqih setelah asy-Syafi&#8217;i adalah:</p>
<p style="text-align: left;">1. Imam Ahmad ibn Hanbal, dalam kitab <em>Tha&#8217;ah ar-Rasul</em>, <em>an-Nasikh wa al-Mansukh</em>, dan <em>al-&#8217;Ilal</em>.</p>
<p style="text-align: left;">2. Dawud azh-Zhahiri, dalam kitab <em>Ibthal al-Qiyas</em>, <em>al-Khushush wa al-&#8217;Umum</em>, dan lain-lain. Beliau ini banyak melakukan kritik terhadap ushul fiqih asy-Syafi&#8217;i.</p>
<p style="text-align: left;">3. Muhammad at-Tirmidzi (w. 255 H), dalam kitab <em>Itsbat al-&#8217;Ilal asy-Syar&#8217;iyah</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Kitab-kitab di atas hanya membatasi diri pada pembahasan penyelesaian masalah-masalah yang diperselisihkan. Ada yang mengokohkan ushul fiqih asy-Syafi&#8217;i sekaligus membantah pendapat-pendapat yang menyelisihinya, ada juga yang menguatkan madzhab si penulis kitab sekaligus membantah madzhab asy-Syafi&#8217;i.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Fase Kelima: Masa Setelah Berkembangnya dan Meluasnya Madzhab-Madzhab Fiqih</strong></p>
<p style="text-align: left;">Setelah itu, negara Islam semakin meluas, sampai Cina di timur dan Andalusia di barat. Warga negara Islam terdiri dari berbagai bangsa, dan berkomunikasi menggunakan berbagai bahasa. Dalam keadaan ini, kebutuhan umat terhadap keberadaan ulama yang mampu menjelaskan berbagai persoalan kepada mereka semakin terasa. Di masa ini juga kemudian ushul fiqih semakin berkembang, seiring berkembang dan meluasnya madzhab-madzhab fiqih.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai gambaran, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, para pengikut madzhab Syafi&#8217;i lebih fokus untuk melakukan syarah terhadap ushul fiqih asy-Syafi&#8217;i yang ada dalam kitab <em>ar-Risalah</em>. Sedangkan pengikut Madzhab Maliki menggunakan metode ushul fiqih asy-Syafi&#8217;i, namun mereka menambahkan ijma&#8217; ahlil madinah, istihsan, mashalih mursalah, dan adz-dzarai&#8217; sebagai dalil ijmali, yang ditolak oleh asy-Syafi&#8217;i.</p>
<p style="text-align: left;">Adapun madzhab Hanabilah, mereka menggunakan apa yang digunakan oleh asy-Syafi&#8217;i. Namun dalam hal ijma&#8217;, Imam Ahmad hanya menerima ijma&#8217; shahabat, sedangkan asy-Syafi&#8217;i menerima ijma&#8217; mujtahidin dari umat Islam di satu masa, tidak hanya membatasi pada masa shahabat. Setelah masa imam Ahmad, pengikut madzhab ini kemudian menerima kehujjahan ijma&#8217; mujtahidin, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Muwaffiquddin ibn Ahmad ibn Qudamah al-Maqdisi (w. 630 H) dalam kitabnya <em>Raudhah an-Nazhir wa Jannah al-Munazhir fi Ushul al-Fiqh</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Adapun pengikut madzhab Abu Hanifah membuat sendiri ushul fiqih untuk menguatkan fiqih mereka. Mereka memasukkan istihsan dan &#8216;urf sebagai dalil ijmali, selain al-Qur&#8217;an, as-Sunnah, Ijma&#8217; dan Qiyas. Kitab fiqih yang pertama kali ditulis oleh pengikut madzhab ini adalah <em>Risalah al-Karkhi fi al-Ushul</em> yang ditulis oleh Abu al-Hasan &#8216;Ubaidullah ibn al-Hasan al-Karkhi (w. 340 H), kemudian kitab <em>Ushul al-Jashshash</em> karya al-Jashshash (w. 370 H). Metode mereka berbeda dengan metode yang dilakukan oleh Imam asy-Syafi&#8217;i.</p>
<p style="text-align: left;">Adapun pengikut madzhab Zhahiri, mereka menolak menggunakan qiyas, mereka hanya menggunakan zhahir nash. Madzhab ini didirikan oleh Dawud ibn Khalaf al-Ashfahani azh-Zhahiri. Salah satu ulama yang mengikuti metode zhahiri ini adalah Ibn Hazm al-Andalusi.</p>
<p style="text-align: left;">Sedangkan Syi&#8217;ah Imamiyah pengikut Imam Ja&#8217;far ash-Shadiq, sama seperti madzhab Zhahiri mereka juga menolak qiyas. Mereka juga membatasi penggalian fiqih hanya berdasarkan penggalian yang dilakukan oleh imam-imam mereka saja.</p>
<p style="text-align: left;">Jika dikaji lebih lanjut, maka akan terlihat bahwa madzhab yang empat dan selainnya dari kalangan ahlus sunnah menggunakan dua metode ushul fiqih, yaitu metode asy-Syafi&#8217;i yang dikenal sebagai metode mutakallimin, dan metode pengikut Abu Hanifah yang dikenal sebagai metode fuqaha.</p>
<p style="text-align: left;">Pembahasan secara khusus tentang perbedaan metode mutakallimin dan metode fuqaha insya Allah akan ditulis secara khusus. Semoga Allah memudahkan.</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p style="text-align: left;">Bahan Bacaan:</p>
<p style="text-align: left;">Kitab <em>al-Wadhih fii Ushul al-Fiqh</em> karya Muhammad Husain &#8216;Abdullah</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/28/mengenal-sadd-adz-dzarai/" title="Mengenal Sadd adz-Dzarai&#8217;">Mengenal Sadd adz-Dzarai&#8217;</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/27/mengenal-al-mashalih-al-mursalah-bagian-2/" title="Mengenal al-Mashalih al-Mursalah (bagian 2)">Mengenal al-Mashalih al-Mursalah (bagian 2)</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/26/mengenal-al-mashalih-al-mursalah-bagian-1/" title="Mengenal al-Mashalih al-Mursalah (bagian 1)">Mengenal al-Mashalih al-Mursalah (bagian 1)</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/23/penyebab-terjadinya-perbedaan-pendapat-di-kalangan-fuqaha-menurut-syaikh-dr-wahbah-az-zuhaili/" title="Penyebab Terjadinya Perbedaan Pendapat di Kalangan Fuqaha Menurut Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili">Penyebab Terjadinya Perbedaan Pendapat di Kalangan Fuqaha Menurut Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/12/perbedaan-ushul-fiqih-melahirkan-perbedaan-fiqih-antar-mujtahid/" title="Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid">Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/28/hukum-hukum-atas-perbuatan-manusia/" title="Hukum-Hukum Atas Perbuatan Manusia">Hukum-Hukum Atas Perbuatan Manusia</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/05/syarat-syarat-menjadi-seorang-mujtahid/" title="Syarat-Syarat Menjadi Seorang Mujtahid">Syarat-Syarat Menjadi Seorang Mujtahid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/09/28/penyebab-%e2%80%98ulama-menyelisihi-hadits-hadits-shahih/" title="Penyebab ‘Ulama Menyelisihi Hadits-Hadits Shahih">Penyebab ‘Ulama Menyelisihi Hadits-Hadits Shahih</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/09/26/tingkatan-rujukan-imam-as-syafi%e2%80%99i-rahimahullah-secara-berurutan-dalam-ijtihad/" title="Tingkatan Rujukan Imam as-Syafi’i Rahimahullah Secara Berurutan Dalam Ijtihad">Tingkatan Rujukan Imam as-Syafi’i Rahimahullah Secara Berurutan Dalam Ijtihad</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/07/highly-recommended-website-waqfeya-com/" title="Highly Recommended Website: waqfeya.com">Highly Recommended Website: waqfeya.com</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/04/pengertian-amr-hukum-asal-benda-dan-hukum-asal-perbuatan-manusia/" title="Pengertian Amr, Hukum Asal Benda dan Hukum Asal Perbuatan Manusia">Pengertian Amr, Hukum Asal Benda dan Hukum Asal Perbuatan Manusia</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/28/pengantar-hukum-syar%e2%80%99i/" title="Pengantar Hukum Syar’i">Pengantar Hukum Syar’i</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/21/siapakah-yang-berhak-mengeluarkan-hukum/" title="Siapakah yang Berhak Mengeluarkan Hukum?">Siapakah yang Berhak Mengeluarkan Hukum?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/17/pengertian-dan-ruang-lingkup-ushul-fiqih/" title="Pengertian dan Ruang Lingkup Ushul Fiqih">Pengertian dan Ruang Lingkup Ushul Fiqih</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/TshPnbaMKeY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/03/16/sejarah-ilmu-ushul-fiqih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/03/16/sejarah-ilmu-ushul-fiqih/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Langit Mana yang Akan Menaungiku…</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/aNbgm-uZ_no/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/03/14/langit-mana-yang-akan-menaungiku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Mar 2012 00:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[asy-syafi'i]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[tawadhu']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1459</guid>
		<description><![CDATA[1. أنتم أعلم بالأخبار الصحاح منا، فإذا كان خبر صحيح، فأعلمني حتى أذهب إليه، كوفيا كان، أو بصريا، أو شاميا &#8211;&#62; &#8216;Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal berkata: &#8216;Saya mendengar ayahku berkata bahwa asy-Syafi&#8217;i berkata, &#8220;Anda lebih mengetahui tentang khabar (hadits) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/03/أي-سماء-تظلني.jpg" target="_blank"><img class="wp-image-1467 alignright" title="أي سماء تظلني" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/03/أي-سماء-تظلني-300x193.jpg" alt="" width="240" height="154" /></a>1. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>أنتم أعلم بالأخبار الصحاح منا، فإذا كان خبر صحيح، فأعلمني حتى أذهب إليه، كوفيا كان، أو بصريا، أو شاميا</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">&#8211;&gt; &#8216;Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal berkata: &#8216;Saya mendengar ayahku berkata bahwa asy-Syafi&#8217;i berkata, &#8220;Anda lebih mengetahui tentang khabar (hadits) yang shahih dibandingkan kami. Jika ada khabar yang shahih, beritahukanlah kepadaku, agar aku bisa mengikutinya, baik itu khabar kufi (dari orang-orang Kufah), bashri (dari orang-orang Bashrah), atupun syami (orang-orang Syam).&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">2. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>كل ما قلته فكان من رسول الله -صلى الله عليه وسلم- خلاف قولي مما صح، فهو أولى، ولا تقلدوني</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">&#8211;&gt; Harmalah berkata: asy-Syafi&#8217;i berkata, &#8220;Setiap apa saja yang telah kukatakan ternyata bertentangan dengan hadits shahih dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka hadits itu lebih utama untuk diikuti, dan janganlah kalian bertaqlid kepadaku.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">3. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقولوا بها، ودعوا ما قلته</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">&#8211;&gt; Dari ar-Rabi&#8217;: saya mendengar asy-Syafi&#8217;i berkata, &#8220;Jika kalian menemukan di kitabku pendapat yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka berhujjahlah dengannya (as-sunnah) dan tinggalkanlah pendapatku.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">4. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>أي سماء تظلني، وأي أرض تقلني إذا رويت عن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- حديثا فلم أقل به</strong></big></big></span><br />
<span id="more-1459"></span></p>
<p style="text-align: left;">&#8211;&gt; Ar-Rabi&#8217; berkata: saya mendengar asy-Syafi&#8217;i berkata, &#8220;Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan membawaku, jika aku meriwayatkan satu hadits dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, namun aku tidak berhujjah dengannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">5. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>كل حديث عن النبي -صلى الله عليه وسلم- فهو قولي، وإن لم تسمعوه مني</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">&#8211;&gt; Abu Tsaur berkata: saya mendengar asy-Syafi&#8217;i berkata, &#8220;Setiap ada hadits dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka itu adalah pendapatku, meskipun kalian tak pernah mendengarnya dariku.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">6. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>إذا صح الحديث فهو مذهبي ، وإذا صح الحديث، فاضربوا بقولي الحائط</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">&#8211;&gt; Diriwayatkan juga bahwa asy-Syafi&#8217;i berkata, &#8220;jika ada satu hadits shahih, maka itu adalah madzhabku. Dan jika ada satu hadits shahih (bertentangan dengan pendapatku), maka lemparkanlah pendapatku ke dinding.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">Sumber: <strong><em>Siyar A&#8217;laamin Nubalaa</em> karya Imam adz-Dzahabi</strong></p>
<p style="text-align: left;">*****</p>
<p style="text-align: left;">Pernyataan Imam asy-Syafi&#8217;i rahimahullah di atas menunjukkan komitmen beliau terhadap sunnah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Sehebat apapun asy-Syafi&#8217;i, manusia –termasuk asy-Syafi&#8217;i sendiri– tetap harus mengikuti Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, bukan mengikuti asy-Syafi&#8217;i.</p>
<p style="text-align: left;">Pernyataan di atas juga menunjukkan tawadhu&#8217;nya imam asy-Syafi&#8217;i. Sebagai seorang yang sangat &#8216;alim, faqih dan ahli hadits, seandainya beliau mau, tentu beliau bisa mencukupkan diri dengan pendapatnya saja, tanpa perlu mendengarkan pendapat orang lain. Namun, asy-Syafi&#8217;i bukan orang yang seperti itu, beliau tetap meminta imam Ahmad dan yang lainnya mengingatkan sekaligus mengoreksi jika pendapat beliau tidak sesuai dengan yang ditunjukkan oleh sunnah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Bahkan, dengan tegas beliau meminta orang lain untuk meninggalkan pendapat beliau jika bertentangan dengan sunnah.</p>
<p style="text-align: left;">Bandingkan sifat tawadhu&#8217; ini dengan sifat sebagian anak muda muslim saat ini, yang ilmunya tidak sampai sepersepuluhnya ilmu asy-Syafi&#8217;i, namun lagaknya sudah seperti mujtahid mutlak, begitu gampangnya menyalahkan, membid&#8217;ahkan bahkan menyesatkan orang lain yang berbeda pendapat dengannya. Dengan mengusung slogan kembali ke al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah sesuai manhaj salafush shalih, mereka dengan &#8216;beringasnya&#8217; menuduh semua pihak yang pendapatnya berbeda dengan kelompok mereka sebagai ahlul bid&#8217;ah dan pengikut hawa nafsu. Inikah ketawadhu&#8217;an salaful ummah yang mereka ikuti?</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/18/tiga-tipe-ulama/" title="Tiga Tipe Ulama">Tiga Tipe Ulama</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/aNbgm-uZ_no" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/03/14/langit-mana-yang-akan-menaungiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/03/14/langit-mana-yang-akan-menaungiku/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Seputar Thaharah (bagian 1)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/ndPAKk_9RPI/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/03/06/seputar-thaharah-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2012 00:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[thaharah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1444</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Fuqaha mendahulukan pembahasan thaharah daripada pembahasan shalat karena thaharah adalah pembuka shalat sekaligus syarat sahnya shalat. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُوْرُ ، وَتَحْرِيْمُهَا التَّكْبِيْرُ ، وَتَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمُ Artinya: &#8220;Kunci shalat adalah bersuci, pengharamannya adalah takbir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: left;"><strong><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/03/thaharah.jpg" target="_blank"><img class="alignleft  wp-image-1448" title="thaharah" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/03/thaharah.jpg" alt="" width="208" height="208" /></a>Pengantar</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Fuqaha mendahulukan pembahasan thaharah daripada pembahasan shalat karena thaharah adalah pembuka shalat sekaligus syarat sahnya shalat. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُوْرُ ، وَتَحْرِيْمُهَا التَّكْبِيْرُ ، وَتَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمُ</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Kunci shalat adalah bersuci, pengharamannya adalah takbir dan penghalalannya adalah salam.&#8221; [Hadits shahih hasan, dikeluarkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibn Majah dari 'Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu]</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>اَلطُّهُوْرُ شَطْرُ الْإِيْمَانِ</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Bersuci adalah setengah dari iman.&#8221; [Hadits shahih riwayat Muslim]</p>
<h3 style="text-align: left;"><strong>Pengertian dan Urgensi Thaharah</strong></h3>
<p style="text-align: left;"><strong>Pengertian Thaharah</strong></p>
<p style="text-align: left;">Secara bahasa, thaharah berarti bersih dari kotoran, baik secara fisik seperti bersih dari air kencing, maupun secara maknawi seperti bersih dari maksiat.</p>
<p style="text-align: left;">Sedangkan secara syar&#8217;i, thaharah berarti &#8216;bersih dari najis, baik secara hakikat yaitu dari <em>khabats</em> (sesuatu yang dianggap kotor dan jijik menurut syara&#8217;), maupun secara hukum yaitu dari <em>hadats</em> (sesuatu yang menurut syara&#8217; jika terdapat pada seseorang, ia akan kehilangan kesucian)&#8217;. Definisi ini diambil dari kalangan Hanafiyah.<br />
<span id="more-1444"></span></p>
<p style="text-align: left;">An-Nawawi (dari kalangan Syafi&#8217;iyah) mendefinisikan thaharah dengan &#8216;mengangkat hadats dan menghilangkan najis, atau yang semakna dan memiliki sifat yang sama dengannya&#8217;. Definisi ini mencakup tayammum, mandi sunnah, memperbarui wudhu, pembasuhan yang kedua dan ketiga pada hadats dan najis, mengusap telinga, berkumur dan beberapa <em>nafilah</em> lainnya dalam thaharah, termasuk juga bersuci bagi wanita yang keluar darah penyakit dan orang yang tidak dapat menahan kencing.</p>
<p style="text-align: left;">Kalangan Malikiyah dan Hanabilah mendefinisikan thaharah dengan &#8216;menghilangkan sesuatu yang menyebabkan terhalangnya shalat, yaitu hadats dan najis dengan air, atau menghilangkan hukumnya dengan tanah&#8217;.</p>
<p style="text-align: left;">Dari definisi thaharah di atas, bisa dipahami bahwa thaharah terbagi menjadi dua macam, yaitu bersuci dari <em>hadats</em> (khusus badan) dan bersuci dari <em>khabats</em> (badan, pakaian dan tempat). Bersuci dari <em>hadats</em> terbagi tiga, yaitu (1) hadats besar, dengan mandi, (2) hadats kecil, dengan wudhu, (3) pengganti keduanya jika sangat sulit untuk mandi dan berwudhu, yaitu dengan tayammum. Bersuci dari <em>khabats</em> juga terbagi tiga, yaitu dengan membasuh (<em>ghusl</em>), mengusap (<em>mas-h</em>) dan memercikkan air (<em>nadh-h</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Jadi, thaharah mencakup wudhu, mandi, menghilangkan najis, tayammum dan yang berhubungan dengannya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Urgensi Thaharah</strong></p>
<p style="text-align: left;">Thaharah sangat penting dalam Islam, baik thaharah secara hakikat yaitu mensucikan pakaian, badan dan tempat shalat dari najis, maupun secara hukum yaitu mensucikan anggota badan dari hadats, dan mensucikan seluruh tubuh dari janabah. Hal ini karena ia merupakan syarat untuk sahnya shalat yang dilakukan lima kali sehari, dan shalat adalah berdiri menghadap Allah ta&#8217;ala, melakukannya dalam keadaan suci merupakan sikap <em>ta&#8217;zhim </em>(pengagungan)<em> </em>kepada Allah.</p>
<p style="text-align: left;">Islam juga sangat menyukai kebersihan dan kesucian. Allah ta&#8217;ala memuji orang-orang yang bersuci:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.&#8221; [al-Baqarah ayat 222]</p>
<h3 style="text-align: left;"><strong>Syarat Wajib Thaharah</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Diwajibkan membersihkan badan, pakaian, dan tempat jika terkena najis, berdasarkan firman Allah ta&#8217;ala:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Dan pakaianmu bersihkanlah.&#8221; [al-Muddatstsir ayat 4]</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِيْنَ وَالْعَاكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Bersihkanlah (wahai Ibrahim dan Isma&#8217;il) rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, i&#8217;tikaf, yang ruku&#8217; dan yang sujud.&#8221; [al-Baqarah ayat 125]</p>
<p style="text-align: left;">Jika membersihkan pakaian dan tempat diwajibkan, maka membersihkan badan tentu lebih utama.</p>
<p style="text-align: left;">Diwajibkan thaharah bagi orang yang diwajibkan shalat, dan itu ada 10 syarat, yaitu:</p>
<p style="text-align: left;"><strong>1. Islam</strong></p>
<p style="text-align: left;">Ada juga yang mengatakan &#8216;sampainya dakwah&#8217;. Dalam hal ini, ada yang berpendapat orang kafir tidak diwajibkan, ada juga yang berpendapat tetap diwajibkan. Perbedaan pendapat ini lahir dari perbedaan pendapat yang lebih mendasar, yaitu tentang &#8216;diserunya orang-orang kafir untuk melaksanakan cabang-cabang syari&#8217;ah&#8217;.</p>
<p style="text-align: left;">Menurut pendapat mayoritas fuqaha, orang-orang kafir diseru untuk melaksanakan cabang-cabang ibadah, jadi mereka di akhirat akan dihukum dengan dua hukuman, yaitu hukuman karena tidak beriman dan hukuman karena meninggalkan cabang-cabang perintah agama. Sedangkan menurut Hanafiyah, orang-orang kafir tidak diseru untuk melaksanakan cabang-cabang syari&#8217;ah. Di akhirat, orang-orang kafir hanya akan dihukum karena tidak beriman, tidak karena meninggalkan cabang-cabang syari&#8217;ah.</p>
<p style="text-align: left;">Meskipun begitu, dua kelompok ini (mayoritas fuqaha dan Hanafiyah) sepakat bahwa pelaksanaan ibadah yang dilakukan orang kafir tidak sah selama mereka masih dalam kekafiran. Dan jika mereka masuk Islam, mereka tidak dituntut untuk meng-<em>qadha&#8217;</em>. Dan orang kafir tidak sah shalatnya menurut <em>ijma&#8217;</em> (kesepakatan ulama).</p>
<p style="text-align: left;">Jika orang murtad kembali masuk Islam, menurut mayoritas fuqaha, ia tidak dituntut untuk meng-<em>qadha&#8217;</em> shalat yang ditinggalkannya selama murtad. Sedangkan menurut Syafi&#8217;iyah, ia dituntut untuk meng-<em>qadha&#8217;</em>-nya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>2. Berakal</strong></p>
<p style="text-align: left;">Tidak wajib thaharah bagi orang gila dan orang pingsan, kecuali mereka kembali sadar saat tiba waktu shalat. Sedangkan orang mabuk tidak gugur kewajiban thaharahnya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>3. Baligh</strong></p>
<p style="text-align: left;">Tandanya ada 5, yaitu: (a) mimpi basah, (b) tumbuh rambut kemaluan, (c) haidh, (d) hamil, dan (e) mencapai usia baligh, yaitu 15 tahun, ada juga yang berpendapat 17 tahun, Abu Hanifah mengatakan 18 tahun. Tidak wajib thaharah bagi anak kecil, namun ia tetap diperintahkan untuk melakukannya pada usia 7 tahun, dan dipukul jika tidak melakukannya pada usia 10 tahun.</p>
<p style="text-align: left;">Jika seorang anak kecil sudah melaksanakan shalat, kemudian ia mencapai baligh di sisa waktu shalat, maka ia wajib mengulang shalatnya menurut Malikiyah. Sedangkan menurut Syafi&#8217;iyah, ia tidak perlu mengulang shalatnya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>4. Berhentinya Darah Haidh atau Nifas</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>5. Masuk Waktu Shalat</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>6. Tidak Tidur</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>7. Tidak Lupa</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>8. Tidak Dipaksa Untuk Tidak Thaharah.</strong></p>
<p style="text-align: left;">Menurut ijma&#8217;, orang yang tidur, lupa dan dipaksa wajib meng-<em>qadha&#8217;</em> apa yang tertinggal.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>9. Terdapat Air atau Tanah yang Suci</strong></p>
<p style="text-align: left;">Jika keduanya tidak ada, ada yang berpendapat ia tetap harus shalat tanpa bersuci dan kemudian ia harus meng-<em>qadha&#8217;</em>-nya. Ada juga yang berpendapat tidak perlu meng-<em>qadha&#8217;</em>. Dan ada juga yang berpendapat ia tidak perlu shalat dan harus meng-<em>qadha&#8217;</em>-nya.</p>
<p style="text-align: left;">Tema ini –insya Allah– nanti akan dibahas secara terperinci.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>10. Memiliki Kemampuan Untuk Melakukannya</strong></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p style="text-align: left;">Rujukan:</p>
<p style="text-align: left;">Kitab <em>al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu </em>Juz 1, karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili.</p>
