<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416</id><updated>2026-03-27T15:04:32.713+07:00</updated><category term="artikel pertanian"/><category term="budidaya tanaman"/><category term="khasiat tanaman"/><category term="tanaman buah"/><category term="perlindungan tanaman"/><category term="tanaman perkebunan"/><category term="tanaman hias"/><category term="tanaman sayur"/><category term="tanah"/><category term="tanaman pangan"/><category term="fisiologi tanaman"/><category term="laporan praktikum"/><category term="ekologi tanaman"/><category term="sistem pertanaman"/><category term="pemuliaan tanaman"/><title type='text'>anakagronomy[dot]com</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>605</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-4712783676465820150</id><published>2026-03-27T14:38:00.009+07:00</published><updated>2026-03-27T15:04:32.610+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sistem pertanaman"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanaman buah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanaman sayur"/><title type='text'>Fenomena Self-Pruning pada Tanaman Hortikultura: Ketika Tanaman Bisa “Memangkas Dirinya Sendiri”</title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEil8-J3bClDNskrw5ed9tKgo_5qNBCNr3erTRSKNu9PBt80rltlbjrG9uMBrCMyMdbbhVMcl4uWlFTxLA3OdZ-dKtR3I0fMgZ7nztMSnT7UvM9Ae_dSemVSAefhmFqCPzPeLPbhtk-OhhYj044y1MFo-mW_9gL6iwgWQPhagsBkVpxsR8LyeUTXOnz4IrNA&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-original-height=&quot;1323&quot; data-original-width=&quot;1300&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEil8-J3bClDNskrw5ed9tKgo_5qNBCNr3erTRSKNu9PBt80rltlbjrG9uMBrCMyMdbbhVMcl4uWlFTxLA3OdZ-dKtR3I0fMgZ7nztMSnT7UvM9Ae_dSemVSAefhmFqCPzPeLPbhtk-OhhYj044y1MFo-mW_9gL6iwgWQPhagsBkVpxsR8LyeUTXOnz4IrNA&quot; width=&quot;236&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pentingnya Pemangkasan dalam Budidaya Tanaman Hortikultura&lt;/h3&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pemangkasan merupakan salah satu praktik penting dalam budidaya tanaman hortikultura, khususnya pada tanaman buah. Kegiatan ini dilakukan untuk menjaga kesehatan tanaman, mengatur bentuk tajuk, meningkatkan penetrasi cahaya, serta mendukung produktivitas tanaman. Dalam praktiknya, pemangkasan biasanya dilakukan secara manual oleh petani atau tenaga kerja kebun.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;(Baca Juca: &lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2013/06/pemangkasan-pada-tanaman-kopi.html&quot;&gt;Pemangkasan pada Tanaman Kopi&lt;/a&gt;)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Namun, metode pemangkasan konvensional memiliki beberapa kelemahan. Selain membutuhkan tenaga kerja yang cukup besar, kegiatan ini juga memerlukan waktu dan biaya operasional yang tidak sedikit. Oleh karena itu, para peneliti mulai mengeksplorasi kemungkinan adanya mekanisme alami pada tanaman yang dapat menggantikan sebagian fungsi pemangkasan manual. Salah satu fenomena yang menarik perhatian adalah &lt;i&gt;self-pruning&lt;/i&gt; atau pemangkasan alami yang dilakukan oleh tanaman itu sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;Self-pruning&lt;/i&gt; merupakan proses alami di mana tanaman secara spontan melepaskan bagian tertentu seperti daun, bunga, buah, atau cabang yang tidak lagi memberikan keuntungan fisiologis bagi pertumbuhan tanaman. Fenomena ini sebenarnya cukup umum terjadi di alam, tetapi kajian ilmiah yang secara khusus membahas mekanismenya pada tanaman hortikultura komersial masih sangat terbatas.&lt;/p&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Apa Itu Self-Pruning pada Tanaman? &lt;/h3&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Mekanisme Pemangkasan Alami&lt;/h4&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Self-pruning, yang juga dikenal dengan istilah cladoptosis, merupakan proses pelepasan bagian tanaman yang terjadi secara alami sebagai bagian dari mekanisme fisiologis tanaman. Proses ini biasanya melibatkan perubahan biologis yang kompleks di tingkat sel maupun jaringan tanaman.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Salah satu mekanisme yang berperan penting dalam self-pruning adalah &lt;i&gt;programmed cell death &lt;/i&gt;(PCD) atau kematian sel terprogram. Dalam proses ini, sel-sel tertentu pada organ tanaman mengalami kematian secara terkontrol sehingga bagian tanaman seperti daun atau cabang dapat terlepas dari batang utama.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain PCD, proses senescence atau penuaan jaringan juga berperan dalam fenomena ini. Ketika suatu organ tanaman telah melewati fase produktifnya, tanaman akan mengaktifkan berbagai mekanisme biologis yang menyebabkan organ tersebut mengalami degradasi secara bertahap hingga akhirnya gugur.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Self-pruning dapat terjadi pada berbagai organ tanaman, termasuk daun, bunga, buah, dan cabang. Pada beberapa tanaman hortikultura seperti tomat, jeruk, apel, kapas, dan anggur, fenomena ini telah diamati meskipun masih dalam skala terbatas.&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Self-Pruning &lt;/h3&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Faktor Lingkungan &lt;/h4&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lingkungan memiliki peran penting dalam memicu terjadinya &lt;i&gt;self-pruning&lt;/i&gt;. Beberapa kondisi lingkungan yang dapat memicu proses ini antara lain kekeringan, genangan air, atau tekanan lingkungan lainnya yang memengaruhi keseimbangan fisiologis tanaman.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada beberapa kasus, tanaman jeruk diketahui mengalami pelepasan cabang kecil secara alami ketika menghadapi kondisi stres seperti kekeringan atau perubahan kadar hormon tertentu dalam jaringan tanaman. Hormon tanaman seperti etilen dan asam absisat dapat berperan dalam memicu proses absisi atau pelepasan organ tanaman.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain itu, faktor lingkungan seperti kecepatan angin atau tekanan mekanis juga dapat berkontribusi dalam memicu proses pelepasan cabang atau ranting tanaman.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Faktor Genetik dan &lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/search/label/fisiologi%20tanaman&quot;&gt;Fisiologi Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/h4&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain faktor lingkungan, faktor genetik juga memengaruhi kecenderungan tanaman untuk mengalami &lt;i&gt;self-pruning&lt;/i&gt;. Beberapa varietas tanaman memiliki karakteristik arsitektur tajuk yang memungkinkan pelepasan cabang secara alami ketika cabang tersebut tidak lagi efisien dalam menghasilkan energi melalui fotosintesis.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perubahan fisiologis seperti penurunan produksi hormon auksin pada daun yang mengalami penuaan juga dapat memicu proses absisi. Ketika produksi hormon ini menurun, jaringan pemisah pada pangkal daun atau cabang akan terbentuk sehingga organ tersebut akhirnya terlepas dari tanaman induk.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Potensi Self-Pruning untuk Budidaya Tanaman Hortikultura&lt;/h3&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Fenomena self-pruning memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan dalam pengelolaan tanaman hortikultura modern. Jika mekanisme ini dapat dipahami secara lebih mendalam, maka pemangkasan alami dapat membantu mengurangi kebutuhan pemangkasan manual yang selama ini memerlukan banyak tenaga kerja.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pemanfaatan self-pruning juga berpotensi meningkatkan efisiensi pengelolaan tajuk tanaman. Dengan pelepasan cabang yang tidak produktif secara alami, tanaman dapat mengalokasikan sumber daya energi secara lebih efisien untuk pertumbuhan dan pembentukan buah.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain itu, self-pruning juga dapat membantu memperbaiki struktur tajuk tanaman sehingga penetrasi cahaya matahari menjadi lebih optimal. Kondisi ini penting untuk mendukung proses fotosintesis serta meningkatkan kualitas hasil panen.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Namun demikian, penelitian mengenai self-pruning pada tanaman hortikultura komersial masih sangat terbatas. Kajian literatur menunjukkan bahwa dari ribuan publikasi yang ditelusuri, hanya sebagian kecil yang memenuhi kriteria penelitian terkait fenomena ini, dan belum ada penelitian yang secara khusus membahas self-pruning pada tanaman hortikultura komersial secara mendalam.&lt;/p&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Peluang Penelitian Masa Depan&lt;/h3&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Keterbatasan penelitian yang ada menunjukkan bahwa fenomena self-pruning masih menjadi bidang kajian yang terbuka luas untuk penelitian lebih lanjut. Pengembangan metode penelitian yang lebih komprehensif serta eksplorasi pada berbagai jenis tanaman hortikultura dapat memberikan pemahaman baru mengenai mekanisme alami ini.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan memahami proses biologis yang mendasari self-pruning, para peneliti dan praktisi pertanian dapat mengembangkan strategi budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan. Dalam jangka panjang, pemanfaatan fenomena alami ini berpotensi mendukung sistem produksi hortikultura yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;refferensi:&amp;nbsp;https://journal.ipb.ac.id/jurnalagronomi/article/view/65620/32467&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/4712783676465820150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/03/fenomena-self-pruning-pada-tanaman.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/4712783676465820150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/4712783676465820150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/03/fenomena-self-pruning-pada-tanaman.html' title='Fenomena Self-Pruning pada Tanaman Hortikultura: Ketika Tanaman Bisa “Memangkas Dirinya Sendiri”'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEil8-J3bClDNskrw5ed9tKgo_5qNBCNr3erTRSKNu9PBt80rltlbjrG9uMBrCMyMdbbhVMcl4uWlFTxLA3OdZ-dKtR3I0fMgZ7nztMSnT7UvM9Ae_dSemVSAefhmFqCPzPeLPbhtk-OhhYj044y1MFo-mW_9gL6iwgWQPhagsBkVpxsR8LyeUTXOnz4IrNA=s72-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-6561343518459086086</id><published>2026-03-17T11:00:48.739+07:00</published><updated>2026-03-17T11:00:48.740+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sistem pertanaman"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanaman perkebunan"/><title type='text'>Hama dan Penyakit pada Kopi Gayo: Ancaman Tersembunyi di Sistem Agroforestri di Aceh</title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEglvUclmCdpQKJuHBjuNIhC3yKVM3192RfxJTLdU3VZiN3bXK644mcjbaMck_AZy6MplkryqUQycAPs3NelYsaYoorAOgXoq-dZmXpzPk22Ae_auPQaql0D-VL5xhfdMIlG2T1QB5Iqt_EzaWxd9HxWEXtMnDL7KssVP3pA-wQHO_Fe3Gzj-T1L7hI2EQyb&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-original-height=&quot;768&quot; data-original-width=&quot;850&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEglvUclmCdpQKJuHBjuNIhC3yKVM3192RfxJTLdU3VZiN3bXK644mcjbaMck_AZy6MplkryqUQycAPs3NelYsaYoorAOgXoq-dZmXpzPk22Ae_auPQaql0D-VL5xhfdMIlG2T1QB5Iqt_EzaWxd9HxWEXtMnDL7KssVP3pA-wQHO_Fe3Gzj-T1L7hI2EQyb&quot; width=&quot;266&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kopi Gayo dan Sistem Agroforestri yang Menjadi Andalan Petani&lt;/h3&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kopi Gayo merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang dikenal luas di pasar internasional. Kopi ini berasal dari dataran tinggi wilayah Gayo di Aceh Tengah dan terkenal karena kualitas rasa serta sistem budidayanya yang banyak menggunakan pendekatan agroforestri. Dalam sistem ini, tanaman kopi ditanam bersama berbagai jenis pohon pelindung dan vegetasi lain yang membentuk ekosistem menyerupai hutan alami.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sistem agroforestri pada &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2013/06/teknis-budidaya-tanaman-kopi.html&quot;&gt;budiaya tanaman kopi&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kesuburan tanah, mempertahankan keanekaragaman hayati, serta meningkatkan stabilitas ekosistem pertanian. Namun, meskipun memiliki banyak keunggulan, sistem ini tetap menghadapi tantangan serius berupa serangan hama dan penyakit tanaman yang dapat menurunkan produktivitas kopi.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia bertujuan untuk mengidentifikasi jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman kopi dalam sistem agroforestri di wilayah Gayo, Aceh Tengah. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi tingkat &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2013/06/pengendalian-hama-dan-patogen-pada.html&quot;&gt;serangan organisme pengganggu tanaman yang berpotensi mempengaruhi produksi kopi&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; di daerah tersebut.&lt;/p&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Identifikasi Hama yang Menyerang Tanaman Kopi&lt;/h3&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Jenis Hama yang Ditemukan&lt;/h4&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa jenis hama utama yang ditemukan pada tanaman kopi di sistem agroforestri wilayah Gayo. Hama-hama tersebut menyerang berbagai bagian tanaman, mulai dari daun, batang, hingga buah kopi.&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Beberapa hama yang paling sering ditemukan antara lain penggerek buah kopi, kutu putih, serta serangga pengisap yang menyerang jaringan tanaman. Hama-hama ini dapat menyebabkan kerusakan yang cukup signifikan karena mengganggu proses pertumbuhan tanaman serta pembentukan buah kopi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penggerek buah kopi merupakan salah satu hama yang paling merugikan. Serangga ini menyerang buah kopi dengan cara membuat lubang kecil pada buah dan berkembang biak di dalamnya. Akibatnya, kualitas biji kopi menurun dan produksi panen dapat berkurang secara signifikan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain itu, kutu putih juga menjadi salah satu hama yang cukup sering ditemukan. Serangga ini menyerang dengan cara mengisap cairan tanaman, sehingga dapat menyebabkan daun menguning, pertumbuhan terhambat, dan pada kondisi berat dapat memicu kematian jaringan tanaman.&lt;/div&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Penyakit Tanaman Kopi yang Ditemukan &lt;/h3&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Penyakit Daun dan Batang&lt;/h4&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain hama serangga, penelitian juga menemukan beberapa jenis penyakit tanaman yang menyerang kopi di sistem agroforestri. Penyakit tersebut umumnya disebabkan oleh mikroorganisme seperti jamur yang berkembang pada kondisi lingkungan tertentu.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Salah satu penyakit yang sering ditemukan adalah penyakit karat daun kopi. Penyakit ini ditandai dengan munculnya bercak berwarna kuning hingga oranye pada permukaan daun. Jika serangan cukup parah, daun dapat mengalami kerontokan sehingga mengganggu proses fotosintesis tanaman.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain karat daun, terdapat pula penyakit lain yang menyerang bagian batang dan cabang tanaman kopi. Penyakit tersebut dapat menyebabkan jaringan tanaman rusak sehingga menghambat pertumbuhan dan produktivitas tanaman.&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Penyakit&lt;/h3&gt;Kondisi lingkungan dalam sistem agroforestri memiliki pengaruh terhadap perkembangan penyakit tanaman. Kelembapan yang relatif tinggi serta keberadaan vegetasi pelindung dapat menciptakan kondisi mikroklimat yang mendukung pertumbuhan patogen tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, sistem agroforestri juga memiliki sisi positif karena keberagaman vegetasi dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem, termasuk keberadaan musuh alami hama.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Dampak Hama dan Penyakit terhadap Produktivitas Kopi&lt;/h3&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Serangan hama dan penyakit pada tanaman kopi dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap produktivitas dan kualitas hasil panen. Kerusakan pada daun dapat mengurangi kemampuan tanaman dalam melakukan fotosintesis, sementara serangan pada buah dapat langsung menurunkan kualitas biji kopi.&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam jangka panjang, infestasi yang tidak terkendali dapat menyebabkan penurunan produksi kopi secara signifikan. Oleh karena itu, pemantauan terhadap keberadaan hama dan penyakit menjadi langkah penting dalam pengelolaan kebun kopi, terutama pada sistem agroforestri.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penelitian ini menunjukkan bahwa pengendalian hama dan penyakit perlu dilakukan secara terpadu dengan mempertimbangkan kondisi ekosistem agroforestri. Pendekatan pengendalian yang ramah lingkungan menjadi sangat penting agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga sekaligus menjaga produktivitas kopi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Pentingnya Pengelolaan Hama dalam Sistem Agroforestri&lt;/h4&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sistem agroforestri pada budidaya kopi sebenarnya memiliki potensi besar dalam menjaga keseimbangan ekologi. Keanekaragaman tanaman dapat menyediakan habitat bagi berbagai organisme yang berperan sebagai musuh alami hama.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Namun demikian, keberhasilan sistem ini tetap bergantung pada pengelolaan kebun yang baik. Petani perlu melakukan pemantauan rutin terhadap kondisi tanaman serta mengidentifikasi gejala serangan hama dan penyakit sejak dini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan pengelolaan yang tepat, sistem agroforestri tidak hanya mampu meningkatkan keberlanjutan produksi kopi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan di wilayah dataran tinggi Gayo.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;sumber:&amp;nbsp;https://journal.ipb.ac.id/JIPI/article/view/65566/32854&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/6561343518459086086/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/03/hama-dan-penyakit-pada-kopi-gayo.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/6561343518459086086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/6561343518459086086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/03/hama-dan-penyakit-pada-kopi-gayo.html' title='Hama dan Penyakit pada Kopi Gayo: Ancaman Tersembunyi di Sistem Agroforestri di Aceh'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEglvUclmCdpQKJuHBjuNIhC3yKVM3192RfxJTLdU3VZiN3bXK644mcjbaMck_AZy6MplkryqUQycAPs3NelYsaYoorAOgXoq-dZmXpzPk22Ae_auPQaql0D-VL5xhfdMIlG2T1QB5Iqt_EzaWxd9HxWEXtMnDL7KssVP3pA-wQHO_Fe3Gzj-T1L7hI2EQyb=s72-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-5486706330077773027</id><published>2026-03-16T15:17:00.002+07:00</published><updated>2026-03-16T15:17:26.905+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="perlindungan tanaman"/><title type='text'>Limbah Sayuran Bisa Jadi Pestisida Alami? Ini Hasil Penelitian Ecoenzyme yang Mengejutkan</title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEieqFCW4r3GeUBzvcT3lGw0KMEMe-8k__6utStOTqdgZa4fekVdL2fLQ1o_kXz9lRS8igwEKrMpp9u1CCoNwEa6chC4abwmBRhwB27sLa9Sex-_UtsDHBuYwuXU4OX1bYaDPWQCbRjT28xGBaNeV4oFmmBlKbWviCGlb-dCMx_eE_-COQ3x0dNeHFCF1pH9&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-original-height=&quot;549&quot; data-original-width=&quot;976&quot; height=&quot;180&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEieqFCW4r3GeUBzvcT3lGw0KMEMe-8k__6utStOTqdgZa4fekVdL2fLQ1o_kXz9lRS8igwEKrMpp9u1CCoNwEa6chC4abwmBRhwB27sLa9Sex-_UtsDHBuYwuXU4OX1bYaDPWQCbRjT28xGBaNeV4oFmmBlKbWviCGlb-dCMx_eE_-COQ3x0dNeHFCF1pH9&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Limbah Sayuran Rumah Tangga yang Sering Terbuang&lt;/h3&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Limbah sayuran merupakan salah satu jenis sampah organik rumah tangga yang jumlahnya cukup besar. Setelah sisa serealia, limbah sayuran menjadi kategori sampah organik terbesar yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga sehari-hari. Sayangnya, sebagian besar limbah ini belum dimanfaatkan secara optimal dan sering kali hanya berakhir di tempat pembuangan sampah.