<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>@gus b. sadewa</title>
	
	<link>http://agussadewa.berteologi.net</link>
	<description>Cor meum velut mactatum Domino in sacrificium offero</description>
	<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 15:20:36 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
	<language>en</language>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/berteologi/IJqM" /><feedburner:info uri="berteologi/ijqm" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item>
		<title>merenungkan hidup</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/berteologi/IJqM/~3/yEhGBWSQC9w/</link>
		<comments>http://agussadewa.berteologi.net/2010/03/10/merenungkan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 15:19:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sade</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[morosophia]]></category>

		<category><![CDATA[soliloquy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussadewa.berteologi.net/?p=399</guid>
		<description><![CDATA[sebenarnya mana yg lebih mengerikan, manusia bisa mati atau manusia tdk bisa mati? menurut saya, manusia tdk bisa mati. hari ini mereka yg takut mati sebenarnya takut karena ketidaktahuan what&#8217;s gonna happen after death. tapi bagi mereka yg tak peduli dng itu, mati adalah kesenangan. berarti selesai sudah semua penderitaan dunia. tapi bagaimana dng org [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2010/03/celebrate-life-not-death1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-400" title="898293" src="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2010/03/celebrate-life-not-death1-241x300.jpg" alt="" width="241" height="300" /></a>sebenarnya mana yg lebih mengerikan, manusia bisa mati atau manusia tdk bisa mati? menurut saya, manusia tdk bisa mati. hari ini mereka yg takut mati sebenarnya takut karena ketidaktahuan what&#8217;s gonna happen after death. tapi bagi mereka yg tak peduli dng itu, mati adalah kesenangan. berarti selesai sudah semua penderitaan dunia. tapi bagaimana dng org yg selama hidupnya bahagia, apakah ia tak akan merasa sayang mengakhiri hidup? mungkin. namun demikian, di mana-mana kita membaca, tak seorang pun di dunia yg pernah merasa amat puasnya dng kehidupan di dunia ini sampai ia tak ingin mati. banyak org sukses justru mengakhiri hidupnya dng bunuh diri karena mereka merasa empty, bored, depressed.</p>
<p>kembali pada point saya, kalau begitu, lebih mengerikan manusia tak dapat mati. jika kita mengalami hidup penuh derita, ketidakpuasan, dan kt tak pernah bisa mengakhirinya, apakah itu bukan kengerian yang tertinggi? para penulis alkitab memberitahu kt bahwa hidup duniawi bukanlah akhir dari segala-galanya. masih ada life after death. bahkan life after life after death.</p>
<p>pribadi kedua dari tritunggal datang mengambil tubuh manusia, tinggal berkemah bersama-sama dengan manusia, ia the lord yg menjadi slave, mati dalam kematian terhina, disalibkan, tak lain untuk membawa shalom, love, dan hope bagi manusia yang desperate ini. ia mati secara fisik, tapi tubuhnya tak mengalami decay, sebaliknya digantikan dengan tubuh yg baru, tubuh penuh kemuliaan. ia bangkit.</p>
<p>kedatangannya ke dunia membuka jalan bagi manusia untuk dimuliakan, kembali bersekutu dengan allah, dipersatukan dengannya, sehingga hidup yg immortal bukanlah suatu curse, melainkan sebuah blessing. kemuliaan yg dijanjikannya, bukan kemuliaan diri, melainkan kemuliaan yg sejati dalam relasi yg benar dengan allah.</p>
<p>tubuh dlm hal ini menjadi penting. karena justru diperbarui, diganti dengan yg sempurna, tdk sekadar dibuang tinggal roh. pribadi kedua dari tritunggal yg datang dalam tubuh jesus bukan saja menandai penyertaan allah, tapi juga menjadi model, teladan yang konkret, yg dapat dilihat, diraba, diikuti. manusia bisa melihat mimik tuhan dlm diri jesus, gerak langkah, tangisnya, tidurnya, gejolak emosinya, dll. hidupnya bisa direcord, ada dlm sejarah. kedatangannya dlm tubuh memberi kt model bagaimana seharusnya kt hidup. jalan apa yg harus kt tempuh? apa perasaan2 yg perlu kt pupuk, dst.?</p>
<p>sungguh ajaib!</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/berteologi/IJqM/~4/yEhGBWSQC9w" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussadewa.berteologi.net/2010/03/10/merenungkan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://agussadewa.berteologi.net/2010/03/10/merenungkan-hidup/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>sidenote on leadership</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/berteologi/IJqM/~3/68MnmDKEBtg/</link>
		<comments>http://agussadewa.berteologi.net/2010/02/17/sidenote-on-leadership/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 20:28:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sade</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[leadership]]></category>

		<category><![CDATA[soliloquy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussadewa.berteologi.net/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[Why do your followers find it so hard to understand you, leader? I don&#8217;t think it&#8217;s because you aren&#8217;t able to talk well - most of you are good at talking. I think it&#8217;s because you talk only. As a leader you aren&#8217;t only expected to talk well, but also to listen well, to have [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2010/02/f101670leadership-lion-posters.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-396" title="f101670leadership-lion-posters" src="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2010/02/f101670leadership-lion-posters-300x234.jpg" alt="" width="189" height="149" /></a>Why do your followers find it so hard to understand you, leader? I don&#8217;t think it&#8217;s because you aren&#8217;t able to talk well - most of you are good at talking. I think it&#8217;s because you talk only. As a leader you aren&#8217;t only expected to talk well, but also to listen well, to have patience enough to listen to your followers.</p>
<p>mengapa pengikut-pengikutmu merasa sulit memahamimu, pemimpin? kukira bukan karena kau tak mahir bicara. kebanyakan dari kau pandai bicara. kukira sebabnya adalah karena kau cuma berbicara. sebagai pemimpin kau tak hanya diharapkan bisa berbicara dengan baik, tapi juga mendengarkan dengan baik, memiliki cukup kesabaran untuk mendengarkan pengikut-pengikutmu.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/berteologi/IJqM/~4/68MnmDKEBtg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussadewa.berteologi.net/2010/02/17/sidenote-on-leadership/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://agussadewa.berteologi.net/2010/02/17/sidenote-on-leadership/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>christians’ experiences of forgiving their wrongdoers</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/berteologi/IJqM/~3/YuL0XeboSjo/</link>
		<comments>http://agussadewa.berteologi.net/2010/02/15/forgiveness/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 21:23:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sade</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[forgiveness]]></category>

