<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Alid Abdul</title>
	<atom:link href="https://www.alidabdul.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.alidabdul.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 28 Feb 2021 23:08:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
	<item>
		<title>Reuni di Gunung Tanggung</title>
		<link>https://www.alidabdul.com/reuni-di-gunung-tanggung/</link>
					<comments>https://www.alidabdul.com/reuni-di-gunung-tanggung/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[alidabdul]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2021 23:08:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Post]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.alidabdul.com/?p=9809</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Hid weekend ini nganggur nggak? Kamping yuk!&#8221; Saya mengontak seorang kawan bermain saat kecil dahulu, yang sekarang dia menetap di Pasuruan. Sahabat saya inilah yang menemani saya pertama kali menginjakkan kaki ke luar negeri. Beberapa tahun berlalu, jalan ninja kami sungguh berbeda. Agak ragu sebenarnya mengajak dia kamping, sebab saya tahu dia sama sekali nggak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Hid weekend ini nganggur nggak? Kamping yuk!&#8221; Saya mengontak seorang kawan bermain saat kecil dahulu, yang sekarang dia menetap di Pasuruan. Sahabat saya inilah yang menemani saya pertama kali menginjakkan kaki ke luar negeri. Beberapa tahun berlalu, jalan ninja kami sungguh berbeda.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-1.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-1.jpg" alt="" class="wp-image-9802"/></a></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Agak ragu sebenarnya mengajak dia kamping, sebab saya tahu dia sama sekali nggak suka dengan kegiatan outdoor, apalagi naik gunung. &#8220;Hayukkk, kemana?&#8221; Ternyata dia malah antusias dengan ajakan saya dengan alasan sudah bertahun-tahun kita nggak pernah piknik bareng. &#8220;Ke Gunung Tanggung?&#8221; Jawab saya. &#8220;Tapi aku ngajak temen yak?&#8221; Gassssssss budalkan.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-2.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-2.jpg" alt="" class="wp-image-9803"/></a></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Saya harus memastikan ke dia bahwa Gunung Tanggung hanyalah bukit kecil yang nggak susah untuk didaki bahkan untuk pemula sekalipun. Beberapa tahun lalu dia pernah saya bujuk untuk ngetrip ke Kawah Ijen, sepulang dari Kawah Ijen dia benar-benar kapok nggak akan pernah mau naik gunung lagi. Padahal saya sendiri juga belum tahu kondisi jalur Gunung Tanggung seperti apa muehehehehehe. Berdasarkan yang saya baca, dan tanya beberapa teman Instagrammer yang sudah pernah ke sana. Katanya sih hanya butuh 30 menitan untuk sampai puncaknya. Ah enteeeeengggggggg!!!!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berangkat pukul 4 sore, saya memacu kuda besi butut andalan saya menuju Kota Pasuruan dari Jombang untuk menjemput kawan saya. Sialnya, matras saya modyar melayang hilang di Bundaran Gempol karena lepas dari tali strap ransel. Padahal matras tersebut juga hasil minjem temen yang sudah pensiun mendaki bhuahahaha. Butuh sekitar dua jam sebelum akhirnya saya sampai di area Bugul Kidul daerah dia tinggal. Meski dia bertahun-tahun menetap di Pasuruan, tetapi dia nggak tahu jalanan. Bahkan nama Gunung Tanggung pun dia baru dengar, padahal masih termasuk wilayah Pasuruan. Jiwa mblusuknya benar-benar lenyap. Jadilah kami menuju Gunung Tanggung mengandalkan Google Maps.</p>



<figure class="wp-block-gallery aligncenter columns-2 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Di aplikasi peta sejuta umat, saya ketik <strong>&#8220;Petilasan Mbah Wali Besi, Mbah Endang Sari&#8221;</strong> sebagai destinasi. Karena memang lokasinya jadi satu dengan petilasan tokoh yang dimuliakan tersebut. Setelah pasukan sudah lengkap, kami mulai ngegas meninggalkan Kota Pasuruan menuju wilayah Kabupaten. Beruntung rute yang ditampilkan di Google Maps nggak menyesatkan kami, bahkan terhitung mudah. Siapapun yang pernah menggunakan Google Maps pasti pernah disesatkan. Saya sendiri berkali-kali tersesat mengikuti jalur yang ditunjukkan Google Maps. Masuk ke jalanan kecil, masuk perkampungan di luar jalur umum, ke jalan makadam yang rusak parah, dan lain sebagainya. Tetapi bagaimana lagi, hubungan saya dengan Google Maps itu seperti love hate relationship. Benci tapi cinta. Kalau hubunganku dengan dia sudah kandas tak berbekas. Hilihhhh!!!!!</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-12.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-12.jpg" alt="" class="wp-image-9790"/></a></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah satu jam perjalanan menyusuri garis biru di layar gawai. Jam 9 malam tepat, kami akhirnya sampai di Dusun Pronojiwo, Desa Blarang, Kecamatan Tutur. Ikuti saja petunjuk dan kalian akan melihat papan petunjuk tempat parkir kendaraan yang berada di rumah warga. Di tempat parkir inilah kami mengisi buku tamu dan membayar tiket masuk. Saya nggak ingat berapa harga tiketnya, yang pasti nggak akan membuat miskin seketika. Jalur pendakian ke puncak berada tepat di samping sebuah warung.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-11.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-11.jpg" alt="" class="wp-image-9789"/></a></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Berhubung saat mendaki pada malam hari, pemandangan sekitar nggak kelihatan. Jarak pandang hanya sebatas satu dua meter saja seusai pendar cahaya senter yang kami bawa. Kami nggak menemukan satu pendaki pun di jalur trekking, ah mungkin di atas puncak sana sudah ramai tenda berdiri. Bukannya sombong, jalur trekkingnya seperti jalan setapak biasa. Jadi enteng banget <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f648.png" alt="🙈" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Tetapi dua kawan saya lumayan keringatan dan ngos-ngosan mmppfftt.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-9.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-9.jpg" alt="" class="wp-image-9787"/></a></figure></div>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-8.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-8.jpg" alt="" class="wp-image-9808"/></a></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Nggak sampai satu jam kami sudah sampai puncak. Seandainya dari bawah saya niat mencatat durasi pendakian, mungkin hanya sekitar 30 menitan totalnya. Gelap gulita dan berkabut tebal, nggak ada siapa-siapa. Apa mungkin karena bukan sebuah gunung yang populer, jadi sepi pendaki. Di puncak nggak ada lahan lapang untuk mendirikan tenda, satu-satunya tempat yang lumayan lega adalah di samping makam. Iya, ada kuburan hiiiiihhhh.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-23.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-23.jpg" alt="" class="wp-image-9799"/></a></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Kawan saya jadi jiper dong, secara dia begitu mudah takut akan hal-hal begituan, nonton film horor saja dia nggak berani. Kalau saya dulu waktu kecil bahkan pernah ngeprank orang dengan sengaja sembunyi di semak-semak gelap depan kuburan di kampung, dan mengagetkan orang yang lewat bhuahahahahahahaha. Kalau sekarang nggak berani ngeprank begituan, kalau yang diprank mati jantungan gimana donnggggg.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-14.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-14.jpg" alt="" class="wp-image-9792"/></a></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Kami terpaksa mendirikan tenda tepat di samping makam, sebab saya lihat nggak ada lahan lapang lagi di sekitar puncak. Dan saya nggak melihat adanya tanda larangan untuk mendirikan tenda di samping makam. Tetap saja nggak etis rasanya kamping di kuburan orang. &#8220;Mbah amit nggeh&#8221; yang penting sudah pamit sama mbahnya muehehehehe <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f92d.png" alt="🤭" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya nggak menemukan literasi mengenai Mbah Wali Besi yang dimakamkan di atas puncak Gunung Tanggung ini. Ibu-ibu warung yang sempat saya tanya saat turun gunung pun nggak tahu. &#8220;Saya bukan asli sini mas, suami saya yang orang sini&#8221;. Healahhhhh.</p>



<figure class="wp-block-gallery aligncenter columns-3 is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Saya bangun pagi bahkan sebelum matahari muncul. Bagi saya suhu udara terkesan sejuk, tidak dingin. Tetapi dua teman saya meringkuk kedinginan. Saya keluar tenda, dan melihat ada satu tenda di bawah. Ternyata di bawah ada lahan yang cukup lapang untuk mendirikan tenda. Ya maklum semalam nggak kelihatan apa-apa dan kabut. Ternyata mereka adalah pemuda lokal Dusun Pronojiwo. &#8220;Anggap saja nggak tahu mas, sudah terlanjur&#8221; kata mereka saat saya menyesalkan mendirikan tenda di samping makam, padahal ada lahan lapang di bawah.</p>



<figure class="wp-block-gallery aligncenter columns-2 is-cropped wp-block-gallery-3 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<figure class="wp-block-gallery aligncenter columns-2 is-cropped wp-block-gallery-4 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Matahari terbit yang saya saksikan di Puncak Gunung Tanggung tidak sempurna karena biangnya bersembunyi di balik awan dan kabut lumayan tebal. Begitu cahaya mulai sedikit terang dan kabut perlahan menghilang, pemandangan yang disuguhkan di depan mata sungguh membuat hati bahagia. Gugusan gunung tampak dari kejauhan membentuk komposisi berlapis. Saya melihat Arjuno Welirang dan juga pegunungan Bromo-Semeru.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-13.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-13.jpg" alt="" class="wp-image-9791"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ketinggian Gunung Tanggung hanya 1458 mdpl dan butuh sekitar 30 menit untuk sampai puncak. Bisa jadi destinasi alternatif untuk kamping ceria. Karena puncaknya terdapat makam yang disakralkan penduduk setempat, jadi tetap jaga etika saat di puncak. Jangan kuatir kekurangan bekal saat mendaki, ada warung yang buka saat siang hari di jalur trekking. Ada juga sumber mata air pegunungan yang bisa diminum siapa saja. Sumpah, minum air gunung langsung dari sumbernya, rasa dan segarnya mengalahkan semua merek air kemasan di minimarket. Saya bahkan mengisi penuh satu botol untuk bekal perjalanan pulang. Bukan rasa capek naik turun gunung yang saya rasakan saat sampai di rumah. Melainkan rasa capek motoran Jombang-Pasuruan pulang pergi.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Gunung-Tanggung-Pronojiwo-Pasuruan-.jpg" alt="" class="wp-image-9800"/></a></figure>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.alidabdul.com/reuni-di-gunung-tanggung/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>40</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Oh Ranu Kumbolo</title>
		<link>https://www.alidabdul.com/oh-ranu-kumbolo/</link>
					<comments>https://www.alidabdul.com/oh-ranu-kumbolo/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[alidabdul]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2021 12:12:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Post]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.alidabdul.com/?p=9756</guid>

