<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766</id><updated>2026-06-09T14:13:33.231+07:00</updated><category term="Mutiara nasehat"/><category term="muslimah"/><category term="Shalat"/><category term="Bid&#39;ah"/><category term="Dakwah"/><category term="Fiqih"/><category term="Renungan"/><category term="Fatwa"/><category term="Amalan"/><category term="Tauhid"/><category term="Ahlus Sunnah"/><category term="Hadits"/><category term="Kisah Teladan"/><category term="Umum"/><category term="Ikhwan"/><category term="Adab"/><category term="Kabar Langit"/><category term="Bantahan"/><category term="puasa"/><category term="Do&#39;a"/><category term="Fiqih Muslimah"/><category term="Muamalah"/><category term="Wasiat Salaf"/><category term="Kuburan"/><category term="Nikah"/><category term="islami"/><category term="Jihad"/><category term="Status FB"/><category term="ilmu"/><category term="Fiqih Nikah"/><category term="Taubat"/><category term="syi&#39;ah"/><category term="Aqidah"/><category term="Fiqih Puasa"/><category term="Info Islami"/><category term="Sahabat Nabi"/><category term="Sholawat"/><category term="Taqlid"/><category term="Bab Akhlak"/><category term="Ciri-Ciri Kiamat Kecil"/><category term="Fiqih Shalat"/><category term="Fiqih Umum"/><category term="Maulid"/><category term="Tarekat"/><category term="image"/><category term="syirik"/><category term="Ilmu Hadits"/><category term="Link Islami"/><category term="Niat"/><category term="Tafsir"/><category term="sitemap"/><title type='text'>Bang Ahmad</title><subtitle type='html'>Kumpulan Tulisan Para Alim Ilmu</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Rmaasy90</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10442699752599410360</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKsRS6NVBnsGh1ZX1rP1GZhd4-hI9AGn0ItxhN2_Hz6oeF69s4A8X-sJXzOK3HMrTJtAuZTuK2M_34OoHSsf-oIKzHDMF16mNUOqlCT1r0-G_ZKd0zwiFVIcggeRcBGg/s220/IMG_20200606_153248.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>295</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-5439175347967731317</id><published>2017-04-04T08:33:00.000+07:00</published><updated>2017-04-04T08:33:13.251+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ahlus Sunnah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bab Akhlak"/><title type='text'>JALAN KESELAMATAN</title><content type='html'>الحمد لله وكفى ، وسلام على عباده الذين اصطفى ،أما بعد&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segala puji hanyalah milik Allah yang telah mencukupi, dan semoga keselamatan&lt;br /&gt;
senantiasa terlimpahkan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Amma Ba’d :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudaraku se-Islam, jika Anda menginginkan kemuliaan di dunia dan di akhirat, maka berpeganglah dengan kebenaran yang nyata, yang berasal dari Kitabullah al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, serta jalannya orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ المُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Barangsiapa yang menentang Rasulullah setelah jelas baginya petunjuk, dan dia lebih memilih bukan jalannya orang yang beriman, niscaya kami palingkan ia ke arah ia berpaling dan kami hempaskan ia ke dalam jahanam, sejelek-jelek tempat kembali.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;&quot;خير الناس قرني ، ثم الذين يلونهم ، ثم الذين يلونهم ، ثم يفشو بعد ذلك الكذب...&quot;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;“Sebaik-baik generasi adalah zamanku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya, kemudian akan muncul setelahnya kedustaan.” (Muttafaq ‘alaihi).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka untuk itulah, kami mengajak saudara-saudara kami kaum muslimin untuk melakukan hal berikut ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PERTAMA :&lt;/b&gt; Mengembalikan segala urusan baik agama dan akhirat kepada al-Qur’an dan as-Sunnah berlandaskan pemahaman as-Salaf ash-Shalih, berdasarkan ayat sebelumnya tadi yang menerangkan bahwa batasan kesuksesan hanya berasal dari segala hal yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan mengikuti jalannya orang-orang yang beriman, dan barangsiapa yang menyeleweng darinya, maka akan diselewengkan ke dalam neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KEDUA :&lt;/b&gt; Mengikuti ayat-ayat yang “muhkam” (tegas dan pasti penunjukannya) dan hadits-hadits yang valid (terbukti) berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam serta menjauhi hadits-hadits yang palsu, lemah, mungkar dan dha’if, karena sesungguhnya yang demikian ini bukanlah bagian dari agama kita.&lt;br /&gt;
Barangsiapa yang meriwayatkan suatu hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sedangkan dia tahu bahwa hadits tersebut dusta, maka dia termasuk diantara dua pendusta. Di dalam hadits Nabi dikatakan :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;&quot;من كذب عليَّ متعمِّدًا ؛ فليتبوّأ مقعده من النار&quot;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka persiapkan tempat duduknya di atas neraka.” (Muttafaq ‘alaihi).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;KETIGA : &lt;/b&gt;Menghormati dan mencintai para sahabat, semoga Allah meridhai mereka, serta memuji dan ridha terhadap mereka. Karena, merekalah yang menolong Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, memerangi orang yang beliau perangi, menyelamatkan orang yang beliau selamatkan dan berhijrah meninggalkan kampung halaman mereka untuk agama ini.&lt;br /&gt;
Mereka sudi mengemban beban kesulitan di dalam menyampaikan dan menyebarkan Islam. Setiap orang yang mengetahui kebenaran setelah masa mereka, maka lantaran keberkahan upaya dan jihad para sahabat. Keutamaan mereka begitu berlimpahnya, dan kedudukan mereka betapa terkenalnya. Maka, mencintai mereka adalah termasuk tanda keimanan.&lt;br /&gt;
Yang paling mulia dari para sahabat adalah para khalifah rasyidin yang empat, kemudian sepuluh orang yang diberi kabar gembira masuk ke dalam surga, dst. Karena itu, siapa saja yang mencerca, mendiskreditkan dan menyebutkan keburukan mereka dengan maksud untuk membangkitkan kebencian terhadap mereka, maka mereka tidaklah berada di atas manhaj yang benar, tidak pula termasuk orang-orang yang mengikuti para sahabat dengan lebih baik, dan tidak pula termasuk golongan yang Allâh puji mereka di dalam firman-Nya :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;“Dan orang-orang yang datang setelah mereka, mereka mengatakan : Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam keimanan. Janganlah Engkau jadikan adanya kebencian di dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KEEMPAT : &lt;/b&gt;Menghormati dan mencintai orang-orang shalih dari kalangan ahli bait Nabi, serta memuji dan meridhai para sahabat dari kalangan mereka. Selain itu juga menyebarkan kedudukan mereka dan membela mereka. Tidaklah ada yang menyelisihi hal ini melainkan dari kalangan Nawashib (pembenci ahli bait Nabi) ahli bid’ah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketahuilah, bahwa orang yang shalih dari kalangan ahli bait itu memiliki dua hak, yaitu:&lt;br /&gt;
(1) Hak Islam dan&lt;br /&gt;
(2) Hak kekerabatan (dengan Nabi).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, Anda tidak boleh meremehkan hak mereka apabila Anda memang mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.&lt;br /&gt;
Bukan artinya Anda harus berlebihan di dalam mencintainya, atau memposisikannya seperti Nabi yang terbebas (ma’shum) dari kesalahan, ataupun memposisikannya seperti tuhan yang mengetahui hal-hal tersembunyi dan tidak tampak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun jika dia (keturunan Ahli Bait) tersebut adalah orang yang memotong sholat, atau memotong jalan (ilmu), atau seorang penipu, atau orang yang melalaikan kewajiban-kewajiban agama dan gemar berbuat keharaman, maka kita tidak boleh mencintainya jika ia memang demikian. Namun, kita tetap mendoakan baginya agar diberi hidayah sebagaimana kita mendoakan setiap muslim mana saja yang berbuat maksiat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun orang yang mengumpulkan antara amal Shalih dan nasab yang baik (yaitu keturunan ahli bait), maka dia adalah cahaya di cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketahuilah, bahwa sahabat dan kerabat (ahli bait) itu adalah dua golongan yang berada dalam satu parit di dalam melakukan pembelaan terhadap Islam. Mereka saling menikah dan saling memberikan nama satu dengan lainnya, lantaran besarnya rasa cinta diantara mereka. Darah-darah mereka pun sama-sama tertumpah di dalam peperangan di bawah bendera Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap individu dari mereka memiliki hak dan keutamaan, yang tidak boleh ada seorangpun yang merendahkannya. Begitu pula tidak boleh bersikap ghulû (berlebihan) terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu wahai hamba Allah, carilah keselamatan dan keuntungan dengan cara mencintai mereka semua dan meridhai mereka. Hendaknya generasi yang datang belakangan mendoakan rahmat atas mereka dan mendoakan ampunan (maghfirah) kepada yang bersalah diantara mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketahuilah, Allah telah menjaga tangan Anda dari turut serta di dalam fitnah, karena itu jagalah lisan Anda dari mencelupkan diri memperbincangkan mereka kecuali yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KELIMA : &lt;/b&gt;Menghormati para ulama dan mengapresiasi upaya mereka di dalam berkhidmah bagi agama dan menolong kebenaran. Serta tidak memperhatikan terhadap pencemaran nama baik para ulama yang dilakukan oleh musuh-musuh mereka, karena sejatinya mereka bermaksud untuk mematikan ilmu yang diemban oleh para ulama dan menjauhkan manusia dari mereka, sehingga manusia akan menjadi korban pemikiran berbahaya dan merusak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KEENAM : &lt;/b&gt;Waspada dari sektarianisme (hizbiyah) yang sempit dan loyalitas yang terdistorsi. Jadikanlah rasa cinta dan benci Anda di jalan Allah dan senantiasalah Anda bersama dengan kebenaran di manapun ia berada. Terimalah kebenaran darimanapun datangnya, walaupun berasal dari seorang musuh sekalipun. Waspadalah dari kebatilan walaupun berasal dari sahabat dekatmu, karena kebenaran adalah lebih bernilai daripada dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bantulah orang yang benar (shohibul haq) walaupun dia berada di kelompok yang tidak Anda senangi, dan sebaliknya, jangan membantu orang yang salah (shohibul bathil) walaupun dia berasal dari kelompok yang Anda ridhai, karena kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KETUJUH : &lt;/b&gt;Hendaknya Anda menjadi orang yang berupaya untuk mempersatukan ahlus Sunnah di atas kebenaran, dan tidak memecah belah mereka baik dengan label nama-nama, julukan dan slogan-slogan tertentu. Karena yang menjadi standar patokan adalah realita keadaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadikanlah perkara agama yang sudah baku, prinsip-prinsip (ushul)-nya dan status hukumnya yang telah disepakati (ijma’) sebagai landasan loyalitas (wala’) Anda. Adapun permasalahan ijtihadiyah atau khilafiyah, maka janganlah Anda jadikan sebagai sebab perpecahan dengan saudara-saudara Anda. Akan tetapi hendaknya Anda nasehati mereka dengan ilmu, sikap santun, kelemahlembutan dan kedewasaan di dalam melihat keadaan dan dampaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KEDELAPAN : &lt;/b&gt;Waspadalah dari perbuatan syirik besar, seperti berdoa kepada selain Allah (meminta hal) yang tidak mampu dipenuhi kecuali oleh Allah. Atau meyaini bahwa orang mati dapat memberikan manfaat dan madharat, sehingga menyebabkan Anda beribadah kepada mereka baik dengan nadzar maupun ibadah lainnya. Atau meyakini sihir dan cenayang bahwa mereka mengatahui hal yang ghaib. Atau mengolok-olok syariat Allah di dalam hukum terhadap sesama manusia, atau terhadap syiar-syiar agama apapun bentuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauhilah bid’ah dan hawa nafsu yang menyesatkan, diantaranya adalah mencela para sahabat yang mulia. Barangsiapa mencela sahabat, maka sungguh ia telah merendahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mencintai mereka, yang menjalin kedekatan dan memuji mereka, hingga beliau wafat sedangkan beliau tetap ridha dengan mereka. Bahkan, barangsiapa yang mencela sahabat, maka dia telah menolak hukum Allan yang mengatakan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.”&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana mungkin,Allah bisa ridha terhadap orang yang telah berlalu dengan ilmu-Nya (pengetahuan ketuhanan-Nya), bahwa mereka (para sahabat) ini akan meninggal dalam keadaan kafir dan berkhianat?! [seperti tuduhan kaum Syiah yang sejatinya mendustakan al-Qur’an dan ilmu Allah, pent].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KESEMBILAN : &lt;/b&gt;Berhati-hatilah terhadap sikap ghulu (ekstrim) dan sikap jafa (terlalu longgar), atau sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan sikap tafrî&lt;br /&gt;
Ith (bermudah-mudahan). Berpeganglah dengan manhaj “al-Wasathiyah wal I’tidal” (pertengahan dan moderat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KESEPULUH : &lt;/b&gt;Waspadalah dari fanatisme dan sentimen kesukuan (kabilah), serta dari berhukum dengan selain hukum Allah. Jadilah Anda orang yang melakukan perbaikan (ishlah) di dalam suku dan masyarakat Anda. Apabila mereka berada di atas kebaikan maka dukunglah mereka, dan apabila mereka berada di atas kejelekan maka nasehatilah mereka. Janganlah Anda meninggalkan mereka di dalam segala hal, dan jangan pula mengikuti mereka di dalam segala hal, kecuali yang bersesuaian dengan kebenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KESEBELAS :&lt;/b&gt; Menghormati orang-orang berpengaruh (senior), tokoh-tokoh dan orang-orang tua (masyaikh) mereka. Karena sesungguhnya, menempatkan seseorang sesuai dengan kedudukannya adalah bagian dari keimanan. Berpeganglah dengan akhlak yang mulia, seperti murah hati, dermawan, pemberani, penolong, membantu orang yang teraniaya, berkata benar walau pahit,sabar terhadap gangguan, pemaaf, membalas kebaikan dengan kebaikan yang semisal atau lebih, dan akhlak-akhlak terpuji lainnya. Jadikanlah kesemua hal ini adalah untuk Allah Ta’ala, dan jauhi perbuatan riya&#39; (ingin dilihat) dan sum’ah (ingin didengar).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KEDUA BELAS :&lt;/b&gt; Antusias di dalam menuntut ilmu yang bermanfaat, beramal shalih, berdzikir secara rutin, melaksanakan sholat jama’ah dan sholat Sunnah, serta membaca al-Qur’an.&lt;br /&gt;
Jadilah Anda orang yang banyak mengingat (berdzikir) kepada Allah. Jagalah lisan Anda dari ghîbah (menggunjing) dan namimah (mengadu domba) dan peliharalah anggota tubuh Anda dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga sholawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabat beliau.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين .&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ditulis oleh :&lt;/b&gt; Abul Hasan Musthofa bin Isma’il as-Sulaimani&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;[Pendiri Ma’had Darul Hadits di Ma’rib, Yaman, semoga Allah menjaganya]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sumber : &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;https://www.facebook.com/abouelhassansulaymani&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dialihbahasakan oleh:&lt;/b&gt; &lt;i&gt;Abu Salma Muhammad&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Redaksi Arab dikirim oleh guru kami, al-Ustadz Mubarak Bamu’allim di grup Multaqo ad-Du’at ilallah.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;Dishare ke Grup Al-Wasathiyah wal I&#39;tidal&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;[https://telegram.me/abusalmamuhammad&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/5439175347967731317/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2017/04/jalan-keselamatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/5439175347967731317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/5439175347967731317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2017/04/jalan-keselamatan.html' title='JALAN KESELAMATAN'/><author><name>Rmaasy90</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10442699752599410360</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKsRS6NVBnsGh1ZX1rP1GZhd4-hI9AGn0ItxhN2_Hz6oeF69s4A8X-sJXzOK3HMrTJtAuZTuK2M_34OoHSsf-oIKzHDMF16mNUOqlCT1r0-G_ZKd0zwiFVIcggeRcBGg/s220/IMG_20200606_153248.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-3063163414040095497</id><published>2016-02-26T13:03:00.001+07:00</published><updated>2016-02-26T13:46:54.867+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ahlus Sunnah"/><title type='text'>Jalan Keselamatan</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;b&gt;JALAN KESELAMATAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Segala puji hanyalah milik Allah yang telah mencukupi, dan semoga keselamatan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
senantiasa terlimpahkan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Amma Ba’d :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Saudaraku se-Islam, jika Anda menginginkan kemuliaan di dunia dan di akhirat, maka berpeganglah dengan kebenaran yang nyata, yang berasal dari Kitabullah al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, serta jalannya orang-orang yang beriman.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Allah Ta’ala berfirman :&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ المُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Barangsiapa yang menentang Rasulullah setelah jelas baginya petunjuk, dan dia lebih memilih bukan&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&amp;nbsp;jalannya orang yang beriman, niscaya kami palingkan ia ke arah ia berpaling dan kami hempaskan ia ke dalam jahanam, sejelek-jelek tempat kembali&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&quot;خير الناس قرني ، ثم الذين يلونهم ، ثم الذين يلونهم ، ثم يفشو بعد ذلك الكذب...&quot;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Sebaik-baik generasi adalah zamanku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya kemudian akan muncul setelahnya kedustaan&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(Muttafaq ‘alaihi wa Sallam)&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Maka untuk itulah, kami mengajak saudara-saudara kami kaum muslimin untuk melakukan hal berikut ini :&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;PERTAMA:&lt;/b&gt; Mengembalikan segala urusan baik agama dan akhirat kepada al-Qur’an dan as-Sunnah berlandaskan pemahaman as-Salaf ash-Shalih, berdasarkan ayat sebelumnya tadi yang menerangkan bahwa batasan kesuksesan hanya berasal dari segala hal yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan mengikuti jalannya orang-orang yang beriman, dan barangsiapa yang menyeleweng darinya, maka akan diselewengkan ke dalam neraka.&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KEDUA:&lt;/b&gt; Mengikuti ayat-ayat yang “&lt;i&gt;&lt;b&gt;muhkam&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;” (tegas dan pasti penunjukannya) dan hadits-hadits yang valid (terbukti) berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam serta menjauhi hadits-hadits yang palsu, lemah, mungkar dan dha’if, karena sesungguhnya yang demikian ini bukanlah bagian dari agama kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Barangsiapa yang meriwayatkan suatu hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sedangkan dia tahu bahwa hadits tersebut dusta, maka dia termasuk diantara dua pendusta. Di dalam hadits Nabi dikatakan :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&quot;من كذب عليَّ متعمِّدًا ؛ فليتبوّأ مقعده من النار&quot;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka persiapkan tempat duduknya di atas&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
neraka&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(Muttafaq ‘alaihi)&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KETIGA:&lt;/b&gt; Menghormati dan mencintai para sahabat, semoga Allah meridhai mereka, serta memuji dan ridha terhadap mereka. Karena, merekalah yang menolong Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, memerangi orang yang beliau perangi, menyelamatkan orang yang beliau selamatkan dan berhijrah meninggalkan kampung halaman mereka untuk agama ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Mereka sudi mengemban beban kesulitan di dalam menyampaikan dan menyebarkan Islam. Setiap orang yang mengetahui kebenaran setelah masa mereka, maka lantaran keberkahan upaya dan jihad para sahabat. Keutamaan mereka begitu berlimpahnya, dan kedudukan mereka betapa terkenalnya. Maka, mencintai mereka adalah termasuk tanda keimanan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Yang paling mulia dari para sahabat adalah para khalifah rasyidin yang empat, kemudian sepuluh orang yang diberi kabar gembira masuk ke dalam surga, dst. Karena itu, siapa saja yang mencerca, mendiskreditkan dan menyebutkan keburukan mereka dengan maksud untuk membangkitkan kebencian terhadap mereka, maka mereka tidaklah berada di atas manhaj yang benar, tidak pula termasuk orang-orang yang mengikuti para sahabat dengan lebih baik, dan tidak pula termasuk golongan yang Allâh puji mereka di dalam firman-Nya :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Dan orang-orang yang datang setelah mereka, mereka mengatakan : Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam keimanan. Janganlah Engkau jadikan adanya kebencian di dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KEEMPAT:&lt;/b&gt; Menghormati dan mencintai orang-orang shalih dari kalangan ahli bait Nabi, serta memuji dan meridhai para sahabat dari kalangan mereka. Selain itu juga menyebarkan kedudukan mereka dan membela mereka. Tidaklah ada yang menyelisihi hal ini melainkan dari kalangan Nawashib (pembenci ahli bait Nabi) ahli bid’ah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Ketahuilah, bahwa orang yang shalih dari kalangan ahli bait itu memiliki dua hak, yaitu&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
1. Hak Islam, dan&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
2. Hak kekerabatan (dengan Nabi).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Karena itu, Anda tidak boleh meremehkan hak mereka apabila Anda memang mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Bukan artinya Anda harus berlebihan di dalam mencintainya, atau memposisikannya seperti Nabi yang terbebas (ma’shum) dari kesalahan, ataupun memposisikannya seperti tuhan yang mengetahui hal-hal tersembunyi dan tidak tampak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Adapun jika dia (keturunan Ahli Bait) tersebut adalah orang yang memotong sholat, atau memotong jalan (ilmu), atau seorang penipu, atau orang yang melalaikan kewajiban-kewajiban agama dan gemar berbuat keharaman, maka kita tidak boleh mencintainya jika ia memang demikian. Namun, kita tetap mendoakan baginya agar diberi hidayah sebagaimana kita mendoakan setiap muslim mana saja yang berbuat maksiat. Adapun orang yang mengumpulkan antara amal Shalih dan nasab yang baik (yaitu keturunan ahli bait), maka dia adalah cahaya di cahaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Ketahuilah, bahwa sahabat dan kerabat (ahli bait) itu adalah dua golongan yang berada dalam satu parit di dalam melakukan pembelaan terhadap Islam. Mereka saling menikah dan saling memberikan nama satu dengan lainnya, lantaran besarnya rasa cinta diantara mereka. Darah-darah mereka pun sama-sama tertumpah di dalam peperangan di bawah bendera Islam.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Setiap individu dari mereka memiliki hak dan keutamaan, yang tidak boleh ada seorangpun yang merendahkannya. Begitu pula tidak boleh bersikap ghulû (berlebihan) terhadapnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Karena itu wahai hamba Allah, carilah keselamatan dan keuntungan dengan cara mencintai mereka semua dan meridhai mereka. Hendaknya generasi yang datang belakangan mendoakan rahmat atas mereka dan mendoakan ampunan (maghfirah) kepada yang bersalah diantara mereka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Ketahuilah, Allah telah menjaga tangan Anda dari turut serta di dalam fitnah, karena itu jagalah lisan Anda dari mencelupkan diri memperbincangkan mereka kecuali yang baik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KELIMA: &lt;/b&gt;Menghormati para ulama dan mengapresiasi upaya mereka di dalam berkhidmah bagi agama dan menolong kebenaran. Serta tidak memperhatikan terhadap pencemaran nama baik para ulama yang dilakukan oleh musuh-musuh mereka, karena sejatinya mereka bermaksud untuk mematikan ilmu yang diemban oleh para ulama dan menjauhkan manusia dari mereka, sehingga manusia akan menjadi korban pemikiran berbahaya dan merusak.&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KEENAM:&lt;/b&gt; Waspada dari sektarianisme (hizbiyah) yang sempit dan loyalitas yang terdistorsi. Jadikanlah rasa cinta dan benci Anda di jalan Allah dan senantiasalah Anda bersama dengan kebenaran di manapun ia berada. Terimalah kebenaran darimanapun datangnya, walaupun berasal dari seorang musuh sekalipun. Waspadalah dari kebatilan walaupun berasal dari sahabat dekatmu, karena kebenaran adalah lebih bernilai daripada dirinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Bantulah orang yang benar (shohibul haq) walaupun dia berada di kelompok yang tidak Anda senangi, dan sebaliknya, jangan membantu orang yang salah (shohibul bathil) walaupun dia berasal dari kelompok yang Anda ridhai, karena kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KETUJUH:&lt;/b&gt; Hendaknya Anda menjadi orang yang berupaya untuk mempersatukan ahlus Sunnah di atas kebenaran, dan tidak memecah belah mereka baik dengan label nama-nama, julukan dan slogan-slogan tertentu. Karena yang menjadi standar patokan adalah realita keadaannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Jadikanlah perkara agama yang sudah baku, prinsip-prinsip (ushul)-nya dan status hukumnya yang telah disepakati (ijma’) sebagai landasan loyalitas (wala’) Anda. Adapun permasalahan ijtihadiyah atau khilafiyah, maka janganlah Anda jadikan sebagai sebab perpecahan dengan saudara-saudara Anda. Akan tetapi hendaknya Anda nasehati mereka dengan ilmu, sikap santun, kelemahlembutan dan kedewasaan di dalam melihat keadaan dan dampaknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KEDELAPAN:&lt;/b&gt; Waspadalah dari perbuatan syirik besar, seperti berdoa kepada selain Allah (meminta hal) yang tidak mampu dipenuhi kecuali oleh Allah. Atau meyaini bahwa orang mati dapat memberikan manfaat dan madharat, sehingga menyebabkan Anda beribadah kepada mereka baik dengan nadzar maupun ibadah lainnya. Atau meyakini sihir dan cenayang bahwa mereka mengatahui hal yang ghaib. Atau mengolok-olok syariat Allah di dalam hukum terhadap sesama manusia, atau terhadap syiar-syiar agama apapun bentuknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Jauhilah bid’ah dan hawa nafsu yang menyesatkan, diantaranya adalah mencela para sahabat yang mulia. Barangsiapa mencela sahabat, maka sungguh ia telah merendahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mencintai mereka, yang menjalin kedekatan dan memuji mereka, hingga beliau wafat sedangkan beliau tetap ridha dengan mereka. Bahkan, barangsiapa yang mencela sahabat, maka dia telah menolak hukum Allan yang mengatakan :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah” &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Bagaimana mungkin,Allah bisa ridha terhadap orang yang telah berlalu dengan ilmu-Nya (pengetahuan ketuhanan-Nya), bahwa mereka (para sahabat) ini akan meninggal dalam keadaan kafir dan berkhianat?! [seperti tuduhan kaum Syiah yang sejatinya mendustakan al-Qur’an dan ilmu Allah, pent]. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KESEMBILAN:&lt;/b&gt; Berhati-hatilah terhadap sikap ghulu (ekstrim) dan sikap jafa (terlalu longgar), atau sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan sikap tafrith (bermudah-mudahan). Berpeganglah dengan manhaj “al-Wasathiyah wal I’tidal” (pertengahan dan moderat).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KESEPULUH:&lt;/b&gt; Waspadalah dari fanatisme dan sentimen kesukuan (kabilah), serta dari berhukum dengan selain hukum Allah. Jadilah Anda orang yang melakukan perbaikan (ishlah) di dalam suku dan masyarakat Anda. Apabila mereka berada di atas kebaikan maka dukunglah mereka, dan apabila mereka berada di atas kejelekan maka nasehatilah mereka. Janganlah Anda meninggalkan mereka di dalam segala hal, dan jangan pula mengikuti mereka di dalam segala hal, kecuali yang bersesuaian dengan kebenaran.&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KESEBELAS:&lt;/b&gt; Menghormati orang-orang berpengaruh (senior), tokoh-tokoh dan orang-orang tua (masyaikh) mereka. Karena sesungguhnya, menempatkan seseorang sesuai dengan kedudukannya adalah bagian dari keimanan. Berpeganglah dengan akhlak yang mulia, seperti murah hati, dermawan, pemberani, penolong, membantu orang yang teraniaya, berkata benar walau pahit,sabar terhadap gangguan, pemaaf, membalas kebaikan dengan kebaikan yang semisal atau lebih, dan akhlak-akhlak terpuji lainnya. Jadikanlah kesemua hal ini adalah untuk Allah Ta’ala, dan jauhi perbuatan riya&#39; (ingin dilihat) dan sum’ah (ingin didengar).&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KEDUA BELAS:&lt;/b&gt; Antusias di dalam menuntut ilmu yang bermanfaat, beramal shalih, berdzikir secara rutin, melaksanakan sholat jama’ah dan sholat Sunnah, serta membaca al-Qur’an.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Jadilah Anda orang yang banyak mengingat (berdzikir) kepada Allah. Jagalah lisan Anda dari ghîbah (menggunjing) dan namimah (mengadu domba) dan peliharalah anggota tubuh Anda dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Semoga sholawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabat beliau.&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين .&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Ditulis oleh :&lt;/b&gt; Abul Hasan Musthofa bin Isma’il as-Sulaimani&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
