<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>BandarUyah</title><description>Bandar Uyah Adalah Blog yang menyajikan Infomasi Tentang Sejarah Nusantara Pada umumnya dan Khususnya tentang sejarah Kerajaan Blambangan yang sekarang kerajaan blambangan yang sekarang dikenal dengan Banyuwangi</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><pubDate>Sat, 28 Feb 2026 21:16:53 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">92</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>https://bandaruyah.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Bandar Uyah Adalah Blog yang menyajikan Infomasi Tentang Sejarah Nusantara Pada umumnya dan Khususnya tentang sejarah Kerajaan Blambangan yang sekarang kerajaan blambangan yang sekarang dikenal dengan Banyuwangi</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 9 TAMAT</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2018/01/keterlibatan-inggris-dalam-perang_10.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 10 Jan 2018 06:17:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-6153801594101480139</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 9 TAMAT&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjp2ezwVtsFMs8nFo-Z6cB16fGPEEaPQZru4dNSlP5MU0VtaHQAzb8IGynX1gyqjQi7aXCfUccA6hB_NVrMSsZ9MybgwUhdo-orvYD0RXZleWrC7hWEJskY0hhe0oGMib_FAq05u8aZ1jae/s1600/perang+blambangan.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="460" data-original-width="726" height="202" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjp2ezwVtsFMs8nFo-Z6cB16fGPEEaPQZru4dNSlP5MU0VtaHQAzb8IGynX1gyqjQi7aXCfUccA6hB_NVrMSsZ9MybgwUhdo-orvYD0RXZleWrC7hWEJskY0hhe0oGMib_FAq05u8aZ1jae/s320/perang+blambangan.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Semoga lahir Purasastra muda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tidak berlebihan rasanya jika Ratu Inggris Elizabeth II, dalam pesta Jamuan Makan di istana Buchkingham untuk menghormati President Susilo Bambang Yudhoyono, dalam penganugerahan gelar Knigt Grand Cross in the Order of Bath mengenang kembali betapa besarnya peranan Nusantara (termasuk Blambangan) pada masa lalu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Gelar ini diberikan oleh raja Inggris George I pada tahun 1725, di suatu masa dimana hubungan Blambangan dan Inggris sangat baik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tetapi hal itu juga menyiratkan kesedihan, betapa sudah terputus kita dengan masa lalu, karena begitu tebalnya tumpukan sampah dalam sejarah kita akibat pemutar balikkan fakta oleh Belanda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Ketika Inggris menunjukan betapa berhasilnya pembangunan di Blambangan dan betapa pentingnya Blambangan bagi Inggris, ternyata Belanda justru memberikan fakta berbeda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Belanda menyatakan Blambangan dikuasai Bali, dan jumlah penduduk Blambangan pada saat itu hanya 20.000 (dua puluh ribu) (catatan kependudukan VOC via DR. Sri margana dan I Made Sudjana MA).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Padahal luas Kerajaaan Blambangan adalah 10 ribu km persegi. Jika laporan Belanda itu kita anggap benar, maka artinya hanya dua orang penduduk tiap km persegi. Mungkinkah?&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Padahal Blambangan telah diakui sebagai kerajaan andalan Majapahit, lebih besar dari Madura dan Bali. Oleh karena itulah Blambangan dijadikan tempat bertemu Prabu Hayam Wuruk dengan dua kerajaan Majapahit. (Mpu Prapanca dalam Kakawin Nagara Krtagama BAIT 91). Jelas bahwa VOC sengaja menyebar berita bohong tentang Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Juga cerita sejarah bahwa Blambangan dikuasai oleh Matram. Padahal Mataram terlibat dalam perebutan kekuasaan selama seratus tahun (sejak masa Amangkurat I sampai dengan Perjanjian Salatiga yang membelah Mataram menjadi menjadi kerajaan kecil Surakarta, Ngajogyakarta, Mangkunegara dan telah kehilangan kekuasaan di pantai utara jawa maupun di Jawa Timur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Mataram pada saat itu malah pernah dikalahkan Trunojoyo (dengan bantuan banyak Adipati lainnya, termasuk raja Blambangan, Tawangalun II).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kemudian Mataram juga pernah dikalahkan oleh pasukan Untung Suropati. Dan malahan Amangkurat III, mencari perlindungan pada Suropati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Lalu, bagaimana bisa Mataram mampu menguasai Blambangan, sementara mereka sendiri sedang perang saudara sehingga Suropati tak terkalahkan oleh Mataram.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Jika benteng Suropati terkalahkanpun, benteng alam berupa gunung yang mengelilingi Blambangan tak mungkin tertundukkan, sementara Mataram tidak pernah memiliki kekuatan Maritim.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Demikian juga Bali telah terbelah menjadi kerajaan kecil, Klungkung, Mengwi, Buleleng, Karangasem, dan saling bertempur satu sama lain hanya untuk sekedar berebut pangan (I Made Sudjana MA. Nagari Tawon Madu 60).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pernyataan bahwa Mengwi pernah menduduki Blambangan, tidak ada buktinya sama sekali.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Selain itu nama penguasa yang ditunjuk oleh Mengwi untuk memimpin Blambangan, menurut I Made Sudjana berdasar babad Wilis adalah I Gusti Kuta Beda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Nama tersebut tidak mungkin nama orang karena dalam bahasa kuno berarti kota yang ditinggalkan, yang lebih tepat menunjuk kota Inggris yang ditinggalkan Mr Yesse, setelah ditunjuk sebagai residen di Borneo.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Babad Wilis ditulis oleh Purasastra, trah Tawangalun. Beliau merasa tertekan harus menulis Babad Wilis. Tulisan itu dibuat karena paksaan bupati Probolinggo, Tumenggung Jayanegara untuk memenuhi permintaan VOC dan beliau menyatakan sangat terluka hatinya ketika harus menceritakan kekalahan keluarga Tawangalun. Maka nama penguasa Bali di Blambangan direkayasa, untuk menunjukkan nama itu bohong.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Karena esan itulah penulis berharap, semoga suatu hari nanti dapat terlahir Purasastra-Purasastra muda, yang tidak mau dipaksa oleh siapapun untuk menuliskan sejarah dengan tidak benar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Selesai.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1463249863728319/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjp2ezwVtsFMs8nFo-Z6cB16fGPEEaPQZru4dNSlP5MU0VtaHQAzb8IGynX1gyqjQi7aXCfUccA6hB_NVrMSsZ9MybgwUhdo-orvYD0RXZleWrC7hWEJskY0hhe0oGMib_FAq05u8aZ1jae/s72-c/perang+blambangan.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 8</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2018/01/keterlibatan-inggris-dalam-perang_9.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>Banyuwangi Tempo Dulu</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Majapahit</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 9 Jan 2018 06:10:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-6729303439921870602</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 8&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5xUsiELncc4D6ZMwjC4BNhqq2SXtLVPs1deBR_N8-OgRiRcsAVZKB2O-r5ippSCDEdbTii9oCvmmxev9YWR_JNxQGTkgWMAoay-q-mMqWF07P2gr9wjndESNPElBVJkwSkEUEXwj-g6ef/s1600/perang+blambangan.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="460" data-original-width="726" height="202" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5xUsiELncc4D6ZMwjC4BNhqq2SXtLVPs1deBR_N8-OgRiRcsAVZKB2O-r5ippSCDEdbTii9oCvmmxev9YWR_JNxQGTkgWMAoay-q-mMqWF07P2gr9wjndESNPElBVJkwSkEUEXwj-g6ef/s320/perang+blambangan.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Blambangan dan explorasi emas di Australia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Selain memutus logistik Perancis dari Nusantara, pada masa itu di Australia sedang dimulai explorasi ema pada tahun 1800, yang berdampak semakin padatnya pelayaran antara Inggris dan Australia. (Richards Tropical Encyclopedia, The Richards Company Inc New York, volume 5.543)&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dengan demikian, peranan Blambangan untuk mendukung padatnya pelayaran antara Inggris ke Australia menjadi sangat penting.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dalam bukunya History of Java, Sir Stanford Raffles menyatakan kekagumannya pada tanah Blambangan. Di Blambangan, Raffless menemukan patung perunggu dan pohon beracun (Anchar, Linneaus) yang terbesar di dunia. Dan pohon itu hanya tumbuh di tanah yang subur (Thomas Stanford Rafless History of Java. 2008.30).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Oleh karena itu patut diduga bahwa dia adalah satu satunya Gubernur Jendral yang mengunjungi Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Demikian pentingnya Blambangan bagi Raffless, maka dia membangun kembali jalan kerajaan Blambangan dari Banyuwangi ke Kalibaru, dan membangun kembali kota Banyuwangi yang jejaknya masih nampak sampai saat ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Disamping itu juga membuka perkebunan kopi, teh, di tepi G.Raung (Gleenmore, Gleen levish, Gleeennaloch) dan perkebunan pisang serta pabrik beras (antara lain pabrik beras Gladak). Pelabuhan Banyuwangi juga dibangun kembali.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Diduga kuat pembangunan ini untuk mendukung explorasi emas yang dilakukan di Australia 1800. (Richards Tropical Encyclopedia, The Richards Company Inc New York, volume 5.543).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kapal Inggris yang akan ke Australia dan sebaliknya hanya memiliki tempat persinggahan Afrika Selatan, Yaman/emirat Arab, India, dan Bengkulu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dari Bengkulu ke Australia masih harus menempuh puluhan ribu Kilometer, maka Blambanganlah daerah di tepi Lautan India yang dianggap paling subur dan mampu memenuhi kebutuhan Logistik perjalanan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Meskipun hubungan Blambangan dengan Inggris tergolong singkat, tetapi demikian baiknya hubungan itu, hal ini terbukti banyaknya kata-kata Bahasa Inggris yang digunakan dalam bahasa pergaulan rakyat Banyuwangi. Seperti:&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
~Sulung dari kata "so long" namun bermakna duluan,&lt;br /&gt;~Nagud dari kata "no good" bermakna jelek,&lt;br /&gt;~Ngepos dari kata "pause" bermakna berhenti,&lt;br /&gt;~Kekel dari kata "cackle" bermakna tertawa terpingkal-pingkal,&lt;br /&gt;~Begal dari "beggar" bermakna merampas,&lt;br /&gt;~Enjong dari kata "enjoy" bermakna enak, menyenangkan,&lt;br /&gt;~Kampah dari kata "come back" bermakna mampir, untuk yang sudah akrab,&lt;br /&gt;~dsb.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Demikian juga sebuah bangunan di Banyuwangi tetap dikenal sebagai Inggrisan, walau hanya dipakai oleh Inggris selama enam tahun, padahal bangunan itu kemudian digunakan Belanda selama ratusan tahun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Bersambung...&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis:&lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt; Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor:&lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt; Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1462363860483586/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher :&lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt; Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5xUsiELncc4D6ZMwjC4BNhqq2SXtLVPs1deBR_N8-OgRiRcsAVZKB2O-r5ippSCDEdbTii9oCvmmxev9YWR_JNxQGTkgWMAoay-q-mMqWF07P2gr9wjndESNPElBVJkwSkEUEXwj-g6ef/s72-c/perang+blambangan.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 7</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2018/01/keterlibatan-inggris-dalam-perang_8.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 8 Jan 2018 06:08:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-5281844520075569550</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 7&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5xUsiELncc4D6ZMwjC4BNhqq2SXtLVPs1deBR_N8-OgRiRcsAVZKB2O-r5ippSCDEdbTii9oCvmmxev9YWR_JNxQGTkgWMAoay-q-mMqWF07P2gr9wjndESNPElBVJkwSkEUEXwj-g6ef/s1600/perang+blambangan.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="460" data-original-width="726" height="202" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5xUsiELncc4D6ZMwjC4BNhqq2SXtLVPs1deBR_N8-OgRiRcsAVZKB2O-r5ippSCDEdbTii9oCvmmxev9YWR_JNxQGTkgWMAoay-q-mMqWF07P2gr9wjndESNPElBVJkwSkEUEXwj-g6ef/s320/perang+blambangan.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Thomas Stanford Raffles dan Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Catatan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menaklukan Blambangan senilai 80 ton emas, seperti ditulis J.K.J. de Jonge pada 1883, dikutip surat Gubernur Jenderal Reiner de Klerk kepada pemimpin VOC tertanggal 31 Desember 1781, juga menunjukkan perang ini adalah perang besar dan penting.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sedemikian pentingnya sehingga VOC mengabaikan kegaduhan besar di Eropa ketika Napoleon mulai bergerak menguasai Eropa. Mengapa VOC sedemikian gigih mempertahankan Blambangan, mungkin karena takut Blambangan direbut Inggris? Atau karena hanya tinggal Blambangan di Jawa ini yang belum takluk kepada VOC sehingga menjai semacam duri yang harus segera dilenyapkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Akhirnya ketika rakyat Blambangan mengadakan perlawanan gigih, maka VOCpun melakukan Tumpas Kelor atau Genocida sebagaimana ditulis oleh Raffles.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
"From that moment, the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie, which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000 (Sir Thomas Stanford Rafless.Hystory of Java 68)."&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sebuah pernyataan yang menggemparkan dan sampai saat ini menjadi perbincangan International (Kumar, Ann” Javanesse Histiographie in and of the colonial periode, a case study. Dalam Anthony Reid and David Maar (eds) Perception of the past in Southeast Asia, Kualalumpur 1979, 187206 via I Made Sudjana M A Nagari tawon Madu dan makalah DR. Sri Margana).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tetapi rupanya VOC telah sampai pada titik nadir, VOC yang rakus mengeruk keuntungan, dan sangat kejam terhadap negeri jajahan ternyata tidak mampu membendung kerakusan pegawainya, mereka melakukan korupsi besar besaran, sehingga VOC deficit dan akhirnya VOC bangkrut pada tahun 1791.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tiga tahun kemudian pada tahun 1794 Belanda menjadi jajahan Perancis (Napoleon Bonaparte) sampai tahun 1815. Dan Belandapun harus menyerahkan Nusantara pada Perancis, yang kemudian mengangkat Daendels menjadi Gubernur Jendral Nusantara. Maka bendera Belanda diturunkan dan bendera Perancis berkibar di Nusantara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Perang antara Eropa dan Perancis rupanya tidak terbatas di Eropa tetapi juga terjadi di negeri Jajahan dan Nusantara tidak terlepas dari percaturan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Nusantara tentu sangat diperhitungkan dalam kontribusinya ke Perancis, apalagi Daendels langsung menerapkan kerja rodi untuk membangun perkebunan, membuka jalan antara Anyer Panarukan untuk memperlancar arus logistik dari daerah pedalaman ke pelabuhan-pelabuhan. Semua itu dilakukan, untuk memeras Nusantara dan hasilnya digunakan untuk membantu biaya perang negeri Perancis di Eropa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Keyakinan betapa pentingnya Nusantara bagi mematahkan kekuatan Perancis di Eropa itulah yang membuat Gubernur Jendral India Lord Minto, akhirnya menyetujui saran Stanford Raffles untuk merebut Nusantara. Dan akhirnya Inggris menguasai Nusantara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sir Stanford Raffles diangkat sebagai Letnan Jendral Gubernur Nusantara pada tahun 1811 sampai dengan 1816. Pada saat Sir Stanford Raffless menjadi Letnan Gubernur Jendral Nusantara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Siapa yang menguasai Nusantara, dia yang memegang kendali dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Bersambung...