<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" version="2.0">

<channel>
	<title>Areeavicenna | Ex libris</title>
	<atom:link href="https://areeavicenna.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml"/>
	<link>https://areeavicenna.wordpress.com</link>
	<description>My Verbal Journey</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Nov 2016 16:58:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain="areeavicenna.wordpress.com" path="/?rsscloud=notify" port="80" protocol="http-post" registerProcedure=""/>
<image>
		<url>https://secure.gravatar.com/blavatar/6b7e853936f0e2918fbf919cb8a1de70bda5ee3ac0b0fecfa25130b3c61a8ec0?s=96&amp;d=https%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Areeavicenna | Ex libris</title>
		<link>https://areeavicenna.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link href="https://areeavicenna.wordpress.com/osd.xml" rel="search" title="Areeavicenna | Ex libris" type="application/opensearchdescription+xml"/>
	<atom:link href="https://areeavicenna.wordpress.com/?pushpress=hub" rel="hub"/>
	<itunes:explicit>yes</itunes:explicit><copyright>** copyright by Alloh Ta'ala **</copyright><itunes:image href="http://areeavicenna.wordpress.com/files/2009/07/palm_tree1.jpg"/><itunes:keywords>areeavicenna,lokomotif,lokoidea,noey,reea,nunung,ria</itunes:keywords><itunes:summary>just personal blog</itunes:summary><itunes:subtitle>-meraih asa dalam genggaman-</itunes:subtitle><itunes:author>areeavicenna</itunes:author><itunes:owner><itunes:email>ummuhanif00@gamil.com</itunes:email><itunes:name>areeavicenna</itunes:name></itunes:owner><item>
		<title>Puasa, Pemuda, dan Mengenai Menikah</title>
		<link>https://areeavicenna.wordpress.com/2016/11/28/puasa-pemuda-dan-mengenai-menikah/</link>
					<comments>https://areeavicenna.wordpress.com/2016/11/28/puasa-pemuda-dan-mengenai-menikah/#comments</comments>
		
		
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2016 16:53:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[special note]]></category>
		<category><![CDATA[random thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[reblog]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://areeavicenna.wordpress.com/?p=2032</guid>

					<description><![CDATA[Tulisan ini mungkin sudah sangat sering dibaca, di re-blog, re-post dan tentu saja menjadi &#8220;light on&#8221; utk banyak orang. jadi saya merasa tak pernah ada salahnya untuk me-reblog tulisan ini. karena sudah seyogyanya menyebarkan tulisan baik yang memberi efek baik 🙂 Sekitar tujuh tahun yang lalu, ketika hendak menikah, saya mendatangi guru saya untuk meminta...<br /><a class="more-link" href="https://areeavicenna.wordpress.com/2016/11/28/puasa-pemuda-dan-mengenai-menikah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini mungkin sudah sangat sering dibaca, di re-blog, re-post dan tentu saja menjadi &#8220;light on&#8221; utk banyak orang. jadi saya merasa tak pernah ada salahnya untuk me-reblog tulisan ini. karena sudah seyogyanya menyebarkan tulisan baik yang memberi efek baik <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<blockquote><p>Sekitar tujuh tahun yang lalu, ketika hendak menikah, saya mendatangi guru saya untuk meminta nasihat tentang pernikahan.</p>
<p>Sebagai seorang laki-laki, ada sejumlah kebimbangan dalam hati saya. Di satu sisi, saya ingin segera menikah karena saya merasa sudah menemukan ‘jodoh’ saya. Di sisi lain, saya masih merasa belum mampu menjalani pernikahan tersebut—terkait kesiapan mental, kesiapan batin, terlebih kesiapan materi karena barangkali kelak saya yang akan memegang tanggung jawab finansial lebih besar dalam rumah tangga.</p>
<p>“Kalau kamu belum mampu menikah, berpuasalah!” Kalimat itulah yang pertama kali diucapkan guru saya setelah saya menceritakan semuanya. Dingin dan datar.</p>
