<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588</atom:id><lastBuildDate>Sat, 01 Aug 2009 18:58:24 +0000</lastBuildDate><title>SUARA AFTA</title><description>TABLOID PERTANIAN, INFO PERTANIAN, PERIKANAN, PERKEBUNAN SUMATERA BARAT</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/</link><managingEditor>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Afta" /><itunes:owner><itunes:email>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>TABLOID PERTANIAN, INFO PERTANIAN, PERIKANAN, PERKEBUNAN SUMATERA BARAT</itunes:subtitle><feedburner:browserFriendly></feedburner:browserFriendly><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-928702818000724896</guid><pubDate>Sat, 18 Jul 2009 18:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-01T00:38:25.782+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">dunia tani</category><title>Demplot Pengembangan Budidaya Jagung Prima Tani Panampuang Tanam Berbagai Jenis Bibit Jagung</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jSeyxGGb2SA/SmIS6TrwERI/AAAAAAAAAFo/roa5XayqdSs/s1600-h/4.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jSeyxGGb2SA/SmIS6TrwERI/AAAAAAAAAFo/roa5XayqdSs/s200/4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359867299449803026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tim Prima Tani Kabupaten Agam melaksakan demplot dan percobaan tanaman jagung di Nagari Panampuang, kec IV angkat dengan melibatkan kelompok tani  Maju Terus dan PPL Nagari Panampuang Warnerim Sp.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang kegiatan ini adalah karena Panampuang sebagai salah satu sentra produksi jagung dipandang perlu untuk lebih meningkatkan  mutu dan kualitas jagung sehingga  berdampak pada peningkatan pendapatan petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu mewujudkan semua itu salah satu kegiatan Prima Tani Kab Agam  yang berada di Panampuang mengadakan semacam percontohan sekaligus demplot penanaman berbagai jenis  bibit Jagung  guna untuk mendapatkan hasil rekomendasi tata cara dan bibit yang cocok untuk nagari Panampuang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kegiatan ini dinamakan dengan Koleksi jagung rebus Sumatera Barat dan sebagai pembanding didatangkan juga bibit dari beberapa daerah di Sumbar dan satunya dari Jawa yakni jagung manis. Terdiri dari enam varitas yakni jagung hibrida N35 yang biasa dipakai oleh petani Saliang Paung untuk jagung rebus, Dupon juga spesial untuk jagung rebus karna sangat manisnya, dan selanjutnya sebagai pembanding kita datangkan jagung lokal sebagai pembangding yakni yang pertama dari Gadut Bukittinggi, kedua dari Rambatan Batusangkar, ketiga Jagung Lubuk Alung, dan terakhir jagung Panampuang.” Jelas Ir Asril Sahar kepada  Tabloid Pertanian Suara AFTA yang melihat langsung kegiatan penanaman perdana tanaman jagung  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegitan tersebut dihadiri oleh Tim Prima Tani Yakni, Ir Asril Sahar, Syafrizal, dan Yanofi Hendri, serta Warnerim PPL nagari Panampuang, dan Pengurus Kelompok Tani Maju Terus Dengan ketuanya Bujang Suhendri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh Asril menerangkan “ Dalam kegitan ini kita mencoba membuat tiga perlakuan pemupukan, yang pertama yakni sesuai dengan paket rekomendasi yang diberikan oleh produsen jagung, yang kedua kita  berikan pemupukan kimia setengah rekomendasi dan ditambah dengankompos  kotoran ternak, dan perlakuan yang ke tiga yakni menurut dengan kebiasaan petani setempat. Dan nanti akan sama-sama kita lihat bagaimna hasilnya dan yang terbaik akan kita jadikan acuan dan rekomendasi tatacara dan pembibitan yang cocok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses pembentukan buah biasanya tanaman jagungm akan terjadi perkawinan silang, masalanya adalah ketika enam varitas yang ditanam disatu lahan kemudian terjadi perkawinan silang apakah ini tidak akan mempengaruhi terhadap mutu, rasa dan kualiatas jagung demplot. Dijelaskan oleh Asril “ Memang benar pada tanaman jagung dengan bantuan angin akan terjadi perkawinan silang namun sejauh ini menurut hasil penelitian bahwa untuk kualitas produksi jagung tidak dipengaruhi oleh hasil perkawinan silang tersebut, namun pengarunhnya akan terlihat apabila buah jagung tadi dijadikan bibit maka akan terjadi pertumbuhan yang berbeda karna telah mengalami percampuran dengan varitas lainya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adanya kegiatan ini sekaligus kita harapkan hasil yang maksimal guna untuk dapat dijadikan acuan oleh petani sekitar” kata Asrir mengahiri penjelasannya pada Suara afta. (dna)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-928702818000724896?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/07/demplot-pengembangan-budidaya-jagung.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_jSeyxGGb2SA/SmIS6TrwERI/AAAAAAAAAFo/roa5XayqdSs/s72-c/4.JPG" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-7253458568156330654</guid><pubDate>Sat, 18 Jul 2009 18:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-19T01:18:52.702+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">dunia tani</category><title>SOSIALISASI DANA PENGEMBANGAN USAHA AGROBISNIS (PUAB)</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jSeyxGGb2SA/SmIR7M5sX9I/AAAAAAAAAFg/471__4Nwidw/s1600-h/3.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jSeyxGGb2SA/SmIR7M5sX9I/AAAAAAAAAFg/471__4Nwidw/s200/3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359866215297474514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tim pembina dana PUAB propinsi Sumatera Barat melaksanakan sosialisasi seputar dana PUAB pada 11 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Kabupaten Agam Penerima Dana PUAB, bertempat  di Aula pertemuan kantor Pertanian Agam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada acara tersebut lebih difokuskan pada sistim pengelolaan dana puab oleh Gapoktan. Acara dihadiri oleh ketua Gapoktan penerima dana PUAB serta penyuluh pertanian dan Kepala Cabang Dinas (KCD) Pertanian dan Wali Nagarinya serta tim pembina Propinsi dan Kabupaten yang terdiri dari unsur dinas terkait dibidang agrobisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasrul salah seorang nara sumber dari Dipertahor Sumbar menjelaskan bahwa untuk pengelolaan Dana PUAB Gapoktan harus membentuk LKMA (lembaga Keuangan Mikro agro Bisnis) dan ini sesuai dengan keputusan peraturan mentri Pertanian tentang kelembagaan petani, serta petunjuk teknis yang telah dikeluarkan Pemprov Sumbar. “Pengelolaan dana bantuan untuk kelompok tani kedepannya diarahkan untuk dikelola oleh suatu lembaga tersendiri yang lebih profesional yakni untuk saat ini LKMA. Dengan sebuah Manajemen yang bagus maka diharapkan bantuan pemerintah dapat mencapai target dan sasaran yang lebih baik.” Ucap Nasrul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Endrizal kabid Eko Sus Bud Bapeda Agam menawarkan pada gapoktan penerima dana PUAB untuk menjadikan Lembaga Keuangan Mikro BMT, sebagai mitra Gapoktan dalam pengelolaan dana PUAB, dengan alasan saat ini di Agam sedang gencarnya melakukan penumbuhan BMT, dan direncanakan kedepannya seluruh nagari di Agam akan memiliki LKM BMT, namun dari hasil diskusi Masril Koto dari LKMA Prima Tani Baso mewakili sebelas Gapoktan penerima dana PUAB menerima baik wacana tersebut, akan tetapi pada prinsipnya menurut Masril Dana PUAB yang ditujukan buat petani akan lebih pas pengelolaannya diserahkan pada LKMA. Dan sepertinya seluruh gapoktan penerima dana PUAB lebih condong ke LKMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala dinas Pertanian Agam Eldi Zein, menyerahkan sepenuhnya keputusan pada Gapoktan sendiri tentang dana PUAB apakah akan mendirikan LKMA atau dengan BMT, sebab jika dilihat peraturan menteri pertanian tentang kelembagaan disana diatur bahwa pengelolaan dana bantuan pemerintah untuk petani melalui Gapoktan, pengelolaannya diserahkan pada suatu lembaga keuangan mikro. Dan lembaga itu tidak dibatasi hanya pada LKMA saja, jadi boleh BMT, Koperasi, atau lambaga keuangan mikro lainnya. “ Untuk itu perlu kiranya menjadi sebuah renungan bagi Gapoktan yang belum ada LKMA nya, tidak ada salahnya Gapoktan tersebut bergabung dengan BMT, disamping tidak perlu repot lagi mendirikan LKMA berarti Gapoktan tersebut juga berpartisipasi dalam mendukung program pemerintah kab Agam dalam mewujutkan LKM BMT di seluruh nagari.” Kata Eldi. Hal senada juga diungkapkan nara sumber yang berasal dari dinas Koperasi kab Agam dan Dinas sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan pendapat dari ketua KTNA kab Agam, dia mengatakan untuk kedepanya sebaiknya LKM yang telah tumbuh dilebur saja menjadi satu di tiap-tiap nagari dan LKM tersebut diberi nama LKM Nagari, dan dibawahnya dibikin sub-sub yang mana salah satu subnya itu Agrobisnis dengan terobosan LKM Nagari tersebut, lebaga keuangan itu akan lebih berkemampuan dalam meningkatkan ekonomi masyarakat kecil secara keseluruhan, bukan hanya pertanian dan peternakan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada kesempatan lain Suara Afta yang bertemu dengan kepala Dipertahor Sumbar Ir Djoni di Sekretariat Afta jalan Batang Hari Padang, menegaskan pada Suara Afta bahwa untuk wilayah Sumbar pemerintah Daerah telah mengeluarkan keputusan berupa petunjuk teknis tata cara pelaksanaan dana PUAB dan salah satu syaratnya Gapoktan harus membentuk LKMA, dengan artian LKMA lah wadah untuk mengelola dana tersebut. Dan aturan ini adalah baku, “Untuk itu diharapkan pada Pemda tingkat dua agar merujuk pada petunjuk teknis yang telah dikeluarkan Gubernur propinsi sumatera Barat” tegas Djoni (dna)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-7253458568156330654?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/07/sosialisasi-dana-pengembangan-usaha.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_jSeyxGGb2SA/SmIR7M5sX9I/AAAAAAAAAFg/471__4Nwidw/s72-c/3.JPG" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-261251339054730913</guid><pubDate>Sat, 18 Jul 2009 18:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-19T01:15:12.054+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">dunia tani</category><title>PERTABUNHUT IV ANGKAT, GELAR SL-PTT Jagung</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jSeyxGGb2SA/SmIRID612DI/AAAAAAAAAFY/jFhlOc9IaVc/s1600-h/2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jSeyxGGb2SA/SmIRID612DI/AAAAAAAAAFY/jFhlOc9IaVc/s200/2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359865336713041970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujutkan sasaran kebijakan Dipertabunhut Agam tentang pengembangan tanaman Jagung khususnya di Wilayah kecamatan IV Angkat, Cabang Dinas Pertanian tanaman pangan Perkebunan dan Kehutanan melaksanakan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Sumber Daya Terpadu (SL-PTT) tanaman Jagung sekaligus di tiga kelompok tani, di Nagari sentra produksi Jagung yakni dua unit di Panampuang dan satu unit di Lambah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing kelompok tani yang dijadikan sasaran kegiatan SL, menyediakan lahan sebanyak 15 Ha, ditambah satu Ha Labor Lapang, dan Sekolah Lapang dirancang untuk satu kali musim tanam yakni diadakan untuk delapan kali pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terungkap waktu Suara Afta melihat langsung kegiatan penanaman perdana di lahan kelompok tani “Harapan” Jorong Lundang Nagari Panampuang beberapa waktu yang lalu, lahan tersebut dijadikan labor lapang. Acara itu dihadiri langsung oleh Kepala Cabang Pertabunhut kec IV Angkat Arwin S.Sos, Koordinator penyuluh Mardiana, PPL Nagari Panampuang Warnerim Sp, PHP Kec IV Angkat Ramdani, Tim Prima Tani Kabupaten Agam Ir Asril Sahar dan Syafrizal serta pengurus dan anggota pok tan Harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Labor lapang (LL) ditujukan untuk sebagai sarana pembelajaran buat peserta, hal ini sangat penting untuk kemudian ilmu yang didapatkan bisa diterapkan di lahan masing-masing, dengan sasaran meningkatnya produksi dan produktifitas. “ Untuk Labor Lapang kita berikan bantuan berupa pupuk organik, NPK, dan Urea serta bibit berlabel, sementara untuk lahan SL yang seluas 15 Ha kita berikan bantuan bibit berlabel.” Jelas Arwin pada Suara Afta disela-sela kesibukanya memberikan arahan buat peserta SL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam arahanya KCD Pertabunhut IV Angkat menekankan pentingnya kesepakatan petani untuk mau merubah nasib dengan mempelajari teknologi tata cara bertanam jagung. Dan seharusnya petani anggota Pok Tan Harapan benar-benar memanfaatkan fasilitas yang diberikan pemerintah melalui Dipertabunhut, yang mana ilmu tersebut diantar langsung ke kelompok.” Keinginan pemerintah untuk memfasilitasi seluruh Pok Tan belum bisa terwujut sebab terkendala dengan minimnya anggaran, oleh sebab itu maka dipilihlah beberapa Pok Tan yang dinilai layak untuk kegiatan SL, maka  sudah sewajarnya kita bersama-sama menggali ilmu bertanam Jagung dengan sungguh-sungguh.” Tegas Arwin dalam arahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Ir Asril Sahar menambahkan bahwa tim Prima Tani dapat memahami kesulitan petani dalam mendapatkan pupuk, namun demikian potensi pupuk alami berupa kotoran dan urin ternak, di Nagari Panampung dapat dijadikan bahan yang sangat bagus untuk menyuburkan lahan. “Kami melihat potensi bahan kompos dari limbah ternak sangat melimpah, kenapa kita tidak mencoba untuk membiasakan penggunaan kompos kotoran ternak untuk menyuburkan lahan pertanian kita, dan kita di Balai Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat memiliki teknologi untuk pembuatan kompos yang telah diuji kualitasnya dan melalui SL ini nanti akan kita coba untuk mempraktekan pembuatan kompos” jelas Asril&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang hama penyakit tanaman Ramdani menjelaskan yang utama hendaknya diketahui petani adalah dipahaminya apa-apa saja hama atau penyakit potensial yang berkemungkinan akan menyerang tanaman Jagung, diketahuinya taktik atau cara pengendalian serta yang penting juga adalah bagaimana kita mengusahakan tanaman yang sehat dan untuk mendapatkan tanaman yang sehat akan tergantung sekali dari tingkat kesuburan tanah tempat tumbuhnya serta kualitas bibit yang digunakan. “ Untuk itu perlu kita suburkan lahan pertanian agar ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman tercukupi, dengan tercukupinya hara buat tanaman maka akan dihasilkan tanaman yang lebih sehat dan lebih tahan hama penyakit, dan untuk kesuburan tanah, hanya dengan kompos yang telah terbukti nyata hasilnya untuk jangka waktu yang panjang” kata Ramdani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara diskusi, ketua pok tan Harapan St Sinaro menyarankan petani untuk memakai bibit berlabel. Dimana kel Tan Harapan ternyata telah mampu menghasikan bibit jagung berlabel, dan menurut KCD Pertabunhut pok tan Harapan merupakan satu-satunya kelompok penangkar bibit jagung di kab Agam. (dna)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-261251339054730913?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/07/pertabunhut-iv-angkat-gelar-sl-ptt.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_jSeyxGGb2SA/SmIRID612DI/AAAAAAAAAFY/jFhlOc9IaVc/s72-c/2.JPG" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-3720136181258726695</guid><pubDate>Sat, 18 Jul 2009 18:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-19T01:10:08.117+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">dunia tani</category><title>SL-PHT SWADAYA</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Belum adanya program Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) jagung dilaksanakan di kelompok Tunas Harapan Mandiri Jorong Simpang Empat Nagari Sitanang Kecamatan Ampek Nagari membuat pok tan tersebut berinisiatif untuk melaksanakan SL-PHT secara swadaya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;SL tersebut sangat berguna bagi anggota pok tan khususnya dan masyarakat sekitar umumnya, dan dibawah bimbingan Karlina Spt kelompok tersebut mengadakan panen perdana dan sekaligus melaksanakan penutupan acara SL dengan mengundang Kepala Dinas Pertanian Kab Agam yang waktu itu di wakili oleh Alfiandri, Camat  ampek Nagari Weldizar, wali nagari Sitanang dan tokoh masyarakat setempat,  baru baru ini di lahan pelaksanaan SL tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Pertanian dalam sambutannya mengucapkan terima kasih buat kelompok tani Tunas Harapan yang telah melaksanakan kegiatan SL. “Ini membuktikan bahwa ada gejala atau fenomena bahwa petani kita mulai sadar betapa pentingnya peranan ilmu pertanian dalam mempengaruhi tingkat pendapatan petani, dan khusus untuk pok tan Tunas Harapan kita di Dinas akan mengusulkan program yang akan menunjang kegiatan pok tan untuk lebih maju lagi, sama sama berdoa saja kita semoga terwujut dan disetujui.” Tutur Alfiandi dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harapan kami setelah selesainya kegiatan SL ini agar seluruh peserta yang telah mengikuti pelatihan untuk benar-benar melanjutkan kegiatan ini di lahan masing-masing. Dan di pihak pemerintah kecamatan kita akan membantu sesuai dengan kemampuan kita untuk berperan serta dalam meningkatkan pendapatan petani” kata camat Ampek Nagari dalam pidatonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wawancara Suara Afta dengan Alfiandri, terungkap bahwa ternyata saat ini Nagari Sitanang dijadikan sasaran program desa Mandiri Pangan, sasaran dari kegiatan ini adalah terwujutnya desa atau Nagari Sitanang yang mampu mencukupi kebutuhan pangan untuk warganya dengan hasil daerah sendiri, untuk hasil yang lebih maksimal dinas Pertanian Agam juga menunjuk Karlina Spt sebagai tenaga harian lepas untuk mendampingi pok tan yang ada di Nagari Sitanang dalam melakukan kegiatanya. ( dna )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-3720136181258726695?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/07/belum-adanya-program-sekolah-lapang.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-7032297213441847997</guid><pubDate>Sat, 18 Jul 2009 18:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-19T01:05:54.383+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">dunia tani</category><title>Faisal Basri dan  Pertanian Organik</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Faisal Basri kini  tidak  lagi hanya  mengutak - ngutik angka-angka pertumbuhan  ekonomi.  Pakar  ekonomi  senior  Universitas  Indonesia   tertarik  pula   menjadi petani sekaligus  mendorong  pembanguna pertanian.  Tampaknya dia sadar   bahwa  pembangunan  ekonomi tanpa didukung oleh sector  pertanian yang kuat, ekonomi  sebuah  Negara  mudah hancur.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketertarikan   itu dia  wujudkan dengan  mencoba mengolah lahan seluas   1 Ha.   Lahan  tersebut  ditanam  dengan bermacam-macam komoditi   Tidak itu ,  bahkan Untuk mendukung kecintaan dengan  bertaniBersama  kawan-kawannya  di  Pergerakan Indonesia, dia mencoba membuat  Bale Organik Bale Organik Pergerakan Indonesia yang berlokasi di Bantul.