<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416</id><updated>2024-11-09T04:33:24.637+13:00</updated><title type='text'>Selamat datang di Blog Peny....</title><subtitle type='html'>Express Islam Soul....</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>37</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-8903260786461486332</id><published>2010-07-05T16:37:00.001-11:00</published><updated>2010-07-05T16:42:37.566-11:00</updated><title type='text'>YANG MANAKAH ANDA??</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3Nv-YgRnAE4XhiV3cRyjYcpfJEw4JLUBXZI9V3B-Z4UGThEwIu68L4b-ACTn6uBBwXtqFa2K_wr-_ayqzDPXhdvDaaOR6w2dFcqu1KBYNpTjI4vMFMM9VnpmnI4HSLnRdda1tlD8aoVc/s1600/peny+pan.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 262px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3Nv-YgRnAE4XhiV3cRyjYcpfJEw4JLUBXZI9V3B-Z4UGThEwIu68L4b-ACTn6uBBwXtqFa2K_wr-_ayqzDPXhdvDaaOR6w2dFcqu1KBYNpTjI4vMFMM9VnpmnI4HSLnRdda1tlD8aoVc/s400/peny+pan.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5490633234818522210&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya, setiap satu masalah selesai, timbul masalah baru. Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel didalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk yang lainnya.&lt;br /&gt;Lalu ia bertanya kepada anaknya, &quot;Apa yang kau lihat, nak?&quot; &quot;Wortel, telur, dan kopi&quot; jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.  Setelah itu, si anak bertanya, &quot;Apa arti semua ini, Ayah?&quot; ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.&lt;br /&gt;Wortel sebelum direbus kuat, keras, dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkangnya tipis melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. &quot;Kamu termasuk yang mana?&quot; tanya ayahnya. &quot;Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel,telur, atau kopi?&quot; Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu. Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kamu kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku? Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/8903260786461486332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2010/07/yang-manakah-anda.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/8903260786461486332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/8903260786461486332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2010/07/yang-manakah-anda.html' title='YANG MANAKAH ANDA??'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3Nv-YgRnAE4XhiV3cRyjYcpfJEw4JLUBXZI9V3B-Z4UGThEwIu68L4b-ACTn6uBBwXtqFa2K_wr-_ayqzDPXhdvDaaOR6w2dFcqu1KBYNpTjI4vMFMM9VnpmnI4HSLnRdda1tlD8aoVc/s72-c/peny+pan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-90735440340953090</id><published>2010-03-18T16:12:00.003-11:00</published><updated>2010-03-18T16:28:45.009-11:00</updated><title type='text'>KEAJAIBAN DUNIA</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIPHgY-d8Uy03Oc0XEUUFH5QpkxJGB0S7eCdaPFcaIta-lpKFIS3TrpQ0HEUydJvBTpI0XNQ1si3oX8UIDtsj0o7QZjxADD6_nDnA85rmTaQNxEASqCnDGbqejV0ULsjBRH7XAMnqFaWE/s1600-h/123.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 226px; height: 224px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIPHgY-d8Uy03Oc0XEUUFH5QpkxJGB0S7eCdaPFcaIta-lpKFIS3TrpQ0HEUydJvBTpI0XNQ1si3oX8UIDtsj0o7QZjxADD6_nDnA85rmTaQNxEASqCnDGbqejV0ULsjBRH7XAMnqFaWE/s400/123.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5450181351670545202&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;Sekolompok siswa-siswi sedang mempelajari alam dunia yang sering disebut “Tujuh Keajaiban Dunia”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;Pada awal pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang mereka fakir merupakan “Tujuh Keajaiban Dunia” saat ini. Walaupun ada beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar yang mereka tulis :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;1.Piramida&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;2.Taj Mahal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;3.Tembok Besar Cina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;4.Menara Pisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;5.Kuil Angkor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;6.Menara Eiffel&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;7.Kuil Parthenon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;Ketika mengumpulkan daftar pilihan, guru memperhatikan seorang pelajar, seorang gaids pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan membuat daftarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;Gadis pendiam itu menjawab, “Ya, sedikit. Saya tidak dapat memilih karena sangat banyak.” Guru itu berkata, “Baik, katakana pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami dapat membantu memilihnya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca “Saya fakir, “Tujuh Keajaiban Dunia” adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;1. Dapat melihat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;2. Dapat mendengar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;3. Dapat menyentuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;4. Dapat menyayangi, Dia ragu sebentar, dan kemudian melanjutkan,…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;5. Dapat merasakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;6. Dapat tertawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;7. Dan dapat mencintai…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;Ruang kelas sunyui seketika….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;Mudah untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya “keajaiban”. Sementara melihat semua yang telah Allah karuniakan, menyebutnya sebagai “biasa”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;Ketika bumi bergoncang hingga menjadikan ibu-ibu yang sedang mengandung rontok kandungannya… adakah hal biasa? Dan bukan keajaiban?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;Hai manusia, bertakwalah kepada Robbmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat dahsyat. (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya. (QS. Al Hajj : 1-2)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 204);&quot;&gt;Dikutip Mutiara, volume 23&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/90735440340953090/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2010/03/keajaiban-dunia.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/90735440340953090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/90735440340953090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2010/03/keajaiban-dunia.html' title='KEAJAIBAN DUNIA'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIPHgY-d8Uy03Oc0XEUUFH5QpkxJGB0S7eCdaPFcaIta-lpKFIS3TrpQ0HEUydJvBTpI0XNQ1si3oX8UIDtsj0o7QZjxADD6_nDnA85rmTaQNxEASqCnDGbqejV0ULsjBRH7XAMnqFaWE/s72-c/123.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-9220446017373915935</id><published>2010-03-11T17:41:00.003-11:00</published><updated>2010-03-11T17:47:01.528-11:00</updated><title type='text'>MANGKUK TAK BERALAS</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHvuXqXk9FsIBDRBJGHSNvXtmz_aoMUTtgWenwtyoeHxmHXnbKbGLZLTtUap_081MMS_m_6C97RU6cqPoJpM5odIrSIhTcS7IL7A0vOYq7pNYB02LQwLEY2GFH2SaOqKS8Xfpu4h13oyc/s1600-h/beggar.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 127px; height: 126px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHvuXqXk9FsIBDRBJGHSNvXtmz_aoMUTtgWenwtyoeHxmHXnbKbGLZLTtUap_081MMS_m_6C97RU6cqPoJpM5odIrSIhTcS7IL7A0vOYq7pNYB02LQwLEY2GFH2SaOqKS8Xfpu4h13oyc/s400/beggar.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5447604109649525906&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;Seorang raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis. Sang raja menyapa pengemis ini : Apa yang engkau inginkan dariku? &lt;/span&gt;&lt;p style=&quot;color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;Si pengemis itu tersenyum dan berkata : Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;Sang raja terkejut, ia merasa tertantang : Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah! Maka menjawablah sang pengemis : Berpikirlah dua kali, wahaui tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;Rupanya sang pengemis bukanlah sembarang pengemis. Namun raja tidak merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasihat dari seorang pengemis. Sudah aku katakana, aku dapat memenuhi permintaanmu. Apapun juga! Aku adalah raja yang paling berkuasa dan kaya raya. &lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah : Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan. Bukan main! Raja menjadi geram mendengar ‘tantangan’ pengemis dihadapannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas! Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah. Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajaan : emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis dilahap mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya : Sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini? Pengemis itu menjawab sambil tersenyum : Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya. &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu, semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu. Semuanya hilang ibarat emas intan berlian yang masuk dalam mabgkuk yang tak beralas itu. Kegembiraan, gairah, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan. Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang keinginan baru.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;Orang tidak pernah merasa puas. Ia selalu merasa kekurangan. Anak cucumu kelak mengatakan : powet tends to corrupt; kekuasaan cenderung untuk berlaku tamak. Raja itu bertanya lagi :&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;Adakah cara untuk menutup alas mangkuk itu? Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Allah SWT. Jika engkau pandai bersyukur, Allah akan menambah nikmat padamu. Ucap sang pengemis itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang dari mata khalayak.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Se-sungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14] : 7).&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(0, 51, 51);&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 51);&quot;&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;Cahaya Hikmah, edisi 15 / Januari 2008&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/9220446017373915935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2010/03/mangkuk-tak-beralas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/9220446017373915935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/9220446017373915935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2010/03/mangkuk-tak-beralas.html' title='MANGKUK TAK BERALAS'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHvuXqXk9FsIBDRBJGHSNvXtmz_aoMUTtgWenwtyoeHxmHXnbKbGLZLTtUap_081MMS_m_6C97RU6cqPoJpM5odIrSIhTcS7IL7A0vOYq7pNYB02LQwLEY2GFH2SaOqKS8Xfpu4h13oyc/s72-c/beggar.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-6235760633707910589</id><published>2010-03-11T15:34:00.002-11:00</published><updated>2010-03-11T15:39:59.547-11:00</updated><title type='text'>RAJA SEHARI</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmwH8LbY82S4ri-hzBwuRsSLo3-fCu0r65KpxciT_fik_3zMCoxcl4TT9AeYMehK8bzKYidd1ZbY3c-dyAObM3AONVtKJi0IPvG9PtjplcU1e_0Ilv-B7RcYwSyxxSNC9aCQLB5Jh9FUY/s1600-h/destarata.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 327px; height: 218px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmwH8LbY82S4ri-hzBwuRsSLo3-fCu0r65KpxciT_fik_3zMCoxcl4TT9AeYMehK8bzKYidd1ZbY3c-dyAObM3AONVtKJi0IPvG9PtjplcU1e_0Ilv-B7RcYwSyxxSNC9aCQLB5Jh9FUY/s400/destarata.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5447571497764340146&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 0);font-family:lucida grande;&quot; &gt;           Pernah hidup seorang Raja tua yang sangat bijaksana, memerintah sebuah negeri yang aman tenteram dan makmur sentora. Suatu malam, Raja tua dan pembantunya berkeliling &lt;/span&gt;&lt;st1:place style=&quot;font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot; st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 0);font-family:lucida grande;&quot; &gt; dan menemukan sebuah gubug yang kumuh.&lt;/span&gt;&lt;p style=&quot;font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;Raja tua mengendap mendekati gubug itu dan mencuri dengar. Rupanya gubug itu dihuni oleh seorang janda miskin beranak satu. Sang anak menangis kelaparan, sementara sang Ibu sibuk menghibur si anak. “Sabarlah nak. Ibu akan menghadap Raja besok. Ibu dengar dia Raja yang murah hati. Dia pasti akan memberikan makanan bagi kita.”&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;Raja tua terenyuh hatinya dan memanggil sang pembantu, :Jika mereka sudah tidur, ambil anaknya dan letakkan di tempat tidurku. Besok, aku ingin dia menjadi Raja selama satu hati. Sehingga saat Ibunya datang menghadap, dia bisa memberikan sebanyak apapun harta kekayaan istanaku kepada Ibunya.” Si anak bangun tidur di kamar Raja yang mewah. &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pelayan istana memberikan penghormatan kepada si anak, selayaknya seorang Raja. Mereka melayani dia dari keperluan mandi hingga sarapan. Dari pagi hingga siang, si anak bermain-main dengan para Pangeran dan Putri istana. Semuanya menghormati dia selayaknya seorang Raja. Si anak mulai berpikir bahwa dia akan seterusnya tinggal di istana sebagai seorang raja. Dia mulai menikmati segala kemewahan disekelilingnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;Tiba saatnya Raja duduk di ruang sidang, memutuskan masalah rakyat. Disamping singgasana Raja, duduk Penasehat Agung Kerajaan, yang tiada lain adalah Raja Tua yang asli. Satu demi satu Raja memutuskan urusan rakyat dengan bijaksana, atas saran bijak Penasehat Agung. Hingga tiba giliran sang Ibu yang miskin untuk menghadap. Malu, sang Ibu hanya tertunduk, tidak berani memandang Raja. Tapi Raja dapat mengenali Ibunya. Usai mendengarkan penuturan ibunya, Raja memerintahkan untuk memberikan dua karung gandum dan sepuluh keeping uang emas kepada ibunya. Penasihat Agung dan pembesar lainnya terkejut. &lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;“Yang mulia,” tegur Penasihat Agung. “Kekayaan istana ini sungguh tidak terbatas. Kita bisa memberikan lebih banyak lagi.” “Yang Mulia,” Menteri Pangan bangkit dari kursinya. “Menurut perhitungan hamba, jika Tuanku menyerahkan 1000 lumbung padi sekalipun, negera masih memiliki kelimpahan yang tidak terbatas. Saran hamba, berikanlah lebih dari itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;“Tuanku,” Bendahara Negeri ikut menimpali. “Menurut hitungan hamba, jika Tuanku mengeluarkan seluruh persediaan emas Negara untuk Ibu ini, Negara masih tetap kayak arena bulan depan kita akan memperoleh pendapatan emas dua kali lipat dari hari ini. Saran hamba, berikanlah lebih dari itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;Demikianlah, Penasihat Agung dan satu demi satu pembesar kerajaan mencoba membujuk Raja untuk memberikan lebih kepada Ibunya. Tetapi raja tidak perduli. Dia bahkan marah dengan usulan-usulan yang dianggap mempertanyakan otoritasnya itu. Sang Ibu yang miskin akhirnya pulang dengan dua karung gandum dan sepuluh keping uang emas.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;Ketika matahari tenggelam, si anak tertidur kelelahan. Raja Tua berkata kepada pembantunya, “Aku telah menggenapi janjiku untuknya. Kembalikan lagi dia ke rumah Ibunya.” Sang anak terbangun kembali di gubugnya. Dia pikir dia baru bermimpi. Namun dia terkejut mendengar cerita Ibunya. Si anak segera menyadari kesalahannya, dan berlari ke istana menemui Raja Tua. “Yang Mulia, ampuni hamba. Hamba kini menyadari maksud Baginda. Hamba mohon, kembalikan hamba menjadi Raja, agar hamba bisa memberikan lebih kepada Ibu hamba.”&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;“Tidak bisa,” kata Raja.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;“Satu menit saja, Yang Mulia. Sekedar memerintahkan untuk memberikan lebih kepada ibunda hamba.”&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;“Anakku,” kata Raja. “Waktumu telah berlalu. Apa yang telah engkau berikan untuk ibumu, itulah yang akan engkau nikmati.”&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot; align=&quot;center&quot;&gt;========================== 000 ==========================&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: “Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kembalikan kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan) : “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?” (QS. Ibrahim : 44)&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;Semoga kita semua tidak tertipu seperti anak itu, yang mengira dia akan menjadi Khalifah / Raja selamanya di atas dunia.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; font-family: lucida grande; color: rgb(204, 102, 0);&quot;&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;Cahaya Hikmah, edisi 20 / Juni 2007&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/6235760633707910589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2010/03/raja-sehari.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/6235760633707910589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/6235760633707910589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2010/03/raja-sehari.html' title='RAJA SEHARI'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmwH8LbY82S4ri-hzBwuRsSLo3-fCu0r65KpxciT_fik_3zMCoxcl4TT9AeYMehK8bzKYidd1ZbY3c-dyAObM3AONVtKJi0IPvG9PtjplcU1e_0Ilv-B7RcYwSyxxSNC9aCQLB5Jh9FUY/s72-c/destarata.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-5177354218339469234</id><published>2010-03-10T19:28:00.002-11:00</published><updated>2010-03-10T19:33:38.591-11:00</updated><title type='text'>Hati yang Indah</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiQPA65_oY1uIhZBHrRLnTGOJXhiv7fW0q9XwQgwVfdoLbvf6gZ5aysVmqw8B3npMfNMwhrpz_V_RNTlx8XGPLHo6ah2nGItaYm_E6B2wE_WKZ6BWxyRoUUCo78gePZxVW8P7Q4GUfv5Y/s1600-h/hati.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 293px; height: 239px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiQPA65_oY1uIhZBHrRLnTGOJXhiv7fW0q9XwQgwVfdoLbvf6gZ5aysVmqw8B3npMfNMwhrpz_V_RNTlx8XGPLHo6ah2nGItaYm_E6B2wE_WKZ6BWxyRoUUCo78gePZxVW8P7Q4GUfv5Y/s400/hati.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5447260601383662834&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204); font-style: italic;font-family:georgia;&quot; &gt;Pada suatu hari, seorang pemuda berdiri di tengah &lt;/span&gt;&lt;st1:city style=&quot;color: rgb(102, 0, 204); font-style: italic; font-family: georgia;&quot; st=&quot;on&quot;&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204); font-style: italic; font-family: georgia;&quot;&gt; dan menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah yang ada di &lt;/span&gt;&lt;st1:place style=&quot;color: rgb(102, 0, 204); font-style: italic; font-family: georgia;&quot; st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204); font-style: italic; font-family: georgia;&quot;&gt; itu. Banyak orang kemudian berkumpul dan mereka semua mengagumi hati pemuda itu, karena memang benar-benar sempurna. Tidak ada satu cacat atau goresan sedikit pun di hati pemuda itu. Pemuda itu sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya yang indah.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);&quot;&gt;Tiba-tiba, seorang lelaki tua menyeruak dan kerumunan, tampil ke depan dan berkata “Mengapa hatimu masih belum seindah hatiku?” kerumunan orang-orang dan pemuda itu melihat pada hati pak tua itu. Hati pak tua itu berdegup dengan kuatnya, namun penuh dengan bekas luka, dimana ada bekas potongan hati yang diambil dan ada potongan yang lain ditempatkan di situ; namun tidak benar-benar pas dan ada sisi-sisi potongan yang tidak rata. Bahkan, ada bagian-bagian yang berlubang karena dicungkil dan tidak ditutup kembali. Orang-orang itu tercengang dan berpikir, bagaimana mungkin pak tua itu mengatakan bahwa hatinya lebih indah?&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Pemuda itu melihat kepada pak tua itu, memperhatikan hati yang dimilikinya dan tertawa “Anda pasti bercanda, pak tua”. Katanya, “bandingkan hatimu dengan hatiku, hatiku sangatlah sempurna sedangkan hatimu tak lebih dari kumpulan bekas luka dan cabikan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;“Ya”, kata pak tua itu, “hatimu kelihatan sangat sempurna meski demikian aku tak akan menukar hatiku dengan hatimu. Lihatlah, setiap bekas luka ini adalah tanda dari orang-orang yang kepadanya kuberikan kasihku, aku menyobek sebagian dari hatiku untuk kuberikan kepada mereka,dan seringkali mereka juga memberikan sobekan hati mereka untuk menutup kembali sobekan yang kuberikan. Namun karena setiap sobekan itu tidaklah sama, ada bagian-bagian yang kasar, yang sangat aku hargai, karena itu mengingatkanku akan cinta kasih yang telah bersama-sama kami bagikan.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Adakalanya aku memberikan potongan hatiku begitu saja dan orang yang kuberi itu tidak membalas dengan memberikan potongan hatinya. Hal itulah yang meninggalkan lubang-lubang seobekan memberikan cinta kasih adalah suatu kesempatan. Meskipun bekas cabikan itu menyakitkan, mereka tetap terbuka, hal itu mengingatkanku &lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;akan cinta kasihku pada orang-orang itu, dan aku berharap, suatu ketika nanti mereka akan kembali dan mengisi lubang-lubang itu. Sekarang, tahukah engkau keindahan hati yang sesungguhnya itu?&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Pemuda itu berdiri membisu dan airmata mulai mengalir di pipinya. Dia berjalan ke arah pak tua itu, menggapai hatinya yang begitu muda dan indah, dan merobeknya sepotong. Pemuda itu memberikan robekan hatinya kepada pak tua dengan tangan yang gemetar. Pak tua itu menerima pemberian itu, menaruhnya di hatinya dan kemudian mengambil sesobekan dari hatinya yang sudah amat tua dan penuh luka, kemudian menempatkannya untuk menutupi luka di hati pemuda itu. Sobekan itu pas, tetapi tidak sempurna, karena ada sisi-sisi yang tidak sama rata. Pemuda itu melihat kedalam hatinya, yang tidak lagi sempurna tapi kini lebih indah dari sebelumnya, karena cinta kasih dari pak tua itu telah mengalir ke dalamnya. Mereka berdua kemudian berpelukan dan berjalan beriringan.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);&quot;&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(204, 51, 204);&quot;&gt;dikutip dari Cahaya Hikmah, edisi 01/ 2006&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/5177354218339469234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2010/03/hati-yang-indah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/5177354218339469234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/5177354218339469234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2010/03/hati-yang-indah.html' title='Hati yang Indah'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiQPA65_oY1uIhZBHrRLnTGOJXhiv7fW0q9XwQgwVfdoLbvf6gZ5aysVmqw8B3npMfNMwhrpz_V_RNTlx8XGPLHo6ah2nGItaYm_E6B2wE_WKZ6BWxyRoUUCo78gePZxVW8P7Q4GUfv5Y/s72-c/hati.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-2093464328179630413</id><published>2010-03-08T18:40:00.004-11:00</published><updated>2010-03-08T19:02:49.812-11:00</updated><title type='text'>Ibu yang luar biasa</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2SWQOhl1RjI8snsGC-8T7KrP8d_HV_RpjE2Qh2bI9_QqMcoIhlQwJ_Ddu2GgYXm35FVUrLJnA9_Hm8PP2ilyS6Ez-tKaU95U7LHk6o5VdOgW2-GXQF17Oc7sxenDqSNIEcmsBOkw9aRc/s1600-h/kartun_berdoa13.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 385px; height: 400px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2SWQOhl1RjI8snsGC-8T7KrP8d_HV_RpjE2Qh2bI9_QqMcoIhlQwJ_Ddu2GgYXm35FVUrLJnA9_Hm8PP2ilyS6Ez-tKaU95U7LHk6o5VdOgW2-GXQF17Oc7sxenDqSNIEcmsBOkw9aRc/s400/kartun_berdoa13.