					<description><![CDATA[Tahun 2020 sungguh ambyar pokoknya, ajuuuuuur juuuuuuummm. Apalagi kalau bukan karena Koronamaru. Semua mimpi dan angan-angan umat manusia di seluruh dunia hancur berantakan gara-gara serangan dahsyat Koronamaru. Eh apa benar hampir umat manusia di seluruh dunia? Sok tahu deh. Kan ada tuh manusia yang hidup tanpa mimpi dan keinginan. Pokoknya bisa makan kenyang saja sudah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Tahun 2020 sungguh ambyar pokoknya, ajuuuuuur juuuuuuummm. Apalagi kalau bukan karena Koronamaru. Semua mimpi dan angan-angan umat manusia di seluruh dunia hancur berantakan gara-gara serangan dahsyat Koronamaru. Eh apa benar hampir umat manusia di seluruh dunia? Sok tahu deh. Kan ada tuh manusia yang hidup tanpa mimpi dan keinginan. Pokoknya bisa makan kenyang saja sudah cukup. Gak kayak saya yang serakah banyak maunya <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f92a.png" alt="🤪" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-10.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-10.jpg" alt="" class="wp-image-9758"/></a></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Intinya di tahun 2020 banyak rencana yang tertunda lantaran pageblug yang menyerang bumi manusia. Banyak trip saya yang juga batal, karena naik pesawat sekarang syaratnya ruwet. Belum lagi banyak negara masih menutup diri menerima turis asing. Jadilah tahun 2020 saya mengubah haluan, dari yang biasanya banyak ngetrip ke luar negeri, akhirnya banyak ngetrip ke dalam negeri. Itupun saya khususkan hanya naik gunung saja. Kenapa? Ya nggak kenapa-napa, iseng aja gitu <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f61d.png" alt="😝" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-20.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-20.jpg" alt="" class="wp-image-9760"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Jadilah sejak pendakian gunung-gunung dibuka tahun 2020, saya sudah naik tujuh gunung. Bahkan ada yang saya naiki dua kali, termasuk Ranu Kumbolo. Eh Ranu Kumbolo nggak termasuk gunung sih muehehehe. Hitungannya masih di lembahnya sih, secara untuk ke puncak Mahameru masih butuh waktu yang lumayan panjang. Lha wong untuk menuju Ranu Kumbolo saja butuh enam jam trekking.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-6.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-6.jpg" alt="" class="wp-image-9762"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Naik Gunung Semeru syaratnya paling ruwet dan ribet di antara gunung-gunung lainnya. Pendaki harus mendaftar online untuk bisa mendapatkan jatah. Untuk mendapatkan kuota mendaki menjadi sebuah perjuangan tersendiri. Normalnya Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memberikan kuota 600 pendaki setiap hari. Namun, saat pandemi jatah pendakian hanya diberikan kepada 180 pendaki setiap hari.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-18.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-18.jpg" alt="" class="wp-image-9763"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak pendaki yang memburu kuota pendakian ke Semeru saat dibukanya pendaftaran pertama kali setelah pendakian ditutup selama satu tahun akibat kebakaran, ditambah dengan masa pandemi yang memaksa seluruh tempat wisata untuk tutup. Jadi banyak pendaki yang sudah rindu untuk menyambangi Semeru. Alhasil saat pendaftaran dibuka, banyak pendaki yang begadang dan berebutan untuk registrasi. Akibatnya server TNBTS mengalami overload dan sangat susah diakses. Saya baru bisa mendapatkan kuota pendakian tiga hari setelah dibukanya tanggal pendaftaran.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-17.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-17.jpg" alt="" class="wp-image-9764"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Pendaki mandiri tidak diperbolehkan, minimal satu grup berisi tiga pendaki. Dan dokumen yang perlu dipersiapkan setiap pendaki adalah: bukti pendaftaran online, foto kopi KTP, dan surat sehat dari klinik atau puskesmas. Siapkan juga meterai 6000 untuk ditempel di surat pernyataan yang harus ditanda tangani ketua kelompok. Sekarang meterai 6000 sudah tidak ada dan tidak berlaku.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-19-1.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-19-1.jpg" alt="" class="wp-image-9766"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tanpa kelengkapan surat-surat di atas, jangan harap lolos verifikasi untuk bisa melanjutkan pendakian. Petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sangat saklek dan kaku. Saya sendiri menyaksikan beberapa orang yang gagal mendaki gara-gara kurangnya dokumen. Hanya karena surat keterangan sehat yang masa berlakunya berakhir atau surat keterangan sehat yang berupa foto kopian. Surat keterangan sehat harus asli dengan stempel basah, dan masa berlaku paling lama tiga hari sebelum pendakian. Meski memohon-mohon dan mengemis sambil nangis-nangis gulung kuming di depan loket pun nggak akan bisa membuat petugas bergeming untuk meloloskan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-13.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-13.jpg" alt="" class="wp-image-9767"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Saya sendiri heran, apa sih pentingnya Surat Keterangan Sehat dalam kegiatan pendakian? Lha wong saat meminta surat sakti tersebut di klinik. Toh hanya diperiksa tekanan darah, tinggi badan, dan berat badan. Bahkan di beberapa klinik kadang nggak diperiksa sama sekali. Siapa yang bisa menjamin, berangkat mendaki sehat, turun gunung ambruk? Duh amit-amit jabang bayi! Daripada gagal mendaki, mending siapkan saja syarat formalitas tersebut.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-14-1.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-14-1.jpg" alt="" class="wp-image-9769"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak lolos verifikasi artinya harus balik kucing ke klinik terdekat untuk buat surat keterangan sehat. Masalahnya klinik terdekat jaraknya dua jam dari pos pendaftaran. Beruntung jika kalian ke Ranu Pani menyewa jeep dari Tumpang. Biasanya tempat penyewaan jeep akan membantu mengecek kelengkapan dokumen kita. Gila saja jika sudah sewa jeep mahal-mahal ke gerbang pendakian, tetapi harus kembali ke Tumpang. Harga sewa jeep satu kali jalan rata-rata dipatok Rp600.000,- pulang pergi ya kalikan saja dua kali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada yang lebih murah untuk menuju ke gerbang pendakian di Ranu Pani, yaitu naik motor. Masalahnya jalannya berkelok dan tanjakannya super sekali. Motor matic biasa saja harus mengejan dan mengerang demi bisa bergerak melewati jalanan yang menanjak. Saya yang nggak jago-jago amat naik motor lebih memilih menyewa jeep dan mengajak patungan teman-teman pendaki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kunjungan pertama saya ke Ranu Kumbolo pada tanggal 10-11 Oktober 2020 bersama beberapa kawan pendaki, blogger, dan instagramer berjumlah 10 orang. Yang kedua tanggal 21-22 November 2020 bersama grup pendaki yang seharusnya ke Ranu Kumbolo tahun 2019, tetapi gagal berangkat karena jalur pendakian mendadak ditutup akibat kebakaran. Padahal sudah daftar dan bayar loh mmpppfftt. Percayalah, ngetrip ke manapun dengan pasukan lebih dari lima ekor manusia pasti banyak drama. Tetapi demi murahnya ongkos patungan sewa jeep, drama berseri sampai seribu episode pun saya siap mmmpppfftt. Meski ya ngempet emosi jiwa gggrrrrr <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f92c.png" alt="🤬" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-11.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-11.jpg" alt="" class="wp-image-9777"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap pendaki selalu berharap cuaca cerah ceria saat melakukan pendakian. Tetapi apa yang bisa diharapkan kalau mendaki saat musim hujan? Gerimis rintik-rintik saja sudah merupakan keberuntungan. Yang terjadi pada saat saya ke Ranu Kumbolo adalah hujan deras bahkan sebelum mulai mendaki. Dari mulai berangkat sampai selesai verifikasi pendaftaran dan briefing, cuaca sangat bersahabat. Giliran sudah siap mau jalan, mendadak hujan deras turun. Sial bener deh!</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-12.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-12.jpg" alt="" class="wp-image-9778"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sudah kepalang tanggung, masak pulang hanya gara-gara hujan deras. Akhirnya saya berganti outfit, sepatu trekking saya lepas dan hanya memakai sandal japit swallow. Bahkan saya nggak sempat foto di depan gerbang pendakian yang merupakan cita-cita saya sejak dari rumah ggrrrrrrrrr. Untungnya jalur trekking ke Ranu Kumbolo tidak terlalu menanjak, hanya jalan setapak panjang dengan kemiringan beberapa derajat. Jadi memakai sandal japit adalah pilihan tepat, paling ya kalau licin kepleset saja hahaha. Dari pada sepatu trekking mahal saya basah <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f92d.png" alt="🤭" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> muehehehe.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-7.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-7.jpg" alt="" class="wp-image-9761"/></a></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Derasnya hujan benar-benar menghajar saya, kekuatan saya melemah karena guyuran air yang bertubi-tubi tanpa henti sepanjang perjalanan. Jalur trekking sudah menyerupai sungai es coklat yang mengalir deras. Iya es! Airnya dingin sekali, setiap melangkah kaki saya bergetar menahan dinginnya air coklat di jalur trekking. Siapa suruh pakai sandal japit muehehehehe. Pun saat turun gunung, lagi-lagi saya dihajar hujan mmppppfffttt. Beruntung meski naik dan turun kehujanan, tetapi saat pagi sungguh cerah. Alhasil banyak stok foto bejibun.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-16.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-16.jpg" alt="" class="wp-image-9779"/></a></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Jalur trekking ke Ranu Kumbolo sebenarnya cukup mudah bagi pemula, tanjakannya nggak seseram yang dibayangkan. Jalan lempeng saja saja dengan kenaikan sedikit demi sedikit. Momoknya hanya tanjakan setelah pos tiga yang membutuhkan sedikit tenaga. Setelah tanjakan tersebut akan terlihat danau Ranu Kumbolo, tinggal turun saja sampai lokasi kamping. Saya pastikan turunnya akan sedikit terseok-seok karena kelelahan yang mulai berasa setelah berjalan kaki berjam-jam sambil memanggul ransel.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-9.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-9.jpg" alt="" class="wp-image-9780"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Gerbang pendakian di Ranu Pani sendiri di atas ketinggian 2100 mdpl, dan Ranu Kumbolo berada di 2400 mdpl. Teorinya hanya kurang 300 meter saja nanjaknya, kenyataannya untuk mencapai ketinggian 300 meter tersebut jalurnya sangat panjang. Normalnya butuh 6 jam perjalanan, jadi bayangkan betapa lelahnya jalan kaki selama 6 jam. FYI, Ranu dalam Bahasa Kawi (Jawa Kuno) berarti Danau.</p>



<figure class="wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-5 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi jalur trekking Ranu Kumbolo adalah jalur yang memanjakan pendaki. Setiap pos 1 sampai 3 ada yang jualan gorengan, minuman, cemilan, dan semangka. Jajan semangka di gunung merupakan hedon level paling tinggi di antara kehedonan duniawi lainnya bhuahahahaha. Belum lagi tersedianya toilet umum di tempat kamping, sekali masuk marebu dengan durasi paling lama hanya 10 menitan. Kurang nyaman bagaimana lagi? Gunung lain sebisa mungkin menahan untuk nggak buang air besar kalau nggak mau cebok pakai tisu. Kalau di Ranu Kumbolo saya foya-foya dong keluar masuk ke toilet berkali-kali muehehehe.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-15.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-15.jpg" alt="" class="wp-image-9774"/></a></figure></div>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-8.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-8.jpg" alt="" class="wp-image-9775"/></a></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Dua kali ke Ranu Kumbolo, mungkin kunjungan ketiga saya akan menyambangi puncak tertinggi di Pulau Jawa. Tunggu saya wahai Mahameru <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f525.png" alt="🔥" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><a href="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-21.jpg"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2021/02/Pendakian-ke-Ranu-Kumbolo-21.jpg" alt="" class="wp-image-9776"/></a></figure>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.alidabdul.com/oh-ranu-kumbolo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>25</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Danau Toba, Saya Datang!</title>
		<link>https://www.alidabdul.com/danau-toba-saya-datang/</link>
					<comments>https://www.alidabdul.com/danau-toba-saya-datang/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[alidabdul]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2020 22:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Post]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.alidabdul.com/?p=9700</guid>

