<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>KUMPULAN ARTIKEL</title><link>http://nadhirin.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/arifluqman-87" /><description>SEBAIK-BAIK MANUSIA ADALAH YANG PALING BERMANFAAT UNTUK MANUSIA</description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (Arif Luqman Nadhirin)</managingEditor><lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 02:44:16 PST</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">90</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info uri="arifluqman-87" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><media:copyright>alfan_ramadhan@yahoo.com</media:copyright><media:keywords>PSIKOLOGI,SOSIOLOGI,AGAMA,SOSIAL,FILSAFAT,PENDIDIKAN,EKONOMI,POLITIK,HIBURAN,HUKUM,KESEHATAN,BAHASA,HOBY</media:keywords><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">Education/Educational Technology</media:category><itunes:owner><itunes:email>pasyabrilian@yahoo.com</itunes:email><itunes:name>pasyabrilian@yahoo.com</itunes:name></itunes:owner><itunes:author>pasyabrilian@yahoo.com</itunes:author><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:keywords>PSIKOLOGI,SOSIOLOGI,AGAMA,SOSIAL,FILSAFAT,PENDIDIKAN,EKONOMI,POLITIK,HIBURAN,HUKUM,KESEHATAN,BAHASA,HOBY</itunes:keywords><itunes:subtitle>Feedburner</itunes:subtitle><itunes:summary>Kumpulan Artikel</itunes:summary><itunes:category text="Education"><itunes:category text="Educational Technology" /></itunes:category><item><title>Ciri-Ciri Sekolah yang Melaksanakan Pembelajaran Aktif</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/ca4J4pjs4jM/was-sekolah-sahabat-pendidikan-info.html</link><category>Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Wed, 08 Jun 2011 09:04:02 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-6917116572609577642</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-IDPBjYpDV14/Te-XD7rkHNI/AAAAAAAAAac/3hQfCfYZbyo/s1600/pembelajaran-ips.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 194px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-IDPBjYpDV14/Te-XD7rkHNI/AAAAAAAAAac/3hQfCfYZbyo/s320/pembelajaran-ips.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615873354170113234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran Aktif merupakan sebuah konsep pembelajaran  yang dipandang sesuai dengan tuntutan pembelajaran mutakhir. Oleh karena itu, setiap sekolah seyogyanya dapat mengimplementasikan dan mengembangkan pembelajaran aktif ini dengan sebaik mungkin. Dengan merujuk pada gagasan dari  Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas (2010), berikut ini disajikan sejumlah indikator atau ciri-ciri sekolah yang telah melaksanakan proses pembelajaran aktif ditinjau dari aspek:  (a) ekspektasi sekolah, kreativitas, dan inovasi; (b) sumber daya manusia; (c) lingkungan, fasilitas, dan sumber belajar; dan (d) proses belajar-mengajar dan penilaian.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. EKSPEKTASI SEKOLAH, KREATIVITAS, DAN INOVASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Prestasi belajar peserta didik lebih ditekankan pada ”menghasilkan” daripada ”memahami”.&lt;br /&gt;    Sekolah menyelenggarakan ajang ‘kompetisi’ yang mendidik dan sehat.&lt;br /&gt;    Sekolah ramah lingkungan (misalnya; ada tanaman atau pohon, po bunga, tempat sampah)&lt;br /&gt;    Lebih baik lagi jika terdapat produk/karya peserta didik yang mempunyai nilai artistik dan ekonomis/kapital untuk dijual.&lt;br /&gt;    Lebih baik jika ada pameran karya peserta didik dalam kurun waktu tertentu, misalnya sekali dalam satu tahun.&lt;br /&gt;    Karya peserta didik lebih dominan daripada pemasangan beragam atribut sekolah.&lt;br /&gt;    Kehidupan sekolah terasa lebih ramai, ceria, dan riang.&lt;br /&gt;    Sekolah rapi, bersih, dan teratur.&lt;br /&gt;    Komunitas sekolah santun, disiplin, dan ramah.&lt;br /&gt;    Animo masuk ke sekolah itu makin meningkat.&lt;br /&gt;    Sekolah menerapkan seleksi khusus untuk menerima peserta didik baru.&lt;br /&gt;    Ada forum penyaluran keluhan peserta didik.&lt;br /&gt;    Iklim sekolah lebih demokratis.&lt;br /&gt;    Diselenggarakan lomba-lomba antarkelas secara berkala dan di tingkat pendidikan menengah ada lomba karya ilmiah peserta didik.&lt;br /&gt;    Ada program kunjungan ke sumber belajar di masyarakat.&lt;br /&gt;    Kegiatan belajar pada silabus dan RPP menekankan keterlibatan peserta didik secara aktif.&lt;br /&gt;    Peserta didik mengetahui dan dapat menjelaskan tentang lingkungan sekolah (misalnya, nama guru, nama kepala sekolah, dan hal-hal umum di sekolah itu).&lt;br /&gt;    Ada program pelatihan internal guru (inhouse training) secara rutin.&lt;br /&gt;    Ada forum diskusi atau musyawarah antara kepala sekolah dan guru maupun tenaga kependidikan lainnya secara rutin.&lt;br /&gt;    Ada program tukar pendapat, diskusi atau musyawarah dengan mitra dari berbagai pihak yang terkait (stakeholders).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. SUMBER DAYA MANUSIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kepala sekolah peduli dan menyediakan waktu untuk menerima keluhan dan saran dari peserta didik maupun guru.&lt;br /&gt;    Kepala sekolah terbuka dalam manajemen, terutama manajemen keuangan kepada guru dan orang tua/komite sekolah.&lt;br /&gt;    Guru berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar.&lt;br /&gt;    Guru mengenal baik nama-nama peserta didik.&lt;br /&gt;    Guru terbuka kepada peserta didik dalam hal penilaian.&lt;br /&gt;    Sikap guru ramah dan murah senyum kepada peserta didik, dan tidak ada kekerasan fisik dan verbal kepada peserta didik.&lt;br /&gt;    Guru selalu berusaha mencari gagasan baru dalam mengelola kelas dan mengembangkan kegiatan belajar.&lt;br /&gt;    Guru menunjukkan sikap kasih sayang kepada peserta didik.&lt;br /&gt;    Peserta didik banyak melakukan observasi di lingkungan sekitar dan terkadang belajar di luar kelas.&lt;br /&gt;    Peserta didik berani bertanya kepada guru.&lt;br /&gt;    Peserta didik berani dalam mengemukakan pendapat.&lt;br /&gt;    Peserta didik tidak takut berkomunikasi dengan guru.&lt;br /&gt;    Para peserta didik bekerja sama tanpa memandang perbedaan suku, ras, golongan, dan agama.&lt;br /&gt;    Peserta didik tidak takut kepada kepala sekolah.&lt;br /&gt;    Peserta didik senang membaca di perpustakaan dan ada perilaku cenderung berebut ingin membaca buku bila datang mobil perpustakaan keliling.&lt;br /&gt;    Potensi peserta didik lebih tergali serta minat dan bakat peserta didik lebih mudah terdeteksi.&lt;br /&gt;    Ekspresi peserta didik tampak senang dalam proses belajar.&lt;br /&gt;    Peserta didik sering mengemukakan gagasan dalam proses belajar.&lt;br /&gt;    Perhatian peserta didik tidak mudah teralihkan kepada orang/tamu yang datang ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. LINGKUNGAN, FASILITAS, DAN SUMBER BELAJAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sumber belajar di lingkungan sekolah dimanfaatkan peserta didik untuk belajar.&lt;br /&gt;    Terdapat majalah dinding yang dikelola peserta didik yang secara berkala diganti dengan karya peserta didik yang baru.&lt;br /&gt;    Di ruang kepala sekolah dan guru terdapat pajangan hasil karya peserta didik.&lt;br /&gt;    Tidak ada alat peraga praktik yang ditumpuk di ruang kepala sekolah atau ruang lainnya hingga berdebu.&lt;br /&gt;    Buku-buku tidak ditumpuk di ruang kepala sekolah atau di ruang lain.&lt;br /&gt;    Frekuensi kunjungan peserta didik ke ruang perpustakaan sekolah untuk membaca/meminjam buku cukup tinggi.&lt;br /&gt;    Di setiap kelas ada pajangan hasil karya peserta didik yang baru.&lt;br /&gt;    Ada sarana belajar yang bervariasi.&lt;br /&gt;    Digunakan beragam sumber belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.  PROSES BELAJAR-MENGAJAR DAN PENILAIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada taraf tertentu diterapkan pendekatan integrasi dalam kegiatan belajar antarmata pelajaran yang relevan.&lt;br /&gt;    Tampak ada kerja sama antarguru untuk kepentingan proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;    Dalam menilai kemajuan hasil belajar guru menggunakan beragam cara sesuai dengan indikator kompetensi. Bila tuntutan indikator melakukan suatu unjuk kerja, yang dinilai adalah unjuk kerja. Bila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, yang digunakan adalah alat penilaian tertulis. Bila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan, tugas (proyek) itulah yang dinilai. Bila tuntutan indikator menghasilkan suatu produk 3 dimensi, baik proses pembuatan maupun kualitas, yang dinilai adalah proses pembuatan atau pun produk yang dihasilkan.&lt;br /&gt;    Tidak ada ulangan umum bersama, baik pada tataran sekolah maupun wilayah, pada tengah semester dan / atau akhir semester, karena guru bersangkutan telah mengenali kondisi peserta didik melalui diagnosis dan telah melakukan perbaikan atau pengayaan berdasarkan hasil diagnosis kondisi peserta didik.&lt;br /&gt;    Model rapor memberi ruang untuk mengungkapkan secara deskriptif kompetensi yang sudah dikuasai peserta didik dan yang belum, sehingga dapat diketahui apa yang dibutuhkan peserta didik.&lt;br /&gt;    Guru melakukan penilaian ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Hal ini dilakukan untuk menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sekaligus sebagai alat diagnosis untuk menentukan apakah peserta didik perlu melakukan perbaikan atau pengayaan.&lt;br /&gt;    Menggunakan penilaian acuan kriteria, di mana pencapaian kemampuan peserta didik tidak dibandingkan dengan kemampuan peserta didik yang lain, melainkan dibandingkan dengan pencapaian kompetensi dirinya sendiri, sebelum dan sesudah belajar.&lt;br /&gt;    Penentuan kriteria ketuntasan belajar diserahkan kepada guru yang bersangkutan untuk mengontrol pencapaian kompetensi tertentu peserta didik. Dengan demikian, sedini mungkin guru dapat mengetahui kelemahan dan keberhasilan peserta dalam kompetensi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==========&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas. 2010.  Panduan Pengembangan Pendekatan Belajar Aktif; Buku I Bahan Pelatihan  Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==============&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REFLEKSI:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sejauhmana sekolah Anda telah mampu  memenuhi indikator di atas?&lt;br /&gt;    Upaya apa yang bisa dilakukan agar sekolah-sekolah kita dapat memenuhi ciri-ciri di atas? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ini bukan tulisan saya, lebih lengkapnya silahkan Anda baca di&lt;/span&gt; &lt;a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/06/07/ciri-ciri-sekolah-yang-melaksanakan-pembelajaran-aktif/#more-15323"&gt;AKHMAD SUDRAJAT: TENTANG PENDIDIKAN &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-6917116572609577642?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/ca4J4pjs4jM" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-06-08T23:04:02.096+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/-IDPBjYpDV14/Te-XD7rkHNI/AAAAAAAAAac/3hQfCfYZbyo/s72-c/pembelajaran-ips.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2011/06/was-sekolah-sahabat-pendidikan-info.html</feedburner:origLink></item><item><title>PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/9iiMipt4MVc/pendidikan-nasional-yang-bermoral.html</link><category>Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Sun, 05 Jun 2011 12:00:16 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-3724328576403512818</guid><description>Oleh Amirul Mukminin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang harus kita akui ada diantara (oknum) generasi muda saat ini yang mudah emosi dan lebih mengutamakan otot daripada akal pikiran. Kita lihat saja, tawuran bukan lagi milik pelajar SMP dan SLTA tapi sudah merambah dunia kampus (masih ingat kematian seorang mahasiswa di Universitas Jambi, awal tahun 2002 akibat perkelahian didalam kampus). Atau kita jarang (atau belum pernah) melihat demonstrasi yang santun dan tidak menggangu orang lain baik kata-kata yang diucapkan dan prilaku yang ditampilkan. Kita juga kadang-kadang jadi ragu apakah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa murni untuk kepentingan rakyat atau pesanan sang pejabat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, berita-berita mengenai tindakan pencurian kendaraan baik roda dua maupun empat, penguna narkoba atau bahkan pengedar, pemerasan dan perampokan yang hampir setiap hari mewarnai tiap lini kehidupan di negara kita tercinta ini banyak dilakukan oleh oknum golongan terpelajar. Semua ini jadi tanda tanya besar kenapa hal tersebut terjadi?. Apakah dunia Pendidikan (dari SD sampai PT) kita sudah tidak lagi mengajarkan tata susila dan prinsip saling sayang - menyayangi kepada siswa atau mahasiswanya atau kurikulum pendidikan tinggi sudah melupakan prinsip kerukunan antar sesama? Atau inikah hasil dari sistim pendidikan kita selama ini ? atau Inikah akibat perilaku para pejabat kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilain pihak, tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang membuat bangsa ini morat-marit dengan segala permasalahanya baik dalam bidang keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya serta pendidikan banyak dilakukan oleh orang orang yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi baik dalam negri maupun luar negri. Dan parahnya, era reformasi bukannya berkurang tapi malah tambah jadi. Sehingga kapan krisis multidimensi inI akan berakhir belum ada tanda-tandanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERLU PENDIDIKAN YANG BERMORAL&lt;br /&gt;Kita dan saya sebagai Generasi Muda sangat perihatin dengan keadaan generasi penerus atau calon generasi penerus Bangsa Indonesai saat ini, yang tinggal, hidup dan dibesarkan di dalam bumi republik ini. Untuk menyiapkan generasi penerus yang bermoral, beretika, sopan, santun, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu dilakukan hal-hal yang memungkin hal itu terjadi walaupun memakan waktu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, melalui pendidikan nasional yang bermoral (saya tidak ingin mengatakan bahwa pendidikan kita saat ini tidak bermoral, namun kenyataanya demikian di masyarakat). Lalu apa hubungannya Pendidikan Nasional dan Nasib Generasi Penerus? Hubungannya sangat erat. Pendidikan pada hakikatnya adalah alat untuk menyiapkan sumber daya manusia yang bermoral dan berkualitas unggul. Dan sumber daya manusia tersebut merupakan refleksi nyata dari apa yang telah pendidikan sumbangankan untuk kemajuan atau kemunduran suatu bangsa. Apa yang telah terjadi pada Bangsa Indonesia saat ini adalah sebagai sumbangan pendidikan nasional kita selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan nasional selama ini telah mengeyampingkan banyak hal. Seharusnya pendidikan nasional kita mampu menciptakan pribadi (generasi penerus) yang bermoral, mandiri, matang dan dewasa, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.Tapi kenyataanya bisa kita lihat saat ini. Pejabat yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme baik di legislative, ekskutif dan yudikatif semuanya orang-orang yang berpendidikan bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka bergelar dari S1 sampai Prof. Dr. Contoh lainnya, dalam bidang politik lebih parah lagi, ada partai kembar , anggota dewan terlibat narkoba, bertengkar ketika sidang, gontok-gontokan dalam tubuh partai karena memperebutkan posisi tertentu (Bagaimana mau memperjuangkan aspirasi rakyat kalau dalam diri partai saja belum kompak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih ingatkah ketika terjadi jual beli kata-kata umpatan ("bangsat") dalam sidang kasus Bulog yang dilakukan oleh orang-orang yang mengerti hukum dan berpendidikan tinggi. Apakah orang-orang seperti ini yang kita andalkan untuk membawa bangsa ini kedepan? Apakah mereka tidak sadar tindak-tanduk mereka akan ditiru oleh generasi muda saat ini dimasa yang akan datang? Dalam dunia pendidikan sendiri terjadi penyimpangan-penyimpang yang sangat parah seperti penjualan gelar akademik dari S1 sampai S3 bahkan professor (dan anehnya pelakunya adalah orang yang mengerti tentang pendidikan), kelas jauh, guru/dosen yang curang dengan sering datang terlambat untuk mengajar, mengubah nilai supaya bisa masuk sekolah favorit, menjiplak skripsi atau tesis, nyuap untuk jadi pegawai negeri atau nyuap untuk naik pangkat sehingga ada kenaikan pangkat ala Naga Bonar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pendidikan tingkat menengah sampai dasar, sama parahnya, setiap awal tahun ajaran baru. Para orang tua murid sibuk mengurusi NEM anaknya (untungsnya, NEM sudah tidak dipakai lagi, entah apalagi cara mereka), kalau perlu didongkrak supaya bisa masuk sekolah-sekolah favorit. Kalaupun NEM anaknya rendah, cara yang paling praktis adalah mencari lobby untuk memasukan anaknya ke sekolah yang diinginkan, kalau perlu nyuap. Perilaku para orang tua seperti ini (khususnya kalangan berduit) secara tidak langsung sudah mengajari anak-anak mereka bagaimana melakukan kecurangan dan penipuan. (makanya tidak aneh sekarang ini banyak oknum pejabat jadi penipu dan pembohong rakyat). Dan banyak lagi yang tidak perlu saya sebutkan satu per satu dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke pendidikan nasional yang bermoral (yang saya maksud adalah pendidikan yang bisa mencetak generasi muda dari SD sampai PT yang bermoral. Dimana proses pendidikan harus bisa membawa peserta didik kearah kedewasaan, kemandirian dan bertanggung jawab, tahu malu, tidak plin-plan, jujur, santun, berahklak mulia, berbudi pekerti luhur sehingga mereka tidak lagi bergantung kepada keluarga, masyarakat atau bangsa setelah menyelesaikan pendidikannya.Tetapi sebaliknya, mereka bisa membangun bangsa ini dengan kekayaan yang kita miliki dan dihargai didunia internasional. Kalau perlu bangsa ini tidak lagi mengandalkan utang untuk pembangunan. Sehingga negara lain tidak seenaknya mendikte Bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, proses transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik harus dilakukan dengan gaya dan cara yang bermoral pula. Dimana ketika berlangsung proses tranformasi ilmu pengetahuan di SD sampai PT sang pendidik harus memiliki moralitas yang bisa dijadikan panutan oleh peserta didik. Seorang pendidik harus jujur, bertakwa, berahklak mulia, tidak curang, tidak memaksakan kehendak, berperilaku santun, displin, tidak arogan, ada rasa malu, tidak plin plan, berlaku adil dan ramah di dalam kelas, keluarga dan masyarakat. Kalau pendidik mulai dari guru SD sampai PT memiliki sifat-sifat seperti diatas. Negara kita belum tentu morat-marit seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Perubahan dalam pendidikan nasional jangan hanya terpaku pada perubahan kurikulum, peningkatan anggaran pendidikan, perbaikan fasilitas. Misalkan kurikulum sudah dirubah, anggaran pendidikan sudah ditingkatkan dan fasilitas sudah dilengkapi dan gaji guru/dosen sudah dinaikkan, Namun kalau pendidik (guru atau dosen) dan birokrat pendidikan serta para pembuat kebijakan belum memiliki sifat-sifat seperti diatas, rasanya perubahan-perubahan tersebut akan sia-sia. Implementasi di lapangan akan jauh dari yang diharapkan Dan akibat yang ditimbulkan oleh proses pendidikan pada generasi muda akan sama seperti sekarang ini. Dalam hal ini saya tidak berpretensi menyudutkan guru atau dosen dan birokrat pendidikan serta pembuat kebijakan sebagai penyebab terpuruknya proses pendidikan di Indonesia saat ini. Tapi adanya oknum yang berperilaku menyimpang dan tidak bermoral harus segera mengubah diri sedini mungkin kalau menginginkan generasi seperti diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, anggaran pendidikan yang tinggi belum tentu akan mengubah dengan cepat kondisi pendidikan kita saat ini. Malah anggaran yang tinggi akan menimbulkan KKN yang lebih lagi jika tidak ada kontrol yang ketat dan moralitas yang tinggi dari penguna anggaran tersebut. Dengan anggaran sekitar 6% saja KKN sudah merajalela, apalagi 20-25%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Berlaku adil dan Hilangkan perbedaan. Ketika saya masih di SD dulu, ada beberapa guru saya sangat sering memanggil teman saya maju kedepan untuk mencatat dipapan tulis atau menjawab pertanyaan karena dia pintar dan anak orang kaya. Hal ini juga berlanjut sampai saya kuliah di perguruan tinggi. Yang saya rasakan adalah sedih, rendah diri, iri dan putus asa sehingga timbul pertanyaan mengapa sang guru tidak memangil saya atau yang lain. Apakah hanya yang pintar atau anak orang kaya saja yang pantas mendapat perlakuan seperti itu.? Apakah pendidikan hanya untuk orang yang pintar dan kaya?Dan mengapa saya tidak jadi orang pintar dan kaya seperti teman saya? Bisakah saya jadi orang pintar dengan cara yang demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan contoh yang saya rasakan ini (dan banyak contoh lain yang sebenarnya ingin saya ungkapkan), saya ingin memberikan gambaran bahwa pendidikan nasional kita telah berlaku tidak adil dan membuat perbedaan diantara peserta didik. Sehingga generasi muda kita secara tidak langsung sudah diajari bagaimana berlaku tidak adil dan membuat perbedaan. Jadi, pembukaan kelas unggulan atau kelas akselerasi hanya akan membuat kesenjangan sosial diantara peserta didik, orang tua dan masyarakat. Yang masuk di kelas unggulan belum tentu memang unggul, tetapi ada juga yang diunggul-unggulkan karena KKN. Yang tidak masuk kelas unggulan belum tentu karena tidak unggul otaknya tapi karena dananya tidak unggul. Begitu juga kelas akselerasi, yang sibuk bukan peserta didik, tapi para orang tua mereka mencari jalan bagaimana supaya anaknya bisa masuk kelas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau membuat perbedaan, buatlah perbedaan yang bisa menumbuhkan peserta didik yang mandiri, bermoral. dewasa dan bertanggungjawab. Jangan hanya mengadopsi sistem bangsa lain yang belum tentu cocok dengan karakter bangsa kita. Karena itu, pembukaan kelas unggulan dan akselerasi perlu ditinjau kembali kalau perlu hilangkan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain lagi , seorang dosen marah-marah karena beberapa mahasiswa tidak membawa kamus. Padahal Dia sendiri tidak pernah membawa kamus ke kelas. Dan seorang siswa yang pernah belajar dengan saya datang dengan menangis memberitahu bahwa nilai Bahasa Inggrisnya 6 yang seharusnya 9. Karena dia sering protes pada guru ketika belajar dan tidak ikut les dirumah guru tersebut. Inikan! contoh paling sederhana bahwa pendidikan nasional kita belum mengajarkan bagaimana berlaku adil dan menghilangkan Perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEJABAT HARUS SEGERA BERBENAH DIRI DAN MENGUBAH PERILAKU&lt;br /&gt;Kalau kita menginginkan generasi penerus yang bermoral, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Maka semua pejabat yang memegang jabatan baik legislative, ekskutif maupun yudikatif harus berbenah diri dan memberi contoh dulu bagaimana jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok kepada generasi muda mulai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mereka semua adalah orang-orang yang berpendidikan dan tidak sedikit pejabat yang bergelar Prof. Dr. (bukan gelar yang dibeli obral). Mereka harus membuktikan bahwa mereka adalah hasil dari sistim pendidikan nasional selama ini. Jadi kalau mereka terbukti salah melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme, jangan cari alasan untuk menghindar. Tunjukan bahwa mereka orang yang berpendidikan , bermoral dan taat hukum. Jangan bohong dan curang. Apabila tetap mereka lakukan, sama saja secara tidak langsung mereka (pejabat) sudah memberikan contoh kepada generasi penerus bahwa pendidikan tinggi bukan jaminan orang untuk jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Jadi jangan salahkan jika generasi mudah saat ini meniru apa yang mereka (pejabat) telah lakukan . Karena mereka telah merasakan, melihat dan mengalami yang telah pejabat lakukan terhadap bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, semua pejabat di negara ini mulai saat ini harus bertanggungjawab dan konsisten dengan ucapannya kepada rakyat. Karena rakyat menaruh kepercayaan terhadap mereka mau dibawah kemana negara ini kedepan. Namun perilaku pejabat kita, lain dulu lain sekarang. Sebelum diangkat jadi pejabat mereka umbar janji kepada rakyat, nanti begini, nanti begitu. Pokoknya semuanya mendukung kepentingan rakyat. Dan setelah diangkat, lain lagi perbuatannya. Contoh sederhana, kita sering melihat di TV ruangan rapat anggota DPR (DPRD) banyak yang kosong atau ada yang tidur-tiduran. Sedih juga melihatnya. Padahal mereka sudah digaji, bagaimana mau memperjuangkan kepentingan rakyat. Kalau ke kantor hanya untuk tidur atau tidak datang sama sekali. Atau ada pengumuman di Koran, radio atau TV tidak ada kenaikan BBM, TDL atau tariff air minum. Tapi beberapa minggu atau bulan berikutnya, tiba-tiba naik dengan alasan tertentu. Jadi jangan salahkan mahasiswa atau rakyat demonstrasi dengan mengeluarkan kata-kata atau perilaku yang kurang etis terhadap pejabat. Karena pejabat itu sendiri tidak konsisten. Padahal pejabat tersebut seorang yang bergelar S2 atau bahkan Prof. Dr. Inikah orang-orang yang dihasilkan oleh pendidikan nasional kita selama ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan&lt;br /&gt;Dengan demikian, apabila kita ingin mencetak generasi penerus yang mandiri, bermoral, dewasa dan bertanggung jawab. Konsekwensinya, Semua yang terlibat dalam dunia pendidikan Indonesia harus mampu memberikan suri tauladan yang bisa jadi panutan generasi muda. jangan hanya menuntut generasi muda untuk berperilaku jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi para pemimpin bangsa ini tidak melakukannya. Maka harapan tinggal harapan saja. Karena itu, mulai sekarang, semua pejabat mulai dari level tertinggi hingga terendah di legislative, eksekutif dan yudikatif harus segera menghentikan segala bentuk petualangan mereka yang hanya ingin mengejar kepentingan pribadi atau kelompok sesaat dengan mengorbankan kepentingan negara. Sehingga generasi muda Indonesia memiliki panutan-panutan yang bisa diandalkan untuk membangun bangsa ini kedepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://re-searchengines.com/amukminin.html &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-3724328576403512818?