<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0' gd:etag='W/&quot;DEUCQXY8cSp7ImA9WhRaFk4.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659846139297363523</id><updated>2012-02-19T14:24:20.879+07:00</updated><title>WORLD OF STORIES</title><subtitle type='html'>What is your story today?</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default?redirect=false&amp;v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Mazz Rohmat</name><uri>https://profiles.google.com/110689129225580261196</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-217Zob5Zd7c/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAgA/KqmYTN8Udrc/s512-c/photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry gd:etag='W/&quot;Ck4CRn88fSp7ImA9WhZXF0Q.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659846139297363523.post-2236017039309774170</id><published>2011-05-08T00:38:00.002+07:00</published><updated>2011-05-08T00:56:07.175+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-05-08T00:56:07.175+07:00</app:edited><title>The Last Artan Mage</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Musim panas baru saja pergi. Dedaunan mulai menguning dan udara mendingin. Sendirian, Altraz berjalan menyusuri pinggiran kota yang sepi, mencoba memikirkan semester baru yang akan dimulai tiga hari lagi. Tanpa sadar ternyata dia berjalan terlalu jauh dan sudah hampir mencapai hutan di tepi kota. Sesaat dia berpikir untuk kembali ke kota, tapi begitu melihat puncak pepohonan di hutan bergoyang tertiup angin, dia melangkahkan kakinya menuju hutan itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sudah lama sekali sejak pertama kali dia memasuki Hutan Assylum, saat dia berumur 7 tahun, saat kepalanya masih dipenuhi oleh cerita-cerita gila tentang makhluk-makhluk gaib yang ada di sana. Sebenarnya Hutan Assylum adalah hutan buatan, semua hewan dan makhluk gaib yang ada di dalamnya adalah hewan-hewan dan makhluk-makhluk langka yang ada di seluruh Fairyzard, semacam kebun binatang yang sangat luas. Memang ada bagian-bagian tertentu yang berbahaya, di mana terdapat makhluk-makhluk gaib yang cukup buas, tapi itu di bagian terdalam hutan. Sementara di pinggiran hutannya hanya ada hewan-hewan jinak dan lucu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saat pertama kali memasuki Hutan Assylum, Altraz begitu bersemangat. Dia dan Bill, sahabatnya, berlarian kesana- kemari, mencoba menemukan makhluk-makhluk gaib yang hanya mereka lihat lewat gambar. Altraz begitu senang saat dia menemukan kawanan Deez, sejenis rusa dengan tanduk emas dan sepasang sayap di punggung, sedang minum di tepi sungai yang mengalir sepanjang hutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejak saat itu hampir tiap akhir pekan dia pergi Hutan Assylum. Kadang bersama ayahnya, kadang bersama ibunya, tapi lebih sering bersama Bill. Tapi sejak memasuki Stadium dua, di mana dia dan Bill terpaksa masuk ke sekolah yang berbeda, dan dia mulai sibuk dengan tugas-tugas sekolah, sementara Bill juga mengalami nasib yang sama, Altraz tidak lagi datang ke Hutan Assylum. Lama-kelamaan dia mulai melupakan tentang hutan itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kini, setelah bertahun-tahun lamanya, keadaan Hutan Assylum tidak jauh berbeda dari yang dulu. Altrza masih bisa mengenali pohon besar yang biasa dipanjatnya dulu. Pohon itu masih berdiri kokoh, lebih tinggi dan besar. Altraz baru akan memanjat ketika dia mendengar sesuatu. Sebuah ledakan dari arah dalam hutan. Suaranya tidak terlalu keras, mungkin agak jauh ke dalam. Altraz segera mengeluarkan tongkatnya dan berlari ke arah sumber suara. Saat menyeberangi sungai dia mendengar ledakan kedua, yang disusul ledakan-ledakan lain. Pasti ada yang sedang bertarung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bunyi ledakannya terdengar semakin keras dan Altraz dapat mendengar beberapa orang meneriakkan mantra. Altraz bersembunyi di sebuah pohon untuk melihat apa yang terjadi. Di tengah-tengah tanah lapang kecil di hadapannya terdapat empat orang penyihir berjubah hitam sedang menyerang seorang remaja seumuran dirinya. Altraz terkejut karena tampaknya pemuda itu tidak terpojok, dia justru berhasil menumbangkan salah seorang penyihir berjubah hitam itu.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tapi yang lebih mengherankan adalah senjata yang digunakan remaja itu, bukan tongkat kecil yang biasa digunakan para Wizard. Pemuda itu menggunakan tongkat panjang yang biasa digunakan para Mage. apa yang dilakukan seorang Mage muda di Rune-Zala?&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebuah mantra melesat dan meledak tepat di samping Altraz, mengenai sebuah pohon dan merobohkannya. Sekarang keadaan Mage remaja itu mulai terdesak. Beberapa kali dia gagal memblokir mantra, hanya sedikit membelokkannya dan meledak tepat di sampingnya. Altraz segera keluar dari persembunyiannya sambil mengacungkan tongkatnya dan menekan tombol di pangkalnya. Sebuah bolalistrik muncul di ujung tongkatnya, melesat dengan cepat dan tepat mengenai muka salah seorang penyihir berjubah hitam, yang langsung jatuh pingsan. Dia baru akan menyerang lagi saat kedua penyihir yang masih sadar memegang kedua temannya yang pingsan dan menghilang seketika.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Altraz mendengar desahan lemah dan remaja di sampingnya roboh, "Hei, kau baik-baik saja?" Dia mendekati dan memeriksa remaja itu, detak jantungnya sangat lemah.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; " Hei, kau tidak apa-apa?", tanyanya lagi. Tapi remaja itu sudah tidak sadarkan diri. Altraz segeramenggendongnya dan membawanya keluar dari hutan.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sudah hampir gelap, tidak ada satu orangpun saat Altraz akhirnya keluar dari Hutan Assylum. Altraz segera menelpon ayahnya, yang sangat terkejut mendengar ceritanya, untuk segera menjemputnya. Setelah setengah jam menunggu akhirnya ayahnya datang dan mereka segera membawa Mage remaja itu ke Rumah Sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659846139297363523-2236017039309774170?l=mat-mat-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/feeds/2236017039309774170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2011/05/new-friend.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/2236017039309774170?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/2236017039309774170?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2011/05/new-friend.html' title='The Last Artan Mage'/><author><name>Mazz Rohmat</name><uri>https://profiles.google.com/110689129225580261196</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-217Zob5Zd7c/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAgA/KqmYTN8Udrc/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;AkYDRHc5eCp7ImA9Wx5TF0w.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659846139297363523.post-6815184780859275938</id><published>2010-08-02T10:01:00.004+07:00</published><updated>2010-08-02T10:02:55.920+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-08-02T10:02:55.920+07:00</app:edited><title>Davus an Artan Wizard</title><content type='html'>&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;Davus awoke from his sleep. At the same moment he raised himself and sat down, his breath was gasped. His whole body was drenched in sweat. Just felt so real dreams. While known how many hundred times he had the same dream, but that time it was different. As if he really the most horrible event repeating it in his life. Instances where both parents so brutally murdered by three wizards from Novus race, right in front of him nearly six years ago.