[Pendiri Ma’had Darul Hadits di Ma’rib, Yaman, semoga Allah menjaganya]&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Sumber :&lt;/b&gt; [https://www.facebook.com/abouelhassansulaymani]&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Dialihbahasakan&lt;/b&gt; oleh Abu Salma Muhammad&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Redaksi Arab&lt;/b&gt; dikirim oleh guru kami, al-Ustadz Mubarak Bamu’allim di grup Multaqo ad-Du’at ilallah.&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Dishare&lt;/b&gt; ke Grup Al-Wasathiyah wal I&#39;tidal&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
[https://telegram.me/abusalmamuhammad&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/3063163414040095497/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/jalan-keselamatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/3063163414040095497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/3063163414040095497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/jalan-keselamatan.html' title='Jalan Keselamatan'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-7509438123566634123</id><published>2016-02-24T22:18:00.001+07:00</published><updated>2016-02-25T14:42:51.883+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Teladan"/><title type='text'>Pria Ini Diajak Berhubungan Oleh Gadis Yang Sangat Cantik,Apa Yang Dia Lakukan??</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KISAH MENGAGUMKAN TENTANG MENUNDUKKAN PANDANGAN &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Ada seorang hamba yang shalih bernama Sulaiman bin Yasar rahimahullah, beliau sedang berpergian meninggalkan negerinya&amp;nbsp; (untuk menunaikan haji) ditemani oleh seorang sahabatnya. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Suatu ketika, sahabat beliau pergi ke pasar untuk membeli persediaan makanan (untuk bekal perjalanan mereka) sedangkan Sulaiman sedang duduk menunggu di suatu tempat. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Sulaiman bin Yasar ini adalah seorang yang memiliki wajah paling tampan dan memikat, namun paling berhati-hati dari segala perkara&amp;nbsp; yang diharamkan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba ada seorang wanita dusun dari pegunungan melihatnya. Tatkala dia memperhatikan betapa tampan dan gantengnya Sulaiman, ia pun terpesona padanya. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Wanita tersebut memakai burqo&#39; (sejenis cadar yang menutupi seluruh wajah) lalu ia mendekati Sulaiman dan berdiri diantara kedua tangannya kemudian ia membuka burqo&#39;nya dan menampakkan wajahnya yang cantik seperti bulan purnama di tengah malam. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Wanita tersebut berkata : &quot;serahkan (dirimu) padaku!&quot; &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Sulaiman segera menundukkan pandangannya dari wanita cantik tersebut! Ia mengira bahwa wanita tersebut adalah wanita yang yang fakir dan kekurangan serta menginginkan makanan. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Sulaiman lalu berdiri dan memberikan padanya sejumlah makanan yang masih ada padanya. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Ketika melihat hal ini, wanita tersebut berkata pada Sulaiman : &quot;Saya tidak menginginkan makanan tersebut! Yang saya inginkan adalah perbuatan seorang suami terhadap isterinya.!! &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Dengan serta merta air muka Sulaiman berubah, dia marah dan menghardik wanita tersebut, sembari&amp;nbsp; mengatakan, &quot;Sungguh, Iblis telah memperalatmu!!&quot; &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Lalu Sulaiman menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan membenamkan kepalanya diantara lututnya. Wanita tersebut segera menutup wajahnya dengan burqo&#39;, lalu ia pergi, pulang ke rumahnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Tak lama kemudian, kawan Sulaiman datang setelah membeli makanan untuk mereka. Tatkala dia melihat Sulaiman yang matanya bengkak lantaran menangis hebat dan suara tangisnya berhenti, dia lalu bertanya : &quot;Kenapa kamu menangis??&quot; &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Sulaiman menjawab, &quot;Tidak ada apa-apa, saya hanya teringat anak-anak ku yang masih kecil.&quot; Sang kawan menukas, &quot;Tidak! Sesungguhnya ada kejadian lain (yang menyebabkanmu menangis). Masa sedihmu karena anak-anakmu sudah berlalu semenjak 3 harian yang lalu.&quot; &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Kawan Sulaiman terus mendesak sampai Sulaiman akhirnya menceritakan kejadian yang terjadi dengan wanita tadi. Tiba-tiba, sang kawan tadi meletakkan dirinya di atas alas makan dan dia menangis dengan tersedu-sedu.&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Sulaiman lalu bertanya padanya, &quot;Kamu sendiri, kenapa menangis?&quot;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Kawannya tersebut mengatakan, &quot;Karena saya yang lebih berhak untuk menangis daripada dirimu.&quot; &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Sulaiman bertanya kembali, &quot;kenapa bisa begitu?&quot; Kawannya menjawab, &quot;Karena sesungguhnya saya takut jika saya yang berada di posisimu, maka saya tidak dapat menahan diri darinya!!&quot; Maka kedua-duanya pun menangis kembali. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Pada saat Sulaiman tiba di Makkah dan selesai melakukan thawaf dan sa&#39;i, dia lalu mendatangi sebuah batu dan menjadikan pakaiannya sebagai alas. Dia merasa ngantuk dan tertidur sebentar. Di dalam mimpinya ia melihat seorang yang tampan rupawan lagi gagah. Pria tersebut memiliki paras yang bagus dan harum yang wangi. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Sulaiman berkata padanya, &quot;Siapakah gerangan dirimu? semoga Allah merahmatimu.&quot;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Pria dalam mimpi itu menjawab, &quot;Saya Yusuf, Nabi yang benar, putera Ya&#39;qub.&quot; &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Sulaiman lalu berkata, &quot;Sesungguhnya, kisah tentang dirimu dan isteri al-Aziz benar-benar sangat mengagumkan.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Yusuf &#39;alaihis Salam berkata kepadanya, &quot;Bahkan, kejadianmu dengan wanita dusun tersebut adalah lebih mengagumkan lagi.&quot; &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
[Hilyah Auliya&#39;&amp;nbsp; karya Abu Nu&#39;aim (II/191)]&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
Oleh:&lt;br /&gt;
@abinyasalma&lt;br /&gt;
[https://bit.ly/abusalma]&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/7509438123566634123/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/menundukkan-pandangan-karena-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/7509438123566634123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/7509438123566634123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/menundukkan-pandangan-karena-allah.html' title='Pria Ini Diajak Berhubungan Oleh Gadis Yang Sangat Cantik,Apa Yang Dia Lakukan??'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-998248229712113707</id><published>2016-02-24T18:55:00.001+07:00</published><updated>2016-02-25T14:20:06.319+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fiqih Nikah"/><title type='text'>Hukum Talak</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;HUKUM TALAK/&lt;/b&gt;&lt;b&gt;THOLAQ&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. DEFINISI &lt;/b&gt;&lt;b&gt;THOLAQ&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;(TA&#39;RIF)&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Sebagaimana biasa, agar mudah difahami, maka kiranya perlu dipahami&amp;nbsp; makna tholaq baik secara etimologi (lughoh) maupun terminologi (ishthilah).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;Secara Etimologi:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Kata &lt;b&gt;طلاق &lt;/b&gt;(tholaq) berasal dari kata :&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;طلَقَ يَطلُق ، طَلاَقٌ ، طُلُوقٌ طَلْقًا ، فهو طَالِق وطَلِق والمفعول مَطْلوق&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tholaqo (fi&#39;il madhi/past tens), Yathluqu (fi&#39;il mudhori&#39;/present tense), Tholaqon - thuluuqon -&amp;nbsp; tholqon (mashdar/nomina verba), Thooliqun wa tholiqun (Faa&#39;il /subject), Mathluuqun (maf&#39;uul/object)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Maknanya adalah :&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;تخلية وتطليق ورفع العقد&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&quot;Melepaskan, membebaskan dan mengurai ikatan.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Jika dikatakan :&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;طلَق المسجونُ : تحرَّرَ من قيده&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&quot;Tholaqol masjuun (melepaskan org yg dipenjara) artinya&amp;nbsp; membebaskan dari belenggunya.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Jika dikatakan :&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;طلَق يدَه بالخير : بسَطها للعطاء والبذل&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tholaqo yadahu bilkhoir (melepaskan tangannya dlm kebaikan) artinya membuka tangannya untuk&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
memberi dan menyerahkan&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;Secara terminologi (istilah syariat):&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Maknanya adalah :&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;رَفْعُ قيد النكاح المنعقد بين الزوجين بألفاظ مخصوصة &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot;&gt;
&quot;Melepaskan ikatan pernikahan yang mempertemukan dua pasangan suami isteri dengan lafa khusus&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Dalam al-Mulakhosh al-Fiqhi dikatakan :&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;حل قيد النكاح أو بعضه&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&quot;Melepaskan ikatan pernikahan atau sebagian ikatannya&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Jadi, Tholaq itu artinya adalah melepaskan. Maksudnya melepaskan ikatan pernikahan dengan lafal tertentu, atau dengan kata lain : &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: orange;&quot;&gt;cerai&lt;/span&gt;,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: orange;&quot;&gt;berpisah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: orange;&quot;&gt;firaq&lt;/span&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2. HUKUM TALAK/&lt;/b&gt;&lt;b&gt;THOLAQ&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Bagaimana hukum tholaq atau perceraian dalam Islam??&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;● Hukum asal perceraian. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum asal perceraian. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;»&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum asal perceraian itu adalah mubah /boleh. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Dalilnya adalah sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;ابغض الحلال إلى الله الطلاق&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&quot;Suatu perkara halal yang paling dibenci Allah adalah tholaq&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Walau dibenci, namun dikatakan halal, sehingga hukumnya mubah. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Ahnaaf (pengikut madzhab Abu Hanifah) dan sebagian Hanaabilah (pengikut madzhab Ahmad bin Hanbal) berpendapat bahwa hukum asal perceraian itu adalah terlarang/haram. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Dalilnya adalah sabda Nabi : &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;لا ضرر ولا ضرار&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&quot;Tidak boleh membahayakan dan mendatangkan bahaya&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Karena perceraian tanpa ada suatu alasan itu memberikan madharat terutama bagi isteri dan anak. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;b&gt;»&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; Pendapat yang rajih/kuat adalah jika tidak ada hajat maka terlarang/haram, atau sekurang-kurangnya makruh. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;b&gt;●Hukum perceraian. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Para ulama menjelaskan bahwa hukum perceraian kembali kepada 5 hukum, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;1. Haram.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Yaitu apabila suami menjatuhkan tholaq dengan cara yang tidak haq dan dibenarkan agama. Hal ini dapat terjadi pada dua keadaan:&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
1. Suami menceraikan istri yang sedang dalam keadaan haid&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
2. Suami menceraikan isteri pada saat suci (tidak haidh) setelah dicampuri tanpa dilihat apakah isterinya hamil atau tidak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Kedua kondisi di atas adalah kondisi yang haram menceraikan isteri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;2. Makruh.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Yaitu apabila suami menceraikan isteri tanpa sebab atau alasan yang jelas, atau tanpa ada hajat yang menuntut dilakukan perceraian. Sebagian ulama mengharamkan perbuatan ini. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;3. Mubah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Suami memiliki alasan untuk menceraikan isterinya, misal karena sudah tidak mencintai lagi istrinya lantaran perangai dan perbuatan isteri&amp;nbsp; yang kurang baik. Namun bersabar atasnya adalah lebih baik, dan hukum menceraikannya adalah mubah. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;4. Sunnah.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Suami menceraikan isterinya lantaran untuk menjaga kemaslahatan sang isteri yang sudah tidak mencintai sang suami, misalnya. Dan apabila dipertahankan pernikahan tersebut, maka akan menyiksa sang isteri secara psikologis dan psikis. Dalam kondisi demikian, maka suami menceraikan isterinya adalah dianjurkan, walaupun sang suami masih mencintainya. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;5. Wajib. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Bilamana sang isteri murtad menjadi musyrik, atau membangkang terhadap suami serta lebih banyak memberikan madharat bagi suami dan anak, atau suami sudah tidak mau lagi menggauli isterinya karena sumpah misalnya, maka wajib hukumnya cerai. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;3. KAPAN TALAK/THOLAQ ITU JATUH?? &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Dalam hal ini ada beberapa poin pembahasan sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
● Apakah seorang suami yang berniat di dalam hati untuk menceraikan isterinya namun tidak mengucapkannya telah jatuh cerai? &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Jawab : Tidak jatuh cerai, kecuali apabila diucapkan dengan lisan, baik dengan lafazh sharih (tegas) dengan lafazh kinayah (tidak tegas). &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Dalilnya adalah sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam :&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&quot;Sesungguhnya Allah memaafkan apa yang terbetik di dalam jiwa umatku selama tidak dilakukan&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(HR. al-Bukhari)&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
● Apakah seorang suami yang dipaksa untuk menceraikan isterinya, atau tidak sadar, mabuk, kehilangan akal, gila dan semisalnya menceraikan isterinya, maka jatuh cerai?&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Jawab : Tidak jatuh cerai seorang suami yang dalam keadaan gila, mabuk, dipaksa, atau kehilangan akal. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Berdasarkan hadits Nabi :&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;إن اللَّهُ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku yang tersalah, lupa dan apa yang mereka dipaksa atasnya”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(HR. Ibnu Majah) &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
● Apakah seorang suami yang sedang marah besar (emosi) menceraikan isterinya maka jatuh cerai? &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Jawab : Ulama berbeda pendapat, namun yang rajih adalah apabila seorang suami marah besar hingga menutup akalnya, dan dia pun menyesal saat sadar, maka kondisi demikian tidak jatuh cerai. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Hal ini dijelaskan oleh penulis fikih muyassar bahwa orang yang dalam keadaan marah yang sangat dan tidak sadar dengan apa yang di ucapannya, maka tidak jatuh cerai.&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
● Apakah seorang suami yang bercanda dan mengeluarkan kata cerai pada isterinya, maka telah jatuh cerai? &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Menurut Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu jatuh cerai walaupun hanya bercanda. Karena itu tidak boleh bermain-main dengan lafal cerai. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda:&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
“Tiga perkara yang kesungguhan mereka dianggap sebagai kesungguhan dan yang bercandanya &quot;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
dianggap sebagai sungguhan adalah nikah, talak dan rujuk”&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&amp;nbsp;(HR. Abu Dawud)&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;4. &amp;nbsp;KAPAN ISTRI BOLEH MEMINTA CERAI? &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
● Bila isteri meminta cerai dengan alasan yang tidak haq atau tdk syar&#39;i.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Maka ini hukumnya &lt;b&gt;&lt;i&gt;HARAM&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dan diancam dengan tidak mencium bau surga, berdasarkan hadits :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ ، فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Isteri mana saja yang menuntut cerai kepada suaminya dengan hal yang tidak dibenarkan maka haram baginya aroma surga&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&amp;nbsp;(HR. Abu Dawud) &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;rtl&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
● Bila isteri menuntut cerai dengan alasan yang dibenarkan dan syar&#39;i.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tidak mengapa seorang isteri menuntut cerai dengan alasan yang dibenarkan secara syar&#39;i, namun tetap hak cerai di tangan suami.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Apabila suami tidak mau menceraikan, maka isteri tersebut boleh mendatangi hakim dan meminta kepadanya untuk memutuskan perkara perceraiannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;5. LAFAZH TALAK/THOLAQ&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ditinjau dari terang dan tidaknya. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
● Lafazh sharih (terang, jelas dan tegas).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Seperti : saya ceraikan kamu, kamu saya tholaq, kita firaq saja, dan yang semisal. Maka jatuh cerai.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
● Lafazh kinayah (tidak tegas, tidak terang, multitafsir). &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Misal : saya pulangkan kamu ke rumah orang tuamu, saya tdk mau menemuimu, dan yg semisal.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Maka, jika disertai dengan niat cerai, maka jatuh cerai. Jika tidak disertai niat cerai, maka tidak jatuh cerai.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ditinjau dari syarat dan tidaknya.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
● Lafal tanjiz/munjazah (langsung, tidak bersyarat). Seperti ucapan, saya ceraikan kamu... &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
● Lafal ta&#39;liq/mu&#39;allaq (tergantung, bersyarat). Seperti ucapan : Jika kamu begini begitu, kamu saya ceraikan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Ada dua kondisi :&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
◎Jika ia meniatkan untuk menceraikan isterinya dengan suatu syarat, misalnya apabila isterinya tidak hadir menemui ibunya maka ia akan diceraikan. Maka :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
- Jika isterinya memenuhi syarat suami, menemui sang ibu, maka tidak jatuh cerai.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
- Jika isteri tidak memenuhi syarat suami, menemui sang ibu, maka jatuh cerai padanya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
◎ Ia tidak meniatkan cerai, namun sebagai ancaman agar sang isteri mengikuti perintahnya, maka hal ini terhitung sebagai sumpah. Apabila :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
- Sang isteri memenuhi syarat suami, maka tidak ada kewajiban apa-apa pada suami dan isteri tdk tercerai.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
- Sang isteri tidak memenuhi syarat suami, maka sang suami harus memenuhi kafarat atas sumpahnya, dan isterinya tidak terjatuh cerai atasnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;Bagaimana jika mengungkapkan cerai dengan tulisan baik itu surat, sms, WhatsApp, dls? &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Para ulama berbeda pendapat. Jumhur ulama menyatakan bahwa jatuh cerai walau dengan tulisan, karena tulisan itu tidak berbeda dengan ucapan, merupakan wujud ekspresi dari hati dan niat. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Ketika seseorang berniat menceraikan istrinya, lalu dia sampaikan dengan tulisan, maka tholaq dianggap jatuh (sah/terhitung) walaupun dilakukan oleh orang yang bisa berbicara, bukan orang yang bisu. Ini juga pendapat Syaikh Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, dll. &lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tapi harus dipastikan dahulu memang tulisan itu dari si suami. Karena khawatir dari orang yangg iseng atau orang lain, malah berabe! Dan suami tersebut tidak gentle!!&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;6. KETIKA RAGU-RAGU APAKAH SUDAH JATUH THOLAQ ATAU BELUM!!&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Ada beberapa keadaan :&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
● Apabila seseorang ragu-ragu apakah sudah mentholaq isterinya atau belum, maka tholaq dianggap belum jatuh. Karena pernikahannya dibangun atas keyakinan sedangkan jatuhnya tholaq masih ragu-ragu. Maka sesuatu yang masih meragukan tidak dapat menggugurkan sesuatu yang meyakinkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
● Apabila seseorang ragu-ragu dengan tholaq mu&#39;allaq/bersyarat, apakah sudah terpenuhi atau belum syarat tersebut, maka tholaq dianggap belum jatuh. Karena pernikahannya adalah meyakinkan sehingga yang meyakinkan tidak dapat digugurkan dengan yang meragukan.&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
