<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720</atom:id><lastBuildDate>Wed, 06 Nov 2024 03:07:19 +0000</lastBuildDate><category>cerita orang padang</category><category>A Life Story</category><category>lucky story</category><category>News</category><category>Minangkabau</category><category>Menunggu Angin Bertiup</category><category>Sinopsis Film</category><category>Bujang Keramat</category><category>Budaya</category><category>Cerita Lucu</category><category>Music</category><category>Cerpen</category><category>Obrolan santai</category><category>Article</category><category>Kumpulan Cerita Misteri</category><category>Tourism</category><category>Wisata Bahari Sumatera Barat</category><category>Anak Lonte</category><category>Novel Synopsis</category><category>Opinion</category><category>history</category><category>Di Ujung Lapik Pandan</category><category>Drama</category><category>Elizar S</category><category>Learning English</category><category>Novel Review</category><category>Upik Bilik</category><category>legenda</category><category>life style</category><title>Lucky the Storyteller</title><description>Berbagi cerita dan pengalaman hidup di sini tempatnya </description><link>http://luckycerita.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>110</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-4140187692111002350</guid><pubDate>Sun, 27 Nov 2016 10:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-09-28T19:46:08.241-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">A Life Story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Anak Lonte</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucky story</category><title>Anak Lonte: Chapter 2 - Kakus</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicnRjpjZHog52jsdot5xSBqtmAJapgY7EXpsx-dKfXdDBzsfbZhTNrnd5CRpS8GzwLB_mkV3f6cGxQZa1miq_p_BosN7CTDWkXzV7Hxw_hvWOYcxOMhQIeikrkQ-eDBJomPPz_y1nqMnC6/s1600/20080819214726.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicnRjpjZHog52jsdot5xSBqtmAJapgY7EXpsx-dKfXdDBzsfbZhTNrnd5CRpS8GzwLB_mkV3f6cGxQZa1miq_p_BosN7CTDWkXzV7Hxw_hvWOYcxOMhQIeikrkQ-eDBJomPPz_y1nqMnC6/s320/20080819214726.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span id="goog_1570633774"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_1570633775"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Anak Lonte:&amp;nbsp; Chapter 2&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;"Kakus"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Lucky Lukmansyah &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Almarhumah ibuku namanya Marsinah. Kalau di Puruih dia biasa dipanggil dengan sebutan mbak Asih atau Uni Asih. Tapi aku memanggilnya dengan sebutan Bunda saja. Bundaku paling sering dan biasa dipanggil mbak dari pada uni seperti awamnya para perempuan Padang. Biasanya orang yang baru mengenal Bunda tentu akan memanggilnya dengan uni, nanti kalau sudah kenal, maka ketahuan dari logat bicaranya yang medok, layaknya orang Jawa, maka orang itu akan langsung memanggil Bunda dengan sebutan mbak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ada juga sebagian orang Padang yang punya penglihatan jeli dapat membedakan, mana perempuan Minang, dan mana perempuan Jawa Padang, yang biasa dipanggil mbak. Menurut kata guru SMA ku dulu, mudah saja membedakannya. Lihat saja pada garis wajahnya, kalau perempuan Minang garis wajahnya lurus dan tajam, sedangkan perempuan Jawa bulat atau melengkung dari pipi hingga ke dagu. Entah itu benar atau tidak, yang pasti aku menemukan hal itu pada wajah bunda yang bundar, serasi dengan hidungnya yang bulat kecil, bibirnya pun kecil pula. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunda meninggal dunia pada usia sekitar 35 tahun. Hal itu sangat ku sesalkan sekali, mengapa beliau harus kembali kepada Nya dalam usia yang masih sangat terlalu muda, meninggalkan aku sendiri berjalan mengarungi alam dunia yang maha luas ini. Sungguh aku gamang dalam menghadapi kenyataan ini. Namun inilah kenyataan hidup yang tetap harus aku jalani. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingin rasanya aku jalan menelusuri jejak-jejak langkah yang telah pernah dilewati mendiang ibuku semasa hidupnya dulu. Tapi tidak banyak informasi tentang latar belakang kehidupannya tersimpan di otak ku. Benar Bunda adalah orang Jawa, tapi sayang dia tidak pernah bilang dimana tanah asalnya. Yang aku tahu dulu Bunda pernah mengatakan bahwa orang tuanya diboyong oleh pemerintah untuk menetap tinggal di pedalaman Sitiung, di daerah lintas Sumatera bagian tengah, sebagai orang transmigrasi yang menggarap sekapling tanah untuk ditanami pohon kelapa sawit. Hanya itu saja yang ku tahu tentang latar belakang bunda, tidak lebih. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang mengapa Bunda bisa sampai tinggal di Padang, sendiri, menanggung beban membesarkan aku, putra si mata wayangnya, tanpa suami ataupun saudara di dekatnya, Bunda tidak pernah sekalipun menjelaskan tentang itu kepada ku. Bunda cuma bilang kalau dia tidak suka tinggal dengan bapak dan simbok. Perkataan itu kemudian menimbulkan pertanyaan dalam benak ku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat disekeliling tempat tinggal ku dulu, semua anak perempuan hidup aman dan damai dalam lindungan kasih sayang orang tua, walaupun nanti mereka akan punya suami, dan punya keturunan, tetap akan tinggal dalam lingkungan keluarga, sampai nanti ibu bapaknya meninggal dunia, maka merekalah, para perempuan itu yang akan mewarisi segala harta benda peninggalan orang tua mereka. Kenapa ibu tidak demikian? Kelak baru aku ketahui ternyata perempuan Padang, atau perempuan Minang tidak sama dengan ibu ku, orang Jawa. Orang Jawa melakukan hal sebaliknya, anak laki-laki yang tinggal di rumah orang tuanya, yang perempuan keluar atau ikut dengan suaminya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu apakah dulu Bunda pindah ke Padang ini karena mengikut pada suaminya? Siapa suaminya? Siapakah bapak ku? Bunda tidak pernah bilang siapa ayah ku. Dulu waktu aku sekolah di taman kanak-kanak, aku memperhatikan teman-teman ku diantar jemput ke sekolah oleh kedua orang tua mereka, kadang ayah, terkadang ibu mereka yang datang menjemput. Tapi aku tidak. Selalu saja Bunda yang setia berada di sisiku. Waktu itu aku mulai bertanya kepada Bunda tentang siapa bapak dan dimana bapak. Tapi bunda diam saja, tidak menjawab dan bahkan tidak mau menjelaskan, selalu diam saja, lalu kemudian mengalihkan topik pembicaraan ke hal-hal lain. Kalau seandainya dulu Bunda bilang ayah ku sudah mati, itu cukup bagi ku, atau seandainya bilang sajalah ayah ku pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Itu saja juga sudah cukup bagi ku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puruih, adalah sebuah kampung nelayan yang terletak di sepanjang pinggiran pantai Padang. Disitulah aku dilahirkan. Disitu pertama kali mataku ini menatap dunia, menatap wajah ibu ku yang sendu. Aku tumbuh besar dalam belaian kasih Bunda seorang. Senantiasa tetap dalam perlindungannya hingga aku semakin tumbuh besar untuk memulai bersosialisasi dengan manusia lain, selain Bunda, dan berinterasi dengan alam sekitar yang didominasi oleh laut, pantai, dan rumah-rumah gubuk para nelayan yang beratap daun rumbia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kampung Puruih kami berdua tinggal menghuni sebuah rumah bedeng kontrakan yang terbuat dari dari susunan balok-balok kayu, dinding papan, lantai papan dan atap asbes sebagai tempat berlindung dari terik matahari dan hujan. Rumah kontrakan tempat tinggal kami itu ada enam pintu berjejer memanjang ke belakang. Pemiliknya adalah seorang nenek tua yang tinggal di rumah besar semi permanen,  berada di tepi jalan aspal yang lurus arah ke pantai, jalan aspal itu menghubungkan antara pantai dengan jalan utama, jalan Veteran. Si nenek tinggal berdua saja dengan si bungsu, anak gadisnya yang menderita keterbelakangan mental, idiot. Suaminya sudah lama meninggal, sedangkan anak-anak yang lain sudah pada pergi merantau mencari penghidupan mereka masing-masing. Kata orang anak-anak si nenek banyak tiggal di Jakarta, berjualan kain di pasar Tanah Abang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di rumah kontrakan si nenek yang enam pintu itu, aku dan bunda menghuni petakan nomor 6, paling ujung dekat dengan kamar mandi, WC umum dan comberan yang airnya mengalir turun ke kali kecil yang berada hanya berjarak sepuluh meter saja dari jendela kamar tempat tinggal kami. Kalau pada hari musim panas, bau pesing bercampur busuk dari sisa-sisa kotoran manusia merambat naik melewati jendela, hingga menusuk rongga-rongga hidung orang-orang penghuni rumah kontrakan. Mereka selalu mengeluh tentang polusi udara yang disebabkan oleh lubang kakus itu dibarengi air liur yang mereka buang ke tanah. Keluhan mereka hanya pada saat itu saja, nanti akan berlalu seperti angin yang berhembus datang dari laut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau musim hujan lain lagi ceritanya, itu, sisa-sisa itu bisa saja hanyut terbawa oleh air kali yang melimpah ke jalan, dihanyutkan air hujan hingga teronggok pelek dekat tangga rumah atau di jalan. Maka selalu saja setiap hari hujan, semua penghuni rumah kontrakan akan waspada, mata selalu awas, jangan-jangan nanti ada saja “ranjau darat” tergeletak di jalan sempit menuju rumah yang setiap hari mereka lewati. Jangan kaki sampai terinjak “ranjau darat” itu, kalau kena habislah air simpanan dalam rumah untuk pencuci kaki. Pergi mencuci kaki ke kamar mandi itu sama saja percuma, karena lantai kamar mandi becek, penuh lumpur hitam dari  comberan yang melimpah masuk ke dalam situ dan akan mengendap. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada baik dan buruknya tinggal dekat dengan kamar mandi dan wc umum. Kalau yang buruknya sudah diceritakan tadi sebelumnya. Kalau hal baik ya tentu selalu saja ada. Setiap kali kebelet ingin buang air besar, tak perlu lari-lari masuk ke wc, tinggal turun tangga rumah dan langsung masuk ke dalam kakus. Kalau mencuci pakaian tinggal rendam baju dan celana ke dalam baskom, campur dengan bubuk deterjen lalu diamkan dan letakan di depan tangga rumah. Tak perlu menunggu antrian di kamar mandi untuk mencuci pakaian. Nanti itu ruangan kamar mandi, apa bila matahari mulai beranjak naik, akan sepi dengan sendirinya dari orang-orang yang setiap pagi rebutan untuk dapat memakai kamar mandi duluan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamar mandi umum itu terbagi dua partisi. Satu kamar mandi yang paling besar, itu untuk perempuan dan yang kecil untuk laki-laki. Sengaja kamar mandi perempuan dibuat lebih besar, luas dan lapang, karena perempuan biasanya punya banyak urusan di kamar mandi. Cuci inilah, cuci itulah, sampai memandikan anak juga masih juga urusan mereka. Kalau para laki-laki ya tinggal mandi saja di dalam kamar mandi mereka, lalu cabut keluar sambil menenteng ember atau gayung di tangan sama handuk di pundak, terus langsung naik ke rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamar mandi umum adalah hal yang selalu menjadi sumber konflik diantara para penhuni kontrakan setiap pagi. Setiap pagi ada saja keributan kecil terjadi di situ, biasanya terjadi antar sesama perempuan. Seseorang pasti merasa jengkel, kesal kepada orang yang kelamaan memakai kamar mandi. Ditambah lagi dengan suara anak perempuan yang merengek, mengadu kepada ibunya kalau orang yang di dalam situ lama sekali, dia mau cepat mandi agar tidak telat ke sekolah. Tidak jarang dinding seng kamar mandi di gedor-gedor hingga membuat suara gaduh oleh seseorang dari luar. Menyuruh orang yang di dalam supaya cepat keluar, karena anak gadisnya mau mandi karena mau pergi ke sekolah. “Salah sendiri, kenapa tidak lebih pagi mandinya kalau takut terlambat ke sekolah” Nah, itulah jawaban yang selalu terdengar dari dalam kamar mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa harus kamar mandi saja yang menjadi sumber konfik, sementara kakus tidak di persoalkan. Mudah saja jawabnya, “pergi sana, berak saja di laut” begitu lah kata orang yang sedang keenakan nongkrong di dalam kakus kalau ada orang yang dari luar menyuruhnya supaya cepat. Memang laut dekat sekali dari tempat ku, hanya beberapa puluh meter jaraknya dari rumah. Kalau kakus sedang di isi oleh orang, aku ataupun siapa saja boleh tinggal lari saja ke pantai, nonkrong di atas batu-batu grit, membuang kotoran, membiarkan itu hanyut di lamun oleh ombak. Begitu lah keadaan kampung ku dulu. Tidak jarang orang bilang kalau kampung ku itu mempunyai sebuah wc terpanjang di dunia, tercanggih dan paling mutakhir karena tidak perlu capek menggosok atau membersihkan, di situ sudah ada ombak laut disediakan oleh alam yang bertugas membersihkan kotoran-kotoran yang tertinggal di bibir pantai. Ya begitulah, itulah sebuah bentuk karunia yang dipersembahan oleh alam kepada manusia yang tinggal tepi laut. Sudah selayaknya manusia itu bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan alam untuk kebaikan semua yang tinggal di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/11/anak-lonte-chapter-2-kakus.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicnRjpjZHog52jsdot5xSBqtmAJapgY7EXpsx-dKfXdDBzsfbZhTNrnd5CRpS8GzwLB_mkV3f6cGxQZa1miq_p_BosN7CTDWkXzV7Hxw_hvWOYcxOMhQIeikrkQ-eDBJomPPz_y1nqMnC6/s72-c/20080819214726.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-1062037485001148378</guid><pubDate>Sat, 19 Nov 2016 04:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-09-28T19:47:23.219-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">A Life Story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Anak Lonte</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucky story</category><title>ANAK LONTE Chap: 1 MR. N</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEheJJwHe_1UfxPnpNM9uLsm-Js81UQ7rbZgRXuhWoALStZXFSlXyhmK3kpXMq1QHt9OCz1-isuXOKk0LXOzu_Kw5neEi6UVtClRzBG2yrLGaOKjyw_y7tdpIXlBpxXZwyTuTXjLCLvzVq/s1600/kehidupan-malam.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEheJJwHe_1UfxPnpNM9uLsm-Js81UQ7rbZgRXuhWoALStZXFSlXyhmK3kpXMq1QHt9OCz1-isuXOKk0LXOzu_Kw5neEi6UVtClRzBG2yrLGaOKjyw_y7tdpIXlBpxXZwyTuTXjLCLvzVq/s320/kehidupan-malam.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;ANAK LONTE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chapter 1: Mr N&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Oleh Lucky Lukmansyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku, siapalah aku? “Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang” begitulah kata Chairil Anwar. Sama persis apa yang dikatakannya dengan apa yang aku sarakan pada hari ini. Langit tempat ku bergantung, bumi tempat ku berpijak. Hanya badan seorang yang ku bawa berjalan menempuh liku hidup yang tak tahu dimana ujungnya. Hanya perut yang sepetak ini menjadi tanggung jawab dalam hidup ku. Alangkah ringannya beban di pundak ku, alangkah entengnya kaki ku melangkah. Meskipun perjalananku masih jauh, jauh sekali, walau mungkin sampai ke ujung dunia. Tapi, ada kalanya saat ini aku harus berhenti sejenak, istirahat, mengumpulkan bekal dan tenaga serta belajar, mempelajari peta hidup ku, guna melanjutkan perjalanan berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ini tidaklah sama seperti mereka, mereka di luar sana yang harus saban hari bekerja membanting tulang demi mengharapkan upah dibawa pulang untuk makan anak dan istri. Sama halnya seperti almarhumah bunda ku tersayang, siang malam dia rela badannya dihina dan dinistakan oleh para lelaki hidung belang, berharap mereka mengeluarkan lembaran demi lembaran uang kertas dari dalam dompet mereka, guna dibelikan sekaleng susu untuk ku, dibawa pulang dan membayarkan uang kontrakan yang setiap awal bulan ditagih oleh si nenek yang punya rumah. Demi Anak bujang si mata wayangnya, beliau berharap kelak akan berubah nasib ku, hijrah dari tempat yang penuh kubangan lumpur, air comberan, dari sisa-sisa sumpah serapah manusia ke tempat yang lebih bermartabat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku teringat perkataan bunda, “Nak nanti kalau bunda sudah punya uang, kita akan pindah dari sini, bunda akan membeli sebuah rumah bagus, dan lalu memasukan mu ke sekolah negeri yang terbaik di kota Padang”. Itu baru dua dari keinginan bunda, dan masih banyak lagi keinginan dan cita-cita nya terhadap diriku, terhadap anak bujangnya yang seorang ini. Biarlah kini semua apa yang telah bunda ucapkan tertanam dalam dasar hati sanubariku yang terdalam. Suatu saat nanti aku yakin pasti akan berbuah, lalu aku akan memetik buah itu dan aku persembahkan kepadanya yang telah terbaring tenang di alam damai pusaranya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunda, damailah bunda dalam tidur panjang mu. Janganlah engkau risaukan anak mu ini, anak mu sudah besar, sekarang sudah tidak tinggal rumah dekat comberan itu lagi, dan janji tidak akan kembali ke tempat itu, seperti apa yang engkau inginkan dulu. Kini jalan ku teramat panjang bunda, mungkin lama aku akan berjumpa  dengan kubur mu lagi. Tapi walau dimanapun aku berada, dirimu selalu ada dalam dalam diri ku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disinilah tempat ku saat ini, di sebuah pulau terpencil, tidak jauh dari kota Padang. Hanya sebuah pulau kecil, yang terletak dalam sebuah teluk, orang-orang disini menyebutnya teluk Mandeh. Di pulau ini aku tidak sendiri, ada banyak orang. Kami disini bekerja kepada seorang orang laki-laki tua yang bernama Mr. N, seorang warga negara Italy. Mr. N menyewa pulau ini dari masyarakat adat setempat, untuk dia dirikan sebuah resort. Yah, disinilah aku, bekerja sekarang sebagai tukang menjaga kebersihan di dalam area resort.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mr. N orang yang baik sekali, mau memberikan tempat tinggal untuk karyawannya yang masih bujang seperti diriku. Bagi ku Mr. N aku anggap sebagai bapakku sendiri. Maklum saja selama ini aku hidup belum pernah merasakan belaian kasih sayang seorang ayah. Baru dari Mr. N ini aku bisa merasakannya. Beliau sangat memperhatikan semua karyawannya. Karena beliau jauh, jauh lebih tua dari kami, maka beliau menganggap kami sebagai anaknya sendiri. Semua perkataannya aku dengarkan dan apa yang disuruhkannya aku kerjakan dengan segera. Tidak berapalah gaji yang bisa aku harapkan dari orang tua itu, tapi yang terpenting aku bisa punya tempat untuk berteduh dan bisa makan dari tempat aku bekerja di resort ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersukur karena Tuhan telah mempertemukan aku dengan Mr. N. Setahun yang lalu, di sebuah hotel di jalan Diponegoro. Pada waktu itu aku adalah seorang  alumni Diploma 3, jurusan Bahasa Asing yang sedang mencari kerja, mengajukan lamaran ke sana ke mari, ke berbagai macam perusahaan, hotel dan bahkan restaurant. Belum ada satupun perusahaan yang mau menerima. Kalau aku melamar kerja di restauran selalu saja aku ditolak dengan alasan karyawannya sudah cukup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah mengapa pada hari itu, keadaan ku benar-benar miris. Keuangan ku benar sudah pada titik nadir, atau nihil sama sekali, tidak ada satu pun receh yang tersisa di kantong. Yang ada hanya sebuah buku catatan kecil, yang isinya nomor telephone orang-orang yang aku anggap penting dan sebuah pena yang tintanya sudah rekarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sejak kemarin malam mulut ku belum mengunyah sepotongpun makanan, perutku perih, maag ku kambuh, aku pusing, dan mual-maul. Ingin rasanya mengadu minta tolong sama kawan-kawan karib, tidak pula ada nampak satupun batang hidung mereka pada hari itu. Karena hari itu adalah Sabtu, hari libur kuliah. Biasanya ada teman ku, konco karib ku si Karapai namanya, berdua dengan dia setiap hari kami ngamen di ruko-ruko sepanjang jalan Imam Bonjol. Di jalan itu ada banyak terdapat rumah makan dan kedai bakso. Selalu Karapai yang mainkan gitarnya aku yang nyanyikan lagu. Namun malang sekali hari ini, maupun gitar itu ataupun si Karapai tidak bersama ku. Aku benar-benar merasa pinjang tanpa dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka keluarlah aku dari sarang tempat persembunyianku, dari dalam kampus, dari ruangan sekretariat mahasiswa, dimana disitulah tempat aku menumpang tinggal, menumpang hidup sebagai penghuni illegal, untuk hanya sementara waktu sampai aku mendapatkan pekerjaan tetap. Suasana siang itu di kampus sangatlah sepi, semua pintu kelas terkunci rapat, tidak ada pegawai, dosen maupun mahasiswa, yang hanya ada seorang satpam selalu setia menjaga posnya. Satpam itu sebenarnya tidak suka akan keberadaan sebagai penghuni illegal di kampus itu. Alasan dia adalah sederhana saja, karena aku bukan mahasiswa lagi katanya. Seharusnya aku sudah berangkat pergi jauh-jauh dan tidak kembali lagi ke kampus. Tapi, untungnya ada seorang wakil ketua akademik yang dengan baik hati mau memberi izin kepada ku untuk tinggal sementara saja di sekre. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kampus ku itu berada di jalan Chairil Anwar. Dari situlah aku melangkahkan kaki mencari orang-orang yang aku kenal, orang yang mau meminjamkan aku uang untuk bertahan hidup. Rencanaku di hari itu aku akan pergi ke Puruih, ke kampung yang dulu dimana kami, maksudnya aku dan bunda pernah tinggal bersama. Berdua menjalani hidup yang bisa dibilang sangat sederhana, cukup makan dan segala kebutuhan hidup kami berdua tinggal di sebuah sebuah rumah bedeng kontrakan. Yang aku harapkan pergi ke tempat itu supaya bisa bertemu dengan teman-teman bunda, semoga saja ada yang baik hati untuk tempat aku mengeluhkan nasibku kepada nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari lokasi kampus aku langsung menyeberang badan jalan, melangkah terus melewati sebuah taman, dan melewati sebuah museum barulah aku sampai dijalan Diponegoro, tidaklah pula jauh jaraknya. Saat itu kondisi badan ku mulai lemas, dan lunglai, tapi di dalam, hati ku pekat, tetap semangat untuk terus bertahan sampai kesempatan terbuka lebar untuk ku. Untung saja cuaca kota Padang pada siang itu tidak panas terik seperti biasanya, agak mendung sedikit. Angin yang datang dari arah laut berhembus sejuk membelai tubuh ku. Dalam hati aku berdoa semoga Tuhan yang maha pengasih membantu menyelesaikan masalah ku hari itu. Tidaklah berapa jauh aku berjalan menyusuri jalan Diponegoro, hapir sampai di perempatan, aku sudah berada di depan hotel D. Aku akan terus jalan lurus saja ke arah Puruih. Dari tempat ku berdiri itu, kuperkirakan mungkin ada 2 kilo jaraknya ke Puruih. Kalau ditempuh dengan jalan kaki bisa menghabiskan waktu setengah jam. Aku tegarkan semangat ku, dan terus jalan lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih didepan hotel D, tiba-tiba sebuah angkot warna biru berhenti pas di samping kananku. “Kiri.. kiri.. orang cantik turun” kata si knek angkot kepada sang supir. Angkotpun berhenti, si knek menuntun penumpangnya turun dari angkot dengan hati-hati seperti memapah barang yang mudah pecah saja. Begitu sayup-sayup terdengar teriakan si knek, disela-sela bisingnya deru mesin kendaraan yang lalu-lalang. Aku penasaran, ingin tahu secantik apakah penumpang yang disebut si knek tadi. Maka hadirlah seorang perempuan muda di depan ku, bergaya bak seorang model, dengan sendal tinggi tumit, celana jean biru ketat, pantat bahenol, dipadu dengan T-shirt putih polos pas body, dada bengkak, kulit putih bersih, rambut ikal sebahu, bibir bergincu merah, mata bercelak, sedang menenteng tas bermerek, melangkah naik ke atas trotoar setelah se kenek mengetok kaca angkot itu dan lalu berteriak “Cabut…” dengan nada tinggi kepada si supir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang laki-laki normal, wajar saja mata ku tertarik kepada sosok pemandangan bagus, yang begitu saja muncul di depan mata ku. Samalah seperti orang Padang kalau berkata, “Mato condong ka nan rancak, salero condong ka nan lamak”, yah begitulah kiranya aku. Langkah ku berhenti sejenak, ingin mengagumi  kecantikan perempuan yang ada di depan mata ku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya perempuan muda itu ingin segera masuk ke dalam hotel D, dia agak terburu-buru. Tapi dia tahu aku sedang memperhatikan dirinya dari belakang. Lantas dia melongokan mukanya ke arah ku. Aku kaget, dia kaget, kami saling bertatapan. Aku mengenal dia, begitu juga sebaliknya. Aku malu pada diri ku sendiri. Dia malah memutar badan jalan semakin mendekat ke arah ku. “Raka…. kau kah ini nduk?”  perempuan itu berkata, dan langsung menyampari diri ku. Aku mengenal dia, dia adalah mbak Yani, salah seorang teman dekat bunda. Dulu waktu aku masih SMA dia sering nginap di rumah. Mbak Yani semakin mendekatkan wajahnya menatap ku. Aku mundur selangkah pada saat tangan mbak Yani mengapai daguku. Ada apa dengan expresi wajahnya sampai sendu begitu menatap diriku. Mungkin dia rindu. Melihat wajah ku terkenang dia pada almarhumah Bunda yang sudah tiada. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alangkah baiknya mbak Yani itu, pada hari itu, disaat yang tepat, di saat aku benar-benar dalam ketiadaan, dia membawa aku masuk ke dalam hotel, masuk ke restaurannya, lalu memesankan makan siang untuk ku sepiring nasi goreng, dan teh manis. Aku bersyukur sangat kepada Tuhan atas reski yang aku terima pada siang yang mendung itu. Tuhan benar-benar telah mengulurkan tangannya untuk menolong seorang manusia yang kelaparan, yaitu aku sendiri. Aku nikmati santap siang ku sendiri di dalam restauran, sementara Mbak Yani meninggalkan aku sebentar, ada urusan katanya. Setelah makan siang ku selesai, aku tidak beranjak dari tempat duduk, beberapa saat kemudian akhirnya mbak Yani kembali menemuiku setelah dia menyelesaikan urusannya dengan seseorang di lobi hotel. Dia memilih duduk menghadap kepada ku, menatap wajah ku sekali lagi lebih dalam, lebih dalam lagi seperti dia sedang mencari sesuatu dari raut wajah ku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakabar mu nduk?” dia bertanya kepada ku, suaranya serak dengan logat jawanya yang kental sambil menghisap sebatang rokok. “Kemana saja kau selama ini?”. Aku hanya diam saja, masih sedang berpikir mencari penjelasan untuk dirinya yang sedang penasaran akan keadaan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau seperti baru saja keluar dari dalam perut bumi” dia kemudian menjawab sendiri pertanyaannya yang muncul dalam benaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah tiga tahun sejak bunda mu mati, baru kini aku bisa berjumpa dengan kau, kemana saja kau? Jawablah pertanyaan ku, jangan kau diam saja!” Mbak Yani semakin penasaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bingung, dari mana aku harus memulainya?. Bagaimana aku harus menjelaskan kepadanya? Jadi aku cuma bisa jawab, “aku kuliah mbak”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar aku kuliah, mbak Yani membesarkan matanya menatap ku, mulutnya terbuka lebar, dia seperti tidak percaya kalau aku adalah seorang terpelajar, seseorang yang telah keluar dari dunia kegelapan. Lalu kemudian wajahnya memancarkan sinar penuh harapan kepada ku. Dia sambung lagi sebatang rokok ke bibir nya yang penuh gincu merah, menghisap rokok lebih dalam lagi hingga sampai ke akar paru-parunya, dan dia jadi semakin penasaran kepada ku, “kau kuliah di mana?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di Akademi Bahasa Asing….” diam  “kampusnya dekat taman Melati itu lo mbak”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waw… keren ya” dia senang mendengarnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku tahu mbak Yani benar-benar senang, dan tidak ada raut wajah pura-pura di depan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi sekarang aku sudah tamat mbak” aku menjelaskan lagi sebelum dia sempat bertanya lebih jauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wah… hebat dong, kau sudah jadi sarjana sekarang”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah begitulah mbak, tapi sekarang aku belum mendapatkan pekerjaan, masih sedang mencari-cari”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kapan kau tamat dari kampus itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dua bulan yang lalu”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tinggal di mana sekarang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masih dikampus itu”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lo kok bisa?” dia sepertinya bingung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus percakapan kami berlanjut, banyak pertanyaan dia lontarkan kepada ku. Hingga mbak Yani membawaku pada seputar kejadian tiga tahun yang lalu. Hal yang itu pasti akan membuat hati ku pilu, tersayat dan teriris-iris perih mendengarkan perempuan itu bicara tentang kejadian dimana bunda ku waktu itu ditemukan orang dalam keadaan sudah tak bernyawa lagi. Mati secara tragis, di dalam kamar hotel, bersimbah darah, dengan beberapa luka menganga di bagian perut dan dada, bekas tusukan benda tajam, dan tanpa sehelaipun benang menutupi badannya. Alangkah tragisnya kematian bunda ku. Tidak pernah terbayangkan oleh ku dulu bahwa nasib begitu kejam terhadap ibu ku yang malang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah sudah tertangkap pelakunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak bisa menjawab lagi, cukup, aku diam seribu bahasa. Aku tidak sadar air mata ku sudah sudah jatuh membasahi pipiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku nduk” mbak Yani tergesa pindah ke tempat duduk yang disamping ku. Dia rapatkan badannya, dirangkulnya pundakku, dia rebahkan kepala ku ke dadanya. “Maafkan mbak mu nduk… mbak janji tidak akan membahas itu lagi”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan harinya, pada jam yang sama, selepas Lohor, aku kembali ke hotel D, karena mbak Yani menunggu aku disitu. Aku disuruhnya datang dengan membawa ijazah D3 ku. Ketika aku telah sampai di lobi hotel, pada saat bersamaan, mbak Yani turun dari lantai dua bersama seorang pria tua, bule tua. Awalnya aku berpikiran bahwa laki-laki bule itu adalah teman kencan mbak Yani. Aku salah sangka. Dia lah orangnya yang disebut Mr. N. kepada ini Mr. N mbak Yani merekomendasikan aku untuk dapat bekerja di hotelnya, atau resort kalau Mr. N bilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya Mr. N bukan orang yang penuh basa basi. Pas berjumpa pertama kali, orang tua itu langsung membawa ku berdialog dalam bahasa Inggris. Tentu saja aku bisa meladeninya, karena memang itu bidang ku, meski walau aku bukan ahli, tapi aku bisa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mr. N membaca dengan teliti kartu identitas ku, ijazah ku, lalu dia diam sejenak. Entah apa, aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi mbak yang duduk disamping Mr.N tidak mau diam saja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Come on uncle, please, take him….. He is like my son” Mbak Yani membujuk Mr. N supaya mau menerima kubekerja di resort miliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“All right son, tomorrow is Sunday right? You see me in Muara at 5 o’clock at HW Cafe, I’ll gonna take to the island by boat, and don’t be late, okay!”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yes sir” Aku berdiri memberi salut kepadanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senang sekali mbak Yani mendengar Mr. N besok akan membawa ku bekerja ke pulau C, dimana orang tua itu menjalankan usaha private resort nya untuk para turis-turis asing yang ingin berlibur di kota Padang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Thank you uncle, thank you, you are my man” Begitulah respon mbak Yani kepada Mr. N. Dipeluknya Mr.N dan diciumnya pipi keriput orang tua itu persis di hadapan ku tanpa ragu. Dari situlah aku tahu, bahwa Mr. N bukan tipe laki-laki hidung belang seperti yang aku sangka sebelumnya. Dari cara mbak Yani memeluk dan mencium pipinya aku dapat menilai bahwa Mr. N telah menganggap mbak Yani seperti anaknya sendiri. Laki-laki tua itu tampak memiliki kepribadian kuat,penyayang, dan mengayomi semua orang-orang yang dekat dengan dirinya. Memang ini adalah jumpa pertama ku dengan Mr. N. Dari pertemuan pertama ini dia memberikan telah kesan bahwa dia mau menjaga ku, mau mendidik ku untuk menjadi orang yang lebih baik kedepannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Photo oleh: www.anneahira.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/11/anak-lonte-chap-1-mr-n.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEheJJwHe_1UfxPnpNM9uLsm-Js81UQ7rbZgRXuhWoALStZXFSlXyhmK3kpXMq1QHt9OCz1-isuXOKk0LXOzu_Kw5neEi6UVtClRzBG2yrLGaOKjyw_y7tdpIXlBpxXZwyTuTXjLCLvzVq/s72-c/kehidupan-malam.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-8593022007983855680</guid><pubDate>Sun, 13 Nov 2016 23:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-11-13T15:52:41.229-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">A Life Story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucky story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menunggu Angin Bertiup</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Minangkabau</category><title>Menanti Angin Bertiup # 12 Oleh Yuhardi Tanjung</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8Foka3mFcrwJf3IoaSinSnlWLRbBt_ePBmL7zHOcVkxFlzss3DlF7MwRvApMYYFQl8-7h4Ddq0TtPVaXm77sawLW8_Z_22Y6z6FlUbNGicFmdO1R85_G0K2_ZJTmNs6eSvX59rSRj8OCz/s1600/20kapal-pinisi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="232" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8Foka3mFcrwJf3IoaSinSnlWLRbBt_ePBmL7zHOcVkxFlzss3DlF7MwRvApMYYFQl8-7h4Ddq0TtPVaXm77sawLW8_Z_22Y6z6FlUbNGicFmdO1R85_G0K2_ZJTmNs6eSvX59rSRj8OCz/s320/20kapal-pinisi.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Menanti Angin Bertiup&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Oleh Yuhardi Tanjung&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Part 12&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Waktu masih berlalu seperti biasanya, aku sibuk dengan pekerjaan ku. Wid sudah pulang kee kampung, dia juga sibuk mengisi waktunya menjadi guru agama di MIS (Madrasah Islamiah Swasta) di Ampang Pulai, Trs. Disinilah letak kelalaian ku, entah karena sibuk dalam pekerjaan ku, aku pada akhir-akhir hubungan ku dengan Wid, tidak lagi menulis surat padanya, dan jarang pula ke kampung untuk menjengukya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah satu kali aku pulang ke kampung. Sore itu aku duduk-duduk pada palanta rumah tek Cilan di Pasa, aku melihat Wid bergoncengan, sepertinya dengan seorang laki-laki, yang datang dari arah Kapuh. Aku senyum saja melihatnya, dia tidak membalas, mungkin dia tidak tahu akan ke hadiranku. Tapi kemudian dia sadar akan keberadaan ku di pasar, di palanta itu, langsung saja dia memutar sepedanya waktu melihat kehadiranku di situ. Dengan gembira dan wajah merona Wid datang menghampiri diri ku yang sudah berdiri di seberang jalan menunggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bilo uda pulang?” Wid menanyai ku setelah dia sampai di hadapan muka ku, “Baru sajo tibo” aku menjawab. “Wid dari mana? Kok teman nya ditinggal saja” aku bertanya sambil menggodanya. “Oo dia, itu kami tadi jumpa di Pulai” Wid menjelaskan kepada ku tentang teman laki-lakinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, aku pulang ke kampung hanya untuk menghilang rindu ku padanya. Jika aku telah berjumpa dengan Wid, rasanya hilang sudah segala hal yang menyesak di dalam dada, lega, dan lapang terasa di hati. Semua hal terasa indah bagi ku apabila telah bertemu dengan dia. Sore itu aku sangat terpesona sekali dengan cara berpakaian, berkain panjang, dan berselendang menutupi kepalanya. Keteduhan pandangannya dan kelembutannya wajahnya membuat hati ku menjadi tentram, besar harapan ku kepadanya. Aku tidak bertanya lagi kepada Wid tentang laki-laki yang bergonceng di sepedanya tadi. Aku tahu kalau dia bilang dari Kapuh, berarti dia baru saja dari rumah eteknya, saudara kandung ibunya. Pastilah laki-laki itu sepupunya Wid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….……………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu adalah hari terakhir bertemu dengannya. Semenjak aku bekerja di pulau Pagai, memang jarang aku memberi kabar kepadanya, bahkan boleh dikatakan tidak ada kabar apa-apa dari ku. Sampai saudara Pir datang ke Pagai untuk bekerja sebagai Tally Sheet. Pir datang sambil membawa sepucuk surat dari Wid. Ah aku memang tidak mengerti dengan pikiran ku sendiri, sampai si Pir kembali pulang ke kampung tidak sedikitpun aku berniat untuk membalas surat Wid waktu itu. Aku khawatir ini akan jadi hal yang akan merusak hubungan antara aku dan Wid nanti. Kepada Wid, inilah kesalahan terbesar yang telah ku perbuat kepadanya, pertama aku tidak memberikan kabar kepadanya, kemudian surat itu, tidak pula aku sempatkan membalasnya. Maka tersiarlah kabar yang beredar di kampung bahwa aku telah sedang berpacaran dengan seseorang di pulau Pagai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah.. aku akui, bahwa aku memang tidak lagi mempedulikan Wid. Karena masa itu pikiran ku sedang dilanda beban berat tentang adik ku. Adik perempuan ku yang no dua. Dia sebentar lagi akan melangsungkan perkawinnan dengan laki-laki pilihannya sendiri. Tahulah aku, bapak dan ibu tentu tidak sanggup menanggung beban ini. Jadilah aku sebagai anak tertua yang harus memikirkan biayanya. Ditambah lagi dengan persyaratan dari tek Nani dan suaminya, kalau keluarga ku ingin memakai rumah elitnya untuk acara pernikahan boleh, asal kami bisa menyembelih seekor sapi untuk pesta tersebut. Kenapa? Karena beliau keduanya adalah orang berpangkat, undangan dari pihak beliau sangat lah banyak. Dan para tamu yang akan datang menghadiri pesta itu pastilah bukan orang sembarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah… apa boleh buat, kesepakatan telah telah bulat antara keluarga ku dan tek Nani, mau bilang apa lagi, terpaksa syarat itu aku harus penuhi, disebabkan alasan karena kami tidak punya tempat tinggal yang layak untuk menyelenggarakan perhelatan “alek”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pestanya diselenggarakan di Padang saja, di rumah tek Nani. Segala perhitungan dan persyaratan dengan keluarga pembelai laki-laki telah bulat, waktu yang ditetapkan semakin dekat, tidak bisa dirubah lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari menjelang hari H perkawinan adik ku, ku lihat banyak orang-orang kampung datang untuk membantu urusan pesta perkawinan tersebut. Yah karena begitulah kebiasaan orang-orang di kampung kami. Diantara orang-orang kampung yang datang kulihat amaknya Wid juga hadir untuk menyumbangkan tenaganya. Waktu itu aku pikir sebaiknya aku menanyakan perihal tentang Wid ke pada ibu itu. Tapi entah kenapa, aku terlalu pengecut untuk bertanya hal-hal seperti itu kepadanya. Sampai pada acara pesta selesai dan orang-orang itu pulang kembali ke kampung, pertanyaan itu tetap tinggal dalam benakku, tidak pernah terucapkan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa keberanian ku tidak pernah muncul sedikitpun, dan lagi pula aku tidak pernah menerima dorongan dari ibuku mengenai hubungan ku dengan Wid. Baik itu dari adik sepupu ibuku maupun famili ibu yang lain tidak pernah aku mendengar secara langsung maupun berupa kata-kata sindiran, entahlah. Seakan-akan aku sedang berjalan ditengah malam gelap gulita tanpa sedikitpun ada secercah pelita menerangi, bayang-bayang pun sesekali tak mau menemani langkah kaki ku. Terus terang aku malu untuk mengatakan isi hati ini kepada orang lain, entah lah aku harus bagaimana lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama setelah hari perkawinan adikku, tanpa selamat tinggal kepada Wid yang di kampung, aku langsung melenyapkan diri lagi, tenggelam dalam riuhnya pekerjaan di pulau Pagai. Di pulau Pagai yang jauh dari peradaban kota, di balik samudera itu aku merasa hati ku hampa, dingin, rasanya benar-benar sudah putus hubungan dengan Wid. Karena tiada kabar berita dari ku, entah mengapa hati ku benar-benar telah dingin kepadanya. Tidak berapa lama aku berada di pulau Pagai, sekembali aku dari Pdg, terdengar kabar dari adik ku, bahwa Wid akan melangsungkan pernikahan dengan saudara Amran, seorang guru yang sama mengajar dengan diri nya. Oh… aku betul-betul telah ditinggalkannya… aku jadi linglung, tidak tahu apa yang akan ku perbuat saat itu. Tapi aku mengerti kenapa dia mau menyetujui menikah dengan seseorang. Ya.. tentu saja, kalau lah aku menjadi dia, tentu jalan itu juga yang akan ku tempuh. Dari pada menunggu seseorang yang tidak pasti. Seakan-akan dia digantung tapi tergantung tidak ada sehelai tali yang ada pada dirinya, mungkin kah seperti itu, tapi begitulah kenyataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengirimkan uang kepada adik ku, aku minta tolong belikan kain untuk bisa membuat satu stel baju guntuing ala malaysianantinya. Sebagai kado buat Wid nantinya. Ditambah sebuah kartu pos yang bergambar bunga mawar yang sedang mekar dengan ucapan “Selamat Berbahagia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang tidak lama setelah hari perkawinannya, aku pun minta izin cuti dari perusahaan sekitar dua minggu. Aku pulang ke kampung untuk menyampaikan ucapan selamatku pada Wid. Di kampung ku tidak langsung ke rumahnya, aku pergi dulu ke rumah famili-famili ku di kampung. Tujuan ku adalah untuk mencari tahu kabar berita seputar perkawinan Wid dengan Amran, yang biasanya ada-ada saja akan disampaikan mereka kepada ketelinga ku nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada kabar tentang dia yang sempat mampir ditelinga ku mengenai proses perkawinan Wid dengan Amran ini. Ada berita bahwa sempat tidak diterimanya hantaran kue oleh keluarga Wid kepada keluarga Amran. Berhubungan Amran ini sudah dicalonkan dengan perempuan lain. Kemudian aku ketahui bahwa Amran ini tidak punya ibu kandung, karena sudah lama meninggal. Amran ini tinggal dengan adik-adik ibunya. Tapi entah bagaimana pernikahan mereka dapat berjalan dengan baik. Selanjutnya aku tidak mendapatkan berita yang pasti. Aku tidak lagi mencari tahu lagi berita seputar pernikahan mereka. Cukup sudah, bagi ku mereka sudah resmi berkawin, sebagai suami istri. Yah … sudah lah biarkan saja, mereka sudah bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorenya aku ke rumah Wid, aku ditemani Alimar, familiku yang tinggal tidak jauh dari rumah Wid. Di rumah nya yang pertama aku temui adalah bapaknya Wid. Suasana rumahnya benar-benar baru selesai perhelatan. Masih kulihat kertas-kertas hias yang terpasang pada dinding rumah, dan kertas gaba-gaba masih melilit pada tiang dan tonggak rumah. Ada rasa pedih dan ngilu di hatimkusaat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama kutanyakan adalah menanyakan perihal “uda”nya atau suaminya. “Ma uda Wid?” dia tidak menjawab, mulutnya tertutup. Matanya tidak melihat ke arah ku, dia diam saja. Ada galau menyelimuti hatinya. Sampai aku pulang dari rumahnya tetap dia hanya diam seribu bahasa. Hanya bapaknya saja yang melawan aku bicara di rumah itu. Walau pun ada ketawa keluar dari mulut ku dalam perbincangan berdua dengan ayahnya hari itu, tapi itu hanya di luarnya saja yang tampak, sedangkan dalam aku telah hancur luluh, berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak hari itu aku tidak lagi bertemu dengan Wid. Ada kegalauan yang aku alami, aku hanya diam saja dirumah. Aku betul-betul terpuruk.rupanya perihal diriku yang demikian menjadi perhatian oleh adik sepupu ibu ku. Dia menaruh perhatian pada kondisiku, etek Lis, dialah orangnya, seorang guru SD, dia merasa prihatin pada keadaaan ku. Pada hari kemudian, tek Lis datang kepada ku, dia menawarkan ku untuk melihat seorang perempuan yang mungkin bisa aku lamar. Dengan separoh hati aku memenuhi ajakannya. Jadilah kami malam itu berangkat menuju ke rumah si Eti, nama perempuan yang akan aku lamar. Rumahnya cukup jauh dari tempat kami, yaitu di Karang. Dalam suasana gelapnya keadaan jalan di kampung kami pun berangkat, ada bertiga kami ke tempat itu, tek Lis dengan adiknya menemani aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai kami di rumahnya itu, rumah yang besar dan luas berandanya, rumah modal lama yang masih kokoh buatannya. Kami diterima oleh kakak si Eti, seorang perempuan yang rupanya juga seorang guru SD. Ternyata sebelumnya sudah ada pembicaraan pendahuluan mengenai diriku dengan tek Cilan, adik tek Lis sebelumnya. Aku hanya mendengar sambil mengangguk-anggukan kepala melihat mereka telah mulai bicara ke arah yang serius. Pikiran ku lagi sedang tidak di badan waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegalauan pikiran ku tiba-tiba suara gelas jatuh di muka ku. Rupanya air minum yang dibawa dengan baki keluar oleh seseorang dari dalam rumah tumpah semuanya, pas hidapanku. Karena waktu itu yang membawa baki yang berisi minuman itu tersandung kakinya pada kaki meja.  Semua air tumpah membasahi lantai dan kaki celana ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena terkejut, tanpa disadari, tiba-tiba tek Lis terucap kata-kata olehnya “Ah… indak ka jadi ko doh” tapi malam itu pembicaraan mengenai cara-cara pelamaran diriku masih tetap diteruskan. Dari pihak si Eti, mereka akan mengunjungi ibuku yang berada di Pdg lebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan ini hanya sampai disitu saja dulu, karena pembicaraan selanjutnya akan dilakukan di Pdg. Kami pun kembali pulang, dalam perjalanan pulang, tidak sepatah pun kata yang keluar dari mulut kami. Suasana kelam disepanjang perjalanan, begitu pula kiranya suasana hati ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali saja ke Pdg, begitulah keputusan ku, mudah-mudahan ini akan menjadi pengobat hati ku yang sedang gundah. Di Pdg aku bisa menghibur diriku dengan ke ramaian disana. Ya.. aku akan pergi jalan sendirian, pergi kepinggir laut, merasakan nyamannya tiupan angin laut membelai sekujur badan ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah lama hati ku kosong semenjak perkawinannya dengan Amran. Aku pikir apakah aku yang salah atau kah dia? Aku tidak tahu jawab nya, semuanya telah terjadi begitu saja. Sejak hari itu aku tidak banyak bicara lagi, hanya diam diri saja seperti batu. Memutuskan untuk tidak kembali lagi ke kampung. Ku habiskan masa bujang ku disana, di pulau itu, di balik samudera, di pulau Pagai namanya. Menimbun diriku dengan banyak pekerjaan setiap hari. Jarang pulang ke Pdg. Beberapa tahun kemudian aku pun melangsungkan pernikahan dengan kemenakan ayah ku yang tinggal di Jkt. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                          Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/11/menanti-angin-bertiup-12-oleh-yuhardi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8Foka3mFcrwJf3IoaSinSnlWLRbBt_ePBmL7zHOcVkxFlzss3DlF7MwRvApMYYFQl8-7h4Ddq0TtPVaXm77sawLW8_Z_22Y6z6FlUbNGicFmdO1R85_G0K2_ZJTmNs6eSvX59rSRj8OCz/s72-c/20kapal-pinisi.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-4283233260519456529</guid><pubDate>Tue, 01 Nov 2016 03:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-31T20:16:35.769-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">A Life Story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Lucu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucky story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menunggu Angin Bertiup</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Minangkabau</category><title>Menunggu Angin Bertiup #11 Oleh Yuhardi Tanjung</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtWrCe4vYMJ1arU4yxkNQe4y8mnzs46oGK-2bZjHdjbOdSt87UK9jfwI1CMNvqmkfPgaNbXe6rEeflj8TrFJRr84KxwDnmUO0LvEOTYJDbDG-OtdaGtM1ESYUKNQO_haN-oFLpRWaBX8_v/s1600/Pohon.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtWrCe4vYMJ1arU4yxkNQe4y8mnzs46oGK-2bZjHdjbOdSt87UK9jfwI1CMNvqmkfPgaNbXe6rEeflj8TrFJRr84KxwDnmUO0LvEOTYJDbDG-OtdaGtM1ESYUKNQO_haN-oFLpRWaBX8_v/s1600/Pohon.