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br class="kix-line-break" /&gt; Davus without knowing it, has melted and the tears dripping over his dark green blanket, her body shaking with grief, resentment and fear that has been languishing for so long. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;"Soon your age thirteen years and you still cry like a kid."&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt; Davus gasped and quickly wiped his tears with the back of his hand. "Ah, grandpa, I was only twelve years old. Somewhere out there I'm still considered a child," said Davus as he approached his grandfather who was standing in the doorway. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;Gray-haired old man who was full of gray hair hit Davus’s head with his stick, "Stupid! You are an Artan race, thirteen-year mean age of maturation and increasing level of magic!" he snapped angrily. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;Davus snorted, "Yeah, yeah, I know that. But no need to hit, right?"  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt; The old man shook his head as he turned around, "Grab your wand, we continue your training."   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;Davus immediately picked up a one half meters long wooden stick which stands in the corner and followed his grandfather out. The old dark blue robes were waiting Davus in a position ready to fight, his hands clutched the handle of his wand as high as his chest. Davus also directly take a position, he stood face to face with the grandfather in a distance of five feet and clutched his cane with his right hand. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;Without further ado, grandpa Gordon started attacking. He stream &lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: italic; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;mana &lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;to his wand, light blue flowing from the palms of her hands and covers all parts of the cane. Not to be outdone, Davus do the same thing.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br class="kix-line-break" /&gt; After the glowing blue wand, with nimble grandpa Gordon spun while drawing a circle on the ground with the tip of his cane and then draw a magic seal in the circle. And as before, Davus doing similar things almost simultaneously with his grandfather. Then they tapped their sticks on the seals that have their pictures. From grandpa Gordon’s seal came a big flame, rotate once around him before finally sped rapidly toward Davus.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt; Davus seemed calm, from the edge of his seal same the swirling water and raise, formed a thick wall and holding grandpa Gordon’s fire attack. Then with a quick movement but is very flexible, he drew a seal again and tapped his wand once again. Water wall collapsed, but the water that fell in the air and turned into a lot of needle ices, with a knock again Davus send the needle ice to attack his grandfather.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt; But before hundreds of needle ices was about grandpa Gordonr, suddenly lands in front of that old man was pulled up very quickly, builds a wall of thick soil that resisted Davus’s needle ices. Tinkling sound loud enough when the nails of ice shattered walls and hit the ground.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;Both stopped the attack. Davus saw his grandpa smiling as he approached him, "Speed and strength of your attack already getting better. I think you ready for the maturation ritual." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="internal-source-marker_0.5153798560475807" style="background-color: black; color: #f3f3f3; margin-bottom: 0pt; margin-top: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; font-family: Arial; font-size: 11pt; font-style: normal; font-weight: normal; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;this is my first post in english, tell me if i make mistake, thank you&lt;span style="background-color: #f3f3f3;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659846139297363523-6815184780859275938?l=mat-mat-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/feeds/6815184780859275938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2010/08/davus-artan-wizard_02.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/6815184780859275938?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/6815184780859275938?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2010/08/davus-artan-wizard_02.html' title='Davus an Artan Wizard'/><author><name>Mazz Rohmat</name><uri>https://profiles.google.com/110689129225580261196</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-217Zob5Zd7c/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAgA/KqmYTN8Udrc/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;D0YBQXczfip7ImA9WxBbE0o.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659846139297363523.post-6474433067426236371</id><published>2010-03-12T13:25:00.000+07:00</published><updated>2010-03-12T13:25:50.986+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-03-12T13:25:50.986+07:00</app:edited><title>Dia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Senyumannya begitu menawan, mampu memukau dan memesona hati siapa saja yang melihatnya. Kedua mata hitamnya begitu jernih dan memancarkan kesucian jiwanya. Dan wajahnya yang bulat tampak cerah bercahaya bagai bulan purnama yang indah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap gerak tubuhnya selalu menjadi pusat perhatian. Kalau dia melakukan sesuatu yang mengejutkan, semua orang akan terkagum-kagum melihatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia membuat semua orang ingin memberikan perhatian dan kasih sayang padanya. Dan tak ada yang bisa menahan diri untuk tidak menyentuh tubuh indahnya, di bagian manapun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat dia tertawa, setiap orang yang melihatnya akan ikut tersenyum senang, bahkan terkadang bisa membuat orang menitikkan air mata haru. Saat dia menangis, orang-orang yang ada di sekitarnya akan segera menenangkan dan menghiburnya. Meskipun begitu, hanya satu orang yang bisa membuatnya tenang dan tertawa lepas kembali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sang Ibu akan menggendongnya dengan penuh kelembutan dan rasa sayang, dan bayi mungil yang tadinya menangis dan meronta-ronta itu akan langsung tenang sambil menatap lurus kedua mata ibunya. Tak ada yang lebih indah dari seorang bayi yang baru lahir dengan kepolosan dan kesucian jiwanya dan membuat orang-orang di sekitarnya merasa bahagia hanya dengan melihatnya saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                &lt;span style="font-family: monospace;"&gt;&lt;div&gt;&lt;a class="addthis_button" href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=250&amp;amp;username=xa-4b97e25536f5678f"&gt;&lt;img alt="Bookmark and Share" height="16" src="http://s7.addthis.com/static/btn/v2/lg-share-en.gif" style="border: 0pt none;" width="125" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=xa-4b97e25536f5678f" type="text/javascript"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659846139297363523-6474433067426236371?l=mat-mat-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/feeds/6474433067426236371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2010/03/dia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/6474433067426236371?