<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" version="2.0">

<channel>
	<title>bahtiarhs.net</title>
	
	<link>http://bahtiarhs.net</link>
	<description>rumah berbagi para pencari hikmah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Aug 2012 22:49:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/bahtiarhsnet" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="bahtiarhsnet" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">bahtiarhsnet</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>“Selamat” Berbuka Kembali</title>
		<link>http://bahtiarhs.net/2012/08/selamat-berbuka-kembali/</link>
		<comments>http://bahtiarhs.net/2012/08/selamat-berbuka-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Aug 2012 22:41:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Breaking News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtiarhs.net/?p=1757</guid>
		<description><![CDATA[Jika idul fitri menutup Ramadhan kita,
yang dengan itu pergi sudah hari-hari penuh barakah,
hari di mana tidur saja dinilai ibadah,
dan mengantuk dimaknai dzikir,
lalu... hari-hari tiba-tiba menjadi "biasa" lagi,
lantas,
apa makna "selamat" itu?
Apa arti "happy" itu?

Syawal sudah lewat sepuluh hari.
"Selamat" Idul Fitri 1433 H, pembaca yang budiman.
"Selamat" makan (pagi) lagi, seperti biasa. )*
"Happy" Eid Mubarak.

Mohon maaf lahir batin segala khilaf dan salah kata.
Di antara yang paling banyak salahnya, selain pengkhotbah,
adalah para penulis.
Sebab, semakin banyak dikatakan, semakin banyak kesalahan.
Dan penulis telah menghamburkan kata-kata 
lewat tulisannya.

Mungkin lebih baik kita ikuti jejak para sahabat.
Mereka mengucapkan kata-kata (doa) ini selepas Ramadhan.
Bahkan hingga berbilang bulan lamanya,
semata khawatir atas capaian prestasi di bulan penuh berkah
yang sudah meninggalkan mereka.

Taqabbalallahu Minna Waminkum.
Taqabbal Ya Karim.

Amin.

Bahtiar HS.

[]
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika idul fitri menutup Ramadhan kita,<br />
yang dengan itu pergi sudah hari-hari penuh barakah,<br />
hari di mana tidur saja dinilai ibadah,<br />
dan mengantuk dimaknai dzikir,<br />
lalu&#8230; hari-hari tiba-tiba menjadi &#8220;biasa&#8221; lagi,<br />
lantas,<br />
apa makna &#8220;selamat&#8221; itu?<br />
Apa arti &#8220;happy&#8221; itu?</p>
<p>Syawal sudah lewat sepuluh hari.<br />
&#8220;Selamat&#8221; Idul Fitri 1433 H, pembaca yang budiman.<br />
&#8220;Selamat&#8221; makan (pagi) lagi, seperti biasa. )*<br />
&#8220;Happy&#8221; Eid Mubarak.</p>
<p>Mohon maaf lahir batin segala khilaf dan salah kata.<br />
Di antara yang paling banyak salahnya, selain pengkhotbah,<br />
adalah para penulis.<br />
Sebab, semakin banyak dikatakan, semakin banyak kesalahan.<br />
Dan penulis telah menghamburkan kata-kata<br />
lewat tulisannya.</p>
<p>Mungkin lebih baik kita ikuti jejak para sahabat.<br />
Mereka mengucapkan kata-kata (doa) ini selepas Ramadhan.<br />
Bahkan hingga berbilang bulan lamanya,<br />
semata khawatir atas capaian prestasi di bulan penuh berkah<br />
yang sudah meninggalkan mereka.</p>
<blockquote><p>Taqabbalallahu Minna Waminkum.<br />
Taqabbal Ya Karim.</p></blockquote>
<p>Amin.</p>
<p>Bahtiar HS.</p>
<p>[]</p>
<p>)* Orang Barat mungkin lebih tepat memaknai makan pagi sebagai &#8220;breakfast&#8221;. Selesainya puasa. Kita saja yang salah kaprah, karena menyebutnya sebagai &#8220;berbuka&#8221;. Maknanya menjadi tanpa kendali, setelah sebelumnya banyak yang tertutup. Apalagi orang Jawa. Mereka menyebutnya &#8220;sarapan&#8221;. Apa saja di-&#8221;sarap&#8221;. <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahtiarhs.net/2012/08/selamat-berbuka-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>73 Kebaikan Untuk 1 Kesusahan</title>
		<link>http://bahtiarhs.net/2012/08/73-kebaikan-untuk-1-kesusahan/</link>
		<comments>http://bahtiarhs.net/2012/08/73-kebaikan-untuk-1-kesusahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Aug 2012 02:04:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahtiarhs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Suri-Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[agama itu nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Kasyful Ghummah]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[KH. M. Ihya Ulumiddin]]></category>
		<category><![CDATA[menghilangkan kesusahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia kebaikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtiarhs.net/?p=1753</guid>
		<description><![CDATA[<em>Kasyful Ghummah</em> Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (9)

Hadits-hadits pada bab 8 <em>Kasyful Ghummah</em> ini berbicara tentang banyak hal, tetapi jika diperas, menurut saya, intinya satu hal: keutamaan menghilangkan kesulitan orang lain. Abuya membuka bab ini dengan mengetengahkan sebuah hadits populer dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu 'anhu</em>, bahwa sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu 'alaihi wasallam</em> bersabda:
<p dir="RTL">          الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِى حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>

<blockquote>Muslim adalah saudara muslim. Tidak menganiayanya dan tidak pula menghinakannya. Barang siapa ada dalam kebutuhan saudaranya, maka Allah pasti ada dalam kebutuhannya. Barang siapa menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah Menghilangkan darinya satu kesusahan dari berbagai kesusahan hari Kiamat. Barang siapa menutupi seorang muslim, maka Allah pasti Menutupinya pada hari Kiamat. (Muttafaqun 'alaih)</blockquote>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kasyful Ghummah</em> Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (9)</p>
<p>Hadits-hadits pada bab 8 <em>Kasyful Ghummah</em> ini berbicara tentang banyak hal, tetapi jika diperas, menurut saya, intinya satu hal: keutamaan menghilangkan kesulitan orang lain. Abuya membuka bab ini dengan mengetengahkan sebuah hadits populer dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, bahwa sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p dir="RTL">          الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِى حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<blockquote><p>Muslim adalah saudara muslim. Tidak menganiayanya dan tidak pula menghinakannya. Barang siapa ada dalam kebutuhan saudaranya, maka Allah pasti ada dalam kebutuhannya. Barang siapa menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah Menghilangkan darinya satu kesusahan dari berbagai kesusahan hari Kiamat. Barang siapa menutupi seorang muslim, maka Allah pasti Menutupinya pada hari Kiamat. (Muttafaqun &#8216;alaih)</p></blockquote>
<p><span id="more-1753"></span>Abuya memberi catatan bahwa yang dimaksud &#8220;tidak pula menghinakannya&#8221; itu adalah tidak berpaling dari menolongnya, seperti menolak hal yang menyakitkan darinya, mencegahnya agar tidak menyakiti orang lain, mendamaikan antara dirinya dengan saudaranya, memberikan pertolongan jika meminta pertolongan, menyuruhnya berbuat baik, mencegahnya dari perbuatan mungkar, dan sebagainya.</p>
<p>Kalimat yang ditekankan pada hadits ini adalah &#8220;Barang siapa menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah Menghilangkan darinya satu kesusahan dari berbagai kesusahan hari Kiamat.&#8221; Meski Abuya tak memberi catatan pada kalimat ini, tetapi yang menarik adalah bahwa kesusahan (<em>kurbatan</em>) dalam kalimat itu berbentuk <em>nakirah</em> (umum). Karena itu, kesusahan yang dimaksud mencakup kesusahan dalam bentuk apa saja, dari yang kecil hingga yang besar, dari yang ringan hingga yang berat. Abi Ihya Ulumiddin, salah seorang santri Abuya dari Indonesia yang menerjemahkan kitab ini, sering memberi contoh: menata sandal atau sepatu; apakah di rumah, di masjid, atau tempat lainnya. Kelihatannya sepele. Kita melepas sandal atau sepatu ketika masuk masjid dan biasa meletakkannya sembarangan. Cenderung berserakan. Nah, menata sandal atau sepatu berserakan para jamaah sehingga menjadi rapi dengan posisi siap pakai jika keluar masjid (diposisikan searah dengan posisi telapak kaki misalnya) akan menghilangkan banyak &#8216;kesusahan&#8217; para jamaah. Kesusahan mencarinya, kesusahan memakainya, kesusahan antri (harus mencari-cari jika berserakan). Belum lagi menata sandal jamaah ini juga bagian dari <em>menata hati</em>. Bagaimana tidak? Boleh jadi di antara sandal-sandal itu ada sandal santrinya (bagi guru), sandal mantunya (bagi mertua), sandal anaknya (bagi orang tua), sandal istrinya (bagi suami), sandal pembantunya (bagi majikan), sandal anak buahnya (bagi atasan), sandal musuhnya (bagi yang punya musuh, misalnya), dan sebagainya.</p>
<p><em>Subhanallah!</em> Sepele kelihatannya, tetapi banyak nian kesusahan yang dihilangkannya, di samping <em>pelajaran hati</em> yang luar biasa dari sekedar menata sandal. Sambil berseloroh (tetapi mungkin ada benarnya), Abi Ihya mengatakan, &#8220;Siapa tahu ada yang menjadi <em>waliyullah</em> hanya karena <em></em> menata sandal.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Hadits-hadits yang kemudian disampaikan berkutat tentang upaya-upaya menghilangkan kesusahan ini. Pada hadits di atas, &#8220;menutupi seorang muslim&#8221;, yakni menutupi aurat atau aibnya &#8211;saya kira, adalah bagian dari menghilangkan kesusahan jika aib itu terbongkar luas. Pada beberapa hadits yang lain disebutkan:</p>
<ul>
<li><em>Orang yang berusaha mencukupi kebutuhan wanita janda dan orang miskin adalah seperti orang berjalan di jalan Allah (fi sabilillah)</em>. (Muttafaqun &#8216;alaih). Berusaha mencukupi kebutuhan janda dan orang miskin tentu menghilangkan kesulitan mereka karena ditinggal suami penopang kehidupan keluarga atau karena tidak mampu / berpunya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.</li>
<li><em>Barang siapa mengurungkan (memaafkan) jebakan dosa (kesalahan) seorang muslim, maka Allah pasti mengurungkan (memaafkan) kesalahannya kelak di hari Kiamat.</em> (HR. Thabaraniy, Ibnu Hibban, Abu Dawud, Ibnu Majah). Memaafkan kesalahan tentu menghilangkan kesusahan yang bersangkutan di pengadilan akhirat kelak.</li>
<li><em>Barang siapa menuntun orang buta (sejauh) empat puluh langkah, maka surga dipastikan baginya</em>.  (HR. Thabaraniy, Baihaqi, Abu Ya&#8217;la). Menuntun orang buta tentu menghilangkan kesusahan dia dalam berjalan.</li>
<li><em>Siapapun muslim yang memberikan pakaian kepada muslim (lain) yang sedang dalam keadaan telanjang, maka Allah pasti Memberikannya pakaian dari hijau-hijau surga. Dan siapapun muslim yang memberikan makan muslim (lain) yang kelaparan, maka Allah pasti Memberinya makan dari buah-buah surga. Siapapun muslim yang memberi minum muslim (lain) yang kehausan, maka Allah pasti memberinya minum dari Rahiq Makhtum. </em>(HR. Abu Dawud, Turmudzi). Memberi pakaian, makan, dan minum adalah menghilangkan kesusahan orang dari ketelanjangan, kelaparan, dan kehausan. Rahiq Makhtum, tulis Abuya, adalah minuman yang tak pernah disentuh siapapun sebagai bentuk memuliakan peminumnya.</li>
</ul>
<p>Menghilangkan kesusahan itu juga bisa dalam bentuk (sekedar) ucapan. <a title="Pintu-pintu Terdekat Menuju Surga" href="http://bahtiarhs.net/2012/07/1685/">Tidak harus bermodal harta</a> benda / barang (seperti pernah kita singgung di awal tulisan tentang kitab ini). Hal ini tercermin dalam hadits Nabi yang dinukil Abuya, dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> ia berkata, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p><em>Barang siapa berjalan bersama saudaranya dalam satu kebutuhan, ia lalu memberikan nasihat (mengharapkan kebaikan)  kepadanya dalam kebutuhan tersebut, maka Allah Menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh parit, di mana jarak antara parit satu dengan satunya adalah (seperti) jarak langit dan bumi. </em>(HR. Abu Nuaim, Ibnu Abi Dunya, Thabaraniy).</p></blockquote>
<p>Menghilangkan kesusahan orang lain itu bisa dengan nasihat kepada kebaikan berkaitan dengan kebutuhan orang tersebut. Nasihat itu bisa berupa saran, sumbangan pemikiran solusi, pertimbangan, pencegahan (dari berbuat jelek), penghiburan (atas musibah), dan sebagainya. Bahkan kata Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> dalam sebuah hadits &#8211;riwayat Bukhari, Muslim, dan lainnya sebagaimana disebutkan dalam Arba&#8217;in Imam An-Nawawi&#8211; bahwa agama adalah nasihat (<em>ad-dinu an-nasihat)</em>. Nasihat secara bahasa berasal dari kata &#8216;nash&#8217; yang berarti halus, bersih, atau murni. Lawan dari curang atau kotor. Karena itu, nasihat harus jauh dari kecurangan dan motivasi kotor. Sedangkan secara istilah, nasihat berarti kata-kata yang mengungkapkan berbuat baik kepada obyek yang diberi nasihat. &#8216;Nash&#8217; juga bisa bermakna <em>menjahit</em>, seperti pada kalimat &#8216;nashaha tsaub&#8217; yang berarti menjahit baju. Oleh karena itu, nasihat seolah-seolah seperti seorang yang menjahit potongan-potongan kain menjadi baju atau menjahit lubang-lubang yang ada di baju (mungkin karena lubang, sobek) sehingga menjadi baju yang utuh dan sempurna.</p>
<p>Saking pentingnya kedudukan nasihat ini dalam agama, para ulama sampai mengatakan bahwa nasihat mencakup permasalahan yang besar, seperempat bagian dari agama. Bahkan Mukhidin bin Al-Arabi mengatakan, &#8220;Tidak ada kesempurnaan akhlaq yang lebih teliti, jeli, dan agung melebihi nasihat.&#8221; Karena itu, sangat beralasan jika nasihat mampu &#8220;menghilangkan kesusahan&#8221; orang lain meski hanya dalam bentuk ucapan / kata-kata.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Menghilangkan kesusahan orang lain pasti mendapatkan balasan yang luar biasa dari Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>. Dari hadits pertama saja jenis balasan itu sudah tiada tara besarnya; yakni Allah akan menghilangkan satu kesusahan di antara berbagai <em>kesusahan di akhirat</em>, termasuk ketelanjangan, kelaparan, dan kehausan di saat orang sibuk dengan beratnya urusan masing-masing di hari itu hingga seorang ibu lupa akan anaknya. Di samping itu, balasan itu berupa ganjaran seperti seorang yang berjihad <em>fi sabilillah</em> dengan membantu janda dan orang miskin, surga dengan menuntun seorang buta 40 langkah, dijauhkan tujuh parit dari neraka yang satu paritnya sejauh langit dan bumi dengan memberi nasihat kepada saudaranya. Walhasil, balasan yang kita terima dengan upaya &#8216;kecil&#8217; menghilangkan kesusahan saudara kita (selama di dunia) sungguh berlipat ganda.</p>
<p>Satu hadits yang saya kira mewakili hal ini dinukil Abuya, dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p><em>Barang siapa menolong orang yang dilanda kesulitan, maka Allah pasti menulis untuknya 73 kebaikan (di mana) satu kebaikan di antaranya adalah Allah Memperbaiki akhiratnya. Sementara 72 (lainnya) adalah derajat-derajat untuknya pada hari Kiamat. </em>(HR. Abu Ya&#8217;la, Bazzar, Baihaqi, Bukhari)</p></blockquote>
<p>Dalam bahasa Arab penggunaan angka atau jumlah 72, 73 dan seterusnya sering dimaknai &#8216;sangat banyak&#8217;. Seperti dalam hadits bahwa umat ini kelak akan terpecah ke dalam 73 golongan. Maksudnya boleh jadi bukan pas jumlahnya 73 golongan, melainkan jumlah golongan pecahan itu sangat banyak.</p>
<p>Karena itu, mari kita berupaya menjadi muslim yang &#8211;orang Jawa bilang&#8211; <em>enthengan</em> (ringan tangan) menghilangkan kesusahan saudara kita, apapun bentuknya, besar-kecilnya, berat-ringannya. Toh, jika tidak mampu dengan harta benda, tenaga, atau kekuasaan, kita masih bisa membantunya dengan nasihat &#8211;yang itu tidak kalah keutamaan dan nilai pahalanya di sisi Allah.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Referensi:</p>
<ul>
<li>http://m.dakwatuna.com/2011/10/15857/tentang-hadits-agama-adalah-nasihat/</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahtiarhs.net/2012/08/73-kebaikan-untuk-1-kesusahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gudang Simpanan Nikmat Penuh Manfaat</title>
		<link>http://bahtiarhs.net/2012/08/gudang-simpanan-nikmat-penuh-manfaat/</link>
		<comments>http://bahtiarhs.net/2012/08/gudang-simpanan-nikmat-penuh-manfaat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Aug 2012 03:50:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahtiarhs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Suri-Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Kasyful Ghummah]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat diniyah]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat duniawiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia kebaikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtiarhs.net/?p=1749</guid>
		<description><![CDATA[<em>Kasyful Ghummah</em> Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (8)

