<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380</id><updated>2024-11-01T03:48:09.674-07:00</updated><category term="Pendidikan dan Psikologi"/><category term="Fakta Unik"/><category term="Filsafat"/><category term="Sastra dan Semiotika"/><category term="Teologi"/><category term="Buku Saya"/><category term="Tajuk"/><category term="Sains dan Teknologi"/><category term="Video Saya"/><category term="Album Foto"/><category term="Sosiologi dan Politik"/><category term="Update Pengetahuan"/><category term="Hukum dan Keadilan"/><category term="Humor Kehidupan"/><category term="TF"/><title type='text'>Abdy Busthan</title><subtitle type='html'>Belajar dan Pembelajaran</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>92</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-2538405644790223649</id><published>2020-05-06T18:45:00.001-07:00</published><updated>2020-05-06T18:46:44.388-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pendidikan dan Psikologi"/><title type='text'>Hubungan Stimulus-Respon dalam Teori Belajar Behavioristik</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;572&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiES-u_m8WCzBSe9N3hbYtbqdPdA30XXPoGtC-GtT2CHnqJdMgXg-FoSUmrunWWA2atbfv11s3uZ2Di-igGl6ykzX_YV79Ch0TwgopNZ9K2AJaiAdoaEWqkj_GbDWQ4Bxk-RS3Ds_1dkOI/s640/ddddddd5708_1356590014014539878_n.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Prinsipnya bahwa teori behavioristik tidak mempermasalahkan norma-norma yang berlaku pada manusia: bahwa apakah seorang manusia tergolong baik, tidak baik, emosional, rasional, ataupun irasional. Karena dalam konteks ini teori behavioristik hanya ditekankan pada bagaimana perilaku manusia menunjukkan perubahan sebagai akibat dari berinteraksi dengan lingkungannya, dan pola interaksi tersebut harus bisa diamati dari luar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Sehingga dapat dikatakan bahwa belajar dalam teori behavioristik adalah akibat hubungan langsung antara stimulus yang datang dari luar, dengan respons yang ditampilkan dari dalam diri individu. Respons tertentu akan muncul dari dalam diri individu jika diberikan stimulus dari luar—S singkatan dari Stimulus, dan R singkatan dari Respons.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya, teori belajar yang masuk dalam rumpun teori belajar behavioristik, memandang manusia sebagai organisme yang netral-pasif-reaktif terhadap stimuli dalam lingkungannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Seorang akan bereaksi, jika ia diberikan rangsangan oleh lingkungannya. Demikian juga jika stimulus dilakukan secara terus menerus dan dalam waktu yang cukup lama, maka hal ini akan mengakibatkan perubahan perilaku dalam diri individu—pelaku belajar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Unsur-Unsur dalam Pola Stimulus-Respon&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dengan demikian maka terjadinya proses belajar dalam pola hubungan stimulus-respon (S-R), disebabkan oleh adanya 4 (empat) unsur, yaitu: (1) dorongan (&lt;i&gt;drive&lt;/i&gt;), (2) rangsangan (stimulus), 3) respons, dan 4) penguatan (&lt;i&gt;reinforcement&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;1. Dorongan (&lt;i&gt;Drive&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Unsur pertama, adalah sebuah ‘dorongan’ dari dalam diri individu, yang merupakan keinginan dalam diri seseorang untuk dapat memenuhi kebutuhan yang sedang dirasakannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Misalnya seorang anak yang merasakan adanya kebutuhan akan tersedianya sejumlah uang untuk membeli buku bacaan, maka anak tersebut terdorong untuk membelinya dengan cara meminta uang kepada ibu atau bapaknya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Unsur “dorongan” ini ada pada setiap orang, meskipun kadarnya tidak sama—ada yang kuat menggebu, ada yang lemah dan tidak terlalu peduli akan terpenuhi atau tidaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Rangsangan (Stimulus)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Unsur kedua, adalah ‘rangsangan’ atau stimulus, yang datang dari luar diri individu, dan tentu berbeda dengan dorongan yang datangnya dari dalam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Mengenai rangsangan, misalnya bau masakan yang lezat, atau segala sesuatu yang bisa menimbulkan rangsangan untuk tujuan tertentu. Contohnya, dalam kegiatan mengajar di kelas, ketika banyak di antara siswa mulai jenuh, bosan atau tidak tertarik pada materi yang disampaikan guru sehingga ada yang mengantuk, maka sang guru sebagai instruksional, bisa merangsangnya dengan sejumlah cara dan usaha yang dilakukan, misalnya dengan bertanya tentang masalah-masalah tertentu yang sedang trendy pada saat ini, atau bisa juga dengan mengadakan sedikit humor segar untuk membangkitkan kesiagaan peserta didik dalam belajar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dari adanya rangsangan atau stimulus ini, maka timbul reaksi di pihak sasaran atau komunikan (siswa). Bentuk reaksi ini bisa bermacam-macam, bergantung pada situasi, kondisi, dan bahkan bentuk dari rangsangan tadi. Reaksi-reaksi dari seseorang akibat dari adanya rangsangan dari luar inilah yang disebut dengan respons dalam dunia teori belajar behavioristik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Respons&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Unsur ketiga, adalah ‘respons’, dalam hal ini respon ini bisa diamati dari luar. Respons ada yang positif dan ada pula yang negatif. Respon yang positif disebabkan oleh adanya ketepatan seseorang melakukan respons terhadap stimulus yang ada, dan tentunya sesuai dengan yang di harapkan. Sedangkan yang respon negatif adalah apabila seseorang memberi reaksi justru sebaliknya dari yang diharapkan oleh pemberi rangsangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Penguatan&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;(&lt;i&gt;Reinforcement&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Unsur keempat, adalah ‘penguatan’ (&lt;i&gt;reinforcement&lt;/i&gt;). Unsur ini datangnya dari pihak luar yang ditujukan kepada orang yang sedang merespons.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Apabila respons telah benar, maka diberikan penguatan agar individu tersebut merasakan adanya kebutuhan untuk bisa melakukan respons lagi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Sebagai contohnya, terdapat seorang anak kecil yang sedang mencoreti buku kepunyaan kakaknya, tiba-tiba di bentak dengan kasar oleh kakaknya, maka tentu dia bisa terkejut dan bahkan bisa menderita guncangan sehingga berakibat buruk pada anak tadi. Memang pada akhirnya, mungkin anak tadi sudah tidak mencoreti buku lagi, namun akibat yang paling buruk dikemudian hari adalah hal ini bisa menjadi ‘trauma’ untuk tidak mencoreti buku karena takut di bentak. Bahkan yang lebih dikhawatirkan lagi, akibatnya adalah jika ia tidak mau bermain dengan buku lagi atau alat tulis lainnya, karena rasa &quot;ketakutan&quot;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Nah, inilah yang dikatakan penguatan yang salah dari seorang kakak terhadap adiknya yang masih kecil ketika sedang mau memulai menulis buku. Barangkali akan lebih baik jika kakaknya tadi tidak menggunakan cara dengan membentak secara kasar, akan tetapi dengan bicara yang halus sambil membawa alat tulis lain berupa selembar kertas kosong sebagai penggantinya. Misalnya dengan berkata: “&lt;i&gt;Bagus sekali, coba kalau menggambarnya di tempat ini, pasti lebih bagus&lt;/i&gt;”. Dengan cara penguatan seperti ini, anak tidak merasa dilarang menulis. Sehingga hal inilah yang dinamakan sebagai “penguatan positif”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Contoh lain dari penguatan positif seperti misalnya terdapat seorang anak yang mendapatkan ranking bagus di sekolahnya. Kemudian orang tuanya memberikan hadiah tas baru atau sepatu baru, atau setidaknya di puji oleh orang tuanya, maka kemudian anak akan terus berusaha mempertahankan rankingnya pada masa yang akan datang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/2538405644790223649/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2020/05/hubungan-stimulus-respon-dalam-teori.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/2538405644790223649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/2538405644790223649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2020/05/hubungan-stimulus-respon-dalam-teori.html' title='Hubungan Stimulus-Respon dalam Teori Belajar Behavioristik'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiES-u_m8WCzBSe9N3hbYtbqdPdA30XXPoGtC-GtT2CHnqJdMgXg-FoSUmrunWWA2atbfv11s3uZ2Di-igGl6ykzX_YV79Ch0TwgopNZ9K2AJaiAdoaEWqkj_GbDWQ4Bxk-RS3Ds_1dkOI/s72-c/ddddddd5708_1356590014014539878_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-7793607031680811028</id><published>2020-04-28T21:19:00.000-07:00</published><updated>2020-04-28T21:19:01.429-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat"/><title type='text'>Perbedaan Klasifikasi dan Pembagian dalam Logika </title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEir2AXSbgsCG_b1aJrNTeoCk0Xf00UyMRifIxijcxF2n7aQLmSovxPb-_t3Zp-yuMJ-vAeIvXjEwDZLhH0K0Cl1i4W-OwOxEIItzsWtEoM_iDsGVeu_QKcGKJ3xLdMIyy_5cRXR3Y0BJGU/s640/Topeng_Lucu_Campur.jpg&quot; width=&quot;468&quot; /&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;Istilah “klasifikasi” dan istilah “pembagian” sepintas memang sama persis. Sehingga keduanya kerapkali dipersepsi memiliki makna yang sama. Padahal antara konsep ‘klasifikasi’ dengan konsep ‘pembagian’ adalah dua hal yang berbeda.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;Klasifikasi memang berkaitan dengan pembagian, tetapi tidak semua pembagian bisa digolongkan sebagai klasifikasi. Pembagian yang dilakukan dalam klasifikasi hanyalah pembagian logis dan pembagian fisik. Mengapa? Sebab dalam pembagian fisik, masing-masing dari bagian fisik itu akan di bagi begitu saja, tanpa memperhatikan hubungan logis dengan keseluruhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, kata mobil yang bisa di bagi menjadi bagian-bagian seperti: ban, setir, rem, kopling, dsb. Tetapi ia tak dapat dikatakan bahwa ban adalah mobil, atau rem adalah mobil. Karena keseluruhan tidak dapat menjadi predikat bagi bagian masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan pembagian logis dari mobil‖ menjadi sedan, truk, bis, jip, dll. Pada titik ini, keseluruhan yakni mobil, dapat menjadi predikat bagi bagian-bagiannya. Misalnya, sedan adalah mobil, truk adalah mobil, bis adalah mobil, dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ‘klasifikasi’ lebih merupakan padanan dari pembagian logis, sedangkan ‘pembagian’ lebih tertuju pada pembagian fisik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam logika, terdapat dua pembagian perbedaan antara klasifikasi dan pembagian. Dapat dijelaskan sebagai berikut &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, dalam hal pembagian, keseluruhan fisik dapat menjadi predikat dari bagian fisik tersebut. Misalnya, manusia dapat dibagi ke dalam bagian-bagian tubuh, seperti: tangan, kaki, kepala, pundak, dsb. Namun tangan, kaki, kepala, tidak bisa disebutkan sebagai manusia. Sementara dalam klasifikasi, keseluruhan dapat menjadi predikat pada bagian-bagiannya. Misalnya pengertian makhluk hidup. Dapat dikatakan: manusia adalah makhluk hidup; binatang adalah makhluk hidup.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, dalam pembagian, kita hanya memecah sesuatu yang besar (dalam jumlah maupun ukuran) menjadi bagian-bagian yang lebih kecil tanpa suatu kriteria. Misalnya, konsep rumah. Rumah bisa kita bagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil seperti kamar-kamar. Namun tidak dapat dikatakan bahwa kamar adalah rumah. Sedangkan dalam klasifikasi, kita membuat bagian-bagian yang lebih kecil dengan kriteria tertentu, yaitu keseluruhan dapatlah menjadi predikat bagi bagian-bagian. Misalnya: kuda adalah hewan, kelinci adalah hewan, dan monyet adalah hewan. Maka di sini, ‘hewan‘ dapat menjadi predikat untuk kuda, kelinci, monyet dsb.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;Semoga bermanfaat. Salam Logici, &lt;br /&gt;Wassalam....Hormat di Bri&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Oleh. Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber Buku:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;Busthan Abdy (2019). &lt;b&gt;&lt;i&gt;Pendidikan Logika: Konsep Dasar Berlogika&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. (Hal 117-118). Kupang: Desna Life Ministry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/7793607031680811028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2020/04/perbedaan-klasifikasi-dan-pembagian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/7793607031680811028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/7793607031680811028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2020/04/perbedaan-klasifikasi-dan-pembagian.html' title='Perbedaan Klasifikasi dan Pembagian dalam Logika '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEir2AXSbgsCG_b1aJrNTeoCk0Xf00UyMRifIxijcxF2n7aQLmSovxPb-_t3Zp-yuMJ-vAeIvXjEwDZLhH0K0Cl1i4W-OwOxEIItzsWtEoM_iDsGVeu_QKcGKJ3xLdMIyy_5cRXR3Y0BJGU/s72-c/Topeng_Lucu_Campur.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-8567877957093683629</id><published>2019-11-19T00:04:00.001-08:00</published><updated>2019-11-19T00:05:05.097-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pendidikan dan Psikologi"/><title type='text'>Perbedaan Teori Belajar danTeori Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg97FnyNAJLhbF8DxqowVGeBJHaYJHj_9jb6ldDBl0RG5XikkkmoMvvNp9G2v0td-qb_q5YPGWlN4WdUeBP8-ws8TpbUx1SJQchYvTigad18MTc8u9BUeUcuHvSe0FEE2AlerzSWxXyK00/s640/6661e8ce8899a55f9c3daba9023c2faa.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam sifatnya, teori belajar lebih bersifat “deskripstif”, sedangkan teori pembelajaran bersifat “preskiptif”. Kajian beberapa model pembelajaran berdasarkan pada teori belajar, menunjukkan bahwa model-model tersebut adalah model prosedural.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam hal ini, teori pembelajaran menunjukkan beberapa karakteristik, diantaranya seperti &lt;i&gt;designed oriented&amp;nbsp; &lt;/i&gt;yang&amp;nbsp;berfokus pada upaya mencapai tujuan pembelajaran; mengidentifikasi metode pembelajaran—cara untuk mendukung dan memfasilitasi belajar dan situasi pada mana metode akan digunakan ataupun tidak digunakan; dan metode pembelajaran bisa di rinci lagi menjadi serangkaian rencana pelaksanaan suatu pembelajaran.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Jadi, teori merupakan sekelompok proposisi yang berhubungan dan yang menunjukkan mengapa suatu peristiwa itu dapat terjadi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Reigeluth (1983) mendefinisikan teori sebagai suatu rangkaian prinsip yang secara sistematis diintegrasikan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena dalam proses pembelajaran.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam hal ini teori pembelajaran merupakan teori yang menawarkan panduan ekplisit tentang bagaimana membantu seseorang belajar dan berkembang menjadi lebih baik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Jenis belajar dan pengembangannya mencakup aspek: kognitif, emosional, sosial, fisikal, dan spiritual.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Karena itu teori pembelajaran mesti menunjukkan beberapa karakteristik seperti berikut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Pertama,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; designed oriented, yaitu berfokus pada alat mencapai tujuan yang telah ditetapkan untuk belajar, atau pengembangan daripada description oriented—berfokus pada given events.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;mengidentifikasi metode pembelajaran (cara untuk mendukung dan memfasilitasi belajar) dan situasi pada mana metode dipakai/tidak dipakai.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketiga,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; metode pe&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;mbelajaran bisa dipecah-pecah menjadi rinci sebagai panduan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, kecenderungan metode pembelajaran adalah probabilistic daripada deterministic.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Bruner, seperti yang dikutip oleh Degeng (1989); dalam Budiningsih Asri (2012:11), menyatakan bahwa teori pembelajaran merupakan preskriptif atau &lt;i&gt;goal oriented&lt;/i&gt; (untuk mencapai tujuan), karena tujuan teori pembelajaran adalah menetapkan metode dan strategi pembelajaran yang cocok untuk memperoleh hasil optimal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Sedangkan teori belajar sebagai deskriptif atau &lt;i&gt;goal free&lt;/i&gt; (untuk memeriksa hasil), karena tujuan utama teori belajar adalah menjelaskan proses belajar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Jadi kesimpulan yang dapat ditarik bahwa teori pembelajaran berurusan dengan upaya untuk mengontrol variabel-variabel yang spesifik dalam teori belajar, agar dapat memudahkan belajar. Sedangkan fokus dari teori belajar lebih kepada persoalan “bagaimana seseorang itu dapat belajar”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/8567877957093683629/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/perbedaan-teori-belajar-danteori.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/8567877957093683629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/8567877957093683629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/perbedaan-teori-belajar-danteori.html' title='Perbedaan Teori Belajar danTeori Pembelajaran'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg97FnyNAJLhbF8DxqowVGeBJHaYJHj_9jb6ldDBl0RG5XikkkmoMvvNp9G2v0td-qb_q5YPGWlN4WdUeBP8-ws8TpbUx1SJQchYvTigad18MTc8u9BUeUcuHvSe0FEE2AlerzSWxXyK00/s72-c/6661e8ce8899a55f9c3daba9023c2faa.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-2196580147638669744</id><published>2019-11-18T23:36:00.001-08:00</published><updated>2019-11-19T02:01:08.599-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat"/><title type='text'>Penalaran Dalam Logika: Suatu Kegiatan Akal Budi </title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;424&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvBzYu9lJ6hRilKrhCT6ZKUzBvpqWkUBOo55_ZVkcP_UqCsoefb7WEtK0_hkwGYtzbSF7rRvXOqPEd69AeBLgYo2ela6-Aa_DTnxsUuDFa1mABFxh6Ca0j4WLxstkxNp9oHBAOOSVkuZs/s640/e9d1c6d1898a594fd832dbf83292ae65.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;Istilah “penalaran” adalah sebuah kata yang dalam bahasa Inggris disebutkan dengan “&lt;i&gt;reasoning&lt;/i&gt;”, dan dalam bahasa Belanda adalah “&lt;i&gt;redenering&lt;/i&gt;”. Dalam logika, penalaran adalah unsur paling terpenting. Mengapa? Sebab penalaran merupakan kegiatan akal budi dalam melihat dan memahami proposisi, yang berdasarkan pemahaman tentang proposisi itu maka akal budi memunculkan proposisi yang baru.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;Jadi, kegiatan berpikir terwujud dalam proses akal budi yang berupa gerakan satu pikiran kepada pikiran lain dengan cara &quot;menalar&quot;. Maka penalaran adalah proses dalam akal budi yang berupa kegiatan menghubungkan satu pikiran dengan pikiran-pikiran lain, untuk menarik sebuah kesimpulan (Sidharta Arief, 2010).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;Hal yang sama ditegaskan oleh Daito Apollo (2011), bahwa penalaran adalah proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu bisa mempunyai dasar kebenaran, maka proses berpikir harus dilakukan dengan cara tertentu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;Pada dasarnya, terdapat dua cara untuk bisa mendapatkan pengetahuan yang benar, yaitu dengan rasio berdasarkan pengalaman. Kaum rasionalime mengembangkan diri melalui rasio, sementara kaum empiris mengembangkan diri melalui pengalaman.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;Berdasarkan uraian kedua ahli di atas, maka penalaran adalah proses berpikir dalam bentuk kegiatan yang menghubungkan pikiran-pikiran untuk memunculkan kesimpulan. Atau dengan kata lain, proses berpikir dengan rangkaian pernyataan yang tertata dan tersusun dengan cara tertentu untuk menyimpulkan sesuatu hal.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;Setiap penalaran memiliki struktur berupa pernyataan (premis dan argumen). Pernyataan itu kemudian di olah nalar, sebelum menghasilkan kesimpulan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;Sedangkan suatu kesimpulan akan dianggap valid jikalau proses penarikan kesimpulan itu dilakukan dengan cara tertentu. Cara penarikan kesimpulan inilah yang disebutkan sebagai logika.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;Contoh penalaran sbb:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;~ Semua manusia akan mati&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;~&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;Jefri adalah manusia&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;~ Jadi, Jefri akan mati&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;~ Singa adalah binatang&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;~ Binatang adalah makhluk hidup&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;~ Jadi, Singa adalah makhluk hidup&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;~ Beberapa Yamaha adalah motor&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;~ Beberapa motor adalah Honda&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;~ Jadi, beberapa Honda adalah Yamaha&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;~ Beberapa tanaman adalah bunga&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;~ Beberapa bunga adalah objek berwarna merah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;~ Jadi, beberapa tanaman adalah objek berwarna merah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/2196580147638669744/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/penalaran-dalam-logika-suatu-kegiatan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/2196580147638669744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/2196580147638669744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/penalaran-dalam-logika-suatu-kegiatan.html' title='Penalaran Dalam Logika: Suatu Kegiatan Akal Budi '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvBzYu9lJ6hRilKrhCT6ZKUzBvpqWkUBOo55_ZVkcP_UqCsoefb7WEtK0_hkwGYtzbSF7rRvXOqPEd69AeBLgYo2ela6-Aa_DTnxsUuDFa1mABFxh6Ca0j4WLxstkxNp9oHBAOOSVkuZs/s72-c/e9d1c6d1898a594fd832dbf83292ae65.