&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Padahal, limbah sayuran sebenarnya memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat. Salah satu inovasi yang mulai banyak diteliti adalah pembuatan ecoenzyme, yaitu cairan hasil fermentasi bahan organik seperti buah atau sayuran yang dicampur dengan gula dan air. Produk fermentasi ini diketahui mengandung berbagai senyawa organik yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari pembersih alami hingga bahan pertanian ramah lingkungan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam bidang pertanian, ecoenzyme menarik perhatian karena berpotensi digunakan sebagai pestisida nabati yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pestisida kimia sintetis. Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia meneliti lebih jauh mengenai karakteristik ecoenzyme dari limbah sayuran serta kemampuannya dalam mengendalikan hama tanaman.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Bagaimana Ecoenzyme Dibuat dari Limbah Sayuran?&lt;/h3&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Bahan Baku dan Proses Fermentasi&lt;/h4&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penelitian ini memanfaatkan beberapa jenis limbah sayuran yang umum ditemukan dalam kegiatan rumah tangga maupun pasar, yaitu kubis, serai, dan kulit bawang merah. Limbah tersebut kemudian difermentasi bersama gula dan air untuk menghasilkan ecoenzyme.&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perbandingan bahan yang digunakan dalam pembuatan ecoenzyme adalah 3 bagian limbah sayuran, 1 bagian gula, dan 10 bagian air. Dalam penelitian ini, jenis gula yang digunakan juga bervariasi, yaitu molase, gula merah, dan gula pasir. Kombinasi berbagai bahan tersebut menghasilkan sembilan formulasi ecoenzyme yang berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Proses fermentasi berlangsung selama sekitar tiga bulan. Selama periode ini, mikroorganisme alami yang terdapat pada bahan organik akan memecah senyawa kompleks menjadi berbagai zat organik yang lebih sederhana. Hasil fermentasi kemudian menghasilkan cairan ecoenzyme dengan karakteristik tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Cairan ecoenzyme yang dihasilkan memiliki beberapa ciri khas, seperti warna cokelat gelap, aroma asam yang kuat, serta pH yang cukup rendah sekitar 3,1 hingga 3,6. Karakteristik ini menunjukkan bahwa proses fermentasi berlangsung dengan baik dan menghasilkan senyawa asam organik yang aktif secara biologis.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Uji Efektivitas Ecoenzyme sebagai Pestisida Alami &lt;/h3&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Pengujian terhadap Larva Hama Tanaman&lt;/h4&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Untuk mengetahui potensi ecoenzyme sebagai pestisida alami, para peneliti melakukan pengujian terhadap larva &lt;i&gt;Crocidolomia pavonana&lt;/i&gt;, yaitu salah satu &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2025/09/organisme-pengganggu-tanaman-opt-pada.html&quot;&gt;hama penting yang sering menyerang tanaman sayuran.&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Larva yang digunakan berada pada fase instar kedua, yaitu tahap perkembangan awal yang cukup aktif dalam mengonsumsi daun tanaman. Setiap larva kemudian diuji menggunakan larutan ecoenzyme dengan konsentrasi sekitar 10%.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hasil uji menunjukkan bahwa semua formulasi ecoenzyme memiliki aktivitas insektisida, yang ditunjukkan melalui dua indikator utama, yaitu kematian larva dan penurunan aktivitas makan. Dengan kata lain, selain menyebabkan kematian, ecoenzyme juga mampu menurunkan nafsu makan larva sehingga kerusakan tanaman dapat dikurangi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Formulasi Paling Efektif&lt;/h3&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Di antara berbagai kombinasi yang diuji, formulasi ecoenzyme yang menggunakan serai sebagai bahan limbah dan molase sebagai sumber gula menunjukkan hasil paling efektif.&lt;/p&gt;Formulasi ini mampu menghasilkan tingkat kematian larva hingga sekitar 66,67%, sekaligus memberikan efek antifeedant yang paling kuat, yaitu menghambat aktivitas makan larva secara signifikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil tersebut menunjukkan bahwa jenis bahan baku limbah dan jenis gula yang digunakan selama fermentasi memiliki pengaruh besar terhadap kualitas ecoenzyme yang dihasilkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Potensi Ecoenzyme untuk Pertanian Berkelanjutan&lt;/h3&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa limbah sayuran yang selama ini dianggap tidak bernilai sebenarnya dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi sektor pertanian. Ecoenzyme tidak hanya membantu mengurangi volume limbah organik, tetapi juga berpotensi menjadi alternatif pestisida alami yang lebih ramah lingkungan.&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penggunaan ecoenzyme dapat mendukung konsep pertanian berkelanjutan karena bahan bakunya berasal dari limbah organik yang mudah diperoleh. Selain itu, produk ini cenderung lebih aman bagi lingkungan dan organisme non-target dibandingkan pestisida sintetis.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pendekatan ini juga sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali limbah menjadi sumber daya baru yang bernilai. Dengan memanfaatkan limbah sayuran sebagai bahan baku ecoenzyme, masyarakat dapat mengurangi dampak lingkungan sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat bagi pertanian.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Meskipun demikian, para peneliti menyarankan agar penelitian lanjutan dilakukan untuk mengidentifikasi senyawa aktif yang terkandung dalam ecoenzyme serta mengevaluasi efektivitasnya dalam kondisi lapangan yang lebih luas. Dengan penelitian yang lebih mendalam, ecoenzyme berpotensi menjadi salah satu inovasi penting dalam pengembangan pestisida nabati yang ramah lingkungan di masa depan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber:&amp;nbsp;https://journal.ipb.ac.id/JIPI/article/view/65566/32854&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/5486706330077773027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/03/limbah-sayuran-bisa-jadi-pestisida.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/5486706330077773027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/5486706330077773027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/03/limbah-sayuran-bisa-jadi-pestisida.html' title='Limbah Sayuran Bisa Jadi Pestisida Alami? Ini Hasil Penelitian Ecoenzyme yang Mengejutkan'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEieqFCW4r3GeUBzvcT3lGw0KMEMe-8k__6utStOTqdgZa4fekVdL2fLQ1o_kXz9lRS8igwEKrMpp9u1CCoNwEa6chC4abwmBRhwB27sLa9Sex-_UtsDHBuYwuXU4OX1bYaDPWQCbRjT28xGBaNeV4oFmmBlKbWviCGlb-dCMx_eE_-COQ3x0dNeHFCF1pH9=s72-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-5302932784149106286</id><published>2026-03-09T15:08:00.004+07:00</published><updated>2026-03-09T15:08:50.157+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanaman buah"/><title type='text'>Teknologi Sonic Bloom pada Tanaman Melon: Gelombang Suara yang Terbukti Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman</title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgJ2KVsN9NXtD9MKwlv9vq4TDaDX1vyNS3-rh6NvzSHLQrciZqbdRe8t5wku4T_RXHmMl8OulxeE8wnZU-08gXvJtERk80OYaZ6yfIw9nMI4wetIyNAdYQL6eWnhAtVp-v42JuHIc6cC8p4_-Ndra2EgbsFH28pwY7F2aTx0hP8j4oyfC6q1SrcS1WZ8Qut&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-original-height=&quot;601&quot; data-original-width=&quot;938&quot; height=&quot;205&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgJ2KVsN9NXtD9MKwlv9vq4TDaDX1vyNS3-rh6NvzSHLQrciZqbdRe8t5wku4T_RXHmMl8OulxeE8wnZU-08gXvJtERk80OYaZ6yfIw9nMI4wetIyNAdYQL6eWnhAtVp-v42JuHIc6cC8p4_-Ndra2EgbsFH28pwY7F2aTx0hP8j4oyfC6q1SrcS1WZ8Qut&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Produksi Melon dan Tantangan Peningkatan Produktivitas&lt;/h3&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2013/03/pengenalan-buah-melon-cucumis-melo.html&quot;&gt;Melon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; dengan nilai ekonomi tinggi dan permintaan pasar yang terus meningkat. Buah ini banyak diminati karena rasanya yang manis, segar, dan memiliki nilai gizi yang baik. Namun demikian, peningkatan produksi melon di Indonesia masih tergolong lambat. Data statistik hortikultura menunjukkan bahwa produksi melon hanya mengalami kenaikan sekitar 6,44% dari tahun sebelumnya, yang menunjukkan bahwa produktivitas tanaman belum meningkat secara signifikan.&lt;/p&gt;Salah satu penyebab kondisi tersebut adalah penerapan &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2022/01/peluang-bisnis-bertanam-melon-di-lahan.html&quot;&gt;teknologi budidaya tanaman melon &lt;/a&gt;&lt;/b&gt;yang belum optimal. Oleh karena itu, berbagai inovasi teknologi mulai dikembangkan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman melon. Salah satu pendekatan yang menarik perhatian peneliti adalah penggunaan teknologi &lt;i&gt;sonic bloom&lt;/i&gt;, yaitu teknologi yang memanfaatkan gelombang suara untuk merangsang aktivitas fisiologis tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi ini bekerja dengan cara memancarkan gelombang suara pada frekuensi tertentu yang mampu merangsang pembukaan stomata pada daun. Ketika stomata terbuka lebih optimal, proses pertukaran gas dan penyerapan unsur hara dapat berlangsung lebih efektif. Kondisi ini pada akhirnya dapat meningkatkan proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memaksimalkan manfaat teknologi tersebut, penggunaan sonic bloom dapat dikombinasikan dengan pupuk daun yang disemprotkan langsung ke permukaan daun. Metode pemupukan ini memungkinkan unsur hara diserap lebih cepat oleh tanaman dibandingkan aplikasi melalui tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Penelitian tentang &lt;i&gt;Sonic Bloom&lt;/i&gt; dan Pupuk Daun pada Tanaman Melon&lt;/h3&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Tujuan dan Metode Penelitian&lt;/h4&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Penelitian mengenai pengaruh teknologi sonic bloom terhadap tanaman melon dilakukan di screenhouse Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret pada periode Januari hingga April 2024. Tujuan utama penelitian ini adalah menentukan frekuensi sonic bloom dan konsentrasi pupuk daun yang paling optimal untuk meningkatkan aktivitas fisiologis serta pertumbuhan tanaman melon.&lt;/p&gt;Percobaan menggunakan rancangan tersarang dengan dua faktor perlakuan utama, yaitu frekuensi sonic bloom dan konsentrasi pupuk daun. Dua frekuensi suara yang diuji adalah 4.000 Hz dan 4.500 Hz, sedangkan pupuk daun diberikan dalam beberapa konsentrasi, yaitu tanpa pupuk, 1 g/L, 3 g/L, dan 5 g/L. Setiap perlakuan diulang beberapa kali untuk memastikan hasil penelitian lebih akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang suara sonic bloom diberikan sebanyak lima kali selama masa pertumbuhan tanaman, yaitu pada umur 8, 18, 28, 38, dan 48 hari setelah tanam dengan durasi paparan sekitar satu jam. Selama penelitian berlangsung, berbagai parameter fisiologis dan pertumbuhan tanaman diamati, seperti kerapatan stomata, konduktansi stomata, laju fotosintesis, kandungan klorofil, tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah ruas batang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Pengaruh Gelombang Suara terhadap Aktivitas Fisiologis Tanaman&lt;/h3&gt;&lt;div&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Peningkatan Aktivitas Stomata dan Fotosintesis&lt;/h4&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi 4.500 Hz memberikan respons fisiologis yang lebih baik dibandingkan frekuensi 4.000 Hz. Frekuensi ini mampu meningkatkan kandungan klorofil b, tinggi tanaman, serta jumlah ruas pada umur lima minggu setelah tanam.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Selain itu, perlakuan sonic bloom juga meningkatkan aktivitas stomata. Stomata merupakan struktur kecil pada permukaan daun yang berfungsi mengatur pertukaran gas antara tanaman dan lingkungan. Ketika stomata terbuka lebih lebar, karbon dioksida yang diperlukan dalam proses fotosintesis dapat masuk lebih banyak ke dalam jaringan daun.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Penelitian menunjukkan bahwa frekuensi sonic bloom yang lebih tinggi mampu meningkatkan konduktansi stomata serta laju fotosintesis tanaman. Gelombang suara diduga menimbulkan getaran mekanis yang merangsang sel penjaga stomata sehingga meningkatkan tekanan turgor dan menyebabkan stomata terbuka lebih luas.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Dengan meningkatnya aktivitas stomata dan fotosintesis, tanaman dapat memproduksi energi lebih besar untuk mendukung pertumbuhan vegetatif maupun pembentukan organ tanaman.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Kombinasi Sonic Bloom dan Pupuk Daun Meningkatkan Pertumbuhan Melon&lt;/h3&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Konsentrasi Pupuk Daun Optimal&lt;/h4&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Selain frekuensi sonic bloom, penelitian juga menunjukkan bahwa konsentrasi pupuk daun berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman. Berdasarkan analisis regresi, konsentrasi pupuk daun yang paling optimal berada pada kisaran 2,96 hingga 3,68 g per liter air.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Pupuk daun menyediakan unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang sangat dibutuhkan tanaman. Nitrogen berperan dalam pembentukan klorofil dan sintesis protein, fosfor mendukung pembentukan energi dan pembelahan sel, sedangkan kalium membantu mengatur tekanan osmotik sel sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih optimal.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Ketika pupuk daun dikombinasikan dengan teknologi sonic bloom, penyerapan unsur hara oleh tanaman menjadi lebih efisien. Hal ini terjadi karena stomata yang terbuka lebih optimal mempermudah proses masuknya nutrisi melalui jaringan daun.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Potensi Teknologi Sonic Bloom untuk Pertanian Modern&lt;/h3&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi sonic bloom memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas tanaman melon. Penggunaan frekuensi suara tertentu terbukti mampu merangsang aktivitas fisiologis tanaman yang berhubungan dengan proses fotosintesis dan pertumbuhan vegetatif.&lt;/p&gt;Kombinasi teknologi sonic bloom dengan pemupukan melalui daun juga memberikan efek sinergis dalam meningkatkan ketersediaan dan penyerapan unsur hara. Dengan pendekatan ini, tanaman dapat tumbuh lebih optimal dan memiliki kemampuan fisiologis yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke depan, teknologi sonic bloom berpotensi menjadi salah satu inovasi dalam sistem pertanian modern yang menggabungkan pendekatan biologi, teknologi, dan manajemen nutrisi tanaman. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas teknologi ini pada berbagai jenis tanaman hortikultura lainnya serta pada kondisi budidaya di lapangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;sumber:&amp;nbsp;https://journal.ipb.ac.id/jhi/article/view/65300/32528&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/5302932784149106286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/03/teknologi-sonic-bloom-pada-tanaman.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/5302932784149106286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/5302932784149106286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/03/teknologi-sonic-bloom-pada-tanaman.html' title='Teknologi Sonic Bloom pada Tanaman Melon: Gelombang Suara yang Terbukti Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgJ2KVsN9NXtD9MKwlv9vq4TDaDX1vyNS3-rh6NvzSHLQrciZqbdRe8t5wku4T_RXHmMl8OulxeE8wnZU-08gXvJtERk80OYaZ6yfIw9nMI4wetIyNAdYQL6eWnhAtVp-v42JuHIc6cC8p4_-Ndra2EgbsFH28pwY7F2aTx0hP8j4oyfC6q1SrcS1WZ8Qut=s72-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-6017907626469136535</id><published>2026-03-09T13:15:00.003+07:00</published><updated>2026-03-09T13:15:52.852+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="budidaya tanaman"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanah"/><title type='text'>Cara Mengurangi Pupuk NPK 25% pada Tanaman Cabai dengan Kompos Limbah Sawit dan Pupuk Hayati</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEi43eBYL8LojLjtV5Za1693E8ZhL6SKFksWLyyAcMS8CX4qBKhqMMRkduMnjUKYk0eEXd5BWIYf65rPEUdkRAZVdA_567COcf_u1S7YgEXyzZtQziacZTb4aEhZ0URczG5KvQJ0A5uDU2ia22ESWctjm5zO1TAaI0kx4Za4WjpU9_brC2q5043zbhF6RbJQ&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-original-height=&quot;742&quot; data-original-width=&quot;1150&quot; height=&quot;206&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEi43eBYL8LojLjtV5Za1693E8ZhL6SKFksWLyyAcMS8CX4qBKhqMMRkduMnjUKYk0eEXd5BWIYf65rPEUdkRAZVdA_567COcf_u1S7YgEXyzZtQziacZTb4aEhZ0URczG5KvQJ0A5uDU2ia22ESWctjm5zO1TAaI0kx4Za4WjpU9_brC2q5043zbhF6RbJQ&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Cabai merah merupakan salah satu komoditas hortikultura penting di Indonesia. Tanaman ini tidak hanya menjadi bahan utama dalam berbagai masakan, tetapi juga digunakan dalam industri pangan, farmasi, dan bahan pewarna alami. Karena nilai ekonominya tinggi, budidaya cabai menjadi salah satu kegiatan pertanian yang banyak dilakukan oleh petani di berbagai daerah. Namun dalam praktiknya, produksi cabai sering mengalami penurunan akibat berbagai faktor seperti rendahnya kesuburan tanah, teknik budidaya yang kurang tepat, serta serangan organisme pengganggu tanaman.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi cabai adalah melalui pemupukan. Selama ini, banyak petani mengandalkan pupuk anorganik seperti NPK untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Meskipun efektif dalam jangka pendek, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus dapat menurunkan kualitas tanah. Kandungan bahan organik tanah menjadi semakin rendah sehingga struktur tanah memburuk dan produktivitas lahan cenderung menurun. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pemupukan yang lebih berkelanjutan dengan memadukan pupuk anorganik dan pupuk organik.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Salah satu sumber bahan organik yang potensial adalah decanter solid, yaitu limbah padat dari proses pengolahan minyak kelapa sawit. Di daerah penghasil kelapa sawit seperti Provinsi Riau, limbah ini tersedia dalam jumlah sangat besar. Decanter solid diketahui mengandung berbagai unsur hara penting bagi tanaman, seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, serta karbon organik. Kandungan nutrisi tersebut menjadikannya bahan yang sangat potensial untuk diolah menjadi kompos sebagai pupuk organik.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Namun penggunaan decanter solid secara langsung pada tanaman memiliki beberapa kendala. Salah satunya adalah tingginya kandungan selulosa yang membuat proses dekomposisi berlangsung lambat. Untuk mengatasi hal tersebut, proses pengomposan perlu dipercepat dengan bantuan mikroorganisme pengurai. Mikroorganisme selulolitik mampu menghasilkan enzim yang memecah selulosa sehingga bahan organik dapat terurai lebih cepat dan unsur hara lebih mudah tersedia bagi tanaman.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain kompos, penelitian ini juga memanfaatkan pupuk hayati yang diperkaya dengan daun Mucuna bracteata. Tanaman ini dikenal memiliki kandungan nitrogen yang cukup tinggi serta mampu mendukung pertumbuhan mikroorganisme tanah. Dalam pupuk hayati, mikroorganisme tidak hanya membantu proses penguraian bahan organik, tetapi juga berperan dalam meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Beberapa mikroorganisme bahkan mampu menghasilkan fitohormon seperti auksin yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penelitian dilakukan di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari delapan perlakuan kombinasi pupuk. Perlakuan tersebut mencakup berbagai variasi dosis pupuk NPK yang dikombinasikan dengan kompos decanter solid dan pupuk hayati yang diperkaya dengan Mucuna bracteata. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan kompos dan pupuk hayati dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia tanpa menurunkan hasil produksi cabai.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Beberapa parameter pertumbuhan tanaman diamati selama penelitian berlangsung, antara lain tinggi tanaman, diameter batang, jumlah buah per tanaman, berat buah, serta total produksi cabai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pupuk memberikan pengaruh nyata terhadap beberapa parameter pertumbuhan dan hasil tanaman.