● Apabila dia ragu-ragu bilangan tholaq, apakah tholaq 1, 2 atau 3, maka diambil bilangan yang terendah. Karena bilangan yang terendah adalah sudah meyakinkan, sedangkan bilangan di atasnya masih diragukan. Sehingga yang meyakinkan lebih didahulukan daripada yang meragukan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;7. ANTARA THOLAQ RAJ&#39;I DAN THOLAQ BA&#39;IN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;●Tholaq Raj&#39;i &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tholaq Raj&#39;i adalah tholaq yang suami masih berhak untuk merujuk kembali isterinya selama masa iddahnya belum selesai, yaitu tholaq 1 dan 2, tanpa perlu pembaruan akad nikah kembali, tanpa perlu ada persetujuan isteri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;● Tholaq Ba&#39;in&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tholaq Ba&#39;in ada 2 macam :&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;i&gt;1. Ba&#39;in Shughro (kecil)&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tholaq yang terjadi yang tidak dapat rujuk kembali kecuali :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
» Dengan persetujuan isteri&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
» Akad nikah baru&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tholaq ba&#39;in Shughro, untuk merujuk maka isteri tidak perlu dinikahi lelaki lain dahulu lalu dicampuri oleh suaminya kemudian diceraikan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;u&gt;Ba&#39;in Shughro terjadi, apabila :&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
» Isteri yang ditholaq raj&#39;i (talak 1 atau 2) dan habis masa iddahnya sebelum dirujuk.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
» Isteri yang belum dicampuri lalu ditholaq 1 atau 2, maka tidak ada masa iddahnya bagi wanita yang blm pernah dicampuri oleh suaminya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Maka, kondisi di atas adalah ba&#39;in Shughro, jadi harus minta persetujuan isteri untuk rujuk dan harus memperbaharui akad kembali.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;i&gt;2. Ba&#39;in Kubro&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tholaq yang terjadi yang tidak dapat rujuk kembali kecuali :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
» Dengan persetujuan isteri&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
» Akad nikah baru&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Untuk merujuk kembali maka isteri harus dinikahi lelaki lain dahulu lalu dicampuri oleh suaminya kemudian diceraikan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Ba&#39;in Kubro terjadi apabila : seorang suami mentalak isterinya lalu merujuknya, kemudian mentalaknya lagi lalu merujuknya, setelah itu mentalaknya lagi, maka tholaq ketiga ini jatuh Ba&#39;in Kubro yang sudah tidak bisa dirujuk kembali kecuali terpenuhi syarat di atas tadi.&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;8. THOLAQ TIGA DALAM SATU WAKTU&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Jikalau seorang suami mengucapkan kepada isterinya :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&quot;&lt;i&gt;Kamu saya talak 3&lt;/i&gt;&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Atau&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&quot;&lt;i&gt;Kamu saya talak! Kamu saya talak! Kamu saya talak!&lt;/i&gt;&quot;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;Apakah telah jatuh talak 3 saat itu?&amp;nbsp;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
▶ Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Namun pendapat yang kuat dan rajih, adalah talak seperti ini termasuk talak yang &lt;b&gt;&lt;i&gt;HARAM &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dan yang terjatuh pada isterinya adalah &lt;i&gt;&lt;b&gt;THOLAQ SATU&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, bukan tiga. Inilah pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Qoyyim, Syaikh al-Albani, Syaikh Ibnu &#39;Utsaimin, dll.&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;9. THOLAQ SUNNAH DAN THOLAQ BID&#39;AH&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Apa itu tholaq sunnah dan Tholaq Bid&#39;ah?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
●Tholaq Sunnah adalah tholaq yang terjadi sesuai dengan syariat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Yaitu, apabila seorang suami mentalak isterinya dalam keadaan :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
» Satu kali talak dalam keadaan suci dan tidak&amp;nbsp; mencampurinya&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
» Menunggu hingga selesai masa iddahnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
» Saat menunggu masa iddahnya selesai ia tidak menambah dengan lafal cerai.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Maka talak seperti inilah yang disebut dengan talak sunnah dan sesuai dengan syariat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
● Tholaq Bid&#39;ah adalah tholaq yang terjadi secara haram.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Yaitu, apabila seorang suami mentalak isterinya dalam kondisi :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
» Isterinya haidh.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
» Isterinya suci namun dicampurinya, kemudian tidak diketahui apakah hamil atau tidak.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
» Melafalkan kalimat cerai langsung 3x.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Hukum talak seperti ini adalah haram dan Bid&#39;ah, walau talak tetap jatuh kepada isterinya.&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Hikmah dibolehkannya perceraian.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu mengatakan :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&quot;Adapun hikmah disyariatkan talak sangat jelas sekali, karena boleh jadi dalam kehidupan rumah tangga tidak ada kecocokan antara suami-istri sehingga muncul sikap saling membenci yang disebabkan oleh tingkat keilmuan yang rendah, pemahaman terhadap nilai agama yang minim atau tidak memiliki akhlak mulia atau semisalnya. Sehingga talak merupakan jalan keluar yang paling tepat sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&quot;Artinya : Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunian-Nya&quot; [An-Nisa : 130]&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
[Kitab Fatawa Dakwah wa Fatawa Syaikh bin Baz, 2/235]&lt;/div&gt;
&lt;div dir=&quot;ltr&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Oleh:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
@abinyasalma&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
[https://bit.ly/abusalma]&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/998248229712113707/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/hukum-talak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/998248229712113707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/998248229712113707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/hukum-talak.html' title='Hukum Talak'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-394156089523762092</id><published>2016-02-21T23:09:00.001+07:00</published><updated>2016-02-21T23:09:21.237+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fiqih Nikah"/><title type='text'>Nikah Muda,Siapa Takut!</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Nikah Muda,Siapa Takut!&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
————————–&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan Takut Menikah Karena Miskin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menikah merupakan sunnatullah dan sunnahnya para Nabi -Alaihimussalam-, namun masih banyak diantara saudarasaudara kita yang sudah layak dan sudah pantas untuk menikaah, akan tetapi masih menunda-nunda pernikahan yang semestinya ia lansungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak diantara mereka takut menikah dengan beribu macam alasan, alasan yang paling sering kita dengar adalah karena takut miskin atau taku mau ngasih istri nya nanti makan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebetulnya fikiran semacam ini kuranglah tepat, Allah yang mensyari’atkan menikah itu lebih tau dari kita apa yang baik dan buruk bagi kita. Lagi pula, Allah lah yang menjanjikan kekyaan bagi orang yang menikah, memberikan rizki kepada semua makhluq-Nya di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;وَأَنكِحُواْ ٱلۡأَيَٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ إِن يَكُونُواْ فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
“Dan nikahilahlah orang-orang yang sedirian diantara kalian, dan orang-orang yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur Ayat 32)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang mau menikah juga termasuk diantara golongan yang akan ditolong oleh Allah ta’a.&lt;br /&gt;
sebagaiamana Sabda Nabi Sallallahu’alaihiwasallam:&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;((ثلاثة حق على الله عونهم: المجاهد في سبيل الله، والمكاتب الذي يريد الأداء، والناكح الذي يريد العفاف))&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
“Ada tiga golongan manusia yang pasti ditolong oleh Allah: orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin menebus dirinya (dengan membayar uang kepada majikannya) dan orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (Hadits hasan, dihasankan oleh Imam at-Tirmizi dan Syaikh Al-Bani)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;((ﻟﻮ ﺃﻧَّﻜﻢ ﺗﻮﻛَّﻠﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺣﻖَّ ﺗﻮﻛﻠﻪ ﻟﺮﺯﻗﻜﻢ ﻛﻤﺎ ﻳﺮﺯﻕ ﺍﻟﻄﻴﺮ، ﺗﻐﺪﻭ ﺧﻤﺎﺻﺎً، ﻭﺗﺮﻭﺡُ ﺑﻄﺎﻧﺎً))&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
“Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian, seperti Allah memberikan rezeki kepada seekor burung. Dia pergi (dari sarangnya) di pagi hari dalam keadaan perut yang kosong (lapar), dan kembali (ke sarangnya) di sore hari dalam keadaan perut yang penuh (kenyang)” (Hadits Hasan Shoheh)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya ada tiga pelajaran dari Hadits ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Wajibnya bertawakal kepada Allah dan bersandar kepadanya dalam usaha mencari segala yang ia butuhkan, dan mencegah segala yang tidak ia inginkan.&lt;br /&gt;
2. &amp;nbsp;Wajibnya Mengambil sebab (melakukan usaha) dengan tetap bertawakal kepada Allah, dan hal itu tidak bertentangan dengan (makna) tawakal itu sendiri.&lt;br /&gt;
3. Jika binatang saja masih diberi rizki oleh Allah, maka kita manusia yang beriman dan beribadah kepadanya lebihh berhak untuk diberikan rizki olehNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ibrohim An-nakho’i Rahimahullah berkata kepada seorang pemuda:&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;تزوج فإن اللذي يرزقها في بيتها هو اللذي يرزقها وإياك في بيتك&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
“Menikahlah Sesungguhnya Dzat yang memberi rizki kepadanya (calon istri itu) dirumahnya, Dia juga yang akan memberikan rizki kepada kalian nanti dirumahmu. (Tarikh Ibnu Mihraz 105)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kita mengetahui dan meyakini bahwasanya Pemberi rizki itu adalah Allah yang Maha kaya. Jika kita mau berfikir secara kritis, Allah ta’ala memberikan rizki kepada orang-orang kafir yang jelas-jelas membangkang dan enggan untuk beribadah kepadaNya, maka akan lebih berhak lagi untuk diberikan rizki oleh Allah bagi orang-orang yang beribadah kepadaNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya yang tertinggal hanyalah bagaiamana usaha kita untuk mencari dan menuntut rizki itu dibumi Allah yang sangat luas ini setelah memohon pertolongan Allah ta’ala. Setelah do’a dan usaha barulah kita serahkan semuanya kepada Allah (tawakkal).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga bermanfaat dan mempermudah urusan kita.&lt;br /&gt;
_________&lt;br /&gt;
Sumber: telegram.me/fajrialkhonsa | facebook.com/fajrialkhonsa</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/394156089523762092/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/nikah-mudasiapa-takut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/394156089523762092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/394156089523762092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/nikah-mudasiapa-takut.html' title='Nikah Muda,Siapa Takut!'/><author><name>Rmaasy90</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10442699752599410360</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKsRS6NVBnsGh1ZX1rP1GZhd4-hI9AGn0ItxhN2_Hz6oeF69s4A8X-sJXzOK3HMrTJtAuZTuK2M_34OoHSsf-oIKzHDMF16mNUOqlCT1r0-G_ZKd0zwiFVIcggeRcBGg/s220/IMG_20200606_153248.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-5738093011150585872</id><published>2016-02-19T16:20:00.001+07:00</published><updated>2016-02-19T16:20:28.285+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Status FB"/><title type='text'>Siapa Yang Bersamamu Diatas Kendaraan</title><content type='html'>&lt;p dir=&quot;ltr&quot;&gt;Siapa Yang Bersamamu Diatas Kendaraan&lt;/p&gt;
&lt;p dir=&quot;ltr&quot;&gt;Dari Uqbah bin Amir radliyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;/p&gt;
&lt;p dir=&quot;ltr&quot;&gt;&amp;#1605;&amp;#1575; &amp;#1605;&amp;#1606; &amp;#1585;&amp;#1575;&amp;#1603;&amp;#1576; &amp;#1610;&amp;#1582;&amp;#1604;&amp;#1608; &amp;#1601;&amp;#1610; &amp;#1605;&amp;#1587;&amp;#1610;&amp;#1585;&amp;#1607; &amp;#1576;&amp;#1575;&amp;#1604;&amp;#1604;&amp;#1607; &amp;#1608;&amp;#1584;&amp;#1603;&amp;#1585;&amp;#1607; &amp;#1573;&amp;#1604;&amp;#1575; &amp;#1585;&amp;#1583;&amp;#1601;&amp;#1607; &amp;#1605;&amp;#1604;&amp;#1603;&amp;#1548; &amp;#1608;&amp;#1604;&amp;#1575; &amp;#1610;&amp;#1582;&amp;#1604;&amp;#1608; &amp;#1576;&amp;#1588;&amp;#1593;&amp;#1585; &amp;#1608;&amp;#1606;&amp;#1581;&amp;#1608;&amp;#1607; &amp;#1573;&amp;#1604;&amp;#1575; &amp;#1603;&amp;#1575;&amp;#1606; &amp;#1585;&amp;#1583;&amp;#1601;&amp;#1607; &amp;#1588;&amp;#1610;&amp;#1591;&amp;#1575;&amp;#1606;&lt;br&gt;
Pengendara yang dalam perjalanannya karena Allah dan disertai dzikir maka yang menjadi penumpangnya adalah malaikat. Sedangkan pengendara yang perjalanannya disertai nyanyian atau sejenisnya, maka yang menjadi penumpangnya adalah syetan.&lt;/p&gt;
&lt;p dir=&quot;ltr&quot;&gt;[HR Thabrani dalam al mu&#39;jamul kabiir no 895. dihasankan oleh syaikh Al Albani dalam shahih jami no 5706]&lt;/p&gt;
&lt;p dir=&quot;ltr&quot;&gt;Via. Grup Telegram &quot;Al-Fawaid&quot;&lt;/p&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/5738093011150585872/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/siapa-yang-bersamamu-diatas-kendaraan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/5738093011150585872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/5738093011150585872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/siapa-yang-bersamamu-diatas-kendaraan.html' title='Siapa Yang Bersamamu Diatas Kendaraan'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-3282469490006860918</id><published>2016-02-17T14:31:00.000+07:00</published><updated>2016-02-17T14:31:08.998+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Teladan"/><title type='text'>Nabi Musa Alaihissalam Mencari Ilmu</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;Nabi Musa &#39;Alaihissalam Mencari Ilmu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di suatu hari yang cerah, masih di wilayah bumi Tiin, hadirlah Nabi Musa &#39;laihissalam di tengah-tengah pemukiman bani Isra&#39;il. Saat itu beliau menyampaikan nasihat-nasihat untuk bani Isra&#39;il, kaumnya. Ucapan-ucapan beliau yang mengagumkan menjadikan bani Isra&#39;il terpana dan hanyut dalam orasinya. Hingga terbetik dalam benak mereka, sepertinya tidak ada di permukaan bumi ini orang yang lebih pandai melebihi Nabi Musa &#39;alaihissalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usai menyampaikan ceramah salah seorang bani Isra&#39;il bertanya kepadanya, &quot;Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling berilmu?&quot; Maka Nabi Musa &#39;alaihissalam menjawab, &quot;Akulah manusia yang paling berilmu!&quot; Maksud Nabi Musa &#39;alaihissalam sebenarnya ingin menyakinkan bani Isra&#39;il agar mereka merasa tenang saat menerima nasihatnya. Namun karena beliau tidak menyerahkan dahulu dalam penilaiannya kepada Allah Ta&#39;ala, maka beliau berhak mendapat teguran dalam pengakuannya itu. Terbukti beberapa saat kemudian Allah Ta&#39;ala mewahyukan padanya, &quot;Sungguh, Aku mempunyai seorang hamba yang shalih. Dia berada di daerah pertemuan dua air laut (asin dan tawar). Dan ketahuilah, bahwa hamba itu punya ilmu yang tidak ada pada dirimu.&quot; Nabi Musa &#39;alaihissalam tertegun dan menyadari kekeliruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatkala Musa &#39;alaihissalam mengetahui ada seseorang yang lebih berilmu daripada dirinya, beliau justru bangkit bersemangat untuk menimba ilmu dari orang tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau berkeinginan keras untuk bertemu sekaligus berguru kepadanya. Karena itulah beliau meminta izin kepada Allah agar dipertemukan dengan hamba yang shalih itu.&lt;br /&gt;
Allah Yang Maha Pengasih akhirnya memperkenankannya. Hanya saja Allah tidak memberitahukan secara rinci letak tempat tinggal hamba shalih tadi. Cuma di wahyukan kepada Nabi Musa &#39;laihissalam bila ingin mencarinya, hendaklah membawa ikan, dimana ikan itu hilang maka ia akan bertemu dengan hamba yang shalih itu.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;Memulai perjalanan mencari ilmu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Musa &#39;alaihissalam berkemas-kemas mempersiapkan bekal perjalanan dalam mencari ilmu. Beliau tinggalkan kaumnya, walaupun saat itu beliau berposisi sebagai pengajar dan pembimbing begi mereka. Beliau lakukan hal itu demi memebuhi kebutuhan dirinya dalam menambah ilmu. Kedepannya bila beliau sudah mendapatkannya, beliau akan kembali kepada bani Isra&#39;il intuk membimbing mereka kembali seperti biasa. Nabi Musa &#39;alaihissalam mempersiapkan segala perbekalan untuk menunjang perjalanan yang jauh ini. Suatu perjalanan yang belum diketahui berapa lamanya dan didaerah mana tepatnya yang dituju. Tak ketinggalan, seekor ikan yang masih hidup, beliau tangkap lalu dimasukkan kedalam sebuah keranjang kecil sebagai petunjuk nantinya mengenai keberadaan orang yang masih misterius itu. Untuk membantu dan menemani dirinya dalam perjalanan, beliau memanggil Yusa&#39; bin Nun, salah seorang pengikutnya dari bani Isra&#39;il untuk sebagai teman dalam safar mencari ilmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana Allah Ta&#39;ala ceritakan dalam surat al-Kahfi ayat 60-82. Saat pagi yang telah direncanakan tiba, Nabi Musa &#39;alaihissalam bersama dengan Yusa&#39; bin Nun bergegas berjalan kaki menyusuri jalanan menuju ke pinggiran pantai. Mengingat hamba yang shalih itu bertempat tinggal di daerah pertemuan dua air laut, besar kemungkinan keberadaannya tak jauh dari pantai. Keduanya mencurahkan tenaga dan waktu hanya karena sebab ingin menambah ilmu. Nabi Musa &#39;alaihissalam sudah bertekad bahwa dirinya akan terus berjalan tanpa henti hingga menemukan daerah pertemuan dua air laut itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang hari keduanya terus berjalan hingga tibalah di sebuah batu yang besar. Melihat ada sebuah batu besar dan di bawahnya terdapat tempat teduh karena dinaungi batu itu, Nabi Musa &#39;alaihissalam mengajak Yusa&#39; bin Nun untuk singgah sejenak. Angin laut yang bertiup semilir membuat keduanya yang telah kelelahan segera tertidur di bawah naungan batu besar itu. Ketika Nabi Musa &#39;alaihissalam tertidur pulas, sebuah peristiwa yang ajaib terjadi! Ikan yang sedari tadi berada dalam keranjang, tiba-tiba bergerak dan melompat, berusaha keluar. Yusa&#39; bin Nun yang dalam keadaan setengah terjaga mengetahui ikan itu berhasil keluar dari keranjang. Sesampainya di tanah, ikan itu melompat menggelepar menuju pinggiran laut yang akhirnya masuk menuju tengahnya. Anehnya lagi, ikan itu melompat dalam keadaan tegak sehingga sampai ketengah laut.&lt;br /&gt;
Yusa&#39; bin Nun terheran-heran dengan kejadian yang dilihatnya. Namun ia tidak berani membangunkan Nabi Musa &#39;alaihissalam untuk diberitahukan padanya perihal ikan itu. Akhirnya Yusa&#39; bin Nun tertidur lagi bersama Nabi Musa &#39;alaihissalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selang beberapa saat Nabi Musa &#39;alaihissalam terbangun, diikuti oleh Yusa&#39; bin Nun. Namun entah apa sebabnya Yusa&#39; bin Nun tiba-tiba lupa dengan peristiwa raibnya ikan itu. Setan telah mampu mengalihkan perhatian dan ingatannya. Sehingga saat Nabi Musa &#39;alaihissalam mengajak dirinya untuk meneruskan perjalanan, Yusa&#39; bin Nun hanya mengangguk tanpa bercerita perihal ikan itu. Padahal ikan itu berperan sebagai petunjuk keberadaan hamba shalih yang akan dituju.&lt;br /&gt;
Begitu juga Nabi Musa &#39;alaihissalam, saat itu tidak berfikiran untuk memriksa ikan dalam keranjang. Hingga keduanya berjalan jauh dari sisa waktu seharian sampai malam harinya. Keesokan harinya Nabi Musa &#39;alaihissalam meneruskan perjalanannya lagi. Tanda-tanda kecapekan mulai nampak pada diri beliau. Ketika beliau tak kuasa menahan rasa letih, beliah ajak Yusa&#39; untuk istirahat lagi barang sejenak untuk memulihkan tenaga.&lt;br /&gt;
Nabi Musa meminta Yusa&#39; agar mengeluarkan perbekalan. Saat keduanya tengah nikmat menyantap perbekalan itulah, Tusa&#39; teringat akan peristiwa raibnya ikan itu. Yusa&#39; langsung menceritakannya pada Nabi Musa &#39;alaihissalam tentang apa yang dilihatnya tempo hari. Yusa&#39; juga memohon maaf atas kekeliruannya kemarin karena tidak bercerita kepada Nabi Musa &#39;alaihissalam, kalau dirinya melihat ikan itu keluar saat istirahat. Nabi Musa pun langsung menanggapi apa yang diutarakan Yusa&#39; seraya berkata, &quot;itulah tempat yang kita cari! Kalau begitu, kita harus kembali ketempat yang kemarin kita singgahi!&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhitarnya Yusa&#39; dan Nabi Musa &#39;alaihissalam kembali menyusuri jalanan yang dilalui tempo hari guna bertemu dengan hamba shalih yang di maksud.&lt;br /&gt;
wallahu a&#39;lam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maraji&#39;:&lt;br /&gt;
※ Qashash al-Anbiya&#39;, Ibnu Katsir&lt;br /&gt;
※ Qashash al-Anbiya&#39;, As-Sa&#39;di&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh:&lt;br /&gt;
Ustadz. Abu Adibah ash-Shaqoli&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&lt;br /&gt;
Majalah &quot;al-Mawaddah - majalah keluarga muslim&quot; - vol. 69 - Shafar 1435 H</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/3282469490006860918/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/nabi-musa-alaihissalam-mencari-ilmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/3282469490006860918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/3282469490006860918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/nabi-musa-alaihissalam-mencari-ilmu.html' title='Nabi Musa Alaihissalam Mencari Ilmu'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-4361984866077968599</id><published>2016-02-17T10:59:00.001+07:00</published><updated>2016-02-17T10:59:36.143+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bab Akhlak"/><title type='text'>Pengertian Akhlak Mulia</title><content type='html'>&lt;h3&gt;
&lt;b&gt;Pengertian Akhlak Mulia&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;i&gt;Al-Khuluq&lt;/i&gt;&amp;nbsp; (bentuk
mufrad/tunggal dari kata akhlaq -pent)&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
berarti perangai atau kelakuan, yakni sebagaimana yang&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
diungkapkan oleh para ulama:&quot; Gambaran batin seseorang
&quot;.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
Karena pada dasarnya manusia itu mempunyai dua gambaran
:&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;1&lt;/b&gt;.&amp;nbsp; Gambaran zhahir
(luar): Yaitu bentuk penciptaan yang telah&amp;nbsp;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
Allah jadikan padanya sebuah tubuh. Dan gambaran zhahir&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
tersebut di antaranya ada yang indah dan bagus, ada
yang&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
jelek dan buruk, dan ada pula yang berada pada&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
pertengahan di antara keduanya atau biasa-biasa saja.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;2&lt;/b&gt;.&amp;nbsp; Gambaran batin
(dalam): Yaitu suatu keadaan yang melekat&amp;nbsp;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
kokoh dalam jiwa, yang keluar darinya perbuatan-&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
perbuatan, baik yang terpuji maupun yang buruk (yang&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
dapat dilakukan) tanpa berfikir atau kerja otak.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
Dan gambaran ini juga ada yang baik jika memang keluar
dari&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
akhlaq yang baik, dan ada pula yang buruk jika keluar
dari&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
akhlaq yang buruk. Inilah yang kemudian disebut dengan
nama&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&quot;khuluq&quot; atau akhlaq. Jadi, khuluq atau akhlaq
adalah gambaran&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
batin yang telah ditetapkan pada seseorang.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
Dan wajib bagi setiap muslim untuk berperilaku dengan
akhlaq&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
yang mulia ini. Karena, sesuatu yang berharga dari
tiap-tiap&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
benda merupakan sesuatu yang baik dari benda tersebut, dan
di&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
antaranya adalah perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
Sallam kepada Mu&#39;adz bin Jabal:&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;إياك وكرائم أموالهم&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;ZH-CN&quot; style=&quot;font-family: SimSun; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-fareast-theme-font: minor-fareast; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin;&quot;&gt;”…&lt;/span&gt;dan hati-hatilah dari harta-harta mereka yang berharga…”
&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;b&gt;1&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;,&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
yakni ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
memerintahkannya untuk mengambil zakat dari penduduk
kota&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
Yaman.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
Maka, setiap orang harus berusaha agar hati atau
gambaran&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
batinnya menjadi mulia. Sehingga ia mencintai kemuliaan
dan&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
keberanian, juga mencintai sifat santun dan kesabaran.
Ketika&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
bertemu dengan sesama hendaknya ia menampakkan wajah&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
yang berseri-seri, hati yang lapang, dan jiwa yang tenang.
