<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dunia Baiquni</title>
	<atom:link href="https://baiquni.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://baiquni.net/</link>
	<description>Bertutur apa adanya</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Jul 2020 14:30:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.5</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/baiquni.net/wp-content/uploads/2014/12/cropped-kucing-rindu.jpg?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Dunia Baiquni</title>
	<link>https://baiquni.net/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1281464</site>	<item>
		<title>Air Mata (Lagi)</title>
		<link>https://baiquni.net/air-mata-lagi.html</link>
					<comments>https://baiquni.net/air-mata-lagi.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2020 19:30:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Diari]]></category>
		<category><![CDATA[air mata]]></category>
		<category><![CDATA[airmata]]></category>
		<category><![CDATA[pilu]]></category>
		<category><![CDATA[tangis]]></category>
		<category><![CDATA[unek-unek]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://baiquni.net/?p=3889</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku mengerti perasaan itu. Tentang hati yang susah membeku, diwakili oleh bulir-bulir air yang jatuh dari dua bola mata indahmu. Kau mungkin bertanya, mengapa aku tahu padahal aku tidak mengalami? Maka aku menjawab, karena hati kita saling terhubung. Apa yang kau alami, aku pun merasa juga. Maka, tidaklah elok kau menyimpannya sendiri. Aku tahu hati [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/air-mata-lagi.html">Air Mata (Lagi)</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Aku mengerti perasaan itu. Tentang hati yang susah membeku, diwakili oleh bulir-bulir air yang jatuh dari dua bola mata indahmu.</p>
<p>Kau mungkin bertanya, mengapa aku tahu padahal aku tidak mengalami? Maka aku menjawab, karena hati kita saling terhubung. Apa yang kau alami, aku pun merasa juga.</p>
<p>Maka, tidaklah elok kau menyimpannya sendiri. Aku tahu hati manusia terkadang seluas samudera, tetapi palung terdalam di dalamnya pun memiliki batas.</p>
<p>Marilah kita duduk satu meja. Mari saling menyeruput kopi pahit ini bersama. Tak perlu memasukkan gula, apalagi garam yang akan mengganggu rasa. Biar kita saling menatap serta membuka hati. Dan dari bibir-bibir mungil itu seluruh cerita dimulai.</p>
<p>Babak manakah yang tak kau rasa pantas? Lantas mencoba mencari seluruh hikmah yang mungkin terlewat namun tetap alpa, hingga kau pun mengutuk-ngutuk Tuhan yang ada di atas langit sana.</p>
<p>Ceritalah. Jangan ragu, ceritalah.</p>
<p><span id="more-3889"></span></p>
<p>Air mata itu dicipta memang untuk tumpah. Tak perlu dibendung, tak perlu dikekang. Karena hati yang teruji, dibasuh oleh air mata yang tak berjumlah.</p>
<p>Jangan kau malu. Persetan dengan dogma bahwa lelaki tak pantas menangis. Terkutuk seluruh pengucapan itu, terkutuk!</p>
<p>Kita adalah manusia, yang dicipta dari tulang dan daging. Dan di tempat paling aman, Tuhan menitipkan hati. Lebih dalam lagi, Tuhan menitipkan tak terjumlah air mata yang siap untuk tumpah oleh beribu kisah.</p>
<p>Aku masih menunggumu keluar dari bungkam itu. Menunggumu bercerita beribu kisah yang pantas. Yang kemudian daripadanya, seluruh air mata yang kau persaksikan itu hadir. Aku terus menunggu.</p>
<p>Sepetak meja yang di atasnya terdapat dua cangkir kopi menjadi saksi bahwa bungkam itu belum juga buyar. Dan aku cuma melihat mata sembab seorang lelaki di hadapanku.</p>
<p>Sampai seruput kopi terakhir, aku cuma melihat matamu kosong dengan pikiran mengawang. Masih saja kau menyimpannya sendiri.</p>
<p>Air mata itu mulai mengering. Air mata yang membuatku mengundang tanya, seberapa berat kisahmu itu? Apakah masih belum menyentuh palung terdalam hatimu, hingga yang muncul cuma air mata dan bukan sepatah cerita.</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/air-mata-lagi.html">Air Mata (Lagi)</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://baiquni.net/air-mata-lagi.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3889</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Otomatisasi Server Linux: Mematikan Server ketika Mati Lampu</title>
		<link>https://baiquni.net/otomatisasi-server-linux-mematikan-server-ketika-mati-lampu.html</link>
					<comments>https://baiquni.net/otomatisasi-server-linux-mematikan-server-ketika-mati-lampu.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Jan 2019 13:02:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemrograman]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[linux server]]></category>
		<category><![CDATA[otomatisasi]]></category>
		<category><![CDATA[server]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://baiquni.net/?p=3855</guid>

					<description><![CDATA[<p>Server temanku sering mati dan membuat server jadi error. Cara ini adalah bagaimana melakukan shutdown otomatis ketika server mendeteksi pada environtment sekitarnya padam.</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/otomatisasi-server-linux-mematikan-server-ketika-mati-lampu.html">Otomatisasi Server Linux: Mematikan Server ketika Mati Lampu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Server temanku si Faza kembali berulah lagi. Apa pasal? Ternyata karena servernya tidak dipasangi UPS untuk menjaga server tetap hidup selama pemadaman listrik. Alasannya, UPS cuma bertahan sampai 30 menit sedangkan pemadaman listrik berlangsung hingga lebih dari 3 (tiga) jam.</p>