<p>Rasanya saya ingin bertanya, apakah puasa akan menyelesaikan masalah-masalah yang saya keluhkan? Apakah puasa akan membuat saya siap secara fisik, mental, batin, bahkan finansial? Namun, saya tak berani mempertanyakan semua itu kepada guru saya, hingga saya menanyakan hal lainnya—</p>
<p>“Saya mengerti tentang bahwa kita harus menahan diri, Kiai, menjaga pandangan dan kehormatan,” ujar saya, berusaha memberanikan diri, “Tapi saya ingin menikah bukan karena saya tidak bisa menahan nafsu seksual saya…”</p>
<p>Guru saya mendelik, “Kamu belum siap untuk menikah, Nak,” ujar guru saya, “Maka berpuasalah!”</p>
<p>Ada yang berontak dalam diri saya. “Ini soal lain, Kiai. Lebih ke soal bahwa saya khawatir saya belum siap membimbing istri saya atau menafkahinya secara materi. Bukan tentang hasrat seksual yang tak bisa saya tahan. Mengapa saya harus berpuasa juga?”</p>
<p>“Jangan remehkan perkataan nabimu!” Kata guru saya lagi, kali ini dengan suara agak meninggi. Saya tahu nasihat itu beliau ambil dari hadits Nabi. Tapi, saya bukan sedang ingin meremehkannya. “Berpuasalah!” Guru saya tetap pada perkataannya.</p>
<p>Saya tak ingin mendebat lagi. Maka saya menjalankan nasihatnya.</p>
<p>Bulan demi bulan, berganti tahun, saya tak kunjung menemukan solusi dari kecemasan saya selama ini. Niat menikah saya justru makin kendur karena kian tak yakin apakah saya siap menjadi imam untuk istri saya, apakah saya siap bertanggungjawab pada seluruh aspek kehidupan keluarga saya nanti?</p>
<p>Maka saya mendatangi guru saya lagi.</p>
<p>“Saya sudah berpuasa, Kiai,” ujar saya, “Tapi tak ada perubahan!”</p>
<p>Guru saya menatap mata saya, “Perbaiki kualitas puasamu,” ujarnya, <span style="color:#0000ff;"><strong>“Kamu hanya berpuasa untuk menahan nafsu makan dan nafsu seksualmu!”</strong></span></p>
<p>Deg! Tiba-tiba saya menyadari bahwa selama ini saya hanya menjalani puasa yang kekanak-kanakan tanpa benar-benar menghayati apa sesungguhnya pelajaran di balik semua itu.</p>
<p>“Jadi, apa yang harus saya lakukan dengan perintah itu, Kiai?”</p>
<p><span style="color:#0000ff;"> “Berpuasalah seperti kamu menjalani puasa Ramadhan,” jawab guru saya, “Berpuasalah seperti seseorang yang kamu memperbaiki kualitas-kualitas dirimu selama menjalani puasa itu. Berpuasalah seperti seseorang yang ingin mengubah dirinya dari seekor ulat menjadi kupu-kupu.</span>”</p>
<p>Saya terdiam. Tak bisa berkata apa-apa selain menyadari bahwa selama ini saya berpuasa tetapi tak memperbaiki kualitas diri saya.</p>
<p>“Apa yang perlu kamu lakukan untuk kuat berpuasa, Nak?” Tanya guru saya.</p>
<p>“Saya sahur, Kiai,” jawab saya.</p>
<p>Guru saya mengangguk-angguk, <span style="color:#ff0000;">“Sahur mengajarimu tentang persiapan dan perencanaan. Mungkin kamu akan kuat berpuasa seharian tanpa sahur. Tetapi dengan bangun sahur, kamu melatih dirimu menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Kamu mempersiapkan dirimu untuk menjalani puasa sebaik mungkin. Kamu menghitung apa yang perlu kamu makan saat sahur sehingga kamu kuat menjalani aktivitas terberat sekalipun saat berpuasa. Jika sahurmu baik, maka kamu akan siap melakukan yang terbaik dalam puasamu.”</span></p>
<p>Saya mendengarkan perkataan guru saya dengan seksama, rasanya ingin mencatat semuanya—</p>
<p>“Puasa bukan hanya melatihmu tentang kesabaran. Ia juga melatihmu tentang kejujuran dan rasa hormat. Nilai-nilai itulah yang penting kau miliki saat berumah tangga. Apa gunanya berpuasa tetapi kamu tak menjalani puasa itu? Apa gunanya menahan haus dan lapar tetapi kamu hanya tidur seharian? Itulah mengapa semua aktivitas yang kau lakukan selama puasa memiliki nilai yang berlipat ganda, jika kau menyadari betapa penting semuanya untuk meningkatkan kualitas dirimu sebagai seorang manusia.”</p>