<p style="text-align: left;">(Kitab bisa diunduh di <strong><a href="http://abufurqan.com/2011/10/24/download-kitab-al-fiqh-al-islami-wa-adillatuhu/" target="_blank">SINI</a></strong>)</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/12/perbedaan-ushul-fiqih-melahirkan-perbedaan-fiqih-antar-mujtahid/" title="Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid">Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/12/29/mengkaji-posisi-madzhab-fiqih-dalam-peradaban-keilmuan-islam-dulu-dan-sekarang/" title="Mengkaji Posisi Madzhab Fiqih dalam Peradaban Keilmuan Islam, Dulu dan Sekarang">Mengkaji Posisi Madzhab Fiqih dalam Peradaban Keilmuan Islam, Dulu dan Sekarang</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/19/rasulullah-boleh-menikah-tanpa-mahar-wali-dan-saksi/" title="Rasulullah Boleh Menikah Tanpa Mahar, Wali dan Saksi">Rasulullah Boleh Menikah Tanpa Mahar, Wali dan Saksi</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/07/hukum-berjama%e2%80%99ah-dalam-shalat-fardhu-bagi-laki-laki-menurut-madzhab-yang-empat/" title="Hukum Berjama’ah dalam Shalat Fardhu Bagi Laki-Laki Menurut Madzhab yang Empat">Hukum Berjama’ah dalam Shalat Fardhu Bagi Laki-Laki Menurut Madzhab yang Empat</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/05/batas-aurat-wanita-merdeka-menurut-madzhab-syafi%e2%80%99i/" title="Batas Aurat Wanita Merdeka Menurut Madzhab Syafi’i">Batas Aurat Wanita Merdeka Menurut Madzhab Syafi’i</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/04/batas-aurat-wanita-merdeka-di-hadapan-pria-asing-menurut-madzhab-yang-empat/" title="Batas Aurat Wanita Merdeka di Hadapan Pria Asing Menurut Madzhab yang Empat">Batas Aurat Wanita Merdeka di Hadapan Pria Asing Menurut Madzhab yang Empat</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/29/hukum-shalat-%e2%80%98ied-menurut-madzhab-yang-empat/" title="Hukum Shalat ‘Ied Menurut Madzhab yang Empat">Hukum Shalat ‘Ied Menurut Madzhab yang Empat</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/28/hukum-%e2%80%98umrah-menurut-madzhab-yang-empat/" title="Hukum ‘Umrah Menurut Madzhab yang Empat">Hukum ‘Umrah Menurut Madzhab yang Empat</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/09/05/adakah-shalat-sunnah-qabliyah-%e2%80%98isya/" title="Adakah Shalat Sunnah Qabliyah ‘Isya?">Adakah Shalat Sunnah Qabliyah ‘Isya?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/08/22/model-penulisan-fiqih-yang-benar-menurut-syaikh-mahmud-abdul-lathif-uwaidhah/" title="Model Penulisan Fiqih yang Benar Menurut Syaikh Mahmud &#8216;Abdul Lathif &#8216;Uwaidhah">Model Penulisan Fiqih yang Benar Menurut Syaikh Mahmud &#8216;Abdul Lathif &#8216;Uwaidhah</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/07/20/macam-macam-puasa-sunnah/" title="Macam-Macam Puasa Sunnah">Macam-Macam Puasa Sunnah</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/06/07/macam-macam-shalat-tathawwu%e2%80%99-bagian-2/" title="Macam-Macam Shalat Tathawwu’ (Bagian 2)">Macam-Macam Shalat Tathawwu’ (Bagian 2)</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/06/04/macam-macam-shalat-tathawwu%e2%80%99-bagian-1/" title="Macam-Macam Shalat Tathawwu’ (Bagian 1)">Macam-Macam Shalat Tathawwu’ (Bagian 1)</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/07/highly-recommended-website-waqfeya-com/" title="Highly Recommended Website: waqfeya.com">Highly Recommended Website: waqfeya.com</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/06/download-kitab-fiqih-terlengkap-disini/" title="Download Kitab Fiqih Terlengkap Di Sini!">Download Kitab Fiqih Terlengkap Di Sini!</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/17/pengertian-dan-ruang-lingkup-ushul-fiqih/" title="Pengertian dan Ruang Lingkup Ushul Fiqih">Pengertian dan Ruang Lingkup Ushul Fiqih</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/09/hukum-membaca-ta%e2%80%99awudz-sebelum-membaca-al-fatihah-ketika-shalat/" title="Hukum Membaca Ta’awudz Sebelum Membaca Al-Fatihah Ketika Shalat">Hukum Membaca Ta’awudz Sebelum Membaca Al-Fatihah Ketika Shalat</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/02/hukum-menjadikan-bekam-sebagai-profesi/" title="Hukum Menjadikan Bekam Sebagai Profesi">Hukum Menjadikan Bekam Sebagai Profesi</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/ndPAKk_9RPI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/03/06/seputar-thaharah-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/03/06/seputar-thaharah-bagian-1/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Mengenal Sadd adz-Dzarai’</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/geZFmIV18CM/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/02/28/mengenal-sadd-adz-dzarai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Feb 2012 00:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ushul Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[sadd adz-dzarai']]></category>
		<category><![CDATA[ushul fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1434</guid>
		<description><![CDATA[A.  Definisi Sadd adz-Dzarai&#8217;[1] Adz-dzarai&#8217; (الذرائع) merupakan bentuk jamak dari adz-dzari&#8217;ah (الذريعة). Dan adz-Dzari&#8217;ah secara bahasa artinya perantara atau jalan untuk mencapai sesuatu. Sedangkan secara istilah, menurut Dr. Muhammad ibn Husain al-Jaizani, ulama ushul fiqih membagi makna adz-Dzari&#8217;ah menjadi dua, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: left;"><strong><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/إعمال-قاعدة-سد-الذرائع-في-باب-البدعة.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1440" title="إعمال قاعدة سد الذرائع في باب البدعة" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/إعمال-قاعدة-سد-الذرائع-في-باب-البدعة-221x300.jpg" alt="" width="177" height="240" /></a>A.  Definisi Sadd adz-Dzarai&#8217;</strong><a title="" href="#_edn1">[1]</a><strong></strong></h3>
<p style="text-align: left;"><em>Adz-dzarai&#8217;</em> (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الذرائع</strong></span>) merupakan bentuk jamak dari <em>adz-dzari&#8217;ah</em> (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الذريعة</strong></span>). Dan <em>adz-Dzari&#8217;ah</em> secara bahasa artinya perantara atau jalan untuk mencapai sesuatu. Sedangkan secara istilah, menurut Dr. Muhammad ibn Husain al-Jaizani, ulama ushul fiqih membagi makna <em>adz-Dzari&#8217;ah</em> menjadi dua, yaitu:</p>
<p style="text-align: left;">1. Makna umum, dan ini sama dengan makna bahasanya, yaitu mencakup setiap perantara atau jalan untuk mencapai sesuatu, baik berupa kemaslahatan ataupun kerusakan.</p>
<p style="text-align: left;">2. Makna khusus, yaitu suatu perbuatan yang pada dasarnya mubah, namun menjadi jalan menuju perbuatan yang diharamkan.</p>
<p style="text-align: left;">Secara umum fuqaha dan ulama ushul memaknai <em>adz-dzarai&#8217; </em>dengan makna khusus ini. Untuk menempatkannya dalam pembahasan yang sesuai dengan yang dituju, kata <em>adz-dzarai&#8217;</em> didahului dengan <em>sadd</em> (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>سد</strong></span>) yang artinya menutup.</p>
<p style="text-align: left;">Jadi, <em>sadd adz-dzarai&#8217; </em>artinya menutup jalan atau perantara menuju perbuatan yang diharamkan. Meskipun jalan atau perantara tersebut pada awalnya tidak haram, namun karena ia mengantarkan kepada perbuatan yang diharamkan, ia menjadi haram juga.</p>
<h3 style="text-align: left;"><strong>B.  Kehujjahan Sadd adz-Dzarai&#8217;</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Ulama berbeda pendapat dalam menerima kehujjahan <em>sadd adz-dzarai&#8217;</em> sebagai dalil fiqih, yaitu sebagai berikut:<br />
<span id="more-1434"></span></p>
<p style="text-align: left;"><strong>1. Sadd adz-Dzarai&#8217; Merupakan Dalil Fiqih<a title="" href="#_edn2">[2]</a></strong></p>
<p style="text-align: left;">Pendapat ini dikemukakan oleh kalangan Malikiyah dan Hanabilah. Menurut az-Zuhaili, Imam Malik dan Ahmad menyatakan bahwa <em>adz-dzarai&#8217;</em> merupakan salah satu bagian dari ushul fiqih. Masih menurut az-Zuhaili, Ibn al-Qayyim menyatakan bahwa <em>sadd adz-dzarai&#8217; </em>merupakan seperempat agama.</p>
<p style="text-align: left;">Mereka melandasi hal ini dengan argumentasi-argumentasi berikut ini:</p>
<p style="text-align: left;">a) Firman Allah ta&#8217;ala:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>ولا تسبوا الذين يدعون من دون الله فيسبوا الله عدوا بغير علم</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;<em>Dan janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.</em>&#8221; [al-An'aam ayat 108]</p>
<p style="text-align: left;">Allah ta&#8217;ala melarang memaki sesembahan orang kafir karena hal tersebut akan membuka jalan bagi mereka untuk memaki Allah ta&#8217;ala.</p>
<p style="text-align: left;">Allah subhanahu wa ta&#8217;ala juga melarang menggunakan kata <em>raa&#8217;inaa</em> (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>راعنا</strong></span>) pada firman-Nya:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>يا أيها الذين آمنوا لا تقولوا راعنا وقولوا انظرنا</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian katakan (kepada Muhammad), &#8216;raa&#8217;inaa&#8217;, tetapi katakanlah &#8216;unzhurnaa&#8217;.</em>&#8221; [al-Baqarah ayat 104]</p>
<p style="text-align: left;">Ucapan <em>raa&#8217;inaa</em> oleh para shahabat kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membuka jalan bagi kalangan Yahudi untuk mengejek Nabi, karena kata <em>raa&#8217;inaa</em> dalam bahasa mereka merupakan ejekan kepada orang yang diajak bicara.</p>
<p style="text-align: left;">Allah ta&#8217;ala pun melarang wanita yang menghentakkan kakinya supaya diketahui orang perhiasan yang tersembunyi di dalamnya, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>ولا يضربن بأرجلهن ليعلم ما يخفين من زينتهن</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;<em>Dan janganlah perempuan itu menghentakkan kakinya supaya diketahui orang perhiasan yang tersembunyi di dalamnya.</em>&#8221; [an-Nur ayat 31]</p>
<p style="text-align: left;">Sebenarnya menghentakkan kaki itu boleh-boleh saja bagi perempuan, namun karena menyebabkan perhiasannya yang tersembunyi dapat diketahui orang sehingga akan menimbulkan rangsangan bagi yang mendengar, maka menghentakkan kaki itu menjadi terlarang.</p>
<p style="text-align: left;">b) Sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>دع ما يريبك إلى ما لا يريبك</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;<em>Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu.</em>&#8221; [HR. at-Tirmidzi dari al-Hasan ibn 'Ali radhiyallahu 'anhuma. At-Tirmidzi berkata hadits ini Hasan Shahih.]</p>
<p style="text-align: left;">Dan hadits:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>الحلال بين والحرام بين وبينهما مشبهات لا يعلمها كثير من الناس، فمن اتقى المشبهات استبرأ لدينه وعرضه، ومن وقع في المشبهات كان كراع يرعى حول الحمى يوشك أن يواقعه. ألا وإن لكل ملك حمى، ألا وإن حمى الله في أرضه محارمه</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas. Di antara keduanya ada perkara syubhat (samar hukumnya) yang banyak orang tidak mengetahuinya. Siapa yang menjauhi perkara syubhat ini maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat ini seperti seorang gembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.&#8221; [HR. al-Bukhari dan Muslim dari an-Nu'man ibn Basyir radhiyallahu 'anhu. Lafazh hadits ini menurut al-Bukhari.]</p>
<p style="text-align: left;">Ibn Rusyd berkata: &#8220;Sesungguhnya pembahasan <em>adz-dzarai&#8217;</em> dalam al-Kitab dan as-Sunnah cukup panjang pembahasannya dan tidak memungkinkan untuk membatasinya.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">c) Membolehkan melakukan perbuatan yang menjadi jalan atau perantara kepada perbuatan yang diharamkan merupakan hal yang kontradiktif dengan pengharaman itu sendiri. Sebagai contoh, seorang dokter yang ingin mencegah terjadinya penyakit pada seseorang tentu akan melarang orang tersebut melakukan perbuatan yang akan mengantarkannya menderita penyakit tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">d) Berdasarkan penelitian terhadap sumber pengharaman dalam al-Kitab dan as-Sunnah, diketahui bahwa ada yang memang haram sendirinya (<em>tahrim al-maqashid</em>) seperti keharaman syirik, zina, meminum khamr dan membunuh, ada juga yang haram karena menjadi jalan atau perantara kepada perbuatan yang haram sendirinya tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Ibn al-Qayyim menyebutkan ada sembilan puluh sembilan contoh pengharaman dalam al-Kitab dan as-Sunnah karena menjadi jalan atau perantara (<em>adz-dzarai&#8217;</em>) kepada perbuatan yang haram. Sebagai contoh, <em>sadd adz-dzarai&#8217;</em> kepada perbuatan zina adalah pengharaman khalwat, pengharaman wanita bepergian (<em>safar</em>) sendirian, pengharaman melihat aurat, kewajiban meminta izin jika ingin memasuki sebuah rumah, dan banyak lagi.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Sadd adz-dzarai&#8217;</em> kepada pembunuhan adalah larangan menjual senjata di masa fitnah, mewajibkan qishash untuk mencegah orang mengampang-gampangkan pembunuhan, dan lain-lain. Masih banyak contoh dalam perkara-perkara yang lain.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>2. Sadd adz-Dzarai&#8217; Bukan Merupakan Dalil Fiqih<a title="" href="#_edn3">[3]</a></strong></p>
<p style="text-align: left;">Ini merupakan pendapat Syafi&#8217;iyah dan Hanafiyah. Mereka menyatakan bahwa <em>sadd adz-dzarai&#8217;</em>  bukan merupakan dalil fiqih, karena <em>adz-dzarai&#8217;</em> adalah perantara, sedangkan perantara hukumnya berubah-ubah, kadang haram, kadang wajib, makruh, mandub, dan terkadang mubah. Dan perantara tersebut pun berbeda-beda terhadap hukum yang jadi tujuannya (<em>al-maqashid</em>), sesuai dengan kuat lemahnya maslahat dan mafsadat yang dihasilkan, serta nampak dan tersembunyinya perantara tersebut. Atas dasar ini, tidak memungkinkan untuk menentukan hukum <em>adz-dzarai&#8217;</em> ini secara pasti.</p>
<p style="text-align: left;">Mereka juga menyatakan bahwa hukum syara&#8217;<em> </em>dibangun atas sesuatu yang nampak (<em>zhahir</em>), sebagaimana yang dilakukan Rasulullah terhadap kaum yang menampakkan keislaman padahal hatinya ingkar (kalangan munafik), mereka di dunia tidak mendapatkan hukuman atas kekafiran mereka karena yang nampak di luar mereka adalah muslim.</p>
<p style="text-align: left;">Rasulullah juga tidak menetapkan hukuman zina terhadap dua orang yang saling menyatakan <em>li&#8217;an</em>, walaupun terdapat tanda-tanda zina, yaitu adanya anak yang diduga sebagai hasil zina. Imam asy-Syafi&#8217;i berkata, &#8220;Dan ini menunjukkan dibatalkannya hukuman, padahal ada indikasi (yang mengharuskan terjadi hukuman) yang lebih kuat dari <em>adz-dzarai&#8217;</em>. Jika perkara yang lebih kuat dari <em>adz-dzarai&#8217;</em> saja dibatalkan, tentu yang lebih lemah lebih layak untuk tidak diberlakukan.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">Selain Syafi&#8217;iyah dan Hanafiyah, yang juga menolak kehujjahan <em>sadd adz-dzarai&#8217;</em> adalah kalangan Zhahiriyah. Ibn Hazm mengajukan beberapa argumentasi sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: left;">a) Hadits yang dikemukakan oleh ulama yang mengamalkan <em>sadd adz-dzarai&#8217;</em> itu lemah dari segi sanad dan pemahamannya juga tidak tepat. Dari segi sanad, hadits tersebut diriwayatkan dalam banyak versi yang berbeda-beda perawinya. Dari segi pemahaman, hadits tersebut hanya melarang menggembala di daerah yang terlarang, sedangkan menggembala di sekitarnya tidak dilarang. Menggembala di dalam daerah terlarang berbeda hukumnya dengan menggembala di sekitar daerah terlarang tersebut. Karena itu, hukum menggembala di sekitar daerah terlarang kembali ke hukum asalnya, yaitu mubah.</p>
<p style="text-align: left;">b) Dasar pemikiran <em>sadd adz-dzarai&#8217;</em> adalah ijtihad yang berpatokan pada pertimbangan kemaslahatan, sedangkan ulama Zhahiriyah menolak ijtihad dengan metode seperti ini.</p>
<p style="text-align: left;">c) Hukum syara&#8217; hanya menyangkut apa-apa yang ditetapkan al-Qur&#8217;an, as-Sunnah dan ijma&#8217;. Yang ditetapkan di luar tiga sumber tersebut bukanlah hukum syara&#8217;. Dalam hal <em>sadd adz-dzarai&#8217;</em>, hukum yang telah ditetapkan oleh nash dan ijma&#8217; hanyalah perbuatan yang dituju (<em>maqashid</em>)-nya saja, sedangkan perantara atau <em>adz-dzarai&#8217;</em>-nya tidak pernah ditetapkan oleh nash atau ijma&#8217;. Oleh karena itu, <em>sadd adz-dzarai&#8217;</em> tidak bisa diterima, sesuai dengan firman Allah ta&#8217;ala:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>ولا تقولوا لما تصف ألسنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام لتفتروا على الله الكذب</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Dan janganlah kalian katakan dengan lisan kalian suatu kebohongan, menyatakan ini halal dan ini haram, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.&#8221; [an-Nahl ayat 116]</p>
<h3 style="text-align: left;"><strong>C.  Pembagian adz-Dzarai&#8217;<a title="" href="#_edn4">[4]</a></strong></h3>
<p style="text-align: left;">Al-Qarafi membagi <em>adz-Dzarai&#8217;</em> (perantara) kepada perbuatan <em>fasad</em> menjadi tiga, yaitu:</p>
<p style="text-align: left;"><strong>1. Ulama Menyepakati Keharusan untuk Menutup dan Mencegahnya</strong></p>
<p style="text-align: left;">Yaitu yang membawa kerusakan secara pasti atau lazimnya akan menimbulkan kerusakan. Dalam hal ini, ulama sepakat untuk melarangnya, sehingga dalam kitab-kitab fiqih madzhab ditegaskan tentang haramnya menggali lubang di tempat yang biasa dilalui orang yang dapat dipastikan akan mencelakakan.</p>
<p style="text-align: left;">Namun, Taqiyuddin as-Subki dari kalangan Syafi&#8217;iyah berkata, &#8220;Perkara ini bukanlah termasuk <em>sadd adz-dzarai&#8217;</em>, melainkan <em>tahrim al-wasa-il</em> (pengharaman sesuatu yang menjadi wasilah pada keharaman), dan wasilah memang terikat dengan perkara yang ditujunya, tidak ada perselisihan dalam hal ini.&#8221; Tajuddin as-Subki berkata, &#8220;Tidak benar orang yang beranggapan bahwa semua orang menggunakan kaidah <em>sadd adz-dzarai&#8217;</em>, sesungguhnya asy-Syafi&#8217;i tidak menggunakannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;"><strong>2. Ulama Sepakat Bahwa Ia Tak Perlu Ditutup atau Dicegah</strong></p>
<p style="text-align: left;">Yaitu yang peluangnya membawa pada kerusakan sangat kecil dan jarang terjadi. Dalam hal ini, seandainya perbuatan itu dilakukan, sangat kecil peluangnya akan menimbulkan kerusakan. Misalnya menggali lubang di kebun sendiri yang jarang dilalui orang. Menurut kebiasaan, tidak ada orang yang lewat di tempat tersebut yang akan terjatuh ke dalam lubang. Namun memang tidak tertutup kemungkinan ada yang kesasar lalu terjatuh ke dalam lubang tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Ulama sepakat tidak melarang hal ini, sehingga dalam kitab-kitab fiqih tidak terdapat larangan membuat lubang di kebun sendiri yang jarang dilalui orang, memperjualbelikan anggur, dan yang semisalnya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>3. Ulama Berbeda Pendapat Tentang Keharusan Ditutup atau Tidaknya Perantara Tersebut</strong></p>
<p style="text-align: left;">Yaitu yang peluangnya membawa pada kerusakan cukup besar, namun tidak sampai bersifat pasti atau lazim terjadi. Pada bagian inilah, ulama berbeda pendapat. Perbedaan pendapat ini terjadi pada <em>adz-dzarai&#8217;</em> yang tidak disebutkan dalam al-Kitab dan as-Sunnah keharusan untuk menutup dan mencegahnya, sedangkan yang disebutkan dalam nash syar&#8217;i tidak ada perbedaan pendapat, seperti larangan memaki sesembahan orang-orang musyrik karena dikhawatirkan mereka akan memaki Allah ta&#8217;ala.</p>
<p style="text-align: left;">Secara umum, Malikiyah dan Hanabilah mengharuskan menutup atau melarang <em>adz-dzarai&#8217;</em> pada bagian ini, sedangkan Syafi&#8217;iyah dan Hanafiyah menyatakan tidak perlu melarangnya.</p>
<p style="text-align: left;">Beberapa contoh dalam bagian ini misalnya adalah:</p>
<p style="text-align: left;">a) Jual beli <em>aajal</em><a title="" href="#_edn5">[5]</a>. Sebenarnya jual beli ini boleh, namun Malik melarang jual beli semacam ini karena banyak orang yang melakukannya sebagai jalan untuk melakukan riba.</p>
<p style="text-align: left;">b) Penundaan pembayaran mahar. Menurut kalangan Malikiyah hal ini makruh, walaupun ada batas waktu yang jelas, setahun misalnya. Hukum makruh ini jika penundaan yang dilakukan adalah untuk keseluruhan mahar, bukan cuma sebagiannya. Hal ini karena dikhawatirkan akan ada yang menikah tanpa mahar.</p>
<p style="text-align: left;">c) Puasa hari <em>syak</em> dan enam hari bulan Syawal. Dimakruhkan berpuasa sebelum ramadhan, sehari atau dua hari sebelumnya, karena dikhawatirkan ia dianggap sebagai tambahan puasa Ramadhan. Dan atas dasar ini juga, Abu Yusuf berkata, &#8220;Dimakruhkan menyambung Ramadhan dengan enam hari di bulan Syawal.&#8221; Ini adalah pendapat Malikiyah.</p>
<h3 style="text-align: left;"><strong>D.  Penutup</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Tulisan ini hanya mengungkapkan <em>sadd adz-dzarai&#8217;</em> secara singkat, dan tentu masih banyak yang tertinggal dalam pembahasannya. Ketika saya mencoba menelaah beberapa literatur yang membahas tentang hal ini, pembahasan <em>sadd adz-dzarai&#8217;</em> atau <em>adz-dzarai&#8217; </em>secara umum memuat banyak hal –yang tak saya muat, atau hanya sedikit saya singgung, dalam tulisan ini– seperti misalnya perbedaan ulama dalam memaknai <em>adz-dzarai&#8217;</em>, apakah ia hanya perantara untuk perbuatan haram atau lebih umum maknanya, perbedaan muqaddimah wajib dengan <em>adz-dzarai&#8217;</em>, pembagian <em>adz-dzarai&#8217;</em> menurut beberapa ulama yang berbeda-beda, dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: left;">Alasan saya tidak memasukkan pembahasan-pembahasan tersebut dalam tulisan ini adalah agar tulisan ini tidak menjadi terlalu panjang. Oleh karena itu, tulisan ini langsung fokus membahas <em>sadd adz-dzarai&#8217; </em>dari sisi sebagai perantara menuju keharaman, dan perbedaan pendapat para ulama tentang kehujjahannya sebagai dalil fiqih secara singkat.</p>
<p style="text-align: left;">Semoga tulisan ini bermanfaat.</p>
<h3 style="text-align: left;"><strong>Daftar Pustaka</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Al-Jaizani, Muhammad ibn Husain. 1428 H. <em>I&#8217;mal Qa&#8217;idah Sadd adz-Dzarai&#8217; fi Bab al-Bid&#8217;ah</em>. Riyadh: Maktabah Dar al-Minhaj.</p>
<p style="text-align: left;">Az-Zuhaili , Wahbah. 1986. <em>Ushul al-Fiqh al-Islami</em>. Damaskus: Dar al-Fikr.</p>
<p style="text-align: left;">Hasan, Khalid Ramadhan. 1998. <em>Mu&#8217;jam Ushul al-Fiqh</em>. Mesir: ar-Raudhah.</p>
<p style="text-align: left;">Jama&#8217;ah min al-&#8217;Ulama. 1983. <em>Al-Mausu&#8217;ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah</em> Juz 2. Kuwait: Dar as-Salasil.</p>
<p style="text-align: left;">Jama&#8217;ah min al-&#8217;Ulama. 1992. <em>Al-Mausu&#8217;ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah</em> Juz 24. Mesir: Dar ash-Shafwah.</p>
<p style="text-align: left;">Syarifuddin, Amir. 2011. <em>Ushul Fiqh</em>. Jakarta: Kencana.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p style="text-align: left;">Catatan Kaki:</p>
<p><a title="" href="#_ednref1">[1]</a> Lihat <em>I&#8217;mal Qa&#8217;idah Sadd adz-Dzarai&#8217; fi Bab al-Bid&#8217;ah</em> karya Dr. Muhammad ibn Husain al-Jaizani hal. 9; <em>Mu&#8217;jam Ushul al-Fiqh</em> karya Khalid Ramadhan Hasan hal. 146; <em>Ushul al-Fiqh al-Islami</em> karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili hal. 873-874; <em>Ushul Fiqh</em> karya Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin Jilid 2 hal. 424-425.</p>
<p><a title="" href="#_ednref2">[2]</a> Lihat <em>al-Mausu&#8217;ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah</em> Juz 24 hal. 276-278; <em>Ushul al-Fiqh al-Islami</em> karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili hal. 888; <em>Ushul Fiqh</em> karya Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin Jilid 2 hal. 425-427.</p>
<p><a title="" href="#_ednref3">[3]</a> Lihat <em>al-Mausu&#8217;ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah</em> Juz 24 hal. 278; <em>Ushul al-Fiqh al-Islami</em> karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili hal. 888-889;<em> Ushul Fiqh</em> karya Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin Jilid 2 hal. 431-432.</p>
<p><a title="" href="#_ednref4">[4]</a> Lihat <em>al-Mausu&#8217;ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah</em> Juz 24 hal. 278-280; <em>I&#8217;mal Qa&#8217;idah Sadd adz-Dzarai&#8217; fi Bab al-Bid&#8217;ah</em> karya Dr. Muhammad ibn Husain al-Jaizani hal. 11-12.</p>
<p><a title="" href="#_ednref5">[5]</a> Yaitu jual beli yang pembayarannya tidak tunai. Lihat pembahasan jual beli <em>aajal</em> menurut Malikiyah di <em>al-Mausu&#8217;ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah</em> Juz 2 hal. 29.</p>
</div>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2012/03/16/sejarah-ilmu-ushul-fiqih/" title="Sejarah Ilmu Ushul Fiqih">Sejarah Ilmu Ushul Fiqih</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/27/mengenal-al-mashalih-al-mursalah-bagian-2/" title="Mengenal al-Mashalih al-Mursalah (bagian 2)">Mengenal al-Mashalih al-Mursalah (bagian 2)</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/26/mengenal-al-mashalih-al-mursalah-bagian-1/" title="Mengenal al-Mashalih al-Mursalah (bagian 1)">Mengenal al-Mashalih al-Mursalah (bagian 1)</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/23/penyebab-terjadinya-perbedaan-pendapat-di-kalangan-fuqaha-menurut-syaikh-dr-wahbah-az-zuhaili/" title="Penyebab Terjadinya Perbedaan Pendapat di Kalangan Fuqaha Menurut Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili">Penyebab Terjadinya Perbedaan Pendapat di Kalangan Fuqaha Menurut Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/12/perbedaan-ushul-fiqih-melahirkan-perbedaan-fiqih-antar-mujtahid/" title="Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid">Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/28/hukum-hukum-atas-perbuatan-manusia/" title="Hukum-Hukum Atas Perbuatan Manusia">Hukum-Hukum Atas Perbuatan Manusia</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/05/syarat-syarat-menjadi-seorang-mujtahid/" title="Syarat-Syarat Menjadi Seorang Mujtahid">Syarat-Syarat Menjadi Seorang Mujtahid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/09/28/penyebab-%e2%80%98ulama-menyelisihi-hadits-hadits-shahih/" title="Penyebab ‘Ulama Menyelisihi Hadits-Hadits Shahih">Penyebab ‘Ulama Menyelisihi Hadits-Hadits Shahih</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/09/26/tingkatan-rujukan-imam-as-syafi%e2%80%99i-rahimahullah-secara-berurutan-dalam-ijtihad/" title="Tingkatan Rujukan Imam as-Syafi’i Rahimahullah Secara Berurutan Dalam Ijtihad">Tingkatan Rujukan Imam as-Syafi’i Rahimahullah Secara Berurutan Dalam Ijtihad</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/07/highly-recommended-website-waqfeya-com/" title="Highly Recommended Website: waqfeya.com">Highly Recommended Website: waqfeya.com</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/04/pengertian-amr-hukum-asal-benda-dan-hukum-asal-perbuatan-manusia/" title="Pengertian Amr, Hukum Asal Benda dan Hukum Asal Perbuatan Manusia">Pengertian Amr, Hukum Asal Benda dan Hukum Asal Perbuatan Manusia</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/28/pengantar-hukum-syar%e2%80%99i/" title="Pengantar Hukum Syar’i">Pengantar Hukum Syar’i</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/21/siapakah-yang-berhak-mengeluarkan-hukum/" title="Siapakah yang Berhak Mengeluarkan Hukum?">Siapakah yang Berhak Mengeluarkan Hukum?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/17/pengertian-dan-ruang-lingkup-ushul-fiqih/" title="Pengertian dan Ruang Lingkup Ushul Fiqih">Pengertian dan Ruang Lingkup Ushul Fiqih</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/geZFmIV18CM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/02/28/mengenal-sadd-adz-dzarai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/02/28/mengenal-sadd-adz-dzarai/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Tiga Tipe Ulama</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/0O5tzFeXKdc/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/02/18/tiga-tipe-ulama/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Feb 2012 00:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[tiga tipe ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1424</guid>
