<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-4696748835675997314</atom:id><lastBuildDate>Fri, 01 Nov 2024 11:40:17 +0000</lastBuildDate><category>agama</category><category>Keluarga</category><category>Lain-lain</category><category>Fauzan</category><title>ISLAMIYAH</title><description>memberi informasi dan wawasan tentang agama islam</description><link>http://fauzan-islamiyah.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:image href="http://fauzan-islamiyah.blogspot.com/"/><itunes:keywords>islam,info,islam,agama,toleransi,ummat,muslim</itunes:keywords><itunes:summary>memberikan info tentang agama islam</itunes:summary><itunes:subtitle>islamyah</itunes:subtitle><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Islam"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>fazima70@yahoo.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4696748835675997314.post-7262527475973999946</guid><pubDate>Wed, 23 Jan 2013 06:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-02-01T06:40:19.608-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Keluarga</category><title>Pembinaan Keluarga dengan Al-Quran</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in;"&gt;
Setiap Pembina rumah tangga pasti menghendaki kesuksesan dan keselamatan. Akan tetapi pribadi dan atau keluarga yang sukses dan selamat dalam persepisi islam adalah pribadi dan keluarga yang masuk kedalam suasana surgawi. Ini pentign karena rumah tangga surgawi yaitu rumah tangga robby Rodhiyya adalah penghuni keluarga yang akan menuntun penghuninya menuju kesuksesan dan keselamatan ukhrowi. Itulah kebahagiaan sejati. Sebaliknya keluarga yang semata-mata berorientasi duniawi akan senantiasa penuh dengan kewawasan keraguan dan keresahan yang berdampak keresahan kepada masyarakat lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin: 0in; text-align: center;"&gt;
PEMBINAAN KELUARGA&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRIizByw4nQyX7IjI5Z2Y4vLVfVCSfwA4-Cc9AAdKPL_8zKHDCXPAM5frCr" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRIizByw4nQyX7IjI5Z2Y4vLVfVCSfwA4-Cc9AAdKPL_8zKHDCXPAM5frCr" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin: 0in; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin: 0in; text-align: center;"&gt;
“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” Qs.Ar-Rum 21.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin: 0in; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin: 0in; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin: 0in; text-align: center;"&gt;
"Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." QS. an-Nisa’: 19&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin: 0in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin: 0in;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin: 0in; text-align: center;"&gt;
Adakah kamu hadir ketika Ya´qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". Qs. Al-Baqarah: 133&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin: 0in; text-align: center;"&gt;
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar."QS. an-Nisa’ (4) : 9&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin: 0in; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."Qs.attahrim: 6&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
"Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi."Qs. Al-Munafiqun: 9&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan."Qs. Al-Kahfi:46&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." QS. Ali-Imron:104&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
---------&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in;"&gt;
Islam telah memberikan dasar-dasar begi setiap pembina keluarga yang ingin sukses membangun keluarganya menuju keluarga Robby Rodhiyya tersebut.Diantaranya adalah sebagaimana yang di firmiankan oleh Allah SWT didalam AL- Qur'an pada ayat-ayat tersebut diatas. Apabila kita analisa maka langkah-langkah yang harus diambil dan dilaksanakan oleh setiap pembina keluarga adalah:&lt;/div&gt;
&lt;ol style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;Setiap pilar keluarga bahkan setiap unsur keluarga harus berperi-rasa, berpola, bersikap dan bertindak atas dasar pemahaman bahwa setiap unsur keluarga adalah bagian dari dirinya sendiri. Apapun yang menimpa anggota keluarga, baik kesuksesan ataupun kegagalan, kegembiraan atau akan bersikap bertindak dan berfikir egoistis.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Setiap unsur keluarga harus bersikap dan berkeyakinan bahwa satu sama lain saling membutuhkan sehingga akan melahirkan sikap saling menjaga, memelihara dan menyayangi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;setiap pilar keluarga harus bersikap jujur, amanah, transparan, dan cepat tanggap agar setiap anggota keluarga pun akan bersikap sama.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Setiap keluarga harus bersikap tenggang rasa, toleransi serta bertindak arif dan bijaksana. Apapun yang ia dapati pada anggota keluarga lainnya akan tetap optimis adanya kebaikan dari Allah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pembangunan keluarga harus berdasarkan tauhid kepada Allah SWT. Pendidikan dan pembinaan tauhid harus ditanamkan kepada terutama keturunan agar bisa menerima kenyataan apapun yang diberikan Allah SWT kepada mereka sehingga mereka bersikap dan berkeyakinan bahwa apapun pemberian Allah SWT semata-mata adalah ujian dan merupakan sarana pengabdian kepadaNya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Demi terwujudnya suatu generasi Robby rodhiyya yang semestinya merupakan cita-cita dan kebanggaan setiap Muslim/ hamba Allah SWT maka setiap pilar keluarga harus mempersiapkan dan membekali keturunannya bukan hanya sarana-sarana penunjang keberhasilan dibidang ekonomi belaka, akan tetapi yang penting &amp;nbsp;adalah bekal Tauhid, mental, spiritual.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sebagaimana diaturkan diatas bahwa suatu keluarga yang berorientasi hidupnya semata-mata duniawi disamping hidupnya resah juga meresahkan.disamping neraka bagi dirinya juga merupakan neraka bagi yang lain akibat perilaku mereka.Kelaurga muslim adalah keluarga surgawi. Setiap unsur keluarga harus saling menjaga, memelihara, dan menyelamatkan dari setiap kemungkinan timbulnya neraka keluarga yang pasti akan berakibat neraka akhirat, dengan saling mengingatkan, saling menasehati, berlapang dada dan berpikir jernih seta menerima kenyataan bahwa harta dan keturunan hanya sekedar ujian yang apabila salah langkah justru akan mencelakakan dirinya sendiri bahkan seluruh keluarga, dunia dan akhirat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dzikir / ingat kepada Allah adalah berperi-rasa, bersikap dan bertindak atas dasar keyakinan bahwa Allah senantiasa mengawasi, melihat dan mengetahui setiap gerak dan pemikiran kita, kapanpun dan dimanapun kita berada. Oleh karena itu kepentingan diri dan keluarga tidak boleh melanggar rambu-rambu Allah dalam mencapainya.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
PEMIMPIN KELUARGA&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)"Qs. Annisa' 34&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;div&gt;
"Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya."Qs. Al-Isro' :84&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
"Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula)."&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Qs. Al-an'am 6:135&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://fauzan-islamiyah.blogspot.com/2013/01/pembinaan-keluarga-dengan-al-quran_22.html</link><thr:total>0</thr:total><author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4696748835675997314.post-4252640914471212022</guid><pubDate>Tue, 22 Jan 2013 08:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-02-01T06:40:30.970-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Lain-lain</category><title>Bagaimana mendeteksi kebohongan ?</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana mendeteksi kebohongan ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik mendeteksi suatu kebohongan dalam suatu wawancara atau interview harus dikuasai oleh para polisi, jaksa, fraud examiner atau auditor sehubungan dengan tugas yang diemban. Hal ini bisa juga dikuasai oleh orang-orang yang tidak mempunyai profesi seperti di atas seperti manager, pemilik perusahaan atau orang biasa. Ini berguna untuk mencegah diri mereka menjadi korban penipuan atau kebohongan lainnya. Namun, hendaknya ini digunakan secara &amp;nbsp;bijaksana, karena tidak semuanya bisa tahan mengetahui seseorang, misalnya mengetahui suami atau istri mereka berbohong.Tanda-tanda kebohongan.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSvV4uVKrm1dxVDYUkdX3kCRaZSCi2qLrkPXZHPmmFHhJ-Vx7Yu5Q" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSvV4uVKrm1dxVDYUkdX3kCRaZSCi2qLrkPXZHPmmFHhJ-Vx7Yu5Q" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Body Language of Lies:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;Gerakan tubuh secara keseluruhan kaku, canggung dan ekpresi wajah keliatan lebih tegang dari biasanya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Seseorang yang berbohong kepada anda selama pembicaraan dengan anda selalu berusaha menghindari kontak mata langsung. Kalau pun terjadi kontak mata, hanya sebentar saja.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tangan sering menggaruk-garuk wajah, hidung, kepala dan leher. Emotional Gestures &amp;amp; Contradiction&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Gerakan tubuh untuk merespons emosi telihat gugup.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bicara terbata-bata dan pelan..&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jawaban terlihat tidak pas dengan expresi wajah dan tubuh.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ekpresi wajah terbatas pada gerakan mulut saja.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Interactions and Reactions&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;Seseorang yang bersalah akan membela diri. Sebalik, orang yang jujur sering kata-katanya menyerang atau menyudutkan orang lain.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Seseorang yang berbohong tidak senang berlama-lama berhadapan dengan orang yang menanyai /menginterogasinya. Biasanya mereka akan mengeser kepala dan tubuhnya menjauhi sipenanya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Seseorang yang berbohong secara tidak sadar menempatkan benda antara dia dan kita. Bila ia seorang perokok maka ia akan menghisap rokoknya berbeda dari normal. Mungkin terburu-buru, tangan gemetar atau terlihat tenang dengan isapan rokok yang dalam dan hembusan panjang. Verbal Context and Content&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Seseorang yang berbohong yang terlihat hati-hati sehingga ia selalu mengulangi pertanyaan anda sebelum menjawabnya. Contoh : Di mana anda malam itu? Sebenarya bisa dijawab langsung tetapi seorang yang berbohong cenderung mengatakan, “ Malam itu saya ada di….”&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Seorang yang berbohong mungkin akan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan? Misalnya surat ini mengapa hanya anda sendiri yang tandatangan? Dijawab : apakah salah jika saya sendiri yang tandatangan?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Seseorang yang berbohong mungkin banyak bicara tetapi bukan hal yang penting dan sesuai pokok pembicaraan. Mereka tidak suka ada keheningan antara mereka dan kita.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Seseorang yang berbohong mungkin berbicara datar-datar saja. Tidak ada tekanan pada kata-kata yang seharusnya diucapkan dengan khusus.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
Other signs of a lie:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;Jika anda percaya seseorang berbohong kepada anda, ubah pokok pembicaraan cepat. Perhatikan wajah orang itu akan berubah dari kaku/tegang menjadi tenang/relax dan terlihat dari intonasi kata-kata yang berbeda dari sebelummya. Berbeda dengan orang yang berbohong senang dengan pergantiaan pokok pembicaraan dengan tiba-tiba, orang yang tidak berbohong akan heran mengapa pokok pembicaraan berubah. Apabila orang yang jujur ini belum merasa selesai dengan pokok pembicaraan sebelumnya, ia akan mencoba balik kembali ke pokok pembicaraan semula.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Orang yang berbohong menceritakan humor atau mengucapakan makian untuk menghindari pokok pembicaraan.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
Penutup :Semua hal diatas hanyalah alat bantu, kesimpulan akhir apakah seseorang berkata bohong atau memberikan informasi tidak benar harus dicrosscheck dengan fakta di lapangan dan teknik audit lainnya.Sumber :How to Detect Lies ( www. blifaloo.com)&lt;/div&gt;
</description><link>http://fauzan-islamiyah.blogspot.com/2013/01/bagaimana-mendeteksi-kebohongan.html</link><thr:total>0</thr:total><author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</author><enclosure length="12900" type="image/jpeg" url="https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSvV4uVKrm1dxVDYUkdX3kCRaZSCi2qLrkPXZHPmmFHhJ-Vx7Yu5Q"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Bagaimana mendeteksi kebohongan ? &amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik mendeteksi suatu kebohongan dalam suatu wawancara atau interview harus dikuasai oleh para polisi, jaksa, fraud examiner atau auditor sehubungan dengan tugas yang diemban. Hal ini bisa juga dikuasai oleh orang-orang yang tidak mempunyai profesi seperti di atas seperti manager, pemilik perusahaan atau orang biasa. Ini berguna untuk mencegah diri mereka menjadi korban penipuan atau kebohongan lainnya. Namun, hendaknya ini digunakan secara &amp;nbsp;bijaksana, karena tidak semuanya bisa tahan mengetahui seseorang, misalnya mengetahui suami atau istri mereka berbohong.Tanda-tanda kebohongan. Body Language of Lies: Gerakan tubuh secara keseluruhan kaku, canggung dan ekpresi wajah keliatan lebih tegang dari biasanya. Seseorang yang berbohong kepada anda selama pembicaraan dengan anda selalu berusaha menghindari kontak mata langsung. Kalau pun terjadi kontak mata, hanya sebentar saja. Tangan sering menggaruk-garuk wajah, hidung, kepala dan leher. Emotional Gestures &amp;amp; Contradiction Gerakan tubuh untuk merespons emosi telihat gugup. Bicara terbata-bata dan pelan.. Jawaban terlihat tidak pas dengan expresi wajah dan tubuh. Ekpresi wajah terbatas pada gerakan mulut saja. Interactions and Reactions Seseorang yang bersalah akan membela diri. Sebalik, orang yang jujur sering kata-katanya menyerang atau menyudutkan orang lain. Seseorang yang berbohong tidak senang berlama-lama berhadapan dengan orang yang menanyai /menginterogasinya. Biasanya mereka akan mengeser kepala dan tubuhnya menjauhi sipenanya. Seseorang yang berbohong secara tidak sadar menempatkan benda antara dia dan kita. Bila ia seorang perokok maka ia akan menghisap rokoknya berbeda dari normal. Mungkin terburu-buru, tangan gemetar atau terlihat tenang dengan isapan rokok yang dalam dan hembusan panjang. Verbal Context and Content Seseorang yang berbohong yang terlihat hati-hati sehingga ia selalu mengulangi pertanyaan anda sebelum menjawabnya. Contoh : Di mana anda malam itu? Sebenarya bisa dijawab langsung tetapi seorang yang berbohong cenderung mengatakan, “ Malam itu saya ada di….” Seorang yang berbohong mungkin akan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan? Misalnya surat ini mengapa hanya anda sendiri yang tandatangan? Dijawab : apakah salah jika saya sendiri yang tandatangan? Seseorang yang berbohong mungkin banyak bicara tetapi bukan hal yang penting dan sesuai pokok pembicaraan. Mereka tidak suka ada keheningan antara mereka dan kita. Seseorang yang berbohong mungkin berbicara datar-datar saja. Tidak ada tekanan pada kata-kata yang seharusnya diucapkan dengan khusus. Other signs of a lie: Jika anda percaya seseorang berbohong kepada anda, ubah pokok pembicaraan cepat. Perhatikan wajah orang itu akan berubah dari kaku/tegang menjadi tenang/relax dan terlihat dari intonasi kata-kata yang berbeda dari sebelummya. Berbeda dengan orang yang berbohong senang dengan pergantiaan pokok pembicaraan dengan tiba-tiba, orang yang tidak berbohong akan heran mengapa pokok pembicaraan berubah. Apabila orang yang jujur ini belum merasa selesai dengan pokok pembicaraan sebelumnya, ia akan mencoba balik kembali ke pokok pembicaraan semula. Orang yang berbohong menceritakan humor atau mengucapakan makian untuk menghindari pokok pembicaraan. Penutup :Semua hal diatas hanyalah alat bantu, kesimpulan akhir apakah seseorang berkata bohong atau memberikan informasi tidak benar harus dicrosscheck dengan fakta di lapangan dan teknik audit lainnya.Sumber :How to Detect Lies ( www. blifaloo.com)</itunes:subtitle><itunes:author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Bagaimana mendeteksi kebohongan ? &amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik mendeteksi suatu kebohongan dalam suatu wawancara atau interview harus dikuasai oleh para polisi, jaksa, fraud examiner atau auditor sehubungan dengan tugas yang diemban. Hal ini bisa juga dikuasai oleh orang-orang yang tidak mempunyai profesi seperti di atas seperti manager, pemilik perusahaan atau orang biasa. Ini berguna untuk mencegah diri mereka menjadi korban penipuan atau kebohongan lainnya. Namun, hendaknya ini digunakan secara &amp;nbsp;bijaksana, karena tidak semuanya bisa tahan mengetahui seseorang, misalnya mengetahui suami atau istri mereka berbohong.Tanda-tanda kebohongan. Body Language of Lies: Gerakan tubuh secara keseluruhan kaku, canggung dan ekpresi wajah keliatan lebih tegang dari biasanya. Seseorang yang berbohong kepada anda selama pembicaraan dengan anda selalu berusaha menghindari kontak mata langsung. Kalau pun terjadi kontak mata, hanya sebentar saja. Tangan sering menggaruk-garuk wajah, hidung, kepala dan leher. Emotional Gestures &amp;amp; Contradiction Gerakan tubuh untuk merespons emosi telihat gugup. Bicara terbata-bata dan pelan.. Jawaban terlihat tidak pas dengan expresi wajah dan tubuh. Ekpresi wajah terbatas pada gerakan mulut saja. Interactions and Reactions Seseorang yang bersalah akan membela diri. Sebalik, orang yang jujur sering kata-katanya menyerang atau menyudutkan orang lain. Seseorang yang berbohong tidak senang berlama-lama berhadapan dengan orang yang menanyai /menginterogasinya. Biasanya mereka akan mengeser kepala dan tubuhnya menjauhi sipenanya. Seseorang yang berbohong secara tidak sadar menempatkan benda antara dia dan kita. Bila ia seorang perokok maka ia akan menghisap rokoknya berbeda dari normal. Mungkin terburu-buru, tangan gemetar atau terlihat tenang dengan isapan rokok yang dalam dan hembusan panjang. Verbal Context and Content Seseorang yang berbohong yang terlihat hati-hati sehingga ia selalu mengulangi pertanyaan anda sebelum menjawabnya. Contoh : Di mana anda malam itu? Sebenarya bisa dijawab langsung tetapi seorang yang berbohong cenderung mengatakan, “ Malam itu saya ada di….” Seorang yang berbohong mungkin akan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan? Misalnya surat ini mengapa hanya anda sendiri yang tandatangan? Dijawab : apakah salah jika saya sendiri yang tandatangan? Seseorang yang berbohong mungkin banyak bicara tetapi bukan hal yang penting dan sesuai pokok pembicaraan. Mereka tidak suka ada keheningan antara mereka dan kita. Seseorang yang berbohong mungkin berbicara datar-datar saja. Tidak ada tekanan pada kata-kata yang seharusnya diucapkan dengan khusus. Other signs of a lie: Jika anda percaya seseorang berbohong kepada anda, ubah pokok pembicaraan cepat. Perhatikan wajah orang itu akan berubah dari kaku/tegang menjadi tenang/relax dan terlihat dari intonasi kata-kata yang berbeda dari sebelummya. Berbeda dengan orang yang berbohong senang dengan pergantiaan pokok pembicaraan dengan tiba-tiba, orang yang tidak berbohong akan heran mengapa pokok pembicaraan berubah. Apabila orang yang jujur ini belum merasa selesai dengan pokok pembicaraan sebelumnya, ia akan mencoba balik kembali ke pokok pembicaraan semula. Orang yang berbohong menceritakan humor atau mengucapakan makian untuk menghindari pokok pembicaraan. Penutup :Semua hal diatas hanyalah alat bantu, kesimpulan akhir apakah seseorang berkata bohong atau memberikan informasi tidak benar harus dicrosscheck dengan fakta di lapangan dan teknik audit lainnya.Sumber :How to Detect Lies ( www. blifaloo.com)</itunes:summary><itunes:keywords>islam,info,islam,agama,toleransi,ummat,muslim</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4696748835675997314.post-4916991509930048428</guid><pubDate>Tue, 22 Jan 2013 04:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-02-01T06:40:54.033-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Lain-lain</category><title>Trik menghilangkan kebiasaan nyontek</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; kalo sudah jadi kebiasaan nyontek, kurang sipz, kalow gak dilakukan, tapi, kebiasaan nyontek itu sifat yang gak oke bange,,,t gitu...w,. jadi gimana ya supaya sifat jelek itu pergi jauh dari hidup ku....?&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSJ9aXL7Aw1Hjd4qIdu94qT7Mm_dRHf37yQeMH4H3DL56JuSoSS" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSJ9aXL7Aw1Hjd4qIdu94qT7Mm_dRHf37yQeMH4H3DL56JuSoSS" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp;1. KORESI DIRI, DONK!&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kalo sudah niat menghilangkan kebiasaan nyontek, ya koreksi dulu aja diri kita. sebenarnya kita mau sekolah untuk jadi master nyontek apa jadi master yang berprestasi? jujur aja dech, pasti sebenernya kita pilih jadi mater yang berprestasi and juara satu. nah, untuk master nyontek, perlu di ingat ya, bahwa niat kita di sekolah itu untuk menambah ilmu pengetahuan, jadi, ya harus rajin belajar dan belajar, biar saat ulangan nggak perlu nengok kana dan kiri ( kayak orang yang mau nyebrang jalan ).&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
2. MENYIMAK PELAJARAN&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Saat guru memberikan penjelasan, simak dengan seksama apa yang disampaikan guru. nggak etis low kalow saat dikasih penjelasan sama guru, kita malah ngegosip and cuek bebek. satu penjelasan aja yang terlewatkan gak bakalan nyambung dengan penjelasan berikutnya. makanya nyimak guru saat memberi penjelasan itu sangat penting.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