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5446505910472902386&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Surabaya&lt;/st1:city&gt; sedang berpergian naik pesawat ke &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan. “Ibu, ada acara apa pergi ke &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;?” tanya si pemuda. “Oh… saya mau ke &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt; terus “connecting flight” ke &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Singapore&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; nengokin anak saya yang ke dua,” jawab ibu itu. “Wouw… hebat sekali putra ibu.” pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya. “Kalau saya tidak salah, anak yang di &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;Singapore&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tadi, putra yang kedua ya bu?? Bagaimana dengan kakak adik-adiknya?” Oh ya tentu.” si ibu bercerita : “Anak saya yang ketiga seorang dokter di &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Malang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, yang keempat kerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. “Terus bagaimana dengan anak pertama ibu??” Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, “Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak.” Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu.. kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani??”&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;Dengan tersenyum ibu itu menjawab, &lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;“Ooo.. tidak… tidak begitu nak… Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani.”&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;Note : Semua orang di dunia ini penting. Buka matamu, pikiranmu, hatimu. Intinya adalah kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca buku itu sampai selesai. Orang bijak berbicara “Hal yang paling penting adalah bukanlan SIAPA KAMU tetapi APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN.”&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;dikutip dari Cahaya Hikmah, edisi 26 / Desember 2008&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/2093464328179630413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2010/03/ibu-yang-luar-biasa.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/2093464328179630413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/2093464328179630413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2010/03/ibu-yang-luar-biasa.html' title='Ibu yang luar biasa'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2SWQOhl1RjI8snsGC-8T7KrP8d_HV_RpjE2Qh2bI9_QqMcoIhlQwJ_Ddu2GgYXm35FVUrLJnA9_Hm8PP2ilyS6Ez-tKaU95U7LHk6o5VdOgW2-GXQF17Oc7sxenDqSNIEcmsBOkw9aRc/s72-c/kartun_berdoa13.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-8525453054914443419</id><published>2010-03-08T16:33:00.001-11:00</published><updated>2010-03-08T16:41:48.621-11:00</updated><title type='text'>Kisah seorang ibu yang tabah</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiECkeb4_BmZSAS4eAw4MXhO_sXLYlt4zRU_hWjui1Uu0pJQRZhC-apFs7UTmmflk6DkzL3xy5GorFJcFyadhzMVoSYkEsXrOxsL0AB7YQ8vvyta39O7rw5r1mL6rYjCYmnLZYM2tRGvVc/s1600-h/peny.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 130px; height: 131px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiECkeb4_BmZSAS4eAw4MXhO_sXLYlt4zRU_hWjui1Uu0pJQRZhC-apFs7UTmmflk6DkzL3xy5GorFJcFyadhzMVoSYkEsXrOxsL0AB7YQ8vvyta39O7rw5r1mL6rYjCYmnLZYM2tRGvVc/s400/peny.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5446474226303101314&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);&quot;&gt;             Suatu ketika si ibu melakukan perjalanan dengan menumpang perahu layer dari daratan tempat kediamannya menyeberangi lautan menuju suatu daerah dimana anaknya sedang menuntut ilmu. Ditengah perjalanan, perahu tiba-tiba datang badai dan ombak yang sangat ganas menghempaskan perahu, sehingga perahu layar tersebut berjalan tak tentu arah terbawa ombak. Melihat kejadian tersebut, semua penumpang kecuali ibu ini, berteriak-teriak histeris karena ketakutan, ada yang mencari pelampung, ada yang saling berpelukan dengan anggota keluarga dan teman seperjalanan dan ada juga yang sudah meloncat ke air untuk berusaha berenang mencari pantai di lautan yang tidak kelihatan tepiannya. Sang nahkoda tetap berusaha mengendalikan perahu layar tersebut semampunya dengan harapan jangan sampai perahu itu terbaik dan tenggelam.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(51, 102, 255);&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(51, 102, 255);&quot;&gt;Dalam keadaan yang sudah kacau balau tersebut, si ibu tetap duduk dengan tenang sambil sesekali menengadahkan wajah dan tangannya ke atas dengan bibir komat-kamit. Seorang awak kapal ternyata memperhatikan si ibu tua itu dan kemudian ia mendekati seraya berkata : “Ibu… apa yang sedang engkau lakukan, mengapa ibu diam saja dan tidak berusaha untuk menyelamatkan diri…?” Lalu sang ibu memandang awak kapal itu dengan senyum sangat ikhlas dan tenang, lalu dia berkata : “Apakah yang dapat aku lakukan disaat seperti ini..?” Awak kapal menjawab : “Pergilah cari pelampung atau masuklah ke sekoci bersama dengan penumpang yang lain.” Si ibu kembali bertanya… “Apakah dengan kondisiku yang sedemikian ini akan mampu berebut pelampung atau mampu bertahan untuk saling mendorong di dalam sekoci yang sekecil itu…? Apakah kapal ini tidak lebih besar dari sekoci itu untuk tempat berteduk dan berlindung..?” lalu sang awak kapal menjawab : “Ibu, kapal ini akan tenggelam karena sudah terlalu banyak air laut yang masuk.” Kemudian si ibu menjawab : “Aku sangat berbahagia untuk tetap tinggal di kapal ini, karena sekoci dan pelampung itu tidak akan pernah sampai ke daratan yang akan kita tuju, karena mereka tidak akan kuasa menentukan arahnya, sementara jikalau Tuhan mengujinkan kapal ini bertahan, maka akan sampailah kita ke daratan tujuan kita dan aku akan bertemu dengan anakku yang kucintai yang sedang menungguku disana.” Si awak kapal bingung dan kembali bertanya : “Bagaimana sekiranya kita tidak mampu untuk meneruskan perjalanan dan kita putar haluan untuk kembali....?” si ibu menjawab : “Aku juga akan berbahagia, karena aku akan kembali berkumpul dengan suamiku yang sedang menungguku di rumah…” Lalu si awak kapal kembali bertanya : “Bagaimana kalau kapal ini tengggelam dan kita akan mati ditelan ombak badai…?” si ibu kembali menjawab dengan tenang dan senyum : “Aku juga akan tetap berbahagia, karena aku akan bertemu dengan anakku yang telah lama pergi menghadap Sang Penciptanya.” Seketika itu sang awak kapal baru tersadar…, ternyata ketabahan ibu ini sungguh luar biasa, lalu dengan tangan yang lembut ia menuntun ibu tua itu untuk masuk menuju ruang awak kapal serta berkata “Terimakasih Ibu, engkau telah memberiku pelajaran yang sangat berharga, bahwa hidup harus dihadapi dengan ketenangan jiwa dan terutama penyerahan diri kepada Tuhan Sang Pencipta.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(51, 102, 255);&quot;&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;dikutip dari Cahaya Hikmah, Edisi 26 / Desember 2008&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/8525453054914443419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2010/03/kisah-seorang-ibu-yang-tabah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/8525453054914443419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/8525453054914443419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2010/03/kisah-seorang-ibu-yang-tabah.html' title='Kisah seorang ibu yang tabah'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiECkeb4_BmZSAS4eAw4MXhO_sXLYlt4zRU_hWjui1Uu0pJQRZhC-apFs7UTmmflk6DkzL3xy5GorFJcFyadhzMVoSYkEsXrOxsL0AB7YQ8vvyta39O7rw5r1mL6rYjCYmnLZYM2tRGvVc/s72-c/peny.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-8430066255163730181</id><published>2009-09-24T21:17:00.000-11:00</published><updated>2009-09-24T21:28:35.941-11:00</updated><title type='text'>kisah kucing kecil</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGacO89IXNIYejNATvXkZceyYAv39KBzMA2glTnDCDqdcNttDJblzsK7kEDC6KrRpD0MF05OX7JFPtgvvFmY9mASZTcxTK0BDpVYYhDJJYKFARUfeV7U7jrY9SIAPfphln4492_GhjTDM/s1600-h/kucing-guntar-147.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGacO89IXNIYejNATvXkZceyYAv39KBzMA2glTnDCDqdcNttDJblzsK7kEDC6KrRpD0MF05OX7JFPtgvvFmY9mASZTcxTK0BDpVYYhDJJYKFARUfeV7U7jrY9SIAPfphln4492_GhjTDM/s400/kucing-guntar-147.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5385317635586714770&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;Sepasang suami istri, berjalan kaki bersama sambil tertawa dan bercanda ria. Dari kejauhan, mereka melihat ada dua ekor kucing tengah berjalan beriringan. Ibu kucing dan anaknya yang masih kecil. Si kucing kecil berjalan di belakang, mengikuti ibunya. Sangat lucu. “Wha, lihat mas.., ada kucing kecil lagi sama ibunya…” ujar sang istri dengan gembira sambil menunjuk dua ekor kucing yang terlihat dari kejauhan. Saat sudah dekat dengan kucing-kucing itu, mereka menyapa, “Hai…Puss…Puss….” Si kucing kecil terlihat berlari riang, dan bercanda dengan ibunya. Ia meloncat kian kemari dan hendak menyeberang jalan raya. Sebuah sepeda motor melintas melewati jalan itu. “Aduh….awas Puss!... nanti ketabrak lho..” ujar sang istri pada si kucing kecil. “Alhamdulillah tidak kena…” Seru mereka berdua. “Hati-hati Puss….,, jangan nyebrang-nyebrang lagi ya.” Mereka menyapa dengan melambai-lambaikan tangan pada si kucing kecil. Kucing kecil itu menatap pada dua manusia di hadapannya. “Alhamdulillah ya kucingnya tidak tertabrak…” ujar istri pada suaminya sambil tertawa senang. Mereka melanjutkan perjalanan. Si kucing kecil kembali ke pinggir jalan dan berjalan di belakang ibunya sambil sesekali mengajak bercanda sang ibu. Si kucing kecil berlari ke tengah jalan…Ah… kucing itu tidak akan tertabrak, bukankah dia kucing yang gesit, pikir sang istri. Dari kejauhan, sebuah motor melaju dengan kencang. Sambil tetap berjalan, ekor mata suami dan istri tersebut tetap memperhatikan gerak si kucing kecil. Tapi, perkiraan mereka salah. “Awas…” seru mereka dalam hati. “KREEKK!!” Kejadian itu begitu cepat. Sepeda motor itu tepat menabrak dan menggilas si kucing kecil yang tengah berlari menyebrang ke tengah jalan. “Kucingnya tertabrak!!!...” Kedua insane itu terperanjat. Badan si kucing kecil gemetar dan kepalanya yang semula tegak, terkulai perlahan ke aspal jalan raya. “Puss…!”&lt;/span&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Kucing kecil yang beberapa detik lalu sangat riang, tiba-tiba kini terkulai tak bergera. Ah…., Puss… Dan ibu kucing kecil itu sendirian. Tak ada lagi anak yang menemani perjalanan. Senyum dan tawa suami istri itu hilang seketika. Terdiam. Menjadi teringat diri. Dunia menjadi kecil. Ingin segera bertaubat. Sujud. Bisa saja, saat sedang tertawa bercanda, ternyata sedetik algi diri ini dicabut nyawa oleh Malaikat Izrail. Persis seperti kucing itu. Begitu mudahnya Ia mencabut nyawa makhluk-Nya dan begitu indah serta halus cara Ia memberikan teguran, peringatan, kepada hamba-hamba-Nya. Melalui seekor kucing. Sambil terus menyusuri jalan, terngiang sabda Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya, “Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dlaam sehari. Ketika Izrail datang melihat wajah seseorang, didapati orang itu ada yang masih tertawa. Maka berkata Izrail, “Alangkah herannya aku melihat orang ini sedangkan aku diutus oleh Allah Ta’ala untuk mencabut nyawanya tertapi dia masih bergelak tawa.”&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Dan juga dalam hadist lainnya, Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan pasti akan banyak menangis, pasti kamu tidak akan bersenang-senang dengan istri kamu diatas kasur dan pasti kamu akan keluar dari rumahmu menuju tanah lapang sambil menjerit-jerit karena takut kepada Allah.”&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Lama…,aku bersimpuh di hadapan-Mu… &lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Begitu khusyu Tak tahan jua air mataku mengalir tanda penyesalanku&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Kini aku sadari begitu banyak dosa mematri Akankah hamba layak dipuji &lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Sedangkan diri kecil tak berarti&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Besar rahmat-Mu penuh dengan ampunan…&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Namun kumalu karena hati telah lalai &lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Kekal azab-Mu penguasa seluruh alam&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Tersujud aku memohon keridhoan&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0); text-align: center;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;Allah…Ya Allah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0); text-align: center;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;Kau Pengasih, Kau Penyayang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0); text-align: center;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;Allah… Ya Allah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0); text-align: center;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;Kau Pelindung, Kau Pengampun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0); text-align: center;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0); text-align: center;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;Pada-Mu Ya Allah kami serahkan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0); text-align: center;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;Segala ujian, karunia-Mu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0); text-align: center;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;Kuatkanlah iman dan kesabaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;color: rgb(153, 0, 0); text-align: center;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;Berikan ampunan dalam hidupku Ya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;Allah….&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;dikutip dari : cahaya hikmah, edisi 24/2008&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;/div&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/8430066255163730181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/09/kisah-kucing-kecil.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/8430066255163730181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/8430066255163730181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/09/kisah-kucing-kecil.html' title='kisah kucing kecil'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGacO89IXNIYejNATvXkZceyYAv39KBzMA2glTnDCDqdcNttDJblzsK7kEDC6KrRpD0MF05OX7JFPtgvvFmY9mASZTcxTK0BDpVYYhDJJYKFARUfeV7U7jrY9SIAPfphln4492_GhjTDM/s72-c/kucing-guntar-147.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-5316385724561626377</id><published>2009-09-23T19:29:00.000-11:00</published><updated>2009-09-23T19:37:03.185-11:00</updated><title type='text'>cermin yang terlupakan</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFTzHB_AYLZClKohxSshJ2dbKUPWGnH0ltnVr-cso1umtfm5aTxjT6GQhiXskpUNcuT3il3EhePaySymcdx6yltQGk5BO9KK-cHdoXwZuNtZGti9bFh_1DrxCKY5OgED7PMQg3uE1F9bk/s1600-h/6719-mirror.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 302px; height: 400px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFTzHB_AYLZClKohxSshJ2dbKUPWGnH0ltnVr-cso1umtfm5aTxjT6GQhiXskpUNcuT3il3EhePaySymcdx6yltQGk5BO9KK-cHdoXwZuNtZGti9bFh_1DrxCKY5OgED7PMQg3uE1F9bk/s400/6719-mirror.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5384918197911406210&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, sepasang suami, istri, katakanlah mereka Smith, mengadakan “garage sale” untuk menjual barang-barang bekas yang tidak mereka butuhkan lagi. Suami istri ini sudah setengah baya, dan anak-anak mereka telah meninggalkan rumah untuk hidup mandiri. Sekarang waktunya untuk membenahi rumah, dan menjual barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi. Saat mengumpulkan barang-barang yang akan dijual, mereka menemukan benda-benda yang sudah sekian lama tersimpan di gudang. Salah satu diantaranya adalah sebuah cermin yang mereka dapatkan sebagai hadiah pernikahan mereka, dua puluh tahun yang lampau. Sejak pertama kali diperoleh, cermin itu sama sekali tidak pernah digunakan. Bingkainya yang berwarna biru aqua membuat cermin itu tampak buruk, dan tidak cocok untuk diletakkan di ruangan mana pun di rumah mereka. Namun karena tidak ingin menyakiti orang yang menghadiahkannya, cermin itu tidak mereka kembalikan. Demikianlah, cermin itu teronggok di loteng. Setelah dua puluh tahun berlalu, mereka berpikir orang yang memberikannya tentu sudah lupa dengan cermin itu. Maka mereka mengeluarkan dari gudang, dan meletakkannya bersama barang lain untuk dijual keesokan hari. Garage sale mereka ternyata mendapat banyak peminat. Halaman rumah mereka penuh oleh orang-orang yang datang untuk melihat barang bekas yang mereka jual. Satu per satu barang bekas itu mulai terjual. Perabot rumah tangga, buku-buku, pakaian, alat berkebun, mainan anak-anak, bahkan radio tua yang sudah tidak berfungsi pun masih ada yang membeli. Seorang lelaki menghampiri Mrs. Sminth. “Berapa harga cermin itu?” katanya sambil menunjuk cermin tak terpakai tadi. Mrs. Smith tercengang. “Wah, saya sendiri tidak berharap akan menjual cermin itu. Apakah anda sungguh ingin membelinya?” katanya. “Ya, tentu saja. Kondisinya masih sangat bagus.” Jawab pria itu. Mrs. Smith tidak tahu berapa harga yang pantas untuk cermin jelek itu. Meskipun sangat mulus, namun baginya cermin itu tetaplah jelek dna tidak berharga. Setelah dipikir sejenak, Mrs. Smith berkata, “Hmm… anda bisa membeli cermin itu untuk satu dolar.” Dengan wajah berseri-seri, pria tadi mengeluarkan dompetnya, menarik selembar uang satu dolar dan memberikannya kepada Mrs. Smith. “Terimakasih,” Kata Mrs. Smith, “Sekarang cermin itu jadi milik anda. Apakah perlu dibungkus?” “Oh, jika boleh, saya ingin memeriksanya sebelum saya bawa pulang.” Jawab si pembeli. Mrs. Smith memberikan ijinnya, dan pria itu bergegas mengambil cerminnya dan meletakkannya di atas meja di depan Mrs. Smith. Dia mulai mengupas pinggiran bingkai cermin itu. Dengan satu tarikan dia melepaskan lapisan pelindungnya dan muncullah warna keemasan dibaliknya. Bingkai cermin itu ternyata bercat emas yang snagat indah, dan warna biru aqua yang selama ini menutupinya hanyalah warna dari lapisan pelindung bingkai itu! “Ya, tepat seperti yang saya duga! Terima kasih!”sorak pria itu dengan gembira. Mrs. Smith tidak bisa berkata-kata menyaksikan cermin indah itu dibawa pergi oleh pemilik barunya, untuk mendapatkan tempat yang lebih pantas daripada loteng rumah yang sempit dan berdebu. Kisah ini menggambarkan bagaimana kita melihat hidup kita. Terkadang kita merasa hidup kita membosankan, tidak seindah yang kita inginkan. Kita melihat hidup kita berupa rangkaian rutinitas yang harus kita jalani. Bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur Bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur.itu saja yang kita jalani setiap hari. Sama halnya dengan Mr. dan Mrs. Smith yang hanya melihat plastik pelapis dari bingkai cermin mereka, sehingga mereka merasa cermin itu jelek dan tidak cocok digantung di dinding. Padahal di balik lapisan itu, ada warna emas yang indah. Padahal di balik rutinitas hidup kita, ada banayk hal yang dapat memperkaya hidup kita. Setiap saat yang kita lewati, hanya bisa kita alami satu kali seumur hidup kita. Setiap detik yang kita jalani, hanya berlaku satu kali dalam hidup kita. Setiap detik adalah pemberian baru dari Tuhan untuk kita. Akankah kita menyianyiakannya dengan terpaku pada rutinitas? Akankah kita membiarkan waktu berlalu dengan merasa hidup kita tidak seperti yang kita inginkan? Setelah dua puluh tahun, dan setelah terlambat, barulah Mrs. Smith menyadari nilai sesungguhnya dari nilai tersebut. Inginkah kita menyadari keindahan hidup kita setelah segalanya terlambat? Tentu tidak. Sebab itu, marilah kita mulai mengikis pandangan kita bahwa hidup hanaylah rutinitas belaka. Mari kita mulai mengelupas rutinitas tersebut dan menemukan nilai sesungguhnya dari hidup kita. Marilah kita mulai menjelajah hidup kita, menemukan hal-hal baru, belajar lebih banyak, mengaenal orang lebih baik. Mari kita melakukan sesuatu yang baru. Mari kita membuat perbedaan! Dengan sesuatu semangat baru untuk menjalani hidup lebih baik setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;dikutip dari :cahaya hikmah, edisi 28/ maret 2009&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/5316385724561626377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/09/cermin-yang-terlupakan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/5316385724561626377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/5316385724561626377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/09/cermin-yang-terlupakan.html' title='cermin yang terlupakan'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFTzHB_AYLZClKohxSshJ2dbKUPWGnH0ltnVr-cso1umtfm5aTxjT6GQhiXskpUNcuT3il3EhePaySymcdx6yltQGk5BO9KK-cHdoXwZuNtZGti9bFh_1DrxCKY5OgED7PMQg3uE1F9bk/s72-c/6719-mirror.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-5014755147524306007</id><published>2009-09-22T17:25:00.001-11:00</published><updated>2010-03-08T16:49:15.473-11:00</updated><title type='text'>cinta laki-laki biasa</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixOAGW9lBMjU46hfEFS2Sp-8-sqzuWixq1eArwa36YtZB_Hizex0ehFejvjh8gsUyTixUtgbmdpCm-NS_YoE-9Q0w6072WeWiRRJ-6-rA1CC67swr_5-vHnoO29i_mKiWqwJZTb008Dxs/s1600-h/jatuh-cinta.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 256px; height: 266px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixOAGW9lBMjU46hfEFS2Sp-8-sqzuWixq1eArwa36YtZB_Hizex0ehFejvjh8gsUyTixUtgbmdpCm-NS_YoE-9Q0w6072WeWiRRJ-6-rA1CC67swr_5-vHnoO29i_mKiWqwJZTb008Dxs/s400/jatuh-cinta.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5384514990277191426&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Kamu pasti bercanda!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Nania terkesima.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Kenapa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata &#39;kenapa&#39; yang barusan Nania lontarkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Tapi kenapa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Cukup!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak &#39;luar biasa&#39;. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Mereka akhirnya menikah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Setahun pernikahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Rafli juga pintar!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Tidak sepintarmu, Nania.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Cantik ya? dan kaya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Tak imbang!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Baru pembukaan satu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Belum ada perubahan, Bu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Masih pembukaan dua, Pak!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Bang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Dokter?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Mungkin?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Bagaimana jika terlambat?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Pendarahan hebat!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Nania, bangun, Cinta?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Nania, bangun, Cinta?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Baik banget suaminya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Nania beruntung!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 153, 0);&quot;&gt;dikutip dari Cahaya hikmah Februari 2010&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;/marquee&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/5014755147524306007/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/09/cinta-laki-laki-biasa.