<em>Kasyful Ghummah</em> bab 7 ini dibuka dengan dinukilnya sebuah hadits oleh Abuya berbunyi: Dari Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu 'anhu</em> bahwa sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu 'alaihi wasallam</em> bersabda:
<p dir="RTL">          إِنَّ ِللهِ عَزَّ وَجَلَّ خَلْقًا خَلَقَهُمْ لِحَوَائِجِ النَّاسِ يَفْزَعُ إِلَيْهِمُ النَّاسُ فِى حَـوَائِجِهِمْ أُولَئِكَ اْلآمِنُوْنَ مِنْ عَذَابِ اللهِ تَعَالَى</p>

<blockquote>Sesungguhnya Allah <em>'azza wajalla</em> memiliki makhluk yang Dia Menciptakan mereka untuk kebutuhan-kebutuhan manusia. Manusia mengungsi kepada mereka (para makhluk yang diciptakan-Nya itu) dalam kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka (para makhluk yang diciptakan-Nya itu) adalah orang-orang yang aman dari siksaan Allah ta’ala.</blockquote>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kasyful Ghummah</em> Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (8)</p>
<p><em>Kasyful Ghummah</em> bab 7 ini dibuka dengan dinukilnya sebuah hadits oleh Abuya berbunyi: Dari Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> bahwa sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p dir="RTL">          إِنَّ ِللهِ عَزَّ وَجَلَّ خَلْقًا خَلَقَهُمْ لِحَوَائِجِ النَّاسِ يَفْزَعُ إِلَيْهِمُ النَّاسُ فِى حَـوَائِجِهِمْ أُولَئِكَ اْلآمِنُوْنَ مِنْ عَذَابِ اللهِ تَعَالَى</p>
<blockquote><p>Sesungguhnya Allah <em>&#8216;azza wajalla</em> memiliki makhluk yang Dia Menciptakan mereka untuk kebutuhan-kebutuhan manusia. Manusia mengungsi kepada mereka (para makhluk yang diciptakan-Nya itu) dalam kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka (para makhluk yang diciptakan-Nya itu) adalah orang-orang yang aman dari siksaan Allah ta’ala.</p></blockquote>
<p><span id="more-1749"></span>Abuya memberi catatan pada hadits ini, bahwa ketika secara khusus Allah menyandarkan hamba kepada-Nya seperti dalam kalimat &#8220;<em>Sesungguhnya Allah memiliki makhluk yang Dia Menciptakan mereka</em>&#8230;&#8221;, maka itu berarti sebagai bentuk keistimewaan yang diberikan Allah kepadanya. Dalam konteks hadits ini, keistimewaan itu berupa kemampuan untuk bisa memenuhi kebutuhan orang lain. Mereka diistimewakan dengan menjadi khalifah-Nya di muka bumi di antara para hamba-Nya yang lain. Dia menjadikan mereka <strong>gudang simpanan nikmat-nikmat</strong> <em>diniyah</em> dan <em>duniawiyah</em>-Nya. Karena itu, mereka wajib mensyukuri nikmat ini. Barangsiapa bersyukur atas nikmat ini, maka ia pasti mendermakannya kepada yang membutuhkan dan menolong orang-orang yang kebingungan. Dengan begitu, <em>pokok nikmat akan tetap terjaga</em>, sekaligus memberikan <em>buah tambahan</em> dari Dzat Pemberi Nikmat. Sebagaimana halnya Allah mengistimewakan suatu kaum dengan mengenal dalil-dalil agama dalam masalah aqidah dan syariah dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> serta mengetahui halal dan haram dalam urusan <em>fiqih</em> (nikmat diniyah). Mereka lalu mendermakan nikmat diniyah itu dengan memenuhi kewajiban mengabdi kepada-Nya dan bertanggung jawab atas hak-hak makhluk, semata demi memuliakan Allah dan sebagai ungkapan rasa syukur kepada-Nya. Karenanya, layak mereka mendapat jaminan aman dari siksaan di akhirat kelak. Bukankah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> pernah bersabda,</p>
<blockquote><p>Barangsiapa yang Allah menghendaki kepadanya kebaikan, maka Dia akan memahamkan (mem-<em>faqih</em>-kan) dirinya dalam urusan agama. (HR. Bukhari)</p></blockquote>
<p>Kalimat &#8220;Allah menghendaki kepadanya kebaikan&#8221; tentu menyiratkan pula bentuk keistimewaan yang Allah berikan kepada hamba tersebut, yakni dengan dipahamkannya dalam urusan agama (nikmat diniyah).</p>
<p>Tentu demikian pula jika nikmat itu berupa nikmat duniawiyah, dalam bentuk apapun. Kewajiban bersyukur dengan rela menjadi &#8220;tempat manusia mengungsi kepadanya&#8221; dengan membawa kebutuhan mereka masing-masing adalah sudah menjadi keharusan.</p>
<p style="text-align: center;"> ***</p>
<p>Betapa besar ganjaran yang Allah berikan kepada mereka yang terpilih itu. Satu di antaranya, sebagaimana dalam sebuah hadits yang dinukil Abuya, bahwa Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL">                مَنْ قَضَى ِلأَخِيْهِ الْمُسْلِمِ حَاجَةً كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ كَمَنْ خَدَمَ اللهَ عُمْرَهُ</p>
<blockquote><p>Barang siapa memenuhi hajat saudaranya muslim, maka baginya pahala seperti orang yang melayani Allah seumur hidupnya. (HR. Bukhari dan Thabaraniy)</p></blockquote>
<p>Abuya memberi catatan, bahwa kalimat &#8220;&#8230; <em>maka baginya pahala seperti orang yang melayani Allah seumur hidupnya</em>&#8221; itu bersifat umum. Penjelasannya tidak bisa termuat di atas kertas karena ia mutlak berada di semua masa dan keadaan. Karena itu, tulis Abuya, barang siapa berniat menolong saudaranya untuk mendapatkan kebutuhan, maka tidak usah takut melaksanakan ucapan dan tekadnya, seraya meyakini bahwa Allah pasti akan menolongnya.</p>
<p>Dalam redaksional yang lain, &#8220;&#8230; <em>maka baginya pahala seperti pahalanya orang yang berhaji dan berumrah</em>.&#8221;</p>
<p>Dikisahkan bahwa Hasan al-Bashri pernah menyuruh Tsabit al-Bunani untuk suatu keperluan. Tsabit menolak dengan mengatakan, &#8220;Aku sedang beri&#8217;tikaf.&#8221; Hasan langsung marah dan mengatakan, &#8220;Hai orang yang rabun mata, tidakkah kamu mengerti bahwa kamu berjalan untuk keperluan saudaramu itu lebih bagimu daripada berhaji?&#8221;</p>
<p>Abuya menukil banyak sekali hadits tentang keutamaan membantu saudaranya muslim untuk memenuhi kebutuhannya ini, di antaranya saya tuliskan di bawah ini:</p>
<blockquote><p>Sesungguhnya Alloh memiliki para hamba yang Dia ciptakan untuk kebutuhan-kebutuhan manusia. Dia bersumpah atas nama diri-Nya bahwa tidak akan menyiksa mereka dengan neraka. Kelak pada hari kiamat diletakkan untuk mereka mimbar-mimbar dari cahaya. Mereka berbicara kepada Allah saat manusia berada dalam hisab. (HR. Ibnu Hibban dan Thabaraniy).</p></blockquote>
<blockquote><p>Barang siapa berjalan dalam kebutuhan saudaranya, maka itu lebih baik baginya daripada i’tikaf dua puluh tahun. Sementara barang siapa beri’tikaf sehari karena Allah, maka Allah menjadikan tiga parit antara dirinya dan neraka, di mana setiap parit lebih jauh (lebih luas) daripada dua arah.“ Dalam sebuah riwayat lain: “Sungguh jika salah seorang kalian berjalan bersama saudaranya untuk memenuhi kebutuhannya – beliau memberi isyarat dengan jari, maka itu lebih utama dari pada beri’tikaf di masjidku (Masjid Nabawi) ini selama dua bulan.&#8221; (HR. Thabaraniy dan Al-Hakim).</p></blockquote>
<blockquote><p>Allah senantiasa ada dalam kebutuhan seorang hamba selama ia berada dalam kebutuhan saudaranya. (HR. Thabaraniy).</p></blockquote>
<blockquote><p>Barang siapa memenuhi kebutuhan untuk saudaranya, maka aku pasti berdiri di sisi timbangannya. Jika timbangan itu unggul (maka itu miliknya), tetapi jika tidak, maka aku akan memberikan syafaat untuknya. (HR. Abu Nuaim).</p></blockquote>
<blockquote><p>Barang siapa berjalan dalam kebutuhan saudara muslimnya, maka Allah menulis baginya untuk setiap selangkah tujuh puluh kebaikan dan melebur darinya tujuh puluh keburukan. Jika kebutuhan saudaranya itu terpenuhi olehnya, maka keluarlah dosa-dosa darinya seperti ketika ibunya melahirkannya. Jika ia mati di tengah-tengah hal itu, maka ia pasti masuk surga tanpa hisab. (HR. Abu Ya&#8217;la, Thabaraniy, Abu Bakar al-Kharaithy).</p></blockquote>
<p>Dan semua itu bermuara, saya kira, pada sebuah hadits pendek yang sudah sama-sama kita hapal, yang dinukil Abuya di penghujung bab ini. Dari Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, beliau bersabda:</p>
<p dir="RTL">                خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ</p>
<blockquote><p>Sebaik-baik manusia adalah yang paling bisa memberi manfaat kepada manusia. HR. Qudhoi.</p></blockquote>
<p>***</p>
<p>Kuncinya hanya satu: <em>jangan pernah bosan membantu orang lain</em>. Karena Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> pernah bersabda,</p>
<blockquote><p><em>Sesungguhnya Allah memiliki nikmat-nikmat yang berada pada kaum-kaum yang selalu Dia Menetapkannya di sisi mereka, selama mereka berada dalam kebutuhan-kebutuhan manusia dan selama mereka tidak pernah bosan. Jika mereka bosan, maka Dia pasti Memindahkannya kepada selain mereka. (HR. Thabaraniy).</em></p></blockquote>
<p>Demikian Abuya menutup bab 7 berjudul &#8220;Berusaha Memberi Manfaat kepada Para Hamba dan Memenuhi Kebutuhan Mereka&#8221; ini dengan hadits di atas. Benang merah yang bisa kita petik, masing-masing kita adalah gudang-gudang nikmat yang diberikan Allah, apapun bentuk nikmat itu; diniyah atau duniawiyah. Mari kita syukuri dengan merelakan diri kita menjadi tempat jujugan orang-orang yang sedang dalam kebutuhan, semampu yang bisa kita usahakan, agar nikmat itu tetap adanya, bahkan bertambah-tambah. Dan mari senantiasa mengusahakan berada dalam kondisi &#8220;berjalan dalam kebutuhan saudara kita&#8221;, agar Allah juga senantiasa berada dalam (pemenuhan) kebutuhan kita. Dan ingat satu hal: jangan pernah ada kata bosan menjadi orang yang memberi manfaat kepada orang lain. Jika ini bisa kita lakukan, <em>insyaAllah</em> kita termasuk sebaik-baik manusia yang pernah dilahirkan ke muka bumi.</p>
<p>Mudah dituliskan, bukan? Tetapi tidak gampang dilaksanakan. Semoga kita dimampukan-Nya. <em>Amin.</em></p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahtiarhs.net/2012/08/gudang-simpanan-nikmat-penuh-manfaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadilah Para Pencari Kebaikan</title>
		<link>http://bahtiarhs.net/2012/08/jadilah-para-pencari-kebaikan/</link>
		<comments>http://bahtiarhs.net/2012/08/jadilah-para-pencari-kebaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Aug 2012 07:55:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahtiarhs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Suri-Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Kasyful Ghummah]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[pencari kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[taufik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtiarhs.net/?p=1744</guid>
		<description><![CDATA[<em>Kasyful Ghummah</em> Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (7)