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menunggu Angin Bertiup&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Oleh Yuhardi Tanjung&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Part 11&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Besok Pagi sewaktu aku mau berangkat ke kantor, ternyata Wid sudah menunggu aku di rumah kost tempat uni Zurma anaknya pak Kamar. Di situ aku terkejut melihatnya sudah berdiri menunggu ku. Ada apa gerangan? Kenapa dia menanti ku sepagi ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dada degdegan, aku melangkah menuju ke tempat kos itu. Aku berdiri saja di depan rumah, Wid juga berdiri saja, tidak mau menyediakan aku untuk duduk. “Ada apa Wid?” jantung ku dag dig dug menunggu dia yang ingin mengatakan sesuatu kepada ku. “Tidak ada apa-apa, uda”. Wah lega… ku kira tadi ada hal sangat penting mau dia sampaikan. Kemudian Wid melanjutkan omongannya, Wid mengatakan bahwa dia mau mengikuti test penerimaan guru agama di Departement Agama. Aku senang mendengar kabar itu darinya. Dia meminta aku mendoakan dirinya supaya bisa lulus dan diterima menjadi guru agama, karena itu adalah cita-citanya sedari dulu. “Semoga berhasil, Uda doa kan supaya Wid Lulus dalam test itu”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kesempatan di kantor, aku bicara banyak hal dengan pak Yan Wirdan, memang kami bekerja dalam satu ruangan. Kepada pak Yan, entah mengapa aku sempat membicarakan banyak hal tentang Wid, Wid yang mau mengikuti test menjadi guru Agama. Aku senang pak Yan sangat merespon pembicaraan ku dengan serius. Bapak itu mendengarkan aku bicara panjang lebar tentang Wid. Begitulah hebatnya bapak itu, beliau sangat baik hati, meski cuma mendengar saja berita dari ku, tidak melihat dan mengetahui siapakah Wid, perempuan yang sedang aku ceritakan kepadanya, dia langsung mengambil kertas dan pena. Aku kira ada apa dengan bapak ini, mengapa dia mengeluarkan alat tulis itu. Dia seperti seorang jurnalis saja, seseorang yang sedang mengejar berita duduk di seberang meja kerja ku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh tidak.. aku salah paham kepada pak Yan. Ternyata bapak ini sedang membuat sebuah surat kepada temannya yang bekerja di kantor Departement Agama, isi nya adalah untuk merekomendasikan Wid supaya bisa diterima bekerja di kantor tersebut. Menurut pak Yan teman yang dia surati itu memiliki cukup pengaruh dalam kantor departement itu. Wah baiknya bapak ini. Aku jadi segan dan hormat sangat kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat cukup panjang surat yang ditulis oleh pak Yan kepada temannya yang di maksud, ada dua halaman kertas HVS panjangnya. Setelah surat dilipat dan dimasukan ke dalam amplop putih, di luar amplop dituliskan alamat si pengirim dan nama lengkap orang yang dimaksud pak Yan, lengkap dengan gelar dan title yang dia miliki dan alamat kantornya sekaligus. Surat itu pak Yan berikan kepada ku. Beliau berpesan “Bawalah surat ini oleh adik pak Eddy itu. Carilah bapak ini, berikan surat ini kepadannya. Mudah-mudahan teman ku itu bisa menempatkan adik pak Eddy itu nanti, semoga saja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah Semoga saja pak, terimakasih banyak kebaikan pak Yan kepada kami” Aku terharu menerima begitu besarnya perhatian dari seorang kolega senior terhadap ku. Aku bangga kepada pak Yan, bangga bisa berada seruangan dengan dia. Walaupun umur kami terpaut begitu jauh, bisa dibilang seperti bapak dan anak, pak Yan tetap memanggil ku dengan sebutan pak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam nya aku bertemu dengan Wid. Ku berikan surat titipan pak Yan kepada Wid. Wid begitu gembira menerima surat itu, terlihat sebuah harapan besar diwajahnya, apalagi aku. Kemudian Wid heran kenapa bapak itu baik sekali kepadanya, kenal tidak saudara juga tidak. Aku pun juga tak habis pikir. Wid bertanya kepada ku tentang siapakah bapak ini sebenarnya. Aku memberi tahu kepada Wid apa adanya sepengetahuan ku tentang pak Yan, bahwa kolega ku itu adalah seorang pensiunan kantor Gubernur Sumatera Barat, kalau tidak salah pangkat terakhirnya adalah Gubernur Muda. Hanya itu saja. Aku tidak tidak tahu apa maksud dari ‘Gubernur Muda’ yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan dengan Wid pada malam itu aku tak kunjung juga bertemu dengan dia. Jumlah pekerjaan dikantor semakin meningkat, bahkan aku sering pulang hingga larut. Aku lupa menanyakan hasil test Wid yang ingin menjadi guru agama tempo hari. Sedangkan dia tidak juga datang ke tempat ku. Bahkan juga tak ku dengar dari kawannya, uni-uni, teman kost tempat dia sering main di situ kalau Wid mencari ku. Setiap pagi aku lewat di depan rumah kost itu, tapi tak ada seorangpun memanggil diri ku. Bahkan sengaja aku jalan pelan di depan rumah itu, berharap dapat berjumpa dengan Wid. Tapi pintu rumah itu tertutup saja. Biasanya pagi-pagi pas aku berangkat kerja, ku lihat mereka telah pula sibuk beraktifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah pada suatu sore, aku pulang kantor cepat. aku mengayuh sepeda dengan santai, tidak pula terlalu lambat, sedang saja. Aku lewat jalan kampung Terandam I, tidak jauh dari Alang Lawas, disana memang banyak terdapat deretan rumah kost atau kontrakan. Sambil mengayuh sepeda, lamunan melayang terbang menuju kepada Wid, si gadis kampung nan sederhana, gadis pujaan hatiku. Sore itu aku berharap bisa bertemu dengan Wid. Entah mengapa ke dua tangan ku ingin sekali mengelokan stang sepeda agar lewat ke sebuah gang kecil, yang mana gang itu nantinya berujung di jalan belakang rumah ku. Aku jarang sekali lewat di gang itu, banyak anak-anak berlarian, bermain di jalan yang sempit. Aku biasanya lewat jalan besar, jalan utama, hingga sampai lewat di depan rumah Gadang Puti, lewat samping samping biasanya sampai lah di halaman rumah ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kali ini, aku lewat gang di depan rumah kos uni Mona, ketika melewati deretan rumah kos itu, aku mendengar suara-suara anak gadis sedang ketawa cekikikan di dalam sebuah rumah, aku lewat saja terus. Beberapa langkah jaraknya dari rumah itu, ada suara memanggil ku, “Uda… uda… uda Eddy.. tunggu!” Aku ingat, bahwa itu adalah suara Wid di belakang ku. Aku menoleh ke belakang, memang dia dengan baju kurung dan selendang berjalan agak tergesa menuju diri ku. Senyuman nya mengembang pas tangannya menyentuh dudukan belakang sepeda. “Uda kemana saja, kenapa jarang kelihatan?” Wid menyapa ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, tidak kemana-mana, tapi memang belakangan hari ini sering kerja lembur, pulang sampai larut malam” aku menjelaskan kepada Wid tentang kesibukan ku akhir-akhir ini. “Bagaimana kabar Wid?” aku balas bertanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulilah… Wid ada sehat uda” Dia menjelaskan begitu. Akhirnya aku dan Wid dapat bertemu, walau hanya gombrol di jalan, di bawah pohon jengkol yang sedang berbuah lebat, beberapa meter saja jaraknya dari samping rumah kost uni Mona. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana hasil test di departemen agama waktu itu Wid?” Aku bertanya kepadanya. Aku penasaran, berharap sangat agar dia dapat diterima bekerja di departemen tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya gembira Wid aku bertanya akan hal itu, tapi malah dia jadi murung, rona wajahnya membayangkan kesedihan. Maka sadarlah aku apa yang telah dia alami  selama seminggu kemarin. Dari rona wajah murungnya sudah dapat aku tebak apa jawabannya. Benar sudah, akhirnya dia mengatakan kepadaku bahwa dia tidak berhasil lulus dalam test kemarin. “Yah sudahlah Wid, relakan saja, buka rejeki itu namanya. Coba lagi tahun depan, mana tahu bisa berhasil, semoga saja” aku menghiburnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya uda…. Wid akan coba lagi tahun depan, Wid akan tetap berusaha terus supaya bisa bekerja sebagai guru Agama. Walapun semuanya, pada akhirnya tuhan juga yang menentukan apa yang terbaik utnuk Wid” Wid menjelaskan kepada ku bahwa dia tidak patah arang menghadapi kegagalan yang pertama itu. Kulihat murung itu sudah sirnah dari wajahnya. Timbul sebuah harapan baru, dapat ku lihat dari sorot matanya yang membesar ketika bicara tadi di hadapan ku. Aku girang dan bangga melihat Wid punya semangat berjuang dalam hidupnya. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bersambung....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/10/menunggu-angin-bertiup-11-oleh-yuhardi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtWrCe4vYMJ1arU4yxkNQe4y8mnzs46oGK-2bZjHdjbOdSt87UK9jfwI1CMNvqmkfPgaNbXe6rEeflj8TrFJRr84KxwDnmUO0LvEOTYJDbDG-OtdaGtM1ESYUKNQO_haN-oFLpRWaBX8_v/s72-c/Pohon.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-8119897226282192227</guid><pubDate>Mon, 31 Oct 2016 23:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-31T16:42:35.332-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">A Life Story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucky story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menunggu Angin Bertiup</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Minangkabau</category><title>Menunggu Angin Bertiup #10 oleh Yuhardi Tanjung</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8Nu51r1yjMyWn_GyEUr2nWJWR0RL8_nbeSx9R0vbgabwoU5kfruZdn0sydPPV8hMULJAeogEak0yaW2_FLzXfc1gBBLOiYE3pZGBKkgUhjXKAhfSIGOOsopsAQnQ-4rVsMh-NiN-yKZUo/s1600/pantai_padang.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="306" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8Nu51r1yjMyWn_GyEUr2nWJWR0RL8_nbeSx9R0vbgabwoU5kfruZdn0sydPPV8hMULJAeogEak0yaW2_FLzXfc1gBBLOiYE3pZGBKkgUhjXKAhfSIGOOsopsAQnQ-4rVsMh-NiN-yKZUo/s640/pantai_padang.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menunggu Angin Bertiup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;Oleh Yuhardi Tanjung&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Part 10&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kini aku telah di Pdg, aku telah berkumpul kembali dengan bapak, ibu dan adik-adik. Mereka gembira dengan kedadiran ku di tengah-tengah mereka. Walau kehidupan kami sangat sangat sederhana sekali, tapi kami cukup bahagia walau itu ukurannya sangat relatif. Bagi ibu, walau kehidupan serba berkekurangan, tidak pernah ia sekalipun bertengkar dengan bapak. Ibu selalu diam saja walau penghasilan yang bapak bawa pulang tidak mencukupi untuk keperluan sehari-hari. Kasihan ibu, terpaksa ia harus berhutang, gali lobang tutup lobang ke warung Mak Tuo untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Biasanya habis bulan, setiap bapak terima gaji, bapak menyerahkan kepada ibu, dan langsung ibu setorkan ke Mak Tuo, si pemilik warung, dan sisanya hampir tidak ada, bahkan kadang-kadang tekor. Mak Tuo mengerti akan keadaan ibu, beliau selalu sabar menghadapi ibu yang sering mengeluh karena kekurangan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ibu masih bisa pakai gelang dan dukuh emas, serta ibu juga punya mesin jahit bekas yang dia beli dari etek Si War, mama Si Vera yang tinggal di dekat rumah gadang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu pernah juga pakai sandal tinggi tumit yang waktu itu sangat model. Dari photo-photo yang tersimpan aku masih lihat sisa-sisa kebahagiaan ibu dan bapak. Betapa bapak yang kala itu masih kelihatan ganteng dan ibu yang masih muda ceria, berwajah manis dengan aku putra pertamanya yang duduk di tengah-tengah ketika masih berumur 2 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dengan umur yang semakin lanjut, memang banyak perubahannya. Sekarang kalau setiap selesai makan suka sekali menghisap rokok, rokok yang diminta dari bapak. Sambil menghisap rokok, setelah makan, ibu tampak sering bermenung. Mungkin banyak pikiran. Adikku yang nomor dua setelah aku telah pula beranjak dewasa, dan adik yang nomor tiga akan mengiringi di belakangnya. Sedangkan penghidupan kami masih belum ada perubahan kearah yang lebih baik. Mata pencaharian bapak sebagai pekerja gudang tidak seberapa penghasilannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering ku perhatikan ibu sedang sholat, beliau sholatnya lama sekali, bukan sholatnya yang lama, tapi berdoanya yang lama. Sering pula ku lihat ada bekas air mata beliau jatuh membasah tempat sujudnya. Aku tidak tahu apa yang beliau sedihkan. Dari keseharian ibu tidak pernah ada selisih paham dengan bapak. Tidak pernah ada pertengkaran yang terjadi antara bapak dan ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi, mungkin, perkiraan ku ibu sedih memikirkan masa depan kami, anak-anaknya yang sembilan orang. Terutama mencemaskan keadaan anak gadisnya yang dua orang itu, yang mulai tumbuh dewasa. Tentu sebentar lagi akan datang jodoh mereka. Maka sebagai orang tua beliau berkewajiban untuk mengangkat ‘alek’, adatnya sebagai orang Minang menyelenggarakan pesta pernikahan. Tapi dengan apalah ‘alek’ itu akan dibuat, istilah orang kalau tak ada kayu jenjang di keping. Sayang sekali bagi ibu, jenjang itu betul yang tidak ada. Lalu apalah mau di buat. Begitulah kiranya gambaran keadaan keluarga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan dan instansi pemerintah, tapi tak satupun yang bersedia menerima ku. Pernah bapak membawa ku ke PT Tani Makmur, tempatnya ada di jalan Pemuda, waktu itu yang menjadi managernya adalah teman bapak. Entah apa ceritanya bapak dengan dia, aku dibawa ke sana. Pukul 8 pagi kami sudah sampai di tempat itu. Aku disuruh tinggal disana menunggu keputusan atasannnya teman bapak. Sedang bapak harus masuk kerja, sehingga harus pergi meninggalkan aku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu aku melihat koran yang aku paling tidak suka kalau tidak menyempatkan membacanya barang sebentar. Aku bacalah koran itu, sampai teman bapak itu mucul masih sedang baca koran juga. Mungkin ini menjadi suatu hal yang jelek di matanya. Masa seorang pelamar masih saja kerja membaca koran selagi menunggu keputusan diterima atau tidak dari calon atasan. Akhirnya aku disuruh pulang dulu sampai ada panggilan berikutnya dari perudahaan. Demikianlah sampai saat ini tidak ada panggilan dari perusahaan itu, aku dengar sekarang perusahaan itu sudah tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik ku yang di bawah ku, yang perempuan, pada pertengahan tahun 1972 telah menamatkan sekolah SPG. Dia langsung dilamar oleh seorang laki-laki, mantan gurunya. Lelaki itu bekerja di perusahaan Mac Dermot, perusahaan asing di bidang exploitasi minyak di Singapore. Tak lama menikah, adik ku langsung dibawa ke Jawa oleh suaminya itu. Waktu menyelenggarakan pernikahan itu aku tidak tahu bagaimana bapak dan ibu bisa dapat biayanya, aku tidak tahu sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku tahu waktu itu aku sempat selang beberapa hari, aku turut serta mengangkat perabot pinjaman dari seorang teman bapak di kampung ke rumah nenek, di kampung, karena acara pernikahan adik ku itu diadakannya di kampung. Aku tidak hadir waktu acara nikah itu. Mungkin ibu banyak pertimbangan begana dan begini untuk menutup biaya pernikahan adik ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, karena belum ada kepastian tentang lamaran-lamaran yang telah aku kirimkan ke perusahaan, aku mengisi waktu kosongku dengan bekerja sebagai pembantu tukang kayu, tukang batu, dan tukang tarik kabel pengambil batu untuk proyek pemasangan Krib pantai Padang di Indarung. Semua itu ku lalui dengan sabar di tahun 1972. di penghujung tahun 1973, aku diterima sebagai pegawai LLASPF sebagai tenaga honorer tanpa gaji, oleh seorang tetangga kami yang kasihan melihat ku tidak punya pekerjaan tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor LLASDF yang baru membuka cabang di Pdg, tidak pula lama aku bekerja di sana. Hanya sampai tiga bulan saja. Kalau pergi ke kantor kau nebeng dengan bos naik motor, begitu juga kalau mau pulang, kadang-kadang harus jalan kaki dari kantor itu yang berlokasi di Pdg Baru ke Alang Lawas, cuku jauh juga, sehingga kaki ku jadi lecet, karena memakai sepatu kulit, bekas, pemberian pak Yus, suami etek ku, etek Nani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah Bos ku yang di LLASDF membawa aku kerja di Maninjau, tepatnya di tepi danau Maninjau, Agm, di desa Sungai Batang. Kurang lebih ada satu bulan kami di sana untuk memperkenalkan instansi baru yang akan bertugas mengawasi lalulintas perahu-perahu di perairan danau Maninjau. Di danau itu sarana perhubungan mengunakan perahu bermesin tempel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Desember 1973, aku menerima panggilan kerja dari perusahaan Minas Lumber Corp. Perusahaan ini bergerak di bidang perkayuan, adanya di kepulaan Mentawai, tepatnya di pulau Pagai. Perusahaan mengadakan kerjasama dengan perusahaan asing. Aku diterima bekerja di perusahaan itu berkat bantuan etek Nani. Etek Nani bekerja sebagai pegawai negeri di badan Immigrasi Pdg. Perusahaan ini banyak mempekerjakan orang-orang asing, tentu saja mereka berurusan dengan kantor immigrasi. Di perusahaan ini pada mulanya aku di tempatkan sebagai Payroll Clerk. Alangkah senangnya hati ku, pada terima gaji bulan kedua aku sudah bisa membeli sebuah sepeda Phoenix baru. Aku pergi kerja tidak lagi dengan jalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau, bapak dan ibu senang tidak kepalang karena aku telah bekerja dan dapat membantu biaya hidup keluarga. Kami tidak lagi merasa kekurangan. Gaji ku sering aku berikan semuanya kepada ibu supaya dapat dipakai untuk belanja. Sedangkan bapak masih tetap bekerja di gudang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penghasilan ku, aku telah dapat pula membeli empat kodi atap seng guna menganti atap rumah kami di kampung yang masih beratap rumbia. Ini merupakan cita-cita ibu yang sudah lama ingin memiliki rumah dengan atap seng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pdg, masih saja rumah yang kami tinggali ini adalah sewaan, rumah guduk kecil dan sempit. Tapi walaupun begitu, itu adalah rumah persinggah bagi orang-orang dari kampung yang sedang ada atau punya urusan di Pdg. Sering mereka datang ke kerumah kami untuk beristirahat barang semalam atau dua. Ibu tidak dongkol, sama sekali tidak, walaupun rumah kami kecil, dan sempit tetap pintu rumah akan selalu terbuka dengan senyuman ibu yang ramah bagi siapa saja yang datang. Bagi ku itu tidak masalah, aku sudah biasa tidur di surau kalau rumah benar-benar sudah sesak dengan para tamu. Bapak pun demikian, sama saja dengan ibu, selalu menerima tamu dengan senang hati. Rasanya tidak ada orang kampung kami yang belum pernah datang ke rumah kecil kami yang sederhana di Alang Lawas. Para tetangga di sekitar merasa heran, hampir setiap bulan ada saja orang yang datang untuk menginap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, banyak juga orang sekampung kami di Pdg yang kaya, memiliki rumah besar, tapi entah mengapa mereka, orang kampung itu senang sekali ke tempat kami, bukan ke tempat saudara mereka yang lain. Aku tidak habis pikir bagaimana caranya ibu bisa memberi makan para tamu-tamunya. Tidak pernah ibu merasa berat sedikitpun, terlebih mengeluarkan omelan-omelan, tidak, tidak pernah. Kami saja anak-anak beliau yang terpaksa menahan hati melihat keadaan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah hari berlalu, minggu berganti bulan, tanpa disadari, perlahan tapi pasti. Di suatu sore, tanpa ada kabar berita lebih dahulu, tiba-tiba gadis itu, Wid telah hadir di rumah ku. Dia datang dari arah belakang katanya, dari rumah saudara ayahnya yang kebetulan berada tidak jauh dari rumah ku di Alang Lawas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu aku baru saja sampai di rumah, pulang kerja, aku sedang kumpul dengan adik-adik ku. Wid tiba di rumah ku dan langsung mencari ibu. Yang dia tahu cuma ibu saja, dia tidak begitu kenal dengan adik-adik, memang adik-adik jarang pulang ke kampung, tentu mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kaget dan langsung kikuk menghadapi kehadiran Wid di rumah, karena belum pernah aku mendapat pengalaman dikunjungi oleh seorang gadis yang sedang menjalin hubungan khusus dengan ku, apalagi itu di depan saudara-saudara ku. Mereka hanya tersenyum melihat keadaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, aku tidak mengajaknya ngobrol, dia nya malah lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibu ku di dapur. Dalam hati aku merasa senang sekali mereka begitu akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Wid mau balik ke rumah pamannya, aku sempatkan memberitahunya bahwa aku akan menjemputnya nanti untuk mengajaknya pergi nonton film ke bioskop. Dia senyum lagi dan menganggukkan kepalanya sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 19 kurang seperempat, selepas sholat Magrib, aku telah sampai di depan rumah pamannya. Aku memakai baju kaos warna putih, celana jean biru,dan sepatu sneaker. Menurutku, itu adalah pakaian yang paling bagus yang pernah aku milik. Sedangkan Wid malam itu memakai baju kurung warna putih juga, dengan selendang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku minta izin kepada pamannya Wid untuk dibolehkan membawa ponakannya pergi nonton ke bioskop malam itu. Kami diizinkan oleh paman itu. Laki-laki separoh baya itu cuma bilang cepat pulang, jangan sampai larut malam, karena tidak baik di lihat orang sekitar. Aku tentu mengerti dengan perkataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku merasa seperti seorang laki-laki gentleman, jantan dan penuh kharisma, karena telah berani memboyong seorang anak gadis keluar dari rumahnya. Belum pernah seumur-umur aku bembawa seorang anak gadis pergi nonton berduaan, malam itu aku membawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Alang Lawas kami naik bendi menuju ke bioskop Raya. Aku belum tahu film apa yang akan kami nonton di bioskop itu nanti. Yang aku tahu hanya aku cuma ingin berduaan menghabiskan waktu dengan gadis ku. Tidak peduli film apa yang akan kami nonton nanti. Dari Alang Lawas bendi membawa kami lewat jalan kampung Tarandam, keluar di jalan Agus Salim, belok kiri terus ke perempatan Simpang Kandang, teru akhirnya kami sampai di halaman Bioskop Raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum masuk kedalam bioskop, kami masih berdiri di halaman. Ku lihat pada poster kain besar yang terpasang pada dinding reklame luar, ada film barat yang tayang malam itu, sepertinya film bertema perbudakan negeri Paman Sam, aktor dan aktrisnya semua berkulit hitam, entah apa lah judulnya, aku tidak peduli, yang penting malam itu aku ingin nonton film berdua dengan Wid. Wid hanya diam saja, dia menurut saja. Aku langsung bergegas membawa Wid kedalam. Kubeli karcis kelas satu dua lembar. Wid tidak ngomong apa-apa, ikut saja di samping ku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam bioskop, kami duduk tenang menonton film yang sedang diputarkan. Kami tidak banyak bicara. hanya sekali-kali mata ku dan matanya saling bertatapan. Sebenarnya aku sadar bahwa film yang sedang kami tonton itu benar sangat membosankan. Tapi itu tidaklah menjadi hal yang berarti bagi ku. Yang sangat berarti adalah waktu kami berduaan. Sepanjang film berjalan, tetap saja Wid tidak bicara. Dalam keremangan dalam bioskop, dapat juga kutangkap senyuman manisnya dan anggukan kepalanya mengiyakan teguran suara ku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah… aku benar-benar kehabisan bahan obrolan untuk berbincang-bincang dengan Wid. Aduh.. bodohnya aku, sebenarnya ingin sekali aku mengungkapkan betapa bahagianya aku malam itu bisa berduaan dengan dirinya. Tapi kena aku begitu bodoh, tidak dapat memanfaatkan kesempatan terbaik itu untuk bicara kepadanya. Dia nya malah diam saja, sepertinya menunggu perkataan yang ingin meloncat keluar dari mulut ku yang sedang terkunci ini. Kebisuan melingkupi kami berdua di tengah-tengah bisingnya suara percakapan dan musik latar film yang sedang berlangsung. Dalam benak dan batin ku sebenarnya sedang terjadi interaksi gaib antara aku dengan Wid yang sedang duduk tenang kursi sebelah. Hanya saja badan kami jasa yang sepertinya duduk diam dan mata lurus memandang ke layar bioskop. Aku merasa kedua mata ku seperti orang yang terkena hipnotis, sama seperti mata ikan asin yang dijual orang di pasar, terbuka lebar tapi tidak melihat apa-apa, memandang kosong dan hampa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pulang pun Wid juga masih membisu tidak berkata apa-apa. Aku coba untuk mencari kata-kata agar dapat memecahkan suasana di antara kami. Dalam benak ku banyak pilihan topik pembicaraan, tapi mulut ku terasa masih kaku, terkunci rapat, tidak mengeluarkan suara apa-apa. Ah.. apakah ini artinya? apakah ini yang di namakan orang dengan cinta, atau grogi, atau juga malu-malu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah… bagi ku ini suatu keanehan, mengapa jika aku sendiri macam-macam saja pikiran berseliwiran di kepalaku. Rasa rindu ku kepada Wid seperti ingin meledak keluar dari rongga dada ku. Tapi sekarang aku sedang berduan dengan dia. Aneh, lidah ku kelu, bibir ku kaku. Hingga sampai akhirnya aku antarkan Wid kembali ke pamannya. Tetap saja Wid cuma membalas ku dengan senyuman di bibirnya. Lalu aku pulang, kesunyian belum juga lepas membelenggu aku. Dalam hati ku aku merasa menyesal sekali. Aku tidak habis pikir, ada apa dengan diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada liburan berikutnya, Wid juga datang lagi ke rumah ku. Dan begitu juga aku datang berkunjung ke rumah pamannya Wid. Kali ini aku tidak mengajaknya untuk pergi nonton. Tahu kenapa? Karena aku takut kalau kejadian waktu itu terjadi lagi, takut kalau-kalau mulut ku ini tidak mau diajak bekerja sama menyampaikan segala pikiran dan perasaan yang berkecamuk dalam dada ku. Kali ini aku mengajaknya jalan-jalan, jalan kaki berdua menyusuri sepanjang jalan aspal Pantai Padang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah.. sama saja, aku dan Wid sama saja, kami tidak bicara apa-apa. Kejadian yang sama akhirnya terjadi kembali. Mulut ini juga masih terkunci. Tapi walaupun begitu, saat ini adalah lebih baik dari yang waktu di bioskop tempo hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu kenapa? Hahaha….. karena kami jalan bergandengan tangan, bagaikan sepasang sejoli dalam film Romeo dan Juliet. Aduh… aku senang sekali dalam hati. Biarlah.. biar saja mulut kami terkunci, kaki kami capek, keram dan lecet, tidaklah apa-apa, tidak terasa sakit, masih bisa ditahan sampai di rumah nanti. Yang penting malam ini kami berdua bahagia, lihat Wid juga senang sekali waktu aku menggandeng tangannya. Dia tersipu-sipu malu. Sesekali kepalanya menoleh memperhatikan orang sekeliling. Walupun dia malu-malu, tapi aku tahu dia bahagia, dia senang sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/10/menunggu-angin-bertiup-10-oleh-yuhardi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8Nu51r1yjMyWn_GyEUr2nWJWR0RL8_nbeSx9R0vbgabwoU5kfruZdn0sydPPV8hMULJAeogEak0yaW2_FLzXfc1gBBLOiYE3pZGBKkgUhjXKAhfSIGOOsopsAQnQ-4rVsMh-NiN-yKZUo/s72-c/pantai_padang.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-5951556241332253809</guid><pubDate>Thu, 27 Oct 2016 12:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-27T05:36:13.927-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucky story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menunggu Angin Bertiup</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Minangkabau</category><title>Menunggu Angin Bertiup # 9 Oleh Yuhardi Tanjung</title><description>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvJYpg_V8eIszR1OjJDGI5iD-yKgiVfjIArb-YsneLo1NIpU4sx6MM6dLSGVx4v9fJ7kVo7jfWvtXAblkzCO0y9vZoDaGDvy4X8GGSnPPNbqA_c7DKhbjgcSW-usKEkYDCzRoxrzc1-91f/s1600/39037_454365811095_2265422_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="220" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvJYpg_V8eIszR1OjJDGI5iD-yKgiVfjIArb-YsneLo1NIpU4sx6MM6dLSGVx4v9fJ7kVo7jfWvtXAblkzCO0y9vZoDaGDvy4X8GGSnPPNbqA_c7DKhbjgcSW-usKEkYDCzRoxrzc1-91f/s320/39037_454365811095_2265422_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menunggu Angin Bertiup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Yuhardi Tanjung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Part 9&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan tinggal 3 hari lagi. Besok rencana ku aku akan kembali ke Pdg. Sudah hampir sebulan lebih aku tanggal di kampung. Rindu ku kepada Bapak, ibu serta adik-adik membuat hati ku resah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Angin siang berhembus pelan, sepoi-sepoi, sarang burung tempua yang tergantung di ujung daun kelapa di seberang jalan berayun pelan. Kampung terlihat lengang, orang-orang mungkin sedang istirahat di dalam rumah. Mobil hanya sekali-kali lewat, berlalu kencang meninggalkan debu berterbangan di belakang. Seekor anjing berlari dengan lidah terulur, sepertinya haus dan kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku tidak ke sawah. Besok rencana ku akan kembali ke Pdg. Aku berharap hari ini aku bisa berjumpa dengan Wid. Aku ingin mengatakan perasaan ku kepadanya. Ada rasa yang tidak menentu, yang sedang bergelora di dalam hati ku. Untuk menghilangkan galau di hati, aku berjalan menuju ke Ujung Bukit, pergi ke rumah Syahril rencana ku. Kalau jalan ke sana tentu aku akan melewati rumah Wid. Mudah-mudahan nanti aku dapat melihat dia. Jangankan melihat dirinya, tampak atap rumahnya dari jauh pun tentulah akan sangat senang hati ini. Ingin rasanya singgah ke tempat Wid, tapi, ah… tidak enak nanti di lihat orang. Tapi aku sangat berharap bisa bicara dengan dia barang sebentar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki ini terus melangkah, sampai di depan rumahnya aku tidak melihat ada siapa-siapa disana. Suasana sepi sekali, biasanya ada anak laki-laki yang bermain di bawah pohon mangga itu. Ah… mungkin dia sedang pergi ke pasar, sedang membantu amaknya berjualan, … mungkin saja. Aku melanjutkan langkah kaki menuju ke rumah Syahril, mudah-mudahan Syahril ada dirumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, alhamdulillah, Syahril ada di rumah, dia sedang menjemur padi di halaman rumah. Sesekali terdengar suaranya sedang mengusir ayam yang mendekat ingin makan padi. Cuaca memang sangat bersahabat, matahari bersinar terang. Dari jauh aku lihat dia sedang mengayunkan pelepah rumbia untuk mengusir ayam-ayam yang nakal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai.. apakabar?” dia menyapaku ketika aku telah sampai di hadapannya. Lalu dia panggil adiknya untuk menggantikan pekerjaannya menjaga padi dari ayam-ayam yang suka menguntil padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung saja aku sampaikan maksud ku dengan menyebutkan berbagai macam alasan ku sekaligus kepada Syahril&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dia kawan ku yang baik itu agak kecewa, tapi akhirnya dia dapat memahami juga. “Jadi kapan si Eddy ke Pdg?” dia bertanya. Aku jawab “dua hari lagi” aku berkata kepadanya sambil mengusir seekor ayam yang coba mendekati hamparan padi yang sedang terjemur di atas tikar karung goni itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Di kita jalan kebelakang sebentar, kita ke kebun, lihat apakah orang-orang sudah selesai memetik cabai” Syahril membuat suasana obrolan menjadi lebih santai dengan cara membawa aku berjalan ke belakang rumahnya. Di sana terdapat beberapa petak kebun cabai, dan para petani cabai itu sekarang sedang memanen buah cabainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai aku di belakang rumahnya, aku jadi terpana karena melihat rumpun tanaman cabe yang tumbuh di kebun itu begitu lebat buahnya. Setiap petak kebun cabe di tempat itu di penuhi oleh warna merah buah cabai. Kenapa tidak, setiap tanaman cabe menghasilkan buah yang lebat lagi rimbun, sampai-sampai pokok batangnya menjadi merunduk karenanya. Aku berdecak kagum dengan pemandangan ini. Akulihat orang-orang yang sedang bekerja memetik cabai itu tampak senang dan girang. Mereka adalah keluarga dan sanak famili Syahril. Tentu saja mereka senang, karena aku tahu menjelang hari lebaran esok harga cabai akan terus merangkak naik. Dan mereka akan mendapatkan untung berlipat ganda dari hasil panen mereka sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah puas mengelilingi kebun cabe itu, kemudian aku dibawa oleh Syahril memotong jalan, jalan pintas yang bisa tembus ke rumahnya Eni, temannya Wid. Sebuah rumah ditengah kerimbunan pepohonan, disambut dengan riuhnya suara ayam-ayam yang ribut berkotek-kotek, mungkin ada ayam yang baru bertelor di dalam kandang. Akhirnya kami pun sampai dekat sebuah rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah itu tida ku lihat seorangpun, sepi, terasa di sekeliling. Memang rumah-rumah di kampung biasanya pada siang hari tidak ada orang, karena mereka lagi bekerja di sawah atau di ladang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu mengapa Syahril mengajak ku lewat ke jalan belakang itu. Dan aku sendiri baru pertama kali lewat di situ, belum pernah sebelumnya. Di sekitar situ ada beberapa rumah yang jarak agak berjauhan antara satu dengan yang lainnya. Rumah-rumah disini pada umumnya berada dalam parak atau kebun. Biasanya masing-masing kebun ada pagarnya, paling banyak dipagai dengan bambu, tapi ada juga yang memakai kawat berduri. Kalau jalan keluar dari parak harus lewat pintu pagar, yang diberi semacam injakan yang timbal balik, luar dalam, tempat kaki bisa berpijak dan melangkahi pagar tersebut. Tentu pintu pagar itu dibuat sedemikian rupa agar orang bisa lewat disitu, bukan untuk binatang yang suka menjarah isi parak, seperti kambing, sapi dan kerbau lepas. Dan aku telah melewati pintu demikian sebanyak tiga kali. Selagi asik melihat dan memperhatikan suasana kebun di sekeliling, tiba-tiba terdengar suara seseorang  mengucapkan salam, suara seorang wanita, aku tidak melihat orangnya. Tapi suara itu rasa-rasanya aku kenal. Aku masih saja tidak melihat sosok orangnya. Ku tanya Syahril, siapakah orang yang mengucapkan salam itu? Tapi Syahril tidak menjawab. Dia hanya senyum-senyum saja. Ah .. aku tidak puas, aku melihat bola matanya melirik ke arah sebuah rumah. Aku segera menuju ke rumah itu, untuk mencari tahu siapakah tadi yang memberi salam kepada ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh… ternyata ada yang keluar dari dalam rumah itu, dia, ternyata dia, Wid. Wid lah yang tadi memberi salam. Dia mengenakan kain panjang dan berselendang. Sambil tersenyum dia menyapa ku. Aku tergagap, lagi-lagi lidah ku kelu. Aku hanya menatap wajahnya. Dia menjadi risih juga. “Duh… kenapa uda? Kenapa memandang aku demikian?” ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh aku tersadar, sadar dari tatapan pana ku ke wajah cantiknya, “maaf,.. maaf Wid, aku juga ingin bertanya kenapa Wid ada di sini?” dia tidak memberi jawaban, tapi dia malah balik bertanya, “Uda .. apa yang uda cari disini?” aku tidak memberi penjelasan apa-apa, yang aku tahu, aku tidak akan melepaskan kesempatan in untuk memberitahu dia bahwa besok aku berangkat ke Pdg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukurlah Wid, kita dapat bertemu disini, walau secara kebetulan, aku ingin berbicara dengan Wid” selepas mengatakan kata-kata itu aku merasa seperti terlepas dari ikata yang selama ini membelit badan ku. “Wid… aku.. eh kita .. mungkin akan berpisah sementara.” Aku menambahkan lagi. “besok mungkin aku akan ke Pdg.. dan berlebaran di sana..”  Dia memandangi ku dengan bola matanya yang melebar. Sejurus kemudian dia berkata “Apakah uda…. akan tinggalkan kampung ini dan tidak kembali lagi?” kemudian “di Pdg tentu sudah ada ‘sendok’ manalah uda akan ingat lagi dengan ‘sanduak’” kata-katanya berkias, meluncur begitu saja dari bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bagaimana aku akan melupakan ‘sanduak’, karena dia lah yang pertama kali mengenalkan aku rasa kasih pada mu” aku hanya berkata dalam hati saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo tidak Wid, tidak akan begitu mudah untuk melupakan kampung ini, disini adalah tempat aku dilahirkan dan tidak akan mudah begitu saja melupakan seseorang yang telah mengisi relung hati ku. Percayalah Wid tidak mudah bagi ku melupakan mu, hati ku telah tertinggal disini, bersama mu. Aku akan mencari pekerjaan di Pdg, pekerjaan yang sesuai dengan kondisi diri ku. Mudah-mudahan Allah SWT memudahkan jalan yang akan ku tempuh. Pada mu Wid, kalau ada kesempatan kirimlah surat kepada ku untuk pengobat rinduku padamu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak menjawab, kulihat wajahnya muram, ada awan mendung yang sedang bergelantungan di langit hatinya. Sepatah katapun belum ada ucapan yang keluar dari bibirnya. Lama aku menunggu. Sepi mengantung diantara kami. Dari arah bukit batu terdengar suara tokok orang memecah batu. Seekor elang berputar-putar di udara, suaranya terdengar berkulik. Induk ayam memanggil anaknya untuk berlindung dibawah sayapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana kebekuan diantara kami akhirnya pecah, terdengar elahan napasnya, lalu suaranya, suara yang dari tadi aku tunggu-tunggu. “Uda… kalau jadi uda ke Pdg, entah kapan lagi kita akan bertemu. Ingatlah da, ingatlah selalu bahwa ada seseorang yang selalu menunggu kedatangan mu uda”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wid, sungguh berat rasanya perpisahan ini. Tapi sungguhpun berat, Pdg itu tidak jauh, hanya 60 Km saja. Jika Wid pergi ke Pdg nanti, datanglah ke rumah ku, kita dapat bertemu nanti”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Insyaallah da, mudah-mudahan saya dapat pergi ke Pdg kalau libur sekolah nanti” katanya sambil berdiri dan memandangi aku. Senyum nya mengembang, aku meraih tangannya, menyalami nya, “Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin” . dia menyambut dan mengucapkan salam yang sama, dan lalu “Selamat jalan uda, jangan lupa kirimkan Wid surat, Surat dari uda sangat ku nantikan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/10/menunggu-angin-bertiup-9-oleh-yuhardi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvJYpg_V8eIszR1OjJDGI5iD-yKgiVfjIArb-YsneLo1NIpU4sx6MM6dLSGVx4v9fJ7kVo7jfWvtXAblkzCO0y9vZoDaGDvy4X8GGSnPPNbqA_c7DKhbjgcSW-usKEkYDCzRoxrzc1-91f/s72-c/39037_454365811095_2265422_n.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-753753741304762682</guid><pubDate>Thu, 27 Oct 2016 12:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-27T05:52:20.108-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucky story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menunggu Angin Bertiup</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Minangkabau</category><title>Menunggu Angin Bertiup # 8 Oleh Yuhardi Tanjung</title><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:WordDocument&gt;&lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;&lt;w:DisplayHorizontalDrawingGridEvery&gt;0&lt;/w:DisplayHorizontalDrawingGridEvery&gt;&lt;w:DisplayVerticalDrawingGridEvery&gt;2&lt;/w:DisplayVerticalDrawingGridEvery&gt;&lt;w:DocumentKind&gt;DocumentNotSpecified&lt;/w:DocumentKind&gt;&lt;w:DrawingGridVerticalSpacing&gt;7.8 磅&lt;/w:DrawingGridVerticalSpacing&gt;&lt;w:PunctuationKerning&gt;&lt;/w:PunctuationKerning&gt;&lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;&lt;w:Compatibility&gt;&lt;w:DontGrowAutofit/&gt;&lt;w:BalanceSingleByteDoubleByteWidth/&gt;&lt;w:DoNotExpandShiftReturn/&gt;&lt;/w:Compatibility&gt;&lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:LatentStyles DefLockedState="false"  DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true"  DefQFormat="false"  DefPriority="99"  LatentStyleCount="260" &gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Normal" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="heading 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="heading 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="heading 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="heading 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="heading 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="heading 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="heading 7" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="heading 8" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="heading 9" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="index 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="index 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="index 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="index 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="index 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="index 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="index 7" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="index 8" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="index 9" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="toc 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="toc 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="toc 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="toc 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="toc 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="toc 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="toc 7" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="toc 8" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="toc 9" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Normal Indent" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="footnote text" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="annotation text" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="header" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="footer" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="index heading" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="caption" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="table of figures" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="envelope address" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="envelope return" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="footnote reference" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="annotation reference" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="line number" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="page number" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="endnote reference" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="endnote text" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="table of authorities" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="macro" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="toa heading" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List Bullet" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List Number" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List Bullet 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List Bullet 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List Bullet 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List Bullet 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List Number 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List Number 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List Number 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List Number 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Title" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Closing" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Signature" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Default Paragraph Font" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Body Text" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Body Text Indent" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List Continue" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List Continue 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List Continue 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List Continue 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="List Continue 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Message Header" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Subtitle" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Salutation" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Date" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Body Text First Indent" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Body Text First Indent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Note Heading" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Body Text 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Body Text 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Body Text Indent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Body Text Indent 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Block Text" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Hyperlink" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="FollowedHyperlink" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Strong" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Emphasis" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Document Map" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Plain Text" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="E-mail Signature" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Normal (Web)" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="HTML Acronym" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="HTML Address" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="HTML Cite" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="HTML Code" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="HTML Definition" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="HTML Keyboard" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="HTML Preformatted" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="HTML Sample" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="HTML Typewriter" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="HTML Variable" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Normal Table" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="annotation subject" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="No List" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Simple 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Simple 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Simple 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Classic 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Classic 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Classic 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Classic 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Colorful 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Colorful 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Colorful 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Columns 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Columns 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Columns 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Columns 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Columns 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Grid 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Grid 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Grid 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Grid 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Grid 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Grid 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Grid 7" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Grid 8" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table List 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table List 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table List 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table List 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table List 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table List 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table List 7" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table List 8" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table 3D effects 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table 3D effects 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table 3D effects 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Contemporary" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Elegant" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Professional" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Subtle 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Subtle 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Web 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Web 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Web 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Balloon Text" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Grid" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Table Theme" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light Shading" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light List" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light Grid" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Shading 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Shading 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium List 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium List 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Dark List" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful Shading" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful List" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful Grid" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light Shading Accent 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light List Accent 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light Grid Accent 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Shading 1 Accent 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Shading 2 Accent 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium List 1 Accent 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium List 2 Accent 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 1 Accent 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 2 Accent 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 3 Accent 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Dark List Accent 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful Shading Accent 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful List Accent 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful Grid Accent 1" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light Shading Accent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light List Accent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light Grid Accent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Shading 1 Accent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Shading 2 Accent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium List 1 Accent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium List 2 Accent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 1 Accent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 2 Accent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 3 Accent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Dark List Accent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful Shading Accent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful List Accent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful Grid Accent 2" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light Shading Accent 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light List Accent 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light Grid Accent 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Shading 1 Accent 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Shading 2 Accent 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium List 1 Accent 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium List 2 Accent 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 1 Accent 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 2 Accent 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 3 Accent 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Dark List Accent 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful Shading Accent 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful List Accent 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful Grid Accent 3" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light Shading Accent 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light List Accent 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light Grid Accent 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Shading 1 Accent 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Shading 2 Accent 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium List 1 Accent 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium List 2 Accent 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 1 Accent 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 2 Accent 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 3 Accent 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Dark List Accent 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful Shading Accent 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful List Accent 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful Grid Accent 4" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light Shading Accent 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light List Accent 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light Grid Accent 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Shading 1 Accent 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Shading 2 Accent 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium List 1 Accent 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium List 2 Accent 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 1 Accent 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 2 Accent 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 3 Accent 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Dark List Accent 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful Shading Accent 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful List Accent 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful Grid Accent 5" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light Shading Accent 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light List Accent 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Light Grid Accent 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Shading 1 Accent 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Shading 2 Accent 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium List 1 Accent 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium List 2 Accent 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 1 Accent 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 2 Accent 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Medium Grid 3 Accent 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Dark List Accent 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful Shading Accent 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful List Accent 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;w:LsdException Locked="false"  Priority="99"  SemiHidden="false"  Name="Colorful Grid Accent 6" &gt;&lt;/w:LsdException&gt;
