<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806</atom:id><lastBuildDate>Wed, 06 Nov 2024 02:46:52 +0000</lastBuildDate><category>puisi</category><category>artikel/essay</category><category>jurnal</category><category>ar</category><category>makalah</category><category>prosa</category><category>tanmalaka</category><title>Parodi Hujan Prosais Malam</title><description>Blog ini berisi tulisan-tulisan karya andhika dinata, mahasiswa universitas andalas padang.</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Admin blog)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>36</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Blog ini berisi tulisan-tulisan karya andhika dinata, mahasiswa universitas andalas padang.</itunes:subtitle><itunes:category text="Society &amp; Culture"><itunes:category text="Personal Journals"/></itunes:category><itunes:category text="Education"/><itunes:category text="Arts"><itunes:category text="Literature"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-1498680861164584192</guid><pubDate>Sun, 09 Aug 2009 06:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-09T00:05:24.379-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ar</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel/essay</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">jurnal</category><title>ROBOT</title><description>Dalam cerita fiksi ilmiah sering ada robot-robot yang memiliki kemampuan seperti manusia atau bahkan melebihi manusia. Di layar TV, Robot ditampilkan sebagai mesin perkasa yang mampu menggantikan posisi manusia sebagai hero kemanusiaan. Produksi Hollywood yang menampilkan Robot sebagai ikon Superhero laris manis di pasaran. Bagi anda yang telah menonton film Transformer tentu memiliki ingatan yang tajam tentang Robot dengan aneka kecanggihannya. Robot yang memiliki pola pikir layaknya manusia, sekuat Tank militer, melaju layaknya roket nuklir berkecepatan tinggi. Yang jelas, Robot bukan lagi suatu imajinasi; dan mungkin saja dahulunya terlahir dari imajinasi. Robot terlahir dari suatu imajinasi. Imajinasi yang revolusioner. Brilian. Produktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan imajinasi yang melahirkan produk kecanggihan telah mereproduksi Robot sebagai mesin multifungsi. Dalam perspektif industrialis, Robot dapat difungsikan sebagai pekerja moderat.  Dalam dunia militer, Robot dapat difungsikan sebagai mesin pengintai musuh, sinyal posisi dan radar informasi. Dalam perspektif &lt;span style="font-style:italic;"&gt;entertainment&lt;/span&gt;, Robot difungsikan sebagai kepentingan bisnis dan jargon hiburan anak-anak. Anak-anak mengimajinasikan Robot sebagai jagoan yang mampu bertingkah layaknya manusia—bahkan mampu berbicara, seperti yang tampil di layar TV. Robot kemudian menjadi duplikat hidup bagi manusia untuk berperan menggantikan posisinya dalam bekerja, beraktivitas, dan sebagainya. Robot pun mampu menghasilkan hiburan dan uang bagi kalangan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;entertain&lt;/span&gt; misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sejarah ROBOT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kata “Robot” diciptakan pada tahun 1920 oleh penulis cerita bangsa Cekoslovakia, bernama Karel Capek. Di dalam ceritanya R.U.R (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rossum’s Universal Robot&lt;/span&gt;), Robot berasal dari akar kata “Robota” yang berarti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pekerjaan yang menjemukan&lt;/span&gt;. Capek melukiskan suatu masyarakat dimana otomasi yang terbentuk secara kimiawi menjalankan semua pabrik. Dengan demikian, tujuan awalnya adalah agar manusia dapat membebaskan diri secara sempurna dari penurunan derajat buruh.&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangannya dari tahap tradisional ke tahap moderat, robot perlahan mendapatkan posisi positif dalam kacamata industri. Persatuan Insinyur Pabrik di Amerika (ASME) menyatakan bahwa penggunaan teknik sensor saat ini akan memungkinkan robot mendekati kemampuan manusia dalam memasang mesin, dan setidaknya saat ini lebih dari 15 % dari semua sistem pemasangan di USA menggunakan teknologi Robotik.  