		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussadewa.berteologi.net/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[The literature review relating to the subject matter of the study considers three areas: definitions of forgiveness, Christian understandings of forgiveness, and the prior studies on Christians’ practice of granting forgiveness to other people.
A. Definitions of forgiveness
Rye &#38; Pargament (2002) define forgiveness as letting go of negative feeling (e.g., hostility), negative thoughts (e.g., thoughts of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2010/02/forgiveness.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-387" title="forgiveness" src="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2010/02/forgiveness-300x187.jpg" alt="" width="300" height="187" /></a>The literature review relating to the subject matter of the study considers three areas: definitions of forgiveness, Christian understandings of forgiveness, and the prior studies on Christians’ practice of granting forgiveness to other people.</p>
<p><strong>A. Definitions of forgiveness<br />
</strong>Rye &amp; Pargament (2002) define forgiveness as letting go of negative feeling (e.g., hostility), negative thoughts (e.g., thoughts of revenge), and negative behaviour (e.g., verbal aggression) in response to considerable injustice, and also may involve responding positively toward the perpetrator (e.g., compassion).</p>
<p>There are two types of forgiveness (Worthington, 2003; Exline, Worthington, Hill, &amp; McCullough, 2003; Worthington &amp; Scherer, 2004; Wade &amp; Worthington, 2003), namely decisional forgiveness and emotional forgiveness. The former involves a change in a person’s behavioural intentions, or a change in motivation, toward a perpetrator. The latter is a replacement of negative, unforgiving emotions with positive, other-oriented emotions. At first, the positive emotions neutralize some negative emotions, resulting in a decrease in negative emotions. Once the negative emotions are substantially removed, positive emotions are built.</p>
<p>Most researchers agree that forgiveness should be distinguished from reconciliation (Enright &amp; the Human Development Study Group, 1994; Freedman, 1998), legal pardon (Enright &amp; the Human Development Study Group, 1991), condoning (Veenstra, 1992), and forgetting (Smedes, 1996). Defining forgiveness using these distinctions allows people to forgive without compromising their safety or their right to pursue social justice.</p>
<p>One serious problem is whether forgiveness definitions employed by scholars or researchers are commonly understood by laypersons. Researchers had noticed that there is tendency for both researchers and laypersons to assume a common understanding of forgiveness (Younger et al., 2004; Lawler-Row et al., 2007). DeCourville et al. (2008) also recognized that researchers have apparently little concern with how forgiveness is actually experienced by laypersons. This study is designed to try to understand how people, especially Indonesian Christians, experience and define interpersonal forgiveness for themselves.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>B. Christian understandings of forgiveness<br />
</strong>Christian understandings of forgiveness start with Scripture. The word forgiveness brings to mind memorable biblical texts, such as the prodigal son (Luke 15:11-32), Jesus’ command to forgive seventy times seven, and the parable of the unmerciful servant (Matthew 18:21-35). When instructing the disciples to pray, Jesus prayed by saying “Forgive us our debts, as we also have forgiven our debtors.” (Matthew 6:12, NIV). Even while being crucified, Jesus prayed that God would have mercy on the people responsible, praying “Father, forgive them, for they do not know what they are doing” (Luke 23:34, NIV).</p>
<p>Christian basis of forgiveness lies in the transforming message of the Old Testament and the New Testament. Forgiveness is central to the gospel of salvation and shapes Christian identity. It influences practices of piety, and is emphasized in the Lord&#8217;s Prayer, Christian confessions of faith, and the sacraments. When attempts to practice forgiveness as Christian communities and individuals fail, they repent and ask for God&#8217;s forgiveness. Forgiveness is a gift of God, even as it simultaneously involves their own choices and responses as granters and receivers of forgiveness. As Meek and McMinn (1997) states,</p>
<blockquote><p>&#8230; [F]orgiveness in the Christian Scriptures is much more than religious ritual. It is a progression of healing where people are confronted with the grace and mercy of God, despite their continual failure to deserve it. They learn to proffer the same grace and mercy to others in full awareness of their own fallibility. (p. 51)</p></blockquote>
<p>All people bear the image of God and have the capacity to be forgiving. Forgiveness is necessary because all people are affected by the fall and experience brokenness in their relationships with God and each other (Witvliet, 2001).</p>
<p>Worthington (2003) argues that gratitude, love, humility, justice, and forgiveness are the major emotions and motivations of Christianity. Christians believe that God is always the initiator of forgiveness, and the expected response to God’s love and forgiveness is gratitude (Psalm 50:14, 23; 1 Thessalonians 5:18). Refusal to forgive someone who hurts us indicates not just ingratitude, but a failure to have received God’s forgiveness.</p>
<p>Gratitude, in effect, creates a path where God’s forgiveness can flow through Christians to others. Following Jesus’ instruction, example and commands – out of gratitude for what God has done for them – Christians are to forgive even their enemies. That is the radical teaching and example of Jesus Christ.<br />
Agape love is Christian’s response to the love of God and is the act they are inspired to do for others (Matthew 22:37-40; Mark 12:28-34; Romans 13:9; Galatians 5:14; James 2:18). Christianity also gives special importance to humility (Philippians 2:1-11). Apostle Paul urged people to think of themselves the way Jesus thought of himself: to lay down one’s life on behalf of others and to count others as better than oneself (Philippians 2:3). Apostle Peter counted humility as a cardinal virtue (1 Peter 3:8-9).</p>
<p>Christians believe that God is a just God. He is the essence of justice. He demands that Christians be fair and just as well (Micah 6:8). God is merciful and forgiving (Exodus 34:6-7). Therefore, Christians are also to be forgiving.</p>
<p><strong>C. Prior studies on Christians’ practice of granting forgiveness to other people</strong><br />
Theoretical and empirical research shows that Christians are more adept at forgiving on the whole than are non-Christians (Worthington, 2003; Tsang, McCullough, &amp; Hoyt, 2005). People who are highly committed to Christian beliefs and communities, often value forgiveness highly. They are especially likely to forgive quickly because of the power of their beliefs and values. In fact, people with high religious commitment tend to employ their religious beliefs and values across more situations and throughout a longer duration than those of moderate religious commitment (Worthington, 1988; Worthington, Kurusu, McCullough, &amp; Sandage, 1996).</p>
<p>Gorsuch &amp; Hao (1993) surveyed 1030 participants – a representative sample of American adults. They found that people who were more religiously involved continued to place more value on forgiveness than those who were less personally religious. Consistent with traditional Christian teachings, Protestants, Catholics, evangelicals, and the more personally religious generally reported more forgiving responses than Jewish, no/other religious preference, non-evangelical, and less personally religious respondents.</p>
<p>More recently, Gordon et al. (2008) examined the influences of religious orientation to one’s decision to forgive an actual (as opposed to hypothesized) transgression. The results suggested that individuals whose religious beliefs were more intrinsically oriented reported themselves as more forgiving of an actual interpersonal betrayal, whereas high extrinsic religiosity was predictive of higher scores on a vengefulness measure. Individuals with high extrinsic religious orientation were more likely to be influenced by social pressures to forgive. Taken together, the results reveal that one’s religious orientation may be an influential factor in how and why we choose to forgive others.</p>
<p>Thus, there is a growing body of research documenting the relationships between religiosity and forgiveness. However, as with virtually any research, there are limitations to the studies described previously.</p>
<p>Although Gorsuch &amp; Hao’s (1993) study was based on a nationwide random sample of American adults, its findings only reveal what people think and believe about forgiving others; it does not reveal that religious involvement actually influences the extent to which someone is willing to forgive another in an ongoing relationship.</p>
<p>The research conducted by Gordon et al. (2008) relied on self-report inventories. When less obtrusive means of data collection is used, attention should be given to biases such as social desirability that might lead religious respondents to report that they are actually more “forgiving” than they actually appear to be. The relationship between personal religiousness, spirituality, and forgiveness remains to be examined more fully through in-depth measurement of people’s thoughts, feelings, and behaviours toward their perpetrators.</p>
<p>Another research study suggests that forgiveness is experienced differently. Krause &amp; Ingersoll-Dayton (2001) studied 129 Christians (79 Caucasian, 50 African American) age 65 and over. Results clearly indicated differences: Some Christians forgave quickly, often through imitating God, adhering to Scripture to receive forgiveness from God, or to get other benefits. Other Christians required the perpetrators to do acts of contrition before being willing to grant forgiveness. These acts of contrition involved things such as (1) be aware of wrongdoing, (2) be sorry, (3) express contrition, (4) apologize, (5) ask for forgiveness, (6) offer mitigating account of the transgression, (7) say they will try not to repeat the transgression, (8) change their actual behaviour, (9) make restitution, (10) empathize with their suffering, (11) suffer themselves, (12) try to convince the victim that the perpetrator still values the relationship, or even (13) have the perpetrator keep on giving even after being forgiven.</p>
<p>Krause &amp; Ellison (2003) examined the relationships among forgiveness by God, forgiveness of others, and psychological well-being by interviewing 1,316 elderly Christians, of which about half were Caucasian. They found that elderly Christians who required acts of contrition experienced higher depression, more somatic symptoms, less life satisfaction, and more death anxiety than those who forgave unconditionally. People who felt more forgiven by God were 2 ½ times as likely to forgive without requiring acts of contrition.</p>
<p>This review aimed specifically to explore Christians’ experiences of forgiving their perpetrators. From Scripture, we would expect Christians to forgive more and better than other people. As Worthington (2003) maintained to the degree that Christians practice mercy and gratitude, surrendering to God, and unconditional love without excusing injustice, they ought to be expected to emotionally forgive more often than people whose beliefs and values are different from theirs. Moreover, to the extent that Christians practice responsibility, self-control, justice and accountability, they ought to be expected to proffer decisional forgiveness more than people whose beliefs are different from theirs (Worthington, 2003).</p>
<p>That being said, only because Christians are expected to forgive does not mean that Christians always do forgive. Research conducted by Krause &amp; Ingersoll-Dayton (2001) showed clearly that not everyone experienced forgiveness similarly. Some people forgave instantly. Other people were more reluctant to forgive or intentionally held grudges. Still other people believed that perpetrators had to earn forgiveness through apologizing, suffering, or making restitution. This discrepancies are not as much as Christians might hope, given the central position of forgiveness in Christian doctrines.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/berteologi/IJqM/~4/YuL0XeboSjo" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussadewa.berteologi.net/2010/02/15/forgiveness/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://agussadewa.berteologi.net/2010/02/15/forgiveness/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>pesan natal</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/berteologi/IJqM/~3/fMYrdtOa-bQ/</link>
		<comments>http://agussadewa.berteologi.net/2009/12/24/pesan-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 03:03:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sade</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[church]]></category>