&lt;/w:LatentStyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0NxDos_CCQBpj0-VXPKxNnBn6hFCSyVC4MeRNaLctgvZY0q9uLZKxT7JN2aQ3r9mvtp7yFroJCjKWLyJAf-PzN1wHvTcl6l0yZIP9HvNFEey9Quanje-dp_TESOR0Odalp-NztT02OlTJ/s1600/Contoh-Surat-Cinta-1024x819.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="255" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0NxDos_CCQBpj0-VXPKxNnBn6hFCSyVC4MeRNaLctgvZY0q9uLZKxT7JN2aQ3r9mvtp7yFroJCjKWLyJAf-PzN1wHvTcl6l0yZIP9HvNFEey9Quanje-dp_TESOR0Odalp-NztT02OlTJ/s320/Contoh-Surat-Cinta-1024x819.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menunggu Angin Bertiup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Yuhardi Tanjung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Part 8&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Aku dulu sering mandi di sungai dangkal yang terdapat di parak nipah. Sambil mandi aku dan teman-teman ku mengumpulkan sebanyak-banyaknya langkitang dengan cara menyelam ke dasar sungai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkitang juga dapat sebagai makanan tambahan lauk yang bergizi bagi orang kampung yang jarang memakan daging, sebab kalau daging biasanya di dapatkan pada waktu orang membantai, pada awal bulan puasa, kemudian menjelang lebaran, lalu hari raya kurban atau pada bulan Maulid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau mau memasak langkitang, pertama harus kita rendam dulu di air selama satu malam, supaya lumpur yang ada dalam cangkangnya bisa keluar. Dan juga bahagian cangkang belakang yang rucing itu harus di potong pertama-tama sekali, ini agar mudah mengeluarkan dagingnya nanti saat dimakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beduk Magrib sudah berbunyi, tanda waktu untuk berbuka. Nenek sudah menyediakan air jus mentimun. Aduh sejuknya tenggorokan setelah disiram segelas jus mentimun. Begitulah rasanya berbuka puasa, dengan berpuasa tentulah kita dapat merasakan bagaimana rasa syukur setelah menahan dahaga selama seharian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana kegiatan rutin selama Ramadhan, setelah selesai makan malam, ke mushola adalah kunjungan yang hampir merupakan kewajiban bagi ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mushola kelihatan sudah ramai, tampak beberapa anak laki-laki berkejar-kejaran di halaman mushola yang diterangi oleh cahaya lampu petromax. Cuaca kelihatan bagus sekali. Ku lihat Syahril telah berdiri dekat pintu masuk mushola, dari jauh rupanya dia telah melihat kedatangan ku, sepertinya dia mengatakan sesuatu, tapi karena masih jauh tidak dapat aku mendengarnya. Aku hanya memberikan isyarat saja supaya dia mau menunggu, karena aku hendak beruduk dulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iqamat telah diperdengarkan, aku baru selesai berwuduk, ah tentu tidak sempat lagi untuk ngobrol barang sementar dengan Syahril. Biarlah, nanti habis tarawih aku temui dia, mudah-mudahan saja ada kabar baik dari dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sholat Magrib tak sabar aku bergeser duduk ke dekat Syahril, ku colek dia, lalu berbisik, “ada apa tadi?”. Dia hanya membalas dengan senyuman saja. “Tidak ada apa-apa, nanti saja kita bicara habis tarawih” dia berujar sambil merubah posisi duduknya, bergeser dari depan kebelakang, agar dapat duduk di samping ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa, hanya saja aku mendengar kabar bahwa si Eddy mau ke Pdg lagi, kapan kah?” Sambil jalan pulang dari mushola Syahril menanyakan kepada ku berita yang diterimanya entah dari siapa. “Ooo itu” hilang penasaran ku setelah mendengarnya. “Benar. Aku memang akan kembali ke Pdg, tapi itu nanti, sekitar 4 atau 5 hari lagi sebelum lebaran” aku menjelaskan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak lebaran di kampung kah si Eddy?” kulihat Syahril agak kecewa mendengarkan penuturan ku. Sebenarnya aku ingin sekali berlebaran di kampung ini, tapi Bapak, Ibu dan adik-adik ku ada di Pdg, ada kerinduan yang ku simpan di hati untuk segera berkumpul lagi bersama keluarga, tapi sebahagian hati ini mengatakan tetaplah disini saja, di kampung ini. Karena benih-benih cinta ku telah mulai tumbuh, dan itu membutuhkan air penyiram agar ia dapat tumbuh berkembang dan subur mekar merekah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sore hari setelah aku pulang dari sawah, seorang anak laki-laki kecil datang ke rumah ku sambil membawa sebuah bungkusan. Dia lah anak laki-laki itu yang pernah aku jumpai di rumah Wid waktu pertama kali berkunjung. Dia melihat, lalu berjalan ke arah tempat ku berdiri. “Uni menyuruh mengantarkan ini” berkata anak itu sambil menyodorkan bungkusan yang di bawanya. “Terimakasih” aku menerima bungkusan itu darinya. Dan ternyata isi bungkusan itu adalah jaket ku yang telah di cuci dan di seterika lagi, dan lalu ada sebuah amplop yang terselip dalam lipatan jaket, sepucuk surat dari Wid, berisikan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Kepada Kakanda Eddy yang baik hati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama surat ini adinda kembalikan jacket kakanda. Terimakasih tak berhingga untuk kakanda yang telah sudi berbasah-basah untuk melindungi adinda dari hujan . Semoga budi baik kakanda akan dibalas oleh Allah Subhanawataala. Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Adik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ttd&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Aswidar&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Surat itu pendek saja, tapi isinya cukup padat. Lama aku memandangi lembaran surat itu. Terbayang jelas olehku di dalam lembaran surat itu rawut wajahnya, senyum simpulnya yang selalu menawan hati ini. Ah.. aku terlalu hanyut dalam khayalan ku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semalam aku tak dapat tidur. Aku mencoba menuliskan balasan suratnya kemarin. Telah berkali-kali aku mencoba menuliskan kata-kata, namun menganggap tulisan ku itu selalu kurang baik bunyinya, dan berkali-kali aku merobek lembaran kertas yang berhiaskan motif berbunga di setiap sisinya itu. Setelah larut akhirnya aku tuliskan apa adanya saja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Grn Panjang, Oktober 1972&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik Aswidar yang budiman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh semua yang kakanda lakukan itu adalah karena dorongan hati yang tidak ingin mendegar adik kelak menderita sakit karena berbasah-basah ke hujanan. Semoga budi sedikit dari kakanda itu tidaklah menjadi hal yang akan memberatkan adinda nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wasalam.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;Yah… sedikit dan pendek memang, tapi kalimat-kalimat itu cukuplah menunjukan perhatian ku kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat itu kulipat dalam amplop Airmail, dilipat dalam bentuk biasa, surat itu ku simpan dulu dibawah bantal. Besok hari akan ku titipkan pada seseorang. Tapi kepada siapakah gerangan surat ini akan ku titipkan. Di kampung ini berkirim-kiriman surat antara gadis dan bujang masih perbuatan yang dianggap tabu. Aku pikir salah-salah surat itu akan jadi hal yang kurang elok, baik oleh yang menerima, maupun yang mengirimkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seminggu lagi Ramadhan akan meninggalkan kita, barulah setahun kemudian akan muncul kembali. Apakah kita akan dapat lagi bersama-sama berada pada bulan yang mulia itu. Tidak seorang pun yang akan tahu, karena itu adalah rahasia Allah sang pencipta, Allah yang maha kuasa atas segalanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Demikian potongan ceramah wirid ramadhan yang disampaikan ustad. Aku terhanyut merenungkan ucapannnya itu. Entahlah, kapan lagi aku akan dapat merasakan suasana Ramadhan seperti saat ini di kampung? Yang betapa aku telah merasakan kehidupan dikampung dengan segala bentuk kesederhanaannya, dimana kadang-kadang kesederhanaan itu hampir mencapai titik ketiadaan. Tapi semua itu tidaklah menjadi beban yang berat bagiku, aku yakin itu hanyalah soal rejeki saja dari Tuhan. Selama ada usaha tetap akan ada rejeki, kerena semua sudah diatur oleh Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah… selama Ramadhan ini aku dapat merasakan kebahagian dalam hati. Betapa aku merasakan benih-benih cintaku mulai bersemi dan menampakan tunas-tunasnya yang akan merekah didalam taman hati sanubari ku yang terdalam. Oh.. ternyata sura itu masih tetap dalam kantong baju ku. Aku berniat minta tolong kepada Syahril agar mau memberikannya kepada Wid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sore aku mengunjungi Syahril ke rumahnya. Syukurlah dia ada di rumah. Ku lihat dia sedang bekerja di halaman membuat bedeng untuk ditanami ubi jalar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jauh dia telah melihat kedatangan ku, dia menghentikan pekerjaannya. “Wah sepertinya ada sesuatu yang penting sekali nih” dia bicara seperti sudah menerka apa niat ku. “Ah.. tidak begitu penting” jawab ku. “Hanya sedikit perlu saja” Aku melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wah.. penting dengan sedikit perlu apakah ada bedanya? Aku berpikir sendiri jadinya, ah tentulah ada bedanya, bedanya cuma cara penanganan masalahnya, betul bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah, kita naik ke rumah” Syahril mengajak masuk kerumahnya. “Ah tidak perlu, cukuplah di sini saja, dibawah batang rambutan itu saja” Aku menunjuk kesana, disitu ada paleh-paleh, tempat yang sengaja di buat untuk duduk-duduk santai. “ayo lah” Syahril mempersilahkan aku menuju ke tempat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah pohon rambutan yang rindang itu, aku mengutarakan niat ku kepada Syahril.  Syukurlah dia mau membantuku. Diterimanya suratku dan dia masukan ke dalam kantong celananya. Lalu Syahril bertanya lagi kepada ku tentang apakah benar aku akan kembali ke Pdg.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin minggu depan” aku tidak menyebut kan tanggal berapa, hari apa, hanya perkiraan jasa. “Wah.. sayang sekali” Syahril menimpali ucapan ku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh.. kenapa?” aku bertanya. “Apakah ada sesuatu yang mungkin tidak lengkap apabila aku tidak ada?” Aku tambahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak begitu, hanya saja lebaran besok jadi kurang meriah kalau si ddy tidak ada” Syahril menerangkan. “Sampai sebegitunya kah? Jangan lah” aku mengomentarinya. “Tentulah aku akan tetap balik ke kampung bila ada kesempatan” aku memberikan janji kepada Syahril.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang kurang meriah kalau si Eddy tidak ada, begini, kami telah merencanakan lebaran besok pergi pesiar ke pantai Carocok” begitulah alasannya, Syahril menjelaskan kenapa tadi dia bilang ‘sayang sekali’ itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku jadi tercenung mendengar penjelasannya itu. Kenapa tidak, karena kalau aku ikut, mudah-mudahan Wid juga akan mau ikut bersama mereka, dan artinya adalah kesempatan emas bagiku untuk dapat lebih mempereratkan hubungan aku dengan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku teringat bapak, ibu dan adik-adik ku di Pdg, bagaimanakah keadaan mereka sekarang ini? Apakah bapak dapat memenuhi kebutuhan adik-adik ku saat hari lebaran nanti. Apakah adik-adik ku akan mendapatkan sesuatu yang membuat mereka bahagia atau senang hati pada waktu hari raya besok. Baju baru misalnya, atau makanan yang enak, entahlah. Aku sadar bahwa keadaan keluarga ku cukup memprihatinkan. Aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan yang maha esa selalu memberikan kelapangan rejeki kepada mereka, amin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya dalam aku termenung tadi, Syahril dapat menangkap perubahan pada rawut wajah ku. Dia menanyakan lagi, “bagaimana? Mau ikutkan… ayolah!” dia bertanya dan sekaligus membujuk ku. Tapi aku benar-benar sedih memikirkan keadaan keluarga ku di Pdg, meskipun aku sendiri belum dapat membantu apa-apa, paling tidak hanya dengan doa saja yang ku panjatkan kepada Nya setelah aku selesai sholat. Namun aku tahu apa yang ku inginkan. Aku akan lebih bahagia berada bersama keluarga ku, meskipun sesulit apa keadaan yang akan kami hadapi dan jalani pada hari kedepan nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begini Ril, aku sebenarnya ingin sekali ikut bersama teman-teman, betapa tidak, munkin itu hanya sekali terjad dalam hidup ku, tapi sayang Ril, aku harus kembali ke Pdg, berkumpul bersama keluarga ku, aku mengkhawatirkan keadaan mereka, entah bagaimana keadaan mereka sekarang ini” Ku jelaskan kepada Syahril alasan ku kenapa aku tidak dapat hadir bersama mereka nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, kalau begitu alasannya, tentulah ada hal yang akan ku sampaikan kepada teman-teman nanti, kalau sekiranya mereka bertanya tentang si Eddy” terbayang rawut kekecewaan di wajah Syahril ketika dia menerima penjelasan ku tadi. Namun dengan lapang hatinya dia merelakan aku, kawan karibnya untuk kembali ke Pdg. Mungkin dia tahu bahwa bukanlah disini, di kampung ini kehidupan ku, melainkan di Pdg lah tempat ku yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti biasa, masih pada bulan Ramadhan, pada senja waktu itu, setelah selesai berbuka aku bergegas menuju mushola untuk menunaikan sholat Magrib berjamaah. Di jalan ke mushola aku melihat perempuan, mungkin ibu-ibu, mungkin juga gadis, semuanya telah mengenakan mukena sedari rumahnya, mentuk mereka sama saja, kalau di lihat dari belakang. Aku mempercepat langkah ku supaya sampai di tangga dan pintu mushola. Ternyata air bak tempat pencuci kaki telah kosong, tidak tersisa sedikitpun. Mungkin belum ada orang yang mau mengisinya. Langsung saja aku ke sumur, ternyata tidak ada orang didalamnya, ada dua buah timba yang terbuat dari upih nibung yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dipergunakan untuk menimba air. Timba yang terbuat dari upih nibung ini waktu itu masih banyak dijual di warung-warung kampung.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selesai aku mencuci kaki, di pintu sumur sudah ada berdiri seseorang yang dari tadi menunggu aku keluar dari sumur. Dia mengulurkan sebuah amplop. Aku terkejut dan tergagap waktu menerima amplop itu darinya. Dia berkata pelan sekali “Simpan dan baca di rumah saja ya da” Aku lipat amplop itu dan ku simpan dalam kantong celana. “Aduh… aku, Wid… ak.. aku kira siapa tadi….” aku berkata sambil menghilangkan gagap ku. Wid hany tersenyum saja, dan tidak berkata apa-apa lagi. Aku ingin mencoba bertanya barang sedikit, tapi sayang suara Iqamat sudah terdengar dari dalam mushola. Ya sudah, aku segera berlalu, dan Wid melanjutkan mengambil air untuk mencuci kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aduh, .. sholat ku tidak khusuk, ingatan ku selalu pada surat itu saja. Selesai sholat aku raba kantong celana ku, apakah surat itu masih tetap di dalam, tidak hilang atau tercecer, aku cemas sekali. Surat itu penting sekali bagi ku, sama pentingnya sepertinya nyawa di urat leher ku, begitulah rasanya orang yang sedang di mabuk cinta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah.. surat itu masih ada. Selesai berdoa aku lansung berdiri lagi untuk sholat sunat. Setelah itu aku bergegas pulang. Seseorang menyapaku, tapi dia tidak menjadi perhatian bagi ku. Aku terus saja menuju pintu mushola, di luar pintu disana ada sandalku yang ku tinggalkan tadi. Pada tempat semula, aku tidak lagi menemukan sandal itu. Aduh.. kemana perginya? Ku cari-cari masih belum ketemu juga, aku jadi bingung. Melihat aku yang sedang sibuk mencari sandal, ada seseorang menyarankan aku supaya mencarinya di bawah dekat bak air pencuci kaki. Ah .. benar juga. Ternyata sandal itu berada di bawah sana. Mungkin tadi ada orang yang memakainya tapi lupa meletakan kembali ke tempatnya semula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah ku terima sepucuk surat dari Wid….&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Gr Panjang, November 1972&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakanda Eddy Yth,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tempat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh adik merasa tersanjung, betapa tidak, begitu besar perhatian kakanda terhadap adik. Sungguh adik merasa gamang, seorang anak desa yang sederhana mendapat perhatian dari seorang yang dibesarkan di kota. Adik menjadi takut sekali kakanda…, Takut kalau apa yang selama ini kakanda pikirkan tentang adik, ternyata jauh dari harapan. Maaf kakanda, bukan adik memberi petuah kepada kakanda. Adinda hanya mengingatkan saja. Semoga Allah Subhanawataala akan selalu menuntun kita kejalan yang benar. Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wasalam.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Aku tercenung membaca suratnya, sungguh aku merasa kecil dihadapannya. Kecil dalam artian pemikiran. Dia telah dahulu menyampaikan pemikiran yang telah melampaui batas pandangan para remaja masa itu. Dan aku tidak pula pernah bertanya pada diri ku sendiri, menanyai tentang halitu. Yang aku tahu, saat itu aku sedang jatuh cinta kepadanya, dan aku tidak memikirkan hal-hal lain, selain mengagumi diri dia, si pujaan hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersambung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/10/menunggu-angin-bertiup-8-oleh-yuhardi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0NxDos_CCQBpj0-VXPKxNnBn6hFCSyVC4MeRNaLctgvZY0q9uLZKxT7JN2aQ3r9mvtp7yFroJCjKWLyJAf-PzN1wHvTcl6l0yZIP9HvNFEey9Quanje-dp_TESOR0Odalp-NztT02OlTJ/s72-c/Contoh-Surat-Cinta-1024x819.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-8771272860535246904</guid><pubDate>Sat, 22 Oct 2016 06:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-21T23:03:57.535-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">A Life Story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucky story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menunggu Angin Bertiup</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Minangkabau</category><title>Menunggu Angin Bertiup # 7 Oleh Yuhardi Tanjung</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSGizv7PYt0Ba5ib2K173KjEW_XlEo3OsOnjXfY-wCpScZ3J_CcBIVdvqqb7LM796i7bMogR5VNIb2a5uSRgO4WoB2AA0NFKb1zOby9wdY8ZbfcCmUehQg_GGc11IyPMRZUgdOjr0mgDiN/s1600/Petani-Bajak-Sawah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSGizv7PYt0Ba5ib2K173KjEW_XlEo3OsOnjXfY-wCpScZ3J_CcBIVdvqqb7LM796i7bMogR5VNIb2a5uSRgO4WoB2AA0NFKb1zOby9wdY8ZbfcCmUehQg_GGc11IyPMRZUgdOjr0mgDiN/s400/Petani-Bajak-Sawah.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menunggu Angin Bertiup&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Oleh Yuhardi Tanjung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Part 7&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jaket ku diterimanya dan langsung dipakainya. Aduh hati ku senang sekali melihat dia dengan jaket itu. Jangankan gerimis, hujan deras pun aku rela menempuhnya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi sangat cerh sekali. Kicau burung-burung dan suara siamang dari kaki bukit menjadi musik alam yang mewarnai kehidupan di desa kami. Angin dari bukit bertiup lembut membawa membawa aroma segarnya tanah persawahan yang baru di bajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebahagian besar sawah di desa kami masih sawah tadah hujan, para petani masih mengharapkan turunnya air dari langit, agar sawah mereka tetap berair. Itulah sebabnya jumlah produksi padi di desa ku sangat kurang sekali. Hanya paling tinggi 2 kali dalam setahun orang memanen, itupun kalau tidak di serang oleh hama tikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melanjutkan pekerjaan ku mencangkul penggalan-penggalan tanah sawah yang ku tinggal beberapa hari yang lalu. Pada bahagian yang sudah kucangkul tempo hari kulihat rumput-rumput sudah mulai naik lagi, dan tinggi. Terpaksa aku harus mengulang cangkul kembali ke area itu. Apa bila telah gembur tanah sawah barulah bisa di masukan air. Air digenangkan dalam selama beberapa hari, sehingga tanah sawah menjadi asam, rumputyang hidup akan mati sekaligus menjadi pupuk nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Suasana puasa sangat terasa, matahari waktu itu bersinar terik sekali, tidak ada sepotong awan yang merintangi sinarnya. Caping, topi petani yang melindungi dari panasnya sinar matahari sepertinya tidak kuasa melindungiku. Segera aku keluar dari sawah lalu kemudian berteduh dibawah pohon dalu-dalu yang tumbuh di tepi tali bandar. Seekor lintah yang telah lama lengket di betis kaki kiri ku, rupanya telah kekenyangan , badannya sudah gembung bulat sebesar jari kelingking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari telah condong ke barat, pekerjaan ku hampir selesai. Tinggal lagi membereskan pematang sawah, rumput-rumput yang tumbuh menutupi dinding pematang harus di cangkul, agar tikus-tikus tidak membuat sarang mereka disana. Kemudian menaikan lumpur sawah keatas sepanjang pematang. Kulihat matahari semakin condong saja. Aku menghentikan pekerjaan ku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperjalanan pulang dari sawah, di simpang tiga, aku betemu dengan Wid. Dia sedang mengayuh sepedanya datang dari arah Sungai Talang. Aku tidak mengira bertemu dengan dia sebelumnya. Gadis itu menutup kepalanya dengan selendang dan berkain panjang. Tiba-tiba sudah berhenti di sampingku. “Aih… aku kira siapa tadi” aku berkata, “dari mana Wid…. tadi?” aku melanjutkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia sejurus melihatku, aku masih basah pulang dari sawah, kemudian dia tersenyum. “Aku baru saja dari Sungai Talang, dari rumah uda Edi” dia menjawab. Oya, aku ingat dia punya seorang kakak yang namanya sama dengan ku. “Ada apa dengan uda Edi?” aku bertanya lebih lanjut. “ O.o tidak, beliau baik-baik saja, uda Edi baru pulang dari Dumai” dia menjelaskan kepada ku. O.o aku mengerti. “Uda, uda… “ dia berkata terputus-putus. Aku melihat pada matanya. Ada sesuatu yang akan dia sampaikan kepada ku. “Ada apa, mengapa?” aku bertanya, takut kalau ada apa-apa dengannya. “Tidak… hanya itu… jaket uda belum aku cuci, nanti kalau sudah aku cuci baru ku kembalikan”  dia menjelaskan alasannya mengapa dia bicara agak kikuk dan ragu tadi. “Ah.. itu saja kok susah amat” aku tertawa mendengarnya, dan dia pun tersenyum. “Meskipun tidak Wid kembalikan, asal kan Wid pakai juga tidak apa-apa” aku menambahkan. “Ah uda ini” dia tersenyum lagi sambil memalingkan dua pipinya yang sedikit memerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ekor tupai berkejar-kejaran di atas pohon kelapa, suara mereka terdengar bercericitan. Mereka berlompatan diatas daun-daun kelapa. Cukup lama juga kami berjalan beriringan. Sambil menuntun sepedanya, Wid menanyakan perihal sawah ku. Aku menjawab apa adanya. Dan akhirnya dia permisi pulang, dan mengayuh sepedanya lagi sambil mengatakan “Uda nanti malam pergi ke mushola kan?” dan aku menjawab “Insyaallah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati ku berbunga-bunga. Yah, kenapa tidak, selama ini aku tidak pernah mendapatkan perhatian dari seorang gadis. Baik itu di sekolah maupun di sekitar tempat tinggal ku di P. Pernah juga aku tertarik pada seorang dara manis di sekolah, tapi semua itu aku pendam saja. Aku tidak berani mendekatinya, karena aku menyadari keadaan ekonomi keluarga ku. Masih untung aku bisa bersekolah di sana, karena nilai terakhirku cukup baik untuk diterima di sana. Sekolah ku boleh dikatakan sekolah anak orang-orang kaya, anak para pejabat, mereka suka bergaul sesama golongan mereka saja. Kalau jam istirahat mereka lebih suka berkumpul di warung sekolah, lain dengan diriku, aku lebih suka duduk di depan bioskop R. Salah satu bioskop terkenal di P, yang berada tepat di belakang sekolahku. Disitulah aku sering menghabiskan waktu istirahat sambil melihat-lihat photo atau poster film yang di pampang di dinding bioskop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah satu kali serombongan teman-teman sekolah itu datang mencariku ke rumah di Alang Lawas sana. Aku tahu, aku pergi lari saja, tidak mau bertemu mereka, aku malu, malu karena keadaan rumah ku, rumah ayah ibuuku yang berupa pondok kecil saja. Aku merasa rendah diri dihadapan mereka. Besoknya aku tidak menanyakan kepada mereka, kenapa mencariku. Anehnya, mereka juga tidak pernah menanyakan, ya sudahlah, akupun biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sebagai remaja, apalagi sedang masa puber, aku tidak pernah merasakan manisnya masa remaja. Waktu ku segaja aku habiskan dengan membaca cerita-cerita silat, novel dan segala yang bisa aku baca. Baik yang aku sewa maupun yang aku pinjam dari teman-teman. Sengaja seperti itu senghingga aku tidak peduli amat dengan yang namanya lawan jenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku berdoa kepada tuhan, semoga perasaan yang selama ini ada di dalam kalbuku tetaplah disana adanya, jangan pernah sirna, biarlah perasaan ini mekar bagaikan sekuntum bunga mawar, biarkanlah tumbuh memenuhi relung-relung kalbu ku hingga yang terdalam, biarkan aku tenggelam dalam perasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aduh, sebuah batu kecil membuyarkan lamunanku. Kaki kanan ku tersandung pada batu itu. Jempol kaki ku berdarah, ternyata kuku jempol ku terkelupas, aku tidak pakai sandal tadi, ketika pergi kesawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dirumah, setelah mandi, baru aku ingat untuk mengobat kuku jari kaki ku. Aku ingat ada obatnya, adalah inai, daunnya ditumbuk, lalu ditempelkan pada jari kaki yang luka. Mudah-mudahan obat itu mujarab. Ingat kepada orang-orang tua dahulu, apabila kaki tertarung, maka cepat di kasi inai sebagai obatnya. Biasanya cepat sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sambil menunggu waktu berbuka puasa, aku duduk di beranda. Kalau di P menunggu waktu berbuka sangatlah menyenangkan, melihat kegiatan teman-teman, ada yang berjualan es batangan, ada yang berjualan cendol, dan macam-macam makanan untuk berbuka puasa. Kalau di kampung aku tidak ada melihat orang yang menjual es batangan, kalau kelapa muda banyak dan kue-kue lain juga ada. Di kampung aku tidak melihat adanya makanan khas, oya ada satu, mungkin di daerah lain ini tidak ada. Itu dia, gulai langkitang namanya, enaknya dimakan dengan pepaya muda. Langkitang adalah sejenis siput air payau yang hidupnya ada di perairan atau rawa yang ditumbuhi banyak pohon nipah. Siput ini cangkangnya berwarna hitam. Aku dulu sering mandi di sungai dangkal di parak nipah. Sambil mandi kami mengumpulkan banyak langkitang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung…..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Disalin Oleh Lucky Lukmansyah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/10/menunggu-angin-bertiup-7-oleh-yuhardi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSGizv7PYt0Ba5ib2K173KjEW_XlEo3OsOnjXfY-wCpScZ3J_CcBIVdvqqb7LM796i7bMogR5VNIb2a5uSRgO4WoB2AA0NFKb1zOby9wdY8ZbfcCmUehQg_GGc11IyPMRZUgdOjr0mgDiN/s72-c/Petani-Bajak-Sawah.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-4025455909382684216</guid><pubDate>Sat, 22 Oct 2016 03:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-21T20:18:16.673-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">A Life Story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucky story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menunggu Angin Bertiup</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Minangkabau</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Wisata Bahari Sumatera Barat</category><title>Menunggu Angin Bertiup # 6 Oleh Yuhardi Tanjung</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgS_hOTj_ZW1MB2ehgIDI2Mpr5hqOD0J4OHReFVf9E3N4yg3lGy7H-0BYjtkFpwhPxhhpUA6qlIszQnOOhGjLhPxqxYUvAa5vA_qr-Oc8EEH41aGV6xm9-0V6Q8tbeDn58AmpS933p5HoDy/s1600/Khutbah-Jumat-Mengkaji-Kebesaran-Allah-Tentang-Hujan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgS_hOTj_ZW1MB2ehgIDI2Mpr5hqOD0J4OHReFVf9E3N4yg3lGy7H-0BYjtkFpwhPxhhpUA6qlIszQnOOhGjLhPxqxYUvAa5vA_qr-Oc8EEH41aGV6xm9-0V6Q8tbeDn58AmpS933p5HoDy/s400/Khutbah-Jumat-Mengkaji-Kebesaran-Allah-Tentang-Hujan.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menunggu Angin Bertiup&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;Oleh Yuhardi Tanjung&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Part 6&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pak M langsung mendaftarkan nama Wid dan Eni kepada panitia untuk memperoleh nomor peserta Tilawatil Quran tingkat remaja, hanya tingkat remaja yang bisa diikutkan sebagai wakil, untuk tingkat dewasa belum ada yang bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa rombongan dari mesjid lain tidak lebih dahulu datang dan mengisi tempat duduk. Rombongan kami hanya kebagian tempat agak kebelakang, tapi syukur masih dapat tempat duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara musik berirama padang pasir ikut menyemarakan suasana, yang dimainkan oleh group pemain musik Qasidah dari kota P yang cukup terkenal, yang biasa di panggil untuk acara-acara tertentu, tentunya dangan harga panggilan yang lumayan. Musik Qasidah juga dibantu oleh group rebana lokal dengan sejumlah dara-dara manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pembukaan acara, musik berhenti sejenak, terlihat ketua panitia acara membacakan laporan kepada hadirin, laporan tentang jumlah peserta dengan menyebutkan nama-nama mesjid dan mushola yang mengikutkan qari dan qariah dalam acara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kata sambutan dan pengarahan dari muspika kecamatan atau yang mewakili, dimana beliau langsung membuka acara sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu-lampu petromax yang dipasang di beberapa tempat, membuat lokasi menjadi terang benderang, para atamu undangan sangat antusias sekali menyaksikan acara perlombaan Tilawatil Quran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca pertama dengan nomor peserta 10 diwakili oleh seorang dara dari mesjid Istiqlal Kapuh, peserta ini memakai baju kurung berwarna kuning bercorak kembang dengan jilbab bewarna kuning serasi dengan bajunya. Tubuhnya yang lansing semampai melangkah santai menuju mimbar tilawah, tempat pembacaan ayat-ayat suci yang sengaja dibuat sedemikian rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca kedua, ketiga dan keempat telh berlalu dengan segala teknik dan irama yang memukau. Mereka telah menimbulkan harapan-harapan untuk bisa meraih kemenangan bagi masing-masing mesjid atau mushola yang diwakili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibalah saatnya Wid naik ke mimbar tilawah sebagai pembaca urutan ke lima. Wajahnya sedikit tegang, dia berdiri sambil merapikan pakaiannya. Seorang ibu yang duduk disampingnya terlihat menggenggam tangan Wid sambil mengucapkan sesuatu. Wid menganggukan kepala sedikit, sambil mengucapkan bismilah, dia melangkahkan kakinya menuju pentas, tenang dan penuh percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdoa semoga dia dapat membaca dengan baik, dan memenangkan perlombaan ini untuk tingkat remaja. Syahril yang duduk disampingku juga menyampaikan dukungannya dengan mengucapkan “Ayo Wid, jangan ragu”. dia melihat kami dengan senyumnya. Aku tidak berkata apa-apa, hanya mengangkat kedua jempol tangan menunjukan kepadanya bahwa aku mendukungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang-orang yang telah pernah mengikuti perlombaan Tilawatil Quran tentu hal ini merupakan pengalaman biasa, tapi bagi orang yang pertama kali mengalaminya tentu akan merasa beban mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan Wid, semua dapat dilewati dengan lancar tanpa ada rasa gugup atau kikuk, sampai dengan penutup ayat, sadaqallahul azim. Rasa lega semburat di wajahnya, sedikit keringat yang ada di dahinya berkilauan ditimpa cahaya lampu petromax.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali sambutan berupa uluran tangan dari kami menyambutnya waktu berjalan ke kursinya kembali. Ada harapan yang terpancar dari wajahnya sebagai pemenang dalam perlombaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam bertambah larut, gerimis turun membasahi bumi. Qariah yang ke dua sesudah Wid pun telah selesai melaksanakan bacaan dengan baik. Hari pertama perlombaan tilawatil alquran telah selesai dilaksanakan. Nilai dari para peserta telah dalam kantong para juri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bersiap-siap untuk pulang, gerimis masih belum reda. Sebagian dari kami kelihatan kedinginan, tidak seorangpun dari kami ada yang membawa mantel atau barang yang sejenis. Aku coba melihat jam dinding yang tergantung di dinding mesjid. Jarum jam telah menunjukan pukul 11.30. dising semakin menusuk kedalam tulang, sebagian dari teman-teman mengusulkan supaya gerimis ini ditempuh saja. Banyak yang setuju, akhirnya kami pun sepakat menempuh gerimis ini kembali pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku lihat Wid, dia berdiri dekat pintu keluar, dia dari tadi tidak bersuara, tidak ikut memutuskan apakah kami menempuh gerimis atau tidak, dia ikut saja. Aku mencoba mendekatinya, “Kita pulang ya Wid” kata ku. Dia melihat padaku. “Tapi rinai ko ma da” dia melayangkan pandangnya keluar. Aku ingat aku ada memakai jaket. “Ayo Wid, pakai jaket ini” Aku membuka jaket ku dan mengulurkan kepadanya. “Uda ba’a?” kelihatannya dia ragu-ragu menerima uluran jaket ku. Terdengar suara dari samping ku. “Tarimo lah Wi, ada niat baik dari seseorang” ternyata oleh A yang berkata tadi. Dia menoleh kepadaku sambil tersenyum penuh arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Disalin oleh Lucky Lukmansyah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Photo: Flickr&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/10/menunggu-angin-bertiup-6-oleh-yuhardi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgS_hOTj_ZW1MB2ehgIDI2Mpr5hqOD0J4OHReFVf9E3N4yg3lGy7H-0BYjtkFpwhPxhhpUA6qlIszQnOOhGjLhPxqxYUvAa5vA_qr-Oc8EEH41aGV6xm9-0V6Q8tbeDn58AmpS933p5HoDy/s72-c/Khutbah-Jumat-Mengkaji-Kebesaran-Allah-Tentang-Hujan.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-4600871380369456227</guid><pubDate>Sat, 10 Sep 2016 06:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-09-09T23:00:39.622-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucky story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menunggu Angin Bertiup</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Minangkabau</category><title>Menuggu Angin Bertiup # 5 Oleh Yuhardi Tanjung</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjO9USfWoOdZHY65qSDxhkWwHytvSuUmbCosLxINH_vZOAzfIWPTy6gUoojJd_X82DCSRWy2pbbvF-w-KJWvAMI3b-yf4_tdawHWulRZGbnqHYeeoOuSP3-RxjLV_v7IwR-hqqDBMzpf2VG/s1600/tadarus.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjO9USfWoOdZHY65qSDxhkWwHytvSuUmbCosLxINH_vZOAzfIWPTy6gUoojJd_X82DCSRWy2pbbvF-w-KJWvAMI3b-yf4_tdawHWulRZGbnqHYeeoOuSP3-RxjLV_v7IwR-hqqDBMzpf2VG/s1600/tadarus.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menunggu Angin Bertiup, Oleh Yuhardi Tanjung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Part 5&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, pembacaan ayat-ayat Al quran masih berlanjut dengan pembacanya bergantian antara pria dan wanita. Aku masih terus menyimak dan memperhatikan tanda-tanda bacaan pada ayat Al quran. Ah .. alangkah ruginya aku tidak dapat belajar membaca Al quran dengan baik. Atau apakah ibu dan bapak ku tidak tahu kemana anak-anaknya harus pergi berguru?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama akhirnya giliran pembacaan pada wanita pun selesai, sang guru lalu menunjuk kepada ku untuk melanjutkan membaca. Aku.. aku terbata-bata dalam mengucapkan kata demi kata. Keringat dingin mengalir, aku tahu bahwa aku tidak bisa membaca dengan irama yang baik, apalagi dengan pengetahuan nahu, syaraf dan kiraat, karena memang aku tidak pernah mempelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi walau bagai manapun, aku tetap akan membacanya, sesuai dengan kemampuanku. Auzubillahi minasy syaithan nirajim.. aku baca kelanjutan ayat itu, dan memang suara ku yang membuat para hadirin mengikuti bacaan ku, dan memang bacaan banyak pula yang salah, .. itu dibetulkan secara bersama-sama oleh peserta. Pada bacaan ayat yang seterusnya suara ku agak meninggi sehingga salah seorang peserta wanita sempat berceletuk, …iiik… ya aku tahu orangnya, aku hanya tersenyum pencong saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kini giliran Wid yang membaca lagi” kata guru mengatur giliran. Semua hadirin terdiam waktu Wid mulai membaca. Suaranya memang khas, keheningan mulai terasa. Alunan suara Wid sangat merdu, membuat setiap orang yang hadir terpesona mendengarnya. Hampir tidak dijumpai kesalahan dalam setiap bacaan. Diakui memang Wid benar-benar telah menguasai seluk beluk tentang bacaan al quran yang baik, itu berkat latihan dan bakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bisik-bisik yang sempat ku dengar, memang Wid telah beberapa kali memenangkan juara tilawatil quran antar kampung. Semua anak-anak PGA di kampung ku memang pintar-pintar dalam membaca al quran. Mudah-mudahan ini dapat membawa berkah bagi kampung kami… amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tadarus selesai, semua peserta pulang ke rumah masing-masing. Akupun pulang, dipersimpangan jalan, dalam kegelapan malam, jalan yang hanya diterangi oleh cahaya obor, ku lihat Wid berjalan di depanku bersama temannya, aku lantas menyapa dan sekaligus memujinya. “Wah..kalau ada tilawatil quran nanti kita wakilkan saja pada Wid”. “Insya Allah da” dia menjawab dengan kerendahan hati. Seketika gerimis jatuh membasahi bumi, cepat-cepat aku ayun langkah kaki ku pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tidurku berbagai macam mimpi-mimpi yang menggoda, sering aku tersentak dari tidur, bermacam-macam mimpi menghiasi tidur ku hingga sampai pagi subuh menjelang. Badanku terasa melayang, ringan bagaikan bayang-bayang saja, tidak biasanya aku begini, pikiran ku menjalar kemana-mana. Selesai sholat subuh aku berdoa kepada Tuhan, semoga tuhan menunjukan aku ke jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku seperti terjerat, tidak bisa lepas lagi, semakin aku ingin lepas semakin kuat pula ikatan itu melilit, napas ku sesak, dimana-mana, kemana-mana atau bagaimanapun selalu ada dia, dia yang dengan senyumnya menawan membuat diriku seperti mabuk kepayang. Aku merasakan badanku sakit, makan rasanya tidak enak, minumpun demikian karena aku lagi berpuasa, sepanjang hari aku hanya tidur saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah dua hari aku tidak ikut tarawih di mushola. Sorenya Syahril datang ke rumah ku, dari dalam rumah sudah terdengar suaranya “Oii, oii, kemana ini orang tidak ada, apakah sudah pergi ke Pdg?” Aku keluar dari dalam kamar, kepalaku agak terasa berat. Kembali Syahril berceloteh, “kenapa, ada apa, kenapa tidak hadir bertarawih di mushola?… ada seseorang yang bertanya kenapa tidak kelihatan semalam?”. “Kepala ku terasa berat, mungkin karena hujan gerimis waktu pulang semalam” aku menjelaskan keadaan ku. “Oh iya…. siapa yang bertanya?” aku bertanya sambil mempersilahkan Syahril duduk. “Wah.. siapa lagi kalau bukan orang ujung bukit” katanya menjawab pertanyaan ku. Siapa orang “ujung bukit” yang dimaksudnya itu?. aku coba mengingat siapa saja orang yang tinggal di ujung bukit. Oya ada etek istri si Peo, ada mak Nurilam, ada si Tando yang punya warung disana, ada uni Ashi, ada anak yang namanya si Capoh.. dan ada lagi .. ah.. tidak mungin mereka menanyakan aku, tapi siapa ya. Aku masih pikir-pikir siapa-siapa yang belum aku ingat namanya. Syahril masih saja senyum-senyum menggodaku, aku jadi penasaran dalam hati, tapi aku pura-pura tidak ambil peduli, masih jaga gengsi untuk tidak ingin tahu siapa orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diluar, di beranda angin berhembus pelan, ranting jambu biji mengangguk-angguk ditiup angin, terasa sejuk mengelus kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam benak ku tidak pernah terpikir oleh ku akan ada orang yang peduli kepada ku selama ini. Aku hanya hidup untuk orang saja, hidupku tidak memiliki sesuatu keinginan apapun untuk diri ku sendiri, mungkin dikarenakan pada waktu kecil kami sekeluarga hidup sangat prihatin sekali. Jadi pada saat itu aku tidak pernah punya keinginan-keinginan yang layak sebagai anak-anak. Hidup hanya untuk makan dan bersekolah rasanya sudah cukup bagi kami waktu itu. Begitu juga adik-adik ku mereka menerima saja keadaan kami yang demikian. Kami tahu bapak kami hanyalah seorang karyawan biasa bagian gudang disalah satu perusahaan negara. Posisi bapak di perusahaan itu tetap saja sebagai buruh angkat-angkat barang, tidak ada berubah dari tahun ke tahun. Keadaan ini disebabkan karena bapak tidak mempunyai pendidikan yang lebih tinggi, hanya sekolah kampung di zaman Belanda, masih syukur bapak masih bisa menulis dan membaca, dan tentunya pandai membaca Al quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kehidupan yang kami lalui dengan kesederhanaan setiap hari di bilangan Alang Lawas, Kota P. Di belakang rumah gadang atap ijuk, atau dikenal orang rumah gadang batahuh. Kami tinggal di lingkungan orang keturunan bangsawan kota P, yang sebahagian besar mereka berprofesi sebagai pegawai negeri. Bapak menyewa sebuah pondok kecil ukuran 5x6 meter persegi, beratap daun rumbia, berdinding gedek, disanalah kami tinggal bersama, dengan total penghuninya ada 11 orang, dengan perincian 9 orang anak dan 2 orang dewasa, yaitu bapak dan ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunanku jadi buyar ketika Syahri melayangkan tangannya di depan mataku “Hei… kenapakah, apa yang si Eddy lamunkan?” “Ah tidak… tidak ada apa-apa” aku tersadar “Oya… nanti malam kita tarawih ya” katanya mengajak ke ke Mushola nanti malam. “Iya tentu, kalau badan ku ada sehat” aku mejawab. Rasanya aku ingin menanyakan lagi siapakah orang yang menanyakan tentang aku semalam, tapi aku merasa enggan. Herannya kenapa Syahril tidak lagi menyinggung tentang orang itu, aku jadi penasaran dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mushola kami belum lagi mempunyai kamar-kamar untuk beruduk, masih mempergunakan sumur yang airnya harus ditimba terlebuh dahulu, ini pun harus dipakai bergantian antara laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun ikutan antri mengambil wudhuk disumur itu, di dinding sumur terlihat beberapa mukena tersampir dan begitu juga di pagar sumur mushola. Berarti ada lebih dari empat orang wanita sedang mengambil wuduk. Ada dua buah lampu petromax yang tergantung di depan mushola, cahaya dari lampu itu menerangi sampai ke sumur. Seekor kupu-kupu gajah sedang terbang mengitari lampu itu. Apakah dia tidak tahu kalau lampu itu panas dan berbahaya bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sumur tampak tinggal hanya satu orang lagi perempuan, aku bersiap-siap untuk mengambil giliran berudhuk, takut nanti banyak lagi orang yang akan masuk. Di luar, di depan pintu sumur aku berpapasan dengan orang yang terakhir dari sumur tadi. Oh.. ternyata dia. Wajahnya masih dibasahi oleh air wudhuk. Dia menatap ku, lalu dia berkata “ Aih uda rupanya… kenapa tidak tarawih kemaren malam?” dia bertanya. “Aku.. aku” timbul lagi gagap ku bila berhadapan dengannya. Rasanya lidahku ini tidak bisa di atur kalau sedang berhadapn dengan dia. “Ah.. aku.. aku sakit kepala, mungkin karena hujan gerimis waktu itu” aku menjelaskan dan dia pun tersenyum. “Oh apakah uda sekarang masih pusing?” katanya melanjutkan. “Alhamdulliah sudah baikan” kata ku menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, setelah sholat tarawih kembali jamaah melanjutkan tadarus membaca ayat alquran. Para jamaah duduk membuat lingkaran dan bergantian membaca alquran dengan bimbingan guru mengaji. Menurut guru pembimbing, “kepada saudari eni dan Wid diharapkan dapat meningkatkan lagi teknik bacaannya, mudah-mudahan nanti pada tanggal 18 Ramadhan nanti kita akan menghadiri pertandingan tilawatil quran di mesjid Duku, tentunya kepada saudari Eni dan Wid diharapkan menjadi wakil dari mushola kita”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kesempatan membaca Alquran dengan bertadarus, aku manfaatkan dengan baik kesempatan itu untuk menikmati merdunya suara Wid yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al quran. Oh seketika rasa berat di kepalaku hilang sirnah waktu itu, berganti dengan rasa bahagia timbul di hati ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu kesempatan dalam bertadarus itu aku sempat beradu pandang dengan dia, walaupun memang hanya sekejap mata, tapi momen itu sangat besar artinya bagi diriku. Di luar angin bertiup kuat, kedua lampu petromax bergoyang-goyang pada gantungan di tiup angin, sinarnya meredup, agaknya harus dipomp lagi, tambah angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian suara guruh menderum diikuti dengan suara angin yang bertiup semakin kuat. Sebuah pohon rumbia yang berada dekat sumur gergoyang kencang, tamauknya hujan akan turun ke bumi. Jamaah tadarus memang sudah berhenti dari tadi, kami telah bersiap untuk pulang. Saat kami akan turun dari mushola, tiba-tiba hjan turun dengan deras, olala, ada sebagian teman-teman telah terlanjur keluar sampai di halaman terpaksa kembali lagi ke mushola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih berdiri dekat jendela mushola memandang keluar, gelap, hujan yang turun membuat perasaan jadi tidak menentu, kulihat teman-teman duduk bergerombolan dekat mihrab, sedangkan para wanita kulihat asik bercerita sesama mereka sembari menunggu hujan mereda. Mungkin diantara mereka tidak ada yang membawa payung, karena dari berangkat ke mushola tadi cuaca sangat cerah sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa hujan pun telah reda, kami siap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing, tanah di halaman mushola telah becek, sandal susah dipakai karena lengket di tanah, terpaksa harus dijinjing saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 18 Ramadhan, adalah saat-saat yang dinantikan oleh para remaja mushola Jabal Nur. Setelah sholat tarawih, beberapa orang teman telah bersiap-siap dengan sepedanya masing-masing, waktu itu belum ada seorangpun dari kami yang punya motor, apalagi mobil. Ada beberapa orang pemuda juga ikut dengan kami, mereka adalah sebagai pengawal kami nantinya, mana tahu ada saja orang yang jahil terhadap kami dalam perjalanan maupun pulang dari acara tilawatil quran di Duku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak yang akan kami tempuh menuju mesjid temapat acara tilawatil quran itu ada kurang lebih 8 Km dari tempat kami. Jauh juga memang, karena acaranya diselenggarakan pada malam hari, banyak ibu-ibu dan orang tua yang punya anak gadis jad ragu melepaskan mereka pergi bertanding kalau tidak ada yang menemani, apalagi sepanjang jalan belum ada lampu listrik untuk penerangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergonceng dengan Syahril, ku lihat Wid bergonceng dengan istri pak M, Eni dengan ibu yang namanya aku lupa, dan beberapa anak perempuan juga bergoncengan sesamanya. Anak lelakipun telah memilih teman lelaki pula. Kami beriringan ada sekitar 15 buah sepeda dengan dua orang setiap sepeda. Wah meriah juga dalam perjalanan menuju ketempat acara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat acara kami disambut oleh panitia seksi penyambutan tamu, mereka telah mengatur tempat duduk kami, bahkan tempat penitipan sepeda juga telah diatur sedemikian rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Disalin oleh Lucky Lukmansyah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Photo: perigunawan.deviantart.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/09/menuggu-angin-bertiup-5-oleh-yuhardi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjO9USfWoOdZHY65qSDxhkWwHytvSuUmbCosLxINH_vZOAzfIWPTy6gUoojJd_X82DCSRWy2pbbvF-w-KJWvAMI3b-yf4_tdawHWulRZGbnqHYeeoOuSP3-RxjLV_v7IwR-hqqDBMzpf2VG/s72-c/tadarus.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-6834579547819712711</guid><pubDate>Fri, 09 Sep 2016 15:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-09-09T08:14:36.575-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucky story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menunggu Angin Bertiup</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Minangkabau</category><title>Menunggu Angin Bertiup # 4 Oleh Yuhardi Tanjung</title><description>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxUzQQ8HDeb_Eoy_cThBWKRg3_6GmgQpwNyEa9ZzjNHj-Fit5uZguUowySln_eK2HO8vn8glYPHJi6Kxmkyt2kw93jOYI1fDknX9EyGfCKpsm9wwgtQQyNn9K_K9Gn_ipGjzGf9ApBcUeo/s1600/Memahami-Makna-Tradisi-Malam-Selikuran-Dalam-Bulan-Ramadhan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="262" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxUzQQ8HDeb_Eoy_cThBWKRg3_6GmgQpwNyEa9ZzjNHj-Fit5uZguUowySln_eK2HO8vn8glYPHJi6Kxmkyt2kw93jOYI1fDknX9EyGfCKpsm9wwgtQQyNn9K_K9Gn_ipGjzGf9ApBcUeo/s400/Memahami-Makna-Tradisi-Malam-Selikuran-Dalam-Bulan-Ramadhan.