&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1461513287235310/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5xUsiELncc4D6ZMwjC4BNhqq2SXtLVPs1deBR_N8-OgRiRcsAVZKB2O-r5ippSCDEdbTii9oCvmmxev9YWR_JNxQGTkgWMAoay-q-mMqWF07P2gr9wjndESNPElBVJkwSkEUEXwj-g6ef/s72-c/perang+blambangan.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 6</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2018/01/keterlibatan-inggris-dalam-perang_7.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Majapahit</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 7 Jan 2018 06:03:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-7139287890859749558</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 6&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5xUsiELncc4D6ZMwjC4BNhqq2SXtLVPs1deBR_N8-OgRiRcsAVZKB2O-r5ippSCDEdbTii9oCvmmxev9YWR_JNxQGTkgWMAoay-q-mMqWF07P2gr9wjndESNPElBVJkwSkEUEXwj-g6ef/s1600/perang+blambangan.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="460" data-original-width="726" height="202" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5xUsiELncc4D6ZMwjC4BNhqq2SXtLVPs1deBR_N8-OgRiRcsAVZKB2O-r5ippSCDEdbTii9oCvmmxev9YWR_JNxQGTkgWMAoay-q-mMqWF07P2gr9wjndESNPElBVJkwSkEUEXwj-g6ef/s320/perang+blambangan.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Penemuan Australia dan pembumi hangusan Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tahun 1770 Eropa digemparkan oleh berita penemuan benua baru* oleh James Cook yang kemudian disebut Australia (The Richards Company Inc New York, volume 5.543).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dengan ditemukan Australia kini kedudukan Blambangan semakin penting, karena untuk berhubungan antara titik titik jajahan Inggris di China dengan Australia itu, Inggris tentu harus menempuh jalur melingkar melalui selat Bali, Madura timur, Selat Makassar. Hal ini karena selat Singapore dan laut China, dan laut Jawa telah dikuasai Belanda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dengan demikian posisi Blambangan menjadi sangat penting bagi penguasaan jajahan Inggris di Asia dan Australia, bagi penguasaan kekayaan yang tersimpan di bumi Sumatra dan Borneo serta support logistik dan pengamanan jalur perhubungan dengan Australia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada tahun itu juga ternyata wong Agung Wilis dapat meloloskan diri dari penawanan Belanda di pulau Banda, kemudian tinggal di Bali, sehingga wong Agung Wilis, dapat dinyatakan sebagai satu-satunya tahanan VOC yang dapat meloloskan diri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dan pada tahun 1771 muncul pemberontakan Pangeran Rempeg Jagapati yang disebut juga Pseduo Wilis. Yang membuktikan betapa masih kuatnya pengaruh Wong Agung Wilis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sekali lagi sumber-sumber Belanda meremehkan sebab dan kekuatan pemberontak, dengan mengatakan pemberontakan itu hanya disebabkan oleh perbuatan Mas Rempeg, melarikan istri bupati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tetapi VOC sekali lagi mendatangkan bantuan tentara yang sangat besar dari Surabaya. Pada tgl 14 Desember 1771, VOC mempersiapkan sekitar 2.000 laskar Madura, dibawah pimpinan Alap Alap, seorang tentara pribumi profesional VOC, yang diperkuat dengan pasukan meriam Belanda dipimpin oleh Kapten, Vaandrig Schaar dan Cornet Tinne seorang perwira tamatan Akademi Perancis yang terbaik di dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Namun kekuatan tentara VOC yang sedemikian hebat itu dapat dipukul mundur oleh para pejuang Blambangan, bahkan Kapten Vandrig Schaar dan Cornet Tinne terbunuh (I Made Sudjana, Nagari Tawon Madu, 79) Karena itulah VOC kemudian menghentikan penyerbuan selama 11 bulan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Baru pada tgl 1 Oktober 1772 mendatangkan lagi sekitar 5.000 laskar termasuk beberapa serdadu Eropa untuk menggempur pemberontak (I Made Sudjana MA, Nagari Tawon Madu 80).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dengan fakta tersebut diatas, VOC telah memberikan catatan penduduk yang tidak benar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Disamping itu tanpa mengurangi keyakinan atas keberanian serta strategy laskar Blambangan yang diakui oleh para sejarawan, penulis mencurigai keterlibatan Inggris dalam pemberontakan ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Hal ini menjadi semakin jelas, ternyata para pejuang Blambangan mampu membangun pertahanan di Nusa Barong pada tahun 1773 dengan persenjataan yang sangat canggih yaitu memiliki 8 kapal yang dilengkapi masing-masing dengan sepucuk meriam, dan 100 pucuk senapan. Saat itu, Nusa Barong menampung 3.000 penduduk (NTM 84).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sehingga pelayaran di lautan Hindia masih dalam cengkeraman Blambangan Lebih meyakinkan lagi keterlibatan Inggris ketika akhirnya merebut Bengkulu dan mendirikan Benteng Malborough, benteng terbesar kedua di Asia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sesuai catatan pada British Library and India Office Collections, pada tahun 1790 benteng tersebut menyerupai sebuah kota kecil, dihuni oleh para petinggi atau perwira senior tentara Inggris dan pegawai sipil bersama keluarganya dan dilengkapi pencatatan perkawinan, pembaptisan dan kematian penduduk.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Bersambung&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1460635917323047/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher :&lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt; Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5xUsiELncc4D6ZMwjC4BNhqq2SXtLVPs1deBR_N8-OgRiRcsAVZKB2O-r5ippSCDEdbTii9oCvmmxev9YWR_JNxQGTkgWMAoay-q-mMqWF07P2gr9wjndESNPElBVJkwSkEUEXwj-g6ef/s72-c/perang+blambangan.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 5</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2018/01/keterlibatan-inggris-dalam-perang_6.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>Banyuwangi Tempo Dulu</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 6 Jan 2018 05:59:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-4916616026846922621</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 5&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5xUsiELncc4D6ZMwjC4BNhqq2SXtLVPs1deBR_N8-OgRiRcsAVZKB2O-r5ippSCDEdbTii9oCvmmxev9YWR_JNxQGTkgWMAoay-q-mMqWF07P2gr9wjndESNPElBVJkwSkEUEXwj-g6ef/s1600/perang+blambangan.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="460" data-original-width="726" height="202" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5xUsiELncc4D6ZMwjC4BNhqq2SXtLVPs1deBR_N8-OgRiRcsAVZKB2O-r5ippSCDEdbTii9oCvmmxev9YWR_JNxQGTkgWMAoay-q-mMqWF07P2gr9wjndESNPElBVJkwSkEUEXwj-g6ef/s320/perang+blambangan.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Mungkinkah Inggris terlibat dalam Perang di Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Jika demikian apakah pembangunan pemukiman Militer Inggris inilah yang menjadi sebab penyerbuan VOC ke Blambangan? Mengingat penyerbuan VOC ke Blambangan telah direncanakan sangat matang. Dan baru dilakukan setelah Mataram, Surabaya, Madura bersedia membantu maka penyerbuan ke Blambangan dilaksanakan dengan armada yang sangat besar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Penyerbuan pertama yang dipimpin Erdwiyn Blanke misalnya terdiri atas 25 buah kapal besar dan puluhan kapal kecil, yang memuat 335 serdadu Eropa, dan 3.000 laskar Madura, Mataram, Pasuruan, menggempur Panarukan pada tanggal 27 Pebruari 1767. Pasukan ini membumi hanguskan Panarukan dan merebut Banyualit pada 31Maret 1767 (NTM 63). Dan Blambangan pun jatuh ketangan VOC.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pengiriman armada yang sangat besar ini menjadi tidak masuk akal lagi karena jumlah penduduk Blambangan pada saat itu hanya 20.000 (catatan kependudukan VOC via DR. Sri margana dan I Made Sudjana MA).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Jika jumlah penduduk Blambangan 20 ribu, maka dipastikan maximal jumlah laki dewasa adalah 5000. (berdasar statistik normal). Jika dalam masa tidak damai atau terjadi perebutan kekuasaan maka jumlahnya akan jauh berkurang, katakan 4 ribu. Dan dari jumlah tersebut, tentara kerajaan yang terlatih hanya maximal 20% atau 800 0rang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Ternyata meskipun VOC telah mengerahkan armada yang sangat besar, kemudian menguasai Blambangan dengan cepat, kemudian membangun benteng di Banyualit, tetapi satu tahun kemudian timbul pemberontakan Wong Agung Wilis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Menjadi pertanyaan besar mengapa untuk memadamkan pemberontakan ini sekali lagi VOC mendatangkan bantuan armada yang tidak kalah besarnya dari yang pertama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Bantuan ini dipimpin A. Groen dengan membawa 13 kapal yang memuat 302 orang serdadu Eropa, 1000 orang laskar Madura, 400 orang dari Surabaya, 1700 laskar Lumajang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Blambangan kalah dan Wong Agung Wilis tertangkap, kemudian dibuang ke Banda pada tanggal 6 September 1768. (NTM 68).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Bersambung&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1459728384080467/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5xUsiELncc4D6ZMwjC4BNhqq2SXtLVPs1deBR_N8-OgRiRcsAVZKB2O-r5ippSCDEdbTii9oCvmmxev9YWR_JNxQGTkgWMAoay-q-mMqWF07P2gr9wjndESNPElBVJkwSkEUEXwj-g6ef/s72-c/perang+blambangan.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 4</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2018/01/keterlibatan-inggris-dalam-perang_81.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>Berita Banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 5 Jan 2018 05:55:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-3170916415510723033</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 4&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5xUsiELncc4D6ZMwjC4BNhqq2SXtLVPs1deBR_N8-OgRiRcsAVZKB2O-r5ippSCDEdbTii9oCvmmxev9YWR_JNxQGTkgWMAoay-q-mMqWF07P2gr9wjndESNPElBVJkwSkEUEXwj-g6ef/s1600/perang+blambangan.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="460" data-original-width="726" height="202" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5xUsiELncc4D6ZMwjC4BNhqq2SXtLVPs1deBR_N8-OgRiRcsAVZKB2O-r5ippSCDEdbTii9oCvmmxev9YWR_JNxQGTkgWMAoay-q-mMqWF07P2gr9wjndESNPElBVJkwSkEUEXwj-g6ef/s320/perang+blambangan.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Blambangan Yang Strategis dan Menguntungkan&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Betapa pentingnya Blambangan dalam kaitannya dengan Inggris, terbukti kerajaan Blambangan telah tercantum dalam peta pelayaran dunia yang dibuat Inggris tahun 1629 (National Library Singapore).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kehadiran pedagang Inggris semakin sering pada masa Jaya Blambangan, yaitu pada masa Susuhunan Tawangalun (1655 sd 1690).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada masa Tawangalun kehadiran pedagang Inggris menjadi setiap enam bulan sekali. (Drs I Made Sudjana Nagari Tawon Madu 61). Kehadirann pedagang Inggris yang sangat sering tersebut, menimbulkan kekawatiran VOC sehingga VOC mengirim utusan Jeremias van Vliet menghadap susuhunan Tawangalun pada tahun 1690. Tapi permintaan hubungan ini tidak ada kelanjutannya. Dan setelah itu VOC memutar balikkan fakta bahwa selat Bali rusuh dan penuh kekacauan (Drs I Made Sudjana Nagari Tawon Madu 62). Ternyata pernyataan itu harus ditafsirkan bahwa Ulupampang telah menjadi tempat yang paling sering dikunjungi kapal kapal Inggris untuk melanjutkan perjalanannya ke Timur menuju Pasir dan Banjarmasin (I Made Sudjana MA. Nagari tawon Madu 60).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pantaslah hal itu telah merubah motivasi Inggris, kalau awalnya hanya sebagai tempat persinggahan maka pada tahun 1760, Ulu Pampang/Blambangan mulai dilirik sebagai tempat berpijak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada tahun 1765, konsul EIC merekomendasikan beberapa pelabuhan yang cukup tepat untuk pendirian perwakilan perdagangan EIC, termasuk di Blambangan (DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 49). Setelah itu yaitu tahun 1766, kehadiran kapal Inggris semakin sering. Jika sebelumnya hanya sekitar 6 bulan sekali, maka mulai tahun 1766 hampir setiap bulan, bahkan kadang kadang dua kali setiap bulan, (Drs I Made Sudjana MA. Negara Tawon Madu 61).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dan pada bulan Agustus 1766 tiga kapal besar Inggris diikuti lima kapal belas chialoup, dan dua puluh lima pecalang dan seratus kapal yang lebih kecil, membawa pelaut bugis dan Madura tiba di Blambangan di bawah komando Edward Coles (DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 49).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tidak dijelaskan apa yang dilakukan oleh armada yang sangat besar ini. Tetapi Thomas Stanford Raffless menjelaskan bahwa setelah itu, seorang berkebangsaan Inggris, Mr.Yesse, mulai membangun pemukiman di Blambangan. Pemukiman itu dinilai sangat tepat. Demikian baiknya tempat itu sehingga tempat tersebut disamakan kedudukannya dengan Pinang di Malaya. (Thomas Stanford Raffless History of Java 144).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Selain itu, Stanford Raffless, juga memuji keberhasilan pemerintahan Blambangan. Tetapi kemudian Mr Yesse diangkat menjadi Residen di Borneo, sehingga pembangunan pemukiman itu dihentikan dan dinyatakan gagal. Thomas Stanford Raffless menyesalkan kegagalan pembangunan pemukiman itu, dan mengemukakan analisa bahwa kegagalan pembangunan tersebut karena pemukiman tersebut semata mata disebabkan dikhususkan untuk militer, tanpa ada pedagang profesional atau pedagang petualang yang disertakan di pemukiman tersebut. (Ho J.148)&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Bersambung&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhum&lt;/a&gt;i&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1458826847503954/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5xUsiELncc4D6ZMwjC4BNhqq2SXtLVPs1deBR_N8-OgRiRcsAVZKB2O-r5ippSCDEdbTii9oCvmmxev9YWR_JNxQGTkgWMAoay-q-mMqWF07P2gr9wjndESNPElBVJkwSkEUEXwj-g6ef/s72-c/perang+blambangan.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 3</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2018/01/keterlibatan-inggris-dalam-perang_5.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 5 Jan 2018 05:52:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-223730115382128167</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 3&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMs4QKL96AggRsWJofMliMbHaibBLtopgkQ6_1vV3Vwm1LyaZd58w__tFK-Zrn-_wKO3xMcfin_Tep58vbe5eNKp6egJ4LjZ45e7ExqkIkBl0vANFTzU5cBZCn9qDmSVT_e5P_8OsNThgp/s1600/perang+blambangan.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="460" data-original-width="726" height="202" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMs4QKL96AggRsWJofMliMbHaibBLtopgkQ6_1vV3Vwm1LyaZd58w__tFK-Zrn-_wKO3xMcfin_Tep58vbe5eNKp6egJ4LjZ45e7ExqkIkBl0vANFTzU5cBZCn9qDmSVT_e5P_8OsNThgp/s320/perang+blambangan.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Inggris dan Bengkulu&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Ketika VOC telah menguasai Banten sejak tahun 1600, dan mengusir EIC (badan dagang Inggris) dari Banten, dari Jakarta dan dari Banda pada tahun 1625, maka Inggris mulai mencari pijakan baru.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Karena Inggris telah memiliki hubungan yang sangat baik dengan Blambangan sejak tahun 1600, maka Inggris hanya membutuhkan pijakan di Sumatera.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Semula Inggris, berkeinginan mengikat perjanjian dengan Sultanah Aceh Zaqiyat ud din Inayat Shah, tetapi Sultanah menolak. Kemudian Inggris menghubungi kedatuan Baros dan Pariaman. Baros dan Pariaman dapat menerima tawaran tersebut, karena VOC yang dikenal ganas juga mulai melirik Pariaman.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tetapi dua hari menjelang keberangkatan armada Inggris ke Pariaman, Kedatuan Bengkulu juga mengirimkan utusan ke Inggris, meminta Inggris dapat melindungi Bengkulu dari penjajahan VOC. (Untuk diingat kalau VOC menekankan kekuasaan, sedang EIC (Inggris) menekankan hubungan dagang. Maka Inggrispun membangun pijakan di Bengkulu. (Alaan Harfield (1995): Bencolen : A history of the Honourable East India Company’s, Garrison on the west coast Sumatra (1685 -1825).