3. MENGULANGI PELAJARAN&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Untuk merangsang daya ingat, ada baiknya kita mengulang pelajaran yang kita dapan disekolah. dan biasakan menyediakan waktu luang untuk kembali mengulangi pelajaran dengan begitu pelajarn kita terima di sekolah nyantol di otak kita&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
4. BIKIN CATATA INTI&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Biasanya nih, saat ulangan berlangsung, pertanyaannya tuh berkisar pada masalah uang penting - penting saja, jida nggak ada salahnya setiap mata pelajaran yang kita dapatkan kita catat intiya. selain mempermudah manghafal, juga melatih daya tangkap kita.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
5. BERTANYA&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Masih ingat " Malu bertanya sesat dijalan"? itu nasehat bagi kita saat bepergian, begitu pun saat pelajaran. kita gak boleh sungkan - sungkan untuk bertanya. bisa jadi penjelasan yang gak kita mengerti akan jadi dipahami. malah guru akan senang kalow ada murid yang bertanya.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
6. BELAJAR KELOMPOK&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Malas memang milik siapa saja. apalagi dalam hal belajar. Godaan malas sanga..t besar. untuk menghilangkan rasa malas and boring alias bosan, nggak ada salahnya bikin kelompok belajar. apalagi jadwal ulangan sudah diketahui, tinggal kita pastikan mata pelajaran apa yang kita bahas bersama temen temen&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; So, segitu aja dech cara menghilangkan kebiasaan nyontek. biasanya kan kita nyontek itu karana gak teu alias gak tau, kalo sudah tau tapi masih nyontek,,, kebangetan..&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
semoga bermanfaat&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHIosqKaajKnQ2Qii3UkFa5F9KILD4fy0DFXPEUCAhg3VlE9OwV8x6RS-77lvI1JYcDEv90NPQRQhJFJFpiDeRRd4buLGFYvRunKMXTU_B-LJVABcFSx4vCn1M35WBKEEFvhGqBO_h1hFf/s1600/th_good_smiley.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHIosqKaajKnQ2Qii3UkFa5F9KILD4fy0DFXPEUCAhg3VlE9OwV8x6RS-77lvI1JYcDEv90NPQRQhJFJFpiDeRRd4buLGFYvRunKMXTU_B-LJVABcFSx4vCn1M35WBKEEFvhGqBO_h1hFf/s1600/th_good_smiley.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://fauzan-islamiyah.blogspot.com/2013/01/trik-menghilangkan-kebiasaan-nyontek.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHIosqKaajKnQ2Qii3UkFa5F9KILD4fy0DFXPEUCAhg3VlE9OwV8x6RS-77lvI1JYcDEv90NPQRQhJFJFpiDeRRd4buLGFYvRunKMXTU_B-LJVABcFSx4vCn1M35WBKEEFvhGqBO_h1hFf/s72-c/th_good_smiley.gif" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</author><enclosure length="38491" type="image/gif" url="http://4.bp.blogspot.com/-FVy0gLhcvSw/T8gfDdxopLI/AAAAAAAAAQQ/n0-l-HMGSns/s1600/th_good_smiley.gif"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; kalo sudah jadi kebiasaan nyontek, kurang sipz, kalow gak dilakukan, tapi, kebiasaan nyontek itu sifat yang gak oke bange,,,t gitu...w,. jadi gimana ya supaya sifat jelek itu pergi jauh dari hidup ku....? &amp;nbsp;1. KORESI DIRI, DONK! &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kalo sudah niat menghilangkan kebiasaan nyontek, ya koreksi dulu aja diri kita. sebenarnya kita mau sekolah untuk jadi master nyontek apa jadi master yang berprestasi? jujur aja dech, pasti sebenernya kita pilih jadi mater yang berprestasi and juara satu. nah, untuk master nyontek, perlu di ingat ya, bahwa niat kita di sekolah itu untuk menambah ilmu pengetahuan, jadi, ya harus rajin belajar dan belajar, biar saat ulangan nggak perlu nengok kana dan kiri ( kayak orang yang mau nyebrang jalan ). 2. MENYIMAK PELAJARAN &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Saat guru memberikan penjelasan, simak dengan seksama apa yang disampaikan guru. nggak etis low kalow saat dikasih penjelasan sama guru, kita malah ngegosip and cuek bebek. satu penjelasan aja yang terlewatkan gak bakalan nyambung dengan penjelasan berikutnya. makanya nyimak guru saat memberi penjelasan itu sangat penting. 3. MENGULANGI PELAJARAN &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Untuk merangsang daya ingat, ada baiknya kita mengulang pelajaran yang kita dapan disekolah. dan biasakan menyediakan waktu luang untuk kembali mengulangi pelajaran dengan begitu pelajarn kita terima di sekolah nyantol di otak kita 4. BIKIN CATATA INTI &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Biasanya nih, saat ulangan berlangsung, pertanyaannya tuh berkisar pada masalah uang penting - penting saja, jida nggak ada salahnya setiap mata pelajaran yang kita dapatkan kita catat intiya. selain mempermudah manghafal, juga melatih daya tangkap kita. 5. BERTANYA&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Masih ingat " Malu bertanya sesat dijalan"? itu nasehat bagi kita saat bepergian, begitu pun saat pelajaran. kita gak boleh sungkan - sungkan untuk bertanya. bisa jadi penjelasan yang gak kita mengerti akan jadi dipahami. malah guru akan senang kalow ada murid yang bertanya. 6. BELAJAR KELOMPOK &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Malas memang milik siapa saja. apalagi dalam hal belajar. Godaan malas sanga..t besar. untuk menghilangkan rasa malas and boring alias bosan, nggak ada salahnya bikin kelompok belajar. apalagi jadwal ulangan sudah diketahui, tinggal kita pastikan mata pelajaran apa yang kita bahas bersama temen temen &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; So, segitu aja dech cara menghilangkan kebiasaan nyontek. biasanya kan kita nyontek itu karana gak teu alias gak tau, kalo sudah tau tapi masih nyontek,,, kebangetan.. semoga bermanfaat</itunes:subtitle><itunes:author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; kalo sudah jadi kebiasaan nyontek, kurang sipz, kalow gak dilakukan, tapi, kebiasaan nyontek itu sifat yang gak oke bange,,,t gitu...w,. jadi gimana ya supaya sifat jelek itu pergi jauh dari hidup ku....? &amp;nbsp;1. KORESI DIRI, DONK! &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kalo sudah niat menghilangkan kebiasaan nyontek, ya koreksi dulu aja diri kita. sebenarnya kita mau sekolah untuk jadi master nyontek apa jadi master yang berprestasi? jujur aja dech, pasti sebenernya kita pilih jadi mater yang berprestasi and juara satu. nah, untuk master nyontek, perlu di ingat ya, bahwa niat kita di sekolah itu untuk menambah ilmu pengetahuan, jadi, ya harus rajin belajar dan belajar, biar saat ulangan nggak perlu nengok kana dan kiri ( kayak orang yang mau nyebrang jalan ). 2. MENYIMAK PELAJARAN &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Saat guru memberikan penjelasan, simak dengan seksama apa yang disampaikan guru. nggak etis low kalow saat dikasih penjelasan sama guru, kita malah ngegosip and cuek bebek. satu penjelasan aja yang terlewatkan gak bakalan nyambung dengan penjelasan berikutnya. makanya nyimak guru saat memberi penjelasan itu sangat penting. 3. MENGULANGI PELAJARAN &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Untuk merangsang daya ingat, ada baiknya kita mengulang pelajaran yang kita dapan disekolah. dan biasakan menyediakan waktu luang untuk kembali mengulangi pelajaran dengan begitu pelajarn kita terima di sekolah nyantol di otak kita 4. BIKIN CATATA INTI &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Biasanya nih, saat ulangan berlangsung, pertanyaannya tuh berkisar pada masalah uang penting - penting saja, jida nggak ada salahnya setiap mata pelajaran yang kita dapatkan kita catat intiya. selain mempermudah manghafal, juga melatih daya tangkap kita. 5. BERTANYA&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Masih ingat " Malu bertanya sesat dijalan"? itu nasehat bagi kita saat bepergian, begitu pun saat pelajaran. kita gak boleh sungkan - sungkan untuk bertanya. bisa jadi penjelasan yang gak kita mengerti akan jadi dipahami. malah guru akan senang kalow ada murid yang bertanya. 6. BELAJAR KELOMPOK &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Malas memang milik siapa saja. apalagi dalam hal belajar. Godaan malas sanga..t besar. untuk menghilangkan rasa malas and boring alias bosan, nggak ada salahnya bikin kelompok belajar. apalagi jadwal ulangan sudah diketahui, tinggal kita pastikan mata pelajaran apa yang kita bahas bersama temen temen &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; So, segitu aja dech cara menghilangkan kebiasaan nyontek. biasanya kan kita nyontek itu karana gak teu alias gak tau, kalo sudah tau tapi masih nyontek,,, kebangetan.. semoga bermanfaat</itunes:summary><itunes:keywords>islam,info,islam,agama,toleransi,ummat,muslim</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4696748835675997314.post-3231931298175237069</guid><pubDate>Mon, 03 Dec 2012 02:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-02-01T06:03:13.203-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agama</category><title>Toleransi Ummat Beragama</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSUYa957TV-dMgiFWFQaZYo2D43xhNvmAVDa3e3mG9qr-lU_SYiqg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSUYa957TV-dMgiFWFQaZYo2D43xhNvmAVDa3e3mG9qr-lU_SYiqg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;w:sdt docparttype="Cover Pages" docpartunique="t" id="6979502" sdtdocpart="t" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;
 &lt;/span&gt;&lt;/w:sdt&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Pengertian Toleransi&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Toleransi yang berasal dari kata “toleran” itu sendiri berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan), pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan sebagainya) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya.Toleransi juga berarti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Dalam bahasa Arab, toleransi biasa disebut “ikhtimal, tasamuh” yang artinya sikap membiarkan, lapang dada (samuha-yasmuhu-samhan, wasimaahan, wasamaahatan) artinya: murah hati, suka berderma (kamus Al Muna-wir hal.702). Jadi, toleransi (tasamuh) beragama adalah menghargai dengan sabar, menghormati keyakinan atau kepercayaan seseorang atau kelompok lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Toleransi (al-samāḥaḥ), menurut terminologi peradaban dan istilah Arab-Islam, mengandung arti: kemurahan hati atau memberi tanpa batasan. Dengan kata lain, toleransi adalah keramahan dan kelemahlembutan dalam setiap hal dan interaksi, tanpa menunggu balasan, imbalan ataupun mengharapkan ganjaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&amp;nbsp;Tasamuh adalah konsep dasar yang di pakai Islam dalam kehidupan antaragama. Yaitu konsep yang jauh dari pemaksaan terhadap orang lain untuk memasuki suatu agama. Islam menjamin kebebasan beraqidah sebelum bangsa-bangsa lain menyerukannya. ”lā ikrāha fi l-ddīn” menjadi pemjamin kebebasan beragama dalam Islam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Didalam konsep Toleransi ini banyak sekali ayat ataupun hadis yang menyerukan umat Islam untuk bertoleransi dengan agama lain. Islam tidak melarang orang muslim untuk saling menolong selama ummat lain selama tidak mengganggu ketentraman ummat Muslim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Kesalahan memahami arti toleransi dapat mengakibatkan talbisul haqbil bathil (mencampuradukan antara hak dan bathil) yakni suatu sikap yang sangat terlarang dilakukan seorang muslim, seperti halnya nikah antar agama yang dijadikan alasan adalah toleransi padahal itu merupakan sikap sinkretisme yang dilarang oleh Islam. Sinkretisme adalah membenarkan semua agama. Sebagaimana yang telah dijelaskan diayat quran dibawah ini, Allah SWT berfirman:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;“ Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”. (QS.Ali Imran: 19)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Dalam melakukan dakwah umat Islam tidak menyebarkannya dengan pedang seperti yang dilansir oleh Barat, akan tetapi Islam tersebar dengan hikmah dan tauladan yang diberikan oleh ummat Muslim saat itu. Umat muslim juga akan memberikan perlindungan kepada ummat tetangganya yang lain agama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Dalam interaksi antara umat Islam dengan penganut agama lain, Islam sangat toleran terhadap ahlu dzimmah karena sesungguhnya mereka berada dalam lindungan Allah dan Rasulnya, sebagaimana sabda rasul ”Barangsiapa yang berlaku dzalim terhadap orang yang telah mengadakan perjanjian damai(ahli dzimmah), dengan meremehkan haknya atau membebaninyadiluar kemampuannya atau bahkan mengambil sesuatu darinyadengan cara yang tidak baik. Maka sesungguhnya aku adalah pembelanya pada hari kiamat kelak”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Islam telah memberi banyak ahli zhimmah berbagai keistimewaan, Islam juga memberika kebebasan kepada mereka untuk menjalankan, mempelajari dan mengamalkan agamanya, bahkan Islam mengijinkan melakukan apa yang diharamkan Islam tetapi halal bagi mereka, seperti makan daging babi dan minum arak. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Contoh Rosullah saat bertasamuh : Rasulullah yang pada masa kedudukan Islam sudah kuat di Madinah, tidak serta merta berbuat seenaknya terhadap agama lain. Perjanjian yang dilakukan dengan Yahudi di Madinah, menunjukkan keadilan tindakan Rasulullah waktu itu. Selain agama samawi, agama lain seperti Majusi yang banyak tersebar di Jazirah Arab dapat hidup tentram dengan tanpa pindah agama, dan bebas menjalankan Ibadahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;ahlu dzimmah atau biasa dikenal juga dengan kafir dzimmi, adalah setiap orang yang tidak beragama Islam dan menjadi rakyat (warga negara) Daulah Khilafah Islamiyah. Dan biasanya Daulah Islamiyah mempunyai akad dzimmah (perjanjian) dengan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Islam mengajarkan agar para pemeluknya selalu bersatu dan tidak bercerai berai,selalu hidup dalam damai dan penuh kasih sayang, bila terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat segeralah selesaikan dengan sebaik-baiknya. Bahkan terhadap pemeluk agama lainpun Islam memerintahkan umatnya untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif; text-align: justify;"&gt;&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
PANDANGAN ISLAM MENGENAI KERUKUNAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell, serif; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Dalam ajaran Islam kehidupan masyarakat tidak selalu hanya dapat diharapkan &amp;nbsp;dalam kalangan masyarakat muslim. Islam dapat diaplikasikan dalam masyarakat manapun.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&amp;nbsp;Jika ia tidak ingin masuk Islam, tidak ada paksaan dan dalam bidang sosial ia tetap diterima dan menikmati segala macam hak kecuali yang merugikan umat Islam.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Hubungan antara muslim dengan penganut agama lain tidak dilarang oleh syariat Islam,kecuali bekerja sama dalam persoalan aqidah dan ibadah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Kerja sama antar umat bergama merupakan bagian dari hubungan sosial anatar manusia yang tidak dilarang dalam ajaran Islam.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;KERUKUNAN UMAT BERAGAMA ISLAM&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Rukun, hidup bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat” untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Untuk terciptanya kehidupan yang rukun, damai dan sejahtera, Islam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk semata beribadah kepada Allah SWT. Melainkan Islam justru sangat menekankan umatnya untuk membina dan menjalin silaturahmi yang baik dengan tetangga dan lingkungannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Islam adalah agama yang universal artinya rahmatan lil alamin. Umat Islam yang sangat menginginkan hidupnya mendapatkan ridha Allah SWT selalu namanya berpegang dengan ajaran Islam, dimana hubungan secara vertical kepada Allah senantiasa harus dibina tetapi karena manusia mahluk social maka dia harus membina hidup bermasyarakat artinya berhubungan dengan tetangga secara baik .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Islam sangat menjunjung tinggi silaturahmi dan cara memuliakan tetangga. Hal ini tercantum didalam ayat suci Al-Quran dan hadist, berikut arti dalilnya :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&amp;nbsp;“Tidak beriman seorang diantaramu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Bukhari – Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;“Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui dan maha mendengar”. (QS Al-Hujurat:13)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Dari Abu Hurairah ra. Dia berkata: Rosulullah SAW bersabda: Barang siapa senang diperluas rezekinya diperpanjang umurnya hendaklah bersilaturahmi. HR (Bukhari)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Dari ra dia berkata: Rosulullah SAW Bersabda: Apabila engkau masak kuah, berilah air yang banyak dan perhatikan hak tetanggamu. Riwayat Muslim.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Dari beberapa hadist dan dalil diatas menandakan bahwasannya Rosulullah SAW sangat memuliakan tetangga. Karena dengan kita memuliakan tetangga banyak sekali manfaatnya. Selain itu aplikasi dalam kehidupannya, kebersamaan hidup antara orang-orang Islam dengan non Islam sebenarnya telah dicontohkan oleh Rosulullah ketika beliau dengan para sahabat mengawali hidup di Madinah setelah hijrah. Dimana Rosulullah mengikat perjanjian penduduk Madinah yang terdiri dari orang-orang kafir dan muslim untuk saling membantu dan menjaga keamanan kota Madinah dari gangguan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&amp;nbsp;Manfaat Toleransi Hidup Beragama Dalam Pandangan Islam&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Menghindari Terjadinya Perpecahan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Bersikap toleran merupakan solusi agar tidak terjadi perpecahan dalam mengamalkan agama. Sikap bertoleransi harus menjadi suatu kesadaran pribadi yang selalu dibiasakan dalam wujud interaksi sosial. Toleransi dalam kehidupan beragama menjadi sangat mutlak adanya dengan eksisnya berbagai agama samawi maupun agama ardli dalam kehidupan umat manusia ini. Agama samawi berarti agama langit. Maksudnya agama ini memiliki kitab suci yang diturunkan oleh Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Agama yang termasuk agama samawi adalah: Yahudi (Judaism), Nashrani (Kristen/Katholik) dan Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Agama Ardhy berarti agama bumi. Dalam artian agama ini tidak mempunyai kitab suci dari langit, melainkan hanya memiliki kitab pegangan entah dari mana. Kalau kita teliti lebih dalam, sebenarnya agama ardhy adalah hasil dari kebudayaan yang bermetamorfosis menjadi agama, karena saking fanatiknya kepad kebudayaan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Dalam kaitanya ini Allah telah mengingatkan kepada umat manusia dengan pesan yang bersifat universal, berikut firman Allah SWT:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada -Nya orang yang kembali.”(As-Syuro:13)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Al-Imran:103).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Pesan universal ini merupakan pesan kepada segenap umat manusia tidak terkecuali, yang intinya dalam menjalankan agama harus menjauhi perpecahan antar umat beragama maupun sesama umat beragama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;2. Memperkokoh Silaturahmi dan Menerima Perbedaan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Salah satu wujud dari toleransi hidup beragama adalah menjalin dan memperkokoh tali silaturahmi antarumat beragama dan menjaga hubungan yang baik dengan manusia lainnya. Pada umumnya, manusia tidak dapat menerima perbedaan antara sesamanya, perbedaan dijadikan alasan untuk bertentangan satu sama lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&amp;nbsp;Perbedaan agama merupakan salah satu faktor penyebab utama adanya konflik antar sesama manusia. Merajut hubungan damai antar penganut agama hanya bisa dimungkinkan jika masing-masing pihak menghargai pihak lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&amp;nbsp;Mengembangkan sikap toleransi beragama, bahwa setiap penganut agama boleh menjalankan ajaran dan ritual agamanya dengan bebas dan tanpa tekanan. Oleh karena itu, hendaknya toleransi beragama kita jadikan kekuatan untuk memperkokoh silaturahmi dan menerima adanya perbedaan. Dengan ini, akan terwujud perdamaian, ketentraman, dan kesejahteraan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;C. KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Toleransi dalam beragama bukan berarti kita harus hidup dalam ajaran agama lain.Namun toleransi dalam beragama yang dimaksudkan disini adalah meng- hormati agama lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Dalam bertoleransi janganlah kita berlebih-lebihan sehingga sikap dan tingkah laku kita mengganggu hak-hak dan kepentingan orang lain. Lebih baik toleransi itu kita terapkan dengan sewajarnya. Jangan sampai toleransi itu menyinggung perasaan orang lain. Toleransi juga hendaknya jangan sampai merugikan kita, contohnya ibadah dan pekerjaan kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Begitulah Islam bertoleransi dengan agama lain. Sebagai umat yang baik kita harus berusaha mencerminkan kelakuan kita seperti yang diajarkan oleh agama yang kita anut. Semua agama mengajarkan kebaikan, akan tetapi ummatnyalah yang senantiasa kurang menghayati dengan betul ajaran-ajaran agamanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Inilah perbedaan mendasar antara Islam dan Barat. Barat selalu memandang Islam dengan penuh kebencian. Barat merasa peradaban nya lah yang paling benar. Merasa hanya peradaban Barat yang punya kekuatan. Peradaban lain selain Barat harus dilenyapkan dari muka bumi ini. Berbeda dengan Islam yang toleransi terhadap peradaban lain. Menganggap peradaban lain sebagai sesama saudara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Agama samawi : berarti agama langit. Maksudnya agama ini memiliki kitab suci yang diturunkan oleh Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Agama Ardhy : berarti agama bumi. Dalam artian agama ini tidak mempunyai kitab suci dari langit, melainkan hanya memiliki kitab pegangan entah dari mana. Kalau kita teliti lebih dalam, sebenarnya agama ardhy adalah hasil dari kebudayaan yang bermetamorfosis menjadi agama, karena saking fanatiknya kepada kebudayaan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;Daulah islamiyah : Dalam al-Quran ditemukan kata dûlah yang memiliki makna yang sama sekali lain.Sama sekali berbeda dengan istilah ‘daulah’. Kata dûlah dalam al-Hasyr (59): 7 lebih condong bermakna monopoli dalam konteks pembagian harta rampasan perang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Rockwell, serif;"&gt;.Dalam ayat tersebut dijelaskan, harta-harta rampasan hendaklah dibagi-bagikan secara adil. Ini supaya tidak hanya beredar (dûlah) di kalangan orang kaya saja.Lantas, kapan istilah ‘daulah’ muncul dan dalam pengertian ‘negara’? Entahlah.Tapi, konon kata ‘daulah’ dalam masyarakat Arab pada mulanya berarti beredar atau berkelilingnya sang raja di wilayah kekuasaannya. Arti ini kemudian bergeser.Pengertiannya berubah menjadi periode atau wilayah yang menunjukkan adanya tanda-tanda kekuasaan.’