<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AnakFK.com</title>
	<atom:link href="http://www.anakfk.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.anakfk.com</link>
	<description>Blog Mahasiswa Kedokteran Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 May 2013 01:03:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Film Pendek &#8220;Cerita Akhir Koas UNS Surakarta&#8221;</title>
		<link>http://www.anakfk.com/film-pendek-cerita-akhir-koas-uns-surakarta/</link>
		<comments>http://www.anakfk.com/film-pendek-cerita-akhir-koas-uns-surakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jan 2013 11:58:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli Wilihandarwo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anakfk.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Nih temen2, nemu film pendek menarik di Youtube. Ceritanya tentang kehidupan koas. Pas banget, dan bisa menggambarkan apa yang terjadi. Lucu, kreatif. Dibuat oleh rekan2 koas UNS Surakarta.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Nih temen2, nemu film pendek menarik di Youtube. Ceritanya tentang kehidupan koas. Pas banget, dan bisa menggambarkan apa yang terjadi. Lucu, kreatif. Dibuat oleh rekan2 koas UNS Surakarta.</p>
<p><iframe src="http://www.youtube.com/embed/OkQJ64JSb50?rel=0" height="315" width="560" allowfullscreen="" frameborder="0"></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anakfk.com/film-pendek-cerita-akhir-koas-uns-surakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana biar nggak jadi koas &#8220;nyampah&#8221; ?</title>
		<link>http://www.anakfk.com/bagaimana-biar-nggak-jadi-koas-nyampah/</link>
		<comments>http://www.anakfk.com/bagaimana-biar-nggak-jadi-koas-nyampah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jun 2012 09:42:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli Wilihandarwo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Koas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anakfk.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa rekan koas sejawat saya pernah berujar, bahwa di beberapa stase yang &#8220;sepi&#8221; ditunjang juga dengan kedapatan di rumah sakit yang sepi pula, cukup banyak waktu-waktu kosong dan sekedar leha-leha dan nyampah. Status koas nyampah pun tak bisa dilepaskan dari mereka. Kondisi seperti itu memang tidak bisa diubah dikarenakan banyak dari kita yang terjebak pada [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa rekan koas sejawat saya pernah berujar, bahwa di beberapa stase yang &#8220;sepi&#8221; ditunjang juga dengan kedapatan di rumah sakit yang sepi pula, cukup banyak waktu-waktu kosong dan sekedar leha-leha dan nyampah. Status koas nyampah pun tak bisa dilepaskan dari mereka. </p>
<p>Kondisi seperti itu memang tidak bisa diubah dikarenakan banyak dari kita yang terjebak pada keadaan. Namun, akankah keadaan itu yang mengatur kita, ataukah sebaliknya kita yang mengatur keadaan ?</p>
<p>Nah, berikut ini saya bagikan sedikit tips untuk mengatasi agar gelar koas nyampah itu tak melekat pada kita.<br />
<span id="more-144"></span></p>
<h3>Menentukan Target Harian</h3>
<p>Malam sebelum masuk koas, siapkan target untuk keesokan harinya akan ngapain aja. Misalnya terkait skill dan anamnesis ke pasien. Utamakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada praktek. Karena selama lebih kurang 3,5 &#8211; 4 tahun kita sudah belajar teori di kampus, nah saat koas lah saat yang tepat untuk menunjukkan hasil penerjemahan teori kita itu.</p>
<h3>Bawa Buku atau Gadget</h3>
<p>Walaupun sudah di klinik, bukan berarti proses belajar teori otomatis terhenti. Malah sebaliknya harus semakin ditingkatkan. Review lagi catatan-catatan kuliah yang dahulu (wah kalau ini bukan tipe saya, ga hobi mencatat rapi, hehe). Atau biar praktis, bawa aja buku-buku teks yang cukup banyak tersedia versi mini nya dan pas di saku, misalnya Oxford Handbook of Clinical Medicine yang cukup populer itu.</p>
<p>Di zaman modern seperti saat ini pun dengan mudah kita menemukan beragam gadget yang bisa kita masukkan dengan bahan belajar. Entah itu slide presentasi, ebook, audio, hingga video. Ada beragam produk, mulai dari seri iOS dari Apple (iPad, iPhone, dan iPod Touch), ataupun seri Android yang cukup banyak beredar. Intinya memaksimalkan fungsinya untuk menunjang akademik lah.</p>
<h3>Malu Bertanya, Sesat di RS</h3>
<p>Kalau sedang tidak membawa buku atau males ngebawanya, coba deh sering-sering mendekati perawat, residen, ataupun dokter-dokter yang hilir mudik di rumah sakit. Selain ilmu, pengalaman merekalah yang membuat mereka semakin matang. Sering-seringlah bertanya dan diskusi mengenai suatu kasus. Insya Allah akan menjadikan kita semakin kaya akan ilmu ketika suatu saat nanti akan bertemu dengan kasus yang serupa.</p>
<p>Eits, bertanya tak hanya ke orang yang paham ilmu medis seperti yang saya sebutkan di atas tadi loh. Aktifitas bertanya dan diskusi ini bisa juga dilakukan ke pasien dan keluarganya yang sedang menunggu. </p>
<p>Dengan bertanya pada pasien, kita bisa semakin menggali masalah mereka, sekaligus melatih teknik kita berkomunikasi. Apalagi bagi yang terkendala dengan bahasa. Perlu latihan yang sering.</p>
<p>Ok, itu tiga tips singkat dari saya untuk rekan-rekan sejawat agar tak di cap sebagai koas nyampah. Mudah-mudahan membantu. </p>
<p>Mungkin rekan-rekan sejawat sekalian punya pendapat lainnya. Silahkan komentar aja ya di kolom komentar. Makasih udah menyempatkan membaca.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anakfk.com/bagaimana-biar-nggak-jadi-koas-nyampah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wawancara : Diah Nurpratami, S.Ked &#8211; Peserta Program Eramus Mundus di Pavia, Italy</title>
		<link>http://www.anakfk.com/wawancara-diah-nurpratami-s-ked-peserta-program-eramus-mundus-di-pavia-italy/</link>
		<comments>http://www.anakfk.com/wawancara-diah-nurpratami-s-ked-peserta-program-eramus-mundus-di-pavia-italy/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Mar 2012 00:54:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli Wilihandarwo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anakfk.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah hasil wawancara saya dengan seorang kakak kelas yang sekarang sedang menjalani koasnya di Pavia, Italy. Semoga bermanfaat untuk menjadi inspirasi rekan-rekan semua. 1. Pertama, kenalin diri mbak dulu ya. Diah Nurpratami bisa disapa &#8220;Diah&#8221; atau di sini mereka (orang italy) memanggil saya dengan kata ganti orang ketiga yaitu &#8220;Dia&#8221;. Mereka nggak bisa bilang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-112" title="diah" src="http://www.anakfk.com/wp-content/uploads/2012/03/diah.jpg" alt="" width="300" height="400" />Berikut adalah hasil wawancara saya dengan seorang kakak kelas yang sekarang sedang menjalani koasnya di Pavia, Italy. Semoga bermanfaat untuk menjadi inspirasi rekan-rekan semua. <img src='http://www.anakfk.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>1. Pertama, kenalin diri mbak dulu ya.</strong></p>