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bel organic  ini, faisal bersama kawan-kawannya lebih  focus lagi mengembangkan pertanian organic. Dia berharap   Bale Organik yang  mereka bentuk dapat menjadi sentra  sosialisasi pertanian organic di Indonesia. “Alhamdulillah, sejauh ini perkembangan sangat menggembirakan. Tujuh varietas padi lokal yang kami tanam tumbuh sehat sesuai harapan. Insya Allah sekitar sebulan setengah lagi bisa dipanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena  ingin  bertani dan melihat  perkembangan pertanian organik ini pula ,  tokoh  yang keman-mana  selalu membawa  ransel  ini  mengunjungi Sumatera Barat.   Tampaknya dia tahu bahwa  perkembangan  pertanian organic  di propinsi    lebih pesat dari  propinsi lain di Indonesia. “Di  Sumatera Barat , perkembangan pertanian  organic jauh lebih pesat. Ini tidak terlepas  dari adanya kebijakan  pemerintah yang mendukung,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat  faisal, mengutak-ngutik angka-angka pertumbuhan  ekonomi tampak tidak cukup untuk mendorong pembangunan pertanian. Harus  ada tindakan nyata   mengerjakan hal-hal yang  kecil seperti bertani secara  organic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami patut bersyukur memperoleh tanggapan yang sangat baik dari warga sekitar. Telah banyak pula rombongan yang menengok, mulai dari petani, mahasiswa, hingga dosen. Kami mulai agak kewalahan memenuhi permintaan pelatihan. Semoga, dengan lahirnya kader-kader baru hasil dari training, kita kian optimistik menguakkan "mimpi" menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia yang menyejahterakan petaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-7032297213441847997?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/07/faisal-basri-dan-pertanian-organik.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-7945978103597838730</guid><pubDate>Sat, 18 Jul 2009 18:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-19T01:01:56.554+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">dunia tani</category><title>PRODUCT PERTANIAN SUKSES DI PRP 2008</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pedagang product pertanian manangguak untuang gadang pada Pekan Raya Padang yang dilaksanakan dipelataran parkir GOR Haji Agus Salim 7 sampai 17 Agustus 2008.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan bahagianya hal ini disampaikan oleh Marnis salah satu pengusaha jus buah dengan nama dagang JUICE BUGAR “Alhamdulillah, dengan adonyo Pekan Raya Padang yang diadokan oleh Pemerintahan Kota Padang ko, ambo manangguak untuang gadang dari penjualan salah satu product hasil pertanian  yang ambo usahoan yaitu juice buah. Dari awal acara PRP hinggo kini selasa 12 agustus 2008 ado sakitar Rp3 juta untuang barasiah yang ambo tarimo”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penulusuran Tabloid AFTA, terlihat banyaknya pembeli yang antri untuk mendapatkan jus buah yang dikelola oleh Marnis pada acara malam PRP tersebut dan Sepertinya warga masyarakat kita telah paham akan manfaat dari mengkonsumsi product hasil pertanian seperti juice buah ini dari pada mengkonsumsi makanan olahan pabrik yang dapat membahayakan kesehatan. Bersamaan dengan itu petugas tabloid AFTA juga mendapat kesempatan untuk merasakan kesegaran juice buah  buatan Marnis, terasa kesegaran dan kenikmatan yang terpadu dengan baik dari tiap degukan dari jus buah dengan rasa mangga yang diberikan oleh marnis. Jadi tidak salah kenapa orang antri menanti JUICE BUGAR ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kutipan wawancara, Marnis banyak mendapatkan penghargaan dari usaha juice buah ini. Diantaranya yaitu: Pada tahun 2004 dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, sebagai pengendali mutu buah terbaik SUMBAR; Tahun 2002 dari PT. POS Indonesia, sebagai bapak angkat untuk wakil dari Sumbar dalam acara Bazar yang diadakan di bandung, saat itu Dasmajunir (Suami Marnis) sebagai pelaksna. Berdasarkan hal ini Manis menyebutkan, usahanya tersebut sekarang diusulkan sebagai utusan peserta terbaik Sumbar dalam pengelola juice buah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kunci dari kesuksesan usaha juice buah ini, Dasmajunir (suami Marnis) mengungkapkan adalah: Selalu jujur dalam berusaha; Melakukan pengawasan ketat dari mutu product dari hulu hingga hilir seperti membeli buah yang selalu segar dan bebas pengawet, penyimpanan buah di kulkas / freezer, selalu menjaga kebersihan tempat pengolahan product juice sehingga rasa tetap terjaga dengan baik, setiap saat amati buah jika sudah busuk tanpa ditunggu lama harus dibuang.; melakukan inovasi – inovasi terbaru dalam menarik pelanggan, serta sabar dalam berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marnis mengaku, dia memulai usaha hasil product pertanian ini dari berjualan susu segar yang diambil dari kampungnya padang panjang pada tahun 1992 dengan modal awal Rp20.000 dan alhamdulillah berkat sabar dan ketekunan usaha jualan susu segar, maka usaha ini banyak diminati oleh masyarakat. Kemudian dari masa ke masa , Marnis menambah unit usaha nya sebagai penjual susu kedelai, koktail, natadecoo dan yang terakhir Juice buah. Unit-unit usaha tersebut terangkum dengan nama dagang BUGAR FRESH MILK. Sekarang jumlah total aset yang saya miliki hasil dari usaha ini adalah Rp800 juta rupiah dengan jumlah pegawai yang setia dari awal menemani sebanyak 10 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat usaha dalam mengolah hasil product hasil pertanian ini, Marnis bersama suami yang tercintanya Dasmajunir pada tahun ini mengatakan inshaaallah akan berangkat naik haji dan pada masa – masa akan datang akan terus melakukan inovasi – inovasi terbaru demi keajuan usahanya tersebut.&lt;br /&gt;.................................... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa juga dirasakan penjual bunga hias Darni wilis (Upik) yang juga membuka stan di PRP padang 2008 dari kelompok tani Bunga Hias pertiwi nursery lubuk minturun kota padang. “Rata – rata penjualan kotor harian kami dari PRP 2008 ini ada sekitar ±Rp3 juta rupiah. Kami dari kelompok Tani Bunga Hias Nursery mengucapkan terimaksih yang sebesar – besarnya kepada pemerintahan kota padang yang telah mengangkatkan PRP di GOR H. Agus Salim ini. Semoga di tahun depan kelompok tani kami dapat diundang lagi untuk ikut berpartisipasi.  Ant&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-7945978103597838730?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/07/product-pertanian-sukses-di-prp-2008.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-8423882222304596845</guid><pubDate>Sat, 18 Jul 2009 17:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-22T01:21:02.148+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">dunia tani</category><title>45 Kelompok Tani Terima Insentif Pertanian Organik</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="awal"&gt;S&lt;/span&gt;ebanyak 45 Kelompok Tani (KT)/Operator   Pertanian Organik di Sumatera Barat telah menikmati insentif  pengembangan pertanian organik yang mereka lakukan.   Total  rupiah yang  mereka terima  sebanyak 140,1 juta rupiah dengan luas lahan  pertanian organic keseluruhan  176 , 15 Ha.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Koordinator Satgas Organik  Ir. Syaiful kepada Tabloid Pertanian  Suara AFTA,  baru-baru ini menyatakan ,  insentif yang diterima  petani  tersebut merupakan  bagian   program   Dinas  Pertanian  Tanaman Pangan Dan Hortikultura  untuk mendorong   pengembangan pertanian organik di Sumatera Barat. Pada tahun 2008 ini, katanya, Dipertahor Sumbar  telah menganggarkan dana insentif  sebesar Rp  250 juta   buat  petani atau kelompok tani yang telah menerapkan pertanian organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan, dengan  anggaran sebesar  Rp 250 juta rupiah, maka   jumlah  komoditi organik  yang dapat diberi insentif  berjumlah  1000 ton.  Soalnya,    besarnya  insentif yang diberikan kepada petani-petani organi yang telah menghasilkan komoditi organik   sebesar  Rp 250 /Kg.  “Bila dana insentif yang diterima petani sebesar  140,1 juta, maka jumlah komoditi organik yang telah dihasilkan berjumlah 560,7 ton atau lebih dari separoh dari  anggaran yang telah disediakan,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyatakan, dari petani atau kelompok tani yang menerima insentif  tersebut,  &lt;br /&gt;lima kelompok  tani berasal dari   kelompok tani yang mengembangkan padi organik.  Enam   kelompok   itu adalah  Kelompok Tani Tigo Alua Saiyo, Kelompok Tani  Kubota,   Kelompok Tani  Sumin I,  Kelompok Tani   Indah Saiyo, Kelompok Tani Karya Sejati,  dan Kelompok Tani  Sadalako  Saiyo Sakato. Dari enam kelompok ini,  penerima insentif terbesar  adalah  Kelompok Tani Tigo Alue Saiyo yang menerima insentif sebesar 16.1 juta rupiah. Keseluruhan, luas areal  padi yangmenerima pertanian organik   berjulah sebanyak 80,95 Ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  petani  padi, penerima insentif itu juga berasal dari  petani atau kelompok tani   buaha-buahan dan Sayuran-sayuran. Secara  keseluruhan   luas areal  sayuran dan buahan yang mendapat insentif   tersebut sebanyak 46, 85 Ha. Untuk kelompok  ini,penerima insentif  terbesar  adalah Irwandi yang menghasilkan  Buah Sawo dengan nilai insentif 14,6 juta rupiah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Demplot Padi Organik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Disamping  memberikan insentif  untuk mereka yang mengembangkan pertanian organik,    untuk mendorong pertanian organik, khususnya  tanaman padi, pada tahun 2008 ini dipertahor Sumbar juga    membuat  demplot-demplot  padi organik.  Pada tahun ini ada  6 unit  demplot padi organik yang dipadukan dengan Sistim Padi Tanam Sabatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam unit tersebut ditempatkan di enam kelompok tani yakni; KT  Karya Sajati , Nagari Kajai, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat;  KT  Karya Sago, Nagari Situjuah Gadang, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten 50 Kota;  KT Ampans Sasaok, Nagari  Tanjuang Sani, Kecamatan Tanjuang Raya, Kabupaten Agam; KT Sadalako Saiyo Sakato, Nagari Guguak, Kecamatan 2 x 11 Kayutanam Kabupaten  Padang Pariaman  dan KT Jamiatun Mubarata, Nagari IV  Koto Mudiak, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua diantara  lima  kelompok  yang mendapatkan demplot  padi organi tersebut kini   telah  panen. Dua kelompok itu adalah  KT  Sadalako Saiyo Sakato dengan  hasil ubinannya mencapai  7,2 ton perhektar  dan KT.  Rawang Talao  dengan hasil ubinan  6,8  ton perhektar.  Dua kelompok ini juga telah menikmati insentif  pengembangan pertanian organik .  KT Sadalako   Saiyo Sakato  menerima sebesar 5.6 juta  rupiah dan KT Rawang Saiyo sebesar 1,5 juta rupiah. ****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-8423882222304596845?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/07/sebanyak-45-kelompok-tani-ktoperator.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-5151772124811425387</guid><pubDate>Sat, 18 Jul 2009 17:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-19T00:55:07.967+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><title>CAMPUR TANGAN ORANG MAMPU PERCEPAT PROSES PEMBERDAYAAN PETANI</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jSeyxGGb2SA/SmIMThng1YI/AAAAAAAAAFQ/OtQlHR2QGx4/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jSeyxGGb2SA/SmIMThng1YI/AAAAAAAAAFQ/OtQlHR2QGx4/s200/untitled.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359860036105459074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Moehar Daniel&lt;br /&gt;Direktur Pemberdayaan Petani Yayasan AFTA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa tulisan sering dibahas mengenai kondisi dan keberadaan petani serta rakyat kecil dewasa ini. Intinya, mereka berada dalam ketidak berdayaan yang sebagian besar dicerminkan oleh maraknya kemiskinan, pengangguran, kebodohan dan kepincangan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menyalahkan siapa dan apa, sudah saatnya kita sebagai bagian dari anak bangsa yang besar ini untuk berbuat dan berperan serta mendukung upaya pemerintah untuk memerangi ketiga hal diatas. Ketiganya merupakan butir akibat yang sangat ditakuti oleh negara berkembang yang sedang giat melakukan pembangunan. Pada penerbitan tiga bulan yang lalu, penulis mengemukakan sebuah wacana dan sistem pembangunan yang diperkirakan efektif untuk membangkit keterpurukan masyarakat pedesaan yang mayoritas petani. Isinya adalah proses pemberdayaan masyarakat melalui penggalian potensi secara simultan, terarah dan didampingi secara berkelanjutan, sehingga masyarakat akan merasa tersentuh. Sentuhan itu merupakan kata kunci dalam membimbing dan memotivasi masyarakat untuk menggali semua potensi yang ada guna mencapai kesejahteraan dan kekuatan mencapai keseimbangan. Dengan demikian, posisi tawar masyarakat kecil akan meningkat dan sekaligus kemiskinan serta pengangguran dapat dieliminir. Wacana atau Program tersebut diharapkan dapat dilaksanakan mulai tahun 2009 oleh Pemerintah Sumatera Barat, dimotori oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai lanjutan dari wacana tersebut, berikut dikemukakan salah satu kegiatan sebagai implementasi program tersebut yang sejalan dan mendukung program yang dilakukan oleh pemerintah. Sebagai bagian dari Yayasan AFTA yang mempunyai visi “menggapai kesejahteraan petani” dengan memberdayakan para alumni, penulis merasa berkewajiban untuk berpikir dan berbuat lebih jauh, sesuai dengan tugas yang diemban sebagai direktur “Divisi Pemberdayaan Petani”. Kegiatan yang dikemukakan berikut ini merupakan program lima tahun dari Divisi tersebut untuk “Maju Bersama Petani”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, disamping masalah harga dan pemasaran, masalah utama yang dihadapi petani yang menciptakan ketidak berdayaan mereka adalah ; 1). Lemahnya penguasaan modal, 2). Lemahnya penguasaan informasi dan teknologi serta 3). Kurangnya pembinaan yang berkelanjutan. Sampai saat ini petani masih tertatih-tatih mencari jatidiri untuk memperkuat posisi tawar mereka. Tetapi nampaknya tanpa campur tangan pemerhati atau personal maupun lembaga yang punya “kepedulian” terhadap petani, sulit diharapkan nasib petani akan berubah. Bahkan dikhawatirkan bila keadaan ini berlanjut, pergeseran yang akan terjadi lebih mengarah pada penajaman jurang pemisah antara mereka dengan lapisan yang lebih beruntung yang membuat petani semakin terpuruk. Apalagi kalau diperhatikan, dewasa ini sistem “kapitalis” sudah merasuk sampai kelapisan bawah untuk menghisap rakyat kecil. Celakanya lagi, suasana Pemilu dan Pilkada dimana-mana banyak yang memanfaatkan keberadaan petani. Karena kantong suara untuk pemenangan pertarungan politik ada ditangan petani. Pengalaman masa lalu diharapkan tidak berulang kembali, dimana petani sering dimanfaatkan sesaat untuk mencapai tujuan sang pemain politik. Berbagai embel-embel, berbagai janji manis atau angin surga dilemparkan supaya petani memilih mereka. Tetapi setelah terpilih, mereka asik memperjuangkan kepentingan diri pribadi dan kelompoknya sementara petani dan rakyat kecil lainnya tetap terabaikan. Diharapkan, petani dan masyarakat kecil mulai berpikir jernih, tidak mudah terpengaruh dan berupaya tidak tergoda dengan segala bujuk rayu agar tidak menimbulkan penyesalan nantinya. Buktikan bahwa petani mampu berbuat dan berupaya untuk memperkuat kemandirian. Kita serahkan pilihannya kepada petani karena bukan itu pesan atau maksud penulisan artikel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai awal tahun 2008, Divisi Pemberdayaan Petani (DPP) Yayasan AFTA menggalang program pemberdayaan petani melalui kerjasama dengan para pengusaha dan personal pemilik modal. Rintisan kegiatan tersebut telah dimulai di jorong Titith Nagari Padang Tarok, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam. Mayoritas masyarakat jorong tersebut, terutama yang bermukim di dusun ”Bukik Duo” tergolong KK miskin. Kemiskinan ini bisa jadi sebagai akibat dari jauhnya lokasi dari jalan raya. Kendaraan roda empat hanya bisa masuk dimusim kemarau bila jalan dalam keadaan kering. Bila musim hujan dusun ini hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki atau kendaraan roda dua. Mereka mempunyai lahan yang cukup luas, tetapi tidak tergarap karena tidak mempunyai modal dan keterampilan yang cukup. Kelompok tani ini merupakan binaan LKMA Primatani Baso. Mereka sudah mulai membangun jalan usahatani secara swadaya melalui gotong royong. Masyarakat yang hampir terisolir tersebut hidup serba kekurangan dibanding dengan masyarakat lainnya pada nagari yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama-sama dengan pengelola LKMA Primatani Baso, DPP Yayasan AFTA mencoba mengumpulkan masyarakat untuk menyusun rencana pengembangan yang sesuai dengan minat dan kemampuan masyarakat setempat, sesuai dengan dukungan lahan dan lingkungan. Setelah dilakukan pendekatan partisipatif dan diskusi, secara bersama disepakati bahwa mereka akan mengembangkan usahatani jeruk madu dan sayuran organik disamping pengembangan kopi organik dan tembakau yang sudah berkembang tetapi tidak terpelihara dengan baik. Untuk itu mereka butuh bantuan bibit dan pengadaan ternak kambing. Ternak kambing ditujukan untuk menyediakan sumber pupuk organik dan sumber tambahan pendapatan. Sehubungan dengan itu, DPP Yayasan AFTA mendekati beberapa orang pengusaha dan pemilik modal untuk membantu kebutuhan petani tersebut. Saat ini telah diperoleh bantuan bibit jeruk dari Ir.Fikri Amir Direktur PSA (Pusat Studi Agribisnis), Gando Piobang Kabupaten Limapuluh Kota. Bantuan kambing sebanyak 10 ekor diadakan oleh pengusaha dari Bukittinggi. Tahap pertama, luas penanaman jeruk dikembangkan 1 ha, dilakukan oleh dua orang petani. Sementara anggota kelompok lainnya menunggu giliran untuk mendapatkan bantuan. Setiap aktivitas penerapan teknologi seperti pengolahan tanah, penggalian lubang tanam jeruk, usahatani sayuran, pembuatan pupuk kompos dan  pembuatan kandang kambing, dibina dan dibimbing secara berkelanjutan oleh tenaga lapang Yayasan AFTA bersama pengelola LKMA Primatani dan aparat pertanian setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberdayaan ini dilakukan dengan perjanjian kerjasama yang saling menguntungkan. Dalam hal ini, petani tidak mendapatkan bantuan secara cuma-cuma, tetapi berkewajiban membayar kembali semua bantuan yang diterimanya tersebut. Setelah jeruk dan kambing menghasilkan (diperhitungkan setelah 2-3 tahun), hasil yang diperoleh dibagi secara proporsional. Setelah dikeluarkan biaya modal dan tenaga kerja yang dicurahkan, maka petani akan menerima 70 % hasil jeruk dan pengusaha sebanyak 30 % . Kemudian tenaga pembina dari Yayasan AFTA menerima 10 % dari bagian petani dan 30 % dari bagian pengusaha sebagai pengganti biaya transportasinya. Sementara kambing yang diperbantukan akan kembali menjadi pemiliknya ditambah dengan setengah jumlah anak dan atau cucu kambing yang dihasilkan. Artinya, petani sangat terbantu dengan bibit dan pupuk kandang, juga perolehan tambahan pendapatan dari hasil ternak. Dan pengusaha atau pemilik modal juga akan memperoleh kembali modal yang dipasoknya ditambah dengan bagian keuntungan. Dengan demikian para pengusaha atau pemilik modal sudah berjasa membantu saudaranya sambil menabung, bahkan juga memperoleh sedikit keuntungan. Bila dibandingkan dengan tabungan yang ditempatkan di Bank konvensional, mungkin tabungan bantuan ini akan memberikan manfaat yang lebih besar, terutama bila tabungan tersebut dalam jumlah nominal yang rendah sehingga bisa habis untuk biaya administrasi bulanan perbankan. Satu, dua juta atau satu dua ekor kambing sangat bernilai bila diperbantukan kepada lapisan masyarakat yang membutuhkan, apalagi sepuluh juta atau sepuluh ekor kambing?