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/5014755147524306007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/5014755147524306007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/09/cinta-laki-laki-biasa.html' title='cinta laki-laki biasa'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixOAGW9lBMjU46hfEFS2Sp-8-sqzuWixq1eArwa36YtZB_Hizex0ehFejvjh8gsUyTixUtgbmdpCm-NS_YoE-9Q0w6072WeWiRRJ-6-rA1CC67swr_5-vHnoO29i_mKiWqwJZTb008Dxs/s72-c/jatuh-cinta.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-3739066172423809237</id><published>2009-09-22T15:47:00.000-11:00</published><updated>2009-09-22T16:19:11.490-11:00</updated><title type='text'>tabir takdir cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRsZ-xm9h9U8X7ozSSoos9U8cDDXkmzDfiR_XJ501_e6ffOZuA-1IUciGxYmCzxYfnOWsylZw58f0bH11QBCNZ2w5yWc_tHHRTMnRF9zWdPsblGyXap_PM4r6rZ5et_oVKSl9FLba2hg8/s1600-h/jilbab_kartun02.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 290px; height: 400px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRsZ-xm9h9U8X7ozSSoos9U8cDDXkmzDfiR_XJ501_e6ffOZuA-1IUciGxYmCzxYfnOWsylZw58f0bH11QBCNZ2w5yWc_tHHRTMnRF9zWdPsblGyXap_PM4r6rZ5et_oVKSl9FLba2hg8/s400/jilbab_kartun02.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5384490365568748322&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;TABIR TAKDIR CINTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maya keluar dari kelas. Tapi tas yang digambloknya terasa berat. Dia menoleh,Neneng sudah nyengir d belakangnya,jilbabnya berantakan.&lt;br /&gt;  “Ada apa neng?”&lt;br /&gt;  “Hehe,,,jadi nggak may mau nemenin aku ke pesantren? Katanya kemaren mau ikut. Gmn?’’&lt;br /&gt;Maya berpikir sejenak,kemudian tersnyum. Berlalulah mereka dari gerbang sekolah dengan Toyota yaris biru milik Maya. Di perjalanan,Neneng banyak bercerita dengan kehidupan pondok. Dia juga tidak tahu banyak,hanya sekedar sering denger cerita dari temannya yang mondok di situ. Maya hanya sedikit memerhatikan cerita Neneng,maklum,dia sibuk menerobos kumpulan kendaraan yang tak terhitung jumlahnya.&lt;br /&gt;   “ALMA’HAD ALISLAMIY ALMADANIY”&lt;br /&gt;  “Ini tempatnya neng?” Neneng mengangguk. Maya memarkirkan mobilnya di halaman seberang gerbang pesantren.&lt;br /&gt;Ketika hampir sampai pesntren,Maya berhenti sejenak. Pusing itu datang lagi. Dari tadi pagi dia sudah merasakan badannya agak lemas.&lt;br /&gt;  “May,kamu nggak mau ikut masuk?” Tanya Neneng ketika sadar Maya jauh tertinggal di belakangnya. Melihat Maya diam,Neneng menghampirinya. “Ya ALLAH may,kamu pucat begini!!”&lt;br /&gt;  Maya tersadar,”Ah,nggak papa kok.”&lt;br /&gt;  “Beneran?”&lt;br /&gt;Maya mengangguk. “Eh,enaknya aku masuk nggak? Aku kan nggak pake jilbab kayak kamu gini. Mana masih pake seragam sekolah lagi,emang boleh masuk gitu?”&lt;br /&gt;  Neneng tertawa kecil, “Emang mall,siswa berseragam nggak boleh masuk?!! Nggak papa kok,yuk!”&lt;br /&gt;Akhirnya Maya mengikuti Neneng menuju gerbang pesantren. Neneng terlihat ngobrol sebentar dengan penjaganya,mungkin minta dipanggilkan temannya. Mereka disuruh masuk dan menunggu di ruang tamu. Tapi belum sampai di ruang tamu,Maya tidak sanggup lagi berjalan. Dia sudah tidak tahan menahan sakit dan lemas di badannya. Dia pun ambruk.&lt;br /&gt;Neneng menoleh tersentak. Dia bingung mendapati temannya jatuh pingsan. Kebetulan di sekitar situ masih sepi,tidak ada orang yang lewat. “Aduh,gimana ini??” Neneng kebingungan. Dia menoleh kesana kemari,tapi nihil,sepi. Tidak lama,seorang lelaki berkopiah hitam keluar dari satu ruangan. Langsung Neneng meminta bantuan pada cowok itu.&lt;br /&gt;  “Mas,mas.” Cowok itu menoleh dan langsung buru2 menghampiri mereka. Neneng menjelaskan awal mula keadaan. Langsung lelaki itu menggendong Maya,membawanya ke ruang kesehatan.&lt;br /&gt;Neneng dan lelaki itu masih menunggu di samping Maya. Sudah setengah jam,tapi Maya belum sadarkan diri. Dan mereka sengaja tidak membangunkan Maya,karena menurut Arga-lelaki yang menggendong Maya,yang tidak lain adalah ustad di pondok tersebut-Maya pingsan karena kecapekan. Tapi entah capek jasmani atau rohani. Yang pasti,Maya butuh istirahat.&lt;br /&gt;  “sampai kapan kak,kita nunggu dia bangun? Bener nih nggak usah dibangunin?” Neneng melas menatap sahabatnya yang begitu pucat berbaring.&lt;br /&gt;  “Kita tunggu lima belas menit lagi,kalau dia belum sadarkan diri juga…” belum selesai bicara,mereka melihat jari tangan Maya bergerak. Kelopak matanya juga menandakan kalau dia mau melek.&lt;br /&gt;  “Alhamdulillah dia sadar. Sebentar,saya ambilkan air dulu.”&lt;br /&gt;Maya membuka matanya dengan sempurna. Dia juga sudah bisa melihat sekelilingnya lengkap. Neneng dengan jilbab abu2nya tepat di sampingnya. Selain Neneng,semua terasa asing untuk Maya.&lt;br /&gt;  “Aku di mana neng?” Neneng menceritakan kejadian ketika Maya jatuh pingsan dan bagaimana dia bisa terbaring di sini. Selesai cerita,Arga datang membawa segelas air putih. Maya sekilas menatapnya,tek! Maya merasakannya,sesuatu di hatinya ketika memandang Arga barusan.&lt;br /&gt;  “Mbak,saya sudah menghubungi bagian kesehatan putri. Insya ALLAH mereka akan memindahkan temen mbak ini k ruang kesehatan putri.” Arga menyerahkan gelas itu ke Neneng,memintanya supaya membantu Maya minum air.&lt;br /&gt;  “Mbak,namanya siapa?”&lt;br /&gt;  “Maya.” Suaranya masih terdengar lemah.&lt;br /&gt;  “oh,mbak Maya sebentar lagi..”&lt;br /&gt;  “Nggak,saya mau pulang!”&lt;br /&gt;  “Tapi May,mustahil. Siapa yang mau nganter kita? Kamu nggak mungkin nyetir dalam keadaan kayak gini!”&lt;br /&gt;  Maya masih kukuh mau pulang. sebenarnya dia sadar badannya masih sangat lemas,kepalanya juga masih sakit. Tapi dia benar2 nggak mau ada di sini,karena wajah Arga terlalu indah untuk dinikmati. Maya takut jatuh cinta dengan cowok itu.&lt;br /&gt;Akhirnya Maya ngotot berdiri,melipat selimut yang tadi dipakainya. “Lihat,aku sudah sehat kan?!” lalu menggandeng Neneng yang masih bingung melihat Maya yang tiba2 bangkit dari kasur. “Terima kasih atas bantuannya.” Dengan jutek Maya pamit dengan Arga. Dan Arga,dengan lembutnya malah tersenyum dan mengikuti mereka,mengantar mereka sampai gerbang pesantren,memastikan kalau Maya akan baik-baik saja.&lt;br /&gt;Maya berjalan kesal,tapi di hatinya dia merasa tak mau beranjak dari tempat itu. Dia teringat mimpinya ketika ia pingsan tadi. Di mimpi itu,dia digendong oleh seorang lelaki,begitu wangi,lembut,tapi wajahnya tertutupi. Dan wangi itu masih membekas. Maya membuka gerbang sedikit,tapi tangannya kembali gemetaran,pusingnya kembali bertambah,kakinya lemas,dia jatuh lagi!! Tapi kali ini tidak pingsan,dia masih sadar,tapi dia tidak sanggup berdiri.&lt;br /&gt;Arga yang melihat itu,langsung berlari menghampiri mereka. “Kalau memang mbak Maya bener2 mau pulang,biar saya antarkan,kebetulan saya bisa nyetir kok.” Sebenarnya Maya sudah mau menolak,tapi Neneng dengan semangat mengiyakan.&lt;br /&gt;Dan di sinilah mereka sekarang,di dalam mobil,terjebak kemacetan malam kota. Maya duduk lemas bersandar di pundak Neneng. Matanya dia pejamkan,sebenarnya dia juga ingin memisahkan ruh dari jasadnya,tujuannya hanya satu,supaya dia bisa tidak melihat dan mendengar suara Arga.  Tapi tidak bisa,matanya memang terpejam,tapi dia msih benar2 ada di dalam mobil itu,mendengar percakapan antara Arga dan Neneng yang mulai ngarol ngidul.&lt;br /&gt;Arga,lulusan S1 FK UI,lulusan terbaik. Tapi setelah lulus,dia malah ingin mengabdikan semuanya ke kiainya. Jadilah ia ustad juga pakar kesehatan di pondok almadaniy. Padahal,banyak sudah rumah sakit yang meliriknya dan menawarkannya beasiswa spesialis dan langsung bisa kerja di rumah sakit tersebut dengan gaji yang tidak sedikit. Tapi Arga menolak semua,bismillah,dia ingin memperbaiki agamanya. Sampai situ,Arga bercerita tentang dirinya.&lt;br /&gt;Dan Neneng mulai cerita tentang kehidupannya di sekolah,juga teman2nya dan tidak lupa rohis kebanggaannya.&lt;br /&gt;  “Tapi,kok Maya nggak kamu ajak pake hijab juga? Bukannya apa,sayang saja,Maya itu masya ALLAH,jadi sayang kalau malah jadi santapan laki-laki nakal.” Sampai situ aku terkejut! Siapa dia? Soknya perhatian sampai bilang begitu. Kenal juga baru. Tapi kenapa dia,dari kata-nya barusan sebegitu inginnya Maya pake hijab sperti Neneng? Maya semakin lemas. Hatinya makin dipenuhi bunga2 cinta.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;sebulan  berlalu dari kejadian pesantren itu. Maya berusaha dengan sepenuh hatinya untuk melupaka Arga. Tapi sayang,Neneng tidak mendukung,di setiap waktu dia malah asyik berkata, “Iya,kata kak Arga…” semua makin mengingatkannya pada Arga,sosok lelaki yang baru membuka hatinya kembali. Maya tidak pernah cerita apapun perihal perasaan itu pada Neneng. Dia ingin menyimpannya sendiri,untuknya,tidak untuk yang lain.&lt;br /&gt;Pertanyaan Arga malam itu,perihal dirinya yang tidak berhijab,kini terngiang begitu jelas di pikirannya. Malam ini,Maya tidak henti2nya mondar mandir di kamarnya. Padahal besok,ujian terakhir menantinya. Tapi pikirannya terus dipenuhi pertanyaan,mampukah dia menghijabi diri juga hatinya? Makin lama mondar mandir,Maya makin tidak menemukan jawaban itu. Akhirnya dia memutuskan minta pendapat Neneng.&lt;br /&gt;Maya mengambil handphonenya dan langsung menekan nomor hp Neneng. Setelah suara Neneng terdengar,Maya langsung menceritakan semuanya dan kemudian meminta pendapat. Jelas Neneng terdengar bahagia. Karena memang sebulan ini,setelah Arga menyuruhnya kembali mengajak Maya pakai hijab,Neneng sangat getol mengajak Maya pakai hijab. Neneng banyak menceritakan manfaat dan kegunaan menutupi aurot kita. Kata Neneng,untuk menghindari fitnah.&lt;br /&gt;  “Alhamdulillah may!! Kalau aku sih ya ngedukung banget. Tapi semua kembali lagi ke kamu. Gimana kemantapan kamu,dan yang paling penting niat kamu. Aku nggak mau kamu buru2 pakai hijab,cuma karena aku,atau karena orang lain mungkin.” Dan ada nada menggoda di balik kata2 Neneng terakhir.&lt;br /&gt;  Maya agak tersinggung. Tapi sudahlah,kini tinggal bagaimana dia membenahi niatnya. Memang tadi sebelum menelpon Neneng,Maya ingin cepat-cepat pakai hijab karena ia ingin menjawab pertanyaan Arga,dia sekedar ingin menunjukkan ke Arga,ini lho Maya!! Aku juga bisa pakai hijab!! Tapi kini,selesai menlpon Neneng,Maya tersadar. Ya,yang penting itu niat. Maya mulai duduk khudlu’,menata hati,menghilangkan sejenak ego kemanusiaannya,kesombongan insaninya. Biar semua yang ingin dia lakukan,semua hanya untukNya,Sang Kholiq.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;  “Mabruuuk!!” senyum Neneng langsung menyambutnya. Menyambut Maya yang baru,yang lebih anggun dan lebih islamiy. Sosoknya kini sempurna sudah sebagai seorang muslimah sejati. Langkah awal untuk lebih menghijabi hatinya. Jalan untuk bisa lebih dekat dengan Rabbnya. Semua menyambutnya dengan senyum hangat. Apalagi ujian akhir mereka sudah terlewati,tinggal menunggu hasil ujian.&lt;br /&gt;  “May,terus abis lulus SMA kamu mau lanjut di mana? Aku denger2 kabar,katanya kamu ditawarin beasiswa di Australia ya?”&lt;br /&gt;  Maya tersenyum tipis,dengan hijabnya,kini ia bisa lebih kalem dan lebih feminine dalam berbicara,juga perilakunya. “Iya,kemaren pak bambang udah kasih aku dokumen buat aku isi. Tapi kayaknya aku tolak deh.”&lt;br /&gt;  Neneng tersentak kaget, “Kenapa may? Kesempatan nggak datang dua kali lho.”&lt;br /&gt;  “Kamu bener,makanya aku milih nolak,karena kesempatan mendapat hidayah itu aku takut nggak akan datang lagi.”&lt;br /&gt;  “Maksud kamu?” Barulah Maya menceritakan semuanya. Pertama tentang kegalauannya dan keinginannya yang begitu kuat untuk mondok. Hanya satu yang dia ingin,ingin lebih baik dari sekarang. Lebih menjiwai sosok muslimnya. Dia tidak ingin cuma sebatas islam KTP. Makanya tadi,dia sudah mengembalikan semua dokumen-dokumen ke pak Bambang. Dan minggu depan,tanpa nunggu hasil ujian,Maya siap memulai kehidupan santrinya.&lt;br /&gt;  “Doanya aja Neng…”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Maya berjalan terburu-buru. Kata mbak-mbak pengurus, dek Naili dari tadi nangis dan nggak ada yang bisa diemin. Katanya dia terus manggil-manggil nama Maya. Makanya setelah sekolah diniyah,Maya langsung disuruh cepat ke rumah kiai. Maya membuka pintu ndalem bawah. Baru kali ini-selama dua bulan dia tinggal di pondok AlMadaniy-dia masuk ndalem lewat pintu utama.&lt;br /&gt;Maya kaget,sosok lelaki berdiri tepat di depannya,sepertinya dia ingin keluar. Mungkin ini yang kata mbak-mbak putranya abah yang paling ganteng,gumam Maya dalam hati.&lt;br /&gt;  “Kamu Maya?” Maya hanya mengangguk sambil terus tertunduk. “Cepetan ke kamar Naili,dari tadi dia ngamuk nyari-nyari kamu!!”&lt;br /&gt;  Maya mengangguk dan langsung bergegas naik,tapi di tengah-tengah tangga,ada rasa penasaran menyusup ke hatinya,mendorongnya untuk menoleh ke bawah,berharap semoga bisa melihat gus Abid,yang tadi terkesan galak.&lt;br /&gt;Maya berhenti sejenak dan memberanikan diri menoleh. Tanpa dia sangka,ternyata gus Abid juga sedang asyik memandanginya. Jadilah mereka sama-sama malu,wajah putih Maya langsung memerah. Dia segera menundukkan wajahnya dan melanjutkan jalannya naik ke kamar dek Naili. Abid lebih salah tingkah lagi,gelagapan ia melengos,sambil berdehem,lalu keluar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;semenjak itu,pikiran Abid terus dipenuhi wajah putih Maya dengan jilbab merah mudanya. Apalagi ketika wajah putih itu memerah,subhaanallah,,,betapa Allah menunjukkan kuasaNya dalam menciptakan manusia dengan sebagus-bagusnya bentuk.&lt;br /&gt;Fuuuuuuuuuh…Abid menghela nafas untuk kesekian kalinya. teman yang juga santrinya,bingung mendapatinya seperti sangat bingung akhir2 ini.&lt;br /&gt;  “Gus,aku perhatikan semingguan ini seperti ada seseorang yang mengganggu pikiranmu. Nggak mau cerita neeh??”&lt;br /&gt;Abid baru tersadar dari lamunannya. “Hah? Nggak juga kok. Siapa?”&lt;br /&gt;  temannya tertawa keras. “Bid,udahlah,kalau untuk masalah itu,anggap aku temanmu,aku juga akan menghilangkan gelar gusmu. Kita sama2 manusia,wajar kalau bayangan itu menghinggapi kita. Ayo cerita! Siapa tahu aku bisa Bantu.”&lt;br /&gt;Abid merasa benar dengan kata-kata temannya barusan. Langsung dia menceritakan tentang sosok santri yang begitu full memenuhi pikirannya. Dan dia rasa,kini dia benar-benar telah jatuh cinta dengannya. Apalagi setelah dia cari-cari informasi tentang cewek ini,dia tidak menemukan kecuali yang baik tentang dia. Itu semakin mantap membuatnya ingin meminang perempuan ini.&lt;br /&gt;  “Gitu too…emang kalau boleh tahu siapa sih santri putri yang sudah bikin temen plus gusku ini ketar ketir kayak gini?”&lt;br /&gt;  “Afwan bro,aku belum ingin terlalu mempublikasikan secara detail. Nanti kalau sudah aku lamar dan dia ok,baru aku ceritakan semua tentang dia!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Maya benar-benar capek. Dia habis mengantarkan salah seorang santri ke rumah sakit. Belum habis rasa capeknya,mbak Nita,kepala kesehatan putri meminta tolong Maya untuk mengantar titipan obat ke ruang kesehatan putra. Akhirnya dengan badan lemas,terik matahari yang begitu menyengat,Maya mengangkat dua plastik isi obat-obatan yang baru tadi dia beli.&lt;br /&gt;Akhirnya sampai juga! Maya langsung mengetuk pintu. “Assalamu’alaikum.” Jawaban terdngar di dalam,tidak lama pintu terbuka. Bruuuk!!! Dua plastik lepas dari genggaman Maya. Pandangannya masih lekat di wajah di hadapannya ini. Wajah yang setia menemani pikirannya. Begitu juga dengan sosok di hadapannya,dia tidak jadi berkata-kata. Terpana juga melihat siapa perempuan di hadapannya. Lama…seakan waktu berhenti berputar.&lt;br /&gt;  “Astaghfirullah..” lirihan kecil dari mulut Arga mengakhiri aksi terpanaan mereka berdua. “Kamu Maya kan?”&lt;br /&gt;Maya salah tingkah langsung mengambil kembali dua plastik yang tadi terjatuh. Kemudian tersenyum tipis. Lalu Arga menyuruhnya masuk. Maya langsung mengutarakan maksud kedatangannya ke situ.&lt;br /&gt;  “Tadi mbak Nita nyuruh aku nganter ini. Katanya kesehatn putra lagi butuh banyak obat2an.” Arga langsung sibuk mengecek obat-obatan yang dibawa Maya. Dia menyuruh Maya untuk menunggu sejenak,karena ia harus mencatat semuany,kemudian menyalinnya dan meminta Maya untuk memberikannya ke nita.&lt;br /&gt;Di tengah2 sibuk mencatat,Arga masih sempat mengajak Maya ngobrol. Tapi Maya hanya menjwab seadanya,dia lebih memilih diam. Dia takut perasaan itu terlhat. Tapi Arga tidak henti-hentinya bertanya. Kapan dia mulai pakai hijab? Kapan dia mulai jadi santri di sini? Apa yang bikin dia akhirnya mau mondok? Dan banyak lagi. Dan Maya dengan sabar menjawabi semua pertanyaan.&lt;br /&gt;Pencatatan selesai. Arga langsung menyerahkan dokumen untuk nita. “Syukron udah sabar nunggu.” Lagi-lagi Maya hanya tersenyum lembut kemudian pamit keluar. Dan senyum itu,,,masih tertinggal di hati Arga. Mengembalikan bayangan senyumnya yang dulu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;  “May,dipanggil ke ndalem.” Maya yang lagi asyik muthola’ah,langsung menaruh kitabnya dan membenarkan jilbabnya. ‘Tumben dek Naili jam segini manggil aku?’&lt;br /&gt;       Maya memasuki ndalem dari pintu belakang. Baru hendak menaiki tangga,ummi memanggilnya. “Maya,ke sini nak!”&lt;br /&gt;  “Iya ummi,ada apa? Katanya dek Naili manggil saya ya mi’?&lt;br /&gt;  “Bukan Naili yang panggil kamu,tapi umi.” Maya agak kaget. Tumben ummi ada perlu sama dirinya.&lt;br /&gt;  Setelah Maya duduk,ummi menceritakan sedikit tentang sosok Abid ke Maya. Maya agak bingung,ada apa ini,kok dipanggil hanya untuk cerita gus Abid dari kecil. Ada sedkit kecurigaan menyusup ke hati Maya. Sampai pada akhir cerita,ummi meminta sesuatu yang tidak enak bagi Maya untk menolak. “Kamu mau nak,kalau umi jodohin sama Abid?”&lt;br /&gt;Kecurigaan Maya terjawab. Umi melanjutkan, “Baru kali ini Abid minta dilamarin seorang perempuan. Padahal umi dan abah sudah dari dulu ngasih dia pilihan permpuan-perempuan,tapi dia selalu bilang nggak sreg. Makanya ketika sekarang dia minta kamu,umi langsung mengiyakan. Karena umi tahu kamu juga anak baik. Gimana?”&lt;br /&gt;Maya terdiam. Tidak mungkin juga dia langsung bilang iya,apalgi bilang tidak. Dan umi juga menangkap arti dari diamnya Maya. Umi juga tidak memaksa Maya menerima. Umi menyarankan Maya musyawarah dengan keluarganya dan tidak lupa istikhoroh,karena ini bukan untuk main-main.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Akad pernikahan sudah berlalu. Maya masih belum bisa menghilangkan sisa-sisa tangisnya. Kini rasa bercampur di hatinya. Sedih,sakit,juga senang,tapi hanya sedikit. Dia mengingat tadi ketika di masjid,setelah ijab qobul,semua asaatidz menghampiri Abid,mengucapkan selamat. Dan lelaki yang pernah dia cintai-pun sampai saat ini-orang yang paling lama berbincang dengan Abid. Sebenarnya Maya tidak berani menatapnya,tapi beberapa kali Maya meliriknya,Maya selalu mendapati kedua mata Arga sedang menatapnya dengan tatapan pilu. Dari situ Maya tahu,Arga juga merasakan seperti yang dia rasakan!!!&lt;br /&gt;Tapi kenapa baru sekarang dia mendapati rasa itu? Kenapa malah di saat-saat seperti ini dia menyadari bahwa di hati mereka,ada cinta yang begitu kuat? Kenapa setelah dia sudh menjadi milik Abid,dia baru tahu Arga menyimpan rasa untuknya,sehingga menumbuhkan kembali rasa di hatinya? Allahummaghfirlii…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;  tiga bulan sudah Maya menjalani kehidupan barunya,menjadi istri seorang gus Abid. Gus idola para santri putri. Ada sedikit bangga juga bisa bersanding dengannya. Apalagi Abid yang sangat baiiik kepada permpuan. Dia begitu menjunjung hak-hak perempuan,tapi tanpa membuatnya lupa akan hakikatnya. Maya berhasil menghapus rasa yang sempat menyakitkannya ketika awal2 masa pernikahannya. Dia hampir menceritakan semua pada suaminya,dan memintanya untuk mengerti sehingga mau melepasnya dan merelakannya. Tapi alhamdulillah,berkat kesabaran Abid,semua berhasil dia lewati. Sampai saat itu…&lt;br /&gt;  “Yang,aku tuh bingung sama Arga. Sampai sekarang kok dia masih betah ngejomblo gitu ya?”&lt;br /&gt;Maya tidak berani komentar apa-apa. Dia takut salah ngomong.&lt;br /&gt;  “Eh yang,gimana kalau kta jodohin aja sama Fitri? Dia kan sebentar lagi selsai mondoknya? Gimana menurut kamu?”&lt;br /&gt;Maya serasa tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Memang,dia sekarang sudah berhasil melupakan Arga,tapi kalau nanti harus jadi saudara seipar,tinggal satu lingkungan,pasti rasa itu akan muncul lagi,malah mungkin akan semakin menjadi-jadi. Tidak rela melihatnya dengan orang lain. ‘astaghfirullah…aku ini sudah jadi istri orang.’&lt;br /&gt;Baru tersadar dari naza’ pikirannya,Maya sudah mendapati kamarnya kosong. Sepertinya Abid langsung mau matur ke abah uminya untuk menawarkan Arga,sahabatnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;semua berjalan begitu cepat. Abah umi yang langsung setuju dengan usulan Abid menjodohkan Fitri dengan Arga. Abid yang kemudian menawarkan Arga tentang usulannya. Dan Arga yang dengan lugas menjawab, “Sam’an wa tha’atan.”&lt;br /&gt;Dan kini,Maya sibuk menyiapkan pakaian suaminya. Kebetulan Abid ada acara di beberapa tempat di jawa tngah. Sekalian dia ingin ke pesantren Fitri,memboyongkannya sekaligus mengabari perihal perjodohannya dengan Arga.&lt;br /&gt;  “Emang mas yakin Fitri bisa suka dnegan Arga?”&lt;br /&gt;  “Aku belum cerita ke kamu ya yang? Dulu itu Fitri sempet naksir lho sama Arga. Lagian cewek mana sih yang nggak akan terpincut sama Arga,dokter gagah nan ganteng gitu,ya kan?” kata2 itu langsung menembak dalam hati Maya. ‘ya…sampai akupun masih tertahan olehnya…’&lt;br /&gt;semua barang sudah siap. Koper dimasukkan ke mobil. Maya tidak bisa ikut mengantar ke bandara. Badannya lemas. Mungkin terkuras pikirannya menyiapkan lahir bathin menerima Arga da Fitri.&lt;br /&gt;  “Yang,I love u.” Maya hanya tersenyum tipis. Setelah mencium kening istrinya,dengan senyum yang paling manis,Abid meninggalkan rumah.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Maya tidak bisa tidur. Bayangannya entah pergi ke mana?? Hatinya masih dipenuhi ketakutan. Bagaimana ini?? Dia merasa Argalah penyebab kegalauan ini. Maya mondar mandir,tidak tahu apa yang mau dia lakukan. Akhirnya ia memilih menulis surat untuk Arga. Mengungkapkan semua,,,tentang perasaannya,juga tentang kerelaannya kini…melepaskan dia bersama Fitri.&lt;br /&gt;Surat sudah jadi. Baru selesai melipat,pintu diketok. Spontan Maya menyelipkan surat di tumpukan buku di atas meja. Maya membuka pintu. Didapatinya umi sudah berbalut jilbab. ‘ada apa ini,malam2 begini umi ke sini?’&lt;br /&gt;  “May,yang sabar ya may. Abid…suamimu…”&lt;br /&gt;Maya setia menemani umi yang masih menangis dari tadi. Mereka menunggu jenazah Abid datang. Katanya sekarang sudah di perjalanan dari bandara ke rumah. Mungkin sebentar lagi sampai.&lt;br /&gt;Abid meninggal tabrak lari di depan pesantren tempat Fitri mondok. Setelah memboyongkan Fitri dan megabarinya tentang perjodohan itu,ketika Abid hendak mnyebrang,sepeda motor kencang menabraknya. Seketika dia meninggal. Tapi sebelumnya,dua nama yang digumami Abid,’Maya…Arga…’&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;dua bulan setelah itu…&lt;br /&gt;Semua sudah kembali beraktifitas. Hanya ndalem yang masih sedikit diselimuti duka. Maya masih agak shock kehilangan suaminya. Walaupun dia belum  bisa mencintainya dengan sepenuh hati,tapi baginya,Abid sosok yang memukau. Smpurna sebagai seorang suami. Begitu juga dengan Fitri,ia merasa sangat kehilangan kakak tercintanya. Apalagi sebentar lagi dia akan menikah dengan sahabat almarhum kakaknya itu.&lt;br /&gt;  “Mbak,aku mau tidur di sini bentar nggak apa-apa kan?” siang itu tiba2 Fitri datang ke kamar Maya.