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menariknya, penggunaan 75% dosis pupuk NPK yang dikombinasikan dengan kompos decanter solid dan pupuk hayati yang diperkaya Mucuna bracteata mampu menghasilkan pertumbuhan dan produksi cabai yang setara dengan penggunaan 100% pupuk NPK. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi hingga sekitar 25% tanpa menurunkan hasil panen.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kombinasi pupuk tersebut bekerja melalui beberapa mekanisme. Kompos dari decanter solid meningkatkan kandungan bahan organik tanah sehingga struktur tanah menjadi lebih gembur dan mudah ditembus oleh akar. Kondisi ini memudahkan tanaman dalam menyerap air, oksigen, dan unsur hara. Di sisi lain, pupuk hayati meningkatkan populasi mikroorganisme tanah yang berperan dalam proses mineralisasi dan penambatan unsur nitrogen. Mikroorganisme ini juga dapat menghasilkan hormon pertumbuhan yang membantu perkembangan tanaman.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain meningkatkan pertumbuhan tanaman, penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati juga berdampak pada peningkatan kualitas tanah. Kandungan karbon organik tanah menjadi lebih tinggi sehingga aktivitas mikroorganisme meningkat. Tanah yang kaya bahan organik biasanya memiliki struktur yang lebih baik, kemampuan menyimpan air yang lebih tinggi, serta mendukung pertumbuhan akar tanaman secara optimal.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa integrasi antara pupuk anorganik, kompos decanter solid, dan pupuk hayati merupakan strategi pemupukan yang efektif untuk budidaya cabai merah. Pendekatan ini tidak hanya mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia, tetapi juga membantu menjaga kesehatan tanah dalam jangka panjang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan limbah industri kelapa sawit sebagai bahan pupuk organik juga memberikan nilai tambah dari sisi lingkungan. Limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi masalah lingkungan dapat diolah menjadi sumber nutrisi bagi tanaman. Dengan demikian, sistem pertanian menjadi lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;refferensi:&amp;nbsp;https://journal.ipb.ac.id/jhi/article/view/56278/32534&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/6017907626469136535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/03/cara-mengurangi-pupuk-npk-25-pada.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/6017907626469136535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/6017907626469136535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/03/cara-mengurangi-pupuk-npk-25-pada.html' title='Cara Mengurangi Pupuk NPK 25% pada Tanaman Cabai dengan Kompos Limbah Sawit dan Pupuk Hayati'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEi43eBYL8LojLjtV5Za1693E8ZhL6SKFksWLyyAcMS8CX4qBKhqMMRkduMnjUKYk0eEXd5BWIYf65rPEUdkRAZVdA_567COcf_u1S7YgEXyzZtQziacZTb4aEhZ0URczG5KvQJ0A5uDU2ia22ESWctjm5zO1TAaI0kx4Za4WjpU9_brC2q5043zbhF6RbJQ=s72-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-1240359806361314421</id><published>2026-03-03T14:59:00.006+07:00</published><updated>2026-03-03T14:59:33.366+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanaman sayur"/><title type='text'>Meningkatkan Produktivitas Tomat di Tanah Aluvial melalui Trichokompos dan Pupuk Kalsium</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh4LFuLYnLAP2JrxwgnGiYNVA6Hr8lcGJIm1fXkdvvMwHom_3cPEPrc0vWNikPL3oVxr2DIUesPjdjiaVJZTtX1JJX57GzgdyluiM2LP9RvJUp0iwKpsODEIrMzhQDCdPRKgP-IO1Uaw8RnF_4knhmJJrgijW8yPEN0PfKe5H3kjioU3vTZWdZFm0qWP7qk&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-original-height=&quot;800&quot; data-original-width=&quot;1200&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh4LFuLYnLAP2JrxwgnGiYNVA6Hr8lcGJIm1fXkdvvMwHom_3cPEPrc0vWNikPL3oVxr2DIUesPjdjiaVJZTtX1JJX57GzgdyluiM2LP9RvJUp0iwKpsODEIrMzhQDCdPRKgP-IO1Uaw8RnF_4knhmJJrgijW8yPEN0PfKe5H3kjioU3vTZWdZFm0qWP7qk&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tanaman tomat (&lt;i&gt;Lycopersicum esculentum&lt;/i&gt; Mill.) merupakan salah satu&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2013/03/pengertian-dan-batasan-hortikultura.html&quot;&gt; komoditas hortikultura&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; yang banyak dibudidayakan di berbagai wilayah di Indonesia karena nilai ekonominya yang tinggi serta peran pentingnya dalam gizi masyarakat. Namun, produktivitas tomat sering kali terhambat ketika dibudidayakan di tanah aluvial — jenis tanah yang terbentuk dari endapan sungai dan memiliki karakteristik fisik dan kimia tertentu yang bisa menghambat pertumbuhan tanaman bila tidak ditangani dengan baik.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tanah aluvial biasanya memiliki tekstur yang bervariasi, kandungan hara yang kurang merata, serta pH tanah yang rendah. Kondisi ini menyebabkan tanaman mengalami stres nutrisi, terutama pada fase pertumbuhan awal dan fase pembentukan buah. Untuk itu, dilakukan penelitian untuk mengevaluasi strategi pemupukan yang efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil produksi tomat di tanah aluvial melalui pemberian trichokompos dan pupuk kalsium.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa Itu Trichokompos dan Pupuk Kalsium? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Trichokompos adalah kompos yang dibuat dengan bantuan mikroba dekomposer, khususnya jamur Trichoderma. Mikroba ini dikenal mampu mempercepat dekomposisi bahan organik, memperbaiki struktur tanah, serta meningkatkan aktivitas biologi tanah. Dengan menambahkan trichokompos ke dalam media tanam, &lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2014/01/peran-unsur-hara-bagi-tanaman.html&quot;&gt;ketersediaan unsur hara seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) dapat meningkat, sehingga tanaman memiliki akses nutrisi yang lebih baik&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sementara itu, pupuk kalsium merupakan sumber unsur hara makro yang penting bagi tanaman. Kalsium berperan dalam memperkuat dinding sel, membantu proses pembelahan dan perpanjangan sel, serta meningkatkan ketahanan tanaman terhadap stres fisiologis. Tanpa pasokan kalsium yang cukup, buah tomat sering mengalami kelainan fisiologis termasuk &lt;i&gt;blossom end ro&lt;/i&gt;t, yaitu kerusakan pada ujung buah yang sering terjadi ketika tanaman kekurangan kalsium.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Metode Penelitian: Rancangan yang Terukur &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penelitian ini dilakukan di sebuah lokasi dengan tanah aluvial untuk mengevaluasi pengaruh pemberian trichokompos dan pupuk kalsium terhadap pertumbuhan dan hasil panen tomat. Tanaman tomat dibudidayakan dalam kondisi lapangan dengan berbagai perlakuan pemupukan, termasuk aplikasi trichokompos dan dosis pupuk kalsium yang berbeda. Parameter yang diamati mencakup pertumbuhan vegetatif, jumlah buah yang dihasilkan, serta berat buah per tanaman.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pendekatan ini bertujuan untuk mengetahui apakah kombinasi kedua sumber nutrisi tersebut mampu memberikan dampak positif yang signifikan dibandingkan pemupukan konvensional atau tanpa tambahan trichokompos dan kalsium.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hasil yang Menarik: Peningkatan Produktivitas Tomat &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian trichokompos dan pupuk kalsium memiliki pengaruh nyata terhadap&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2021/08/pemeliharaan-tanaman-tomat.html&quot;&gt; pertumbuhan dan hasil tomat&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;. Secara umum, tanaman yang menerima kombinasi kedua perlakuan menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang lebih baik serta hasil buah yang lebih tinggi dibandingkan tanaman yang tidak mendapatkan perlakuan ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Secara khusus, pemberian pupuk kalsium pada dosis tertentu ternyata meningkatkan berat kering tanaman dan jumlah buah yang dihasilkan, sedangkan dosis lain memberikan efek optimal pada berat buah per tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa kalsium berperan penting dalam proses metabolisme tanaman, termasuk fotosintesis dan penyerapan unsur hara lain yang esensial selama fase pertumbuhan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain itu, tambahan trichokompos juga membantu memperbaiki struktur tanah aluvial yang semula kurang ideal untuk pertumbuhan tanaman tomat. Perbaikan struktur tanah ini meningkatkan retensi air dan aerasi tanah, sehingga akar tanaman dapat tumbuh lebih baik dan menyerap nutrisi dengan lebih efisien.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa Ini Penting bagi Petani Tomat?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Temuan ini membawa pesan penting bagi petani tomat dan penyuluh pertanian yang bekerja di daerah dengan tanah aluvial atau tanah berkualitas rendah. Dengan menggunakan trichokompos dan pupuk kalsium sebagai bagian dari strategi pemupukan, petani dapat:&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman, terutama pada fase awal kehidupan tanaman.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengoptimalkan jumlah dan berat buah tomat yang dihasilkan, sehingga meningkatkan produktivitas dan pendapatan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memperbaiki kualitas tanah secara berkelanjutan, tanpa tergantung pada pupuk kimia sintetis secara berlebihan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengurangi risiko fisiologis pada buah, seperti kelainan akibat kekurangan kalsium.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Strategi pemupukan yang tepat seperti ini juga sejalan dengan praktik pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan input agronomi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pemberian trichokompos dan pupuk kalsium terbukti efektif dalam meningkatkan produktivitas tanaman tomat yang ditanam di tanah aluvial dengan memperbaiki pertumbuhan vegetatif dan hasil buah. Kombinasi kedua perlakuan ini membantu memperbaiki kondisi tanah dan menyediakan nutrisi penting yang dibutuhkan tanaman selama fase penting pertumbuhan dan pembentukan buah. Melalui strategi pemupukan yang tepat, petani dapat memaksimalkan hasil produksi tomat secara efisien dan berkelanjutan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;sumber referensi:&amp;nbsp;https://journal.ipb.ac.id/jhi/article/view/65300/32528&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/1240359806361314421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/03/meningkatkan-produktivitas-tomat-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/1240359806361314421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/1240359806361314421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/03/meningkatkan-produktivitas-tomat-di.html' title='Meningkatkan Produktivitas Tomat di Tanah Aluvial melalui Trichokompos dan Pupuk Kalsium'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh4LFuLYnLAP2JrxwgnGiYNVA6Hr8lcGJIm1fXkdvvMwHom_3cPEPrc0vWNikPL3oVxr2DIUesPjdjiaVJZTtX1JJX57GzgdyluiM2LP9RvJUp0iwKpsODEIrMzhQDCdPRKgP-IO1Uaw8RnF_4knhmJJrgijW8yPEN0PfKe5H3kjioU3vTZWdZFm0qWP7qk=s72-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-4694135051984283862</id><published>2026-03-02T14:23:00.001+07:00</published><updated>2026-03-02T14:23:42.115+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanah"/><title type='text'>Mengoptimalkan Pupuk Organik: Efektivitas Kompos Baglog Jamur Tiram untuk Pertumbuhan Cabai Merah</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhW4AXvxv2uI0EJqAUq9pQnc0plgyIs-6oMwn6er1e5rFMmXx8k9h8aKNTa9iLHbvob16-YXdDWpb5BmjQMiu9-tty4hiN65qr3xiC979uZiHoQynWTiDFTm8EbLLBJEE543wQGL1BqhtdDPWcvr8V6ahC3gVTIEU8FGSxtKQuBnho0oW3tENvnq48DZjW4&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img data-original-height=&quot;465&quot; data-original-width=&quot;1133&quot; height=&quot;164&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhW4AXvxv2uI0EJqAUq9pQnc0plgyIs-6oMwn6er1e5rFMmXx8k9h8aKNTa9iLHbvob16-YXdDWpb5BmjQMiu9-tty4hiN65qr3xiC979uZiHoQynWTiDFTm8EbLLBJEE543wQGL1BqhtdDPWcvr8V6ahC3gVTIEU8FGSxtKQuBnho0oW3tENvnq48DZjW4=w400-h164&quot; title=&quot;Proses Pembuatan Pupuk Padat dari Baglog&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pertanian modern menghadapi tantangan besar dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Salah satu strategi yang semakin populer adalah penggunaan pupuk organik untuk menggantikan atau mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sintetis. Limbah pertanian yang berpotensi tinggi untuk dijadikan pupuk organik adalah baglog jamur tiram — sisa media tumbuh setelah pertumbuhan jamur tiram selesai. Limbah ini tidak hanya mudah diperoleh dari kegiatan budidaya jamur, tetapi juga kaya akan nutrisi penting seperti karbon organik, nitrogen, fosfor, dan kalium.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam konteks ini, penelitian terbaru yang dipublikasikan di Jurnal Hortikultura Indonesia mengevaluasi efektivitas kompos baglog jamur tiram sebagai pupuk organik terhadap &lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2021/08/pembibitan-tanaman-cabai.html&quot;&gt;&lt;b&gt;pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah (&lt;i&gt;Capsicum frutescens&lt;/i&gt; L.)&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Penelitian ini sangat relevan bagi petani, penyuluh pertanian, dan praktisi agroindustri yang mencari alternatif pupuk yang ramah lingkungan dan ekonomis.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Metode Penelitian: Rancangan Percobaan yang Terstruktur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penelitian dilaksanakan di Agro Learning Center Denpasar pada periode April–Oktober 2024 dengan menggunakan Rancangan Petak Acak Kelompok (RPAK). Lima perlakuan kompos baglog jamur tiram diuji, mulai dari 100% tanah subur (kontrol) hingga campuran tanah dan kompos dalam proporsi yang berbeda:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;P1: 100% tanah subur (kontrol)&lt;br /&gt;P2: 50% tanah subur + 50% kompos baglog&lt;br /&gt;P3: 35% tanah subur + 65% kompos baglog&lt;br /&gt;P4: 20% tanah subur + 80% kompos baglog&lt;br /&gt;P5: 5% tanah subur + 95% kompos baglog &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap perlakuan diulang lima kali untuk mengurangi kesalahan percobaan dan meningkatkan validitas data. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bunga, dan jumlah buah. &lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hasil Utama: Bagaimana Kompos Baglog Mempengaruhi Tanaman Cabai.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Data dari percobaan menunjukkan bahwa perlakuan P1 (100% tanah subur) memberikan pertumbuhan terbaik pada fase awal tumbuh (3 minggu setelah tanam dan 10 minggu setelah tanam). Tanaman pada perlakuan ini menunjukkan tinggi badan dan jumlah daun yang optimal dalam fase vegetatif dibandingkan dengan perlakuan lainnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Namun, yang paling menarik adalah temuan mengenai pengaruh kompos baglog jamur tiram terhadap fase generatif tanaman. Perawatan P4 (20% tanah + 80% kompos) menghasilkan jumlah bunga dan buah cabai yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Ini menunjukkan bahwa proporsi yang tinggi dari kompos baglog memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan fase produksi tanaman — terutama dalam pembentukan bunga dan buah.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Mengapa Kompos Baglog Jamur Tiram Efektif?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kompos baglog jamur tiram mengandung berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Kandungan karbon organik yang tinggi penting untuk memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kapasitas tanah untuk menahan air. Selain itu, unsur nitrogen, fosfor, dan kalium merupakan nutrien makro esensial yang mendukung proses fotosintesis, pertumbuhan vegetatif, serta pembentukan buah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain unsur hara, kompos ini juga menjadi sumber mikrobia tanah yang bermanfaat. Mikroorganisme tanah yang sehat dapat membantu mempercepat dekomposisi bahan organik, meningkatkan ketersediaan nutrien, serta memperbaiki kualitas tanah secara keseluruhan. Berbagai studi lain juga menunjukkan bahwa kompos limbah jamur tiram memperbaiki retensi air, struktur tanah, dan aktivitas biologi tanah — semua faktor penting untuk mendukung pertumbuhan tanaman hortikultura seperti cabai.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Implikasi Praktis bagi Petani Cabai&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Temuan penelitian ini membuka peluang besar bagi para petani untuk mengintegrasikan kompos baglog jamur tiram dalam praktik pemupukan mereka. Dengan proporsi yang tepat, terutama di sekitar fase produksi, kompos ini mampu menghasilkan jumlah buah yang lebih tinggi, sekaligus mengurangi penggunaan pupuk kimia yang mahal dan berpotensi mencemari lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manfaat utamanya meliputi:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Meningkatkan produktivitas tanaman cabai merah&lt;br /&gt;Mengurangi biaya pemupukan&lt;br /&gt;Menjaga kesuburan tanah jangka panjang&lt;br /&gt;Meningkatkan keberlanjutan sistem pertanian&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan: Kompos Baglog Jamur Tiram sebagai Solusi Pupuk Organik Masa Depan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kompos baglog jamur tiram terbukti memiliki potensi besar sebagai pupuk organik yang efektif untuk meningkatkan hasil tanaman cabai merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tanah subur terbaik untuk pertumbuhan awal, proporsi kompos yang lebih tinggi dapat mendukung pembentukan bunga dan buah secara signifikan. Strategi pemupukan seperti ini tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga menawarkan alternatif ramah lingkungan untuk pertanian berkelanjutan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber:&amp;nbsp;https://journal.ipb.ac.id/jhi/article/view/64936/32413&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/4694135051984283862/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/03/mengoptimalkan-pupuk-organik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/4694135051984283862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/4694135051984283862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/03/mengoptimalkan-pupuk-organik.html' title='Mengoptimalkan Pupuk Organik: Efektivitas Kompos Baglog Jamur Tiram untuk Pertumbuhan Cabai Merah'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhW4AXvxv2uI0EJqAUq9pQnc0plgyIs-6oMwn6er1e5rFMmXx8k9h8aKNTa9iLHbvob16-YXdDWpb5BmjQMiu9-tty4hiN65qr3xiC979uZiHoQynWTiDFTm8EbLLBJEE543wQGL1BqhtdDPWcvr8V6ahC3gVTIEU8FGSxtKQuBnho0oW3tENvnq48DZjW4=s72-w400-h164-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-5448694313434861816</id><published>2026-02-28T11:23:00.002+07:00</published><updated>2026-02-28T11:23:22.867+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanah"/><title type='text'>Strategi Terpadu Mengatasi Toksisitas Aluminium pada Tanah Asam Tropis</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEidknr5Mvjzpx2bOiG8LbBRkn9Bq52XTny75g8y20LUQ_PXsFsSXx1VKQTBCUVjGCT6YS7AHYSNepMKoRDd9Qpnb9dRJYeCZC4GDL0SLHG5iXQx4DTgWnOtbKjLL7tVwnvKVQWQKO-tyTOnSCLZMvR3o7vyWqVCFCkPASd7ey0QRsmi3Q371sY1T58skB02&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-original-height=&quot;550&quot; data-original-width=&quot;691&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEidknr5Mvjzpx2bOiG8LbBRkn9Bq52XTny75g8y20LUQ_PXsFsSXx1VKQTBCUVjGCT6YS7AHYSNepMKoRDd9Qpnb9dRJYeCZC4GDL0SLHG5iXQx4DTgWnOtbKjLL7tVwnvKVQWQKO-tyTOnSCLZMvR3o7vyWqVCFCkPASd7ey0QRsmi3Q371sY1T58skB02&quot; width=&quot;302&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan: Tantangan Pertanian di Tanah Asam Tropis&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;Tanah asam tropis merupakan tipe tanah yang umum di banyak wilayah Indonesia dan negara tropis lainnya. Salah satu kendala utama pada tanah ini adalah toksisitas aluminium (Al) — kondisi ketika ion aluminium larut dan menjadi racun bagi akar tanaman. Aluminium yang terlarut dapat menghambat pertumbuhan akar, memperburuk penyerapan nutrisi, serta menurunkan hasil tanaman secara signifikan. Hal ini menjadi masalah besar bagi produktivitas pertanian di wilayah dengan hujan tinggi dan pelapukan tanah yang kuat.