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model ini dikembangkan bukan untuk mencari keuntungan bagi tenaga Yayasan atau pengusaha, tetapi semata-mata hanya untuk membantu dan memberdayakan petani. Disamping itu mereka (petani) juga akan merasa bertanggung jawab dengan bantuan yang diterimanya. Sehingga petani-petani ini bisa menciptakan dirinya sebagai petani yang mampu berjuang dan mampu bekerjasama dengan semua pihak. Petani seperti inilah nantinya yang diharapkan akan mampu mandiri dan berjaya dengan penguatan modal yang diterimanya. Bila model ini bisa menjadi perhatian dan menggugah para pengusaha atau siapapun yang mempunyai kepedulian terhadap sesamanya, diyakini sektor pertanian akan bangkit dan berjaya sebagai pemicu perkembangan ekonomi masyarakat yang dimulai dari Nagari. Pertanian seperti ini akan berkembang dan akan membuktikan bahwa potensi yang dimliki bisa dimanfaatkan secara optimal dan bermanfaat bagi semua pihak. Kemiskinan, pengangguran, kebodohan dan kepincangan secara perlahan akan terentaskan, dan sektor pertanian bergerak maju sebagai ”leading sector”nya perkonomian daerah Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun belum memperlihatkan hasil, kegiatan ini sudah diketahui oleh banyak petani disekitar lokasi. Bahkan petani organik binaan LKMA di Koto Tinggi juga sudah sangat mengharapkan mendapatkan program serupa. Saat ini sudah ada 6 Kelompok Tani yang meminta agar anggotanya yang kurang mampu dibantu juga melalui program kerjasama tersebut. Oleh karena itu, DPP Yayasan AFTA berusaha keras untuk bisa mendapatkan suntikan modal dari masyarakat yang peduli dengan kepentingan bersama, terutama dalam pemberdayaan masyarakat yang kurang beruntung. Dalam waktu dekat akan dilayangkan surat himbauan kepada masyarakat, terutama yang ”mampu” dan mau, serta mempunyai kepedulian terhadap nasib petani, untuk ikut berpartisipasi. Yayasan AFTA melalui Divisi Pemberdayaan Petani akan menampung semua bantuan (tabungan)  tersebut untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat lainnya yang membutuhkan. Penyaluran tidak hanya sekedar memberikan, tetapi diikuti dengan pembinaan dan pembimbingan secara berkelanjutan oleh para tenaga ahli dan tenaga lapang Yayasan. Bisa dijamin bahwa bantuan (tabungan) yang diberikan tidak akan berkurang, malahan akan bertambah, karena dalam perjanjian yang dibuat petani akan mengganti semua kerugian bila terjadi, sebagai akibat dari kelalaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tulisan ini, penulis menghimbau kepada semua pihak yang tergerak hatinya dan yang mempunyai kepedulian terhadap nasib sesama anak bangsa serta punya rasa tanggung jawab terhadap perkembangan daerah, untuk ikut berpartisipasi. Silahkan anda mendatangi Yayasan AFTA dan berikan bantuannya untuk disalurkan kepada yang membutuhkan. Atau bisa juga hubungi personal AFTA  dan catatkan bahwa anda salah satu orang yang peduli dengan nasib petani. Bila anda ikut dalam program ini berarti anda sudah maju selangkah dan bisa digolongkan sebagai pahlawan masyarakat yang Islami. Karena Allah SWT telah memerintahkan kita untuk peduli dengan sesama dan hidup saling mengasihi. Kepedulian kita berarti telah mengangkat martabat anak bangsa dan berperan mengembangkan perekonomian daerah. Siapa lagi yang akan membangun negeri ini kalau tidak kita sendiri. Mari kita coba dan mari kita ”Maju Bersama Petani”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-5151772124811425387?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/07/campur-tangan-orang-mampu-percepat.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_jSeyxGGb2SA/SmIMThng1YI/AAAAAAAAAFQ/OtQlHR2QGx4/s72-c/untitled.bmp" height="72" width="72" /></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-896941874331131786</guid><pubDate>Sat, 18 Jul 2009 17:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-19T00:41:28.355+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Agribisnis</category><title>Agribisnis Gudang Kentang di Simpang Rawang</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Berdagang  hasil pertanian  terkadang  memperlihat  suatu  pola  yang tidak lazim. Ada  daerah yang menjadi  sentra  komoditi  tertentu, tetapi daerah  tidak  mampu menjadi   terkenal  dalam  memasarkan   komoditi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Akan  tetapi  ada daerah  yang   tidak begitu   besar menghasilkan komoditi , namun   mampu menjadi terkenal sebagai penghasil  utama  komoditi  ini.&lt;br /&gt;Lobak   Brastagi adalah   salah satu contoh  dari  fenomena ini. Di  berbagai daerah  pemasaran lobak, seperti Riau,Jambi, bahkan sampai ke Malaysia,  semua  orang hanya kenal  dengan  lobak Brastagi. Namun  bila  mendatangi langsung    kabupaten ,  lobak   brastagi  tidak hanya berasal dari  kabupaten itu. Lobak-lobak yang dipasarkan  ini  justru lebih banyak berasal dari luar daerah. Salah satu daerah pemasok  Lobak Brastagi ini adalah    dari   kawasan Alahan  Panjang, Kabupaten Solok, Bahkan dapat dikata,  daerah ini  merupakan  pemasok utama Lobak  Brastagi ini.&lt;br /&gt;Fenomena  yang sama  tampaknya juga terjadi pada  kentang.  Semua orang pasti tahu  bahwa Kabupaten Kerinci, Propinsi  Jambi adalah penghasil kentang  terbesar di wilayah Sumatera.  Namun,  Kerinci ternyata tidak satu-satunya  menjadi  pusat pemasaran kentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak  daerah  lain yang kini terkenal sebagai   tempat pemasaran  kentang.  Pada  daerah-daerah ini , mereka hanya memiliki gudang-gudang penampung, tanpa memiliki   satu batang pun kentang. Salah  satu Gudang Kentang  yang  memiliki areal pemasaran   cukup luas itu  adalah Gudang Kentang di  Simpang Rawang,  Nagari Tabek , Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar. Gudang  kentang milik H.  Labay  ini  telah menjangkau  wilayah  pemasaran      yang luas. Pemasaran kentangnya tidak hanya menyentuh  berbagai kabubaten di Sumatera  Barat ,  tetapi juga merambah  ke  berapa daerah  di propinsi  tetangga , seperti  Bengkalis dan  Dumai  di Riau. Bahkan adapula  yang sampai ke Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  Nurlis, 43 th,  istri H. Labay  yang juga ikut mengendalikan usaha pemasaran kentang, kepada  Tabloid Pertanian Suara AFTA yang menemuinya baru-baru ini  menyebutkan, dengan areal pemasarannya yang cukup luas itu , total ya  dalam satu minggu  mencapai  15 ton  atau  2- 3 truk perminggu. Jika dinilai dengan uang, dengan  rata-rata  harga  penjualan sebanyak Rp 3.500 per kg  maka  penjualannya  mencapai  50 juta lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi , meski   memiliki  omset  yang mencapai puluhan juta perminggu,  keuntungan    yang diperdapat  juga   tidak terlalu banyak. Rata-rata , dari setiap  Kg  kentang yang dijual , jelas Nurlis,  keuntungan yang mereka  perdapat sebesar Rp 100 -   Rp 200 perkg . Itupun dengan   resiko kerusakan   pengangkutan kentang dari Kerinci ke Gudangnya  mereka yang tanggung. “Untungnya  juga tidak terlalu besar ,  kadang-kadang ada yang dibawah  Rp 100 per kg,” tutur Ibu 13 orang anak ini kepada Tabloid Pertanian Suara AFTA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Persortiran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama dengan  berdagang  komoditi  hasil pertaniannya lain,  Menuru Nurlis,  berdagang   kentang juga memiliki  kualitas-kualitas  tertentu.  Ada  tiga  jenis kualitas    yang  ada dalam berdagang kentang. Kualitas  pertama  adalah   kentang yang kecil-kecil seukuran  buah  duku.  Kentang tipe ini  biasa juga disebut dengan kentang rending. Kualitas   kedua  adalah kentang ukuran  menengah. Kualitas ketiga  baru kentang ukuran super.  Kentang ini   adalah  kualitas kentang yang terbesa jauh diatas  ukuran menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai harga    antara  tiga tingkatan kualitas tersebut , jelas  Nurlis, jelas  berbeda  diantara ketiga.   Kentang yang ukuran super lebih mahal dengan  kentang  ukuran menengah. Namun   kondisi  yang berbeda    bila membandingkah harga kentang ukuran  Super dengan  kentang rendang. Pada suatu  ketika bisa  saja  kentang  ukuran super lebih mahal, namun pada ketika lain, kentang rendang  yang lebih mahal. Tergantung banyak permintaan  terhadap  kedua jenis   kentang tersebut. “Pada  bulan-bulan  puasa sekarang ini,  biasanya kentang rendang lebih mahal ketimbang  kentang ukuran super,” ucapnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping   beragam kualitas,  selera konsumen  terhadap kentang  juga  memperlihatkan kecendrungan  yang  cukup  unik. Seperti yang diungkapkan Nurlis,  untuk memenuhi  selera konsumen ,  para pedagang  pengecer     tak jarang memesan  warna-warna tertentu  terhadap  kentang.  Untuk  memenuhi warna yang diinginkan itu,   mereka  harus menyepuhnya  dengan tanah atau  batu bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu juga, katanya,  selain  dari sisi ukuran,  jenis kentang yang mereka pasarkan juga  berbeda dari tampilan warna kulit luarnya. Ada yang berwarna berwarna agak kemerahan seperti batu bata. Untuk  yang warna   ini memang dicolok dengan   batu bata. Ada  yang    kuning agak kehitaman karena dicolok dengan tanah.  “Kalau  pasar Pekan  Baru lebih  senang dengan warna merah,”   ungkap  Nurlis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua  itu, katanya, merupakan bentuk dari p pelayanan  yang diberikan kepada konsumen.  Mereka  sengaja menyortir sesuai dengan kebutuhan konsumen.  Ini juga bertujuan agar  keuntungan yang didapat lebih besar. “ Kalau  kita menyortir   tentu   keuntungan akan bertambah. Ini jug  yang membedakan gudang   kita dengan yang lain,” jelas  Nurlis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bersaing dengan Jengkol.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati kebutuhan  terhadap  Kentang  ini   hampir merata sepanjang tahun, akan tetapi  menurut Nurlis,   harga   komoditi yang lebih banyak untuk kebutuhan rumah tangga, juga  akan terpengaruh oleh ketersediaan  kebutuhan sejenis lainnya. Salah satu    pesaing kuat  dari kentang, katanya, adalahj  jengkol. Bila komoditi itu  banjir, maka harga kentang langsung anjlok,  tetapi  bila  jengkol tidak  keluar,  maka harga   kentang juga melonjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melihat, sebagai kebutuhan harga kentang  terpengaruhi bila  kondisi yang mempengaruhinya juga  bergejolak.    Karena itu, dalam  mendatang kentang , mereka juga berpedoman dari  ketersediaan      jengkol ini. *****&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-896941874331131786?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/07/agribisnis-gudang-kentang-di-simpang.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-8123989053300501044</guid><pubDate>Sat, 28 Mar 2009 11:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-15T00:59:45.775+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">laporan utama</category><title>Gebyar Tingkatkan Pendapatan Petani</title><description>Gebyar Tingkatkan Pendapatan Petani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jSeyxGGb2SA/Sa9llymfSMI/AAAAAAAAACM/67-ktBTdmuM/s1600-h/pompi5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 98px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jSeyxGGb2SA/Sa9llymfSMI/AAAAAAAAACM/67-ktBTdmuM/s320/pompi5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309574185605875906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gebyar singkatan Gerakan budidaya gaharu sumatera barat yang diprakarsai oleh DR. Poempida Hidayatulloh Caleg DPR RI nomor urut satu dari partai GOLKAR melakukan suatu terobosan baru guna tingkatkan pendapatan petani sumatera barat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Poempida pada tabloid pertanian suara AFTA di ruang kerjanya, mengatakan Gebyar merupakan salah satu lembaga yang dibentuk tepatnya pada tanggal sembilan belas januari dua ribu sembilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas Poempida lagi, maksud dan tujuan Gebyar, berusaha dalam bidang pengembangan Budidaya dan Industri gaharu guna memberdayakan, meningkatkan taraf hidup dan mensejahterakan masyarakat minang kabau. Terutama sekali, dengan adanya gerakan Budidaya gaharu. Kita dapat menekan efek rumah kaca yang dapat menimbulkan Pemanasan global dan dapat menyumbangkan oksigen bagi Propinsi Sumbar dan wilayah sekitar. “Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita menyelamatkan dunia ini dari ancaman Global Warning”. Demikian ungkapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut. Gebyar melaksanakan kegiatan, penyediaan bibit gaharu unggul asli di sumatera barat. Kemudian melakukan alih teknologi produksi gaharu melalui teknik inokulasi, lalu pengembangan industri penyulingan minyak gaharu dan aneka ragam industri komodiiti gaharu lainnya dan melakukan sosialisasi budidaya gaharu yang berbasiskan masyarakat minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya sekedar bicara saja tutur Poempida, di awal februari lalu kita telah mendatangkan tiga puluh ribu bibit gaharu siap edar dan menyusul dua puluh ribu batang lagi, yang direncanakan di bulan maret ini akan didistribusikan pada masyarakat Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap awal, jelas poempida. Akan meliputi di beberapa wilayah diataranya Dharmasraya, sijunjung, Solok selatan, Tanah datar, Pesisirselatan, serta yang lainnya akan menyusul. Untuk pelaksanaan dilapangan nantinya akan dilakukan oleh Tim Gebyar yang ketuai oleh Ir. P.S. Pelawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadli Rustam, STP wakil ketua Gebyar mengungakapkan melalui tulisannya. GEBYAR Sumbar (Gerakan Budidaya Gaharu Propinsi Sumatera Barat) yang di prakarsai oleh anak-anak muda di Ranah Minang yang di dukung oleh Dr. Poempida Hidayatullah yang punya komitmen untuk pengentasan kemiskinan di Propinsi Sumbar. Kegiatan GEBYAR Sumbar untuk tahap awal dilaksanakan pada 8 Kabupaten dan Kota di Sumbar dengan jumlah sebaran bibit yang akan di bagikan adalah 50.000 batang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran yang di tuju dari gerakan ini adalah masyarakat tidak mampu, Kelompok Tani, Kelompok PKK, Majelis Taklim, Karang Taruna, Masjid dan Surau, yang mana rencananya setiap Rumah Tangga/ Perorangan, Masjid dan Surau serta lainnya akan mendapatkan sebanyak 5 batang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program GEBYAR Sumbar ini sendiri adalah program jangka panjang yang mana setelah bibit di bagikan, perawatan dan pengawasan tetap di lakukan oleh GEBYAR Sumbar dan masyarakat penerima bibit. Termasuk juga pemasaran hasil. Program GEBYAR Sumbar ini mengarah kepada optimalisasi lahan pekarangan untuk tabungan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempercepat proses memanen, setiap bibit Gaharu umur 4 tahun akan di suntikkan inokulum dan pada saat umur 8 tahun tanaman sudah bisa panen. Tumbuhan Gaharu mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi. Program ini sangat membantu karena setiap batang Gaharu yang di panen pada umur 8 tahun telah bisa menghasilkan nilai ekonomi Rp 20.000.000 per batang dengan 5 Batang / KK maka masyarakat akan punya tabungan masa depan keluarga 5 x Rp 20.000.000 = Rp 100.000.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GEBYAR Sumbar akan melaksanakan kegiatannya secara kontiniu dan akan bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain yang mempunyai komitmen yang sama dalam mengentaskan kemiskinan di Sumatera barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas Fadli lagi, Tanaman Gaharu ( Aquilira Malacensis), salah satu jenis tumbuhan hutan. Tumbuhan ini yang diambil adalah bagian gubal yang mempunyai bau aromatic spesifik yang memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Bagian tumbuhan ini menghasilkan bahan kayu dengan jenis Gubal, Kamendangan dan Abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat tumbuhan Gaharu sangat banyak. Disamping penghasil aromatic, bisa juga untuk obat-obatan herbal, minyak atsiri, minuman dan produk lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara yang banyak mengkonsumsi Gaharu adalah Arab, China, Thailand, dan India . Disamping itu seluruh agama dan kepercayaan yang ada didunia ini menggunakan hasil olahan dari tumbuhan Gaharu untuk ritual keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, menurut peneliti gaharu Sumarna pada tahun dua ribu dua, Aquilaria yang menghasilkan Gaharu yang khas sangat disukai oleh masyarakat Timur Tengah, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Yaman, Oman, Daratan Cina, korea, dan Jepang yang dibutuhkan sebagai obat-obatan. Menurut Asosiasi Eksportir Gaharu Indonesia (ASGARIN) negara negara Eropa dan India telah memanfaatkan gaharu sebagai pengobatan tumor dan kanker .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Pemasaran, Poempida menambahkan. Tidak ada yang diragukan lagi, saya bersama teman – teman telah melihat pasar gaharu ini baik di dalam negeri maupun luar negeri serta telah menjalin kominikasi yang baik untuk pelaksanaan pemasaran lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadli menambahkan, Dengan adanya program GEBYAR Sumbar sangat membantu dalam menyangga kebutuhan dunia terhadap kebutuhan hasil gaharu untuk masa depan. Dengan berkelanjutannya program ini di sumatera barat tentu saja akan menambah income masyarakat sumatera barat secara langsung. Demikian Ungkap Fadli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir. Jonner Sitomorang, Tenaga Ahli Gebyar mengatakan, Bibit gaharu yang nantinya akan dibagikan pada masyarakat merupakan bibit unggul yang kemudian diinokulasi dengan inokulan unggul. Inokulasi ini telah saya lakukan penelitian bertahun-tahun dan telah diujicobakan di beberapa demplot kebun gaharu di kabupaten sijunjung maupun di beberapa wilayah diindonesia seperti Irian Jaya, Kalimantan dan lainnya. Khusus untuk Sumatera Barat saya beri nama inokulan tersebut gaharu baringin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ernofri merupakan Kepala Bidang Pengelolaan Kehutanan Kabupaten Sijunjung mengatakan, Hasil inokulum yang ditemukan oleh Jonner, peneliti gaharu yang berasal dari IPB, Terbukti mampu tingkatkan produksi gaharu. Tidak hanya itu saja, Cukup menunggu satu tahun saja gaharu hasil inokulum jonner sudah bisa dipanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuak Abu nawas merupakan salah satu petani yang telah berhasil mengembangkan gaharu, berlokasi di jorong taratak batuang nagari padang laweh kecamatan koto 7 kabupaten sijunjung. Mengatakan pada tabloid Pertanian Suara AFTA Pada akhir tahun dua ribu tujuh lalu, bersama Dinas Kehutanan yang didampingi bapak M. Manurung pendamping teknis kelompok tani. Telah memanfaatkan inokulasi dari bapak Jonner, hasilnya sekarang saya bisa meningkatkan produksi gaharu. Hasilnya Alhamdulillah produksinya meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. Poempida Hidayatulloh mengatakan, Sektor pertanian merupakan salah satu faktor penggerak ekonomi kerakyatan. Maka dari itu, Mari kita bersama membangun Negeri Ranah Minang ini dengan langkah konkrit dan dirasakan secara langsung oleh masayarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu DR. Poempida, mengajak dan menghimbau kepada masyarakat minangkabau Propinsi Sumbar terutama bagi wilayah Padang, Solok Selatan, Solok, Sijunjung, Tanah Datar, Dharmasraya, Mentawai, Pesisr selatan yang berkeinginan untuk membudidayakan gaharu, agar menyurati Posko Kesekretariatan Gebyar yang diketuai oleh bapak Ir. PS. Pelawi dengan melapirkan nama calon penerima yang disertai alamat atau bisa juga melampirkan foto copi KTP. Untuk informasi lebih lanjut bisa juga hubungi sekretaris Gebyar Anton wardani dengan HP 085263610120.