<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206</atom:id><lastBuildDate>Tue, 27 Oct 2026 23:34:58 +0000</lastBuildDate><category>cerpen kompas</category><category>Opini</category><category>Foto</category><category>resensi</category><category>photopoet</category><category>literasi</category><category>Tokoh</category><category>Fokus Kompas</category><category>artikel</category><category>event</category><category>Bahasa</category><category>Sejarah</category><category>cerpen korantempo</category><category>kereta api</category><category>Childrens literature</category><category>Puisi</category><category>Sastra</category><category>festival pembaca indonesia 2010</category><category>taman bacaan</category><category>Aceh</category><category>Book industry</category><category>Books</category><category>Budi Darma</category><category>Damhuri Muhammad</category><category>Film</category><category>Guntur Alam</category><category>Kota Tua</category><category>Linda Christanty</category><category>Liputan</category><category>N Mursidi</category><category>Pelita</category><category>Sandy Firly</category><category>Sukhoi</category><category>Wisata</category><category>World Book Day</category><category>ambon</category><category>book blogger</category><category>go green</category><category>gunung salak</category><category>lingkungan</category><category>makassar</category><category>music</category><category>partitur</category><category>poem</category><category>samalona</category><category>sosok</category><title>**life is beautiful**</title><description>"Life is just a blog waiting for us post about it"</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>238</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>"Life is just a blog waiting for us post about it"</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-8771229595744542861</guid><pubDate>Thu, 08 Sep 2016 02:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-09-08T09:23:24.626+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Bahasa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">literasi</category><title> Para Pencipta Peristiwa</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Nirwan Ahmad Arsuka&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Carolus Linnaeus, pendiri taksonomi modern, memberi nama ilmiah untuk spesies manusia yang bertahan hidup saat ini: Homo sapiens (manusia bijak, manusia berpikir). Ada banyak teori yang coba menjelaskan mengapa spesies-spesies lain punah, tetapi ada satu hal yang jelas mengapa Homo sapiens menjadi satu-satunya spesies manusia yang lestari dan siap menghuni Mars pada abad ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuval Noah Harari, penulis Sapiens: Brief History ofHumankind (2014), menunjuk kunci keberhasilan manusia pada kesanggupannya menyusun fiksi, membayangkan hal-hal yang tak ada, dan menciptakan yang belum pernah ada. Yang kurang diulas oleh Harari, kunci lain yang tak kalah penting dari kemampuan kreatif menyusun fiksi, yakni kemampuan kritis untuk melepaskan diri dari satu fiksi, membedakan fiksi dari fakta, lalu bergerak sistematis menyusun semesta lain melampaui faktisitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, intinya keunggulan Sapiens adalah revolusi kognitifnya, karakter yang membuat seluruh individu normal dari spesies ini selalu ingin tahu. Tak berlebihan jika Jorge Luis Borges, salah satu pembaca paling rakus pada abad ke-20, lewat tokoh Pierre Menard, menulis, ”Berpikir, menganalisis, mencipta, bukanlah tindakan istimewa, melainkan pernapasan alami dalam kehidupan mental manusia”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Minat baca&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB) didirikan antara lain oleh semangat menjaga keberadaan Homo sapiens. Sejak lima dekade lalu, organisasi ini mengikuti perkembangan literasi dunia dan terus mengumumkan hasil penelitiannya. Salah satu buah riset mereka yang banyak beredar, khususnya di dunia pendidikan, adalah minat baca. UNESCO selalu menegaskan, meskipun tingkat buta huruf di Indonesia berhasil dikurangi, minat baca tetap sangat rendah.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan UNESCO ini diperkuat Central Connecticut State University (CCSU). Lembaga yang menggarap proyek World’s Most Literate Nations itu baru mengumumkan temuan dari penelitian di 62 negara dan menempatkan Indonesia di nomor 61 dalam hal minat baca. ”Prestasi” ini dicapai sekalipun infrastruktur pendukung kegiatan membaca di Indonesia menempati posisi yang lebih tinggi daripada Jerman, Selandia Baru, Portugal, dan Korea Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari sudut pandang UNESCO dan CCSU, hitungan mereka tentu benar, tetapi kesimpulan mereka menarik diuji. Yang jelas, kesimpulan mereka, yang lalu diulang-ulang oleh banyak pejabat dan pesohor di Indonesia, adalah minat baca Indonesia sangat rendah. Begitu rendahnya sehingga seakan-akan manusia Indonesia itu bukan anggota spesies Homo sapiens yang selalu haus pengetahuan baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang berkeliling membawa buku bekas mendatangi pembaca akan merasakan betapa keliru UNESCO, CCSU, dan semua pihak yang menyanyikan rendahnya minat baca Indonesia. Mereka yang bergerak bisa bersaksi betapa kedatangan mereka membuat anak-anak bersorak kegirangan. Pustaka yang memburu pembaca—apa pun modanya—bagaikan bintang neutron di luar angkasa. Ia mungkin tak memancarkan cahaya menyilaukan. Volumenya mungkin hanya kecil. Namun, kehadirannya melengkungkan ruang di sekitarnya; pergerakannya mengubah kenyataan di wilayah yang dilaluinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak-anak kampung yang biasanya lesu atau tenggelam dalam permainan akan serentak berteriak-teriak dan meninggalkan permainan mereka begitu pustaka pemburu pembaca bergerak masuk kampung mereka. Sejumlah anak bahkan tak merelakan kepulangan pustaka itu. Bagaikan satelit-satelit mungil, anak-anak itu tertarik dan mengorbit lengket dan ingin ikut ke mana pun si pustaka bergerak, seperti anak- anak mengikuti langkah si Peniup Suling dari Himmelin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di daerah terpencil dan kekurangan bacaan, buku-buku bekas yang tiba adalah hadiah yang tak ternilai. Anak-anak pun berebut buku dan menangis jika tak mendapat bagian. Di tempat lain, anak-anak akhirnya mencuri buku. Begitu besarnya rasa lapar mereka pada ilmu, mereka sampai melanggar larangan Tuhan dan pura-pura lupa mengembalikan buku-buku itu ke tempatnya. Jarak yang jauh dan medan yang berat tak menghalangi anak-anak untuk selalu mengunjungi simpul pustaka yang siap menerima mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dikaji lebih jauh, bukan buku itu benar yang membuat anak-anak berkerumun. Anak- anak selalu gembira terutama pada kegiatan baca tersebut, baru kemudian pada bacaan itu sendiri.Buku hanya alat bantu. Yang membuat merekatersenyum lebar adalah kehadiran orang- orang yang bersedia mendatangi mereka, menyapa secara bersahabat dan meladeni rasa ingin tahu mereka. Kedatangan sukarelawan itu menciptakan peristiwa yang memicu munculnya rentetan peristiwa lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa yang berlangsung inilah kunci sebenarnya. Jika peristiwa tak lagi seru, anak-anak tak akan tertarik datang. Itulah yang terjadi pada berbagai perpustakaan sekolah atau taman baca yang meranggas. Juga pada sebagian besar buku-buku yang beredar di Indonesia yang ditulis secara hambar, bahkan buruk.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;Ibu kota dunia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Unsur ”peristiwa” ini juga yang bisa menjelaskan mengapa masyarakat Indonesia, yang tampak tak sanggup beli buku itu, bisa berlomba-lomba membeli telepon seluler. Dibandingkan buku- buku yang banyak beredar, gadget jelas lebih mampu membantu menciptakan peristiwa, setidaknya membuka ruang lebih besar untuk merasa terlibat dalam peristiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sedikit pun kampanye peningkatan minat koneksi, masyarakat Indonesia berbondong- bondong menyambungkan diri dengan internet. Tanpa kegaduhan tebar-virus-SIM-card, misalnya, angka SIM-card di Indonesia terbang naik melampaui jumlah penduduk. Indonesia pun mengalami laju pertumbuhan tertinggi di dunia untuk iklan internet bergerak dan digital.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jakarta mencatatkan diri sebagai kota Twitter paling aktif di dunia, lebih aktif daripada Tokyo, London, atau New York. Indonesia menjadi ibu kota media sosial dunia.Statistik mencengangkan yang dikeluarkan Ondeviceresearch.com dan emarketer.com itu akan lebih menakjubkan lagi jika infrastruktur telekomunikasi dan informasi Indonesia sudah lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Statistik Indonesia di dunia digital ini ikut membuat kita merasa statistik UNESCO dan CCSU itu datang dari pandangan dunia yang tak lengkap, dan bisa melihat apa yang kurang serta perlu dikoreksi dari pernyataan ”resmi” tentang minat baca rendah itu.Dengan segala niatnya yang mulia, gerakan peningkatan minat baca atau penebaran virus literasi adalah gerakan yang tak dibimbing olehparadigma yang bagus. Minat baca ada pada semua manusia, terbentuk oleh evolusi, tertanam dalam struktur gen, serta akan terus hadir selama manusia mencintai hidup dan ingin memuliakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, gerakan peningkatan minat baca yang tak dibimbing gerakan cinta dunia dan kehidupan niscaya akan gagal. Kegiatan membaca akan meningkat jika pembaca mendapatkan kehidupan seru di sana. Pembaca haus gerakan yang membantu mereka punya arti, yang mengenalkan satu jenis literasi sebagai upaya memperluas cakrawala, memperkaya khazanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketimbang mengeluhkan minat baca dan ngotot mendisiplinkan anak dengan beban yang berat, lebih tepat memperbanyak jumlah guru dan sukarelawan yang sanggup mencipta peristiwa. Guru dan sukarelawan yang kreatif adalah unsur yang sangat menentukan. Di tangan mereka, buku bekas dan tak menarik sekalipun bisa menjadi bahan pemicu peristiwa, penyibak makna aneka tanda heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beban para pencipta peristiwa ini tentu akan meringan jika ada aliran kitab yang tak gentar pada imajinasi yang melampaui fakta, nilai yang menampik ketakmungkinan dan melepasbebaskan semua kemungkinan.Kita memerlukan banyak bacaan yang menerima semesta raya dan kehidupan dunia sebagai berkah menakjubkan yang layak dijelajahi sejauh mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
UNESCO merayakan 50 tahun Hari Literasi Internasional dengan semboyan ”Reading the Past, Writing the Future”. Semboyan dengan kesadaran waktu yang sangat linier ini terlalu umum dan tak menawarkan cara kerja yang cukup jelas. Kita layak mengayomi dan membantu UNESCO dengan seruan yang lebih programatis: ”Datangi Pembaca, Ciptakan Peristiwa”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nirwan Ahmad Arsuka, Pendiri Pustaka Bergerak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 September 2016, di halaman 6 dengan judul "Para Pencipta Peristiwa".</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2016/09/para-pencipta-peristiwa.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-8031901514296159520</guid><pubDate>Thu, 08 Sep 2016 01:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-09-08T08:57:48.360+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Bahasa</category><title>Buku dan Keberaksaraan</title><description>&lt;br /&gt;
CHRISTINA M UDIANI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Generasi orang- orang dangkal akan segera lahir.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah Haidar Bagir dalam artikel di harian ini (28 April 2016) menggambarkan apa yang bakal terjadi apabila industri perbukuan tidak lagi bertahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Era digital yang kini meluas merambah kehidupan belum terlihat menawarkan kedalaman pikir, sementara industri perbukuan tengah terhuyung akibat rupa-rupa soal. Beberapa yang menonjol adalah rendahnya peringkat Indonesia dalam literasi, masih dominannya budaya tutur, dan kurangnya minat baca buku. Jika industri penerbitan ambruk, maka, menurut Haidar, ”ada ancaman besar generasi muda menderita kekurangan besar dalam kedalaman dan keluasan ilmu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecemasan Haidar cukup beralasan. Ia tak sendiri; relawan pegiat komunitas baca kian bertambah jumlah dan ragamnya. Meski demikian, melihat soal ini semata-mata dari kacamata perbukuan kuranglah memadai. Beberapa peneliti memperlihatkan tarik ulur teks dan digital di atas sesungguhnya adalah cermin soal klasik persinggungan dua hal, kelisanan dan keberaksaraan, yang berulang. Thomas Pettitt, ahli sastra abad pertengahan dari University of Southern Denmark, menyatakan hal itu bisa dirunut sekurangnya hingga ke masa Shakespeare. Marshall McLuhan memperlihatkan hal itulah yang terjadi pada dekade 1960-an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kelisanan dan keberaksaraan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum terlalu lama kita diliputi kegembiraan sekaligus tanda tanya besar setelah jumlah pemirsa televisi melonjak tinggi pada akhir 1960-an. Orang bertanya-tanya, apa yang akan terjadi dengan media cetak jika proporsi iklan televisi membesar dan jumlah pemirsa berlipat. Marshall McLuhan, filsuf dari Kanada sekaligus peneliti terkemuka dalam media komunikasi, menggambarkan keadaan masa itu dengan jernih dalam setidaknya dua bukunya, Gutenberg Galaxy (1962) dan Understanding Media (1964). Meski ucapannya ”the medium is the message” kerap dikutip, kebanyakan para pengutip, termasuk pengkaji media, berhenti pada kesimpulan, antara lain, bahwa medium atau teknologi membentuk format pesan itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Gutenberg Galaxy, McLuhan menjelaskan, yang dia maksudkan dengan medium adalah segala teknologi yang merupakan perpanjangan indra dan tubuh manusia, mulai dari pakaian hingga komputer. Tiga teknologi yang berpengaruh pada manusia dan lingkungannya: aksara, cetak, dan telegraf yang ditemukan pada 1814. Bagi McLuhan, penemuan aksara seperti penemuan bom. Ia membawa perubahan mendasar pada masyarakat lisan menjadi masyarakat beraksara, tapi penemuan selanjutnya, aksara cetak, jauh lebih dahsyat dampaknya, ”ibarat 100 megaton bom hidrogen”. Keberaksaraan cetak mengubah manusia lisan yang terbiasa hidup dengan seluruh indranya menjadi manusia yang terbatas pada indra visual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana dengan teknologi elektronik dan digital? Kehadiran telegraf dan teknologi turunannya membuka jalan kembali menuju keseimbangan indra, tidak berhenti pada ”manusia Gutenberg” yang terpetak-petak. Dalam wawancara dengan Playboy (Maret 1969), McLuhan menegaskan, ”The use of the electronic media constitutes a break boundary between fragmented Gutenberg man and integral man, just phonetic literary was a break boundary between oral-tribal man and visual man.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal sama ditegaskan rekanMcLuhan, Walter J Ong. Kehadiran media elektronik dan digital, menurut Ong, mengembalikan sifat kelisanan pada bahasa; bukan membawa orang ke zaman sebelum Gutenberg, tetapi menghadirkan kembali kelisanan pada orang yang telah kenal aksara. Ia menyebutnya sebagaiKelisanan Kedua.Kelisanan bahasa sungguh vital dan lebih berterima mengingat komunikasi lewat artikulasi suara mengungguli cara komunikasi lain, termasuk melalui teks atau gerak tubuh. Sedemikian berterima sehingga dari sekitar 3.000 bahasa di dunia, hanya 78 yang menghasilkan tulisan sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersyukurlah kita karena persinggungan kelisanan dan keberaksaraan di Nusantara telah dikaji banyak peneliti dunia. Almarhum Amin Sweeney, misalnya, bertungkus-lumus mencoba memahami interaksi tradisi lisan dengan keberaksaraan lewat kajian Melayu. Dengan pendekatan Noetika, Amin memperlihatkan budaya lisan dan budaya aksara menentukan cara pandang dunia seseorang dan mengelola pengetahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam budaya lisan, yang terutama ialah menjaga kelestarian pengetahuan agar tak lekas punah. Informasi, pengetahuan, petuah disampaikan langsung kepada khalayak pendengar oleh pencerita tanpa mediasi. Interaksi terbangun intim dan dua arah. Pencerita menuturkan; pendengar menerima dan menimpali. Keduanya bertemu dalam suatu pengalaman. Agar cerita atau informasi itu tetap bertahan, diperlukan jembatan keledai sehingga baik penutur maupun pendengar mudah mengingat. Rima dalam pantun, misalnya. Pengingat lain: narasi. Tanpa jalan cerita menarik, informasi akan mudah terlupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam budaya aksara cetak, orang menghadapi teks yang tak lekang waktu. Teks bisa dibaca ulang; gagasan ditinjau kembali, ditabrakkan, dan diuji, kapan saja dan dalam konteks berbeda. Namun, media cetak tak menyuguhkan kedekatan, melainkan jarak yang kukuh antara pencipta dan khalayak pembaca. Sedemikian berjarak sehingga teks memungkinkan, bahkan meminta, suatu analisis, bukan sekadar pengulangan atau penghafalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, tak mengherankan bila Sweeney menggarisbawahi bahwa mampu membaca dan menulis belum tentu membuat seseorang sepenuhnya memasuki dunia keberaksaraan. Jika seorang murid yang sudah pandai baca tulis tahu bahwa matahari terbit dari timur karena ”Kata Bu Guru begitu”, bisa dibilang ia belum sepenuhnya berbudaya aksara. Ia masih menghafal. Mengulang. Demikian juga seorang mahasiswa atau peneliti yang pandai mengutip sumber tanpa paham maknanya sehingga kutipan itu kosong belaka; ia sudah bisa membaca dan menulis, tapi belum sepenuhnya beraksara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kelisanan kedua&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Era digital adalah niscaya. Ponsel menyuguhkan alat komunikasi yang seimbang: membaca pesan, mendengar telepon, menonton video sambungan jarak jauh. Ratusan buku elektronik juga tertampung dalam gawai itu. Orang bisa berteriak, bertanya langsung kepada pengarang favoritnya melalui Twitter atau Facebook. Tak ada lagi jarak, tak ada lagi jeda. Tidak individual, tetapi kerumunan. Bahkan, blog memungkinkan pembaca membelokkan jalan cerita sekehendak hatinya, lewat karangan fanfiction, yang tak menutup kemungkinan lebih populer ketimbang cerita yang asli. Teks tak lagi sakral. Buku tak lagi satu-satunya otoritas penyebar pengetahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, di manakah peran buku dan di manakah kedalaman pengetahuan bisa didapat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin berkurangnya buta huruf adalah awal bagus menuju beraksara. Namun, di masa Kelisanan Kedua ini, yang sesungguhnya kita butuhkan bukan hanya bisa membaca ataupun minat baca. Minat beraksara, minat bernalar, jauh lebih mendesak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku merupakan salah satu sumber rujukan memupuk keberaksaraan, tetapi era digital membuka ruang yang berlipat lebih luas mengasah kedalaman penalaran. Sebab itu, sudah saatnya menutup jurang antara buku dan dunia digital. Buku perlu keluar dari kungkungan bentuk wadaknya—medium cetak—dan kembali pada hakikatnya—konten. Konten itulah yang akan hidup dan ditangkap penglihatan, pendengaran, perabaan, dan mungkin penciuman khalayak. Jika itu bisa diraih, boleh jadi, sementara buku pamit undur ke belakang, penerbit akan tetap berada di garda depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, kita perlu bukan hanya memberi tempat, tetapi menumbuhkembangkan, budaya partisipatif. Jilid-jilid ensiklopedia kini sudah hampir sama sekali tergantikan Wikipedia, buah nyata suatu participatory culture. Siapa pun tak bisa lagi hanya bersandar pada buku kemudian menjadi pemegang kunci pintu gerbang kebenaran. Otoritas adalah hasil kerja, dan itu adalah kerja bersama, hasil dialog, dan keterbukaan. Jika itu bisa terjadi, boleh jadi, sementara digital terus berkembang, buku akan tetap dibutuhkan mendampingi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Christina M Udiani, Editor Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia&lt;br /&gt;
&lt;span class="article-footnote-citation"&gt;Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 September 2016, di halaman 7 dengan judul "Buku dan Keberaksaraan".&lt;/span&gt; </description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2016/09/buku-dan-keberaksaraan.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-5058524153074336887</guid><pubDate>Mon, 21 Sep 2015 14:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-09-21T21:39:48.191+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><title>Gaya Tutur Novel Metropop Semakin Mengglobal</title><description>&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Gaya Tutur Novel Metropop Semakin Mengglobal&lt;/h1&gt;
&lt;div class="article-lead"&gt;
jakarta,kompas Perkembangan ilmu
 teknologi yang pesat mengakibatkan hilangnya batas-batas sekat 
komunikasi di seluruh penjuru dunia.     Dalam khazanah novel populer 
Indonesia, muncul karya-karya metro populer atau metropop yang banyak 
menggunakan judul-judul berbahasa Inggris.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-lead"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Diah Ariani Arimbi, 
pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Surabaya, 
mengatakan, dulu pada  awal kemerdekaan  hingga  1970-an,  segala 
sesuatu yang "berbau"   Barat selalu diidentikkan dengan hal-hal 
negatif, potensial mengakibatkan  dominasi dunia Barat, dan mengancam 
hilangnya akar budaya. Namun,  generasi muda saat ini tidak lagi melihat
 dengan persepsi itu karena siapa pun kini bisa menjadi lokal sekaligus 
transnasional karena  antara lokal dan global tak lagi terpisahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

 "Ini fenomena urban di mana perkembangan media sosial dan teknologi 
memberi pengaruh besar. Meski demikian, menggunakan bahasa Inggris tidak
 berarti bahwa seseorang  tidak lagi cinta dengan Indonesia," kata Diah,
 pekan lalu, di Surabaya, Jawa Timur.&lt;br /&gt;
Novel-novel metropop 
menyasar  pembaca berumur sekitar 20 tahun yang rata-rata sangat dekat 
dengan penggunaan bahasa Inggris, baik melalui gawai, komunikasi 
sehari-hari dengan  temanteman, maupun aktivitas mereka di sekolah atau 
kampus.  Unsur kedekatan dengan bahasa Inggris inilah yang dimanfaatkan 
para penulis untuk mendekatkan novel-novel mereka dengan anakanak muda 
tersebut.&lt;br /&gt;
Gaya bahasa novel metropop ringan dan populer serta 
menyentuh fenomena kehidupan urban di metropolitan. Novel-novel jenis 
ini kini sedang marak.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, novel terlaris pada  
Agustus 2015 di Toko Buku Gramedia Cabang Matraman adalah  novel fiksi 
berbahasa ringan dengan nuansa romansa berjudul  &lt;em&gt;Critical Eleven&lt;/em&gt; karya Ika Natassa. Penjualan novel ini mencapai 240 eksemplar.&lt;br /&gt;
Dua novel dengan judul berbahasa Inggris yang kini  tengah diincar banyak pembaca adalah  &lt;em&gt;About Love&lt;/em&gt; karya Tere Liye dan &lt;em&gt;88 Love Life&lt;/em&gt;
 karya Diana Rikasari. Kedua buku ini merangkum kutipan-kutipan kalimat 
cinta dan pengalaman kehidupan. Buku ini kian menarik karena dikemas 
dengan tulisan dan latar belakang yang penuh warna.&lt;br /&gt;
Tingginya 
penjualan novel percintaan bergaya bahasa ringan juga terjadi di Gunung 
Agung Cabang Kwitang, Jakarta Pusat. Di sana, novel &lt;em&gt;Critical Eleven&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;About Love&lt;/em&gt; banyak dicari  pembaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Lewat media sosial&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Selain
 menggunakan bahasa populer yang akrab dengan anak muda, para penulis 
novel kini juga mengenalkan karya mereka melalui media sosial. Contohnya
 novel &lt;em&gt;Raksasa Dari Jogja&lt;/em&gt; karya Dwitasari. "Belum banyak yang 
tahu siapa Dwitasari. Namun,  karena sering dibicarakan di media sosial,
 novelnya banyak dibaca," kata Sari Meutia, CEO Penerbit Mizan. &lt;br /&gt;
Sastrawan
 senior Sapardi Djoko Damono menjelaskan, jenis novel romansa dikenal 
populer di seluruh dunia dan tetap bertahan dari generasi ke generasi. 
"Penulisan yang ringan membuat orang tetap berminat untuk membaca. Ini 
bagus untuk mempertahankan budaya membaca," tuturnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, karya
 yang mengikuti tren pasar tidak akan diingat dalam jangka waktu lama 
oleh pembaca karena akan segera tergantikan oleh karya baru bertopik 
serupa. Hal ini yang membuat penerbit buku produktif dan para penulis 
ditantang untuk menyuguhkan topik-topik baru kepada pembaca. (ABK/B12/DNE)
                        &lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/09/gaya-tutur-novel-metropop-semakin.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-8657491497631207561</guid><pubDate>Mon, 21 Sep 2015 14:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-09-21T21:31:40.421+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">literasi</category><title>Novel Sastra Populer untuk Tumbuhkan Minat Baca</title><description>
    

    
    
    
        
            
                &lt;br /&gt;
&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Novel Sastra Populer untuk Tumbuhkan Minat Baca&lt;/h1&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
                    &lt;span class="col-2-ng"&gt;
                        
                        &lt;span class="article-date-details"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;/span&gt;
                    &lt;/span&gt;
                &lt;/h4&gt;
&lt;div class="article-lead"&gt;
&lt;span class="bold"&gt;JAKARTA, KOMPAS&lt;/span&gt;
 —   Novel fiksi bergaya bahasa ringan kian laris di pasaran. Beberapa 
penerbit menjadikan jenis buku ini sebagai salah satu produk unggulan. 
Novel jenis ini cocok untuk dijadikan media untuk menumbuhkan minat baca
 seseorang. &lt;/div&gt;
&lt;div class="article-media-container"&gt;
&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="" class="article-image" id="landscape" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/a2733eb8-d829-4bf8-8e7d-9c84d184fd6f/241007" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;Toto S&lt;/span&gt;&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/div&gt;
CEO
 Penerbit Mizan Sari Muetia, Senin (21/9), menjabarkan ada beberapa buku
 sastra populer yang tengah digandrungi masyarakat, seperti &lt;em&gt;Dilan I&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Dilan II&lt;/em&gt; karya Pidi Baiq yang diterbitkan hingga 56.000 eksemplar atau &lt;em&gt;Ayah&lt;/em&gt; karya Andrea Hirata yang dicetak hingga 60.000 eksemplar. &lt;br /&gt;
"Untuk
 penyerapannya sendiri berkisar  13.000 per bulan. Dalam kondisi ekonomi
 seperti ini, penjualan sebesar itu masih bisa dikatakan sukses," 
ujarnya.&lt;br /&gt;
Tingginya penyerapan buku sastra populer ini membuktikan 
bahwa minat masyarakat untuk membaca buku yang bergaya bahasa ringan dan
 menekankan unsur rekreatif cukup besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sari mengatakan, ada 
beberapa faktor yang menyebabkan buku jenis ini semakin populer, antara 
lain ketenaran novelis. Terdapat pembaca novel yang sangat fanatik pada 
karya novelis tertentu.&lt;br /&gt;
Hal ini terlihat dari beberapa nama yang selalu ditunggu hasil ciptaannya. Andrea Hirata, misalnya, karyanya yang berjudul &lt;em&gt;Ayah&lt;/em&gt;
 kini termasuk menjadi salah satu novel terlaris. Itu tidak lepas dari 
banyaknya penggemar novel yang menilai karya Andrea sangat inspiratif, 
salah satu karya yang paling populer adalah &lt;em&gt;Laskar Pelangi&lt;/em&gt;. "Bahkan, buku &lt;em&gt;Laskar Pelangi&lt;/em&gt; diperkirakan terjual hingga 5 juta eksemplar," ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterkaitan
 film dan novel juga tak bisa dipisahkan, keduanya seakan memiliki 
hubungan simbiosis mutualisme. Saat novel itu laku di pasaran, maka akan
 diangkat ke perfilman. Sebaliknya, novel ada juga yang sebelumnya tidak
 dikenal tetapi setelah dibuat versi filmnya akan laku di pasaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Komunitas dan media sosial&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Keberadaan komunitas juga cukup berpengaruh pada minat seseorang untuk membaca sebuah novel. Hal ini terlihat pada novel &lt;em&gt;Dia adalah Dilanku&lt;/em&gt;. Selain gaya bahasanya yang unik dan ringan untuk dibaca, peran komunitas juga cukup berpengaruh. &lt;br /&gt;
"Bahkan,
 ada kelompok yang membela Dilan, ada juga kelompok yang membela Milea. 
 Secara tidak langsung perdebatan ini akan menimbulkan rasa penasaran 
bagi orang yang belum membacanya," kata Sari.&lt;br /&gt;
Sang penulis, Pidi 
Baiq, pun merupakan novelis yang aktif di media sosial membuat karyanya 
semakin populer. Ada beberapa penulis yang belum begitu dikenal, tetapi 
karyanya dibaca banyak orang karena media sosial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Editor Senior 
Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Candra Gautama mengatakan, tingginya 
angka penjualan novel fiksi bergaya bahasa ringan menunjukkan bahwa 
kecenderungan minat baca masyarakat tidak lagi mementingkan kedalaman 
cerita. "Kaum muda saat ini lebih memilih bacaan yang tidak perlu 
mengerutkan dahi," katanya.&lt;br /&gt;
Bahkan, beberapa buku yang isinya hanya berupa kutipan pun tetap diburu, seperti buku &lt;em&gt;88 Love Life&lt;/em&gt;
 karya Diana Rikasari, misalnya, sudah dicetak hingga berkali-kali 
karena jumlah peminatnya tergolong tinggi. "Buku jenis ini diminati 
karena berisi tentang resep-resep bagaimana menjalankan kehidupan," kata
 Candra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Buku bernilai sejarah &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Candra
 mengatakan, selain novel percintaan bergaya bahasa ringan, buku yang 
berisikan tentang kisah-kisah sejarah juga diminati. Ada beberapa buku 
terbitan KPG yang laris, seperti &lt;em&gt;Kota di Djawa Tempo Doeloe&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Seri Tempo: Aidit, Seri Tempo Tan Malaka, Seri Tempo Benny Moerdani, Sejarah Melayu&lt;/em&gt;, dan buku berisi kisah sejarah lainnya.&lt;br /&gt;
Hal
 ini membuktikan ada kerinduan dari sebagian kalangan untuk mengingat 
kembali sejarah masa lalunya dan mengambil inspirasi dari tokoh 
tersebut. Mereka menganggap kehidupan masa lalu jauh lebih baik 
dibandingkan dengan kehidupan zaman sekarang. "Dengan membaca buku jenis
 ini, biasanya mereka kerinduan untuk mencari akar bangsa," ujar Candra.&lt;br /&gt;
Pengamat
 sastra Universitas Indonesia, Maman S Mahayana, mengatakan, tren ini 
bukanlah hal-hal baru karena sejak dulu novel jenis ini memang sudah 
digemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya novel Lupus yang menceritakan kehidupan 
remaja, termasuk cerita-cerita cinta khas SMA. Novel itu bisa bertahan 
hingga satu dasawarsa. Novel jenis ini menekankan pada fungsi rekreatif,
 yaitu menghadirkan hiburan dan rasa senang bagi pembacanya karena jalan
 ceritanya yang sederhana dan mudah dipahami. Tak heran, banyak buku 
jenis ini lebih dicetak hingga berkali-kali.&lt;br /&gt;
Namun, ada beberapa 
kelemahan dari novel populer ini, yakni kebanyakan ceritanya tidak 
berdasarkan realitas yang terjadi. Kebanyakan dari novel seperti ini 
menghadirkan cerita yang menjual mimpi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan buku 
sastra yang lebih mengedepankan realitas dan menggiring pembacanya untuk
 berpikir, merenungkan bahkan menguat pada cerita yang disajikan. 
Misalnya novel&lt;em&gt; Ali Topan Anak Jalanan&lt;/em&gt; karya Teguh Slamet 
Hidayat Adrai yang berisikan tentang kehidupan anak jalanan yang berada 
di pinggiran rel. "Kisah ini menampilkan kehidupan yang benar-benar 
terjadi di masyarakat," ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maman mengatakan, tidak ada yang 
salah dengan cerita yang disajikan karena memang memiliki pangsa pasar 
yang berbeda. Bahkan, keduanya bisa saling melengkapi. Maman 
menjelaskan, untuk pembaca pemula, cerita populer memang sangat 
dianjurkan untuk menumbuhkan minat baca. Jika telah terbiasa,  mereka 
akan tertantang untuk membaca buku yang lebih berkualitas dan memancing 
pembaca untuk lebih berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/09/novel-sastra-populer-untuk-tumbuhkan.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-1063983078729302732</guid><pubDate>Wed, 16 Sep 2015 02:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-09-16T09:44:57.839+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">literasi</category><title>Popularitas Perpustakaan Semakin Pudar Dilibas Digital</title><description>&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Popularitas Perpustakaan Semakin Pudar Dilibas Digital&lt;/h1&gt;
&lt;h3 class="article-byline"&gt;
 DWI ERIANTO&lt;/h3&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
                    &lt;span class="col-2-ng"&gt;
                        