Dan&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
semua sifat-sifat di atas merupakan bagian dari akhlaq
yang&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
mulia.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
Telah bersabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam:&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;ZH-CN&quot; style=&quot;font-family: SimSun; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-fareast-theme-font: minor-fareast; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin;&quot;&gt;“&lt;/span&gt;Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
paling baik akhlaqnya”&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;b&gt;2&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
Maka, sudah sewajarnya jika pembicaraan ini selalu berada
di&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
depan mata seorang mukmin. Karena, jika seseorang &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
mengetahui bahwa dia tidak akan bisa menjadi figur&amp;nbsp; yang sempurna keimanannya kecuali dengan memperbaiki budi&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
pekertinya, maka hal ini akan menjadi sebuah pendorong&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
baginya untuk berperilaku dengan budi pekerti yang baik
dan&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
sifat-sifat yang tinggi mulia, serta ia akan meninggalkan&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
perbuatan yang rendah dan hina.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;Catatan:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;b&gt;1&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;. Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, No (1496) di Kitaabuz Zakaah, dan Imam Muslim, No&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
(29) di Kitaabul Iimaan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;b&gt;2&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;. Dikeluarkan oleh Abu Daud, No (3682) di Kitaabus Sunnah, dan Tirmidzi, No (1162) di&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
Kitaabur Radhaa&#39;, dan dalam riwayatnya ada tambahan:&quot; Dan sebaik-baik kalian adalah&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
yang berbuat baik terhadap kaum wanita &quot;, dan dikeluarkan juga oleh Iman Ahmad di kitab&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
Al-Musnad (2 / 472), hadits tersebut ada di kitab Shahiihul Jaami&#39;, No (1230 , 1232)&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;Kitab&lt;/b&gt;: [ مكارم الأخلاق ] Budi Pekerti Yang Mulia, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
Diterjemahkan oleh: Ustadz. Abu Musa al-Atsari&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/4361984866077968599/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/pengertian-akhlak-mulia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/4361984866077968599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/4361984866077968599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/pengertian-akhlak-mulia.html' title='Pengertian Akhlak Mulia'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-8042028140326281534</id><published>2016-02-17T07:54:00.000+07:00</published><updated>2016-02-17T07:54:12.961+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><title type='text'>Abdullah bin Umar Radhiyallahu &#39;anhu</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Abdullah bin Umar Radhiyallahu &#39;anhu&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi orang Syi&#39;ah, melihat nama ini akan berkata, &quot;Dia anak orang kafir! Semoga Allah melaknatny&quot;.&lt;br /&gt;
Tetapi Allah Ta&#39;ala Maha Adil tatkala manusia memilih kebatilan, Allah akan menambahi kebinasaanya agar nampak keadilan-Nya dan sempurna Rahmat-Nya dalam membela para wali dan kekasih-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Celaan terhadap seseorang sejatinya sebagai pahala yang diberikan oleh orang lain kepadanya. Karena itu seorang ulama berkata, &quot;Seandainya ghibah itu tidak haram, akan saya perintahkan manusia untuk melakukan ghibah kepadaku. Sebab ia merupakan kebaikan cuma-cuma, tanpa aku usahan sendiri.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika demikian, siapakah yang tidak mau diberi kebaikan secara geratis? Dan sebaliknya, siapakah orang yang berakal yang mau memberikan kebaikannya kepada orang lain? Benarlah, semakin manusia mulia, semakin banyak pula yang mencela agar semakin banyak gebaikannya di sisi Allah Ta&#39;ala. Dan semakin banyak kejelekan manusia, semakin banyak celaannya kepada kebaikan dan pelakunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aisyah Radhiyallahu &#39;anha berkata,&quot;Apakah kalian heran dengan celaan terhadap para sahabat Nabi? Sesungguhnya Allah menghendaki agar para sahabat tidak terputus kebaikan mereka setelah meninggal dunia, maka Allah menjadika &amp;nbsp;kaum Syi&#39;ah melaknat mereka.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keutamaan para sahabat Nabi Shallallahu&#39;alahi wa sallam &amp;nbsp;sangat jelas bagai matahari disiang terang, akan tetapi siapa yang buta hatiny dia akan melihat kebatilan sebagai yang haq dan yang haq sebagai kebatilan. Bukanlah karena mata yang buta, tetapi lantaran buta hati yang ada di dalam dada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kebenaran diukur dengan mayoritas, jelaslah kebatilan Madzhab Syi&#39;ah yang mencela para sahabat Nabi. Sebab, seluruh umat Islam dari berbagai golongan dan madzhab, bahkan umat kafir mengakui keuamaan para sahabat Rasulullah Shallallahu&#39;alaihi wa sallam sekalipun kita akui bahwa tidak selamanya mayoritas itu menetukan kebenaran, akan tetapi kebenaran itu ada tandanya, tidak sekadar klaim belaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang ajaib lagi, bahwa para sahabat sangat keras dalam mengingkari dan memusuhi bid&#39;ah dan pelakunya, sedangkan Syi&#39;ah adalah pelaku bid&#39;ah paling sesat berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Keutamaan Abdullah bin Umar &amp;nbsp;Radhiyallahu &#39;anhu&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&amp;nbsp;Beliau bernama Abdullah bin Umar bin Khathhhab bin Nufail al-Qurasiy al-&#39;Adawi al-Makki lalu al-Madani, Imam Qudwah Syaikhul Islam Abu Abdirrahman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masuk Islam sejak kecil lalu hijrah bersama bapaknya ke Madinah. Tidak ikut dalam perang Uhud karena masih kecil, dan pertama kali yang diikuti adalah Perang Khandaq serta ikut peperangan di Syam, Irak, Bashah dan Persi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau memiliki keutamaan yang sangat banyak, di antaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Rasulullah Shallallahuu &#39;alaihi wa sallam memujinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahwa sebaik-baik orang adalah Abdullah, kalau dia shalat malam. Maka setelah &amp;nbsp;itu ia terus melakukan shalat malam dan tidak tidur kecuali sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Dekat kepada Nabi&amp;nbsp;Shallallahuu &#39;alaihi wa sallam&amp;nbsp;dan banyak mengambil ilmu dari beliau. Karenanya Ibnu Umar tersebut&amp;nbsp;sebagai alim sahabat. Imam Malik mengatakan,&lt;br /&gt;
&quot;Imam manusia adalah Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar berfatwa selama 60 tahun.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Umar berkata, &quot;Rasulullah pernah memegang pundakku dan berkata, &#39;Jadilah kamu di dunia seakan orang asing atau penyeberang jalan.&#39;&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan cara Rasulullah&amp;nbsp;Shallallahuu &#39;alaihi wa sallam&amp;nbsp;diatas, yaitu dengan memegang pundak Abdullah. Menunjukkan&amp;nbsp;santunnya kepada Abdullah dan pentingnya masalah ini, bahwa dunia seperti negeri asing yang hanya kita singgahi sebentar dan segera meninggalkannya untuk pulang kembali ke negeri asal, yaitu akhirat. Maka sangat keliru jika kebanyakan manusia menjadikan dunia sebagai negeri asalnya, ibarat tempat mukim abadi. Atau melintas di jalan, baik penyeberang jalan maupun melakukan perjalanan yang terus berjalan tanpa berhenti, karena menuju tempat pemukiman yang sesungguhnya, yaitu akhirat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini artinya orang yang berakal harus memiliki perbekalan yang cukup dalam perjalanan. Yang juga harus dia utamakan adalah perbekalannya agar sampai di tempat tujuan. Ia tidak boleh betah di perjalanan, tetapi harus rindu pada tempat tujuannya. Tidak membawa rumah dan seluruh perabot yang akan menyusahkannya, tetapi dia harus mempunyai tabungan harta yang cukup agar setelah tiba di tempat tujuan, dapat membelk tanah dan membangun rumah tanp harus susah payah bekerja atau meminta tolong. Padahal tidak akan ada yang menolongnya. Sebab, dia orang asing dan tak ada yang mengenalnya, pun tidak ada lapangan kerja lagi. Semua manusia saat itu sibuk memikirkan dirinya sendiri. Itulah gambaran akhirt. Tidak ada manfaat harta dan anak, kecuali yang datang menghadap Allah dengan yang selamat dari syirik, bid&#39;ah dan maksiat. Jika demikian maka harus kita ketahui bahwa bekal yang harus kita siapkan dalam perjalanan ini adalah mengamalkan rukun Islam dan rukun Iman, serta segala yang terkandung dalam ajaran Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Banyak menangis karena takut kepada Allah Ta&#39;ala&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takut kepada Allah ibadah mulia, sedang menangis karena takut kepada Allah adalah sifat orang-orang shalih, sehingga mewariskan ketundukan hati untuk beribadah kepada Allah, mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Ibnu Umar membaca ayat-ayat al-Qur&#39;an lalu menangis, berbeda dengan orang yang tidak takut kepada Allah atau tidak memahami apa yang dia baca dari al-Qur&#39;an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Abli birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Umar sangat berbakti kepada ayahnya, semasa hidup maupun setelah ayahnya wafat.&lt;br /&gt;
Beliau berkata, &quot;aku mempunyai seorang istri yang sangat ku cintai, sedang ayahku tidak mencintainya dan menyuruhku untuk menceraikannya. Tetapi aku enggan, hingga Umar mendatangi Rasulullah&amp;nbsp;Shallallahuu &#39;alaihi wa sallam&amp;nbsp;lalu Rasulullah memerintahku untuk menceraikannya, maka aku ceraikan.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi harus diperhatikan, bahwa tidak selamanya orang tua dapat ditaati dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatkala Umar bin Khaththab sakit sebelum meninggal dunia, beliau diurusi oleh Abdullah dan kepalanya berada di pangkuannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu saat Abdullah bertemu dengan seseorang. Ia pun memboncengnya dan menghadiahkan sorbannya. Tatkala di tanya perihal itu, dia menjawab, &quot;Ayah orang ini adalah teman dekat bapakku. Sedangkan Rasulullah bersabda, &#39;Sesungguhnya bakti yang paling mulia, adalah anak menyambung (hubungan dengan) keluarga teman-teman bapaknya.&#39;&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdullah bin Umar salah seorang alim di antara ulama sahabat. Beliau pun ahli tafsir, hadits, ahli fatwa dan ibadah, rujukan sahabat dan tabiin dalam segala disiplin ilmu, sangat ustiqomah di atas sunnah dan sangat memusuhi bid&#39;ah dan ahlinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Nasihat&amp;nbsp;Abdullah bin Umar&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Abdullah bin Umar memiliki nasihat yang banyak, di antaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Beliau berkata, &quot;seseorang tidak disebut alim hingga tidak hasad pada orang yang di atasnya, tidak merendahkan orang yang di bawahnya, dan tidak menacari dunia dengan ilmunya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Kata beliau, &quot;jauhi cinta dunia dan panjang angan.&quot;&lt;br /&gt;
Beliau berkata,&quot;Temani dunia dengan badanmu dan jangan menemaninya dengan hatimu. Sebab besok saat kiamat kamu tergantung kepada amalmu. Maka ambillah apa yang ada di tanganmu untuk masa kematianmu, niscaya kamu akan mendapat kebaikan. Semua orang mengetahui jika dunia ada di tangannya, yaitu dinafkahkan untuk ridha Allah tanpa masuk dalam hati akan banyak kebaikan padanya. Dan betapa celakanya manusia jika dunia masuk dan mengakar dalam hatinya sehingga dunia sebagai tujuannya yang paling besar.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disarikan dari: Ash-Shahabah: 631-644.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Oleh:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Ustadz. Abdur Rahman al-Buthoni&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Sumber:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Majalah &quot;al-Mawaddah - majalah keluarga muslim&quot; - vol. 69 - Shafar 1435 H&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/8042028140326281534/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/abdullah-bin-umar-radhiyallahu-anhu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/8042028140326281534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/8042028140326281534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2016/02/abdullah-bin-umar-radhiyallahu-anhu.html' title='Abdullah bin Umar Radhiyallahu &#39;anhu'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-167243196077776766</id><published>2014-10-25T18:21:00.001+07:00</published><updated>2016-02-17T08:03:19.260+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bid&#39;ah"/><title type='text'>Adakah Bid&#39;ah Hasanah Dalam Urusan Agama?</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Adakah Bid&#39;ah Hasanah Dalam Urusan Agama?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;اَلْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْإِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sederhana dalam melakukan sunnah lebih baik daripada bersungguh-ungguh dalam melaksanakan bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimiy)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan beliau juga berkata:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;اِتَّبِعُوْا وَلاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ittiba’lah kalian dan jangan kalian berbuat bid’ah karena sesungguhnya kalian telah dicukupi, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (Riwayat Ad-Darimy no. 211 dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam ta’liq beliau terhadap Kitabul ‘Ilmi karya Ibnul Qoyyim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap bid’ah adalah sesat walaupun manusia menganggapnya baik”. (Riwayat Al-Lalika`iy dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;فَإِيَّاكُمْ وَمَا يُبْتَدَعُ, فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلاَلَةٌ&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka waspadalah kalian dari sesuatu yang diada-adakan, karena sesungguhnya apa-apa yang diada-adakan adalah kesesatan”. (Riwayat Abu Daud no. 4611)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. ‘Abdullah ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata kepada ‘Utsman bin Hadhir:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَالْإِسْتِقَامَةِ, وَاتَّبِعْ وَلاَ تَبْتَدِعْ&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wajib atasmu untuk bertaqwa kepada Allah dan beristiqomah, ittiba’lah dan jangan berbuat bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimy no. 141)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah berkata:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barang siapa yang menganggap baik (suatu bid’ah) maka berarti dia telah membuat syari’at”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan masih banyak lagi perkataan para Salafush Sholeh dan Ulama Ahlussunnah wal Jama&#39;ah tentang Bid&#39;ah dan penolakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;via.&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;color: #9fc5e8;&quot;&gt;BBM: Yayasan Cahaya Assalam Madani&amp;nbsp;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/167243196077776766/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/10/tidak-ada-bid-hasanah-dalam-urusan-agama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/167243196077776766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/167243196077776766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/10/tidak-ada-bid-hasanah-dalam-urusan-agama.html' title='Adakah Bid&#39;ah Hasanah Dalam Urusan Agama?'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-38882913142122492</id><published>2014-10-04T06:41:00.002+07:00</published><updated>2016-02-17T08:10:27.733+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fiqih Puasa"/><title type='text'>Kapankah Waktu Puasa Arafah?</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Kapankah Waktu Puasa Arafah?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh:Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Qatadah Al-Anshariy (ia berkata),” Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah di tanya tentang (keutamaan) puasa pada hari Arafah?”&lt;br /&gt;
Maka beliau menjawab, ” Menghapuskan (kesalahan) tahun yang lalu dan yang sesudahnya.” (HR.Muslimno.1162dalam hadits yang panjang)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;Fiqih Hadits:&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Didalam hadits yang mulia ini terdapat dalil dan hujjah yang sangat kuat tentang waktu puasa Arafah, yaitu pada hari Arafah ketika manusia wuquf di Arafah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena puasa Arafah ini terkait dengan &lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;waktu dan tempat.&lt;/span&gt; Bukan dengan &lt;span style=&quot;color: orange;&quot;&gt;waktu saja&lt;/span&gt; seperti umumnya puasa-puasa yang lain. Oleh karena puasa Arafah itu terkait dengan tempat, sedangkan Arafah hanya ada di satu tempat yaitu di Saudi Arabia di dekat kota Makkah bukan di Indonesia atau di negeri-negeri yang lainnya, maka waktu puasa Arafah adalah ketika kaum muslimin wuquf di Arafah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tahun ini 1425 H/2004 M [seperti tertulis di dalam buku, admin] wuquf jatuh pada hari Rabu, maka kaum muslimin di Indonesia dan di seluruh negeri puasa Arafahnya pada hari Rabu dan ‘Iedul Adha-nya pada hari Kamis. Bukan sesudahnya, yakni puasanya pada hari kamis dan ‘iednya pada hari Jum’at, dengan alasan? mengikuti ru’yah di negeri masing-masing seperti halnya bulan Ramadhan dan ‘Iedul Fithri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapat ini batil kalau tidak mau dikatakan sangatlah batil, karena telah menyalahi ketegasan hadits di atas, di mana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di tanya tentang puasa pada hari Arafah, yakni pada hari ketika manusia wuquf di Arafah.Adapun hari sesudahnya bukan hari Arafah lagi tetapi hari ‘Ied, dan lusanya bukan hari ‘Ied lagi tetapi hari Tasyrik.Ini yang pertama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang kedua,hujjah di atas lebih lemah dari sarang laba-laba, karena telah mempergunakan qiyas ketika nash telah ada. Kaidah fiqqiyyah mengatakan, “Apabila nash telah datang, maka batallah segala pendapat”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang ketiga,qiyas yang mereka gunakan merupakan qiyas yang berbeda dengan apa yang di qiyaskan atau qiyas faariq. Tidak dapat disamakan hukumnya antara Ramadhan dan ‘Iedul Fithri tanggal satu Syawwal dengan puasa hari Arafah dan ‘Iedul Adha. Maka sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ,“Puasalah karena melihat ru’yah (Ramadhan), dan berbukalah ketika melihat ru’yah (Syawwal)”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas sekali untuk puasa di bulan Ramadhan dan ‘Iedul Fithri, bahwa masing-masingnegeri atau negeri-negeri yang saling berdekatan mempunyai ru’yah masing-masing menurut pendapat sebagian ulama sebagaimana saya telah jelaskan dengan luas diAl-Masaa-il jilid 2 masalah ke 39.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang keempat,sebagian dari mereka mengatakan, “Kami melaksanakan dalam rangka menaati dan mengikuti ulil amri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perkataan yang sangat batil yang telah menjadikan ulil amri sebagai tuhan-tuhan selain Allah yang telah menetapkan kepada mereka sebuah syari’at walaupun menyalahi Syari’at Rabbul ‘alamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu tidak ada seorangpun Ulama yang mengatakan secara mutlak ketaatan kepada ulil amri seperti perkataan yang sangat batil di atas. Akan tetapi mereka selalu mengkaitkan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila perkataan atau ketetapan ulil amri menyalahi ketetapan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka tidak boleh didengar dan tidak boleh ditaati, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka maksiat kepada Rabbul ‘alamin sebagaimana telah di jelaskan dalam hadits-hadits yang shahih dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain perkataan dan perbuatan mereka diatas menyerupai manhaj Khawarij secara khusus dan manhaj ahli bid’ah secara umum, yaitu berdalil dengan dalil-dalil umum atau mutlak dengan meninggalkan dalil-dalil yang tidak bersifat umum atau mutlak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka ikutilah penjelasan tafsirnya berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِيشَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا ﴿٥٩﴾&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (-Nya), dan ulil amri diantara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama(bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Qs. An-Nisaa&#39;: 59)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat yang mulia ini Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya secara mutlak. Oleh karena itu Allah mengulang fi’il (kata kerja)” athi’u ” (أَطِيعُوا) ketika memerintahkan untuk menaati-Nya dan menaati Rasul-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun ketaatan kepada ulil amri tidak secara mutlak, tetapi terkait dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu Allah tidak mengulang kata kerja (fi’il) athi’u ketika memerintahkan untuk menaati ulil amri. Karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila ulil amri memerintahkan kepada kita untuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya atau perintahnya menyalahi Al-Kitab dan Sunnah, maka tidak boleh didengar dan ditaati sebagaimana telah di jelaskan di dalam Al-Kitab dan Sunnah dari hadits-hadits shahih. Karena kalau kita taati perintah ulil amri yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka kita telah menjadikan ulil amri tersebut sebagai tuhan-tuhan selain dari Allah yang ditaati perintah dan larangannya secara mutlak sebagaimana perbuatan Ahli Kitab dari orang-orang Yahudi dan Nashara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sangat pentimg kita ketahui, bahwa larangan tidak boleh mendengar dan mentaati perintah ulil amri yang menyalahi Al-Kitab dan Sunnah, tidaklah mewajibkan kepada kita untuk memberontak yang kemudian menjatuhkannya atau yang semakna dengannya sebagaimana perbuatan ahli bid’ah dan firqoh-firqoh sesat seperti khawarij dan mu’tazilah dan yang sepaham dengan mereka. Tetapi ada cara yang diajarkan oleh islam dalam menasehati dan memperingati ulil amri yang zhalim atau yang memerintahkan maksiat atau yang perintahnya menyalahi keputusan Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan yang dimaksud dengan ketaatan kepada Allah ialah dengan berpegang dan mengikuti kitab-Nya Al-Qur’an. Dan ketaatan kepada Rasul dengan berpegang dan mengikuti Sunnahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat yang mulia ini (Qs.An-Nisaa&#39;: 59, admin) menjadi sebesar-besar dalil dan hujjah akan kedudukan dan ketinggian serta kemuliaan Sunnah, bahwa menaati Rasul yakni dengan mengikuti Sunnahnya secara mutlak, baik terdapat di dalam Al-Qur’an atau tidak, sama saja, kewajiban kita mentaati dan mengikutinya. Jelas sekali dari ayat yang mulia kita mengetahui, bahwa orang yang meninggalkan Sunnah dengan sendirinya dia telah meninggalkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak menaati Allah secara mutlak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sini pun kita mengetahui, bahwa orang yang menjadikan dalil aqli (yang diputuskan oleh akal) sebagai asas, kemudian dalil naqli(yang diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah) mengikutinya, yang pada hakekatnya mereka telah menjadikan akal-akal mereka sebagai raja yang memerintahkan` dua wahyu yang mulia (Al-Kitab dan Sunnah). Mereka inilah orang-orang yang tidak mentaati Allah dan Rasul-Nya sesuai dengan tingkat kesesatan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian , pada bagian kedua dari ayat yang mulia ini, Allah Tabaaraka wa Ta’ala telah memerintahkan kepadaorang-orang yang beriman untuk mengembalikan segala sesuatu yang mereka perselisihkan dari urusan dunia dan akherat kepada Allah dan Rasul-Nya, yakni kepada Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya. Karena didalam Al-Kitab dan Sunnah itulah mereka akan mendapati penjelasan dan penyelesaian tentang hukum yang mereka perselisihkan. Sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi ketika Allah memerintahkan untuk mengembalikan segala perselisihan kepada Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya kemudian mereka benar-benar mengembalikan kepada keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan syarat, tentunya mengembalikan kepada keduanya itu dengan cara yang benar, yaitu dengan ilmu dan keadilan bukan dengan kebodohan dan hawa. Dan hal ini menjadi bukti bahwa kita memang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian buah yang akan dihasilkan dari mengembalikan segala urusan perselisihan kepada Al-Kitab dan Sunnah ialah penyelesaiannya akan berakhir dengan kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat kamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disalin dari KitabAl-Masaa-il Jilid 5 (Masalah 110)hal. 88-92 oleh guru kami Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat~semoga Allah menjaganya~. (Pustaka Darus Sunnah – Jakarta, Cetakan 1, November 2005)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditulis oleh:&lt;br /&gt;
Abu Sahal al-Atsary&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artikel:&lt;br /&gt;
● &lt;a href=&quot;http://moslemsunnah.wordpress.com/2010/11/14/kapankah-waktu-puasa-arafah-oleh-al-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/&quot;&gt;Moslemsunnah.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/38882913142122492/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/10/kapankah-waktu-puasa-arafah_3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/38882913142122492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/38882913142122492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/10/kapankah-waktu-puasa-arafah_3.html' title='Kapankah Waktu Puasa Arafah?'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-9002027969291507002</id><published>2014-10-02T15:31:00.003+07:00</published><updated>2016-02-17T08:17:02.229+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fiqih Muslimah"/><title type='text'>Bolehkah Wanita Haidh Menyentuh Mushaf Al-Qur&amp;#39;an? </title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Bolehkah Wanita Haidh Menyentuh Mushaf Al-Qur&#39;an?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertanyaan:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah dibolehkan membaca al-Quran tanpa berwudhu terlebih dahulu?&lt;br /&gt;
Bagaimana hukum memegang dan membaca al-Quran bagi wanita yang sedang haid?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Jawaban:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita simak fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz berikut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurutjumhur(mayoritas) ahli ilmu, tidak bolehbagi seorang muslim menyentuhmushaf(al-Quran) jika ia tidak berwudhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapat ini dikuatkan pula oleh imam yang empat dan semisal apa yang difatwakan oleh para sahabat Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berdasarkan hadits Amr bin Hazm bahwasanya Nabishallallahu ‘alaihi wa sallampernah mengirim surat kepada penduduk Yaman,&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;,لاَ يَمَسُّ الْقُرْءَانَ إِلاَّ طَاهِرٌ&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hendaklah seseorang tidak menyentuh Al-Quran kecuali orang yang dalam keadaan suci.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Derajat hadits inijayyid(baik) dan memiliki jalan yang saling menguatkan. Oleh karena itu, dalam hadits ini dapat diketahui bahwa tidak boleh bagi seseorang untuk menyentuh al-Quran kecuali ia bersih dari najis besar dan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula halnya dengan memindahkan al-Quran, yaitu seseorang tidak boleh memindahkannya kecuali ia berada dalam keadaan suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, apabila seseorang menyentuh dan memindahkan al-Quran dengan menggunakan sesuatu, semisal pembungkus dan pembalut, maka tidak mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun menyentuhnya secara langsung sedang dia tidak suci dari najis, maka itu yang tidak dibolehkan menurut pendapatyang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, tidak mengapa bagi orang yang ber-hadatsuntuk membaca al-Quran, asalkan ia tidak menyentuhnya, mungkin dengan cara al-Quran tersebut dipegangkan dan dibukakan oleh orang lain lalu ia membacanya. Akan tetapi, bagi orang yang ber-hadats besar, yaitu janabah, hendaknya ia tidak membaca al-Quran, sebab Nabishallallahu ‘alaihi wa sallamtidak pernah melarang seseorang untuk membaca al-Quran kecuali terhadap orang yang junub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan dari Imam Ahmad dengan sanad yangjayyid(bagus) dari sahabat Ali. Bahwasanya,Nabishallallahu ‘alaihi wa sallampernah keluar dari tempat buang hajat, lalu beliau membaca al-Quran kemudian beliau bersabda, “Hal ini diperbolehkan bagi orang yang tidak junub. Adapun orang yang junub, maka hal ini tidak diperbolehkan baginya meskipun hanya satu ayat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksud hadits ini, bahwasanya orang yang dalam keadaan junub tidak boleh membaca mushaf,meskipun ia tidak menyentuhnya sampai ia bersuci, yaitu mandi. Adapun orang yang ber-hadats kecil, tidak junub,maka tidak mengapa bilaia membaca al-Quran, dengan syarat ia tidak menyentuhnya secara langsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ada sebuah masalah yang berkaitan dengan ini, yaitu masalah wanita haid dan nifas, bolehkah mereka membaca al-Quran ataukah tidak?&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;Dalam hal ini ada sedikit silang pendapat dikalangan para ulama.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapat yang pertama mengatakan, bahwa wanita haid dan nifas tidak boleh membaca al-Quran, karena mereka digolongkan seperti orang yang junub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun pendapat yang kedua mengatakan, bahwa wanita haid dan nifas boleh membaca al-Quran, namun tidak boleh menyentuhnya, sebab masa haid dan nifas itu panjang dan waktunya cukup lama, tidak seperti orang yang junub, yang mana mereka mampu untuk mandi pada waktu itu juga, lalu membaca al-Quran.&lt;br /&gt;
