<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731</id><updated>2024-09-04T18:53:53.176-07:00</updated><category term="belajar ilmiah"/><category term="Opini"/><category term="Etika"/><category term="Hegel"/><category term="theodicy"/><category term="Aborsi"/><category term="Aristoteles"/><category term="Etika Biomedis"/><category term="Etika Nickomakeia"/><category term="Etika Thomas Aquinas"/><category term="Filsafat Jawa"/><category term="Filsafat Ketuhanan"/><category term="Filsafat Manusia"/><category term="Filsafat Pendidikan"/><category term="Keadilan"/><category term="Kebenaran"/><category term="Keutamaan"/><category term="Komunikasi"/><category term="Sejarah Filsafat Abad Pertengahan"/><category term="Soekarno"/><category term="Tulisan untuk buletin &quot;Cogito&quot; Nopember 2009"/><category term="tugas epistemologi"/><category term="tugas pengantar filsafat"/><category term="tugas resensi Filsafat Manusia"/><title type='text'>&quot;Sapere Aude&quot;</title><subtitle type='html'>Sebuah wadah ajang kebebasan untuk berpikir, berpendapat, dan &quot;gila&quot;...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-9020989893575625883</id><published>2015-03-13T19:33:00.000-07:00</published><updated>2015-03-13T05:33:39.547-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="belajar ilmiah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Soekarno"/><title type='text'>Filsafat Sejarah Menurut Soekarno</title><content type='html'>&lt;i&gt;Oleh : Kristoforus Sri Ratulayn K.N&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVEtCWmGf-wum29NKpM4Wbc14qVmluPtKb3nTozDcbxkCcAZa18FDMbbqcpAe5q-5lrAskqdW4mdQjGarCytnz0z_Zn5U-AE_vNOGWazi_WftlWi4H579tm4znQoZ9l99EZJfbVmr783J6/s1600/tanggal-lahir-bung-karno.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVEtCWmGf-wum29NKpM4Wbc14qVmluPtKb3nTozDcbxkCcAZa18FDMbbqcpAe5q-5lrAskqdW4mdQjGarCytnz0z_Zn5U-AE_vNOGWazi_WftlWi4H579tm4znQoZ9l99EZJfbVmr783J6/s640/tanggal-lahir-bung-karno.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Filsafat sejarah merupakan salah satu cabang dari filsafat. Filsafat sejarah menjadikan sejarah sebagai objek material dalam refleksi filosofisnya. Lebih lanjut, objek formal yang digunakan adalah pandangan filosofis, baik secara metafisis, spekulatif, dan kritis. Filsafat sejarah jelas berbeda dengan ilmu sejarah. Ilmu sejarah merupakan disiplin ilmu yang mempelajari seputar peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau dan hubungannya dengan masa kini. Sedangkan filsafat sejarah lebih merupakan sebuah refleksi atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau dan hubungannya dengan masa kini, serta kemungkinan untuk mengusahakan dan meramalkan suatu masa depan. Dengan demikian terlihat jelas bahwa filsafat sejarah mempunyai dimensi spekulatif, yaitu mampu sampai pada sebauh peramalan akan masa depan.&lt;br /&gt;
Setidaknya ada empat ide pokok dalam filsafat sejarah.  Pertama, ide kemajuan, Nisbet dalam bukunya menyebut kemajuan berpusat pada moral atau kondisi spiritual manusia di bumi, kebahagiaannya, kebebasannya dari kesengsaraan alam dan masyarakat, dan yang terpenting ketenteraman atau ketenangan. Kemajuan berpusat pada peningkatan prestasi dalam hal moral dan spiritual. Kedua, ide tentang waktu, dalam hal ini filsafat sejarah memahami manusia dalam tiga dimensi rentang waktu, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Namun, yang sangat menjadi titik pokok permenungan adalah waktu sekarang. Waktu sekarang menjadi sebuah kenyataan yang sedang dihadapi. Ketiga, ide kebebasan, kebebasan merupakan hal pokok dalam sejarah. Kebebasan erat kaitannya dengan kesadaran. Orang dikatakan bebas apabila kesadaran menyertai kebebasan tersebut. Kebebaan mengarahkan seseorang kepada sebuah perkembangan terus-menerus. Terakhir ide masa depan, masa depan menjadi salah satu ide pokok dalam filsafat sejarah karena memang manusia mempunyai kemampuan spekulatif yang membuatnya mampu meramalkan tentang apa yang akan terjadi pada masa depan. Sejarah selalu dalam kaitan mempersiapkan sesuatu juga untuk masa depan.&lt;br /&gt;
Tulisan ini memaparkan bagaimana filsafat sejarah menurut Soekarno. Dengan kata lain, penulis akan memaparkan empat ide pokok dalam filsafat sejarah menurut Soekarno. Memang sesungguhnya Soekarno tidak berbicara langsung mengenai apa dan bagaimana filsafat sejarah menurutnya. Penulis akan menggunakan metode hermeneutika atas teks dari kumpulan pidato yang pernah diucapkan oleh Soekarno. Dengan membaca kembali dan menginterpretasikan apa yang diucapkan oleh Soekarno akan dapat ditemukan pandangannya berkaitan dengan ide-ide pokok filsafat sejarah, yaitu ide kemajuan, ide kebebasan, ide waktu, dan ide masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Riwayat Singkat Soekarno&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ir. Soekarno, kelahiran Surabaya 6 Juni 1901 yang lebih dikenal dengan sebutan Bung Karno merupakan proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia. Beliau lahir dari pasangan Raden Sukemi Sosrodiharjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Ayahnya adalah seorang guru. Secara umum, beliau berasal dari sebuah keluarga priyayi yang tidak begitu tinggi tingkatannya.  Lebih lanjut, pendidikan membuatnya menjadi berada pada kalangan atas masyarakat Indonesia saat itu. Ia menyelesaikan ELS (sekolah menengah Belanda) pada tahun 1921. Kemudian, baru pada tahun 1927, Soekarno memulai karir politiknya. &lt;br /&gt;
Selama masa studinya di HBS, ia tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto, seorang pemimpin Sarekat Islam (SI) yang kharismatis. Lebih lanjut, Tjokoraminoto kemudian memperkenalkan Soekarno muda kepada kalangan nasionalis, anggota Jong Java, anggota SI.  Kemudian dalam perkembangannya, sejak tahun 1911 Soekarno mulai menuliskan pemikiran-pemikirannya melalui penerbitan-penerbitan nasionalis Oetoesan Hindia. Dari pemikiran-pemikirannya mulai tampak bahwa Ia sangat menentang kapitalisme dan imperialisme. &lt;br /&gt;
Soekarno adalah Pendiri Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927. Beliau adalah sponsor Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) tahun 1929. Bung Karno bersama-sama Gatot Mangkupraja, Maskun Sumadireja, dan Soepriadinata pada tanggal 18 Agustus 1930 diadili pada Land Raad Bandung dan pada akhir tahun yang sama divonis 4 tahun penjara, namun bertepatan berakhirnya masa jabatan Gubernur Jendral de Graff pada tanggal 31 Desenber 1931 dibebaskan dari penjara Soekamiskin.  Dua tahun kemudian tahun 1933 Bung Karno diasingkan ke Flores dan pada tahun 1939 dipindahkan ke Bengkulu sampai pendudukan Bala Tentara Jepang tahun 1942. Sewaktu diangkat sebagai anggota Badan Penyelidik, beliau adalah ketua Tyuuo Sangi-In, dan Ketua Poetra yang kemudian dibubarkan dan diganti dengan Jawa Hokokai. Beliau adalah penerima Ratna Suci Kelas II dari pemerintah Jepang di Tokyo. B.M. Diah melukiskan Bung Karno sebagai satu-satunya manusia besar Indonesia yang menjulang tinggi di angkasa.&lt;br /&gt;
Soekarno dilantik menjadi presiden pertama Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945. Beliau kemudian menjabat sebagai presiden sampai tahun 1967 atau sampai saat ia wafat. Kematiannya masih merupakan sebuah kontroversi hingga saat ini. Pada sebuah kesaksian, Dewi Soekarno, istrinya, memaparkan bahwa ada dugaan bahwa Soekarno mati dengan cara dibunuh. Namun, memang belum ada kepastian yang menguatkan mengenai kesaksian tersebut.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ide Kemajuan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Secara umum, pemikiran Soekarno selalu terkait dengan perjuangan melawan kapitalisme dan imperialism. Baginya, salah satu bentuk kemajuan adalah kemerdekaan. Lebih dalam, kemerdekaan bukan tujuan pada dirinya sendiri, namun sebuah pembebasan dari kapitalisme dan imperialism.   Soekarno dengan paham Marxis yang ada dalam pikirannya, menganggap bahwa kolonialisme menjadi penghambat kemajuan sebuah bangsa dan Negara. Kolonialisme dan imperialism membuat banyak orang merasa terasing dari tanah airnya sendiri. Berikut kutipan yang menggambarkan pemikirannya atas penolakan terhadap penjajahan dan kemajuan melalui kemerdekaan:&lt;br /&gt;
&quot;Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.&quot; &lt;br /&gt;
&quot;Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak.&quot;&lt;br /&gt;
“Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita menyehatkan rakyat kita, walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat kita untuk menghilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng kerbau. Di dalam Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, di dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya. Inilah maksud saya dengan perkataan &quot;jembatan&quot;. Di seberang jembatan, jembatan emas, inilah, baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia Merdeka yang gagah, kuat, sehat kekal dan abadi.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih lanjut, untuk melawan kolonialisme dan imperialism, Soekarno menggunakan ajaran Lenin tentang Revolusi Sosialis. Lenin mengajukan pandangan bahwa revolusi sosialis hanya terlaksana apabila proletariat mau melaksanakannya. Namun, revolusi tidak akan terjadi apabila tidak ada kesadaran sosialis-revolusioner. Lebih lanjut, kesadaran tersebut harus dibentuk dan dibangun berdasarkan pengalaman-pengalaman ketertindasan.&lt;br /&gt;
Bagi Soekarno, syarat utama kemajuan adalah sebuah kemerdekaan. Merdeka merupakan sarana menuju keadaan yang lebih baik. Lalu dalam hubungannya dengan revolusi sosialis, Soekarno terlanjur jatuh cinta dengan semboyan revolusi dari kaum komunis. Ha; tersebut yang kemudian mempengaruhi pemikirannya berkaitan dengan ide kemajuan. Baginya, proses kemajuan harus bersifat progresif-revolusioner dan berlangsung terus menerus. Artinya, kemajuan yang terjadi secara cepat, mendasar, dan kontinu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ide Waktu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
“Jangan sekali-kali melupakan Sejarah. Never leave the history”  kutipan tersebut seolah telah sedikit menggambarkan ide waktu menurut Soekarno. Beliau menyadari betul bahwa waktu terus bergerak dari masa lalu, menuju masa sekarang, dan nanti ke masa depan. Ungkapan jangan sekali-kali melupakan sejarah ingin menyatakan bahwa seseorang bahkan sebuah bangsa tidak pernah boleh mengabaikan masa lalu. Masa lalu justru perlu senantiasa digali dan direfleksikan bagi masa sekarang dan antisipasi terhadap masa depan.&lt;br /&gt;
Lebih lanjut, Soekrano dalam perjuangannya melawan kolonialisme dan imperialism selalu mengelaborasi masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Masa lalu diisi oleh kenangan kepahitan pengalaman dijajah sekian lama. Maka masa sekarang, saat ia hidup, merupakan masa perjuangan yang tidak pernah boleh berhenti berjuang memperoleh kemerdekaan dan mengusir kolonialisme atau para penjajah. Agar kelak di masa depan bangsa Indonesia dapat bersatu dan meraih cita-cita bersama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ide Kebebasan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ide kebebasan berkaitan erat dengan penentuan diri, pengendalian diri, pengarahan diri, dan pengaturan diri.  Hal tersebut berarti adanya sebuah otonomi baik dari individu maupun kelompok tertentu untuk mengambil setiap keputusan atas tindakan. Lebih lanjut, kebebasan dilihat dalam kerangka seseorang atau kelompok didorong atau diarahkan oleh motif, cita-cita, harapan, dan dorongan batin yang dikehendaki sebagai lawan dari paksaan, atau tekanan baik dari luar dan dari dalam.&lt;br /&gt;
Pada bagian ini kita akan mengikuti pemaparan pemikiran Soekarno mengenai ide kebebasan. Menurut Soekarno, kebebasan juga berarti sebuah kemerdekaan. Ide kebebasan ini erat kaitannya pula dengan ide kemajuan yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Soekarno berpendapat bahwa kebebasan adalah sebuah situasi dimana setiap orang mampu bebas dari ikatan atau kekangan yang membelenggu diri untuk dapat mengembangkan atau mengaktualisasikan diri. Kebebasan terjadi ketika setiap orang mempunyai kemerdekaan untuk menentukan sendiri arah hidupnya. Berikut kutipan pemikiran Soekarno berkaitan ide kebebasan:&lt;br /&gt;
“Merdeka buat saya ialah: &quot;political independence&quot;, politieke onafhankelijkheid. Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid?”&lt;br /&gt;
“Saudara-saudara! Apakah yang dinamakan merdeka? Di dalam tahun &#39;33 saya telah menulis satu risalah. Risalah yang bernama &quot;Mencapai Indonesia Merdeka&quot;. Maka di dalam risalah tahun &quot;33 itu, telah saya katakan, bahwa kemerdekaan, politieke onafhankelijkheid, political indenpendence, tak lain dan tak bukan, ialah satu jembatan, satu jembatan emas.”&lt;br /&gt;
“Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan hatinya bangsa kita!”&lt;br /&gt;
Soekarno menyampaikan pandangan tersebut ketika pidatonya pada 1 Juni 1945 saat siding BPUPKI yang akan membahas dasar Negara Indonesia merdeka. Sebelum menyampaikan rumusan Pancasila, Soekarno menyampaikan pandangannya terlebih dahulu tentang arti merdeka menurutnya.  Dari kutipan pidato tersebut dapat mengungkapkan dengan jelas kepada pendengar dan pembacanya saat ini bahwa kemerdekaan sebagai sebuah jembatan, jembatan emas. Analogi jembatan berarti sebuah penghubung dari satu tempat ke tempat yang lain. Jembatan mampu menghantar orang sampai di tempat tujuan dengan selamat dengan melewati jurang pemisah yang ada di bawahnya. &lt;br /&gt;
Kemerdekaan atau kebebasan bukanlah tujuan pada dirinya sendiri. Dengan kata lain, kemerdekaan tidak boleh berhenti untuk kemerdekaan itu sendiri. Kemerdekaan hanyalah sebuah sarana, sebuah jembatan emas, yang menghantar seseorang meraih apa yang menjadi cita-citanya. Lebih lanjut, kebebasan berarti sarana bagi perkembangan diri.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ide Masa Depan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ide menganai masa depan ini saya isi dengan cita-cita Soekarno terhadap Indonesia. Banyak sekali cita-cita yang terungkap dari Soekarno bagi Indonesia. Mulai dari Indonesia merdeka, Indonesia bersatu, dan masih banyak lagi. Namun salah satu yang paling terkenal adalah gagasannya yang sering disebut sebagai “Trisakti”. Isi dari Trisakti antara lain, “Indonesia yang berdaulat secara politik”, “Indonesia yang mandiri secara ekonomi”, dan “Indonesia yang berkepribadian secara sosial-budaya”.  Trisakti menjadi sebuah konsep kunci bagi arah perkembangan ke masa depan yang ingin dilakukan bagi Indonesia.&lt;br /&gt;
Indonesia berdaulat secara politik berarti aspirasi setiap warganya dapat tertampung. Setiap warga Negara mampu berpartisipasi aktif dalam usaha perkembangan bangsa dan Negara. Di lain pihak, dalam kaitannya dengan Negara lain Indonesia mampu dengan bebas menentukan arah kebijakannya sendiri. Indonesia mampu mandiri dalam mengambil keputusan tanpa adanya campur tangan dari Negara lain.&lt;br /&gt;
Indonesia mandiri secara ekonomi berarti Indonesia mampu mengusahakan sendiri kegiatan perekonomian guna mecukupi kebutuhan hidup warganya. Mandiri secara ekonomi juga berarti bahwa Indonesia mampu memaksimalkan segala potensi yang ada di dalamnya tanpa tergantung bantuan ekonomi Negara lain. Jadi Indonesia tidak pernah tergantung dengan bantuan-bantuan ekonomi pihak luar.&lt;br /&gt;
Indonesia berkepribadian secara sosial-budaya berarti Indonesia mempunyai jati diri bangsa. Lebih dalam, Indonesia mempunyai nilai-nilai luhur yang telah ada sejak puluhan tahun yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain. Identitas atau jati diri bangsa ini menjadi sangat penting agar tidak kehilangan pegangan dalam arus dunia yang semakin global. Kesadaran akan jati diri terdalam bangsa mampu saling mempererat persaudaraan diantara sesame warga.    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Farel, dkk. Bung Karno. Kompas. Jakarta. 2009.&lt;br /&gt;
Latif, Yudi. Negara Paripurna. Historistias, Rasionalitas, dan Aktualisasi Pancasila. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2011.&lt;br /&gt;
Mudhofir, Ali. Kamus Filsafat Nilai. Kertagama. Jakarta. 2014.&lt;br /&gt;
Munir, Misnal. Filsafat Sejarah. UGM Press. Yogyakarta. 2014.&lt;br /&gt;
Onghokham, “Sukarno: Mitos dan Realitas”, Manusia Dalam Kemelut sejarah. LP3ES. Jakarta. 1978.&lt;br /&gt;
S. Silalahi, Dasar-dasar Indonesia Merdeka. Versi Para Pendiri Negara., Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2001.&lt;br /&gt;
Soekarno, Menggali Pancasila (Kumpulan Pidato), Wawan Tunggul Alam (ed.). Gramedia. Jakarta. 2001.&lt;br /&gt;
_______, Pidato Peringatan HUT RI 17 Agustus 1966.&lt;br /&gt;
_______, Pidato Trisakti&lt;br /&gt;
Sularto, St. (ed.), Dialog Dengan Sejarah. Soekarno Seratus Tahun. Penerbit Kompas. Jakarta. 2001.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/9020989893575625883/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2015/03/filsafat-sejarah-menurut-soekarno.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/9020989893575625883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/9020989893575625883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2015/03/filsafat-sejarah-menurut-soekarno.html' title='Filsafat Sejarah Menurut Soekarno'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVEtCWmGf-wum29NKpM4Wbc14qVmluPtKb3nTozDcbxkCcAZa18FDMbbqcpAe5q-5lrAskqdW4mdQjGarCytnz0z_Zn5U-AE_vNOGWazi_WftlWi4H579tm4znQoZ9l99EZJfbVmr783J6/s72-c/tanggal-lahir-bung-karno.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-5670870974259857510</id><published>2015-03-13T19:32:00.000-07:00</published><updated>2015-03-13T05:32:27.702-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="belajar ilmiah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type='text'>Analisis Kritis Atas Proyek  “Revolusi Mental” Presiden Jokowi</title><content type='html'>Oleh : Kristoforus Sri Ratulayn K.N&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwUVnnu6W3pPzi6OxT1IiMRS-yV5ye86llVKKhFV1Su34RrtVq9ZwOqLbL3kuMfN6TWK6Qw7tNP-cizC87yPsJLj7sAkRLSrN_EcPlDkAgGL34IV3kYyFh4O_QR6HhYkEEwS-XA4YySt2m/s1600/qV3all_revolusi+mental.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwUVnnu6W3pPzi6OxT1IiMRS-yV5ye86llVKKhFV1Su34RrtVq9ZwOqLbL3kuMfN6TWK6Qw7tNP-cizC87yPsJLj7sAkRLSrN_EcPlDkAgGL34IV3kYyFh4O_QR6HhYkEEwS-XA4YySt2m/s640/qV3all_revolusi+mental.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Pengantar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada masa kampanye pemilu presiden yang lalu, Jokowi yang saat ini telah resmi dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke tujuh menulis sebuah opini dengan judul “Revolusi Mental” pada harian Kompas. Tulisan tersebut menjadi sebuah penegasan akan garis politik yang akan diusung Jokowi ketika terpilih dan menjabat menjadi Presiden. Lebih lanjut, di dalam tulisan tersebut termuat beberapa keprihatinan dan gagasan Presiden Jokowi tentang apa yang diperlukan bagi bangsa dan Negara Indonesia saat ini. Gagasan “Revolusi Mental” bisa dikatakan sebagai sebuah visi pribadi Presiden Jokowi selama lima tahun kedepan dalam memimpin Negara Indonesia.&lt;br /&gt;
Secara umum, gagasan Revolusi Mental yang dipaparkan oleh Presiden Jokowi berangkat dari fenomena kecemasan yang terjadi dalam masyarakat. Masyarakat masih saja mengalami kecemasan setelah puluhan tahun memasuki era refomasi. Presiden telah silih berganti dengan system pemilihan yang lebih demokratis dan mengakomodasi kebebasan berpendapat rakyat. Bidang ekonomi telah mengalami perkembangan yang cukup membanggakan. Namun mengapa masih terjadi kecemasan dalam masyarakat?&lt;br /&gt;
Presiden Jokowi berpendapat bahwa pasca reformasi yang menjadi pusat perhatian dan perbaikan hanya sebatas pada system kelembagaan dan konstitusi semata. Perbaikan yang terjadi pasca reformasi hanya berhenti pada system yang mengatur regulasi jalannya pemerintahan, mulai dari amandemen UUD 45, pembentukan lembaga independen seperti KPK, otonomi daerah, dan masih banyak lagi. Perbaikan tidak menyentuh pada manusianya sebagai pelaku dari system tersebut. Akhirnya, yang terjadi masih saja terjadi pewarisan budaya dari masa Orde Baru, seperti korupsi, intoleransi keberagaman, dan masih banyak lainnya. Dengan kata lain, secanggih apapun system yang dibentuk, tapi jika manusia yang menjalankannya tidak ikut dibentuk sama saja tidak ada artinya. Sama seperti seorang balita yang diberi gadget canggih, tentu akan dipukul-pukul dan dirusak karena memang tidak mengerti cara menggunakannya.&lt;br /&gt;
Perubahan dan perbaikan perlu sampai menyentuh pada perubahan cara pandangan atau paradigm manusia dan budaya politik. Lebih dalam, perlu adanya sebuah revolusi untuk menjawabi permasalahan-permasalahan tersebut. Revolusi yang dimaksud Presiden Jokowi bukanlah revolusi fisik, melainkan revolusi mental. Dengan kata lain, Jokowi ingin menciptakan paradigma, budaya politik, dan pendekatan national building yang lebih manusiawi, sesuai dengan budaya nusantara, bersahaja, dan berkesinambungan. &lt;br /&gt;
Revolusi mental ini kemudian diisi oleh konsep Trisakti dari Presiden Sukarno, antara lain “Indonesia yang berdaulat secara politik”, “Indonesia yang mandiri secara ekonomi”, dan “Indonesia yang berkepribadian secara sosial-budaya”. Revolusi mental dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Kemudian berlanjut ketingkat yang lebih luas, keluarga, lingkungan tempat kerja, masyarakat luas, dan akhirnya sampai pada tingkat negara&lt;br /&gt;
Tulisan ini ingin memberikan sebuah analisis kritis atas gagasan “Revolusi Mental” yang menjadi garis politik dan visi pribadi Presiden Jokowi. Dengan kata lain, penulis ini memberikan tinjauan secara teoritis dan kritis mengenai gagasan Revolusi Mental dari Presiden Jokowi. Penulis ingin memberikan pembenaran teoritis tentang gagasan Revolusi Mental yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi. &lt;br /&gt;
Sisi Lain Revolusi Mental &lt;br /&gt;
Gagasan Revolusi Mental memang menarik untuk dikajidan dipertimbangkan sebagai “obat” perbaikan bangsa dan Negara ini. Secara tajam Presiden Jokowi menyoroti bahwa pasca reformasi perubahan dan pembenahan yang terjadi hanya seputar dimensi konstitusional Negara. Artinya, banyak peraturan dibuat, system yang menjamin demokrasi dirancang, bahkan sampai mengamandemen UUD 45. Sedangkan lupa untuk mendidik manusia-manusia sebagai pelaku system tersebut agar siap secara moral menjalankan system yang dirancang. Sehingga yang terjadi system pemerintahan dan konstitusi melesat begitu maju tetapi manusia yang mejalankannya tetap dengan cara pandang dan budaya warisan Orde Baru yang sudah sangat mengakar kuat. Dengan kata lain, secanggih apapun system yang dibuat, jika tidak dibarengi dengan pengembangan manusia dengan cara pandang baru sama saja tidak ada gunanya. System dan manusia harus berjalan beriringan dalam perkembangannya.&lt;br /&gt;
Gagasan Revolusi Mental yang diusung oleh Presiden Jokowi di sisi lain membawa sejumlah kekawatiran bagi sebagian masyarakat. Gagasan Revolusi mental dianggap hanya sebagai upaya meningkatkan popularitas semata bagi Presiden Jokowi pada saat kampanye presiden agar banyak orang terpukau atasnya. Lebih lanjut, seperti upaya pencitraan pada umumnya yang menggunakan segala macam cara dan bujuk rayu untuk menghimpun dan memperoleh dukungan dari masyarakat. Sah-sah saja pendapat sebagaian orang tersebut. Karena memang mulai pelantikan Presiden dan dalam lima tahun kepemimpinannya baru akan terlihat dan terbukti apakah gagasan tersebut hanya sekedar teori atau sungguh-sungguh dilakukan oleh Presiden Jokowi dalam memimpin Negara ini. Waktu yang akan menjawab sanggahan pendapat kritis tersebut.&lt;br /&gt;
Lebih lanjut, jika memang gagasan Revolusi Mental sungguh-sungguh dilakukan, maka ada beberapa catatan lanjut yang perlu untuk juga dicermati dalam gagasan tersebut. Presiden Jokowi perlu secara kritis melihat konsekuensi logis dibalik gagasan besar Revolusi Mental yang akan menjadi garis politiknya. Kita perlu mengamati secara kritis-historis konteks penggunaan gagasan revolusi. Artinya, melihat kembali secara radikal apa yang dimaksud dengan revolusi? dan bagaimana sejarah mencatat berbagai gerakan yang mengatasnamakan revolusi? Bagaimana sesungguhnya revolusi yang dipahami oleh Presiden Jokowi? Pertanyaan-pertannyaan tersebut muncul dalam benak sebagian masyarakat yang mencoba mengambil jarak dari gagasan Revolusi Mental Presiden baru mereka. Berikut beberapa pertimbangan teoritis tentang revolusi atau setiap tindakan yang sifatnya revolusioner.&lt;br /&gt;
Pertama, ada beberapa arti revolusi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, revolusi 1) berarti perubahan ketatanegaraan (pemerintahan atau keadaan sosial) yang dilakukan dengan kekerasan (seperti dengan perlawanan bersenjata); 2) perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang; 3) peredaran bumi dan planet-planet lain dl mengelilingi matahari.  Dengan melihat arti tersebut, dalam konteks politik atau pemerintahan revolusi selalu menggunakan arti yang pertama. Gagasan Revolusi Mental yang dicanangkan Presiden Jokowi jelas berada dalam konteks politik dan pemerintahan. Maka bisa disimpulkan bahwa revolusi yang akan dilakukan oleh Presiden kita tentu cenderung mempunyai tarikan yang kuat kepada arah kekerasan. Kata revolusi yang dipakai oleh Presiden Jokowi jelas mengerikan jika konsekuensinya kearah tindakan kekerasan bahkan dengan perlawanan bersenjata.&lt;br /&gt;
Lebih lanjut, revolusi jelas berbeda dengan evolusi. Revolusi berarti proses perubahan yang terjadi dengan seketika atau cepat. Sedangkan evolusi lebih pada sebuah proses perubahan bertahap yang terjadi dari waktu ke waktu yang cenderung lama. Revolusi tidak mengenal tahapan dalam proses perubahannya. Apa atau siapapun itu, mau atau tidak mau harus ikut berubah di dalamnya. Siapa yang mencoba melawan dalam gerakan perubahan seketika itu akan ikut digilasnya. Dengan demikian, jika Presiden Jokowi menginginkan sebuah revolusi jelas akan ada sebuah shock terjadi dalam masyarakat. Masyarakat harus dengan cepat mengikuti gerak perubahan yang diinginkan oleh gerakan perubahan tersebut. Siapa saja siap atau tidak siap harus bergerak di dalamnya. Pertanyaanya, apakah yakin tidak akan ada korban di dalam proses tersebut? Jika memakan korban, pengorbanan seperti apa yang ada dalam pikiran Presiden kita dalam revolusi ini?&lt;br /&gt;
Revolusi berkedatan dengan sikap perlawanan yang terjadi dalam masyarakat akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah yang ada. Sikap perlawanan tersebut dikarenakan pemerintahan yang berkuasa menindas terus menerus dan melanggar ketidakadilan masyarakat. Sedangkan revolusi sendiri berarti sebuah perlawanan yang tidak hanya menetang kebijakan atau peraturan tertentu, melainkan bertujuan untuk menumbangkan pemegang kekuasaan dan mengubah seluruh system ketatanegaraan.  Revolusi menuntut sebuah perubahan mendasar dan mendadak undang-undang dasar Negara oleh sebuah gerakan massa. Lebih lanjut, yang menjadi cirri khas dari revolusi adalah sifanya yang tidak legal, atau tidak berdasarkan hukum yang berlaku. Dengan demikian, revolusi jelas tidak bisa dinilai dalam konteks legalitas, melainkan legitimasi moral. Karena memang revolusi sendiri bertentangan dengan hukum yang berlaku. Malahan revolusi akan menciptakan hukum dan ketatanegaraan baru apabila memperoleh kemenangan.&lt;br /&gt;
Kemudian pertannyaan yang muncul atas dasar penilaian legitimasi moral adalah apakah revolusi dapat dibenarkan? Apakah melawan sebuah pemerintahan yang menindas dan melanggar keadilan tidak dibenarkan? Saya tidak ingin memberikan jawaban yang pasti atasnya, melainkan hanya akan memberikan pertimbangan-pertimbangan jika memang jalan revolusioner yang dipilih. Sesungguhnya mengapa memilih jalan revolusi sebagai sarana mencapai tujuan? &lt;br /&gt;
Magnis Suseno dalam bukunnya memberikan beberpa pertimbangan. Pertimbangan pertama, jalan revolusi sesungguhnya jalan yang sudah pasti memakan banyak korban dan penderitaan.  Dan sudah pasti rakyat kecillah yang paling banyak menjadi korbannya. Lebih dalam, akan juga terjadi banyak kerusakan diberbagai bidang, ekonomi, politik, bahkan budaya. Apakah layak dan pantas mengurbankan banyak orang demi mencapai tujuan tertentu di masa depan?  Sepadankah penderitaan yang dialami selama proses revolusi demi mencapai sebuah tujuan dengan alasan demi masa depan anak cucu? Bukankah yang perlu dijaga, dirawat dan dilindungi adalah manusia-manusia yang hidup di masa kini, bukan masa depan?&lt;br /&gt;
Pertimbangan kedua, andaikata revolusi mampu menang dan mencapai tujuannya, seberapa besar jaminan bahwa para pemimpin gerakan revolusioner akan memberikan kebijakan yang lebih baik dibandingkan pemerintahan sebelumnya? Bukankah ketika selesainya revolusi semua hancur dan dimulai dari awal? Pengalaman hamper secara universal membuktikan bahwa pemerintahan hasil revolusi malah menjadi lebih jahat dari pemerintahan yang berhasil ditumbangkannya.  Hal tersebut dikarenakan mental yang terbentuk dari para penggerak revolusi yang harus berjuang dengan keras, tegas, dan tanpa belas kasihan dalam menumbangkan kekuasaan yang ada. Hingga akhirnya ketika mereka berkuasa, mental tersebut terbawa saat mereka menjadi pemimpin yang baru.&lt;br /&gt;
Lebih lanjut, pemerintah revolusioner tidak pernah dapat diharapkan bersedia untuk menciptakan konstitusi-konstitusi yang lebih demokratis. Bagi mereka hal tersebut sama saja menyerahkan pemerintahan pada sebagaian orang kalangan menengan yang selama perjuangan tidak pernah sungguh-sungguh ikut memperjuangkannya. Sudah barang tentu mereka ingin menikmati hasil dari perjuangan mereka selama beberapa tahun. &lt;br /&gt;
Beberapa pertimbangan tersebut menunjukkan betapa jalan revolusi memiliki harapan yang kecil untuk terjadinya perubahan kearah yang lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada jaminan pasti bahwa setelah revolusi, jaminan akan perlindungan hak-hak asasi, keadilan, dan penghargaan terhadap martabat manusia akan lebih baik. Karena revolusi sesungguhnya juga bagian dari sarana memperoleh kekuasaan. Dan setelah kekuasaan berada dalam genggaman belum tentu juga dengan mudah mereka berikan kepada kehendak umum masyarakat. Sisi lain, secara etis, tidak pernah boleh mengurbankan manusia demi mencapai tujuan yang diharapkan.&lt;br /&gt;
Kedua, dalam teori sejarah, gerak peruabahan secara revolusi digambarkan seperti sebuah garis sejarah yang terputus-putus. Lebih dalam, digambarakan seperti sebuah garis yang bergerak lurus kemudian terputus begitu saja karena revolusi dan dimulai dari titik nol lagi, begitu terus selanjutnya. Gerak sejarah dengan revolusi membuat keterputusan dengan proses yang terjadi sebelumnya. Perubahan tersebut berbeda dengan gerak sejarah secara siklis ataupun dialektika. Gerak sejarah dialektika selalui merupakan proses pembaruan terus menerus tanpa meninggalkan konteks gerak sebelumnya. Jika digambarkan gerak sejarah secara dialektika, maka akan didapatkan seperti sebuah spiral. Dalam proses dialektika ada tesis yang berhadapan dengan antithesis, kemudian muncul sintesis. Sintesis kemudian berubah menjadi tesis baru dan muncul sintesis baru pula, begitu seterusnya.&lt;br /&gt;
Apakah gerak sejarah revolusi yang demikian yang diinginkan oleh Presiden Jokowi? Sebuah gerakan perubahan yang sungguh-sungguh baru dan membuang segala hal yang telah ada dari hasil proses sebelumnya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana hal tersebut mungkin untuk terjadi. Pertanyaanya apakah sungguh tidak ada kebaikan dalam proses yang terjadi sebelumnya? Sungguhkah tidak ada paradigma dan cara pandang, atau budaya poltik baik yang terjadi pasca reformasi? Bukankah Presiden Jokowi juga terpilih dari budaya poltik hasil dari proses pasca reformasi? Jika Presiden Jokowi menganggap hal tersebut kurang meyakinkan, berarti sah juga kalau orang lain juga meragukan dirinya. Karena memang beliau juga terpilih dari budaya dan cara pandang demikian. &lt;br /&gt;
Ketiga, terakhir yang menjadi pertanyaan saya untuk gagasan Revolusi Mental. Pada bagian awal gagasannya Presiden Jokowi berpendapat bahwa yang perlu dibenahi adalah sisi manusianya sebagai pelaku dari system. Lebih lanjut, beliau berpendapat selama ini yang menjadi fokus hanya sekedar pembenahan system dan belum menyentuh aspek pembentukan cara berpikir manusia sebagai pelaku system. Namun, dalam gagasan Trisakti sebagai isi dari Revolusi Mental, lagi-lagi beliau kembali dan lebih condong kepada pembenahan system. Pada titik mana gagasan Trisakti tersebut sungguh-sungguh menggarap sisi pembentukan manusia yang menyentuh sampai pada pembentukan paradigm manusia sebagai pelaku system. &lt;br /&gt;
Cita-cita bersama menjadi sebuah Negara yang berdaulat dan berbudaya memang perlu senantiasa diperjuangkan oleh segenap komponen Negara ini. Namun cita-cita yang baik perlu juga mempertimbangkan cara-cara yang baik dan benar pula untuk mencapainya. Perlu adanya sebuah gerakan pertimbangan yang lebih mendasar yaitu legutimasi etis, ketimbang pertimbangan legalitas semata. Bangsa ini membutuhkan gerakan sadar moral ketimbang sadar hukum yang selama ini didengung-dengungkan. Selamat berkarya Presiden Jokowi. Jaya terus Indonesia!!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PUSTAKA&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Keempat. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta 2011.&lt;br /&gt;
Suseno, Franz-Magnis. Etika Politik. Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2003.&lt;br /&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/5670870974259857510/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2015/03/analisis-kritis-atas-proyek-revolusi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/5670870974259857510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/5670870974259857510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2015/03/analisis-kritis-atas-proyek-revolusi.html' title='Analisis Kritis Atas Proyek  “Revolusi Mental” Presiden Jokowi'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwUVnnu6W3pPzi6OxT1IiMRS-yV5ye86llVKKhFV1Su34RrtVq9ZwOqLbL3kuMfN6TWK6Qw7tNP-cizC87yPsJLj7sAkRLSrN_EcPlDkAgGL34IV3kYyFh4O_QR6HhYkEEwS-XA4YySt2m/s72-c/qV3all_revolusi+mental.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-1513641377735025519</id><published>2015-03-13T19:31:00.000-07:00</published><updated>2015-03-13T05:31:54.357-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="belajar ilmiah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type='text'>Analisis Kritis atas Undang-Undang Pilkada Langsung</title><content type='html'>Oleh : Kristoforus Sri R.K.N&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMf_UWwNjFSyXyh8Iz6WZbiz9E0h5bXGshN5fAJ5FAJh_KOCsZ6Vee4LbF7-VMhQaSK6MQN1Sd2I081a8y_wPAtROFyVq1_vw8cd1OzHwNjSnqhYdK6E0LMTUvzBwbZEulY69zradJafq7/s1600/download.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMf_UWwNjFSyXyh8Iz6WZbiz9E0h5bXGshN5fAJ5FAJh_KOCsZ6Vee4LbF7-VMhQaSK6MQN1Sd2I081a8y_wPAtROFyVq1_vw8cd1OzHwNjSnqhYdK6E0LMTUvzBwbZEulY69zradJafq7/s640/download.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Beberapa saat yang lalu publik dihebohkan dengan pemberitaan media seputar penyusunan dan penetepan Undang-Undang (UU) Pilkada oleh anggota DPR-RI. Kehebohan dan reaksi masyarakat berkaitan dengan isi dari UU tersebut yang menetapkan bahwa Kepala Daerah tidak lagi dipilih secara langsung oleh rakyat, seperti yang telah berlangsung beberapa tahun belakangan, hak melainkan Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD. Keputusan tersebut jelas dianggap kontroversial oleh sebagian besar masyarakat. Tak pelak hal tersebut mengundang pro dan kontra dalam masyarakat sendiri.&lt;br /&gt;
Setidaknya ada beberapa argument yang didalilikan oleh koalisi yang mendukung pemberlakuan UU tersebut. Antara lain, pertama, peraturan tersebut untuk memurnikan kembali asas Pancasila mengenai demokrasi yang ada di Indonesia. Dengan kata, lain demokrasi yang ada di Indonesia wajib mengacu kembali apa yang sudah diamanatkan dalam Pancasila, khususnya sila keempat. Kedua, pemilu langsung dinilai menyebabkan ongkos politik yang amat besar. Ketiga, adanya kekhawatiran bahwa pemilu langsung dapat menyebabkan perpecahan di antara masyarakat. Keempat, pemilu langsung rentan terhadap terjadinya praktek politik uang di dalamnya.&lt;br /&gt;
Banyak argument tentang keberatan muncul terhadap UU tersebut dari berbagai kalangan. Salah satu pihak yang keberatan terhadap pengesahan UU tersebut baru-baru ini adalah Aliansi Ilmuwan Indonesia untuk Bangsa. Aliansi Ilmuwan Indonesia dibentuk oleh 350 orang ilmuwan dari berbagai lintas bidang ilmu di Indonesia. Mereka mengadakan diskusi “Kembalikan Kedaulatan Rakyat”. Dalam pernyataan sikapnya mereka kepada DPR RI dan para politisi yakni menolak dengan tegas segala bentuk manipulasi melalui penyalagunaan cara-cara prosedural-formal perumusan hukum dengan mengatasnamakan rakyat. Lebih lanjut, mereka juga mendesak agar para wakil rakyat menghentikan bentuk manipulasi dan permainan hukum untuk kepentingan kelompok. &lt;br /&gt;
Pada tulisan ini saya akan mencoba memberikan analisis kritis dari sudut pandang lain tentang isi UU Pilkada. Beberapa hal pokok yang akan saya uraikan adalah (1) Pancasila dan asas Pancasila. (2) analisis pemilu dan kaitannya dengan Hak asasi dan demokrasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pemilu dan Asas Pancasila&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Berbicara mengenai pemilu sebagai sebuah proses demokrasi di Indonesia jelas tidak bisa dipisahkan dengan Pancasila sebagai dasar Negara dan dasar hukum. Lebih khusus, sila yang langsung merujuk tentang penyelenggaraan demokrasi di Indonesia adalah sila ke empat. Sila keempat dari Pancasila adalah “Kerakyatan yang dimpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” Bertitik tolak dari sila ini pulalah para anggota DPR-RI merancang dan mengesahkan UU Pilkada. &lt;br /&gt;
Secara historis, sesungguhnya telah terjadi perbedatan mengenai kedaulatan rakyat pada saat perumusan dan pengesahan Pancasila. Namun, perdebatan tersebut lebih condong kepada pengaktualisasian sila kedua. Terjadi perdebatan dalam pemenuhan prinsip ”Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Poin utama perdebatan tersebut adalah pertentangan mengenai hak-hak dasar manusia dengan semangat kekeluargaan. Permasalahannya adalah negara perlu memberikan ruang bagi rakyat untuk berkumpul, memberikan pendapat dan suaranya.  Muhammad Yamin, Agoes Salim, Mohammad Hatta, dan Soekiman berpendapat tentang perlu adanya jaminan yang tegas mengenai kemerdekaan warga negara dalam UUD. Artinya, setiap orang tetap merasa bebas walaupun berada di payung UUD. Mohammad Hatta berpendapat paling kencang mengenai adanya jaminan yang tegas atas hak berserikat, berkumpul, dan berpendapat dalam konstitusi, agar kelak tidak terjadi kesewenang-wenangan kekuasaan yang mengatasnamakan semangat kekeluargaan. Seputar sila kedua ini akan saya bahas lebih lanjut pada bagian selanjutnya, yaitu hubungan antara pemilu dan hak asasi manusia.&lt;br /&gt;
Akhirnya, diambillah sebuah kompromi terhadap masukan-masukan yang disampaikan. Bentuk kompromi tersebut adalah dengan ditambahkannya pasal dalam UUD yang mengatur kebebasan penduduk untuk berkumpul dan menyuarakan pendapatnya. Kompromi tersebut termuat dalam pasal 28. Hingga berakhirnya masa persiapan BPUPKI pada tanggal 17 Juli 1945, BPUPKI berhasil menyusun dasar negara (Pancasila), pembukaan UUD (Piagam Jakarta) sebagai norma dasar yang menjiwai bantang tubuh UUD sebagai aturan dasar. &lt;br /&gt;
Jika diamati memang secara mekanisme sila keempat dari Pancasila memang mengarah kepada sebuah bentuk pemerintahan secara perwakilan. Hal tersebut tertulis dengan jelas dalam sila keempat. Namun, yang perlu dicermati adalah adanya syarat moralitas yang tinggi dalam lembaga perwakilan, yaitu dalam kata-kata ”dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan”. Dengan kata lain lembaga perwakilan yang ada tidak sekedar mewakili aspirasi seluruh Indonesia melainkan harus adanya kesadaran moralitas etis yang tinggi dalam diri para wakil rakyat. Perjuangan akan keadilan dan martabat manusia harus menjadi kunci perwakilan mereka.&lt;br /&gt;
Pada titik inilah dapat dipahami apa yang diserukan oleh para ilmuwan. Secara legal, memang pengesahan UU Pilkada sudah sesuai dengan formalitas hukum yang berlaku. Namun, yang menjadi sorotan tajam dari para ilmuwan adalah sisi moralitas yang ada dalam diri para anggota DPR yang menghendaki berlakunya UU Pilkada. Para ilmuwan menyebut mereka sebagai pembajak demokrasi yang tidak tahu berterima kasih kepada rakyat. Mereka dengan jelas mata hanya memperjuangkan kepentingan kelompoknya sendiri tapi dengan mengatasnamakan rakyat. Apakah mereka pernah mendiskusikannya dengan rakyat yang mereka wakili?&lt;br /&gt;
Lebih lanjut, jika mereka berargumen bahwa UU Pilkada ingin mengenbalikan kembali asas Pancasila, hal tersebut tentu juga mempunyai konsekuensi logis terhadap pelaksanaan pemilu Presiden dan Gubernur. Apakah dengan demikian mereka juga menolak pemilu langsung Presiden dan Wakil Presiden? Bukankah pemilu langsung juga merupakan buah dari reformasi yang terjadi untuk memperbaiki masa Orde Baru? Jika itu yang diinginkan oleh para anggota DPR yang menyetujui UU Pilkada, maka hal tersebut jelas merupakan sebuah kemunduran besar bagi demokrasi yang telah diawali secara tragis melalui reformasi. Jangan-jangan memang ada upaya untuk membangkitkan kembali negara totaliter ala Orde Baru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hak Asasi Manusia, Demokrasi Dan Pemilu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Istilah Hak Asasi Manusia atau yang sering disingkat HAM tentu sudah tidak asing lagi ditelinga kita. HAM mempunyai paham yang menegaskan bahwa setiap manusia mempunyai hak yang dimiliki oleh manusia bukan berasal dari negara ataupun hukum positif yang berlaku, melainkan karena martabatnya sebagai manusia.  Dengan kata lain, manusia memilikinya karena manusia. Hal tersebut kemudian mengandaikan juga negara atau hukum tidak pernah bisa menghilangkan atau menghapusnya. Memang hukum dan negara bisa mengabaikan atau tidak mengakuinya. Namun, jika pengabaian itu terjadi, maka negara juga sama dengan mengabaikan martabat manusia.&lt;br /&gt;