<p>Diah Nurpratami bisa disapa &#8220;Diah&#8221; atau di sini mereka (orang italy) memanggil saya dengan kata ganti orang ketiga yaitu &#8220;Dia&#8221;. Mereka nggak bisa bilang &#8220;H&#8221; <img src='http://www.anakfk.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya lulusan Pendidikan Dokter UGM angkatan 2007, saat ini berstatus mahasiswa Profesi Pendidikan Dokter FK-UGM sekaligus mahasiswa Facolta di Medicina- Universita degli studi di Pavia,Italy. Tahun 2012 ini saya berumur 22 tahun.</p>
<p><span id="more-110"></span></p>
<p><strong>2. Saat ini sedang ikut program apa ? Kok bisa ikut program ini ? Bagaimana dulu awal mulanya ? Bisa dijelasin secara singkat ?</strong></p>
<p>Program yang sedang saya ikuti di Pavia saat ini bernama MAHEVA (Man Health Environment Biodiversity)- Erasmus Mundus Action 2. Program ini adalah program kerjasama Eramus Mundus dengan beberapa home university di Asia, Indonesia yang mewakili adalah UGM. Awalnya teman saya, Moch. Fadjar Wibowo (MAHEVA student- Universite catholique de Louvain, Belgium) yang kasih saya alamat website MAHEVA (www.maheva.eu). Tanpa pikir panjang segera action karena deadline tinggal 3 minggu lagi. Syarat-syaratnya standar saja yaitu: CV, Motivation letter, Recommendation letter, Academic transcript, dan TOEFL score certificate. Tiga bulan setelahnya pengumuman keluar, sempat kaget karena sejujurnya baru pertama kirim aplikasi luar negeri dan Alhamdulillah diterima.</p>
<p>Pada awalnya sebelum keberangkatan komunikasi dengan pihak di Italy memang cukup sulit karena pada saat itu bulan Agustus, bulannya liburan summer dan untuk orang Italy waktunya pergi berlibur ke pantai. Karena alasan itu, penyusunan study saya di Pavia pun masih serba nggak jelas. Professor saya di Pavia hanya meminta transkrip nilai saya dan mengirimkan daftar course di Facolta Medicina-Pavia. Sampai saya berangkat, saya belum memutuskan untuk pilih course yang mana, kenapa? hampir 90% course sudah saya rampungkan di UGM. Setibanya di Italy saya jumpa Professor dan meminta beliau mencermati baik-baik transkrip saya. Sampai beliau berkata kurnag lebih seperti ini &#8220;avete passare tutto il corso della medicina. cosa si deve fare nel quinto anno?&#8221; artinya &#8220;kamu sudah lulus semua mata kuliah kedokteran, apa yang harus kamu lakukan di tahun ke lima?&#8221;. Dari sana lah saya mulai mengajukan untuk melakukan clinical rotation di Policlinico San Matteo, dan ternyata Professor pun dengan senang mengiyakan &#8220;certo, perche no?&#8221; (of course, why not?)</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-116" title="diah2" src="http://www.anakfk.com/wp-content/uploads/2012/03/diah2.jpg" alt="" width="600" height="300" /></p>
<p><strong>3. Kalau berbicara kesan pertama, saat tiba di tempat koas yang sekarang (pavia, italy), kesan pertama apa yang bisa tergambar ?</strong></p>
<p>Stase pertama yang saya ikuti adalah clinica medica (penyakit dalam). Sangat tidak diduga-duga sambutan yang sangat hangat dari Profesor dan juga tim dokter, siapkan saja senyum lebar-lebar sepanjang hari di depatemen ini.</p>
<p><strong>4. Bagaimana dengan kegiatan koasnya selama disana ? apakah berbeda jauh dengan yang dialami oleh koas-koas di Indonesia?</strong></p>
<p>Di sini sebenarnya nggak ada istilah koas, selama kuliah 6 tahun bisa memilih untuk practice di rumah sakit atau tidak. Bisa dibilang saya susun sendiri aturan main koas saya di sini, saya susun semirip mungkin dengan koas di UGM harapannya agar bisa divalidasi.</p>
<p><strong>5. Bahasa tentu bisa menjadi salah satu faktor penghalang untuk bisa menjalin relasi terapeutik ke pasien, nah bagaimana dengan mbak yang notabene hanya fasih bahasa Inggris dan Indonesia, sedangkan disana,</strong><strong> sebagian besar pasien hanya bisa berbicara bahasa italy ? Bagaimana menjalin komunikasi dengan pasien ?</strong></p>
<p>Untuk beberapa instruksi saat pemeriksaan tentunya saya belajar menggunakan bahasa italy, untungnya saya sempat les bahasa italy selama 2 bulan. Untungnya saya pun masih dibantu oleh student Italy sebagai penerjemah.</p>
<p><strong>6. Masih terkait komunikasi ke pasien yang terkendala bahasa, benarkah bahasa non verbal itu sangat penting ketimbang bahasa verbal ?</strong></p>
<p>Bagi saya justru ketika kedua bahasa ini digunakan oleh pasien bersamaan, lebih mudah bagi saya mencerna apa yang dimaksud pasien. Tentu sudah tau kan kalau orang Italy berbicara tangannya tidak bisa diam alias sangat ekspresif. Mereka sangat menggunakan bahasa non verbal saat berbicara, dan itu sangat membantu memahami apa yang mereka maksud, tapi kemampuan bahasa verbal nya juga nggak bisa kosong blong.</p>
<p><strong>7. Bagaimanakah koas-koas disana belajar dalam kesehariannya ?</strong></p>
<p>Sudah di jelaskan ya kalau di sistem pendidikan kedokteran di italy nggak ada stase koas. Tetapi setudent bisa meminta practice di rumah sakit, biasanya mereka hanya akan datang ke departemen yang mereka sukai atau merkea ingin jadi spesialis apa nantinya. Paginya mereka ke rumah sakit lalau siang nya mereka mulai kuliah atau sbealiknya. Lebih banyak practice dan mengaplikasikan materi di kelas adalah target mereka datang ke rumah sakit. Itulah bedanya dengan student indonesia, pengalaman practice kita jauh lebih banyak.</p>
<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-118" style="margin-right: 6px;" title="diah3" src="http://www.anakfk.com/wp-content/uploads/2012/03/diah3.jpg" alt="" width="300" height="400" />8. Kemampuan utama apakah yang harus di miliki oleh mahasiswa kedokteran di Indonesia agar bisa mengikuti kegiatan-kegiatan seperti yang mbak jalani sekarang ?</strong></p>
<p>Untuk bisa lolos dalam program tentunya persiapkan persyaratan sebaik mungkin dan yang terpenting bisa mengungkapkan hal-hal apa yang ingin kita dapatkan dari program ini dan kemudian bisa menjadi manfaat saat kembali ke Indonesia. Nilai akademik juga bukan jadi halangan yang berarti.</p>
<p><strong>9. Terakhir, pesan-pesan apa yang bisa mbak sampaikan ke mahasiswa kedokteran, koas-koas, ataupun dokter-dokter di Indonesia agar lebih baik lagi, terkait pengalaman yang didapat selama disana.</strong></p>
<p>Pesan ini saya tujukan untuk diri saya sendiri dan rekan-rekan sekalian. Untuk teman-teman mahasiswa kedokteran/koas: kita beruntung punya banyak kesempatan mengasah skill walaupun masih di bangku kuliah, jangan tunggu sampai koas untuk rajin berlatih. selain itu saya berharap kita bisa menjadi pribadi yang bersahaja.</p>