					<description><![CDATA[“Cabin crew, prepare for landing!” Begitu pilot mengumumkan akan segera mendarat, saya langsung menegakkan sandaran kursi tempat saya duduk. Nggak sabar untuk segera mendarat dan menginjakkan kaki di Tanah Batak. Hanya 48 menit perjalanan saya tempuh dari Kuala Lumpur ke Bandara Silangit yang berlokasi di Tapanuli Utara. Ironis, saya harus mengambil rute luar negeri dulu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>“Cabin crew, prepare for landing!” </em>Begitu pilot mengumumkan akan segera mendarat, saya langsung menegakkan sandaran kursi tempat saya duduk. Nggak sabar untuk segera mendarat dan menginjakkan kaki di Tanah Batak. Hanya 48 menit perjalanan saya tempuh dari Kuala Lumpur ke Bandara Silangit yang berlokasi di Tapanuli Utara. Ironis, saya harus mengambil rute luar negeri dulu untuk bisa sampai di negeri sendiri.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/07/Bandara-Silangit-2.jpg" alt="" class="wp-image-9705"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana tidak, dari Surabaya &#8211; Kuala Lumpur saya hanya merogoh kocek 400k pulang pergi, ditambah tiket sekali jalan Kuala Lumpur &#8211; Silangit yang hanya 250k saja. Dengan ongkos segitu saya sudah sampai di Sumatera Utara. Berbanding terbalik jika saya ambil penerbangan di dalam negeri, sekali jalan bisa habis 2jt. Sekali lagi saya harus berterima kasih kepada AirAsia.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/07/Bandara-Silangit-1.jpg" alt="" class="wp-image-9706"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Bandara Silangit yang namanya diubah jadi Bandara Sisingamangaraja XII pada tahun 2018 adalah bandara kecil di Tanah Batak yang melayani wilayah Tapanuli dan sekitarnya. Dan bandara ini adalah bandara terdekat dengan Danau Toba yang legendaris itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saking kecilnya bandara, penumpang turun di tempat parkir pesawat dan berjalan ke pos imigrasi yang berada di tenda yang menempel dekat gedung bandara. Begitu paspor dicap, saya keluar dengan kebingungan. Lah saya seperti habis dari toilet daripada dari dalam bandara. Bagaimana tidak, saya keluar lewat lorong samping gedung dan tiba-tiba sudah berada di luar. Kemungkinan sekarang keadaan sudah lebih baik lagi daripada saat saya pertama kali ke sana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya berjalan ke area parkiran untuk mencari bus Damri ke Pelabuhan Parapat. Tiba-tiba ada mbak-mbak menawari saya jasa travel ke Parapat dengan Bahasa Inggris <em>&#8220;Sir, where do you want to go? Travel to Balige or Parapat?&#8221;</em> Wagelaseeeehh, berasa di luar negeri, padahal muka juga jauh dari kata putih, burik iya bhuahahaha. Nggak heran sih, mungkin saya dikira orang Malaysia yang sedang bercuti ke Danau Toba.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah menolak halus saya melipir pergi. Satu-satunya transportasi murah ke Parapat adalah naik bus Damri. Beruntung, saat saya berkunjung, bus Damri tujuan Parapat-Silangit dan sebaliknya sedang digratiskan karena dalam masa promosi wisata ke Danau Toba.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya roaming mengamati penumpang yang ngobrol satu sama lain. Mereka menggunakan bahasa yang tidak saya mengerti sama sekali. Mirip saat saya naik Pete-pete di Makassar, penumpang juga menggunakan bahasa yang benar-benar beda. Itulah uniknya Indonesia, pindah pulau di seberang berasa di luar negeri. Bahkan menyebranglah dari Surabaya ke Pulau Madura melewati Jembatan Suramadu. Bahasa yang digunakan juga sudah sangat berbeda.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/07/Kapal-Feri-Parapat-Tomok-5.jpg" alt="" class="wp-image-9707"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Saya tiba di Silangit pukul 11 siang dan berharap bisa segera sampai di Pelabuhan Parapat dan menyebrang ke Pulau Samosir. Melihat peta hanya dua jam perjalanan saja naik Damri. Nyatanya bus cukup pelan dan hampir tiga jam menyusuri Jalan Lintas Sumatera untuk sampai di Parapat.</p>



<figure class="wp-block-gallery aligncenter columns-2 is-cropped wp-block-gallery-6 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Saya segera mendaftar untuk bisa naik kapal feri. Cukup sederhana cara mencatat daftar manifes penumpang di penyebrangan Danau Toba. Tinggal menulis nama, umur, dan alamat di buku penumpang. Tiket juga murah meriah hanya 15k saja. Sebelum kapal berangkat, saya jajan Pop Mie di atas kapal untuk mengisi perut yang keroncongan. Saya menikmati mi kuah panas ditemani nyanyian pengamen cilik yang suaranya cukup merdu, meski saya nggak mengerti bahasa yang dilafalkan.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/07/Danau-Toba-3.jpg" alt="" class="wp-image-9710"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Akhirnya setelah ribuan purnama, saya menyebrangi Danau Toba menuju Pulau Samosir. Destinasi yang sudah lama saya impikan untuk saya datangi. Biar nggak diolok-olok orang &#8220;sering ke luar negeri, tetapi nggak pernah jelajah negeri sendiri&#8221;. Padahal yang menghujat bahkan belum pernah ke Jakarta melihat Monas mmppfftt.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/07/Kapal-Feri-Parapat-Tomok-2.jpg" alt="" class="wp-image-9711"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Sampai di Pelabuhan Tomok Ajibata, saya masih harus naik ojek untuk menuju homestay di Tuk Tuk yang sudah saya booking. Benar, nama desanya Tuk Tuk seperti kita menyebut kendaran Tuk-tuk di Thailand. Melihat peta hanya 4 km saja sebenarnya dari Tomok ke Tuk Tuk. Mau jalan kaki, tapi kok ya udah capek, pengen segera rebahan. Keputusan yang tepat naik ojek, lha jalannya lumayan naik turun. Bisa-bisa gempor sampai homestay jika saya tadi nekat jalan kaki.</p>



<figure class="wp-block-gallery aligncenter columns-2 is-cropped wp-block-gallery-7 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Saya booking satu kamar di Bagus Bay Homestay bukan tanpa alasan, paling murah sendiri ketika saya sortir daftar hotel di Tuk Tuk hwehehehe. Ketika saya menuju meja resepsionis saya disambut mbak-mbak bule. Saya pikir dia juga tamu, ternyata dia petugas resepsionis huwahahaha.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/07/Bagus-Bay-Homestay-4.jpg" alt="" class="wp-image-9714"/></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah memastikan nama saya ada di daftar bookingan, dia mengantar saya ke kamar, menunjukkan kamar mandi, dan memastikan semuanya baik-baik saja. Dia juga berpesan kalau ada apa-apa tinggal hubungi resepsionis. Tanpa sadar, semua proses check in dengan dia menggunakan Bahasa Inggris sepenuhnya. Astajiiiiiim, sudah di bandara ditawari travel pakai Bahasa Inggris, di dalam bus saya roaming bahasa yang digunakan penumpang, lha kok petugas resepsionis homestay orang bule. Saya merasa asing di negeri sendiri huhuhu. Usut punya usut, ternyata homestay yang saya inapi dimiliki oleh pasangan suami istri yang suaminya orang Batak, dan istrinya orang Australia.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/07/Bagus-Bay-Homestay-2.jpg" alt="" class="wp-image-9716"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Yang paling saya suka dari homestay ini adanya akses langsung ke Danau Toba di belakang. Ternyata hotel-hotel yang berderet di tepi Danau Toba memagari areanya masing-masing, sehingga tamu hotel berasa punya pantai pribadi. Jadi tamu bisa langsung mandi di Danau Toba di belakang. Dan beberapa hotel bahkan kerja sama dengan vendor-vendor kapal feri yang mengantarkan tamu langsung ke belakang hotel. </p>



<figure class="wp-block-gallery columns-2 is-cropped wp-block-gallery-8 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Saya duduk santuy sendirian menunggu matahari terbenam. Rasa lelah seharian melakukan perjalanan dari Jombang menuju destinasi impian terbayar sudah dengan suguhan keelokan Danau Toba yang membentang di depan mata.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/07/Bagus-Bay-Homestay-6-1.jpg" alt="" class="wp-image-9723"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Besok petualangan saya di Tanah Batak baru dimulai. Happy traveling.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.alidabdul.com/danau-toba-saya-datang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>50</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mencret di India</title>
		<link>https://www.alidabdul.com/mencret-di-india/</link>
					<comments>https://www.alidabdul.com/mencret-di-india/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[alidabdul]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Jul 2020 22:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Post]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.alidabdul.com/?p=9680</guid>

					<description><![CDATA[Saya melewatkan sarapan di hostel karena jam makan pagi adalah jam 9, yang bagi saya sudah siang banget. Aneh memang, standar sarapan di hotel setahu saya mulai pukul 6 atau 7 pagi. Ah paling hanya beberapa potong roti tawar dan teh yang disediakan. Maklum saya hanya kuat bayar hostel murah daripada hotel berbintang. Hari itu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Saya melewatkan sarapan di hostel karena jam makan pagi adalah jam 9, yang bagi saya sudah siang banget. Aneh memang, standar sarapan di hotel setahu saya mulai pukul 6 atau 7 pagi. Ah paling hanya beberapa potong roti tawar dan teh yang disediakan. Maklum saya hanya kuat bayar hostel murah daripada hotel berbintang. Hari itu merupakan hari terakhir saya di <a href="https://www.alidabdul.com/kepanasan-di-udaipur/">Udaipur.</a> Dan sebelum saya cabut naik kereta menuju Jaipur, saya masih ada satu tempat yang belum saya datangi yaitu City Palace. Dari pada menunggu sarapan di hotel, lebih baik sarapan di luar untuk menghemat waktu.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/07/City-Palace-Udaipur-1.jpg" alt="" class="wp-image-9684"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Saya ditemani Vannisa untuk keliling City Palace, sementara Yoanne sudah ke sini kemarin. Saya sengaja mengunjungi City Palace paling buntut, karena jaraknya selemparan batu dari hostel. Setelah kami sarapan gorengan seadanya di kedai dekat City Palace, kami langsung bergegas masuk, mengingat saya hanya punya waktu sampai setengah hari.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/07/City-Palace-Udaipur-2.jpg" alt="" class="wp-image-9685"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Saya harus merogoh kocek 700 Rupee alias 130k Rupiah untuk bisa masuk, sementara Vannisa hanya merogoh kocek 400 Rupee atau sekitar 75k Rupiah. Kenapa lebih murah? Sebab dia menggunakan kartu sakti alias Kartu Mahasiswa. Sebenarnya saya pinjam juga kartu mahasiswa Yoanne, tetapi untuk bisa mendapatkan tarif pelajar harus beli langsung, tidak boleh diwakilkan hiyaaaaaaa. Harusnya saya nyamar pakai hijab bhuahahaha.</p>



<figure class="wp-block-gallery columns-2 is-cropped wp-block-gallery-9 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Saya masuk sambil menggerutu karena gagal dapat harga murah. Tetapi begitu masuk ke dalam istana, saya nggak berhenti mengucap wah waooooow uwaaaaaahh. Gilsssss nggak rugi bayar mahal, cakep begini dalamnya. Benar-benar istana raja, pengen suatu hari bangun istana megah seperti ini buat sang permaisuri. Tapi dipikir-pikir lagi, kalau punya tanah luas mending dibangun kos-kosan bhuahahaha.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/07/City-Palace-Udaipur-3.jpg" alt="" class="wp-image-9688"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Lokasinya di tepi danau Pichola, kompleks istana ini telah berdiri lebih dari 400 tahun. Dibangun pertama kali oleh Maharana Udai Singh II dan diteruskan oleh 22 raja-raja dari generasi klan Sisodia Rajput. Gaya bangunan campuran dari Rajasthani dan Mughal. Keseluruhan bangunan terbuat dari batu marmer dan granit. Duh mewah sekali. Belum lagi corak-corak temboknya yang berupa mural, mosaik marmer, lukisan di dinding, tempelan kaca dan perak yang membuat semuanya kelihatan berkilau. Aduh rasanya pengen nyuil sebiji buat kenang-kenangan, tapi takut dipenjara ngiahahahaha.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/07/City-Palace-Udaipur-5.jpg" alt="" class="wp-image-9689"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Sumpah istana ini cocok banget bagi pemburu foto. Setiap sudutnya fotogenik sekali. Ada ruangan yang temanya bling-bling sekali sampai menyilaukan mata. Ada yang temboknya dicat biru semua. Belum lagi museum yang isinya barang-barang mewah kerajaan.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/07/City-Palace-Udaipur-4.jpg" alt="" class="wp-image-9690"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti kompleks istana pada umumnya, terdapat banyak bagian-bagian sesuai fungsinya. Ada kamar-kamar, taman, istana khusus untuk keluarga kerajaan, tempat pertemuan, dan masih banyak lagi lainnya. Rasanya nggak akan bosan keliling berhari-hari di istana megah ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya saya nggak masuk ke Crystal Palace dan Jal Mandir. Untuk masuk ke sana harus merogoh kocek lagi seharga tiket masuk hiks. Duit selama delapan hari di <a href="https://www.alidabdul.com/category/india/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">India </a>sudah sampai titik darah penghabisan. Jadi saya urungkan niat untuk masuk ke bagian istana lebih dalam lagi. Bisa-bisa pulang gadai sempak nanti kalau memaksa masuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasanya belum puas keliling istana, tetapi saya harus segera pergi mengejar kereta api ke Jaipur. Untuk pertama kalinya di India saya booking kereta api kelas 3A 3 Tier AC, biasanya sih kelas rakyat yang sleeper. Nggak ada bedanya dengan kelas sleeper dari segi susunan tempat duduk, hanya ada tambahan pendingin udara saja. Meski tetap saja rasanya ongkep gimana gitu di dalam gerbong, saking panasnya suhu di luar.</p>