                        &lt;span class="article-date-details"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;span class="num-readability"&gt;&lt;/span&gt;
                        &lt;/span&gt;
                    &lt;/span&gt;
                &lt;/h4&gt;
Perkembangan teknologi semakin memberi kemudahan bagi
 masyarakat untuk mengakses informasi. Sumber ilmu pengetahuan yang pada
 masa lalu berada di ruang-ruang perpustakaan, kini berada dalam 
genggaman gawai. Internet menjadi jalan pintas bagi publik untuk 
mengonsumsi informasi. Popularitas perpustakaan di tengah masyarakat 
semakin pudar.&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-media-container"&gt;
&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="Peserta mengikuti lomba membuat menara buku dalam rangkaian peringatan Hari Kunjung Perpustakaan 2015 di Museum Bank Indonesia di Surabaya, Minggu (13/9). Melalui sejumlah permainan edukatif bertema buku, kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia ini mengajak masyarakat umum khususnya generasi muda untuk gemar ke perpustakaan." class="article-image" id="landscape" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/662887b2-94e0-47a2-b708-e344d9f01dbf/238586" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA&lt;/span&gt;Peserta
 mengikuti lomba membuat menara buku dalam rangkaian peringatan Hari 
Kunjung Perpustakaan 2015 di Museum Bank Indonesia di Surabaya, Minggu 
(13/9). Melalui sejumlah permainan edukatif bertema buku, kegiatan yang 
diselenggarakan Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia ini mengajak
 masyarakat umum khususnya generasi muda untuk gemar ke perpustakaan.&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/div&gt;
Selama
 beberapa tahun terakhir, minat masyarakat untuk mengunjungi 
perpustakaan terus turun. Hal itu setidaknya tampak dari merosotnya 
jumlah kunjungan masyarakat ke Perpustakaan Nasional selama lima tahun 
terakhir. &lt;br /&gt;
Perpustakaan terbesar dan memiliki koleksi paling 
lengkap di Indonesia itu rata-rata hanya dikunjungi 403.000 orang per 
tahun. Kondisi ini jauh di bawah negara Singapura. Di negara tetangga 
yang jumlah penduduk jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan 
Indonesia itu,&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Perpustakaan Nasional-nya dikunjungi lebih dari 1 juta 
orang per tahun. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Rendahnya kunjungan masyarakat ke perpustakaan 
juga terlihat di perpustakaan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. 
Dalam lima tahun terakhir, pengguna jasa perpustakaan daerah sekitar 
400.000 orang. Sementara penikmat perpustakaan keliling yang dikelola 
Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah DKI Jakarta hanya sekitar 200.000 
orang per tahun. Padahal, Pemprov DKI Jakarta tiap tahun terus menambah 
jumlah koleksi buku- buku di perpustakaan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selaras dengan
 hasil jajak pendapat ini, kultur membaca dan berkunjung ke perpustakaan
 memang masih minim. Meski mayoritas publik jajak pendapat ini mengaku 
pernah mengunjungi perpustakaan di daerahnya, intensitasnya sangat 
jarang. Sebagian terbesar responden mengaku kunjungan ke perpustakaan 
dilakukan hanya pada saat masih sekolah dan ketika mengerjakan tugas 
dari sekolah. &lt;br /&gt;
Jika dicermati, pengakuan itu paralel dengan 
tingkat pendidikan publik. Semakin tinggi tingkat pendidikan responden, 
semakin besar pula intensitas kunjungan ke perpustakaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain 
berkompetisi dengan teknologi digital yang bisa diakses melalui gawai, 
rendahnya minat berkunjung ke perpustakaan antara lain juga dipengaruhi 
oleh belum memadainya akses masyarakat ke perpustakaan. Setidaknya hal 
ini tergambar dari pengumpulan pendapat yang dilakukan oleh Litbang &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih
 dari separuh responden yang berhasil dirangkum pendapatnya menilai saat
 ini perpustakaan di daerah tempat tinggal mereka belum bisa diakses 
secara bebas oleh masyarakat umum. Sebagian pengelola perpustakaan masih
 mensyaratkan keanggotaan jika masyarakat ingin mengakses atau meminjam 
buku di perpustakaan.&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-interactive-infographics" id="content-fishery"&gt;
&lt;div class="wrapper-fishery"&gt;
&lt;div class="content-fish"&gt;
&lt;img alt="content" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/8d3884f5-1e06-45af-b94d-7e03e1cdec64/238590" title="1" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="content-credits"&gt;
,,&lt;/div&gt;
&lt;ul class="nav-fishery"&gt;
&lt;li class="nav-fishery-items active" data-slide="/getattachment/8d3884f5-1e06-45af-b94d-7e03e1cdec64/238590"&gt;1&lt;/li&gt;
&lt;li class="nav-fishery-items" data-slide="/getattachment/805d2729-6ff0-4e9b-98f7-4df7513e8f26/238591"&gt;2&lt;/li&gt;
&lt;li class="nav-fishery-items" data-slide="/getattachment/8a796bc2-a657-4341-972b-99e3beefb5a7/238592"&gt;3&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Minat baca rendah&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Selain
 itu, minat baca masyarakat masih dianggap rendah. Setiap tiga dari 
empat responden menilai minat baca, terutama kalangan remaja, masih 
rendah. Rendahnya minat baca di negeri ini juga tecermin dari kebiasaan 
membaca buku masyarakatnya. &lt;br /&gt;
Meski angka melek huruf Indonesia 
telah mencapai 93 persen, kebiasaan membaca buku di antara warga 
masyarakat masih rendah dibandingkan dengan penduduk di beberapa negara 
Asia lainnya. Rata-rata lama membaca buku warga Indonesia hanya enam jam
 per minggu. Sementara di India rata-rata lama membaca warganya sepuluh 
jam per minggu, Thailand sembilan jam, dan Tiongkok delapan jam per 
minggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak hanya itu, Survei Organisasi Pendidikan, Ilmu 
Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tahun 
2012 menyebutkan, kebiasaan membaca masyarakat Indonesia lebih rendah 
dibandingkan dengan warga negara Asia lain. &lt;br /&gt;
Hanya 1 dari 1.000 
orang Indonesia memiliki minat baca serius. Rata-rata membaca buku 
penduduknya pun kurang dari 1 judul buku per tahun, sementara penduduk 
Jepang setiap tahun membaca 10-15 judul buku. Sementara orang Amerika 
sebanyak 20-30 judul buku per tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu upaya pemerintah 
untuk meningkatkan minat baca masyarakat adalah dengan mencanangkan 
bulan gemar membaca yang diselenggarakan pada bulan September. Tanggal 
14 September pun ditetapkan sebagai hari kunjungan perpustakaan. &lt;br /&gt;
Namun,
 upaya ini cenderung terkesan sebagai gerakan seremonial semata. Hari 
Kunjungan Perpustakaan diperingati oleh perpustakaan di seluruh 
Indonesia dengan menggelar berbagai kegiatan seperti pameran, perlombaan
 yang bertujuan mempromosikan berbagai koleksi, produk, dan layanan yang
 dimiliki, serta kegiatan yang menumbuhkan minat baca.  &lt;br /&gt;
&lt;div class="article-media-container-split cf"&gt;
&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="Peserta mengikuti lomba domino buku dalam rangkaian peringatan Hari Kunjung Perpustakaan 2015 di Museum Bank Indonesia di Surabaya, Minggu (13/9).  " class="article-image" id="landscape" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/b4c6f533-7fee-4cd1-bfc5-a05959bf917a/238587?maxsidesize=315" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA&lt;/span&gt;&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="Pengunjung Perpustakaan Umum Daerah Provinsi DKI Jakarta memilih buku-buku koleksi perpustakaan tersebut, Jumat (21/8). Minat warga membaca buku masih rendah. Sebab, berdasarkan data UNESCO 2012, indeks minat baca penduduk Indonesia hanya 0,0001. Itu berarti dari setiap 1.000 penduduk hanya 1 orang yang membaca buku." class="article-image" id="landscape" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/bfcfbb7e-0287-4ec2-9050-b22ed591d9e0/238588?maxsidesize=315" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;KOMPAS/YUNIADHI AGUNG&lt;/span&gt;&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/div&gt;
Publik
 melihat dari kacamata yang lain. Harus ada upaya yang lebih nyata dari 
pemerintah untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Sebagian terbesar 
responden dalam jajak pendapat ini, misalnya, mendorong pemerintah untuk
 mewajibkan masyarakat, khususnya pelajar, untuk mengunjungi 
perpustakaan. Setidaknya upaya ini dapat menggugah kembali kesadaran 
masyarakat akan pentingnya perpustakaan sebagai salah satu sumber 
informasi, sarana belajar, dan sarana rekreasi ilmiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Fungsi perpustakaan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Perpustakaan
 menjadi sarana dan prasarana penting untuk mendorong minat baca 
masyarakat. Secara umum, perpustakaan memiliki empat fungsi, yakni 
pertama sumber informasi yang menyimpan karya cetak, seperti buku, 
majalah, dan sejenisnya serta karya rekaman, seperti kaset, piringan 
hitam, dan sejenisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perpustakaan juga menjadi sarana 
pendidikan dan pembelajaran nonformal dan informal. Artinya, 
perpustakaan menjadi tempat belajar ideal di luar sekolah. Selain itu, 
perpustakaan juga bisa menjadi sarana rekreasi. Perpustakaan sebagai 
tempat untuk menikmati rekreasi kultural dengan cara membaca. Fungsi 
penting lain dari perpustakaan adalah sebagai penunjang kegiatan 
penelitian.&lt;br /&gt;
Pentingnya fungsi perpustakaan itu secara tak langsung
 disadari oleh publik. Jajak pendapat ini merekam harapan publik akan 
pentingnya perpustakaan di lingkungan mereka. Sedikitnya empat dari 
setiap lima responden yang berhasil diwawacarai mengaku perlu dibuatkan 
perpustakaan bagi warga di sekitar tempat tinggal mereka. Selain bisa 
menumbuhkan minat baca masyarakat, perpustakaan juga diharapkan dapat 
memperkaya pengetahuan warga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mendorong antusiasme 
masyarakat berkunjung ke perpustakaan, idealnya perpustakaan perlu 
dikelola secara partisipatif oleh masyarakat. Jika memungkinkan, adanya 
fasilitas kehadiran pustakawan bisa menjadikan perpustakaan sebagai 
tempat yang menarik dikunjungi karena koleksinya dikelola oleh 
profesional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau dengan kata lain, ada keselarasan antara 
kehadiran perpustakaan dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Jika 
hal itu dapat diupayakan, direalisasikan, dan dikelola dengan baik di 
tingkat komunitas, perpustakaan dapat diberdayakan sebagai salah satu 
tempat untuk mencerdaskan masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;div class="credit"&gt;
(Litbang Kompas)&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-media-container"&gt;
&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="Perpustakaan yang dimiliki sekolah Bina Nusantara Simprug, Jakarta, Jumat (5/6), untuk mendukung budaya literasi di sekolah." class="article-image" id="landscape" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/ec274b4f-9d40-445f-84eb-2e968dd32d2a/238589" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;KOMPAS/LUCKY PRANSISKA&lt;/span&gt;Perpustakaan yang dimiliki sekolah Bina Nusantara Simprug, Jakarta, Jumat (5/6), untuk mendukung budaya literasi di sekolah.&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/09/popularitas-perpustakaan-semakin-pudar.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-4913593211333811974</guid><pubDate>Wed, 16 Sep 2015 02:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-09-16T09:31:45.111+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">literasi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Literasi Tinggi untuk Pengetahuan dan Hiburan</title><description>&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Literasi Tinggi untuk Pengetahuan dan Hiburan&lt;/h1&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
&amp;nbsp;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;span class="num-readability"&gt;&lt;/span&gt;
                        &lt;/span&gt;
                    &lt;/span&gt;
                &lt;/h4&gt;
Minat remaja untuk membaca guna mencari informasi dan pengetahuan 
ternyata tinggi. Bacaan di luar buku pelajaran rajin dilahap. Ini adalah
 kabar gembira menyambut Hari Literasi Internasional pada tanggal 8 
September mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-media-container"&gt;
&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="Warga mengisi waktu dengan membaca buku di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta, Rabu (8/7). Membaca buku merupakan aktivitas yang menyenangkan dan menambah pengetahuan." class="article-image" id="landscape" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/36ea5e13-d12d-4f17-921f-ba9adf5b5b86/231561" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;KOMPAS/YUNIADHI AGUNG&lt;/span&gt;Warga
 mengisi waktu dengan membaca buku di Toko Buku Gramedia Matraman, 
Jakarta, Rabu (8/7). Membaca buku merupakan aktivitas yang menyenangkan 
dan menambah pengetahuan.&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/div&gt;
Kedekatan anak muda dan kegiatan membaca terekam dalam survei Litbang &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;
 melalui telepon terhadap siswa dan siswi SMA di lima kota besar pada 
awal Agustus lalu. Delapan dari 10 responden siswa mengaku masih 
meluangkan waktu khusus untuk membaca selain buku pelajaran sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Semangat membaca di kalangan remaja selaras dengan hasil survei UNESCO 
tahun 2011. Menurut survei ini, semakin muda kelompok usia penduduk di 
Indonesia, kian tinggi tingkat literasi. Kadar literasi menggambarkan 
kemampuan membaca sekaligus memahami isi tulisan. Hasil survei juga 
menunjukkan minat baca orang Indonesia secara keseluruhan hanya bernilai
 0,001. Artinya, hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang masih punya 
minat baca tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Perkembangan teknologi informasi berpengaruh pada kegiatan seluruh 
lapisan masyarakat, termasuk kegiatan membaca siswa dan siswi SMA. 
Akrabnya kaum muda ini dengan dunia internet telah menyebabkan berita 
yang menggunakan internet sebagai medium paling sering ditengok 
dibandingkan dengan jenis bacaan lain. Sebanyak 47,1 persen remaja yang 
disurvei membaca berita jenis ini beberapa kali seminggu. Bahkan, satu 
dari enam murid yang diwawancara mengaku membaca berita di internet 
lebih dari sekali dalam satu hari.&lt;br /&gt;


 Selain berita di internet yang mudah diakses dengan aneka gawai, 
murid-murid SMA di kota-kota besar ternyata juga melahap bacaan tentang 
ilmu pengetahuan umum. Selama seminggu, biasanya mereka akan membaca 
topik ilmu pengetahuan umum beberapa kali.&lt;br /&gt;

&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Nyaman versi cetak&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;&lt;b&gt;
 &lt;/b&gt;Untuk keperluan mencari pengetahuan ini, buku cetakan ternyata masih 
digemari oleh kalangan muda. Meskipun buku elektronik saat ini lebih 
mudah didapatkan, hampir 80 persen responden merasa lebih nyaman membaca
 buku versi cetak. Selain tak membutuhkan gawai untuk mengakses, buku 
versi cetak relatif tak membuat mata cepat lelah. Ruang-ruang kosong di 
halaman buku versi cetak juga dibubuhi tulisan berupa catatan, pesan, 
ataupun tanda tangan saat bertemu langsung dengan pengarang favorit.&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-interactive-infographics" id="content-fishery"&gt;
&lt;div class="wrapper-fishery"&gt;
&lt;div class="content-fish"&gt;
&lt;img alt="content" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/903b5497-59c3-4ee1-886e-afbf63ee3288/231533" title="1" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
Meski masih belia, siswa dan siswi SMA ternyata sudah mampu menentukan 
buku yang mereka inginkan. Sebanyak 77 siswa dan siswi SMA memilih 
sendiri jenis buku yang akan mereka baca. Para remaja ini tak bisa lagi 
dibatasi hanya boleh membaca buku-buku tertentu. Mereka akan memilih 
bacaan sesuai bakat dan minat mereka. Karena uang saku yang terbatas, 
murid-murid SMA ini biasanya meminjam buku ataupun minta dibelikan 
orangtua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Siswa SMAN 12 Jakarta, Nina Nursita Ramadhan, lebih menyukai buku fiksi
 sebagai bahan bacaan yang menghibur. ”Biasanya, kalau ada waktu luang, 
aku sempatkan membaca. Di sekolah juga ada program membaca selama 15 
menit,” kata Nina.&lt;br /&gt;


 Untuk bentuk bukunya, dia lebih memilih buku cetak. ”Lebih enak baca buku cetak, rasanya beda kalau membolak-balik buku. Kalau &lt;em&gt;e-book &lt;/em&gt;cenderung kaku dan banyak bergantung pada baterai &lt;em&gt;gadget&lt;/em&gt;,” ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Komunitas baca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Minat baca yang tinggi juga tecermin dari komunitas baca yang masih 
memiliki anggota dari generasi muda. Moderator Goodreads Indonesia, 
Sukma Rezany, mengatakan, anggota Goodreads Indonesia sebagian besar 
pelajar dan mahasiswa. ”Rata-rata anggotanya berasal dari usia 
produktif, 15-35 tahun. Sebagian besar anggota adalah pelajar dan 
mahasiswa yang suka dengan buku fiksi, baik dalam negeri maupun luar 
negeri,” kata Sukma yang biasa disapa Echa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Sebenarnya, menurut Echa, minat membaca memang masih tinggi kalau di 
kota-kota besar yang berbeda kondisinya dengan kota-kota kecil. ”Kendala
 mulai muncul di luar kota-kota besar. Akses mendapatkan buku bacaan, 
baik majalah maupun koran, sangat terbatas, padahal keinginan mereka 
untuk membaca serta mendapatkan informasi tinggi,” katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Untuk itulah, Goodreads Indonesia tidak hanya mengadakan kegiatan di 
Jakarta, tetapi juga kota lain. ”Kami sering mengadakan kegiatan seperti
 &lt;em&gt;book club, meet the author&lt;/em&gt;, nonton bareng film adaptasi buku, 
dan napak tilas sebuah buku. Untuk nonton bareng atau napak tilas, kami 
lakukan untuk menarik teman-teman baru yang bukan pembaca buku. Di luar 
Jakarta, kegiatannya tidak jauh berbeda. Ada beberapa kota yang memiliki
 perpustakaan atau rumah buku sendiri,” kata Echa.  (MB Dewi Pancawati/Litbang Kompas/Susie Berindra)
                        &lt;br /&gt;
&lt;div class="article-footnote"&gt;
                            &lt;span class="article-footnote-citation"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-footnote"&gt;
&lt;span class="article-footnote-citation"&gt;Versi
 cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 Agustus 2015, di 
halaman 34 dengan judul "Literasi Tinggi untuk Pengetahuan dan Hiburan".&lt;/span&gt;
                        &lt;/div&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/09/literasi-tinggi-untuk-pengetahuan-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-8088135178575624674</guid><pubDate>Wed, 16 Sep 2015 02:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-09-16T09:28:48.646+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Childrens literature</category><title>Dongeng Menumbuhkan Minat Baca Anak</title><description>&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Dongeng Menumbuhkan Minat Baca Anak&lt;/h1&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
&amp;nbsp;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;span class="num-readability"&gt;&lt;/span&gt;
                        &lt;/span&gt;
                    &lt;/span&gt;
                &lt;/h4&gt;
&lt;div class="article-lead"&gt;
&lt;span class="bold"&gt;JAKARTA, KOMPAS&lt;/span&gt;
 —  Dongeng dapat menumbuhkan minat membaca pada anak-anak. Kebiasaan 
mendengarkan cerita lewat cara yang menyenangkan juga dapat merangsang 
daya imajinasi dan kreativitas mereka.&lt;/div&gt;
"Minat baca anak Indonesia 
masih rendah karena pendekatan, akses, dan kesempatan anak pada bahan 
bacaan masih minim dan tak menarik. Mendongeng adalah pendekatan terbaik
 untuk mengajak anak membaca buku," kata Manajer Program dan 
Pengembangan Yayasan Literasi Anak Lebah Indonesia Rismadhani Chaniago 
di Jakarta, Jumat (21/8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut dia, orangtua dapat menerapkan 
teknik mendongeng saat membacakan buku-buku cerita. Dengan metode 
bertutur, anak akan menangkap isi cerita dengan cara yang menyenangkan 
serta mampu menangkap alur dengan baik. Orangtua juga dapat menyelipkan 
nyanyian dan permainan ketika bercerita.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Anak-anak  suka 
berimajinasi. Dengan teknik mendongeng, orangtua menyelipkan pesan bahwa
 membaca itu menyenangkan sehingga menumbuhkan minat baca mereka," 
katanya. &lt;br /&gt;
Selama ini, banyak orangtua yang menempatkan kegiatan 
membaca sebagai keharusan sehingga anak mudah jenuh. "Biasakan anak pada
 lingkungan buku dan kebiasaan membaca. Mereka akan tertarik," katanya. &lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Konsep baru &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Rismadhani
 menambahkan, orangtua juga harus mempunyai konsep baru tentang dongeng.
 Mendongeng masih dianggap sebagai sesuatu yang sulit dan butuh 
keterampilan khusus. Padahal, dongeng sebenarnya dapat dilakukan oleh 
semua orang. &lt;br /&gt;
Masyarakat juga kerap terjebak konsep bahwa dongeng 
harus berupa legenda. Padahal, dongeng bisa berbentuk narasi, nyanyian, 
bahkan permainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Orangtua tidak harus mengarang cerita, tetapi 
bisa dengan membacakan cerita dalam buku. Intinya, orangtua menanamkan 
nilai-nilai positif, seperti jujur, sopan, atau mencintai lingkungan 
melalui dongeng," ujarnya.&lt;br /&gt;
Untuk itu, Taman Baca Anak Lebah yang 
bekerja sama dengan GlobalExhibit dan Fountain Education Center 
menggagas Festival Storytelling International bertajuk "The First 
Indonesia International Storytelling Festival 2015" pada 10-11 Oktober. &lt;br /&gt;
Presiden
 Dikrektur GlobalExhibit Grace Sabandar menuturkan, tidak hanya 
mendongeng, anak juga dapat menikmati tarian dan musik dari berbagai 
daerah dan internasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada enam negara yang siap 
berpartisipasi, di antaranya Indonesia, India, Singapura, Norwegia, 
Hongaria, dan Tiongkok. "Setiap negara dapat menampilkan cerita rakyat 
dan tarian di daerahnya," kata Grace.&lt;br /&gt;
Pada festival itu, ditargetkan ada 1.200 pengunjung dan 2.400 donasi buku yang akan didistribusikan ke perpustakaan daerah. (B08) &lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/09/dongeng-menumbuhkan-minat-baca-anak.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-7294833611540369630</guid><pubDate>Wed, 16 Sep 2015 00:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-09-16T07:41:35.303+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">literasi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Kenangan Membaca, Kenangan Berpikir | Bre Redana</title><description>
    

    
    
    
        
            &lt;br /&gt;
&lt;article class=""&gt; &lt;br /&gt;&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Kenangan Membaca, Kenangan Berpikir&lt;/h1&gt;
&lt;h3 class="article-byline"&gt;
Bre Redana&lt;/h3&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
                    &lt;span class="col-2-ng"&gt;
                        
                        &lt;span class="article-date-details"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;span class="num-readability"&gt;&lt;/span&gt;
                        &lt;/span&gt;
                    &lt;/span&gt;
                &lt;/h4&gt;
Beberapa kali menerima undangan menjadi pembicara dalam kegiatan yang 
dimaksudkan untuk menggalakkan minat membaca, termasuk kalau tak salah 
minggu depan di Bandung, saya justru berfirasat: jangan-jangan membaca 
(buku) akan segera menjadi masa lalu kita? Mengingat adanya kaitan 
penemuan huruf, bahasa, tulisan, buku, dan memori dalam proses evolusi 
manusia selama berabad-abad, dengan berlalunya kebudayaan membaca, 
adakah akan berlalu pula kebiasaan berpikir? Membaca dan berpikir, 
menjadi tinggal kenangan?&lt;br /&gt;
&lt;aside class="article-pullout"&gt;&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="" class="article-image" id="portrait" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/e233a255-a208-4ebc-bfcb-8bc7a9b3173e/185594?maxsidesize=300" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;handining&lt;/span&gt;&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/aside&gt;

 Tanda-tandanya sudah tampak kini. Dengan apa yang dikenal luas sekarang
 dengan sebutan Twitter, orang tak perlu berpikir keras sebelum 
mengutarakan sesuatu. Cukup secara spontan dan segera:  nyeletuk. Yang berkuasa adalah ucapan yang paling banyak, bukan truth, kasunyatan,
 kesejatian, yang memang sering tak terucap. Tak ada suaranya, seperti 
angin. Kita hanya melihat kehadirannya lewat daun yang bergerak. 
Mengutip sajak Darmanto Jatman di masa lalu: ”...seperti lidah, di mulut tak terasa/seperti jantung, di dada tak teraba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Dunia kini melulu dikuasai keberisikan, bukan keheningan berpikir. Praktisnya: ngomong dulu berpikir kemudian. Tanda tangan dulu, berpikir belakangan. Kerja, kerja, kerja. Lha, berpikirnya mana....&lt;br /&gt;


 Jadi ingat, kata-kata para editor koran di masa lalu. Kepada reporter, 
mereka mengingatkan: ketika kalian pulang ke kantor, tulisan harus sudah
 jadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Maksudnya bukan kami disuruh menyerahkan kertas berisi tulisan yang 
telah beres begitu sampai kantor, di zaman mesin ketik itu. Melainkan, 
proses eksplorasi dan pencarian berita adalah proses gagasan. Saat naik 
bus kota atau mengendarai Vespa pulang ke kantor usai tugas lapangan, 
hasil wawancara, pengamatan, dan lain-lain telah kami olah dan 
sintesiskan dalam pikiran kami. Struktur tulisan telah terbentuk di 
otak. Dengan kata lain, sebelum mengetik, tulisan telah selesai. Kami 
cepat dan akurat, dalam zaman teknologi yang lelet, lambat, tidak 
sebergegas sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Itu pula ironinya. Di zaman dengan teknologi informasi yang 
memungkinkan orang melakukan segala sesuatu serba cepat—bercinta pun 
dengan tergopoh-gopoh—berita justru tidak selesai. Bukan saja tidak 
selesai sebelum ditulis, bahkan belum selesai setelah terpublikasikan. 
Persis berbagai keputusan yang memiliki implikasi serius terhadap 
kehidupan publik. Banyak keputusan minus pemikiran. Dalam dunia politik,
 tak ada lagi pergulatan ideologi. Yang ada perebutan kekuasaan. Kajian 
politik menyangkut ideologi dan pemikiran digantikan talk show berisi gosip politik. Untung dulu tak jadi susah-susah kuliah ilmu politik.&lt;br /&gt;