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menunggu Angin Bertiup # 4 Oleh Yuhardi Tanjung &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo silahkan diminum airnya, oh iya, kawan Syahril ini siapa namanya?” Bapak itu mempersilahkan kami minum dan sekaligus ingin tahu mengenai diri ku. Untung ada Syahril yang dapat menjelaskan tentang diriku, tentang aku cucu siapa dan juga tentang nama ibu dan bapak ku. Syahril menjelaskan sejelas-jelasnya sehingga bapak tua itu mengangguk-anggukan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi si Eddy masih terbilang kemenakan saya, karena saya adalah Tanjung di Karang, orang Tanjung di Karang berdunsanak dengan orang Tanjung di Parik” Dia menjelaskan lebih jauh. Tanjung di Karang maksudnya adalah bahwa suku Tanjung yang mendiami kampung Karang, sedangkan Tanjung di Parik adalah orang suku Tanjung yang tinggal di kampung Parik. Kini ganti aku yang mengangguk-anggukan kepala. “Jadi si Eddy harus memanggil Uncu kepada saya” dia menjelaskan lagi statusnya dalam suku Tanjung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil meraih rokok nipah, kemudian dia menggulungnya di telapak tangan, beliau menanyakan perihal ayahku, “apakah beliau ada sehat-sehat saja? lalu bagaimana dengan sekolah mu, apakah sudah selesai?”. Bau khas rokok nipah dengan tembakau yang dihisapnya menyerang hidung kami. Syahril terbatuk-batuk waktu asap rokok itu menyentuhnya. Ya memang Syahril tidak merokok, walaupun hanya sekali belum pernah aku melihatnya menghisap rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sudah tamat SMA uncu, sekarang sedang menganggur” aku menjelaskan keadaan ku, beliau mengangguk lagi memahami apa yang sedang ku katakan. “Dan kau Syahril, kapan kapan kau tamatnya?” Kini pertanyaan uncu beralih kepada Syahril “Kalau saya masih satu tahun lagi uncu” Syahril menjawab. Benar, kalau Syahril satu tahun lagi baru akan tamat, dia setahun di bawah ku, aku setahun dahulu masuk sekolah dari dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meminum air teh yang disajikan tadi, kami minta izin pamit kembali pulang ke rumah. Lantas uncu mengizinkan kami balik, sembari dia berpesan agar kami sering-sering berkunjung ke rumahnya. “Insya Allah” jawab kami serentak, aku dan Syahril jadi kaget dengan jawaban kami yang berbarengan secara tidak sengaja bisa begitu, lantas kami tertawa ketika menyadarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahril mengambil sepedanya yang tadi dia sandarkan pada pohon mangga. Dan aku sempat melihat dia berdiri dekat jendela memandang kami pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Eddy singgah dulu ke rumah saya!” Syahril menawarkan agar aku bertandang ke rumahnya. “Besok saja, besok Insya Allah, aku pasti datang” aku meyakinkan Syahril, dia tersenyum sambil mulai mengayuh sepedanya. Aku juga mengayunkan langkah menuju rumah ku.Aku teringat pada kue talam nenek, bayangan kue itu terlintas di benak ku, membuat perut ku jadi terasa lapar, tak sadar langkah kaki ini semakin cepat, diri ingin segera sampai di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara beduk pertanda masuknya waktu Magrib pada awal bulan Ramadhan telah berbunyi, aku bergegas menuju mushola, di persimpangan jalan arah ke mushola aku bertemu dengan Syahril, kami beriringan menuju mushola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di teras mushola kulihat ada Wid yang lagi berbicara dengan seorang temannya. Sebelum masuk mushola, aku berhenti sejenak dekat mereka berdua. Malu-malu mereka menghentikan pembicaraan sambil menoleh kepada ku. Wid lantas mengenalkan ku pada temannya, itu gadis bernama Eni. Kami tidak bersalaman, cuma hanya saling mengangguk saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahril rupanya sudah kenal dengan Eni, temannya wid itu. “Eh.. uda Syahril rupanya” gadis itu berkata pada Syahril. Temannya itu, teman satu sekolah dengan Wid, cantik juga orangnya, kulitnya putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muazin telah mulai iqamat, kami segera masuk kedalam mushola, sholat magrib segera dimulai. Setelah selesai sholat, seorang pengurus mushola kembali mengumumkan bahwa kegiatan musholla selama bulan ramadhan dimulai hari ini dengan melaksanakan sholat tarawih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Listrik pada waktu itu belum lagi masuk ke desa kami. Sebagai alat penerangan dipakai lampu petromax. Di dalam mushola di pasang 2 buah, dan di luar juga 2 buah. Bulan Ramadhan sangat terasa kemeriahannya, baik di mushola maupun di rumah-rumah, anak-anak begitu gembira sekali, mereka berkejaran sesama mereka di halaman mushola, para remaja pun kelihatan ramai yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kegiatan rutin dalam bulan ramadhan adalah bertadarus Al quran setelah selesai sholat tarawih berjamaah. Secara bergiliran, pembacaan kitab suci Al quran ini diusahakan bisa dikhatamkan sampai akhir bulan ramadhan, kesempatan ini dianggap sebagai mencari pahala sebanyak mungkin dan latihan bagi qari dan qariah dalam rangka menghadapi tilawatil Al quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diajak oleh Syahril untuk ikut bertadarus Al quran, sebenarnya aku tidak pernah belajar Al quran dengan baik. Di Pdg, aku hanya belajar batangnya saja, aku tidak belajar mengenai irama, nahwu, syaraf, kiraat dan lain-lain. Tapi dengan mendengar orang membaca Al quran kita akan dapat pahala, apalagi mampu menyimak bacaannya. Untuk malam itu, awal pertama, jadilah aku duduk bersama teman-teman lainnya, duduk dengan membuat lingkaran dan menghadap ketengah lingkaran. Para remaja putri dan ibu-ibu duduk di depan para laki-laki. Ternyata ibu-ibu juga bersemangat pula mengikuti kegiatan tadarus ini, apalagi para remaja putri, semua tampak antusias sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pembaca al quran pertama yang diminta oleh guru atau yang dianggap guru oleh peserta yaitu saudari Eni, teman Wid. Dimulai dengan ta’awuz, dia melantunkan suaranya dengan membaca Al baqarah ayat pertama. Suaranya yang awalnya lambat kemudian meningkat meninggi, menurun dan mendatar, meninggi lagi. Semua hadirin benar-benar hanyut terbawa irama suaranya yang benar-benar memukau, dan tidak terasa bacaannya telah selesai. Secara serentak bersama ucapan shadaqallahul azim, tanda akhir sebuah bacaan telah diucapkan. Kemudian sang guru telah melihat-lihat siapa lagi yang akan melanjutkan bacaan si En tadi. Dan akhirnya beliau memintak Syahril untuk melanjutkan. Bersambung,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Disalin oleh Lucky Lukmansyah&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Photo oleh www.satuislam.org&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/09/menunggu-angin-bertiup-4-oleh-yuhardi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxUzQQ8HDeb_Eoy_cThBWKRg3_6GmgQpwNyEa9ZzjNHj-Fit5uZguUowySln_eK2HO8vn8glYPHJi6Kxmkyt2kw93jOYI1fDknX9EyGfCKpsm9wwgtQQyNn9K_K9Gn_ipGjzGf9ApBcUeo/s72-c/Memahami-Makna-Tradisi-Malam-Selikuran-Dalam-Bulan-Ramadhan.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-4992395710301601834</guid><pubDate>Fri, 09 Sep 2016 05:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-09-08T22:58:22.142-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucky story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menunggu Angin Bertiup</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Minangkabau</category><title>Menunggu Angin Bertiup # 3 Oleh Yuhardi Tanjung</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2SK3bz6kWC7IFDdjG99XUDEyPXJRQUHY9VKOf6nYTN7475qNP-aYSDTA0q-vepVkZU865nle-Nh_nEHknQ98fi5kNRMpUb7WNGTQoiBcit7f3GqmDyBUNU48T_GviveCNAGPp-rA5V_ju/s1600/th.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2SK3bz6kWC7IFDdjG99XUDEyPXJRQUHY9VKOf6nYTN7475qNP-aYSDTA0q-vepVkZU865nle-Nh_nEHknQ98fi5kNRMpUb7WNGTQoiBcit7f3GqmDyBUNU48T_GviveCNAGPp-rA5V_ju/s1600/th.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menunggu Angin Bertiup, Oleh Yuhardi Tanjung&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Part 3 &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keramaian pasar, aku masuk ke dalam pasar mencoba mencari kedai penjual barang-barang pesanan nenek tadi. Puas juga aku berkeliling di dalam pasar untuk mencari barang-barang tersebut. Di waktu aku melewati deretan kios penjual kain dan baju, sesorang menyapa aku dari dalam salah satu kios tersebut, khas suara penjual pakaian kalau sedang menawarkan dagangannya. Awalnya aku menjawab biasa saja, karena memang aku tidak ada niat membeli, aku terus saja berlalu tanpa harus menoleh kepada si penjual yang menawarkan tadi. Tetapi tidak berapa langkah dari tempat itu, lantas aku teringat pada suara itu… suara itu yang membuatku semalam tidak dapat untuk memejamkan mata untuk tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh.. suara itu… aku menghentikan langkah kakiku, aku teringat kepada siapa yang punya suara itu… aku berbalik kembali dan.. memang disana ada dia. Dia yang rupanya telah menantiku dengan kata-kata “ah uda sombong sekali, tidak menoleh sedikit pun kepada saya” gurauan dia sambil mempersilahkan aku duduk pada bangku kecil tempat dia duduk tadi. Sambil tergagap-gagap aku minta maaf sebesar-besarnya karena tidak melihat dia ada dalam kios itu. Sekali lagi aku minta maaf. Mungkin dia merasa geli karena melihat sikap ku yang bodoh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku benar-benar merasa bersyukur kepada tuhan yang maha esa, ya karena pada hari ini aku benar-benar bisa berada dekat dengat dia, nyata ada di depan mataku, kami sedang berbincang berdua. Aku bisa memperhatikan kedua bola matanya, mimik wajahnya, hidungnya yang kalau dikatakan mancung tidak, tapi serasi dengan wajahnya. Betapa sang khalik telah menciptakan makhluknya dengan sempurna sesuai dengan apa yang dianugerahkan kepada masing-masing ciptaannya. Aku tidak banyak berkata-kata, hanya terpesona memperhatikan segala cara dan tutur bahasanya ketika melayani pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama juga aku ada di kedai itu, akhirnya setelah melayani pembeli dia menanyakan apa yang aku cari di pasar ini. Aku menjawab hanya sekedar melihat-lihat dan kemudian membelikan pesanan si nenek. Hari ini aku baru tahu ceritanya, bahwa kedai itu disewa. Dia disana sedang membantu maknya. Pada hari-hari libur dia sering membantu maknya berjualan di pasar. Aku coba menanyakan perihal abaknya, yang notabene adalah mamak bagi suku kami juga. Kebiasaan di kampung kami kalau ada orang yang setingkat mamak levelnya maka dia harus dipanggil dengan sebutan “uncu”. Aku tidak tahu dari mana dan bagaimana asal usul kata tersebut, tapi memang demikianlah adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uncu dimana sekarang? Apakah beliau ada sehat-sehat saja?” Aku berkata mencoba menanyakan keadaan abaknya. “Alhamdulliah, beliau ada sehat-sehat saja, sekarang beliau lagi ke pasar Brg Blt” dia menjawab pertanyaanku sambil melipat sehelai baju yang tadi tidak jadi dibeli orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa boleh saya besok datang ke rumah?, saya ingin berjumpa dengan uncu” aku bertanya sambil melanjutkan lagi, “apakah ada yang marah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melihat kepada ku dengan bola mata yang melebar sambil berucap “Aih.. siapa pula yang akan marah kalau kemenakan datang mengunjungi mamaknya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus dia melanjutkan “entah uda sendiri yang tidak mau naik ke rumah kami, memang di rumah kami tidak ada kursi, maklum rumah orang kampung” begitu dia menambahkan. Ah aku memang tidak pandai menggunakan kata-kata bersayap seperti itu. Aku hanya tersenyum saja menjawab dengan meyakinkan, sekali lagi aku berujar “Besok aku ke rumah mu jam empat sore”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di luar matahari sudah kelihatan tinggi, sebagian pengunjung pasar sudah pulang. Ingin aku mengetahui jam berapa sekarang, tetapi tidak ada weker atau jam besar di tengah pasar, kepada orang-orang lewat yang memakai arlogi aku enggan bertanya, akhirnya aku permisi kepadanya, aku ingin pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore semakin layu, matahari sudah semakin condong ke Barat, sedangkan pekerjaanku masih ada sekitar penggal lagi yang belum tercangkul. Rencanaku dari kemarin hendak pergi ke rumahnya pukul empat sore hari ini. Cepat-cepat aku cuci kaki dan tangan di tali bandar sawah, airnya mengalir sangat jernih sekali. Hari ini nenek tidak ikut ke sawah, beliau sibuk bekerja di rumah, mungkin ada yang sedang beliau persiapkan untuk bulan Ramadhan yang sebentar lagi sudah di ambang pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mandi kemudian sholat asyar, ku lihat nenek sedang sibuk di dapur, beliau sedang meniup api tungku dengan menggunakan sepotong bambu agar apinya bisa menyala dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku minta izin lebih dahulu kepada nenek sehubungan dengan niatku untuk pergi berkunjung ke rumah uncu A. Aku mengutarakan niat ku kepada nenek. Nenek terbatuk-batuk, entah kemasukan asap atau dikarenakan yang lain aku tidak tahu. Beliau belum menjawab permintaan ku, bahkan sebaliknya beliau bertanya “ke rumah siapa?” aku menjawab “ke rumah uncu A”. Beliau melihat kepada ku sambil memperhatikan menatap wajahku, seakan-akan ada sesuatu yang beliau cari di situ. Kemudian beliau ber gumam “pergilah, tapi jangan lama-lama, cepat pulang yah, nenek ada buat kue talam” Kue talam rupanya, aku suka sekali kue talam, kue talam buatan nenek memang terkenal enak. “ya nek” aku menjawab sambil mencari sendalku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan ke rumahnya yang tidak jauh memang, hanya sekitar 500-600 meter saja dari rumah nenek ku. Aku berpikir apa yang akan ku bicarakan nanti sesampai di rumahnya, atau  apa dan bagaimana menjawab kalau sekiranya ada pertanyaan yang muncul nanti. Ah .. aku terlalu merisaukan semua hal yang  belum ter jadi, biarlah semuanya berlalu seperti air mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan waktu suasana sore telah mengambang, cahaya matahari meredup tertutupi oleh mega. Pikiranku jadi berpendar-pendar, bunyi lonceng sepeda berdenging di belakang ku. Aku terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Ternyata yang membunyikan lonceng sepeda itu adalah Syahril, teman ku, anak etek R, yang bersekolah di SPMA - Pdg. Oh ternyata dia telah di kampung rupanya. “Oi.. kapan pulang?” aku menyapanya. Dia tersenyum ramah sambil turun dari sepedanya. Syahril anak yang baik, tidak suka macam-macam, orangnya bersih, necis sekali, rambut selalu tersisir rapi, Syahril sering berkunjung ke rumah ku di Pdg. Dia kos bersama teman-temannya di Alai, sekolahnya memang dekat dengan lokasi tempat kosnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemaren sore” kata dia menjawab pertanyaan ku tadi. “Oh iya si Eddy mau kemana?” tanya dia menambahkan. Syahril anak yang sopan, dia selalu menyebut nama ku sebagai kata ganti kamu, situ, waang atau engkau terhadap ku. Mungkin dia segan atau merasa kasar kalau mengucapkan kata-kata tersebut, seperti yang jadi kebiasaan dikalangan teman-teman lain di kampung. Syahril sendiri adalah anak pisang kami, karena dia adalah cucu dari mamak kami yang kawin dengan neneknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hendak pergi ke rumah uncu A” Aku menerangkan maksud ku. “Apa si Eddy perlu ditemani?” dia menawarkan diri untuk menemani ku. “Wah dengan segala senang hati” aku langsung menerima tawarannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian kami berdua sudah berada di halaman rumahnya, sebuah rumah kayu model lama dengan atap seng model bungkus nasi. Aku lihat tepat di sudut rumahnya ada tumbuh kembang sepatu yang sedang berbunga berwarna putih. Halaman rumah itu cukup luas, banyak ditumbuhi dengan tebu, yang melindungi rumah jika dilihat dari jalan raya, dan ada pula sebatang pohon mangga sedang berbunga lebat memberi keteduhan kepada rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak laki-laki sedang bermain di bawah pohon mangga itu melihat ke arah kami, dia tidak berkata apa-apa kepada kami, cuma hanya berteriak memberitahu ke atas rumah “uni ada orang datang”. Terdengar jawaban dari dalam rumah, suara laki-laki, disertai muncul sebuah kepala dari jendela. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalam mualaikum” Syahril yang lebih dahulu yang mengucapkan salam. “Alaikum salam” bapak itu menjawab salam dari Syahril sambil mempersilahkan kami naik ke dalam rumah. Seorang laki-laki tua, berkulit gelap, sedikit kurus, bersarung dan ber kaos singlet mempersilahkan kami duduk pada kursi tamu yang terbuat dari rotan. Seikat daun nipah dan segulung tembakau terletak berdampingan di atas meja kecil yang bahagian  atasnya kaca bening memakai kain taplak meja sebagai alas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kabar uncu sekarang? Apakah ada sehat-sehat saja?” Kembali syahril membuka pembicaraan, aku selalu saja ketinggalan dalam hal ini. “Alhamdulillah saya ada baik-baik saja, dan kalau kesehatan, maklum sudah tua, beginilah keadaannya, memang tidak selalu sehat” jawab bapak itu. Aku berpikir apakah orang tua itu yang disebut sebagai uncu A yang aku belum kenal. Saat itu aku belum terlibat dalam “pembukaan” aku masih saja sebagai pendengar. Angin membelai daun-daun tebu yang tumbuh subur di halaman, seekor burung balam hinggap di pelepah daun kelapa di seberang jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah.. orang jauh rupanya datang” Dia berkata sabil berjalan ke ruang tamu sambil membawa baki dan beberapa gelas yang berisi minuman. Sambil meletakan minuman dia berujar lagi, “Sudah lama uda Syahril di kampung?” kemudian dia berkata kepada ku, “Apakah uda tidak tersesat waktu pergi kesini?”. “Alhamdulilah, tadi ada yang memandu jalan saya sampai ke rumah ini” Aku menjawab sambil mengerling kepada Syahril. Dia tersenyum sambil masuk ke dalam rumah kembali. &lt;b&gt;Bersambung.&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Disalin oleh Lucky Lukmansyah&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Photo: flickr.com&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/09/menunggu-angin-bertiup-3-oleh-yuhardi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2SK3bz6kWC7IFDdjG99XUDEyPXJRQUHY9VKOf6nYTN7475qNP-aYSDTA0q-vepVkZU865nle-Nh_nEHknQ98fi5kNRMpUb7WNGTQoiBcit7f3GqmDyBUNU48T_GviveCNAGPp-rA5V_ju/s72-c/th.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-3303275621749961529</guid><pubDate>Thu, 08 Sep 2016 08:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-09-08T01:47:10.607-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucky story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menunggu Angin Bertiup</category><title>Menunggu Angin Bertiup #2 Oleh Yuhardi Tanjung</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMXXfKnoyt9Dz1lweDwuzkIHcmhbVVOwRTmzjub0CgPOCf9hRG_Np_gkoNvK4IzlLZ78mijVT4MEbYMwY7bKxX4EQPpME5m5-4iC9uyIFwgfAyf1QNKNXxCtBrv3LevAox4Xr0XbFjk1bY/s1600/anak+kampung.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMXXfKnoyt9Dz1lweDwuzkIHcmhbVVOwRTmzjub0CgPOCf9hRG_Np_gkoNvK4IzlLZ78mijVT4MEbYMwY7bKxX4EQPpME5m5-4iC9uyIFwgfAyf1QNKNXxCtBrv3LevAox4Xr0XbFjk1bY/s1600/anak+kampung.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menunggu Angin Bertiup #2 Oleh Yuhardi Tanjung&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Senja mulai jatuh, rona merah lembayung membias di atas bukit batu di desa kami, sekelompok burung bangau terbang pulang ke sarang, terdengar desah kepak sayapnya ketika terbang melintasi desa kami. Suara beduk diikuti azan bergema dari mushola kecil di desa kami memanggil umatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergegas menuju mushola. Di jalan kulihat ibu-ibu dan beberapa anak-anak kecil berjalan beriringan menuju mushola untuk menunikan sholat. Anak-anak perempuan dan ibu-ibu masing-masing membawa mukenah yang disandang dibahu bahkan ada yang lansung memakainya, sedangkan anak-anak laki-laki memakai sarung dan peci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iqamat sudah diperdengarkan, tanda sholat Magrib berjamaah akan dimulai. Aku baru saja sampai di depan tangga mushola, aku lalu mengambil gayung di bak air samping tangga mushola. Baru aku selesai mencuci kaki, terdengar suara yang datang dari belakangku, “da, pinjam gayungnya” suara itu seperti aku kenal, aku menoleh kebelakang dan jantungku berdebar kencang, ternyata dia…. oh… ya… iya…. aku tergagap menjawab sambil memberikan gayung air itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai sholat Magrib berjamaah, setelah imam berdoa, seorang pengurus mushola berdiri memberikan beberapa pengumuman mengenai rencana kegiatan mushola kami selama bulan ramadhan yang tak lama lagi akan datang dan juga membacakan beberapa undangan dari mesjid lain di sekitar desa kami. Undangan yang datang dari mesjid itu adalah berupa undangan untuk mengikuti pertandingan tilawatil Quran yang akan diselenggarakan di mesjid-mesjid tersebut. Biasanya memang mesjid-mesjid dan mushola-mushola pada bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk mendapatkan dana bagi kelanjutan pembangunan pisik dengan cara menyelenggarakan perlombaan Nuzul Al quran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mushola kami belum ada rencana atau kegiatan yang berkenaan dengan pembangunan pisik, semua akan dimusyawarahkan terlebih dahulu, pengurus mushola tadi mengajak para jemaah untuk duduk dahulu sebelum pulang ke rumah masing-masing dengan maksud untuk membicarakan kegiatan apa yang akan dilaksanakan dala bulan Ramadhan nanti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku yang tadinya berniat akan berdiri untuk pulang, tapi seseorang menahanku, “nantilah pulang, sama-sama kita” kata pak M, dia yang dari awal sholat tadi duduk di sebelah kananku. Jadilah, akhirnya aku bergeser duduk dengan bersandar ke dinding mushola seperti jemaah laki-laki yang lain. Aku coba menghitung jumlah jemaah laki-laki waktu itu ada sekitar 30 orang, lumayan juga jumlahnya, pikirku sendiri. Pengurus yang tadi bicara sekarang melanjutkan lagi, dia meminta kepada ibu-ibu untuk menaikan kain pembatas shaf dengan jamaah laki-laki terlebih dahulu, karena pembicaaran akan segera dimulai. Setelah kain pembatas itu terbuka, maka terlihat ibu-ibu dan  anak-anak perempuan tersenyum malu-malu, ada sekitar 20 orang jumlahnya dan masih tetap mengenakan mukenah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cukup lama juga acara tersebut selesai, pukul 20.00 Wib tepat baru usai dengan keputusan beberapa point yang dinyatakan sangat perlu dilaksanakan, mengingat kondisi mushola kami yang sangat lambat perkembangannya. Acara ditutup oleh pak M sebagi ketua pengurus dan langsung dilanjutkan dengan sholat Isya berjamaah, berhubung waktu Isya telah masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan menuju rumah, jalan hanya diterangi oleh cahaya bintang dan sepotong sinar rembulan, yang kalau menurut perhitungan bulan arab seminggu lagi adalah akhir bulan Syakban. Beberapa ibu-ibu yang hendak pulang ke rumahnya memakai suluh dari daun kelapa kering yang dibakar sebagai penerang jalan. Suara kodok dan jangkrik bersahut-sahutan, terlintas dibenakku waktu itu kapankah listrik bisa masuk ke desa kami?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebuah warung yang memakai lampu petromax untuk penerangan, kelihatan disana beberapa orang laki-laki sedang duduk minum kopi. Sebuah radio transistor yang terletak diatas rak barang-barang dalam warung itu terdengar sedang menyiarkan lagu-lagu melayu lama dari radio Malaysia siaran berbahasa Indonesia yang juga menjadi kesenangan ku yang salah satu penyiarnya yang  terkenal pada waktu itu adalah Kamaruddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah nenek habis sholat Isya, nenek tidak ikut ke mushola karena kelelahan pulang dari sawah sore tadi. Nenek tinggal dengan seorang anak laki-lakinya, dia adalah adik dari ibuku yang biasa kami panggil dengan sebuatan “uan”. sedangkan kakek tidak lagi serumah dengan nenek, karena tidak lagi sehaluan, nenek sangat keras memegang prinsip, ya bagaimana lagi. Di kampung kakek ku memang terkenal dengan banyak istri dan banyak anak lagi, tetapi diantara anak-anaknya selalu terjalin rasa tersaudaraan yang kuat diantara mereka, mereka selalu kunjung-mengunjungi. Ibuku adalah salah satu anak kakek ku yang berada diluar kampung, di P. Kesanalah mereka sering datang kalau ada keperluan apa-apa di kota P.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seperti biasa diatas meja makan sederhana, sudah tersedia nasi, ikan dan sayurannya berupa gulai pakis. Nenek sepulang dari sawah tidi sempat memetik daun pakis muda untuk dimasak. Pakis banyak tumbuh liar dipinggiran sawah dan tali bandar. Kalau ikan dibeli dari penjual disimpang pasa di depan sekolah dasar kampung kami. Biasanya kalau sudah sore penjual ikan sudah kumpul disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam mulai merangkak, dilaur gelap menyungkup desa kami, lampu pelita dari rumah-rumah penduduk desa terlihat cahayanya menyelinap kelap kelip lewat dinding yang berlobang atau kisi-kisi jendela, mungkin yang empunya rumah sudah tertidur pulas menghilangkan penat dari pekerjaan siang hari tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih duduk di beranda rumah kami, angin malam bertiup lembut, aroma kembang melati yang tumbuh dibawah jendela rumah membawa kesegaran bagi pikiran dan perasaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benakku masih digelayuti oleh bayangan peremuan sore tadi, ah…. gadis itu siapa nama lengkapnya? Kenapa baru kali itu aku melihatnya? Sekolah di PGA kelas berapa? Tadi waktu aku di mushola mau mencuci kaki mau masuk dia ada di belakang ku. Aku semakin hanyut oleh pikiranku sendiri dan malam pun semakin larut. Dari pantai terdengar suara sayup-sayup suara ombak bergulung-gulung menghempas tepian pantai. Suaranya terdengar mendayu-dayu seperti suara seorang ibu yang sedang meratap beriba hati merindukan anak bujangnya yang tenggelam di laut yang tidak akan pernah kembali lagi saat mencari nafkah untuk ibu dan adik-adiknya. Mata ku semakin berat, kantuk memaksaku untuk segera merebahkan badan di atas tempat tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya matahari bersinar cemerlang dari bukit Gandun, adalah salah satu anak bukit Barisan yang melintang berjejer sepanjang pulau Sumatra. Cahaya matahari begitu sangat indahnya, titik embun pagi memantulkan cahayanya, tampak seakan-akan sebuah butir mutiara yang menempel di ujung daun. Pagi nan indah sangat, terdengar celoteh burung-burung di atas ranting pepohonan, berkicau dengan ragam dan macam suaranya yang merdu. Dari jalan raya terdengar pula tingkah sepatu kuda dengan diiringi gemuruh suara roda bendi yang melaju menuju pasar Trs dengan muatan penuh ibu-ibu yang akan berbelanja di pasar Trs. O ya… aku baru ingat kalau hari ini adalah hari Selasa. Hari Selasa adalah hari pasar atau hari balai di kota kecamatan kami. Benar, hari Selasa hanya tinggal satu hari Selasa saja lagi pada bulan diluar Ramadhan. Hari Selasa yang akan datang sudah masuk bulan Ramadhan. Jadi kalau ingin belaja untuk kebutuhan bulan Ramadhan ya pada hari ini waktunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbersit keinginanku untuk merjalan-jalan melihat keramaian di pasar Trs. Aku minta izin kepada nenek untuk niat itu, Nenek mengizinkan ku sambil dia menitip belanjaan di pasar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeda tua pinjaman itu ku kayuh menuju pasar Trs. Angin pagi tersa menyegarkan rongga dada. Kulihat beberapa pedagang ayam yang bersepeda dengan menaruh barang dagangannya di belakang bahkan ada sebagian yang digantung di batang sepeda, mereka mengayuh sepedanya dengan laju mungkin agar cepat dapat sampai di pasar Trs menemui langganannya, karena ayam sangat laku keras sekali pada waktu-waktu menyabut Ramadhan, untuk bikin rendang tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir masuk Pasar Trs aku berhenti sejenak di jembatan panjang yang masih merupakan jembatan bayley, karena jembatan lama sudah ambruk dilanda banjir besar tahun lalu. Air sungai yang mengalir kelihatan keruh kekuning-kuningan tapi tidak memperlihatkan  tanda-tanda kegarangan yang membawa banjir lagi. Sebuah sampan tampak tenang bergerak kearah hilir muara sungai. Air sungai ini hulu nya berasal dari daerah Solok, tepatnya disekitar Air Sirah lewat panorama kalau kita jalan ke Solok, sedangkan muaranya berada di sekitar desa ku, di pinggir laut. Tiba-tiba lamunanku jadi buyar ketika ada sebuah mobil lewat di atas jembatan, terdengar bunyi keras karena pergesekan besi jembatan. Jembatan bayley hanya boleh dilewati satu-satu mobil secara bergantian. Mobil yang lewat jenis prah, truk yang bermuatan getah, yang ketahuan dari baunya yang sengit, ada dua penumpang di dalam mobil yang kelihatan sedang tertidur lelah sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keramaian pasar Trs sangat terkenal dari dahulu, sehingga ada sebuah senandung yang dinyanyikan oleh penyanyi lagu pop Minang zaman dulu Elly Kasim yang menyebutkan pada bait lagunya “Ramailah bana pasa rang Trs… yoo lalai, karuang jo sumpik yo lalai di tangah balai”. Memang sesuai apa yang disebutkan pada nyanyian itu terasa sekali keramaian pasar Trs. Sehingga saking ramainya jalan raya pun terpakai oleh para pedagang, sehingga kendaraan yang lewat terpaksa harus jalan pelan sekali. Besambung.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Disalin oleh Lucky Lukmansyah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
Photo oleh : .www.maduraexpose.com</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/09/menunggu-angin-bertiup-2-oleh-yuhardi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMXXfKnoyt9Dz1lweDwuzkIHcmhbVVOwRTmzjub0CgPOCf9hRG_Np_gkoNvK4IzlLZ78mijVT4MEbYMwY7bKxX4EQPpME5m5-4iC9uyIFwgfAyf1QNKNXxCtBrv3LevAox4Xr0XbFjk1bY/s72-c/anak+kampung.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-8015217017320008337</guid><pubDate>Tue, 30 Aug 2016 05:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-08-29T22:28:07.103-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menunggu Angin Bertiup</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Minangkabau</category><title>Menunggu Angin Bertiup, # 1,  Oleh Yuhardi Tanjung</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeGAf9lYKJCX4UhZaF4gI54JKAEU0kSPmt6jt_X-rEiE2WYqGKdhlLpgjuuNJXTL4cevP9n6aWrxLg065rTuLhb1a6D4fyzaYnwqiDJWAHdjMcpltCRscTHy0N48xh3TFOjVsCs72Haxfw/s1600/kamistadnet.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="332" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeGAf9lYKJCX4UhZaF4gI54JKAEU0kSPmt6jt_X-rEiE2WYqGKdhlLpgjuuNJXTL4cevP9n6aWrxLg065rTuLhb1a6D4fyzaYnwqiDJWAHdjMcpltCRscTHy0N48xh3TFOjVsCs72Haxfw/s400/kamistadnet.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menunggu Angin Bertiup&amp;nbsp; # 1&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh, Yuhardi Tanjung&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Sorong, Papua Barat. 12 Februari 2011. Cuaca terasa panas sekali, angin yang bertiup hanya datang sekali-sekali namun terasa menyejukan badan. Jam waker telah menunjukan angka tiga pada sore itu, tetapi cuaca di luar belum menunjukan tanda-tanda akan meredup. Seekor burung terlihat terbang mencari tempat berlindung dari garangnya panas cuaca sore itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih duduk di beranda pondok ku. Dari radio tape milik tetangga sebelah masih terdengar alunan lagu-lagu Melayu lama. Suara nyanyian lagu itu membuat ingatanku menjalar ke masa silam, lama….. sungguh sudah lama sekali, tapi bagiku semua kenangan itu masih segar dalam ingatan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia yang ku kenang sekarang adalah tetanggaku di kampung, dia tinggal tidak jauh dari rumah keluargaku, dekat, cuma hanya sekitar lima buah rumah saja jarak rumahnya dengan tempat tinggalku. Walaupun jarak tempat tinggal kami begitu dekat, namun belum pernah aku melihat dia sebelumnya, maklum saja kalau aku pulang ke kampung hanya sekejap, barang dua atau tiga hari saja. Karena di kampung yang tinggal hanya ada nenek dan kakekku waktu itu, sedangkan amak dan abakku menetap di kota P, dimana aku dibesarkan bersama dengan adik-adikku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 1971 aku telah lulus dari Sekolah Menengah Atas. Karena keadaan ekonomi orang tuaku waktu itu jadi aku tidak dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sambil menunggu-nunggu perkembangan selanjutnya, dan lagi pula ada waktu kosong yang panjang, maka aku putuskan untuk mencoba tinggal di kampung, coba merasakan bagaimana cara dan pola hidup di kampung bersama nenek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tinggal sementara bersama nenek terasa sangat menyenangkan. Pagi hari aku menyandang cangkul menuju ke sawah, membantu nenek menggarap sawah. Mengolah tanah yang becek berair di dalam sawah memang terasa berat bagiku, karena pekerjaan itu belum pernah aku lakukan sebelumnya. Adalah pada suatu saat, ketika aku selesai bekerja di sawah, kira-kira pukul setengah lima sore, aku melihat ada ramai para remaja berkumpul di sebuah lapangan volly yang berada di seberang jalan rumah nenek. Aku lihat mereka sedang latihan volly, ramai sungguh, juga ada banyak anak-anak ikut menonton dengan duduk berjejer di keliling lapangan. Merasa tertarik, segera aku melangkah keseberang jalan itu untuk menonton lajunya permainan lebih dekat lagi. Aku senang sekali berada di tempat itu. Aku lihat dua kelompok yang sedang berlatih tanding itu sama-sama tangkas dan gesit, saling tangkis dan saling balas memukul bola yang melesat di udara. Sungguh riang mereka bermain, penuh gelak dan tawa, terpancar jelas kegembiraan di wajah para pemain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahaya matahari sore waktu itu bersinar cerah, suasana desa kami jadi terasa hidup seketika. Angin sore yang sejuk meniup daun-daun bambu dan pohon-pohon di sekitarnya. Kesegaran angin sore waktu itu terasa membawa ketentraman ke dalam kalbu. Pohon-pohon mangga yang sedang berbunga lebat seakan tersenyum memperhatikan para remaja yang sedang asik bermain volly.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutinggalkan lapangan volly itu dengan segudang keceriaan remaja yang sedang bermain di atasnya. Aku lantas berjalan menuju sebuah rumah yang tidak jauh dari lapangan itu, ke rumah salah seorang kerabat kami, orang sepersukuan dengan kami. Di rumah itu tinggal etek A yang bersuami dengan pak M, seorang guru sekolah dasar di T. mereka mempunyai dua orang anak laki-laki, masih kecil-kecil, mungkin masih berumur 3 dan 5 tahun kala itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Assalam mualaikum” aku mengucapkan salam, dan “waalaikum salam” sebuah jawaban dari dalam rumah. “Ooo si Eddy rupanya” suara pak M yang keluar dari dalam rumah. “Mari naik” pak M mempersilahkan aku naik ke atas rumahnya. “Oh.. tidak usah pak, biar di sini saja” jawab ku sambil menghenyakan pantat di atas pale-pale bambu yang ada di bawah, di teras rumahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan pekerjaan sawah sekarang?” tanya pak M kepada ku sambil menemani ku duduk di pale-pale. “Ah… belum apa-apa pak, kami baru mulai mencangkul dan melunakan tanah dengan memasukan air” jawab ku. “Oooo” respon pak M sambil menganggukan kepala. Lama juga aku ngobrol dengan pak M waktu sore itu. Beliau menanyakan perihal kabar ayah dan ibuku serta juga adik-adikku, memang ayah dan ibu jarang sekali pulang ke kampung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari rumah pak M masih terdengar sorak sorai remaja bermain bola volly, tidak terasa jam dinding di rumah pak M sudah menunjukan pukul 05.30 WIB. Ternyata permainan volly sudah usai. Nampak beberapa orang dari remaja itu lewat di depan rumah pak M. Pak M menyapa salah seorang diantara mereka, menanyakan kepadanya siapa yang menang dalam permainan tadi. “Si Emil dengan kelompoknya pak” jawab mereka hampir berbarengan, “wah seru sekali permainannya tadi” kata salah seorang lagi menambahkan. “Singgahlah dulu sebentar?” pak M menawarkan ajakan. “Terimakasih pak, kami mau pulang mandi dulu” jawab yang berambut pendek menolak basa basi pak M.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepeninggalan mereka tadi, sejenak keheninngan menggantung diantara aku dan pak M. Terdengar bunyi cericit burung pipit yang sedang bersarang di atas pohon pinang di samping rumah. Dan kemudian muncul sebuah bis antar kota dengan merek dinding “Teluk Raya” datang dari arah Pnn berhenti tepat di depan rumah pak M. Tak lama kemudian terdengar suara kenek atau stokar bis menokok dinding mobil dengan tangannya sebagai tanda supaya sopir bis dapat lagi melanjutkan perjalanannya terus ke arah Trs.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis yang baru turun dari bis itu, berbaju kurung dan mengenakan jilbab, menenteng sebuah koper agak besar. “Berat Wid…” pak M lalu menyapa diri si gadis. Dia lantas tersenyum sambil menjawab “O o ndak kok pak”. “Apa kamu sudah mulai libur Wid?” pak M melanjutkan pertanyaannya. “Sudah pak” si gadis menjawab sambil menyeberang jalan dengan menenteng kopernya menuju ke arah rumah pak M. Aku hanya diam saja dari tadi, hanya memperhatikan saja sosok gadis yang memakai jibab itu. Terasa enak sangat suara gadis itu terdengar di telingaku, wajahnya manis,  hidung mancung dan berkulit sawo matang. Dia melirik kearah ku, tadi tidak terdengar ada suara keluar dari bibirnya yang menawan. Kemudian dia menghentikan langkahnya pas di depan rumah pak M, sambil berkata agak mengeluh dan mendesah “wah susah sekali dapat tumpangan tadi pak, itu bis-bis selalu saja penuh, satu jam sudah menunggu baru dapat tumpangan”. Sepertinya gadis itu agak letih, tampak dia menyeka keringat yang menetes di sudut pipinya. “Iyalah, sekolah-sekolah telah mulai libur, anak-anak sekolah tentu banyak yang pulang” jawab pak M.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru aku ingat bahwa sekarang sudah waktunya libur sekolah. Karena seminggu lagi bulan suci Ramadhan akan tiba. Dan segera kampung ini akan ramai dengan anak-anak sekolah yang kembali ke kampung untuk berlibur selama bulan Ramadhan sampai hari raya Idul Fitri tiba. Seketika itu pikiranku pun melayang jauh kembali ke P, kerumah orang tuaku, alangkah senangnya terasa hati kalau keluargaku ada bersama ku sekarang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh iya, Wid, ini dia si Eddy namanya, dari P. Anaknya uni N, cucunya etek T, masih kemenakan uncu A juga” tanpa basa basi pak M langsung mengenalkan aku dengan aku. Sontak aku tergagap dibuatnya, sama sekali tidak ku duga kalau pak M melakukan itu. Aku menganggukan kepala dan mau tidak mau aku harus mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan dia. Oh ternyata gadis itu tidak membalas uluran tangan ku, tapi dia hanya merapatkan dua telapak tangan di depan dada sebagai gantinya. Aku mengerti dan maklum. Sambil tersenyum gadis itu berkata kepada ku bahwa dia tidak bisa lama-lama “mau melanjutkan perjalanan” katanya.  Aku bingung, aku bertanya “mau melanjutkan perjalanan kemana?” pertanyaa bodoh. Dia tidak menjawab pertanyaan ku, hanya pak M yang menjelaskan bahwa dia adalah tetangga pak M. Dan aku tidak dapat berkata apa-apa lagi selain mengangguk-anggukan kepala, sama seperti burung balam dalam sangkarnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Photo: Kamistad.net&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/08/menunggu-angin-bertiup-1-oleh-yuhardi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeGAf9lYKJCX4UhZaF4gI54JKAEU0kSPmt6jt_X-rEiE2WYqGKdhlLpgjuuNJXTL4cevP9n6aWrxLg065rTuLhb1a6D4fyzaYnwqiDJWAHdjMcpltCRscTHy0N48xh3TFOjVsCs72Haxfw/s72-c/kamistadnet.JPG" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-6194583393251077583</guid><pubDate>Mon, 29 Aug 2016 13:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-08-29T06:25:46.338-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Minangkabau</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Upik Bilik</category><title>Upik Bilik, # 1 Surau Banda</title><description>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWPGiYTPX2r71QXkwpeqIVC0Y2SVH219zq2OTGQVWPKb_TxvewFdhxtg3vQbb7pbR4sf9Y9JDKWXSlKhUaF0ccGGhW6B0JHWzwfXEVpcqnu5lwRBxHKyJfPWbF24saFBs3N2toXKev9w3V/s1600/surau.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWPGiYTPX2r71QXkwpeqIVC0Y2SVH219zq2OTGQVWPKb_TxvewFdhxtg3vQbb7pbR4sf9Y9JDKWXSlKhUaF0ccGGhW6B0JHWzwfXEVpcqnu5lwRBxHKyJfPWbF24saFBs3N2toXKev9w3V/s320/surau.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Upik Bilik&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;# 1: Surau Banda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja Malin Ameh bangun di tengah malam, lebih dini sebelum waktu sembahyang subuh tiba. Dia tinggalkan istrinya yang masih tidur pulas di atas pembaringan. Lekas dia keluar dari kamar untuk menyalakan lampu penerangan ruang tengah dan ruang belakang. Udara pada dini hari waktu itu masih sangat teramat dingin. Rasanya suhu dingin udara di pagi buta itu mampu membekukan air yang tergenang di dalam tempat penampungan. Namun hal itu tidak menjadi perintang niat Malin Ameh untuk tetap pergi ke belakang. Lantas Malin Ameh masuk ke jamban, melepaskan hajat yang dari tadi dia tahan dan tidak lama kemudian mengambil air wuduk dari dalam tong yang terbuat dari drum oli bekas yang di potong setengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari jamban laki-laki yang masih saja belum jadi ayah itu masuk ke ruang tengah. Digapainya seperangkat alat sholat yang sudah terlipat rapi di atas sajadah, lalu dia letakan peci hitam di kepala. Malin Ameh hendak segera melaksanakan sholat tahajud waktu itu. Sebelum itu dia perhatikan waktu yang tertera pada jam dinding. Hari masih pukul jam 4 pagi. Masih ada waktu satu jam lagi bagi Malin Ameh untuk menunaikan sholat tahajud empat rakaat, dan setelah itu dia habiskan waktu untuk berzikir, bertafakur, lebih mendekatkan diri lagi kepada sang pencipta sembari menunggu waktu sholat Subuh tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 5 kurang seperempat Malin Ameh menutup tirakatnya. Lantas dia masuk lagi ke kamar tidur, membangunkan istrinya yang masih saja meringkuk di bawah kain selumut. “Nur…. bangunlah. Mari kita pergi ke surau” Berkata Malin Ameh dengan lembut dan penuh kasih sayang membangunkan Nurbaiti sambil mengusap pinggul istrinya ramping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sabar dia tunggui Nurbaiti bangkit dari atas ranjang. Memang sudah pada waktunya bagi Nurbaiti untuk bangun. Tanpa bicara sepatah kata pun Nurbaiti sudah tahu apa yang akan dia lakukan setelah bangun. Perempuan muda itu langsung berkemas mengenakan kain dan mukenah. Tidak seperti suaminya yang biasanya bangun tidur langsung pergi ke jamban. Bagi Nur sendiri, urusan jamban bisa dilakukan nanti saja di pincuran yang berada tepat di belakang surau.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaminya telah berdiri di tangga rumah, menunggu Nurbaiti keluar sambil memegang sebuah senter, kunci dan gembok di tangan. Berjalanlah pasangan suami istri muda itu menuju ke surau, setelah meninggalkan kediaman tempat tinggal mereka dengan keadaan pintu sudah dipasak dan digembok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh waktu itu masih sangat gelap gulita dan dingin membeku. Belum ada cahaya penerangan terpasang di jalan setapak yang menuruni lereng tebing rendah menuju ke sebuah surau. Dengan cahaya senter berkekuatan 4 batu batrai Malin Ameh menuntun istrinya berjalan di depan melewati jalan setapak yang gelap dan hanya ada satu-satunya sebagai akses penghubung antara pemukiman penduduk dengan surau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di surau kedua suami istri itu belum menemukan ada seorangpun di tempat ibadah itu.  Bergegas Malin Ameh membuka pasak pintu surau yang memang tidak di kunci oleh gembok. Hanya sebuah kayu balok panjang melintang yang dipakai sebagai pasak supaya ke dua daun pintu surau tidak mudah terbuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari depan pintu pincuran, Nurbaiti berkata dengan suara agak keras kepada suaminya yang telah berada di dalam surau, sedang mencari-cari saklar lampu. “Uda lekaslah hidupkan lampu di pincuran, gelap sangat di sini, saya sudah tidak tahan lagi” Memang Nurbaiti sudah tidak sabar lagi ingin kencing, dari tadi dia sesak menahan air seni di dalam ari-arinya perutnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kemudian semua lampu penerangan surau dinyalakan oleh Malin Ameh, termasuk juga lampu yang terpasang di pincuran. Tidak lama menunggu, terdengar oleh Nurbaiti, ketika dia yang sedang jongkok di bawah aliran air pincuran yang mengucur deras dan dingin, suara azan Subuh yang dikumandangkan oleh suaminya dari dalam surau melalui mic pengeras suara. Cepat-cepat Nurbaiti menyelesaikan urusannya di dalam pincuran dan bergegas masuk ke surau dalam keadaan yang sudah suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Asshola tukhairum minan naum, asshola tukhairum minan naum” Keras dan lantang Malin Ameh menyerukan panggilan mendirikan sholat Subuh kepada seluruh penduduk yang menghuni kampung Mudik, kampung yang terletak di bagian sebelah barat lereng gunung Marapi, Sumatera Barat. Tidak lah ramai orang yang menetap di kampung itu. Pada masa itu hanya ada terdapat tiga kelompok kaum saja yang dari turun temurun mendirikan pemukiman di kampung Mudik tersebut, yaitu kaum suku Guci, Jambak dan Sikumbang. Dan masing-masing kaum memiliki satu buah rumah gadang sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah azan dikumandangkan oleh Malin Ameh maka satu persatu cahaya penerangan mulai menyala dari rumah-rumah warga yang masing-masingnya berjarak cukup jauh karena terpisahkan oleh parak, ladang dan sawah. Orang-orang kampung Mudik yang terbiasa sembahyang berjamaah ke surau akan bergegas meninggalkan rumah mereka masing-masing dan berjalan menuju ke tempat ibadah, melintasi hawa dingin lereng gunung Marapi yang dapat menusuk hingga ke tulang. Walaupun menggigil badan, tidaklah mereka hiraukan, karena udara dingin memang sudah jadi makanan mereka sehari-hari. Mereka tetap melangkah menuju ke surau, untuk menunaikan sholat subuh berkaum, bersama-sama sanak saudara, kerabat, ipar, kemenakan, cucu dan menantu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tua, muda, kecil, laki-laki dan perempuan, orang-orang di kampung Mudik yang tidak seberapa orang jumlahnya itu memang rutin pergi sembahyang berjamaah ke surau. Di “Surau Banda” begitulah mereka menyebut tempat ibadah yang dulu telah didirikan oleh para tetua dari ke tiga kaum di kampung mereka. Di namakan sebagai surau Banda adalah karena letak surau itu memang bersebelahan dengan banda,kalau orang Minangkabau menyebut banda berarti itu adalah parit, atau sebuah sungai kecil yang mengalir tepat di dasar tebing rendah dimana lokasi tempat surau itu berdiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terkecuali juga ada seorang anak gadis kecil, masih berusia 8 tahun, dia adalah si “Upik Bilik” begitu panggilan biasa orang-orang di kampung Mudiak kepada diri si gadis kecil itu. Upik Bilik adalah kemenakan kontan dari Malin Ameh. Anak perempuan satu-satunya, penyambung keturunan dari mendiang almarhumah kakak perempuannya yang benama Mariam. Dia lah si gadis malang, anak yatim piatu yang diasuh dan dibesarkan oleh Malin Ameh beberapa tahun terakhir semenjak ayah kandung anak itu pergi pula menyusul istrinya, ibunda si upik ke alam bakha. Tiada lagi bagi si upik tempat bergantung, melainkan kepada mamak satu-satunya, si Malin Ameh, atau si upik biasa memanggil diri si mamak dengan sebutan mak etek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upik Bilik taat menjalankan perintah agama. Setiap kali Upik mendengar suara azan berkumandang dari surau banda, maka Upik akan bergegas turun dari rumah gadang, berlari lincah menyusuri pematang sampai ke penurunan tebing sambil mengenakan kain dan mukenahnya pergi ke surau banda untuk menunaikan ibadah sholat fardhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, beberapa saat setelah azan dikumandangkan, satu persatu orang-orang, laki-laki dan perempuan sudah mengisi shaf masing-masing. Adalah kebiasaan Malin Ameh berdiri di shaf paling depan sambil menengok kebelakang, tepat ke arah shaf perempuan, matanya mencari-cari apakah si kecil upik sudah datang atau belum. Biasanya si upik berdiri dekat pintu bagian belakang surau. Karena dia masih anak kecil maka shaf baginya adalah barisan paling belakang. Memang diketahui oleh para jama’ah bahwa dari sekian banyak anak kecil perempuan di kampung Mudik, si Upik Bilik adalah anak gadis kecil yang paling rajin sembahyang ke surau. Bahkan kalau si Upik Bilik belum datang sebagian dari ibu-ibu akan bertanya kemana si Upik, mengapa belum juga datang ke surau. Maka puaslah hati Malin Ameh beberapa saat kemudian si Upik muncul menampakan batang hidungnya bersama beberapa orang perempuan masuk ke dalam surau untuk menunaikan sholat shubuh pada waktu itu. Bergegas Malin Ameh qomat lalu kemudian melangkah ke depan untuk menjadi imam sholat ketika waktu itu. (Bersambung, oleh Lucky Lukmansyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/08/upik-bilik-1-surau-banda.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWPGiYTPX2r71QXkwpeqIVC0Y2SVH219zq2OTGQVWPKb_TxvewFdhxtg3vQbb7pbR4sf9Y9JDKWXSlKhUaF0ccGGhW6B0JHWzwfXEVpcqnu5lwRBxHKyJfPWbF24saFBs3N2toXKev9w3V/s72-c/surau.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-4110002989966724008</guid><pubDate>Mon, 15 Aug 2016 08:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-08-15T01:17:18.164-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Budaya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">legenda</category><title>Legenda Tadulako Sulawesi Tengah</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOziHLK-BjriQlxCgFAfdU4mv8uLUWjj20iin-q8bZatqh5vLEPYhprSiuDcLCHiJR5N7PLQ9EGc508oejrjYlnyVpCONmgI5AerRIoYLeOv57-UB8Sjy5pje44U-njcKtelf1ZTZvuLK0/s1600/tadulako.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOziHLK-BjriQlxCgFAfdU4mv8uLUWjj20iin-q8bZatqh5vLEPYhprSiuDcLCHiJR5N7PLQ9EGc508oejrjYlnyVpCONmgI5AerRIoYLeOv57-UB8Sjy5pje44U-njcKtelf1ZTZvuLK0/s320/tadulako.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Tadulako&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari sekian banyak hasil peninggalan masa Megalitik di Behoa, ada 
sebuah patung peninggalan purba yang menunjukkan patung manusia tegak 
lurus dengan langit, tingginya 2 meter. Patung itu memiliki energi 
secara kultural dan filosofi bagi etnis Kaili, Kulawi, Napu, Behoa, 
Bada, Mori dan Pamona di Sulawesi Tengah. Secara arkeologi dan 
antropologi dari peninggalan Megalitik tersebut menjadikan penelusuran 
awal untuk memahami asal-usul istilah Tadulako yang menjadi legenda. 