Magnis Suseno menjelaskan bahwa menurut sifat dan arahnya masing-masing, hak asasi terbagi menjadi empat kelompok.  Pertama, Hak-hak Asasi Negatif atau Liberal, hak ini diperjuangkan oleh kaum liberalisme yang pada dasarnya ingin melindungi kehidupan pribadi manusia dari campur tangan negara dan kekuatan-kekuatan sosial lainnya. Beberapa contoh dari hak ini adalah hak atas hidup, kebebasan memilih jodoh, kebebasan memilih pekerjaan, kebebasan berpikir, kebebasan mengurus rumah tangga sendiri, dan masih banyak lagi lainnya. Hak-hak ini menjamin adanya sebuah ruang dimana setiap pribadi bebas menentukan sendiri dirinya. Pendasaran etis dari hak-hak ini adalah adanya tuntutan agar otonomi setiap orang atas dirinya sendiri selalu dihargai dan dihormati.&lt;br /&gt;
Kedua, Hak-hak Asasi Aktif atau Demokrasi, hak ini diperjuangkan oleh kaum liberal dan republikan yang mendasarkan diri pada pemahaman dasar hak-hak tersebut adalah keyakinan akan kedaulatan rakyat yang menuntut agar rakyat memerintahi diri sendiri dan setiap pemerintah berada di abwah kekuasaan rakyat. Hak ini disebut aktif karena memang rakyat menuntut adanya keikutsertaan aktif dalam menentukan arah perkembangan masyarakat. Lebih dalam, dalam paham ini menyakini adanya kesetaraan derajat sebagai manusia. Tidak ada pemerintahan yang sah apabila tidak ada penugasan oleh rakyat (pemerintah sebagai mandataris rakyat). Dalam hak ini pula pemahaman adanya hak semua warga negara untuk memilih wakil-wakilnya yang bertugas membuat undang-undang. Rakyat bebas mengangkat pemerintah dalam sebuah pemilihan umum yang bebas dan rahasia. Lebih lanjut untuk kemudian juga mengontrol pemerintahan yang ada.&lt;br /&gt;
Ketiga, Hak-hak Asasi Positif, hak ini berkebalikan dengan hak negatif yang telah dibahas di atas. Hak-ahk positif justru menuntut prestasi-prestasi tertentu dari negara. Lebih lanjut, adanya pemenuhan-pemenuhan atau pelayanan-pelayanan yang diberikan pemerintah bagi masyarakat. Hak yang paling utama adalah perlindungan atas hukum. Hak positif ini berangkat dari anggapan bahwa keberadaan negara dan pemerintah sesungguhnya adalah untuk memberikan pelayanan-pelayanan tertentu. Dengan demikian negara wajib memberikan pelayanan karena memang masyarakat dengan sendirinya berhak menerimanya.&lt;br /&gt;
Keempat, Hak-hak Asasi Sosial, hak ini merupakan perluasan dari kewajiban pemerintah dalam memberikan jaminan perlindungan atas perjuangan kaum buruh dalam melawan kaum borjuis. Para buruh sering merasa terpaksa atas peraturan-peraturan sepihak yang ditetapkan oleh para pemilik modal karena memang mereka ada pada posisi yang membutuhkan pekerjaan. Sedangkan para pemilik modal dengan mudah meminggirkan mereka yang tidak menerima peraturan yang mereka tetapkan karena bisa dengan mudah mencari orang lain. Seolah kebebasan hanya yang dimiliki oleh kaum buruh tidak ada gunanya.&lt;br /&gt;
Pada titik ini kita bisa melihat hubungan pemilu dengan hak asasi manusia pada jenis hak asasi yang kedua, yaitu hak-hak asasi aktif dan demokrasi. Dengan lugas dapat dikatakan bahwa pemilu tidak langsung telah merenggut hak asasi manusia yang ingin ikut berpartisipasi aktif dalam menentukan perkembangan masyarakat dan negara. Pemilu tidak langsung yang ditetapkan dalam UU Pilkada jelas melawan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab yang termuat dalam sila kedua Pancasila. Kita bisa kembali pada perdebatan yang terjadi saat pendiri bangsa ini merumuskan Pancasila. Para pendiri bangsa ini sangat memberikan ruang yang luas bagi kedaulatan rakyat. Bagi mereka, kedaulatan rakyat menjad kunci bagi perkembangan dan kemajuan bangsa. Kedaulatan rakyat mengantisipasi praktek-praktek penomersatuan kepentingan kelompok yang disamarkan sebagai kepentingan rakyat seperti yang terjadi dalam proses di DPR saat ini. Dengan sangat jelas kepentingan golongan tertentu yang diutamakan oleh koalisi anggota DPR tertentu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Latif, Yudi Negara Paripurna : Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, Gramedia, Jakarta, 2011.&lt;br /&gt;
Suseno, Franz-Magnis, Etika Politik. Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003&lt;br /&gt;
www.republika.co.id&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/1513641377735025519/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2015/03/analisis-kritis-atas-undang-undang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/1513641377735025519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/1513641377735025519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2015/03/analisis-kritis-atas-undang-undang.html' title='Analisis Kritis atas Undang-Undang Pilkada Langsung'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMf_UWwNjFSyXyh8Iz6WZbiz9E0h5bXGshN5fAJ5FAJh_KOCsZ6Vee4LbF7-VMhQaSK6MQN1Sd2I081a8y_wPAtROFyVq1_vw8cd1OzHwNjSnqhYdK6E0LMTUvzBwbZEulY69zradJafq7/s72-c/download.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-7761292024184567004</id><published>2014-10-14T13:40:00.000-07:00</published><updated>2014-10-13T23:40:18.453-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="belajar ilmiah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="theodicy"/><title type='text'>Teodise</title><content type='html'>(Telaah Tuhan dan Masalah adanya Kejahatan dan Penderitaan dalam Filsafat Ketuhanan)&lt;br /&gt;
Oleh : Kristoforus Sri Ratulayn K.N&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBrbh69DxoR20td1Z1fJOl7qNasqenVvBV7OCBnlC6T3QX-Rb7n3eeNt9BXSygfFIqjCvGGs50TYqk1m8Hn9HYuPodHplOULjufTcEJhh5p2_go1Wr73y8qTESzRXByKJnOAoeGgrQbtFK/s1600/0016.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBrbh69DxoR20td1Z1fJOl7qNasqenVvBV7OCBnlC6T3QX-Rb7n3eeNt9BXSygfFIqjCvGGs50TYqk1m8Hn9HYuPodHplOULjufTcEJhh5p2_go1Wr73y8qTESzRXByKJnOAoeGgrQbtFK/s640/0016.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Siapa yang tidak pernah menangis selama hidupnya? Adakah manusia yang tidak pernah menangis sepanjang hidupnya? Hampir tidak ada manusia yang tidak pernah menangis. Bahkan, awal dan akhir dari hidup manusia selalu diiringi dengan sebuah tangisan. Bayi yang baru lahir harus menangis sebagai tanda kehidupannya. Bahkan kalau tidak menangis dibuat sedemikian rupa agar ia segera menangis. Selanjutnya, ketika kematian menjemput juga diiringi dengan tangisan. Tentu saja bukan tangisan dari orang yang meninggal, melainkan tangisan dari saudara dan kerabat yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;
Lebih lanjut, menangis merupakan sebuah metafor atau proyeksi diri dari sebuah kejadian yang menyakitkan atau kadang juga menggembirakan. Misalnya, seseorang gadis menangis karena ditinggal oleh sang kekasih. Contoh lain, seorang ibu yang menangis terharu karena anaknya mampu meraih prestasi yang membanggakan. Namun, tangisan tentu lebih cenderung mengarah kepada sebuah proyeksi tentang sebuah penderitaan yang tengah dialami oleh seseorang yang menangis. Penderitaan menjadi realitas tentang sebuah hal yang menyakitkan atau tidak menyenangkan bagi sebagian orang. Pada intinya, saya ingin mengatakan bahwa ada realitas tersembunyi di balik sebuah tangisan/menangis, yaitu penderitaan.&lt;br /&gt;
Belum lagi jika kita menengok kembali kejadian-kejadian mengerikan seperti pembantaian enam juta orang Yahudi oleh Nazi, pemerkosaan dan pembunuhan yang terjadi di Bosnia, peristiwa Tsunami Aceh yang menelan ribuan nyawa, gempa di Jepang, gempa tektonik di Yogyakarta, dan ribuan bayi yang mati setiap hari karena penyakit AIDS. Manusia hidup seolah dalam bayang-bayang ketakutan dan kecemasan. Kita seolah hidup dalam situasi yang tidak aman dan damai.&lt;br /&gt;
Masalah adanya kejahatan dan penderitaan seolah menjadi skandal terbesar dan cukup sulit untuk dijelaskan jika disandingkan dengan konsepsi Tuhan yang mahakuasa (omnipotent), mahatahu (omniscient), dan mahabaik (benevolent). Orang yang beriman akan adanya Tuhan perlu memberikan penjelasan menenai masalah adanya kejahatan dan penderitaan. Kalau Tuhan ada, dari manakah datangnya penderitaan? Si Deus, unde Malum? Kalau Ia tak berdaya, apakah masih layak orang beriman kepada-Nya? Karena tidak bisa disangkal masalah adanya kejahatan dan penderitaan ini yang memicu munculnya ateisme. Adanya kejahatan dan penderitaan menjadi argument penguat bagi orang-orang ateis.&lt;br /&gt;
Tulisan ini ingin membahasa seputar masalah adanya kejahatan dan penderitaan. Penulis akan menampilakan pandangan beberapa aliran filsafat yang membahas mengenai masalah kejahatan dan penderitaan. Ada dua aliran besar yang ingin penulis tampilkan dalam menanggapi masalah teodise ini, yaitu aliran Teodise Agustinian beserta pengikutnya dan Teodise Irenian juga dengan banyak pengikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Arti dan Penyebab Masalah Teodise&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Rumusan paling awal dari mengenai  masalah Teodise dibuat oleh Epikurus (324-270 SM). Kemudian, Lactantius (260-340 SM) ungkapan dari Epikurus sebagai berikut:&lt;br /&gt;
“Tuhan atau mau menyingkirkan kejahatan dan Ia tidak mampu; atau Ia mampu, dan tidak mau; atau Ia tidak mau dan juga tidak mampu; atau Ia mau dan juga mau. Jika Ia mau dan tidak mampu, Ia lemah, yang berarti tidak sesuai dengan sifat Tuhan. Jika Ia mampu dan tidak mau, Ia jahat dan berarti juga tidak sesuai dengan sifat-Nya; jika Ia tidak mampu dan juga tidak mau, Ia jahat dan sekaligus lemah, berarti Ia bukanlah Tuhan; jika Tuhan mau dan mampu, yang merupakan cirri yang paling cocok untuk-Nya, dari manakah asal semua kajahatan? Atau kenapa Ia tidak menyingkirkan semua kejahatan tersebut?” &lt;br /&gt;
Masalah teodise, yang bersal dari kata theo artinya Tuhan dan dike artinya keadilan, ini untuk pertama kali disebut oleh filsuf Jerman Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716).  Arti kata teodise kurang lebih adalah pembenaran Allah. Dengan kata lain, seperti pada kutipan kata-kata Epikurus di atas, teodise membahas adanya kejahatan yang bertentangan dengan sifat-sifat Allah.&lt;br /&gt;
Seperti pada penjelasan di bagian sebelumnya, teodise muncul dari persoalan filsafat yang cukup klasik. Lebih lanjut, masalah keberadaan kejahatan sesungguhnya mempermasalahkan sifat tradisional Tuhan yang diyakini oleh orang beriman. Sifat tersebut antara lain mahakuasa (omnipotent), mahatahu (omniscient), dan mahabaik (benevolent). Permasalahan adanya kejahatan dan penderitaan seolah menjadi argument penguat bagi orang-orang yang memang menolak keberadaan Tuhan dan sebaliknya menjadi masalah yang menghantui dan membuat gelisah orang-orang teistik.&lt;br /&gt;
Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan adanya penderitaan. Pertama, karena memang manusia sendiri yang menginginkan penderitaan tersebut. Lebih dalam, seseorang itu sendiri yang menginginkan penderitaan tersebut ia alami. Kejahatan jenis ini sering disebut kejahatan moral (malum morale).  Kejahatan moral mengandung dua jenis, pertama kejahatan yang dengan kehendak bebasnya melakukan tindakan yang secara langsung mengakibatkan penderitaan bagi orang lain (evil by commission). Contoh orang melakukan korupsi, yang kemudian membuat hidup orang lain menjadi tidak sejahterah karena mengambil apa yang menjadi hak orang lain. Kedua, kejahatan moral karena membiarkan orang lain mengalami penderitaan (evil by omission). &lt;br /&gt;
Kedua, penderitaan yang disebabkan oleh alam. Kejahatan jenis ini sering disebut kejahatan alamiah (malum physicum).  Dalam arti tertentu ini sering disebut sebagai sebuah bencana. Sesunguhnya, bencanapun ketika orang mau jujur, hal tersebut terjadi karena ulah manusia sendiri. Manusia dengan segala kerakusan dan optimismenya berusaha menguasai dan mengksplorasi alam. Sehingga pada waktu alam menunjukkan keganasannya dengan terjadinya bencana alam. Banyak contoh kerusakan alam yang telah terjadi di sekitar kita, mulai dari perubahan iklim, banjir, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;
Ketiga, penderitaan yang memang dipilih dan dijalani karena ada perjuangan akan nilai yang lebih luhur di baliknya. Dengan kata lain, penderitaan sebagai sebuah konsekuensi logis dari tindakan seseorang yang berusaha memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, kemanusiaan, cinta kasih dan persaudaraan. Banyak contoh yang bisa kita ambil untuk penderitaan jenis ini, misalnya para pahlawan yang gugur memperjuangkan kemerdekaan. Perjuangan seorang yang memperjuangkan agar cinta kasih tercipta di bumi, kemudian harus mengalami sikasaan dan penderitaan.&lt;br /&gt;
Lebih lanjut terdapat tiga dimensi tentang masalah kejahatan. Pertama, dimensi logis (apriori) yang menampilkan adanya inkonsistensi antara proposisi sifat-sifat keyakinan tradisional tentang Tuhan beserta segala sifatnya dengan proposisi adanya kejahatan. Dengan kata lain, adanya kejahatan tidak bisa diterima secara logis oleh pikiran. Kedua, dimensi evidensial (masalah kejahatan aposteriori) yang mempertentangkan anggapan para penganut teisme dengan pengalaman kenyataan konkret tentang adanya kejahatan. Apakah masuk akal bisa memahami Tuhan jika kita melihat pengalaman kejahatan secara konkret seperti pembantaian oleh NAZI.&lt;br /&gt;
Ketiga, dimensi eksistensial dari kejahatan. Artinya, dimensi ini melihat secara mendalam aspek kehidupan nyata manusia dihadapan kejahatan. Pengalaman kejahatan pada aspek ini tentu menyangkut pengalaman konkret yang dialami oleh masing-masing orang. Lebih dalam, aspek ini menyangkut banyak unsure personal individu. Dengan kata lain, manakala seseorang mengalami kejahatan seperti tokoh Ivan Karamazov dalam buku Dostoevsky. &lt;br /&gt;
Seluruh dimensi tentang kejahatan dijadiakan sebuah dasar yang kokoh bagi beberapa orang nonteistik atau orang-orang yang menolak keberadaan Allah. Sedangkan bagi pada kaum teistik, persolan kejahatan dan penderitaan seolah menjadi tantangan yang menuntut penjelasan secara meyakinkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tanggapan atas Masalah Teodise&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Setidaknya ada dua sikap yang muncul dalam konteks tanggapan atas masalah Teodise. Ada sikap bertahan (defense), yang ingin menunjukkan bahwa padangan orang yang menolak adanya Tuhan mempunyai cacat argument dan sikap kedua adalah teodise (theodicy), yang ingin memberikan suatu dasar yang lebih positif, masuk akal, dan memadai mengenai adanya kejahatan.  Pada bagian ini saya akan memaparkan dua aliran besar teodise, antara lain Teodise Agustinian, yang kemudian dilanjutkan oleh Thomas Aquinas dan Teodise Irenian, yang kemudian dikembangkan oleh John Hick. &lt;br /&gt;
Teodise Agustinian&lt;br /&gt;
Teodise Agustinian berfokus pada penjelasan kemunculan kejahatan di dunia untuk melepaskan Tuhan dari belenggu penyebab dari adanya kejahatan. Agustinus berpijak bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu baik adanya. Dengan kata lain, segala ciptaan yang ada baik pada dirinya sendiri. Dengan demikian, kejahatan tidak mungkin muncul dari kebaikan tersebut. Bagi Agustinus, kehajatan berarti “kekurangan kebaikan” (privation boni). Kejahatan muncul dari kesalahan penggunaan kehendak bebas, yang kemudian muncul pula apa yang disebut dengan dosa.&lt;br /&gt;
Penderitaan bukanlah sebuah esensi yang berdiri sendiri. Artinya penderitaan tidak pernah bernilai pada dirinya sendiri. Tidak akan pernah ada penderitaan yang bermakna bagi dirinya sendiri. Penderitaan selalu bergantung pada sebuah substansi yang lain. Kebaikan yang bersumber dari Tuhanlah yang bersifat substansial.  Dengan kata lain, kejahatan hanya merupakan aksidental semata yang tidak ada pada dirinya sendiri. Sebagai contoh, adanya sebuah tembok merupakan kebaikan, namun pada tembok tersebut ada sebuah lubang, lubang itulah yang disebut sebagai kejahatan. Lubang merupakan factor aksidental semata dari sebuah tembok. Kejahatan tidak ada pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
Pandangan ini kemudian dilanjutkan oleh Thomas Aquinas dalam bukunya Summa Teologica I masalah 49 artikel 1-3. Setidaknya ada tiga hal pokok yang ingin dibahas oleh Thomas Aquinas. Pertama, apakah yang baik dapat menjadi sumber kejahatan? Kedua, apakah yang Mahabaik, Tuhan, adalah sumber kejahatan? Ketiga, apakah ada entitas mahajahat yang menjadi sebab utama segala kejahatan?&lt;br /&gt;
Pada penjelasan untuk pertanyaan pertama, Thomas Aquinas menjelasakan bahwa jika ada dua prinsip yang saling bertolak belakang, maka tidak pernah bisa yang satu berasal dari yang lain. Kejahatan selalu bertentangan dengan kabaikan, maka tidak mungkin kejahatan berasal dari kebaikan. Namun, kejahatan memang harus mempunyai penyebab dari kemunculannya. Kejahatan tidak pernah berasal dari kejahatan yang lebih tinggi. Karena jika kejahatan berasal dari kejahatan yang lebih tinggi, maka akan ada kehancuran diri total dari kejahatan tersebut.&lt;br /&gt;
Thomas Aquinas menegaskan, memang kejahatan berasal dari kebaikan. Namun, sifatnya hanya aksidental saja. Argumennya senada dengan apa yang dijelaskan oleh Agustinus. Kejahatan muncul sebagai factor aksidental dari perealisasian kebaikan. Tuhan sebagai yang Ilahi hanya menyebabkan sesuatu yang esensial.  Kemunculan kejahatan berasal dari tindakan particular ciptaanNya dan harus dibedakan dengan Tuhan pencipta.&lt;br /&gt;
Untuk pembahasan pertanyaan ketiga, seperti penjelasan di atas bahwa kejahatan tidak mungkin berasal dari sesuatu yang mahajahat lainnya. Karena jika kejahatan berasal dari kejahatan yang lebih tinggi di atasnya akan terjadi penghancuran diri total. Maka jelas tidak ada kejahatan yang eksisten pada dirinya sendiri. &lt;br /&gt;
Dengan demikian ada beberapa poin pokok dalam teodise Agustinian. Pertama, bahwa tidak ada kejahatan yang bersifat esensial. Kedua, kejahatan memang mengurangi kebaikan dalam ciptaan, namun hal tersebut bukanlah kejahatan mutlak karena jika mutlak akan menghancurkan dirinya sendiri. Ketiga, kejahatan itu adalah “kekurangan kebaikan” (privation boni) dari kebaikan yang esensial. Keempat, Tuhan bukanlah entitas yang bertanggung jawab atas adanya kejahatan.&lt;br /&gt;
Teodise Irenian&lt;br /&gt;
Teodise ini berasal dari St. Ireneus (120-202 M) bersama dengan rekan sezamannya Clementiunus dari Alexandria. Teodise ini kemudian dipopulerkan lebih lanjut oleh John Hick dan Friedrich Schleiermacher.  Teodise ini memang bertitik tolak dari pandangan Agustinus mengenai kejatuhan manusia pertama dalam dosa. &lt;br /&gt;
Tradisi Irenian ini pada intinya menjelaskan bahwa kejatuhan manusia dalam dosa sesungguhnya merupakan bagian dari syarat mutlak bagi perkembangan manusia menuju ketingkat yang lebih dewasa. Lebih lanjut, sesungguhnya terdapat aspek positif dari sebuah kejahatan. Kejahatan sejatinya diperlukan dan bahkan menjadi syarat mutlak utama agar manusia menjadi lebih dewasa. Lebih dalam, kejahatan diperlukan agar kebaikan yang lebih tinggi dapat muncul. Proses pendewasaan itu merupakan bagian dari rencana ilahi yang mencapai puncaknya pada kehidupan setelah kematian. &lt;br /&gt;
Dalam pandangan Hick, adanya pemisahan antara ciptaan yang terbatas dengan Sang Pencipta yang tak terbatas. Manusia sebagai yang terbatas harus mengalami proses perjuangan sendiri untuk menghadapi setiap tantangan dan bahaya yang selalu ada dalam hidupnya, baik kejahatan moral maupun kejahatan oleh alam. Manusia harus dengan gagah berani menanggung segala beban penderitaan dan kejahatan arag semakin bertumbuh dalam moral dan spiritual.  Hingga akhirnya manusia mengalami capaian kedewasaan dari hasil usahanya sendiri tanpa adanya intervensi dari yang ilahi. &lt;br /&gt;
Tradisi Irenian memberikan ruang gerak yang lebih bebas pada manusia. Artinya, atas hasil keputusan, perjuangan, dan keberanian dalam menghadapi tantangan yang ada manusia akan banyak belajar untuk menjadi semakin lebih baik atas hasil usahanya sendiri. Contohnya, dengan belajar dari penderitaan, seseorang akan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang ia lakukan agar tidak mengalami penderitaan. Dengan demikian, manusia akan menjadi anak-anak Tuhan lewat pilihan moral dan spiritual yang bebas, bukan karena intervensi yang ilahi memaksa.&lt;br /&gt;
Kita bisa sedikit memberi kesimpulan bahwa tradisi Irenian yang dilanjutkan oleh John Hick memandang bahwa manusia terlahir bebas dengan berbagai pilihan moral. Manusia bebas karena memang Allah bukanlah Allah yang bersifat pemaksa. Pilihan bebas manusia tersebut akan menghantarkan manusia untuk menuju kedewasaan moral dan spiritual yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;
Jika tradisi Agustinian memandang manusia tercipta baik adanya, tradisi Irenian lebih memandang bahwa manusia terlahir dengan segala keterbatasannya, terlebih keterbatasan moral. Adanya kejahatan menjadi saran bagi manusia untuk dapat berkembang kearah yang lebih sempurna. Lebih lanjut, manusia dilahirkan untuk selalu terarah kepada pada Sang Penciptanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penutup&lt;br /&gt;
Masalah adanya kejahatan dan penderitaan menjadi sebuah tema dalam filsafat ketuhanan. Teodise mempertentangkan pandangan Tuhan tradisional beserta semua sifatnya dengan adanya kejahatan. Tradisi Agustinian berusaha menjelaskan bahwa kejahatan tidak bersifat esensial, melainkan hanya aksidental. Sedangkan tradisi Irenian menerima kejahatan sebagai sebuah syarat mutlak agar manusia dapat semakin dewasa dalam moral dan spiritual. Keberadaan kejahatan tidak bertentangan dengan adanya Tuhan, sang Pencipta dengan segala sifatNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ahren, M.B, The Problem of Evil, Routledge &amp; Kegan Paul Ltd, London, 1971&lt;br /&gt;
John Hick “An Irenaean Theodicy” dalam S. Davis (ed.), Encountering Evil, Live Options in Theodicy, Edinburgh: T &amp; T Clark, 1981.&lt;br /&gt;
Peterson, M. (ed.), The Problem of Evil, Selected Readings, University of Notre Dame Press, Indiana, 1992.&lt;br /&gt;
Suseno, Franz-Magnis, Menalar Tuhan, Kanisius, Yogyakarta, 2006.&lt;br /&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/7761292024184567004/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/10/teodise.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/7761292024184567004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/7761292024184567004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/10/teodise.html' title='Teodise'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBrbh69DxoR20td1Z1fJOl7qNasqenVvBV7OCBnlC6T3QX-Rb7n3eeNt9BXSygfFIqjCvGGs50TYqk1m8Hn9HYuPodHplOULjufTcEJhh5p2_go1Wr73y8qTESzRXByKJnOAoeGgrQbtFK/s72-c/0016.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-200421771483196461</id><published>2014-09-29T10:21:00.000-07:00</published><updated>2014-09-29T08:54:23.488-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="belajar ilmiah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat Ketuhanan"/><title type='text'>Hidup tanpa Allah</title><content type='html'>Telaah Masalah Ateisme dalam Filsafat Ketuhanan)&lt;br /&gt;
Oleh : Kristoforus Sri Ratulayn K.N&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_cPickJVmVb4Y-eSafv1uKrmX4Nh_DMKfaWj4cDt22XWfKtGWkjL0zmX5z2ZPNTVCdZwfeblGJoN0YrZdbF3IsOqGNqg7ZkqvkaA9sKhnYIuDeHLGbW1UXt5gz6i3NrvvU7Tkn45B3ZWW/s1600/images+(1).jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_cPickJVmVb4Y-eSafv1uKrmX4Nh_DMKfaWj4cDt22XWfKtGWkjL0zmX5z2ZPNTVCdZwfeblGJoN0YrZdbF3IsOqGNqg7ZkqvkaA9sKhnYIuDeHLGbW1UXt5gz6i3NrvvU7Tkn45B3ZWW/s640/images+(1).jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tema pembahasan tentang Tuhan menjadi salah satu bahan refleksi filsafat sejak zaman para filsuf Yunani Kuno. Para filsuf Yunani Kuno seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles, mulai merefleksikan tentang yang “tak terbatas”, yang bagi orang beragama menyebutnya dengan Tuhan. Kesadaran akan adanya sesuatu yang melampaui yang terbatas menarik minat mereka untuk merefleks&lt;b&gt;&lt;/b&gt;ikannya. &lt;br /&gt;
Berlanjut, pada era Abad Pertengahan tema refleksi tentang Tuhan menjadi tema pokok dalam filsafat pada filsuf abad ini. Hal tersebut tidak begitu mengherankan karena memang pada masa itu para filsuf kebanyakan berasal dari golongan agamawan. Para filsuf menggunakan karya Aristoteles untuk menjelaskan dan merefleksikan berbagai hal berkaitan dengan Tuhan berdasarkan apa yang tertulis dalam kitab suci. Dengan kata lain, mereka mempunyai proyek untuk menyatukan iman dan rasio. Filsafat digunakan untuk menjelaskan pokok-pokok persoalan tentang ketuhanan. Hal tersebut kemudian juga berdampak pada dominasi penafsiran dan pemakaian akal budi pada tradisi agama.&lt;br /&gt;
Sejarah pemikiran berlanjut sampai pada masa modernitas. Secara umum, modernitas dimaknai sebagi sebuah “kebaruan”. Kebaruan disini memang ingin menggambarkan dan menampilkan banyak segi dalam tema dan pemikiran. Setidaknya ada tiga cirri dari masa modern, yaitu subjektivitas, kritik, dan kemajuan.  Tiga cirri tersebut berkaitan satu dengan yang lain. Subjektivitas dalam hal ini berarti ingin menempatkan manusia sebagai subjek, yaitu manusia sebagai pusat realitas dan ukuran dari segala sesuatu. Hal ini sesungguhnya adalah sebuah kritis terhadap abad sebelumnya yang menempatkan kemampuan rasio manusia dibawah baying-bayang tradisi. Dengan kata lain, masa modern mempunyai optimisme terhadap kemampuan akal budi manusia. &lt;br /&gt;
Era Modern merupakan sebuah situasi kebebasan akal budi menjadi hal sangat diagungkan. Lebih lanjut, sebuah masa dimana peran akal budi atau yang sering disebut sebagai kesadaran menjadi sangat sentral. Hal tersebut dikarenakan setelah pada masa sebelumnya terdapat semacam otoritas tertentu yang mengatur penggunaan akal budi manusia. Akal budi manusia berada dalam bayang-bayang agama. Dengan demikian pada masa modern ada semacam energy besar yang bergerak menerobos kungkungan yang membelenggu kebebasan akal budi dalam berpikir.&lt;br /&gt;
Semangat zaman modern adalah “membersihkan” semua hal yang berkaitan dengan tradisi otoriter yang membelenggu penggunan akal budi. Kebebasan akal budi menjadi sebuah gerakan progresif yang pada gilirannya melahirkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Lebih lanjut, lahir berbagai macam ilmu pengetahuan epiris, yang emdasarkan pengetahuan pada relaitas yang dapat diindera. Tema tentang Tuhan kemudian dianggap juga sebagai sebuah “mitos”. Dengan kata lain muncul skeptisisme terhadap pandangan tentang keAllahan. Pada awal abad kesembilan belas, ateisme seolah menjadi sebuah agenda wajib. &lt;br /&gt;
Tulisan ini ingin mengulas tema tentang ateisme dalam sejarah pemikiran filsafat, khusunya pada masa modern. Penulis ingin menjawab apa yang dimaksud dengan ateisme? Kemudian menampilkan beberapa macam tokoh dan argumentasi dari para filsuf yang menganut atesime dan pemikirannya sangat berpengaruh pada sejarah pemikiran filsafat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Arti dan Pemicu Ateisme&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Secara etimologi, kata ateisme berasal dari bahasa Yunani a yang berarti tidak dan theos yang berarti Tuhan. Berpijak dari asal kata tersebut secara singkat ateisme berarti tidak adanya kepercayaan akan Tuhan.  Ateisme merupakan sebuah paham tentang penolakan terhadap adanya Tuhan. Lebih dalam, adanya sebuah penolakan dari seseorang akan adanya Tuhan yang Mahatahu, Mahakuasa, dan Mahapengasih. Orang-orang yang tidak percaya pada agama tertentupun disebut sebagai orang ateis bagi orang yang memeluk agama tertentu.&lt;br /&gt;
Sebagai sebuah posisi filosofis, ateisme tentu mempunyai argumentasi yang menguatkan. Seperti yang misalnya terjadi dalam ilmu pengetahuan yang telah membuktikan bahwa materi bersifat abadi, maka Tuhan tidak lagi diperlukan sebagai Sang Pencipta yang menciptakan segala sesuatu di dunia. Kemudian argument menengai adanya kejahatan dan penderitaan yang terjadi di dunia yang tidak sesuai dengan konsep atau pemahaman tentang Tuhan yang Mahasegalanya. Pertanyaannya demikian, jika ada Tuhan, mengapa terjadi kejahatan dan penderitaan? Mengapa Tuhan membiarkan manusia mengalami penderitaan? Karena memang tidak jarang yang mengalami penderitaan tersebut adalah orang-orang yang baik secara moral. Apakah Tuhan tidak berkuasa atas kejahatan dimuka bumi? Masalah-masalah eksistensial itulah yang memicu munculnya ateisme. Selanjutnya argument bahwa Tuhan memang sungguh-sungguh ada, namun sangat sulit menangkap kehadirannya secara tak terbantah.&lt;br /&gt;
Ateisme tentu berbeda dengan dengan Panteisme dan Agnostisisme.  Panteisme berpendapat dan mengidentifikasi Tuhan dengan dunia. Dengan kata lain, sebuah paham yang berpendapat bahwa segala sesuatu adalah Tuhan. Tuhan ada dalam segala sesuatu yang ada di dunia, itu panteisme. Sedangkan Agnostisisme lebih berpandangan bahwa kita tidak dapat mengetahui adanya Tuhan, maka kita tidak perlu berbicara apapun tentang Tuhan. Dengan kata lain, sebuah sikap yang mengambil posisi untuk tidak mau membicarakan apapun tentang Tuhan.&lt;br /&gt;
Sekali lagi perlu dipertegas, posisi ateisme adalah tidak adanya atau ditolaknya eksistensi Tuhan. Hal itu yang jelas berbeda dengan panteisme dan agnotisisme. Dalam kedua paham tersebut, keberadaan Tuhan masih diakui dan diterima. Walaupun agnotisisme menolak untuk membicarakan Tuhan namun bukan keberadaan Tuhan yang mereka tolak. Mereka hanya beranggapan tidak ada yang tahu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bentuk-bentuk Ateisme Modern&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada bagian ini saya akan menampilkan beberapa contoh besar ateisme yang ada dalam filsafat, terutama yang terjadi pada abad 19 dan 20. Mereka antara lain adalah Ludwig Feuerbach, Karl Marx, Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud, dan Jean-Paul Sartre.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Ludwig Feuerbach (agama sebagai proyeksi)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ludwig Feuerbach (1804-1872) merupakan salah satu dari murid Hegel. Ia awalnya mempelajari teologi Protestan, namun kemudian beralih mempelajari filsafat. Sebagai murid Hegel, ia tentu banyak terpengaruh oleh pemikiran filsafat Hegel. Ia tergabung dalam Hegelian muda sayap kiri. Artinya, pengikut Hegel yang kemudian meradikalkan pemikiran Hegel, seperti halnya yang dilakukan oleh Karl Marx.&lt;br /&gt;
Pandangan Hegel mengenai realitas sebagai sebuah gerak roh yang mengasingkan diri tidak dapat diterima oleh Feuerbach. Feuerbach, tidak setuju dengan pemikiran Hegel yang lebih menekankan roh sebagai kenyataan yang nyata. Baginya, yang nyata adalah alam material.  Dengan kata lain, ia ingin mengubah idealisme dalam pandangan Hegel menjadi materialisme. Hal tersebut menjadi penegas pula bahwa Feuerbach adalah seorang materialis .&lt;br /&gt;
Pada prinsipnya, kritik Feuerbach terhadap Hegel adalah berkaitan dengan posisi Hegel yang mengutamakan realitas sebagai sebuah pikiran spekulatif. Feuerbach berpandangan sebaliknya, yaitu bahwa realitas yang tak terbantah sesungguhnya adalah realitas dari pengalaman inderawi. Artinya, kita harus mendasarkan segala realitas berdasarkan titik tolak pengalaman inderawi. Pengalaman inderwai menjadi titik tolak utama yang tak terbantah dan sah bagi filsafat.  Dengan demikian, sama seperti semua ide yang lain, ide Allahjuga berasal dari alam. &lt;br /&gt;
Berangkat dari pengandaian pengalam inderwai itu pula Feuerbach melancarkan kritiknya terhadap agama. Menurutnya, sesungguhnya bukan Allah yang menciptakan manusia. Melainkan manusialah yang menciptakan Allah.  Lebih lanjut, Allah tidak lebih dari sekedar angan-angan yang ada dalam pikiran manusia. Baginya, agama merupakan proyeksi dari diri manusia, begitu pula dengan konsep-konsep mengenai surga, neraka, malaikat, dan lainnya yang ada dalam agama.&lt;br /&gt;
Argumennya demikian, sesungguhnya Allah pada awalnya adalah hasil dari proyeksi diri hakekat manusia. Dengan kata lain, Allah merupakan gambaran angan-angan yang ada dalam pikiran manusia. Namun, celakanya manusia kemudian lupa bahwa angan-angan tersebut sesungguhnya adalah ciptaannya sendiri. Agama proyeksi diri manusia yang penuh kasih, sabar, mengampuni, dan lainnya. Hingga seiring berjalannya waktu membuat manusia meyakini bahwa Allah merupakan realitas nyata yang kemudian disembah dan diluhurkan. Hingga sampai pada anggapan bahwa realitas tersebut berdiri mandiri di luar diri manusia. Hal tersebut sama seperti seseorang yang kaget dan takut melihat gambaran dirinya sendiri ketika berkaca di sebuah cermin. Orang tersebut  &lt;br /&gt;
Jika menurut Hegel roh absolute mengsingkan diri dan berdialektika, bagi Feuerbach agamalah yang membuat manusia terasing. Dengan kata lain, agama menipu dan mengsingkan manusia dari dirinya sendiri. Bagaimana mungkin manusia menyembah dan takluk kepada apa yang menjadi proyeksi dirinya sendiri seperti yang terjadi dalam agama?! Agama malah membuat manusia jauh dari realisasi potensi-potensi yang ada dalam proyeksi dirinya. Agama dengan demikian hanya menjadi penghalang bagi perkembangan dan kemajuan diri manusia.&lt;br /&gt;
Manusia bisa mengakhiri keterasingannnya hanya ketika ia menghilangkan atau meninggalkan agama. Manusia perlu bergerak meninggalkan agama dan beralih menuju menjadi dirinya sendiri dengan segala potensi yang ada padanya. Hanya dengan begitu kemajuan dan perkembangan dapar ia alami. Dengan demikian, Feuerbach juga ingin merubah teologi menjadi antropologi.    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Karl Marx (agama sebagai candu rakyat)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Karl Marx (1818-1883) sama seperti Feuerbach, ia juga merupakan salah seorang murid Hegel yang mengkritik dan menafsirkan ulang pemikiran gurunya. Jika Hegel mempunyai sistem filsafat Dialektika Roh, Marx menampilkan Dialektika Material. Ia juga merupakan salah satu filsuf ateis yang pemikirannya sangat berpengaruh dan banyak diikuti hingga sekarang.&lt;br /&gt;
Marx terkenal dengan ungkapannya “agama sebagai candu!” secara mudah kita dapat memahami makna ungkapan Marx tersebut dengan mengamati efek yang timbul dari candu. Candu membuat orang merasa tenang, terbuai, dan lepas dari apa yang dianggap beban bagi seseorang. Dengan demikian orang tidak lagi akan menyadari beban penderitaan yang sedang ia tanggung atau rasakan. Orang yang mestinya bangkit bergerak untuk melawan segala penindasan dan tekanan yang membelenggunya menjadi pasrah dan menerima apa saja yang menimpanya.&lt;br /&gt;
Tuduhan itulah yang Marx tujukan kepada agama. Agama telah membuat orang miskin merasa bahagia walaupun tertindas dan pasrah menerima nasib yang ia alami. Lebih lanjut, agama secara licik diciptkan kelas-kelas atas untuk melanggengkan kekuasaannya dalam menindas dan menenangkan rakyat.  Agama membuat orang terbuai bahwa ia yang harus bangkit bergerak untuk melwan malah pasrah menerima nasib. Lebih dalam, agama menawarkan janji-janji manis untuk kehidupan di kehidungan mendatang, seperti “upahmu besar di surga”, agar orang menerima penindasan. Akhirnya yang terjadi orang yang tertindas “lari” dari kehidupan nyata dan menuju pemikiran kehidupan “di atas”. Manusia kemudian mengkhayal kemenangan atas kehidupan setelah kematian jika ia saat ini tertindas. Seseorang yang tertindas lari menuju agama yang memberikan penghiburan-penghiburan.&lt;br /&gt;
Sesungguhnya kritik Marx terhadap agama merupakan tanggapan atas ketidak beresan yang terjadi dalam system dan keadaan politik dalam masyarakat. Maka kritik tersebut baginya tidak hanya sebatas kritik terhadap agama. Melainkan harus sampai pada solusi untuk mengubah keadaan masyarakat. Manusia harus dibebaskan dari penindasan yang membuatnya terasing. Yang diperlukan bukanlah kritik agama, melainkan Revolusi. Karena memang sesungguhnya yang menyebabkan manusia lari pada agama adalah keadaan social yang membelenggunya. Agama hanya menjadi tempat pelarian. Menurutnya, jika pertetangan kelas hancur dan keadaan social membuat manusia hidup sejahterah, maka agama akan dengan sendirinya hilang dari masyarakat. Agama pada akhirnya akan kehilangan tempatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Friedrich Nietzsche (Tuhan telah Mati)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Friedrich Nietzsche (1844-1900) seorang filsuf ateis yang sangat terkenal akan penolakannya terhadap konsep ke-Tuhan-an. Nietzsche sesunguhnya lahir dari sebuah keluarga religious. Namun seiring perjalanan karir dan pemikirannya, ia menjadi salah seorang filsuf yang paling keras mengkritik agama. Penolakannya terhadap Allah dan agama terlihat jelas dalam ungkapannya yang terkenal yaitu bahwa “Tuhan telah Mati!”&lt;br /&gt;
Secara umum, ateisme lebih suka berpijak dari konsep bahwa dunia bersifat siklis.  Siklis berarti kebalikan dari konsepsi bahwa dunia itu linier atau mempunyai tujuan akhir. Konsepsi bahwa dunia bersifat siklis berarti ingin menunjukkan segala sesuatu kembali atau terulang kembali. Dengan kata lain, dunia ini tidak mempunyai awal dan akhir. Konsepsi mengenai bahwa dunia bersifat siklis jelas ingin mengingkari terjadinya pandangan tentang penciptaan. Jika dunia bersifat linier berarti mengandaikan harus adanya konsep tentang Sang Pencipta. Inilah yang ditolak oleh Nietzsche.&lt;br /&gt;
Lebih lanjut, ungkapan bahwa Allah telah mati sesungguhnya bukan ingin menjelaskan bahwa Allah sungguh-sungguh mati. Melainkan Nietzsche ingin mengatakan bahwa Allah sebenarnya tidak ada, Allah tak pernah ada. Lebih dalam, yang dibunuh adalah Allah yang diciptakan sendiri oleh manusia. Manusia sendiri yang menciptakan Allah, namun kemudian menjadi berbalik menguasai manusia. Manusia menjadi lemah, rapuh, penakut, dan hilang moralitasnya. Agama adalah ciptaan mereka yang kalah terhadap realitas yang ada di dunia.&lt;br /&gt;
Nietzsche berargumen bahwa agama membuat moralitas manusia menjadi rusak. Artinya, manusia menjadi lemah, tidak berani melawan, dan lari dari dunia yang harusnya dihadapi dengan penuh daya vitalitas. Moralitas tersebut menurutnya adalah moralitas budak. Sebuah moralitas yang mengajarkan tentang kerendahan hati, sabar, mengalah, dan pasrah. Baginya, moralitas sejati adalah moralitas tuan. Moralitas tuan adalah mereka yang menerima segala realitas dunia ini dengan berani tanpa lari kedunia atas, ia yang berkata “ya” (Ja-Sagen) terhadap kehidupan.&lt;br /&gt;
Kematian Allah membawa pada suatu tragedy yang bagi sebagian orang menjadi sebuah guncangan hebat. Kalau sudah tidak ada Allah berarti tidak ada lagi nilai-nilai yang membelenggu manusia untuk ditaati. Kematian Allah mengarah kepada sebuah nihilism, sebuah keadaan tanpa makna, bahwa tidak ada lagi nilai-nilai yang perlu diikuti atau ditaaati. Nilai-nilai dalam agama yang penuh kebohongan, kepalsuan, kemunafikan, dan penekanan nafsu manusia telah hilang. &lt;br /&gt;
Nihilisme bukanlah sebuah akhir. Lebih lanjut, nihilisme menjadi gerbang bagi lahirnya manusia-manusia atas (ubermensch). Ubermensch berarti manusia yang melampaui manusia masa lampau dan yang juga masih manusia zaman sekarang.  Mereka adalah orang-orang yang dengan penuh sukacita dan gembira menyambut kematian Allah tersebut. Manusia dengan moralitas tuan yang melampaui atau “diatas” yang lainnya. Manusia atas bukanlah mereka yang immoral, melainkan mereka menciptakan moral sendiri bagi hidup mereka. Dengan kata lain, keputusan moral ada ditangan mereka. Allah teah mati dan sekarang mereka sendirilah penentu apa yang baik dan bernilai bagi hidup mereka.    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Sigmund Freud&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sigmund Freud (1856-1939) lebih terkenal sebagai seorang psikoanalisia dan ilmuwan yang berpengaruh di dunia. Pertanyaan Freud berkaitan dengan ateisme adalah mengapa ada konsep Tuhan dalam kesadaran manusia, padahal Tuhan tidak pernah dialami secara inderawi oleh manusia? Dalam argumennya Freud lebih mengkritik mengenai keberadaan agama ketimbang berusa menjelaskan bahwa Allah tidak ada.&lt;br /&gt;
Ateisme Freud bertitik tolak dari fenomena neurosis  yang ada dalam teori psikonalalisanya. Baginya agama merupakan sebuah neurosis. Argumennya, bahwa agama membuat manusia percaya akan adanya kekuatan-kekuatan dewa-dewa atau Tuhan yang ada di luar dirinya. Misalnya, orang berdoa meminta perlindungan ketika sedang menghadapi masalah atau penderitaan. Namun, sesungguhnya hal tersebut adalah ilusi belaka, tidak ada dewa-dewa yang melindungi manusia. Sesungguhnya yang ada adalah keinginan manusia untuk dilindungi. Sebuah ilusi dalam arti, keyakinan akan terpenuhinya sebuah harapan, karena orang tersebut menginginkannya. &lt;br /&gt;
Menurut Freud, sesungguhnya harapan atau keinginan manusia dalam agama sungguh kekanak-kanakan. Karena memang hal tersebut tidak nyata. Agama malah membuat manusia pasif menunggu keselamatan datang daripada bertindak untuk mengusahakan keselamatan dirinya. Celakanya hal ini tidak hanya dialami oleh satu atau dua orang saja, melainakan sekelompok orang yang meyakini agama tersebut. Kemudian orang berbondong-bondong melakukan apa yang menjadi ajaran agama agam memperoleh keselamatan yang dijanjikan. &lt;br /&gt;
Dengan demikian orang melakukan perintah-perintah yang ada dalam agama bukan karena melihat rasionalitas dalam peratutan tersebut, melainkan hanya karena taku akan menerima hukuman atau dalam bahasa agam disebut dosa. Lebih luas, orang beragama menjadi seperti anak-anak yang melakukan sesuatu hanya karena “takut Tuhan marah”, bukan hasil dari penemuan rasionalnya. Bayangan akan takut dosa dan hukuman Allah selalu menghantui pikirannya, itu yang kemudian membuat manusia tidak mengalami kebahagiaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Jean-Paul Sartre &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jean-Paul Sartre (1905-1980) merupakan tokoh ateisme abad ini yang konsisten dengan pandangannya mengenai eksistensi manusia dengan kebebasan mutlak.  Padangan eksistensialisme menekankan kepada kebebasan manusia dalam menentukan arah dan apa yang baik bagi hidupnya. Dengan kata lain, eksistensi mendahului esensi. Manusia menemukan dirinya terlempar begitu saja dalam eksistensinya. Tugas selanjutnya adalah menentukan apa yang menjadi esensi. Hal tersebut berbeda dengan pandangan metafisika klasik yang memandang bahwa manusia terlahir dengan kodrat tertentu. Dengan demikian, keberadaan Allah jelas bertentangan dengan kenyataan manusia yang harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Lebih dalam, keberadaan Allah membuat manusia tidak lagi bebas. Karena kalau ada Allah berarti Allah yang bertanggung jawab atas hidup manusia.&lt;br /&gt;