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada tahun 1685 utusan Inggris disambut Orang kaya Lela, dan Patih Setia raja Muda. Hubungan dagang kemudian dilanjutkan pembangunan Garrison (kompleks Militer) berupa benteng, yaitu benteng Malborough dan juga membangun faktory. (Firdaus Burhan (1988) Bengkulu Dalam Sejarah)&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Disisi lain penguasaan VOC atas laut Jawa sangat menindas pedagang Nusantara Timur, yang telah lama memiliki hubungan dengan kerajaan Melayu, China, dan India, sehingga mereka memilih lewat lautan Hindia dan menjadikan Ulupampang sebagai pelabuhan persinggahan. Maka Ulupampang menjadi pelabuhan yang ramai karena menjadi pertemuan pedagang Nusantara dan Inggris.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Ini terbukti sejak awal tahun 1600an Ulupampang mampu mengekspor, sarang burung walet seharga f 4000, bahan lilin 10 pikul, dan beras 600 ton setiap tahun. (Drs I Made Sudjana MA. Nagari Tawon Madu 22).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Bersambung&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis:&lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt; Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1458023174250988/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher :&lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt; Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMs4QKL96AggRsWJofMliMbHaibBLtopgkQ6_1vV3Vwm1LyaZd58w__tFK-Zrn-_wKO3xMcfin_Tep58vbe5eNKp6egJ4LjZ45e7ExqkIkBl0vANFTzU5cBZCn9qDmSVT_e5P_8OsNThgp/s72-c/perang+blambangan.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 2</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2018/01/keterlibatan-inggris-dalam-perang_4.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Raja Blambangan</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 4 Jan 2018 05:35:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-7369882621314896369</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 2&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPJ0v0TWrkP1o6g7HqPINu5UE137kOvFX0bOXBwmry9aJNBSj4Oo_JF9LirlexgyHTDpq0yXIakvs80nff-XfPDMe593HeLXcbCaFJsJ98bFigBaNUWoKxrOyftGPKQXU_JTnPtvApfnSq/s1600/perang+blambangan.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="460" data-original-width="726" height="202" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPJ0v0TWrkP1o6g7HqPINu5UE137kOvFX0bOXBwmry9aJNBSj4Oo_JF9LirlexgyHTDpq0yXIakvs80nff-XfPDMe593HeLXcbCaFJsJ98bFigBaNUWoKxrOyftGPKQXU_JTnPtvApfnSq/s320/perang+blambangan.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Perebutan Rempah Nusantara antara Inggris dan Belanda&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Setelah bebas dari Spanyol, seorang pelaut Belanda yang pernah mengikuti perjalanan Portugal ke Nusantara, yaitu Cornelis de Houtman dipercaya menjadi pimpinan expedisi menuju Nusantara pada 2 April 1595.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Cornelis de Houtman menempuh perjalanan sesuai perjalanan yang dilakukan oleh Portugal, sehingga mendarat di Banten pada tahun 1596 dan membeli rempah-rempah di Banten.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Keuntungan yang luar biasa dari perdagangan rempah-rempah mendorong Belanda segera membentuk badan dagang VOC (Vereenigde Oostinsche Companya), pada 20 Maret 1602, meniru pembentukan The British East India Company (EIC) yang telah terbentuk pada 13 Desember 1600.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Berbeda dengan EIC yang dibentuk Inggris sebagai badan dagang murni ,VOC yang dibentuk Belanda diberi kewenangan yang melebihi sebagai badan dagang yaitu memiliki tentara, dan berhak menduduki suatu wilayah dan membentuk pemerintahan sendiri. Hal ini mungkin disebabkan, karena Belanda baru saja merdeka dari Spanyol (1588), membutuhkan banyak dana untuk membangun negeri bawah laut yang miskin ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kekuasan besar ini mendorong VOC tidak lagi berdagang dengan Banten tetapi malah menduduki Banten, pada tahun 1610 dan menetapkan Bolt sebagai Gubernur Banten. Kemudian Bolt merebut Jayakarta, dan memindahkan kantor Gubernur ke Jayakarta dan menjadikan Jayakarta sebagai ibukota di Hindia Timur. (History of Java xviii).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sejarah mencatat inilah badan dagang pertama yang menjajah kerajaan lain (peristiwa seperti ini selanjutnya disebut Kapitalis). Dan sebagai badan dagang yang memiliki tentara dan hanya memikirkan keuntungan sebesar besarnya, maka VOC telah menunjukan tindakan tak berperikemanusian sejak awal berdirinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
JP Coen pengganti Bolt, pada 1621 merebut Banda penghasil pala terbaik di dunia dari tangan Inggris.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Ketika penduduk Banda dipaksa menjual pala dengan harga murah, mereka menolak dan JP Coen melakukan tindakan brutal kemanusian terhadap rakyat Banda. Para pedagang dan petani yang tidak menjual pala ke Belanda ditembak kemudian tubuhnya ditusuk dengan bambu, setelah itu digantung. Yang tertangkap hidup dibakar dan keluarganya (istri dan anak famili) dimusnahkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tindakan brutal kemanusian ini dikenal sebagai Genocida dan tetap dikenang rakyat Banda, juga di tempat kelahiran JP Coen di Horn. Pemerintah dan masyarakat tempat kelahiran JP COEN menambah nama tokoh itu dengan kalimat; "pembunuh kejam rakyat Banda".&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
JP.Coen.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dengan menguasai Maluku dan Banten, Jakarta maka VOC telah menguasai sepenuhnya pelayaran di laut Jawa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kekalahan Inggris di pulau Banda dan tertutupnya laut Jawa bagi Inggris tidak berarti Inggris melepaskan Nusantara. Inggris memandang Nusantara, terutama Sumatera dan Borneo memiliki potensi kekayaan yang amat besar. Menurut Mr. Farquhar (menurut Thomas Stanford Raffless, Mr Farquhar adalah orang yang paling mengerti dan paling mengenal secara mendalam sumber daya kepulauan timur), Sumatera dan Borneo memiliki kekayaan sama dengan Brazilia (History of Java 140). Dan posisi Jawa di benua Asia (China) dan Hindia sangat strategis sepeti Mesir dan Sicilia di selatan Eropa (History of Java 101). Oleh karena itu ketika laut Jawa telah dikuasai VOC maka Inggris yang ingin menguasai Nusantara memilih menguasai pelayaran lautan Hindia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Bersambung&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1457608587625780/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPJ0v0TWrkP1o6g7HqPINu5UE137kOvFX0bOXBwmry9aJNBSj4Oo_JF9LirlexgyHTDpq0yXIakvs80nff-XfPDMe593HeLXcbCaFJsJ98bFigBaNUWoKxrOyftGPKQXU_JTnPtvApfnSq/s72-c/perang+blambangan.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 1</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2018/01/keterlibatan-inggris-dalam-perang.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 3 Jan 2018 05:33:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-6083019193110721774</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;KETERLIBATAN INGGRIS DALAM PERANG BLAMBANGAN 1&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzQMuDzIeVoDzQk30NsDdysh8HOvdjQnwj9wjNsStqKUaJ-x95bVz5cbE4uxe7dYonmhj3G2LyKo3yTIyM-0tI64kiVOfEMVleh9ghffswYf52M8xV3MSnVgvH0ikk2S9yx_8z1qxRIHnx/s1600/perang+blambangan.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="460" data-original-width="726" height="202" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzQMuDzIeVoDzQk30NsDdysh8HOvdjQnwj9wjNsStqKUaJ-x95bVz5cbE4uxe7dYonmhj3G2LyKo3yTIyM-0tI64kiVOfEMVleh9ghffswYf52M8xV3MSnVgvH0ikk2S9yx_8z1qxRIHnx/s320/perang+blambangan.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
A. Hubungan Inggris, Indonesia, dan Blambangan&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dalam pesta Jamuan Makan di istana Buchkingham untuk menghormati President Bambang Susilo Yudhoyono, dalam penganugerahan gelar Knigt Grand Cross in the Order of Bath, Ratu Elizabeth II antara lain menyampaikan bahwa hubungan bilateral antara Indonesia dan Inggris sebenarnya telah terjalin sejak beberapa abad yang lalu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Ratu menunjuk kedatangan Francis Drake (nachkoda Inggris yang mengelilingi dunia pada akhir abad ke 16) yang telah datang ke Indonesia dan Thomas Stanford Raffles yang menjadi Gubernur Nusantara pada tahun 1811 sd 1816 dan pada tahun 1818 sampai 1824 Gubernur Jendral Bengkulu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah pemimpin asing ke empat yang menerima gelar ini. Gelar ini pernah diberikan kepada Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagen, Presiden Perancis Jaques Chirac, dan Presiden Turki Abdullah Gul. Knight Grand Cross in the Order of The Bath, adalah Penghargaan yang dideklarasikan oleh raja George I pada tahun 1725.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
B. Francis Drake, Blambangan dan kerajaan Belanda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Keuntungan perdagangan rempah rempah dan harta karun dari dunia baru yang didapat oleh Spanyol dan Portugal telah mendorong Francis Drake melakukan perjalanan mengelilingi dunia menyusul mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Francis Drake adalah seorang pelaut kapal perang, navigator, pahlawan angkatan laut, politikus, dan insinyur sipil berkebangsaan Inggris. Dalam catatan sejarah, pada tahun 1577 sampai dengan tahun 1580, Francis telah melakukan perjalanan keliling dunia dan singgah di pelabuhan Blambangan yaitu Ulu Pampang dengan membawa dua kapal dagang yang sangat besar yaitu The Paca (bobot 70 ton) dan The Swan (bobot 50 ton). (J.Hageman Jcz, Java ‘S Ousthoek via I Made Sudjana, Nagari Tawon Madu, 2001. 24).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Ia adalah orang Inggris pertama yang mengelilingi dunia. Karena keberhasilannya mengelilingi dunia dia dilantik menjadi Ksatrya oleh Ratu Elzabeth I dan bergelar Laksamana Muda Sir Francis Drake. Karirnya semakin melesat, setelah sebagai wakil pimpinan armada Inggris, dia mampu mengalahkan armada Spanyol pada tahun 1588. Kekalahan armada Spanyol dari Inggris, menjadi faktor penting bagi kemerdekaan kerajaan Belanda dari penjajahan Spanyol selama 80 tahun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
C. Ulupangpang&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Ulupampang (terletak diselat Bali) mulai dibangun kerajaan Blambangan pada tahun 1576 ketika Penarukan mulai ditinggalkan pelaut Portugis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sebelumnya Panarukan menjadi tempat aman bagi persinggahan kapal Portugis menuju tanah jajahannya Malaka. Jonno de Barros (Portugies), menulis dalam Decada IV, buku I, bab 7, bahwa pada Juli 1528, Don Garcia Henriquez, berlabuh di pelabuhan Peneruca/Panarukan untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dikabarkan raja Panarukan mengirim dutanya pada Gubernur Portugies di Malaka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tentang Peneruca dikemukakan bahwa sejak tahun 1526 telah dikunjungi 20 buah kapal Portugis untuk membeli perbekalan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kerajaan Blambangan dianggap netral karena merupakan kerajaan Hindu, sedang kerajaaan dipantai utara Jawa mendukung perjoangan kerajaan Malaka untuk bebas dari Portugis (Negeri Tawon Madu. 22)&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Panarukan mulai ditinggalkan oleh pelaut Portugis ketika perang Portugis dengan kerajaan Islam tidak pernah reda, dan pelaut Portugis Fernan de Magelhaen menemukan Amerika yang lebih dekat dan menjanjikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Ketika Portugis mulai meninggalkan Panarukan, maka Panarukan-pun sepi. Maka Blambanganpun mulai memindahkan kegiatan pelabuhan lautnya ke selat Bali yaitu di Ulupampang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Ulupampang lebih menjanjikan karena dukungan alam, dilindungi oleh gunung sehingga aman dari serangan musuh, lautnya dalam, hasil lautnya melimpah, demikian juga hasil alam (hutan, pertannian).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Maka pantaslah Francis Drake penjelajah dunia pertama Inggris menjadikan Ulupampang di Blambangan untuk mengisi perbekalan pada tahun 1579. Dan sepuluh tahun kemudian Thomas Candish, penjelajah Inggris lainnya membawa kapal dagang Preety dan Wilhems singgah di Blambangan pada 1 sd 16 Maret tahun 1588, selama dua minggu tinggal di Blambangan untuk membeli logistik, kemudian berlayar melanjutkan perjalanan ke timur. (Drs I. Made Sudajana. Nagari Tawon Madu, 23). Dan merebut pulau Banda yang mulai ditinggalkan oleh Portugal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dengan demikian sebenarnya Francis Drake maupun Thomas Candish lebih dahulu mendarat di ULUPAMPANG daripada Cornelis de Houtman (pelaut Belanda), yang mendarat di Banten pada tahun 1596&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
(Bersambung)&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhum&lt;/a&gt;i&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/471315029707535/search/?query=perang%20puputan" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher :&lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt; Bandar Uyah&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzQMuDzIeVoDzQk30NsDdysh8HOvdjQnwj9wjNsStqKUaJ-x95bVz5cbE4uxe7dYonmhj3G2LyKo3yTIyM-0tI64kiVOfEMVleh9ghffswYf52M8xV3MSnVgvH0ikk2S9yx_8z1qxRIHnx/s72-c/perang+blambangan.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>MENGENAL TAWANGALUN</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2018/01/mengenal-tawangalun.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 2 Jan 2018 04:55:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-1747088320684458700</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;MENGENAL TAWANGALUN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFu2W-kXj390JcBFJgMNBbIHq7eLFfpM-mGMDMfZhinH174bfOl7Iqd0K-mShcfYm1SxBg1KoUO0HbUi7nM-MAYbVujXBks6oYXKxF0y1jvVlz7MuFzi2TsA-pCCOQOQflP4pf84CtB4DT/s1600/tawangalun.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="554" data-original-width="576" height="307" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFu2W-kXj390JcBFJgMNBbIHq7eLFfpM-mGMDMfZhinH174bfOl7Iqd0K-mShcfYm1SxBg1KoUO0HbUi7nM-MAYbVujXBks6oYXKxF0y1jvVlz7MuFzi2TsA-pCCOQOQflP4pf84CtB4DT/s320/tawangalun.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; text-align: left;"&gt;1. Rshi Tawangalun (Bhre Wirabhumi II) Aji Rajanatha putera Hayam Wuruk, yang diabadikan di Candi Tawangalun Sidoarjo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;
2. Prabu Tawangalun I/Tawangalun Nyakra (Mbah Alun) alias Menak Seruyu, raja Blambangan di Kutha Kedhawung (Umbulsari Jember) diabadikan sebagai nama Terminal Jember dan Universitas Tawangalun/UNITA (Sekarang UNEJ).&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;
3. Sri Susuhunan Prabu Tawangalun II alias K&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;i Mas Kembar, yang memindahkan ibukota Blambangan dari Kutha Kedhawung ke Bayu dan Macanputih. Beliau diabadikan sebagai nama GOR di Banyuwangi, nama Kereta Api jurusan Malang-Pasuruan-Probolingg&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: inline-block; font-family: inherit;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;o-Lumajang-Jember-Banyuwan&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: inline-block; font-family: inherit;"&gt;&lt;/span&gt;gi, dan sebuah Stasiun Radio Swasta di Genteng, Banyuwangi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="background-color: white; display: inline; text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; text-align: left;"&gt;