ØØØAnton WD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-8123989053300501044?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/gebyar-tingkatkan-pendapatan-petani_28.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_jSeyxGGb2SA/Sa9llymfSMI/AAAAAAAAACM/67-ktBTdmuM/s72-c/pompi5.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-7239482442891447330</guid><pubDate>Wed, 25 Mar 2009 19:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-22T01:26:58.075+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Profil</category><title>H. Armaini Dari Rantau  Untuk Nagari.</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="awal"&gt;H&lt;/span&gt;ujan emas  dirantau   orang, hujan batu  dikampung sendiri, namun kampung   teringat juga. Pepatah ini  tampaknya  masih berlaku bagi sebagian perantau  Minang. Sesukses apapun  di rantau orang, keinginan untuk kembali dan mengabdi  di kampung masih  sangat  kuat mengoda jiwa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ini sikap yang  timbul dalam diri Haji Armaini seorang  Perantau dari Nagari Padang Laweh  Malalo,  Kecamatan  Batipuah Selatan  Tanah Datar. Meski telah  menjadi  saudagar minang yang telah sukses mengembangkan berbagai usaha di kepulauan Nias, tempat dia merantau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia   kembali  balik kekampung  untuk mengembangkan berbagai usaha pertanian.  Dengan cara itu, dia  ingin keberhasilan di rantau  juga bisa dinikmati   warga kampung  sendiri.   Tak heran ,ketika dia dikampung   dia mengajak warga kampung untuk memberdayakan  lahan-lahan  terlantar dengan berbagai usaha pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat penduduk Jorong Padang Laweh, Kanagarian Padang Laweh Malalo, Kecamatan Batipuah Selatan, Kabupaten Tanah Datar,  kembali  H. Armaini  setelah sukses di rantau memang menjadi  anugrah. Setidaknya  ini  yang diungkapkan  Kepala Jorong Padang Laweh Indra Sutan Panghulu pada Tabloid Pertanian Suara AFTA beberapa miggu lalu “Haji Armaini telah tingkatkan pendapatan masayarakat Jorong Padang Laweh,”. ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Armaini 52 tahun bapak dari tiga anak dan satu istri ini, 3 tahun   talah pergi merantau   sejak kecil.  Berbagai  usaha  juga telah banyak  dilakoninya. Berkat   ketekunan dia menjadi   orang berhasil. Dirantau dia punya usaha  ekspedisi, pertokoan sebelumnya adalah seorang saudagar minang dari kepulauan nias tepatnya di Gunung Sitoli. Namun semenjak tahun 2006, haji Armaini kembali kekampungnya jorong Padang Laweh Kabupaten Tanah Datar untuk membuat berbagai usaha baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat  bapak yang bernampilan bersahaja ini,  mencari rezki tidak hanya bisa di rantau saja, di  kampung pun  juga bisa mendapatkan uang dan mendapatkan rezeki. Inilah yang kini dicobanya menggerakan masyarakat. Dia melihat  masih  banyak potensi yang  patut dikembangkan  di kampung sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu usaha yang besar peluangnya   adalah   usaha pertanian.  Tanah yang bisa diolah sangat luas.  Rata-rata kondisi  sangat  subur. Apalagi dikampungnya itu, selain  lahan, air pun tersedia  dengan cukup sehingga bisa   mengembangkan  berbagai jenis ikan. Kini tinggal lagi  bagaimana memotivasi masyarakat  agar mau dan mampu  mengolah lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika  pertama kali   sampai dikampung,   dia langsung menghubungi  tokoh-tokoh   kampun seperti ninik mamak,   alim ulam, cadiak pandai dan pemuda. Nagari. Karena   idenya ini  sangat  bemanfaat,  dukungan dari ninik mamak yang terdapat di Jorong Padang Laweh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pengangguran pun dapat diatasi dan potensi daerah dapat diolah dengan optimal yang nantinya untuk kemaslahatan masyarakat sekitar juga.    Tidak hanya memotivasi warga kampung,  dia  juga membuat konsep  yang saling menguntungkan antara  dia sebagai pemodal dengan warga kampung.  Sistim ini bernama bagi hasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapat persetujuan warga kampungnya .   pada  tahun 2007, haji Armaini bersama  masyarakat langsung membentuk kelompok tani. Bersama kelompok tani itu mulai dia mengembangkan usaha– usaha dalam bidang pertanian,  diantarnya , membuat tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Untuk menunjang kelancaran usaha tersebut, Haji Armaini juga membuat usaha ekspedisi barang dan jasa.&lt;br /&gt;Setelah  dua tahun berlangsung, beragam usaha  yangdikembangkan mulai membuahkan hasil. Tek heran kelompok tani menjadi dua  kelompok  dengan total anggota 52 orang yang terdiri dari Kelompok Tani Taratak Hulu dengan anggota 21 orang dan Kelompok Tani Puncak Pulau 31 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Haji menuturkan pada tabloid Pertanian Suara AFTA, adapun modal yang telah dikeluarkan untuk membiayai kelompok ini berkisar antara tiga ratus juta hingga empat ratus juta rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Kelompok Tani tersebutlah Haji Armaini mengembangkan berbagai usaha. Adapun lahan yang dikembangkan yaitu lahan – lahan tidur yang diproduktifakan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Haji mengungkapkan, pada tahun ini kita sudah menuai hasil yang pertama dari kelompk tani puncak pulau yaitu panen ikan. Diwaktu panen tersebut kita mendapatkan hasil panen ikan 5 ton yang terdiri dari ikan rayo 2.5 ton dan ikan nila 2.5 ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total pendapatan yang didapatkan hasil panen ikan, musim kemaren hampir mencapai tujuh puluh juta rupiah,”ungkap haji Armaini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pemasaran ikan pun tuturdia  juga   tidak ada persolan. Karena daerah pemasaran ikan yang cukup luas. Malah sekarang ini, permintaan terhadap ikan nila dan rayo musim kemaren tidak terpenuhi oleh kelompk tani kami. Diperlukannya penambahan tambak ikan lagi agar pasokan ikan dapat terpenuhi oleh toke – toke ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah pada pertengahan tahun 2008 ini, kelompok tani kami juga sudah dibantu oleh pemerintah dalam pembangunan dan penambahan tambak ikan dengan total nilai bantuan sebesar seratus juta rupiah, “ ucapnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambah Haji Armaini lagi, selain usaha budidaya ikan nila dan rayo. Kami juga memanfaatkan air tersebut untuk pembangkit listrik tenaga mikro hidro dengan kekuatan 500mw yang dapat memenuhi kebutuhan listrik di posko Kelompok Tani kami. Dalam pengerjaanya kami dibantu oleh Universitas Andalas untuk pemanfaatan dan pembuatan pembangkit listrik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini tutur Zulfikar Ketua Kelompok Tani Puncak Pulau, Kelompok Tani kami mengalami masalah dengan pelet dan pakan ikan. Dimana harga pelet ikan yang sekarang melambung tinggi seharga tiga ratus lima ribu per karung, yang sebelumnya hanya seratus lima ribu per karung, membuat kami keawalahan dalam mengadakan pakan ikan. Dan hal ini membuat pendapatan kelompok tani kami menjadi berkurang. Diharapkan dengan adalanya wawancara  dengan Tabloid Pertanian Suara AFTA ini, ada pihak pihak – pihak yang dapat membantu kami dalam pengadaan pakan ikan. Serta memberikan teknolgi pembuatan pakan ikan yang murah dan bermanfaat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedepannya, tutur Haji Armaiani dan sekarang masih dalam tahap pengerjaan. Kelompok tani kami akan membudidayakan asama kapas.  Bakrie Pandeka Ketua Kelompok Tani Taratak Hulu, melihat asam Kapas cocok ditanam di daerah ini, dimana asam kapas memiliki banyak manfaat dan apalagi harga asam kapas yang sekarang ini merangkak naik terus dan harganya yang selalu stabil &gt;&gt;&gt;Anton&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-7239482442891447330?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/h-armaini-dari-rantau-untuk-nagari_26.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-1957536826251875341</guid><pubDate>Wed, 25 Mar 2009 19:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-14T03:56:30.024+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">laporan utama</category><title>Bioteknologi Tingkatkan Ketahanan Pangan Sumbar</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bioteknologi, salah satu teknologi tepat guna yang terbukti dapat meningkatkan Ketahanan Pangan Sumbar pada khususnya dan Indonesia pada umunya, hal ini disampaikan oleh Rektor Unand Prof. Musliar Kasim dalam pembukaan Seminar International Biodiversity, Biotechnology dan Crop production di Universitas Andalas Padang, Selasa 17 maret 2008.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lebih lanjut Prof. Musliar Kasim menjelaskan pada wartawan, perlu dilakukannya upaya serius oleh pemerintah maupun pihak tekait agar teknologi ini dapat dimanfaatkan dengan baik. Selain itu, ilmu bioteknologi juga memberikan kontribusi besar dibidang peternakan serta farmasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya senin, 16 maret 2009, Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi, dalam audiensi dengan panitia pelaksana mengatakan kedepan perlu dilakukan kerjasama antara Peneliti Bioteknologi Universitas Andalas  Pemda, Balai Penelitian, Stake Holder dan masyarakat dalam mengembangkan tanaman dan ternak spesifik Sumatera Barat, seperti tanaman Cabai tahan penyakit kuning dan kriting, tanaman Kakao yang tahan penggerek buah Kakao (PBK), tanaman penghasil gaharu yang berkualitas double super , dan tanaman gambir mengandung Katechin serta Tannin yang tinggi. Hal ini tentu saja tidak dapat dilakukan sendiri, perlu kerjasama yang baik dari berbagai pihak seperti Peneliti Bioteknologi Universitas Andalas  Pemda, Balai Penelitian, stake holder dan masyarakat. Dan pada malam harinya panitia pelaksana dan peserta seminar dijamu makan malam oleh wakil wali kota padang Ir. Mahyeldi Ansyarullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminar International Biodiversity, Biotechnology dan Crop production ini dilaksanakan dalam rangka Lustrum Fakultas Pertanian ke 11 atau Dies Natalis Fakultas Pertanian Universias Andalas yang ke 55 dengan pembicara Prof. Dr. Wolfgang Nellen (Kassel University-Germany), Dr.Bambang Purwantara(Seameo Biotrop), Dr. Tantono Subagyo (Syngenta-HAKI), Prof. Dr. Fasli Djalal, SPGK (Dirjen Dikti), Prof. Dr. Sudarsono(IPB Bogor), dra. Surti Kurniasih, MS(IPB Bogor), Dr.Sc.Agr. Ir. Jamsari, MP ( Ketua PHBI Sumbar/Fak.Pertanian Unand), Prof. Dr. Trimurti Habazar(Fak.Pertanian Unand), dan Prof. Dr. Sumaryati Syukur (FMIPA Unand). »»ANT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-1957536826251875341?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/bioteknologi-tingkatkan-ketahanan_26.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-2898104730163545330</guid><pubDate>Tue, 24 Mar 2009 14:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-14T03:38:14.540+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Penyuluhan</category><title>Arus Teknologi Pertanian Perlu Dilakukan</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka meningkatkan produksi padi Sumatera Barat diatas lima persen, salah satu upaya yang perlu dilakukan yaitu arus teknologi pertanian.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu arus teknologi pertanian yang dilakukan, dikatakan oleh Ir. Amdan Nur Kepala Balai Diklat Pertanian TPH Propinsi Sumatera Barat saat pembukaan pelatihan Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THLTBPP), senin 23 Februari 2009 di Balai Diklat Penyuluh Pertanian Bandar Buat Kota Padang yaitu melakukan revitalisasi penyuluh pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir. Amdan Nur menjelaskan, revitalisasi penyuluh pertanian diperlukan karena menyangkut beberapa aspek diantaranya aspek kelembagaan, aspek ketenagaan, aspek penyelenggaraan dan aspek pendanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bentuk revitalisasi penyuluh pertanian yaitu THLTBPP Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian yang hari ini dilakukan. Tutur Amdan Nur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perekrutan tenaga penyuluh ini dirasa perlu karena kebutuhan tenaga penyuluh di Propinsi Sumatera Barat sekitar tujuh puluh ribu orang. Namun yang baru terealisasi sekitar dua puluh enam ribu tenaga penyuluh. Artinya masih terdapat kekurangan penyuluh pertanian di Sumatera Barat sekitar empat puluh empat ribu tenaga penyuluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustiar SP selaku ketua panitia penyelenggara menuturkan, Pelatihan untuk rekrut THLTBPP tahun 2009 untuk wilayah Sumatera Barat pesertanya berjumlah tiga ratus empat puluh tiga orang, yang di rekrut oleh bagian Sumber Daya Manusia dinas Pertanian Pusat. Pelaksanaannya kewenangannya di kelola oleh Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambah Agustiar SP lagi. Pelaksanaan pelatihannya di lakukan di tiga tempat. Pertama Badan Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten 50 Kota dengan jumlah peserta seratus dua puluh orang yang dimulai pada tanggal 16 sampai 17 februari 2009, disusul UPTD Balai Diklat Bukittinggi dengan jumlah peserta seratus tiga orang yang dimulai pada tanggal 17 hingga 18 februari 2009 dan diakhiri Balai Diklat Pertanian Bandar Buat dengan jumlah peserta seratus dua puluh orang yang dimulai pada tanggal 23 hingga 24 februari 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pelatihan di Balai Diklat Pertanian Bandar Buat Kota Padang, tutur Agustiar lagi. Nantinya akan ditempatkan di empat Kabupaten yaitu Kabupaten Pesisir Selatan empat puluh orang, Padang Pariaman tiga puluh orang, Pasaman Barat tiga puluh orang, Solok Selatan delapan belas orang dan kepulauan mentawai dua orang. Penempatannya tersebut akan ditentukan oleh Dinas Pertanian kabupaten masing – masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga diawal terselenggaranya acara Diklat ini, belum ditemukan kendala yang berarti. Namun kendala yang dirasa, diantara beberapa peserta diklat syarat-syarat administrasi masih belum dilengkapi. Agustiar memberitahukan, agar beberapa peserta diklat yang kurang lengkap administrasinya, supaya melengkapi syarat administrasi di akhir diklat. »»Anton&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-2898104730163545330?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/arus-teknologi-pertanian-perlu.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-1099174085415999316</guid><pubDate>Tue, 24 Mar 2009 14:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-14T03:40:53.775+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">laporan utama</category><title>PRODUKSI PADI SUMBAR DIUPAYAKAN MENINGKAT DIATAS 5%</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, Dinas Pertanian dan Hortikultura Sumatera Barat berupaya tigkatkan produksi padi hingga mencapai diatas lima persen. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pertanian Sumbar Ir. Djoni, saat pembukaan pelatihan Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THLTBPP), senin 23 Februari 2009 di Balai Diklat Penyuluh Pertanian Bandar Buat Kota Padang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ir. Djoni menjelaskan, sasaran produksi padi Sumatera Barat diharapkan mengalami peningkatan. Pada tahun lalu produksi padi Sumbar mencapai angka 1.965.000ton gabah kering giling, dengan berbagai program peningkatan ketahanan pangan tahun ini diharapkan bisa meningkat diatas lima persen atau setara 2.045.000ton gabah kering giling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai angka diatas, maka dilakukan upaya revitalisasi penyuluh pertanian yang digelar melalui THLTBPP. Langkah ini diambil mengingat penyuluh pertanian merupakan salah satu faktor penting pembagunan pertanian. Para penyuluh pertanian yang dibekali pelatihan ini, diharapkan nantinya bisa bekerja secara professional dilapangan dan mampu tingkatkan pendapatan petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, upaya lain yang ditempuh yaitu memberikan bantuan benih, menambah sekolah lapang Padi Tanam Sabatang, meningkatkan pemanfaatan budidaya pertanian secara organik, meperbaiki jaringan irigasi, menggunakan terpal saat merontokkan padi, pengadaan treser, memperbaiki SDM petani, menekan berjangkitnya hama penyakit serta bekerjasama dengan berbagai lembaga seperti Petani Pakar Organik(PPO), dinas peternakan, perikanan, kehutanan dan  PNPM mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir. Djoni menjelaskan, Berdasarkan pengalaman dari lebih kurang dua ribu delapan ratus demplot Padi Tanam Sabatang(PTS) yang tersebar di sumbar. Metoda budidaya PTS rata – rata dapat ditingkatkan produksinya sekitar seperempat  dari budidaya secara biasa. Pada budidaya padi biasa, produksi rata – ratanya empat setengah ton per hektar dengan PTS bisa mencapai produksi rata – rata enam koma dua puluh lima ton per hektar, bahkan di beberapa lokasi bisa mencapai delapan hingga sepuluh ton perhektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini didukung dengan pola pertanian organik seperti pemanfaatan jerami, pupuk kandang serta pupuk organik lainnya yang dapat memperbaiki sifat – sifat tanah serta meningkatkan kesuburan tanah. Hal ini telah dibuktikan baik di lapangan secara langsung maupun di beberapa penelitian. Oleh karena itu, Djoni menghimbau dan mengajak petani, agar jangan membakar jerami dan senantiasa memanfaatkan pupuk kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terang Djoni lagi, upaya lainnya yaitu menekan kehilangan hasil padi saat panen. Menurut penelitian yang dilakukan dan dari catatan petani, kehilangan hasil padi saat panen mencapai lebih kurang sebelas persen. Untuk mengatasiya, manfaatkan terpal saat melakukan perontokan padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang tak kalah pentingnya yaitu, pemberantasan hama penyakit, seperti pemberantasan hama tikus. Ir. Djoni menegaskan, bagi wilayah yang mengalami serangan hama tikus, dapat diberitahukan kepada dinas pertanian kabupaten/kota setempat dan bisa juga langsung ke dinas pertanian Provinsi. Dengan cara membuat secara tertulis luas wilayah serangan dan  luas yang terancam melalui wali nagari dan diketahui KCD setempat dan disampaikan ke BPTPH dispertahort sumbar atau Faks kan ke (0751)55587.