Sartre bertitik tolak dari pandangan metafisikanya yang termuat dalam bukunya Being and Nothingness. Menurutnya terdapat dua realitas yaitu, kenyataan “Berada-pada dirinya” (etre en soi) dan “Berada-bagi dirinya” (etre pour soi). Berada-pada dirinya merupakan realitas objektif utuh. Contoh benda-benda yang berada-pada dirnya adalah meja, kursi, batu, dll. Substansi berada pada dirinya tidak memiliki kesadaran untuk merenungkan dan mengolah keberadaannya. Berbeda halnya dengan realitas berada-bagi dirinya. Manusia adalah realitas dari berada-bagi dirinya, ia satu-satunya makhluk yang eksistensinya mendahului esensi. Manusia mampu menyadari eksistensinya dan kemudian dengan penuh kesadaran membentuk esensinya dengan kebebasan. Mereka mampu menyadari dirinya sendiri. &lt;br /&gt;
Jadi manusia sesungguhnya tidak terikat pada nilai-nilai apapun. Manusia tidak mempunyai hakikat, tidak ada ikatan moralitas dalam diri manusia. Lebih lanjut, ia sendirilah yang harus membentuk dan menentukan apa yang baik dan bernilai bagi dirinya dengan kebebasan. Allah tidak mungkin ada karena jika ada Allah, maka manusia tidak lagi menjadi bebas. Jika manusia menerima segala sesuatu yang berasal dari luar dirinya, maka sesungguhnya ia mengkhianati dirinya sendiri. Lebih dalam, semuanya boleh dilakukan kalau tidak ada Allah. Karena manusia tidak terbelenggu lagi untuk mengikuti nilai-nilai moralitas yang Allah tentukan. Keberadaan Allah tentu kotradiksi, karena manusia pada dasarnya adalah bebas. Keberadaan Allah mengingkari kebebasan manusia.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Demikian berbagai pemaparan mengenai ateisme dalam kerangka pembahasan filsafat ketuhanan. Ateisme sebagai sebuah sikap penolakan terhadap keberadaan Allah. Beberapa filsuf yang mengambil sikap ateis tentu mempunyai argumennya masing-masing yang memang masuk akal. Sesungguhnya bagi sebagian orang yang masih memegang kepercayaannya akan Tuhan hal tersebut menjadi tantangan tersendiri. Dengan kata lain, orang yang masih berpengang akan iman terhadap keberadaan Tuhan perlu mempertanggungjawabkan imannya secara dewasa pula. Sikap beriman yang dewasa tentu mampu memberikan penjelasan yang juga masuk akal dan menanggapi secara kritis bentuk-bentuk ateisme yang terjadi. Fenomena ateisme mampu menjadi sebuah motivasi agar orang makin kuat dalam penghayatan agama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Armstrong, Karen. Sejarah Tuhan, terj: A History of God: The 4000-Year Quest of Judaisme. Christianity and Islam. Penerbit MIZAN. 2001.&lt;br /&gt;
Bunnin, Nicholaus and Jiyuan Yu. The Blackwell Dictionary of Western Philosophy. Blackwell Publishing. 2004.&lt;br /&gt;
Garvey, James. 20 Karya Filsafat Terbesar. Yogyakarta. Kanisius. 2010.&lt;br /&gt;
Hardiman, F. Budi. Filsafat Modern. Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2007.&lt;br /&gt;
Huijbers, Theo. Mencari Allah. Pengantar Ke Dalam Filsafat Ketuhanan. Yogyakarta. Kanisius. 1992.&lt;br /&gt;
Leahy, Louis. Aliran-aliran Besar Ateisme. Yogyakarta. Kanisius dan BPK. 1985.&lt;br /&gt;
Suseno, Franz-Magnis. Menalar Tuhan. Yogyakarta. Kanisius. 2006.&lt;br /&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/200421771483196461/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/09/hidup-tanpa-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/200421771483196461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/200421771483196461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/09/hidup-tanpa-allah.html' title='Hidup tanpa Allah'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_cPickJVmVb4Y-eSafv1uKrmX4Nh_DMKfaWj4cDt22XWfKtGWkjL0zmX5z2ZPNTVCdZwfeblGJoN0YrZdbF3IsOqGNqg7ZkqvkaA9sKhnYIuDeHLGbW1UXt5gz6i3NrvvU7Tkn45B3ZWW/s72-c/images+(1).jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-6856666444231805135</id><published>2014-09-20T17:16:00.000-07:00</published><updated>2014-09-20T03:17:18.704-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="belajar ilmiah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Etika"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Etika Thomas Aquinas"/><title type='text'>Eudaimonism. Lex Naturalis.  Etika Menurut Thomas Aquinas (1224-1274)</title><content type='html'>Oleh: Kristoforus Sri Ratulayn K.N&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuYb0G9JcpjoGyke5vNlLjX3Sa_0n5HSUSGpNtrGaibfjtjbzgU4uAbqIntbbuYI8BVRzhEZpZi9jLWsi71XP4GVZ561Kjqq2M_0zbBOturPTYr_tpV3cEtKs_gsCzdbeKRoZkAqyDMT4E/s1600/aquinasbookdove.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuYb0G9JcpjoGyke5vNlLjX3Sa_0n5HSUSGpNtrGaibfjtjbzgU4uAbqIntbbuYI8BVRzhEZpZi9jLWsi71XP4GVZ561Kjqq2M_0zbBOturPTYr_tpV3cEtKs_gsCzdbeKRoZkAqyDMT4E/s640/aquinasbookdove.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Pembahasan mengenai etika sangat menarik untuk terus dikaji setiap waktu. Apalagi ketika melihat fenomena masih sangat kuatnya daya ikat di zaman sekarang. Di tengah berbagai kemajuan teknologi, etika seoalah menjadi ”polisi” bagi para ilmuwan dalam melakukan eksperimen-eksperimen mereka yang terkadang hendak melampaui batas alamiah. Hal ini terlihat jelas ketika para ilmuwan mulai mampu melakukan cloning pada hewan dan hendak mengaplikasikannya pada manusia.&lt;br /&gt;
Etika sendiri merupakan salah cabang dari filsafat. Kata etika sendiri berasal dari bahasa Yunani Ethike dan tekhne yang berarti sebuah ilmu tentang moral. Jika ditelusuri lebih dalam, kata ethike berarti juga ethos yang artinya alami (nature). Dengan demikian etika kurang lebih berarti sebuah ilmu tentang tindakan manusia menurut hakikat alaminya.&lt;br /&gt;
Paper ini secara khusus akan mecoba memaparkan ajaran St. Thomas Aquinas mengenai etika. Pada pembahasannya saya akan membaginya kedalam beberapa bagian. Bagian pertama saya mencoba memberikan gambaran umum atau latar belakang ajaran etika St. Thomas Aquinas. Pada bagian tersebut kita akan melihat bahwa St. Thomas Aquinas banyak mengambil ajaran Aristoteles dalam mengembangkan ajaran etikanya. Ajaran tersebut nampak dalam pandangan bahwa segala sesuatu di dunia ini mempunyai tujuan akhir (telos), yaitu kebahagiaan (happiness). &lt;br /&gt;
Bagian selanjutnya kita akan mengulas lebih mendalam ajaran St. Thomas Aquinas tentang hukum kodrat (Lex Naturalis). Bagi St. Thomas Aquinas, hukum kodrat merupakan esensi dari manusia. Hukum kodrat dipandang sebagai sebuah arah atau haluan bagi setiap orang dalam bertindak. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa hukum kodrat merupakan jalan yang mengarahkan seseorang kepada tujuan akhir hidupnya, yaitu kebahagiaan (eudaimonia).  &lt;br /&gt;
Latar Belakang Etika St. Thomas Aquinas&lt;br /&gt;
Secara umum, ajaran St. Thomas Aquinas tentang etika banyak mengambil dari ajaran Aristoteles mengenai etika.  Dengan demikian suka atau tidak kita akan sedikit membahas etika menurut Aristotles. Meskipun demikian, St. Thomas Aquianas tidak hanya mengambil begitu saja ajaran-ajaran etika Aristotles. St. Thomas Aquinas banyak melakuakan perubahan dan penambahan terhadap ajaran Aristotles. Salah satu penambahan yang langsung terasa adalah bahwa St. Thomas Aquinas menyertakan konsep Tuhan sebagai tujuan akhir hidup manusia.&lt;br /&gt;
Bagi Aristotle, dalam bukunya Etica Nicomachaea setiap agen bergerak untuk sebuah tujuan.   Lebih lanjut bahwa tujuan utama dari setiap gerakan manusia adalah kebahagiaan. Kebahagiaan itu hanya terletak pada sebuah kemampuan yang paling tinggi dari segalanya. Akhirnya, bagi Aristoteles, konsep kebahagiaan dalam filsafatnya adalah theoria, yaitu kontemplasi pada sebuah objek tertinggi.&lt;br /&gt;
Sedangkan bagi St. Thomas Aquinas setiap tindakan manusia dibedakan menjadi dua bentuk actiones humanae dan actiones hominis.  Artinya tindakan manusia dibagi kedalam dua bentuk. Pertama, manusia dengan sadar memutuskan melakukan sebuah tindakan dengan berdasarkan akal budinya. Kedua, bahwa tindakan manusia sesungguhnya hanya bersifat melakukan sesuatu yang telah menjadi ketetapan, jadi manusia tidak bebas lagi menentukan tindakannya, jelas pula tidak ada pertimbangan akal budi di dalamnya. Sebuah¬¬¬ hidup yang baik ditentukan ketika apakah seseorang menggunakan kehendak dan akal budinya dengan baik atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Etika Teleologis &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Salah satu konsep inti pemikiran St. Thomas Aquinas mengenai etika adalah konsep etika teleologis, dari bahasa Yunani telos dan logos. St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa teleologis pada dasarnya merupakan etika yang menekankan kerinduan alamiah manusia untuk sebuah kebaikan yang sempurna. Bagi St. Thomas Aquinas, kebaikan sempurna dalam konteks ini dimaknai sebagai Allah sendiri, sebagai tujuan akhir hidup manusia. Hingga akhirnya segala kegiatan manusia harus selalu mengarahkan diri hanya kepada tujuan akhir tersebut, yaitu Allah. Lebih lanjut, dalam masa abad pertengahan, etika teleologi mengkaitkan diri dalam hukum kodrat. Artinya segala sesuatu menjadi benar atau salah diukur dari apakah hal tersebut sesuai atau tidak dengan tujuan alamiahnya.&lt;br /&gt;
Konsep etika teleologis merupakan sebuah fondasi dari prinsip-prinsip etika yang mengarah kepada tujuan akhir dari alam semesta, hidup manusia, beserta organ-organ tubuh yang ada di dalam manusia. Dalam tangan St. Thomas Aquinas, etika teleologis dimaknai lebih mendalam sebagai keterkaitan dengan hukum kodrat (natural law). Artinya sesuatu dianggap salah jika tidak sesuai dengan apa yang menjadi tujuannya secara alamiah. Dari hal ini kita bisa mulai sedikit menangkap bahwa hukum kodratlah yang menjadi indikator atau panduan setiap tindakan manusia. Pertanyaan mendasar yang muncul dari konsep etika teleologis adalah apakah sesungguhnya puncak dari kebahagiaan atau akhir, yang membuat tindakan bebas manusia harus mengarah kepadanya sehingga ia hidup dengan baik? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Eudaimonia: Tujuan Akhir Manusia &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Konsep eudaimonism yang ada dalam ajaran etika St. Thomas Aquinas, sesungguhnya merupakan lanjutan logis dari konsep etika Teleologi. Kita telah mengetahui etika Teleologi pada intinya ingin mengatakan bahwa segala sesuatu mempunyai tujuan akhir. Lebih lanjut, bahwa segala sesuatu menjadi baik atau buruk tergantung apakah sesuai dengan tujuan akhirnya atau tidak. Bertolak dari etika Teleologi tersebut, konsep eudaimonia dalam ajaran etika St. Thomas Aquinas ingin menempatkan diri sebagai tujuan akhir tersebut. Eudaimonia menjadi sebuah telos bagi manusia.&lt;br /&gt;
Kebahagiaan (eudaimonia) di sini dimaknai sebagai sebuah kepenuhan, kesempurnaan, atau kesejahteraan.  Bagi St. Thomas Aquinas dalam konsep kebahagiaan harus juga disertakan partisipasi akal budi di dalamnya. Kebahagiaan tidak terletak pada segala sesuatu yang ada di dunia ini. Karena kalau kebahagiaan terletak pada benda-benda atau kekuatan dari dunia ini, hal tersebut mempunyai sifat yang sementara saja. Menurut St. Thomas Aquinas, apa yang Aristoteles sebut sebagai kebahagiaan, hal tersebut merupakan kebahagiaan yang sifatnya belum sempurna.  Kebahagiaan sejati atau sempurna hanya ada di dalam Tuhan, Sang Pencipta, yang merupakan kebaikan terbesar atau tertinggi.&lt;br /&gt;
Tuhan merupakan tujuan akhir dari setiap bendabaik yang rasional maupun yang irasional. Bagi mereka yang merupakan ciptaan rasional, dapat meraihnya dengan pengetahuan dan cinta akan kebahagiaan tersebut. Lebih tegas dikatakan bahwa hanya ciptaan rasional lah yang mampu mengalami kebahagiaan dengan melihat Tuhan secara langsung. Tidak ada objek ciptaan lain yang mampu memperoleh kebahagiaan yang sempurna tersebut selain manusia.&lt;br /&gt;
Namun yang perlu menjadi pertimbangan lain adalah muncul masalah dari konsep kebahagiaan diperoleh jika melihat manusia melihat Tuhan secara langsung. Masalah yang muncul adalah bagaimana mungkin manusia mampu melihat Tuhan, karena Tuhan memang tidak bisa dilihat. Menanggapi masalah tersebut, St. Thomas Aquinas menjawab bahwa untuk hal itu dibutuhkan rahmat supranatural. Lebih tegas bahwa sesungguhnya dalam diri mansia sudah terdapat sebuah potensi untuk dapat mengenali Tuhan. Namun untuk dapat mengubahnya menjadi sebuah tindakan manusia membutuhkan rahmat dari Tuhan sendiri.&lt;br /&gt;
Argumen St. Thomas Aquinas tersebut menggambarkan bahwa ia berdiri síntesis antara filsafat dan teologi. Karena memang dalam menjelaskan tentang etika, St. Thomas Aquinas tidak hanya berdiri sebagai seorang filsuf, melakukan juga sebagai seorang teolog. Dengan demikian kita tidak akan membahasnya lebih lanjut, karena memang membutuhkan penjelasan lebih lanjut lagi dalam paper kajian teologi.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hukum Kodrat (Lex Naturalis) St. Thomas Aquinas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Teori hukum kodrat merupakan sebuah konsep yang telah dirumusakan oleh St. Thomas Aquinas dalam ajarannya mengenai etika. Sebenarnya jika mau ditelusuri lebih jauh hukum kodrat sudah mulai ada sejak jaman Yunani Kuno dengan Aristoteles sebagai tokoh yang pertama mengajarkannya. Namun, pada masa Abad Pertengahan St. Thomas Aquinas mencoba merumuskan kembali konsep hukum kodrat tersebut.&lt;br /&gt;
Menurut St. Thomas Aquinas, definisi dari hukum itu sendiri adalah &quot;pengaturan akal budi demi kepentingan umum yang dipermaklumkan oleh yang bertugas memelihara masyarakat&quot;.  Sedangkan menurut pandangan tradisional, hukum kodrat adalah sesuatu yang tetap, tidak berubah-ubah, bersifat universal, dan mengalami keteraturan dengan hukum alam. Ditangan St. Thomas Aquinas, yang notabene adalah seorang filsuf Kristiani, hukum kodrat dimaknai sebagai partisipasi aktif  makhluk berakal budi dalam hukum abadi.  Hukum abadi tersebut secara singkat adalah kebijaksanaan Allah sendiri sebagai asal-usul dan penentu kodrat ciptaaan. &lt;br /&gt;
Jika kita melihat definisi dari hukum kodrat yang adalah sebuah partisipasi aktif dari akal budi terhadap hukum abadi, maka kita pun perlu melihat terlebih dahulu apa hukum abadi itu sendiri. Hukum kodrat akan semakin mudah untuk kita pahami jika terlebih dahulu kita pun memahami apa itu hukum abadi. Hal ini adalah sebuah konsekuensi logis karena memang hukum kodrat itu sendiri bergantung pada hukum abadi.&lt;br /&gt;
St. Thomas Aquinas, dalam bukunya Summa Theologiae, quaesio 91 yang diterjemahkan oleh Franz-Magnis mengatakan bahwa hukum abadi adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&quot;... Sebagaimana kami katakan di atas, hukum itu tidak lain perintah akal budi praktis dari penguasa yang memerintah atas komunitas sempurna [negara]. Nah jelaslah, apabila dunia diperintah oleh penyelenggaraan Ilahi sebagaimana dinyatakan dalam bagian pertama, seluruh komunitas alam semesta diperintah oleh Akal Budi Ilahi. Oleh karena itu, pemerintahan segala hal dalam Allah, penguasa alam semesta, bersifat hukum. Karena pengertian Akal Budi Ilahi tidak berada di bawah [jangkauan] waktu, melainkan bersifat abadi, sesuai Amsal 8:23, maka kesimpulannya bahwa hukum semacam itu harus disebut abadi.&lt;br /&gt;
Pemakluman dilakukan secara lisan atau tertulis, dan hukum abadidipermaklumkan dengan dua cara itu karena baik Sabda Ilahi maupun penulisan Buku Kehidupan adalah abadi...&quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutipan paragraf di atas telah dengan sangat jelas memaparkan apa yang St. Thomas Aquinas maksud dari hukum abadi. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa hukum abadi menurut St. Thomas Aquninas adalah Allah sendiri.&lt;br /&gt;
Teori hukum kodrat jika mau dijabarkan sebenarnya terdiri dari tiga bagian. Pertama, berpijak dari premis awal bahwa segala &quot;sesuatu dalam alam mempunyai tujuan&quot;.  Kemudian dalam konteksnya dengan manusia ditegaskan bahwa apakah dalam hidupnya manusia mendekati tujuan akhirnya atau malah menjauhinya. Tujuan akhir hidup manusia adalah kebahagiaan. Maka menurut St. Thomas Aquinas, dalam hal tujuan akhir ini Tuhan diperlukan untuk membuat gambaran ini menjadi lengkap. &quot;Nilai dan tujuan, oleh karenanya, dikonsepkan sebgai dasar dari kodrat hal-hal itu karena dunia dipercaya sebgai ciptaan yang menuruti rencana ilahi&quot;. &lt;br /&gt;
Jika tujuan akhir hidup adalah kebahagiaan dan Tuhan sebagai Sang Pencipta alam yang mempunyai tujuan maka bisa disimpulkan bahwa kepenuhan kebahagiaan hanya terdapat dalam Tuhan. St. Thomas Aquinas menegaskan bahwa konsep kebahagiaan yang dimaksud Aristoteles masih merupakan kebahagiaan yang belum sempurna. Kebahagiaan yang sempurna ada pada di kehidupan setelah kematian, saat manusia kembali bersatu dengan Tuhan. &lt;br /&gt;
Berdasarkan penjelasan bahwa segala sesuatu mempunyai tujuan, maka perintah dasar moral hidup berdasarkan pada hukum kodrat adalah wajib bertindak ke arah yang baik dan menjauhi yang jahat. Sesudah orang mengerti dan memahami tentang mana yang baik dan mana yang buruk, ia harus selalu mengarahkan dirinya pada apa yang baik. Hukum kodrat membantu seseorang menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.&lt;br /&gt;
Ajaran St. Thomas Aquinas mengenai bahwa segala sesuatu yang bergerak seperti penjelasan di atas termuat dalam salah satu karya terbesarnya, yaitu Summa Contra Gentiles. Berikut kutipannya:&lt;br /&gt;
“Segala Sesuatu yang Bergerak, Bergerak Untuk Kebaikan” &lt;br /&gt;
“Sebuah agen intelektual bergerak untuk sebuah tujuan yang telah dipilih untuk dirinya sendiri, ketika sesuatu di dalam alamiahnya hal itu bergerak untuk tujuan tidak berada dalam tujuan-tujuan mereka, untuk mereka yang tidak mengetahui makna dari tujuan akhir dari sebuah tujuan tetapi bergerak demi tujuan yang mereka dipilih untuk mereka oleh orang lain. Ketika seseorang menggunakan intelektualnya untuk bergerak, ia selalu memilih sebuah tujuan yang ia pikir itu adalah baik karena obyek dari intelektualnya hanya menggerakkannya ketika menjadi baik-dan kebaikan adalah obyek dari kehendak. Segala sesuatu secara alamiah bergerak dan bergerak untuk sebuah tujuan yang adalah sebuah kebaikan sejak tujaun dari sebuah kegiatan dalam hakikat adalah hasil dari kemampuan alaminya. Dengan demikian segala sesuatu yang bergerak, bergerak untuk sebuah kebaikan” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, hukum kodrat membuat konsep adanya dari sesuatu tercampur juga dengan bagaimana seharusnya.  Dalam bahasa Inggris perbedaan ini menjadi lebih jelas antara be dan should be. Artinya hidup menurut hukum kodrat tidak lagi hanya sekedar apa adanya kaitanya dengan alam, melainkan sebagai sebuah keharusan alam. Namun dalam rangka hukum kodrat menurut St. Thomas Aquinas ini, manusia dihadapkan pada banyak pilihan. Manusia dituntut memilih dengan pertimbangan akal budi yang paling tinggi. Dengan demikian manusia tidak hanya melakukan apa yang sudah menjadi sebuah ketetapan otomatis dalam alam, melainkan harus tetap melakukan pilihan diantara banyak tawaran dengan menggunakan akal budinya. &lt;br /&gt;
Ketiga, teori hukum kodrat mengarahkan pada pertannyaan tentang pengetahuan moral.  Pertanyaan tersebut adalah bagaimana seseorang menentukan apa yang benar dan salah? Hukum kodrat menegaskan bahwa hal &quot;yang benar untuk dilakukan adalah tindakan apa pun yang sesuai dengan pikiran yang paling rasional&quot;. &lt;br /&gt;
Secara jelas bisa kita katakan bahwa hukum kodrat menjadi sebuah dasar dari ratio. Lebih dalam, hukum kodrat menjadi sebuah alur (guideline) dalam setiap pikiran dan tindakan manusia. Setiap pikiran rasional manusia dalam kerangka menuju tujuan akhirnya dilalui dengan atau sesuai dengan hukum kodrat. Bagi St. Thomas Aquinas hukum kodrat adalah sebuah esensi dari manusia.&lt;br /&gt;
Dengan demikian bisa sedikit kita simpulkan bahwa hukum kodrat adalah partisipasi aktif akal budi dalam hukum abadi, Allah sendiri, sebagai penentu kodrat ciptaan-Nya. &quot;Hidup sesuai dengan hukum kodrat berarti hidup sedemikian rupa hingga kecondongan-kecondongan kodrati mencapai tujuan khas masing-masing, tetapi dalam keselarasan menurut pengaturan akal budi&quot;.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Aquinas, Thomas. Summa Contra Gentiles. Chapter 3&lt;br /&gt;
Aquinas, Thomas. Summa Theologiae I-II Q 91. a2&lt;br /&gt;
Copleston, Frederick. A History Of Philosophy 2. Volume II: Medieval Philosophy. Images Book. New York. 1993.&lt;br /&gt;
Macquarrie, John and James Childress (ed.). A New Dictionary of Christian Ethics. Part Medieval Ethics and Teleological Ethics, SCM Press Ltd. USA. 1967.&lt;br /&gt;
Rachels, James. Filsafat Moral. Kanisius. Yogyakarta. 2004.&lt;br /&gt;
Suseno, Franz-Magnis. 13 Model Pendekatan Etika. Kanisius. Yogyakarta. 1997.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Internet:&lt;br /&gt;
http://www.iep.utm.edu/aq-moral/ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/6856666444231805135/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/09/eudaimonism-lex-naturalis-etika-menurut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/6856666444231805135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/6856666444231805135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/09/eudaimonism-lex-naturalis-etika-menurut.html' title='Eudaimonism. Lex Naturalis.  Etika Menurut Thomas Aquinas (1224-1274)'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuYb0G9JcpjoGyke5vNlLjX3Sa_0n5HSUSGpNtrGaibfjtjbzgU4uAbqIntbbuYI8BVRzhEZpZi9jLWsi71XP4GVZ561Kjqq2M_0zbBOturPTYr_tpV3cEtKs_gsCzdbeKRoZkAqyDMT4E/s72-c/aquinasbookdove.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-5525901204632745451</id><published>2014-09-11T11:40:00.000-07:00</published><updated>2014-09-10T21:41:08.572-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="belajar ilmiah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type='text'>Nilai sebuah Penderitaan</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0VNCjWQPkqwOZ_lZpFP22rU-HtpQpwIZX_IXScbgFIz-HQ4Nb7ssyGgRvUUJn2xwL-NY2uvazzv3y4esm-BV1m3jzuiCOc_X7wVUFxIn9bJJO3HL8ehAOSU-M3zzVda3mUNkCG-5vEwVY/s1600/images.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0VNCjWQPkqwOZ_lZpFP22rU-HtpQpwIZX_IXScbgFIz-HQ4Nb7ssyGgRvUUJn2xwL-NY2uvazzv3y4esm-BV1m3jzuiCOc_X7wVUFxIn9bJJO3HL8ehAOSU-M3zzVda3mUNkCG-5vEwVY/s640/images.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh : Kristoforus Sri Ratulayn K.N&lt;br /&gt;
Siapa yang tidak pernah menangis selama hidupnya? Adakah manusia yang tidak pernah menangis sepanjang hidupnya? Hampir tidak ada manusia yang tidak pernah menangis. Bahkan, awal dan akhir dari hidup manusia selalu diiringi dengan sebuah tangisan. Bayi yang baru lahir harus menangis sebagai tanda kehidupannya. Bahkan kalau tidak menangis dibuat sedemikian rupa agar ia segera menangis. Selanjutnya, ketika kematian menjemput juga diiringi dengan tangisan. Tentu saja bukan tangisan dari orang yang meninggal, melainkan tangisan dari saudara dan kerabat yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;
Lebih lanjut, menangis merupakan sebuah metafor atau proyeksi diri dari sebuah kejadian yang menyakitkan atau kadang juga menggembirakan. Misalnya, seseorang gadis menangis karena ditinggal oleh sang kekasih. Contoh lain, seorang ibu yang menangis terharu karena anaknya mampu meraih prestasi yang membanggakan. Namun, tangisan tentu lebih cenderung mengarah kepada sebuah proyeksi tentang sebuah penderitaan yang tengah dialami oleh seseorang yang menangis. Penderitaan menjadi realitas tentang sebuah hal yang menyakitkan atau tidak menyenangkan bagi sebagian orang. Pada intinya, saya ingin mengatakan bahwa ada realitas tersembunyi di balik sebuah tangisan/menangis, yaitu penderitaan.&lt;br /&gt;
Dalam tulisan ini saya berusaha sedikit merumuskan dan menjawab sesungguhnya apa itu penderitaan? Mengapa seseorang perlu mengalami penderitaan? Dan sesungguhnya apakah ada penderitaan yang membawa kebaikan? Pada titik ini, sudah sangat jelas posisi saya bukan untuk mendebat atau menganalisis satu per satu dari berbagai pandangan mengenai penderitaan. Saya hanya ingin berusaha memikirkan dan merenungkan sendiri makna dari sebuah penderitaan dengan sebuah kejujuran. Tentu juga berharap bahwa kemudian ada yang merasa ikut tercerahkan dari pergulatan tentang masalah penderitaan yang tengah dialami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Realitas penderitaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Berbicara mengenai penderitaan rasanya membuat orang sedikit mengerutkan dahi, tanda bahwa penderitaan sebisa mungkin ditekan dan dilupakan. Hal tersebut dapat diterima secara masuk akal karena memang saat ini terdapat sebuah arus gelombang hedonisme dan sensualisme. Sebagian besar orang berusaha mencari kepuasan, kesenangan, dan kenikmatan secara maksimal dalam hidupnya. Kenikmatan tubuh menjadi yang utama dalam hidup tanpa peduli bahwa dalam pencariaannya mendobrak setiap batas-batas nilai luhur. Lebih dalam, ada adgium yang mengerikan yaitu bahwa ketika berbicara mengenai uang, kita semua berada pada satu agama yang sama. Contoh nyata yang ada dalam hidup saat ini adalah banyaknya pelaku korupsi yang ada dalam Negara ini. Pendobrakan nilai-nilai luhur ini tentu berdiri di atas sebuah sikap penolakan terhadap apa yang disebut penderitaan.&lt;br /&gt;
Sudah tentu banyak sekali pendapat yang berusaha menjawab dan menjelaskan mengenai apa itu penderitaan. Ada yang menyebut penderitaan sebagai sebuah hukuman atas kesalahan yang telah dilakukan. Lain lagi mengatakan bahwa penderitaan merupakan sebuah absuditas dan dengan demikian sangat susah dimengerti. Ada juga yang menyebut bahwa penderitaan merupakan karma atau bahkan esensi dari seluruh hidup manusia. Kemudian ada juga yang menyebut bahwa penderitaan adalah kekalahan, maka seseorang harus menjadi manusia atas yang tentu mengatasi semua kekalahan tersebut.&lt;br /&gt;
Bagi saya, penderitaan merupakan sebuah bagian dari esensi hidup manusia. Penderitaan merupakan bagian yang memang harus ada dalam hidup manusia. Tidak ada yang dapat menolak ataupun menjauhi. Bahkan penderitaan dibutuhkan bagi manusia untuk mengajarkan hal yang bernilai bagi manusia. Saya mencoba membayangkan bagaimana jadinya anak yang sejak kecil selalu dicukupi segala kebutuhannya dan dimanja. Kemungkinan besar yang terjadi adalah anak tersebut tidak pernah belajar apa yang disebut kekalahan atau kekurangan. Sehingga pada waktunya ketika berhadapan dengan kekalahan, dia akan merasa dunia telah berakhir. Contoh actual akhir-akhir ini berkaitan pilpres. Saya curiga, jangan-jangan salah satu pasangan calon Presiden yang tidak pernah mau mengakui kekalahannya adalah bentukan dari pemikiran yang selalu menolak penderitaan dalam hidup. Ia menjadi orang yang tidak pernah mau mengakui kekalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Perjuangan Nilai&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Penderitaan bukanlah sebuah esensi yang berdiri sendiri. Artinya penderitaan tidak pernah bernilai pada dirinya sendiri. Tidak akan pernah ada penderitaan yang bermakna bagi dirinya sendiri. Penderitaan selalu bergantung pada sebuah substansi yang lain.&lt;br /&gt;
Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan adanya penderitaan. Pertama, karena memang manusia sendiri yang menginginkan penderitaan tersebut. Lebih dalam, seseorang itu sendiri yang menginginkan penderitaan tersebut ia alami. Misalnya, orang yang dengan sengaja berdiri di tengah jalan untuk membiarkan dirinya ditabrak oleh kendaraan yang lewat. Contoh lain lagi penderitaan akibat hukuman karena seseorang mejadi koruptor. Dalam ekstrem tertentu, mungkin ini yang dalam psikologi disebut masokisme. Sebuah ketidak beresan yang mengandung arti mencari kepuasan dengan mengalami penderitaan.&lt;br /&gt;
Kedua, penderitaan yang disebabkan oleh alam. Dalam arti tertentu ini sering disebut sebagai sebuah bencana. Sesunguhnya, bencanapun ketika orang mau jujur, hal tersebut terjadi karena ulah manusia sendiri. Manusia dengan segala kerakusan dan optimismenya berusaha menguasai dan mengksplorasi alam. Sehingga pada waktu alam menunjukkan keganasannya dengan terjadinya bencana alam. Banyak contoh kerusakan alam yang telah terjadi di sekitar kita, mulai dari perubahan iklim, banjir, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;
Ketiga, penderitaan yang memang dipilih dan dijalani karena ada perjuangan akan nilai yang lebih luhur di baliknya. Dengan kata lain, penderitaan sebagai sebuah konsekuensi logis dari tindakan seseorang yang berusaha memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, kemanusiaan, cinta kasih dan persaudaraan. Banyak contoh yang bisa kita ambil untuk penderitaan jenis ini, misalnya para pahlawan yang gugur memperjuangkan kemerdekaan. Perjuangan seorang yang memperjuangkan agar cinta kasih tercipta di bumi, kemudian harus mengalami sikasaan dan penderitaan.&lt;br /&gt;
Pada titik ini tentu kita bisa berkata bahwa penderitaan sesungguhnya bukanlah sebuah hal yang menyedihkan, mengerikan, kekalahan, atau bahkan kehinaan seperti yang dikatakan salah satu filsuf Modern, Nietzsche. Penderitaan bukan sekedar hal yang buruk, membelenggu, dan menyengsarakan hidup. Bukankah penderitaan akibat memperjuangkan sebuah nilai yang lebih tinggih sungguh merupakan hal yang sangat mulia. Ketimbang hidup “membahagiakan” dengan menjadi seorang penjilat dan perampok uang rakyat.&lt;br /&gt;
Pada waktunya seseorang akan menyadari bahwa penderitaan karena memperjuangkan nilai-nilai luhur akan sangat mendewasakan.***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/5525901204632745451/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/09/nilai-sebuah-penderitaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/5525901204632745451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/5525901204632745451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/09/nilai-sebuah-penderitaan.html' title='Nilai sebuah Penderitaan'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0VNCjWQPkqwOZ_lZpFP22rU-HtpQpwIZX_IXScbgFIz-HQ4Nb7ssyGgRvUUJn2xwL-NY2uvazzv3y4esm-BV1m3jzuiCOc_X7wVUFxIn9bJJO3HL8ehAOSU-M3zzVda3mUNkCG-5vEwVY/s72-c/images.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-3364878556638400072</id><published>2014-08-29T14:37:00.000-07:00</published><updated>2014-08-29T00:42:12.952-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Komunikasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type='text'>Damailah Negeriku</title><content type='html'>Oleh: Kristoforus Sri Ratulayn K.N&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRzMRVyURjgbzyGdqzvO0JXg-a3wvGwtneJUb3M-HTc1Mfc1-dCeWWe-bg460RjBghSGkCzimDN3FQoTgSSdWGYx1hHvyNMYl1-3hCKdtCMBj2f36JWRFb_G35cXLUvMj7ffE7No2hd52B/s1600/damai-indonesia1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRzMRVyURjgbzyGdqzvO0JXg-a3wvGwtneJUb3M-HTc1Mfc1-dCeWWe-bg460RjBghSGkCzimDN3FQoTgSSdWGYx1hHvyNMYl1-3hCKdtCMBj2f36JWRFb_G35cXLUvMj7ffE7No2hd52B/s640/damai-indonesia1.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Lagi-lagi bangsa ini didera dengan kerusuhan yang bernuansa SARA. Bagaimana tidak? banyak fenomena kekerasan sampai pada pembunuhan yang mengatasnamakan agama. Mulai dari penyerangan jemaat Ahmaddiyah, pengerusakan Gereja di Temanggung, Jawa Tengah, dan masih banyak lagi lainnya. Kekerasan yang terjadi tersebut membawa duka dan panggilan bagi segenap elemen bangsa ini untuk mengoreksi diri.&lt;br /&gt;
Isu mengenai SARA sangat sensitif dan rawan terjadi salah paham di negara Indonesia. Apalagi ketika kita menengok bahwa Negara kita merupakan Negara multikultur. Orang mudah tersinggung ketika ada yang meremehkan kelompoknya. Sebagaian besar kelompok di Negara ini beranggotakan orang-orang yang cenderung mengarah ke sikap fundamental, eksklusif, dan tertutup untuk berdialog demi kesejahteraan bersama. Lantas apakah yang kurang dari Negara ini sehingga masih terjadi kekerasan dan pelanggaran hak asasi di dalamnya? Sebuah utopiakah harapan akan hidup bersama demi sebuah kesejahteraan bersama? Berharap akan terciptanya masyarakat multikultur yang hidup bersama dengan sebuah aturan yang mengarah kepada kebaikan bersama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kekerasan antar Umat Beragama &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Peristiwa penyerangan hingga terdapatnya korban jemaat salah satu agama yang sedang melaksanakan ibadatnya sungguh menjadi pukulan tersendiri bagi bangsa ini. Para penyerang bertindak irasional. Bagaimana mungkin melakukan pembunuhan atas nama Tuhan ataupun agama? Tuhan seperti apa yang memerintahkan manusia saling membunuh? Bukankah sebuah kontradiksi yang terjadi dari pandangan penyerangan antar umat beragama. Di Indonesia masih sangat rawan terjadinya gerakan anarki, karena paham eksklusif masih sangat kental mewarnai dinamika hidup di dalamnya.&lt;br /&gt;
Penyerangan dan kekerasan yang mengatasnamakan agama sungguh sulit untuk dipahami dengan akal sehat. Karena jika memang benar ada agama yang memperbolehkan membunuh sesama manusia, maka bukankah atheisme yang humanis dan nasionalis lebih mulia? Hal ini jika dibandingkan mereka yang mengaku beribadah dan menyembah Tuhan, tapi saling menjadi serigala atas sesama manusia.  Karena memang nilai penghormatan akan martabat manusia menjadi yang utama dalam dinamika hidup bersama. Menjadi sebuah tanda tanya tersendiri bagi penulis, apakah ini implikasi dari dipisahkannya akal budi dengan iman dalam sebuah agama? Dalam titik ini ajaran agama perlu dipertanyakan lagi dengan kajian yang lebih dalam lagi.&lt;br /&gt;
Lebih dalam, agama perlu juga melakukan pemahaman yang benar, menyeluruh, dan mendalam tentang ajaran-ajaran yang menjadi dogma mereka. Karena memang dimungkinkan penangkapan ajaran yang setengah-setengah dan kurang mendalamlah yang membuat pengikutnya bergerak kearah penganiayaan dan main hakim sendiri. Melakukan tindakan anarki tanpa melalui proses dialog dan komunikas. Apalagi kebanyakan orang Indonesia kurang terdidik untuk berpikir kritis dan menekankan pemikiran akal budi.      &lt;br /&gt;
Kemudian, di sisi lain melihat kinerja para aparat penegak hukum yang terkesan tidak berkutik ketika tindakan main hakim sendiri terjadi. Peristiwa penyerangan tersebut seperti menjadi titik awal kehancuran sebuah Negara yang menjunjung tinggi nilai kebebasan beragama, seperti yang tertulis pada Undang-undang Dasar 1945. Negara atau mungkin lebih tepatnya para pemegang otoritas seolah tidak punya gigi lagi dalam menjamin kebebasan beragama para warganya. Dimanakah keadilan dan perlindungan akan martabat manusia yang seharusnya diberikan oleh penegak hukum?&lt;br /&gt;
Para pemegang otoritas untuk melindungi korban dan menjatuhkan sanksi kepada para pelaku penganiayaan seharusnya memegang kepercayaan legitimasi yang diberikan oleh rakyat. Rakyat sesungguhnya mempunyai harapan akan dipenuhinya perlindungan terhadap kebebasan dan hak asasi mereka. Dengan demikian pemerintah mempunyai legitimasi dan otoritas untuk menegakkan hukum ketika mulai dilanggarnya hak asasi seseorang. Namun, yang terjadi di Negara ini malah pemerintah seolah tidak lagi mampu memegang apa yang telah diamanatkan rakyat kepada mereka. Akhirnya tinggal menunggu rakyat mencabut legitimasinya terhadap pemerintah seperti saat penggulingan Orde Baru.&lt;br /&gt;
Masalah hidup keagaaman memang bukan urusan pemerintah dan memang pemerintah tidak berhak turut campur di dalamnya. Lebih dalam, bahwa antara agama dan politik praktis tidak boleh dicampur adukkan. Jika hal itu terjadi maka akan terjadi ketidakadilan dan penindasan di dalamnya, sejarah sudah banyak membuktikannya. Namun, pemerintah harus tegas ketika nilai-nilai pelanggaran hak asasi, kekerasan, apalagi sampai pada pembunuhan. Karena memang hal tersebut sudah masuk kedalam wilayah hukum positif negara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Komunikasi &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sebagai Negara multikultur, diperlukan sebuah cara hidup bersama mengarah kepada kesejahteraan bersama. Adalah jurgen Habermas seorang filsuf aliran teori kritis Jerman yang mencoba menawarkan sebuah cara hidup bersama yang mengarah terciptanya kesejahteraan bersama. Habermas berpendapat bahwa diperlukan sebuah komunikasi yang berkualitas dalam membangun hidup bersama. Berkualitas artinya mengandung kejujuran, kebenaran, koherensi, tanpa dominasi, dan egaliter.&lt;br /&gt;
Lima unsur di atas perlu dibawa dan dihidupi oleh semua orang, dalam konteks ini semua elemen bangsa Indonesia. Dengan komunikasi yang berkualitas, kesalahpahaman dan kekerasan menjadi lebih kecil untuk terjadi. Alangkah indahnya jika sebagian besar bangsa ini mengedepankan sikap komunikasi atau dialog dengan unsure-unsur yang diajukan oleh Habermas di atas. Dalam titik inilah penulis katakan apakah itu hanya menjadi sebuah republic impian yang tidak akan pernah bisa terjadi? Hal ini mengingat kurang terbiasanya bangsa ini dengan sebuah dialog yang penuh kejujuran. Semua pasti menggendong kepentingan tersembunyi yang tidak berani diungkapkan secara fair.&lt;br /&gt;
Habermas kemudian melengkapi sistem idenya mengenai teori komunikasi. Karena dia mengamati memang tidak semua orang mampu untuk berkomunikasi. Akhirnya, Habermas menekankan pada pembuatan hukum harus didasarkan dan dihasilakan dari komunikasi yang berkualitas. Pembentukan hukum harus dilandaskan pada komunikasi yang jujur, benar, mendalam, egaliter, dan tanpa dominasi dari pihak tertentu.&lt;br /&gt;
Memang sebuah perjuangan tersendiri untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang terbiasa dengan komunikasi ala Habermas. Apalagi di tengah masyarakat yang multikultur dan kadang cenderung ekslusif. Namun, usaha untuk terus mengedepakan dialog dan komunikasi merupakan tanda sebuah Negara yang beradab. Dengan komunikasi yang berkualitas orang dituntun untuk semakin mendekati kebenaran. Sehingga terciptalah kesejahteraan bersama dalam republic ini.*** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/3364878556638400072/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/08/damailah-negeriku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/3364878556638400072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/3364878556638400072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/08/damailah-negeriku.html' title='Damailah Negeriku'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRzMRVyURjgbzyGdqzvO0JXg-a3wvGwtneJUb3M-HTc1Mfc1-dCeWWe-bg460RjBghSGkCzimDN3FQoTgSSdWGYx1hHvyNMYl1-3hCKdtCMBj2f36JWRFb_G35cXLUvMj7ffE7No2hd52B/s72-c/damai-indonesia1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-4439785932667539753</id><published>2014-08-29T14:36:00.000-07:00</published><updated>2014-08-29T00:36:43.478-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Aborsi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Etika Biomedis"/><title type='text'>Telaah Aborsi Dalam Etika Biomedis</title><content type='html'>Oleh : &lt;br /&gt;
Kristoforus Sri Ratulayn K.N&lt;br /&gt;
Stevanus Findy Arianto&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzguFB2CIZNA92_jsufJwAWjR4yH-zuhloyJF3R-EIdsXYmHukN3ojd77CGd9eF90Tv-P1L2_AjxbqJR9ollZj5JLpCce7Er_ANh3JYlTSKApFltkEdsecYlbsSd5VYKkTGMFV_pdtzeBH/s1600/images.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzguFB2CIZNA92_jsufJwAWjR4yH-zuhloyJF3R-EIdsXYmHukN3ojd77CGd9eF90Tv-P1L2_AjxbqJR9ollZj5JLpCce7Er_ANh3JYlTSKApFltkEdsecYlbsSd5VYKkTGMFV_pdtzeBH/s640/images.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dewasa ini aborsi menjadi topik diskusi dan perdebatan terutama di dalam pro choice dan pro life. Di kalangan pro choice menganggap aborsi legal karena adanya alasan kesehatan dan kehidupan seorang ibu. Lebih lanjut, kalangan pro choice, aborsi memang diperkenankan karena asumsi dasar mereka  tentang aborsi adalah intervensi pada bayi “yang belum jadi.”  Berbeda halnya dengan pro choice, pro life lebih anti pada aborsi itu sendiri Karena bagi mereka aborsi merupakan pembunuhan. Pro life lebih memilih kehidupan dari pada pilihan untuk aborsi itu sendiri. Apabila kehamilan si ibu didiagnosis akan berpengaruh pada kesehatan dan kehidupan ibu, pro life akan terus menguasahkan keduanya (ibu dan bayi) selamat. &lt;br /&gt;
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun di dunia diperkirakan 40-50 juta wanita menghadapi kehamilan yang tidak direncanakan memutuskan untuk melakukan aborsi. Hal ini terkait dengan sekitar 125.000 aborsi per hari.  Angka yang cukup mengerikan. Angka itu menunjukkan bahwa manusia dapat dengan mudah melakukan aborsi dengan alasan apapun tanpa (sebenarnya) tahu hukum moral yang harus dipakai dalam mempertimbangkan aborsi itu sendiri. Ironinya, dunia kedokteran bahkan menganggap aborsi sebagai satu hal yang biasa karena kedokteran kadang juga melupakan etikanya.&lt;br /&gt;
Di tengah realitas semacam itu, filsafat ingin melihat aborsi di dalam esensinya. Untuk inilah Filsafat dan Etika mengkritisi dan merefleksikan lagi hakikat aborsi. Dengan memahami esensi atau hakikat dari aborsi ini, diharapkan tahu nilai dan moralitas yang ada di balik aborsi itu sendiri. Dengan adanya etika sebagai line kritis, maka  setiap tindakan harus selalu didasari oleh nilai-nilai moral tersebut. Sehingga manusia menuju apa yang baik itu sendiri. &lt;br /&gt;