Pemerintah tidak mengabadikannya sebagai PAHLAWAN NASIONAL, tapi masyarakat Blambangan mengenang selalu nama mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt; dan &lt;a href="https://www.facebook.com/photo.php?fbid=978033562270238&amp;amp;set=gm.937957819590862&amp;amp;type=3&amp;amp;theater&amp;amp;ifg=1" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher :&lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt; Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFu2W-kXj390JcBFJgMNBbIHq7eLFfpM-mGMDMfZhinH174bfOl7Iqd0K-mShcfYm1SxBg1KoUO0HbUi7nM-MAYbVujXBks6oYXKxF0y1jvVlz7MuFzi2TsA-pCCOQOQflP4pf84CtB4DT/s72-c/tawangalun.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SANG HYANG BARUNA DHARMAPUTRA</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2018/01/sang-hyang-baruna-dharmaputra.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 1 Jan 2018 04:49:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-4466077707383159905</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px;"&gt;&lt;b&gt;SANG HYANG BARUNA DHARMAPUTRA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEir0xjXOcgRzMqqk2BX0Fxa8evT0RbDhTvXTXWvaZ8Mmjl1v7QtgwY7LIT7au4s6dCqoj3VufYEwozeXdn-WOTEDpokmZ0QK-k2WVqu7dXZ1E_of7XrJ11udn8maCn606c5EJaJHoVhurHr/s1600/SANG+HYANG+BARUNA+DHARMAPUTRA.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="576" data-original-width="638" height="288" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEir0xjXOcgRzMqqk2BX0Fxa8evT0RbDhTvXTXWvaZ8Mmjl1v7QtgwY7LIT7au4s6dCqoj3VufYEwozeXdn-WOTEDpokmZ0QK-k2WVqu7dXZ1E_of7XrJ11udn8maCn606c5EJaJHoVhurHr/s320/SANG+HYANG+BARUNA+DHARMAPUTRA.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pataka Sang Hyang Baruna Dharmaputra adalah pusaka Majapahit era Prabustri Suhita yg diwariskan pada Trah Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Saat suatu daerah memiliki pimpinan, wilayah, rakyat, dan pengakuan dari daerah lain dg adanya pusaka. Maka dia resmi menjadi sebuah negara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Diperkirakan tahun 1433, Pangeran Menak Sembuyu memperoleh Pataka Sang Hyang Baruna Dharmaputra atas jasa ayahnya membela kedaulatan Majapahit dari pemberontakan Raden Gajah Bhra Narapati (Menak Jinggo). Sejak itu Blambangan merdeka.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt; dan &lt;a href="https://www.facebook.com/photo.php?fbid=978818358858425&amp;amp;set=gm.938650356188275&amp;amp;type=3&amp;amp;ifg=1" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEir0xjXOcgRzMqqk2BX0Fxa8evT0RbDhTvXTXWvaZ8Mmjl1v7QtgwY7LIT7au4s6dCqoj3VufYEwozeXdn-WOTEDpokmZ0QK-k2WVqu7dXZ1E_of7XrJ11udn8maCn606c5EJaJHoVhurHr/s72-c/SANG+HYANG+BARUNA+DHARMAPUTRA.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BLAMBANGAN MEMBARA 7 TAMAT</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2017/12/blambangan-membara-7-tamat.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Raja Blambangan</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 31 Dec 2017 04:44:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-2834393852086414747</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BLAMBANGAN MEMBARA 7 TAMAT&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjccdXjrCALka8jcmJ_5r-gJ1E8pLT5_oz-oWUJxCm5RHG7YCROT7ntpfCNXGBxZq1O5xA1y1iu9P07-Hp23fndlAIIBQB2wPOSWtuTPj-y5DC697uVC8ZHaBdKZRgFjCcWu8C-hoY-WJ32/s1600/blambangan+membara.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="525" data-original-width="725" height="231" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjccdXjrCALka8jcmJ_5r-gJ1E8pLT5_oz-oWUJxCm5RHG7YCROT7ntpfCNXGBxZq1O5xA1y1iu9P07-Hp23fndlAIIBQB2wPOSWtuTPj-y5DC697uVC8ZHaBdKZRgFjCcWu8C-hoY-WJ32/s320/blambangan+membara.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Singomanjuruh menjadi Singojuruh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Di Mandala Timur, pimpinan perang dari Blambangan, Singomanjuruh (veteran perang Malang), pengawal Adipati Malang dan Blitar memimpin perang dengan heroik bertempur sampai titik darah penghabisan dan gugur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada tempat gugurnya dipersembahkan namanya, Singomanjuruh, tetapi kemudian kita mengenalnya SINGOJURUH.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Di Mandala tempur Timur 700 orang pasukan dan dua Komandan Perang (Sangkil dan Vasco Keling) meninggal mengenaskan, dan dua Komandan perang Kompeni Leitnant Monro dan Imhooff terluka kena panah beracun warangan yang tak bisa ditangkal sehingga telah menyebar dalam tubuhnya, menjadikan darah menggumpal dan menyumbat aliran darah, mematikan syaraf, menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kedua orang itu mengerang kesakitan semalam suntuk, dengan tubuh secara perlahan membiru. Team kesehatanpun tidak mampu mengobati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sedang Leitnant Schaar dan kapten Alap Alap, terhindar dari kematian&lt;br /&gt;Puputan Bayu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pil pahit tgl 18 Desember 1771 mengingatkan tentara VOC veteran perang Wong Agung Wilis, bahwa Blambangan adalah MAWAR BERBISA (negeri yang lebih indah dan subur serta sangat bernilai dibanding Mataram, tetapi menyebarkan maut setiap saat).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dalam perang WONG AGUNG WILIS yang besar itu, Kapten van Reiyks, Mayor Blanke, dan Mayor Coop de Groen, melayang nyawanya bersama ribuan pasukan gabungan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pengalaman buruk itu pada tanggal 18 Desember, membuat Kompeni memperkuat serangan pagar betis, dan penyerbuan tanpa henti pada tanggal 19 Desember. Serangan brutal dan tanpa ampun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Prajurit Blambangan yang tertangkap digantung dipohon atau dibakar hidup hidup. Dalam serangan brutal ini De Kornet Tinne tertembak peluru, Leitnant Schaar terjebak cula kemudian tertebas pedang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Serangan ke Bayu semakin gencar dan perlawananpun tak kunjung reda. Kini tinggal Kapten Hinrich di Mandala Barat dan Kapten Alap Alap di Mandala Timur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kapten Alap Alap memahami benar aturan Manggala Majapahit. Dan ingin secepatnya meraih kemenangan. Maka kudanya melesat mendahului pasukan dan menantang P. Rempeg Jagapati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sebagai ksatrya Blambangan, adalah keharusan untuk menghadapi tantangan, walaupun semua pimpinan perang Blambangan menghalangi karena diyakini sebagai jebakan Kompeni.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dengan mengenakan pakaian kebesaran Blambangan, P. Rempeg Jagapati menyongsong kedatangan Kapten Alap Alap. Sebuah perang tanding menggunakan pedang terjadi. P. Rempeg Jagapati berhasil melukai tubuh Kapten Alap Alap, dia oleng dan hampir jatuh tetapi bersamaan dengan itu, pasukan Kompeni menghujani tembakan ke P. Rempeg Jagapati. Tubuh Pangeran bersimbah darah, tetapi masih tetap bertahan di kudanya, mengarahkan pandangan sinis ke Kapten Alap Alap, ternyata Kompeni tetap saja pecundang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Emosi Kapten Alap Alap membara, teriak histeris menyesali perbuatan Kompeni, kudanya terkejut dan melempar Kapten Alap Alap ke tanah dan mati naka gagal mati sebagai Ksatrya (Mati dipedang Lawan).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Demikian juga P. Rempeg Jagapati gugur dalam laga Ksatrya. Bersamaan dengan itu, serbuan dalam jajar mandala Gelombang Samodra prajurit Blambangan tak terbendung menggempur karang pasukan Kompeni yang jumlahnya berkali kali lipat dengan persenjataan yang lebih modern.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tidak ada kata menyerah bagi Ksatrya Blambangan, yang ada hanya BELAPATI, SETYA A NAGRI.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Inilah perang sampai titik darah penghabisan dan sampai semua prajurit gugur (PUPUTAN BAYU)&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Menjelang bang bang kulon, ketika matahari memerah disebelah barat, medan pertempuran telah selesai. Anak dan ibu lari masuk hutan Indrawana, dalam ketakutan dan isak tangis yang memilukan. Bayu tiba tiba mendung, tiada suara, sunyi, sepi, suara anginpun tidak terdengar. Alampun Bayupun bersedih, menangis, hujan rintik-rintik membasahi bumi Dengarlah suara alam ini dengan hati mu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
(T A M A T)&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan&lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1448150798571559/" target="_blank"&gt; BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjccdXjrCALka8jcmJ_5r-gJ1E8pLT5_oz-oWUJxCm5RHG7YCROT7ntpfCNXGBxZq1O5xA1y1iu9P07-Hp23fndlAIIBQB2wPOSWtuTPj-y5DC697uVC8ZHaBdKZRgFjCcWu8C-hoY-WJ32/s72-c/blambangan+membara.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BLAMBANGAN MEMBARA 6</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2017/12/blambangan-membara-6.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 30 Dec 2017 04:25:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-2048216720636293478</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BLAMBANGAN MEMBARA 6&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjccdXjrCALka8jcmJ_5r-gJ1E8pLT5_oz-oWUJxCm5RHG7YCROT7ntpfCNXGBxZq1O5xA1y1iu9P07-Hp23fndlAIIBQB2wPOSWtuTPj-y5DC697uVC8ZHaBdKZRgFjCcWu8C-hoY-WJ32/s1600/blambangan+membara.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="525" data-original-width="725" height="231" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjccdXjrCALka8jcmJ_5r-gJ1E8pLT5_oz-oWUJxCm5RHG7YCROT7ntpfCNXGBxZq1O5xA1y1iu9P07-Hp23fndlAIIBQB2wPOSWtuTPj-y5DC697uVC8ZHaBdKZRgFjCcWu8C-hoY-WJ32/s320/blambangan+membara.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;ilustrsi foto&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Bela Pati&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Setelah pertempuran RAUNG, pasukan Blambangan ditarik mundur ke Bayu dan menjadikan sebagai hari berduka bagi Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Gugurnya Baswi, veteran Perang Surabaya, yang berhasil merebut meriam dan bedil dari Belanda, juga guru Wong Agung Wilis, serta teladan Satya a Nagri, sungguh sebuah kehilangan besar. Lebih dari itu kematiannya sangat menyakitkan para ksatrya Blambangan. Tipu daya Kapten Kreygerg tidak akan pernah termaafkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Disamping berduka karena gugurnya Baswi, pasukan Blambangan juga berbahagia menerima Singamanjuruh pimpinan pasukan Mataram yang membelot dari Kompeni. Untuk menebus gugurnya Baswi dan R. Mas Puger Surawijaya, perang besarpun harus dipersiapkan. Strategy Tempur Supit Urang perlu diganti, tetapi aturan perang Majapahit tidak boleh ditinggalkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sementara Kapten Kreygerg dan Henrich setelah pertempuran itu meneruskan perjalanan menuju Bayu, mereka memilih jalan yang formal dengan penuh ke hati hatian. Di depan dipasang batang pisang yang ditarik kerbau, sehingga apabila ada Songga atau cula akan menembus kerbau atau batang pisang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Namun ketika pasukan terkena Songga atau cula, maka tak ayal lagi desa Blambangan disekitar tempat itu dibakar dan hancur leburkan. Temuguruh dijadikan lautan api, karena dianggap sebagai pusat Logistik Bayu. Pengungsian besar besaran dari Temoguruh menuju Kedungliwung dikenang rakyat Blambangan dengan lagu PODO NONTON.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dan pada tgl 18 pagi pasukan Kompeni Mandala Barat telah berada pada posisi .&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kabar bumi hangus Kompeni sampai ke Bayu. Dan dari Bayu hanya ada satu tekad, BELA PATI SETYA A NAGRI.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Strategy tempur yang dipilih OMBAK SAMUDRO (Serangan dilakukan bergelombang dibawah pimpinan Tempur. Tidak seperti yang dilakukan Baswi). Ombak Samudra adalah sebuah strategi yang membutuhkan tingkat keahlian tempur dan disiplin.&lt;br /&gt;
Walaupun Kompeni telah membakar persediaan pangan dan desa Blambangan, ternyata tidak setitikpun membuat wong Blambangan ngeri dan takut perang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kali ini serangan dimulai oleh Kompeni dengan menembakkan meriam dan kanon, dan bergerak dengan cepat menuju Bayu, seakan akan tanpa perlawanan. Ketika tidak ada perlawanan sama sekali, pasukan Kompeni memburu maju, tanpa terduga muncul gelombang penyerbuan tiada berhenti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Seketika Leitnant Fisher tersungkur terkena tembakan, dan Kapten Kreygerd tertembus panah. Kapten Kreygerd seperti mereka yang terkena panah, mengalami penderitaan yang luar biasa, kemudian mati menebus kematian Baswi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dari pasukan Blambangan Sayu Wiwit dan Sradadi dikabarkan gugur tetapi tidak diketahui jenazahnya ada dimana.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
(Bersambung...&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: &amp;quot;helvetica&amp;quot; , &amp;quot;arial&amp;quot; , sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: &amp;quot;helvetica&amp;quot; , &amp;quot;arial&amp;quot; , sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: &amp;quot;helvetica&amp;quot; , &amp;quot;arial&amp;quot; , sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: &amp;quot;helvetica&amp;quot; , &amp;quot;arial&amp;quot; , sans-serif;"&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor:&lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt; Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1447525718634067/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-size: 14px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjccdXjrCALka8jcmJ_5r-gJ1E8pLT5_oz-oWUJxCm5RHG7YCROT7ntpfCNXGBxZq1O5xA1y1iu9P07-Hp23fndlAIIBQB2wPOSWtuTPj-y5DC697uVC8ZHaBdKZRgFjCcWu8C-hoY-WJ32/s72-c/blambangan+membara.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>BLAMBANGAN MEMBARA 5</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2017/12/blambangan-membara-5.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 29 Dec 2017 04:39:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-2906834529687280741</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BLAMBANGAN MEMBARA 5&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjccdXjrCALka8jcmJ_5r-gJ1E8pLT5_oz-oWUJxCm5RHG7YCROT7ntpfCNXGBxZq1O5xA1y1iu9P07-Hp23fndlAIIBQB2wPOSWtuTPj-y5DC697uVC8ZHaBdKZRgFjCcWu8C-hoY-WJ32/s1600/blambangan+membara.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="525" data-original-width="725" height="231" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjccdXjrCALka8jcmJ_5r-gJ1E8pLT5_oz-oWUJxCm5RHG7YCROT7ntpfCNXGBxZq1O5xA1y1iu9P07-Hp23fndlAIIBQB2wPOSWtuTPj-y5DC697uVC8ZHaBdKZRgFjCcWu8C-hoY-WJ32/s320/blambangan+membara.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Ilustrasi Foto&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Satya A Nagari&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Gelar pasukan VOC dari Barat segera bergegas menuju ke timur, menemui Mayang, Kalisat. Desa-desa Blambangan sepi, demikian juga pasukan Kompeni yang menyerbu dari timur juga menemui Banyuwangi, tanah Perdikan Pakis, Lugonto juga sepi. Loji Kompeni di Muncar sudah tidak terawat lagi, Keradenan hanya menyisakan beberapa orang tua. Tanda kehidupan hanya berupa berkibarnya kain hitam yaitu tanda berkabung atas wafatnya R. Mas Puger Surawijaya dimedan pertempuran Barat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pagi dini hari 14 Desember Pasukan Kompeni, dibawah pimpinan Kapten Kreygerg, Kapten Heinrich, Letnan Fisher, De Kornet Tinne telah mencapai Gunung Raung. Pimpinan pasukan Blambangan Ledok Samirana yang kalah di Puger membelot ke pihak Kompeni.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Di Raung tentara Blambangan dibawah pimpinan Baswi, Sayu Wiwit, Sradadi, dan Yestyani menghadang Kompeni.&lt;br /&gt;Sedangkan pasukan kompeni dari arah Ulupampang (Muncar) tentara Kompeni dibawah pimpinan Leitnan Inhoff, Leitnan Montro, Vasco de Keling, Leitnan Schaar, Sangkil, sedang dari arah Ketapang, pimpinan pasukan adalah Kapten Alap Alap.