<p>Saya tak bisa berkata-kata lagi.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"> “Kelak jika sudah saatnya, kau akan berbuka. Itu bukan tentang melampiaskan nafsumu. Bukan tentang membayar semua lapar yang kau tahan seharian. Buka puasa mengajari kita dua hal. Pertama, ia adalah tentang menyadari bahwa diri kita punya batas-batasnya. Kita tak bisa terus-menerus menahan lapar dan haus, kan? Maka kita perlu makan. Batas itu mengajari kita sikap mawas diri. Kedua, buka puasa juga mengajari kita tentang merayakan kebahagiaan. Percuma saja kualitas dirimu meningkat selama puasa jika kamu tak memberi ruang pada dirimu sendiri untuk berbahagia. Dua hal itu kelak penting untukmu saat kau berumah tangga.”</span></p>
<p>Saya tertegun. Ada yang tertahan di tenggorokan. “Rupanya saya harus memperbaiki puasa saya, Kiai. Agar saya siap.”</p>
<p>Guru saya tersenyum. “Kau kira anjuran berpuasa saat kau belum siap menikah tak berhubungan dengan semua aspek yang selama ini kau keluhkan, termasuk soal kemapanan hartamu? Nak, cobalah terapkan prinsip sahur-puas-buka dalam usahamu seperti yang sudah aku jelaskan tadi. Jika tak ada perubahan apa-apa dalam hidupmu, baru kau bisa mempertanyakan perkataan nabimu!”</p>
<p>Seketika, ada yang bergemuruh dalam hati dan pikiran saya. Jika saya ingin siap menikah, saya harus memperbaiki semuanya. Saya baru menyadari bahwa puasa memang akan menjaga ‘pandangan’ dan ‘kehormatan’ saya, seperti sabda Nabi. Tetapi jika saya menggali nasihat itu lebih dalam lagi, puasa akan menjadi penjaga yang membuat saya menjadi pribadi yang ‘terpandang’ dan ‘terhormat’.</p>
<p><strong><em> ‘Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu untuk menikah, maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penjaga baginya.’ (HR Bukhari-Muslim)</em></strong></p>
<p>Melbourne, 8 Ramadhan 1436 H</p>
<p style="padding-left:30px;"><strong> FAHD PAHDEPIE</strong></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://areeavicenna.wordpress.com/2016/11/28/puasa-pemuda-dan-mengenai-menikah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/072c78eef7305ceefc9e7669b825e8d7af56fde2f217735064f319e87ad2f935?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96">
			<media:title type="html">areeavicenna</media:title>
		</media:content>
	<dc:creator>ummuhanif00@gamil.com (areeavicenna)</dc:creator></item>
		<item>
		<title>[Review Buku] Hercule Poirot and the Greenshore Folly</title>
		<link>https://areeavicenna.wordpress.com/2016/10/15/review-buku-hercule-poirot-and-the-greenshore-folly/</link>
					<comments>https://areeavicenna.wordpress.com/2016/10/15/review-buku-hercule-poirot-and-the-greenshore-folly/#respond</comments>
		
		
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2016 13:53:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku-buku]]></category>
		<category><![CDATA[Tidak berkategori]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://areeavicenna.wordpress.com/?p=2021</guid>

					<description><![CDATA[by Agatha Christie My rating: 4 of 5 stars Disebutkan bahwa ini adalah satu-satunya setting cerita Agtaha Christie yang mengambil lokasi yang real. Tempat favorit Agatha Christie semasa hidupnya, meskipun disana tidak ada Folly yang kerap disebut-sebut dalam buku ini. Cerita pendek yang kepanjangan, yang awalnya diterbitkan dalam sebuah majalah namun kemudian akhirnya dibuat buku...<br /><a class="more-link" href="https://areeavicenna.wordpress.com/2016/10/15/review-buku-hercule-poirot-and-the-greenshore-folly/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a style="float:left;padding-right:20px;" href="https://www.goodreads.com/book/show/30173629-hercule-poirot-and-the-greenshore-folly---hercule-poirot-pesta-pembun"><img src="https://images.gr-assets.com/books/1463027160m/30173629.jpg" alt="Hercule Poirot and the Greenshore Folly -  Hercule Poirot &amp; Pesta Pembunuhan (Hercule Poirot Mysteries)" border="0" /></a> by <a href="https://www.goodreads.com/author/show/123715.Agatha_Christie">Agatha Christie</a></p>
<p>My rating: <a href="https://www.goodreads.com/review/show/1778715416">4 of 5 stars</a></p>
<p>Disebutkan bahwa ini adalah satu-satunya setting cerita Agtaha Christie yang mengambil lokasi yang real. Tempat favorit Agatha Christie semasa hidupnya, meskipun disana tidak ada Folly yang kerap disebut-sebut dalam buku ini.</p>