		<description><![CDATA[العلماء ثلاثة، عالم بالله وبأمر الله، وعالم بالله وليس بعالم بأمر الله، وعالم بأمر الله وليس بعالم بالله، فأما العالم بالله وبأمر الله فذلك الخائف لله العالم بسنته وحدوده وفرائضه، وأما العالم بالله وليس بعالم بأمر الله فذلك الخائف لله [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/عبد_الفتاح_أبو_غده.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1430" title="عبد_الفتاح_أبو_غده" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/عبد_الفتاح_أبو_غده.jpg" alt="" width="173" height="194" /></a>العلماء ثلاثة، عالم بالله وبأمر الله، وعالم بالله وليس بعالم بأمر الله، وعالم بأمر الله وليس بعالم بالله، فأما العالم بالله وبأمر الله فذلك الخائف لله العالم بسنته وحدوده وفرائضه، وأما العالم بالله وليس بعالم بأمر الله فذلك الخائف لله وليس بعالم بسنته ولا حدوده ولا فرائضه، وأما العالم بأمر الله وليس بعالم بالله فذلك العالم بسنته وحدوده وفرائضه وليس بخائف له</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Terjemah:</p>
<p style="text-align: left;">‎&#8217;Ulama itu ada tiga: (1) &#8216;alim terhadap Allah dan perintah-Nya, (2) &#8216;alim terhadap Allah tapi tidak &#8216;alim terhadap perintah-Nya, (3) &#8216;alim terhadap perintah Allah tapi tidak &#8216;alim terhadap-Nya.</p>
<p style="text-align: left;">&#8216;Alim terhadap Allah dan perintah-Nya adalah orang yang takut kepada Allah serta mengetahui sunnah, hudud, dan segala kewajiban yang ditetapkan-Nya.</p>
<p style="text-align: left;">&#8216;Alim terhadap Allah tapi tidak &#8216;alim terhadap perintah-Nya adalah orang yang takut kepada Allah, namun tidak mengetahui sunnah, hudud, dan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan-Nya.</p>
<p style="text-align: left;">&#8216;Alim terhadap perintah Allah tapi tidak &#8216;alim terhadap-Nya adalah orang yang mengetahui sunnah, hudud, dan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah, namun tidak takut kepada-Nya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>(Abu Hayyan at-Taimi, dalam <em>Jami&#8217; Bayan al-&#8217;Ilm</em> [II/822])</strong><br />
<span id="more-1424"></span></p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2012/03/14/langit-mana-yang-akan-menaungiku/" title="Langit Mana yang Akan Menaungiku…">Langit Mana yang Akan Menaungiku…</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/0O5tzFeXKdc" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/02/18/tiga-tipe-ulama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/02/18/tiga-tipe-ulama/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Contoh-Contoh Akhlak yang Baik (Bagian 2)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/j6zn46vZFqU/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/02/16/contoh-contoh-akhlak-yang-baik-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 00:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak yang baik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1409</guid>
		<description><![CDATA[4. Mengecek Kebenaran Apa-apa yang Akan Disampaikan dan Cermat dalam Menyampaikan Informasi (التثبت مما يقوله ويحكيه والتدقيق في النقل) Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman: ولا تقف ما ليس لك به علم Artinya: &#8220;Dan janganlah mengikuti apa yang engkau tidak mempunyai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/تبسمك-في-وجه-أخيك-صدقة.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1411" title="تبسمك في وجه أخيك صدقة" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/تبسمك-في-وجه-أخيك-صدقة.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>4. Mengecek Kebenaran Apa-apa yang Akan Disampaikan dan Cermat dalam Menyampaikan Informasi (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>التثبت مما يقوله ويحكيه والتدقيق في النقل</strong></span>)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>ولا تقف ما ليس لك به علم</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Dan janganlah mengikuti apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.&#8221; [al-Israa' ayat 36]</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>ما يلفظ من قول إلا لديه قريب عتيد</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.&#8221; [Qaaf ayat 18]</p>
<p style="text-align: left;">Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Seseorang layak dikatakan sebagai pendusta jika ia mengatakan setiap perkara yang didengarnya.&#8221; [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]<br />
<span id="more-1409"></span></p>
<p style="text-align: left;"><strong>5. Bertutur Kata dengan Baik (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>طيب الكلام</strong></span>)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Ada beberapa hadits shahih dan hasan yang menunjukkan keutamaan sifat ini, di antaranya:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>اتقوا النار ولو بشق تمرة، فمن لم يجد فبكلمة طيبة </strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Jauhilah neraka walau dengan sebiji kurma. Siapa saja yang tidak menemukan sebiji kurma, maka dengan perkataan yang baik.&#8221; [Muttafaq 'alaih dari Adi ibn Hatim radhiyallahu 'anhu]</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>والكلمة الطيبة صدقة</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Perkataan yang baik adalah shadaqah.&#8221; [Muttafaq 'alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>إن في الجنة غرفة، يرى ظاهرها من باطنها، وباطنها من ظاهرها، فقال أبو مالك الأشعري : لمن هي يا رسول الله؟ قال : لمن أطاب الكلام، وأطعم الطعام، وبات قائما والناس نيام</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Sesungguhnya di surga terdapat satu kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya, dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya. Abu Malik al-Asy&#8217;ari berkata: Bagi siapakah kamar ini wahai Rasulullah? Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: Bagi yang baik perkataannya, suka memberikan makanan, dan senantiasa bangun di malam hari pada saat manusia tertidur.&#8221; [HR. ath-Thabrani, dihasankan oleh al-Haitsami dan al-Mundziri. Diriwayatkan juga oleh al-Hakim, dan ia menshahihkannya. Dari 'Abdullah ibn 'Amr radhiyallahu 'anhuma]</p>
<p style="text-align: left;"><strong>6. Menampakkan Wajah Berseri (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>طلاقة الوجه</strong></span>)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Ada beberapa hadits shahih yang menunjukkan keutamaan sifat ini, di antaranya:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>لا تحقرن من المعروف شيئا ولو أن تلقى أخاك بوجه طليق</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Engkau jangan menyepelekan kebaikan sedikit pun, meski hanya sekedar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri.&#8221; [HR. Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu]</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>كل معروف صدقة وإن من المعروف أن تلقى أخاك بوجه طلق وأن تفرغ من دلوك في إناء أخيك</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Setiap kebaikan adalah shadaqah. Dan termasuk kebaikan jika engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri, dan jika engkau menuangkan air dari bejana milikmu pada bejana milik saudaramu.&#8221; [HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih. Dari Jabir ibn 'Abdillah radhiyallahu 'anhuma]</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>تبسمك في وجه أخيك صدقة</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Senyummu di hadapan saudaramu adalah shadaqah.&#8221; [HR. Ahmad dan Ibn Hibban dalam 'Shahih'-nya. Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu]</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>لا تحقرن من المعروف شيئا، ولو أن تفرغ من دلوك في إناء المستقي، ولو أن تكلم أخاك ووجهك إليه منبسط</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Engkau tidak boleh menyepelekan kebaikan walaupun sedikit, meskipun hanya menuangkan air dari bejanamu kepada bejana orang yang minta minum. Dan meskipun dengan sekedar menemui saudaramu dengan wajah yang berseri.&#8221; [HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibn Hibban dalam 'Shahih'-nya. At-Tirmidzi berkata hadits ini hasan shahih]</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2011/12/10/contoh-contoh-akhlak-yang-baik-bagian-1/" title="Contoh-Contoh Akhlak yang Baik (Bagian 1)">Contoh-Contoh Akhlak yang Baik (Bagian 1)</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/03/29/doa-penutup-majelis/" title="Doa Penutup Majelis">Doa Penutup Majelis</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/17/sayyidul-istighfar/" title="Sayyidul Istighfar">Sayyidul Istighfar</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/12/15/mendahulukan-bagian-kanan-dalam-setiap-perkara-yang-mulia/" title="Mendahulukan Bagian Kanan dalam Setiap Perkara yang Mulia">Mendahulukan Bagian Kanan dalam Setiap Perkara yang Mulia</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/12/03/tanda-tanda-ilmu-yang-bermanfaat/" title="Tanda-Tanda Ilmu yang Bermanfaat">Tanda-Tanda Ilmu yang Bermanfaat</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/13/keutamaan-mengajar-dan-belajar-ilmu-agama/" title="Keutamaan Mengajar dan Belajar Ilmu Agama">Keutamaan Mengajar dan Belajar Ilmu Agama</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/07/pengaruh-maksiat-bagi-diri/" title="Pengaruh Maksiat Bagi Diri">Pengaruh Maksiat Bagi Diri</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/05/10/adab-adab-berdo%e2%80%99a/" title="Adab-Adab Berdo’a">Adab-Adab Berdo’a</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/09/ilmu-yang-bermanfaat/" title="Ilmu yang Bermanfaat">Ilmu yang Bermanfaat</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/23/kekuatan-istighfar/" title="Kekuatan Istighfar">Kekuatan Istighfar</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/19/tips-menghafal-al-qur%e2%80%99an/" title="Tips Menghafal Al-Qur’an">Tips Menghafal Al-Qur’an</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/18/penyakit-hati/" title="Penyakit Hati">Penyakit Hati</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/10/tak-sekedar-kesuksesan-dunia/" title="Tak Sekedar Kesuksesan Dunia">Tak Sekedar Kesuksesan Dunia</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/08/etika-mencari-ilmu/" title="Etika Mencari Ilmu">Etika Mencari Ilmu</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/j6zn46vZFqU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/02/16/contoh-contoh-akhlak-yang-baik-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/02/16/contoh-contoh-akhlak-yang-baik-bagian-2/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Beberapa Sikap Ilmiah dalam Pengkajian Pemikiran Islam</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/wsCHw5gKv2E/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/02/11/beberapa-sikap-ilmiah-dalam-pengkajian-pemikiran-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 00:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikrah]]></category>
		<category><![CDATA[fikrah]]></category>
		<category><![CDATA[ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1391</guid>
		<description><![CDATA[1. Al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah Sebagai Rujukan Utama Memang benar, dalam tradisi keilmuan Islam, tak semua orang mampu merujuk langsung kepada al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah. Ada beberapa disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh seseorang untuk bisa mengambil sebuah kesimpulan hukum dan pemahaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/turkey_istanbul_02.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1396" title="turkey_istanbul_02" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/turkey_istanbul_02-300x297.jpg" alt="" width="198" height="196" /></a><big>1. Al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah Sebagai Rujukan Utama</big></strong></p>
<p style="text-align: left;">Memang benar, dalam tradisi keilmuan Islam, tak semua orang mampu merujuk langsung kepada al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah. Ada beberapa disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh seseorang untuk bisa mengambil sebuah kesimpulan hukum dan pemahaman dari al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah. Ini tak perlu dipersoalkan.</p>
<p style="text-align: left;">Yang jadi masalah, di masa sekarang, banyak sekali orang yang melontarkan gagasan, ide dan pendapat, yang sebagiannya bertentangan bahkan bertolak belakang dengan yang lain. Menghadapi kondisi seperti ini, bagaimana sikap kita seharusnya? Di posisi inilah, al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah harus menjadi rujukan utama.</p>
<p style="text-align: left;">Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman dalam surah an-Nisaa ayat 59:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;<em>Jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.</em>&#8221;<br />
<span id="more-1391"></span></p>
<p style="text-align: left;">Makna &#8216;kembali kepada Allah dan Rasul&#8217; dalam ayat di atas adalah kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, sebagaimana disampaikan oleh Imam Mujahid yang dikutip oleh Imam Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya. Lebih lanjut, Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah Allah &#8216;azza wa jalla untuk merujuk kepada al-Kitab dan as-Sunnah dalam setiap perkara yang diperselisihkan oleh manusia, baik dalam hal pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam praktiknya, bagi kebanyakan orang yang derajat keilmuannya belum mencapai mujtahid, yang bisa dilakukan adalah mencoba membandingkan beberapa pendapat yang ada, yang mana yang lebih dekat dengan al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah maka itulah yang diambil. Yang dimaksud lebih dekat dengan al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah ini tentu sebatas yang dipahami olehnya, dari sedikit ilmu yang pernah dia pelajari.</p>
<p style="text-align: left;">Jika ada pendapat yang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah yang mudah dipahami oleh kebanyakan orang, seperti tentang kepastian adanya hari kiamat dan perhitungan amal manusia, kekuasaan Allah atas segala sesuatu, atau tentang status Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagai penutup para Nabi, maka pendapat yang menyelisihi prinsip-prinsip ini bisa dipastikan keliru, bahkan sesat dan menyesatkan.</p>
<p style="text-align: left;">Jika ada dua pendapat yang dua-duanya memiliki hujjah yang kuat, yang sulit bagi kebanyakan orang untuk memilah mana yang lebih kuat, maka yang perlu dilakukan adalah mengambil salah satu pendapat berdasarkan beberapa pertimbangan, misalnya pendapat tersebut lebih banyak diamalkan oleh para ulama, atau yang mengemukakan pendapat tersebut kapasitas keilmuannya lebih diakui oleh para ulama, dan lain-lain. Dengan catatan, pendapat yang berbeda dengan pendapat yang kita ikuti tidak boleh dicela, karena faktanya kita sendiri sebenarnya tak mengetahui pendapat manakah yang lebih kuat.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><big>2. Jujur dan Bertanggung Jawab dalam Penukilan</big></strong></p>
<p style="text-align: left;">Kekeliruan mendasar yang masih banyak dilakukan oleh banyak orang adalah mengutip suatu perkataan, baik dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, shahabat, tabi&#8217;in maupun para ulama setelah mereka, tanpa menyebutkan dari mana kata-kata tersebut mereka dapatkan.</p>
<p style="text-align: left;">Jika seorang ahli Hadits yang berkata &#8216;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda&#8217;, tentu pernyataan tersebut bisa dipertanggung jawabkan, namun jika orang awam atau <em>thalibul &#8216;ilm</em> &#8216;kemarin sore&#8217; yang berkata &#8216; Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda&#8217; tanpa menyebutkan dari kitab mana dia ambil kata-kata tersebut, kita patut ragu dan curiga, jangan-jangan perkataan yang dia sandarkan kepada Nabi tersebut bukanlah perkataan Nabi. <em>Wal &#8216;iyadzu billah</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;<em>Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.</em>&#8221; [Hadits mutawatir, dikeluarkan oleh al-Bukhari, Muslim dan selain mereka. Menurut Dr. Mahmud ath-Thahhan, hadits ini diriwayatkan oleh lebih dari 70 orang shahabat, dan jumlah yang banyak ini terus berlangsung sepanjang <em>thabaqat</em> sanad.]</p>
<p style="text-align: left;">Hadits di atas mengancam orang-orang yang berdusta atas nama Nabi, mengatakan bahwa Nabi berkata begini dan begini, padahal Nabi tidak pernah mengatakan demikian. Termasuk dalam hal ini adalah mengatakan &#8216;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda&#8217;, padahal ia tidak mengetahui apakah perkataan tersebut benar-benar berasal dari Nabi atau bukan.</p>
<p style="text-align: left;">Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;<em>Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menyampaikan semua yang ia dengar.</em>&#8221; [Dikeluarkan oleh Muslim (I/10).]</p>
<p style="text-align: left;">Mengomentari hadits ini, Ibn Hibban berkata, &#8220;khabar ini berupaya mencegah seseorang menyampaikan semua yang ia dengar, sampai ia yakin atas keshahihannya.&#8221; (pernyataan Ibn Hibban ini dikutip oleh al-Albani dalam kitab <em>Tamamul Minnah fi at-Ta&#8217;liq &#8216;ala Fiqh as-Sunnah </em>hal. 33).</p>
<p style="text-align: left;">Ada lagi kekeliruan yang juga masih sering dilakukan, yaitu mengutip suatu perkataan atau teks, kemudian menyebutkan sumber rujukannya, yang sebenarnya tak pernah diaksesnya. Misalnya seperti ini, &#8220;Imam asy-Syafi&#8217;i berkata, &#8216;siapa saja yang melakukan istihsan, sesungguhnya ia telah membuat syari&#8217;at sendiri&#8217;. (<em>al-Mustashfa </em>hal. 171).&#8221;, apa yang salah dari kutipan tersebut? Tidak ada yang salah, jika ia memang mengutipnya langsung dari kitab <em>al-Mustashfa</em>-nya al-Ghazali. Menjadi keliru, jika sebenarnya ia sama sekali tak pernah membaca isi kitab tersebut, ia ternyata hanya melakukan <em>copy-paste</em> dari tulisan orang lain.</p>
<p style="text-align: left;">Kekeliruan semacam ini, walaupun terkesan sepele, namun tetaplah penting. Dalam ilmu hadits, orang yang melakukan kekeliruan semacam ini serupa dengan perawi yang <em>mudallis</em>. Perawi tersebut mengatakan &#8216;fulan A berkata&#8217;, padahal ia tak pernah mendengarnya langsung dari fulan A tersebut. Sebenarnya, hadits tersebut ia dengar dari fulan C, fulan C sendiri mendengarnya dari fulan B, dan fulan B lah yang benar-benar mendengar dari fulan A. Jadi si perawi <em>mudallis </em>menghilangkan dua orang sekaligus (yaitu fulan C dan B). Dalam ilmu Hadits, seorang perawi <em>mudallis </em>seperti ini secara umum dikategorikan <em>dha&#8217;if</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Sebenarnya, dalam karya-karya ilmiah standar yang berlaku saat ini pun, kekeliruan semacam ini tak dapat ditoleransi.</p>
<p style="text-align: left;">Dari sisi lain, kejujuran dalam penukilan juga bisa dilihat dari kesamaan pemahaman si penukil dengan maksud dan tujuan sebenarnya dari teks atau perkataan yang ia kutip. Saat ini, kalangan liberal seringkali mengutip ayat al-Qur&#8217;an, al-Hadits maupun qaul &#8216;ulama untuk mendukung pemahaman mereka, padahal yang dimaksud oleh teks atau perkataan tersebut tidaklah mendukung pemahaman mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai contoh, makna rahmatan lil &#8216;aalamiin yang disandingkan dengan Islam –menjadi Islam rahmatan lil &#8216;aalamiin– sering dimaknai oleh kalangan liberal sebagai Islam yang sangat toleran, anti kekerasan (termasuk kekerasan pemikiran), dan tidak formalistik. Frase Islam rahmatan lil &#8216;aalamiin ini mereka ambil dari al-Qur&#8217;an surah al-Anbiyaa&#8217; ayat 107. Benarkah pemahaman kalangan liberal ini? Silakan baca tulisan saya yang berjudul &#8216;<a href="http://abufurqan.com/2012/02/02/makna-rahmatan-lil-aalamiin-antara-pluralisme-dan-islam/" target="_blank">Makna Rahmatan Lil ‘Aalamiin, Antara Pluralisme dan Islam</a>&#8216;.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><big>3. Berlapang Dada Terhadap Perbedaan Pendapat dan Terbuka Terhadap Kemungkinan Kebenaran dari Pihak Lain</big></strong></p>
<p style="text-align: left;">Dalam perkara-perkara ijtihadiyah, peluang terjadinya perbedaan pendapat terbuka lebar. Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, seorang ulama kontemporer, menyebutkan beberapa kondisi yang menyebabkan para fuqaha berbeda pendapat (baca: <a href="http://abufurqan.com/2012/01/23/penyebab-terjadinya-perbedaan-pendapat-di-kalangan-fuqaha-menurut-syaikh-dr-wahbah-az-zuhaili/" target="_blank">Penyebab Terjadinya Perbedaan Pendapat di Kalangan Fuqaha Menurut Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili</a>), dan ini wajar terjadi.</p>
<p style="text-align: left;">Namun sangat disayangkan, sebagian orang, yang bahkan keilmuannya pun belum matang, menjadikan perbedaan pendapat semacam ini sebagai dasar untuk menghujat pihak lain. Seakan-akan pendapat yang berbeda dengan pendapat yang ia ikuti adalah mutlak salah, sesat dan menyesatkan. Juga tak jarang terjadi, antar kelompok, antar madzhab fiqih, atau antar pengikut ulama tertentu, bermusuhan hanya karena perbedaan dalam perkara-perkara <em>furu&#8217;i</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Bagaimana teladan dari generasi salafus shalih? Mari kita simak pernyataan Imam Malik ibn Anas berikut ini:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في قولي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوا به وما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: &#8220;Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, semua yang sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, maka tinggalkanlah.&#8221; [Dikutip dari kitab <em>I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-‘Alamin</em>, Juz 1 hal. 60 karya Ibn al-Qayyim al-Jauziyah]</p>
<p style="text-align: left;">Lihatlah perkataan Imam Malik di atas, beliau yang kapasitas keilmuannya tak diragukan lagi, Imam Darul Hijrah, guru para ulama besar, ternyata tak memonopoli kebenaran. Beliau, dengan rendah hati, mengakui bahwa beliau hanyalah manusia biasa, yang bisa jadi benar, bisa juga keliru. Coba bandingkan dengan sikap sebagian orang saat ini, keilmuannya belum sampai setengah dari yang dimiliki Imam Malik, namun lagaknya sudah seperti ulama besar. Dengan gampangnya mereka meremehkan, menghujat dan bahkan menyesatkan pihak lain yang mengikuti pendapat berbeda dengan yang dianutnya.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam riwayat yang masyhur, disebutkan di banyak kitab, Imam asy-Syafi&#8217;i pernah mengatakan, &#8220;Siapa saja yang melakukan istihsan, sesungguhnya ia telah membuat syari&#8217;at sendiri.&#8221; (Penisbahan ini misalnya disebutkan oleh al-Ghazali dalam <em>al-Mustashfa</em> [171], al-Amidi dalam <em>al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam</em> [IV/156] dan al-Qarafi dalam <em>al-Furuq</em> [IV/145]). Dan sudah masyhur, Imam Malik adalah ulama yang menggunakan istihsan dalam ushul fiqihnya (lihat <em>al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu</em> [I/46]).  Apakah Imam asy-Syafi&#8217;i pernah menghujat atau menyesatkan Imam Malik? Tak pernah sama sekali.</p>
<p style="text-align: left;">Imam Ahmad berpendapat bahwa wajib wudhu karena keluar darah dari hidung dan karena berbekam. Kemudian beliau ditanya, &#8220;Jika imam shalat keluar darah, dan ia tidak berwudhu lagi, apakah saya tetap shalat di belakangnya?&#8221;, imam Ahmad menjawab, &#8220;Mengapa engkau tidak mau shalat di belakang Sa&#8217;id ibn al-Musayyib dan Malik?&#8221; (cerita ini saya dapatkan di <em>Fatawa Mu&#8217;ashirah</em> Juz I karya Dr. Yusuf al-Qaradhawi, baca online di: <a href="http://www.qaradawi.net/library/50/2284.html" target="_blank">http://www.qaradawi.net/library/50/2284.html</a>, dan di <em>Adab al-Ikhtilaf fi al-Islam</em> karya Dr. Thaha Jabir Fayadh al-&#8217;Alwani, baca online di: <a href="http://www.islamweb.net/newlibrary/display_umma.php?lang=A&amp;BabId=10&amp;ChapterId=10&amp;BookId=209&amp;CatId=201&amp;startno=0" target="_blank">http://www.islamweb.net/newlibrary/display_umma.php?lang=A&amp;BabId=10&amp;ChapterId=10&amp;BookId=209&amp;CatId=201&amp;startno=0</a>; keduanya diakses pada tanggal 11 Februari 2012).</p>
<p style="text-align: left;">Lihatlah Imam Ahmad, walaupun beliau berbeda pendapat dengan Imam Malik dan Sa&#8217;id ibn al-Musayyib, tidak sedikitpun beliau merendahkan kedudukan mereka berdua.</p>