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/6474433067426236371?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2010/03/dia.html' title='Dia'/><author><name>Mazz Rohmat</name><uri>https://profiles.google.com/110689129225580261196</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-217Zob5Zd7c/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAgA/KqmYTN8Udrc/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DEQERno8fip7ImA9WxBbEUQ.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659846139297363523.post-1288539675303676835</id><published>2010-03-10T11:45:00.000+07:00</published><updated>2010-03-10T11:45:07.476+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-03-10T11:45:07.476+07:00</app:edited><title>antara mimpi, cita" dan hayalan</title><content type='html'>&amp;gt; aku punya mimpi bisa keliling Indonesia dan mengenal seluruh budaya dan daerah di negeri ini secara langsung. . .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;gt; aku bercita" menjadi seorang seniman hebat yang menciptakan karya" luar biasa sepanjang masa. . .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;gt; aku pernah berhayal menjadi seorang ahli sihir yang sangat hebat, bahkan melebihi Merlin. . .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659846139297363523-1288539675303676835?l=mat-mat-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.facebook.com/editnote.php?draft&amp;note_id=10150134255400093&amp;id=100000050784923' title='antara mimpi, cita&quot; dan hayalan'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/feeds/1288539675303676835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2010/03/antara-mimpi-cita-dan-hayalan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/1288539675303676835?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/1288539675303676835?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2010/03/antara-mimpi-cita-dan-hayalan.html' title='antara mimpi, cita&quot; dan hayalan'/><author><name>Mazz Rohmat</name><uri>https://profiles.google.com/110689129225580261196</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-217Zob5Zd7c/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAgA/KqmYTN8Udrc/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CU8FRn05eip7ImA9WxBbFUk.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659846139297363523.post-7448886611997356739</id><published>2010-03-08T16:10:00.003+07:00</published><updated>2010-03-14T12:16:57.322+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-03-14T12:16:57.322+07:00</app:edited><title>Lelaki Buta Berjaket Merah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entah sejak kapan aku tertarik pada lelaki itu dan memperhatikannya diam-diam. Sudah lebih dari setengah tahun aku berjualan jagung bakar di pinggiran jalan raya Kota Bandar Lampung dan setiap malam lelaki itu berjalan di hadapanku, selalu jam 7 dan jam 12.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia selalu berpenampilan rapi dan mengenakan sebuah jaket merah tebal, walaupun seluruh pakaiannya tidak tergolong pakaian mahal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan dengan sebuah tongkat besi yang diketuk-ketukkannya di atas aspal, lelaki itu berjalan dengan santai, seolah dia bisa melihat semuanya dengan sangat jelas, atau mungkin dia sudah hafal jalan yang sudah sangat sering dilewatinya itu. Wajahnya tampak sangat tenang dengan sebuah senyum samar di kedua bibirnya. Tapi aku tak pernah tahu seperti apa bentuk matanya karena keduanya selalu ditutupi oleh sebuah kaca mata hitam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku sering berpikir, ke mana dia pergi tiap malam? Tempat seperti apa yang dia tuju? Apa yang dilakukannya selama lima jam itu? Dan di mana rumahnya? Apakah jauh? Apakah harus menempuh beberapa jam berjalan kaki sebelum akhirnya melewatiku?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku juga suka membayangkan, apakah dia sudah berkeluarga? Apakah ada seorang istri yang setia merawatnya setiap hari dan selalu menunggu kepulangannya tiap malam? Apakah dia sudah mempunyai seorang anak? Beberapa anak? Atau dia hanya tinggal sendirian di sebuah rumah petak yang kecil? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belakangan aku suka menyapanya, saat berangkat maupun pulang. Dan lelaki itu selalu menjawab dengan wajah tersenyum. Yang membuatku heran, untuk ukuran lelaki berpostur cukup tinggi dan  bidang, menurutku suaranya terlalu lembut. Tapi aku senang melihat wajah ramahnya tersenyum saat membalas sapaanku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada suatu hari aku memberanikan diri untuk bicara padanya dan bertanya ke mana tujuannya, apa yang dia kerjakan dan di mana rumahnya. Aku sangat terkejut mendengar jawabannya, ternyata dia adalah seorang guru, tepatnya guru privat Bahasa Inggris. Dia bekerja di sebuah lembaga kursus privat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap hari Senin, Rabu dan Jum'at dia pergi ke sebuah rumah di kawasan perumahan elit yang jaraknya sangat jauh dari rumahnya sendiri. Di sana dia mengajari dua orang kakak beradik yang masih duduk di bangku SMA.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukan cuma itu, siang harinya dia mengajar di tempat lain. Bukan pelajar, tapi seorang pengusaha muda, dan rumahnya tak kalah jauh dari rumah muridnya yang SMA.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh menakjubkan, dengan keterbatasan fisiknya dia mampu melakukan hal yang bahkan orang normal pun mungkin kesulitan melakukannya. Karena setiap kali dia pergi mengajar murid-murid privatnya, dia selalu berjalan kaki dan sendirian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oh ya, hampir lupa,  namanya Pak Arsyad, seorang sarjana pendidikan. Dia sudah berkeluarga, mempunyai dua orang putra yang sedang kuliah di sebuah universitas negeri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak saat itu, setiap pulang dari mengajar Pak Arsyad selalu mampir dan ngobrol denganku. Dan aku selalu memberikan jagung bakar untuknya dan keluarganya. Awalnya dia ingin membayar jagung bakar itu, tapi setelah ku paksa akhirnya dia mau menerimanya dengan cuma-cuma.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Makin lama kami makin akrab. Aku sangat menyukainya dan tak bisa berhenti kagum padanya. Wawasannya sangat luas dan cara bicaranya sangat berwibawa, meskipun suaranya tidak besar dan berat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa bulan kemudian aku tidak lagi melihat Pak Arsyad melintasi tepi jalan raya seperti biasanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, mungkin dia mengajar di tempat lain, dia tidak mengatakan apa-apa pada pertemuan terakhir kami.