<figure class="wp-block-embed aligncenter"><div class="wp-block-embed__wrapper">
https://www.instagram.com/p/Bd3FMoIHgYz/
</div></figure>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Raisa</strong></p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/07/City-Palace-Udaipur-9-1.jpg" alt="" class="wp-image-9693"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan tanpa alasan saya pesan tiket kereta yang lebih mahal. Sejak tiba di Jaipur di hari pertama di India, jadwal perjalanan saya berantakan gara-gara delay kereta api yang membuat saya ilfil. Jadilah saya memutar rute ke <a href="https://www.alidabdul.com/agra-tidak-melulu-tentang-taj-mahal/">Agra</a> dan Delhi dulu. Padahal Udaipur adalah kota pertama yang akan saya kunjungi, sementara Agra dan <a href="https://www.alidabdul.com/dilwalon-ki-dilli/">Delhi</a> saya taruh di belakang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiket Udaipur ke Jaipur saja saya beli melalui travel agent di Udaipur dengan membayar tambahan ongkos. Nyari harga kereta yang lebih murah sudah penuh semua, jadi terpaksa bayar hampir tiga kali lipat dari kelas sleeper demi bisa pulang. Biasanya setiap ke India, saya selalu mempersiapkan matang-matang dari rumah, dan booking tiket kereta api sebulan atau dua bulan sebelumnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya lebih banyak tidur daripada melek dalam perjalanan, nggak ada hiburan sama sekali. Sesekali saya melipir ke rangkaian gerbong untuk melihat area rural. Gersang dan panas khas Rajasthan yang memang secara geografis didominasi gurun pasir yang bernama Thar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejam kereta berjalan saya mendadak berkeringat dingin. Perut saya bergemuruh, dan ujung saluran pembuangan sepertinya sedikit demi sedikit menganga, susah payah saya berusaha menahan biar nggak jebol. Saya kebelet boker mmppftt. Selama naik kereta di India saya hanya sekali menyambangi toiletnya, dan setelah itu saya nggak pernah berani melakukan ritual apapun yang berhubungan dengan toilet di kereta api. Bagaimana tidak, toilet kereta api di India terkenal bau pesing dan nggak ada air, apalagi tisu gggrrrr.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beruntung tisu basah saya masih ada, jadi saya masih bisa selamat melakukan ritual buang air. Air minum saya hemat-hemat. Beberapa menit kemudian setelah buang hajat, perut kembali mulas, saya lari ke toilet dan meledakkan amunisi yang encer. Ketakutan saya benar-benar terjadi, saya mencret alias diare.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ke India tiga kali, banyak yang mewanti-wanti untuk selalu berhati-hati dalam hal makanan kalau nggak mau terkena diare. Tetapi diare saya bukan karena makanan yang kurang bersih. Perut saya kebal kalau berurusan dengan makanan jalanan. Saya drop karena sejak awal suhu sangat panas, jadi nafsu makan berkurang. Dikit-dikit jajan jus pepaya, jus mangga, dan air tebu. Makan kari nggak nafsu sama sekali, mana nggak ketemu daging sama sekali selama di India. Jadilah asupan karbohidrat dan protein berkurang drastis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau nggak salah hitung, sudah lima kali saya bolak-balik ke toilet, saya lemas. Toilet basah saya habis, sementara air minum tinggal seiprit, duh gimana saya bisa cebok kalau keterusan mencret. Sementara perjalanan masih jauh kurang beberapa jam lagi. Sungguh sejenis siksa neraka di bumi, kebelet boker di atas kereta di India merupakan salah satu bentuk kesialan paling tinggi levelnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada saat itu tiba-tiba saja ada perasaan kangen rumah dan segala kenyamanan di kasur sendiri. Sumpah nggak enak sakit di saat melakukan perjalanan. Untungnya diare yang saya alami terjadi di detik terakhir saya kembali ke Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jam 9:30 malam saya tiba di Stasiun Jaipur, saya langsung melipir ke hostel dan pesan mie goreng. Meski masakannya nggak enak, tetap saya paksa makan. Atau memang lidah saya sudah mati rasa untuk mencecap karena nggak nafsu. Saya benar-benar lemas setelah kehilangan cairan banyak. Nggak sabar untuk segera menyambut pagi dan pergi meninggalkan India. Saya masih harus menempuh perjalanan panjang di udara. Menulis ini saya nggak ingat apakah saya sempat sarapan atau tidak sebelum naik pesawat. Tetapi saya sempat ketemu teman lama orang Jaipur yang menjemput saya di hostel dan diantar ke bandara. Begitu mendarat di klia2 untuk layover, saya makan Popeye&#8217;s Fried Chicken dengan rakus.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/07/City-Palace-Udaipur-7.jpg" alt="" class="wp-image-9694"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Ini adalah tulisan terakhir tentang perjalanan saya di India. Suatu hari nanti saya pasti akan kembali ke India lagi membawa obat mencret.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Happy traveling!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.alidabdul.com/mencret-di-india/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>48</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kepanasan di Udaipur</title>
		<link>https://www.alidabdul.com/kepanasan-di-udaipur/</link>
					<comments>https://www.alidabdul.com/kepanasan-di-udaipur/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[alidabdul]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2020 12:20:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Post]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.alidabdul.com/?p=9630</guid>

					<description><![CDATA[Banyak plang-plang bertuliskan &#8220;Watch Octopussy Movie Every Evening 7 pm&#8221; di gang-gang jalanan Udaipur. Film James Bond yang rilis 37 tahun lalu itu memang syuting di Udaipur. Dan konon katanya beberapa kafe di Udaipur memutar film Octopussy selama tiga dekade non-stop di jam yang sama. Saya bukan penggemar berat film James Bond, dan saya belum [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Banyak plang-plang bertuliskan <strong>&#8220;Watch Octopussy Movie Every Evening 7 pm&#8221;</strong> di gang-gang jalanan Udaipur. Film James Bond yang rilis 37 tahun lalu itu memang syuting di Udaipur. Dan konon katanya beberapa kafe di Udaipur memutar film Octopussy selama tiga dekade non-stop di jam yang sama. Saya bukan penggemar berat film James Bond, dan saya belum pernah nonton sama sekali Octopussy yang rilis bahkan jauh sebelum saya lahir. Namun saya tertarik ke Udaipur setelah menonton film <strong>Goliyon Ki Raasleela Ram-Leela</strong> besutan sutradara Sanjay Leela Bhansali.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/06/Udaipur-2-1.jpg" alt="" class="wp-image-9634"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Nggak hanya dua film itu saja yang syuting di Udaipur, banyak film produksi barat yang mengambil setting Udaipur. Sebut saja <strong>The Best Exotic Marigold Hotel, Darjeeling Limited,</strong> dan lain sebagainya. Belum lagi film-film Bollywood sendiri yang kalau saya sebutkan bisa panjang daftarnya.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/06/Udaipur-5.jpg" alt="" class="wp-image-9635"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Nggak salah memang jika menggunakan Udaipur sebagai setting film. Dari segi estetika, indah banget. Gang-gang kecil di Udaipur cocok buat adegan kejar-kejaran tembak-tembakan, atau lari-lari bahagia menjemput kekasih seperti di film Dhadak. Belum lagi pemandangan danau yang memukau. Cocok buat adegan berpacaran sembari naik perahu keliling danau. Duh romantis syekaleh. Sayangnya saya jomblo bhuahahaha.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/06/Udaipur-4.jpg" alt="" class="wp-image-9636"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Udaipur disebut City of Lakes karena dikeliling danau-danau. Ada tujuh danau, tetapi hanya lima yang penting, sebut saja Danau Fateh Sagar, Danau Pichola, Danau Swaroop Sagar, Danau Rangsagar, dan Danau Doodh Talai. Kalau dilihat dari peta hanya terlihat Danau Fateh Sagar dan Danau Pichola saja yang besar, yang lainnya seperti menempel kedua danau tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Udaipur adalah kota terakhir yang saya kunjungi selama seminggu ngetrip di India. Harusnya menjadi kota pertama, sebab saya harus memutar itinerary karena delay kereta api di Jaipur di hari pertama. Dan seharusnya saya menghabiskan waktu lebih lama di Udaipur, nyatanya saya hanya sempat menikmati kota indah ini selama sehari semalam. Jadi selama sehari semalam, apa saja yang bisa dilihat di Udaipur?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya patungan menyewa bajaj bareng Yoanne dan Vannisa, dua gadis Bandung yang saya kenal melalui forum Backpacker Indonesia di Facebook. Kebetulan jadwal kami klop di Udaipur, jadi janjian jalan-jalan bareng. Sudah lumayan agak sore waktu kita keluar jalan-jalan. Jadi hanya tiga tempat saja yang kami kunjungi.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/06/Yoanne-dan-Vannisa-1.jpg" alt="" class="wp-image-9656"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama kita diantar ke <strong>Maharana Pratap Memorial Udaipur</strong> yang lokasinya agak menanjak di pinggir Danau Fateh Sagar. Cuaca sungguh tidak bersahabat, nggak mendung atau hujan, justru cuacanya sangat cerah ceria. Saking cerahnya, suhu udara sangat panas menyengat. Ya kali memang India saat itu sedang berada di puncak Musim Panas. Sampai di area taman, kami bukannya keliling lokasi, malah tepar duduk santuy. Mau foto juga nggak mood sama sekali. Jika saja suhu udara sedikit bersahabat, saya mungkin bisa lebih enjoy menikmati pemandangan kota Udaipur dari ketinggian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keringat gobyos membasahi baju yang saya kenakan. Perlu diketahui, baju ini sudah beberapa hari saya pakai di India tanpa dicuci sekalipun. Jadi nggak perlu ditanyakan baunya seperti apa. Rasa nggak nyaman mulai muncul di selakangan. Tahu kan gimana risihnya jika sekalangan mulai keringetan sampai sempak jadi basah mamel hehehe.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami melipir masuk ke museum, sejuknya tiupan angin dari mesin pendingin ruangan bagaikan sebuah padang oase. Kenapa nggak dari tadi saja kami masuk ke dalam museum huvt. Dalam museum banyak lukisan-lukisan gagah raja-raja Mewar yang pernah berkuasa. Saya baru tahu kalau nama kota Udaipur dari Raja Udai Singh II. Beliau adalah raja dari Dinasti Mewar ke-53. Beliau terpaksa memindahkan ibu kota kerajaan yang berada di Chittor ke tempat yang baru setelah dikalahkan oleh Mughal.</p>



<figure class="wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-10 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah perasaan cukup dingin, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya. Sampai tujuan, kami langsung lemas lagi. Yawlaaaaaa segini amat ya panasnya. Otak rasanya mendidih, nggak kuat mikir lagi. Lagian tempatnya nggak menarik, hanya sebuah taman di pinggir danau yang saya nggak ingat nama tamannya apa. Mungkin jika sore atau angin sepoi-sepoi tempat ini menarik untuk dinikmati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami hanya duduk-duduk saja sambil jajan es tebu. Saya sampai habis dua gelas es tebu saking dahaganya. Kandungan fruktosa dalam air tebu membuat badan saya bertenaga kembali. Es tebu di India rasanya lebih nendang daripada es tebu di Indonesia. Di India, air tebu dikasih garam dan perasan jeruk nipis, kalau di sini hanya air tebu saja dicampur air putih yang banyak hahaha. Suka kesal jika ketemu penjual es tebu yang air tebunya disadur dengan air biasa. Komposisi air dan tebunya banyakan airnya bhuahahaha.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/06/Sajjangarh-Monsoon-Palace-Sunset-8.jpg" alt="" class="wp-image-9641"/></figure></div>