Etika dewasa ini juga terus memperbaharui dirinya hingga muncul etika bisnis, etika pemasaran, hingga etika kedokteran. Dalam paper ini tentu saja kami akan menitik beratkan permasalahan aborsi dengan etika kedokteran itu sendiri. Etika biomedis sendiri pada dasarnya merupakan “the study of the ethical, social, legal, philosophical and other related  issues arising in the biological sciences and in health care.”  Di lihat dari definisi itu saja sudah jelas bahwa etika biomedis lebih cenderung mengarah pada ilmu kedokteran itu sendiri. Bioetika sendiri pada dasarnya berasal dari bahasa Yunani, “bios” yang artinya kehidupan dan ethikos yang artinya moral.  Dalam pandangan kami, apabila etika biomedis ini diterapkan maka kehidupan akan menjadi satu hal yang menjadi tujuan dunia kedokteran. &lt;br /&gt;
Paper inipun lebih mengarah pada telaah etika biomedis terhadap aborsi itu sendiri. Artinya, kami ingin melihat dan memahami bagaimana etika biomedis memandang aborsi. Saat kita mengerti konsep-konsep aborsi dalam kacamata moral, maka moral judgement nya pun bisa dipahami dan diaplikasikan di dalam kehidupan. Dengan demikian, konsep secara aborsi baik secara konsep atau praksis menjadi jelas. Tanpa adanya pemahaman tentang aborsi dan seluk beluknya, maka aborsi akan terus rentan terjadi dan tak dapat dibendung. Akibatnya nilai-nilai moralpun menjadi kabur.&lt;br /&gt;
Untuk itu kami akan membagi paper ini menjadi beberapa pokok bahasan. Pertama, kami akan menjelaskan konsep aborsi itu sendiri dari sudut pandang etika dan moral. Kedua, kami akan menjelaskan The Beginning of Human Person’s life.   Ketiga, penjelasan mengenai teori etika yang akan kami gunakan untuk kemudian menganalisis atau memberikan penilaian atas tindakan aborsi. Dan terakhir sebuah kesimpulan atas keseluruhan tulisan kami. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;II. Hakikat Aborsi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Aborsi memiliki banyak pengertian dari berbagai sudut pandang. Dari sudut pandang kedokteran, aborsi merupakan Tindakan penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan (sebelum usia 20 minggu kehamilan), bukan semata untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dalam keadaan darurat tapi juga bisa karena sang ibu tidak menghendaki kehamilan itu.  Logikanya, ilmu kedokteran melihat bahwa sebelum usia 20 minggu kehamilan janin tersebut bukan manusia tetapi hanya segumpal daging belaka. &lt;br /&gt;
Menurut kedokteran, aborsi memiliki bermacam-macam jenis, antara lain:  &lt;br /&gt;
1. Spontaneous abortion: gugur kandungan yang disebabkan oleh trauma kecelakaan atau sebab-sebab alami.&lt;br /&gt;
2. Induced abortion atau procured abortion: pengguguran kandungan yang disengaja. Termasuk di dalamnya adalah: &lt;br /&gt;
a) Therapeutic abortion: pengguguran yang dilakukan karena kehamilan tersebut mengancam kesehatan jasmani atau rohani sang ibu, kadang-kadang dilakukan sesudah pemerkosaan.&lt;br /&gt;
b) Eugenic abortion: pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang cacat.&lt;br /&gt;
c) Elective abortion: pengguguran yang dilakukan untuk alasan-alasan lain.&lt;br /&gt;
Dalam hal ini, kami akan membahas pengerti aborsi pada poin kedua yakni aborsi yang dilakukan dengan sengaja. Karena dalam pandangan kami, aborsi yang terjadi secara alami memang tidak membawa dampak moral. &lt;br /&gt;
Berbeda halnya dengan pengertian aborsi di atas, Etika dan moral mengartikan aborsi sebagai “The deliberate and direct killing, by whatever means it is carried out, of a human being in the initial phase of his or her existence, extending from conception to birth.”  Dilihat dari arti ini, jelaslah bahwa aborsi adalah tindakan membunuh secara langsung. Artinya, intensi dari aborsi itu sendiri adalah membunuh bayi yang belum lahir. Maka tindakan aborsi lebih mengarah pada tindakan immoral itu sendiri. &lt;br /&gt;
Lepas dari alasan aborsi seperti kesehatan atau keselamatan nyawa ibu, aborsi pada dasarnya merupakan tindakan yang tidak menghargai kehidupan. Kehidupan manusia harus menjadi satu hal yang central dan fundamental dari etika biomedis.   Artinya, pokok atau standart biomedis haruslah mengarah dan  selalu diarahkan pada kehidupan manusia itu sendiri. Apabila kehidupan manusia tidak menjadi focus utama, maka yang terjadi adalah dehumanisasi (tidak memanusiakan manusia). Tujuan dan focus utama adalah kehidupan manusia, maka logikanya tindakan apapun yang mengakibatkan berhentinya kehidupan manusia adalah tindakan immoral. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa aborsi adalah tindakan immoral karena intensinya untuk membunuh.&lt;br /&gt;
Masalah utama di dalam aborsi adalah soal kapan manusia itu bermula (The Beginning of Human Person’s life). Dalam hal ini kita harus merunut lagi proses terjadinya janin. Beberapa pendapat mengatakan bahwa sebelum usia 20 minggu kehamilan, janin itu belum merupakan manusia. Jadi logikanya, janin pada usia 20 minggu ke bawah bisa diaborsi. Akan tetapi, pendapat lain mengatakan bahwa saat masih berbentuk Zigot, manusia sudah ada. Untuk itu, kami akan membahas hal itu lebih lanjut pada pokok pembahasan selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;III. The Beginning of Human Person’s life&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Jelaslah bahwa dunia kedokteran memandang kehidupan manusia bermula dari janin yang berusia 20 minggu ke atas. Maka, janin yang masih berusia 20 minggu ke bawah bukanlah manusia. Akan tetapi, secara etika permulaan kehidupan manusia itu dimulai pada saat ovum dibuahi. Artinya, etika melihat awal kehidupan manusia seara lebih dalam yakni saat terjadi proses pembuahan ovum oleh sperma. Logikanya, janin yang berusia 20 minggu kebawah adalah manusia itu sendiri. &lt;br /&gt;
&quot;From the time that the ovum is fertilized, a new life is begun which is neither that of the father nor of the mother; it is rather the life of a new human being with his own growth. It would never be made human if it were not human already. To this perpetual evidence ... modern genetic science brings valuable confirmation. It has demonstrated that, from the first instant, the programme is fixed as to what this living being will be: a man, this individual-man with his characteristic aspects already well determined. Right from fertilization is begun the adventure of a human life, and each of its great capacities requires time ... to find its place and to be in a position to act&quot;.  &lt;br /&gt;
St. Thomas Aquinas, seturut Aristoteles, dalam hal ini memandang embrio sebagai potensi. Artinya, di dalam embrio tersebut ada jiwa manusia yang berpotensi untuk menjadi tubuh yang bersifat material.  Jiwa manusia memungkinkan manusia itu hidup. “Just as the soul in an embryo is in act, but imperfectly, so also it operates, but imperfect operations.”  Artinya, di dalam embrio itu sudah ada jiwa yang mampu menggerakkan dan sekaligus menjadi esensi tubuh. Logikanya, apabila esensi manusia yaitu jiwa sudah ada di dalam embrio maka embrio itu sudah manusia karena ada substantial form di dalamnya.&lt;br /&gt;
Lebih lanjut, yang perlu dipahami di sini adalah konsep mengenai potensi dan aktus. Potensi merupakan sesuatu yang ada dan keberadaannya tidak bisa disangkal. Dalam hal ini, embrio manusia merupakan potensi yang dapat mengarah pada aktus itu sendiri, yakni manusia. Artinya, di dalam embrio itu ada potensi untuk menjadi manusia. “[Things] are always in potentiality to actuality when they can be reduced to actuality by their proper active principle with nothing external hindering them. However, seed is not yet such. For it must be by many changes that an animal comes from it. But when by its proper active principle, namely, something actually existing, it can already become such, it is then already in potentiality.” &lt;br /&gt;
Dengan demikian jelaslah bahwa permulaan kehidupan manusia itu ada pada saat ovum dibuahi dan kemudian membentuk embio atau zigot. Artinya, mulai dari tingkat yang paling kecil sekalipun embrio itu sudah manusia karena ada potensi dan bahkan jiwa di situ. Karena itu, manusia harus dihargai pada awal eksistensinya sebagai manusia karena diawal eksistenti itu, manusia sudah punya hak dan kebebasannya termasuk kebebasan dan hak untuk hidup.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;III. &lt;i&gt;Judgment&lt;/i&gt; Etika Terhadap Aborsi (Teori dan Analisis) &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pembahasan mengenai etika sangat menarik untuk terus dikaji setiap waktu. Apalagi ketika melihat fenomena masih sangat kuatnya daya ikat di zaman sekarang. Di tengah berbagai kemajuan teknologi, etika seoalah menjadi ”polisi” bagi para ilmuwan dalam melakukan eksperimen-eksperimen mereka yang terkadang hendak melampaui batas alamiah. Hal ini terlihat jelas ketika para ilmuwan mulai mampu melakukan cloning pada hewan dan hendak mengaplikasikannya pada manusia. Pada bagian ini akan kami bahas bagaimana etika memberikan pertimbangan moral atas kasus aborsi.&lt;br /&gt;
Etika sendiri merupakan salah cabang dari filsafat. Kata etika sendiri berasal dari bahasa Yunani Ethike dan tekhne yang berarti sebuah ilmu tentang moral. Jika ditelusuri lebih dalam, kata ethike berarti juga ethos yang artinya alami (nature). Dengan demikian etika kurang lebih berarti sebuah ilmu tentang tindakan manusia menurut hakikat alaminya. Dengan demikian jelas bahwa standar dari setiap tindakan manusia adalah apa yang menjadi hakikatnya sebagai manusia (nature).&lt;br /&gt;
Setiap tindakan manusia dikatakan baik apabila sesuai dengan hakikatnya sebagai manusia. Kemudian tindakan manusia dikatakan buruk jika tidak sesuai dengan kodrat atau hakikatnya. Lebih dalam, bahwa kebaikan dan kejahatan dalam tindakan manusia disebut sebagai moralitas. Moralitas menyangkut kebaikan atau kejahatan dalam tindakan manusia. Dengan demikian etika juga berarti ”studi mengenai sesuatu yang melekat dalam kebaikan dan kejahatan dari tindakan manusia sesuai dengan standar kodratnya sebagai manusia dalam sebuah keteraturan untuk mencari sesuatu yang baik untuk dilakukan” &lt;br /&gt;
Kemudian  pertannyaan bagaimana aborsi dinilai berangkat dari definisi tentang etika tersebut? Dalam definisi tersebut ada lima poin penting yang terkandung di dalamnya. Pertama, mengenai sesuatu yang melekat (inhernt), artinya terdapat sebuah anugerah yang melekat atau diberikan begitu saja kepada manusia, menyatu di kodrat manusia. Kedua, mengenai moralitas (morality) seperti pada penjelasan sebelumnya, yaitu mengenai kebaikan dan kejahatan dalam tindakan manusia. &lt;br /&gt;
Ketiga, tindakan manusia (human acts) bahwa setiap tindakan manusia selalu antara atau baik atau buruk. Dengan kata lain, tidak ada tindakan yang netral. Manusia yang hidup berdasarkan kodratnya berarti tindakan yang ia lakukan adalah kebaikan. Namun tindakan yang jahat adalah tindakan yang tidak sesuai dengan kodratnya sebagai manusia. Manusia mempunyai kebebasan untuk hidup mengikuti atau menolaknya.&lt;br /&gt;
Keempat, berkaitan dengan kodrat manusia (human nature), yaitu bahwa manusia mempunyai sesuatu yang tertanam dalam dirinya karena ia merupakan ciptaan. Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. Dengan demikian tindakan baik atau buruk manusia ditentukan oleh Pencipanya. Semua mengarah kepada pencarian akan sesuatu yang baik untuk kemudian dilakukan.&lt;br /&gt;
Aborsi jelas menolak apa yang melekat dalam diri manusia, yaitu bahwa aborsi telah membunuh atau mencabut nyawa dan kehidupan manusia. Lebih lanjut, bahwa tubuh manusia merupakan anugerah dari Sang Pencipta dan bukan milik manusia pribadi secara mutlak. Tubuh bukan hanya sekedar alat untuk mencapai kebaikan, melainkan bermakna baik bagi dirinya sendiri. Lebih dalam, zygot sudah merupakan pribadi yang mempunyai martabat sama seperti manusia dewasa. Meskipun zygot ada dalam tubuh manusia dan belum berbentuk sempurna, namun tetaplah ia telah menjadi manusia yang unik. &lt;br /&gt;
Aborsi selalu merupakan sebuah kejahatan. Dengan kata lain tidak ada alasan yang membenarkan untuk melakukan aborsi. Alasannya jelas karena aborsi adalah sebuah pembunuhan. Lebih lanjut, pembunuhan merupakan sebuah tindakan yang tidak sesuai dengan kodrat manusia. Kodrat yang dimaksud di sini adalah bahwa seturut dengan perintah Sang Pencipta. Kehidupan bukanlah milik manusia seutuhnya, melainkan tetap dalam ikatan dengan Sang Pencipta.&lt;br /&gt;
Kualitas hidup dari janin sama derajatnya dengan manusia dewasa. Karena memang janin pun merupakan pribadi baru dan unik. Jadi janin tidak pernah boleh dikorbankan. Membunuh janin jelas melanggar kodrat dan martabat manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;IV. Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Aborsi aktif adalah sebuah tindakan menggugurkan atau membunuh dengan aktif janin yang ada dalam kandungan seorang perempuan. Sedangkan pengertian atau awal kehidupan manusia adalah ketika sperma dan ovum bertemu. Sejak sperma dan ovum bertemu, saat itulah seorang pribadi atau manusia utuh dalam bentuk potensi ada. Potensi menjadi sangat penting karena dari potensi itulah wujud manusia utuh juga ada dan terkandung di dalamnya. Kehidupan bukan berawal dari kelahiran manusia, melainkan berawal terbentuknya genetik baru dengan pertemuan sperma dan ovum.&lt;br /&gt;
Salah satu tinjauan etika adalah sebuah ilmu yang membawa penyadaran bahwa seseorang harus hidup berdasarkan kodratnya. Kodrat manusia merupakan sebuah anugerah dari Sang Pencipta yang tertanam sejak awal manusia hidup. Menggugurkan janin jelas melanggar kodrat dan martabat manusia. Hidup manusia bukanlah mutlak sepenuhnya menjadi milik manusia itu sendiri. Melainkan kehidupan dipandang sebagai anugerah dari Pencipta untuk kemudian dijalani dan dipertanggungjawabkan seturut kehendak Pencipta.    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
CONGREGATION FOR THE DOCTRINE OF THE FAITH, INSTRUCTION ON RESPECT FOR HUMAN LIFE IN ITS ORIGIN AND ON THE DIGNITY OF ROCREATION REPLIES TO CERTAIN QUESTIONS OF THE DAY &lt;br /&gt;
Doctrinal Congregation Instruction on Some Bioethical Questions, Instruction &quot;Dignitas Personae&quot;. published today by the Congregation for the Doctrine of the Faith. Vatican City. 2008.&lt;br /&gt;
Eberl, Jason T., Thomistic Principles and Bioethics. Routledge Taylor and Francis Group. New York. 2006.&lt;br /&gt;
Nadres, Ramon. What is Ethics and Abostion (catatan perkuliahan Etika Biomedis pertemuan 1 dan 3). Universitas Katolik Widya Mandala. Surabaya. 2011.&lt;br /&gt;
Takala, Tuija., Herissone-Kelly, Peter, and Holm, Søren, Cutting through the Surface: Philosophical approaches to Bioethics.  Rodopi. Amsterdam. New York. 2009.&lt;br /&gt;
Internet:&lt;br /&gt;
http://id.wikipedia.org/wiki/Gugur_kandungan diakses pada tanggal 4 Oktober 2011 pada pukul 10.32 WIB&lt;br /&gt;
http://www.prochoice.com/abort_what.html diakses pada tanggal 4 Oktober 2011 pada pukul 08.09 WIB&lt;br /&gt;
http://www.prolife.com/ diakses pada tanggal 4 Oktober 2011 pada pukul 08.10 WIB&lt;br /&gt;
http://www.worldometers.info/abortions/ diakses pada tanggal 4 Oktober 2011 pada pukul 09.25 WIB&lt;br /&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/4439785932667539753/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/08/telaah-aborsi-dalam-etika-biomedis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/4439785932667539753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/4439785932667539753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/08/telaah-aborsi-dalam-etika-biomedis.html' title='Telaah Aborsi Dalam Etika Biomedis'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzguFB2CIZNA92_jsufJwAWjR4yH-zuhloyJF3R-EIdsXYmHukN3ojd77CGd9eF90Tv-P1L2_AjxbqJR9ollZj5JLpCce7Er_ANh3JYlTSKApFltkEdsecYlbsSd5VYKkTGMFV_pdtzeBH/s72-c/images.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-7931079101143031476</id><published>2014-08-29T14:35:00.000-07:00</published><updated>2014-08-29T00:35:35.892-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Aristoteles"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Etika Nickomakeia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Keutamaan"/><title type='text'>Menjadi Manusia yang Berkeutamaan Menurut Buku II Etika Nickomakeia-Aristoteles</title><content type='html'>Oleh: Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pengenalan awal, buku EN 2 Aristoteles ini terdiri dari sembilan bab. Jika ingin  mengklasifikasikannya secara lebih terperinci, maka kita akan menemukan pembagian yaitu, bab satu sampai dengan empat berbicara tentang keutamaan moral, bab lima sampai dan tujuh tentang definisi dari keutamaan moral itu sendiri. Kemudian bab delapan dan sembilan berbicara mengenai karakteristik dari hasrat ektrem. &lt;br /&gt;
Paper ini terbagi menjadi dua bahasan.pokok. Pertama,  bahasan secara keseluruhan isi dari EN 2 yaitu, tentang keutamaan, lebih tepatnya tentang asal-usul, definisi dan klasifikasi dari keutamaan, khusunya keutamaan etis. Kedua, secara khusus kita akan mencoba menjawab pertanyaan tentang apa pentingnya dan koherensinya Aristoteles memasukkan tema keutamaan dalam buku EN. Dalam pembahasan paper ini kita akan menggunakan buku Aristotle’s Nicomachean Ethics dari Michael Pakaluk sebagai “pisau bedah” dalam memahami isi dari buku EN 2 ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Arti Penting dan Asal-usul Keutamaan&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Buku EN 2 ini masih mempunyai kaitan erat dengan buku satu pasal terkhir. Berawal dari penjelasan bahwa dalam hidupnya manusia mempunyai tujuan akhir dalam buku sebelumnya, Aristoteles mengajukan tiga criteria yang digunakan sebagai penguji tujuan akhir tersebut. Pertama, seseorang harus mengetahui apa yang menjadi akar dari tujuan yang ia miliki. Kedua, keadaan diri yang merasa berkecukupan (Self-Sufficiency). Ketiga, sesuatu yang paling disukai (greatest Preferability). &lt;br /&gt;
Aristoteles berpendapat bahwa untuk mampu mencapai apa yang menjadi tujuan akhirnya, seseorang memerlukan aktivitas-aktivitas yang mampu menyokong atau mendukungnya pula untuk mencapai tujuan akhir tersebut. Kegiatan itu adalah keutamaan.  Segala aktivitas manusia dalam rangka mencapai tujuan akhirnya harus sesuai dengan keutamaan tersebut. Kembali pembahasan paragraf sebelumnya, keutamaan harus diuji dengan tiga kriteria tersebut. Dari sini kita mulai bisa melihat dimana peran penting dari keutamaan.&lt;br /&gt;
Menurut aristoteles keutamaan itu bersifat utuh dan tunggal.  Maksudnya, keutamaan itu bagaikan sebuah alat yang di dalamnya terdapat banyak bagian yang berfungsi masing-masing. Bagaikan sebuah sepeda motor yang di dalamnya terdapat banyak unsur yang mempunyai fungsi masing-masing. Misalnya ada mesin, ban, dan lainnya. Keutamaan adalah keadaan ketika semua alat tersebut berfungsi sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;
Lebih lanjut, dalam Aristoteles menegaskan perbedaan antara mana yang menjadi bagian dari jiwa dengan mana yang merupakan bagian dari keutamaan (1102a15). Tentu saja jiwa yang ada dalam manusia harus di bedakan dengan jiwa yang ada dalam hewan. Beberapa hal yang menjadi bagian jiwa manusia adalah bagian yang memiliki alasan, tidak memiliki alasan dan respon tapi mampu menanggapi untuk alasan, dan bagian yang tidak mempunyai alasan dan yang tidak bisa mendengar dan menanggapi. Sedangkan bagian dari keutamaan manusia adalah intellectual virtue dan hubungan erat karakter keutamaan.&lt;br /&gt;
Bagi Aristoteles orang yang berkeutamaan adalah orang yang sudah biasa bertindak secara tepat.  Keutamaan sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu keutamaan intelektual dan keutamaan moral (1103a14-15). Keutamaan intelektual / teoritis muncul dan berkembang dari hasil pengajaran dan lebih condong pada tindakan dan penekanan pada proses berpikir manusia. Sedangkan keutamaan intelektual, Aritoteles menggambarkannya bagaikan sebuah potensi yang ada dalam diri manusia. Artinya, lebih dipertegas lagi bahwa keutamaan moral / etis adalah sebuah karakter yang lebih menekankan pada prakatek hidup manusia.&lt;br /&gt;
Asal-usul keutamaan disajikan di awal mendahului definisi keutamaan, karena memang yang hendak dicapai bukan sekedar mengetahui apa itu keutamaan. Melainkan untuk menjadi baik (1103b26-31). Dengan melihat asal-usul keutamaan, kita akan semakin bisa melihat pendasaran yang ada di dalam konsep keutamaan tersebut. Itulah alasan mengapa asal-usul dibahas di awal buku EN 2.&lt;br /&gt;
Keutamaan tumbuh secara alami dalam hidup manusia. Ibarat sebuah potensi yang telah ada dalam diri manusia sejak ia lahir. Maka dari itu perlu diadakan kebiasaan-kebiasaan yang membuatnya ada. Karena memang secara umum keberadaan manusia dilengkapi oleh alam dengan kecenderungan untuk melakukan sesuatu (1144b6).  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Definisi dan Klasifikasi Keutamaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Lalu sebenarnya hakikat semacam apa keutamaan itu? Keutamaan bukanlah sesuatu yang alami. Artinya sudah ada secara kodrat dalam diri manusia sehingga hanya perlu meningkatkan lagi apa yang telah ada tersebut.  Keutamaan menuntut manusia dan mampu dimiliki seseorang dari hasil kebiasaan, sebuah proses belajar dan kebiasaan. Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa keutasmaan adalah sebuah karakter dan berasal dari kebiasaan (1103a26). Sebagai contoh, seseorang mampu berbuat jujur jika sejak kecil ia sudah terbiasa untuk melakukannya.&lt;br /&gt;
Keutamaan moral berkaitan erat dengan nikmat dan perasaan sakit. Jika kebijaksanaan berhubungan dengan nikmat dan perasaan sakit, dan setiap hasrat dan tindakannya disertai pula dengan kesenangan dan penderitaan, maka dengan alasan itu pulalah kebijaksanaan selalu berkaitan dengan nikmat dan perasaan sakit. Bagi Aristoteles, nikmat dan perasaan sakit ini perlu juga diperhatikan dalam usaha mengembangkan keutamaan.  Dengan catatan bahwa nikmat dan perasaan sakit tidak menjadi tujuan pada dirinya sendiri, tapi malah mengarahkan pada apa yang menjadi yang utama. &lt;br /&gt;
Lebih lanjut, bahwa dua kekuatan tersebut harus diarahkan untuk pengembangan diri. Yaitu membuat seseorang semakin menikmati bertindak sesuai dengan moral dan mengesampingkan dorongan-dorongan yang lebih rendah. Dengan demikian diperlukan sebuah pendidikan moral yang sesuai di dalamnya. Pendidikan yang membuat seseorang untuk selalu terarah pada pelaksanaan keutamaan.&lt;br /&gt;
Pertanyaannya kemudian apakah keutamaan itu sendiri? Aristoteles membuka penjelasannya dengan menampilkan gagasan bahwa dalam jiwa terdapat tiga hal yaitu, hasrat, keterampilan, dan keadaan karakter. Keutamaan menjadi salah satu dari tiga hal tersebut. Hasrat berisikan tentang selera, kemarahan, ketakutan, kepercayaan, iri hati, kegembiraan, rasa persahabatan, kebencian, kerinduan, kasih sayang, dan sebagainya, yang semuanya disertai oleh kesenangan dan rasa sakit (1105b21-24).&lt;br /&gt;
Walaupun demikian keutamaan manapun tetap tidak bisa lepas dari jangkauan hasrat. Namun justru dari situlah Aristoteles ingin mengatakan bahwa keutamaan bukanlah emosi, melainkan sebuah pilihan cara bertindak yang terbaik. Memilih sikap yang tepat dalam menyikapi rasa nikmat yang ada. Sikap hati dalam mengambil keputusan yang mau mengusahakan apa yang terletak di tengah.  Sebagai contoh, misalnya seseorang dihadapkan pada pilihan antara marah dan belaskasih, dengan keutamaan orang tersebut mampu mengambil apa yang ada di tengah dari keduanya (1106a3-6).&lt;br /&gt;
Akhirnya Aristoteles mengungkapkan pula bahwa tidak mudah untuk mengambil jalan tengah. Oleh karena itu seseorang memang perlu dan harus berani dihadapkan pada sebuah pertentangan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/7931079101143031476/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/08/menjadi-manusia-yang-berkeutamaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/7931079101143031476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/7931079101143031476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/08/menjadi-manusia-yang-berkeutamaan.html' title='Menjadi Manusia yang Berkeutamaan Menurut Buku II Etika Nickomakeia-Aristoteles'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-8665526670492753779</id><published>2014-08-26T12:22:00.000-07:00</published><updated>2014-08-28T22:49:04.381-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hegel"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Keadilan"/><title type='text'>Keadilan Menurut Georg Wilhelm Hegel (1770-1831)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Oleh: Kristoforus Sri Ratulayn K.N&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tulisan ini saya akan mencoba memaparkan pemikiran Hegel tentang keadilan. Lebih dalam, sesungguhnya saya tidak menemukan definisi secara eksplisit mengenai keadilan menurut Hegel. Dengan demikian, dalam tulisan ini saya akan mencoba menarik logika dari filsafat hukum Hegel.&lt;br /&gt;
Hidup dan Karyanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdxLJ8qR5TeQAXGftztfFBER3LSccYRIKH8aFBx8FkSy_6hiAwQlImW_Dg4ZTAC8NVCCh7KzeYMjO2OjzrSZDH2V_BQJ8bjbYUdiaj-4o5bA6uX6KcxPQ3yYYoKavUNTnK9zluU6C1ffc/s1600/logo-mencari-keadilan.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdxLJ8qR5TeQAXGftztfFBER3LSccYRIKH8aFBx8FkSy_6hiAwQlImW_Dg4ZTAC8NVCCh7KzeYMjO2OjzrSZDH2V_BQJ8bjbYUdiaj-4o5bA6uX6KcxPQ3yYYoKavUNTnK9zluU6C1ffc/s640/logo-mencari-keadilan.gif&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;sumber gambar : http://harissoekamti.blogspot.com/2012/06/hubungan-keadilan-sosial-yang-ada-dalam.html&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hegel adalah salah seorang filsuf Idealisme Jerman terbesar . Filsafatnya seolah ingin membentuk sebuah sistem yang berusaha segala sesuatu. Ia lahir di Stuttgart, Jerman pada 27 Agustus 1770. Ayahnya bekerja sebagai seorang pegawai negeri sipil. Pada tahun 1788 ia menjalani pendidikan Teologi Protestan di Universitas Tübingen. Di sanalah ia akhirnya bertemu dan berkawan dengan Schelling dan Hölderlin. Teman-teman Hegel tersebut mempunyai ketertarikan dalam Revolusi Perancis dan bersama-sama mempelajari Rousseau.&lt;br /&gt;
Sejak muda, Hegel memang menaruh perhatian yang besar terhadap filsafat dan teologi . Minat ini akhirnya akan tertuang dengan jelas dalam pemikiran-pemikiran dalam berfilsafat. Setelah lulus dari Universitas, Hegel bekerja sebagai tutor keluarga bangsawan di Swiss antara tahun 1793-1796 dan kemudian di Frankfurt antara tahun 1797-1800. Selanjutnya, tahun 1801 ia mengajr di Universitas Jena . Saat di Jena itulah ia menghasilkan karya pertamanya, yaitu Difference  between  the  Philosophical Systems  of Fichte  and  Schelling  (Differenz  des  Fichteschen  und Schellingschen Systems). Selain itu pada saat yang sama ia juga bekerjasama dengan Schelling dalam penyusunan jurnal filsafat. &lt;br /&gt;
Karya terbesarnya pun juga dibuat ketika di Jena, yaitu Die Phanomenologiae des Geistes (fenomenologi Roh). Karya besar lainnya yang ia hasilkan selanjutnya adalah Wissenschaft der Logik (logika), Enzyklopädie der philosophischen Wissenschaften im Grundriss (Ensiklopedia ilmu filsafat dalam ringkasan), dan Grundlinien der Philosophie des Rechts (Garis Besar Filsafat Hukum). Hingga akhirnya ia meinggal pada tahun 1831.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Filsafat Roh (Geistesphilosophie)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Secara umum, Hegel menjelaskan terdapat beberapa tahap perkembangan dari roh yang mengasingkan diri. Tahap tersebut terdiri atas roh subjektif, roh objektif, dan terakhir adalah roh absolut.  Tahap roh subjektif berarti dalam tahap dimana roh masih berupa kesadaran atau “pikiran” subektif. Kemudian tahap kedua adalah dimana roh bergerak menuju kearah yang lebih luas, yaitu roh objektif. Lebih dalam, roh objektif terungkap secara nyata dalam tiga wadah, yaitu hukum, morlitas, dan tatanan moralitas. Tahap terakhir adalah tahap dimana roh mecapai kepenuhannya dan menjadi absolute. Lebih dalam, inilah puncak dari akhir sejarah.&lt;br /&gt;
Pembahasan Hegel mengenai keadilan dapapat secara implicit ditemukan dalam pemikiran Hegel dalam tahapan roh objektif. Karena memang pada tahap itulah Hegel menjelaskan pemikirannya mengenai filsafat hukum. Dengan mempelajari filsafat hukum tersebut akan dapat ditarik konsekuensi logis mengenai pemikiran hegel tentang keadilan. Membahas pemikiran filsafat hukum Hegel, maka akan ditemukan penjelasan mengenai tiga wadah perwujudan dinamika gerak roh.        &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Filsafat Hukum (Philosophy of Right)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Hegel, nilai tertinggi dalam kehidupan social adalah kebebasan.  Lebih dalam, Negara berdasarkan konstitusi harusnya membuat manusia-manusia di dalanya merasa bebas dan penuh dengan penghargaan akan martabat manusia. Bebas berarti keadaan dimana seseorang mengalami perlindungan akan keamanaan dan tidak mengalami paksaan apapun. &lt;br /&gt;
Lebih lanjut, kebebasan adalah hakikat seluruh kerangka social. Kebebasan dalam konteks ini haruslah dimaknai sebagai sebuah antithesis dari gerak roh absolut sendiri dalam perkembangannya. Karena memang bagi Hegel sesungguhya tidak ada kebebasan, semua harus mengikuti gerak roh absolut itu sendiri. Dengan demikian kebebasan haruslah terungkap dalam tiga wadah, yaitu hukum, moralitas, dan tatanan moralitas (sittlickheit). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hukum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bagi Hegel, hukum adalah wadah pertama dalam usaha perwujudan kebebasan bagi seseorang.  Hegel memberikan contoh perlindungan kebebasan pertama-tama dari hukum adalah mengenai perlindungan hak milik. Artinya, dalam benda milik seseorang terkandung pula kehendak dari orang tersebut dalam benda yang menjadi hak miliknya. Kemudian, dengan menghargai hak milik berarti menghargai pula kebebasan seseorang.&lt;br /&gt;
Lebih dalam, hukum menjadi tanda penjamin wilayah seseorang yang tidak boleh dicampuri oleh orang lain. Hukum bersifat mengatur masyarakat agar semua orang mencapai kesejahteraannya. Namun, menurut Hegel, hukum masih bersifat abstrak dan tidak selalu bisa mewakili kebutuhan-kebutuhan pribadi yang sifatnya subjektif. Lebih dalam, hukum tidak selalu bisa memuat kebutuhan subjektif manusia di dalamnya. “Dalam hukum, tujuan subjektif individu sama sekali tidak relevan” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Moralitas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Wadah kedua yang menjadi realisasi perlindungan kebebasan adalah moralitas. Moralitas pertama-tama adalah sebuah negasi dari hukum itu sendiri. Lebih dalam, kewajiban tidak lagi terikat pada hak milik atau benda-benda. Moralitas lebih memberikan penekanan pada pertimbangan subjektif manusia.&lt;br /&gt;
Pada tahap ini Hegel seolah setuju dengan apa yang dirumuskan oleh Kant mengenai tindakan yang didasarkan pada “suara hati” masing-masing individu. Sebuah tindakan hanya berlaku ketika berasal dari keputusan internal manusia.  Lebih dalam, seseorang hanya tunduk oleh yang muncul dari dalam dirinya, keputusan masuk akal. Titik tolak moralitas adalah keyakinan individu.&lt;br /&gt;
Pada tahap hukum, kualitas tindakan dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan hukum. Namun, pada tahap ini kualitas tindakan diukur dari kesesuaian dengan suara hati.  Hegel berpendapat, tidak boleh hanya berhenti sampai pada moralitas.  Dengan kata lain, moralitas tetaplah harus mempunyai acuan dari luar diri manusia. Suara hati menjadi perintah yang kosong belaka jika tanpa acuan dari luar manusia. Maka Hegel melangkah kepada sintesis dari hukum dan moralitas. Kewajiban sebagai kewajiban itu kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tatanan Moralitas Sosial (Sittlichkeit)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sittlichkeit ini menjadi sebuah patokan bagi setiap orang dalam melakukan sesuatu di dalam masyarakat. Setiap orang bebas melakukan sebuah peraturan karena memang di dalamnya terdapat moralitas. Pada tahap ini hukum dan moralitas menyatu (hasil dari dialektika). Lebih dalam, bidang antara kehendak umum dan khusus menyatu. Sittlichkeit terwujud dalam tiga lembaga, yaitu keluarga, masyarakat, dan Negara.&lt;br /&gt;
Ketiga lembaga tersebut amat menetukan dalam dinamika kehidupan sosial. Dalam ketiganya memuat adat istiadat, tradisi, dan hukum yang mengatur bagaimana manusia harus bertindak. Lebih dalam, tatanan moralitas sosial ini membantu seseorang tanpa harus memikirkan secara mendalam terlebih dahulu ketika hendak melakukan setiap hal. Manusia bertindak sesuai moral jika mengikutinya. Dengan demikian keadilan pun menjadi inhern di dalamnya.&lt;br /&gt;
Keadilan dapat tercapai apabila seseorang bertindak atas tatanan moralitas sosial. Tatanan moralitas sosial membebaskan manusia dari beban setiap kali harus mencari apa yang menjadi kewajibannya. Pelaksanaan kewajiban melalui tatanan moralitas sosial berarti membawa pula kepada sebuah keadilan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Daftar Acuan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Copleston, Frederick, A History of Philosophy. Modern Philosophy: From the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard,  and Nietzsche. Vol. VII. Image Book, New York, 1994.&lt;br /&gt;
Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern. Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007 &lt;br /&gt;
Huijbers, Theo, Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah, Kanisius, Yogyakarta, 1982 &lt;br /&gt;
Suseno, Franz-Magnis, Pijar-pijar Filsafat. Dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Muller ke Postmodernisme. Kanisius. Yogyakarta, 2005&lt;br /&gt;
Tjahjadi, Simon Petrus L., Petualangan Intelektual. Konfrontasi dengan Para Filsuf dari Zaman Yunani Hingga Zaman Modern. Kanisius. Yogyakarta. 2004.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/8665526670492753779/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/08/keadilan-menurut-georg-wilhelm-hegel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/8665526670492753779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/8665526670492753779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/08/keadilan-menurut-georg-wilhelm-hegel.html' title='Keadilan Menurut Georg Wilhelm Hegel (1770-1831)'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdxLJ8qR5TeQAXGftztfFBER3LSccYRIKH8aFBx8FkSy_6hiAwQlImW_Dg4ZTAC8NVCCh7KzeYMjO2OjzrSZDH2V_BQJ8bjbYUdiaj-4o5bA6uX6KcxPQ3yYYoKavUNTnK9zluU6C1ffc/s72-c/logo-mencari-keadilan.gif" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-4491726073175257055</id><published>2014-08-26T12:12:00.000-07:00</published><updated>2014-08-28T22:53:50.578-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hegel"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kebenaran"/><title type='text'>Kebenaran Menurut Georg Wilhelm Hegel (1770-1831)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Oleh: Kristoforus Sri Ratulayn K.N&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebenaran adalah salah satu tema yang menjadi perdebatan panajang dalam sejarah pemikiran, filsafat. Hingga zaman inipun orang masih bisa memperdebatkan tentang apa yang benar. Makna kebenaran menjadi sangat beragam tergantung titik tolak atau paradigma yang dipakai seseorang. Memang akhirnya terkesan relativisme jika semua mempunyai makna dan kebenarannya masing-masing. Sesungguhnya apa itu kebenaran?  &lt;br /&gt;
Pada tulisan ini saya akan membahas tentang tema kebenaran menurut Georg Wilhelm Hegel. Hegel dikenal sebagai salah satu filsuf Idealisme Jerman terbesar. Secara umum, terasa Hegel hendak membuat sebuah system filsafat yang ingin menjelaskan segala hal. Dalam pemaparan penjelasan nanti saya akan menyajikan pemikiran Hegel tentang fenomenologi Roh dan metode dialektika yang ia pakai dalam menjelaskan realitas. Dari pemikiran Hegel nanti akan ditemukan bahwa kebenaran adalah “Roh”, “Idea”, atau “Rasio” yang terus bergerak dan dinamis. Gerak Roh itulah yang menentukan jalannya sejarah dan realitas.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://kampus.unikom.ac.id/s/userassets/10108602/blog_images/image_2a79537e22b191cd3a083bde321ee22f.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://kampus.unikom.ac.id/s400/userassets/10108602/blog_images/image_2a79537e22b191cd3a083bde321ee22f.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;gambar dari : http://10108602.blog.unikom.ac.id/kebenaran.1i7&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hidup dan Karyanya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Hegel adalah salah seorang filsuf Idealisme Jerman terbesar . Filsafatnya seolah ingin membentuk sebuah sistem yang berusaha segala sesuatu. Ia lahir di Stuttgart, Jerman pada 27 Agustus 1770. Ayahnya bekerja sebagai seorang pegawai negeri sipil. Pada tahun 1788 ia menjalani pendidikan Teologi Protestan di Universitas Tübingen. Di sanalah ia akhirnya bertemu dan berkawan dengan Schelling dan Hölderlin. Teman-teman Hegel tersebut mempunyai ketertarikan dalam Revolusi Perancis dan bersama-sama mempelajari Rousseau.&lt;br /&gt;
Sejak muda, Hegel memang menaruh perhatian yang besar terhadap filsafat dan teologi . Minat ini akhirnya akan tertuang dengan jelas dalam pemikiran-pemikiran dalam berfilsafat. Setelah lulus dari Universitas, Hegel bekerja sebagai tutor keluarga bangsawan di Swiss antara tahun 1793-1796 dan kemudian di Frankfurt antara tahun 1797-1800. Selanjutnya, tahun 1801 ia mengajr di Universitas Jena . Saat di Jena itulah ia menghasilkan karya pertamanya, yaitu Difference  between  the  Philosophical Systems  of Fichte  and  Schelling  (Differenz  des  Fichteschen  und Schellingschen Systems). Selain itu pada saat yang sama ia juga bekerjasama dengan Schelling dalam penyusunan jurnal filsafat. &lt;br /&gt;
Karya terbesarnya pun juga dibuat ketika di Jena, yaitu Die Phanomenologiae des Geistes (fenomenologi Roh). Karya besar lainnya yang ia hasilkan selanjutnya adalah Wissenschaft der Logik (logika), Enzyklopädie der philosophischen Wissenschaften im Grundriss (Ensiklopedia ilmu filsafat dalam ringkasan), dan Grundlinien der Philosophie des Rechts (Garis Besar Filsafat Hukum). Hingga akhirnya ia meinggal pada tahun 1831.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Yang Absolut sebagai Kebenaran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Secara singkat, tujuan filsafat Hegel sesungguhnya adalah mengusahakan pengetahuan ilmiah tentang kebenaran . Artinya, usaha segala usaha Hegel dalam filsafatnya seolah ingin melanjutkan tema yang digeluti oleh Immanuel Kant. Kant berusaha menguji kemampuan akal budi guna memperoleh sesuatu yang sah disebut sebagai ilmu pengetahuan. Satu hal yang jelas ditolak Hegel dari pemikiran Kant adalah bahwa bukan pikiranlah yang membentuk realitas, melainkan oleh suatu Akal Kosmik tunggal yang disebutnya, Roh . Namun nampaknya Hegel lebih condong mengusahakan pengetahuan proses jalannya sejarah. Dengan demikian tidak heran bahwa banyak orang, khususnya orang Jerman yang menerima pemikiran Hegel sebagai sebuah pengetahuan yang mengagumkan.&lt;br /&gt;
Menurut Hegel, dalam analisis Kant terdapat oposisi antara fenomena dan numena. Dengan kata lain masih terdapat oposisi antara subjek dan objek . Hegel berada pada posisi sama seperti Schelling yang menghapus “das Ding an sich” (benda pada dirinya sendiri). Lebih dalam, Hegel menyebut bahwa Alam adalah perwujudan dari Roh. Roh mengasingkan diri terlebih dahulu dalam Alam. Akhirnya, bertolak dari Yang Absolut (das Absolute) itulah idealisme Hegel dibangun.&lt;br /&gt;
Hegel menegaskan bahwa Yang Absolut itu adalah seluruh kenyataan. Lebih dalam, realitas kemudian dilihat sebagai “proses menjadi”. Sampai pada pemahaman bahwa kebenaran adalah sesuatu yang bergerak dan hidup, “yang benar adalah yang menyeluruh” . Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang terus bergerak dan berproses berkembang sampai pada kepenuhannya. Dengan demikian, Hegel memandang realitas sebagai proses teleologis. Yang Absolut menjadi tujuan dari proses itu sendiri.           &lt;br /&gt;
Menurut pemikiran tradisional, kebenaran adalah kesesuaian antara pikiran dan realitas. Artinya, terdapat kesamaan antara subjek yang berpikir dengan objek yang dipikirkan. Bagi Hegel, Yang Absolut adalah subjek. Jika demikian maka apa yang kemudian disebut sebagai objek? Hegel menegaskan bahwa objeknya adalah subjek itu sendiri yang menyadari dirinya . Logikanya jika Yang Absolut adalah keseluruhan realitas dan Yang Absolut itu menyadari dirinya, maka segala sesuatu menjadi proses refleksi diri. Realitas adalah berpikir itu sendiri.&lt;br /&gt;
Seluruh refleksi filosofis dan pengetahuan manusia adalah penegtahuan dari Yang Absolut itu sendiri . Seluruh proses sejarah adalah proses dari Yang Absolut menyadari dirinya kembali. Bagi Hegel, Yang Absolut juga berarti Rasio atau Idea. “Rasio sama luasnya dengan seluruh realitas, maka realitas adalah proses pemikiran atau Idea” .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dialektika&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Hegel menggunakan metode dialektika dalam menjelaskan seluruh gerak Yang Absolut. Artinya, Idea bergerak dengan metode dialektika tersebut. lebih dalam, Hegel malah berpendapat bahwa dialektika itu adalah realitas sendiri. Kenyaatan sebagai sebauh “proses dialektis”.&lt;br /&gt;
Dalam dialektika terdapat tiga unsure pokok, antara lain tesis, antithesis, dan sintesis. Singkatnya dialektika adalah cara pikir yang mempertemukan dua hal yang saling bertentangan (tesis dan antitesis) untuk kemudian diangkat pada tahap yang lebih tinggi (sintesis). Sebagai contoh, antara hitam (tesis) dilawankan putih (antitesis), maka akan menjadi abu-abu (sintesis). Pada abu-abu tidak ada lagi unsure yang dominan atau hitam atau putih. Sintesis mengangkat tesis dan antithesis tanpa mengalahkan satu diantaranya. Dalam bahasa Jerman aufheben, yang berarti mengangkat.&lt;br /&gt;