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-80189367241899152</id><published>2019-11-18T23:08:00.001-08:00</published><updated>2019-11-19T02:01:18.893-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat"/><title type='text'>Pengertian dan Term dalam Logika </title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhM6AtwZDFR-hI0abZaneDqpfqcIjra5-rXgwJ2tKLzL7lr_9sY1Uic53V23J_Efq8Duw-gme2Ym9dtDumFBZ47GwzYGpVy1pU7AeMFlogdv25u-U6Wg_l9L_kRFMlmj5FrFK_HwVQVOZc/s640/a8af487b5ae6a170537fb91b99121d01.jpg&quot; width=&quot;521&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam kehidupan ini, pengalaman-pengalaman hidup manusia terbentuk berdasarkan fakta-fakta empiris yang mendorong akal budinya untuk mengerti dan memahami segala hal yang dialaminya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Ketika akal budi mulai mencerna (proses mengerti dan memahami) pengalaman-pengalaman yang ada, maka muncullah &quot;pengertian&quot; sebagai implikasi dari memahami dan mengerti apa yang ingin dipahami dan apa yang ingin dimengerti. Sementara di lain sisi, ketika apa yang dimengerti (pengertian) itu hendak pula dinyatakan, maka &quot;term&quot; hadir di situ untuk menjadikan ide dan konsep-konsep menjadi nyata—suatu kenyataan.  Karena itu, maka istilah &quot;pengertian&quot; dan &quot;term&quot; adalah satu kesatuan kuat dalam prinsip-prinsip berlogika.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;1. Istilah &quot;Pengertian&quot;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Istilah ‘pengertian’ merujuk pada suatu ‘konsep’. Banyak logici menganggap kedua istilah ini memiliki esensi yang sama, sebab pengertian terbentuk oleh suatu konsep. Misalnya, setelah orang mengerti tentang kereta api, maka orang itu sudah memiliki konsep tentang kereta api.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Jadi dalam hal ini semua hasil pencernaan dari akal budi adalah konsep atau pengertian. Menurut Rima Febiana K (dalam Sihotang Kasdim, 2012), pengertian merupakan hasil dari tangkapan akal budi mengenai hakikat (inti/esensi) dari suatu hal (Warsito, 2011).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Senada dengan itu, Molan Benyamin (2012) mendefenisikan bahwa pengertian adalah kemampuan bernalar awal yang didapatkan manusia, yaitu abstraksi dari hal-hal konkrit, dan di dalam kegiatan berupa abstraksi atau aprehensi ini, pikiran menarik (abstrahere/aprehendere) esensi atau hakikat dari suatu hal/benda dan melepaskannya dari bentuk yang konkrit.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Sementara Alex Lanur (1983:14) menyatakan bahwa pengertian adalah suatu gambar akal budi yang abstrak, yang batiniah, tentang inti sesuatu. Dari beberapa defenisi di atas, maka pengertian adalah aktivitas akal budi yang membentuk esensi dan hakikat tentang sesuatu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Misalnya, seorang melihat pesawat terbang, kemudian mencoba untuk mencari, menemukan, lalu mengerti bagaimana caranya pesawat itu bisa terbang. Dan setelah ia mencari dan menemukan, ia pun mengumpulkan beberapa abtraksi-abstraksi yang didapatkannya, seperti: baling-baling, sayap pesawat, dan sistem keseimbangan dari pesawat, untuk bisa membentuk pengertiannya tentang penyebab pesawat bisa terbang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Pada titik ini, maka aktivitas akal budinya kemudian memproses benda-benda seperti: baling-baling, sayap dan sistem keseimbangan pesawat menjadi suatu esensi tentang penyebab pesawat bisa terbang. Sehingga ia pun dapat memiliki “pengertian” tentang “penyebab” atau apa yang menyebabkan pesawat bisa terbang”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Jadi, pengertian adalah gambaran abstrak yang dibentuk akal budi mengenai sesuatu yang dipikirkan. Setiap kali berhadapan dengan sesuatu hal atau pengalaman, akal budi menangkap inti dari sesuatu yang dihadapi dan di alami.  Di sini ada dua proses yang bekerja sekaligus, yaitu &lt;i&gt;pengertian&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;hasil tangkapan &lt;/i&gt;akal budi. Jika pengertian menunjuk sesuatu sebagai hasil tangkapan akal budi, maka kegiatan akal budi untuk menangkap hakikat sesuatu itu disebut abstraksi atau aprehensi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Abstraksi adalah kegiatan akal budi untuk menangkap inti (esensi) dari sesuatu. Akal budi hanya bisa menangkap esensi dari sesuatu jika sesuatu itu telah dilepaskan atau ditarik keluar dari unsur individu yang konkrit, dan ketika itu terjadi maka yang tertinggal adalah pengertian yang bersifat universal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Misalnya, pengertian tentang kata meja yang bersifat universal, tidak tergantung waktu dan tempat. Entah itu meja makan, meja tulis, ataupun meja tamu, kesemuanya itu disebut dengan meja (pengertian universal). Karena pengertian itu masih abstrak, diperlukan lambang/simbol untuk mewujudkannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Lambang itu adalah &quot;kata&quot; yang merupakan unsur terkecil dari bahasa. Adapun &quot;kata&quot; yang berfungsi sebagai ungkapan lahiriah dari suatu pengertian dalam logika disebutkan sebagai “term”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Isi dan Luas Pengertian&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Isi pengertian atau komprehensi, adalah keseluruhan unsur yang termuat dalam ‘pengertian’. Isi dan luas pengertian akan tergantung muatan dan cakupan pengertian dari hal yang ditangkap dalam pengertian itu sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Misalnya, tangkapan pengertian kita terhadap monyet, maka pasti memiliki luas pengertian yang akan lebih sempit daripada tangkapan pengertian kita tentang binatang. Dalam hal ini, luas pengertian pada binatang, lebih besar dari pada luas pengertian pada monyet. Tetapi isi pengertian (komprehensi) pada monyet lebih besar dari pada isi pengertian pada binatang.  Artinya bahwa kita lebih jelas memahami apa yang ditunjuk oleh monyet karena luasnya lebih terfokus, dibandingkan dengan yang ditunjuk oleh binatang yang kurang terfokus. Inilah perbedaan isi dan luas pengertian.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Bandingkan dengan contoh lainnya ini. Ketika misalnya saya berdiri dipinggir pelabuhan Tenau Kupang, saya melihat di satu batas cakrawala ada satu titik kecil. Saya tidak bisa mengidentifikasi dengan jelas benda apakah itu, karena jaraknya sangat jauh (eksistensinya besar). Tetapi ketika benda itu (titik kecil tadi) semakin dekat, berarti eksistensinya makin kecil, maka pengertian saya tentang titik kecil itu semakin jelas. Ternyata titik itu adalah sebuah kapal Pelni. Jadi, setelah kapal itu semakin dekat, berarti eksistensinya semakin kecil, tangkapan (komprehensif) saya tentang kapal itu semakin jelas sekali, bahwa ternyata itu adalah kapal Dorolonda.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Nah, dari contoh di atas, maka menjadi jelaslah apa yang menjadi prinsip hubungan antara eksistensi (luas pengertian) dan komprehensi (isi pengertian).—Makin besar komprehensi, makin kecil eksistensi. Dan sebaliknya, Makin besar eksistensi maka makin kecil komprehensinya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;2. Istilah Term&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam logika, term adalah kata atau sekumpulan kata yang membuat konsep dan ide menjadi nyata (merupakan ekspresi verbal dari suatu pengertian). Term adalah pernyataan lahiriah dari konsep dan ide. Sebagai ungkapan lahiriah, term berupa rangkaian kata, baik tunggal maupun jamak, yang berfungsi sebagai subyek atau predikat dalam suatu kalimat (keputusan). Kata yang bisa termasuk dalam term adalah kata-kata yang memiliki pengertian sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Misalnya meja, orang, mahasiswa, pohon, kambing, keadilan, kebenaran, adalah kata-kata yang memiliki pengertian sendiri dan karenanya merupakan term. Jadi dalam logika, hanya kata atau kesatuan kata-kata yang menyatakan konsep atau ide saja yang dapat disebutkan sebagai ‘term logika’.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Terdapat term tunggal, seperti: kijang, kuda, belajar, membeli, arloji, dll. Ada pula term majemuk, seperti: jam tangan, sepatu roda, sate ayam, dsb. Dengan demikian, tidak semua kata dapat menjadi term logika, kendatipun setiap term logika pasti terdiri atas satu kata atau lebih (Rapar Hendrik Jan, 1996).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Itu sebabnya, selain berfungsi sebagai subyek atau predikat, term juga berfungsi sebagai penghubung antara dua proposisi yang disebut premis dalam silogisme.  Karena term memiliki pengertian sendiri, maka term dapat berfungsi sebagai subyek dan predikat dalam suatu kalimat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Misalnya, koruptur adalah maling. Koruptor (term) berfungsi sebagai subyek, dan maling (term) berfungsi sebagai predikat.  Tetapi sering dipertanyakan jika kalimatnya berbunyi:“saya sakit”, dimana saya berfungsi sebagai subyek dan sakit berfungsi sebagai predikat. Bukankah sakit adalah sin-kategorimatis? Bagaimana kata bisa menjadi term predikat?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Karenanya, kalimat “saya sakit” perlu distandarisasi menjadi kalimat: “saya adalah orang sakit”. Term subyek di sini adalah saya (punya pengertian sendiri) dan term predikatnya adalah orang sakit (punya pengertian sendiri).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dengan demikian maka term dapat dirumuskan sebagai verbalisasi atau ungkapan lahiriah dari pengertian dalam bentuk kata atau rangkaian kata (Molan Benyamin, 2012).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Jenis Term&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Term terdiri dari jenisnya yang beragam. Untuk jenisnya, term terdiri dari 5 jenis, yaitu: a) term konkret; b) term abstrak; c) term tunggal; d) term kolektif; dan e) term umum. Berikut pembahasannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Term konkret (&lt;i&gt;concrete term&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;. Adalah jenis term yang mengacu pada benda konkret, dan dalam logika tradisional termasuk nama diri (proper name). Misalnya: kursi, meja, kuda, monyet, manusia, Plato, Tuti, dll.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Term abstrak (&lt;i&gt;abstrack term&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;. Jenis term yang mengacu kepada kualitas, sifat dan hubungan dari sesuatu hal. Misalnya: kebajikan, kemanusiaan, keindahan, bulatan, hitam, peramah, persahabatan, akrab, dan sebagainya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Term tunggal (&lt;i&gt;singular term&lt;/i&gt;).&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; Adalah jenis term yang mengacu kepada satu benda atau perorangan, atau kepada suatu himpunan yang terdiri atas sebuah pengertian yang menunjuk kepada satu diri. Misalnya: kepala SMP Negeri Kristen Kupang yang kedua, direktur utama Garuda Indonesia yang ketujuh, mahasiswa termuda di dunia, dan sebagainya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Term kolektif (&lt;i&gt;collective term&lt;/i&gt;).&lt;/b&gt; Adalah term yang mengacu pada suatu himpunan atau kelompok dari hal-hal atau benda-benda yang dilihat selaku satu kesatuan. Misalnya: mahasiswa UKIT, pramuka Indonesia, ABRI, dan sebagainya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Term umum&lt;/b&gt;. Adalah term yang mengacu kepada suatu himpunan tanpa pembatasan kuantitas ataupun kualitasnya (berlaku umum). Misalnya: manusia, militer, mahasiswa, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan sebagainya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/80189367241899152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/pengertian-dan-term-dalam-logika.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/80189367241899152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/80189367241899152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/pengertian-dan-term-dalam-logika.html' title='Pengertian dan Term dalam Logika '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhM6AtwZDFR-hI0abZaneDqpfqcIjra5-rXgwJ2tKLzL7lr_9sY1Uic53V23J_Efq8Duw-gme2Ym9dtDumFBZ47GwzYGpVy1pU7AeMFlogdv25u-U6Wg_l9L_kRFMlmj5FrFK_HwVQVOZc/s72-c/a8af487b5ae6a170537fb91b99121d01.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-1803710807558026559</id><published>2019-11-18T14:14:00.001-08:00</published><updated>2019-11-18T22:56:04.129-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fakta Unik"/><title type='text'>Daftar 10 Orang Yang Memiliki Tingkatan IQ Tertinggi Di Dunia </title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;img height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3OoVHwg5ORyxrOpFnYO1GsVEZtbMQlqRhvlHWpd1LlQt8lvF4CSY2k8Zr2RDbQ3l6MA0CMz22iRIt0YF0t8L4jDGQg4pjbBe4jVW49Ldz_fLLSz_sLBQBV4_fPJdNw0XPsJnRUNtNa7Kv/s640/5dcfc0e23bd7b25a80fc2bdb0ef50cd0.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Manusia normal memiliki skor IQ sekitar 100 hingga 120. Namun pada realitas sesungguhnya, ada sekitar setengah persen dari populasi manusia di dunia yang IQ-nya di atas 140. Mereka memang sangat beruntung. Karena berbekal kecerdasannya, mereka mampu melakukan hal yang luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Berikut daftar 10 orang yang masuk dalam jajaran IQ tertinggi di dunia, mulai dari urutan pertama hingga ke sepuluh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. William James Sidis ( IQ 250-300)&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Diperkirakan William memiliki skor IQ antara seputaran angka yang fantastis yaitu: 250-300. Dia masuk Harvard ketika masih berumur 11 tahun untuk belajar matematika. Pada umur 2 tahun ia sudah terbiasa membaca New York Times di pagi hari dan bisa berbicara dengan ratusan bahasa . Ia juga mampu menulis buku tentang anatomi dan astronomi ketika masih berusia 8 tahun. Sayang, manusia paling pintar di bumi ini tidak hidup bahagia, memiliki sedikit teman dan meninggal di usia 46 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Terence Tao (IQ 230)&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Lahir pada 17 Juli 1975 di Australia dan dibesarkan di Shanghai. Orang tuanya adalah pasangan dokter dan guru. Ayahnya menceritakan bahwa Tao ketika umur dua tahun mampu mengajarkan aritmatika dan bahasa Inggris pada kerabat yang usianya lima tahun. Dia menjuarai berbagai olimpiade skala internasional sekaligus menjadi pemenang yang paling muda. Dengan kejeniusannya, dia mendapatkan banyak penghargaan seperti Australian of the Year, Clay Research Award, SASTRA Ramanujan Prize, Alan T. Waterman Award dan Crafoord. Pada tahun 2013, Tao telah menerbitkan lebih dari 250 makalah penelitian dan 17 buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Christopher Hirata (IQ 225)&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Pada tahun 1982 lalu, Hirata telah mencatatkan namanya di daftar orang-orang jenius dengan skor IQ 225. Pria super jenius ini telah meyelesaikan pelajaran kuliah sarjana ketika umur 12 tahun. Pada umur 16 tahun, dia sudah ikut bergabung dengan proyek NASA. Hirata memulai kelas doktornya di bidang astrofisika ketika umur 18 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Kim Ung-Yong (IQ 210)&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dia sudah bisa berbicara lancar ketika masih berusia enam bulan. Pada tanggal 2 November 1967, di usia lima tahun, ia muncul pada acara di Fuji TV di Jepang dan membuat penonton terpukau karena mampu menyelesaikan soal matematika yang rumit. Sekarang ia bekerja di Universitas Nasional Chungbuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Christopher Michael Langan (IQ 195-210)&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Ia sempat disebut sebagai orang paling jenius di Amerika. Langan sudah berbicara lancar ketika berumur enam bulan, mampu membaca dengan baik ketika umur 3 tahun. Dia sangat jenius hingga mampu mencatat nilai sempurna dalam tes SAT meskipun dia sempat tidur ketika tes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Kasparov (IQ 194).&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dia menduduki peringkat 1 dunia di kejuaraan catur pada usia 22 tahun. Pada tahun 1996, Kasparov berhasil mengalahkan komputer Deep Blue milik IBM, meskipun setahun kemudian dia dikalahkan balik dengan komputer catur canggih ini. IQ yang dimiliki Kasparov dikabarkan mencapai angka 194.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Marilyn Vos Savant (IQ 190).&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Perempuan berdarah Jerman-Italia ini memiliki IQ 190. Vos Savant adalah wanita yang jenius, dia aktif dalam dunia tulis-menulis dan mampu memberikan saran dan jawaban tentang pertanyaan apapun. Kolom mingguannya di majalah Parade yang berjudul &#39;Ask Marilyn&#39; sangat terkenal. Dia menjawab berbagai pertanyaan sulit mulai dari teka- teki, pelajaran sekolah, logika dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8. Leonardo Da Vinci (IQ 180).&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;IQ yang dimiliki manusia jenius ini diperkirakan mencapai 180. Da Vinci adalah seorang ahli di bidang musik, matematika, arsitektur, geologi, kartografi dan seni. Mahakarya yang terkenal darinya adalah lukisan Monalisa dan Jamuan Terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;9. Judit Polgar (IQ 170).&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Polgar adalah seorang wanita yang berasal dari negara Hungaria. Dia paling diakui dalam dunia catur. Dengan IQ supernya, ia mendapat predikat Grandmaster pada usia 15 tahun 4 bulan. Dia adalah wanita pertama yang mengalahkan juara catur dunia, Gary Kasparov.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;10. Albert Einstein (IQ 160-190).&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Siapa yang tidak kenal fisikawa jenius ini. Kejeniusannya mampu mengubah cara pandang ilmu fisika. Diperkirakan IQ-nya sekitar 160-190. Meskipun waktu kecil sempat dianggap sebagai anak yang bodoh, ternyata ia adalah salah satu manusia yang mampu mengubah dunia, bahkan juga membuat bom atom.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/1803710807558026559/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/daftar-10-orang-yang-memiliki-tingkatan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/1803710807558026559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/1803710807558026559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/daftar-10-orang-yang-memiliki-tingkatan.html' title='Daftar 10 Orang Yang Memiliki Tingkatan IQ Tertinggi Di Dunia '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3OoVHwg5ORyxrOpFnYO1GsVEZtbMQlqRhvlHWpd1LlQt8lvF4CSY2k8Zr2RDbQ3l6MA0CMz22iRIt0YF0t8L4jDGQg4pjbBe4jVW49Ldz_fLLSz_sLBQBV4_fPJdNw0XPsJnRUNtNa7Kv/s72-c/5dcfc0e23bd7b25a80fc2bdb0ef50cd0.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-7731290775552169794</id><published>2019-11-18T14:03:00.001-08:00</published><updated>2019-11-18T15:50:09.636-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fakta Unik"/><title type='text'>Sembilan Pembunuh Tersadis &amp; Terkejam Di Dunia: Satu Diantaranya Asal Indonesia </title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhboJF7WozWddPeVqKToEhyWisJmEIJQzERoTF4MTIc4AOQPakVnoXAI5iwfGSKcz5VcVWW_K7li7p8PzpAlrHyJKbFJwIlBqKlL0wGWa4Jp4hMqUzXgtY1U7lQ-J8lbrtvY5d_OVnMbec/s640/6bed8d878ecba494c53f0b7d3b7f5b3a.jpg&quot; width=&quot;512&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Anda pasti sering mendengar berita tentang kasus pembunuhan. Tentu banyak cara yang dilakukan sang pembunuh untuk melakukan aksinya tersebut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam beberapa kasus, ada yang melakukan pembunuhan secara sadis yaitu menyiksa korban terlebih dahulu sebelum membunuhnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Berikut daftar pembunuh tersadis di dunia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Andrei Chikatilo&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjageEOdw14i0jEx-ToZ_0GqPo7b2JYSEjneaoDwS9oUANkRzjyh6ZsGH91x6Wg8SFax_iY2PxGLMllF8Dgbfi5pfVNmtA0rzVShigTCAui9A3oy34dAnqE2eVEFufIOAyPY3DJHk4yWreO/s1600/Andrei_Chikatilo.jpg&quot;&gt;&lt;img height=&quot;320&quot; src=&quot;https://cdnimage1.caping.co.id/news/20170808/a8/0702518162A240A320.jpg_480A0A1A80.webp&quot; width=&quot;240&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrei Chikatilo adalah seorang pembunuh berantai asal Ukraina yang memegang julukan Jagal dari Rostov, dan dihukum karena pembunuhan terhadap 53 wanita dan anak-anak antara tahun 1978 dan 1990. Kisah pembantaian ini dikenal dengan ‘&lt;i&gt;The Ripper Red&lt;/i&gt;.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1978, Chikatilo pindah ke Shakhty, sebuah perusahaan tambang batu bara kecil dekat kota Rostov, dimana dia melakukan pembunuhan pertamanya yang didokumentasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 22 Desember ia terpikat seorang gadis sembilan tahun, dan membawanya ke sebuah rumah tua yang ia beli secara rahasia dari keluarganya dan berusaha memperkosanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gadis itu berjuang, ia ditikam sampai mati. Dia mendapatkan kepuasan dalam proses membunuh dan menikam anak, dan sejak saat itu dia hanya mampu mencapai gairah dan kepuasan melalui menusuk dan menyayat perempuan dan anak-anak sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendekati anak yang kabur dari rumah dan gelandangan muda di stasiun bus atau kereta api dan menarik mereka untuk pergi. hutan terdekat adalah tempat untuk kematian korban yang biasa. Pada tahun 1983, ia tidak membunuh sampai Juni, tapi kemudian dia membunuh empat korban sebelum September.