 Terus terang, dengan surutnya kebiasaan membaca buku, saya melulu 
melihat hal-hal yang bakal hilang, belum menemukan apa yang bakal 
menjadi gantinya. Proses membaca buku berbeda dengan proses membaca di 
layar laptop
 atau berbagai perangkat digital canggih sekarang. Membaca melalui layar
 komputer, istilahnya hiperteks, berbeda prosesnya di otak dibanding 
dengan membaca buku, dalam hal ini disebut pembacaan secara linear.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Pada pembacaan hiperteks, orang meloncat ke sana-kemari, tidak fokus ke
 satu hal. Belum lagi kalau kita bicara cara kerja saraf-saraf sensorik 
tubuh. Dalam pembacaan dengan teknologi digital, sistem sensor dan 
kognitif kita berubah karena stimulus yang bersifat repetitif, intensif,
 interaktif, dan adiktif (membuat kecanduan). Lihat sendiri: kalau 
pasangan Anda kecanduan peranti digital, susah dia diajak ngomong. Sadarkan dia, bukan buru-buru cari ganti.&lt;br /&gt;


 Menggalakkan kebiasaan membaca (buku) kini menemukan signifikansi baru.
 Dia bukan hanya upaya memberantas iliterasi, tetapi juga menyelamatkan 
otak. Kenangan Desember lumayan, jadi ingat diri penyanyi Arie Kusmiran. Kalau membaca dan berpikir tinggal kenangan, kita kehilangan diri....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-footnote"&gt;
                            &lt;span class="article-footnote-citation"&gt;Versi
 cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Mei 2015, di halaman 
12 dengan judul "Kenangan Membaca, Kenangan Berpikir".&lt;/span&gt;
                        &lt;/div&gt;
&lt;/article&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/09/kenangan-membaca-kenangan-berpikir-bre.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-5796557655997832533</guid><pubDate>Wed, 16 Sep 2015 00:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-09-16T07:28:46.654+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">literasi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">taman bacaan</category><title>Energi Perubahan di Pos Ronda</title><description>&lt;article class=""&gt;
&lt;h4 class="article-keyword"&gt;
&amp;nbsp; &lt;/h4&gt;
&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Energi Perubahan di Pos Ronda&lt;/h1&gt;
&lt;h3 class="article-byline"&gt;
  ESTER LINCE NAPITUPULU&lt;/h3&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
&amp;nbsp;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;span class="num-readability"&gt;&lt;/span&gt;
                        &lt;/span&gt;
                    &lt;/span&gt;
                &lt;/h4&gt;
&lt;div class="article-lead"&gt;
 Gerakan literasi yang tumbuh 
dari inisiatif  masyarakat tak sekadar  menumbuhkan kegemaran   membaca 
buku, tetapi bergerak maju untuk  memberdayakan masyarakat. Episentrum 
gerakan    bermula di  pos-pos ronda di kampung-kampung.    Semua 
digerakkan oleh  energi  masyarakat,  kecintaan terhadap buku, dan 
kerinduan akan terjadinya perubahan.  &lt;/div&gt;
&lt;div class="article-media-container"&gt;
&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="Anak-anak membaca di Taman Bacaan Masyarakat Gubug Pintar di Nitikan Timur, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan memanfaatkan pos ronda, perlahan minat baca ditumbuhkan pada semua warga." class="article-image" id="landscape" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/62caa68b-6855-4871-b26d-81860c49795b/178258" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU&lt;/span&gt;Anak-anak
 membaca di Taman Bacaan Masyarakat Gubug Pintar di Nitikan Timur, 
Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan memanfaatkan 
pos ronda, perlahan minat baca ditumbuhkan pada semua warga.&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/div&gt;
Berbekal
 semangat  menumbuhkan  rasa suka  membaca, Taman Bacaan Masyarakat 
(TBM) Cakruk Pintar  hadir di atas bekas pembuangan sampah warga di tepi
 Sungai Gajahwong di Dusun Nologaten, Catur Tunggal, Depok, Daerah 
Istimewa Yogyakarta. Sebuah pos ronda sederhana dari bambu berukuran 5 
meter x 10 meter didirikan di tepi Sungai Gajahwong pada 2003.  Pos 
ronda itulah yang  merangkap sebagai taman bacaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun masih
 ada penolakan, pos ronda yang berfungsi sebagai perpustakaan itu bisa 
dihadirkan.  Koleksi buku milik penggagas taman bacaan itu, Muhsin 
Kalida,  menghiasi dinding-dinding bambu.  Muhsin yang warga di kawasan 
itu juga dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan
 tetapi pasti, kehadiran perpustakaan kampung yang diberi nama TBM 
Cakruk Pintar itu  mewarnai kehidupan warga. Anak-anak mulai nongkrong
 sambil memegang- megang buku dan akhirnya asyik membaca. Ibu-ibu yang 
mengeloni anak mereka, awalnya sekadar duduk-duduk di pos ronda, 
akhirnya mulai melirik buku. Demikian juga para bapak yang asyik main 
gaplek atau karambol mulai juga melihat-lihat isi buku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keguyuban 
warga yang mulai terbangun melalui gerakan literasi berkembang dengan  
munculnya kegiatan-kegiatan yang memberdayakan. Para remaja mengadakan 
kegiatan  menulis hingga diskusi. &lt;br /&gt;
Pengelola  Cakruk Pintar juga 
mengembangkan kegiatan zikir dengan tema kewirausahaan. Warga di sekitar
  Cakruk Pintar pun berkembang untuk bisa mengembangkan beragam usaha 
penjualan makanan, mulai dari arem-arem, klepon, pecel lele, tahu bakso,
 dan banyak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak hanya itu, air sungai yang tak lagi tercemar
 sampah juga dimanfaatkan. Kolam-kolam ikan yang dikelola warga berjejer
 rapi di sekitar sungai, tak jauh dari pos ronda TBM Cakruk Pintar.  &lt;br /&gt;
Muhsin
 mengatakan,  beberapa tahun ini  koleksi buku TMB Cakruk Pintar 
berpindah ke halaman depan rumahnya. Meski demikian, akses untuk membaca
 buku dan berkegiatan terbuka 24 jam. Anak-anak dan warga yang hendak 
membaca tinggal datang  tanpa perlu meminta izin pada  keluarga Muhsin. 
Mereka yang ingin membawa buku pulang tinggal mencatat di buku peminjam.&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Semangat tridaya &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Menurut
 Muhsin, TBM Cakruk Pintar mengusung semangat tridaya dalam 
mengembangkan gerakan literasi.  Masyarakat diberdayakan secara ekonomi 
dengan menggerakkan kewirausahaan, pemberdayaan lingkungan dengan 
menyulap kampung yang bau sampah menjadi asri, dan pemberdayaan sumber 
daya manusia dengan menyediakan beragam kegiatan yang mencerdaskan. 
Dengan tiga tema pemberdayaan, gerakan literasi  menjadi lebih maju  
dari sekadar mengadakan kegiatan membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemanfaatan pos ronda 
untuk memulai gerakan literasi juga dilakukan TBM Gubug Pintar di 
Nitikan Timur, Kabupaten Gunung Kidul, DIY, sejak 2012. Koran-koran, 
majalah, dan buku bacaan diselipkan di dinding bambu.  Buku dan majalah 
itu bisa dibaca kapan saja oleh anak-anak, ibu-ibu, dan bapak-bapak 
sambil lesehan.  Koleksi buku bacaan yang masih terbatas dan banyaknya  
buku bekas sumbangan dari berbagai tempat tak mengurangi kegairahan 
warga  melahap bahan bacaan.&lt;br /&gt;
Anak-anak melahap buku-buku komik 
yang tersedia. Mereka juga bermain sejumlah permainan tradisional yang 
pada  masa lalu populer di kalangan anak- anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang dewasa juga
 punya kegiatannya sendiri.  Para ibu bukan hanya punya kegiatan arisan,
 tetapi juga senam dan diskusi bersama membahas berbagai masalah 
kesehatan atau pengasuhan anak. Para warga lanjut usia juga punya 
aktivitas. Mereka  diajari  membuat produk jadi dari bambu guna 
menghasilkan pendapatan tambahan. &lt;br /&gt;
"Awalnya kami  prihatin karena 
warga tidak lagi terlibat aktif dalam berbagai kegiatan. Kegiatan 
arisan, misalnya, lebih banyak yang nitip
 daripada hadir. Dengan adanya beragam kegiatan di TBM Gubug Pintar, 
warga mulai guyub dan sadar untuk  membangun kebersamaan," kata Tri 
Sudaryani. Tri dan  Tugino, suaminya, menggagas pendirian  TBM Gubug 
Pintar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkembangnya aktivitas warga, mulai dari anak usia dini 
hingga warga lanjut usia, membuat kegiatan TBM Gubug Pintar dialihkan ke
 rumah keluarga Tri-Tugino yang tidak jauh dari pos ronda. Dengan 
fasilitas sederhana, gerakan literasi yang  berawal dari pos ronda mampu
 memberdayakan warga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan inspirasi dari buku- buku 
keterampilan, misalnya, warga mulai mengolah bambu yang merupakan  
produk unggulan  di daerah itu  menjadi beragam produk kerajinan 
menarik. Beragam buah tangan,  mulai dari gantungan kunci hingga topi 
bambu bertuliskan Goa Pindul,  diproduksi oleh para warga di taman  
bacaan itu untuk menambah pendapatan rumah tangga.&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Dari buku jadi karya &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Masih
 di Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di  kawasan Sleman, TBM Mata 
Aksara hadir dengan   mengusung semangat dari buku menjadi karya. Taman 
bacaan itu didirikan di rumah  Heni Wardatur Rohmah. Gerakan literasi 
yang mendorong munculnya minat baca anak-anak, ibu-ibu, dan bapak- bapak
 itu telah membuat warga mampu berkarya.&lt;br /&gt;
Para ibu rumah tangga, 
yang awalnya sekadar melihat buku- buku kerajinan, bersama-sama belajar 
untuk menjadikan panduan dalam  buku menjadi sebuah karya nyata. 
Lahirlah  buku-buku dari kain flanel menarik sebagai media antara lain 
untuk  anak-anak belajar huruf, angka, dan mengenal tumbuhan. Ada pula 
kaus-kaus berhiaskan flanel. Para bapak belajar tentang  pembuatan 
kompos, pertanian, hingga perikanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heni mengatakan, kegiatan di 
TBM Mata Aksara terdiri dari  sentra buku, kriya, permainan, komputer, 
panggung, dan lingkungan hidup. TBM itu  sering menerima kunjungan dari 
banyak pihak yang menawarkan kegiatan untuk memperkaya gerakan literasi.
 &lt;br /&gt;
Muhsin Kalida, yang juga Ketua Forum TBM Daerah Istimewa 
Yogyakarta, mengatakan,  taman bacaan masyarakat lahir dari kebutuhan 
masyarakat. "Berbeda dengan perpustakaan yang top-down
 karena ada proyek.  Yogyakarta menjadi salah satu tujuan studi banding 
  taman bacaan masyarakat karena tumbuh dengan keunikannya," ujar 
Mushin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Yogyakarta terdata ada  320  taman bacaan masyarakat 
pada 2014 dan 241 di antaranya masih hidup. Taman bacaan itu ada yang  
dimiliki keluarga, yayasan, ataupun desa. Menurut Muhsin, sifat 
kesukarelawanan dalam membangun taman bacaan yang besar  membuat gerakan
 literasi dan pemberdayaan berkembang. Taman bacaan  masyarakat terbukti
 berpotensi sebagai  alternatif  tumbuhnya gerakan belajar sepanjang 
hayat yang lahir dari kesadaran dan kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-footnote"&gt;
                            &lt;span class="article-footnote-citation"&gt;Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 April 2015, di halaman 12 dengan judul "Energi Perubahan di Pos Ronda".&lt;/span&gt;
                        &lt;/div&gt;
&lt;/article&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/09/energi-perubahan-di-pos-ronda.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-5589399938755288291</guid><pubDate>Wed, 16 Sep 2015 00:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-09-16T07:25:29.592+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">literasi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sosok</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">taman bacaan</category><title>Muhsin Kalida Menggagas Gerakan Literasi</title><description>&lt;article class=""&gt;
&lt;h4 class="article-keyword"&gt;
Muhsin Kalida&lt;/h4&gt;
&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Menggagas Gerakan Literasi&lt;/h1&gt;
&lt;h3 class="article-byline"&gt;
Ester Lince Napitupulu&lt;/h3&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
&amp;nbsp;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;/span&gt;
                    &lt;/span&gt;
                &lt;/h4&gt;
&lt;div class="article-lead"&gt;
Membangun gerakan literasi untuk
 menumbuhkan minat baca sekaligus memberdayakan masyarakat sesungguhnya 
bisa dimulai dari hal sederhana. Muhsin Kalida (45), dosen di 
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, memulainya dengan 
mengajak masyarakat Dusun Nologaten, Caturtunggal, Depok, Kabupaten 
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyulap tempat pembuangan sampah di
 sekitar permukiman warga jadi perpustakaan masyarakat dengan konsep 
bangunan pos ronda.&lt;/div&gt;
&lt;aside class="article-pullout"&gt;&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="" class="article-image" id="portrait" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/a806e99d-8d63-4016-81f6-5938e9d150d9/193271?maxsidesize=300" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;Kompas/Ester Lince Napitupulu&lt;/span&gt;&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/aside&gt;


&lt;aside class="article-pullout article-biodata cf"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/aside&gt;

 Meskipun awalnya tidak mudah mengubah kebiasaan warga membuang sampah 
sembarangan di Sungai Gajahwong yang tidak jauh dari rumah Muhsin, pada 
2003 akhirnya bisa dibangun perpustakaan. Lokasinya, disatukan dengan 
pos ronda. Perpustakaan yang berisi buku koleksi Muhsin ini, dikenal 
dengan nama Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Cakruk Pintar.&lt;br /&gt;


 Kehadiran TBM Cakruk Pintar mampu mengubah kebiasaan masyarakat yang 
awalnya tak banyak bersentuhan dengan buku, jadi mulai suka membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;aside class="article-pullout article-biodata cf"&gt;
 &lt;h1 class="txt-blue"&gt;
  Muhsin Kalida&lt;/h1&gt;
&lt;h2 class="txt-label"&gt;
  LAHIR&lt;/h2&gt;
Tulungagung, 3 April 1970&lt;br /&gt;

 &lt;h2 class="txt-label"&gt;
  ISTRI&lt;/h2&gt;
Rumi Astuti (45)&lt;br /&gt;

 &lt;h2 class="txt-label"&gt;
  ANAK&lt;/h2&gt;
Aulia Aziz (15) dan Aufa Nuuruz Zahway (8)&lt;br /&gt;

 &lt;h2 class="txt-label"&gt;
  PENDIDIKAN&lt;/h2&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;
   S-1 Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Sunan Kalijaga (1977)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   Magister Bidang Psikologi Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (2004)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   Program Doktor di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Universitas Islam Internasional di Malaysia&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;h2 class="txt-label"&gt;
  PEKERJAAN&lt;/h2&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;
   Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah dan Komuniksi, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   Ketua Forum TBM Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;h2 class="txt-label"&gt;
  Buku karya Muhsin, ada 15 buku, antara lain:&lt;/h2&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;
   Budaya Santri Memang Ditinggalkan (2001)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   Sahabatku Anak Jalanan (2004)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   Konseling Islam; Solusi Problematika Anak dan Remaja (2007)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   Model Jaringan Kemitraan Taman Bacaan Masyarakat (2009)&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;h2 class="txt-label"&gt;
  PENGHARGAAN&lt;/h2&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;
   Pemuda Pelopor (2004)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   Motivator TBM Kreatif (2010)
   
  &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/aside&gt;&lt;br /&gt;


 Ibu rumah tangga yang sering berkumpul untuk menghabiskan waktu dengan 
merumpi, lama-lama mulai tertarik membaca buku. Apalagi di Cakruk Pintar
 tersedia buku-buku keterampilan yang mereka butuhkan, seperti buku 
masakan. Adapun para pria yang saat tugas ronda sibuk main kartu/gaplek,
 juga bisa mengisi waktu membaca buku-buku soal memelihara ikan.&lt;br /&gt;


 Anak-anak yang di sekolah hanya kenal buku pelajaran, saat datang ke 
Cakruk Pintar puas memilih bacaan mulai dari komik hingga novel. 
Kegiatan seusai pulang sekolah yang biasanya dihabiskan dengan bermain, 
kini anak-anak punya pilihan untuk main ke Cakruk Pintar sambil membaca 
buku. Bahkan, anak-anak remaja sering berkumpul di malam minggu untuk 
mengikuti pelatihan menulis atau &lt;em&gt;nonton&lt;/em&gt; film bersama.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
Sejak dua tahun belakangan, koleksi buku yang tadinya ditaruh di pos 
dipindahkan ke halaman rumah Muhsin. Hal ini untuk memudahkan 
pengawasan. Namun, keleluasaan warga untuk mengakses buku selama 24 jam 
tidak berubah. Sebab, rak-rak berisi buku ditaruh di teras dengan 
halaman yang tidak berpagar. Warga yang hendak membaca buku di TBM, bisa
 langsung melayani diri sendiri. Demikian pula bagi yang hendak meminjam
 buku untuk dibawa pulang ke rumah, tinggal mencatat di buku peminjaman.&lt;br /&gt;


 Menurut Muhsin, dirinya yang pindah ke Nologaten pada tahun 2001, ingin
 berbuat sesuatu ketika mengetahui lingkungan sekitar yang jorok dengan 
adanya tempat penampungan sampah sementara ilegal. Air lindinya 
mencemari sungai yang jernih.&lt;br /&gt;


 Sebagai pendatang, Muhsin hanya bisa menyampaikan ide untuk bersama 
masyarakat setempat, menyulap dusun kumuh jadi lahan pendidikan dengan 
mendirikan perpustakaan.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
Namun, ide itu tak begitu saja disambut dengan baik oleh warga 
setempat. ”Saya bukan melarang orang buang sampah di sana. Namun, dengan
 buat plang yang ditulis bahwa di sini akan dibangun perpustakaan, saya 
berharap warga bisa sadar. Dari tahun 2001, baru tahun 2003 bisa 
terwujud,” tutur Muhsin yang juga menjabat Ketua Forum TBM Daerah 
Istimewa Yogyakarta.&lt;br /&gt;


 ”Kalau cerita soal keluhan, saya jadi teringat sesuatu yang enggak 
enak, jadi terasa sedih. Saya mau cerita yang enak-enak saja soal TBM 
Cakruk Pintar. Ketika saya ditolak, lokasi bangunan dilempari oleh warga
 yang tidak suka, saya menikmati saja tantangan itu,” ujar Muhsin.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
Muhsin menyadari betul bahwa ajakan untuk mengubah pola pikir warga 
tentang lingkungannya pasti tidak mudah. Namun, dengan niat baik untuk 
membangun perpustakaan masyarakat, sekaligus mengembangkan program 
pemberdayaan, pada akhirnya berbuah manis. Kini, dukungan terhadap TBM 
Cakruk Pintar mengalir kuat.&lt;br /&gt;


 Apalagi TBM Cakruk Pintar sering mendapat kunjungan dari berbagai 
lapisan masyarakat di dalam dan luar negeri. Perpustakaan ini pun juga 
jadi tempat belajar yang terbuka bagi siswa maupun mahasiswa di sekitar 
Yogyakarta maupun yang hendak membangun perpustakaan komunitas.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
Hasilnya, pada 2010, TBM Cakruk Pintar mendapat anugerah TBM Kreatif 
dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebelumnya TBM ini juga 
dikunjungi peserta Jambore 1.000 Pendidik dan Tenaga 
Kependidikan–Pendidikan Non Formal pada 2009.&lt;br /&gt;

&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Tridaya&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;&lt;b&gt;
 &lt;/b&gt;Gerakan literasi yang digaungkan Muhsin yang cinta membaca ini, tak 
berhenti ketika masyarakat sudah mulai suka membaca. Dia ingin lebih 
jauh lagi bergerak dengan memberdayakan masyarakat. Ilmu yang didapat 
dari buku-buku yang dibaca warga mampu membekali mereka untuk melangkah 
maju.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
Dengan mengusung semangat tiga pemberdayaan, alias tridaya, kehidupan 
masyarakat memang bergerak maju. Pemberdayaan ekonomi yang diusung TBM 
Cakruk Pintar, membuat sejumlah warga di kampung ini punya kegiatan 
usaha kecil untuk meningkatkan penghasilan keluarga.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
Di bawah koordinasi istri Muhsin, perempuan warga dusun bisa 
mengembangkan usaha katering bersama. Program kewirausahaan TBM Cakruk 
Pintar berhasil melahirkan 40 pedagang pecel lele yang tersebar di 
banyak tempat. Di lokasi TBM Cakruk Pintar juga ada angkringan yang 
dikelola sukarelawan.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
Pengembangan kewirausahaan ini diperkuat lewat kegiatan zikir 
entrepreneurship. Pada kesempatan ini, dijadikan ajang untuk silaturahim
 dan berdoa bersama bagi keberhasilan usaha yang dikembangkan warga.&lt;br /&gt;


 Tridaya yang berkaitan dengan lingkungan sudah terbukti dengan 
berhentinya kebiasaan masyarakat membuang sampah di sungai. Lingkungan 
jadi asri, air sungai yang jernih bisa dimanfaatkan untuk membangun 
kolam ikan yang memberikan pendapatan bagi warga. Ada 15 kolam ikan yang
 dikelola warga dengan dukungan TBM Cakruk Pintar.&lt;br /&gt;


 Tridaya yang ketiga yakni peningkatan sumber daya manusia. TBM Cakruk 
Pintar punya beragam aktivitas yang menyenangkan dan memberdayakan. Ada 
program kepemimpinan, bengkel menulis, penerbitan, dan beragam aktivitas
 kreatif lainnya yang menyasar siswa, guru, maupun masyarakat umum.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
Muhsin juga menggagas wisata literasi ke Malaysia yang diikuti pegiat 
TBM dari berbagai daerah. Jaringan Mushin yang baik dengan Perpustakaan 
Nasional di Malaysia dimanfaatkan untuk belajar mengembangkan 
perpustakaan berbasis komunitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


                        &lt;div class="article-footnote"&gt;
                            &lt;span class="article-footnote-citation"&gt;Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Mei 2015, di halaman 16 dengan judul "Menggagas Gerakan Literasi".&lt;/span&gt;
                        &lt;/div&gt;
&lt;/article&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/09/muhsin-kalida-menggagas-gerakan-literasi.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-4184367695737967937</guid><pubDate>Wed, 16 Sep 2015 00:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-09-16T07:19:10.530+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">literasi</category><title>Tumbuhkan Kebiasaan Membaca di Keluarga </title><description>
    

    
    
    
        
            &lt;br /&gt;
&lt;article class=""&gt;
&lt;h4 class="article-keyword"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/h4&gt;
&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Tumbuhkan Kebiasaan Membaca di Keluarga&lt;/h1&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
&amp;nbsp;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;span class="num-readability"&gt;&lt;/span&gt;
                        &lt;/span&gt;
                    &lt;/span&gt;
                &lt;/h4&gt;
&lt;div class="article-lead"&gt;
&lt;span class="bold"&gt;YOGYAKARTA, KOMPAS&lt;/span&gt;
 —  Budaya membaca masih perlu ditingkatkan bagi masyarakat Indonesia. 
Salah satu caranya adalah dengan menumbuhkan kebiasaan membaca di 
keluarga oleh orangtua kepada anak-anaknya. Langkah ini diyakini efektif
 untuk menumbuhkan minat, kegemaran, hingga budaya baca.&lt;/div&gt;
"Mengajak
 anak untuk membaca buku bersama sejak kecil merupakan investasi yang 
berharga untuk masa depan anak. Kami menyambut senang jika 'Gerakan 
Membaca 10 Menit' didukung Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan 
Kebudayaan) supaya bisa diterapkan di semua keluarga," kata Heni 
Wardatur Rohmah, pendiri Taman Bacaan Masyarakat Mata Aksara, dalam 
acara seminar "Membangun Kebiasaan Membaca Anak sejak Dini" di Kabupaten
 Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (30/5).&lt;br /&gt;
Heni dan 
suaminya, Nuradi Indra Wijaya, mendirikan Taman Bacaan Masyarakat Mata 
Aksara untuk menumbuhkan kebiasaan membaca sejak kedua anak mereka dalam
 kandungan. Hingga kini, kedua buah hati mereka yang duduk di bangku SMP
 dan SD itu sangat suka membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
"Orangtua harus kreatif 
menciptakan suasana yang menyenangkan saat membaca sehingga 
lama-kelamaan membaca jadi kebutuhan anak. Membaca bersama dengan metode
 yang menyenangkan, misalnya dongeng, membuat anak lama-lama tertarik 
untuk membaca," tutur Heni.&lt;br /&gt;
Biasanya lewat permainan, anak usia 
dini lebih mudah untuk diajak menyukai buku. Namun, anak jangan dipaksa,
 tetapi dirangsang dengan hal-hal yang menarik.&lt;br /&gt;
Akbar Budiharto, 
Ketua Komite Pendidikan Anak Usia Dini An-Nuur, mengatakan, para 
orangtua memang ingin agar anak-anaknya membaca sejak kecil. Untuk itu, 
mereka perlu diberikan kiat agar bisa membangun kebiasaan tersebut 
sesuai perkembangan anak.&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Buku pelajaran&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Seminar
 juga menyoroti masalah anak-anak yang menjadi kurang suka membaca buku 
pelajaran setelah gemar membaca buku populer, seperti komik atau novel. 
Sebagian orangtua justru khawatir, kegemaran membaca justru bisa membuat
 anak lupa belajar.&lt;br /&gt;
"Para orangtua perlu diyakinkan bahwa hobi membaca anak justru bisa membantu mereka untuk mencerna pembelajaran," kata Nuradi.&lt;br /&gt;
Menurut
 Saiful Hadi, pendiri Taman Bacaan Masyarakat Luru Ilmu di Kabupaten 
Bantul, mengajak anak-anak untuk senang buku hendaknya jangan dengan 
paksaan. Orangtua perlu menyediakan sarana dan prasarana membaca di 
dekat anak-anak, yakni buku-buku yang menarik. "Dari pengalaman kami 
membangun TBM Luru Ilmu, anak-anak yang datang awalnya cuma suka 
bermain-main. Karena mereka selalu melihat buku saat bermain, lama-lama 
mereka mulai tertarik dan membaca," ujarnya. &lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Tradisi menulis&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Secara
 terpisah, pendidik dari Universitas Negeri Makassar, Patta Bundu, 
menyatakan, banyak mahasiswa di perguruan tinggi yang kesulitan 
menuangkan ide-idenya dalam tulisan karena tidak terbiasa menulis dengan
 kata-kata sendiri. Jika sejak sekolah dasar dibiasakan menulis, para 
siswa akan terbiasa mengekspresikan ide-idenya dalam tulisan. Hal 
tersebut disampaikan dalam Pelatihan Nasional Fasilitator Pembelajaran 
dan Manajemen Berbasis Sekolah untuk SD/MI di Bandung, Jawa Barat, Sabtu
 (30/5).&lt;br /&gt;
&lt;div class="credit"&gt;
(ELN/DMU)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="credit"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-footnote"&gt;
                            &lt;span class="article-footnote-citation"&gt;Versi
 cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 1 Juni 2015, di halaman
 12 dengan judul "Tumbuhkan Kebiasaan Membaca di Keluarga".&lt;/span&gt;
                        &lt;/div&gt;
&lt;/article&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/09/tumbuhkan-kebiasaan-membaca-di-keluarga.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-8201140426780928437</guid><pubDate>Wed, 16 Sep 2015 00:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-09-16T07:15:43.906+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Lonceng Kematian Ilmu Pendidikan | Conny R Semiawan</title><description>
    

    
    
    
        
            &lt;br /&gt;
&lt;article class=""&gt;
                &lt;h1 class="article-headline"&gt;
Lonceng Kematian Ilmu Pendidikan&lt;/h1&gt;
&lt;h3 class="article-byline"&gt;
Conny R Semiawan&lt;/h3&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
&amp;nbsp;Pada 7 Mei 2015, Universitas 
Negeri Jakarta mengadakan pertemuan bedah buku karya teman terbaik, Prof
 HAR Tilaar. Dalam pertemuan tersebut, antara lain, konsep ilmu 
pendidikan dipersoalkan, khususnya untuk bangsa Indonesia. Persoalan 
tersebut terefleksikan dalam judul buku.&lt;/h4&gt;
Berikut analisis penulis.&lt;br /&gt;


 Sebagai seorang pendidik di Indonesia, perlu diutarakan dan dibuktikan 
bahwa pernyataan yang tertera dalam judul itu salah. Selain itu, perlu 
diinformasikan, perkembangan ilmu pendidikan, sebagaimana sudah terjadi 
sekarang, belum sepenuhnya disadari oleh tokoh-tokoh tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Tantangan dari teori pendidikan yang modern adalah dipersoalkannya 
interpretasi dari orientasi intrinsik di perbatasan efek dari 
modernisasi dalam perkembangan sosial masyarakat. Diperlukan kesadaran 
baru setelah merefleksikan secara obyektif efek modernisasi terhadap 
kehidupan serta diperlukan sikap baru terhadap realitas kehidupan 
ataupun terhadap diri sendiri (Semiawan, C, 2011).&lt;br /&gt;


 Ilmu pendidikan yang mekar di dunia sekarang adalah &lt;em&gt;neuro-education&lt;/em&gt;. Tulisan penulis pernah dimuat di &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt; (17/2/2011) yang berjudul ”&lt;em&gt;Neuro-education&lt;/em&gt;,
 Orientasi Baru dalam Ilmu Pendidikan”. Pendapat penulis bertolak dari 
premis bahwa manusia memiliki kemampuan tidak terbatas untuk belajar (&lt;em&gt;limitless capacity to learn&lt;/em&gt;) sehingga memiliki kemampuan luarbiasa untuk menciptakan hal-hal yang bersifat baru.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Neuro-education didukung oleh berbagai penelitian ilmiah neuroscience 
(Zimmer, 2011). Tahun 1990, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi 
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah mengakui eksistensi ilmu 
pendidikan sebagai salah satu ilmu dari 11 ilmu di kalangan ilmuwan di 
Indonesia secara resmi dan nyata.&lt;br /&gt;