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kedua kekuatan ini bertemu di Lugonto dan terus melaju ke Barat. Pasukan Blambangan menghadang di Lemahbang Dewo, Alasmalang dan Gambor yang dipimpin Singomanjuruh senopati kompeni dari Malang yang membelot untuk mendukung Blambangan bersama Mas Ayu Prabu, Gusti Tangkas (pasukan Bali) dan Rempeg Jagapati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Ketika matahari telah mencapai sepenggalah, medan barat dan medan timur dikejutkan dengan melesatnya ratusan ribu anak panah disertai bunyi tembakan dan dentuman meriam. Pasukan Kompeni di Raung tidak siap. Roboh berjatuhan terkena terjangan mesiu, dan panah beracun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Mereka yg terkena anak panah mengejang kesakitan kemudian tubuhnya biru. Kompeni langsung membalas serbuan tersebut dengan tembakan gencar bedil dan Kanon, yang gelegar dentumannya seakan membelah bumi Raung. Seketika serangan Blambangan berhenti dan sunyi. Maka dengan teriakan kemenangan pasukan Kompeni mengejar pasukan Blambangan menerobos masuk hutan……&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Ternyata tidak ada satu mayatpun yang ditemukan dan membuat pimpinan Kompeni tidak mampu menahan malu dan marah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Belum lepas marah dan malu, tiba2 muncul serbuan tawon yang membuat tentara Kompeni kocar kacir Kompenipun masuk dalam jebakan Songga (Bambu Runcing beracun, yang apabila terinjak menusuk dari dua arah) dan apabila terjatuh terkena Cula, (bambu runcing beracun 10m), keduanya mengakibatkan kematian yang menyakitkan, tubuh mengejang kemudian membiru, membuat hutan Raung penuh teriakan kesakitan, sumpah serapah, dan jeritan yang mengerikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Di medan timur, Sangkil terkena songga, dan Vasco de Keling, terjerembab kemudian terkena cula, kejang dan mati. Leitnant Montro terserempet panah bahunya dan leitnant Inhoof terkena panah dipelipis kirinya, (luka kecil yang dikira tidak membahayakan ternyata menyebabkan kematian). Inilah gelar perang Supit Urang yang dimodifikasi oleh Baswi, mantan Veteran Perang Surabaya, dan guru Wong Agung Wilis .&lt;br /&gt;Leitnant Montro dan Inhooff tidak dapat lagi menahan marahnya, dan akibatnya tujuh orang pemandu jalan dipenggal kepalanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sementara di medan Barat Kapten Kreigerg marah besar, dan menganggap Lebok Samirana sengaja menjebak Kompeni, kemudian menembak Lebok Samirana berkali kali sehingga darah muncrat dari seluruh tubuhnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kapten Kreigerg yang telah bertempur dari Lumajang membaca Strategy Blambangan dan oleh karenanya melakukan jebakan. Dalam aturan manggala yudha Majapahit jika panglima perang sudah saling melihat maka menjadi kewajiban pimpinan perang langsung berhadapan dalam perang tanding satu lawan satu. Maka Kreigerg pun berusaha menampakan wajahnya, dengan teriakan perang dan matanya menyapu medan dan menatap mata pimpinan perang Blambangan Baswi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Maka seketika darah Ksatrya Blambangan itu mendidih, dan memacu kudanya menyerbu Kapten Kreigerg. Kapten Kreigerg jangankan maju, malah mendapat perlindungan ketat dari serdadu Kompeni dan Baswi menjadi makanan empuk peluru Belanda. Sekujur tubuhnya penuh luka tembak tetapi Baswi masih mampu mengibaskan pedang dan membunuh tentara kompeni.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Ketika sebuah tembakan Kanon tepat mengenai Baswi, maka Baswi bersama kudanya terpental melayang ke langit. Dan hanya sebuah teriakan singkat: "Satya A Nagari" terucap dari bibirnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Desak nafas terakhirnya membawa suara itu ke langit Biru.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
(Bersambung...)&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor:&lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt; Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan&lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1446477855405520/" target="_blank"&gt; BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher :&lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt; Bandar Uyah&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjccdXjrCALka8jcmJ_5r-gJ1E8pLT5_oz-oWUJxCm5RHG7YCROT7ntpfCNXGBxZq1O5xA1y1iu9P07-Hp23fndlAIIBQB2wPOSWtuTPj-y5DC697uVC8ZHaBdKZRgFjCcWu8C-hoY-WJ32/s72-c/blambangan+membara.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BLAMBANGAN MEMBARA 4</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2017/12/blambangan-membara-4.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 28 Dec 2017 04:37:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-1692712810161794869</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BLAMBANGAN MEMBARA 4&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjccdXjrCALka8jcmJ_5r-gJ1E8pLT5_oz-oWUJxCm5RHG7YCROT7ntpfCNXGBxZq1O5xA1y1iu9P07-Hp23fndlAIIBQB2wPOSWtuTPj-y5DC697uVC8ZHaBdKZRgFjCcWu8C-hoY-WJ32/s1600/blambangan+membara.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="525" data-original-width="725" height="231" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjccdXjrCALka8jcmJ_5r-gJ1E8pLT5_oz-oWUJxCm5RHG7YCROT7ntpfCNXGBxZq1O5xA1y1iu9P07-Hp23fndlAIIBQB2wPOSWtuTPj-y5DC697uVC8ZHaBdKZRgFjCcWu8C-hoY-WJ32/s320/blambangan+membara.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;ilustrasi foto&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pemberontakan Pseduo Wilis / Pangeran Rempeg Jagapati[Cerpen Sejarah]&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Setelah Kompeni melumpuhkan pemberontakan Wong Agung Wilis dan membuangnya ke Banda, kompeni semena mena menghapus kerajaan Blambangan dan membelah Blambangan menjadi dua wilayah; Blambangan Barat meliputi Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Blambangan Timur (Banyuwangi).&lt;br /&gt;Kompeni juga mengangkat para Bupati dari luar Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Rakyat Blambanganpun marah dan perlawanan kepada VOC tidak pernah surut. Pemberontakan di seluruh Blambangan kini mengerucut menjadi pemberontakan/perjuangan yang lebih besar sebagai kelanjutan perjuangan Wong Agung Wilis dibawah pimpinan Pangeran Jagapati/Rempeg yang berpusat di Bayu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Seperti Wong Agung Wilis, P. Jagapati juga seorang pimpinan yang Kharismatis. Usaha Biesheuvel (Resident Blambangan) memadamkan pemberontakan ini dengan kekuatan Kompeni di Blambangan gagal total. Pemberontakan ini menjadi lebih berkobar karena ternyata Wong Agung Wilis dengan bantuan Rencang Warenghay yang telah bertempur di selat Madura bersama pimpinan armada Blambangan Ditya Jala Rante telah berhasil melarikan diri dari Banda dan sampai di Bali dengan selamat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dari Bali wong Agung Wilis mendukung perjuangan. Maka pemberontakan P. Jagapati/Rempeg segera meluas ke seluruh Blambangan (Jember, Bondowoso dan Situbondo).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Para Bupati dan pejabat yang diangkat oleh Belanda yaitu Sutanegara, Wangsengsari, Suretaruna, juga memihak pemberontakan ini karena dengan beban upeti yang dituntut VOC serta tidak tahan melihat perlakuan Komandan Pasukan Kompeni terhadap rakyat Blambangan, selain merampas harta rakyat juga melakukan tindakan tak bermoral pada wanita Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada bulan Juni 1771, ketiga tokoh tersebut ditangkap dan dibuang ke Sri Langka. Pembuangan tokoh2 ini malah memperluas dan memperbesar kekuatan pemberontak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pasukan Kompeni frustasi menghadapi pemberontakan ini dan 74 anggotanya melakukann disersi. Bersamaan dengan itu Colmond berhenti dari jabatannya. Sebuah bencana bagi pemerintahan Kompeni.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Oleh karena itu pada 22 September 1771 Gubernur Jendral dan Dewan Hindia Belanda di Jakarta memutuskan Perang Semesta dengan Blambangan atau Tumpes Kelor/Membunuh semua unsur perlawanan terhadap VOC.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kompeni bertekad melibas pemberontakan itu dengan melakukan serangan dari dua arah. Yaitu pengiriman pasukan melalui laut langsung ke Banyuwangi dan pengiriman pasukan lewat darat melalui Lumajang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Gelar pasukan melalui laut yang dipimpin oleh Leitnant Montro dan Innhoof.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dalam gelar pasukan ini juga terdapat Vasco de Keling pimpinan pasukan reguler Kompeni, Sangkil pimpinan pasukan Surabaya, Kapten Alap Alap (orang Madura yang menjadi perwira lokal Kompeni) pemimpin pasukan 2000 pasukan Madura.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Gelar pasukan dari darat Kompeni dibawah pimpinan Kapten Kreygerg, Kapten Henrich, Letnan Fisher, Leuitnant DE Kornet Tinne (Perwira muda lulusan Akademi Militer Perancis yang tersohor di dunia) dan Singa Manjuruh senopati dari Malang menyerbu dari dari Lumajang dan Panarukan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pimpinan pasukan Blambangan Mandala Barat R. Mas Puger Surawijaya dan istrinya Sayu Wiwit mendahului menghancurkan Benteng Jember dan membunuh pimpinan benteng Steenberger, dan terus melaju menghancurkan pos penjagaan Kompeni sampai ke Lumajang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pimpinan Blambangan lainnya yaitu Lebok Samirana memimpin pasukan ke Puger, Mas Ayu Prabu menghadang di Panarukan. Tetapi karena pasukan Kompeni berlapis lapis akhirnya pasukan VOC mengalahkan pasukan Blambangan. R. Mas Puger Surawijaya terbunuh bersama ribuan tentara Blambangan (Lumajang, Panarukan/Situbondo), Sentong/Bondowoso, dan Kedawung/Jember) gugur ke bumi pertiwi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kematian R. Mas Puger Surawijaya, mendorong Pangeran Jagapati (Rempeg) di Bayu untuk mengirim pasukan sandi dipimpin Sradadi dan Jagalara (Kawan seperjuangan Baswi dalam perang Surabaya) untuk membalas kematian tersebut dengan membunuh Biesheuvel resident Blambangan di Ulu Pampang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Biesheuvel yang dirundung kegagalan merendam pembrontakan Blambangan selalu murung dan gelisah. Pada malam itu Biesheuvel tak sekejappun tertidur, kemudian dia menggeragap berteriak ketakutan (karena kawan kawan yang mati mengenaskan dalam perang Wong Agung Wilis muncul dalam mimpi).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Lewat tengah malam dia memanggil pengawal untuk menemani ke beranda lojinya. Hanya sekejap di Loji, sebuah peluru mendesir di pelipisnya, dan sebuah panah menancap di kaki.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sradadi dan Jagalara dari pasukan sandi Blambangan telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Biesheuvel mengejang, tubuh membiru, dan mati mengenaskan. (Nopember 1771)&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Hendrick Schophoff kemudian diangkat sebagai pimpinan Blambangan menggantikan Biesheuvel dan kemudian segera menetapkan strategi menumpas pemberontakan Pangeran Jagapati/Rempeg:&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pertama: Pasukan kompeni di Mandala Timur harus mempertahankan posisi, dan Pasukan Kompeni di Mandala Barat harus mempercepat perjalanan menuju posisi tempur di Timur.&lt;br /&gt;Kedua: Bumi hangus persedian pangan dan desa wong Blambangan maka seketika itu, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi menjadi lautan api.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dua setengah bulan Kompeni mengepung Banyuwangi namun tanda tanda berakhirnya perang belum juga nampak, sesuatu yang memalukan bagi Kompeni dan mengguncang Batavia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Maka tepat pada tgl 14 Desember 1771, Kompenipun menetapkan penyerbuan ke Benteng Bayu dimulai dan HARUS MERUPAKAN SERANGAN MEMATIKAN.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Bersambung ...&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis:&lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt; Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor:&lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt; Mas Aji Wirabhum&lt;/a&gt;i&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan&lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1445677008818938/" target="_blank"&gt; BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjccdXjrCALka8jcmJ_5r-gJ1E8pLT5_oz-oWUJxCm5RHG7YCROT7ntpfCNXGBxZq1O5xA1y1iu9P07-Hp23fndlAIIBQB2wPOSWtuTPj-y5DC697uVC8ZHaBdKZRgFjCcWu8C-hoY-WJ32/s72-c/blambangan+membara.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BLAMBANGAN MEMBARA 3</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2017/12/blambangan-membara-3.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 27 Dec 2017 04:35:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-8127778313792472584</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BLAMBANGAN MEMBARA 3&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjccdXjrCALka8jcmJ_5r-gJ1E8pLT5_oz-oWUJxCm5RHG7YCROT7ntpfCNXGBxZq1O5xA1y1iu9P07-Hp23fndlAIIBQB2wPOSWtuTPj-y5DC697uVC8ZHaBdKZRgFjCcWu8C-hoY-WJ32/s1600/blambangan+membara.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="525" data-original-width="725" height="231" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjccdXjrCALka8jcmJ_5r-gJ1E8pLT5_oz-oWUJxCm5RHG7YCROT7ntpfCNXGBxZq1O5xA1y1iu9P07-Hp23fndlAIIBQB2wPOSWtuTPj-y5DC697uVC8ZHaBdKZRgFjCcWu8C-hoY-WJ32/s320/blambangan+membara.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Penyerbuan Banyualit.[Cerpen Sejarah]&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Berawal dari serangan brutal VOC yg membabi buta di Malang dan Lumajang tanpa adanya sedikitpun usaha-usaha diplomasi sebelumnya. Hal ini tentu saja mengundang Wong Agung Wilis untuk mengirim pasukan bantuan pada Adipati Lumajang Raden Kartanegara dan puteranya Raden Malayakusuma (Adipati Malang) guna membantu keturunan Untung Surapati itu dalam melawan serangan brutal VOC.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Expedisi dibawah pimpinan Baswi (kawan seperguruan Wong Agung Wilis) ini sekaligus sebagai upaya Blambangan dalam mempersiapkan pasukan pertahanan di Jember/Kuthodawung.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kekuatan pasukan VOC dalam gelar TUMPES KELOR keturunan Surapati, tak terbendung, seluruh keturunan Suropati dihabisi.Maka pasukan Blambangan yang dipimpin Baswi terpaksa mundur teratur kearah Jember, meskipun demikian Baswi dapat merebut beberapa meriam dan puluhan senapan VOC. Dengan melalui jalan berliku Baswi mampu membawa senjata tersebut mencapai puncak Raung.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Berita kehancuran keturunan Untung Suropati, telah membuat Wong Agung Wilis memperkuat pertahanan darat di Jember/Kedawung dan sama sekali tidak menyangka VOC mengerahkan armada besar untuk menyerang Blambangan melalui laut langsung menohok ke Banyualit.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pemusatan pasukan darat di sekitar Jember telah menguras kekuatan Blambangan di laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Di bawah pimpinan Edwijn Blanke expedisi militer VOC diberangkatkan pada awal Pebruari terdiri atas 335 serdadu Eropa, 3000 laskar lokal, 25 buah kapal besar dan beberapa puluh perahu kecil menyerbu Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Armada Blambangan dipimpin Harya Lindu Segara dan Ditya Jala Rante didukung armada Bugis dipimpin Rencang Warenghay mencoba menghadang armada laut Belanda tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Menghadapi armada VOC yang modern dan terlatih armada Blambangan tak berdaya. VOC menghancurkan armada Blambangan dan menewaskan Ditya Jala Rante dan merebut Panarukan tgl 27 Pebruari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sedang Harya Lindu Segara mengundurkan diri dan membawa armadanya, dan membangun kembali armada lautnya di Nusa Barong.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kekalahan armada laut di Selat Madura, membuat armada Kompeni melaju menuju Banyuwangi, sekaligus menyisakan kekosongan pengamanan di Selat Madura.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Peluang itu digunakan pimpinan armada Bugis Rencang Warenghay untuk melakukan keonaran di pantai Pasuruan, Bangil, dan Gersik, akibatnya perang di Blambangan menyebar ketakutan di seluruh pantai Jawa dan luar Jawa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