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir. Djoni, berpesan kepada para peserta peserta THL TBPP. Dalam melakukan penyuluhan kepada petani, posisikan diri sebagai fasilitator. Karna jika berbicara tentang pertanian hortikultura, kita berbicara tentang bisnis yang disana mencakup persoalan efisiensi dan keuntungan. Serta, melakukan pelatihan pertanian secara door to door, karena dari beberapa pengalaman teknik ini efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu tutur Djoni lagi. Dalam melakukan penyuluhan, gunakanlah konsep tidak ada guru dan tidak ada murid serta menjalin mitra kerjasama yang baik bersama petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keberhasilan tercapainya peningkatan produksi pangan hingga diatas lima persen tersebut, selain dari dinas pertanian. PPL bersama petani atau masyarakat bisa juga memanfaatkan dana PNPM Mandiri yang kegunaanya untuk meningkatkan ekonomi produktif. Informasi hal ini bisa ditanyakan langsung kepada cabang – cabang PNPM wilayah masing – masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sekitar tiga milyar rupiah dana PNPM untuk tiap kecamatan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan pertanian serta lainnya. Belum lagi dana PUAP untuk tiga Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) senilai seratus juta rupiah, merupakan nilai tambah untuk kemajuan pembangunan pertanian di Sumatera Barat, Tutur Djoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan produksi padi sekitar delapan puluh ribu ton pada tahun ini, memang suatu tugas yang berat tutur Djoni. Namun dengan cara – cara diatas diharapkan produksi padi sumatera barat dapat meningkat sekitar lima persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila, masing- masinh PPL bisa meningkatkan produksi padi sekitar 100 ton di wilayah kerjanya masing masing, itu sudah bagus, tutur Djoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir. Amdan Nur, Kepala Balai Diklat Pertanian TPH Propinsi Sumatera Barat, Mengatakan pada Tabloid Pertanian Suara AFTA. Selain itu, dalam rangka mensukseskan peningkatan produksi padi diatas lima persen, Di bulan maret ini PPL jumlahnya akan ditambah. Untuk informasi lebih lanjut akan kita beritahu»»Anton&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-1099174085415999316?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/produksi-padi-sumbar-diupayakan.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-2874997053585787973</guid><pubDate>Tue, 24 Mar 2009 14:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-22T01:24:06.080+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">laporan utama</category><title>PENGGUNDULAN HUTAN MEMBUAT WARGA MALALO RESAH</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="awal"&gt;W&lt;/span&gt;arga Malalo di Kanagarian Padang Laweh Malalo Kecamatan Batipuah Selatan Kabupaten Tanah Datar diresahkan oleh gundulnya Bukit Kayu Mati yang terletak di Kubang Badak Jorong Pincuran Tujuh Kanagarian Batipuah Baruah Kecamatan Batipuah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disampaikan oleh Kasmir Gindo, Ketua Kelompok Pecinta Hutan dan Air Kabupaten Tanah Datar Pada Tabloid Pertanian Suara AFTA baru-baru ini di rumahnya. “Warga Malalo diresahkan oleh penggundulan hutan yang dilakukan di Bukit Kayu mati oleh beberapa oknum warga Kubang Badak. Berbagi upaya telah dilakukan baik melalui surat pada wali nagari batipuah baruah maupun ke kantor kehutanan Kabupaten Tanah Datar, namun hal ini tak kunjung ada tanggapan yang berarti”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas Kasmir Gindo lagi, Jika hal ini tak juga ada tanggapan, dikhawatirkan akan terjadi longsor yang dapat menimpa Kanagarian Padang Laweh Malalo Kecamatan Batipuah Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambah Gindo Lagi, Bukit kubang badak memiliki kelerengan yang terjal, dengan sudut kemiringan 900. Apabila lahan dengan kelerengan tersebut, tidak terdapat tanaman tahunan, maka dengan sendirinya daya dukung tanah terhadap air dalam tanah akan menurun. Sehingga dikhawatirkan akan terjadi longsor apabila kondisi ini secara terus menerus berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkap Gindo lagi, Penggundulan hutan lindung yang dilakukan oleh beberapa oknum warga kubang badak ini. dimanfaatkan sebagai ladang berpindah. Dengan tanaman yang diusahakan yaitu Padi dan Kopi. Setelah dipeladangi kemudian ditinggalkan begitu saja. Tanpa melakukan penanaman hutan atau reboisasi kembali.&lt;br /&gt;Jelas Gindo lagi, Puncak penggundulan bukit kubang badak  besar–besar terjadi pada akhir tahun 2008 ini. Tercatat luas lahan Bukit Kubang Badak yang telah digunduli yaitu sekitar 6-7 hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gindo berharap, melalui Tabloid Pertanian Suara AFTA ini, diharapkan ada perhatian pemerintah maupun pihak – pihak yang terkait untuk dapat mengatasi masalah ini. Sehingga sebelum musibah longsor terjadi dan korban berjatuhan, sekurang-kurangnya sudah ada usaha agar penyelamatan dilakukan.»»Anton.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-2874997053585787973?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/penggundulan-hutan-membuat-warga-malalo_24.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-3529738374420648407</guid><pubDate>Tue, 24 Mar 2009 14:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-14T03:46:51.926+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">laporan utama</category><title>WARGA PADANG LAWEH DIKEJUTKAN DENGAN ADANYA BINATANG ANEH</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Baru - baru Warga Jorong Padang Laweh, Kanagarian Padang Laweh Malalo, Kecamatan Batipuah Selatan, Kabupaten Tanah Datar dehebohkan dengan penemuan binatang aneh. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seekor binatang dengan ciri – ciri muka seperti anjing dengan mata agak kemerahan serta memiliki bulu lebat dan agak kasar juga memiliki ekor yang agak tebal ditemukan oleh salah seorang warga Jorong Padang Laweh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Armaini warga Jorong Padang Laweh yang sekarang memelihara binatang aneh tersebut mengatakan pada Tabloid Pertanian Suara AFTA. Binatang ini ditemukan oleh warga Jorong Padang Laweh di jeratan sawah yang sengaja dibuat oleh warga untuk menangkap babi. Tapi pada hari rabu 28 januari 2009, sekitar sore hari ada binatang aneh yang tertangkap oleh jeratan sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambah haji Armaini lagi, Tanpa pikir panjang warga yang sebelumnya berkeinginan membunuh binatang tersebut membawa ke kandang yang terdapat dihalaman rumah saya. Untuk dipelihara dan dirawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan dengan ditemukan binatang aneh ini, dapat menambah kekayaan koleksi binatang yang terdapat di Indonesia dan juga menambah ilmu serta ensiklopedi perbintangan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tabloid Pertanian Suara AFTA ini, Haji Armaini menghimbau bagi Ilmuan Binatang agar dapat meneliti binatang ini, sehingga perawatan yang tepat agar binatang aneh ini tetap hidup sehat bisa terwujud.&gt;&gt;&gt;Anton&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-3529738374420648407?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/warga-padang-laweh-dikejutkan-dengan.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-913681650327996522</guid><pubDate>Tue, 24 Mar 2009 08:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-14T03:48:32.469+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pertanian organik</category><title>Panen PTS  oleh  Presiden SBY.  PTS Tingkatkan Produksi Beras Nasional</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Presiden  Susilo Bambang Yudhoyono mengaku bangga  dengan kerja keras petani di Indonesia yang mampu meningkatkan produksi beras   nasional mencapai  65 juta  ton. Keberhasilan, katanya, tidak terlepas  dari penerapan  teknologi yang mampu meningkatkan  produksi seperti penerapatan  Metoda Padi Tanam  Sabatang (PTS)  di  Sumatera   Barat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Presiden mengatakan hal tersebut  ketika panen  PTS di Jorong  Bukit Mindawa ,  Kanagarian  Tebing Tinggi, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten  Dharmasraya, Sabtu  13  Desember 2008 lalu. Selain  panen  PTS,  kedatangan  Presiden     meresmikan  Proyek Irigasi   Batang Hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sambutannya itu, Presiden SBY juga  mengatakan ketersediaan pangan merupakan salah satu faktor penting dalam stabilitas  sebuah negara.  Jika  ketersediaan pangan Maka dari itu SBY menghimbau agar mari bersama – sama kita menjadikan Indonesia memiliki ketahanan pangan yang tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Menteri Pertanian Anton Apriyantono menyebutkan Ketahanan pangan merupakan hal yang musti di wujudkan di Indonesia, dimana Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar Teknik budidaya konservasi PTS tambah anton yang merupakan terapan budidaya spesifik lokal unggulan di Sumatera Barat terbukti dapat meningkatkan efisiensi serta dapat meningkatkan produksi padi yang tentunya memberikan kontribusi besar bagi ketahanan pangan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sambung Anton Apriyantono dalam pidatonya, Presiden berkenan untuk panen padi simbolis Indonesia yang mencapai produksi 65 juta ton gabah kering giling pada th 2008 ini di Propinsi Sumatera Barat dengan daerah penunjukan diKanagarian Tebing Tinggi Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmas Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puji dan Syukur pantas disampaikan pada TUHAN YME tutur Anton lagi, karena dalam dua tahun terakhir ini Indonesia mengalami peningkatan produksi beras sekitar 5 %. “Pada tahun 2008 ini saja kita sudah surplus beras sebesar 2.34 juta ton”. Jadi walaupun harga beras internasional mengalami peningkatan, namun harga beras kita tetap stabil sehingga pada tahun ini indonesia tidak melakukan impor beras,” ucapnya.&lt;br /&gt;Keberhasilan tersebut tentunya tidak terlepas dari kebijkan yang diambil Presiden SBY pada tahun 2007  yakni gerakan peningkatan produksi beras nasional . Kebijakan tersebut antara lain pertama, memberikan bantuan benih unggul bermutu baik hibrida maupun non hibrida serta subsidi benih dan pupuk termasuk pupuk organik; kedua memberi bantuan sarana dan prasarana berupa alat dan mesin pertanian; kemudian melakukan perbaikan pengairan dalam usaha tani. Serta menambah SDM pertanian seperti penyuluh pertanian, kemudian penentuan harga beras, pengendalian organisme penganggu tanaman dan pembiayaan usaha tani. Tutur Anton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambah Anton Lagi, pada tahun 2009 nanti merupakan tantangan yang berat bagi Indonesia untuk mencapai stabilitas konsumsi pangan indonesia, karena diperkirakan kebutuhan konsumsi pangan indonesia meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Untuk mengatasi hal itu, Anton memperkirakan produksi beras nasional Indonesia harus mencapai empat puluh juta ton. Dan tidak tertutup kemungkinan Indonesia bisa mengekspor beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hal itu tidak dapat terjadi dengan begitu saja. Anton menjelaskan, untuk meraih stabilitas konsumsi pangan di tahun 2009 maka langkah yang akan ditempuh yaitu meningkatkan produktifitas dengan jalan memperluas areal lahan baru terutama diluar jawa, melakukan pengamanan produksi dalam negeri, serta melatih pemberdayaan manusia, mensinergikan berbagai kelembagaan, serta melakukan optimalisasi sumber daya dan tanah yang tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk Peningkatan produktifitas akan terus di pacu melalui pendekatan sekolah lapang, SLPTT maupun SLI, termasuk pengembangan padi hibrida seluas 500rb Ha, disertai dengan pengawalan dan pendampingan secara intensif oleh PPL, dan pihak terkait lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten  Dharmasraya Ir. Afdal Jd Thamsin menyebutkan sebelum metoda  budidaya PTS diterapkan  Kabupaten Dharmasraya, rata – rata produksi padi hanya tiga ton per hektar. Sekarang setelah pola budidaya PTS di terapkan, rata – rata panen padi tiap hektarnya bisa mencapai tujuh hingga delapan ton per hektar. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-913681650327996522?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/panen-pts-oleh-presiden-sby-pts.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-8624871474213300279</guid><pubDate>Tue, 24 Mar 2009 08:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-14T03:50:52.399+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pertanian organik</category><title>Pengembangan PTS di Sumatera Barat Pemimpin Menanam,  Rakyat Memanen</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Lengkap Sudah. Mungkin itu pekengandaian yang  cocok  untuk dukungan dan kampanye    gerakan penanaman padi metoda     Padi  Tanam Sabatang (PTS) di Sumatera Barat.   &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak,  mulai   dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Pertanian  Anton Aprintono, sampai  Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi , telah menyerukan agar Petani Di Propinsi  ini untuk merubah sistim budidaya padi  dari  sistim   penanaman padi dengan  beberapa batang benih menjadi sistim satu batang  padi atau yang populer dengan  PTS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan  itu mereka   buktikan dengan langsung menanam padi sistim PTS  diareal persawahan    pada kesempatan  berkunjung di Sumatera Barat. Tertariknya  para pemimpin tertinggi   Republik   tersebut tak pelak  merupakan dukungan   kongkrit agar petani  terus mengembangkan budidaya Padi Tanam Sabatang ini.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden SBY  bahkan mengucapkan terima kasih  kepada Universitas  Andalas   atas   kepeloporannya  mengembangkan budidaya  padi  model PTS  di Sumatera  Barat. Presiden SBY mengucapkan rasa terima kasih itu  ketika menanam  padi dengan sistim Padi Tanam Sabatang saat meresmikan Proyek Irigasi Batang Hari di  Nagari Bukit Mindawa  di Kabupaten Dharmasraya, Sabtu  13 Desember 2008 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melihat   model Budidaya   metoda PTS   terbukti mampu meningkatkan produktifitas padi. Selain itu  penggunaan  benih dan  pemakaian air juga lebih sedikit dari  sistim pertanaman padi secara konvensional. Ini  merupakan  keuntungan lain yang didapat petani jika menerapkan metoda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan   PTS  di   Propinsi Sumatera Barat  pertama kalinya memang  dipelopori oleh Universitas Andalas.  Adalah  Prof. Dr.  Musliar Kasim,  MS, Rektor  Unand sekarang yang  yang mulai  Metoda PTS  pertama kali diujicoba  oleh Rektor Unang pada  tahun 2006. Saat itu dia mulai  mengembangkan sistim   budidaya ini,    namanya metoda ini belumlam bernama metoda   Padi Tanam Sabatang, melainkan  System Rice  Intensification  (SRI). Sistem SRI   sendiri pertama kali ditemukan oleh  Hendri de  Laulani, seorang pendeta  yang mencintai pertanian  di  Pulau Madagaskar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil  ujicoba  Dosen  Fakultas Pertanian  bersama kawan-kawannya ternyata  cukup ampuh  meningkatkan produktifitas  padi di Sumatera Barat. Hasil  ujicobanya memperlihatkan  produktifitas padi mencapai 8-10 ton perhektar. Sementara rata-rata produktifitas  padi  dengan cara  yang biasa dilakukan petani hanya berkisar 4,5 ton perhektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep SRI ini kemudian dipakai   Dinas  Pertanian  Tanaman Pangan  Sumatera Barat.  Tidak  hanya mengembangkan, Diperta Sumbar  juga menyempurnakan model  SRI dengan memadukannya   Pengendalian Hama Terpadu  (PHT) dan penguatan Agroekosistem sehingga menjadi model budidaya terpadu yang tidak saja  mampu meningkatkan produktifitas padi, tapi  juga  hemat  pemakaian bibit, air serta  dapat menjaga kelestarian lingkungan. Bersamaan  dengan  pengembangan itu, Diperta  Sumbar    juga  mempopulerkan dengan Nama Padi  Tanam Sabatang (PTS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali ujicoba  dengan berbagai kelompok tani, pada  tanggal  13 September  pada kelompok Tani   Labuah Malintang Ikur Koto , Kota  Padang,  Gubernur  Sumbar  Gamawan Fauzi mencanangkan  pengembangan   sistim Padi Tanam Sabatang   di Sumatera Barat. Tidak hanya  Gubernur Sumbar., Menko Kesra, Aburizal Bakri yang pada waktu itu   melakukan kunjungan kerja di Sumatera Barat juga  ikut mencanangkan dan melakukan panen perdana  PTS ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah   itu,  Diperta Sumbar mulai mengembangkan   Padi Tanam Sabatang    dengan gencar di Sumatera barat.    Pertama kali yang dilakukan Diperta Sumbar adalah   melatih tenaga-tenaga penyuluh  yang akan  mendampingi petani untuk mengembangkan  sistim PTS. Pada tahun  2007, Diperta Sumbar memprogramkan  sekolah lapang PTS pada kelompok tani di   seluruh Kabupaten dan Kota Sumatera  Barat.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar   Sistim Budidaya Padi secara  PTS  cepat berkembang, petani-petani yang ikut Sekolah Lapang PTS  ini juga didorong untuk menerapkan PTS di  persawahannya masing-masing.Dengan banyak pengembangan Sekolah Lapang PTS maka setiap pejabat   pemerintahan yang datang ke Sumbar ikut melihat  dan mendorong pengembangan  PTS. Menariknya, kegiatan-kegiatan sosialisasi oleh pejabat ini tidak    lagi  melakukan pemanenan, tapi menanam padi tanam Sabatang. Perobahan acara sosialiasi  bermakna  tidak saatnya lagi pemimpin  yang   menikmati hasil,  tapi  petani yang menikmati. Pemimpin  menanam petani yang menikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin  Republik yang pertama   mensosialisasikan dengan menanam padi adalah Wakil Presiden  Republik Indonesia Jusuf Kalla. Dia menanam padi dengan  metoda PTS  pada acara penanaman di  Kelurahan  Tanjuang Aua, Kecamatan Koto Tangah Kota Padang  pada  tanggal  6 Mei  2008 yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu Wakil Presiden langsung menghimbau petani agar terus mengembangkan budidaya   metoda PTS tesebut. Disamping itu dia juga meminta agar petani   mulai kembali  memakai  pupuk alam  seperti, kotoran sapi  dan jerami. Dengan cara itu, katanya,     petani dapat mengatasi kelangkaan pupuk yang terjadi  sekarang ini.  Langkah   Presiden ini menanam padi dengan cara PTS ini  juga  kemudian diikuti oleh Menteri Pertanian, Dr. Ir. Anton Anpriantono. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Pertanian melakukan penanaman Padi  dengan sistim PTS di   Nagari Kasang,  Kabupaten Padang Pariaman. Mentan ini juga melihat bahwa PTS sangat cocok dikembangkan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pejabat-pejabat lain ditingkat Kabupaten/ Kota  yang mensosialisasikan  PTS baik yang memanen maupun menanam sudah sangat banyak.   Hampir seluruh  Bupati    dan Walikota di Sumbar  pernah melakukan. Semua itu   itu mendorong agar   sistim Padi Tanam Sabatang di Sumatera Barat.&lt;br /&gt;Dengan  dorongan dari pemimpin itu,  petani diharapkan tidak ragu-ragu lagi   menerapkan metode Padi Tanam Sabatang.   Dengan  menerapkan PTS,  produktifitas  akan meningkat. Selain itu biaya usaha tani juga menurun karena metode ini   mengurangi pemakaian benih. Ditambah dengan memakai   pupuk alam seperti jerami dan kotoran  hewan, maka otomatis pendapatan petani akan meningkat.    Metode Padi Tanam Sabatang merupakan  wujud dari   Pempimpin Menanam, Padi Memanen.  Pemimpin mengembangakan program pertanian yang berpihak pada petani dan petani yang menikmati. ****** &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-8624871474213300279?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/pengembangan-pts-di-sumatera-barat.