&lt;br /&gt;  “Masuk aja fit. Tapi mbak mau ke bawah dulu yah,mau Bantu umi masak.” Fitri masuk,memandang sekeliling kamar itu. Kamar yang pernah ditempati almarhum kak Abid. Fitri msih mendapati aroma khas kak Abid. Diapun tidak jadi tidur,malah sibuk memerhatikan sudut ruangan. Dia duduk di meja baca kak abid. Membuka kitab2 dan buku di atasnya. Dan terjatuhlah selembar kertas…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  “Fitri di kamarmu nak?” Tanya umi setelah selesai memasak.&lt;br /&gt;  “Iya mi’,katanya dia mau tidur sebentar. Oya mi,terus jadinya akad nikah Fitri di sini atau di mana?”&lt;br /&gt;  “Arga sih mintanya di sini,terus abah yang akadin. Tapi kalau nunggu abah punya waktu ya mungkin sekitar minggu depan.”&lt;br /&gt;Maya mengangguk. Sebenarnya dia belum begitu bisa menerima. Tapi ya sudahlah,,mungkin ini memang sudah jalannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;bismillahirrahmanirrahiim&lt;br /&gt;kak Arga,yang mudah2an selalu dalam lindungan dan limpahan rahmatNya..amien&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;sebelumnya aku minta maaf atas kelancangan surat ini. aku juga sadar siapa aku,dan tidak sepantasnya untukku sekarang menulis surat untuk kak Arga,juga untuk lelaki manapun. Tapi,hati ini yang mendorong tangan untuk menulis,memaksa otak untuk berpikir merangkai kata2 untuk sang pujaan hati.&lt;br /&gt;Kak Arga,surat ini,saksi bahwa dulu dan sampai sekarang ternyata aku mencintai kak Arga,dengan sepenuh hati,sejak pertama kak Arga membopongku. Sampai saat ini,wangi tubuh kak Arga seakan masih melekat di hidungku. Sampai saat ini,bayangan kak Arga msih terus menemaniku. Tapi aku sadar,kini aku sudah menjadi milik orang lain,tidak sepantasnya aku masih menyimpan rasa itu. Insya ALLAH,aku akan berusaha membuangnya,dan wallahi,aku rela melepas. Aku rela melihat kak Arga dengan perempuan lain…seperti relanya kak Arga ketika melihat aku di samping mas Abid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku,yang berusaha berhenti mencintaimu&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Maya terus membuka halaman demi halaman semua buku di atas meja. Tapi nihil,surat itu belum juga ketemu. Sebenarnya dari kemarin Maya sudah mau membakar surat itu,tapi Fitri seakan terus ingin di sampingnya. Setiap waktu Fitri selalu main di kamarnya. Sehingga membuat Maya lupa akan hal yang satu itu.&lt;br /&gt;‘jangan sampai ada orang yang baca surat itu!! Di mana yaa?’ Maya menggumam sambil terus sibuk mencari.&lt;br /&gt;Kreeek…pintu dibuka. Maya tersentak kaget. Dia langsung pura-pura sibuk beres-beres.&lt;br /&gt;  “Eh,kamu fit. Ada apa?”&lt;br /&gt;  “Cuma mau kasih kabar kak,lusa jam8 pagi akadnya.” Fitri tidak masuk. Hanya berdiri di pintu.&lt;br /&gt;Maya langsung menghampiri mengucpkan selamat. Dia memeluk Fitri,kemudian menangis. Fitri membalas pelukannya,semakin erat memeluk. Mereka sama-sama menangis. “Kak,lusa,dandan yang cantik ya!!” Maya mengangguk kecil.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Maya menatap sekali lagi dandanannya di depan kaca. Sudah cukup. Dia tidak mau terlihat terlalu mewah atau heboh dandan. Tiba-tiba Fitri dan umi masuk. Maya kaget melihat Fitri yang dandanannya sangat sangat biasa.&lt;br /&gt;  “Lho fit,sebentar lagi kan acaranya? kok?”&lt;br /&gt;  “Nak,umi mau bicara. Duduk dulu yuk!” umi dan Maya duduk di kasur. Fitri ikut duduk di bawah kaki uminya.&lt;br /&gt;  Umi menyerahkan secarik kertas pada Maya. Maya kaget menerimanya. Surat itu…&lt;br /&gt;  “Fitri sudah baca semua mbak. Fitri terharu. Makanya Fitri langsung memutuskan untuk matur dan cerita semua ke abah umi. Fitri mau,mbak Maya sama kak Arga…”&lt;br /&gt;Maya hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan Fitri. Maya menatap umi,mencari jawaban dari beliau.&lt;br /&gt;  “Umi dan abah juga sudah terserah Maya. Apalagi kata Fitri,dua nama terakhir yang disebut Abid itu,nama kamu sama Arga. Gimana nak?”&lt;br /&gt;Maya menangis terharu. Dia langsung jatuh di pangkuan ummi. Umi menghelai lembut rambutnya. Semoga ini yang terakhir…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;pesantren AlMadaniy kembali tersenyum. Bahagia kembali menghampiri. Semua seakan ikut merasakan aura cinta dua insan yang begitu besar. Cinta yang tersimpan,kini bisa bersatu dalam ikatan suci nan halal. Semua ikut menjadi saksi,pun ruh Abid,yang sudah tenang di alam sana,ikut merasakan kebahagiaan perempuan yang dicintainya.&lt;br /&gt;  “Ankahtuka wazawwajtuka Mezz Maya binti Abdullah bimahrin madzkuurin,haalan.”&lt;br /&gt;  “Qabiltu nikahaha wa tazwiijaha bimahrin madzkurin haalan…”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;the end&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;dikutip dari : http://cerpen.net/Cerpen-islami/tabir-takdir-cinta.html&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/3739066172423809237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/09/tabir-takdir-cinta.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/3739066172423809237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/3739066172423809237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/09/tabir-takdir-cinta.html' title='tabir takdir cinta'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRsZ-xm9h9U8X7ozSSoos9U8cDDXkmzDfiR_XJ501_e6ffOZuA-1IUciGxYmCzxYfnOWsylZw58f0bH11QBCNZ2w5yWc_tHHRTMnRF9zWdPsblGyXap_PM4r6rZ5et_oVKSl9FLba2hg8/s72-c/jilbab_kartun02.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-3862987131746057200</id><published>2009-07-05T15:24:00.002-11:00</published><updated>2010-01-27T17:49:26.720-11:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFRQdzPQuUmSLg-4g3z-CyorHULrAAcUpxfE3yRyNYHMT9WboUZGMkZBoAFyLD-Okb2COuabRc5QeIhyphenhyphenl-F1cpj_GhaclKIJou5RRMLIHg8Mt8zt0NappqPZ5R6Z65IoFn7W_LlG7be2g/s1600-h/miss.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 340px; height: 400px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFRQdzPQuUmSLg-4g3z-CyorHULrAAcUpxfE3yRyNYHMT9WboUZGMkZBoAFyLD-Okb2COuabRc5QeIhyphenhyphenl-F1cpj_GhaclKIJou5RRMLIHg8Mt8zt0NappqPZ5R6Z65IoFn7W_LlG7be2g/s400/miss.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5355167513184731138&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebening Kaca                &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Puspa Thea, dimana dikau Mba&#39;?, kenapa tak ada khabar beritanya?&quot;. Nisa bertanya-tanya dalam hati seraya mencermati surat-surat sahabatnya. Sudah hampir tiga bulan ini Mba&#39; Pupu tak pernah lagi mengiriminya e-mail. Perlahan dibacanya surat terakhir wanita lembut itu sebagai pelepas rindu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Date: Sat, 13 Oct 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu&#39;alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pa khabar Sa? Mba&#39; kangen banget dech. Semoga Allah yang Maha Penyayang selalu melimpahkan kasih sayang-Nya buat Nisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa.. pedih.. perih.. sakit.. rasanya kalau Mba&#39; baca berita tentang saudara-saudara kita di Afghan, rasanya Mba&#39; ingin sekali berbuat sesuatu untuk mereka, tapi..&lt;br /&gt;Mba&#39; cuma bisa berdo&#39;a agar Allah yang Maha Kuasa menolong saudara-saudara kita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha lain yang bisa Mba&#39; lakukan sekarang mempersiapkan putra-putri Mba&#39; jadi hamba Allah yang di hati mereka nggak ada cinta kecuali cinta pada Allah, do&#39;akan Mba&#39; yach.., biar Mba&#39; bisa jadi ibu yang baik, dan Allah berkenan menitipkan anak-anak yang kelak jadi mujahid / mujahidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa sehat, kan?. Salam sayang Mba&#39; selalu buat Nisa Semoga rasa saling menyayangi ini mengantarkan kita jadi hamba yang dicintai Allah, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalaamu&#39;alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;Mba&#39;mu.. yang selalu kangen padamu, kapan yach Allah mempertemukan kita?..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa menatap lekat e-mail tersebut, terbayang dalam benaknya hanya menjawab singkat surat itu. Ia bermaksud hendak mereplay kembali, namun tiba-tiba Ayu datang menjemputnya. Mereka janjian ke rumah Cathy pagi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                      *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ayah.. Ibu.. jangan bertengkar dooong! aku jadi pusiiing...&quot; Teriak Cathy berusaha menghentikan pertikaian orangtuanya, namun mereka tak juga mau berhenti. Pertengkaran itu terjadi karena Ibunya tidak memperkenankannya berjilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kamu masih muda nak.., belum pantas mengenakan jilbab!, rambut bagus kok ditutupi, mana ada pemuda zaman sekarang melirik wanita yang hanya kelihatan wajah dan tangannya? kalau Cathy nggak laku bagaimana? mau jadi perawan tua?!. Wanita berjilbab itu harus baik prilakunya, eh..Cathy tingkahnya masih begini begitu.. jangan kasi malu Ibu..!&quot;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cathy tidak terima disuruh melepas jilbabnya, namun Ibunya terus mendesak, buntut-buntutnya ia berkata, &quot;Ibu jahat...,&quot; Ayah datang membela, &quot;Biarlah Bu..,    seharusnya kita bangga punya anak yang mau menutupi auratnya..&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu merasa terpojok dan balik memarahi Ayah, maka terjadilah pertengkaran itu. Hal ini berulangkali terjadi sejak Cathy mengenakan pakaian yang disyariatkan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kita ngobrol di luar aja yuk?..,&quot; Cathy mengajak Ayu dan Nisa ke halaman rumahnya yang luas, mirip taman bermain kanak-kanak. Sejenak wajah manis itu terdiam, ia tampak jauh lebih cantik dengan gaun muslimahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kenapa Allah memberikan Ibu seperti itu pada Cathy ya? yang Beliau fikirkan hanyalah dunia, beda jauh dengan Ayah, yang selalu berorientasi ke akhirat. Seandainya Ibuku seperti Ibumu Nisa.. Ayu.. alangkah bahagianya aku!. Cathy jadi menyesal punya Ibu..&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sempat menghabiskan kalimatnya, Ayu buru-buru menceramahinya, &quot;Jangan begitu, Cathy.. walau bagaimanapun ia adalah Ibu yang mengandung dan membesarkanmu..&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cathy membela diri, &quot;Siapa suruh mengandung dan membesarkanku? kenapa nggak dibiarkan mati aja sekalian?.., Beliau lebih senang anaknya diazab Allah daripada selamat. Apakah Itu Ibu namanya?!.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa berusaha melerai kedua sahabatnya. &quot;Daripada bertengkar, kita pergi aja yuk?, belanja, baca buku.&quot;  Setelah pamit pada orangtua Cathy, merekapun pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                       *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di toko buku, mereka bertiga tampak asyik memilih bacaan kesukaan masing-masing. Nisa dan Ayu ke rak buku Islami, dan Cathy ke rak majalah. Setelah agak  lama terbuai dalam lautan pena, Cathy mendekati Nisa, ia geleng-geleng kepala melihat buku yang dibaca sahabatnya, Tafsir Qur&#39;an, wuih.. mengerikan, baginya jangankan membaca, membayangkan isinya saja sudah membuatnya pusing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak mata bundar itu terpendar pada sebuah buku, &quot;Derita Nanda, Apa Salahku Hingga Ibu Tega Membunuhku?!&quot; Hatinya berdebar membaca judulnya, secepat kilat jemari kecil itu menangkap, ingin tahu isinya. Setelah beberapa saat, buru-buru ia menutupnya kembali. Jantung Cathy berdetak lebih cepat, ia mengurut dada, &quot;Astaghfirullaah..&quot; Buku itu berisi kekejaman seorang Ibu yang tega membunuh anaknya sendiri karena takut miskin, sejenak ia ingat Ibunya,&lt;br /&gt;&quot;Makasih Ya Allah, Engkau memberiku Ibu yang jauh lebih baik,&quot; bathinnya. Tiba-tiba Nisa dan Ayu mengagetkan dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, mereka berpisah, Ayu ada acara keluarga. Sementara Cathy ikut Nisa ke supermarket. Gadis manis itu tampak bingung hendak membeli apa,  karena semua kebutuhan sudah dibeli Ibu. Iseng diambilnya saja makanan kecil, coklat, kacang, kue-kue. Tanpa sengaja ia melihat isi keranjang belanjaan Nisa, susu tanpa lemak, gula rendah kalori, buah-buahan, ia terheran-heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kurus-kurus kok diet sich Nisa?, nggak takut kekurangan gizi?!,&quot; Nisa tersenyum. &quot;Susu dan gula ini untuk Ibu, Beliau dapat gejala kencing manis&quot;. Cathy terbelalak, &quot;Untuk Ibu?, Beliaukan bisa beli sendiri?!.&quot; Pertanyaannya tak digubris Nisa, iapun tak memerlukan jawaban. Sesaat ingatan Cathy melayang pada buku yang dibacanya barusan, sejenak ia termenung, mulai mengingat-ingat kesukaan Ibunya. Minuman serat yang kerap dipromosikan TV diambilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        *****&lt;br /&gt;Ada seribu satu macam rasa yang sulit diungkap Cathy saat berada di rumah Nisa. Rumah itu tidak semewah rumahnya, malah cenderung sederhana, tapi.. mengapa hatinya begitu tenang? tidak ada sesuatupun yang istimewa, tetapi.. mengapa begitu menyenangkan?, apakah karena ada seorang wanita teduh yang layak di sebut ibu?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Malam ini aku bobok sini ya?,&quot; kata Cathy memelas. &quot;Boleh.. tapi harus ijin orangtua dulu..&quot;, ucap Nisa seraya tersenyum padanya. Wajah manis itu terlihat&lt;br /&gt;bahagia sekali mendengar jawaban Nisa. &quot;Bentar ya.. Cathy..&quot; Nisa berlalu meninggalkannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar sohibnya yang kecil, kembali ia merasakan sesuatu yang sulit diungkap, Cathy menatap lekat ke sekeliling ruangan. Ada seperangkat pakaian shalat, tasbih, Al Qur&#39;an, tergeletak rapi di atas tikar permadani. Meja kerja dan deretan buku-buku Islami. Sementara dinding putih itu dibiarkan kosong, hanya dihias kaligragi Allah dan Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan ia merebahkan diri, capek seharian berjalan. Ketika hendak mengambil bantal, ia melihat secarik kertas terlipat rapi, rasa ingin tahu mengalahkan segalanya, cepat dibukanya lipatan kertas itu, ternyata e-mail dari seorang wanita. Isi surat itu biasa-biasa saja, namun.. ketika ia sampai pada baris ke limabelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu.. aku sempat berprasangka buruk pada Allah, Nisa... Aku merasa Allah nggak sayang padaku, aku merasa Allah nggak pernah memberiku kebahagiaan dalam hidup. Sejak umur 5 tahun, kedua orangtuaku bercerai.. kami 4&lt;br /&gt;bersaudara terpencar, ada yang diambil orang lain. Aku dan adikku yang bungsu (perempuan) tinggal dengan ayah dan ibu tiri, sedang adik yang nomor 2 ikut ibu kandung. Aku tinggal dan dididik Ibu tiri yang subhanallah.. baik dan sayang sekali padaku. (Beliau sekarang sudah almarhum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah nggak kerja lagi, untuk biaya hidup sehari-hari, ibu tiriku berjualan sayur mayur gendongan. Aku tak ingin membebani mereka, sehingga kuputuskan untuk tinggal dengan ibu kandungku, Beliaulah yang membiayai&lt;br /&gt;aku sekolah. &lt;br /&gt;SMA kelas tiga, tahun 1987, aku dan 2 adik perempuanku diusir dari rumah (waktu itu aku baru pulang dari bimbingan belajar kira-kira jam 19.30), buku-buku pelajaranku habis disobek-sobek ibu, bahkan pada saat itu Beliau marah sambil mengacung-acungkan sebilah kapak mengancam kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Keluar kamu anak-anak!, kalau tidak.. ibu bunuh kamu satu-satu!,&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu juga aku dan adik-adikku menginap di rumah tetangga depan rumah. Aku bingung saat itu, Sa.. kemana aku dan adik-adik harus pergi? kalau ke rumah ayah.. pasti kami akan jadi beban mereka. Ku coba tinggal di rumah Om (adik Ibu kandung), tapi.. istrinya keberatan kami tinggal di rumahnya dengan alasan ekonomi, padahal saat itu aku sudah bilang bahwa hanya butuh tempat berteduh pada saat malam saja, sedangkan masalah makan, kami akan berusaha cari sendiri, tapi istrinya tetap tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku ke rumah tetangga yang tidak jauh dari rumah Omku, Beliau mau menerima kami, sebagai imbalan aku bekerja untuk mereka, dari mulai ngurus rumah sampai mengurus anaknya, pokoknya sebelum mereka bangun, aku sudah masak dan nyuci. Aku diberi upah tiap hari Rp. 3000,- untuk ongkos sekolah, makan dikasi oleh yang punya rumah. Yang terfikir di benakku cuma satu, aku harus sekolah terus bagaimanapun caranya, asal aku tetap di jalan yang Allah&lt;br /&gt;perbolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah Sa.., aku diterima di D III-FMIPA UI jurusan matematika (beasiswa dengan ikatan dinas dari Depdikbud). Waktu aku baca pengumuman UMPTN di Kompas dan tahu diterima di UI, aku coba hubungi Ibu untuk minta bantuan Beliau mengenai biaya buku, kost, dan makanku, tetapi.. sampai di rumahnya, pintu pagar itu tak pernah dibukanya. Beliau hanya mengintip dari celah gorden, dan menyuruh pembantunya menyerahkan secarik kertas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segeralah menjauh dari pintu gerbang rumah ini, anak-anak!, aku tidak mau kalian kunjungi!      Kami kapok??? nggak Nisa.. aku dan adik perempuanku tetap sering nengokin Ibu meskipun akhirnya kami Cuma bisa berdiri saja di depan pintu gerbang sambil kehujanan dan kepanasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati, aku suka menyalahkan Allah, kenapa Dia memberikan kami ibu seperti ini? kenapa Dia membiarkan keluarga kami berantakan seperti itu? yach.. pokoknya segala ketidakpuasan kutumpahkan pada-Nya. Kesulitan hidup terus berlanjut selama aku kuliah, tapi aku yakin, selama aku tidak melanggar larangan-Nya, Allah pasti membantuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, aku selesai kuliah tepat waktu dan langsung diangkat jadi pegawai negeri di lingkungan SMAN 39 Jakarta. Tahun 1994 aku menikah, dan masya Allah Sa.. penderitaanku ternyata tak sampai di sini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mertuaku termasuk orang yang meterialistik, setiap sesuatu selalu diukur dengan uang, tuntutannya agar aku dan suami yang menanggung semua kebutuhan rumah tangganya. Masya Allah Sa.. ibunya minta kami membiayai adik-adiknya sekolah, sementara gajiku saat itu baru Rp. 114.900,- dan suamiku Rp. 85.000,-/bulan dengan uang makan Rp. 2.500,-/hari kerja, tapi.. aku bilang pada suami bahwa aku nggak keberatan, kita berikan apa yang masih bisa kita berikan. Bagiku yang terpenting, suamiku punya tanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dan ayah mertuaku masih belum puas juga.. sampai-sampai Beliau seperti penjajah dalam bahtera kami. Beliau ingin mengatur segalanya, bahkan anak-anak diajarinya berkata-kata kasar pada orangtua, diajarinya berpola hidup konsumtif, tapi alhamdulillah.. dengan pendekatan ke anak-anak, aku&lt;br /&gt;coba mengarahkan mereka pada kehidupan yang Allah suka, sederhana, nggak berlebihan, membeli sesuatu kalau emang sangat dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-kelamaan sikap mertuaku sangat menganggu fikiranku, Sa.. omongannya ke setiap tetangga yang ditemuinya bikin telingaku panas, aku nggak betah lagi tinggal serumah dengan mereka. Beliau selalu bercerita ke tetangga bahwa ibuku bekas pelacur, dan akupun kalau tidak dinikahi anaknya, sudah jadi pelacur seperti ibuku.. masya Allah.. aku bisa tahan kalau cuma aku yang mereka hina dan caci maki, tapi kalau mereka menghina ibuku, aku nggak rela! meskipun ibuku kasar sama aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku kompromi sama suami untuk pindah saja. Ternyata... suamikupun sudah lama ingin mengajakku pindah, tapi.. karena dulu aku yang menyarankan tinggal di situ (dengan pertimbangan daripada uangnya untuk bayar kontrakan, lebih baik untuk adiknya sekolah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pindahpun ekspansi mereka nggak berhenti, Sa.. yach.. pokoknya hal itu berlangsung terus sampai akhirnya Allah menghendaki sesuatu perubahan pada kami. Aku diberinya kesempatan kuliah lagi, aku kenal milis Islam ini, dan aku sadar ternyata Allah sayang padaku, Sa.. diberikan-Nya aku ladang amal yang sangat banyak, dengan hadirnya ibuku dan mertuaku yang sikapnya masya Allah dalam hidupku. Aku merasa malu Sa.. selama ini aku selalu berburuk sangka pada-Nya, apalagi kalau aku baca terjemahan surat Ar Rahman, masya Allah Sa.. aku bener-bener malu.. yach, nikmat mana lagi yang mau aku dustakan?..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu&#39;alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;Salam sayang selalu&lt;br /&gt;Puspa Thea&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis membaca surat itu, ada getar kerinduan di hati Cathy pada sosok yang akhir-akhir ini dimusuhinya. Betapa sayangnya Allah telah menganugerahinya seorang ibu yang tak pernah mau membunuhnya, mengusirnya dari rumah, ataupun membiarkannya kehujanan dan kepanasan. Nikmat Allah yang mana lagi yang harus aku dustakan?,  desir hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian ia tertegun melihat sosok penuh keibuan di balik lipatan terakhir surat, Subhanallah.. mata itu bening seperti kaca, Qalbunya yang bersih memancarkan cahaya keseluruh wajahnya. Puspa Thea, itukah namanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayup-sayup Cathy mendengar telapak kaki melangkah, secepat kilat ia merapikan segala sesuatu. &quot;Silahkan di minum Non Cathy.., maaf ya kelamaan, tadi Nisa masak air dulu..,&quot; Cathy menyentuh cangkir hangat yang disuguhkan Nisa, Ya Allah.. ibu selalu membuatkan coklat susu untukku, katanya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Nisa.. a ku ma u pu lang..,&quot; Ucapnya terpatah, Nisa terheran-heran. &quot;Lho.. katanya mau bobok sini?!&quot;. Nisa mengiringi kepergian sahabatnya. Ia tak habis fikir kenapa secepat itu Cathy berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                     *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan menuju tempat kerja, Nisa hampir tak  percaya dengan penglihatannya. Ia melihat Cathy begitu mesra dengan Ibunya di pasar tradisional. Jari-jari tangan mungil itu tampak penuh menenteng belanjaan,&lt;br /&gt;sesekali sang ibu berusaha menolongnya, tapi Cathy tidak mau, ia terus mengelak dan tersenyum. Sesampai di kantor ia menelpon Cathy. Gadis itu terdengar ceria sekali, tak sepatah katapun bernada keluh kesah mengenai ibu yang dulu selalu keluar dari mulutnya. Apakah gerangan yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                       *****&lt;br /&gt;&quot;Masuk, Nisa..&quot;, sapa Ibu Cathy ramah setelah menjawab salamnya. Kali ini, suasana rumah itu begitu berbeda dari sebelumnya. Di pekarangan terlihat Ayah Cathy membaca koran dengan asyiknya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Langsung ke dalam aja, ya.. Cathy sedang istirahat, kasihan dia.. dari pagi bantuin Tante kerja&quot; Ujar wanita itu dengan senyum merekah, Beliau tampak begitu bahagia. Nisa melangkahkan satu-satu kakinya supaya Cathy tak terusik, sayup-sayup terdengar merdu suara gadis itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah Tuhanku, anugerahilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan anugerahi pula aku kemampuan) untuk beramal shaleh yang Engkau ridhai, serta jadikanlah kebajikan bersinambung untukku pada anak keturunanku.  sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. Al AhQaaf 46:15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Eh, Nisa.. &quot;. Ia tersipu malu, tak berapa lama kemudian mereka larut dalam perbincangan panjang mengenai perubahan yang terjadi.  &quot;Sebening kaca.. Nisa, bisakah aku memilikinya?