VOC mendarat di Banyualit 23 Maret 1767, kemudian menjepit Blambangan dari dua arah dengan menyerbu UluPampang dan Kota Lateng sekaligus. Karena kekuatan Blambangan dipersiapkan di Jember maka Blambangan dengan cepat dikuasai oleh Belanda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Belanda kemudian membangun benteng Banyualit, sementara Wong Agung mengundurkan diri ke Alas Purwo dan menyatukan dengan kekuatan laut di Nusa Barong. Dengan cepat Wong Agung Wilis telah mampu menghimpun pasukan sebanyak 6.000 orang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Setelah memantapkan cengkeramannya di Banyualit, VOC mengangkat Mas Anom Kalungkung menjadi regent Blambangan menandingi kedudukan Wong Agung Wilis yg merupakan raja sesungguhnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Wong Agung Wilis, segera bertindak mempengaruhi Mas Anom agar menolak pengangkatan itu dan bergabung dengannya. Mas Anom menyetujui ajakan Agung Wilis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Melihat gelagat yang tidak baik ini VOC meminta bantuan dari Surabaya.&lt;br /&gt;Mengira benteng Banyualit tidak memiliki kekuatan yang cukup, Wong Agung Wilis menyerbu benteng Banyualit.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tapi malang tak dapat ditolak, bersamaan dengan penyerangan itu bantuan Belanda dari Surabaya tiba di Banyualit di bawah pimpinan A.Groen.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Expedisi ini terdiri dari 13 kapal perang, 302 tentara Eropa, 3.100 tentara lokal. Jadi dengan demikian total seluruh pasukan Eropa 657 orang, 6100 tentara lokal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tembakan meriam tidak saja berasal dari Benteng Banyualit tetapi juga datang dari armada A.Groen dari laut. Banyualit banjir darah. Wong Agung Wilis mundur ke Kota Lateng. Sekali lagi Kota Lateng dikepung pasukan VOC dari UluPampang dan Banyualit. VOC memberi ultimatum agar wong Agung Wilis menyerah. Wong Agung Wilis menolak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dengan sisa pasukan Blambangan yang ada, Wong Agung Wilis melanjutkan pertempuran yang dikenang sangat heroik oleh wong Blambangan. Akhirnya wong Agung Wilis, ditangkap dan dibuang ke pulau Banda pada 6 september 1768.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
(Bersambung)&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1444808255572480/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjccdXjrCALka8jcmJ_5r-gJ1E8pLT5_oz-oWUJxCm5RHG7YCROT7ntpfCNXGBxZq1O5xA1y1iu9P07-Hp23fndlAIIBQB2wPOSWtuTPj-y5DC697uVC8ZHaBdKZRgFjCcWu8C-hoY-WJ32/s72-c/blambangan+membara.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BLAMBANGAN MEMBARA 2</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2017/12/blambangan-membara-2.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Raja Blambangan</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 26 Dec 2017 04:32:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-8945675562134888634</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BLAMBANGAN MEMBARA 2&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiduPvscu2EQng3enEhlHS5Zi3EJKrOHicIEhv95UsHl6s31ZPH_4tXZZoAWLLJkf0HfGegL0R9DQc0bD7ucNBka7cMPTHfo0P-w8sBoo3cMZFy65YhnpXtIGO-z1cRtr2Qm3esyOQkDvf0/s1600/blambangan+membara.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="525" data-original-width="725" height="231" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiduPvscu2EQng3enEhlHS5Zi3EJKrOHicIEhv95UsHl6s31ZPH_4tXZZoAWLLJkf0HfGegL0R9DQc0bD7ucNBka7cMPTHfo0P-w8sBoo3cMZFy65YhnpXtIGO-z1cRtr2Qm3esyOQkDvf0/s320/blambangan+membara.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
foto illustrasi&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Penyerahan Java’s Oosthoek&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada tahun 1743, Raja Pakubuwana II dari Mataram menyerahkan Java’s Oosthoek (dari Bromo sampai Banyuwangi) kepada VOC sebagai balasan atas pengembalian tahtanya yang direbut pejuang lokal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Penyerahan kawasan ini berdasarkan atas sebuah klaim teritorial kuno Mataram yang sebenarnya jauh dari realitas aktual karena Malang, Lumajang tetap dikuasai penuh keturunan Suropati, sementara Blambangan masih dikuasai oleh keturunan Tawangalun. Tentu saja hal ini menimbulkan perlawanan terhadap keputusan yang semena mena itu. Maka tidak salah bahwa dua keturunan ini, yang tidak pernah mengakui kekuasaan Mataram melakukan persiapan melawan keputusan itu. Konsistensi dan kesatuan gerak perlawanan keturunan Suropati dan Tawangalun menentang Belanda sukar dicari bandinganya dimana selalu dapat lepas dari Mataram sangat menolak penjajahan asing.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Di sisi lain perusahaan dagang Inggris East India Company (EIC), sangat berambisi meluaskan kekuasaannya hingga ke belahan timur Indonesia untuk menjamin perdagangannya dengan Cina dan explorasi Australia dengan mempererat hubungan dengan Blambangan sekaligus untuk mendapatkn tanah pijakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Keinginan The Great Britain ini, tentu sangat ditentang oleh VOC, karena kedudukan VOC diluar Jawa dan Banten sudah sangat merepotkan VOC. Apalagi the Great Britaian telah melakukan pukulan telak bagi Belanda di Eropa karena telah merebut pusat perdagangan Eropa/dunia dan memindahkannya dari Amsterdam ke London, sangat menyakitkan. Jika bagian Timur Nusantara jatuh dalam kekuasan Inggris tamatlah VOC.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Maka perlawanan ini harus segera dibungkam. Pada bulan Juni 1766 Hoge Regering menetapkan keputusan untuk mengirim expedisi ke Timur. Selain untuk menaklukan Blambangan juga dimaksudkan untuk melakukan hukuman pada keturunan Untung Surapati, yang sangat berbahaya yaitu TUMPES KELOR (atau membunuh seluruh keturunan Untung Soropati).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
(Bersambung)&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1444076762312296/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiduPvscu2EQng3enEhlHS5Zi3EJKrOHicIEhv95UsHl6s31ZPH_4tXZZoAWLLJkf0HfGegL0R9DQc0bD7ucNBka7cMPTHfo0P-w8sBoo3cMZFy65YhnpXtIGO-z1cRtr2Qm3esyOQkDvf0/s72-c/blambangan+membara.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BLAMBANGAN MEMBARA 1</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2017/12/blambangan-membara-1.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Raja Blambangan</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 25 Dec 2017 04:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-4065571432875859544</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BLAMBANGAN MEMBARA 1&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvb_zJ57ndTOaSRHsgqYtFNz4kZbjF-uSfmyRv8BThL7x1z2UMXcLWtemxGK3s7rkmMFn274jxV-aDbAZhCd4rOKHM3BBIheyl4W5ann96II4FPJ5g6L0n4VjoGcjLFYcwfvhycspNabNt/s1600/blambangan+membara.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="525" data-original-width="725" height="231" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvb_zJ57ndTOaSRHsgqYtFNz4kZbjF-uSfmyRv8BThL7x1z2UMXcLWtemxGK3s7rkmMFn274jxV-aDbAZhCd4rOKHM3BBIheyl4W5ann96II4FPJ5g6L0n4VjoGcjLFYcwfvhycspNabNt/s320/blambangan+membara.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pendahuluan :&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tulisan ini terinspirasi novel TRI LOGi SEMENANJUNG, buah karya PUTU PRABA DRANA, dan juga buku para sejarahwan DR. Sri Margana, Drs I Made Sudjana MA, Hasan Ali.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pendahuluan desertasinya Doktor di Leiden University Sri Margana (dosen sejarah UGM ) Java’s Last Frontier. The Struggle for Hegemoni Blambangan yang sangat menggilitik yang menulis: The foundation of this study is fairly simple qoestion; Why did such a long time (aproximately forty years) to incorporate this region succesfully in to the VOC Administration.&lt;br /&gt;Selanjutnya DR Sri Margana menuliskan: …penduduk di kawasan itu (Blambangan) berkeras menolak pemerintahan Belanda, dan terlibat dalam pertarungan panjang melawan VOC hampir hampir mengorbankan segalanya untuk mempertahankan idealisme mereka. Kemudian pada paruh akhir abad ke 18 Inggris menambah panas situasi tersebut ketika mulai mengusik kawasan ini dalam rangka mencari komoditas alternatif untuk diperdagangkan ke China.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Betapa membaranya daerah ini, DR. Sri Margana mencatat melalui fakta sebagai berikut:&lt;br /&gt;…..Pada awal tahun 1767 terdapat arus yang cukup kentara dalam laporan laporan dan korespondensi lainnyayang dikirim dari Ujung Timur Jawa ke Gubernur Jendral dan Konsul di Batavia. Selama dekade 1767 s/d 1777 Gubernur Jendral di Batavia menerima tidak kurang dari 450 laporan dan dokumen yang dikirim oleh para pejabat VOC Belanda dari berbagai tingkatan yang bekerja di Ujung Timur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Begitu juga tulisan Sejarahwan Drs I Made Sudjana MA dan Nagari tawon Madu dan Hasan Ali, Perang Puputan Bayu yang mengutip pendapat C. Lekerkerker 1923.1056, bahwa peperangan ini diakui sebagai perang yang paling kejam (“De Dramatische verenieetiging het Compagniesleger)&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Agar seimbang, tentu perlu digambarkan disini tentang VOC menurut perspektif yang objektif:&lt;br /&gt;Belanda negara dibawah laut, berhasil bebas dari penjajahan Spanyol, setelah Inggris memukul telak armada Spanyol. Sebagai bekas jajahan Spanyol, banyak pelaut Belanda yang mengikuti perjalanan armada Spanyol yang menemukan sumber rempah rempah di Timur. Berdasar keahlian maritim dari Spanyol inilah kemudian Belanda menemukan sumber rempah rempah yang telah ditemukan lebih dahulu oleh orang Spanyol, Portugis, Inggris yaitu kepulauan Nusantara. Untuk dapat mengeruk keuntungan yang sebesar besarnya atas perdagangan rempah rempah ini maka dibentuklah badan dagang VOC. Jadi VOC adalah badan dagang yang bebas. Dan hanya memberikan upeti kepada pemerintah Belanda. Sebagai badan dagang maka pertimbangannya adalah mengeruk keuntungan sebesar besarnya. Yang lebih parah lagi VOC telah dihinggapi penyakit korupsi yang parah. Pada tahun 1750 kekuatan dagang VOC di Eropa telah diambil alih oleh perusahaan dagang Inggris, sehingga pusat perdagangan yang semula berada di Amsterdam telah pindah ke London. Di satu sisi kekuatan VOC diluar Jawa telah mulai rapuh akibat gempuran perlawanan kekuatan pribumi. Hanya di Jawa kekuasaan di Jawa semakin kokoh karena adanya perebutan kekuasaan yang sering terjadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Mengutip pendapat JJ Steur yang menandai bahwa paruh akhir abad ke 18 sebagai titik kulminasi exspansi teritorial VOC di Jawa, namun sayangnya proses ini dibarengi dengan mundurnya prestasi ekonomi VOC di Kepulauan Indonesia. Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dilikudasi secara formal tahun 1799.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Jadi perang wong Agung Wilis pada periode ini sangat genting bagi keberadaan VOC. Maka pantaslah perang ini adalah perang yang mempertaruhkan existensi VOC. VOC ternyata menang dalam pertempuran yang sangat sadis dan VOC melampiaskan kemarahannya dengan melakukan pembunuhan besar besaran terhadap dua generasi atau Tumpas Kelor (Menghabisi atau Genocida) pada keturunan Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Bersambung...&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis:&lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt; Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor:&lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt; Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1/posts/1640633426010245" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvb_zJ57ndTOaSRHsgqYtFNz4kZbjF-uSfmyRv8BThL7x1z2UMXcLWtemxGK3s7rkmMFn274jxV-aDbAZhCd4rOKHM3BBIheyl4W5ann96II4FPJ5g6L0n4VjoGcjLFYcwfvhycspNabNt/s72-c/blambangan+membara.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BANYUALIT, BANJIR DARAH YANG TERLUPAKAN 6</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2017/12/banyualit-banjir-darah-yang-terlupakan-6.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Majapahit</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 24 Dec 2017 04:02:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-6591355128488265690</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BANYUALIT, BANJIR DARAH YANG TERLUPAKAN 6&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEOGOW6ds5e33sVbhEkCNUqQasXtknPG9lPRCsuvaa-dZmCM7o3o8ZkSRgTqs5kZL9bcd6rUBMzsjFK-zq_WFvsc1yc66WPNHndMKfQfSuXAm8TIE76lRyarO5B1IF3A2ihnbnYQZIZMhX/s1600/perang+bayu.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="410" data-original-width="858" height="152" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEOGOW6ds5e33sVbhEkCNUqQasXtknPG9lPRCsuvaa-dZmCM7o3o8ZkSRgTqs5kZL9bcd6rUBMzsjFK-zq_WFvsc1yc66WPNHndMKfQfSuXAm8TIE76lRyarO5B1IF3A2ihnbnYQZIZMhX/s320/perang+bayu.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Adakah fakta 2 yang mendukung orang Bali menguasai Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pernyataan Blanke bahwa Blambangan dikuasai orang2 Bali tidak memiliki fakta fakta yang kuat. Berdasarkan penelitian bahwa terhadap kerajaan Mengwi dan Buleleng didapat fakta sebagai berikut;&lt;br /&gt;• Kerajaan Mengwi mengalami masa Jaya ketika I Gusti Agung Ngurah Made Agung 1627 sd 1650. Pada masa ini adalah masa Tawangalun I, pelabuhan Ulu Pampang berkembang dengan cepat, kemudian mengantarkan ke masa jaya Tawangalun II. Setelah I Gusti Agung Ngurah Made Agung , Mengwipun menurun. (Sejarah kerajaan Mengwi), yang memungkinkan Buleleng berdiri pada tahun 1660.&lt;br /&gt;• Kerajaan Buleleng mengalami masa Jaya pada I Gusti Ngurah Panji Sakti (1660 sd 1697) dalam babad Buleleng diceritakan mengusai Blambangan. (juga Soegianto Sastrodiwiryo: I Gusti Panji Sakti Raja Buleleng 1599-1680. Kayu Mas Agung 1995).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Padahal pada masa ini Blambangan berada pada masa jaya dibawah Tawangalun II. Masa yang berdasarkan hasil penelitian DR. Sri Margana adalah masa jaya kerajaan Blambangan. Baru setelah masa itu Buleleng itu menurun malah dikuasai Mengwi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dari fakta itu jelas VOC telah melakukan kebohongan sejarah. Mengwi maupun Buleleng sudah tidak memiliki kekuatan apapun pada tahun 1767, malahan mereka saling bertempur satu dengan yang lain. Buleleng dan Mengwi adalah kerajaan agrarish, yang tidak memiliki kekuatan maritim. Mengwi dekat Denpasar, maupun Buleleng dekat Singaraja sangat tidak mungkin mengerahkan armada laut, dengan kapal yang hanya bermuatan 15 orang perkapal, mengarungi arus Samudra Hindia yang ganas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dengan demikian, sebenarnya Kapten Blanke dengan satuan armada yang sangat besar, telah melakukan pembantaian terhadap prajurit Blambangan dan orang2 Bali yg ada di Blambangan sekaligus.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Surat yang dibuatnya hanyalah cuci tangan dan mengadu domba orang Blambangan dengan orang Bali.&lt;br /&gt;Dan apa gunanya kalo VOC mendapat dukungan rakyat Blambangan, VOC membangun benteng di Banyualit&lt;br /&gt;Pendirian Benteng dan banjir darah ke dua di Banyualit.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Untuk mempertahankan kedudukannya di Blambangan, VOC membangun benteng di Banyualit. Pembangunan benteng ini menambah kesengsaraan rakyat Blambangan. Ribuan penduduk Blambangan dipekerjakan untuk secepatnya menyelesaikan Benteng tersebut tanpa mendapat upah dan makan. Setelah itu VOC juga membangun benteng di Ulu Pampang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Penderitaan rakyat Blambangan tak terkirakan. Para petinggi Blambangan diwajibkan menyerahkan dua ekor kerbau, dan menyerahkan uang sebesar 3.5 gulden. (I Made Sudjana MA. Nagari Tawon Madu .67)&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Benteng ini cukup besar, dalam kondisi yang sangat kritis Van Rijcke menggambarkan bahwa Benteng Banyualit didapat 78 sakit, 59 meninggal. Untuk mempertahankan benteng Van Rijcke dibutuhkan bantuan pasukan setidaknya 100 orang Eropa, dan 2.000 prajurit pribumi juga dibutuhkan dua meriam yang baik, dan 20 koyang beras dan daging sapi untuk orang orang yang sakit, lebih banyak tepung dan spek (asinan daging babi) bagi mereka yang sehat dan juga uang tunai. (Kondisi tentara Kompeni di Banyualit, folio 30 VOC 3248 Surat dinas dari Gubernur Johannes Vos pada gubernur Jendral Petrus Albertus van der Parra 21 Maret 1768, via DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 127).