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/9iiMipt4MVc" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-06-06T02:00:16.675+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2011/06/pendidikan-nasional-yang-bermoral.html</feedburner:origLink></item><item><title>Kontribusi Psikologi terhadap Pendidikan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/SrwnZryCvEc/kontribusi-psikologi-terhadap.html</link><category>Pendidikan</category><category>Psikologi Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Wed, 16 Jun 2010 05:52:29 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-4645773220265742972</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/TBjGPOjZnTI/AAAAAAAAAaA/cjNeWQSq7p4/s1600/psikologi.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 50px; height: 50px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/TBjGPOjZnTI/AAAAAAAAAaA/cjNeWQSq7p4/s400/psikologi.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5483350511230491954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sudah sejak lama bidang psikologi pendidikan telah digunakan sebagai landasan dalam pengembangan teori dan praktek pendidikan dan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pendidikan, diantaranya terhadap pengembangan kurikulum, sistem pembelajaran dan sistem penilaian.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Kurikulum.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kajian psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum pendidikan terutama berkenaan dengan pemahaman aspek-aspek perilaku dalam konteks belajar mengajar. Terlepas dari berbagai aliran psikologi yang mewarnai pendidikan, pada intinya kajian psikologis ini memberikan perhatian terhadap bagaimana in put, proses dan out pendidikan dapat berjalan dengan tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian peserta didik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Secara psikologis, manusia merupakan individu yang unik. Dengan demikian, kajian psikologis dalam pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap individu, baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan, kemampuan, sikap, motivasi, perasaaan serta karakterisktik-karakteristik individu lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada setiap individu untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik dalam hal subject matter maupun metode penyampaiannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Secara khusus, dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang dikembangkan saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang pada intinya menekankan pada upaya pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan demikian dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis terutama berkenaan dengan aspek-aspek: (1) kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks; (2) pengalaman belajar siswa; (3) hasil belajar (learning outcomes), dan (4) standarisasi kemampuan siswa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kajian psikologi pendidikan telah melahirkan berbagai teori yang mendasari sistem pembelajaran. Kita mengenal adanya sejumlah teori dalam pembelajaran, seperti : teori classical conditioning, connectionism, operant conditioning, gestalt, teori daya, teori kognitif dan teori-teori pembelajaran lainnya. Terlepas dari kontroversi yang menyertai kelemahan dari masing masing teori tersebut, pada kenyataannya teori-teori tersebut telah memberikan sumbangan yang signifikan dalam proses pembelajaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di samping itu, kajian psikologi pendidikan telah melahirkan pula sejumlah prinsip-prinsip yang melandasi kegiatan pembelajaran Nasution (Daeng Sudirwo,2002) mengetengahkan tiga belas prinsip dalam belajar, yakni :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1.Agar seorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu tujuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2.Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena dipaksakan oleh orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3.Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam kesulitan dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4.Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;5.Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya pula hasil sambilan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;6.Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;7.Seseorang belajar sebagai keseluruhan, tidak hanya aspek intelektual namun termasuk pula aspek emosional, sosial, etis dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;8.Untuk belajar diperlukan insight. Apa yang dipelajari harus benar-benar dipahami. Belajar bukan sekedar menghafal fakta lepas secara verbalistis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;9.Disamping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang sering mengejar t.ujuan-tujuan lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;10Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi sukses yang menyenangkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;11.Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;12.Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Penilaian&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Penilaiain pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melaui kajian psikologis kita dapat memahami perkembangan perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di samping itu, kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata dalam pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama setelah dikembangkannya berbagai tes psikologis, baik untuk mengukur tingkat kecerdasan, bakat maupun kepribadian individu lainnya.Kita mengenal sejumlah tes psikologis yang saat ini masih banyak digunakan untuk mengukur potensi seorang individu, seperti Multiple Aptitude Test (MAT), Differensial Aptitude Tes (DAT), EPPS dan alat ukur lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui pengukuran psikologis, memiliki arti penting bagi upaya pengembangan proses pendidikan individu yang bersangkutan sehingga pada gilirannya dapat dicapai perkembangan individu yang optimal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi kalangan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;=============&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sumber : &lt;a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/30/kontribusi-psikologi-terhadap-pendidikan-2/"&gt;Ahmad Sudrajat&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-4645773220265742972?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/SrwnZryCvEc" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-06-16T19:52:29.153+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/TBjGPOjZnTI/AAAAAAAAAaA/cjNeWQSq7p4/s72-c/psikologi.png" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">7</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/06/kontribusi-psikologi-terhadap.html</feedburner:origLink></item><item><title>Umpan Balik yang Efektif bagi Siswa</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/0q1a_DhaSjI/umpan-balik-yang-efektif-bagi-siswa.html</link><category>Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Wed, 16 Jun 2010 05:34:28 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-6060982386309359019</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/TBjEBN5JI4I/AAAAAAAAAZ4/FvkOXioycfg/s1600/belajar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 244px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/TBjEBN5JI4I/AAAAAAAAAZ4/FvkOXioycfg/s400/belajar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5483348071511827330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Umpan balik merupakan sebuah proses di kelas yang telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti praktik pembelajaran sejak tahun 1970-an hingga sekarang ini. Secara konsisten, para peneliti telah menemukan bukti-bukti bahwa ketika guru mampu menggunakan prosedur umpan balik yang efektif ternyata dapat meningkatkan prestasi belajar siswanya. Bahkan, hasil studi yang dilakukan Bellon, Bellon, dan Blank menunjukkan bahwa dibandingkan dengan berbagai perilaku mengajar lainnya, pemberian umpan balik akademik  ternyata lebih berkorelasi dengan prestasi belajar siswa. Dengan tanpa memandang kelas, status sosial ekonomi, ras, atau keadaan sekolah korelasi ini cenderung konsisten. Ketika umpan balik dan prosedur korektif digunakan secara tepat ternyata sebagian besar siswa dapat meningkatkan prestasi belajarnya hingga di atas 20% .&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Umpan balik yang efektif merupakan bagian integral dari sebuah dialog instruksional antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, maupun siswa dengan dirinya sendiri, dan bukanlah sebuah praktik yang terpisahkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Terkait dengan umpan balik yang efektif ini, Black dan Wiliam mencatat tiga komponen penting yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;(1) Recognition of the desired goal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Umpan balik diberikan sebagai respons atas kinerja siswa. Kinerja siswa adalah kesanggupan siswa untuk dapat menunjukkan penguasaannya atas berbagai tujuan pembelajarannya. Guru harus dapat merumuskan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai secara jelas dan dapat mengkomunikasikannya pada awal pembelajaran, baik tentang wilayah materi, indikator kurikuler maupun penguasaan tujuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Salah satu metode yang cukup efektif untuk memastikan bahwa siswa memahami tujuan pembelajarannya yaitu dengan cara melibatkan mereka dalam menetapkan “kriteria keberhasilan” yang bisa dilihat atau didengar. Misalnya, guru dapat memperlihatkan beberapa contoh produk sebagai tujuan pembelajaran yang patut ditiru oleh para siswa, menunjukkan kalimat-kalimat yang benar dengan ditulis menggunakan huruf kapital, kesimpulan yang diambil dari data, penyajian tabel atau grafik dan sejenisnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apabila para siswa telah dapat memahami tentang kriteria keberhasilan pembelajarannya, mereka akan terbantu untuk mengarahkan belajarnya dan mereka akan lebih mampu untuk melaksanakan proses pembelajarannnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selain memberikan pemahaman yang jelas tentang tujuan pembelajaran, guru juga perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami indikator dari tingkat penguasaan tujuan pembelajarannya, baik secara lisan, tertulis maupun dalam bentuk lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;(2) Evidence about present position&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Istilah ”bukti” di sini menunjuk kepada informasi atau fakta tentang kinerja yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran, khusunya tentang sejauhmana tujuan pembelajaran telah tercapai dan sejauhmana tujuan pembelajaran itu belum tercapai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Grant Wiggin mengemukakan bahwa umpan balik bukanlah tentang pemberian pujian atau celaan, persetujuan atau ketidaksetujuan, tetapi sebagai usaha untuk memberikan nilai atau makna. Umpan balik pada dasarnya bersifat netral yang menggambarkan apa yang telah dilakukan dan tidak dilakukan siswa. Selain itu, bahwa umpan balik juga harus bersifat obyektif, deskriptif dan disampaikan pada waktu yang tepat yakni pada saat tujuan pembelajaran masih segar dalam benak siswa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Salah satu cara pemberian umpan balik yang cukup bermakna yaitu dengan membandingkan produk siswa dengan kriteria keberhasilan telah telah dikomunikasikan sebelumnya. Contoh sederhana pemberian umpan balik yaitu dengan membuat sebuah format tentang “Daftar Kriteria Keberhasilan”. Dalam daftar tersebut, guru dapat memberikan tanda + (plus) untuk menunjukkan tentang kriteria yang telah berhasil dipenuhi siswa dan memberikan catatan tertentu untuk yang belum dipenuhinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;(3) Some understanding of a way to close the gap between the two.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Umpan balik yang efektif yaitu harus dapat memberikan bimbingan kepada setiap siswa tentang bagaimana melakukan perbaikan. Black dan Wiliam menegaskan bahwa setiap siswa harus diberi bantuan dan kesempatan untuk melakukan perbaikan. Guru tidak hanya memberikan umpan balik yang mencerminkan tentang kinerja yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran siswanya, tetapi juga harus dapat memberikan strategi dan tips tentang cara yang lebih efektif untuk mencapai tujuan, serta kesempatan untuk menerapkan umpan balik yang diterimanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Wiggins meyakini bahwa melalui siklus umpan balik ini dapat menghasilkan keunggulan kinerja siswa. Oleh karena itu, siswa harus senantiasa memiliki akses rutin terhadap kriteria dan standar-standar tugas yang harus dituntaskannya; mereka juga harus memperoleh umpan balik dalam upaya menyelesaikan tugas-tugasnya, mereka harus memiliki kesempatan untuk memanfaatkan umpan balik untuk memperbaiki kerjanya serta mengevaluasi kembali terhadap standar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Diterjemahkan dari judul asli : Providing Students with Effective Feedback. Academic Leadership Jounal online Volume 4 – Issue 4 Feb 12, 2007&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-6060982386309359019?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/0q1a_DhaSjI" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-06-16T19:34:28.615+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/TBjEBN5JI4I/AAAAAAAAAZ4/FvkOXioycfg/s72-c/belajar.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">5</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/06/umpan-balik-yang-efektif-bagi-siswa.html</feedburner:origLink></item><item><title>E-Book Bahasa Inggris</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/svornDKwqWY/e-book-bahasa-inggris.html</link><category>Download</category><category>e-book</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Mon, 10 May 2010 08:35:04 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-2412107716493870624</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Di sini ada beberapa buku bahasa Inggris yang bisa membantu mengembangkan kemampuan bahasa Inggris kita. Langsung aja silahkan &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;diunduh... &lt;/span&gt;Semoga bermanfaat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/Yb4Zf4m9/Advanced_English_C_A_E_Grammar.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285314212/bbc9f4ce/Advanced_English_C_A_E_Grammar.pdf" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/g_Ef0rXy/Cambridge_-_English_Vocabulary.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285314226/97896314/Cambridge_-_English_Vocabulary.pdf" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/GZRhb1bm/Cambridge_-_English_Vocabulary.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285314243/b1b9301d/Cambridge_-_English_Vocabulary.pdf" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/EwiVyV7X/Cambridge_-_English_Vocabulary.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285327075/2566c7bb/Cambridge_-_English_Vocabulary.pdf?rnd=0.5485827888992694" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/rMsGTciN/Basic_English_Usage-Oxford.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285314321/82f9c80/Basic_English_Usage-Oxford.pdf" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/kKL7D3oZ/American_Accent_Training.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285314333/ff3acced/American_Accent_Training.pdf" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/8I0ZB6SI/Word_Formation_In_English.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285327086/3bf78ace/Word_Formation_In_English.pdf?rnd=0.5555564042676597" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/92dX5nmA/Dictionary_Cambridge_English_G.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285332986/3e9868c3/Dictionary_Cambridge_English_G.pdf?rnd=0.9604934655532059" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/W6WRj5ko/Jossey-Bass_-_English_Brainsto.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285332994/c98d38ae/Jossey-Bass_-_English_Brainsto.pdf?rnd=0.5115576471053922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/GTODQwxM/_2__Jossey-Bass_-_English_Brai.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285340395/ab349975/_2__Jossey-Bass_-_English_Brai.pdf?rnd=0.11001039946658375" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/_mWl24sj/Essential_Grammar_in_Use_Suppl.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285335057/6e37252e/Essential_Grammar_in_Use_Suppl.pdf?rnd=0.8589044063168239" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/mEKLMvzv/L_Rozakis--English_Grammar_for.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285340407/91b75595/L_Rozakis--English_Grammar_for.pdf?rnd=0.8283676369864629" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/HESUENBZ/Longman_English_Grammar_Practi.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285342440/c1b6cdb9/Longman_English_Grammar_Practi.pdf?rnd=0.2827953735494919" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/a2Ild1Im/New_Grammar_Practice_pre-int_w.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285342547/5e10322d/New_Grammar_Practice_pre-int_w.pdf?rnd=0.6723457423435142" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/4EB27ETQ/Prasal_verbs_and_idioms.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285347297/d92faad7/Prasal_verbs_and_idioms.pdf?rnd=0.8487323615806763" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/xTCApFMV/Speak_English_LAA_1.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285347312/605ebe67/Speak_English_LAA_1.pdf?rnd=0.4395044683404906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/pFgOA5zs/_2__The_A-Z_of_Correct_English.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285351473/5c47499e/_2__The_A-Z_of_Correct_English.pdf?rnd=0.6203497050079728" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/FG1rNuKf/WEBSTER_Essential_vocabulary.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285360858/fa51645/WEBSTER_Essential_vocabulary.pdf?rnd=0.6088080931221388" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/qE7MgMzD/_2__Word_Formation_In_English.html" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://dc183.4shared.com/img/285360887/2ab47599/_2__Word_Formation_In_English.pdf?rnd=0.16139933399003203" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/TaleJ_G0/Ins_and_Outs_of_Prepositions.html" target="_blank"&gt;Ins and Outs of Prepositions.chm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/5JgJ_OOl/WbW_picture_dictionary.html" target="_blank"&gt;WbW_picture_dictionary.pdf&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-2412107716493870624?