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku benar-benar merasa kehilangan, dia bukan sekedar teman ngobrol sebelum pulang jualan, tapi dia juga sudah seperti orang tua dan guru bagiku, meskipun aku hanya mengenalnya selama beberapa bulan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang aku sesalkan, aku tidak bisa menghubunginya, aku pun tidak tahu di mana tempat tinggalnya. Aku berharap suatu saat bisa bertemu lagi dengannya, berbincang dengannya, mendengarkan nasihat-nasihatnya ataupun cerita-cerita menarik saat dia mengajar privat. Pak Arsyad, di manapun kau berada sekarang, tetaplah bersemangat menyebarkan ilmu, semoga Tuhan selalu melindungimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: monospace; font-size: 13px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;a class="addthis_button" href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=250&amp;amp;username=xa-4b97e25536f5678f"&gt;&lt;img alt="Bookmark and Share" height="16" src="http://s7.addthis.com/static/btn/v2/lg-share-en.gif" style="border: 0pt none;" width="125" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=xa-4b97e25536f5678f" type="text/javascript"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659846139297363523-7448886611997356739?l=mat-mat-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/feeds/7448886611997356739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2010/03/lelaki-buta-berjaket-merah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/7448886611997356739?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/7448886611997356739?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2010/03/lelaki-buta-berjaket-merah.html' title='Lelaki Buta Berjaket Merah'/><author><name>Mazz Rohmat</name><uri>https://profiles.google.com/110689129225580261196</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-217Zob5Zd7c/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAgA/KqmYTN8Udrc/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CUMDRHo5eSp7ImA9WxBbFUk.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659846139297363523.post-6720479347888335854</id><published>2009-12-09T11:14:00.005+07:00</published><updated>2010-03-14T12:11:15.421+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-03-14T12:11:15.421+07:00</app:edited><title>The Assassins</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pria bermantel hitam itu memasuki cafe dengan tenang. Kerah mantelnya yang tinggi menutupi sebagian wajahnya, tapi kedua mata hitamnya yang tajam dapat terlihat dengan jelas. Dia tak melepas mantelnya yang panjangnya sampai ke mata kaki itu saat seorang resepsionis pria memintanya dengan senyum sopan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cafe itu ramai, penuh pengunjung dari berbagai ras dan usia; manusia, penyihir dan kurcaci, semuanya asyik bercengkerama dan tertawa terbahak-bahak sambil minum diiringi musik keras dari band yang berada di ujung ruangan, tepat berhadapan dengan pintu masuk. Beberapa orang duduk di depan meja bar, menikmati minuman yang disajikan seorang bartender tua yang rambutnya penuh uban.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Empat puluh satu orang, semuanya lengkap, batin si pria bermantel hitam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu melewati meja resepsionis pria itu menghentikan langkahnya dan membuka resleting mantelnya. Sambil menyeringai dia berkata dengan tenang tapi cukup keras, "Ada pesan untuk kalian semua."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sambil berkata begitu dia mengeluarkan dua bilah pedang panjang yang tergantung di kedua pinggangnya. ⁯Kedua pedang itu lebarnya cuma dua inci dan bermata dua. Yang membuatnya tampak unik, keseluruhan pedang itu berwarna hitam, sama persis dengan warna bola mata si pria yang menggenggamnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu si pria mengeluarkan kedua pedang hitam itu, semua orang mendadak menghentikan aktifitas mereka. Dan seperti dikomando mereka semua mengeluarkan senjata masing-masing; tongkat sihir, pedang dan golok besar, kapak bermata lebar dan senjata api berbagai bentuk dan ukuran. Semua orang kecuali para pegawai cafe yang langsung menghilang entah ke mana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melihat ancaman di sekelilingnya, si pria bermantel hitam justru menyeringai dan dengan santai dia menutup kembali resleting mantelnya. Lalu dengan satu hentakan keras pria itu mendorong tubuhnya melesat dengan sangat cepat, bersamaan dengan itu semua orang mulai menyerang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suara letusan senjata api, ledakan-ledakan mantera yang menghantam semua sisi ruangan dan denting keras logam yang saling beradu memenuhi cafe kecil itu. Si pria bermantel hitam tampak santai mengayunkan kedua pedangnya dengan sangat cepat sampai tak terlihat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;⁯&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sambil terus menghindari dan menangkis serangan yang datang bertubi-tubi, pria itu, dengan ekspresi tenang dan seringai di wajahnya, menghabisi semua musuhnya satu per satu. Gerakan tubuhnya tampak ringan dan luwes namun sangat cepat, seolah sedang menarikan tarian kematian yang indah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam beberapa menit saja semua orang yang ada di tempat itu sudah tumbang. Darah berceceran mengotori seluruh dinding dan lantai yang hancur, potongan-potongan tubuh berserakan di mana-mana, tak ada seorang pun yang selamat selain para pegawai cafe dan pria bermantel hitam yang berdiri tegak dengan seringai kemenangan di wajahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Aku baru mau mengatakan, kalian dapat salam dari penghuni neraka," kata pria itu ringan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba dari udara kosong muncul sesosok makhluk berjubah putih bertudung tepat di hadapan pria bermantel hitam. Kedua kaki dan tangannya tersembunyi di dalam jubahnya yang panjang, bahkan wajahnya tak terlihat karena bayangan kerudung jubahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Si pria bermantel hitam berlutut dan berkata, "Tugas telah terlaksana, Yang Mulia Azazel. Para perampok dan buronan di kota ini sudah ku bersihkan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: monospace; font-size: 11px; white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;a class="addthis_button" expr:addthis:title="data:post.title" expr:addthis:url="data:post.url" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5659846139297363523&amp;amp;postID=6720479347888335854"&gt;&lt;img alt="Bookmark and Share" height="16" src="http://s7.addthis.com/static/btn/v2/lg-share-en.gif" style="border: 0pt none;" width="125" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;script src="http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=xa-4b97e25536f5678f" type="text/javascript"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: monospace; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 11px; white-space: pre;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659846139297363523-6720479347888335854?l=mat-mat-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/feeds/6720479347888335854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2009/12/assassins.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/6720479347888335854?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/6720479347888335854?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2009/12/assassins.html' title='The Assassins'/><author><name>Mazz Rohmat</name><uri>https://profiles.google.com/110689129225580261196</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-217Zob5Zd7c/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAgA/KqmYTN8Udrc/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CUQHRn0-fip7ImA9WxBbFUk.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659846139297363523.post-6639656055572719877</id><published>2009-11-04T14:29:00.005+07:00</published><updated>2010-03-14T12:08:57.356+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-03-14T12:08:57.356+07:00</app:edited><title>Zerb, Penyihir Cilik dari Ras Artan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Zerb tersentak bangun dari tidurnya. Seketika itu juga dia mengangkat tubuhnya dan duduk sambil mengatur napasnya yang tersengal.