<figure id="attachment_3878" aria-describedby="caption-attachment-3878" style="width: 648px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" src="https://i0.wp.com/baiquni.net/wp-content/uploads/2019/01/serverwebui.png?resize=648%2C365&#038;ssl=1" alt="Nextcloud" width="648" height="365" class="size-large wp-image-3878" srcset="https://i0.wp.com/baiquni.net/wp-content/uploads/2019/01/serverwebui.png?resize=1024%2C576&amp;ssl=1 1024w, https://i0.wp.com/baiquni.net/wp-content/uploads/2019/01/serverwebui.png?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/baiquni.net/wp-content/uploads/2019/01/serverwebui.png?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/baiquni.net/wp-content/uploads/2019/01/serverwebui.png?w=1600&amp;ssl=1 1600w, https://i0.wp.com/baiquni.net/wp-content/uploads/2019/01/serverwebui.png?w=1296&amp;ssl=1 1296w" sizes="(max-width: 648px) 100vw, 648px" /><figcaption id="caption-attachment-3878" class="wp-caption-text">Nextcloud</figcaption></figure>
<p>Jadi, temanku di kantornya menggunakan sebuah server untuk penyimpan semua pekerjaan arsitek, <em>engineer</em> dan <em>drafter</em> untuk berbagi pakai di internal jaringan mereka. Beberapa waktu yang lalu, aku menginstalasi server tersebut dengan distro <strong>GNU/Linux Ubuntu Server 18.04 LTS</strong>. Di dalam server tersebut aku tanamkan aplikasi <strong><a href="https://nextcloud.com/" rel="noopener" target="_blank">Nextcloud</a></strong> agar server tersebut bisa berfungsi selayaknya <strong>Dropbox</strong> atau <strong>Google Drive</strong>, namun hanya di dalam jaringan intranet.</p>
<p><span id="more-3855"></span></p>
<p>Biasanya, kalau sudah kejadian padam lampu tiba-tiba tersebut, Faza akan mengontakku dan meminta untuk membereskan servernya yang rusak tersebut. Aku akan datang ke sana untuk memperbaikinya dengan melakukan booting dari <strong>Ubuntu Desktop 18.10 Live version</strong> kemudian akan mengetikkan perintah berikut:</p>
<pre lang="bash">
sudo fsck /dev/sda5
</pre>
<p>karena berhubung biasanya drive yang bermasalah ada pada <code><strong>/dev/sda5</strong></code>. Jika Anda memiliki permasalahan yang serupa, silakan cek hardisk Anda dengan perintah <code><strong>fdisk -l</strong></code> dan ganti <code><strong>/dev/sda5</strong></code> dengan model drive Anda.</p>
<p>Perintah yang sangat simple, tetapi karena temanku ini ogah sekali berhubungan dengan sistem operasi <strong>GNU/Linux</strong> dan masih <strong>Windows</strong> <em>mindset</em>, maka pekerjaan ini harus selalu aku yang lakukan. Hahaha&#8230;</p>
<p>Kondisi ini terus berulang karena daerah sini sering terjadi pemadaman listrik dan server tidak menggunakan UPS, akhirnya aku mencoba mencari ide. <strong>Bagaimana caranya agar server akan mati sendiri jika listrik padam walau cuma berbekal UPS yang bertahan selama 30 menit?</strong></p>
<p>Setelah berpikir akhirnya diambil keputusan bahwa server akan melakukan pinging secara terus menerus ke modem Indihome dan jika terdeteksi bahwa hasil ping tidak bernilai 0 (<em>nilai 0 merupakan kode bahwa ping sukses .pen</em>) maka server akan menjalankan perintah <em>halt</em> &#8220;<code><strong>shutdown -h now</strong></code>&#8220;. Masalahnya adalah, terkadang modem Indihome yang digunakan oleh kantor untuk mengakses internet sering di-<em>restart</em> karena suka lelet pada waktu tertentu. Akhirnya diambil kesimpulan bahwa yang akan dijadikan obyek ping adalah sebuah <em>print server</em> yang selalu hidup.</p>
<p>Kode pemrograman yang digunakan untuk melakukan <strong>deteksi <em>ping</em> dan <em>shutdown</em> komputer</strong> menggunakan <strong>script bash</strong>. Diletakkan di <code><strong>/root/scripts/cek_modem.sh</strong></code>.</p>
<pre lang="bash">
baiquni@server:~$ sudo su -
[sudo] password for baiquni: 
root@server:~# 
</pre>
<pre lang="bash">
root@server:~# mkdir -p scripts
root@server:~# touch scripts/cek_modem.sh
root@server:~# chmod +x scripts/cek_modem.sh 
</pre>
<pre lang="bash">
root@server:~# nano scripts/cek_modem.sh
</pre>
<pre lang="bash" line="1" src="https://github.com/muhammadbaiquni/linux-scripts/blob/master/cek_modem.sh">
#!/bin/bash

MODEM=192.168.0.10

sleep 5m

while true;
do
    ping -c1 $MODEM > /dev/null 2>&1
    if [ $? -qe 0 ] ; then
        echo "OK" > /dev/null
    else
        shutdown -h now
    fi
done
</pre>
<p>Langkah selanjutnya adalah membuat script tersebut dijalankan ketika booting. Awalnya coba digunakan perintah <code><strong>@reboot /root/scripts/cek_modem.sh</strong></code> pada <strong>cron root</strong> tetapi entah kenapa perintah tersebut tidak berjalan dengan semestinya ketika dilakukan percobaan. Untuk membuatnya masuk ke dalam <code><strong>systemd</strong></code> juga malas, perintahnya banyak. Jadi, diambil keputusan untuk memanggilnya di <code><strong>/etc/rc.local</strong></code>. Caranya adalah sebagai berikut:</p>
<pre lang="bash">
root@server:~# touch /etc/rc.local
root@server:~# chmod +x /etc/rc.local
</pre>
<pre lang="bash" line="1">
#!/bin/bash

/root/scripts/cek_modem.sh &
exit 0
</pre>
<p>Setelah dilakukan percobaan, cara ini berhasil dengan sukses! Semoga untuk ke depan, servernya kantor temanku tidak rusak lagi ketika terjadi pemadaman listrik. Amin&#8230;</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/otomatisasi-server-linux-mematikan-server-ketika-mati-lampu.html">Otomatisasi Server Linux: Mematikan Server ketika Mati Lampu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://baiquni.net/otomatisasi-server-linux-mematikan-server-ketika-mati-lampu.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3855</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Lagu Tentang Hujan</title>
		<link>https://baiquni.net/lagu-tentang-hujan.html</link>