		<category><![CDATA[gospel]]></category>

		<category><![CDATA[irect]]></category>

		<category><![CDATA[justice]]></category>

		<category><![CDATA[pastoral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussadewa.berteologi.net/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita,
dan namanya disebutkan orang:
… Raja Damai” (Yesaya 9:5).
Saudara-saudari yang kekasih,
Hari ini kita memperingati Natal, atau kelahiran Tuhan Yesus di dunia. Nabi Yesaya menubuatkan bahwa Ia telah lahir untuk kita, “dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan” (ayat 6).
Betapa kita merindukan karunia itu. Kita semua menyadari ketiadaan damai dalam masyarakat dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2009/12/nativity.jpg"><img class="size-medium wp-image-382 alignright" title="nativity" src="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2009/12/nativity-212x300.jpg" alt="" width="212" height="300" /></a>“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita,<br />
dan namanya disebutkan orang:<br />
… Raja Damai” (Yesaya 9:5).</p>
<p>Saudara-saudari yang kekasih,</p>
<p>Hari ini kita memperingati Natal, atau kelahiran Tuhan Yesus di dunia. Nabi Yesaya menubuatkan bahwa Ia telah lahir untuk kita, “dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan” (ayat 6).</p>
<p>Betapa kita merindukan karunia itu. Kita semua menyadari ketiadaan damai dalam masyarakat dan dunia – bahkan dalam gereja-gereja.</p>
<p>Ketiadaan damai sebenarnya lahir dari keserakahan, dari keinginan-keinginan yang berlebihan. Begitu mudah, terutama di masa Natal, kita dan anak-anak memusatkan perhatian pada ‘benda-benda’ yang kita ingini.</p>
<p>Padahal berapa banyak pun hadiah yang kita kumpulkan, rasa tak puas akan selalu hinggap di hati. Kita akan mengingini mainan-mainan yang lebih bagus, model-model yang lebih baru, pakaian-pakaian yang lebih ngetrend, dan komputer yang lebih canggih. Seiring dengan berlalunya waktu, mainan-mainan kita rusak, kesenangan kita pudar, dan kita menyadari kebenaran perkataan sang pengkhotbah, “segala sesuatu adalah sia-sia” (Pengkhotbah 1:2b).</p>
<p>Bila kita mempersiapkan diri demi menyambut hadiah Natal yang sejati, kita akan tiba pada sebuah kesadaran bahwa kerinduan-kerinduan kita yang terwujud dalam perilaku konsumeristik dan pemborosan tak terkendali sesungguhnya berasal dari kehausan kita yang terdalam akan Allah.</p>
<p>Dapatkah kita berkata seperti Raja Daud berkata:</p>
<p>“Satu hal telah kuminta kepada TUHAN,<br />
itulah yang kuingini:<br />
diam di rumah TUHAN<br />
seumur hidupku,<br />
menyaksikan kemurahan TUHAN<br />
dan menikmati bait-Nya” (Mazmur 27:4)?</p>
<p>Raja Daud menuangkan mazmur tersebut dalam tulisan ketika ia berada dalam serangan musuh. Tetapi apa yang ia minta bukanlah keselamatan, atau pembelaan, atau kemenangan. Bukan juga kuasa, atau kontrol, atau pembalasan. Tidak! Bahkan di bawah tekanan yg begitu berat, satu hal yang ia minta kepada TUHAN adalah diam di rumah TUHAN, berlama-lama memandangi keindahan dan kemuliaan TUHAN, menikmati rumah TUHAN.</p>
<p>Bagaimana dengan kita? Apakah yang menduduki tempat pertama dalam hati kita? Apakah ‘satu hal’ kita? Kekayaan? Kuasa? Kesuksesan? Kesenangan? Kebebasan? Persetujuan orang lain? Penerimaan? Kesehatan? Pekerjaan? Keluarga? Silakan saudara/i perpanjang sendiri daftar ini!</p>
<p>Dalam setiap keadaan dan relasi dengan orang lain, peperangan ‘satu hal’ berlangsung memperebutkan posisi sentral di hati kita. Saudara/i dan saya akan selamat, jika Tuhan menjadi satu-satunya hal yang memerintah hati dan mengendalikan tindakan-tindakan kita.</p>
<p>Oleh karena terang itu telah turun dan bersinar atas kita, hidup kita diubah oleh kuasa Roh Kudus menjadi manusia baru yang berpartisipasi dalam karya perdamaian dan keadilan – seraya mengakui bahwa kecemburuan TUHAN mahakuasa yang akan menggenapinya, bukan usaha-usaha kita. TUHAN, Allah perjanjian, akan menggenapi rekonsiliasi seantero ciptaan dan melibatkan kita dalam pemerintahan Kristus untuk melaksanakan maksud dan tujuan-Nya.</p>
<p>Ialah Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai yang telah mengalahkan seluruh kuasa kegelapan yang mengancam, menghalangi, merampas, dan menghancurkan kedamaian dunia. Sekarang, di masa antara ini, sebelum pemerintahan Allah sampai pada kesempurnaannya, kuasa-NYA akan bertambah besar, dan sebagai akibat, damai sejahtera takkan berkesudahan.</p>
<p>Selamat Natal!</p>
<p>Pdt. Agus Sadewa</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/berteologi/IJqM/~4/fMYrdtOa-bQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussadewa.berteologi.net/2009/12/24/pesan-natal/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://agussadewa.berteologi.net/2009/12/24/pesan-natal/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>finding your idols</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/berteologi/IJqM/~3/q5jvEYW0IMA/</link>
		<comments>http://agussadewa.berteologi.net/2009/12/03/finding-your-idols/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 04:57:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sade</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[irect]]></category>

		<category><![CDATA[morosophia]]></category>

		<category><![CDATA[sermon]]></category>

		<category><![CDATA[spirituality]]></category>

		<category><![CDATA[translation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussadewa.berteologi.net/?p=369</guid>
		<description><![CDATA[saya menemukan spiritual diagnostic questions di bawah ini berguna untuk menolong saya menemukan berhala-berhala saya.
Apa mimpi terburuk saya? Apa yang paling saya khawatirkan?
 What is my greatest nightmare? What do I worry about most?
Jika saya gagal atau kehilangan sesuatu, apa yang membuat saya merasa tak ingin hidup lagi? Apa yang membuat saya melanjutkan hidup?
 What, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya menemukan <em>spiritual diagnostic questions</em> di bawah ini berguna untuk menolong saya menemukan berhala-berhala saya.</p>
<p>Apa mimpi terburuk saya? Apa yang paling saya khawatirkan?<br />
<em> What is my greatest nightmare? What do I worry about most?</em></p>
<p>Jika saya gagal atau kehilangan sesuatu, apa yang membuat saya merasa tak ingin hidup lagi? Apa yang membuat saya melanjutkan hidup?<br />
<em> What, if I failed or lost it, would cause me to feel that I did not even want to live? What keeps me going?</em></p>
<p>Apa yang saya andalkan, yang menghibur saya ketika hal-hal buruk atau sulit terjadi?<br />
<em>What do I rely on or comfort myself with when things go bad or get difficult?</em></p>
<p>Apa yang paling mudah saya pikirkan? Ke manakah perginya pikiran saya ketika saya seorang diri, santai, tak bekerja? Apa yang memenuhi pikiran saya?<br />
<em>What do I think most easily about? What does my mind go to when I am free? What preoccupies me?</em></p>
<p>Jika doa saya tak terkabul, apa yang membuat saya dengan serius berpikir untuk berpaling dari Allah?<br />
<em>What unanswered prayer would make me seriously think about turning away from God?</em></p>
<p>Apa yang membuat saya merasa amat bernilai atau berharga? Apa yang paling saya banggakan?<br />
<em>What makes me feel the most self-worth? What am I the proudest of?</em></p>
<p>Apa yang sungguh-sungguh saya inginkan dan harapkan dari kehidupan? Apa yang benar-benar membuat saya bahagia?<br />
<em>What do I really want and expect out of life? What would really make me happy?</em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">- Timothy J. Keller, and Redeemer Presbyterian Church 2005</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/berteologi/IJqM/~4/q5jvEYW0IMA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussadewa.berteologi.net/2009/12/03/finding-your-idols/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://agussadewa.berteologi.net/2009/12/03/finding-your-idols/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>rashi</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/berteologi/IJqM/~3/IBAipNY8vyo/</link>
		<comments>http://agussadewa.berteologi.net/2009/12/02/rashi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 16:30:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sade</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[genesis]]></category>