<p>Dan juga jangan luntur percaya diri hanya karena bedanya kemajuan teknologi kita, justru kemampuan bekerja sebagai dokter di daerah terpencil dengan perlengkapan terbatas menjadikan kita memiliki kemampuan istimewa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anakfk.com/wawancara-diah-nurpratami-s-ked-peserta-program-eramus-mundus-di-pavia-italy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review Blog : Puskesmas Pembantu Desa Batuh Belah Siantan Timur</title>
		<link>http://www.anakfk.com/blog-pustu-desa-batu-belah/</link>
		<comments>http://www.anakfk.com/blog-pustu-desa-batu-belah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2012 02:33:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli Wilihandarwo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review Blog Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anakfk.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Luar biasa. Itu yang tergambar di ekspresi saya ketika berkunjung ke blog milih sebuah puskesmas pembantu ini. Bukan hal yang biasa menurut saya sebuah puskesmas pembantu di pelosok Siantan Timur, Provinsi Kepulauan Riau memiliki blog yang informatif ini. Bagaimana tidak, puskesmas sekecil ini saja bisa membuat sebuah blog yang sangat informatif. Walaupun secara layout sangat [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-101" title="pustu-batu-belah" src="http://www.anakfk.com/wp-content/uploads/2012/03/pustu-batu-belah.jpg" alt="" width="300" height="349" />Luar biasa. Itu yang tergambar di ekspresi saya ketika berkunjung ke blog milih sebuah puskesmas pembantu ini. Bukan hal yang biasa menurut saya sebuah puskesmas pembantu di pelosok Siantan Timur, Provinsi Kepulauan Riau memiliki blog yang informatif ini. Bagaimana tidak, puskesmas sekecil ini saja bisa membuat sebuah blog yang sangat informatif. Walaupun secara layout sangat sederhana (btw, saya suka segala hal yang simpel dan minimalis), namun secara konten, blog ini sangat informatif.</p>
<p>Postingan-postingan blog nya memang bercerita mengenai apa saja yang terjadi di puskesmas tersebut, mungkin hal-hal yang sederhana semacam datangnya peralatan baru dari Dinkes setempat, pemasangan korden baru, pembuatan tempat buletin dan leaflet, dan hal-hal yang dilakukan oleh puskesmas ini.</p>
<p><span id="more-100"></span></p>
<p>Hal lain yang membuat konten blog ini baik adalah pada halaman unduh-nya (download), disediakan buletin yang bisa diunduh oleh siapa saja. Puskesmas ini nampaknya rajin menerbitkan buletin tiap bulannya. Informasinya sangat bagus dan mudah dibaca.</p>
<p>Mungkin saja puskesmas-puskemas besar lainnya belum tentu memiliki blog juga. Sehingga upaya dari rekan-rekan kita di Pustu ini wajib diacungi jempol. Harapan saya, puskesmas-puskesmas lain pun bisa meniru upaya edukasi melalui dunia maya seperti ini. Karena peran penting puskesmas adalah pada tatanan Primary Care, yang merupakan ujung tombak dari pelayanan kesehatan masyarakat. Puskesmas saat ini dirasa sangat perlu untuk meningkatkan kompetensinya dalam hal mencapai sasaran masyarakat. Salah satunya adalah dengan membuat sebuah blog.</p>
<p>Terus berjuang ya bapak dan ibu pelayan kesehatan disana. You have done a great job ! <img src='http://www.anakfk.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anakfk.com/blog-pustu-desa-batu-belah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guidelines Baru Virus Chikungunya</title>
		<link>http://www.anakfk.com/guidelines-baru-virus-chikungunya/</link>
		<comments>http://www.anakfk.com/guidelines-baru-virus-chikungunya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2012 02:14:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli Wilihandarwo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anakfk.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Guideline baru untuk virus chikungunya Beberapa hari yang lalu, PAHO (Pan American Health Organization) dan CDC (Center for Disease Control and Prevention) mengeluarkan guideline baru mengenai penanganan penyakit chikungunya. Dulu, penyakit ini bisa menyebabkan outbreaks yang luar biasa besar di Asia dan Afrika, menginfeksi sekitar 2 juta orang, dengan tingkat insidensi sebesar 68% di beberapa [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-94" title="chikungunya-guidelines" src="http://www.anakfk.com/wp-content/uploads/2012/03/chikungunya-guidelines.jpg" alt="" width="300" height="400" />Guideline baru untuk virus chikungunya</p>
<p>Beberapa hari yang lalu, PAHO (Pan American Health Organization) dan CDC (Center for Disease Control and Prevention) mengeluarkan guideline baru mengenai penanganan penyakit chikungunya. Dulu, penyakit ini bisa menyebabkan outbreaks yang luar biasa besar di Asia dan Afrika, menginfeksi sekitar 2 juta orang, dengan tingkat insidensi sebesar 68% di beberapa wilayah.</p>
<p>Dengan semakin banyaknya orang yang berpergian lintas negara dan benua saat ini, maka diperlukan panduan bagi tenaga kesehatan untuk dapat mendeteksi dan mencegah terjadinya penyakit ini.</p>
<p>Bagi rekan-rekan teman sejawat, silahkan download panduan tersebut melalui link berikut :<br />
<a href="http://new.paho.org/hq/index.php?option=com_docman&amp;task=doc_download&amp;gid=16984&amp;Itemid=">Guidelines on Chikungunya Virus</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anakfk.com/guidelines-baru-virus-chikungunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekuatan yang Tidak Normal Selama Persalinan</title>
		<link>http://www.anakfk.com/kekuatan-yang-tidak-normal-selama-persalinan/</link>
		<comments>http://www.anakfk.com/kekuatan-yang-tidak-normal-selama-persalinan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Feb 2012 13:38:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli Wilihandarwo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Obstetric and Ginecology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anakfk.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Distokia adalah persalinan yang tidak normal dengan adanya proses persalinan yang lambat dan abnormal, yaitu dilatasi cerviks yang kurang adekuat atau kurang turunnya presentasi janin. Ada 5  faktor yang menentukan proses persalinan, yaitu : Kekuatan/tenaga. Kekuatan yang abnormal meliputi kekuatan yang kurang kuat atau pun terlalu kuat, kurang terkoordinasinya kontraksi uterus. Abnormalitas usaha maternal untuk [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-85" title="partus-dua-tangan" src="http://www.anakfk.com/wp-content/uploads/2012/02/partus-dua-tangan.jpg" alt="" width="300" height="267" />Distokia adalah persalinan yang tidak normal dengan adanya proses persalinan yang lambat dan abnormal, yaitu dilatasi cerviks yang kurang adekuat atau kurang turunnya presentasi janin. <strong>Ada 5  faktor yang menentukan proses persalinan, yaitu :</strong></p>
<ol>
<li>Kekuatan/tenaga. Kekuatan yang abnormal meliputi kekuatan yang kurang kuat atau pun terlalu kuat, kurang terkoordinasinya kontraksi uterus. Abnormalitas usaha maternal untuk mengeluarkan janin (mengejan) bisa menyebabkan distokia.</li>