					<comments>https://baiquni.net/lagu-tentang-hujan.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Nov 2018 07:20:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Hati]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[Lagu]]></category>
		<category><![CDATA[lagu tentang hujan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[syair]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://baiquni.net/?p=3837</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hujan turun. Lantas aku menutup mata. Mendengarkan tiap syair dari air yang terjun ke bumi. Tentang angin yang bertabrakan, antara air dan daun yang saling berpelukan</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/lagu-tentang-hujan.html">Lagu Tentang Hujan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Hujan turun. Lantas aku menutup mata. Mendengarkan tiap syair dari air yang terjun ke bumi. Tentang angin yang bertabrakan, antara air dan daun yang saling berpelukan. Tanah basah. Aku mendengarkan kisah mereka, tentang rindu yang tertahan. Membumbung ke atas lantas terikat. Sampai, mereka melepaskan apa yang telah lama disimpan.</p>
<p>Setiap orang mulai berlari. Meninggalkan basah yang mulai menyapu. Mengangkat tangan menutupi kepala, melangit langkah mencari teduh. Aku mendengarkan kisah mereka, tentang jiwa yang tak ingin terusik. Terganggu roman lain yang mencoba mencari tempat. Satu bait dalam episode hidup. Satu detik dari berjam-jam yang sia.</p>
<p>Guntur pun hadir. Pekik di langit yang telah lama basah. Kilat-kilat yang hadir di awal, laksana ramalan bahwa gelegar gaduh akan tiba. Aku mendengarkan kisah mereka, tentang suara-suara yang lantang, namun senyap dalam kebisuan. Seperti mereka yang tuli, mendengarkan suara tanpa nada, melihat bibir yang bergerak, tetapi yang terdengar cuma diam.</p>
<p><span id="more-3837"></span>Apakah kau juga demikian? Membisu dan terus membisu. Menyembunyikan ragu di dalam tatap yang sendu. Mencoba memalingkan muka, berharap masa lalu terhapus oleh detik yang tidak tersentuh mata.</p>
<p>Atau kau juga demikian? Teriak dan terus berteriak. Melantangkan takut dalam binar mata yang padam. Mencoba memudarkan masa, berharap itu akan terhapus oleh detik yang mencari gaduh.</p>
<p>Akan tiba masa, tanah yang basah akan kembali kering dan tanah yang kerontang akan menjadi liat. Masa ketika satu tubuh diganti oleh tubuh yang lain. Masa ketika zaman diganti oleh zaman yang lain.</p>
<p>Tidakkah kau melihat, mereka yang berjalan kokoh. Bahkan dalam hujan ataupun berteduh terik. Kaki yang melangkah tanpa mengenal surut. Tangan yang bergontai mengepal tanpa mengenal ulur. Tatapan yang menunduk meneropong jalan perjalanan.</p>
<p>Maka lihatlah mata-mata mereka. Mata yang diam tapi memiliki beribu kisah tentang perjalanan. Bahwa manusia bukanlah satu tunggal, namun rangkaian dari setiap episode yang terus berjalan. Masing-masing kita adalah figuran. Masing-masing kita adalah tokoh utama. Masing-masing kita adalah antagonis. Masing-masing kita adalah protagonis.</p>
<p>Hujan masih terus turun. Jalanan kini sepi, terkecuali beberapa mobil yang lalu-lalang. Orang-orang berdiam dalam atap-atap yang rapuh. Terdengar beberapa mereka menggerutu, tentang hujan yang membangun tembok. Beberapa yang lain bergembira, bahwa kering akan segera berganti masa.</p>
<p>Lantas aku bagaimana? Tentang hujan, air, guntur, dan tanah yang basah. Aku bagaimana?</p>
<p>Maka aku hanya terdiam dan memejamkan kata. Cukuplah bagiku, mendengarkan lagu dari tiap tetes air yang memeluk daun dengan segala kerinduannya.</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/lagu-tentang-hujan.html">Lagu Tentang Hujan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://baiquni.net/lagu-tentang-hujan.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3837</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Belajar Investasi Reksadana</title>
		<link>https://baiquni.net/pengalaman-belajar-investasi-reksadana.html</link>
					<comments>https://baiquni.net/pengalaman-belajar-investasi-reksadana.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2018 15:42:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Diari]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[finansialku]]></category>
		<category><![CDATA[fintech]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[pegadaian]]></category>
		<category><![CDATA[reksadana]]></category>
		<category><![CDATA[saham]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://baiquni.net/?p=3827</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Sabtu (3 November 2018) aku mengikuti seminar terbatas tentang Reksadana Untuk Pemula yang diadakan oleh start up fintech baru bernama finansialku.com. Dari sana aku baru mengerti apa itu reksadana, risk dan return, serta mengapa menjadi pilihan investasi untuk masa depan. Sebelumnya, aku pernah mendengar sekilas tentang reksadana karena Ayahku menggunakan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/pengalaman-belajar-investasi-reksadana.html">Pengalaman Belajar Investasi Reksadana</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Sabtu (3 November 2018) aku mengikuti seminar terbatas tentang <span style="color: #ff0000;"><strong>Reksadana Untuk Pemula</strong></span> yang diadakan oleh <em>start up fintech</em> baru bernama <span style="color: #ff0000;"><strong>finansialku.com</strong></span>. Dari sana aku baru mengerti apa itu reksadana, <em>risk</em> dan <em>return</em>, serta mengapa menjadi pilihan investasi untuk masa depan. Sebelumnya, aku pernah mendengar sekilas tentang reksadana karena Ayahku menggunakan salah satu instrumen tersebut untuk berinvestasi, tetapi pengetahuan itu cuma sebatas tahu bahwa reksadana hanyalah semacam kumpulan gorengan saham yang disatukan untuk meminimalisir risiko jika ternyata salah satu saham anjlok.</p>