Bagi masyarakat, Tadulako melambangkan pemimpin perang yang penuh 
kharisma, ksatria, perkasa, adil, dan bijaksana.&amp;nbsp; Di sekitar patung 
Tadulako terdapat dua buah Kalamba yang berukuran besar, satu terbuka 
dan satunya tertutup.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Kalamba yang terbuka berisi air hujan, sedang yang tertutup tidak 
diketahui isi dalamnya karena materi batu yang sangat berat hingga tidak
 pernah dibuka. Sehingga semakin menambah misteri apa yang terdapat di 
dalamnya, kecuali beberapa kalamba tanpa penutup di ekitar Lembah Behoa 
sudah diketahui, diantaranya berupa tulang-tulang manusia yang pada 
tahun 2000 tulang-tulang tersebut di bawa ke Jakarta oleh tim peneliti 
kepurbakalaaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tadulako adalah ksatria yang jasa-jasanya menyatukan 
suku-suku yang dulunya bertikai kini menjalin kekerabatan. Oleh 
masyarakat Behoa dibuatlah Patung Megalit Tadulako di bukit Bulili, Desa
 Doda Kecamatan Lore Tengah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tadulako secara harfiah adalah gelar yang diberikan kepada pemimpin karena keberanian dan kepahlawanan membela tanahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Cerita Tadulako Doda&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alkisah, di Desa Doda hidup suami istri yang cukup lama 
belum dianugrahi anak, dengan doa dan takdir cinta mereka dikaruniai 
seorang putra. Mereka memberinya nama Lengkatuwo. Lengka artinya purnama
 dan tuwo artinya hidup. Bila dipadankan dua kata tersebut bermakna 
hidup sempurna. Lengkatuwo ini adalah nama lain dari Tadulako.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Waktu demi waktu berlalu Tadulako beranjak dewasa berbagai 
ilmu kanuragan, beladiri, menombak dan memanah ia kuasai dengan detil. 
Keahliannya itu cepat tersebar ke berbagai kampung. Suatu waktu, ia 
diundang untuk membantu suku Bada menghadapi serangan orang-orang 
Waebonta di wilayah Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Sebelum berangkat ke 
medan perang, ibunya berpesan bila selesai tugas cepat pulang, sebab 
tunangannya sudah menunggu di tanah kelahiran.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tadulako melawan para musuhnya diakhiri dengan kemenangan 
demi kemenangan. Bahkan perdamaianpun terjalin, sehingga orang Bada 
merasa berhutang budi padanya. Ia diminta untuk menikahi putri raja&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 
yang jelita dan menetap di Bada. Dilema terjadi dalam diri Tadulako. 
Namun ia putuskan untuk menerima pinangan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suatu hari tadulako bersama istrinya yang hamil pulang ke 
Behoa. Kedatangannya dijemput dengan upacara kebesaran sebagai ksatria 
perang, meski demikian orangtuanya kecewa terlebih sang kekasih yang 
sudah lama menunggu. Beberapa waktu kemudian, Tadulako bertandang ke 
rumah kekasih lamanya yang saat itu sedang asik menumbuk padi dengan 
lesung. Tiba-tiba saja,sang mantan yang murka itu menghujamkan alu ke 
kepala Tadulako. Tak ayal, Tadulako yang terkenal sakti tersungkur ke 
tanah. Pendudukpun gempar, ahli perang yang tak mudah ditaklukan 
musuh-musuhnya tewas di tangan seorang wanita.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun cerita legenda di atas berakhir tragis, kita dapat Memetik 
pelajaran dari sikap pantang menyerah Tadulako dalam menghadapi 
musuh-musuhnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Cerita Tadulako Bulili&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di desa suatu desa bernama Bulili hiduplah 3 orang tadulako atau panglima perang. Mereka  masing-masing bernama: Bantaili, Makeku dan Molove. Mereka 
terkenal  sangat sakti dan pemberani. Tugas utama mereka adalah menjaga 
 keselamatan desa itu dari serangan musuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari Raja  Sigi mempersunting seorang gadis cantik Bulili. 
Mereka tinggal untuk  beberapa bulan di desa itu hingga gadis itu 
mengandung. Pada saat itu  Raja Sigi meminta ijin untuk kembali ke 
kerajaannya. Dengan berat hati  perempuan itu melepas suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://www.blogger.com/null" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Sepeningal Raja Sigi itu,  perempuan itu melahirkan seorang bayi. 
Pemuka-pemuka Bulili lalu  memutuskan untuk mengirim utusan untuk 
menemui suami perempuan itu.  Utusannya adalah tadulako Makeku dan 
Bantaili.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesampainya di  Sigi, mereka bukannya disambut dengan ramah. Tetapi 
dengan sinisnya raja  itu menanyakan maksud kedatangannya. Mereka pun 
menguraikan maksud itu.  Mereka menyampaikan bahwa mereka diutus untuk 
meminta padi di lumbung  untuk anak raja yang baru lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan congkaknya raja Sigi  menghina mereka. Ia lalu berkata pada 
Tadulako itu: "kalau mampu  angkatlah lumbung padi di belakang rumah." 
Dengan marahnya Tadulako  Bantaili mengeluarkan kesaktiannya. Ia pun 
lalu mampu memanggul lumbung  padi besar yang dipenuhi oleh padi. 
Biasanya lumbung kosong saja hanya  akan bergeser kalau diangkat oleh 
puluhan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makeku berjalan  di belakang Bantaili untuk mengawal lumbung padi itu. 
Dengan sangat  geram Raja Sigi memerintahkan pasukannya untuk mengejar 
mereka. Pada  suatu tempat, terbentanglah sebuah sungai yang sangat 
lebar dan dalam.  Dengan mudahnya mereka melompati sungai itu. Meskipun 
sambil menggendong  lumbung padi, Bantaili berhasil melompatinya tanpa 
ada banyak ceceran  beras dari lumbung itu. Sedangkan pasukan yang 
mengejar mereka tidak  berani melompati sungai yang berarus deras. 
Mereka akhirnya kembali ke  Sigi dengan kecewa.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Photo: tikateacool.wordpress.com&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber: bimbimm24.wordpress.com&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; linopadeihina.blogspot.co.id&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/08/legenda-tadulako-sulawesi-tengah.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOziHLK-BjriQlxCgFAfdU4mv8uLUWjj20iin-q8bZatqh5vLEPYhprSiuDcLCHiJR5N7PLQ9EGc508oejrjYlnyVpCONmgI5AerRIoYLeOv57-UB8Sjy5pje44U-njcKtelf1ZTZvuLK0/s72-c/tadulako.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Palu, Palu City, Central Sulawesi, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.90029149999999991 119.87799870000003</georss:point><georss:box>-1.1543234999999998 119.55527520000004 -0.6462595 120.20072220000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-1840409158991122936</guid><pubDate>Mon, 15 Aug 2016 06:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-08-15T00:47:37.942-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">A Life Story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerita Misteri</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tourism</category><title>Cerita Misteri: Kota Misteri Wentira, Palu</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1Ki5-O2jB75yPThBHiUdb0yl_eb0Vzus7l8xgKVaw2zb_MmZpYGfhGskhLnO6u8Jk-CE72NfQFNtpDvJ6Iat1LL9tkslpZHHafmGdHQNHjcHzIWM-xQRvVLzN_F5SHoyeERBxqv6UUy3E/s1600/wentira.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1Ki5-O2jB75yPThBHiUdb0yl_eb0Vzus7l8xgKVaw2zb_MmZpYGfhGskhLnO6u8Jk-CE72NfQFNtpDvJ6Iat1LL9tkslpZHHafmGdHQNHjcHzIWM-xQRvVLzN_F5SHoyeERBxqv6UUy3E/s1600/wentira.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;sebuah ilustrasi tentang Wentira. bimasinatribloka11.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Wentira&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mungkin nama ‘Wentira’ di kota-kota lain 
dianggap biasa, namun berbeda hal nya apabila nama ini di dengar oleh 
masyarakat yang berada di Pulau Sulawesi Tengah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wentira merupakan lokasi yang berada di 
Kebun Kopi (lintas Trans-Sulawesi). Wentira sendiri menurut beberapa 
kesaksian orang-orang yang mengaku pernah ke sana mengatakan kalau 
Wentira merupakan suatu kota yang sangat teramat indah dengan ciri khas 
warna kuning.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun yang sebenarnya sesuai dengan yang 
saya lihat langsung, Wentira sebenarnya hanya daerah berhutan lebat, 
jauh dari mana-mana, di antara Palu-Parigi, di lintas jalan yang disebut
 orang sebagai Trans-Sulawesi. Pohon-pohon raksasa tumbuh di pinggir 
jalan, dengan bentuk batang besar, putih, cenderung lurus, menjulang 
sangat tinggi seakan ingin menggapai langit. Batang pohon itu begitu 
lurus, dan baru di bagian sangat atas di ketinggian, tumbuh dahan dan 
cabangnya dengan daun-daun yang menjadi sangat kecil-kecil kalau dilihat
 dari bawah. Konon, tak ada seorang pun berani menebang pohon seperti 
itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebenarnya banyak sekali 
kesaksian-kesaksian dari orang-orant yang mengaku pernah jalan-jalan ke 
Wentira, misalnya salah satu contoh yang paling terbaru yang saya dengar
 adalah ada seseorang yang memesan sebuah mobil BMW i series warna 
kuning dengan memberikan alamat “WENTIRA”. Dan hebohnya, yang memesan itu adalah “seorang pria tua” tanpa ada keanehan sama sekali menurut sales promotion perusahaan tersebut. Lalu setelah di mobil tersebut di antar, ternyata tempat yang mereka datangi hanyalah hutan lebat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Banyak juga warga di sekitar Wentira mengatakan, apabila ada kendaraan 
lewat daerah tersebut harus membunyikan klakson 3X agar perjalanan 
mereka lancar sampai tujuan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Ada juga kisah dari daerah lain tentang Wentira&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suatu hari di Pulau kalimantan ada sebuah tebing yang penuh dengan 
sarang burung walet tetapi tak seorang pun yang bisa memanjatnya, pada 
suatu ketika ada seorang pemuda dengan santai memanjat tebing itu meski 
tampa pengaman, melihat aksi dari pemuda itu warga serompak terkejut 
ketika turun para warga datang bertanya kepada pemuda itu karna wajahnya
 agak asing di mata warga, ketika para penduduk bertanya dari mana dia 
berasal, lalu pemuda itu menjawab dengan lantang ” saya dari Kota 
Wentira Palu” tak lama kemudian pemuda itu hilang di kerumunan warga, 
(Cerita Pak Sappam SekolahQ), dari cerita di atas warga wentira juga 
sering berkelana dan mengembangkan kotanya dan menurut perkiraan kami 
Wentira telah berkembang sampai di Mamuju (sul-bar), Mekongga (sul-tra) 
dan bisa saja sampai di Kalimantan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Walaupun cerita ini seperti tak mungkin, 
namun saya sarankan agar kalian jalan-jalan untuk melihat langsung 
lokasi dari Wentira iniCerita mengenai keberadaa komunitas “jin” Uwentira beredar cukup santer 
di kalangan masyarakat Palu. Mendengar kata Uwentira atau Wentira, 
mereka merujuk pada cerita, kisah maupun mitos soal keberadaan komunitas
 yang tak kasat mata ini. Hanya sedikit orang yang bisa melihatnya 
bahkan bisa berkomunikasi dengan warga Uwentira yang sering muncul 
bahkan di pasar-pasar di Palu dan sekitarnya. Kawasan Wentira ini oleh 
kalangan paranormal di Indonesia, memang dikenal sebagai salah satu 
wilayah paling angker di seluruh pelosok nusantara&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Demi menjawab rasa penasaran banyak pengunjung, maka saya ingin membagikan 
cerita 3 teman saya berikut ini. Kebetulan mereka saya kenal karena 
bertemu langsung.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3ugyDX9dS5DRPsL2Z73DfKYMOmpoSv6znO2KnkLCqofuPNib-gpGKJrel16xEqU-eCDDrbaH_To5RAWXq6AwWHcn3AMBYH7S3Dtyyxt8pVkSjpd-7w_6h2I2brZavXR7HC0Y6DzpyXPfv/s1600/uwentira+jembatan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3ugyDX9dS5DRPsL2Z73DfKYMOmpoSv6znO2KnkLCqofuPNib-gpGKJrel16xEqU-eCDDrbaH_To5RAWXq6AwWHcn3AMBYH7S3Dtyyxt8pVkSjpd-7w_6h2I2brZavXR7HC0Y6DzpyXPfv/s1600/uwentira+jembatan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Cerita Sulwan Dase&lt;br /&gt;
To Wentira (ditulis Uwentira), demikian masyarakat Palu menyebut 
komunitas ini. Terletak disebuah kawasan yang bernama Wentira. Orang 
Toraja kuno menyebutnya To Wae Ntira. Menurut beberapa kawan 
menceritakan pengalaman mereka saat bertemu dgn orang2 To Wentira. 
Katanya, kitaseolah-olah terombang-ambing diantara dunia nyata dan 
dunia maya, rasionalitas, dan supranatural. Bingung bercampur takjub. 
Antara percaya dan tidak percaya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut mereka yang pernah ke “Kota Wentira”, kota itu sangat modern,
 dgn peradabana yang sangat luar biasa. Semua jenis kendaraan ada disana
 (termasuk MRT). Masyarakatnya makmur dan serba berada. Yang menjadi 
persoalan adalah, pintu masuk ke kota tsb. Hampir tak satu orang pun 
bisa menjelaskn secara pasti lokasi jalan masuk. beberapa menjelaskna 
bhw pintu masuk dgn kendaraan roda dua dan mobil adalah melalui sebuah 
jembatan beratap. Jembatan ini sebenarnya menjembatani sebuah sungai yg 
membentang. Secara logika, bila kita masuk ke ujung satu pastilah bisa 
tiba di ujung satunya. Namun keanehan terjadi. Kadang2 ketika sebuah 
mobil memasuki ujung jembatan, mobil itu tdk pernah lagi keluar di ujung
 satunya. Beberapa hari kemudian, barlah pengendara mobil itu bercerita 
bhw mereka baru saja pulang dari Kota Wentira, di mana segala sesuatunya
 ada disana.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wow…persoalannya, di bagian mana dari jembatan itu yg menjadi pintu 
masuknya? Sebab mobil tsb ketika memasuki jembatan, menghilang begitu 
saja dari pandangan mata….Sewaktu saya bertanya kepada beberap kawan yg 
pernah kesana, mengatakan, tempat itu sangat luar biasa. Namun tdk ada 
lagi yg berani kesana…&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Cerita LES Kala’tiku&lt;br /&gt;
Saya ingat suatu kejadian aneh yang saya dengar dari bapak saya sendiri.
 Waktu itu Bapak mempunyai proyek di daerah lokasi wentira. niatnya sih 
jalan2 di jembatan itu tapi pas memasuki mulut jembatan menurut teman 
proyeknya mobil truk yang pakai teman saya dan supirnya tiba2 hilang 
seakan2 di telan oleh jembatan itu. terus terang ini tidak masuk di akal
 tapi kenyataan terjadi. tapi sayang teman kantor saya ini tidak mau 
menceritakannya pak jadi jujur saya juga jadi penasaran dengan cerita 
teman saya yang katanya kota itu luar biasa modern. Yah antara kenyataan
 dan fiksi….jadi bingung.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Kesaksian PS Patandung&lt;br /&gt;
To wentira menurut orang Kaili (Suku asli di Sulteng) ada di sekitar 
kebun kopi ( Jl poros tawaeli – Toboli ) di jalan poros tersebut ada 
satu jembatan yang masih ada sampai sekarang. Konon katanya, masih 
buatan Belanda. Di sampingnya ada satu jembatan jembatan beton yang 
digunakan konon tahun 1980-an setiap kendaraan yg lewat wajib memberi 
kode lampu atau setidaknya klakson sebagai tanda permisi mau lewat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya sudah beberapa kali melewati kawasan Kebun Kopi yang disebut-sebut 
dua teman terakhir ini. Kawasan ini dikenal cukup berat, menanjak dengan
 kemiringan tajam. Belum lagi sering terjadi longsong. Jembatan itu 
masih ada, dan bahkan sekarang ada sebuah tugu berwarna kuning 
bertuliskan NGAPA UWENTIRA. Ngapa dalam bahasa Kaili berarti 
Kampung,Negeri atau Kota. Uwentira berarti tidak kasat mata. Jadi NGAPA 
UWENTIA berarti Kota UWENTIRA. Bagaimana ciri-ciri fisik warga Uwentira, apakah bedanya dengan manusia seperti kita? Nantikan kisah berikutnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUhUttbqkK5fc5ixeKB5_ybbx1Fei_bg5g70F8g-eRCmlncz76rfaLluHkk-2vpFaL9beel9DhqF8CilzpVXSSHCqIdh7j0Q8UFRQB855IbWKb_uSGdnNQLQnkq-_WgOeCGteT7sRvybhX/s1600/uwentira.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="128" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUhUttbqkK5fc5ixeKB5_ybbx1Fei_bg5g70F8g-eRCmlncz76rfaLluHkk-2vpFaL9beel9DhqF8CilzpVXSSHCqIdh7j0Q8UFRQB855IbWKb_uSGdnNQLQnkq-_WgOeCGteT7sRvybhX/s320/uwentira.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Kisah Wentira : &lt;/b&gt;Kisah berikut agaknya sejalan dengan cerita yang saya dapatkan dari beberapa sumber di Palu maupun di luar Palu. Warga Wentira tidak punya garis pemisah diatas tengah bibir, seperti layaknya manusia normal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut keyakinan masyarakat setempat, yang disebut kawasan Wentira atau Uwentira adalah
 wilayah yang sekarang dikenal sebagai kawasan kebun kopi, di jalan 
Trans Sulawesi poros Sulawesi Selatan – Sulawesi Tengah. Di sekitar sana
 tidak ada pemukiman penduduk hanya pohon-pohon yang menjulang tinggi 
berwarna keputih-putihan ditandai dengan sebuah jembatan yang konon 
hanya orang yang mampu melihat hal-hal gaib-lah yang bisa melihat kalau 
ternyata jembatan itu juga merupakan pintu gerbang untuk masuk ke 
Kerajaan mistis Wentira. Seseorang, dengan identitas &lt;b&gt;seleb_celebes&lt;/b&gt; memposting cerita ini di sebuah forum. Berikut kisahnya:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk masuk ke Wentira, tidak boleh sembarangan, hanya yang dikehendaki 
dan diizinkan oleh penghuni Wentira yang boleh masuk. Nah, paman teman 
saya ini termasuk orang yang diizinkan, karena dia melakukan 
ritual-ritual ditemani oleh orang2 pintar di sekitar daerah itu. 
Sementara kalau orang yang dikehendaki biasanya orang yang katanya kalau
 lewat tidak permisi (kulo nowon) dulu, lewat dengan sombongnya, dan 
biasanya yang seperti ini tidak pernah lagi kembali keluar. Pernah ada 
kejadian mobil melintas di tengah jembatan tetapi sebelum sampai diujung
 jembatan sudah keburu menghilang, kata penduduk skitar masuk kedalam 
Wentira.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut cerita paman teman saya itu alam 
di dalam Wentira didominasi warna kuning keemasan dimana penghuninya 
hidup sangat sejahtera dan tidak ada yang miskin, kehidupan disana 
laiknya kehidupan normal, semua ada baik gedung, kendaraan dll tapi 
semuanya serba mewah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut cerita orang-orang di sekitar 
pegunungan Sulawesi Tengah yang katanya juga masuk kedalam area Wentira,
 kadang-kadang ada penghuni Wentira yang keluar untuk berbelanja di 
pasar-pasar tradisional, ciri-cirinya yang utama adalah tidak ada garis 
pemisah diatas tengah bibir seperti layaknya manusia normal, kalau 
mereka muncul tetap dilayani tetapi tidak ada yang berani mengganggu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber:&lt;a href="http://www.bismania.com/" rel="nofollow"&gt;http://www.bismania.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;WENTIRA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
SESEORANG yang mengaku baru pulang dari 
tanah paling suci tiba-tiba muncul di kantor Andy. Dengan tutur kata 
memikat tiada tara yang membuat semua lawan bicara kehilangan kata-kata,
 ia meminta Andy untuk mengunjungi Wentira, daerah yang dipastikan bakal
 membuatnya jatuh cinta.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Anda boleh percaya atau tidak, tetapi 
hampir semua orang di wilayah Palu, Parigi, termasuk kabupaten baru 
bernama Parimot (Parigi Motong), tempat dalam lintas daerah-daerah 
tersebut Wentira berada, percaya bahwa kisah ini benar-benar terjadi. 
Mereka percaya, Wentira, daerah paling wingit di wilayah setempat 
-sebagaimana beberapa kali pernah terjadi- lagi-lagi mengirimkan 
makhluknya muncul dari alam maya, dan kali ini yang disatroni rupanya 
Andy, seorang arsitek, urban designer atau perencana kota yang dikenal 
dengan proyek-proyeknya yang modern.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wentira sebenarnya hanya daerah berhutan 
lebat, jauh dari mana-mana, di antara Palu-Parigi, di lintas jalan yang 
disebut orang sebagai Trans-Sulawesi. Pohon-pohon raksasa tumbuh di 
pinggir jalan, dengan bentuk batang besar, putih, cenderung lurus, 
menjulang sangat tinggi seakan ingin menggapai langit. Batang pohon itu 
begitu lurus, dan baru di bagian sangat atas di ketinggian, tumbuh dahan
 dan cabangnya dengan daun-daun yang menjadi sangat kecil-kecil kalau 
dilihat dari bawah. Konon, tak ada seorang pun berani menebang pohon 
seperti itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di antara kesenyapan hutan, rimbunnya 
semak-semak di pinggir jalan, terdapat jembatan tak seberapa besar. 
Persis jembatan berikut jurang dan ngarai tajam di sekitar situlah 
dipercaya orang sebagai “pusat Wentira”, negeri jin dan para lelembut, 
yang lewat berbagai cerita, dikatakan penghuninya sering keluar dari 
dunia mayanya, masuk dan menyatu dalam kehidupan manusia sehari-hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Wentira…” Orang terkesiap ketika Andy 
menunjukkan kartu nama, yang memang tertulis “Wentira” sebagai alamat si
 empunya nama. Semua orang yang mengenal Wentira termangu-mangu, 
merinding mendengar cerita Andy yang begitu yakin, bahwa dia bukan saja 
berhubungan langsung dengan orang yang mengaku dari Wentira, tetapi 
beberapa kali ia mengunjung Wentira, tinggal di sana beberapa waktu, 
bahkan telah menyelesaikan proyek yang tiada terkira artinya baginya. “Tahukah Mas Andy apa itu Wentira?” “Ya, saya tidak mengira bahwa di Palu ada daerah seramai dan semodern itu,” kata Andy.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mas Andy telah percaya pada 
eksistensi dunia maya sebagai benar-benar ada, tangible seperti kartu 
nama yang dipegangnya. Lanjut Andy, seperti mimpi, “Tak ada dalam 
bayangan saya, bahwa saya bakal bisa menjumpai kota abad 21 seperti 
Paris-La Defense di situ. Taman kotanya mengingatkan saya pada Parc 
Culturel Urbain de la Villette, dengan monumen berupa tangga merah 
melingkar yang oleh orang sana disebut Folies. Sejarah masa depan 
arsitektur seakan telah dimulai dari situ, dalam bentuk arsitektur 
virtual, arsitektur maya, sesuatu yang hanya dimungkinkan perencanaannya
 setelah kemajuan proses komputer…”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pendengarnya takjub, sekaligus makin 
tidak paham. Mereka geleng-geleng kepala. “Anak ini benar-benar telah 
dibawa jin ke Wentira…”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
BEGITULAH, konon orang yang mengaku baru 
pulang dari tanah paling suci tadi, meminta Andy untuk datang ke 
Wentira, untuk membangunkan rumah baru baginya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Saya tidak pernah membangun rumah tinggal pribadi Pak…,” kata Andy sopan, menolak secara halus tawaran orang itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tapi Pak Andy arsitek?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Ya, tetapi kegiatan saya lebih banyak 
pada perencanaan kota,” ujarnya. Ia ingin menerangkan lebih lanjut, 
bahwa dia adalah urban designer, dengan proyek-proyek begitu luas 
lingkupnya, dari penataan kembali ruang kumuh bagi masyarakat miskin 
sampai pembangunan kota modern untuk lokasi perkantoran dan 
bangunan-bangunan komersial, tetapi ia pikir itu semua kurang ada 
gunanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yang diajaknya bicara, tersenyum arif. 
“Kalau begitu tidak apa-apa. Pak Andy tidak perlu merasa punya beban 
atas permintaan saya. Saya selalu merasa, bisa berkenalan dengan 
seseorang saja sudah suatu berkah, melebihi apa saja, apalagi hanya 
dibanding rumah. Oleh karenanya saya akan mengundang Pak Andy ke Wentira
 saja. Nanti seseorang akan menyediakan tiket. Pak Andy bisa berangkat 
kapan saja, pokoknya tinggal beri tahu kami, dan nanti kami akan 
menjemput di airport. Belum pernah kan, ke Wentira? Anggaplah ini hanya 
ajakan berpiknik dan berteman, tidak ada yang lain…,” ucap tamunya 
santun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Andy yang halus perasaannya, tidak 
berkutik. Dia tarmangu-mangu memandang tamunya yang datang seperti 
angin, dan berlalu sebagai angin pula. Langkahnya begitu ringan seperti 
rase terbang. Bau tubuh yang ditinggalkannya adalah wangi hutan ketika 
dunia -dalam bahasa Andy sendiri-masih terjaga oleh matriks pusat-pusat 
kosmos yang sakral. Ia teringat aurora alam yang membesarkan dirinya, 
berupa candi-candi yang sebenarnya merupakan Mehru -pusat kosmos yang 
merupakan sumbu bumi yang menjulang ke atas menggapai surga tertinggi. 
Pesan hidup seperti itulah yang telah membawanya menjadi seorang 
arsitek, yang urusannya kemudian bukan membangun rumah, melainkan ingin 
membawa manusia menuju ke kemuliannya lewat lingkungan yang terjaga 
keseimbangan kosmosnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mendadak dia menangkap suatu hawa yang 
seakan menyedotnya untuk segera hadir di Wentira. Entah nyata atau tidak
 ini semua, ia sendiri merasa datang ke Wentira dengan naik pesawat 
dengan tiket yang sudah disediakan, dan di airport sudah tersedia mobil 
bagus barikut sopir menjemputnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengalaman berikutnya dirasakannya 
sebagai mimpi. Ia nyaris tak mempercayai penglihatannya, bahwa Wentira 
adalah daerah ultra modern yang padanannya hanya bisa dia dapat pada 
referensi baik ketika ia sekolah mengenai sejarah urban dan desain di 
Wisconsin, Amerika, ataupun pada perencanaan urban dan regional di 
Glasgow, Inggris.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dia melihat piramid kaca dengan 
konstruksi besi yang dibangun dengan berani dan manis, sebagai bagian 
pintu masuk dari bangunan besar yang kata si sopir, tempat menyimpan 
barang-barang berharga, dari patung Medusa karya Gericault, sampai ke 
maket sebuah museum di Berlin karya Daniel Libeskind yang merupakan 
tonggak bangunan paska-modernisme. Seketika Andy merasa kecil, dan 
menyesali belaka atas impresi yang hendak ia tunjukkan pada tamu yang 
telah mengundangnya ke Wentira ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Siapa sebenarnya dia? Dan daerah apa pula ini?” kata Andy dalam hati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tempat tinggal orang yang mengundangnya 
itu sendiri berupa bangunan dengan facade boleh dikata terdiri hanya 
dari tiga elemen: kaca, besi, dan sesuatu yang serba putih, entah apa 
materinya, ia kurang mengenalinya. Sepintas ia teringat Georges Pompidou
 Centre di Paris. “Semua bentuk ini mengambil primary form. Ia 
mengonsepkan bangunan ini dalam era modernisme,” ucap Andy, lagi-lagi 
hanya dalam hati. Ia mengamati segalanya dengan gumun. Bisiknya, “Benar,
 primary form. Yang ada hanya bentuk kotak-kotak seperti lukisan 
Picasso, serta warna-warna dasar seperti dipakai Mondrian.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pikirannya masih melayang ke mana-mana, ketika dia dikejutkan oleh sambutan tuan rumah yang luar biasa hangat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Sampai juga kan, di sini. Jangan merasa 
sebagai tamu, dan jangan sungkan untuk menunjuk atau melakukan apa saja 
yang Pak Andy suka,” kata si tuan rumah. Di rumah yang seperti “miniatur
 Georges Pompidou Centre’ ini rupanya tinggal keluarga besar. Tuan rumah
 mengenalkan istri, anak, saudara istri, keponakan, dan lain-lain yang 
sulit diingat Andy satu-persatu. Yang jelas, wajah mereka tampan-tampan 
dan cantik-cantik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ia dijamu berbagai makanan, yang katanya 
merupakan makanan khas setempat. Ada sup sumsum sapi yang bernama 
kaledo, minuman yang sangat mengesankan rasanya, disajikan dalam keadaan
 hangat, bernama saraba, dan lain-lain. Belum lagi lobsternya, yang 
terasa tak ada duanya. Benar-benar santapan raja. Berangsur-angsur Andy 
merasa betah. Ada proses sedemikian rupa yang tidak dia pahami, dimana 
dia kemudian merasa seperti di rumah sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pagi hari, seiring sarapan, kepadanya 
disajikan juice buah-buahan seperti wortel, jeruk, yang kesegaran 
buah-buahannya lagi-lagi mengingatkannya ketika dia bersekolah di 
Amerika dan Inggris. Akhirnya, dia tak bertanya-tanya lagi, di mana dia 
ini sebenarnya. Ia hanya tahu, ini Wentira -sebuah daerah ultra modern 
yang untuk sebagian orang barangkali hanya dianggap mimpi. Dia menerima 
Wentira dengan segenap jiwa, menerimanya sebagaimana adanya…&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
DUNIA wadag manusia dan dunia maya entah 
alam mana, gagasan paling scientific dan mimpi, bertaut-taut menjadi 
satu. Para staf dan pegawainya di kantor agak heran setiap kali 
“bos”-nya itu memberi briefing mengenai proyek di Wentira. Tidak seperti
 pada proyek-proyek yang lain, setiap kali bicara mengenai Wentira, si 
bos berubah menjadi pendongeng, dengan dongeng yang memukau. 
Sampai-sampai, staf andalannya, arsitek wanita paling cantik sekantor, 
mengaku terbawa mimpi tentang Wentira.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Pak, saya ingin ikut ke Wentira, menginap di sana,” kata staf tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Hush…,” Andy menukas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sekian waktu kemudian proyek tersebut 
terselesaikan. Ketika ia menyerahkan bangunan yang telah selesai kepada 
pemesannya, sebenarnya Andy masih ditahan untuk tidak meninggalkan 
Wentira. Diam-diam, keluarga besar itu ingin menjodohkan Andy dengan 
putri setempat, salah satu kerabat mereka, yang belum menikah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Dia cantik, seperti bintang film Maggie 
Cheung,” katanya. “Namun saya tidak tertarik, karena wanita semacam itu 
terkesan galak di mata saya. Suka menggampar, menyiram air ke muka 
orang, bahkan seperti dalam film, diceritakan dia hendak membunuh raja. 