<li>Panggul (tulang pada pelvis dan jaringan pada pelvis). Disproporsi kepala panggul bisa menyebabkan distokia. Serviks yang belum matang bisa menghambat proses persalinan dan disebut distokia serviks. Distokia serviks meliputi gagalnya pelunakan dan “effacement”. Hal ini menyebabkan proses persalinan yang lama.</li>
<li>Janin. Adanya abnormalitas apada presentasi, posisi, dan letak bisa menyebabkan distokia. Gangguan yang palinmg sering terjadi adalah malposisi kepala janin terhadap pelvis (asinklitismus)</li>
<li>Psikologis</li>
<li>Plasenta berpengaruh pada proses persalinan jika terjadi plasenta previa, plasenta terimplantasi di anterior</li>
</ol>
<p><span id="more-74"></span></p>
<h3>Proses persalinan</h3>
<p><strong>1. Kala I</strong><br />
Terdiri atas:</p>
<ol>
<li>Fase Laten. Fase ini dimulai dari awal kontraksi uterus (his) sampai pembukaan ke 3. Sifat his masih belum kuat dan durasi lama.</li>
<li>Fase Aktif, meliputi:
<ul>
<li>akselerasi : proses pembukaan terjadi dengan sangat cepat dalam waktu yang singkat</li>
<li>maksimum : pembukaan 4-9</li>
<li>deselerasi : mulai pembukaan 9-10 (namun pembukaan 10 mungkin saja sudah memasuki kala II)</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p><strong>2. Kala II</strong></p>
<p><strong>3. Kala III</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="189"><strong>Variabel</strong></td>
<td valign="top" width="189"><strong>Nullipara (jam)</strong></td>
<td valign="top" width="190"><strong>Multipara (jam)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="189"><strong>Fase Laten</strong></td>
<td colspan="2" valign="top" width="379"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="189">Mean</td>
<td valign="top" width="189">6,4</td>
<td valign="top" width="190">4,8</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="189">Upper limit</td>
<td valign="top" width="189">20,1</td>
<td valign="top" width="190">13,6</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="189"><strong>Fase Aktif</strong></td>
<td colspan="2" valign="top" width="379"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="189">Mean</td>
<td valign="top" width="189">4,6</td>
<td valign="top" width="190">2,4</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="189">Upper limit</td>
<td valign="top" width="189">1,2</td>
<td valign="top" width="190">1,5</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="189"><strong>Kala II</strong></td>
<td colspan="2" valign="top" width="379"><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="189">Mean</td>
<td valign="top" width="189">1</td>
<td valign="top" width="190">0,5</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="189">Upper limit</td>
<td valign="top" width="189">2,9</td>
<td valign="top" width="190">1,1</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<h3><strong>Faktor Tenaga bisa menyebabkan distokia</strong></h3>
<p>His yang sempurna adalah kontraksi uterus yang simetris (kanan dan kiri seimbang) dan didominasi oleh fundus karena myometrium yang tebal di bagian fundus. Dominansi fundus adalah kontraksi dimulai dari fundus, lalu menyebar ke bagian bawah uterus. Distokia diakibatkan oleh kontraksi yang tidak simetris karena kontraksi tidak dimulai dari fundus akibat adanya myoma pada rahim dan pacemaker tidak terletak di fundus. Selain itu, tenaga hejan perut ibu yang tidak efektif bisa menyebabkan distokia. Ada 2 disfungsi uterus, yaitu :</p>
<ol>
<li>Disfungsi uterus hipotonik/inersia uterus/his lemah, tidak ada peningkatan tonus otot uterus. Kalau pun ada peningkatan tonus otot uterus, peningkatan tersebut tidak cukup untuk menyebabkan dilatasi cerviks.</li>
<li>Disfungsi uterus hipertonik/kontraksi uterus hipertonik/his kuat dan inkoordinasi uterus, ada peningkatan tonus otot uterus tapi ada kontraksi berasal dari uterus bagian tengah dengan kekuatan yang lebih kuat dibandingkan kekuatan di fundus sehingga impuls kontraksi tidak terkoordinasi. Untuk mengurangi kontraksi uterus yang terlalu kuat, bisa diberikan agen tokolitik, yaitu agonis adrenergik β, seperti terbutalin dengan dosis 0,25 mg subkutan atau 0,125-0,25 mg secara intravena.</li>
</ol>
<h3>Inersia Uteri</h3>
<p>Kekuatan his berkurang, berlangsung singkat, dan interval antar his lebih lama. Pada inersia uteri, dominansi fundus masih ada, tapi tidak efektif. Ada 2 jenis inersia uteri, yaitu :</p>
<ol>
<li>Inersia uteri primer, his sejak awal persalinan (sebelum fase aktif) sudah lemah.</li>
<li>Inersia uteri sekunder, his pada awal persalinan masih baik kemudian menjadi lemah. Kecepatan dilatasi serviks kurang dari 1 cm/jam.</li>
</ol>
<p><em>Penyebab :</em></p>
<ol>
<li>Myometrium sudah lelah untuk berkontraksi akibat dehidrasi dan kurangnya makanan atau elektrolit pada ibu yang bersalin.</li>
<li>Rasa khawatir pada ibu</li>
<li>Kondisi uterus, seperti infeksi pada uterus dan chorioamnionitis</li>
<li>Terlepasnya plasenta terlalu dini</li>
<li>Administrasi obat yang terlalu awal, seperti analgesi epidural. Analgesi epidural memperpanjang kala I dan II.</li>
<li>Posisi ibu saat bersalin. Uterus berkontraksi lebih terkoordinasi dengan kekuatan yang kurang kuat pada posisi lateral, sedang kontraksi uterus bisa lebih kuat dengan frekuensi kurang pada posisi supinasi.</li>
</ol>
<p><em>Penanganan :</em></p>
<ol>
<li>Cek apakah ada malpresentasi, malposisi, penurunan atau stagnansi dilatasi serviks, dan DKP (disproporsi Kepala Panggul)</li>
<li>Pacuan dengan oksitosin atau sintosinon per intravena atau pun intramuskular</li>
<li>Pemberian oksitosin dengan 5 kesatuan dalam larutan Ringer Laktat 5% dekstrosa, dengan kecepatan 8-40 tetes/menit. Kecepatan tetesan dimulai dari 8 tetes/menit. Jika setelah 15 menit tidak ada perkembangan, maka ditambah 4 tetes/menit.</li>
<li>Pacuan dilakukan selama 4-6 jam. Lalu diistirahatkan dan dipacu lagi (jika tidak ada perkembangan pada pacuan sebelumnya). Kalau masih tidak ada perkembangan setelah pacuan yang kedua, maka lakukanlah sectio caesaria.</li>
<li>Obat-obatan yang bisa meningkatkan kontraksi uterus :</li>
</ol>
<ul>
<li>Misoprostol tablet (cervical ripening, kontraksi) paling tepat digunakan untuk inersia uterus primer. Tablet misoprostol merupakan senyawa prostaglandin E2 →pelunakan serviks→mudah berdilatasi. Pelunakan serviks →menstimulus pelepasan oksitosin dari hipofisis posterior →meningkatkan kontraksi uterus</li>
<li>Dinoprostone, penggunaannya saat ini kurang praktis</li>
<li>Pemasangan balon kateter di ostium uteri eksterna →melunakkan dan mendilatasi serviks</li>
<li>Pemecahan ketuban pada fase aktif dapat dilakukan jika tidak ada disproporsi janin dan pelvis. Hal ini memberikan efek penekanan kepala janin terhadap serviks → bisa memacu kontraksi</li>
</ul>
<p><em>Augmentasi Persalinan</em><em> </em><em></em></p>
<ul>
<li>  Dosis awal oksitosin 1 &#8211; 2 mU / min</li>
<li>  Interval dinaikkan setiap 30 min.