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Toksisitas Aluminium pada Tanaman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saat pH tanah turun (tanah menjadi lebih asam), aluminium yang secara alami terdapat dalam mineral tanah berubah menjadi ion Al³⁺ yang sangat reaktif dan beracun bagi tanaman. Ion ini menempel pada permukaan akar, menyebabkan pertumbuhan akar terhambat, memicu gangguan penyerapan air dan hara, serta menekan produksi tanaman. Gangguan ini dapat berujung pada penurunan hasil panen dan kualitas tanaman.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mekanisme Toleransi Tanaman terhadap Aluminium&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tanaman yang mampu bertahan di tanah asam memiliki beberapa mekanisme adaptasi terhadap stres aluminium. Jurnal ini merangkum bahwa ada dua strategi utama yang digunakan tanaman:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;1. Ekstrusi Aluminium dari Ujung Akar&lt;br /&gt;Beberapa tanaman mampu mengeluarkan ion aluminium dari akar melalui eksudasi asam organik seperti sitrat atau malat. Asam organik ini berikatan dengan aluminium, membentuk kompleks yang kurang beracun dan mencegah aluminium masuk lebih dalam ke jaringan tanaman. Eksudasi ini dikendalikan oleh transport protein seperti ALMT dan MATE yang membantu tanaman mengeluarkan asam organik dari akar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;2. Detoxifikasi Internal&lt;br /&gt;Selain itu, tanaman juga melakukan detoksifikasi internal terhadap aluminium yang masuk. Hal ini dilakukan melalui:&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Pengikatan aluminium dengan molekul chelator di dalam jaringan tanaman&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kompartementalisasi aluminium ke bagian sel yang lebih aman&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Aktivasi sistem antioksidan alami.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Akumulasi osmolit dan regulasi hormonal yang membantu melindungi sel tanaman dari stres ionik dan oksidatif.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Strategi Terpadu untuk Mengatasi Aluminium Toksik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Praktik Agronomi yang Tepat&lt;br /&gt;Pengapuran tanah (liming) adalah salah satu cara agronomi yang efektif untuk menaikkan pH tanah, sehingga aluminium lebih banyak diubah menjadi bentuk yang tidak beracun. Selain itu, penerapan pupuk yang tepat serta bahan pencadang tanah lain dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah secara keseluruhan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;2. Pemberian Zat Eksternal dan Biostimulan&lt;br /&gt;Pemberian zat eksternal seperti senyawa organik, biostimulan, atau mikroba yang menguntungkan juga dapat membantu tanaman meningkatkan toleransi terhadap aluminium. Mikroba tertentu yang hidup di sekitar akar dapat membantu mengubah kondisi kimia tanah sehingga aluminium tidak menjadi toksik.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;3. Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi&lt;br /&gt;Pendekatan jangka panjang termasuk pemuliaan tanaman dan penggunaan bioteknologi modern, seperti editing gen menggunakan CRISPR/Cas, untuk menciptakan varietas tanaman yang lebih toleran terhadap tanah asam dan aluminium toksik. Hal ini mencakup identifikasi dan penguatan gen yang berperan dalam toleransi aluminium seperti transporter dan gen detoxifikasi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keberhasilan Integrasi Penelitian &amp;amp; Praktek di Dunia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara seperti Brasil dan Cina telah berhasil memanfaatkan pendekatan terpadu ini&amp;nbsp; menggabungkan pengetahuan genomik, fisiologi tanaman, dan pengelolaan pertanian yang berkelanjutan — untuk mengubah lahan asam menjadi agroekosistem yang produktif. Keberhasilan tersebut menunjukkan potensi penerapan strategi yang sama di Indonesia dan wilayah tropis lainnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Implikasi bagi Petani &amp;amp; Pertanian Berkelanjutan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan Produktivitas Tanaman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dengan menerapkan strategi-strategi di atas, petani dapat mengurangi efek toksisitas aluminium, memperbaiki kesehatan akar tanaman, serta meningkatkan penyerapan nutrisi. Hal ini secara langsung berdampak pada peningkatan hasil produksi tanaman di tanah asam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mendukung Pertanian Ramah Lingkungan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan terpadu yang menggabungkan bioteknologi, praktik agronomi, dan perlakuan tanah membantu mengurangi ketergantungan pada input kimia yang berlebihan dan menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang. Ini sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Toksisitas aluminium pada tanah asam tropis merupakan hambatan utama dalam produktivitas tanaman pertanian. Lewat strategi terpadu yang mencakup pemahaman mekanisme toleransi tanaman, praktik agronomi yang bijak, serta pemanfaatan bioteknologi, tantangan ini dapat diatasi secara efektif. Pendekatan ini membantu menjadikan tanah asam lebih produktif dan mendukung keberlanjutan produksi pangan di wilayah tropis.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;sumber:&amp;nbsp;https://journal.ipb.ac.id/jurnalagronomi/article/view/69190/32395&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/5448694313434861816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/02/strategi-terpadu-mengatasi-toksisitas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/5448694313434861816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/5448694313434861816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/02/strategi-terpadu-mengatasi-toksisitas.html' title='Strategi Terpadu Mengatasi Toksisitas Aluminium pada Tanah Asam Tropis'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEidknr5Mvjzpx2bOiG8LbBRkn9Bq52XTny75g8y20LUQ_PXsFsSXx1VKQTBCUVjGCT6YS7AHYSNepMKoRDd9Qpnb9dRJYeCZC4GDL0SLHG5iXQx4DTgWnOtbKjLL7tVwnvKVQWQKO-tyTOnSCLZMvR3o7vyWqVCFCkPASd7ey0QRsmi3Q371sY1T58skB02=s72-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-1093642689072603610</id><published>2026-02-24T08:27:00.000+07:00</published><updated>2026-02-24T08:27:13.146+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanaman pangan"/><title type='text'>Foxtail Millet: Superfood Tahan Kekeringan untuk Ketahanan Pangan dan Kesehatan Modern</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgCEDDlQpF4zUMk3cP2ccICrE9AhGN_pr0sCUQ2L41DXJi8pNyldor13cyQBnX3fIgZ1eQOW-zQpcNUaiFpkWGhXlxvzajqmtuhGPOBzySc1WRHsn7W6UrhBU4iLaP4v0nIgTJ9HBh7n-OJkXsR2QEkQmPa2W56YOLLm4XQnhYddSYGlrefgfhUcKbvFXRN&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-original-height=&quot;600&quot; data-original-width=&quot;1000&quot; height=&quot;192&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgCEDDlQpF4zUMk3cP2ccICrE9AhGN_pr0sCUQ2L41DXJi8pNyldor13cyQBnX3fIgZ1eQOW-zQpcNUaiFpkWGhXlxvzajqmtuhGPOBzySc1WRHsn7W6UrhBU4iLaP4v0nIgTJ9HBh7n-OJkXsR2QEkQmPa2W56YOLLm4XQnhYddSYGlrefgfhUcKbvFXRN&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;Mengenal Foxtail Millet sebagai Pangan Masa Depan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Foxtail millet (&lt;i&gt;Setaria italica&lt;/i&gt;) merupakan salah satu serealia kuno yang kembali mendapat perhatian dalam isu ketahanan pangan global. Tanaman ini dikenal luas di wilayah Asia dan Afrika sebagai bahan pangan tradisional, terutama di daerah kering dan semi-kering. Dibandingkan beras atau gandum, foxtail millet memiliki ketahanan lingkungan yang lebih baik serta kandungan gizi yang lebih padat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sistem &lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2013/02/fikasasi-karbon-tanaman-c-4-siklus.html&quot;&gt;&lt;b&gt;fotosintesis tipe C4&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;, tanaman ini mampu tumbuh optimal pada suhu tinggi dan kondisi air terbatas. Kemampuan adaptasi tersebut menjadikannya kandidat strategis dalam menghadapi perubahan iklim dan krisis pangan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2013/02/pengertian-dan-ruang-lingkup-agronomi.html&quot;&gt;Karakter Agronomis&lt;/a&gt; dan Keunggulan Adaptif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Foxtail millet termasuk tanaman yang toleran terhadap kekeringan, tanah kurang subur, bahkan kondisi salinitas ringan. Siklus tanamnya relatif pendek sehingga cocok dikembangkan pada sistem pertanian lahan kering. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa keunggulan agronomisnya meliputi:&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Efisiensi penggunaan air yang tinggi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pertumbuhan cepat dan input rendah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Potensi hasil stabil pada lingkungan marginal&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cocok untuk sistem pertanian berkelanjutan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Keunggulan ini menjadikan foxtail millet relevan untuk diversifikasi pangan nasional, terutama di wilayah dengan keterbatasan sumber daya air.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Kandungan Gizi: Lebih dari Sekadar Sumber Karbohidrat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Foxtail millet bukan hanya sumber energi, tetapi juga kaya nutrisi penting. Dalam 100 gram biji kering, terkandung:&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Protein sekitar 12%&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Serat pangan tinggi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lemak sehat dalam jumlah moderat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mineral seperti kalsium, fosfor, magnesium, dan zat besi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Vitamin A dan E&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Senyawa bioaktif seperti fenolik dan antioksidan alami&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kandungan serat dan indeks glikemik yang relatif rendah membuat millet ini lebih ramah bagi penderita diabetes dibandingkan beras putih.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Manfaat Kesehatan Foxtail Millet&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi foxtail millet berpotensi memberikan manfaat kesehatan berikut: &lt;br /&gt;1. Membantu Mengontrol Gula Darah&lt;br /&gt;Kandungan serat dan struktur karbohidrat kompleksnya membantu memperlambat penyerapan glukosa dalam darah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;2. Mendukung Kesehatan Jantung&lt;br /&gt;Millet ini berperan dalam menurunkan kolesterol LDL dan VLDL, sehingga dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;3. Sumber Antioksidan Alami&lt;br /&gt;Senyawa fenolik dan komponen bioaktif lainnya membantu menangkal radikal bebas serta menurunkan risiko penyakit degeneratif.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;4. Baik untuk Sistem Pencernaan&lt;br /&gt;Serat tinggi mendukung kesehatan mikrobiota usus dan memperlancar sistem pencernaan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Peran Fermentasi dalam Meningkatkan Nilai Gizi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan seperti perendaman, perkecambahan, dan fermentasi terbukti mampu meningkatkan ketersediaan nutrisi foxtail millet. Proses ini membantu: &lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Menurunkan senyawa anti-nutrisi seperti fitat dan tanin&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan kecernaan protein&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memperbaiki cita rasa dan tekstur produk&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan aktivitas antioksidan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Dengan teknologi pengolahan yang tepat, millet dapat dikembangkan menjadi tepung, sereal, mie, roti, hingga produk pangan fungsional.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Foxtail Millet dan Strategi Ketahanan Pangan Nasional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di tengah tantangan perubahan iklim, degradasi lahan, dan ketergantungan terhadap beras, diversifikasi pangan menjadi kebutuhan mendesak. Foxtail millet menawarkan solusi berbasis tanaman lokal yang:&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Tahan terhadap cekaman iklim&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bernilai ekonomi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mendukung gizi masyarakat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cocok untuk sistem pertanian skala kecil maupun komersial&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pengembangan komoditas ini dapat menjadi bagian dari strategi transformasi sistem pangan menuju model yang lebih resilien dan berkelanjutan. &lt;br /&gt;Kesimpulan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foxtail millet adalah serealia serbaguna dengan keunggulan agronomis dan nutrisi yang signifikan. Ketahanannya terhadap kondisi ekstrem, kandungan gizi yang tinggi, serta manfaat kesehatannya menjadikannya salah satu komoditas potensial untuk masa depan pangan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan inovasi pengolahan dan peningkatan kesadaran konsumen, foxtail millet dapat bertransformasi dari pangan tradisional menjadi superfood modern yang mendukung ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber:&amp;nbsp;https://www.researchgate.net/publication/393449050_FOXTAIL_MILLET_A_MAGICAL_AND_VERSATILE_CROP&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/1093642689072603610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/02/foxtail-millet-superfood-tahan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/1093642689072603610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/1093642689072603610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/02/foxtail-millet-superfood-tahan.html' title='Foxtail Millet: Superfood Tahan Kekeringan untuk Ketahanan Pangan dan Kesehatan Modern'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgCEDDlQpF4zUMk3cP2ccICrE9AhGN_pr0sCUQ2L41DXJi8pNyldor13cyQBnX3fIgZ1eQOW-zQpcNUaiFpkWGhXlxvzajqmtuhGPOBzySc1WRHsn7W6UrhBU4iLaP4v0nIgTJ9HBh7n-OJkXsR2QEkQmPa2W56YOLLm4XQnhYddSYGlrefgfhUcKbvFXRN=s72-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-6644064743469272062</id><published>2026-02-23T14:41:00.000+07:00</published><updated>2026-02-23T14:41:19.344+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="budidaya tanaman"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanah"/><title type='text'>Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Foxtail Millet dengan Pupuk Biofouling Tiram Mutiara</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEj7oxcc-rYfQVtgHZhGOa7oU6nU9O0WJDVxImBYy4Z8qRHbQJ8PGE2C2Vkzrhj5hqr2gLRBuUyqx5pWFJgLZc0WSC93UyFapvO7r50Sl3E1-rlyqOyELkBfgUXPm13CNG49mXezvSutJ6HA9E7tVV4ajRPWxmEFWzukq9sZDoYaSKuJgQoVduTcVG4HS0Ky&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-original-height=&quot;1080&quot; data-original-width=&quot;1080&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEj7oxcc-rYfQVtgHZhGOa7oU6nU9O0WJDVxImBYy4Z8qRHbQJ8PGE2C2Vkzrhj5hqr2gLRBuUyqx5pWFJgLZc0WSC93UyFapvO7r50Sl3E1-rlyqOyELkBfgUXPm13CNG49mXezvSutJ6HA9E7tVV4ajRPWxmEFWzukq9sZDoYaSKuJgQoVduTcVG4HS0Ky&quot; width=&quot;240&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan: Tantangan Produksi Foxtail Millet&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tanaman foxtail millet (&lt;i&gt;Setaria italica&lt;/i&gt; L.) merupakan salah satu jenis millet yang semakin populer di berbagai wilayah tropis sebagai sumber pangan alternatif, pakan ternak, serta diversifikasi pangan. Millet dikenal tahan terhadap kondisi kering dan adaptif terhadap berbagai jenis tanah, sehingga cocok dikembangkan dalam sistem pertanian berkelanjutan. Namun, seperti tanaman serealia lainnya, produktivitas foxtail millet sangat dipengaruhi oleh ketersediaan nutrisi tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring meningkatnya permintaan pangan organik dan ramah lingkungan, petani dan peneliti mencari solusi alternatif pupuk yang efektif tanpa dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu inovasi yang menarik adalah pemanfaatan pupuk organik berbasis biofouling tiram mutiara (Pearl Oyster Biofouling Fertilizer).&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa Itu Pupuk Biofouling Tiram Mutiara?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pupuk biofouling tiram mutiara merupakan pupuk organik yang dihasilkan dari limbah biofouling tiram mutiara (&lt;i&gt;Pinctada maxima&lt;/i&gt;), yaitu organisme laut dan mikroorganisme yang menempel pada permukaan tiram. Limbah ini kaya akan bahan organik dan nutrisi esensial seperti nitrogen, fosfor, serta kalium - unsur yang penting untuk pertumbuhan tanaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menyediakan unsur hara dasar, pupuk organik ini juga memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah, sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroba tanah dan kesehatan perakaran tanaman.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Metode Penelitian: Perlakuan &amp;amp; Variabel Pengamatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Ilmu Pertanian (Agricultural Science) UGM melibatkan percobaan aplikasi pupuk biofouling tiram mutiara pada tanaman foxtail millet dibandingkan dengan perlakuan kontrol tanpa pupuk tersebut. Fokus utama penelitian adalah melihat pengaruh aplikasi pupuk terhadap pertumbuhan vegetatif (seperti tinggi tanaman) dan hasil panen (misalnya bobot atau jumlah biji).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hasil dan Temuan Utama&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan Pertumbuhan Tanaman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Analisis data menunjukkan bahwa tanaman foxtail millet yang menerima perlakuan pupuk biofouling tiram mutiara memperlihatkan perkembangan vegetatif yang lebih baik dibanding tanaman yang tidak mendapatkan pupuk tersebut. Perbedaan ini terlihat dari peningkatan tinggi tanaman dan vigor tanaman selama fase pertumbuhan awal hingga generatif.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Peningkatan Hasil Panen&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Selain pertumbuhan vegetatif, hasil panen foxtail millet juga meningkat secara signifikan pada tanaman yang diberi pupuk biofouling tiram mutiara. Peningkatan yield ini diduga berasal dari perbaikan ketersediaan hara tanah dan efisiensi serapan nutrisi oleh akar, yang berdampak positif pada pembentukan biji.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Efisiensi Nutrisi dan Keberlanjutan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pupuk biofouling merupakan sumber nutrisi yang lebih alami dan berkelanjutan dibandingkan pupuk kimia sintetis, karena dapat mengurangi risiko pencemaran tanah dan air serta mendukung kesuburan jangka panjang tanah pertanian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Implikasi bagi Pertanian Berkelanjutan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Alternatif Pupuk Organik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pupuk biofouling tiram mutiara bisa menjadi alternatif pupuk organik yang efektif untuk meningkatkan produktivitas foxtail millet dan tanaman serealia lainnya. Hal ini sangat sesuai dengan kebutuhan pertanian berkelanjutan yang mengutamakan peningkatan hasil tanpa merusak lingkungan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Potensi Pengembangan Skala Luas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jika diaplikasikan secara lebih luas, pupuk organik ini dapat membantu petani dalam mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia mahal sekaligus memperbaiki kualitas tanah secara biologis dan fisik. Pendekatan ini juga sejalan dengan tren pertanian ramah lingkungan dan produksi pangan organik yang semakin diminati konsumen.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan: Solusi Ramah Lingkungan untuk Produksi Millet&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pupuk biofouling tiram mutiara terbukti meningkatkan pertumbuhan dan hasil foxtail millet jika dibandingkan dengan tanpa pemberian pupuk organik tersebut. Penggunaan pupuk organik ini bukan hanya meningkatkan hasil pertanian, tetapi juga mendukung prinsip pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan. Temuan ini mendorong pentingnya pengembangan sumber hara alternatif dari limbah laut untuk aplikasi pada komoditas serealia tropis lainnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber:&amp;nbsp;https://journal.ugm.ac.id/jip/article/view/109488/43210&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/6644064743469272062/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/02/meningkatkan-pertumbuhan-dan-hasil.