<p style="text-align: left;">Perbedaan pendapat, dalam perkara ijtihadiyah, sangat memungkinkan melahirkan beragam pendapat. Menghadapi hal ini, seharusnya kita bisa berlapang dada. Walaupun kita menganggap pendapat yang kita ikuti lebih kuat, kita tetap harus menghormati orang lain yang pendapatnya berbeda. Adanya keragaman pendapat ini juga seharusnya membuka cakrawala berpikir kita, jika ternyata kebenaran ada pada orang lain, kita harus siap untuk menerima kebenaran tersebut dan meninggalkan pendapat kita sebelumnya.</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2012/05/02/dunia-yang-melenakan-atau-akhirat-yang-abadi/" title="Dunia yang Melenakan atau Akhirat yang Abadi?">Dunia yang Melenakan atau Akhirat yang Abadi?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/03/18/adakah-bidah-hasanah/" title="Adakah Bid&#8217;ah Hasanah?">Adakah Bid&#8217;ah Hasanah?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/02/makna-rahmatan-lil-aalamiin-antara-pluralisme-dan-islam/" title="Makna Rahmatan Lil ‘Aalamiin, Antara Pluralisme dan Islam">Makna Rahmatan Lil ‘Aalamiin, Antara Pluralisme dan Islam</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/01/islam-adalah-diin-yang-sempurna/" title="Islam adalah Diin yang Sempurna">Islam adalah Diin yang Sempurna</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/12/perbedaan-ushul-fiqih-melahirkan-perbedaan-fiqih-antar-mujtahid/" title="Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid">Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/12/29/mengkaji-posisi-madzhab-fiqih-dalam-peradaban-keilmuan-islam-dulu-dan-sekarang/" title="Mengkaji Posisi Madzhab Fiqih dalam Peradaban Keilmuan Islam, Dulu dan Sekarang">Mengkaji Posisi Madzhab Fiqih dalam Peradaban Keilmuan Islam, Dulu dan Sekarang</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/26/khilafah-kewajiban-yang-terlupakan/" title="Khilafah, Kewajiban yang Terlupakan">Khilafah, Kewajiban yang Terlupakan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/22/haruskah-kita-bangga-menjadi-orang-indonesia/" title="Haruskah Kita Bangga Menjadi Orang Indonesia?">Haruskah Kita Bangga Menjadi Orang Indonesia?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/16/waspadalah-terhadap-tipu-daya-dunia/" title="Waspadalah Terhadap Tipu Daya Dunia!">Waspadalah Terhadap Tipu Daya Dunia!</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/27/khilafah-menurut-haji-sulaiman-rasjid/" title="Khilafah Menurut Haji Sulaiman Rasjid">Khilafah Menurut Haji Sulaiman Rasjid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/22/kewajiban-menaati-rasulullah-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam-dalam-perintah-dan-larangan/" title="Kewajiban Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam Perintah dan Larangan">Kewajiban Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam Perintah dan Larangan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/17/perlukah-negara-islam/" title="Perlukah Negara Islam?">Perlukah Negara Islam?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/06/jangan-tertipu-dengan-dukungan-mayoritas/" title="Jangan Tertipu dengan Dukungan Mayoritas">Jangan Tertipu dengan Dukungan Mayoritas</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/08/19/%d8%a3%d9%88%d8%b5%d8%a7%d9%81%d9%8f-%d9%84%d9%8a%d9%84%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d9%82%d8%af%d8%b1/" title="أوصافُ ليلة القدر">أوصافُ ليلة القدر</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/21/menggugat-pluralisme-3-memelintir-makna-surah-al-baqarah-ayat-256/" title="Menggugat Pluralisme [3]: Memelintir Makna Surah Al-Baqarah Ayat 256">Menggugat Pluralisme [3]: Memelintir Makna Surah Al-Baqarah Ayat 256</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/19/menggugat-pluralisme-2-mematikan-truth-claim-menghidupkan-kebimbangan/" title="Menggugat Pluralisme [2]: Mematikan &#8216;Truth Claim&#8217;, Menghidupkan Kebimbangan">Menggugat Pluralisme [2]: Mematikan &#8216;Truth Claim&#8217;, Menghidupkan Kebimbangan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/16/menggugat-pluralisme-1-kesalahan-tafsir-surah-al-baqarah-62/" title="Menggugat Pluralisme [1]: Kesalahan Tafsir Surah Al-Baqarah 62">Menggugat Pluralisme [1]: Kesalahan Tafsir Surah Al-Baqarah 62</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/06/6-ghibah-yang-diperbolehkan/" title="6 Ghibah yang Diperbolehkan">6 Ghibah yang Diperbolehkan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/01/syukur/" title="Syukur">Syukur</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/19/5-karakter-muslim-sejati-bagian-kedua/" title="5 Karakter Muslim Sejati [bagian kedua]">5 Karakter Muslim Sejati [bagian kedua]</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/wsCHw5gKv2E" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/02/11/beberapa-sikap-ilmiah-dalam-pengkajian-pemikiran-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/02/11/beberapa-sikap-ilmiah-dalam-pengkajian-pemikiran-islam/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Makna ‘Fitnah’ dalam Ungkapan ‘al-Fitnatu Asyaddu minal Qatli’</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/leXqHULkYbE/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/02/07/makna-fitnah-dalam-ungkapan-al-fitnatu-asyaddu-minal-qatli/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 00:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[al-fitnatu asyaddu minal qatli]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1385</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu hal yang cukup memprihatinkan di tubuh umat Islam sekarang ini adalah begitu banyaknya istilah-istilah yang terdapat dalam nash maupun dalam khazanah keilmuan Islam yang disalah pahami maknanya, dan hal itu dianggap biasa. Sebagai contoh, makna silaturrahim (di negeri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/الفتنة-أشد-من-القتل.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1387" title="الفتنة أشد من القتل" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/الفتنة-أشد-من-القتل-300x224.jpg" alt="" width="210" height="157" /></a>Salah satu hal yang cukup memprihatinkan di tubuh umat Islam sekarang ini adalah begitu banyaknya istilah-istilah yang terdapat dalam nash maupun dalam khazanah keilmuan Islam yang disalah pahami maknanya, dan hal itu dianggap biasa.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai contoh, makna silaturrahim (di negeri kita sering disebut silaturrahmi) dipahami sebagai membina hubungan dengan siapa pun. Sehingga tidak bertegur sapa dengan teman sekerja, misalnya, dianggap sebagai memutus silaturrahim. Aktivitas silaturrahim juga dipersepsikan dengan aktivitas mengunjungi orang-orang di sekitar kita (tetangga, rekan kerja, ulama, dan lain-lain). Benarkah yang demikian? Jelas jawabannya tidak tepat. Silaturrahim (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>صلة الرحم</strong></span>) merupakan salah satu perintah syara&#8217;, yaitu perintah untuk menjalin hubungan baik dengan kerabat (keluarga dekat), tidak ada hubungannya dengan tetangga, teman kerja, apalagi teman lama.</p>
<p style="text-align: left;">Yang juga sering disalah pahami adalah kata fitnah dalam surah al-Baqarah ayat 191 berikut ini:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>والفتنة أشد من القتل</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Ayat ini sering dipahami sebagai dalil tentang keharaman berkata bohong untuk menjelekkan orang lain (lihat definisi fitnah versi bahasa Indonesia di sini: <a href="http://kamusbahasaindonesia.org/fitnah" target="_blank">http://kamusbahasaindonesia.org/fitnah</a>). Dengan ayat ini, banyak orang yang berhujjah bahwa berkata bohong untuk menjelekkan orang lain itu lebih buruk, lebih kejam, lebih banyak dosanya dibandingkan pembunuhan. Benarkah demikian?<br />
<span id="more-1385"></span></p>
<p style="text-align: left;">Mari kita merujuk ke kitab-kitab tafsir yang<em> mu&#8217;tabar</em> untuk mengetahui makna ayat ini sebenarnya. Sebelumnya, mari kita lihat versi lengkap dari ayat ini:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>واقتلوهم حيث ثقفتموهم وأخرجوهم من حيث أخرجوكم والفتنة أشد من القتل ولا تقاتلوهم عند المسجد الحرام حتى يقاتلوكم فيه فإن قاتلوكم فاقتلوهم كذلك جزاء الكافرين</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Imam al-Baghawi rahimahullah dalam kitab tafsir beliau menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah Allah ta&#8217;ala kepada kaum muslimin untuk memerangi kaum musyrikin di bulan Haram dan dalam keadaan ihram. Kemudian Allah menegaskan bahwa fitnah itu lebih besar bahayanya dibandingkan pembunuhan yang dilakukan umat Islam kepada kaum musyrikin tersebut. Dan fitnah yang dimaksud di ayat ini adalah kesyirikan yang dilakukan oleh kaum musyrikin tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Hal ini juga ditegaskan oleh Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam kitab tafsir beliau. Mengutip Abu al-&#8217;Aliyah, Mujahid, Sa&#8217;id ibn Jubair, &#8216;Ikrimah, al-Hasan, Qatadah, adh-Dhahhak dan ar-Rabi&#8217; ibn Anas rahimahumullah, disebutkan oleh Ibn Katsir bahwa semuanya sependapat makna<em> </em>fitnah dalam ayat ini adalah syirik.</p>
<p style="text-align: left;">Imam Fakhruddin ar-Razi rahimahullah menjelaskan dalam <em>Mafatih al-Ghaib</em> bahwa ayat ini merupakan dalil tentang disyari&#8217;atkannya memerangi orang-orang kafir, baik mereka memerangi kaum muslimin ataupun tidak, kecuali di Masjidil Haram.</p>
<p style="text-align: left;">*****</p>
<p style="text-align: left;">Tulisan ini tidak akan melebar membahas hukum-hukum seputar perang, karena bukan itu fokus tulisan ini. Tulisan ini hanya ingin menunjukkan bahwa penggunaan ayat <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>والفتنة أشد من القتل</strong></span> sebagai dalil keharaman berkata bohong untuk menjelekkan orang lain adalah keliru. Makna fitnah dalam ayat ini adalah perbuatan syirik yang dilakukan oleh kaum musyrikin, tidak ada hubungannya dengan keharaman berkata bohong untuk menjelekkan orang lain.</p>
<p style="text-align: left;">Semoga Allah memberikan kita pemahaman terhadap agama. Wallahul musta&#8217;an.</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2012/04/02/menghindari-kerusakan-dan-kebinasaan/" title="Menghindari Kerusakan dan Kebinasaan">Menghindari Kerusakan dan Kebinasaan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/10/siapakah-orang-orang-yang-beruntung/" title="Siapakah Orang-Orang yang Beruntung?">Siapakah Orang-Orang yang Beruntung?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/15/tidak-ada-hukum-yang-lebih-baik-dan-lebih-adil-dari-hukum-allah/" title="Tidak Ada Hukum yang Lebih Baik dan Lebih Adil dari Hukum Allah">Tidak Ada Hukum yang Lebih Baik dan Lebih Adil dari Hukum Allah</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/03/taat-pada-ulil-amri/" title="Taat Pada Ulil Amri">Taat Pada Ulil Amri</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/07/highly-recommended-website-waqfeya-com/" title="Highly Recommended Website: waqfeya.com">Highly Recommended Website: waqfeya.com</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/23/timbangan-di-hari-kiamat/" title="Timbangan di Hari Kiamat">Timbangan di Hari Kiamat</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/05/selain-islam-pasti-celaka/" title="Selain Islam Pasti Celaka">Selain Islam Pasti Celaka</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/14/ciri-ciri-orang-yang-bertakwa/" title="Ciri-ciri Orang yang Bertakwa">Ciri-ciri Orang yang Bertakwa</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/13/tidak-ada-paksaan-dalam-agama/" title="Tidak Ada Paksaan dalam Agama">Tidak Ada Paksaan dalam Agama</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/12/fakta-umat-islam-sekarang/" title="Fakta Umat Islam Sekarang">Fakta Umat Islam Sekarang</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/04/kewajiban-terikat-pada-aturan-allah-secara-menyeluruh/" title="Kewajiban Terikat Pada Aturan Allah Secara Menyeluruh">Kewajiban Terikat Pada Aturan Allah Secara Menyeluruh</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/03/totalitas-dalam-keberislaman/" title="Totalitas Dalam Keberislaman">Totalitas Dalam Keberislaman</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/leXqHULkYbE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/02/07/makna-fitnah-dalam-ungkapan-al-fitnatu-asyaddu-minal-qatli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/02/07/makna-fitnah-dalam-ungkapan-al-fitnatu-asyaddu-minal-qatli/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Download Murottal al-Qur’an al-Karim Syaikh Misyari Rasyid al-‘Afasy</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/QA--UuyWjPE/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/02/06/download-murottal-al-quran-al-karim-syaikh-misyari-rasyid-al-afasy/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 00:00:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[download]]></category>
		<category><![CDATA[murottal]]></category>
		<category><![CDATA[syaikh misyari rasyid al-'afasy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1366</guid>
		<description><![CDATA[Bagi penggemar mp3 murottal al-Qur’an al-Karim, nama Syaikh Misyari Rasyid al-Afasy tentu tak asing lagi. Suara merdu beliau ketika melantunkan ayat al-Qur’an membuat mp3 murottal beliau menjadi salah satu mp3 murottal yang paling banyak dicari. Syaikh Misyari Rasyid al-‘Afasy, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/الشيخ-مشاري-بن-راشد-العفاسي.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1375" title="الشيخ مشاري بن راشد العفاسي" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/الشيخ-مشاري-بن-راشد-العفاسي-199x300.jpg" alt="" width="159" height="240" /></a>Bagi penggemar mp3 murottal al-Qur’an al-Karim, nama Syaikh Misyari Rasyid al-Afasy tentu tak asing lagi. Suara merdu beliau ketika melantunkan ayat al-Qur’an membuat mp3 murottal beliau menjadi salah satu mp3 murottal yang paling banyak dicari.</p>
<p style="text-align: left;">Syaikh Misyari Rasyid al-‘Afasy, yang lahir pada hari Ahad, 11 Ramadhan 1396 H, merupakan imam dan khatib di Masjid Syaikh Jabir ibn al-‘Ali serta imam 10 malam terakhir Ramadhan di <em>al-Masjid al-Kabir</em> (Masjid Agung) Kuwait. Beliau belajar Qira’at Sepuluh dan Tafsir di Universitas Islam Madinah, Fakultas al-Qur’an al-Karim dan Kajian Keislaman. (sumber: <a href="http://ar.wikipedia.org/wiki/%D9%85%D8%B4%D8%A7%D8%B1%D9%8A_%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%81%D8%A7%D8%B3%D9%8A" target="_blank">http://ar.wikipedia.org/wiki/مشاري_العفاسي</a>)</p>
<p style="text-align: left;">Baik, tanpa panjang lebar lagi, silakan download mp3 murottal al-Qur’an al-Karim Syaikh Misyari Rasyid al-‘Afasy 30 juz lengkap, riwayat Hafsh dari ‘Asim, berikut ini:</p>
<p style="text-align: left;">001. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الفاتحة</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/001.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 002. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>البقرة</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/002.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 003. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>آل عمران</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/003.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 004. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>النساء</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/004.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 005. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المائدة</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/005.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 006. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الأنعام</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/006.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 007. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الأعراف</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/007.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 008. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الأنفال</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/008.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 009. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>التوبة</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/009.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 010. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>يونس</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/010.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 011. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>هود</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/011.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 012. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>يوسف</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/012.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 013. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الرعد</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/013.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 014. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>إبراهيم</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/014.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 015. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الحجر</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/015.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 016. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>النحل</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/016.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 017. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الإسراء</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/017.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 018. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الكهف</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/018.mp3" target="_blank">download di sini</a>)<br />
<span id="more-1366"></span></p>
<p style="text-align: left;">019. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>مريم</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/019.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 020. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>طه</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/020.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 021. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الأنبياء</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/021.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 022. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الحج</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/022.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 023. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المؤمنون</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/023.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 024. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>النّور</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/024.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 025. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الفرقان</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/025.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 026. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الشعراء</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/026.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 027. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>النمل</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/027.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 028. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>القصص</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/028.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 029. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>العنكبوت</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/029.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 030. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الروم</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/030.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 031. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>لقمان</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/031.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 032. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>السجدة</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/032.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 033. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الأحزاب</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/033.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 034. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>سبأ</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/034.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 035. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>فاطر</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/035.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 036. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>يس</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/036.mp3" target="_blank">download di sini</a>)</p>
<p style="text-align: left;">037. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الصافات</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/037.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 038. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>ص</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/038.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 039. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الزمر</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/039.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 040. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>غافر</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/040.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 041. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>فصّلت</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/041.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 042. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الشورى</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/042.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 043. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الزخرف</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/043.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 044. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الدخان</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/044.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 045. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الجاثية</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/045.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 046. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الأحقاف</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/046.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 047. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>محمد</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/047.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 048. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الفتح</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/048.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 049. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الحجرات</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/049.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 050. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>ق</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/050.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 051. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الذاريات</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/051.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 052. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الطور</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/052.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 053. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>النجم</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/053.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 054. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>القمر</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/054.mp3" target="_blank">download di sini</a>)</p>