<p><span id="more-3827"></span>Dari seminar tersebut, ada beberapa hal dasar yang aku catat, yaitu:</p>
<h3>Keuntungan Reksadana</h3>
<ol>
<li>mudah</li>
<li>modal minimum</li>
<li>waktu yang fleksibel</li>
<li>banyak pilihan</li>
<li>pencairan cepat (2 hari)</li>
<li>bukan merupakan obyek pajak</li>
<li>harga yang transparan</li>
<li>hasil investasi cenderung di atas inflasi mata uang</li>
</ol>
<h3>Kerugian</h3>
<ol>
<li>keuntungan tidak dijamin (masih memiliki potensi rugi)</li>
<li>risiko likuiditas</li>
<li>risiko inflasi</li>
<li>risiko efek</li>
<li>risiko ketidakpatuhan</li>
<li>risiko manajer investasi</li>
</ol>
<h3>Jenis-jenis Reksadana</h3>
<ol>
<li>Reksadana Pasar Uang</li>
<li>Reksadana Pendapatan Tetap</li>
<li>Reksadana Campuran</li>
<li>Reksadana Saham</li>
</ol>
<p>Dari seminar juga dijelaskan bagaimana menghitung harga sebuah reksadana (NAV) serta cara memilih reksadana yang tepat. Namun, cara memilih reksadana yang tepat itu aku agak lupa, mungkin nanti jika aku telah menerima <em>slide</em> presentasi akan coba aku bagikan di blogku ini.</p>
<p>Sekarang, aku sedang mencari-cari instrumen terbaik untuk investasi, daripada cuma ditabung namun tergerus risiko inflasi setiap tahun mungkin lebih baik dialokasikan untuk investasi yang lain. Beberapa waktu yang lalu sempat terpikirkan untuk investasi emas, karena beberapa waktu yang lalu ketika mengikuti salah satu seminar kepenulisan kreatif, masing-masing peserta diberikan <strong>tabungan emas pegadaian</strong>. Logis juga jika berinvestasi di emas, memang terkesan bergerak lambat namun dipastikan akan terus naik dan penjamin mata uang adalah emas.</p>
<p>Sekarang untuk berinvestasi tidak serepot dulu. Cukup modal 100rb orang-orang sudah bisa menabung dan berinvestasi mulai dari emas (<strong>tabungan emas pegadaian</strong>),  reksadana, bahkan saham. Tetapi juga patut dipertimbangkan resikonya jika ingin berinvestasi selain deposito karena tidak dijamin oleh OJK bahwa investasi kita aman (mendapatkan keuntungan).</p>
<p>Kembali ke bahasan reksadana, saat seminar itu kita diperkenalkan dengan aplikasi reksadana dari <span style="color: #ff0000;"><strong>finansialku</strong></span> yang ternyata seperti semacam proxy dari <strong>Bareksa</strong>, sama seperti yang ditawarkan oleh <strong>BukaLapak</strong> dan <strong>Tokopedia</strong>. Bagusnya aplikasi dari finansialku ini adalah mereka menyediakan semacam <em>tools</em> untuk menghitung <em>goals</em> dari investasi kita. Semisal ada <em>goals</em> untuk kebutuhan darurat, <em>goals</em> untuk memberi barang tertentu, dan lainnya. Dari <em>goals</em> itu ditentukan berapa dana yang dibutuhkan dan berapa bulan ingin dicapai, dari sana <span style="color: #ff0000;"><strong>finansialku</strong></span> akan menghitung target investasi per bulan yang harus dilakukan setelah menghitung laju inflasi serta keuntungan investasi.</p>
<p>Jika tertarik dan berminat untuk mulai berinvestasi reksana, bisa akses aplikasinya di <a href="https://aplikasi.finansialku.com/?ref=FUMUHAM60535"><strong>LINK BERIKUT INI</strong></a>.</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/pengalaman-belajar-investasi-reksadana.html">Pengalaman Belajar Investasi Reksadana</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://baiquni.net/pengalaman-belajar-investasi-reksadana.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3827</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ternyata Perempuan</title>
		<link>https://baiquni.net/ternyata-perempuan.html</link>
					<comments>https://baiquni.net/ternyata-perempuan.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2018 10:13:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Diari]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[tomboy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://baiquni.net/?p=3790</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sehari-hari sih aku melihat dia itu persis cowok, pakaian cowok, jeans, rambut pendek. Yang bikin aku shock, ketika aku shalat di mushala eh ternyata doi pakai mukena. Dari sana aku baru nyadar, DIA TERNYATA PEREMPUAN!</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/ternyata-perempuan.html">Ternyata Perempuan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Well, sebenarnya selama di sini (Bandung .red) aku sering mengalami <em>shock culture</em>. Banyak hal yang tidak kujumpai di daerah asalku namun aku dapati di sini. Salah satunya adalah tatto dan perempuan perokok. Di daerahku, jarang sekali aku menemukan kedua hal tersebut.</p>
<p>Di postingan kali ini aku tidak akan bercerita tentang kedua hal tersebut, tidak. Melainkan sesuatu yang aku alami dan merasakan shock.</p>
<p>Jadi, sekarang aku berkantor di salah satu <em>coworking space</em> di kota Bandung, tepatnya di <strong>Postcard &amp; Cafe</strong> di <strong>Jl. W.R. Supratman</strong>. Kantorku bisa dikatakan sebagai startup yang baru merintis, jadi kita belum memiliki kantor tetap. Awal aku kerja (sekitar pertengahan Januari 2018), kita malah berkantor di sebuah kafe di sekitaran <strong>Jl. Burangrang</strong>, kita berkantor di <strong>Caffe Kopitera</strong>. Modalnya cuma segelas minuman dan cemilan, dan betah nongkrong dari jam 11 pagi sampai menjelang magrib. Kadang aku teringat di daerah asalku, di sana juga orang kerja di kedai kopi dengan modal segelas air. Jika di sini segelas air dihargai mulai 20rb maka di tempatku cuma 8rb dan bisa bertahan bahkan sampai hari berganti. Hahaha&#8230;</p>