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/svornDKwqWY" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-05-10T22:35:04.690+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/05/e-book-bahasa-inggris.html</feedburner:origLink></item><item><title>Interaksi Sosial</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/q6IGrTVFVtU/interaksi-sosial.html</link><category>kepribadian</category><category>Sosial</category><category>Psikologi</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Sun, 09 May 2010 01:13:31 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-4060462737910732721</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai makhluk individual manusia mempunyai dorongan atau motif untuk mengadakan hubungan dengan dirinya sendiri, sedangkan sebagai makhluk sosial manusia mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain, manusia mempunyai dorongan sosial. Dengan adanya dorongan atau motif sosial pada manusia, maka manusia akan mencari orang lain untuk mengadakan hubungan atau untuk mengadakan interaksi. Dengan demikian maka akan terjadilah interaksi antara manusia satu dengan manusia yang lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengertian interaksi sosial &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Interaksi sosial adalah hubungan antar individu satu dengan individu lainnya. Individu satu dapat mempengaruhi yang lain begitu juga sebaliknya. (definisi secara psikologi sosial). Pada kenyataannya interaksi yang terjadi sesungguhnya tidak sesederhana  kelihatannya melainkan merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Interaksi terjadi karena ditentukan oleh banyak faktor termasuk manusia lain yang ada di sekitar yang memiliki juga perilaku spesifik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di dalam interaksi sosial ada kemungkinan individu dapat menyesuaikan dengan yang lain, atau sebaliknya. Pengertian penyesuaian di sini dalam arti yang luas, yaitu bahwa individu dapat melebur diri dengan keadaan di sekitarnya, atau sebaliknya individu dapat mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dalam diri individu, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh individu yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor-faktor dasar penyebab interaksi manusia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor imitasi&lt;/span&gt;, imitasi merupakan dorongan untuk meniru orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut Tarde faktor imitasi ini merupakan satu-satunya faktor yang mendasari atau melandasi interaksi sosial. Seperti yang dikemukakan oleh Gerungan (1966:36). Imitasi tidak berlangsung secara otomatis melainkan dipengaruhi oleh sikap menerima dan mengagumi terhadap apa yang diimitasi. Untuk mengadakan imitasi atau meniru ada faktor psikologis lain yang berperan. Dengan kata lain imitasi tidak berlangsung secara otomatis, tetapi ada faktor lain yang ikut berperan, sehingga seseorang mengadakan imitasi. Bagaimana orang dapat mengimitasi sesuatu kalu orang yang bersangkutan tidak mempunyai sikap  menerima terhadap apa yang diimitasi itu. Dengan demikian untuk mengimitasi sesuatu perlu adanya sikap menerima, ada sikap mengagumi terhadap apa yang diimitasi itu, karena itu imitasi tidak berlangsung dengan sendirinya. Contoh dari imitasi adalah bahasa; anak belajar berbahasa melalui peniruan terhadap orang lain selain itu mode-mode yang melanda masyarakat berkembang  karena faktor imitasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;b. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor sugesti&lt;/span&gt;, adalah pengaruh psikis yang diterima tanpa adanya kritik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yang dimaksud dengan sugesti ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari diri sendiri, maupun yang datang dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik dari individu yang bersangkutan. Karena itu segesti dapat dibedakan (1) auto sugesti, yaitu sugesti terhadap diri sendiri, sugesti yang datang dari dalam diri individu yang bersangkutan, dan (2) hetero sugesti, yaitu sugesti yang datang dari orang lain. Misal sering seseorang merasa sakit-sakit saja, walaupun secara obyektif yang bersangkutan dalam keadaan sehat-sehat saja terapi karena auto-sugesti orang tersebut merasa tidak dalam keadaan sehat, maka ia merasa tidak sehat. Contoh untuk hetero sugesti adalah misal dalam bidang perdagangan, orang mempropagandakan dagangannya sedemikian rupa, hingga tanpa berfikir lebih lanjut orang termakan propaganda itu, dan menerima saja apa yang diajukan oleh pedagang yang bersangkutan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Imitasi dan sugesti peranannya dalam interaksi hampir sama besarnya, namun berbeda. Dalam imitasi, orang yang mengimitasi keadaannya aktif sebaliknya dengan yang diimitasi dalam keadaan pasif. Sedangkan dalam sugesti orang dengan sengaja dan aktif  memberikan pandangan, norma dan sebagainya agar orang lain menerima.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Terjadinya proses sugesti mengikuti  dalil sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila daya kritisnya dihambat.&lt;/span&gt; Orang yang kemampuan berpikirnya kurang atau kurang kritis akan mudah dipengaruhi. Daya kritis tersebut akan terhambat bila orang terkena stimulus yang bersifat emosional. Atau dalam keadaan fisik dan jiwa yang lelah. Misal orang yang telah berjam-jam rapat, ia sudah lelah baik fisik maupun psikologis , adanya keenganan untuk berfikir secara berat, sehingga biasanya dalam keadaan yang demikian orang akan mudah menerima pendapat, pandangan dari pihak lain, atau dengan kata lain orang yang bersangkutan akan mudah menerima sugesti dari pihak lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila kemampuan berpikirnya terpecah belah (dissosiasi).&lt;/span&gt; Orang mengalami dissosiasi bila orang itu dalam keadaan kebingungan sehingga mudah menerima pengaruh orang lain. Secara psikologis orang yang dalam keadaan bingung berusaha mencari penyelesaian karena jiwanya tidak tenteram sehingga mudah dipengaruhi oleh pihak lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;•  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila materinya mendapat dukungan orang  banyak (sugesti mayoritas). &lt;/span&gt;Dalam dalil ini orang akan mudah menrima pandangan, nporma, pendapat dan sebagainya bila hal tersebut telah mendapatkan dukungan mayoritas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila yang memberikan materi adalah orang yang memiliki otoritas.&lt;/span&gt; Walau materi yang diberikan sama tetapi kalau yang memberikan berbeda maka akan terdapat pula perbedaan dalam penerimaan. Orang yang memiliki otoritas akan cenderung mudah diterima karena tingkat kepercayaan yang tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila pada orang yang bersangkutan telah ada  pendapat yang mendahului yang searah.&lt;/span&gt; Bila dalam diri orang ada pendapat yang telah mendahului dan searah dengan yang disugestikan maka umumnya orang akan mudah menerima pendapat tersebut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;c.  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor identifikasii, &lt;/span&gt;adalah dorongan untuk menjadi identik (sama ) dengan orang lain. . Identifikasi adalah suatu istilah yang dikemukakan oleh Freud, seorang tokoh dalam psikologi dalam, khususnya dalam psikoanalisis.  Contoh anak-anak belajar norma-norma sosial dari hasil identifikasinya terhadap orang tua mereka. Di dalam identifikasi anak akan mengabil oper sikap-sikap ataupun norma-norma dari orang tuanya yang dijadikan tempat identifikasi itu. Dalam proses identifikasi ini seluruh norma-norma, cita-cita, sikap dan sebagainyadari orang tua sedapat mungkin dijadikan norma-norma, sikap-sikap dan sebagainya itu dari anak sendiri, dan anak menggunakan hal tersebut dalam perilaku sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;d. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor Simpati,&lt;/span&gt; merupakan perasaan tertarik kepada orang lain. Oleh karena merupakan perasaan maka timbulnya atas dasar emosi. Dalam simpati orang merasa tertarik pada orang lain yang seakan-akan berlangsung dengan sendirinya, apa sebabnya tertarik sering tidak dapat memberikan penjelasan lebih lanjut. Lawan dari simpati adalah antipati yaitu merupakan penolakan atau bersifat negatif. Sedangkan empati adalah kecenderungan untuk ikut merasakan segala sesuatu yang sedang dirasakan orang lain (feeling with another person).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teori-teori hubungan interpersonal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ada 4 model hubungan interpersonal yaitu meliputi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Model pertukaran sosial&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;social exchange model&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba  (ganjaran dikurangi biaya). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;b. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Model peranan&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;role model&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan  (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas  dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;c. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Model permainan&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;games people play model&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan  individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;            • &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepribadian orang tua&lt;/span&gt; (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;            • &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepribadian orang dewasa &lt;/span&gt;(bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;            • &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepribadian anak &lt;/span&gt;(kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;d. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Model Interaksional&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;interacsional model&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Model ini memandang hubungann interpersonal sebagi suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-4060462737910732721?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/q6IGrTVFVtU" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-05-09T15:13:31.483+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">18</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/05/interaksi-sosial.html</feedburner:origLink></item><item><title>SIKAP (Attitude)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/H-KuEv5ykuc/sikap-attitude.html</link><category>kepribadian</category><category>Psikologi</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Sun, 09 May 2010 01:03:12 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-6543839956118126483</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengertian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perilaku manusia juga dilatar belakangi oleh sikap. Sikap sendiri memeiliki pengertian sebagai “organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi relatif yang relatif ajeg yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar kepada organisme untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya”. Atau dalam bahasa sederhana sikap adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kesediaan beraksi terhadap suatu hal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sikap memiliki beberapa pengertian dan definisi sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• Sikap adalah predisposisi mental untuk melakukan suatu tindakan (Kimmball Young (1945)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• Sikap adalah keajegan dan kekhasan perilaku seseorang dalam hubungan dengan stimulus manusia atau kejadian-kejadian tertentu (Sherif &amp;amp; sherif 1956)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• Sikap adalah predidposisi yang dipelajari untuk merespon secara konsisten dalam tatacara tertentu dan berkenaan dengan objek tertentu (Fishbein &amp;amp; Ajzen 1975)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• Kesimpulannya pengertain sikap adalah kecenderungan untuk bertindak dan bereaksi terhadap stimulus atau rangsangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komponen sikap&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sikap merupakan hubungan dari berbagai komponen yang terdiri atas :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komponen kognitif :&lt;/span&gt; yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan dan informasi yang dimilki seseorang tentang objek sikapnya atau komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan atau bagaimana mempersepsi objek&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;b. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komponen afektif :&lt;/span&gt; komponen yang bersifat evaluatif yang berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;c. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komponen konatif :&lt;/span&gt; kesiapan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan objek sikapnya atau komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ciri-ciri sikap&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sikap memiliki ciri-ciri sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sikap tidak dibawa sejak lahir&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berarti manusia dilahirkan tidak membawa sikap tertentu pada suatu objek. Oleh karenanya maka sikap terbentuk selama perkembangan individu yang bersangkutan. Karena terbentuk selama perkembangan maka sikap dapat berubah, dapat dibentuk dan dipelajari. Namun kecenderungannya sikap bersifat tetap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;b. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sikap selalu berhubungan dengan objek&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sikap terbentuk karena hubungan dengan objek-objek tertentu, melalui persepsi terhadap objek tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;c. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sikap dapat tertuju pada satu objek dan sekumpulan objek&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bila seseorang memiliki sikap negatif pada satu orang maaka ia akan menunjukkan sikap yang negatif pada kelompok orang tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;d. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sikap itu dapat berlangsung lama atau sebentar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika sikap sudah menjadi nilai dalam kehidupan seseorang maka akan berlangsung lama bertahan, tetapi jika sikap belum mendalam dalam diri seseorang maka sikap relaatif dapat berubah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;e. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sikap mengandung perasaan atau motivasi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sikap terhaadap sesuaatu akan diikuti oleh perasaan tertentu baik positif maupun negatif. Sikap juga mengandung motivasi atau daya dorong untuk berperilaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.blogger.com/www.edwias.com"&gt;www.edwias.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-6543839956118126483?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/H-KuEv5ykuc" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-05-09T15:03:12.309+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/05/sikap-attitude.html</feedburner:origLink></item><item><title>Metode Example and Nonexample (Contoh Non-Contoh)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/UIRZso9hKLo/metode-example-and-nonexample-contoh.html</link><category>Metode Pembelajaran</category><category>Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Sun, 09 May 2010 00:48:03 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-6717059347566229587</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konsep pada umumnya dipelajari melalui dua cara. Paling banyak konsep yang kita pelajari  di luar sekolah melalui pengamatan dan juga dipelajari melalui definisi konsep itu sendiri. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Example and Nonexample&lt;/span&gt; adalah taktik yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi konsep. Taktik ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;example dan non-example&lt;/span&gt; dari suatu definisi konsep yang ada, dan meminta siswa untuk mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada. Example memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi yang sedang dibahas, sedangkan non-example memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Example and Nonexample&lt;/span&gt; dianggap perlu dilakukan karena suatu definisi konsep adalah suatu konsep yang diketahui secara primer hanya dari segi definisinya daripada dari sifat fisiknya. Dengan memusatkan perhatian siswa terhadap example dan non-example diharapkan akan dapat mendorong siswa untuk menuju pemahaman yang lebih dalam mengenai materi yang ada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menurut Buehl&lt;/span&gt; (1996) keuntungan dari metode &lt;span style="font-style: italic;"&gt;example and nonexample&lt;/span&gt; antara lain:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Siswa berangkat dari satu definisi yang selanjutnya digunakan untuk memper- luas pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih komplek&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Siswa terlibat dalam satu proses discovery (penemuan), yang mendorong mereka untuk membangun konsep secara progresif melalui pengalaman dari example dan non example&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Siswa diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non example yang dimungkinkan masih terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter dari konsep yang telah dipaparkan pada bagian example.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tennyson dan Pork&lt;/span&gt; (1980 hal 59) dalam Slavin 1994 menyarankan bahwa jika guru akan menyajikan contoh dari suatu konsep maka ada tiga hal yang seharusnya diperhatikan, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Urutkan contoh dari yang gampang ke yang sulit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Pilih contoh – contoh yang berbeda satu sama lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Bandingkan dan bedakan contoh – contoh dan bukan contoh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menyiapkan pengalaman dengan contoh dan non-contoh akan membantu siswa untuk membangun makna yang kaya dan lebih mendalam dari sebuah konsep penting. Joyce and Weil (1986) dalam Buehl (1996) telah memberikan kerangka konsep terkait strategi tindakan, yang menggunakan model inkuiri untuk memperkenalkan konsep yang baru dengan metode &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Example and Nonexample.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kerangka konsep tersebut antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Menggeneralisasikan pasangan antara contoh dan non-contoh yang menjelas- kan beberapa dari sebagian besar karakter atau atribut dari konsep baru. Menya- jikan itu dalam satu waktu dan meminta siswa untuk memikirkan perbedaan apa yang terdapat pada dua daftar tersebut. Selama siswa memikirkan tentang tiap examples dan non-examples tersebut, tanyakanlah pada mereka apa yang membuat kedua daftar itu berbeda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Menyiapkan examples dan non examples tambahan, mengenai konsep yang lebih spesifik untuk mendorong siswa mengecek hipotesis yang telah dibuatnya sehingga mampu memahami konsep yang baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Meminta siswa untuk bekerja berpasangan untuk menggeneralisasikan konsep examples dan non-examples mereka. Setelah itu meminta tiap pasangan untuk menginformasikan di kelas untuk mendiskusikannya secara klasikal sehingga tiap siswa dapat memberikan umpan balik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4. Sebagai bagian penutup, adalah meminta siswa untuk mendeskripsikan konsep yang telah diperoleh dengan menggunakan karakter yang telah didapat dari examples dan non-examples.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-6717059347566229587?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/UIRZso9hKLo" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-05-09T14:48:03.398+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/05/metode-example-and-nonexample-contoh.html</feedburner:origLink></item><item><title>Untuk Kreatif Butuh Pengorbanan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/MqTDRuG7st0/untuk-kreatif-butuh-pengorbanan.html</link><category>Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Fri, 23 Apr 2010 09:46:04 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-408180271662962098</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak orang mengira, jiwa kreatif itu terlahir dari alam. Artinya, seseorang itu menjadi kreatif atau tidak sudah ditetapkan sejak dalam kandungan. Benarkah begitu? Sebagaimana orang punya bakat menyanyi lalu jadi penyanyi atau orang yang sudah berbakat melukis lalu ia jadi pelukis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, kreativitas, profesi, dan juga bakat tidaklah bisa dipandang secara absolut. Semua orang sejak ia di dalam kandungan sudah memiliki berbagai potensi. Lagi-lagi, lingkungan, orang-orang terdekat, dan momentum mengambil alih pemicu untuk tumbuh dan mekarnya beragam potensi itu. Berbicara tentang kreativitas, maka saya menyimpulkan, itu pun sudah dimiliki oleh manusia sejak lahir, siapapun orang tuanya. Namun membuat daya kreatif mereka terasah dan bersinar cemerlang membutuhkan sentuhan pengorbanan orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mengapa saya sebut sebagai pengorbanan? Ya, karena orang tua harus mengalihkan sudut pandang dirinya pada sudut pandang anak-anaknya, berempati dengan pemikiran-pemikiran polos mereka, dan memberi mereka kesempatan untuk menyentuh wilayah-wilayah kehidupan yang lebih luas. Bukan hanya memberi mereka balok kayu berwarna-warni, puzzle beraneka motif, sepeda roda tiga yang mewah, atau aneka mainan khusus anak-anak yang bertebaran di toko; anak-anak juga membutuhkan ijin dari orang tuanya untuk mengucek adonan terigu, mengupas kulit wortel, memeras jeruk, membuat kegiatan sendiri dari dinginnya air yang dituang ke dalam wadah beraneka bentuk, dilengkapi potongan pipa bekas, sedotan jus, dan benda-benda lain yang yada di rumah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika kita bertanya pada mereka apakah itu, jawabannya mungkin sangat mengejutkan: "Ini adalah pompa air Mama. Ini pipanya dan ini pompanya. Pipa ini ditahan oleh dua buah gelas supaya tidak jatuh. Tadi waktu Ade coba dengan satu gelas, pipanya jatuh Mama".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Eksperimen mereka kadang-kadang sangat cermat, dan mereka menemukan prinsip-prinsip kerja sebuah benda lewat kegiatan tidak terstruktur semacam itu. Pastinya, satu hal yang mereka butuhkan untuk melakukan semuanya, yaitu pengorbanan orang tua untuk melihat celana mereka basah, lantai di halaman depan berantakan, dan jejak-jejak kaki kecil mereka yang basah bercampur debu tak terelakkan harus membekas di ruangan tamu atau dapur kita yang bersih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya bisa merasakan, bagaimana susahnya merelakan anak-anak bermain dengan cara mereka sendiri dengan bahan-bahan bermain hasil imajinasi mereka sendiri, yang sebenarnya sangat mudah dan murah. Masalahnya, kita tidak rela mengijinkan mereka menyentuhnya karena kita tak mau repot dan tak mau melihat ruangan berantakan. Tapi, setelah sekian lama saya memperhatikan perkembangan mereka, cara mereka berpikir, dan antusiasme mereka yang luar biasa saat mereka bermain dengan cara itu, saya sadar, sesungguhnya anak-anak sudah belajar banyak justru lewat kegiatan yang tak terbukukan, tidak terjadwalkan, dan tidak terkurikulumkan secara hitam putih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kreativitas tumbuh dari banyak mencoba dan rasa aman serta merdeka dari larangan yang berlebihan. Saya kira itulah pengorbanan terbesar buat orang tua manapun, untuk membuat anak-anak mereka mampu berpikir dan bertindak kreatif dalam menyelesaikan masalah kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sumber: &lt;a href="http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/07/untuk-kreatif-butuh-pengorbanan.html"&gt;Pendidikan Rumah &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-408180271662962098?