Di Jepang, Robot telah ada sejak zaman Edo [1603-1867] yang terlebih dahulu tampil sebagai boneka mekanik yang dikenal sebagai Karakuri Ningyo. Robot mulai benar-benar dikembangkan di Jepang sejak tahun 1973, oleh Professor Ichiro Kato dari Universitas Waseda. Masyarakat Jepang secara umum memperlihatkan antusiasme tinggi terhadap segala jenis robot. Beberapa robot seperti astroboy mungkin paling memiliki konstribusi terhadap pembentukan perspektif positif masyarakat Jepang terhadap robot. Robot saat ini telah berekspansi ke pelbagai negara maju dan berkembang dengan segudang temuan dan inovasinya. Kompetisi Robot telah dibuka di Kampus-kampus, institusi Rekayasa Sains bahkan ke sekolah kejuruan, kompetisi lokal maupun internasional. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Robot Industri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;Penggunaan jasa Robot bagi industri bukan sesuatu yang mutakhir. Kalangan industrialis sebelum abad 20 telah memanfaatkan tenaga Robot sebagai pelapis tenaga manusia. Pabrik dahulunya hanya memanfaatkan jasa Robot demi kepentingan keamanan kerja dan produktivitas. Jika derajat keamanan kerja tinggi dan menuntut keselamatan lebih bagi pekerja, maka Robot dapat diperkenalkan dengan baik. Seiring dengan kompleksitas pekerjaan, Robot diharapkan mampu menggantikan tenaga manusia dalam kondisi pekerjaan apapun tanpa pengecualian. Di Jepang, terdapat tiga perusahaan raksasa yang telah memperkenalkan Robot sebagai karyawan pabrik di lantai produksi. Honda Motor Company, memperkenalkan robot humanoid ASIMO (Advance Step in Innovative Mobility) menyerupai astronot kecil yang mampu membawa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;backpack&lt;/span&gt; dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;speed&lt;/span&gt; 6 km/jam. Kokoro Company Ltd. memperkenalkan Robot humanoid ASTROID yang mampu berekspresi mengedipkan mata, berbicara dan bernafas. ASTROID diberikan tanggung jawab layaknya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;customer service&lt;/span&gt; bertugas memberi salam pada tamu kafe, pusat informasi, kompleks, perusahaan, ataupun museum, dengan biaya 400.000 yen untuk 5 hari termasuk biaya koreografi. Sony Dream Company memunculkan Robot Q-RIO (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Quest for Curiosity&lt;/span&gt;) yang memiliki kemampuan mengenali wajah, suara dan mengingat karakter fisik seseorang. Dalam kurun terakhir, negeri sakura tersebut terus menerus mengimprovisasi temuan robot yang sebelumnya telah mengguncang dunia dengan produksi robot pengganti tenaga medis (dokter) hingga penciptaan robot dansa. Hasil yang fenomenal.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dampak Sosial dan Krisis Global&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi kerja aktual, otomasi umumnya telah mendapatkan suatu hasil yang menguntungkan. Pekerjaan pabrik yang berat dan berbahaya saat ini dilakukan secara otomatis, nyaris tanpa resiko. Pabrik yang menggunakan jasa robot biasanya lebih aman dan lebih higienis. Penugasan robot untuk pekerjaan berbahaya dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja seperti resiko &lt;span style="font-style:italic;"&gt;accident&lt;/span&gt;, dan kontaminasi bahan yang menimbulkan alergi. Mereka yang percaya bahwa perkembangan penggunaan robotik dan otomasi meyakini tidak timbulnya pengangguran secara luas sebagai dampak peralihan teknologi dan informasi. Robot dan otomasi lainnya baru akan mengarah pada perkembangan atau penyesuaian kembali tenaga kerja—bukannya penggantian. Produksi besar-besaran dengan otomasi telah memungkinkan adanya suatu jarak yang lebar antara barang-barang konsumsi yang relatif murah dari jenis yang seragam. Penggunaan robot di satu sisi dapat mereduksi pemborosan waktu kerja, jam kerja yang lebih pendek, dan pemindahan barang yang relatif ringan. Di sisi lain, robot masih terbatas pada keputusan kerja teknis operasional—bukan taktis. Robot sebagaimana manusia tidak bisa terlepas dari potensi kerusakan, umur teknis dan penurunan produktivitas. Penciptaan robot dengan daya analitik modern masih memerlukan observasi dan temuan yang sempurna.