<p><span id="more-3790"></span></p>
<p>Kembali ke cerita awal, jadi sebagai <em>coworking space</em> maka di sini ada beberapa kantor juga yang ikut <em>ngadem</em>. Aku sih tidak begitu tahu-menahu kantor-kantor di sini bergerak di bidang apa, malah kadang aku dengar ada yang seharian kerjaannya cuma ngakak dan bernyanyi. Nah, jadi ceritanya ada salah seorang pekerja di salah satu kantor di sini yang bikin aku terkejut. Sehari-hari sih aku melihat dia itu persis cowok, pakaian cowok, jeans, rambut pendek. Yang bikin aku shock, ketika aku shalat di mushala eh ternyata doi pakai mukena. Dari sana aku baru nyadar, <strong>DIA TERNYATA PEREMPUAN!</strong></p>
<p>Kalau cowok jadi cewek aku sering melihat, kalau tomboy juga kadang melihat tapi masih bisa merasakan aura perempuan walau mungkin ditutupi. Nah, kali ini aku sama sekali gak filling, lho! Tapi, kejadian-kejadian gini yang membuat hidup lebih menarik. Kita tidak merasa seperti hidup <strong>bagai katak di dalam tempurung</strong>. Ada banyak hal yang patut disimak, ada yang patut ditelaah, dan ada juga yang cuma cukup diketahui.</p>
<p>Apapun pengalaman, sewajarnya mampu membuat wawasan lebih terbuka dan kaya. Membantu lebih memahami sesama dan belajar menjadi bijaksana.</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/ternyata-perempuan.html">Ternyata Perempuan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://baiquni.net/ternyata-perempuan.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3790</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Merasa Menjadi Munafik</title>
		<link>https://baiquni.net/merasa-menjadi-munafik.html</link>
					<comments>https://baiquni.net/merasa-menjadi-munafik.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Dec 2017 08:35:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Hati]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[ingkar janji]]></category>
		<category><![CDATA[janji]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[munafik]]></category>
		<category><![CDATA[penipu]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://baiquni.net/?p=3769</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berulang kali aku membangun janji namun berulang kali pula aku mengingkari. Tidak cuma janji pada orang lain, namun pada diriku sendiri.</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/merasa-menjadi-munafik.html">Merasa Menjadi Munafik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam salah satu hadist dikatakan, &#8220;<i>ciri-ciri munafik itu ada 3, yaitu: (1) bila berkata dia berdusta, (2) berjanji namun mengingkari, dan (3) diberi kepercayaan namun khianat.</i>&#8221; Dan aku merasa bahwa aku seperti seorang munafik ketika salah satu syarat itu kudeteksi ada pada diriku sendiri.</p>
<p>Berulang kali aku membangun janji namun berulang kali pula aku mengingkari. Tidak cuma janji pada orang lain, namun pada diriku sendiri. Entah berapa banyak jiwa yang kecewa akibat janji yang urung tunai dituntaskan.</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu aku berjanji pada beberapa orang untuk melakukan ini dan itu. Namun karena berbagai sebab, aku urung menunaikannya sampai mereka terus bertanya, kapan penantian mereka akan usai.</p>
<p><!-- more -->Mungkin ini karma. Pada sisi yang lain, aku adalah mereka yang menjadi pihak yang kecewa karena janji-janji yang terus teringkari. Dari sana aku belajar, tentang rasa sakit berbuah kecewa akibat memeluk janji-janji yang mungkin saja ternyata palsu.</p>
<p><span id="more-3769"></span>Benarlah petuah yang berbunyi, &#8220;<i>kau tak akan merasakan apa orang lain rasakan terkecuali kau mengalami hal yang serupa.</i>&#8221;</p>
<p>Akibatnya, aku mulai tak peduli lagi dengan janji-janji manusia. Aku tak akan pernah percaya sampai mereka mengatakan sumpah untuk menepati. Jika setelah sumpah, pengingkaran masih saja terjadi maka biarkan urusannya dengan Tuhan nanti. Aku tak peduli lagi.</p>
<p>Manusia pintar mencari alasan. Ada saja alasan yang mereka berikan, baik untuk ketidaktepatan sebuah janji atau sebagai pembatalan. Alasan yang bahkan terdengar begitu konyol dan remeh.</p>
<p>Apakah manusia tidak takut? Ketika nanti pada waktu mereka ditanyai tentang janji-janji yang mereka lupakan dan enggan mereka tunaikan. Hari ketika manusia akan ditagih namun tak ada sisa untuk membayar semua perkara.</p>
<p>Hal yang paling mengenaskan dari memegang sebuah janji adalah rasa kecewa yang teramat. Bayangkan, tentang hujan deras yang mengguyur, badai yang menggiring banjir mulai mendekat. Seseorang telah berjanji untuk menjemputmu pulang namun urung tertunaikan, namun kau terus menunggu sampai seluruh bah menghanyutkanmu dalam ketidakpastian. Engkau bahkan tidak sempat sekarat, mati perlahan dalam seluruh gundah.</p>
<p>Terkadang. Ingin rasanya mengutuk! Ingin rasanya membalas dengan hal yang jauh lebih sakit sampai kemudian kita disadarkan: &#8220;<i>Tuhan melihat. Tuhan tidak diam.</i>&#8221; &#8211; maka biarlah skenario berjalan dengan sempurna, biarlah setiap babak diselesaikan dengan lapang dada.</p>
<p>Setiap aku dikecewakan, aku selalu menyalahkan diriku. Mungkin pernah pada suatu masa, aku melakukan hal yang serupa. Mungkin pernah pada suatu masa, aku pun membangun rasa kecewa. Maka biarlah kecewa ini menjadi obat dan penebus, untuk setiap luka lama yang pernah tertoreh ada.</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/merasa-menjadi-munafik.html">Merasa Menjadi Munafik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://baiquni.net/merasa-menjadi-munafik.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3769</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menata Hati</title>