Adapun wanita haid dan nifas tidak mempu melaksanakan hal tersebut setelah suci. Oleh karena itu, tidak sah jika mereka (wanita haid dan nifas) dikiaskan seperti orang yang junub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapat yang kuat dan benar adalah pendapat kedua, bahwa tidak ada yang mencegah wanita haid atau nifas untuk membaca al-Quran, dengan syarat mereka tidak menyentuhnya secara langsung, sebab tidak satu pun dalil yang menunjukkan larangan bagi mereka dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ash-Shahihain, dari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan bahwasanya beliau pernah berkata kepada istri beliau, Aisyah, ketika Aisyah mengalami haid pada waktu berhaji,&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;اِفْعَلِيْ مَا يَفْعَلُ الْحَاجُ غَيْرَ أَلاَّ تَطُوْفِيْ بِالْبَيْتِ حَتىَّ تَطْهُرِيْ&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lakukanlah apa saja yang dilakukan oleh jama’ah haji lainnya selain tawaf di Ka’bah, hingga engkau suci.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya kita telah maklumi bersama bahwa para jama’ah haji disyariatkan membaca Al-Quran, padahal membaca Al-Quran merupakan perkara yang sering dilakukan oleh jama’ah haji yang tidak dikecualikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu menunjukkan bahwa wanita haid boleh membaca Al-Quran, tetapi tidak boleh menyentuhnya.Adapun hadits Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau pernah bersabda, “Janganlah wanita haid dan orang yang junub membaca sedikit pun dari Al-Quran,’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
maka hadits iniadalah hadits dhaif (lemah). Dalam saandnya terdapat rawi yang bernama Ismail bin Iyasy dari Musa bin Uqbah.Para ulama telah mendhaifkan riwayat Ismail bila ia mengambil riwayat tersebut dari penduduk Hijaz.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka (ahli hadits) mengatakan bahwa riwayat Ismail bin Iyasi dinilai baik jika riwayat tersebut berasal dari penduduk Syam, tetapi periwayatannya dari penduduk Hijaz dinilai lemah. Sedangkan hadits di atas merupakan riwayat beliau dari penduduk Hijaz, sehingga haditsnya digolongkan hadits dhaif (lemah).”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dalamMajmu’ Fatawa, 4/383-384)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&lt;br /&gt;
● Majalah Mawaddah, Edisi 10, Tahun 1, Rabiul Akhir-Jumadil Ula 1429 H (Mei 2008).&lt;br /&gt;
Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)&lt;br /&gt;
● &lt;a href=&quot;http://www.konsultasisyariah.com/wanita-haid-menyentuh-alquran/&quot;&gt;Konsultasisyariah.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/9002027969291507002/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/10/bolehkah-wanita-haidh-menyentuh-mushaf_2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/9002027969291507002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/9002027969291507002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/10/bolehkah-wanita-haidh-menyentuh-mushaf_2.html' title='Bolehkah Wanita Haidh Menyentuh Mushaf Al-Qur&amp;#39;an? '/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-37661873980363994</id><published>2014-10-02T14:04:00.001+07:00</published><updated>2016-02-17T08:24:59.945+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Nabi"/><title type='text'> Kisah Alqamah Radhiyallahu&#39;anhu</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Kisah Alqamah Radhiyallahu&#39;anhu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Alqamah adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad Shalallaahu &#39;alaihi wa Sallam, yang taat, wara’ kuat beribadah dan rajin pula berderma. Ibunya masih hidup; rupanya beliau ini setelah berumah tangga, kurang memerhatikan ibunya. Karena itu, terpaksalah sang Ibu mondok sendirian, dan hal ini berlalu beberapa lama, sedang sang ibu belum juga mendapat santunannya menurut semestinya. Maka akibat dari pada itu, sang ibunda beliau agak kecewa dan berhati kecil terhadap anaknya ‘Alqamah yang kurang memeperhatikan dirinya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya pada suatu hari, ‘Alqamah jatuh sakit keras sehingga sanak saudara kaum familinya telah memenuhi rumahnya. Hanya Ibunya yang belum hadir. Sementara Alqamah dalam keadaan sakaratul maut, maka di antara yang hadir menalqinkan kalimat tauhid; ala ilaha illallah. Namun beliau tidak dapat mengikutinya, dan hal itu di ulang berkali-kali, namun ‘Alqamah belum juga dapat menirukannya, malah mulutnya tertutup dan ia membungkam seribu bahasa, hanya kelihatan susah dan gelisah dengan matanya yang membelalak kemabukan, seakan-akan ia minta tolong. Semua sahabat handai tolannya keheran-heranan, sebab mereka tahu benar bahwa ‘Alqamah ini seorang sahabat Nabi yang taat dan wara’, dan menurut mereka ia adalah teladan yang baik dicontoh selama hayatnya. Maka dari itu merekapun bingung sambil saling berbisik-bisik tanya menanya, mengapa beliau ini demikian, padahal ia adalah seorang sahabat Nabi yang shaleh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, sebahagian sahabat yang hadir segera melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah Shalallaahu &#39;alaihi wa Sallam., dan baginda mengutus beberapa sahabat pula untuk menjenguk ‘Alqamah dan melihat keadaan ‘Alqamah dari dekat, serta mencoba menalqinkan kalimat Tauhid lagi. Namun sesampainya mereka ditempat pembaringan Alqamah dan setekah mencoba menalqinkan kalimah Tauhid itu, perobahan Alqamah tidak ada sama sekali, malah nampaknya tambah gelisah dan tambah menakutkan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya dijemputlah Rasulullah Shalallaahu &#39;alaihi wa Sallam., dan beliaupun hadir di depan ‘Alqamah sahabat beliau yang setia itu. Dengan hati yang cemas penuh kasih sayang, Baginda menalqinkan kalimah tauhid, tetapi sayang seribu sayang ‘Alqamah dari pada mengikut, malah ia menggelengkan kepalanya. Nabipun tertegun dan kemudian menayakan pada hadirin, “&lt;i&gt;Apakah Alqamah ini masih mempunyai Ibu kandung?&lt;/i&gt;” Hadirin ada yang menjawab “&lt;i&gt;Masih ada&lt;/i&gt;”. &amp;nbsp;Kemudian Beliau bertanya, “&lt;i&gt;Di mana Ibu itu?&lt;/i&gt;” Istrinya menjawab, “&lt;i&gt;Di sana, di dusun itu. Dia mondok sendirian, ya Rasulullah.&lt;/i&gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Rasulullah minta hadirkan Ibundanya itu. Setelah tiba, Nabi pun lalu menanyakan kepadanya tentang hal ihwal Alqamah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam dialog itu ternyata sang Ibu ini ada berkecil hati atas sebahagian tindakan anaknya ini pada dirinya, setelah ia berumah tangga dan sampai detik ini, ia belum suka memaafkannya, meskipun Nabi sendiri telah memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Nabi kita akhirnya memerintah para sahabat dan hadirin untuk mengumpulkan kayu api unggun dan minyaknya, tatkala itu sebahagian bertanya, buat apa ya Rasulullah, nabi menjawab dengan nada tegas : “Untuk membakar Alqamah ini, sebab lebih baik kita bakar sekarang saja bulat bulat dari pada kelak dibakar juga dalam api neraka jahannam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar putusan Nabi itu, Ibu kandung Alqamah tidak tega, bila anak kandungnya itu sampai dipanggang di matanya sendiri. Dari itu ia segera mendapatkan Nabi dan berkata “&lt;i&gt;Wahai junjungan alam, janganlah dibakar anakku ini, biarlah kumaafkan segala kesalahannya itu dan aku relakan segala pengorbananku untuknya&lt;/i&gt;&quot;. Sembari ia naik saksi bahwa : &quot;&lt;i&gt;Aku mengakui bahwa tiada Tuhan selain dari pada Allah, dan aku mengakui bahwa Muhammad benar benar Rasul-Nya&lt;/i&gt;&quot;. Dan untuk hadirin aku bersaksi bahwa benar benar anakku Alqamah ini, segala kesalahannya telah kumaafkan dan telah kurelakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu Nabi menyuruh sahabat untuk melihat Alqamah, ternyata sedang menarik nafasnya yang terakhir sambil mengucapkan kalimat tauhid, dengan muka yang jernih dan mata yang sayu memandang dengan bibir yang tersenyum &amp;nbsp;tersungging di bibir itu kalimat Thaiyibah : &quot;Ala ilaaha illallah &quot;&lt;br /&gt;
ُ&lt;br /&gt;
Ia kembali dengan tenang dan wajah berseri seri. &quot;&lt;i&gt;Inna lillahi wa Inna ilaihi radji&#39;un&lt;/i&gt;&quot; Alqamah telah kembali ke Rahmatullah dengan tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian satu contoh yang dapat kita ambil I’tibar betapa besar nilai Ibu bapak dalam diri sang anak kandungnya. Benar benar Maha Agunglah Allah dan Maha Pengampun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhamdulillah...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;sumber&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; :&amp;nbsp;&lt;/h4&gt;
&lt;div&gt;
&lt;a href=&quot;http://zayislam.0fees.net/&quot;&gt;Zayislam&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/37661873980363994/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/10/kisah-sahabat-nabi-alqamah-radhiyallahu_2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/37661873980363994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/37661873980363994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/10/kisah-sahabat-nabi-alqamah-radhiyallahu_2.html' title=' Kisah Alqamah Radhiyallahu&#39;anhu'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-2000348428809240018</id><published>2014-09-28T12:45:00.001+07:00</published><updated>2016-02-17T08:31:12.901+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Teladan"/><title type='text'>Dahsyatnya Kesabaran Ulama</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;DAHSYATNYA KESABARAN ULAMA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah yang sangat menakjubkan, yang dialami oleh salah seorang Imam ahli hadits yaitu, Al Qodhi: Muhammad Bin Abdil Baaqi Al Anshory Al Bazar Rahimahullahu, yang masyhur dengan sebutan Al Qodhi Al maaristaan Al hafidz, wafat 535H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau mengalami kisah yang menakjubkan, yang syarat dengan pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau Rahimahullahu mengisahkan..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat dirinya tinggal di Makkah pada musim haji, di mana saat itu tidak ada sesuatupun dari harta dunia yang ia miliki..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya pada suatu hari beliau merasakan lapar yang amat sangat..,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka ia pun keluar dari tempatnya untuk mencari sisa-sisa potongan roti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disaat ia mencari sisa-sisa potongan roti, matanya tertuju pada sebuah kantong sutera merah tergeletak diatas tanah yang ternyata berisikan kalung mutiara yang sangatmahal harganya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setara dengan nilai 50 ribu dinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas ia pun mengambil dan membawanya pulang..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditengah perjalanan menuju tempatnya, ia mendapati seorang lelaki yang sedang mencari kalung.Lelaki itu pun menyeru ditengah kerumunan manusia, “Sungguh Aku telah kehilangan sebuah kantong merah yang terbuat sutera, maka barangsiapa yang menemukannya, baginya 50 dinar!!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka sang Qodhi pun bertanya kepada laki-laki itu,“Apa yang terdapat didalam kantong itu?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laki-laki itu pun menjawab, “Isinya adalah kalung mutiara yang sangat berharga”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ia pun menanyakan tanda-tandanya.Ketika tanda-tanda yang terdapat pada kalung itu sesuai dengan keadaannya, maka ia pun menyerahkan kalung itukepada sang Lelaki dengan suka rela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka lelaki itu pun mengeluarkan 50 dinar dan memberikannya kepada sang Qodhi.Akan tetapi beliau (sang Qodhi) enggan dan tidak mau menerima hadiahnya, seraya berkata,“Sesungguhnya tidaklah Aku mengembalikan kalung ini karena mengharapkan balasan darimu, akan tetapi (hal ini) semata-mata mengharapkan Ridha Rabbku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka sang Qadhi pun menolak dan tidak mau menerima imbalan tersebut, padahal ketika itu beliau dalam keadaanyang sangat lapar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ternyata, ia pun tidak menemukan sisa-sisa roti (yangbisa ia makan, pent).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya beliau pun meninggalkan lelaki itu dengan cara yang baik dan kembali meneruskan perjalanannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk beberapa hari beliau tinggal di kota Makkah, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk mengarungi lautan dengan harapan bisa mendapatkan uang (untuk memenuhi kebutuhan dirinya, pent)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kapal berlayar di tengah lautan, tiba-tiba angin bertiup dengan sangat kencang..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya kapal yang mereka tumpangi pun terombang-ambing oleh badai gelombang yang sangat besar, dan akhirnya kapal itu pun retak dan tenggelam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau berusaha menyelamatkan dirinya dengan berpegangan pada patahan kayu kapal.. dan ia terus berpegangan pada kayu itu dengan keadaan ombak yang terus menderanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa hari, akhirnya ia pun terdampar di pantaisebuah pulau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sisa tenaga yang ada, ia berusaha berjalan mendekati sebuah masjid..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam keadaan ia tidak mengetahui apa pun di pulau tersebut, dan tidak ada seorang pun penduduknya yang ia kenal.…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama kemudian masuklah seseorang ke dalam masjid, dan menanyakan keadaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia menceritakan kisah yang di alaminya, orang itu pun mengambil makanan dan minuman serta pakaian, lalu memberikannya kepada beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang itu pun berkata, “Sesungguhnya mereka (pnduduk pulau ini) sedang mencari seseorang untuk dijadikan Imam sholat di masjid mereka”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia mengkabarkan bahwa dirinya hafal Al-qur’an, merekapun segera menjadikannya sebagai imam ditengah-tengah mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika orang-orang mengetahui bahwa ia pandai menulis, maka ia pun diminta untuk mengajarkan anak-anak menulis dengan upah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau bertutur, “Aku telah mendapatkan uang dan keadaanku telah menjadi lebih baik”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari orang-orang mendatangiku dan berkata kepadaku, “Sesungguhnya kami memiliki anak perempuanyatim yang ingin kami nikahkan denganmu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terus-menerus memohon hal itu kepadaku, hingga akhirnya akupun menerima permintaan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mereka membawaku untuk melihat (nadhor) wanitaitu, aku melihat padanya kalung mutiara..,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun terus memperhatikan kalung itu, hingga aku merasa ta’jub..,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh!! kalung itu adalah kalung yang pernah aku temukan di Makkah!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku terus memandangi kalung itu, tiba-tiba wanita itu keluar sambil menangis seraya berkata kepada mereka, “Sesungguhnya dia tidak mau melihat wajahku, dan dia tidak mau menolehkan pandangannya dari kalung yang ada di leherku”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Sholat fajar selesai, mereka menceritakan keluhan wanita itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Aku pun mengabarkan pada mereka..,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahwa dahulu Aku pernah menemukan sebuah kalung mutiara didalam sebuah kantong sutra berwarna merah tergeletak diatas tanah di Baitulloh al haram, lalu Aku pun mengembalikan barang itu kepada pemiliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar hal itu mereka semua mengucapkan Takbir, hingga masjid itu ramai dengan suara takbir mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian mereka mengabarkan kepadaku bahwa pemilik kalung itu adalah Ayah dari anak wanita yatim itu, yang ia merupakan anak satu-satunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu ayahnya adalah seorang imam masjid yang belum lama telah meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan setelah kepulangan nya dari (ibadah) haji, sang Imamitu selalu berdoa dan kami pun mengaminkan doa nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[&lt;span style=&quot;color: #3d85c6;&quot;&gt;&quot;Yaa Allah sesungguhnya aku tidak pernah menemukan seorangpun seperti yang telah menemukan kalung itu.., Yaa Allah pertemukanlah Aku dengannya, sehingga aku bisa menikahkan satu-satunya putriku dengannya..&quot;&lt;/span&gt;]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sekarang sungguh Allah telah mengabulkan doanya..,Allah telah mendatangkanmu (dari tempat yang jauh) dan menikahkanmu dengan putrinya walaupun setelah kematiannya.!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah balasan sifat Amanah dan sifat ‘iffah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Sumber: &amp;nbsp;miraatuz zamaan fii taarikhil a’yan~yang telah diringkas oleh Imam Adz Dzahabi Rahimahullahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;FAEDAH:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata Ibnu Rajab Rahimahullahu:&lt;br /&gt;
“Sungguh terkandung dalam kisah ini bahwa tidak diperbolehkan mengambil hadiah atas pengembalian amanah, karena wajib baginya mengembalikan kepada pemiliknya tanpa meminta ganti rugi,Diperbolehkan (mengambil hadiah/ upah) yang seperti ini pada barang selain temuan (barang titipan) dengan upah yang telah disyaratkan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang demikian telah di nashkan oleh Imam Ahmad Rahimahullahu tentang barang titipan, bahwasanya tidak diperbolehkan mngambil hadiah ketika mengembalikan barang titipan itu kepada pemiliknya kecuali dengan niat al mukafa’ah (sekedar untuk mencukupi kebutuhan dirinya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata Al Hafidz Ibnu Rajab Rahimahullahu:&lt;br /&gt;
“Demikianlah dibawakan kisah ini oleh Yusuf Bin Kholil Al Hafidz dalam Mu’jamnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diterjemahkan secara ringkas oleh Abul fida abdulloh as silasafy (Ghofarollohu lahu wali walidaihi wa lil muslimiin)&lt;br /&gt;
Diedit tanpa merubah makna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Maroji’:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
•Dzail thobaqoot al hanabilah 1/434&lt;br /&gt;
•Siyar A’lamin nubala’ 20/23&lt;br /&gt;
•Syidroot adz dzahab 4/108&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga bermanfaat &amp;amp; semoga kita selalu mendapatkan taufiq dari Allah Ta’ala. Wallaahu a’lam.&lt;br /&gt;
_______________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Catatan&lt;/span&gt;:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
(Sumber: Pesan ini disebarluaskan oleh BB Dakwah Ahlussunnah)&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.forumdakwahahlussunnah.com/dahsyatnya-kesabaran-ulama/&quot;&gt;www.forumdakwahahlussunnah&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/2000348428809240018/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/09/kisah-dahsyatnya-kesabaran-ulama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/2000348428809240018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/2000348428809240018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/09/kisah-dahsyatnya-kesabaran-ulama.html' title='Dahsyatnya Kesabaran Ulama'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-2153697162479482652</id><published>2014-09-09T12:21:00.001+07:00</published><updated>2016-02-17T08:36:19.969+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Status FB"/><title type='text'>Lenteraku Mulai  Redup.</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Lenteraku Mulai &amp;nbsp;Redup.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Bismillah.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Alhamdulillahilladzi bini&#39;matihi tatimush-shalihat&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh al-Albani &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;
Perjalanan kita jauuh,&lt;br /&gt;
tidak penting sampai dimana jarak yang ditempuh, yang utama kita masih di jalur-Nya.&lt;br /&gt;
Jalan ke surga itu terjal dan menanjak.&lt;br /&gt;
Maka perlu kesungguhan, istiqamah dan waspada di setiap langkah dengan memohon pertolongan kepada Allah Azza wa jalla.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita perlu cahaya dari Allah Ta&#39;ala untuk menentukan jalan yang benar dan lurus dengan menuntut ilmu syar&#39;i terus menerus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila ada masalah besar, angin besar yang menerjang, maka cahaya/lentera iman kita akan meredup hingga kadang mati. Maka perlu ada kesiapan korek api untuk menyalakan lagi cahaya yang padam tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibarat lain Lentera adalah batere HP yang perlu dicharge ulang setiap mendekati low bat. Jangan sampai batere HP tersebut sekarat, tidak bisa dicharge lagi. Allahul musta&#39;an.&lt;br /&gt;
Musuh-musuh Allah selalu berusaha menghalangi kita menuju surga dengan langkah mulus. Namun mereka selalu mematikan lentera yang menunjuki jalan ke surga dengan berbagai cara dan menyeret kita secara perlahan agar mengikuti agama mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Islam adalah cahaya Allah Azza wa jalla.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iman diibaratkan pakaian yang bisa usang bila dipakai terus menerus.&lt;br /&gt;
Maka perlu diperbaharui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga iman diibaratkan rembulan.&lt;br /&gt;
Disaat purnama pun akan gelap bila tertutup mendung tebal.&lt;br /&gt;
Demikianlah iman bertambah dengan amal shalih dan berkurang dengan perbuatan dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup di dunia tak lepas dari ujian. Bergilir, setelah bahagia, datang masa berduka, airmata berubah jadi tawa, susah senang bergantian setiap episode yang terjalani.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Tanda-tanda Lentera mulai redup:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Terjerumus kepada kemaksiatan / berbuat dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Merasakan kerasnya hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Ibadahnya tidak sempurna / tidak khusyu&#39;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Malas yang menjadi-jadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Hati menjadi sempit / cepat marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Tidak terpengaruh dengan ancaman-ancaman Allah Ta&#39;ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Lalai dari dzikrullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Ketika ditimpa musibah, mereka bingung, panik, tidak bersabar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Bakhil, kikir untuk berbagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Hubbud dunya/cinta dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Tidak perduli urusan umat Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Faktor penyebab lemahnya Iman:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Jauh dari lingkungan pendukung keimanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Putus dari menuntut ilmu syar&#39;i.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Berada di tengah-tengah pelaku kemaksiatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Panjang angan-angan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Banyak makan, minum dan bergaul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Cara menghidupkan lentera yang meredup:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Tadabbur Al Qur&#39;an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Menghidupkan dalam hati mengagungkan Allah Ta&#39;ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Sering hadir ke majelis ilmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Ziarah kubur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Bervariasi dalam beribadah / menambah amalan-amalan sunnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Takut su&#39;ul khatimah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Berdzikir yang banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Loyalitas pada umat Islam dan berlepas diri dari orang kuffar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Tawaddu&#39;, jangan sombong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10.Muhasabah / menghisab diri (intropeksi diri, pent).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11.Berkunjung ke orang-orang shalih..minimal dapat nasehat dan ilmu Beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12.Berkunjung ke rumah sakit akan menambah rasa syukur kepada Allah Azza wa jalla.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13.Refreshing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14.Berdoa kepada Allah Azza wa jalla.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agama itu mudah, jiwa itu butuh refreshing, hiburlah dengan hal yang mubah asal tidak berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mu’adz bin Jabal berkata :&lt;br /&gt;
&quot;Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sesungguhnya mempelajari ilmu (dengan ikhlas) karena Allah merupakan kasyyah,&lt;br /&gt;
mengkajinya merupakan ibadah,&lt;br /&gt;
mengingatnya merupakan tasbih,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan membahasnya merupakan jihad“.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Ibnul-Qayyim - Miftah Daaris-Sa’adah 1/131-132; Maktabah Al-Misykah]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wallahu ta&#39;ala a&#39;lam.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sumber&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;: WAG ForKom Kutubussittah</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/2153697162479482652/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/09/lenteraku-mulai-redup_8.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/2153697162479482652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/2153697162479482652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/09/lenteraku-mulai-redup_8.html' title='Lenteraku Mulai  Redup.'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-8173069024937719212</id><published>2014-09-04T17:45:00.001+07:00</published><updated>2016-02-17T08:53:52.991+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fiqih Umum"/><title type='text'>Hukum Menguburkan Anak Bayi Tanpa Dishalati</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Anakku Saya Kuburkan, Tapi Tidak Dimandikan dan Dishalati&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Assalamu&#39;alaikum&lt;/i&gt;. Ustadz, karena kebodohannya saya, 5 tahun yang lalu anakku meninggal umur 7 bulan di dalam perut ibunya. Ketika bayi itu keluar dari rahim ibunya, cuma saya tampung dengan kantong plastik kemudian saya langsung kuburkan dengan kantong plastik tersebut tanpa saya bersihkan, mandikan dan shalatkan.&lt;br /&gt;
Itu karena tidak ada yang mengurusi istriku di rumah sakit waktu itu. Apa hukum yang berlaku bagi saya dan apa yang harus saya lakukan saat ini? Saya merasa berdosa sekali, Ustadz. &amp;nbsp;Apa nasihat Ustadz untuk saya? Terimakasih atas jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #6fa8dc;&quot;&gt;(Hamba Allah yang hina di hadapan-NYA, +6285xxxxxxx39)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wa&#39;alaikumsalam warahmatullah. &lt;/i&gt;Alhamdulillah, Anda telah memahami bahwa itu adalah kesalahan. Bayi yang meninggal dunia di perut ibu saat umur tujuh bulan sudah berwujud manusia dan sudah ditiupkan ruh atasnya. Karenanya, saat dia lahir prematur dan meninggal dunia maka dihukumi sebagai manusia yang meninggal dunia, kecuali tidak wajib di shalatkan, meskipun seandainya dishalatkan itu lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak wajib dishalatkan karena Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam &lt;/i&gt;tidak menshalati putra beliau, Ibrahim yang meninggal pada umur 18 bulan. Sedangkan tetap dianjurkan untuk dishalati karena sabda Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Anak kecil(dalam riwayat lainn bayi prematur) dishalati, dan didoakan untuk kedua orang tuanya mendapatkan ampunan dan rahmat.&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun karena itu sudah berlalu dan tidak mungkin bisa diulang, maka tidak ada yang bisa Anda lakukan kecuali bertaubat kepada Allah. Semoga Allah menerima taubat kita, dan perbanyaklah amal kebaikan sebagai penebus kesalahan masa lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam &lt;/i&gt;bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;اتّق الله حيْثما كنْت وأتْبع السّيئة الْحسنة تمْحما وخالق النّاس بخلقٍ حسنٍ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Bertakwalah di manapun engkau berada, ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapus perbuatan jelek, dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik.&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;2&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dijawab oleh:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ustadz. Ahmad Sabiq Abu Yusuf, Lc.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Catatan:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