<p style="text-align: left;">055. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الرحمن</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/055.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 056. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الواقعة</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/056.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 057. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الحديد</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/057.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 058. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المجادلة</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/058.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 059. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الحشر</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/059.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 060. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الممتحنة</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/060.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 061. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الصف</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/061.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 062. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الجمعة</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/062.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 063. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المنافقون</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/063.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 064. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>التغابن</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/064.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 065. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الطلاق</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/065.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 066. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>التحريم</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/066.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 067. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الملك</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/067.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 068. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>القلم</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/068.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 069. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الحاقة</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/069.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 070. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المعارج</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/070.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 071. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>نوح</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/071.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 072. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الجن</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/072.mp3" target="_blank">download di sini</a>)</p>
<p style="text-align: left;">073. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المزمل</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/073.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 074. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المدثر</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/074.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 075. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>القيامة</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/075.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 076. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الإنسان</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/076.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 077. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المرسلات</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/077.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 078. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>النبأ</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/078.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 079. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>النازعات</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/079.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 080. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>عبس</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/080.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 081. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>التكوير</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/081.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 082. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الإنفطار</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/082.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 083. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المطففين</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/083.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 084. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الإنشقاق</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/084.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 085. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>البروج</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/085.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 086. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الطارق</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/086.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 087. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الأعلى</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/087.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 088. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الغاشية</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/088.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 089. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الفجر</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/089.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 090. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>البلد</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/090.mp3" target="_blank">download di sini</a>)</p>
<p style="text-align: left;">091. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الشمس</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/091.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 092. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الليل</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/092.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 093. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الضحى</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/093.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 094. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الشرح</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/094.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 095. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>التين</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/095.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 096. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>العلق</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/096.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 097. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>القدر</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/097.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 098. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>البينة</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/098.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 099. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الزلزلة</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/099.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 100. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>العاديات</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/100.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 101. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>القارعة</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/101.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 102. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>التكاثر</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/102.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 103. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>العصر</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/103.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 104. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الهمزة</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/104.mp3" target="_blank">download di sini)</a> ; 105. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الفيل</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/105.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 106. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>قريش</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/106.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 107. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الماعون</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/107.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 108. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الكوثر</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/108.mp3" target="_blank">download di sini</a>)</p>
<p style="text-align: left;">109. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الكافرون</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/109.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 110. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>النصر</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/110.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 111. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المسد</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/111.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 112. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الإخلاص</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/112.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 113. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الفلق</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/113.mp3" target="_blank">download di sini</a>) ; 114. <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الناس</strong></span> (<a href="http://server8.mp3quran.net/afs/114.mp3" target="_blank">download di sini</a>)</p>
<p style="text-align: left;"><span style="text-decoration: underline;">Keterangan</span>: <strong>klik kanan &#8216;download di sini&#8217;, kemudian <em>save as</em>.</strong></p>
<p style="text-align: left;">Semoga bermanfaat.</p>
<p style="text-align: left;">Terima kasih untuk: <a href="http://mp3quran.net" target="_blank">mp3quran.net</a></p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/24/download-kitab-al-fiqh-al-islami-wa-adillatuhu/" title="Download Kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu">Download Kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/19/download-gratis-kitab-kitab-fiqih-madzhab-syafi%e2%80%99i/" title="Download Gratis Kitab-Kitab Fiqih Madzhab Syafi’i ">Download Gratis Kitab-Kitab Fiqih Madzhab Syafi’i </a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/06/download-kitab-fiqih-terlengkap-disini/" title="Download Kitab Fiqih Terlengkap Di Sini!">Download Kitab Fiqih Terlengkap Di Sini!</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/QA--UuyWjPE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/02/06/download-murottal-al-quran-al-karim-syaikh-misyari-rasyid-al-afasy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/001.mp3" length="416623" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/002.mp3" length="60320623" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/003.mp3" length="37696701" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/004.mp3" length="38288740" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/005.mp3" length="30144806" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/006.mp3" length="34688649" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/007.mp3" length="39784616" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/008.mp3" length="14592753" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/009.mp3" length="29000642" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/010.mp3" length="21704747" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/011.mp3" length="22176832" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/012.mp3" length="20200721" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/013.mp3" length="9736695" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/014.mp3" length="9824675" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/015.mp3" length="7640629" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/016.mp3" length="20232904" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/017.mp3" length="15984767" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/018.mp3" length="15968675" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/019.mp3" length="10264786" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/020.mp3" length="13024780" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/021.mp3" length="12568786" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/022.mp3" length="14184825" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/023.mp3" length="11888767" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/024.mp3" length="14728590" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/025.mp3" length="8816767" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/026.mp3" length="14664851" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/027.mp3" length="12584669" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/028.mp3" length="15232649" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/029.mp3" length="10168864" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/030.mp3" length="9376832" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/031.mp3" length="5728675" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/032.mp3" length="4192884" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/033.mp3" length="13944708" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/034.mp3" length="9144864" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/035.mp3" length="8456695" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/036.mp3" length="8480727" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/103.mp3" length="224780" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/104.mp3" length="472629" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/105.mp3" length="392799" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/106.mp3" length="344734" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/107.mp3" length="464688" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/108.mp3" length="200747" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/109.mp3" length="440656" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/110.mp3" length="280786" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/111.mp3" length="336793" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/112.mp3" length="176714" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/113.mp3" length="272636" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/114.mp3" length="408682" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/037.mp3" length="11600793" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/038.mp3" length="8560767" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/039.mp3" length="13040662" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/040.mp3" length="12544753" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/041.mp3" length="9288851" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/042.mp3" length="9360740" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/043.mp3" length="9832616" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/044.mp3" length="4616695" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/045.mp3" length="5200793" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/046.mp3" length="7664871" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/047.mp3" length="5904845" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/048.mp3" length="5776740" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/049.mp3" length="4016714" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/050.mp3" length="4480858" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/051.mp3" length="4360695" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/052.mp3" length="3888819" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/053.mp3" length="3696767" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/054.mp3" length="3864786" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/055.mp3" length="5440701" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/056.mp3" length="5736825" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/057.mp3" length="6472642" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/058.mp3" length="4912819" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/059.mp3" length="5016682" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/060.mp3" length="3616727" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/061.mp3" length="2344669" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/062.mp3" length="1712714" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/063.mp3" length="2072577" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/064.mp3" length="2600669" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/065.mp3" length="2896793" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/066.mp3" length="2864610" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/067.mp3" length="3648701" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/068.mp3" length="3656642" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/069.mp3" length="3248714" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/070.mp3" length="2544662" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/071.mp3" length="2248747" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/072.mp3" length="2680708" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/073.mp3" length="1960773" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/074.mp3" length="2600669" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/075.mp3" length="1696623" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/076.mp3" length="2520838" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/077.mp3" length="2288662" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/078.mp3" length="2344669" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/079.mp3" length="2056695" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/080.mp3" length="1768721" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/081.mp3" length="1272812" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/082.mp3" length="1096851" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/083.mp3" length="2488656" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/084.mp3" length="1288695" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/085.mp3" length="1592760" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/086.mp3" length="808878" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/087.mp3" length="864884" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/088.mp3" length="1080760" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/089.mp3" length="1704773" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/090.mp3" length="968747" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/091.mp3" length="680773" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/092.mp3" length="896858" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/093.mp3" length="528636" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/094.mp3" length="344734" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/095.mp3" length="520695" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/096.mp3" length="768753" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/097.mp3" length="368767" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/098.mp3" length="1016812" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/099.mp3" length="480780" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/100.mp3" length="568760" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/101.mp3" length="504812" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://server8.mp3quran.net/afs/102.mp3" length="504812" type="audio/mpeg" />
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/02/06/download-murottal-al-quran-al-karim-syaikh-misyari-rasyid-al-afasy/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Makna Rahmatan Lil ‘Aalamiin, Antara Pluralisme dan Islam</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/mLxQdMjv-xA/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/02/02/makna-rahmatan-lil-aalamiin-antara-pluralisme-dan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 00:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikrah]]></category>
		<category><![CDATA[fikrah]]></category>
		<category><![CDATA[islam rahmatan lil 'aalamiin]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1357</guid>
		<description><![CDATA[Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘aalamiin, begitulah ungkapan yang sering kita dengar. Saking populernya ungkapan ini, begitu banyak orang yang menggunakannya, dengan kepentingan masing-masing, kadang tanpa mengetahui makna sebenarnya dari ungkapan tersebut. Dalam sebuah berita di situs Republika.co.id, ketua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/رحمة-للعالمين.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1361" title="رحمة للعالمين" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/رحمة-للعالمين-300x225.jpg" alt="" width="210" height="158" /></a>Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘aalamiin, begitulah ungkapan yang sering kita dengar. Saking populernya ungkapan ini, begitu banyak orang yang menggunakannya, dengan kepentingan masing-masing, kadang tanpa mengetahui makna sebenarnya dari ungkapan tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam sebuah berita di situs Republika.co.id, ketua umum Garda Bangsa, M. Hanif Dakhiri misalnya menyatakan, “Jadi, Islam Indonesia itu ya Islam yang rahmatan lil &#8216;alamin. Itu pasti moderat, toleran, anti-kekerasan dan menolak ide negara Islam. Yang mengusung panji-panji Islam tetapi tidak rahmatan lil &#8216;alamin saya kira bukan Islam Indonesia. Itu Islam yang lain, yang asing dalam konteks kebudayaan masyarakat Indonesia yang majemuk.” (sumber: <a href="http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/11/08/19/lq5w9t-ciriciri-islam-indonesia-islam-yang-rahmatan-lil-alamin" target="_blank">http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/11/08/19/lq5w9t-ciriciri-islam-indonesia-islam-yang-rahmatan-lil-alamin</a>, diakses pada tanggal 2 Februari 2012).</p>
<p style="text-align: left;">Di situs islamlib.com, Muzayyin Ahyar, mengutip Ulil Abshar Abdalla, menyatakan, “Kemanusiaan, tegas Ulil, adalah nilai yang sejalan dengan Islam, bukan berlawanan dengan Islam. Islam dengan pandangannya sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin mendskripsikan keuniversalan Islam tersebut. Allah bukan hanya Tuhan yang diperuntukkan bagi etnis Arab saja, tetapi semua etnis dan suku yang mengakui dzat-Nya dan menjalankan nilai universal yang merupakan the greatest goal dari sebuah praktek yang telah di buat oleh-Nya.” (sumber: <a href="http://islamlib.com/id/artikel/menyortir-aspek-lokalitas-mengambil-aspek-universalitas-islam" target="_blank">http://islamlib.com/id/artikel/menyortir-aspek-lokalitas-mengambil-aspek-universalitas-islam</a>, diakses pada tanggal 2 Februari 2012).<br />
<span id="more-1357"></span></p>
<p style="text-align: left;">Marzuki Wahid, Direktur Fahmina Institute, menyatakan, “Islam-murni (puritan) bagi mereka adalah Islam sebagaimana dijalankan Rasulullah SAW selama hidupnya di Arab pada abad ketujuh Masehi di padang pasir, yang belum mengenal teknologi secanggih hari ini. Demi menjaga kemurnian ajaran Islam, penganut Islam di manapun berada diharuskan meniru dan mengikuti &#8220;Islam masa Rasulullah&#8221; dengan keseluruhan budaya dan tradisi kearabannya. Jika model Islam ini yang diikuti, maka yang terjadi adalah arabisasi, pengaraban dunia. Jika Islam adalah arabisasi, maka Islam tentu bersifat lokal, temporal, dan bernuansa politis (sebab kata &#8220;Arab&#8221; adalah konsep politik). Jika Islam bersifat lokal, temporal, dan bernuansa politis, maka tentu bertentangan dengan misi utama Islam sendiri sebagai <em>rahmatan lil &#8216;alamin</em>, menebarkan cinta-kasih kepada seluruh umat manusia di dunia dan segala ciptaan Tuhan di alam semesta.” (sumber: <a href="http://wahidinstitute.org/Opini/Detail/?id=279/hl=id/Inspirasi_Dari_Pemikiran_Gus_Dur" target="_blank">http://wahidinstitute.org/Opini/Detail/?id=279/hl=id/Inspirasi_Dari_Pemikiran_Gus_Dur</a>, diakses pada tanggal 2 Februari 2012).</p>
<p style="text-align: left;">Lihatlah tiga contoh pernyataan di atas, semuanya memaknai Islam rahmatan lil ‘aalamiin sebagai Islam yang anti kekerasan, Islam yang toleran terhadap semua perbedaan, serta Islam yang tidak mengikuti Islam ala Arab. Jika kita telisik lebih dalam, yang dimaksud anti kekerasan oleh mereka bukanlah sekedar kekerasan fisik, namun juga kekerasan pemikiran.</p>
<p style="text-align: left;">Islam yang rahmatan lil ‘aalamiin, versi mereka, adalah Islam yang harus selalu menerima perbedaan yang ada di tengah-tengah umat Islam, baik perbedaan itu dalam perkara-perkara <em>furu’i</em> maupun <em>ushuli. </em>Jadi, Islam yang rahmatan lil ‘aalamiin adalah Islam yang menerima Ahmadiyah –yang menyatakan ada Nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagai bagian dari Islam.</p>
<p style="text-align: left;">Islam yang rahmatan lil ‘aalamiin, versi mereka, adalah Islam yang mengakomodasi berbagai kemaksiatan, karena menurut mereka, tidak ada pemahaman baku terhadap kemaksiatan itu sendiri. Sebagai contoh, orang yang murtad, dalam literatur fiqih Islam, adalah pelaku kemaksiatan yang sangat besar dan layak dihukum berat, namun bagi pengusung Islam rahmatan lil ‘aalamiin, orang murtad harus dibiarkan hidup bebas dan tidak boleh diganggu sama sekali. Mengikuti perayaan agama non-Islam, dalam khazanah fiqih Islam, adalah terlarang, namun bagi pengusung Islam rahmatan lil ‘aalamiin, mengikuti misa natal di gereja sama pentingnya dengan shalat di masjid.</p>