		<link>https://baiquni.net/menata-hati.html</link>
					<comments>https://baiquni.net/menata-hati.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Dec 2017 10:21:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[benci]]></category>
		<category><![CDATA[dendam]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[menata hati]]></category>
		<category><![CDATA[sedih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://baiquni.net/?p=3730</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selama ini aku berpandangan bahwa hati manusia adalah hal yang paling mudah diatur. Bahwa hati adalah milik sejati seorang manusia dan manusia pasti lebih mudah mengaturnya, sebagaimana mereka menggatur kelima indera mereka. </p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/menata-hati.html">Menata Hati</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selama ini aku berpandangan bahwa hati manusia adalah hal yang paling mudah diatur. Bahwa hati adalah milik sejati seorang manusia dan manusia pasti lebih mudah mengaturnya, sebagaimana mereka menggatur kelima indera mereka. Demikianlah aku selama ini berpandangan.</p>
<p>Pada beberapa titik, memang mudah mengatur hati, mood, dan sebagainya. Hal yang biasa aku lakukan adalah berdialog dengan diriku sendiri. Jika dalam perdebatan antara hati dan pikiran tersebut dimenangkan oleh pikiran, maka hati akan mampu digerakkan.</p>
<p>Sederhananya begini. Ketika aku sedang sakit hati, maka aku akan mencoba berdialog dengan diriku sendiri apa penyebab sakit hati tersebut. Hal-hal yang aku anggap tidak patut aku alami mulai aku rasionalkan. Akupun masukkan sebagian pandangan dari berbagai sisi kemungkinan, contohnya jika aku disakiti seseorang karena keinginanku tidak terpenuhi olehnya maka aku mencoba berdialog, apakah sepatutnya aku merasakan sakit hati tersebut, apakah tindakanku memang salah atau dirinya, mungkin saja ada berderet alasan mengapa keinginan tersebut tidak dipenuhi olehnya.</p>
<p><span id="more-3730"></span>Contoh sederhana lainnya mungkin seperti ini, aku yang cenderung berbicara lemah lembut tiba-tiba dihadapkan dengan sosok yang bersuara dengan keras, bercanda dengan kasar, atau keterlaluan dalam memaksakan keinginan. Tentu ada penolakan dalam diriku, seperti sebuah konfrontasi alami. Namun, hal-hal yang bertolak-belakang dengan nilai-nilai yang aku anut tersebut mulai aku wajarkan. Aku mulai menilai dari sudut pandang objek sehingga rasa enggan dalam hatiku mulai tertawarkan sedikit-demi-sedikit.</p>
<p>Begitu pula dengan kekecewaan. Biasanya yang aku lakukan adalah mewajarkannya sedemikian sehingga kecewa itu tidaklah berlarut. Aku mencoba merasionalkannya dengan asumsi bahwa manusia tidaklah sama, pasti ada banyak hal yang mereka prioritaskan, atau mungkin ada kesalahan dalam diriku yang membuat mereka cenderung ingin mengecewakan aku, atau bisa jadi ada kesalahpahaman pada salah satu dari dua pihak.</p>
<p>Dalam periode yang aku alami seperti contoh di atas, aku mulai mengeja perasaan egoisme seorang anak manusia. Ternyata, ada terbersit rasa ingin membalas hal yang serupa. Berharap akan ada waktu untuk membalikkan keadaan dan membuat mereka merasakan apa yang aku rasakan. Beberapa saat setelah perasaan itu hadir, aku jadi bergidik sendiri. Manusia ternyata memiliki sifat kejam dan dendam yang sedemikian. Cepat-cepat perasaan buruk itu aku coba netralisirkan, yang terkadang dia kembali datang, laksana bara sekam yang tidak sepenuhnya padam.</p>
<p>Kebanyakan manusia menginginkan hal yang setimpal, padahal kebencian mereka seringnya membuat mereka berlaku tidak adil. Dan memenuhi unsur keadilan di tengah kobaran hasrat kebencian bukanlah sesuatu yang boleh dikatakan gampang. Sangat, sangat, sangat susah sekali.</p>
<p>Sebagai summary, mari coba kita uraikan tahapan cara menata hati:</p>
<ol>
<li>Jika sakit hati itu muncul, jangan bertindak apapun namun diamkan sejenak. Ini berfungsi untuk membiarkan arus logika mencuat ke atas.</li>
<li>Berdialog dengan diri sendiri, apa penyebab sakit hati tersebut. Nalarkan berbagai alasan untuk menegasikannya.</li>
<li>Jangan biarkan kecamuk emosi menjadi panglima. Memang rasanya seperti ada kelegaan semu namun penyesalan biasanya sedang antri di belakang sesudah itu.</li>
<li>Jika bibit-bibit dendam mulai tumbuh, lakukan aktivitas lain. Alihkan pikiran sebelum memasuki etase itu kembali dengan bahan logika yang lebih matang.</li>
<li>Pejam mata, tarik napas dalam-dalam, hembuskan sepelan mungkin.</li>
<li>Berwudhu</li>
<li>Jangan sekali-kali memikirkan hal ini kembali setelah segala kecamuk emosi mereda</li>
<li>Cobalah tersenyum, anggap rasa kecewa itu seorang manusia dan tersenyumlah kepadanya</li>
<li>Ucapkan dengan tulus, baik di dalam hati ataupun melalui lisan. Ucapkan dengan seluruh jiwa: &#8220;<strong>aku memaafkanmu</strong>&#8220;</li>
</ol>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/menata-hati.html">Menata Hati</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://baiquni.net/menata-hati.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3730</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tipe Kehidupan</title>
		<link>https://baiquni.net/tipe-kehidupan.html</link>
					<comments>https://baiquni.net/tipe-kehidupan.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Nov 2017 12:35:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Hati]]></category>
		<category><![CDATA[jawaban tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[rambu jalan]]></category>