Agak susah mencerna bab 5 dari <em>kitab Kasyful Ghummah</em> ini. Karena itu, saya mendahulukan <a title="Masuk Surga Berbekal Sebatang Pohon" href="http://bahtiarhs.net/2012/08/masuk-surga-berbekal-sebatang-pohon/">menulis bab 6</a> daripadanya. Sebab bab ini diisi dengan dua buah hadits hampir semakna, yang menyiratkan tentang iradat atau kehendak Allah atas hamba-Nya. Pengaruh filosofi Yunani atas persoalan ini telah melahirkan begitu banyak faksi / paham dalam sejarah Islam. Kita lalu mengenal kelompok Qadariyah, Jabariyah, Mu'tazilah, Asy-'Ariyah, dan Ahlu Sunnah wal Jama'ah dengan pemahaman mereka sendiri-sendiri. Pasca <em>khalifah rasyidah</em> pergumulan kelompok-kelompok itu kian meruncing, bahkan sampai ke persoalan <em>aqidah</em>.

Baiklah. Kita tinggalkan saja membincang mereka, yang pernah menghiasi sejarah Islam itu. Halaman ini --juga energi kita-- akan habis karenanya.

Hadits yang disampaikan Abuya pada bab 5 ini adalah: dari Ibnu Abbas <em>rodhiyallohu anhu </em>bahwa Rasulullah <em>shallallahu 'alaihi wasallam </em>bersabda:
<p dir="RTL">قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : أَنَا اللهُ قَدَّرْتُ الْخَيْرَوَالشَّرَّ فَطُوْبَى لِمَنْ جَعَلْتُ مَفَاتِيْحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلْتُ  مَفَاتِيْحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ</p>

<blockquote>Allah <em>'azza wajalla</em> berfirman: "<em>Aku Allah, Aku takdirkan kebaikan dan keburukan. Maka beruntung sekali bagi  orang yang Aku jadikan kunci-kunci kebaikan ada di tangannya dan celakalah bagi orang yang Aku jadikan kunci-kunci kejelekan ada di tangannya."</em> (H.R. Thabaraniy)</blockquote>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kasyful Ghummah</em> Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (7)</p>
<p>Agak susah mencerna bab 5 dari <em>kitab Kasyful Ghummah</em> ini. Karena itu, saya mendahulukan <a title="Masuk Surga Berbekal Sebatang Pohon" href="http://bahtiarhs.net/2012/08/masuk-surga-berbekal-sebatang-pohon/">menulis bab 6</a> daripadanya. Sebab bab ini diisi dengan dua buah hadits hampir semakna, yang menyiratkan tentang iradat atau kehendak Allah atas hamba-Nya. Pengaruh filosofi Yunani atas persoalan ini telah melahirkan begitu banyak faksi / paham dalam sejarah Islam. Kita lalu mengenal kelompok Qadariyah, Jabariyah, Mu&#8217;tazilah, Asy-&#8217;Ariyah, dan Ahlu Sunnah wal Jama&#8217;ah dengan pemahaman mereka sendiri-sendiri. Pasca <em>khalifah rasyidah</em> pergumulan kelompok-kelompok itu kian meruncing, bahkan sampai ke persoalan <em>aqidah</em>.</p>
<p>Baiklah. Kita tinggalkan saja membincang mereka, yang pernah menghiasi sejarah Islam itu. Halaman ini &#8211;juga energi kita&#8211; akan habis karenanya.</p>
<p>Hadits yang disampaikan Abuya pada bab 5 ini adalah: dari Ibnu Abbas <em>rodhiyallohu anhu </em>bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda:</p>
<p dir="RTL">قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : أَنَا اللهُ قَدَّرْتُ الْخَيْرَوَالشَّرَّ فَطُوْبَى لِمَنْ جَعَلْتُ مَفَاتِيْحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلْتُ  مَفَاتِيْحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ</p>
<blockquote><p>Allah <em>&#8216;azza wajalla</em> berfirman: &#8220;<em>Aku Allah, Aku takdirkan kebaikan dan keburukan. Maka beruntung sekali bagi  orang yang Aku jadikan kunci-kunci kebaikan ada di tangannya dan celakalah bagi orang yang Aku jadikan kunci-kunci kejelekan ada di tangannya.&#8221;</em> (H.R. Thabaraniy)</p></blockquote>
<p><span id="more-1744"></span>Pemahaman awam kita akan mengatakan: <em>Kok Allah nggak adil, ya?</em> Sama-sama makhluk ciptaan-Nya, yang satu dijadikan-Nya sebagai pemegang kunci-kunci kebaikan &#8211;yang karenanya menjadi orang yang beruntung, sementara yang lain dijadikan-Nya sebagai pemegang kunci-kunci kejelekan sehingga menjadikannya orang yang celaka. Kalau begitu, kita menjadi orang beruntung atau celaka bukan kehendak kita sendiri, dong? Lalu mengapa kita dibebani dosa kalau berbuat kejelekan, padahal kejelekan itu bukan kehendak kita sendiri?</p>
<p>Ya. Begitulah kalau kita mempertentangkan kehendak kita dengan kehendak Allah. Nggak habis diperdebatkan. Padahal memang keduanya tidak untuk diperdebatkan. Lha keduanya memiliki dimensi yang jauh berbeda. Yang satu (Allah) memiliki kemahakuasaan untuk berkehendak dan berbuat apa saja, sementara kehendak manusia berada pada tembok pembatas yang tak bisa ditembusnya. Jelas tidak bisa dibandingkan. Untuk urusan seperti ini, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> menganjurkan kita untuk <em>tafakkkaru fi khalqillah, walaa tafakkaruu fi dzaatillah</em>. Berpikirlah atas ciptaan Allah (makhluk), dan jangan berpikir tentang dzat kekuasaan Allah. Pasti kita tidak akan sampai kepadanya.</p>
<p>Lalu bagaimana memahami hadits itu?</p>
<p>Kiranya hadits ke-3 yang disampaikan Abuya dalam bab ini bisa dijadikan pegangan. Diceritakan dalam hadits yang panjang riwayat Ibnu Majah itu bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> menjumpai sahabat Ubay bin Ka&#8217;ab r.a. sedang menguntit seseorang. Ketika ditanya Rasulullah, siapakah lelaki itu, Ubay menjawab, &#8220;Dia orang yang mempunyai tanggungan hutang kepada saya. Karena itu, saya membuntutinya.&#8221; Lalu Rasulullah bersabda: &#8220;<em>Berbuat baiklah kepadanya</em>.&#8221;</p>
<p>Setelah pada kesempatan berikutnya Rasulullah bertemu Ubay yang sudah tidak bersama lelaki itu, barulah Ubay bercerita. Bagaimana ia meninggalkan sepertiga harta di sisinya untuk Allah. Ia tinggalkan sepertiganya untuk Rasulullah. Dan sepertiganya untuk orang itu yang telah membantunya mengesakan Allah. Lalu Rasulullah bersabda, &#8220;Semoga Allah mengasihimu, Wahai Ubay (sampai 3x). <em>Beginilah kita diperintahkan</em>.&#8221;</p>
<p>Beliau pun bersabda,</p>
<blockquote><p>&#8220;Wahai Ubay! Sesungguhnya Allah menjadikan wajah-wajah untuk kebaikan dari makhluknya. <em>Dia mencintakan hati mereka akan kebaikan dan rasa suka melakukannya</em>. Dia <em>memudahkan para pencari kebaikan dalam mencari kebaikan</em> <em>dan juga memudahkan memberi kebaikan kepada mereka</em>. Mereka laksana hujan yang dikirimkan oleh Allah ke tanah tandus untuk menghidupkannya dan menghidupkan orang-orang yang tinggal di sana&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Pada frase inilah saya merenungi kalimat yang luar biasa ini. <em>Dia mencintakan hati mereka akan kebaikan dan rasa suka melakukannya. Dia memudahkan para pencari kebaikan dalam mencari kebaikan&#8230;</em> Buat saya, inilah TANDA-TANDA orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan ada di tangannya! Hati mereka cinta akan kebaikan dan suka melakukannya. Dengan begitu, Allah akan mudahkan dia mencari dan melakukan kebaikan.</p>
<p>Sampai di sini, saya berpikir, lupakan takdir apa yang diberikan Allah pada kita. Toh, kita juga tidak tahu. Biarlah itu menjadi ilmu dan urusan Allah <em>&#8216;azza wajalla</em>. Urusan kita adalah: bagaimana kita menjadi para pencari kebaikan, yang cinta akan kebaikan, dan suka melakukannya. <em>InsyaAllah</em>, kita akan termasuk orang-orang yang di tangannya diamanahi kunci-kunci kebaikan itu; yang kelak akan menjadi orang-orang yang beruntung.</p>
<p>Karena itu saya menjadi mengerti, mengapa Abuya memberi judul bab 5 ini dengan &#8220;Berbuat Baik Kepada Orang Lain, Aktivitas yang Disukai Orang-orang yang Mendapat Taufik&#8221;. Karena arti kata <em>taufik</em>, menurut Ibnul Qayim al-Jauziyah, adalah iradat Allah yang datang dari-Nya sendiri terhadap hamba-Nya untuk melakukan kebaikan, diberi-Nya kesanggupan untuk melakukan perbuatan yang diridhai-Nya yang didorong oleh kecintaan kepada-Nya. Inilah kuncinya. Orang-orang yang mendapat taufik adalah mereka yang dijadikan Allah kunci-kunci kebaikan berada di tangannya. Kita harus menjadi bagian dari mereka.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahtiarhs.net/2012/08/jadilah-para-pencari-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masuk Surga Berbekal Sebatang Pohon</title>
		<link>http://bahtiarhs.net/2012/08/masuk-surga-berbekal-sebatang-pohon/</link>
		<comments>http://bahtiarhs.net/2012/08/masuk-surga-berbekal-sebatang-pohon/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Aug 2012 01:19:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Suri-Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Kasyful Ghummah]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat dhuha]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtiarhs.net/?p=1731</guid>
		<description><![CDATA[<em>Kasyful Ghummah</em> Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (6)