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu terakhir, khususnya pasca hantaman krisis ekonomi global sedikit banyaknya juga berimbas pada penggunaan robot industri disamping tenaga kerja. Di Jepang, sebagaimana dilaporkan New York Times (14/7/2009), permintaan masyarakat terhadap robot berkurang cukup drastis. Industri robot Jepang yang mempekerjakan 370.000 orang ikut terkena imbasnya. Sebuah analisis memperkirakan, bisnis industri robot Jepang bakal menurun 40 persen tahun ini. Sedangkan data dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Japan Robot Association&lt;/span&gt; mencatat bahwa pengapalan robot industri menurun 59 persen pada kuartal pertama 2009 ketimbang kuartal sebelumnya. Di pabrik, banyak produk robot-robot pekerja harus menganggur, menunggu lama untuk datangnya pesanan. Sedangkan robot-robot yang difungsikan untuk pekerjaan rumah tangga dan perawatan orang tua juga banyak yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lost sales&lt;/span&gt;. Namun semua itu adalah implikasi yang sama sekali diharapkan tidak melahirkan dampak bagi pengurangan potensi kreatif terhadap perkembangan robot khususnya. ***</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2009/08/robot.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-3701839455880387829</guid><pubDate>Tue, 17 Mar 2009 08:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-17T01:21:01.946-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel/essay</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">makalah</category><title>PROFESI INSINYUR : SEBUAH TINJAUAN KOMPARATIF</title><description>Insannul Kamil, Andhika Dinata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Seorang insinyur saat ini tidak hanya dibekali dengan medium desain teknologi dan perangkat keras enjinering, tetapi telah menjelma jadi perpaduan medium-medium tersebut dengan pola pikir manajemen yang progresif dan struktural&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)&lt;br /&gt;Insinyur adalah sebuah profesi. Keprofesian insinyur kurang lebih sama dengan keprofesian lain, seperti dokter, guru, pengacara dan lain-lain. Dewasa ini, pembicaraan tentang profesi dan kode etika insinyur kembali dibahas dan dimunculkan. Berbagai opini dimunculkan dan salah satu diantaranya yaitu perlunya studi komparatif atau perbandingan profesi insinyur dengan profesi lainnya. Seperti halnya profesi dokter, guru, pengacara, dan sebagainya maka insinyur bisa diklasifikasikan pula sebagai sebuah profesi. Dalam hal ini &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET, 1993)&lt;/span&gt; telah mendefinisikannya  sebagai :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"the profession in which a knowledge of the mathematical and natural sciences gained by study, experience and practice is applied with judgement to develop ways to utilize, economically, the materials and forces of nature for the benefit of mankind".&lt;/blockquote&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengacu pada pengertian dan pemahaman &lt;span style="font-style:italic;"&gt;profession&lt;/span&gt; tersebut di atas, maka tampak jelas bahwa ruang lingkup kegiatan rekayasa (keinsinyuran) bisa disejajarkan dengan kegiatan dalam lingkup kedokteran, keguruan, kepengacaraan maupun keprofesian lainnya. Ilmu rekayasa/keinsinyuran (engineering) sendiri secara umum dipahami sebagai ilmu terapan (applied science) atau penerapan dari prinsip-prinsip ilmiah melalui penggunaan model dan teknologi. Tujuan utamanya adalah merancang sistem baru dan memperbaiki yang sudah ada demi kemanfaatan manusia1. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kekinian, makna “insinyur” secara etimologis telah mengalami ameliorasi. Insinyur dahulu dikenal sebagai ahli teknisi yang mampu membuat jembatan, bangunan, dan mesin-mesin pertanian. Insinyur saat ini tidak hanya menempatkan posisi keberartian insinyur sebagai ahli teknisi saja, tetapi juga menempatkannya sebagai seorang pemikir dan pembangun yang moderat. Pada masa sekarang, hampir setiap rumpun ilmu memerlukan peran seorang insinyur. Insinyur dibutuhkan dalam kajian mineralogi/metalurgi, geologi, planologi, konstruksi, industri, pertanian, bahkan kajian lingkungan hidup (environmental engineering). Seorang insinyur saat ini tidak hanya dibekali dengan medium desain teknologi dan perangkat keras enjinering, tetapi telah menjelma jadi perpaduan medium-medium tersebut dengan pola pikir manajemen yang progresif dan struktural. Pergeseran makna “insinyur” telah membawa suatu dampak logis guna memunculkannya kembali dalam studi komparasi sederhana dengan profesi-profesi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru adalah sebuah profesi yang dapat dijadikan sebagai objek pembanding. Profesi guru hingga saat ini menjadi sebuah profesi yang appreciate bila dihubungkan dengan aspek non materiil, berupa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;transfer of knowledges&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;transfer of value&lt;/span&gt; dari seorang guru pada peserta didiknya. Profesi guru terbagi atas tiga (3) fungsi umum, yaitu guru sebagai konselor, guru sebagai motivator dan guru sebagai fasilitator. Seorang guru dalam posisinya sebagai konselor mengambil peranan sebagai psikolog dan pengayom kebutuhan non psikis dari peserta didiknya. Disamping itu, ia juga lebih berperan sebagai penunjuk dan penyedia media ajar yang kemudian dikenal sebagai educational facilitator. Pada saat itu, profesi guru menjadi sebuah profesi yang prestisius yang layak memeroleh “nilai lebih” dalam pandangan strata masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan seorang guru mampu melahirkan ratusan sumber daya manusia yang berkualitas di masa datang. Bahkan lebih dari itu, peran seorang guru turut andil dalam melahirkan generasi-generasi profesi lainnya seperti dokter, pengacara, insinyur dan sebagainya. Profesi tersebut tidak akan pernah berarti apa-apa tanpa melewati pembekalan mendasar dan proses pembelajaran panjang dari tenaga pendidiknya (: guru). Bagian dari deskripsi tugas seorang guru adalah menyiapkan sumber (bahan) pembelajaran, media pembelajaran, kurikulum, dan strategi ajar. Deskripsi tugas ini tentu saja membutuhkan kemauan, semangat dan ketekunan guna melahirkan pembekalan pendidikan yang berkualitas bagi peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam analisis sederhana, ada beberapa kriteria kesamaan antara profesi keguruan dan keinsinyuran, diantaranya dilihat dari aspek kemampuan, keahlian, kompetensi, kecakapan hidup, dan kode etika. Beberapa komparasi tersebut dan perbedaan deskripsinya diperlihatkan dalam Tabel 1. berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1. Komparasi Guru dengan Insinyur&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQpLiQZc3MrXZDZ8xwb9GCEkGM2pdK9UaZYAF4xh8wGuI-EWB-Pi6paHCDTrlT3HmSQTKlx_sJOZH4LlsVBSKA6XGqXNM_KkumXy3b3OhSy4HOJf2j5FZZ-ZBDOgfTVFggVkLNtVhTei4o/s1600-h/tabel1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 104px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQpLiQZc3MrXZDZ8xwb9GCEkGM2pdK9UaZYAF4xh8wGuI-EWB-Pi6paHCDTrlT3HmSQTKlx_sJOZH4LlsVBSKA6XGqXNM_KkumXy3b3OhSy4HOJf2j5FZZ-ZBDOgfTVFggVkLNtVhTei4o/s200/tabel1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5314066857357547714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2. Kompetensi Guru dalam Standardisasi Profesi2&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUOSaFukO76JFsJqEgnrHBYz_8D3WSmQVQMGJLrUO9_QGijN25G9M4Hqa3nvHgHJtS5O95UZJLuSY55oLwfnmjsis2WE4DdUElqSjdJkE0fT4LboNQ9_8SWox7ocm2LhZiwwI3fDjkMHZf/s1600-h/tabel2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 188px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUOSaFukO76JFsJqEgnrHBYz_8D3WSmQVQMGJLrUO9_QGijN25G9M4Hqa3nvHgHJtS5O95UZJLuSY55oLwfnmjsis2WE4DdUElqSjdJkE0fT4LboNQ9_8SWox7ocm2LhZiwwI3fDjkMHZf/s200/tabel2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5314067182873448322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping profesi guru, juga terdapat profesi lain yang tidak kalah penting yaitu profesi dokter. Profesi kedokteran sebenarnya telah lama menjadi sasaran kritik sosial yang tajam3. Rasa kurang puas terhadap profesi kedokteran muncul dalam media massa. Sejauh ini, masyarakat biasanya baru tersentak jika pelanggaran etik kedokteran