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dengan melihat kondisi Benteng Banyualit, dapat diduga Benteng ini hampir sebesar benteng Malborough yang dibangun Inggris di Bengkulu. Yaitu benteng Inggris kedua yang terbesar di Asia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Disisi lain perjuangan yang dipimpin Wong Agung Wilis mendapat dukungan yang besar dari rakyat dan para bangsawan Blambangan pedagang Bugis, Melayu, Bali, Lombok. Maka pada Maret 1768, setahun setelah VOC menduduki Banyualit dan Ulupampang pasukan Wong Agung Wilis bangkit dan menyerbu benteng Banyualit. Sekali lagi Banyualit menjadi daerah pertempuran dahsyat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Menghadapi serangan Wong Agung Wilis yang amat dahsyat VOC mendatangkan bantuan dari Surabaya. Bantuan dipimpin A. Groen membawa 13 kapal yang memuat 302 orang serdadu Eropa, 1.000 orang laskar Madura, 400 orang dari Surabaya, 1.700 laskar Lumajang. Benar pasukan Blambangan kalah dan Wong Agung Wilis tertangkap, kemudian dibuang ke Banda pada tanggal 6 September 1768. (NTM 68).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Ternyata Wong Agung Wilis dapat melepaskan diri dari Banda dan memimpin perlawanan dari Bali. Dan semangat pertempuran Banyualit tidak pernah padam di hati rakyat Blambangan dan menghilhami pemberontakan P. Rempeg Jagapati, yang terkenal dengan PUPUTAN Bayu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Bersambung&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1453912637995375/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-size: 14px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEOGOW6ds5e33sVbhEkCNUqQasXtknPG9lPRCsuvaa-dZmCM7o3o8ZkSRgTqs5kZL9bcd6rUBMzsjFK-zq_WFvsc1yc66WPNHndMKfQfSuXAm8TIE76lRyarO5B1IF3A2ihnbnYQZIZMhX/s72-c/perang+bayu.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BANYUALIT, BANJIR DARAH YANG TERLUPAKAN 5</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2017/12/banyualit-banjir-darah-yang-terlupakan-5.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Raja Blambangan</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 23 Dec 2017 04:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-8493436432103598319</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BANYUALIT, BANJIR DARAH YANG TERLUPAKAN 5&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEOGOW6ds5e33sVbhEkCNUqQasXtknPG9lPRCsuvaa-dZmCM7o3o8ZkSRgTqs5kZL9bcd6rUBMzsjFK-zq_WFvsc1yc66WPNHndMKfQfSuXAm8TIE76lRyarO5B1IF3A2ihnbnYQZIZMhX/s1600/perang+bayu.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="410" data-original-width="858" height="152" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEOGOW6ds5e33sVbhEkCNUqQasXtknPG9lPRCsuvaa-dZmCM7o3o8ZkSRgTqs5kZL9bcd6rUBMzsjFK-zq_WFvsc1yc66WPNHndMKfQfSuXAm8TIE76lRyarO5B1IF3A2ihnbnYQZIZMhX/s320/perang+bayu.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Strategy Tumpes Kelor/Membunuh musuh sampai habis&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pembangunan pemukiman militer inilah yang memacu penyerbuan VOC ke Java Ooosthoek. Karena dengan demikian Inggris telah memiliki dua Garisson (Kompleks Militer), satu di Bengkulu, benteng Malborough dan satu lagi di Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Maka pada tahun 1767 setelah mendapat kepastian bantuan dari Mataram, Madura (Panembahan Cakraningrat IV), Surabaya, maka dibangunlah expedisi yang sangat besar untuk menggempur keturunan Untung Suropati dan Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dalam menggempur Untung Suropati , Belanda mengadopsi Strategy Tumpes Kelor, yaitu membunuh habis sampai ke akar-akarnya seluruh keturunan Untung Suropati (Margana 98). Rupanya pola pikiran inilah yang berlanjut dalam penyerbuan ke Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Setelah VOC menggempur lebih dahulu keturunan Untung Suropati dan melakukan Tumpes Kelor (membunuh sampai habis), kemudian VOC dan sekutunya melanjutkan menyerang Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Penyerbuan ini dipimpin dipimpin Erdwiyn Blanke terdiri atas 25 buah kapal besar dan puluhan kapal kecil, yang memuat 335 serdadu Eropa, dan 3.000 laskar Madura, Mataram, Pasuruan, menggempur Panarukan pada tanggal 27 Pebruari 1767.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Setelah Panarukan bumi hangus armada Erdwiyn Blanke melaju ke Banyualit.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pemilihan Banyualit (sekarang Blimbingasari) karena pantai ini berada di tengah kekuatan Blambangan, yaitu Toyo Arum, Kota Lateng dan Ulupampang. Banyualit menjadi ajang pertempuran armada Blambangan di laut maupun di darat. Blambangan kalah dalam technology dan strategy, sehingga Banyualit banjir darah. Dan jatuh ketangan VOC pada 31 Maret 1767 (NTM, 63).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
VOC sekali lagi menyusun berita kebohongan yang luar biasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Maka ketika VOC memasuki kota, terjadi pemandangan yang mengerikan, yaitu pembantaian besar besaran terhadap orang Bali. Kepala manusia tersebar dimana-mana, sebagian besar orang Bali, namun juga orang Blambangan tak terhitung jumlahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tetapi rupanya pasukan Belanda tidak puas, dan memburu orang Bali yang masih bersembunyi di hutan Belantara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Bersambung&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan&lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1452971921422780/" target="_blank"&gt; BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEOGOW6ds5e33sVbhEkCNUqQasXtknPG9lPRCsuvaa-dZmCM7o3o8ZkSRgTqs5kZL9bcd6rUBMzsjFK-zq_WFvsc1yc66WPNHndMKfQfSuXAm8TIE76lRyarO5B1IF3A2ihnbnYQZIZMhX/s72-c/perang+bayu.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BANYUALIT, BANJIR DARAH YANG TERLUPAKAN 4</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2017/12/banyualit-banjir-darah-yang-terlupakan-4.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Majapahit</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 22 Dec 2017 03:57:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-8793301577558569827</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BANYUALIT, BANJIR DARAH YANG TERLUPAKAN 4&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEOGOW6ds5e33sVbhEkCNUqQasXtknPG9lPRCsuvaa-dZmCM7o3o8ZkSRgTqs5kZL9bcd6rUBMzsjFK-zq_WFvsc1yc66WPNHndMKfQfSuXAm8TIE76lRyarO5B1IF3A2ihnbnYQZIZMhX/s1600/perang+bayu.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="410" data-original-width="858" height="152" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEOGOW6ds5e33sVbhEkCNUqQasXtknPG9lPRCsuvaa-dZmCM7o3o8ZkSRgTqs5kZL9bcd6rUBMzsjFK-zq_WFvsc1yc66WPNHndMKfQfSuXAm8TIE76lRyarO5B1IF3A2ihnbnYQZIZMhX/s320/perang+bayu.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Berita VOC tentang Blambangan penuh kebohongan&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Hubungan antara VOC dengan Blambangan rupanya sejak awal telah menimbulkan ketidak senangan VOC. Kapal VOC yang singgah di Panarukan pada tanggal 17 Januari 1959, dan berada disana selama tiga bulan tidak mendapatkan apapun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Karena perlakuan itu kemudian VOC mengarang cerita, bahwa Blambangan dikepung pasukan Pasuruan.&lt;br /&gt;Dan karena itu Blambangan minta bantuan kepada Gel Gel, sehingga Gel Gel mengirim pasukan 20.000 ke Panarukan. (Jarig Cornellis Molema , De eerste schipvart der Hollanders naar Oost Indie 1595-1597 via DR. Sri Margana, Perebutan Hegemoni Blambangan 162).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Padahal berdasar sejarah Kerajaan Gel Gel, masa jaya Gel Gel dibawah Watu Renggong telah berakhir pada tahun 1550. Dan setelah itu Gel Gel merosot dan methamorphosis menjadi Kerajaan Klungkung.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Lagipula Gel Gel bukanlah kerajaan Maritim. Perahu Bali pada saat itu hanya mampu memuat maximal 15 orang. Jadi tidak mungkin Gel Gel mengirim 1500 kapal, untuk tentara dan logistik. Hal ini juga tidak dipercaya oleh Drs I Made Sudjana Nagari Tawon Madu 27).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tetapi rupanya laporan resmi VOC tersebut perlu ditambah fitnah yang lebih besar lagi oleh seorang anggota armada pertama Belanda (Frank der does) menulis dalam Journal 2 April 1595 sd 13 Juni 1597 dia diberitahu oleh seorang bangsawan Blambangan bahwa bupati Pasuruan melamar putri raja Blambangan (pada saat itu Thomas Cavendish berada di Blambangan). Sang raja menerima lamaran tersebut namun setelah malam pertama, sang putri Blambangan dibunuh oleh suaminya. Pembunuhan itu terjadi karena sang putri tidak mau masuk Islam. Berita ini juga tidak berdasar karena Thomas cavendish (Thomas Candish menurut I Made Sudjana MA) yang berada di Blambangan tidak pernah menulis kejadian tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Menurut I Made Sudjana, Thomas Candish, penjelajah Inggris membawa kapal dagang Preety dan Wilhems singgah di Blambangan, selama dua minggu tinggal di Blambangan, membeli logistik, kemudian berlayar melanjutkan perjalanan ke timur. (Drs I.Made Sudajana, Nagari Tawon Madu 23)&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Juga ketika VOC mengirim utusan Jeremias van Vliet menghadap susuhunan Tawangalun II pada tahun 1690, untuk menjalin hubungan dengan VOC untuk membendung pengaruh Inggris yang semakin kuat, permintaan hubungan ini tidak ada kelanjutannya. Maka VOC memutar balikkan fakta bahwa selat Bali rusuh dan penuh kekacauan (Drs I Made Sudjana Nagari Tawon Madu 62).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Ternyata pernyataan itu harus ditafsirkan bahwa Ulu Pampang telah menjadi tempat yang paling sering dikunjungi kapal kapal Inggris untuk melanjutkan perjalanannya ke Timur menuju Pasir dan Banjarmasin di Borneo (I Made Sudjana, Nagari tawon Madu 60) dan tempat berkumpul pedagang Nusantara bagian Timur untuk meneruskan hubungan dagang dengan kerajaan Melayu, China dan India. Mereka memilih lewat lautan Hindia dan menjadikan Ulupampang sebagai pelabuhan persinggahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Maka Ulupampang menjadi pelabuhan yang ramai karena menjadi pertemuan pedagang Nusantara dan Inggris. Ini terbukti sejak awal tahun 1600an Ulupampang mampu mengekspor, sarang burung walet seharga f 4000, bahan lilin 10 pikul, dan beras 600 ton setiap tahun. ( Drs I. Made Sudjana, Nagari Tawon Madu 22).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pantaslah hal itu telah merobah motivasi Inggris, kalau awalnya hanya sebagai tempat persinggahan maka pada tahun 1760, Ulupampang/Blambangan mulai dilirik sebagai tempat berpijak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada tahun 1765, konsul EIC merekomendasikan beberapa pelabuhan yang cukup tepat untuk pendirian perwakilan perdagangan EIC, termasuk di Blambangan (DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 49). Setelah itu yaitu tahun 1766, kehadiran kapal Inggris semakin sering. Sebelumnya hanya sekitar 6 bulan sekali, maka mulai tahun 1766 hampir setiap bulan, bahkan kadang kadang dua kali setiap bulan, ( Drs I Made Sudjana MA. Negara Tawon Madu 61) .&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dan pada bulan Agustus 1766 tiga kapal besar Inggris diikuti lima kapal belas chialoup, dan dua puluh lima pecalang dan seratus kapal yang lebih kecil, membawa pelaut bugis dan Madura tiba di Blambangan di bawah komando Edward Coles (DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 49). Tidak dijelaskan apa yang dilakukan oleh armada yang sangat besar ini. Tetapi Thomas Stanford Raffless menjelaskan bahwa setelah itu, seorang berkebangsaan Inggris, Mr. Yesse, mulai membangun pemukiman di Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pemukiman itu dinilai sangat tepat. Demikian baiknya tempat itu sehingga tempat tersebut disamakan kedudukannya dengan Pulau Pinang di Malaya. (Thomas Stanford Raffless History of Java 144).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dukungan dari pemerintah Blambangan juga sangat membantu. Selain itu, Stanford Raffless, juga memuji keberhasilan pemerintahan Blambangan. Thomas Stanford Raffless menyesalkan kegagalan pembangunan pemukiman itu, dan mengemukakan analisa bahwa kegagalan pembangunan tersebut karena pemukiman tersebut semata mata disebabkan dikhususkan untuk militer, tanpa ada pedagang profesional atau pedagang petualang yang disertakan di pemukiman tersebut. (Ho J.148)&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
(Bersambung)&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1452041414849164/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEOGOW6ds5e33sVbhEkCNUqQasXtknPG9lPRCsuvaa-dZmCM7o3o8ZkSRgTqs5kZL9bcd6rUBMzsjFK-zq_WFvsc1yc66WPNHndMKfQfSuXAm8TIE76lRyarO5B1IF3A2ihnbnYQZIZMhX/s72-c/perang+bayu.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BANYUALIT, BANJIR DARAH YANG TERLUPAKAN 3</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2017/12/banyualit-banjir-darah-yang-terlupakan-3.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 22 Dec 2017 03:54:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-5761108974600740677</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BANYUALIT, BANJIR DARAH YANG TERLUPAKAN 3&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEOGOW6ds5e33sVbhEkCNUqQasXtknPG9lPRCsuvaa-dZmCM7o3o8ZkSRgTqs5kZL9bcd6rUBMzsjFK-zq_WFvsc1yc66WPNHndMKfQfSuXAm8TIE76lRyarO5B1IF3A2ihnbnYQZIZMhX/s1600/perang+bayu.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="410" data-original-width="858" height="152" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEOGOW6ds5e33sVbhEkCNUqQasXtknPG9lPRCsuvaa-dZmCM7o3o8ZkSRgTqs5kZL9bcd6rUBMzsjFK-zq_WFvsc1yc66WPNHndMKfQfSuXAm8TIE76lRyarO5B1IF3A2ihnbnYQZIZMhX/s320/perang+bayu.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pertahanan yang kuat keturunan Untung Suropati dan Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Setelah perjanjian Salatiga 1757, VOC mendapat dana yang cukup besar dari Mataram, persiapan menggempur Java Oostoek dimulai Ternyata persiapan penyerangan pada Java Oostoek tidaklah mudah, karena VOC memerlukan kekuatan tempur yang sangat besar untuk menghadapi kekuatan keturunan Untung Suropati dan Blambangan yang sangat kuat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Keturunan Untung Suropati tentu sangat menyesalkan penyerahan Java Oosthoek oleh Pakubuwana II kepada Belanda, karena ayahanda Amangkurat III, telah ditolong dan dilindungi oleh Suropati. Ibarat kebaikan dibalas dengan penghianatan. Karena itu keturunan Untung Suropati segera memperkuat diri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sementara itu Blambangan memanfaatkan meningkatkan hubungan dengan Inggris, karena Inggris telah terusir dari Banten (1600), Jakarta, Banda (1625) maka hubungan Blambangan dengan Inggris sejak tahun 1600, telah maju dengan pesat dan Inggris mulai menjadikan Blambangan sebagai pijakan untuk menguasai Sumatera dan Borneo. (Stanford Raffless, History of Java. 140).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Karena Inggris telah memiliki hubungan yang sangat baik dengan Blambangan sejak tahun 1600, maka Inggris hanya membutuhkan pijakan di Sumatera.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Semula Inggris, berkeinginan mengikat perjanjian dengan Sultanah Aceh Zaqiyat ud din Inayat Shah, tetapi Sultanah menolak. Kemudian Inggris menghubungi kedatuan Baros dan Pariaman.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Baros dan Pariaman dapat menerima tawaran tersebut, karena VOC yang dikenal ganas juga mulai melirik Pariaman.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tetapi dua hari menjelang keberangkatan armada Inggris ke Pariaman, Kedatuan Bengkulu juga mengirimkan utusan ke Inggris, meminta Inggris dapat melindungi Bengkulu dari penjajahan VOC.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Untuk diingat kalau VOC menekankan kekuasaan, sedang EIC (Inggris) menekankan hubungan dagang. Maka Inggrispun membangun pijakan di Bengkulu. (Alaan Harfield (1995): Bencolen : A history of the Honourable East India Company’s, Garrison on the west coast Sumatra (1685-1825).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada tahun 1685 utusan Inggris disambut Orang kaya Lela, dan Patih Setia raja Muda. Hubungan dagang kemudian dilanjutkan pembangunan Garrison (kompleks Militer) berupa benteng, yaitu benteng Malborough dan juga membangun faktory. (Firdaus Burhan (1988) Bengkulu Dalam Sejarah).