&quot; Nisa terkesima mendengar penuturan sahabatnya, ternyata Cathy telah membanya surat Mba&#39; Puspa Thea, Melati yang berhati sebening kaca. Melalui goresan pena wanita itu, Allah menitipkannya hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                       *****&lt;br /&gt;Nisa mencek inboxnya, banyak surat bertebaran di sana, beberapa Melati baru bermunculan menyapanya ramah. Tetapi, mengapa tak ada satupun surat dari Mba&#39; Pupu?. Kerinduan Nisa semakin menyesak dada. Perlahan ia mulai menggerakkan jemari tangannya menekan tut-tuts komputer, menulis sepucuk surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalaamu&#39;alaikum Warahmatullaah Wabarakaatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana khabarmu, Mba’? si kecil dan suami tercinta? Nisa do&#39;akan semoga kalian semua sehat, senantiasa dalam lindungan Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku Mba&#39;, tanpa sengaja salah satu suratmu terbaca sahabatku. Tapi.. tanpa sengaja pula engkau telah berdakwah, melalui bahasa Qalbumu yang terukir indah di atas pena itu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mba&#39;.. Nisa rindu sekali, rindu cerita-ceritamu.. rindu kekayaan bathinmu. kapan ya.. Allah mempertemukan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalaamu&#39;alaikum Warahmatullaah Wabarakaatuh&lt;br /&gt;Salam manis dan sayang&lt;br /&gt;Adikmu, Nisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18 Januari 2002&lt;br /&gt;Ratna Dewi &lt;br /&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;Dikutip dari :   www.geocities.com&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/3862987131746057200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/07/sebening-kaca-puspa-thea-dimana-dikau.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/3862987131746057200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/3862987131746057200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/07/sebening-kaca-puspa-thea-dimana-dikau.html' title=''/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFRQdzPQuUmSLg-4g3z-CyorHULrAAcUpxfE3yRyNYHMT9WboUZGMkZBoAFyLD-Okb2COuabRc5QeIhyphenhyphenl-F1cpj_GhaclKIJou5RRMLIHg8Mt8zt0NappqPZ5R6Z65IoFn7W_LlG7be2g/s72-c/miss.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-4975857428100083687</id><published>2009-07-05T14:52:00.002-11:00</published><updated>2010-01-27T17:50:03.983-11:00</updated><title type='text'>SEBUAH KISAH IRONIS DI IRLANDIA UTARA</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNm3lze29ES-CbZ1XfBRsAd4RDC9dIgRI3dakGaUFMZm_F3PxBuTVBBJxl9-gdbIuy8kDtyB4R6jZZe_Oe4ozJ2ijtVWPR73jVuCAVULWZSWRSC2l5OZcHzmu0XDhCqVASRpjXI2GMJDw/s1600-h/sabar.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 275px; height: 320px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNm3lze29ES-CbZ1XfBRsAd4RDC9dIgRI3dakGaUFMZm_F3PxBuTVBBJxl9-gdbIuy8kDtyB4R6jZZe_Oe4ozJ2ijtVWPR73jVuCAVULWZSWRSC2l5OZcHzmu0XDhCqVASRpjXI2GMJDw/s400/sabar.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5355162598985728642&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH KISAH IRONIS DI IRLANDIA UTARA&lt;br /&gt;Saya ibu terburuk di dunia ini. Oh Tuhan biarlah aku menceritakan hal ini  sebelum ajal menjemput.......&lt;br /&gt;20 tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,  wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam memberi ia nama Eric. Semakin berkembang semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak/pelayan, namun suami saya Sam mencegah niat buruk saya.&lt;br /&gt;Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun yang kedua setelah melahirkan Eric, saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil, saya menamakannya Angelica. Saya sangat menyanyangi Angelica demikian juga Sam,&lt;br /&gt;seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian&lt;br /&gt;anak yang indah-indah..... tapi tidak demikian dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya melarangnya dengan dalih menghemat keuangan keluarga dan Sam selalu menuruti perkataan saya.&lt;br /&gt;Di saat Angelica berumur 2 tahun Sam meninggal dunia  dan pada saat itu Eric sudah berumur 4 tahun. Keluarga kami semakin miskin disertai hutang yang semakin menumpuk. Saya mengambil sebuah keputusan yang membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya itu beserta Eric yang masih tertidur lelap, di gubuk yang terpaksa kami tinggali. Setelah saya menjual rumah untuk melunasi hutang-hutang........&lt;br /&gt;Setahun.....2 tahun.........5 tahun..... 10 tahun ...... telah berlalu. sejak kejadian itu ...Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Ia seorang pendeta di gereja St. Maria. 5 tahun lamanya umur pernikahan kami, dan berkatnya sifat2 saya yang semula pemarah, egois dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit. Saya menjadi lebih sabar&lt;br /&gt;dan penyanyang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami sekolahkan dia di asrama putri perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.&lt;br /&gt;Hingga suatu malam..........&lt;br /&gt;Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak.  wajahnya agak tampan, ia tampak pucat sekali..... ia melihat ke arah saya sambil tersenyum ia berkata, &quot;Tante, tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada mommy&quot; Setelah mengatakan itu ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya. &quot;Tunggu... sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?&quot; &quot;Nama saya elic tante&quot; Eric......??? Eric....... ya Tuhan kau benar-benar Eric ????? Saya langsung tersentak dan bangun. rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba teirngat kembali kisah ironis yang telah&lt;br /&gt;terjadi dulu kala, seperti pemutaran film lama di kepala saya. Namun baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu. Dan saya mengambil keputusan untuk mati saja saat itu, yah saya harus mati, mati,  mati..........&lt;br /&gt;Se inchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke urat nadi saya, saat itu saya teringat kembali dengan Eric, yah Eric... Eric mommy akan menjemputmu Eric.......&lt;br /&gt;Sore itu saya memarkirkan mobil Civic biru saya di samping sebuah gubuk dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. &quot;Mary apa yang yang sebenarnya terjadi Mary???&quot; &quot;Oh Brad .. kau pasti akan membenci saya setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu kala&quot;. Tapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak......... Tapi ternyata Tuhan sungguh berbaik hati pada saya, ia memberikan suami yang begitu baik dan pengertian kepada saya......... Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti Brad dari belakang, mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang 2 meter di hadapan&lt;br /&gt;saya. Dan saya mulai ingat betapa gubuk tersebut pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric.......sa.......saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu............&lt;br /&gt;dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka&lt;br /&gt;pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap........ Tidak terlihat apapun juga!!&lt;br /&gt;Perlahan-lahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan&lt;br /&gt;kecil itu, dan saya tidak melihat siapapun di dalamnya......... Hanya sepotong kain butut di atas tanah. Saya mengambilnya dan mengamatinya... air mata saya kembali mengalir, karena saya mengenali potongan kain itu adalah baju butut yang dulu dikenakan Eric&lt;br /&gt;sehari-harinya...........&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian dengan perasaan yang sulit dilukiskan saya pun keluar dari ruangan itu..... air mata saya mengalir dengan deras dan saat itu saya hanya diam saja. Saat saya dan Brad mulai naik ke mobil, meninggalkan tempat tersebut, saya melihat seseorang di belakang mobil kami dan saya  sempat kaget karena keadaan saat itu sudah gelap, dan terlihat wajah orang itu begitu kotor, ternyata seorang wanita tua..... kembali saya&lt;br /&gt;tersentak kaget ketika ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.... &quot;Hei!!  siapa kamu, dan mau apa kamu kemari!&quot; Dengan memberanikan diri sayapun bertanya, &quot;Bibi apa kamu kenal dengan seorang anak bernama Eric, ia dulu tinggal di sini!&quot; Ia  ,&quot;kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk.&quot; &quot;Tahukah kamu 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini. Ia terus menunggu dan memanggil  mommy...... mommy, karena tidak tega saya terkadang memberinya makanan dan mengajaknya tinggal bersama saya.  Meskipun saya orang miskin dan pekerjaan saya mengumpulkan sampah namun saya tidak akan  meninggalkan anak saya seperti itu. Sampai tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini, ia belajar menulis setiap harinya selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu ...................&quot;&lt;br /&gt;Sayapun membaca kertas itu...&quot;Mommy mengapa mommy tidak pernah kembali lagi..... mommy marah sama eric yah... mom biarlah eric yang pergi saja, tapi mommy harus berjanji kalau mommy tidak akan marah sama eric lagi. Bye Mom...&quot;&lt;br /&gt;Saya menjerit histeris membaca surat itu. &quot;Bu, tolong katakan di mana dia sekarang??? Saya akan sangat menyanyanginya sekarang. saya tidak akan meninggalkannya lagi bu... tolong katakan!! Brad memeluk saya yang bergetar keras...&quot;&lt;br /&gt;&quot;Nyonya semua sudah terlambat, (dengan nada melembut), sehari sebelum nyonya datang&lt;br /&gt;eric telah meninggal dunia. ia meninggal di belakang gubuk ini&quot;.  &quot;Tubuhnya sangat kurus , ia sangat lemah. hanya demi menunggumu ia terus bertahan di belakang gubuk ini,&lt;br /&gt;tanpa berani masuk ke dalam gubuk ini. Ia takut apabila mommy-nya datang akan pergi lagi bila melihat ia disana ... Ia hanya berharap dapat melihat mommy-nya dari belakang gubuk&lt;br /&gt;ini...... meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia  terus bersikeras menunggu nyonya di sana&quot;. &quot;Nyonya dosa anda tidak terampunkan!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi...!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;dikutip : www.geocities.com&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/4975857428100083687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/07/sebuah-kisah-ironis-di-irlandia-utara.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/4975857428100083687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/4975857428100083687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/07/sebuah-kisah-ironis-di-irlandia-utara.html' title='SEBUAH KISAH IRONIS DI IRLANDIA UTARA'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNm3lze29ES-CbZ1XfBRsAd4RDC9dIgRI3dakGaUFMZm_F3PxBuTVBBJxl9-gdbIuy8kDtyB4R6jZZe_Oe4ozJ2ijtVWPR73jVuCAVULWZSWRSC2l5OZcHzmu0XDhCqVASRpjXI2GMJDw/s72-c/sabar.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-1093536184601716985</id><published>2009-06-29T20:42:00.000-11:00</published><updated>2009-06-29T20:43:07.865-11:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;DIARY HATI &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqyOw3__avyP8Lsiok0eua9TjkWCmV332Uck1whH__Ojl5VGxM5OMVnPuRWimJVWq24aLgHzX9EfYHxpdgn0HoPY7PYNf-_W9GHZe5PFn3jtGBTcYZJELuUJ0FnXLD-yjraftvxUXJspM/s1600-h/kartun-muslim.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 155px; height: 118px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqyOw3__avyP8Lsiok0eua9TjkWCmV332Uck1whH__Ojl5VGxM5OMVnPuRWimJVWq24aLgHzX9EfYHxpdgn0HoPY7PYNf-_W9GHZe5PFn3jtGBTcYZJELuUJ0FnXLD-yjraftvxUXJspM/s400/kartun-muslim.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5343329014062644082&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;UNTUK RICKY&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; (kuasa Allah pada seorang muslim)&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Duhai sayang...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Bekahan hati pujaan ibu seorang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Apa kabar dirimu saat ini, nak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Anakku...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Inilah suara ahti ibu utnukmu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Tanda cinta tiada tepi, walau engkau telah jauh dari sisiku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Anakku sayang...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Izinkan aku bertutur tentang dirimu, nak. Kepada semua orang, kuingin bercerita tentang betapa namamu selalu menggoreskan berjuta kenangan. Engkau belahan jiwa yang pernah tak kuharapkan awal kehadirannya. Namun, ternyata dari dirimu jua aku dapat belajar tentang makna ikhlas dan sabar akan sebuah keniscayaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;13 Desember 1996&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Oee....oee... Ya Allah, amanahMu telah lahir utnuk menyapa dunia. Ini ibu, sayang. Kemarilah, agar dapat kau hirup air susu beraroma surga. Akan aku tawarkan pula cinta seorang ibunda. Lengking tangismu terdengar indah, nak, seperti bayi-bayi lainnya. Namun entahlah, gerakan reflek kedua bola mata itu sepertinya tak sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;1997&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Setahun telah berlalu. Engaku terlihat berbeda, tak seperti kedua kakak perempuanmu. Ada apa denganmu, nak? Kudekap dirimu, biar dapat aku alirkan kekuatan cinta seorang ibu. Bersabarlah saat begitu banyak alat-alat menyiksa tubuh kecilmu, nak. Jangan! Jangan kau tatap aku dengan osrot mata bertanya, mengapa? Kalaulah engkau tahu, aku pun tak tega melihat engkau diperlakukan seperti mitu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Namun syukurlah... Engkau diperkirakan normal, walau harus mengalami beberpa kali pemeriksaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Tapi aku ibumu, dan dari rahim ini engkau ada di dunia. Batin ini tak dapat dibohongi, karena engkau dan aku disatukan oleh ikatan hati. Kubiarkan air mata ini terus beruah, ketika engkau yang masih kecil kembali lagi diperiksa. Syaraf, otak, juga pembuluh darah. Lagi, alat-alat canggih itu menyakitimu, nak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Anakku sayang...engkau pasti sakit. Kalaulah boleh, biar saja ibu yang merasakan itu. Tapi bertahanlah, karena selalu ada ibi disisimu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Mei 1998&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Astaghfirullah...Jakarta resah, merah putih gelisah. Kerusuhan terjadi dimana-mana. Orang tuamu ini pun terkena damapaknya. Bapakmu yang bekerja dipabrik tekstil diberhentikan dari pekerjaannya. Tak lama kemudian, kita juga haurs pindah dari rumah kotrakan karena anak pemilik rumah ini mau menempatinya. Tak cukup hanya itu, sayang. Ternyata hasil pemeriksaan terbaru membawa kabar buruk, dirimu mengalami kelainan kromosom dengan translokasi Robertson.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Nak...Air mata ini rasanya taka kan pernah mengering. Tak kunjung usai cobaan yang datang menghampiri kita. Semoga ini tanda Allah sayang kepada hamba-hambaNya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;1999&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Nak... dirimu mulai terlihat gagah. Lihatlah, engkau mulai belajar menapak meski dengan bantuan kettler, karena kedua tungkai kakimu membentuk X dan tak sama tingginya. Melangkahlah terus sayang, walau goyah. Ucapkan kata yang kau bisa, karena aku abhagia mendengarnya. Tataplah dunia, dengan juling bola mata dan tebalnya kacamata. Bukankah dengan itu pun dapat kau lihat keindahan alam semesta?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Tahun Ajaran 2000-2001&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Alhamdulillah...syukur tak henti kuucapkan kepada Allah. Begitu banyak orang yang menyayangimu, nak. Sahabat dan saudara begitu berlimpah. Persahabatan memang indah, karena saat resah kita dapat berbagi duka. Biaya besar untuk pendidikan di sekolah terapi khusus untuk anak sepertimu, seperti menjadi begitu mudah. Kadang aku sering bertanya, mengapa mereka begitu memperhatikanmu, sayang. Tapi kutahu jawabannya, hanya cinta yang dapat mengikat hati-hati kita.&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Juni 2003&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Waktu terus bergulir lamban. Setiap saat, kutatap wajahmu ketika lelap. Perlahan, kucium engkau dengan mesra. Tak lupa aku bersyukur melihat engkau tumbuh dan berkembang, meski semakin jelas tampak berbeda. Dirimu semakin mengisi setiap sudut hatiku. Melahirkan kasih putih yang berlimpah ruah. Menciptakan rasa cinta yang begitu membuncah. Rasa itu semakin hari membuat aku jadi khawatir kehilanganmu, nak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Namun....adakah seorang ibu yang tak takut kehilangan buah hatinya? Kepada Allah jua kumohonkan do’a, agar IA selalu menjaga dirimu, sayang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Jum’at, 11 juli 2003&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Hari ini, engkau mengeluh kepalamu pusing. Tak perlu khawatir, kata dokter yang memeriksamu dua hari setelah itu. Namun besoknya tubuhmu menggigil. Apakah engkau keracunan obat, nak? Reguk-lah, air kelapa hijau yang kuberikan pasamu. Ternayta dirimu terkena demam berdarah, ketika selasa menjelang maghrib kubawa engkau ke rumah sakit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Ya Allah....Ternayta engkau harus rawat inap ICU, sayang. Cobalah untuk istirahat, pejamkan mata di ruangan serba putih itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Rabu, 16 Juli 2003 : Pukul 4-5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Aduh.... terdengar di dini hari ini engkau beteriak, sakit. Kejang! Tubuhmu bagai menggelepar. Sabar dan cobalah untuk tabah, sayang. Namun kurasakan aura sakratul maut itu perlahan mulai merenggut engkau dari aku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Mari-lah kutuntun, nak. Ikuti apa kata ibu. Laa ilaha alla Allah... Ricky anak ibu, laa ilaha illa Allah...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Kemudian, matamu menatapku. Duhai, inikah tanda perpisahan itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 102);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Pukul 5.40&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Akhirnya.... usai sudah perjalanan hidupmu di dunia fana. Pergilah dengan tenang. Biarkan jiwa sucimu melayang, didekap dengan selimut kasih sayang para malaikat. Ibu, bapak dan juga kakak-kakakmu ikhlas, nak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Kelak, tak akan pernah engkau dengar teman-temanmu berteriak bahwa kau orang gila. Karena engkau sehat dan normal, sayang. Kalaulah dirimu terlihat berbeda dimata mereka, bukankah engkau pun tak pernah menginginkannya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Anakku sayang.... suatu saat, pernah tak kuharapkan kehadiranmu di rahim ibu. Sering pula aku menangis karena kehendak-Nya menitipkan engkau padaku. Bila menurutkan kata hati ini, sekarang pun aku ingin menangisi kepergianmu, nak. Tapi aku malu kepada Allah, karena IA lebih tahu tentang makna cinta. Berapa juga besarnya yang ada pada manusia, tapi Allah-lah Sang Pemilik Cinta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Selamat jalan, sayang....bermainlah di alammu sana, bercanda riang penuh tawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Semoga pula Allah mengampuni segala dosa yang pernah kulakukan. Percayalah, betapa sebenarnya ibu teramat sayang kapadamu. Tunggulah ibu, nak. Nanti akan kembali kupeluk engkau sepenuh hatiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Wallahu a’lamu bish-shawaab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: purple;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;cahaya hikmah, edisi 07/2007&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/1093536184601716985/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/diary-hati-untuk-ricky-kuasa-allah-pada.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/1093536184601716985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/1093536184601716985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/diary-hati-untuk-ricky-kuasa-allah-pada.html' title=''/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqyOw3__avyP8Lsiok0eua9TjkWCmV332Uck1whH__Ojl5VGxM5OMVnPuRWimJVWq24aLgHzX9EfYHxpdgn0HoPY7PYNf-_W9GHZe5PFn3jtGBTcYZJELuUJ0FnXLD-yjraftvxUXJspM/s72-c/kartun-muslim.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-3582456107891059437</id><published>2009-06-29T20:27:00.000-11:00</published><updated>2009-06-29T20:29:34.696-11:00</updated><title type='text'>Kisah Pohon Apel</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;Kisah Pohon Apel&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;  style=&quot;font-family:webdings;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 102, 102);&quot;&gt;Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di abwah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidu-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;img alt=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGWndwpp8metVHYX_8Bqdj9czYqd53rJ7y0uBO2Zf38mMNd1hlzMXXcAXz58tGsSFbasi1XJ4SkXwzBqYjOAxz4DW9gHusqFBkc6NqAm0faKuRrDa739vfioxUhBG7sJZlXd6PMrww4ZiA/s320/apple_tree.gif&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGWndwpp8metVHYX_8Bqdj9czYqd53rJ7y0uBO2Zf38mMNd1hlzMXXcAXz58tGsSFbasi1XJ4SkXwzBqYjOAxz4DW9gHusqFBkc6NqAm0faKuRrDa739vfioxUhBG7sJZlXd6PMrww4ZiA/s320/apple_tree.gif&quot; /&gt;&lt;p  style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);font-family:webdings;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “ayo kesini bermain-main lagi denganku,”pinta pohon apel itu. “aku bukan anak kecil ayang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab lelaki itu. “aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang utnuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “duh, maaf &lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;aku pun tak punya uang....tetapi kau boleh mengambil semua apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli maianan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memtik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan sukacita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohin apel. “aku tak punya waktu ,” jawab anak lelaki itu. “aku ahrus bekerja untuk keluargaku. Kami mmebutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musin panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersukacita menyambutnya. “ayo bermain lagi denganku,” kata pohon apel. “aku sedih,” kata anak lelaki itu. “aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Prgilah berlayar dan bersenang-senanglah.” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah datang lagi menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “maaf anakku,” kata pohon apel itu. “aku sudah tidak memiliki buah apel lagi untukmu.” “tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk menggigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “aku juga tak memiliki batang dan dahan ayng bisa kau panjat,” kata pohon apel. “sekarang aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa kuberikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua san sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” “oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat yang terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil menitikkan airmatanya. Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apapun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);font-family:webdings;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 102, 102);&quot;&gt;Mari kita mencintai orang tua kita seperti mereka dengan tulus dan setia menyayangi kita.&lt;/span&gt;&lt;o:p style=&quot;color: rgb(204, 0, 0);&quot;&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;cahaya hikmah, edisi 03/2006&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;marquee  style=&quot;color: rgb(204, 0, 0);font-family:webdings;&quot; direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;cahaya hikmah, edisi 03/2006&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/3582456107891059437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/kisah-pohon-apel.