		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussadewa.berteologi.net/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[I just got a book from Oakville Public Library. The book sat silently on a shelf among other books. What’s so interesting about the book, and that’s why I checked it out, was the author. He is Elie Wiesel. You know him? The winner of the Noble Peace Prize, the author of more than fifty [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2009/12/rashi.gif"><img class="alignright size-medium wp-image-364" title="rashi" src="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2009/12/rashi.gif" alt="" width="250" height="194" /></a>I just got a book from Oakville Public Library. The book sat silently on a shelf among other books. What’s so interesting about the book, and that’s why I checked it out, was the author. He is Elie Wiesel. You know him? The winner of the Noble Peace Prize, the author of more than fifty books, and, you perhaps have known it, one of his unforgettable international best sellers is Night.</p>
<p>Oh, I forgot to tell you the book’s title eh? It is Rashi. In this book, Wiesel introduces us Rashi, the initial of Rabbi Shlomo Yitzhaki, the great biblical and Talmudic commentator of the Middle Ages.</p>
<p>Here are some fascinating ideas I found in the book.</p>
<p>When God said, “I will make him a fitting helper for him,” what did He mean?<br />
Rashi comments, fitting helper literally means a “helper facing” or “opposed to him”. Now how is she both a help and in opposition? Rashi answers: if he is deserving, the other will help him; if he is not, the other will fight against him.</p>
<p>What Rashi means by ‘deserving’ here is simply devoting oneself to serve. The word is supposedly translated from ‘deservire’ (Latin) meaning to serve.</p>
<p>Rashi’s question, I paraphrased, why did God have to put Adam first to sleep before He made Eve out of him? Have you thought of it? Rashi answers: “God is about to operate on Adam’s ribs and make his future companion out of one of them; if Adam suspects this, it might disgust him forever.” (p. 36)</p>
<p>Rashi also comments on the story of Cain and Abel. After Cain killed his brother Abel, God reprimanded him: “What hast thou done? The voice of thy brother’s blood cryeth unto me from the ground.” Rashi explains that the blood is actually written in plural. What does it mean? It means that what God meant by the blood is not only the blood of thy brother, but also of his descendants. In other words, “he who kills, kills more than the victim.”</p>
<p>Okay, that’s all for now, my friends.</p>
<p>Have a blessed advent season.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/berteologi/IJqM/~4/IBAipNY8vyo" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussadewa.berteologi.net/2009/12/02/rashi/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://agussadewa.berteologi.net/2009/12/02/rashi/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>31 pokok doa bagi anak-anak</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/berteologi/IJqM/~3/_BwDKaKkPcw/</link>
		<comments>http://agussadewa.berteologi.net/2009/11/03/31-ways-to-pray/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 04:02:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sade</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[parenting]]></category>

		<category><![CDATA[prayer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussadewa.berteologi.net/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Bob Hostetler, pastor di Cobblestone Community Church in Oxford, Ohio, menulis 31 pokok doa bagi anak-anak. Mari kita mendoakannya, bukan hanya bagi anak-anak kita, melainkan juga bagi kita, orangtua.
1. Salvation. “Lord, let salvation spring up within them, that they may obtain the salvation that is in Christ Jesus, with eternal glory” (Isa. 45:8, 2 Tim. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bob Hostetler, pastor di Cobblestone Community Church in Oxford, Ohio, menulis 31 pokok doa bagi anak-anak. Mari kita mendoakannya, bukan hanya bagi anak-anak kita, melainkan juga bagi kita, orangtua.</p>
<p>1. Salvation. “Lord, let salvation spring up within them, that they may obtain the salvation that is in Christ Jesus, with eternal glory” (Isa. 45:8, 2 Tim. 2:10).<br />
2. Growth in grace. “I pray that they may ‘grow in the grace and knowledge of our Lord and Savior Jesus Christ’” (2 Pet. 3:18).<br />
3. Love. “Grant, Lord, that my children may learn to ‘live a life of love,’ through the Spirit who dwells in them” (Eph. 5:2, Gal. 5:22).<br />
4. Honesty and integrity. “May integrity and honesty be their virtue and their protection” (Ps. 25:21, NLT).<br />
5. Self-control. “Father, help them to be ‘alert and self-controlled’ in all they do” (1 Thess. 5:6).<br />
6. A love for God’s Word. “May they grow to find your Word ‘more precious than gold, than much pure gold; [and] sweeter than honey, than honey from the comb’” (Ps. 19:10).<br />
7. Justice. “God, help them to love justice as you do and to ‘act justly’ in all they do” (Ps. 11:7, Micah 6:8).<br />
8. Mercy. “May they always ‘be merciful, as [their] Father is merciful’” (Luke 6:36).<br />
9. Respect (for self, others, authority). “Father, grant that they may ‘show proper respect to everyone,’ as your Word commands” (1 Pet. 2:17a).<br />
10. Strong, biblical self-esteem. “Help them to develop a strong self-esteem that is rooted in the realization that they are ‘God’s workmanship, created in Christ Jesus’” (Eph. 2:10).<br />
11. Faithfulness. “‘Let love and faithfulness never leave [them],’ but bind these twin virtues around their necks and write them on the tablet of their hearts” (Prov. 3:3).<br />
12. Courage. “May they always ‘be strong and courageous’ in their character and in their actions” (Deut. 31:6).<br />
13. Purity. “‘Create in [them] a pure heart, O God,’ and let their purity of heart be shown in their actions” (Ps. 51:10).<br />
14. Kindness. “Lord, may they ‘always try to be kind to each other and to everyone else’”<br />
(1 Thess. 5:15).<br />
15. Generosity. “Grant that they may ‘be generous and willing to share [and so] lay up treasure for themselves as a firm foundation for the coming age’” (1 Tim. 6:18-19).<br />
16. Peace, peaceability. “Father, may they ‘make every effort to do what leads to peace’” (Rom. 14:19).<br />
17. Joy. “May they be filled ‘with the joy given by the Holy Spirit’”<br />
(1 Thess. 1:6).<br />
18. Perseverance. “Lord, teach them perseverance in all they do, and help them especially to ‘run with perseverance the race marked out for [them]’” (Heb. 12:1).<br />
19. Humility. “God, please cultivate in my children the ability to ‘show true humility toward all’” (Titus 3:2).<br />
20. Compassion. “Lord, please clothe them with the virtue of compassion” (Col. 3:12).<br />
21. Responsibility. “Grant that they may learn responsibility, ‘for each of you should carry your own load’” (Gal. 6:5, TNIV).<br />
22. Contentment. “Father, teach them ‘the secret of being content in any and every situation. . . . through him who gives [them] strength’” (Phil. 4:12-13).<br />
23. Faith. “I pray that faith will find root and grow in my children’s hearts, that by faith they may gain what has been promised to them” (Luke 17:5-6, Heb. 11:1-40).<br />
24. A servant heart. “God, please help them develop servant hearts, that they may serve wholeheartedly, ‘as if [they] were serving the Lord, not people’” (Eph. 6:7, TNIV).<br />
25. Hope. “May the God of hope grant that they may overflow with hope and hopefulness by the power of the Holy Spirit” (Rom. 15:13).<br />
26. The willingness and ability to work hard. “Teach them, Lord, to value work and to work hard at everything they do, ‘as working for the Lord, not for human masters’” (Col. 3:23, TNIV).<br />
27. A passion for God. “Instill in them, Lord, a soul that ‘followeth hard after thee,’ a heart that clings passionately to you (Ps. 63:8, KJV).<br />
28. Self-discipline. “Father, may they develop self-discipline, that they may acquire ‘a disciplined and prudent life, doing what is right and just and fair’” (Prov. 1:3).<br />
29. Prayerfulness. “Grant, Lord, that their lives may be marked by prayerfulness, that they may learn to ‘pray in the Spirit on all occasions with all kinds of prayers and requests’” (Eph. 6:18).<br />
30. Gratitude. “Help them to live lives ‘overflowing with thankfulness’; that they may be ‘always giving thanks to God the Father for everything, in the name of our Lord Jesus Christ’” (Col. 2:7, Eph. 5:20).<br />
31. A heart for missions. “Lord, please develop in them a desire to see your glory declared among the nations, your marvelous deeds among all peoples” (Ps. 96:3).</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/berteologi/IJqM/~4/_BwDKaKkPcw" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussadewa.berteologi.net/2009/11/03/31-ways-to-pray/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://agussadewa.berteologi.net/2009/11/03/31-ways-to-pray/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>wright on acts</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/berteologi/IJqM/~3/KiMoMJ5WkpY/</link>
		<comments>http://agussadewa.berteologi.net/2009/11/02/wright-on-acts/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 03:26:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sade</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[fyi]]></category>

		<category><![CDATA[video]]></category>

		<category><![CDATA[wright]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussadewa.berteologi.net/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[nt wright, one of my favorite expositors, delivered lectures on the book of acts for the presbytery of los ranchos. i found them really inspiring and refreshing. there are 26 videos accessible on this topic. enjoy, and may you be blessed richly!