 Saya mengutip gagasan tersebut dari tulisan saya di kesempatan lain yang menjadi sumber dari perkembangan pandangan ini.&lt;br /&gt;

&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
Riset ”neuroscience”&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Beribu gagasan tentang belahan otak kiri dan belahan otak kanan (&lt;em&gt;hemisplurectomies&lt;/em&gt;)
 telah membuktikan betapa lentur
 otak kita dalam menghadapi perubahan luar biasa di lingkungan dengan 
cara menyesuaikandiri. Dalam perkembangan manusia, ini adalah satu di 
antara banyak kemungkinan janji &lt;em&gt;neuroscience research&lt;/em&gt; dalam perkembangan otak manusia pada masa datang.&lt;br /&gt;


 Dengan menjelajahi ciri-ciri kelenturan otak itu, diharapkan akan ada temuan betapa otak tersebut berkembang dan &lt;em&gt;vice versa&lt;/em&gt; memengaruhi efek perkembangan manusia. Apabila perubahan itu terjadi, beberapa kejadian tertentu bisa mengakibatkan trauma.&lt;br /&gt;


 Para peneliti juga telah mengkaji sensor khusus yang mendeteksi, 
memantau, menganalisis neuron tunggal yang berinteraksi dengan impuls 
yang lain untuk berkomunikasi dengan cara-cara elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Dalam berbagai penelitian otak ini, aspek yang ikutmenentukan 
perkembangan baikini adalah gizi yang jitu. Ini juga akanmemengaruhi 
aktivitasbelajar. Lebih dari itu, penelitian ini juga menunjukkan 
aktivitas yang baik tidak hanya mengubah fungsi otak, tetapi juga fungi 
struktur kognitif terkait (Jensen, 2006).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Belajar tidak saja memperkuat hubungan yang sudah ada, tetapi membentuk
 juga sel-sel baru yang terintegrasi dengan kemampuan yang sudah ada. 
Kelenturan otak menambah pengertian perkembangan dalam menjelaskan 
fungsi-fungsinya.&lt;br /&gt;


 Hasil penelitian &lt;em&gt;neuroscience&lt;/em&gt; memiliki implikasi jamak yang tidak saja memengaruhi praktik pendidikan, tetapi juga perkembangan &lt;em&gt;science&lt;/em&gt; itu sendiri dan menjadi orientasi baru dalam pedagogi yang kini disebut &lt;em&gt;neuro-education. &lt;/em&gt;Sekaligus
 penelitian ini menunjukkan bahwa otak dengan kelenturannya memiliki 
dampak luar biasa terhadapkehidupan sehari-hari (Semiawan, C, 2011). 
Dalam penelitian tersebut juga disimpulkan bahwa manusia dilahirkan 
tidak untuk bertahan hidup saja, tetapijuga dilahirkan dengan otakyang 
berubah, berkembang, dan belajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Kebutuhan terhadap pembelajaran ini didesain bukan hanya berdasarkan &lt;em&gt;how to survive&lt;/em&gt;
 dan menyesuaikan diri pada lingkungan, melainkan untuk belajar berpikir
 sedemikian sehingga mampu menemukan hal-hal yang baru. Ini terkait 
dengan asumsi bahwa manusia memiliki kemampuan tiada terbatas untuk 
menemukan hal-hal yang baru.&lt;br /&gt;


 Semoga pembelajaran yang dapat diberikan kepada anak-anak kita 
memberikan kemungkinan itu sehingga menggapai kemampuan yang tak 
terhingga yang muncul dari temuan-temuannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Merumuskan konsep&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Suatu &lt;em&gt;appeal&lt;/em&gt; pada Akademi Ilmu Pengetahuan adalah 
menyelenggarakan pertemuan antara beberapa tokoh pendidikan senior dan 
ilmuwan lain yang berminat untuk mendiskusikan masalah dan berbagai 
pendapat yang bertentangan ini, mencari rumusan yang dapat diterima oleh
 banyak pihak mengenai hakikat konsep pedagogik untuk bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;


 Pendapat yang lain mengacu pada konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara 
yang bersumber dari kehidupan politik dan budaya Indonesia. Namun, 
pendapat yang disebut di atas menunjuk pada pendidikan internal (&lt;em&gt;inward oriented&lt;/em&gt;,&lt;em&gt; intrinsic education&lt;/em&gt;) yang juga adalah pemikiran Ki Hajar Dewantara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Pendidikan internal bersumber pada kehidupan &lt;em&gt;from within&lt;/em&gt;, yang disebut &lt;em&gt;neuro-education,&lt;/em&gt;
 berbeda dari dan bersumber dari perumusan ilmu kehidupan politik 
pendidikan serta membangun konsep teoretis dari kehidupan yang paling 
dalam diri seseorang (&lt;em&gt;selfhood&lt;/em&gt;) karena mampu menyatukan rasio dan emosi (&lt;em&gt;amygdala&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;


 Ini berarti dampak &lt;em&gt;post-modernism&lt;/em&gt; yang adalah wawasan tentang 
peta kompleksitas pemikiran dan praktik intelektual yang kebenarannya 
bertolak dari rasio dan pengetahuan melalui pengalaman menuntut kita 
memahami esensi pendidikan yang adalah pengembangan penalaran tentang 
apa yang diketahui dan yang belum diketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Perjuangan manusia mencapai &lt;em&gt;equilibrium&lt;/em&gt; antara &lt;em&gt;what is&lt;/em&gt;, atau sebagaimana adanya, dan &lt;em&gt;what should&lt;/em&gt;, yaitu sebagaimana seharusnya terjadi. Juga antara mempertahankan hidup (&lt;em&gt;how to survive&lt;/em&gt;) dan berkembang (&lt;em&gt;how to develop&lt;/em&gt;) menjelajahi dunia dan mengembangkan kreativitasnya dengan selalu menemukan keterkaitan (&lt;em&gt;connection&lt;/em&gt;)
 antara hal-hal yang signifikan baginya, yaitu manusia atau makhluk lain
 (umpama: kucing, burung), ataupun profesi, mimpi, atau cita-cita.&lt;br /&gt;


 Itulah tugas manusia yang dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa kemampuan berpikir ke depan (&lt;em&gt;foresight&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div class="credit"&gt;
&lt;b&gt;Conny R Semiawan,&lt;/b&gt; Guru Besar Emeritus pada Program 
Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta dan Guru Besar Luar Biasa pada 
Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
                        &lt;/div&gt;
&lt;div class="article-footnote"&gt;
                            &lt;span class="article-footnote-citation"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-footnote"&gt;
&lt;span class="article-footnote-citation"&gt;Versi
 cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 September 2015, di 
halaman 7 dengan judul "Lonceng Kematian Ilmu Pendidikan".&lt;/span&gt;
                        &lt;/div&gt;
&lt;/article&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/09/lonceng-kematian-ilmu-pendidikan-conny.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-886101626160043190</guid><pubDate>Wed, 16 Sep 2015 00:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-09-16T07:12:31.013+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Childrens literature</category><title>Minat Baca Anak Masih Rendah</title><description>&lt;article class=""&gt;
                &lt;h1 class="article-headline"&gt;
Minat Baca Anak Masih Rendah&lt;/h1&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
                    &lt;span class="col-2-ng"&gt;
                        
                        &lt;span class="article-date-details"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;span class="num-readability"&gt;&lt;/span&gt;
                        &lt;/span&gt;
                    &lt;/span&gt;
                &lt;/h4&gt;
&lt;span class="bold"&gt;JAKARTA, KOMPAS&lt;/span&gt; —  -
 Hingga sekarang minat baca pada anak-anak di Indonesia masih rendah. 
Untuk itu, perlu adanya pendekatan yang dapat menarik minat anak-anak 
kepada buku, salah satunya lewat mendongeng.&lt;br /&gt;
&lt;aside class="article-pullout"&gt;&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="Anak-anak bermain dan membaca buku di taman bacaan  di Pasar Manggis, Jakarta Selatan, Rabu (19/8). Hingga sekarang minat baca pada anak-anak di Indonesia masih rendah. " class="article-image" id="portrait" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/48d65f8b-2ef5-4fb4-b433-a7aef2108b61/228960?maxsidesize=300" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;KOMPAS/PRIYOMBODO&lt;/span&gt;Anak-anak
 bermain dan membaca buku di taman bacaan  di Pasar Manggis, Jakarta 
Selatan, Rabu (19/8). Hingga sekarang minat baca pada anak-anak di 
Indonesia masih rendah. &lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/aside&gt;Terkait 
dengan persoalan tersebut, akan digelar Festival Storytelling 
Internasional bertajuk "The First Indonesia Internasional Storytelling 
Festival 2015"  pada 10-11 Oktober 2015. Acara ini bertujuan untuk 
memopulerkan mendongeng serta meningkatkan minat baca anak-anak. &lt;br /&gt;
"Anak-anak
 dapat menikmati alur cerita dengan senang. Itu juga metode yang efektif
 untuk menyampaikan pesan dalam cerita," kata Ketua Panitia Pelaksana 
BookStech 2015, Rismadhani Chaniago.  &lt;br /&gt;
Selama ini, 
banyak orangtua yang menganggap berdongeng butuh keterampilan khusus. 
Akibatnya, mereka enggan mendongengkan cerita rakyat pada anak-anak. 
Padahal, mendongeng bisa dilakukan oleh siapa pun. &lt;br /&gt;
"Orangtua
 perlu diajak untuk membiasakan dongeng sebelum tidur. Mereka bisa 
mengarang cerita atau membacakan buku cerita pada anak," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal
 itu penting karena dapat meningkatkan kreativitas anak serta melatih 
anak untuk rajin membaca buku. "Mereka terlatih berimajinasi. Anak juga 
dekat dengan buku setiap hari," ujarnya. &lt;br /&gt;
Menurut dia, para
 pendongeng yang akan berpartisipasi dalam acara tersebut, di antaranya 
artis, guru, duta besar, serta pendongeng profesional. Tema cerita yang 
diusung adalah "Love Our Environment". &lt;br /&gt;
Selain dongeng, 
anak-anak juga dapat menikmati pertunjukan musik dan tari dari berbagai 
negara yang berpartisipasi, diantaranya India dan Singapura. &lt;br /&gt;
Lewat
 acara tersebut, donasi berupa buku-buku bacaan juga akan dikumpulkan. 
Buku-buku itu akan disumbangkan ke berbagai perpustakaan daerah. &lt;br /&gt;
"Masyarakat yang datang ke acara ini tidak dikenai biaya, tetapi diminta menyumbang dua buku bacaan," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-media-container-split cf"&gt;
&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="Anak-anak peserta puncak peringatan Hari Anak Nasional mendengarkan dongeng di stan Kampung Dongeng di Istana Bogor, Jawa Barat,  Selasa (11/8). " class="article-image" id="landscape" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/d1ce116b-f864-4074-a6fd-214b87fc4461/228961?maxsidesize=315" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;KOMPAS/WISNU WIDIANTORO&lt;/span&gt;&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="Pengunjung Perpustakaan Umum Daerah Provinsi DKI Jakarta memilih buku-buku koleksi perpustakaan tersebut, Jumat (21/8). Minat warga membaca buku masih rendah. Menurut data UNESCO tahun 2012, indeks minat baca penduduk Indonesia hanya 0,0001. Itu berarti dari setiap 1.000 penduduk hanya 1 orang yang membaca buku." class="article-image" id="landscape" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/4f0a039d-96f5-4ed4-9799-2c3385f3cdbc/228962?maxsidesize=315" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;KOMPAS/YUNIADHI AGUNG&lt;/span&gt;&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/div&gt;
Kepala
 Biro Pendidikan dan Mental Spiritual Provinsi DKI Jakarta Ahmad Gozali 
mengatakan, tema yang diusung dalam acara ini sejalan dengan program 
pemerintah untuk mengajarkan anak cara menjaga lingkungannya. &lt;br /&gt;
Festival
 ini dapat menanamkan kecintaan pada lingkungan. "Anak-anak bisa 
diajarkan untuk membuang sampah pada kotak sampah, membersihkan rumah, 
serta bergotong royong," katanya.&lt;br /&gt;
Ia menilai, perkembangan 
teknologi membuat para orangtua jarang bercerita atau mengobrol dengan 
anak-anak di rumah. Akibatnya, banyak anak-anak yang lebih akrab dengan 
teman di media sosial daripada keluarga di rumah. &lt;br /&gt;
Hal itu 
berdampak buruk pada mental anak jika tidak terpantauan oleh orangtua. 
"Kalau tidak ada komunikasi antarkeluarga, anak bisa jadi lebih 
tertutup," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Ahmad, pemerintah juga aktif 
mendorong menumbuhkan minat baca di kalangan anak-anak dengan mengadakan
 perpustakaan keliling, membagikan buku gratis, dan menyediakan 
pustakawan yang ramah untuk melayani pembaca. &lt;br /&gt;
Fetty Shinta
 dari Produksi Film Negara, menuturkan, pihaknya akan berpartisipasi 
dalam acara itu dengan menampilkan Panggung Si Unyil. Saat ini, pihaknya
 tengah menproduksi film animasi &lt;em&gt;Si Unyil&lt;/em&gt; yang akan tampil di layar televisi. &lt;br /&gt;
"Rencananya, film animasi itu akan dirilis Februari 2016 untuk anak-anak di Indonesia," katanya. &lt;br /&gt;
Subaksini,
 perwakilan Biro Kebudayaan India, Kedutaan Besar India untuk Indonesia,
 menuturkan, pihaknya berencana menampilkan kisah Mahabarata dan Krisna 
dalam bentuk dongeng. &lt;br /&gt;
Selain itu, berbagai tarian India 
untuk anak-anak juga akan ditampilkan. "Kami akan memperkenalkan legenda
 dan kebudayaan India untuk anak-anak Indonesia, ujar Subaksini. (B08)&lt;br /&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
                    &lt;span class="col-2-ng"&gt;
                        
                        &lt;span class="article-date-details"&gt;Siang&amp;nbsp;|&amp;nbsp;&lt;time datetime="2015-08-21T15:50:32"&gt;21 Agustus 2015 &lt;span class="marker-time-red"&gt;15:50 WIB&lt;/span&gt;&lt;/time&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span class="num-readability"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;span class="num-readability"&gt;&lt;/span&gt;
                        &lt;/span&gt;
                    &lt;/span&gt;
                &lt;/h4&gt;
&lt;/article&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/09/minat-baca-anak-masih-rendah.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-7985487262511881570</guid><pubDate>Tue, 08 Sep 2015 02:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-09-08T09:32:45.744+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerpen kompas</category><title>Cerpen: Namaku Yuri Mashdar Zainal</title><description>&lt;br /&gt;

                
 &lt;br /&gt;
&lt;div class="article-lead"&gt;
Semula, aku hanya sebuah patung lilin yang 
dipahat seorang lelaki yang patah hati. Akulah satu-satunya patung 
paling sempurna yang pernah ia pahat. Patung yang ia serupakan dengan 
wajah seorang gadis cantik yang ia gilai. Ia memahatku tepat pada hari 
ulang tahun gadis itu. Dan pahatan terakhir adalah pada bagian bibir. 
Selesai tepat pukul tiga dini hari. Ini bagian tersulit, dan ini bagian 
terindah. Oh, bagaimana Tuhan menciptakannya?&lt;/div&gt;
&lt;aside class="article-pullout"&gt;&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="Karya: Adinda Maya" class="article-image" id="portrait" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/76d3084a-5e5b-492a-8b8b-4957b42aadb1/235070?maxsidesize=300" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;&lt;/span&gt;Karya: Adinda Maya&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/aside&gt;

 Pukul tiga dini hari lebih beberapa detik. Lelaki itu memasang wig yang
 sudah ia siapkan. Lantas mengusap bibir patung pahatannya, mengoleskan 
lipstik merah muda. Sewarna bibir alami. Dan menyesapnya. Seperti orang 
lupa diri. Warna merah muda itu pun berpindah ke bibirnya. Selamat ulang
 tahun, Sayang, bisiknya. Selamat hari jadi.&lt;br /&gt;


 Gadis itu bernama Yuri. Aku tahu nama itu karena ia juga memberiku nama
 itu: Yuri. Kulitnya selembut krim susu dan matanya sesipit biji kuaci. 
Nenek buyut Yuri adalah perempuan Jepang, dan karenanya Yuri memiliki 
sedikit aroma Jepang. Aku tahu seperti apa Yuri ketika lelaki itu 
membawaku ke depan cermin. Sempurna, kau sempurna, gumamnya. Ya, 
sempurna, aku memang sempurna. Aku tahu perihal nasab keturunan Yuri 
karena lelaki itu menceritakannya padaku. Lelaki itu tahu segala sesuatu
 tentang Yuri, seolah ia ibu yang melahirkannya. Atau sosok yang 
menciptakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;


 Lelaki itu kerap mengajakku bercakap. Tentang apa saja. Tentang dunia 
dan kehidupan. Tentang kisah-kisah yang tak dikenal. Tentang cerita 
romantisme yang dangkal. Tapi cerita paling banyak—yang ia ceritakan 
adalah cerita tentang Yuri. Cerita tentangku sendiri.&lt;br /&gt;


 Kau tahu, Yuri menyukai kenanga, ia menatap wajahku, tepat di mata, dan
 aku pun jadi menyukai kenanga. Padahal aroma kenanga selalu membuat 
kepalaku pusing. Aku tahu, diam-diam Yuri suka memetik bunga kuning muda
 itu dari pohon kenanga kerdil di tikungan jalan dekat kampus. Pohon itu
 hampir mati karena tak ada yang mengurus, maka diam-diam pula, aku 
selalu membawa botol air mineral dari rumah dan menyiramkannya ke pohon 
itu setiap kali melewatinya. Bunga itu harus terus mekar untuk Yuriku.&lt;br /&gt;


 Lelaki itu tampak bangga. Seperti kuncup yang mengembang oleh sinar 
matahari pagi. Setiap kali bercerita tentang Yuri, ia memang selalu 
bangga. Seolah, semua hal yang ia lakukan secara diam-diam itu akan 
membantunya. Aku benar-benar tak paham. Cara lelaki itu mengagumi Yuri 
membuatku berpikir bahwa jatuh cinta berarti jatuh tolol.&lt;br /&gt;


 Maukah kau menikah denganku, Manis? Suatu ketika, tiba-tiba lelaki itu 
berlutut di hadapanku. Dengan sebuah cincin dan setangkai mawar. Sejak 
pertama aku sudah menduga: lelaki itu gila.&lt;br /&gt;


 Kita akan menikah dan memiliki tiga anak, ungkapnya lagi. Kita akan 
membangun rumah di perkampungan, di kaki gunung. Kita akan beternak itik
 dan memelihara koi. Kita akan menanam mentimun juga paprika. Apa kau 
mau menikah denganku, Manis? Lelaki itu menciumku. Mencium bibir patung 
yang bisu—untuk kesekian kalinya. Tentu saja aku hanya diam. Aku hanya 
seonggok patung. Patung yang nahas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Ia memang kelewat bodoh. Dan ia seorang pengecut sejati. Ia mengagumi 
Yuri dari kejauhan dan tak pernah berani mendekat. Ia tahu segala 
tentang Yuri, tapi Yuri, bahkan mungkin tak tahu siapa namanya. Ia lebih
 menyedihkan dari seekor pungguk yang merindukan bulan. Ia lebih 
menyedihkan dari perumpamaan apa pun.&lt;br /&gt;


 Setiap hari lelaki bodoh itu membawa sesuatu yang berhubungan dengan 
Yuri dan menyematkannya di tubuhku. Kalung, gelang, cincin, pakaian yang
 sama dengan yang dipakai Yuri, mengubah tatanan rambut, dan 
seterusnya.... Hari ini Yuri mengenakan pita yang serupa bunga ilalang 
di rambutnya, cantik sekali…. Aku sudah mencari pita yang seperti itu ke
 mana-mana, tapi tak mendapatkannya, aku minta maaf, untuk kesekian kali
 pula lelaki bodoh itu berkata padaku. Dan aku tetaplah patung, yang 
terus bisu namun terus tersenyum—lelaki itu merancangku begitu: terus 
tersenyum. Senyum yang terinspirasi dari senyuman seorang bidadari 
bernama Yuri.&lt;br /&gt;


 Dalam hitungan tahun aku menemani lelaki bodoh itu. Dan aku tak tahan 
lagi. Aku menyesal menjadi patung yang bisa memikirkan sesuatu, melihat 
sesuatu, mendengar sesuatu, tapi tak bisa bergerak ataupun mengatakan 
sesuatu. Barangkali keadaanku sama menyedihkannya dengan lelaki itu, 
lelaki yang memahatku.&lt;br /&gt;


 Hingga suatu malam, setelah hampir seharian tidak menampakkan muka 
naifnya, lelaki itu pulang dengan langkah terseret dan raut rupa 
menyedihkan. Ia berdiri di hadapanku dengan tatapan mengerikan. Matanya 
seperti sepasang samurai yang siap menebas leherku, mencincang tubuhku. 
Kau mengkhianatiku, Yuri, kau mengkhianatiku, dengus napasnya penuh 
kekecewaan. Aromanya berkelebat
 dendam.&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-media-container"&gt;
&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;br /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/div&gt;
Rupanya, hari itu, Yuri dipinang seorang lelaki Jepang yang tampan dan 
tidak pengecut. Konon, lelaki itu akan segera memboyong Yuri ke Jepang. 
Mereka berencana menikah pada bulan-bulan ketika sakura bermekaran 
(membayangkan hal-hal indah seperti itu terkadang membuatku ingin hidup,
 menjadi manusia seutuhnya—dan bukan hanya seonggok patung). Lelaki 
pengecut itu tahu semuanya, dan ia menceritakannya padaku. Lelaki Jepang
 itu, ia merebut Yuriku, ia merebut Yuriku, ia membawa lari Yuriku, ia 
merengek seperti anak kecil. Ia merebutmu dariku, ia membawamu lari. 
Kenapa kau diam saja, Yuri, bicaralah, katakanlah sesuatu, ia yang sudah
 gila semakin gila.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Aku menatapnya penuh kejenuhan. Saat itu aku berharap tubuhku meledak 
dan penderitaanku sebagai patung segera berakhir. Aku menyumpahi lelaki 
itu, Yuri bukan milikmu. Kau hanya lelaki tolol, kau tak pantas untuk 
Yuri. Bahkan aku, seonggok patung yang tak bisa apa-apa ini, takkan sudi
 menerima lelaki menyedihkan sepertimu. Tuhan memberimu banyak waktu 
untuk mengenal Yuri lebih dekat dan mengungkapkan perasaanmu, dan kau 
malah memilih berbicara dengan patung sepanjang hari, sepanjang tahun. 
Apa itu namanya kalau bukan tolol? Sebaiknya kau pergi saja ke neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Dengan air mata yang membasahi wajahnya, tiba-tiba ia mengangkat 
tubuhku, membaringkanku di atas ranjang. Ingatlah! Aku masih patung yang
 tak bisa menolak apa pun. Lelaki itu menangis, sambil terus 
memandangiku. Memelukku. Menciumku. Bibirnya bergumam, Yuri, Yuri, 
Yuri…. beberapa menit kemudian ia beranjak entah ke mana dan kembali 
dengan sebilah pisau pemotong kertas. Ia mengiris nadinya sendiri dan 
memeluk tubuhku lebih erat lagi.&lt;br /&gt;


 Darah meleleh membasahi dadaku, tepat di tempat hati seseorang 
tersemat. Tempat segala sesuatu terasa. Lelaki itu pernah bilang, di 
situlah tempatnya, sebuah benda berwarna merah tua. Benda yang acap kali
 menyengsarakan manusia. Seperti dirinya. Aku tak berkutik. Diapit 
lengan lelaki itu. Hingga pada detik kesekian, pelukan lelaki itu 
melonggar. Ia terkulai tanpa daya, memeluk patung pahatannya, memeluk 
Yurinya.&lt;br /&gt;


 Ketika lelaki itu mengembuskan napas terakhirnya, udara hangat dan 
panjang seperti berkelebat menyentak pipiku. Sesuatu mulai menghentak, 
mendesak, memasuki tubuhku. Aku tergagap. Sesuatu yang hangat menyembul 
di antara mulut dan ujung hidungku. Apa aku mengembuskan napas 
pertamaku? Apakah ini yang disebut bernapas? Tubuhku menghangat. Seperti
 tanah basah yang dirayapi matahari pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Darah lelaki itu telah melekat di tubuhku. Partikel-partikel paling 
kecil mulai meresap ke kedalaman, perlahan-lahan. Dan sesuatu di balik 
dadaku mulai berdetak. Cuping hidungku mulai mengendus. Sepasang 
tungkaiku mulai menggeliat. Jari-jemariku mulai bergerak. Kedua mataku 
mulai berkedip. Dan….&lt;br /&gt;


 ”Yuri,” aku pun mulai bisa mengatakan sesuatu, ”Namaku Yuri.”&lt;br /&gt;


 Aku bangkit, menyingkirkan lengan lelaki itu dan beranjak ke depan 
cermin. Aku tak percaya. Aku bisa menyentuhnya. Tubuh itu. Mata itu. 
Bibir itu. Aku pun berujar lagi, ”Kau Yuri. Namamu Yuri.”&lt;br /&gt;


 Ya, kau Yuri. Namamu Yuri. Dan aku mengagumimu.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
Malang, 2015&lt;br /&gt;


 Karya: Adinda Maya
                        &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/09/cerpen-namaku-yuri-mashdar-zainal.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-1128676366341498737</guid><pubDate>Thu, 06 Aug 2015 03:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-08-06T10:17:36.372+07:00</atom:updated><title>ARIEL HERYANTO: Identitas "Asli" Adalah Fiksi</title><description>&lt;h4 class="article-keyword"&gt;
ARIEL HERYANTO&lt;/h4&gt;
&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Identitas "Asli" Adalah Fiksi&lt;/h1&gt;
&lt;h3 class="article-byline"&gt;
Maria Hartiningsih&lt;/h3&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
&amp;nbsp;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;span class="num-readability"&gt;&lt;/span&gt;
                        &lt;/span&gt;
                    &lt;/span&gt;
                &lt;/h4&gt;
&lt;div class="article-lead"&gt;
Indonesia telah diberkahi, tak 
hanya oleh kekayaan kemasyarakatan dan kebudayaan, tetapi juga oleh 
sejarah panjang perkembangan gagasan yang cemerlang.&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-media-container"&gt;
&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&amp;nbsp;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/div&gt;
Berbagai gagasan ini merupakan hasil persaingan sekaligus percampuran 
berbagai pandangan dari orang-orang berwawasan kosmopolitan yang 
berupaya menjelajahi bentuk lokal modernitas &lt;em&gt;hybrid&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;


 ”Sayangnya sejak pertengahan abad lampau, kekayaan budaya ini banyak 
yang telah dihapus dari sejarah resmi ingatan bersama,” ujar Prof Ariel 
Heryanto (61), peneliti, pengajar pada Jurusan Budaya, Sejarah dan 
Bahasa, College Asia-Pasifik, The Australian University, di Canberra, 
Australia.&lt;br /&gt;



&lt;aside class="article-pullout article-biodata cf"&gt;
&lt;h1 class="txt-blue"&gt;
Prof Ariel Heryanto&lt;/h1&gt;
&lt;h2 class="txt-label"&gt;
Pekerjaan:&lt;/h2&gt;
Pengajar dan peneliti pada Jurusan Budaya, Sejarah dan Bahasa, 
College Asia-Pasifik, The Australian University (ANU) di Canberra, 
Australia, sejak tahun 2009, University of Melbourne (2000-2008), The 
National University of Singapore (1996-1999)&lt;br /&gt;

 &lt;h2 class="txt-label"&gt;
Pendidikan:&lt;/h2&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;PhD Antropologi Budaya, Monash University (1994)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;MA Kajian Asia, University of Michigan, AS (1984)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sarjana Pendidikan UKSW (1980)&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;h2 class="txt-label"&gt;
Cakupan Penelitian dan Mengajar:&lt;/h2&gt;
Kajian budaya, budaya pop, media massa, politik identitas, kelas menengah perkotaan, analisis wacana, kekerasan politik&lt;br /&gt;

 &lt;h2 class="txt-label"&gt;
Karya:&lt;/h2&gt;
sembilan buku, di antaranya, Popular Culture in Indonesia: Fluid 
Identities in Post-Authoritarian Politics (2008), State Terrorism and 
Political Identity in Indonesia: Fatally Belonging (2006), 600-an 
artikel di media dan majalah di Indonesia, Hongkong, dan Thailand, 
bab-bab dalam 45 buku, 29 tulisan di jurnal di Indonesia dan luar 
negeri, pembicara dan pembicara utama dalam 47 konferensi internasional 
sejak tahun 1997&lt;br /&gt;

       
&lt;/aside&gt;

 Itulah pesan utama bukunya, &lt;em&gt;Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia&lt;/em&gt; (KPG, 2015), hasil terjemahan kritikus film Eric Sasono dari buku &lt;em&gt;Identity and Pleasure: The Politics of Indonesia Screen Culture&lt;/em&gt; (NUS Press, 2014).&lt;br /&gt;


 Ariel ditemui seusai peluncuran bukunya di Jakarta, awal Juli 2015.&lt;br /&gt;

&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Merongrong ideologi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;&lt;b&gt;
 &lt;/b&gt;Menurut Ariel, warisan budaya itu telah menjadi sasaran serangan 
kelompok modernis yang bersaing dan berupaya memaksakan batasan sempit 
tentang makna menjadi Indonesia. Untungnya, serangan terhadap kekayaan 
sejarah dan keragaman Indonesia tidak pernah sepenuhnya berhasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 &lt;i&gt;Apa yang ingin ditunjukkan buku itu?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;