Melakukan kebaikan tak perlu menunggu kaya, setidaknya punya harta. Melakukan kebaikan tak jua pantas ditunda nanti jika umur sudah tua. Melakukan kebaikan tak harus saat sehat berkelapangan saja. Bahkan ketika sedang sakit, sedang banyak hutang, sedang ditimpa musibah, kita bisa berbuat kebaikan. Karena, kebaikan itu sangat luas. Abuya dalam bab 6 mengutip hadits dari Hudzafah r.a. bahwa Rasulullah <em>shallallahu 'alaihi wasallam</em> pernah bersabda:
<p dir="RTL">كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ</p>

<blockquote>"Setiap kebaikan adalah sedekah." (H.R. Muslim, Ahmad, Abu Dawud)</blockquote>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kasyful Ghummah</em> Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (6)</p>
<p>Melakukan kebaikan tak perlu menunggu kaya, setidaknya punya harta. Melakukan kebaikan tak jua pantas ditunda nanti jika umur sudah tua. Melakukan kebaikan tak harus saat sehat berkelapangan saja. Bahkan ketika sedang sakit, sedang banyak hutang, sedang ditimpa musibah, kita bisa berbuat kebaikan. Karena, kebaikan itu sangat luas. Abuya dalam bab 6 ini mengutip hadits dari Hudzafah r.a. bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> pernah bersabda:</p>
<p dir="RTL">كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ</p>
<blockquote><p>&#8220;Setiap kebaikan adalah sedekah.&#8221; (H.R. Muslim, Ahmad, Abu Dawud)</p></blockquote>
<p><span id="more-1731"></span>Kebaikan (<em>al-ma&#8217;ruf</em>), tulis Abuya, adalah hal dimana di sana diketahui kerelaan Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>. Kebaikan adalah cocok terlihat dan bisa diterima oleh setiap hati serta tak ada orang yang mengingkarinya. <em>Al-birru mathma&#8217;anna ilaihil qalbu wathma&#8217;annat ilaihin nafsu</em>. Kebaikan itu adalah apa-apa yang hati dan jiwa merasa tenteram kepadanya (H.R. Ahmad). Bahkan andaikata tanpa petunjuk syariat, berpegangan dengan kaidah ini kita masih bisa membedakan mana kebaikan dan mana kemaksiatan. Kebaikan adalah &#8220;agama&#8221; universal. Dalai Lama mengatakan:</p>
<blockquote><p>This is my simple religion. There is no need for temples; no need for complicated philosophy. Our own brain, our own heart is our temple; the philosophy is kindness.</p></blockquote>
<p>Kata <em>ma&#8217;ruf</em> dalam hadits di atas juga berbentuk <em>nakirah</em> (umum), sehingga kebaikan yang dimaksud melingkupi kebaikan dalam bentuk apa saja. Dalam beberapa hadits berikutnya Abuya memberikan begitu banyak macam kebaikan yang bisa kita lakukan, yang semuanya dinilai sedekah. Apa yang diinfaqkan seorang muslim kepada diri dan keluarganya ditulis sedekah baginya. Apa yang digunakan seorang muslim dalam menjaga kehormatannya ditulis sedekah baginya (H.R. Hakim). Berbuat adil di antara dua orang adalah sedekah. Menolong seseorang di kendaraannya, mengangkatnya, dan mengangkat barang ke atas kendaraannya adalah sedekah. Ucapan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang diayunkan menuju shalat adalah sedekah. Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah (Muttafaqun &#8216;alaih). Membaca tasbih, tahmid, tahlil, perintah kepada kebaikan, larangan terhadap kemungkaran, menyingkirkan halangan dari jalan, memperdengarkan orang yang tuli, menuntun orang yang buta, menunjukkan orang yang meminta petunjuk menuju kebutuhannya, berjalan dengan kedua kaki bersama orang yang kebingungan dalam suatu perkara dan memohon pertolongan, membantu orang yang lemah, semua itu adalah sedekah dari kita untuk kita sendiri (H.R. Tirmidzi). Bahkan senyum di hadapan teman kita adalah sedekah. Menuangkan air timba kita ke timba teman adalah sedekah (H.R. Bukhori).</p>
<p>Walhasil, <em>kullu ma&#8217;rufin</em>, setiap kebaikan, apapun bentuknya, adalah sedekah.</p>
<p>Sedangkan yang dimaksud &#8220;sedekah&#8221; dalam kalimat itu, tulis Abuya, berkaitan dengan nilai balasan atas kebaikan itu yang disamakan dengan <em>pahala sedekah</em>. Jadi, <em>kullu ma&#8217;rufin shadaqah</em> berarti setiap kebaikan itu berpahala sama dengan pahala sedekah. Bahkan orang yang menunjukkan kepada kebaikan pun mendapatkan pahala sama dengan orang yang mengerjakannya (Lihat seri <a title="MLM Kebaikan" href="http://bahtiarhs.net/2012/07/mlm-kebaikan/">Kaysful Ghummah ke-4</a>). Abuya seraya mengutip sebuah hadits:</p>
<blockquote><p>Setiap kebaikan adalah sedekah dan orang yang menunjukkan kepada kebaikan (pahalanya) seperti orang yang melakukannya; dan Allah menyukai menolong orang yang kebingungan (HR. Baihaqi).</p></blockquote>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Saking luasnya kebaikan itu dan bahwa setiap kebaikan itu bernilai sedekah, dalam dua hadits ini ada &#8216;isyarat&#8217; bahwa bersedekah dengan melakukan kebaikan itu <em>sifatnya wajib atau sebuah keharusan</em>. Abuya menyampaikan hadits:</p>
<blockquote><p>Setiap persendian manusia <em>harus disedekahi</em>. Setiap hari di mana matahari terbit kamu berbuat adil di antara dua orang adalah sedekah. Kamu menolong seseorang di kendaraannya, kamu mengangkatnya, dan mengangkat barangnya ke atas kendaraan, adalah sedekah. Ucapan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang kamu ayunkan menuju sholat adalah sedekah. Kamu singkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah (Muttafaqun &#8216;alaih).</p></blockquote>
<p>Maksud &#8220;setiap persendian manusia harus disedekahi&#8221;, tulis Abuya, adalah bahwa persendian manusia yang berjumlah 360 itu wajib disedekahi untuk setiap sendinya. Hal ini sebagai pengejawantahan dari rasa syukur kepada Allah atas langgengnya nikmat yang diberikan-Nya (berupa persendian) kepada kita. Sebab, andai Dia Berkehendak, maka Allah bisa mencabut nikmat itu tanpa menghilangkan sifat adil-Nya. Jadi, keutuhan nikmat &#8211;sekalipun teledor tidak dipergunakan untuk melayani-Nya&#8211; menuntut adanya rasa syukur kepada yang memberi nikmat secara berkelanjutan dengan cara bersedekah atau lainnya selama nikmat itu ada. Jika saja satu tulang sendi hilang atau kering, atau tidak bisa digerakkan, maka kehidupan akan cacat dan terjadilah bencana / musibah bagi kita. Sementara sedekah bisa menolak bencana (Lihat <a title="Kebaikan menolak bencana" href="http://bahtiarhs.net/2012/07/kebaika-menolak-bencana/">Kasyful Ghummah ke-5</a>). Begitulah kaitannya.</p>
<p>Dalam hadits lain, dari Abu Musa al-&#8217;Asy&#8217;ari r.a. bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>Sedekah <em>wajib</em> atas setiap muslim. &#8220;Bagaimana jika tidak menunaikan?&#8221; Ia bekerja dengan kedua tangannya dan lalu memberi manfaat dirinya dan ia pun bersedekah. &#8220;Bagaimana jika tidak mampu?&#8221; Ia memerintahkan yang baik. &#8220;Jika ia tidak bisa melakukan?&#8221; Ia mencegah diri dari berbuat jelek, karena itu semua adalah sedekah (Muttafaqun &#8216;alaih).</p></blockquote>
<p>Berbuat kebaikan untuk memenuhi <em>kewajiban bersedekah</em> ini kiranya berangkat dari banyaknya pintu-pintu kebaikan yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Bahkan orang papa, cacat, sakit, dan berbagai &#8216;kendala bersedekah&#8217; di mata manusia, tidak menjadi penghalang untuk melakukan kebaikan. Apa susahnya <em>mesem</em>, <em>sumringah</em>, menunjukkan senyum terindah pada teman yang datang? Itu saja sudah merupakan kebaikan bernilai sedekah. Saya jadi teringat dengan KH. Ali Karrar dari Proppo, Pamekasan. Beliaulah yang menikahkan saya dua belas tahun yang lalu di Bangkalan, meski hanya saya minta lewat telepon. Yang paling saya ingat dari beliau adalah ketika menyambut siapa saja yang datang bertemu, beliau mesti mengembangkan kedua tangannya lebar-lebar, dengan bibir tersenyum gembira sampai terlihat giginya, lalu bersalaman, merangkul dengan erat, dan menepuk-nepuk pundak kita, lalu &#8216;mencium&#8217; pipi kita kanan-kiri, sambil berkata, &#8220;<em>Ahlan wasahlan, akhi Bahtiar. Kaif haluk?</em>&#8221; Saya seperti merasa bertemu sahabat dekat yang lama terpisah, di samping sesaat merasa menjadi tamu paling penting dari sekian yang datang.</p>
<p>Jika tak bisa melakukan itu semua, kata Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> &#8211;sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim&#8211; kita bisa menggantinya dengan mengerjakan shalat dua rakaat di kala waktu <em>dhuha</em>. Amboi, betapa besar manfaatnya bisa melanggengkan shalat dhuha tiap hari, minimal 2 rakaat, apalagi bisa 4, 6, 8, sampai 12 rakaat. Selain sebagai sedekah bagi 360 tulang sendi kita, shalat dhuha memiliki <em>fadhilah</em> (keutamaan) yang besar; jika dikerjakan 4 rakaat, maka Allah akan mencukupkan (rezeki) di akhir siang. Jika dikerjakan secara langgeng / <em>istiqamah</em>, maka dosa kita akan diampuni meski sebanyak buih di lautan. Dan sebagainya. Mari, saya mengajak diri sendiri dan pembaca sekalian untuk melanggengkan shalat dhuha ini, meski hanya dua rakaat setiap hari. Bukankah amal yang dicintai Allah itu adalah amal yang dikerjakan secara istiqamah / langgeng, meski hanya sedikit? Dua rakaat tiap hari lebih dicintai daripada 12 rakaat tapi tak pasti apakah seminggu atau sebulan sekali.</p>
<p>Karena itu, jangan meremehkan kebaikan, meski kecil kelihatannya. Jangan pernah berhenti melakukan kebaikan, padahal ia sangat luas dan karenanya mudah dikerjakan. Bermodal tersenyum saja kita sudah terhitung berbuat baik. Bermodal ucapan tasbih, tahmid, tahlil saja sudah termasuk berbuat kebaikan. Siapa tahu, Allah <em>subhanahu wata&#8217;alaa</em> meridhai kebaikan yang kita lakukan, meski sedikit dan kelihatan tak berarti. Bukankah Abu Hurairah r.a. pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> pernah bersabda &#8211;sebagaimana disampaikan Abuya dalam penghujung bab 6 tentang Luasnya Pintu Kebaikan ini&#8211;:</p>
<p dir="RTL">                لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِى الْجَنَّةِ فِى شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيْقِ كاَنَتْ تُؤْذِى النَّاسَ</p>
<blockquote><p>Sungguh aku melihat seseorang hilir mudik di surga karena sebuah pohon yang ia tebang dari badan jalan yang sebelumnya pohon tersebut mengganggu manusia (H.R. Muslim).</p></blockquote>
<p>Subhanallah! Coba bayangkan! Orang itu bisa masuk surga hanya karena sebatang pohon yang ia tebang dari badan jalan agar tidak mengganggu manusia. Sungguh, bagi-Nya tak ada yang sedikit. Bagi-Nya yang kecil pun bisa berarti besar.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahtiarhs.net/2012/08/masuk-surga-berbekal-sebatang-pohon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebaikan Menolak Bencana</title>
		<link>http://bahtiarhs.net/2012/07/kebaika-menolak-bencana/</link>
		<comments>http://bahtiarhs.net/2012/07/kebaika-menolak-bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jul 2012 16:12:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahtiarhs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Suri-Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Kasyful Ghummah]]></category>
		<category><![CDATA[musibah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtiarhs.net/?p=1721</guid>
		<description><![CDATA[<em>Kasyful Ghummah</em> Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (5)