]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>nt wright, one of my favorite expositors, delivered lectures on the book of acts for the presbytery of los ranchos. i found them really inspiring and refreshing. there are 26 videos accessible on this topic. enjoy, and may you be blessed richly!</p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/MHtJ94951Jg&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/MHtJ94951Jg&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/UB0EMrUyObY&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/UB0EMrUyObY&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/CkJ9_ew876o&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/CkJ9_ew876o&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/WFMya2YaoFk&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/WFMya2YaoFk&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/adUxSiWLv4s&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/adUxSiWLv4s&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/AiIXVRmFsH4&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/AiIXVRmFsH4&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/berteologi/IJqM/~4/KiMoMJ5WkpY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussadewa.berteologi.net/2009/11/02/wright-on-acts/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://agussadewa.berteologi.net/2009/11/02/wright-on-acts/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>meja perjamuan atau mezbah?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/berteologi/IJqM/~3/hJm0PnnMADk/</link>
		<comments>http://agussadewa.berteologi.net/2009/10/26/meja-perjamuan-atau-mezbah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 14:49:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sade</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[asal]]></category>

		<category><![CDATA[church]]></category>

		<category><![CDATA[irect]]></category>

		<category><![CDATA[morosophia]]></category>

		<category><![CDATA[pastoral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussadewa.berteologi.net/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin pagi saya berkesempatan untuk memimpin perjamuan kudus. Maklumlah ini pertama kali bagi saya semenjak ditahbiskan, jadi masih rada kaku. Tapi saya bersyukur semua dapat berjalan dengan lancar dan cukup khusyuk.
Saya teringat kira-kira satu minggu sebelumnya saya dan para pengurus sudah mulai mendiskusikan apa saja yang perlu dipersiapkan. Lalu kami tiba pada sebuah pertanyaan teknis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2009/10/lords-supper.jpg"><img class="size-medium wp-image-340 alignright" title="lords-supper" src="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2009/10/lords-supper-300x224.jpg" alt="" width="240" height="180" /></a>Kemarin pagi saya berkesempatan untuk memimpin perjamuan kudus. Maklumlah ini pertama kali bagi saya semenjak ditahbiskan, jadi masih rada kaku. Tapi saya bersyukur semua dapat berjalan dengan lancar dan cukup khusyuk.</p>
<p>Saya teringat kira-kira satu minggu sebelumnya saya dan para pengurus sudah mulai mendiskusikan apa saja yang perlu dipersiapkan. Lalu kami tiba pada sebuah pertanyaan teknis tapi lumayan serius: pakai meja apa? Berhubung ruang di kebaktian pagi tidak begitu besar, kita enggak bisa sembarang mengambil meja. Kalau kepanjangan, bikin sesak. Kalau kekecilan, enggak muat.</p>
<p>Akhirnya, pagi-pagi sebuah meja berukuran medium sudah nongkrong di sisi mimbar. “Oh, ini pas,” batin saya. Meja itu lalu dibungkus dengan taplak berwarna putih polos. Petugas kebaktian perlahan mengusung masuk piring roti dan cawan air anggur, diletakkannya mereka di atas meja dengan penataan yang anggun.</p>
<p>Saya termenung. Bagaimana seharusnya kita memandang meja perjamuan Tuhan? Apakah ini sebuah meja perjamuan atau sebuah mezbah? Apa perbedaannya?</p>
<p>Meja perjamuan lebih terjangkau, mudah dipahami buat kita. Di meja perjamuan ada makanan dan minuman serta percakapan yang santun. Kita dapati sendok, garpu, atau pisau saling beradu sehingga menimbulkan dentingan yang hanya menambah semarak suasana perjamuan. Tuhan dapat dibayangkan tengah duduk di antara kita, begitu dekat, intim penuh penerimaan. Tak pelak lagi, kita lebih suka ide atau gambaran ini.</p>
<p>Tapi mezbah? Mezbah adalah tempat pengurbanan. Kita tak begitu familiar dengannya. Di sanalah seorang imam menyayat leher seekor domba atau sapi yang innocent. Ada suara jeritan kesakitan. Ada darah segar yang muncrat membasahi mezbah. Tema pembicaraan di seputar mezbah adalah dosa dan kematian. Tuhan mahasuci tak dapat berkompromi dengan dosa; Ia murka sekaligus berduka.</p>
<p>Pada Perjamuan Kudus, apakah kita menghampiri meja perjamuan atau mezbah? Jawabnya ialah kedua-duanya.</p>
<p>Meja perjamuan takkan tergelar tanpa mezbah. Kita tak boleh menerima yang satu tetapi menampik yang lain. Dosa dan kematian itu riil. Mereka tak boleh dibiarkan tak tersentuh. Mereka mesti dihadapi. Ya, di mezbah. Di salib. Karena justru dengan kematian Tuhan yang menggantikan, kita dapat menikmati persekutuan di meja perjamuan, bahkan the heavenly banquet di hari mendatang.</p>
<p>Pendeta William Willimon dalam Sunday Dinner kurang lebih menulis begini, “Kekristenan memberi penghiburan yang besar. Kendati begitu, ia tak dimulai dengan penghiburan; sebaliknya, ia diawali dengan kerelaan menanggung nyeri. Kita tak bisa meminta penghiburan sebelum kita berhadap-hadapan dengan salib. Salib mengingatkan kita bahwa Tuhan menang bukan melalui paksaan atau tangan besi, melainkan melalui pengurbanan diri.” Begitu juga semestinya dengan kita.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/berteologi/IJqM/~4/hJm0PnnMADk" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussadewa.berteologi.net/2009/10/26/meja-perjamuan-atau-mezbah/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://agussadewa.berteologi.net/2009/10/26/meja-perjamuan-atau-mezbah/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>i belong</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/berteologi/IJqM/~3/Twh0LdTP2AI/</link>
		<comments>http://agussadewa.berteologi.net/2009/10/19/i-belong/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 03:17:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sade</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[art]]></category>

		<category><![CDATA[video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussadewa.berteologi.net/?p=330</guid>
		<description><![CDATA[this song is so beautiful, and the videoclip is great. it is sung by kathryn scott, a song writer and worship leader born and brought up in northern ireland. may you enjoy and be strengthened by this song.

here is the lyric:
v1
Not angels, nor demons, no power on earth or heaven
Not distance, nor danger, no trouble [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>this song is so beautiful, and the videoclip is great. it is sung by kathryn scott, a song writer and worship leader born and brought up in northern ireland. may you enjoy and be strengthened by this song.</p>
<p><object width="445" height="364"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/dg9TchaiOck&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;rel=0&#038;color1=0x234900&#038;color2=0x4e9e00&#038;border=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/dg9TchaiOck&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;rel=0&#038;color1=0x234900&#038;color2=0x4e9e00&#038;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="445" height="364"></embed></object></p>
<p>here is the lyric:</p>
<p>v1<br />
Not angels, nor demons, no power on earth or heaven<br />
Not distance, nor danger, no trouble now or ever</p>
<p>prechorus:<br />
Nothing can take me from your great love<br />
Forever this truth remains</p>
<p>chorus:<br />
I belong, I belong to you [X2]</p>
<p>v2<br />
Not hardship, nor hunger, no pain or depth of sorrow<br />
Not weakness, nor failure, no broken dream or promise</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/berteologi/IJqM/~4/Twh0LdTP2AI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussadewa.berteologi.net/2009/10/19/i-belong/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://agussadewa.berteologi.net/2009/10/19/i-belong/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>jangan sia-siakan kanker anda</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/berteologi/IJqM/~3/1y_1bVUhgsI/</link>
		<comments>http://agussadewa.berteologi.net/2009/10/19/jangan-sia-siakan-kanker-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 20:36:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sade</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[evil]]></category>