<p>Cerita pendek yang kepanjangan, yang awalnya diterbitkan dalam sebuah majalah namun kemudian akhirnya dibuat buku nya.</p>
<p>saya sudah menduga dari awal &#8230;</p>
<p>itu frasa umum yang kerap saya lontarkan ketika sudah mencapai akhir buku Agatha Christie. Dan untuk buku ini, saya sudah yaqin dari awal bahwa apa yang dilontarkan Kakek itu merupakan clue utama.</p>
<p>Tidak tertipu, tapi ini seru.</p>
<p><a href="https://www.goodreads.com/review/list/2603658-nung-ria">View all my reviews</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://areeavicenna.wordpress.com/2016/10/15/review-buku-hercule-poirot-and-the-greenshore-folly/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/072c78eef7305ceefc9e7669b825e8d7af56fde2f217735064f319e87ad2f935?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96">
			<media:title type="html">areeavicenna</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://images.gr-assets.com/books/1463027160m/30173629.jpg">
			<media:title type="html">Hercule Poirot and the Greenshore Folly -  Hercule Poirot &amp; Pesta Pembunuhan (Hercule Poirot Mysteries)</media:title>
		</media:content>
	<dc:creator>ummuhanif00@gamil.com (areeavicenna)</dc:creator></item>
		<item>
		<title>[mBolang] #15 Berdua ke Lawu</title>
		<link>https://areeavicenna.wordpress.com/2016/10/02/mbolang-15-lawu/</link>
					<comments>https://areeavicenna.wordpress.com/2016/10/02/mbolang-15-lawu/#respond</comments>
		
		
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2016 16:01:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[mBolang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://areeavicenna.wordpress.com/?p=2002</guid>

					<description><![CDATA[[Memang syahdu ketika menulis di malam hari, di luar hujan, dingin merasuk, dan segelas besar kopi pekat Aceh panas yang diracik sendiri.] September, 3rd 2016. Ba&#8217;da Dhuhur, setelah singgah di Masjid pinggir jalan wilayah Jaten-Karanganyar, kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Lawu. Hanya berdua, menggunakan motor matic dengan bahagia saya dibonceng Fitri melalui Matesih. Menulis ini...<br /><a class="more-link" href="https://areeavicenna.wordpress.com/2016/10/02/mbolang-15-lawu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>[Memang syahdu ketika menulis di malam hari, di luar hujan, dingin merasuk, dan segelas besar kopi pekat Aceh panas yang diracik sendiri.]</em></p>
<p>September, 3rd 2016. Ba&#8217;da Dhuhur, setelah singgah di Masjid pinggir jalan wilayah Jaten-Karanganyar, kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Lawu. Hanya berdua, menggunakan motor matic dengan bahagia saya dibonceng Fitri melalui Matesih.</p>
<p>Menulis ini serasa nostalgia sekali, saya ingat benar memori pada setiap jalan yang dilalui. Berkali-kali saya berbicara pada Fitri, cerita2 lalu yang pernah saya lalui dengan rekan2 saya menggunung. Mungkin Fitri jengah, namun ia tampak mendengarkan dan merespon dengan baik setiap memori yang saya lontarkan. <em>*thanks Fit <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> *</em></p>
<p>Solo kala itu benar2 panas menyengat, beberapa kali Fitri mengeluh akan teriknya matahari di Solo. Namun sekejap berubah komentar ketika memasuki Matesih, langit perlahan tapi pasti menjadi gelap. Sampai di kaki gunung Lawu, hujan rintik2.</p>
<p>Kami memutuskan dari awal untuk melalui jalur pendakian Cemoro Sewu dengan asumsi track yang relatif mudah karena kami hanya berdua. Target adalah puncak, tapi tidak menutup kemungkinan utk tidak merealisasikan hal tersebut. USai sholat Ashar, karena masih hujan rintik, kami mengenakan mantol kresek. Memastikan tas carier tidak akan basah dan membungkusnya dengan trashbagbesar. Ternyata sekarang untuk melakukan kegiatan pendakian harus membayar 15 ribu per orang, mengisi kolom pendaftaran, dan meninggalkan identitas. Berbeda dengan 3 tahun lalu. Ah iya, parkir motor 10 ribu ya.</p>