<p style="text-align: left;">Bagi kelompok ini, Islam ala Arab adalah musuh utama. Jilbab (baju kurung panjang), bagi mereka, adalah pakaian wanita khas Arab dan tidak cocok dipakai di Indonesia. Hukum potong tangan bagi pencuri dan qishash bagi pelaku pembunuhan, menurut mereka adalah hukuman khas Arab yang kejam dan kurang beradab, sehingga penerapan hukuman semacam itu harus dihindari. Konsep Khilafah Islamiyah, bagi mereka adalah konsep khas Arab, dan tidak cocok untuk bangsa Indonesia yang majemuk.</p>
<p style="text-align: left;">Kesimpulannya adalah, Islam rahmatan lil ‘aalamiin versi Ulil dan kawan-kawan sebenarnya bukanlah Islam rahmatan lil ‘aalamiin, melainkan ‘Islam semau gue’. Demi mengusung ide pluralisme agama, mereka berani mengubah makna-makna dalam al-Qur’an, bahkan memelintir tafsirnya agar sesuai dengan pemahaman mereka. Ulil dan kawan-kawan sejatinya tidak mengusung Islam rahmatan lil ‘aalamin, melainkan sedang menjajakan pluralisme dan kekufuran berpikir dengan bungkus agama.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Makna Rahmatan Lil ‘Aalamiin yang Sebenarnya</strong></p>
<p style="text-align: left;">Dalam tradisi Islam, tak semua orang boleh berbicara dan menjadi rujukan dalam agama. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dimiliki oleh seseorang sebelum ia layak berbicara. Dan tradisi ini adalah tradisi yang baik, yang harus terus dilestarikan. Dari tradisi semacam inilah, kemurnian ajaran Islam terus bertahan selama belasan abad.</p>
<p style="text-align: left;">Di bidang yang berbeda pun hal ini sebenarnya ada dan terus berlaku. Sebagai contoh, seseorang tak berhak berbicara tentang dunia pengobatan dan kedokteran sebelum mendalami ilmu kedokteran yang standar selama bertahun-tahun. Seseorang tak layak dan tak berhak menjadi pilot pesawat terbang, sebelum sekolah di bidang tersebut dalam rentang waktu tertentu dan akhirnya dianggap layak menjadi pilot. Jika ada orang yang tak punya kapabilitas sebagai pilot mencoba mengemudikan pesawat terbang, kita tentu bisa membayangkan apa yang akan terjadi.</p>
<p style="text-align: left;">Demikian pula untuk memahami makna-makna al-Qur’an, bagi yang tak punya kapasitas keilmuan yang mencukupi, lebih baik mengikuti pendapat ‘ulama yang diakui keilmuannya. Imam Ibn Katsir rahimahullah adalah salah satu ‘ulama tafsir paling berpengaruh, dan kitab tafsir yang ditulis oleh beliau diakui selama beratus tahun sebagai salah satu kitab tafsir terbaik dan layak menjadi rujukan umat Islam.</p>
<p style="text-align: left;">Bagaimana Imam Ibn Katsir memahami makna rahmatan lil ‘aalamiin? Sebagaimana kita ketahui, ungkapan Islam rahmatan lil ‘aalamiin merujuk pada al-Qur’an surah al-Anbiyaa’ ayat 107, yang berbunyi:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “<em>Dan tidaklah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.</em>”</p>
<p style="text-align: left;">Mengomentari ayat ini, Imam Ibn Katsir berkata:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>يخبر تعالى أن الله جعل محمدا صلى الله عليه وسلم رحمة للعالمين، أي: أرسله رحمة لهم كلهم، فمن قبل هذه الرحمة وشكر هذه النعمة، سعد في الدنيا والآخرة، ومن ردها وجحدها خسر في الدنيا والآخرة</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “Allah ta’ala mengabarkan bahwa Dia menjadikan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maksudnya adalah, Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi mereka seluruhnya. Barangsiapa menerima rahmat ini dan bersyukur atas nikmat ini, maka ia akan bahagia di dunia dan akhirat, dan barangsiapa yang menolak dan mengingkarinya, maka ia akan merugi di dunia dan akhirat.”</p>
<p style="text-align: left;">Setelah berkomentar seperti di atas, Imam Ibn Katsir kemudian mengutip ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan tema ini, yaitu surah Ibrahim ayat 28 dan 29, sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>ألم تر إلى الذين بدلوا نعمة الله كفرا وأحلوا قومهم دار البوار ؛ جهنم يصلونها وبئس القرار</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?, Yaitu neraka Jahannam, mereka masuk ke dalamnya, dan Itulah seburuk-buruk tempat kediaman.”</p>
<p style="text-align: left;">Dari penjelasan Imam Ibn Katsir di atas, bisa kita pahami bahwa diutusnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam –membawa <em>diin</em> Islam– merupakan rahmat atau kasih sayang bagi seluruh alam. Namun, manusia menyikapi hadirnya rahmat ini dengan dua sikap. Pertama, yang menerima rahmat ini dan mensyukuri kehadirannya. Orang-orang yang menerima rahmat ini adalah orang-orang yang menjadikan Islam –yang dibawa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagai <em>diin </em>mereka, mereka akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.</p>
<p style="text-align: left;">Kedua, yang menolak dan yang mengingkari, yaitu orang-orang yang menolak seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk hanya berpegang pada <em>diin</em> Islam, mereka akan merugi di dunia dan di akhirat.</p>
<p style="text-align: left;">Dari penjelasan Imam Ibn Katsir di atas, kita tidak menemukan makna rahmatan lil ‘aalamiin sebagaimana yang dipahami kelompok liberal dan pendukung pluralisme. Bahkan, di banyak ayat, al-Qur’an memberi garis yang sangat tegas antara keimanan dan kekufuran, antara ketaatan dan kemaksiatan.</p>
<p style="text-align: left;">Penjelasan yang serupa dengan yang disampaikan oleh Imam Ibn Katsir juga kita temukan di kitab <em>at-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa asy-Syari’ah wa al-Manhaj</em> karya ulama kontemporer, Dr. Wahbah az-Zuhaili hafizhahullah. Beliau mengatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>أي وما أرسلناك يا محمد بشريعة القرآن وهديه وأحكامه إلا لرحمة جميع العالم من الإنس والجن في الدنيا والآخرة، فمن قبل هذه الرحمة، وشكر هذه النعمة، سعد في الدنيا والآخرة، ومن ردّها وجحدها، خسر الدنيا والآخرة</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “Maknanya yaitu, dan Kami tidak mengutusmu wahai Muhammad dengan syari’ah, petunjuk dan hukum-hukum al-Qur’an kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam, dari kalangan manusia dan jin, di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menerima rahmat ini dan mensyukuri nikmat ini, maka ia akan bahagia di dunia dan akhirat, dan barangsiapa yang menolak dan mengingkarinya, ia akan merugi di dunia dan di akhirat.”</p>
<p style="text-align: left;">Lihatlah, dengan sangat tegas Dr. Wahbah az-Zuhaili menyatakan yang dimaksud dengan rahmat bagi seluruh alam itu adalah syari’ah, petunjuk dan hukum-hukum al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jauh sekali dari pemahaman kalangan liberal yang memaknai Islam rahmatan lil ‘aalamiin sebagai Islam yang meniadakan banyak sekali hukum-hukum al-Qur’an hanya demi toleransi dan keragaman yang semu.</p>
<p style="text-align: left;">*****</p>
<p style="text-align: left;">Hadirnya Islam di tengah-tengah kita merupakan rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berdasarkan riwayat dari Imam ath-Thabari rahimahullah, menyatakan bahwa orang-orang kafir pun merasakan rahmat ini, yaitu dengan diselamatkannya mereka dari bencana yang ditimpakan kepada orang-orang kafir dari umat-umat terdahulu, seperti ditenggelamkan ke dalam bumi, atau ditenggelamkan ke dalam air. Tentu di akhirat orang-orang kafir ini tetap akan mendapat siksa, dan di dunia pun hidup mereka tidak akan bahagia.</p>
<p style="text-align: left;">Saat ini, kita berada pada dua pilihan, menerima dan mensyukuri adanya rahmat Allah ini, dengan hanya menjadikan <em>diin </em>Islam sebagai <em>way of life</em>. Atau sebaliknya, mengingkari rahmat Allah ini, dengan mengusung ide dan pemikiran yang bertentangan dengan <em>diin </em>Islam. Di manakah posisi kita?</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2012/05/02/dunia-yang-melenakan-atau-akhirat-yang-abadi/" title="Dunia yang Melenakan atau Akhirat yang Abadi?">Dunia yang Melenakan atau Akhirat yang Abadi?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/03/18/adakah-bidah-hasanah/" title="Adakah Bid&#8217;ah Hasanah?">Adakah Bid&#8217;ah Hasanah?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/11/beberapa-sikap-ilmiah-dalam-pengkajian-pemikiran-islam/" title="Beberapa Sikap Ilmiah dalam Pengkajian Pemikiran Islam">Beberapa Sikap Ilmiah dalam Pengkajian Pemikiran Islam</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/01/islam-adalah-diin-yang-sempurna/" title="Islam adalah Diin yang Sempurna">Islam adalah Diin yang Sempurna</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/12/perbedaan-ushul-fiqih-melahirkan-perbedaan-fiqih-antar-mujtahid/" title="Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid">Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/12/29/mengkaji-posisi-madzhab-fiqih-dalam-peradaban-keilmuan-islam-dulu-dan-sekarang/" title="Mengkaji Posisi Madzhab Fiqih dalam Peradaban Keilmuan Islam, Dulu dan Sekarang">Mengkaji Posisi Madzhab Fiqih dalam Peradaban Keilmuan Islam, Dulu dan Sekarang</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/26/khilafah-kewajiban-yang-terlupakan/" title="Khilafah, Kewajiban yang Terlupakan">Khilafah, Kewajiban yang Terlupakan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/22/haruskah-kita-bangga-menjadi-orang-indonesia/" title="Haruskah Kita Bangga Menjadi Orang Indonesia?">Haruskah Kita Bangga Menjadi Orang Indonesia?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/16/waspadalah-terhadap-tipu-daya-dunia/" title="Waspadalah Terhadap Tipu Daya Dunia!">Waspadalah Terhadap Tipu Daya Dunia!</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/27/khilafah-menurut-haji-sulaiman-rasjid/" title="Khilafah Menurut Haji Sulaiman Rasjid">Khilafah Menurut Haji Sulaiman Rasjid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/22/kewajiban-menaati-rasulullah-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam-dalam-perintah-dan-larangan/" title="Kewajiban Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam Perintah dan Larangan">Kewajiban Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam Perintah dan Larangan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/17/perlukah-negara-islam/" title="Perlukah Negara Islam?">Perlukah Negara Islam?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/06/jangan-tertipu-dengan-dukungan-mayoritas/" title="Jangan Tertipu dengan Dukungan Mayoritas">Jangan Tertipu dengan Dukungan Mayoritas</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/08/19/%d8%a3%d9%88%d8%b5%d8%a7%d9%81%d9%8f-%d9%84%d9%8a%d9%84%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d9%82%d8%af%d8%b1/" title="أوصافُ ليلة القدر">أوصافُ ليلة القدر</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/21/menggugat-pluralisme-3-memelintir-makna-surah-al-baqarah-ayat-256/" title="Menggugat Pluralisme [3]: Memelintir Makna Surah Al-Baqarah Ayat 256">Menggugat Pluralisme [3]: Memelintir Makna Surah Al-Baqarah Ayat 256</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/19/menggugat-pluralisme-2-mematikan-truth-claim-menghidupkan-kebimbangan/" title="Menggugat Pluralisme [2]: Mematikan &#8216;Truth Claim&#8217;, Menghidupkan Kebimbangan">Menggugat Pluralisme [2]: Mematikan &#8216;Truth Claim&#8217;, Menghidupkan Kebimbangan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/16/menggugat-pluralisme-1-kesalahan-tafsir-surah-al-baqarah-62/" title="Menggugat Pluralisme [1]: Kesalahan Tafsir Surah Al-Baqarah 62">Menggugat Pluralisme [1]: Kesalahan Tafsir Surah Al-Baqarah 62</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/06/6-ghibah-yang-diperbolehkan/" title="6 Ghibah yang Diperbolehkan">6 Ghibah yang Diperbolehkan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/01/syukur/" title="Syukur">Syukur</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/19/5-karakter-muslim-sejati-bagian-kedua/" title="5 Karakter Muslim Sejati [bagian kedua]">5 Karakter Muslim Sejati [bagian kedua]</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/mLxQdMjv-xA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/02/02/makna-rahmatan-lil-aalamiin-antara-pluralisme-dan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/02/02/makna-rahmatan-lil-aalamiin-antara-pluralisme-dan-islam/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Islam adalah Diin yang Sempurna</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/I0CocEuHYmQ/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/02/01/islam-adalah-diin-yang-sempurna/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 00:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikrah]]></category>
		<category><![CDATA[diin yang sempurna]]></category>
		<category><![CDATA[fikrah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1351</guid>
		<description><![CDATA[Allah subhanahu wa ta’ala dalam surah al-Maa-idah ayat 3 berfirman: اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian diin kalian, dan telah Aku sempurnakan atas kalian nikmatku, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/اليوم-اكملت-لكم-دينكم.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1354" title="اليوم اكملت لكم دينكم" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/02/اليوم-اكملت-لكم-دينكم-300x300.jpg" alt="" width="180" height="180" /></a>Allah subhanahu wa ta’ala dalam surah al-Maa-idah ayat 3 berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “<em>Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian diin kalian, dan telah Aku sempurnakan atas kalian nikmatku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai diiin kalian.</em>”</p>
<p style="text-align: left;">Dalam <em>Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim</em>, Imam Ibn Katsir mengomentari ayat ini sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>هذه أكبر نعم الله، عز وجل، على هذه الأمة حيث أكمل تعالى لهم دينهم، فلا يحتاجون إلى دين غيره، ولا إلى نبي غير نبيهم، صلوات الله وسلامه عليه؛ ولهذا جعله الله خاتم الأنبياء، وبعثه إلى الإنس والجن، فلا حلال إلا ما أحله، ولا حرام إلا ما حرمه، ولا دين إلا ما شرعه</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “Ini adalah nikmat Allah ‘azza wa jalla yang terbesar bagi umat ini, dimana Dia yang Maha Tinggi telah menyempurnakan bagi umat ini <em>diin</em> mereka (Islam), sehingga mereka tak memerlukan lagi <em>diin</em> selainnya, dan Nabi selain Nabi mereka (Muhammad) shalawatullahi wa salamuhu ‘alaih. Dan Allah telah menjadikannya (Muhammad) sebagai penutup para Nabi, dan mengutusnya kepada manusia dan jin. Maka, tidak ada yang halal kecuali yang telah Allah halalkan, dan tidak ada yang haram kecuali yang telah diharamkan-Nya. Dan tidak ada <em>diin</em> kecuali apa yang telah disyari’atkan-Nya.”<br />
<span id="more-1351"></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>وكل شيء أخبر به فهو حق وصدق لا كذب فيه ولا خلف، كما قال تعالى: {وتمت كلمت ربك صدقا وعدلا} [الأنعام: 115] أي: صدقا في الأخبار، وعدلا في الأوامر والنواهي، فلما أكمل الدين لهم تمت النعمة عليهم</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “Dan setiap yang dikabarkan-Nya adalah haq dan benar, tidak ada kebohongan di dalamnya, dan tidak ada pelanggaran terhadap janji yang disampaikan-Nya, sebagaimana firman-Nya ta’ala: “<em>Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu yang benar dan adil.</em>” [al-An’am: 115], yaitu benar dalam seluruh informasi yang disampaikan, dan adil dalam seluruh perintah dan larangan yang diberikan. Dan ketika Allah menyempurnakan <em>diin</em> mereka, maka sempurnalah nikmat yang diberikan kepada mereka.”</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>ولهذا قال تعالى {اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا} أي: فارضوه أنتم لأنفسكم، فإنه الدين الذي رضيه الله وأحبه وبعث به أفضل رسله الكرام، وأنزل به أشرف كتبه</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “Dan firman Allah ta’ala: “<em>Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian diin kalian, dan telah Aku sempurnakan atas kalian nikmatku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai diiin kalian.</em>” Maksudnya adalah: maka ridhalah kalian pada <em>diin</em> tersebut, karena diin tersebut adalah <em>diin</em> yang diridhai dan dicintai oleh Allah. Dan bersama <em>diin</em> tersebut, Dia mengutus Rasul-Nya yang paling utama, dan menurunkan kitab-Nya yang paling mulia.”</p>
<p style="text-align: left;">Ayat ini, mengikuti pemahaman Imam Ibn Katsir rahimahullah, merupakan dalil yang sangat jelas yang menunjukkan kesempurnaan Islam sebagai <em>diin</em>, sebagai pandangan hidup, sebagai <em>way of life</em>. Dan dengan sempurnanya Islam, tak layak kita berpaling kepada <em>diin</em> yang lain. Setelah adanya Islam, tak seharusnya kita mengambil pandangan hidup yang lain.</p>
<p style="text-align: left;">Bandingkanlah dengan kondisi sekarang. Begitu banyak orang yang KTP-nya Islam, sangat banyak yang mengaku muslim, tapi tanpa merasa bersalah mengambil selain Islam sebagai pandangan hidup. Sudah sangat jelas, Islam melarang wanita membuka auratnya di tempat umum, namun banyak wanita yang malah mengumbar auratnya dengan alasan sedang tren. Islam memuji wanita yang menutup rapat auratnya dengan pakaian syar’i, namun banyak orang yang malah mencela, curiga, dan bahkan menuduh mereka sebagai teroris atau istri teroris.</p>
<p style="text-align: left;">Demikian juga, Islam telah memberi garis tegas antara keimanan dan kekufuran serta keharaman mencampur adukkannya, namun banyak sekali orang yang begitu bangga mengusung ide pluralisme, menyamaratakan semua agama. Ketika ada muslim yang ingin konsisten dengan ketegasan al-Qur’an dan as-Sunnah, tuduhan intoleran, sektarian, berpandangan sempit, sok benar, sok suci, dan lain-lain malah dilemparkan kepada mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Islam pun dengan sangat tegas mengharamkan berhukum dengan hukum selain hukum Allah, dan menyatakan bahwa pemimpin umat wajib mengurusi umatnya dengan aturan Allah. Namun, ketika ada sekelompok umat Islam yang ingin mewujudkan kepemimpinan Islam ini –yaitu Khilafah Islamiyah–, yang akan menerapkan hukum dan aturan Allah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, ternyata cibiran, ejekan dan hinaan yang harus mereka terima.</p>
<p style="text-align: left;">Inilah ironi zaman ini. Al-Qur’an lebih dari seribu tahun yang lalu telah menyatakan kesempurnaan Islam sebagai <em>diin</em>, sebagai pandangan hidup, satu-satunya jalan keselamatan. Al-Qur’an juga mencela orang-orang yang masih mengambil <em>diin </em>selain Islam. Namun, saat ini, orang-orang yang mengaku muslim dan muslimah, ternyata dengan bangganya menunjukkan dan mempropagandakan pemikiran dan perilaku yang bertentangan dengan Islam.</p>
<p style="text-align: left;">Bagi muslim dan muslimah yang masih mengagungkan pemikiran dan perilaku yang tidak Islami, mari sama-sama kita renungkan ayat berikut ini:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>ومن يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “<em>Siapa saja yang mencari diin selain Islam, diin tersebut tidak akan diterima oleh Allah, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.</em>” [Ali ‘Imran ayat 85]</p>
<p style="text-align: left;">Tafsir Jalalayn dengan sangat cerdas menafsirkan makna <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الخاسرين</strong></span> ini dengan ‘tempat kembalinya adalah neraka, dan ia kekal di dalamnya’.</p>
<p style="text-align: left;">Semoga kita terhindar dari panasnya bara api neraka. <em>Wallahul musta’an</em>.</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2012/05/02/dunia-yang-melenakan-atau-akhirat-yang-abadi/" title="Dunia yang Melenakan atau Akhirat yang Abadi?">Dunia yang Melenakan atau Akhirat yang Abadi?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/03/18/adakah-bidah-hasanah/" title="Adakah Bid&#8217;ah Hasanah?">Adakah Bid&#8217;ah Hasanah?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/11/beberapa-sikap-ilmiah-dalam-pengkajian-pemikiran-islam/" title="Beberapa Sikap Ilmiah dalam Pengkajian Pemikiran Islam">Beberapa Sikap Ilmiah dalam Pengkajian Pemikiran Islam</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/02/makna-rahmatan-lil-aalamiin-antara-pluralisme-dan-islam/" title="Makna Rahmatan Lil ‘Aalamiin, Antara Pluralisme dan Islam">Makna Rahmatan Lil ‘Aalamiin, Antara Pluralisme dan Islam</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/12/perbedaan-ushul-fiqih-melahirkan-perbedaan-fiqih-antar-mujtahid/" title="Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid">Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/12/29/mengkaji-posisi-madzhab-fiqih-dalam-peradaban-keilmuan-islam-dulu-dan-sekarang/" title="Mengkaji Posisi Madzhab Fiqih dalam Peradaban Keilmuan Islam, Dulu dan Sekarang">Mengkaji Posisi Madzhab Fiqih dalam Peradaban Keilmuan Islam, Dulu dan Sekarang</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/26/khilafah-kewajiban-yang-terlupakan/" title="Khilafah, Kewajiban yang Terlupakan">Khilafah, Kewajiban yang Terlupakan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/22/haruskah-kita-bangga-menjadi-orang-indonesia/" title="Haruskah Kita Bangga Menjadi Orang Indonesia?">Haruskah Kita Bangga Menjadi Orang Indonesia?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/16/waspadalah-terhadap-tipu-daya-dunia/" title="Waspadalah Terhadap Tipu Daya Dunia!">Waspadalah Terhadap Tipu Daya Dunia!</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/27/khilafah-menurut-haji-sulaiman-rasjid/" title="Khilafah Menurut Haji Sulaiman Rasjid">Khilafah Menurut Haji Sulaiman Rasjid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/22/kewajiban-menaati-rasulullah-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam-dalam-perintah-dan-larangan/" title="Kewajiban Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam Perintah dan Larangan">Kewajiban Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam Perintah dan Larangan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/17/perlukah-negara-islam/" title="Perlukah Negara Islam?">Perlukah Negara Islam?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/06/jangan-tertipu-dengan-dukungan-mayoritas/" title="Jangan Tertipu dengan Dukungan Mayoritas">Jangan Tertipu dengan Dukungan Mayoritas</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/08/19/%d8%a3%d9%88%d8%b5%d8%a7%d9%81%d9%8f-%d9%84%d9%8a%d9%84%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d9%82%d8%af%d8%b1/" title="أوصافُ ليلة القدر">أوصافُ ليلة القدر</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/21/menggugat-pluralisme-3-memelintir-makna-surah-al-baqarah-ayat-256/" title="Menggugat Pluralisme [3]: Memelintir Makna Surah Al-Baqarah Ayat 256">Menggugat Pluralisme [3]: Memelintir Makna Surah Al-Baqarah Ayat 256</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/19/menggugat-pluralisme-2-mematikan-truth-claim-menghidupkan-kebimbangan/" title="Menggugat Pluralisme [2]: Mematikan &#8216;Truth Claim&#8217;, Menghidupkan Kebimbangan">Menggugat Pluralisme [2]: Mematikan &#8216;Truth Claim&#8217;, Menghidupkan Kebimbangan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/16/menggugat-pluralisme-1-kesalahan-tafsir-surah-al-baqarah-62/" title="Menggugat Pluralisme [1]: Kesalahan Tafsir Surah Al-Baqarah 62">Menggugat Pluralisme [1]: Kesalahan Tafsir Surah Al-Baqarah 62</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/06/6-ghibah-yang-diperbolehkan/" title="6 Ghibah yang Diperbolehkan">6 Ghibah yang Diperbolehkan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/01/syukur/" title="Syukur">Syukur</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/22/saya-orang-indonesia-atau-orang-islam/" title="Saya Orang Indonesia atau Orang Islam?">Saya Orang Indonesia atau Orang Islam?</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/I0CocEuHYmQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/02/01/islam-adalah-diin-yang-sempurna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/02/01/islam-adalah-diin-yang-sempurna/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Status Hadits “Tuntutlah Ilmu dari Buaian Sampai Liang Lahad” dan “Menuntut Ilmu itu Wajib bagi Setiap Muslim dan Muslimah”</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/yZJRkV_LzIc/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/01/31/status-hadits-tuntutlah-ilmu-dari-buaian-sampai-liang-lahad-dan-menuntut-ilmu-itu-wajib-bagi-setiap-muslim-dan-muslimah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 00:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[menuntut ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1343</guid>
		<description><![CDATA[Berikut penjelasan tentang 2 status hadits tersebut: 1. Tuntutlah Ilmu dari Buaian Sampai Liang Lahad (اطلبوا العلم من المهد الى اللحد) Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah rahimahullah (‘ulama hadits kontemporer, lahir tahun 1336 H dan wafat tahun 1417 H) di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/01/الحديث-النبوي.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1348" title="الحديث النبوي" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/01/الحديث-النبوي-300x225.jpg" alt="" width="210" height="158" /></a>Berikut penjelasan tentang 2 status hadits tersebut:</p>
<p style="text-align: left;"><strong>1. Tuntutlah Ilmu dari Buaian Sampai Liang Lahad (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>اطلبوا العلم من المهد الى اللحد</strong></span>)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah rahimahullah (‘ulama hadits kontemporer, lahir tahun 1336 H dan wafat tahun 1417 H) di kitab beliau <em>Qimah az-Zaman ‘inda al-‘Ulama</em> hal 30 (terbitan <em>Maktab al-Mathbu’at al-Islamiyah</em>, cetakan ke-10) menyatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>هذا الكلام : (طلب العلم من المهد الى اللحد) ويحكى أيضا بصيغة (اطلبوا العلم من المهد الى اللحد) : ليس بحديث نبوي ، وإنما هو من كلام الناس ، فلا تجوز إضافته إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم كما يتناقله بعضهم ، إذ لا ينسب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا ما قاله أو فعله أو أقره</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “Perkataan ini, yaitu ‘menuntut ilmu dari buaian sampai ke liang lahad’, dan disampaikan juga dengan ungkapan ‘tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahad’, bukanlah hadits Nabi. Ia hanyalah perkataan manusia biasa, dan tidak boleh menyandarkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang. Tidak ada yang boleh dinisbahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali perkataan, perbuatan dan persetujuan beliau.”<br />