		<category><![CDATA[translation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussadewa.berteologi.net/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[Terjemahan bebas ini saya buat untuk orang-orang Kristen yang tengah bergumul dengan kanker atau penyakit lain yang belum dapat terobati.
Kan kuingat kau selalu dalam doa-doaku.
Jangan Sia-siakan Kanker Anda oleh John Piper
[John Piper didiagnosa mendapat kanker prostat pada 11 Januari 2006. Ia menjalani operasi dengan sukses pada 14 Februari 2006.]
Saya menulis ini menjelang operasi prostat. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terjemahan bebas ini saya buat untuk orang-orang Kristen yang tengah bergumul dengan kanker atau penyakit lain yang belum dapat terobati.</p>
<p>Kan kuingat kau selalu dalam doa-doaku.</p>
<p><a href="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2009/10/job.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-320" title="job" src="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2009/10/job-300x206.jpg" alt="" width="300" height="206" /></a><strong>Jangan Sia-siakan Kanker Anda oleh John Piper</strong></p>
<p>[John Piper didiagnosa mendapat kanker prostat pada 11 Januari 2006. Ia menjalani operasi dengan sukses pada 14 Februari 2006.]</p>
<p>Saya menulis ini menjelang operasi prostat. Saya percaya pada kuasa Allah untuk menyembuhkan -  baik dengan mukjizat maupun dengan pengobatan. Saya percaya mendoakan untuk kedua macam penyembuhan itu benar dan baik. Kanker tidak disia-siakan ketika ia disembuhkan oleh Allah. Ia memperoleh kemuliaan dan itulah sebab mengapa kanker ada. Jadi tidak berdoa untuk kesembuhan bisa menyia-nyikan kanker anda. Akan tetapi kesembuhan bukan rencana Allah bagi setiap orang. Dan ada banyak cara lain untuk menyia-nyiakan kanker. Saya berdoa untuk diri saya sendiri juga bagi anda agar kita tidak menyia-nyiakan penderitaan ini.</p>
<p><strong>Anda akan menyia-nyiakan kanker anda, jika …<br />
</strong></p>
<p><strong>1. Anda tidak percaya bahwa itu adalah rancangan Allah bagi anda.<br />
</strong>Tidaklah cukup mengatakan bahwa Allah hanya memakai kanker kita tetapi tidak merancangnya. Apapun yang Allah izinkan, Ia izinkan dengan suatu alasan. Dan alasan itu adalah rancangannya. Jika Allah mengetahui bahwa perkembangan molekuler akan menjadi kanker, ia bisa menghentikannya atau tidak. Jika ia tidak menghentikannya, Ia pasti mempunyai maksud tertentu. Oleh karena Ia bijaksana tanpa batas, kita dapat menyebut maksud ini sebuah rancangan. Setan itu riil, nyata, dan menyebabkan banyak kesenangan dan penderitaan pula. Kendati begitu, ia bukanlah yang tertinggi. Maka, ketika ia menyerang Ayub dengan barah yang busuk (Ayub 2:7), Ayub menganggapnya sebagai penderitaan yang berasal dari Allah dan penulis kitab ini menyetujui, “Mereka … menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan Tuhan kepadanya” (Ayub 42:11). Jika kita tidak percaya bahwa kanker kita dirancang oleh Allah bagi kita, maka kita akan menyia-nyiakannya.</p>
<p><strong>2. Anda percaya itu kutukan dan bukan kasih karunia.<br />
</strong>“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 8:1). “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3:13). “Tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel” (Bilangan 23:23). “Tuhan Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela” (Mazmur 84:12).</p>
<p><strong>3. Anda mencari penghiburan dari perkiraan-perkiraan anda ketimbang dari Allah.<br />
</strong>Rancangan Allah dengan kanker kita tidak untuk melatih kita membuat perhitungan rasionalistik mengenai apa yang mungkin terjadi. Dunia memperoleh penghiburan dari perkiraan-perkiraan mereka sendiri. Tidak begitu dengan Kristen. Sebagian menghitung jumlah kereta perang mereka (berapa persen bisa bertahan hidup) dan sebagian lain menghitung jumlah kuda mereka (efek samping dari pengobatan), namun kita percaya dalam nama Tuhan, Allah kita (Mazmur 20:7). Rancangan Allah jelas dari 2 Korintus 1:9, “Kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, melainkan hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” Tujuan Allah dengan kanker kita (di antara ribuan hal-hal baik lainnya) adalah untuk menyingkirkan hal-hal yang selama ini menopang hati kita agar kita bisa bergantung sepenuhnya pada-Nya.</p>
<p><strong>4. Anda menolak untuk berpikir tentang kematian.<br />
</strong>Kita semua akan mati, jika Yesus menunda kedatangan-Nya kembali. Tidak mau berpikir tentang apa yang akan terjadi kelak ketika kita meninggalkan hidup ini dan berjumpa dengan Allah adalah kebodohan. Pengkhotbah 7:2 berkata, “Pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.” Bagaimana kita dapat memperhatikannya jika kita tidak bersedia memikirkannya? Mazmur 90:12 berkata, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Menghitung hari-hari berarti memikirkan tentang betapa sedikit hari-hari itu dan bahwa mereka akan berakhir. Bagaimana kita bisa memperoleh hati yang bijaksana jika kita menolak memikirkan hal itu? Sungguh sia-sia, jika kita tidak berpikir mengenai kematian.</p>
<p><strong>5. Anda berpikir bahwa “mengalahkan” kanker berarti bertahan hidup dan bukan mencintai Kristus.<br />
</strong>Rancangan-rancangan Allah dan setan dengan kanker kita tidaklah sama. Setan merancang untuk menghancurkan kasih kita bagi Kristus. Allah merancang untuk memperdalam kasih kita bagi Kristus. Kanker tidak menang jika kita mati. Ia menang jika kita gagal mencintai Kristus. Rancangan Allah adalah agar kita berhenti menyusu pada dunia dan berpesta dalam kecukupan Kristus. Rancangannya dimaksud untuk membantu kita dapat merasa dan berkata, “segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya.” Dan untuk mengetahui bahwa oleh karena itu, “hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 3:8; 1:21).</p>
<p><strong>6. Anda menggunakan waktu terlalu banyak untuk membaca mengenai kanker dan tidak cukup waktu untuk membaca mengenai Allah.<br />
</strong>Tidak salah untuk mengetahui tentang kanker. Ketidaktahuan jelas bukan kebajikan. Kendati begitu, ketertarikan untuk mengetahui lebih banyak dan kekurangan gairah untuk mengenal Allah lebih dalam adalah gejala ketidakpercayaan. Kanker dimaksud untuk mengingatkan kita akan realitas Allah. Kanker dimaksud untuk menumbuhkan minat dan perjuangan yang terdapat dalam ajakan, “Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan” (Hosea 6:3). Kanker dimaksud untuk mengingatkan kita akan kebenaran Daniel 11:32, “Umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.” Kanker dimaksud untuk menjadikan kita seperti pohon beringin yang kokoh dan takkan goyah, “Yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:2-3). Alangkah sia-sia kanker kita jika kita membaca tentang kanker siang dan malam dan bukan tentang Allah.</p>
<p><strong>7. Anda tenggelam dalam kesendirian alih-alih memperdalam hubungan anda dengan afeksi yang jelas.<br />
</strong>Ketika Epafroditus membawa oleh-oleh dari gereja Filipi kepada Paulus ia menjadi sakit dan hampir mati. Paulus memberitahu jemaat Filipi, “Ia sangat rindu kepada kamu sekalian dan susah juga hatinya, sebab kamu mendengar bahwa ia sakit” (Filipi 2:26). Sungguh suatu respon yang luar biasa! Tidak dikatakan mereka tertekan karena ia sakit, tapi bahwa ia tertekan karena mereka mendengar ia sakit. Itulah macam hati yang Allah harapkan dapat tercipta dengan kanker: sebuah hati yang amat peduli dan penuh kasih sayang bagi orang lain. Jangan sia-siakan kanker kita dengan menarik diri dari orang lain.</p>
<p><strong>8. Anda berdukacita seperti mereka yang tidak berpengharapan.<br />
</strong>Paulus menggunakan kata-kata ini dalam kaitannya dengan mereka yang kehilangan orang-orang tercinta: “Kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.” (1 Tesalonika 4:13). Ada dukacita atas kematian. Bahkan pada orang percaya yang mati, ada kehilangan yang temporer -  kehilangan tubuh, kehilangan orang yang dikasihi, dan kehilangan pelayanan di bumi. Namun kedukaan tersebut berbeda - ia dipenuhi dengan harapan. “Terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan” (2 Korintus 5:8). Jangan sia-siakan kanker kita dengan berdukacita seperti mereka yang tidak memiliki harapan ini.</p>
<p><strong>9. Anda memperlakukan dosa tanpa keseriusan seperti sebelumnya.<br />
</strong>Apakah kita masih tertarik pada dosa-dosa seperti sebelum kita mengalami kanker? Jika demikian, kita menyia-nyiakan kanker kita. Kanker dirancang untuk menghancurkan selera untuk berbuat dosa. Keangkuhan, keserakahan, nafsu birahi, kebencian, dendam, ketidaksabaran, kemalasan, kegemaran menunda – semua ini adalah musuh yang hendak dilawan oleh kanker. Jangan hanya berpikir untuk berperang <em>melawan</em> kanker. Berpikir juga untuk berperang <em>bersama</em> kanker. Semua yang telah disebutkan di atas adalah musuh yang lebih jahat daripada kanker. Jangan sia-siakan kekuatan kanker untuk mengalahkan musuh-musuh ini. Biarlah kehadiran kekekalan membuat dosa-dosa yang dilakukan dalam waktu nampak tak berarti. “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Lukas 9:25).</p>
<p><strong>10. Anda gagal memakainya sebagai sarana untuk bersaksi tentang kebenaran dan kemuliaan Kristus.<br />
</strong>Orang-orang Kristen tak pernah berada di suatu tempat oleh karena kebetulan belaka. Ada alasan-alasan mengapa kita bisa berada dalam situasi dan kondisi tertentu. Pertimbangkan apa yang Yesus katakan mengenai keadaan yang menyakitkan dan tak direncanakan ini: “Kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi” (Lukas 21:12-13). Begitu pula dengan kanker. Ini akan menjadi kesempatan untuk bersaksi. Kristus layak tiada taranya. Inilah kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa ia layak lebih daripada kehidupan. Jangan sia-siakan!</p>
<p>Sumber: <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;d51858f9f30b435857b1ea12ed5decc9&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.desiringgod.org/ResourceLibrary/TasteAndSee/ByDate/2006/1776_Dont_Waste_Your_Cancer/" target="_blank"><span>http://www.desiringgod.org</span><span>/ResourceLibrary/TasteAndS</span><span>ee/ByDate/2006/1776_Dont_W</span>aste_Your_Cancer/</a></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/berteologi/IJqM/~4/1y_1bVUhgsI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussadewa.berteologi.net/2009/10/19/jangan-sia-siakan-kanker-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://agussadewa.berteologi.net/2009/10/19/jangan-sia-siakan-kanker-anda/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>chan on chinese leadership</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/berteologi/IJqM/~3/iwcEAMeBRDU/</link>
		<comments>http://agussadewa.berteologi.net/2009/08/04/chan-on-chinese-leadership/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 05:38:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sade</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[church]]></category>