Kita mengenal banyak istilah yang sepadan dengan kata 'bencana'. Malapetaka, <em>bala'</em>, <em>musibah</em>, <em>adzab</em>. Dari beberapa sumber bacaan disebutkan bahwa <em>musibah</em> adalah setiap perkara yang menyusahkan atau tidak disenangi manusia. Karena itu, musibah bisa berupa kejadian besar yang menyusahkan manusia seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, kematian, dan sebagainya. Tetapi musibah juga bisa berupa hal-hal kecil yang tidak disenangi manusia. Mati lampu, umpamanya; sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,
<blockquote>Ikrimah r.a. menuturkan bahwa ketika lampu yang digunakan oleh Nabi Saw. tiba-tiba padam, beliau mengucapkan, "<em>Innalillahi wa inna ilaihi raji’un</em>!" Lalu, ada sahabat yang bertanya, "Apakah peristiwa ini bisa disebut <em>musibah</em>, ya Rosululloh?" Beliau menjawab, "Ya, setiap hal yang menyusahkan adalah musibah!"</blockquote>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kasyful Ghummah</em> Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (5)</p>
<p>Kita mengenal banyak istilah yang sepadan dengan kata &#8216;bencana&#8217;. Malapetaka, <em>bala&#8217;</em>, <em>musibah</em>, <em>adzab</em>. Dari beberapa sumber bacaan disebutkan bahwa <em>musibah</em> adalah setiap perkara yang menyusahkan atau tidak disenangi manusia. Karena itu, musibah bisa berupa kejadian besar yang menyusahkan manusia seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, kematian, dan sebagainya. Tetapi musibah juga bisa berupa hal-hal kecil yang tidak disenangi manusia. Mati lampu, umpamanya; sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,</p>
<blockquote><p>Ikrimah r.a. menuturkan bahwa ketika lampu yang digunakan oleh Nabi Saw. tiba-tiba padam, beliau mengucapkan, &#8220;<em>Innalillahi wa inna ilaihi raji’un</em>!&#8221; Lalu, ada sahabat yang bertanya, &#8220;Apakah peristiwa ini bisa disebut <em>musibah</em>, ya Rosululloh?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Ya, setiap hal yang menyusahkan adalah musibah!&#8221;</p></blockquote>
<p><span id="more-1721"></span>Musibah mengandung <em>al-baliyyah</em> (cobaan, ujian), tetapi tidak setiap ujian adalah musibah. Sebab, kadang ujian itu berupa sesuatu yang menyenangkan manusia, seperti banyak harta, kekuasaan, istri / suami yang cantik, dan sebagainya. Meski juga tak jarang, kenikmatan itu berubah menjadi sesuatu yang justru tidak menyenangkan, sehingga menjadi musibah baginya. Karena itu tidak salah jika ada seorang yang diamanahi sebuah jabatan ia mengucap <em>istirjaa&#8217;</em> (<em>innalillahi wa inna ilaihi roji&#8217;un</em>) seperti ia mendapat musibah. Mungkin karena jabatan yang boleh bermakna kenikmatan itu ia anggap sebagai ujian yang semoga kelak tidak menjadi musibah baginya.</p>
<p>Sedangkan <em>bala</em>&#8216; digunakan untuk menggambarkan ujian yang baik maupun buruk. Bala&#8217; memiliki tiga bentuk: kenikmatan (<em>ni&#8217;mat</em>), ujian (<em>ikhtibar</em>), maupun sesuatu yang dibenci (<em>makruh</em>). Di dalam Al-Qur&#8217;an pun terdapat ayat yang mengandung kata <em>bala&#8217;</em> dalam konteks ujian yang dibenci manusia (seperti penyembelihan anak laki-laki Bani Israil oleh Firaun dalam QS. Al-Baqoroh: 49), atau juga berupa kenikmatan (seperti kemenangan perang yang diberikan kepada orang-orang yang beriman dalam QS. Al-Anfal: 17).</p>
<p>Adapun &#8216;adzab adalah <em>an-nakal wal &#8216;uqubah</em> (peringatan bagi yang lain, hukuman). Adzab berarti setiap peristiwa yang mengandung hukuman atau siksaan kepada manusia dan menjadi peringatan bagi yang lainnya (untuk tidak melakukan hal yang serupa). Meski adzab itu bisa berupa kejadian kehancuran yang ditimpakan di dunia, tetapi sering ia dikonotasikan sebagai siksaan atau hukuman di akhirat kelak.</p>
<p>Karena itu, kata <em>bala&#8217;</em> kiranya lebih dekat dengan kata &#8216;bencana&#8217; atau &#8216;malapetaka&#8217; yang kita pahami. <em>Bala&#8217;</em> atau bencana bisa berupa <em>musibah</em> sebagai ujian bagi manusia, yang jika musibah itu mengandung hukuman atau siksaan dan karenanya menjadi peringatan bagi manusia yang lain, maka ia menjadi <em>adzab</em>. <em>Wallohu a&#8217;lam</em>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Dalam bab ke-4 ini, Abuya mengungkapkan sebuah hadits dari Anas r.a. bahwa Rosululloh Saw. bersabda,</p>
<p>صَنَا ئِعُ الْمَعْرُوْفِ تَقِى مَصَارِعَ السُّوْءِ وَاْلآفَاتِ وَالْهَلَكَاتِ وَأَهْلُ الْمَعْرُوْفِ فِى الدُّنْيَا أَهْلُ الْمَعْرُوْفِ فِى اْلآخِرَةِ</p>
<blockquote><p>&#8220;Perbuatan-perbuatan baik bisa menjaga dari kematian-kematian yang diakhiri dengan keburukan, bencana-bencana, dan kehancuran-kehancuran. Dan ahli kebaikan di dunia adalah ahli kebaikan di akhirat.&#8221; (HR. Imam Hakim)</p></blockquote>
<p><em>Al-Afaat</em> dalam hadits ini diartikan sebagai <em>bencana-bencana</em>. Saya belum menemukan definisi <em>al-afaat</em>. Tetapi dari kamus bahasa Arab, kata ini dan derivasinya berartikan segala perkara yang membahayakan, menyakitkan, merugikan, merusakkan, terserang penyakit dan hama. Menilik bencana yang lain dalam hadits di atas (yakni kematian yang diakhiri dengan keburukan dan kehancuran-kehancuran), maka ketiganya kiranya adalah <em>musibah</em> dengan keburukan yang amat sangat.</p>
<p>Menurut hadits ini, bencana dengan keburukan yang amat sangat  itu bisa dijaga dengan perbuatan-perbuatan baik. Dalam bahasa Abuya, perbuatan baik bisa menjaga pelakunya dari keburukan dan mencegahnya dari bencana. Jadi dengan kebaikannya, pelaku kebaikan bak berada dalam benteng yang kokoh dan tempat perlindungan yang aman.</p>
<p>Karena itu bisa dimaklumi jika sedekah itu bisa menolak bala&#8217; / bencana (<em>ash-shodaqotu tathfaul bala&#8217;</em>), karena sedekah adalah salah satu bentuk kebaikan. Bahkan dalam hadits ke-2 bab ini, setiap perbuatan baik itu (bernilai) sedekah (<em>kullu ma&#8217;rufin shodaqoh</em>).</p>
<blockquote><p>&#8220;Perbuatan-perbuatan baik bisa menjaga dari kematian-kematian yang diakhiri dengan keburukan<strong>, </strong>sedekah secara samar bisa memadamkan kemarahan Tuhan, shilaturrohim menambah umur, <strong>setiap kebaikan adalah sedekah</strong>, ahli kebaikan di dunia adalah ahli kebaikan di akhirat dan ahli kemungkaran di dunia adalah ahli kemungkaran di akhirat, dan orang yang pertama masuk surga adalah ahli kebaikan.<strong>&#8221; </strong>(HR. Thobaroniy)</p></blockquote>
<p><em>Wallohu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahtiarhs.net/2012/07/kebaika-menolak-bencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MLM Kebaikan</title>
		<link>http://bahtiarhs.net/2012/07/mlm-kebaikan/</link>
		<comments>http://bahtiarhs.net/2012/07/mlm-kebaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jul 2012 10:11:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahtiarhs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Suri-Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Kasyful Ghummah]]></category>
		<category><![CDATA[MLM kebaikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtiarhs.net/?p=1713</guid>
		<description><![CDATA[<em>Kasyful Ghummah</em> Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (4)