 Betapa kaya dan hebat Indonesia karena kemajemukannya. Masalah serius 
terjadi, ketika ada sebagian aliran modernis tak hanya memuliakan 
kemurnian-keaslian, tetapi juga merendahkan, memusuhi, dan menyerang 
yang dianggap kurang, tidak asli atau murni. Secara garis besar, 
modernisme punya kecenderungan tidak toleran pada yang &lt;em&gt;hybrid&lt;/em&gt;. Sikap intoleran ini ditunjukkan oleh sebagian aliran agama dan ideologi yang modernis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 &lt;i&gt;Bagaimana dengan kekuatan dominan yang menindas atas nama apa pun?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;


 Semata-mata menjadi &lt;em&gt;hybrid&lt;/em&gt; dan menyadari hal itu tak akan 
mampu menghapuskan ketimpangan sosial, tetapi hibriditas punya daya 
tarik dalam masyarakat modern terakhir karena berbakat menjadi alat 
perlawanan.&lt;br /&gt;


 Banyak penindasan besar-besaran didasarkan pada suatu fiksi tentang 
identitas yang otentik, asli, atau murni. Dalam masyarakat kolonial 
Belanda, ada fiksi tentang ke-Eropa-an yang dianggap sama dengan 
peradaban tinggi dan modernitas. Fiksi ini dijadikan dasar membenarkan 
ketimpangan dan penindasan kolonial, tidak hanya berdasarkan warna kulit
 atau keturunan, tetapi juga pendidikan dan gaya hidup ke-Eropa-an.&lt;br /&gt;


 Di masa dekolonisasi, orang mengesahkan diskriminasi sosial dan 
berbagai kekerasan politik, berdasarkan siapa yang lebih atau paling 
”nasionalis”. Tahap selanjutnya, dipersempit menjadi etno-nasionalisme, 
yakni ke-pribumi-an yang dianggap paling atau lebih nasionalis sejati 
atau murni. Di zaman Orde Baru, diskriminasi itu masih ditambah politik 
superioritas maskulin, premanisme dan militerisme.&lt;br /&gt;


 Dalam berbagai masyarakat, yang digunakan sebagai pembenar ketimpangan 
sosial dan penindasan adalah kemurnian dan keabsahan beragama, beda 
jenis kelamin dan orientasi seksual, bahasa, warna kulit, kebangsawanan,
 pendidikan, modal material, dan seterusnya. Kesadaran akan hibriditas 
membantu merongrong omong kosong tentang identitas otentik.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Identitas banyak dibahas, tetapi kenikmatan dianggap ”non-issue”...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;


 Tak semua orang berpolitik itu selalu bersikap serius. Sebaliknya, yang
 tampak main-main bisa punya kekuatan politis yang hebat. Antara politik
 mati-matian, fanatik, idealisme, ideologi, identitas,
 maupun yang main-main, yang nikmat-nikmat, sering kali tak terpisah. 
Mereka tercampur. Campurannya tak satu ragam.&lt;br /&gt;


 Kenikmatan tak pernah alami. Ia harus dipelajari. Misalnya kenikmatan 
yang dipromosikan dalam film-film yang saya teliti. Di situ cari jodoh, 
sekolah tinggi di luar negeri dianggap penting, tanpa kepedulian pada 
masalah sosial yang lebih makro. Kok film seperti itu bisa laris dan 
terus diproduksi di masa ini dan tidak di masa lalu?&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Mengapa?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;


 Kembali lagi, maaf, ke tahun 1960-an.&lt;br /&gt;


 Apa kaitan Tragedi 1965 dengan identitas?&lt;br /&gt;


 Pembunuhan tahun 1965-1966 merupakan dasar paling menentukan dari 
seluruh identitas dan definisi apa pun tentang Indonesia, sampai 
sekarang. Dia bukan satu-satunya penyebab, tetapi induk dari berbagai 
penyebab lain, yang menjelaskan macam-macam, termasuk keuangan kita, 
tata-sosial kita, akademi kita, agama kita, moralitas kita, penjara 
kita.&lt;br /&gt;

&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
Merumus ulang&lt;/div&gt;
Pertanyaan paling penting—dari buku yang ditulis berdasarkan kegiatan penelitian antara tahun 2009 dan 2012—
 adalah bagaimana orang Indonesia mencoba merumus ulang identitasnya sesudah Orde Baru.&lt;br /&gt;


 Identitas dan Kenikmatan meneropong sejumlah isu mutakhir dalam 
masyarakat, mulai dari islamisasi, budaya kaum muda perkotaan hingga 
K-Pop, politik jalanan, representasi pembunuhan 1965-1966, minoritas 
Tionghoa, dan menunjukkan kebertautan antar berbagai isu tersebut.&lt;br /&gt;


 Semua itu, menurut pakar Kajian Budaya Universitas Gajah Mada, Dr Budiawan, dalam &lt;em&gt;endorsement &lt;/em&gt;pada buku itu, bermuara pada problematisasi narasi-narasi besar, seperti &lt;em&gt;nasion&lt;/em&gt; dan nasionalisme, globalisme dan globalisasi, modernisme dan modernitas, yang selama ini diterima begitu saja.&lt;br /&gt;


 ”Selama ini yang lebih banyak diteliti adalah kaum elite, atau 
sebaliknya, korban tragedi dan mereka yang dipinggirkan. Orang-orang 
biasa, hal-hal biasa, jarang diperhatikan peneliti, atau mereka tak tahu
 bagaimana meneliti orang-orang biasa ini.”&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Bisa dijelaskan lebih jauh?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;


 Di Indonesia, pernah ada upaya terlembaga, berlingkup nasional, 
dilakukan oleh Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi kebudayaan 
kiri) yang mencoba merumuskan teori dan praktik progresif dalam kaitan 
antara politik dan budaya.&lt;br /&gt;


 Sejak 1965, tidak ada satu pun disiplin ilmu yang siap menjelaskan 
secara konseptual bagaimana persisnya kebudayaan berkait dan berkelindan
 dengan politik. Teori-teori kebudayaan terpisah dari politik. 
Teori-teori politik terpisah dari kebudayaan. Sementara di masyarakat 
terjadi gejala luar biasa di bidang politik kebudayaan dan budaya yang 
politis. Ada fenomena Rendra, Iwan Fals, kemudian Inul. Kajian Budaya 
atau &lt;em&gt;Cultural Studies&lt;/em&gt; mengisi kekosongan ini.&lt;br /&gt;


 Kajian Budaya meneliti hal-hal sepele, sehari-hari, orang biasa, 
berbeda dengan teori-teori besar seperti sosialisme yang dulu dikerjakan
 Lekra dan meromantisasi rakyat yang paling tertindas. Kajian Budaya 
mencoba menata teori dan konsep yang rumit antara kekuasaan dan 
kebudayaan di kalangan kaum bersahaja dalam kehidupan sehari-hari, bukan
 kaum elite dan bukan proletariat yang paling menderita.&lt;br /&gt;


 Di Barat yang dilawan jelas, misalnya kapitalisme dan neo-liberalisme. Di Indonesia?&lt;br /&gt;


 Yang pertama dan utama waktu itu adalah otoritarianisme dan 
militerisme, khususnya dalam kehidupan sehari-hari, di jalan, di dapur, 
ruang tamu. Juga patriarki, primordialisme, yang ditanggapi secara gagap
 oleh ilmu-ilmu yang ada.&lt;br /&gt;


 Kajian Budaya punya potensi, tetapi tak punya kekuatan mengubah 
masyarakat karena masih sangat kecil. Namun, Kajian Budaya punya 
jurus-jurus, ilmu-ilmu, main-main, kelakar, kenikmatan, enggak serius, 
yang minimal, bisa mengusik atau menjengkelkan &lt;em&gt;status-quo&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Mengapa tidak pernah kuat di Indonesia?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;


 Pertama, lembaga formal di negeri ini begitu lemah. Yang kuat adalah 
birokratisasi, administrasi, dan formalitas dalam lembaga akademik. 
Mereka yang cerdas, berbakat, dan tekun dalam dunia ilmu pengetahuan 
tidak menemukan tempat memadai. Kedua, sebenarnya secara kebudayaan dan 
politik kita belum banyak beranjak dari Orde Baru.&lt;br /&gt;


 Anda tertarik pada sejarah Indonesia 1920-1940 dalam penelitian yang sedang Anda kerjakan. Ada kaitan dengan identitas?&lt;br /&gt;


 Indonesia, kalau mau maju, harus sesekali melihat ke belakang. Ada 
beberapa kunci persoalan yang tersembunyi atau tercecer di situ. Secara 
global juga sangat menarik karena sebagian besar pemikiran besar di 
bidang musik, akademi-teori, perubahan tata kota terjadi pada awal abad 
ke-20 itu. Saya meneliti dua kelompok sosial dalam kurun itu: Indo-Eropa
 dan peranakan Chinese.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Kepak yang Kuat&lt;/h1&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
&amp;nbsp; &lt;/h4&gt;
Ariel Heryanto tumbuh dengan beban indoktrinasi Orde Baru yang 
melatihnya berpikir sebagai orang asing di Tanah Air sendiri, yakni 
”nonpribumi” yang kesasar ke Indonesia karena kecelakaan sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;aside class="article-pullout"&gt;&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&amp;nbsp;&lt;/figure&gt;&lt;/aside&gt;Namun, politik yang menindas itu dijungkir balik menjadi modal 
pemberdayaan yang luar biasa. Ariel tak mau dan tak mampu menjadi ”Jawa”
 asli meski lahir di Jawa, juga tak mampu dan tak berminat menjadi 
”Tionghoa” tulen meski berlatar belakang Tionghoa. Dia nyaman memeluk 
erat ke-non-pribumi-annya secara maksimal.&lt;br /&gt;


 ”Saya menggali kesadaran dan menikmati posisi sebagai minoritas di mana pun di dunia,” ujarnya.&lt;br /&gt;


 ”Tak hanya dari segi etnisitas, tetapi juga agama, bahasa, dan 
kebudayaan. Tak hanya di Indonesia atau Malaysia, tetapi juga di semua 
negara dengan mayoritas etnis China, apalagi di negara-negara sekuler 
dan non-Asia, Eropa, Amerika, dan Australia. Saya merasa nyaman di semua
 tempat itu sebagai nonpribumi.”&lt;br /&gt;


 Belakangan dia menyadari bahwa semua manusia di dunia modern ini pada dasarnya nonpribumi, indo, blasteran, peranakan, alias &lt;em&gt;hybrid&lt;/em&gt;. Sebagian besar tidak menyadari, sebagian lainnya menyesali atau mengingkarinya.&lt;br /&gt;

&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Jalan panjang&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;&lt;b&gt;
 &lt;/b&gt;Ariel kecil ingin jadi pelukis, lalu arsitek. Dia mendaftar dan 
diterima di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, tetapi sebagai 
”nonpri” dituntut membayar uang masuk beberapa kali lipat, di luar 
kemampuan keluarganya. Dia lalu mendaftar IKIP Malang Jurusan Bahasa 
Inggris, tetapi juga ditolak, konon karena etnisitas dan jenis 
kelaminnya.&lt;br /&gt;


 Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di Salatiga adalah pilihan 
akhir. Tak diduga, di situ dia merasa dihujani berkah. ”Termasuk 
mendapatkan istri bekas teman sekuliah ha-ha-ha,” kenang ayah dua anak 
itu.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
Selama 16 tahun dia mengajar di UKSW, sebelum terlibat dalam konflik 
internal 1993-1995 bersama 150 dosen, ratusan mahasiswa, dan karyawan 
dari kelompok pro-demokrasi. Sembilan bulan tak menerima gaji, 
terlunta-lunta tanpa pekerjaan. Peristiwa itu menjadi seperti titik 
balik, yang membukakan pintu untuk menjelajah ketakterhinggaan langit 
ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;


 Ariel Heryanto yang meninggalkan dunia pendidikan di Indonesia sejak 
tahun 1996 adalah satu dari sedikit ilmuwan yang konsisten dengan 
kajian-kajian kritis dan menghasilkan karya-karya penting untuk memahami
 masyarakat dengan berbagai fenomena yang sedang berlangsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Jadwalnya padat, mengajar dan melakukan penelitian, dikerjakan sendiri,
 tim, ataupun bersama ilmuwan lintas negara dan benua, serta 
seminar-seminar penelitian. Sejak tahun 1998 ia terlibat penuh dalam 
serangkaian prakarsa transnasional untuk mengembangkan kajian-kajian 
berbasis kawasan Asia Tenggara.&lt;br /&gt;


 Meski 19 tahun mengembara, Indonesia, juga sahabat dan kerabat adalah 
bagian dari darah dan dagingnya, sekaligus masa lampau yang membentuk 
dirinya. Banyak kenangan sentimental tersimpan di Malang, kota 
kelahirannya.&lt;br /&gt;


 Sebagai pengagum berat &lt;em&gt;Bhagawad Gita&lt;/em&gt;, ia berusaha tidak 
terikat pada sebuah masa tempat, benda, orang, lembaga, dan gagasan apa 
pun. ”Saya kerasan di semua tempat, tetapi perasan kerasan itu tak 
pernah permanen,” ujarnya. (MH)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="article-footnote-citation"&gt;Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Agustus 2015,&amp;nbsp;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;
</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/08/ariel-heryanto-identitas-asli-adalah.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-5622616497637866557</guid><pubDate>Tue, 19 May 2015 02:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-09-16T09:41:33.461+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">literasi</category><title>Membaca sebagai Jendela untuk Melihat Dunia</title><description>&lt;h4 class="article-keyword"&gt;
&amp;nbsp;Membaca sebagai Jendela untuk Melihat Dunia&lt;/h4&gt;
&lt;h3 class="article-byline"&gt;
 Ilham Khoiri&lt;/h3&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
                    &lt;span class="col-2-ng"&gt;
                        
                        &lt;span class="article-date-details"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;span class="num-readability"&gt;&lt;/span&gt;
                        &lt;/span&gt;
                    &lt;/span&gt;
                &lt;/h4&gt;
Dua hari lalu, Minggu (17/5), Indonesia merayakan 
Hari Buku Nasional. Hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya, 
peringatan kali ini  berlangsung sepi, baik secara seremonial maupun 
subtansial. Tidak ada kegiatan yang benar-benar mengentak atau menyulut 
kesadaran baru tentang buku.&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-media-container"&gt;
&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="Pengunjung membaca pada Hari Buku Nasional di perpustakaan kota yang dibangun di Taman Flora, Kota Surabaya, Minggu (17/5). Untuk meningkatkan minat membaca buku, selain membangun perpustakaan umum di Taman Kota, Pemerintah Kota Surabaya juga mengerahkan perpustakaan keliling yang mampu menjangkau setiap pelosok kota." class="article-image" id="landscape" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/ff784031-c4db-45dc-8dfd-d2d57c070f26/191739" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;Kompas/Bahana Patria Gupta&lt;/span&gt;Pengunjung
 membaca pada Hari Buku Nasional di perpustakaan kota yang dibangun di 
Taman Flora, Kota Surabaya, Minggu (17/5). Untuk meningkatkan minat 
membaca buku, selain membangun perpustakaan umum di Taman Kota, 
Pemerintah Kota Surabaya juga mengerahkan perpustakaan keliling yang 
mampu menjangkau setiap pelosok kota.&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/div&gt;
Perhatian
 kita lebih terarah pada isu-isu aktual yang lain. Sebut saja, misalnya,
 kini publik sedang penasaran, apakah Presiden Joko Widodo benar-benar 
akan me-reshuffle
 Kabinet Kerja yang dibentuk pada 27 Oktober 2014. Menteri mana saja 
yang akan diganti. Sementara itu, soal buku menjadi perbincangan nomor 
sekian.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbincangan publik soal buku sebenarnya  terjadi. 
Setidaknya   dari percakapan di  Twitter, salah satu media sosial yang  
paling aktif memperlihatkan  perhatian publik. Namun, selama sehari pada
 17 Mei lalu, jumlah cuitan terkait  buku masih minim. Dari yang tidak 
banyak itu, sebagian besar diunggah oleh akun-akun penerbit, bukan 
khalayak ramai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kita  cenderung menyepelekan buku? Mungkin 
tidak sepenuhnya demikian. Soalnya, memang belum ada usaha serius 
bersama untuk mempromosikan hari penting ini. Apalagi, Hari Buku 
Nasional  cukup muda, baru dicanangkan pada 2010.&lt;br /&gt;
Kondisi sepi ini
 justru menggambarkan keadaan kita senyata-nyatanya. Kita memang belum 
terlalu serius memuliakan buku. Ini tantangan yang mesti kita jawab 
dengan aksi nyata. &lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Penetapan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Sekadar
 mengingatkan, Hari Buku Nasional ditetapkan Menteri Pendidikan Nasional
 Abdul Malik Fadjar pada 2010. Tanggal 17 Mei mengacu pada tanggal 
pendirian resmi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 1980. Kebijakan 
itu diambil demi lebih memopulerkan buku kepada masyarakat, meningkatkan
 daya baca, sekaligus mencerdaskan bangsa lewat buku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penetapan 
ini berangkat dari fakta memprihatinkan terkait minat baca di Indonesia 
yang masih rendah. Pada 2012, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, 
dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mencatat indeks minat
 baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 
orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perpusnas 
melansir data serupa terkait jumlah buku yang dibaca masyarakat 
Indonesia yang  sangat rendah dibandingkan negara lain. Masyarakat di 
Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Kondisi ini 
lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara anggota ASEAN, 
selain Indonesia, yang membaca dua sampai tiga buku dalam setahun. &lt;br /&gt;
Angka
 tersebut kian timpang saat disandingkan dengan warga Amerika Serikat 
yang terbiasa membaca 10-20 buku  per tahun. Saat bersamaan, warga  
Jepang  membaca 10-15 buku setahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih menurut Perpusnas, 
Indonesia hanya memiliki  terbitan buku sebanyak 50 juta per tahun. Ini 
jumlah kecil dibandingkan penduduk kita  yang  sekitar 250 juta orang. 
Artinya, rata-rata satu buku di Indonesia dibaca oleh lima orang. Meski 
masih perkiraan, angka ini tentu memprihatinkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku adalah 
jendela ilmu pengetahuan. Dari ilmu pengetahuan, kita bisa mempelajari 
berbagai hal serta mengembangkan diri. Buku yang menuntun kita 
menjelajah berbagai kemungkinan dalam kehidupan ini memandu untuk 
mengatasi bermacam persoalan, mendorong penemuan, dan membangun 
peradaban manusia yang lebih maju. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangsa yang maju adalah bangsa
 yang membaca buku. Sebaliknya, kian rendah daya baca masyarakat, kian 
sulit bangsa itu maju. Ingat saja pernyataan terkenal penyair kelahiran 
Amerika Serikat yang kemudian hijrah ke Inggris, TS Eliot (1888-1965), 
"Sulit membangun peradaban tanpa budaya tulis dan baca." Dengan 
demikian, jika ingin Indonesia yang lebih maju, kita perlu meningkatkan 
daya baca buku.&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-media-container"&gt;
&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="Pengunjung membaca pada Hari Buku Nasional di perpustakaan kota yang dibangun di Taman Flora, Kota Surabaya, Minggu (17/5). Penyair kelahiran Amerika Serikat yang hijrah ke Inggris, TS Eliot (1888-1965), menyatakan, " class="article-image" id="landscape" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/aed6f1d5-166a-41d4-88b1-7baae6935ac5/191740" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;Kompas/Bahana Patria Gupta&lt;/span&gt;Pengunjung
 membaca pada Hari Buku Nasional di perpustakaan kota yang dibangun di 
Taman Flora, Kota Surabaya, Minggu (17/5). Penyair kelahiran Amerika 
Serikat yang hijrah ke Inggris, TS Eliot (1888-1965), menyatakan, "Sulit
 membangun peradaban tanpa budaya tulis dan baca." Jika ingin Indonesia 
lebih maju, kita perlu meningkatkan daya baca buku.&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/div&gt;
Rumusan
 ini mudah diucapkan, tetapi perlu kerja keras untuk diwujudkan. 
Penyebabnya, meski sudah 70 tahun merdeka, angka melek huruf kita masih 
rendah.   Program Pembangunan PBB (UNDP) merilis,  angka melek huruf 
orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen. Sebagai perbandingan, angka 
melek huruf di negeri jiran kita, Malaysia, mencapai 86,4 persen. Hal 
ini terkait dengan pendidikan kita yang masih belum maju. Sebagai 
gambaran, berdasarkan data UNESCO, Indonesia berada di urutan ke-69 dari
 total 127 negara dalam indeks pembangunan pendidikan UNESCO.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tantangan
 kian berat karena masyarakat kita sekarang mulai mengenal teknologi 
informasi yang semakin canggih dan menawarkan hiburan yang memikat, 
khususnya televisi dan internet. Sebagian masyarakat lebih tergoda 
menonton televisi atau berselancar di dunia maya ketimbang membaca buku.
 Memang ada temuan teranyar, yaitu buku digital, tetapi jumlahnya masih 
terbatas. Itu pun rata-rata hanya bisa diakses di perkotaan. &lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Meningkatkan daya baca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Bagaimana cara meningkatkan daya baca masyarakat Indonesia? Ada beberapa program yang layak kita jalankan.&lt;br /&gt;
Pertama,
  kita perlu memperbaiki kualitas dan pemerataan pendidikan agar bisa 
mendorong tingkat melek huruf yang lebih tinggi. Infrastruktur 
(fasilitas) dan suprastruktur (sumber daya manusia) perlu dikembangkan 
hingga menjangkau pelosok Tanah Air. Jangan sampai ada masyarakat di 
pedalaman Nusantara yang masih sulit belajar gara-gara tidak ada 
sekolah, kekurangan guru, atau minim fasilitas lain. Negara bertanggung 
jawab memenuhi fasilitas pendidikan bagi warganya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, kita 
bangun lebih banyak perpustakaan di semua daerah sebagai tempat yang 
nyaman untuk membaca, jumlah koleksi buku yang banyak, dan menawarkan 
kegiatan yang menarik. Ketiga, dibutuhkan program-program berkelanjutan 
untuk lebih memperkenalkan buku dan mendorong minat baca buku ke sekolah
 dan masyarakat umum. Jangan terpaku pada seremoni, tetapi fokus pada 
terobosan yang lebih membumi dan memikat kaum muda untuk membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat,
 dari sisi penerbit, kita dorong agar semakin banyak buku diterbitkan, 
terutama buku-buku yang berkualitas dari berbagai bidang. Kian banyak 
tawaran buku menarik, kian banyak alternatif bacaan bagi masyarakat. &lt;br /&gt;
Kelima,
 kita dukung kekuatan masyarakat madani untuk bersama-sama pemerintah 
dan semua pihak membangun peradaban membaca buku. Bentuknya bisa berupa 
pendirian taman bacaan hingga ke pelosok Nusantara, program pendorong 
membaca, atau langkah-langkah lain yang mungkin diambil untuk 
memprovokasi kaum muda agar mencintai buku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para aktivis media 
sosial, seperti Twitter atau Facebook, juga perlu dirangkul untuk lebih 
sering mengunggah rangsangan membaca buku. Kita ingatkan bahwa bangsa 
Indonesia  lahir berkat perjuangan para pemimpin setelah melihat 
realitas kehidupan masyarakat terjajah serta terinspirasi dari gagasan 
kemerdekaan bangsa yang dibaca dari buku-buku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini, 
buku dianggap sebagai "jimat" yang membuat Mohammad Hatta kuat menjalani
 tekanan pemerintah kolonial Hinda Belanda saat itu. Bung Hatta pernah 
berkata, "Aku rela dipenjara asalkan bersama buku karena, dengan buku, 
aku bebas." &lt;br /&gt;
Saat diasingkan di Boven Digoel, pedalaman Papua, tahun 1934,  Bung Hatta bahkan menulis buku Alam Pikiran Yunani. Saat menikah, buku itu pula yang menjadi mas kawin Hatta untuk istrinya, Rachmi Rahim.&lt;br /&gt;
Salah
 satu proklamator Republik Indonesia itu  telah memberi teladan 
mencintai buku. Bagaimana dengan kita, bangsa Indonesia, yang menikmati 
kemerdekaan yang ia perjuangkan?
            &lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/05/membaca-sebagai-jendela-untuk-melihat.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-3161289632128801410</guid><pubDate>Thu, 23 Apr 2015 01:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-23T08:18:30.826+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Pengajaran Sejarah | Siswono Yudo Husodo   </title><description>&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Pengajaran Sejarah&lt;/h1&gt;
&lt;h3 class="article-byline"&gt;
&amp;nbsp;Siswono Yudo Husodo&lt;/h3&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
&amp;nbsp;
                &lt;span class="col-2-ng"&gt;
                    &lt;/span&gt;John W Gardner dalam bukunya Can We Be 
Equal and Excellent Too menyatakan ”Tidak ada negara bangsa yang dapat 
menjadi besar kalau tidak meyakini sesuatu dan kalau sesuatu yang 
diyakininya itu tidak memiliki ajaran moral untuk membawa kemajuan 
peradabannya”. &lt;/h4&gt;
&lt;div class="article-media-container"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/div&gt;
Sekolah adalah tempat utama membentuk wawasan mengenai bangsa. Tugas 
sekolah bukan hanya mengajarkan siswa tentang moralitas yang baik, 
meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga mendidik dan
 membentuk kepribadian siswa sebagai orang Indonesia. Di Amerika 
Serikat, kalau ada fenomena negatif merebak di masyarakat, pertanyaan 
diarahkan pada institusi sekolah, ”What’s wrong with American class room?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa waktu lalu, 16 warga negara Indonesia pergi ke Turki untuk 
bergabung dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Jajak pendapat Kompas,
 25-27 Maret 2015, mengungkap aspirasi publik yang menggambarkan 
keresahan masyarakat, antara lain, tiga dari empat responden 
mengkhawatirkanpengaruh radikalisme terhadap keluarga mereka. Sembilan 
dari 10 responden menilai paham NIIS tidak sesuai kepribadian bangsa 
Indonesia. Secara umum, gerakan radikal bernuansa agama dipandang publik
 mengganggu harmoni dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Guna 
mencegah berkembangnya paham radikal keagamaan di Indonesia, 17,2 persen
 responden melihat diperlukannya penanaman kepribadian bangsa secara 
lebih kuat dan 51 persen memandang pendidikan keagamaan yang sesuai 
kepribadian bangsa diperlukan.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Mengincar kaum muda&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;&lt;b&gt;
 &lt;/b&gt;Mereka yang bergabung dengan NIIS adalah kalangan muda. Di samping itu,
 politisi koruptor juga tak sedikit dari generasi muda. Ada muatan yang 
tidak sesuai dengan kepribadian bangsa melenggangmasuk buku sekolah. 
Buku Kurikulum 2013 mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi 
Pekerti untuk kelas X dan XI terbitan Kementerian Pendidikan dan 
Kebudayaan, ditarik Mendikbud Anies Baswedan dari peredaran karena 
memuat ajaran radikal. Di buku kelas Xdimuat narasi mengenai konflik 
Rohingya di Myanmar dengan sudut pandang menyerang umat agama tertentu. 
Di buku kelas XI, ada kalimat bahwa orang tertentu boleh dibunuh. 
Berbeda sekali dengan pelajaran agama di masa saya sekolah dulu yang 
menekankan kedamaian dan moral individu. Sebaiknya semua buku pelajaran 
sekolah yang terkait pendidikan kepribadian dan karakter siswa yang 
tengah beredar di Tanah Air diperiksa ulang.&lt;br /&gt;
Liberalisasi pendidikan, berupa beroperasinya sekolah 
internasional/asing yang menerima warga Indonesiasebagai siswa dengan 
kurikulum internasional, menjadikan kesempatan membangun kepribadian 
sebagai orang Indonesia menjadi terbatas. Berbagai dinamika dari given condition
 Indonesia sebagai bangsa majemuk, negara yang kaya sumber daya alam, 
tetapi sumber daya manusianya tertinggal yang selalu mendapat 
tarikan-tarikan kepentingan global, sebagai negara kepulauan dengan 
penduduk yang besar dan beragam, perlu dihadapi dengan kepribadian yang 
kuat dari setiap individu warga bangsa, agar tidak ada lagi bentrokan 
berlatar suku, agama, dan ras, berkembangnya etnosentrisme dan 
primordialisme sempit serta meningkatnya fanatisme golongan 
yangmemerosotkan sikap pluralisme yang inklusifdantoleransi serta agar 
meningkat kemampuan masyarakat menyelesaikan berbagai friksi yang ada 
secara santun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti John W Gardner dan para pemimpin kita terdahulu, saya pun 
meyakini diperlukan cara yang efektif untuk membangun integritas dan 
kepribadian bangsa. Pada Orde Lama diupayakan melalui indoktrinasi 
dengan materi Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi (Tubapi) yang meliputi 
Pancasila, UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi 
Terpimpin, Manifesto Politik, dan Kebudayaan Indonesia.Pendekatan ini 
tidak efektif mewarnai perikehidupan rakyat sehari-hari karena sifatnya 
yang indoktrinatif. Di era Orde Baru melalui program Pedoman Penghayatan
 dan Pengamalan Pancasila. Juga kurang efektif membentuk kepribadian 
bangsa karena menjadi syarat kenaikan pangkat/jabatan dan akhirnya 
menjadi hafalan dengan 36 butir pengamalan Pancasila.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amerika Serikat mengandalkan pengajaran sejarah di sekolah sampai 
perguruan tinggi untuk menyosialisasikan nilai-nilai utama negara itu 
yang disebutkan dalam  Declaration of Independence, liberalisme, freedom of thought
 (kebebasan berpikir), demokrasi, serta perjalanan sosial, politik, 
budaya, ekonomi, hankam negara bangsanya. Ketokohan orang-orang besar, 
George Washington, Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, Franklin Delano 
Roosevelt, dan Dwight D Eisenhower, disampaikan dalam pelajaran sejarah 
tentang sikap-sikap luhurnya dan karya-karya besarnya yangmenjadi legacy
 ketika memimpin bangsanya. Bahkan hal yang tampak sederhana, 
disampaikan menjadi sesuatu yang ideologis, seperti pada tengah malam 18
 April 1778, Paul Revere menunggang kuda keliling pelosok New England, 
mengabarkan bahwa pasukan Inggris mulai menyerang dan perang kemerdekaan
 Amerika dimulai. Peristiwa itu dicatat di kesadaran rakyat Amerika 
sebagai kemenangan pertama perang melawan kolonialisme dalam sejarah 
dunia.&lt;br /&gt;
Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Rusia, Tiongkok, dan Jepang, 
negara-negara yang maju itu, juga menerapkan pola serupa melalui 
pelajaran sejarah di sekolah untuk menanamkan nilai-nilai utama 
masyarakat mereka masing-masing, bahkan di Jerman sejak taman 
kanak-kanak berupa dongeng sampai pendalaman di pascasarjana. 
Penyajiannya tak menekankan siswa untuk menghafal peristiwa, tanggal, 
dan tempat kejadian. Tetapi, substansi dan latar belakang terjadinya 
suatu peristiwa dan penonjolan nilai-nilai luhurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uraian sejarah itu juga membela tindakan politik dan menghargai 
tokoh-tokoh masa lalu yang bagi orang di luar negara itu dianggap 
kontroversial. Perancis menggambarkan Napoleon Bonaparte sebagai 
pahlawan pembangun semangat kebangsaan Perancis, walaupundicerca 
olehbangsa-bangsa Eropa sebagai ekspansionis. Bahkan Hitler yang dicaci 
maki dunia, walau diuraikan sisi negatifnya yang sauvinisme,tetap 
dihargai dalam buku pelajaran sejarah siswa sekolah dasar sampai 
pascasarjana Jerman sebagai Fuhrer
 yang paling banyak membangun jalan raya di Jerman, dengan ucapannya 
”ekonomi mengikuti jalan raya”. Konrad Adenauer adalah Kanselir 
Jermanyang dikenang karena upayanya yang luar biasa menghijaukan kota di
 seluruh Jerman dengan membangun hutan-hutan kecil.&lt;br /&gt;
Pelajaran sejarah itu mengandung dimensi pendidikan ideologi, politik, 
moral, dan etika. Hal itu efektif, karena ideologi adalah endapan dari 
nilai-nilai utama sejarah yang kemudian mengkristal mewujud menjadi 
jalan hidup suatubangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran sejarah memang amat efektif membentuk karakter suatu bangsa. 
Sejarah adalah sumber sah mewujudnya ideologi suatu negara dan bangsa. 
Kita telah memilikinya, yaitu sejarah panjang negara besar ini, melewati
 kurun waktu sangat lama dengan peristiwa besar, kaya dengan tokoh yang 
memiliki kandungan pelajaran akan teladan serta nilai-nilai luhur, yang 
akan memperkuat kepribadian kita sebagai bangsa, guna membekali bangsa 
ini bertransformasi menjadi negara bangsa yang besar, maju, modern yang 
tetap berciri Indonesia. Selama ini, kita hanya kurang piawai mengekspos
 sejarah besar Indonesia untuk bisa menginspirasi jalannya bangsa ini. 
Pelajaran sejarah memang tak boleh kering dan dingin. Materinya harus 
menarik dan mengangkat nilai-nilai luhur yang akan menjadi nilai-nilai 
utama kehidupan bangsa ini. Bangsa yang tak mampu menghayati dan memetik
 pelajaran dari sejarah masa lalunya, akan dihukum di perjalanan sejarah
 berikutnya dengan mengalami kembali kepahitan masa lalunya.&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Revitalisasi pendidikan &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;&lt;b&gt;
 &lt;/b&gt;Pelajaran sejarah untuk siswa-siswa kita lebih merupakan hafalan 
tanggal dan tahun serta lokasi suatu peristiwa. Siswa SD hafal bahwa di 
abad ke-8 dan 9 dinasti Syailendra dengan arsiteknya Gunadharma 
membangun Candi Borobudur. Tetapi, tidak diberi tahu bahwa bangunan 
megah itu dibangun dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang amat maju 
untuk masanya serta relief-relief berisi filsafat Buddha yang 
dikembangkan ke kondisi lokal,ketika Eropa masih terbelakang. Siswa SMP 
hafal bahwa Fatahillah menyerbu Sunda Kelapatahun 1526; Sultan 
Hasanuddin menyerang benteng Belanda di Makassar tahun 1667, dan Perang 
Diponegoro 1825-1830. Tetapi, tak ada ucapan atau inti pikiran mereka 
yang bisa diingat para siswa,sementara siswa high school di AS hafal ucapan John F Kennedy: ”Don’t ask what your country can do for you, but ask what you can do for your country”, suatu ungkapan yang membangunkan kesediaan pemuda-pemuda AS berkorban untuk negaranya.&lt;br /&gt;
Siswa SD tahu proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sepatutnyalah 
mereka juga tahu bahwa Indonesia adalah negara pertama di dunia yang 
merdeka setelah berakhirnya Perang Dunia II dan 10 November 1945 di 
Surabaya adalah perang mempertahankan kemerdekaan; dan kita menang 
menghadapi Belanda yang akan kembali menjajah kita yang didukung oleh 
Sekutu yang baru saja memenangi Perang Dunia II. Peristiwa itu telah 
memberi inspirasi pada perjuangan kemerdekaan banyak negara di Asia, 
Afrika, Amerika Latin, untuk membebaskan dirinya dari penjajahan.&lt;br /&gt;
Siswa SMA tahu Deklarasi Juanda 13 Desember 1957, tetapi tidak 
mengaitkannya dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, bahwa tekad satu 
nusa adalah daratan dan lautan di antara pulau-pulau kita. Banyak buku 
sejarah menyebut tahun penumpasan pemberontakan PRRI, Permesta, RMS, 
G30S/PKI, DI/TII dan lain-lain yang didukung oleh negara adidaya, tetapi
 tidak mengingatkan bagaimana kepentingan asing selalu mengintai kita. 
Banyak orang ingat bahwa negara kita mengalami periode Demokrasi 
Terpimpin dan periode Orde Baru, tetapi buku sejarah tak meninjaunya 
sebagai suatu kontinuitas dalam mengembangkan konsepsi Negara Kesatuan 
RI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siswa SMA tahu bahwaKonferensi Asia Afrika diselenggarakan pada 19-24 
April 1955. Mereka juga perlu tahu tentang Dasasila Bandung yang 
semangatnya adalah prinsip-prinsip dari konstitusi kita bahwa 
kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan di 
muka bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan 
dan perikeadilan; yang menggambarkan konsisten dan persistennya 
Indonesia. KAA juga diselenggarakan ketika Perdana Menteri Ali 
Sastroamidjojo memerintah kurang dari 2,5 tahun dengan pemerintahan yang
 jatuh bangun rata-rata setiap 1,5 tahun akibat intrik-intrik politik, 
namun Indonesia tetap menjadi pemimpin dunia baru karena yang diintrik 
dan yang mengintrik sama-sama idealis untuk memajukan negara, tetapi 
dengan konsep berbeda, bukan intrik untuk menguasai sumber-sumber daya 
ekonomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Revitalisasi pendidikan kepribadian bangsa melalui pendidikan politik 
kebangsaan yang komprehensif perlu segera dilakukan melalui pelajaran 
sejarah di sekolah dari SD sampai perguruan tinggi, termasuk untuk siswa
 warga Indonesia di sekolah internasional. Sebaiknya, para ahli 
komunikasi dilibatkan dalam membuat buku pelajaran sejarah, membantu 
para sejarawan menajamkan ulasan/mengekspos makna yang lebih dalam dari 
suatu peristiwa sejarah, mengangkat bentuk-bentuk kearifan, moral, 
integritas, way of thinking, way of life, berbagai legacy
 tokoh-tokoh yang ada dan nilai-nilai luhur kehidupan para tokoh sejarah
 bangsa kita. Hal-hal itulah yang akan mewarnai kepribadian, cara 
berpikir, dan ideologi kita sebagai suatu bangsa. Semoga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="credit"&gt;
Siswono Yudo Husodo, Ketua Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila

                &lt;/div&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/04/pengajaran-sejarah-siswono-yudo-husodo.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-8431735037047482086</guid><pubDate>Wed, 15 Apr 2015 04:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-15T11:04:23.747+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sastra</category><title>Sastra ”Survive” dalam Perubahan Perangai Media |  I Nyoman Darma Putra</title><description>Sastra ”Survive” dalam Perubahan Perangai Media&lt;br /&gt;
I Nyoman Darma Putra&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan Bre Redana dalam Kompas Minggu (15/3) dengan tersurat dan tersirat menyampaikan bahwa dewasa ini media kian sulit menjalankan fungsinya dalam mendukung kehidupan sastra serta polemik kritik sastra seperti pada masa lalu. Selain masalah teknis yang dihadirkan dunia digital dengan ciri media yang berkarakter cepat, quickness, juga karena perubahan selera publik dari hal-hal yang serius menjadi yang ringan atau ”yang enteng- enteng” saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memaparkan dengan lugas perubahan situasi yang memengaruhi kehidupan media yang berkutat memenuhi selera baru masyarakat, Bre mengungkapkan kegalauannya dalam nada tanya apakah ke depan kerja sama media, sastra, debat dan kritik sastra di media akan tancep kayon, berakhir? Dia tidak saja berharap jawaban dari pekerja media, tetapi juga kepada kalangan luas, termasuk kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pekerja media dan penulis sastra, Bre dengan cermat menangkap fenomena yang ada. Apa yang disampaikan bisa dikatakan representatif untuk kehidupan sastra dan kritik sastra dalam arena media cetak. Tapi, yang perlu dicatat adalah bahwa kehidupan sastra tidak saja terjadi di media cetak, tetapi juga di radio dan televisi dalam bentuk apresiasi; tak hanya sastra Indonesia tetapi juga sastra daerah; tak hanya di Jakarta tetapi juga di daerah-daerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, sejarah mencatat bahwa media cetak pernah memainkanperanan penting dalam mempromosikan karya baru, dan juga dalam mendorong polemik sastra dan seni budaya umumnya. Majalah Sastra dan Horison memiliki acara pemilihan karyaterbaik yang sangat bergengsi. Banyak penulis seperti terbaptis sebagai penulis setelah karyanya dimuat di media tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal debat sastra atau seni budaya secara umum, Polemik Kebudayaan yang terjadi tahun 1930-an adalah jelas karena peran majalah Poedjangga Baroe, dilanjutkan media cetak lainnya termasuk majalah Horison beberapa dekade kemudian. Perdebatan sastra kontekstual, sastra pedalaman, dan lain-lain lewat media pernah menjadi bagian penting dalam perkembangan sastra kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, situasinya sudah berubah, yang menurut Bre, selain karena perubahan peradaban juga karena keraguannya akan tidak adanya topik yang ”layak diperdebatkan”. Persoalannya memang bisa jadi hubungan antara penulis dan media seperti telur dengan ayam. Apakah benar tidak ada topik yang diperdebatkan atau media tidak lagi mau membuka diri untuk hal-hal yang ”serius” demi hal-hal yang ”enteng-enteng”?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlepas dari itu, sebetulnya media masih tetap memainkan peranannya untuk menyemai gagasan atau pemikiran dunia kesastraaan kita. Ini terjadi karena media memiliki prinsip kerja yang mengutamakan ”aktualitas”. Meski media sudah berada dalam Milenium Ketiga, prinsip kerja ”aktualitas”. Tulisan Bre sendiri adalah contoh bagaimana aktualitas menjadi landasan penting bagi Bre (pekerja media sekaligus penulis sastra) untuk membahas masalah peran media dalam kehidupan sastra dan kritik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bre memuat tulisannya sebagai respons atas topik ASEAN Literary Festival yang digelar di Jakarta 15-22 Maret. Ini berarti, sepanjang pemangku yang berkepentingan dalam sastra mau dan mampu menciptakan event sastra, entah festival, lomba, dan diskusi sastra, media akan tetap membuka diri atas nama aktualitas untuk mengabarkan atau membahas tentang sastra. Dalam dinamika seperti itu, fenomena tancep kayon tak akan terjadi untuk masa panjang, tetapi hanya jeda untuk tandang kayon sesuai gema aktualitas-aktualitas lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di luar media cetak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan Bre terfokus pada peran media cetak, padahal sastra dengan berbagai bentuk, frekuensi, dan kadar apresiasinya berbeda dari satu tempat ke tempat lain juga terjadi dalam media elektronik seperti televisi dan radio. Seperti halnya media cetak, industri radio dan televisi juga terimbas globalisasi ganas, buktinya kedua media ini sering dirasanin sebagai saluran masuknya pengaruh asing yang dapat merusak peradaban lokal masyarakat. Sementara arus globalisasi tidak bisa diabaikan, pada saat yang sama, radio dan televisi juga menjadi tumpuan bagi masyarakat untuk mengangkat budaya lokal sehingga globalisasi dan glokalisasi juga terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak fakta di daerah yang menunjukkan bagaimana masyarakat dengan jeli memanfaatkan radio untuk mempromosikan seni sastra lokal. Dalam penelitiannya di Riau, Suryadi (2005) menunjukkan radio-radio di daerah itu membuka program seni sastra daerah secara interaktif, seperti pembacaan pantun, syair, dan dongeng Melayu. Dalam acara tersebut, pendengar aktif tidak saja mendengarkan pantun lama, tetapi juga menciptakan pantun dan syair baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih menarik, menurut Suryadi, pencinta sastra interaktif itu yang sehari-hari berbahasa Indonesia, dalam acara di radio menggunakan bahasa daerah. Karena ini acara hiburan, mungkin perdebatan dalam pengertian tukar pikiran secara tajam atau serius seperti dibayangkan terjadi dalam diskusi atau polemik di koran tidak terjadi, tetapi program-program dan partisipasi publik bisa dibaca sebagai langkah masyarakat untuk menyelamatkan warisan budayanya dan menggunakan itu sebagai dasar identitas. Bukankah kadar peneguhan identitas tidak kalah hebatnya dari perdebatan aneka topik modern dan tradisi seperti terjadi dalam Polemik Kebudayaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang sama juga terjadi di Bali. Sejak awal 1990-an, dalam masamenyingsingnya fajar kebebasan berekspresi yang dibawa gerakan reformasi, radio pemerintah dan swasta di Pulau Dewata menggelar acara interaktif untuk menembangkan kidung macapatan. Acara yang kini populer dengan sebutan gita santi atau kidung interaktif berlangsung ramai di lusinan radio dan dua saluran TV di Bali. Sampai tahun 2010, acara kidung interaktif bisa dikatakan telah berusia tiga dekade, sebuah waktu yang panjang untuk masa hidup acara yang bersifat nge-pop.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti halnya di Riau yang melantunkan pantun dan syair, di Bali peserta acara radio dan TV menembangkan tembang sinom, ginanti, semarandana, dan sejenisnya secara interaktif. Dalam kegiatan dengan model mabebasan (melantunkan tembang diikuti ulasan baris demi baris), peserta tidak saja melantunkan geguritan (puisi lama) yang sudah ada seperti ”Sampek Ing Tae” dan ”Diah Tantri”, tetapi juga menciptakan komposisi bertema baru seperti geguritan narkoba, geguritan pilpres, gita reformasi, dan seterusnya. Acara ini menggunakan media bahasa Bali dan seperti halnya di Riau, juga menjadi arena bagi masyarakat untuk meneguhkan kebaliannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dulu banyak warga masyarakat yang malu menembangkan puisi lama, tetapi kini orang merasa malu sebagai orang Bali kalau tidak bisa menembangkan sebait geguritan. Seiringdengan populernya acara gita santi, anak-anak sekolah juga banggamempelajari seni sastra tradisionalnya. Lomba-lomba antar-sekolah atauantar-desa menjadi arena bagimereka untuk mencapai prestasi lewat sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkembangan program seni sastra daerah di radio-radio pemerintah, swasta, dan komunitas kabarnya juga terjadi di daerah lain di Indonesia seperti di Yogya dan Bandung. Walau sebagai media yang tidak lepas dari usaha untuk memenuhi kepentingan selera masyarakat yang bersifat sesaat dan permukaan, radio juga terbukti sebagai media yang mendukung kehidupan apresiasi sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang dipertanyakan Bre apakah peran media dalam pengembangansastra dan kritik akan tancep kayon, jawabannya ”tidak” karena medialain menunjukkan peranannya dalam gemuruh apresiasi sastra daerahseperti yang terjadi di Bali, Riau, dan mungkin di sudut lain Nusantara ini. Pendek kata, sastra survive alias bertahan hidup dalam perubahan perangai media.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I Nyoman Darma Putra, Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 April 2015, di halaman 27 dengan judul "Sastra ”Survive” dalam Perubahan Perangai Media". &lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/04/sastra-survive-dalam-perubahan-perangai.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-5604911462011386951</guid><pubDate>Wed, 15 Apr 2015 02:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-15T09:49:12.056+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Bahasa</category><title>Bahasa Ibu dan Bahasa Etnik | Rainy MP Hutabarat</title><description>
    
    
        
&lt;br /&gt;
&lt;h4 class="article-keyword"&gt;
Bahasa&lt;/h4&gt;
&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Bahasa Ibu dan Bahasa Etnik&lt;/h1&gt;
&lt;h3 class="article-byline"&gt;
Rainy MP Hutabarat&lt;/h3&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;span class="num-readability"&gt;&lt;/span&gt;
                &lt;/span&gt;
            &lt;/span&gt;
        &lt;/h4&gt;
Tulisan Saut Poltak Tambunan bertajuk ”Bahasa Ibu, Apa Perlunya?” di 
rubrik ini (28 Februari 2015), mengingatkan kembali ihwal ancaman 
kepunahan bahasa-bahasa etnik. Saat ini, tersisa 746 bahasa daerah di 
Indonesia dan pada akhir abad ke-21 diperkirakan hanya 75 bahasa daerah 
yang bertahan. Sori Siregar menanggapi dengan tulisan bertajuk ”Pintu 
Budaya Etnik” (14 Maret 2014). Ia mengaku baru bisa menikmati karya 
Poltak, Mangongkal Holi,
 yang memperoleh Hadiah Sastra Rancage ”setelah buku pemenang itu 
diterjemahkan ke bahasa Indonesia atau dengan bantuan kamus Batak, kalau
 ada. ”Menurut Sori, ”Bahasa daerah yang kita sebut juga dengan bahasa 
ibu, seharusnya diberi tempat khusus di dunia pendidikan sejak awal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Dua terminologi muncul: bahasa daerah dan bahasa ibu.
 Pertanyaannya, apakah bahasa daerah identik dengan bahasa ibu? Banyak 
yang beranggapan demikian. Tentu saja anggapan ini bisa berlaku penuh 
pada abad-abad lampau ketika migrasi suku-suku belum segencar sekarang, 
ketika warga suku sekaligus hidup di wilayah dan bahasa sukunya. Orang 
Batak yang lahir dan dewasa di tanah Batak bisa dipastikan menguasai 
bahasa Batak secara alamiah.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Realitas sosiologis-geografis kini berubah pesat. Kini tak semua 
keluarga Batak menetap di tanah Batak, dan sehari-hari berbahasa Batak 
dalam komunikasi keluarga. Bahkan, yang tinggal di tanah Batak pun tak 
selalu menggunakan bahasa Batak dalam berkomunikasi di lingkungan 
keluarganya. Di kota-kota apalagi, semakin banyak keluarga berbahasa 
Indonesia sehingga bahasa nasional inilah yang menjadi bahasa ibu dan 
bahasa utama anak-anak mereka. Pendidikan, migrasi suku-suku, dan media 
massa berpengaruh memperkuat kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa 
utama dalam kehidupan keluarga dan pergaulan sosial. Globalisasi telah 
pula memperluas ruang-ruang pergaulan sosial antarbangsa sejak seseorang
 masih kanak-kanak. Keluarga bilingual, misalnya berbahasa Indonesia dan
 berbahasa Inggris, atau berbahasa Jerman dan berbahasa Indonesia, kian 
banyak ditemukan di kota-kota besar atau dalam keluarga pasangan berbeda
 ras atau bangsa. Dulu bilingual adalah bahasa etnik dan bahasa 
nasional, kini bahasa nasional dan bahasa asing.&lt;br /&gt;


 Bahasa Inggris menyebut bahasa ibu sebagai mother tongue atau mother language. Orang yang berbahasa ibu disebut penutur asli, native speaker,
 yakni yang lahir di sebuah negara, menguasai bahasa negara tersebut 
sejak anak-anak secara alamiah dan menggunakannya sebagai bahasa 
pertama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
 Pusat Bahasa Edisi IV, bahasa ibu adalah ”bahasa pertama yang dikuasai 
manusia sejak lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat 
bahasanya seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya”, sedangkan 
bahasa daerah adalah ”bahasa yang lazim dipakai di suatu daerah; bahasa 
suku-bangsa, seperti bahasa Batak, bahasa Jawa, bahasa Sunda.”&lt;br /&gt;


 Hadiah Sastra Rancage berkaitan dengan pelestarian dan atau 
pengembangan bahasa dan sastra daerah. Wikipedia mencatat, ”Hadiah 
Sastra Rancage adalah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang
 dianggap telah berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah.” Di 
sini tak disebut bahasa ibu, melainkan bahasa dan sastra daerah.&lt;br /&gt;


 Bahasa etnik tak semata-mata lestari oleh adanya aksara, sastra, tetapi
 juga para penuturnya. Bahasa Latin tetap bertahan karena, selain 
memiliki aksara Latin yang bisa dipelajari semua orang, juga menjadi 
teks-teks keagamaan dan keilmuan. Bahasa etnik akan langgeng hidup bila 
jumlah penuturnya tidak menyusut dari waktu ke waktu. Memang orang Sunda
 atau orang Batak sendirilah yang paling pas melestarikan atau 
mengembangkan bahasa dan sastra daerahnya, sebab penguasaan bahasa etnik
 meliputi pula aspek rasa, cara berpikir, dan budaya.&lt;br /&gt;

&lt;div class="credit"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="credit"&gt;
Rainy MP Hutabarat&lt;/div&gt;
&lt;div class="credit"&gt;
Cerpenis, Pekerja Media

                &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/04/bahasa-ibu-dan-bahasa-etnik-rainy-mp.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-4442009453846624487</guid><pubDate>Wed, 15 Apr 2015 02:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-15T09:43:40.690+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kereta api</category><title>Mendorong Renaisans Perkeretaapian Indonesia oleh Nawa Tunggal</title><description>&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Mendorong Renaisans Perkeretaapian Indonesia&lt;/h1&gt;
&lt;h3 class="article-byline"&gt;
Nawa Tunggal&lt;/h3&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;span class="num-readability"&gt;&lt;/span&gt;
                &lt;/span&gt;
            &lt;/span&gt;
        &lt;/h4&gt;
&lt;div class="article-lead"&gt;
 Bangsa Indonesia dikenal memiliki 
banyak potensi, tetapi sulit saling percaya, melayani, apalagi membangun
 sinergi demi mewujudkan kesejahteraan bersama. Di tengah situasi 
demikian, Taufik Hidayat (52), ahli perkeretaapian dari Lembaga Ilmu 
Pengetahuan Indonesia, tak lelah meneriakkan ”sinergi” ini sebagai kata 
kunci menuju renaisans alias kebangkitan kembali dunia perkeretaapian 
kita.&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-media-container"&gt;
&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="" class="article-image" id="landscape" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/052db16d-31fc-4d65-9ffa-75e3e5be1cb2/177275" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;KOMPAS/NAWA TUNGGAL&lt;/span&gt;&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/div&gt;
&lt;aside class="article-pullout article-biodata cf"&gt;
 &lt;h1 class="txt-blue"&gt;
  Taufik Hidayat&lt;/h1&gt;
&lt;h2 class="txt-label"&gt;
  LAHIR&lt;/h2&gt;
Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, 15 September 1963.&lt;br /&gt;

 &lt;h2 class="txt-label"&gt;
  PENDIDIKAN&lt;/h2&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;
   SD Negeri 1 Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   SMP Negeri 1 Sumbawa Besar&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   SMA Muhammadiyah II Yogyakarta&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   Jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada Yogyakarta&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;h2 class="txt-label"&gt;
  PEKERJAAN&lt;/h2&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;
   1991-1999: PT LEN Industri, Bandung, Jawa Barat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   1999-sekarang: Peneliti pada Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan
 Instrumentasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bandung, Jawa Barat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   2002-2008: Direktur Eksekutif Indonesian Railway Watch&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   2008-2013: Kepala Badan Pengkajian Strategis Asosiasi Profesi Perkeretaapian Indonesia (APKA)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   2008-2013: Dewan Pengarah Lembaga Sertifikasi Profesi Perkeretaapian Indonesia&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   2012-sekarang: Komisaris dan Ketua Komite Pemantau Manajemen Risiko PT Industri Kereta Api (INKA)&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/aside&gt;

 ”Idealnya, kapasitas operasional angkutan massal kereta api kita, 20 
persen untuk angkutan barang. Bayangkan, saat ini hanya 1 persen saja. 
Ini bukti ketidakmampuan membangun sinergi perkeretaapian sebagai usaha 
bersama demi kepentingan bersama,” kata Taufik, di Bandung, Jawa Barat, 
Selasa (7/4).&lt;br /&gt;


 Banyak keuntungan diraih, jika mengoptimalkan kereta api untuk angkutan
 barang. Beban jalan raya terkurangi, polusi udara makin sedikit, dan 
pergerakan ekonomi kian efisien. Pada akhirnya, daya saing produk dan 
usaha meningkat.&lt;br /&gt;


 Tak satu pun negara maju yang mengabaikan sistem transportasi kereta api untuk distribusi barang dari hasil produksi.&lt;br /&gt;


 ”Semua potensi kekuatan nasional harus dikerahkan. Tidak ada kata lain 
selain harus bersinergi untuk renaisans perkeretaapian kita,” ujarnya.&lt;br /&gt;


 Taufik menulis satu artikel, ”Tragedi Perkeretaapian Kita” dalam bukunya, Jalan Panjang Menuju Kebangkitan Perkeretaapian Indonesia
 (tahun 2009). Diceritakan, terinspirasi keberhasilan Inggris 
mengoperasikan kereta api di tanah jajahan India pada tahun 1853, 
Belanda berhasil menyusul 14 tahun kemudian pada 1867, dengan mulai 
mengoperasikan kereta api di wilayah jajahannya di Hindia Belanda 
(Indonesia sekarang).&lt;br /&gt;


 Operasi perkeretaapian kita menjadi nomor dua di Asia, setelah India. 
Dengan 11 operator perusahaan swasta dan satu perusahaan milik 
pemerintah Belanda, kereta api pada masa itu mampu menunjukkan 
kejayaannya. Tercatat hingga 1939, panjang rel di Jawa mencapai 5.473 
kilometer, dan di Sumatera mencapai 1.990 km.&lt;br /&gt;


 Banyak di antara bekas stasiun ujung yang dibangun Belanda itu 
menandakan bukan sebagai stasiun akhir. Ketika itu, jalur kereta 
dimanfaatkan untuk mempercepat pengangkutan komoditas dari pedalaman ke 
pelabuhan ekspor.&lt;br /&gt;


 Kita kerap memandang usaha Belanda waktu itu sebagai pengurasan 
kekayaan. Itu benar. Tetapi, penting pula mencermati pengalaman masa 
lalu itu dengan jernih. Belanda mampu menunjukkan potensi kemakmuran 
Indonesia bagi dunia dengan produk tropis. Dan, kereta api menjadi 
sarana sangat penting untuk mewujudkannya.&lt;br /&gt;


 Kepemimpinan tangguh dan konsisten dalam penyelenggaraan 
perkeretaapian, menurut Taufik, menjadi kunci keberhasilan Belanda waktu
 itu. Kondisi itu berubah setelah kemerdekaan. Banyak 
ketidakkonsistenan. Coba lihat, badan penyelenggara perkeretaapian kita 
silih berganti nama. Dimulai dengan nama Djawatan Kereta Api (DKA), 
Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI), Perusahaan Negara Kereta
 Api (PNKA), Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), Perusahaan Umum 
Kereta Api (Perumka), PT Kereta Api (PT KA), sampai terakhir kali sejak 
2010 berganti nama menjadi PT Kereta Api Indonesia (KAI).&lt;br /&gt;


 Selama 70 tahun kita merdeka, tujuh kali penyelenggara perkeretaapian kita berganti nama.&lt;br /&gt;

&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Kereta rel listrik&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Pada 1994, Taufik mendapat tugas mempelajari alih teknologi kereta rel listrik. ”Saya dikirim ke Belanda untuk itu,” katanya.&lt;br /&gt;


 Pada Oktober hingga November 1994, Taufik mengikuti pelatihan ”Kontrol 
Elektronik untuk Kereta Rel Listrik” di Belanda. Pelatihan ini 
dilanjutkan pada Maret hingga Mei 1995, juga di Belanda.&lt;br /&gt;


 Pada Juni 1997, Taufik ditugaskan lagi untuk membuat studi perbandingan
 tentang industri perkeretaapian dan layanan publik dengan kereta rel 
listrik di beberapa kota di Perancis, yaitu Paris, Lions, dan Bordeaux. 
Pada periode 1996 hingga 1999, dia juga terlibat dalam kegiatan ilmiah 
alih teknologi dan manufaktur kereta rel listrik dalam kerangka kerja 
sama antara Departemen Perhubungan waktu itu, PT Industri Kereta Api 
(INKA), PT LEN Industri, PT Pindad, Perumka, lembaga Holec dari Belanda,
 dan Bombardier dari Belgia.&lt;br /&gt;