&lt;/div&gt;&lt;div class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Mimpi barusan terasa begitu nyata. Walaupun entah sudah berapa ratus kali dia mengalami mimpi yang sama, tapi rasanya kali ini berbeda. Seolah-olah dia benar-benar mengulang kembali kejadian paling mengerikan dalam hidupnya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejadian di mana kedua orang tuanya dibunuh dengan begitu sadis oleh tiga orang penyihir dari ras Wandius, tepat di hadapannya hampir enam tahun yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa Zerb sadari, air matanya telah meleleh dan menetes-netes di atas selimut hijau tuanya, tubuhnya bergetar karena rasa sedih, dendam dan takut yang telah mendekam sekian lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tak lama lagi usiamu tiga belas tahun dan kau masih menangis seperti bocah."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zerb tersentak dan buru-buru mengusap air matanya dengan punggung telapak tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ah, kakek, aku ini baru dua belas tahun. Di luar sana aku masih dianggap anak-anak," sahut Zerb sambil mendekati kakeknya yang berdiri di ambang pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakek tua berambut kelabu yang penuh uban itu menjitak kepala Zerb dengan tongkatnya, "Anak bodoh! Kamu ini Bangsa Artan, tiga belas tahun berarti usia pematangan dan peningkatan level sihir!" bentaknya marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zerb mendengus, "Iya, iya, aku tahu itu. Tapi tak perlu memukul, kan?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si kakek menggelengkan kepala sambil membalikkan badannya, "Cepat ambil tongkatmu, kita lanjutkan latihanmu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zerb segera mengambil sebuah tongkat kayu sepanjang satu setengah meter yang berdiri di sudut ruangan dan menyusul kakeknya keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakek tua berjubah biru gelap itu sudah menunggu Zerb dalam posisi siap bertarung, kedua tangannya menggenggam gagang tongkatnya yang setinggi dadanya. Zerb juga langsung ambil posisi, dia berdiri berhadapan dengan si kakek dalam jarak lima meter dan menggenggam erat tongkatnya dengan tangan kanannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa basa-basi, kakek Gordon mulai menyerang. Dia mengalirkan mana ke tongkatnya, cahaya kebiruan mengalir dari telapak tangannya dan melingkupi seluruh bagian tongkatnya. Tak mau kalah, Zerb melakukan hal yang sama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tongkatnya berpendar biru, dengan gesit kakek Gordon memutar tubuhnya sambil menggambar sebuah lingkaran di atas tanah dengan ujung tongkatnya lalu menggambar sebuah segel sihir d dalam lingkaran itu. Dan seperti sebelumnya, Zerb melakukan hal serupa hampir bersamaan dengan kakeknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu keduanya mengetukkan tongkat mereka di atas segel yang telah mereka gambar. Dari segel kakek Gordon muncul nyala api yang cukup besar, berputar satu kali mengitarinya sebelum akhirnya melesat dengan sangat cepat ke arah Zerb.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zerb tampak tenang-tenang saja, dari tepi segel sihirnya muncul air yang berputar-putar dan naik membentuk dinding air yang tebal dan menahan serangan api kakek Gordon. Lalu dengan gerakan yang cepat tapi sangat luwes, dia menggambar sebuah segel lagi dan mengetukkan tongkatnya sekali lagi. Dinding airnya runtuh, tapi airnya yang jatuh melayang di udara dan berubah menjadi paku-aku es yang sangat banyak, dengan satu ketukan lagi Zerb mengirim paku-paku es itu untuk menyerang kakeknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sebelum ratusan paku es itu mengenai kakek Gordon, tiba-tiba tanah di hadapan kakek tua itu terangkat ke atas dengan sangat cepat, memunculkan sebuah dinding tanah yang tebal yang menghalau serangan paku-paku es itu. Terdengar bunyi gemerincing yang cukup keras saat paku-paku es itu menghantam dinding tanah dan hancur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keduanya menghentikan serangan. Zerb melihat kakeknya tersenyum sambil mendekatinya, "Kecepatan dan kekuatan seranganmu sudah semakin baik. Kirasa kau sudah siap untuk ritual pendewasaanmu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
___________________________________________________________________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zerb duduk bersila di tengah-tengah sebuah segel sihir berdiameter tujuh meter, tongkat sihirnya yang bergagang bulat berdiri tegak di hadapannya tanpa penyangga. Kedua matanya terpejam sementara garis-garis segel rumit yang memenuhi lingkaran sihir itu berpendar biru, tampak terang di dalam gua yang gelap itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukan hanya garis-garis segel itu saja yang tampak bercahaya di dalam gua itu, tubuh Zerb tampak bermandikan cahaya keemasan. Tepat di atas kepalanya terdapat sebuah lubang yang cukup lebar yang menembus atap gua dan dari lubang itu sinar bulan purnama yang berada tepat di atasnya menerobos masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar satu kaki di luar lingkaran segel, kakek Gordon duduk bersila menghadap cucunya. Tongkat sihirnya tergeletak di sampingnya dan di hadapannya ada sebuah kitab tua yang tampak lapuk dan usang terbuka. Mulutnya menggumam pelan membaca mantera panjang yang tertulis di dalam kitab tua itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah satu-satunya sihir dari Ras Artan yang menggunakan mantera, Ritual Esiar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
⁯Ritual Esiar adalah ritual peningkatan level sihir dalam Ras Artan. Usia tiga belas tahun berarti peningkatan dari level nol ke level satu, lalu empat belas tahun kemudian naik lagi ke level dua. Dan seterusnya, ditambah satu tahun dari selang waktu pada ritual sebelumnya, tanpa ada batas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya ritual ini hanya untuk meningkatkan kuantitas dan kekuatan mana sehingga dapat melakukan sihir yang levelnya lebih tinggi dan lebih tahan lama. Soal kecakapan dan kecepatan, semua tergantung masing-masing orangnya, ritual ini sama sekali tak berpengaruh terhadap hal tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara kakek Gordon terus menggumam membaca mantera, nyala cahaya pada garis-garis segel berubah dari biru menjadi kuning kemudian merah. Dan setiap kali terjadi perubahan warna, Zerb merasakan udara di sekitarnya menjadi semakin panas, hingga akhirnya dia merasakan hawa panas membakar di seluruh tubuhnya, luar dan dalam. Awalnya remaja berambut gelap itu hanya membelalak terkejut, tapi kemudian dia menjerit keras sekali. Jeritannya menggema menggetarkan dinding batu gua, semakin lama semakin keras, lalu kemudian berhenti secara tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