<p>Kami berjalan sangat santai, perjanjian dari awal adalah tidak boleh sungkan bilang &#8220;break&#8221; kalo memang butuh istirahat. Selama perjalanan saya dan Fitri ngobrol banyak hal. Cenderungnya saya yang bercerita sih *hahaha, dasar cerewet*. Ini pun kali pertama saya melakukan pendakian dengan Fitri, tapi jam terbang menggunung Fitri jauh di atas saya. Jadi saya tak pernah merasa khawatir akan kenapa2 walopun kami hanya berdua, karena saya sangat percaya dengan teman saya satu itu <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Selama perjalanan, saya selalu [sok] tahu memberi panduan. Sebentar lagi kira akan melewati ini lah, akan bisa melihat batu ini lah, dulu di sebelah sini saya beginilah. Dan sok tau lainnya. Fitri tampak ikhlas merespon setiap kata yg saya lontarkan.</p>
<p>Mendekati adzan maghrib, playlist lagu yang tadi nya musik, berubah menjadi rentetan murotal. Mungkin Alloh tahu kami butuh siraman rohani, atau mungkin Alloh sengaja melindungi kami. Yang jelas kami sama2 malas mengganti playlist nya. Jadinya murotal sampe pos 3, sampel pukul 7 malam.</p>
<p>Sesekali berhenti sekedar mengistirahatkan kaki, menyapa pendaki yang turun. Atau Fitri minta minum. Saya jarang minum, karena saya tahu kalo saya minum maka nantinya saaya akan terus2an minta break untuk minum.</p>
<p>Perjalanan sampai pos 1, kami memutuskan rehat bebarapa lama. Belum terlalu gelap, jadi saya beli secangkir kopi akibat rasa dingin yang mulai merasuk tubuh sambil beramah tamah dengan bapak dan Ibu yang dari beliau lah kami tahu kalo warung ini buka hari Sabtu dan Minggu, waktu dimana banyak pendaki melakukan ekspedisinya.</p>
<p>Setelah dirasa cukup,kami melanjutkan perjalanan. Carier 60 Liter yang saya bawa, belum berkurang bebannya. Tak terbongkar sama sekali.</p>
<p>Santai namun pasti. Perjalanan dari Pos 1 hingga Pos 2 adalah perjalanan penuh cerita bagi saya, sempet ingin menangis haru ketika mengingat masa2 kuliah dulu bersama teman2 se-angkatan, melakukan perjalanan pendakian gunung. Hampir setiap spot memiliki ceritanya sendiri2. Dan karena ga kuat kalo ga cerita, akhirnya saya cerita ngalor ngidul sambil sesekali bilang ke Fitri,</p>
<p>&#8220;Fit aku pengen Nangis.&#8221;</p>
<p>Lalu akan dijawab dengan tawa oleh Fitri.<br />
Hari semakin gelap. Langkah kaki kami masih mantab. Pijakan batu demi batu kami lalui, cerita seperti tak pernah habis. Tak ada keheningan, karena obrolan kami sesekali membuat kami tertawa geli. Sebelum jam 9 kalo bisa kami sudah mendirikan tenda di Pos terakhir.</p>
<p>Ba&#8217;da Maghrib, kami menyiapkan headlamp masing2. Setelah melewati Watu Jago, jalan sudah susah dilihat kalau headlamp tidak dinyalakan. Tanda2 keriuhan pos 2 belum terdengar. Kami pun terus berjalan. Gerimis mengguyur kembali, alhamdulillah mantol nya belum dilepas, jadi kami masih berjalan santai saja.</p>
<p>Setelah melewati Pos 2, hujan semakin deras. Kami masih terus berjalan. Namun paru-paru semakin terasa terbakar setiap tarikan napas yang diambil. Break semakin sering. dan kelakar kalo kami semakin menua menjadi hal mendasar obrolan kala itu,</p>
<p>&#8220;Ya, kita wes tuwek ternyata.&#8221;</p>
<p>kelakar Fitri kepada saya. Hahaha&#8230;</p>
<p>Jalan menuju pos 3 relatif menanjak, yang penting sampe pos 3 dulu, dome harus segera dibangun sebelum hujan semakin deras.</p>
<p>Dan pos 3 masih belum berpenghuni ketika kami sampai sana, kami pun segera mendirikan dome. Kami membuat omelete *iya, bukan saya yang buat, tapi Fitri. saya yang makan <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> *.</p>
<p>Kami segera sholat dan masuk dalam sleeping bag masing2. diluar hujan amat deras, sedikit demi sedikit banyak pendaki yang mulai berteduh di bawah shelter. dan disini akan saya skip ceritanya karena bikin sedih untuk diceritakan.</p>