Saya tidak suka wanita yang galak. Saya mencari wanita yang romantis…,” 
kenang Andy sambil tertawa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Untung Mas Andy tidak mau dijodohkan di 
situ. Kalau mau, Mas Andy tidak akan pernah kembali ke dunia nyata,” 
komentar orang yang mendengar ceritanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semua orang menganggap, dunia yang 
diceritakan Andy adalah dunia gaib, dunia alam maya yang tidak ada di 
dunia nyata. Sebaliknya, Andy percaya sepenuhnya, bahwa Wentira adalah 
dunia nyata, bahkan sampai “Maggie Cheung” tadi pun benar-benar ada…&lt;/div&gt;
&lt;div class="wpcnt"&gt;
&lt;div class="wpa wpmrec"&gt;
&lt;div class="u"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber: latimojong.wordpress.com&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/08/cerita-misteri-kota-misteri-wentira-palu.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1Ki5-O2jB75yPThBHiUdb0yl_eb0Vzus7l8xgKVaw2zb_MmZpYGfhGskhLnO6u8Jk-CE72NfQFNtpDvJ6Iat1LL9tkslpZHHafmGdHQNHjcHzIWM-xQRvVLzN_F5SHoyeERBxqv6UUy3E/s72-c/wentira.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Palu, Palu City, Central Sulawesi, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.90029149999999991 119.87799870000003</georss:point><georss:box>-1.1543234999999998 119.55527520000004 -0.6462595 120.20072220000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-6997002072304731029</guid><pubDate>Mon, 15 Aug 2016 04:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-08-30T01:44:56.196-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">A Life Story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Budaya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Lucu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucky story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tourism</category><title>Obrolan Santai: Cerita Orang Padang Pergi Ke Palu</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUWNwdH5tD-tFLWxRts9fI24AB8i_Di_BL89qrFfMZQTmaXT9UkdgEdEsK_I8PKi4J4_VfzTZiMtuadwr4ysFkdqHGd9vL0SSREVCLpFnmf08RqMBuMcP27Tmfr9-CASt3GtmNDddhL8_z/s1600/jembatan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUWNwdH5tD-tFLWxRts9fI24AB8i_Di_BL89qrFfMZQTmaXT9UkdgEdEsK_I8PKi4J4_VfzTZiMtuadwr4ysFkdqHGd9vL0SSREVCLpFnmf08RqMBuMcP27Tmfr9-CASt3GtmNDddhL8_z/s400/jembatan.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Tanggal 9, Agustus kami saya berdua dengan istri berangkat dari Padang menuju ke kota Palu. Tujuan pergi ke kota Palu adalah, pertama istri saya dalam melaksanakan tugasnya menyelenggarakan sebuah even pendidikan berskala nasional untuk satu minggu lamanya di bumi Tadulako ini. Kedua, saya ikut serta menemani istri dalam tugasnya di kota ini. Yang ke tiga, kami sekaligus pergi mengunjungi om dan tante kami, orang Padang, yang sudah lama sekali menetap di Palu. Sudah hampir dua puluh tahun lamanya mereka tinggal di Palu, inilah pertama kali kami pergi mengunjungi mereka. Menemui mereka, melihat saudara-saudara kami, yaitu anak-anak mereka sendiri, serta melihat tata cara kehidupan yang mereka jalani di rantau yang jauh dari kampung halaman, kota Padang, Sumatra Barat, melihat mereka hidup berbaur dengan peradaban dan kebudayaan orang-orang Sulawesi, terutama dengan orang-orang suku Kaili yang terkenal&amp;nbsp; dengan keramah tamahan mereka, penduduk asli kota Palu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum berangkat, istri saya bilang bahwa alangkah baiknya kita menyiapkan segala bumbu masakan serta bahan makan secukupnya untuk diolah di rumah tante nantinya. Dan sekaligus sebagai oleh-oleh dari kami untuk mereka, sekedar pelepas rindu mereka kepada masakan kampung halaman. Yah, biasalah, namanya kami adalah orang Padang, Minangkabau, selalu saja merasa superior dalam hal masakan. Kami kawatir kalau nanti masakan di Palu tidak sesuai dengan lidah kami yang sudah biasa dengan sambalado pedas. Maka berdua kami siapkan apalah itu cabe merah, cabe hijau, serta bumbu-bumbu gulai untuk membuat gulai ikan karang kalau sudah sapai di Palu nanti. Semua bahan-bahan masakan itu diolah oleh istri saya dengan digiling tangan, pakai batu giling. Tidak lupa juga kami bawa bawa ikan bilih yang sudah goreng secukupnya saja. Ikan bilih memang terkenal enak di Sumatra Barat. Ikan ini cuma bisa didapat di perairan danau Singkarak, Solok. Ikan ini setelah di goreng enaknya dimakan dengan sambalado. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka pada pukul 19.00, 9 Agustus, kami mendarat di bandara Mutiara SIS Al Jufri, Palu, setelah melalui 8 jam lama perjalanan dari Padang, transit 2 jam di bandara Cengkareng, Jakarta. Keluar dari bandara Palu, kami sudah ditunggu di depan pintu departure oleh om. Pas jumpa dengan si om, dia langsung tanya ke istri saya bagaimana perjalanan tadi, apakah baik dan aman?. istri saya jawab alhamdulilah perjalan tadi baik dan kami sampai dengan selamat. Kemudian istri saya bilang cuma dia merasa capek dan lapar setelah menempuh perjalanan jauh. “Baiklah” jawab si om, segera kami naik mobil dan langsung kami dibawanya ke tempat makan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perjalanan menuju ke rumah makan, itu si tante nelpon si om, tante suruh om bawa kami pergi makan dulu, bawa kami ke warung yang jual ayam bakar, sekalian beli ayam bakar buat anak-anak di rumah, karena di rumah makanan tidak cukup. Mungkin tante takut kalau kami kelaparan nanti. Si om jawab tentu, pasti, karena memang sudah rencana dari tadi mau cari makan. Cuma jalan beberapa menit setelah keluar dari bandara, saya kaget, eh ternyata kami telah sampai di kota. Kemudian si om menjelaskan bahwa memang bandara di Palu letaknya di tengah kota. Oh begitu, jawab saya kepada om. Tidak lama kemudian om memberhentikan mobilnya di sebuah warung ayam bakar. Saya lupa namanya, tapi warung itu sepertinya menjual masakan khas jawa. Dalam pikiran saya wah pasti rasa masakannya manisi, tapi ya sudalah, tidak masalah, perut saya sudah keroncongan, caci didalamnya sudah pada meronta-ronta mintak makan. Akhirnya kami bertiga keluar dari mobil dan langsung masuk ke warung itu yang jual ayam bakar tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Om bicara kepada pelayan warung itu, pesan tiga porsi ayam bakar pake nasi terus tambah 3 ayam bakar bungkus bawa pulang. Kepada saya dan istri si om bilang silahkan pilih minuman sendiri yang tersedia di daftar menu. Pertama saya pilih minuman yang biasa saya, saya minta jus jeruk saja. Seterusnya istri saya maunya minum yang ganjil, atau yang specific dari warung itu. Dilihatnya ada sebuah minuman yang dikasi nama “oplosan”. Dia mintak itu oplosan kepada si pelayan. Wah gawat bilang saya ke dia, “kamu mau cari mati, minum miras oplosan, jauh-jauh datang ke Palu cuma buat minum barang oplosan”. Si om ketawa ngakak melihat saya cemas begitu. “Tidaaak” katanya dengan nada dan dialek orang Sulawesi yang berirama meliuk. Si Om menjelaskan bahwa oplosan itu artinya campur, berati itu adalah minuman es campur. Kalau di Bukittinggi namanya es tebak. Oh begitu, akhirnya saya mengerti. Begitulah kesan pertama saya sampai di kota bumi Tadulako ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih di warung makan ayam bakar itu. Ketiga menu ayam bakar yang tadi diminta si om akhirnya telah terhidang di meja kami. Pertama kali saya melihat ayam bakar itu, warnanya coklat kehitam-hitaman, sepertinya potong daging ayam itu dilumuri oleh kecap yang banyak sehingga terciptalah lapiasan karamel menempel daging ayam bakar tersebut. Tepat sudah dengan dugaan saya tadi waktu baru sampai di depan warung itu. Pasti masakan yang mereka hidangkan ada manis-manisnya. Tidak saya pikirkan lagi, saya tidak mau kompromi dengan lidah saya yang sudah terbiasa makan masakan pedas. Lebih baik saya kompromi dengan cacing di usus saya yang sedari tadi pada ribut minta makan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo makan, tunggu apalagi?” Om mengajak kami menyantap hidangan yang sudah tersaji. Tanpa ragu saya langsung cuci tangan di kobokan dan langsung mencubit potongan daging ayam karamel itu. Sap pas daging ayam itu sampai di mulut saya, tidak disangka teryata lidah ini tidak menolak sama sekali. Memang ada terasa manisnya, tapi pedas juga ada, asam dan asin juga terasa, pokoknya pas mantap terasa, dan mulut dan lidah ini tidak mau berhenti untuk melumat daging ayam karamel tersebut. “Gimana? Ada enak?” tanya si om kepada saya dan istri. “Wah ini enak sekali om” jawab saya. Persis pula sama pendapat istri saya. “Kalau begitu, lebih enak lagi kalau dimakan pake sambal” saran si om kepada kami. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya saya tidak simpatik dengan sambal yang sudah terhidang di depan mata. Karena warna sambal itu tidak semerah dengan sambalado yang biasa saya lihat dan rasakan di kampung. Warnanya merahnya sambal tidak menyala, suram atau padam. Pasti sambal itu tidak pedas menurut saya. Tapi lidah saya memaksa untuk saya makan pake sambal. Dan juga saya lihat si om di sebelah makan sangat lahap sekali dengan sambal itu. Dan juga istri saya duluan mencoba sambal itu. “Gimana sambalnya?” tanya saya kepada istri. “Pedas juga” begitu katanya dengan biasa, seperti meremehkan. Tidak sabar lagi akhirnya saya sendoki sambal itu agak banyak ke piring makan. Karena saya yakin pasti sambal itu tidak akan mampu mengalahkan pedasnya sambalado orang Bukittinggi. Saya colek sambal tersebut, campur dengan nasi dan potongan danging ayam, begitulah cara makannya orang Padang, hap, nasi disuap, langsung masuk ke mulut. Nyam-nyam, lidah dengan enteng, menggerus dan melumat nasi yang berwarna kemerahan karena sambal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wah memang enak dimakan dengan sambal, bilang saya ke si om. Saya terus makan semakin lahap. Maklum selain doyan, saya juga lapar. Sambil makan keringat bercucuran dari kepala ke leher sampai membasahi punggung baju. Wah pedasnya bukan main, sambil makan bibir ini nyosor ke pipet minuman jus jeruk. “Waw, bukan main pedasnya sambal ini om” tukas saya kepada si om. Saya lirik istri saya juga tidak ada obahnya seperti saya. Sebentar-bentar tangan nya menggapai tisu buat menyapu keringat di keningnya. Si om malah makan dengan lahap dan santai. Beda sekali dengan kami yang sudah kewalahan melawan pedasnya sambalnya orang Palu ini. Sembari si om hampir selesai makan, dia malah ketawa melihat kami berdua yang kewalahan, dan sudah basah karena keringat. “Om kenapa pedas sekali sambalado ini om?” tanya saya. “Tentulah pedas, namanya juga sambal cabe rawit” om menjawab sambil menertawakan kami. Mungkin dia mengangap kami lucu. Orang Padang yang baru sekali datang ke Palu, kerepotan memakan pedasnya sambalnya orang Palu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahdalah, gawat, mendengar kata si om bahwa sambal yang saya makan itu adalah sambal cabe rawit. Perut saya langsung ciut dan melintir. Maklum saja saya orang Padang tidak biasa makan rawit. Bisa-bisa nanti setelah makan saya bisa lari bolak balik ke kamar mandi. Apalagi istri saya paling tidak tahan dengan sambal rawit. Nanti pasti saya kerepotan mengurus dirinya yang biasanya rewel dan manja kalau perutnya sedang mulas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wah memang beda jenis sambal cabe rawit yang ada di pulau Sulawesi ini. Warnanya merah tapi tidak terang, alias padam. Kelihatan seperti seakan-akan seperti saos kiloan yang biasa di pake oleh para penjual mie ayam kalau di Padang. Tapi jangan salah. Itu adalah sambal terbuat dari cabe rawit merah. Pedasnya bukan kepalang. Kalau orang Padang seperti saya bisa terbirit-birit lari ke kamar mandi setelah memakannya. begitulah kesan kedua yang saya peroleh pada hari pertama saya menjejakan kami di kota Palu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari cerita ini saya dapat menarik kesimpulan dan pesan Khususnya kepada orang-orangPadang, bahwa kalau anda pergi ke Sulawesi maka bersiaplah lidah anda, lidah anda yang sudah terbiasa dengan cabe merah pedas itu, melawan pedasnya sambal rawitnya orang Sulawesi yang jauh lebih pedas dari pada yang anda bayangkan. (Lucky Lukmansyah)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Palu. 15 Agustus 2016&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Photo: mulhanan.blogspot.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/08/obrolan-santai-cerita-orang-padang.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUWNwdH5tD-tFLWxRts9fI24AB8i_Di_BL89qrFfMZQTmaXT9UkdgEdEsK_I8PKi4J4_VfzTZiMtuadwr4ysFkdqHGd9vL0SSREVCLpFnmf08RqMBuMcP27Tmfr9-CASt3GtmNDddhL8_z/s72-c/jembatan.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total><georss:featurename>Palu, Palu City, Central Sulawesi, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.90029149999999991 119.87799870000003</georss:point><georss:box>-1.1543234999999998 119.55527520000004 -0.6462595 120.20072220000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-1753395031948791287</guid><pubDate>Sat, 06 Aug 2016 04:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-08-05T22:13:00.173-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Budaya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Minangkabau</category><title>Ringkasan Tambo Alam Minangkabau</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg367OPRBTZZP1597d2cwXQiCHuqVO6r9oTocpw_x48Zcb6BK9Ju3RKYRMD67TDdD4Kzsbz8Wpv2DwUfMKvzmEcQ5qrsdK9vR179Dr8S067t1oRoAT3wzvUx9fidF7g6wyovw0DQHDBEtad/s1600/danau-singkarak_haeckel.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg367OPRBTZZP1597d2cwXQiCHuqVO6r9oTocpw_x48Zcb6BK9Ju3RKYRMD67TDdD4Kzsbz8Wpv2DwUfMKvzmEcQ5qrsdK9vR179Dr8S067t1oRoAT3wzvUx9fidF7g6wyovw0DQHDBEtad/s400/danau-singkarak_haeckel.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Tambo Alam Minangkabau&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Ditulis oleh Ibrahim Dt. Sangguno Dirajo&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Dewasa
 ini sangat minim sekali informasi mengenai adat yang kita dapati, 
seringkali kita mendengar Tambo alam Minangkabau, tapi kita tidak 
seperti apa isi tambo itu sebenarnya. Begitu juga dengan adat 
Minangkabau seperti apa adat tersebut. Mulai dari tulisan ini kami dari 
admin akan memuat tulisan dari Ibrahim Dt. Sangguno Dirajo dalam bukunya
 Curaian Adat Minangkabau. Serta ucapan terimakasih kepada penerbit 
Kristal Multimedia Bukittinggi yang telah berkenan memberi ijin untuk 
menyadur isi buku tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sedikit tentang penulis Ibrahim 
dilahirkan di sungayang Sumatera Barat pada tahun 1858. Pendidikan 
dimulai di Sekolah Government di Batusangkar, tamat tahun 1868. Pada 
tahun 1870 beliau menjadi juru tulis Tuanku Titah di Sungai Tarab. 
Tuangku ini ahli dibidang adat Minangkabau. Maka saat itu beliau 
tertarik dan memperdalam pengetahuan dibidang Adat Minangkabau sehingga 
beliau diangkat menjadi Penghulu Andiko pada tahun 1913 dengan gelar 
datuak Sangguno Dirajo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;I. Pulau Andalas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut bunyi 
Tambo Alam Minangkabau, adapun orang yang pertama datang mendiami pulau 
andalas adalah ninik kita Sri Maharaja Diraja namanya. Beliau datang 
datang kemari dari tanah besar Voor Indie, tanah Rum kata orang tua tua,
 dan beliau kesini bersama dengan ke enambelas orang laki laki perempuan
 dari kasta Cateri. Selain itu dibawanya juga Kucing Hitam, Harimau 
Campo, Kambing Hutan dan Anjing Muk Alam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dikatakan Kucing Hitam, 
Harimau Campo dan lain lainnya itu, sekali kali bukanlah bangsa 
binatang, tetapi manusia biasa juga. Mereka dijuluki dengan nama nama 
seperti itu sesuai dengan tingkah laku dan perangai mereka. Semuanya 
perempuan dan dipelihara oleh ninik Maharaja diraja seperti memelihara 
anaknya sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ninik Sri Maharaja Diraja berlayar dari tanah besar 
itu dengan sebuah perahu kayu jati. Mula mula mereka berlayar melalui 
pulau Jawa yang saat itu belum terlihat tanah pulau Jawa itu. Yang 
tampak hanya puncak gunung Serang dan dipulau itu perahu beliau 
tertumpuk batu karang sehingga mengalami kerusakan dan tidak 
bisamelanjutkan perjalanan. Pada saat itu menitahlah ninik Sri Maharaja 
Diraja kepada mereka yang berada diatas kapal itu “Barangsiapa yang 
dapat memperbaiki kapal ini seperti sediakala, akan hamba ambil sebagai 
menantu”&lt;br /&gt;
Mendengar titah itu beb erapa cerdik pandai segera 
berunding, mencari akal agar dapat memperbaiki perahu itu. Maka dengan 
karunia Allah, maka lima orang tukang segera bekerja dan kapal itu dapat
 diperbaiki kembali. Sri Maharaja merasa senang dan suka hati serta 
memuji kepandaian para tukang tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian perjalanan 
dilanjutkan sampai pada suatu kektika mereka melihat sebuah gosong 
tersembunyi di dalam laut. Tergilang gilang kelihatan dari jauh kira 
kira sebesar telur ayam, hilang timbuldilamun ombak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah sampai 
disitu kiranya ada tanah lebar dengan datarannya, berlabuhlah ninik Sri 
Maharaja Diraja diatas gosong itu. Gosong itu adalah puncak gunung 
merapi yang sekarang ini. Disanalah berdiam ninik Sri Maharaja Diraja 
bersama dengan para pengikutnya. Itulah ninik kita yang mula mula 
mendiami pulau Andalas ini, hingga menjadi juga oleh yang tua tua dengan
 memakai pantun ibarat :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dimana mulanya terbit pelita&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dibalik tanglun nan berapi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dimana mulanya ninik kita&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ialah di puncak gunung Merapi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata orang yang menceritakan, takkala ninik Sri Maharaja Diraja 
berada di puncak gunung Merapi itu beliau berdo’ a supaya disusutkan air
 laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan karunia Tuhan air laut semakin hari semakin susut juga 
dan bertambah lebar tanah daratan sehingga nyatalah tempat tempat itu 
adanya diatas gunung yang sangat besar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kata sahibulhikayat, takkala 
beliau masih berdiam dipuncak gunung itu, dengan takdir Tuhan orang 
orang yang bernama Kucing hitam, Harimau campo, Kambing hutan dan Anjing
 Muk Alam masing masing melahirkan seorang anak perempuan. Begitu pula 
istri Ninik Sri Maharaja Diraja melahirkan seorang anak perempuan pula. 
Sekalian semua anak itu dipelihara oleh ninik Sri Maharaja Diraja dengan
 kasih sayang yang tiada dibedakan. Kemudian kelak setelah anak anak itu
 besar, mereka dinikahkan dengan 5 tukang yang memperbaiki kapal tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;II. Galundi Nan Bersela dan Guguk Ampang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Setelah
 beberapa lama mereka berdiam dipuncak gunung itu, air laut sudah 
berangsur susut juga dan bertambah besar juga tanah daratan, maka 
sekalian orang itu berpindah kesebuah lekung dipinggang gunung Merapi 
itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh Sri Maharaja Diraja tempat itu diberi nama Labuhan 
Sitembaga. Disitulah pada masa dahulu ada Sirengkak nan Berdengkang. 
Disitu pulauntuk pertama kalinya orang menggali sumur untuk tempat mandi
 dan tempat mengambil air minum, karena disekitar tidak ada air tawar, 
yang ada hanya air laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selanjutnya mereka membuat sepiring sawah 
bernama sawah setampang benih. Disebut setampang benih karena dengan 
padi yang setampang itu sudah mencukupiuntuk makan orang disaat itu, 
karena mereka belumbanyak. Padi itu pula menjadi asal padi yang ada 
sekarang. Sepanjang cerita orang tua tua.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lama kelamaan tumbuh pula 
Galundi nan Bersela, air laut bertambah susut juga dan daratan bertambah
 luas, maka Cateri Bilang Pandai mencari tanah yang lebih baik untuk 
mereka huni.&lt;br /&gt;
Ditemukan sebuah guguk disebelah kanan dari Galundi nan 
Bersela tadi, dan sekalian orang yang berada di Galundi berpindah ke 
ketempat baru itu. Tempat itu diberi nama oleh ninik Sri Maharaja Diraja
 serta Cateri Bilang Pandai dengan nama Guguk Ampang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;III. Nagari Pariangan dan Padang Panjang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tidak
 berapa lama antaranya, orang orang yang menetap di Guguk Ampang 
berpindah pula dengan membuat setumpak tanah yang datar di baruh Guguk 
Ampang itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanah disini lebih baik daripada tanah di Ampang Gadang. 
Mereka pun berbondong bondong membuat tempat tinggal ditempat yang baru 
ini dan oleh ninik Sri Maharaja Diraja beserta Cateri Bilang Pandai 
tempat ini diberi nama Perhurungan. Guguk Ampang tadi pada saat ini 
bernama kampung Guguk Atas. Lama kelamaan orangpun bertambah kembang 
juga, dan kampung Perhurungan bertambah maju. Orang semakin hari semakin
 riang pula.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Atas prakasa ninik Sri Maharaja Diraja beserta cerdik 
pandai masa itu, dibuat semacam permainan anak negeri seperti Pencak 
Silat, Tari Payung dan bermacam peralatan untuk gung dan talempong, 
gendang, serunai rabab, kecapi dan lain lain sehingga menjadikan orang 
bertambah riang juga disetiap waktu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suasana masyarakat yang selalu 
dalam keadaan riang itu, menimbulkan keinginan dari ninik Sri Maharaja 
Diraja dan Cateri Bilang Pandai untuk menganti nama kampung menjadi 
Pariangan.&lt;br /&gt;
Kemudian karena bertambah kembang juga, seorang hulubalang
 ninik Sri Maharaja Diraja pergi membuat tempat tinggal dekat sebuah 
batu besar disuatu tanah disebelah kanan pariangan. Karena tempat itu 
baik pula, berdatangan orang pariangan membuat tempat tinggal disitu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lama
 kelamaan tempat itu menjadi sebuah kampung yang ramai pula. Oleh Cateri
 Bilang Pandai kampung itu diberi nama Padang Panjang. Sebab yang 
pertama sekali menemukan daerah itu adalah hulubalang yang menyandang 
gelar Pedang nan Panjang. Kampung Pariangan dan Padang Panjang semakin 
hari semakin ramai, dan kedua kampung ini dibawah hukum ninik Sri 
Maharaja Diraja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada suatu hari bermusyawarahlah segala isi kampung 
Pariangan dan Padang Panjang untuk mendirikan sebuah Balairung tempat 
raja duduk menghukum (memerintah) beserta orang besar lainnya Datuk Suri
 Diraja, Cateri Bilang Pandai yang bernama Indra Jati. Balairung itu 
didirikan didalam kampung Pariangan, dihiasi dengan lapik lalang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ruangan
 hanya sebuah saja sehingga sampai saat ini disebut orang Balai Saruang.
 Disitulah tempat ninik Sri Maharaja Diraja dan orang orang besarnya 
menghukumwaktu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;IV. Penghulu Pertama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Lama pula 
antaranya orangpun bertambah ramai pula. Pada suatu hari bermusyawarah 
pula ninik Sri Maharaja Diraja dengan Datuk Suri Diraja dan Cateri 
Bilang Pandai, serta segala orang banyak dari kampung Pariangan dan 
Padang Panjang di Balai Saruang tadi.&lt;br /&gt;
Musyawarah itu adalah untuk memilih orang yang akan menjadi yang memerintah dan menghukum dibawah raja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun orang yang akan ditanam jadi ketua adalah orang yang akan menjadi penghulu orang banyak itu, dengan fungsi antara lain :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kusuk yang akan menyelesaikan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keruh yang akan menjernihkan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sesat yang akan menghimbau&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terluncur yang akan menghelakan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah orang yang akan memimpin orang banyak, dibawah ninik Sri Maharaja Diraja.&lt;br /&gt;
Didalam
 permusyawaratan itu dicapai kata sepakat yakni akan menanam dua orang 
ketua, seorang di Pariangan dan seorang di Padang Panjang. Hasil 
kesepakatan itu dikembalikanke kepada ninik Sri Maharaja diraja dan 
beliau menyetujui.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada kesempatan itu Datuk Suri Diraja bertitah 
“Berbahagialah kamu sekalian, telah sama sama sepakat untuk menanam dua 
orang ketua yang akan menjadi penghulu oleh kamu sekalian. Apa nama 
pangilan dan apa nama pangkatnya bagi keduanya ?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mendengar titah 
Datuk Suri Diraja itu, tidak ada yang dapat menjawab sebab belum ada 
kata mupakat tentang itu. Sekalian orang banyak itu memohon kepada ninik
 Sri Maharaja Diraja untuk kembali bermusyawarah untuk menetapkan apa 
nama panggilan dan pangkat bagi keduanya tadi.&lt;br /&gt;
Tetapi setelah 
beberapa saat lamanya mereka duduk timbang menimbang, hasilnya nihil 
sama sekali. Akhirnya sekalian orang banyak itu memulangkan kata kepada 
ninik Sri Maharaja Diraja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Telah puas kami bersama sama mencari nama
 pangkat dan nama pangilan bagi ketua kami, namun tidak dapat oleh kami,
 melainkan sebuah kata ketua saja. Oleh sebab itu kami serahkan saja 
kepada Tuanku semua, apa yang baik bagi Tuanku, kami akan menurut saja.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah
 itu bertitahlah ninik Sri Maharaja Diraja kepada sekalian orang banyak 
itu : “Adapun orang akan kita jadikan ketua itu tentulah akan dipilih 
dari kita yang hadir disini, yaitu orang yang lebih pandai dan baik 
tingkah lakunya. Sebab orang itu, pergi tempat kita bertanya, pulang 
tempat kita beberita. Orang itulah yang akan memelihara buruk baiknya 
kita sekalian, tempat kita mengadukan segala hal yang baik dan buruk. Orang itu yang akan menimbang mudharat danmanfaat diatas kita sekalian serta menghukum barang sesuatunya buruk dan baik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh
 sebab itu sepanjang pendapat hamba, patutlah kita muliakan benar orang 
itu dengan semulia mulianya daripada kita yang banyak ini. Kita tuakan 
orang itu dengan kata mupakat bersama dan tuanya kita samakan dengan 
orangtua ninik mamak kita yaitu ‘datuk’ namanya. Dengan demikian 
kepadanya kita panggil Datuk meskipun umurnya lebih muda daripada kita.&lt;br /&gt;
Kita
 wajib menghormatinya, apa titahnya kita junjung, apa perintahnya kita 
turut, agar sentosa kita dari marabahaya selama hidup didunia ini. 
Jikalau kita tidak bertindak dan tiada turut menurut, niscaya tiadalah 
kita mendapat keselamatan”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mendengar penitahan ninik Sri Maharaja 
Diraja itu, senanglah hati sekalian orang banyak itu. Panggilan Datuk 
sampai sekarang tidak berubah. Itulah asal mulanya maka segala penghulu 
itu dipanggil Datuk dan disebut orang juga ninik mamak, ninik daripada 
mamaknya orang banyak. Setelah putus kata mupakat, diadakan helat jamu 
di kampung Pariangan dan Padang Panjang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada masa itu ditetapkan 
kedua penghulu tadi seorang di Pariangan bergelar Datuk Bandaharo Kayo 
dan seorang lagi di Padang Panjang bergelar Datuk Maharaja Besar. Itulah
 penghulu pertama yang ada dipulau andalas ini, yang disebut juga pulau 
Perca.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun Datuk Suri Diraja bukanlah penghulu yang diangkat 
orang, beliau diberi nama seperti itu hanya karena beliau berkarib 
dengan raja. Beliau dipanggil datuk karena tuanya saja, dan lagi beliau 
adalah orang cerdik pandai, lubuk akal lautan budi, tempat orang berguru
 dan bertanya pada waktu itu di Pariangan Padang Panjang, serta menjadi 
guru oleh ninik Sri Maharaja Diraja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan bertambah ramainya orang 
di Pariangan dan Padang Panjang, oleh ninik Sri Maharaja Diraja dengan 
mupakat segala isi kampung diberi nama Nagari Parangan Padang Panjang. 
Sampai saat ini nama itu tidak pernah dirubah orang dan itulah nagari 
tertua di pulau Andalas ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari pernikahan ninik Sri Maharaja 
Diraja dengan adik datuk Suri Diraja yang bernama Tuan Putri Indah 
Jalia, lahirlah seorang yang bernama Sutan Paduka Besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;V. Sungai Tarab Nagari Tua&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Seiring
 dengan perkembangan waktu, masyarakat di Nagari Pariangan bertambah 
ramai juga, sedang nagari itu tidak begitu luas sehingga sudah penuh 
sesak oleh orang banyak. Maka bermusyawarahlah ninik Sri Maharaja Diraja
 dengan segala orang besarnya untuk memindahkan sebagian orang kedaerah 
baru.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah bulat mupakat, mendakilah ninik Sri Maharaja Diraja ke 
puncak gunung merapi hendak melihat dimana tanah yang baik dan subur 
akan tempat memindahkan orang orang itu. Setibanya beliau dipuncak 
gunung merapi, memandanglah beliau kesegala arah. Pandang jauh 
dilayangkan pandangan dekat di tukikkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kelihatan oleh beliau 
setumpuk tanah tanah gosong yang ditumbuhi rimba di baruh gunung kearah 
selatan yang kelihatannya tanahnya berpasir. Gosong gosong itu adalah 
puncak puncak bukit yang tersembur dari permukaan laut waktu itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah
 itu beliau kembali turun, dan bersama sama dengan Cateri Bilang Pandai 
beliau pergi melihat tanah itudengan berlayar. Pelayaran beliau itu 
hanya menepi gunung merapi saja dan akhirnya beliau sampai ditepi 
pantai, lalu berlabuh dan langsung memeriksa tanah tadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Didapati oleh beliau tanah itu lebih luas dari Pariangan Padang Panjang dan nampaknya lebih baik dan lebuh subur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Disebelah
 mudik tanah itu ada pula sebidang padang pasi yang amat luas yang 
sangat baik untuk tempat orang bermain dan bergembira.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah ada 
keyakinan bagi ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai, lalu 
keduanya kembali ke Pariangan Padang Panjang untuk menjeput orang orang 
yang akan mendiami tempat tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beliau membawa tujuh karib bai’id
 beliau laki laki dan perempuan, begitupun Cateri bilang pandai membawa 
pula enam belas orang, yaitu delapan pasang suami istri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah 
mereka tiba ditanah tadi, mereka mulai membuka ladang, berladang 
mencencang melateh, membuat teratak ditempat itu. Lama kelamaan teratak 
menjadi sebuah dusun bernama dusun Gantang Tolan dan dusun Binuang Sati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian
 dusun itu bertambah lama bertambah ramai pula. Maka dibuat orang pula 
dipinggir dusun itu sebuah koto tempat berkampung, berumah tangga. Dari 
koto itulah orang orang berulang ulang keladangnya yang didusun tadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semakin
 lama didalam koto tadi orang semakin bertambah ramai juga, lalu koto 
itupun dijadikan nagari, diberi nama nagari Bunga Setangkai. Kenapa 
bunga setangkai, sebab sewaktu ninik Sri Maharaja Diraja sampai disitu 
beliau mendapatkan setangkai bunga yang sangat harum baunya, dan dibawah
 bunga itu ada pula sebuah batu luas dan datar. Panjangnya tujuh tapak 
ninik Sri Maharaja Diraja, batu itu diberi nama oleh beliau “Batu Tujuh 
Tapak” Sampai sekarang batu itu masih ada didalam nagari Bunga 
Setangkai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun padang pasir yang di mudik nagari Bunga Setangkai, 
lama-kelamaan ditumbuhi oleh kayu-kayuan, sehingga kemudian menjadi 
rimba yang berkampung kampung. Pada akhirnya daerah itu menjadi koto, 
lalu menjadi nangari yang diberi nama Pasia Laweh, takluk kepada nagari 
Bunga Setangkai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Didalam nagari Bunga Setangkai dibuat orang sebuah 
balairung tempat ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai 
menghukum. Dekat balairung itulah ninik Sri Maharaja Diraja membuat 
istana tempatdiam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian keluarlah sebuah mata air dibawah sebuah 
pohon yang bernama tarab dihalaman istana ninik Sri Maharaja Diraja. Air
 yang keluar sangat jernih dansejuk serta besar sehingga menjadi suatu 
anak sungai, oleh sebab itu Cateri Bilang Pandai memberi nama Sungai 
Tarab.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karena Sungai itu sangat termasyhur nama Bunga Setangkai 
dilupakan orang sehingga nagari itu berubah nama jadi nagari Sungai 
Tarab.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Didalam nagari Sungai Tarab ditanam orang delapan orang 
penghulu yang diambil dari dalam kaum orang yang delapan pasang, yang 
mula mula mencencang melateh nagari tersebut. Penghulu yang delapan itu 
memerintah orang dalam nagari Sungai Tarab dan menguasai masing masing 
kaumnya. Penhulu itu bernama “Datuk nan Delapan Batur” Yakni delapan 
batu kedudukan dahulu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian setiap penghulu itu membuat pula 
sebuah balairung sehingga disebut orang pula delapan balai kedudukan 
Datuk Nan Delapan Batu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Delapan balai kemudian menajdi delapan suku 
yang terbagi atas 2 kampung. Satu kampung di mudik (Sungai Tarab) dengan
 lima balai dan satu lagi di hilir dengan 3 balai sehingga kampung ini 
disebut TigaBatur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah berkoto, bernagari dan berpenghulu yang 
akan memelihara orang didalam Sungai Tarab, ninik Sri Maharaja diraja 
merasa senang sekali dan beliau beserta Cateri Bilang Pandai kembali 
lagi ke Pariangan Padang Panjang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Meninggalnya Ninik Sri Maharaja Diraja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ninik
 Sri Maharaja Diraja meninggal di Pariangan Padang Panjang, yaitu 
beberapa lalu kemudian setelah beliau kembali dari Sungai Tarab. 
Sepeninggal beliau jabatan raja di pariangan Padang Panjang tidak ada 
karena beliau tidak mempunyai waris. Posisi beliau dijabat oleh karib 
beliau yang ada di Sungai Tarab. Adapun yang memerintah di Pariangan 
Padang Panjang sepeninggal ninik Sri Maharaja Diraja adalah Datuk 
Bandaharo Kayo, Datuk Maharaja Besar, Datuk Suri Diraja, Cateri Bilang 
Pandai dan Cateri Rino Sudah. Sedangkan yang memerintah di Sungai Tarab 
dipegang oleh Datuk Delapan Batur, dibantu oleh Cateri Bilang Pandai 
mewakili karib ninik Sri Maharaja yang belom dewasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Tuan Putri Jamilan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Setelah
 beberapa lama ninik Sri Maharaja Diraja meninggal dunia, Tuan Putri 
Indah Jalia janda beliau kawin dengan Indra Jati yang bergelar Cateri 
Bilang Pandai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari perkawinan itu beliau berputra enam orang, dua 
orang laki laki, pertama bernama Sutan Balun dan yang kedua bernama 
Sikalab Dunia dan empat orang perempuan bernama: Putri Reno Sudi, Putri 
Reno Mandi, Putri Reno Judah dan si bungsu Puteri Jamilan. Tuan Putri 
Jamilan ini kawin dengan karib ninik Sri Maharaja Diraja yang menjadi 
raja di Sungai Tarab itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;VI. Datuk Katumanggungan, Datuk Perpatih nan Sabatang, dan Datuk Sri Maharaja Nan Banaga Naga.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut
 bunyi Tambo Alam Minangkabau dan curaian orang tua tua, setelah dewasa 
anak ninik Sri Maharaja Diraja yang bernama Sutan Paduka Besar dan anak 
anak Cateri Bilang Pandai bernama Sutan Balun dan Sikalab Dunia, atas 
kesepakatan anak nagari Pariangan Padang Panjang dan anak nagari Sungai 
Tarab, diangkat menjadi penghulu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sutan Paduka Besar bergelar datuak 
Katumanggungan, Sutan Balun bergelar Datuak Parapatiah Nan Sabatang, dan
 Sikalab Dunia bergelar Datuak Sri Maharaja nan Banaga naga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beliau 
beliau itulah penghulu ninik kita, yang sangat cerdik pandai, lubuk akal
 lautan budi, lagi keramat ketiganya. Meliau bertiga menata adat lembaga
 untuk kita orang Alam Minangkabau.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kata ahli adat, setelah Sutan 
Balun diangkat jadi penghulu, beliau pergi berlayar keluar Pariangan 
Padang Panjang, hendak pergi tamasya ke pulau Langgapuri(Serindip 
Cylon).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam perjalanan kembali pulang, ditengah lautan beliau 
mendapat sebatang kayu yang berisi lengkap didalamnya segala perkakas 
untuk pertukangan seperti kapak, lading, pahat dan perpatih. Oleh sebab 
itu dia digelari Datuk Perpatih Nan sabatang Kayu, kemudian ditetapkan 
dengan Datuk Perpatih Nan Sabatang saja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun kayu yang berisi alat
 perkakas ditemukannya itu berasal dari peninggalan nabi Nuh. Perkakas 
itu diletakkan orang dalam lobang sebuah pohon kayu dan hanyut ke laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan
 karunia Allah kayu itulah yang didapatkan oleh Datuk Parapatiah Nan 
Sabatang. Benar atau tidaknya cerita ini wallahu ‘alam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Diceritakan 
kembali, sesudah ninik yang bertigaitu diangkat orang jadi penghulu, 
semenjak itulah beliau berusaha mencari ikhtiar memperbaiki nagari dan 
memperluas jajahan di tanah Alam Minangkabau serta berusaha membuat 
bermacam macam aturan adat lembaga yang akan dipakai orang didalam 
Nagari yang telah beliau dirikan itu, untuk penjaga kesentosaan dan 
keselamatan orang yang berada didalam nangari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adat lembaga yang 
beliau tinggalkan menjadi pegangan bagi masyarakat Minangkabau sampai 
sekarang, adat lembaga itu amat baik dan sempurna aturannya, tidak dapat
 disanggah oleh jauhari pun, mempunyai akal budi yang sempurna. Bila ada
 orang yang merubah atau merusak warisan beliau itu, tak dapat tidak 
pastilah mendatangkan kesusahan dan kerugian besar bagi dirinya serta 
bagi segala orang di dalam nagari sampai kepada anak cucunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;VII. Nagari Limo Kaum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kata
 ahli adat, pada suatu ketika ninik Parapatiah nan Sabatang bersama lima
 pasang suami istri berlayar keluar dari nagari Pariangan Padang Panjang
 menuju tanah lapang yang ditumbuhi rimba berkampung kampung. Di situ 
kelima pasang tadi mencencang melateh membuat ladang dan dusun tua. 
Disitu ninik Parapatiah Nan Sabatang membuat rumah dibawah kayu bodi 
nago taram, kemudian dibuatnya pula sebuah balai di dusun tua itu yang 
berparit dan berpagar batu.&lt;br /&gt;
Sebab itu balai tadi dinamakan balai batu, lalu dibuat pula sebuah kubu dibaruh dusun tua tadi, yang dinamai kubu raja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lama
 kelamaan berkembang pula orang yang lima pasang tadi. Karena orang 
sudah ramai dibuat pula lima buah kampung seedaran dusun tadi, yang 
bernama kampung Balai Batu, Kampung Kubu Rajo, Kampung Belah Labuh, 
Kampung Dusun Tua(Kota Gadis) dan Kampung Kampai (Piliang). Kelima 
kampung ini akhirnya dinamakan Kampung Lima Kaum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian menyusul 
pula dua belas pasang suami istri dari Pariangan Padang Panjang yang 
dipimpin oleh seorang Penghulu yang bergelar Datuk Tan Tejo Maharaja Nan
 Gadang. Penghulung badanya besar dan panjang kira kira sepuluh hasta 
panjangnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sampai sekarang masih ada kubur beliau di kampung Pariangan, yang dikenal juga dengan kubur Datuk Tan Tejo Gurahana.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka
 sampai di nagari yang bernama Jambu sekarang ini dan tidak dapat 
melanjutkan perjalanannya ke nagari Limo Kaum karena tidak ada jalan 
kesana. Lalu berkata Datuk Tan Tejo kepada orang yang dibawanya itu, 
katanya : “Kaniaklah (Kemarilah) kita berbalik” lalu surutlah mereka 
kembali sampai kesebuah dusun yang mereka beri nama Keniak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rupanya 
yang dimaksud dengan “ka niak” oleh datuk Tan Tejo tadi adalah kampung 
tabek sekarang ini. Disitu mereka berladang dan membuat taratak. Datuk 
Tan Tejo membuat sebuat tebat besar, lalu dibuat orang pula setumpak 
sawah dekat tebatnya itu dan di mudik sawah itu dibuat pula sebuah 
taratak, lama kelamaan taratak menjadi dusun dan dusun menjadi kampung 
pula, yang bernama kampung sawah tanah. Akhirnya kedua belas pasang itu 
terbagi dua. Sebagian tinggal bersama beliau dikampung Tebat dan 
sebagian lagi menetao dikampung Sawah Tangah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lama kelamaan 
berkembang pula orang dikampung Tabek dan kampungSawah Tangah itu. Datuk
 Tan Tejo mendirikan sebuah balai dikampung Tabek yang tonggaknya dari 
teras jilatang dan parannya dari akar lundang, sedang tabudnya dibuat 
dari batang pulut pulut, yang digetang dengan jangat tuma dan gendangnya
 dari padang seliguri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Itulah keganjilan yang dibuat oleh Datuk Tan 
Tejo Maharaja Nan Gadang. Sampai kini tonggak jilatang dan gendang 
saliguri masih ada dikampung Tabek dan kampung Sawah Tangah. Selanjutnya
 karena telah berkembang kampung Tabek dan kampung Sawah Tangah 
dijadikan orang menjadi sebuah nagari yang bernama Nagari Tabek Sawah 
Tangah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh karena Nagari Tabek Sawah Tangah itu menjadi ramai dan 
sesak pula, mamak pecahan orang orang yang dua belas tadi pergi 
berladang merambah rimba kecil di kepala dusun tua tempat ninik 
Parapatiah Nan Sabatang tadi, tempat itu dinamai orang Parambahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari
 parambahan itu dibuat sebuah labuh arah ke kubu raja, tetapi mereka 
tidak berhasil karena karena terlalu susah, jalan mendaki dan menurun 
serta berbelok belok. Dan labuh itu diberi nama Taratak labuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karena
 telah menjadi ramai pulang orang di taratak labuh, Parambahan dan Tabek
 Sawah Tangah merekapun semakin berkembang dantelah menbuat 12 koto 
disekitar nagari limo kaum. Kedua belas koto itu menurut penitahan ninik
 Parapatiah Nan Sabatang, yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Labuah&lt;br /&gt;
2. Parambahan&lt;br /&gt;
3. Silebuk&lt;br /&gt;
4. Ampalu&lt;br /&gt;
5. cubadak&lt;br /&gt;
6. Sianyang&lt;br /&gt;
7. Rambatan&lt;br /&gt;
8. Padang Magek&lt;br /&gt;
9. Ngungun&lt;br /&gt;
10. Panti&lt;br /&gt;
11. Pabaluran&lt;br /&gt;
12. Sawah jauh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lama
 kelamaan koto nan duabelas ini ramai pula. Oleh ninik Parapatiah nan 
Sabatang ke dua belas koto ini sampai ke Tabek Tangah sawah dijadikan 
satu dengan orang yang berada di Limo Kaum dengan nama Limo Kaum dua 
Belas Koto. Kemudian dipecah lagi menjadi Limo Kaum Dua Belas Koto dan 
Sembilam Koto Didalam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun koto yang sembilan itu ialah dua-dua 
satu bilang : Tabek Bata dan Sela Goanda; Beringin dan Koto baranjak; 
Lantai Batu dan Bukit Gombak; Sungai Tanjung dan Barulak serta Raja 
Dani.&lt;br /&gt;
Oleh Ninik Parapatiah Nan Sabatang masyarakat nagari Lima Kaum 
yang Dua Belas Koto itu sampai ke Tabek Sawah Tangah diberi pula satu 
pucuk pimpinan yaitu Penghulu dengan gelar Datuk Bendahara Kuning, 
berkedudukan di kubu raja Lima Kaum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah teratur nagari Limo Kaum
 Dua Belas Koto itu, maka senanglah Hati Ninik Parapatiah nan Sabatang 
dan beliau kembali ke Pariangan Padang Panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;VIII. NAGARI SUNGAYANG&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kata
 orang yang menceritakan, tidak berapa lama kemudian ninik Parapatiah 
nan Sabatang berlayar pula membawa tujuh pasang suami istri. Mereka 
sampai pada suatu tanah menanjung kedalam sungai. Karena tanah itu baik 
dan subur, mereka menetap disana dan berladang membuat taratak. Tempat 
itu beliau beri nama Pangkal Bumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian menyusul pula duapuluh 
tiga pasang suami istri dari Pariangan Padang Panjang yang ingin mencari
 penghidupan disana karena di Pariangan sudah penuh sesak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka 
menetap di daerah antara Pangkalan Bumi dan Sungai Tarap. Mereka bersama
 sama dengan yang tujuh pasang suami istri berladang dan membuat 
taratak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tempat mereka menambatkan perahu atau (jung) nya, dinamakan 
“Tembatan Ajung”, lalu disingkat menjadi tabek Ajung. Sedangkan Pangkal 
bumi berubah nama jadi Ujung Tanah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lama kelamanaan berkembang pula 
orang orang yang di Taratak dan di lading padi tadi, taratak itu menjadi
 dusun yang ramai, lalu dibuat orang dua buah koto dipinggir taratak 
itu, yang bernama Tanjung dan Sungai Mangiang, sebab mata air yang 
mengalir disana kerapkali jadi mangiang (pelangi) dan dari kedua koto 
itulah orang pulang pergi ke taratak dan ladangnya masing masing.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hingga
 kini disitu masih adatempat yang bernama taratak dan lading.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian
 sesuai dengan perkembangan manusia, koto itu dijadikan orang nagari, 
oleh ninik Parapatiah Nan Sabatang nagari itu diberi namaTanjung 
Sungayang Nan Batujuah., karena yang menetap di Nagari itu adalah orang 
yang dua puluh tiga pasang ditambah tujuh pasang tadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keturunan 
mereka sampai kini masih ada di nagari itu. Itulah orang yang berhutan 
tinggi dan berhutan rendah dan mereka ada berpangkat sepanjang adat di 
dalam Nagari itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kata ahli adat, sesudah sumur digali nagari 
nagaridicecak dalam nagari Sungai Tarab, Lima Kaum dan Tanjung 
Sungayang, dan di setiap nagari itu orang sudah begitu ramai, maka 
bermupakatlah Datuk Katumanggugan, Datuk Parapatiah Nan Sabatang, Datuk 
Ssri Maharaja nan banaga naga hendak mencari tanah yang baik untuk 
memindahkan orang nagari tersebut. Setelah putus mupakat, beliau bertiga
 berlayar bertiga menjalani teluk dan rantau.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah tampak tanah 
tanah yang dianggap baik ketiganya kembali lagi. Lalu dengan tiga buah 
perahu, setiap perahu memuat lima puluh orang laki laki dan perempuan, 
mereka menuju ketempat tempat yang sudah dilihat tadi. Disetiap tempat 
itu beliau tempatkan sepasang, lima pasang, ada yang enam dan delapan 
pasang tergantung dengan besar kecilnya tanah yang akan didiami itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lama
 kelamaan orang orang itupun berkembang pula dan tempat orang orang itu 
dari taratak menjadi dusun, dusun menjadi koto, dan kemudian menjadi 
nagari. Demikianlah caranya ninik moyang kita dalam memperluas daerahnya
 di pulau perca ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh karena asal orang orang itu dari nagari 
Sungai Tarab, Lima Kaum, Tanjung Sungayang dalam Tambo Alam Minangkabau 
nagari yang tiga ini disebut nagari tertua di alam Minangkabau ini.&lt;br /&gt;
Setelah
 selesai menempatkan orang orang didaerah yang baru itu, maka kembalilah
 ketiga ninik tadi ke Pariangan Padang Panjang. Mereka mulai bekerja 
membuat ketetapan hukum yang akan dipakai disetiap nagari yang baru 
tadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah itu mereka memohon kepada bapak beliau yang bernama 
Indra Jati bergelar Cateri Bilang Pandai untuk pergi memeriksa keadaan 
orang orang di nagari yang baru itu dan sekaligus menetapkan penghulunya
 masing masing.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Permintaan anak anaknya dipenuhi oleh Cateri Bilang 
Pandai. Berangkatlah beliau ke nagari nagari yang baru itu dan disetiap 
nagari diangkat seorang penghulu untuk setiap kaumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penghulu 
inilah “kusut yang akan menyelesaikan, keruh yang akan menjernihkan” 
serta memelihara orang orang itu dari hal hal yang buruk dan baik dengan
 mendirikan pusaka Alam Minangkabau.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Barangsiapa yang diangkat 
menjadi penghulu diwajibkan terlebih dahulu mengisi adat menuai lembaga 
kepada segala orang yang ada didalam nagari itulah yang mengendangkan 
jadi penghulu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Begitu juga barang siapa yang akan menjadi raja, wajib
 pula mengisi adat menuang lembaga kepada isi alam takluk jajahannya, 
memberi makan-minuman orang orang yang datang diwaktu raja dinobatkan 
serta memotong kerbau dan sapi seberapa cukupnya. Selain itu raja itu 
wajib mengeluarkan emas nan sesukat seulang aling, nan sekundi kundi, 
sepating setali bajak namanya sebagai pengisi adat kepada penghulu dan 
orang orang yang patut. Sebab orang orang itulah yang merajakannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karena
 banyaknya penghulu yang diangkat, banyak pula gelar penghulu ditiap 
tiap suku atau nagari, namun gelar itu tidak boleh sama. Kalau ada yang 
sama itu namanya sudah dibelah (dipecah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;IX. Luhak nan Tigo, Laras Nan Duo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada
 suatu ketika ninik yang bertiga ini naik pula ke puncak gunung merapi. 