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/6644064743469272062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/6644064743469272062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/02/meningkatkan-pertumbuhan-dan-hasil.html' title='Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Foxtail Millet dengan Pupuk Biofouling Tiram Mutiara'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEj7oxcc-rYfQVtgHZhGOa7oU6nU9O0WJDVxImBYy4Z8qRHbQJ8PGE2C2Vkzrhj5hqr2gLRBuUyqx5pWFJgLZc0WSC93UyFapvO7r50Sl3E1-rlyqOyELkBfgUXPm13CNG49mXezvSutJ6HA9E7tVV4ajRPWxmEFWzukq9sZDoYaSKuJgQoVduTcVG4HS0Ky=s72-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-9191983715492303420</id><published>2026-02-18T11:14:00.000+07:00</published><updated>2026-02-18T11:14:52.620+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanaman pangan"/><title type='text'>Peran Jamur Mikoriza Arbuskular dalam Meningkatkan Pertumbuhan Porang</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEiHlZiIYGpeSzE--zsyFMnu8dIjoLZ0q59zbhOdMj_PT0OptIJNuAIexx8xS48PrWCKinZ07IeQi-Y3ID0-aUUg1cFpqkpBG-tNnSAiJfMo8brW-lWEme544xnRuzV_AADH-703wABTNEvXlKKGn9jExAZqcERppMdzSFSuJ_0gS0ew2Fc4vqJsJNOvLdC5&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-original-height=&quot;612&quot; data-original-width=&quot;1079&quot; height=&quot;182&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEiHlZiIYGpeSzE--zsyFMnu8dIjoLZ0q59zbhOdMj_PT0OptIJNuAIexx8xS48PrWCKinZ07IeQi-Y3ID0-aUUg1cFpqkpBG-tNnSAiJfMo8brW-lWEme544xnRuzV_AADH-703wABTNEvXlKKGn9jExAZqcERppMdzSFSuJ_0gS0ew2Fc4vqJsJNOvLdC5&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan: Potensi Porang untuk Pertanian Indonesia &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Porang (&lt;i&gt;Amorphophallus muelleri&lt;/i&gt;) merupakan &lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2022/12/jenis-umbi-umbian.html#more&quot;&gt;&lt;b&gt;tanaman umbi-umbian &lt;/b&gt;&lt;/a&gt;bernilai tinggi yang mulai populer sebagai komoditas ekspor dan bahan baku industri, terutama untuk pembuatan glucomannan. Porang juga tumbuh baik di dataran rendah hingga sedang dengan pengelolaan yang tepat. Namun, pertumbuhan dan produktivitas porang masih dipengaruhi oleh kondisi ketersediaan hara dan kesehatan akar tanaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu solusi untuk meningkatkan pertumbuhan porang yang berkelanjutan adalah dengan memanfaatkan &lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2014/11/peran-mikoriza-secara-umum-bagi.html&quot;&gt;&lt;b&gt;Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF)&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; — jamur tanah yang membentuk simbiosis mutualisme dengan akar tanaman. AMF membantu tanaman menyerap hara, terutama fosfor, serta meningkatkan toleransi terhadap stres lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Response of Porang to the Application of Arbuscular Mycorrhizal Fungi ini mengevaluasi bagaimana pemberian AMF memengaruhi pertumbuhan porang, termasuk biomassa dan kesehatan sistem akar, sebagai dasar rekomendasi praktik budidaya yang lebih efektif.&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa Itu Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF)?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) adalah kelompok jamur tanah yang membentuk hubungan simbiotik dengan akar tanaman. Jamur ini memperluas jaringan hifa (filamen) ke dalam tanah sehingga meningkatkan kemampuan penyerapan air serta unsur hara, terutama fosfor (P) yang penting bagi pertumbuhan tanaman umbi seperti porang. &lt;br /&gt;Manfaat AMF untuk Tanaman Porang&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Beberapa manfaat AMF bagi tanaman antara lain:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan serapan hara tanah, terutama fosfor dan mineral lain seperti zinc dan nitrogen.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Memperbaiki struktur tanah dan daya tahan terhadap stres lingkungan seperti kekeringan atau serangan patogen akar.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan kesehatan sistem akar, yang berdampak langsung pada produktivitas umbi porang. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Respon Porang terhadap Aplikasi AMF&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan Biomassa Tanaman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi AMF memberikan respon positif terhadap pertumbuhan biomassa porang, seperti tinggi tanaman, bobot segar, dan bobot kering tanaman dibandingkan tanaman tanpa perlakuan jamur. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan simbiotik dengan AMF dapat mempercepat perkembangan porang sejak fase vegetatif awal.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Peningkatan Akar dan Kesehatan Vegetatif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Porang yang diberikan AMF menunjukkan peningkatan kesehatan sistem akar, dengan lebih banyak akar lateral dan intensitas serapan hara yang lebih baik. Ini mengindikasikan bahwa jamur mikoriza membantu porang mengakses sumber hara yang lebih luas di dalam tanah sehingga memperkuat pertumbuhan vegetatif dan kuat menghadapi kondisi lingkungan yang terkadang kurang ideal.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Implikasi untuk Praktik Budidaya Porang&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Optimasi Penyemaian dan Tanam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mengintegrasikan AMF ke dalam praktik penyemaian dan persiapan media tanam porang dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan pertumbuhan awal tanaman. AMF bisa diaplikasikan sejak awal tanam agar porang segera membentuk simbiosis yang bermanfaat bagi fase berkembangnya umbi. &lt;br /&gt;Manajemen Hara dan Kesuburan Tanah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan AMF juga dapat membantu pengelolaan kesuburan tanah secara alami dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Hal ini tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga ekonomis bagi petani yang menanam porang dalam skala besar atau menengah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan: Strategi Budidaya Porang yang Lebih Produktif &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi &lt;i&gt;Arbuscular mycorrhizal&lt;/i&gt; Fungi dapat meningkatkan pertumbuhan porang, terutama melalui perbaikan kesehatan akar dan efisiensi penyerapan hara. Dengan mengadopsi teknologi biologis seperti AMF dalam praktik budidaya porang, petani dapat mencapai pertumbuhan tanaman yang lebih optimal dan hasil panen umbi yang lebih tinggi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber:&amp;nbsp;https://journal.ipb.ac.id/JIPI/article/view/42523/31845&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/9191983715492303420/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/02/peran-jamur-mikoriza-arbuskular-dalam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/9191983715492303420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/9191983715492303420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/02/peran-jamur-mikoriza-arbuskular-dalam.html' title='Peran Jamur Mikoriza Arbuskular dalam Meningkatkan Pertumbuhan Porang'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEiHlZiIYGpeSzE--zsyFMnu8dIjoLZ0q59zbhOdMj_PT0OptIJNuAIexx8xS48PrWCKinZ07IeQi-Y3ID0-aUUg1cFpqkpBG-tNnSAiJfMo8brW-lWEme544xnRuzV_AADH-703wABTNEvXlKKGn9jExAZqcERppMdzSFSuJ_0gS0ew2Fc4vqJsJNOvLdC5=s72-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-4100137820863105914</id><published>2026-02-14T09:49:00.000+07:00</published><updated>2026-02-14T09:49:45.181+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ekologi tanaman"/><title type='text'>Dampak Perubahan Tata Guna Lahan terhadap Fungsi Hidrologis DAS Ciujung</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjgirVSEEzkqDMtlCcAblrwGq3J15jDSo5cd1__zyDoNKOm9LplpkMv5y3MR4xJZ7sB4soTmhOqkxOUHVBEcrR2w05pkvEISqOlM0OcnW-YqsQn0RWvgofSwmwkkQgwLICuh8Bxki3VHPzGIIimde5DIgTNogPWIxiMaF-aP5KCo0xFjqNCDLMuj19CJtUI&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-original-height=&quot;432&quot; data-original-width=&quot;664&quot; height=&quot;208&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjgirVSEEzkqDMtlCcAblrwGq3J15jDSo5cd1__zyDoNKOm9LplpkMv5y3MR4xJZ7sB4soTmhOqkxOUHVBEcrR2w05pkvEISqOlM0OcnW-YqsQn0RWvgofSwmwkkQgwLICuh8Bxki3VHPzGIIimde5DIgTNogPWIxiMaF-aP5KCo0xFjqNCDLMuj19CJtUI&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan: Mengapa Pengelolaan DAS Penting?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan sistem alami yang mengatur aliran air dari hulu ke hilir dan menyediakan air bagi berbagai kebutuhan seperti pertanian, domestik, industri, dan ekosistem. Penelitian ilmiah di Land Use Change, Hydrological Responses and Water Balance of Upstream Ciujung Watershed mengkaji bagaimana perubahan penggunaan lahan di bagian hulu DAS Ciujung (Provinsi Banten dan sebagian Bogor) berpengaruh terhadap fungsi hidrologis dan keseimbangan air di kawasan tersebut.&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tren Perubahan Lahan (2016–2021)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Analisis citra satelit menunjukkan bahwa antara tahun 2016 dan 2021 terjadi konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan areal bukan hutan. Luas hutan primer, sekunder, dan hutan produksi berkurang cukup signifikan, sedangkan lahan pertanian kering serta pemukiman meningkat. Perubahan ini menunjukkan adanya desakan kebutuhan lahan untuk kegiatan pertanian dan pemukiman penduduk.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dampak Deforestasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pengurangan tutupan hutan menyebabkan berkurangnya kemampuan lahan dalam menyerap air hujan dan memperlambat aliran permukaan. Hal ini berdampak langsung pada fungsi DAS sebagai buffer terhadap banjir dan kekeringan, terutama pada musim hujan dan kemarau.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Respon Hidrologis terhadap Perubahan Tata Guna Lahan &lt;br /&gt;Koefisien Aliran dan Respon Aliran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penelitian menggunakan parameter &lt;i&gt;Flow Regime Coefficient&lt;/i&gt; (FRC) dan &lt;i&gt;Annual Flow Coefficient&lt;/i&gt; (AFC) untuk mengevaluasi respon hidrologi sungai. Pada periode 2012–2016, FRC termasuk kategori rendah, menandakan aliran sungai lebih seimbang antara musim hujan dan kemarau. Namun, pada periode 2017–2021, FRC meningkat ke tingkat menengah, yang berarti fluktuasi aliran lebih tajam akibat penurunan tutupan hutan. AFC juga menurun, menunjukkan perubahan cara air terdistribusi di dalam DAS dan berkurangnya kontribusi aliran dasar akibat perubahan lahan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Implikasi bagi Irigasi dan Pertanian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Perubahan FRC dan AFC ini berimplikasi pada ketersediaan air untuk pertanian, khususnya saat musim kemarau. Dalam kondisi aliran yang kurang stabil, petani di hilir DAS Ciujung mungkin menghadapi kesulitan mendapatkan pasokan air yang konsisten untuk irigasi tanaman, terutama komoditas hortikultura dan padi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Neraca Air DAS: Masih Seimbang, Tapi Waspada Kekeringan Musiman &lt;br /&gt;Keseimbangan Air Tahunan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Analisis neraca air menunjukkan bahwa secara tahunan DAS Ciujung masih mengalami surplus ketersediaan air, yang berarti pasokan air secara total lebih besar dari kebutuhan sektor domestik, pertanian, perikanan, dan industri. Namun demikian, defisit air tetap terjadi di puncak musim kemarau (September), yang menandakan bahwa distribusi air antarbulan tidak merata dan dukungan pengelolaan air musim kering diperlukan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tantangan pada Musim Kemarau&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Selama bulan kering, ketersediaan air menurun tajam sehingga meskipun secara tahunan surplus, ketidakstabilan pasokan air dapat mengancam produktivitas pertanian jika tidak diantisipasi melalui pengelolaan sumber daya air yang efektif dan konservasi lahan hulu. &lt;br /&gt;Kesimpulan: Menguatkan Strategi Pengelolaan DAS &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan tata guna lahan di hulu DAS Ciujung berdampak signifikan terhadap respon hidrologis dan ketahanan pasokan air, terutama di musim kering. Meskipun neraca air tahunan menunjukkan surplus, ketidakmerataan ketersediaan air sepanjang tahun menuntut tindakan strategis seperti reboisasi, konservasi tanah, dan pembangunan infrastruktur air untuk menjaga keberlanjutan pertanian dan ekosistem di wilayah DAS Ciujung. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;sumber jurnal:&amp;nbsp;https://journal.ipb.ac.id/JIPI/article/view/47728/31842&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/4100137820863105914/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/02/dampak-perubahan-tata-guna-lahan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/4100137820863105914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/4100137820863105914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/02/dampak-perubahan-tata-guna-lahan.html' title='Dampak Perubahan Tata Guna Lahan terhadap Fungsi Hidrologis DAS Ciujung'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjgirVSEEzkqDMtlCcAblrwGq3J15jDSo5cd1__zyDoNKOm9LplpkMv5y3MR4xJZ7sB4soTmhOqkxOUHVBEcrR2w05pkvEISqOlM0OcnW-YqsQn0RWvgofSwmwkkQgwLICuh8Bxki3VHPzGIIimde5DIgTNogPWIxiMaF-aP5KCo0xFjqNCDLMuj19CJtUI=s72-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-5675711708717107657</id><published>2026-02-06T23:43:00.003+07:00</published><updated>2026-02-06T23:43:23.435+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanaman sayur"/><title type='text'>Kearifan Lokal Jawa sebagai Kunci Ketahanan Petani Hortikultura di Magelang</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEiS_KDaLusSYDKQrhYR-qIENcgxQCERUg5RMyLJe0clS3d27tM8i4j7mtYP8HN4h5tAg6HOj8iG1S89hsiFZ0-QSu_PjGpCI-21AJ6pSISkRjODxmUxTc-lrQBMjldhKjBm-YkwxAbO3plgIm9snBI4JVElTtitKfOP9TGtspTItHFEEStfaRNiiTYiTf-B&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-original-height=&quot;194&quot; data-original-width=&quot;259&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEiS_KDaLusSYDKQrhYR-qIENcgxQCERUg5RMyLJe0clS3d27tM8i4j7mtYP8HN4h5tAg6HOj8iG1S89hsiFZ0-QSu_PjGpCI-21AJ6pSISkRjODxmUxTc-lrQBMjldhKjBm-YkwxAbO3plgIm9snBI4JVElTtitKfOP9TGtspTItHFEEStfaRNiiTYiTf-B&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan: Tantangan Petani Hortikultura di Magelang&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Wilayah Sawangan, Ngablak, dan Srumbung di Kabupaten Magelang dikenal sebagai sentra hortikultura dataran tinggi. Sayuran seperti kubis, wortel, cabai, dan sawi menjadi komoditas utama yang menopang ekonomi rumah tangga petani. Namun, di balik produktivitas yang tinggi, petani hortikultura menghadapi tantangan serius berupa fluktuasi harga pasar, ketergantungan pada tengkulak, serta risiko gagal panen.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kondisi ini menuntut petani tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga tangguh secara sosial dan mental. Di sinilah konsep ketahanan komunitas petani menjadi penting untuk dipahami.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Apa Itu Ketahanan Komunitas Petani?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketahanan komunitas (&lt;i&gt;community resilience&lt;/i&gt;) merujuk pada kemampuan komunitas petani untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit dari tekanan ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Dalam konteks pertanian hortikultura di Magelang, ketahanan ini tidak berdiri sendiri, melainkan dibentuk oleh jejaring sosial, budaya lokal, dan strategi adaptif petani.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penelitian menunjukkan bahwa ketahanan petani bukan hanya ditentukan oleh harga atau hasil panen, tetapi juga oleh hubungan sosial dan nilai budaya yang hidup di masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Peran Kearifan Lokal Jawa dalam Ketahanan Petani&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Nilai Nrimo, Gemi, dan Setiti&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Budaya Jawa memiliki nilai-nilai lokal seperti nrimo (menerima keadaan dengan bijak), gemi (hidup hemat), dan setiti (berhati-hati dalam mengambil keputusan). Nilai ini membentuk sikap mental petani untuk tetap tenang saat harga jatuh dan tidak gegabah dalam mengelola modal maupun sumber daya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Nilai budaya tersebut berfungsi sebagai penopang psikologis, sehingga petani tidak mudah putus asa meskipun menghadapi tekanan ekonomi yang berulang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Gotong Royong dan Solidaritas Sosial&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain nilai individu, ketahanan komunitas juga diperkuat oleh gotong royong dan solidaritas antarpetani. Melalui interaksi sosial yang erat, petani saling berbagi informasi mengenai harga, pasar, hingga strategi tanam. Jejaring sosial ini membantu petani mengurangi ketergantungan pada satu pembeli dan memperluas pilihan pemasaran.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Strategi Adaptasi Petani Hortikultura&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Diversifikasi Tanaman&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Untuk mengurangi risiko kerugian akibat harga anjlok, petani menerapkan diversifikasi dan tumpangsari, yaitu menanam lebih dari satu jenis sayuran dalam satu musim tanam. Strategi ini terbukti efektif dalam menjaga stabilitas pendapatan rumah tangga petani.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Sumber Pendapatan Alternatif&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagian petani juga mengembangkan pekerjaan sampingan non-pertanian, seperti berdagang kecil atau bekerja harian. Pendapatan tambahan ini menjadi bantalan ekonomi ketika hasil pertanian tidak mencukupi kebutuhan keluarga.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan: Ketahanan Petani Bukan Sekadar Soal Produksi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketahanan petani hortikultura di Magelang tidak hanya dibangun oleh teknologi atau hasil panen, tetapi oleh kombinasi kearifan lokal, modal sosial, dan strategi adaptif. Nilai budaya Jawa terbukti memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan kehidupan petani di tengah dinamika pasar yang tidak stabil.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Temuan ini menunjukkan bahwa pembangunan pertanian berkelanjutan perlu memperhatikan aspek sosial dan budaya, bukan hanya aspek teknis dan ekonomi semata.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;referensi:&amp;nbsp;https://journal.ipb.ac.id/JIPI/article/view/40606/31883&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/5675711708717107657/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/02/kearifan-lokal-jawa-sebagai-kunci.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/5675711708717107657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/5675711708717107657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/02/kearifan-lokal-jawa-sebagai-kunci.html' title='Kearifan Lokal Jawa sebagai Kunci Ketahanan Petani Hortikultura di Magelang'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEiS_KDaLusSYDKQrhYR-qIENcgxQCERUg5RMyLJe0clS3d27tM8i4j7mtYP8HN4h5tAg6HOj8iG1S89hsiFZ0-QSu_PjGpCI-21AJ6pSISkRjODxmUxTc-lrQBMjldhKjBm-YkwxAbO3plgIm9snBI4JVElTtitKfOP9TGtspTItHFEEStfaRNiiTYiTf-B=s72-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-8463650564079720668</id><published>2026-02-02T12:11:00.003+07:00</published><updated>2026-02-02T12:11:32.847+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="budidaya tanaman"/><title type='text'>Pupuk ZA untuk Kedelai: Cara Meningkatkan Pembentukan Polong dan Hasil Panen</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhf5B_pQkfKAsoF0X2paheDymqok_BNuRmewsiUWC44IuYdjmVoQ2jqPXD8J5_sBo6csqsGxAVMKgc8VlNYfN-LVH_BUbBRl1RUrhzCuCsk0_FD7-IFqrzGC9MEifXUFxOOaKzU_hekR897Ed7CnlNWG3WZ4_eukJlvNLUjvgpULR4YhL1_lSaFBVmYOwBp&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;pemupukan tanaman kedelai&quot; data-original-height=&quot;723&quot; data-original-width=&quot;1080&quot; height=&quot;214&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhf5B_pQkfKAsoF0X2paheDymqok_BNuRmewsiUWC44IuYdjmVoQ2jqPXD8J5_sBo6csqsGxAVMKgc8VlNYfN-LVH_BUbBRl1RUrhzCuCsk0_FD7-IFqrzGC9MEifXUFxOOaKzU_hekR897Ed7CnlNWG3WZ4_eukJlvNLUjvgpULR4YhL1_lSaFBVmYOwBp=w320-h214&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2013/04/morfologi-tanaman-kedelai-glycine-max.html&quot;&gt;Kedelai (Glycine max)&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; merupakan komoditas strategis dalam pertanian Indonesia. Selain menjadi sumber protein nabati utama, kedelai juga berperan penting dalam industri pangan dan pakan. Namun, salah satu tantangan utama dalam budidaya kedelai adalah rendahnya persentase bunga yang berkembang menjadi polong, yang secara langsung berdampak pada hasil panen.