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para korban semuanya adalah perempuan dan anak kecil. Para wanita dewasa seringkali PSK atau gelandangan gelandangan yang dapat terpikat dengan IMING-IMING alkohol atau uang. Chikatilo biasanya akan berusaha melakukan hubungan dengan korban, tetapi biasanya tidak akan mampu untuk mendapatkan kepuasan, yang berakhir dengan pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para korban adalah anak dari jenis kelamin yang berbeda, dan Chikatilo akan memancing mereka pergi dengan sikapnya ramah, banyak bicara dengan menjanjikan mereka mainan atau permen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Uni Soviet pada saat itu, laporan kejahatan seperti pemerkosaan anak dan pembunuhan berantai sering ditekan oleh media yang dikendalikan negara, sebagai kejahatan seperti itu dianggap sebagai yang umum hanya dalam “negara kapitalis hedonistik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1988 Chikatilo kembali membunuh, umumnya menjaga aktivitasnya jauh dari wilayah Rostov. Dia membunuh seorang wanita di Krasny-Sulin pada bulan April dan melanjutkan untuk membunuh delapan orang tahun itu, termasuk dua korban di Shakhty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi ada selang lama sebelum Chikatilo kembali membunuh, membunuh tujuh anak laki-laki dan dua perempuan antara Januari dan November 1990.Ia akhirnya tertangkap saat mencoba untuk mendekati anak muda saat berada dibawah pengawasan polisi. Ia pergi ke pengadilan pada tanggal 14 April 1992.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun perilakunya aneh dan mengganggu di pengadilan, dia dinilai perlu untuk diadili. Selama persidangan dia terkenal karena dimasukan di kandang di tengah ruang sidang, yang digunakan untuk perlindungan kerabat almarhum. Sidang memiliki suasana yang sangat mengganggu dan menyeramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para kerabat terus berteriak bemberikan ancaman dan hinaan ke Chikatilo, menuntut pihak berwenang untuk membebaskannya sehingga mereka bisa mengeksekusinya sendiri. Dia ditemukan bersalah atas 52 dari 53 pembunuhan dan dijatuhi hukuman mati karena pelanggaran masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia dieksekusi oleh regu tembak (ditembak di bagian belakang kepala) pada tanggal 14 Februari 1994 setelah Presiden Rusia Boris Yeltsin menolak banding parit terakhir oleh Chikatilo grasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Alber Fish&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMpnO3GwD6rbgVCcnSY3P-CdDa_Knr1j0xsOaidcGAUCMx0JFGYUkRpZ-iRgzwDNFT41H6L3BAY7iFlOzQXHN-icTSN6GC0c3vJNg4UhISPZOnjdKmrDbglKIPXg8UCHFDetdhYFsyDiqp/s1600/1418.jpg&quot;&gt;&lt;img height=&quot;320&quot; src=&quot;https://cdnimage1.caping.co.id/news/20170808/f6/0702516836A240A320.jpg_480A0A1A80.webp&quot; width=&quot;240&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Albert Fish dikenal sebagai manusia abu-abu , werewolf dari wysteria dan mungkin vampir. Ia mempermalukan dan melecehkan 100 anak laki-laki serta melakukan 3 pembunuhan yang tidak lebih banyak jika dibanding Babe dan Robot Gedek dari Indonesia, tapi cara dia membunuh sungguh sadis karena ia tidak segan-segan mendeskripsikan cara membunuhnya yang brutal kepada Ibu korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesaksiannya ia menyebutkan bahwa Ia memukul korban dari belakang dengan sabuk sampai berdarah, memotong telinga, hidung dan membuat mulutnya menganga sampai telinga dengan sayatan pisau lalu mencongkel matanya satu persatu sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memotong dan membuka bagian perut hingga menganga dan menghisap darah langsung dari perut korban, setelah melakukannya ia mengambil kentang untuk direbus bersama daging korban dan bagian tubuhnya yang lain dengan garam dan bumbu lada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Itu Si Tua ini menjelaskan rasanya memakan bagian tubuh yang lain.. &quot;Aku merebus bagian telinga, hidung, wajah dan beberapa potongan daging manusia sial itu lalu memasukan bawang, wortel, seledri, garam dan lada&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjelaskan hal tersebut Fish juga memberi tahu cara membuat manusia panggang yang ia jelaskan lebih enak dari pada daging-daging lainnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengecekan Xray oleh dokter ditemukan jarum dalam bagian kemaluan Fish yang dilakukan si Gila ini untuk mendapatkan kesenangan dari sensasi sakit yang di alami. Belakangan diketahui bahwa Fish adalah seorang coprophilia, urophilia, pedophilia and masochism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Jeffrey Dahmer&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhl27NKMXaat_KbmZhmDYnhPg5NNXZICgQDY_GLIidTM0dQxW5e9xVz2sHh4O-JZ-0defawDsTVURA4icFYfzqquoxPgPxSEE4WvGwFEyJ58r_279NPEw3fdL7tmUWEYaa7oRwP6ZG36yyJ/s1600/540_jeffrey_dahmer.jpg&quot;&gt;&lt;img height=&quot;320&quot; src=&quot;https://cdnimage1.caping.co.id/news/20170808/ae/0702518163A240A320.jpg_480A0A1A80.webp&quot; width=&quot;240&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Kepala terpenggal ditemukan di kulkas, dan peralatan untuk pembangunan altar lilin dan tengkorak manusia ditemukan di lemari. Tuduhan segera muncul bahwa Dahmer melakukan aktifitas necrophilia, kanibalisme, dan mungkin suatu bentuk trepanasi untuk menciptakan apa yang disebut “zombie.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Pengadilan menemukan Dahmer bersalah atas 15 pembunuhan dan menghukumnya, dengan total 937 tahun penjara. Pada sidang hukumannya, Dahmer menyatakan penyesalan atas perbuatannya, juga mengatakan bahwa ia menginginkan kematiannya sendiri. Pada tanggal 28 November 1994, Dahmer dan narapidana bernama Jesse Anderson yang menurut rumor merupakan pacarnya dipukuli sampai mati oleh sesama narapidana. Pembunuhannya mengerikan, yang melibatkan tindakan sodomi secara paksa, necrophilia, pemotongan, dan kanibalisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Richard Trenton Chase&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYckorkgNsvMgUH3cLSNUk6XvQd079Dxq1-IyBnFPJILn37c_eceGMucvU7oHdmsvp_PaToI04NvrcfGqHCdpTCjURb5aCsIneEtZnxj-qdPb3vSgALxTJ2t4rceaFhmug-PcHp4Z3hnzF/s1600/Jeffrey_Dahmer2.jpg&quot;&gt;&lt;img height=&quot;320&quot; src=&quot;https://cdnimage1.caping.co.id/news/20170808/a4/0702516837A240A320.jpg_480A0A1A80.webp&quot; width=&quot;240&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Richard Trenton Chase (23 Mei 1950 – 26 Desember 1980) adalah seorang pembunuh berantai Amerika yang menewaskan enam orang dalam rentang satu bulan di California.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dia mendapat julukan&amp;nbsp;&lt;i&gt;The Vampire&amp;nbsp;&lt;/i&gt;dari Sacramento karena meminum darah korbannya dan kanibalisme. Dia melakukan ini sebagai bagian dari khayalannya bahwa hal ini diperlukan untuk mencegah Nazi dari membuat darahnya menjadi bubuk melalui racun yang mereka tanam di bawah piring sabunnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Aneh sekali, pada tanggal 29 Desember 1977, Chase membunuh korban pertamanya di sebuah&amp;nbsp;&lt;i&gt;drive-by shooting&lt;/i&gt;, Ambrosius Griffin, seorang insinyur 51 tahun dan ayah dua anak.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Korban berikutnya Chase adalah Teresa Wallin. Wanita yang Hamil tiga bulan, Teresa terkejut di rumahnya karena keberadaan Chase, yang menembak tiga kali dan membunuhnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dia kemudian melakukan hubungan intim dengan mayat dan dimutilasi, setelah itu mandi di dalam darah wanita yang meninggal itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Pada tanggal 27 Januari Chase melakukan pembunuhan terakhirnya.Memasuki rumah dari Evelyn Miroth, ia bertemu tetangganya, Don Meredith, yang ditembak dengan pistol 22 . Dia mencuri dompet Meredith dan mengambil kunci mobil, ia mengamuk di rumah, menembak Evelyn Miroth, anaknya Jason yang berumur 6 tahun, dan keponakan Miroth yang baru berusia 22 bulan yang bernama David.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Seperti Teresa Wallin, Chase terlibat dalam kasus necrophilia dan kanibalisme dengan mayat Miroth itu. Chase kembali ke rumahnya, tempat ia minum darah David dan makan beberapa organ dalam bayi yang baru dibunuh sebelum membuang tubuh di sebuah gereja di dekat rumahnya. Seorang saksi melihat dia meninggalkan tempat di mana ia meninggalkan sidik jari sempurna dan cetakan sepatu yang mengarah ke penangkapannya selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 8 Mei Chase dihukum karena terbukti bersalah atas enam tuduhan pembunuhan tingkat pertama dan dijatuhi hukuman mati di kamar gas. Menunggu mati, Chase menjadi ditakuti di penjara; para tahanan lainnya (termasuk beberapa anggota geng), tahu kejahatannya, takut kepada-Nya, dan menurut petugas penjara, mereka sering mencoba meyakinkan Chase untuk melakukan bunuh diri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Pada tanggal 26 Desember 1980, seorang penjaga melakukan pemeriksaan sel yang ditemukan Chase berbaring canggung di tempat tidurnya, tidak bernapas. Autopsi menemukan bahwa ia bunuh diri karena overdosis obat anti depresan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Gilles de Rais&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggsUJW36XMLc284inkZZFagcHdAxFW2R2Put_QjMCblgb36JiBD2GaRjdK-PJecqcqjC_OmZgOxZ5zvvaLtbudFbOmA6xB6XDqnV4__u5AYOcXAl7mQ2B6zvaHl0V7NUYNAtIfAOoXOKvA/s1600/220px-Gillesderais1835.jpg&quot;&gt;&lt;img height=&quot;320&quot; src=&quot;https://cdnimage1.caping.co.id/news/20170808/90/0702518165A240A320.jpg_480A0A1A80.webp&quot; width=&quot;240&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gilles de Rais (seorang bangsawan Perancis) dianggap sebagai cikal bakal pembunuh berantai modern. Sebelum memulai membunuh untuk kesenangannya, ia memulai karirnya sebagai kapten militer dalam memimpin tentara St Joan of Arc – meski beliau tidak mengenal langsung Gilles.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Ia (gilles) dituduh dan akhirnya dihukum karena menyiksa, memperkosa dan membunuh puluhan, bahkan ratusan, anak muda, terutama anak laki-laki.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Menurut sejarah yang tersisa, Rais memikat anak-anak, terutama anak laki-laki muda yang berambut pirang dan bermata biru untuk datang ke tempatnya, dan diperkosa, disiksa dan dimutilasi , orang tolol ini (gilles) mendapat kesenangan selama korban sekarat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Jumlah tepat korban Rais tidak diketahui, karena sebagian besar mayat dibakar atau di kubur. Jumlah pembunuhan umumnya sekitar 80 dan 200 orang; beberapa bahkan menduga mencapai jumlah 600. Para korban berkisar di usia 6-18 dan termasuk laki-laki dan perempuan.Si pembunuh gila ini senang dengan anak kecil dan terkadang anak perempuan untuk di bunuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pada saat persidangan, salah seorang pembantu Gilles yang bernama Henriet (membantu dan kaki tangan untuk kejahatan tuannya) menggambarkan tindakan tuannya, yaitu: Henriet si pembantu mulai mengumpulkan anak-anak untuk tuannya, dan mereka dibunuh . Mereka selalu dibunuh dalam satu kamar di Machecoul. Gilles mandi dalam darah mereka, ia gemar membuat Gilles melakukan Sillé, Pontou, atau Henriet untuk menyiksa mereka, dan dia mengalami kenikmatan intens dalam melihat mereka dalam penderitaan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Tapi gairah besar adalah untuk campuran dalam darah mereka. pembantunya menusuk vena jugularis anak yang dijadikan korban, dan biarkandarah menyemprotkan di sekujur tubuhnya. Ruangan itu sering tenggelam dalam darah. Ketika perbuatan mengerikan itu dilakukan, dan anak itu sudah mati, Gilles akan dipenuhi dengan kesedihan atas apa yang telah dilakukannya, dan menangis dan berdoa di tempat tidurnya, atau membaca doa sungguh-sungguh dan berlutut, sedangkan pembantunya mencuci lantai, dan mayat anak-anak yang dibunuh dibakar di perapian besar bersama pakaian serta apa yang dimilikinya. Si tolol ini sangat suka dengan bau terbakarnya korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Very Idham Henyansyah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrkcmNzTR-z8dSzT__oiy7yADVw46Hnfr2hkPzTWfe9Xk2r0N_YZkJU1gjVEIOewMHAEDsT4Ri98FzxaPZZgJyrFUSCG7jHv4MT_NP_jXeQ9oHbP5sVZe30w00dYGP5pcgpZ62HCB6LeZS/s1600/ryan1.jpg&quot;&gt;&lt;img height=&quot;320&quot; src=&quot;https://cdnimage1.caping.co.id/news/20170808/54/0702516839A240A320.jpg_480A0A1A80.webp&quot; width=&quot;240&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Very Idham Henyansyah, atau dikenal dengan panggilan Ryan (lahir di Jombang, 1 Februari 1978; umur 32 tahun) adalah seorang tersangka pembunuhan berantai di Jakarta dan Jombang. Kasusnya mulai terungkap setelah penemuan mayat termutilasi di Jakarta.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Setelah pemeriksaan lebih lanjut, terungkap pula bahwa Ryan telah melakukan beberapa pembunuhan lainnya dan dia mengubur para korban di halaman belakang rumahnya di Jombang.&lt;br /&gt;Kasus ini dimulai dengan ditemukannya tujuh potongan tubuh manusia di dalam dua buah tas dan sebuah kantong plastik di dua tempat di dekat Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan pada Sabtu pagi tanggal 12 Juli 2008.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Korban adalah Heri Santoso (40), seorang manager penjualan sebuah perusahaan swasta di Jakarta.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Heri dibunuh dan dimutilasi tubuhnya oleh Ryan di sebuah apartemen di Jalan Margonda Raya, Depok. Pengakuan Ryan, dia membunuh Heri karena tersinggung setelah Heri menawarkan sejumlah uang untuk berhubungan dengan pacarnya, Noval (seorang laki-laki).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Jejak Ryan dan Noval dapat terlacak setelah mereka berdua menggunakan kartu ATM dan kartu kredit Heri untuk berfoya-foya.Setelah media memberitakan kasus mutilasi yang dilakukan Ryan, banyak masyarakat melaporkan kerabat mereka yang hilang setelah sebelumnya diketahui bersama Ryan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Polisi akhirnya membongkar bekas kolam ikan di belakang rumah orang tua Ryan di Jombang dan menemukan empat tubuh manusia di dalamnya, sebagian besar sudah tinggal kerangka.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Ryan kemudian juga mengakui pembunuhan enam orang lainnya dan tubuh mereka ditemukan ditanam di halaman belakang rumah yang sama. Sehingga total sudah ditemukan sebelas korban pembunuhan Ryan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Eric Smith&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIdHDU_IoPzG2K_X1qWWGqcHRVKQRhmchjEQbJsRf5EHIJZqyG8E1AOv7IyqpqDf0MnaElY9gd2RyHEQTtjmNQsCoJmFAAAvpYDKZPe3gGq85AiiWdgbf451qWVI0fdQyYExW_0tH2qIrb/s1600/Eric-Smith.jpg&quot;&gt;&lt;img height=&quot;320&quot; src=&quot;https://cdnimage1.caping.co.id/news/20170808/74/0702518167A240A320.jpg_480A0A1A80.webp&quot; width=&quot;240&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Eric Smith yang pada saat itu berusia 13 thn dihukum karena menyumpalkan baterai dan memukul seorang anak berusia 4 tahun sampai mati pada tahun 1994.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dia melanjutkan dengan tindakan sodomi pada bocah 4 tahun itu dengan tongkat lalu dia menimpakan batu-batu besar pada tubuh kecilnya itu hingga remuk.Smith dihukum minimal 9 tahun penjara untuk pembunuhan tingkat kedua. Dia masih di penjara dan permohonan jaminan untuk kebebasanya 5 kali di tolak. Ejekan digunakan sebagai alasan untuk perilaku kejahatan yang dilakukan Smith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8. Jack The Ripper&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQT4QBsAmUanOuSAA692dN5-w-1YL3PmP9snN9u0KAVnyVHpRv006iyPFx8WFxYCPi9V0sRhpu1KaR0CQdIr-UBH5OBlVU6wolQvPqe8CD23_36StqPA2ztChe0n5WL-fLQp9W7HOq3B4a/s1600/539_Jack-the-Ripper.jpg&quot;&gt;&lt;img height=&quot;320&quot; src=&quot;https://cdnimage1.caping.co.id/news/20170808/62/0702516841A240A320.jpg_480A0A1A80.webp&quot; width=&quot;240&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jack The Ripper merupakan nama samaran untuk seorang pembunuh berantai yang namanya tidak teridentifikasi dan beroperasi pada tahun 1888. Ia merupakan seorang warga perkampungan miskin, Whitechapel, Kota London, Inggris.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Para wanita pelacur di sebuah prostitusi merupakan sasaran empuknya. Wanita-wanita tersebut dibunuh dengan cara digorok lehernya, lalu tubuhnya dipotong menjadi beberapa bagian dan organ vitalnya dibuang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;9. David Richard Berkowitz&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHGgKe4w1d-rrEe9EaW1WYWReH8j6VpIM5js-iMdmdQ8GSTKLFPajFg01HbqpuypTdhHlea3-KN_1Y_orSTFGn2pp6evBEkvtPjsDoQ3pRLwX1lMbw8MzS2yHBLMgt-0hnC-piMDyliJJ9/s1600/538_David-Richard-Berkowitz.jpg&quot;&gt;&lt;img height=&quot;320&quot; src=&quot;https://cdnimage1.caping.co.id/news/20170808/96/0702518170A240A320.jpg_480A0A1A80.webp&quot; width=&quot;240&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ia dikenal sebagai pembunuh berantai Amerika dan dikenal pula sebagai teroris Kota New York pada bulan Juli 1976. Ia berhasil ditahan pada bulan Agustus 1977.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Berkowitz membunuh perempuan berambut panjang yang bekerja larut malam dengan pistol yang disimpan di sakunya. Setelah dibunuh, rambut perempuan tersebut dipotong sebagai tanda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/7731290775552169794/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/sembilan-pembunuh-tersadis-terkejam-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/7731290775552169794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/7731290775552169794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/sembilan-pembunuh-tersadis-terkejam-di.html' title='Sembilan Pembunuh Tersadis &amp; Terkejam Di Dunia: Satu Diantaranya Asal Indonesia '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhboJF7WozWddPeVqKToEhyWisJmEIJQzERoTF4MTIc4AOQPakVnoXAI5iwfGSKcz5VcVWW_K7li7p8PzpAlrHyJKbFJwIlBqKlL0wGWa4Jp4hMqUzXgtY1U7lQ-J8lbrtvY5d_OVnMbec/s72-c/6bed8d878ecba494c53f0b7d3b7f5b3a.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-1587134299188224379</id><published>2019-11-18T13:58:00.002-08:00</published><updated>2019-11-18T15:44:44.395-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fakta Unik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tajuk"/><title type='text'>KISAH TRAGIS MANUSIA PALING JENIUS DI DUNIA: JAMES SIDIS</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhONXh0UNi_x8F2TmdGB6BNecPl_R8F7SdsWBXQtg-vTK3GyILWfy5yCgy-H9m83Lhra4JZqXfdZ3EEDE8DRCL8RkhK-5YJ_XP9V4pk6F-C7R02aRrSCr6cb-9IYwjyZFHqqdNuaCsFgtBr/s640/William_James_b1842c.jpg&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;William James Sidis dilahirkan pada tanggal 1 april 1898 di Negara Paman Sam-Amerika Serikat. Hingga detik ini Sidis merupakan manusia paling jenius yang pernah ada di muka bumi ini dengan IQ (tingkat Kecerdasan) di atas 250-300.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Sidis memiliki banyak minat dalam berbagai bidang pengetahuan (kedokteran, matematika, astronomi, hukum, mesin, sipil, bahasa dll). Kejeniusannya mengalahkan Da Vinci, Einstein, Newton dan ilmuwan lainnya. Meskipun demikian, sangat disayangkan bahwa nama James Sidis seakan tersisih dan terlupakan dari jajaran orang-orang paling jenius di jagat ilmu pengetahuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 8 bulan, keajaiban Sidis mulai tampak dengan diawali ketika ia bisa makan sendiri dengan menggunakan sendok. Pada usianya yang belum genap 2 tahun, Sidis sudah menjadikan New York Times sebagai teman sarapan paginya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Semenjak saat itu namanya menjadi langganan headline di beberapa surat kabar, yaitu dengan menulis beberapa buku sebelum berusia 8 tahun, diantaranya tentang anatomi dan astronomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan Sidis dalam berbahasa pun sangat hebat. Bayangkan saja, Ia bisa mempelajari bahasa baru hanya dalam satu hari hingga total sekitar 200 bahasa dunia dikuasainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 11 tahun, Sidis diterima di Universitas Harvard sebagai murid termudadan lulus dengan menyandang predikat cumlaude yaitu sebagai sarjana matematika termuda, di usia 16. Dan komunitas Harvard sangat terpesona dengan kejeniusannya, ketika Sidis memberikan ceramah tentang Jasad Empat Dimensi di depan para Profesor matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sidis lulus dengan predikat &#39;cumlaude&#39; sebagai sarjana matematika di usia 16 tahun, dia pun melanjutkan kuliah ke jenjang lebih tinggi. Namun ia kuliahnya sempat tersendat karena di buli oleh sekelompok mahasiswa yang tidak menyukainya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Di usia 17 tahun Sidis menerima tawaran sebagai asisten dosen sambil melanjutkan pendidikannya ke program doktoral. Namun sayang dia tidak menyelesaikan studinya karena merasa frustasi oleh sistem pembelajaran dan perlakuan kakak kelasnya. Saat itu Sidis sempat mengeluh, “Aku tidak tahu kenapa mereka memberiku pekerjaan ini dan menempatkanku sebagai orang spesial, aku sebenarnya tidak layak sebagai dosen.“ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1919, Sidis di tangkap dan di tahan selama 18 bulan, karena keterlibatannya dalam demo Socialist May Day di kota Boston. Saat itu, Sidis membuat pernyataan yang dianggap menentang wajib militer perang pada Dunia ke-I. Penangkapan Sidis sentak saja menghebohkan media masa, karena saat itu adalah masa dimana ia sedang mengawali kiprahnya sebagai anak jenius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak keluar dari penjara, Sidis kemudian menghilang ditelan bumi, dan setelah sekian lama, jejaknya terendus oleh seorang reporter yang bertemu dengan seorang pemulung besi tua yang miskin papa, yang ternyata dia adalah sang jenius: William James Sidis. ‘&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, James Sidis memang tersisih dan luput dari hingar bingarnya pemberitaan tentang para jenius di muka bumi ini. Padahal kejeniusannya sesungguhnya berada jauh di atas para ilmuan jenius berdarah Yahudi, seperti: Albert Einstein, Edison, Mozart, Da Vinci, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7prMUOmclKA1nCCwTJ3SiuzEoE6heBKZJTrT7vYg_x3PZFDYmq3w5G8cj2cq7CI05qjebnEnG2u58g0AElakxFLh5C76z5edgSwoQbMNSStk4fkFJcy2bawaqkwEcNpWUCoeY64vLzlvW/s1600/www.merinding.com+%252810%2529.png&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;328&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7prMUOmclKA1nCCwTJ3SiuzEoE6heBKZJTrT7vYg_x3PZFDYmq3w5G8cj2cq7CI05qjebnEnG2u58g0AElakxFLh5C76z5edgSwoQbMNSStk4fkFJcy2bawaqkwEcNpWUCoeY64vLzlvW/s640/www.merinding.com+%252810%2529.png&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu pelajaran penting dari kisah tragis James Sidis ini. Rupanya menurut informasi bahwa semasa kecilnya, Sidis telah menjadi obyek eksperimen Boris Sidis, ayah Sidis yang merupakan seorang psikolog. Boris dalam hal ini menerapkan sistem pendidikan model baru kepada Sidis anaknya karena menolak sistem pendidikan konvensional yang dianggap sebagai sumber kenakalan dan kejahatan anak.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Sayangnya, mental Sidis tidak tahan atas perlakuan lingkungan terhadapnya dan Ia pun merasa lelah menjadi proyeksi dari ambisi sang ayah hingga ingin melepaskan diri dari bayang-bayang sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pada usia 46 tahun Sidis pun meninggal dunia karena pendarahan di otak, dan sayangnya dia belum banyak menyumbangkan ilmunya untuk peradaban ilmu pengetahuan insan manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/1587134299188224379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/kisah-tragis-manusia-paling-jenius-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/1587134299188224379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/1587134299188224379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/kisah-tragis-manusia-paling-jenius-di.html' title='KISAH TRAGIS MANUSIA PALING JENIUS DI DUNIA: JAMES SIDIS'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhONXh0UNi_x8F2TmdGB6BNecPl_R8F7SdsWBXQtg-vTK3GyILWfy5yCgy-H9m83Lhra4JZqXfdZ3EEDE8DRCL8RkhK-5YJ_XP9V4pk6F-C7R02aRrSCr6cb-9IYwjyZFHqqdNuaCsFgtBr/s72-c/William_James_b1842c.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-6936372668625710656</id><published>2019-11-18T08:34:00.001-08:00</published><updated>2019-11-18T15:49:52.740-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fakta Unik"/><title type='text'>HANYA DENGAN UANG SEPULUH RIBU, PRIA INI BISA MENIKAHI DUA ORANG WANITA SEKALIGUS </title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img height=&quot;360&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPAgvPg07gNMyy_VgqYC1z9hH4u0LeVnHa3A8qiu4_viWG-q60dzwmqhdVvzde8zJcUT3-NEgZ6GCQ9b0pH5rGw9EMx02-4KOfMMIlMf6HlUZJvbOmv1nTIpK_Eo_lWkXCMuNZpPIiT1q6/s640/ae6ae1786da5204457aa334ec9039e07.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Media sosial belakangan ramai dengan unggahan yang menggambarkan seorang pria yang menikahi dua orang wanita sekaligus.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam video tersebut terlihat seorang pria yang tengah melangsungkan akad pernikahan diapit dengan dua orang wanita.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tidak hanya itu, dalam video tersebut juga terungkap bahwa mahar yang diberikan sang pria untuk menikahi kedua wanita itu hanya sebesar Rp.10 ribu. Ini terungkap saat penghulu menikahkan pria itu dengan dua wanita yang ada di kedua sisinya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Video yang diunggah oleh akun Instagram makassar_info menyebutkan bahwa video tersebut diambil Dusun Pangkalan Padang rt 06/02 Desa Airtarap Kec Kendawangan Kab Ketapang, Kalimantan Barat. Ia juga mengungkapkan alasannya menikahi kedua wanita tersebut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&quot;Saya tidak sampai hati melihat ada yang terluka. Makanya saya putuskan untuk menikah sekaligus&quot;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Setelah sempat keliru mengucapkan ijab qabul, pria itu akhirnya sah menikahi dua orang wanita yang dicintainya. Hal ini pun disusul oleh ucap syukur para tamu yang hadir dan juga riuh tepuk tangan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Hingga saat ini VIVA.co.id masih mencoba menelusuri informasi mengenai kapan kejadian tersebut berlangsung. Undang-undang di Indonesia sendiri memang memperbolehkan seorang pria untuk mempunyai dua istri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Namun, aturan yang diperlukan seorang untuk mempunyai dua istri cukup banyak dan juga ketat. Salah satunya ialah harus meminta izin dari istri pertama. Namun, peristiwa seorang pria yang menikahi dua orang wanita sekaligus sangat jarang terjadi di Indonesia. (red)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/6936372668625710656/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/hanya-dengan-uang-sepuluh-ribu-pria-ini.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/6936372668625710656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/6936372668625710656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/hanya-dengan-uang-sepuluh-ribu-pria-ini.html' title='HANYA DENGAN UANG SEPULUH RIBU, PRIA INI BISA MENIKAHI DUA ORANG WANITA SEKALIGUS '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPAgvPg07gNMyy_VgqYC1z9hH4u0LeVnHa3A8qiu4_viWG-q60dzwmqhdVvzde8zJcUT3-NEgZ6GCQ9b0pH5rGw9EMx02-4KOfMMIlMf6HlUZJvbOmv1nTIpK_Eo_lWkXCMuNZpPIiT1q6/s72-c/ae6ae1786da5204457aa334ec9039e07.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-7124993989516331814</id><published>2019-11-18T08:28:00.003-08:00</published><updated>2019-11-18T08:28:37.021-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fakta Unik"/><title type='text'>Gadis Vietnam Meraih Gelar Doktor dan Apoteker Termuda di Usia 19 Tahun</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img height=&quot;530&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgM3_KHPdbbz_oOZLXmV2xmjShBEqMpIpVNMtp1xBSana0GnLI1SLSO28-8_gfPn_5NjmINvVPe1agBnlyHIwhPz8KzD1Pl7umOoiAXayIuiGZd8yO6Q0zVl2tZoUJmTW22EZF4lAxyuFI/s640/vddsgw.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Seorang gadis 19 tahun asal Vietnam ini dinobatkan menjadi apoteker atau ahli obat termuda di California, AS. Namanya Kassidy Vo, yang berparas cantik dan manis menjadi ahli obat atau apoteker di usia yang masih sangat muda, yaitu 19 tahun.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dia meraih penghargaan sebagai apoteker termuda di California, AS, saat kelulusannya (17/5/2019) di Universitas Chapman. Tidak hanya itu saja, rupanya Kassidy Vo juga menerima gelar doktor di bidang farmasi di usia yang sangat belia, 19 tahun.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Kassidy merupakan gadis asli Vietnam yang dianggap memiliki ketekunan yang didapatnya dari keluarga selama bertahun-tahun tinggal di negara aslinya itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Ayahnya, Andrew Vo, sudah berusia 10 tahun ketika Perang Vietnam berakhir pada tahun 1975.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Keluarganya, yang berasal dari dataran tinggi Vietnam Selatan, kemudian pergi ke Amerika Serikat bersama dengan para pengungsi lain yang meninggalkan negara mereka dengan perahu layar. Ibu Vo, Kacie Tran, ikut dalam perjalanan itu, bersama keluarganya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Seperti sudah ditakdirkan, Andrew dan Kacie akhirnya bertemu, menikah, dan hidup bersama di Orange County utara. Sebagai orang tua, mereka fokus pada penyediaan pendidikan tinggi. Sesuatu yang tidak pernah mereka miliki, untuk dua anak mereka, Kassidy dan Andrew.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Beberapa tahun yang lalu saudara lelaki Kassidy, Andrew, lulus dengan gelar sarjana muda di Universitas Chapman pada usia 19. Pada usia yang sama, saudara perempuannya membuatnya sedikit lebih baik dengan gelar doktor.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&quot;Dia bisa lulus dari taman kanak-kanak dalam satu minggu,&quot; tutur sang ayah mengenai putrinya, seperti yang dilansir dari Nextshark. &quot;Ketika dia berada di sekolah menengah (SMA), dia lulus dalam dua tahun dan selesai pada usia 14 tahun.&quot;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Prestasi Kassidy dan Andrew tidak lah didapat tanpa kerja keras. Sejak anak-anak, mereka berdua belajar di rumah ketika ibu mereka menyadari potensi mereka dalam belajar dengan kecepatan mereka sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Kassidy menghabiskan sebagian besar tahun lalu dengan melakukan serangkaian bekerja magang. Dia mendapatkan pengalaman bekerja di bagian farmasi Walgreens, dalam perawatan darurat, di unit perawatan intensif, dan membantu dokter di rumah sakit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/7124993989516331814/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/gadis-vietnam-meraih-gelar-doktor-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/7124993989516331814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/7124993989516331814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/gadis-vietnam-meraih-gelar-doktor-dan.html' title='Gadis Vietnam Meraih Gelar Doktor dan Apoteker Termuda di Usia 19 Tahun'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgM3_KHPdbbz_oOZLXmV2xmjShBEqMpIpVNMtp1xBSana0GnLI1SLSO28-8_gfPn_5NjmINvVPe1agBnlyHIwhPz8KzD1Pl7umOoiAXayIuiGZd8yO6Q0zVl2tZoUJmTW22EZF4lAxyuFI/s72-c/vddsgw.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-6317445998304501095</id><published>2019-11-18T08:16:00.000-08:00</published><updated>2019-11-18T08:16:10.304-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fakta Unik"/><title type='text'>Pulau Ular Paling Mematikan Di Dunia </title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWAcf1GyyQAbBlcnx9N5uJws0boYHdKyP1nV6Tk4HiRGrUu5oHCd9NyUA-nBfcnzeAq_k6FPKJPngU8hvUfsuNaN0z_AQIykgmzlRqr9dyZEvp_kBdLoz_ER9hbYzNtBReladDnUATe84/s640/snake-island.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Ilha da Queimada Grande&lt;/i&gt; alias Pulau Ular, adalah pulau kecil di sepanjang lepas pantai Brasil. Pulau Ular ini adalah rumah bagi ular lancehead emas berbisa (&lt;i&gt;Bothrops insularis&lt;/i&gt;) yang memiliki racun sangat mematikan dan yang paling banyak menyebabkan kematian manusia dibandingkan jenis ular lain di wilayah Amerika Utara atau Selatan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Ular tombak emas adalah salah satu dari banyak varietas di pulau itu; dengan hanya sejumlah kecil ular yang tidak berbisa. Diperkirakan sekarang ada sekitar satu dan lima ular per meter persegi. Untuk perlindungan manusia, Pulau Ular benar-benar terlarang bagi publik&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/6317445998304501095/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/pulau-ular-paling-mematikan-di-dunia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/6317445998304501095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/6317445998304501095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/pulau-ular-paling-mematikan-di-dunia.html' title='Pulau Ular Paling Mematikan Di Dunia '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWAcf1GyyQAbBlcnx9N5uJws0boYHdKyP1nV6Tk4HiRGrUu5oHCd9NyUA-nBfcnzeAq_k6FPKJPngU8hvUfsuNaN0z_AQIykgmzlRqr9dyZEvp_kBdLoz_ER9hbYzNtBReladDnUATe84/s72-c/snake-island.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-7762113016161553374</id><published>2019-11-18T08:10:00.000-08:00</published><updated>2019-11-19T02:01:31.341-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Update Pengetahuan"/><title type='text'>Implikasi Pragmatisme Dalam Pendidikan </title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img height=&quot;425&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZBO_Fi7VHLeqA7TpLte0ofZ-QKAATzIvY0Ax6HQEED91_qlJDJx6iM8FZ_IDEAxBWmCsUO6jxAELw5MMaSmCfAi4aiq2HgloPhpqjOCytwE9LE7dVrnDpnjUfALe3h-hxjTrmMw-ccuE/s640/437d993d58d338f3c603abb30350a248.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Filsafat pragmatisme, mencoba mengisi ruang dan waktu untuk turut mencari solusi terbaik terhadap model pendidikan yang dianggap selangkah ketinggalan dengan perkembangan pola pikir manusia itu sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&amp;nbsp;Seiring dengan perkembangannya, dunia pendidikan berupaya menyelaraskan antara eksplorasi pikiran manusia dengan solusi tindakan bersama perangkatnya untuk mencapai posisi puncak temuan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tekanan pertama dan utama pragmatisme dalam pendidikan dilandaskan bahwa peserta didik bukanlah objek, melainkan subjek yang memiliki pengalaman. Setiap subjek didik tidak lain adalah individu yang mengalami, sehingga mereka berkembang, serta memiliki insiatif dalam mengatasi problem-problem hidup yang mereka miliki.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam pelaksanaannya, pendidikan pragmatisme mengarahkan agar subjek didik (siswa) saat belajar di sekolah tak berbeda ketika ia berada di luar sekolah. Oleh karenanya, kehidupan di sekolah selalu disadari sebagai bagian dari pengalaman hidup, bukan bagian dari persiapan untuk menjalani hidup.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Di sini pengalaman belajar di sekolah tidak berbeda dengan pengalaman saat ia belajar di luar sekolah. Pelajar menghadapi problem yang menyebabkan lahirnya tindakan penuh dari pemikiran yang relatif. Dan kecerdasan disadari akan melahirkan pertumbuhan dan pertumbuhan akan membawa mereka di dalam beradaptasi dengan dunia yang selalu berubah. Ide gagasan yang berkembang menjadi sarana keberhasilan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Model pembelajaran pragmatisme adalah anak belajar di dalam kelas dengan cara berkelompok. Dengan berkelompok anak akan merasa bersama-sama terlibat dalam masalah dan pemecahanya. Anak akan terlatih bertanggung jawab terhadap beban dan kewajiban masing-masing. Sementara guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan motivator saja. Model pembelajaran ini berupaya membangkitkan hasrat anak untuk terus belajar, serta anak mampu dilatih berpikir secara logis.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Sebagaimana diungkapkan oleh Power (dalam Sadulloh, 2003) bahwa implikasi penting dari filsafat pendidikan pragmatisme dalam pelaksanaan pendidikan, mencakup beberapa hal pokok berikut ini:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Tujuan Pendidikan.&lt;/b&gt; Tujuan dari pelaksanaan pendidikan pragmatisme adalah memberikan pengalaman untuk penemuan hal-hal baru dalam hidup sosial dan pribadi peserta didik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Kedudukan Siswa. Kedudukan para siswa dalam pendidikan pragmatisme adalah merupakan suatu organisasi yang memiliki kemampuan yang luar biasa dan kompleks untuk tumbuh.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kurikulum&lt;/b&gt;. Dalam hal ini, kurikulum pendidikan pragmatis berisi pengalaman yang teruji yang dapat diubah. Demikian pula minat dan kebutuhan siswa yang dibawa ke sekolah dapat menentukan kurikulum. Guru menyesuaikan bahan ajar sesuai dengan minat dan kebutuhan anak tersebut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Metode&lt;/b&gt;. Metode yang digunakan dalam pendidikan pragmatisme adalah metode aktif, seperti: Learning by doing (belajar sambil bekerja), metode pemecahan masalah (problem solving method), metode penyelidikan, dan metode penemuan (inquiri and discovery method).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Peran Guru&lt;/b&gt;. Dalam praktiknya (mengajar), metode ini sangat membutuhkan guru yang selalu memberikan kesempatan, bersahabat, pembimbing, berpandangan terbuka, antusias, kreatif, dan sadar bermasyarakat, siap siaga, sabar, bekerjasama, serta bersungguh-sungguh, agar belajar berdasarkan pengalaman dapat diaplikasikan oleh siswa dan apa yang dicita-citakan dapat tercapai. Untuk itu, peran guru dalam pendidikan pragmatisme adalah mengawasi dan membimbing pengalaman belajar siswa, tanpa mengganggu minat dan kebutuhannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Selain poin-poin di atas, pendidikan pragmatisme kerap dianggap sebagai pendidikan yang mencanangkan nilai-nilai demokrasi dalam ruang pembelajaran sekolah. Karena pendidikan bukan ruang yang terpisah dari sosial, setiap orang dalam suatu masyarakat juga diberikan kesempatan untuk terlibat dalam setiap pengambilan keputusan pendidikan yang ada. Keputusan-keputusan tersebut kemudian mengalami evaluasi berdasarkan situasi-situasi sosial yang ada.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/7762113016161553374/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/implikasi-pragmatisme-dalam-pendidikan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/7762113016161553374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/7762113016161553374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/implikasi-pragmatisme-dalam-pendidikan.html' title='Implikasi Pragmatisme Dalam Pendidikan '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZBO_Fi7VHLeqA7TpLte0ofZ-QKAATzIvY0Ax6HQEED91_qlJDJx6iM8FZ_IDEAxBWmCsUO6jxAELw5MMaSmCfAi4aiq2HgloPhpqjOCytwE9LE7dVrnDpnjUfALe3h-hxjTrmMw-ccuE/s72-c/437d993d58d338f3c603abb30350a248.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-1072335282935674850</id><published>2019-11-18T07:35:00.001-08:00</published><updated>2019-11-18T07:36:23.659-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Humor Kehidupan"/><title type='text'>Tidak Tembus Angkatan Laut</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOmZ6wNt2LX6itPt7kRT6l5AdqJrGphYO-CAOGzuAcWKi03z3VDxFjBEENNSpT3ObKy2PQjnvmYdpuAp_jGR8lsuLH8EOy1TVYsvDE1EUPW_el6oidaWVru_2J7ICHrI8rOHEWUBw4z1Q/s640/e0d7403b1853fd586e0a2ee515ba1ad2.jpg&quot; width=&quot;490&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Napi satu pu nama Yoce dari Biak yang tra tembus Angkatan laut jadi dia protes ke panitia penerimaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yoce: &quot;Wee... kam ini bagaimana? Kenapa saya tidak tembus ka?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia: &quot;Anda tidak lolos karena tidak tahu berenang !!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napi dia marah baru dia bilang, &quot;Yoksna.. See saya pu teman Titus saja tembus Angkatan Udara padahal dia tra bisa terbang... Kamu stop tipu sudah yoo..!!!&quot;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/1072335282935674850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/tidak-tembus-angkatan-laut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/1072335282935674850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/1072335282935674850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/tidak-tembus-angkatan-laut.html' title='Tidak Tembus Angkatan Laut'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOmZ6wNt2LX6itPt7kRT6l5AdqJrGphYO-CAOGzuAcWKi03z3VDxFjBEENNSpT3ObKy2PQjnvmYdpuAp_jGR8lsuLH8EOy1TVYsvDE1EUPW_el6oidaWVru_2J7ICHrI8rOHEWUBw4z1Q/s72-c/e0d7403b1853fd586e0a2ee515ba1ad2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-88442700558942547</id><published>2019-11-18T06:44:00.000-08:00</published><updated>2019-11-19T02:29:20.792-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Teologi"/><title type='text'>Mengukur Kualitas Kasih Terhadap Sesama (Lukas 10:25-37) </title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiclN7DI-7ShyphenhyphencPw-DSfbqMXgPvGBot85R1Hc35tM_fvF8lZ74tmfQxpeDleukY7h3VsWUkZUjZZTlZm1HpPA5q1zaGNAtUl0FeA-NlffmTFiU52mimLXTNSV0DBAqZ8gm1LfobtJBhLMs/s640/Seni-Rupa.jpg&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;Oleh Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pengantar&lt;/b&gt;: &lt;br /&gt;