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/3582456107891059437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/3582456107891059437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/kisah-pohon-apel.html' title='Kisah Pohon Apel'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGWndwpp8metVHYX_8Bqdj9czYqd53rJ7y0uBO2Zf38mMNd1hlzMXXcAXz58tGsSFbasi1XJ4SkXwzBqYjOAxz4DW9gHusqFBkc6NqAm0faKuRrDa739vfioxUhBG7sJZlXd6PMrww4ZiA/s72-c/apple_tree.gif" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-5799815407996736267</id><published>2009-06-29T20:22:00.000-11:00</published><updated>2009-06-29T20:24:48.632-11:00</updated><title type='text'>kalung Anisa</title><content type='html'>&lt;img style=&quot;width: 455px; height: 471px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjs232dl8SfGITWE0QLHu6wXgAdt7LWogn5NWoKtmZ-W9Cq6DNmZedcQVQO1M1yz7k6q0aEE7QyYdlO5kINfNwuNv1TTE6KvLF_gYGGPx-Pm9LVpdBPXmzuG9mvZy5bdyk1HMrU0HkMG4Y/s1600/801867_knotted_165000.jpg&quot; alt=&quot;[801867_knotted_165000.jpg]&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id=&quot;_x0000_t75&quot; coordsize=&quot;21600,21600&quot; spt=&quot;75&quot; preferrelative=&quot;t&quot; path=&quot;m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe&quot; filled=&quot;f&quot; stroked=&quot;f&quot;&gt;  &lt;v:stroke joinstyle=&quot;miter&quot;&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;if lineDrawn pixelLineWidth 0&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @0 1 0&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum 0 0 @1&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @2 1 2&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @3 21600 pixelWidth&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @3 21600 pixelHeight&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @0 0 1&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @6 1 2&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @7 21600 pixelWidth&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @8 21600 0&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @7 21600 pixelHeight&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @10 21600 0&quot;&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok=&quot;f&quot; gradientshapeok=&quot;t&quot; connecttype=&quot;rect&quot;&gt;  &lt;o:lock ext=&quot;edit&quot; aspectratio=&quot;t&quot;&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id=&quot;_x0000_s1026&quot; type=&quot;#_x0000_t75&quot; style=&quot;&#39;position:absolute;&quot;&gt;  &lt;v:imagedata src=&quot;file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg&quot; title=&quot;801867_knotted_165000&quot;&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=&quot;position: absolute; z-index: -1; margin-left: 0px; margin-top: 0px; width: 624px; height: 1056px;&quot;&gt;&lt;img src=&quot;file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg&quot; shapes=&quot;_x0000_s1026&quot; height=&quot;1056&quot; width=&quot;624&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(51, 0, 153);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&quot;kalung Anisa&quot;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 153, 0);font-family:verdana;&quot; &gt;ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia lima tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;  style=&quot;text-indent: 27pt;font-family:verdana;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color:navy;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 102, 0);&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:verdana;&quot; &gt; Pada suatu sore, Anisa menemani ibunya berbelanja di suatu supermarket. ketika sedang menunggu giliran membayar, anisa melihat sebentuk kalung mutirara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampaknya sangat indah, sehingga anisa sangat ingin meilikinya. Tapi…. Dia tahu, pasti ibunya akan keberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket, dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:verdana;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;    &lt;/span&gt;Dan tadi ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik.namun karena kalung&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;itu sangat indah, diberanikannya bertanya. “Ibu, bolehkah anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi…” sang buda segera mengambil kotak kalung dari tangan anisa. Dibaliknya tertera harga Rp. 15.000.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:verdana;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;     &lt;/span&gt;Dilihatnya mata anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja membelikan kalung itu, namun ia tidak mau bersikap tidak konsisten…”oke…anisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju?” anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya. “terimakasih…, ibu” anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya.menurutnya, kalung itu membvuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik ibunya. Kalung itu&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:verdana;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;     &lt;/span&gt;Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau… Setiap malam sebelum tidur, ayah anisa membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, ayah bertanya “anisa…, anisa saying enggak sama ayah?” “tentu dong…. Ayah pasti tahu aklau anisa saying ayah1” “kalau begitu, berikan kepada ayah kalung mutiaramu…” “yah…, jangan dong ayah ! ayah boleh&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;ambil “si ratu” boneka kuda dari nenek…! Itu kesayanganku juga “ya sudahlah sayang,… ngga apa – apa!.” Ayah mencium pipi anisa sebelum keluar dari kamar anisa. Kira – kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, ayah bertanya lagi, “anisa…, anisa sayang nggak sih, sama ayah ?” “ayah, ayah tahu bukan kalau anisa sayang sekali pada ayah ?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:verdana;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;     &lt;/span&gt;“kalau begitu, berikan pada ayah kalung mutiaramu”. “jangan ayah…tapi kalau ayah amu, ayah boleh ambil boneka Barbie ini..”kata anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:verdana;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;     &lt;/span&gt;Beberapa malam kemudian, ketika ayah masuk ke kam,arnya, anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, anisa rupanay sedang menangis diam – diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan air mata membasahi pipinya…”ada apa anisa, kenapa anisa?” tanpa berucap sepatah pun, anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya “kalau ayah mau… ambillah kalung anisa” ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih… sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi anisa…”anisa… ini untuk anisa. Sama bukan? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:verdana;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;    &lt;/span&gt;Ya…, ternyata ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi milik anisa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color:black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:verdana;&quot; &gt; Demikian pula halnya dengan Allah SWT. Terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang – kadang kita seperti atau bahkan lebih naïf dari anisa : menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Allah mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color:black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:verdana;&quot; &gt;cahaya hikmah, edisi 03/2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/5799815407996736267/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/kalung-anisa.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/5799815407996736267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/5799815407996736267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/kalung-anisa.html' title='kalung Anisa'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjs232dl8SfGITWE0QLHu6wXgAdt7LWogn5NWoKtmZ-W9Cq6DNmZedcQVQO1M1yz7k6q0aEE7QyYdlO5kINfNwuNv1TTE6KvLF_gYGGPx-Pm9LVpdBPXmzuG9mvZy5bdyk1HMrU0HkMG4Y/s72-c/801867_knotted_165000.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-4728835321661696234</id><published>2009-06-29T20:18:00.000-11:00</published><updated>2009-06-29T20:20:30.071-11:00</updated><title type='text'>MAAFKANLAH AKU, KAWAN</title><content type='html'>&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 255, 255);&quot;&gt;a hikmah, edisi 04/2007&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjV6w1S6fROcO_mgCUuOnWGprjJzvHLVTpl5S6STGQBW-IzV6KKqcucvSPE9wvhklnSIFmOGeiQ_C0Du1E7K9Gwp1qda6pTw5y9UrXPWDrhLpcMAd8763RLFza21EAyQdwMpMhn2gbn-4o/s1600-h/images.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 137px; height: 143px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjV6w1S6fROcO_mgCUuOnWGprjJzvHLVTpl5S6STGQBW-IzV6KKqcucvSPE9wvhklnSIFmOGeiQ_C0Du1E7K9Gwp1qda6pTw5y9UrXPWDrhLpcMAd8763RLFza21EAyQdwMpMhn2gbn-4o/s400/images.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5342549473019151186&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;;font-size:16;color:fuchsia;&quot;  lang=&quot;IN&quot; &gt;MAAFKANLAH AKU, KAWAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:fuchsia;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:fuchsia;&quot;&gt;Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:fuchsia;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:fuchsia;&quot;&gt;Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:fuchsia;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU. Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya diatas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?” temannya sambil tersenyum menjawab, “ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:fuchsia;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Cerita diatas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dibanding diterapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan “hanya” karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut kita keterlaluan hingga menyakiti hait kita. Sebauh sakit hati lebih perkasa utnuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga. Mungkin ini memang bagian dari sifat buruk kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:fuchsia;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati yang paling penting adalah melihat apakah orang yang menyakiti hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:fuchsia;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Bukankah sudah menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Bisa jadi juga sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai gurauan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:fuchsia;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Namun demikian, orang yang bijak akan selalu mengajari muridnya utnuk memaafkan kesalahan-kesalahan sadaranya yang lain. Tapi ini akan sungguh sangat berat. Karena itu beliau mengajari kami untuk “menyerahkan” sakit itu kepada Allah –yang begitu jelas dan pasti mengetahui bagaimana sakit hati kita- dengan membaca do’a, “Ya Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami dengan balasan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang pernah menyakiti hati kai.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id=&quot;_x0000_t115&quot; coordsize=&quot;21600,21600&quot; spt=&quot;115&quot; path=&quot;m,20465v810,317,1620,452,2397,725c3077,21325,3790,21417,4405,21597v1620,,2202,-180,2657,-272c7580,21280,8002,21010,8455,20917v422,-135,810,-405,1327,-542c10205,20150,10657,19967,11080,19742v517,-182,970,-407,1425,-590c13087,19017,13605,18745,14255,18610v615,-180,1262,-318,1942,-408c16975,18202,17785,18022,18595,18022r,-1670l19192,16252r808,l20000,14467r722,-75l21597,14392,21597,,2972,r,1815l1532,1815r,1860l,3675,,20465xem1532,3675nfl18595,3675r,12677em2972,1815nfl20000,1815r,12652e&quot;&gt;  &lt;v:stroke joinstyle=&quot;miter&quot;&gt;  &lt;v:path extrusionok=&quot;f&quot; connecttype=&quot;custom&quot; connectlocs=&quot;10800,0;0,10800;10800,19890;21600,10800&quot; textboxrect=&quot;0,3675,18595,18022&quot;&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id=&quot;_x0000_s1026&quot; type=&quot;#_x0000_t115&quot; style=&quot;&#39;position:absolute;&quot;&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:fuchsia;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:blue;&quot;&gt;Bukankah Rasulullah pernah berkata, “Tiga hal diantara akhlak ahli surga adalah memaafkan orang yang telah menganiayamu, memberi kepada orang yang mengharamkanmu, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:fuchsia;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id=&quot;_x0000_t202&quot; coordsize=&quot;21600,21600&quot; spt=&quot;202&quot; path=&quot;m,l,21600r21600,l21600,xe&quot;&gt;  &lt;v:stroke joinstyle=&quot;miter&quot;&gt;  &lt;v:path gradientshapeok=&quot;t&quot; connecttype=&quot;rect&quot;&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id=&quot;_x0000_s1027&quot; type=&quot;#_x0000_t202&quot; style=&quot;&#39;position:absolute;&quot;&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;table style=&quot;width: 9px; height: 25px;&quot; align=&quot;left&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot;&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td height=&quot;0&quot; width=&quot;107&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:fuchsia;&quot;&gt;Karena itu, saudara-saudaraku, mungkin aku pernah menyakiti hatimu dan kau tidak membalas, dan mungkin kau menyakiti hatiku karena aku pernah menyakitimu. Namun dengan ijin-Nya aku berusaha memaafkanmu. Tapi yang aku takutkan kalian tidak mau memaafkan. Sungguh, saudara-saudaraku, dosa-dosaku kepada Tuhanku telah menghimpit kedua sisi tulang rusukku hingga menyesakkan dada. Saudara-saudaraku, jika kalian tidak sanggup mendoakan aku agar aku “Ada” di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segala kesalahan-kesalahanku. Tolong jangan kau tambahkan kehinaan pada diriku dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa aku telah menyakiti hatimu&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;cahaya hikmah, edisi 04/2007&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 204, 0);&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/4728835321661696234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/maafkanlah-aku-kawan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/4728835321661696234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/4728835321661696234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/maafkanlah-aku-kawan.html' title='MAAFKANLAH AKU, KAWAN'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjV6w1S6fROcO_mgCUuOnWGprjJzvHLVTpl5S6STGQBW-IzV6KKqcucvSPE9wvhklnSIFmOGeiQ_C0Du1E7K9Gwp1qda6pTw5y9UrXPWDrhLpcMAd8763RLFza21EAyQdwMpMhn2gbn-4o/s72-c/images.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-4024545199763363315</id><published>2009-06-29T20:15:00.000-11:00</published><updated>2009-06-29T20:17:02.140-11:00</updated><title type='text'>indahnya berprasangka baik</title><content type='html'>&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;  style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;;font-size:14;color:yellow;&quot;  lang=&quot;IN&quot; &gt;&lt;span style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;Indahnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgBQvmyI4O6YdoQLIs11HFXqzagFUbHfOOncBzIuPhAl9Mr31bgmH71pMAjZU2UzQAvSWzBYgq6opX00zCsP2S7xc7em5uPZGsccuyJ67T3c-BoPuorUaZn6GZN8MfvK1zbCaSLPhaTWs0/s1600-h/400_ab2a4438fd895494e6d79437b6acc4920bc32885.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 292px; height: 229px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgBQvmyI4O6YdoQLIs11HFXqzagFUbHfOOncBzIuPhAl9Mr31bgmH71pMAjZU2UzQAvSWzBYgq6opX00zCsP2S7xc7em5uPZGsccuyJ67T3c-BoPuorUaZn6GZN8MfvK1zbCaSLPhaTWs0/s400/400_ab2a4438fd895494e6d79437b6acc4920bc32885.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5341971223218834914&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;;font-size:14;color:yellow;&quot;  lang=&quot;IN&quot; &gt;&lt;span style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;  style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;;font-size:14;color:yellow;&quot;  lang=&quot;IN&quot; &gt;&lt;span style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;Berprasangka Baik&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;  style=&quot;text-align: justify;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 153, 0);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Dua laki-laki bersaudara bekerja disebuah pabrik kecap dan sama-sama belajar agama Islam untuk sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka berjalan kaki mengaji kerumah gurunya yang jaraknya sekitar 10 KM dari rumah peninggalan orangtua mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 102, 0);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rezeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaannya bekerja. Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik perangai. Kemudian berturut-turut sang kakak berdo’a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain dengan itikad supaya lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do’anya itu. Sementara itu sang adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu ditempati bersama dengan kakaknya. Namun, karena kakaknya seringkali sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, dan sang adik seringkali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka. Suatu saat sang kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya, dan dia teringat adiknya selalu membaca selembar kertas apabila dia berdo’a menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo’a. Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do’a-do’anya tiada di kabulkan oleh Allah azza wa jalla. Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terimakasih atas nasehat itu. Suatu saat sang adik&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena samapi meninggalnya adiknyaitu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do’anya tak pernah terkabul. Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa di pakai oleh adiknya yang berisi tulisan do’a diantaranya Al-Fatihah, Shalawat, do’a untuk guru mereka, do’a selamat dan ada kalimah di akhir do’anya : “Yaa, Allah. Tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu, Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlah segala do’a kakak ku, bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemudahan hidup untuk kakakku di dunia dan akhirat,” sang kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak dinyata adiknya tak pernah satukali pun berdo’a untuk memenuhi nafsu duniawinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 102, 0);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;cahaya hikmah, edisi 06/2006&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/4024545199763363315/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/indahnya-berprasangka-baik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/4024545199763363315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/4024545199763363315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/indahnya-berprasangka-baik.html' title='indahnya berprasangka baik'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgBQvmyI4O6YdoQLIs11HFXqzagFUbHfOOncBzIuPhAl9Mr31bgmH71pMAjZU2UzQAvSWzBYgq6opX00zCsP2S7xc7em5uPZGsccuyJ67T3c-BoPuorUaZn6GZN8MfvK1zbCaSLPhaTWs0/s72-c/400_ab2a4438fd895494e6d79437b6acc4920bc32885.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-6221876505848870793</id><published>2009-06-29T20:09:00.000-11:00</published><updated>2009-06-29T20:11:43.861-11:00</updated><title type='text'>KEKAYAAN, KESUKSESAN, DAN KASIH SAYANG</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGOfZr3RMffB7iBX_Dzad3TW1lsqTDK0jUZjX9iSZ8indoMz0Iq42zBWWkCvCLFtgrOLCc_LnPX5bx4h-tZD7FbYjUHsFs5niOeJ8DdUWAAtKPRdEIu9_3AcOEOEHVOEwI6ZG28yvtawU/s1600-h/giy.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 220px; height: 151px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGOfZr3RMffB7iBX_Dzad3TW1lsqTDK0jUZjX9iSZ8indoMz0Iq42zBWWkCvCLFtgrOLCc_LnPX5bx4h-tZD7FbYjUHsFs5niOeJ8DdUWAAtKPRdEIu9_3AcOEOEHVOEwI6ZG28yvtawU/s400/giy.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5353014541680941970&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 0);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;KEKAYAAN, KESUKSESAN, DAN KASIH SAYANG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 153, 0);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 153, 0);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang kerumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua. Wanita itu berkata : “aku tidak mengenal anda, tapi aku yakin anda semua pasti sedang lapar. Mari amsuk kedalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut.” Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “apakah suamimu sudah pulang?” wanita itu menajwab, “belum, dia sedang keluar.” “oh, kalau begitu, kami tidak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suami mu kembali,” kata pria itu. Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada interinya, “sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini.” Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka utnuk masuk ke dalam. “Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama,” kata pria itu hampir bersamaan. “Lho, kenapa? Tanya wanita itu karena merasa heran. Salah seorang pria itu berkata, “nama dia kekayaan,” katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, dan “sedangkan yang ini bernama kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama kasih sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk kerumahmu.” Wanita itu kembali masuk ke dalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. “Ohho... menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si kekayaan masuk kedalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan kekayaan.” Isterinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “sayangku, kenapa kita tak mengundang si kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia utnuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita.” Ternyata anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. “bukankah lebih baik jika kita mengajak si kasih sayang yang masuk ke dalam ? rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan kasih sayang.” Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. “baiklah, ajak masuk si kasih sayang ini kedalam. Dan malam ini, si kasih sayang menjadi teman santap malam ktia.” Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “siapa diantara anda yang bernama kasih sayang ? ayo, silakan masuk, anda menjadi tamu kita malam ini.” Si kasih sayang bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si kekayaan dan si kesuksesan. “aku hanya mengundang si kasih sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga? Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 51, 0);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 51, 0);&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;“kalau anda mengundang si kekayaan, atau si kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena anda mengundang si kasih sayang, makan, kemana pun kasih sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada kasih sayang, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada kasih sayang, maka kekayaan dan kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta, dan hanya kasih sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 255, 255);&quot;&gt;cahaya hikmah, edisi 04/2007&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 255, 51);&quot;&gt;cahaya hikmah, edisi 04/2007&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/6221876505848870793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/kekayaan-kesuksesan-dan-kasih-sayang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/6221876505848870793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/6221876505848870793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/kekayaan-kesuksesan-dan-kasih-sayang.html' title='KEKAYAAN, KESUKSESAN, DAN KASIH SAYANG'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGOfZr3RMffB7iBX_Dzad3TW1lsqTDK0jUZjX9iSZ8indoMz0Iq42zBWWkCvCLFtgrOLCc_LnPX5bx4h-tZD7FbYjUHsFs5niOeJ8DdUWAAtKPRdEIu9_3AcOEOEHVOEwI6ZG28yvtawU/s72-c/giy.