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-1218135603447385502</guid><pubDate>Tue, 24 Mar 2009 08:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-14T03:52:20.795+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pertanian organik</category><title>PEMDA DAN PT. SP BERSAMA TINGKATKAN KETAHANAN PANGAN</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Upaya peningkatan dan ketahanan pangan yang di laksanakan di Jorong Bukit Mindawa Kanagarian Tebing Tinggi Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya merupakan  hasil kerja sama antara Pemerintah Daerah Kabupaten Dharmasraya besama PT Semen Padang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Dharmasraya Ir. Afdal Jd Thamsir beberapa saat sebelum kedatangan Presiden SBY di Dharmas Raya Sabtu 13 Desember 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir. Afdal, menjelaskan , ada 3 komoditi tanaman yang masuk dalam upaya peningkatan dan ketahanan pangan yang di laksanakan di Jorong Bukit Mindawa Yaitu Padi, jagung dan kedelai. Ketiga  komoditi itu  tersebut cukup berhasil dikembangkan didaerah iotu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Kedelai, misalnya, produksi kedelai meningkat hingga mencapai 100%.  Sebelumnya, panen kedelai rata – rata biasanya hanya 500 – 800 kg per hektar sekarang dari terapan teknologi oleh Dinas Pertanian bisa mencapai 2,2 ton per Ha. Sedangkan jagung, diperkirakan nantinya bisa mendapatkan hasil panen sekitar 11 ton per hektar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendukung program itu,  Ir. Afdal mengungkapkan. pemerintahan Kabupaten Dharmas Raya dalam rangka untuk keberhasilan program tersebut telah  mengalokasikan dana sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah kepada Kelompok Tani berupa bantuan bibit Unggul ditambah bantuan dari PT Semen Padang sebesar lima ratus lima puluh juta rupiah dalam bentuk bantuan pupuk serta obat – obatan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Terlepas dari semua itu, adapun dampak positif yang dirasakan oleh Ir. Afdal yaitu terbentuknya rasa kebersamaan yang tinggi antara gapoktan di kanagarian tebing tinggi kemudian masuknya listrik bagi 200 kk serta terbuatnya perpanjangan jalan sejauh empat puluh empat kilometer ke daerah pemukiman. Hal ini tentu saja dapat meningkatkan sarana dan percepatan keberhasilan ketahanan pangan di kabupaten Dharmasraya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama program berjalan Ir. Afdal mengungkapkan tidak terdapatnya masalah yang berarti yang terjadi. Masalah yang sekarang masih terjadi yaitu banjir. Hal ini ungkap Ir Afdal karena belum semuanya irigasi terkerjakan. Diharapkan pada tahun 2009, jaringan irigasi (JITUT)dapat ditambah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu dan tempat yang sama, Dafris Januir Kepala Biro Lingkungan (Corporate Sosial responsibility) PT. Semen Padang mengatakan kepada Tabloid Pertanian Suara AFTA. Kerjasama upaya peningkatan ketahanan pangan dengan Pemda Dharmasaraya dimulai semenjak bulan mei 2008 dan Alhamdulillah saya cukup puas dengan hasil kerja sama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dafris Januir menambahkan, alasan dipilih menjadi daerah binaan Biro Lingkungan PT. Semen Padang karena letaknya yang strategis, dimana daerahnya berdekatan dengan daerah propinsi lain, kemudian kelompok taninya yang terorganisir dengan baik, serta yang menariknya lagi terdapat 3 komunitas yang tergabung yaitu sunda, minang dan jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan yang mulia ini Dafris Januir menghimbau kepada semua BUMN yang terdapat di Indonesia agar menerapkan hal serupa yaitu membina lingkungan yang terdapat di wilayahnya, yang tidak hanya mementingkan keadaan perusahaan saja, tapi juga ikut berkontribusi pada masyarkat.&gt;&gt;&gt;Anton&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-1218135603447385502?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/pemda-dan-pt-sp-bersama-tingkatkan_24.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-6318822620120184458</guid><pubDate>Tue, 24 Mar 2009 08:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-14T03:54:49.785+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perikanan</category><title>Prospek Besar  Usaha Ikan Lele.</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Beternak  Ikan Lele  ternyata memiliki   prospek yang mengiurkan di Sumatera Barat.  Prospek   ini semakin terbuka  utuk wilayah  perkotaan seperti Kota  Padang.  Paling tidak ini  yang dirasakan oleh peternak  ikan lele di kota ini. Begitu  besarnya  peluang, usaha ikan lele kini mulai  menjalar ke berbagai daerah di Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Masril, salah seorang peternak  lele di  Padang Sarai Kota Padang mengaku bisa meraup untung  kotor  10 juta per bulan dari usaha ternak ikan lele. Baik dari pembibitan maupun pembesaran.  Usaha  yang  telah dilakoninya sejak tahun 2000 lalu, terbukti mampu  memberi  keuntungan yang besar terhadap kehidupannya. &lt;br /&gt;Hal yang sama   juga diungkapkan    Novalindo, peternak ikan lele lain. Tidak saja  kebutuhan  hidupnya yang terpenuhi , dia pun mampuu menyekolah   adik-adiknya dari beternak  lele. “Dengan usaha lele ini saya dapat menguliahkan adik saya sebanyak 4 orang, membayarkan kredit motor empat buah dan membayar kredit mobil kuda satu buah. Alhamdulillah”. tutur Novalindo yang kini baru berusia  23 tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya di Kota Padang, usaha  ikan lele juga mulai dilirik   orang di  daerah lain di Sumatera  Barat. Salah satu   Kabupaten Dharmasraya.  Perlahan  tapi pasti, beberapa  orang di  kabupaten  ini  kini  juga sudah mulai membudidayakan ikan  ini.&lt;br /&gt;Salah satu dari  mereka yang  tertarik   mengembangkan ikan lele ini adalah M. Isa, seorang  kepala sekolah  di Nagari Siguntua,   Kecamatan  Sitiung Kabupaten Dharmasraya.   Bertempat  dibelakang rumahnya dia. mencoba membuat   beberapa    petak kolam ikan  lele..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski  belum sebesar   pengembangan ikan lele, di kota Padang, dia melihat prospek pengembangan ikan lele di Kabupaten  Dharmasraya masih sangat besar.  “Usaha yang saya kembangkan ini  juga sangat cocok sebagai usaha  sampingan,’ ucapnya  M. Isa yang  juga mengakui  masih taraf belajar dalam membudidayakan ikan lele tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peluang  Pasar  sangat terbuka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tinggi peluang pasar  ikan lele ini   memang tidaklah mengherankan.  Tinggi minat masyarakat  terhadap ikan lele, terutama rumah-rumah makan  merupakan salah satu faktor  penyebab  berkembangnya  usaha  ternak ikan lele. Abun,  salah satu Toke Besar Lele yang terdapat di Kota Padang, mengungkapkan pada Tabloid Pertanian Suara Afta bahwa setiap bulannya dia membutuhkan pasokan lele dari Sumatera Barat sebanyak 30 Ton. Ikan lele ini   dipasarkan ke Sumbar, Riau, jambi, Bangko, Sumsel, luar negeri serta lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melihat,  pasokan lele dari kota Padang saja   kini sudah tidak mencukupi kebutuhannya. Untuk menutupi kekurangan pasokan lele tersebut,  dia  terpaksa , mengambilnya di beberapa lokasi tambak Di Sumatera Barat.&lt;br /&gt;Hal senada diakui Masril, peternak ikan lele di kota Padang  Dia menyebutkan , produksi lele ditambaknya hanya mencukupi kebutuhan 10 ton tiap bulannya. “Diperlukan pengembangan dan perluasan areal tambak  untuk dapat memenuhi permintaan dari Toke Lele, ungkap Masril.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masalah harga  kata, Abun, juga masih sangat menguntungkan buat peternak. Saat sekarang 8 harga pasaran lele pedaging per kilogramnya diambil ke lokasi tambak, sebesar sepuluh ribu rupiah. Dengan harga penjualan di pasaran mulai dari tiga belas ribu rupiah hingga lima belas ribu rupiah sesuai ukuran dan jarak tempuh lokasi pemasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mulai dilirik  Pemerintah Kabupaten.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan    usaha ika lele yang sangat potensial ini kini juga dilirik oleh pemerintah sebagai salah satu basis ekonomi masyarakat, khusus petani. Daerah  yang kini   betul-betul serius mengembangkan ikan lele adalah Kabupaten Padang Pariaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian serius , pemerintah Kabupaten  ini terhadap pengembangan   usaha lele,dibuktikan langsung oleh  Bupati  Kabupaten Padang Pariaman , Muslim Kasim yang   mengunjungi areal pengembangan ikan lele pada Kabupaten itu, di Tanjuang Belibis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita bertekad menjadikan Kabupaten Padang Pariaman sebagai sentra pengembangan Ikan Lele di Sumatera Barat,” ucap Muslim Kasim  kepada Tabloid Pertanian Suara AFTA. “Hal ini  merupakan langkah pemerintah Kabupaten Padang Pariaman untuk meningkatkan lapangan usaha, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan ekonomi masyarakat.,” tuturnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir. Nazran. MM, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Padang Pariaman.  Menyebutkan Kabupaten Padang Pariaman. Kabupaten Padang Pariaman memang  potensial sekali untuk dikembangkan usaha budidaya lele. Pasalnya   Kabupaten itu memiliki  banyak  lahan rawa yang cocok   untuk membudidayakan ikan lele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan   Padang Pariaman sebagai sentra lele, dia telah menyusun rencana  pengembangan.  “Langkah  yang kami buat kedepannya yaitu, terus mensosialisasikan budidya lele, memberikan subsidi benih, dan penguatan modal untuk petani lele. Mengingat daerah pemasaran lele yang terus meluas dan kebutuhan pasokan lele pedaging yang terus meningkat.,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandi Amd. Kepala KCD Perikanan dan Kelautan Kecamatan batang Anai, Membenarkan potensi lele ini, masih banyak terdapat luas lahan rawa yang terdapat di Kecamatan Batang Anai untuk dimanfaatkan usaha lele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tantangan dan Hambatan Masril sekarang ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meski  memiliki  potensi yang besar, namun pengembangan ikan lele bukan tidak ada hambata.  Hambatan itu seperti yang diungkapkan Masril, pengusaha lele adalah, pasokan  pakan cacing yang masih sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu  kendala yang saya   hadapi  adalah kurangnya dalam pasokan pakan cacing untuk pembibitan lele yang bernama tobefact. Tobefact yang biasanya didapat dari hasil limbah karet, sekarang sudah sedikit ditemui. Hal ini dikarenakan pasokan pakan cacing yang didapatkan dari limbah pabrik karet yang terdapat di bay pass Kota  Padang berhenti produksi. Menurut penuturan pencari cacing di limbah pabrik karet yang terdapat di bay pass kota padang, pabrik berhenti beroperasi akibat pasokan karet berkurang akibat krisis global yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rencana Pengembangan Lele Kedepan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masril Ketua Kelompok Ikan  Lele Muaro Kasang Jaya, kedepannya mengusahakan agar bukan saja memproduksi bibit lele dan Lele pedaging saja, tapi dapat memproduksinya ke berbagai bentuk macam pengolahan lele seperti kerupuk lele, Lele asap dll. Tapi hal ini tidak dapat dikerjakannya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masril Menghimbau melalui Tabloid Pertanian Suara AFTA, bagi ada Investor maupun pihak yang ingin mengembangkan budidaya lele atau produk olahannya ataupun pengolahan pakan cacing serta lain sebagainya. Ia akan siap untuk bekerjasama.****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-6318822620120184458?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/prospek-besar-usaha-ikan-lele.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-367478398473508258</guid><pubDate>Tue, 24 Mar 2009 08:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-14T03:59:56.604+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Profil</category><title>Masril Peternak Ikan  Lele</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Raup Untung 10 Juta Rupiah  Setiap Bulan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masril 42 tahun, pengusaha lele Dusun Tanjuang, Kecamatan Batang anai Kabupaten Padang Pariaman. Dengan keyakinan dan usaha sungguh – sungguh nya menjalan kan usaha budidaya lele, ia sekarang bisa  meraup keuntungan lebih dari 10 juta rupiah tiap bulannya dan dapat membuka lapangan usaha baru bagi puluhan warga Kecamatan Batang Anai maupun warga Kabupaten lain yang terdapat di Propinsi Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan prinsip kekeluargaan dan pola syariah yang dijalankan masril, ia dapat membantu lebih dari 30 orang, untuk menjadi pengusaha lele yang tersebar baik di Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Pesisir Selatan, Dharmasraya dan Kabupaten Pasaman untuk mengembangkan usaha budidaya ikan lele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan fenomena yang menarik saat ini, dimana banyak pengusaha besar yang gulung tikar akibat krisis global, Masril malah mengembangkan sayapnya dan membantu banyak orang untuk membuka lapangan usaha baru untuk budidaya ikan lele. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masril, yang hanya tamatan SD ini. Mengatakan pada Tabloid Pertanian Suara AFTA saat ditemui di tambak lelenya yang terletak di Dusun Tanjuang, Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman Jum’at 28 November 2008, “Setiap bulan pendapatan bersih yang bisa saya dapatkan lebih dari Rp 10 juta rupiah”. &lt;br /&gt;Berawal Sebagai Pembongkar Ikan Lele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masril , bapak dari 4 orang anak ini bercerita, awalnya ia seorang pemasok Batako untuk pembuatan Perumnas di kota padang maupun luar kota padang, namun semenjak dilanda krisis moneter pada tahun 1997 hingga pada tahun 1998 perusahaan Batakonya bangkrut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat bantuan sang kakak Alitar yang saat itu berusaha membudidayakan ikan lele, Masril diterima bekerja sebagai pembongkar ikan lele hingga pada akhir tahun 1998. &lt;br /&gt;Berawal dari hal itulah ia mulai mempelajari teknik budidaya ikan lele sehingga ia bisa membuka tambak lele secara mandiri di Perumahan Muaro Putih Kecamatan Muaro Kasang Kota Padang pada awal tahun 1999. Dimodali oleh Eni, teman lama Masril, sebesar Rp 20 juta rupiah dalam bentuk pinjaman lunak, dia mulai beternak lele.  Alhasil dengan modal sebanyak itu, Masril bisa membuat tambak ikan lele sebanyak 6 buah kolam pembesaran dan pembibitan. Alhamdulillah lagi, dalam hitungan bulan saja, Masril mampu mengembalikan uang pinjaman yang telah diberikan Eni. &lt;br /&gt;Namun diakuinya, beternak ikan lele tak semulus yang dibayangkannya. Banyak hambatan dan kendala yang dilaluinya. Salah satunya   bencana Banjir  yang meluluhlantakan usahanya. Tepanya pada akhir tahun 1999 terjadi bencana banjir di lokasi tambak masril, sehingga banyak ikan yang hanyut bersama air banjir tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, suami dari Leni ini tak patah semangat dan kemudian  berhenti.  Satu-satunya keuntungan yang dia dapat ketika sebelumnya  usaha lelenya, adalah pengalaman   dalam  bertenak  ikan lele.  Bermodalan  pengalaman serta keyakinan, dia kembali  mengembangkan usaha budidaya ikan lele. Dengan keterbatasan modal serta sumber daya yang ada,  pada tahun 2000  dia kembali  mencoba untuk membuka tambak ikan lele di Padang Sarai Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Untuk itu  dia  berhutang ke teman, karib kerabat dan sanak family. Kali  ini  membuat 11 kolam yang terdiri dari kolam pembesaran dan kolam pembibitan. Lagi- lagi Masril merugi, karena di akhir tahun 2000 terjadi bencana banjir di lokasi tambak sehingga banyak ikan yang hanyut. Total kerugian yang diderita masril saat itu mencapai lebih dari 30 juta rupiah. “Saya  sempat stress ketika  itu,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Usaha Ikan Lele Masril Mulai Jaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meski sempat stress dan menjadi pengangguran sekitar 2 bulan lamanya. Namun akibat tuntutan kehidupan, kebutuhan keluarga dan nasehat seorang bapak-bapak. Masril bangkit lagi di awal tahun 2001, ia memulai usaha lelenya lagi di lokasi yang baru di Korong Sungai Pinang Nagari Kasang Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat itu, Masril menuturkan. Ia merobah mekanisme kerjanya. Ia mencari seorang guru lele yang bernama Kemon. Kemon sang guru, di bayar oleh Masril dengan kesepakatan pembayaran uang sekolah (istilah Masril). Dibayar jika usaha lelenya tersebut telah berhasil sejumlah satu setengah juta rupiah. Dan ternyata, usaha yang ditempuh masril tidak sia-sia. Dalam hitungan 2 bulan, sambil berjalan, ia mampu membuat kolam pembesaran sebanyak 8 buah dan kolam pembenihan sebanyak 14 buah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambah masril lagi, Berkat pengajaran yang diberikan Pak Kemon. Untuk tambak pembibitan lele, ia bisa menghasilkan uang (pendapatan kotor) lebih kurang sebesar dua puluh juta rupiah dengan pendapatan bersih lebih kurang delapan juta rupiah dalam satu bulan. Sedangkan untuk kolam pembesaran pendapatan kotornya  bisa mencapai lebih kurang sebesar dua ton setara dengan uang dua puluh juta rupiah dengan pendapatan bersih delapan juta rupiah dalam satu bulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masril, Tidak mau mengulangi kesalahan yang pernah dialaminya pada tahun-tahun sebelumnya, Bersama guru Kemon, ia membuat tambak yang tidak bisa terkena banjir, meningkatkan produksi pembibitan ikan lele dan produksi lele pedaging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat itu , Masril bersama anggotanya berhasil mengembangkan usaha lele dan bisa memasok lele untuk wilyah padang maupun di luar kota padang. Sekarang nama perusahaan budidaya lelenya bernama Berkat Yakin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya puas disitu saja, Masril terus mengembangkan usaha nya. Hingga pada tahun 2005 Ia memperluas tambak sebanyak 19 buah kolam pembesaran di Dusun Tanjuang Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman. Disini saja tutur Masril lagi, modal yang dihabiskan untuk pembuatan kolam sebesar tiga puluh jutaan, belum termasuk pakan dan bibit. Sekarang, pendapatan kotor dalam satu bulannya mencapai lebih kurang sepuluh juta rupiah dan pendapatan bersih berkisar lebih kurang lima juta rupiah.,”tTutur masril&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masril Mengungkapkan, Nilai omzet usahanya sekarang ini berkisar lebih dari seratus juta rupiah. Omset  peternakan terdiri dalam   ikan,   anak ikan dan  bibit yang sudah besar. “Kunci  dari semua  ini , adalah keseriusan  dan ketekuanan dalam berusaha. Satu  lagi, tidak mudah menyerah hanya   kita gagal pada tahap awal,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelompok Ikan Lele Terbentuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara berjalan, Masril mampu membuat Kelompok Ikan Lele dengan nama Kelompok Ikan Lele Muaro Kasang Jaya yang mulai berdiri tahun 2005 beranggotakan sebanyak dua puluh orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Ikan Lele Muaro Kasang Jaya yang beranggotakan 20 orang ini, Tambah Masril Lagi pada tahun 2008 pernah mendapatkan penghargaan oleh Bupati Padang Pariaman sebagai Juara satu, Tingkat Kabupaten Padang Pariaman Khusus Di bidang Budidaya Ikan Lele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya disitu saja, Masril juga membina dan membantu bagi ada orang yang tertarik dalam usaha lele baik di kabupaten padang pariaman maupun di luar kabupaten padang pariaman. Masril menuturkan, ini tidak hanya sekedar cerita saja, lebih dari 30 orang yang telah dibinanya untuk mengembangkan usaha budidaya lele di daerah masing –masing dengan sistem kerjasama Syariah. Salah satunya, pemuda yang tergabung Kelompok Ikan Lele Muaro Kasang Jaya Novalindo 23 tahun, yang sekarang ini pendapatan bersihnya mencapai lebih kurang sepuluh juta rupiah setiap bulannya. &lt;br /&gt;Novalindo, mengatakan pada Tabloid Pertanian Suara AFTA. “Dengan usaha lele ini saya dapat menguliahkan adik saya sebanyak 4 orang, membayarkan kredit motor empat buah dan membayar kredit mobil kuda satu buah. Alhamdulillah”. Tutur Novalindo 23 tahun pengusaha muda lele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masril mengungkapkan, dalam mengembangkan usahanya. Ia menjalankan kiat – kiat berikut; Jujur dalam menjalankan usaha, Tekun, Bekerjasama baik dengan semua pihak, Terus belajar hal baru, Ikhlas dalam berusaha, Tanpa pamrih dan Jangan lupa berzakat. Alhamdulillah, dengan kiat ini usaha lele Masril dapat maju hingga sekarang ini,” tutur Masril lagi&gt;&gt;&gt;Anton&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-367478398473508258?