<ul>
<li>Dosis kenaikan 1 &#8211; 2 mU</li>
<li>  Dosis biasa untuk persalinan yang baik               8- 10 mU / min.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p>Kekuatan kontraksi tergantung dosis oksitosin dan sensitivitas uterus terhadap oksitosin</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="110"><strong>Efek Samping</strong></td>
<td valign="top" width="331"><strong>Mekanisme</strong></td>
<td valign="top" width="127"><strong>Pencegahan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="110">Hipoksia janin</td>
<td valign="top" width="331">HiperstimulasiKontraksi uterus terus menerus menghambat masuknya oksigen ke janin</td>
<td valign="top" width="127">Dosis tepat</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="110">Ruptur Uterus</td>
<td valign="top" width="331">HiperstimulasiKontraksi uterus yang terlalu kuat padahal serviks belum siap untuk membuka</td>
<td valign="top" width="127">Dosis tepat</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="110">Intoksikasi Air</td>
<td valign="top" width="331">Efek pembawaOksitosin memiliki efek anti diuretik sehingga menarik air. Selain itu, konsentrasi 5% dekstrosa dalam ringer laktat memiliki konsentrasi yang lebih pekat dibanding cairan tubuh</td>
<td valign="top" width="127">Batasi cairan</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="110">Hipotensi</td>
<td valign="top" width="331">Vasodilatasi</td>
<td valign="top" width="127">Dosis rendah</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<h3>His kuat/kontraksi uterus hipertonik</h3>
<p>His terlalu kuat sehingga persalinan terjadi singkat. His yang sangan kuat dan sering menyebabkan uterus sulit relaksasi antara kontraksi. Hal ini bisa menyebabkan :</p>
<ol>
<li><em>a.     </em><em>Partus presipitatus</em></li>
</ol>
<p>Partus yang terjadi kurang dari 3 jam dengan <em>kekuatan kontraksi uterus dan abdomen yang sangat kuat, tapi tidak sakit. Rendahnya resistensi jaringan lunak di sekitar jalan lahir</em> mendukung terjadinya partus presipitatus. Partus presipitatus ditandfai dengan kecepatan dilatasi serviks 5cm/jam untuk nulipara atau 10cm/jam untuk multipara. <em>Kontraksi yang sangat kuat dengan interval yang pendek mencegah aliran darah uterus dan oksigenasi fetus.</em> Hal ini bisa menyebabkan <em>ruptur uterus, luka pada jalan lahir (serviks, vagina, vulva, dan perineum), dan pendarahan pada otak (akibat dari janin yang tertekan terus menerus)</em></p>
<ol>
<li><em>b.     </em><em>Tetania uteri</em></li>
</ol>
<p>Tetania uteri disebabkan oleh pemberian oksitosin. Kontraksi yang kuat dan terus menerus menghambat sirkulasi plasenta → kematian janin. Untuk mengatasinya, pacuan harus dihentikan.<em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Inkoordinasi uteri</strong></p>
<ul>
<li>His kuat,tapi tidak sinkronàtidak efisien</li>
<li>Penderita akan gelisah,kesakitan</li>
<li> Tidak ada kemajuan dalam pembukaan serviks karena serviks kaku</li>
<li>Penanganan: mengurangi tonus otot dan kontrol emosi, pemberian obat anti nyeri</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Distokia akibat cincin uterus</strong></p>
<p>Ada <em>3 kondisi cincin uterus</em>, yaitu :<em></em></p>
<p><strong>a.     Retraksi cincin fisiologis</strong><br />
Terjadi di perbatasan segmen uterus bagian atas dan bawah. Pada awal persalinan, cincin uterus berperan dalam dilatasi dan penipisan segmen uterus bawah.<em></em></p>
<p><strong>b.     Retraksi cincin patologis (Bandl’s ring)</strong><br />
Terjadi di antara segmen uterus bagian atas dan bawah, lalu retraksi meluas ke bagian atas uterus. Pada keadaan ini, ada ruptur uterus di uterus segmen bawah.<em></em></p>
<p><strong>c.      Konstriksi cincin</strong><br />
Terjadi pada persalinan yang lama. Konstriksi terjadi karena uterus tidak bisa relaksasi dengan baik akibat inkoordinasi uterus</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Diagnosis dini <img src='http://www.anakfk.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> artogram</strong></p>
<p>Pada partogram, kita bisa mengamati <span style="text-decoration: underline;">kemajuan persalinan</span>, yaitu :</p>
<ol>
<li>Pembukaan serviks yang dinilai saat pemeriksaan dalam dan diberi tanda (X). Partograf diisi sejak pembukaan serviks 4cm.</li>
<li>Garis Waspada (Alert line) <strong>: </strong>Garis ini dimulai pada saat pembukaan serviks 4 cm hingga titik pembukaan lengkap yang diperkirakan dengan kelajuan dilatasi1 cm/jam.</li>
<li>Garis Bertindak (Action line): Paralel dan 4 jam ke sebelah kanan garis waspada. Jika tidak ada perkembangan setelah garis ini, maka langsung lakukan tindakan</li>
<li>Kontraksi: Catat pada partograf setiap setengah jam; palpasi banyaknya kontraksi selama jangka waktu 10 menit serta lamanya kontraksi dalam hitungan detik</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kurang dari 20 detik</p>
<p>Antara 20 dan 40 detik</p>
<p>Lebih dari 40 detik</p>
<ol>
<li>Tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh</li>
<li>Catatan pemberian obnat-obatan</li>
<li>Urin untuk cek protein, aseton, dan volum urin. Pemeriksaan urin bisa mendeteksi apakah terjadi dehidrasi atau tidak</li>
</ol>
<p>His yang efektif jika kemajuan persalinan terletak  di belakang (sebelah kiri) garis bertindak (action line)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anakfk.com/kekuatan-yang-tidak-normal-selama-persalinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dokter : Penyelamat Devisa Negara. Kok Bisa?</title>
		<link>http://www.anakfk.com/dokter-penyelamat-devisa/</link>
		<comments>http://www.anakfk.com/dokter-penyelamat-devisa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Feb 2012 13:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli Wilihandarwo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendapat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anakfk.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini jika seseorang berbicara mengenai profesi kedokteran, pastilah tak jauh-jauh dari perihal kamar praktek hingga masalah-masalah malpraktek yang cukup senang diangkat ke permukaan oleh media massa. Padahal ada sisi lain yang belum terlalu tergarap dan terperhatikan, yakni sisi ekonomi. Tidak, tidak. Di tulisan ini, saya tidak mengangkat mengenai bagaimana potensi ekonomi pribadi bagi profesi [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-66" style="border: 4px solid grey;" title="devisa" src="http://www.anakfk.com/wp-content/uploads/2012/02/devisa.jpg" alt="" width="300" height="200" />Selama ini jika seseorang berbicara mengenai profesi kedokteran, pastilah tak jauh-jauh dari perihal kamar praktek hingga masalah-masalah malpraktek yang cukup senang diangkat ke permukaan oleh media massa. Padahal ada sisi lain yang belum terlalu tergarap dan terperhatikan, yakni sisi ekonomi.</p>
<p>Tidak, tidak. Di tulisan ini, saya tidak mengangkat mengenai bagaimana potensi ekonomi pribadi bagi profesi kedokteran itu, melainkan bagaimana ekonomi kedokteran –saya menyebutnya seperti itu—sebagai hal yang cukup penting dan signifikan bagi pergerakan ekonomi di Indonesia.</p>
<p><span id="more-44"></span></p>