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/MqTDRuG7st0" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-23T23:46:04.834+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/04/untuk-kreatif-butuh-pengorbanan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Pembelajaran Agama Dengan Metode Contextual Teaching and Learning</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/ob3Hk_KP6X0/pembelajaran-agama-dengan-metode.html</link><category>Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Fri, 23 Apr 2010 09:48:41 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-4370366107692477505</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sering kali para guru agama mengeluhkan kurangnya jam agama dalam menyelesaikan materi kurikulum yang ditentukan. Yang terjadi kemudian adalah pembelajaran agama berusaha untuk menyuguhkan materi pembelajaran agar tuntas materinya sehingga tampak suguhan kognitif jauh lebih banyak mewarnai KBM agama. Mereka kemudian menginginkan penambahan jam pembelajaran agar lebih leluasa menyampaikan materi. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebenarnya seberapa banyak pun jam pembelajaran agama ditambah tidak akan menyelesaikan persoalan yang ada jika tidak dilakukan revitalisasi pembelajaran agama. Pembelajaran agama memerlukan suatu terobosan pendekatan pembelajaran yang efektif. Pembelajaran yang mempu menumbuhkan kebermaknaan dan menyenang&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;kan. Bukan yang selama ini dilekatkan atribut pada pembelajaran agama : menjenuhkan dan tidak inovatif. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa seorang pembelajara, peserta didik, akan mau dan mampu menyerap materi pelajaran jika mereka dapat menangkap makna dari pel&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ajaran tersebut. Dalam buku Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna karya Elaine B. Jhonson yang diterjemahkan oleh Ibnu Setiawan, disebutkan bahwa CTL adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. CTL adalah suatu sistem pelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademik dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa. (2006: 58)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Para guru agama perlu memahami filosofi CTL ini dan menerapkannya dalam KBM di kelas agar agama tidak menjadi pelajaran menghafal dan dogmatis tanpa bersentuhan dengan konteks kehidupan siswa dan kebermaknaannya. Dalam pelajaran agama, anak memperoleh pengetahuan bahwa Allah SWT mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk menjadikan kehidupannya sebagai ibadah kepada Allah SWT. Inilah tujuan penciptaan kehadiran manusia di dunia. Apakah tujuan ini dimaknai secara benar oleh sisw&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a? Atau sekadar menghafal ayat bahwa hal itu ditemui dalam Al Quran Surat Adzariyat : 56?.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Para guru agama dalam penerapan CTL diharuskan menghadirkan konteks pembelajaran, bukan sekadar isi pelajaran. Isi pelajaran merupakan sesuatu yang akan diperlajari berupa pengetahuan yang hampir tanpa batas dan semua guru agama mengetahui akan hal ini. Isi agar bermakna harus dipelajari dalam konteks. Adapun konte&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ks dalam pemahaman CTL meliputi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Lingkungan yaitu dunia luar yang dikomunikasikan melalui pancaindera&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Kejadian-kejadian atau peristiwa yang terjadi di suatu tempat dan waktu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Asumsi-asumsi bawah sadar yang diserap selama siswa tumbuh, dari keyakinan yang dipegang kuat siswa yang diperoleh melalui nilai-nilai yang diterimanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pembelajaran isi agama agar relevan hendaknya me&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;mperhatikan keselarasan konteksnya. Ketika guru menyampaikan materi tentang beriman kepada Allah SWT, guru hendaknya mengajak siswa &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;pada peristiwa kehidupan yang dapat diungkap oleh siswa, kejadian-kejadian yang menimpa manusia yang tidak beriman, dan kesadaran terhadap firman Allah yang ditulis dalam kitab suci-Nya. Jadi, guru tidak secara dogmatis menyampaikan ayat-ayat yang memerintahkan untuk beriman kepada Allah SWT. Adanya kesadaran setiap siswa untuk selalu beriman kepada Allah SWT hendaknya muncul dari siswa melalui serangkaian pengalaman belajarnya di kelas atau di luar kelas. Dengan begitu Insya Allah aka&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;n muncul kesadaran bahwa Allah mengawasinya, Allah akan meminta pertanggungjawaban setiap perbuatannya, dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Agar guru selalu memelihara KBM-nya dalam genggaman CTL, guru perlu memastikan 8 prinsip CTL hadir dalam setiap KBM-nya, sebagaimana diungkap Elaine (2006: 65-66):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. membuat ketrkaitan-keterkaitan yang bermakna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. melakukan pekerjaan yang berarti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. melakukan pembelajaran yang diatur sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4. bekerja sama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;5. berpikir kritis dan kreatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;6. membantu individu untuk tumbuh dan berkembang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;7. mencapai standar yang tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;8. menggunakan penilaian yang autentik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika hal tersebut dilakukan, pembelajaran akan menjadi mengalir dan bermakna. Nilai-nilai agama akan menjadi kebutuhan bukan kewajiban atau pemaksaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam hal penyiasatan materi yang sedemikian banyak dengan jatah waktu yang 2 jam sepekan, guru dapat secara kreatif memanfaatkan sarana-sarana kegiatan sekolah termasuk kegiatan mata pelajaran lainnya sebagaimana terlihat dalam tabel 1. Dalam tabel 1 ditampilkan satu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;contoh kompetensi dasar mata ajar agama kelas X jenjang SMA sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Contoh Pengaitan Pelajaran Agama dengan Kegiatan Lain&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S9HNBopbfCI/AAAAAAAAAZw/DH6ymzgRE9k/s1600/Pendidikan+Agama+Islam.bmp"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 255px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S9HNBopbfCI/AAAAAAAAAZw/DH6ymzgRE9k/s400/Pendidikan+Agama+Islam.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463373250951871522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Salah satu hal penting pula yang dapat dimanfaatkan guru sebagai b&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;entuk penerapan nilai-nilai pembelajaran agama yang dapat membentuk watak siswa adalah penggunaan wadah organisasi kerohanian yang ada di sekolah seperti rohani Islam. Penggunaan bukan sekadar konvensional yang selama ini berjalan yakni ada kegiatan keagamaan dalam bentuk syiar-syiar semata. Yang diperlukan adalah adanya pemikiran untuk selalu mengaktifkan kegiatan secara rutin pembinaan akhlak dan ibadah siswa baik atas nama kerohanian di sekolah maupun sekolah itu sendiri. Ini adalah penerapan CTL yakni siswa dilibatkan dalam agen perubah baik untuk dirinya maupun untuk kawan-kawannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Guru agama melakukan pengontrolan terhadap pencapaian aktivitas pembinaan secara rutin tersebut karena Allah SWT tidak akan mengubah suatu kaum, jika kaum tersebut tidak mau mengubah diri mereka sendiri. Pengontrolan untuk mengecek sejauhmana kompetensi dasar pendidikan agama tercapai dan sejauh mana watak peserta didik mengalami perbaikan atau kemajuan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Ikhtiar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekali lagi, tanggung jawab pembentukan watak bukan semata urusan pembelajaran agama di sekolah. Ia merupakan tanggung jawab bersama. Guru agama dapat menjadi motor penggeraknya. Sekolah menjadi laboratorium persemaian tumbuhnya watak secara egaliter, dan siswa sebagai pelakunya. Semua digerakkan secara bermakna dan mengasyikkan. Semua aktivitas tersebut merupakan bentuk ikhtiar bersama. Semoga dengan begitu, pembelajaran agama tampil sebagai pembelajaran yang mampu berkontribusi kuat dalam melahirkan peserta didik yang berwatak sesuai dengan amanah UU SPN.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-4370366107692477505?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/ob3Hk_KP6X0" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-23T23:48:41.688+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S9HNBopbfCI/AAAAAAAAAZw/DH6ymzgRE9k/s72-c/Pendidikan+Agama+Islam.bmp" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/04/pembelajaran-agama-dengan-metode.html</feedburner:origLink></item><item><title>Self-Disclosure (Pengungkapan Diri)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/aveeZLlG6sk/self-disclosure-pengungkapan-diri.html</link><category>Psikologi</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Sun, 18 Apr 2010 11:46:32 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-8872644530464571274</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam suatu interaksi antara individu dengan orang lain, apakah orang lain akan menerima atau menolak, bagaimana mereka ingin orang lain mengetahui tentang mereka akan ditentukan oleh bagaimana individu dalam mengungkapkan dirinya. Pengungkapan diri (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;self-disclosure&lt;/span&gt;) adalah proses menghadirkan diri yang diwujudkan dalam kegiatan membagi perasaan dan informasi dengan orang lain (Wrightsman, 1987).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut Morton (dalam Sears, dkk., 1989) pengungkapan diri merupakan kegiatan membagi perasaan dan informasi yang akrab dengan orang lain. Informasi di dalam pengungkapan diri ini bersifat deskriptif atau evaluatif. Deskniptif artinya individu melukiskan berbagai fakta mengenai diri sendiri yang mungkin belum diketahui oleh pendengar seperti, jenis pekerjaan, alamat dan usia. Sedangkan evaluatif artinya individu mengemukakan pendapat atau perasaan pribadinya seperti tipe orang yang disukai atau hal-hal yang tidak disukai atau dibenci.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pengungkapan diri ini dapat berupa berbagai topik seperti informasi perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi dan ide yang sesuai dan terdapat di dalam diri orang yang bersangkutan. Kedalaman dan pengungkapan diri seseorang tergantung pada situasi dan orang yang diajak untuk berinteraksi. Jika orang yang berinteraksi dengan menyenangkan dan membuat merasa aman serta dapat membangkitkan semangat maka kemungkinan bagi idividu untuk lebih membuka diri amatlah besar. Sebaliknya pada beberapa orang tertentu yang dapat saja menutup diri karena merasa kurang percaya (Devito, 1992).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam proses pengungkapan diri nampaknya individu-individu yang terlibat memiliki kecenderungan mengikuti norma resiprok (timbal balik). Bila seseorang menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi, maka akan cenderung memberikan reaksi yang sepadan. Pada umumnya mengharapkan orang lain memperlakukan sama seperti memperlakukan mereka (Raven &amp;amp; Rubin, 1983).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Seseorang yang mengungkapkan informasi pribadi yang lebih akrab daripada yang kita lakukan akan membuat kita merasa terancam dan kita akan lebih senang mengakhiri hubungan semacam ini. Bila sebaliknya kita yang mengungkapkan diri terlalu akrab dibandingkan orang lain, kita akan merasa bodoh dan tidak aman” (Sears, dkk., 1988).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kebudayaan juga memiliki pengaruh dalam pengungkapan diri seseorang. Tiap-tiap bangsa dengan corak budaya masing-masing memberikan batas tertentu sampai sejauh mana individu pantas atau tidak pantas mengungkapkan diri. Kurt Lewin (dalam Raven &amp;amp; Rubin, 1983) dari hasil peneitiannya menemukan bahwa orang-orang Amerika nampaknya lebih mudah terbuka daripada orang-orang Jerman, tetapi keterbukaan ini hanya terbatas pada hal-hal permukaan saja dan sangat enggan untuk membuka rahasia yang menyangkut pribadi mereka. Di lain pihak, orang Jerman pada awalnya lebih sulit untuk mengungkapkan diri meskipun untuk hal-hal yang bersifat permukaan, namun jika sudah menaruh kepercayaan, maka mereka tidak enggan untuk membuka rahasia pribadi mereka yang paling dalam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 0, 0);" class="fullpost"&gt;Tingkatan-tingkatan pengungkapan diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam proses hubungan interpersonal terdapat tingkatan-tingkatan yang berbeda dalam pengungkapan diri. Menurut Powell (dalam Supratikna, 1995) tingkatan-tingkatan pengungkapan diri dalam komunikasi yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a. Basa-basi merupakan taraf pengungkapan diri yang paling lemah atau dangkal, walaupun terdapat keterbukaan diantara individu, terapi tidak terjadi hubungan antar pribadi. Masing-masing individu berkomuniikasi basa-basi sekedar kesopanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;b. Membicarakan orang lain yang diungkapkan dalam komunikasi hanyalah tentang orang lain atau hal-hal yang diluar dirinya. Walaupun pada tingkat ini isi komunikasi lebih mendalam tetapi pada tingkat ini individu tidak mengungkapkan diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;c. Menyatakan gagasan atau pendapat sudah mulai dijalin hubungan yang erat. Individu mulai mengungkapkan dirinya kepada individu lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;d. Perasaan: setiap individu dapat memiliki gagasan atau pendapat yang sama tetapi perasaan atau emosi yang menyertai gagasan atau pendapat setiap individu dapat berbeda-beda. Setiap hubungan yang menginginkan pertemuan antar pribadi yang sungguh-sungguh, haruslah didasarkan atas hubungan yang jujur, terbuka dan menyarankan perasaan-perasaan yang mendalam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;e. Hubungan puncak: pengungkapan diri telah dilakukan secara mendalam, individu yang menjalin hubungan antar pribadi dapat menghayati perasaan yang dialami individu lainnya. Segala persahabatan yang mendalam dan sejati haruslah berdasarkan pada pengungkapan diri dan kejujuran yang mutlak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sementara Alman dan Taylor mengemukakan suatu model perkembangan hubungan dengan pengungkapan diri sebagai media utamanya. Proses untuk mencapai keakraban hubungan antar pribadi disebut dengan istilah penetrasi sosial . Penetrasi sosial ini terjadi dalam dua dimensi utama yaitu keluasan dan kedalaman. Dimensi keluasan yaitu dimana seseorang dapat berkomunikasi dengan siapa saja baik orang asing atau dengan teman dekat. Sedangkan dimensi kedalaman dimana seseorang berkomunikasi dengan orang dekat, yang diawali dan perkembangan hubungan yang dangkal sampai hubungan yang sangat akrab, atau mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi tentang dirinya. Pada umumnya ketika berhubungan dengan orang asing pengungkapan diri sedikit mendalam dan rentang sempit (topik pembicaraan sedikit). Sedangkan perkenalan biasa, pengungkapan diri lebih mendalam dan rentang lebih luas. Sementara hubungan dengan teman dekat ditandai adanya pengungkapan diri yang mendalam dan rentangnya terluas (topik pembicaraan semakin banyak) (Sears, dkk. , 1999).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);" class="fullpost"&gt;Fungsi pengungkapan diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut Derlega dan Grzelak (dalam Sears, dkk., 1988) ada lima fungsi pengungkapan diri, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);" class="fullpost"&gt;a.  Ekspresi (expression)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam kehidupan ini kadang-kadang manusia mengalami suatu kekecewaan atau kekesalan, baik itu yang menyangkut pekerjaan ataupun yang lainnya. Untuk membuang semua kekesalan ini biasanya akan merasa senang bila bercerita pada seorang teman yang sudah dipercaya. Dengan pengungkapan diri semacam ini manusia mendapat kesempatan untuk mengekspresikan perasaan kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);" class="fullpost"&gt;b. Penjernihan diri (self-clarification)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan saling berbagi rasa serta menceritakan perasaan dan masalah yang sedang dihadapi kepada orang lain, manusia berharap agar dapat memperoleh penjelasan dan pemahaman orang lain akan masalah yang dihadapi sehingga pikiran akan menjadi lebih jernih dan dapat melihat duduk persoalannya dengan lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);" class="fullpost"&gt;c. Keabsahan sosial (sosial validation)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah selesai membicarakan masalah yang sedang dihadapi, biasanya pendengar akan memberikan tanggapan mengenai permasalahan tersebut Sehingga dengan demikian, akan mendapatkan suatu informasi yang bermanfaat tentang kebenaran akan pandangan kita. Kita dapat memperoleh dukungan atau sebaliknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);" class="fullpost"&gt;d. Kendali sosial (social control)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seseorang dapat mengemukakan atau menyembunyikan informasi tentang keadaan dirinya yang dimaksudkan untuk mengadakan kontrol sosial, misalnya orang akan mengatakan sesuatu yang dapat menimbulkan kesan baik tentang dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);" class="fullpost"&gt;e. Perkembangan hubungan (relationship development).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saling berbagi rasa dan informasi tentang diri kita kepada orang lain serta saling mempercayai merupakan saran yang paling penting dalam usaha merintis suatu hubungan sehingga akan semakin meningkatkan derajat keakraban.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);" class="fullpost"&gt;Pedoman dalam Pengungkapan Diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pengungkapan diri kadang-kadang menimbulkan bahaya, seperti resiko adanya penolakan atau dicemooh orang lain, bahkan dapat menimbulkan kerugian material. Untuk itu, kita harus mempelajari secara cermat konsekuensi-konsekuensinya sebelum memutuskan untuk melakukan pengungkapan diri. Menurut Devito (1992) hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengungkapan diri adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 102, 0);" class="fullpost"&gt;a. Motivasi melakukan pengungkapan diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pengungkapan diri haruslah didorong oleh rasa berkepentingan terhadap hubungan dengan orang lain dan diri sendiri. Sebab pengungkapan diri tidak hanya bersangkutan dengan diri kita saja tetapi juga bersangkutan dengan orang lain. Kadang-kadang keterbukaan yang kita ungkapkan dapat saja melukai perasaan orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);" class="fullpost"&gt;b. Kesesuaian dalam pengungkapan diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam melakukan pengungkapan diri haruslah disesuaikan dengan keadaan lingkungan. Pengungkapan diri haruslah dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat. Misalnya bila kita ingin mengungkapkan sesuatu pada orang lain maka kita haruslah bisa melihat apakah waktu dan tempatnya sudah tepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);" class="fullpost"&gt;c. Timbal balik dan orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selama melakukan pengungkapan diri, berikan lawan bicara kesempatan untuk melakukan pengungkapan dirinya sendiri. Jika lawan bicara kita tidak melakukan pengungkapan diri juga, maka ada kemungkinan bahwa orang, tersebut tidak menyukai keterbukaan yang kita lakukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sumber: &lt;a href="www.edwias.com"&gt;www.edwias.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-8872644530464571274?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/aveeZLlG6sk" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-19T01:46:32.535+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/04/self-disclosure-pengungkapan-diri.html</feedburner:origLink></item><item><title>Gaya Presentasi diri Self-Monitoring (Pemantauan Diri)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/1J2PYAIqQqQ/gaya-presentasi-diri-self-monitoring.html</link><category>Psikologi</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Sun, 18 Apr 2010 11:11:41 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-6979984039377190643</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setiap&lt;/span&gt; orang akan berbeda dalam cara mempresentasikan diri mereka. Beberapa orang lebih menyadari tentang kesan publik mereka, beberapa orang mungkin lebih menggunakan persentasi diri yang straregik, sementara yang lain lebih menyukai pembenaran diri (verifikasi diri). Menurut Mark Snyder (1987), perbedaan ini berkaitan dengan suatu ciri sifat kepribadian yang disebut dengan self-monitoring yaitu kecenderungan mengatur perilaku untuk menyesuaikan dengan tuntutan-tuntutaan situasi sosial. Dengan demikian, self-monitoring adalah kecenderungan untuk merubah perilaku dalam merespon terhadap presentasi diri yang dipusatkan pada situasi (Brehm &amp;amp; Kassin, 1993). Atau menurut Worchel, dkk. (2000), self-monitoring adalah menyesuaikan perilaku terhadap norma-norma situasional dan harapan-harapan dari orang lain. Sementara Brigham (1991) menyatakan self-monitoring merupakan proses dimana individu mengadakan pemantauan (memonitor) terhadap pengelolaan kesan yang telah dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Individu yang memiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;se!f-monitoring&lt;/span&gt; yang tinggi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;high self-monitors&lt;/span&gt;) menitikberatkan pada apa yang layak secara sosial dan menaruh perhatian pada bagaimana orang berperilaku dalam setting sosial. Mereka menggunakan informasi ini sebagai pedoman tingkah laku mereka. Perilaku mereka lebih ditentukan oleh kecocokan dengan situasi daripada sikap dan perasaan mereka yang sebenarnya. Mereka cakap dalam merasakan keinginan dan harapan orang lain, terampil atau ahli dalam mempresentasikan beberapa perilaku dalam situasi-situasi berbeda dan dapat merubah cara-cara presentasi diri atau memodifikasi perilaku-perilaku untuk menyesuaikan dengan harapan orang lain. High self-monitors digambarkan sebagai orang yang memiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“pragmauic self’.&lt;/span&gt; Mereka dapat disebut juga sebagai pengelola kesan yang lihai (“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;skilled impression managers&lt;/span&gt;).