<figure class="wp-block-gallery columns-2 is-cropped wp-block-gallery-11 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul><figcaption class="blocks-gallery-caption">Udaipur dari Monsoon Palace</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Waktu masih panjang sebelum matahari terbenam, tetapi kami memutuskan untuk segera ke Sajjangarh Monsoon Palace. Sudah nggak kuat berlama-lama menantang panas. Istana yang pernah jadi tempat syutingnya film Octopussy ini lokasinya di atas bukit yang jalannya lumayan menanjak. Kalau jalan kaki di suhu ekstrim begini pasti sampai atas pingsan seketika.</p>



<div class="wp-block-jetpack-tiled-gallery aligncenter is-style-rectangular"><div class="tiled-gallery__gallery"><div class="tiled-gallery__row"><div class="tiled-gallery__col"><figure class="tiled-gallery__item"><img decoding="async" alt="" data-height="533" data-id="9650" data-link="https://www.alidabdul.com/?attachment_id=9650" data-url="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/06/Sajjangarh-Monsoon-Palace-Sunset-13.jpg" data-width="800" src="https://i1.wp.com/www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/06/Sajjangarh-Monsoon-Palace-Sunset-13.jpg?ssl=1"/></figure><figure class="tiled-gallery__item"><img decoding="async" alt="" data-height="533" data-id="9651" data-link="https://www.alidabdul.com/?attachment_id=9651" data-url="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/06/Sajjangarh-Monsoon-Palace-Sunset-4.jpg" data-width="800" src="https://i1.wp.com/www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/06/Sajjangarh-Monsoon-Palace-Sunset-4.jpg?ssl=1"/></figure><figure class="tiled-gallery__item"><img decoding="async" alt="" data-height="533" data-id="9652" data-link="https://www.alidabdul.com/?attachment_id=9652" data-url="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/06/Sajjangarh-Monsoon-Palace-Sunset-6.jpg" data-width="800" src="https://i2.wp.com/www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/06/Sajjangarh-Monsoon-Palace-Sunset-6.jpg?ssl=1"/></figure></div><div class="tiled-gallery__col"><figure class="tiled-gallery__item"><img decoding="async" alt="" data-height="800" data-id="9653" data-link="https://www.alidabdul.com/?attachment_id=9653" data-url="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/06/Sajjangarh-Monsoon-Palace-Sunset-7.jpg" data-width="533" src="https://i1.wp.com/www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/06/Sajjangarh-Monsoon-Palace-Sunset-7.jpg?ssl=1"/></figure></div></div></div></div>



<p class="wp-block-paragraph">Hasrat untuk menjelajah istana kecil ini nggak ada sama sekali. Inginnya rebahan saja sampai sore. Saat kami datang masih lumayan sepi. Beranjak sore, tempat ini semakin ramai oleh orang-orang lokal. Matahari sedikit demi sedikit mulai mulai meredupkan sinarnya. Meski begitu, panasnya tetap bukan main. Tempat ini adalah spot penting untuk menikmati matahari terbenam di Udaipur. Ini kedua kalinya selama seminggu di India saya benar-benar menikmati senja. Sebelumnya saya duduk manyun sendiri di <a href="https://www.alidabdul.com/agra-tidak-melulu-tentang-taj-mahal/" title="Agra tidak Melulu tentang Taj Mahal">Mehtab Bagh di Agra.</a></p>



<figure class="wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-12 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Besoknya kita janjian mau sunrise-an di Gangaur Ghat yang jaraknya selemparan dari hostel tempat saya menginap. Alarm sudah meraung-raung berbunyi, tetapi badan tidak mau bangkit saking capeknya kemarin. Akhirnya saya melewatkan sunrise di tempat syutingnya film Goliyon Ki Rasleela Ram-Leela. Padahal pengen banget motret aktivitas pagi di kuil yang berdekatan dengan Danau Pichola. Dan ternyata bukan saya saja yang nggak bisa bangun, mereka juga tepar nggak ada tenaga untuk bangun pagi bhuahahaha.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/06/Sajjangarh-Monsoon-Palace-Sunset-5.jpg" alt="" class="wp-image-9642"/></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum pergi meninggalkan Udaipur, masih ada satu tempat yang harus saya kunjungi yaitu City Palace. Saya tuliskan di postingan berikutnya saja, capek ngetiknya hehehe.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Happy traveling</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.alidabdul.com/kepanasan-di-udaipur/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>36</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kangen Jogja</title>
		<link>https://www.alidabdul.com/kangen-jogja/</link>
					<comments>https://www.alidabdul.com/kangen-jogja/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[alidabdul]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2020 13:28:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Post]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.alidabdul.com/?p=9608</guid>

					<description><![CDATA[Hari ini adalah Lebaran hari ketiga, sumpah Lebaran tahun ini sungguh sangat aneh. Beberapa masjid meniadakan Salat Id, meski beberapa masih melaksanakannya. Jalan depan rumah yang biasanya macet saat Lebaran mendadak lengang. Tradisi salam-salaman keliling rumah-rumah tetangga juga lenyap. Kasihan anak-anak kecil yang biasanya panen duit, mereka nggak bisa berburu angpau dari rumah ke rumah. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Hari ini adalah Lebaran hari ketiga, sumpah Lebaran tahun ini sungguh sangat aneh. Beberapa masjid meniadakan Salat Id, meski beberapa masih melaksanakannya. Jalan depan rumah yang biasanya macet saat Lebaran mendadak lengang. Tradisi salam-salaman keliling rumah-rumah tetangga juga lenyap. Kasihan anak-anak kecil yang biasanya panen duit, mereka nggak bisa berburu angpau dari rumah ke rumah. Semua gara-gara Covid-19 yang sungguh jahanam meluluhlantakkan segalanya. Tidak hanya di Indonesia saja, seluruh dunia mengalami hal yang sama. Semua sektor merasakan dampak dari pageblug ini. Terutama sektor pariwisata.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/05/Malioboro.jpg" alt="" class="wp-image-9610"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Gara-gara Covid-19 juga saya gagal plesiran. Sudah janjian ke Malang dan lanjut ke Gunung Bromo bareng temen, batal seketika saat tahu wisata ke Gunung Bromo ditutup. Sudah beli tiket kereta api ke Solo dan Yogyakarta, dan sudah reservasi <a href="https://www.reddoorz.com/id-id/search/hotel/indonesia/yogyakarta" target="_blank" aria-label="hotel di Jogja (opens in a new tab)" rel="noreferrer noopener" class="aioseop-link">hotel di Jogja</a> untuk beberapa hari di sana. Dengan berat hati dibatalkan juga huvt.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terakhir saya jalan-jalan adalah ke Singapura saat liburan Imlek bulan Januari lalu. Saat itu Virus Corona masih anget-angetnya belum ada kabar berita masuk ke Indonesia. Sampai akhirnya Pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa virus mematikan tersebut telah menginfeksi Warga Negara Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020. Semenjak hari itu semua mendadak menjadi berantakan. Sudah dua bulan saya nggak ke mana-mana. Dan kerinduan akan traveling begitu membuncah dalam dada. Rasanya sakau berat ingin memanggul ransel dan ngelayap ke mana gitu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seandainya jika ancaman Covid-19 mulai aman, saya ingin plesir ke Yogyakarta. Ceritanya Ingin balas dendam trip yang tertunda. Sebenarnya saya sudah nggak terhitung jalan-jalan ke Yogyakarta, tetapi memang Kota Pelajar nggak akan pernah bosan meski dikunjungi ribuan kali. Nggak muluk-muluk, saya hanya ingin staycation saja di <a aria-label="hotel murah di Jogja (opens in a new tab)" href="https://www.reddoorz.com/id-id/search/hotel/indonesia/yogyakarta" target="_blank" rel="noreferrer noopener" class="aioseop-link">hotel murah di Jogja</a> untuk beberapa hari. Keliling kota sampai gempor sambil berburu kuliner sampai perut kekenyangan. Kangen jalan santai di Malioboro yang legendaris itu, dan nongkrong di angkringan sambil menikmati Wedang Ronde hangat.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/05/Taman-Sari-Jogja.jpg" alt="" class="wp-image-9611"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Saya kangen foto-foto di Taman Sari yang nggak pernah sepi pengunjung. Keliling area Taman Sari hingga mblusuk masuk ke Masjid Bawah Tanah yang sampai sekarang saya nggak pernah punya foto narsis di situ. Yah gimana, setiap mau foto dan berpose selalu diserobot orang, belum lagi yang lalu lalang tanpa henti. Seandainya saja spot di Masjid Bawah tanah dibuat sistem antre mungkin lebih baik. Tetapi ngeri juga jika dibuat sistem antrean, bisa-bisa daftar jam 9 pagi, baru bisa foto jam 3 sore hwehehehe. Di sekitaran Masjid Bawah Tanah saya biasa jajan Cendol Susu, sangat nikmat diminum saat cuaca lagi panas-panasnya.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/05/Pentas-Keraton-Jogja.jpg" alt="" class="wp-image-9612"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Kangen nonton Pentas Seni di Keraton yang rutin digelar setiap hari pada jam-jam tertentu. Pentas seni yang pertunjukkannya selalu berganti-ganti, kadang Wayang Kulit, dan terkadang Tari Tradisional. Lama pentas sekitar 10-30 menitan. Terakhir nonton pentas seni di Keraton dua tahunan lalu. Dan kebetulan waktu itu yang dipentaskan adalah Tarian Tradisional dengan iringan gamelan. Kelar nonton pentas seni, bisa keliling area Keraton dan foto-foto di beberapa sudut yang cukup fotogenik.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/05/Warung-Boto-Jogja.jpg" alt="" class="wp-image-9613"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Pengen foto-foto lagi di Warung Boto yang pernah dijadikan lokasi foto prewedding-nya Mbak Ayang putri Pak Jokowi. Dahulu cagar budaya ini merupakan pesanggrahan dan pemandian. Sekarang terbengkalai tidak tersentuh sama sekali. Semenjak dijadikan lokasi prewedding, tempat ini semakin hari semakin ramai dikunjungi wisatawan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kangen jajanan pasar dan minum jamu tradisional di Pasar Kotagede. Dahulu Kotagede adalah bekas ibu kota Kesultanan Mataram yang menjadi asal mula Kesultanan Kartasura, yang kemudian bercerai-berai menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Ngayogyakarta sekarang ini. Karena bekas ibu kota kesultanan, masih banyak bangunan-bangunan antik terlihat di Kotagede. Terutama di kawasan Masjid Gedhe Mataram, suasana tradisional masih sangat terasa. Pagar batu bata dengan aksen-aksen Jawa terasa kental sekali. Di sini bisa foto-foto dan menyewa baju tradisional Jawa. Paling asyik menyusuri gang-gang di Kotagede dengan berjalan kaki.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2019/04/Kotagede-2.jpg" alt="" class="wp-image-9184"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Ke Jogja belum afdol rasanya jika belum wisata kuliner. Nggak pernah absen nongkrong santuy di Tempo Gelato sambil menjilati berbagai macam es krim yang dijual. Di Jogja sendiri banyak cabangnya, tetapi paling asik saya suka yang di Prawirotaman.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/05/Tempo-Gelato.jpg" alt="" class="wp-image-9614"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau untuk makanan wajib khas Jogja tentu saja Gudeg. Tetapi bukan Gudeg manis yang berada di deretan kedai di Jalan Wijilan, favorit saya adalah Gudeg Mercon Mbak Tinah yang berada di kawasan Tugu Pal Putih. Sebagai anak berlidah Jawa Timuran, lidah saya kurang cocok makan makanan manis. Jadi Gudeg Mercon yang bercita rasa gurih dan pedasnya sampai ubun-ubun sangat cocok dengan selera saya.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2019/09/IMG_9613-1.jpg" alt="" class="wp-image-9317"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Selain Gudeg saya juga nggak pernah absen sarapan Brongkos di warung samping Pasar Ngasem. Kuah hitam kacangnya yang manis gurih begitu menggoda. Bumbunya meresap ke setiap potongan dagingnya yang empuk. Tahu dan telornya melengkapi surga dunia di atas piring tersebut. Aduh saya jadi ngiler beneran bayangin makan Brongkos.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/05/IMG_9438.jpg" alt="" class="wp-image-9615"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Satu lagi favorit saya adalah makan di The House of Raminten di kawasan Kotabaru. Menu-menunya cita rasa masakan tradisional Indonesia. Harga-harganya juga sangat bersahabat. Sudah murah, porsinya juga memuaskan. Favorit saya adalah Ayam Koteka dan Es Telernya. Kalau lagi lapar banget, jangan datang saat jam makan siang atau makan malam. Bisa-bisa pingsan kelaparan sebelum dapat tempat duduk, antreannya itu loh bikin senewen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi kapan Covid-19 akan berakhir? Rasanya sudah nggak kuat berlama-lama lagi di rumah. Kamera saya sudah berdebu saking lamanya nggak dipakai memotret. Duit jatah jalan-jalan nganggur tidak terpakai dan minta segera dibuat foya-foya. Ingin segera packing ransel dan cusss berangkat. Kalau kamu sendiri kepengen jalan-jalan ke mana jika Pandemi Covid-19 berakhir?</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.alidabdul.com/kangen-jogja/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>51</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Maskapai Apa Saja yang Terbang Menuju Surabaya</title>
		<link>https://www.alidabdul.com/maskapai-apa-saja-yang-terbang-menuju-surabaya/</link>
					<comments>https://www.alidabdul.com/maskapai-apa-saja-yang-terbang-menuju-surabaya/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[alidabdul]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Jan 2020 23:10:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Post]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.alidabdul.com/?p=9502</guid>