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2013/04/budidaya-tanaman-kedelai-glycine-max.html&quot;&gt;Dalam praktik budidaya tanaman kedelai&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;, banyak tanaman kedelai terlihat subur dan berbunga lebat, tetapi saat panen jumlah polongnya tidak sebanding. Masalah ini sering kali berkaitan dengan ketersediaan unsur hara, terutama nitrogen (N) dan sulfur (S), yang berperan penting dalam fase generatif tanaman.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Mengapa Nitrogen dan Sulfur Penting bagi Kedelai?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Nitrogen dikenal sebagai unsur utama pembentuk protein dan klorofil, sementara sulfur berperan dalam pembentukan asam amino esensial, enzim, serta mendukung efisiensi fiksasi nitrogen pada tanaman legum seperti kedelai. Kekurangan salah satu unsur ini dapat menyebabkan gugurnya bunga dan rendahnya pembentukan polong.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Salah satu sumber pupuk yang mengandung nitrogen dan sulfur sekaligus adalah pupuk sulfat amonium atau pupuk ZA. Pupuk ini relatif mudah diserap tanaman dan sudah lama digunakan dalam praktik pertanian.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Apa Kata Penelitian?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia mengkaji pengaruh pemberian pupuk sulfat amonium terhadap perkembangan bunga dan polong kedelai. Penelitian ini menguji empat dosis pupuk ZA, yaitu 0, 100, 200, dan 300 kg per hektare.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Beberapa parameter penting yang diamati meliputi:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jumlah bunga yang terbentuk&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jumlah polong yang dihasilkan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Persentase bunga menjadi polong&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kandungan sulfur dalam daun&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Hasilnya cukup jelas: dosis pupuk ZA 300 kg/ha memberikan hasil terbaik. Tanaman dengan dosis ini menghasilkan jumlah bunga dan polong paling tinggi, serta persentase keberhasilan bunga menjadi polong yang lebih besar dibandingkan dosis lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain itu, kandungan sulfur daun juga meningkat, menandakan bahwa tanaman mendapatkan nutrisi yang lebih optimal untuk mendukung proses fisiologisnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Apa Artinya bagi Petani?&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Temuan ini menunjukkan bahwa pemupukan tidak hanya bertujuan membuat tanaman tumbuh subur secara vegetatif, tetapi juga harus mendukung fase generatif, yaitu pembentukan bunga dan polong. Pupuk ZA dapat menjadi solusi praktis untuk:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mengurangi kerontokan bunga&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan pembentukan polong&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mendorong hasil panen yang lebih stabil&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Namun demikian, dosis pupuk tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tanah, sistem budidaya, dan rekomendasi setempat agar tetap efisien dan ramah lingkungan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kesimpulan&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pemupukan sulfat amonium terbukti berperan penting dalam meningkatkan pembentukan polong kedelai. Dengan manajemen hara yang tepat, khususnya pemenuhan nitrogen dan sulfur, petani dapat meningkatkan produktivitas kedelai secara signifikan tanpa teknologi yang rumit.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pendekatan berbasis hasil penelitian seperti ini penting untuk mendorong pertanian yang lebih ilmiah, efisien, dan berkelanjutan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;sumber:&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://journal.ipb.ac.id/JIPI/article/view/54842/31870&quot;&gt;https://journal.ipb.ac.id/JIPI/article/view/54842/31870&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/8463650564079720668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/02/pupuk-za-untuk-kedelai-cara.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/8463650564079720668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/8463650564079720668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/02/pupuk-za-untuk-kedelai-cara.html' title='Pupuk ZA untuk Kedelai: Cara Meningkatkan Pembentukan Polong dan Hasil Panen'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhf5B_pQkfKAsoF0X2paheDymqok_BNuRmewsiUWC44IuYdjmVoQ2jqPXD8J5_sBo6csqsGxAVMKgc8VlNYfN-LVH_BUbBRl1RUrhzCuCsk0_FD7-IFqrzGC9MEifXUFxOOaKzU_hekR897Ed7CnlNWG3WZ4_eukJlvNLUjvgpULR4YhL1_lSaFBVmYOwBp=s72-w320-h214-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-6024994803350106973</id><published>2026-01-29T13:25:00.001+07:00</published><updated>2026-01-29T13:25:07.684+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanaman perkebunan"/><title type='text'>Respons Bibit Kelapa Sawit di Pre-Nursery terhadap Dosis Pupuk Urea dan SP-36</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgmoohwfjcjILA84J_8RSpve89iwmALohwVwNJ7lGDqtIRXULnDjApXiYoovOy32CqndNH86Rh2LSjhIH4mFsbngDce21Diwd2CQoIFYya6DtJM6n90J7FRdIvtLen-cBih9XWmZi6-iTrwQrX-wBe0xsXYsZqqISszyLkSu8g_zyhsrywrSmQ_lh773AqD&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-original-height=&quot;576&quot; data-original-width=&quot;1024&quot; height=&quot;180&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgmoohwfjcjILA84J_8RSpve89iwmALohwVwNJ7lGDqtIRXULnDjApXiYoovOy32CqndNH86Rh2LSjhIH4mFsbngDce21Diwd2CQoIFYya6DtJM6n90J7FRdIvtLen-cBih9XWmZi6-iTrwQrX-wBe0xsXYsZqqISszyLkSu8g_zyhsrywrSmQ_lh773AqD&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kelapa &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2019/02/prospek-kelapa-sawit-indonesia.html&quot;&gt;sawit merupakan komoditas unggulan perkebunan Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; dengan luas areal yang terus meningkat setiap tahun. Seiring dengan ekspansi kebun dan program peremajaan (replanting), kebutuhan akan bibit kelapa sawit yang sehat dan berkualitas menjadi semakin penting. Fase pembibitan awal atau pre-nursery memegang peran strategis karena menentukan daya tumbuh tanaman pada tahap selanjutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Salah satu aspek penting dalam pengelolaan bibit kelapa sawit adalah pemupukan. &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2014/01/peran-unsur-hara-bagi-tanaman.html&quot;&gt;Unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) dikenal sebagai nutrisi esensial yang berperan dalam pertumbuhan vegetatif tanaman&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;. Pupuk urea merupakan sumber nitrogen utama yang berfungsi dalam pembentukan klorofil dan protein, sedangkan pupuk SP-36 menyuplai fosfor yang berperan dalam transfer energi dan pembelahan sel. Namun, efektivitas pemberian kedua pupuk tersebut pada fase awal pertumbuhan bibit masih menjadi perdebatan di lapangan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Metodologi Singkat&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penelitian ini dilakukan di Kebun Pendidikan dan Penelitian Institut Pertanian STIPER Yogyakarta selama periode Juli hingga September 2024. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu dosis pupuk urea (1–2,5 g per polybag) dan dosis pupuk SP-36 (0–2 g per polybag). Seluruh perlakuan diulang empat kali.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Parameter yang diamati mencakup tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang akar, bobot basah dan kering akar serta tajuk, luas daun, dan kandungan klorofil. Analisis data dilakukan menggunakan ANOVA dan uji lanjutan DMRT pada taraf kepercayaan 5%.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Hasil dan Pembahasan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi dosis pupuk urea dan SP-36, baik secara tunggal maupun kombinasi, tidak memberikan pengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan bibit kelapa sawit di fase pre-nursery. Dengan kata lain, peningkatan dosis pupuk nitrogen dan fosfor tidak diikuti oleh peningkatan pertumbuhan bibit secara signifikan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Temuan ini mengindikasikan bahwa pada fase awal pertumbuhan, bibit kelapa sawit belum sepenuhnya responsif terhadap tambahan pupuk anorganik. Salah satu faktor yang diduga berpengaruh adalah kondisi media tanam yang telah memiliki ketersediaan hara cukup. Hasil analisis tanah menunjukkan pH netral dan kondisi lingkungan yang relatif optimal, sehingga kebutuhan dasar nutrisi bibit telah terpenuhi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain itu, pada tahap pre-nursery, bibit kelapa sawit cenderung memprioritaskan adaptasi lingkungan dan pembentukan sistem perakaran awal. Dalam kondisi tersebut, respons terhadap pemupukan sering kali belum terlihat secara langsung, terutama dalam periode pengamatan yang relatif singkat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Implikasi Praktis&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa pemupukan urea dan SP-36 pada fase pre-nursery perlu dilakukan secara bijak dan berbasis kondisi tanah. Pemupukan berlebihan tidak selalu meningkatkan pertumbuhan bibit, bahkan berpotensi menurunkan efisiensi biaya produksi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pemberian pupuk urea hingga dosis 2,5 g per polybag dan pupuk SP-36 hingga 2 g per polybag belum menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di fase pre-nursery. Faktor lingkungan dan kesuburan awal media tanam diduga lebih berperan dalam menentukan pertumbuhan bibit pada tahap awal. Temuan ini dapat menjadi acuan bagi praktisi pembibitan kelapa sawit dalam merancang strategi pemupukan yang lebih efisien dan berkelanjutan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;referensi:&amp;nbsp;https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/1647/1027&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/6024994803350106973/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/01/respons-bibit-kelapa-sawit-di-pre.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/6024994803350106973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/6024994803350106973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/01/respons-bibit-kelapa-sawit-di-pre.html' title='Respons Bibit Kelapa Sawit di Pre-Nursery terhadap Dosis Pupuk Urea dan SP-36'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgmoohwfjcjILA84J_8RSpve89iwmALohwVwNJ7lGDqtIRXULnDjApXiYoovOy32CqndNH86Rh2LSjhIH4mFsbngDce21Diwd2CQoIFYya6DtJM6n90J7FRdIvtLen-cBih9XWmZi6-iTrwQrX-wBe0xsXYsZqqISszyLkSu8g_zyhsrywrSmQ_lh773AqD=s72-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-4480138066083117969</id><published>2026-01-27T22:00:00.004+07:00</published><updated>2026-01-27T22:00:36.177+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanah"/><title type='text'>Remote Sensing dalam Pertanian Presisi: Prinsip Dasar dan Langkah Praktis</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhQuQ6z2aFxQRDoHS5A_YEIJ5nlSp2NigXwzZk7_n6XCxfWcOX0Dlrj67LqeofrDIK72u-4vZXAHiVT6_4rcfrFWgMMhWiT6XJfrjJtDW3k4762eN4OkHCdozo8yOGN6PemqANeoAISDxxfM9ZvwTZVltoP75BeAN_uoYbSY0-CkWGawa6s3Omz1dWgvFD6&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-original-height=&quot;161&quot; data-original-width=&quot;313&quot; height=&quot;165&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhQuQ6z2aFxQRDoHS5A_YEIJ5nlSp2NigXwzZk7_n6XCxfWcOX0Dlrj67LqeofrDIK72u-4vZXAHiVT6_4rcfrFWgMMhWiT6XJfrjJtDW3k4762eN4OkHCdozo8yOGN6PemqANeoAISDxxfM9ZvwTZVltoP75BeAN_uoYbSY0-CkWGawa6s3Omz1dWgvFD6&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam era pertanian modern, teknologi remote sensing atau penginderaan jauh menjadi salah satu inovasi terpenting dalam precision farming (pertanian presisi). Lalu, apa itu remote sensing dalam Pertanian?&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Remote sensing adalah penggunaan sensor atau perangkat elektronik yang mampu menangkap informasi tentang kondisi lahan dari jarak jauh, biasanya melalui udara atau satelit. Sensor ini mendeteksi pantulan cahaya dari permukaan tanah dan tanaman untuk menganalisis kesehatan tanaman, kadar air tanah, komposisi tanah, hingga adanya hama atau penyakit secara real-time. Teknologi ini membantu petani membuat keputusan berbasis data, alih-alih berdasarkan pengalaman semata.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Mengapa Teknologi Ini Penting untuk Precision Farming?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pertanian presisi adalah pendekatan modern yang bertujuan mengoptimalkan hasil panen sekaligus meminimalkan penggunaan sumber daya seperti air, pupuk, dan pestisida. Dalam konteks ini, remote sensing bekerja sebagai tulang punggung teknologi karena mampu:&lt;/div&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2013/04/analisis-kesesuaian-lahan-untuk-tanaman.html&quot;&gt;Mendeteksi Variabilitas Lahan&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;: Remote sensing menunjukkan kondisi mikro di setiap bagian lahan sehingga petani tahu area mana yang membutuhkan perhatian lebih atau kurang.&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menentukan Kesehatan Tanaman: Melalui citra multispektral, sensor mampu membedakan antara tanaman sehat dan stres akibat kekeringan, hama, atau penyakit.&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Meningkatkan Efisiensi Input: Dengan data akurat, petani dapat menyesuaikan penggunaan air atau pupuk hanya pada zona tertentu yang membutuhkannya, bukan seluruh lahan.&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mengurangi Biaya Operasional: Dengan memprediksi masalah sebelum menjadi besar, biaya pengecekan manual dan perbaikan kerusakan lahan pun berkurang drastis.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Prinsip Dasar Teknologi Remote Sensing&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Spektrum Elektromagnetik: Sensor membaca pantulan cahaya pada panjang gelombang tertentu, seperti inframerah dekat, yang sering digunakan untuk menilai kesehatan vegetasi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Resolusi Gambar: Ada tiga jenis utama: spatial resolution (detail spasial), spectral resolution (jumlah dan lebar panjang gelombang sensor), dan temporal resolution (frekuensi pengambilan gambar). Pemilihan sensor tergantung kebutuhan — misalnya, satelit untuk area luas atau drone untuk lahan lebih kecil.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Indeks Vegetasi: Salah satu yang paling umum adalah NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), yang menjadi indikator vital dalam mengukur kesehatan tanaman.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Langkah Praktis Menggunakan Remote Sensing&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam penerapan nyata, ada beberapa langkah yang direkomendasikan:&lt;/div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pemilihan Platform Sensor: Petani dapat memilih teknologi sesuai skalanya — satelit, pesawat kecil, atau drone.&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pengumpulan Data Berkala: Penginderaan dilakukan secara rutin untuk mendapatkan gambaran dinamika lahan seiring waktu.&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pengolahan Data Digital: Citra mentah diolah menggunakan perangkat lunak khusus untuk menghasilkan peta vegetasi, kelembapan tanah, dan parameter agronomis lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Analisis dan Tindak Lanjut: Dari peta hasil olahan, petani menentukan area yang memerlukan intervensi seperti penambahan pupuk, pengairan, atau pengendalian hama.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Dampak Teknologi Bagi Masa Depan Pertanian&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan makin berkembangnya remote sensing, pertanian tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pengalaman atau intuisi. Data akurat memungkinkan pendekatan yang lebih responsif dan efisien, yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan. Selain itu, teknologi ini membuka peluang baru bagi penyuluh, peneliti, dan pembuat kebijakan untuk merancang strategi pertanian yang lebih efektif.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan penerapan remote sensing, pertanian presisi menjadi solusi nyata untuk menghadapi tantangan agrikultur modern seperti perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, dan kebutuhan pangan global yang terus meningkat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;sumber:&amp;nbsp;https://www.youtube.com/watch?v=44_rNM1F4jQ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/4480138066083117969/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/01/remote-sensing-dalam-pertanian-presisi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/4480138066083117969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/4480138066083117969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/01/remote-sensing-dalam-pertanian-presisi.html' title='Remote Sensing dalam Pertanian Presisi: Prinsip Dasar dan Langkah Praktis'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhQuQ6z2aFxQRDoHS5A_YEIJ5nlSp2NigXwzZk7_n6XCxfWcOX0Dlrj67LqeofrDIK72u-4vZXAHiVT6_4rcfrFWgMMhWiT6XJfrjJtDW3k4762eN4OkHCdozo8yOGN6PemqANeoAISDxxfM9ZvwTZVltoP75BeAN_uoYbSY0-CkWGawa6s3Omz1dWgvFD6=s72-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-7522368382721739398</id><published>2026-01-26T22:47:00.005+07:00</published><updated>2026-01-26T22:47:54.797+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="budidaya tanaman"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanah"/><title type='text'>5 Metode Irigasi Modern yang Efektif untuk Pertanian Masa Kini</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgO5g-yWkH2kkACeOHxgxcr2Ql1QWGM48tgseY4SS5E5JktPezeHFpkNL26HvedbMDAHloSEWiwx8YSiygWwgeOPJukmplHzAe6k342w0XxUaxzKbieOVqFf9QSWB3__x628-lTeIxRphaHWLsMVi1TAwsnHOw86Yl7rgY_wQUbSXbwPoQI32xyFaREg9sv&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;5 metode Irigasi Modern&quot; data-original-height=&quot;748&quot; data-original-width=&quot;1200&quot; height=&quot;199&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgO5g-yWkH2kkACeOHxgxcr2Ql1QWGM48tgseY4SS5E5JktPezeHFpkNL26HvedbMDAHloSEWiwx8YSiygWwgeOPJukmplHzAe6k342w0XxUaxzKbieOVqFf9QSWB3__x628-lTeIxRphaHWLsMVi1TAwsnHOw86Yl7rgY_wQUbSXbwPoQI32xyFaREg9sv=w320-h199&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Irigasi adalah salah satu aspek paling penting &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2013/05/malu-aku-menatap-wajah-saudaraku-para.html#&quot;&gt;dalam dunia pertanian&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;, karena ketersediaan air menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman dan produktivitas lahan. Dalam era pertanian modern, petani tidak lagi mengandalkan sistem tradisional seperti pengairan manual atau sekadar menggantungkan pada hujan. Kini, telah berkembang berbagai metode irigasi efisien yang mampu meningkatkan hasil panen sekaligus menghemat penggunaan air.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;5 Metode irigasi tersebut adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;1. Irigasi Tetes (Drip Irrigation)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Metode ini menyalurkan air secara langsung ke daerah akar tanaman melalui pipa kecil sehingga meminimalkan pemborosan. Irigasi tetes membantu menjaga kelembapan tanah yang stabil dan sangat cocok untuk tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, dan sayuran.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;2. Irigasi Sprinkler&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Irigasi ini menyebarkan air seperti hujan buatan melalui semprotan putar. Sistem sprinkler efektif untuk lahan luas dan dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Penjadwalan dan tekanan air yang tepat sangat menentukan efisiensi metode ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;3. Sensor Kelembapan Tanah&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Teknologi sensor memonitor kadar air di dalam tanah secara real-time dan otomatis menghidupkan sistem irigasi ketika tanah terlalu kering. Ini sangat membantu dalam penghematan air.