Sebuah hadits yang dahsyat dikutip Abuya pada Bab 3 ini. Dari Ibnu Mas’ud Uqbah bin Amar al-Anshori al-Badri <em>rodhiyallohu anhu</em> bahwa Rosululloh <em>shollallohu 'alaihi wasallam </em>bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍفَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
<blockquote>"Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya sepadan pahala orang yang melakukan kebaikan itu." (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan Turmudzi)</blockquote>
Hadits ini begitu populer ketika berbicara tentang kebaikan. Betapa kebaikan itu berefek 'bola salju'. Sekali digelindingkan dan ada yang menyambutnya untuk melakukan hal serupa, maka gelindingan itu akan semakin besar dan besar. Kebaikan itu juga seperti sebuah investasi. Sekali kita lakukan, setelah itu tinggal menerima hasilnya yang berlipat ganda, sementara investasi awalnya tetap tak terkurangi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kasyful Ghummah</em> Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (4)</p>
<p>Sebuah hadits yang dahsyat dikutip Abuya pada Bab 3 ini. Dari Ibnu Mas’ud Uqbah bin Amar al-Anshori al-Badri <em>rodhiyallohu anhu</em> bahwa Rosululloh <em>shollallohu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda:</p>
<p>مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍفَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ</p>
<blockquote><p>&#8220;Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya sepadan pahala orang yang melakukan kebaikan itu.&#8221; (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan Turmudzi)</p></blockquote>
<p>Hadits ini begitu populer ketika berbicara tentang kebaikan. Betapa kebaikan itu berefek &#8216;bola salju&#8217;. Sekali digelindingkan dan ada yang menyambutnya untuk melakukan hal serupa, maka gelindingan itu akan semakin besar dan besar. Kebaikan itu juga seperti sebuah investasi. Sekali kita lakukan, setelah itu tinggal menerima hasilnya yang berlipat ganda, sementara investasi awalnya tetap tak terkurangi.</p>
<p><span id="more-1713"></span>Tetapi dari semua perumpamaan untuk menggambarkan kekuatan kebaikan itu kiranya tak ada yang lebih mendekati daripada menganalogikannya dengan <em>networking </em>dalam bisnis MLM (Multi Level Marketing). Dalam <em>marketing plan</em> sebuah MLM selalu digambarkan bagaimana cara kita membangun jaringan dan benefit apa yang akan kita dapatkan (biasanya dalam bentuk bonus dengan beragam nama). Jika dalam sebulan kita bisa merekrut <em>downline</em> 5 orang, lalu bulan berikutnya setiap <em>downline</em> merekrut <em>downline</em> mereka sejumlah yang sama, demikian seterusnya, maka dalam sekian bulan ke depan kita akan dapati ribuan orang berada di bawah <em>jaringan kita</em>. Jika setiap perekrutan downline serta sekian persen penjualan produk dalam jaringan kita mendapatkan bagian bonus, maka semakin banyak dan besar jaringan di bawah kita, semakin besar pula bonus yang kita dapatkan; meski kita sudah &#8216;jarang bekerja&#8217;. Kita sudah mencapai taraf &#8216;passive income&#8217; katanya.</p>
<p>Mari kita bayangkan jika networking itu berupa orang-orang yang menyambut kebaikan yang kita lakukan secara rantai estafet. Ber-<em>downline-downline</em>. Kebaikan dalam bentuk apa saja, karena redaksional kata &#8216;kebaikan&#8217; (<em>khoirin</em>) dalam hadits itu berbentuk <em>nakirah</em>. Umum, bukan menunjuk kebaikan tertentu. Itu berarti mencakup kebaikan mulai dari yang sangat remeh-temeh hingga sebesar gunung. Maka yang terjadi kita, yang memelopori kebaikan itu tertunaikan, akan mengalami &#8216;passive pahala&#8217;. Kita duduk manis saja pahala mengalir. Seperti pahala jariyah, yang terus mengalir jika amal jariyah kita dimanfaatkan orang; bahkan setelah kita tiada sekalipun.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Apakah pahala yang diberikan kepada kita itu mengurangi pahala orang yang mengerjakan kebaikan yang kita pelopori? Untuk menjawab ini, Abuya menukil hadits yang redaksionalnya hampir sama.</p>
<blockquote><p>&#8220;Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala sepadan dengan pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya (di mana) pahala itu sama sekali tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka atasnya dosa seperti dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya (di mana) dosa itu sama sekali tidak mengurangi dosa-dosa mereka.&#8221; (HR. Ahmad dan Muslim)</p></blockquote>
<p>Abuya memberikan beberapa catatan terhadap hadits ini. <em>Pertama</em>, yang dimaksud &#8220;hudan&#8221; (petunjuk) adalah petunjuk apa saja, karena redaksionalnya dalam bentuk umum (<em>nakirah</em>). Karena itu, bisa mencakup petunjuk yang paling besar, yaitu ajakan menuju Alloh Swt. dan amal sholih, maupun yang paling kecil atau ringan semacam menyingkirkan rintangan dari jalan.</p>
<p><em>Kedua</em>, frase &#8220;sama sekali tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun&#8221; disebutkan agar tidak terjadi salah sangka, bahwa pahala yang diterima penyeru / orang yang mengajak kepada kebaikan diambilkan dari pahala orang yang mengerjakannya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Dari bab ini, saya mencatat beberapa hal yang sungguh menakjubkan.</p>
<p><em>Pertama</em>, jangan pernah meremehkan kebaikan meskipun itu kecil seperti tidak ada harganya sekalipun. Dalam konteks hadits di atas, tidak ada kebaikan yang kecil jika ia dilipatgandakan sedemikian rupa sebab diikuti banyak orang. Dalam sebuah hadits, Rosululloh Saw. menegaskan,</p>
<blockquote><p>&#8220;Jangan kalian meremehkan sedikitpun tentang kebaikan, meskipun hanya dengan memperlihatkan wajah yang manis saat bertemu dengan saudaramu.&#8221; (HR. Bukhori).</p></blockquote>
<p>Dan bukankah kelak <a title="kelak segalanya menjadi penting" href="http://bahtiarhs.net/2010/09/sebab-kelak-segalanya-menjadi-penting/">tidak ada yang tidak penting</a> pada hari di mana segala sesuatu, meski sekecil apapun, menjadi mahapenting?</p>
<p><em>Kedua</em>, jangan lupa, pelipatgandaan itu terjadi juga jika yang kita sebarkan adalah <em>kesesatan</em>. Jika ia ditiru dan diikuti banyak orang, maka dedengkot penyerunya pun akan mendapatkan dosa sepadan dengan semua orang yang mengerjakannya. <em>Na&#8217;udzu billah!</em> Ini namanya MLM kejahatan. Bonusnya setumpuk dosa gabungan orang-orang yang mengerjakan kesesatannya.</p>
<p><em>Ketiga</em>, di sinilah terlihat keutamaan kebaikan itu jika bisa menyentuh atau dilakukan oleh<em> banyak orang</em>, apalagi dalam rentang masa yang panjang. Estafet kebaikan yang melibatkan banyak orang ini manfaat terbesarnya tentu kembali juga kepada penyerunya. Ia akan mendapatkan limpahan berlipat pahala. Karena itu, sebagaimana catatan Abuya, seorang ahli ilmu yang berdakwah mengajak banyak orang kepada kebenaran dan kebaikan menjadi lebih mulia ketimbang seribu ahli ibadah. Sebab manfaatnya merata pada banyak orang dalam masa yang panjang, mungkin sampai Kiamat. Sementara para ahli ibadah manfaatnya mungkin hanya untuk dirinya sendiri. Bagaimanapun, Rosululloh Saw. pernah bersabda dalam sebuah hadits yang singkat tapi padat makna; yang kita hapal semua sejak kecil,</p>
<blockquote><p>Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (HR. Ahmad, Thobarony, Daruqutny)</p></blockquote>
<p><em>Wallohu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>[]</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahtiarhs.net/2012/07/mlm-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SELUTUT: Tiga Rahasia Kebaikan</title>
		<link>http://bahtiarhs.net/2012/07/selutut-tiga-rahasia-kebaikan/</link>
		<comments>http://bahtiarhs.net/2012/07/selutut-tiga-rahasia-kebaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2012 03:15:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahtiarhs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Suri-Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Kasyful Ghummah]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[SELUTUT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtiarhs.net/?p=1705</guid>
		<description><![CDATA[<img class="alignleft" style="margin: 0 10px 5px 0;" src="http://osolihin.net/wp-content/uploads/2012/07/fas.jpg" alt="" width="300" height="282" />Ini bab yang singkat tapi sangat padat. Setidaknya padat makna. Setelah menyampaikan <a title="Rahasia Pertama Kebaikan" href="http://bahtiarhs.net/2012/07/rahasia-pertama-kebaikan/">rahasia terbukanya pintu kebaikan</a> serta macam-macam kebaikan, Abuya  dalam bab ini menyinggung tentang syarat-syarat sempurnanya kebaikan.

Syarat-syarat ini penting, karena jika tidak terpenuhi, maka sebuah kebaikan akan cacat. Ia, kebaikan itu, akan kehilangan kesempurnaannya. Bayangan saya seperti telur mata sapi pecah matanya. Ia tetap telur mata sapi, tetapi telur mata sapi yang tak lagi sempurna.