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-1490396209558077687</id><published>2009-06-29T20:03:00.000-11:00</published><updated>2009-06-29T20:06:44.088-11:00</updated><title type='text'>WANITA BISU, TULI, BUTA, DAN LUMPUH YANG ENGKAU CINTAI</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgt6P_9zmyOnGDQAKH5VasYeJi9FZCTp6w0hcYJbdVZRzLtrKTWDOgQI_S13nhWSFdY9EB2CNlGnBkHOSbcfxoj52mHnXWa2B4f-Ew9CMYhPl9jfDP30ReKyj2N-zQ87C-6OQvIiKwf2Vc/s1600-h/g.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 118px; height: 89px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgt6P_9zmyOnGDQAKH5VasYeJi9FZCTp6w0hcYJbdVZRzLtrKTWDOgQI_S13nhWSFdY9EB2CNlGnBkHOSbcfxoj52mHnXWa2B4f-Ew9CMYhPl9jfDP30ReKyj2N-zQ87C-6OQvIiKwf2Vc/s400/g.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5353013381084221058&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;WANITA BISU, TULI, BUTA, DAN LUMPUH YANG ENGKAU CINTAI&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;Seorang laki-laki yang saleh bernama Tsabit bin ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel ayng merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur tsabit, terlebih-lebih di ahri yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan ahus mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan ia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, “aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap anda menghalalkannya.” Orang itu menjawab, “aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya.”&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “dimana rumah pemiliknya ? aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.” Pengurus kebun itu memberitahukan, “apabila engkau ingin pergi kesana maka engakau harus menempuh perjalanan sehari semalam.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Tsabit bin ibrahim betekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu, “tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : “siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Tsabit pergi juga kerumah pemilik kebun itu, dan setibanya disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, “wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?” lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “apa syarat itu tuan ?” orang itu menjawab, “engkau harus mengawini putriku !”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Tsabit bin ibrahim tidak meahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?” tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh !”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut ia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya ? kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagu, “selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala.” Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebunitu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilakan masuk menemui isterinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun isterinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka ia pun mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Tak dinyana sama sekali wanita yang ada di hadapannya dan kini resmi menjadi isterinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan utnuk menyambut tangannya. Sekali&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi isterinya itu menyambut uluran tangannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. “kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternayta dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikan berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula,” kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Setelah Tsabit duduk disamping isterinya, dia bertanya, “ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?” wanita itu kemudian berkata, “ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah.” Tsabit bertanay lagi, “ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?” wanita itu menajwab, “ayahku benar, karena aku tidak pernah amu mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?” tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengagguk perlahan mengiyakan pertanyaan isterinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “ aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku utnuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami suami dengan baik. Dengan bangga ia brkata tentang istrinya, “ketika kulihat wajahnya........ Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Tsabit dan isterinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 102);&quot;&gt;cahaya hikmah, edisi 04/2007&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;span  lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/1490396209558077687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/wanita-bisu-tuli-buta-dan-lumpuh-yang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/1490396209558077687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/1490396209558077687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/wanita-bisu-tuli-buta-dan-lumpuh-yang.html' title='WANITA BISU, TULI, BUTA, DAN LUMPUH YANG ENGKAU CINTAI'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgt6P_9zmyOnGDQAKH5VasYeJi9FZCTp6w0hcYJbdVZRzLtrKTWDOgQI_S13nhWSFdY9EB2CNlGnBkHOSbcfxoj52mHnXWa2B4f-Ew9CMYhPl9jfDP30ReKyj2N-zQ87C-6OQvIiKwf2Vc/s72-c/g.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-6808239573322311834</id><published>2009-06-29T19:56:00.000-11:00</published><updated>2009-06-29T20:01:18.109-11:00</updated><title type='text'>KISAH 3 PEMUDA DI DALAM GUA</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUH1PaEu4_4whAYgcr59rZiCoG5iIc-s3QnfanstKAnWJQ6fskSx3rJf8m34xZ5A9HdhZCVHyuWjn6xf89-EN-4-dRxe2N47oxaAZLlGKZlx_8TgF6JWxOxDPwn40-ouDJAvXI1EQbCBw/s1600-h/gua.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 337px; height: 268px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUH1PaEu4_4whAYgcr59rZiCoG5iIc-s3QnfanstKAnWJQ6fskSx3rJf8m34xZ5A9HdhZCVHyuWjn6xf89-EN-4-dRxe2N47oxaAZLlGKZlx_8TgF6JWxOxDPwn40-ouDJAvXI1EQbCBw/s400/gua.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5353011711608065458&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;color:blue;&quot;  &gt;KISAH 3 PEMUDA DI DALAM GUA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;color:aqua;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;Ketika tiga orang pemuda sedang berpergian, mereka tertahan oleh hujan dan berlindung di dalam gua di sebuah gunung. Sebongkah besar batu jatuh dari gunung melewati mulut gua tersebut dan menutupinya. Mereka berkata satu sama lain, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;SV&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;color:aqua;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;Pikirkanlah perbuatan baik yang pernah engkau lakukan di jalan allah, dan berdo’alah kepada Allah dengan menyertakan perbuatan-perbuatan itu sehingga Allah akan membebaskanmu dari kesulitan yang kau hadapi.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;SV&quot; style=&quot;color:aqua;&quot;&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;color:aqua;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;&quot;  lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 204, 255); font-family: trebuchet ms;font-family:&amp;quot;;&quot;  lang=&quot;FI&quot;&gt;            Salah satu di antara mereka berkata, &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 204, 255); font-family: trebuchet ms;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 204, 255); font-family: trebuchet ms;font-family:&amp;quot;;&quot;  lang=&quot;FI&quot;&gt;Ya Allah! Aku memiliki kedua orangtua yang telah tua renta, dan aku memiliki anak-anak yang masih kecil yang aku telah memberikan susu yang aku miliki kepada kedua orang tuaku terlebih dahulu sebelum memberikannya kepada anak-anakku. Suatu hari, aku pergi jauh untuk mencari tempat merumput ( bagi domba-dombaku ), dan tidak kembali kerumah hingga larut malam dan menemukan kedua orang tuaku sedang tidur. Aku mengisi persediaan makanan dengan susu seperti biasanya dan membawa bejana susu tersebut serta meletakkannya di atas kepala mereka, dan aku pun tidak ingin membangunkan mereka dari ridurnya, dan aku pun tidak ingin memberikan susu tersebut kepada anak-anakku sebelum orang tuaku, walaupun anak-anakku sedang menangis (kelaparan) di bawah kakiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(51, 204, 255); font-family: trebuchet ms;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;Maka keaadanku dan mereka tersebut berlanjut sampai dini hari. (Ya Allah!) Apabila engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan semata-mata hanya karena Engkau, maka tolonglah bukakan sebuah lubang agar kami dapat melihat langit.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 204, 255);&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt; Maka Allah membukakan untuk mereka sebuah lubang yang dengannya mereka dapat melihat langit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(51, 204, 255); font-family: trebuchet ms;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Kemudian pemuda yang kedua berkata, &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 204, 255);&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;Ya Allah! Aku memiliki seorang saudara sepupu yang aku cintai seperti halnya gairah pria mencintai seorang wanita. Aku telah mencoba merayunya tetapi ia menolak hingga aku membayarnya hingga seratus dinar. Maka aku pun bekerja keras sampai dapat mengumpulkan seratus dinar dan aku pergi menemuinya dengan uang itu. Namun ketika aku duduk diantara kedua kakinya, ia berkata : &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 204, 255);&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;Wahai hamba Allah! &lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Takutlah kepada Allah! Jangan merusakku kecuali dengan cara yang sah (dengan perkawinan)!&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 204, 255);&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt; Maka aku pun meninggalkannya. Ya Allah! Apabila engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan demi engkau semata, maka biarkanlah batu tersebut bergerak sedikit lagi untuk mendapatkan lubang yang lebih besar.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 204, 255);&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt; Maka Allah menggeser batu tersebut untuk menjadi lubang yang lebih besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(51, 204, 255); font-family: trebuchet ms;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Dan pemuda yang terakhir (ketiga) berkata, &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 204, 255);&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;Ya Allah! Aku mempekerjakan seorang budak dengan upah sebanding dengan satu Faraq beras, dan ketika ia telah selesai dengan tugasnya, ia meminta upah, tetapi ketika aku memberikan upah kepadanya, ia menyerah dan menolak untuk menerimanya. Kemudian aku tetap memberikan beras tersebut kepadanya (beberapa kali) hingga aku dapat membeli dengan harga produksi, beberapa ekor sapi, dan gembalanya. Setelah itu, budak tersebut datang kepadaku dan berkata : &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 204, 255);&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;(Wahai hamba Allah!) takutlah kepada Allah, dan jangan berbuat tidak adil kepadaku dan berikanlah upahku.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 204, 255);&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt; Aku berkata (padanya): &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 204, 255);&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;Pergilah dan ambillah &lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;sapi-sapi itu beserta gembalanya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 204, 255);&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt; Maka ia pun mengambilnya dan pergi. (Maka, Ya Allah!) Apabila engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan semata-mata demi Engkau, maka geserlah bagian yang tersisa dari abtu tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 204, 255);&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;&quot;  lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 204, 255); font-family: trebuchet ms;&quot;&gt;Maka kemudian Allah membebaskan mereka (dari kesulitannya) dan seluruhnya dari mulut gua tersebut.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;&quot;  lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;color:aqua;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;Cahaya hikmah, edisi 07/2007&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/6808239573322311834/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/kisah-3-pemuda-di-dalam-gua.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/6808239573322311834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/6808239573322311834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/kisah-3-pemuda-di-dalam-gua.html' title='KISAH 3 PEMUDA DI DALAM GUA'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUH1PaEu4_4whAYgcr59rZiCoG5iIc-s3QnfanstKAnWJQ6fskSx3rJf8m34xZ5A9HdhZCVHyuWjn6xf89-EN-4-dRxe2N47oxaAZLlGKZlx_8TgF6JWxOxDPwn40-ouDJAvXI1EQbCBw/s72-c/gua.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-4590121573712969574</id><published>2009-06-29T16:02:00.000-11:00</published><updated>2009-06-29T16:18:32.683-11:00</updated><title type='text'>ORANG BAIK DAN ORANG DENGKI</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZIueRqPxVgl8FNWZ3mKh76d3gxtpqQ_GDmTgpi7UOR1PFmiLClfu7ooCOemqTvRRB2H0oG0pDwhTdVAu8nAHwtIgJORLXk-kfjP8zS2HAncjZscmA6T08FlQGy3mYd5cLky7W6JcLMWg/s1600-h/angga-pasrah.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 308px; height: 268px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZIueRqPxVgl8FNWZ3mKh76d3gxtpqQ_GDmTgpi7UOR1PFmiLClfu7ooCOemqTvRRB2H0oG0pDwhTdVAu8nAHwtIgJORLXk-kfjP8zS2HAncjZscmA6T08FlQGy3mYd5cLky7W6JcLMWg/s400/angga-pasrah.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5352951126266303634&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;  &gt;ORANG BAIK DAN ORANG DENGKI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 153, 0);font-family:Cambria;&quot;  lang=&quot;SV&quot;&gt;Ada seorang lelaki yang setiap hari mengunjungi raja. Setelah bertemu raja, ia selalu berkata, ”orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span  lang=&quot;SV&quot; style=&quot;font-family:Cambria;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;            Ada seseorang yang dengki melihat keakraban lelaki itu dengan raja. ”Lelaki itu memiliki kedudukan yang dekat dengan raja, setiap hari ia bertemu raja,” pikir si pendengki dengan perasaan kurang senang. Si pendengki kemudian menemui raja dan berkata, ”Lelaki yang setiap hari menemuimu, jika keluar dari sini selalu berbicara buruk tantang kamu. Ia juga berkata bahwa bau mulutmu busuk.” Raja terdiam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Sekeluarnya dari kerajaan, pendengki duduk di tepi jalan yang biasa dilalui oleh lelaki yang akrab dengan raja. Ketika si lelaki itu lewat dalam perjalanannya menemui raja. Ia menghadangnya, ”Kemarilah, singgahlah kerumahku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Setelah temannya singgah kerumahnya, si pendengki menawarkan bawang merah dan bawang putih, dan memaksanya agar ia memakannya. Karena dipaksa, ia akhirnya mau juga memakannya untuk melegakan hati orang itu. Bau bawang merah dan bawang putih itu tentu tidak mudah hilang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Selesai berkunjung ke tempat si pendengki, lelaki itu sebagaimana biasa mengunjungi raja. Sewaktu berjabatan dengan raja, ia menutup mulutnya agar raja tidak mencium bau mulutnya. ”Rupanya benar perkataan orang itu, ia benar-benar menganggqap mulutku bau,” pikir raja. Sang raja kemudian memikirkan suatu rencana jahat. Lelaki itu kemudian duduk dan berkata sebagaimana biasa, ”Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Setelah merasa waktu berkunjungnya cukup, ia kemudian pamit kepada raja. Raja berkata, ”Bawalah surat ini dan serahkanlah pada fulan.” Surat itu berisi, ”Jika sampai kepadamu pembawa surat ini, maka sembelih dan kulitilah dia, kemudian isilah tubuhnya dengan jerami.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;Lelaki tadi keluar membawa surat raja. Di tengah jalan ia dihadang oleh si pendengki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;”Apa yang kamu bawa?” tanyanya. ”Surat raja untuk fulan. Surat ini beliau tulis dengan tangannya sendiri. Biasanya beliau tidak pernah menulis surat sendiri, kecuali dalam urusan pembagian hadiah.” ”Berikanlah surat itu kepadaku, aku ini sedang butuh uang,” pintanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;Ia kemudian menceritakan kesulitan hidupnya. Karena kasiha, surat itu kemudian di serahkan kepada si pendengki. Si pendengki menerimanya dengan senag hati. Setelah sampai di tempat tujuan, ia menyerahkan surat itu kepada teman raja. ”Masuklah kesini, raja menyuruhku membunuhmu,” kata teman raja. ”Yang dimaksudkan bukan aku, coba tunggulah sebentar biar kujelaskan,” katanya ketakutan. ”Perintah raja tak bisa ditunda,” kata teman raja. Ia lalu membunuh, menguliti dan mengisi tubuh si pendengki dengan jerami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Keesokan harinya, lelaki itu datang sebagaimana biasa dan berkata, ”Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya.” Raja heran melihatnya masih hidup. Setelah diselidiki, terbongkarlah keburukan si pendengki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;”Tidak ada sesuatu yang terjadi antara aku dengannya, hanya saja kemarin ia mengundangku kerumahnya dan memaksaku makan bawang merah dan putih. Waktu aku menemuimu kututup mulutku agar kamu tidak mencium bau tidak sedap&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;dari mulutku. Sekeluarnya dari sini, ia menemuiku dan menanyakan titipanmu,” kemudian lelaki itu menceritakan semua yang terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Mendengar jalannya cerita, tahulah raja bahwa orang itu dengki kepada sahabatnay. ”Benar ucapanmu, orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan iru sebagai balasannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Kedengkian di hati orang itu telah membunuh dirinya sendiri. &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Dengki itu merusak amal Dengki memakan kebaikan seperti api memusnahkan kayu bakar&lt;/i&gt;. (HR Ibnu Majah)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;color:red;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;Kedengkian seseorang hanya akan berakinat buruk bagi orang itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 153, 0);font-family:Cambria;&quot;  lang=&quot;SV&quot;&gt;Cahaya hikmah, edisi 07/2007&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/4590121573712969574/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/orang-baik-dan-orang-dengki.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/4590121573712969574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/4590121573712969574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/orang-baik-dan-orang-dengki.html' title='ORANG BAIK DAN ORANG DENGKI'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZIueRqPxVgl8FNWZ3mKh76d3gxtpqQ_GDmTgpi7UOR1PFmiLClfu7ooCOemqTvRRB2H0oG0pDwhTdVAu8nAHwtIgJORLXk-kfjP8zS2HAncjZscmA6T08FlQGy3mYd5cLky7W6JcLMWg/s72-c/angga-pasrah.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-7508605899196008480</id><published>2009-06-26T16:54:00.000-11:00</published><updated>2009-06-26T17:13:23.958-11:00</updated><title type='text'>Bukan Dua Kaki</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHZhjiSlsAJ5lO7Y6M5ebsR-kPO5eFlagt5jg3Xk8V4ZE3Qy_yH8bKniXlc3gzA56OWqAVg2XbqbvSY44KGRMCpxUFdSqay-a1C8l1CTr2Xb-rYsRTt3g4Dbt-YMIx-79ABkZc551_7QA/s1600-h/bunga_pepaya.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHZhjiSlsAJ5lO7Y6M5ebsR-kPO5eFlagt5jg3Xk8V4ZE3Qy_yH8bKniXlc3gzA56OWqAVg2XbqbvSY44KGRMCpxUFdSqay-a1C8l1CTr2Xb-rYsRTt3g4Dbt-YMIx-79ABkZc551_7QA/s400/bunga_pepaya.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5351852954603732706&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:26;&quot;  &gt;Bukan Dua Kaki&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Shofa masih sibuk mengaduk-aduk masakan yang ada dalam panic. Tiba-tiba ia teringat, ini sudah jam 1 lewat. Segera ia menyalakan radio kecil yang berada di atas lemari makan dekat kompor. Shofa hampir tak pernah ketinggalan acara-acara yang diisi Ustadz Hanif. Setiap jam 5 pagi, sehabis Subuh, adalah acara rutin Shofa mendengarkan kuliah Subuh di Radio Al-Quds. Shofa bahkan hafal jam berapa dan acara apa saja yang diisi oleh Ustadz Hanif. Hal ini sudah berlangsung tiga tahun lebih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Entah mengapa, Shofa merasa cocok sekali dengan ustadz yang satu ini. Kalau bicara tak pernah bertele-tele dan selalu mengena di hati. Apa saja yang dibahas pasti actual, sesuai dengan masalah yang terjadi di sekitar. Kalau bicara tentang aqidah, Ustadz Hanif selalu tegas, tidak bisa ditawar-tawar. Tapi kalau membahas masalah ibadah, dengan sabar Ustadz Hanif menjelaskan satu persatu pemecahan dari berbagai pendapat ulama. Biasanya ia merekomendasikan salah satu pemecahan yang punya dasar paling kuat. Walau begitu, ia tetap menyerahkan kepada pendengar, pendapat mana&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;yang akan dipakai. Suatu penyelesaian yang cantik. Tidak fanatic terhadap satu pendapat tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Shofa belum pulang?” sapa Bu Arif, pengurus TPA tempat Shofa mengajar. Shofamenoleh, “Belum Bu. Masih memeriksa pekerjaan anak-anak.” “Bisa mampir ke rumah? Bapak mau bicara. Katanya pentingtuh!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Sekarang Bu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Ya, kalau Shofa sedang tidak repot.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Shofa membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas karpet masjid lalu berjalan mengikuti Bu Raif. Rumah Bu Arif tidak jauh dari masjid tempat Shofa dan beberapa orang temannya mengajar anak-anak TPA. Hanya beberapa puluh meter saja. Pak Arif dan Bu Arif adalah orang yang peduli dengan masalah keagamaan dikompleks itu. Mereka mempelopori dibukanya TPA. Pak Arif juga selalu menghimbau bapak-bapak di kompleks untuk shalat berjamaah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Assalamu’alaikum,” ucap Shofa dan Bu Arif berbarengan. “Wa’alaikum salam,” jawab Pak Arif dari dalam. “Silahkan masuk nak Shofa. Bagaimana nak Shofa, keadaan TPA sekarang?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Alhamdulillah Pak. Anak-anak semakin rajin. Jarang ada yang bolos. Mereka cepat menyerap apa yang saya ajarkan.” Jawab Shofa. “Bagus! Bagus! Alhamdulillah.” Kata Pak Arif. “Begini nak Shofa, Bapak ingin bicara dengan nak Shofa bukan mau membahas TPA. Ada hal yang lain”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Pak arif terdiam. “Begini nak Shofa……. Apakah nak Shofa sudah siap menikah?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Shofa tersenyum. “Niat sudah ada. Usia saya sudah cukup Pak. Tapi…… belum ada jodohnya.” “Hmmmm…… Begitu ya,” Pak Arif berdehem sambil mengelus-elus jenggotnya. “Bapak punya teman baik. Dia sangat sholeh dan sedang mencari pendamping hidup. Bapak dan Ibu berasa nak Shofa cocok dengan dia.