<span id="more-1343"></span></p>
<p style="text-align: left;">Diceritakan juga bahwa Syaikh Ibn Baz rahimahullah dalam sebuah kajian beliau pernah menyatakan status hadits ini, yaitu <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>ليس له أصل</strong></span>, tidak ada asalnya. (saya menemukan cerita ini di <a href="http://www.ahl-alsonah.com/vb/p1507.html" target="_blank">http://www.ahl-alsonah.com/vb/p1507.html</a> dan <a href="http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=19129" target="_blank">http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=19129</a>, keduanya diakses pada tanggal 30 Januari 2012)</p>
<p style="text-align: left;">Hal yang serupa juga dinyatakan oleh Markaz Fatwa situs islamweb.net. (<a href="http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=60804" target="_blank">http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=60804</a>, diakses pada tanggal 30 Januari 2012)</p>
<p style="text-align: left;">Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah rahimahullah menyatakan bahwa ungkapan <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>اطلبوا العلم من المهد الى اللحد</strong></span> ini maknanya benar, namun yang tidak boleh adalah menisbahkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>2. Menuntut Ilmu itu Wajib bagi Setiap Muslim dan Muslimah (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة</strong></span>)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Hadits <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>طلب العلم فريضة على كل مسلم</strong></span>, tanpa tambahan <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>ومسلمة</strong></span> diriwayatkan melalui banyak jalur dan terdapat di banyak kitab, diantaranya dikeluarkan oleh Ibn Majah dalam <em>Sunan-</em>nya(1/81), al-Bazzar dalam <em>Musnad</em>-nya(1/164) (13/240) (14/45), ath-Thabrani dalam <em>al-Mu’jam ash-Shaghir</em> (1/36) (1/58), juga dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalam <em>al-Mu’jam al-Ausath</em>, <em>al-Mu’jam al-Kabir</em> dan <em>Musnad asy-Syamiyin</em>, dikeluarkan juga oleh al-Baihaqi dalam <em>al-Madkhal ila as-Sunan al-Kubra</em> (hadits no. 325, 326 dan 329).</p>
<p style="text-align: left;">‘Ulama berbeda pendapat tentang status hadits ini. Abu ‘Abdirrahman al-Albani rahimahullah dalam kitab <em>Shahih at-Targhib wa at-Tarhib</em> (1/17) dan <em>Shahih wa Dha’if Sunan Ibn Majah</em> (1/296) menyatakan hadits ini shahih. Dalam kitab <em>Shahih wa Dha’if Sunan Ibn Majah</em> (1/296), al-Albani mengutip hadits dari Ibn Majah:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>حدثنا هشام بن عمار حدثنا حفص بن سليمان حدثنا كثير بن شنظير عن محمد ابن سيرين عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم طلب العلم فريضة على كل مسلم وواضع العلم عند غير أهله كمقلد الخنازير الجوهر واللؤلؤ والذهب</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Kemudian beliau berkomentar: “shahih, tanpa tambahan <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>وواضع العلم</strong></span> dan seterusnya, tambahan tersebut statusnya <em>dha’if jiddan</em>.”</p>
<p style="text-align: left;">Imam Muhammad ibn ‘Abdirrahman as-Sakhawi rahimahullah dalam kitab beliau <em>al-Maqasid al-Hasanah </em>(1/121) menyatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>حديث: اطلبوا العلم ولو بالصين، فإن طلب العلم فريضة على كل مسلم، البيهقي في الشعب، والخطيب في الرحلة وغيرها، وابن عبد البر في جامع العلم، والديلمي، كلهم من حديث أبي عاتكة طريف بن سلمان، وابن عبد البر وحده من حديث عبيد بن محمد عن ابن عيينة عن الزهري كلاهما عن أنس مرفوعا به، وهو ضعيف من الوجهين، بل قال ابن حبان: إنه باطل لا أصل له، وذكره ابن الجوزي في الموضوعات، وستأتي الجملة الثانية في الطاء معزوة لابن ماجه وغيره مع بيان حكمها</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “Hadits ‘<em>tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim</em>’ disebutkan oleh al-Baihaqi dalam <em>asy-Syu’ab</em>, al-Khathib dalam <em>ar-Rihlah </em>dan selainnya, Ibn ‘Abdil Barr di <em>Jami al-‘Ilm</em>, dan ad-Dailami. Seluruhnya meriwayatkan dari Abi ‘Atikah Tharib ibn Salman, dan Ibn ‘Abdil Barr sendiri meriwayatkan dari ‘Ubaid ibn Muhammad dari Ibn ‘Uyainah dan az-Zuhri. Keduanya dari Anas secara marfu’. Dan ia dha’if dari dua sisi. Bahkan Ibn Hibban berkata: ‘sesungguhnya ia batil, tidak ada asalnya’. Dan ibn al-Jauzi juga menyebutkannya dalam <em>al-Maudhu’at</em>. Dan nanti akan ada lagi di pembahasan huruf ‘tha’, dinisbahkan kepada Ibn Majah dan selainnya beserta penjelasan hukumnya.”</p>
<p style="text-align: left;">Dalam kitab yang sama (1/440), as-Sakhawi menyatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>حديث: طلب العلم فريضة على كل مسلم، ابن ماجه في سننه، وابن عبد البر في العلم له من حديث حفص بن سليمان عن كثير بن شنظير، عن محمد بن سيرين عن أنس به مرفوعا بزيادة: وواضع العلم عند غير أهله كمقلد الخنازير الجوهر واللؤلؤ والذهب، وحفص ضعيف جدا، بل اتهمه بعضهم بالكذب والوضع</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “Hadits ‘<em>menuntut ilmu wajib atas setiap muslim</em>’ disebutkan oleh Ibn Majah di <em>Sunan</em>-nya, Ibn ‘Abdil Barr dalam <em>al-‘Ilm</em> dari hadits Hafsh ibn Sulaiman, dari Katsir ibn Syinzir, dari Muhammad ibn Sirin, dari Anas secara marfu’, dengan tambahan <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>وواضع العلم عند غير أهله كمقلد الخنازير الجوهر واللؤلؤ والذهب</strong></span>. Dan Hafsh <em>dha’if jiddan</em>, bahkan dituduh berdusta dan memalsukan hadits.”</p>
<p style="text-align: left;">As-Sakhawi (1/140) menjelaskan cukup panjang tentang hadits ini, bahwa ia juga diriwayatkan dari beberapa jalur lain, namun sebagian ulama mengatakan bahwa semua riwayat tersebut mengandung cacat, tidak bisa dijadikan hujjah. Hal ini misalnya disampaikan oleh Ibn ‘Abdil Barr dan al-Bazzar sebagaimana dikutip oleh as-Sakhawi.</p>
<p style="text-align: left;">Sedangkan untuk tambahan kata <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>ومسلمة</strong></span>, as-Sakhawi mengatakan bahwa tambahan tersebut tidak pernah disebutkan dalam jalur-jalur periwayatan yang ada.</p>
<p style="text-align: left;">Bisa disimpulkan, kata <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>ومسلمة</strong></span> hanya tambahan dalam hadits yang tidak ada asalnya. Sedangkan hadits <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>طلب العلم فريضة على كل مسلم</strong></span> tanpa tambahan <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>ومسلمة</strong></span> diperselisihkan ulama keshahihannya.</p>
<p style="text-align: left;">Wallahu a’lam bish shawwab.</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/02/hadits-yang-menyebutkan-nuh-%e2%80%98alaihis-salam-adalah-rasul-yang-pertama/" title="Hadits yang Menyebutkan Nuh ‘Alaihis Salam adalah Rasul yang Pertama">Hadits yang Menyebutkan Nuh ‘Alaihis Salam adalah Rasul yang Pertama</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/22/kewajiban-menaati-rasulullah-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam-dalam-perintah-dan-larangan/" title="Kewajiban Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam Perintah dan Larangan">Kewajiban Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam Perintah dan Larangan</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/04/10/tidak-berlebihan-dalam-beribadah/" title="Tidak Berlebihan Dalam Beribadah">Tidak Berlebihan Dalam Beribadah</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/07/highly-recommended-website-waqfeya-com/" title="Highly Recommended Website: waqfeya.com">Highly Recommended Website: waqfeya.com</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/24/bersegeralah-beramal-shalih/" title="Bersegeralah Beramal Shalih">Bersegeralah Beramal Shalih</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/21/keutamaan-mempelajari-ilmu-agama/" title="Keutamaan Mempelajari Ilmu Agama">Keutamaan Mempelajari Ilmu Agama</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/03/beberapa-pedoman-hidup-bagi-orang-yang-beriman/" title="Beberapa Pedoman Hidup Bagi Orang yang Beriman">Beberapa Pedoman Hidup Bagi Orang yang Beriman</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/06/cara-membentengi-diri-dari-sihir/" title="Cara Membentengi Diri Dari Sihir">Cara Membentengi Diri Dari Sihir</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/05/ancaman-rasulullah-terhadap-penguasa-yang-menzhalimi-dan-menipu-rakyatnya/" title="Ancaman Rasulullah Terhadap Penguasa yang Menzhalimi dan Menipu Rakyatnya">Ancaman Rasulullah Terhadap Penguasa yang Menzhalimi dan Menipu Rakyatnya</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/yZJRkV_LzIc" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/01/31/status-hadits-tuntutlah-ilmu-dari-buaian-sampai-liang-lahad-dan-menuntut-ilmu-itu-wajib-bagi-setiap-muslim-dan-muslimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/01/31/status-hadits-tuntutlah-ilmu-dari-buaian-sampai-liang-lahad-dan-menuntut-ilmu-itu-wajib-bagi-setiap-muslim-dan-muslimah/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Mengenal al-Mashalih al-Mursalah (bagian 2)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/WD6rOQv2HwY/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/01/27/mengenal-al-mashalih-al-mursalah-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 00:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ushul Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[al-mashalih al-mursalah]]></category>
		<category><![CDATA[ushul fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1328</guid>
		<description><![CDATA[C. Kehujjahan al-Mashalih al-Mursalah 1. Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama Sebagai dalil syar’i, kehujjahan al-mashalih al-mursalah diperselisihkan oleh para ulama. Mengingat di  beberapa referensi yang saya baca ada perbedaan penisbahan pendapat ulama tentang kehujjahan al-mashalih al-mursalah, maka untuk mempermudah saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: left;"><strong><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/01/أصول-الفقه-الاسلامي.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1333" title="أصول الفقه الاسلامي" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/01/أصول-الفقه-الاسلامي-202x300.jpg" alt="" width="141" height="210" /></a>C. Kehujjahan al-Mashalih al-Mursalah</strong></h2>
<h3><strong style="text-align: left;">1. Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Sebagai dalil syar’i, kehujjahan <em>al-mashalih al-mursalah</em> diperselisihkan oleh para ulama. Mengingat di  beberapa referensi yang saya baca ada perbedaan penisbahan pendapat ulama tentang kehujjahan al-mashalih al-mursalah, maka untuk mempermudah saya hanya akan mengambil rujukan dari kitab “<em>al-Mashalih al-Mursalah, Dirasah Tahliliyah wa Munaqasyah Fiqhiyah wa Ushuliyah ma’a Amtsilah Tathbiqiyah</em>” karya Syaikh Mahmud ‘Abdul Karim Hasan.<a title="" href="#_edn9">[9]</a></p>
<p style="text-align: left;">Di kitab tersebut disebutkan bahwa ulama ada pendapat tentang hal ini, ada yang menerima kehujjahan al-mashalih al-mursalah dan ada yang menolak kehujjahannya. Mayoritas ulama menyatakan bahwa al-mashalih al-mursalah bukan dalil syar’i. Pendapat ini dinisbahkan kepada imam asy-Syafi’i, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Amidi. Pendapat ini juga disandarkan kepada banyak ulama Syafi’iyah, misalnya al-Amidi, al-Ghazali dan ‘Izzuddin ibn ‘Abd as-Salam. Penyandaran ini juga bisa dilihat dari pernyataan yang masyhur dari asy-Syafi’i, yaitu “<em>man istahsana faqad syarra’a</em>”, dan istihsan yang tercela menurut asy-Syafi’i juga mencakup <em>al-mashalih al-mursalah</em> menurut kalangan Malikiyah. Artinya, pernyataan asy-Syafi’i tersebut menunjukkan asy-Syafi’i tegas menolak <em>al-mashalih al-mursalah</em> sebagai dalil.<br />
<span id="more-1328"></span></p>
<p style="text-align: left;">Sebagian ulama madzhab Hanabilah juga menolak menggunakan <em>al-mashalih al-mursalah</em> sebagai hujjah, misalnya Ibn Qudamah al-Maqdisi dan Ibn Taimiyah. Ibn Taimiyah berkata, “sesungguhnya <em>al-mashalih al-mursalah</em> telah membuat syariat dalam agama dengan sesuatu yang tidak diizinkan”. Demikian pula, sebagian ulama Malikiyah juga menolak penggunaan <em>al-mashalih al-mursalah</em>, misalnya Ibn al-Hajib al-Maliki.</p>
<p style="text-align: left;">Pendapat yang menyatakan <em>al-mashalih al-mursalah</em> bukan dalil juga dinisbahkan pada kalangan Hanafiyah. Hal ini misalnya dikemukakan oleh Ibn Hamam ad-Diin al-Iskandari al-Hanafi, ia berkata, “dan bagian ini dinamakan <em>al-mashalih al-mursalah</em>, dan pendapat yang terpilih adalah menolaknya (sebagai hujjah)”. <em>Al-mashalih al-mursalah</em> juga tidak digunakan oleh madzhab Zhahiriyah dan Syi’ah Itsna ‘Asyariah.</p>
<p style="text-align: left;">Di masa sekarang, ulama yang menolak kehujjahan <em>al-mashalih al-mursalah</em> misalnya adalah syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Dr. Muhammad Husain ‘Abdullah dan syaikh ‘Atha Abu ar-Rasytah.</p>
<p style="text-align: left;">Sedangkan pendapat yang menerima <em>al-mashalih al-mursalah </em>sebagai dalil syar’i dinisbahkan kepada imam Malik<a title="" href="#_edn10">[10]</a>. Demikian pula, <em>al-mashalih al-mursalah</em> juga dianggap hujjah oleh ulama Malikiyah seperti asy-Syathibi dan al-Qarafi. Asy-Syathibi bahkan menyatakan bahwa imam Abu Hanifah dan imam asy-Syafi’i juga menggunakan <em>al-mashalih al-mursalah</em>, namun pernyataan ini bertentangan dengan yang disampaikan oleh al-Amidi. Dan yang tepat adalah Abu Hanifah dan asy-Syafi’i tidak menggunakan <em>al-mashalih al-mursalah</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Di masa sekarang, banyak ulama yang menerima kehujjahan <em>al-mashalih al-mursalah</em>, mereka misalnya adalah Muhammad al-Khudhri Bek, Jad al-Haq ‘Ali Jad al-Haq, Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, ‘Abdul Karim Zaidan, ‘Abdul Wahhab Khallaf dan Muhammad Ibrahim al-Khafnawi. Al-Buthi bahkan menyatakan bahwa <em>al-mashalih al-mursalah </em>diterima berdasarkan kesepakatan shahabat, tabi’in, dan imam yang empat. Namun, syaikh Mahmud Abdul Karim Hasan membantah pernyataan tersebut.</p>
<h3><strong style="text-align: left;">2. </strong><strong style="text-align: left;">Argumentasi Ulama yang Menolak al-Mashalih al-Mursalah</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Ada beberapa argumentasi yang dikemukakan oleh para ulama yang menolak menggunakan <em>al-mashalih al-mursalah</em> sebagai dalil, diantaranya adalah<a title="" href="#_edn11">[11]</a>:</p>
<p style="text-align: left;">a) Mengambil <em>al-mashalih al-mursalah</em> akan membawa pada penetapan hukum syari’ah sekehendak hati dan berdasarkan hawa nafsu. Terdapat banyak nash yang melarang penggunaan <em>al-mashalih al-mursalah </em>sebagai dalil, diantaranya:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “<em>Jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (as-Sunnah).</em>” [an-Nisaa’ ayat 59]</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “<em>Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.</em>” [an-Nisaa’ ayat 65]</p>
<p style="text-align: left;">Menjadikan <em>al-mashalih al-mursalah</em> sebagai dalil berarti tidak kembali Allah dan Rasul, dan juga berarti tidak menjadikan Rasul sebagai hakim.</p>
<p style="text-align: left;">b) Islam adalah <em>diin</em> yang sempurna, sebagaimana firman Allah ta’ala:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>اليوم أكملت لكم دينكم</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “<em>Hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian.</em>” [al-Maaidah ayat 3]</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>وأنزلنا عليك الكتاب تبيانا لكل شيء</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “<em>Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.</em>” [an-Nahl ayat 89]</p>
<p style="text-align: left;">Dan menggunakan <em>al-mashalih al-mursalah</em> sebagai dalil berarti menunjukkan bahwa nash-nash syar’i masih kurang dan tidak sempurna.</p>
<p style="text-align: left;">c) Menggunakan <em>al-mashalih al-mursalah</em> berarti merujuk kepada akal, sedangkan akal pikiran setiap manusia berbeda-beda. Dan hukum yang lahir daripadanya tidak syar’i, karena ia menjadikan baik dan buruk atas pertimbangan akal, dan ini bertentangan dengan kewajiban untuk berhakim hanya kepada Allah, firman-Nya:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>إن الحكم إلا لله</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “<em>Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.</em>” [al-An’aam ayat 57]</p>
<p style="text-align: left;">d) Menggunakan <em>al-mashalih al-mursalah </em>akan menyebabkan hukum syara’ bisa berubah-ubah mengikuti perubahan zaman, keadaan, tempat dan perbedaan orang-orang yang menerapkannya. Bisa jadi sesuatu itu haram –berdasarkan pertimbangan maslahat– menurut seseorang atau di suatu negeri, namun oleh orang lain atau di negeri lain hal itu boleh saja.</p>
<p style="text-align: left;">Ini bertentangan dengan prinsip Islam yang universal dan lestari sepanjang masa bagi umat Islam hingga hari kiamat.</p>
<p style="text-align: left;">e) <em>Al-mashalih al-mursalah</em> berada di tengah-tengah dua kutub, yaitu maslahat yang diakui oleh asy-Syari’ dan maslahat yang tidak diakui. Karena tidak diketahui apakah maslahat dalam <em>al-mashalih al-mursalah</em> ini diakui oleh asy-Syari’ atau tidak, maka tidak boleh berhujjah dengannya.</p>
<p style="text-align: left;">Al-Amidi berkata, “<em>Al-mashalih al-mursalah</em> diragukan keadaanya apakah termasuk maslahat yang diakui oleh asy-Syari’ atau yang tidak diakui. Dan mengutamakan salah satunya<a title="" href="#_edn12">[12]</a> tidak bisa dilakukan. Oleh karena itu berhujjah dengannya tidak bisa dilakukan, karena tidak ada petunjuk yang menyatakan bahwa ia termasuk maslahat yang diakui oleh asy-Syari’.”</p>
<p style="text-align: left;">f) Mengambil <em>al-mashalih al-mursalah</em> yang tidak didukung oleh nash syar’i akan menyebabkan lepasnya dari hukum-hukum syari’ah dan malah akan melahirkan kezaliman atas nama maslahat, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian penguasa yang zalim.</p>
<p style="text-align: left;">Ibn Taimiyah berkata: “Dari sisi maslahat, ia akan menghasilkan kekacauan yang besar dalam urusan agama. Banyak pemimpin dan ahli ibadah melihat suatu maslahat kemudian kemudian mengerjakannya atas dasar ini. Padahal diantara maslahat tersebut ada yang terlarang menurut syari’ah yang tidak mereka ketahui.”</p>
<h3><strong style="text-align: left;">3. </strong><strong style="text-align: left;">Argumentasi Ulama yang Menggunakan al-Mashalih al-Mursalah</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Ulama yang menggunakan <em>al-mashalih al-mursalah </em>sebagai dalil juga mempunyai argumentasi, diantaranya<a title="" href="#_edn13">[13]</a>:</p>
<p style="text-align: left;">a) Sesungguhnya kehidupan terus berkembang, dan cara manusia untuk memenuhi kemaslahatannya terus berubah di setiap zaman dan tempat. Jika hanya membatasi diri pada hukum-hukum yang telah diakui atau terdapat dalam nash, maka banyak sekali maslahat manusia yang akan terhalangi, dan pensyari’atan akan menjadi jumud. Hal ini akan melahirkan bahaya yang besar dan tidak sesuai dengan tujuan syari’ah yaitu mewujudkan maslahat dan menghilangkan <em>mafsadat</em>.</p>
<p style="text-align: left;">b) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima pernyataan Mu’adz ibn Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mengutusnya ke Yaman, bahwa ia akan berijtihad dengan akal pikiran (<em>ra’yu</em>), jika hukumnya tak terdapat di Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.</p>
<p style="text-align: left;">c) Jika mengikuti ijtihad sebagian shahabat dan orang-orang setelah mereka, maka bisa ditemukan bahwa mereka berfatwa dalam banyak hal berdasarkan maslahat yang terpilih, tanpa membatasi diri hanya pada maslahat yang langsung diakui oleh nash. Dan kenyataan adanya ijtihad semacam ini tidak diingkari oleh satu orang pun di antara mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh ijtihad semacam ini misalnya adalah:</p>
<ul>
<li>Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengumpulkan lembaran-lembaran al-Qur’an yang terpisah-pisah pada satu mushaf berdasarkan saran dari ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, sesungguhnya ini adalah kebaikan dan maslahat bagi Islam.”</li>
<li><span style="text-align: left;">‘Umar radhiyallahu ‘anhu membatalkan bagian zakat bagi </span><em style="text-align: left;">muallaf</em><span style="text-align: left;">, padahal bagian zakat tersebut ada dalam nash. Hal ini dilakukan oleh beliau dengan alasan bahwa sudah tidak ada lagi hajat untuk melunakkan hati mereka (</span><em style="text-align: left;">ta’lif quluubihim</em><span style="text-align: left;">) setelah kejayaan Islam.</span></li>
<li><span style="text-align: left;">‘Umar radhiyallahu ‘anhu juga menggugurkan (tidak melaksanakan) </span><em style="text-align: left;">had</em><span style="text-align: left;"> untuk pencurian di masa paceklik, padahal nash-nash tentang </span><em style="text-align: left;">had </em><span style="text-align: left;">pencurian berlaku umum.</span></li>
<li><span style="text-align: left;">Beliau juga menetapkan ucapan thalaq tiga yang diucapkan dalam satu waktu sebagai thalaq tiga, agar orang-orang tidak begitu mudah melakukannya.</span></li>
<li><span style="text-align: left;">‘Utsman radhiyallahu ‘anhu menetapkan mushaf al-Qur’an hanya pada satu huruf<a title="" href="#_edn14">[14]</a>, dan membaginya ke setiap negeri, kemudian beliau membakar mushaf-mushaf yang lain.</span></li>
</ul>
<p style="text-align: left;">d) Sesungguhnya maslahat –jika bersesuaian dengan tujuan syari’ah–, maka mengambil maslahat tersebut akan sesuai dengan tujuan syari’ah dan mengabaikannya akan mengakibatkan terabaikannya tujuan syari’ah. Dan mengabaikan tujuan syari’ah adalah perkara batil dan tidak boleh dilakukan.</p>
<h3><strong style="text-align: left;">4. </strong><strong style="text-align: left;">Syarat-Syarat Penggunaan al-Mashalih al-Mursalah Bagi Ulama yang Menggunakannya</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Dr. Wahbah az-Zuhaili mengemukakan beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menggunakan <em>al-mashalih al-mursalah</em>, berikut syarat-syarat tersebut<a title="" href="#_edn15">[15]</a>:</p>
<p style="text-align: left;">a) Maslahat tersebut harus sesuai dengan tujuan syari’ah, tidak bertentangan dengan pokok-pokok syari’ah dan tidak berlawanan dengan nash atau dalil yang qath’i.</p>
<p style="text-align: left;">b) Maslahat tersebut harus bisa diterima oleh akal bahwa ia memang mengandung maslahat secara pasti, bukan hanya berupa dugaan apalagi sangkaan yang lemah. Artinya penerapan maslahat tersebut benar-benar harus menghasilkan manfaat dan menghindarkan dari bahaya.</p>
<p style="text-align: left;">Dari sini, tidak dibenarkan mencabut hak thalaq dari seorang suami dan menyerahkan hak tersebut kepada hakim. Ini karena hal tersebut bertentangan dengan nash, dan tidak ada maslahat yang benar-benar terwujud dari penerapan hal ini.</p>
<p style="text-align: left;">c) Maslahat yang dihasilkan dari penerapan <em>al-mashalih al-mursalah</em> ini harus berlaku umum untuk seluruh manusia, bukan hanya dirasakan oleh individu atau kelompok tertentu, hal ini karena hukum syara’ diterapkan untuk seluruh umat manusia. Dari sini, tidak sah penerapan kemaslahatan yang hanya berlaku bagi pemimpin, keluaga dan orang dekatnya saja.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai contoh, tidak boleh membunuh seorang muslim yang dijadikan perisai oleh orang kafir ketika bertempur dalam benteng, karena masih mungkin untuk mengepung orang kafir tersebut, dan tindakan orang kafir tersebut tak akan sampai membuat negeri muslim tertaklukkan.</p>
<h2><strong style="text-align: left;">D. </strong><strong style="text-align: left;">Penutup</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Perbedaan pendapat ulama terhadap kehujjahan <em>al-mashalih al-mursalah</em> ini paling tidak sudah sedikit menunjukkan kekayaan fiqih Islam, yang jika terus digali tentu kita akan tercengang dengan luasnya samudra kajian fiqih Islam tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Dari tulisan singkat saya ini, kita juga bisa melihat bahwa masing-masing pihak telah mengajukan berbagai argumentasi untuk menguatkan pendapat masing-masing, yang bagi orang awam tentu sulit untuk memilih dan menentukan argumentasi mana yang terkuat. Di sini, saya tidak mencoba men-<em>tarjih</em> pendapat mana yang terkuat dan pendapat mana yang lemah, karena untuk melakukan hal tersebut perlu keilmuan yang mencukupi dan energi yang luar biasa dikuras untuk mengkaji satu persatu argumentasi masing-masing pihak.</p>
<p style="text-align: left;">Semoga tulisan ini bermanfaat dan semakin menambah semangat kita untuk mengkaji fiqih Islam, baik <em>ushul </em>maupun <em>furu’</em>-nya.</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<h3 style="text-align: left;"><strong>Daftar Pustaka</strong></h3>
<p style="text-align: left;">‘Abdullah, Muhammad Husain. 1995. <em>Al-Wadhih fi Ushul al-Fiqh</em>. ‘Amman: Dar al-Bayariq.</p>
<p style="text-align: left;">Al-Amidi, Abu al-Hasan. tt. <em>Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam.</em> Beirut: al-Maktab al-Islami.</p>