					<description><![CDATA[Apakah kamu berencana menghabiskan waktu liburan di Surabaya? Sudah tahu maskapai apa saja yang melayani penerbangan menuju Surabaya?&#160;Surabaya menjadi salah satu kota di Indonesia yang menarik untuk menikmati liburan. Selain Tugu Pahlawan Surabaya, masih banyak lagi tempat wisata yang dapat kamu&#160;kunjungi saat berada di ibu kota Provinsi Jawa Timur ini. Seperti Monumen Kapal Selam, hingga [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Apakah kamu berencana menghabiskan waktu liburan di Surabaya? Sudah tahu maskapai apa saja yang melayani penerbangan menuju Surabaya?&nbsp;Surabaya menjadi salah satu kota di Indonesia yang menarik untuk menikmati liburan. Selain Tugu Pahlawan Surabaya, masih banyak lagi tempat wisata yang dapat kamu&nbsp;kunjungi saat berada di ibu kota Provinsi Jawa Timur ini. Seperti Monumen Kapal Selam, hingga Kebun Binatang Surabaya.&nbsp;Kulinernya pun beragam&nbsp;dan menggoda lidah seperti Rawon,&nbsp;Lontong Balap, Lontong Kupang,&nbsp;Semanggi&nbsp;Surabaya,&nbsp;dan masih banyak lagi.&nbsp;Surabaya juga&nbsp;merupakan gerbang awal untuk menuju&nbsp;beberapa wisata unggulan Jawa Timur seperti Gunung Bromo&nbsp;dan&nbsp;Kawah Ijen.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/01/Monkasel-Surabaya-2.jpg" alt="" class="wp-image-9506"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk berlibur ke sana, ada beragam moda transportasi yang bisa kamu&nbsp;gunakan. Salah satunya dengan pesawat. Sebagai moda transportasi yang banyak digandrungi, Harga juga semakin kompetitif dibandingkan dengan moda transportasi darat.&nbsp;Semakin banyak rute dari berbagai maskapai penerbangan di Indonesia. Tidak terkecuali menuju Surabaya.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/01/Rawon-Kalkulator.jpg" alt="" class="wp-image-9507"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini tentunya menjadi kemudahan tersendiri bagi kamu. Soal harga, tentunya berbeda&nbsp;&nbsp;antara maskapai penerbangan yang satu dengan yang lainnya. Fasilitas pun demikian. Ada yang harga tiket sudah termasuk snack dan bagasi, ada juga yang murni harga tiket saja. Sebelum membeli tiket pesawat, selain perlu memperhatikan perihal harga, kamu&nbsp;pun perlu memperhatikan maskapai penerbangan. Nah, bila kamu&nbsp;tidak ingin repot-repot untuk mengetahui maskapai apa saja yang terbang menuju Surabaya, simak informasi yang telah saya rangkum dari Pegipegi&nbsp;di bawah ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Lion Air</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu maskapai yang terbang menuju Surabaya adalah Lion Air. Terhubung lebih dari 36 destinasi, Lion Air menyediakan penerbangan menuju Surabaya yang bisa kamu&nbsp;akses dari berbagai wilayah di Indonesia. Baik kamu&nbsp;berangkat dari Jakarta, Yogyakarta, Solo dan lain sebagainya. Soal harga tiket pesawat Lion Air menuju Surabaya tergantung pada jadwal keberangkatan kamu. Maka, sebelum berangkat, jangan lupa memantau harganya terlebih dahulu.&nbsp;</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/01/Lion-Air-Pesawat.jpg" alt="" class="wp-image-9505"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Garuda Indonesia</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Terbang ke 40 tujuan domestik mulai dari Pulau Sumatra, Kalimantan, Papua, Maluku, hingga Jawa, Garuda Indonesia menjadi maskapai penerbangan selanjutnya yang bisa kamu&nbsp;pilih untuk terbang ke Surabaya. Dengan variasi harga tiket pesawat yang ditawarkan di Pegipegi, fasilitas yang kamu&nbsp;dapatkan di&nbsp;antaranya adalah snack dan bagasi 20kg.&nbsp;Selain itu, Garuda Indonesia juga melayani penerbangan langsung dan tidak langsung. Soal jam penerbangan, cek saja di Pegipegi. Tentukan tanggal keberangkatan, lalu pilih jam penerbangan kamu. Mudah bukan?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Citilink</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain Garuda Indonesia dan Lion Air, Citilink juga melayani penerbangan menuju Surabaya. Untuk mengetahui besaran harga yang dipatok, fasilitas apa saja yang bisa kamu&nbsp;peroleh dari harga yang dibayarkan, dan jam keberangkatan, kamu&nbsp;bisa memeriksanya lewat Pegipegi. kamu&nbsp;akan mendapatkan informasinya dengan lengkap.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Batik Air</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Maskapai penerbangan swasta yang didirikan pada 2013 ini juga merupakan maskapai yang bisa kamu&nbsp;pilih saat terbang ke Surabaya. Fasilitas yang mereka tawarkan dari harga tiket pun sudah termasuk bagasi dan snack. Untuk harga, tergantung pada hari keberangkatan dan tempat kamu. Selain itu pula&nbsp;kamu&nbsp;juga bisa memilih mau penerbangan secara langsung atau transit terlebih dahulu.&nbsp;</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/01/Batik-Air.jpg" alt="" class="wp-image-9509"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Wings Air</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya Garuda Indonesia, Lion Air, Citilink, dan Batik Air, Wings Air pun memiliki jadwal penerbangan menuju Surabaya. Meskipun tidak selengkap maskapai penerbangan lainnya. Soal harga, tiket pesawat Wings Air menuju Surabaya dibanderol dengan harga yang beragam.&nbsp;Perlu diketahui&nbsp;Wings Air melayani penumpang dengan menggunakan pesawat ATR&nbsp;72.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/01/Wings-Air.jpg" alt="" class="wp-image-9508"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah lima maskapai penerbangan yang bisa kamu&nbsp;pilih ketika melakukan penerbangan domestik menuju Surabaya. Mengingat hari, tanggal, dan jam keberangkatan turut mempengaruhi harga dari tiket pesawat dari masing-masing maskapai, maka kamu&nbsp;pun harus mempersiapkannya jauh-jauh hari. Jangan lupa untuk terus memeriksa informasi terkait harga tiket pesawat di Pegipegi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena kamu berhak mendapatkan liburan yang menyenangkan, anti ribet, dan ramah di kantong, Pegipegi pun dapat mewujudkan keinginan kamu untuk mendapatkan tiket pesawat murah dan mewujudkan liburan idaman. Tidak perlu repot, kamu hanya tinggal memasukkan kota keberangkatan, tanggal keberangkatan, dan jumlah penumpang, semua informasi akan tersuguh secara detail. Mulai dari jam keberangkatan hingga fasilitas dari masing-masing maskapai. Kenyamanan mencari <a href="https://www.pegipegi.com/tiket-pesawat/ke-surabaya/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">tiket pesawat ke Surabaya</a> akan semakin lengkap dengan adanya beragam promo yang kerap kali ditawarkan di Pegipegi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, tunggu apa lagi? Rencanakan liburan kamu&nbsp;sekarang juga, dan wujudkan liburan impian yang menyenangkan bersama orang-orang terkasih kamu&nbsp;dengan Pegipegi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Happy traveling</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.alidabdul.com/maskapai-apa-saja-yang-terbang-menuju-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>22</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dilwalon Ki Dilli</title>
		<link>https://www.alidabdul.com/dilwalon-ki-dilli/</link>
					<comments>https://www.alidabdul.com/dilwalon-ki-dilli/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[alidabdul]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jan 2020 15:18:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Post]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.alidabdul.com/?p=9477</guid>

					<description><![CDATA[Ada ungkapan untuk menggambarkan kota Delhi. Dil walon ka Dilli, Delhi adalah milik orang-orang yang berhati besar. Sebagai bukan orang India, tentu saja saya nggak tahu asal muasalnya ungkapan tersebut. Konon ungkapan tersebut sudah ada sejak zaman dahulu. Menilik dari artinya, kemungkinan ungkapan tersebut menggambarkan orang-orang Delhi yang ramah dan santun. Nyatanya Delhi itu kejam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Ada ungkapan untuk menggambarkan kota Delhi. Dil walon ka Dilli, Delhi adalah milik orang-orang yang berhati besar. Sebagai bukan orang India, tentu saja saya nggak tahu asal muasalnya ungkapan tersebut. Konon ungkapan tersebut sudah ada sejak zaman dahulu. Menilik dari artinya, kemungkinan ungkapan tersebut menggambarkan orang-orang Delhi yang ramah dan santun. Nyatanya Delhi itu kejam baik terhadap pendatang maupun penghuninya.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/01/Humayun-Tomb-7.jpg" alt="" class="wp-image-9493"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Coba saja jalan di sekitaran Chandni Chowk saat pagi hari sebelum jalanan ramai. Ada pemandangan yang membuat saya miris dan menahan sesak. Sepanjang jalan banyak orang berbaris dengan berdiri, ada yang sambil duduk, bahkan ada yang tiduran di pinggir jalan. Pakaiannya lusuh dan bau, sepertinya mereka tidak mandi beberapa hari. Banyak dari mereka kakinya dipenuhi borok dan luka parah di kaki, kelihatannya penyakit kusta. Saya sampai ngilu nggak tega, bahkan saya tidak berani mengeluarkan kamera dan mengambil gambar. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya percepat jalan dan pergi, tetapi barisan orang yang antre seperti tidak ada habisnya. Terlihat dari kejauhan ada dokter dan perawat yang memeriksa mereka. Kemungkinan mereka memberikan pelayanan gratis. Dalam hati saya merutuki nasib, betapa beruntungnya saya yang punya privilege bisa traveling seperti ini. Tetapi merasa hidup masih tidak adil, sambat melulu. Delhi kejam terhadap kehidupan para penghuninya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam epik Mahabharata, Delhi dikenal dengan nama Indraprastha, tempat di mana Pandawa tinggal. Delhi pernah dikuasai banyak raja-raja paling berpengaruh dalam sejarah India. Silih berganti kota ini memiliki penguasa. Dari mulai Raja Hindu hingga Sultan Muslim, dari mulai pemimpin yang bijak sampai yang bengis. Jatuh pula ke tangan Kerajaan Inggris yang awalnya hanya berdagang dan akhirnya menguasai seluruh India. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibaratnya tanah di Delhi bau darah perjuangan, pengorbanan, dan kesetiaan para penghuninya. Sepertinya memang Delhi dikutuk oleh dosa masa lalu. Jadi siapapun yang hidup di kota ini seperti dipaksa harus berjuang tanpa henti. Hidup di kota dengan populasi terbesar nomor dua di dunia setelah Tokyo memang sangat berat. Insfrastruktur yang kurang memadai serta polusi udara yang semakin memperparah kondisi kota bersejarah ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya pribadi nggak ada pengalaman buruk di Delhi. Hanya hampir saja jadi korban pencopet di subway. Waktu itu ada yang merogoh kantong celana saya. Beruntung celana saya sedikit ketat, sehingga menyulitkan pencopet. Yang paling tidak manusiawi adalah tiket masuk tempat wisata di Delhi. Sekali masuk bisa Rp100.000,- sendiri, sementara warga lokal hanya bayar Rp6000,- saja. Jadi saya hanya pilih beberapa lokasi tempat wisata saja yang sekiranya sepadan dengan uang yang saya keluarkan. Delhi kejam terhadap turis dengan mematok tiket masuk hampir 100% dari warga lokal.</p>