.Istilah daulah islamiyah(negara islam) juga menjadi sentral.Anehnya lagi, ini mengkristal sedemikian rupa seolah-olah telah menjadi bagian darikeyakinan yang tak boleh digugat. Daulah islamiyah pun menyerupai iman. Ia seakan-akan menjadi ‘pembeda’ siapa yang muslim sejati dan siapa yang setengah hati memegang Islam. Yang tidak meyakini sistem daulah islamiyah adalah yang terbaik,ia dinilai sekuler,menyeleweng, bahkan dianggap berpihak kepada musuh Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://fauzan-islamiyah.blogspot.com/2012/12/toleransi-dan-kerukunan-umat-beragama.html</link><thr:total>0</thr:total><author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</author><enclosure length="10272" type="image/jpeg" url="https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSUYa957TV-dMgiFWFQaZYo2D43xhNvmAVDa3e3mG9qr-lU_SYiqg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Pengertian Toleransi Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Toleransi yang berasal dari kata “toleran” itu sendiri berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan), pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan sebagainya) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya.Toleransi juga berarti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Dalam bahasa Arab, toleransi biasa disebut “ikhtimal, tasamuh” yang artinya sikap membiarkan, lapang dada (samuha-yasmuhu-samhan, wasimaahan, wasamaahatan) artinya: murah hati, suka berderma (kamus Al Muna-wir hal.702). Jadi, toleransi (tasamuh) beragama adalah menghargai dengan sabar, menghormati keyakinan atau kepercayaan seseorang atau kelompok lain. Toleransi (al-samāḥaḥ), menurut terminologi peradaban dan istilah Arab-Islam, mengandung arti: kemurahan hati atau memberi tanpa batasan. Dengan kata lain, toleransi adalah keramahan dan kelemahlembutan dalam setiap hal dan interaksi, tanpa menunggu balasan, imbalan ataupun mengharapkan ganjaran. &amp;nbsp;Tasamuh adalah konsep dasar yang di pakai Islam dalam kehidupan antaragama. Yaitu konsep yang jauh dari pemaksaan terhadap orang lain untuk memasuki suatu agama. Islam menjamin kebebasan beraqidah sebelum bangsa-bangsa lain menyerukannya. ”lā ikrāha fi l-ddīn” menjadi pemjamin kebebasan beragama dalam Islam.&amp;nbsp; Didalam konsep Toleransi ini banyak sekali ayat ataupun hadis yang menyerukan umat Islam untuk bertoleransi dengan agama lain. Islam tidak melarang orang muslim untuk saling menolong selama ummat lain selama tidak mengganggu ketentraman ummat Muslim. Kesalahan memahami arti toleransi dapat mengakibatkan talbisul haqbil bathil (mencampuradukan antara hak dan bathil) yakni suatu sikap yang sangat terlarang dilakukan seorang muslim, seperti halnya nikah antar agama yang dijadikan alasan adalah toleransi padahal itu merupakan sikap sinkretisme yang dilarang oleh Islam. Sinkretisme adalah membenarkan semua agama. Sebagaimana yang telah dijelaskan diayat quran dibawah ini, Allah SWT berfirman: “ Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”. (QS.Ali Imran: 19) Dalam melakukan dakwah umat Islam tidak menyebarkannya dengan pedang seperti yang dilansir oleh Barat, akan tetapi Islam tersebar dengan hikmah dan tauladan yang diberikan oleh ummat Muslim saat itu. Umat muslim juga akan memberikan perlindungan kepada ummat tetangganya yang lain agama. Dalam interaksi antara umat Islam dengan penganut agama lain, Islam sangat toleran terhadap ahlu dzimmah karena sesungguhnya mereka berada dalam lindungan Allah dan Rasulnya, sebagaimana sabda rasul ”Barangsiapa yang berlaku dzalim terhadap orang yang telah mengadakan perjanjian damai(ahli dzimmah), dengan meremehkan haknya atau membebaninyadiluar kemampuannya atau bahkan mengambil sesuatu darinyadengan cara yang tidak baik. Maka sesungguhnya aku adalah pembelanya pada hari kiamat kelak”. Islam telah memberi banyak ahli zhimmah berbagai keistimewaan, Islam juga memberika kebebasan kepada mereka untuk menjalankan, mempelajari dan mengamalkan agamanya, bahkan Islam mengijinkan melakukan apa yang diharamkan Islam tetapi halal bagi mereka, seperti makan daging babi dan minum arak. &amp;nbsp; Contoh Rosullah saat bertasamuh : Rasulullah yang pada masa kedudukan Islam sudah kuat di Madinah, tidak serta merta berbuat seenaknya terhadap agama lain. Perjanjian yang dilakukan dengan Yahudi di Madinah, menunjukkan keadilan tindakan Rasulullah waktu itu. Selain agama samawi, agama lain seperti Majusi yang banyak tersebar di Jazirah Arab dapat hidup tentram dengan tanpa pindah agama, dan bebas menjalankan Ibadahnya. ahlu dzimmah atau biasa dikenal juga dengan kafir dzimmi, adalah setiap orang yang tidak beragama Islam dan menjadi rakyat (warga negara) Daulah Khilafah Islamiyah. Dan biasanya Daulah Islamiyah mempunyai akad dzimmah (perjanjian) dengan mereka. Islam mengajarkan agar para pemeluknya selalu bersatu dan tidak bercerai berai,selalu hidup dalam damai dan penuh kasih sayang, bila terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat segeralah selesaikan dengan sebaik-baiknya. Bahkan terhadap pemeluk agama lainpun Islam memerintahkan umatnya untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain. PANDANGAN ISLAM MENGENAI KERUKUNAN &amp;nbsp; KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA Dalam ajaran Islam kehidupan masyarakat tidak selalu hanya dapat diharapkan &amp;nbsp;dalam kalangan masyarakat muslim. Islam dapat diaplikasikan dalam masyarakat manapun. &amp;nbsp;Jika ia tidak ingin masuk Islam, tidak ada paksaan dan dalam bidang sosial ia tetap diterima dan menikmati segala macam hak kecuali yang merugikan umat Islam. Hubungan antara muslim dengan penganut agama lain tidak dilarang oleh syariat Islam,kecuali bekerja sama dalam persoalan aqidah dan ibadah. Kerja sama antar umat bergama merupakan bagian dari hubungan sosial anatar manusia yang tidak dilarang dalam ajaran Islam. KERUKUNAN UMAT BERAGAMA ISLAM Rukun, hidup bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat” untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran. Untuk terciptanya kehidupan yang rukun, damai dan sejahtera, Islam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk semata beribadah kepada Allah SWT. Melainkan Islam justru sangat menekankan umatnya untuk membina dan menjalin silaturahmi yang baik dengan tetangga dan lingkungannya. Islam adalah agama yang universal artinya rahmatan lil alamin. Umat Islam yang sangat menginginkan hidupnya mendapatkan ridha Allah SWT selalu namanya berpegang dengan ajaran Islam, dimana hubungan secara vertical kepada Allah senantiasa harus dibina tetapi karena manusia mahluk social maka dia harus membina hidup bermasyarakat artinya berhubungan dengan tetangga secara baik . Islam sangat menjunjung tinggi silaturahmi dan cara memuliakan tetangga. Hal ini tercantum didalam ayat suci Al-Quran dan hadist, berikut arti dalilnya : &amp;nbsp;“Tidak beriman seorang diantaramu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Bukhari – Muslim) . “Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui dan maha mendengar”. (QS Al-Hujurat:13) Dari Abu Hurairah ra. Dia berkata: Rosulullah SAW bersabda: Barang siapa senang diperluas rezekinya diperpanjang umurnya hendaklah bersilaturahmi. HR (Bukhari) Dari ra dia berkata: Rosulullah SAW Bersabda: Apabila engkau masak kuah, berilah air yang banyak dan perhatikan hak tetanggamu. Riwayat Muslim. Dari beberapa hadist dan dalil diatas menandakan bahwasannya Rosulullah SAW sangat memuliakan tetangga. Karena dengan kita memuliakan tetangga banyak sekali manfaatnya. Selain itu aplikasi dalam kehidupannya, kebersamaan hidup antara orang-orang Islam dengan non Islam sebenarnya telah dicontohkan oleh Rosulullah ketika beliau dengan para sahabat mengawali hidup di Madinah setelah hijrah. Dimana Rosulullah mengikat perjanjian penduduk Madinah yang terdiri dari orang-orang kafir dan muslim untuk saling membantu dan menjaga keamanan kota Madinah dari gangguan. &amp;nbsp;Manfaat Toleransi Hidup Beragama Dalam Pandangan Islam 1.Menghindari Terjadinya Perpecahan Bersikap toleran merupakan solusi agar tidak terjadi perpecahan dalam mengamalkan agama. Sikap bertoleransi harus menjadi suatu kesadaran pribadi yang selalu dibiasakan dalam wujud interaksi sosial. Toleransi dalam kehidupan beragama menjadi sangat mutlak adanya dengan eksisnya berbagai agama samawi maupun agama ardli dalam kehidupan umat manusia ini. Agama samawi berarti agama langit. Maksudnya agama ini memiliki kitab suci yang diturunkan oleh Tuhan. Agama yang termasuk agama samawi adalah: Yahudi (Judaism), Nashrani (Kristen/Katholik) dan Islam. Agama Ardhy berarti agama bumi. Dalam artian agama ini tidak mempunyai kitab suci dari langit, melainkan hanya memiliki kitab pegangan entah dari mana. Kalau kita teliti lebih dalam, sebenarnya agama ardhy adalah hasil dari kebudayaan yang bermetamorfosis menjadi agama, karena saking fanatiknya kepad kebudayaan tersebut. Dalam kaitanya ini Allah telah mengingatkan kepada umat manusia dengan pesan yang bersifat universal, berikut firman Allah SWT: “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada -Nya orang yang kembali.”(As-Syuro:13) ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Al-Imran:103). Pesan universal ini merupakan pesan kepada segenap umat manusia tidak terkecuali, yang intinya dalam menjalankan agama harus menjauhi perpecahan antar umat beragama maupun sesama umat beragama. 2. Memperkokoh Silaturahmi dan Menerima Perbedaan Salah satu wujud dari toleransi hidup beragama adalah menjalin dan memperkokoh tali silaturahmi antarumat beragama dan menjaga hubungan yang baik dengan manusia lainnya. Pada umumnya, manusia tidak dapat menerima perbedaan antara sesamanya, perbedaan dijadikan alasan untuk bertentangan satu sama lainnya. &amp;nbsp;Perbedaan agama merupakan salah satu faktor penyebab utama adanya konflik antar sesama manusia. Merajut hubungan damai antar penganut agama hanya bisa dimungkinkan jika masing-masing pihak menghargai pihak lain. &amp;nbsp;Mengembangkan sikap toleransi beragama, bahwa setiap penganut agama boleh menjalankan ajaran dan ritual agamanya dengan bebas dan tanpa tekanan. Oleh karena itu, hendaknya toleransi beragama kita jadikan kekuatan untuk memperkokoh silaturahmi dan menerima adanya perbedaan. Dengan ini, akan terwujud perdamaian, ketentraman, dan kesejahteraan. C. KESIMPULAN Toleransi dalam beragama bukan berarti kita harus hidup dalam ajaran agama lain.Namun toleransi dalam beragama yang dimaksudkan disini adalah meng- hormati agama lain. Dalam bertoleransi janganlah kita berlebih-lebihan sehingga sikap dan tingkah laku kita mengganggu hak-hak dan kepentingan orang lain. Lebih baik toleransi itu kita terapkan dengan sewajarnya. Jangan sampai toleransi itu menyinggung perasaan orang lain. Toleransi juga hendaknya jangan sampai merugikan kita, contohnya ibadah dan pekerjaan kita. Begitulah Islam bertoleransi dengan agama lain. Sebagai umat yang baik kita harus berusaha mencerminkan kelakuan kita seperti yang diajarkan oleh agama yang kita anut. Semua agama mengajarkan kebaikan, akan tetapi ummatnyalah yang senantiasa kurang menghayati dengan betul ajaran-ajaran agamanya. Inilah perbedaan mendasar antara Islam dan Barat. Barat selalu memandang Islam dengan penuh kebencian. Barat merasa peradaban nya lah yang paling benar. Merasa hanya peradaban Barat yang punya kekuatan. Peradaban lain selain Barat harus dilenyapkan dari muka bumi ini. Berbeda dengan Islam yang toleransi terhadap peradaban lain. Menganggap peradaban lain sebagai sesama saudara. Catatan: Agama samawi : berarti agama langit. Maksudnya agama ini memiliki kitab suci yang diturunkan oleh Tuhan. Agama Ardhy : berarti agama bumi. Dalam artian agama ini tidak mempunyai kitab suci dari langit, melainkan hanya memiliki kitab pegangan entah dari mana. Kalau kita teliti lebih dalam, sebenarnya agama ardhy adalah hasil dari kebudayaan yang bermetamorfosis menjadi agama, karena saking fanatiknya kepada kebudayaan tersebut. Daulah islamiyah : Dalam al-Quran ditemukan kata dûlah yang memiliki makna yang sama sekali lain.Sama sekali berbeda dengan istilah ‘daulah’. Kata dûlah dalam al-Hasyr (59): 7 lebih condong bermakna monopoli dalam konteks pembagian harta rampasan perang .Dalam ayat tersebut dijelaskan, harta-harta rampasan hendaklah dibagi-bagikan secara adil. Ini supaya tidak hanya beredar (dûlah) di kalangan orang kaya saja.Lantas, kapan istilah ‘daulah’ muncul dan dalam pengertian ‘negara’? Entahlah.Tapi, konon kata ‘daulah’ dalam masyarakat Arab pada mulanya berarti beredar atau berkelilingnya sang raja di wilayah kekuasaannya. Arti ini kemudian bergeser.Pengertiannya berubah menjadi periode atau wilayah yang menunjukkan adanya tanda-tanda kekuasaan.’.Istilah daulah islamiyah(negara islam) juga menjadi sentral.Anehnya lagi, ini mengkristal sedemikian rupa seolah-olah telah menjadi bagian darikeyakinan yang tak boleh digugat. Daulah islamiyah pun menyerupai iman. Ia seakan-akan menjadi ‘pembeda’ siapa yang muslim sejati dan siapa yang setengah hati memegang Islam. Yang tidak meyakini sistem daulah islamiyah adalah yang terbaik,ia dinilai sekuler,menyeleweng, bahkan dianggap berpihak kepada musuh Islam.</itunes:subtitle><itunes:author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Pengertian Toleransi Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Toleransi yang berasal dari kata “toleran” itu sendiri berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan), pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan sebagainya) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya.Toleransi juga berarti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Dalam bahasa Arab, toleransi biasa disebut “ikhtimal, tasamuh” yang artinya sikap membiarkan, lapang dada (samuha-yasmuhu-samhan, wasimaahan, wasamaahatan) artinya: murah hati, suka berderma (kamus Al Muna-wir hal.702). Jadi, toleransi (tasamuh) beragama adalah menghargai dengan sabar, menghormati keyakinan atau kepercayaan seseorang atau kelompok lain. Toleransi (al-samāḥaḥ), menurut terminologi peradaban dan istilah Arab-Islam, mengandung arti: kemurahan hati atau memberi tanpa batasan. Dengan kata lain, toleransi adalah keramahan dan kelemahlembutan dalam setiap hal dan interaksi, tanpa menunggu balasan, imbalan ataupun mengharapkan ganjaran. &amp;nbsp;Tasamuh adalah konsep dasar yang di pakai Islam dalam kehidupan antaragama. Yaitu konsep yang jauh dari pemaksaan terhadap orang lain untuk memasuki suatu agama. Islam menjamin kebebasan beraqidah sebelum bangsa-bangsa lain menyerukannya. ”lā ikrāha fi l-ddīn” menjadi pemjamin kebebasan beragama dalam Islam.&amp;nbsp; Didalam konsep Toleransi ini banyak sekali ayat ataupun hadis yang menyerukan umat Islam untuk bertoleransi dengan agama lain. Islam tidak melarang orang muslim untuk saling menolong selama ummat lain selama tidak mengganggu ketentraman ummat Muslim. Kesalahan memahami arti toleransi dapat mengakibatkan talbisul haqbil bathil (mencampuradukan antara hak dan bathil) yakni suatu sikap yang sangat terlarang dilakukan seorang muslim, seperti halnya nikah antar agama yang dijadikan alasan adalah toleransi padahal itu merupakan sikap sinkretisme yang dilarang oleh Islam. Sinkretisme adalah membenarkan semua agama. Sebagaimana yang telah dijelaskan diayat quran dibawah ini, Allah SWT berfirman: “ Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”. (QS.Ali Imran: 19) Dalam melakukan dakwah umat Islam tidak menyebarkannya dengan pedang seperti yang dilansir oleh Barat, akan tetapi Islam tersebar dengan hikmah dan tauladan yang diberikan oleh ummat Muslim saat itu. Umat muslim juga akan memberikan perlindungan kepada ummat tetangganya yang lain agama. Dalam interaksi antara umat Islam dengan penganut agama lain, Islam sangat toleran terhadap ahlu dzimmah karena sesungguhnya mereka berada dalam lindungan Allah dan Rasulnya, sebagaimana sabda rasul ”Barangsiapa yang berlaku dzalim terhadap orang yang telah mengadakan perjanjian damai(ahli dzimmah), dengan meremehkan haknya atau membebaninyadiluar kemampuannya atau bahkan mengambil sesuatu darinyadengan cara yang tidak baik. Maka sesungguhnya aku adalah pembelanya pada hari kiamat kelak”. Islam telah memberi banyak ahli zhimmah berbagai keistimewaan, Islam juga memberika kebebasan kepada mereka untuk menjalankan, mempelajari dan mengamalkan agamanya, bahkan Islam mengijinkan melakukan apa yang diharamkan Islam tetapi halal bagi mereka, seperti makan daging babi dan minum arak. &amp;nbsp; Contoh Rosullah saat bertasamuh : Rasulullah yang pada masa kedudukan Islam sudah kuat di Madinah, tidak serta merta berbuat seenaknya terhadap agama lain. Perjanjian yang dilakukan dengan Yahudi di Madinah, menunjukkan keadilan tindakan Rasulullah waktu itu. Selain agama samawi, agama lain seperti Majusi yang banyak tersebar di Jazirah Arab dapat hidup tentram dengan tanpa pindah agama, dan bebas menjalankan Ibadahnya. ahlu dzimmah atau biasa dikenal juga dengan kafir dzimmi, adalah setiap orang yang tidak beragama Islam dan menjadi rakyat (warga negara) Daulah Khilafah Islamiyah. Dan biasanya Daulah Islamiyah mempunyai akad dzimmah (perjanjian) dengan mereka. Islam mengajarkan agar para pemeluknya selalu bersatu dan tidak bercerai berai,selalu hidup dalam damai dan penuh kasih sayang, bila terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat segeralah selesaikan dengan sebaik-baiknya. Bahkan terhadap pemeluk agama lainpun Islam memerintahkan umatnya untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain. PANDANGAN ISLAM MENGENAI KERUKUNAN &amp;nbsp; KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA Dalam ajaran Islam kehidupan masyarakat tidak selalu hanya dapat diharapkan &amp;nbsp;dalam kalangan masyarakat muslim. Islam dapat diaplikasikan dalam masyarakat manapun. &amp;nbsp;Jika ia tidak ingin masuk Islam, tidak ada paksaan dan dalam bidang sosial ia tetap diterima dan menikmati segala macam hak kecuali yang merugikan umat Islam. Hubungan antara muslim dengan penganut agama lain tidak dilarang oleh syariat Islam,kecuali bekerja sama dalam persoalan aqidah dan ibadah. Kerja sama antar umat bergama merupakan bagian dari hubungan sosial anatar manusia yang tidak dilarang dalam ajaran Islam. KERUKUNAN UMAT BERAGAMA ISLAM Rukun, hidup bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat” untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran. Untuk terciptanya kehidupan yang rukun, damai dan sejahtera, Islam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk semata beribadah kepada Allah SWT. Melainkan Islam justru sangat menekankan umatnya untuk membina dan menjalin silaturahmi yang baik dengan tetangga dan lingkungannya. Islam adalah agama yang universal artinya rahmatan lil alamin. Umat Islam yang sangat menginginkan hidupnya mendapatkan ridha Allah SWT selalu namanya berpegang dengan ajaran Islam, dimana hubungan secara vertical kepada Allah senantiasa harus dibina tetapi karena manusia mahluk social maka dia harus membina hidup bermasyarakat artinya berhubungan dengan tetangga secara baik . Islam sangat menjunjung tinggi silaturahmi dan cara memuliakan tetangga. Hal ini tercantum didalam ayat suci Al-Quran dan hadist, berikut arti dalilnya : &amp;nbsp;“Tidak beriman seorang diantaramu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Bukhari – Muslim) . “Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui dan maha mendengar”. (QS Al-Hujurat:13) Dari Abu Hurairah ra. Dia berkata: Rosulullah SAW bersabda: Barang siapa senang diperluas rezekinya diperpanjang umurnya hendaklah bersilaturahmi. HR (Bukhari) Dari ra dia berkata: Rosulullah SAW Bersabda: Apabila engkau masak kuah, berilah air yang banyak dan perhatikan hak tetanggamu. Riwayat Muslim. Dari beberapa hadist dan dalil diatas menandakan bahwasannya Rosulullah SAW sangat memuliakan tetangga. Karena dengan kita memuliakan tetangga banyak sekali manfaatnya. Selain itu aplikasi dalam kehidupannya, kebersamaan hidup antara orang-orang Islam dengan non Islam sebenarnya telah dicontohkan oleh Rosulullah ketika beliau dengan para sahabat mengawali hidup di Madinah setelah hijrah. Dimana Rosulullah mengikat perjanjian penduduk Madinah yang terdiri dari orang-orang kafir dan muslim untuk saling membantu dan menjaga keamanan kota Madinah dari gangguan. &amp;nbsp;Manfaat Toleransi Hidup Beragama Dalam Pandangan Islam 1.Menghindari Terjadinya Perpecahan Bersikap toleran merupakan solusi agar tidak terjadi perpecahan dalam mengamalkan agama. Sikap bertoleransi harus menjadi suatu kesadaran pribadi yang selalu dibiasakan dalam wujud interaksi sosial. Toleransi dalam kehidupan beragama menjadi sangat mutlak adanya dengan eksisnya berbagai agama samawi maupun agama ardli dalam kehidupan umat manusia ini. Agama samawi berarti agama langit. Maksudnya agama ini memiliki kitab suci yang diturunkan oleh Tuhan. Agama yang termasuk agama samawi adalah: Yahudi (Judaism), Nashrani (Kristen/Katholik) dan Islam. Agama Ardhy berarti agama bumi. Dalam artian agama ini tidak mempunyai kitab suci dari langit, melainkan hanya memiliki kitab pegangan entah dari mana. Kalau kita teliti lebih dalam, sebenarnya agama ardhy adalah hasil dari kebudayaan yang bermetamorfosis menjadi agama, karena saking fanatiknya kepad kebudayaan tersebut. Dalam kaitanya ini Allah telah mengingatkan kepada umat manusia dengan pesan yang bersifat universal, berikut firman Allah SWT: “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada -Nya orang yang kembali.”(As-Syuro:13) ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Al-Imran:103). Pesan universal ini merupakan pesan kepada segenap umat manusia tidak terkecuali, yang intinya dalam menjalankan agama harus menjauhi perpecahan antar umat beragama maupun sesama umat beragama. 