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebaliknya individu yang termasuk rendah dalam pemantauan diri (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;low self-monitors&lt;/span&gt;) cenderung lebih menaruh perhatian pada perasaan mereka sendiri dan kurang menaruh perhatian pada isyarat-isyarat situasi yang dapat menunjukkan apakah perilaku mereka sudah layak. Dalam suatu alat tes yang dinamakan “self-monitoring Scale” yang disusun oleh Mark Snyder dapat diketahui bahwa ternyata orang mempunyai variasi secara luas dalam kesiapan dan kemampuan untuk memantau diri mereka sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berdasar hasil penelitian, orang yang mendapat skore tinggi pada skala self-monitoring, akan mendapat keberuntungan dalam situasi sosial, Orang-orang akan menganggap mereka sebagai orang yang ramah dan relaks (Lippa, 1978), tidak pemalu dan lebih siap untuk mengambil inisiatif dalam berbagai situasi (Pilkonis, 1977). Tetapi kemungkinan mereka menjadi kurang dapat dipercaya dan dinilai dangkal (Gergen, 1977). Sehingga diasumsikan bahwa mereka yang berada pada tingkat self-monitoring yang moderat (sedang/di-tengah-tengah) adalah yang secara sosial ideal. Sebab hal ini akan membuat mereka bisa berfungsi secara efektif dalam mempresentasikan diri mereka, tanpa menjadi “bunglon sosial”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hasil-hasil penelitian yang lain menunjukkan bahwa karena high self-monitors mempersepsi diri sendiri sebagai orang yang berhasil dalam memberi kesan pada orang lain, maka mereka cenderung untuk memiliki harga diri yang lebih tinggi (Sharp &amp;amp; Getz, 1996). Mereka juga trampil secara sosial dalam menguji hipotesis tentang kepribadian orang (Dardenne &amp;amp; Leyens, 1995). Mereka juga lebih banyak mengingar informasi tentang orang-orang lain atau tindakan-tindakan orang lain. High self-monitors lebih menempatkan pada daya tarik fisik daripada kualitas pribadi ketika mereka memiliki pasangan romantis. Sedangkan low self-monitors lebih menekankan kecocokan dalam kepribadian dan minat daripada mencocokkan dengan daya tarik fisik dalam memilih pasangan (Glick. DeMorest, &amp;amp; Hotze, 1988). Akhirnya studi dalam organisasi menunjukkan bahwa individu yang tinggi self-monitoringnya lebih baik daripada yang rendah self-monitoringnya dalam bekerja antar departemen atau antar seksi yang menuntut fleksibilitas dan terbuka dengan keinginan dan harapan orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.blogger.com/www.edwias.com"&gt;www.edwias.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-6979984039377190643?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/1J2PYAIqQqQ" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-19T01:11:41.641+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/04/gaya-presentasi-diri-self-monitoring.html</feedburner:origLink></item><item><title>Implikasi Teori Kognitif Piaget Dalam Pembelajaran</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/V62DR0WRGvQ/implikasi-teori-kognitif-piaget-dalam.html</link><category>Psikologi</category><category>Psikologi Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Mon, 05 Apr 2010 07:20:21 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-1614124696985907176</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Piaget, perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;aktif memanipulasi&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;aktif berinteraksi&lt;/span&gt; dengan lingkungannya, yaitu bagaimana anak secara aktif mengkontruksi pengentahuannya.  Pengetahuan datang dari tindakan . menurut teori Piaget pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan perkembangan. Sementara itu bahwa interaksi sosial dengan teman sebaya, khususnya berargumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya memuat pemikiran itu menjadi lebih logis.  Berikut ini adalah implikasi teori Piaget dalam pembelajaran:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Memaklumi akan adanya perbedaan invidual dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung pada kecepatan yang berbeda. Ditambah cara berfikir anak kurang logis dibanding dengan orang dewasa, maka guru harus mengerti cara berfikir anak, bukan sebaliknya anak yang beradaptasi dengan guru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Pendidikan disini bertujuan untuk mengembangkan pemikiran anak, artinya ketika anak-anak mencoba  memecahkan masalah, penalaran merekalah yang lebih penting daripada jawabannya. Oleh sebab itu guru penting sekali agar tidak menghukum anak-anak untuk jawaban yang salah, tetapi sebaliknya menanyakan bagaimana anak itu memberi jawaban yang salah, dan diberi pengertian tentang kebenarannya atau mengambil langkah-langkah yang tepat untuk untuk menanggulanginya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Anak belajar paling baik dengan menemukan (discovery). Artinya di sini adalah agar pembelajaran yang berpusat pada anak berlangsung efektif, guru tidak meninggalkan anak-anak belajar sendiri, tetapi mereka memberi tugas khusus yang dirancang untuk membimbing para siswa menemukan dan menyelesaikan masalah sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-1614124696985907176?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/V62DR0WRGvQ" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-05T21:20:21.776+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/04/implikasi-teori-kognitif-piaget-dalam.html</feedburner:origLink></item><item><title>Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/2Z3jhLHKniA/teori-perkembangan-kognitif-jean-piaget.html</link><category>Psikologi</category><category>Psikologi Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Mon, 05 Apr 2010 07:10:13 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-2936689546377978891</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;PENGERTIAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berpikir (Gagne dalam Jamaris, 2006). Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah  pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976). Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa. Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 204, 0);" class="fullpost"&gt;PRINSIP DASAR TEORI PIAGET&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• Jean Piaget (seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980) dikenal dengan teori perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi &amp;amp; psikologis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• Piaget menerangkan inteligensi itu sendiri sebagai adaptasi biologi terhadap lingkungan. contoh: manusia tidak mempunyai mantel berbulu lembut untuk melindunginya dari dingin; manusia tidak mempunyai kecepatan untuk lari dari hewan pemangsa; manusia juga tidak mempunyai keahlian dalam memanjat pohon. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian &amp;amp; kendaraan untuk transportasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0); font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;3 Aspek Inteligensi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut Piaget, inteligensi dapat dilihat dari 3 perspektif berbeda:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Struktur&lt;/span&gt; Disebut juga scheme (skemata/Schemas). Struktur &amp;amp; organisasi terdapat di lingkungan, tapi pikiran manusia lebih dari meniru struktur realita eksternal secara pasif. Interaksi pikiran manusia dengan dunia luar, mencocokkan dunia ke dalam “mental framework”-nya sendiri. Struktur kognitif merupakan mental framework yg dibangun seseorang dengan mengambil informasi dari lingkungan &amp;amp; menginterpretasikannya, mereorganisasikannya serta mentransformasikannya (Flavell, Miller &amp;amp; Miller, 1993).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2 hal penting yg harus diingat tentang membangun struktur kognitif: 1) seseorang terlibat secara aktif dalam membangun proses. 2) lingkungan dimana seseorang berinteraksi penting untuk perkembangan struktural.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Piaget tidak melihat struktur kognitif sebagai mekanisme biologis lahiriah. Dia tidak percaya bahwa anak-anak memasuki dunia dengan “piranti dasar” untuk memahami realita. Anak-anak secara perlahan &amp;amp; bertahap membangun cara pandang mereka sendiri terhadap realita. Pembentukan struktur kognitif mulai pada awal kehidupan segera setelah bayi mulai memiliki pengalaman dengan lingkungan. Tapi bukankah seorang bayi yg baru lahir belum memiliki pengalaman apapun terhadap lingkungan? Piaget percaya bahwa seorang bayi yg tidak berpengalaman penuh memiliki struktur yg sudah terbentuk yg memprogramkan mereka untuk berinteraksi dengan lingkungan, ini yg disebut struktur fisik, seperti sistem syaraf &amp;amp; otak manusia serta organ2 sensorik spesifik. Dan refleks-refleks yg disebut sebagai “automatic behavioral reactions”. Bayi melatih struktur-struktur ini dalam interaksi dengan lingkungan &amp;amp; memulainya dengan segera untuk mengembangkan struktur kognitif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Isi&lt;/span&gt; Disebut  juga content, yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu menghadapi sesuatu masalah. Merupakan materi kasar, karena Piaget kurang tertarik pada apa yg anak-anak ketahui, tapi lebih tertarik dengan apa yang mendasari proses berpikir. Piaget melihat “isi” kurang penting dibanding dengan struktur &amp;amp; fungsinya, Bila isi adalah “apa” dari inteligensi, sedangkan “bagaimana” &amp;amp; “mengapa” ditentukan oleh kognitif atau intelektual.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fungsi&lt;/span&gt; Disebut fungtion, yaitu suatu proses dimana struktur kognitif dibangun. Semua organisme hidup yg berinteraksi dengan lingkungan mempunyai fungsi melalui proses &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;organisasi &amp;amp; adaptasi.&lt;/span&gt; Organisasi: cenderung uuntuk mengintegrasi diri &amp;amp; dunia ke dalam suatu bentuk dari bagian-bagian menjadi satu kesatuan yg penuh arti, sebagai suatu cara untuk mengurangi kompleksitas. Adaptasi terhadap lingkungan terjadi dalam 2 cara:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a. organisme memanipulasi dunia luar dengan cara membuatnya menjadi serupa dengan dirinya. Proses ini disebut dengan &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;asimilasi.&lt;/span&gt; Asimilasi mengambil sesuatu dari dunia luar &amp;amp; mencocokkannya ke dalam struktur yg sudah ada. contoh: manusia mengasimilasi makanan dengan membuatnya ke dalam komponen nutrisi, makanan yg mereka makan menjadi bagian dari diri mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;b. organisme memodifikasi dirinya sehingga menjadi lebih menyukai lingkungannya. Proses ini disebut &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;akomodasi.&lt;/span&gt; Ketika seseorang mengakomodasi sesuatu, mereka mengubah diri mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan eksternal. contoh: tubuh tidak hanya mengasimilasi makanan tapi juga mengakomodasikannya dengan mensekresi cairan lambung untuk menghancurkannya &amp;amp; kontraksi lambung mencernanya secara involunter.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;equilibrium,&lt;/span&gt; yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 204, 0);" class="fullpost"&gt;TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam 4 periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4. Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);" class="fullpost"&gt;1. Periode sensorimotor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Periode sensorimotor&lt;/span&gt; adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a. Sub-tahapan skema refleks,&lt;/span&gt; muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, &lt;/span&gt;dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;c. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, &lt;/span&gt;muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;d. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder,&lt;/span&gt; muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;e. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;f. Sub-tahapan awal representasi simbolik,&lt;/span&gt; berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0); font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;2. Tahapan praoperasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemikiran (Pra)Operasi&lt;/span&gt; dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);" class="fullpost"&gt;3. Tahapan operasional konkrit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengurutan&lt;/span&gt;—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Klasifikasi&lt;/span&gt;—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Decentering&lt;/span&gt;—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Reversibility&lt;/span&gt;—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Konservasi&lt;/span&gt;—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penghilangan sifat Egosentrisme&lt;/span&gt;—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);" class="fullpost"&gt;4. Tahapan operasional formal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Informasi umum mengenai tahapan-tahapan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• Universal (tidak terkait budaya)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;• Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0); font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;KRITIK TERHADAP TEORI PIAGET&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kebanyakan ahli psikologi sepenuhnya menerima prinsip-prinsip umum Piaget bahwa pemikiran anak-anak pada dasarnya berbeda dengan pemikiran orang dewasa, dan jenis logika anak-anak itu berubah seiring dengan bertambahnya usia. Namun, ada juga peneliti yang meributkan detail-detail penemuan Piaget, terutama mengenai usia ketika anak mampu menyelesaikan tugas-tugas spesifik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Pada sebuah studi klasik, McGarrigle dan Donalson (1974) menyatakan bahwa anak sudah mampu memahami konservasi (conservation) dalam usia yang lebih muda daripada usia yang diyakini oleh Piaget. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Studi lain yang mengkritik teori Piaget yaitu bahwa anak-anak baru mencapai pemahaman tentang objek permanence pada usia di atas 6 bulan. Balillargeon dan De Vos (1991) ; 104 anak diamati sampai mereka berusia 18 tahun, dan diuji dengan  berbagai tugas operasional formal berdasarkan tugas-tugas yang dipakai Piaget, termasuk pengujian hipotesa. Mayoritas anak-anak itu memang belum mencapai tahap operasional formal. Hal ini sesuai dengan studi-studi McGarrigle dan Donaldson serta Baillargeon dan DeVos, yang menyatakan bahwa Piaget terlalu meremehkan kemampuan anak-anak kecil dan terlalu menilai tinggi kemampuan anak-anak yang lebih tua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Dan belum lama ini, Bradmetz (1999) menguji pernyataan Piaget bahwa mayoritas anak mencapai formal pada akhir masa kanak-kanak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Diringkas Dari Berbagai Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/" target="new"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://valmband.multiply.com/journal/item/12/TEORI_PERKEMBANGAN_KOGNISI_JEAN_PIAGET" target="new"&gt;VALMBAND&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://teoripiaget.blogspot.com/2007/01/latar-belakang-jean-piaget.html" target="new"&gt;Latar Belakang Jean Piaget&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/%20http://marthachristianti.wordpress.com/" target="new"&gt; marthachristianti.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-2936689546377978891?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/2Z3jhLHKniA" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-05T21:10:13.425+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/04/teori-perkembangan-kognitif-jean-piaget.html</feedburner:origLink></item><item><title>Memahami &amp; Menolong Siswa Yang Kurang PD</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/eNvhYIpDoqQ/memahami-dan-menolong-siswa-yang-kurang.html</link><category>Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Sat, 03 Apr 2010 13:26:16 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-4676755504396146927</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;DESKRIPSI KASUS &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga, sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga; orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota, tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima, tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. &lt;span class="fullpost"&gt;Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois, kurang bersahabat, pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja, dan sombong. Makin lama perasaan ditolak, terisolik, dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan, tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung; terus bertahan, susah tak ada/punya teman yang peduli. Dasar saya anak desa, anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder, pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat, sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut pandangan rasional emotif, manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional, manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri, orang lain, dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya, akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa; selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebih-lebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya; Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya, memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi, mengontrol dunia, dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna; menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu, tak terlalu jelek/memalukan namun dibiarkan terus berlangsung, dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya, kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. Itu berarti salah saya, karena saya tak berharga, tak seperti orang/teman-teman lainnya. Saya pantas menderita karena semuanya itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sehubungan dengan kasus, Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul, ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional; ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya, semua teman memperhatikan / mendukung, peduli, dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU, sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. Ia menjadi minder, pemalu, penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia, mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif, sugestif, pemberian nasehat secara tepat, terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah, sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat, konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal, sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih, mengobservasi dan evaluasi diri. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung, tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya. Allah mengasihi saya, karena saya berharga dihadiratNya. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang, puas dan bangga, tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh, bahkan adakalanya saya benci, memaki-maki diri saya sendiri, sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik, 50% netral, hanya 10% saja yang membeci saya. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya, dan seterusnya. Ide-ide ini diajarkan, dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh, bermain peran, dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen, sosial modeling dan relaksasi/meditasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). Tekniknya jelas, teliti, makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri, yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. Cara konselor ialah dengan pendekatan yang tegas, memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali, menantang, mendebat, menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu, dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik. Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;      1. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;      2. Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;      3. Kesegaran hasil yang dicapai,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;      4. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kesimpulannya, penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri; (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguan-gangguan secara berarti; (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional ; (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini; (5) menerima kenyataan bahwa, jika kita mengharap untuk berubah, kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti; dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Penulis:  &lt;a href="http://www.blogger.com/slametouksw@plasa.com"&gt;Slameto&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;SUMBER&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aryatmi, S., 1991, Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi, Satya Wacana Semarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Corey G., 1991/1995, Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto), IKIP Semarang Pres.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Prayitno, 1998, Konseling Pancawashita, progdi BK PPB, FIP, IKIP Padang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Rosjidan, 1998, Pengantar Teori-teori Konseling, Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK, Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Surya, M., 1988, Dasar-Dasar Konseling Pendidikan, Kota Kembang, Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-4676755504396146927?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/eNvhYIpDoqQ" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-04T03:26:16.239+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/04/memahami-dan-menolong-siswa-yang-kurang.html</feedburner:origLink></item><item><title>Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/FyqdbXQhtrA/model-pembelajaran-contextual-teaching.html</link><category>Metode Pembelajaran</category><category>Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Fri, 02 Apr 2010 10:56:58 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-7229453062833793254</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;Permasalah terbesar yang dihadapi para peserta didik sekarang (siswa) adalah mereka belum bisa menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dan bagaimana pengetahuan itu akan digunakan. Hal ini dikarenakan cara mereka memperolah informasi dan motivasi diri belum tersentuh oleh metode yang betul-betul bisa membantu mereka. Para siswa kesulitan untuk memahami konsep-konsep akademis (seperti konsep-konsep matematika, fisika, atau biologi), karena metode mengajar yang selama ini digunakan oleh pendidik (guru) hanya terbatas pada metode ceramah. Di sini lain tentunya siswa tahu apa yang mereka pelajari saat ini akan sangat berguna bagi kehidupan mereka di masa datang, yaitu saat mereka bermasyarakat ataupun saat di tempat kerja kelak. Oleh karena itu diperlukan suatu metode yang benar-benar bisa memberi jawaban dari masalah ini. Salah satu metode yang bisa lebih memberdayakan siswa dalah pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning / CTL)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sistem pembelajaran yang cocok dengan kinerja otak, untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna, dengan cara menghubungkan muatan akademis dengan konteks kehidupan sehari-hari peserta didik. Hal ini penting diterapkan agar informasi yang diterima tidak hanya disimpan dalam memori jangka pendek, yang mudah dilupakan, tetapi dapat disimpan dalam memori jangka panjang sehingga akan dihayati dan diterapkan dalam tugas pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori pembelajran kontekstual, pembelajaran terjadi hanya ketika siswa (peserta didik) memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa sehingga dapat terserap kedalam benak mereka dan mereka mampu menghubungannya dengan kehidupan nyata yang ada di sekitar mereka. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa pikiran secara alami akan mencari makna dari hubungan individu dengan linkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pemahaman di atas, menurut metode pembelajaran kontekstual kegiatan pembelajaran tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas, tapi bisa di laboratorium, tempat kerja, sawah, atau tempat-tempat lainnya. Mengharuskan pendidik (guru) untuk pintar-pintar memilih serta mendesain linkungan belajar yang betul-betul berhubungan dengan kehidupan nyata, baik konteks pribadi, sosial, budaya, ekonomi, kesehatan, serta lainnya, sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam linkungan seperti itu, para siswa dapat menemukan hubungan bermakna antara ide-ide abstrak dengan aplikasi praktis dalam konteks dunia nyata; konsep diinternalisasi melalui menemukan, memperkuat, serta menghubungkan. Sebagai contoh, kelas fisika yang mempelajari tentang konduktivitas termal dapat mengukur bagaimana kualitas dan jumlah bahan bangunan mempengaruhi jumlah energi yang dibutuhkan untuk menjaga gedung saat terkena panas atau terkena dingin. Atau kelas biologi atau kelas kimia bisa belajar konsep dasar ilmu alam dengan mempelajari penyebaran AIDS atau cara-cara petani bercocok tanam dan pengaruhnya terhadap lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menerapkan CTL tanpa disadari pendidik telah mengikuti tiga prinsip ilmiah modern yang menunjang dan mengatur segala sesuatu di alam semesta, yaitu: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1) Prinsip Kesaling-bergantungan, 2) Prinsip Diferensiasi, &lt;/span&gt;dan&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; 3) Prinsip Pengaturan Diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prinsip kesaling-bergantungan&lt;/span&gt; mengajarkan bahwa segala sesuatu di alam semesta saling bergantung dan saling berhubungan. Dalam CTL prinsip kesaling-bergantungan mengajak para pendidik untuk mengenali keterkaitan mereka dengan pendidik lainnya, dengan siswa-siswa, dengan masyarakat dan dengan lingkungan. Prinsip kesaling-bergantungan mengajak siswa untuk saling bekerjasama, saling mengutarakan pendapat, saling mendengarkan untuk menemukan persoalan, merancang rencana, dan mencari pemecahan masalah. Prinsipnya adalah menyatukan pengalaman-pengalaman dari masing-masing individu untuk mencapai standar akademik yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prinsip diferensiasi&lt;/span&gt; merujuk pada dorongan terus menerus dari alam semesta untuk menghasilkan keragaman, perbedaan dan keunikan. Dalam CTL prinsip diferensiasi membebaskan para siswa untuk menjelajahi bakat pribadi, memunculkan cara belajar masing-masing individu, berkembang dengan langkah mereka sendiri. Disini para siswa diajak untuk selalu kreatif, berpikir kritis guna menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prinsip pengaturan diri&lt;/span&gt; menyatakan bahwa segala sesuatu diatur, dipertahankan dan disadari oleh diri sendiri. Prinsip ini mengajak para siswa untuk mengeluarkan seluruh potensinya. Mereka menerima tanggung jawab atas keputusan dan perilaku sendiri, menilai alternatif, membuat pilihan, mengembangkan rencana, menganalisis informasi, menciptakan solusi dan dengan kritis menilai bukti. Selanjutnya dengan interaksi antar siswa akan diperoleh pengertian baru, pandangan baru sekaligus menemukan minat pribadi, kekuatan imajinasi, kemampuan mereka dalam bertahan dan keterbatasan kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke konsep tentang CTL. Dalam pembelajaran kontekstual guru dituntut membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya adalah guru lebih berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi. Di sini guru hanya mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Kegiatan belajar mengajar (KBM) lebih menekankan Student Centered daripada Teacher Centered. Menurut Depdiknas guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut: 1) Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa. 2) Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama. 3) Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan mengkaiykan dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual. 4) Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup mereka. 5) Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa, dimana hasilnya nanti dijadikan bahan refeksi terhadap rencana pemebelajaran dan pelaksanaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum dan pengajaran yang didasarkan pada strategi pembelajaran kontekstual harus disusun untuk mendorong lima bentuk pembelajaran penting: Mengaitkan, Mengalami, Menerapkan, Kerjasama, dan Mentransfer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;MENGAITKAN:&lt;/span&gt; Belajar dalam konteks pengalaman hidup, atau mengaitkan. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru. Kurikulum yang berupaya untuk menempatkan pembelajaran dalam konteks pengalaman hidup harus bisa membuat siswa memperhatian kejadian sehari-hari yang mereka lihat, peristiwa yang terjadi di sekitar, atau kondisi-kondisi tertentu, lalu mengubungan informasi yang telah mereka peroleh dengan pelajaran kemudian berusaha untuk menemukan pemecahan masalah terhadap permasalahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;MENGALAMI:&lt;/span&gt; Belajar dalam konteks eksplorasi, mengalami. Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan-bahan dan untuk melakukan bentuk-bentuk penelitian aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;MENERAPKAN:&lt;/span&gt; Menerapkan konsep-konsep dan informasi dalam konteks yang bermanfaat bagi diri siswa. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapat memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistik dan relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;KERJASAMA:&lt;/span&gt; Belajar dalam konteks berbagi, merespons, dan berkomunikasi dengan siswa lain adalah strategi pengajaran utama dalam pengajaran kontekstual. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman bekerja sama tidak hanya membantu siswa mempelajari materi, juga konsisten dengan dunia nyata. Seorang karyawan yang dapat berkomunikasi secara efektif, yang dapat berbagi informasi dengan baik, dan yang dapat bekerja dengan nyaman dalam sebuah tim tentunya sangat dihargai di tempat kerja. Oleh karena itu, sanat penting untuk mendorong siswa mengembangkan keterampilan bekerja sama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;MENTRASFER:&lt;/span&gt; Belajar dalam konteks pengetahuan yang ada, atau mentransfer, menggunakan dan membangun atas apa yang telah dipelajari siswa. Peran guru membuat bermacam-macam pengelaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hapalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Depdiknas untuk penerapannya, pendekatan kontektual (CTL) memiliki tujuah komponen utama, yaitu konstruktivisme (constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat-belajar (Learning Community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic). Adapaun penjelasannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Konstruktivisme&lt;/span&gt; (constructivism). Kontruktivisme merupakan landasan berpikir CTL, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental mebangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur pengetahuanyang dimilikinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menemukan&lt;/span&gt; (Inquiry). Menemukan merupakan bagaian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual Karen pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data gathering), penyimpulan (conclusion).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bertanya&lt;/span&gt; (Questioning). Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaan berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk : 1) menggali informasi, 2) menggali pemahaman siswa, 3) membangkitkan respon kepada siswa, 4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, 5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, 6) memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru, 7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa,  untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masyarakat Belajar&lt;/span&gt; (Learning Community). Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperolah dari ‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antar yang tau ke yang belum tau. Masyarakat belajar tejadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemodelan&lt;/span&gt; (Modeling). Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan ,elibatkan siswa dan juga mendatangkan dari luar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Refleksi&lt;/span&gt; (Reflection). Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari aau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;7. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penilaian yang sebenarnya &lt;/span&gt;( Authentic Assessment). Penialaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Kelebihan &amp;amp; Kekurangan Contextual Teaching and Learning&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kelebihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.&lt;br /&gt;2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Guru lebih intensif dalam membimbing.  Karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.&lt;br /&gt;2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diringkas Dari Berbagai Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.texascollaborative.org/WhatWeKnowAboutLP.htm" target="new"&gt;What is Contextual Teaching and Learning&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.texascollaborative.org/TheREACTstrategy.htm" target="new"&gt;The REACT Strategy&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bandono.web.id/2008/03/07/menyusun-model-pembelajaran-contextual-teaching-and-learning-ctl.php" target="new"&gt;Menyusun Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.wordpress.com/tag/kontekstual-teaching-and-learning/" target="new"&gt;Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-7229453062833793254?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/FyqdbXQhtrA" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-03T00:56:58.043+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/03/model-pembelajaran-contextual-teaching.html</feedburner:origLink></item><item><title>Sepuluh (10) Kepribadian Orang Sukses</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/ZMqZ5nRBsh8/sepuluh-10-kepribadian-orang-sukses.html</link><category>kepribadian</category><category>Motivasi</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Fri, 02 Apr 2010 11:07:36 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-4549829228532998150</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;“The best way to predict the future is to create it.”&lt;/span&gt; – Alan Kay&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu KESUKSESAN memiliki banyak definisi dan variasi tolok ukur. Beberapa dari kita meyakini, bahwa kesuksesan berarti mencapai posisi tertinggi di kantor, variasi lainnya bermakna memiliki kecukupan finansial tertentu. Ada sebagian lagi mewujudkan kesuksesan sebagai sebuah predikat penghargaan dari kolega dan khalayak atas prestasinya. Dari bermacam definisi dan tolok ukur itu, satu hal yang dapat disimpulkan bahwa kesuksesan merupakan pencapaian impian melalui sebuah proses terstruktur dan terencana. Contohnya, si A mendefinisikan sukses jika dia mampu mencapai manajer pemasaran di tempat kerjanya. Usaha untuk “memuluskan” kesuksesan tersebut, A memutuskan untuk belajar kembali di institusi pendidikan S2 dan mengikuti beberapa seminar pemasaran. Tentu saja, banyak hal yang perlu dipersiapkan, baik itu material dan sikap pribadinya. Bentuk material berupa dana dan waktu merupakan hal yang pasti harus dipersiapkan, lalu perlu juga ditunjang dengan sikap pribadi dalam menyikapi proses pencapaian kesuksesan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Merujuk kepada Jennie S. Bev yaitu seorang konsultan, entrepreneur, penulis dan edukator bertempat tinggal di San Francisco Bay Area dan merupakan seorang Indonesia yang “sukses” berkompetisi pada iklim “ketat” Amerika. Beliau mengedepankan 10 unsur kepribadian seorang sukses (baik dari segi keuangan dan prestasi) yang berdasarkan pada komunikasi dan pergaulannya dengan para billionaire dan beberapa pengusaha sukses. Sepuluh sikap itu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Satu, keberanian untuk berinisiatif.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kekuatan yang sebenarnya tidak lagi menjadi rahasia atas kesuksesan orang-orang terknenal yaitu mereka selalu punya ide-ide cemerlang! Seorang Donald Trump yang “mendunia” karena superioritasnya di bidang Real Estate awalnya berproses dari status bangkrut dan akhirnya berpredikat Raja Real Estate, adalah contoh dari seorang yang jenius dan berani berinisiatif. Kita tentu mengenal serial TV The Apprentice, kontes Miss Universe, Online University bernama TrumpUniversity.com, bahkan di negara asalnya boneka Donald adalah sebuah icon dan produk laris selain buku-buku bestseller-nya. Dan inisiatif adalah kekayaan semua orang, tinggal orang itu mau atau tidak untuk berinisiatif mengemukakan ide-idenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Dua, tepat waktu. &lt;/span&gt;Sebuah hal yang pasti untuk semua orang di dunia ini tanpa terkecuali adalah bahwa kita memiliki jumlah waktu yang sama yaitu 24 jam sehari. Seorang yang menepati janji dan tepat waktu menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang memiliki kemampuan mengatur/manage sesuatu yang paling terbatas tersebut. Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua keberhasilan, terutama keberhasilan berbisnis dan berinteraksi. Memberikan perhatian lebih terhadap waktu merupakan pencerminan dari respek terhadap diri sendiri dan kolega dan mitra kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Tiga, senang melayani dan memberi.&lt;/span&gt; Sebuah rumus sukses dari banyak orang sukses adalah mampu memimpin, namun sebuah additional attribute dari sikap kepemimpinan adalah kebiasaan melayani dan memberi. The more you give to others, the more respect you get in return. Dan, keikhlasan adalah kunci untuk sifat ini. Kebaikan lain akan terus mengalir tanpa henti saat kita mampu memberi dan melayani dengan ikhlas. Ini mungkin bisa dibilang sebagai bonus saja! Tetapi, setidaknnya dengan memberi dan melayani berarti menunjukkan kepada teman, kolega serta rekan kita betapa suksesnya diri kita sehingga membuat orang lebih yakin bermitra dan bergaul dengan diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Empat, membuka diri terlebih dahulu. &lt;/span&gt;Barangkali kita pernah bertemu orang yang selalu mau tahu tentang hal pribadi orang lain namun dia terus menutup diri agar jati dirinya tidak terbuka. Mereka biasanya hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, dan selalu berprasangka buruk kepada siapa saja yang dijumpainya. Sikap ini adalah unsur yang tidak dimiliki banyak orang sukses. Rasa percaya dan kebesaran hati untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, itulah yang dicari oleh para partner sejati dan sebagian besar dari kita akan setuju bahwa tidak banyak orang yang mau bekerja sama dengan orang yang misterius, betul kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Lima, senang bekerja sama dan membina hubungan baik. &lt;/span&gt;Kemampuan bekerja sama dalam tim adalah salah satu kunci keberhasilan utama. Kembali kita mengambil contoh Donald Trump. Dalam serial TV The Apprentice, Trump memiliki tim yang loyal dan menjadi perpanjangan tangan dirinya dalam menemukan para calon “orang kepercayaan” yang baru. Pada akhirnya, Trump akan memiliki sebuah tim yang sangat loyal dan bervisi sama dengan menciptakan jaringan kerja yang baik, sehingga jalan menuju sukses itu semakin terbuka lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Enam, senang mempelajari hal-hal baru.&lt;/span&gt; Ciputra dan Aburizal Bakrie adalah seorang yang bisa dikatakan sebagai orang sukses dalam bidangnya yaitu commerce. Tapi saat mereka mendirikan universitas, apakah mereka beralih sebagai seorang pendidik? Atau mereka sendiri sebenarnya adalah profesor? Jelas tidak, mereka tetap seorang entrepreneur, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta langsung menerapkannya, maka dunia bisnis semakin terbuka luas baginya. Dunia bisnis ibarat sebagai tempat bermain yang laus dan tidak terbatas. Jadi senang belajar dan mencari hal baru adalah sebuah sikap kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Tujuh, jarang mengeluh, profesionalisme adalah yang paling utama. &lt;/span&gt;Lance Armstrong pernah berkata, “There are two kinds of days: good days and great days.” Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan hari yang sangat baik. Adalah baik jika kita tidak pernah mengeluh, walaupun suatu hari mungkin kita akan jatuh dan gagal. Mengapa? Karena setiap kali gagal, itu adalah kesempatan bagi diri kita untuk belajar mengatasi kegagalan itu sendiri sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari. Hari di mana kita gagal tetap sebagai a good day (hari yang baik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Delapan, berani menanggung resiko.&lt;/span&gt; Jelas, tanpa ini tidak ada kesempatan sama sekali untuk menuju sukses. Sebenarnya setiap hari kita menanggung resiko, walaupun tidak disadari penuh. Resiko hanyalah akan berakibat dua macam: be a good or a great day. Jadi, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi bukan? Kegagalan pun hanyalah kesempatan belajar untuk tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari dan tentunya ambang kepada kesuksesan akan lebih dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Sembilan, tidak menunjukkan kekhawatiran (berpikir positif setiap saat). &lt;/span&gt;Berpikir positif adalah environment atau default state di mana keseluruhan eksistensi kita berada. Jika kita gunakan pikiran negatif sebagai default state, maka semua perbuatan kita akan berdasarkan ini (kekhawatiran atau cemas). Dengan pikiran positif, maka perbuatan kita akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan semakin besar kemungkinannya. Semakin positif kita menyikapi hambatan, semakin besar kesempatan kita menemukan penyelesaian atas hambatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;Sepuluh, “comfortable in their own skin”&lt;/span&gt; Menutup-nutupi sesuatu maupun supaya tampak “lebih” dari lawan bicaranya. Pernah bertemu dengan orang sukses yang rendah diri alias tidak nyaman dengan diri mereka sendiri? Tidak ada tentunya. Kenyamanan menjadi diri sendiri tidak perlu ditutup-tutupi supaya lawan bicara tidak tersinggung karena setiap orang mempunyai tempat tersendiri di dunia yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Saya adalah saya, mereka adalah mereka. Dengan menjadi diri saya sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka merasa tidak nyaman, itu bukan karena kepribadian saya, namun karena mindset yang berbeda dan kekurangmampuan mereka dalam mencapai kenyamanan dengan diri sendiri. Sikap dasar orang sukses tersebut di atas barangkali dapat menjadi cerminan dan memuluskan langkah kita untuk mencapai kesuksesan yang kita impikan, tinggal kita yang memutuskan. Siap untuk sukses? Sampai bertemu lagi di puncak gunung kesuksesan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://charlybuchari.wordpress.com/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-4549829228532998150?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/ZMqZ5nRBsh8" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-03T01:07:36.949+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/03/sepuluh-10-kepribadian-orang-sukses.html</feedburner:origLink></item><item><title>Guru Idaman</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/bJCYri9gSIM/guru-idaman.html</link><category>Tips n Trik</category><category>Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Fri, 02 Apr 2010 11:10:49 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-7710791218609349199</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;Ki Hajar Dewantoro yang lahir pada 2 Mei 1899dan tiap tanggal 2 Mei kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), telah mengambarkan tentang sosok guru idaman nan ideal. Saya yakin kata-kata beliau tidak asing lagi di telingga kita. Menurut beliau seorang guru harus:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;1. Ing Ngarso Sung Tulodho&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kunci sukses pendidikan yang pertama dan utama adalah &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Akhlaq. &lt;/span&gt;Guru benar–benar harus bisa menjadi teladan dalam berakhlaq. Anak didik kebanyakan lebih percaya dengan gurunya daripada orangtuanya, karena guru dianggap tahu segala-galanya.  Untuk itu segala tingkah laku, sopan santun guru akan menjadi panutan muridnya. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;2. Ing Madyo Mangun Karso&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kunci sukses kedua adalah &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Minat dan Semangat Belajar.&lt;/span&gt;  Guru harus benar–benar menjadi penggali minat dan pemompa semangat belajar anak sehingga setiap anak mampu berpikir kritis dan belajar mandiri.&lt;br /&gt;Jadi sebetulnya guru tidak perlu banyak mengajar, justru lebih perlu banyak menggagas tentang beragam bintang prestasi di langit yang perlu setiap siswa gapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bijak berpendapat bahwa tugas guru itu ibaratnya bercerita tentang enaknya ilmu dan membangkitkan selera anak untuk melahap ilmu tersebut. Keberhasilan tertinggi guru adalah jika mampu mengubah siswa yang mogok belajar menjadi siswa lebih pandai dari dirinya. Ini bukan tidak mungkin, karena otak anak dalam golden-age sedang otak gurunya sudah mulai telmi, waktu belajar anak lebih luas, sementara waktu belajar guru lebih terbatas, sumber belajar saat ini lebih banyak daripada sumber belajar ketika guru kuliah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;3. Tut Wuri Handayani&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kunci sukses ketiga adalah &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Pengasuhan dan Pengayoman.&lt;/span&gt;  Guru harus benar–benar pengganti orang tua yang menerapkan Asah, Asih, Asuh, namun sekali lagi bukan dalam arti mengajar tapi mendidik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-7710791218609349199?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/bJCYri9gSIM" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-03T01:10:49.212+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/03/guru-idaman.html</feedburner:origLink></item><item><title>Tips Menghadapi Ujian Nasional (UN)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/Eb2SEaCaDpo/tips-menghadapi-ujian-nasional-un.html</link><category>Tips Hidup</category><category>Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Tue, 23 Mar 2010 11:22:31 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-4062512797735819792</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S6kGz8LBhhI/AAAAAAAAAZo/nnUaPa1XZZI/s1600-h/ujian+nasional.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 142px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S6kGz8LBhhI/AAAAAAAAAZo/nnUaPa1XZZI/s200/ujian+nasional.