		<category><![CDATA[culture]]></category>

		<category><![CDATA[leadership]]></category>

		<category><![CDATA[quote]]></category>

		<category><![CDATA[spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussadewa.berteologi.net/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[i found his comment on chinese leadership intriguing and almost directly relevant to the indonesian-chinese church I ministered a few years ago. here is the quote:
&#8220;&#8230; in both the asian state and the asian church it is not uncommon for leaders to continue to exert considerable moral authority after they have formally retired from office [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>i found his comment on chinese leadership intriguing and almost directly relevant to the indonesian-chinese church I ministered a few years ago. here is the quote:<a href="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2009/08/leadership-risesmart.jpg"><img class="size-medium wp-image-313 alignright" title="leadership" src="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2009/08/leadership-risesmart-300x216.jpg" alt="" width="252" height="182" /></a></p>
<p>&#8220;&#8230; in both the asian state and the asian church it is not uncommon for leaders to continue to exert considerable moral authority after they have formally retired from office and have lost their effectiveness as leaders. the deep irony is that usually the old leader himself would be the first to acknowledge the need for &#8216;new blood&#8217; in the institution. but the new blood is incapable of rejuvenating the institution as long as the old blood remains. in such a context the perfection of virtue would seem to require the cultivation of a certain kind of <em>kenosis,</em> the willingness to make oneself to become literally nothing, so that the ruled and the younger leaders would not be obliged to constantly defer to the moral authority of the &#8216;the grand old sage&#8217;,&#8221; simon chan, <em>spiritual theology, </em>p. 96</p>
<p>any other comment?</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/berteologi/IJqM/~4/iwcEAMeBRDU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussadewa.berteologi.net/2009/08/04/chan-on-chinese-leadership/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://agussadewa.berteologi.net/2009/08/04/chan-on-chinese-leadership/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>preman</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/berteologi/IJqM/~3/umBY3Yi6x1s/</link>
		<comments>http://agussadewa.berteologi.net/2009/08/03/preman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 14:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sade</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[asal]]></category>

		<category><![CDATA[church]]></category>

		<category><![CDATA[morosophia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussadewa.berteologi.net/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini saya mengira bahwa preman hanya bisa dijumpai di inner city, daerah-daerah gelap, atau penjara-penjara. Setidaknya itu image yang terbentuk pada saya. Tapi saya keliru. Para preman ternyata juga suka ngumpul di rumah-rumah ibadah. Penginjil Lukas pernah mencatat hal itu. Coba Anda baca buku Kisah Para Rasul 6:9. Di sana ada kelompok orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2009/08/kartun-preman1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-298" title="kartun-preman" src="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2009/08/kartun-preman1-192x300.jpg" alt="" width="151" height="236" /></a>Selama ini saya mengira bahwa preman hanya bisa dijumpai di inner city, daerah-daerah gelap, atau penjara-penjara. Setidaknya itu image yang terbentuk pada saya. Tapi saya keliru. Para preman ternyata juga suka ngumpul di rumah-rumah ibadah. Penginjil Lukas pernah mencatat hal itu. Coba Anda baca buku Kisah Para Rasul 6:9. Di sana ada kelompok orang yang dipanggil Libertini, orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria. Terjemahan lain dari Libertini ialah freedman, atau free man yang dalam bahasa Indonesia dibaca preman. Apakah kelakukan preman dalam konteks Kisah Para Rasul sama dengan kelakuan preman yang saya sebutkan tadi? Tentu saja berbeda. Akan tetapi, jika kita memperbandingkan mereka dari segi mentalitas dan kelakuan, maka hasilnya tak akan jauh berbeda. Mereka tak segan-segan menghasut, mengarang cerita bohong, mengadu domba, merusak nama baik orang lain.</p>
<p>Dalam pengalaman saya berjemaat, saya pun menjumpai preman-preman berkeliaran dalam gereja. Sempat ketika saya melayani di salah satu gereja, seorang yang setahu saya anggota lama menyambut saya dengan ramah, kemudian menceritakan keburukan-kelemahan pendetanya sendiri. Mula-mula saya merasa tersanjung, kok ia sudi berbagi rasa dengan saya? Siapa tahu saya bisa menjadi hero di sini, bisa memperbaiki keadaan, dst. Tapi syukurlah saya keburu sadar. Jika saya ladeni ia, hubungan saya dengan pendeta tersebut bisa retak. Saya tengah diadu domba. Preman-preman berbaju religius ini pun saya temui di rapat-rapat Majelis Jemaat. Memang mereka tidak menodong, merampok, atau memeras orang lain. Ya, tak sevulgar itu atuh. Mereka hanya menebar sedikit kebencian pada orang-orang yang ingin mereka singkirkan. Mereka masih menceritakan kebenaran kok, meski hanya sepotong. Ada juga dari mereka yang berani membisikkan ancaman, kadang-kadang malah sogokan (aka. persembahan kasih). Jadi, dari penampilan luar saja, kita tak akan segera mengenali kepremanan atau kebanditan mereka. Boleh jadi, mereka amat menawan serta membujuk hati. Karena itu, pesan saya, meminjam kata polisi bertopeng di salah satu program tivi Indonesia: Waspadalah! Waspadalah!</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/berteologi/IJqM/~4/umBY3Yi6x1s" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussadewa.berteologi.net/2009/08/03/preman/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://agussadewa.berteologi.net/2009/08/03/preman/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>kuasa pelayanan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/berteologi/IJqM/~3/x-WVuKn21BI/</link>
		<comments>http://agussadewa.berteologi.net/2009/06/01/kuasa-pelayanan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 16:59:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sade</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[gospel]]></category>

		<category><![CDATA[power]]></category>

		<category><![CDATA[sermon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussadewa.berteologi.net/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Para Rasul 1:6-11