--------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Shahih, HR. Abu Dawud dan an-Nasa&#39;i, sebagaimana dalam Ahkamul Jana&#39;iz hlm: 103-104&lt;br /&gt;
2. Hasan, HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. Shahih Targhib: 2655&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Majalah &quot;&lt;b&gt;al-Mawaddah&amp;nbsp;&lt;/b&gt;-&amp;nbsp;&lt;i&gt;majalah keluarga muslim&lt;/i&gt;&quot; - vol. 69 - Shafar 1435 H&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/8173069024937719212/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/09/hukum-menguburkan-anak-bayi-tanpa_4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/8173069024937719212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/8173069024937719212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/09/hukum-menguburkan-anak-bayi-tanpa_4.html' title='Hukum Menguburkan Anak Bayi Tanpa Dishalati'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-7779337092324910182</id><published>2014-09-03T16:07:00.003+07:00</published><updated>2016-02-17T09:57:29.420+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fiqih Nikah"/><title type='text'>Membangun RumahTangga Yang Harmonis</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Membangun RumahTangga Yang Harmonis&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah keluarga yang terdiri dari sorang suami dan seorang atau lebih istri bisa digambarkan sebagai sebuah taman. Dari namanya saja, taman menginspirasikan sebuah keelokan dan keindahan, kesejukan, serta kedamaian. Itulah gambaran sebuah keluarga yang harmonis. Sangat indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa saja yang hendaknya diusahakan oleh pasutri saat mereka meretas keharmonisan di dalam rumah tangga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Akhlak Terpuji&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu komponen pembangun keharmonisan ialah akhlak terpuju masing-masing pasutri. Itulah salah satu hal yang diajarkan Islam yang akan menambah keelokan aman pasutri, kesejukan serta damainya.&lt;br /&gt;
Dalam hal ini Allah Ta&#39;ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوف&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;.....dan bergaullah dengan mereka secara ma&#39;ruf...(an-Nisa:19)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut,&quot;Artinya, santunkanlah ucapan-ucapan kalian (wahai para suami) kepada mereka (para istri), dan baguskanlah tingkah laku kalian serta bentuk dan penampilan kalian sekadar apa yang kalian sanggupi. Sebagaimana kamu suka mendapatkan hal itu darinya, maka lakukanlah terhadapnya seperti hal itu pula, sebagaimana Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوف&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;....dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma&#39;ruf.&quot;(al-Baqarah: 228)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;خيركم خيركم لأهله وأنا خير كم لأهلي&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pergaulannya kepada istri-istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik diantara kalian dalam mempergauli istriku.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara akhlak Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, beliau sangat baik pergaulannya, tenang sikap dan penampilannya, mencandai istri dan berlemah lembut kepadanya, mencukupi nafkahnya, membuat istrinya tertawa, bahkan sesekali beliau berlomba dengan Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu&#39;anha&lt;/i&gt;, sebagai ungkapan rasa cinta beliau kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aisyah mengatakan, &quot;Suatu ketika Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; mengalahkanku. Di saat lain, akupun mengalahkan beliau. &amp;nbsp;Itu terjadi tatkala aku belum gemuk. Tatkala aku sudah terbebani oleh daging pada tubuhku, aku ajak beliau berlomba lagi dan beliau pun mengalahkanku, maka beliaupun mengatakan, &#39;Yang ini untuk kekalahanku waktu itu.&#39;&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;1&lt;/span&gt;,&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walhasil, taman pasutri akan bertambah elok dan menawan bila dihiasi keelokan akhlak yang terpuji. Semakin bagus akhlak suami juga istri, taman pasutri akan semakin teduh dan menenteramkan hati. Maka harmonislah kehidupan pasutri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menegaskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik (pergaulannya) bagi istrinya.&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Istri shalihah untuk suami shalihah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang merupakan komponen pembangun keharmonisan berumah tangga ialah istri yang shalihah bagi suami shalih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang wanita di sisi seorang suami laksana mawar di taman. Suamilah yang akan menikmati keelokannya, dan hanya untuk suami mawar itu tampil menggoda. Sebab suami adalah pemilik yang merawat dan memeliharanya. Sifat dan karakter istri shalihah telah Allah sebutkan dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ الله&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;...maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)...&quot;(QS. An-Nisaa&#39;: 34)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menyebut keshalihahan seorang wanita di dalam ayat diatas dengan dua sifat saja. Ialah seorang wanita yang &lt;i&gt;&lt;b&gt;qanitat&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang &lt;i&gt;berarti taat&lt;/i&gt; dan yang &lt;b&gt;hafizhah&lt;/b&gt; yang &lt;i&gt;berarti pemelihara&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
Ialah istri yang senantiasa taat pada perintah dan anjuran kebaikan Rabbnya, juga taat pada perintah dan anjuran kebaikan suaminya. Ia juga istri yang hafizhah. Tentu suaminya akan menaruh kepercayaan penuh pada istrinya, bila istrinya seorang hafizhah (penjaga). Suami tak lagi waswas akan istrinya dirumah tatkala ia harus beranjak mencari karunia Ilahi apabila istrinya seorang yang rapi dalam memelihara diri dan kehormatannya, dan rapi dalam memelihara harta yang dipercayakan kepadanya oleh suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang istri yang shalihah ialah yang istiqomah di atas agamanya, yang senantiasa taat pada suaminya dan memelihara hak-hak suaminya yang ada pada dirinya dan pada harta suaminya. Selain itu, ia adalah yang disebuhkan oleh Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; saat ditanya, &quot;Wanita macam apa yang paling baik?&quot;&lt;br /&gt;
Beliau &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda, &quot;Wanita yang menyenangkan suami bila ia memandangnya, menaatinya bila ia perintah, dan tidak menyelisihi sesuatu yang ia tidak suka pada dirinya dan pada hartanya.&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;&quot;4&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Peran yang tepat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah telah memberi kedudukan yang berbeda antara suami dan istri dalam rumah tangganya. Hal ini menuntut keadilan dan dibuangnya jauh-jauh kezaliman dari setiap pasutri terhadap pasangannya. Sebab, dibalik perbedaan itulah Allah akan menganugerahkan keharmonisan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.&lt;br /&gt;
Allah Ta&#39;ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِم&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot; Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.&quot;(an-Nisaa&#39;:34)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Ta&#39;ala menjadikan peran suami sebagai orang yang memiliki kuasa dalam membina para istrinya, mendidik mereka, serta memerintah mereka untuk melaksanakan seluruh kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada Allah dan kepada suaminya, serta memberi pelajaran kepada mereka bila mereka tidak menunaikannya. Dan Allah Ta&#39;ala tidak menghendaki sebaliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa ditetapkan demikian??&lt;br /&gt;
Padahal yang demikian ini benar-benar sebuah perbedaan. Memang benar, ini adalah perbedaan, sedangkan kehamonisan selamanya harus sepadan, harus sama, dan harus selaras. Dalam perbedaan pun Allah menghendaki keharmonisan. Bahkan merupakan keharmonisan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa yang dilebihkan hanya suami?&lt;br /&gt;
Sebab Allah telah melebihkan para suami atas para istri dengan mahar-mahar yang mereka bayarkan, dengan harta yang mereka nafkahkan untuk istri mereka, dan dengan kecukupan yang mereka berikan kepada istri mereka. Sehingga para istri itu di sisi suami laksana bunga-bunga di taman yang selalu disirami. Benar-benar ini merupakan sebuah keharmonisan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah tidak harmonis bila taman yang selalu disirami merasa tidak &#39;&lt;i&gt;mengerti&lt;/i&gt;&#39; tuannya? Seperti juga bukan keharmonisan bila si tuan tidak menyirami tamannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena taman itu disirami, maka selayaknya mawar-mawar itu memahami perbedaan ini. Hanya karena taman itu disirami maka bunga-bunga keharmonisan pun harum semerbak mewangi..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wallahul muwaffiq&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Oleh:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ustadz. Abu Ammar al-Ghoyami&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Catatan:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
--------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. HR. Ahmad: 6/264, abu Dawud: 2578, Ibnu Majah: 1979&lt;br /&gt;
2. Tafsir Ibnu Katsir 1/467&lt;br /&gt;
3. Hadits shahih lighairihi, diriwayatkan Ahmad 6/47, 99, at-Tirmidzi: 3986, dan Ibnu Majah: 1977, 1978.&lt;br /&gt;
4. Hadits hasan lighairihi, diriwayatkan oleh Imam Ahmad 2/251 dan an-Nasa&#39;i 6/68&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Majalah &quot;&lt;b&gt;al-Mawaddah&lt;/b&gt; - &lt;i&gt;majalah keluarga muslim&lt;/i&gt;&quot; - vol.69 - Safar 1435 H&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/7779337092324910182/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/09/membangun-rumahtangga-yang-harmonis_3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/7779337092324910182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/7779337092324910182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/09/membangun-rumahtangga-yang-harmonis_3.html' title='Membangun RumahTangga Yang Harmonis'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-1377371831996758566</id><published>2014-08-28T12:58:00.005+07:00</published><updated>2016-02-18T09:57:56.787+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fiqih Muslimah"/><title type='text'>Kiprah Istri Menjadi Pendidik Terbaik</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Kiprah Istri Menjadi Pendidik Terbaik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wanita Lebih Tepat Menjadi Pendidik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana Allah Ta&#39;ala telah menjadikan kaum laki-laki lebih utama atas wanita dalam beberapa sisi, ternyata para wanita juga memiliki keistimewaan yang tidak di miliki oleh kaum lelaki.&lt;br /&gt;
Wanita memiliki beberapa kelebihan dibanding kaum pria dari beberapa sisi, diantaranya ialah bersifat lembut dan penyabar yang disukai oleh anak-anak, terutama ketika ia masih kecil. Sifat ini hendaknya disyukuri oleh istri bila telah dikaruniai anak. Oleh karena itu ketika anak ditinggal mati oleh ayahnya kebanyakan tidak terlalu sedih bila dibandingkan ibunya yang meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam &lt;/i&gt;memuji para wanita anshar karena sifat lembutnya kepada anak-anak.&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;صالح نساء قريْش أحْناه على ولدفي صغره وأرْعاه على زوْج في ذات يده&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sebaik-baik wanita Quraisy adalah yang paling bersifat lembut terhadap anak di masa kecilnya, dan yang paling pandai menjaga amanah suaminya.&quot;(HR. Bukhari: 4946)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesabaran wanita mendidik anak bukan hanya akan mendapatkan jaminan masuk surga dan dijauhkan dari api neraka. Bahkan dalam kehidupan dunia ia akan hidup berbahagia dalam rumah tangganya. Bagaimana tidak? Suami akan merasa berutang budi kepada istri karena telah berhasil mendidik anak-anak mereka dan menjaga amanah suami dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat sangat penting kelembutan dan kesabaran di dalam dunia rumah tangga, maka ketika pria ingin menikah, dianjurkan supaya memilih pasangan hidup yang berjiwa lembut dan penyayang, bahkan jika bisa dari keturunan yang banyak anaknya juga.&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam &lt;/i&gt;bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;تروّ جوا الْودود الْولود&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Menikahlah dengan wanita penuh kasih sayang dan subur.&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Kisah ibu teladan yang bersabar mendidik anak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istri yang bersabar dan ulet mendidik anak, imbalannya adalah surga dan di jauhkan dari api neraka.&lt;br /&gt;
Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu&#39;anha&lt;/i&gt;, istri Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; berkata, &quot;Ada seorang wanita bersama dua anaknya pernah datang kepadaku. Dia meminta (makanan) kepadaku, namun aku tidak memiliki sesuatu yang dapat dimakan melainkan satu butir kurma, kemudia aku memberikan kepadanya dan ternyata dia membagi untuk dua anaknya. Setelah itu wanita itu berdiri dan beranjak keluar. Tiba-tiba Nabi &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam &lt;/i&gt;datang dan aku pun memberitahukan peristiwa yang baru aku alami itu. Kemudian beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;منابْتلى منْ هذه الْبنات بشىْء كنّ له ستْرا من النّار&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barangsiapa yang diuji sesuatu karena anak-anak perempuannya, lalu ia berlaku baik terhadap mereka maka mereka juga akan melindunginya dari api neraka.&quot; (HR. Bukhari: 5535)&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Istri yang mengilmui agama adalah pangkal kebaikan anak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; mengatakan, bahwa dunia ini adalah keindahan tetapi puncak keindahannya adalah wanita yang shalihah.&lt;br /&gt;
Maka jika istri tergolong shalihah, tentu anak akan dididik agar menjadi shalih dan shalihah juga. Begitulah fitrah manusia, ingin kebaikan bisa diwarisi oleh anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam &lt;/i&gt;bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;الدّنيا متاع وخيْرمتاع الدّنْيا الْمرْأة الصّالحة&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dunia adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita yang shalihah.&quot;(HR. Muslim: 2668)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena istri sangat berperan di dalam dunia pendidikan anak di rumah tangga, maka kaum pria bila mau menikah, dianjurkan bukan hanya memilih kecantikan paras, tetapi kecantikan hati dan akhlaknya juga. Sedangkan kecantikan hati akan diperoleh bila seorang wanita memiliki ilmu agama yang kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;تنْكح الْمرْأة لأرْبع لما لها و لحسبها وجما لها ولدينها، فاظْفرْ بذات الدّين تربتْ يداك&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamnya. Maka pilihlah karena baik agamanya, niscaya kamu akan beruntung.&quot;(HR. Bukhari: 4700)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita menjadi baik agamanya dan akhlaknya bila dia berada di rumah, senantiasa membaca al-Qur&#39;an dan hadits, serta memahami dan mengamalkan apa yang telah diilmui olehnya.&lt;br /&gt;
Allah Ta&#39;ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.&quot;(al-Ahzab:34)&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Para istri adalah idola dan pengatur anak-anak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaan wanita tidak sama dengan keberadaan pria, apabila saat dia telah berkeluarga.&lt;br /&gt;
memang tugas mendidik anak adalah milik bersama antara suami dan istri. Namun kenyataanya tugas suami lebih banyak di habiskan di luar untuk mencari nafkah. Maka kewajiban istri yang berada di rumah lebih banyak daripada suami ketika sedang tidak di rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Ta&#39;ala memilihkan tempat tinggal bagi istri yang lebih aman dan lebih mudah saat mengurusi kebutuhan rumah tangganya, yaitu di rumah.&lt;br /&gt;
Sebagaimana telah Allah gambarkan dalam surat al-Ahzab: 33. Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan istri-istri Nabi shalallahu &#39;alaihi wa sallam agar berdiam diri di rumah dan tidak sering keluar bersolek sebagaimana yang diperbuat oleh wanita-wanita jahiliyyah. Supaya dapat ditiru oleh wanita muslimah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaan wanita apabila ia sudah berumah tangga, tatkala ia diperintahkan untuk tinggal di dalam rumah, memang sudah pas dan sesuai dengan kebutuhan kehidupan berumah tangga dan kemampuan wanita. &amp;nbsp;Bukankah anak kecil lebih banyak keberadaanya di dalam rumah daripada di luar, apalagi anak itu jumlahnya banyak. Maka mereka lebih selamat bila berada di rumah daripada dibawa keluar.&lt;br /&gt;
Keberadaan istri juga demikian, jika ia membawa &amp;nbsp;anak di luar rasanya akan lebih repot daripada mereka di rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;والْمرْأة راعية على بيت بعْلها وولده وهْى مسْئولة عنْهمْ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.&quot;(HR. Bukhari: 2/901)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indahnya pendidikan Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam &lt;/i&gt;ini, bahwa istri bukan hanya bertanggung jawab kepada hal yang ada hubungannya dengan hak suami yang harus dilaksanakan oleh pihak istri, tetapi beliau menyebutkan bahwa istri bertanggung jawab atas anak-anak suami, dan anaknya sendiri juga. Begitulah nikmatnya menjadi istri bila mau menerima sunnah Rasulullah shalallhu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Para istri hendaknya berusaha menjaga fitrah anak-anak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak adalah nikmat dan amanah yang Allah titipkan kepada para orang tua, buah hati yang harus dijaga, bukan hanya menjaga kesehatan fisiknya saja sebagaimana umumnya orang. Tetapi lebih dari itu, istri hendaknya menjaga fitrah anak yang suci agar ia tidak terkena noda yang mengakibatkan kerugian anak juga keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;كل موْلود يولد الْفطْرة فأبواه بهوّدانه أوْينصرانه أوْيمجّسا نه كمثل الْبهمة تنْتخ الْبهيمة هل ترى فيها جد عاء&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya yahudi, atau menjadikannya nasrani, atau yang menjadikannya majusi, seperti lahirnya binatang ternak, apakah kamu melihatnya cacat hidung dan telinganya?&quot;(HR. Bukhari 5/321)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Insya Allah jika istri memiliki bekal ilmu agama Islam yang cukup, dan sering menuntut ilmu syar&#39;i, akan mampu mendidik anaknya, menjaga kesucian fitrahnya, mengawasi setiap saat bagaimana tingkah laku anaknya dan anak sendiri akan selalu berada dalam pengawasan ilmu yang dikomandoi oleh ibunya. Anak menjadi shalih dan shalihah serta terhindar dari &amp;nbsp;fitnah kerusakan akidah dan moral kemungkinannya menjadi sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga keterangan singkat ini dapat membantu para istri yang sekaligus menjabat sebagai ibu dalam menjalankan tugasnya di rumah suami menuju keridhaan Allah &#39;Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Oleh:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ustadz. Aunur Rofiq Bin Ghufron, Lc.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Catatan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
--------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. HR. Abu Dawud 6/288 dishahihkan oleh al-Albani 1/515&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Majalah &quot;&lt;b&gt;al-Mawaddah&lt;/b&gt;-&lt;i&gt;majalah keluarga muslim&lt;/i&gt;&quot; - vol.69 - Safar 1435 H&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/1377371831996758566/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/istri-guru-terbaik-bagi-anak_27.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/1377371831996758566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/1377371831996758566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/istri-guru-terbaik-bagi-anak_27.html' title='Kiprah Istri Menjadi Pendidik Terbaik'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-6832454773634184471</id><published>2014-08-26T13:46:00.003+07:00</published><updated>2016-02-18T10:09:25.312+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fiqih Umum"/><title type='text'>Ziarah Kubur Yang Syari</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Ziarah Kubur Yang Syari&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;Hukum Ziarah Kubur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya ziarah kubur memang sesuatu yang dilarang oleh Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, karena di khawatirkan para sahabat akan melakukan kesyirikan ketika melakukan ziarah kubur. Sebab masih dekatnya dengan masa jahiliyah. Namun tatkala keimanan mereka sudah dianggap mapan, para sahabat telah memahami tentang keutamaan tauhid dan bahayanya syirik, telah mengetahui bentuk-bentuk kesyirikan, maka tatkala mereka melakukan ziarah kubur, tidak di khawatirkan &amp;nbsp;lagi akan melakukan kesyirikan.&lt;br /&gt;
Akhirnya, dengan alasan itu ziarah kubur diperintahkan oleh Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; kerena di dalamnya terdapat faedah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam &lt;/i&gt;bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;نهيْتكم عنْزيارة الْقبور فزوروها فإنّ في زيارتها تذْكرة&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Saya pernah melarang kalian dari ziarah kubur, maka sekarang ziarahlah, karena dalam ziarah kubur ada nasihat.&quot;(HR. Abu Dawud)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian maka ziarah kubur adalah sesuatu yang disyariatkan, hukumnya sunnah, dengan catatan terbebas dari unsur-unsur kesyirikan dan kebid&#39;ahan&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Tujuan Ziarah Kubur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ziarah kubur disyariatkan di dalam agama Islam dengan dua Tujuan:&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;1. Mengambil nasihat dan pelajaran dari apa yang disaksikan. Bahwa sesungguhnya orang-orang yang sekarang berada di dalam kubur sebelumnya mereka juga hidup di muka bumi seperti kita, atau bahkan mungkin ada diantara mereka yang kemarin masih sempat tertawa dan bercanda bersama kita. Namun tiba-tiba ajal datang menjemput dirinya. Sekarang dia harus kembali kepada Allah Ta&#39;ala. Dan akan seperti itulah keadaan kita, ajal akan datang, kita semua akan mati dan akhirnya kita juga akan dikubur. Dengan demikian seseorang akan mengambil pelajaran dari apa yang dia saksikan dan akan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah akan digunakan sebaik mungkin guna menyiapkan diri dari apa yang akan dia bawa ketika kembali kepada-Nya.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;2. Mendoakan orang yang telah mati, terkhusus orang yang mau diziarahi, dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Dengan dua tujuan ini, ketika seorang melakukan ziarah kubur, maka akan mendapatkan dua manfaat, salah satunya kembali kepada dirinya, dan yang lain kembali kepada orang yang di ziarahi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manfaat yang dia dapatkan adalah bisa mengambil pelajaran dari apa &amp;nbsp;yang dia lihat bahwa dia juga akan mati dan dikuburkan seperti saudara-saudaranya yang telah mendahuluinya.&lt;br /&gt;
Sedang manfaat yang didapatkan oleh yang diziarahi, mereka mendapatkan doa dari para peziarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun ziarah kubur dengan tujuan bertawasul, atau berdoa kepada orang shalih yang telah mati, maka ini tidak diperbolehkan dan termasuk bentuk kesyirikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Doa ziarah kubur yang diajarkan Rasulullah&lt;i&gt; shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita dapat membaca doa berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;السَّلاَمٌ عَلَيْكٌمْ دَارَقَوْمٍ مٌؤْ مِنِينَ وَأَتَاكٌمْ مَا تٌو عَدٌونَ غَدًا مٌؤَجَّلٌونَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَاللَّهٌ بِكٌمْ لَا حِقٌونَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&quot;&lt;/span&gt;Mudah-mudahan keselamatan atas kalian wahai penduduk kampung kaum yang beriman, dan mudah-mudahan datang kepada kalian apa yang dijanjikan untuk hari besok yang diakhirkan, dan insyaa Allah kami akan menyusul kalian.&quot;(HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau doa ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;السَّلاَمٌ عَلَى أَهْلِ الدَّيَارِمِنَالْمٌؤْمِنِينَ وَالمٌسْلِمِينَ وَيَرْحَمٌ اللّهٌ الْمٌسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمسْتَأْ خِرِينَ وَاإِنَّا إِن شَاءَاللّهٌ بِكٌم‌ْ لَلاَحِقٌونَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&quot;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Mudah-mudahan keselamatan atas penduduk negeri ini dari kalangan orang-orang yang beriman dan orang-orang Islam, dan mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang terdahulu diantara kita dan orang-orang yang belakangan dan insyaa Allah kami akan menyusul kalian.&quot;(HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau doa ini:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;السَّلاَمٌ عَلَى أَهْلِ الدَّيَارِ مِنَ الْمٌؤْمِنٍيْن‌َ وَالْمٌسْلِمِينَ وَإِنَّا إِن شَاءَاللّهٌ لَلاَحِقٌونَ أَسْأَلٌ اللّهَ لَنَاوَلَكٌمْ الْعَافِيَةَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Mudah-mudahan keselamatan atas penduduk negeri ini dari kalangan orang-orang yang beriman dan orang-orang Islam dan sesungguhnya kami akan menyusul. Mudah-mudahan Allah memberikan keselamatan untuk kami dan untuk kalian.&quot;(HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bolehkah Wanita Ziarah Kubur?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulama berselisih pendapat tentang wanita ziarah kubur. &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=&quot;color: magenta;&quot;&gt;Ada diantara mereka yang membolehkan&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, dan &lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;ada diantara mereka yang mengharamkan&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;ada pula diantara mereka yang memakruhkan.&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapat yang membolehkan berdalil dengan keumuman perintah Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam &lt;/i&gt;untuk ziarah kubur. Ini tidak terkhusus untuk kaum laki-laki, bahkan kaum wanita juga masuk kedalamnya, karena wanita juga perlu untuk ingat akhirat. Terlebih wanita sangat butuh untuk dinasihati dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pendapat yang melarang berdalil dengan hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alihi wa sallam&lt;/i&gt; melaknat wanita-wanita yang ziarah kubur. Dan sesuatu yang pelakunya dilaknat, tentu karena dia melakukan sesuatu yang diharamkan dalam agama Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun pendapat yang memakruhkan berdalil dengan perkataan ummu &#39;Athiyah &lt;i&gt;radhiyallahu&#39;anha&lt;/i&gt;, &quot;Kami dilarang dari mengantarkan jenazah, dan tidaklah Rasulullah bersungguh-sungguh melarang kami.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari tiga pendapat di atas, pendapat yang rajih (&lt;i&gt;insyaa Allah&lt;/i&gt;) yaitu wanita diperbolehkan untuk melakukan ziarah kubur selagi tujuannya benar, tidak melakukan perbuatan yang terlarang, dan tidak dijadikan sebagai kebiasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anas bin Malik &lt;i&gt;radhiyallahu&#39;anhu&lt;/i&gt; berkata, &quot;Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; melewati seorang wanita yang menangis di kuburan, lalu beliau bersabda, &#39;Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah....&#39;&quot;(HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hadits ini Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; tidak mengingkari keberadaan wanita tersebut di kuburan, tapi yang diingkari beliau adalah sebab ratapan dan tangisan wanita tersebut kepada anaknya yang telah dikuburkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah riwayat lagi dari Abdullah bin Abi Mulaikah berkata,&quot;Sesungguhnya Aisyah pada suatu hari datang dari kuburan. Lalu saya bertanya kepadanya,&#39;&lt;i&gt;wahai Ummul Mukminin, dari mana Anda datang?&lt;/i&gt;&#39; Dia menjawab, &lt;i&gt;&#39;Dari kuburan saudara saya, Abdur-Rahman bin Abi Bakar.&#39;&lt;/i&gt; Lalu saya bertanya lagi, &lt;i&gt;&#39;Bukankah Rasulullah melarang ziarah kubur? &lt;/i&gt;Dia menjawab, &lt;i&gt;&#39;Ya, dulu beliau melarang, lalu beliau memerintahkan untuk menziarahinya.&#39;&#39;&lt;/i&gt;(HR. Al-Hakim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mengkhususkan Hari Tertentu Untuk Ziarah Kubur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sering kita jumpai praktek di tengah masyarakat, banyak diantara mereka yang mengkhususkan hari-hari tertentu untuk ziarah kubur, seperti malam jum&#39;at, menjelang datang bulan Ramadhan, hari raya atau yang lainnya.&lt;br /&gt;