Disana beliau menemukan tiga buah akar yang berjurai jurai. Sejurai 
menghadap kearah timur, Sejurai jatuh kebarat dan sejurai lagi jatuh ke 
utara. Maka memandanglah beliau kearah timur nampak rimba berkampung 
kampung.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ditepi rimba itu sudah diisi oleh orang, begitu juga ketika 
beliau memandang kearah barat dan utara, banyak pula tanah yang sudah 
dihuni orang. Sedangkan disebelah selatan kelihatan puncak puncak gunung
 yang tersembur dari dalam laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka mupakatlah ketiga ninik itu 
untuk turun melihat tanah dan keadaan orang yang sudah didiami itu. 
Ninik Katumangguangan berjalan ke arah barat, Ninik Parapatiah Nan 
Sabatang berjalan kearah timur, dan Ninik Sri Maharaja berjalan kearah 
utara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sekembalinya dari nagari nagari itu beliau kembali lagi dan 
bertemu di Pariangan Padang Panjang lalu ninik bertiga menceritakan 
pengamatan yang sudah dilakukan di daerah itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Diceritakan oleh Ninik
 Parapatiah Nan Sabatang tanah berbukit bukit dan berlurah lurah, airnya
 jernih ikannya jinak dan buminya dingin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Diceritakan pula oleh ninik
 Katumanggungan tanah yang disebelah barat gunung merapi airnya keruh 
ikannya liar, buminya hangat dan orangnya keras hati, suka bermusuh 
musuhan dan selalu berkelahi pada masing masing kaum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh ninik Sri 
Maharaja Nan Banaga Naga diceritakan bahwa bahwa tanah sebelah utara 
gunung airnya manis ikannya jinak, buminya tawar dan dulu orang yang 
ditempatkan sebanyak lima puluh orang telah berkurang lima pasang, 
hilang dipadang ribu ribu tampa tahu kemana perginyaorang itu.&lt;br /&gt;
Kemudian
 bermupakatlah ninik yang bertiga menceritakan itu kepada mamaknya datuk
 Suri diraja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh datuk Suri diraja diberi nama :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
-Luhak Tanah Datar untuk tanah yang sebelah timur gunung merapi yaitu tanah yang dijalani ninik Parapatiah nan Sabatang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
-Luhak Agam untuk daerah yang dijalani oleh ninik Katamanggungan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
-Luhak Limapuluh untuk daerah yang dijalani oleh ninik Sri Maharaja nan Banaga Naga.&lt;br /&gt;
Itulah
 asalnya maka alam Minangkabau ini terbagi atas tiga luhak. Masing 
masing luhak ini diperintah oleh ninik yang bertiga tadi. Selanjutnya 
oleh datuk Datuk Katamanggungan dan Datuk Parapatiah Nan Sabatang ketiga
 luhak dibagi jadi dua kelarasan, yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
-Laras Koto Piliang, Pemerintahan Datuk Katumanggungan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
-Laras Bodi Caniago, Pemerintahan Datuk Parapatiah nan Sabatang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nagari
 nagari yang masuk kedalam laras koto Piliang adalah : Tanjung Gadang 
Mudik sampai Laut nan Sedidih, gunung merapi hilir, keliling gunung 
semuanya, sedangkan yang masuk bodi caniago adalah daerah Mudik hingga 
Padang Tarab Hilir.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meskipun sudah dibagi, disetiap nagari itu selalu
 menyela orang yang dua kelarasan itu tetapi yang paling banyak adalah 
kelarasan koto piliang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perbedaan jumlah pengikut ini mengakibatkan 
terjadinya perselisihan antara datu Katumanggungan dan datuk Parapatiah 
nan Sabatang. Perselisihan kedua orang besar itu tidak dapat didamaikan 
oleh isi Alam Minangkabau karena keduanya sama sama keras.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selanjutnya
 terjadilah peperangan yang akhirnya dimenangkan oleh laras koto piliang
 karena jumlah mereka lebih banyak dibandingkan pengikut kelarasan bodi 
caniago.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada masa itu berdirilah pusaka perang, siapa yang kalah 
harus mengisi penampun abu, bila tidak ada yang menang atau seri hanya 
berjabat tangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan kalahnya laras Bodi Chaniago, maka ia mengisi
 penampun abu kepada laras Koto Piliang dibayar dengan enam ekor kuda 
oleh datuk datuk lima kaum dua belas koto dan tiga ekor kuda putih dari 
datuk nagari nan tiga, yaitu oleh datuk Nagari Tanjung Sungayang dan 
Tanjung Gadang, semua kuda diberi bertali cindai, dibawa kedelapan batur
 yakni nagari Sungai Tarab.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut cerita orang tua, kekalahan laras
 Bodi Chaniago membuat datuk Parapatiah Nan Sabatang merasa sakit hati. 
Beliau berniat hendak membunuh datuk Katumangguangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada suatu 
malam beliau menjarah ke dalam nagari Sungai Tarab mencari Datuk 
Katumangguangan namum tidak bertemu. Dengan perasaan marah dan kecewa 
itu maka ditikamnya lah satu batu besar dikampung Kurimbang Batu Halang 
dengan kerisnya yang bernama Ganja Erak sehingga batu itu tembus.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lalu
 dihentakkan lagi dengan tongkat besinya sehingga tembus pula. Batu yang
 ditikam itu sampai kini masih terdapat di tepi sawah di Ulak Kampung 
Budi yang tidak seberapa jauh dari Kampung Kurimbang Batu Halang. Begitu
 juga dengan batu yang ditikam di Lima Kaum sampai sekarang masih ada 
dikampung Balai Batu. Kedua batu dinamakan orang Batu Batikam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nagari
 Pariangan Padang Panjang tidak termasuk kepada nagari yang dibagi 
menjadi dua kelarasan. Sebab nagari itu adalah nagari tertua dalam Alam 
Minangkabau. Sehingga masyarakat disana mempunyai satu kelarasan yang 
diberi nama oleh ninik yang berdua Laras Nan Panjang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nagari yang 
termasuk kedalam laras Nan Panjang adalah sehiliran batang Bengkawas 
sampai ke Guguk sikaladi Hilir, terus ke bukit tembesi bertupang mudik. 
Oleh orang orang tua laras Nan Panjang itu disebutkan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pisang sikelat-kelat hutan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pisang tembatu bergetah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Koto piliang dia bukan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bodi Chaniago dia entah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Datuk Katumangguangan memenangkan peperangan itu, beliau
 memberi nama nagari Lima Kaum dua belas koto itu dengan nama Gadjah 
Gadang Patah Gadingnya, dan nagari Tanjuang Sungayang beliau namakan 
Tanjung Sungayang nan bertujuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nagari tempat beliau menetap diberi 
nama Sungai Tarab Darussalam. Pemberian nama nama baru itu sangat 
menyakitkan hati Datuk Parapatiah Nan Sabatang. Begitulah yang 
dicceritakan oleh orang orang tua, benar tidaknya wallahu’alam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Permupakatan
 antara Datuk Katumangguangan, datuak Parapatiah nan Sabatang dan Datuk 
Sri Maharaja nan Banaga naga tentang menetapkan hukum setta cupak 
gantang yang akan dipakai dalam luhak nan tiga laras nan dua adalah 
sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cupak yang dipakai gantang yang dipicahan kepada 
setiap luhak di dalam laras nan dua adalah cupak yang dua belas tail 
isisnya, dan gantang yang kurang dua puluh lima tail genap isinya, serta
 emas yang enam belas emas berat timbangannya, yang se emas empat 
kupang, sekupang enam kundi merah, hitam bagian tampuknya. Setali tiga 
uang, yang seuang satu kundi, yang seteang setenganh kundi, itulah yang 
dipalut kata mupakat ninik yang bertiga tadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meskipun sudah ada 
kesepakatan selalu ada perbedaan pendapat diantara ninik yang bertiga 
itu. Misalanya menurut pendapat datuak Katumangguangan setias orang yang
 terpidana wajib bersumpah baginya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namum oleh datuk Parapatiah nan 
sabatang sumpah itu tidaklah perlu, karena semua itu adalah anak cucu 
kita juga. Oleh datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga perbedaan itu tidak 
satupun disetujui maka pada waktu itu tidak tercapai kata sepakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan
 takdir Allah, maka keluarlah seekor ular dari laut. Ular itu menangkap 
salah seorang anak datuk Katumangguangan dan dibawanya ke banir kayu 
jati. Maka gemparlah orang pada masa itu, ninik yang bertiga kehilangan 
akal karena anak telah di lilit ular.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bertanya Datuk Katumangguangan kepada ninik yang berdua “apa akal kita untuk mengambil anak itu ?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menyahut
 Datuk Parapatiah Nan Sabatang”Habis budi hamba melihat anak kita itu, 
jika dibunuh ular itu maka niscaya matilah anak kita. Berkatalah datu 
Sri Maharaja nan Banaga Naga: “Menurut pendapat hamba, kita ambil 
ranting jawi-jawi, kita lontarkan kepada banir kayu itu, supaya ular itu
 lari.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka dibuat orang lah sebagaimana yang dikatakan Datuk Sri 
Maharaja nan Banaga naga itu, lalu ranting jawi jawi itu dilontarkan 
orang sekuat kuatnya kepada banir kayu tempat ular tadi. Ular itu 
terkejut lalu lari meninggalkan anak Datuk Katumangguangan dengan tiada 
kurang satu apapun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan kejadian itu Datuk Katumangguangan dan 
Datuk Parapatiah nan Sabatang bertambah segan kepada datuk Sri Maharaja 
nan Banaga Naga karena ketajaman akalnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ular yang dipalut tidak mati&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pamalu tiada patah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanah yang dipalu tiada lembang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Datuk yang berdua menyadari akibat yang timbul apabila mereka terus 
berbantah bantahan, karena selalu berbeda pendapat dalam menetapkan 
suatu hukum yang akan dipakai dalam masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka sepakat bahwa hukum itu harus di uji dan dibanding, setiap tandingannya dipakai pada tempatnya masing masing.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun hukum yang akan dipakai di luhak nan tiga, laras nan dua terus ke Batang Rantau, ada tiga&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
perkara :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Hukum kitabullah&lt;br /&gt;
2. Hukum ijtihat&lt;br /&gt;
3. hukum serta saksi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah
 putus mupakat itu, maka menghadaplah ninik yang bertiga itu kepada 
Daulat yang dipertuan Agung ninik Sri Maharaja diraja untuk menyatakan 
hukum itu. Sebelum hukum itu diberlakukan ketiga ninik diminta untuk 
bersumpah bahwa hukum itu akan dipakai terus turun temurun dan tidak 
boleh diubah ubah selamanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah itu berjalanlah Daulat yang 
dipertuan Agung keluhak dan laras, kesetiap nagari untuk memasyarakatkan
 hukum yang sudah ditetapkan itu. Ditanam kayu nan sabatang disetiap 
nagari untuk tempat mempertaruhkan hukum yang adil, syarak yang 
dilazimkan dan adat yang kawi.&lt;br /&gt;
Yang dimaksud kayu nan sabatang itu 
adalah orang orang sebagai penghulu atau kadhi atau orang orang besar 
yang akan menghukum didalam tiap tiap nagari, sebagai wakil raja bila 
raja berhalangan, atau sebagai raja apabila dinagari itu tidak ada raja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan
 demikian penghulu yang dijadikan pucuk atau kepala suku, kepala payung 
dan kadhi didalam suatu nangari, bukan saja sebagai kepala kaumnya 
masing masing, tetapi berfungsi juga sebagai raja yang akan memegang 
kata, memegang hukum yang sudah ditetapkan oleh kerapatan penghulu 
penghulu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;X. Pulau Perca disebut Alam Minangkabau.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kata 
ahli adat setelah Datuk Katumangguangan dan datuak Parapatiah nan 
Sabatang mendirikan luhak nan tiga dan membagi laras nan dua yaitu koto 
Piliang dan Bodi Chaniago.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kira kira 5 tahun kemudian, datanglah 
seorang nakhoda dari laut membawa seekor kerbau panjang tanduk serta 
runcing. Ia menetap di bukit Gombak dan memandikan kerbaunya disungai 
emas. Perahu nakhoda itu ditambatkan di kaki bukit Patah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sewaktu 
bertemu dengan kedua ninik Datuk Katumangguangan dan Datuk Parapatiah 
nan Sabatang, ia menantang beliau untuk bertaruh mengadu kerbau, jikalau
 kalah kerbau kami, miliki oleh datuk segala isi perahu kami.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tantangan nakhoda itu diterima oleh ninik yang berdua orang besar besar: “Baiklah, tetapi beri janji kami selama tujuh hari.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam
 tujuh hari bemupakatlah isi luhak nan tiga laras nan dua, lalu dicari 
se ekor anak kerbau yang sedang kuat menyusu. Dibuat orang topang besi 
bercabang sembilan dan runcing ujungnya. Besi serampang itu bernama 
minang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah sampai tujuh hari, maka semalam-malam hari yang 
ketujuh anak kerbau tidak dicampur dengan induknya. Setelah hari pagi, 
tupang besi tadi dipasang di mulut anak kerbau tadi, lalu dibawa 
ketengah medan yang sudah dihiasi sebagai tempat pertarungan kedua kedua
 kerbau itu yakni di balai Sidusun. Semua orang laki perempuan tumpah 
ruah ke medan itu, begitu juga segala isi perahu dan nakhoda tadi keluar
 membawa kerbau besarnya itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah tiba ditengah medan itu, kedua 
kerbau itu dilepas orang. Sebentar itu juga anak kerbau yang sudah 
kelaparan berlari kekerbau besaryang dikiranya sebagai induknya untuk 
menyusu.&lt;br /&gt;
Sekali saja anak kerbau itu menyusu, maka larilah kerbau besar itu, keluar perutnya berjurai jurai, lalu matilah kerbau itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melihat
 kerbaunya sudah mati, nakhoda tadi pergi ke laut dan pulang ke 
negerinya. Mungkin karena sangat malunya, sangkar ayam tertinggal ditepi
 sungai, dekat medan mengadu kerbau tadi. Ditempat itu sekarang ada 
sebuah kampung bernama kampung “Sangkayan”, yang asalnya dari sangkar 
ayam nakhoda itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sesudah mengadu kerbau itu bermupakatlah segala 
orang luhak nan tiga laras nan dua memberi nama pulau perca ini dengan 
nama alam Minangkabau, sampai sekarang tidak berubah rubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cateri Reno sudah, menerka kayu tataran naga pihak. Menurut
 bunyi Tambo alam minangkabau, tidak berapa lama setelah mengadu kerbau 
tadi nakhoda itu kembali lagi dengan membawa kayu tataran naga pihak, 
dimana ujung dan pangkalnya sama besar, sulit ditebak mana ujung mana 
pangkalnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dia pun menetapkan bukit gombak, lalu ia masuk kedalam nagari Lima Kaum dan bertemu dengan datu Suri Diraja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ia
 mengajak datuk Suri di Raja berteka teki dengan taruhan limapuluh kati 
emas. Oleh datuk Suri diraja teka teki itu diterima dengan syarat harus 
dilaksanakan ditengah medan.&lt;br /&gt;
Lalu datuk Suri Diraja menghimpun segala
 orang yang patut patut, ia pun berkata ” Timbang olehmu akan kayu itu 
ditengahnya. Mana yang berat itulah pangkalnya dan yang ringan itulah 
ujungnya”.&lt;br /&gt;
Setelah sampai waktunya, maka berdatanganlah segala orang 
besar besar dan patut patut ke medan yang baik itu, yaitu Dusun Tua 
namanya. Begitu juga segala isi nagari laki laki perempuan datang 
bersama sama ke medan itu. Setelah cukup semuanya, bertanya Cateri Reno 
kepada nakhoda itu :&lt;br /&gt;
“Apa maksud tuan datang kemari ?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sahut nakhoda itu :&lt;br /&gt;
“Kami
 sengaja datang kemari karena kami dengar disini banyak orang cerdik 
pandai. Segala orang itulah yang hendak kami jelang. Jika Datuk suka, 
cobalah datuk terka akan kayu kami ini, mana ujung dan mana pangkalnya.”
 Sambil mengeluarkan kayu yangia bawa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Apabila terterka oleh kami, apa yang akan menjadi hukumnya?” tanya Cateri Reno.&lt;br /&gt;
Dijawab oleh nakhoda “Miliki oleh Datuk segala isi perahu kami.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah
 taruhan ditampin, maka kayu tataran naga pihak itu diambil oleh Cateri 
Reno sudah. Tepat ditengah tengah kayu itu di ikatnya dengan tali yang 
halus dan kuat. Setelah itu ujung tali pengikat itu diangkatnya keatas, 
kelihatan oleh orang banyak kayu itu berat sebelah. Lalu diterkalah oleh
 Cateri Reno menunjukkan kepada nakhoda itu, katanya “yang berat itu 
adalah pangkalnya dan yang ringan adalh ujung kayu itu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nakhoda itu 
sangat malu atas kekalahannya ini ditinggalkan segala taruhan tadi dan 
iapun kembali kelaut pulang ke negerinya. Sungai Mas tempat ia 
menambatkan perahunya diberi nama Kepala Padang Ganting.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sepeninggal 
nakhoda tadi, taruhan tadi dibagi oleh orang luhak nan tiga laras nan 
dua, sebagian kepariangan Padang Panjang, dan sebagian lagi dibagi tiga,
 sebagian tinggal di lima kaum, sebagian di Sungai Tarab dan sebagian 
lagi untuk Tanjung Sungayang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cateri Reno Sudah Menerka Dua Ekor Burung Yang Serupa&lt;br /&gt;
Tidak
 puas dengan kekalahannya itu, nakhoda kapal balik lagi ke pulau perca 
dengan membawa dua ekor burung, satu jantan dan lainnya betina. Kedua 
ekor itu sama rupa bulunya, sama besarnya dan bunyinya pun serupa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nakhoda
 menetap di nagari Tanjung Sungayang dan perahunya ditanbatkannya di 
Pangkal Bumi disitu pula bertemu kembali dengan Cateri Reno Sudah. Pada 
kesempatan itu ia kembali mengajak berteka teki.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cateri Reno Sudah 
menanyakan apa lagi yang akan diterkanya, dan dijawab oleh nakhoda itu 
yaitu menerka kedua ekor burung yang dibawanya.&lt;br /&gt;
Ada dua ekor burung yang sama rupa dan bangunnya. Terkalah oleh Datuk mana yang jantan dan mana yang betina.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menyahut
 Cateri Reno Sudah : “Kalau begitu kata tuan , teka teki ini kami 
terima, tetapi harus dilakukan ditengah medan agar dapat disaksikan oleh
 orang banyak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syarat itu diterima oleh nakhoda tadi dan merekapun 
menetapkan perjanjian kapan teka teki itu dilaksanakan. Sementara itu 
pergilah orang besar besar dan patut patut menghadap kepada Datuk Suri 
Diraja dan menceritakan hal itu. Datuk Suri Diraja berkata :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
” Beri 
makan kedua burung itu pada satu tempat, mana yang cepat makannya dan 
kuat, tandanya burung jantan, sedangkan yang lemah adalah burung 
betina.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah tiba waktunya, maka berhinpunlah segala orang di 
medan yang sudah dihiasi yaitu balai gadang namanya terletak diantara 
Tanjung dan Sungayang. Setelah itu bertanya lagi Cateri Reno Sudah 
kepada Nakhoda tadi: Apakah kehendak tuan datang ke negeri kami ini?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sahut nakhoda itu: Saya membawa dua ekor burung, cobalah terka oleh datuk mana yang burung jantan mana yang betina”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah itu Cateri Reno Sudah mengambil kedua burung itu, lalu diberinya makan pada suatu tempat yang sempit.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kedua
 burung itupun berebut makan sampai berdesak desakan, edar mengedar dan 
tendang menendang. Tidak lama setelah itu terlihat salah satu keletihan,
 dan oleh Cateri Reno Sudah ditunjuknya sebagai burung betina dan yang 
masih kuat ditunjuk sebagai burung Jantan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka kalahlah nakhoda itu 
sehingga tiada termakan nasi olehnya, setelah itudiambilnya kedua burung
 tadi, lalu dikurungnya dan dibawanya kembali ke dalam perahunya. Dari 
sana ia bertolak dan perahu itu ditinggalkan ditepi bukit, dan dia 
dengan segala anak buahnya pergi menuju ke kampung Minangkabau yaitu 
kekaki bukit batu patah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Disana mereka bersumpah untuk tidak kembali 
lagi ke pulau perca ini, karena orang disini banyak yang pintar cerdik 
pandai. Setelah itu ia pulang kenegerinya dan tidak pernah muncul lagi 
ke alam Minangkabau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;XI. Adityawarman Datang ke Pulau Perca&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut
 kata ahli adat, pada masa itu datang orang berlayar dari laut menepat 
ke nagari Pariangan Padang Panjang, lalu ke galundi nan bersela sela dan
 bertemu dengan datuk yang bertiga yakni Datuk Katumangguangan, datuak 
Parapatiah nan Sabatang dan Datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga. Orang 
yang datang itu dimuliakan oleh datuk yang bertiga itu dengan patutnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka
 datang beramai ramai dalam satu kapal lengkap dengan hamba sahayanya 
(bangsa sekawak), yang menjadi orangsuruhan oleh kepala kapal itu, 
bernama Adityawarman bergelar Sri Paduka Berhala.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Disaat itu timbul 
perbantahan diantara ninik yang bertiga mengenai Adityawarman. Datuak 
Katumangguangan mengatakan bahwa dia adalah Raja, sedangkan menurut 
Datuk Parapatiah nan Sabatang orang itu bukan raja melainkan manti saja,
 dan menurut Datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga orang itu hanya seorang 
utusan raja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akhirnya datuk yang berdua menurut kepada apa yang 
dikatakan Datuk Katumangguangan karena beliau berniat akan mengambil 
orang itu sebagai semendanya, akan suami dari adiknya yang bernama Tuan 
Putri Reno Mandi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rencana Datuk Katumangguangan itu diterima oleh 
Adityawarman, hingga bulatlah perundingan masa itu dikawinkanlah 
Adityawarman dengan Tuan Putri Reno Mandi menurut sepanjang adat yang 
patut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semenjak itu Adityawarman yang bergelar Sri PadukaBerhala itu 
dianggap oleh orang Pariangan Padang Panjang seperti rajanya. Sungguhpun
 ia datang dari tanah jawa, tetapi asal usulnya ia datang dari 
hindustan, keturunan raja juga. Dia dan teman temannya itu berdiam di 
Pariangan Padang Panjang menurut adat lembaga orang dalam nagari itu, 
menetap selamanya sebagai bumi putera disana.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kelak anak cucu 
Adityawarman yang menjawat waris Datuk Katumangguangan, Datuk Parapatiah
 nan Sabatang, Datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga dan Datuk Suri Diraja.&lt;br /&gt;
Menurut
 Tambo adat alam Minangkabau, asal orang Minangkabau yang telah 
berkembang biak diseluruh pulau andalas (tanah Alam Minangkabau) itu 
ialah :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pertama sekali yang datang adalah Ninik Sri Maharaja Diraja, 
dengan menbawa orang Kasta Cateri menepat diatas puncak gunung merapi, 
semasa alun baralun bumi akan bersentak turun. Langit akan bersentak 
naik. Pada masa baru laut semata mata tanah pulau andalas ini, yang ada 
baru puncak gunung merapi yang ada tanah daratannya. Keturunan bangsa 
Cateri ini yang terbilang cerdik pandai. Mereka suka berkelompok sesama 
kasta Cateri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selanjutnya datang bangsa Hindustan yang datang bersama
 Adityawarman. Kesukaannya berkumpul sehindu hindu atau sesama bangsa 
hindustan saja. Termasuk juga bangsa sekawak yang ikut dengan rombongan 
Adityawarman, yang menjadi orang hamba sahaya. Bangsa sekawak ini 
semenjak datang jadi hamba sahaya orang turun temurun yang disebut juga 
budak, atau istilah adatnya kemenakan bawah lutut dari tuannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka dapat diperjual belikan, dijadikan hadiah dan persembahan kepada orang besar besar, untuk pembayar hutang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dikatakan
 bangsa kasta Cateri tadi adalah asal raja raja dan orang cerdik pandai,
 dan orang orang bangsa hindustan itu bangsa penghulu besar batuah di 
dalam tiap tiap nagari. Pada saat itu kedua keturunan itu tidak dapat 
lagi dibedakan karena sudah lama bercampur baur menjadi satu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kedua 
keturunan ini sudah tarik menarik, semenda menyemenda dan sama sama 
berpenghulu kedua belah pihak, yang adatnya tiada berkurang sedikit 
juga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kedua bangsa itulah yang dikatakan orang baik turun temurun 
diseluruh minagkabau ini, yang teratur adat lembaganya oleh ninik yang 
bertiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;XII. Amanat Ninik Yang Bertiga&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Amanat Datuk Suri Diraja&lt;br /&gt;
Berkata Datuk Suri Diraja kepada segenap pwnghulu dan orang orang patut di Pariangan Padang Panjang&lt;br /&gt;
Dengarlah ibarat kata hamba oleh segala penghulu dan orang yang mempunyai bicara:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sutan Kayo di Koto alam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kayu mati diperumahannya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika engkau kaya didalam alam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akan mati juga kesudahannya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berbuak kayu di Koto Alam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Buahnya tindih bertindih&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika engkau bertuah didalam alam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hanya tuah itu silih berganti&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kayu Pantai di Koto Alam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pantainya sandi basandi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika engkau pandai didalam alam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Patah tumbuh hilang berganti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikirkanlah sungguh sungguh oleh segala yang mempunyai bicara akan ibarat kata hamba itu.&lt;br /&gt;
Selanjutnya
 disaat Datuk Suri Diraja akan meninggal beliau berkata kepada segala 
raja raja dan segala penghulu dari laras koto piliang dan laras bodi 
chaniago :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Adapun kita segala yang disungkup langit, yang ditanahi 
bumi lalu ke mekah dan medinah sekalian, sedikitpun tiada yang lebih dan
 kurangnya. Jika dikatakan lebih ada kekurangannya, dikatakan kurang ada
 kelebihannya, dikatakan tinggi ada rendahnya dikatakan rendah ada 
tingginya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika dikatakan raja lebih tinggi dan orang besar besar itu
 ada kelebihannya, terlalu rendah pada bathinnya karena barang siapa 
yang hendak menjadi raja atau orang besar besar itu, hanya mengisi adat 
menuang lembaga kepada alam, kepada setiap luhak atau laras atau nagari,
 itulah rendahnya. Oleh sebab itu janganlah engkau berdengki dengkian, 
karena malu belum dibagi oleh ninik Datuk Katumangguangan dan Datuk 
Parapatiah nan Sabatang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meskipunsawah ladang, emas perak, segala 
ternak dan pakaian juga dibagi, demikian pula didalam laras Koto Piliang
 dan Bodi chaniago, jika tanah sudah berkabung, padi sudah bergantang, 
jarum sudah terbentuk seorang, hanya malu yang belum dibagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh 
sebab itu janganlah engkau bercerai berai sepeninggal kami. Payung yang 
mempunyai kerajaan adalah Datuk Katumangguangan. Jika berang laras Bodi 
Caniago kepada larasnya, mengadunya ke laras Koto Piliang, begitu pula 
sebaliknya, itulah sumpah ninik moyang berdua, yang tiada lapuk oleh 
hujan tiada lekang oleh panas, digali dalam digantung tinggi, itulah 
mulanya jadi persemandanan laras Koto Piliang dan laras Bodi chaniago.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagi
 laras Bodi Chaniago, penghulunya oleh yang sekata, tuahnya karena 
mupakat, celakanya oleh bersilang, apabiladapat kerja semupakat, jadilah
 barang kerjanya, barang ke mana mana, maksudnyapun sampai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun 
laras Koto Piliang orang beraja: apabila hendak menyusun larasnya 
berkirim surat kepada Datuk Pamuncak Alam di Sungai Tarab, Datuk Indomo 
di Saruaso dan tuan Khadi di Padang Ganting diatas daulat yang 
dipertuan. Maka barang apa apa kerjanya pun jadi berkat pekerjaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pamuncak alam di Sungai Tarab&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Payung panji di Saruaso&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suluah bendang di Padang Ganting&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cermin cina di Singkarak Saningbakar&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Harimau Campo di Batipuah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tangkai alam di Pariangan Padang Panjang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pasak kungkung di Sungai Jambu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja besar di Bukit Batu Patah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika berkata dengan orang yang tahu, lebih bak santan dengan 
tanguli, dan berkata dengan orang yang tidak tahu, lebih bak antan 
pencungkil duri. Oleh sebab itu baik baiklah engkau mencari salak silik,
 baik baiklah engkau mencari kata pusaka, supaya selamat kamu dialam 
ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Amanat datuak Katumangguangan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Disampaikan saat beliau akan meninggal dunia didepan segala penghulu dan orang orang besar dalam laras Koto Piliang:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sekali
 kali hindarkan perceraian dengan orang laras bodi Chaniago, karena 
merekalah yang mengisi cukai adat lembaga kepada kita. Merekalah yang 
mendirikan kerajaan kita, dan kalau dihiasinya akan tempat kita duduk. 
Payung ubur ubur itu milik orang laras Bodi chaniago, maka dari itu 
janganlah kamu bercerai sepeninggal kami berdua.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
baik baiklah engkau 
memelihara isi alam, isi nagari, segala anak kemenakan, pikir benar 
sungguh sungguh supaya kalian jangan kena sumpah ninik moyang. Berbuatlah
 seperti lauttiada penuh oleh air, seperti bumi tiada penuh oleh tumbuh 
tumbuhan. Apabila kalian jadi penghulu dalam laras Koto Piliang 
janganlah memakan menghabiskan, jangan menebang merebahkan, jangan 
mencencang memutuskan, karena bicara tiada sekali dapat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jadikan nabi
 Allah jadi suri teladan. Kasih kalian kepada isi alam sebagai kasih 
nabi kepada umatnya. Hati adalah palinggam Allah, teraju palinggam mata,
 sebab itu peliharalah lidahmu dengan baik, begitu pula kaki dan 
mulutmu. Jika tertarung panyambahan badan tanggungannya, mulut emas 
padahannya, tertarung kaki inai padahannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Memutih padi orangdi Kamang, melekang panas sehari, berbelok belok alang samat, ranting berbelok kepangkalnya. Berdentung gegar dilaut, merentang rupanya kilat, kalang kambut rupanya langit, berputar rupanya angin timur. Pikir jualah sungguh sungguh, lemak liuk kayu akar kelimpang, itulah patut bicara.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Datuk
 Katumangguangan meninggal di koto Ranah yakni di Kampung Minangkabau 
sampai sekarang kuburan beliau masih ada disana dikenal dengan kubur 
yang dipertuan yang bersusu empat.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Amanat Datuak Parapatiah Nan Sabatang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pesan
 ini disampaikan kepada penghulu yang berempat dan yang berlima sekota, 
serta orang orang cerdik pandai dan orang orang bertuah dalam laras Bodi
 Caniago, beliau berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Rasanya umurnya hamba tidak akan lama 
lagi, hamba hendak pergi ke Solok Selayo, entah kembali entah tidak, 
oleh sebab itu hendaklah pegang pitaruh hamba oleh segala penghulu dan 
orang cerdik pandai :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pertama hendaklah kalian kasih kepada nagari, 
kepada isi nagari, kepada orang orang kaya, kepada orang orang bertuan, 
kepada tukang, kepadan segala penghulu, kepada orang yang mempunyai 
bicara meskipun ia kanak kanak sekalipun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apabila dia mempunyai 
bicara, ikuti olehmu karena ia itulah tangkai nagari dan tangkai alam 
janganlah kalian ubahi sepeninggal hamba supaya selamat apa apa yang 
kalian kerjakan.&lt;br /&gt;
Malu orang kepada kalian yang mempunyai bicara ada enam perkara :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Kuat melawan kepada yang benar.&lt;br /&gt;
2. Kuat membelanjakan kepada segala yang baik.&lt;br /&gt;
3. Memperbaiki parit pagar keliling nagari&lt;br /&gt;
4. Kuat mengusahakan pekerjaan&lt;br /&gt;
5. Tahu kepada yang benar&lt;br /&gt;
6. Kuat menyelesaikan yang kusut dalam nagari dantahu dengan basa basi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila
 terpakai niscaya jadilah kalian panglimabesar dalam nagari, menjadi 
ikutan segala isi alam dan luhak, dan kalian lah penghulu pilihan dalam 
alam ini.&lt;br /&gt;
Kata empat yang dipakai :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Janganlah berdengki dengkian&lt;br /&gt;
2. Jangan hina menghinakan&lt;br /&gt;
3. Jangan bertolong tolongan kepada maksiat&lt;br /&gt;
4. Jangan menghasut orang dalam nagari untuk berkelahi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jagalah dua belas perkara yang akan dipakai :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Kuat memberi makan isi nagari&lt;br /&gt;
2. Benci kepada segala kejahatan&lt;br /&gt;
3. Banyak harta&lt;br /&gt;
4. Banyak ilmu pengetahuan yang baik&lt;br /&gt;
5. Berhati baik kepada orang banyak&lt;br /&gt;
6. Giat berusaha&lt;br /&gt;
7. menerima umpat puji dengan lapang dada&lt;br /&gt;
8. Kasih sayang kepada orang teraniaya&lt;br /&gt;
9. Pandai berbicara&lt;br /&gt;
10. Pasihat lidah&lt;br /&gt;
11. Tahu kepada yang benar&lt;br /&gt;
12. Ingat ingat pada kata kias&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah
 beramanat itu Datruak Parapatiah Nan Sabatang berjalan ke negeri 
Malaka, berdiam dinegeri Sembilan dan beliau meninggal di Negeri 
Sembilan itu. Sepanjang cerita orang kuburan beliau masih ada disana 
yang oleh orang Negeri Sembilan dinamakan Kuburan Patih.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Masyarakat 
di negeri sembilan itu beradat seperti kita orang alam Minangkabau juga,
 berpusaka kepada kemenangan menurut aturan Ninik Parapatiah nan 
Sabatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disadur oleh : Dewis Natra&lt;br /&gt;
Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau&lt;br /&gt;
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi&lt;br /&gt;
Sumber : &lt;a href="http://rofara.blogspot.co.id/"&gt;rofara.blogspot.co.id&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/08/ringkasan-tambo-alam-minangkabau.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg367OPRBTZZP1597d2cwXQiCHuqVO6r9oTocpw_x48Zcb6BK9Ju3RKYRMD67TDdD4Kzsbz8Wpv2DwUfMKvzmEcQ5qrsdK9vR179Dr8S067t1oRoAT3wzvUx9fidF7g6wyovw0DQHDBEtad/s72-c/danau-singkarak_haeckel.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-1905634374952455008</guid><pubDate>Sun, 31 Jul 2016 05:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-07-30T22:52:29.451-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Budaya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerita Misteri</category><title>Ilmu Palasik di Minangkabau (Palasik Kuduang)</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfHjeiOR9vFcNLjeFz2kzHeFM0I1OMI6xzDUtelGt6c68w9wdTAAsJGVJy7fcT1GGX_ilZIJo-vwICMIqOUAoU-Q4Zd8Kb4MEg1UvwVO0liDILfZwUotRaixDjO3XIlNbRLOAigYVOKhuk/s1600/hantu+palasik2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfHjeiOR9vFcNLjeFz2kzHeFM0I1OMI6xzDUtelGt6c68w9wdTAAsJGVJy7fcT1GGX_ilZIJo-vwICMIqOUAoU-Q4Zd8Kb4MEg1UvwVO0liDILfZwUotRaixDjO3XIlNbRLOAigYVOKhuk/s320/hantu+palasik2.jpg" width="213" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Kumpulan Cerita Misteri&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Ilmu Palasik&amp;nbsp; di Minangkabau (Palasik Kuduang)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagi orang Minang, kepercayaan pada Hantu Palasiak atau Palasik sama 
dengan kepercayaan Leak bagi masyarakat Bali, atau Kuyang bagi orang 
Kalimantan. Hantu Palasiak ini memang sudah lama tumbuh dan berkembang 
di tengah-tengah masyarakat Minang, terutama yang tinggal di pelosok 
Desa Sumatera Barat.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cerita tentang Hantu Palasiak ini sering pula dituturkan oleh salah 
seorang saudara ayah&amp;nbsp; yang memang berasal dari Ranah Minang. Menurut 
saudara ayah itu, ilmu hitam Palasik merupakan warisan turun temurun 
masyarakat Minah yang ada sejak zaman dahulu kala. Konon, mereka yang 
menganut ilmu ini biasanya akan membentuk komunitas tersendiri dalam 
masyarakat. Mereka dulu sangat dikucilkan oleh warga di sekitarnya. 
Konon, di zaman dahulu kala mereka hanya bisa menikah dengan sesama 
keturunan Palasiak. Tapi, di zaman sekarang ini, masyarakat sudah bisa 
menerima keberadaan mereka. Disamping itu, keberadaan mereka juga sulit 
untuk dikenali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun seseorang mewarisi darah keturunan Palasik dari leluhur, namun 
bukan berarti secara otomatis mereka akan menjadi Hantu Palasiak. Ada 
ritual yang harus dilaksanakan untuk bisa menguasai ilmu hitam yang satu
 ini, sehingga tidak setiap turunan Palasik menjadi Palasik seperti 
leluhurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa orang Minang punya ilmu Palasik? Dari mana asal muasal ilmu ini 
sebenarnya. Siapa pula orang pertama yang mengajarkannya, dan di daerah 
mana tempat asal ilmu yang masih sangat misterius ini? Tentu saja tak 
mudah untuk menjawab deretan pertanyaan tersebut. Kita berharap, semoga 
ada saudara kita yang berasal dari Ranah Minang bisa menjelaskanya pada 
pembaca setia majalah kasayangan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski misteri masih menyelimutinya, yang jelas Hantu Palasiak dapat 
diyakini benar ada dalam kenyataan. Hal ini setidaknya seperti yang 
dialami sendiri oleh saudara sepupu Misteri. Sebut saja Dasri, namanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisahnya terjadi 20 tahun yang lalu. Saat itu, Dasri baru duduk di kelas
 IV SD, usianya 10 tahun. Ketika itu musim libur panjang sekolah 
bertepatan dengan bulan Ramadhan. Ayah Dasri yang berasal dari Dusun 
Taratai, Desa Sungai Tarab, Batusangkar, berniat mengajak seluruh 
keluarganya pulang ke kampung halamannya yang jauh terpencil itu. 
Rencana ayah Dasri ini tentu saja disambut gembira, terutama oleh dasri.
 Apalagi, sudah lima tahun ini Dasri tidak bertemu dengan kakek dan 
nenek, serta saudara-suadara sepupunya yang tinggal di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada hari Minggu siang mereka berangkat dengan bus jurusan 
Medan-Bukittinggi. Sekitar pukul 8 pagi, bus yang ditumpangi Dasri 
bersama kedua orangtuanya, meninggalkan kantor pusatnya di Jl. Amaliun, 
Medan. Setelah melewati batas wilayah kota Medan, bus tancap gas. Semua 
bangku sudah terisi penuh, termasuk bangku tempel yang tersedia untuk 
penumpang yang menyetop di jalan.&lt;br /&gt;
Setelah menempuh perjalanan selama 15 jam, bus tiba di terminal Aur 
Kuning, Bukittinggi, menjelang pukul 10 pagi berikutnya. Perjalanan 
menuju Batusangkar dilanjutkan dengan menumpang angkutan antar kota 
dalam propinsi. Angkutan desa hanya sampai di ibu kota kecamatan saja. 
Menuju Desa Sungai Tarap, harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 5 
km.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa warga satu kampung dengan ayah Dasri berjalan bersama 
menuju desa kelahiran mereka. Mereka terlihat bercerita akrab sekali. 
Memasuki desa Sungai Tarap, udara dingin pegunungan menyambut kedatangan
 Dasri. Sawah-sawah terbentang luas di lereng-lereng bukit. Rumah gadang
 berdiri megah di sepanjang jalan yang dilalui. Tiba di rumah Anggut, 
sebutan kakek bagi orang Minang, saudara dan sanak kadang sudah 
berkumpul menyambut kedatangan Dasri bersama kedua orangtuanya. Dalam 
tempo sekejap saja, rumah Anggut yang luas berbentuk rumah gadang penuh 
oleh sanak saudara dan kerabat ayah Dasri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berita kedatangan ayah Dasri menyebar dari mulut ke mulut ke pelosok 
kampung. Apalagi pada malam harinya. Teman-teman ayah Dasri semasa kecil
 berdatangan menemuinya untuk melepas rindu dan mengenang kembali 
masa-masa indah dahulu. Mereka berbincang-bincang hingga larut malam. 
Dua hari di kampung, akhirnya tiba juga hari pekan di desa itu. Dasri 
diajak ayahnya melihat suasana pekan. Waktu itu turut pula bersama 
mereka dua orang saudara sepupu Dasri, yakni Budin dan Durin. Usia kedua
 anak ini sebaya dengan Dasri. Tinggi dan besar, badan juga sama. Yang 
membedakan warna kulit tubuh mereka. Mungkin karena tinggal di kota, 
kulit wajah dan tubuh Dasri terlihat putih bersih. Berbeda dengan Budin 
dan Durin. Kulit kedua anak ini hitam pekat karena setiap hari terjemur 
di atas teriknya sinar matahari. Jika tidak berada di sawah membantu 
orangtua merumput, pagi-pagi sekali mereka pergi mengembalakan kerbau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perjalanan ke lokasi pecan itu, ayah Dasri selalu menyapa dengan 
ramah setiap warga desa yang ditemui atau berpapasan di tengah jalan. 
Mereka menyalami ayah Dasri dengan ramah pula, seraya bertanya tentang 
kabar dan kapan datangnya. Sementara itu, Dasri dan dua orang saudara 
sepupunya saling bercerita dan bercanda dalam perjalanan itu. Meski baru
 dua hari bertemu, namun mereka sudah kelihatan sangat akrab. Sampai 
akhirnya di sebuah tikungan jalan desa, mereka melewati sebuah rumah 
gadang yang lumayan megah. Pemilik rumah itu memanggil ayah Dasri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Singgahlah dulu kemari. Pasar masih sepi!” Kata si pemilik rumah, 
seorang kakek berusia lanjut, menawari ayah Dasri singgah di rumahnya. 
Karena menghormati tawaran itu, Ayah Dasri memutuskan singgah ke rumah 
gadang milik si kakek. Dia juga mengajak Dasri dan dua saudara sepupunya
 untuk singgah barang sebentar di rumah itu. Tapi, kedua saudara sepupu 
Dasri berkeras melarang. Budin menggelengkan wajahnya agar Dasri jangan 
mengikuti ayahnya. Tapi Dasri tetap mengikuti ayahnya berjalan memasuki 
pekarangan rumah gadang milik si kakek yang sepertinya amat ramah dan 
baik hati itu. Dasri dituntun ayahnya melewati jembatan terbuat dari 
batang bambu. Sementara. dua saudara sepupu Dasri hanya berdiri termangu
 di pinggir jalan. Berulangkali mereka menggelengkan wajahnya, yang 
memberi isyarat agar Dasri jangan ikut singgah di rumah gadang itu. 
Hingga wajah keduanya berubah menjadi pucat, Darsi tetap tak peduli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa Budin dan Durin melarang Dasri singgah di rumah itu? Mereka tahu 
persis pemilik rumah itu adalah suami isteri penganut Palasik. Rumah itu
 memang terlihat sangat sunyi, seperti tidak ada penghuni lain kecuali 
seorang kakek dan nenek yang sudah sangat renta. Diketahui, pemilik 
rumah itu bernama Anggut Adam. Usianya sudah mencapai 78 tahun. 
Sedangkan isterinya, Niek Syamsidah, usianya sekitar 70 tahun. Rambut 
kedua pasangan itu sudah memutih, dan kulit tubuhnya hitam keriput. 
Meski begitu gigi mereka masih utuh, walau nampak hitam berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasri dan ayahnya duduk di ruang tamu, membelakangi kamar tidur si 
pemilik rumah. Sesaat kemudian, Niek Syamsidah menghidangkan kopi dan 
ketan hitam. Nenek renta inipun duduk di sisi suaminya. “Berapa anakmu 
sekarang?” Tanya Niek Syamsidah. “Baru satu, Niek!” Jawab ayah Dasri. 
“Bawalah isterimu kemari!” Anggut Adam memberi tawaran. “Nantilah di 
lain waktu,” jawab Ayah Dasri. Perbincangan pun berjalan dengan akrab. 
Sampai setelah hampir setengah jam di rumah Anggut Adam, Dasri mengajak 
ayahnya pergi ke pekan. Mereka pun segera berpamitan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Anggut Adam dan isterinya mencoba menahan ayah Dasri agar lebih lama 
lagi berada di rumahnya. Tapi Dasri terus merengek meminta ayahnya agar 
meninggalkan rumah Anggut Adam. Dia tak sabar ingin melihat suasana hari
 pekan di desa. Anggut Adam dan isterinya melepas kepergian tamunya 
hingga ke pekarangan rumah. “Siapa nama anakmu?” Tanya Niek Syamsiah. 
“Dasri!” Jawab ayah Dasri. “Kapan-kapan main-main kemari lagi. Anggap 
ini rumah anggutmu sendiri,” kata Anggut Adam ramah, melepas kepergian 
Dasri bersama ayahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat keluar dari rumah gadang milik Anggut Adam, warga desa terlihat 
berjalan berbondong-bondong lewat di depan rumah Anggut Adam membawa 
seluruh anggota keluarganya. Memang, di hari pekan itu tidak seorang pun
 warga desa pergi ke sawah. “Rumah anggut Adam terlihat seram ya. Tidak 
terurus!” Cerus Dasri dalam perjalanan. “Maklum, mereka kan tinggal 
berdua di rumah itu. Pergi pagi ke sawah dan pulangnya menjelang senja. 
Jadi mereka tidak punya waktu untuk mengurus rumah,” jawab ayah Dasri. 
Setelah mendapat jawaban itu, Dasri tidak lagi bertanya pada ayahnya. 