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;4. Irigasi Berbasis Cuaca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sistem ini menyesuaikan jadwal penyiraman berdasarkan data cuaca terbaru sehingga menghindari pemborosan air saat hujan atau kelembapan tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;5. Irigasi Bawah Permukaan (Subsurface Irrigation)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Air dialirkan di bawah permukaan tanah sehingga mencapai langsung zona akar tanaman. Ini meminimalkan penguapan dan kehilangan air.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Manfaat Penerapan Metode Irigasi Modern&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penggunaan Air yang Lebih Hemat&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan sistem yang terukur dan otomatis, penggunaan air dapat ditekan secara signifikan tanpa mengorbankan kebutuhan tanaman.&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Meningkatkan Hasil Panen&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Distribusi air yang tepat waktu dan merata memastikan tanaman mendapatkan air sesuai kebutuhan, sehingga pertumbuhan menjadi optimal.&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mengurangi Biaya Operasional&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Metode modern seperti sensor tanah atau pengaturan otomatis mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan pemborosan sumber daya.&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ramah Lingkungan&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penirigan yang hemat air membantu menjaga kualitas lingkungan dan mengurangi tekanan pada sumber daya air lokal.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan mengadopsi teknik-teknik seperti irigasi tetes, sistem berbasis sensor, hingga penjadwalan berdasarkan cuaca, pertanian masa kini bisa menjadi lebih berkelanjutan dan produktif. Penerapan metode-metode ini bukan hanya membantu meningkatkan hasil panen tetapi juga melindungi sumber daya air yang semakin terbatas, menjadikannya investasi penting bagi masa depan agribisnis di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber:&amp;nbsp;https://www.youtube.com/watch?v=Ulf8E1XnhgI&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/7522368382721739398/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/01/5-metode-irigasi-modern-yang-efektif.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/7522368382721739398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/7522368382721739398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/01/5-metode-irigasi-modern-yang-efektif.html' title='5 Metode Irigasi Modern yang Efektif untuk Pertanian Masa Kini'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgO5g-yWkH2kkACeOHxgxcr2Ql1QWGM48tgseY4SS5E5JktPezeHFpkNL26HvedbMDAHloSEWiwx8YSiygWwgeOPJukmplHzAe6k342w0XxUaxzKbieOVqFf9QSWB3__x628-lTeIxRphaHWLsMVi1TAwsnHOw86Yl7rgY_wQUbSXbwPoQI32xyFaREg9sv=s72-w320-h199-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-3222070717071226792</id><published>2026-01-23T13:32:00.001+07:00</published><updated>2026-01-23T13:32:15.365+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel pertanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sistem pertanaman"/><title type='text'>Vertical Farming: Teknologi Pertanian Modern yang Menjawab Tantangan Masa Depan</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgAnp7gAHrCPuXkfwYDNrVwuQxzl_reYePcZiCBCR7uoCQjqVwF03MQfUOYort59P9XS3EhylqR_6u_OK_MX7oLJldomoeCQWNJs8sPzWedrAHKXPB83JKei8vmilUZo3GIuwe8zRTQKE3RX-1Y-YlgFnnaobf9Vq02ncETZjj8bokbcCJ-DArgDDUmHgkv&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;vertical farming&quot; data-original-height=&quot;394&quot; data-original-width=&quot;700&quot; height=&quot;180&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgAnp7gAHrCPuXkfwYDNrVwuQxzl_reYePcZiCBCR7uoCQjqVwF03MQfUOYort59P9XS3EhylqR_6u_OK_MX7oLJldomoeCQWNJs8sPzWedrAHKXPB83JKei8vmilUZo3GIuwe8zRTQKE3RX-1Y-YlgFnnaobf9Vq02ncETZjj8bokbcCJ-DArgDDUmHgkv=w320-h180&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar di hampir semua sektor, termasuk pertanian. Salah satu inovasi yang semakin mendapat perhatian global adalah vertical farming atau pertanian vertikal. Melalui video “CAN-Agri – Vertical Farming. Amazing Modern Farming Technology”, ditampilkan bagaimana teknologi ini diterapkan secara nyata sebagai solusi atas keterbatasan lahan, perubahan iklim, dan kebutuhan pangan yang terus meningkat.&lt;/p&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.anakagronomy.com/2013/01/gardening-vegetables-by-verticulture.html&quot;&gt;Vertical farming&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; bukan sekadar tren, melainkan sebuah pendekatan baru dalam sistem produksi pangan yang mengandalkan efisiensi ruang, kontrol lingkungan, dan teknologi otomatisasi.&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Memahami Konsep Vertical Farming&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Vertical farming adalah metode budidaya tanaman dengan susunan bertingkat ke atas di dalam bangunan tertutup. Berbeda dengan pertanian konvensional yang sangat bergantung pada kondisi alam, sistem ini memungkinkan proses tanam berlangsung secara terkendali dan konsisten sepanjang tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tanaman tidak ditanam di tanah, melainkan menggunakan sistem hidroponik atau aeroponik, di mana nutrisi diberikan langsung ke akar tanaman dalam takaran yang presisi. Lingkungan tumbuh—mulai dari cahaya, suhu, kelembapan, hingga sirkulasi udara—diatur menggunakan teknologi digital.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pendekatan ini membuat vertical farming sangat cocok diterapkan di wilayah perkotaan, kawasan industri, maupun daerah dengan keterbatasan lahan produktif.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Teknologi yang Digunakan dalam Vertical Farming&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam video CAN-Agri, terlihat bahwa vertical farming bukan sistem sederhana. Beberapa teknologi utama yang menjadi tulang punggungnya antara lain:&lt;/div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Lampu LED Spektrum Khusus&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0px 0px 0px 40px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;Digunakan untuk menggantikan sinar matahari dan disesuaikan dengan kebutuhan fotosintesis tanaman.&lt;/blockquote&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Sistem Irigasi Presisi&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0px 0px 0px 40px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;Air dan nutrisi disalurkan secara tertutup, mengurangi pemborosan dan meningkatkan efisiensi penggunaan air.&lt;/blockquote&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kontrol Lingkungan Otomatis&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0px 0px 0px 40px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;Sensor dan sistem digital memantau kondisi mikroklimat agar tanaman tumbuh optimal.&lt;/blockquote&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Rak Tanam Modular Bertingkat&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0px 0px 0px 40px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;Memaksimalkan kapasitas produksi per meter persegi.&lt;/blockquote&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan integrasi teknologi tersebut, proses budidaya menjadi lebih terukur, stabil, dan minim risiko gagal panen.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Keunggulan Vertical Farming Dibanding Pertanian Konvensional&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Teknologi vertical farming menawarkan sejumlah keunggulan nyata yang menjadikannya relevan untuk masa depan pertanian:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;border: none; margin: 0px 0px 0px 40px; padding: 0px; text-align: left;&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;1. Efisiensi Lahan yang Tinggi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Produksi tanaman dapat meningkat berkali-kali lipat dibanding pertanian terbuka karena pemanfaatan ruang secara vertikal.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;border: none; margin: 0px 0px 0px 40px; padding: 0px; text-align: left;&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;2. Hemat Air dan Ramah Lingkungan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0 0 0 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sistem tertutup mampu menghemat penggunaan air hingga lebih dari 70% dibanding metode tradisional.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0 0 0 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0 0 0 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;3. Produksi Sepanjang Tahun&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0 0 0 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tanaman tidak terpengaruh musim, cuaca ekstrem, atau perubahan iklim.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0 0 0 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0 0 0 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;4. Kualitas dan Keamanan Pangan &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0 0 0 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lingkungan steril mengurangi risiko hama dan penyakit, sehingga penggunaan pestisida dapat diminimalkan bahkan ditiadakan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0 0 0 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0 0 0 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;5. Konsistensi Hasil Panen &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0 0 0 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ukuran, warna, dan kualitas produk lebih seragam, sangat menguntungkan untuk pasar modern dan industri pangan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0 0 0 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Peran Vertical Farming dalam Ketahanan Pangan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seiring pertumbuhan penduduk dunia dan urbanisasi yang semakin cepat, tekanan terhadap sistem pangan global terus meningkat. Vertical farming hadir sebagai alternatif strategis untuk mendekatkan produksi pangan ke konsumen.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan membangun fasilitas pertanian di dekat pusat kota, waktu distribusi menjadi lebih singkat, biaya logistik menurun, dan kesegaran produk lebih terjaga. Hal ini juga membuka peluang bagi rantai pasok pangan yang lebih pendek dan berkelanjutan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam konteks negara berkembang, teknologi ini berpotensi menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari daerah jauh serta menekan fluktuasi harga akibat gangguan produksi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tantangan dalam Penerapan Vertical Farming&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Meski menjanjikan, vertical farming bukan tanpa tantangan. Beberapa hal yang masih menjadi perhatian antara lain:&lt;/div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Investasi awal yang relatif tinggi, terutama untuk infrastruktur dan teknologi.&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketergantungan pada energi listrik, meskipun dapat dikombinasikan dengan energi terbarukan.&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kebutuhan SDM terampil untuk mengoperasikan dan memelihara sistem.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Namun, dengan skala yang tepat dan efisiensi operasional yang baik, tantangan tersebut dapat diimbangi oleh produktivitas dan nilai tambah yang dihasilkan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Vertical Farming sebagai Model Bisnis Pertanian Modern&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Video CAN-Agri memperlihatkan bahwa vertical farming tidak hanya cocok untuk penelitian atau proyek eksperimental, tetapi juga layak secara komersial. Model ini sangat potensial untuk:&lt;/div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Produksi sayuran daun premium&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pasokan bahan baku restoran dan hotel&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pertanian urban berbasis komunitas&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bisnis agrikultur berbasis teknologi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kualitas dan keamanan pangan, produk dari vertical farming memiliki nilai jual yang kompetitif.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kesimpulan&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Vertical farming merupakan representasi nyata dari transformasi pertanian menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. Melalui pemanfaatan teknologi seperti yang ditampilkan dalam video CAN-Agri, pertanian tidak lagi bergantung sepenuhnya pada lahan luas dan kondisi alam.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ke depan, vertical farming berpotensi menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga ketahanan pangan, terutama di wilayah perkotaan dan daerah dengan keterbatasan sumber daya. Inovasi ini menunjukkan bahwa masa depan pertanian bukan hanya soal menanam, tetapi juga tentang mengelola teknologi, efisiensi, dan keberlanjutan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sumber vidio:&amp;nbsp;https://youtu.be/DrK9bm4jujs?si=qyMhuvr2CBSDQ5jc&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/3222070717071226792/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/01/vertical-farming-teknologi-pertanian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/3222070717071226792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/3222070717071226792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2026/01/vertical-farming-teknologi-pertanian.html' title='Vertical Farming: Teknologi Pertanian Modern yang Menjawab Tantangan Masa Depan'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgAnp7gAHrCPuXkfwYDNrVwuQxzl_reYePcZiCBCR7uoCQjqVwF03MQfUOYort59P9XS3EhylqR_6u_OK_MX7oLJldomoeCQWNJs8sPzWedrAHKXPB83JKei8vmilUZo3GIuwe8zRTQKE3RX-1Y-YlgFnnaobf9Vq02ncETZjj8bokbcCJ-DArgDDUmHgkv=s72-w320-h180-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-8142474042853228953</id><published>2025-09-09T22:26:00.003+07:00</published><updated>2025-09-09T22:29:00.328+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="budidaya tanaman"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="perlindungan tanaman"/><title type='text'>Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada Tanaman Kubis</title><content type='html'>&lt;div&gt;Tanaman kubis (&lt;i&gt;Brassica oleracea var. Capitata L&lt;/i&gt;.) merupakan tanaman yang berasal dari daerah sub tropis dan kini mulai banyak dibudidayakan dan dikembangkan di daerah tropis termasuk Indonesia. Di Indonesia, pada awalnya tanaman kubis hanya dibudidayakan di dataran tinggi yang memiliki iklim mendekati daerah asalnya di wilayah sub tropis. Seiring perkembangan teknologi dan pengembangan varietas, kubis mulai banyak dibudidayakan di dataran rendah.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjnw0DK0ED5fjUjlE3HeFlNksH_QUKdOTEw9JV0rILRPNDGRvXu5v3jFP5iQTndsWn_S_V6KQCD8Ya8SpLXcprygg24JAUxaXU7cwkBP6ah5yBqGoQVpoNf0BysAx1WbD3NmaHIeyXbV7cGvNdhC21mgq9K3Ff-ppzU8rmcppbW5V9KYCl1xh3qtdyD_xqT&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;organisme pengganggu tanaman kubis&quot; data-original-height=&quot;800&quot; data-original-width=&quot;1200&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjnw0DK0ED5fjUjlE3HeFlNksH_QUKdOTEw9JV0rILRPNDGRvXu5v3jFP5iQTndsWn_S_V6KQCD8Ya8SpLXcprygg24JAUxaXU7cwkBP6ah5yBqGoQVpoNf0BysAx1WbD3NmaHIeyXbV7cGvNdhC21mgq9K3Ff-ppzU8rmcppbW5V9KYCl1xh3qtdyD_xqT=w320-h213&quot; title=&quot;kubis&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: xx-small;&quot;&gt;sumber gambar:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: xx-small;&quot;&gt;https://asset.kompas.com/crops/UzeRQrH6pn9sB8uEfXlDPn0gyEo=/0x107:1280x960/1200x800/data/photo/2021/09/27/615150cfa4bd3.jpg&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: xx-small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dengan kandungan utama vitamin A dan C serta karakteristik yang cocok sebagai bahan pangan, kubis menjadi salah satu komoditas sayuran penting yang memberikan nilai ekonomi bagi petani. Manfaat ekonomi merupakan salah satu alasan kubis di Indonesia tetap dibudidayakan walaupun produktivitasnya masih lebih rendah dibandingkan di negara-negara sub tropis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah salah satu kendala yang harus dihadapi dalam praktik budidaya dan pengembangan komoditas kubis. Pemusnahan organisme pengganggu tanaman (OPT) dengan hanya menggunaka bahan kimia adalah pradigma lama yang sudah semestinya ditinggalkan karena berdampak buruk pada ekosistem. Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah pradigma baru yang harus dipraktikkan guna optimasi hasil tanpa merusak lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Pengenalan organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah hal mutlak pertama yang harus diketahui dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman. Dalam pengenalan organisme pengganggu tanaman, didapatkan informasi tentang karakteristik OPT sehingga penanganan akan tepat sasaran tanpa menimbulkan dampak kerusakan lingkungan yang berarti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut merupakan organisme pengganggu tanaman yang penting pada praktik budidaya tanaman kubis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1.      Gulma&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, gulma yang sering tumbuh dan berkembang di area pertanaman kubis adalah gulma dari golongan tekian dan gulma berdaun lebar. Beberapa gulma dari golongan daun lebar diantaranya adalah babadotan, jukut saminggu, dan jukut haseum. Beberapa gulma dari golongan tekian adalah rumput teki, babawangan, dan jukut jampang. Selain kedua golongan tersebut, terkadang juga terdapat jenis gulma lain seperti rumput dompet gembala dan rumput selada pahit berbulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2.      Hama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hama utama pada budidaya tanaman kubis adalah ulat tanah, ulat daun kubis, dan ulat krop kubis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3.      Penyakit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penyakit utama tanaman kubis adalah penyakit tepung berbulu, penyakit akar pekuk (akar gada), dan busuk basah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain hama dan penyakit utama, terdapat pula hama dan penyakit kedua. Yang termasuk ke dalam golongan hama dan penyakit kedua diantaranya adalah ulat krop bergaris dan busuk hitam.&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/8142474042853228953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2025/09/organisme-pengganggu-tanaman-opt-pada.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/8142474042853228953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/8142474042853228953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2025/09/organisme-pengganggu-tanaman-opt-pada.html' title='Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada Tanaman Kubis'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjnw0DK0ED5fjUjlE3HeFlNksH_QUKdOTEw9JV0rILRPNDGRvXu5v3jFP5iQTndsWn_S_V6KQCD8Ya8SpLXcprygg24JAUxaXU7cwkBP6ah5yBqGoQVpoNf0BysAx1WbD3NmaHIeyXbV7cGvNdhC21mgq9K3Ff-ppzU8rmcppbW5V9KYCl1xh3qtdyD_xqT=s72-w320-h213-c" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-470577675388046388</id><published>2023-01-20T13:57:00.003+07:00</published><updated>2023-01-20T13:57:55.940+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanaman pangan"/><title type='text'>Jenis Umbi-Umbian: Ubi Jalar (Ipomoea batatas L)</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwlqzjBb_Y1fxJEKrEss2-l1qCUwPyCQgiW2zoUlhvPzlrmPaCyl-oWg18OHjeAXuoJsAFAe9oaexN5oWl6kWauWUn47fZhYVGGwjkyC6_wxIdeYHugyrUdvaNCo78IE4SBA3KgoBlcTJ-ivhYpS4n2JV5U0Zk5Z3BU_zLugJ7f_53tjO0d-BMh-WJHw/s1300/sweet-potato-ipomoea-batatas-batat-sweet-potato-ipomoea-batatas-batat-isolated-white-background-118210194%20(1).jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;ubi jalar merupakan salah satu umbi-umbian penting&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1015&quot; data-original-width=&quot;1300&quot; height=&quot;156&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwlqzjBb_Y1fxJEKrEss2-l1qCUwPyCQgiW2zoUlhvPzlrmPaCyl-oWg18OHjeAXuoJsAFAe9oaexN5oWl6kWauWUn47fZhYVGGwjkyC6_wxIdeYHugyrUdvaNCo78IE4SBA3KgoBlcTJ-ivhYpS4n2JV5U0Zk5Z3BU_zLugJ7f_53tjO0d-BMh-WJHw/w200-h156/sweet-potato-ipomoea-batatas-batat-sweet-potato-ipomoea-batatas-batat-isolated-white-background-118210194%20(1).jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ubi jalar merupakan umbi-umbian penting di Indonesia dan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai agrobisnis dan agorindustri. Produktivitas ubi jalar varietas unggul cukup tinggi yaitu berkisar 24 sampai dengan 33 ton per hektar. Ubi jalar merupakan tanaman semusim dan merupakan sumber utama karbohidrat setelah padi, jagung, dan ubi kayu (singkong).