Pada penjelasan ini pula Hegel menjelaskan tentang tiga tahap penetahuan manusia. Tahap pertama adalah kemampuan indrawi, lalu akalbudi (Verstand), dan tertinggi adalah intelektualitas (Vernunft). Bagi Hegel, akalbudi tidak akan bisa menerima pertentangan dalam pengetahuan yang ia peroleh melalui indra. Akalbudi bekerja sesuai system atau skema dalam pikirannya. Maka seseorang perlu naik lagi ke tahap intelektualitas untuk mencari hubungan atau kesatuan dibalik apa yang diterima oleh akalbudi. Intelektualitas harus menguhasakan kesatuan atas hal-hal yang bertentangan. Dengan demikian, segala sesuatu bagi Hegel bisa dipahami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dengan demikian ada beberapa hal pokok untuk menjawab pertanyaan di awal tulisan ini mengenai apa kebenaran menurut Hegel? (1) kebenaran adalah sesuatu yang dinamis, bergerak, dan dalam proses menjadi. Kebenaran yang dinamis menjadi sifat dari Yang Absolut atau Idea atau Rasio. (2) gerak rasio dapat dimengerti dengan pola dialektika. Dialektika Idea atau Rasio membentuk realitas. Realitas yang menjadi kebenaran adalah hasil dari gerak Roh yang berdialektika.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Daftar Acuan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Copleston, Frederick, A History of Philosophy. Modern Philosophy: From the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche. Vol. VII. Image Book, New York, 1994.&lt;br /&gt;
Garvey, James, 20 Karya Filsafat Terbesar. (terj.) Dr. Mulyatno Pr, Kanisius, Yogyakarta, 2010.&lt;br /&gt;
Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern. Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007.&lt;br /&gt;
Tjahjadi, Simon Petrus L., Petualangan Intelektual. Konfrontasi dengan Para Filsuf Dari Zaman Yunani Kuno Hingga Zaman Modern, Kanisius, Yogyakarta, 2004.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/4491726073175257055/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/08/kebenaran-menurut-georg-wilhelm-hegel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/4491726073175257055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/4491726073175257055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2014/08/kebenaran-menurut-georg-wilhelm-hegel.html' title='Kebenaran Menurut Georg Wilhelm Hegel (1770-1831)'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-6465957589670078014</id><published>2011-08-13T06:51:00.000-07:00</published><updated>2011-08-13T06:53:14.572-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="belajar ilmiah"/><title type='text'>TEORI STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian yang membahas mengenai manusia sungguh sangat luas dan kompleks. Berbagai bidang ilmu memusatkan perhatian masing-masing untuk memahami manusia. Misalnya, Biologi mencoba memahami manusia  dari sudut biologisnya, psikologi mencoba melihat manusia dari sisi perilakunya, dan masih banyak lagi lainnya. &lt;br /&gt;Dalam paper ini saya akan membahas teori Strukturalisme dari Lévi-Strauss. Saya akan memberikan pemaparan mengenai teori strukturalisme dari Levi-Strauss. Teori strukturalisme pada intinya berpendapat bahwa dalam segala keanekaragaman budaya tentu ada sebuah struktur pembentuk yang sifatnya universal, sama dimanpun dan kapanpun. Claude Levi-Strauss sendiri dikenal sebagai Bapak Strukturalisme, karena memang dialah yang pertama kali menjelaskannya secara lebih rinci dan detail.&lt;br /&gt;Paper ini terbagi dalam empat bagian besar. Pertama, bagian pendahuluan yang menjadi pengantar sekaligus pemaparan keseluruhan arah dari paper ini. Kedua, bagian pokok atau isi. Pada bagian ini saya akan memaparkan penjelasan mengenai teori strukturalisme dari Levi-Strauss dan implementasinya. Ketiga, bagian tanggapan kritis. Bagian ini akan menampilkan sebuah kritik terhadap teori strukturalisme. Keempat, bagian kesimpulan yang akan menyimpulkan secara singkat, padat, dan jelas keseluruhan tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;POKOK BAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1	Hidup dan Karya Lévi-Strauss1&lt;br /&gt;Claude Lévi-Strauss adalah seorang antropolog sosial Perancis dan filsuf strukturalis.2 Ia lahir di Brussels, Belgia, pada 28 Nopember 1908 sebagai seorang keturuan Yahudi. Namun pada tahun 1909 orang tuanya pindah ke Paris, Perancis. Ayahnya bernama Raymond Lévi-Strauss dan ibunya bernama Emma Levy. Sejak kecil Lévi-Strauss sudah mulai bersentuhan dengan dunia seni, yang kelak akan banyak ditekuninya ketika dewasa, karena memang ayahnya adalah seorang pelukis.&lt;br /&gt;	Sesungguhnya pendidikan formal dan minat Lévi-Strauss pada awalnya bukanlah Antropologi. Pada tahun 1927, Lévi-Strauss masuk Fakultas Hukum Paris dan pada saat yang sama itu pula, ia pun mempelajari filsafat di Universitas Sorbonne. Studi hukum diselesaikannya hanya dalam waktu satu tahun. Sedangkan dari studi filsafat, aliran materialisme menjadi aliran yang banyak mempengaruhi pemikirannya. Salah satu argument materialisme adalah segala sesuatu harus bisa diukur, diverivikasi, dan diindera. Namun pada suatu saat Levi-Strauss mengungkapkan kebosanannya dalam mengajar. &lt;br /&gt;	Kemudian setelah membaca buku Primitive Social karya Robert Lowie, seorang ahli antropologi. Bermula dari membaca buku Robert Lowie itulah ketertarikannya akan dunia antropologi muncul. Akhirnya,  Levi-Strauss semakin jelas berpaling kepada Antropologi ketika mengajar di Sao Paulo, Brazil, dan melakukan studi antropologi yang lebih luas di pusat Brazil. &lt;br /&gt;	Selama mengajar di Brazil itulah ia mulai banyak melakukan ekspedisi di daerah-daerah pedalaman Brazil. Heddy Shri dalam bukunya menyebutkan, ekspedisi pertamanya adalah ke daerah Mato Grosso. Dari ekspedisi itu Levi-Strauss merasa mendapatkan pengalaman batin yang menginspirasikan banyak hal, yang tertuang dalam bukunya Trites Tropique. Itulah karya pertamanya dan sekaligus mengukuhkan dirinya masuk kedalam bidang antropologi.&lt;br /&gt;	Dalam prosesnya melakukan penelitian dan pengamatan banyak terbentur hambatan. Hal ini salah satunya tidak lepas dari karena ia termasuk keturunan Yahudi, yang saat itu dalam pergolakan pembantaian oleh Jerman. Sampai ia akhirnya harus mengalami pemecatan. Pada tahun 1947, ia kembali ke Perancis dan pada tahun berikutnya ia diangkat sebagai maitre de recherché selama beberapa bulan di CNRS (Center National de la Recherche Scintifique/Pusat Penelitian Ilmiah Nasional). Pada tahun yang sama, ia menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Sorbonne, dengan disertasi Les Structures elementaires de la parente.&lt;br /&gt;	Levi-Strauss dianggap sebagai pendiri strukturalisme, sebuah paham yang memegang bahwa kode terstruktur adalah sumber makna dan bahwa unsur-unsur struktur yang harus dipahami melalui hubungan timbal balik mereka. Lebih lanjut, bahwa struktur sosial adalah kebebasan dari kesadaran manusia dan ditemukan dalam mitos dan ritual. Secara singkat, itulah inti dari teori strukturalisme menurut pendapat Levi-Strauss.&lt;br /&gt;	Levi-Strauss banyak menghasilkan karya-karya tulis besar yang sangat menarik banyak perhatian banyak kalangan, baik dari intelektual maupun awam. Karya-karya terbesar tersebut antara lain: The Elementary Structures of Kinship (1949),  Structural Anthropology (1958), The Savage Mind (1962), and the Mythologics, 4 vols. (1964–72). Mythologics sendiri terdiri dari tetralogi The Raw and The Cooked, From Honey to Ashes, The Origin of Table Manners, dan The Naked Man.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2	Teori Strukturalisme Dan Penelitian Lévi-Strauss &lt;br /&gt;Secara umum, istilah strukturalisme banyak dikenal dalam Filsafat Sosial. Filsafat Eropa modern sering menyebut bahwa strukturalisme adalah sebuah fenomena sosial. Lebih lanjut dikatakan bahwa fenomena itu tidak peduli seberapa dangkal beragam wujudnya. Secara singkat, strukturalisme adalah fenomena social yang secara internal dihubungkan dan diatur sesuai dengan beberapa pola yang tidak disadari.&lt;br /&gt;	Hubungan-hubungan internal dan pola merupakan struktur, dan mengungkap struktur-struktur ini adalah objek studi manusia. Pada umumnya, sebuah struktur bersifat utuh, transformasional, dan meregulasi diri sendiri (self-regulatory). Strukturalisme adalah metodologi yang menekankan struktur daripada substansi dan hubungan daripada hal. Hal ini menyatakan bahwa sesuatu selalu keluar hanya sebagai elemen dari penanda suatu sistem.	   &lt;br /&gt;Metodologi Struktural sesungguhnya berasal dari struktural linguistik dari Saussure, yang menggambarkan bahwa bahasa sebagai sebuah tanda dari aturan sistem sosial. Baru pada tahun 1940, ia mengusulkan bahwa fokus yang tepat penyelidikan antropologi berada di mendasari pola-pola pemikiran manusia yang menghasilkan kategori budaya yang mengatur pandangan dunia sampai sekarang dipelajari. Kemudian pada tahun 1960, Claude Levi-Strauss melanjutkan metodologi ini, tidak hanya untuk antropologi (strukturalisme antropologi) tetapi, memang, untuk penanda semua sistem. Namum memang Levi-Strausslah pada umumnya yang dianggap sebagai pendiri strukturalisme modern. Melalui karyanya, strukturalisme menjadi tren intelektual utama di Eropa Barat, khususnya Perancis, dan sangat mempengaruhi studi tentang ilmu-ilmu manusia.&lt;br /&gt;Pada tahun 1972, Levi-Strauss mengeluarkan bukunya yang berjudul Strukturalisme dan Ekologi menjelaskan secara rinci rincian prinsip dari apa yang akan menjadi antropologi struktural. Di dalamnya, ia mengusulkan bahwa budaya, seperti bahasa, terdiri dari aturan tersembunyi yang mengatur perilaku praktisi.3 Apa yang membuat budaya yang unik dan berbeda dari satu sama lain adalah aturan tersembunyi bagi pemahaman anggota tetapi tidak dapat mengartikulasikan, dengan demikian, tujuan antropologi struktural adalah untuk mengidentifikasi aturan-aturan ini. Dia mempertahankan budaya yang adalah proses dialektika: tesis, antitesis, dan sintesis.&lt;br /&gt;Ahli antropologi mungkin menemukan proses berpikir yang mendasari perilaku manusia dengan memeriksa hal-hal seperti kekerabatan, mitos, dan bahasa. Lebih lanjut, bahwa ada realitas tersembunyi di balik semua ekspresi budaya. Selanjutnya strukturalis bertujuan untuk memahami makna yang mendasari pemikiran manusia yang terungkap melalui aktivitas budaya. Pada dasarnya, unsur-unsur budaya yang tidak jelas dalam dan dari dirinya sendiri, melainkan merupakan bagian dari sistem yang berarti. Sebagai model analitis, strukturalisme menganggap universalitas proses pemikiran manusia dalam upaya untuk menjelaskan &quot;struktur dalam&quot; atau makna yang mendasari yang ada dalam fenomena budaya.4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3	Implementasi Teori&lt;br /&gt;Pada masa ini kita masih bisa banyak menemukan penelitian-penelitian yang menggunakan teori strukturalisme. Kita bisa mengambil contoh peneliti yang ingin mengetahui struktur pemikiran orang Surabaya sehingga dalam budayanya cenderung kasar, misalnya bahasa. Peneliti tersebut membandingkan dengan struktur pemikiran yang ada didalam budaya Yogyakarta yang cenderung lebih ramah. Antara Surabaya dan Yogyakarta yang walaupun kelihatannya berbeda sebenarnya ada sebuah struktur sama di dalam budaya.&lt;br /&gt;	Dengan memahami struktur dalam budaya peneliti akan mengetahui sebuah keuniversalan dalam budaya. Mungkin itulah yang akan dikatakan oleh para ahli strukturalisme. Strukturalisme membantu memetakan pola perilaku manusia dalam budaya.	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;TANGGAPAN KRITIS5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, strukturalisme menuai banyak kritik dari sisi epistemology. Validitas penjelasan struktural telah ditentang dengan alasan bahwa metode strukturalis yang tidak tepat dan tergantung pada pengamat. Artinya unsur subjektivisme sangat erat dalam penelitian strukturalisme. Satu peneliti dan menghasilkan hasil yang sama sekali lain dengan peneliti lainnya. &lt;br /&gt;Paradigma strukturalisme terutama berkaitan dengan struktur jiwa manusia, dan tidak membahas aspek sejarah atau perubahan budaya. Pendekatan sinkronis, yang menganjurkan sebuah &quot;kesatuan psikis&quot; dari semua pikiran manusia, telah dikritik karena tidak memperhitungkan tindakan manusia individu historis. Dalam pemikiran strukturalis, ide-ide yang bertentangan secara inheren ada dalam bentuk oposisi biner, namun konflik-konflik ini tidak menemukan resolusi. Dalam pemikiran Marxis struktural, pentingnya perubahan abadi dalam masyarakat adalah mencatat: &quot;Ketika kontradiksi internal antara struktur atau dalam struktur tidak bisa diatasi, struktur tidak mereproduksi tetapi diubah atau berevolusi&quot;.&lt;br /&gt;	Selanjutnya, yang lain telah mengkritik strukturalisme karena kurangnya perhatian dengan individualitas manusia. Budaya relativis sangat kritis terhadap ini karena mereka percaya struktural &quot;rasionalitas&quot; melukiskan pemikiran manusia sebagai seragam dan seragam. Budaya selalu mengandung unsur relative di dalamnya dan tidak bisa disamakan atau diseragamkan.&lt;br /&gt;Selain mereka yang memodifikasi paradigma strukturalis dan kritik ada reaksi lain yang dikenal sebagai Meskipun poststructuralists dipengaruhi oleh ide-ide strukturalis diajukan oleh Levi-Strauss &quot;pascastrukturalisme.&quot;, Pekerjaan mereka memiliki lebih berkualitas refleksif. Pierre Bourdieu adalah pascastrukturalis yang &quot;... melihat struktur sebagai sebuah produk ciptaan manusia, meskipun para peserta mungkin tidak sadar akan struktur&quot;. Daripada gagasan strukturalis dari universalitas proses pemikiran manusia yang ditemukan dalam struktur pikiran manusia, Bourdieu mengusulkan bahwa proses berpikir dominan adalah produk dari masyarakat dan menentukan bagaimana orang bertindak.&lt;br /&gt;Lain reaksi terhadap strukturalisme didasarkan pada penyelidikan ilmiah. Dalam setiap bentuk penyelidikan yang bertanggung jawab, teori harus difalsifikasi. analisis struktural tidak memungkinkan ini atau untuk validasi eksternal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini saya akan sedikit memberikan rangkuman atas hasil pemaparan keseluruhan tulisan ini. Sekiranya ada dua hal yang ingin saya tekankan. Pertama, yaitu bahwa argument utama strukturalisme adalah bahwa dalam setiap budaya terdapat sebuah struktur yang universal, sama dimanapun dan kapanpun. Banyak penelitian yang menggunakan teori strukturalisme tersebut. Tujuannya untuk memahami pola dalam kebudayaan.&lt;br /&gt;	Kedua, nyatanya teori strukturalisme mendapatkan banyak kritik dan sorotan yang tajam. Salah satunya yang mengena adalah bahwa manusia merupakan makluk yang komplek. Kekomplekan itu juga terbawa dalam perilaku budaya yang mereka hasilkan pula. Jika manusia kompleks maka usaha untuk “menyeragamkan” manusia dengan sebuah struktur yang pasti sungguh sangat terdengar naïf. Strukturalisme memang baik sebagai sebuah metodologi memahami manusia dan budaya. Strukturalisme adalah alat dan bukan tujuan dalam memahami manusia dengan segala kekomplekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUSTAKA&lt;br /&gt;Ahimsa-Putra, Heddy Shri, Strukturalisme Lévi-Strauss Mitos dan Karya Sastra, Galang Press, Yogyakarta, 2001&lt;br /&gt;Bunnin, Nicholas And Jiyuan Yu. The Blackwell Dictionary of Western Philosophy. Blackwell Publishing. New York. 2004&lt;br /&gt;http://www.as.ua.edu/ant/cultures/cultures.php?culture=Structuralism diunduh pada Senin, 08 Maret 2011 pukul 14.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/6465957589670078014/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2011/08/teori-strukturalisme-levi-strauss.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/6465957589670078014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/6465957589670078014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2011/08/teori-strukturalisme-levi-strauss.html' title='TEORI STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-1553461374537395911</id><published>2011-03-10T19:44:00.000-08:00</published><updated>2011-03-10T19:56:02.381-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="belajar ilmiah"/><title type='text'>Setia Pada Kebenaran??</title><content type='html'>Oleh : Kristoforus Sri Ratulayn K.N*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga semester sudah saya jalani studi Filsafat di bangku kuliah. Sejak awal saya berkenalan dengan filsafat, selalu ditekankan bahwa filsafat adalah sebuah disipilin ilmu yang logis, kritis, dan rasional. Filsafat hendak mencari hakikat dari realitas, bagaimana manusia mengetahui, dan apa yang harus manusia lakukan? Secara singkat, berfilsafat merupakan sebuah upaya pencarian terus menerus sebagai wujud dari kecintaan akan sebuah kebijaksanaan. Lebih dalam lagi, benang merahnya adalah sampai pada pencarian dan perjuangan akan sebuah yang disebut dengan KEBENARAN.&lt;br /&gt; Pencarian dan perjuangan akan kebenaran universal yang membawa kebahagiaan dan kesejahteraan menjadi kunci perjuangan dalam sejarah filsafat. Namun menjadi sebuah perjuangan berat tersendiri juga ketika ingin berfilsafat di Negara Indonesia ini yang rasanya seolah tidak relevan lagi. Nampaknya dunia pemikiran filsafat belum begitu menjadi budaya yang hidup dan berkembang di Negara ini. Hal ini terlihat jelas ketika melihat situasi Negara yang para pemimpinnya sibuk memperkaya diri, hukum bisa dibeli, seorang tahananpun bisa jalan-jalan sesuka hati, korupsi di sana-sini, suap sana-sini, dan masih banyak lagi. Bahkan seseorang dianggap “gila” jika tidak ikut terlibat di dalamnya. Kebenaran universal yang membawa kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat tidak lagi menjadi sebuah nilai yang penting untuk diperjuangkan. Lantas masih ada artinyakah berbicara setia pada kebenaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu-abu Kebenaran Di Indonesia&lt;br /&gt;Situasi politik praktis di Indonesia saat ini sungguh-sungguh berada pada fase yang krisis dan memprihatinkan. Situasi politik praktis Negara yang lebih mencerminkan ajang perebutan kekuasaan, memperkaya kaya diri atau kelompok, perjuangan kepentingan kelompoknya semata yang semuanya dilakukan dengan menghalalkan segala cara. Belum lagi masalah hukum yang bisa “dibeli” oleh siapapun yang mempunyai banyak uang. Kemudian tahanan yang bisa seenaknya keluar masuk penjara. Itulah kiranya yang mampu sedikit menjadi cerminan situasi politik praktis Negara kita tercinta ini. Masyarakat menjadi bingung dan kehilangan pegangan siapa yang masih bisa dipercaya dan siapa yang sudah busuk.&lt;br /&gt; Melihat situasi politik praktis Negara yang demikan kacau, abu-abu, dan tumpang tindih seolah-olah tidak ada tempat lagi bagi mereka yang berbicara setia pada kebenaran. Kebenaran hanya ada dipermukaan dan semu. Sulit sekali menemukan kebenaran sejati dalam kehidupan politik praktis bangsa ini. Keadaan pemerintahan yang serba korup seolah tidak menyisahkan tempat bagi kebenaran, bahkan lembaga yang disebut sebagai penegak hukumpun mampu “merunduk” jika berhadapan dengan uang dan kekuasaan.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesetiaan Pada Kebenaran&lt;br /&gt;Lepas dari semua tekanan yang ada di tengah kita, kebenaran harus selalu di cari dan diperjuangkan. Karena memang dengan setia pada kebenaranlah sebuah situasi yang penuh dengan kebahagiaan bersama, adil, dan sejahterah yang sesungguhnya dapat terwujud. Tidak hanya sebuah keadilan yang semu dan hanya dipermukaan saja. Lebih dalam, yaitu bahwa ketika kebenaran diabaikan, disitulah mulai terjadi juga pelanggaran hukum yang berlaku. Kemudian ketika hukum sudah dilanggar membawa dampak terjadinya pelanggaran martabat manusia dan peradaban publik.&lt;br /&gt; Martabat manusia dan peradaban publiklah yang seharusnya menjadi patokan dalam segala tindakan dan gerak seluruh lapisan masyarakat. Sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melindungi martabat setiap orang yang menjadi bagian di dalamnya. Jika bangsa Indonesia tidak segera berbenah diri dan semakin jauh untuk berbicara setia pada kebenaran maka Indonesia akan hancur dengan sendirinya. Ketika martabat manusia dan peradaban publik diabaikan, yang ada tersisa hanyalah bangsa yang biadab. Yang tersisa hanyalah manusia-manusia yang berusaha memperkaya diri, apatis, korup, dan individualis. Jika demikan yang terjadi, bagaiamana bisa kita dengan mudah mengatakan bahwa berbicara setia pada kebenaran sudah tidak ada artinya lagi!&lt;br /&gt; Penuh optimisme kita harus percaya bahwa hati nurani sebagian besar masyarakat Indonesia masih berontak ketika kebenaran tidak lagi diperjuangakan. Maka, untuk mendobrak keacuhan akan kebenaran itu semua memang dibutuhkan sebuah tekad dan keberanian bersama. Kebenarnian untuk tidak ikut menjadi apatis atau acuh terhadap situasi bangsa yang penuh dengan ketidakadilan dan pelanggaran martabat manusia. Bukan malah menjadi pesimis terhadap semua ke absurd-an yang terjadi di Negara kita ini. Melainkan tetap optimis untuk memperjuangkan sebuah kebenaran. &lt;br /&gt;Lebih dalam lagi, bukanlah pembangunan gedung-gedung megah atau rumah dinas yang mewah yang sungguh mendesak untuk dilakukan. Melainkan pembangunan mentalitas kritis, rasional, sistematis, dan humanislah yang penting untuk dilakukan! Semua orang perlu kritis dan sungguh menghidupi apa yang menjadi kebenaran. Dengan demikian seseorang akan mengetahui apa yang ada di balik setiap keanehan yang terjadi dalam Negara ini. Orang akan dihantar menemukan akar terdalam dari setiap masalah. &lt;br /&gt; Di sinilah studi filsafat kemudian mampu menjadi pencerah bagi semua orang dalam mengolah mentalitas seseorang menjadi lebih kritis, rasional, mandiri, dan humanis. Seseorang akan lebih mencintai sebuah pencarian dan perjuangan terus-menerus demi terciptanya kehidupan bersama yang lebih pebuh dengan penjunjungan tidnggi terhadap martabat manusia dan keadaban publik. Kebenaran akan menunjukan dirinya bagi mereka yang setia dalam pencarian!***</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/1553461374537395911/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2011/03/setia-pada-kebenaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/1553461374537395911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/1553461374537395911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2011/03/setia-pada-kebenaran.html' title='Setia Pada Kebenaran??'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-6247059624383494000</id><published>2010-11-14T17:37:00.000-08:00</published><updated>2014-08-29T00:40:17.025-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="belajar ilmiah"/><title type='text'>Ringkasan Buku Confessiones St. Agustinus Bab 9 (X) – 10 (XXX)</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjH-4Fj_k-Y3fXaTmZ7ofX9ShKGSOafAs3TwnPuFvIXkCZ3W2qlEn24aYqONPWY8zj6RGkkxHZNw89-UzhWvq0IDlB00p3yv0k-9bO3AwS-ejQHI5xkt1sd7TTMGaYsiytC0-58LPECEMF5/s1600/confess.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 400px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjH-4Fj_k-Y3fXaTmZ7ofX9ShKGSOafAs3TwnPuFvIXkCZ3W2qlEn24aYqONPWY8zj6RGkkxHZNw89-UzhWvq0IDlB00p3yv0k-9bO3AwS-ejQHI5xkt1sd7TTMGaYsiytC0-58LPECEMF5/s400/confess.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5539584959672131586&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Kristoforus Sri Ratulayn K.N / 1323009009)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Bab 9 (X-XIII) : Tentang Wafatnya Monika, Sampai Pada Wafatnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Pada bab 9 ini tokoh yang menjadi sorotan adalah Monika. Monika menjadi tokoh utama dalam permenungan Agustinus. Pada bagian ini setiap tahapnya menceritakan aspek penting dari pribadi Monika. Monika ditampilkan sebagai sosok pribadi yang patuh, rendah hati, taat, dan tanpa pamrih.&lt;br /&gt;
Kemudian diceritakan bahwa Agustinus dan Monika tengah dalam perjalanan pulang menuju Tagaste, tempat asal mereka. Saat itu mereka sedang singgah untuk beristiraha di sebuah pelabuhan yang bernama Ostia. Di Ostia sempat terjadi dialog antara Agustinus dengan Monika. Agustinus dan Monika membicarakan tentang kehidupan kekal (Bab 9 X.24-25). Dalam dialog tersebut terungakap bahwa alam fisik, inderawi, dan bahasa sebenarnya tidak diperlukan lagi. Realitas yang sejati, kekal, sempurna, dan tidak berubah dari Allah sesungguhnya merupakan rumah sejati bagi jiwa manusia.&lt;br /&gt;
Dialog tentang keabadian itu semua merupakan sebuah rangkaian yang mengungkapkan kesediaan Monika untuk menghadapi kematiannya. Monika siap menghadapi kematian setelah semua yang ia mimpi-mimpikan terwujud, termasuk agar Agustinus dibaptis menjadi seorang Katolik. Kesadaran bahwa rumah abadi yang sesungguhnya ialah Allah membuat Monika melepaskan juga keinginan terakhirnya, yaitu dikubur bersama jasad suaminya di Afrika (9 XI.27). Sekali-lagi kesadaran Monika itu muncul karena menyadari bahwa rumah sebenarnya adalah di dalam Allah.&lt;br /&gt;
Akhirnya Monika pun meninggal. Agustinus berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar air matanya tidak jatuh menetes namun, semuanya sulit untuk dibendung. Agustinus mencurahkan air matanya. Agustinus berdoa memohon pengampunan dosa untuk Monika. Selain itu, Agustinus juga meminta kepada para pembaca bukunya untuk mengingat orang tuanya dalam setiap doa. Cerita pada bab 9 ini berakhir dengan sebuah peringatan akan pengharapan untuk kembali dari pengembaraan hidup menuju rumah sejati, ke rumah Bapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Bab 10 (I-XXX) Keadaan Jiwa Agustinus Saat Menulis Buku &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Confessiones&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Bab 10 diawali dengan permenungan akan keadaan jiwa Agustinus setelah menjadi soerang Kristen Katolik. Di dalamnya Agustinus mengungkapkan secara panjang lebar mengenai dirinya setelah dibaptis, melakukan perbandingan dengan hidupnya sebelum dibaptis. Tujuannya supaya orang Kristen pun ikut bersyukur dan berdoa bersamanya, karena Allah sungguh Agung.&lt;br /&gt;
Setelah merenungkan keadaan jiwanya, Agustinus pun terheran-terhan bagaimana ia bisa mengenal Allah? Bahwa sesungguhnya Allah bukan benda-benda materi. Dengan demikian untuk bisa mengenal-Nya perlu juga untuk melampaui sesuatu yang materi (10 VI.9). Agustinus berpandangan bahwa manusia mampu mengenal Allah melalui akal budinya (10 VI.10). Akal budi mampu menghantar manusia untuk berabstraksi lebid dalam daripada hanya sekedar sesuatu yang tampak (materi). Akal budi yang bagaimana? Agustinus berusaha naik untuk sampai pada fungsi ingatan.&lt;br /&gt;
Agustinus menjelaskan bahwa dalam ingatan terdapat banyak hal yang tersimpan disana. Menurut Agustinus, ingatan itu sendiri adalah sebuah wahana yang luas tempat banyak hal tersimpan dalam akal budi manusia. Agustinus mengatakan bahwa isi dari ingatan antara lain adalah gambaran dari benda-benda yang tertangkap oleh indera (10 VIII.13), pengalaman masa lalu (10 VIII.14), pengetahuan ilmiah (10 VIII.16) yang pada bagian ini terungkap juga bahwa belajar adalah proses menginga. Kemudian angka-angak juga termasuk isi dari ingatan, nafsu-nafsu jiwa seperti sukacita, kesedihan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
Namun dalam macam-macam isi ingatan tersebut ada juga masalah di dalamnya. Salah satunya adalah mengenai ingatan dan kelupaan. Masalahnya demikian, bila aku ingat kelupaan, maka sekaligus tersedialah ingatan dan kelupaan, ingatan menjadi sarana aku ingat, kelupaan yang kuingat. Bagaimana seseorang bisa berkata bahwa ia lupa, jika dia lupa sebenarnya ia pernah ingat akan sesuatu yang dilupakannya tersebut. Logika di dalamnya sangat membuat kita bingung jika tidak berhati-hati dalam memahaminya.&lt;br /&gt;
Agustinus juga mengangkat pembicaraan tentang Allah dalam ingatan. Berusaha mengenali Allah melalui ingatan. Bagaimana manusia bisa tahu tentang Allah jika sebelumnya mereka tidak mengenal Allah. Hal itu lah yang ingin disampaikan oleh Agustinus melalui konsepnya tentang ingatan. Manusia pun harus melampaui ingatan untuk dapat menemukan Allah. Melampaui berarti mengatasi masalah-masalah yang muncul dari ingatan itu sendiri. &lt;br /&gt;
Tema perbincangan selanjutnya adalah mengenai ingatan dan hidup bahagia. Pertanyaannya adalah dari mana konsep hidup bahagia itu sendiri jika sebelumnya manusia belum mengenali hidup bahagia itu? Apakah kehidupan bahagia itu berada dalam ingatan? Karena memang manusia tidak akan mencintai hidup bahagia itu sendiri jika tidak kenal sebelumnya. Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa sesungguhnya sebelum dilahirkan manusia sudah mengenali konsep hidup bahagia itu sendiri.&lt;br /&gt;
Keinginan untuk hidup bahagia merupakan cita-cita setiap orang. Artinya terjadi keuniversalan keinginan untuk hidup bahagia. Dengan kata lain bisa kita simpulkan bahwa tujuan hidup manusia adalah menjadi bahagia. Lebih dalam, menurut Agustinus kebahagiaan itu ialah menikmati Allah. Bersukacita kepada-Nya, dari-Nya, karena-Nya. Kebahagiaan sejati hanya ada pada Allah.&lt;br /&gt;
Namun yang menjadi permasalahan adalah jika hidup bahagia ialah menikmati Allah berarti belum pastilah semua orang ingin bahagia. Pada kenyataannya Agustinus melihat masih banyak orang yang menolak Allah dalam hidup mereka. Tidak semua orang mau mengambil sukacita dari-Nya. Sesungguhnya sukacita terbit dari kebenaran dan kebenaran itu ialah Allah sendiri. Lantas mengapa manusia terkadang lebih tidak bersukacita karenanya, hal ini lah mengherankan bagi Agustinus.&lt;br /&gt;
Agustinus ternyata menemukan bahwa sesungguhnya manusia akan mencintai kebenaran jika kebenaran itu menampakkan cahayanya. Sedangkan akan membencinya jika kebenaran itu menudingnya. Intinya bagi manusia adalah mana yang menguntungkan dan mengenakkan itulah yang akan mereka pilih.&lt;br /&gt;
Akhirnya Agustinua sampai pada sebuah kesimpulan tentang ingatan. Agustinus menegaskan bahwa Allah benar-benar dalam ingatan. Namun tersimpannya Allah dalam ingatan tidak sama seperti tersimpannya gambaran benda-benda dalam ingatan. Lalu bagaimana Allah datang dalam ingatan? pertannyaan itu sungguh masih menjadi misteri juga bagi Agustinus. Dalam buku 10 ini ia tidak memberikan jawaban dengan pasti tentang pertanyaan itu.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/6247059624383494000/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/11/ringkasan-buku-confessiones-st.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/6247059624383494000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/6247059624383494000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/11/ringkasan-buku-confessiones-st.html' title='Ringkasan Buku Confessiones St. Agustinus Bab 9 (X) – 10 (XXX)'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjH-4Fj_k-Y3fXaTmZ7ofX9ShKGSOafAs3TwnPuFvIXkCZ3W2qlEn24aYqONPWY8zj6RGkkxHZNw89-UzhWvq0IDlB00p3yv0k-9bO3AwS-ejQHI5xkt1sd7TTMGaYsiytC0-58LPECEMF5/s72-c/confess.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-8044113396848728480</id><published>2010-10-03T23:41:00.000-07:00</published><updated>2010-10-03T23:44:46.226-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat Jawa"/><title type='text'>Konsep Keselarasan / Harmoni Dalam Budaya Masyarakat Jawa</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgiNJ0cKHkZ2-8kDYpyPlNMjcTaHIRwDQf1Hx79GvkoENG0-XVLqbbkorMsS3Fa65dR5PzTFaFXviAQlUOA4daqV7GTOhY2_xtgKsgmdISLDvB5DKNArclLav6H6MVrkWRIxNt6XESjGFBS/s1600/images.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 194px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgiNJ0cKHkZ2-8kDYpyPlNMjcTaHIRwDQf1Hx79GvkoENG0-XVLqbbkorMsS3Fa65dR5PzTFaFXviAQlUOA4daqV7GTOhY2_xtgKsgmdISLDvB5DKNArclLav6H6MVrkWRIxNt6XESjGFBS/s400/images.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5524078137063989490&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kristoforus Sri Ratulayn K.N&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;I.  Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Pada dasarnya setiap daerah memiliki kebudayaannya masing-masing dan unik. Lebih lanjut bahwa kebudayaan menjadi ciri khas dari sebuah daerah. Kebudayaan memang nyatanya adalah hasil dari pola hidup masyarakat tertentu yang diwariskan secara turun temurun. Sebagai sebuah warisan yang secara turun temurun diwariskan, maka tidak mengherankan hal setiap dilakukan dan dipikirkan seseorang cenderung dilatarbelakangi oleh budaya yang ada dalam masyarakat tempat ia tinggal. Misalnya, seorang mengadakan tirakatan karena memang sejak kecil di tempat daerah tinggalnya masyarakat selalu melakukan tirakatan pada saat-saat tertentu.&lt;br /&gt; Melihat penjelasan di atas, bisa kita katakan bahwa budaya sungguh memegang peranan penting dalam dinamika hidup sebuah masyarakat. Dalam artian kemajuan atau malah kemunduran dalam berbagai segi hidup masyarakat sangat ditentukan oleh bagaimana budaya masyarakat tersebut. Masayarakat akan mengalami kemajuan jika budaya yang ada di dalamnya mengandung nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang luhur dan universal. Misalnya, nilai cinta kasih, keadilan, kepedulian terhadap sesama, dll. Sedangkan sebaliknya, masyarakat akan mengalami kemunduran atau kerusakan jika dalam budayanya tidak mengandung nilai-nilai kebaikan dan kebenaran secara universal.&lt;br /&gt; Kebudayaan yang ada dalam sebuah masyarakat biasanya atau kebanyakan terungkap dalam simbol, cerita-cerita bijak, pepatah-pepatah, dan masih banyak lagi bentuknya. Sebagai contoh dalam masyarakat Jawa terdapat pepatah nasehat yang berbunyi Ing Karsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Sebuah nasehat yang intinya mengajarkan bagaimana seseorang hendaknya membangun sebuah keutamaan dalam setiap posisi dalam hidupnya. Melihat bentuk-bentuk budaya yang ada tersebut, kemudian memunculkan pertanyaan dalam diri saya. Sesungguhnya adakah sebuah konsep inti (nilai pusat) dalam sebuah kebudayaan? Konsep inti yang menjadi sumber atau nilai terdalam yang menjadi arah bagi setiap bentuk kebudayaan dalam sebuah masyarakat.&lt;br /&gt; Akhirnya pencarian saya pusatkan pada masyarakat Jawa, yaitu tempat di mana saya hidup dan berkembang. Kemudian saya mendapatkan sebuah konsep metafisis yang kurang lebih layak disebut sebagai nilai dasar bagi setiap kebudayaan masyarakat Jawa. Konsep tersebut adalah tentang &quot;keselarasan&quot; atau &quot;keharmonisan&quot; dalam masyarakat Jawa.        &lt;br /&gt; Tulisan ini berjudul Konsep Keselarasan / Harmoni Dalam Budaya Masyarakat Jawa. Pada tulisan ini secara khusus saya akan mengulas apa itu konsep keselarasan dalam budaya masyarakat Jawa? Lalu mengapa konsep keselarasan menjadi sangat sentral dalam budaya masyarakat Jawa? dan bagaimana konsep keselarasan itu tertuang dalam praktek hidup sehari-hari masyarakat Jawa?. Saya memilih untuk mengamati konsep keselarasan karena memang inti dari kebudayaan dalam masyarakat Jawa (dalam hal metafisis) adalah keselarasan atau keharmonisan. Sedangkan mengapa lebih memilih mengamati budaya masyarakat Jawa adalah karena memang Jawa lah yang sungguh relevan dengan keberadaan diri saya sekarang ini.&lt;br /&gt; Tulisan ini memfokuskan pencariannya akan konsep keselarasan atau keharmonisan dengan menganalisis dua nilai dasar yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa. Lebih dalam lagi karena dalam dua nilai itulah konsep tentang keselarasan termuat secara jelas dan gamblang. Pertama, nilai rukun. Masyarakat Jawa memegang teguh bahwa rukun merupakan sebuah kondisi untuk mempertahankan kondisi masyarakat yang harmonis, tentram, aman, dan tanpa perselisihan. Kedua, rasa hormat. Nilai ini berkaitan erat dalam hubungannya dengan orang lain, dengan kata lain mencakup relasi sosial. Lebih dalam bahwa dalam masyarakat Jawa terdapat sebuah hirarki yang membatasi mereka untuk bersikap kepada orang lain. Misalnya, hubungan antara orang tua-anak dan antar teman sebaya.&lt;br /&gt; Dalam konteks Filsafat, konsep keselarasan atau keharmonisan lebih condong masuk ke dalam Filsafat Timur. Filsafat Timur isinya lebih menekankan pada ajaran mengenai jalan hidup, langsung berupa bentuk-bentuk praktis tuntunan hidup, dan tidak terlalu abstrak seperti dalam Filsafat Barat. Bentuk dari Filsafat Timur berupa cerita-cerita mitos, nasehat-nasehat, dan sering pula berhubungan dengan agama. Hal ini lah yang akan banyak kita temui dalam pembahasan konsep keselarasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;II.  Masyarakat Jawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Pada bagian ini kita terlebih dahulu harus menyamakan persepsi tentang siapa masyarakat Jawa yang dimaksud dalam tulisan ini. Sebenarnya secara de facto yang disebut masyarakat Jawa adalah mereka yang hidup, besar, dan tinggal dipulau Jawa. Namun pendasaran ini kurang begitu tepat ketika melihat realitas bahwa orang Jakarta dan Jawa Barat kurang suka disebut orang Jawa. Maka pendasaran penentuan yang kita gunakan adalah berdasarkan bahasa. Dengan demikian masyarakat Jawa adalah mereka semua yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa dalam hidup sehari-hari. Masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa adalah sebagian besar di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur &lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;III.  Pergumulan terhadap Keselarasan / Harmoni Jawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Konsep keselarasan atau keharmonisan sebenarnya tidak begitu nampak secara nyata dalam perilaku hidup sehari-hari masyarakat Jawa. Namun, prinsip keselarasan itu lebih pada konsep metafisis yang menjiwai seluruh dinamika masyarakat Jawa. Bagikan sebuah titik yang dari padanya menyinari segala proses dinamika atau tindakan masyarakat Jawa semua. Lebih dalam bisa kita katakan bahwa keselarasan merupakan inti dari seluruh budaya Jawa. Hal ini ditegaskan lebih ditegaskan oleh Mulder dalam bukunya Kebatinan Dan Hidup sehari-hari Orang Jawa bahwa cita-cita masyarakat Jawa pada hakekatnya adalah masyarakat yang harmonis (Mulder, 1983).&lt;br /&gt;  Bagi orang Jawa, keselarasan sosial atau keharmonisan merupakan sebuah rangkaian besar agar terjadinya kesejahteraan hidup bersama. Karena kesejahteraan terikat secara mutlak pada keselarasan sosial, antara sesama yang Ilahi, alam dan sesama manusia. Dengan demikian menjadi jelaslah peran penting dari keselarasan sosial.&lt;br /&gt; Dalam memahami konsep keselarasan kita akan berangkat dari dua nilai yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa. Nilai-nilai tersebut adalah rukun dan rasa hormat. Kedua nilai inilah yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa dalam dinamika hidup sehari-hari. Lebih kontekstual lagi dengan tema keselarasan adalah bahwa dalam kedua nilai inilah konsep keselarasan dibahas dengan jelas. Menurut Geertz, prinsip rukun dan hormat dalam masyarakat Jawa merupakan kaidah dasar yang paling menentukan dalam pola hidup masyarakat Jawa.&lt;br /&gt; Pertama, nilai rukun. Masyarakat Jawa memegang teguh bahwa rukun merupakan sebuah kondisi untuk mempertahankan kondisi masyarakat yang harmonis, tentram, aman, dan tanpa perselisihan. Masyarakat jawa berusaha sebisa mungkin menjaga kerukunan dalam lingkungannya. Berusaha bagaimana terjadinya keharmonisan dalam masyarakat luas. Perlu menjadi catatan penting bahwa individu dipandang tidak terlalu penting dalam kedudukan sosial. Individu harus selalu berusaha mementingkan sosial yang lebih luas dan bukan pribadinya sendiri. Setiap pribadi dituntu sikap untuk tidak mengacaukan keseimbangan sosial demi ambisi atau kepentingannya pribadi. Selain itu juga dituntutlah sebuah sikap yang sering disebut nrimo dalam setiap masyarakat Jawa. Dalam artian setiap individu harus punya sikap pasrah terhadap sebuah kekuatan yang lebih tinggi, menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari masyarakat luas (Mulder, 1983).&lt;br /&gt; Kerukunan dengan alam dan lingkungan masyarakat oleh masyarakat Jawa dipandang mampu membawa ketenteraman, kenyamanan, dan kedamaian hidup. Inti prinsip kerukunan adalah tuntutan untuk mencegah segala kelakuan yang bisa menimbulkan konflik terbuka (Magnis, 1988). Dengan demikian akan mampu mewujudkan kesejahteraan bersama dalam dinamika hidup sehari-hari. Secara sederhana, indikator kerukunan adalah ketika semua pihak dalam kelompok berdamai satu sama lain.&lt;br /&gt; Kedua, rasa hormat. Nilai ini berkaitan erat dalam hubungannya dengan orang lain, dengan kata lain mencakup relasi sosial. Lebih dalam, bahwa dalam masyarakat Jawa terdapat sebuah hirarki yang membatasi mereka untuk bersikap kepada orang lain. Prinsip hormat berhubungan erat dengan masyarakat yang teratur secara hirarkis. Misalnya, hubungan antara orang tua-anak dan antar teman sebaya. Dalam masyarakat Jawa hal tersebut telah terungkap jelas melalui bahasa yang mereka gunakan untuk menyebut atau berbicara dengan orang yang lebih tua.&lt;br /&gt; Langkah pertama yang harus dilakukan oleh masyarakat Jawa dalam mengembangkan sikap hormat ini adalah mempunyai kesadaran akan kedudukan sosialnya. Masyarakat Jawa sejak dini telah menanamkan kesadaran akan kedudukan social ini kepada anak-anaknya. Penanaman kesadaran ini terungkap secara langsung dalam berberapa bentuk sikap, yaitu wedi, isin, dan sungkan. Sikap wedi yang berarti takut pertama-tama ditanamkan untuk orang-orang yang harus dihormati. Selanjutnya sikap isin berarti malu ádalah langkah pertama ke arah kepribadian Jawa yang matang (Magnis, 1988). Sikap isin ini berarti malu terhadap kesalahan, malu jika tidak menghormati orang yang pantas dihormati, dan sebagainya. Kemudian sikpa sungkan yang sebenarnya erat sekali dengan sikap malu, sungkan mempunyai makna yang lebih positif. Wedi, isin,dan sungkan merupakan sebuah sikap yang berkesinambungan yang mempunyai fungsi sosial untuk mendukung psikologis terhadap tuntutan-tuntutan prinsip hormat. &lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;IV. Menggosip = Menjaga Keselarasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Pembahasan bagian ini sedikit menampilkan sebuah fenomena yang menunjukkan bagaimana pelaksanaan prinsip keselarasan dalam masyarakat Jawa, yaitu menggosip. Sebuah fenomena yang dalam realitas hidup banyak mendapat sorotan negatif dari masyarakat luas. Karena menurut kebanyakan orang gosip dianggap sebagai sesuatu yang tidak jelas dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tindakan menggosip hanya membentuk masyarakat menjadi manusia-manusia yang penuh kemunafikan. Menggosip adalah cerminan masyarakat yang tidak beradab.