		<category><![CDATA[takdir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://baiquni.net/?p=3701</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada dua tipe kehidupan. Pertama, berjalan seperti bidak catur dan kedua, berjalan seperti layaknya air yang mengalir.</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/tipe-kehidupan.html">Tipe Kehidupan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ada dua tipe kehidupan. Pertama, berjalan seperti bidak catur dan kedua, berjalan seperti layaknya air yang mengalir. Mungkin ada tipe lainnya, namun secara garis besar aku menangkap dua tipe ini. Jika ingin lebih terdengar hebat, maka gunakan istilah <em>liberal</em> terhadap tipe pertama dan <em>fatalis</em> untuk tipe kedua.</p>
<p>Aku pribadi cenderung merasa bahwa kehidupan adalah sesuatu yang begitu cair. Ada banyak tangan tak terlihat yang menuntunku. Rasanya, seperti menaiki kereta api, telah ada rel untuk setiap pilihan tujuan.</p>
<p>Bertolak belakang dengan pendapat seorang teman, baginya kehidupan adalah kehendak bebas tanpa campur tangan Tuhan. Manusia adalah penentu dari segala kebijakan. Alasannya logis, karena tidak mungkin Tuhan akan menghukum manusia jika mereka cuma mengikuti takdir yang mendorong. Bukankah Tuhan itu Mahaadil?</p>
<p><span id="more-3701"></span>Jika berbicara tentang masalah takdir ini, rasanya tidak akan ada habisnya. Bahkan telah berabad ada saja orang yang saling mendebat mengenainya. Dan aku tidak ingin ikut serta dalam pusaran yang tak pernah berakhir itu. Cukuplah bagiku untuk percaya, bahwa ada takdir indah yang menungguku di setiap helaan napas yang akan mencapai akhir ini.</p>
<p>Kembali ke masalah tipe kehidupan, aku ingin mengabarkan sebuah kisah, tentang apa yang kualami dan aku rasakan. Rasanya, seperti ada saja dorongan agar aku kembali ke jalur yang sebenarnya. Terkadang seperti bisikan, terkadang seperti domino yang jatuh berantai menjadi babak-babak dalam setiap episode kehidupan. Aku merasakan ketika diriku berontak, tentang lutut yang bergetar, tentang peluh yang tumbuh dari api di wajah dan dada yang mengobarkan. Dalam setiap episode abu-abu, ada jiwa yang menangis di dada namun terus aku abaikan.</p>
<p>Ketika jiwaku telah begitu sekarat dan mendekati akhir, dunia dan kehidupannya seolah menjawab segalanya. Mereka mengatur berbagai peristiwa agar aku mengambil jalan yang berlainan. Mereka seperti mengatur begitu banyak rantai aksi yang bahkan aku tidak pahami. Kecerdasan yang bagaimana sehingga mampu memprediksi dan membangun aksi untuk mencapai tujuan. Bahkan ketika aku telah berada tepat di tepi jurang yang paling dalam.</p>
<p>Aku menutup mata. Mencoba menyelami gelap dan hampa di dalam jiwa. Bertanya dari hati-ke-hati, tentang jiwa yang terus menangis dan begitu kosong. Tentang suara yang semakin membisu dan telinga yang menjadi tuli. Aku ingin bagaimana? Akhir seperti apa yang aku hendaki? Mimpi apa yang ingin aku jalani.</p>
<p>Selama ini aku seperti daun yang jatuh lantas terseret arus sungai, menuju lautan di antara berjuta cadas dan arus deras. Sampai pada suatu titik, segalanya hanyut, menjadi begitu kecil di tengah luas yang tiada batas. Kehidupanku ini adalah seperti satu titik, yang bahkan nila pun tidak akan mampu merusak susu.</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/tipe-kehidupan.html">Tipe Kehidupan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://baiquni.net/tipe-kehidupan.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3701</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menangis</title>
		<link>https://baiquni.net/menangis.html</link>
					<comments>https://baiquni.net/menangis.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Nov 2017 04:04:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Hati]]></category>
		<category><![CDATA[gila]]></category>
		<category><![CDATA[sedih]]></category>
		<category><![CDATA[sesat]]></category>
		<category><![CDATA[tangis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://baiquni.net/?p=3668</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tidak lagi aku melihat matamu yang basah, kecuali telah menjadi batu. Seperti tandus tanah tanpa hujan bertahun, bertahap menjadi gemuruh pasir. Padahal, aku berharap ada badai di sana, laksana ombak yang tersusun, menggunung dan menggulung.</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/menangis.html">Menangis</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kapan kau terakhir menangis? Ketika malam hendak mengejar fajar, disayup cahaya redup yang mulai menerang. Atau ketika pagi mulai menggigit, memanaskan seluruh tapakmu ketika melangkah telanjang. Atau, bolehkah aku mengubah tanya, &#8220;<em>masihkah engkau menangis?</em>&#8221;</p>
<p>Tidak lagi aku melihat matamu yang basah, kecuali telah menjadi batu. Seperti tandus tanah tanpa hujan bertahun, bertahap menjadi gemuruh pasir. Padahal, aku berharap ada badai di sana, laksana ombak yang tersusun, menggunung dan menggulung.</p>
<p>Aku takut, kau telah melupakan jalan pulang. Telah alpa tentang tujuan kembali. Bahwa kaki yang masih tegak itu seolah tidak akan rubuh dan membaringkanmu tanpa mampu bangkit kembali. Aku takut kau amnesia.</p>
<p>Labirin ini telah menjadikanmu gila. Jutaan reaksi yang pecah dan saling tabrak menjadikanmu tak sadarkan diri. Atau mungkin, tidak cuma gila tetapi kau pun telah buta oleh gelapnya jalan tanpa sandaran jejak yang menuntun. Aku tak tahu, maqam apa yang sedang kau lalui. Atau iblis mana yang sedang ada di sisimu.</p>
<p>Aku seperti melihatmu dari balik punggung. Bahkan ekor mataku tak mampu mengejar kau yang sedang berlari terlalu cepat. Segala tingkahmu tidak lagi mampu aku tafsirkan. Khatam buku mimpi tidak juga mampu membaca tafsiran seluruh apa yang kau perbuat. Lantas, apa maumu?</p>