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat berbagai macam dan jenis ubi jalar. Macam tersebut dibedakan berdasarkan bentuk umbi, warna kullit umbi, daging umbi, dan sifat morfologi yang lain. Beberapa warna untuk kulit dan daging ubi jalar yang paling umum dijumpai adalah ungu, orange, kuning, putih, dan campuran ungu-putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai varietas ubi jalar lokal dan unggul sudah dikembangkan dan dibudidayakan di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah daya, mendut, prambanan, Borobudur, muara takus, sewu, kalasan, dan cengkuang. Varietas lain yang telah dilepas antara lain cilembu dan sari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubi jalar memiliki rasa yang agak manis sampai dengan manis. Berbeda dengan ubi kayu yang memiliki rasa agak manis sampai pahit walaupun kebanyakan memiliki rasa yang tawar. Perbedaan rasa juga menjadi salah satu penyebab perbedaan dalam penggunaan keduanya sebagai bahan untuk industry pangan atau pangan secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber: Estitatih T., W D R Putri, dan E. Waziiroh. 2017. Umbi-Umbian dan Pengolahannya. UB Press, Malang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber gambar:&amp;nbsp;https://thumbs.dreamstime.com/z/sweet-potato-ipomoea-batatas-batat-sweet-potato-ipomoea-batatas-batat-isolated-white-background-118210194.jpg&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/470577675388046388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2023/01/jenis-umbi-umbian-ubi-jalar-ipomoea.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/470577675388046388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/470577675388046388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2023/01/jenis-umbi-umbian-ubi-jalar-ipomoea.html' title='Jenis Umbi-Umbian: Ubi Jalar (Ipomoea batatas L)'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwlqzjBb_Y1fxJEKrEss2-l1qCUwPyCQgiW2zoUlhvPzlrmPaCyl-oWg18OHjeAXuoJsAFAe9oaexN5oWl6kWauWUn47fZhYVGGwjkyC6_wxIdeYHugyrUdvaNCo78IE4SBA3KgoBlcTJ-ivhYpS4n2JV5U0Zk5Z3BU_zLugJ7f_53tjO0d-BMh-WJHw/s72-w200-h156-c/sweet-potato-ipomoea-batatas-batat-sweet-potato-ipomoea-batatas-batat-isolated-white-background-118210194%20(1).jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-7536579546535395519</id><published>2023-01-17T14:23:00.000+07:00</published><updated>2023-01-17T14:23:02.505+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanaman pangan"/><title type='text'>Ubi Kayu (Manihot esculenta) sebagai Salah Satu Jenis Umbian</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdPiNuMYWaJJXsiaUOi6IwXJLPTQTLLU4FpfTijqjJM0EI7lElrQYOdjqnscSsM_1jeMfKcnZN4Ev4MtnN0jBP8S2dmWWHrr6BZyWlSYGhsXQiuB_YbDmPBmQklCb7WJPpIulu1VKsVP3wWK_kE_4oz_gVkMkaee4w08XmIvsSzeLYx2dQwctfd-x6Sw/s450/manihot.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;ubi kayu sebagai salah satu umbi-umbian penting&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;450&quot; data-original-width=&quot;441&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdPiNuMYWaJJXsiaUOi6IwXJLPTQTLLU4FpfTijqjJM0EI7lElrQYOdjqnscSsM_1jeMfKcnZN4Ev4MtnN0jBP8S2dmWWHrr6BZyWlSYGhsXQiuB_YbDmPBmQklCb7WJPpIulu1VKsVP3wWK_kE_4oz_gVkMkaee4w08XmIvsSzeLYx2dQwctfd-x6Sw/w196-h200/manihot.jpg&quot; width=&quot;196&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ubi kayu atau dalam bahasa latin disebut&amp;nbsp;&lt;i&gt;Manihot esculenta&lt;/i&gt;&amp;nbsp;merupakan salah satu tanaman pangan sumber karbohidrat yang penting untuk berbagai negara. Ubi kayu adalah tanaman tropis yang mudah dibudidayakan bahkan di lahan marginal. Ubi kayu cukup tahan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman serta memiliki tingkat prouduktivitas yang tinggi. Selain itu, ubi kayu juga memiliki tingkat perawatan tanaman yang cukup mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, ubi kayu adalah salah satu makanan pokok yang telah lama dikonsumsi. Hampir setiap tempat di Indonesia memiliki makanan khas berbahan dasar ubi kayu. Beberapa diantaranya adalah keripik balado sanjay dari Sumatera Barat, sungko dari Madura, kasbi dari Maluku, dan lain sebagainya. Namun demikian, terdapat beberapa kelemahan ubi kayu dibandingkan dengan tanaman sumber karbohidrat yang lain. Beberapa kelemahan ubi kayu diantaranya adalah umur simpan yang relatif pendek, beberapa varietas yang mengandung racun sianida, dan rendah protein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Indonesia telah berupaya mengembangkan berbagai varietas ubi kayu dengan berbagai keunggulannya. Beberapa varietas yang telah dikembangkan antara lain adalah Adira-4, MLG-4, MLG-6, UJ-3, UJ-5, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Varietas tersebut memiliki kelebihannya masing-masing. Misalnya kadar pati terbanyak adalah varietas Adira 1 dengan kadar pati 45% dari bobot basah. Malang-4 memiliki keunggulan dari sisi potensi hasil yang dapat mencapai 39,7 ton per hektar, serta beberapa varietas yang memiliki rasa yang manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kandungan sianida, ubi kayu dibagi menjadi dua yaitu ubi kayu manis dengan sianida rendah dan ubi kayu pahit yang memiliki kandungan sianida tinggi. Varietas manis biasa dikonsumsi secara langsung sedangkan varietas pahit dengan kandungan sianida yang tinggi umumnya diolah menjadi tapioka. Pengolahan tapioka cukup aman dilakkukan karena selama proses sianida larut dalam air sehingga hanya sedikit residu sianida yang masih terbawa saat sudah dalam bentuk tapioka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber: Sumber: Estitatih T., W D R Putri, dan E. Waziiroh. 2017. Umbi-Umbian dan Pengolahannya. UB Press, Malang.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber gambar:&amp;nbsp;https://www.cabidigitallibrary.org/cms/10.1079/cabicompendium.32401/asset/a0677bf1-4475-4c6d-bad4-76888cff67d5/assets/graphic/manihot.jpg&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/7536579546535395519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2023/01/ubi-kayu-manihot-esculenta-sebagai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/7536579546535395519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/7536579546535395519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2023/01/ubi-kayu-manihot-esculenta-sebagai.html' title='Ubi Kayu (Manihot esculenta) sebagai Salah Satu Jenis Umbian'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdPiNuMYWaJJXsiaUOi6IwXJLPTQTLLU4FpfTijqjJM0EI7lElrQYOdjqnscSsM_1jeMfKcnZN4Ev4MtnN0jBP8S2dmWWHrr6BZyWlSYGhsXQiuB_YbDmPBmQklCb7WJPpIulu1VKsVP3wWK_kE_4oz_gVkMkaee4w08XmIvsSzeLYx2dQwctfd-x6Sw/s72-w196-h200-c/manihot.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-7939284012987685172</id><published>2022-12-27T20:32:00.001+07:00</published><updated>2022-12-27T20:32:27.392+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanaman pangan"/><title type='text'>Jenis Umbi-Umbian</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxUxEYdXqIjjPEHIc-XMp9xIx8JkbnL2LRtCQfF9a7w1HyKqUXWhG4E3HupTq2bevYTkJoRClPxCuUh8JvJI6g3UtMMCkeqt9H0U972_Ook_qNmLXCk9A7U05d_hAFGn160vf0Dl0ZyzIYzDRPOPHZDq9YpiVpazP4pRa0lg0ysYUe25jgdfReOSrA6w/s554/Yam-Blog-Image.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;yam merupakan salah satu jenis umbian&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;389&quot; data-original-width=&quot;554&quot; height=&quot;225&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxUxEYdXqIjjPEHIc-XMp9xIx8JkbnL2LRtCQfF9a7w1HyKqUXWhG4E3HupTq2bevYTkJoRClPxCuUh8JvJI6g3UtMMCkeqt9H0U972_Ook_qNmLXCk9A7U05d_hAFGn160vf0Dl0ZyzIYzDRPOPHZDq9YpiVpazP4pRa0lg0ysYUe25jgdfReOSrA6w/w320-h225/Yam-Blog-Image.jpeg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Umbi-umbian atau umbian merupakan salah satu kelompok tanaman penghasil karbohidrat yang penting terutama pati. Umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat merupakan makanan pokok di beberapa negara khususnya Afrika dan Asia. Disebut sebagai makanan pokok utama karena menyumbangkan kalori terbesar dalam sekali konsumsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, umbi-umbian memiliki peran yang lebih penting karena selain digunakan sebagai sumber karbohidrat juga merupakan bahan baku untuk berbagai industry seperti tapioka, pati termodifikasi, gula cair, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umbi-umbian yang banyak tumbuh di Indonesia adalah singkong, ubi jalar, dan kentang. Beberapa umbian yang mulai jarang diantaranya adalah keluarga talas talasan, gadung-gadungan, garut, kimpul, kentang hitam, suweg, porang, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kendala keterbatasan penggunaan umbi-umbian adalah produktivitas yang rendah, nilai tambah terbatas, akses pasar yang kurang, serta memiliki sifat yang mudah rusak. Berbading terbalik dengan kendalanya, peluang pengembangan umbi-umbian tergolong sangat luas karena umbi umbian memiliki beberapa sifat unggul seperti mudah dibudidayakan, biaya produksi rendah, dan relatif lebih mudah dibandingkan sumber pangan yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Beberapa yang tergolong umbi-umbian diantaranya adalah ubi kayu, kentang, ubi jalar, yam, aroids, garut, kimpul, talas, ganyong, porang, dan masih banyak lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara berkembang, umbi-umbian memiliki posisi yang penting untuk ketahanan pangan karena memiliki kalori tinggi, mudah dibudidayakan, dan tergolong murah. Beberapa umbi-umbian telah umum dibudidayakan sementara yang lain masih diabaikan sehingga masih berada di posisi yang inferior. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umbi-umbian, selain memegang peran penting untuk ketahanaan pangan, juga merupakan sumber pendapatan penting karena merupakan bahan baku aneka industry seperti obat dan manufaktur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber: Estitatih T., W D R Putri, dan E. Waziiroh. 2017. Umbi-Umbian dan Pengolahannya. UB Press, Malang.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber gambar:&amp;nbsp;https://www.narayanahealth.org/blog/wp-content/uploads/2022/05/Yam-Blog-Image.jpeg&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/7939284012987685172/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2022/12/jenis-umbi-umbian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/7939284012987685172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/7939284012987685172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2022/12/jenis-umbi-umbian.html' title='Jenis Umbi-Umbian'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxUxEYdXqIjjPEHIc-XMp9xIx8JkbnL2LRtCQfF9a7w1HyKqUXWhG4E3HupTq2bevYTkJoRClPxCuUh8JvJI6g3UtMMCkeqt9H0U972_Ook_qNmLXCk9A7U05d_hAFGn160vf0Dl0ZyzIYzDRPOPHZDq9YpiVpazP4pRa0lg0ysYUe25jgdfReOSrA6w/s72-w320-h225-c/Yam-Blog-Image.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-1204103298062575409</id><published>2022-11-17T11:17:00.003+07:00</published><updated>2022-11-17T11:17:23.796+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanaman hias"/><title type='text'>Tapak Dara, Tanaman Hias yang Berkhasiat Obat</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJPeceSthJND4WiIARhQ0Yg3aQ5UB4_u0k0gVDC6mGHEIJXvZIUjC4KgfUNSWZyUtqoB7J65-9_69E5RDtkWlKr2G3UsJdpTN2hCLVKRgZ9b18Su0ckN4MoAs-fqrfKn6QuT2ETEihNL-ee8Vf5HE4NLGT_4Dlh9DNyZRhsCy3oct53sBHS27HokgA_A/s630/R%20(4).jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;tapak dara untuk pengobatan&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;515&quot; data-original-width=&quot;630&quot; height=&quot;164&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJPeceSthJND4WiIARhQ0Yg3aQ5UB4_u0k0gVDC6mGHEIJXvZIUjC4KgfUNSWZyUtqoB7J65-9_69E5RDtkWlKr2G3UsJdpTN2hCLVKRgZ9b18Su0ckN4MoAs-fqrfKn6QuT2ETEihNL-ee8Vf5HE4NLGT_4Dlh9DNyZRhsCy3oct53sBHS27HokgA_A/w200-h164/R%20(4).jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tapak dara berasal dari Amerika Tengah. Selain sebagai tanaman hias, tapak dara dapat dimanfaatkan sebagai bahan ramuan obat tradisional. Tumbuhan ini termasuk tumbuhan semak. Batangnya berbulu bulat, beruas, bercabang, serta berambut. Daunnya tunggal, tebal, berbentuk bulat telur dan berwarna hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga memiliki bentuk yang menyerupai terompet dengan permukaannya yang berbulu halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khasiat tanaman ini antara lain adalah menyembuhkan malaria, kencing manis, asma, bronchitis, demam, dan luka bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Atmodisastro, Suroto. 2020. Tanaman Hias Berkhasiat. Nuansa Cendikia, Bogor.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber gambar:&amp;nbsp;https://th.bing.com/th/id/R.36685d93ef6f91f80f2cc615243f617a?rik=KQxF3E6Hqb8NXg&amp;amp;riu=http%3a%2f%2fcdn.jitunews.com%2fdynamic%2farticle%2f2015%2f12%2f31%2f28031%2fnytL5ziln0.JPG%3fw%3d630&amp;amp;ehk=iHRPqL73AVyh%2b7APAUsPQIK7mqleKtzqPD6CNgCrty8%3d&amp;amp;risl=&amp;amp;pid=ImgRaw&amp;amp;r=0&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/1204103298062575409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2022/11/tapak-dara-tanaman-hias-yang-berkhasiat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/1204103298062575409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/1204103298062575409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2022/11/tapak-dara-tanaman-hias-yang-berkhasiat.html' title='Tapak Dara, Tanaman Hias yang Berkhasiat Obat'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJPeceSthJND4WiIARhQ0Yg3aQ5UB4_u0k0gVDC6mGHEIJXvZIUjC4KgfUNSWZyUtqoB7J65-9_69E5RDtkWlKr2G3UsJdpTN2hCLVKRgZ9b18Su0ckN4MoAs-fqrfKn6QuT2ETEihNL-ee8Vf5HE4NLGT_4Dlh9DNyZRhsCy3oct53sBHS27HokgA_A/s72-w200-h164-c/R%20(4).jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-1513108451504730925</id><published>2022-11-17T11:14:00.005+07:00</published><updated>2022-11-17T11:14:49.027+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanaman hias"/><title type='text'>Mengenal Senggani (Melastoma candidum), Tanaman Hias yang Berkhasiat Obat</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoz7BzujWeUf71Ry70a_PRfcSBBlVSJXAMNdsCyt1halW_XyIohEpuzTKnCU3o2TvvTEZ7WapnCeA57ZbaS-4usP7j13IcXWfAsCYsyPPkcq3TMBZXZQTeLnQqtB1rOoELid0lSeljTBAa3U8QC5PsU5XBXN7dSa2Im5vNORjDzLHyyYr1uAAydPZyXg/s800/OIP%20(6).jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;tanaman senggani untuk pengobatan&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;800&quot; data-original-width=&quot;800&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoz7BzujWeUf71Ry70a_PRfcSBBlVSJXAMNdsCyt1halW_XyIohEpuzTKnCU3o2TvvTEZ7WapnCeA57ZbaS-4usP7j13IcXWfAsCYsyPPkcq3TMBZXZQTeLnQqtB1rOoELid0lSeljTBAa3U8QC5PsU5XBXN7dSa2Im5vNORjDzLHyyYr1uAAydPZyXg/w200-h200/OIP%20(6).jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Senggani tumbuh liar sebagai semak belukar di lereng gunung, kebun tidak terurus, atau pinggir sungai. Senggani memiliki bunga yang indah, berwarna pink, dan ungu dengan benang sari kuning bercampur putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang senggani lumayan keras, berwarna kuning saat sudah layu dan merah saat masih muda. Kulit luar sedikit bersisik dan berambut. Bentuk daun bulat telur memanjang. Daun tunggal, letak berhadapan dan berwarna hijau. Pangkal daun membulat, tepinya rata, permukaannya berambut pendek dan kaku. Permukaan daun kasar. Bunga muncul dari ujung cabang dan bentuknya berupa malai. Buah masak berwarna ungu tua kemerahan. Senggani dapat diperanyak secara generative menggunakan bijinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian tanaman yang berkhasiat untuk pengobatan adalah daun, bunga, biji, dan buah. Penyakit yang dapat diobati antara lain luka, Pereda demam, penghilang nyeri, melancarkan kencing, melancarkan aliran darah, mengobati bengkak, gangguan pencernaan, hepatitis, sariawan, menghentikan keputihan, darah haid berlebih, dan pendarahan Rahim di luar waktu haid, wasir berdarah, dan radang dinding pembuluh darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Atmodisastro, Suroto. 2020. Tanaman Hias Berkhasiat. Nuansa Cendikia, Bogor.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber gambar:&amp;nbsp;https://www.gardentags.com/plant-encyclopedia/images/2898/melastoma-candidum-syn-melastoma-septemnervium.jpeg&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/1513108451504730925/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2022/11/mengenal-senggani-melastoma-candidum.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/1513108451504730925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/1513108451504730925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2022/11/mengenal-senggani-melastoma-candidum.html' title='Mengenal Senggani (Melastoma candidum), Tanaman Hias yang Berkhasiat Obat'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoz7BzujWeUf71Ry70a_PRfcSBBlVSJXAMNdsCyt1halW_XyIohEpuzTKnCU3o2TvvTEZ7WapnCeA57ZbaS-4usP7j13IcXWfAsCYsyPPkcq3TMBZXZQTeLnQqtB1rOoELid0lSeljTBAa3U8QC5PsU5XBXN7dSa2Im5vNORjDzLHyyYr1uAAydPZyXg/s72-w200-h200-c/OIP%20(6).jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6851932227579654416.post-5124765331442378527</id><published>2022-11-17T11:12:00.001+07:00</published><updated>2022-11-17T11:12:13.213+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanaman hias"/><title type='text'>Menganal Rosela (Hisbicus sabdariffa), Tanaman Hias Berkhasat Obat</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvqB5frIsdsgglv3F0j9A0ha65XpFtLvmbvLWWIYpSvOMQIdJXOMGmiMeefe9cfFxS2E2TZlbCgHIlv9nfezkoM0TTu0ZGqng_791cF1yG3usIEsOZQj8g112MTsAO9adv-bq3dFY8jivci1159q4fZHdaVtqz9nrWTB1hCyad_IVSMNfP8UAOT7EZQg/s474/OIP%20(5).jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;tanaman rosela untuk pengobatan&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;474&quot; data-original-width=&quot;474&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvqB5frIsdsgglv3F0j9A0ha65XpFtLvmbvLWWIYpSvOMQIdJXOMGmiMeefe9cfFxS2E2TZlbCgHIlv9nfezkoM0TTu0ZGqng_791cF1yG3usIEsOZQj8g112MTsAO9adv-bq3dFY8jivci1159q4fZHdaVtqz9nrWTB1hCyad_IVSMNfP8UAOT7EZQg/w200-h200/OIP%20(5).jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bunga rosela memilki bentuk yang indah. Berawrna cerah dan menyegarkan pemandangan. Pohon rosela sejenis perdu yang mudah ditanam dan mengeluarkan bunga hampir sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosela dapat tumbuh di hampir semua jenis tanah. Namun paling cocok untuk pertumbuhan dan perkemmbangan tanaman rosela adalah tanah yang subur dan gembur serta terkena sinar matahari secara langsung. Rosela merupakan tanaman yang tidak boleh terkena genangan air terlalu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian tanaman rosela yang dapat digunakan untuk pengobatan adalah bunga, daun, dan bijinya. Penyakit yang dapat diobati adalah tekanan darah tinggi, batu ginjal, batuk, lemah syahwat, lesu, demam, penyakit kulit, gigitan serangga, luka, serta penyakit kekurangan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Atmodisastro, Suroto. 2020. Tanaman Hias Berkhasiat. Nuansa Cendikia, Bogor.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Sumber gambar: https://strictlymedicinalseeds.com/wp-content/uploads/2016/11/Hibiscus_sabdariffa_flowering_500.jpg&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.anakagronomy.com/feeds/5124765331442378527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2022/11/menganal-rosela-hisbicus-sabdariffa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/5124765331442378527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6851932227579654416/posts/default/5124765331442378527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.anakagronomy.com/2022/11/menganal-rosela-hisbicus-sabdariffa.html' title='Menganal Rosela (Hisbicus sabdariffa), Tanaman Hias Berkhasat Obat'/><author><name>arif meftah hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02200967098980772130</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvqB5frIsdsgglv3F0j9A0ha65XpFtLvmbvLWWIYpSvOMQIdJXOMGmiMeefe9cfFxS2E2TZlbCgHIlv9nfezkoM0TTu0ZGqng_791cF1yG3usIEsOZQj8g112MTsAO9adv-bq3dFY8jivci1159q4fZHdaVtqz9nrWTB1hCyad_IVSMNfP8UAOT7EZQg/s72-w200-h200-c/OIP%20(5).jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>