Ketika murid-murid bertanya, “Maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” dan kemudian dijawab oleh Yesus, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktunya…,” Yesus tidak mengatakan bahwa ia tak akan memulihkan kerajaan Israel. Yang Ia maksud ialah perihal waktu dan masa tak seharusnya menjadi concern kamu. Itu urusan Bapa yang satu-satunya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah Para Rasul 1:6-11<br />
<a href="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2009/06/dynamite_1.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-291 alignright" title="dynamite_1" src="http://agussadewa.berteologi.net/wp-content/uploads/2009/06/dynamite_1-150x150.jpg" alt="" width="186" height="186" /></a><br />
Ketika murid-murid bertanya, “Maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” dan kemudian dijawab oleh Yesus, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktunya…,” Yesus tidak mengatakan bahwa ia tak akan memulihkan kerajaan Israel. Yang Ia maksud ialah perihal waktu dan masa tak seharusnya menjadi concern kamu. Itu urusan Bapa yang satu-satunya berotoritas menentukan. Bapa di surga yang mengatur semuanya, serahkanlah pada-Nya.</p>
<p>Yesus tentu saja akan memulihkan kerajaan Israel, walau tak harus sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Umat Allah akan memerintah bersama dengan Kristus, benar, namun dengan cara Kristus memerintah. Bukan dengan force atau tangan besi, tetapi dengan kasih, mercy, dan pengampunan. Hidup kita sekarang merupakan antisipasi kerajaan Kristus tersebut.</p>
<p>Perhatikan ayat 8, kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun atasmu. Kata ‘kuasa’ dalam ayat ini berasal dari kata ‘dunamis,’ yang darinya kita mendapatkan kata ‘dynamite,’ suatu ledakan besar. Bila dynamite ini meledak, kekuatannya akan bergerak dari lingkar satu ke lingkar berikut, meluas terus hingga meliputi seluruh bumi. Maka, kalimatnya dilanjutkan, kamu akan menjadi saksi-Ku mulai dari kota Yerusalem ke seluruh negeri Yudea dan Samaria (area musuh) dan sampai ke ujung bumi.</p>
<p>Tapi apa yang harus dipersaksikan? Tak lain, the lordship of Christ, apa yang dikerjakan dan diajarkan Yesus (kembali ke ayat 1).</p>
<p>Sesudah berkata demikian, Yesus pun naik ke surga, lalu tertutup awan, dan lenyap dari hadapan para murid. Tapi mereka belum mau pergi. Mereka masih menatap ke langit, seperti melamun. Pandangan mereka terfiksasi pada langit.</p>
<p>Sebuah cerita kanak-kanak berbahasa Jerman berjudul Hans guck-in-die-luft (Hans, melihat ke langit) mengilustrasikan apa yang dilakukan oleh para murid di sini. Hans ialah seorang bocah yang suka berjalan sambil menatap ke langit, melihat burung beterbangan di angkasa, memandangi ujung-ujung pohon, sehingga ia seringkali menabrak lampu jalanan, nenek-nenek, dan lain-lain. Orang-orang dewasa yang mengenal Hans telah berkali-kali coba menasihatinya agar ia jangan melamun di jalan. Kalau berjalan, lihatlah ke depan. Tapi ia tak mau berubah, tetap berjalan sambil menatap ke langit. Long story short, cerita ini berakhir dengan memilukan. Suatu hari ia masuk ke jurang dan mati. Saya bisa membayangkan betapa keras cerita ini berbicara pada anak-anak. Meski begitu, Hans merupakan ilustrasi yang baik untuk memperjelas maksud teguran dari dua malaikat kepada para murid di ayat 11.</p>
<p>Dua malaikat itu, oleh Lukas disebut dua orang berpakaian putih, mungkin malaikat yang sama yang bersaksi di kubur kosong. Perhatikan, makhluk surgawi ini berdiri di dekat mereka, berpijak di bumi. Mereka menegur murid-murid, mengapa kamu berdiri melihat ke langit? Yesus yang naik dalam kemuliaan, akan datang kembali ke bumi juga dalam kemuliaan. So be prepared! You have a job to do. Ya, di bumi ini. Oleh karena itu, mereka pun kembali ke Yerusalem, berkumpul, menyembah Allah, serta menambah jumlah mereka yang ganjil (setelah Yudas mati) menjadi genap dua belas.</p>
<p>Nampaknya Tuhan tak peduli mulai dengan berapa banyak orang. Mereka hanya berdua belas, dan Ia memerintahkan mereka untuk bersaksi sampai ke ujung bumi. Dari sini saja kita seharusnya menyadari bahwa gereja tidak didirikan oleh ikhtiar atau ambisi manusia, melainkan oleh kehendak Allah. Yang sungguh menentukan adalah kuasa yang menyertainya. Kuasa yang sanggup mengubahkan hidup manusia.</p>
<p>Tak heran, Paulus berusaha pergi ke kota-kota besar. Seringkali bahkan sendiri. Untuk apa? Untuk membawa Injil Allah ke sana, agar kuasa Allah yang dahsyat juga bisa diledakkan di sana. Ia tak mau sembarangan memakai kuasa ini. Ia tak mau sia-siakan waktu. Karena itu, ia berpikir, ia menyusun strategi.</p>
<p>Terlalu banyak waktu dan energi kita pakai untuk tugas-tugas maintenance. Gereja malas berpikir, malas berencana, terlalu cepat puas dengan apa yang ada.</p>
<p>Saya pribadi tersentak ketika membaca sebuah buku mengenai gereja dan apa yang seharusnya menjadi prioritas. Selama ini saya berpikir asal kita melayani Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas, komitmen tinggi, Tuhan pasti berkenan. Menjadi pastor memang mau apa lagi? Kita hanya pelayan, bukan? Tapi penulis buku itu mengatakan kira-kira begini, “Kami tidak meminta anda menjadi pekerja lagi, tetapi menjadi director.” Kami membutuhkan direction ke mana gereja seharusnya melangkah.</p>
<p>Tentulah kita membutuhkan pekerja juga. Seandainya semua orang di gereja maunya menjadi pemimpin saja, siapa yang akan mengerjakan tugas sehari-hari. Saya tidak meragukan itu. Yang saya persoalkan ialah kalau semua orang di gereja maunya hanya mengerjakan hal-hal rutin, pendeta dan majelis juga maunya begitu, nggak mau berpikir, nggak bervisi, nggak berusaha menyusun rencana masa depan, lalu gereja siapa yang pimpin? Gereja mau dibawa ke mana? Apakah kita tidak malah merusak pekerjaan Tuhan yang telah dipercayakan-Nya pada kita?</p>
<p>Kawan, memang bekerja mempertahankan yang sudah ada itu nyaman, safe, lagi menyenangkan orang lain. Sebaliknya, memberikan direction, mengadakan perubahan yang necessary, kadang berarti harus mengambil risiko, besar ataupun kecil. Meski demikian, kita harus berani dan siap berjuang, karena dengan begitu kita baru bisa disebut hamba-hamba yang setia. Marilah kita bekerja sesuai dengan karunia dan panggilan kita masing-masing. To God be the glory!</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/berteologi/IJqM/~4/x-WVuKn21BI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussadewa.berteologi.net/2009/06/01/kuasa-pelayanan/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://agussadewa.berteologi.net/2009/06/01/kuasa-pelayanan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>giliran jaga</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/berteologi/IJqM/~3/hLFNQvIczic/</link>
		<comments>http://agussadewa.berteologi.net/2009/03/17/giliran-jaga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 04:16:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sade</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[everydayness]]></category>

		<category><![CDATA[family]]></category>

		<category><![CDATA[prayer]]></category>

		<category><![CDATA[spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussadewa.berteologi.net/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Ini tentang Mark lagi, putra saya yang berusia 21 bulan itu. Setiap kali saya mendapat giliran menjaga dia, ada saja ulahnya yang bikin gregetan. Awalnya ia bersahabat, mau duduk di pangkuan saya sembari menyeruput susu dalam botol. Tapi itu tak bertahan lama. Kira-kira 15-20 menit kemudian, ia sudah minta turun. Setelah diturunkan ia mulai menarik-narik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini tentang Mark lagi, putra saya yang berusia 21 bulan itu. Setiap kali saya mendapat giliran menjaga dia, ada saja ulahnya yang bikin gregetan. Awalnya ia bersahabat, mau duduk di pangkuan saya sembari menyeruput susu dalam botol. Tapi itu tak bertahan lama. Kira-kira 15-20 menit kemudian, ia sudah minta turun. Setelah diturunkan ia mulai menarik-narik tangan saya, menepak, mengguncang kursi, untuk mengajak saya bermain. “Papa, papa, papa, papa…” ia memanggil terus dengan volume suara yang makin lama makin keras. Kalau sedang banyak pekerjaan, terus terang saya malas meladeni. Saya memilih untuk membaca buku, browsing internet, membalas e-mail, mendengarkan kotbah, dan lain-lain. Tapi Mark bukan seorang anak yang mudah menyerah. Ia selalu punya cara untuk membuat saya berespon kepadanya. Pernah suatu kali, ia sedang bermain sendirian, dan saya tengah asyik bekerja. Saya kira ia akan baik-baik saja. Tapi sontak air susu berceceran di lantai. Bagaimana bisa terjadi? Enggak tahunya air susu yang disedotnya alih-alih ditelan, malah disembur dari mulut. Ceceran air susu itu selanjutnya disapu dengan tangan sehingga menyebar ke mana-mana. Maka spontan saya marah, “Aduh, ngapain kamu, Maaarrkkk!” Namun ia hanya memandang saya dengan tatapan tanpa rasa bersalah sama sekali. Ia pun masih bisa nyengir, seakan ia berkata, “Siapa suruh Papa cuekin saya, kan tadi sudah saya panggil?”</p>
<p>Saya mencoba memetik pelajaran spiritual dari pengalaman kecil ini. Belakangan saya memang sedang struggle dalam menemukan waktu berdoa, saat bisa ngobrol santai dengan Tuhan tapi tetap mendalam. Oh, saya rindu sekali. Saya bersyukur bahwa Tuhan yang saya kenal bukan papa yang super sibuk sehingga setiap kali memerlukannya saya harus memanggil-manggil dia dengan suara yang keras, atau menarik-narik tangannya yang kaku, menggoyang kursi kenyamanannya, atau bahkan menyembur air susu ke lantai. Tuhanku tak pernah berkata, “Agus, kamu main dulu sendiri yah, aku sedang banyak pekerjaan nih.” Terpujilah Tuhan! Ia tak pernah berbuat begitu pada saya, pada semua anak-Nya. Ia Tuhan yang penuh perhatian; Ia peka pada kebutuhan kita. Padahal urusan Tuhan ada sejagat banyaknya. Sayang, perhatian dan kesudian Tuhan yang luar biasa ini nampaknya masih enggak cukup membuat kita menyadari betapa precious momen kebersamaan dengan-Nya. Kita justru meremehkan. Kawan, jika boleh saya berpesan, ada waktunya untuk bekerja, dan itu baik. Tapi jangan abaikan waktu untuk berdoa dan berbakti pada Tuhan. Bagaimanapun, kita memerlukan keseimbangan hidup. </p>
<p>Sekarang, kalau saya ‘digangguin’ Mark, saya jadi malu sendiri. Itu artinya saya sudah tidak peka pada kebutuhannya. Saya lantas memperingatkan diri sendiri, “Gus, apa kamu lebih banyak urusan daripada Tuhan? Mbok ya giliran jagamu dilakukan dengan baik…”</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/berteologi/IJqM/~4/hLFNQvIczic" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussadewa.berteologi.net/2009/03/17/giliran-jaga/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://agussadewa.berteologi.net/2009/03/17/giliran-jaga/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