<p>Tidakkah engkau rindu. Tentang sayup suara yang mengisi kekosongan itu. Cahaya yang memberitakan seluruh jalan. Maka mengapa kau menjadi sedemikian tuli? Mengapa memilih menutup mata? Mengapa jatuh cinta untuk menjadi gila?</p>
<p>Tidakkah ini terlalu melelahkan. Seperti, permainan ini abadi di dalam lingkarannya. Dan kau berputar-putar semacam orang gila. Tidakkah ini memuakkan, terlalu memuakkan, sangat memuakkan. Sampai, aku tak tahu mengapa kau terus memainkannya sambil tertawa terbahak membahana.</p>
<p>Aku merindukan masa lalu. Ketika tangisan kita, seperti gaung yang terpantul, saling sahut-menyahut. Seperti gemuruh yang berdesis, menutupi malam pada heningnya. Tidakkah kau ingin seperti dulu, mega badai yang bergerak tersimpan sempurna cuma di dadamu.</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/menangis.html">Menangis</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://baiquni.net/menangis.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3668</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kesombongan dan Kekanakan</title>
		<link>https://baiquni.net/kesombongan-dan-kekanakan.html</link>
					<comments>https://baiquni.net/kesombongan-dan-kekanakan.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Nov 2017 11:30:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sampah Hati]]></category>
		<category><![CDATA[kekanakan]]></category>
		<category><![CDATA[kesombongan]]></category>
		<category><![CDATA[sifat buruk]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://baiquni.net/?p=3587</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apakah kesombongan itu telah ada pada benak manusia sejak dahulu kala? Atau, kesombongan hanyalah bagian dari jiwa kekanak-kanakan manusia yang masih bersisa.</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/kesombongan-dan-kekanakan.html">Kesombongan dan Kekanakan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, aku melihat keponakan-ku begitu ceria. Abi-nya baru pulang dari Medan, membawakan oleh-oleh. Dan yang paling dia suka adalah komputer mini yang akan menyuarakan huruf saat tombol ditekan dan baju-baju baru untuk lebaran nanti. Kebetulan, dua sepupu-ku juga sedang ada di rumah. Keponakan-ku, Khansa, memamerkan seluruh barang barunya itu kepada keduanya. Begitu bahagia. Begitu ceria.</p>
<p>Melihatnya bahagia, penuh bangga memamerkan barang-barang barunya, membuatku berpikir: <em>Apakah kesombongan itu telah ada pada benak manusia sejak dahulu kala? Atau, kesombongan hanyalah bagian dari jiwa kekanak-kanakan manusia yang masih bersisa</em>.</p>
<p>Tidak jarang kita melihat manusia begitu bangga dengan barang-barang barunya atau sesuatu yang dianggapnya wah. Entah itu barang baru, pengetahuan baru, atau mungkin, seorang teman baru. Maka duga-ku, ini alasan kenapa fenomena <em>selfie</em> menjamur bak cendawan di musim hujan. Orang-orang butuh sesuatu untuk dibanggakan, berbeda dengan orang dahulu, mereka berfoto untuk merekam momen melawan lupa.</p>
<p><span id="more-3587"></span>Pernah tidak, melihat anak-anak dengan sombongnya memamerkan segala sesuatu di depan kita. Membanggakan apa yang dimiliki dan berharap tidak dimiliki oleh selain dirinya. Kita cuma tersenyum melihat tingkah-pongah mereka. Namun terasa berbeda ketika orang-orang dengan balutan waktu di usia mereka melakukan hal yang sama, kita menjadi jenggah.</p>
<p>Aku lebih sering terdiam sambil tersenyum, ketika mendengarkan orang-orang berbicara tentang hal-hal yang mereka ketahui dan merasa tidak aku ketahui. Bahkan ketika mereka mulai melebih-lebihkan apa yang bersarang di kepala mereka untuk diutarakan. Rasanya jengah. Namun aku berpikir, &#8212; <em>ah, sudahlah</em> &#8212; toh mereka hanya sedang merayakan apa yang jiwa kekanakan mereka inginkan.</p>
<p>Namun, terkadang manusia bertindak dengan sedemikian parah. Mereka menjadikan apa yang mereka sombongkan itu sebagai senjata. Merasa bahwa orang lain adalah bidak catur yang kelasnya tidak lebih tinggi daripada sebuah pion. Berjalan selangkah, tertatih, berlarut seperti seekor kura-kura, sedangkan dirinya adalah dia yang telah terbang di antara awan-awan yang digerakkan oleh angin. Untuk tipe seperti ini, aku merasa sangat muak sekali. Namun, aku masih memilih diam di atas segalanya.</p>
<p>Rasa muak itu menjadi semakin parah, ketika aku mulai merasa bahwa aku pun demikian. Merasa bahagia ketika aku mengetahui apa yang orang lain tidak ketahui. Jiwa kekanakanku seperti berpesta-pora, merayakan dengan segenap dansa yang berputar di <em>ballroom</em>. Patutkah seorang manusia yang begitu kecil menjadi seperti ini? Padahal, <em>tidak ada sesuatu yang baru di bawah sinar mentari</em>.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: right;"><i>dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.</i></p>
<p style="text-align: right;">&#8212; Q.S. Al-Isra : 37</p>
</blockquote>
<p>Aku berharap menjadi aku yang dulu. Ketika mataku tertutup, telingaku tuli, dan pikiranku adalah sesuatu yang tidak mampu bergerak. Sehingga, kekanakan yang mengenaskan itu pun terjatuh ke dalam jurangnya. Sehingga, aku merasa betapa aku adalah manusia paling tolol di hamparan bumi ini.</p>
<p>Artikel <a href="https://baiquni.net/kesombongan-dan-kekanakan.html">Kesombongan dan Kekanakan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://baiquni.net">Dunia Baiquni</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://baiquni.net/kesombongan-dan-kekanakan.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3587</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