&lt;br /&gt;Saya sengaja mengangkat fenomena ini agar masyarakat luas yang mengkritik gosippun melihat sisi lain dari fenomena budaya menggosip. Dengan kata lain mencoba menampilkan secara fenomenologi fenomena menggosip. Artinya memberi kesempatan budaya tersebut untuk menunjukkan alasan atau makna yang ada dibaliknya. Bagi masyarakat Jawa budaya menggosip sendiri ternyata punya maksud yang baik di baliknya.&lt;br /&gt;Menggosip adalah tindakan membicarakan sesuatu di belakang sesuatu yang bersangkutan tersebut. Biasanya memang sesuatu itu sendiri adalah orang lain. Jadi membicarakan orang lain di belakang orang yang bersangkutan. Menggosip dilakukan biasanya ketika ada sesuatu yang tidak beres dalam masyarakat itu sendiri. Misalnya, menggosipkan tetangganya yang kemungkinan mempunyai istri simpanan.&lt;br /&gt;Bagi masyarakat Jawa, secara lugas bisa dikatakan bahwa menggosip adalah usaha mereka untuk menjaga keselarasan atau keharmonisan. Misalnya menggosip ketika tetangganya mempunyai istri simpanan. Mereka menggosip karena merasa resah, kawatir, dan tidak nyaman dengan apa yang dilakukan tetangganya tersebut. Karena mereka melihat apa yang tetangganya tersenut lakukan bertentangan dengan apa yang menjadi ketetapan dihadapan Allah mereka. Mereka merasa takut apa yang tetangganya lakukan itu berdampak pada diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;Masyarakat Jawa menganggap sesuatu yang dilakukan tetangganya tersebut telah melanggar keselarasan atau keharmonisan. Akhirnya muncul sebuah keresahan di dalam batinnya. Keresahan itu akhirnya terungkap dengan menggosip dengan tetangga lainnya yang merasa resah juga dengan perbuatan tetangganya tersebut. Mengapa harus dengan menggosip? Sekali lagi itu juga upaya mereka menjaga keselarasan, karena mereka tidak ingin menimbulkan konflik jika mereka mengungkapkan keresahan mereka secara langsung. Dalam pemahaman mereka ketika keresahan mereka diungkapkan secara langsung, hal tersebut akan sangat rawan memicu munculnya konflik. Konflik terjadi apabila orang tersebut tidak terima dengan apa yang mereka ungkapkan.&lt;br /&gt;Kemudian ketika apa yang mereka gosipkan menjadi kenyataan, yaitu bila terjadi bencana terhadap tetangganya yang melanggar keharmonisan hal itu akan semakin menguatkan anggapan mereka. Menguatkan bahwa apa yang tetangganya alami adalah akibat dari perbuatan tetangganya yang melanggar keselarasan kosmos. Mereka akan berkata “ya benarkan? Itulah akibat dari perbuatannya”.&lt;br /&gt;Pada akhirnya bisa kita tegaskan kembali menggosip sebagai wujud masyarakat Jawa dalam menjaga keselarasan dengan dunia. Mereka resah jika ada sesuatu yang tidak beres dalam masyarakat. Lebih lanjut karena memang kehidupan masyarakat Jawa erat kaitannya dengan hubungan sosial dengan sesama dan dengan yang kosmik atau kekuatan di luar diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;V. Tanggapan Kritis atas Konsep Keselarasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Layaknya segala hal di muka bumi ini yang selalu mengandung sisi positif dan sisi negatif. Begitu pula dengan konsep keselarasan yang sekilas nampaknya indah dan baik itupun tidak bisa lepas juga dari sisi-sisi negatif di dalamnnya. Berikut ini saya mencoba untuk menampilkan beberapa dampak negatif yang muncul dari konsep keselarasan:&lt;br /&gt; Pertama, konsep keselarasan yang ada dalam masyarakat Jawa membentuk masyarakat Jawa menjadi manusia-manusia konformis. Konformis maksudnya orang lebih cenderung bersikap pasif terhadap keadaan yang sebenarnya tidak ia kehendaki.  Orang konformis selalu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan namun dengan selalu kehilangan jatidirinya. Dengan begitu jelaslah konformis pun berbeda dengan adaptasi. Adaptasi adalah proses menyesuaikan diri dari seseorang namun dengan tetap mempunyai prinsip dalam diri yang tidak bisa dikurbankan dalam proses penyesuaiannya.&lt;br /&gt;Seseorang hanya pasrah terhadap keadaan yang menimpanya. Akhirnya orang tidak lagi mampu menjadi dirinya sendiri yang otentik karena selalu menjadi penjilat. Konformis sebagai dampak keselarasan dalam masyarakat Jawa bisa dipertegas lagi dengan mengambil sebuah contoh. Misalnya, karena masyarakat Jawa begitu kuat memperjuangkan sikap untuk mejaga keselarasan akhirnya mereka cenderung untuk menghindari konflik. Orang Jawa kurang berani menegur atau melakukan konfrontasi secara langsung ketika terjadi ketika sesamanya bersalah. Mereka cenderung hanya memendam dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa ketika dihadapan sesamanya yang bersalah. Itulah sifat konformis sebagai dampak dari menjunjung keselarasan.&lt;br /&gt; Kedua, sebenarnya hanya merupakan lanjutan dari sikap konformis, yaitu membentuk masyarakat yang penuh kemunafikan. Secara lugas argumen mengenai dampak kedua ini adalah karena selalu menjaga keselarasan dan keharmonisan membuat orang Jawa cenderung menghindari konflik. Akhirnya seseorang cenderung menyimpannya dalam batin tanpa pernah mengungkapkan secara langsung kepada orang bersangkutan. Seoalah-olah dihadapan orang yang bersangkutan semua baik-baik saja. Cara satu-satunya yang akhirnya muncul juga dalam rangka menjaga keseklarasan adalah melakukan gosip atau ngrasani dengan orang yang lebih dekat dengan mereka, biasanya tetangga sekitar rumah mereka sendiri. Dengan demikian orang Jawa menjadi penuh dengan kemunafikaan dan bermental penjilat.&lt;br /&gt; Ketiga, Konsep keselarasan lebih banyak bertentangan dengan hukum positif dan upaya bisnis masyarakat Jawa itu sendiri. Secara umum, bagi masyarakat Jawa prinsip keselarasan kedudukannya mampu mengalahkan hukum positif atau hukum yang dibuat oleh manusia. Hal tersebut bisa dimaklumi karena memang seperti yang telah kita bahas di atas bahwa keselarasan. Namun memang kritik ini kurang begitu relevan ketika kita melihat realitas masyarakat Jawa saat ini. Masyarakat Jawa saat ini sudah sungguh menyadari pentingnya hukum positif yang mengatur nilai-nilai moral yang ada di dalamnya. Namun masyarakat Jawa pada dasarnya tidak boleh menghiraukan prinsip keselarasan.&lt;br /&gt; Kritik selanjutnya terhadap prinsip keselarasan yang dijunjung masyarakat Jawa adalah kedilemaan ketika berhadapan dengan pola bisnis. Dalam artian, kita semua mengetahui bahwa bisnis berorientasi pada keuntungan / laba / profit. Lebih lanjut bahwa terkadang dalam bisnis terjadi persaingan sengit antara satu dengan yang lain. Hal-hal tersebut jelaslah bertentangan dengan prinsip keselarasan dalam masyarakat Jawa dalam dinamika hidup bersama. Konsep keselarasan masyarakat Jawa yang lebih cenderung mengedepankan terciptanya ketenteraman dan jauh dari keinginan untuk melakukan persaingan. Karena persaingan sendiri mulai mengarah kepada sebuah perselisihan dan itu lah yang harus dihindari menurut prinsip keselarasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;VI.  Pustaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Greetz, H. The Javanese Family. A Study of Kindship and Sicialization, The Free press of Glencoe.&lt;br /&gt;Mulder, N. Kebatinan Dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa. Jakarta: Gramedia. 1983.&lt;br /&gt;Suseno, F.M. Etika Jawa Sebuah Analisis Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/8044113396848728480/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/10/konsep-keselarasan-harmoni-dalam-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/8044113396848728480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/8044113396848728480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/10/konsep-keselarasan-harmoni-dalam-budaya.html' title='Konsep Keselarasan / Harmoni Dalam Budaya Masyarakat Jawa'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgiNJ0cKHkZ2-8kDYpyPlNMjcTaHIRwDQf1Hx79GvkoENG0-XVLqbbkorMsS3Fa65dR5PzTFaFXviAQlUOA4daqV7GTOhY2_xtgKsgmdISLDvB5DKNArclLav6H6MVrkWRIxNt6XESjGFBS/s72-c/images.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-4709039552864163368</id><published>2010-10-03T23:37:00.000-07:00</published><updated>2010-10-03T23:39:36.630-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat Pendidikan"/><title type='text'>Teori Pendidikan: Teori Pengembangan  Konstruktivisme Sosial  Lev Vygotsky (1896-1934)</title><content type='html'>(Kristoforus Sri Ratulayn K.N / 1323009009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;I. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Pendidikan pada zaman ini memegang peran yang sentral dalam hidup manusia. Karena dengan pendidikan, dalam hal ini pendidikan formal, mampu membantu seseorang untuk dengan mudah memperoleh pengetahuan yang logis dan sistematis. Dengan melihat betapa penting dan sentralnya pendidikan dalam rangka mendidik anak-anak bangsa, maka perlulah untuk menyambut dengan penuh penghargaan bagi mereka yang telah dengan rela memfokuskan perhatian kepadanya. Perlu juga untuk mengusahakan bagimana metode pendidikan yang sesuai dan efektif bagi pengembangan kognitif anak.&lt;br /&gt; Filsafat pendidikan adalah sebuah cabang dalam filsafat secara umum. Filsafat pendidikan memberikan pendasaran bahwa kata pendidikan / education, menurut bahasa aslinya, Latin, Educere mempunyai makna membantu untuk mengembangkan, memajukan, dan atau menumbuhkan. Filsafat pendidikan memaknai bahwa pengetahuan adalah sebuah keadaan ketika seseorang mampu menciptakan model dalam pikirannya tentang objek yang telah dilihatnya. Maka ketika objek itu telah tidak ada dihadapannya sekalipun orang tersebut masih mempunyai konsep model benda tersebut dalam pikirannya.     &lt;br /&gt;Dalam mata kuliah filsafat pendidikan dijabarkan pendasaran mengenai yang Paper ini berjudul Teori Pendidikan: Teori Pengembangan Konstruktivisme Sosial Lev Vygotsky (1896-1934). Masalah utama yang akan dibahas dalam paper ini adalah melihat atau melakukan sebuah pengkajian bagaimana ketika teori Pengembangan Konstruktivisme Sosial Vygotsky  dilihat dengan kacamata filsafat pendidikan mengenai Pendidikan dan Budaya (Education and Culture). Sehingga mungkin ditemukan kesamaan antara keduanya. Tujuannya adalah untuk mencoba bercermin dan memberikan masukan secara tepat dalam menangani pendidikan anak.  &lt;br /&gt; Dalam pembahasan ini terdiri dari beberapa pokok bagian pembahasan. Pertama, kita akan melihat secara menyeluruh tentang teori pengembangan konstruktivisme sosial Vygotsky. Secara definitif, teori Vygotsky merupakan bagian atau cabang dari teori besar konstruktivisme. Pembahasan teori Vygotsky lebih berpusat pada argumen bahwa relasi sosial dengan masyarakat dan budayalah yang membentuk pengetahuan seorang.&lt;br /&gt;Kedua, kita akan melakukan analisis teori pengembangan konstruktivisme social Vygotsky dalam terang filsafat pendidikan. Apakah teori Vygotsky mempunyai kesamaan atau sejalan dengan teori yang ada di dalam filsafat pendidikan?&lt;br /&gt;Akhirnya dalam kesimpulan nanti kita bisa dapatkan sebuah teori Vygotsky ternyata sejalan dengan apa yang ada dalam filsafat pendidikan. Artinya dalam teori Vygotsky pun terdapat beberapa hal yang juga menjadi unsur dalam teori filsafat pendidikan. Misalnya bahwa seorang guru bukanlah seorang yang mahatahu, melainkan dari dialog dan interaksi keduanya lah yang lebih penting untuk terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;II. Latar Belakang Singkat Teori Lev Vygotsky (1896-1934)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lev Vygotsky adalah seorang psikolog yang berasal dari Rusia, dan hidup pada masa revolusi Rusia. Vygotsky sering juga dihubungkan dengan psikolog Swiss bernama Piaget. Lahir pada masa yang sama dengan Piaget, seorang psikolog yang juga mempunyai keyakinan bahwa keaktifan anaklah yang membangun pengetahuan mereka. Vygotsky meninggal dalam usia yang cukup muda, yaitu ketika masih berusia tigapuluh tujuh tahun. &lt;br /&gt; Antara Vygotsky dan Piaget terdapat persamaan yang mendasar dari teori yang mereka kemukakan. Teori mereka berdua masing-masing merupakan dua cabang dalam teori Konstruktivisme psikologis. Konstruktivisme secara singkat adalah mempunyai argumen bahwa pengetahuan merupakan konstrkusi dari seseorang yang mengenal sesuatu. “Seseorang yang belajar itu berarti membentuk pengertian/pengetahuan secara aktif dan terus-menerus” . Hanya saja yang membedakan dari keduanya adalah Piaget lebih memfokuskan perhatian teorinya pada sudut pandang personal, individu, dan subjektif. Sedangkan Vygotsky lebih pada sosial (socioculturalism).        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;III. Inti Teori Vygotsky&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah sedikit dibahas dalam penjelasan sebelumnya, bahwa Vygotsky lebih menekankan pada peran aspek sosial dalam pengembangan intelektual atau cognitif anak. Vygotsky memandang bahwa cognitif anak berkembang melalui interaksi sosial. Anak mengalami interaksi dengan orang yang lebih tahu.&lt;br /&gt;Secara singkat, Teori Pengembangan Sosial berpendapat bahwa interaksi sosial dengan budaya mendahului. Maksudnya dari relasi dengan budaya membuat seorang anak mengalami kesadaran dan perkembangan kognisi. Jadi intinya Vygotsky memusatkan perhatiannya pada hubungan dialektik antara individu dan masyarakat dalam pembentukan pengetahuan.  Pengetahuan terbentuk sebagai akibat dari interaksi sosial dan budaya seorang anak. &lt;br /&gt;Pengetahuan tersebut terbagi lagi menjadi dua bentuk, yaitu pengetahuan spontan dan pengetahuan ilmiah. Pengetahuan spontan mempunyai sifat lebih kuran teridentifikasi secara jelas dan tidak logis dan sistematis. Sedangkan pengetahuan ilmiah sebuah pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan formal dan sifatnya lebih luas, logis dan sistematis. Kemudian proses belajar adalah sebuah perkembangan dari pengertian spontan menuju pengertian yang lebih ilmiah.&lt;br /&gt;Pengetahuan ilmiah terbentuk dari sebuah proses relasi anak dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini bergantung pada seberapa besar kemampuan anak dalam menangkap model yang lebih ilmiah. Dalam proses ini bahasa memegang peranan yang sangat penting. Bahasa sebagai alat berkomunikasi yang membantu anak dalam menyampaikan pemikirannya dengan orang lain. Dengan demikian diperlukan sebuah penyatuan antara pemikiran dan bahasa. &lt;br /&gt;Seorang anak dalam masa pembelajarannya, idealnya harus mampu memvisulisasikan apa yang menjadi pemikirannya dalam bahasa. Ketika hal tersebut telah mampu terwujud itu berarti ia juga telah mampu menginternalisasikan pembicaraan mereka yang egosentris dalam bentuk berbicara-sendiri. Menurut Vygotsky seorang anak yang mampu melakukan pembicaraan pribadi lebih berpeluang untuk lebih baik dalam hubungan sosial. Karena pembicaraan pribadi adalah sebuah langkah awal bagi seorang anak untuk lebih mampu berkomunikasi secara sosial. Bahasa adalah sebuah bentuk awal yang berbasis sosial. Pandangan Vygotsky ini berkonfrontasi dengan Piaget yang lebih menekankan pada percakapan anak yang bersifat egosentris.&lt;br /&gt;Unsur selanjutnya yang perlu untuk dibahas lebih lanjut adalah mengenai kebudayaan dan masyarakat. Seperti sudah dikatakan pada awal penjelasan tadi, dalam teori Vygotsky, kebudayaan adalah penentu utama perkembangan individu. Kebudayaan sendiri terdiri dari beberapa bentuk, seperti bahasa, agama, mata pencaharian, dan lainnya.    &lt;br /&gt;Dengan demikian, bisa sedikit kita simpulkan bahwa dalam teori Vygotsky berisikan tiga klaim besar. Pertama, bahwa kemampuan kognitif seorang anak mampu mengetahui hanya jika ia analisa dan penafsirannya. Kedua, dikatakan bahwa kemampuan kognitif didapat dengan bantuan kata, bahasa, dan bentuk percakapan. Sebuah bentuk alat dalam psikologi yang membantu seseorang untuk mentransformasi kegiatan mental. Vygotsky berargumen bahwa sejak kecil seorang anak mulai menggunakan bahasa untuk merencanakan setiap aktivitasnya dan mengatasi masalahnya. Ketiga, kemampuan kognitif berasal dari hubungan-hubungan sosial ditempelkan pada latar belakang sosiokultural.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;III. The Zone of Proximal Development (ZPD)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Vygotsky’s term for the range of tasks that are too difficult for children to master alone but that can be mastered with guidance and assistance from adults or more-skilled children” &lt;br /&gt;Salah satu konsep mendasar yang ada dalam teori Vygosky adalah sebuah penjelasan mengenai relasi antara pembelajaran dan perkembangan, yang sering disebut dengan Zone of Proximal Development (ZPD). Kutipan di awal paragraf mungkin bisa membuat kita mampu langsung menangkap apa yang dimaksud dengan zone of proximal development. Secara singkat konsep ini merupakan sebuah wilayah tempat bertemunya pengetahuan spontan anak dengan pengetahuan ilmiah seseorang yang lebih dewasa.&lt;br /&gt;Pengetahuan spontan anak yang bertemu dengan pengetahuan ilmiah orang dewasa akan menghasilkan perkembangan bagi pengetahuan spontan anak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;IV. The More Knowledgeable Other (MKO)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Istilah ini jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi Orang Lain yang lebih tahu. Dari situ kita bisa langsung sedikit menangkap sebuah penjelasan yang terdapat di dalamnya. MKO mengacu kepada siapa saja yang mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dari pelajar, dalam hal ini bisa guru, teman sebaya, atau bahkan computer.&lt;br /&gt;Seorang pelajar perlu berintarksi dengan orang yang mempunyai pengetahun lebih dari dirinya. Karena hal tersebut akan lebih memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan sosial kognitif pelajar tersebut. Sekali lagi, bagi Vygotsky faktor interaksi sosial dengan sesuatu yang lebih kompeten di luar diri menjadi kunci perkembangan kognitif  anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;V. Aplikasi dan Implikasi Teori dalam Pendidikan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Agar pembahasan kita tentang teori Vygotsky lebih mendarat dan langsung terasa bagi usaha pengembangan kognitif. Banyak usaha konkret yang bisa kita lakukan dalam mengaplikasikan teori tersebut, misalnya:&lt;br /&gt;1. Teori Vygotsky menuntut pada penekanan interaksi antara peserta didik dan tugas-tugas belajar. Mengedepankan suatu proses belajar dimana siswa lebih berperan aktif. Dengan demikian peran guru lebih bergeser lebih menjadi fasilitator konstruksi siswa &lt;br /&gt;2. Menggunakan zone of proximal development. Dengan penyesuaian terus menerus &lt;br /&gt;3. banyak menggunakan teman sebaya sebagai guru. Artinya bahwa memang bukan hanya orang dewasa yang mampu membantu seorang anak dalam perkembangan kognitifnya. Karena faktanya memang bahasa teman sebaya lebih mudah untuk dipahami dalam interaksinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;VI. Analisis : Filsafat Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Analisis awal adalah langsung membandingkan inti teori Vygotsky. Hal pertama yang menjadi sorotan kita adalah tentang argumen bahwa interaksi sosial dan budaya lebih berperan dalam pengembangan kognitif anak. Inti penekanan teori Vygotsky adalah bahwa interaksi sosial dengan sesuatu di luar dirinya yang membuat kognitif anak berkembang. Dengan demikian, zone proximal development anak semakin meningkat.&lt;br /&gt; Teori Vygotsky tentang bahasa sebagai alat untuk seseorang dalam mengembangkan kognitif mengalami keselarasan dengan pandangandalam filsafat pendidikan. Dalam filsafat pendidikan pun beranggapan bahwa manusia membutuhkan pendidikan untuk bertahan. Manusia membutuhkan bahasa untuk mampu mendapatkan pengetahuan ia mempelajari bahasa yang berfungsi sebagai alat transformasi pengetahuan tersebut. Lebih dalam bahwa proses transfer ilmu mampu terjadi dengan menggunakan bahasa sebagai sarananya.&lt;br /&gt; Budaya dalam filsafat pendidikan mempunyai dua unsur, yaitu spiritual dan material. Spiritual terdiri dari bahasa, seni, dan agama. Sedangkan unsur material terdiri dari factor genetic, geografis, dan ekonomi. Jika kembali menengok teori Vygotsky, dalam teori tersebut juga dikatakan bahwa bahasa mempunyai peran penting bagi perkembangan anak. Karena bahasa adala sebuah bentuk awal untuk berinteraksi sosial.&lt;br /&gt; Kemudian dalam teori Vygotsky terdapat pula beberapa unsur yang menjadi agen perubahan. Artinya seorang anak perlu mendapat bimbingan dari orang lain yang mempunyai pengetahuan yang lebih dari dirinya. Proses pendampingan secara dialektika membantu meningkatkan perkembangan kognitif anak. Pengetahuan anak yang awalnya masih dalam bentuk spontan, berubah menjadi semakin tertata, sistematis dan logis.&lt;br /&gt;  Teori Vygotsky di atas juga mengalami keselarasan dengan teori dalam filsafat pendidikan. Dalam filsafat pendidikan kita bisa menemukan beberapa konsep tentang agen-agen perubahan untuk membantu anak mengembangkan kognitifnya. Agen-agen perubahan dalam filsafat pendidikan adalah keluarga dan negara. Agen-agen perubahan seolah-olah menjadi tombak dalam usaha mengembangkan kongnitif atau intelektual. Peran mereka sangat sentral dalam membantu anak mengolah pengetahuan spontan mereka menjadi pengetahuan yang lebih tertata, sistematis, dan logis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;VII. Kesimpulan&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Pada initinya kita bisa menyimpulkan bahwa dalam teori Vygotsky sedikit banyak telah mengandung banyak unsur yang terdapat dalam filsafat pendidikan, khususnya pokok bahasan pendidikan dan budaya. Jika dalam teori Vygotsky anak perlu berinteraksi dengan budaya. Maka dalam filsafat pendidikan pun dapat kita temukan bahwa bahasa, sebagai hasil budaya juga menjadi sangat sentral bagi berkembangnya kognitif. Bagaimana tidak, bahasa menjadi alat transfer ilmu.&lt;br /&gt;Bererapa konsep dalam filsafat pendidikan juga selaras dengan teori pengembangan kognitif Vygotsky. Filsafat pendidikan telah memberika pendasaran filosofis bagi teori-teori pengembangan intelektual.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/4709039552864163368/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/10/teori-pendidikan-teori-pengembangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/4709039552864163368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/4709039552864163368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/10/teori-pendidikan-teori-pengembangan.html' title='Teori Pendidikan: Teori Pengembangan  Konstruktivisme Sosial  Lev Vygotsky (1896-1934)'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-8474440921945165124</id><published>2010-10-03T23:32:00.000-07:00</published><updated>2010-10-03T23:36:23.682-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah Filsafat Abad Pertengahan"/><title type='text'>William Ockham Sang &quot;Penggoyang&quot;  Kejayaan Masa Skolastik</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgw6yq4v0k9xu5WhjNki1CgIlAvBTsMHyDhiM9ePhdCplAi1CRuBUMAXPaln0oPBAs2YFuS_m48gQRX8i0G5hJdg7bao4_40ftPJJ_GaDypNcS8eEg8oR2Vma4wnBFovAYdF6NI0nIe7PUR/s1600/William_of_Ockham.png&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 271px; height: 361px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgw6yq4v0k9xu5WhjNki1CgIlAvBTsMHyDhiM9ePhdCplAi1CRuBUMAXPaln0oPBAs2YFuS_m48gQRX8i0G5hJdg7bao4_40ftPJJ_GaDypNcS8eEg8oR2Vma4wnBFovAYdF6NI0nIe7PUR/s400/William_of_Ockham.png&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5524075490031037634&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;(Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara / 1323009009)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Usaha untuk mempersatukan iman dan akan budi merupakan sebuah hal yang khas dalam sejarah filsafat abad pertengahan. Usaha ini mencapai puncaknya dalam era kehidupan Thomas Aquinas atau lebih sering dikenal dengan Skolastik. Jika mau melihat lebih detail, sejarah filsafat abad pertengahan terbagi dalam beberapa jenis dan periode. Periode paling awal adalah masa patristik atu lebih dikenal dengan nama bapa-bapa bangsa. Selanjutnya masa pra-skolastik, Arab, Yahudi, Skolastik, Pasca Skolastik, dan Neo-skolastik.&lt;br /&gt; Tulisan ini akan berfokus pada masa pasca skolastik, khususnya menyoroti salah satu tokoh yang ada di dalamnya. Tokoh yang akan kita amati adalah William Ockham. Kita akan melihat bagaimana William Ockham dengan teorinya pisau cukurnya turut berperan besar dalam masa ini, pasca skolastik. Lebih dalam ingin melihat bagaimana Ockham &quot;mengoyang&quot; kejayaan masa skolastik dengan metode filsafatnya. &lt;br /&gt; Kemudian untuk susunan pembahasannya, pertama kita akan menguraikan tentang kejayaan masa skloastik, setelah itu baru melihat Ockham dengan metode pisau cukurnya menggoyang kejayaan masa skolastik tersebut. Sebelumnya pun perlu kita ketahui bahwa masa pasca skolastik adalah masa di mana terjadinya kemunduran dari masa skolastik. Kemunduran atas usaha besar penggabungan antara iman dan akal budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kejayaan Masa Skolastik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Seperti sudah sedikit dibahas pada pengantar, ciri khas sejarah filsafat abad pertengahan ialah kentalnya usaha dalam penggabungan iman dan akal budi. Lebih dalam mengusahakan bagaimana iman mampu dipertanggungjawabkan secara logis, kritis, sistematis, dan rasional. Filsafat banyak digunakan untuk membantu menjelaskan teologi akan iman yang dihayati. Bahkan sampai muncul sebuah ungkapan yang sangat terkenal dalam bahasa Latin, yaitu Philosophia ancilla Teologiae.&lt;br /&gt; Kekhasan penggabungan iman dan akal budi dalam filsafat abad pertengahan mencapai puncaknya pada masa skolastik, dengan tokohnya yang sangat terkenal sepanjang sejarah, dialah Thomas Aquinas. Kebesaran Thomas Aqunias membuatnya menjadi icon sejarah filsafat abad pertengahan. Artinya, jika berbicara mengenai filsafat abad pertengahan, tidak bisa dilepaskan dari sosok ini. Karena Thomas mampu membuat sebuah sintesis besar antara iman dan akal budi, dan akhirnya mampu menjelaskan iman yang terbaik.  Semuanya terangkum dalam dua bukunya yang sangat terkenal Summa Teologiae dan Summa Contra Gentiles.&lt;br /&gt; Awalnya, oleh otoritas saat ini, terjadi pelangarang untuk membaca dan mengajarkan karya-karya Aristoteles. Namun dengan diam-diam Thomas Aquinas membaca dan mempelajari karya-karya Aristoteles. Hingga pada akhirnya, dengan kecemerlangannya, Thomas Aquinas mampu membuktikan bahwa tidak semua ajaran Aristoteles bertentangan dengan teologi kristiani. Salah satunya konsep tentang Potentia dan Actus.  Aquinas malah memakainya dalam usaha membuktikan keberadaan Tuhan, yaitu bahwa Tuhan adalah penggerak utama yang tidak digerakkan. Pembuaktian tersebut lebih sering dikenal sebagai lima jalan pembuktian keberadaan Tuhan. Lebih lanjut, tidak mengelakan lagi sebagai konsekuensi logisnya, muncul pula konsep-konsep besar di dalamnya. Sebagai contoh seperti konsep keilahian, ketuhanan, kemanusiaan, dan masih banyak lagi. Konsep-konsep seperti inilah yang akan &#39;&#39;digoyang&#39;&#39; oleh William Ockham, dan akan kita lihat lebih lanjut nanti. Dengan demikian semakin nyatalah kejayaan masa skolastik dengan Thomas Aquinas sebagai iconnya.   &lt;br /&gt; Masa skolastik dalam sejarah filsafat abad pertengahan ditandai dengan mulai munculnya banyak universitas. Sebuah tempat dimana semua bidang ilmu masuk di dalamnya dan dipelajari. Sekolah-sekolah jaman skolastik mempunyai ciri khas metode lectio dan disputatio dalam pengajarannya. Singkatnya lectio berarti kegiatan membaca untuk memahami sebuah teks. Kemudia disputatio berati sebuah proses dialektika yang terjadi dalam pelajaran, yaitu di mana salah seorang mengungkapkan pengetahuannya dan ditanggapi oleh peserta lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pisau Cukur Ockham (Ockham&#39;s Razor) sebagai Penggoyang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Konsep yang paling terkenal dari  metode pisau cukur Ockham ini adalah &quot;entities should are not be multiplied beyound necessity or Don&#39;t multiply entities beyond necessity&quot;.  Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti bahwa entitas tidak boleh diperbanyak melebihi kebutuhan. Intinya ingin mengatakan bahwa dalam menganalisis segala sesuatu gunakanlah prinsip yang paling sederhana dan mampu menjelaskannya dengan lengkap.&lt;br /&gt; Pisau cukur Ockham sering juga disebut sebagai prinsip parsimoni. Sebuah metode yang lebih mengarahkan ke arah kesederhanaan dalam membangun teori-teorinya. Prinsip kesederhanaan sangat sentral dalam tema filsafat Ockham. Ockham menggunakan metode pisau cukurnya untuk membuang hipotesis-hipotesis yang tidak pasti (unnecessity). Sejalan dengan makna yang terkandung dalam fungsi sebuah pisau cukur, yaitu menyederhanakan, memotong bagian-bagian sehingga menjadi sederhana.&lt;br /&gt; Hal tersebut secara langsung juga menunjukkan bahwa Ockham seorang nominalis. Ockham berargumen bahwa &quot;yang universal tidak mempunyai eksistensi di luar pikiran, universal hanyalah sebuah nama yang orang gunakan untuk mengarahkan pada kelompok dari individu atau bagian dari individu&quot;.  Ockham berpendapat bahwa kita tidak membutuhkan segala sesuatu yang universal untuk menjelaskan segala sesuatu.    &lt;br /&gt; Lebih jelas, bisa kita terjemahkan Ockham ingin mengatakan kita tidak perlu membicarakan sesuatu yang necessity jika kita tidak mampu menjelaskannya. Sekali lagi karena memang sesuatu yang unversal itu tidak ada, yang ada hanya individu. Sebagai contoh misalnya konsep humanity yang terkandung dalam manusia. Jika mendengar konsep tersebut, ia pasti akan mengatakan bahwa itu hanya ada dalam pikiran manusia, yang nyata hanyalah masing-masing individu. &lt;br /&gt; Dengan demikian bukanlah humanity yang ada, melainkan misalnya Kristo sebagai individu. Akhirnya di situlah letak bahwa metode pisau cukur, ia gunakan untuk memotong segala sesuatu yang universal menjadi sederhana.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/8474440921945165124/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/10/william-ockham-sang-penggoyang-kejayaan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/8474440921945165124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/8474440921945165124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/10/william-ockham-sang-penggoyang-kejayaan.html' title='William Ockham Sang &quot;Penggoyang&quot;  Kejayaan Masa Skolastik'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgw6yq4v0k9xu5WhjNki1CgIlAvBTsMHyDhiM9ePhdCplAi1CRuBUMAXPaln0oPBAs2YFuS_m48gQRX8i0G5hJdg7bao4_40ftPJJ_GaDypNcS8eEg8oR2Vma4wnBFovAYdF6NI0nIe7PUR/s72-c/William_of_Ockham.png" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-640826917902958937</id><published>2010-10-03T23:27:00.000-07:00</published><updated>2014-09-29T08:29:25.154-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Etika"/><title type='text'>Keterikatan Manusia Terhadap Hukum Kodrat St. Thomas Aquinas</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhl3CgOyRe_BofRwYcDQ3G2A_-rvz_bs4Cg5nG8WG6JoY7YtXwDTJRqZVGdfweL84Fu27pU4OBDDeyG1plaBtG98eUWcRCJnFsepL_0ezRkars7hPQr49jLVcnDILvNcYxOdeNwCVZpv5QV/s1600/hukum.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhl3CgOyRe_BofRwYcDQ3G2A_-rvz_bs4Cg5nG8WG6JoY7YtXwDTJRqZVGdfweL84Fu27pU4OBDDeyG1plaBtG98eUWcRCJnFsepL_0ezRkars7hPQr49jLVcnDILvNcYxOdeNwCVZpv5QV/s400/hukum.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5524074487789324738&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Kristoforus Sri Ratulayn K.N&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teori hukum kodrat merupakan sebuah konsep yang telah dirumusakan oleh St. Thomas Aquinas dalam ajarannya mengenai etika. Sebenarnya jika mau ditelusuri lebih jauh hukum kodrat sudah mulai ada sejak jaman Yunani Kuno dengan Aristoteles sebagai tokoh yang pertama mengajarkannya. Namun, pada masa Abad Pertengahan St. Thomas Aquinas mencoba merumuskan kembali konsep hukum kodrat tersebut.&lt;br /&gt;
Ajaran St. Thomas Aquinas mengenai etika sangat berpengaruh kuat sampai saat ini. Pengaruh itu terasa sangat kuat khususnya dalam agama Katolik. Ajaran Gereja Katolik mengenai etika banyak mendasarkan diri pada teori hukum kodrat St. Thomas Aquinas. Fenomena kuatnya pengaruh tersebutlah yang kiranya menarik untuk mendapat sorotan tersendiri. Sebenarnya sejah mana manusia terikat oleh teori etika hukum kodrat yang diajarkan oleh St. Thomas Aquinas?&lt;br /&gt;
Fenomena itu semakin menarik untuk dibahas ditengah dunia yang memang saat ini banyak disuarakan isu-isu mengenai kebebasan manusia sebagai seorang individu. Aura kebebasan yang dalam sejarahnya dimulai dari masa filsafat modern, yang sangat mengedepakan kebebasan individu. Manusia berusaha melepaskan diri dari kungkungan adat, agama, dan berbagai hal lain yang membelenggu mereka dalam berpikir dan mengekspresikan diri. Lantas bagaimana sebenarnya keterikatan manusia terhadap hukum kodrat?&lt;br /&gt;
Tulisan saya kali ini akan mencoba mengulas mengenai keterikatan manusia terhadap teori hukum kodrat St. Thomas Aquinas. Dengan kata lain mencoba melihat sebenarnya seberapa besar keterikatan manusia terhadap hukum kodrat. Saya ingin menjawab pertanyaan apakah hukum kodrat itu mengikat manusia secara mutlak dan universal? Lalu seberapa besar daya ikat itu sendiri? Kemudian apa akibat yang dialami manusia jika ia melanggar hukum kodrat?&lt;br /&gt;
Namun, sebelum menjawab pertannyaan-pertanyaan di atas tadi, saya akan menampilkan ulasan secara mendetail sebenarnya apa dan bagaimana teori hukum kodrat dari St. Thomas Aquinas. Karena  dengan melihat teori hukum kodrat dari St. Thomas Aquinas, akan semakin memudahkan kita dalam membedah masalah keterikatan manusia terhadapnya. Bagian selanjutnya saya akan melakukan analisis fenomena-fenomena yang terjadi dalam diri manusia dalam terang teori hukum kodrat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hukum Kodrat St. Thomas Aquinas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut St. Thomas Aquinas, definisi dari hukum itu sendiri adalah &quot;pengaturan akal budi demi kepentingan umum yang dipermaklumkan oleh yang bertugas memelihara masyarakat&quot;.  Sedangkan menurut pandangan tradisional, hukum kodrat adalah sesuatu yang tetap, tidak berubah-ubah, bersifat universal, dan mengalami keteraturan dengan hukum alam. Ditangan St. Thomas Aquinas, yang notabene adalah seorang filosof Kristiani, hukum kodrat dimaknai sebagai partisipasi aktif  makhluk berakal budi dalam hukum abadi.  Hukum abadi tersebut secara singkat adalah kebijaksanaan Allah sendiri sebagai asal-usul dan penentu kodrat ciptaaan. &lt;br /&gt;
Jika kita melihat definisi dari hukum kodarat yang adalah sebuah partisipasi aktif dari akal budi terhadap hukum abadi, maka kita pun perlu melihat terlebih dahulu apa hukum abadi itu sendiri. Hukum kodrat akan semakin mudah untuk kita pahami jika terlebih dahulu kita pun memahami apa itu hukum abadi. Hal ini adalah sebuah konsekuensi logis karena memang hukum kodrat itu sendiri bergantung pada hukum abadi.&lt;br /&gt;
St. Thomas Aquinas, dalam bukunya Summa Theologica quaesiones 91 yang diterjemahkan oleh Franz-Magnis mengatakan bahwa hukum abadi adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&quot;... Sebagaimana kami katakan di atas, hukum itu tidak lain perintah akal budi praktis dari penguasa yang memerintah atas komunitas sempurna [negara]. Nah jelaslah, apabila dunia diperintah oleh penyelenggaraan Ilahi sebagaimana dinyatakan dalam bagian pertama, seluruh komunitas alam semesta diperintah oleh Akal Budi Ilahi. Oleh karena itu, pemerintahan segala hal dalam Allah, penguasa alam semesta, bersifat hukum. Karena pengertian Akal Budi Ilahi tidak berada di bawah [jangkauan] waktu, melainkan bersifat abadi, sesuai Amsal 8:23, maka kesimpulannya bahwa hukum semacam itu harus disebut abadi.&lt;br /&gt;
Pemakluman dilakukan secara lisan atau tertulis, dan hukum abadidipermaklumkan dengan dua cara itu karena baik Sabda Ilahi maupun penulisan Buku Kehidupan adalah abadi...&quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutipan paragraf di atas telah dengan sangat jelas memaparkan apa yang St. Thomas Aquinas maksud dari hukum abadi. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa hukum abadi menurut St. Thomas Aquninas adalah Allah sendiri.&lt;br /&gt;
Teori hukum kodrat jika mau dijabarkan sebenarnya terdiri dari tiga bagian. Pertama, berpijak dari premis awal bahwa segala &quot;sesuatu dalam alam mempunyai tujuan&quot;.  Kemudian dalam konteksnya dengan manusia ditegaskan bahwa apakah dalam hidupnya manusia mendekati tujuan akhirnya atau malah menjauhinya. Tujuan akhir hidup manusia adalah kebahagiaan. Maka menurut St. Thomas Aquinas, dalam hal tujuan akhir ini Tuhan diperlukan untuk membuat gambaran ini menjadi lengkap. &quot;Nilai dan tujuan, oleh karenanya, dikonsepkan sebgai dasar dari kodrat hal-hal itu karena dunia dipercaya sebgai ciptaan yang menuruti rencana ilahi&quot;. &lt;br /&gt;
Jika tujuan akhir hidup adalah kebahagiaan dan Tuhan sebagai Sang Pencipta alam yang mempunyai tujuan maka bisa disimpulkan bahwa kepenuhan kebahagiaan hanya terdapat dalam Tuhan. St. Thomas Aquinas menegaskan bahwa konsep kebahagiaan yang dimaksud Aristoteles masih merupakan kebahagiaan yang belum sempurna. Kebahagiaan yang sempurna ada pada di kehidupan setelah kematian, saat manusia kembali bersatu dengan Tuhan. &lt;br /&gt;
Berdasarkan penjelasan bahwa segala sesuatu mempunyai tujuan, maka perintah dasar moral hidup berdasarkan pada hukum kodrat adalah wajib bertindak ke arah yang baik dan menjauhi yang jahat. Sesudah orang mengerti dan memahami tentang mana yang baik dan mana yang buruk, ia harus selalu mengarahkan dirinya pada apa yang baik. Hukum kodrat membantu seseorang menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.&lt;br /&gt;
Kedua, hukum kodrat membuat konsep adanya dari sesuatu tercampur juga dengan bagaimana seharusnya. Dalam bahasa Inggris perbedaan ini menjadi lebih jelas antara are dan should be. Artinya hidup menurut hukum kodrat tidak lagi hanya sekedar apa adanya kaitanya dengan alam, melainkan sebagai sebuah keharusan alam. Keharusan dengan alam ini menyangkut seperti hukum fisika dan kimia, bahkan kecenderungan impuls seksual.&lt;br /&gt;
Ketiga, teori hukum kodrat mengarahkan pada pertannyaan tentang pengetahuan moral.  Pertanyaan tersebut adalah bagaimana seseorang menentukan apa yang benar dan salah? Hukum kodrat menegaskan bahwa hal &quot;yang benar untuk dilakukan adalah tindakan apa pun yang sesuai dengan pikiran yang paling rasional&quot;. &lt;br /&gt;
Dengan demikian bisa sedikit kita simpulkan bahwa hukum kodrat adalah partisipasi aktif akal budi dalam hukum abadi, Allah sendiri, sebagai penentu kodrat ciptaan-Nya. &quot;Hidup sesuai dengan hukum kodrat berarti hidup sedemikian rupa hingga kecondongan-kecondongan kodrati mencapai tujuan khas masing-masing, tetapi dalam keselarasan menurut pengaturan akal budi&quot;.    &lt;br /&gt;
   &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Manusia Sebagai Subjek Hukum Kodrat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
St. Thomas Aquinas melalui teori hukum kodratnya telah berhasil membangun sebuah etika yang bersifat umum dan universal. Karena memang yang ditekankan adalah tuntutan akal budi atau rasionalitas. Artinya, dalam menentukan setiap tindakannya, manusia harus mendasarkan atau menyertakan pada sebuah pemikiran akal budi (rasio). Manusia harus lepas dari hanya sekedar perasaan suka-tidak suka, enak-tidak enak, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
Lebih lanjut dalam kaitannya hukum kodrat dengan manusia, St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa manusia adalah sebagai sarana yang tepat untuk meluruskan pemahaman yang benar tentang hakikat hukum. Dalam hukum kodrat sebenarnya ingin menampilkan juga bahwa hukum itu bersifat universal, sebab &quot;hukum terbentuk dari akal budi (dalam arti perintah akal budi) yang dimiliki oleh setiap orang&quot;.  Dari sini sudah mulai tampak daya ikat dari hukum kodrat terhadap manusia,yaitu sebuah konsekuensi logis karena hukum kodrat harus berdasarkan akal budi dan hanya manusialah yang mempunyai akal budi rasional.&lt;br /&gt;
Namun, yang menjadi masalah adalah bagimana jika terjadi sebuah fenomena penggunaan akal budi untuk merusak, misalnya membuat bom. Pada intinya pembuat bom tersebut juga menyertakan akal budi dalam perakitannya. Hukum kodrat juga tidak mampu melarangnya untuk tidak membuat bom. Kasus lain lagi mengenai menikah dan tidak menikah. Seseorang menikah sesuai dengan perkembangan organismenya. Namun ternyata dengan pertimbangan akal budinya, ia meyakini bahwa tidak menikah pun sebagai nilai yang baik. Lantas apakah ia pun melanggar hukum kodrat. Siapa yang akan memaksa seseorang wajib untuk menikah? toh nyatanya tidak ada. Apakah seseorang yang maju berperang demi membela negaranya dan akhirnya mati juga melanggar hukum kodrat? St. Thomas Aquinas tidak bisa memberikan kriteria yang kuat untuk itu semua.&lt;br /&gt;
Melihat kelemahan-kelemahan itu semua, tidak bisa juga kita mengatakan bahwa teori hukum kodrat St. Thomas Aquinas tidak memberikan sumbangan apapun. Teori hukum kodrat mampu memberikan sebuah masukan tentang keuniversalan etika yang didasarkan pada realitas dan bukan sekedar pemikiran sujektif dalam bertindak. Lebih lanjut, pada intinya hukum kodrat memang tidak mempunyai keketaatan mengikat yang kuat terhadap manusia. &lt;br /&gt;
Hukum kodrat hanya menjadi sebuah kriteria atau landasan dalam manusia bertindak yang baik. Dengan kata lain membantu manusia untuk menemukan dan mampu menentukan apa yang baik dan apa yang buruk. Hukum kodrat juga memberikan nasehat untuk selalu melakukan yan baik dan menjauhi yang buruk. Sedangkan dalam pelaksanaannya manusia tetap bebas untuk menentuka setiap tindakan dalam hidupnya sehari-hari. Keharusan untuk melakukan sebuah kebaikan sesungguhnya merupakan kewajiban yang diharuskan oleh diri manusia sendiri. Dengan kata lain daya ikat yang sesungguhnya ada dalam diri manusia.&lt;br /&gt;