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5451896313304155666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ujian Nasional (UN), sejak dari pertama diberlakukan sampai sekarang belum lepas dari kontroversi. Ada pihak yang mendukung terhadap pelaksanaan UN, tapi juga tidak sedikit pihak yang menyayangkan atas diberlakukannya UN dan meghendaki UN sebaiknya ditiadakan. Tetapi walau demikian adanya pemerintah tetap pada keputusan untuk melaksanakan UN sebagai salah satu standar kelulusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Walapun demikian adanya, kita sebagai pendidik, orang tua ataupun siswa tidak perlu berpolemik terhadap hal tersebut, toh UN tetap akan dilaksanakan dan kita akan menghadapinya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah mempersiapkan matang-matang untuk menghadapinya. Dengan harapan hasil yang akan kita capai sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan baik itu orang tua, sekolah, ataupun siswa itu sendiri:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagi Siswa,&lt;/span&gt; usaha yang bisa dilakukan agar berhasil dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1.Selalu berdo’a dan memohon dido’akan. Karena ini adalah kewajiban kita untuk selalu memohon kepada Tuhan untuk segala keberhasilan dan kebaikan kita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2.Biasakan shalat 5 waktu berjama’ah, shalat tahajud, shalat dhuha, serta amalan-amalan lainnya bagi muslim. Bagi yang non muslim sesuai dengan keyakinan dan ajarannya masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3.Mohon doa restu dari orang tua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4.Hadapilah ujian dengan tenang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;5.Bersikaplah proaktif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;6.Perbanyaklah baca dan latihan soal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;7.Belajar kelompok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;8.Menyusun rencana-rencana belajar mingguan, harian dan jam untuk rencana sesi belajar yang akan dilakukan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;9.Mengurangi waktu bermain dan memperbanyak waktu belajar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagi Orang Tua,&lt;/span&gt; yang bisa dilakukan oleh orang tua:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1.Selalu berdo’a. Karena ini adalah kewajiban kita untuk selalu memohon kepada Tuhan untuk segala keberhasilan dan kebaikan kita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2.Membiasakan shalat 5 waktu, shalat tahajud, shalat duha, puasa sunnah, serta amalan-amalan lainnya bagi muslim. Bagi yang non muslim sesuai dengan keyakinan dan ajarannya masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3.Membuat kondisi belajar di rumah yang menyenangkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4.Kurangi beban/tugas anak, beri kesempatan belajar yang lebih banyak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;5.Kurangi waktu bermain anak yang kurang bermanfaat, seperti: main Play station, ber-Facebook-ria, keluar rumah dengan motor.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;6.Berikan motivasi dan semangat belajar kepada anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;7.Jangan selalu dimarahi. Perlakukan anak sebagai orang dewasa, ajak diskusi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;8.Beri waktu istirahat yang cukup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;9.Kendalikan dari kegiatan di luar sekolah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagi Sekolah,&lt;/span&gt; yang bisa dilakukan oleh sekolah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1.Melaksanakan ujian try out.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2.Melaksanakan Les.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3.Pemadatan jam pembelajaran materi UN.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4.Konseling siswa denagn konselor dan guru BK.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;5.Bimbingan Emotional Spiritual Qustion (ESQ).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;6.Pembiasaan shalat dhuha dan jama’ah dhuhur di sekolah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Itulah beberapa tips yang bisa dilakukan. Kepada seluruh siswa yang akan mengikuti UN &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;janganlah panik, optimis dan percaya dirilah, Anda pasti bisa!!! Semoga hasil yang akan Anda semua dapatkan sesuai dengan apa yang diharapkan. Amiin….&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-4062512797735819792?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/Eb2SEaCaDpo" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-03-24T01:22:31.270+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S6kGz8LBhhI/AAAAAAAAAZo/nnUaPa1XZZI/s72-c/ujian+nasional.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/03/tips-menghadapi-ujian-nasional-un.html</feedburner:origLink></item><item><title>Teori Nativisme</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/Ftz2J6zpIkU/teori-nativisme.html</link><category>Psikologi</category><category>Psikologi Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Sun, 14 Mar 2010 23:12:04 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-8025910417231077086</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S53PoDLzjDI/AAAAAAAAAY4/TveyUyhbNJ0/s1600-h/nativisme.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 190px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S53PoDLzjDI/AAAAAAAAAY4/TveyUyhbNJ0/s200/nativisme.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5448739411144707122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Nativisme berasal dari kata Nativus yang berarti kelahiran.  Teori ini muncul dari filsafat nativisma (terlahir) sebagai suatu bentuk dari filsafat idealisme dan menghasilkan suatu pandangan bahwa perkembangan anak ditentukan oleh hereditas, pembawaan sejak lahir, dan faktor alam yang kodrati. Pelopor aliran Nativisme adalah Arthur Schopenhauer seorang filosof Jerman yang hidup tahun 1788-1880. Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan individu ditentukan oleh bawaan sejak ia dilahirkan. Faktor linkungan sendiri dinilai kurang berpengaruh terhadap perkembangan dan pendidikan anak.  Pada hakekatnya aliran Nativisme bersumber dari Leibnitzian Tradition, sebuah tradisi yang menekankan pada kemampuan dalam diri seorang anak. Hasil perkambangan ditentukan oleh pembawaan sejak lahir dan genetik dari kedua orang tua.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, menurut aliran ini, keberhasilan belajar ditentukan oleh individu itu sendiri. nativisme berpendapat, jika anak memiliki bakat jahar dari lahir, ia kan menjadi jahat, dan sebaliknya jika anak memiliki bakat baik, maka ia akan menjadi baik.  Pendidikan anak yang tidak sesuai dengan bakat yang dibawa tidak akan berguna bagi perkembangan anak itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan itu tidak menyimpang dari kenyataan. Misalnya, anak mirip orangtuanya secara fisik dan akan mewarisi sifat dan bakat orangtua. Prinsipnya, pandangan Nativisme adalah pengakuan tentang adanya daya asli yang telah terbentuk sejak manusia lahir ke dunia, yaitu daya-daya psikologis dan fisiologis yang bersifat herediter, serta kemampuan dasar lainnya yang kapasitasnya berbeda dalam diri tiap manusia. Ada yang tumbuh dan berkembang sampai pada titik maksimal kemampuannya, dan ada pula yang hanya sampai pada titik tertentu. Misalnya, seorang anak yang berasal dari orangtua yang ahli seni musik, akan berkembang menjadi seniman musik yang mungkin melebihi kemampuan orangtuanya, mungkin juga hanya sampai pada setengah kemampuan orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tegas Arthur Schaupenhaur menyatakan yang jahat akan menjadi jahat dan yang baik akan menjadi baik. Pandanga ini sebagai lawan dari optimisme yaitu pendidikan pesimisme memberikan dasar bahwa suatu keberhasilan ditentukan oleh faktor pendidikan, ditentukan oleh anak itu sendiri. Lingkungan sekitar tidak ada, artinya sebab lingkungan itu tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak.&lt;br /&gt;Walaupun dalam kenyataan sehari-hari sering ditemukan secara fisik anak mirip orang tuanya, secara bakat mewarisi bakat kedua orangtuanya, tetapi bakat pembawaan genetika itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan anak, tetapi masih ada faktor lain yang mempengaruhi perkembangan dan pembentukan anak menuju kedewasaan, mengetahui kompetensi dalam diri dan identitas diri sendiri (jatidiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor-Faktor perkembangan manusia dalam teori Nativisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor Genetic.&lt;/span&gt;  Adalah factor gen dari kedua orangtua yang mendorong adanya suatu bakat yang muncul dari diri manusia. Contohnya adalah Jika kedua orangtua anak itu adalah seorang penyanyi maka anaknya memiliki bakat pembawaan sebagai seorang penyanyi yang prosentasenya besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor Kemampuan Anak.&lt;/span&gt; Adalah factor yang menjadikan seorang anak mengetahui potensi yang terdapat dalam dirinya. Faktor ini lebih nyata karena anak dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Contohnya adalah adanya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang mendorong setiap anak untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya sesuai dengan bakat dan minatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor pertumbuhan Anak.&lt;/span&gt; Adalah factor yang mendorong anak mengetahui bakat dan minatnya di setiap pertumbuhan dan perkembangan secara alami sehingga jika pertumbuhan anak itu normal maka dia kan bersikap enerjik, aktif, dan responsive terhadap kemampuan yang dimiliki. Sebaliknya, jika pertumbuhan anak tidak normal maka anak tersebut tidak bisa mngenali bakat dan kemampuan yang dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tujuan-Tujuan Teori Nativisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Didalam teori ini menurut G. Leibnitz:Monad “Didalam diri individu manusia terdapat suatu inti pribadi”. Sedangakan dalam teori Teori Arthur Schopenhauer (1788-1860) dinyatakan bahwa perkembangan manusia merupakan pembawaan sejak lahir/bakat. Sehingga dengan teori ini setiap manusia diharapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mampu memunculkan bakat yang dimiliki.&lt;/span&gt; Dengan teori ini diharapkan manusia bisa mengoptimalkann bakat yang dimiliki dikarenakan telah mengetahui bakat yang bisa dikembangkannya. Dengan adanya hal ini, memudahkan manusia mengembangkan sesuatu yang bisa berdampak besar terhadap kemajuan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mendorong manusia mewujudkan diri yang berkompetensi.&lt;/span&gt; Jadi dengan teori ini diharapkan setiap manusia harus lebih kreatif dan inovatif dalam upaya pengembangan bakat dan minat agar menjadi manusia yang berkompeten sehingga bisa bersaing dengan orang lain dalam menghadapi tantangan zaman sekarang yang semakin lama semakin dibutuhkan manusia yang mempunyai kompeten lebih unggul daripada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mendorong manusia dalam menetukan pilihan.&lt;/span&gt; Adanya teori ini manusia bisa bersikap lebih bijaksana terhadap menentukan pilihannya, dan apabila telah menentukan pilihannya manusia tersebut akan berkomitmen dan berpegang teguh terhadap pilihannya tersebut dan meyakini bahwa sesuatu yang dipilihnya adalh yang terbaik untuk dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dari dalam diri seseorang.&lt;/span&gt; Teori ini dikemukakan untuk menjadikan manusia berperan aktif dalam pengembangan potensi diri yang dimilii agar manusia itu memiliki ciri khas atau ciri khusus sebagai jati diri manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mendorong manusia mengenali bakat minat yang dimiliki.&lt;/span&gt; Dengan adanya teori ini, maka manusia akan mudah mengenali bakat yang dimiliki, denga artian semakin dini manusia mengenali bakat yang dimiliki maka dengan hal itu manusia dapat lebih memaksimalkan baakatnya sehingga bisa llebih optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aplikasi pada masa sekarang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor pembawaan bersifat kodrati tidak dapat diubah oleh pengaruh alam sekitar dan pendidikan (Arthur Schaupenhauer (1788-1860)). Untuk mendukung teori tersebut di era sekarang banyak dibuka pelatiahn dan kursus untuk pengembangan bakat sehingga bakat yang dibawa sejak lahir itu dilatih dan dikembangkan agar setiap individu manusia mampu mengolah potensi diri. Sehingga potensi yang ada dalam diri manusia tidak sia-sia kerena tidak dikembangkan, dilatih dan dimunculkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pelatihan yang diselenggarakan itu didominasi oleh orang-orang yang memang mengetahui bakat yang dimiliki, sehingga pada pengenalan bakat dan minat pada usia dini sedikit mendapat paksaan dari orang tua dan hal itu menyebabkan bakat dan kemampuan anak cenderung tertutup bahkan hilang karena sikap otoriter orangtua yang tidak mempertimbangkan bakat, kemampuan dan minat anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga pelatihan ini dibuat agar menjadi suatu wadah untuk menampung suatu bakat agar kemampuan yang dimiliki oleh anak dapat tersalurkan dan berkembang denag baik sehingga hasil yang dicapai dapat maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disadari di lembaga pendidikan pun juga dibuka kegiatan-kegiatn yang bisa mengembangkan dan menyalurkan bakat anak diluar kegiatan akademik. Sehingga selain anak mendapat ilmu pengetahuan didalam kelas, tetapi jug bisa mengembangkan bakat yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Bacaan:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kharis90.wordpress.com/"&gt;http://kharis90.wordpress.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://starawaji.wordpress.com/"&gt;http://starawaji.wordpress.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://mocoe.wordpress.com/"&gt;http://mocoe.wordpress.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-8025910417231077086?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/Ftz2J6zpIkU" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-03-15T13:12:04.250+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S53PoDLzjDI/AAAAAAAAAY4/TveyUyhbNJ0/s72-c/nativisme.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/03/teori-nativisme.html</feedburner:origLink></item><item><title>Mengatasi Kecemasan: Apa Aku Khawatir? (1)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/4giF3dfZ6Jw/mengatasi-kecemasan-apa-aku-khawatir.html</link><category>kepribadian</category><category>Psikologi</category><category>Kesehatan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Sun, 14 Mar 2010 23:02:03 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-4152794501942683830</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S53NDPxPrcI/AAAAAAAAAYY/zHCgpKLtBuc/s1600-h/gelisah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 188px; height: 148px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S53NDPxPrcI/AAAAAAAAAYY/zHCgpKLtBuc/s320/gelisah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5448736579844550082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255); font-style: italic;"&gt;Aduh! Saringan udaranya sepertinya kotor….. Apa harus dibawa ke bengkel ya?.... Aku sedang tidak punya uang untuk membayar ongkosnya…. Tampaknya aku harus mengambil uang dari dana sekolaah Jamie.. Bgaimana kalau aku tidak bisa membayar SPP-nya?... Rapornya jelek minggu lalu… Bagaimana kalau nilai-nilainya merosot dan dia tidak dapat masuk perguruan tinggi?.... Sarinag udaranya sepertinay kotor…….&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Demikianlah kira-kira pikiran khawatir yang terus-menerus bergulir dalam suatu lingkaran melodrama sehari-hari yang tak ada habis-habisnya, suatu rentetan kecemasan akan membawa ke rentetan berikutnya dan akan kembali ke awal lagi. Contoh di atas diberikan oleh Lizabeth Roemer dan Thomas Borkovec, ahli-ahli osikologi dari Pennsylvania State University, yang penelitiannya tentang kekhawatiran (inti segala kecemasan) telah mengangkat topik itu sebagai gangguan kejiwaan menjadi bagian dari sains.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tentu saja tidak ada salahnya seorang khawatir, dengan terus menerus memikirkan suatu masalah, yaitu memanfaatkan refeksi yang konstruktif, yang bisa jadi mirip khawatir dan dapat diperoleh suatu pemecahan. Sebenarnya, reaksi yang mendasari kekhawatiran adalah kewaspadaan terhadap bahaya yang mungkin, yang –tak diragukan lagi- merupakan bagian sangat penting bagi kelangsungan hidup selama perjalanan evolusi. Bila rasa takut memicu otak emosional, bagian dari rasa cemas yang muncul akan memusatkan perhatian pada ancaman yang sedang dihadapi, memaksa pikiran untuk terus-menerus memikirkan bagaimana mengatasi permasalahan yang ada dan mengabaikan hal-hal lain untuk sementara waktu. Dalam artian tertentu, kekhawatiran merupakan latihan terhadap apa-apa yang tidak beres dan bagaimana mengatasinya; peran kekhawatiran adalah mencari pemecahan positif akan resiko dalam kehidupan dengan mengantisipasi bahaya sebelum bahaya itu muncul.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yang merepotkan adalah kekhawatiran kronis yang terus-menerus berulang yaitu kekhawatiran yang tak berujung pangkal dan tak pernah mendekati pemecahan positif. Sutau analisis yang cukup dipercaya mengenai kekhawatiran kronis menyatakan bahwa kekhawatiran memiliki semua ciri pembajakan emosi tingkat rendah: kekhawatiran muncul entah dari mana, tak dapat dikendalikan, menimbulkan dengung kecemasan terus-menerus, tak dapat ditembus oleh nalar, dan mengunci orangnya ke dalam suatu pandangan tunggal yang kaku tentang masalah yang merisaukan. Bila siklus kekhawatiran yang sama ini semakin menghambat dan tak kunjung hilang, kekhawatiran itu kan berubah menjadi pembajakan saraf dan gangguan kecemasan yang berlanjut: fobia, terobsesi dan kompulsif, mudah panik. Pada masing-masing gangguan ini kekhawatiran tampil dalam polanya sendiri-sendiri, bagi penderita fobia, kecemasan terpaku pada situasi yang ditakutkan; bagi penderita obsesi, kekhawatiran terpusat pada bagaimana mencegah bencana yang ditakutkan; pada penderita mudah panik, kekhawatiran dapat terfokus pada takut mati atau pada kemungkinan terserang panik itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada setiap penyakit ini, ciri khasnya dalah kekhawatiran tampil dalam bentuk yang amat sangat berlebih-lebihan. Misalnya, seorang wanita yang mengalami pengobatan karena gangguan obsesif-kumpulsif melalukan serangkaian acara arutin yang menghabiskan sebagian besar waktunya: mandi selama 45 menit beberapa kali sehari, cuci  tangan selama lima menit dua puluh kali atau lebih dalam sehari. Ia tidak mau duduk kecuali bila kursinya disucihamakan terlebih dahulu dengan menggunakan alkohol. Ia juga tak mau menyetuh anak-anak atau hewan piaraan karena keduanya “terlampu kotor”. Semua kompulsi ini disebabkan oleh ketakutannya yang luar biasa hebat terhadap bibit penyakit; ia terus menerus risau bahwa tanpa mandi dan menyucihamakan segala sesuatunya, ia akan terserang penyakit dan mati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seorang wanita yang sedang menjalani pengobatan karena “gangguan kecemasan umum” (istilah psikiatri bagi orang yang terus-menurs dihinggapi rasa khawatir) menanggapi permintaan untuk mengungkapan apa yang dicemasakannnya selama satu menit sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 255); font-style: italic;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Mungkin saya tidak dapat melaukannya dengan baik. Ini terlalu dibuat-buat sehingga bukan merupakan indikasi yang sesungguhnya padahal kita perlu hal-hal yang betul nyata…. Karena bila tidak memperolah yang nyata, saya tidak akan sembuh. Dan bila saya tidak sembuh, saya tidak akan bahagia….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam peragaan kecemasan akan kesemasan yang maat luar biasa tersebut, permintaan untuk mengungkapkan kecemasan hanya dalam satu menit itu, dalam beberap adetik saja, telah berkembang menjadi kontemplasi akan terjadinya bencana seumur hidup: “Saya tidak akan pernah bahagia”. Kecemasan biasanya mengikuti alur pemikiran semacam itu, kisah akan diri sendiri yang melompat-lompat dari satu masalah ke masalah lain dan amat sering melibatkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;catastrophizing,&lt;/span&gt; yaitu membayangkan terjadinya tragedi mengerikan. Kekhawatiran hampir selalu diungkapakan pada telinga pikiran, bukan pada mata pikiran (jadi, dalam kata-kata, bukan dalam imaji) suat fakta yang amat berarti untuk mengendalikan kekhawatiran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Borkovec dan rekan-reakannya mulai mempelajari kekhawatiran itu sendiri ketika mereka berupaya mencari pengobatan untuk insomnia. Menurut pengamatan peneliti-peneliti lain, kecemasan muncul dalam dua bentuk: kognitif, atau kecemasan yang muncul akibat adanya pikiran yang meriasukan, dan somatik, yaitu kecemasan yang mengakibatkan gejala-gejala fisologis, seperti berpeluh, jantung berdebar-debar, atau ketegangan otot. Menurut Borkovec, seorang penderita insomnia bukan karena alsan somatik. Yang membuat mereka selalu terjaga adalah pikiran-pikiran yang menganggu. Penderita insomnia adalah tukang khawatir kronis, dan tak henti-hentinya khawatir meskipun mereka sangat mengantuk. Salah satu cara yang berhasil untuk menolong mereka agar tertidur adalah menjauhkan mereka dari pikiran-pikiran yang mencemaskan, memusatkan perhatian pada perasaan-perasaan hasil metode selaksai. Pendek kata, kekhawatiran dapat dihentikan dengan mengalihkan perhatian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi, sebagian orang-orang yang mudah khawatir agaknya amat sulit melakuknnya. Borkovec yakin bahwa alasannya ada kaitannya dengan keuntungan yang diperoleh dari kekhawatiran yang justru memperkuat kebiasaan tersebut. Kekhawatiran tampaknya juga memunculkan suat yang positif: kekhawatian adalah cara untuk menghadapi kemungkinan ancaman, mengatasi bahaya-bahaya yang mungkin datang. Fungsi kekhawatiran (apabila berhasil) adalah untuk melatih mengenali bahaya, dan menyajikan pemecahan untuk menghadapinya. Tetapi kekhawatiran tidak selalu sesukses itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pemecahan dan pola padang yang baru akan suatu masalah biasanya tidak datang dari rasa khawatir, apalagi kekhawatiran kronis. Tukang-tukang khawatir biasannya bukan mencari pemecahan masalah potensial, mereka justru membayang-bayangkan bahaya itu sendiri, dan dengan cara sedemikian rupa menenggelamkan diri dalm ketakutan yang berkaitan dengan bahaya itu sementara tetap berpijak pada pola pikir yang sama. Penderita tahap kronis merisaukan segala macam sesuatu, sebagian besar di antaranya hampir tak mungkin terjadi; mereka menghawatirkan bahaya-bahaya dalam hidup mereka yang orang lain tak pernah merisaukannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun, penderita tahap kronis mengemukakan kepada Borkovec bahwa kekhawatiran membantu mereka, dan bahwa kekhawatiran mereka terus-menerus muncul, suatu lingkaran pemikiran yang didorong oleh kecemasan yang tak berujung. Mengapa kekhawatiran menjadi suatu yang mirip dengan kecanduan mental? Anehnya, sebagaimana diutarakan oleh Borkovac, kebiasaan khawatir itu begitu kuat sehingga mirip takhayul. Karena orang mengkhawatirkan banyak hal yang kecil kemungkinannya akan sungguh-sungguh terjadi (contoh: orang yang dikasihi tewas dalam kecelakaan, jatuh bangkrut, dan semacamnya), maka pasti ada daya tarik tersendiri dalam kekhawatiran, setidak-tidaknya bagi limbik yang primitif. Seperti jimat untuk mengusir roh-roh jahat, secara psikologis, kekhawatiran berguna untuk mencegah bahaya yang dicemaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bersambung ke Tulisan Mengatasi Kecemasan: Apa Aku Khawatir? (2)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tulisan ini dikutip dari buku: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Emotional Intelligence Kecerdasan Emosional Mengapa EQ Lebih Penting Daripada IQ,. Daniel Goleman, Jakata: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-4152794501942683830?