Syarat sempurnanya kebaikan itu terangkum dalam kata-kata Abbas r.a.
<blockquote>"Kebaikan tidak sempurna kecuali dengan tiga hal: <em>menyegerakan, menganggapnya kecil, dan menutupinya</em>."</blockquote>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kasyful Ghummah</em> Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (3)</p>
<p>Ujian CIFP hari pertama kelar kemarin siang. Langsung ambruk di tempat tidur, karena sejak kemarinnya saya hanya sempat tidur sejam menjelang sahur. Apalagi kalau bukan mengulang-ulang kebiasaan buruk tak patut dicontoh seluruh anak negeri. SKS. Sistem Kebut Semalam. Tapi, <em>Alhamdulillah</em>. Tinggal satu Mata Kuliah lagi. Hari Kamis besok. Semoga ada doa-doa yang dikirim padaku tanpa diminta, kiranya Alloh memberikan kelancaran dan kemudahan serta terbantu setidaknya tetap terjaga menyelesaikan jawaban atas 8 short essays (1 page per question) dan 3 long essays (3 pages per question). In three hours. In English. In a sleepy condition (mudah-mudahan nggak).</p>
<p><em>Amin</em>.</p>
<p>Sekarang balik ke <em>Kasyful Ghummah</em>. Bab 2.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><img class="alignleft" style="margin: 0 10px 5px 0;" src="http://osolihin.net/wp-content/uploads/2012/07/fas.jpg" alt="" width="300" height="282" />Ini bab yang singkat tapi sangat padat. Setidaknya padat makna. Setelah menyampaikan <a title="Rahasia Pertama Kebaikan" href="http://bahtiarhs.net/2012/07/rahasia-pertama-kebaikan/">rahasia terbukanya pintu kebaikan</a> serta macam-macam kebaikan, Abuya  dalam bab ini menyinggung tentang syarat-syarat sempurnanya kebaikan.</p>
<p>Syarat-syarat ini penting, karena jika tidak terpenuhi, maka sebuah kebaikan akan cacat. Ia, kebaikan itu, akan kehilangan kesempurnaannya. Bayangan saya seperti telur mata sapi pecah matanya. Ia tetap telur mata sapi, tetapi telur mata sapi yang tak lagi sempurna.</p>
<p>Syarat sempurnanya kebaikan itu terangkum dalam kata-kata Abbas r.a.</p>
<blockquote><p>&#8220;Kebaikan tidak sempurna kecuali dengan tiga hal: <em>menyegerakan, menganggapnya kecil, dan menutupinya</em>.&#8221;</p></blockquote>
<p><span id="more-1705"></span>Tiga syarat yang tidak gampang, bukan? Syarat yang pertama itu sangat sering kita lakukan&#8230; sebaliknya. Ya, tidak? <em>Saking</em> pentingnya &#8220;bersegera&#8221; ketika hendak berbuat kebaikan, Alloh Swt. memakai redaksional &#8220;fastabiqul khoirot&#8221;; <em>berlomba-lombalah</em> dalam melakukan kebaikan (QS. Al-Baqoroh: 148). Ya apa ada perlombaan yang tidak adu cepat? Karena itu, <em>kebaikan tak layak untuk ditunda</em>. Seperti kata <em>salafush-shalih</em>:</p>
<p>ما أحببت أن يكون معك فى الأخرة إفعله اليوم<br />
وما كرهت أن يكون معك فى الأخرة أترك اليوم</p>
<blockquote><p>Apa yang <em>engkau suka</em> untuk dibawa bersamamu ke akhirat, <em>kerjakan sekarang juga</em>. Dan apa yang <em>engkau tidak suka</em> dibawa bersamamu ke akhirat, tinggalkan sekarang juga.</p></blockquote>
<p>Bagaimana jika niat berbuat baik tak segera direalisasikan? Yang pasti, setan akan secepat nyala api masuk mempengaruhi hati kita. Mereka punya sejuta cara membatalkan niat baik itu, setidaknya mengurangi kadar kebaikannya ketika nanti terealisasi. Contoh paling gampang, niat sedekah. Mula pertama, sepulang dari kantor pada hari gajian (kita yang karyawan), sudah berniat sedekah separuh dari gaji itu. Mencontoh Umar r.a. (tidak usah Abu Bakar r.a. yang rela menyerahkan seluruh hartanya). Kita sudah punya nomor rekening sebuah panti anak yatim ke mana sedekah itu hendak kita transfer. Di tengah perjalanan, ATM sedang ramai, hujan turun, kendaraan kita mogok, istri menelepon ada tamu di rumah, atau kita mendapat pemberitahuan kalau orang tua kita sakit. Rencana mampir ATM pun kita tunda.</p>
<p>Ketika sampai di rumah, setelah masalah-masalah terselesaikan, kita teringat lagi dengan niat baik itu. Di rumah kita buka <em>internet banking</em> untuk segera mentransfer sedekah itu. Biar tidak keburu lupa. Ketika login, kita teringat ada sebagian hutang jatuh tempo yang harus dibayar. Cicilan rumah dan kartu kredit. Dihitung-hitung, kalau disedekahkan separuh mungkin gaji kita tak cukup bulan ini. Ah, transfernya tidak 50% <em>deh</em>. Ikut Saad bin Abi Waqqosh r.a. saja. Sepertiga. 33,3%. Sudah lebih dari cukup, kan? Mantap sudah. Maka, kita segera menuju menu transfer di <em>internet banking</em> dan memasukkan nomor rekening panti anak yatim itu. Ketika giliran memasukkan jumlah nominal yang akan ditransfer, istri mendekat, cerita kalau anak kita minta dibelikan <em>tablet</em> seperti teman-temannya. Kasihan kalau harus pinjam, kan? Kasihan juga kalau hanya menonton temannya main <em>gadget</em> itu. Dan, nominal sedekah itu pun kini berkurang jadi 20%. Jumlah minimal seperti kata Ippho Santoso, si pakar Otak Kanan itu. Dihitung-hitung masih cukup besar juga kok. Mantap deh. Hati kita juga <em>lebih ikhlas</em> dari sebelumnya. Benar, tidak? Nah, giliran hendak menekan tombol <em>Submit</em>, listrik tiba-tiba padam. Pemadaman rutin sehabis hujan. Kebetulan laptop juga <em>lowbat</em>. Maka gagallah transfer itu dan kita berjanji pada diri sendiri untuk melakukannya esok hari.</p>
<p>Ketika esok hendak mengulangi transfer yang gagal semalam, ceritanya pun akan lain. Nominalnya berkurang dan berkurang karena terlalu banyak pertimbangan yang dibisikkan setan. Mungkin terakhir tinggal 2,5% saja. Tapi toh kan masih sesuai dengan <em>kewajiban</em> zakat?</p>
<p>Begitulah. Kita cukup puas dengan gugur kewajiban saja, sementara setan menari kegirangan di atas kepuasan kita. Itu semua karena satu hal: <em>tidak menyegerakan kebaikan</em>. Saya ingat pernah menulis <a title="Sebab Kebaikan Tak Layak Ditunda" href="http://bahtiarhs.net/2010/02/sebab-kebaikan-tak-layak-ditunda/">tentang hal ini</a> beberapa waktu yang lalu.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Rahasia sempurnanya kebaikan yang kedua ini juga tidak kalah penting: <em>menganggap kecil</em> kebaikan yang telah kita lakukan. Menganggap kecil ketika kita melihatnya besar. Menganggap sedikit meski menurut kita banyak.</p>
<p>Buat saya, ada 2 hikmah setidaknya di sini. <em>Pertama</em>, sebagaimana kata Abuya, agar kita tidak meremehkan orang lain. Karena menganggap kebaikan kita besar luar biasa, kita jadi menganggap kecil dan remeh orang lain yang tak melakukan kebaikan &#8216;sebesar&#8217; kita. Apalagi orang yang kita bantu sebab kebaikan kita. Ujung-ujungnya, perasaan menganggap remeh orang lain ini bisa menjerumuskan kita pada sikap sombong alias besar kepala. Jika demikian, kebaikan kita akan kehilangan kesempurnaannya.</p>
<p><em>Kedua</em>, agar kita selalu &#8216;merasa kurang&#8217; dalam melakukan kebaikan. Seribu kebaikan terasa sedikit, satu kejahatan atau dosa terlampau banyak. Sikap demikian sangat perlu kita latih. Bagaimanapun, andai surga itu barang dagangan dan amal kebaikan itu sebagai uang, maka <a title="Sebab Barang Dagangan-Nya Mahal" href="http://bahtiarhs.net/2009/09/sebab-barang-dagangan-nya-memang-mahal/">harga surga yang sangat mahal</a> itu mungkin tak terkejar dengan kebaikan yang kita lakukan berapapun banyaknya. Dengan menganggapnya sedikit, maka kita akan terus terpacu memperbanyak kebaikan kita. Kita seperti <em>kehausan</em> akan kebaikan. <em>Aaddicted</em> kebaikan, barangkali begitu istilah yang lebih tepat. Kita ketagihan berbuat kebaikan, paduan antara bersegera melakukan kebaikan dan menganggapnya kecil.</p>
<p>Bahkan dalam bahasa <em>Ibnu &#8216;Athoillah</em> sebagaimana dikatakan dalam kitab <em>al-Hikam-</em>nya, lebih dalam lagi. Beliau berkata,</p>
<blockquote><p>Tiada suatu amal kebaikan yang dapat diharapkan diterima oleh Alloh Swt. melebihi dari amal yang terlupa olehmu akan adanya dan remeh/kecil dalam pandanganmu akan kejadiannya.</p></blockquote>
<p>Tidak hanya menganggap kebaikan yang dilakukannya remeh, tetapi bahkan <em>dilupakan pernah dilakukan</em>! Barulah kebaikan itu sempurna.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kalau dua syarat sebelumnya berdimensi internal pada diri kita, maka syarat ketiga akan sempurnanya kebaikan yang kita lakukan ini sifatnya eksternal, dalam arti bisa dilihat oleh orang lain. Karena itu, kita hendaknya <em>menutupi kebaikan</em> itu.</p>
<p>Kita perlu menutupi kebaikan dan tidak menyebarluaskannya. Sebab, kata Abuya, watak nafsu adalah <em>menampakkan sesuatu yang samar dan memperlihatkan sesuatu yang tersimpan</em>. Kebaikan yang kita omong-omongkan pada orang lain, yang kita besar-besarkan lewat pemberitaan, semata keluar dari nafsu kita untuk mendapatkan pujian dari orang lain. <em>Riya&#8217;</em>. Dan jika kebaikan sudah jatuh kepada <em>riya&#8217;</em>, maka hilanglah keikhlasan. Padahal, sebagaimana juga dikatakan Ibnu &#8216;Athoillah dalam al-Hikam,</p>
<blockquote><p>Jika amal perbuatan adalah kerangka yang tegak, maka ruhnya adalah <em>terdapatnya rahasia ikhlas</em> dalam perbuatan itu.</p></blockquote>
<p>Kebaikan tanpa keikhlasan laksana kerangka tanpa tulang penegak di dalamnya. <em>Nglimprek</em>, kata orang Jawa. Bahkan ambruk. Dalam hal ini, tidak saja tidak sempurna kebaikan itu, bahkan tak ada artinya di hadapan Alloh Swt. Keikhlasan itu jauh dari pemberitaan. Jauh dari keterkenalan. Padahal, bukankah mereka yang tidak terkenal, yang tersembunyi, justru menjadi salah seorang yang disayangi Alloh?</p>
<p>Mu&#8217;ad bin Jabal r.a. berkata bahwa Rosululloh Saw. pernah bersabda:</p>
<blockquote><p>Sesungguhnya sedikitnya <em>riya&#8217;</em> itu sudah termasuk syirik. &#8230; Dan Alloh mencintai hamba yang bertaqwa, yang tersembunyi (tidak terkenal), yang apabila tidak ada tidak dicari, dan bila pun hadir tidak dipanggil dan tidak dikenal. Hati mereka seperti pelita hidayah, mereka terhindar dari kegelapan kesukaran.</p></blockquote>
<p>Inilah tiga rahasia sempurnanya kebaikan itu. Saya singkat: <strong>SELUTUT</strong>. <em>Segerakan. Lupakan. Tutupi. </em>Semoga bisa kita amalkan, terutama ini nasihat untuk diri yang menulis posting ini.</p>
<p><em>Wallohu a&#8217;lam.</em></p>
<p>[]</p>
<p>Sumber gambar: http://osolihin.net/wp-content/uploads/2012/07/fas.jpg</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahtiarhs.net/2012/07/selutut-tiga-rahasia-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gadis Berharga Diri Tinggi</title>
		<link>http://bahtiarhs.net/2012/07/gadis-berharga-diri-tinggi/</link>
		<comments>http://bahtiarhs.net/2012/07/gadis-berharga-diri-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2012 10:31:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahtiarhs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Suri-Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Harga diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtiarhs.net/?p=1699</guid>
		<description><![CDATA[Perempatan lampu lalu lintas Galaxy merah menyala. Aku mengantri di belakang dua mobil. Panas menjerit. Jendela mobil kubuka lebar. Angin panas bertiup. Lumayan, daripada panas tanpa hembusan angin.

Setelah pengamen laki-laki muda sehat walafiat bertangan gitar dan bersuara seadanya berlalu dari jendelaku, kini datang seorang gadis kecil berkuncir biru di bawah topi coklat kusamnya. Mungkin seumur dengan Ais, anak pertamaku yang tengah duduk di bangku SD kelas VI. Wajahnya tanpa make up, basah bersimbah peluh. Di kedua tangannya tergenggam air minum kemasan botol ukuran tanggung.