Manusia dengan akal budinya bertanggung jawab dan diharuskan oleh dirinya sendiri untuk melakukan keutamaan-keutamaan dalam hidupnya. Misalnya, keutamaan untuk memperjuangkan keadilan, kesetiaan, kejujuran, cinta kasih, dan sebagainya. Bahkan ketika manusia malah melakukan tindakan yang buruk hukum kodrat tidak bisa berbuat apa-apa, melainkan hanya hukum positif atau hukum manusia yang berbicara. Hukum manusialah yang ahkirnya memberikan sangsi kepada orang tersebut. Hukum kodrat merupakan keharusan yang ada dalam diri manusia sendiri.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/640826917902958937/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/10/keterikatan-manusia-terhadap-hukum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/640826917902958937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/640826917902958937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/10/keterikatan-manusia-terhadap-hukum.html' title='Keterikatan Manusia Terhadap Hukum Kodrat St. Thomas Aquinas'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhl3CgOyRe_BofRwYcDQ3G2A_-rvz_bs4Cg5nG8WG6JoY7YtXwDTJRqZVGdfweL84Fu27pU4OBDDeyG1plaBtG98eUWcRCJnFsepL_0ezRkars7hPQr49jLVcnDILvNcYxOdeNwCVZpv5QV/s72-c/hukum.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-6888685620915639199</id><published>2010-05-29T08:03:00.000-07:00</published><updated>2010-05-29T08:07:33.184-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat Manusia"/><title type='text'>MELIHAT MANUSIA DALAM TERANG FILSAFAT ISLAM (IBN RUSYD)</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbup_4CxPl0nExUPT93zLb4nrWmHazkyt5fKGmGkXytrUI6ynlYNkUrqmI114y06V7WujkZTTl20DbwHAM6IzBgujr87CbECQ4FZORLkkIfTplmcnVogIU42vAH8f3vXtFduLkPzTjIhUG/s1600/ibnu.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 352px; height: 276px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbup_4CxPl0nExUPT93zLb4nrWmHazkyt5fKGmGkXytrUI6ynlYNkUrqmI114y06V7WujkZTTl20DbwHAM6IzBgujr87CbECQ4FZORLkkIfTplmcnVogIU42vAH8f3vXtFduLkPzTjIhUG/s400/ibnu.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5476708614160102210&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perbincangan mengenai manusia sudah dimulai sejak jaman Yunani Kuno. Para pemikir jaman Yunani Kuno seperti Plato dan Aristoteles sudah mulai memperbincangkan apa itu manusia? Manusia begitu komplek dan mencakup banyak dimensi di dalamnya.&lt;br /&gt; Paper ini berjudul Melihat Manusia Dalam Terang Filsafat Islam (Ibn Rusyd). Inti pembahasannya adalah mengulas mengenai manusia menurut filsafat islam. Dengan kata lain, sebuah analisis teks mengenai konsep manusia menurut filsafat Islam. Saya memilih tema ini dengan alasan ingin semakin mengetahui dan mendalami bagaimana pendasaran filosofis Islam dalam memandang manusia. Hal ini menjadi semakin menarik untuk didalami ketika kita sedikit melihat relevansinya dengan fenomena terorisme yang banyak dilakukan oleh kaum muslim. Mereka melakukan pengeboman yang menewaskan banyak manusia.&lt;br /&gt; Kemudian tokoh filsafat islam yang dipilih untuk mewakili gagasan tentang manusia tersebut adalah Ibn Rusyd (Averroes). Konsep tentang manusia yang akan dibahas pun langsung difokuskan pada konsep tubuh dan jiwa. Alasan memilih tokoh Ibn Rusyd untuk mewakili pandangan tentang manusia pun sebenarnya ingin juga untuk semakin mengenalkan tokoh ini kepada khalayak ramai. Karena selama ini, tokoh filsafat islam sangat didominasi dengan nama besar Ibn Sina (Avicenna). Jadi sekaligus memaparkan kekayaan intelektual yang ada dalam filsafat islam. &lt;br /&gt; Pemilihan tokoh Ibn Rusyd ini pun kiranya sejalan dengan alasan pemilihan tema. Ibn Rusyd adalah sebuah model bagi keberanian berpikir. Ia berani untuk memberikan kritik terhadap otoritas dan kemapanan sebuah agama, jika memang agama dalam prakteknya mengabaikan kebenaran. Hal itu pulalah yang juga menginspirasikan banyak orang Eropa pada abad 13/14 melakukan kritik terhadap otoritas Gereja.  &lt;br /&gt; Paper ini terdiri dari empat bagian besar. Bagian pertama, termasuk pembahsan ini, adalah sebuah pendahuluan untuk melihat secara umum isi paper ini. Berisikan pembahasan-pembahasan yang sifatnya menghantar kita pada pembahasan utama paper ini. Kemudian pada bagian kedua kita akan melihat secara umum filsafat Islam, dan latar belakang hidup Ibn Rusyd. Selanjutnya, bagian tiga berisikan sebuah analisis teks tentang jiwa menurut Ibn Rusyd. Keempat, tubuh menurut Ibn Rusyd. Kelima, sedikit relevansi berdasar realitas negara Indonesia, khususnya tentang terorisme yang mengatasnamakan agama, sehingga menewaskan banyak orang. Bagian terakhir sebuah kesimpulan atas seluruh isi paper ini dan tanggapan kritis saya atas teori tubuh dan jiwa Ibn Rusyd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;FILSAFAT ISLAM DAN&lt;br /&gt;LATAR BELAKANG FILSAFAT IBN RUSYD&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;2.1 Filsafat Islam&lt;br /&gt; Topik-topik yang dibahas dalam filsafat Islam sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang menjadi topik filsafat barat (Eropa), khususnya pada masa Abad Pertengahan. Berikut sebuah kutipan penjelasan tentang topik-topik bahasan dalam filsafat Islam:&lt;br /&gt;&quot;Filsafat Islam meneliti problematika Yang Satu dan Yang-Banyak, menyelesaikan korelasi antara Allah dengan para makhluk-Nya, sebagai problematika yang menyulut perdebatan panjang di kalangan Mutakallimin. Filsafat Islam berupaya memadukan antara antara wahyu dengan akal, antara akaidah dengan hikmah, antara agama dengan filsafat dan berusaha menjelaskan kepada manusia bahwa wahyu tidak bertentangan dengan akal akaidah jika diterangi dengan sinar filsafat akan menetap di dalam jiwa dan akan kokoh di hadapan lawan, agama jika bersaudara dengan filsafat akan menjadi filosofis sebagaimana filsafat menjadi religius.&quot; &lt;br /&gt; Membaca kutipan di atas kita bisa sedikit menyimpulkan bahwa topik-topik yang dibahas dalam filsafat Islam khas sekali dengan latar belakang filsafat Abad Pertengahan. Filsafat banyak digunakan untuk menjelaskan iman  akan agama yang mereka anut. Para filsuf Islam menggunakan filsafat untuk memberikan pendasaran rasional untuk menjelaskan berbagai ajaran agama mereka, terutama yang terdapat dalam Al-Quran. Akhirnya tidak bisa di sangkali lagi, filsafat yang ada dalam filsafat Islma sifanya filsafat religius-spiritual.&lt;br /&gt; Melihat sifat filsafatnya yang religius, namun bukan berarti filsafat Islam mengabaikan topik-topik besar yang ada dalam filsafat. Filsafat Islam juga mengulas tema tentang ada (ontologi), logika, epistemologi, moral, dan politik.&lt;br /&gt;2.2 Hidup dan Karya Ibn Rush (Averroes)&lt;br /&gt; Abdul Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd lahir di Cordova pada tahun 1126 (520 H) dari keluarga pengacara.  Di Barat (Eropa) ia lebih dikenal dengan nama Averroes. Ayahnya adalah seorang hakim terkemuka.&lt;br /&gt; Ibn Rusyd hidup pada masa yang disebut-sebut sebagai zaman keemasan islam. Pada masa ini agama islam sungguh penuh dengan pendasaran rasional akibat pengaruh dari filsafat. Penghayatan agama yang didasarkan oleh rasionalitas yang kritis, membuat agama islam mengalami perkembangan pesat. Salah satu buktinya adalah banyak lahir pemikir di dalamnya, yang juga turut mengembangkan aspek hidup lainnya.&lt;br /&gt; Walaupun demikian, pada masa Ibn Rusyd hidup itu pula lah mulai banyak pihak, terutama para ulama konservatif yang mengecam adanya filsafat dalam agama islam. Ia pun banyak mendapatkan tekanan, karena filsafatnya dianggap sangat bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan ia pernah dibuang oleh Khalifah Abu Yusuf, diasingkan ke Lucena. &lt;br /&gt; Karya Ibn Rusyd lebih cenderung dan tampak dalam menterjemahkan teks-teks filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab, terutama karya-karya Aristoteles.  Bahkan Eropa mampu mengenal Aristoteles secara lebih luas adalah karena karya-karyanya. Ia membuat berbagai tulisan komentar tentang ilmu kesehatan dan astronomi yang ditulis oleh Aristoteles. Kemudian ia menulis juga tulisan komentar terhadap buku Republic dari Plato.&lt;br /&gt;2.3 Latar Belakang Filsafat Ibn Rush&lt;br /&gt; Filsafat Ibn Rusyd banyak mengacu pada ajaran-ajaran Aristoteles, khususnya dalam kaitannya dengan konsep &quot;materi&quot; dan &quot;bentuk&quot;. Tema-tema yang menarik Ubn Rusyd adalah seperti pengetahuan Tuhan terhadap soal-soal juziat, tentang terjadinya alam maujudat dan perbuatannya, tentang kezaliman dan keabadian alam, dan tentang gerak dan keazaliannya, serta akal yang universal dan satu.&lt;br /&gt; Sebuah sumber mengatakan bahwa Ibn Rusyd pernah berguru pada Ibnu Thufail.  Bahkan seorang filsuf terkenal di Eropa bernama Musa Ibnu Maimun yang lebih dikenal dengan Ibn Rusyd (Mozes Maimonides) adalah murid dari Ibn Rusyd. Dalam pemikiran, Ibn Rusyd lebih banyak bertentangan dengan filsafat Al Ghazali. Hal tersebut dapat terlihat jelas dalam bukunya yang berjudul Tahafutul-tahafut.&lt;br /&gt; Ibn Rusyd menjadi seorang pembela mati-matian filsafat Yunani Kuno yang ditolak oleh Al Ghazali. Ibn Rusyd mengatakan bahwa mereka yang menghakimi ahli-ahli filsafat, disebabkan karena mereka tidak memahami maksud para filsuf tersebut. Al Ghazali bermaksud menjaga kemurnian agama, sedangkan Ibn Rusyd bermaksud mengadakan sebuah perpaduan antara filsafat dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB III&lt;br /&gt;JIWA MENURUT IBN RUSYD&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 Jiwa&lt;br /&gt; Dualisme mengenal dua jenis being yang ada dalam diri manusia. Pertama adalah apa yang digerakkan (bendanya) dan apa yang menjadi penyebab penggerak benda tersebut.  Dengan kata lain juga bisa kita definiskan sebagai sesuatu yang jasmani dan spiritual. Bagi Ibn Rusyd, unsur spiritual dalam diri manusia mempunyai kesatuan dan kesempurnaan yang lebih tinggi dari semua yang ada. Namun tetap yang materi pun mempunyai peran yang besar dalam proses rasio. Artinya dalam diri manusia bukan lagi terdapat dua substansi melainkan satu &quot;materi&quot; dan &quot;bentuk&quot; sebagai kesatuan dan mempunyai korelasi.&lt;br /&gt; Ibn Rusyd dengan tegas mengatakan bahwa jiwa manusia berhubungan dengan tubuh, seperti Form dan Matter. Ia menolak argumen Ibn Sina yang mengatakan bahwa jiwa yang abadi sifatnya banyak. Lebih dalam menurut De Boer &quot;The soul has an existence only as a completion of the body with which it is associated&quot;.  Maksudnya kurang lebih bahwa jiwa mempunyai eksistensi hanya sebagai sebuah pelengkap dari tubuh, yang denganynya dipersatukan juga oleh jiwa.&lt;br /&gt; Ibn Rusyd dalam tulisannya yang berjudl Fil Nafsi menegaskan bahwa antara nyawa (al-Ruh) dengan jiwa (al Nafis) merupakan dua realitas yang berbeda. Namun yang menarik adalah Ibn Rusyd bahwa ketika berbicara tentang ruh, Ibn Rusyd menggunakan ayat dalam Al Quran di dalam surat al-Isra ayat 85. Isinya kurang lebih mengatakan bahwa ruh itu urusan Tuhanku. Manusia tidak diberika ilmu sedikitpun tentang itu. Kutipan penjelasn di bawah ini bisa langsung menghantar kita untuk semakin jelas mengenali apa itu jiwa:&lt;br /&gt;&quot;Jiwa berbeda dengan nyawa, dan juga dengan akal. Jiwa itu suatu zat, dan bukan suatu tubuh. Jiwa adalah sesuatu yang membuat manusia menjadi manusia. Syailul lazi yashbahu bihil insanu insianan, artinya jiwa itu sesuatu yang hidup dan berilmu dan berkodrat.&quot; &lt;br /&gt; Kutipan paragraf di atas seolah ingin menekankan bahwa kegiatan jiwa lebih pada seputar kegiatan berpikir. Hal tersebut yang kemudian membuat Ibn Rusyd mendeskripsikan jiwa sebagai suatu kesempurnaan awal bagi tubuh yang bersifat alamiah dan mekanis.  Disebut alamiah dan mekanistik dengan tujuan ingin membedakan dengan kesempurnaan-kesempurnaan yang berasal dari perilaku dan emosi. Makna kesempurnaan ini pun ingin juga mengarahkan pada keberagaman dari bagian jiwa, seperti jiwa nutrisi, jiwa sensorik, jiwa khayalan, jiwa hasrat dan jiwa rasional. Definisi tersebut sebenarnya sudah dipakai oleh Aristoteles dalam mendeskripsikan jiwa. &lt;br /&gt; Jiwa itu hakikatnya adalah satu. Ibn Rusyd sering menyebut kesatuan jiwa itu sebagai jiwa umum.   &lt;br /&gt;3.2 Akal Sebagai Wujud Jiwa&lt;br /&gt; Menurut Ibn Rusyd wujud jiwa paling nyata tampak dalam akal yang dipunyai manusia. Akal manusia itu adalah satu dan universal. Lebih dalam &quot;akal yang aktif&quot; yang dimaksud bukan saja akal yang esa dan universal, melainkan juga menyangkut &quot;akal kemungkinan&quot; (reseptif). Akhirnya Poerwantana dalam bukunya menyimpulkan bahwa akal yang dimaksud Ibn Rusyd ini dianggap sebagai monopsikisme. &lt;br /&gt; Akal kemungkinan lah yang membuat manusia sungguh menjadi individu ketika ia berhubungan dengan tubuh masing-masing manusia. Melihat sifat akal yang ada dalam individu tersebut sifatnya reseptif, resikonya bahwa ketika manusia meninggal, maka akal kemungkinan pun akan lenyap. Akal yang dimiliki seseorang sifatnya tidak abadi, yang abadi adalah akal yang esa dan universal, sesuatu yang menjadi sumber dan tempat kembalinya akal masing-masing manusia.&lt;br /&gt;&quot;...pengakuan Ibn Rusyd tentang akal yang bersatu dimaksudkan sebagai pengakuannya atas roh (jiwa) manusia yang bersatu, sebab akal adalah mahkota terpenting dari wujud roh (jiwa) manusia. Dengan kata lain, akal itu di sini hanyalah sebagai wujud rohani yang membedakan jiwa (roh) manusia atau mengutamakannya lebih dari jiwa (roh) hewan dan tumbuh-tumbuhan. Itulah yang dimaksud dengan monopsikisme (bahan yang menjadikan segala jiwa). Maksud Ibn Rusyd roh universal itu adalah satu dan abadi (kekal).&quot; &lt;br /&gt; Penjelasan mengenai akal universal dan akal reseptif tidak bisa lantas membuat kita langsung menyimpulkan bahwa Ibn Rusyd menolak kehidupan setelah kematian. Dalam filsafatnya, Ibn Rusyd juga berbicara mengenai kebangkitan jasmani. Ibn Rusyd menyangkal apa yang dikatakan oleh Al Ghazali bahwa filsuf-filsuf mengingkari kebangkitan jasmani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB IV&lt;br /&gt;TUBUH MENURUT IBN RUSYD&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Melihat latarbelakang filsafat Ibn Rusyd yang banyak mendasarkan diri pada pemikiran Aristoteles, hal itu juga terungkap dalam ajaran Ibn Rusyd dalam memandang tubuh. Berbeda dengan Plato yang menganggap bahwa tubuh hanya menjadi penjara bagi jiwa. Antara tubuh dan jiwa mempunyai sebuah korelasi. Korelasi tersebut secara jelas bisa terlihat dalam proses pengenalan rational.&lt;br /&gt; Secara khusus, saya sulit untuk menemukan definisi Ibn Rusyd tentang apa itu tubuh? Ibn Rusyd lebih banyak menjabarkan tentang aktivitas jiwa yang berkorelasi dengan tubuh. Salah satu konsep yang akan kita jabarkan adalah panca indera. Karena di dalamnya kita bisa langsung menangkap bagaimana tubuh pun mempunyai peran dan berkorelasi dengan jiwa.&lt;br /&gt;4.1 Panca Indera&lt;br /&gt; Ibn Rusyd menjabarkan bahwa panca indera itu adalah indera pengelitahan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan terakhir peraba. Pengelihatan berfungsi menerima makna secara bebas dari akal potensial, yang bagaimanapun merupakan makna-makna yang bersifat individual. Daya pengelihatan mempersepsi dengan menggunakan perantara transparansi.&lt;br /&gt; Pendengaran. Intinya bahwa dengan menggunakan penedengaran manusia mampu menangkap suara-suara yang muncul akibat benturan dari benda-benda keras. Udara yang bergerak akibat benturan dari benda keras sampai ketelinga. Udara tersebut kemudian menggerakkan udara yang ada dalam telinga sebagai bagian dari tubuh yang berfungsi sebagai alat pendengaran.&lt;br /&gt; Ketiga indera Penciuman. Bagian dari fungsi tubuh yang berfungsi sebagai alat untuk menangkap bau. Indera ini membutuhkan air dan udara sebagai perantaranya. Seperti halnya Aristoteles, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa penciuman manusia lebih lemah daripada hewan.&lt;br /&gt; Keempat, indera pengecapan (perasa). Sebuah daya untuk menangkap rasa sesuatu. Kerjanya dengan meletakkan objek di atasnya.&lt;br /&gt; Kelima, indera peraba. Sebuah daya jiwa yang menggunakan tubuh untuk mengenali objek. Daya yang mengalami kesempurnaan karena berbagai hal yang diraba. &lt;br /&gt;4.2 Kebangkitan Jasmani (Hidup Setelah Kematian)&lt;br /&gt; Ibn Rusyd berpendapat bahwa tidaklah benar apa yang dikatakan oleh Al Ghazali bahwa para filsuf menolak kebangkitan jasmani. Pandangan Ibn Rusyd mengeai hidup setelah kematian ini banyak mendasarkan diri pada ajaran-ajaran agamanya. Bagi Ibn Rusyd keimanan mengenai kebangkitan jasmani merupakan sebuah keharusan.&lt;br /&gt; Pendasaran untuk hal ini menyangkut ajaran agamanya mengenai amal dan keutamaan-keutamaan dari seseorang sepanjang masa hidupnya. Seseorang yang selama hidupnya mempunyai keutamaan dengan menjalankan ajaran-ajaran agama, salat,berkurban akan memperoleh balasan saat di akhirat nantinya. Dalam hal ini filsafat membantu seseorang untuk memberikan cara mencapai kebahagiaan kepada manusia yang berpikiran tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB IV&lt;br /&gt;RELEVANSI TEORI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Manusia sebagai kesatuan tubuh dan jiwa menurut Ibn Rusyd bisa membantu kita dalam melihat realitas yang terjadi saat ini. Salah satu fenomena yang relevan adalah fenomena terorisme yang merenggut banyak nyawa manusia. Sebenarnya Ibn Rusyd sudah memberikan dasar yang baik (filosofis) dalam melihat manusia. Lantas mengapa terorisme dengan mudah meledakkan bom yang merenggut banyak nyawa. Sebuah kontradiksi memang.&lt;br /&gt; Satu hal yang saya bisa temukan, hal tersebut terjadi karena para pelaku terorisme menginggalkan pendasaran rasional dalam melihat manusia, seperti yang dijabarkan Ibn Rusyd. Meninggalkan dan meniadakan filsafat dalam korelasi dengan agama. Akhirnya, Fundametalisme dalam agama lah yang membuat para pelaku terorisme melakukakannya. Terlalu harafiah dalam menghayati ajaran agamanya. &lt;br /&gt; Pandangan sempit bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan dan harus mematuhi segala perintahNya yang ada dalam agamanya. Jika ada yang melanggarnya berarti menjadi sah untuk dihabisi nyawanya. Akhirnya meninggalkan apa yang dikatakan oleh Ibn Rusyd, bahwa harusnya sebagai manusia yang mempunyai jiwa mereka mampu berpikir dan kritis tentang kebenaran. Lantas kalau tidak berpikir apakah para pelaku masih bisa disebut manusia? Sungguh disayangkan, namun kiranya itulah yang terjadi dalam negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB V&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhirnya, kita dapat menyimpulkan beberapa hal dari analisis teks tentang tubuh dan jiwa menurut Ibn Rusyd. Pertama, bahwa filsafat Islam mempunyai ciri yang erat dengan filsafat abad pertengahan. Menggunakan filsafat untuk memberikan pendasaran bagi agama. Namun sayang banyak mendapat tolakkan keras dari kaum ulama, seperti yang dialami oleh Ibn Rusyd.&lt;br /&gt; Kedua, bahwa dalam diri manusia terdapat dua unsur yang tetap menjadi satu substansi, yaitu tubuh dan jiwa (forma dan materi). Artinya terjadi sebuah korelasi dari keduanya yang membentuk menjadi seoarng manusia.&lt;br /&gt; Jiwa sebagai suatu kesempurnaan awal bagi tubuh yang bersifat alamiah dan mekanis mempunyai sifat yang satu. Jiwa adalah sesuatu yang berilmu. Dalam kegiatan berilmu itu jiwa membutuhkan tubuh untuk wadah eksistensinya. Tubuh menangkap materi yang ada objek yang ada di luar, kemudian jiwa merenungkannya. Secara khusus melihat indera-indera dalam tubuh.&lt;br /&gt;Tanggapan Kritis&lt;br /&gt; Satu hal yang ingin saya kritik terhadap pandangan IBn Rusyd adalah mengenai jiwa yang selalu dikaitkan dengan jiwa univeresal (Tuhan). Pandangan Ibn Rusyd tentang tubuh dan jiwa yang dipengaruhi oleh Aristoteles sebenarnya sangat menarik. Namun karena selalu dikaitkan dengan jiwa yang universal akhirnya membawa konsekuensi pada penyangkalan kebakaan jiwa perorangan.&lt;br /&gt; Hal ini tentu saja membawa pada sebuah kontradiksi dalam diri Ibn Rusyd. Dia yang juga memegang bahwa adanya hidup setelah kematian, namun juga menolak adanya eksistensi jiwa perorangan setelah kematian. Bagaimana mungkin jiwa tidak baka, jika ternyata di akhirat dia juga mengatakan akan ada balasan bagi manusia yang melakukan kehendak Tuhan dalam agama, mempunyai keutamaan-keutamaan, dan sebagainya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audi, Robert. The Cambridge Dictionary of Philosophy. USA: Cambridge University Press. 1995.&lt;br /&gt;Bakry, Hasbullah. Disekitar Filsafat Scholastik Islam. Solo: Ab Sitti Sjamsijah. 1965.&lt;br /&gt;De Boer, T.J.. The History of Philosophy In Islam. New York: General Publishing Company. 1967.&lt;br /&gt;Poerwantana, dkk. Seluk-beluk Filsafat Islam. Bandung: CV Rosda Bandung, 1988.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet:&lt;br /&gt;http://hankkuang.wordpress.com/2008/12/07/ibn-rusyd-1126-1198-m/&lt;br /&gt;http://najmu-addin.blogspot.com/2009/04/jiwa-menurut-ibnu-rusyd.html</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/6888685620915639199/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/05/melihat-manusia-dalam-terang-filsafat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/6888685620915639199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/6888685620915639199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/05/melihat-manusia-dalam-terang-filsafat.html' title='MELIHAT MANUSIA DALAM TERANG FILSAFAT ISLAM (IBN RUSYD)'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbup_4CxPl0nExUPT93zLb4nrWmHazkyt5fKGmGkXytrUI6ynlYNkUrqmI114y06V7WujkZTTl20DbwHAM6IzBgujr87CbECQ4FZORLkkIfTplmcnVogIU42vAH8f3vXtFduLkPzTjIhUG/s72-c/ibnu.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-1648243196213255631</id><published>2010-05-29T07:55:00.000-07:00</published><updated>2010-05-29T08:03:16.250-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="theodicy"/><title type='text'>Tuhan Orang Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkopN1yu2-NukZYgtntu5VsnIBUMA1w-JC4XPbiSdWuvwaTOgX4LTLEOYxSPw-rrZ_mJxHJLTEPbLNuWfEbXcl698prYMs_5ajgI8SpuFiIrlWcSiBLLcZ7pr0wdhvd7DgoD_4EOtONLMo/s1600/who-is-god.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 387px; height: 381px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkopN1yu2-NukZYgtntu5VsnIBUMA1w-JC4XPbiSdWuvwaTOgX4LTLEOYxSPw-rrZ_mJxHJLTEPbLNuWfEbXcl698prYMs_5ajgI8SpuFiIrlWcSiBLLcZ7pr0wdhvd7DgoD_4EOtONLMo/s400/who-is-god.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5476707694524873394&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; Bangsa Indonesia mempunyai kultur yang kuat akan akan sistem kepercayaan kepada sesuatu yang transenden. Hal tersebut terbukti dengan hasil besar dari penelitian yang dilakukan oleh para ahli, yaitu akan adanya sebuah sistem kepercayaan kuno Animisme dan Dinamisme. Artinya bahwa mereka percaya bahwa adanya sebuah eksistensi sesuatu yang sifatnya imateri. Misalnya percaya akan masih eksisnya roh nenek moyang mereka, hidup di sekitar mereka. Kepercayaan lain pula bahwa dalam sebuah benda terdapat roh di dalamnya.&lt;br /&gt; Paper ini akan menampilkan paparan tentang Tuhan orang Indonesia. Intinya akam melakukan sebuah analisis tentang fenomena Tuhan yang ada dalam Indonesia. Menjawab sebuah pertanyaan apa dan bagaimana Tuhan menurut orang Indonesia. Orang Indonesia di sini akan saya bagi dalam beberapa bagian. Pertama, Tuhan dalam konsep orang Indonesia (kaum) yang beragama. Kedua, Tuhan bagi orang tradisional (kepercayaan religius). Terakhir, &quot;tuhan&quot; bagi kaum &quot;sekuler&quot;. Artinya tuhan bagi orang-orang karier, ilmuwan, intelektual.&lt;br /&gt; Kemudian, konsep untuk menetukan (kriteria) tentang Tuhan di sini berdasarkan acuan dari penjelasan yang ada dalam Filsafat Ketuhanan. Saya mendasarkan konsep tentang Tuhan dari konsep Tuhan yang ada dalam Theodicy. Artinya memakai pembuktian tentang keberadaan Tuhan dari Santo Thomas Aquinas, yang terangkum dalam bukunya Summa Teologica.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Kaum Beragama&lt;br /&gt; Melihat realitas sebagai sebuah negara yang agamis, mau tidak mau jika berbicara tentang Tuhan kita juga akan langsung dikaitkan dengan agama. Karena dalam agamalah secara kita bisa secara langsung dihantar untuk menemukan konsep tentang Tuhan. Di Indonesia sedikitnya ada enam agama besar yang paling nampak eksistensi kederadaannya, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindhu, Budha.&lt;br /&gt; Masing-masing agama punya konsepnya sendiri-sendiri mengenai Tuhan. Konsep Tuhan sebagai penggerak utama yang ada dala Filsafat Ketuhanan akan mendapat pemaknaan sendiri-sendiri dalam masing-masing agama. Karena agama sesuatu yang universal, artinya dimana pun juga ajaranya selalu sama, jadi kita tidak perlu mengulasnya secara lebih mendetail. Karena kita tentu pun pasti sudah mengetahui bagaimana konsep Tuhan yang ada dalam masing-masing agama.&lt;br /&gt; Intinya yang perlu ditekankan dalam di Indonesia adalah bahwa adanya kesatuan penghayatan akan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat beriman Indonesia mengakui bahwa Tuhan itu satu dan Maha Esa (infinite).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Kaum Tradisional Indonesia&lt;br /&gt; Di negara Indonesia masih terdapat banyak sekali aliran kepercayaan lokal. Artinya sebuah kepercayaan akan adanya roh gaib yang mempunyai eksistensi dalam hidup manusia. Misalnya kepercayaan bahwa di dalam keris terdapat sebentuk roh yang harus dihormati.&lt;br /&gt; Kepercayaan akan dalam sebuah benda juga terdapat eksistensi akan roh gaib membawa dampak bahwa orang tersebut sadar atau tidak telah menjadikan benda tersebut sebagai &quot;tuhan&quot; mereka. Tuhan mereka adalah benda-benda dengan kekuatan mistis tertentu tersebut. Hal tersebt terungkap melalui tindakan yang mereka lakukan terhadap benda-benda tersebut. Misalnya, setiap malam satu suro (tahun baru kalender Jawa) mereka memandikan keris dengan air bunga. Contoh lain lagi melakukan tapa di bawah pohon tertentu dengan tujuan mendapatkan kesaktian atau materi yang melimpah.&lt;br /&gt; Perlu juga untuk diketahui bahwa melalui pengamatan sehari-hari, ternyata mereka yang menganut kepercayaan tradisional ini tidak terbatas dari golongan tertentu. Bahkan yang lebih mengejutkan, mereka yang beragama pun juga masih mempercayai konsep tuhan dalam kepercayaan ini. Sebuah ironi memang. Seseorang yang mengaku memeluk agama tertentu, yang di mana konsep tentang Tuhan pun sudah dikemukakan secara jelas. Ternyata masih mempercayai konsep tuhan yang ada dalam aliran tradisional. Misalnya, pagi pergi ke Gereja tapi di rumah memandikan keris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Kaum Sekuler &lt;br /&gt; Berbeda lagi halnya dengan konsep Tuhan bagi orang Indonesia yang tergolong sekuler, seperti kaum karier, kaum intelektual, dan masih banyak lainnya. Artinya tuhan tidak lagi hanya sekedar sesuatu yang transenden. Memang jumlah kaum ini tidak begitu banyak dan langsung nampak, namun itu ada.&lt;br /&gt; Kita pun akan menemukan jawaban yang beragam dari masing-masing orang tentang apa dan bagaimana itu Tuhan dalam kenyataan hidup mereka. Misalnya bagi kaum intelektual yang sangat mengedepankan rasio, mungkin akan menolak konsep Tuhan yang ada dalam sebuah agama. Lebih ekstrem lagi rasionalitaslah tuhan mereka.&lt;br /&gt; Contoh lain lagi adalah bagi mereka yang menjadi pekerja keras, yang sudah beorientasi pada pencarian materi. Akhirnya pun jatuh pada men-tuhan-kan materi. Segalanya dilakukan demi memperoleh materi semata. Hal tersebut bisa langsung terungkap jika melihat mereka yang menjadi pelaku korupsi. Bagaimana mungkin mereka menyebut dirinya beriman jika apa yang mereka lakukan sungguh berada di luar cerminan orang beriman. Orang beriman yang mempercayai adanya Tuhan yang menjadi penggerak utama dan tak terbatas tentu tidak akan mau mendewakan materi, uang.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/1648243196213255631/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/05/tuhan-orang-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/1648243196213255631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/1648243196213255631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/05/tuhan-orang-indonesia.html' title='Tuhan Orang Indonesia'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkopN1yu2-NukZYgtntu5VsnIBUMA1w-JC4XPbiSdWuvwaTOgX4LTLEOYxSPw-rrZ_mJxHJLTEPbLNuWfEbXcl698prYMs_5ajgI8SpuFiIrlWcSiBLLcZ7pr0wdhvd7DgoD_4EOtONLMo/s72-c/who-is-god.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-1698364564594883105</id><published>2010-02-28T07:14:00.000-08:00</published><updated>2010-02-28T07:15:58.660-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tugas resensi Filsafat Manusia"/><title type='text'>Menjadi Manusia Otentik</title><content type='html'>Kristoforus Sri Ratulayn K.N&lt;br /&gt;1323009009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berbicara mengenai manusia, kita akan menemukan banyak hal yang menjadi tema pembahasannya. Dalam artian entah dilihat dari sisi biologis, sosiologis, antropologis, dan masih banyak lagi. Dalam tulisan ini kita akan memfokuskan pembahasan pada pembahasan manusia dilihat dari perspektif Filsafat Manusia. Lebih tepatnya adalah melakukan sebuah resensi dari buku diktat Filsafat Manusia: Menjadi Manusia Otentik.&lt;br /&gt; Filsafat membantu orang untuk mampu berpikir kritis, logis, sistematis, dan tidak mudah percaya. Dengan demikian hal tersebut akan membantu kita mampu dengan mudah untuk dihantar sampai pada penemuan hakekat tentang segala sesuatu, khususnya tentang manusia. Tema tentang manusia menjadi satu cabang khusus dalam studi Filsafat, yang dikenal dengan nama Filsafat Manusia. Intinya menyajikan secara khusus refleksi filosofis mengenai menjadi manusia otentik.&lt;br /&gt; Sebenarnya apa yang dimaksud manusia otentik? Secara singkat akan kita temukan bahwa manusia otentik adalah orang yang bahagia dan bebas. Lebih dalam lagi, menjadikan kedua hal tersebut menjadi tujuan hidup mereka. Bahagia dan bebas di sini salah satunya adalah suatu kondisi di mana seseorang mampu sungguh-sungguh merasakan dengan penuh kesadaran setiap hal yang mereka lakukan kedamaian. Mampu merasa enjoy dengan menjadi diri sendiri, serta tanpa terpengaruh oleh tekanan dari luar diri mereka. Intinya tetap otentisitas adalah menjadi dirinya sendiri secara sungguh-sungguh, menemukan apa yang sering disebut sebagai jatidiri.&lt;br /&gt; Teori otentisitas mengatakan bahwa mereka yang otentik adalah mereka yang mampu mengosongkan diri dan mengarahkan segenap perhatian mereka pada tujuan atau panggilan hidup mereka. Mengosongkan diri di sini mempunyai arti bahwa mereka mampu melepaskan diri dari hanya sekedar perasaan-perasaan, kebutuhan semu, hasrat-hasrat. Melainkan lebih mengarahkan focus tujuan hidup mereka untuk nilai yang lebih tinggi yang ada dalam hidup.&lt;br /&gt; Lantas apa penting dan perlunya manusia menjadi otentik? Secara singkat jika telah mampu sadar dan mengenali dimensi-dimensi hakiki, maka diharapkan seseorang mampu menjadi pribadi yang mandiri dan memiliki integritas. Artinya mampu dengan dewasa menentukan sikap atau keputusan-keputusan praktis dalam hidup sehari-hari. Mampu dengan bijaksana menempatkan diri, dengan tetap menjadi diri mereka apa adanya. Orang tersebut menjadi mampu dipercaya oleh orang lain karena orang lain telah mengenalnya sebagai pribadi yang selalu menampilkan diri apa adanya dan memperjuangkan nilai yang lebih tinggi.&lt;br /&gt; Menjadi manusia otentik bukan semudah apa yang dibayangkan. Seperti semudah membalik telapak tangan. Dibutuhkan perjuangan mati-matian untuk dapat mencapainya, dan banyak sekali rintangan atau hambatan yang akan kita temui dalam memperjuangkannya. Salah satu hambatan tersebut adalah ketika kita melihat zaman sekarang banyak sekali beredar buku-buku self-help yang lebih condong mencetak manusia sesuai penulis buku tersebut. Buku-buku self-help cenderung menipu, karena ingin menarik seseorang untuk keluar dan lepas dari jatidirinya yang unik.&lt;br /&gt; Akibatnya jika seseorang menjadi hampa dan kering dalam hidupnya. Sekali lagi karena ia dipaksa melakukan apa yang bukan dirinya. Belum lagi efek yang terjadi ketika orang tersebut gagal atau belum mampu untuk mencapai apa yang ditulis dalam buku-buku tersebut. Orang cenderung lebih sering merasa menjadi orang yang selalu gagal dan hidupnya seakan tidak bermakna.&lt;br /&gt; Menjadi manusia otentik dalam sebuah proses panjang. Namun tidak berarti hal tersebut tidak mungkin untuk dicapai. Untuk menjadi manusia otentik sekali lagi terlebih dahulu orang harus sadar dan mengenali sungguh siapa dirinya, memahami berbagai keunikan dan realitas yang ada dalam dirinya. Akhirnya dikatakan bahwa itulah proses belajar tertinggi. Karena dengan mampu mengenali dirinya seseorang akan mengalami kebahagiaan dalam menjalani hidupnya.&lt;br /&gt; Banyak unsur yang harus dilihat dalam pengenalan diri. Salah satu yang akan kita bahas dalam resensi kali ini adalah mengenai motivasi. Karena motivasilah yang mendasari dan mendorong setiap tindakan manusia. Lebih lengkap lagi bahwa motivasi adalah sebuah program internal yang ada dalam diri seseorang, yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan tertentu.&lt;br /&gt; Secara jelas motivasi punya peran mendasar dalam proses pengenalan diri manusia guna mencapai tujuan menjadi manusia otentik. Dengan melihat dan mengenali motivasi yang ada dalam dirinya manusia semakin dibawa menuju kesadaran dari setiap yang ia kerjakan. Misalnya motivasi terdalam apa yang ada di balik seseorang mempelajari sesuatu. Apakah hanya untuk sekedar nilai, memenuhi rasa ingin tahunya, atau hanya keterpaksaan dari pihak luar dirinya.&lt;br /&gt; Bahasan selanjutnya untuk menganalisis menjadi manusia otentik dengan berfokus pada manusia dan kesadaran. Membuka bahasan ini kita akan sedikit mengutip ungkapan terkenal dari filsafat Descartes Cogito Ergo Sum. Intinya ia ingin mengatakan bahwa pikiran adalah pusat dari manusia. Pikiran ini erat kaitannya dengan kesadaran. Orang sadar adalah orang yang menggunakan pikirannya dalam setiap tindakan yang ia kerjakan. Kesadaran merupakan kondisi internal manusia yang harus dibedakan dengan kondisi fisik.&lt;br /&gt; Kesadaran diperlukan agar manusia mampu mengenali dirinya secara utuh. Karena kesadaran berperan besar untuk menghantar manusia mampu merefleksikan setiap fenomena yang terjadi dalam hidupnya. Sampai pada menentukan bagaimana ia harus bertindak dengan tepat. Akhirnya sampailah pada manusia yang otentik.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/1698364564594883105/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/02/menjadi-manusia-otentik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/1698364564594883105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/1698364564594883105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/02/menjadi-manusia-otentik.html' title='Menjadi Manusia Otentik'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-3873885086625357936</id><published>2010-01-29T16:54:00.000-08:00</published><updated>2010-01-29T16:56:45.648-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="belajar ilmiah"/><title type='text'>Paper Sejarah Filsafat Yunani Kuno</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;“Rokok: Kebutuhan Tubuh yang Memenjarakan Jiwa Ditinjau Dari Filsafat Plato Tentang Tubuh dan Jiwa”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAPER AKHIR PENGGANTI UAS MATA KULIAH&lt;br /&gt;SEJARAH FILSAFAT YUNANI KUNO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:&lt;br /&gt;Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian besar orang, rokok telah menjadi kebutuhan yang bahkan disamakan dengan kebutuhan untuk makan dan minum. Kebutuhan akan rokok sudah menjadi kebutuhan yang sangat sentral. Mereka disebut sebagai perokok berat. Bahkan ada yang mengatakan bahwa rokok telah menjadi “istri” kedua mereka. Dengan demikian bisa kita katakan bahwa kebutuhan akan rokok selalu menuntut seorang perokok untuk mencari dan menghisapnya. Tentu banyak faktor yang harus kita lihat dalam membicarakan masalah ini. Namun dalam pembahasan ini, kita akan melihat bagaimana kebutuhan akan merokok dikritisi atau ditinjau dari sisi filsafat.  &lt;br /&gt; Paper ini berjudul “Rokok: Kebutuhan Tubuh yang Memenjarakan Jiwa Ditinjau Dari Filsafat Plato Tentang Tubuh dan Jiwa”. Masalah yang ingin dibahas dalam paper ini adalah melihat bagiamana kebutuhan tubuh akan rokok jika ditinjau dari sisi filsafat? Kemudian mengkaitkan dengan tema ketidak bebasan macam apa yang ada dibalik fenomena rokok, yang tentunya juga dilihat dari sisi filsafat. Latar belakang pengambilan tema rokok dan kebebasan sebagai bahan penelitian awalnya karena terinspirasi dari mulai maraknya perdebatan tentang rokok, khususnya jika melihat ramainya perdebatan pro-kontra mengenai keputusan dikeluarkannya peraturan daerah tentang larangan merokok. Berdasarkan penjelasan di atas, menjadi jelas bahwa rokok yang sudah menjadi sebuah kebutuhan manusia akhirnya harus berbenturan dengan kewajiban sebagai anggota sebuah masyarakat. &lt;br /&gt;Saya mengeluarkan sebuah argumen guna menuntun alur pembahasan yang ada dalam papar ini. Argumen saya adalah bahwa dengan merokok, manusia tidak bebas. Saya akan membagi pembahasan paper ini dalam tiga bagian. Pertama, kita akan melihat bagaimana ajaran Plato tentang tubuh dan jiwa. Pada bagian pertama ini kita akan melihat secara detail teori Plato tentang tubuh dan jiwa dari beberapa sumber acuan. Kedua, analisis dengan mengacu pada teori Plato tentang tubuh dan jiwa dengan kaitannya dalam kebutuhan manusia akan (me)rokok. Dengan kata lain kita akan langsung mensintesakan teori Plato tentang tubuh dan jiwa pada bagian pertama tadi dengan analisis gejalah yang terjadi ketika orang mengkonsumsi rokok. Kemudian pada bagian terakhir nantinya adalah sebuah kesimpulan, bahwa rokok merupakan kebutuhan tubuh yang memenjarakan jiwa manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB II&lt;br /&gt;KERANGKA TEORI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Plato tentang Tubuh dan Jiwa Manusia&lt;br /&gt; Plato (429-437), seorang filsuf terbesar dalam sejarah filsafat Yunani Kuno, lahir dalam sebuah keluarga terkemuka di Athena. Ayahnya bernama Ariston dan ibunya bernama Periktione.  Ia adalah salah seorang teman diskusi Sokrates. Plato menjadi salah seorang filsuf terbesar sepanjang sejarah filsafat, karena ia membuka tema-tema pembicaraan abadi dalam filsafat. Bahkan sampai muncul sebuah argumen bahwa filsafat selanjutnya hanyalah catatan kaki dari filsafat Plato.  &lt;br /&gt;Semasa hidupnya ia sangat produktif dalam hal menulis. Semua tulisannya selalu berbentuk dialog. Hal ini karena mungkin dipengaruhi oleh Sokrates yang terkenal sangat membenci tulisan. Sehingga akhirnya Plato pun akhirnya mencoba membuat sebuah sintesis antara tulisan dan lisan. Beberapa karya utamanya dalam filsafat mencakup Protagoras, Gorgias, Meno, Apology, Phaedo, Crito, Republic, Parmenides, Theatetus, Sophist, dan, laws.  &lt;br /&gt;Ajaran filsafat Plato yang terkenal adalah mengenai ide-ide dan tentang dualisme dari manusia. Bagi Plato kenyataan sesungguhnya hanya ada dalam dunia. Sedangkan realitas yang ada di dunia hanyalah sekedar bayangan dari ide-ide.  Ajaran Plato mengenai ide-ide juga diterapkan dalam ajarannya mengenai dualisme manusia. &lt;br /&gt;Dualisme Plato memandang bahwa manusia terdiri dari dua hakikat yang berlainan, tubuh dan jiwa. Tubuh mempunyai sifat yang rapuh, mudah berubah, dan tidak tetap. Hal ini nantinya sejalan dengan perbandingan antara ide-ide abadi dengan realitas di dunia yang selalu berubah.  Sedangkan jiwa adalah sesuatu yang kasat mata, tetap dan abadi. Plato berargumen karena jiwa mampu mengenali ide-ide, maka jiwapun mempunyai sifat-sifat yang sama dengan ide-ide. Jiwa selalu mempunyai kerinduan untuk mencapai kearifan dan kebijaksanaan.&lt;br /&gt; Bagi Plato tubuh adalah kuburan bagi jiwa (soma-sema). Dalam artian, jiwa sudah ada di suatu tempat yang penuh dengan kearifan sebelum dilahirkan. Dunia inilah tempat kediaman jiwa yang sesungguhnya. Pada suatu ketika jiwa mengalami inkarnasi dan masuk ke dalam tubuh. Jadi dunia yang sekarang ditempati jiwa ketika masuk ke dalam tubuh bukanlah tempat tinggal jiwa.  Hal inilah yang menjadi penegas dari dualime Plato. &lt;br /&gt;Tubuh yang mempunyai sifat rapuh, tidak tetap, dan selalu berubah menjadi penghalang bagi jiwa untuk mencapai kearifan dan kebijaksanaan. Karena sifatnya yang tidak tetap dan selalu berubah itu lah muncul argumen dari Plato bahwa tubuh akan “membingungkan” manusia dalam usaha mencari kebenaran.   &lt;br /&gt;Kerinduan jiwa adalah terbebas dan pulang kembali memasuki dunia ide-ide Menurut Plato berfilsafat berkaitan hanya dengan pikiran atau jiwa. Untuk hal tersebut manusia harus berusaha sebisa mungkin melepaskan diri dari belenggu tubuh yang memenjarakannya. Memenjarakan artinya menuntut manusia untuk selalu memenuhi kebutuhan tubuh, bersenang-senang dan “memuja” tubuh.&lt;br /&gt; Dalam bukunya yang berjudul Phaedo, Plato menambahkan bahwa yang diperluakan untuk memasuki kawasan entitas ide-ide hanya lah jiwa. Sedangkan jiwa bernalar paling indah, ketika tidak satu pun dari hal-hal yang ragawi, seperti pendengaran, peglihatan, duka cita ataupun kesenangan, menghalanginya untuk mencapai kebenaran. Dengan meninggalkan tubuhnya manusia akan mampu menemukan hakikat segala sesuatu.  Seperti sudah kita tahun bahwa tubuh mempunyai sifat mengarahkan seseorang untuk mencari kesenangan, misalnya makan dan minum. Manusia yang terlalu terpengaruh oleh tubuh akan menjadi pemuja tubuh. Inilah yang sungguh menjadi penghambat bagi jiwa untuk mampu bernalar hingga mencapai kearifan dan kebijaksanaan.