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/masril-peternak-ikan-lele.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-585841598199807390</guid><pubDate>Tue, 24 Mar 2009 08:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-14T05:12:03.347+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">peternakan</category><title>Ribuan Ekor Unggas di Kapur IX terserang Flu Burung</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;90.960 ekor Unggas Terjangkit Flu Burung di Kec. Kapur IX Kab. 50 Kota. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Peternakan Sumatera Barat Ir. Edwardi. MM baru – baru ini di ruang kerjanya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Edwardi, ada sekitar 936 kepala keluarga pemilik unggas yang menjadi korban dari keganasan Flu Burung. Terdapat 2600 ekor ayam pedaging yang terserang, kemudian itik 8.560 ekor, disusul dengan ayam buras sebesar 99.800 ekor. “Total keseluruhan yang terserang penyakit flu burung di Kec. Kapu IX Kab. 50 kota sebesar 190.960 eko,” tutur Ir. Edwardi. MM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibanding tahun 2007, jumlah unggas yang terserang  memang lebih  besar. Pada  2007 t kasus positif flu burung sebesar 20.077 ekor.Namun demikian  usaha penanggulangan yang  dilakukan  juga lebih  keras.  Diantara melalui  vaksinasi dan memberikan bantuan desinfektan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realisasi penanggulangan penyakit flu burung tahun 2007 di kabupaten dan kota Propinsi sumatera barat adalah sebagai berikut &lt;br /&gt;Tahun  Kasus positif (ekor) Alokasi vaksin (dosis) Realisasi vaksin (dosis) Desinfektan (liter) Realisasi desinfektan (liter)&lt;br /&gt;2007 20.077 1.000.000 1.671.108 1.620 2.247&lt;br /&gt;Sumber; Statistik Peternakan Propinsi sumatera barat tahun 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ungkap Ir. Edwardi lagi, berkat kerjasama yang baik dengan Petugas Dinas Peternakan dilapangan serta masyarakat yang telah mengetahui teknis pemberantasan dan pengendalian penyakit flu burung. Kasus Flu burung di Kecamatan Kapu IX telah diberantas dengan cepat dan tidak meluas hingga ke daerah lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sebab datangnya penyakit Flu Burung ke Kecamatan Kapu IX Kabupaten Lima Puluh Kota belum dapat dipastikan, hal ini dikarenakan tidak adanya pengawasan yang dilakukan dalam transportasi unggas. Hal ini dipengaruhi oleh faktor kebutuhan pasar dan transaksi jual beli yang berlaku. Dinas Peternakan Tidak memiliki kewenangan dalam hal ini. Tutur Ir Edwardi. MM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir. Edwardi menjelaskan, dalam penanganan kasus flu burung di sumatera Barat, hal – hal yang dilakukan yaitu: melakukan sosialisasi,  dan hal ini didukung dengan terdapatnya 114 PDSR yang tersebar di Sumatera Barat yang bertugas dalam penanganan Flu Burung secara cepat. Sehingga kasus Flu Burung yang terjadi di Sumbar dapat di tindak secara cepat dan tepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakannya yaitu membuat daerah tertutup dengan cara disemprot, oleh dinas peternakan kabupaten dan kota selama 21 hari. Hal ini tentu saja tidak dapat dijalankan dengan baik tanpa bantuan pengawasan dari masyarakat dalam penanggulan kasus Flu Burung yang terjadi di Sumatera Barat. Tapi yang utama dalam pengendalian penyakit ini adalah dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan. Tambah Ir. Edwardi &lt;br /&gt;Tidak hanya itu saja. Diperlukan juga tindakan pengawasan dengan jalan pengambilan semplimen darah di daerah Sumbar untuk kemudian membuat peta penyebaran lokasi yang pernah terjangkit kasus flu burung dan setelah itu melakukan vaksinasi. Tutur Ir. Edwardi, MM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir. Edwardi menghimbau kepada para peternak unggas maupun konsumen unggas agar tidak panik dengan kasus flu burung yang terjadi Kec. Kapu IX Kab. 50 kota. Karna dari dinas peternakan telah   melakukan tidakan penanganan. Bagi peternak unggas yang menemukan keganjilan pada unggasnya, agar segera melaporkan hal ini ke Petugas Dinas Peternakan terdekat untuk dilakukan tindakan lebih lanjut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara yang dapat ditempuh warga pemilik unggas yang merasa unggasnya telah terjangkit kasus Flu Burung adalah dengan cara pemusnahan dan pembumi hangusan dengan teknik membakar.Tutur Ir. Edwardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga tidak akan dirugikan dengan cara pembumi hangusan ini, karna nantinya akan diberikan ganti rugi kepada pemilik unggas tersebut sebesar Rp 10.000 / ekor yang uangnya diambilkan dari APBN Tambah Ir. Edwardi. MM &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut wawascara Tabloid Pertanian Suara AFTA dengan    Kepala Dinas   Peternakan Propinsi Sumatera Barat  Ir. Edwardi  mengenai Flu Burung dan Prospek  pengembangan ternak unggas di Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa itu flu burung? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Flu burung (Avian Influenza) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus Influenza. Biasanya Virus Flu burung menyerang hewan yang berjenis unggas seperti ayam, bebek dan burung.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala yang terlihat pada hewan unggas jika sudah terkena dengan virus flu burung yaitu memiliki ciri pertama, diare dan kematian tinggi dalam waktu singkat. Kedua,  jengger dan piar bewarna biru serta tiga, terjadinya pendarahan bawah kulit pada daerah dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pencegahan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk pencegahan virus flu burung ini. Dapat ditempuh dengan pertama, Jika menemukan unggas mati mendadak tanpa gejala sakit, maka segera laporkan kepada petugas kesehatan hewan atau peternakan terdekat. &lt;br /&gt;Kedua, Jagalah selalu kebersihan kandang dengan menggunakan sabun/detergen atau melakukan penyemprotan desinfektan.&lt;br /&gt;Ketiga, Pisahkan kandang ayam serta kandang itik.&lt;br /&gt;Keempat, Jauhkan kandang unggas dengan rumah atau pemukiman minimal 10m.&lt;br /&gt;Kelima, Lakukan vaksinasi ternak unggas melalui Petugas Kesehatan Hewan atau Dinas Peternakan terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tindakan bila unggas mati secara mendadak?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila terdapat unggas mati secara mendadak, maka jangan sentuh unggas mati itu tanpa menggunakan pelindung tangan. Jika hal ini sudah dilakukan maka segera laporkan kejadian unggas yang mati mendadak tersebut ke petugas terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan selanjutnya yaitu, bakar dan kubur bangkai unggas yang telah mati itu, dan jangan buang ke selokan atau sungai, karena hal ini dapat membahayakan warga atau hewan yang terdapat di daerah hilir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unggas yang mati atau sakit akibat virus flu burung ini, jangan diperjual belikan atau dikonsumsi. Karena dapat membahayakan kesehatan.&lt;br /&gt;Setelah itu, maka kosongkan kandang selama 3 minggu sebelum diisi kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Untuk mencegah penularan virus flu burung ke manusia .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencegah penularan Virus Flu Burung ke Manusia maka hal yang perlu di perhatikan setelah menyentuh unggas yang sakit atau mati yaitu mencuci tangan dengan menggunakan sabun dengan air yang mengalir.&lt;br /&gt;Beli dan konsumsilah unggas yang sehat, jangan makan hewan yang mati akibat berpenyakit. Kemudian, masaklah daging dan telur unggas hingga matang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan, Flu Burung atau Avian Influenza tidak menular melalui daging dan telur unggas. Daging dan telur unggas perlu untuk kesehatan dan kecerdasan anak bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Bisnis peternakan unggas masih eksis di Sumatera Barat?&lt;br /&gt;Berdasarkan data Statistik Peternakan Propinsi Sumatera Barat, menunjukkan bahwa Sumatera Barat berada pada swasembada untuk komoditi ayam ras pedaging, ayam ras petelur dan itik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana untuk tahun 2007 saja pemotongan ternak unggas Kabupaten dan Kota Sumatera Barat ayam ras pedaging sebesar 12.644.349 ekor dengan populasi ternak ayam ras pedaging sebesar 12.648.143 ekor. Untuk komoditi pemotongan ayam ras petelur sebesar 3.808.402 ekor dengan populasi ternak ayam ras petelur 6.347.337 ekor. Dan pemotongan itik sebesar 602.067 ekor dengan populasi itik  sebesar 1.003.445 ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa, Sumatera Barat telah swasembada untuk komoditi ayam ras pedaging, ayam ras petelur dan itik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk ayam buras, terjadi penurunan populasi pada tahun 2007, tapi pemotongan ayam buras masih tinggi. Hal ini menunjukkan masih terbuka kesempatan besar dalam menjalankan bisnis ternak unggas terutama komoditi ayam buras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut tabel populasi ternak unggas dan pemotongan ternak unggas tahun 2003-2007 Kabupaten dan Kota Propinsi Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Populasi Ternak Unggas tahun 2003-2007 Kabupaten dan Kota Propinsi Sumatera Barat menurut jenis.&lt;br /&gt;Tahun  Ayam Buras&lt;br /&gt;(ekor) Ayam ras pedaging (ekor) Ayam Ras Petelur (ekor) Itik (ekor)&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;2006&lt;br /&gt;2005&lt;br /&gt;2004&lt;br /&gt;2003 4.529.106&lt;br /&gt;5.107.278&lt;br /&gt;5.725.515&lt;br /&gt;7.737.703&lt;br /&gt;7.877.468 12.648.143&lt;br /&gt;12.847.327&lt;br /&gt;11.357.781&lt;br /&gt;12.804.118&lt;br /&gt;10.608.542 6.347.337&lt;br /&gt;6.396.311&lt;br /&gt;5.608.482&lt;br /&gt;5.337.255&lt;br /&gt;4.706.628 1.003.445&lt;br /&gt;1.050.752&lt;br /&gt;985.442&lt;br /&gt;852.141&lt;br /&gt;992.621&lt;br /&gt;Sumber: Statistik Peternakan Propinsi Sumatera Barat tahun 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemotongan ternak unggas menurut jenis tahun 2003-2007 Kabupaten dan Kota Propinsi Sumatera Barat. &lt;br /&gt;Tahun  Ayam Buras&lt;br /&gt;(ekor) Ayam ras pedaging (ekor) Ayam Ras Petelur (ekor) Itik (ekor)&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;2006&lt;br /&gt;2005&lt;br /&gt;2004&lt;br /&gt;2003 6.340.748&lt;br /&gt;7.150.191&lt;br /&gt;8.588.273&lt;br /&gt;11.606.555&lt;br /&gt;11.816.202 12.644.349&lt;br /&gt;12.461.906&lt;br /&gt;11.017.048&lt;br /&gt;12.419.994&lt;br /&gt;10.290.286 3.808.402&lt;br /&gt;3.198.157&lt;br /&gt;2.804.241&lt;br /&gt;2.668.628&lt;br /&gt;2.353.314 602.067&lt;br /&gt;630.449&lt;br /&gt;492.721&lt;br /&gt;426.071&lt;br /&gt;496.311&lt;br /&gt;Sumber: Statistik Peternakan Propinsi Sumatera Barat tahun 2007&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-585841598199807390?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/ribuan-ekor-unggas-di-kapur-ix.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-8411162080396035509</guid><pubDate>Tue, 24 Mar 2009 08:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-14T06:24:38.192+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lingkungan</category><title>Teknologi Hemat Energi, Ramah Lingkungan Apakah Bisa Diterapkan Di Sumatera Barat</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Serangkaian penemuan – penemuan dan teknologi terkini telah banyak ditemukan. Diantaranya yang banyak menyangkut kehidupan orang banyak yaitu. Teknologi terbaharukan seperti, Bio ethanol, Brown Gas, Bio fuel dan lain sebagainya yang merupakan bahan – bahan pencampur BBM. Nantinya komoditas ini di Indonesia diperkirakan mengalami peningkatan yang signifikan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun untuk daerah Sumatera Barat, apakah aplikasi teknologi ini dapat berjalan seiring dengan persoalan dan polemik yang terdapat di dalamnya? Untuk itu, perlu pengkajian untuk  memahami teknologi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru – baru ini, Rabu 19 november 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara dan rombongan mengunjungi Embrapa (Empressa Brasileria de Pesquisa Agropecuaria atau Brasilian Agricultural Research Cooperation), semacam badan litbang di bawah kementerian pertanian dan pangan (Ministry of Agriculture, LIvestock and Food Supply), di luar kota Brasilia, ibukota Brazil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan merupakan dalam rangka kerjasama dan untuk melakukan penandatanganan MoU di berbagai bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara berbagai macam kesepakatan kerjasama tersebut, yang menarik bagi penulis yaitu kesepakatan kerjasama bidang energi terutama teknologi bio-ethanol.  Brazil dikenal telah mengembangkan proyek ethanol, bio fuel dan biodiesel. Bio-ethanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganism.&lt;br /&gt;Di Brazil, bio-ethanol dengan bahan baku tebu (sugar cane) telah menjadi industri yang cukup maju. Saat ini bahan bakar minyak (BBM) campuran premium 75 persen dan 25 persen bioetanol telah dijual di seluruh SPBU. Hampir-hampír tidak ada lagi SPBU di Brazil yang menjual 100 persen BBM murni dari fosil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Yudhoyono mengatakan Indonesia akan belajar dari kesuksesan Brazil mengatasi krisis energi. Indonesia, akan mengirim lebih banyak mahasiswa dalam program beasiswa khusus untuk mempelajari pengembangan energi alternatif berbasis ethanol tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Saat kedatangan Presiden Brazil Luiz Inacio beserta rombongan ke Istana Negara RI beberapa bulan lalu maret 2008. Menteri Pertanian Anton Apriyantono dan Menteri Luar Negeri Brazil Celso Amorim telah menandatangani nota kesepahaman yang memungkinkan Indonesia mempelajari pemakaian energi bioethanol dari Brazil.&lt;br /&gt;Pilihan itu diambil mengingat Brazil sudah lama unggul di bidang tersebut. Guna mendukung pengembangan bioetanol, Departemen Pertanian akan memperluas lahan tebu.&lt;br /&gt;Hal itu diungkapkan Menteri Pertanian Anton Apriyantono seusai penandatanganan nota kesepahaman komite konsultasi pertanian (consultative committe on agriculture/CAA), Jumat (16/3) di Jakarta antara Mentan Anton Apriyantono dan Menteri Pertanian dan Pangan Brazil Luiz Carlos Guedes Pinto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bioenergi ke depan sangat menentukan masa depan ekonomi sebuah bangsa. "Kita akan fokus ke situ terkait upaya alih teknologinya," ujar Anton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan Bio ethanol di Indonesia&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Arya Rezavidi, MEE, Ph.D, Direktur Konversi dan Konservasi Energi BPPT. Mengatakan, Teknologi dalam negeri mampu mendukung produksi etanol menggantikan bahan bakar minyak (BBM). Tinggal dibutuhkan dukungan investasi serta aturan pelaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Tambah Arya Rezavidi, MEE, Ph.D, terdapat beberapa halangan untuk dikembangkan di Indonesia yaitu pengaturan pasar, Ketersediaan suplai bahan baku, tidak adanya aturan pelaksana yang mendukung penggunaan etanol di dalam negeri.&lt;br /&gt;Bukan sampai disitu saja, menurut pengamatan penulis, ketersediaan lahan yang ada perlu diperhatikan juga. Karena luas lahan yang terdapat di Indonesia terbatas, dan beberapa luas lahan tersebut telah diperuntukkan untuk pemukiman, pertanian, perkebunan dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Teknologi Pengolahan Bioethanol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teknologi produksi bio-ethanol berikut ini diasumsikan menggunakan jagung sebagai bahan baku, tetapi tidak menutup kemungkinan digunakannya biomassa yang lain, terutama molase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Secara umum, produksi bioethanol ini mencakup 3 (tiga) rangkaian proses, yaitu: Persiapan Bahan baku, Fermentasi, dan Pemurnian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Persiapan Bahan Baku&lt;br /&gt;Bahan baku untuk produksi biethanol bisa didapatkan dari berbagai tanaman, baik yang secara langsung menghasilkan gula sederhana semisal Tebu (sugarcane), gandum manis (sweet sorghum) atau yang menghasilkan tepung seperti jagung (corn), singkong (cassava) dan gandum (grain sorghum) disamping bahan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan bahan baku beragam bergantung pada bahan bakunya, tetapi secara umum terbagi menjadi beberapa proses, yaitu:&lt;br /&gt;satu, Tebu dan Gandum manis harus digiling untuk mengektrak gula. Dua, Tepung dan material selulosa harus dihancurkan untuk memecahkan susunan tepungnya agar bisa berinteraksi dengan air secara baik. Tiga, Pemasakan, Tepung dikonversi menjadi gula melalui proses pemecahan menjadi gula kompleks (liquefaction) dan sakarifikasi (Saccharification) dengan penambahan air, enzyme serta panas (enzim hidrolisis). Pemilihan jenis enzim sangat bergantung terhadap supplier untuk menentukan pengontrolan proses pemasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap Liquefaction memerlukan penanganan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Satu, Pencampuran dengan air secara merata hingga menjadi bubur. Dua, Pengaturan pH agar sesuai dengan kondisi kerja enzim. Tiga, Penambahan enzim (alpha-amilase) dengan perbandingan yang tepat. Empat, Pemanasan bubur hingga kisaran 80 sd 90 C, dimana tepung-tepung yang bebas akan mengalami gelatinasi (mengental seperti Jelly) seiring dengan kenaikan suhu, sampai suhu optimum enzim bekerja memecahkan struktur tepung secara kimiawi menjadi gula komplek (dextrin). Proses Liquefaction selesai ditandai dengan parameter dimana bubur yang diproses menjadi lebih cair seperti sup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap sakarifikasi (pemecahan gula kompleks menjadi gula sederhana) melibatkan proses sebagai berikut:&lt;br /&gt;Satu, Pendinginan bubur sampai suhu optimum enzim sakarifikasi bekerja. Dua, Pengaturan pH optimum enzim. Tiga, Penambahan enzim (glukoamilase) secara tepat. Empat, Mempertahankan pH dan temperature pada rentang 50 sd 60 derajat Celcius sampai proses sakarifikasi selesai (dilakukan dengan pengetesan gula sederhana yang dihasilkan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Fermentasi&lt;br /&gt;Pada tahap ini, tepung telah sampai pada titik telah berubah menjadi gula sederhana (glukosa dan sebagian fruktosa) dimana proses selanjutnya melibatkan penambahan enzim yang diletakkan pada ragi (yeast) agar dapat bekerja pada suhu optimum. Proses fermentasi ini akan menghasilkan etanol dan CO2.