Lalu yang menjadi pertanyaan, adakah dalil dari al-Qur&#39;an maupun as-Sunnah yang menunjukkan keutamaan hari-hari tersebut sehingga dikhususkan untuk ziarah kubur?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;Jawabnya: &lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan hari-hari tersebut untuk berziarah kubur, karena perintah Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; untuk berziarah kubur sifatnya umum. Beliau tidak membatasinya pada waktu-waktu tertentu. Maka mengkhususkan hari-hari tertentu untuk ziarah kubur termasuk perkara yang baru dalam agama. Tidaklah seseorang diperbolehkan mengkhususkan suatu waktu untuk beribadah kecuali kalau memang ada dalilnya, karena ibadah itu harus didasari dengan dalil, baik dari segi sebabnya, jenis, ketentuan, cara, waktu maupun tempatnya. Maka ketika seseorang mengkhususkan hari-hari tertentu untuk ziarah kubur, dan tidak ada dalil yang menunjukkan tentang kekhususan hari tersebut, maka dia telah membuat cara yang baru di dalam beragama. Dan ini hukumnya terlarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tabur Bunga Ketika Ziarah Kubur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula termasuk praktek yang sering kita jumpai di tengah masyarakat, banyak diantara manusia melakukan tabur bunga ketika ziarah kubur. Bahkan seolah menjadi kebutuhan pokok, yang mana ziarah kubur dianggap tidak sempurna kecuali dengan menabur bunga. Lalu bagaimana hukum tabur bunga secara syar&#39;i?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kita tilik hadits-hadits yang datang dari Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam,&lt;/i&gt; maka kita tidak menjumpai praktek dari Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bahwa beliau menabur bunga ketika ziarah kubur. Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa tabur bunga bukan termasuk sunnah yang dicontohkan beliau, tapi lebih merupakan tradisi yang diambil dari orang-orang kafir dan diikuti oleh kaum Muslimin. Sebagai seorang muslim yang ingin memurnikan agamanya, tidak boleh mencampuri ibadahnya dengan tradisi-tradisi yang diambil dari orang-orang non-Muslim.&lt;br /&gt;
Dan hendaknya supaya benar-benar msncontoh apa yang dipraktekkan Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam,&lt;/i&gt; agar ibadahnya benar-benar diterima oleh Allah Ta&#39;ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Semoga bermanfaat... Aamiin&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Oleh:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ustadz. Abdul Kholiq&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Majalah &quot;&lt;b&gt;al-Mawaddah&lt;/b&gt;-&lt;i&gt;majalah keluarga muslim&lt;/i&gt;&quot; - vol.69 - Safar 1435 H</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/6832454773634184471/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/tata-cara-ziarah-kubur-yang-syar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/6832454773634184471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/6832454773634184471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/tata-cara-ziarah-kubur-yang-syar.html' title='Ziarah Kubur Yang Syari'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-2856229221176866795</id><published>2014-08-23T22:34:00.002+07:00</published><updated>2016-02-17T13:15:12.644+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fiqih Muslimah"/><title type='text'>Mengqadha Shalat Setelah Suci Dari Haidh</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Bagaimana Cara Mengqadha&#39; Shalat Setelah Suci Dari Haidh?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Assalamu&#39;alaikum&lt;/i&gt;. Ustadz, misalnya saya suci dari haidh waktu Ashar, kemudian saya shalat Ashar. Apakah saya harus mengqadha&#39; shalat Zhuhur juga? Ataukah saya hanya memperbanyak shalat sunnah untuk mengganti shalat yang tertinggal?&lt;br /&gt;
jazakumullahu khairan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;color: #3d85c6;&quot;&gt;(Ummu Tsaqif, kendal, +6281xxxxxxxx92)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wa&#39;alaikumsalam warahmatullah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama. Seorang wanita haidh yang suci pada waktu Ashar, apakah dia melaksanakan shalat Zhuhur dan Ashar ataukah Ashar saja? Begitu pula dengan wanita yang suci dari Haidh pada waktu shalat Isya&#39;, apakah dia shalat Maghrib dan Isya&#39; ataukah shalat Isya&#39; saja?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian ulama hanya mewajibkan shalat Ashar saja atau Isya&#39; saja, karena keumuman sabda Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;فأذا أقبلت‌ْ حيْضتك فدعى الصلاة، وإذا أدبرت فاغسلى عنك الدّمثم صلى&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large; font-weight: bold;&quot;&gt;&quot;&lt;/span&gt;Apabila datang haidhmu maka tinggalkanlah shalat, dan apabila haidh sudah selesai maka bersihkanlah darah dan shalatlah.&quot;(HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang nampak dari hadits ini, dia diperintahkan shalat pada waktu yang dia suci padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebagian ulama mengatakan, bahwa wajib baginya untuk shalat Zhuhur dan Ashar, atau Maghrib dan Isya&#39;. Alasannya, kedua shalat tersebut bisa dilaksanakan pada satu waktu jika ada udzur. Shalat Ashar boleh dilaksanakan pada waktu Zhuhur jika ada udzur seperti safar dengan menjamak &lt;i&gt;taqdim&lt;/i&gt;(diawalkan). Juga sebaliknya, shalat Zhuhur boleh dikerjakan pada waktu Ashar saat safar dengan menjamak &lt;i&gt;ta&#39;khir&lt;/i&gt; (diakhirkan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan pada waktu Zhuhur wanita tersebut haidh, dan itu adalah sebuah udzur, pada waktu Ashar dia telah suci, maka wajib baginya melaksanakan shalat Zhuhur dan Ashar. Demikian juga hukumnya untuk shalat Maghrib dan Isya&#39;. Ini adalah pendapat yang lebih hati-hati...&lt;i&gt;insyaa Allah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Oleh:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ustadz. Ahmad Sabiq Abu Yusuf, Lc.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Majalah &quot;&lt;b&gt;al-Mawaddah&lt;/b&gt;-&lt;i&gt;majalah keluarga muslim&lt;/i&gt;&quot; - vol. 69 - Shafar 1435 H</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/2856229221176866795/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/mengqadha-shalat-setelah-suci-dari-haidh_23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/2856229221176866795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/2856229221176866795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/mengqadha-shalat-setelah-suci-dari-haidh_23.html' title='Mengqadha Shalat Setelah Suci Dari Haidh'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-2874450202019949754</id><published>2014-08-23T12:40:00.004+07:00</published><updated>2016-02-17T13:22:32.577+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fiqih Puasa"/><title type='text'>Adakah Puasa Hari Lahir?</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Adakah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&amp;nbsp;Puasa Hari Lahir?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Assalamu&#39;alaikum&lt;/i&gt;.. Akhir-akhir ini banyak yang puasa hari kelahiran. Sebab ada yang mengatakan itu adalah sunnah. Berdalil dengan perbuatan Nabi shalallahu &#39;alihi wa sallam berpuasa Senin, Kamis. Ketika ditanya, jawabnya bahwa Senin hari beliau dilahirkan. Mohon penjelasan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;color: #6fa8dc;&quot;&gt;&lt;i&gt;(Pembaca, +6285xxxxxxx30)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wa&#39;alaikumsalam warahmatullah&lt;/i&gt;. Nash hadits tentang &lt;b&gt;&lt;u&gt;puasa Senin Kamis &lt;/u&gt;&lt;/b&gt;adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Dari Qatadah &lt;i&gt;radhiyallahu&#39;anhu&lt;/i&gt;, bahwa Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; ditanya tentang puasa pada hari Senin, maka beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;ذلك يوم ولدت فيه ويوم يعثت، أوْأنْزل عليّ فيْه&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Itu adalah hari saya dilahirkan, saya diutus dan di turunkan kepadaku al-Qur&#39;an.&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Dari Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu&#39;anhu&lt;/i&gt;, dari Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;تعرض الْأ عْمال يوْم الْإثْنيْن والْخميْس، فأحبّ أنْ يعْرض عنليْ وأنا صائم&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&quot;Amal perbuatan akan dipaparkan pada hari Senin dan Kamis, maka saya senang jika amalku dipaparkan saat saya sedang berpuasa.&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu&#39;anha&lt;/i&gt;, berkata:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يتخرّى صوْم الْإثْنيْن والْخميْس&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&quot;Rasulullah &lt;i&gt;shalallhu &#39;alaihi wa sallam &lt;/i&gt;memperhatikan untuk puasa pada hari Senin dan Kamis.&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits-hadits di atas menunjukkan baahwa puasanya Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alihi wa sallam &lt;/i&gt;karena 4 sebab:&lt;br /&gt;
1. Hari kelahiran beliau,&lt;br /&gt;
2. Hari diutusnya beliau,&lt;br /&gt;
3. Hari diturunkan padanya al-Qur&#39;an, dan&lt;br /&gt;
4. Hari dipaparkan amalan seorang hamba. Sedang hari kamis adalah karena itu hari dipaparkan amalan seorang hamba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Jadi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, puasanya Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; pada hari Senin &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;bukan semata karena hari kelahiran beliau, &lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;tapi karena sebab-sebab lainnya juga. Karena itulah tidak ada satu pun ulama (sepengetahuan saya) yang memahami hadits ini dengan puasa pada hari kelahirannya. &lt;i&gt;Wallahu a&#39;lam.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dijawab oleh:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ustadz. Ahmad Sabiq Abu Yusuf, Lc.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Catatan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
--------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. HR. Muslim&lt;br /&gt;
2. HSR. At-Tirmidzi, sebagaimana dalam al-Irwa&#39;: 949&lt;br /&gt;
3. HSR. An-Nasa&#39;i, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi, at-Tirmidzi berkata: &quot;Hasan Gharib.&quot; Sebagaimana dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 1044&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Majalah &quot;&lt;b&gt;al-Mawaddah&lt;/b&gt; - &lt;i&gt;majalah keluarga muslim&lt;/i&gt;&quot; - vol. 69 - Shafar 1435 H&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/2874450202019949754/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/adakah-puasa-hari-lahir_22.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/2874450202019949754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/2874450202019949754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/adakah-puasa-hari-lahir_22.html' title='Adakah Puasa Hari Lahir?'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-3224220336586336904</id><published>2014-08-21T22:37:00.001+07:00</published><updated>2016-02-17T14:10:00.655+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Renungan"/><title type='text'>Bagaimana Menyikapi Musibah</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;BAGAIMANA MENYIKAPI MUSIBAH?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Musibah ada sebabnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita semua yakin bahwa kejadian telah Allah Ta&#39;ala tetapkan dengan takdir-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi melainkan Allah penentu dan penciptanya. Namun perlu dipahami bahwa takdir Allah terjadi dengan sebab-sebab yang DIA kehendaki. Seperti itu juga musibah yang menimpa. Banyak perkara yang menjadi sebab ditimpakannya musibah, seperti kezaliman para penguasa, kezaliman orang kaya, kezaliman para tokoh masyarakat, juga termasuk kezaliman seluruh masyarakatnya.&lt;br /&gt;
Terbukti, tidak sedikit musibah yang Allah timpakan kepada umat-umat terdahulu karena berbagai kezaliman mereka. Salah satunya sebagaimana yang Allah telah sebutkan dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.&quot;(al-Israa&#39;: 16)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka durhaka kepada Allah dengan kekuasaan dan kekayaan mereka. Mereka sombong dengan kerendahan orang lain dan menolak nasihat kebenaran. Mereka merasa memiliki kekuatan, pengikut, harta yang banyak dan semisalnya. Sehingga mereka merasa aman dari petaka. Allah menyebutkan ungkapan kesombongan mereka di dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dan mereka berkata: &quot;Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab.&quot;(Saba&#39;: 35)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka menyangka dan meyakini bahwa kenikmatan besar yang mereka dapat di dunia menunjukkan &amp;nbsp;bahwa mereka dikasihi Rabbul &#39;alamin dan tidak akan diazab di akhirat. Padahal Allah tidak menyukai kekufuran dan kazaliman, bagaimana DIA mengasihi mereka seperti yang mereka yakini? Sengguh, ini merupakan kesalahan yang nyata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbuat zalim itu banyak sikap dan bentuknya, berupa mendustakan utusan Allah, menghina dan melecehkan mereka, berbuat dosa dan maksiat, dan termasuk merasa aman dari azab Allah pun merupakan kezaliman. Seluruhnya merupakan. Sebab-sebab ditimpakannya musibah sebagaimana yang telah disebutkan &amp;nbsp;di dalam beberapa ayat. (Seperti, al-A&#39;raf: 98-99, Yunus: 13, Hud: 27, al-Ahqaf: 25 dll)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kiat menangkal musibah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabiat manusia berusaha menjauhi musibah. Bahkan berbagai usaha dilakukan untuk menangkal musibah. Namun karena tidak semua orang mengetahui usaha yang tepat, akhirnya banyak yang berbuat salah sehingga tidak dimengerti bila sejatinya mereka justru telah mengundang musibah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya Islam telah &amp;nbsp;menunjukkan usaha yang tepat untul menangkal musibah. Yaitu dengan &lt;i&gt;bertaubat&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;istighfar&lt;/i&gt; serta menghindar &amp;nbsp;dari seluruh sebab datangnya musibah. Itulah usaha yang tepat untuk menangkal musibah. Jadi, bukan dengan meminta perlindungan kepada para (tidak) normal, dukun, dan semisalnya. Atau meminta perlindungan kepada para Nabi, atau para Wali, para Syaikh, dan orang-orang shalih yang sudah mati dengan memanggil-manggil mereka, atau meminta perlindungan kepada setan dengan memberikan sesajian atau tumbal, atau meminta perlindungan dengan memakai jimat, rajah dan semisalnya.&lt;br /&gt;
Semua merupakan sebab pengundang musibah. Karena semuanya merupakan kezaliman yang nyata. Hal ini yang mestinya diketahui oleh kaum muslim ketahui. Caranya, dengan gencar mencari dan menuntut ilmu...&lt;i&gt;wallahul muwaffiq&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hikmah dibalik musibah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah tidaklah melakukan sesuatu melainkan dengan hikmah ketuhanan yang tinggi.&lt;br /&gt;
Demikian juga dibalik musibah yang menimpa pun ada hikmah yang baik yang dikehendaki-Nya. Memang tidak semua orang mengetahuinya, lebih dari itu tidak semua orang mendapatinya.&lt;br /&gt;
Hal ini karena tingkatan keimanan seorang yang satu dengan yang lainnya berbeda. Ada orang yang kokoh imannya, ada yang lemah, ada pula yang kafir dan tidak lagi beriman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musibah bagi seorang yang beriman merupakan kejadian atas kehendak dan takdir Allah, diantaranya supaya hamba ini mengetahui bahwa Allah MahaKuasa atas seluruh makhluk-Nya. Lain lagi bagi orang kafir, musibah bagi mereka semata-mata bencana yang merusak alam dan merugikan kehidupan mereka.&lt;br /&gt;
Jelas sekali bahwa demikian itu bertentangan dengan iman dan menyelisihi nash-nash al-Qur&#39;an.&lt;br /&gt;
Sehingga hikmah musibah bagi mereka hanya sebagai hukuman dan adzab yang disegerakan di dunia sebelum mereka diadzab kelak di akhirat dengan adzab neraka. &lt;i&gt;Na&#39;udzubillah minannar.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kita pelajari al-Qur&#39;an, kita akan dapati berbagai hikmah di balik musibah, dianataranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Sebagai pelajaran dan nasihat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musibah yang didapati di sekitar kehidupan sorang yang tidak beriman maupun yang beriman merupakan pelajaran dan nasihat agar mereka yang kafit kembali menuju iman dan khusus bagi yang beriman serta masih menggeluti dosa agar segera ingat dan bertaubat kepada Allah. Ini merupakan bukti bahwa musibah, meskipun pahit namun demi kebaikan manusia. Inilah hikmah mulia di balik musibah. (QS. Al-Ahqaf: 27)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Penghapus dosa-dosa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hikmah ini khusus bagi orang yang beiman. Dan tidak ada seorang mukmin yang tidak pernah ditimpa musibah. Sekecil apapun wujudnya. Bahkan musibah itu sendiri memang baik bagi orang-orang yang beriman. Karena tidaklah Allah Ta&#39;ala menimpakan musibah kepada hamba-Nya yang beriman melainkan untuk menghapuskan dosa-dosanya. Rasulullah &lt;i&gt;shallahu &#39;laihi wa sallam &lt;/i&gt;bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;ما يصيب المسلم من نصب ولا وصب ولاهم ولاحزن ولاأذى ولاغم حتى الشوكة يشا كها، إلا كفر الله بها من خطاياه&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tidaklah menipa seorang muslim pun sebuah keletihan, tidak pula kesakitan, tidak pula kedukaan, kesedihan, kepedihan, atau kepiluan, sampai sebuah duri yang menusuk pun melainkan Allah akan hapuskan dengannya sebagian dosa-dosanya.&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Sarana memperbanyak pahala&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat seorang mukmin mengetahui bahwa musibah itu dari Allah sebagai ujian dan sebagai penghapus dosa maka ia dengan mudah tabah, Sabar dan bahkan bersyukur kepada Allah atas musibahnya. Dengan sikap baiknya tersebut sorang mukmin bisa memperbanyak pahala.&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;عجبت من قضاءالله عزوجل للمؤمن إن أصابه خير حندربه وشكر وإن أصابته مصيبة احتسب وصبرالمؤمن يؤجرفيزكل شيءحتى فى اللقمة ير فعها إلى فى امرأته&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Saya heran atas ketentuan Allah Ta&#39;ala atas seorang mukmin, jika dia mendapatkan kebaikan dia memuji Rabbnya dan bersyukur, dan jika ditimpa kemalangan ia berharap pahala (kepada Rabbnya) dan bersabar. Seorang mukmin akan diberi pahala atas seluruh (urusan)nya, sampai sesuap makanan yang dia angkat kemulut istrinya (pun berpahala).&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karenanya, sebagian ulama salaf berkata, &quot;Andaikan tidak ada musibah di dunia, tentu kita akan datang kelak pada hari kiamat dalam keadaan merugi tanpa membawa pahala.&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Sarana mendapat ampunan, kesejahteraan dan hidayah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi orang beriman yang sabar menghadapi musibah, tabah dan berharap pahala dari Allah maka akan diberikan baginya shalawat(ampunan atas dosa-dosa), rahmat dan hidayah hidup menuju dunia akhirat yang sejahtera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya masih banyak lagi hikmah yang baik di balik musibah, namun sekiranya hanya empat hal tersebut saja sudah cukup bagi seorang beriman sebagai bekal meraup kebaikan di balik musibah yang menimpanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bagaimana seorang mukmin menyikapi musibah?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan mengetahui berbagai hikmah yang baik di balik musibah, seorang mukmin akan menyikapi musibah dengan sikap yang paling baik pula. Karena musibah juga sebagai ujian agar diketahui siapa yang benar imannya dan siapa yang dusta imannya. Maka sikap seorang mukmin menghadapi musibah pun terwujud dalam bentuk ketegaran di dalam menghadapi ujian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Sorang mukmin akan mengembalikan musibah kepada Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan prinsip inilah seorang mukmin mampu tegar dan tetap istiqomah di atas imannya. Oleh karena Allah Ta&#39;ala telah menyebutkan:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.&quot;(al-Hadid: 22)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Menuju muhasabah (introspeksi diri)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak mudah bagi seorang untuk melihat kesalahannya sendiri. Namun bagi orang beriman, musibah merupakan salah satu perkara yang mengantarkannya menuju muhasabah(introspeksi diri). Sehingga ia akan tahu bahwa Allah mendatangkan musibah semata-mata karena kesalahan dan dosanya, bukan kazaliman-Nya, karena DIA Ta&#39;ala tidak berbuat zalim sedikitpun. Allah Ta&#39;ala berfirman tentang ucapan Nabi Adam &lt;i&gt;&#39;alaihissalam&lt;/i&gt; dan istrinya, Hawa &lt;i&gt;radhiyallahu&#39;anha&lt;/i&gt; yang beriman:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&quot;Keduanya berkata: &quot;Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.&quot;(al-A&#39;raf: 23)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia Ta&#39;ala berfirman tentang Diri-Nya:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;هَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا أَن تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ أَمْرُ رَبِّكَ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tidak ada yang ditunggu-tunggu orang kafir selain dari datangnya para malaikat kepada mereka atau datangnya perintah Tuhanmu. Demikianlah yang telah diperbuat oleh orang-orang (kafir) sebelum mereka. Dan Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri,&quot;(an-Nahl: 33)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah yang menjadikan seorang mukmin tidak menuduh atau menyalahkan Allah Rabbul &#39;alamin dengan musibah apapun yang menimpa mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bertaubat dan beristighfar kepada Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kerendahan dirinya di hadapan Allah, yang senantiasa didurhakai dengan berbagai maksiat dan dosa, seorang yang beriman akan segera bertaubat dan beristighfar kepada-Nya, memohon ampunan dan meminta dihapuskan kesalahannya. Karena hal itu merupakan solusi terbaik agar dihindarkan dari musibah dan dianugerahi kesejahteraan hidup. Allah menyebutkan seruan Nabi Nuh &lt;i&gt;&#39;alaihissalam&lt;/i&gt; kepada kaumnya:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا () يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا () وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;maka aku katakan kepada mereka: &#39;Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.&quot;(Nuh: 10-12)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Berlindung dan bertawakal kepada Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musibah pasti akan menimpa, sehingga seseorang hanya bisa berlindung kepada Allah dari buruknya musibah baginya, dan ia berserah diri &amp;nbsp;kepada-Nya semata. Yang demikian sebagai bentuk pengamalan firman Allah dalam surat at -Taubah ayat 51&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katakanlah: &quot;Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berlindung dan bertawakal dengan menyerahkan segala urusan kepada Allah semata, diiringi berharap kebaikan dari musibah yang menimpa dengan melakukan amal shalih kepada -Nya. Begitulah bukti benarnya iman dan takutnya mukmin kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang kafir berharap pengampunan dari Allah, akan tetapi mereka tetap berbuat jahat dan tidak mau taat. Inilah penipuan setan agar manusia &amp;nbsp;hanya merasa takut tapi tidak mau berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari siksa Allah. Berbeda dengan orang mukmin, mereka berupaya untuk mengamalkan amalan shalih karena cintanya kepada Allah, karena takut siksa-Nya. Di antaranya, berupa ditimpakannya musibah. Juga karena berharap ampunan dan Rahmat-Nya. Semoga Allah Ta&#39;ala memberikan taufiq kepada kita semua sehingga kita tetap istiqomah di atas iman dan sunnah meski musibah apapun yang terjadi pada diri kita....&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Aamiin&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Oleh:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Abu Ammar al-Ghoyami&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Catatan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
--------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. HR. Al-Bukhari: 5318 dan Muslim: 2572, dan ini lafazh al-Bukhari&lt;br /&gt;
2. HR. Ahmad: 1575 dihasankan oleh Syaikh Syua&#39;ib al-Arnauth)&lt;br /&gt;
3. Al-Iman bil Qadha&#39; wal Qadar, Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamud, hal. 106&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Majalah &quot;&lt;b&gt;al-Mawaddah&lt;/b&gt;-&lt;i&gt;majalah keluarga muslim&lt;/i&gt;&quot; - Vol. 69 - Shafar 1435 H&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/3224220336586336904/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/menyikapi-musibah_21.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/3224220336586336904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/3224220336586336904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/menyikapi-musibah_21.html' title='Bagaimana Menyikapi Musibah'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-6720555061894872345</id><published>2014-08-20T22:50:00.001+07:00</published><updated>2016-02-17T15:32:01.690+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Teladan"/><title type='text'>Ibadah Lebih Kusenangi Daripada Jabatan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Ibadah Lebih Kusenangi Daripada Jabatan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;Alkisah&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Imam Ahmad &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; meriwayatkan sebuah kisah menarik dari Sahabat Abdullah bin Mas&#39;ud &lt;i&gt;radhiyallahu&#39;anhu&lt;/i&gt; bahwa Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam p&lt;/i&gt;ernah bercerita:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada seorang laki-laki dari orang-orang sebelum kalian yang hidup sebagai seorang raja. Pada suatu saat terbesit dalam benaknya bahwa semua aktivitas yang kini dia kerjakan akan menghabiskan seluruh waktunya&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt; ¹&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;, dan hal itu akan menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Allah Ta&#39;ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian pada suatu malam dia bertekad mencari jalan untuk keluar dari dalam istinanya &lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;²&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; (tanpa diketahui oleh siapa pun) sehingga pada waktu subuh dia telah berada di sebuah negeri yang dikuasai oleh raja yang lain. Sampailah dia ditepi (pesisir) sebuah pantai yang penduduknya memiliki kebiasaan bekerja sebagai pemerah susu dengan upah yang dapat memenuhi kebutuhannya. Maka dia pun bekerja dengan mengambil upah. Dia memakan sebagian hasil upahnya dan menyedekahkan sisanya. Dia senantiasa melakukan hal yang demikian hingga sampailah berita tentang keutamaan dan kuatnya ibadahnya kepada raja (penguasa) negeri tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu sang raja mengutus seorang utusan kepadanya agar dia mau datang menemui raja tersebut. Namun, ia enggan untuk bertemu raja tersebut. Sang raja kembali mengutus utusan untuk memanggil dan terus memanggil agar ia datang kepadanya namun dia tetap menolak panggilan raja seraya berkata: &quot;&lt;i&gt;Tidak ada urusan antara aku dan dia&lt;/i&gt;.&quot; Hingga akhirnya sang raja pun datang sendiri dengan menaiki tunggangannya yang gagah. Begitu melihat kedatangan raja tersebut ia langsung berpaling dan beranjak pergi. Maka sang raja segera mennyusul dan mencari jejaknya namun tidak berhasil mengejarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Dalam keadaan demikian) sang raja itu memanggilnya: &quot;&lt;i&gt;Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak akan membahayakan kamu&lt;/i&gt;.&quot; Akhirnya, setelah dapat bertemu dengannya, sang raja bertanya: &quot;&lt;i&gt;Siapakah engkau? Semoga Allah merahmatimu&lt;/i&gt;.&quot; Dia menjawab:&quot;&lt;i&gt;Aku adalah fulan bin fulan, pemilik kerajaan ini dan itu. Aku telah memutuskan perkaraku karena aku berpikir bahwa apa yang aku kerjakan selama (menjadi raja) &amp;nbsp;itu menyita semua waktuku dan menyibukkan diriku dari beribadah kepada Rabbku. Karena itu, aku tinggalkan itu semua dan aku datang ke sini agar dapat beribadah kepada Allah.&lt;/i&gt;&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang raja menyahut: &quot;&lt;i&gt;Engkau tidak lebih membutuhkan hal itu daripada aku.&lt;/i&gt;&quot;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;³ &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;Setelah berkata demikian, dia turun dari kendaraannya dan melepaskan tunggangannya lalu ikut bersama laki-laki itu kemana pun perginya. Kemudian mereka selalu hidup bersama untuk beribadah kepada Allah Ta&#39;ala dan berdo&#39;a agar diwafatkan secara bersama. Akhirnya (Allah Ta&#39;ala mengabulkan do&#39;a mereka), mereka pun meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Usai menceritakan kisah di atas) Abdullah bin Mas&#39;ud &lt;i&gt;radhiyallahu&#39;anhu&lt;/i&gt; berkata: &quot;&lt;i&gt;Seandainya aku berada di Rumailah &lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;⁴ &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Mesir sungguh aku akan perlihatkan kepada kalian kuburan keduanya dengan sifat yang telah di jelaskan oleh Rasulullah shalallahu &#39;alaihi wa sallam kepada kami&lt;/i&gt;.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah di atas driwayatkan oleh Imam Ahmad: 1/451, Abu Ya&#39;la: 9/261, al-Bazzar dalam Musnadnya: 4/267, dan Di&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;shohih&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;kan oleh Syaikh al-Albani dalam Tahrij Ahadits Shohihah: 6/805&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Ibroh&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah di atas adalah sepenggal perjalanan hidup seorang laki-laki sholih dari Bani Israil yang dipilih kaumnya untuk menjadi raja bagi mereka. Hanya, dia merasa khawatir apabila kesibukan dalam mengurus negerinya akan dapat melalaikan dirinya dari beribadah kepada Allah Ta&#39;la.&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;u&gt;5&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Maka dengan tekad yang bulat dia memutuskan untuk pergi meninggalkan negerinya menuju bumi Allah Ta&#39;ala yang luas tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya. Dia menjauh dari tugas-tugas kenegaraan agar terhindar dari kesombongan sebagai kepala negara dan dapat beribadah kepada Allah Ta&#39;ala dengan leluasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya tekad yang demikian bukanlah perkara yang mudah karena duduk di kursi kekuasaan apalagi sebagai seorang kepala negara, bersanding dengan para pejabat dan orang-orang yang berpangkat lainnya, menjadi pemegang segala putusan hukum, dikagumi dan dihormati manusia merupakan perkara yang sangat dicintai oleh jiwa. Oleh karena itu, sangatlah mustahil bagi seseorang semisal laki-laki tersebut untuk meninggalkan tahta dan kerajaannya kecuali apabila ketulusan hati dan panggilan hati nuraninya lebih besar daripada bisikan-bisika &amp;nbsp;kemegahan dan kekuasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh hati laki-laki tersebut telah dipenuhi rasa takut kepada Allah Ta&#39;ala dan dia sangat khawatir apabila dia terus bertelekan di atas singgasana kekuasaannya akan membuat murka Rabb-nya. Rasa takut ini menjadikannya merasa mudah untuk meninggalkan itu semua menuju keadaan yang lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita bandingkan dengan keadaan para pemburu kursi kekuasaan pada saat ini. Mereka justru rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar untuk melicinkan jalan menuju kursi yang dia idamkan, memenuhi hawa nafsu yang tiada akhirnya tersebut!! &lt;i&gt;Wallahul Musta&#39;an&lt;/i&gt;. Tidakkah mereka mendengar sabda Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;منْ طلب القضاء واسْتعان عليْه وكل إليْه ومنْ لمْ يطْلبْه ولمْ يسْتعنْ عليْه أنْزل الله ملكا يسدّده&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barang siapa yang minta dijadikan pemutus perkara (hakim) &amp;nbsp;dan meminta pertolongan atasnya maka akan diberikan atasnya, dan barang siapa yang tidak memintanya maka Allah akan mengutus malaikat untuk meneguhkannya.&quot;(GR. Abu Dawud: 9/469)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ada yang &lt;i&gt;&lt;b&gt;bertanya&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, bukankah lebih utama bagi dua raja dalam kisah tadi untuk tetap memegang kekuasaannya dan menggunakannya untuk memperbaiki masyarakat, memberantas kemungkaran, serta menebarkan kebaikan di negerinya dan menegakkan syari&#39;at Allah??&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Jawabannya:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Hal ini berbeda untuk tiap-tiap individu. Sebagian manusia tidak dapat berlaku adil dalam menanggung amanah kepemimpinan. Dia mendapati pada dirinya ketimpangan dalam menjalankan urusannya, bahkan bisa jadi kepemimpinannya itu akan. Menggelincirkan jiwanya ke dalam lembah kenistaan dan perbuatan dosa kepada Allah Ta&#39;ala, atau terkadang dia mampu memegang tampuk kepemimpinan tetapi ia akan di hadapkan dengan penghalang-penghalang yang berbahaya yang dia tidak akan mampu menembusnya. Adapun apabila dia mampu mengatur urusan rakyatnya, mampu tetap kokoh memberantas kemungkaran dan menyebarkan kebaikan, maka yang lebih utama baginya adalah tetap duduk di atas singgasana kekuasaannya. Di samping lebih utama, itu lebih banyak pahalanya daripada memutus diri dari urusan dunia demi beribadah kepada Allah Ta&#39;ala. Balasan sepadan dengan amal perbuatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun kedua raja dalam kisah tadi termasuk dalam golongan pertama. Mereka merasa dirinya tidak akan mampu memikul amanah kepemimpinan. Sebab itu, hidup jauh dari kesibukan duniawi lebih utama bagi mereka daripada tetap berada di atas kursi kepemimpinan namun di ambang jurang kehancuran. &lt;i&gt;Wallahu a&#39;lam.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Mutiara Kisah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kisah di atas terdapat beberapa faedah yang bisa kita petik:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Diantara hamba-hamba Allah Ta&#39;ala, ada sebagian manusia yang lebih mendahulukan ibadah dan menghambakan diri kepada Allah Ta&#39;ala daripada kehormatan dan kekuasaan. Mereka adalah orang-orang pilihan yang berbeda dengan kebanyakan umumnya manusia, hingga hal itu menakjubkan manusia di mana pun mereka berada.&lt;br /&gt;