&lt;br /&gt; Berikut sebuah kutipan dari salah satu karya Plato yang berjudul Phaedo, yang menyatakan secara jelas bagaimana Plato menyangkali peran konstruktif apapun dari tubuh manusia dalam usaha mencapai kebenaran yang hakiki:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama kita memiliki tubuh yang menemani argumen yang kita kembangkan dalam penyelidikan kita, dan jiwa kita tercampur dengan hal jahat semacam ini, kita tidak akan pernah mendapatkan apa yang kita inginkan”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kita bisa mengambil sebuah contoh yang kiranya dapat membantu kita untuk lebih mudah memahami ajaran Plato tentang tubuh dan jiwa, khususnya berkaitan dengan tubuh sebagai penghalang jiwa mncapai kebijaksanaan. Suatu ketika seorang mahasiswa mengalami sakit panas yang memaksanya harus beristirahat untuk beberapa minggu. Padahal ia harus belajar dan memahami materi ujian yang akan dia hadapi. Dengan demikian nampak secara langsung bahwa tubuh menghalangi jiwa untuk bernalar dan mencapai kebijaksanaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB III&lt;br /&gt;ANALISIS TEMA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada bagian ini kita akan mengulas lebih dalam mengenai kebutuhan akan merokok dengan kebebasan. Dimana letak hubungan antara rokok dan tubuh sehingga dikatakan menjadikan tidak bebas? &lt;br /&gt; Jelaslah bahwa rokok adalah kebutuhan tubuh. Tubuhlah -yang karena efek nikotin- membuat manusia ketagihan untuk mengkonsumsinya. Jika tidak merokok dalam waktu lama, tubuh akan mengalami kesemutan di lengan dan kaki, berkeringat dan gemetar, gelisah, susah konsentrasi, sulit tidur, lelah atau pusing. Bahkan terkena resiko-resiko penyakit seperti penyakit jantung, kanker paru-paru, osteoporosis, katarak, dan masih banyak lagi.  Dengan bahasa lain kita bisa mengatakan, bahwa seorang pecandu rokok harus menghisap rokok secara rutin. Rokok adalah kebutuhan tubuh.&lt;br /&gt;Tubuh yang sudah mulai kecanduan rokok selalu menuntut pemilik tubuh tersebut untuk selalu menghisapnya. Orang menjadi tidak bebas lagi untuk menguasai tubuhnya. Entah tiap jam atau menit tubuh memerlukan rokok untuk “menstabilkan” kondisinya. Artinya menjadi semacam sebuah pelarian sementara untuk menenangkan diri bagi mereka yang sudah kecanduan rokok.  Jika mau dilihat dari sisi psikologis, maka mungkin dari sini juga bisa disimpulkan orang menjadi tidak bebas lagi.&lt;br /&gt; Setelah kita melihat teori Plato tentang tubuh dan jiwa, lalu membuat pendasaran di atasnya. Kemudian melihat hasil analisis tentang  hubungan antara rokok dan tubuh. Akhirnya kita bisa membayangkan apa yang akan dikatakan Plato, jika ia masih hidup saat ini. Dengan lantang Plato akan berkata bahwa rokok adalah “kuburan” bagi jiwa manusia. Argumen tersebut secara langsung dapat dijelaskan lebih detail ketika melihat logika pemikiran yang ada di dalamnya. Logikannya demikian: karena rokok adalah kebutuhan tubuh, sedangkan tubuh sendiri adalah penjara bagi jiwa. Maka rokokpun adalah sebuah penjara atau kuburan bagi jiwa manusia. &lt;br /&gt; Penarikan logika di atas mampu dengan jelas menjadi pembuktian bahwa kebutuhan tubuh akan rokok membuat jiwa tidak bebas. Rokok menhalangi manusia untuk mencapai pengetahuan, kearifan atau kebijaksanaan yang sempurna, sesuai dengan apa yang dikatakan Plato dalam teorinya. Dengan kata lain juga semakin menghalangi cita-cita jiwa, kembali kedalam kerajaan ide-ide. Kebutuhan akan rokok menjadi penjara atau penghambat manusia untuk mencapai kebenaran, karena manusia menjadi “hamba” dari tubuh. Kebutuhan tubuh akan rokok menuntut manusia untuk selalu mendahulukannya, setelah itu terpenuhi baru memenuhi kebutuhan yang jiwa akan pencarian kebenaran dan kebijaksanaan.&lt;br /&gt; Penegasan singkat mengenai letak ketidakbebasan: Berdasarkan penjelasan paragraf sebelumnya, kita bisa menemukan dimana letak ketidakbebasan yang muncul dari hubungan antara rokok dan tubuh. Secara logis, ketidakbebasan tersebut pun terdapat dan dikenakan pada jiwa. Rokok membuat jiwa tidak bebas.          &lt;br /&gt;Kita bisa mengambil contoh. Suatu ketika seseorang pecandu rokok yang berprofesi sebagi dosen harus memberikan kuliah kepada mahasiswanya namun kebutuhan akan merokoknya belum terpenuhi sebelumnya. Kita bisa mengkira-kira apa yang terjadi pada dosen tersebut? Tidak tenang, sulit berkonsentrasi, dsb. &lt;br /&gt;Contoh lain lagi ketika seorang bapak rumah tangga, yang juga seorang pecandu rokok. Pada suatu ketika dihadapkan pada dua pilihan yang berbeda. Pilihan pertama bahwa anaknya memerlukan susu bayi. Pilihan kedua kebutuhan untuk mengkonsumsi rokok. Akhirnya ia memilih untuk mendahulukan kebutuhannya untuk membeli rokok. Dari contoh tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa betapa rokok sebagai kebutuhan tubuh sungguh memenjarakan jiwa yang lebih mencari kebijaksanaan dan kearifan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB IV&lt;br /&gt;KESIMPULAN dan TANGGAPAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bagian terakhir ini sekedar untuk lebih menegaskan kembali argumen awal, bahwa (me)rokok adalah kebutuhan yang memenjarakan manusia, terutama ditinjau dari teori Plato tentang tubuh dan jiwa. Rokok adalah kebutuhan tubuh, karena berkaitan dengan tubuh yang juga menjadi penjara jiwa untuk mencapai kebijaksanaan maka bisa kita simpulkan bahwa rokokpun menjadi penjara atau kuburan bagi manusia.&lt;br /&gt;Sebagai tanggapan kritis, saya ingin mengkriktik teori Plato mengenai tubuh dan jiwa. Secara tegas saya tidak setuju dengan argument Plato yang mengatakan tubuh hanya menjadi penggangu manusia untuk mencapai kebenaran atau kebijaksanaan. Saya melihat adanya kontradiksi dalam teori tersebut. Bagaimana Plato dengan tegas menolak peran tubuh dalam keberadaan manusia sedangkan di sisi lain dalam mengenali ide-ide abadi, Plato tidak bisa mengingkari bahwa dengan begitu dia pun membutuhkan tubuh untuk mengenali ide-ide. Bagaimana jiwa bisa mengenali ide-ide abadi jika tidak dibantu oleh tubuh untuk menangkap realitas yang ada di dunia, yang kemudian membantunya untuk ingat kembali akan ide-ide abadi yang pernah dilihatnya sebelum masuk kedalam tubuh. &lt;br /&gt;Relevansi yang bisa kita ambil dari semua pembahasan di atas adalah; mari kita mengkritisi kembali keputusan kita yang memilih untuk “dijajah” oleh rokok. Rokok yang sebenarnya justru memperbudak kita, sehingga tidak dapat mencapai kebaikan. Mari kita tanamkan hidup sehat dan bijaksana tanpa rokok!!!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB V&lt;br /&gt;DAFTAR ACUAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. B. Woodhouse, Mark. Filsafat: Sebuah Langkah Awal. Yogyakarta: Kanisius. 2002.&lt;br /&gt;2. Bertens, K. Sejarah Filsafat Yunani Kuno. Yogyakarta: Kanisius. 1999.&lt;br /&gt;3. Diktat Mata Kuliah Sejarah Filsafat Yunani Kuno: Pengantar ke dalam Dialog Plato  Pertemua ke-8 Sejarah Filsafat Yunani Kuno: Pengantar ke dalam Dialog Plato.  &lt;br /&gt;4. L. Tjahjadi, Simon Petrus. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. 2004.&lt;br /&gt;5. Rakhmat, Ioanes. Sokrates Dalam Tetralogi Plato: Sebuah Pengantar dan Terjemahan Teks, Jakarta: Gramedia. 2009.&lt;br /&gt;6. Snijders, Adelbert. Manusia dan Kebenaran. Yogyakarta: Kanisius. 2006.&lt;br /&gt;7. http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/kedokteran/dampak-merokok-bagi-kesehatan,</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/3873885086625357936/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/01/paper-sejarah-filsafat-yunani-kuno.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/3873885086625357936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/3873885086625357936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/01/paper-sejarah-filsafat-yunani-kuno.html' title='Paper Sejarah Filsafat Yunani Kuno'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-416148075465271985</id><published>2010-01-29T16:51:00.000-08:00</published><updated>2010-01-29T16:54:07.738-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="belajar ilmiah"/><title type='text'>Seminar Plato dalam Phaedo</title><content type='html'>“Bukti Tentang Pengetahuan Bentuk yang Abadi Dalam Buku&lt;br /&gt;Phaedo”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAPER AKHIR PENGGANTI UAS MATA KULIAH&lt;br /&gt;SEMINAR PLATO DALAM PHAEDO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:&lt;br /&gt;Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. Penjelasan Umum Tentang Isi Phaedo &lt;br /&gt; Secara umum, teks dialog Phaedo ini berisikan tentang percakapan terakhir Sokrates sebelum minum racun. Dialog tersebut diawali dengan cerita Phaedo, seorang murid Sokrates, yang hendak pulang setelah menyaksikan Sokrates dieksekusi. Di tengah perjalanan pulang, Phaedo bertemu dengan Ekhekrates. Kemudian Ekhekrates meminta Phaedo menceritakan tentang semua yang terjadi menjelang eksekusi Sokrates. Akhirnya Ekhekrates menceritakan secara detail tentang semua dialog yang terjadi di dalam penjara tempat Sokrates ditahan. Dalam konteks inilah dialog tersebut dibangun.&lt;br /&gt; Terdapat beberapa tokoh yang terlibat dalam dialog tersebut, yaitu Phaedo, Ekhekrates dari Flius, Sokrates, Apollodorus, Simmias, Kebes, Krito, dan penjaga penjara. Inti dari dialog mereka adalah membicarakan tentang jiwa serta kehidupan setelah mati. Teori Plato mengenai idea atau bentuk dan mengenai immortalitas jiwa menjadi topik utama dalam teks dialog Phaedo ini. &lt;br /&gt;B. Tempat Topik Ditemukan&lt;br /&gt; Secara khusus, pembahasan saya dalam paper ini adalah menemukan dan mengurai mengenai pembukti tentang pengetahuan akan bentuk yang abadi dalam teks Phaedo ini. Kemudian yang menjadi pertanyaan, pada bagian manakah topic tersebut ditemukan dalam teks Phaedo? &lt;br /&gt;Setelah melakukan analisis teks, kita akan mulai menemukan topik mengenai pembuktian tentang ide-ide yang abadi ketika dalam dialog mulai membicarakan tentang hakikat dari realitas. Sebagai contoh, tema tentang bukti tentang pengetahuan bentuk yang abadi, secara implisit dapat ditemukan dalam teks Phaedo pasal 65b-67b. Dalam beberapa pasal tersebut mulai memuat gagasan Plato mengenai idea atau bentuk, sesuatu yang terdapat di kawasan entitas, yang hanya bisa dicapai melalui nalar. Lebih lanjut Sokrates berargumen bahwa bernalar adalah kegiatan dari jiwa (65c).&lt;br /&gt;Penjelasan mengenai ide-ide yang abadi erat kaitannya pula dengan teori mengenai  reminiscentia. Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa sebenarnya jiwa sebelum terpenjara di dalam tubuh, ia berada di suatu tempat di mana dia memandang ide-ide yang abadi. Artinya bahwa proses pengetahuan merupakan pengingatan kembali. Ide diingatkan kembali melalui proses reminiscentia. Mengingat kembali ide-ide yang dilihatnya sebelum terpenjara dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB II&lt;br /&gt;ANALISIS TEKS&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. Kutipan Teks Di Mana Isi Diperkenalkan&lt;br /&gt; Saya akan memulai analisis tema tentang pembuktian akan bentuk yang abadi dalam teks Phaedo ini dengan beberapa kutipan yang menjadi titik tolak atau awal dan alur dialog tentang tema tersebut, yaitu kutipan tentang awal dialog tentang tema, mengenai teori recollection, dan argument pembuktian dari Sokrates: &lt;br /&gt;“Tetapi apakah engkau menyentuh dan mengenali hal-hal semacam itu dengan indra lain apa pun yang dating dari tubuh? Aku sedang berbicara mengenai hakikat dari segala hal semacam itu, mengenai hakikat kebesaran dan kesehatan dan kekuatan dan, pendek kata, hakikat segala sesuatu lainnya, apa pun ini. Apakah kebenaran paling sejati mengenai semua hal semacam itu dilihat melalui tubuh? Ataukah halnya demikian ini: orang di antara kita yang paling baik mempersiapkan diri untuk memikirkan dalam-dalam dan sepenuh-penuhnya dan dengan sepersis mungkin setiap hal yang sedang diselidikinya, orang inilah yang akan sedekat-dekatnya mengenali setiap hal?” (Phaedo 65d-65e)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… Menurut argumen ini, aku beranggapan bahwa apa yang sekarang ini kita ingat, sesungguhnya adalah apa yang kita telah pelajari beberapa waktu sebelumnya. Tetapi tidaklah dimungkinkan jika jiwa kita tidak berada di suatu tempat sebelum dilahirkan dalam wujud manusia di dunia ini. Jadi, dengan sudut pandang ini juga, jiwa kelihatannya adalah sesuatu yang tidak binasa” (Phaedo 73a)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi ketika jiwa, dari dan pada dirinya sendiri, menyelidiki, dia pergi ke sana, ke sesuatu yang murni dan selalu ada, dan dia tidak bisa mati dan tetap berada dalam kondisi yang sama. Dan karena jiwa berhubungan dengannya, dengan sesuatu yang murni ini, jiwa terus-menerus berada bersamanya, yakni ketika dia menjdai dirinya sendiri oleh dirinya sendiri, dan hal ini dimungkinkan untuk dirinya.” (Phaedo 79d)&lt;br /&gt;B. Tesis yang Harus Dibuktikan&lt;br /&gt; Pada analisis teks ini saya ingin menjawab pertanyaan mengenai apakah jiwa itu abadi (pembuktian melalui pengetahuan akan ide-ide yang abadi)? Dengan kata lain, jiwa itu abadi karena mampu memikirkan atau menalar ide-ide abadi. Pertanyaan selanjutnya bagaimana penjelasan akan argumen Sokrates bahwa jiwa mempunyai sifat yang abadi karena mampu memikirkan ide-ide yang abadi?&lt;br /&gt;C. Identifikasi Titik Awal Diskusi&lt;br /&gt; Awal dari dialog menganai ide-ide yang abadi adalah rangkaian dari argument pembuktian Sokrates bahwa jiwa itu mempunyai sifat yang tetap, tidak berubah, dan abadi. Dari tujuan tersebut mulai mengalirlah sebuh dialog penjelasan lebih lanjut. Mulai dari Sokrates yang kemudian melanjutkan dengan mengajukan argumen bahwa manusia sebiasa mungkin harus membebaskan diri dari keinginan tubuh. Karena tubuh membuat jiwa tidak bebas untuk bernalar. Jiwa bernalar paling indah ketika tidak satu pun dari hal-hal ragawi darinya menghalanginya, juga ketika dia berusaha dengan keras menemukan hakikat dari segala sesuatu. &lt;br /&gt;D. Kesimpulan yang Ingin Dicapai&lt;br /&gt;Kemudian memang pada akhirnya di kesimpulan dapat saya mampu menunjukkan bahwa jiwa itu mempunyai sifat yang abadi karena jiwa dapat memikirkan ide-ide atau bentuk-bentuk abadi. Logikanya demikian: karena jiwa mampu memikirkan ide-ide abadi, maka jiwapun mempunyai sifat yang abadi tersebut (79d).&lt;br /&gt;E. Argumentasi Langkah demi Langkah&lt;br /&gt;Sebelum kita melihat secara detail argumentasi langkah demi langkah yang terjadi dalam dialog untuk membuktikan bahwa jiwa itu abadi, melalui pengetahuan akan ide-ide yang abadi, mari kita melihat pemikiran Plato secara umum mengenai ajarannya tentang idea atau bentuk. Dalam filsafatnya Plato membagi realitas kedalam dua bentuk. Realitas pertama mencakup segala benda-benda jasmani yang sanggup ditangkap oleh indera manusia (kasat mata). Karena sifatnya yang menyangkut benda-benda jasmani, itu berarti masih terdapat perubahan di dalamnya. Sedangkan realitas kedua adalah ranah di balik dunia materi. Realitas ini disebut sebagai dunia idea, yang di dalamnya terdapat pola-pola yang tidak dapat rusak atau terkikis oleh waktu. &lt;br /&gt;Realitas tentang dunia idea menjadi inti ajaran Plato. Plato memandang bahwa realitas idea adalah realitas yang sesungguhnya Ide adalah sesuatu yang objektif. Realitas ide tidak diciptakan oleh pemikiran dan tidak tergantung olehnya pula. Realitas ide ini mempunyai sifat abadi, tetap, dan kekal. Sedangkan realitas dunia materi hanya bayang-bayang atau tiruan dari realitas idea. Realitas di dunia mempunyai sifat yang tidak tetap, selalu berubah, dan rapuh. Dialog Phaedo pun menjelaskan bahwa jika orang dapat masuk dalam kawasan ide ini (contoh Phaedo 65b-67b), ia akan mendapatkan pengetahuan yang universal dan hakiki, yang sempurna, murni dan tidak berubah dan kebijaksanaan yang tidak akan rentan oleh waktu atau perubahan (79a). Dengan kata lain Plato memandang bahwa akal budi merupakan sarana bagi seseorang untuk mampu menangkap pengetahuan mengenai segala sesuatu tentang ide (79a).&lt;br /&gt;Alur penjelasan tentang jiwa yang bernalar atau mencari hakikat dari segala sesuatu berlanjut dengan penjelasan bahwa sebelum manusia dilahirkan, ia telah memiliki pengetahuanya yang hakiki. Sebelum terpenjara dalam tubuh, jiwa berada pada suatu tempat dimana terdapat ide-ide yang abadi dan sempurna, yang menyinari segala realitas yang ada di dunia. Dan proses pembelajaran yang terjadi dalam kehidupannya adalah sebuah proses mengingat (reminiscentia). Hal ini berkaitan dengan argumen bahwa jiwa manusia sudah ada lebih awal juga, sebelum jiwa memakai rupa insani, dan mereka terpisah dari tubuh dan memiliki kebijaksanaan (76c). &lt;br /&gt;Oleh Plato Ide tentang kekekalan ini juga dikaitkan dengan manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa. Tubuh adalah sesuatu yang kasat mata yang rapuh dan dapat berubah. Sedangkan jiwa adalah sesuatu yang tidak kasat mata. Jiwa selalu ingin berfilsafat dengan benar, dan mempraktikkan apa yang selalu menjadi kepeduliannya yang tetap, yakni mengalami kematian dengan mumi. Dengan demikian dapat dikatakan jiwa akan pergi ke suatu kawasan yang serupa dengan dirinya sendiri, ke kawasan yang tidak kasat mata, kawasan ilahi dan kearifan.&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah kita melihat dan meruntut argumen langkah demi langkah, mulai dari menjadi jelas bahwa jiwalah yang mengenali ide-ide. Maka, kalau jiwa dapat mengenali ide-ide, tentunya jiwa pun mempunyai sifat-sifat yang sama dengan ide-ide (79d).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB III&lt;br /&gt;TINJAUAN KRITIS TESIS atau BUKTI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kekuatan Argumentasi&lt;br /&gt; Menurut pandangan saya, jika dilihat dari sisi logika atau penalaran proses berpikir, argumentasi yang diajukan Plato melalui Sokrates  cukup baik. Artinya, secara proses berpikir logika formal, penalarannya lurus. Hal tersebut bisa dijelaskan dengan menengok kembali alur berpikirnya sehingga sampai pada kesimpulan yang lurus pula.  Namun untuk kebenarannya masih belum tentu, karena didalannya masih sangat kuat akan pengandaian-pengandaian. Jadi intinya secara logika formal alur berpikir sehingga sampai pada kesimpulan bahwa jiwa itu abadi cukuplah kuat.&lt;br /&gt;B. Kelemahan Argumentasi&lt;br /&gt; Satu kelemahan argumentasi yang paling mencolok dari teori Plato tentang ide-ide adalah terlalu banyaknya pengendaian-pengandaian yang ada di dalamnya. Sebagai contoh jika diuji dengan pertanyaan bagaimana Plato bisa mengetahui bahwa jiwa manusia sudah ada di suatu tempat sebelum dilahirkan menjadi manusia? Kemudian kritik terhadap logika yang dipakai Plato mengenai teroi mengingat. Karena jiwa bisa mengeingat ide-ide abadi maka ia pun mempunyai sifat abadi itu pula.&lt;br /&gt;Kritik lain adalah dengan mencoba melihat kontradiksi dari argumen Plato satu dengan yang lain. Bagaimana Plato dengan tegas menolak peran tubuh dalam keberadaan manusia sedangkan di sisi lain dalam mengenali ide-ide abadi, Plato tidak bisa mengingkari bahwa dengan begitu dia pun membutuhkan tubuh untuk mengenali ide-ide. Bagaimana jiwa bisa mengenali ide-ide abadi jika tidak dibantu oleh tubuh menangkap realitas yang ada di dunia, yang kemudian membantu ingatannya akan ide-ide abadi yang pernah dilihatnya sebelum masuk kedalam tubuh. &lt;br /&gt;C. Pengajuan Bukti yang Berbeda&lt;br /&gt; Saya ingin mengajukan bukti-bukti berbeda terhadap tiap argumen Plato. Pertama, mengenai argument Plato bahwa jiwa sudah ada sebelum ia dilahirkan. Bagaimana Plato membuktikan argument tersebut pun tidak bisa kita ketahui. Pembutikan lain jika mengenai bahwa tidak serta merta jiwa yang bisa mengingat ide-ide abadi, maka ia pun mempunyai sifat-sifat abadi. Argumen Plato tersebut menjadi terpatahkan jika kita melihat teori Aristoteles mengenai causa prima. Penjelasan lebih lanjut mengenai teori causa prima ini  akan kita lihat pada pembahasan mengenai tinjauan pustaka lain di bawah.&lt;br /&gt;D. Tinjauan Pustaka lain yang Memperkuat Argumen &lt;br /&gt; Filsafat Aristoteles mengenai causa bisa menjadi acuan untuk memperkuat tinjauan kritis untuk melihat filsafat Plato mengenai ide-ide abadi. Aristoteles menganggap hakikat setiap benda tidak terdapat di luar , melainkan di dalam benda itu sendiri. Hakikat setiap benda bisa dikenali dan diartikan dengan menggunakan empat penyebab. Pertama, penyebab formal (Causa formalis) diartikan sebagai bentuk yang menyusun benda tersebut. Kedua, penyebab final (causa finalis) sebagai tujuan yang menjadi arah terbentuknya benda tersebut. Ketiga, penyebab efisien (causa efficiens) dipahami sebagai penggearak yang menjalankan benda tersebut. Keempat, penyebab materi (causa material) sebagai bahan pembentuk terciptanya benda tersebut. Jadi pengetahuan tidak berasal dari ide-ide, namun berasal dari abstraksi beradasarkan penyebab-penyebab tersebut. &lt;br /&gt; Di samping keempat penyebab tersebut, terdapat satu causa yang menjadi pusat, yakni causa prima. Penggerak yang tidak digerakkan. Penyebab inilah yang menjadi penggerak pertama dari segala realitas di seluruh alam. Semua realitas yang ada di alam muncul dari dan bertujuan akhir darinya. Meskipun semua realitas muncul dan bersumber padanya, hal tersebut tidak berarti serta-merta realitas tersebut mempunyai sifat yang sama dengannya, yaitu abadi, tetap dan murni. Hal tersebut jelas bertentangan dengan argumen Plato yang mengatakan bahwa karena mampu mengingat ide-ide, maka jiwapun mempunyai sifat yang sama dengan ide-ide tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;PENEMUAN PENTING PLATO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada bagian ini kita akan melihat penemuan penting Plato yang berkaitan dengan tema bahwa jiwa itu abadi karena mampu memikirkan ide-ide abadi.  Hal pertama adalah bahwa suatu konsep mengenai mengenal ternyata sama dengan mengingat (reminiscentia). Bagi Plato pengenalan tidak lain dari pada pengingatan akan ide-ide yang telah dilihat pada waktu pre-eksistensi.  Penemuan tersebut menjadi penting karena itu berarti sebenarnya setiap manusia mempunyai potensi yang sama untuk memiliki pengetahuan. Setiap manusia berpotensi untuk memiliki pengetahuan yang sempurna dan benar. Jika manusia sungguh memaksimalkan apa yang menjadi potensinya tidak ada lagi kelas-kelas sosial yang didasarkan oleh kompetensi.&lt;br /&gt; Penemuan penting lainnya adalah mengenai konsep reminiscientia yang jika ditarik lebih dalam mengandung unsur keabadian. Artinya mengingat kembali (reminiscientia) sama dengan abadi (immortal). Sebuah konsep yang sekiranya penting bagi proses pembelajaran. Penemuan baru yang mampu membawa manusia untuk semakin terpacu melakukan proses pembelajaran, semakin mendekati ide-ide. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB V&lt;br /&gt;RELEVANSI dengan FILSAFAT KRISTIANI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada bagian ini saya akan memaparkan sebuah tinjauan tentang relevansi antara tema yang dibahsa, yaitu tentang pengetahuan akan ide-ide abadi, dengan ajaran Kristiani. Pertanyaannya apakah ajaran Plato tentang ide-ide, seperti yang dibahas di atas juga terdapat dalam ajaran filsafat Kristiani? dan bagaimana bentuk hal itu diterapkan dalam terang filsafat Kristiani?&lt;br /&gt; Berbicara mengenai ajaran Plato tentang ide-ide, ada beberapa filsuf Kristiani yang juga menggunakannya sebagai tema ajaran filsafatnya. Pertama, Agustinus(343-430) seorang filsuf dan teolog Kristen terbesar dalam sejarah gereja. Dalam konteks ini kita akan melihat ajarannya yang sering disebut iluminasi. Ajaran Agustinus tentang iluminasi bertitik tolak dari hubungan budi manusia dengan Budi Ilahi. &lt;br /&gt;Bagi Agustinus pengetahuan yang murni, tetap dan kekal tidak berasal dari indrawi.  Namun, Agustinus menolak ajaran Plato tentang keberadaan jiwa yang sudah ada sebelum manusia dilahirkan. Pengetahuan yang sejati berasal dari cahaya batin Allah yang menyinari manusia dari dalam.&lt;br /&gt;Ajaran Agustinus mengenai iluminasi menjelaskan bahwa hubungan budi manusia dan Budi Ilahi menjamin manusia mampu menuju pengetahuan yang benar.  jadi dalam kristiani apa yang disebut Plato sebagai ide-ide langsung diterjemahkan sebagai Allah sendiri. Sebagai contoh kita bisa melihat secara langsung, bagaimana setiap akan melakuakan pertemuan-pertemuan seperti konsili, sinode, dan sabagainya. Para Bapa Gereja selalu berdoa agar Allah mencurahkan Roh Kudus-Nya untuk menerangi budi mereka, agar apa yang mereka perbincangkan sungguh-sungguh sesuai dengan pikiran dan kehendak Allah. Artinya praktik itu bisa kita terjemahkan sebagai permohonan kepada Allah supaya memancarkan Budi Ilahi-Nya sehingga mampu memperoleh pengetahuan yang benar.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB V&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Jiwa mempunyai sifat yang abadi. Penjelasannya karena jiwa mampu mengingat kembali (reminiscentia) dan memikirkan ide-ide abadi yang mempunyai sifat abadi, tetap, dan tidak berubah. Jika dilihat secara logika argument tersebut mempunyai kekuatan. Namun untuk kebenaran perlu dipertanyakan kembali, karena memang masih banyak pengandaian yang terdapat di dalamnya. Misalnya diandaikan bahwa ada suatu tempat di man ide-ide abadi berada. Bagimana kita tahu keberadaan tempat itu? Sungguh adakah temapat seperti itu? Karena kalau tidak ada maka runtuhlah semua argumen Plato.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/416148075465271985/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/01/seminar-plato-dalam-phaedo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/416148075465271985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/416148075465271985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/01/seminar-plato-dalam-phaedo.html' title='Seminar Plato dalam Phaedo'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5004841093764052731.post-7071132993666922595</id><published>2010-01-29T16:48:00.000-08:00</published><updated>2010-01-29T16:51:20.101-08:00</updated><title type='text'>Fenomenologi Husserl</title><content type='html'>Fenomenologi Edmund Husserl dalam Meninjau Pengalaman Beragama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAPER AKHIR SEBAGAI PENGGANTI UAS MATA KULIAH &lt;br /&gt;METODOLOGI PENELITIAN FILSAFAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:&lt;br /&gt;Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat realitas yang terjadi dalam masyarakat saat ini, beberapa agama dan segala macam unsur yang terkandung di dalamnya, seperti orang yang menganut, ajaran (dogma), tata cara peribadatannya, aturan, dan sebagainya, mendapat banyak sorotan negatif dalam masyarakat.&lt;br /&gt; Salah satu fenomena yang bisa menjadi contoh penyebab banyaknya sorotan negatif terhadap agama adalah kasus-kasus pengeboman yang terjadi di negara kita. Fenomena pengeboman-pengeboman yang terjadi di Negara kita sadar atau tidak mulai memberikan stereo-tipe atau cap-cap dalam benak masyarakat kepada agama. Cap-cap tersebut mempunyai kecenderungan untuk melakukan generalisasi. Artinya sebenarnya pelakunya hanyalah segelintir kecil bagian dari agama tersebut, namun bagi mereka yang berpikiran sempit membawanya sampai tataran keseluruhan bagian dari agama tersebut. Akhirnya jelaslah dampaknya terkena bagi mereka, para pemeluk agama, yang nyatanya dalam kehidupan sehari-hari justru karena perintah agamanya mempunyai keutamaan-keutamaan, moral yang baik dan sangat menghargai kehidupan.&lt;br /&gt;Paper ini berjudul “Fenomenologi Edmund Husserl dalam Meninjau Pengalaman Beragama”. Masalah yang ingin disajikan dan diamati dalam paper ini adalah melihat dan mengembalikan penilaian tentang agama dari sudut pandang pemeluk agama itu sendiri. Keprihatinan akan realitas seperti yang dipaparan di atas pula lah yang kiranya menjadi latar belakang penulisan penelitian ini. Saya bermaksud untuk mengembalikan penilaian mengenai agama kepada para penganutnya.   &lt;br /&gt;Paper ini memuat dua bagian penting. Pertama, teori mengenai Fenomenologi dari Edmund Husserl. Bagian Kedua, langsung menampilkan hasil wawancara dari salah satu subjek pemeluk suatu agama. Ia adalah seorang Imam Gereja Katolik yang mempunyai penghayatan dan pemahaman yang baik tentang agama dan hidup beragama.  Dalam wawancara tersebut saya menggunakan kerangka 5 W dan 1 H. Secara lebih detail demikian pertanyaan yang saya ajukan kepada subjek tersebut:&lt;br /&gt;1. Apa makna agama bagi anda?&lt;br /&gt;2. Mengapa memutuskan untuk menjadi pemeluk agama tertentu?&lt;br /&gt;3. Siapakah yang mengenalkan anda dengan agama?&lt;br /&gt;4. Adakah sosok atau panutan dalam menjalani hidup beragama?&lt;br /&gt;5. Kapan mulai memutuskan untuk beragama?&lt;br /&gt;6. Bagaimana pengalaman selama ini dalam menghayati agama?&lt;br /&gt;7. Adakah pengalaman paling mengesan selama beragama? Ceritakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara tersebut saya lakukan pada tanggal 9 Nopember 2009 pukul 17.30 WIB&lt;br /&gt; Bagian selanjutnya kita akan melihat kesimpulan tentang pengalaman beragama dari sudut pemeluk agama itu sendiri. Kemudian sedikit tanggapan kritis     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB II&lt;br /&gt;KERANGKA TEORI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Fenomenologi Husserl &lt;br /&gt;Edmund Gustav Aibercht Husserl, lahir di Prestejov (dahulu Prossnitz) di Czechoslovakia 8 April 1859 dari keluarga yahudi, golongan menengah. Pada usia ke 27 tahun, dia dibaptis di dalam Gereja Kristen Protestan, karena terpengaruh oleh sahabatnya, G Albrecht.  Semasa hidupnya ia bekerja sebagai dosen di Unversitas Halle dari tahun 1886-1901, kemudian di Gottingen sampai tahun 1916. Husserl terkenal dengan metode yang diciptakannya, yakni “Fenomenologi”. Husserl meninggal tahun 1938 di Freiburg. Beberapa karya utamanya: Logical, Investigation, Ideas, Lectures on Internal Time-Consciousness, Transcendental Phenomenology, dan Cartesian Meditations.&lt;br /&gt;Husserl adalah seorang filsuf Jerman sekaligus pendiri gerakan fenomenologi. Gerakan ini memang awalnya adalah sebagai kritik atas positivisme. Karena dalam positivisme seakan-akan dibedakan secara jelas anatara subjek-objek. Kebenaran mutlak ada di tangan subjek. Objek tidak mendapatkan ruang untuk turut mengungkapkan kebenaran atas dirinya sendiri.&lt;br /&gt; Sebuah ungkapannya yang terkenal dan langsung mampu mencirikan metode fenomenologinya adalah “kita perlu kembali ke benda-benda sendiri” (Zu den Sachen selbst).  Istilah fenomenologi sendiri sebenarnya berasal dari kata fenomena (phainesthai) dan logos.  Dengan demikian bisa kita tarik bahwa fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak dan apa yang menampakkan diri atau fenomen. Fenomen adalah realitas tampak yang sama sekali lain.  Inti penekanan dalam metode fenomenologi yang ia tawarkan adalah “deskripsi murni terhadap objek atau tindakan apapun yang tampak atau nyata dalam medan kesadaran” . &lt;br /&gt;Lebih lanjut fenomenologi merupakan usaha untuk memahami kesadaran dari sudut pandang subjektif orang terkait. Artinya, berusaha berfokus pada sebuah pemahaman kesadaran pengalaman subjektif orang pertama.   Fenomenologi berusahaapa yang anda pikirkan, rasakan dan lakukan, sekali lagi dari sudut pandang orang pertama. Metode fenomenologi selalu mengarah ke luar atau berhubungan dengan realitas di luar pikiran. Konsep akan makna pun sungguh sangat di tekankan&lt;br /&gt;Fenomenologi menjadi penyebab munculnya kesadaran intensional. Intensionalitas merupakan keterarahan kesadaran (directedness of consciousness) dan juga merupakan keterarahan tindakan, yakni tindakan yang bertujuan pada sesuatu hal.  Setiap kesadarandan pikiran selalu memiliki intensionalnya.&lt;br /&gt;  Intinya memang bahwa fenomeneologi Husserl ingin menganalisis dunia sebagaimana objek mengalami secara subjektif atau mengguanakan pengalamannya sendiri tanpa ada penilaian dari pihak luar dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB III&lt;br /&gt;ANALISIS MASALAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampilan Hasil Wawancara&lt;br /&gt; Ia membuka ceritanya dengan mengungkapkan bahwa ia lahir dan dibesarkan dari keluarga religius. Religius rtinya keluarga yang taat beragama. Taat beragama di sini dalam penghayatannya adalah patuh menjalankan Sepuluh Perintah Allah yang ada dalam agamanya, Katolik. &lt;br /&gt; Cerita kemudian berlanjut dengan menceritakan Papa nya. Papa nya sejak yang memang sejak awal mempunyai cita-cita agar kelak dalam diri anak-anaknya pun tertanam sikap religiusitas yang kuat. Agar anak-anaknya senantiasa memiliki rasa cinta akan Tuhan yang senatiasa menemani dan menyertai dalam hidup mereka. Didikan dari Papa nya nampak secara nyata dalam bentuk keteladanan hidup untuk melakukan Sepuluh Perintah Allah tadi dan doa-doa secara pribadi maupun doa bersama dalam keluarga. &lt;br /&gt;Ia menambahkan bahwa pernah suatu ketika Papa nya merasa teruji ketaatannya akan Sepuluh Perintah Allah yang dihayati dan diajarkannya kepada anak-anaknya. Ketika bertugas malam sebagai seorang satpam, tiba-tiba seorang perempuan datang dan mengajaknya untuk berselingkuh. Namun karena keteguhan hati dari papanya akan penghayatan Sepuluh Perintah Allah tersebut, papannya menolak secara tegas ajakan perempuan tersebut.&lt;br /&gt;Menurut ia penghayatan agama dan pengembangan akan kerohanian semakin berkembang dan terbangun ketika masuk Seminari. Sebuah tepat untuk pembinaan para calon Imam dalam Gereja Katolik. Terbangun dalam hal ini terlihat dari orang semakin memahami akan ajaran-ajaran agamanya. Kemudian juga semakin terbangunnya relasi yang personal dengan Tuhan, baik secara pribadi maupun komunitas. Ditanyai mengapa bisa semakin terbangun? Ia menjawab karena pelajaran agama yang didapatkannya serta pengkondisian di lingkungan seminari untuk semakin membangun relasi yang personal dengan Tuhan.&lt;br /&gt;Dalam kesadaran pengalaman penghayatan ia akan agama, ia menilai relasi yang personal dengan Tuhan memegang posisi yang sangat sentral. Ia sendiri menghayatinya dengan membandingkan relasi yang ia bangun dengan keluarga, sahabat, dan teman-teman. Bagaimana ia mengalami kerinduan ketika ia tidak bertemu dengan mereka. Hal tersebut langsung ia tarik kepada pemaknaan bahwa berarti kerinduannya akan Tuhan pun harus bisa lebih besar dari kerinduannya akan keluarga, sahabat, dan teman-teman.&lt;br /&gt;Ia memahami bahwa semangat religiusitas atau penghayatan tidak hanya sekedar pada tataran kewajiban atau rutinitas belaka. Namun seharusnya sampai pada kesadaran akan kebutuhan dan kerinduan akan menjalin relasi yang personal dengan Allah. Menurutnya inilah penghayatan yang dewasa dalam iman.&lt;br /&gt;Kemudian ketika ditanyai tanggapan mengenai sikap “lunak” akan penghayatan atau pelaksanaan aturan-aturan yang terjadi dalam agamanya, ia menjawab itulah realitas yang terjadi dalam Gereja. Artinya pengontrolan terhadap pelaksanaan ajaran dan aturan dalam Gereja dikembalikan kepada masing-masing pribadi. Gereja hanya memberikan sarana. Sampai saat ini Gereja hanya berhenti pada sebuah himbauan-himbaun moral kepada para pengikutnya. Pun juga demikan halnya akan peran para pemimpin dan komunitas, yang sudah mulai tidak nampak. Semuanya seakan-akan dikembalikan kepada masing-masing pribadi. Dalam benaknya juga bertanya apakah ini berkaitan dengan penyuaraan akan Hak Asasi Manusia yang sudah sangat ramai pada saat ini? Yang akhirnya membawa kepada pemahaman bahwa Gereja bukan satu-satunya institusi yang melihat orang ini bersalah atau tidak.&lt;br /&gt;Lantas bagi ia apakah arti penting atau makna dari ajaran atau aturan-aturan yang ada dalam agamanya bagi hidupnya? Ia kembali merujuk kepada Sepuluh Perintah Allah yang ada dalam agamanya. Menurut ia tiga perintah pertama menyangkut relasi anata Tuhan dan manusia. Sedangkan tujuh perintah selanjutnya menyangkut relasi antar manusia. Hukum tersebut oleh Yesus disempurnakan, bahwa perintah yang pertama dan utama adalah “Cintailah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu…..” sedangkan perintah selanjutnya adalah “Cintailah juga sesamu manusia dengan segenap hatimu….” untuk hal ini ia lebih tertarik dengan bahasa yang digunakan oleh Yohanes dalam bacaan Injil.&lt;br /&gt;Melanjutkan pemahaman dan penghayatan akan aturan-aturan dalam gereja, ia memandang bahwa kalau orang tidak menghayati dan menghidupi Sepuluh Perintah Allah tersebut akan terjadi kekacauan yang luar biasa di dalam hidup masyarakat. Orang akan semakin terikat pada egoisme diri, yang penting membawa kesenangan bagi dirinya sendiri. Akhirnya disinilah letak peran dari Sepuluh Perintah Allah tersebut, yaitu menjadi pengerem seseorang dalam menghayati hidupnya. Membuat seseorang akhirnya mampu menghargai privasi orang lain dan sebagainya.&lt;br /&gt;Penghayatan terhadap Sepuluh Perintah Allah tersebut oleh ia dihubungkan dengan sikap humanisme yang sangat berkembang di Eropa. Sampai pada munculnya dua istilah yang berkaitan dengannya, yaitu kesalehan sosial dankesalehan ritual. Banyak orang muali meninggalkan kesalehan ritual dan lebih mengarah pada kesalehan sosial. Namun ia mengungkapkan bahwa kita tidak boleh lupa bahwa sejatinya sikap humanisme pun muncul atau lahir dari Gereja. Hal ini tetap kaitannya dengan isi dari perintah Allah yang mengatur cara hidup dengan sesama manusia. Ia pun menyadari bahwa hal ini merupakan tantangan yang juga akan dihadapi oleh Gereja Katolik di Indonesia. Maka dari itu perlu adanya upaya kreatif.&lt;br /&gt;Lantas apa tanggapan ia mengenai klaim yang menyatakan bahwa justru agamalah yang terkadang menjadi penyebab kekacauan? Ia mengungkapakan bahwa hal tersebut bisa terjadi jika di dalam institusi Gereja tidak ada tokoh. Sebgai contoh tokoh seperti Yohanes Paulus II yang menetang infasi Amerika Serikat kepada Irak. Ia memandang sosok figur atau ketokohan memiliki arti penting dalam Gereja. Memang gereja bukan hanya kumpulan orang-orang kudus, namun sekaligus berbagai macam orang terkumpul di dalamnya. Sekaligus berdosa sekaligus kudus.&lt;br /&gt;Dalam menghayati agama ia pun pernah mengalami suatu titik gelap, yang juga dimaknai sebagai pengalaman padang gurun. Suatu keadaan di mana orang merasa tidak dipahami. Sama seperti seorang pemimpin yang terkadang sulit untuk dipahami dan diterima oleh orang-orang yang menjadi pengikutnya. Namun justru dalam titik gelap itulah orang bisa mengetahui secara otentik siapakah pribadi yang dihadapinya tersebut. Disaat semua serba menyenangkan motivasi atau komitmen seseorang belumlah teruji. Namun disaat titik gelap inilah akan nampak secara jelas mana pribadi yang punya komitmen dan tidak.&lt;br /&gt;Menghadapi masa padang gurun tersebut yang menjadi kekuatan adalah sekali lagi relasi yang personal dengan Allah. Relasi yang personal dengan Allah mampu memberikan kekuatan kepada ia di saat tersulit dalam hidupnya, karena merasa bahwa Allah selalu mendampingi dan menemani. Kedua, seseorang harus yakin terhadap apa yang di perjuangkan.&lt;br /&gt;Pemikirannya tentang agama  banyak mengalami perkembangan. Hingga samapidetik ini baginya agama mengandung unsur empat unsur besar, yaitu tokoh pendiri, institusi, ajaran, dan orang-orangnya. Tinggal pertanyaannya mau dibawa kemanakah ketiga unsur tersebut? Menjadi baik bagi mereka sendiri atau baik mau juga baik bagi masyarakat luas. Memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.       &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;BAB IV&lt;br /&gt;KESIMPULAN DAN TANGGAPAN KRITIS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berdasarkan teori fenomenologi Husserl dan di sintesakan dengan hasil wawancara dengan subjek pemeluk agama, dapat disimpulkan bahwa agama baginya mencakup empat unsur poko, yaitu tokoh pendiri, institusi, ajaran, dan orang-orangnya. Hal itu semua berawal dari didikan yang dia peroleh dari keluarga (terutama sososk Papa), hingga akhirnya mampu memikirkan sendiri yang terbaik bagi dirinya. Sedangkan alasanyanya beragama adalah karena pengalaman relasi yang personal dengan Tuhan yang senantiasa mendampingi dan menyertai.  &lt;br /&gt; Sebagai tanggapan kritis, saya ingin mengkritisi metode fenomenologi Husserl. Saya tidak setuju bahwa harus selalu objek sendiri yang menampakkan kebenaran dalam dirinya sendiri. karena memang pada akhirnya tetap subjek lan yang memberikan penilaian akan apa yang menjadi pengetahuannya dari objek. Saya membayangkan dapatkah burung mendeskripsikan sendiri bahwa dia sebenarnya adalah burung A bukan B. Karena pada akhirnya subjek di luar lah yang memberikan penilaian kepadanya. Lantas kadang saya berpikir lalu dimana letak pengaruh penilaian objek mengenai dirinya sendiri? karena memang penilaian itu sifatnya terkesan hanya menjadi sebuah masukan saja bagi subjek diluar dirinya. Ya mungkin akan bernilai bagi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V &lt;br /&gt;DAFTAR ACUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. B. Woodhouse, Mark. Filsafat: Sebuah Langkah Awal. Yogyakarta: Kanisius. 2002.&lt;br /&gt;2. Bertens, K., Filsafat Kontenporer, Inggris-Jerman, Gramedia, Jakarta, 2002.&lt;br /&gt;3. Smith, David Woodruf., Husserl, Routledge, London, 2007.&lt;br /&gt;4. http://jurnalstudi.blogspot.com/2009/03/pemikiran-fenomenologi-menurut-edmund_22.html hr selasa 10 Nop 2009 23.00&lt;br /&gt;5. www.Rezaantonius.multiply.com/Jurnal/item/238/Fenomenologi Edmund Husserl/5 Desember 2007/24:11 WIB.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/feeds/7071132993666922595/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/01/fenomenologi-husserl.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/7071132993666922595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5004841093764052731/posts/default/7071132993666922595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kristoforus-kinoe.blogspot.com/2010/01/fenomenologi-husserl.html' title='Fenomenologi Husserl'/><author><name>Kristoforus Sri Ratulayn K.N</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06890566551003258971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvJDY4hHCctUQk7aHZ7Vhe8JaF07BPevhTZOhZrRm4SYuVEUqqKcqWX6aLCj7zr26fWnI6W90Ng6oOQ-_-SRdrpdqvmLYqmYZjId3jY_Bsu8S0THyclR_dHEz8gih8w/s220/DSC00003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>