2. Memperkokoh Silaturahmi dan Menerima Perbedaan Salah satu wujud dari toleransi hidup beragama adalah menjalin dan memperkokoh tali silaturahmi antarumat beragama dan menjaga hubungan yang baik dengan manusia lainnya. Pada umumnya, manusia tidak dapat menerima perbedaan antara sesamanya, perbedaan dijadikan alasan untuk bertentangan satu sama lainnya. &amp;nbsp;Perbedaan agama merupakan salah satu faktor penyebab utama adanya konflik antar sesama manusia. Merajut hubungan damai antar penganut agama hanya bisa dimungkinkan jika masing-masing pihak menghargai pihak lain. &amp;nbsp;Mengembangkan sikap toleransi beragama, bahwa setiap penganut agama boleh menjalankan ajaran dan ritual agamanya dengan bebas dan tanpa tekanan. Oleh karena itu, hendaknya toleransi beragama kita jadikan kekuatan untuk memperkokoh silaturahmi dan menerima adanya perbedaan. Dengan ini, akan terwujud perdamaian, ketentraman, dan kesejahteraan. C. KESIMPULAN Toleransi dalam beragama bukan berarti kita harus hidup dalam ajaran agama lain.Namun toleransi dalam beragama yang dimaksudkan disini adalah meng- hormati agama lain. Dalam bertoleransi janganlah kita berlebih-lebihan sehingga sikap dan tingkah laku kita mengganggu hak-hak dan kepentingan orang lain. Lebih baik toleransi itu kita terapkan dengan sewajarnya. Jangan sampai toleransi itu menyinggung perasaan orang lain. Toleransi juga hendaknya jangan sampai merugikan kita, contohnya ibadah dan pekerjaan kita. Begitulah Islam bertoleransi dengan agama lain. Sebagai umat yang baik kita harus berusaha mencerminkan kelakuan kita seperti yang diajarkan oleh agama yang kita anut. Semua agama mengajarkan kebaikan, akan tetapi ummatnyalah yang senantiasa kurang menghayati dengan betul ajaran-ajaran agamanya. Inilah perbedaan mendasar antara Islam dan Barat. Barat selalu memandang Islam dengan penuh kebencian. Barat merasa peradaban nya lah yang paling benar. Merasa hanya peradaban Barat yang punya kekuatan. Peradaban lain selain Barat harus dilenyapkan dari muka bumi ini. Berbeda dengan Islam yang toleransi terhadap peradaban lain. Menganggap peradaban lain sebagai sesama saudara. Catatan: Agama samawi : berarti agama langit. Maksudnya agama ini memiliki kitab suci yang diturunkan oleh Tuhan. Agama Ardhy : berarti agama bumi. Dalam artian agama ini tidak mempunyai kitab suci dari langit, melainkan hanya memiliki kitab pegangan entah dari mana. Kalau kita teliti lebih dalam, sebenarnya agama ardhy adalah hasil dari kebudayaan yang bermetamorfosis menjadi agama, karena saking fanatiknya kepada kebudayaan tersebut. Daulah islamiyah : Dalam al-Quran ditemukan kata dûlah yang memiliki makna yang sama sekali lain.Sama sekali berbeda dengan istilah ‘daulah’. Kata dûlah dalam al-Hasyr (59): 7 lebih condong bermakna monopoli dalam konteks pembagian harta rampasan perang .Dalam ayat tersebut dijelaskan, harta-harta rampasan hendaklah dibagi-bagikan secara adil. Ini supaya tidak hanya beredar (dûlah) di kalangan orang kaya saja.Lantas, kapan istilah ‘daulah’ muncul dan dalam pengertian ‘negara’? Entahlah.Tapi, konon kata ‘daulah’ dalam masyarakat Arab pada mulanya berarti beredar atau berkelilingnya sang raja di wilayah kekuasaannya. Arti ini kemudian bergeser.Pengertiannya berubah menjadi periode atau wilayah yang menunjukkan adanya tanda-tanda kekuasaan.’.Istilah daulah islamiyah(negara islam) juga menjadi sentral.Anehnya lagi, ini mengkristal sedemikian rupa seolah-olah telah menjadi bagian darikeyakinan yang tak boleh digugat. Daulah islamiyah pun menyerupai iman. Ia seakan-akan menjadi ‘pembeda’ siapa yang muslim sejati dan siapa yang setengah hati memegang Islam. Yang tidak meyakini sistem daulah islamiyah adalah yang terbaik,ia dinilai sekuler,menyeleweng, bahkan dianggap berpihak kepada musuh Islam.</itunes:summary><itunes:keywords>islam,info,islam,agama,toleransi,ummat,muslim</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4696748835675997314.post-585830358904896447</guid><pubDate>Sat, 03 Nov 2012 03:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-01-21T20:21:55.828-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Keluarga</category><title>Doa-doa Renunganku</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRw1y7zNDO_Czmv41irP9Rhfn3Ts6ulNaFedlngMDYv_5hY6Y0B" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRw1y7zNDO_Czmv41irP9Rhfn3Ts6ulNaFedlngMDYv_5hY6Y0B" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;YA ALLAH,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Rendahkanlah suaraku bagi mereka,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Perindahlah ucapanku didepan mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Lunakkanlah waktuku terhadap mereka dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Lembutkanlah hatiku untuk mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;YA ALLAH,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Atas didikan mereka padaku dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Pahala yang besar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Atas kesayangan yang mereka limpahkan
padaku,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Peliharalah mereka &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Sebagaimana mereka memeliharaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;YA ALLAH,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Apa saja gangguan yang mereka rasakan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Atau kesusahan yang mereka derita karena
aku,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Atau hilangnya sesuatu hak mereka karena
perbuatanku,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Jadikanlah itu semua &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Meningginya kedudukan mereka dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan
kebaikan berlipat ganda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;YA ALLAH,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Bila &lt;i&gt;magfirah-Mu&lt;/i&gt;
telah mencapai mereka sebelumku,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Izinkanlah mereka member &lt;i&gt;syafa’at &lt;/i&gt;&amp;nbsp;untukku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Tetapi jika &lt;i&gt;magfirah-Mu &lt;/i&gt;lebih dulu mencapai diriku ,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Maka izinkanlah aku member &lt;i&gt;syafa’at &lt;/i&gt;untuk mereka,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Sehingga kami semua berkumpul &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Bersama dengan santunan-Mu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Di tempat kedaimain yang dinaungi
kemulaian-Mu, ampunan-Mu serta rahmat-Mu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Sesungguhnya Engkaulah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Yang memiliki karunia Maha Agung,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Serta anugerah yang tak berakhir dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Engkaulah yang Maha Pengasih diantara semua
Pengasih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border: none; mso-border-bottom-alt: solid windowtext .75pt; mso-element: para-border-div; padding: 0cm 0cm 1.0pt 0cm;"&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border: none; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-border-bottom-alt: solid windowtext .75pt; mso-padding-alt: 0cm 0cm 1.0pt 0cm; padding: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Mari kita merenungkan dosa kepada orang tua
kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa
karena kedurhakaan kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Karena kita telah menghisap tenaganya,
airmatanya dan keringatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Istighfarlah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Barang siapa yang matanya pernah sinis melihat
orangtuanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;b&gt;Atau kata yang sering mengiris melukai hatinya,
atau, yang jarang memperdulikan dan mendoakannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://fauzan-islamiyah.blogspot.com/2012/11/doa-doa-renunganku.html</link><thr:total>0</thr:total><author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</author><enclosure length="5488" type="image/jpeg" url="https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRw1y7zNDO_Czmv41irP9Rhfn3Ts6ulNaFedlngMDYv_5hY6Y0B"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>YA ALLAH, Rendahkanlah suaraku bagi mereka, Perindahlah ucapanku didepan mereka. Lunakkanlah waktuku terhadap mereka dan Lembutkanlah hatiku untuk mereka. YA ALLAH, Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya Atas didikan mereka padaku dan Pahala yang besar Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku, Peliharalah mereka Sebagaimana mereka memeliharaku. YA ALLAH, Apa saja gangguan yang mereka rasakan, Atau kesusahan yang mereka derita karena aku, Atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku, Jadikanlah itu semua Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka, Meningginya kedudukan mereka dan Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan kebaikan berlipat ganda. YA ALLAH, Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku, Izinkanlah mereka member syafa’at &amp;nbsp;untukku. Tetapi jika magfirah-Mu lebih dulu mencapai diriku , Maka izinkanlah aku member syafa’at untuk mereka, Sehingga kami semua berkumpul Bersama dengan santunan-Mu Di tempat kedaimain yang dinaungi kemulaian-Mu, ampunan-Mu serta rahmat-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang memiliki karunia Maha Agung, Serta anugerah yang tak berakhir dan Engkaulah yang Maha Pengasih diantara semua Pengasih. Mari kita merenungkan dosa kepada orang tua kita. Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa karena kedurhakaan kita. Karena kita telah menghisap tenaganya, airmatanya dan keringatnya. Istighfarlah Barang siapa yang matanya pernah sinis melihat orangtuanya. Atau kata yang sering mengiris melukai hatinya, atau, yang jarang memperdulikan dan mendoakannya.</itunes:subtitle><itunes:author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>YA ALLAH, Rendahkanlah suaraku bagi mereka, Perindahlah ucapanku didepan mereka. Lunakkanlah waktuku terhadap mereka dan Lembutkanlah hatiku untuk mereka. YA ALLAH, Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya Atas didikan mereka padaku dan Pahala yang besar Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku, Peliharalah mereka Sebagaimana mereka memeliharaku. YA ALLAH, Apa saja gangguan yang mereka rasakan, Atau kesusahan yang mereka derita karena aku, Atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku, Jadikanlah itu semua Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka, Meningginya kedudukan mereka dan Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan kebaikan berlipat ganda. YA ALLAH, Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku, Izinkanlah mereka member syafa’at &amp;nbsp;untukku. Tetapi jika magfirah-Mu lebih dulu mencapai diriku , Maka izinkanlah aku member syafa’at untuk mereka, Sehingga kami semua berkumpul Bersama dengan santunan-Mu Di tempat kedaimain yang dinaungi kemulaian-Mu, ampunan-Mu serta rahmat-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang memiliki karunia Maha Agung, Serta anugerah yang tak berakhir dan Engkaulah yang Maha Pengasih diantara semua Pengasih. Mari kita merenungkan dosa kepada orang tua kita. Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa karena kedurhakaan kita. Karena kita telah menghisap tenaganya, airmatanya dan keringatnya. Istighfarlah Barang siapa yang matanya pernah sinis melihat orangtuanya. Atau kata yang sering mengiris melukai hatinya, atau, yang jarang memperdulikan dan mendoakannya.</itunes:summary><itunes:keywords>islam,info,islam,agama,toleransi,ummat,muslim</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4696748835675997314.post-6092434280504573078</guid><pubDate>Sat, 03 Nov 2012 02:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-02-01T06:10:04.489-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agama</category><title>Balas Penghormatan Orang Lain</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" style="text-align: center; text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
Apabila anda diberi
hormat, balaslah dengan hormat yang lebih baik. Apabila tangan bantuan
diulurkan kepada anda, Buatlah kebaikan yang lebih baik sebagai balasan,
kendati keutamannya tetap berada pada si pemula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Allah
Maha Mulia, sebagai hamba-Nya yang baik, kita kita harus bersikap lebih baik
kepada Allah. Sebab, jika Allah sudah mencitai hamba-Nya, maka cinta itu akan
Dia &lt;i&gt;ekspose &lt;/i&gt;Kepada penduduk langit dan
bumi;di dunia dan di akhirat. &lt;b&gt;“&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Dan barang siapa yang dihinakan Allah ,
maka tak seorangpun yang sanggup memuliakannya,”(QS. Al-Hajj [22]: 18). “ Yang
demikian itu (sebagai ) suatu penghinaan untuk mereka di dunia dan di akhirat
mereka beroleh siksaan yang besar,”(QS. Al-baqarah [2]: 61).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;b&gt;Nabi
SAW bersabda. “suatu aib seorang hamba yang ditutupi Allah di dunia, niscaya
akan ditutupi Allah juga pada hari kiamat,”(HR Muslim).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;
dalam
riwayat Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. Bersabda, “Sesungguhnya, apabila
Allah ‘Azza wa Jalla mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril a.s. seraya
berfirman, ‘&lt;i&gt;Sesungguhnya aku mencintai si
fulan, maka cintailah ia!’&lt;/i&gt; Lalu Jibril mencintainya. Setelah itu, Jibril
mengumumkan di langit, ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mencintai si Fulan,
maka cintailah ia!’ Kemudian penduduk langit mencintainya. Cinta kasih itu
sampai juga ke bumi. Dan apabila Allah membenci seorang hamba. Dia memanggil
Jibril a.s. seraya berfirman, ‘Sesungguhnya aku membenci si Fulan, maka
bencilah ia!’ Lalu Jibril berseru kepada penduduk langit, “Sesungguhnya Allah
membenci si Fulan, maka bencilah ia!’. Lalu mereka juga membencinya sehingga
penduduk bumi membencinya,”(HR Muslim).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Prinsip dalam nama Allah &lt;i&gt;Al-majid &lt;/i&gt;ini meniscayakan kita hidup
semata-mata mencintai Allah dan Rasul-Nya. Kita tidak usah mencari-cari pujian
dengan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Kita tidak
usah membuka aib orang lain, sebab kita sendiri sebenarnya penuh dengan aib,
hanya saja Allah menutupi aib kita. Untuk itu, jangan sampai kita membuka aib
orang lain. Sebagai evaluasi dirisumber kearifan kita. Sabda Rasulullah, “&lt;b&gt;barang siapa yang menutupi aib orang lain
di dunia, niscaya allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat,” (HR Muslim).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;Kita tidak tahu persis apakah orang kita hina itu, memang
benar-benar hina di mata Allah? Atau sebaliknya, apakah kita yang menganggap
diri ini mulia memang benar-benar di hadapan-Nya ?? Boleh jadi, kitalah yang
sebenarnya menipu diri sendiri,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;
Namun kita
tidak menyadarinya. Itulah sebabnya, Ibnu ‘Atha’illah dalam &lt;i&gt;Al-Hikam&lt;/i&gt;-nya Mengatakan, “ &lt;b&gt;Orang beriman itu apabila mendapat punjian,
ia malu kepada Allah, atas pujian yang diterimanya, lebih-lebih bila sifa-sifat
yang dimaksud tidak dimilikinya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;Ali Bin Abi Thalib mengatakan,” diberkatilah orang yang
merendahkan darinya, rejekinya suci, kebiasaannya saleh, membelanjakan hartanya
dijalan Allah, mencegah lidahnya dari kebusukan, menjaga manusia agar aman dari
kejahatannya, senang akan sunah dan tidak berbuat &lt;i&gt;bid’ah&lt;/i&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://fauzan-islamiyah.blogspot.com/2012/11/balas-penghormatan-orang-lain.html</link><thr:total>0</thr:total><author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4696748835675997314.post-3327664542264984700</guid><pubDate>Tue, 17 Jul 2012 07:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-02-01T06:10:33.210-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agama</category><title>Onta Itu Mengadu Kepada Rasulullah</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span lang="SV"&gt;Suatu hari untuk suatu tujuan Rasulullah keluar rumah dengan menunggangi untanya. &lt;/span&gt;Abdullah bin Ja’far ikut membonceng di belakang. Ketika mereka sampai di pagar salah salah seorang kalangan Anshar, tiba-tiba terdengar lenguhan seekor unta.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT3gGGGXmAvT625zFUhcjAPGplGzoSUEZAElZdR-BXMuW-ObLMS" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT3gGGGXmAvT625zFUhcjAPGplGzoSUEZAElZdR-BXMuW-ObLMS" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI"&gt;Unta itu menjulurkan lehernya ke arah Rasulullah saw. Ia merintih. Air matanya jatuh berderai. Rasulullah saw. mendatanginya. Beliau mengusap belakang telinga unta itu. Unta itu pun tenang. Diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI"&gt;Kemudian dengan wajah penuh kemarahan, Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah pemilik unta ini, siapakah pemilik unta ini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV"&gt;Pemiliknya pun bergegas datang. Ternyata, ia seorang pemuda Anshar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI"&gt;“Itu adalah milikku, ya Rasulullah,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI"&gt;Rasulullah saw. berkata, “Tidakkah engkau takut kepada Allah karena unta yang Allah peruntukkan kepadamu ini? Ketahuilah, ia telah mengadukan nasibnya kepadaku, bahwa engkau membuatnya kelaparan dan kelelahan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI"&gt;Subhanallah! Unta itu ternyata mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa tuannya tidak memberinya makan yang cukup sementara tenaganya diperas habis dengan pekerjaan yang sangat berat. Kisah ini bersumber dari hadits nomor 2186 yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Kitab &lt;em&gt;Jihad&lt;/em&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI"&gt;Bagaimana jika yang mengadu adalah seorang pekerja yang gajinya tidak dibayar sehingga tidak bisa membeli makanan untuk keluarganya, sementara tenaganya sudah habis dipakai oleh orang yang mempekerjakannya? Pasti Rasulullah saw. lebih murka lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI"&gt;Di kali yang lain, Abdullah bin Umar menceritakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seorang wanita disiksa karena menahan seekor kucing sehingga membuatnya mati kelaparan, wanita itupun masuk neraka.” Kemudian Allah berfirman –Allah Mahatahu—kepadanya, “Kamu tidak memberinya makan, tidak juga memberinya minum saat ia kamu pelihara; juga engkau tidak membiarkannya pergi agar ia dapat mencari makanan sendiri dari bumi ini.” (HR. Bukhari, kitab Masafah, hadits nomor 2192).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI"&gt;Yang ini cerita Amir Ar-Raam. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ia dan beberapa sahabat sedang bersama Rasulullah saw. “Tiba-tiba seorang lelaki mendatangi kami,” kata Amir Ar-Raam. Lelaki itu dengan kain di atas kepadanya dan di tangannya terdapat sesuatu yang ia genggam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV"&gt;Lelaki itu berkata, “Ya Rasulullah, saya segera mendatangimu saat melihatmu. Ketika berjalan di bawah pepohonan yang rimbun, saya mendengar kicauan anak burung, saya segera mengambilnya dan meletakkannya di dalam pakaianku. Tiba-tiba induknya datang dan segera terbang berputar di atas kepalaku. Saya lalu menyingkap kain yang menutupi anak-anak burung itu, induknya segera mendatangi anak-anaknya di dalam pakaianku, sehingga mereka sekarang ada bersamaku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI"&gt;Rasulullah saw. berkata kepada lekaki itu, “Letakkan mereka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI"&gt;Kemudian anak-anak burung itu diletakan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Namun, induknya enggan meninggalkan anak-anaknya dan tetap menemani mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV"&gt;“Apakah kalian heran menyaksikan kasih sayang induk burung itu terhadap anak-anaknya?” tanya Rasulullah saw. kepada para sahabat yang ada waktu itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Benar, ya Rasulullah,” jawab para sahabat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Ketahuilah,” kata Rasulullah saw. “Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, sesungguhnya Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya melebihi induk burung itu kepada anak-anaknya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Kembalikanlah burung-burung itu ke tempat di mana engkau menemukannya, bersama dengan induknya,” perintah Rasulullah. Lelaki yang menemukan burung itupun segera mengembalikan burung-burung itu ke tempat semula.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Begitulah Akhlak terhadap hewan yang diajarkan Rasulullah saw. Bahkan, membunuh hewan tanpa alasan yang hak, Rasulullah menggolongkan suatu kezhaliman. Kabar ini datang dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seekor burung tanpa hak, niscaya Allah akan menanyakannya pada hari Kiamat.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah hak burung tersebut?