⁯Begitu suara jeritan Zerb lenyap, yang disusul dengan terkulainya kepala remaja bermata biru itu, cahaya merah pada garis-garis segel pun ikut lenyap. Sesaat sebelumnya kakek Gordon berhenti membaca mantera dan menutup kitab tuanya. Lalu kakek tua itu berdiri dan merapikan rambut kelabu panjangnya sebelum berjalan mendekati cucunya. Ah, sempat-sempatnya orang tua itu melakukan hal seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tangannya yang kurus dan keriput kakek Gordon merebahkan tubuh Zerb yang tak sadarkan diri. Dari saku jubahnya dikeluarkannya sebuah tabung kaca kecil berisi ramuan Helio dan meminumkan ramuan berwarna merah itu ke mulut cucunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Syukurlah ritual ini berjalan lancar," gumam kakek Gordon lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi raut mukanya tampak murung. Dia merasa sedih melihat nasib cucu tunggalnya itu; seharusnya ritual ini dilakukan oleh seorang ayah, bukan seorang kakek. Walaupun prosesnya berjalan lancar, tapi entah bagaimana hasilnya nanti. Dalam hati kakek Gordon berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan cucunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
nb: ramuan Helio adalah ramuan penyembuh, efek sebenarnya adalah mengembalikan kondisi tubuh dalam keadaan prima seratus persen.⁮⁮&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;_____________________________________________________________________________________________&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Zerb termenung di ambang pintu belakang rumahnya, menatap kosong halaman belakangnya yang tak terurus. Sudah beberapa hari ini dia tidak merawat dan membersihkannya, kerjaannya hanya melamun dan melamun saja. Dia sudah kehilangan semangat hidup, satu-satunya tongkat penyangga hidupnya telah lenyap, satu-satunya orang yang menjadi alasannya tetap bertahan telah meninggalkannya untuk selamanya, menyusul kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia takkan lupa hari itu, hari di mana sekali lagi dia melihat orang yang sangat berarti dalam hidupnya mati di tangan penyihir Ras Wandius. Hari di mana kakeknya pergi meninggalkannya untuk selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari itu adalah hari ketujuh setelah ritual Esiar. Kakek Gordon, setelah mempertimbangkan matang-matang, memutuskan untuk meneruskan apa yang dilakukan kedua orang tua Zerb sebelum meninggal dunia; meneliti misteri legenda burung Aura Flamez.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
⁯Saat Zerb masih berumur lima tahun, kedua orang tuanya menemukan sebuah situs tersembunyi di tepi hutan Narakan. Menurut kakek Gordon, situs itu menyimpan rahasia kuno Fairyzard. Bukan hanya tentang legenda burung Aura Flamez, tapi juga tentang sang naga pembawa bencana, naga Hellberth.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada hari itu kakek Gordon mengajaknya pergi ke situs tersembunyi tersebut. Tempatnya cukup jauh, di selatan, wilayah yang cukup cerah dan kering. Tepatnya di selatan Aqualandya, setelah melewati pedesaan aneh yang tiap rumah jaraknya sekitar seperempat mil lalu melewati pegunungan Abiadh yang tandus tapi indah, bukan tempat yang mudah dicapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zerb baru pertama kali melihat tempat seperti itu, pegunungan Abiadh, wilayah itu sama sekali tak ditumbuhi sebatang pohon pun, bahkan rerumputan pun tak ada, seluruh lembah dan puncak gunungnya berupa bebatuan kasar dan keras. Dan sesuai namanya, tiap puncak gunungnya berkilauan putih cemerlang, karena batu di puncak-puncak gunung itu adalah batu kristal Abiadh. ⁯Meskipun tandus dan kering, siapapun akan mengatakan kalau tempat itu juga indah, kilauan sinar yang dipantulkan kristal Abiadh begitu memesona, terlebih lagi, katanya, kalau dilihat saat matahari terbit. Tapi Zerb tak sempat menyaksikan keindahan puncak-puncak pegunungan itu saat matahari terbit karena dia dan kakeknya tiba di wilayah itu setelah matahari naik dan sudah keluar dari situ beberapa jam setelah matahari terbenam. Tampaknya kakek tua itu agak terburu-buru, pikir Zerb.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, tepat di tepi hutan Narakan, yang tampak sangat mengerikan dengan pepohonan lebat yang begitu tinggi dan besar, kakek Gordon meraba-raba permukaan tanah yang berumput tipis dengan tongkatnya yang sudah dialiri mana. Zerb masih tak bisa melupakan perasaan ngeri saat berada di tepi hutan itu, di malam hari tanpa cahaya bulan dengan sedikit bintang, dia merasa pepohonan raksasa itu sedang mengawasi dia dan kakeknya dan siap menghancurkan mereka berdua jika menginjakkan kaki di wilayah hutan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
⁯Setelah beberapa saat meraba, kakek Gordon tiba-tiba menghentikan tongkatnya dan tersenyum, "Ini tempatnya," seru kakek itu penuh semangat. Lalu dia membuat sebuah lingkaran mengitari titik di mana tongkatnya berhenti dan menggambar sebuah segel di dalamnya, segel rumit yang sama sekali tak bisa diingat Zerb.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kakek Gordon mengetukkan tongkatnya, dia menyayat telapak tangan kirinya dengan sebuah belati dan membiarkan darahnya menetes di atas segel yang dibuatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kakek!" seru Zerb terkejut. Tapi kakek Gordon justru tersenyum, "Tak apa-apa, cuma sedikit, kok," katanya santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, dengan heran Zerb melihat tetesan-tetesan darah itu bergerak mengalir ke seluruh garis-garis segel. Dan setelah semua garis segel dipenuhi darah, barulah kakek Gordon mengetukkan tongkatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendadak bumi bergetar dan tiba-tiba tanah di mana segel itu berada melesak ke bawah begitu saja, meninggalkan lubang berdiameter tiga meter sedalam lutut orang dewasa. Lalu tanah yang ambles itu terbelah dua dan tiap belahan lenyap ke tepi, memperlihatkan sebuah tangga batu yang sangat curam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
⁯    "I,,, itu, itu yang namanya 'Kuil Dewa Iblis', ya?" kata Zerb takjub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Itu baru pintu masuknya saja, anak bodoh," kata kakek Gordon sambil memukul tulang tempurung cucunya, "Kuilnya masih jauh di bawah sana. Kau jangan ketakutan, ya?" ledek si kakek tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zerb mengelus kepalanya dan menatap kakeknya kesal, "Takut? Masa' masuk ke ruang bawah tanah saja takut, biar begini aku sudah level satu, kan?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bocah sombong, teknikmu masih belum sempurna, kau masih harus banyak belajar," ujar kakek Gordon sambil melangkahkan kakinya menuruni tangga batu, "Lagipula, segel yang kau kuasai masih sedikit, belum ada apa-apanya, bahkan dibandingkan dengan rata-rata penyihir seusiamu dari ras kita sendiri."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zerb tidak menyahuti omongan kakeknya dan hanya mengikuti dari belakang dalam diam. Setelah beberapa langkah kakek Gordon menyalakan 'Pemantik Cahaya'-nya, sebuah benda perak berbentuk silinder, dan sebuah bola cahaya sebesar kepalan tangan orang dewasa muncul dan melayang di atas kepalanya,⁮ mengikuti mereka berdua sambil memancarkan sinar keemasan yang sangat terang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangga batu itu terus menurun dengan curam tanpa ada belokan sama sekali. Zerb merasa sedikit kecewa karena tak melihat satupun simbol atau huruf kuno pada dinding dan langit-langit gua yang anehnya tampak begitu bersih dan halus. Kekecewaannya berubah menjadi kesal saat mendapati tangga batu itu tidak habis-habis, entah sudah berapa lama mereka berjalan menuruninya. Tapi saat mulutnya terbuka untuk meneriakkan keluhan dan protes, tangga batu itu lenyap begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tiba-tiba saja mereka sidah berada di sebuah aula yang luas dengan langit-langit tinggi dan lantai marmer hetam yang dinginnya bahkan menembus sepatu kulit rusa. Tapi lagi-lagi Zerb kecewa karena dinding aula itu sama sekali kosong, hanya berupa batu datar berwarna kecokelatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara langkah kaki mereka bergema keras saat merela menyeberangi aula itu. Lalu tiba-tiba saja kegembiraan Zerb muncul saat mereka sampai di dinding seberang. Di hadapan mereka berdiri gagah pintu besi lengkung raksasa yang memiliki dua warna., atau seperti itulah yang pertama kali terpikirkan oleh Zerb.