 Pada periode hampir bersamaan, antara 1996-1998, Taufik memimpin Proyek
 Rekayasa dan Produksi Kontrol Panel AC Kereta Api dalam kerangka kerja 
sama PT LEN Industri dengan PT Dharma Niaga (Persero) dan lembaga Stone 
dari Inggris. Di tahun-tahun berikutnya, Taufik terjun mendampingi 
perusahaan operator perkeretaapian.&lt;br /&gt;


 Semua pengalaman itu mendorong Taufik konsisten sebagai peneliti dan ilmuwan di bidang perkeretaapian sampai sekarang.&lt;br /&gt;


 ”Pada tahun 1999 ada pilihan untuk tetap di PT LEN Industri atau 
beralih sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di bawah institusi Lembaga 
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Saya memilih masuk menjadi PNS di 
LIPI sampai sekarang,” kata Taufik.&lt;br /&gt;


 Kegiatan Taufik akhirnya banyak berinteraksi langsung dengan operator 
perkeretaapian untuk berbagai urusan teknis maupun soal kebijakan 
publik. Dia turut membawa profil usaha perkeretaapian kita ke berbagai 
negara untuk benchmarking atau mencari acuan, seperti di India berturut-turut pada 2008, 2009, dan 2010. Hal serupa dilakukan di Tiongkok pada 2012.&lt;br /&gt;


 Taufik aktif menulis berbagai laporan teknis ilmiah masalah 
perkeretaapian. Dia meluangkan waktu menjadi salah satu redaktur di Majalah KA
 (majalah khusus perkeretaapian) sejak 2014 sampai sekarang. Dia juga 
akfif sebagai narasumber di berbagai seminar perkeretaapian.&lt;br /&gt;


 Beberapa karya tulisnya diterbitkan, seperti mengenai evaluasi 
perbaikan pada modifikasi lokomotif kereta diesel-elektrik untuk jurnal 
ilmiah, Journal of Mechatronics, Electrical Power, and Vehicular Technology (2013). Ada juga buku-bukunya tentang pemikiran kritisnya untuk mengembangkan perkeretaapian. Pada 2004, ia menerbitkan buku Perkeretaapian Indonesia di Persimpangan Jalan.&lt;br /&gt;


 Bagi Taufik, saat ini Indonesia memiliki modal berharga untuk renaisans, yakni membangkitkan kembali kejayaan perkeretaapian.&lt;br /&gt;




                &lt;div class="article-footnote"&gt;
                    &lt;span class="article-footnote-citation"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-footnote"&gt;
&lt;span class="article-footnote-citation"&gt;Versi cetak 
artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 April 2015, di halaman 16 
dengan judul "Mendorong Renaisans Perkeretaapian Indonesia".&lt;/span&gt;
                &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/04/mendorong-renaisans-perkeretaapian.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-8364790804448998001</guid><pubDate>Wed, 15 Apr 2015 02:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-15T09:41:06.875+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kereta api</category><title>Sejarah Kereta Api dalam Selembar Peta oleh Nawa Tunggal</title><description>&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Sejarah Kereta Api dalam Selembar Peta&lt;/h1&gt;
&lt;h3 class="article-byline"&gt;
Nawa Tunggal&lt;/h3&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;span class="num-readability"&gt;&lt;/span&gt;
                &lt;/span&gt;
            &lt;/span&gt;
        &lt;/h4&gt;
&lt;div class="article-lead"&gt;
 Berbekal pendidikan teknik geodesi atau
 ilmu pemetaan bumi, Artanto Rizky Cahyono (37) berhasil meringkas 
sejarah panjang jalur perkeretaapian Indonesia dalam selembar peta. 
Melalui peta itu, pegiat komunitas Indonesian Railway Preservation 
Society itu mewujudkan kecintaannya pada perkeretaapian yang tumbuh 
sejak kecil ketika tinggal di dekat Stasiun Maos, Kabupaten Cilacap, 
Jawa Tengah. &lt;/div&gt;
&lt;aside class="article-pullout"&gt;&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="" class="article-image" id="portrait" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/2538cc28-2d8b-4445-9eae-74a9fa1c7cfc/176931?maxsidesize=300" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;KOMPAS/NAWA TUNGGAL&lt;/span&gt;&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/aside&gt;

&lt;aside class="article-pullout article-biodata cf"&gt;
 &lt;h1 class="txt-blue"&gt;
  Artanto Rizky Cahyono&lt;/h1&gt;
&lt;h2 class="txt-label"&gt;
  &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;LAHIR&lt;/h2&gt;
Cilacap, Jawa Tengah, 11 September 1978&lt;br /&gt;

 &lt;h2 class="txt-label"&gt;
  PENDIDIKAN&lt;/h2&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;
   SD Negeri IV Maos, Cilacap&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   SMP Negeri II Maos&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   SMA Negeri IV Yogyakarta&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;
   Jurusan Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;h2 class="txt-label"&gt;
  ORGANISASI&lt;/h2&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;
   Indonesian Railway Preservation Society&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/aside&gt;

 ”Yang membuat saya tertarik perkeretaapian, karena sejak kecil saya 
sering diajak ayah melihat-lihat lalu lalang kereta api di Stasiun Maos.
 Ayah juga sering mengajak saya naik kereta api dari Maos ke Yogyakarta,
 biasanya untuk menengok kakak-kakak saya yang indekos dan studi di 
Yogyakarta,” kata Rizky di Jakarta, Senin (30/3).&lt;br /&gt;


 Peta sejarah jalur kereta api di Indonesia karya Rizky dibagi menjadi 
dua, meliputi Peta Jalur Kereta Api di Jawa dan Madura serta Peta Jalur 
Kereta Api di Sumatera. Berbeda dari peta lainnya, peta-peta berukuran 
panjang 96 sentimeter dan lebar 67 sentimeter itu memuat legenda yang 
cukup lengkap.&lt;br /&gt;
&lt;figure class="article-media-container pr"&gt;&lt;section class="box-video"&gt;&lt;video controls="" height="354.375" poster="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/b813c772-477b-4225-aecc-34e86e966a4e/176829" preload="auto" style="height: 354.375px; width: 630px;" width="630"&gt;Peramban Anda tak mendukung markah video&lt;/video&gt;&lt;/section&gt;&lt;/figure&gt;&lt;figure class="article-media-container pr"&gt;&lt;section class="box-video"&gt;&lt;/section&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;KOMPAS&lt;/span&gt;Seorang
 pecinta kereta api, Artanto Rizky Cahyono (37), membuat dan meringkas 
sejarah perkeretaapian kita menjadi selembar peta yang menarik.&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;

 Pada Peta Jalur Kereta Api di Jawa dan Madura, kronologi pembangunan 
perkeretaapian diintisarikan sejak tahun 1840 sampai 2010 ketika ada 
pengubahan nama PT Kereta Api (Persero) menjadi PT Kereta Api Indonesia 
(Persero). Disebutkan, pada tahun 1840, Kolonel Van der Wijks 
mengusulkan kepada Kerajaan Belanda agar dibangun kereta api di Hindia 
Belanda karena masalah keamanan dan ekonomi yang cukup mendesak.&lt;br /&gt;


 Rizky mencantumkan sembilan rujukan untuk pembuatan peta-peta tersebut. Salah satunya, buku Spoorwegstations op Java (1993) karya Michiel van Ballegoijen de Jong.&lt;br /&gt;


 ”Dengan peta ini sudah lebih dari cukup untuk memahami perjalanan sejarah pembangunan jalur kereta api kita,” kata Rizky.&lt;br /&gt;


 Peta dibuat selama enam sampai tujuh bulan pada tahun 2012. Pada 
peringatan ulang tahun PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero), 
penyerahan peta disampaikan kepada Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan.&lt;br /&gt;


 ”Hampir di semua stasiun di daerah, peta itu sekarang terpajang. Hanya 
saja sebagian besar stasiun kereta api komuter di Jakarta tidak 
memajangnya,” ujar Rizky.&lt;br /&gt;


 &lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Lokomotif uap D52&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Rizky menempuh kuliah di Jurusan Teknik Geodesi Universitas Gadjah 
Mada, Yogyakarta, tahun 1996-2001. Setelah lulus kuliah, pemuda itu 
bekerja untuk perusahaan konsultan pemetaan di Jakarta hingga tahun 
2007. Sejak 2007 hingga sekarang dia bekerja di perusahaan produsen 
bubur kertas dan kertas.&lt;br /&gt;


 Ayah Rizky adalah seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Umum 
Daerah Cilacap. Ia anak bungsu dari empat bersaudara. Di antara 
saudaranya, hanya dia yang tertarik pada kereta api.&lt;br /&gt;


 ”Kereta api sangat menarik. Saya sangat senang melihat bentuk-bentuk 
lokomotif dengan gerbong bervariasi, seperti gerbong untuk mengangkut 
semen, pasir kuarsa, atau pupuk, yang memiliki bentuk khas 
masing-masing,” kata Rizky.&lt;br /&gt;


 Pada tahun 2004 pemuda itu bergabung dengan komunitas pencinta kereta 
api, Indonesian Railway Preservation Society di Jakarta. ”Di komunitas 
itu kami saling tukar informasi tentang kereta api,” ujarnya.&lt;br /&gt;


 Jenis lokomotif yang paling disukai Rizky sejak kecil sampai sekarang 
adalah jenis lokomotif uap D52. Seingat dia, lokomotif uap itu masih 
bisa dijumpai terakhir kali sekitar tahun 1990 di Stasiun Maos.&lt;br /&gt;


 Lokomotif uap D20 sebagai lokomotif uap paling modern pada masanya 
dipesan pada era pasca kemerdekaan tahun 1951. Rizky mencantumkan 
keterangan pada legenda petanya. Disebutkan, tahun 1951 lokomotif uap 
modern tiba dari pabrik Krupp (Jerman) dan dipesan 100 unit.&lt;br /&gt;


 Lokomotif uap D52 andal untuk jalur landai dengan kecepatan maksimum 90
 kilometer per jam. Pada masanya, lokomotif dengan kecepatan maksimum 
seperti itu termasuk yang paling cepat. Sebanyak 100 lokomotif uap D52 
lalu tersebar di beberapa stasiun, meliputi Stasiun Jatinegara, Cirebon,
 Banjar, Kutoarjo, Yogyakarta, Madiun, Sidotopo, dan Kertapati.&lt;br /&gt;


 &lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Saling terhubung&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Ketika mencermati peta jalur kereta api di Jawa, hampir semua jaringan 
relnya sudah saling terhubung. Hanya jalur-jalur rel yang ada di bagian 
selatan Jawa masih terputus.&lt;br /&gt;


 ”Sampai sekarang belum pernah ditemukan dokumen milik Belanda yang 
menyatakan rencana jalur-jalur rel kereta api di bagian selatan Jawa itu
 nantinya juga akan saling terhubung,” kata Rizky.&lt;br /&gt;


 Dalam legenda peta, dia mencantumkan 19 maskapai atau perusahaan 
perkeretaapian, termasuk satu perusahaan milik pemerintah, Staats 
Spoorwegen, yang mengoperasikan layanan angkutan kereta api di Jawa dan 
Madura. Tahun 1939 total panjang rel di Jawa dan Madura mencapai 5.473 
kilometer.&lt;br /&gt;


 Tahun 1939, jaringan rel di Sumatera sepanjang 1.990 kilometer, yang 
dikelola empat perusahaan swasta. Itu berarti pada tahun 1939 jaringan 
rel di Jawa-Madura dan Sumatera mencapai 7.563 kilometer.&lt;br /&gt;


 Pada tahun 1942 terjadi peralihan penguasaan wilayah Hindia Belanda 
akibat pecah Perang Dunia II. Pemerintah pendudukan Jepang mengambil 
alih. Demi kepentingan ekspansi Jepang ke wilayah Burma dan Thailand, 
sesuai catatan buku Jan de Bruin berjudul Het Indische Spoor in Oorlogstijd
 (2003), 46 petak jalur rel kereta api di Indonesia dipereteli pada 
1942-1944. Panjang total rel yang dicopot Jepang mencapai 743 kilometer 
sehingga panjang rel tersisa tinggal 6.820 kilometer.&lt;br /&gt;


 Operasi kereta api dari waktu ke waktu terus menurun. Berdasarkan data 
terbaru tahun 2010, panjang rel kereta api yang aktif hanya tinggal 
4.678 kilometer.&lt;br /&gt;


 ”Dari peta grafikal ini kita banyak belajar, seperti dari banyaknya 
perusahaan yang menjadi operator kereta api pada waktu itu. Jalur kereta
 api saat itu menjadi terus bertambah,” kata Rizky.&lt;br /&gt;


 Namun, kini kita hanya memiliki satu perusahaan operator kereta api, 
yakni PT KAI. Panjang jalur rel kereta api pun jauh berkurang. 
Penambahan jalur ganda menambah sekitar 300 kilometer, tetapi tetap 
tidak ada pembukaan jalur baru.&lt;br /&gt;


 ”Sebetulnya, sejak kecil saya bercita-cita menjadi ahli konstruksi yang
 akan membangun jalur-jalur rel kereta api di Indonesia. Sewaktu masih 
kecil, saya pernah memikirkan, mengapa rel kereta api dengan bantalan 
kayu itu tak pernah melengkung ketika harus menopang lokomotif yang 
sangat berat,” katanya.&lt;br /&gt;


 Usaha Rizky ini sederhana, tetapi cukup mengena tatkala wajah publik kita kian membutakan diri terhadap sejarah dan maknanya.

                &lt;br /&gt;
&lt;div class="article-footnote"&gt;
                    &lt;span class="article-footnote-citation"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-footnote"&gt;
&lt;span class="article-footnote-citation"&gt;Versi cetak 
artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 April 2015, di halaman 16 
dengan judul "Sejarah Kereta Api dalam Selembar Peta".&lt;/span&gt;
                &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/04/sejarah-kereta-api-dalam-selembar-peta.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-4925479150935602150</guid><pubDate>Wed, 15 Apr 2015 02:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-15T09:38:32.902+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kereta api</category><title>Kresna Menyusuri Wonogiri oleh Nawa Tunggal</title><description>&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Kresna Menyusuri Wonogiri&lt;/h1&gt;
&lt;h3 class="article-byline"&gt;
 Nawa Tunggal&lt;/h3&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;span class="num-readability"&gt;&lt;/span&gt;
                &lt;/span&gt;
            &lt;/span&gt;
        &lt;/h4&gt;
&lt;div class="article-lead"&gt;
Ketika kian mendekati Stasiun Wonogiri, 
  warga menghambur menyambut  bus rel Batara Kresna,  11 Maret 2015. 
Warga yang kebanyakan berusia lanjut  itu   menggandeng  anak-anak 
kecil, seakan ingin  menunjukkan  kereta api adalah masa lalu bagi yang 
tua, tetapi masa depan bagi anak cucu mereka.        &lt;/div&gt;
&lt;div class="article-media-container"&gt;
&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="Bus rel Batara Kresna tiba di Stasiun Wonogiri saat peresmian reaktivasi jalur Solo-Wonogiri, Rabu (11/3)." class="article-image" id="landscape" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/dda90456-8be0-4152-a214-509ea031b272/176900" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;kompas/nawa tunggal&lt;/span&gt;Bus rel Batara Kresna tiba di Stasiun Wonogiri saat peresmian reaktivasi jalur Solo-Wonogiri, Rabu (11/3).&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/div&gt;
Dulu, stasiun ini ramai sekali. Sepur kluthuk
 (berlokomotif  mesin uap)  mengangkut gamping (batu kapur) dari 
Baturetno dan  bakul-bakul sayur," ujar Mbah Talem (80) dengan wajah 
berseri.&lt;br /&gt;
 Ia turut bergembira menyambut bus rel (variasi 
dari kereta dengan bahan lebih ringan) yang digunakan sebagai Kereta Api
 Perintis Batara Kresna. Kereta itu akan  mengaktifkan kembali jalur 
Stasiun Purwosari di Solo, Jawa Tengah,  hingga Stasiun Wonogiri, 
Jateng.&lt;br /&gt;
Mbah Talem berdagang makanan ringan dan minuman di sebuah 
warung yang letaknya persis di muka pintu masuk stasiun. Pada  pagi 
menjelang siang pertengahan Maret lalu itu,  Mbah Talem sibuk melayani 
para pembeli. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Tertanam dalam  ingatan Mbah Talem ketika orang Belanda pada masa kolonial mengoperasikan kereta api kluthuk
  dari Baturetno melintasi Wonogiri menuju Solo (Surakarta). 
Gerbong-gerbong kereta api kebanyakan mengangkut batu gamping dari 
wilayah Baturetno untuk keperluan pabrik-pabrik gula di Solo dan 
sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;figure class="article-media-container pr"&gt;&lt;section class="box-video"&gt;&lt;video controls="" height="354.375" poster="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/7cdb3f4c-79f5-4f8c-aacc-19d8009674d8/176873" preload="auto" style="height: 354.375px; width: 630px;" width="630"&gt;Peramban Anda tak mendukung markah video&lt;/video&gt;&lt;/section&gt;&lt;/figure&gt;&lt;figure class="article-media-container pr"&gt;&lt;section class="box-video"&gt;&lt;/section&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;KOMPAS&lt;/span&gt;Menteri
 Perhubungan Ignasius Jonan meresmikan penggunaan Railbus atau Bus Rel 
Batara Kresna, Rabu 11 Maret 2015. Bus Rel ini akan menjadi Kereta Api 
Perintis untuk reaktivasi jalur sepanjang 32 kilometer dari Stasiun 
Purwosari, Solo, hingga Stasiun Wonogiri di Kabupaten Wonogiri, Jawa 
Tengah. &lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;Menurut catatan Vincent JH Houben dalam buku Spoor Masa Kolonial
 (Waskito Widi Wardojo, 2013), pada 1863 terdapat pabrik gula di Sragen 
(22 pabrik), Boyolali (11 pabrik), Klaten (9 pabrik), dan Kartasura (4 
pabrik). Produksi gula terbanyak  di Klaten. Catatan Vincent 
menyebutkan, pada 1863  diproduksi   40.239 pikul gula di Klaten.&lt;br /&gt;

  Sistem tanam paksa pada 1830-1870 menyebabkan komoditas bernilai 
ekonomis, seperti tebu, banyak diproduksi. Tetapi, tanam paksa tidak 
diterapkan di wilayah milik Kerajaan Kasunanan dan Mangkunegaran di 
Solo. Banyak pemodal menyewa tanah di wilayah itu untuk menanam tebu 
karena tanahnya subur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
&lt;div class="article-interactive-infographics" id="content-fishery"&gt;
&lt;div class="wrapper-fishery"&gt;
&lt;div class="content-fish"&gt;
&lt;img alt="content" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/37e03833-eab1-4e1e-8dd5-602496a2d236/176920" title="1" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="content-credits"&gt;
,&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Diaktifkan kembali&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Menteri
 Perhubungan  Ignasius Jonan yang juga  mantan Direktur Utama PT Kereta 
Api Indonesia (KAI), pertengahan Maret lalu,  meresmikan reaktivasi  
jalur kereta api Solo-Wonogiri dengan bus rel Batara Kresna.  
Operasionalisasi Batara Kresna menggunakan subsidi pemerintah hampir Rp 9
 miliar mulai  dari 11 Maret sampai 31 Desember 2015. &lt;br /&gt;
Konon,  
kata anggota DPRD Kabupaten Wonogiri, Bambang Sudriyanto, nama Batara 
Kresna diberikan Wali Kota Solo Joko Widodo pada  2011 bersamaan dengan 
pengoperasioan bus tingkat wisata Werkudoro. Namun,  kereta Batara 
Kresna hanya bertahan sampai 2013 dengan tarif tiket tanpa disubsidi Rp 
20.000.  &lt;br /&gt;
&lt;aside class="article-pullout article-read-also"&gt;&lt;h3 class="article-title"&gt;
&lt;span class="article-date"&gt;&lt;time datetime="2015-04-09T00:00:00"&gt;&lt;span class="marker-time-red"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/time&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;/aside&gt;Jonan
 memecahkan  kendi berkalung  rangkaian  melati berisikan air di kaca 
lokomotif bus rel Batara Kresna. Itu  menandakan peresmiannya. Dia lalu 
masuk dan mengikuti perjalanan bus rel Batara Kresna mulai dari Stasiun 
Purwosari  sampai stasiun berikutnya, Solokota. Dari dalam bus rel, 
terlihat sempadan rel kereta api di Kota Solo dipenuhi rumah penduduk. &lt;br /&gt;
Jonan
 menghendaki  ada penataan kembali. Serupa daerah sempadan rel kereta 
api di lain daerah, misalnya, di jalur kereta api Jakarta-Bogor melalui 
Depok. Banyak bangunan di kiri-kanan rel kereta api  dirobohkan. Lahan 
itu kemudian terbuka meski belum jelas peruntukannya.    &lt;br /&gt;
Perkeretaapian
 mengalami banyak perubahan baik  ketika Jonan menjabat  Direktur Utama 
PT KAI pada  2009. Penataan kembali perkeretaapian  mengutamakan 
modernisasi dan kesejahteraan pekerjanya.&lt;br /&gt;
Operasional Batara 
Kresna   belum sempurna.    "Mengapa jarak tempuh hanya 30 kilometer, 
tetapi lama sekali sampai satu jam 45 menit?" kritik Jonan.  Jonan 
menyampaikan, idealnya, ada tiga bus rel Batara Kresna. Dua unit untuk  
dijalankan, satu unit  dicadangkan.&lt;br /&gt;
Kini kereta di jalur itu 
diharapkan menjadi alat transportasi bagi penduduk.   Direktur Utama PT 
KAI Edi Sukmoro mengatakan, reaktivasi jalur Solo-Wonogiri akan 
mengurangi beban jalan,  mengurangi risiko kecelakaan di jalan, dan 
menjadi pilihan angkutan massal.  &lt;br /&gt;
Kepala Dinas Perhubungan 
Kabupaten Wonogiri Ismiyanto mengatakan, animo pengguna angkutan jalan 
dari Wonogiri ke Solo dan sebaliknya sekarang berubah. Penduduk yang 
semula  pengguna bus angkutan umum sekarang  menjadi pemakai  sepeda 
motor. &lt;br /&gt;
"Dengan sepeda motor, dari Wonogiri sampai Solo bisa ditempuh kurang dari setengah jam," katanya. &lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
 "Vorstenlanden"&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Reaktivasi jalur kereta api Solo-Wonogiri itu  mengingatkan  sejarah perkeretaapian pada masa kolonial Belanda di wilayah vorstenlanden,
 yaitu  tanah di bawah kekuasaan kerajaan Surakarta  yang tidak boleh 
dikenai sistem tanam paksa. Wilayah kerajaan Yogyakarta juga termasuk  vorstenlanden.&lt;br /&gt;

     Tanah di kedua wilayah kerajaan  tersebut memiliki tingkat 
kesuburan yang lebih baik dibandingkan dengan wilayah di sekitarnya. 
Para pemilik modal Belanda akhirnya menyewa lahan-lahan itu untuk 
perkebunan-perkebunan. Salah satunya perkebunan tebu.&lt;br /&gt;
 Komoditas 
tebu paling  mencolok tingkat produksinya. Di wilayah Surakarta, pada 
1863,  ada 46 pabrik gula tersebar di Sragen, Boyolali, Klaten, dan 
Kartasura. Jalur kereta api menyusul kemudian. Pada 1867, jalur kereta 
mulai dibangun dari Semarang menuju Tanggung, Purwodadi. &lt;br /&gt;
Jalur 
kereta api itu dilanjutkan hingga Solo dan selesai pada  1870. 
Pembangunan jalur kereta dilanjutkan hingga Klaten dan selesai tahun 
1871. Lalu, berlanjut dari Klaten hingga Yogyakarta yang  selesai pada 
tahun 1887.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Kehadiran moda transportasi kereta memberikan 
keuntungan besar bagi para pengusaha pabrik gula. Adanya  kereta api  
mempercepat pengiriman gula ke pelabuhan ekspor di Semarang. Pengiriman 
gula juga menjadi lebih efisien. &lt;br /&gt;
  Para pemilik modal perkebunan 
itu  pula yang menghendaki  diperluasnya jaringan rel kereta api, 
termasuk pembangunan jalur trem untuk pengangkutan tebu ke 
pabrik-pabrik.&lt;br /&gt;
  Begitu pula ketika pabrik-pabrik gula itu 
membutuhkan batu kapur untuk proses produksinya. Para pemodal 
menginginkan supaya dibuka jaringan baru rel kereta api yang bisa 
mengangkut batu kapur dengan lebih efektif.&lt;br /&gt;
 Pemenuhan batu kapur untuk pabrik-pabrik gula di wilayah  vorstenlanden Surakarta
 didatangkan dari wilayah Wonogiri. Baru pada  1922 dibangun jalur rel 
kereta api sepanjang 32 kilometer dari Stasiun Solokota hingga Stasiun 
Wonogiri. Eksploitasi batu kapur di daerah Wonogiri dilanjutkan ke arah 
selatan. Maka,  pada tahun berikutnya, 1923, dibangun jalur rel dari 
Stasiun Wonogiri sampai Stasiun Baturetno sepanjang 19 kilometer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
 &lt;b&gt;Perbedaan nyata&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Perencanaan
 dan pembangunan jalur kereta api di masa kolonial Hindia Belanda  
berbeda nyata dibandingkan dengan  masa sekarang. Peresmian Batara 
Kresna,  misalnya,  menampakkan perencanaan yang kurang matang.&lt;br /&gt;
Operasional
 Batara Kresna    tanpa ketersediaan  kereta  cadangan. Infrastruktur 
lintasan rel juga tidak ditingkatkan untuk menyesuaikan dengan kapasitas
 bus rel Batara Kresna yang memiliki  kecepatan maksimum sampai 100 
kilometer per jam. Pada akhirnya, Batara Kresna hanya bisa berjalan 
pelan 30 kilometer per jam. &lt;br /&gt;
Menurut  ahli transportasi dari 
Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, jalur 
Solo-Wonogiri  memiliki tipe rel 33 (dengan panjang 1 meter memiliki 
bobot 33 kilogram).  Itu tidak ideal untuk kecepatan sedang hingga 
tinggi.&lt;br /&gt;
"Semestinya rel tipe 33 sudah harus diganti menjadi rel tipe 42 atau 54," kata Djoko.&lt;br /&gt;

  Kementerian Perhubungan sejak 2009 hingga 2014 menghabiskan anggaran 
Rp 206,8 miliar untuk pemeliharaan dan peningkatan jalur kereta api 
lintas Purwosari-Wonogiri. Tetapi, ini tidak berpengaruh terhadap 
kebutuhan bus rel Batara Kresna.  &lt;br /&gt;
Semestinya kita  bisa melaju 
lebih cepat dalam membangun perkeretaapian. Dengan pertumbuhan penduduk,
 ekonomi, dan perkembangan kota-kota di Indonesia, kereta api  merupakan
  angkutan massal  masa depan.  