Dari judul di atas, tampak bahwa ada alat ukur yang kita gunakan untuk mengukur kualitas kasih. Jika kita berbicara soal alat ukur, maka yang terpenting adalah ‘ketepatan’ dari alat ukur tersebut, bukan kebenaran dari alat ukur! Pertanyaannya, bagaimanakah saya dan saudara bisa mengetahui bahwa kita sudah “mengasihi” dengan tepat atau tidak? Sudah berkualitas atau tidak? Apa alat ukur yang tepat? Ada tiga alat ukur yang tepat, yang dapat kita temui dalam bacaan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan awal, mengapa kita harus mengasihi (melakukan kasih)? Kita mengasihi adalah untuk mendapatkan kehidupan kekal atau tetap hidup selama-lamanya (hidup yang tak berkesudahan) (ayat 25, dipertegas ayat 28).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Saudara, apakah saudara memiliki keinginan untuk tetap melangsungkan kehidupan di dunia fana ini? Saya pikir semua manusia yang hidup di muka bumi ini memiliki keinginan yang sama untuk tetap bertahan hidup. Artinya bahwa, semua yang kita kerjakan kemarin dan hari ini adalah untuk bertahan hidup. Kita semua bekerja atau melakukan activity adalah semata-mata untuk tetap melangsungkan kehidupan di dunia fana ini. Petani bekerja di sawah, Guru mengajar, TNI pergi berperang, bahkan Dokter mengobati pasiennya itu semua adalah untuk tetap bertahan hidup.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Saudara, namun apakah kita semua akan selalu bertahan hidup sesuai dengan keinginan kita itu??? Saudara, pada kenyataannya kehidupan setiap orang di dunia ini pasti berakhir. Tidak ada satu manusia pun yang bisa hidup selama-lamanya di kehidupan fana ini. Dimana-mana, disetiap harinya kita melihat realitas kematian selalu datang dan hadir di sekeliling kita. Dan kita pun yang hadir saat ini tentu tidak luput bahkan tidak bisa menunda-nunda hari kematian jasmani itu tiba. Ini adalah kenyataan yang aksiomatis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya, sebagai orang yang percaya kepada Kristus, kita tidak perlu takut dengan kematian jasmani ini. Sebab bacaan kita kali ini menunjukkan bahwa rupanya ada suatu “kehidupan kekal” yang sudah dipersiapkan Tuhan kepada setiap orang percaya (Lukas 10:25). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaannya, bagaimana caranya agar kita memperoleh hidup kekal atau kehidupan yang tak akan berakhir itu? Hal yang pertama, bahwa ketika kita membicarakan “hidup kekal” atau hidup yang tak berujung dan tak berkesudahan adalah memulai segala sesuatunya dengan “Kasih” (ayat 27a). Artinya bahwa apapun yang nantinya kita perbuat dan kerjakan dalam kefanaan bumi ini  adalah semata-mata dengan berlandaskan “kasih” . &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, apa itu kasih? Kasih adalah perbuatan, ia bukan teori. Artinya bahwa, kasih itu akan dapat terukur dan terlihat ketika ia hadir di dalam perbuatan nyata manusia (mengasihi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita lihat bagaimana Alkitab menjelaskan tentang kasih. Alkitab tidak pernah mendefinisikan secara baku apa itu kasih, tetapi, Alkitab lebih memperlihatkan bagaimana cara kasih itu untuk “bekerja” (bertindak). Kasih itu tindakan yang diletakkan pada ‘realitas nyata’—terlihat dari ‘ketulusan’ ketika dikerjakan. Tidak dijelaskan, namun secara jelas tetap dinyatakan, yaitu bagaimana kasih Allah itu ‘bekerja’ dalam kapasitas nyata—secara nyata, sebagaimana kitab Yohanes 3:16 menyatakan...”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Ayat ini adalah esensi dari kasih Kristus sejati. Dan merupakan dasar pijkan untuk memahami lebih jauh tentang makna kasih yang sesungguhnya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudara, di dunia ini banyak orang membutuhkan pengasihan dari sesama. Disekeliling kita bahkan diri kita sendiri pun terlalu membutuhkan ‘pengasihan’ dalam bahasa Kupang: “talalu kasihan”. Karenanya, tak ada sorang pun yang sombong mengatakan bahwa dia tak membutuhkan sesamanya manusia (Atasan butuh pengasihan bawahannya, begitupun sebaliknya. Bapak-bapak butuh pengasihan ibu dan anak, begitupun sebaliknya). Ya, tanpa pengasihan dan tanpa mengasihi, kita tak mungkin bisa hidup berdampingan dengan orang lain. Itu sebabnya, banyak orang muncul dan meneriakkan slogan tentang ‘mengasihi’: Saya selalu mengasihi dia; Saya sudah melakukan kasih; Saya adalah orang yang mengasihi sesama saya….dan lain-lainnya. Lalu apakah benar kita semua sudah mengasihi? Apakah kita sudah melakukan kasih di dalam kehidupan ini? Mari kita mengukur perbuatan kasih itu dengan “alat ukur” yang tepat berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dalam Lukas 10;25-37 yang telah kita baca bersama-sama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat 27, ada tiga alat ukur, yaitu: afektif, psikomotorik dan kognitif. Ketiga hal ini sekaligus berfungsi sebagai hierarki atau tingkatan dalam mengimplementasikan kasih (Kita tidak bisa melakukan tingkatan kedua, tanpa terlebih dulu melakukan tingkatan pertama). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama. Kasih dimulai dari dan oleh segenap hati dan segenap jiwa (afektif). Disini “segenap hati” (lêbâb/rûach/ kardia) adalah bagian dalam diri manusia yang bukan materi (yang terdalam), yang tidak terkait dengan materi (tubuh) manusia, Begitupun “segenap jiwa” (nephesh) merupakan roh dari jiwa. Istilah ini berkaitan dengan roh kehidupan atau nyawa manusia. Kedua tempat ini tidak terlihat (transenden). Keduanya melampaui tubuh jasmani kita. Karena keduanya adalah sumber kehidupan manusia. Kehidupan manusia bermula bahkan berakhir dari kedua organ ini. Inilah pusat kehidupan kita. Didalamnya ada nyawa, kehendak, naluri, perasaan dan lain-lain, yang berhubungan dengan aktivitas kita sebagai manusia yang segambar dan serupa dengan Allah. Kita pun memfungsikan semua indera kita mulai dari kedua benda ini (hati dan jiwa). Tangan kita tak mungkin mengambil sesuatu jika hati dan perasaan serta jiwa kita tidak menginginkannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudara, banyak orang secara kasat mata mungkin sudah melakukan perbuatan baik seperti: menolong sesama ketika kesusahan, memberikan tumpangan, meminjamkan uang kepada yang membutuhkan, atau mengajarkan hal-hal baik kepada sesama, dan lain sebagainya. Namun apakah itu kita lakukan sungguh-sungguh dari hati? Hanya saudara dan Tuhan saja yang tahu. Di alam realitas ini bahkan bentuk perbuatan baik pun bisa di kamuflasekan (dipalsukan). Ya, banyak orang mudah tertipu dengan perkataan dan perbuataan yang tampak baik namun jauh di dasar hati penuh dengan kelicikan, dendam dan kepentingan-kepentingan pribadi. Jika saja hati kita bisa di baca melalui perbuatan dan perkataan, tentu saja di dunia ini tak ada satu orangpun yang akan merasakan kekecewaan, kepahitan dan lain-lain. (kecewa karna janji-janji palsu, kecewa karna tang budi, utang jasa dan lain-lain). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanakah saya dan saudara bisa mengetahui bahwa kita sudah mengasihi dengan tepat atau tidak? Jawabannya adalah ketika segala hal kita awali segenap hati dan jiwa. Jika tidak, dengan segenap hati dan jiwa, maka jangan klaim bahwa kita sudah melakukan kasih! Dengan hati, kita mampu mengasihi sesama kita, dengan hati kita mampu berkorban, dengan kasih kita pun mampu memaafkan! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua. Ketika Kasih sudah dimulai dari dan oleh segenap hati dan segenap jiwa, maka Kasih itu akan nampak dalam perbuatan (psikomotorik). Dalam bahasa Ibrani adalah “ischus” yaitu seluruh kekuatan fisik. Mengapa benda ini berada pada tingkatan kedua? Bukan pertama? Karena seperti ditegaskan diatas bahwa banyak perbuatan yang dilakukan tidak berdasarkan kasih. Akibatnya banyak kemunafikan, tipu daya, dan kepalsuan. Lain di bibir, lain di hati! Perbuatan yang tulus itu membutuhkan tuntunan hati dan jiwa. Jangan bicara tentang ketulusan sebuah cinta, jika pada akhirnya nanti ia berpaling ke lain hati. Kualitas perbuatan baik kita akan sia-sia adanya jika kita mengesampingkan tingkatan pertama: hati dan jiwa. Apapun yang nantinya kita lakukan melalui perbuatan kita, hendaklah itu murni dari lubuk hati kita yang paling dalam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanakah saya dan saudara bisa mengetahui bahwa kita sudah mengasihi dengan tepat atau tidak? Jawabannya adalah ketika perbuatan kita dilakukan berdasarkan segenap hati dan jiwa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua. Ketika Kasih dimulai segenap hati dan segenap jiwa, serta nampak dalam perbuatan, maka pikiran kita akan memikirkan hal-hal yang berkenan (kognitif). Dalam bahasa Ibrani adalah “dianoia” atau akal budi dan semua hal yang berhubungan dengan rasio dan organ-organ akal budi manusia. Saudara, banyak sekali orang pintar di bumi ini. Tapi apakah mereka menggunakan hati? Saudara, kita boleh memiliki pengetahuan dan kepintaran serta IQ setinggi mungkin. Tapi jika kepintaran itu tidak didasarkan pada hati, maka semuanya itu akan sia-sia. Wiliams James Zidis seorang ilmuan berdarah Yahudi yang menduduki manusia paling jenius di dunia dengan IQ seputaran 270 an, dan memiliki kepintaran yang sangat luar biasa, namun pada akhir hidupnya ia sendiri tidak memiliki teman, dan terlihat seperti orang gila, ia terasing di pemukiman kumuh dan sering ditemukan orang tergeletak di tempat-tempat sampah. Sungguh fenomena ini menggambarkan bahwa kepintaran saja tidak cukup untuk membuat kita hidup baik. Kejeniusan juga tidak cukup untuk mengantarkan kecerdasan sang Profesor Fisika Stepen Hawkins untuk menyempurnakan teori “black hole” yang sempat menggegerkan jagad ini. Ya, Albert Einstein pada akhir hidupnya ia pun menyimpulkan bahwa kejeniusan adalah soal hati! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, bagaimanakah saya dan saudara bisa mengetahui bahwa kita sudah mengasihi dengan tepat atau tidak? Jawabannya adalah ketika pikiran dan perbuatan kita sinkron dengan hati dan jiwa kita.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Saudara, lalu bagaimana jika kita kaitkan dengan konteks pendidikan? Dasar pendidikan karakter berasal dari ajaran Yesus dalam bacaan kita ini! Seorang ahli pendidikan, Hendrik G Howard pernah berkata: “Pembelajaran yang paling berdampak adalah bukan dari tangan ke tangan, kepala ke kepala, bukan pula dari kaki ke kaki, tapi dari hati ke hati”. Ya, ungkapan ini haruslah menjadi acuan untuk mendidik anak-anak kita. Dengan hati, kita mampu memaafkan kesalahan terbesar orang lain terhadap kita. Ya, otak atau rasio bahkan kekuatan Anda tidak akan pernah mampu memaafkan! Hanya hati yang mengasihilah yang mampu melakukan itu! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudara, dalam pendidikan, kita akan mampu mengasihi siswa/i hanya dengan segenap hati. Dan dengan hati kita pun bisa mengerti kekurangan bahkan kelebihan dari siswa/i kita, dengan hati kita juga mampu membimbing dan menyatu dengan dunia anak-anak! Ingat bahwa kebijaksanaan sejati hanya berlandaskan pada segenap hati dan segenap jiwa. Ya kita tidak mungkin mampu memecahkan persoalan-persoalan seperti yang pernah dilakukan oleh Raja Salomo, tanpa kita menggunakan hikmat yang bertumpu dari hati nurani kita.  &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/88442700558942547/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/08/mengukur-kualitas-kasih-terhadap-sesama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/88442700558942547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/88442700558942547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/08/mengukur-kualitas-kasih-terhadap-sesama.html' title='Mengukur Kualitas Kasih Terhadap Sesama (Lukas 10:25-37) '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiclN7DI-7ShyphenhyphencPw-DSfbqMXgPvGBot85R1Hc35tM_fvF8lZ74tmfQxpeDleukY7h3VsWUkZUjZZTlZm1HpPA5q1zaGNAtUl0FeA-NlffmTFiU52mimLXTNSV0DBAqZ8gm1LfobtJBhLMs/s72-c/Seni-Rupa.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-1707176824146383587</id><published>2019-11-15T14:34:00.000-08:00</published><updated>2019-11-18T14:34:55.380-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fakta Unik"/><title type='text'>9 Istri Cantik Mantan Presiden Soekarno</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: left;&quot;&gt;
&lt;iframe width=&quot;320&quot; height=&quot;266&quot; class=&quot;YOUTUBE-iframe-video&quot; data-thumbnail-src=&quot;https://i.ytimg.com/vi/c4XNZih7QSk/0.jpg&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/c4XNZih7QSk?feature=player_embedded&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Mantan Ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko menceritakan Soekarno memang jagoan soal wanita. Kharisma Soekarno ditambah intelektualitas yang tinggi, membuat wanita-wanita bertekuk lutut&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/1707176824146383587/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/9-istri-cantik-mantan-presiden-soekarno.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/1707176824146383587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/1707176824146383587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/11/9-istri-cantik-mantan-presiden-soekarno.html' title='9 Istri Cantik Mantan Presiden Soekarno'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://img.youtube.com/vi/c4XNZih7QSk/default.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-5192446242997319760</id><published>2019-10-18T16:41:00.001-07:00</published><updated>2019-11-18T06:52:50.733-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pendidikan dan Psikologi"/><title type='text'>B.F. Skinner dan Teori Behavioristik</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;391&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhn3KAeaxicD5WkULhN2rZJhkJRsKwlfbZ-zfAHuSjzaNEAZC35Cf_NGifGosGoXb75l-9HilFk3orBm5G41wACLcJz3JfnbLT0mVX_ce7sZMzMAxUZLuo-KOlgk-TeYNlDDizB21LnMmA/s640/dgsewe.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Burrhus Frederick Skinner, dilahirkan pada tanggal 20 Mei 1904 di Susquehanna, Pennsylvania, Amerika Serikat. Masa kanak-kanaknya dilalui dengan kehidupan yang penuh kehangatan, namun cukup disiplin.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Skinner meraih sarjana muda di Hamilton College, kota New York, dalam bidang Sastra Inggris. Pada tahun 1928, Skinner memulai kuliah Psikologi di Universitas Harvard, dengan mengambil spesialisasi pada bidang tingkah laku hewan, dan meraih gelar Doktor pada tahun 1931.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tahun 1931 hingga 1936, Skinner bekerja di Harvard. Penelitian yang dilakukannya lebih difokuskan pada penelitian terhadap &#39;saraf hewan&#39;. Pada tahun 1936 sampai tahun 1945, Skinner meniti karir sebagai tenaga pengajar di Universitas Mingoesta. Dalam kariernya itu, Skinner menunjukkan produktivitas yang tinggi, sehingga ia dikukuhkan sebagai pemimpin besar kajian teori behavioristik yang paling terkemuka di Amerika Serikat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Bidang psikologi yang dipelajari Skinner adalah analisis eksperimental atas tingkah laku. Ia melakukan penyelidikan terutama pada organisme infrahuman yang biasanya dilakukan terhadap binatang, seperti: tikus atau merpati. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Skinner juga menerapkan prinsip-prinsip pengondisian operan (&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;operant conditioning&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;) dalam penyelidikannya tentang psikotik pada orang dewasa, anak autis, analisis bahasa, dan perancangan alat-alat media dan mesin-mesin pengajaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Diantara peralatan rancangannya yang terkenal adalah kotak Skinner (&quot;&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Skinner Box&quot;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;). Dengan penelitian-penelitian yang pernah dikembangkan, Skinner telah banyak memberikan sumbangan yang berarti terhadap pemahaman teori ‘tingkah laku’, khususnya menyangkut hal-hal dalam belajar. Beberapa karya besar yang dihasilkan Skinner adalah: 1) &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;The Behavior of Organisme&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; (1938); 2) &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Walden Two&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; (1948); 3) &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Science and Human Behavior&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; (1953); 4) &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Verbal Behavior&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; (1957); 5) &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Shedules of Reinforcement&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; (1957).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Seperti Pavlov dan Watson, Skinner juga mengkaji teori tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respons, tetapi berbeda dengan kedua tokoh yang terdahulu itu, Skinner membuat perincian lebih jauh. Dalam hal ini, Skinner membedakan adanya dua macam respons, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Respondens Response&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; (&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;reflexive response&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;), yaitu respons yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang-perangsang yang demikian itu disebutkan sebagai&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;eleciting stimuli&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;, yang menimbulkan renspons-renspons yang secara relatif tetap, misalnya makanan yang menimbulkan keluarnya air liur. Pada umumnya, perangsang-perangsang yang demikian itu mendahului respons yang ditimbulkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Operant respons&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; (&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;instrumental respons&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;), yaitu respons yang timbul dan berkembang diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang yang demikian itu disebut &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;reinforcing stimuli&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; atau &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;reinforcer&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;, karena perangsang-perangsang tersebut memperkuat renspons yang telah dilakukan oleh organisme. Jadi, perangsang yang demikian itu mengikuti (dan karenanya memperkuat) suatu tingkah laku tertentu yang telah dilakukan. Jika seorang anak belajar (telah melakukan perbuatan), lalu mendapat hadiah, maka dia akan menjadi lebih giat belajar (responsnya menjadi lebih intensif/kuat).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Perbedaan antara &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;operant conditioning&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; dengan &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;classical conditioning&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; adalah bahwa pada &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;classical&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; terbentuk suatu tingkah laku yang diharapkan tidak memerlukan adanya reinforcer, karena stimulusnya sendiri sudah menimbulkan respons yang diharapkan. Sedangkan pada &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;operant conditioning&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;, suatu respons atau tingkah laku dibuat menjadi lebih kuat dengan memberikan reinforcer (stimulus yang memperkuat renspons).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Teori belajar &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;operant conditioning&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; ini juga tunduk pada dua hukum operant yang berbeda lainnya, yaitu &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;law operant conditioning &lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;law extinction.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Menurut hukum &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;operant conditioning&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;, jika suatu tingkah laku di iringi oleh penguatan (&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;reinforcement&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;), maka tingkah laku tersebut akan meningkat. Sedangkan menurut hukum &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;law extinction&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;, jika suatu tingkah laku yang diperkuat stimulus penguat dalam kondisioning, namun tidak di iringi stimulus penguat, maka tingkah laku tersebut akan menurun atau bahkan musnah. Kedua hukum ini pada dasarnya juga memiliki kesamaan dengan hukum pembiasaan klasik (&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;classical conditioning&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Teori Belajar Skinner&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Untuk mengkaji teori Skinner, perlu dipahami 3 (tiga) asumsi dasar yang dijadikan prinsip-prinsip dalam membangun teori-teorinya, yaitu sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;(1) &lt;i&gt;Behavior is Lawful&lt;/i&gt;—perilaku dalam konteks ini terjadi menurut hukum tertentu. Walaupun mengakui bahwa perilaku manusia adalah organisme yang berperasaan dan berpikir, namun Skinner tidak mencari penyebab perilaku di dalam jiwa manusia dan menolak alasan-alasan dari penjelasan dengan mengendalikan keadaan pikiran (mind) atau motif-motif internal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;(2) &lt;i&gt;Behavior can be Predicted&lt;/i&gt;—dalam hal ini, semua perilaku dapat diramalkan. Menurut Skinner, perilaku manusia (kepribadiannya) sangat ditentukan oleh kejadian-kejadian di masa lalu dan sekarang—yaitu dalam dunia objektif, dimana individu tersebut mengambil bagian di dalamnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;(3) &lt;i&gt;Behavior can be Controlled&lt;/i&gt;—perilaku manusia dapat dikontrol—perilaku dapat dijelaskan hanya berkenaan dengan kejadian atau situas-situasi “antaseden” yang dapat diamati. Bahwa kondisi sosial dan fisik di lingkungan, sangat penting dalam menentukan perilaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam hal ini Skinner tidak menolak adanya peran faktor bawaan dan turunan dalam perilaku individu, seperti pembawaan genetis (&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;genetic endowment&lt;/i&gt;) yang menentukan jarak rentang umum dari re&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;spon-respon yang dilakukan dan juga mempengaruhi akibat-akibat yang menguatkan perilaku yang dilakukannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Namun dijelaskan lebih konkrit oleh Skinner, bahwa lingkungan perlu dipertimbangkan untuk menjelaskan tentang pembawaan genetis tersebut. Skinner menunjukkan bahwa &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;contingencies of survival&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt; sangat menentukan apa yang diturunkan bagi suatu spesies. Dalam pemahaman bahwa lingkungan menyeleksi perilaku-perilaku yang menunjang untuk terus bertumbuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Bagi Skinner, perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran dapat dianggap sebagai akibat pembawaan genetis dan pengalaman individu daripada sebagai penyebab tindakan. Berpikir adalah berperilaku. Skinner percaya bahwa pengetahuan yang penuh tentang faktor genetis, lingkungan manusia, dan manipulasi lingkungan, adalah kunci meningkatkan perilaku manusia itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dengan demikian, menurut Skinner, penyelidikan tentang kepribadian akan selalu melibatkan pengamatan yang sistematis dan sejarah belajar yang khas, serta latar belakang genetis yang unik dari individu. Karena di sini kepribadian merupakan hasil dari proses rangkaian penguatan pribadi individu (&lt;i&gt;individual’s personal history of reinforcement&lt;/i&gt;). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Walaupun adanya pembawaan genetis yang turut berperan, namun penguatan-penguatan sangat menentukan perilaku khusus yang terbentuk dan dipertahankan, serta merupakan ciri khas bagi individu yang bersangkutan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Skinner lebih menyukai menyelidiki kepribadian dengan memfokuskan pada aspek belajar dengan perilaku-perilaku yang membuat individu tumbuh dan berkembang serta berhasil dalam transaksinya dengan lingkungan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Seseorang selama hidupnya, tentunya akan “belajar” mengenai kemungkinan-kemungkinan yang menghasilkan kepuasan dan kesakitan dalam situasi tertentu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Jadi, individu belajar membedakan stimulus atau situasi yang merupakan kesempatan untuk memperoleh penguatan, karena perilaku tertentu atau situasi yang tidak mengarah ke penguatan perilaku yang sama.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Perilaku yang dipelajari ini disebut perilaku di bawah kontrol stimulus. Misalnya saja, seorang anak yang belajar menyanyi di depan teman teman-temanya pada Sekolah Minggu, biasanya anak ini langsung diberikan perhatian dan kenyamanan oleh gurunya atau orang tuanya di rumah. Namun bila anak tersebut menyanyi hanya sekedar dirumah, seperti di kamar mandi misalnya, tentunya akan diabaikan saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam hal ini, keterampilan yang sederhana dipelajari dahulu kemudian perilaku yang kompleks diperoleh dan digunakannya pada tahapan berikutnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dengan demikian menurut Skinner, tingkah laku hanya dapat di ubah dan dikontrol dengan mengubah lingkungan. Oleh karena itu, Skinner lebih tertarik dengan aspek yang berubah-ubah dari kepribadian seseorang, dan bukan hanya berfokus pada struktural dari kepribadian saja. Unsur kepribadian yang dipandangnya relatif tetap adalah merupakan tingkah laku itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Perilaku Belajar&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Skinner membagi perilaku belajar menjadi 2 klasifikasi berdasarkan pada tipe perilakunya, yang dirumuskan Skiner sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, Perilaku Responden (&lt;i&gt;Respondent Behavior&lt;/i&gt;)—yang merupakan respon yang dihasilkan (&lt;i&gt;elicited&lt;/i&gt;) organisme untuk menjawab stimulus secara spesifik, yang dalam hal ini juga berhubungan dengan respon tersebut. Respon refleks termasuk dalam kelompok ini seperti mengeluarkan air liur saat melihat makanan, mengelak dari pukulan, merasa takut waktu di tanya guru atau merasa malu waktu di puji, dsb.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, Perilaku Operan (&lt;i&gt;Operant Behavior&lt;/i&gt;)—yaitu respon yang dimunculkan (&lt;i&gt;emitted&lt;/i&gt;) organisme tanpa adanya stimulus spesifik yang berlangsung memaksa terjadinya respon itu. Disini terjadi proses pengikatan stimulus baru dengan respon yang baru. Organisme dihadapkan pada pilihan-pilihan respon mana yang akan dipakainya untuk menanggapi suatu stimulus. Keputusan respon mana yang di pilih tergantung pada efeknya terhadap lingkungan (yang tertuju padanya) atau konsekuensi yang mengikuti respon tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Sebagaimana kepedulian utama Skinner adalah mengenai perubahan tingkah laku, maka hakikat utama teori Skinner, adalah teori belajar yang menyatakan bagaimana individu memperoleh dan memiliki perilaku baru untuk menjadi lebih terampil, dan menjadi lebih tahu. Sebab menurutnya, kehidupan akan terus-menerus dihadapkan dengan situasi eksternal yang baru, sehinggga organisme harus belajar merespon situasi baru itu dengan menggunakan respon lama atau respon yang baru dipelajarinya. Skinner percaya bahwa kepribadian dapat dipahami dengan mempertimbangkan perkembangan tingkah laku dalam hubungannya yang terus-menerus dengan lingkungannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Cara yang efektif untuk mengubah dan mengontrol perilaku adalah dengan melakukan penguatan (&lt;i&gt;reinforcement&lt;/i&gt;), yaitu membuat strategi kegiatan yang akan mempengaruhi perilaku tertentu untuk berpeluang terjadi atau sebaliknya (berpeluang untuk tidak terjadi) pada masa yang akan datang. Konsep dasarnya sangat sederhana, yaitu semua perilaku dapat di kontrol oleh konsekuensi (dampak yang mengikuti) perilaku tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Menurut Skinner, manusia dan binatang dapat dilatih melakukan semua jenis tingkah laku ketika semua konsekuansi atau penguatan yang tersedia di lingkungan manusia tersebut dapat diubah atau diatur sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Sebagaimana konsep dasar pengkondisian operan (&lt;i&gt;operant conditioning&lt;/i&gt;) atau &lt;i&gt;instrumental conditioning&lt;/i&gt; mula-mula dikembangkan oleh Thordike, maka lebih ditegaskan lagi oleh Skinner bahwa reinforcement tidak dapat diasosiasikan dengan stimulus yang dikondisikan, tetapi diasosiasikan dengan respon. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Skinner menyebut respon itu sebagai perilaku operan (&lt;i&gt;operant behavior&lt;/i&gt;). Perilaku operan mungkin belum pernah dimiliki individu tetapi ketika orang melakukannya dia mendapat hadiah. Respon operan yang mendapatkan reinforcement berpeluang untuk lebih sering terjadi (agar mendapat reinforcement yang diinginkan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Penelitian &lt;i&gt;operant conditioning &lt;/i&gt;kemudian dilakukan Skinner dengan objeknya seekor burung merpati. Burung merpati dimasukan ke dalam sebuah kotak, yang dinamakan kotak Skinner (&lt;i&gt;Skinner box&lt;/i&gt;); kotak kecil yang kedap kemudian memisahkan merpati dari lingkungan normal dan memungkinkan peneliti mengontrol seluruh variasi lingkungan, mengontrol dan mencatat kejadian stimulus dan respon yang nantinya akan terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Jika merpati mengalami kondisi lapar, maka akan dihadapkan dengan stimulus dinding kotak yang salah satu sisinya ada bintik yang dapat mengeluarkan cahaya merah. Setiap kali merpati mematuk bintik itu, keluar makanan dari lubang dibawah bintik tersebut. Untuk membuat merpati mematuk cahaya merah, peneliti perlu membentuk tingkah laku itu, karena di sini hal mematuk cahaya bukanlah bagian dari tingkah laku yang normal dari merpati tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Karena itu, Skinner mulai dengan memperkuat tingkah laku yang semakin mendekati mematuk cahaya (pertama: merpati dilatih untuk makan dari lubang makanan, dan kemudian makanan hanya diberikan ke merpati jika merpati tersebut berdiri berdekatan dengan bintik cahaya). Kemudian makanan hanya diberikan jika merpati itu menatap ke arah letak bintik cahaya, dan akhirnya makanan akan segera diberikan jika merpati mematuk cahayanya. Sejak itu merpati semakin sering mematuk cahaya karena patukan akan mendapat hadiah atau reinforcement makanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Berdasarkan asas pengkondisian operan Skinner, yang dilakukannya pada awal tahun 1930-an—tepatnya teori S-R dikeluarkan—istilah-istilah seperti &lt;i&gt;cues&lt;/i&gt; (pengisyratan), &lt;i&gt;purposive behavior&lt;/i&gt; (tingkah laku purposive) dan &lt;i&gt;drive stimuli&lt;/i&gt; (dorongan stimulus), kemudian dikemukakan sebagai maksud untuk menunjukkan daya suatu stimulus untuk memunculkan atau memicu suatu respon tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex/refleks bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur. Sebab menurut Skinner, penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Skinner menghindari kontradiksi yang ditampilkan oleh model kondisioning klasik dari Pavlov dan kondisioning instrumental dari Thorndike. Skinner mengajukan suatu paradigma yang mencakup kedua jenis respon itu dan berlanjut dengan mengupas kondisi-kondisi yang bertanggung jawab atas munculnya respons atau tingkah laku operan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Ringkasan Teori Behavioristik Skinner&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dari uraian di atas, pemahaman inti dari teori behaviorisme yang di gagas Skinner adalah pengkondisian operan (&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;conditioning operan&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;) yaitu sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku seseorang dapat menghasilkan perubahan dalam probabilitas bahwa perilaku itu akan di ulangi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Sebab yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (&lt;i&gt;reinforcement&lt;/i&gt; ) dan hukuman (&lt;i&gt;punishment&lt;/i&gt;). Penguatan (&lt;i&gt;reinforcement&lt;/i&gt;) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Hukuman (&lt;i&gt;punishment&lt;/i&gt;) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dengan demikian, Skinner lalu membagi penguatan ini menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Penguatan positif&lt;/b&gt;, yang merupakan penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena di ikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol, dll), atau penghargaan (nilai A pada Juara 1, juara 2 ataupun pada juara 3).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Penguatan negatif&lt;/b&gt;, yang merupakan penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena di ikuti dengan penghilangan stimulus yang dapat merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda atau tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku yang tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa, mata melotot, dll).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dari kedua penguatan diatas, terdapat perbedaan antara penguatan positif dan penguatan negatif, yaitu dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh, sedangkan penguatan negatif ada sesuatu yang dikurangi atau dihilangkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Menjadi penting untuk dipahami bahwa penguatan negatif meningkatkan probabilitas terjadinya suatu perilaku, sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya perilaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dengan mengacu pada eksperimen yang dilakukan Skinner terhadap tikus dan burung merpati, dihasilkan 2 (dua) hukum belajar, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;(1) &lt;i&gt;Law of operant conditioning&lt;/i&gt;—jika timbulnya perilaku di iringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;(2) &lt;i&gt;Law of operant extinction&lt;/i&gt;—jika timbulnya perilaku &lt;i&gt;operant &lt;/i&gt;telah di perkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Kemudian di tarik pemahaman akan beberapa implikasi penting dari teori belajar Skinner khususnya dalam pembelajaran, yaitu sebagai berikut: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Bahan yang dipelajari akan dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah, dibetulkan dan jika benar diperkuat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Proses belajar mengikuti irama dari yang belajar.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Materi pelajaran digunakan sistem modul.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostik.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan &lt;i&gt;shaping&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Melaksanakan &lt;i&gt;mastery learning&lt;/i&gt; yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya dalam belajar.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/5192446242997319760/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/bf-skinner-dan-teori-behavioristik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/5192446242997319760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/5192446242997319760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/bf-skinner-dan-teori-behavioristik.html' title='B.F. Skinner dan Teori Behavioristik'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhn3KAeaxicD5WkULhN2rZJhkJRsKwlfbZ-zfAHuSjzaNEAZC35Cf_NGifGosGoXb75l-9HilFk3orBm5G41wACLcJz3JfnbLT0mVX_ce7sZMzMAxUZLuo-KOlgk-TeYNlDDizB21LnMmA/s72-c/dgsewe.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-7611943941170231996</id><published>2019-10-15T18:52:00.001-07:00</published><updated>2019-10-15T19:04:20.776-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pendidikan dan Psikologi"/><title type='text'>Teori Belajar Kognitivistik </title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;394&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9yYnmXWP5lxonzt9nY_48I2LIVHKv5qEq6UX6K6dbG86GjCxStPhvEwJUwj8mp4QYNkhHpxkeP4VQK4I8sZ0aYADSMiRZTeBYNmkBRduLUyABg1NBrAxkFw0GbMpyrNDFxiAYBG4yU6c/s640/gchfghdrt.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Hal terpenting dari pembelajaran kognitif adalah segalanya berpusat di otak. Prinsip-prinsip, metode-metode, serta landasan dasarnya, mengacu pada kontrol rasio sebagai pusat pemecahan masalah-masalah dalam belajar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Perspektif kognitif awal, oleh kajian Psikologi Gestalt, memperkuat anggapan ini dengan menegaskan bahwa perubahan di dalam ‘persepsi’ sebagai kunci untuk belajar dalam pemecahan masalah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Otak akan selalu berhubungan dengan pikiran manusia. Sementara pikiran, adalah pemimpin dan pelopor dari semua tindakan manusia. Kitab Amsal 27:3, menuliskan: sebagaimana dia berpikir dalam hatinya, demikianlah dia jadinya. Apa artinya? Artinya bahwa, apa yang dipikirkan seseorang, itulah dia sebenarnya! (Bandingkan Roma 8:5). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joyce Meyer (dalam Busthan Abdy, 2016:115) menyatakan bahwa tindakan-tindakan kita adalah akibat langsung dari pikiran-pikiran kita. Jika kita berpikir negatif, maka kehidupan akan negatif; jika kita berpikir positif, kita pun akan melakukan hal positif. Ini menandakan bahwa apa yang dipikirkan adalah juga siapakah kita sebenarnya atau menjadi seperti apa kita jadinya. Itulah sebabnya, maka proses kerja otak harus difungsikan dengan baik dan efektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak adalah perangkat keras jiwa. Otak merupakan perangkat keras esensi Anda sebagai manusia. Anda tidak dapat menjadi orang yang Anda dambakan apabila otak tidak bekerja dengan benar. Daniel G Amen (1998) seorang psikiater berkelas dunia, menegaskan bahwa cara kerja otak sangat menentukan kebahagiaan dan efektifitas perasaan serta kualitas interaksi Anda dengan orang lain. Apa yang diungkapkan Daniel ini bukanlah suatu isapan jempol belaka. Sebab kenyataannya, otak memiliki peranan dalam semua yang dilakukan manusia, khususnya dalam keterampilan berpikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak adalah bagian pertama yang harus dipikirkan saat berusaha memahami apa saja yang mau dipahami. Semua penangkapan objek selalu melibatkan bagaimana penyimak menggunakan efektifitas otak sebagai bagian dari berpikir dalam mengerti dan memahami.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Karena itu, dasar pembelajaran kognitif berbeda dengan teori terdahulunya, yaitu teori behavioristik, yang hanya sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon saja. Melainkan, teori belajar kognitif merujuk pada bagaimana tingkah laku itu ditentukan oleh persepsi pemahaman tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajar. Persepsi yang dimaksudkan ini adalah otak sebagai pusat kontrol pengetahuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori kognitif menekankan bahwa bagian-bagian dari suatu situasi saling berhubungan dengan seluruh konteks dari situasi tersebut. Penegasan teori ini bahwa, belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, pengolahan informasi, emosi, dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Itu sebabnya, belajar dipandang sebagai aktivitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Awal Kemunculan Teori Kognitif&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Teori belajar kognitif muncul ketika timbul reaksi terhadap kondisi yang menggambarkan kelemahan mendasar dalam teori behavioristik yang cenderung mengutamakan perubahan perilaku secara kasat mata (Busthan Abdy, 2016:117).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Istilah “&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: x-large;&quot;&gt;cognitive&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;” berasal dari kata &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: x-large;&quot;&gt;cognition&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt; yang berarti “pengertian”—mengerti. Pengertian yang luasnya &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-family: Georgia, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: x-large;&quot;&gt;cognition &lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;(kognisi) adalah suatu perolehan, penataan, serta penggunaan akan suatu pengetahuan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Dengan berbekal pemahaman bahwa belajar bukan hanya sebagai interaksi antara stimulus dan respons, melainkan lebih melibatkan aspek psikologis lain seperti: pikiran, mental, emosi, dan persepsi, maka di dalam perkembangannya hingga saat ini, aliran kognitif mengukuhkan keberadaannya sebagai teori belajar yang setidaknya mampu memberikan kontribusi positif dengan unsur-unsur kognitifnya dalam proses pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori belajar kognitif dimulai dari perkembangan Psikologi Gestalt yang dipelopori oleh Marx Wertheimer—walaupun sebenarnya jika diurut jauh ke belakang, yakni pada masa Yunani kuno, maka awalnya teori ini berkembang melalui filsafat Plato dan Aristoteles (seperti halnya pada teori behavior). Tetapi kemudian, Jean Piaget justru lebih terkenal sebagai pengembang teori belajar kognitif dan teori konstruktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika psikologi kognitif ini kemudian berkembang menjadi “teori” dalam belajar kognitif, maka pandangan seorang Yahudi, Kurt Lewin (1890-1947), adalah peletak batu pertama dan pembuka pintu gerbang besar untuk memahami lebih dalam lagi tentang teori kognitif ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Diketahui saat itu Lewin muncul dengan intisari dari teori belajarnya yang dikenal dengan sebutan “proses penemuan” (&lt;i&gt;discovery&lt;/i&gt;) dan transformasi informasi kompleks yang berlangsung pada diri individu. Dalam pengertian bahwa individu yang sedang belajar, akan dipandang sebagai seseorang yang secara konstan memberikan informasi baru untuk dikonfirmasikan dengan prinsip yang telah dimiliki, kemudian merevisi prinsip tersebut, yang apabila sudah tidak sesuai dengan informasi yang baru diperoleh. Dan agar seseorang yang melakukan kegiatan belajar menjadi mampu melakukan proses belajarnya, maka orang tersebut harus melibatkan diri secara aktif.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Disamping Lewin dan Piaget, ada beberapa tokoh terkenal lainnya yang juga muncul dengan gagasan-gagasan kognitif mereka, seperti konsep “&lt;i&gt;Advance Organizer&lt;/i&gt;”, dengan tokoh utamanya adalah Ausabel; “Pemahaman konsep” dengan tokoh utamanya adalah Bruner; serta konsep “Tingkat kemampuan Belajar” dengan tokohnya Gagne, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengertian Teori Belajar Kognitif &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami tentang teori belajar kognitif, ada dua pendapat ahli yang dapat dijadikan acuan mendasar sejak kemunculan teori belajar kognitif hingga saat ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;. Menurut Gagne (dalam Busthan Abdy 2016:118), strategi kognitif adalah kemampuan internal seseorang untuk bisa berpikir, memecahkan masalah, kemudian dapat mengambil suatu keputusan. Melalui strategi belajar kognitif,&amp;nbsp; maka semua proses berpikir yang unik dapat terjadi dalam hal menganalisa, memecahkan masalah, dan dalam mengambil keputusan. Kemampuan dan keunikan berpikir, berperan sebagai &lt;i&gt;executive control&lt;/i&gt; (kontrol tingkat tinggi), yaitu analisa yang tajam, tepat dan akurat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;. Bell-Gredler (1986) dalam Busthan Abdy (2016:118-119) menyatakan bahwa strategi kognisi sebagai suatu proses berpikir induktif, yang dapat membuat generalisasi dari fakta, konsep, dan prinsip dari apa yang diketahui oleh seseorang. Dalam hal ini strategi kognitif tidak berkaitan dengan ilmu yang dimiliki seseorang, melainkan lebih berhubungan dengan suatu kemampuan berpikir internal yang dimiliki seseorang dan dapat diterapkan dalam berbagai bidang ilmu yang dimiliki seseorang. Namun, latar belakang pendidikan formal sangat mempengaruhi keterampilan berpikir seseorang. Karena biasanya, melalui pendidikan formal, seseorang sudah dibekali dengan analisis, sintesis, dan evaluasi. Dan melalui keterampilan berpikir ini, maka para peserta didik juga dapat hidup dengan mandiri, mampu menganalisa, memecahkan masalah, dan mampu mengambil keputusan dari fenomena-fenomena disekitar mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kedua pengertian strategi kognitif di atas, dapatlah dipahami bahwa fokus utama teori belajar kognitif adalah pada proses belajar dari pada hasil belajarnya. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon saja, tetapi belajar juga melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Sehingga belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman ini tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati secara kasat mata seperti pada konsep teori belajar behavioristik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;(Oleh: Abdy busthan)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;**********&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka:&lt;br /&gt;Busthan Abdy (2016). &lt;b&gt;&lt;i&gt;Teori Belajar dan Pembelajaran: Behavioristik, Kognitivistik, Konstruktivistik, Humanistik&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Kupang: Desna Live Ministry&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/7611943941170231996/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/teori-belajar-kognitivistik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/7611943941170231996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/7611943941170231996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/teori-belajar-kognitivistik.html' title='Teori Belajar Kognitivistik '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9yYnmXWP5lxonzt9nY_48I2LIVHKv5qEq6UX6K6dbG86GjCxStPhvEwJUwj8mp4QYNkhHpxkeP4VQK4I8sZ0aYADSMiRZTeBYNmkBRduLUyABg1NBrAxkFw0GbMpyrNDFxiAYBG4yU6c/s72-c/gchfghdrt.