<p>Santer terdengar di sekitar kita, istilah “Wisata Kesehatan”, dimana pelayanan kesehatan akan mampu menunjukkan giginya sekelas hotel dan objek-objek wisata dalam melayani pasiennya. Tidak lagi menjadikan sekelumit pemeriksaan kesehatan itu sebagai momok yang menakutkan lagi. Ya, senang dan puas. Itulah capaian akhirnya.</p>
<p>Namun, apa korelasinya antara”Wisata Kesehatan” dengan penyelamatan devisa negara, serta secara langsung hubungannya dengan kualitas dokter-dokter di Indonesia ? Simak bahasan kami berikut ini.</p>
<p>100 Trilyun di luar, 13,6 Trilyun di dalam</p>
<p>Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementrian Kesehatan dr Supriyantoro SpP MARS mengatakan, menurut data dari Bank Dunia tahun 2004, devisa Indonesia yang keluar ke luar negeri dari pasien-pasien yang berobat sekitar Rp70 trilyun pada saat itu.</p>
<p>“Jadi kalau tahun segitu saja sudah segitu (jumlahnya) dan tidak ada kecenderungan menurun, mungkin sekarang sudah mencapai sekitar Rp100 trilyun, dan ini bukan jumlah yang kecil,” kata dr Supriyantoro.</p>
<p><em>BBC Indonesia – 7 Maret 2011</em></p>
<p>100 Trilyun ? Angka yang fantastis memang, mengingat anggaran kesehatan dari pemerintah untuk tahun 2011 saja hanya pada angka 13,6 trilyun rupiah. Lebih dari 5 kali lipat kemampuan bayar negara kita pada rakyatnya sendiri di sektor kesehatan.</p>
<p>Dari sini kita dapat membayangkan bagaimana pergerakan ekonomi di bidang kesehatan yang terjadi seandainya seluruh dana yang dikeluarkan oleh pasien-pasien Indonesia di luar negeri itu, tersalurkan di dalam negeri sendiri.</p>
<p>Bukan hanya masalah uang</p>
<p>Kalau menelisik lebih jauh lagi, fenomena ini menarik dibicarakan bukan karena potensi pergerakan ekonomi yang terjadi dari uang tersebut, ibarat puncak gunung es, masalah ini hanya menggambarkan sebagian kecil dari hal-hal yang ditemui di dunia kesehatan Indonesia. Masalah yang mendasari hal ini lebih besar lagi, yakni bagaimana akhirnya pasien memilih berobat ke luar negeri dibandingkan di dalam negeri, hanya dikarenakan menurut pasien, dokter-dokter disini tidak memiliki kemampuan komunikasi dan pelayanan yang memuaskan.</p>
<p>Ini pukulan telak bagi dunia kesehatan di Indonesia. Bagaimana tidak, ketika kita sedang mencoba berdiri di kaki kita sendiri untuk kemandirian bangsa, di saat yang sama, warga yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita, sebagian malah memilih “lari” ke negara lain untuk memenuhi kebutuhan kesehatannya tersebut.</p>
<p>Saya mengambil contoh kasus lain yang cukup dekat dengan kami di kampus ini. Seorang kakak kelas saya, A, angkatan 2007. Sewaktu SMA ia menceritakan pernah di diagnosis kanker oleh dokter di Indonesia. Sempat menjalani kemoterapi dan harus merelakan rambutnya rontok hingga botak sebagai konsekuensinya. Entah karena apa, keluarganya memutuskan untuk mencoba berobat ke Singapura yang terkenal dengan wisata kesehatannya yang mendunia itu. Sesampai disana, alih-alih diberikan terapi, kakak kelas saya itu malah diberi tahu oleh dokter di Singapura bahwa ia tidak memiliki penyakit kanker. Menurut dokter disana, dokter yang pertama kali mendiagnosis kanker di Indonesia itu mengalami kesalahan. Sehingga akhirnya ia kembali ke Indonesia, dan menjalani aktifitasnya sekarang seperti biasa. Semuanya baik-baik saja.</p>
<p>Satu lagi rekan seangkatan saya, H, angkatan 2008, yang harus berobat ke Singapura, dikarenakan sakitnya tak sembuh-sembuh sewaktu di Indonesia. Sebagai pelengkap, ada lagi cerita dari salah satu dosen yang pernah menjadi tutor di kelompok saya. Beliau menceritakan mengenai bagaimana ia mendapati pasien dengan suatu penyakit. Kemudian dokter itu mengobati dengan obat yang sesuai petunjuk dilihat dari diagnosisnya. Namun karena belum kunjung sembuh, si pasien memilih berobat ke Singapura, dan sembuh disana. Yang menjadi ironis adalah, obat yang diberikan oleh dokter di Singapura itu sama dengan obat yang diberikan oleh dokter tutor kami itu. Jadi masalahnya ada dimana ? Benarkah bahwa rasa percaya pasien terhadap dokter-dokter di Indonesia sudah sangat kurang ? Atau apakah memang kompetensi klinis dan komunikasi dokter-pasien kita sudah sedemikian buruknya ?</p>
<p>Dokter kita perlu instropeksi, sangat dalam…</p>
<p>Kalau melihat beberapa kasus yang kami sebutkan di atas tadi, bisa ditarik benang merah yang cukup jelas. Titik berat masalahnya ada pada ketidakmampuan kita sebagai dokter untuk mengkomunikasikan informasi kesehatan dengan baik kepada pasien kita. Bukan berarti dokter Indonesia bodoh, tidak, sama sekali tidak.</p>
<p>Analisis kami pada kasus-kasus tersebut, mungkin saja hal itu terjadi dikarenakan proses perjalanan penyakitnya memang seperti itu. Tidak setiap penyakit langsung sembuh jika diberikan obat, tetapi perlu waktu yang cukup agar obat itu bekerja dan menunjukkan hasil. Mungkin saja, ketika di Singapura, pasien-pasien tadi memang sudah seharusnya sembuh sesuai perjalanan penyakitnya.</p>
<p>Waktu tatap muka kita dengan pasien pun menjadi sangat kurang. Di Singapura, dikenal istilah “Dokter Argometer”. Artinya pasien diberikan kesempatan yang sebanyak-banyaknya untuk berkonsultasi dengan dokter pilihannya. Tarif dokter tersebut ditentukan dari banyaknya waktu yang diberikan tersebut kepada pasien. Seperti ketika kita menaiki taksi berargo, semakin lama, semakin banyak bayarannya.</p>
<p>Coba kita bandingkan dengan waktu tatap muka dokter-pasien yang sering kita temui di sekitar kita. Sangat singkat, bahkan dibawah 5 menit. Dalam kondisi waktu yang singkat itu – karena tuntutan jumlah pasien yang tak sebanding dengan jumlah dokter – kita harus dapat menganamnesis, mendiagnosis, melakukan pemeriksaan, memberikan penanganan, hingga edukasi. Nah, terkadang poin edukasi ini menjadi sangat kurang diperhatikan, sehingga jangan salahkan ketika pasien akhirnya memilih berobat di tempat lain yang mampu menjawab kekhawatiran mereka.</p>
<p>Korelasi dengan bela negara</p>
<p>Sebelum membahas mengenai bela negara, perlu rasanya kita terlebih dahulu mendefinisikan arti bela negara. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bela memiliki arti menjaga baik-baik dan merawat, sedangkan negara memiliki arti organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat.</p>
<p>Dari kedua arti tersebut, kita dapat menyimpulkan arti bela negara adalah usaha kita untuk memberikan upaya terbaik mencapai secara bersama cita-cita negara. Karena itu kita perlu melihat lagi cita-cita negara kita yang temaktub dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke 4 yang berbunyi :</p>
<p>Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.</p>
<p>Dalam konteks ini, poin bela negara yang bisa dihubungkan adalah masalah memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.</p>
<p>Coba bayangkan bagaimana jika uang sebesar 100 Trilyun itu digerakkan untuk ekonomi kesehatan di Indonesia. Komponen-komponen yang terlibat di bidang kesehatan maupun non kesehatan dapat merasakan manfaatnya. Mulai dari institusi kesehatan, dokter, perawat, ahli gizi, tenaga administrasi, hingga petugas kebersihan yang ada membantu disana. Semua bisa merasakan manfaatnya. Disinilah salah satu letak manfaat dan penjabaran dari cita-cita bangsa ini yakni memajukan kesejahteraan umum.</p>