<figure class="wp-block-gallery aligncenter columns-2 is-cropped wp-block-gallery-13 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul><figcaption class="blocks-gallery-caption"><strong>Red Fort yang biasa saja</strong></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Meski sudah mengira akan sepadan, tetapi saya sungguh kecewa saat masuk ke Red Fort. Dalamnya memang luas dan bikin kaki gempor. Meski termasuk dalam UNESCO World Heritage Site, tetapi bangunan-bangunannya sungguh membosankan. Hampir tidak ada yang fotogenik di mata saya. Dari sekian bangunan hanya gerbang depan saja yang kelihatan menarik untuk difoto. Itupun backlight ketika saya berada di sana. Harusnya saat sore hari menjelang matahari terbenam mungkin akan tampak cakep.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/01/Humayun-Tomb-1.jpg" alt="" class="wp-image-9491"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Saya paling terkesan dengan Humayun Tomb, meski awalnya sempat ragu mau masuk dengan alasan tiketnya mahal. Tetapi mata saya terbelalak melihat bangunan berwarna merah yang megah dan cantik luar biasa. Saya langsung teringat lagu Bol Na Halke Halke dari film Jhoom Barabar Jhoom yang dibintangi Abhishek Bachchan dan Preity Zinta. Kalau dipikir-pikir Humayun Tomb termasuk sering dipakai untuk syuting film-film Bollywood. Sebut saja; PK, Bajrangi Bhaijaan, Mere Brother Ki Dulhan, Faana, Kurbaan. dll. Dan rata-rata dibuat syuting untuk adegan-adegan lagu romantis.</p>



<figure class="wp-block-gallery aligncenter columns-3 is-cropped wp-block-gallery-14 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Nggak salah memang, bangunan ini juga berdiri karena bukti cinta Ratu Bega Begum kepada suaminya Sultan Humayun yang merupakan Sultan Mughal kedua. Mengadopsi arsitektur Persia, kuburan yang didominasi warna merah ini dibangun 9 tahun setelah Sultan Humayun wafat. Selain bangunan utama makam sang sultan, ada bangunan-bangunan kecil yang juga merupakan makam. Semuanya sangat fotogenik dengan keunikan masing-masing. Selain Humayun Tomb, saya juga ke Qutub Minar yang cukup sepadan dengan harga tiket masuknya. Postingan tentang <a href="https://www.alidabdul.com/qutub-minar-menjulang-tinggi-di-antara-reruntuhan/">Qutub Minar bisa baca di tautan ini.</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain yang berbayar saya juga mengunjungi beberapa tempat gratisan seperti Dargah Hazrat Nizamuddin Aulia. Dargah adalah makam yang dibangun untuk ulama, sufi, atau figur orang yang dianggap mulia. Kalau di sini semacam makam-makam wali. Untuk masuk ke Dargah harus melewati lorong-lorong kecil rumah warga. Alas kaki harus dilepas sejak masuk lorong yang lumayan panjang. Karena takut hilang, sepatu saya bawa masuk dan saya simpan di kantong plastik. Debu tebal menempel di telapak kaki saya. Belum lagi saya melihat tikus-tikus besar berkeliaran. Maklum saja lokasinya memang di tengah pemukiman yang rumit. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak peziarah yang datang, lantunan doa bertalu-talu. Suasananya sungguh khidmat. Saya sampai nggak berani mengeluarkan kamera. Saya lupa apakah ada aturan untuk tidak boleh mengambil foto, atau semua mata memandang saya karena perawakan dan penampilan tidak seperti mereka pada umumnya, padahal saya pakai baju kurta. Lagipula nggak ada yang bisa difoto di sini, sempit dan banyak orang. Ngebet ke sini hanya karena pengen ke lokasi syutingnya film Rockstar saat lagu Kun Faya Kun berkumandang. Sebenarnya juga saya ingin menyaksikan pertunjukkan Qawwali yang digelar setiap jam 5 sore, sayangnya saya salah jam berkunjung hiks. Qawwali adalah pentas musik sufi Islam berisi puji-pujian terhadap pencipta dan juga nabi. Beberapa film Bollywood banyak yang menampilkan musik Qawwali, jadi penasaran bagaimana pentas aslinya.</p>



<figure class="wp-block-gallery aligncenter columns-2 is-cropped wp-block-gallery-15 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul><figcaption class="blocks-gallery-caption"><strong>Lotus Temple</strong></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Atmosfer Dargah Hazrat Nizamuddin Aulia kontras sekali dengan Lotus Temple yang tenang dan damai. Pengunjung diwajibkan berbaris tertib untuk masuk ke tempat ibadah Agama Baha&#8217;i yang lahir di bumi Persia. Sesuai namanya, bangunan ini mirip dengan teratai. Nggak ada yang bisa dilakukan di kuil ini kecuali hanya duduk tenang di bangku tanpa bersuara sedikitpun. Ada yang berisik sedikit, petugas langsung mengingatkan. Untuk sampai ke ruang utama kuil ini ada kuotanya dan harus mengikuti pemandu. Meski ramai pengunjung di luar, kesunyian dan ketenangan di dalam kuil sangat dijaga ketat. Padahal di dalam juga tidak ada yang sedang beribadah.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/01/Jama-Masjid-Delhi-2.jpg" alt="" class="wp-image-9486"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Saya juga mampir ke masjid yang berusia tiga abad setengah yang dibangun oleh Shah Jahan, sultan yang juga membangun Taj Mahal. Arsitektur Jama Masjid merupakan masjid terbaik dari seluruh masjid yang dibangun di era Dinasti Mughal. Keseluruhannya terbuat dari paduan batu marmer dan gamping terbaik. Dan memang benar, masjid ini sangat fotogenik dari segala sisi. Orang-orang Mughal emang jagonya membuat bangunan indah yang simetris. </p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/01/Jama-Masjid-Delhi-3.jpg" alt="" class="wp-image-9487"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Masuk ke masjid ini ditarif 300 Rupee atau sekitar Rp58.000,- dan saya sangat benci jika harus membayar tiket untuk masuk ke tempat ibadah apapun di manapun. Tarif segitu sebenarnya untuk biaya kamera baik kamera handphone atau kamera lainnya. Gila saja, mau motret masjid saja harus bayar. Lha wong orang lokal jeprat-jepret di handphone juga tidak ditarik bayaran. Masjidnya ada tiga gerbang masuk, dan tidak ada loket resmi. Jadi siapapun bisa masuk nyelonong tanpa bayar. Orang berperawakan bule tentu saja tidak akan lolos dari biaya tersebut. Dan rombongan turis yang bahkan tidak punya muka bule pun, juga tidak luput dari biaya siluman tersebut. Sama kayak tukang parkir di sini yang petugas parkirnya tiba-tiba nongol ketika mau ambil motor, padahal waktu parkir orangnya nggak ada. Giliran ada turis petugasnya tiba-tiba saja nongol dan nodong tiket masuk. Belum lagi biaya penitipan sandal yang dipatok 100 Rupee atau sekitar Rp20.000,-</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2020/01/Jama-Masjid-Delhi-4.jpg" alt="" class="wp-image-9488"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Saya tentu saja masuk nyelonong tanpa bayar, sepatu juga saya masukin kantong plastik yang sudah saya persiapkan. Pasang tripod dan foto-foto, ada dua bocah minta difotoin bareng. Kelar foto mereka minta duit, sialan. Tentu saja saya tidak memberi mereka uang. Mereka terus memaksa dan pegang-pegang tangan saya. Akhirnya saya bentak &#8220;hath chodo mujhe!&#8221; Baru mereka ngacir. Harusnya mereka bangga bisa foto bareng artis Jombang bhuahahaha.</p>



<figure class="wp-block-gallery aligncenter columns-3 is-cropped wp-block-gallery-16 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul><figcaption class="blocks-gallery-caption"><strong>View dari atas menara masjid</strong></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Masjid ini bisa menampung 25.000 jamaah, dan mempunyai empat menara, dua menaranya mempunyai tinggi 40 meter. Untuk naik menaranya harus bayar lagi 100 Rupee. Saya tidak tahu apakah 100 Rupee sudah termasuk 300 Rupee di awal atau tambahan lagi. Lha piye orang saya main nyelonong saja tanpa bayar jadi tidak dapat . Tetapi begitu mendekat pintu masuk menara ada petugas yang jaga dengan pakaian biasa dan mintain duit 300 Rupee. Saya memelas dan memohon untuk tidak membayar, masnya ngeyel saya harus bayar. Dan saya ngeyel juga kalau harus bayar, harus ada tiket resmi. Masnya bilang nggak ada tiket dan bisa langsung bayar ke dia. Saya menolak membayar dan mau pergi dengan bilang kalau duit saya sudah hampir habis huhuhu. Dan akhirnya saya merasakan benar keramahan orang Delhi. Saya diizinkan naik ke atas tanpa membayar sepeserpun. Itupun setelah saya menjual nama saya yang sangat Islami. Wohoooooo. Sekejam apapun Delhi, tetap menyiratkan pesonanya. Saya sih nggak kapok untuk datang lagi ke Delhi. Nggak tahu kalau kamu.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Happy traveling!</em></strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.alidabdul.com/dilwalon-ki-dilli/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>44</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bahagia Bersama AirAsia</title>
		<link>https://www.alidabdul.com/bahagia-bersama-airasia/</link>
					<comments>https://www.alidabdul.com/bahagia-bersama-airasia/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[alidabdul]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Dec 2019 14:20:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Post]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.alidabdul.com/?p=9440</guid>