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-5151309166879363521</id><published>2019-10-15T03:44:00.000-07:00</published><updated>2019-10-15T04:20:04.555-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pendidikan dan Psikologi"/><title type='text'>Teori Belajar Behavioristik Edward Thorndike</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihbqDg2LeG0XfCZhZTFzx2jJuLCqcLF_RCoU__r_yiu109NFjXefOi7spJ2VPHmsUgMi0rUBl-xWkVVhzETKie_J25NfxvtWsgPehlxF5huSuUUEJl9lFyjPfY7Yu6RJ4OeZbj0hU-6v0/s640/1280-562491-edward-thorndike.png&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Edward Lee Thorndike (1874-1949),&amp;nbsp;mendapatkan gelar sarjana dari Wesleyan University di Connecticut pada tahun 1895 dan gelar Master dari Hardvard pada tahun 1897. Kemudian menerima beasiswa dari Colombia untuk melanjutkan jenjang pendidikannya hingga mencapai gelar Ph.D pada tahun 1898. Selanjutnya, dia menetap dan mengajar di Colombia sampai pensiun pada tahun 1940.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt; Thorndike adalah seorang fungsionalis pada masanya. Dia membentuk tahapan behaviorisme di negara Rusia dalam versi Amerika.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Semasa hidupnya, Thorndike gemar menuliskan hal-hal baru yang didapatkannya melalui pengalaman hidup sehari-hari.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Melalui tulisan-tulisannya, ia pun menghasilkan karya besar yang sangat berpengaruh dalam perkembangan teori behavioristik hingga sekarang ini, yaitu melalui bukunya yang berjudul “&lt;i&gt;Animal intelligence, An experimental study of association process in Animal&lt;/i&gt;”. Buku ini merupakan kumpulan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah laku beberapa jenis hewan, seperti: kucing, anjing, dan burung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Thorndike menyatakan bahwa dasar utama seseorang belajar (&lt;i&gt;learning&lt;/i&gt;) adalah asosiasi, dimana stimulus yang didapatkan akan menimbulkan respon tertentu. Fenomena ini disebutkan dengan teori S-R (stimulus-respon).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Hal terpenting dalam teori S-R ini adalah kejadian pertama dalam proses belajar, yaitu ketika pertama kali organisme (hewan dan orang) melakukan belajar dengan cara “coba salah” (&lt;i&gt;trial end error&lt;/i&gt;). Artinya, jika organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah, maka organisme itu akan mengeluarkan serentakan tingkah laku dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah tersebut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Berdasarkan pengalaman itulah maka pada saat menghadapi masalah yang serupa, organisme sudah tahu tingkah laku mana yang harus di keluarkannya untuk memecahkan masalah. Ia akan mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu pula.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Seekor kucing misalnya, yang di masukkan dalam kandang yang terkunci,&amp;nbsp; maka ia akan bergerak, berjalan, meloncat, mencakar dan sebagainya, sampai suatu saat, secara kebetulan ia menginjak sebuah pedal yang sengaja di pasangkan dalam kandang itu sehingga kandang itu pun terbuka. Maka sejak itu, kucing akan langsung menginjak pedal jika ia dimasukkan lagi ke dalam kandang yang sama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Dasar Koneksionisme&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Dalam perkembangan selanjutnya, teori Thorndike menjadi terkenal dengan sebutan “&lt;i&gt;connectionism&lt;/i&gt;” (koneksionisme) dan mulai mempengaruhi dunia pendidikan dan pengajaran di Amerika Serikat pada saat itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Thorndike memandang bahwa yang menjadi dasar terjadinya belajar adalah adanya asosiasi (persatuan hubungan) antara kesan panca indera (&lt;i&gt;sense of impression&lt;/i&gt;) dengan dorongan yang muncul untuk bertindak (&lt;i&gt;impuls to action&lt;/i&gt;).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Ini artinya, teori behavioristik yang juga di kenal dengan nama &lt;i&gt;contemporary behaviorist&lt;/i&gt; ini, memandang bahwa belajar akan terjadi pada diri anak, jika anak tersebut mempunyai ketertarikan terhadap masalah yang dihadapi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Siswa dalam konteks ini dihadapkan pada sikap untuk dapat memilih respons yang tepat dari berbagai respons yang mungkin bisa di lakukan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Teori ini menggambarkan bahwa tingkah laku siswa di kontrol oleh kemungkinan mendapat hadiah external atau &lt;i&gt;reinforcement,&lt;/i&gt; yang terdapat hubungannya antara respons tingkah laku dengan pengaruh hadiah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Inti Teori Belajar Thorndike &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikatakan sebelumnya, bahwa menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar, seperti: pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan siswa ketika belajar, yang berupa: pikiran, perasaan, atau gerakan, serta tindakan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Jadi, perubahan tingkah laku sebagai akibat dari kegiatan belajar dapat berwujud konkrit (yang dapat di amati), atau tidak konkrit (yang tidak dapat di amati).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Meskipun aliran behavioristik sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat di amati. Sehingga teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsinya di sini adalah tingkah laku siswa pada hakikatnya merupakan respons terhadap lingkungan yang lalu dan sekarang, dan semua tingkah laku yang di pelajari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Mencermati asumsi ini, apa sebenarnya tugas utama guru? Guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar (lingkungan kelas atau sekolah, dsb) pada diri siswa yang dapat memungkinkan terjadinya penguatan (&lt;i&gt;reinforcement&lt;/i&gt;) dalam diri siswa.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Lingkungan yang dimaksud di sini bisa berupa benda, orang atau situasi tertentu yang semuanya dapat berdampak pada munculnya tingkah laku anak.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Sebagai misalnya, terdapat siswa yang memiliki perangai suka mengganggu temannya pada setiap waktu belajar, sementara temannya yang diganggu juga bersikap kooperatif, dalam artian menanggapi obrolannya. Kemudian tercipta lingkungan kondusif atau yang memberikan penguatan, maka kondisi semacam ini menjadikan siswa tersebut akan memiliki sikap untuk senantiasa berperilaku sebagai pengganggu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Sebaliknya, ketika lingkungan tidak memberikan penguatan (&lt;i&gt;reinforcement&lt;/i&gt;) terhadap sikap atau tingkah laku siswa sebagai pengganggu tadi, tetapi hal ini justru disukainya, maka kondisi semacam ini menjadikan siswa tersebut akan berperilaku sebagai seorang pendiam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Sebagai misal selanjutnya, terdapat siswa yang berada dalam lingkungan berupa ketersediaan sumber belajar (berupa buku, majalah, komputer dan sejenisnya), maka hal ini akan memberikan penguatan pada diri siswa, sehingga menjadikan siswa paham, mengerti, dan terampil dalam menggunakan sumber belajar terebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Thorndike, belajar akan berlangsung pada diri siswa jika siswa berada dalam tiga macam hukum belajar, dimana hukum kesiapan belajar ini merupakan prinsip yang menggambarkan suatu keadaan dimana siswa akan cenderung mendapatkan kepuasan ataupun ketidakpuasan. Ketiga hukum belajar yang di utamakan disini adalah: (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, kurang lebih terdapat tiga situasi dan kondisi yang mungkin saja dapat terjadi, yaitu:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;(1) Jika suatu unit konduksi sudah siap untuk berkonduksi, maka konduksi dengan unit tersebut akan membawa kepuasan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;(2) Jika suatu unit konduksi sudah siap untuk berkonduksi, tetapi tidak berkonduksi, maka akan menimbulkan ketidakpuasan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;(3) Jika suatu unit konduksi yang tidak siap berkonduksi dipaksakan untuk berkonduksi, maka konduksi itu akan menimbulkan ketidakpuasan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Sebagaimana dalam proses belajar yang nantinya terjadi pada diri siswa bisa terlaksana dengan baik jika siswa tersebut berada dalam kondisi siap untuk belajar (berinteraksi dengan lingkungan).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Hukum Belajar Thorndike&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Karna itu, maka Thorndike kemudian mengajukan tiga (3) hukum dasar tentang perilaku belajar, yaitu sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;The Law of Readiness &lt;/i&gt;(hukum kesiapan belajar). Dalam artian bahwa, siswa akan berada diantara indikator yang memungkinkan sebuah kondisi “siap” untuk belajar, yaitu dalam pemahamannya seperti: (a) siswa dapat mengerti dan memahami orang lain (misalnya guru, teman, dan orang lain yang ada di sekolah). Sebab dalam kondisi seperti ini, siswa tidak akan merasa asing, atau tidak punya teman untuk meminta tolong, sebagaimana jika dia berada di rumah dekat dengan orang tuanya. (b) siswa berani mengutarakan apa yang ada dalam benak pikiran atau keinginannya (sebab terdapat orang yang akan melindungi dan melayaninya, misalnya mau kencing ke belakang, tidak punya alat tulis, bukunya ketinggalan, dan sejenisnya. (c) siswa dapat memahami dan mampu melakukan apa yang di perintahkan atau diajarkan oleh gurunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;The Law of Exercise&lt;/i&gt; (hukum latihan). Hukum latihan ini mengandung dua macam hukum, yaitu (a) low of use, yaitu hubungan akan menjadi bertambah kuat jika ada latihan, dan (b) low of disuse, yaitu hubungan akan menjadi melemah atau terlupakan kalau latihan dihentikan. Hukum ini juga mengandung makna bahwa proses belajar pada diri siswa (terampil jika diminta mempraktikkan, dapat menjelaskan ketika ditanya, karena si anak sering berlatih uji keterampilan atau senantiasa membaca), akan berhasil atau tidak berhasil sangat ditentukan oleh seberapa banyak dan efektif latihan yang diterima. Semakin sering dan banyak siswa melakukan latihan, akhirnya dia akan terampil melakukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;The Law of Effect&lt;/i&gt; (hukum akibat, efek atau pengaruh). Dalam artian disini bahwa, semakin sering siswa membaca atau mengulangi materi yang dipelajari, maka siswa tersebut akan menjadi semakin tahu dan paham, sebagai “efek” atau pengaruh yang ditimbulkan dari membaca dan mengulangi materi tadi. Sehingga hukum hasil ini mengisyaratkan bahwa makin kuat dan atau makin lemahnya suatu hubungan adalah sebagai akibat dari hasil respons yang dilakukan. Tentu saja, pemahaman akan hadiah yang diterima siswa atau prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih, akan juga berakibat pada kondisi diulanginya atau dilanjutkannya respons atau perbuatan yang dimaksud. Karena apa yang ia lakukannya kemudian menjadi dipahami, sehingga akan dapat membawa keberhasilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan ketiga hukum tersebut, hukum pengaruh Thorndike menyatakan bahwa jika suatu tindakan diikuti oleh suatu perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, maka kemungkinan tindakan itu akan di ulangi dalam situasi yang mirip, dan cenderung pula meningkat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Akan tetapi, bila suatu perilaku diikuti oleh suatu perubahan yang tidak memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan perilaku itu akan di ulangi, namun cenderung akan menurun.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Sehingga menjadi jelas di sini, bahwa konsekuensi perilaku seseorang pada suatu waktu akan memegang peranan penting dalam menentukan perilaku orang itu selanjutnya (Dahar Wilis Ratna, 2011:19). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika disederhanakan lagi intisari pembelajaran yang digagas Thorndike ini, maka pembelajaran merupakan pembentukan hubungan antara stimulus-respon melalui langkah-langkah penguatan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Konsep pembelajaran Thorndike inilah yang kemudian menjadi dominan dalam teori pembelajaran di negara Amerika, dimana sebagian teoretisi pembelajaran di seluruh dunia berpegang pada versi tertentu dari pandangan Thorndike ini hingga pertengahan abad ke-20.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;Bahkan tidak hanya sampai di situ saja pengaruh gagasan pembelajaran dari Thorndike ini, sebagaimana dinyatakan lewat tulisan oleh Edward Tolman (1938); dalam Hill Winfred (2011:57), bahwa..“&lt;i&gt;kita bisa setuju atau tidak setuju dengan Thorndike, atau berusaha memperbaiki pendapatnya dengan berbagai cara, tetapi Thorndike tetap menjadi titik awal bagi segala diskusi mengenai pembelajaran&lt;/i&gt;”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/5151309166879363521/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/teori-belajar-behavioristik-edward.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/5151309166879363521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/5151309166879363521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/teori-belajar-behavioristik-edward.html' title='Teori Belajar Behavioristik Edward Thorndike'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihbqDg2LeG0XfCZhZTFzx2jJuLCqcLF_RCoU__r_yiu109NFjXefOi7spJ2VPHmsUgMi0rUBl-xWkVVhzETKie_J25NfxvtWsgPehlxF5huSuUUEJl9lFyjPfY7Yu6RJ4OeZbj0hU-6v0/s72-c/1280-562491-edward-thorndike.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-6469682507211080831</id><published>2019-10-12T07:52:00.000-07:00</published><updated>2019-10-12T07:52:47.991-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Buku Saya"/><title type='text'>Pendidikan Berbasis Goblok</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjH2Cbd_L6szr40Klxxm3khaVEZOQQSPOxyGQJr5ulaP-IHuPq5R2f2jsOsSxZEgZL6vBFjYExL-_iJDrxed9e39ZF9w3MR4TViPxIUadAjcXge5370hRrhq2by2-VLNamN-MftOX1sDKM/s1600/xxxc.png&quot; /&gt;&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;Buku ini memberikan suatu renungan mendalam bagi para pendidik agar mampu untuk menghargai setiap kekurangan yg dimiliki masing-masing naradidiknya. Sebab bukan tidak beralasan, bahwa justru dengan kelemahan dan kekuatan yang mereka miliki, kelak akan membuat mereka menjadi orang hebat.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba liat sang jenius Einstein, juga si cacad Maslow, atau sang nabi &quot;&lt;i&gt;Black Holt&lt;/i&gt;&quot; si Profesor Hawking yg justru dengan &#39;tetraplegia&#39; yg dideritanya, sang Profesor tampil menjadi ilmuan termasyur jaman ini. Bahkan konon ketika masih kecil, teman2 Hawking bertaruh permen untuk membuktikan bahwa kelak Hawking tidak akan memiliki masa depan yg baik. Juga beberapa kisah memilukan dari para ilmuan besar lainnya seperti Thomas Alfa Edison, Isac Newton, Charles Darwin dll, semua dikisahkan secara tajam di dalam buku ini, setajam silet!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu apa lagi? Segera miliki!!! Stok terbatas!!!&lt;br /&gt;Harga cuma Rp. 80 rb&lt;br /&gt;HP. 081-333-343-222&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/6469682507211080831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/pendidikan-berbasis-goblok.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/6469682507211080831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/6469682507211080831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/pendidikan-berbasis-goblok.html' title='Pendidikan Berbasis Goblok'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjH2Cbd_L6szr40Klxxm3khaVEZOQQSPOxyGQJr5ulaP-IHuPq5R2f2jsOsSxZEgZL6vBFjYExL-_iJDrxed9e39ZF9w3MR4TViPxIUadAjcXge5370hRrhq2by2-VLNamN-MftOX1sDKM/s72-c/xxxc.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-5014309625414397347</id><published>2019-10-12T07:24:00.000-07:00</published><updated>2019-10-12T07:24:34.972-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Buku Saya"/><title type='text'>Sekolah Tuhan (Pendidikan Kristen dalam Substansi)</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgz1LrFTujYNOFFoAaf0WXG1R-i9tbSQXe4aRyv6cLFj7SIe85-WryrlZtFGJN552khHuiaUMdyaof_y_gmIghECInk1RfNoc5LK4O1AlBER02-8bV_FZ6g8NiWNMA-gVmI78TXMqWcYdQ/s1600/DZGAS.jpg&quot; /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;Sekolah Tuhan adalah tempat dimana segala sesuatunya berhubungan dengan pendidikan yang berpusat pada Kristus sebagai junjungan utama. Dalam komplesitasnya yang berpusat kepada Kristus ini, Pendidikan Agama Kristen (PAK) hadir dan memberikan warna yang unik di situ. Karenanya, PAK tidak dapat dipisahkan dengan ajaran-ajaran yang Alkitabiah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAK harus menjadikan kehidupan seseorang lebih baik dan bermanfaat bagi sesama. Lebih daripada itu, Pendidikan Kristen yang terpancar dalam ajaran PAK, haruslah memancarkan kehidupan yang bernilai eksklusif dan ekstensif—eksklusif bersifat khusus, dan ekstensif menjangkau secara luas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini hadir sebagai upaya penulis untuk memberikan pedoman dalam memahami dan mempelajari Pendidikan Kristen secara substansi—yaitu pendidikan yang berakar pada ajaran Kristus yang substansial (baca: sesungguhnya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui buku ini, diharapkan generasi-generasi kristen masa depan, tidak lagi terperangkap dan jatuh kedalam ajaran-ajaran yang menyesatkan, yang membuatnya kehilangan kemuliaan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku         : Sekolah Tuhan (Pendidikan Kristen dalam Substansi)&lt;br /&gt;Penulis               : Abdy Busthan&lt;br /&gt;Penerbit             : Desna Life Ministry&lt;br /&gt;No ISBN             : 978-602-74103-4-3&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/5014309625414397347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/sekolah-tuhan-pendidikan-kristen-dalam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/5014309625414397347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/5014309625414397347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/sekolah-tuhan-pendidikan-kristen-dalam.html' title='Sekolah Tuhan (Pendidikan Kristen dalam Substansi)'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgz1LrFTujYNOFFoAaf0WXG1R-i9tbSQXe4aRyv6cLFj7SIe85-WryrlZtFGJN552khHuiaUMdyaof_y_gmIghECInk1RfNoc5LK4O1AlBER02-8bV_FZ6g8NiWNMA-gVmI78TXMqWcYdQ/s72-c/DZGAS.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-2729340802386079339</id><published>2019-10-12T07:17:00.002-07:00</published><updated>2019-10-12T07:17:34.665-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Buku Saya"/><title type='text'>Perencanaan Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCyBbIPnJdlTjan1EUBeqxlZ8GOE53fp8L8oK27Uwxi_IMCLjCEeh1rijHHcXxET2-CX7gXBsyDjGickZHnBZhsxio5eQMvHoGqcH6nQcZYJHA8exrfhBhL4LIWvY_h8WwJSJ-EBQ9nlo/s1600/20728283_1926207187596145_7428666041575696607_n.jpg&quot; /&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;Pembelajaran hanya dapat terjadi ketika subjek belajar, atau pelaku dan segala komponen yang terlibat di dalam pembelajaran itu, menjadi terlibat secara aktif. Untuk dapat terlibat secara aktif ini, maka harus merencanakan segala sesuatunya dengan baik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;Karena itu, kesuksesan pembelajaran, hanya bisa terwujud ketika ada “perencanaan pembelajaran” yang efektif dan efisien. Segala sesuatu haruslah direncanakan dan dirancang dengan baik dan benar. Perencanaan yang baik tentunya akan menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Jika dibalik, juga sama dengan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Perencanaan Pembelajaran&lt;br /&gt;Harga: 75 ribu (diluar ongkos kirim)&lt;br /&gt;Kontak: 081333343222&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/2729340802386079339/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/perencanaan-pembelajaran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/2729340802386079339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/2729340802386079339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/perencanaan-pembelajaran.html' title='Perencanaan Pembelajaran'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCyBbIPnJdlTjan1EUBeqxlZ8GOE53fp8L8oK27Uwxi_IMCLjCEeh1rijHHcXxET2-CX7gXBsyDjGickZHnBZhsxio5eQMvHoGqcH6nQcZYJHA8exrfhBhL4LIWvY_h8WwJSJ-EBQ9nlo/s72-c/20728283_1926207187596145_7428666041575696607_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-7999754523404887413</id><published>2019-10-12T07:13:00.000-07:00</published><updated>2019-10-12T07:13:03.707-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Buku Saya"/><title type='text'>Dasar-Dasar Evaluasi Hasil Belajar </title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwYoLrgMfOSbk7KZ7gUv-B7b0WuUrWUDieVeNbeoBLHbQTik1RyizWjWUxVkkUcienOT_dplqtAaz4cqCzTh75smNbF12aeUjq6os-MBCn9OmAJ2Wma8yzfE_TtOPk0hEziTL4rodLBVM/s1600/15094291_1004028493036325_2285819153714405989_n.jpg&quot; /&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;Evaluasi Hasil Belajar merupakan Mata Kuliah dari pecahan rumpun bidang ilmu pendidikan yang tersebar dalam kurikulum Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di semua label Program Studi Pendidikan (Progdi) yang tersebar pada seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sudah berapa banyakkah almamater dan alumnus dari Perguruan Tinggi yang ada, mampu mengimplementasikan evaluasi hasil belajar dengan tepat? Bahkan efektif dan efisien? Sehingga nantinya, alat untuk mengevaluasi hasil dari suatu proses belajar ini dapat bekerja secara objektif (baca: apa adanya) untuk memecahkan setiap persoalan pembelajaran yang ada?