&lt;br /&gt;Bubur kemudian dialirkan kedalam tangki fermentasi dan didinginkan pada suhu optimum kisaran 27 sd 32 C, dan membutuhkan ketelitian agar tidak terkontaminasi oleh mikroba lainnya. Karena itu keseluruhan rangkaian proses dari liquefaction, sakarifikasi dan fermentasi haruslah dilakukan pada kondisi bebas kontaminan.&lt;br /&gt;Selanjutnya ragi akan menghasilkan ethanol sampai kandungan etanol dalam tangki mencapai 8 sd 12 % (biasa disebut dengan cairan beer), dan selanjutnya ragi tersebut akan menjadi tidak aktif, karena kelebihan etanol akan berakibat racun bagi ragi.&lt;br /&gt;Dan tahap selanjutnya yang dilakukan adalah destilasi, namun sebelum destilasi perlu dilakukan pemisahan padatan-cairan, untuk menghindari terjadinya clogging selama proses distilasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemurnian / Distilasi&lt;br /&gt;Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari beer (sebagian besar adalah air dan etanol). Titik didih etanol murni adalah 78 C sedangkan air adalah 100 C (Kondisi standar). Dengan memanaskan larutan pada suhu rentang 78 - 100 C akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit kondensasi akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95 % volume.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosentase Penggunaan Energy.&lt;br /&gt;Prosentase perkiraan penggunaan energi panas/steam dan listrik diuraikan dalam tabel berikut ini:&lt;br /&gt;Prosentase Penggunaan Energi&lt;br /&gt;Identifikasi Proses Steam Listrik&lt;br /&gt;Penerimaan bahan baku, penyimpanan, dan penggilingan 0 % 6.1 %&lt;br /&gt;Pemasakan (liquefaction) dan Sakarifikasi 30.5 % 2.6 %&lt;br /&gt;Produksi Enzim Amilase 0.7 % 20.4 %&lt;br /&gt;Fermentasi 0.2 % 4 %&lt;br /&gt;Distilasi  58.5 % 1.6 %&lt;br /&gt;Etanol Dehidrasi (jika ada) 6.4 % 27.1 %&lt;br /&gt;Penyimpanan Produk 0 % 0.7 %&lt;br /&gt;Utilitas 2.7 % 27 %&gt;&lt;br /&gt;Bangunan 1 %&gt; 0.5 %&lt;br /&gt;TOTAL 100 % 100 %&lt;br /&gt;Sumber: A Guide to Commercial-Scale Ethanol Production and Financing, Solar Energy Research Institute (SERI), 1617 Cole Boulevard, Golden, CO 80401&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peralatan Proses&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adapun rangkaian peralatan proses adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Satu, Peralatan penggilingan. Dua, Pemasak, termasuk support, pengaduk dan motor, steam line dan insulasi. Tiga, External Heat Exchanger. Empat, Pemisah padatan - cairan (Solid Liquid Separators). Lima, Tangki Penampung Bubur. Enam, Unit Fermentasi (Fermentor) dengan pengaduk serta motor. Tujuh, Unit Distilasi, termasuk pompa, heat exchanger dan alat kontrol. Delapan, Boiler, termasuk system feed water dan softener. Sembilan, Tangki Penyimpan sisa, termasuk fitting »»Anton&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-8411162080396035509?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/teknologi-hemat-energi-ramah-lingkungan.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-6632358886741864620</guid><pubDate>Tue, 24 Mar 2009 08:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-14T06:27:47.220+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Perspeltif</category><title>SISTEM BARU MEMBANGUN PARADIGMA BARU</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Fakultas Pertanian Universitas Andalas Membuat Gebrakan Baru. 2 buah Jurusan Agroteknologi dan Agribisnis hadir pada mahasiswa angkatan 2008/2009. Berbagai sistem baru dan mekanisme perkuliahan yang baru, siap dihantarkan bagi mahasiswa FPUA. &lt;span class="fullpost"&gt;Tidak tanggung- tanggung, berbagai fasilitas pendukung belajar mengajar terus diinovasi sesuai perkembangan zaman yang kompak dan sistematis. Hal ini dibuat semata – mata untuk kemajuan fakultas pertanian agar para alumni FPUA semakin terdepan di berbagai bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat saat sekarang ini, sistem belajar mengajar di Fakultas Pertanian Universitas Andalas telah menggunakan teknologi tinggi seperti: laptop, infocus, internet bagi tiap – tiap jurusan, pustaka yang memadai, urusan administrasi perkuliahan sudah menggunakan internet, perlengkapan laboratorium yang canggih dan dalam waktu dekat ini FPUA akan mengarah agroekoteknologi serta lain sebagainya.&lt;br /&gt;Hal ini diungkapkan Prof. Ir Ardi M.sc saat ditemui Tabloid diruang kerjanya.yang baru – baru ini dilantik menjadi Dekan Fakultas Pertanian Universitas Andalas periode 2008/2012. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Ardi menambahkan, hal itu semua terjadi berkat dukungan universitas andalas yang juga memiliki komitmen kuat untuk membangun tiap – tiap fakultas. Serta dukungan dari berbagai elemen dari universitas andalas.&lt;br /&gt;Sesuai dengan visi FPUA yaitu sebagai lembaga pendidikan tinggi untuk menghasilkan sarjana pertanian yang bertakwa kepada tuhan yang maha esa, bermoral tinggi, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, relevan dengan kebutuhan serta mampu bersaing baik di bidang akademik maupun dunia kerja. &lt;br /&gt;Hal ini bersinergis dengan misinya yaitu, menciptakan suatu sistem untuk melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat dalam rangka mewujudkan dan pencapaian visi.&lt;br /&gt;Hal ini bukan hanya sekedar cerita saja, terbukti para alumni FPUA telah bayak menjabat posisi strategis dari berbagai aspek, baik itu di pemerintahan, kewirausaahaan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Konsep Agroekoteknologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kedepannya Prof . Ardi menambahkan dengan jabatanya sekarang ini sebagai dekan FPUA periode 2008/2012 akan terus membuat inovasi  baru dan merenovasi sedikit kelemahan untuk menuju Fakultas Pertanian sesuai visi dan misi yang telah dicita – cita kan. Diantaranya: Fakultas Pertanian universitas andalas akan mengarah konsep agrotekoteknologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan konsep ini, diharapkan nantinya FPUA bukan lagi sekedar tempat berteori dan pintar dengan data – data penelitian saja. Secara bersama dan bertahap FPUA mencoba agar ilmu yang didapatkan tersebut dapat diterapkan dengan benar dilapangan bahkan dengan konsep ini kita bisa mengarah untuk berwirausaha. Sehingga hasil yang didapatkan dengan konsep ini, bisa digunakan nantinya untuk peningkatan mutu dan menunjang keberhasilan fakultas dan menjadi fakultas yang mandiri.&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan konsep ini. Prof. Ardi menuturkan, bersama jajaran yang terkait di Fakultas, telah mempersiapkan lahan seluas 15 Ha di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Dan telah melakukan plot – plot lahan yang akan dikembangkan untuk perkebunan, tanaman musiman, perikanan, peternakan, sawah, praktikum mahasiswa, tempat santai dan lain sebagainya. Tidak tanggung – tanggung, jika konsep ini berhasil, Kebun ini juga kita buka untuk umum sebagai tempat objek wisata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realisasai konsep ini akan dimulai tanggal 25 oktober 2008, dengan meluncurkan 1 buah eskafator milik saya sendiri untuk membuat jalan di kebun percobaan ini, sehingga transportasi dan akomodasi berjalan dengan lancar selama pembangunan. Tutur Prof. Ardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahnya lagi, Saya sangat mengharapkan. Semoga dengan terwujudnya konsep Agroekoteknologi ini. Diharapkan nantinya para alumnus FPUA dapat membuat lapangan pekerjaan sendiri, dengan bekal ilmu berwirausaha dari konsep Agroekoteknologi. &lt;br /&gt;Untuk anggaran, Prof. Ardi dengan senyuman yang kharismatik menjawab “untuk pastinya saya belum bisa menjawab, namun kita dari jajaran fakultas pertanian terus berusaha untuk menghimpun dana, saya memperkirakan untuk terwujudnya kebun ini kita membutuhkan dana sebesar Rp100juta rupiah, perlu kerja ekstra keras agar konsep ini dapat berjalan dengan lancar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tantangan terberat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Setiap pekerjaan tentu banyak menghadapi tantangan dan rintangan, disaat ditanyakan kepada Dekan yang memiliki senyum kharismatik ini, Tantangan terberat apakah yang bapak rasakan saat ini dalam menjalankan program bapak tersebut?&lt;br /&gt;Tantangan tentu saja ada dan semuanya itu akan terasa berat jika dilakukan sendiri, namun dengan berdoa pada ALLAH SWT dan kerja sungguh – sungguh serta kerjasama dengan tim yang solid, saya kira tantangan yang terberat sekalipun dapat dihadapi dengan ringan. Tutur Prof. Ardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akedimisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk bidang akademik Tutur Prof Ardi, secara sistematik tentu saja kita mengikuti aturan –aturan yang telah di tetapkan Universitas. Namun  saya berharap, dalam masa jabatan saya ini. saya menargetkan, untuk dosen – dosen FPUA yang masih S2 agar dapat meneruskan jejang pendidikannya menjadi S3. Untuk hal ini, saya bersama jajaran akan serius untuk menanganai hal ini. Karena hal ini menyangkut mutu dan kualitas fakultas. Semakin banyak dosen yang berstatus doktor, semakin tingggi nilai kredibilitas dan kualitas fakultas tersebut. Sehingga diharapkan nantinya output yang dihasilkan juga berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrol moral&lt;br /&gt;Melihat kondisi dan suara-suara yang terdengar baik dari para dosen, alumni dan orang yang dituakan. Kondisi mahasiswa/wi FPUA saat sekarang ini, dirasa mengalami kemunduran norma; baik itu norma sopan santun, tatakrama. Cara berpakaian dan lain sebagainya. Sehingga hal ini menjadi bahan gunjingan yang mungkin sering didengar oleh kalangan dosen, alumni, senior dan orang tua saat sekarang ini. Hal ini sangat merugikan bagi citra dan almamater FPUA bagaimana bapak menyikapi hal ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk persoalan ini, saya memang sudah lama memperhatikannya. Di waktu rapat yang diadakan nanti untuk membahas tentang mata kuliah, saya mengusulkan agar mata kuliah budi pekerti dan diharapkan masalah merosotnya norma – norma yang terjadi di kalangan mahasiswa FPUA dapat diatasi. Namun disini saya juga, meminta kerjasama baik itu unit kegiatan kampus maupun forum studi islam agar dapat membantu rekan rekannya agar dapat mengontrol dan menjaga agar  norma – norma sosial ini dapat diatasi dengan baik.›››ANT&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-6632358886741864620?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/sistem-baru-membangun-paradigma-baru.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8734416685900005588.post-8764933885759092099</guid><pubDate>Tue, 24 Mar 2009 07:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-14T06:29:50.101+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perlindungan tanaman</category><title>Pemda Harus Serius Kendalikan Hama Arthona  Pada Kelapa.</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kepala UPTD Balai Perlindungan Tanaman Perkebunan Prop. SUMBAR.  Ir. H. Zainal  geram dengan lambannya kinerja Pemerintah Kab. Solok dalam menangani kasus Arthona Disaat ditemui tabloid pertanian suara afta di rumah dinasnya,, dia mengungkapkan,  bila  serangan hama penyakit yang menyerang pohon kelapa di kanagarian koto baru kec. &lt;span class="fullpost"&gt;Kubung dan sekitarnya Kab. Solok  tidak segera diatasi maka kerugian  yang akan ditimbulkan  sangat besar.  Apalagi   musuh  alami yang biasa   mengendalikan serangan  yakni  burung-burung pemakan  ulat.  juga   hampir punah &lt;br /&gt;“Hama ini telah merugikan masyarakat hingga lebih 2 miliyar rupiah. Pemerintah daerah kabupaten solok lamban menangani kasus ini. Kalau tidak cepat dittanggulangi, besar kemungkinan hama ini meluas hingga ke luar kabupaten solok,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyatakan,  untuk mengantisipasi serangan hama  tersebut, dia  telah menyurati, Bupati kabupaten solok dan Bupati kabupaten sekitar solok agar waspada dengan serangan hama artona Satoxanta, namun hingga Senin, 29 September 2008. belum tampak tanda – tanda tindakan serius yang ditempuh oleh pihak kabupaten solok.&lt;br /&gt;“ Kami dari dinas propinsi, hanya bisa memperingatkan. Untuk tindakan lebih lanjut harus dilakukan oleh dinas kabupaten, hal ini disebabkan peraturan otonomi daerah yang berlaku. Demikian terang Ir. Zainal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Larva Artona biang keladi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ir. Zainal menjelaskan, hama  Artona Sathoxanta  tergolong hama berjenis serangga. Sifat dan ciri-ciritya yang hampir sama dengan kupu – kupu.  Hama  ini mampu  terbang    alami sejauh  150 m.  Dengan bantuan angin, dia  bisa terbang sejauh   1,5 km.  Namun daerah   seranganganny   mampu mencapai radius 10 km.  Hama ini berkembang biak pada musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hama  Artona memanfaatkan daun kelapa sebagai tempat berkembang biak. Hama ini beru berbahaya pada stadia larva yang berbentuk ulat. Pada stadia ini, arthona memakan lapisan epidermis dan menghisap klorofil daun yang sangat bermanfaat untuk fotosintesis., Setelah itu Arthona baru memasuki stadia pupa selama tujuh hari sebelum menjadi kupu-kupu.   Total waktu yang dibutuhkan untuk  keseluruhan  stadia, mulai dari telur hingga menjadi kupu-kupu  berlangsung selama 25 hari.&lt;br /&gt;Sementara,katanya, hama arthona   yang  telah dewasa berbentu kupu-kupu  hanya mampu hidup  selama 21 hari  dan kemudian  kembali bertelur  dan mati. Siklus  hidup yang cepat ini membuat  hama  arthona  berkembang cepat  kalau tidak dikendalikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penyebab meluasnya serangan Artona&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian Balai Perlindungan Tanaman Perkebunan Prop.Sumatera Barat 2008, ungkap Ir zainal. Menunjukan, terjangkitnya wabah Arthona ini di Kecamatan Kubun, Kabupten  Solok , diakibatkan karena musuh – musuh alami dari Arthona Satoxanta telah hilang. Musuh alami itu adalah  burung-burung  pemakan ulat, seperti  xathophimpla Sp dan Apamtoks Sp. Kondisi ini diperparah  dengan pemakaian pestisida secara intensif di lahan – lahan pertanian yang terdapat di kabupaten solok.&lt;br /&gt;Ungkap Ir. Zainal lagi, hilangnya musuh – musuh alami tersebut diakibatkan dari aktifitas masyarakat Kab. Solok yang suka menangkap burung. Sehingga terjadi ledakan perkembangbiakan hama Artona Sathoxanta. Hal ini diperparah lagi, pemda Solok tidak mengeluarkan Perda bagi warga yang melakukan penangkapan burung secara liar dan pemakaian pestisida tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dampak dari serangan Artona&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Akibat serangan artona, tutur Ir. Zainal. Terjadi kehilangan produksi kelapa sebesar 75% pada tahun pertama, 50% pada tahun ke dua dan 25% pada tahun ke tiga. Kami dari balai perlindungan tanaman perkebunan prop. Sumbar mencatat. Lebih dari 2 milyar rupiah kerugian yang diderita akibat serangan hama artona hingga pekan ini september 2008. Kerugian tersebut belum termasuk nilai aspek sosial dan nilai lingkungan yang telah tercemar.&lt;br /&gt;Perlu perhatian yang serius oleh pemda solok untuk menangani kasus hama ini, terang Ir. Zainal. Jika tidak, berapa ribu pohon dan berapa ratus warga pemilik pohon kelapa serta konsumen lagi yang harus dirugikan akibat lambannya penanganan oleh pemda solok ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penanganan untuk mengatasi kasus merebaknya hama artona&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemda Kab. Solok musti segera mengeluarkan peraturan daerah untuk pengandalian jangka panjang untuk mengatur pengendalian musuh alami dan penjagaan lingkungan. Seperti melarang warga agar tidak menangkap burung dan melarang pemakaian pestisida sintetik secara intensif. Bagi yang melanggar, harus dihukum berat. Jika langkah ini tidak ditempuh diperkirakan hama artona ini riskan sekali bisa ditangani dan mungkin saja akan timbul wabah – wabah penyakit baru di kabupaten solok.&lt;br /&gt;Ir. Zainal menghimbau, agar warga pemilik pohon kelapa yang terserang larva artona agar segera melakukan penanganan, agar serangan ini tidak meluas. Mengenai dampak, negatif terhadap kesehatan manusia  seperti yang dilangsir  warga  di Kecamatan Kubung, dia menyatakan hal  itu tidak benar.  Dikatakan bahan pestisida tersebut hanya  aktif dalam masa 2 bulan, sehingga pada bulan ketiga buah kelapa yang telah dilakukan penginjeksian sudah dapat di konsumsi lagi karena bahan aktif tersebut tidak mengandung residu lagi dan tidak membahayakan bagi kesehatan manusia. Demikian tutur Ir. Zainal.&gt;&gt;&gt;Ant&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cara Mengendalikan  Hama Arthona (Box)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Pengendalian Secara biologi&lt;br /&gt;Pengendalian dengan, melepaskan lagi dan menangkarkan kembali musuh - musuh alami dari artona sathoxanta seperti burung pemakan ulat serta lainnya.&lt;br /&gt;2. Pengendalian dengan pestisida nabati&lt;br /&gt;Hama artona dapat ditangani dengan melakukan penyemprotan ekstrak daun thitonia atau daun paik – paik. Namun cara ini tidak efektif, mengingat daerah penyemprotan pada daun kelapa yang tinggi.&lt;br /&gt;3. Pengendalian Secara mekanis&lt;br /&gt;Menggunakan metoda penangkapan. Sesuai sifat ngengat atau serangga lainnya. Artona suka dengan cahaya. Maka dari itu, manfaatkan cahaya lampu untuk menarik arthona dan terus menangkapnya. Untuk penangkapan, sediakan ember yang sudah berisi air, atas ember tersebut taroh lampu yang sudah dialiri listrik. Artona, akan tertangkap air dan mati.&lt;br /&gt;4. Pengendalian secara kimia&lt;br /&gt;Untuk pengendalian secara kimia, yang perlu diperhatikan sekali. Apakah tanaman yang terserang hama penyakit sudah berada pada keadaan Explosif yaitu serangan telah meluas berat dan tidak dapat dikendalikan secara biologi dan mekanisasi.&lt;br /&gt;Untuk kasus hama artona di nagari koto baru. Sudah berada dalam kedaan exlposif. Perlu penanganan menggunakan pestisida kimia sintetik dengan teknik injeksi atau penyuntikan pada batang .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Namun penanganannya perlu memperhatikan hal – hal seperti berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a. Apakah pohon kelapa yang telah terserang tersebut sudah berada pada stadia larva atau belum? jika belum, jangan lakukan penanganan. Jika sudah, perhatikan lagi hal berikut ini.&lt;br /&gt;b. Lakukan penurunan 3 tandan buah kelapa, &lt;br /&gt;c. Penginjeksian pestisida sudah dapat dilakukan.&lt;br /&gt;d. Takaran yang diberikan dalam tiap batang 10-15cc&lt;br /&gt;e. Pada 3 bulan berikutnya, kelapa sudah bisa dipanen lagi. Karena residu sudah tidak ada lagi.&gt;&gt;&gt;ANTON&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8734416685900005588-8764933885759092099?l=suara-afta.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://suara-afta.blogspot.com/2009/03/pemda-harus-serius-kendalikan-hama.html</link><author>ant0nnn_wardani@yahoo.co.id (anton_wd)</author></item><language>en-us</language><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>