                &lt;br /&gt;
&lt;div class="article-footnote"&gt;
                    &lt;span class="article-footnote-citation"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-footnote"&gt;
&lt;span class="article-footnote-citation"&gt;Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 April 2015, di halaman 12 dengan judul "Kresna Menyusuri Wonogiri".&lt;/span&gt;
                &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/04/kresna-menyusuri-wonogiri-oleh-nawa.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-4350765234519780558</guid><pubDate>Wed, 15 Apr 2015 02:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-04-15T09:35:59.988+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kereta api</category><title>Ngabean Menanti Reaktivasi by Nawa Tunggal</title><description>&lt;h1 class="article-headline"&gt;
Ngabean Menanti Reaktivasi&lt;/h1&gt;
&lt;h3 class="article-byline"&gt;
Nawa Tunggal&lt;/h3&gt;
&lt;h4 class="article-date font-bigger cf"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span class="col-2-ng wrapper-readability"&gt;&lt;span class="wrapper-readability-inner"&gt;&lt;span class="num-readability"&gt;&lt;/span&gt;
                &lt;/span&gt;
            &lt;/span&gt;
        &lt;/h4&gt;
&lt;div class="article-lead"&gt;
Hampir sepanjang 3.000 kilometer jalur 
rel kereta api kita telah dimatikan. Reaktivasi begitu indah untuk 
dibayangkan demi memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat. Namun,
 ternyata tidak mudah menemukan sosok pemimpin yang berani menghidupkan 
kembali jalur-jalur rel mati itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-media-container"&gt;
&lt;figure class="interactive-media-slideshow article-media-container pr"&gt;&lt;img alt="Bekas Stasiun Kereta Api Ngabean, Yogyakarta, dibangun pada sekitar tahun 1895. Saat ini digunakan wargauntuk layanan perjalanan wisata ke Keraton Yogyakarta." class="article-image" id="landscape" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/8f20a716-e6c9-4e57-a7ed-ca8959f2ca47/177324" /&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;kompas/nawa tunggal&lt;/span&gt;Bekas
 Stasiun Kereta Api Ngabean, Yogyakarta, dibangun pada sekitar tahun 
1895. Saat ini digunakan wargauntuk layanan perjalanan wisata ke Keraton
 Yogyakarta.&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;/div&gt;
Suatu siang pertengahan Maret 2015, Manajer Sekretariat Koperasi Pariwisata Ngabean Yogyakarta Krisnadi menyambut Kompas
 untuk memotret dan melihat-lihat kondisi bekas Stasiun Ngabean, di 
sebelah barat kawasan Keraton Yogyakarta. Bangunan yang diperkirakan 
didirikan sekitar tahun 1895 itu kini digunakan untuk mengelola paket 
perjalanan wisata dengan mobil minibus menuju Pagelaran, Keben, 
Magangan, dan Taman Sari, area wisata utama Keraton Yogyakarta.&lt;br /&gt;


 ”Pemerintah daerah sudah pernah membahas masalah pengaktifan kembali 
jalur kereta api melalui Stasiun Ngabean ini. Waktu itu tujuannya untuk 
menambah daya tarik pariwisata di Yogyakarta,” kata Krisnadi.&lt;br /&gt;


 Stasiun Ngabean juga menyimpan sejarah penting. Menurut Tjahjono 
Rahardjo, anggota Indonesian Railway Preservation Society Semarang, yang
 juga dosen di Universitas Katolik Soegijapranata, Stasiun Ngabean 
pernah dilintasi kereta api jenazah Raja Kasunanan Surakarta Sri 
Susuhunan Paku Buwono X menuju tempat pemakaman Raja-raja Mataram di 
Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tahun 1939.&lt;br /&gt;


 Paku Buwono X lahir 29 November 1866 dan dinobatkan menjadi Raja 
Kasunanan Surakarta, 30 Maret 1893, pada usia 27 tahun. Masa 
kepemimpinannya 46 tahun hingga wafat pada 1 Februari 1939.&lt;br /&gt;
&lt;figure class="article-media-container pr"&gt;&lt;section class="box-video"&gt;&lt;video controls="" height="354.375" poster="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/ba6ddb5d-c51c-44ec-bffe-4e430c454533/177342" preload="auto" style="height: 354.375px; width: 630px;" width="630"&gt;Peramban Anda tak mendukung markah video&lt;/video&gt;&lt;/section&gt;&lt;/figure&gt;&lt;figure class="article-media-container pr"&gt;&lt;section class="box-video"&gt;&lt;/section&gt;&lt;figcaption class="article-image-caption"&gt;&lt;span class="photo-credit"&gt;KOMPAS&lt;/span&gt;Stasiun
 Ngabean salah satu stasiun kereta api di tengah Kota Yogyakarta yang 
menyimpan sejarah menarik. Stasiun ini menjadi bagian dari lintasan rel 
kereta api yang menghubungkan Stasiun Tugu, Yogyakarta, sampai Stasiun 
Srandakan, Bantul, dibangun salah satu perusahaan swasta Hindia Belanda 
pada tahun 1895. &lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;

 Semasa hidupnya, dia banyak bekerja di balik layar untuk mendukung 
pergerakan nasional untuk memperjuangkan kemerdekaan. Salah satunya, dia
 menyokong pendirian organisasi Serikat Dagang Islam di Surakarta pada 
tahun 1905.&lt;br /&gt;


 Selain sebagai penjaga kuat tradisi Jawa, Paku Buwono X juga dikenal 
sebagai pendorong modernisasi Jawa. Pada masanya, ia menciptakan sistem 
kredit rumah bagi warga kurang mampu.&lt;br /&gt;


 Sejumlah pasar, stasiun kereta, rumah sakit, dan sekolah, seperti 
sekolah Pamardi Putri dan Kasatriyan, juga dibangun. Pasar Klewer dan 
Stasiun Solo Balapan termasuk warisannya.&lt;br /&gt;
&lt;div class="article-interactive-infographics" id="content-fishery"&gt;
&lt;div class="wrapper-fishery"&gt;
&lt;div class="content-fish"&gt;
&lt;img alt="content" src="http://cdn.img.print.kompas.com/getattachment/e42fa8de-f889-4ba1-9771-4d1bff8097bf/177212" title="1" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="content-credits"&gt;
,&lt;/div&gt;
&lt;ul class="nav-fishery"&gt;
&lt;li class="nav-fishery-items active" data-slide="/getattachment/e42fa8de-f889-4ba1-9771-4d1bff8097bf/177212"&gt;1&lt;/li&gt;
&lt;li class="nav-fishery-items" data-slide="/getattachment/5c853736-f691-47b9-8b30-b118b5259eeb/177325"&gt;2&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
Kenangan lain adalah dia dinilai berhasil mempersatukan trah Kerajaan 
Mataram, yang sejak 1755 terpecah jadi Kerajaan Surakarta dan 
Yogyakarta.&lt;br /&gt;

&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
Pundong dan Sewugalur&lt;/div&gt;
Rel dari arah Stasiun Tugu Yogyakarta ke Stasiun Ngabean, bercabang ke 
dua arah, yaitu rel menuju stasiun akhir di Pundong, Bantul, dan ke 
Sewugalur, Kulon Progo. Pada 1943 sampai 1944, rel dari Ngabean sampai 
ke Pundong sepanjang 27 kilometer dipreteli Jepang. Nasib tragis serupa 
dialami percabangan lain, yaitu rel dari Stasiun Palbapang di Bantul 
hingga Sewugalur sepanjang 5 kilometer.&lt;br /&gt;
&lt;aside class="article-pullout article-read-also"&gt;&lt;h3 class="article-title"&gt;
&lt;a href="http://print.kompas.com/2015/04/10/Mendorong-Renaisans-Perkeretaapian-Indonesia"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="article-date"&gt; &lt;time datetime="2015-04-10T00:00:00"&gt;&lt;span class="marker-time-red"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/time&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;/aside&gt;

 Pada masa Hindia Belanda, keberadaan jalur rel tersebut berperan 
meningkatkan produksi tebu dan gula. Sebelum kereta api beroperasi saja,
 pada 1884 dilaporkan ekspor gula dari Yogyakarta mencapai 34.408 ton.&lt;br /&gt;


 Produksi gula dari wilayah Yogyakarta pada masa Hindia Belanda mampu 
menyumbang 17 persen dari total ekspor gula dari Pulau Jawa ke Eropa. 
Ini diungkap Waskito Widi Wardojo dalam bukunya, Spoor Masa Kolonial (2014).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Dalam buku Sekilas 125 Tahun Kereta Api Kita 1867-1992,
 Iman Subarkah memaparkan, perusahaan swasta Hindia Belanda, Nederland 
Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), membangun lintasan rel dari 
Stasiun Tugu Yogyakarta ke Pundong dan Sewugalur tersebut. 
Pelaksanaannya bertahap.&lt;br /&gt;


 Rel dari Stasiun Tugu Yogyakarta menuju Srandakan sepanjang 23 
kilometer mulai digunakan pada 21 Mei 1895. Pembangunan rel berlanjut di
 Srandakan ke Brosot sepanjang 2 kilometer dan mulai digunakan pada 1 
April 1915. Rel dari Brosot ke Sewugalur sepanjang 3 kilometer mulai 
digunakan pada 1 April 1916.&lt;br /&gt;


 Pembangunan jalur Ngabean-Pundong juga terbagi dua tahap. Ngabean-Pasar
 Gede sepanjang 6 kilometer, mulai digunakan 15 Desember 1917. Kemudian 
dilanjutkan Pasar Gede-Pundong sepanjang 21 kilometer yang dioperasikan 
sejak 15 Januari 1919.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Bersama Asep Suherman, seorang pencinta kereta api yang pernah tergabung di Indonesian Railway Preservation Society, Kompas menyusuri bekas kedua jalur rel dari Stasiun Ngabean tersebut.&lt;br /&gt;


 Jejak lintasan rel kereta api Ngabean-Pundong hampir tidak berbekas 
sama sekali. Asep lantas menunjukkan salah satu bekas fondasi jembatan 
rel kereta api di dekat Jalan Lingkar Selatan Yogyakarta, di Jalan 
Ngipik Raya, Karanglo, Banguntapan, Bantul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Ketika menyusuri bekas jalur tersebut, Asep memanfaatkan penggabungan 
peta terkini dari Google Earth dengan peta lama jalur rel kereta api 
peninggalan Hindia Belanda.&lt;br /&gt;


 Ada beberapa bekas jembatan sungai kecil untuk melintasi rel ke 
Pundong. Jembatan di Kali Bulus, Desa Paten, Kelurahan Sumber Agung, 
Kecamatan Jetis, Bantul, misalnya, masih memperlihatkan fondasi kunonya.
 Namun, jalur rel lain sulit dikenali karena telah berubah menjadi lahan
 sawah atau jalan.&lt;br /&gt;


 Untuk jalur Ngabean-Sewugalur, tidak terlalu sulit untuk melacaknya 
hingga Stasiun Palbapang, Bantul. Relnya masih ada, tetapi sebagian 
besar terpendam di dalam tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Dari Palbapang, melewati Srandakan, lintasan rel kemudian menyeberang 
Kali Progo. Jembatan bekas jalur rel masih ada dan masih bisa 
dimanfaatkan warga. Namun, bagian tengah jembatan amblas sehingga 
kondisi beton di bagian tengah jembatan itu melengkung.&lt;br /&gt;


 Di sebelah selatannya, sekarang dibangun jembatan baru untuk jalur 
utama kendaraan. Jejak jalur rel setelah menyeberangi Kali Progo juga 
masih terlacak. Di antaranya, berupa jembatan-jembatan kecil jalur rel 
untuk melintasi parit yang ada hingga menuju Sewugalur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 ”Dulunya memang pernah ada rel kereta api di sini,” kata Hadi Subandi 
(78), warga Sewugalur. Jejak rel di Sewugalur sudah tidak berbekas.&lt;br /&gt;


 Berdasarkan peta yang ditunjukkan Asep, perkiraan lokasi Stasiun Sewugalur sekarang sudah berubah menjadi SMP Negeri 2 Galur.&lt;br /&gt;


 ”Setiap stasiun yang ada di lintasan Ngabean ke Pundong dan Sewugalur 
ini hampir selalu memiliki percabangan lintasan rel ke sebuah pabrik 
gula. Itu sebabnya mengapa di Yogyakarta produksi gula terus meningkat 
sewaktu ada jalur rel kereta api yang juga digunakan untuk angkutan tebu
 ke pabrik-pabrik gula,” tutur Asep.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;div class="article-sub-interior"&gt;
&lt;b&gt;Baturetno&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Titik akhir jalur rel kereta api di sebelah timur Pundong berada di 
Baturetno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Bersama ahli transportasi 
Djoko Setijowarno dari Universitas Katolik Soegijaranata, Semarang, Kompas berhasil melacak bekas Stasiun Baturetno, yang berjarak 19 kilometer dari Stasiun Wonogiri tersebut.&lt;br /&gt;


 Untuk mencapai lokasi Stasiun Baturetno, kami harus memutar arah ke 
sisi timur Waduk Gajah Mungkur. Jalur relnya sekarang terendam waduk 
itu.&lt;br /&gt;


 ”Reaktivasi jalur rel yang terbenam waduk bisa dibuat dengan konstruksi
 jembatan di atas air. Jika dilakukan, ini menjadi potensi wisata yang 
menarik, menambah potensi wisata lain di Waduk Gajah Mungkur,” kata 
Djoko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 Suyati (61), salah satu warga yang tinggal di dekat bekas bangunan 
Stasiun Baturetno, mengatakan, terakhir kali kereta api bisa digunakan 
dari Baturetno ke Surakarta ketika ia duduk di kelas IV SD tahun 1966. 
Setelah itu tidak bisa lagi karena ada banjir besar yang merusak 
beberapa jembatan jalur rel kereta.&lt;br /&gt;


 Krisnadi di Ngabean berpandangan serupa dengan Djoko Setijowarno. 
Keduanya menilai, jika pemerintah mampu menghidupkan dan memanfaatkan 
kembali jalur-jalur kereta api yang pernah ada itu, ada potensi 
pariwisata yang menguntungkan. Hanya saja, untuk itu, perlu keberanian.

                &lt;br /&gt;
&lt;div class="article-footnote"&gt;
                    &lt;span class="article-footnote-citation"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="article-footnote"&gt;
&lt;span class="article-footnote-citation"&gt;Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 April 2015, di halaman 12 dengan judul "Ngabean Menanti Reaktivasi".&lt;/span&gt;
                &lt;/div&gt;
</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2015/04/ngabean-menanti-reaktivasi-by-nawa.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-8996988056578251410</guid><pubDate>Wed, 16 Jul 2014 06:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-07-16T13:08:40.340+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>CATATAN BUDAYA:  Berkesenian Itu Sendiri dan Kesepian</title><description>&lt;br /&gt;
CATATAN BUDAYA&lt;br /&gt;
Berkesenian Itu Sendiri dan Kesepian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh: Gunawan Raharja&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...APALAH ARTI — Kesenian, jika terpisah dari masalah sosial (WS Rendra)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa awak panggung Ketoprak Klana Bakti Budaya mulai membenahi peralatan panggungnya tengah malam itu. Mic yang digantung mulai dirapikan, beberapa gamelan tua ditutupi plastik dan panggung dibersihkan. Para penabuh gamelan  yang sebagian besar bukan kru tetap kelompok ini pun sudah bersiap-siap pulang. Ada yang tinggal di Madukismo,  dua jam dari kelompok ketoprak yang berlokasi di Desa Kalimati, Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Didik dan istrinya, Siwuh, bersiap pulang. Ia memasukkan sejumlah&lt;br /&gt;
uang honor sebagai penabuh gamelan dan istrinya yang kadang menjaga loket. Jangan berharap untuk tahu berapa honor para awak panggung ketoprak tobong ini. Tiket pertunjukan seharga lima ribu rupiah selembar dan&lt;br /&gt;
malam ini ada tiga puluh tiga penonton. Lima ribu rupiah dikalikan tiga&lt;br /&gt;
puluh tiga penonton dibagi enam&lt;br /&gt;
puluh awak panggung. Itulah honor pemain dan awaknya. Berapa biaya minimal hidup di Indonesia abad ke-21 ini?&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami sempat berbincang sambil bertukar nomor telepon. Sesaat sebelum jalan, ia sempat berkata sambil tertawa. ”Seniman berkesenian itu puasnya cuma di rasa Mas. Uang carinya di tempat lain. Kalau ada seniman kaya tapi tidak punya rasa, itu namanya perajin kesenian.” Lalu menstarter sepeda motornya dan bersama istrinya ia berlalu menembus malam.&lt;br /&gt;
Kredo&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seniman mengabdikan dirinya pada karya dan merespons pada konteks kekinian yang mengacu pada masalah sosial. Kesenian menjadi pemicu bagi masyarakat untuk memahami persoalan-persoalan dalam masyarakat dengan bahasa nurani dan estetika. Tidak semua persoalan kemasyarakatan dan sosial yang selama ini menjadi bahan diskusi utama dimaknai sebagai informasi yang mudah diterima dan direspons oleh masyarakat. Dalam kondisi kekinian, berbagai problem sosial dan politik saling berkelindan satu sama lainnya dan tidak dapat dipisahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkesenian adalah cara bagi seniman untuk meneriakkan kata-kata atau membentuk persepsi sebuah persoalan dengan kerangka kreativitas. Pemahaman akan persoalan ditentukan oleh personalitas dan latar belakang keilmuannya. Maka pemaknaan tersebut akan menarik karena sebuah persoalan pasti akan direspons dengan cara yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkesenian adalah alat ucap yang mempunyai kesadaran dan konteks tersendiri. Bagi para senimannya, berkesenian menjadi media yang multifungsi. Di satu sisi menjadikan media ekspresi atas responsnya terhadap berbagai gejala dan pergeseran nilai-nilai, sekaligus menjadi media aktualisasi diri. Penelaahan atas respons tersebut membuat dirinya selalu melakukan sikap kritis dan sensitif terhadap berbagai perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman terhadap perubahan tidak selalu sama. Seniman selalu melihat semua persoalan dari sisi yang berbeda. Mereka mempunyai kacamata tersendiri ketika melihat ketidakadilan dan ketidakberdayaan. Sering kali perbedaan pemahaman dan keinginan untuk menyuarakannya menjadi sikap yang kritis dan memunculkan kritik. Sikap itu sering kali menjadi bentuk baru dari perlawanan terhadap ketidakadilan yang sudah mapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orde Baru adalah masa suram dalam keterbukaan politik. Sikap represif pemerintah terhadap berbagai gerakan perlawanan disikapi dengan berbagai pola kesenian. Maka pada saat itu lahirlah berbagai bentuk kesenian yang memolakan sikap-sikap tersebut. Gerakan tersebut seolah-olah membingkai dinamika baru dalam konteks seni. Maka lahirlah karya-karya yang mewakili berbagai gerakan tersebut, dalam bidang sastra, teater, ataupun seni rupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlawanan tersebut memunculkan konsekuensi tersendiri bagi para seniman. Pemerintah Orde Baru melihat gerakan itu sebagai ancaman terhadap stabilitas politik dan keamanan. Sehingga berbagai gerakan kesenian yang dianggap bertentangan mendapatkan pengawasan, bahkan pelarangan. Masa Orde Baru adalah saat di mana kesenian mendapatkan perlakuan khusus dari aparat keamanan. Budayawan dan pekerja teater Butet Kartaredjasa mengatakan bahwa sebuah pentas teater harus melewati dua belas meja untuk mendapatkan izin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prosesi kesenian selalu berbenturan dengan realitas hidup. Tidak semua seniman mempunyai kemewahan untuk melakukan eksplorasi berkeseniannya dengan total dan ”menisbikan” kebutuhan hidupnya. Bahkan banyak kisah seniman yang harus rela untuk mempertaruhkan semua harta bendanya untuk prinsip kreativitas dan estetika meskipun taruhannya bersitegang dengan keluarga.&lt;br /&gt;
Sendiri dan sepi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesetiaan pada ide dan pikiran membuat seniman harus melewati proses panjang dalam mengungkapkan bahasa berkeseniannya.  Berkontemplasi dalam riuh-rendahnya peradaban, selalu berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan esensial yang tidak pernah selesai. Keanehan seniman bukan sekadar bagian dari gaya hidup, melainkan karena mereka selalu berusaha mencari esensi dari setiap gerak dan napasnya yang nantinya dibahasakan dalam konsep berkeseniannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak semua orang akan mengerti bagaimana seorang seniman menghadapi kehidupannya sendiri. Selalu bertanya dan mencari, sampai mereka menemukan  ide dan bentuk. Tenggelam dalam mencari itulah yang kemudian membuat seorang seniman seperti menemukan hidupnya sendiri. Kadang-kadang sikap itu membuatnya seolah-olah anti sosial, sulit untuk melakukan interaksi dengan pihak lain, bahkan dengan keluarga sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap tersebut membuat mereka menjadi ”terpinggirkan”. Seorang seniman seperti mencari dunianya sendiri dan bahkan seperti terasing dari kehidupan riil. Sikap berkesenian dianggap sebuah ketidakwajaran. Mengabdi pada estetika dan kebenaran yang sifatnya personal mungkin juga justru bertentangan dengan kaidah umum. Seorang seniman yang akan menghasilkan karya seperti seorang ibu yang akan melahirkan anaknya. Menjadi sensitif dan susah ditebak maksudnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkesenian adalah sebuah kerelaan. Rela untuk tidak dipahami dan rela untuk tidak dimengerti. Tidak ada definisi yang tepat untuk mengatakan mengapa seorang seniman rela untuk menghabiskan hidupnya untuk sebuah konsep kesenian yang diyakininya. Dengan mengorbankan nilai riil yang dipahami manusia lainnya sebagai sinyal kebahagiaan. Ada seniman yang rela untuk berpisah dengan keluarganya, menghabiskan banyak uang atas nama kesenian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laura H Chaplan dalam Instant Art, Instant Culture: The Unspoken Policy for American Schools (1982) mengatakan bahwa kesenian mempunyai fungsi memberi arti pencerahan bagi masyarakat. Sebuah pencerahan tidak selalu diresepsi dengan tepuk tangan dan penghargaan di atas panggung. Bisa jadi hanya menjadi serpihan daun di atas tanah, yang hancur perlahan tetapi menjadi penyubur bagi bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kompas, 13 Juli 2014 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2014/07/catatan-budaya-berkesenian-itu-sendiri.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-930011247299230206.post-6697268533855225423</guid><pubDate>Wed, 02 Apr 2014 02:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-04-02T09:40:08.116+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Dosen Tak (Boleh) Hanya Mengajar  Oleh: Elisabeth Rukmini </title><description>&lt;h1&gt;
Dosen Tak (Boleh) Hanya Mengajar&lt;/h1&gt;
&lt;div&gt;
      &lt;div style="color: #999999;"&gt;
          Oleh: &lt;span&gt;Elisabeth Rukmini&lt;/span&gt;
        
          &lt;span&gt;&lt;/span&gt;
          &lt;span&gt;&lt;a href="https://www.blogger.com/null"&gt;2 Komentar&lt;/a&gt;
    
&lt;a href="https://www.facebook.com/dialog/feed?app_id=590741631004512&amp;amp;display=popup&amp;amp;caption=%20&amp;amp;name=Dosen%20Tak%20%28Boleh%29%20Hanya%20Mengajar&amp;amp;link=http://print.kompas.com/2014/04/02/Dosen-Tak-%28Boleh%29-Hanya-Mengajar&amp;amp;picture=http://print.kompas.com/app_themes/print.kompas.com/ui/images/ico-kompas.png&amp;amp;description=TERTIDUR%20di%20ruang%20kuliah%20bagi%20mahasiswa%20sudah%20hal%20lumrah.%20Dua%20hari%20yang%20lalu%20saya%20melihat%20mahasiswa%20saya%20tertidur%20nyenyak%20telentang%20di%20lantai%20seperti%20sangat%20kelelahan%20dan%20tak%20menyadari%20bahwa%20kuliah...&amp;amp;redirect_uri=http://print.kompas.com/2014/04/02/Dosen-Tak-%28Boleh%29-Hanya-Mengajar" target="_blank" title="Bagi ke Facebook"&gt;Facebook&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/share?url=http://print.kompas.com/2014/04/02/Dosen-Tak-%28Boleh%29-Hanya-Mengajar&amp;amp;text=Dosen%20Tak%20%28Boleh%29%20Hanya%20Mengajar%0A" target="_blank" title="Bagi ke Twitter"&gt;Twitter&lt;/a&gt;



&lt;/span&gt;
          &amp;nbsp;
      &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
      
    
      
  &lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 20px; width: 100%;"&gt;
      &lt;div&gt;
    
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
    
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 16px;"&gt;&lt;strong&gt;TERTIDUR
 di ruang kuliah bagi mahasiswa sudah hal lumrah. Dua hari yang lalu 
saya melihat mahasiswa saya tertidur nyenyak telentang di lantai seperti
 sangat kelelahan dan tak menyadari bahwa kuliah sudah dimulai.&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 16px;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;

 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Saya terus saja kuliah dengan prinsip 
mahasiswa adalah pembelajar yang telah dewasa sehingga jika pilihannya 
adalah tidur di ruang kuliah, silakan dengan merdeka memilih hal itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Meski demikian, saya merasa tertampar 
sebagai dosen, rupanya kuliah saya sudah tidak bermakna lagi sehingga 
ada pilihan lain yang lebih bermakna: bisa tidur, bisa juga melakukan 
aktivitas lain. Sang mahasiswa dibangunkan oleh teman di dekatnya ketika
 dalam sela-sela perkuliahan saya mengeluarkan soal untuk kuis 
interaktif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="font-size: 16px;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 16px;"&gt;&lt;strong&gt;Nilai nominal&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;

 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Belakangan saya lebih merasa bersalah 
lagi sebab tidak membangunkan mahasiswa saya sebelum memulai 
perkuliahan. Sang mahasiswa ini saya ajak berbincang selesai kelas. Saya
 selidiki mengapa ia tidur. Menurut dia, kelelahan adalah penyebab 
utamanya. Ia katakan telah tidur sebelum saya tiba di kelas. Mengapa 
ketika ada kuis interaktif mahasiswa lain membangunkan dia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Makin tertempelaklah saya, sebab ini 
berarti para mahasiswa hanya mendambakan nilai kuis. Sekali lagi, kuliah
 saya tidak dibutuhkan. Ada yang lebih bermakna: nilai nominal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Cerita orang yang lebih tua dan meskipun 
berpengalaman ternyata tak lagi superior dalam proses pembelajaran. 
Salah satu bukti nyata dan kuat mengapa dosen tak lagi boleh hanya 
mengajar di depan kelas. Maka kesadaran untuk paradigma &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;unsuperiority &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;terutama berkaitan dengan sumber pembelajaran jelas amat penting.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Kemarin, saya ceritakan pengalaman di 
atas kepada beberapa mahasiswa di fakultas lain tempat saya berkarya. 
Para mahasiswa ini malah menambah lagi rasa bersalah saya dengan 
timbunan cerita yang bermuara dan berhilir pada masalah yang sama: dosen
 tak boleh hanya mengajar di depan kelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Begini ceritanya; ada beberapa dosen yang
 sering marah saat memberi kuliah gara-gara para mahasiswanya mengobrol.
 Di antara dosen-dosen ini, salah satunya mengusir mahasiswa dari ruang 
kelasnya. Para mahasiswa pencerita ini bahkan punya nama khusus di 
kalangan mereka untuk dosen pengusir mahasiswa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Bukan merasa bersalah, para mahasiswa 
yang terusir justru merasa lega sebab berhasil secara sah keluar dari 
kelas sang dosen. Mengapa demikian? Jawab mereka karena materi kuliah 
yang diberikan oleh sang dosen tidak ada yang baru, dan infonya dapat 
diakses dengan mudah di tempat lain. Mengapa harus memboroskan waktu 
mendengar sang dosen yang superfisial?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="font-size: 16px;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 16px;"&gt;&lt;strong&gt;Akses materi kuliah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;

 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Para mahasiswa ini bahkan menunjukkan kepada saya dari mana bahan-bahan yang lebih &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;update &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;dan lebih bermakna dapat mereka peroleh ketimbang dari sang dosen. Lebih unik lagi dengan kecepatan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;bandwidth &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;internet, mereka sebarkan bahan itu melalui &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;group &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;mereka, tentu saja minus akunnya dosen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;



 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Tidakkah kita menutup mata jika hanya 
menganggap mahasiswa belajar dengan cara dosennya belajar? Pada zaman 
yang percepatan dan kecepatan kemajuan teknologinya berbeda? Pada masa 
yang perkembangan sosial budaya juga berbeda? Unik sungguh profesi dosen
 (dan guru). Tuntutan mengajar yang 10-20 tahun lalu tepat sasaran kini 
sudah amat kuno. Baheula.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Perlu dan harus berubah. Mahasiswa 
membutuhkan teman sejawat, yang menilai dengan kritis apa sumber-sumber 
belajar mereka, yang menyarankan berbagai sumber belajar yang lebih 
absah, variatif, bermakna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Pilihan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;superiority &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;tidak
 ada lagi. Dosen (dan guru) tak ada pilihan lain, harus berani merelakan
 sembilan puluh persen waktu kuliahnya untuk mendengar, berargumentasi 
mendorong lahirnya pertanyaan; singkat kata: membuat pusat pembelajaran 
adalah sang pembelajar (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;student-centered learning&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="font-size: 16px;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 16px;"&gt;&lt;strong&gt;Salah paham&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;

 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Ada kesalahpahaman para dosen (dan guru) 
ketika pusat pembelajaran adalah siswa, bukan berarti dosen mengalihkan 
tugasnya kepada mahasiswa. Betapa sulitnya membagikan ide berbasis bukti
 bahwa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;student-centered learning &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;(SCL)
 telah menggeser peran dosen sebagai pengajar tunggal di depan kelas, 
sebagai sumber, menjadi peran yang setara, menyediakan diri mengelola (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;facilitating&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;) proses pembelajaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Betapa sulitnya meyakinkan para dosen 
bahwa tugas dosen dalam SCL bermula dari desain pembelajaran dan 
berakhir hingga evaluasi proses. Jalan panjang dan berliku ini jelaslah 
berbeda dengan proses dosen mengajar secara pasif di depan kelas (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;traditional teaching&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;) dengan persiapan pribadi secukupnya (mayoritas persiapan bahan materi kajian).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;



 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;SCL menuntut persiapan matang tak hanya 
pada materi kajian saja, tetapi termasuk di dalamnya kemungkinan 
respons-respons mahasiswa yang bisa saja tidak terduga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Kedua, implementasi SCL jelaslah berbeda dan amat&lt;br /&gt;
 beragam, sementara implementasi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;traditional teaching &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;cukup semacam saja. Peristiwa tak terduga hampir tidak ada pada implementasi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;traditional teaching.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-size: 16px;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 16px;"&gt;&lt;strong&gt;Evaluasi proses&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;

 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Asesmen penguasaan materi kajian juga 
berbeda, perlu desain lagi. Pertanyaan esai yang hanya satu baris 
diawali dengan kata: sebutkan, jelaskan, apa, mengapa dan bagaimana 
sudah tidak memadai lagi pada penilaian metode SCL. Produk penilaian 
sangat besar pada proses formatif lebih perlu masukan dari dosen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Terakhir, evaluasi proses jelas sangat 
berbeda karena lini persiapan, implementasi, dan asesmen yang beragam 
dan amat berbeda. Siapkah dosen (dan guru) kita? Jelaslah dosen yang 
hanya mengajar (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;traditional teaching&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;) tak perlu heran mengapa mahasiswa memilih dikeluarkan dari kelasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


 &lt;span style="font-size: 14px;"&gt;Setelah bicara mengenai dosen (dan guru) yang tidak hanya mengajar (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;traditional teaching&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;), pertanyaan krusial berikutnya siapkah lembaga pendidikan menilai kinerja dosen (dan guru) kita yang tidak hanya mengajar?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 14px;"&gt;&lt;strong&gt;Elizabeth Rukmini&lt;/strong&gt;, Pengajar Unika Atma Jaya Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://signatures.mylivesignature.com/85817/helvry/d2a9fae48be63fbbfbe146e4906a1d7f.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://helvrysmart.blogspot.com/2014/04/dosen-tak-boleh-hanya-mengajar-oleh.html</link><author>noreply@blogger.com (Helvry Sinaga)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>