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Ah Pak Arif bisa saja. Bagaimana Bapak tahu saya cocok dengan dia?” Tanya Shofa tersipu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Lho…. Bapak dan Ibu kan sudah lama memperhatikan nak Shofa. Nak Shofa ini gadis yang shalehah dan pandai menjaga diri. Begitu pula dengan teman Bapak ini. Dia shaleh dan berakhlak baik. Nah…. Kalau begini, apa bukan cocok namanya? Iya tho Bu?” jelas Pak Arif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Iya…. Iya!” Bu Arif manggut-manggit menimpali suaminya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Kalau nak Shofa setuju, Bapak bisa ajak teman Bapak kesini untuk dipertemukan dengan Shofa,” Pak Arif melanjutkan. “Bagaimana nak Shofa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Bapak ini kok langsung main Tanya. Bapak kan belum cerita yang mau dikenalkan ini siapa, bagaimana,”tukas Bu Arif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Wah…….Dari tadi Bapak belum cerita ya? Teman Bapak ini masih muda. Lulusan S1 dan S2 dari Al-Azhar Kairo. Dia juga hafidz Al-Qur’an.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Hafidz Qur’an?” gumam Shofa dalam hati. Salah satu do’a yang ia panjatkan adalah mendapatkan pasangan hidup yang hafal Al-Qur’an, karena ia sendiri sedang berusaha menjadi Hafidzhah. “Sehari-harinya dia bekerja di Lembaga Pengembangan Dakwah, mengajar di beberapa tempat, sering mengisi ceramah. Dia mengisi acara di radio Al-Quds,” papar Pak Arif. “Radio Al-Quds? Saya pendengar setia Radio Al-Quds lho pak. Namanya siapa pak,mungkin saja saya pernah mendengar, :kata Shofa. “Namanya Hanif Ibrahim.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Deg! Jantung Shofa serasa berhenti berdetak selama sepersekian detik. Nama itu demikian dikenalnya dalam tiga tahun terakhir ini. Nama itu adalah salah satu tempatdirinya menimba ilmu tentang ke-Islaman lewat radio. Tausiyah-tausiyah melalui radio itu pula yang membuat Shofa jadi banyak berpikir, lalu berhijrah dan memutuskan untuk menjadi muslimah yang kaffah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Bu Arif menangkap adanya perubahan pada rona wajah Shofa. “Ada apa Shofa?” “Saya sering mendengarkan beliau ceramah di radio.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Nah…. Jadi sebetulnya sudah kenal tho, walaupun Cuma dari radio, “Pak Arif terkekeh. “Bagaimana, kapan nak Shofa siap bertemu Hanif?” “Kapan saja, terserah Bapak. Tapi saya harus cerita dulu kepada Ibu tentang masalah ini,” jawab Shofa. “Ohhh….. ibumu sudah tahu. Kami sudah cerita. Malah ibumu bilang, kami disuruh langsung tanya saja ke nak Shofa. Ibumu setuju kok,” ujar Pak Arif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Sepulangnya dari rumah kedua orangtua yang sudah dianggapnya keluarga itu, Shofa bagai tak percaya apa yang baru saja terjadi. “Benarkah Ustadz Hanif jodohku?” tanyanya dalam hati. Walaupun belum pernah bertemu, tapi Shofa merasa telah sangat mengenal Hanif. Diam-diam sebentuk kekaguman telah bersemayam dalam hatinya. Tidak ada cara lain bagi Shofa selain mengadukan permasalahannya ini kepada Allah. Dihabiskannya malam-malam panjang di atas sajadah dengan bermunajat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Dua bulan kemudian, tibalah saat pertemuan Shofa dengan Hanif. Hari itu Shofa tampak manis. Tubuhnya dibalut gamis biru dan jilbab lebar berwarna putih. Ia berjalan menuju rumah Pak Arif dengan penuh kemantapan hati, buah dari istikharahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Assalamu’alaikum,” Shofa mengucap salam di depan pintu. “Wa’alaikumussalam. Nak Shofa ayo masuk. Pak Arif belum datang. Sedang menjemput Hanif,” jawab Bu Arif. Sambil menunggu, Bu Arif memberikan wejangan bagaimana menjadi istri shalehah dengan mengutip beberapa ayat dan hadits. Shofa mendengarkan dengan takzim. Sesekali mengangguk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Tiba-tiba, pintu ruang tamu terbuka lebar. Lalu muncul sesuatu yang tak disangka-sangka. Sebuah kursi roda yang berjalan tersendat karena terbentur pintu, sesosok tubuh dengan satu kaki yang duduk di atas kursi roda sambil tersenyum. Shofa terhenyak, memandang tak percaya. “Inilah Ustadz Hanif?” Berbagai gejolak rasa menyergap dengan cepat. Shofa berusaha menenangkan perasaannya. Suasana hening. Shofa bagai mampu mendengar suara detak jantungnya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Nak Shofa, ini Hanif yang Bapak ceritakan dulu,” kata Pak Arif memecah kesunyian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Assalamu’alaikum dik Shofa,” kata Hanif. “Wa’alaikumssalam,” jawab Shofa. Ah, suaranya tidak berbeda dengan di radio. Tetap berkharisma.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Alhamdulillah, Allah mengijinkan kita untuk bertemu hari ini. Pak Arif mungkin sudah cerita, saya memang punya niat untuk melaksanakan sunnah Rasulullah yaitu menikah. Saya minta dicarikan calon oleh Pak Arif. Cuma….. memang keadaan saya seperti ini. Sebulan yang lalu saya kecelakaan.. mobil saya tabrakan dengan truk. Tangan kiri saya lumpuh dan kaki kiri harus diamputasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Apapun yang terjadi sudah kehendak Allah. Kaki saya memang tidak bisa kembali. Tapi tangan kiri saya sedang diterapi. Kata dokter kemungkinan besar bisa pulih. Insya Allah, saya pun ingin tidak terlalu lama bergantung pada kursi roda. Kalau sudah membaik, saya akan menggunakan kruk saja.” Kata-kata mengalir deras dari bibir Hanif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Shofa mengangkat wajahnya sedikit dan melihat sekilas kea rah Hanif. “Subhanallah. Wajahnya tenang sekali. Bahkan berseri-seri. Ada keikhlasan yang terpancar dari wajahnya.” Bathin Shofa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Saya tidak heran jika dik Shofa tidak berkenan dengan keadaan saya. Inilah saya. Mungkin saya yang terlalu berani tetap berniat menikah dengan kekurangan fisik saya. Tapi, justru dengan kondisi ini saya sangat membutuhkan kehadiran seorang istri.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Shofa diam tak bergeming. Di hadapannya sekarang, duduk seorang laki-laki yang memiliki kelebihan-kelebihan yang didambakannya selama ini. Sosok seorang suami yang sempurna. Ilmu agamanya bagus, shaleh, berakhalak muloia, dan seorang hafidzh. Cita-cita Shofa adalah memiliki anak-anak yang menjadi generasi penghafal dan pengamal Al-Qur’an. Bukanlah ustadz Hanif adalah sosok yang tepat? Kekurangannya hanya satu, fisiknya cacat tak sempurna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Hanif, mungkin nak Shofa belum bisa mengambil keputusan cepat-cepat. Dia tentunya perlu menimbang-nimbang. Kita beri saja waktu, mudah-mudahan nak Shofa bisa segera memberikan jawaban. Begitu ya nak Shofa?” Pak Arif berusaha menengahi suasana senyap di antara mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Shofa masih saja diam tak menjawab. Sibuk berdialog dengan batinnya. Tiba-tiba saja Shofa mengangkat wajahnya. “Saya sudah shalat istikharah sejak pertama kali Pak Arif mau mengenalkan saya dengan ustadz Hanif.” “Silahkan dik Shofa, saya akan coba menjawab,” kata Hanif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Untuk dapat membawa istri dan anak-anaknya ke dalam surga, apakah seorang laki-laki harus mempunyai dua kaki?” Tanya Shofa. Hanif tersenyum. “Tentu saja tidak. Bukan butuh dua kaki. Yang dibutuhkan adalah landasan aqidah, ibadah, dan akhlak yang lurus dan kuat. Dan juga kemampuan untuk mendidik.” Shofa memandang bergantian ke arah Pak Arif, Bu Arif dan Hanif. Bibirnya membiaskan senyum yang lebar. “Saya udah mantap. Saya tidak membutuhkan suami dengan dua kaki.” “Alhamdulillah!” berbarengan Pak Arif, Bu Arif, dan Hanif berseru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div  style=&quot;border-style: none none dotted; padding: 0cm 0cm 1pt;color:-moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext;&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;border: medium none ; padding: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 102, 255);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 102, 255);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Resepsi pernikahan baru saja usai. Shofa mendorong kursi roda Hanif menuju kamar pengantin. Kedua pengantin itu berwajah cerah ceria. Hanif begitu tampan dan gagah dengan jas dan kopiah hitam. Shofa tampak cantik, bergaun putih dan jilbab yang diberi rangkaian melati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Hanif meletakkan tangannya di atas kening istrinya, lalu membaca doa, “Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari godaan syetan dan dekatkanlah dengan apa yang Engkau rizkikan, anak-anak kepada kami.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Shofa menggamit dan mencium tangan suaminya dengan takzim. “Kak Hanif, boleh Shofa mengutarakan sesuatu?” Tanya Shofa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Boleh. Apa itu?” Hanif tersenyum lebar. “Shofa cinta Kak Hanif karena Allah,” Shofa bicara sambil menunduk malu-malu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Kak Hanif juga cinta dik Shofa karena Allah.” Hanif menyentuh dagu Shofa, mengangkat wajahnya. Mereka bertatapan. Lekat. Ada debur yang menggelora di jiwa mereka berdua. “Lho kok nunduk. Kita sudah resmi suami istri. Pandang kak Hanif dong!” Hanif menggoda Shofa. Shofa memandang Hanif tersipu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;“Ayo kita shalat dulu,” kata Hanif. “Shofa Bantu kak Hanif wudhu ya,” Shofa langsung beranjak dari duduknya dan mendorong kursi roda kekasih jiwanya ke kamar mandi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Bersama percikan air wudhu yang menetes, Allah tebarkan rahmat dan cinta di antara kedua makhluk kecintaanNya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Terinspirasi dari Syekh Ahmad Yasin yang tetap berjihad dari kursi roda hingga syahidnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 102);font-family:Consolas;&quot; &gt;Cahaya Hikmah, edisi 22/2008&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/7508605899196008480/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/bukan-dua-kaki.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/7508605899196008480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/7508605899196008480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/bukan-dua-kaki.html' title='Bukan Dua Kaki'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHZhjiSlsAJ5lO7Y6M5ebsR-kPO5eFlagt5jg3Xk8V4ZE3Qy_yH8bKniXlc3gzA56OWqAVg2XbqbvSY44KGRMCpxUFdSqay-a1C8l1CTr2Xb-rYsRTt3g4Dbt-YMIx-79ABkZc551_7QA/s72-c/bunga_pepaya.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-273789646532631271</id><published>2009-06-25T17:09:00.000-11:00</published><updated>2009-06-29T16:07:55.654-11:00</updated><title type='text'>INDAHNYA MENAHAN MARAH</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlrI-8tOFwIz60WmSNJNIdKkutZg2s1JmTecIycXKi3hdgjMRBhgcgaSZqX5gbIlttsyDB4dkTkvR3RVvmkOAhJAFe96F08mpZYok4IjZw1ndNr5oZ0t79SE86pm-j3ZQhr02LPSEC9NU/s1600-h/ibadah.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 267px; height: 400px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlrI-8tOFwIz60WmSNJNIdKkutZg2s1JmTecIycXKi3hdgjMRBhgcgaSZqX5gbIlttsyDB4dkTkvR3RVvmkOAhJAFe96F08mpZYok4IjZw1ndNr5oZ0t79SE86pm-j3ZQhr02LPSEC9NU/s400/ibadah.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5351484790335018274&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;INDAHNYA MENAHAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Cambria;font-size:20;color:fuchsia;&quot;   &gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;MARAH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;“Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;(HR. Abu Dawud &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Corbel;&quot; &gt;–&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; At-Tirmidzi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;Tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup memang berbeda-beda. &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang mampu menghadapi persoalan yang sedemikian sulit dengan perasaan tenang. Namun, ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil saja ditanggapinya dengan begitu berat. Semuanya bergantung pada kekuatan mana’wiyah (keimanan) seseorang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;Pada dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan tenang, cepat dan lambat, bersih dan kotor, berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menyelusuri lorong-lorong hati orang lain dengan respon pemaaf, tenang, dan lapang dada. Adakalanya, kita bisa merasa begitu marah dengan seseorang yang menghina diri kita. Kemarahan kita begitu memuncak seolah jiwa kita terlempar dari kesadaran. Kita begitu merasa tidak mampu menerima penghinaan itu. Kecuali, dengan marah atau bahkan dengan cara menumpahkan darah. Na’udzubillah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;Menurut riwayat, ada seorang Badwi datang menghadap Nabi SAW. Dengan maksud ingin meminta sesuatu pada beliau. Beliau memberinya, lalu bersabda, “Aku berbuat baik padamu. “Badwi itu berkata, “Pemberianmu tidak bagus.” &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Para&lt;/st1:place&gt; sahabat merasa tersinggung lalu ngerumuninya dengan kemarahan. Namun, Nabi memberi isyarat agar mereka bersabar. Kemudian, Nabi SAW. Pulang ke rumah. Nabi kembali dengan membawa barang tambahan untuk diberikan ke Badwi. Nabi bersabda pada Badwi itu, “Aku berbuat baik padamu?” Badwi berkata, “Ya, semoga Allah membalas kebaikan Tuan, keluarga dan kerabat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;Keesokan harinya, Rasulullah SAW. Bersabda kepada para sahabat, &lt;i&gt;“Nah, kalau pada waktu Badwi itu berkata yang sekasar engkau dengar, kemudian engkau tidak bersabar lalu membunuhnya. Maka, ia pasti masuk neraka. Namun, karena saya bina dengan baik, maka ia selamat.”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;Beberapa hari setelah itu, si Badwi mau diperintah untuk melaksnakan tugas penting yang berat sekalipun. Dia juga turut dalam &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; jihad dan melaksanakan tugasnya dengan taat dan ridha. Rasulullah SAW memberikan contoh kepada kita tentang berlapang dada. Ia tidak panic menghadapi kekasaran seorang Badwi yang memang demikianlah karakternya. Kalau pun saat itu, dilakukan hukuman terhadap si Badwi, tentu hal it bukan kezhaliman. Namun, Rasulullah SAW. Tidak berbuat demikian. Beliau tetap sabar menghadapinya dan memberikan sikap yang ramah dan lemah lembut. Pada saat itulah, beliau SAW. Ingin menunjukkan pada kita bahwa kesabaran dan lapang dada lebih tinggi nilainya daripada harta benda apapun. Harta, saat itu, ibarat sampah yang bertumpuk yang dipakai untuk suguhan unta yang ngmuk. Tentu saja, unta yang telah mendapatkan kebutuhannya akan dengan mudah dapat dijinakkan dan bisa digunakan untuk menempuh prjalanan jauh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;Adakalanya, Rasulullah SAW. Juga marah. Namun, marahnya tidak melampaui batas kemuliaan. Itu pun ia lakukan bukan karena masalah pribadi melainkan karena kehormatan agama Allah. Rasulullah SAW. Bersabda, &lt;i&gt;“Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa), dan memeranginya adalah kufur (keluar dari islam).”&lt;/i&gt; (HR. Bukhari) Sabdanya pula, &lt;i&gt;“Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor.” &lt;/i&gt;(HR. Turmudzi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;Seorang yang mampu mengendalikan nafsu ketika marahnya berontak, dan mampu menahan diri di kala mendapat ejekan, maka orang seperti inilah yang diharapkan menghasilkan kebaikan bagi dirinya maupun masyarakatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;Seorang Hakim yang tidak mampu menahan marahnya, tidak akan mampu memutuskan perkara dengan adil. Dan, seorang pemimpin yang mudah tersulut nafsu marahnya, tidak akan mampu memberikan jalan keluar bagi rakyatnya. Justru, ia akan senantiasa memunculkan permusuhan di masyarakatnya. Begitu pun pasangan suami-isteri yang tidak memiliki ketenangan jiwa. Ia tidak akan mampu melayarkan laju bahtera hidupnya. Karena, masing-masing tidak mampu memejamkan mata atas kesalahan kecil pasangannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;Bagi orang yan gimannya telah tumbuh dengan suburnya dalam dadanya. Maka, tumbuh pula rasa kesadarannya dan kemurahan hatinya. Kesabarannya pun bertambah besar dalam menghadapi sesuatu masalah. Tidak mudah memarahi seseorang yang bersalah dengan begitu saja, sekalipun telah menjadi haknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;Orang yang demikian, akan mampu menguasai dirinya, menahan amarahnya, mengekang lidahnya dari pembicaraan yang tidak patut. Wajib baginya, melatih diri dengan cara membersihkan dirinya dari penyakit-penyakit hati. Seperti, ujub dan takabur, riya, sum’ah, dusta, pengadu domba dan lain sebagainya. Dan menyertainya dengan amalan-amalan ibadah dan ketaatan kepada Allah, demi meningkatkan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;Dari Abdullah bin Shamit, Rasulullah SAW. Bersabda&lt;i&gt;, “Apakah tiada lebih baik saya beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah meninggikan gedung-gedung dan mengangkat derajat seseorang?”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;Para&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt; sahabat menjawab, &lt;i&gt;“Baik, ya Rasulullah SAW bersabda, “Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu. Engkau suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan engkau.”&lt;/i&gt; (HR. Thabrani)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);font-family:Cambria;&quot; &gt;Sabdanya pula, &lt;i&gt;“Bahwasanya seorang hamba apabila mengutuk kepada sesuatu, naiklah kutukan itu ke langit. Lalu, dikunci pintu langit-langit itu buatnya. Kemudian, turunlah kutukan itu ke bumi, lalu dikunci pula pintu-pintu bumi itu baginya. Kemudian, berkeliaranlah ia kekanan dan kekiri. Maka, apabila tidak mendapat tempat baru, ia pergi kepada yang dilaknat. Bila layak dilaknat (artinya kalau benar ia berhak mendapat laknat), tetapi apabila tidak layak, maka kembali kepada orang yang mengutuk (kembali ke alamat si pengutuk).”&lt;/i&gt; (HR. abu Dawud)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 204);&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color:purple;&quot;&gt;Cahaya hikmah, edisi 22/2008&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/273789646532631271/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/indahnya-menahan-marah-siapa-yang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/273789646532631271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/273789646532631271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/indahnya-menahan-marah-siapa-yang.html' title='INDAHNYA MENAHAN MARAH'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlrI-8tOFwIz60WmSNJNIdKkutZg2s1JmTecIycXKi3hdgjMRBhgcgaSZqX5gbIlttsyDB4dkTkvR3RVvmkOAhJAFe96F08mpZYok4IjZw1ndNr5oZ0t79SE86pm-j3ZQhr02LPSEC9NU/s72-c/ibadah.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5614748536263301416.post-2279096646353957198</id><published>2009-06-18T20:11:00.000-11:00</published><updated>2009-06-19T16:35:26.557-11:00</updated><title type='text'>Masuk Islam Karena Satu Ayat</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;color: rgb(102, 255, 255);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Dokter Amerika :&lt;/p&gt;    &lt;p style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 255, 255);&quot;&gt;Masuk Islam Karena Satu Ayat&lt;/span&gt;&lt;img style=&quot;width: 322px; height: 185px;&quot; alt=&quot;http://swaramuslim.com/images/uploads/foto/miracle-08b.jpg&quot; src=&quot;http://swaramuslim.com/images/uploads/foto/miracle-08b.jpg&quot; /&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Beberapa tahun lalu, seorang teman bercerita kepadaku tentang kisah masuknya soerang dokter Amerika kedalam Islam. Dari apa yang kuingat dari kisah yang indah ini adalah : Kisah ini terjadi pada salah satu rumah sakit di Amerika Serikat.&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Di rumah sakit tersebut, seorang dokter muslim bekerja dengan kailmuan yang sangat baik, sehingga memberi pengaruh besar untuk mengenal beberapa dokter amerika. Dan dia, dengan kemampuan tersebut mengundang decak kagum mereka. Diantara para dokter Amerika ini, dia mempunyai satu teman akrab yaitu orang yang memiliki kisah ini. Mereka berdua selalu bertemu dan keduanya bekerja pada bagian persalinan.&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Pada suatu malam, di rumah sakit tersebut terjadi sua peristiwa persalinan secara bersamaan. Setelah kedua wanita itu melahirkan, dua bayi tersebut tercampur dan tidak ada yang mengetahi masing-masing pemilik kedua bayi yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu. Kerancuan ini disebabkan kecerobohan perawat yang nseharusnya dia menulis nama ibu pada gelang yang diletakkan di tangan kedua bayi tersebut. Dan ketika kedua dokter tersebut bahwa mereka berada dalam kebingungan; siapakah ibu bayi laki-laki dan siapakah ibu bayi perempuan, maka dokter Amerika berkata pada dokter Muslim, “Engkau mengatakan bahwasannya Al Qur’an telah menjelaskan segala sesuatu dan engkau mengatakan bahwasannya Al Qur’an itu mencakup semua permasalah-permasalahan apapun. Maka tunjukkanlah kepadaku cara mengetahui siapa ibu dari masing-masing bayi ini…!!”&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Dokter Muslim itu pun menjawab,&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;“Ya, Al Qur’an telah menerangkan segala sesuatu dan akan aku buktikan kepadamu tentang hal itu. Biarkan kami mendiagnosa ASI kedua ibu dan akmi akan menemukan jalan keluar.&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Setelah Nampak hasil diagnosa, dengan sangat percaya diri dokter muslim itu memberitahu temannya si dokter Amerika, siapakah ibu sebenarnya dari masing-masing bayi tersebut….!!! Dokter Amerika itu pun terheran-heran dan bertanya, “Bagaimana kamu tahu?”&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Dokter Muslim menjawab&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;“Sesungguhnya hasil yang Nampak menunjukkan bahwasannya kadar banyaknya ASI pada payudara ibu si bayi laki-laki dua kali lipat kandungannya dibanding ibu si bayi perempuan. Perbandingan kadar garam dan vitamin pada ASI si ibu bayi laki-laki itu juga dua kali lipat disbanding ibu si bayi perempuan.&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Kemudian dokter muslim tersebut membacakan ayat Al Qur’an yang ida jadikan dasar argument dari jalan keluar itu,&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;“Bagi laki-laki seperti bagian dua perempuan.” (QS. An-Nisa:11)&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Dan setelah mendengarkan dokter Amerika itu arti ayat tersebut, dia jadi bengong, dan dia menyatakan keislamannya secara spontan tanpa ragu-ragu. Subhanallah, Maha Suci Allah Robb semesta alam.&lt;/p&gt;&lt;img alt=&quot;http://hasanzainuddin.files.wordpress.com/2008/05/api-lapindo-allah1.jpg&quot; src=&quot;http://hasanzainuddin.files.wordpress.com/2008/05/api-lapindo-allah1.jpg&quot; /&gt;&lt;p style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;marquee direction=&quot;left&quot;&gt;&lt;b&gt;Cahaya hikmah, edisi 23/2008&lt;/b&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/feeds/2279096646353957198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/masuk-islam-karena-satu-ayat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/2279096646353957198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5614748536263301416/posts/default/2279096646353957198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwblitar-peny.blogspot.com/2009/06/masuk-islam-karena-satu-ayat.html' title='Masuk Islam Karena Satu Ayat'/><author><name>PENY ASTIYAWATI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00885528377984378915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6F10nzQHkwBF5Np5gVojFWUpMDYHMtOeBN6Zq22Jnpbd34SWxX8HwfFg9-G-mOegnGeh2mxL218L2J8rr4RMXNhTS0UjxI_ptCkSUv6lQvv0DiS-lxx_rrkK5pXZAEV0/s220/46755_1176466069337_1758663550_337467_7161982_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>