<p>Untuk bagian mencerdaskan kehidupan bangsa, kita bisa melihatnya dari bagaimana dokter-dokter kita memahamkan kepada pasien mengenai penyakit yang ia derita sejelas-jelasnya. Jika pasien dapat dijelaskan dengan baik dan membuat pasien yakin serta percaya pada kita, seharusnya tingkat kunjungan pasien ke luar negeri tidak sebegitu tingginya.</p>
<p>Secara lebih mendalam, ada beberapa titik tekan yang bisa kita lihat dari masalah ini untuk ditarik ke topik bela negara, hal tersebut adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Orang yang berobat ke luar negeri akan mengurangi jumlah perputaran uang yang terjadi di dalam negeri, sehingga akan secara langsung berpengaruh terhadap devisa negara kita.</li>
<li>Selain masalah keuangan, rasa percaya pasien terhadap dokter-dokter di dalam negeri juga akan menjadi berkurang. Karena pada dasarnya masyarakat sangat mudah terpahamkan dengan berita dari mulut ke mulut dibandingkan sumber berita lainnya. Sehingga jika orang lain menceritakan bahwa dokter di luar negeri itu lebih baik, akan membuat orang lain yang belum merasakan pengalaman langsung ditangani oleh dokter luar negeri juga akan ikut setuju saja dengan dasar pendapat orang lain tersebut.</li>
<li>Peningkatan lapangan kerja baru akan terbentuk dengan adanya perputaran uang sebesar itu, dimana efeknya nanti adalah peningkatan kesejahteraan rakyat.</li>
</ol>
<p>Lantas apa yang bisa kita perbuat sekarang ?</p>
<p>Ok, mari berbicara solusi sekarang. Tak perlu berfikir besar untuk menyelesaikan masalah ini. Tak perlu juga harus menunggu kita menjadi petinggi negara untuk membalik keadaan yang terjadi sekarang. Ada hal-hal yang bisa kita pupuk sejak dini agar kita dapat memberi yang terbaik bagi bangsa ini secara umum dan pasien kita kelak secara khusus.</p>
<ol>
<li>Meningkatkan kompetensi klinis. Ini harga mati. Dokter yang tidak kompeten tentu akan sangat membahayakan pasien. Dan tentu saja pasien dapat kecewa dengan dokter yang tak bisa menjalankan fungsi ke-klinisannya dengan baik. Ini merupakan sedikit alasan kenapa akhirnya pasien memutuskan untuk berobat ke luar negeri.</li>
<li>Meningkatkan kemampuan komunikasi dokter-pasien. Tak hanya sekedar menyembuhkan secara fisik, tutur kata dokter juga harus dapat menyembuhkan pasien secara psikis. Komunikasi disini tak hanya berbicara bahasa verbal. Bahasa non verbal pun dapat mengambil porsi yang besar dari proses penyembuhan pasien. Tunjukkan ekspresi-ekspresi yang tepat ke pasien di saat yang tepat pula. Terkadang kepuasan pasien sebagian besar tertupi dari keramahan dokter terhadapnya. Sehingga, walaupun kemampuan klinis tidak terlalu hebat, asal dibarengi dengan komunikasi yang baik, entah bagaimana kesembuhan pasien juga dapat lebih baik.</li>
<li>Memang pada akhirnya jabatan struktural itu penting. Ketika secara pribadi kita sudah berubah lebih baik, saatnya untuk mempengaruhi orang agar ikut berubah juga. Cara yang paling cepat dan masif menggerakkan perubahan adalah jika kita duduk di jabatan structural. Karena watak masyarakat zaman modern adalah taat hukum. Sehingga dengan hukum yang tepat, tentu akan membawa pada harapan dan hasil yang tepat pula.</li>
</ol>
<p>Ketiga hal tersebutlah yang mudahan dapat kita laksanakan baik sekarang maupun nanti. Semoga tulisan ini dapat membukakan pikiran kita mengenai proses perbaikan bangsa ini. Apapun profesi kita, apapun peran kita di masyarakat yang heterogen ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anakfk.com/dokter-penyelamat-devisa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dosen Favorit ala Mahasiswa</title>
		<link>http://www.anakfk.com/dosen-favorit/</link>
		<comments>http://www.anakfk.com/dosen-favorit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Feb 2012 13:17:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli Wilihandarwo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anakfk.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Dosen favorit, sebuah topik yang selalu menarik dibahas. Mengingat bahwa ini berbicara mengenai sebuah kegemaran. Kegemaran yang disuka oleh dosen –karena akan meningkatkan pentransferan ilmu dari dosen ke mahasiswa- dan juga disuka oleh mahasiswa –karena membuat mahasiswa tak terpaksa lagi kuliah. Dalam pandangan pribadi saya, seorang dosen menjadi favorit jika memiliki beberapa poin berikut. Sekali [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-71" style="border: 4px solid grey;" title="dosen" src="http://www.anakfk.com/wp-content/uploads/2012/02/dosen.jpg" alt="" width="300" height="200" />Dosen favorit, sebuah topik yang selalu menarik dibahas. Mengingat bahwa ini berbicara mengenai sebuah kegemaran. Kegemaran yang disuka oleh dosen –karena akan meningkatkan pentransferan ilmu dari dosen ke mahasiswa- dan juga disuka oleh mahasiswa –karena membuat mahasiswa tak terpaksa lagi kuliah.</p>
<p>Dalam pandangan pribadi saya, seorang dosen menjadi favorit jika memiliki beberapa poin berikut. Sekali lagi saya sampaikan, hal ini hanya pendapat pribadi saya. Tak mewakili secara general seluruh mahasiswa. Karena definisi setiap orang akan “favorit” menjadi berbeda-beda.</p>
<p><span id="more-42"></span></p>
<p><strong>#1. Berilmu seperti padi, makin berisi makin menunduk</strong></p>
<p>Tak ada orang yang suka dengan kesombongan orang lain –kecuali dengan kesombongan dirinya sendiri-, karena itu saya menempatkan hal ini di poin pertama. Dosen yang punya ilmu tinggi akan menjadi semakin manis bila ia tetap menjaga agar ia tidak sombong dengan ilmu yang ia miliki. Contoh kongkretnya adalah tidak menjelek-jelekkan atau merendahkan dosen ataupun teman sejawat lainnya.</p>
<p><strong>#2. Membuat segalanya terlihat mudah</strong></p>
<p>Kami tahu, para dosen begitu pintar. Namun terkadang kepintarannya itu hanya untuk diri sendiri, tanpa ada usaha untuk memintarkan orang lain. Nah, dosen yang dapat mentransfer pengetahuan yang ia miliki ke mahasiswa dengan cara yang mudah dimengerti menjadi poin kedua terpenting.</p>
<p><strong>#3. Melibatkan mahasiswa</strong></p>
<p>Hal yang paling simpel adalah meminta pendapat mahasiswa. Mendengar pendapat mahasiswa, mengomentari pendapat, memberikan jawaban jika tahu, melemparkan ke mahasiswa lain jika ingin kelas lebih hidup, mengapresiasi apapun jawaban mahasiswa. Itu semua bisa menjadi nilai lebih seorang dosen.</p>
<p><strong>#4. Menghibur</strong></p>
<p>Tak harus lucu, tak harus banyak guyon, tak harus tertawa, tersenyum simpulpun cukup. Seorang dosen dapat menghibur mahasiswa yang dia ajar dengan jokes yang berkelas. Menyajikan materi dengan dukungan cerita yang menarik serta membuat para mahasiswa perhatian ke cerita si dosen.</p>
<p><strong>#5. Komitmen terhadap peraturan</strong></p>
<p>Banyak peraturan yang bisa dijalankan di dalam kelas. Misalnya ketepatan waktu untuk mulai kuliah, dan waktu untuk berhenti kuliah.</p>
<p><strong>#6. Mampu berbagi semangat</strong></p>
<p>Tak harus diwujudkan dengan kepalan tangan semangat ala mahasiswa seperti yang ditunjukkan saat demonstrasi, tapi cukup dengan membagi cerita akan kisah nyata yang pernah ia alami. Karena kami tahu, pengalaman adalah guru yang terbaik untuk kita. Teori dapat kita pelajari, namun semangat tak bisa dipelajari. Hanya bisa ditularkan. Dan kami ingin itu.</p>