					<description><![CDATA[Sedari kecil saya mempunyai mimpi untuk jalan-jalan keliling dunia dan mengunjungi 7 keajaiban dunia yang selama ini saya lihat di buku pelajaran. Namun tidak pernah terbayangkan bahwa mimpi gila saya bisa terwujud sebagian. Saya yang seorang anak kampung dari kota kecil bisa ke Tembok Besar di Tiongkok, dan melihat secara langsung Taj Mahal di India [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sedari kecil saya mempunyai mimpi untuk jalan-jalan keliling dunia dan mengunjungi 7 keajaiban dunia yang selama ini saya lihat di buku pelajaran. Namun tidak pernah terbayangkan bahwa mimpi gila saya bisa terwujud sebagian. Saya yang seorang anak kampung dari kota kecil bisa ke Tembok Besar di Tiongkok, dan melihat secara langsung Taj Mahal di India sampai dua kali. Bayangkan betapa merinding dan bahagianya saat saya berdiri di depan bangunan paling cantik di dunia itu. Bulu kuduk saya berdiri semua. Perasaan bahagia itu masih saya ingat sekali dan saya simpan baik-baik dalam benak. Saya menghasilkan uang dengan mudah ketika bepergian dengan <a href="https://daisyslots.com">free slots no deposit</a>, sekarang saya punya ini saya masih bisa bepergian ke seluruh dunia. AirAsia mempunyai andil besar terwujudnya mimpi-mimpi saya. Tanpa AirAsia kemungkinan mimpi saya hanyalah sebatas angan-angan belaka.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2019/12/AirAsia-2.jpg" alt="" class="wp-image-9444"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Saya bisa menamatkan mengunjungi negara-negara Asean berkat tiket promo AirAsia yang diobral bak kacang goreng. Siapa bisa menyangka saya bisa jalan-jalan ke Makau dengan modal 750k pulang pergi. Ke Tokyo dua kali dengan harga tiket tidak lebih dari 2,5juta. Tiga kali ke India dengan tiket tidak lebih dari 1,5juta. Bahkan saya lebih sering ke ibu kota negara tetangga yaitu Kuala Lumpur dari pada ke Jakarta. Ke Kuala Lumpur hanya sebagai weekend getaway, berangkat Sabtu pagi dan pulang Minggu malam hanya bermodalkan tiket promo 450k pulang pergi. Siapa yang tidak bahagia bisa ke wisata ke luar negeri dengan harga murah meriah? Entah kenapa rasanya lebih <a href="https://air.asia/DUmvm">Bahagia Bersama AirAsia</a>&nbsp;dari pada bersama gebetan.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2019/12/AirAsia-3.jpg" alt="" class="wp-image-9445"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Saya selalu deg-deg-an setiap kali mendapatkan email newsletter dari AirAsia yang memberitahukan adanya tiket promo. Ketika jam tiket promo dibuka saya langsung berburu tiket sampai dapat. Saya bela-belain begadang mantengin website airasia.com di layar laptop. Tinggal ketik kota keberangkatan dan kota tujuan, tentukan tanggal, klik pencarian. Jika tidak menemukan harga yang sesuai tinggal geser-geser tanggal dan bulan berikutnya sampai dapat harga termurah. Website AirAsia termasuk website penjualan tiket yang paling interaktif dan sangat mudah. Atau kalau mau lebih gampang lagi bisa install aplikasi AirAsia di handphone.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2019/12/AirAsia-4.jpg" alt="" class="wp-image-9446"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai orang yang sering terbang dengan AirAsia, saya bisa katakan maskapai ini sungguh sangat efisien dalam segala hal. Proses pemesanan mudah melalui laman web atau aplikasi. Proses cek in juga bisa dilakukan online sampai 14 hari sebelum keberangkatan. Boarding pass bisa dicetak sendiri di rumah tanpa perlu mengantre di kounter cek in. Di klia2 malahan nggak perlu cetak, tinggal tunjukin e-boarding pass di layar handphone. Kru kabin yang ramah-ramah dari awal boarding hingga penerbangan berlangsung, sampai landing selalu sigap melayani penumpang.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2019/12/Nasi-Padang-AirAsia-2.jpg" alt="" class="wp-image-9443"/></figure></div>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2019/12/Nasi-Padang-AirAsia-1.jpg" alt="" class="wp-image-9442"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Seringkali saya selalu memilih penerbangan paling pertama untuk berangkat dan penerbangan paling malam untuk pulang. Sehingga memaksa saya berangkat tengah malam buta dari rumah menuju bandara, otomatis saya tidak sempat sarapan. Untuk mengakali urusan perut saya selalu pre-book menu-menu Santan AirAsia. Dengan pesan lebih awal lebih murah daripada beli di atas pesawat. Favorit saya adalah menu andalan AirAsia yaitu Nasi Lemak Pak Nasser, menu wajib yang tidak boleh terlewatkan. Selain Nasi Lemak, hampir semua menu pre-book Santan sudah pernah saya coba semua. Dari mulai Nasi Padang, Nasi Ayam, hingga Ayam Panggang, semuanya enak-enak.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2019/12/AirAsia.jpg" alt="" class="wp-image-9447"/></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi kapan kamu mau terbang dengan AirAsia? Saya dong mau ke Myanmar lagi bulan Desember ini untuk menghabiskan liburan akhir tahun.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.alidabdul.com/bahagia-bersama-airasia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>33</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengarak Yang Mulia Dewa</title>
		<link>https://www.alidabdul.com/mengarak-yang-mulia-dewa/</link>
					<comments>https://www.alidabdul.com/mengarak-yang-mulia-dewa/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[alidabdul]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Oct 2019 11:10:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Post]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.alidabdul.com/?p=9399</guid>

					<description><![CDATA[Prang…prang…prang… Drung dum dum…drung dum dum… Cress…cress…crress. Tabuhan gendang dan hantaman simbal bertalu-talu memekakkan telinga. Meskipun begitu tidak membuat risih telinga, malahan harmonisasi gebukan perkusi tersebut membuat semangat siapa saja yang mendengar. Di depan mata saya terlihat Liang-liong meliuk-liuk mengikuti irama musik. Terlihat juga Barongsai menari-nari dengan lincah. Suasana sungguh gegap gempita. Jika Anda ingin [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Prang…prang…prang… Drung dum dum…drung dum dum… Cress…cress…crress. Tabuhan gendang dan hantaman simbal bertalu-talu memekakkan telinga. Meskipun begitu tidak membuat risih telinga, malahan harmonisasi gebukan perkusi tersebut membuat semangat siapa saja yang mendengar. Di depan mata saya terlihat Liang-liong meliuk-liuk mengikuti irama musik. Terlihat juga Barongsai menari-nari dengan lincah. </p>



<figure class="wp-block-gallery columns-2 is-cropped wp-block-gallery-17 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<figure class="wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-18 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Suasana sungguh gegap gempita. Jika Anda ingin merasakan festival naga tanpa merusak gendang telinga, ada <a href="https://top10slotgames.com/">top10slotgames.com</a> yang menawarkan slot festival yang sesuai dengan selera Anda. Penonton berduyun-duyun memadati pinggir jalan, hingga merangsek ke tengah jalan untuk melihat hiburan gratis tersebut. Terlihat banyak pernak-pernik berbau Tiongkok. Mulai dari warna merah mendominasi, panji-panji bertuliskan aksara Tiongkok. Dan banyaknya orang-orang beretnis Tionghoa berkumpul di satu tempat. Saya seperti dilempar ke Singkawang, sebuah kota di Kalimantan Barat yang penduduknya kebanyakan beretnis Tionghoa. Sebuah pemandangan yang tidak biasa di Jombang yang dijuluki Kota Santri ini. Ada apa gerangan?</p>



<figure class="wp-block-gallery columns-2 is-cropped wp-block-gallery-19 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Rupanya Kelenteng Hong San Kiong di Gudo yang konon umurnya sudah tiga abad punya gawe besar. Dewa Kong Tik Tjoen Ong yang disembah di kelenteng tersebut sedang berulang tahun pada tanggal  22 bulan 8 Imlek, atau kalau penanggalan masehi tahun 2019 jatuh pada tanggal 20 September. Untuk merayakan hari bahagia tersebut, mereka mengundang dewa-dewa dari berbagai kelenteng di Indonesia. Dan perayaan ulang tahun digelar selama tiga hari terus-menerus. Tidak heran jika sepanjang jalan di Gudo banyak parkir bus-bus besar dengan berbagai plat nomor luar kota. </p>



<figure class="wp-block-gallery columns-2 is-cropped wp-block-gallery-20 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<figure class="wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-21 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap kelenteng mempunyai leluhur atau dewa yang disembah atau dipuja. Dewa atau orang Tionghoa di Indonesia biasa menyebutnya dengan istilah Kongco, dari Bahasa Hokkian yang berarti &#8220;Leluhur Semua Orang&#8221;. Kebanyakan etnis Tionghoa di sini adalah keturunan Orang Hokkian dari Fujian sana. Banyak kata serapan dari Bahasa Hokkian yang kita gunakan sampai sekarang seperti; calo, cawan, ebi, giwang, hoki, kecap, pisau, tahu, dan lain sebagainya. </p>



<figure class="wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-22 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Yang Mulia Kongco Kong Tik Tjoen Ong yang dipuja di Kelenteng Hong San Kiong adalah Dewa Pelindung. Dewa yang satu ini sangat populer disembah orang-orang Fujian. Apalagi yang sedang merantau ke luar daerah atau luar negeri. Banyak versi dari kisahnya. Kebanyakan menceritakan tentang  beliau yang gigih, pekerja keras, sabar, berbakti kepada orang tua, dan setia. Patungnya digambarkan dengan sosok bertubuh tambun dengan kaki kanan bersila, dan kaki kiri lurus ke bawah.</p>



<figure class="wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-23 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dewa-dewa yang datang ke kelenteng ditempatkan di joli atau tandu. Dari joli yang kecil hingga yang besar dan megah ada semua. Joli-joli tersebut kemudian dikirab keliling Gudo dengan diangkat beberapa orang. Sepanjang jalan joli digoyangkan maju mundur. Jangan dikira jolinya enteng, melihatnya saja membuat pundak saya ngilu nyeri. Yang bikin salut adalah joli-joli tersebut tidak diperbolehkan menyentuh tanah ketika diarak keliling. Meskipun macet dan perjalanan terhenti, para penggotong dengan segenap tenaga tidak akan membiarkan joli tersebut menyentuh tanah. Untuk menghilangkan bosan menunggu jalan lancar, terkadang joli digoyang kanan kiri maju mundur di tempat. Dalam prosesi kirab tersebut, saya melihat ada salah satu peserta yang kesurupan hingga pingsan.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2019/10/Kirab-Budaya-Kelenteng-Hong-San-Kiong-Gudo-Jombang-2019-4.jpg" alt="" class="wp-image-9407"/></figure>



<figure class="wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-24 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Nggak ada yang tahu pasti berapa jumlah dewa yang hadir. Saya mencoba bertanya ke beberapa orang, ada yang bilang 60 tandu, dan ada yang bilang 80 tandu lebih. Mungkin saya tanya ke orang yang salah. Di antara ratusan peserta kirab, sekilas saya melihat komedian terkenal Yati Pesek turut hadir dalam acara tersebut. Saya baru tahu kalau Yati Pesek merupakan keturunan Tionghoa.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://www.alidabdul.com/wp-content/uploads/2019/10/Kirab-Budaya-Kelenteng-Hong-San-Kiong-Gudo-Jombang-2019-17.jpg" alt="" class="wp-image-9419"/></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dari puluhan joli yang dikirab, saya melihat hanya tiga orang yang melakukan ritual Tatung. Seumur-umur baru kali saya melihat orang melakukan Tatung, biasanya saya melihat dari foto dan video saja. Dalam dialek Hakka, Tatung adalah ritual memanggil roh leluhur untuk merasuki raga atau tubuh orang. Konon ritual ini sebagai alat komunikasi antara dunia nyata dengan alam ghaib. Ritual ini biasanya untuk pengobatan dan pengusiran roh jahat. Biasanya orang yang raganya dirasuki roh akan kebal terhadap benda tajam atau tidak akan merasakan sakit. Untuk membuktikan hal tersebut, beberapa bagian tubuh seperti kulit pipi dan lidah akan ditusuk dengan jarum kawat tanpa berdarah. Mirip-mirip debus lah Di Tiongkok sendiri sudah hampir punah ritual Tatung, kalau di Indonesia sendiri masih ramai saat perayaan Cap Go Meh di Singkawang. </p>



<figure class="wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-25 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li><li class="blocks-gallery-item"></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Saya pribadi merasa bangga bisa menyaksikan kirab budaya yang bukan asli budaya Indonesia di kota Jombang, kota kelahiran saya. Apalagi budaya tersebut berasal dari etnis yang sangat sensitif di Indonesia. Budaya yang diserap oleh etnis keturunan Tionghoa yang sudah menjadi bagian dari Indonesia. Jombang loh punya beginian, itu menandakan keberagaman etnis dan agama di Jombang baik-baik saja. Nggak usah sok anti-anti Cina deh. Lha wong Bakso, Bakmi, Onde-onde, Roti Goreng, Cakwe, dan masih banyak lagi yang asalnya dari Tiongkok sudah menyerap ke dalam kehidupan kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jombang Banget!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.alidabdul.com/mengarak-yang-mulia-dewa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>16</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