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;Evaluasi hasil belajar yang baik adalah evaluasi yang berlangsung secara jujur, sesuai batasan-batasan yang ada, serta bertanggungjawab, dan bukan dengan berbagai macam modus dan kepentingan yang nantinya menghancurkan esensi dari evaluasi hasil belajar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah jawaban atas beberapa pertanyaan di atas. Karena merupakan panduan dan pedoman dalam memahami, mempelajari, serta mendesain item-item yang berkaitan dengan Evaluasi Hasil Belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga buku: Rp. 95 ribu&lt;br /&gt;Pesan via Hp: 081333343222&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/7999754523404887413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/dasar-dasar-evaluasi-hasil-belajar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/7999754523404887413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/7999754523404887413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/dasar-dasar-evaluasi-hasil-belajar.html' title='Dasar-Dasar Evaluasi Hasil Belajar '/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwYoLrgMfOSbk7KZ7gUv-B7b0WuUrWUDieVeNbeoBLHbQTik1RyizWjWUxVkkUcienOT_dplqtAaz4cqCzTh75smNbF12aeUjq6os-MBCn9OmAJ2Wma8yzfE_TtOPk0hEziTL4rodLBVM/s72-c/15094291_1004028493036325_2285819153714405989_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-3647452395593789243</id><published>2019-10-12T06:16:00.001-07:00</published><updated>2019-11-18T17:56:09.988-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sosiologi dan Politik"/><title type='text'>Kebebasan Liberisme dan Kolektivisme</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;verdana&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJqJplFZmRi7jU5Wyd3TFKb25xWm57wVDs1zW2OcOgi56oeF213-kCaVUt5STNwSObT36BcA2j-VqoPClOVVe_YS62qstEyO2fznqGqu12c443kF0uI4xOkNQP9E7HDPBGh3kwMpHf84Q/s640/77b121d158668bf5dc527047589f3d48.gif&quot; width=&quot;504&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;verdana&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;Diskusi tentang kebebasan tidak bisa terlepas dari dua aliran besar yang sangat berpengaruh dalam bidang sosial dan politik, yaitu Liberalisme dan Kolektivisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kebebasan Liberalisme&lt;/b&gt;, menekankan bahwa setiap individu memiliki kebebasan dalam arti bebas dari halangan-halangan luar yang membatasi ekspresinya yang personal. Dalam hal ini, John Stuart Mill (dalam Dua Mikhael, 2011:38), memberikan gambaran jelas tentang kebebasan ini, yaitu seseorang dapat bebas dari aturan yang mengekang kebebasannya dalam berpakaian, bergaul, berpendapat, dan menentukan pilihan-pilihan lainnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;verdana&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;verdana&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;Namun jenis kebebasan ini tidak bisa dikatakan absolut. Sebab kebebasan ini mengakui pembatasan yang rasional; yaitu pertimbangan kebebasan seperti yang sudah dijelaskan diatas, yaitu pertimbangan kebebasan seseorang untuk menjadi ‘manfaat’ bagi orang lain—kebebasan yang bermanfaat bagi kebebasan orang lain—atau kebebasan untuk hidup bersama tanpa mengganggu hak personal dari orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, seseorang bebas untuk tidur lebih awal dari biasanya tanpa dipengaruhi orang lain, atau sebaliknya orang tersebut tidak mempengaruhi orang lain untuk melakukan alternatif-alternatif dalam hal yang sama. Contoh lainnya juga, ketika seseorang mendengarkan musik ditengah malam, maka orang tersebut tidak bisa membatasi orang lain untuk alternatif-alternatif yang sama dengannya, sehingga dengan pertimbangan tersebut maka ia dapat mengecilkan volume musik yang sedang di dengarnya agar tidak mengganggu ketentraman orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga dapat ditarik pemahaman bahwa setiap orang harus diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk menyatakan pendapatnya dan mengembangkan dirinya agar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Karena menurut Mill, tanpa kebebasan tiap-tiap warga masyarakat tidak dapat berkembang dengan baik. Tentu saja hal ini menjadi penting mengingat bahwa masyarakat akan mendapatkan manfaat yang besar karena kebebasan individual. Karena kebebasan adalah fondasi masyarakat yang baik, sebab pada prinsipnya memberikan manfaat besar bagi kebaikan banyak orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kebebasan Kolektivism&lt;/b&gt;, yang dikenal juga dengan Liberalisme-Utilitaristis, memandang kebebasan sebagai sebuah kehendak untuk ‘tunduk’ pada prinsip masyarakat. Dalam artian bahwa kebebasan disini melihat bahwa masyarakat adalah penentu dari kehidupan individual.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;verdana&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;verdana&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;Di sini pengakuan akan masyarakat menjadi sesuatu yang penting dibandingkan dengan sosialisme klasik ala kebebasan Mill di atas. Dipahami lebih dalam lagi bahwa masyarakat adalah kenyataan yang tidak dapat di tolak. Sehingga kenyataan inilah yang menjadi kebebasan bagi manusia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;verdana&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;verdana&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;Artinya bahwa, seseorang dengan keadaan yang tahu, harus mau tunduk pada otoritas yang lebih tinggi. Jadi, inti dari kebebasan koletivitas disini, bahwa kebebasan dan hak individu hanya bisa berlaku bagi sebuah otoritas tertinggi saja, seperti negara, agama dan profesi. Misalnya saja dalam agama, kebebasan ini bisa muncul dalam sikap penyerahan diri seseorang pada otoritas maha tinggi yaitu Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dalam konteks spiritual seperti ini, sepenggal kalimat Martin Luther sebagai tokoh terkenal dalam perkembangan Kekristenan dapat dijadikan tolak ukur. Dimana Luther menyatakan bahwa: “Disini saya berdiri, dan saya tidak dapat berubah”. Tentu dalam tradisi spiritualitas seperti ini, ketaatan pada otoritas adalah bentuk dari kebebasan. Dalam artian, bahwa kebebasan adalah pilihan eksistensial yang di dasari dengan akal sehat. Bahwa demi perkembangan eksistensial, maka seseorang dapat mengabdikan diri pada sebuah otoritas yang berwibawa untuk kepentingannya, juga kepentingan yang lebih luas pula (Dua Mikhael, 2011:39) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pemahaman kedua aliran kebebasan seperti diuraikan di atas, setidaknya dapat disimpulkan bahwa dalam kebebasan manusia dengan maknanya yang eksistensial maupun substansial, maka setiap manusia (individu) akan selalu menghasilkan kesimpulan-kesimpulan, putusan-putusan, keyakinan-keyakinan dan tekad dalam pikiran yang menghasilkan keteguhan hati dan komitmen berdasarkan ‘moralitas’ yang tercermin dalam perilakunya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;verdana&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;verdana&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;Sehingga melalui pencarian kebebasan, manusia sedapatnya mampu untuk menjadikan dirinya menjadi tetap terikat dan di batasi dengan apa yang telah di hasilkannya pula. Untuk itu, kebebasan dalam moral akan berujung pada ketidak-bebasan dalam diri seorang insan yang bermoral dan bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oleh: Abdy Busthan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/3647452395593789243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/kebebasan-liberisme-dan-kolektivisme.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/3647452395593789243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/3647452395593789243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/kebebasan-liberisme-dan-kolektivisme.html' title='Kebebasan Liberisme dan Kolektivisme'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJqJplFZmRi7jU5Wyd3TFKb25xWm57wVDs1zW2OcOgi56oeF213-kCaVUt5STNwSObT36BcA2j-VqoPClOVVe_YS62qstEyO2fznqGqu12c443kF0uI4xOkNQP9E7HDPBGh3kwMpHf84Q/s72-c/77b121d158668bf5dc527047589f3d48.gif" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-6953663789639357948</id><published>2019-10-10T17:00:00.000-07:00</published><updated>2019-11-18T07:29:21.146-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pendidikan dan Psikologi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Update Pengetahuan"/><title type='text'>Pengertian dan Pembatasan Definisi Statistik</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;483&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4ctMtuqPjnbvqbDRNDnNddZuL30nsYckmBuNiqtHEwj7nJm8Dpr6hyphenhyphenlDGbHnD93ysWyW6I5lQcrHo7vrDVsBWNI7zixRGyErS3X6J3_S116z9StjeUvVsWJ5mu0s5uzDe8ZEBu-9-w6Y/s640/f3ca571690301502a04fdf0f7ad84172.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Belanda, istilah “statistik” ditulis dengan kata “&lt;i&gt;staat&lt;/i&gt;”, yang merupakan kata serapan dari Bahasa Latin:“&lt;i&gt;status&lt;/i&gt;”. Kata ini memiliki pengertian yang sama dengan pengertian kata “&lt;i&gt;state&lt;/i&gt;” yang digunakan dalam Bahasa Inggris, dimana dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai “negara”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Gottfried Achenwall (1749) dalam Busthan Abdy (2017:11), menggunakan istilah statistik dalam bahasa Jerman untuk pertama kalinya sebagai nama bagi sebuah kegiatan analisis data kenegaraan, yaitu dengan mengartikannya sebagai “ilmu tentang negara (&lt;i&gt;state&lt;/i&gt;)”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Namun pada awal abad ke-19 telah terjadi pergeseran arti menjadi “ilmu mengenai pengumpulan dan klasifikasi data”. Sir John Sinclair memperkenalkan nama (&lt;i&gt;statistics&lt;/i&gt;) dan pengertian ini ke dalam bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi statistik secara prinsip, awalnya berkaitan dengan persoalan-persoalan pengurusan data yang dipakai lembaga-lembaga administratif dan pemerintahan dalam sebuah negara. Pengumpulan data terus berlanjut, khususnya melalui sensus yang dilakukan secara teratur untuk memberi informasi kependudukan yang berubah-ubah setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, istilah statistika mulai banyak digunakan dalam bidang matematika, terutama mengenai persoalan peluang. Cabang statistika yang pada saat ini sangat luas digunakan untuk mendukung metode ilmiah adalah statistika inferensi, yang dikembangkan pada paruh kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20, oleh beberapa pakar statistik seperti: Ronald Fisher (peletak dasar statistika inferensi), Karl Pearson (metode regresi linear), dan William Sealey Gosset (meneliti problem sampel berukuran kecil).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;Pembatasan Definisi Statistik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Secara universal, definisi statistik dapat dibatasi ke dalam dua rumpun pengertiannya, yaitu: 1) batasan umum; dan 2) batasan khusus. Penjelasannya sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Batasan Umum&lt;/b&gt;. Kata statistik (&lt;i&gt;statistic&lt;/i&gt;) telah banyak digunakan membatasi cara-cara ilmiah untuk hal-hal seperti: mengumpulkan, menyusun, meringkas, dan menyajikan data penyelidikan. Lebih lanjut, bahwa &lt;i&gt;statistic&lt;/i&gt; merupakan cara untuk mengolah data tersebut dan menarik kesimpulan-kesimpulan yang diteliti dan keputusan-keputusan logis dari pengolahan data tersebut (Hadi, 2004).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Batasan Khusus&lt;/b&gt;. Kata statistik juga digunakan untuk menunjuk kepada angka-angka pencatatan dari suatu kejadian atau kasus tertentu seperti misalnya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Statistik bentuk badan Miss universe: 38 – 22 – 36 (dada – pinggang – pinggul).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Statistik kecelakaan lalu lintas: januari 6, februari 38, Maret 21,....&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Statistik tinggi badan rata-rata: rata-rata T = 164 cm, dst..&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Secara terminologi, kata statistik ini dapat diberikan pengertian yang beragam, dan masing-masing pengertian tergantung pada pemakaian atau penggunaan kata.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Menurut Busthan Abdy (2017:12-14), secara universal terminologi kata &quot;statistik&quot; ini bisa dibagi menjadi 5 bagian, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;. Kata statistik dengan pengertian sebagai data statistik. Data Statistik ialah bahan-bahan keterangan yang berupa angka atau bilangan dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Misalnya: apabila kita menyebut statistik NTCR, maka kata statistik dalam ungkapan kata ini mengandung pengertian: bahan-bahan keterangan mengenai (yang berhubungan dengan) peristiwa-peristiwa NTCR, yaitu: Nikah, Talak, Cerai dan Rujuk, yang tertuang dalam bentuk angka-angka atau bilangan-bilangan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;. Kata statistik dengan pengertian sebagai daftar (tabel) atau keadaan. Misalnya: di halaman-halaman surat kabar misalnya, sering dijumpai kata-kata &lt;i&gt;Statistik ke-9 Bahan Pokok Kebutuhan Hidup Sehari-hari&lt;/i&gt; (Beras, gula pasir, garam, minyak tanah, minyak goreng, kain blaco dan lain sebagainya). Kata Statistik di sini mengandung pengertian sebagai sebuah daftar atau tabel yang&amp;nbsp; dalamnya dilukiskan atau disajikan bahan-bahan keterangan mengenai keadaan harga-harga sembilan macam bahan pokok kebutuhan sehari-hari.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;. Kata statistik, dengan pengertian sebagai Kegiatan Perstatistikan atau Kegiatan Penstatistikan. Misalnya: Biro Pusat Statistik, adalah sebuah biro (Unit Kerja) pada suatu instansi yang bidang kegiatannya atau tugas pokoknya adalah menangani kegiatan-kegiatan perstatistikan atau penstatistikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keempat&lt;/b&gt;. Kata Statistik dengan pengertian sebagai Metode Statistik. Tidak jarang pula kata statistik diberi pengertian sebagai Metode Statistik. Yang dimaksud dengan Metoe Statistik ialah cara-cara mengumpulkan, mengolah, menyajikan dan menganalisa data angka dengan secara teratur, ringkas dan jelas, dengan tujuan agar dapat memberikan deskripsi (pelukisan atau penggambaran) tentang keadaan data dimaksud. Misalnya, seorang dosen memberikan petunjuk atau bimbingan kepada salah seorang mahasiswa yang sedang menyusun Skripsi Sarjana, agar analisa datanya dilakukan secara Statistik. Ini mengandung pengertian bahwa mahasiswa tersebut diminta Dosen Pembimbingnya untuk mempergunakan Metode Statistik dalam rangka penganalisaan datanya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kelima&lt;/b&gt;. Kata Statistik dengan pengertian Ilmu Statistik. Dimaksud dengan Ilmu Statistik ialah Ilmu pengetahuan yang membahas atau mempelajari tentang cara-cara pengumpulan data, pengolahan, penyajian, penganalisaan dan penarikan kesimpulan-kesimpulan terhadap data yang berwujud angka (bilangan), serta menyusun ramalan-ramalan secara ilmiah (prediction) atas dasar angka tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Rujukan Buku:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Busthan Abdy. (2017). &lt;b&gt;Pengantar Dasar Statistik Pendidikan&lt;/b&gt;. (hal.10-14). Kupang: Desna Life Ministry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/6953663789639357948/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/pengertian-dan-pembatasan-definisi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/6953663789639357948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/6953663789639357948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/pengertian-dan-pembatasan-definisi.html' title='Pengertian dan Pembatasan Definisi Statistik'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4ctMtuqPjnbvqbDRNDnNddZuL30nsYckmBuNiqtHEwj7nJm8Dpr6hyphenhyphenlDGbHnD93ysWyW6I5lQcrHo7vrDVsBWNI7zixRGyErS3X6J3_S116z9StjeUvVsWJ5mu0s5uzDe8ZEBu-9-w6Y/s72-c/f3ca571690301502a04fdf0f7ad84172.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2859668972441198380.post-4591343958610686844</id><published>2019-10-10T16:21:00.001-07:00</published><updated>2019-11-18T07:29:05.596-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pendidikan dan Psikologi"/><title type='text'>Pengertian Statistik dan Statistika</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;468&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhL3FWQ7X0OxAo7_VUJW4jicxSpilOiKzfrvN4Uw3xDIGmfW9-9cb2u8-G-4f0pq2V5Sen9pQ7NfBCPuFXA_HN82Cc6pJo9UM3bfGpw1IRnt_CS6NYS_4w6RAGsa0t_PaKOqEihIMWE2Po/s640/5d129af5d04df545f85ea1d578a9b659.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamus Bahasa Inggris, terdapat dua istilah yang kerapkali muncul terkait dengan istilah “statistik”, yaitu:&amp;nbsp;&lt;i&gt;statistic&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;&lt;i&gt;statistics&lt;/i&gt;, atau bisa dikatakan &quot;statistik&quot; dan &quot;statistika&quot;. Kedua istilah ini memiliki makna yang berbeda. Istilah ‟statistika‟ (dalam bahasa Inggris:&amp;nbsp;&lt;i&gt;statistics&lt;/i&gt;) berbeda dengan istilah &quot;statistik&quot; (dalam bahasa Inggris:&amp;nbsp;&lt;i&gt;statistic&lt;/i&gt;). Berikut pengertian kedua istilah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Statistika&lt;/b&gt;&amp;nbsp;adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Singkatnya, statistika adalah ilmu yang berkenaan dengan data. Statistika banyak diterapkan dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu alam (misalnya&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;astronomi dan biologi maupun ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi dan psikologi), maupun di bidang bahasa, bisnis, ekonomi, dan industri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Statistika juga digunakan dalam pemerintahan untuk berbagai macam tujuan; sensus penduduk merupakan salah satu prosedur yang paling dikenal. Aplikasi statistika lainnya yang sekarang popular adalah prosedur jajak pendapat atau polling (misalnya dilakukan sebelum pemilihan umum), serta jajak cepat (perhitungan cepat hasil pemilu) atau quick count. Di bidang komputasi, statistika dapat pula diterapkan dalam pengenalan pola maupun kecerdasan buatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Statistik&lt;/b&gt;, adalah data statistik. Artinya bahwa, statistik merupakan kumpulan bahan keterangan yang berupa angka atau bilangan, atau dengan istilah lain, deretan atau kumpulan angka yang menunjukkan keterangan mengenai cabang kegiatan hidup tertentu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Sehingga statistik dengan pengertian data kuantitatif (yang disebut: data statistik), adalah data angka yang dapat memberikan gambaran mengenai keadaan, peristiwa, atau gejala tertentu (Sudijono Anas, 2010:2-3). Jadi, statistik bisa dipahami sebagai rekapitulasi dari fakta yang berbentuk angka-angka yang disusun bisa dalam bentuk tabel dan diagram, untuk mendeskripsikan suatu permasalahan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Misalnya digunakan untuk ukuran sebagai wakil dari kelompok fakta, seperti nilai rata-rata mahasiswa, rerata produktivitas kerja satu perusahaan, presentase dari keberhasilan belajar, ramalan kemampuan mahasiswa dalam memprediksi hasil produksi pertanian dan sebagainya (Riduwan dan Sunarto, 2010:10-11).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Secara kebahasaan, statistik berarti catatan angka-angka (bilangan), perangkaan, data yang berupa angka-angka yang dikumpulkan, ditabulasi, dikelompokkan, sehingga dapat memberi informasi yang berarti mengenai suatu masalah, gejala, atau peristiwa (depdikbud, 1994).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Menurut Sutrisno Hadi (1995) Statistik adalah untuk menunjukkan kepada pencatatan angka-angka dari suatu kejadian atau kasus tertentu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Hal ini juga selaras dengan apa yang didefinisikan oleh Sudjana (1992) bahwa statistik adalah kumpulan fakta berbentuk angka yang di susun dalam daftar atau tabel dan atau diagram, yang melukiskan atau menggambarkan suatu persoalan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Dari penjelasan kedua istilah ini: statistika (&lt;i&gt;statistics&lt;/i&gt;) dan statistik (&lt;i&gt;statistic&lt;/i&gt;), maka dapat dipahami bahwa sesungguhnya kedua istilah ini memiliki perbedaan. Statistika merupakan ilmu yang berkenaan dengan data, sedangkan statistik adalah data, informasi, atau hasil penerapan algoritma statistika pada suatu data itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kumpulan data, statistika dapatlah digunakan untuk menyimpulkan atau mendeskripsikan data; ini dinamakan statistika deskriptif. Sebagian besar konsep dasar statistika mengasumsikan teori probabilitas. Beberapa istilah statistika antara lain: populasi, sampel, unit sampel, dan probabilitas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Rujukan Buku:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Busthan Abdy. (2017).&amp;nbsp;&lt;b&gt;Pengantar Dasar Statistik Pendidikan&lt;/b&gt;. (hal.8-10)&lt;b&gt;.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Kupang: Desna Life Ministry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://abdybusthan.blogspot.com/feeds/4591343958610686844/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/pengertian-statistik-dan-statistika.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/4591343958610686844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2859668972441198380/posts/default/4591343958610686844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://abdybusthan.blogspot.com/2019/10/pengertian-statistik-dan-statistika.html' title='Pengertian Statistik dan Statistika'/><author><name>Abdy Busthan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08376451895356760186</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF1rfIXR-ATHODKdcg-diRoerLe5u_-kqaZXZbYHHAxo9A40slxkXyVqMZpjPS5cvf9c2GnmG-NflzAt3KbNfp6oiLvTVWbD_Yy14AmzsT-aPFNoCGr4-ezhvrNlU5Lg/s220/r56722.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhL3FWQ7X0OxAo7_VUJW4jicxSpilOiKzfrvN4Uw3xDIGmfW9-9cb2u8-G-4f0pq2V5Sen9pQ7NfBCPuFXA_HN82Cc6pJo9UM3bfGpw1IRnt_CS6NYS_4w6RAGsa0t_PaKOqEihIMWE2Po/s72-c/5d129af5d04df545f85ea1d578a9b659.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>