<p>Ada yang ingin menambahkan ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anakfk.com/dosen-favorit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persepsi Kuliah di Fakultas Kedokteran itu Mahal, Salah!</title>
		<link>http://www.anakfk.com/kuliah-kedokteran-mahal/</link>
		<comments>http://www.anakfk.com/kuliah-kedokteran-mahal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Feb 2012 13:16:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli Wilihandarwo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anakfk.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Sudah menjadi stigma di masyarakat luas, kalau kuliah di Fakultas Kedokteran itu sangat mahal. Masyarakat tidak bisa disalahkan juga sih, karena menurut ilmu psikologi, berita negatif itu mudah tersebar dan mudah untuk diingat ketimbang berita-berita positif. Ga percaya ? Coba deh kamu ingat-ingat lagi sahabat terbaikmu. Mana yang lebih mudah kamu ingat, kebaikannya ke kamu, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah menjadi stigma di masyarakat luas, kalau kuliah di Fakultas Kedokteran itu sangat mahal. Masyarakat tidak bisa disalahkan juga sih, karena menurut ilmu psikologi, berita negatif itu mudah tersebar dan mudah untuk diingat ketimbang berita-berita positif. Ga percaya ? Coba deh kamu ingat-ingat lagi sahabat terbaikmu. Mana yang lebih mudah kamu ingat, kebaikannya ke kamu, atau jahatnya sahabatmu itu ? Secara umum tentu kita lebih mengingat keburukan seseorang dibanding kebaikannya.</p>
<p>Nah seperti itulah yang terjadi di masyarakat kita. Saya juga sebelum kuliah disini memiliki stigma yang seperti itu. Kuliah di kedokteran itu mahal, biaya masuknya besar, SPP nya mahal, belum beli bukunya, uang praktikum, beli mayat untuk anatomi, dll. Ya itu yang saya bayangkan sebelum masuk sini.</p>
<p><span id="more-40"></span></p>
<p>Tapi kenyataannya berbeda ketika saya sudah didalam sini. Sewaktu saya masuk di FK UGM, biaya SPMA (semacam sumbangan orang tua) itu 20 juta, trus uang SPP + SKS per semester Rp 2.265.000,-. Uang buku tidak terlalu banyak saya keluarkan, karena selain karena saya memiliki bisnis sampingan jualan buku kedokteran, juga perpustakaan di kampus yang cukup lengkap dan boleh dipinjam oleh mahasiswa (tentunya kalau buku pinjaman, ga boleh di coret-coret ya.. ini sih ga enaknya). Trus ga ada lagi yang namanya duit untuk praktikum ataupun beli mayat (nah ini dulu saya denger katanya kita kalau mau praktikum anatomi, patungan dulu buat beli mayat untuk kita pelajari bersama teman-teman kelompok).</p>
<p>Ya, menurut saya kuliah di Fakultas Kedokteran relatif tidak terlalu mahal dengan kondisi seperti itu. Apalagi jika kita bisa berprestasi, tentu banyak tawaran beasiswa yang bisa kita terima.</p>
<p>Atau bagi yang berkemampuan pas-pasan (seperti saya, hehe) bisa mengakali biaya kuliah dengan menjalankan bisnis atau usaha untuk menunjang kuliah. Ga perlu malu untuk mencari duit saat kuliah, karena ini bisa menjadi bekal kita nanti saat sudah menjadi dokter.</p>
<p>Soalnya, saya punya impian yang sangat idealis, nanti kalau sudah menjadi dokter, penghasilan utama saya tidak dari jasa dokter saya, melainkan dari bisnis yang saya tekuni. Sehingga tidak terjadi bias antara pelayanan pasien dengan materi. Mungkin ada yang menolak pendapat ini, namun saya mencoba tetap pada pendirian saya, masih tidak tega memungut bayaran dari orang sakit.</p>
<p>Ya, jadi kalau dilihat lagi ke belakang, saya beruntung masuk di kampus ini dengan biaya yang relatif tidak mahal seperti yang masyarakat umum bayangkan. Oh ya, saya bilang relatif ya. Soalnya ukuran tiap orang itu beda-beda. Saya mencoba melihatnya dari sisi kacamata orang banyak dan orang awam.</p>
<p>Berapapun biaya yang kita keluarkan untuk kuliah di sini, jangan sampai sedikitpun kita berfikir untuk balik modal. Karena tidak ada istilah balik modal dalam menuntut ilmu. Namun tetap ada “balik modal” yang masih boleh kita harapkan kok, yakni balik modal pahala. Mudahan amal dan pahala yang menjadi niat utama kita semua. Kalaupun ada sisi materi, itu tidak menjadi fokus utama ataupun niat utama kita. Sebagai bonus saja lah. Aamiin.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anakfk.com/kuliah-kedokteran-mahal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tetap Bersahaja Walau Jadi Mahasiswa Kedokteran</title>
		<link>http://www.anakfk.com/mahasiswa-kedokteran-bersahaja/</link>
		<comments>http://www.anakfk.com/mahasiswa-kedokteran-bersahaja/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Feb 2012 13:15:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli Wilihandarwo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anakfk.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Stigma yang cukup berkembang di masyarakat awam adalah tentang betapa prestige-nya profesi seorang dokter. Martabat di masyarakat bisa naik seketika jika telah menjadi dokter, atau telah bersuami / beristrikan seorang dokter. Secara pribadi saya agak kurang nyaman dengan hal seperti ini, mengingat ini akan mematahkan semangat mengabdi yang murni untuk masyarakat. Apakah masyarakat butuh rasa [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Stigma yang cukup berkembang di masyarakat awam adalah tentang betapa <em>prestige-</em>nya profesi seorang dokter. Martabat di masyarakat bisa naik seketika jika telah menjadi dokter, atau telah bersuami / beristrikan seorang dokter.</p>
<p>Secara pribadi saya agak kurang nyaman dengan hal seperti ini, mengingat ini akan mematahkan semangat mengabdi yang murni untuk masyarakat. Apakah masyarakat butuh rasa prestige kita ? Tidak kan ? Yang mereka butuhkan hanya sebuh dan empati dari kita saat mengobati mereka.</p>
<p><span id="more-37"></span></p>
<p>Menjadi dokter itu bukan sebuah pekerjaan, tapi merupakan bagian dari jiwa dan perilaku kita sehari-hari. Karena itu, tak pantas rasanya membangga-banggakan diri untuk hal-hal seperti ini.</p>
<p>Memang kuliah di kedokteran itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Memang kuliah di kedokteran itu sibuk dan padanya minta ampun. Memang kuliah disini bisa kita dengan bangga dan mantap saat ditanya “Kuliah dimana ?”, lantas kita menjawab “Kedokteran”.</p>
<p>Namun seberapa pentingkah rasa bangga itu ? Apakah dengan bangga itu, ilmu kita bisa bermanfaat untuk orang lain ? Apakah dengan bangga itu, tetangga kita yang sakit-sakitan namun tak punya uang bisa sembuh ? Tidak kan ?</p>
<p>Ya itu dia, karena kebanggaan itu tak akan pernah menghasilkan sesuatu yang baik. Malah bisa memicu kesombangan buat kita. Kesombongan yang akan menyeret kita pada perilaku tidak ikhlas kita. Dan hasil akhirnya akan jelas terlihat, kita hanya kerja kalau dihargai pantas, dan tidak akan bekerja dengan maksimal kalau tidak dihargai dengan pantas pula.</p>
<p>Semoga menjadi renungan untuk diri saya sendiri, dan juga untuk pembaca sekalian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anakfk.com/mahasiswa-kedokteran-bersahaja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