<p>Walhasil kami pagi hari nya setelah dome-yang dbangun-namun-dipaksa-bongkar, segera turun karena mood untuk melanjutkan perjalanan hingga puncak telah pupus. Sebelum adzan dhuhur, kami sudah di bawah. dan perjalanan naik maupun turun kemarin, mendung menjadi teman kami. Matahari tampak enggan berbagi kehangatannya hingga kami sampai ke Solo.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://areeavicenna.wordpress.com/2016/10/02/mbolang-15-lawu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/072c78eef7305ceefc9e7669b825e8d7af56fde2f217735064f319e87ad2f935?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96">
			<media:title type="html">areeavicenna</media:title>
		</media:content>
	<dc:creator>ummuhanif00@gamil.com (areeavicenna)</dc:creator></item>
		<item>
		<title>[Review Buku] Sehidup Sesurga</title>
		<link>https://areeavicenna.wordpress.com/2016/10/02/review-buku-sehidup-sesurga/</link>
					<comments>https://areeavicenna.wordpress.com/2016/10/02/review-buku-sehidup-sesurga/#respond</comments>
		
		
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2016 14:01:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku-buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fahd Pahdepie]]></category>
		<category><![CDATA[review buku]]></category>
		<category><![CDATA[Sehidup sesurga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://areeavicenna.wordpress.com/?p=2000</guid>

					<description><![CDATA[My rating: 5 of 5 stars Paperback, 210 pages Published June 9th 2016 by Panda Media Original Title : Sehidup Sesurga ISBN13 : 9789797808457 Edition Language : Indonesian saya suka judul yg dipilih. Sehidup sesurga. benar2 menekankan bahwa sekedar sehidup semati itu tidak cukup, membangun keluarga merupakan satu investasi untuk menimbun pahala sebanyak2nya demi kehidupan...<br /><a class="more-link" href="https://areeavicenna.wordpress.com/2016/10/02/review-buku-sehidup-sesurga/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a style="float:left;padding-right:20px;" href="https://www.goodreads.com/book/show/30736562-sehidup-sesurga"><img class="" src="https://d2arxad8u2l0g7.cloudfront.net/books/1466673512m/30736562.jpg" alt="Sehidup Sesurga" width="164" height="234" border="0" /></a>My rating: <a href="https://www.goodreads.com/review/show/1768297436">5 of 5 stars</a></p>
<div class="row"><em>Paperback, 210 pages</em></div>
<div class="row"><em>Published June 9th 2016 by Panda Media</em></div>
<div class="buttons">
<div id="bookDataBox" class="uitext">
<div class="clearFloats">
<div class="infoBoxRowItem"><em>Original Title : Sehidup Sesurga</em></div>
</div>
<div class="clearFloats">
<div class="infoBoxRowItem"><em>ISBN13 : 9789797808457</em></div>
</div>
<div class="clearFloats">
<div class="infoBoxRowItem"><em>Edition Language : Indonesian</em></div>
</div>
</div>
</div>
<p>saya suka judul yg dipilih. Sehidup sesurga. benar2 menekankan bahwa sekedar sehidup semati itu tidak cukup, membangun keluarga merupakan satu investasi untuk menimbun pahala sebanyak2nya demi kehidupan yg disebut lebih abadi. Tak hanya merasakan manis getirnya kehidupan saja, tapi indah nya surga pun harus merupakan tujuan utama dalam berkeluarga.</p>
<p>kontennya sederhana namun sangat mengena dengan.kehidupan berkeluarga. saya manggut2 juga menitikkan air mata. saya senyum2 utk beberapa bab.</p>
<p>sangaaat sukaaaa.</p>
<p><a href="https://www.goodreads.com/review/list/2603658-nung-ria">View all my reviews</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://areeavicenna.wordpress.com/2016/10/02/review-buku-sehidup-sesurga/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/072c78eef7305ceefc9e7669b825e8d7af56fde2f217735064f319e87ad2f935?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96">
			<media:title type="html">areeavicenna</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://d2arxad8u2l0g7.cloudfront.net/books/1466673512m/30736562.jpg">
			<media:title type="html">Sehidup Sesurga</media:title>
		</media:content>
	<dc:creator>ummuhanif00@gamil.com (areeavicenna)</dc:creator></item>
	</channel>
</rss>