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beliau menjawab, “Menyembelihnya, dan tidak mengambil lehernya lalu mematahkannya.” (HR. Ahmad, hadits nomor 6264)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika kepada hewan saja kita memenuhi hak-haknya, apalagi kepada manusia. Adakah hak-hak orang lain yang belum kita tunaikan? &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://fauzan-islamiyah.blogspot.com/2012/07/onta-itu-mengadu-kepada-rasulullah.html</link><thr:total>0</thr:total><author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</author><enclosure length="4950" type="image/jpeg" url="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT3gGGGXmAvT625zFUhcjAPGplGzoSUEZAElZdR-BXMuW-ObLMS"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Suatu hari untuk suatu tujuan Rasulullah keluar rumah dengan menunggangi untanya. Abdullah bin Ja’far ikut membonceng di belakang. Ketika mereka sampai di pagar salah salah seorang kalangan Anshar, tiba-tiba terdengar lenguhan seekor unta. Unta itu menjulurkan lehernya ke arah Rasulullah saw. Ia merintih. Air matanya jatuh berderai. Rasulullah saw. mendatanginya. Beliau mengusap belakang telinga unta itu. Unta itu pun tenang. Diam. Kemudian dengan wajah penuh kemarahan, Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah pemilik unta ini, siapakah pemilik unta ini?” Pemiliknya pun bergegas datang. Ternyata, ia seorang pemuda Anshar. “Itu adalah milikku, ya Rasulullah,” katanya. Rasulullah saw. berkata, “Tidakkah engkau takut kepada Allah karena unta yang Allah peruntukkan kepadamu ini? Ketahuilah, ia telah mengadukan nasibnya kepadaku, bahwa engkau membuatnya kelaparan dan kelelahan.” Subhanallah! Unta itu ternyata mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa tuannya tidak memberinya makan yang cukup sementara tenaganya diperas habis dengan pekerjaan yang sangat berat. Kisah ini bersumber dari hadits nomor 2186 yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Kitab Jihad. Bagaimana jika yang mengadu adalah seorang pekerja yang gajinya tidak dibayar sehingga tidak bisa membeli makanan untuk keluarganya, sementara tenaganya sudah habis dipakai oleh orang yang mempekerjakannya? Pasti Rasulullah saw. lebih murka lagi. Di kali yang lain, Abdullah bin Umar menceritakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seorang wanita disiksa karena menahan seekor kucing sehingga membuatnya mati kelaparan, wanita itupun masuk neraka.” Kemudian Allah berfirman –Allah Mahatahu—kepadanya, “Kamu tidak memberinya makan, tidak juga memberinya minum saat ia kamu pelihara; juga engkau tidak membiarkannya pergi agar ia dapat mencari makanan sendiri dari bumi ini.” (HR. Bukhari, kitab Masafah, hadits nomor 2192). Yang ini cerita Amir Ar-Raam. Ia dan beberapa sahabat sedang bersama Rasulullah saw. “Tiba-tiba seorang lelaki mendatangi kami,” kata Amir Ar-Raam. Lelaki itu dengan kain di atas kepadanya dan di tangannya terdapat sesuatu yang ia genggam. Lelaki itu berkata, “Ya Rasulullah, saya segera mendatangimu saat melihatmu. Ketika berjalan di bawah pepohonan yang rimbun, saya mendengar kicauan anak burung, saya segera mengambilnya dan meletakkannya di dalam pakaianku. Tiba-tiba induknya datang dan segera terbang berputar di atas kepalaku. Saya lalu menyingkap kain yang menutupi anak-anak burung itu, induknya segera mendatangi anak-anaknya di dalam pakaianku, sehingga mereka sekarang ada bersamaku.” Rasulullah saw. berkata kepada lekaki itu, “Letakkan mereka.” Kemudian anak-anak burung itu diletakan. Namun, induknya enggan meninggalkan anak-anaknya dan tetap menemani mereka. “Apakah kalian heran menyaksikan kasih sayang induk burung itu terhadap anak-anaknya?” tanya Rasulullah saw. kepada para sahabat yang ada waktu itu. “Benar, ya Rasulullah,” jawab para sahabat. “Ketahuilah,” kata Rasulullah saw. “Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, sesungguhnya Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya melebihi induk burung itu kepada anak-anaknya.” “Kembalikanlah burung-burung itu ke tempat di mana engkau menemukannya, bersama dengan induknya,” perintah Rasulullah. Lelaki yang menemukan burung itupun segera mengembalikan burung-burung itu ke tempat semula. Begitulah Akhlak terhadap hewan yang diajarkan Rasulullah saw. Bahkan, membunuh hewan tanpa alasan yang hak, Rasulullah menggolongkan suatu kezhaliman. Kabar ini datang dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seekor burung tanpa hak, niscaya Allah akan menanyakannya pada hari Kiamat.” Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah hak burung tersebut?” Beliau menjawab, “Menyembelihnya, dan tidak mengambil lehernya lalu mematahkannya.” (HR. Ahmad, hadits nomor 6264) Jika kepada hewan saja kita memenuhi hak-haknya, apalagi kepada manusia. Adakah hak-hak orang lain yang belum kita tunaikan?</itunes:subtitle><itunes:author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Suatu hari untuk suatu tujuan Rasulullah keluar rumah dengan menunggangi untanya. Abdullah bin Ja’far ikut membonceng di belakang. Ketika mereka sampai di pagar salah salah seorang kalangan Anshar, tiba-tiba terdengar lenguhan seekor unta. Unta itu menjulurkan lehernya ke arah Rasulullah saw. Ia merintih. Air matanya jatuh berderai. Rasulullah saw. mendatanginya. Beliau mengusap belakang telinga unta itu. Unta itu pun tenang. Diam. Kemudian dengan wajah penuh kemarahan, Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah pemilik unta ini, siapakah pemilik unta ini?” Pemiliknya pun bergegas datang. Ternyata, ia seorang pemuda Anshar. “Itu adalah milikku, ya Rasulullah,” katanya. Rasulullah saw. berkata, “Tidakkah engkau takut kepada Allah karena unta yang Allah peruntukkan kepadamu ini? Ketahuilah, ia telah mengadukan nasibnya kepadaku, bahwa engkau membuatnya kelaparan dan kelelahan.” Subhanallah! Unta itu ternyata mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa tuannya tidak memberinya makan yang cukup sementara tenaganya diperas habis dengan pekerjaan yang sangat berat. Kisah ini bersumber dari hadits nomor 2186 yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Kitab Jihad. Bagaimana jika yang mengadu adalah seorang pekerja yang gajinya tidak dibayar sehingga tidak bisa membeli makanan untuk keluarganya, sementara tenaganya sudah habis dipakai oleh orang yang mempekerjakannya? Pasti Rasulullah saw. lebih murka lagi. Di kali yang lain, Abdullah bin Umar menceritakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seorang wanita disiksa karena menahan seekor kucing sehingga membuatnya mati kelaparan, wanita itupun masuk neraka.” Kemudian Allah berfirman –Allah Mahatahu—kepadanya, “Kamu tidak memberinya makan, tidak juga memberinya minum saat ia kamu pelihara; juga engkau tidak membiarkannya pergi agar ia dapat mencari makanan sendiri dari bumi ini.” (HR. Bukhari, kitab Masafah, hadits nomor 2192). Yang ini cerita Amir Ar-Raam. Ia dan beberapa sahabat sedang bersama Rasulullah saw. “Tiba-tiba seorang lelaki mendatangi kami,” kata Amir Ar-Raam. Lelaki itu dengan kain di atas kepadanya dan di tangannya terdapat sesuatu yang ia genggam. Lelaki itu berkata, “Ya Rasulullah, saya segera mendatangimu saat melihatmu. Ketika berjalan di bawah pepohonan yang rimbun, saya mendengar kicauan anak burung, saya segera mengambilnya dan meletakkannya di dalam pakaianku. Tiba-tiba induknya datang dan segera terbang berputar di atas kepalaku. Saya lalu menyingkap kain yang menutupi anak-anak burung itu, induknya segera mendatangi anak-anaknya di dalam pakaianku, sehingga mereka sekarang ada bersamaku.” Rasulullah saw. berkata kepada lekaki itu, “Letakkan mereka.” Kemudian anak-anak burung itu diletakan. Namun, induknya enggan meninggalkan anak-anaknya dan tetap menemani mereka. “Apakah kalian heran menyaksikan kasih sayang induk burung itu terhadap anak-anaknya?” tanya Rasulullah saw. kepada para sahabat yang ada waktu itu. “Benar, ya Rasulullah,” jawab para sahabat. “Ketahuilah,” kata Rasulullah saw. “Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, sesungguhnya Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya melebihi induk burung itu kepada anak-anaknya.” “Kembalikanlah burung-burung itu ke tempat di mana engkau menemukannya, bersama dengan induknya,” perintah Rasulullah. Lelaki yang menemukan burung itupun segera mengembalikan burung-burung itu ke tempat semula. Begitulah Akhlak terhadap hewan yang diajarkan Rasulullah saw. Bahkan, membunuh hewan tanpa alasan yang hak, Rasulullah menggolongkan suatu kezhaliman. Kabar ini datang dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seekor burung tanpa hak, niscaya Allah akan menanyakannya pada hari Kiamat.” Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah hak burung tersebut?” Beliau menjawab, “Menyembelihnya, dan tidak mengambil lehernya lalu mematahkannya.” (HR. Ahmad, hadits nomor 6264) Jika kepada hewan saja kita memenuhi hak-haknya, apalagi kepada manusia. Adakah hak-hak orang lain yang belum kita tunaikan?</itunes:summary><itunes:keywords>islam,info,islam,agama,toleransi,ummat,muslim</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4696748835675997314.post-5057489524280429530</guid><pubDate>Tue, 17 Jul 2012 06:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-01-21T20:44:52.960-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Keluarga</category><title>Keluarga Produktif-Kreatif</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Courier New';"&gt;Usaha Paling bersih itu adalah usaha seorang laki-laki dengan tangannya sendiri&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: 'Courier New';"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: Arial, sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: Arial, sans-serif;"&gt;HR Al-Baihaqi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTMcbUNAkvxbFgF6gAeNSi3d6DjojYSuvRIEB_YR2Hn3yLxsiZYkQ" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTMcbUNAkvxbFgF6gAeNSi3d6DjojYSuvRIEB_YR2Hn3yLxsiZYkQ" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: Arial, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif; font-size: 18pt;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;llah Maha Pencipta setiap makhluk; dari tiada menjadi ada. Allah sumber kreatifitas. Dari tangan-Nya lahir karya-karya besar tiada tanding, tiada banding. Dia pun menghendaki setiap makhluk-Nya kreatif dan produktif. Kalau saja setiap pasangan suami-istri menyadari hal ini, tentu, mereka akan menjadi pribadi yang kuat menantang setiap kesulitan yang dihadapinya. Setiap &lt;em&gt;ada&lt;/em&gt; berangkat dari &lt;em&gt;tiada&lt;/em&gt;. Setiap keberhasilan berawal dari kegagalan. Kesulitan hanyalah jalan lain menuju keberhasilan. Bukankah Tuhan penentu segala kebijakan? Semestinya kepadanya kepada-Nya kita bersandar, &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: navy; font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;"Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka terjadilah ia,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color: navy; font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt; (QS Ya Sin[36]:82; sebab &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;" ditangan-Nyalah kekuasaan atas segala sesuatu," &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;(QS Ya Sin[36]:83). Seorang muslim tidak sepatutnya putus asa dalam menjemput karunia Tuhan, sebab&lt;/span&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt; &lt;em&gt;"hanya orang kafir yang berputus asa dari rahmat Allah,"&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt; (QS Yusuf [12]: 87).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;Agar hati kita kian mantap mengenai hal ini, cobalah kita baca ayat-ayat berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: navy; font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;Tuhanmu tidak akan meninggalkanmu dan tidak pula membencimu... Bukankah Dia mendapati dirimu sebagai seorang yatim, kemudian melindungimu? Dan Dia mendapati dirimu sebagai seorang&amp;nbsp;yang bingung, kemudian membimbingmu?"&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt; (QS Adh-Dhuha [93]: 3,6-7)... &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu?... Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan! Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap,"&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;(QS Al-Insyirah [94]: 4, 6-8).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;Nah, cobalah dari sekarang kita picu semangat kerja kita. Singkirkan perasaan-perasaan putus asa, merasa gagal, merasa tidak berbakat, dan sejenisnya dari pikiran kita. Kemudian, tanyakan pada diri sendiri, apakah selama ini kita sudah mengoptimalkan seluruh potensi yang kita miliki? Apakah kita sudah membahagiakan istri kita? Apakah kita sudah menjadi pendamping yang baik bagi suami? Apakah kita sudah menjadi motivator ulung bagi suami? Terus tanyakan hal ini pada diri sendiri, apakah kita sudah menjadi pribadi terbaik bagi pasangan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;Barangkali, tidak ada salahnya kita meniru kisah novel &lt;em&gt;The Scarlet Letter,&lt;/em&gt; tentang betapa dasyatnya motivasi seorang istri terhadap suami yang tengah dicekam kepanikan-kepanikan dalam hidupnya. Kisah ini berawal dari kepanikan seorang suami yang bernama Nathaniel Hawthorne yang baru dipecat secara sepihak sebagai pejabat Kastam Boston, Massachussetts. Malam itu, ia pulang ke rumah dengan hati hancur begitu mendengar kabar menyesakkan ini. Ia bimbang bercampur panik, bagaimana perasaan keluarganya, terutama sang istri, kalau mendengar berita buruk ini. Namun yang terjadi justru di luar dugaannya. Istri Nathaniel Hawthorne tidak banyak komentar saat mendengar berita ini. Malah ia mengambil pena lalu meletakkannya di atas meja, di depan Nathaniel Hawthorne. Dengan penuh hangat dan kasih sayang yang tulus ia peluk suaminya seraya menghibur, "Suamiku, dengan demikian kau banyak waktu untuk menulis buku, bukan?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;Rasa bahagia Nathaniel Hawthorne melambung begitu mendapat semangat baru dari istri tercintanya. Nathaniel Hawthorne kemudian terus menulis dan menghasilkan sebuah novel monumental, &lt;em&gt;The Scarlet Letter&lt;/em&gt; ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;Mari kita dengarkan petuah Jalalad-Din Rumi:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;em&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;Ketahuilah bahwa di dunia ini, apa pun yang Dia kehendaki pasti terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;Atau Petuah Al-Hakam bin Amir Al-Ghiffari:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;em&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;Aku memandang Kitab Allah, maka aku mendapatinya sebelum menerima &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Amirul Mukminin. Kalau langit dan bumi menghimpit seseorang, lalu ia bertaqwa kepada Allah 'Azza wa Jalla, niscaya Allah memberinya jalan keluar.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif; font-size: 13.5pt;"&gt;Doa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;em&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: 'Century Schoolbook', serif;"&gt;Wahai Kau Yang Maha Pencipta dari ketiadaan, Anugerahi kami produktivitas dan kreativitas, sehingga kami menjadi keluarga yang kokoh dan mapan. Aku tidak pernah berharap pada siapapun kecuali hanya kepada-Mu.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
=============================================================== &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;Disalin dari Buku: &amp;nbsp;&lt;strong&gt;99 - Q for Family Menerapkan Prinsip Asmaul Husna dalam Kehidupan Rumah Tangga&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;"&gt;Penulis: Sulaiman Al-Kumayi (Penulis buku bestseller Kecerdasan 99)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://fauzan-islamiyah.blogspot.com/2012/07/keluarga-produktif-kreatif.html</link><thr:total>0</thr:total><author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</author><enclosure length="12109" type="image/jpeg" url="https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTMcbUNAkvxbFgF6gAeNSi3d6DjojYSuvRIEB_YR2Hn3yLxsiZYkQ"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>&amp;nbsp;Usaha Paling bersih itu adalah usaha seorang laki-laki dengan tangannya sendiri.&amp;nbsp;HR Al-Baihaqi Allah Maha Pencipta setiap makhluk; dari tiada menjadi ada. Allah sumber kreatifitas. Dari tangan-Nya lahir karya-karya besar tiada tanding, tiada banding. Dia pun menghendaki setiap makhluk-Nya kreatif dan produktif. Kalau saja setiap pasangan suami-istri menyadari hal ini, tentu, mereka akan menjadi pribadi yang kuat menantang setiap kesulitan yang dihadapinya. Setiap ada berangkat dari tiada. Setiap keberhasilan berawal dari kegagalan. Kesulitan hanyalah jalan lain menuju keberhasilan. Bukankah Tuhan penentu segala kebijakan? Semestinya kepadanya kepada-Nya kita bersandar, "Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka terjadilah ia," (QS Ya Sin[36]:82; sebab " ditangan-Nyalah kekuasaan atas segala sesuatu," (QS Ya Sin[36]:83). Seorang muslim tidak sepatutnya putus asa dalam menjemput karunia Tuhan, sebab "hanya orang kafir yang berputus asa dari rahmat Allah," (QS Yusuf [12]: 87). Agar hati kita kian mantap mengenai hal ini, cobalah kita baca ayat-ayat berikut ini: "Tuhanmu tidak akan meninggalkanmu dan tidak pula membencimu... Bukankah Dia mendapati dirimu sebagai seorang yatim, kemudian melindungimu? Dan Dia mendapati dirimu sebagai seorang&amp;nbsp;yang bingung, kemudian membimbingmu?" (QS Adh-Dhuha [93]: 3,6-7)... Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu?... Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan! Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap," (QS Al-Insyirah [94]: 4, 6-8). Nah, cobalah dari sekarang kita picu semangat kerja kita. Singkirkan perasaan-perasaan putus asa, merasa gagal, merasa tidak berbakat, dan sejenisnya dari pikiran kita. Kemudian, tanyakan pada diri sendiri, apakah selama ini kita sudah mengoptimalkan seluruh potensi yang kita miliki? Apakah kita sudah membahagiakan istri kita? Apakah kita sudah menjadi pendamping yang baik bagi suami? Apakah kita sudah menjadi motivator ulung bagi suami? Terus tanyakan hal ini pada diri sendiri, apakah kita sudah menjadi pribadi terbaik bagi pasangan? Barangkali, tidak ada salahnya kita meniru kisah novel The Scarlet Letter, tentang betapa dasyatnya motivasi seorang istri terhadap suami yang tengah dicekam kepanikan-kepanikan dalam hidupnya. Kisah ini berawal dari kepanikan seorang suami yang bernama Nathaniel Hawthorne yang baru dipecat secara sepihak sebagai pejabat Kastam Boston, Massachussetts. Malam itu, ia pulang ke rumah dengan hati hancur begitu mendengar kabar menyesakkan ini. Ia bimbang bercampur panik, bagaimana perasaan keluarganya, terutama sang istri, kalau mendengar berita buruk ini. Namun yang terjadi justru di luar dugaannya. Istri Nathaniel Hawthorne tidak banyak komentar saat mendengar berita ini. Malah ia mengambil pena lalu meletakkannya di atas meja, di depan Nathaniel Hawthorne. Dengan penuh hangat dan kasih sayang yang tulus ia peluk suaminya seraya menghibur, "Suamiku, dengan demikian kau banyak waktu untuk menulis buku, bukan?" Rasa bahagia Nathaniel Hawthorne melambung begitu mendapat semangat baru dari istri tercintanya. Nathaniel Hawthorne kemudian terus menulis dan menghasilkan sebuah novel monumental, The Scarlet Letter ini. Mari kita dengarkan petuah Jalalad-Din Rumi: Ketahuilah bahwa di dunia ini, apa pun yang Dia kehendaki pasti terjadi. Atau Petuah Al-Hakam bin Amir Al-Ghiffari: Aku memandang Kitab Allah, maka aku mendapatinya sebelum menerima surat Amirul Mukminin. Kalau langit dan bumi menghimpit seseorang, lalu ia bertaqwa kepada Allah 'Azza wa Jalla, niscaya Allah memberinya jalan keluar. Doa Wahai Kau Yang Maha Pencipta dari ketiadaan, Anugerahi kami produktivitas dan kreativitas, sehingga kami menjadi keluarga yang kokoh dan mapan. Aku tidak pernah berharap pada siapapun kecuali hanya kepada-Mu. =============================================================== &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Disalin dari Buku: &amp;nbsp;99 - Q for Family Menerapkan Prinsip Asmaul Husna dalam Kehidupan Rumah Tangga Penulis: Sulaiman Al-Kumayi (Penulis buku bestseller Kecerdasan 99)</itunes:subtitle><itunes:author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>&amp;nbsp;Usaha Paling bersih itu adalah usaha seorang laki-laki dengan tangannya sendiri.&amp;nbsp;HR Al-Baihaqi Allah Maha Pencipta setiap makhluk; dari tiada menjadi ada. Allah sumber kreatifitas. Dari tangan-Nya lahir karya-karya besar tiada tanding, tiada banding. Dia pun menghendaki setiap makhluk-Nya kreatif dan produktif. Kalau saja setiap pasangan suami-istri menyadari hal ini, tentu, mereka akan menjadi pribadi yang kuat menantang setiap kesulitan yang dihadapinya. Setiap ada berangkat dari tiada. Setiap keberhasilan berawal dari kegagalan. Kesulitan hanyalah jalan lain menuju keberhasilan. Bukankah Tuhan penentu segala kebijakan? Semestinya kepadanya kepada-Nya kita bersandar, "Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka terjadilah ia," (QS Ya Sin[36]:82; sebab " ditangan-Nyalah kekuasaan atas segala sesuatu," (QS Ya Sin[36]:83). Seorang muslim tidak sepatutnya putus asa dalam menjemput karunia Tuhan, sebab "hanya orang kafir yang berputus asa dari rahmat Allah," (QS Yusuf [12]: 87). Agar hati kita kian mantap mengenai hal ini, cobalah kita baca ayat-ayat berikut ini: "Tuhanmu tidak akan meninggalkanmu dan tidak pula membencimu... Bukankah Dia mendapati dirimu sebagai seorang yatim, kemudian melindungimu? Dan Dia mendapati dirimu sebagai seorang&amp;nbsp;yang bingung, kemudian membimbingmu?" (QS Adh-Dhuha [93]: 3,6-7)... Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu?... Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan! Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap," (QS Al-Insyirah [94]: 4, 6-8). Nah, cobalah dari sekarang kita picu semangat kerja kita. Singkirkan perasaan-perasaan putus asa, merasa gagal, merasa tidak berbakat, dan sejenisnya dari pikiran kita. Kemudian, tanyakan pada diri sendiri, apakah selama ini kita sudah mengoptimalkan seluruh potensi yang kita miliki? Apakah kita sudah membahagiakan istri kita? Apakah kita sudah menjadi pendamping yang baik bagi suami? Apakah kita sudah menjadi motivator ulung bagi suami? Terus tanyakan hal ini pada diri sendiri, apakah kita sudah menjadi pribadi terbaik bagi pasangan? Barangkali, tidak ada salahnya kita meniru kisah novel The Scarlet Letter, tentang betapa dasyatnya motivasi seorang istri terhadap suami yang tengah dicekam kepanikan-kepanikan dalam hidupnya. Kisah ini berawal dari kepanikan seorang suami yang bernama Nathaniel Hawthorne yang baru dipecat secara sepihak sebagai pejabat Kastam Boston, Massachussetts. Malam itu, ia pulang ke rumah dengan hati hancur begitu mendengar kabar menyesakkan ini. Ia bimbang bercampur panik, bagaimana perasaan keluarganya, terutama sang istri, kalau mendengar berita buruk ini. Namun yang terjadi justru di luar dugaannya. Istri Nathaniel Hawthorne tidak banyak komentar saat mendengar berita ini. Malah ia mengambil pena lalu meletakkannya di atas meja, di depan Nathaniel Hawthorne. Dengan penuh hangat dan kasih sayang yang tulus ia peluk suaminya seraya menghibur, "Suamiku, dengan demikian kau banyak waktu untuk menulis buku, bukan?" Rasa bahagia Nathaniel Hawthorne melambung begitu mendapat semangat baru dari istri tercintanya. Nathaniel Hawthorne kemudian terus menulis dan menghasilkan sebuah novel monumental, The Scarlet Letter ini. Mari kita dengarkan petuah Jalalad-Din Rumi: Ketahuilah bahwa di dunia ini, apa pun yang Dia kehendaki pasti terjadi. Atau Petuah Al-Hakam bin Amir Al-Ghiffari: Aku memandang Kitab Allah, maka aku mendapatinya sebelum menerima surat Amirul Mukminin. Kalau langit dan bumi menghimpit seseorang, lalu ia bertaqwa kepada Allah 'Azza wa Jalla, niscaya Allah memberinya jalan keluar. Doa Wahai Kau Yang Maha Pencipta dari ketiadaan, Anugerahi kami produktivitas dan kreativitas, sehingga kami menjadi keluarga yang kokoh dan mapan. Aku tidak pernah berharap pada siapapun kecuali hanya kepada-Mu. =============================================================== &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Disalin dari Buku: &amp;nbsp;99 - Q for Family Menerapkan Prinsip Asmaul Husna dalam Kehidupan Rumah Tangga Penulis: Sulaiman Al-Kumayi (Penulis buku bestseller Kecerdasan 99)</itunes:summary><itunes:keywords>islam,info,islam,agama,toleransi,ummat,muslim</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4696748835675997314.post-7176829365278057135</guid><pubDate>Thu, 21 Jun 2012 02:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-02-01T06:11:12.006-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agama</category><title>Janji Ditepati, Kemenangan Pasti</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;em style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: green; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Perang adalah membunuh atau dibunuh, tapi janji tetaplah janji. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: green; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: FI;"&gt;Dalam keadaan apa pun janji haruslah ditepati. Tidak ada tempat ”berkhianat” dalam kamus Islam.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR8M4kq8GDWWdmMP2We-v-UrGFVELZki8djIJn3HzGm6x6UFKDO2g" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR8M4kq8GDWWdmMP2We-v-UrGFVELZki8djIJn3HzGm6x6UFKDO2g" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;em style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: green; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: FI;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: FI;"&gt;Hidayatullah.com--&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: FI;"&gt;Pada pemerintahan Umar bin Khaththab, Islam berkembang secara menakjubkan. Jumlah pemeluk Islam bertambah berkali-kali lipat seiring dengan perluasan wilayah kekuasaannya. Saat itu Islam tidak saja dipeluk oleh penduduk Arab, tapi juga oleh bangsa-bangsa non Arab, misalnya Parsi.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: FI;"&gt;Bersamaan dengan itu, tentara kaum Muslimin semakin tumbuh kuat dan perkasa. &lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;Tapi betapa pun kuatnya pasukan hasil reformasi Umar itu, ada saja pihak yang masih mau mencoba membangkang. Ketenaran pasukan Umar yang telah menggetarkan dunia tidak menyurutkan niat kelompok-kelompok ekstrim untuk melakukan pemberontakan. Salah satu di antaranya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Harmuzan, mantan gubernur propinsi Nahawand, salah satu propinsi kerajaan Persia yang sudah ditaklukkan Islam. &lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;Dengan modal pasukan terlatih dan loyal, disertai motivasi balas dendam yang membara, Harmuzan menyerang&amp;nbsp; pertahanan Islam. Tapi dengan kerja keras kaum Muslimin, dalam satu pertempuran yang hebat pemberontakan Harmuzan dapat dipatahkan. Harmuzan sendiri ditangkap hidup-hidup dan ditawan. Akan tetapi atas kebijakan Khalifah, ia dibebaskan hanya dengan membayar jizyah.&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;Namun kebaikan hati Umar tidak menyadarkannya untuk menyerah dan menjadi warga negara yang baik. Ia justru kembali menghimpun kekuatan yang jauh lebih besar. Setelah berhitung secara cermat, ia pun kembali menggempur basis pertahanan Islam. Pertempuran hebat tak terhindarkan, tapi untuk kedua kalinya pemberontakan Harmuzan dapat dipatahkan. Ia kembali menjadi tawanan. Ia kemudian dihadapkan kepada Khalifah.&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;“Apakah kamu gubernur Nahawand yang memberontak?” tanya Umar.&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;“Benar, akulah orangnya,” jawab Harmuzan.&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;“Bukankah kamu sering melanggar perjanjian dengan kaum Muslimin?” tanya Umar lagi. “Ya, aku telah melakukan itu.”&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;“Apakah kamu telah menyadari bahwa hukuman atas pengkhianatan itu adalah kematian?”, “Ya, aku menyadarinya.”&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;“Baiklah, apakah kamu telah siap menjalani hukuman tersebut sekarang?” selidik Umar. &lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;“Aku siap, tapi ada satu permohonan sebelum aku mati,” pinta Harmuzan&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;“Apa itu?” tanya Umar.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;“Aku haus sekali, bolehkah aku meminta segelas air?” kata Harmuzan&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;“Tentu saja,” kata Khalifah.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;&amp;nbsp;Setelah segelas air terhidang, Harmuzan berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, aku khawatir jika kepalaku dipenggal sebelum sempat aku meminum air ini.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;“Tidak akan,” tegas Umar memberi jaminan. “Tidak seorang pun yang akan menyentuh rambutmu sebelum kamu menghabiskan minuman itu.”&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;Suasana sunyi sejenak. Tapi segera pecah setelah Harmuzan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, engkau telah berjanji kepadaku bahwa engkau tidak akan menyentuh rambutku hingga aku menghabiskan air ini. Aku tidak menghabiskan air ini.” Sembari membuang gelas di tangannya ia melanjutkan, “Engkau tidak boleh membunuhku.”&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;Seraya tersenyum, Umar berkata, “Gubernur, ini adalah siasat cerdikmu. Walau bagaimanapun, karena Umar telah berjanji, dia harus menepatinya. Karena itu, sekarang engkau bebas.”&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;Selang beberapa lama, Harmuzan kembali ke Madinah, ibu kota negara Islam, dengan membawa rombongan besar. Tapi kedatangannya yang ketiga kali ini ia bukan untuk menyerang melainkan untuk masuk Islam. “Wahai Amirul Mukminin, kami datang untuk mencari kehidupan baru. Undanglah kami kepada Islam,” kata Harmuzan di hadapan Sang Khalifah.&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;Perang adalah membunuh atau dibunuh, tapi janji tetaplah janji. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: SV;"&gt;Dalam keadaan segenting apa pun janji haruslah ditepati. &lt;b&gt;Tidak ada tempat dalam Islam untuk berkhianat&lt;/b&gt;. Inilah moralitas Islam yang dijunjung tinggi&amp;nbsp; oleh para &lt;em&gt;salafush-shalih&lt;/em&gt; (orang-orang terhadulu yang shalih) dan pemuka Islam hingga kini.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: SV;"&gt;Boleh jadi kaum Muslimin mempunyai tabiat dan perilaku buruk, tapi &lt;b&gt;dua hal yang tidak boleh ada pada setiap kaum Muslimin adalah &lt;u&gt;khianat dan dusta&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: SV;"&gt;Rasulullah menegaskan hal itu:&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: blue; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: SV;"&gt;“&lt;em&gt;Seorang Mukmin mempunyai tabiat atas segala sifat tercela, kecuali khianat dan dusta.&lt;/em&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: blue; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: SV;"&gt; (H.R. Al-Bazzaar)&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: blue; mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: SV;"&gt;Sebagai pemimpin, Rasulullah sendiri sering membuat perjanjian dengan musuh-musuhnya. Salah satu perjanjian yang sangat monumental sekaligus kontroversial adalah perjanjian Hudaibiyah. Para sahabat pada awalnya menentang isi perjanjian itu karena isinya sangat tidak adil dan dinilai merugikan pihak Islam. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: FI;"&gt;Maka ketika Rasulullah saw tetap meneken perjanjian itu, mereka kecewa. Umar karena kecewanya sempat berkata keras kepada Nabi SAW, “Ya Muhammad, apakah engkau masih seorang Rasul?”&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: FI;"&gt;Dalam penilaian sahabat, semua pasal dalam perjanjian itu tidak ada yang menguntungkan pihak Muslim, terutama pasal yang menyatakan bahwa jika ada penduduk muslim Mekah yang pindah ke Madinah, maka harus dikembalikan ke Mekah. Sementara jika ada warga Madinah yang ingin kembali ke Mekah tidak boleh dicegah.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: FI;"&gt;Saat itu masih banyak&amp;nbsp; kaum Muslimin yang belum berhijrah ke Madinah. Mereka tinggal di Mekah di bawah tekanan keras kaum kafir Quraisy. Jika diketahui ada yang lari menyusul kaum kerabatnya hijrah ke Madinah, tak segan-segan kaum kafir Quraisy memberi hukuman, berupa siksaan yang amat keji.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: FI;"&gt;Usaha untuk menyelamatkan kaum Muslimin Mekah telah dilakukan dengan berbagai cara, akan tetapi setelah perjanjian Hudaibiyah itu berarti usaha penyelamatan sudah tertutup sama sekali. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Inilah yang sangat disesalkan oleh para sahabat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Saat perjanjian berlangsung, ada sekelompok orang di bawah kepemimpinan Abu Jandal lari ke Madinah. Sesuai dengan perjanjian Hubaibiyah, pemimpin Quraisy menuntut agar Abu Jandal dan rombonganya dikembalikan ke Mekah. Dengan berat hati Rasulullah menyerahkan orang-orang tersebut pada penguasa Mekah. Lagi-lagi banyak di antara sahabat yang berkeberatan atas penyerahan ini, tapi demi perjanjian yang sudah ditanda tangani, pantang bagi seorang Rasul untuk menyelisihi. &lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;Janji harus ditepati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;Abu Jandal ternyata lebih cerdik dari penguasa Quraisy. Setelah sampai di daerah netral, ia bersama kelompoknya melakukan perlawanan dan menang. Ia kemudian mendirikan basis di tempat tersebut. Seperti sudah tahu tugas yang harus dilakukannya, kelompok ini kemudian memotong jalur perdagangan kafir Quraisy yang sangat strategis. Tidak sedikit kerugian yang diderita kaum kafir Quraisy akibat ulah kelompok ini, tapi mereka tidak bisa menunut kaum Muslimin untuk menghentikan perbuatan Abu Jandal tersebut, karena mereka berada di luar wilayah kekuasaan Madinah.&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;Di balik peristiwa itu ada fenomena yang menggembirakan. Dengan perjanjian itu ternyata jumlah kaum Muslimin di Mekah secara diam-diam justru terus bertambah. Walaupun dalam tekanan yang amat kuat, kaum Muslimin dengan keimanannya terus terdorong untuk melakukan da’wah. Mereka inilah yang kemudian dalam penaklukan Mekah sangat berperan besar, sehingga dalam peristiwa tersebut tidak sampai terjadi pertumpahan darah.&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="PT-BR" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: PT-BR;"&gt;Pembebasan kota Mekah berjalan damai tanpa setetes darah pun mengalir. Inilah kemenangan yang direbut karena menghormati janji. Wallahu a’lam. [by &lt;strong&gt;Abu Zeidan&lt;/strong&gt;. &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: FI;"&gt;Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Hidayatullah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; mso-ansi-language: FI;"&gt;/&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: windowtext; mso-ansi-language: FI;"&gt;www.hidayatullah.com]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://fauzan-islamiyah.blogspot.com/2012/06/janji-ditepati-kemenangan-pasti.html</link><thr:total>0</thr:total><author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</author><enclosure length="8989" type="image/jpeg" url="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR8M4kq8GDWWdmMP2We-v-UrGFVELZki8djIJn3HzGm6x6UFKDO2g"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Perang adalah membunuh atau dibunuh, tapi janji tetaplah janji. Dalam keadaan apa pun janji haruslah ditepati. Tidak ada tempat ”berkhianat” dalam kamus Islam. Hidayatullah.com--Pada pemerintahan Umar bin Khaththab, Islam berkembang secara menakjubkan. Jumlah pemeluk Islam bertambah berkali-kali lipat seiring dengan perluasan wilayah kekuasaannya. Saat itu Islam tidak saja dipeluk oleh penduduk Arab, tapi juga oleh bangsa-bangsa non Arab, misalnya Parsi. Bersamaan dengan itu, tentara kaum Muslimin semakin tumbuh kuat dan perkasa. Tapi betapa pun kuatnya pasukan hasil reformasi Umar itu, ada saja pihak yang masih mau mencoba membangkang. Ketenaran pasukan Umar yang telah menggetarkan dunia tidak menyurutkan niat kelompok-kelompok ekstrim untuk melakukan pemberontakan. Salah satu di antaranya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Harmuzan, mantan gubernur propinsi Nahawand, salah satu propinsi kerajaan Persia yang sudah ditaklukkan Islam. Dengan modal pasukan terlatih dan loyal, disertai motivasi balas dendam yang membara, Harmuzan menyerang&amp;nbsp; pertahanan Islam. Tapi dengan kerja keras kaum Muslimin, dalam satu pertempuran yang hebat pemberontakan Harmuzan dapat dipatahkan. Harmuzan sendiri ditangkap hidup-hidup dan ditawan. Akan tetapi atas kebijakan Khalifah, ia dibebaskan hanya dengan membayar jizyah. Namun kebaikan hati Umar tidak menyadarkannya untuk menyerah dan menjadi warga negara yang baik. Ia justru kembali menghimpun kekuatan yang jauh lebih besar. Setelah berhitung secara cermat, ia pun kembali menggempur basis pertahanan Islam. Pertempuran hebat tak terhindarkan, tapi untuk kedua kalinya pemberontakan Harmuzan dapat dipatahkan. Ia kembali menjadi tawanan. Ia kemudian dihadapkan kepada Khalifah. “Apakah kamu gubernur Nahawand yang memberontak?” tanya Umar. “Benar, akulah orangnya,” jawab Harmuzan. “Bukankah kamu sering melanggar perjanjian dengan kaum Muslimin?” tanya Umar lagi. “Ya, aku telah melakukan itu.” “Apakah kamu telah menyadari bahwa hukuman atas pengkhianatan itu adalah kematian?”, “Ya, aku menyadarinya.” “Baiklah, apakah kamu telah siap menjalani hukuman tersebut sekarang?” selidik Umar. “Aku siap, tapi ada satu permohonan sebelum aku mati,” pinta Harmuzan “Apa itu?” tanya Umar. “Aku haus sekali, bolehkah aku meminta segelas air?” kata Harmuzan “Tentu saja,” kata Khalifah. &amp;nbsp;Setelah segelas air terhidang, Harmuzan berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, aku khawatir jika kepalaku dipenggal sebelum sempat aku meminum air ini.” “Tidak akan,” tegas Umar memberi jaminan. “Tidak seorang pun yang akan menyentuh rambutmu sebelum kamu menghabiskan minuman itu.” Suasana sunyi sejenak. Tapi segera pecah setelah Harmuzan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, engkau telah berjanji kepadaku bahwa engkau tidak akan menyentuh rambutku hingga aku menghabiskan air ini. Aku tidak menghabiskan air ini.” Sembari membuang gelas di tangannya ia melanjutkan, “Engkau tidak boleh membunuhku.” Seraya tersenyum, Umar berkata, “Gubernur, ini adalah siasat cerdikmu. Walau bagaimanapun, karena Umar telah berjanji, dia harus menepatinya. Karena itu, sekarang engkau bebas.” Selang beberapa lama, Harmuzan kembali ke Madinah, ibu kota negara Islam, dengan membawa rombongan besar. Tapi kedatangannya yang ketiga kali ini ia bukan untuk menyerang melainkan untuk masuk Islam. “Wahai Amirul Mukminin, kami datang untuk mencari kehidupan baru. Undanglah kami kepada Islam,” kata Harmuzan di hadapan Sang Khalifah. Perang adalah membunuh atau dibunuh, tapi janji tetaplah janji. Dalam keadaan segenting apa pun janji haruslah ditepati. Tidak ada tempat dalam Islam untuk berkhianat. Inilah moralitas Islam yang dijunjung tinggi&amp;nbsp; oleh para salafush-shalih (orang-orang terhadulu yang shalih) dan pemuka Islam hingga kini. Boleh jadi kaum Muslimin mempunyai tabiat dan perilaku buruk, tapi dua hal yang tidak boleh ada pada setiap kaum Muslimin adalah khianat dan dusta. Rasulullah menegaskan hal itu: “Seorang Mukmin mempunyai tabiat atas segala sifat tercela, kecuali khianat dan dusta.” (H.R. Al-Bazzaar) Sebagai pemimpin, Rasulullah sendiri sering membuat perjanjian dengan musuh-musuhnya. Salah satu perjanjian yang sangat monumental sekaligus kontroversial adalah perjanjian Hudaibiyah. Para sahabat pada awalnya menentang isi perjanjian itu karena isinya sangat tidak adil dan dinilai merugikan pihak Islam. Maka ketika Rasulullah saw tetap meneken perjanjian itu, mereka kecewa. Umar karena kecewanya sempat berkata keras kepada Nabi SAW, “Ya Muhammad, apakah engkau masih seorang Rasul?” Dalam penilaian sahabat, semua pasal dalam perjanjian itu tidak ada yang menguntungkan pihak Muslim, terutama pasal yang menyatakan bahwa jika ada penduduk muslim Mekah yang pindah ke Madinah, maka harus dikembalikan ke Mekah. Sementara jika ada warga Madinah yang ingin kembali ke Mekah tidak boleh dicegah. Saat itu masih banyak&amp;nbsp; kaum Muslimin yang belum berhijrah ke Madinah. Mereka tinggal di Mekah di bawah tekanan keras kaum kafir Quraisy. Jika diketahui ada yang lari menyusul kaum kerabatnya hijrah ke Madinah, tak segan-segan kaum kafir Quraisy memberi hukuman, berupa siksaan yang amat keji. Usaha untuk menyelamatkan kaum Muslimin Mekah telah dilakukan dengan berbagai cara, akan tetapi setelah perjanjian Hudaibiyah itu berarti usaha penyelamatan sudah tertutup sama sekali. Inilah yang sangat disesalkan oleh para sahabat. Saat perjanjian berlangsung, ada sekelompok orang di bawah kepemimpinan Abu Jandal lari ke Madinah. Sesuai dengan perjanjian Hubaibiyah, pemimpin Quraisy menuntut agar Abu Jandal dan rombonganya dikembalikan ke Mekah. Dengan berat hati Rasulullah menyerahkan orang-orang tersebut pada penguasa Mekah. Lagi-lagi banyak di antara sahabat yang berkeberatan atas penyerahan ini, tapi demi perjanjian yang sudah ditanda tangani, pantang bagi seorang Rasul untuk menyelisihi. Janji harus ditepati. Abu Jandal ternyata lebih cerdik dari penguasa Quraisy. Setelah sampai di daerah netral, ia bersama kelompoknya melakukan perlawanan dan menang. Ia kemudian mendirikan basis di tempat tersebut. Seperti sudah tahu tugas yang harus dilakukannya, kelompok ini kemudian memotong jalur perdagangan kafir Quraisy yang sangat strategis. Tidak sedikit kerugian yang diderita kaum kafir Quraisy akibat ulah kelompok ini, tapi mereka tidak bisa menunut kaum Muslimin untuk menghentikan perbuatan Abu Jandal tersebut, karena mereka berada di luar wilayah kekuasaan Madinah. Di balik peristiwa itu ada fenomena yang menggembirakan. Dengan perjanjian itu ternyata jumlah kaum Muslimin di Mekah secara diam-diam justru terus bertambah. Walaupun dalam tekanan yang amat kuat, kaum Muslimin dengan keimanannya terus terdorong untuk melakukan da’wah. Mereka inilah yang kemudian dalam penaklukan Mekah sangat berperan besar, sehingga dalam peristiwa tersebut tidak sampai terjadi pertumpahan darah. Pembebasan kota Mekah berjalan damai tanpa setetes darah pun mengalir. Inilah kemenangan yang direbut karena menghormati janji. Wallahu a’lam. [by Abu Zeidan. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Hidayatullah/www.hidayatullah.com]</itunes:subtitle><itunes:author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Perang adalah membunuh atau dibunuh, tapi janji tetaplah janji. Dalam keadaan apa pun janji haruslah ditepati. Tidak ada tempat ”berkhianat” dalam kamus Islam. Hidayatullah.com--Pada pemerintahan Umar bin Khaththab, Islam berkembang secara menakjubkan. Jumlah pemeluk Islam bertambah berkali-kali lipat seiring dengan perluasan wilayah kekuasaannya. Saat itu Islam tidak saja dipeluk oleh penduduk Arab, tapi juga oleh bangsa-bangsa non Arab, misalnya Parsi. Bersamaan dengan itu, tentara kaum Muslimin semakin tumbuh kuat dan perkasa. Tapi betapa pun kuatnya pasukan hasil reformasi Umar itu, ada saja pihak yang masih mau mencoba membangkang. Ketenaran pasukan Umar yang telah menggetarkan dunia tidak menyurutkan niat kelompok-kelompok ekstrim untuk melakukan pemberontakan. Salah satu di antaranya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Harmuzan, mantan gubernur propinsi Nahawand, salah satu propinsi kerajaan Persia yang sudah ditaklukkan Islam. Dengan modal pasukan terlatih dan loyal, disertai motivasi balas dendam yang membara, Harmuzan menyerang&amp;nbsp; pertahanan Islam. Tapi dengan kerja keras kaum Muslimin, dalam satu pertempuran yang hebat pemberontakan Harmuzan dapat dipatahkan. Harmuzan sendiri ditangkap hidup-hidup dan ditawan. Akan tetapi atas kebijakan Khalifah, ia dibebaskan hanya dengan membayar jizyah. Namun kebaikan hati Umar tidak menyadarkannya untuk menyerah dan menjadi warga negara yang baik. Ia justru kembali menghimpun kekuatan yang jauh lebih besar. Setelah berhitung secara cermat, ia pun kembali menggempur basis pertahanan Islam. Pertempuran hebat tak terhindarkan, tapi untuk kedua kalinya pemberontakan Harmuzan dapat dipatahkan. Ia kembali menjadi tawanan. Ia kemudian dihadapkan kepada Khalifah. “Apakah kamu gubernur Nahawand yang memberontak?” tanya Umar. “Benar, akulah orangnya,” jawab Harmuzan. “Bukankah kamu sering melanggar perjanjian dengan kaum Muslimin?” tanya Umar lagi. “Ya, aku telah melakukan itu.” “Apakah kamu telah menyadari bahwa hukuman atas pengkhianatan itu adalah kematian?”, “Ya, aku menyadarinya.” “Baiklah, apakah kamu telah siap menjalani hukuman tersebut sekarang?” selidik Umar. “Aku siap, tapi ada satu permohonan sebelum aku mati,” pinta Harmuzan “Apa itu?” tanya Umar. “Aku haus sekali, bolehkah aku meminta segelas air?” kata Harmuzan “Tentu saja,” kata Khalifah. &amp;nbsp;Setelah segelas air terhidang, Harmuzan berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, aku khawatir jika kepalaku dipenggal sebelum sempat aku meminum air ini.” “Tidak akan,” tegas Umar memberi jaminan. “Tidak seorang pun yang akan menyentuh rambutmu sebelum kamu menghabiskan minuman itu.” Suasana sunyi sejenak. Tapi segera pecah setelah Harmuzan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, engkau telah berjanji kepadaku bahwa engkau tidak akan menyentuh rambutku hingga aku menghabiskan air ini. Aku tidak menghabiskan air ini.” Sembari membuang gelas di tangannya ia melanjutkan, “Engkau tidak boleh membunuhku.” Seraya tersenyum, Umar berkata, “Gubernur, ini adalah siasat cerdikmu. Walau bagaimanapun, karena Umar telah berjanji, dia harus menepatinya. Karena itu, sekarang engkau bebas.” Selang beberapa lama, Harmuzan kembali ke Madinah, ibu kota negara Islam, dengan membawa rombongan besar. Tapi kedatangannya yang ketiga kali ini ia bukan untuk menyerang melainkan untuk masuk Islam. “Wahai