Apalagi setibanya di lokasi pecan suasana memang sangat ramai. Para 
pedagang dari kota menjajakan bermacam-macam keperluan warga desa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah, Dasri mau bermain bersama Budin dan Durin ya!” Mohon Dasri sesaat
 setelah melihat Budin dan Durin berkumpul bersama dengan 
teman-temannya. “Pergilah!” Jawab ayah Dasri memberi izin.&lt;br /&gt;
Dasri pun segera bergabung dengan Budin dan Durin beserta teman-teman 
sebayanya. Waktu itulah Dasri sempat bertanya begini, “Mengapa kalian 
berdua tidak mau diajak singgah di rumah Anggut Adam?” “Anggut bersama 
isterinya itu Palasiak Kuduang,” jawab Budin. “Apa benar Palasiak itu 
ada?” Tanya Dasri lagi. “Rumah yang kau datangi tadi rumah Palasiak!” 
Jawab Durin. Sebelumnya, Dasri memang pernah mendengar cerita Hantu 
Palasiak dari orang-orang Minang yang tinggal di sekitar rumah orang 
tuanya di Medan. Menurut cerita mereka, Hantu Palasiak itu dapat 
melepaskan leher dari tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa jenis Palasiak. Satu di antaranya adalah Palasiak Kuduang. 
Disebut Palasiak Kuduang, karena si pemilik ilmu hitam ini dapat 
memotong kepalanya kemudian memasangnya kembali. Kuduang dalam bahasa 
Minang artinya potong atau penggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu Palasiak selama ini aku belum pernah mendengarnya?” Tanya 
Dasri, pura-pura tida tahu. “Apa ayahmu tidak pernah bercerita?” Tanya 
Budin. Dasri hanya mengggelengkan kepalanya. “Palasiak adalah hantu 
penghisap darah anak-anak seusiamu. Dia mendatangi mangsanya tengah 
malam. Anak-anak yang darahnya dihisap Palasiak, wajahnya menjadi pucat 
dan sering sakit-sakitan,” kata Budin menerangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana ada manusia hidup jadi hantu seperti Palasiak itu?” Protes Dasri. 
“Ada, contohnya Palasiak. Dia menghisap darah, terutama anak-anak yang 
datang dari kota,” ujar Durin menakuti Dasri. “Mengapa darah anak-anak 
dari kota yang dihisap Palasiak?” Tanya Dasri, penasaran. “Anak-anak 
dari kota darahnya manis. Sedangkan anak desa di sini darahnya pahit,” 
jawab Budin bercanda sembari tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedatangan Dasri bersama ayahnya ke rumah Anggut Adam, diceritakan pula 
oleh Budin dan Durin kepada kedua orangtua mereka. Etek Yusminah, adik 
ayah Dasri terperanjat mendengar cerita dari Budin. Saat itu juga, dia 
segera menemui ayah Dasri. “Mengapa Uda bawa Dasri ke rumah Pak Tuo 
Adam?” Tanyanya. “Beliaukan masih kerabat kita!” Jawab ayah Dasri. “Ya, 
tapi beliau suami isteri Palasik!” Sahut Etek Yusminah. Kelihatannya dia
 merasa sangat cemas. “Ah, memangnya masih ada apa ilmu hitam semacam 
itu di zaman seperti sekarang ini?” Sanggah ayah Dasri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin saja, Uda! Sebagaiknya segara bawa Dasri ke rumah Datuk 
Maruhun, untuk minta jimat penangkal padanya,” saran Etek Yusminah. Tapi
 saran itu tidak dihiraukan ayah Dasri. Datuk Maruhun adalah 
satu-satunya orang yang dapat memberikan jimat agar seorang anak tidak 
dihisap darahnya oleh Palasiak. Namun, ayah Dasri menyangsikan 
kekhawatiran Etek Yusminah. Dua hari berselang, pada malam sabtu, hujan 
deras turun sejak sore hari hingga malam harinya. Hingga tengah malam 
hujan tidak juga reda. Di luar rumah, angin bertiup kencang membut malam
 sangat dingin dan mencekam. Ayah Dasri malam itu tidak ada di rumah. 
Setelah mengerjakan shalat Jum’at, dia tidak pulang. Dia hanya berpesan 
pada Anggut Musa, bahwa malam ini dia akan menginap di rumah Pak 
Sabirin, teman sebangku ayah waktu sekolah di Makhtab Thawalib, 
Padangpanjang. Hingga tengah malam, hujan tinggal gerimis. Di luar angin
 masih juga bertiup kencang. Meskipun sudah memakai selimut tebal, tapi 
udara dingin masih dapat menembus pori-pori kulit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba berhembus angin sangat kencang menerpa pintu kamar tidur yang 
tidak terkunci. Tiupan angina itu mengempaskan pintu kamar. Suaranya 
sangat keras sehingga Dasri terjaga dari tidur. Dari balik gorden pintu 
yang terbuka diterbangkan angin, Dasri melihat seraut wajah nenek tua 
dan kakek tua muncul. Celakanya, hanya leher dan kepalanya saja yang 
melayang-layang memasuki kamar. Wajah mereka terlihat samar-samar mirip 
Anggut Adam dan isterinya, Niek Syamsiah. “Apakah mereka ini palasiak?” 
Hati Dasri diliputi tanda tanya. Tubuhnya gemetaran karena takut. Kedua 
potongan kakek dan nenek itu terbang di atas tubuh Dasri, dan 
melayang-layang dengan sangat menakutkan. Dasri tidak dapat berkata 
apa-apa. Lidahnya seolah-olah terkunci, sehingga tidak dapat berteriak 
membangunkan anggutnya yang tidur pulas di sisinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula dengan tubuhnya. Kaku dan gemetar, seperti terikat tali 
sehingga tidak dapat digerakkan. Hanya kedua bola matanya mengikuti 
kemana kedua potongan kepala itu bergerak. Setelah berputar-putar, 
akhirnya kedua potongan kepala itu berhenti di ujung jempol kaki Dasri. 
Dengan rakus keduanya menghisap darah Dasri melalui jempol kakinya. 
Dasri pun meringis kesakitan. Untunglah dia tidak jatuh pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah puas, kedua potongan kepala itu pergi meninggalkan mangsanya, 
melayang-layang keluar dari dalam kamar. “Anggut, ada hantu!” Teriak 
Dasri. Mendadak anggutnya terjaga dari tidur pulasnya. “Ada apa?” 
Tanyanya. Dasri lalu menceritakan peristiwa yang barusan menimpanya. 
Sang Anggut harus percaya sepenuhnya, sebab di atas lantai tampak 
berceceran darah segar hingga ke ruang tamu. “Mereka itu Palasiak!” 
Gumam sang anggut dengan wajah tuanya yang menegang. Pada pagi harinya, 
ayah Dasri bersama anggutnya membawa Dasri ke rumah Datuk Maruhun. Pada 
Datuk Maruhun, Dasri menceritakan kejadian yang menimpanya tadi malam. 
“Anakmu di hisap Palasiak,” jelas Datuk Maruhun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa yang tega menghisap darah anakku, Datuk?” Tanya ayah Dasri. Datuk
 Maruhun tidak dapat menjawabnya. Beliau hanya menggelengkan kepalanya. 
“Bawa segera pergi anakmu dari kampung kita. Banyak Palasiak yang ingin 
menghisap darahnya,” saran Datuk Maruhun. Oleh Datuk Maruhun, Dasri 
diberi jimat yang diikatkan di pergelangan kakinya. Memang, setelah 
dihisap darahnya oleh palasiak, wajah Dasri pucat, dan tubunnya lemah 
seperti kekurangan darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siang itu juga, berasma ayah dan ibunya Dasri kembali pulang ke Medan. 
Rencana untuk berlebaran di kampung pun batal…. Lima belas tahun 
kemudian, Dasri baru berani datang ke kampung halaman ayahnya. Kenangan 
menakutkan itu memang selalu membuatnya bernyali ciut bila ingin 
berkunjung ke kampong tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Postingan ini berdasarkan kisah nyata, adapun nama-nama pelaku 
dalam  kisah ini sengaja disamarkan untuk menghormati privacy yang  
bersangkutan. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber: &lt;span style="background-color: #cccccc;"&gt;&lt;a href="http://warisdjati.blogspot.co.id/2014/04/mistik-ilmu-palasik-minangkabau.html"&gt;warisdjati.blogspot.co.id&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/07/ilmu-palasik-di-minangkabau-palasik.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfHjeiOR9vFcNLjeFz2kzHeFM0I1OMI6xzDUtelGt6c68w9wdTAAsJGVJy7fcT1GGX_ilZIJo-vwICMIqOUAoU-Q4Zd8Kb4MEg1UvwVO0liDILfZwUotRaixDjO3XIlNbRLOAigYVOKhuk/s72-c/hantu+palasik2.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-2525429548120928841</guid><pubDate>Sat, 30 Jul 2016 05:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-07-29T22:33:07.227-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Budaya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">history</category><title>History: White Rajah of Sarawak (A Borneo Dynasty)</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxgrL7aFFidWaXaJR7iSWeyOGEXZHNE1lAHJ1Xv1xEFXxSaMNSbYgtOrp65Mj0xsgE3wUDN2eJfpM5FDNDp1tCCDsJFdg5_2RWMuERFJ6MzV6hM6sf0kuSDuV1U-l482aah0e7AD7CtXL6/s1600/1905427.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxgrL7aFFidWaXaJR7iSWeyOGEXZHNE1lAHJ1Xv1xEFXxSaMNSbYgtOrp65Mj0xsgE3wUDN2eJfpM5FDNDp1tCCDsJFdg5_2RWMuERFJ6MzV6hM6sf0kuSDuV1U-l482aah0e7AD7CtXL6/s320/1905427.jpg" width="311" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;White Rajahs of Sarawak&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;A Borneo Dynasty&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
The &lt;b&gt;White Rajahs&lt;/b&gt; were a dynastic monarchy of the English Brooke family, who founded and ruled the Kingdom of Sarawak, located on the island of Borneo, from 1841 to 1946. The first ruler was Englishman James Brooke. As a reward for helping the Sultanate of Brunei fight piracy and insurgency among the indigenous peoples, he was granted the landmass of Sarawak in 1841 and received independent kingdom status.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Based on descent through the male line in accordance with the Will of
 Sir James Brooke, the White Rajahs' dynasty continued through Brooke's 
nephew and grandnephew, the latter of whom ceded his rights to the United Kingdom
 in 1946. His nephew had been the legal heir to the throne and objected 
to the cession, as did most of the Sarawak members of the Council Negri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Rulers&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sarawak was part of the realm of Brunei until 1841 when James Brooke was granted a sizeable area of land in the southwest area of Brunei – around the city of Sarawak (now Kuching) and the nearby mining region of Bau – from Bruneian Sultan Omar Ali Saifuddin II. He was later confirmed with the title of Rajah
 of the territory. The Kingdom of Sarawak developed and expanded during 
the rule of the first two White Rajahs, growing to occupy much of the 
north region of the island of Borneo. The Brooke administrations leased 
or annexed more land from Brunei.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
James and Charles had short grammar school educations, Vyner, 
Bertram, and Anthony went to public schools and Cambridge University 
(but without taking degrees). All but Anthony died in England and are 
buried at Sheepstor parish church,
 Devon. Anthony Brooke had his ashes interred at Sheepstor as well as at
 the Brooke Family graveyard in Kuching, as per his last wish.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
The White Rajahs pursued a policy of paternalism,
 with the goal of protecting the "native peoples" (indigenous peoples) 
from "capitalist exploitation". While James Brooke laid much of the 
groundwork for the expansion of Sarawak, his nephew Charles, the second 
rajah, was the great builder. He constructed public buildings to serve 
welfare, such as a hospital, in addition to forts. He worked to extend 
the borders of the state.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Vyner Brooke instituted significant political reforms during his tenure. He ended the absolute rule
 of the Rajah in 1941, before the Japanese invasion of World War II, by 
granting new powers to the Council Negri (the parliament). Bertram 
co-ruled with his elder brother, taking turns of 6 – 8 months in charge 
of the country each year. By 1939 Bertram's son Anthony had taken on the
 reins of government, and it was with considerable controversy that 
Vyner attempted to cede Sarawak to Britain secretly in 1946 in what gave
 rise to the anti-cession movement of Sarawak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtdCTPEsnX3nVRIWUklYY0i9zvhu-jz2ELvUJ8ebk8hBsEMwRqppY0mPi2VSIJQJEensdqgmxJH73KDeSexRJzg7jl-i2F6_3tWD53vPCg1VGZbnSRvW2-4a04dqo3b6WkrEiYpRPtG-oN/s1600/brooke.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtdCTPEsnX3nVRIWUklYY0i9zvhu-jz2ELvUJ8ebk8hBsEMwRqppY0mPi2VSIJQJEensdqgmxJH73KDeSexRJzg7jl-i2F6_3tWD53vPCg1VGZbnSRvW2-4a04dqo3b6WkrEiYpRPtG-oN/s200/brooke.jpg" width="158" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;James of Sarawak&lt;/b&gt; (James Brooke) 1841-1868, born at 29 April 1803 in India, death at 11 June 1868 in England, granted Sarawak and the title Rajah by the Sultan of Brunei.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Government&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
When James Brooke first arrived in Sarawak, it was governed as a vassal state of the Sultanate of Brunei;
 the system of government was based on the Bruneian model. Brooke 
reorganised the government according to the British model, eventually 
creating a civil service. It recruited European, chiefly British, officers to run district outstations. The Sarawak Service was continually reformed by Rajah James and his successors.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rajah James retained many of the customs and symbols of Malay 
monarchy, and combined them with his own style of absolute rule. The 
Rajah had the power to introduce laws and acted as chief judge in 
Kuching.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
The White Rajahs were determined to prevent the indigenous peoples of
 Sarawak from being exploited by Western business interests. They 
allowed the Borneo Company Limited
 (the Borneo Company) to assist in managing the economy. The core of the
 early Sarawak economy was antimony, later followed by gold, which was 
mined in Bau by Chinese syndicates who imported numerous workers from China. After the local Chinese uprising in 1857, the mining operations were gradually taken over by the Borneo Company; it bought out the last Chinese syndicate in 1884.
 The Borneo Company provided military support to the White Rajahs during
 crises such as the Chinese uprising. One of the company steamships, the
 &lt;i&gt;Sir James Brooke&lt;/i&gt;, helped recapture Kuching.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rajah Charles formed a small paramilitary force, the Sarawak Rangers,
 to police and defend the expanding state. This small army also manned a
 series of forts around the country, acted as the Rajahs' personal 
guard, and performed ceremonial duties.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Cession_to_the_United_Kingdom"&gt;Cession to the United Kingdom&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
After the Second World War, during which Sarawak and Borneo had been occupied by Japanese forces, the third rajah, Vyner Brooke, ceded his life interest in Sarawak to the Colonial Office.
 In exchange, he received a sizeable pension for him and his three 
daughters. Unclear as to the legality of cession, the British Government
 simultaneously passed a Bill of Annexation. Rajah Vyner's nephew and 
legal heir, Anthony Brooke, initially opposed annexation by the Crown, as did a majority of the native members of the Council Negri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Because of his opposition to the cession, Anthony Brooke was considered suspect when Duncan Stewart, the second British governor to Sarawak, was assassinated by a political group agitating for union with newly independent Indonesia.
 He was never prosecuted. Documents released in the late 20th century 
indicate that the British Government knew that Brooke was not involved, 
but chose not to reveal the truth of the matter.&lt;sup class="noprint Inline-Template Template-Fact" style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span title="This claim needs references to reliable sources. (October 2013)"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;
 Since those events, there has been no serious movement for the 
restoration of the monarchy, although Anthony's son James Bertram Lionel
 Brooke remains the principal beneficiary (heir) under the Will of Sir 
James Brooke.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
The period of Brooke rule is generally looked upon favourably in 
Sarawak, and in recent times the government has accepted the importance 
of their legacy for its social, cultural, and touristic value.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
The Brooke family still maintains strong ties to the state and its 
people and are represented by the Brooke Trust, and by Anthony Brooke's 
grandson Jason Desmond Anthony Brooke, at many state functions and supporting heritage projects.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Legacy&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;The coaling station of Brooketon in Brunei was named after the Brooke family.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;The architectural legacy of the dynasty can be seen in many of the country's 19th-century and colonial heritage buildings. In Kuching these include the Astana, or governor's residence; the Sarawak Museum, the Old Courthouse, Fort Margherita,
 the Square Fort, and Brooke Memorial. The Brooke Dockyard, which was 
founded in the period of Rajah Charles, is still in operation, as is the
 original Sarawak Museum.
 Several key buildings from the Brooke period, such as the offices and 
warehouses of Borneo Company, have been demolished for more recent 
developments.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Modern Kuching has many businesses and attractions that refer to the era of the White Rajahs:&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;The James Brooke Café and the Royalist, a pub named after James Brooke's schooner, refer to the history of the Brookes.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Sarawak is notably different from peninsular Malaysia and even Sabah
 (the neighbouring Malaysian state also located on Borneo), as it has a 
more diverse population. It has a large proportion of indigenous tribal 
peoples, such as the Iban and Dyaks. In addition, it received numerous Chinese and Indian immigrants, whose businesses and labour were encouraged at various times by the White Rajahs.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Source: &lt;span style="background-color: #cccccc;"&gt;&lt;a href="https://en.wikipedia.org/wiki/White_Rajahs"&gt;wikipedia&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: #cccccc;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: #cccccc;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Photo: www.goodreads.com&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/07/history-white-rajah-of-sarawak-borneo.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxgrL7aFFidWaXaJR7iSWeyOGEXZHNE1lAHJ1Xv1xEFXxSaMNSbYgtOrp65Mj0xsgE3wUDN2eJfpM5FDNDp1tCCDsJFdg5_2RWMuERFJ6MzV6hM6sf0kuSDuV1U-l482aah0e7AD7CtXL6/s72-c/1905427.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-5122872414311605369</guid><pubDate>Sat, 30 Jul 2016 05:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-07-29T22:01:23.092-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Novel Review</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Novel Synopsis</category><title>A Novel Review: Twilight of the White Rajahs</title><description>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijXEOr33ysPNL99m4qbGK_bq576N9Za9qTmJW-yKGNADrMnmJnHcK0o7RknjXxn58c6nb4j8ILQZZDoi6Kw8_iLUkPZx1k3SKcNgwvLiMBjEcBTX3_h6eKx04PMEPUQWr_I2mzA1Si2muI/s1600/white+rajah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijXEOr33ysPNL99m4qbGK_bq576N9Za9qTmJW-yKGNADrMnmJnHcK0o7RknjXxn58c6nb4j8ILQZZDoi6Kw8_iLUkPZx1k3SKcNgwvLiMBjEcBTX3_h6eKx04PMEPUQWr_I2mzA1Si2muI/s640/white+rajah.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Twilight of the White Rajahs&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;By, Alex Ling &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Borneo’s last colonial rulers are portrayed as a lusty lot in this exposé of a little-known story set in a remote, exotic land.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The “White Rajahs,” who ruled Sarawak on the north shore of Borneo, were a colorful and randy lot, as portrayed by Alex Ling in this second in his series novelizing this peculiar British colonial dynasty. While much of the book focuses on the minutiae of bureaucrats wrangling over the fate of what would become a crown colony in 1946, Ling has livened it up with rather torrid, if at times unintentionally funny, sex. Most of that involves one Gerald McBryan, whose roguish antics and selfish schemes drive the plot of this historical novel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“An Edmund Burke; an Errol Flynn; a Machiavelli—all in one,” as Ling describes him, McBryan is at the center of the rather nasty political infighting that swirls about the Brooke family that presides over Sarawak in the heyday of the empire. An “incorrigible dreamer” who saw himself as “the white rajah of a pan-Islamic empire,” McBryan was a real person. While he may indeed have been the “satyr” Ling portrays him as, McBryan’s sexual antics and bedside banter do spice up the story, even if while in the midst of passion he does utter some embarrassingly awful lines like, “Oh God, those breasts of yours could kill a whole battalion.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Twilight of the White Rajahs is often interesting and even at times amusing—and not just because of the descriptive sex scenes or the things men and women, high-born or low, exclaim during bouts of lovemaking. McBryan’s vaunting ambitions, the dreams of Ranee Sylvia Brooke, who would rather be a star in Hollywood than the queen of Sarawak, and the schemes of her petulant playboy nephew to succeed to the throne all make for good drama and a good read. That it is mostly true and takes part in the years leading up to, during, and shortly after the Japanese invasion in World War II makes the work almost as interesting as the exotic land in which the story is set.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The fifty-one chapters cover three distinct eras. The first part takes up about half of the novel and focuses on McBryan and his sexual adventures and political machinations. At first lively and well paced, the story then gets mired in the constitutional and legal wrangling over what will become of Sarawak should the White Rajahs step down.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Part two, which concerns the Japanese occupation, is all too brief, perhaps because Ling found it painful to write more about the “House of Torture” that is still “haunted by thousands of screaming souls.” That is unfortunate, for in these chapters, Ling hints at and gives readers a small taste of the poignant drama and high adventure that was Sarawak during World War II. Ling writes through it quickly, only to spend far too many pages and too much energy on the least interesting part of his story—the petty postwar squabbling among bureaucrats and spoiled playboys who care little for the aspirations of the people whose fate they barter for money and status.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Twilight of the White Rajahs has much to recommend it—not least of all its function as an exposé of a little-known story about a remote and exotic land.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reviewed by  Mark McLaughlin, on October 8, 2013 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: &lt;a href="https://www.forewordreviews.com/reviews/twilight-of-the-white-rajahs/"&gt; www.forewordreviews.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/07/a-novel-review-twilight-of-white-rajahs.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijXEOr33ysPNL99m4qbGK_bq576N9Za9qTmJW-yKGNADrMnmJnHcK0o7RknjXxn58c6nb4j8ILQZZDoi6Kw8_iLUkPZx1k3SKcNgwvLiMBjEcBTX3_h6eKx04PMEPUQWr_I2mzA1Si2muI/s72-c/white+rajah.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-3354138462765781574</guid><pubDate>Sat, 30 Jul 2016 02:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-07-29T19:56:39.694-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucky story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Music</category><title>How Can You Mend My Broken Heart - Bee Gees (a memory of my life)</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirK6qwaqaGSjxzLKuCOnUWFcZRBx5hXTNOQOCUr-BSm-_P4o5usl7LT43ZqMO9QhUUP2KLCiS9Xrgit9hF6qkIds_XW1_qIjh8gtHKoaTjtq0QCTbka2Nkig3bOkzwFIwXN5UPjJtWG61j/s1600/The-Bee-Gees-by-Sydney-OMeara.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="305" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirK6qwaqaGSjxzLKuCOnUWFcZRBx5hXTNOQOCUr-BSm-_P4o5usl7LT43ZqMO9QhUUP2KLCiS9Xrgit9hF6qkIds_XW1_qIjh8gtHKoaTjtq0QCTbka2Nkig3bOkzwFIwXN5UPjJtWG61j/s400/The-Bee-Gees-by-Sydney-OMeara.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bee Gees – How Can You Mend A Broken Heart&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Lyrics&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I can think of younger days when living for my life&lt;br /&gt;Was everything a man could want to do&lt;br /&gt;I could never see tomorrow, &lt;br /&gt;But I was never told about the sorrow&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And how can you mend a broken heart?&lt;br /&gt;How can you stop the rain from falling down?&lt;br /&gt;How can you stop the sun from shining?&lt;br /&gt;What makes the world go round?&lt;br /&gt;How can you mend this broken man?&lt;br /&gt;How can a loser ever win?&lt;br /&gt;Please help me mend my broken heart and let me live again&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I can still feel the breeze that rustles through the trees&lt;br /&gt;And misty memories of days gone by&lt;br /&gt;We could never see tomorrow, &lt;br /&gt;No one said a word about the sorrow&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And how can you mend a broken heart?&lt;br /&gt;How can you stop the rain from falling down?&lt;br /&gt;How can you stop the sun from shining?&lt;br /&gt;What makes the world go round?&lt;br /&gt;And how can you mend this broken man?&lt;br /&gt;How can a loser ever win?&lt;br /&gt;Please help me mend my broken heart and let me live again&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La la la la la la, la la la la&lt;br /&gt;La la la la la la, la la la la&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Please help me mend my broken heart and let me live again&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Da da da da&lt;br /&gt;Da da da da, da da da da da, da&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Songwriters: GIBB, BARRY / GIBB, ROBIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How Can You Mend A Broken Heart lyrics © Warner/Chappell Music, Inc., Universal Music Publishing Group&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: &lt;span style="background-color: #cccccc;"&gt;&lt;a href="http://www.lyricsfreak.com/b/bee+gees/how+can+you+mend+a+broken+heart_20015649.html"&gt;lyricsfreak.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;One Memory of the Song&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Once upon a time, when I was in senior high school, about 16 years ago, in the early morning, in my room, when I was still laying on my bed, someone got in to my room, she tried to make me a wake from my tight sleep, she said to me that I had to get up and prepare to go to school. Then I tried to find my self, tried to get up from my bed, but my body won’t move and stuck on the bed very hard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The girl was my cousin who asked me to get up. At that beautiful day she started my day with turning on my own audio tape. About conscious or not, because I was still on the bed, I heard a very melodious song play along from the tape. I knew and I realized it was Barry Gibb (Bee Gees) who was singing, but I did not know what the song tittle exactly. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My cousin loves the song very much, I like to hear the song too. Then the next month later she had no longer live in my house. She move with the that my favorite audio cassette, a collection of love song memories, which one of the list there is Bee Gees in it. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now, after 16 year long, I finally meet again with this very beautiful song. And now I already know that beautiful song’s tittle, it is “how can you mend my broken heart”. It is very melodious song. I had miss this song for a long long time. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Today, I already know that Al Green also sings this song with his different style. Al Green gives a blues sense to this song. I love blues music, very comfortable to listen the blues, that song by Al Green. Now I have two choices whether listen to “How can you mend my broken heart” with Al Green or with Bee Gees.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So enjoy listen - How can you mend my broken heart&amp;nbsp; (Lucky Lukmansyah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: #cccccc;"&gt;&lt;a href="https://www.youtube.com/watch?v=pTQiT58AbE0"&gt;Link: Bee Gees "How Can You Mend My Broken Heart&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="background-color: #cccccc;"&gt;&lt;a href="https://www.youtube.com/watch?v=UgAFcvIw8J4"&gt;Link: Al Green "How Can You Mend My Broken Heart&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/07/how-can-you-mend-my-broken-heart-bee.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirK6qwaqaGSjxzLKuCOnUWFcZRBx5hXTNOQOCUr-BSm-_P4o5usl7LT43ZqMO9QhUUP2KLCiS9Xrgit9hF6qkIds_XW1_qIjh8gtHKoaTjtq0QCTbka2Nkig3bOkzwFIwXN5UPjJtWG61j/s72-c/The-Bee-Gees-by-Sydney-OMeara.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-6020924783805095091</guid><pubDate>Wed, 27 Jul 2016 11:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-07-27T04:33:15.157-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Budaya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita orang padang</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Obrolan santai</category><title>Obrolan Santai. Uang Asam: Ketika Pemuda Jadi Pagar Makan Tanaman</title><description>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgQEIaKd924J4H67lmZCeen6KDmEzqd1eObwZb2VHjP5iHlR8hCwHZsv4E7gZ9V87AaDJoGFW_kQGqdkcRXFmMgL2cMhOgiiT9l6_WxxEBhFlPEeOhnRGyNFgkEqjB5sjayNaWp-cI9G5V/s1600/47.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="268" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgQEIaKd924J4H67lmZCeen6KDmEzqd1eObwZb2VHjP5iHlR8hCwHZsv4E7gZ9V87AaDJoGFW_kQGqdkcRXFmMgL2cMhOgiiT9l6_WxxEBhFlPEeOhnRGyNFgkEqjB5sjayNaWp-cI9G5V/s640/47.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Obrolan Santai&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Uang Asam: Ketika Pemuda Jadi Pagar Makan Tanaman&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Selamat sore sobat pembaca yang budiman, jumpa lagi kita di deelucky.com. Pada pertemuan kali ini kita akan melanjutkan obrolan santai kita tentang pembicaran tempo lalu mengenai pemuda di nagari Minangkabau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada obrolan santai kali ini kita tidak lagi membahas tentang peranan dan fungsi pemuda dalam nagari. Namun kali ini kita akan membicarakan tentang perubahan arah dan sikap dari perilaku pemuda di nagari Minangkabau akhir-akhir ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan zaman, dimana pada masa sekarang setiap pemuda dituntut untuk memiliki pendidikan formal dan keahlian khusus untuk dapat bersaing dalam roda kehidupan sekarang, sehingga pemuda tidak perlu lagi melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sifat nya tradisional seperti yang telah kita bahas pada obrolan sebelumnya, seperti pemuda harus main di gelanggang, harus menggarap sawah dan ladang, dan harus tinggal di surau dan di palanta layaknya orang Minangkabau di tempo masa yang lalu. Sekarang tentu tidak lagi. Zaman sudah berubah. Sawah ladang sudah tidak ada lagi. Lahan pertanian sekarang sudah berubah menjadi areal komplek perumahan dan pertokoan. Tidak ada lagi pemuda yang tinggal dan mengaji di surau. Semua pemuda di Minangkabau sudah kembali tinggal di rumah orang tua mereka masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemuda yang masih di bawah umur harus pergi ke sekolah, lalu pulang kembali ke rumah orangtua mereka. Mereka harus belajar menuntut ilmu sambil menolong orang tua di rumah. Sedangkan pemuda yang sudah selesai sekolah tetap harus tinggal di rumah sambil mencari pekerjaan atau meminta modal ke orangtua mereka supaya dapat membangun mata pencaharian mereka dengan berdagang. Bagi pemuda yang tidak dapat modal mau pun pekerjaan di kampung, ya terpaksa mereka harus pergi merantau, menuruti sanak famili tinggal di negeri orang dan mencoba pula peruntungan nasib di tempat baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bagaimana pula dengan nasib para pemuda yang tidak pula bisa meraih penghidupan di rantau, tentu mereka akan balik tinggal di kampung. Apa yang akan mereka kerjakan di kampung apabila sawah ladang dan ternak tidak ada pula. Maka terlunta-lunta lah hidup mereka di kampung sendiri. Nongkrong sana sini hilir dan mudik meramaikan penghuni kampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya saja kepada pemuda yang tinggal di lingkungan tempat tinggal saya di Sungai Sapih, Kuranji, Padang. Di kampung itu sekarang banyak pemuda pengangguran yang tidak tahu arah nonkrong disana sini, di warung-warung atau pelanta nagari. Tetap pemuda-pemuda itu tidak ada pekerjaan, sedangkan kebutuhan hidup mereka pribadi, seperti rokok atau belanja minum di warung harus tetap mereka penuhi. Kepada siapa dan cara apa mereka harus memperoleh uang belanja?, tentu tidak lain mereka harus meminta kepada orang tua mereka masing-masing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang bagai mana pula bila keadaan ekonomi orangtua mereka sulit? Bagaimana mereka akan memperoleh belanja? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang terjadi di lingkungan tempat tinggal saya sekarang ini. Sekarang pemuda-pemuda penganguran itu sudah terdesak oleh tuntutan ekonomi. Mau tidak mau mereka harus memperoleh uang dengan cara apapun, baik halal maupun haram, mencuripun akan mereka lakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak enaknya para pemuda itu sudah masuk ke komplek-komplek perumahan di mana dulu itu adalah lahan sawah atau kebun orangtua mereka yang telah terjual, dan dibeli oleh para pengembang. Sekarang para pemuda itu mendesak para warga pendatang yang tinggal di komplek supaya kalau mereka ingin membangun rumah harus dapat melibatkan tenaga pemuda setempat, kalau tidak mereka akan marah kepada warga pendatang, karena mereka anggap warga pendatang tidak menghargai eksistensi para pemuda asli kampung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, dan baiklah, karena para pemuda memaksa untuk memperoleh pekerjaan bangunan perumahan warga, maka ada juga warga di komplek yang mau memberikan pekerjaan tersebut untuk pemuda setempat. Namun sangat disayangkan sekali, setelah kesempatan kerja itu diberikan kepada pemuda, tidak ada satupun dari pemuda tersebut yang sanggup bekerja dengan baik serta dengan disiplin waktu yang baik pula. Memang dasar para pemuda tidak terlatih bekerja kuli bangunan. Sebentar-sebentar kerja mereka sudah istirahat, ngobrol, minum dan merokok. Sehingga pemilik rumah merasa rugi biaya menggaji pekerja, dan kepala tukang pun ikut merasa tidak nyaman mempekerjakan mereka dalam proyek, karena mereka tidak cakap dan molor atau lalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat-laun banyak pula pemuda di kampung tempat tinggal saya tidak mau lagi ikutan dalam pekerjaan proyek bangunan rumah warga. Mungkin mereka sadar bahwa mereka memang tidak punya keahlian di bidang itu. Banyak mereka kembali nongkrong di warung menghabiskan waktu sepanjang hari sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lain dulu, lain pula lagak pemuda itu sekarang. Kalau dulu mereka memaksa untuk dapat bekerja, setelah diberi kerja tidak pula mereka kompeten di bidannya. Sekarang mereka main enteng dan enak saja. Sengaja mereka nongkrong di sebuah warung yang berada di simpang jalan, jalan masuk kendaraan menuju ke komplek tempat tinggal warga pendatang. Di warung itu mereka akan mengintai setiap kendaraan yang masuk membawa barang material bangunan rumah warga. Apabila ada mobil material masuk langsung segera mereka buru. Lansung mereka temui si pemilik rumah yang sedang mengerjakan proyek bangunan. Kepada si pemilik rumah pemuda menuntut untuk di berikan “uang asam” dari barang-barang material yang akan diturunkan di depan rumah orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa maksudnya “Uang Asam” yang mereka sebutkan tadi. Yang pasti mereka minta uang kepada si pemilik rumah, kalau si pemilik tidak mau memberikan uang asam, maka mereka minta kepada si supir kendaraan yang membawa barang material tersebut. Dan pun kalau dua-duanya tidak mau memberi, maka barang -barang bangunan itu tidak boleh dibongkar, sebaiknya supir bawa lagi barang material itu kembali ke toko, begitu menurut para pemuda yang suka memeras warga-warga komplek yang mereka anggap sebagai orang pendatang di kampung mereka. Mereka anggap kami sebagai orang yang telah merebut tanah warisan orang tua mereka. Sawah ladang tempat mereka bekerja tidak ada lagi karena telah kami beli. Salahkah kami orang-orang komplek ini membeli sebidang tanah untuk tempat tinggal kami bernaung dikampung mereka. Bukankan dengan adanya kami warga pendatang ini kampung mereka akan menjadi lebih maju, akan menjadi lebih berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari yang dulunya tidak ada jalan sekarang sudah ada jalan aspal masuk ke kampung mereka. Dulu tidak ada jembatan permanen, sekarang sudah ada. Semakin ramai penghuni kampung itu maka sekolah-sekolah formal pun seperti TK SD dan SMP sudah didirikan pula oleh pemerintah. Bukankah itu suatu bentuk kemajuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini ada pula kejadian yang tidak mengenakan bagi kami warga komplek. Di komplek kami sedang dilakukan pembuatan rabat beton jalan oleh pemerintah kota. Proyek ini dikerjakan oleh sebuah kontraktor swasta di kota Padang. Baru saja satu hari kerja pengerjaan rabat beton jalan tersebut, para pemuda setempat sudah memblokir jalan masuk kampung. Mereka menuntut pihak kontraktor supaya mau membayarkan “uang asam” sebesar Rp. 150,000.00 per truk molen semen cor yang melewati jalan kampung mereka. Kalau pihak kontraktor tidak mau membayar, maka proyek pembangunan jalan tidak boleh dilanjutkan lagi. Begitu kejadian beberapa hari yang lalu di komplek kami. Sekarang jalan di komplek kami telah rusak karena di lewati oleh truk molen raksasa tersebut. Kabel-kable telpon sudah pada berserakan di jalan, digilas oleh roda kendaraan. Sedangkan proyek pembangunan jalan rabat beton itu sekarang sudah terhenti sementara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dimana peran pemerintah dalam mengendalikan dan menertibkan perilaku pemuda kampung setempat yang kami anggap tidak pro pada pembangunan dan kemajuan kampung tempat tinggal kami, juga kampung mereka sendiri. Mengapa proyek pembangunan jalan itu harus dihentikan, sudah hampir satu minggu lamanya terbengkalai jalan di komplek perumahan kami. Apakah pemuda lebih berkuasa dari pada pemerintah kota. Dimana peranan pemerintah dalam hal ini. Mengapa pemerintah bisa kalah dengan pemuda? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah para sobat pembaca sekalian. Begitulah kiranya saya ceritakan dan gambarkan tentang buruknya kalau di suatu kampung ada banyak pemuda yang tidak memiliki pekerjaan alias pengangguran. Banyak kemudaratan timbul karena sempitnya lapangan kerja, dan begitu pula karena lemah nya sumber daya manusianya. Hal-hal tersebut akan banyak menimbulkan konflik dalam kehidupan bermasyarakat di kampung. Maka sebaiknya kita, para sobat pembaca, apabila ada di antara kita saudara-saudara yang tidak memiliki pekerjaan, atau tidak memiliki keterampilan kerja, baiknya cepat kita selamatkan mereka. Kalau tidak suatu hari nanti mereka pasti akan menyusahkan anda sendiri, tidak hanya anda sendiri, juga kepada orang-orang di sekitar kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah sobat pembaca yang budiman, sekian dulu obrolan santai kita hari ini. Kalau saya ada salah-salah kata mohon dimaafkan. Maklumlah saya manusia biasa, tidak luput dari salah dan kilaf, akhir kata dari saya selamat sore, selamat beristirahat, semoga pembicaraan kita sore ini ada faedahnya bagi kita semua, sekian dulu, wasalam. (Lucky Lukmansyah)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;Photo: majalahembun.com&lt;/div&gt;
</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/07/obrolan-santai-uang-asam-ketika-pemuda.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgQEIaKd924J4H67lmZCeen6KDmEzqd1eObwZb2VHjP5iHlR8hCwHZsv4E7gZ9V87AaDJoGFW_kQGqdkcRXFmMgL2cMhOgiiT9l6_WxxEBhFlPEeOhnRGyNFgkEqjB5sjayNaWp-cI9G5V/s72-c/47.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Padang, Padang City, West Sumatra, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.9470831999999999 100.41718100000003</georss:point><georss:box>-1.4551216999999999 99.771734000000023 -0.43904469999999995 101.06262800000003</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-123653044677814720.post-3956233985971586400</guid><pubDate>Tue, 26 Jul 2016 16:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-08-26T11:34:40.176-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Budaya</category><title>Kita Intip Yuk, Bagaimana "Darah Naga" Diolah Oleh Suku Kubu Pedalaman Dharmasraya</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Darah naga merupakan istilah paling populer di pasar Internasional untuk serbuk buah rotan, atau dikenal pula dengan istilah Buah Jernang (Daemonorops Draco BL), buah rotan jenis ini tidak begitu populer dikalangan dunia Budidaya Pertanian, karena memang ia tergolong buah yang "Misterius", dan tidak semudah membalik telapak tangan untuk membudidayakannya lalu membuatnya tumbuh menjadi rotan yang menghasilkan Buah Jernang.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari catatan perjalanan &lt;a href="https://plus.google.com/+ZulfadliAdha/" target="_blank"&gt;Zulfadli Adha&lt;/a&gt; pada 12 bulan Februari lalu di pedalaman Sumatera Barat, tepatnya di wilayah hutan Kabupaten Dharmasraya dan Solok Selatan, menyisakan sedikit cerita tentang bagaimana buah rotan ini diolah dan "disaktikan" oleh kelompok Suku Kubu di pedalaman rimba tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" src="http://tuahkepri.com/wp-content/uploads/2016/03/sarapan-300x200.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;(Menikmati semangkuk bubur sebelum next step di hutan banai, Foto : Koleksi Zulfadli Adha)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suku Kubu atau yang lebih populer dikenal dengan suku anak dalam (SAD), merupakan suku pedalaman yang menggantungkan seluruh hidupnya dari hasil hutan, baik itu hewan liar sebagai buruan, buah-buahan hutan dan “&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;hal-hal lain&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;” yang diproduksi oleh hutan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai suku yang memanfaatkan hasil hutan, salah satu tanaman yang dimanfaatkan suku kubu sebagai sumber pendapatan adalah buah rotan, atau lebih dikenal dengan buah jernang.&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" src="http://tuahkepri.com/wp-content/uploads/2016/03/Idar-dan-anak-gadisnya-yang-belum-punya-nama-300x200.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;(Idar bersama anak perempuannya yang tidak atau belum diberi nama : Foto - koleksi Zulfadli Adha)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagi kalangan usahawan buah jernang dimanfaatkan sebagai bahan mentah berbagai produk, diantaranya untuk obat-obatan, bahan pewarna, dan lain sebagainya, di pasar Internasional hasil ekstrak buah ini diekspor ke berbagai Negara, seperti ke China, India, Malaysia, dan Jepang, pemasaran getah jernang seperti diatur oleh Negara Indonesia dalam Permendag No 12 tahun 2012 tentang &lt;a href="http://www.dephut.go.id/uploads/apl/Permendag_12__2012_HargaPatokanHasilHutan.pdf" target="_blank"&gt;Penetapan Harga Patokan Hasil Hutan Untuk Penghitungan Provisi Sumber Daya Hutan&lt;/a&gt;, harga getah ini dibandrol antara Rp 750.000/kg, namun terkadang harga ini menjadi berbeda di kalangan toke pengumpul yakni berkisar antara Rp 700.000 s/d Rp 1.000.000/kg, tergantung kualitas yang dihasilkan.&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/proxy/AVvXsEiGzX_qTpR_l4WrNBhdG20hEqAheEc47RYHY1vJmc1eeX3Wc4-P0q7TSAf-f0ZhfBNFUlx0si8SKtniXUJeBmU0xfzoCHVxymzsJjYOebB8-q2i0R6Gf0pY14XSszAgQ6j7VQMFAmQbztxLA0lqhzBrXjUnSvAUInNvMRzM-DGJYL7-WF8=" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://tuahkepri.com/wp-content/uploads/2016/03/IMG_8734-200x300.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;(Namanya Agus, tatapannya sungguh tajam &lt;br /&gt;
seakan menguliti apa saja yang ada didepannya&lt;br /&gt;
termasuk kami, Foto : koleksi - Zulfadli Adha)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanaman rotan penghasil buah jernang bagi Suku Kubu sangat sensitive, mengingat pesaing mereka dalam mendapatkannya tidak hanya dari sesama kalangan Suku Kubu, namun juga dari orang luar (&lt;i&gt;masyarakat kampung&lt;/i&gt;), karena itu biasanya ketika musim buah jernang suku ini sibuk didalam hutan dan mereka semakin sulit ditemukan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mak Marni salah seorang dari komunitas Suku Kubu pernah mengatakan, sulit untuk membudidayakan rotan penghasil jernang ini, sebab belum tentu setiap bibit yang ditanam tersebut menghasilkan buah jernang, karena itu yang bisa mereka lakukan hanyalah menjaga agar tumbuhan tersebut tidak ditebang, dan “&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;menjaganya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;” dari pandangan orang luar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karena banyaknya pesaing dari orang luar, biasanya kelompok suku kubu lebih awal menjaga “Permata” mereka ini, dimana biasanya musim jernang pada bulan September – Desember, mereka mulai berpindah masuk lebih dalam lagi di hutan pada bulan agustus.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ekstraksi buah jernang oleh suku kubu biasanya dilakukan dengan cara ekstraksi kering, berikut ini cara ekstraksi buah jernang yang biasa mereka lakukan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Cara pengolahan ekstraksi buah jernang&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Alat dan bahan &lt;/b&gt;: ambung (keranjang rotan), kayu penumbuk, lembaran plastik untuk penampung.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Buah jernang dilepaskan dari tandannya&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Buah jernang kemudian dimasukkan kedalam ambung&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kemudian ditumbuk perlahan-lahan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jernang yang keluar melalui celah-celah ambung ditampung dengan plastik&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Serbuk hasil ekstraksi dimasukkan kedalam plastik, lebih kurang tiga puluh menit hasil ekstraksi akan mengeras dan menggumpal.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" src="http://tuahkepri.com/wp-content/uploads/2016/03/suku-kubu-ekstrak-jernang-226x300.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;(Cara ekstraksi buah jernang oleh suku kubu, Foto : Jurnal Tatok K Waluyo)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber pustaka yang kami telusuri dari penelitian Tatok K Waluyo (TEKNIK EKSTRAKSI TRADISIONAL DAN ANALISIS SIFAT-SIFAT JERNANG ASAL JAMBI), menemukan bahwa tidak semua jenis rotan menghasilkan buah jernang, rotan yang menghasilkan buah jernang diantaranya adalah, Daemonorops draco BL.; D. draconcellus BECC.; D. mattanensis BECC.; D. micrantus BECC.; D. motleyi BECC.; D. propinquess BECC.; D. rubber BL.; D. sabut BECC.; D. micracanthus BECC. dan lain-lain Jenis-jenis tersebut tersebar di pulau Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu), Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kondisi miris yang teramati dari kondisi kehutanan wilayah Sumbar, disamping penggerusan buah langka rotan yang menjadi komoditi Internasional ini, perlahan namun pasti hutan-hutan adat yang ada di pedalaman Sumatera Barat, sedang menghadapi Intimidasi alih fungsi lahan dari hutan alami kepada kapitalisme perkebunan, dan kondisi tersebut sama sekali tidak adil bagi kehidupan manusia jenis lain di muka bumi ini - &lt;b&gt;&lt;span style="color: #38761d; font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Suku Kubu&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, khususnya di hutan pedalaman Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Dharmasraya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*Credit : Tatok K Waluyo, SSS - Pundi Jambi, &lt;a href="http://tuahkepri.com/" target="_blank"&gt;Tuah kepri&lt;/a&gt;, Perkumpulan Peduli Dharmasraya,&lt;a href="https://www.google.com/+KompasmusafirGroup" target="_blank"&gt; Kompasmusafir-Club&lt;/a&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;!-- Blogger automated replacement: "https://images-blogger-opensocial.googleusercontent.com/gadgets/proxy?url=http%3A%2F%2Ftuahkepri.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2016%2F03%2FIMG_8734-200x300.jpg&amp;amp;container=blogger&amp;amp;gadget=a&amp;amp;rewriteMime=image%2F*" with "https://blogger.googleusercontent.com/img/proxy/AVvXsEiGzX_qTpR_l4WrNBhdG20hEqAheEc47RYHY1vJmc1eeX3Wc4-P0q7TSAf-f0ZhfBNFUlx0si8SKtniXUJeBmU0xfzoCHVxymzsJjYOebB8-q2i0R6Gf0pY14XSszAgQ6j7VQMFAmQbztxLA0lqhzBrXjUnSvAUInNvMRzM-DGJYL7-WF8=" --&gt;</description><link>http://luckycerita.blogspot.com/2016/07/kita-intip-yuk-bagaimana-darah-naga.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>