<p style="text-align: left;">Al-Ghazali, Abu Hamid. tt. <em>al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul</em>. Madinah: Syirkah al-Madinah al-Munawwarah li ath-Thiba’ah.</p>
<p style="text-align: left;">Al-Ifriqi, Ibn Manzhur. 1414 H. <em>Lisan al-‘Arab</em>. Beirut: Dar Shadir.</p>
<p style="text-align: left;">Az-Zuhaili , Wahbah. 1986. <em>Ushul al-Fiqh al-Islami</em>. Damaskus: Dar al-Fikr.</p>
<p style="text-align: left;">Hasan, Mahmud ‘Abdul Karim. 1995. <em>Al-Mashalih al-Mursalah, Dirasah Tahliliyah wa Munaqasyah Fiqhiyah wa Ushuliyah ma’a Amtsilah Tathbiqiyah</em>. Beirut: Dar an-Nahdhah al-Islamiyah.</p>
<p style="text-align: left;">Khallaf, ‘Abdul Wahhab. tt. <em>‘Ilm Ushul al-Fiqh</em>. Mesir: Maktabah ad-Da’wah al-Islamiyah.</p>
<p style="text-align: left;">Syarifuddin, Amir. 2011. <em>Ushul Fiqh</em>. Jakarta: Kencana.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p style="text-align: left;">Catatan Kaki:</p>
<p><a title="" href="#_ednref9">[9]</a> Lihat <em>al-Mashalih al-Mursalah, Dirasah Tahliliyah wa Munaqasyah Fiqhiyah wa Ushuliyah ma’a Amtsilah Tathbiqiyah</em> karya Mahmud ‘Abdul Karim Hasan hal. 43-49.</p>
<p><a title="" href="#_ednref10">[10]</a> Al-Amidi berkata, “Jika shahih penukilan dari Imam Malik (bahwa beliau menggunakan <em>al-mashalih al-mursalah</em>), maka menurutku beliau tidak mengatakan hal tersebut untuk semua jenis maslahat, tapi hanya pada maslahat yang sifatnya <em>dharuri, kulli</em> dan pasti kemaslahatannya.” Lihat <em>al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam</em> karya al-Amidi, Juz 4 hal. 160.</p>
<p><a title="" href="#_ednref11">[11]</a> Lihat <em>Ushul al-Fiqh al-Islami</em> karya Dr. Wahbah az-Zuhaili Juz 2 hal. 761-762; <em>al-Wadhih fi Ushul al-Fiqh</em> karya Dr. Muhammad Husain ‘Abdullah hal. 158-159; <em>al-Mashalih al-Mursalah, Dirasah Tahliliyah wa Munaqasyah Fiqhiyah wa Ushuliyah ma’a Amtsilah Tathbiqiyah</em> karya Mahmud ‘Abdul Karim Hasan hal. 68-69; <em>Ushul Fiqh</em> karya Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin Jilid 2 hal. 361-362.</p>
<p><a title="" href="#_ednref12">[12]</a> Maksudnya mengambil kesimpulan bahwa maslahat yang ada adalah maslahat yang diakui oleh asy-Syari’. Hal ini tidak bisa dilakukan karena memang tidak ada petunjuk untuk mengarahkan pada kesimpulan tersebut.</p>
<p><a title="" href="#_ednref13">[13]</a> Lihat <em>Ushul al-Fiqh al-Islami</em> karya Dr. Wahbah az-Zuhaili Juz 2 hal. 762-764; <em>al-Wadhih fi Ushul al-Fiqh</em> karya Dr. Muhammad Husain ‘Abdullah hal. 155-156; <em>al-Mashalih al-Mursalah, Dirasah Tahliliyah wa Munaqasyah Fiqhiyah wa Ushuliyah ma’a Amtsilah Tathbiqiyah</em> karya Mahmud ‘Abdul Karim Hasan hal. 50-68; <em>Ushul Fiqh</em> karya Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin Jilid 2 hal. 360-361.</p>
<p><a title="" href="#_ednref14">[14]</a> Dalam kajian ‘ulumul Qur’an, disebutkan bahwa al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf. Untuk mendalami tema ini, silakan lihat kitab <em>al-Manaar fii ‘Uluumil Qur’an </em>karya Dr. Muhammad ‘Ali al-Hasan dan <em>Mabaahits fii</em> <em>‘Uluumil Qur’an</em> karya Manna’ Khalil al-Qaththan.</p>
<p><a title="" href="#_ednref15">[15]</a> Lihat <em>Ushul al-Fiqh al-Islami</em> karya Dr. Wahbah az-Zuhaili Juz 2 hal. 799-800.</p>
</div>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/26/mengenal-al-mashalih-al-mursalah-bagian-1/" title="Mengenal al-Mashalih al-Mursalah (bagian 1)">Mengenal al-Mashalih al-Mursalah (bagian 1)</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/03/16/sejarah-ilmu-ushul-fiqih/" title="Sejarah Ilmu Ushul Fiqih">Sejarah Ilmu Ushul Fiqih</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/28/mengenal-sadd-adz-dzarai/" title="Mengenal Sadd adz-Dzarai&#8217;">Mengenal Sadd adz-Dzarai&#8217;</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/23/penyebab-terjadinya-perbedaan-pendapat-di-kalangan-fuqaha-menurut-syaikh-dr-wahbah-az-zuhaili/" title="Penyebab Terjadinya Perbedaan Pendapat di Kalangan Fuqaha Menurut Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili">Penyebab Terjadinya Perbedaan Pendapat di Kalangan Fuqaha Menurut Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/12/perbedaan-ushul-fiqih-melahirkan-perbedaan-fiqih-antar-mujtahid/" title="Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid">Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/28/hukum-hukum-atas-perbuatan-manusia/" title="Hukum-Hukum Atas Perbuatan Manusia">Hukum-Hukum Atas Perbuatan Manusia</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/05/syarat-syarat-menjadi-seorang-mujtahid/" title="Syarat-Syarat Menjadi Seorang Mujtahid">Syarat-Syarat Menjadi Seorang Mujtahid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/09/28/penyebab-%e2%80%98ulama-menyelisihi-hadits-hadits-shahih/" title="Penyebab ‘Ulama Menyelisihi Hadits-Hadits Shahih">Penyebab ‘Ulama Menyelisihi Hadits-Hadits Shahih</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/09/26/tingkatan-rujukan-imam-as-syafi%e2%80%99i-rahimahullah-secara-berurutan-dalam-ijtihad/" title="Tingkatan Rujukan Imam as-Syafi’i Rahimahullah Secara Berurutan Dalam Ijtihad">Tingkatan Rujukan Imam as-Syafi’i Rahimahullah Secara Berurutan Dalam Ijtihad</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/07/highly-recommended-website-waqfeya-com/" title="Highly Recommended Website: waqfeya.com">Highly Recommended Website: waqfeya.com</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/04/pengertian-amr-hukum-asal-benda-dan-hukum-asal-perbuatan-manusia/" title="Pengertian Amr, Hukum Asal Benda dan Hukum Asal Perbuatan Manusia">Pengertian Amr, Hukum Asal Benda dan Hukum Asal Perbuatan Manusia</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/28/pengantar-hukum-syar%e2%80%99i/" title="Pengantar Hukum Syar’i">Pengantar Hukum Syar’i</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/21/siapakah-yang-berhak-mengeluarkan-hukum/" title="Siapakah yang Berhak Mengeluarkan Hukum?">Siapakah yang Berhak Mengeluarkan Hukum?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/17/pengertian-dan-ruang-lingkup-ushul-fiqih/" title="Pengertian dan Ruang Lingkup Ushul Fiqih">Pengertian dan Ruang Lingkup Ushul Fiqih</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/WD6rOQv2HwY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/01/27/mengenal-al-mashalih-al-mursalah-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/01/27/mengenal-al-mashalih-al-mursalah-bagian-2/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Mengenal al-Mashalih al-Mursalah (bagian 1)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/abufurqan/~3/NotyheOo_r8/</link>
		<comments>http://abufurqan.com/2012/01/26/mengenal-al-mashalih-al-mursalah-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 00:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ushul Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[al-mashalih al-mursalah]]></category>
		<category><![CDATA[ushul fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufurqan.com/?p=1317</guid>
		<description><![CDATA[A. Pengertian al-Mashalih al-Mursalah 1. Secara Bahasa Secara bahasa, al-mashalih al-mursalah (المصالح المرسلة) terdiri dari dua kata, yaitu al-mashalih (المصالح) dan al-mursalah (المرسلة). Al-mashalih berposisi sebagai kata yang disifati (الموصوف), dan al-mursalah berposisi sebagai kata sifat (الصفة). Al-mashalih merupakan jama’ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: left;"><strong><a href="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/01/المستصفى-في-علم-الأصول.jpg" target="_blank"><img class="alignright  wp-image-1326" title="المستصفى في علم الأصول" src="http://abufurqan.com/wp-content/uploads/2012/01/المستصفى-في-علم-الأصول-200x300.jpg" alt="" width="140" height="210" /></a>A. Pengertian al-Mashalih al-Mursalah</strong></h2>
<h3><strong style="text-align: left;">1. Secara Bahasa</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Secara bahasa, <em>al-mashalih al-mursalah</em> (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المصالح المرسلة</strong></span>) terdiri dari dua kata, yaitu <em>al-mashalih</em> (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المصالح</strong></span>) dan <em>al-mursalah</em> (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المرسلة</strong></span>). <em>Al-mashalih</em> berposisi sebagai kata yang disifati (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الموصوف</strong></span>), dan <em>al-mursalah</em> berposisi sebagai kata sifat (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الصفة</strong></span>).</p>
<p style="text-align: left;"><em>Al-mashalih</em> merupakan <em>jama’ taksir</em> dari kata <em>al-mashlahah</em> (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المصلحة</strong></span>). <em>Al-mashlahah</em> sendiri merupakan bentuk <em>mashdar mimi</em> dari kata <em>shalaha &#8211; yashluhu</em> (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>صلح &#8211; يصلح</strong></span>), dan mempunyai makna yang sama dengan kata <em>ash-shalah</em> (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الصلاح</strong></span>) yaitu <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>ضد الفساد</strong></span> (lawan dari kerusakan).<a title="" href="#_edn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: left;">Sedangkan kata al-Mursalah (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المرسلة</strong></span>) merupakan isim maf’ul dari kata <em>arsala – yursilu </em>(<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>ارسل &#8211; يرسل</strong></span>), yang berarti <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المطلقة</strong></span> (yang tidak terikat).<a title="" href="#_edn2">[2]</a></p>
<p style="text-align: left;">Bisa disimpulkan, secara bahasa <em>al-mashalih al-marsalah </em>berarti ‘kemaslahatan yang tidak terikat’.</p>
<h3><strong style="text-align: left;">2. Secara Istilah</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Secara istilah, ada beberapa definisi <em>al-mashalih al-mursalah</em> atau <em>al-mashlahah al-mursalah</em> yang dikemukakan oleh para ulama. Berikut beberapa di antaranya:<br />
<span id="more-1317"></span></p>
<p style="text-align: left;">Imam al-Ghazali mendefinisikannya dengan “(maslahat) yang tidak ada nash khusus yang ditunjukkan oleh syari’at tentang pembatalan atau penetapannya.”<a title="" href="#_edn3">[3]</a></p>
<p style="text-align: left;">Syaikh ‘Abdul Wahhab Khallaf mendefinisikannya dengan “maslahat yang tidak disyari’atkan oleh pembuat syari’at ketetapan hukum untuk pelaksanaannya, dan tidak ditunjukkan penetapan ataupun pembatalannya oleh dalil syar’i .”<a title="" href="#_edn4">[4]</a></p>
<p style="text-align: left;">Dr. Wahbah az-Zuhaili mendefinisikannya dengan “sifat-sifat yang sesuai dengan tindakan dan tujuan pembuat syari’at, tetapi tidak ada dalil khusus yang menetapkan atau membatalkannya, dan dengan penetapan hukum dari sifat-sifat tersebut akan tercapai kemaslahatan dan terhindar kerusakan pada manusia.”<a title="" href="#_edn5">[5]</a></p>
<p style="text-align: left;">Dr. Muhammad Husain ‘Abdullah mendefinisikannya dengan “maslahat yang tidak terdapat dalil khusus tentangnya dari pembuat Syari’at, baik yang menunjukkan disyari’atkannya atau tidak disyari’atkannya maslahat tersebut.”<a title="" href="#_edn6">[6]</a></p>
<h2><strong style="text-align: left;">B. Jenis-Jenis Maslahat</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Sebelum lebih jauh membahas tentang <em>al-mashalih al-mursalah</em>, perlu dibahas dulu tentang maslahat secara umum. Ada dua sudut pandang dalam pembagian jenis-jenis maslahat ini, yang pertama dilihat dari sisi kekuatannya, dan yang kedua dari sisi diakui atau tidak diakuinya oleh <em>asy-Syari’</em>.</p>
<h3><strong style="text-align: left;">1. Dilihat Dari Sisi Kekuatannya</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Maslahat, yang definisinya dikemukakan di atas, dari sisi kekuatannya terbagi menjadi tiga, yaitu<a title="" href="#_edn7">[7]</a>:</p>
<p style="text-align: left;"><strong>a) Adh-Dharuriyat (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الضروريات</strong></span>)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Yaitu maslahat yang keberadaannya sangat diperlukan oleh manusia, baik dalam urusan agama maupun dunia, jika maslahat ini tidak ada maka rusaklah kehidupan dunianya, dan di akhirat ia akan kehilangan kenikmatan dan mendapat siksa. Maslahat jenis ini terdiri dari penjagaan terhadap agama, jiwa, akal, nasab, kehormatan dan harta. Semua hal yang bisa merusak maslahat jenis ini diharamkan oleh Allah ta’ala.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam hal ini, Allah melarang murtad untuk memelihara agama, melarang membunuh untuk memelihara jiwa, melarang minum minuman yang memabukkan untuk memelihara akal, melarang zina untuk memelihara nasab dan kehormatan, serta melarang pencurian untuk memelihara harta.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>b) Al-Hajiyat (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الحاجيات</strong></span>)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Yaitu maslahat yang keberadaannya akan menghilangkan kesempitan (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الحرج</strong></span>) pada manusia. Maslahat jenis ini berada di bawah <em>adh-dharuriyat</em> karena ketiadaannya tidak serta merta menghilangkan penjagaan terhadap agama, jiwa, akal, nasab, kehormatan dan harta.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh maslahat jenis ini adalah disyari’atkannya jual beli, sewa-menyewa, dan berbagai aktivitas mu’amalah lainnya. Contoh lainnya adalah diberikannya <em>rukhshah</em> untuk mengqashar dan menjama’ shalat bagi musafir, dibolehkannya berbuka puasa di bulan Ramadhan bagi orang hamil dan menyusui, diwajibkannya menuntut ilmu agama, diharamkannya menutup aurat, dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>c) At-Tahsiniyat (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>التحسينيات</strong></span>)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Yaitu maslahat yang keberadaannya akan menghasilkan kebaikan dan kemuliaan bagi kehidupan manusia. Maslahat ini berada di bawah <em>adh-dharuriyat </em>dan <em>al-hajiyat</em>, karena ketiadaannya tidak langsung merusak penjagaan terhadap agama, jiwa, akal, nasab, kehormatan dan harta.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh maslahat jenis ini adalah kewajiban thaharah untuk shalat dan pengharaman makanan-makanan yang buruk serta kotor.</p>
<p style="text-align: left;">Bila terjadi benturan antara <em>adh-dharuriyat</em>, <em>al-hajiyat</em> dan <em>at-tahsiniyat</em>, maka yang didahulukan adalah <em>adh-dharuriyat</em> baru <em>al-hajiyat</em> dan yang terakhir baru <em>at-tahsiniyat</em>. Bahkan, sesama <em>adh-dharuriyat </em>pun urutannya dibedakan lagi, dan penjagaan terhadap agama adalah yang utama. Sebagai contoh, jihad <em>fi sabilillah</em> disyari’atkan untuk menegakkan agama walaupun harus mengorbankan jiwa dan harta. Allah ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>وجاهدوا بأموالكم وأنفسكم في سبيل الله</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “<em>Dan berjihadlah dengan harta dan jiwa kalian di jalan Allah.</em>” [al-Maidah ayat  41]</p>
<p style="text-align: left;">Ayat di atas menunjukkan keharusan mendahulukan penjagaan terhadap agama atas jiwa dan harta.</p>
<h3><strong style="text-align: left;">2. </strong><strong style="text-align: left;">Dari Sisi Diakui atau Tidak Diakuinya Oleh asy-Syari’</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Sedangkan dari sisi diakui atau tidak diakuinya oleh <em>asy-Syari’</em> (pembuat syari’at), maslahat terbagi menjadi 3, yaitu<a title="" href="#_edn8">[8]</a>:</p>
<p style="text-align: left;"><strong>a) Al-Mashalih al-Mu’tabarah (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المصالح المعتبرة</strong></span>)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Yaitu maslahat yang diakui oleh <em>asy-Syari’</em>, dan terdapat hukum-hukum yang terperinci yang berasal dari nash yang akan mencapat maslahat ini. Maslahat ini misalnya untuk menjaga agama, jiwa, akal, nasab, kehormatan, dan harta.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai contoh, jihad dan hukum bunuh terhadap orang murtad disyari’atkan untuk menjaga <em>diin</em>. <em>Qishash</em> disyari’atkan untuk memelihara jiwa. Pengharaman minuman yang memabukkan dan <em>had </em>terhadap peminumnya akan memelihara akal. Pengharaman pencurian dan hukuman potong tangan untuk pelakunya akan menjaga harta. Pengharaman zina dan hukuman dera bagi pelakunya akan memelihara nasab dan kehormatan. Kebolehan mengqashar dan menjama’ shalat bagi musafir akan menghilangkan kesempitan dan kesulitan bagi musafir tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Menurut Dr. Wahbah az-Zuhaili, tidak ada perbedaan pendapat akan kebolehan menggunakan maslahat jenis ini untuk menunjukkan bahwa penerapan hukum-hukum syari’ah akan mendatangkan maslahat dan menolak <em>mafsadat</em> (kerusakan).</p>
<p style="text-align: left;"><strong>b) Al-Mashalih al-Mulghah (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المصالح الملغاة</strong></span>)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Yaitu sesuatu yang disangka sebagai maslahat, namun <em>asy-Syari’</em> menolak hal tersebut, dan menunjukkan hal yang sebaliknya. Misalnya fatwa Yahya ibn Yahya, seorang ahli fiqih madzhab Maliki terhadap khalifah ‘Abdurrahman ibn al-Hakam al-Umawi yang telah bersenggama dengan istrinya di siang hari bulan Ramadhan, ulama tersebut berkata, “Anda harus berpuasa dua bulan berturut-turut”. Ia tidak mendahulukan membebaskan budak, ia berkata, “Jika saya memerintahkannya untuk itu (membebaskan budak), maka itu terlalu mudah baginya dan ia akan memandang remeh hal tersebut, yang lebih maslahat adalah mewajibkan ia puasa dua bulan berturut-turut agar ia bisa tercegah dari mengulangi hal tersebut”. Fatwa ini bathil karena bertentangan dengan hadits Nabi yang mendahulukan membebaskan budak dari berpuasa dua bulan berturut-turut.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh yang lain adalah berlebih-lebihan dalam beragama. Sebagian shahabat menyangka bahwa berpuasa terus menerus, tidak menikah dan tidak tidur di malam hari untuk mengerjakan shalat akan mendatangkan maslahat bagi mereka, namun hal ini ditolak oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui hadits beliau:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><big><big><strong>أما والله إنى لأخشاكم الله وأتقاكم له ، لكني أصوم وأفطر ، وأصلي وأرقد ، وأتزوج النساء ، فمن رغب عن سنتي فليس  مني</strong></big></big></span></p>
<p style="text-align: left;">Artinya: “<em>Demi Allah, sesungguhnya saya adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah di antara kalian, tetapi saya berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur malam, dan saya juga menikah dengan perempuan. Barangsiapa yang benci terhadap sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.</em>” [Dikeluarkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan an-Nasai dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu]</p>
<p style="text-align: left;">Menurut Mahmud ‘Abdul Karim Hasan, tidak ada <em>khilaf</em> tentang ketidak bolehan menggunakan maslahat jenis ini.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>c) Al-Mashalih al-Mursalah (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المصالح المرسلة</strong></span>)</strong></p>
<p style="text-align: left;">Yaitu maslahat yang tidak ada keterangan dari <em>asy-Syari’</em> tentang diakui atau tidak diakuinya maslahat jenis ini. Untuk maslahat jenis ini, ulama berbeda pendapat tentang boleh tidaknya penggunaannya sebagai sumber hukum.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p style="text-align: left;">Catatan Kaki:</p>
<p><a title="" href="#_ednref1">[1]</a> Lihat pembahasan <em>shalaha </em>(<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>صلح</strong></span>) di <em>Lisanul ‘Arab </em>juz 2 hal. 516-517.</p>
<p><a title="" href="#_ednref2">[2]</a> Lihat pembahasan <em>rasala</em> (<span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>رسل</strong></span>) di <em>Lisanul ‘Arab </em>Juz 11 hal. 281-285.</p>
<p><a title="" href="#_ednref3">[3]</a> Al-Ghazali, <em>al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul</em>, terbitan Syirkah al-Madinah al-Munawwarah li ath-Thiba’ah, Juz 2 hal. 481. Redaksi aslinya: <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>ما لم يشهد له من الشرع بالبطلان ولا بالاعتبار نص معين</strong></span>.</p>
<p><a title="" href="#_ednref4">[4]</a> ‘Abdul Wahhab Khallaf, ‘<em>Ilm Ushul al-Fiqh</em>, terbitan Maktabah ad-Da’wah al-Islamiyah, hal. 84. Redaksi aslinya: <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المصلحة التي لم يشرع الشارع حكما لتحقيقها ولم يدل دليل شرعي على اعتبارها او الغائها</strong></span>.</p>
<p><a title="" href="#_ednref5">[5]</a> Dr. Wahbah az-Zuhaili, <em>Ushul al-Fiqh al-Islami</em>, terbitan Dar al-Fikr, Juz 2 hal. 757. Redaksi aslinya: <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>الأوصاف التي تلائم تصرفات الشارع ومقاصده ولكن لم يشهد لها دليل معين من الشرع بالاعتبار أو الإلغاء ويحصل من ربط الحكم بها جلب مصلحة أو دفع مفسدة عن الناس</strong></span>.</p>
<p><a title="" href="#_ednref6">[6]</a> Dr. Muhammad Husain ‘Abdullah, <em>al-Wadhih fi Ushul al-Fiqh</em>, terbitan Dar al-Bayariq, hal. 152. Redaksi aslinya: <span style="font-family: Traditional Arabic;"><strong>المصالح التي لم يرد من المشرع دليل خاص بها ويشهد لها بالمشروعية أو عدم المشروعية</strong></span>.</p>
<p><a title="" href="#_ednref7">[7]</a> Lihat <em>Ushul al-Fiqh al-Islami</em> karya Dr. Wahbah az-Zuhaili Juz 2 hal. 754-756 dan <em>Ushul Fiqh</em> karya Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin Jilid 2 hal. 348-351.</p>
<p><a title="" href="#_ednref8">[8]</a> Lihat <em>Ushul al-Fiqh al-Islami</em> karya Dr. Wahbah az-Zuhaili Juz 2 hal. 752-754; <em>al-Wadhih fi Ushul al-Fiqh</em> karya Dr. Muhammad Husain ‘Abdullah hal. 150-153; <em>al-Mashalih al-Mursalah, Dirasah Tahliliyah wa Munaqasyah Fiqhiyah wa Ushuliyah ma’a Amtsilah Tathbiqiyah</em> karya Mahmud ‘Abdul Karim Hasan hal. 36-37.</p>
</div>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p  class="related_post_title">Baca juga semua artikel di bawah ini:</p><ul class="related_post"><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/27/mengenal-al-mashalih-al-mursalah-bagian-2/" title="Mengenal al-Mashalih al-Mursalah (bagian 2)">Mengenal al-Mashalih al-Mursalah (bagian 2)</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/03/16/sejarah-ilmu-ushul-fiqih/" title="Sejarah Ilmu Ushul Fiqih">Sejarah Ilmu Ushul Fiqih</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/02/28/mengenal-sadd-adz-dzarai/" title="Mengenal Sadd adz-Dzarai&#8217;">Mengenal Sadd adz-Dzarai&#8217;</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/23/penyebab-terjadinya-perbedaan-pendapat-di-kalangan-fuqaha-menurut-syaikh-dr-wahbah-az-zuhaili/" title="Penyebab Terjadinya Perbedaan Pendapat di Kalangan Fuqaha Menurut Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili">Penyebab Terjadinya Perbedaan Pendapat di Kalangan Fuqaha Menurut Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2012/01/12/perbedaan-ushul-fiqih-melahirkan-perbedaan-fiqih-antar-mujtahid/" title="Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid">Perbedaan Ushul Fiqih Melahirkan Perbedaan Fiqih Antar Mujtahid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/11/28/hukum-hukum-atas-perbuatan-manusia/" title="Hukum-Hukum Atas Perbuatan Manusia">Hukum-Hukum Atas Perbuatan Manusia</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/10/05/syarat-syarat-menjadi-seorang-mujtahid/" title="Syarat-Syarat Menjadi Seorang Mujtahid">Syarat-Syarat Menjadi Seorang Mujtahid</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/09/28/penyebab-%e2%80%98ulama-menyelisihi-hadits-hadits-shahih/" title="Penyebab ‘Ulama Menyelisihi Hadits-Hadits Shahih">Penyebab ‘Ulama Menyelisihi Hadits-Hadits Shahih</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/09/26/tingkatan-rujukan-imam-as-syafi%e2%80%99i-rahimahullah-secara-berurutan-dalam-ijtihad/" title="Tingkatan Rujukan Imam as-Syafi’i Rahimahullah Secara Berurutan Dalam Ijtihad">Tingkatan Rujukan Imam as-Syafi’i Rahimahullah Secara Berurutan Dalam Ijtihad</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/03/07/highly-recommended-website-waqfeya-com/" title="Highly Recommended Website: waqfeya.com">Highly Recommended Website: waqfeya.com</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/02/04/pengertian-amr-hukum-asal-benda-dan-hukum-asal-perbuatan-manusia/" title="Pengertian Amr, Hukum Asal Benda dan Hukum Asal Perbuatan Manusia">Pengertian Amr, Hukum Asal Benda dan Hukum Asal Perbuatan Manusia</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/28/pengantar-hukum-syar%e2%80%99i/" title="Pengantar Hukum Syar’i">Pengantar Hukum Syar’i</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/21/siapakah-yang-berhak-mengeluarkan-hukum/" title="Siapakah yang Berhak Mengeluarkan Hukum?">Siapakah yang Berhak Mengeluarkan Hukum?</a></li><li><a href="http://abufurqan.com/2011/01/17/pengertian-dan-ruang-lingkup-ushul-fiqih/" title="Pengertian dan Ruang Lingkup Ushul Fiqih">Pengertian dan Ruang Lingkup Ushul Fiqih</a></li></ul><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/abufurqan/~4/NotyheOo_r8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufurqan.com/2012/01/26/mengenal-al-mashalih-al-mursalah-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://abufurqan.com/2012/01/26/mengenal-al-mashalih-al-mursalah-bagian-1/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>