2. Pada kaum Bani Israil terdapat para &lt;i&gt;Khulafa&#39;&lt;/i&gt; (pemimpin negara) selain para &lt;i&gt;anbiya&#39;&lt;/i&gt; (para Nabi) yang mengurusi urusan mereka.&lt;br /&gt;
3. Pada zaman tersebut sudah dikenal beberapa keahlian berupa kerajinan tangan seperti dijumpainya benda-benda industri dan produk olahan seperti barang tambang dan susu.&lt;br /&gt;
4. Disyari&#39;atkannya &lt;i&gt;Mu&#39;amalah&lt;/i&gt; berupa bekerja yang dibayar dengan upah tertentu, dimana mereka bekerja dengan memerah susu yang dengannya dapat memenuhi kebutuhan hidupnya seperti yang dilakukan oleh seorang raja yang lari dari negerinya tersebut. &lt;i&gt;Wallahu a&#39;lam.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Oleh:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ustadz. Abu Faiz hafizhahullah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Catatan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;1. Dalam sebuah riwayat bahwa ia senantiasa shalat malam di atas Baitul Maqdis di tengah terangnya bulan.&lt;br /&gt;
2. Dalam riwayat lain dia keluar dengan menggunakan tambang yang terikat di masjid.&lt;br /&gt;
3. Artinya: &quot;Aku pun merasakan hal yang sama sepertimu.&quot;(pen)&lt;br /&gt;
4. &lt;i&gt;Rumailah&lt;/i&gt; adalah bentuk &lt;i&gt;Tasghir (&lt;/i&gt;pengecilan) dari &lt;i&gt;Romlah. &lt;/i&gt;Romlah adalah salah satu nama kota di palestina yang berada dekat &amp;nbsp;dengan Baitul Maqdis. Dikatakan bahwa yang disebut sebagai &lt;i&gt;ar-Rumailah &lt;/i&gt;ada tiga tempat yaitu sebuah kota yang ada di palestina, sebuah tempat antara Bashrah dan Makkah, dan ada sebuah perkampungan yang ada di Bahrain. (Lihat Mu&#39;jam al-Buldan: 3/73). Dr. Umar Sulaiman Abdulloh al-Asyqor berkata: mungkin juga yang di sebut ar-Rumailah disini adalah sebuah kota yang berpasir berada di dekat pantai di Mesir atau sebuah kota yang tidak penting dan tidak di kenal manusia sehingga disebut dengan sebutan itu (pengecilan-pen).&quot; (&lt;i&gt;Shohih Qoshos han Nabawi: 297)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
5. Memang inilah kenyataan yang sering terjadi pada kebanyakan para pemegang amanat rakyat, mereka sering melalaikan tugasnya sendiri sebagai seorang hanba Allah Ta&#39;ala yaitu untuk ibadah kepada Allah Ta&#39;ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Majalah &quot;&lt;b&gt;al-Furqon&lt;/b&gt;_&lt;i&gt;menebar dakwah salafiyah ahlussunnah wal jama&#39;ah&lt;/i&gt;&quot; - Edisis 10 tahun kedelapan | Jumadal Ula 1430 H</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/6720555061894872345/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/ibadah-lebih-kusenangi-daripada-jabatan_20.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/6720555061894872345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/6720555061894872345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/ibadah-lebih-kusenangi-daripada-jabatan_20.html' title='Ibadah Lebih Kusenangi Daripada Jabatan'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-3975888318338053418</id><published>2014-08-19T05:37:00.001+07:00</published><updated>2016-02-18T10:34:30.513+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tafsir"/><title type='text'>Akibat Bagi Kaum Pembangkang</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Akibat Bagi Kaum Pembangkang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;[Mengambil Pelajaran Dari Umat Terdahulu]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;&lt;i&gt;Tafsir surat al-Buruj: 17-22&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْجُنُود(١٧) فِرْعَوْنَ وَثَمُود (١٨) بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي تَكْذِيب(١٩) وَاللَّهُ مِن وَرَائِهِم مُّحِيطٌ (٢٠) بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيد (٢١) فِي لَوْحٍ مَّحْفُوظ (٢٢)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) fir&#39;aun dan (kaum) Tsamud? Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan. Padahal Allah memgepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur&#39;an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penghibur hati datang dari Allah Ta&#39;ala untuk Nabi Muhammad &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; serta umatnya, tatkala mereka berdakwah kepada Allah dan menjumpai rintangan dari orang-orang kafir maupun orang musyrik, layaknya rintangan dari kaum fir&#39;aun dan Tsamud. Begitulah seterusnya dengan berlalunya zaman, keadaan orang-orang mukmin akan senantiasa dirintangi oleh para penentang agama yang murni, sebagai ujian agar bersabar menghadapi segala aral sebagaimana para Rasul terdahulu saat mendapatkan rintangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihatlah, bagaimana perjalanan Nabi Musa &lt;i&gt;&#39;alaihissalam&lt;/i&gt; menghadap Fir&#39;aun serta bala tentaranya yang mengaku diriinya sebagai Tuhan. Atau bagaimana kisah Nabi Shalih &lt;i&gt;&#39;alaihissalam&lt;/i&gt; bersama kaum Tsamud yang sangat menentang, sampai akhirnya Nabi Shalih &lt;i&gt;&#39;alaihissalam&lt;/i&gt; mengatakan kepada kaumnya yang dikutip oleh al-Qur&#39;an (yang artinya):&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.&quot; (Al-A&#39;raf:79)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski demikian, Allah selalu menjaga agama-Nya serta orang-orang yang beriman dari perbuatan para perusak dan para pendusta, walaupun mereka berupaya merusak dan menodai wahyu al-Qur&#39;an, niscaya tetap sia-sia, karena Allah senantiasa menjaga al-Qur&#39;an di Lauh Mahfuzh.&lt;br /&gt;
Sedangkan kesudahan bagi para penentang adalah adzab yang sangat pedih, sehingga tidak akan ada seorang pun di antara mereka dapat lolos dari siksa-Nya. Karena Allah mengepung mereka dari segala arah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukuplah kisah-kisah terdahulu sebagai penggugah iman dan penenteram hati, agar kaum sesudahnya semangat dalam menegakkan kalimat Allah yang tinggi serta selalu bersabar, walau banyak para penentang. Dan sebagai pelajaran, bahwa ahlul batil selalu membenci al-haq beserta pelakunya di semua zaman sampai hari kiamat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tafsir Ayat:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada ayat sebelumnya Allah mengabarkan tentang tindakan orang-orang kafir terdahulu, seperti Ashabul Ukhdud saat menentang seruan para Rasul, setelah itu Allah menyebutkan kekuasaan, kebesaran serta kemampuan-Nya menyiksa orang-orang kafir itu dengan api Jahannam jika mereka tidak bertaubat. Allah juga memberi anugerah surga kepada para Rasul dan bersabar atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, pada ayat di atas Allah Ta&#39;ala memberi hiburan kepada Nabi Muhammad &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam,&lt;/i&gt; dengan menjamin kemurnian al-Qur&#39;an dan dikabarkan tentang adanya kaum pendusta dari kaum-kaum Rasul terdahulu, sebagaimana kafir Quraisy periode Makkah mendustakan Rasulullah &lt;i&gt;shalallah &#39;alaihi wa sallam.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْجُنُود(١٧) فِرْعَوْنَ وَثَمُود (١٨)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang,(yaitu kaum) Fir&#39;aun dan (kaum) Tsamud?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ath -Thabari menafsirkan, &quot;Allah mengingatkan kepada Nabi Muhammad &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt;: Apakah sudah datang kepadamu Wahai Muhanmad, tentang cerita kaum penentang yang menentang Allah dan Rasul-Nya dengan menyakiti dan membuat kebencian mereka? Jika sudah datang kepadamu hal itu dan engkau sudah mengetahuinya, maka bersabarlah dengan gangguan kaummu padamu jika mereka memberikan sesuatu yang tidak disenangi, sebagaimana bersabarnya para Rasul-Ku saat dimusuhi.&lt;br /&gt;
Dan janganlah engkau menyembunyikan risalah-Ku untuk disampaikan kepada mereka, sebagaimana para Rasul-Ku terdahulu tidak menyembunyikan kepada mereka. Bahkan akibat bagi orang yang tidak membenarkan &amp;nbsp;dan mengimanimu sesungguhnya dalam keadaan binasa lagi hancur, sebagaimana para musuh terdahulu.&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sebagai penguat bagi ayat sebelumnya, &amp;nbsp;saat Allah Ta&#39;ala menjelaskan adzab-Nya benar-benar keras. Seakan, Allah memgatakan, bahwa bila Allah Ta&#39;ala menindak orang yang zalim, maka Allah Ta&#39;ala akan menindaknya dengan tindakan yang pedih lagi sangat, sebagai adzab dari Yang Maha Perkasa lagi Mahakuasa.&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي تَكْذِيب(١٩)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sesungguhnya orang-orang kafir selalu memdustakan,&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ath-Thabari menafsirkan, &quot;Tidaklah kaum yang mendustakan ancaman Allah Ta&#39;ala sebelum datang kepada mereka kabar para pendahulu mereka yang mendustakan utusan Allah, seperti Fir&#39;aun beserta kaumnya, Tsamud dan yang semisal mereka, serta apa yang telah Allah timpakan atas mereka siksaan lantaran kedustaan mereka terhadap para utusan.&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;وَاللَّهُ مِن وَرَائِهِم مُّحِيطٌ (٢٠)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka,&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asy-Syaukani menafsirkan, &quot;Allah mampu menurunkan adzab atas mereka sebagaimana diturunka pada orang-orang sebelumnya, dan arti mengepung adalah mengepung dari segala sisi, sebagai permisalan bahwa mereka tidak akan mampu lolos disebabkan yang mengawasi tidak pernah lengah dari yang diawasi.&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;4&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيد (٢١)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Bahkan yang didustakan merek itu ialah al-Qur&#39;an yang mulia,&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ath-Thabari menafsirkan,&quot;Allah berfirman sebagai penolakan dari-Nya kepada orang yang mengatakan al-Qur&#39;an adalah syair atau sajak. Bukanlah itu demikian adanya, bahkan dia adalah al-Qur&#39;an yang mulia.&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;فِي لَوْحٍ مَّحْفُوظ (٢٢)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As-Sa&#39;di mengatakan, &quot;Yaitu (disimpan) &amp;nbsp;dari perubahan, tambahan maupun pengurangan, dan terjaga dari para setan. Dan itulah Lauh mahfuzh yang benar-benar Allah tetapkan di dalamnya segala sesuatu. Hal ini menunjukkan atas kemuliaan al-Qur&#39;an, kebesarannya, dan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah.&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Faedah-Faedah Ayat:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Perintah supaya tadabur (merenungi al-Qur&#39;an).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pentingnya tadabur al-Qur&#39;an dan melihat kekuasaan Allah di muka bumi dalam rangka menambah dan menggugah keimanan, serta memperdalam pengetahuan tentang Allah dan kekuasaan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti dalam hal ini, Allah memerintahkan Nabi-Nya agar mengingatkan orang-orang yang mempunyai akal supaya mengingat kaum-kaum terdahulu agar dapat memetik pelajaran darinya, sehingga mampu menambah kesabaran dan ketabahan dalam mengemban amanah dari Allah atas gangguan para pendusta dan mengacau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun bagi para penentang dan pendusta, hendaknya selalu mengingat bagaimana akhir &amp;nbsp;kaum-kaum terdahulu yang berakhir dengab kehancuran saat mereka bersikukuh menentang wahyu Allah yang diturunkan. (QS. Yusuf: 110)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Ancaman keras bagi yang mendustakan utusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah memperingatkan dengan keras bagi penentang ajaran Rasul, supaya mereka bertaubat dan memperacayai serta mengimani semua yang dibawa oleh Rasulullah sebelum Allah menurunkan Adzab-Nya. Karena bagaimanapun juga kaum yang mendustakan utusan berhak mendapat hukuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan jika Allah sudah menurunkan adzab-Nya, tidak ada yang dapat lolos darinya sedikitpun. Allah selalu mengawasi gerak-gerik mereka dengan ilmu-Nya yang sangat luas serta kemampuan-Nya yang tak &amp;nbsp;tertandingi, sehingga &amp;nbsp;mereka mendapat balasan yang setimpal atas perbuatannya. (QS. Al-Fajr: 14)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Para pendusta adalah pengikut hawa nafsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Termasuk ciri-ciri para pendusta, mereka selalu mendahulukan hawa nafsu daripada wahyu ketika diberikan nasihat. Itulah adat kebiasaan &amp;nbsp;mereka dari zaman dahulu sampai sekarang dan hingga Kiamat, sehingga mereka termasuk orang yang tersesat.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.&quot;(al-Qashash: 50)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Adanya hujjah(alasan) di muka bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hujjah (bukti dan alasan) sudah berada di muka bumi, sehingga tidak ada alasan lagi bagi para pendusta terhadap Allah ketika adzab turun kepada mereka. Yaitu dengan diturunkannya wahyu, diutusnya para Rasul, dan diperlihatkannya jejak-jejak kaum terdshulu yang dibinasakan oleh Allah. (Semisal dalam QS. Ash-Shaffat: 136-138 dan al-Hajj:78-79)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Kedudukan al-Qur&#39;an yang sangat tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur&#39;an merupakan kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; melalui malaikat Jibril &#39;alaihissalam, sangat tinggi kedudukannya, luas maknanya, penuh dengan ilmu dan kebaikan, menakjubkan dalam lafazhnya, makna, hukum, beritanya, peringatannya, janji serta ancamannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur&#39;an bukanlah syair atau sajak, pun bukan perkataan tukang sihir atau bahkan setan. Namun ia adalah kalam Rabbul &#39;alamin, Allah Ta&#39;ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Jaminan Allah Ta&#39;ala terhadap kemurnian al-Qur&#39;an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah memberikan jaminan kemurnian al-Qur&#39;an sampai datangnya hari di mana Allah&lt;br /&gt;
Ta&#39;ala mengangkat al-Qur&#39;an kembali di akhir zaman, &amp;nbsp;sehingga aman dari rekayasa para musuh. Allah Ta&#39;ala berjanji akan menjaganya dari tambahan, pengurangan, penyelewengan, dan perubahan setelah diturunkan di muka bumi.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&quot;Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.&quot;(al-Hijjr: 9)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wallahu A&#39;lam...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Oleh:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ustadz. Muhammad Aunus Shofy&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Catatan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
---------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Tafsir ath-Thabari 24/347&lt;br /&gt;
2. Tafsir Ibnu Katsir 8/373&lt;br /&gt;
3. Tafsir ath-Thabari 24/347&lt;br /&gt;
4. Tafsur Fathul Qadir surat al-Buruuj.&lt;br /&gt;
5. Tafsir ath-Thabari 24/347&lt;br /&gt;
6. Idem&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Majalah &quot;&lt;b&gt;al-Mawaddah&lt;/b&gt; - &lt;i&gt;majalah keluarga muslim&lt;/i&gt;&quot; - vol.69 - Safar 1435 H</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/3975888318338053418/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/akibat-bagi-kaum-pembangkang_18.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/3975888318338053418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/3975888318338053418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/akibat-bagi-kaum-pembangkang_18.html' title='Akibat Bagi Kaum Pembangkang'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6307589531330789766.post-5339907049943170113</id><published>2014-08-17T16:46:00.002+07:00</published><updated>2016-02-18T10:23:25.241+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fiqih Puasa"/><title type='text'>Batalkah Puasanya Orang Yang Suka menggunjing</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Batalkah Puasanya Orang Yang Suka menggunjing?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;Alkisah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikisahkan bahwa pada zaman Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam &lt;/i&gt;ada dua orang wanita yang berpuasa, lalu ada yang menceritakan perihal keduanya kepada Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;/i&gt; Dia berkata: &quot;Wahai Rasulullah, disini ada dua orang wanita yang berpuasa, keduanya hampir mati karena kehausan.&quot; Ternyata Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; berpaling dan tidak menggubrisnya. Orang itu pun datang lagi kepada beliau dan kembali menceritakan kejadian tersebut. Dia berkata: &quot;Wahai Rasulullah keduanya hampir mati.&quot; Maka Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam &lt;/i&gt;bersabda: &quot;Panggil keduanya.&quot; Akhirnya kedua wanita itu pun datang. Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam &lt;/i&gt;meminta untuk diambilkan sebuah ember, lalu beliau bersabda: &quot;Muntahlah.&quot; Maka salah satu dari keduanya pun muntah, ternyata dia memuntahkan air nanah bercampur darah sehingga memenuhi setengah ember. Lalu Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; memerintahkan kepada wanita yang satunya lagi untuk muntah, dan dia pun memuntahkan nanah bercampur darah sehingga ember itu penuh, lalu beliau bersabda: &quot;Kedua wanita ini berpuasa dari apa yang dihalalkan oleh Allah namun malah berbuka dengan apa yang diharamkan oleh-Nya, keduanya duduk-duduk untuk makan daging manusia.&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kemasyhuran Kisah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah ini cukup masyhur dan banyak disampaikan oleh sebagian penceramah terutama saat bulan Ramadhan untuk memperingatkan kaum muslimin yang sedang berpuasa agar tidak melakukan perbuatan haram semacam menggunjing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Derajat Kisah ini&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah ini &lt;b&gt;Lemah&lt;/b&gt;. Syaikh al-Albani rahimahullah (Dalam Silsilah Ahadits Dho&#39;ifah 519) menyebutkan:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;إنّ هاتيْن صامتا عمّا أحلّ الله وأفْطرتا على ماحرّم الله عزّوجلّ عليْهما جلستْ إحْداهما إلى الْأخْرى فجعلتا تأْكلان لحوم النّاس&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sesungguhnya kedua orang wanita ini berpuasa dari apa yang dihalalkan oleh Allah namun berbuka dengan apa yang diharamkan oleh Allah atas keduanya. Salah seorang dari keduanya duduk pada yang lainnya lalu keduanya memakan daging manusia.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian beliau (Syaikh al-Albani) berkata: &quot;Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (5/431) dari seseorang dari Ubaid maula Rasulullah shalallahu &#39;alaihi wa sallam berkata: -lalu rowi hadits ini menceritakan kejadian di &amp;nbsp;tas-. Sanad hadits ini lemah karena ada seorang rowi yang tidak disebutkan namanya. Al-Hafizh al-Iraqi (1/211) berkata: &#39;Dia orang yang tidak dikenal.&#39; Hadits ini juga diriwayatkan oleh ath-Thoyalisi (1/188), Beliau berkata telah menceritakan kepada kami Robi&#39; dari Yazid dari Anas.&#39; Sanad ini sangat lemah. Robi&#39; (yang dimaksud) ini adalah Robi&#39; bin Shobih, dia seorang yang lemah. Sedangkan Yazid (yang dimaksud disini) adalah Yazid bin Aban ar-Ruqosyi, dia seorang yang matruk (haditsnya ditinggalkan).&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Faedah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertama:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kendati diketahui bahwa hadits ini lemah, janganlah seorangpun beranggapan bahwa ghibah (menggunjing orang lain) saat puasa diperbolehkan. Pembahasan tentang lemahnya hadits ini sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Akan tetapi, perlunya di bahas tentang kelemahan kisah ini hanya untuk menunjukkan bahwa kisah ini tidak boleh dinisbahkan kepada Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai masalah ghibah, tidak ada seorang pun yang meragukan bahwa ghibah adalah haram baik pada saat puasa maupun tidak.&lt;br /&gt;
Ketika menafsirkan Surat al-Hujurot ayat 12, Imam Ibnu Katsir &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata:&lt;br /&gt;
&quot;Ghibah haram menurut kesepakatan para ulama dan tidak ada perkecualian sedikitpun selain yang lebih kuat maslahatnya seperti untuk jarh dan ta&#39;dil atau untuk sebuah nasihat.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam al-Qurthubi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata: &quot;Para Ulama sepakat bahwa ghibah merupakan dosa besar.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlalu banyak dalil yang menunjukkan atas hal itu, diantaranya adalah surat al-Hujurot: 12 dan sabda &amp;nbsp;Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dalam hadits berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;عنْ أنس رضي الله عنه قال قال رسو ل الله صلى الله عليه وسلم لمّ عرج بيْ مررْت بقوْم لهمْ أظْفارمنْ نحاس يخمشوْن وجوْههمْ وصدوْرهمْ فقلت منْ هؤلاءيا جبْريْل قال هؤلاءالّذيْن يأْكلوْن لحوْم النّاس ويقعوْن في أعْراضهمْ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dari Anas &lt;i&gt;radhiyallahu&#39;anhu&lt;/i&gt; beliau berkata: Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: &quot;Pada saat di mi&#39;rojkan saya melewati satu kaum yang memiliki kuku dari tembaga, mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Maka saya bertanya: &#39;Wahai Jibril, siapakah mereka itu?, Jibril menjawab:&#39;Mereka adalah orang-orang yang makan daging manusia (berbuat ghibah-pent) dan mencela kehormatan orang lain.&#39;&quot;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di samping itu, orang yang melakukan ghibah saat berpuasa dikhawatirkan puasanya tidak akan berpahala.&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large; font-weight: bold;&quot;&gt; &lt;/span&gt;bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;عنْ أبي هريْرة رضي الله عنه قال قال رسو ل الله صلى الله عليه وسلم؛ (منْ لمْ يدعْقوْل الزّور والعمل به فليس لله حا جة فيْ أنْ يدع طعامه وشرابه)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dari Abu Hurairoh &lt;i&gt;radhiyallahu&#39;anhu&lt;/i&gt;, beliau berkata: &quot;Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: &#39; Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan haram dan malah mengerjakannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.&#39;&quot;(al-Bukhari)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;عنْ أبي هريْرة رضي الله عنه..أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال(الصّيام جنّة، فلا يرْفثْ ولا يجهل، وإن امْرؤ قا تله أوْ شا تمه فليقلْ إنّى صائم)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dari Abu Hurairoh &lt;i&gt;radhiyallahu&#39;anhu&lt;/i&gt; bahwasanya Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu &#39;alaihi wa sallam &lt;/i&gt;bersabda: &quot;Puasa adalah perisai, maka jangan berkata kotor, dan jangan berbuat kebodohan. Jika ada seseorang yang memerangimu atau mencelamu maka katakanlah: &#39;saya sedang puasa.&#39;&quot;(Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedua:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah ghibah membatalkan puasa atau tidak?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawabannya, ghibah dan perbuatan haram lainnya tidak membatalkan hakikat puasa. Hanya, perbuatan haram tersebut bisa membatalkan atau mengurangi pahala puasa, sebagaimana keterangan di atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, Ibnu Hazm &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; menganggap bahwa semua perbuatan haram tersebut bisa membatalkan puasa seseorang. Beliau berkata (al-Muhalla no. 734): &quot;Puasa juga bisa batal dengan menyengaja berbuat maksiat, apa pun perbuatan maksiat tersebut tanpa ada satu pun yang terkecuali, jika dia melakukannya sengaja dan ingat kalau sedang puasa. Seperti menyentuh atau mencium selain istrinya, atau berdusta, ghibah, namimah (mengadu domba), sengaja meninggalkan shalat, berbuat dzalim (aniaya), atau perbuatan haram lainnya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, yang benar -&lt;i&gt;Insyaa Allah&lt;/i&gt;- adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa ghibah tidaklah membatalkan puasa.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Allahu A&#39;lam&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Oleh:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ustadz. Ahmad Sabiq Bin Abdul Lathif Abu Yusuf حفظه الله&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Catatan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Maksud lafazh &quot;berpuasa dari apa yang dihalalkan oleh Allah &quot; adalah keduanya menahan diri dari makan makanan yang halal, karena puasa keduanya saat itu adalah puasa sunnah, sedangkan makna &quot;dan berbuka dengan yang di haramkan oleh Allah &quot;adalah bahwa saat keduanya berpuasa, keduanya berbuat ghibah (menggunjing orang lain) sedangkan pelaku ghibah itu sama saja dengan memakan daging bangkai manusia. Sebagaimana tersebut dalam surat al-Hujurot ayat 12.&lt;br /&gt;
2. HR. Abu Dawud: 4878, lihat Shohih Targhib: 2839&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Majalah &quot;&lt;b&gt;al-Furqon&lt;/b&gt; _ &lt;i&gt;Menebar Dakwah Salafiyah Ahlussunnah Wal Jama&#39;ah&lt;/i&gt; &quot; Edisi 10 tahun kedelapan | Jumadal Ula 1430 H</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/feeds/5339907049943170113/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/puasanya-wanita-penggunjing_17.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/5339907049943170113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6307589531330789766/posts/default/5339907049943170113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislamdansunnah.blogspot.com/2014/08/puasanya-wanita-penggunjing_17.html' title='Batalkah Puasanya Orang Yang Suka menggunjing'/><author><name>AL-MA&#39;ASY SITE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13939095142899058772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>