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/4giF3dfZ6Jw" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-03-15T13:02:03.846+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S53NDPxPrcI/AAAAAAAAAYY/zHCgpKLtBuc/s72-c/gelisah.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/03/mengatasi-kecemasan-apa-aku-khawatir.html</feedburner:origLink></item><item><title>Link Exchange - Tukar link</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/ChXgf1yP7T8/link-exchange-tukar-link.html</link><category>Blogging</category><category>Tips n Trik</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Wed, 26 Jan 2011 18:53:51 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-6245740288478243272</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi Anda semua yang mempunyai website atau blog dan berminat bertukar link dengan blog &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://nadhirin.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Artikel.&lt;/a&gt; Silhkan pasang link &lt;a href="http://nadhirin.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kumpulan Artike&lt;/span&gt;l&lt;/a&gt; terlebih dahulu di blog Anda, lalu tinggalkan pesan untuk saya di kotak komentar, maka saya akan langsung melink balik ke blog/website Ada.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan bertukar link sesama blogger dapat meningkatkan jumlah pengunjung baru dan yang sering disebut-sebut oleh pakar SEO berguna bagi rangking blog kita, karena bisa membangun backlink. Semakin banyak backlink blog kita maka semakin tinggi pula rangking blog kita dimata search engine, biasanya diukur oleh GooglePagerank (PR), Alexa, dan directory ranking lainnya. Oleh karena itu, manfaatkan betul link exchange guna membangun jejaring blogger dengan tujuan yang baik pula.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a href="http://nadhirin.blogspot.com/" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="banner" src="http://i536.photobucket.com/albums/ff329/pasyabrilian/kumpulan-artiel.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berikut ini Adlah daftar link yang ada di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://nadhirin.blogspot.com/"&gt;Kumpulan Artikel&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="border: 1px solid rgb(153, 153, 153); overflow: auto; width: 590px; height: 200px; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;| &lt;a href="http://duniapsikologi.dagdigdug.com/" target="new"&gt;Dunia Psikologi&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://aku-ratihanggraeni.blogspot.com/" target="new"&gt;Cinta sejati&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://www.klinikannisa.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Klinik Annisa&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://hakimtea.com/" target="new"&gt;Hakimtea&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://catalog-tutorial.blogspot.com/" target="new"&gt;Mas Jalooe&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://kreatifplus.blogspot.com/" target="new"&gt;Mas Yopan P&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://newbielabs.blogspot.com/" target="new"&gt;Newbie Labs&lt;/a&gt; |&lt;br /&gt;| &lt;a href="http://www.zalukhu.com//" target="new"&gt;Niaz Zalukhu&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://subagya.blogspot.com/" target="new"&gt;Riki Subgya&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://www.jokosupriyanto.com/" target="new"&gt;JokoSupriyanto&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://lbsfighter.blogspot.com/" target="new"&gt;Tips Tutorial&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://www.o-om.com/" targer="new"&gt;O-om&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://kolom-tutorial.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Kang Rohman&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://rohman-freeblogtemplate.blogspot.com/" target="_blank"&gt;free Blog Template&lt;/a&gt; |&lt;br /&gt;| &lt;a href="http://trik-tips.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Trik n Tips Blog&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://friendster-etutorial.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Friendster-etutorial&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://budiwastono.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Budiwastono Blog&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://www.kacahati.co.nr/" target="_blank"&gt;Kaca Hati&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://trail-adventurer.blogspot.com/" targer="new"&gt;Trail Adventure&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://masjombang.tk/" target="new"&gt;Mas Jombang&lt;/a&gt; |&lt;br /&gt;| &lt;a href="http://mbahjack.com/" target="new"&gt;How We Can Do&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://tjintasedjati.blogspot.com/" target="new"&gt;Cinta Sejati&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://pelajaran-blog.blogspot.com/" target="new"&gt;Pelajaran Blog&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://new-funday.blogspot.com/" target="new"&gt;New-Funday&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://www.bloggerbuster.com/" target="new"&gt;Blog Buster&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://kaylatahzan.blogspot.com/" target="new"&gt;Kayla Tahyan&lt;/a&gt; |&lt;br /&gt;| &lt;a href="http://www.anaksitubondo.co.cc/" target="new"&gt;Arek Situbondo&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://bangun3.com/" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://naofal.masunika.com/?p=67" target="new"&gt;Mansunika&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://asepsukarman.blogspot.com/" target="_blank"&gt;aSeP SuKaRMaN Blog&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://srtnews.wordpress.com/" target="new"&gt;Srtnews Blog&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://epho28.blogspot.com/" target="new"&gt;Epho Zone&lt;/a&gt; |&lt;br /&gt;| &lt;a href="http://nadhirin.wordpress.com/" target="new"&gt;De Andre&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://www.gusbud.web.id/" target="new"&gt;GusBud&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://bc-omu.blogspot.com/" target="new"&gt;Komunitas Blogger UM&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://raihduitptc.blogspot.com/" target=" new="&gt;Raih Duit Lewat PC&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://link2new.wordpress.com/" target=" new="&gt;Menuju Dunia Baru&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://lebengplanjan.blogspot.com/" target=" new="&gt;Azzahrah Pustaka&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://www.effendy-fendy.co.cc/" target=" new="&gt;Web's Fendy'c&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://waskitamandiribk.wordpress.com/" target=" new="&gt;waskitamandiribk's.blog&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://tentang-fitness.blogspot.com/" target=" new="&gt;Tentang Fitness&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://entertainment-galaxies.blogspot.com/"&gt;Entertainment Galaxy&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://moreartikel.blogspot.com/"&gt;MoreArtikel.Blogspot.com&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://bisnisonlinemasesu.blogspot.com/"&gt;Bisnis Online MASESUBO&lt;/a&gt; | &lt;a href="http://tulisan-menarik.blogspot.com/"&gt;Tulisan Menarik&lt;/a&gt; |&lt;br /&gt;&lt;blink&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 255);font-size:180%;" &gt;Your Link Here&lt;/span&gt;&lt;/blink&gt;&lt;/center&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="border: 1px solid rgb(153, 153, 153); overflow: auto; width: 590px; height: 222px; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;br /&gt;&lt;a target="_blank" href="http://lebengplanjan.blogspot.com/"&gt;&lt;img alt="AZZAHRAH PUSTAKA" src="http://www.geocities.com/artom_79/iqbal.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://effendy-fendy.co.cc/" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Web's Fendy'c" src="http://images.cooltext.com/1443876.png" border="2" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://trail-adventurer.blogspot.com/" target="_blank" title="Trail Adventure With Offroad Motorcycle"&gt;&lt;img alt="Trail Adventure With Offroad Motorcycle" src="http://i971.photobucket.com/albums/ae197/emerwan/Trail%20Adventure/Banner468x60.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-top: 10px; margin-bottom: 0pt; padding-bottom: 0pt; text-align: center; line-height: 0pt;"&gt;&lt;a target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/%7Er/TentangFitness/%7E6/1"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/TentangFitness.1.gif" alt="tentang fitness" style="border: 0pt none ;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 5px; padding-top: 0pt; font-size: x-small; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://feedburner.google.com/fb/a/headlineanimator/install?id=nkh98bgp1mck9f2bafujv6nvf8&amp;amp;w=1" onclick="window.open(this.href, 'haHowto', 'width=520,height=600,toolbar=no,address=no,resizable=yes,scrollbars'); return false" target="_blank"&gt;↑ Grab this Headline Animator&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-6245740288478243272?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/ChXgf1yP7T8" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-01-27T09:53:51.871+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://i971.photobucket.com/albums/ae197/emerwan/Trail%20Adventure/th_Banner468x60.gif" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">26</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/03/link-exchange-tukar-link.html</feedburner:origLink></item><item><title>Inteligensi dan IQ</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/yevVMHYvqBA/inteligensi-dan-iq.html</link><category>Psikologi</category><category>Psikologi Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Sun, 14 Mar 2010 23:09:36 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-8536407607266639462</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S53OvySjWnI/AAAAAAAAAYo/S3UnG7CjUWI/s1600-h/iq.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 132px; height: 157px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S53OvySjWnI/AAAAAAAAAYo/S3UnG7CjUWI/s320/iq.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5448738444536928882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 102, 0);" class="fullpost"&gt;Faktor bawaan atau keturunan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 102, 0);" class="fullpost"&gt;Faktor lingkungan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Inteligensi dan IQ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);" class="fullpost"&gt;Pengukuran Inteligensi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);" class="fullpost"&gt;Inteligensi dan Bakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);" class="fullpost"&gt;Inteligensi dan Kreativitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan Tulisan saya. Saya mengutipnya dari: &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.angelfire.com/mt/matrixs/psikologi.htm#Inteligensi%20dan%20IQ"&gt;http://www.angelfire.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-8536407607266639462?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/yevVMHYvqBA" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-03-15T13:09:36.919+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S53OvySjWnI/AAAAAAAAAYo/S3UnG7CjUWI/s72-c/iq.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/03/inteligensi-dan-iq.html</feedburner:origLink></item><item><title>Apakah Perkembangan Itu?</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/_NbeadUWkcg/apakah-perkembangan-itu.html</link><category>kepribadian</category><category>Psikologi Perkembangan</category><category>Psikologi</category><category>Psikologi Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Sun, 14 Mar 2010 23:11:08 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-7169075357053188861</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S53PbgxgFPI/AAAAAAAAAYw/n1Ovxy_Mo9I/s1600-h/Perkembangan.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 178px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S53PbgxgFPI/AAAAAAAAAYw/n1Ovxy_Mo9I/s200/Perkembangan.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5448739195749143794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kalau sebelumnya saya sudah menulis tentang teori perkembangan manusia, tapi belum sempat menulis tentang arti dan difinisi dari perkembangan tersebut. Maka dalam kesempatan kali ini, ada baiknya kalau saya akan sedikit mengurai sedikit tentang sesunggunhnya apa yang dimaksud dengan perkembangan itu? Karena saya pandang ini juga perlu untuk kita ketahui. Lets start our lesson….&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perekambangan menggambarkan pertumbuhan manusia sepanjang hidupnya, dari sejak ia dilahirkan samapi ia meninggal. Ilmu yang mempelajari tentang perkembangan manusia bertujuan untuk memahami dan menjelaskan bagaimana dan mengapa manusia berubah/berkembang selama hidupnya. Yang menjadi objek kajiannya menyangkut semua aspek perkembangan manusia, mencakup aspek psikologis, emosi, intelektual, sosial, serta perkembangan kepribadian seseorang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sangat penting untuk mempelajari perkembangan manusia tidak hanya pada ranah fisiologis maupun psikologis saja, tetapi juga ranah sosiologis, pendidikan, serta kesehatan. Karena perkembangan tidak hanya mencakup ranah fisik dan kejiwaan saja, akan tetapi juga menyangkut ranah kognitif dan ranah sosial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mempelajari tentang perkembangan manusia sangat penting dalam beberapa subjek kajian, mencakup biologi, antropologi, sosiologi, pendidikan, sejarah, dan psikologi. Meskipuin sebjek-subjek kajian lainnya juga tidak kalah penting. Dengan lebih memahami bagaimana dan mengapa manusia itu berubah dan tumbuh, maka kita dapat menerapkan ilmu tersebut untuk menolog manusia dalam hidupnya agar pontensi yan ia miliki berkembang dengan maksimal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-7169075357053188861?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/_NbeadUWkcg" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-03-15T13:11:08.572+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S53PbgxgFPI/AAAAAAAAAYw/n1Ovxy_Mo9I/s72-c/Perkembangan.jpeg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/03/apakah-perkembangan-itu.html</feedburner:origLink></item><item><title>Teori Perkembangan Manusia</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/arifluqman-87/~3/OLnR26ThCcc/teori-perkembangan-manusia.html</link><category>Psikologi</category><category>Pendidikan</category><category>Psikologi Pendidikan</category><author>pasyabrilian@yahoo.com (pasyabrilian@yahoo.com)</author><pubDate>Thu, 25 Feb 2010 09:10:05 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6364759897465088559.post-6132893611354408030</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada pembahasan  jiwa (anima) diketahui bahwa manusia memiliki kesempurnaan dibanding makluk yang lain. Manusia dalam hidup mengalami perubahan-perubahan baik fisik maupun kejiwaan (fisiologis dan psikologis). Banyak faktor yang menetukan perkembangan manusia, yang mengakibatkan munculnya berbagai teori tentang perkembangan manusia. Teori-teori tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;1.Teori Nativisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pelopor teori ini adalah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Arthur_Schopenhauer"&gt;Athur Schopenhauer&lt;/a&gt;. Teori ini menyatakan bahwa perkembangan manusia dip&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;engaruhi oleh nativus atau faktor-faktor bawaan manusia sejak dilahirkan. Te&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ori ini menegaskan bahwa manusia memiliki sifat-sifat tertentu sejak dilahirkan yang mem&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S4arDYsa8vI/AAAAAAAAAXc/MS-V2PHoiL4/s1600-h/Athur+Schopenhauer.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 138px; height: 167px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S4arDYsa8vI/AAAAAAAAAXc/MS-V2PHoiL4/s320/Athur+Schopenhauer.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442225274380546802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;pengaruhi dan menentukan keadaan individu yang bersangkutan. Faktor lingkungan dan pendidikan diabaikan dan dikatakan tidak berpengaruh terhadap perkembangan manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Teori ini memiliki pandangan seolah-olah sifat-sifat manusia tidak bisa diubah karen&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; telah ditentukan oleh sifat –sifat turunannya. Bila dari keturunan baik &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;maka &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;akan baik dan bila dari keturunan jahat maka akan menjadi jahat. Jadi sifat manusia bersifat permanen tidak bisa diubah. Teori ini memandang pendidikan sebagai suatu yang pesimistis serta mendeskreditkan golongan manusia yang “kebetulan” memiliki keturunan yang tidak baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;2.Teori em&lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S4ar7k3xJ7I/AAAAAAAAAXk/IhIW5-VCOMQ/s1600-h/John_Locke.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 113px; height: 139px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S4ar7k3xJ7I/AAAAAAAAAXk/IhIW5-VCOMQ/s320/John_Locke.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442226239722039218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;pirisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berbeda dengan teori sebelumnya, teori ini memandang bahwa perkembangan individu dipengaruhi dan ditentukan oleh pengalaman-pengalaman yang diperoleh selama perkembangan mulai dari lahir hingga dewasa. Teori ini memandang bahwa pengalaman adalah termasuk pendidikan dan pergaulan. Penjelasan teori ini adalah manusia pada dasarnya merupakan kertas putih yang belum ada warna dan tulisannya akan menjadi apa nantinya manusia itu bergantung pada apa yang akan dituliskan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pandangan teori ini lebih optimistik terhadap pendidikan, bahkan pendidikan adalh termasuk faktor penting untuk menenukan perkembangan manusia. Teori ini dipolopori oleh &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/John_Locke"&gt;Jh&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/John_Locke"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;on Locke.  &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;3.Teori Konvergensi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Teori ini merupakan gabungan dari kedua teori di atas yang menyatakan bahwa pembawaan dan pengalaman memiliki peranan dalam mempengaruhi dan menentukan perkembangan individu. Asumsi teori ini berdasar eksperimen dari &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/William_Stern_%28psychologist%29"&gt;William Stern&lt;/a&gt; terhadap dua anak kembar. Anak kembar memiliki sifat keturunan yang sama, namun setelah dipisahkan dalam lingkungan yang berbeda anak kembar tersebut ternyata memiliki sifat yang berbeda. Dari sinilah maka teori ini menyimpulkan bahwa sifat keturunan atau pembawaan bukanlah faktor mayor yang menentukan perkembangan individu tapi turut juga disokong oleh faktor lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Faktor pembawaan manusia dalam teori ini disebut sebagai faktor endogen yang meliputi faktor kejasmanian seperti kulit putih, rambut keriting, rambut warna hitam. Selain fak&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;tor kejasmanian faktor ada juga faktor  pembawaan psikologis yang disebut dengan temperamen. Temperamen berbeda dengan karakter atau watak. Karakter atau watak adalah keseluruhan ari sifat manusia yang namapak dalam perilaku sehari-hari sebagai hasil dari pembawaan  dan lingkungan dan bersifat tidak konstan. Jika watak atau karakter bersifat tidak konstan maka temperamen bersifat konstan. Selain temperamen dan sifat jasmani, faktor endogen&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S4asWw3U5NI/AAAAAAAAAXs/2V3oq5Q2yZo/s1600-h/williamdsterniq.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 131px; height: 202px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S4asWw3U5NI/AAAAAAAAAXs/2V3oq5Q2yZo/s320/williamdsterniq.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442226706797880530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; lainnya yang ada pada diri manusia adalah faktor bakat (aptitude). Aptitude adalah potensi-potensi yang memungkinkan individu berkembang ke satu arah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk faktor lingkungan yang dimaksud dalam teori ini disebut sebagai faktor ekso&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;g&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;en y&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;aitu faktor yang datang dari luar diri manusia berupa pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan sebagainya yang populer disebut sebagai milieu. Perbedaan antara lingkungan dengan pendidikan adalah terletak pada keaktifan proses yang dijalankan. Bila lingkungan bersifat pasif tidak memaksa bergantung pada individu apaka&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;h mau menggunakan kesempatan dan manfaat yang ada atau tidak. Sedangkan pendidikan bersifat aktif dan sistematis serta dijalankan penuh kesadaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p class="alert"&gt;&lt;br /&gt;Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog Anda tanpa dikenakan biaya alias GRATIS, selama:&lt;br /&gt;Anda harus mencantumkan sumber artikel yaitu dari http://nadhirin.blogspot.com/&lt;br /&gt;Anda harus memuat link aktif di website atau blog Anda menuju http://nadhirin.blogspot.com/&lt;br /&gt;Terima kasih atas perhatian Anda.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6364759897465088559-6132893611354408030?l=nadhirin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/arifluqman-87/~4/OLnR26ThCcc" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-02-26T00:10:05.571+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_2a_rWes0UrU/S4arDYsa8vI/AAAAAAAAAXc/MS-V2PHoiL4/s72-c/Athur+Schopenhauer.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://nadhirin.blogspot.com/2010/02/teori-perkembangan-manusia.html</feedburner:origLink></item><copyright>alfan_ramadhan@yahoo.com</copyright><media:credit role="author">pasyabrilian@yahoo.com</media:credit><media:rating>adult</media:rating><media:description type="plain">Feedburner</media:description></channel></rss>