Aku teringat masih ada lima ribuan di saku.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perempatan lampu lalu lintas Galaxy merah menyala. Aku mengantri di belakang dua mobil. Panas menjerit. Jendela mobil kubuka lebar. Angin panas bertiup. Lumayan, daripada panas tanpa hembusan angin.</p>
<p>Setelah pengamen laki-laki muda sehat walafiat bertangan gitar dan bersuara seadanya berlalu dari jendelaku, kini datang seorang gadis kecil berkuncir biru di bawah topi coklat kusamnya. Mungkin seumur dengan Ais, anak pertamaku yang tengah duduk di bangku SD kelas VI. Wajahnya tanpa <em>make up</em>, basah bersimbah peluh. Di kedua tangannya tergenggam air minum kemasan botol ukuran tanggung.</p>
<p>Aku teringat masih ada lima ribuan di saku.</p>
<p><span id="more-1699"></span>&#8220;Beli minum, Om,&#8221; katanya sembari menyodorkan botol air kemasan di tangannya.</p>
<p>&#8220;Berapa?&#8221; tanyaku sambil merogoh saku.</p>
<p>&#8220;Dua setengah, Om,&#8221; katanya sambil menyerahkan botol di tangan kanannya ke <em>dashboard</em>-ku.</p>
<p>Aku lalu mengangsurkan lembar lima ribuan itu padanya.</p>
<p>Dia tampak hendak bertanya. Aku tahu maksudnya. Biasa. Anak-anak seperti ini &#8211;yang sering aku temui&#8211; akan bilang bahwa kembaliannya tidak ada dengan maksud untuk diikhlaskan saja buat mereka. Dan memang sudah niatku untuk tidak meminta kembalian itu.</p>
<p>&#8220;Dah, kembaliannya buat kamu,&#8221; kataku padanya.</p>
<p>Gadis kecil itu masih terpaku di tempatnya. Tapi tak segera kudengar ucapan terima kasih atau lainnya.</p>
<p>&#8220;Om, beli dua saja, ya?&#8221; katanya padaku.</p>
<p>Aku kaget. Anak ini suruh ambil kembaliannya kok tidak mau.</p>
<p>&#8220;Udah, gak papa. Saya satu botol saja cukup,&#8221; kataku lagi. &#8220;Ambil aja kembaliannya.&#8221;</p>
<p>Sekali lagi anak itu menggeleng. &#8220;Nggak, Om. Om beli dua saja airnya. Ya, Om?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dah, ambil saja, Dik. Om gak papa. Cukup satu saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak, Om. Om beli dua saja airnya. Ya, Om?&#8221;</p>
<p>Akhirnya saya mengalah. &#8221;OK!&#8221; kataku. &#8220;Boleh minta yang masih di pohon itu?&#8221; pintaku sambil menunjuk botol air mineral yang ditata rapi di lingkar pohon pinggir jalan perempatan ini.</p>
<p>Gadis kecil berkuncir biru itu lalu mengambil satu botol air kemasan di pohon dan menyerahkannya padaku. &#8220;Terima kasih, ya, Om?&#8221; katanya sungguh.</p>
<p>&#8220;Sama-sama,&#8221; aku tersenyum.</p>
<p>Ia lalu bergeser ke mobil belakangku. Aku sendiri yang kini terpaku di tempat.</p>
<p>Hmmm. Gadis kecil. Berjualan air minum kemasan di perempatan yang panas begini. Kulihat sepeda mini bututnya di parkir di bawah pohon. Satu dos air kemasan teronggok di dekat roda sepedanya. Sekitar belasan botol ia pajang melingkar di pohon dengan bantuan tali rafia.</p>
<p>Tentu dia bukan gadis dari keluarga berkecukupan, yang susah-payah belajar berjualan di perempatan ini. Pasti gadis kecil itu bagian dari paksaan keadaan ekonomi keluarganya. Tetapi hari ini sungguh <em>surprised</em>. Sementara di tempat lain, anak-anak semacam ini banyak yang dengan sengaja berbohong tak ada kembalian untuk mendapatkan uang tambahan, sebagiannya bahkan berlalu tanpa terima kasih terucapkan, gadis kecil perempatan Galaxy ini sungguh berbeda. Ia tak serta merta menerima uluran tangan. Ia tak ingin  belas kasihan. Sementara pemuda sehat walafiat di sekitarnya menenteng gitar atau kecrek tutup botol dan menyanyi seadanya, lalu menyodorkan tangan, ia, gadis kecil itu, membawa barang dagangan untuk dijual. Ia bahkan tak mau menerima kembalian gratis.</p>
<p><em>Subhanalloh</em>. Pelajaran hari ini sungguh berharga. Dari seorang gadis kecil berkuncir biru di perempatan Galaxy Surabaya. Siapa pula orang tuamu, gadis cilik? Sungguh tak gampang melahirkan pribadi yang mampu menjaga harga diri sepertimu.</p>
<p>Lampu hijau kini menyala. Aku kembali berpaling ke bawah pohon itu. Ke arah gadis kecil yang kini tengah menata botol air minumnya. Siapa tahu tak kan kujumpai lagi esok hari. Kemudian aku menginjak gas, berlalu, berbelok kanan ke arah MERR-II. Pulang ke rumah. Tiba-tiba kutertunduk malu.</p>
<p>[]</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahtiarhs.net/2012/07/gadis-berharga-diri-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Pertama Kebaikan</title>
		<link>http://bahtiarhs.net/2012/07/rahasia-pertama-kebaikan/</link>
		<comments>http://bahtiarhs.net/2012/07/rahasia-pertama-kebaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2012 03:53:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahtiarhs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Suri-Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Kasyful Ghummah]]></category>
		<category><![CDATA[pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtiarhs.net/?p=1692</guid>
		<description><![CDATA[<em>Kasyful Ghummah</em> Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (2)

Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki membuka bab pertama dalam kitab <em>Kasyful Ghummah</em> ini dengan sebuah kalimat hikmah:
<blockquote>مَنْ قَلَّ حَبَاؤُهُ قَلَّ أَحِبَّـاؤُهُ
<em>Barang siapa kurang bergaul, maka kurang pula orang-orang yang menyukainya</em>.</blockquote>
Saya merenungi agak lama bab ini. Mengapa pergaulan yang dibahas lebih dahulu? Apa hubungannya dengan kebaikan kepada orang lain?
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kasyful Ghummah</em> Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (2)</p>
<p><img class="alignleft" style="margin-right: 10px; margin-left: 0px; border: 1px solid black;" src="http://2.bp.blogspot.com/_7TgHQsLUcQ8/SOUGOMjK_0I/AAAAAAAAACM/YuMAnWTSPkI/s400/silaturahmi1.gif" alt="" width="245" height="280" />Abuya As-Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki membuka bab pertama dalam kitab <em>Kasyful Ghummah</em> ini dengan sebuah kalimat hikmah:<br />
مَنْ قَلَّ حَبَاؤُهُ قَلَّ أَحِبَّـاؤُهُ</p>
<blockquote><p><em>Barang siapa kurang bergaul, maka kurang pula orang-orang yang menyukainya</em>.</p></blockquote>
<p>Saya merenungi agak lama bab ini. Mengapa pergaulan yang dibahas lebih dahulu? Apa hubungannya dengan kebaikan kepada orang lain?</p>
<p><span id="more-1692"></span>Kalau ditilik dari redaksional kalimat hikmah itu, kiranya ada hukum aksi-reaksi di dalamnya. Jika kita kurang bergaul, maka kurang pula orang akan menyukai kita. <em>Gimana</em> mau senang dengan kita, kenal saja tidak? Sebaliknya, jika kita suka bergaul, maka tentu banyak yang suka juga kepada kita; setidaknya kenal dengan kita. Seperti pepatah itu: tak kenal, maka tak sayang.</p>
<p>Kalimat hikmah ini juga bermuatan ajakan untuk <em>aktif</em>. Jika kita tidak aktif, tidak beraksi, maka juga tak kan ada reaksi. Mungkin tidak ada sambutan. Karena itu, kalimat hikmah ini mengajak untuk aktif bergaul <em>dimulai dari diri kita sendiri</em>. Jangan menunggu orang lain agar bergaul dengan kita, baru kita mau bergaul dengan mereka. Tidak. Kita yang harus ambil inisiatif, memulai bergaul dengan siapa saja.</p>
<p>Berkaitan dengan hal ini, saya jadi teringat pada 2 orang. <em>Pertama</em>, Uncle M. Manshor H. Sukaemi (<em>semoga Allah memberikan karunia kebahagiaan di alam sana kepadamu, Uncle!</em>). Ketika saya di dekatnya dan berjalan bersamanya, beliau akan selalu menyapa orang yang baru ditemuinya, kenal ataupun tidak. Beliau akan mendahului berucap salam kepadanya. Tidak pria, juga wanita. Tidak orang dewasa saja, juga anak-anak. Tidak saat berhenti saja, tapi juga saat berpapasan di jalan. <em>Assalaamu&#8217;alakum!</em> Begitu sapanya, sambil melambaikan tangan. Bukankah salam adalah pembuka pintu pergaulan? Dari salam menjadi kenal. Dari kenal menjadi suka. Menjadi cinta. Coba simak hadits Rosululloh Saw. yang menjadi kata pengantar kitab ini pada <a title="Kasyful Ghummah 1" href="http://bahtiarhs.net/2012/07/1685/">tulisan saya sebelumnya</a>. Tepat sekali, bukan?</p>
<p>Ketika kemudian sempat berbincang, yang sering dilakukan Uncle M adalah saling berbagi ilmu. Setelah menyampaikan sesuatu, biasanya tentang pendidikan anak, beliau lalu bilang, &#8220;Sekarang, tolong sampaikan kepada saya sesuatu yang mungkin belum saya ketahui. Apa saja. Tidak usah malu.&#8221; Dan dia akan menyimak &#8220;ilmu&#8221; dari sahabat barunya, hingga khusyu&#8217; seolah-olah mendengarnya untuk pertama kali.</p>
<p>Dengan cara demikian, setiap orang terkesan dengan Uncle M. Hampir di sepanjang jalan orang menyapa: Uncle M! Uncle M! Justru melebihi saya yang sehari-hari menjadi tetangga mereka.</p>
<p>Orang yang kedua adalah marketing. Sales. Dia juga akan menyapa siapa saja, tetapi sering menjelaskan sesuatu yang kita sendiri tidak memintanya. Cuma kalau sales niatnya bukan pergaulan yang luas, tetapi agar barangnya laku. Kecuali sales yang tak punya target penjualan atau sedang latihan. Tapi apa ya ada?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Benar juga. Pergaulan, atau bisa kita istilahkan dengan menyambung <em>silaturahmi</em>, adalah kunci untuk membuka kesempatan melakukan kebaikan pada orang lain. Dalam bahasa modern: membangun <em>networking</em>. Tapi ini konotasinya berkaitan dengan bisnis.</p>
<p>Dengan bergaul, kita mengenalnya lebih dekat. Dengan mengenalnya, orang lebih enak dan terbuka dengan kita; daripada pada orang tak dikenalnya. Dengan tahu lebih banyak tentangnya, kita jadi tahu kesulitannya, kebutuhannya, dan juga dia sendiri &#8211;jika memang mendesak&#8211; akan dengan lebih &#8216;enak&#8217; berbicara pada kita untuk minta sesuatu bantuan apa saja bentuknya. Dari sinilah, pintu untuk berbuat baik pada orang lain terbuka di hadapan kita.</p>
<p>Jadi, sangat relevan jika bab pertama ini dibuka dengan hikmah besar untuk meningkatkan pergaulan kita.</p>
<p>Abuya menyatakan dalam bab ini bahwa kebaikan (<em>al-ma&#8217;ruf</em>) itu ada 2 (dua) macam, yakni berupa perkataan dan perbuatan. Bagi saya, ini menafikan pendapat orang bahwa berbuat baik itu harus dengan harta benda. Kalau perbuatan baik itu berupa kata-kata atau ucapan yang baik, ramah, penuh kedamaian, bukankah hal itu modalnya cuma dua bibir saja, tanpa uang? Mendamaikan dua orang saudara yang sedang bertengkar, dengan menasihati mereka, mengajak mereka berbicara dari hati ke hati, bukankah itu dengan modal perkataan saja? Dan bukankah mendamaikan orang adalah kebaikan yang tiada tara timbangan pahalanya? Dalam sebuah hadits, Anas bin Malik r.a. meriwayatkan bahwa Rosululloh Saw. bersabda,</p>
<blockquote><p>&#8220;Barang siapa mendamaikan dua orang yang berselisih, niscaya Alloh akan membalasnya dengan setiap kalimat yang disamakan dengan membebaskan seorang budak.&#8221;</p></blockquote>
<p>Setiap kalimat dibalas dengan pembebasan seorang budak. Itu kebaikan luar biasa berbentuk ucapan kata-kata. Jadi, meski tak berharta, jangan lantas tak punya jalan untuk berbuat kebaikan.</p>
<p>Motivasi berbuat kebaikan itu, kata Abuya, tak lain adalah <em>rasa suka bila orang lain mendapat kebaikan</em>, serta <em>mendahulukan kebaikan untuk mereka</em>. Ini tentu hal yang tak gampang dilakukan, senyampang kecenderungan orang itu senang mendapati orang lain susah, dan susah mendapati orang lain senang. Apalagi Abuya mengatakan berbuat baik semacam itu tidak ada batasnya. Tidak ada istilah <em>berlebihan</em> berbuat kebaikan. Seribu kebaikan terasa sedikit, satu kejelekan terasa banyak. Mengapa? Sebab, meski banyak sekali berbuat kebaikan, namun pada hakikatnya memberi dua manfaat: kepada orang yang melakukan berupa pahala dan sebutan baik, dan juga manfaat bagi orang yang ditolong berupa keringanan dan bantuan atas kesulitannya.</p>
<p>Jadi, kebaikan itu bisa dari perkataan ataupun perbuatan, tidak ada istilah berlebihan, dan motivasinya adalah rasa suka orang lain mendapatkan kebaikan, di samping mendahulukan kebaikan untuk mereka. Dan rahasia pertama untuk bisa melakukan itu semua, mulailah dari mau memperluas <em>pergaulan dengan orang lain</em>.</p>
<blockquote><p><em>Barang siapa kurang bergaul, maka kurang pula orang-orang yang menyukainya</em>.</p></blockquote>
<p><em>Wallohu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bahtiarhs.net/2012/07/rahasia-pertama-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