Amirul Mukminin, kami datang untuk mencari kehidupan baru. Undanglah kami kepada Islam,” kata Harmuzan di hadapan Sang Khalifah. Perang adalah membunuh atau dibunuh, tapi janji tetaplah janji. Dalam keadaan segenting apa pun janji haruslah ditepati. Tidak ada tempat dalam Islam untuk berkhianat. Inilah moralitas Islam yang dijunjung tinggi&amp;nbsp; oleh para salafush-shalih (orang-orang terhadulu yang shalih) dan pemuka Islam hingga kini. Boleh jadi kaum Muslimin mempunyai tabiat dan perilaku buruk, tapi dua hal yang tidak boleh ada pada setiap kaum Muslimin adalah khianat dan dusta. Rasulullah menegaskan hal itu: “Seorang Mukmin mempunyai tabiat atas segala sifat tercela, kecuali khianat dan dusta.” (H.R. Al-Bazzaar) Sebagai pemimpin, Rasulullah sendiri sering membuat perjanjian dengan musuh-musuhnya. Salah satu perjanjian yang sangat monumental sekaligus kontroversial adalah perjanjian Hudaibiyah. Para sahabat pada awalnya menentang isi perjanjian itu karena isinya sangat tidak adil dan dinilai merugikan pihak Islam. Maka ketika Rasulullah saw tetap meneken perjanjian itu, mereka kecewa. Umar karena kecewanya sempat berkata keras kepada Nabi SAW, “Ya Muhammad, apakah engkau masih seorang Rasul?” Dalam penilaian sahabat, semua pasal dalam perjanjian itu tidak ada yang menguntungkan pihak Muslim, terutama pasal yang menyatakan bahwa jika ada penduduk muslim Mekah yang pindah ke Madinah, maka harus dikembalikan ke Mekah. Sementara jika ada warga Madinah yang ingin kembali ke Mekah tidak boleh dicegah. Saat itu masih banyak&amp;nbsp; kaum Muslimin yang belum berhijrah ke Madinah. Mereka tinggal di Mekah di bawah tekanan keras kaum kafir Quraisy. Jika diketahui ada yang lari menyusul kaum kerabatnya hijrah ke Madinah, tak segan-segan kaum kafir Quraisy memberi hukuman, berupa siksaan yang amat keji. Usaha untuk menyelamatkan kaum Muslimin Mekah telah dilakukan dengan berbagai cara, akan tetapi setelah perjanjian Hudaibiyah itu berarti usaha penyelamatan sudah tertutup sama sekali. Inilah yang sangat disesalkan oleh para sahabat. Saat perjanjian berlangsung, ada sekelompok orang di bawah kepemimpinan Abu Jandal lari ke Madinah. Sesuai dengan perjanjian Hubaibiyah, pemimpin Quraisy menuntut agar Abu Jandal dan rombonganya dikembalikan ke Mekah. Dengan berat hati Rasulullah menyerahkan orang-orang tersebut pada penguasa Mekah. Lagi-lagi banyak di antara sahabat yang berkeberatan atas penyerahan ini, tapi demi perjanjian yang sudah ditanda tangani, pantang bagi seorang Rasul untuk menyelisihi. Janji harus ditepati. Abu Jandal ternyata lebih cerdik dari penguasa Quraisy. Setelah sampai di daerah netral, ia bersama kelompoknya melakukan perlawanan dan menang. Ia kemudian mendirikan basis di tempat tersebut. Seperti sudah tahu tugas yang harus dilakukannya, kelompok ini kemudian memotong jalur perdagangan kafir Quraisy yang sangat strategis. Tidak sedikit kerugian yang diderita kaum kafir Quraisy akibat ulah kelompok ini, tapi mereka tidak bisa menunut kaum Muslimin untuk menghentikan perbuatan Abu Jandal tersebut, karena mereka berada di luar wilayah kekuasaan Madinah. Di balik peristiwa itu ada fenomena yang menggembirakan. Dengan perjanjian itu ternyata jumlah kaum Muslimin di Mekah secara diam-diam justru terus bertambah. Walaupun dalam tekanan yang amat kuat, kaum Muslimin dengan keimanannya terus terdorong untuk melakukan da’wah. Mereka inilah yang kemudian dalam penaklukan Mekah sangat berperan besar, sehingga dalam peristiwa tersebut tidak sampai terjadi pertumpahan darah. Pembebasan kota Mekah berjalan damai tanpa setetes darah pun mengalir. Inilah kemenangan yang direbut karena menghormati janji. Wallahu a’lam. [by Abu Zeidan. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Hidayatullah/www.hidayatullah.com]</itunes:summary><itunes:keywords>islam,info,islam,agama,toleransi,ummat,muslim</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4696748835675997314.post-3247244118448249114</guid><pubDate>Thu, 21 Jun 2012 01:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-01-21T23:57:01.118-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fauzan</category><title>Cerpen " Berkaca"</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
Oleh Ki Gempur Mudharat&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tinggal 2006, Selamat Datang 2007,” begitulah aku bertutur salam pada diriku saat detik-detik pergantian tahun ini. Seperti yang dirasakan orang-orang, aku pun turut berbahagia dan bergembira. Walau harus kurasakan ada kesedihan mendalam atas musibah yang dialami saudara-saudaraku di negeri kriminal ini. Aku pun harus menyampaikan rasa bela sungkawa sedalam-dalamnya atas berbagai musibah di darat laut dan udara yang kerap begitu dahsyat hingga harus memakan korban orang tak sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTKWrT7K_WyuR6Pu8qgERquMof491EhEmaNugnbceDlXqZFNtdkjQ" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTKWrT7K_WyuR6Pu8qgERquMof491EhEmaNugnbceDlXqZFNtdkjQ" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menyambut kedatangan tahun baru kali ini, rasanya aku ingin mengumbar segala uneg-unegku. Tentang segala kejelengkelan, kekalutan dan kebencian pada diriku. Atas segala dosa, bejat dan kebopenganku. Tentang ini dan itu yang acapkali tak sangup kupahami. Aku ingin menumpahkan seluruhnya lewat pukulan keyboard &amp;nbsp;ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku adalah orang yang beruntung, karena mendapat kepercayaan dan anugerah Tuhan Yang Kuasa menjadi “orang penting”. Hartaku begitu melimpah, hingga harus kebingungan mau dikemanakan dan bagaimana cara menghabiskannya. Aku adalah seorang boss yang kata orang sangat mujur dan terpandang. Aku memang sudah terbiasa di elu-elukan. Terutama oleh para pengikutku, rekan-rekanku, tetanggaku dan sejawatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terbiasa didaulat sebagai orang hebat dan luar biasa. Hebat karena keberanianku, luar biasa karena kelakuanku nekad. &amp;nbsp;Mungkin, karena aku selalu berada dalam dua dimensi cukup ekstrim. Sebagai seorang pejabat sekaligus pengusaha jahat. Seorang ilmuwan sejati sekaligus seorang politisi imitasi. Seorang idealis sekaligus hipokrit. Seorang aparat hukum, sekaligus terbiasa &amp;nbsp;diseret jadi terdakwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang begitu mafhum, kalau aku selalu dinaungi dewi fortuna. Aku pun mendapat sandangan sebagai seorang pemimpin panutan. Seorang pemimpin berani, keras, tegas dan tanpa tedeng aling-aling. Walau sesungguhnya aku merasa “tak berkepala,” karena memang &amp;nbsp;aku tak punya jiwa seorang kepala atau seorang pemimpin yang punya nyali merintah orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hartaku melimpah, namun itu lebih banyak dari hasil KKN, memeras keringat orang atau dari orang-orang yang teraniaya dan berperkara. Kalau orang menganggapku sebagai orang cerdas, aku rasa mereka tertipu, karena aku sesuai rapotku berada di bawah rata-rata kelas. Barangkali satu-satunya kehebatanku adalah keahlianku dalam menjilat ke atas, menekan ke bawah serta menyikut ke samping kiri dan kananku. Selain, tentu saja, keterampilan memeras, menipu, berbohong dan berculas-culas diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tercengang, akhir-akhir ini banyak orang memandang sumir padaku. Aku &amp;nbsp;kaget walau tak harus setengah mati. &amp;nbsp;Seperti biasa aku tenang dan mulai berpikir cari strategi. Aku berpikir dan mulai sadar diri, boleh jadi dan wajar saja pandangan itu, karena kenyataannya sebagai pejabat aku memang banyak berbuat distorsi. Bahkan seringkali aku dicerca dan dimaki hingga harus disomasi. Gara-garanya karena kebijakanku yang menyangkut &amp;nbsp;hajat hidup orang banyak, terlalu ngelantur dan salah sasaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memang tergolong orang teramat nekad dan rada edan. Itulah mengapa, gerak langkahku selalu dipandu ramalan feng sui dan dukun sakti. Sehingga separah apa pun aku berhianat atau berbuat jahat, tak sampai terjerat hukum. Apalagi kalau harus mendekam di sebuah pulau kecil terpencil nun jauh di seberang sana. Amit-amit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pun sebagai seorang pengusaha, aku sering tersenyum sendiri melihat para pejabat di republik ini. Mereka begitu gampang ditaklukan, hingga tak sanggup lagi untuk mengatakan ’tidak’ padaku. Kuncinya tak terlalu sulit, cukup dengan sebuah lobby di hotel berbintang atau sepukul dua pukul di padang golf sana. Berikan saja bisikan maut seraya “dijanjikan” kesenangan dunia (tahta, harta, wanita), maka tak ampun lagi ia pun akan mendekap dan mencium kita. Jalan pun lempang menuju tol bebas hambatan memenangkan tender proyek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pengusaha dan penggulung harta, jelas aku lebih lihai di bidangnya. Kejahatan dan kelicikan kaum pejabat, sesungguhnya tiada setahi kukunya dibandingku. Aku lah sang raksasa yang begitu haus dan lugas dalam menguras kas negara. Kalau mereka melibas 20%, maka akan kulibas 40% dari total proyek. Begitulah teorinya. Masa bodoh hasil proyek menjadi melenceng jauh dari besteknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ketika ada sebuah kasus menimpaku. Entah bagaimana, Aku begitu tenang dan diam saja seraya menguji sampai sehebat mana para petinggi hukum kita dalam membedah dan menuntaskan sebuah perkara. Aku diam saja, karena aku sudah hafal semua kunci sakti dan pepatah leluhur. Apalagi jampi-jampi penyumbat mulut telah kugenggam erat. Bahkan aku sangat ahli menggunakannya dan kapan harus memanfaatkannya. Seperti biasa teori ”win-win solution” telah menuntaskannya bagai sebuah kemoceng penyapu debu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang pejabat aku sesungguhnya malu pada diriku untuk berterus terang. Malu karena harus kuakui, tak pernah &amp;nbsp;bisa jujur. Mungkin karena kondisi dan watak dasarku yang mengharuskan aku bermain-main dengan penghianatan. Namun kalau aku jujur dan hanya mengandalkan dari gajiku, darimana aku bisa makan. Mana bisa cukup untuk membiayai anak-anakku yang sekolah di luar negeri. Belum lagi arisan istri-istriku, tiga pembantuku, tip sekretarisku, dan tetek bengek biaya ekstra kemaksiatanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Darimana aku bisa bayar rekening listrik, telepon, PAM, gas, dan beberapa istri simpananku. Serta bagaimana aku harus menjaga prestiseku di lingkungan kerja dan masyarakatku. Kalau hanya mengandalkan income sebagai seorang pejabat, jelas “no-way” guna memenuhi seluruh biaya resiko hidup keseharianku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab itu, ketika aku dipercaya menjadi seorang pejabat, maka dengan serta merta tahap pertama adalah membenahi kondisi ekonomiku. Aku pun mulai turut terlibat dan “bermain”. Ternyata, sungguh tak sulit bermain seperti itu. Tak ada bedanya dengan anak balita yang main tak umpet dengan teman-teman tetangga seusianya. Teknisnya pun tak sulit, selama masih ada sebuah meja berkolong. Atau selama masih ada yang jualan map dan amplop. Atau selama masih memiliki nomor rekening sebuah bank. Semuanya akan berjalan lancar-lancar saja. Maka aku pun semakin berkutat dalam lumpur dosa dan perbuatan nista.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun seringkali aku berbuat keterlaluan, mungkin karena embrio turunan keserakahan yang melekat dalam jiwa, hingga seringkali aku harus disoroti, dicurigai dan dituduh berbuat nyeleneh. Sebut saja soal kejomplangan sebuah transaksi yang sangat mencolok mata. Perbuatan mark-up, memeras mitra atau bermain-main dengan komisi dan diskon yang sudah kuanggap sebagai perbuatan halal dan harus kuhadapi semua dengan pasang wajah tak berdosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Predikat lain yang aku sandang adalah seorang pakar hukum dengan keahlian menangani perkara. Karena kupikir begitu mudahnya mendapat uang, apalagi kalau harus menangani sebuah kasus penggelapan atau korupsi dalam jumlah rupiah yang “emberan”. Hanya dengan menyelewengkan dan merasionalisasi sebuah pasal, tak sulit kalau sekadar berkeinginan dihadiahi sebuah rumah, kendaraan plus deposito. Apalagi, kalau yang namanya permainan kongkalikong lewat jual beli pasal di jagat mafia peradilan kita sudah bukan menjadi rahasia umum lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Semua paham, mengerti dan sangat mafhum. Keuntungan untuk menjadi seorang ahli menangani perkara, baik jaksa, hakim, pengacara, yang ketiganya terampil “bermain mata” itu, justru karena terdakwa yang dihadirkan umumnya datang &amp;nbsp;dari lembah hitam. Maka demi keadilan, aku sebagai anggota tim mulai berpikir, harus ketiban rejeki dengan cara memeras atas dugaan kejahatan dari seorang terdakwa berdompet tebal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah pula aku menjabat sebagai seorang pimpinan partai. Keahlianku dalam menerapkan ilmu retorika, tak disangsikan lagi. Maka tak heran saat kampanye, aku bak orator kawakan. Berbekal ilmu psikologi massa dan ilmu komunikasi yang seadanya, aku pun mulai berkampanye yang penuh dengan bualan dan janji-janji palsu. Segala jurus propaganda dan agitasi kukerahkan sepenuh tenaga. Aku pun sadar kalau saat itu, sesungguhnya aku sudah melakukan kebohongan publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku tak perduli, yang penting adalah &amp;nbsp;bagaimana caranya agar aku bisa segera bertengger di kursi DPR yang terhormat. Memang benar dan kurasakan sendiri, kursi itu begitu empuk dengan pendingin yang sejuk, hingga menjadi sebuah tempat nyaman dan strategis untuk sekedar baca koran dan tertidur lelap. Gajiku pun dibayar tunai Rp.60 juta tanpa harus menumpahkan banyak enerji. Namun aku sering lupa mengambil gajiku, karena aku harus mengurus pendapatan lain yang lebih berarti dan mencengangkan dalam jumlah lipatan kali. Rejeki haram itu kuperoleh atas jasa sebuah statement “acc” dari sebuah kebijakan yang akan diluncurkan. Tak perduli, kalau pada gilirannya kebijakan itu merugikan negara atau mencekik kehidupan rakyat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu aku pun begitu makmur. Hingga ke Senayan pun harus terbiasa bermobil mewah. Karena teman-temanku juga sama (kalau tidak percaya, datang saja ke Senayan sekitar pukul 10 pagi). Kalian akan terkagum-kagum melihat rekan-rekanku lomba adu pamer mobil mewah disana. Sebenarnya untuk menjadi orang kaya di Senayan atau di kantor rakyat daerah, yang kemudian diisi oleh wakil-wakilnya, tidak lah sulit. Disitu ada pelbagai macam pos uang, mulai dari uang reses, benchmark ke luar negeri, kendaraan, perumahan, sampai pada uang kadeudeuh, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menjadi kaya di dewan, cukup bermodalkan suara vokal dan berjiwa pembela rakyat, sekali pun itu harus dilakukan dengan penuh keterpaksaan dan kepura-puraan. Ya, kupikir, namanya juga usaha, maka segala cara dan daya kuupayakan. Walau sesungguhnya itu, tak hanya telah menghianati rakyat, bangsa dan negaraku, namun juga menghianati diriku sendiri yang harus aku pertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Dalam menjalani hari-hari di awal tahun 2007 ini, aku berpikir dan melihat kebiasaan atau tradisi umat manusia berpesta pora sejak ribuan tahun lalu. Namun ketika pemikiranku menukik pada inti dan makna sebuah peristiwa pergantian tahun, aku yakin tak banyak orang memahaminya, termasuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang aku pikirkan, peristiwa pergantian tahun, berarti almanak lama ditanggalkan dan terpasang dengan yang baru. Berarti ada pesta terompet dan kembang api di beberapa tempat di jalanan yang menimbulkan kemacetan. Berarti ada sekelompok manusia yang berpesta pora penuh hura-hura yang menghabiskan jutaan rupiah di hotel-hotel, café, restoran dan tempat-tempat khusus lainnya. Berarti ada sejumlah manusia yang lupa diri karena mabuk-mabukan atau berjingkrak bak kerasukan syetan akibat doping barang haram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku pun mulai menyadari bahwa jatah umurku telah berkurang satu tahun. Kemudian aku memandangnya menjadi semacam harapan baru. Mungkin kah aku masih bisa menjalani hidupku dalam setahun ke depan. Mungkin kah masih diberikan kesempatan untuk menuju kehidupan yang lebih baik dan wajar. &amp;nbsp;Aku pun mulai membuat rencana-rencana besar hidupku dan target-target yang mesti dicapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pergantian tahun ini, kemudian aku jadikan sebagai sebuah momentum untuk berintrospeksi diri. Bagaimana agar dalam menjalani kehidupan di tahun 2007 ini, kehidupanku menjadi lebih berarti bagi lingkungan hidupku. Bagi bangsa dan negaraku, bagi agama dan tanah airku. Minimal bagi diriku sendiri yang penuh cacat dan cela, yang penuh aib dan penghianatan, yang penuh kerakusan dan pemerasan, yang telah mengotori darah keluargaku dengan harta tak halal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, ketika detik berdetak, manakala menit mencubit, saat jam berdentam, waktu hari berharu, bilamana bulan mengalun, tahun pun mengayun menjadi rangkaian peristiwa dan potret diri yang penuh bayangan hitam dan kelam. Suka, duka, sedih, pilu, haru, biru, canda, tawa dan nestapa, semuanya telah menjadi memori bunga-bunga kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara seluruh sikap dan kelakuanku, ketidakwajaranku, kerakusanku, kebohonganku, penghianatanku, pemerasanku, penyelewenganku, pemutarbalikan faktaku, dan seluruh kejahatanku, &amp;nbsp;telah terekam dalam sebuah kaset kehidupan. Sebuah kaset kehidupan yang boleh jadi akan kuserahkan sendiri pada Tuhan Yang Kuasa sebagai pertanggungjawaban kehidupanku selama di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersentak dari lamunanku, ketika sebuah terompet berbunyi keras dekat lubang telingaku. “Melamun apa kang, jadi orang kaya? Ha..ha..ha..,” olok tetanggaku seraya berkali-kali meniupkan terompetnya dan langsung ngeloyor lagi entah kemana. Mungkin karena khawatir menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menahan rasa terkejutku, aku pun beristighfar dan bergumam, &amp;nbsp; “Amit-amit deh, kalau jadi orang kaya macam gitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka kutanamkan pada diriku, berikrar dan bertekad bahwa mulai tahun baru ini, aku harus menjadi orang yang lebih baik dan wajar, lebih arif dan bijak, lebih jujur dan apa adanya, serta tekad menuju derajat taqwa dengan sepenuh taubat.&lt;br /&gt;
Lantas aku pun tak lupa untuk bersujud dan bersyukur pada Tuhan, atas segala rahmat &amp;nbsp;dan nikmat yang kuperoleh saat ini. &amp;nbsp;Termasuk nikmat kesehatan dan kecukupan rezeki halal. Itulah karunia Tuhan sesungguhnya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://fauzan-islamiyah.blogspot.com/2012/06/cerpen-berkaca.html</link><thr:total>0</thr:total><author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</author><enclosure length="8659" type="image/jpeg" url="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTKWrT7K_WyuR6Pu8qgERquMof491EhEmaNugnbceDlXqZFNtdkjQ"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Oleh Ki Gempur Mudharat “Selamat Tinggal 2006, Selamat Datang 2007,” begitulah aku bertutur salam pada diriku saat detik-detik pergantian tahun ini. Seperti yang dirasakan orang-orang, aku pun turut berbahagia dan bergembira. Walau harus kurasakan ada kesedihan mendalam atas musibah yang dialami saudara-saudaraku di negeri kriminal ini. Aku pun harus menyampaikan rasa bela sungkawa sedalam-dalamnya atas berbagai musibah di darat laut dan udara yang kerap begitu dahsyat hingga harus memakan korban orang tak sedikit. Untuk menyambut kedatangan tahun baru kali ini, rasanya aku ingin mengumbar segala uneg-unegku. Tentang segala kejelengkelan, kekalutan dan kebencian pada diriku. Atas segala dosa, bejat dan kebopenganku. Tentang ini dan itu yang acapkali tak sangup kupahami. Aku ingin menumpahkan seluruhnya lewat pukulan keyboard &amp;nbsp;ini. Aku adalah orang yang beruntung, karena mendapat kepercayaan dan anugerah Tuhan Yang Kuasa menjadi “orang penting”. Hartaku begitu melimpah, hingga harus kebingungan mau dikemanakan dan bagaimana cara menghabiskannya. Aku adalah seorang boss yang kata orang sangat mujur dan terpandang. Aku memang sudah terbiasa di elu-elukan. Terutama oleh para pengikutku, rekan-rekanku, tetanggaku dan sejawatku. Aku terbiasa didaulat sebagai orang hebat dan luar biasa. Hebat karena keberanianku, luar biasa karena kelakuanku nekad. &amp;nbsp;Mungkin, karena aku selalu berada dalam dua dimensi cukup ekstrim. Sebagai seorang pejabat sekaligus pengusaha jahat. Seorang ilmuwan sejati sekaligus seorang politisi imitasi. Seorang idealis sekaligus hipokrit. Seorang aparat hukum, sekaligus terbiasa &amp;nbsp;diseret jadi terdakwa. Orang-orang begitu mafhum, kalau aku selalu dinaungi dewi fortuna. Aku pun mendapat sandangan sebagai seorang pemimpin panutan. Seorang pemimpin berani, keras, tegas dan tanpa tedeng aling-aling. Walau sesungguhnya aku merasa “tak berkepala,” karena memang &amp;nbsp;aku tak punya jiwa seorang kepala atau seorang pemimpin yang punya nyali merintah orang. Hartaku melimpah, namun itu lebih banyak dari hasil KKN, memeras keringat orang atau dari orang-orang yang teraniaya dan berperkara. Kalau orang menganggapku sebagai orang cerdas, aku rasa mereka tertipu, karena aku sesuai rapotku berada di bawah rata-rata kelas. Barangkali satu-satunya kehebatanku adalah keahlianku dalam menjilat ke atas, menekan ke bawah serta menyikut ke samping kiri dan kananku. Selain, tentu saja, keterampilan memeras, menipu, berbohong dan berculas-culas diri. Aku tercengang, akhir-akhir ini banyak orang memandang sumir padaku. Aku &amp;nbsp;kaget walau tak harus setengah mati. &amp;nbsp;Seperti biasa aku tenang dan mulai berpikir cari strategi. Aku berpikir dan mulai sadar diri, boleh jadi dan wajar saja pandangan itu, karena kenyataannya sebagai pejabat aku memang banyak berbuat distorsi. Bahkan seringkali aku dicerca dan dimaki hingga harus disomasi. Gara-garanya karena kebijakanku yang menyangkut &amp;nbsp;hajat hidup orang banyak, terlalu ngelantur dan salah sasaran. Aku memang tergolong orang teramat nekad dan rada edan. Itulah mengapa, gerak langkahku selalu dipandu ramalan feng sui dan dukun sakti. Sehingga separah apa pun aku berhianat atau berbuat jahat, tak sampai terjerat hukum. Apalagi kalau harus mendekam di sebuah pulau kecil terpencil nun jauh di seberang sana. Amit-amit. Begitu pun sebagai seorang pengusaha, aku sering tersenyum sendiri melihat para pejabat di republik ini. Mereka begitu gampang ditaklukan, hingga tak sanggup lagi untuk mengatakan ’tidak’ padaku. Kuncinya tak terlalu sulit, cukup dengan sebuah lobby di hotel berbintang atau sepukul dua pukul di padang golf sana. Berikan saja bisikan maut seraya “dijanjikan” kesenangan dunia (tahta, harta, wanita), maka tak ampun lagi ia pun akan mendekap dan mencium kita. Jalan pun lempang menuju tol bebas hambatan memenangkan tender proyek. Sebagai pengusaha dan penggulung harta, jelas aku lebih lihai di bidangnya. Kejahatan dan kelicikan kaum pejabat, sesungguhnya tiada setahi kukunya dibandingku. Aku lah sang raksasa yang begitu haus dan lugas dalam menguras kas negara. Kalau mereka melibas 20%, maka akan kulibas 40% dari total proyek. Begitulah teorinya. Masa bodoh hasil proyek menjadi melenceng jauh dari besteknya. Suatu ketika ada sebuah kasus menimpaku. Entah bagaimana, Aku begitu tenang dan diam saja seraya menguji sampai sehebat mana para petinggi hukum kita dalam membedah dan menuntaskan sebuah perkara. Aku diam saja, karena aku sudah hafal semua kunci sakti dan pepatah leluhur. Apalagi jampi-jampi penyumbat mulut telah kugenggam erat. Bahkan aku sangat ahli menggunakannya dan kapan harus memanfaatkannya. Seperti biasa teori ”win-win solution” telah menuntaskannya bagai sebuah kemoceng penyapu debu. Sebagai seorang pejabat aku sesungguhnya malu pada diriku untuk berterus terang. Malu karena harus kuakui, tak pernah &amp;nbsp;bisa jujur. Mungkin karena kondisi dan watak dasarku yang mengharuskan aku bermain-main dengan penghianatan. Namun kalau aku jujur dan hanya mengandalkan dari gajiku, darimana aku bisa makan. Mana bisa cukup untuk membiayai anak-anakku yang sekolah di luar negeri. Belum lagi arisan istri-istriku, tiga pembantuku, tip sekretarisku, dan tetek bengek biaya ekstra kemaksiatanku. Darimana aku bisa bayar rekening listrik, telepon, PAM, gas, dan beberapa istri simpananku. Serta bagaimana aku harus menjaga prestiseku di lingkungan kerja dan masyarakatku. Kalau hanya mengandalkan income sebagai seorang pejabat, jelas “no-way” guna memenuhi seluruh biaya resiko hidup keseharianku. Sebab itu, ketika aku dipercaya menjadi seorang pejabat, maka dengan serta merta tahap pertama adalah membenahi kondisi ekonomiku. Aku pun mulai turut terlibat dan “bermain”. Ternyata, sungguh tak sulit bermain seperti itu. Tak ada bedanya dengan anak balita yang main tak umpet dengan teman-teman tetangga seusianya. Teknisnya pun tak sulit, selama masih ada sebuah meja berkolong. Atau selama masih ada yang jualan map dan amplop. Atau selama masih memiliki nomor rekening sebuah bank. Semuanya akan berjalan lancar-lancar saja. Maka aku pun semakin berkutat dalam lumpur dosa dan perbuatan nista. Namun seringkali aku berbuat keterlaluan, mungkin karena embrio turunan keserakahan yang melekat dalam jiwa, hingga seringkali aku harus disoroti, dicurigai dan dituduh berbuat nyeleneh. Sebut saja soal kejomplangan sebuah transaksi yang sangat mencolok mata. Perbuatan mark-up, memeras mitra atau bermain-main dengan komisi dan diskon yang sudah kuanggap sebagai perbuatan halal dan harus kuhadapi semua dengan pasang wajah tak berdosa. Predikat lain yang aku sandang adalah seorang pakar hukum dengan keahlian menangani perkara. Karena kupikir begitu mudahnya mendapat uang, apalagi kalau harus menangani sebuah kasus penggelapan atau korupsi dalam jumlah rupiah yang “emberan”. Hanya dengan menyelewengkan dan merasionalisasi sebuah pasal, tak sulit kalau sekadar berkeinginan dihadiahi sebuah rumah, kendaraan plus deposito. Apalagi, kalau yang namanya permainan kongkalikong lewat jual beli pasal di jagat mafia peradilan kita sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. &amp;nbsp;Semua paham, mengerti dan sangat mafhum. Keuntungan untuk menjadi seorang ahli menangani perkara, baik jaksa, hakim, pengacara, yang ketiganya terampil “bermain mata” itu, justru karena terdakwa yang dihadirkan umumnya datang &amp;nbsp;dari lembah hitam. Maka demi keadilan, aku sebagai anggota tim mulai berpikir, harus ketiban rejeki dengan cara memeras atas dugaan kejahatan dari seorang terdakwa berdompet tebal. Pernah pula aku menjabat sebagai seorang pimpinan partai. Keahlianku dalam menerapkan ilmu retorika, tak disangsikan lagi. Maka tak heran saat kampanye, aku bak orator kawakan. Berbekal ilmu psikologi massa dan ilmu komunikasi yang seadanya, aku pun mulai berkampanye yang penuh dengan bualan dan janji-janji palsu. Segala jurus propaganda dan agitasi kukerahkan sepenuh tenaga. Aku pun sadar kalau saat itu, sesungguhnya aku sudah melakukan kebohongan publik. Namun aku tak perduli, yang penting adalah &amp;nbsp;bagaimana caranya agar aku bisa segera bertengger di kursi DPR yang terhormat. Memang benar dan kurasakan sendiri, kursi itu begitu empuk dengan pendingin yang sejuk, hingga menjadi sebuah tempat nyaman dan strategis untuk sekedar baca koran dan tertidur lelap. Gajiku pun dibayar tunai Rp.60 juta tanpa harus menumpahkan banyak enerji. Namun aku sering lupa mengambil gajiku, karena aku harus mengurus pendapatan lain yang lebih berarti dan mencengangkan dalam jumlah lipatan kali. Rejeki haram itu kuperoleh atas jasa sebuah statement “acc” dari sebuah kebijakan yang akan diluncurkan. Tak perduli, kalau pada gilirannya kebijakan itu merugikan negara atau mencekik kehidupan rakyat. Saat itu aku pun begitu makmur. Hingga ke Senayan pun harus terbiasa bermobil mewah. Karena teman-temanku juga sama (kalau tidak percaya, datang saja ke Senayan sekitar pukul 10 pagi). Kalian akan terkagum-kagum melihat rekan-rekanku lomba adu pamer mobil mewah disana. Sebenarnya untuk menjadi orang kaya di Senayan atau di kantor rakyat daerah, yang kemudian diisi oleh wakil-wakilnya, tidak lah sulit. Disitu ada pelbagai macam pos uang, mulai dari uang reses, benchmark ke luar negeri, kendaraan, perumahan, sampai pada uang kadeudeuh, dll. Untuk menjadi kaya di dewan, cukup bermodalkan suara vokal dan berjiwa pembela rakyat, sekali pun itu harus dilakukan dengan penuh keterpaksaan dan kepura-puraan. Ya, kupikir, namanya juga usaha, maka segala cara dan daya kuupayakan. Walau sesungguhnya itu, tak hanya telah menghianati rakyat, bangsa dan negaraku, namun juga menghianati diriku sendiri yang harus aku pertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Dalam menjalani hari-hari di awal tahun 2007 ini, aku berpikir dan melihat kebiasaan atau tradisi umat manusia berpesta pora sejak ribuan tahun lalu. Namun ketika pemikiranku menukik pada inti dan makna sebuah peristiwa pergantian tahun, aku yakin tak banyak orang memahaminya, termasuk diriku. Yang aku pikirkan, peristiwa pergantian tahun, berarti almanak lama ditanggalkan dan terpasang dengan yang baru. Berarti ada pesta terompet dan kembang api di beberapa tempat di jalanan yang menimbulkan kemacetan. Berarti ada sekelompok manusia yang berpesta pora penuh hura-hura yang menghabiskan jutaan rupiah di hotel-hotel, café, restoran dan tempat-tempat khusus lainnya. Berarti ada sejumlah manusia yang lupa diri karena mabuk-mabukan atau berjingkrak bak kerasukan syetan akibat doping barang haram. Namun aku pun mulai menyadari bahwa jatah umurku telah berkurang satu tahun. Kemudian aku memandangnya menjadi semacam harapan baru. Mungkin kah aku masih bisa menjalani hidupku dalam setahun ke depan. Mungkin kah masih diberikan kesempatan untuk menuju kehidupan yang lebih baik dan wajar. &amp;nbsp;Aku pun mulai membuat rencana-rencana besar hidupku dan target-target yang mesti dicapai. Pergantian tahun ini, kemudian aku jadikan sebagai sebuah momentum untuk berintrospeksi diri. Bagaimana agar dalam menjalani kehidupan di tahun 2007 ini, kehidupanku menjadi lebih berarti bagi lingkungan hidupku. Bagi bangsa dan negaraku, bagi agama dan tanah airku. Minimal bagi diriku sendiri yang penuh cacat dan cela, yang penuh aib dan penghianatan, yang penuh kerakusan dan pemerasan, yang telah mengotori darah keluargaku dengan harta tak halal. Maka, ketika detik berdetak, manakala menit mencubit, saat jam berdentam, waktu hari berharu, bilamana bulan mengalun, tahun pun mengayun menjadi rangkaian peristiwa dan potret diri yang penuh bayangan hitam dan kelam. Suka, duka, sedih, pilu, haru, biru, canda, tawa dan nestapa, semuanya telah menjadi memori bunga-bunga kehidupan. Sementara seluruh sikap dan kelakuanku, ketidakwajaranku, kerakusanku, kebohonganku, penghianatanku, pemerasanku, penyelewenganku, pemutarbalikan faktaku, dan seluruh kejahatanku, &amp;nbsp;telah terekam dalam sebuah kaset kehidupan. Sebuah kaset kehidupan yang boleh jadi akan kuserahkan sendiri pada Tuhan Yang Kuasa sebagai pertanggungjawaban kehidupanku selama di dunia. Aku tersentak dari lamunanku, ketika sebuah terompet berbunyi keras dekat lubang telingaku. “Melamun apa kang, jadi orang kaya? Ha..ha..ha..,” olok tetanggaku seraya berkali-kali meniupkan terompetnya dan langsung ngeloyor lagi entah kemana. Mungkin karena khawatir menggangguku. Sambil menahan rasa terkejutku, aku pun beristighfar dan bergumam, &amp;nbsp; “Amit-amit deh, kalau jadi orang kaya macam gitu.” Maka kutanamkan pada diriku, berikrar dan bertekad bahwa mulai tahun baru ini, aku harus menjadi orang yang lebih baik dan wajar, lebih arif dan bijak, lebih jujur dan apa adanya, serta tekad menuju derajat taqwa dengan sepenuh taubat. Lantas aku pun tak lupa untuk bersujud dan bersyukur pada Tuhan, atas segala rahmat &amp;nbsp;dan nikmat yang kuperoleh saat ini. &amp;nbsp;Termasuk nikmat kesehatan dan kecukupan rezeki halal. Itulah karunia Tuhan sesungguhnya....</itunes:subtitle><itunes:author>fazima70@yahoo.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Oleh Ki Gempur Mudharat “Selamat Tinggal 2006, Selamat Datang 2007,” begitulah aku bertutur salam pada diriku saat detik-detik pergantian tahun ini. Seperti yang dirasakan orang-orang, aku pun turut berbahagia dan bergembira. Walau harus kurasakan ada kesedihan mendalam atas musibah yang dialami saudara-saudaraku di negeri kriminal ini. Aku pun harus menyampaikan rasa bela sungkawa sedalam-dalamnya atas berbagai musibah di darat laut dan udara yang kerap begitu dahsyat hingga harus memakan korban orang tak sedikit. Untuk menyambut kedatangan tahun baru kali ini, rasanya aku ingin mengumbar segala uneg-unegku. Tentang segala kejelengkelan, kekalutan dan kebencian pada diriku. Atas segala dosa, bejat dan kebopenganku. Tentang ini dan itu yang acapkali tak sangup kupahami. Aku ingin menumpahkan seluruhnya lewat pukulan keyboard &amp;nbsp;ini. Aku adalah orang yang beruntung, karena mendapat kepercayaan dan anugerah Tuhan Yang Kuasa menjadi “orang penting”. Hartaku begitu melimpah, hingga harus kebingungan mau dikemanakan dan bagaimana cara menghabiskannya. Aku adalah seorang boss yang kata orang sangat mujur dan terpandang. Aku memang sudah terbiasa di elu-elukan. Terutama oleh para pengikutku, rekan-rekanku, tetanggaku dan sejawatku. Aku terbiasa didaulat sebagai orang hebat dan luar biasa. Hebat karena keberanianku, luar biasa karena kelakuanku nekad. &amp;nbsp;Mungkin, karena aku selalu berada dalam dua dimensi cukup ekstrim. Sebagai seorang pejabat sekaligus pengusaha jahat. Seorang ilmuwan sejati sekaligus seorang politisi imitasi. Seorang idealis sekaligus hipokrit. Seorang aparat hukum, sekaligus terbiasa &amp;nbsp;diseret jadi terdakwa. Orang-orang begitu mafhum, kalau aku selalu dinaungi dewi fortuna. Aku pun mendapat sandangan sebagai seorang pemimpin panutan. Seorang pemimpin berani, keras, tegas dan tanpa tedeng aling-aling. Walau sesungguhnya aku merasa “tak berkepala,” karena memang &amp;nbsp;aku tak punya jiwa seorang kepala atau seorang pemimpin yang punya nyali merintah orang. Hartaku melimpah, namun itu lebih banyak dari hasil KKN, memeras keringat orang atau dari orang-orang yang teraniaya dan berperkara. Kalau orang menganggapku sebagai orang cerdas, aku rasa mereka tertipu, karena aku sesuai rapotku berada di bawah rata-rata kelas. Barangkali satu-satunya kehebatanku adalah keahlianku dalam menjilat ke atas, menekan ke bawah serta menyikut ke samping kiri dan kananku. Selain, tentu saja, keterampilan memeras, menipu, berbohong dan berculas-culas diri. Aku tercengang, akhir-akhir ini banyak orang memandang sumir padaku. Aku &amp;nbsp;kaget walau tak harus setengah mati. &amp;nbsp;Seperti biasa aku tenang dan mulai berpikir cari strategi. Aku berpikir dan mulai sadar diri, boleh jadi dan wajar saja pandangan itu, karena kenyataannya sebagai pejabat aku memang banyak berbuat distorsi. Bahkan seringkali aku dicerca dan dimaki hingga harus disomasi. Gara-garanya karena kebijakanku yang menyangkut &amp;nbsp;hajat hidup orang banyak, terlalu ngelantur dan salah sasaran. Aku memang tergolong orang teramat nekad dan rada edan. Itulah mengapa, gerak langkahku selalu dipandu ramalan feng sui dan dukun sakti. Sehingga separah apa pun aku berhianat atau berbuat jahat, tak sampai terjerat hukum. Apalagi kalau harus mendekam di sebuah pulau kecil terpencil nun jauh di seberang sana. Amit-amit. Begitu pun sebagai seorang pengusaha, aku sering tersenyum sendiri melihat para pejabat di republik ini. Mereka begitu gampang ditaklukan, hingga tak sanggup lagi untuk mengatakan ’tidak’ padaku. Kuncinya tak terlalu sulit, cukup dengan sebuah lobby di hotel berbintang atau sepukul dua pukul di padang golf sana. Berikan saja bisikan maut seraya “dijanjikan” kesenangan dunia (tahta, harta, wanita), maka tak ampun lagi ia pun akan mendekap dan mencium kita. Jalan pun lempang menuju tol bebas hambatan memenangkan tender proyek. Sebagai pengusaha dan penggulung harta, jelas aku lebih lihai di bidangnya. Kejahatan dan kelicikan kaum pejabat, sesungguhnya tiada setahi kukunya dibandingku. Aku lah sang raksasa yang begitu haus dan lugas dalam menguras kas negara. Kalau mereka melibas 20%, maka akan kulibas 40% dari total proyek. Begitulah teorinya. Masa bodoh hasil proyek menjadi melenceng jauh dari besteknya. Suatu ketika ada sebuah kasus menimpaku. Entah bagaimana, Aku begitu tenang dan diam saja seraya menguji sampai sehebat mana para petinggi hukum kita dalam membedah dan menuntaskan sebuah perkara. Aku diam saja, karena aku sudah hafal semua kunci sakti dan pepatah leluhur. Apalagi jampi-jampi penyumbat mulut telah kugenggam erat. Bahkan aku sangat ahli menggunakannya dan kapan harus memanfaatkannya. Seperti biasa teori ”win-win solution” telah menuntaskannya bagai sebuah kemoceng penyapu debu. Sebagai seorang pejabat aku sesungguhnya malu pada diriku untuk berterus terang. Malu karena harus kuakui, tak pernah &amp;nbsp;bisa jujur. Mungkin karena kondisi dan watak dasarku yang mengharuskan aku bermain-main dengan penghianatan. Namun kalau aku jujur dan hanya mengandalkan dari gajiku, darimana aku bisa makan. Mana bisa cukup untuk membiayai anak-anakku yang sekolah di luar negeri. Belum lagi arisan istri-istriku, tiga pembantuku, tip sekretarisku, dan tetek bengek biaya ekstra kemaksiatanku. Darimana aku bisa bayar rekening listrik, telepon, PAM, gas, dan beberapa istri simpananku. Serta bagaimana aku harus menjaga prestiseku di lingkungan kerja dan masyarakatku. Kalau hanya mengandalkan income sebagai seorang pejabat, jelas “no-way” guna memenuhi seluruh biaya resiko hidup keseharianku. Sebab itu, ketika aku dipercaya menjadi seorang pejabat, maka dengan serta merta tahap pertama adalah membenahi kondisi ekonomiku. Aku pun mulai turut terlibat dan “bermain”. Ternyata, sungguh tak sulit bermain seperti itu. Tak ada bedanya dengan anak balita yang main tak umpet dengan teman-teman tetangga seusianya. Teknisnya pun tak sulit, selama masih ada sebuah meja berkolong. Atau selama masih ada yang jualan map dan amplop. Atau selama masih memiliki nomor rekening sebuah bank. Semuanya akan berjalan lancar-lancar saja. Maka aku pun semakin berkutat dalam lumpur dosa dan perbuatan nista. Namun seringkali aku berbuat keterlaluan, mungkin karena embrio turunan keserakahan yang melekat dalam jiwa, hingga seringkali aku harus disoroti, dicurigai dan dituduh berbuat nyeleneh. Sebut saja soal kejomplangan sebuah transaksi yang sangat mencolok mata. Perbuatan mark-up, memeras mitra atau bermain-main dengan komisi dan diskon yang sudah kuanggap sebagai perbuatan halal dan harus kuhadapi semua dengan pasang wajah tak berdosa. Predikat lain yang aku sandang adalah seorang pakar hukum dengan keahlian menangani perkara. Karena kupikir begitu mudahnya mendapat uang, apalagi kalau harus menangani sebuah kasus penggelapan atau korupsi dalam jumlah rupiah yang “emberan”. Hanya dengan menyelewengkan dan merasionalisasi sebuah pasal, tak sulit kalau sekadar berkeinginan dihadiahi sebuah rumah, kendaraan plus deposito. Apalagi, kalau yang namanya permainan kongkalikong lewat jual beli pasal di jagat mafia peradilan kita sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. &amp;nbsp;Semua paham, mengerti dan sangat mafhum. Keuntungan untuk menjadi seorang ahli menangani perkara, baik jaksa, hakim, pengacara, yang ketiganya terampil “bermain mata” itu, justru karena terdakwa yang dihadirkan umumnya datang &amp;nbsp;dari lembah hitam. Maka demi keadilan, aku sebagai anggota tim mulai berpikir, harus ketiban rejeki dengan cara memeras atas dugaan kejahatan dari seorang terdakwa berdompet tebal. Pernah pula aku menjabat sebagai seorang pimpinan partai. Keahlianku dalam menerapkan ilmu retorika, tak disangsikan lagi. Maka tak heran saat kampanye, aku bak orator kawakan. Berbekal ilmu psikologi massa dan ilmu komunikasi yang seadanya, aku pun mulai berkampanye yang penuh dengan bualan dan janji-janji palsu. Segala jurus propaganda dan agitasi kukerahkan sepenuh tenaga. Aku pun sadar kalau saat itu, sesungguhnya aku sudah melakukan kebohongan publik. Namun aku tak perduli, yang penting adalah &amp;nbsp;bagaimana caranya agar aku bisa segera bertengger di kursi DPR yang terhormat. Memang benar dan kurasakan sendiri, kursi itu begitu empuk dengan pendingin yang sejuk, hingga menjadi sebuah tempat nyaman dan strategis untuk sekedar baca koran dan tertidur lelap. Gajiku pun dibayar tunai Rp.60 juta tanpa harus menumpahkan banyak enerji. Namun aku sering lupa mengambil gajiku, karena aku harus mengurus pendapatan lain yang lebih berarti dan mencengangkan dalam jumlah lipatan kali. Rejeki haram itu kuperoleh atas jasa sebuah statement “acc” dari sebuah kebijakan yang akan diluncurkan. Tak perduli, kalau pada gilirannya kebijakan itu merugikan negara atau mencekik kehidupan rakyat. Saat itu aku pun begitu makmur. Hingga ke Senayan pun harus terbiasa bermobil mewah. Karena teman-temanku juga sama (kalau tidak percaya, datang saja ke Senayan sekitar pukul 10 pagi). Kalian akan terkagum-kagum melihat rekan-rekanku lomba adu pamer mobil mewah disana. Sebenarnya untuk menjadi orang kaya di Senayan atau di kantor rakyat daerah, yang kemudian diisi oleh wakil-wakilnya, tidak lah sulit. Disitu ada pelbagai macam pos uang, mulai dari uang reses, benchmark ke luar negeri, kendaraan, perumahan, sampai pada uang kadeudeuh, dll. Untuk menjadi kaya di dewan, cukup bermodalkan suara vokal dan berjiwa pembela rakyat, sekali pun itu harus dilakukan dengan penuh keterpaksaan dan kepura-puraan. Ya, kupikir, namanya juga usaha, maka segala cara dan daya kuupayakan. Walau sesungguhnya itu, tak hanya telah menghianati rakyat, bangsa dan negaraku, namun juga menghianati diriku sendiri yang harus aku pertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Dalam menjalani hari-hari di awal tahun 2007 ini, aku berpikir dan melihat kebiasaan atau tradisi umat manusia berpesta pora sejak ribuan tahun lalu. Namun ketika pemikiranku menukik pada inti dan makna sebuah peristiwa pergantian tahun, aku yakin tak banyak orang memahaminya, termasuk diriku. Yang aku pikirkan, peristiwa pergantian tahun, berarti almanak lama ditanggalkan dan terpasang dengan yang baru. Berarti ada pesta terompet dan kembang api di beberapa tempat di jalanan yang menimbulkan kemacetan. Berarti ada sekelompok manusia yang berpesta pora penuh hura-hura yang menghabiskan jutaan rupiah di hotel-hotel, café, restoran dan tempat-tempat khusus lainnya. Berarti ada sejumlah manusia yang lupa diri karena mabuk-mabukan atau berjingkrak bak kerasukan syetan akibat doping barang haram. Namun aku pun mulai menyadari bahwa jatah umurku telah berkurang satu tahun. Kemudian aku memandangnya menjadi semacam harapan baru. Mungkin kah aku masih bisa menjalani hidupku dalam setahun ke depan. Mungkin kah masih diberikan kesempatan untuk menuju kehidupan yang lebih baik dan wajar. &amp;nbsp;Aku pun mulai membuat rencana-rencana besar hidupku dan target-target yang mesti dicapai. Pergantian tahun ini, kemudian aku jadikan sebagai sebuah momentum untuk berintrospeksi diri. Bagaimana agar dalam menjalani kehidupan di tahun 2007 ini, kehidupanku menjadi lebih berarti bagi lingkungan hidupku. Bagi bangsa dan negaraku, bagi agama dan tanah airku. Minimal bagi diriku sendiri yang penuh cacat dan cela, yang penuh aib dan penghianatan, yang penuh kerakusan dan pemerasan, yang telah mengotori darah keluargaku dengan harta tak halal. Maka, ketika detik berdetak, manakala menit mencubit, saat jam berdentam, waktu hari berharu, bilamana bulan mengalun, tahun pun mengayun menjadi rangkaian peristiwa dan potret diri yang penuh bayangan hitam dan kelam. Suka, duka, sedih, pilu, haru, biru, canda, tawa dan nestapa, semuanya telah menjadi memori bunga-bunga kehidupan. Sementara seluruh sikap dan kelakuanku, ketidakwajaranku, kerakusanku, kebohonganku, penghianatanku, pemerasanku, penyelewenganku, pemutarbalikan faktaku, dan seluruh kejahatanku, &amp;nbsp;telah terekam dalam sebuah kaset kehidupan. Sebuah kaset kehidupan yang boleh jadi akan kuserahkan sendiri pada Tuhan Yang Kuasa sebagai pertanggungjawaban kehidupanku selama di dunia. Aku tersentak dari lamunanku, ketika sebuah terompet berbunyi keras dekat lubang telingaku. “Melamun apa kang, jadi orang kaya? Ha..ha..ha..,” olok tetanggaku seraya berkali-kali meniupkan terompetnya dan langsung ngeloyor lagi entah kemana. Mungkin karena khawatir menggangguku. Sambil menahan rasa terkejutku, aku pun beristighfar dan bergumam, &amp;nbsp; “Amit-amit deh, kalau jadi orang kaya macam gitu.” Maka kutanamkan pada diriku, berikrar dan bertekad bahwa mulai tahun baru ini, aku harus menjadi orang yang lebih baik dan wajar, lebih arif dan bijak, lebih jujur dan apa adanya, serta tekad menuju derajat taqwa dengan sepenuh taubat. Lantas aku pun tak lupa untuk bersujud dan bersyukur pada Tuhan, atas segala rahmat &amp;nbsp;dan nikmat yang kuperoleh saat ini. &amp;nbsp;Termasuk nikmat kesehatan dan kecukupan rezeki halal. Itulah karunia Tuhan sesungguhnya....</itunes:summary><itunes:keywords>islam,info,islam,agama,toleransi,ummat,muslim</itunes:keywords></item></channel></rss>