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu bukan pintu besi, pintu lengkung itu lebih indah dan kokoh dari besi maupun baja terkuat, tak ada senjata yang mampu menghancurkannya karena pintu itu adalah pintu kristal, dan bukan sembarang kristal. Sisi kiri terbuat dari kristal Abiadh yang putih cemerlang sedangkan sisi lainnya terbuat dari kristal Asod yang hitam mengkilat. Pada daun pintu yang putih terdapat relief besar burung Aura Flamez dan pada daun pintu yang hitam terdapat relief naga Hellberth yang sama besar, tampak gagah berkilauan tertimpa sinar keemasan dari bola cagaya yang kini melayang di atas aula. Seluruh permukaan pintu, kecuali lingkaran di mana relief berada, dipenuhi ukiran dalam garis-garis berpola yang menurut Zerb tampak seperti segel sihir. Sementara ambang pintunya yang tebalnya hampir dua kaki yang terbuat dari kristal yang sama dengan daun pintunya, dipenuhi simbol dan gambar-gambar aneh yang sama sekali tak dikenal Zerb.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sekarang letakkan telapak tangan kananmu di situ," ujar kakek Gordon sambil menunjuk sebuah cekungan lingkaran tepat di bawah relief naga Hellbert. Cekungan itu sejajar dengan dagu Zerb dan terhubung dengan semua garis segel yang memenuhi pintu. Tanpa bertanya Zerb melakukan perintah kakeknya, sementara kakek itu meletakkan telapak tangan kirinya di cekungan di bawah relief burung Aura Flamez, "Dalam hitungan ketiga, alirkan mana ke pintu, mengerti?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zerb megangguk patuh dan mulai mengonsentrasikan mana yang mengalir di seluruh tubuhnya ke telapak tangannya. Dia bisa mendengar kakeknya menarik napas dalam satu kali sebelum mulai menghitung, "Satu, dua, tiga!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat saat terdengar kata terakhir Zerb melepaskan gumpalan mana yang tadi dikumpulkannya di telapak tangan, melihat telapak tangan itu berpendar biru sesaat sebelum cahaya itu berpindah memenuhi bidang cekung lingkaran dan mulai menyebar ke seluruh garis segel yang terhubung dengannya. Dia melirik dan mendapati hal yang serupa terjadi pada daun pintu di sebelahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua zat berpendar biru, bukan benda cair, gas apalagi padat, mengalir sepanjang garis-garis segel meliuk-liuk bagai ular, tidak cepat ataupun lambat, hingga akgirnya dua aliran mana itu bertemu tepat di bagian tengah pintu, benar-benar di tengahnya. Lalu terdengar suara dentuman beberapa kali, yang terdengar seolah dari tempat yang sangat jauh, dan tiba-tiba pintu menjeblak terbuka, tanpa bunyi apapun seperti yang Zerb bayangkan, tidak terlalu cepat tapi sangat pasti. Dan saat pintu itu benar-benar terbuka sepenuhnya, hal pertama yang menarik perhatian Zerb adalah patung burung Aura Flamez dan naga Hellberth yang berada di ujung ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua patung itu sangat tinggi, kira-kira sepuluh meteran, dan juga besar. Saling berhadapan, terpisah oleh sebuah altar batu berbentuk persegi yang cukup lebar. Patung burung Aura Flamez berwarna emas, atau memang terbuat dari emas, dengan sayap gagah terentang lebar dan tujuh helai ekor panjang yang meliuk indah. Sementara patung naga Hellberth berwarna merah darah, dengan tiga tanduk tajam di atas kepalanya dan sayap kulit yang terentang, tampak penuh ancaman dan bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dewa dan Iblis, burung Aura Flame dan naga Hellberth," gumam kakek Gordon. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zerb terpana melihat pemandangan di dalam kuil itu, selain kedua patung menakjubkan itu yang menarik perhatiannya adalah ukiran-ukiran simbol dan huruf kuno yang memenuhi seluruh permukaan dindingnya. Dia mendengar kakeknya bergumam soal menutup jalan masuk dan meninggalkannya seorang diri, menikmati keindahan kuil tua itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kembali kakek Gordon mengeluarkan tiga buah piringan perak setebal dua inci dan meletakkannya di salah satu sudut ruangan. Di tangannya tergenggam sebuah benda bulat tipis kecil dengan sebuah tombol merah menonjol di tengahnyam saat kakek Gordon menekannya, mendadak ketiga piringan perak itu mendesis dan meledak, detik berikutnya Zerb melihat tiga buah tangki raksasa, atau begitu kira-kira sebutannya, berdiri dimana ketiga piringan tadi berada. Tangki-tangki itu tentu saja berisi air, bahan makanan dan peralatan yang mereka butuhkan selama berada di dalam kul, karena menurut kakek Gordon mereka baru akan keluar dari tempart itu paling cepat dua bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan perkiraan kakek Gordon tidak salah, menurut perhitungan Zerb, mereka berada di dalam kuil itu kira-kira sembilan minggu sebelum akhirnya keluar ke permukaan membaw ahasil yang lumayan. Yah, dalam waktu yang 'sesingkat' itu, mereka hampir berhasil memecahkan semua rahasia yang tertulis, tergambar dan ter-'bentuk' dalam kuil Dewa Iblis itu. Masih hampir, karena menurut kakek ada satu bagian kecil yang beum bisa dimengertinya, tapi itu sudah cukup sehingga kakek Gordon memutuskan sudah saatnya pulang dan menyelesaikan semuanya di rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi begitu muncul di permukaan mereka mendapat ucapan seamat datang yang tak diduga-duga. Sebuah mantera, yang berasal dari tongkat penyihir ras Wandius, telak mengenai jantung kakek Gordon yang seketka itu limbung. Zerb begitu shock, terlebih saat dia mengetahui kakeknya telah tewas setelah memeriksa denyut nadinya. Tubuhnya bergetar hebat, dia merasa sangat ketakutan sekaligus marah. Dia ingin bangkit, menghabisi ketiga penyihir yang baru saja merenggut nyawa kakeknya, "nyawanya". Tapi tubuhnya tidak mau menuruti kehendaknya, entah karena rasa marah bercampur takut yang membuat badannya menggigil hebat, atau karena kekuatan dari luar yang menahan tubuhnya agar tetap diam di tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumpah serapah meluncur begitu deras dari mulutnya saat salah seorang penyihir itu memeriksa tubuh kakek Gordon dan menyeringai saat mengeluarkan sebuah piringan hitam tipis dai dalam jubah kakek. Piringan itu berisi semua kerja keras mereka berdua selama dua bulan lebih, dan itu barang paling berharga bagi Zerb, setelah kini kakeknya tiada, menyusul kedua orang tuanya. Dia meraung dan bangkit siap menyerang. Tapi satu sentakan kecil tongkat penyihir ras Wandius yang hanya sepanjang sepuluh inci itu menghempaskan tubuh Zerb begitu kuat dan jatuh cukup jauh dan keras. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal terakhir yang diingatnya sebelum kehilangan kesadaran adalah kelebatan jubah ketiga penyhir sialan itu berputar-utar di kepalanya. Dan begitu bangun dia sudah berada di sebuah gua yang kering dan panas, seorang pria, atau remaja, duduk di sampingnya sambil memainkan api unggun dengan jemarinya, yang anehnya tidak tampak terluka sedikitpun. Entah itu khayalan atau tidak Zerb tidak terlalu peduli, yang terpenting sekarang adalah megejar para penjahat itu dan merebut kembali piringan hitam yang mereka curi dari kakeknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: monospace; font-size: 11px; white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;a class="addthis_button" expr:addthis:title="data:post.title" expr:addthis:url="data:post.url" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5659846139297363523&amp;amp;postID=6639656055572719877"&gt;&lt;img alt="Bookmark and Share" height="16" src="http://s7.addthis.com/static/btn/v2/lg-share-en.gif" style="border: 0pt none;" width="125" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;script src="http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=xa-4b97e25536f5678f" type="text/javascript"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: monospace; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 11px; white-space: pre;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659846139297363523-6639656055572719877?l=mat-mat-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/feeds/6639656055572719877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2009/11/zerb-penyihir-cilik-dari-ras-artan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/6639656055572719877?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/6639656055572719877?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2009/11/zerb-penyihir-cilik-dari-ras-artan.html' title='Zerb, Penyihir Cilik dari Ras Artan'/><author><name>Mazz Rohmat</name><uri>https://profiles.google.com/110689129225580261196</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-217Zob5Zd7c/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAgA/KqmYTN8Udrc/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;D0YFSHo8eCp7ImA9WxNUEUQ.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659846139297363523.post-204976522644716234</id><published>2009-11-03T03:51:00.001+07:00</published><updated>2009-11-03T03:51:59.470+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2009-11-03T03:51:59.470+07:00</app:edited><title>Latihan</title><content type='html'>Mulai sekarang aku bertekad akan terus berlatih menulis, entah lewat blog ataupun social network lainnya. Yah, walaupun harus curi-curi waktu dan kesempatan, aku akan berusaha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*berpikir serius*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadoh, dari kemaren-kemaren kayaknya ngomongnya begitu-begitu terus deh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*ngejitak kepala sendiri*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, namanya juga amatiran, masih kurang pede buat nulis. Mau nulis apaan, bingung sendiri. Yang ada malah gak nulis apa-apa, hiks,,, hiks,,, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*nangis darah plus batuk-batuk*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu gak masalah, karena cita-citaku adalah menjadi penulis hebat yang melahirkan karya-karya best seller. Aku akan terus berlatih, berlatih dan berlatih, hingga saatnya tiba di mana buku ku akan mencuak ke permukaan dunia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659846139297363523-204976522644716234?l=mat-mat-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/feeds/204976522644716234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2009/11/latihan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/204976522644716234?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/204976522644716234?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2009/11/latihan.html' title='Latihan'/><author><name>Mazz Rohmat</name><uri>https://profiles.google.com/110689129225580261196</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-217Zob5Zd7c/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAgA/KqmYTN8Udrc/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CE4DQHoyeSp7ImA9WxBbFUk.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659846139297363523.post-2951451414444458334</id><published>2009-10-31T12:53:00.002+07:00</published><updated>2010-03-14T12:02:51.491+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2010-03-14T12:02:51.491+07:00</app:edited><title>Fenomena Merokok Dalam Masyarakat Indonesia</title><content type='html'>Merokok memang bukan hal tabu. Artikel mengenai hal ini pun sudah tak terhitung jumlahnya. Begitu pula dengan ketenarannya di seluruh dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi saya hanya ingin menggoreskan sedikit keprihatinan saya, maksud saya, sedikit menorehkan keprihatinan saya, terutama yang terjadi dalam masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat jumlah dan tingkat usia perokok saat ini sungguh membuat hati miris. Betapa tidak, bocah SD yang notabene masih berusia di bawah 10 tahun sudah sangat lancar merokok layaknya orang dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini terjadi tepat di hadapan saya, saat bocah-bocah itu menghisap rokok dengan sembunyi-sembunyi, tanpa sepengetahuan ibunya yang sedang tak ada di rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, orang tua tidak bisa mengawasi anak terus menerus, entah yang masih anak-anak maupun yang sudah remaja. Tapi arahan dan didikan sejak usia dini, ditambah perhatian yang intens, paling tidak dapat mencegah si anak untuk mencoba merokok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun tidak dapat dipungkiri kalau keputusan untuk merokok itu timbul dari pikiran si anak sendiri, terlepas dia sudah mengetahui bahayanya atau tidak, juga karena terseret arus pergaulan yang berpeluang cukup besar dalam mempengaruhi pola pikir anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap saja, peran orang tua dalam mencegahnya juga sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih jauh lagi, para perokok dewasa pun ternyata masih banyak yang belum dewasa. Mereka merokok tidak mempedulikan tempat dan situasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangankan di tempat umum, di tempat yang diberi tanda "NO SMOKING" pun mereka bisa merokok dengan santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, dengan merokok sembarangan begitu, mereka telah menyebarkan "dewa kematian" pada orang-orang yang tidak merokok yang daya serangnya jauh lebih besar ketimbang pada mereka sendiri yang merokok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, memang, masyarakat kita kurang mempunyai kesadaran akan hal itu. Saat kita mencoba memperingatkan, kita malah dibilang sok tahu lah, sok ikut campur urusan orang lah, membuat kita jadi serba salah juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
nb: Maaf kalau tulisan saya banyak yang kurang tepat atau salah, saya hanya mencoba menuliskan apa yang saya tahu dan menurut saya benar. Kalaupun ada yang salah, itu di luar kekuasaan saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659846139297363523-2951451414444458334?l=mat-mat-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/feeds/2951451414444458334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2009/10/fenomena-merokok-dalam-masyarakat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/2951451414444458334?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659846139297363523/posts/default/2951451414444458334?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mat-mat-stories.blogspot.com/2009/10/fenomena-merokok-dalam-masyarakat.html' title='Fenomena Merokok Dalam Masyarakat Indonesia'/><author><name>Mazz Rohmat</name><uri>https://profiles.google.com/110689129225580261196</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-217Zob5Zd7c/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAgA/KqmYTN8Udrc/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>