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Bersambung&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan&lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1451306484922657/" target="_blank"&gt; BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEOGOW6ds5e33sVbhEkCNUqQasXtknPG9lPRCsuvaa-dZmCM7o3o8ZkSRgTqs5kZL9bcd6rUBMzsjFK-zq_WFvsc1yc66WPNHndMKfQfSuXAm8TIE76lRyarO5B1IF3A2ihnbnYQZIZMhX/s72-c/perang+bayu.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BANYUALIT, BANJIR DARAH YANG TERLUPAKAN 2</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2017/12/banyualit-banjir-darah-yang-terlupakan-2.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 22 Dec 2017 03:52:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-8279829309537832328</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BANYUALIT, BANJIR DARAH YANG TERLUPAKAN 2&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEOGOW6ds5e33sVbhEkCNUqQasXtknPG9lPRCsuvaa-dZmCM7o3o8ZkSRgTqs5kZL9bcd6rUBMzsjFK-zq_WFvsc1yc66WPNHndMKfQfSuXAm8TIE76lRyarO5B1IF3A2ihnbnYQZIZMhX/s1600/perang+bayu.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="410" data-original-width="858" height="152" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEOGOW6ds5e33sVbhEkCNUqQasXtknPG9lPRCsuvaa-dZmCM7o3o8ZkSRgTqs5kZL9bcd6rUBMzsjFK-zq_WFvsc1yc66WPNHndMKfQfSuXAm8TIE76lRyarO5B1IF3A2ihnbnYQZIZMhX/s320/perang+bayu.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;foto ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Peta kekuasaan Sultan Agung dan kompeni.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Setelah menaklukan sebagian Jawa Timur dan Madura, R. Mas Rangsang menggunakan gelar “Sultan Agung Hanyakrakusuma Senapati Ingalaga Abdurachman Sayidin Panatagama".&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Setelah menguasai sebagaian Jawa Timur dan Madura, Sultan Agung berkoalisi dengan Kesultanan Cirebon dan Banten menyerbu VOC di Batavia. Sayang penyerbuan mengalami kegagalan. Tetapi Mataram tetap kokoh berdiri, dan Sultan Agung meneruskan perlawanannya kepada VOC.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada tahun 1636 sampai dengan 1640, Sultan Agung sekali lagi menyerang Jawa Timur dan Blambangan. Penyerangan ini menurut DR. Sri Margana lebih menyerupai perampokan daripada pendudukan (Perebutan Hegemoni Blambangan, 40).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tahun1646 Sultan Agung wafat dengan penuh kewibawaan dan digantikan putranya, dan bergelar Amangkurat I. (1646 sd 1677).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Berbeda dengan Sultan Agung, putra yang menggantikannya, dikenal sebagai raja TIRAN (DR. Sri Margana. PHB 37 dan Trilogi Genduk DUKU JB. Mangunwijaya) sehingga banyak penguasa bawahannya yang bangkit melawan raja Tiran ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Salah satu pemberontakan yang terkenal dipimpin Trunojoyo. Walaupun Amangkurat I meminta bantuan VOC, namun Trunojoyo dapat menguasai keraton Mataram dan memaksa Amangkurat I mengungsi dan mati di Tegalarum (1677).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sejak Amangkurat I, Mataram selalu dirundung perebutan kekuasaan yang tidak pernah berhenti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sebagai pengganti diangkat putranya sebagai Amangkurat II, karena dalam pengasingan maka kekuasaan dipegang Pangeran Puger. Pangeran Puger mulai memerintah dengan gelar Susuhunan Ing Ngalaga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tetapi Amangkurat II (1680–1703) dengan bantuan VOC menurunkan Pangeran Puger. Bantuan VOC ini menurut WS Rendra dalam satu diskusi yang digagas REPUBLIKA, harus dibayar mahal, yaitu menyerahkan kewenangan maritim pantai utara Jawa ke VOC, maka sejak itulah kekuatan Maritim Jawa hancur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Disisi lain ketidak puasan di internal juga tidak bisa diatasi dan pemberontakan tetap berlangsung. Ketika Amangkurat II wafat dan kekuasaan diserahkan pada putranya Amangkurat III (1703).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sekali lagi Pangeran Puger/Mas Drajat melakukan pemberontakan. Kali ini VOC mendukung Pangeran Puger sehingga dapat merebut tahta dari Amangkurat III, dan Amangkurat III melarikan diri ke Jawa Timur berlindung pada Adipati Untung Suropati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada tahun 1704 dengan bantuan VOC Pangeran Puger, diangkat sebagai Paku Buwono I dan memburu Amangkurat III di Jawa Timur..&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tahun 1708, Sultan Amangkurat III ditangkap, dan dibuang ke Ceylon/Srilanka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada tahun 1719 Pakubuwono I meninggal dan digantikan putranya dengan gelar Amangkurat IV. Putra Amangkurat III, melakukan pemberontakan. Dan dapat merebut tahta, kemudian naik tahta dengan gelar Pakubuwana II (1723).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada masa Pakubuwana II, pemberontakan muncul kembali malah pemberontak dapat memakzulkan Pakubuwana II. Pakubuwana II kemudian meminta bantuan VOC, dan VOC menekan dengan perjanjian yang sangat berat (menggadaikan kedaulatan Mataram pada VOC selama belum melunasi hutang biaya perang).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada 1743, Ibukota Kartasura dapat direbut dari tangan pemberontak dalam keadaan luluh lantak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Karena itulah kemudian Pakubuwana II menyerahkan Java Oosthoek (Pasuruan, Malang, Probolinggo, dan sebagian Lumajang) dan Blambangan pada VOC.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Setelah penyerahan Java Oosthoek, ternyata tidak serta merta membuat VOC mampu merebut daerah tersebut, karena kuatnya kedudukan keturunan Untung Suropati di Pasuruan, Malang, Probolinggo.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Di pihak lain Blambangan malah membangun hubungan dengan Inggris.&lt;br /&gt;Disamping itu ternyata VOC tidak mampu membuat Mataram reda dari perebutan kekuasaan, walaupun VOC mengendalikan seluruh kekuasaan Mataram. Raja Mataram diangkat dan digaji oleh VOC. Kekacauan politik, terus berlangsung.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Setelah pengangkatan kembali Pakubuwana II oleh VOC, P.Mangkubumi memberontak kembali dan berlangsung selama 10 tahun sampai masa Pakubuwanna III.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kemudian ditanda tangani Perjanjian Giyanti pada tgl 13 Februari 1755 dan Mataram terbelah menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Ngayogjakarta. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Ngayogjakarta bergelar Sultan Hamengkubuwono I.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Setiap penyelesaian peperangan, selalu mempertajam kuku kekuasaan VOC menancap tajam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tetapi pada tahun 1757, perpecahan kembali terjadi antara R. Mas Said (Pangeran Sambernyawa) dengan Pakubuwono III, VOC, dan Hamengkubuwono I.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Akhirnya ditanda tangani perjanjian Salatiga, Mataram dipecah lagi. R.Mas Said diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan, Praja Mangkunegaran yang terlepas dari Surakarta .&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dengan demikian, menjadi jelas pernyataan DR. Sri Margana, bahwa Mataram tidak pernah menguasai Malang, Probolinggo, dan Blambangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Bersambung&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1449760585077247/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEOGOW6ds5e33sVbhEkCNUqQasXtknPG9lPRCsuvaa-dZmCM7o3o8ZkSRgTqs5kZL9bcd6rUBMzsjFK-zq_WFvsc1yc66WPNHndMKfQfSuXAm8TIE76lRyarO5B1IF3A2ihnbnYQZIZMhX/s72-c/perang+bayu.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BANYUALIT, BANJIR DARAH YANG TERLUPAKAN 1</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2017/12/banyualit-banjir-darah-yang-terlupakan-1.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>blambangan</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 21 Dec 2017 03:49:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-7985088837511422243</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BANYUALIT, BANJIR DARAH YANG TERLUPAKAN 1&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3dVIxMAmP4BnzuPVDm0TTVGlE0eUzXYpWtSzhPryb1clLt7me5DG-3Vf5BQ736v81MJa8vgxVdkQmtEaO74fF5-qDD_KGGg1iRb426PnQ7AKRbY2Cgs7IN16oLhDultLAQuvdC9x1E0_F/s1600/perang+bayu.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="410" data-original-width="858" height="152" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3dVIxMAmP4BnzuPVDm0TTVGlE0eUzXYpWtSzhPryb1clLt7me5DG-3Vf5BQ736v81MJa8vgxVdkQmtEaO74fF5-qDD_KGGg1iRb426PnQ7AKRbY2Cgs7IN16oLhDultLAQuvdC9x1E0_F/s320/perang+bayu.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Foto Ilustrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dalam buku Perebutan Hegemoni Blambangan DR. Sri Margana menulis:&lt;br /&gt;• Penyerahan kawasan Java Ooesthoek (yaitu Malang, Probolinggo, Pasuruan, dan Blambangan kepada Kompeni), berdasarkan klaim teritorial kuno Mataram, yang sebenarnya jauh dari realitas politik aktual. (41)&lt;br /&gt;• Banyualit banjir darah pada 31 Maret 1768&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Penyerahan Java Oosthoek dari Pakubuwana II ke VOC&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Sultan Pakubuwana II, baru berumur 15 tahun ketika diangkat menjadi Sultan Mataram (1726-1749) menggantikan Amangkurat IV (1719 -1726). Sultan Pakubuwana II adalah putra Amangkurat III, karena masih terlalu muda dan kurang mampu dalam pemerintahan, Mataram terus dilanda perebutan kekuasaan. Bahkan pada tahun 1742, pemberontak berhasil merebut ibukota Mataram Kartasura.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Kartasura dalam keadaan hancur luluh lantak, dan Pakubuwana II, kemudian mengungsi. Untuk merebut kembali tahtanya Pakubuwana II meminta bantuan VOC dan VOC menyodorkan sebuah perjanjian, yaitu menggadaikan kedaulatan Mataram kepada VOC.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada tahun 1743 VOC dapat menumpas pemberontak dan mendudukan kembali Pakubuwana II sebagai Sultan Mataram. Untuk melunasi hutang-hutang biaya perang itulah Pakubuwana II antara lain menyerahkan Java Ooosthoek (Pasuruan, Malang, Probolinggo, Blambangan).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Karena pada saat itu Pasuruan, Malang, Probolinggo masih dikuasai oleh keturunan Untung Suropati yang tidak pernah tunduk pada kekuasaan Mataram, demikian juga Blambangan tidak pernah ditundukan oleh Mataram dan bahkan pada 1736 sampai dengan 1762 mengalami masa Kertayoga, dalam keadaan aman makmur tentrem, kertaraharja (Drs I Made Sudjana, Nagari Tawon Madu 35).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Pada tahun 1625, Mas Rangsang (cucu Panembahan Senopati) mengirim expedisi militer ke Jawa Timur, melibatkan 30 ribu prajurit. Sultan mampu menguasai sebagian besar Jawa Timur dan Madura, tetapi tidak menaklukan kedaton Giri. Penyerbuan ke Blambangan juga kurang berhasil meskipun, Sultan Agung membawa 5.000 penduduk Blambangan Barat ke Mataram.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Orang Blambangan yang dikenal sakti (digdaya) dijadikan percobaan senjata. Apabila senjata itu dapat melukai wong Blambangan, maka senjata itu lulus sebagai senjata sakti. Wong Blambangan juga menjadi umpan dalam penyerangan ke Batavia pada tahun 1628–1629.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Bahwa Blambangan belum dikuasai Sultan Agung, sesuai dengan pernyataan Sultan Agung yang dikutip Sir Stanford Raffless bahwa, masih ada dua kerajaan yang paling berbahaya belum terkalahkan yaitu Sumedang dan Blambangan... (Thomas Stanford Rafless Hystori of Java, 509).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Bersambung...&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Penulis: &lt;a href="https://www.facebook.com/sumono.hamid?ref=br_rs" target="_blank"&gt;Sumono Abdulhamid&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Editor: &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1449011425152163/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3dVIxMAmP4BnzuPVDm0TTVGlE0eUzXYpWtSzhPryb1clLt7me5DG-3Vf5BQ736v81MJa8vgxVdkQmtEaO74fF5-qDD_KGGg1iRb426PnQ7AKRbY2Cgs7IN16oLhDultLAQuvdC9x1E0_F/s72-c/perang+bayu.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Dari Dahulu Kala Blambangan Sudah Multi Etnis</title><link>https://bandaruyah.blogspot.com/2017/12/dari-dahulu-kala-blambangan-sudah-multi.html</link><category>Asal Usul Banyuwangi</category><category>Asal Usul Blambangan</category><category>banyuwangi</category><category>Blog Bandaruyah</category><category>Cerita Banyuwangi</category><category>Majapahit</category><category>Raja Blambangan</category><category>Sejarah</category><category>Sejarah Banyuwangi</category><category>Sejarah Blambangan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 20 Dec 2017 03:03:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7881542726038847079.post-4467894916774618201</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Dari Dahulu Kala Blambangan Sudah Multi Etnis&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCkF_6KYF76orm5qiOUO5f3rdLLvBCsZTgg6vyb8Cpn6t6I1OmYAAwYX76uFnY6zQZNXX7wTHZWQ89FWTU1kbuSe1QgqeaTynv_DmTZofi2MmKIihjxPJMUqwMYPMvophyphenhyphenJYlddLOI7pyn/s1600/blambangan+multi+etnis.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="344" data-original-width="581" height="189" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCkF_6KYF76orm5qiOUO5f3rdLLvBCsZTgg6vyb8Cpn6t6I1OmYAAwYX76uFnY6zQZNXX7wTHZWQ89FWTU1kbuSe1QgqeaTynv_DmTZofi2MmKIihjxPJMUqwMYPMvophyphenhyphenJYlddLOI7pyn/s320/blambangan+multi+etnis.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
BLAMBANGAN Itu dekat dengan raja-raja daerah lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dimulai dari Aji Rajanatha dimana anak pertamanya menjadi Sultan Malaka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Anak keempatnya menjadi Bhre Mataram IV...&lt;br /&gt;Puteranya, Arya Damar jadi raja Palembang...&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Dewi Sekardadu anak dari Menak Sembuyu menurunkan para Khalifah Giri Kedhaton...&lt;br /&gt;Dari sini bisa berhubungan dg Demak, Pajang, Mataram, Cirebon, Banten, Sumedang, Bangkalan, Pontianak, Ternate, Brunai, Sulu, dll...&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Siung Laut adalah leluhur raja2 Mengwi dan Jembrana...&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Menak Sembar yg mempersatukan Lamajang dengan Balumbung.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Menak Pentor yang mempersatukan Blambangan dengan Keniten.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Mas Ayu Tepasana puteri Menak Lampor menurunkan Sultan2 Cirebon.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Menak Lumpat yang mempersatukan Blambangan dengan Panarukan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Tawangalun II beristri orang Gelgel dan Mataram.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Macanapura beristri orang Sumenep.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Danurejo beristri puteri Buleleng, Mengwi, dan Pasuruan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Danuningrat beristri puteri Bangkalan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
Agung Wilis beristri dari Jembrana dan Mengwi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
Maka tidak heran jika sejak awal di Blambangan sudah multi etnis, bahasa, budaya, dan agama.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #1d2129; display: inline; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; margin-top: 6px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Sumber Tulisan : Penulis &lt;a href="https://www.facebook.com/pelitaku1" target="_blank"&gt;Mas Aji Wirabhumi&lt;/a&gt; dan &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/BLAMBANGANKINGDOMEXPLORER/permalink/1284608541592453/" target="_blank"&gt;BLAMBANGAN KINGDOM X-plorer&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="color: #1d2129; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Publisher : &lt;a href="http://bandaruyah.blogspot.co.id/" target="_blank"&gt;Bandar Uyah&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCkF_6KYF76orm5qiOUO5f3rdLLvBCsZTgg6vyb8Cpn6t6I1OmYAAwYX76uFnY6zQZNXX7wTHZWQ89FWTU1kbuSe1QgqeaTynv_DmTZofi2MmKIihjxPJMUqwMYPMvophyphenhyphenJYlddLOI7pyn/s72-c/blambangan+multi+etnis.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>