telah menyangkut bidang hukum. Dengan semakin berkembangnya kesadaran masyarakat akan hak dan kewajiban profesi kedokteran, maka tindakan-tindakan yang merupakan pelanggaran etik kedokteran mulai disoalkan. Hal-hal yang dahulu tidak dikenal sebagai pelanggaran, sekarang sudah mulai disadari. Bahkan tindakan-tindakan yang sebenarnya tidak termasuk pelanggaran etik dengan mudahnya dianggap sebagai pelanggaran etik dan dinyatakan sebagai malpraktik. Hal tersebut kemudian menimbulkan kesan bertambahnya kasus-kasus pelanggaran etik. Namun bukan berarti profesi guru atau insinyur dapat terlepas dari persoalan kode etik yang pelik sepertihalnya profesi dokter. Catatan tersebut menjadi wujud realitas yang dilaporkan langsung oleh Konsil Kedokteran Indonesia (2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya profesi dokter dan insinyur memiliki dua (2) kesamaan yang sangat substansial yaitu peranan dalam memegang teguh prinsip dasar dan kode etik profesi, serta acuan dasar kompetensi yang digariskan secara bersama oleh asosiasi profesi dari masing-masingnya. Asosiasi profesi dokter di Indonesia dipayungi oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI), sementara asosiasi profesi insinyur Indonesia diorganisir oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 3. Perbandingan Profesi Dokter dan Insinyur&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJOcF98BGa2TVW40WWqd5yy9rq2Bsc_VbGD2uXpvwGvlXnL36EzvVmmnuQRBR-3zp7fXMLBwTM_XoZEgsBenxgJ4-DAx0AW7-cRaDxIHGRSfwQ81cAiTHUpTTJ23F9s1jVubTgVphnhxsL/s1600-h/tabel3.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 196px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJOcF98BGa2TVW40WWqd5yy9rq2Bsc_VbGD2uXpvwGvlXnL36EzvVmmnuQRBR-3zp7fXMLBwTM_XoZEgsBenxgJ4-DAx0AW7-cRaDxIHGRSfwQ81cAiTHUpTTJ23F9s1jVubTgVphnhxsL/s200/tabel3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5314067857286899250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbandingan melalui analisis sederhana tersebut di atas tidak semata memberikan gambaran bagi banyak kalangan tentang keberadaan insinyur sebagai sebuah profesi. Perbandingan tersebut setidaknya mendasari satu pertanyaan, dalam posisi mana keberadaan insinyur saat ini apabila dilihat dari profesionalitas, kepatuhan terhadap kode etik, serta yang paling sentral yaitu kemampuan bobot atau kompetensi yang dipunyai insinyur itu sendiri. Kode etik adalah rambu-rambu yang tidak dapat diindahkan oleh seorang insinyur atau sarjana teknik karena setiap pelanggaran terhadapnya akan berbuah terhadap konsekuensi terhadap kesejahteraan dirinya, lingkungan dan atau masyarakat. Etika profesi keinsinyuran menurut Bennet4 (1996) didefinisikan sebagai "study of the moral issues and decisions confronting individuals and organizations involved in engineering". Dengan demikian, kode etik berhubungan dengan masalah moral, individu dan atau organisasi yang memuat sanksi yang dapat diberikan oleh wadah asosiasi profesi yang memayunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengenalan dan pemahaman mengenai etika profesi keinsinyuran ini perlu dilakukan sedini mungkin, bahkan beberapa perguruan tinggi teknik sudah mencantumkannya dalam kurikulum dan mata kuliah khusus. A&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ccreditation Board for Engineering and Technology (ABET)&lt;/span&gt; sendiri secara spesifik memberikan persyaratan akreditasi yang menyatakan bahwa setiap mahasiswa teknik (engineering) harus mengerti betul karakteristik etika profesi keinsinyuran dan penerapannya. Dengan persyaratan ini, ABET menghendaki setiap calon insinyur harus betul-betul memahami etika profesi, kode etik profesi dan permasalahan yang timbul diseputar profesi yang akan ditekuninya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Adapun kekurangan yang dihadapi oleh kalangan insinyur saat ini adalah anggapan minor terhadap terjadinya deteriorisasi kode etik dan atau kemampuan keinsinyuran yang berdampak terhadap brand profesionalitas insinyur itu sendiri.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;Kelebihan dan Kekurangan Profesi Insinyur dengan Guru dan Dokter&lt;br /&gt;Secara konseptual&lt;br /&gt; Secara konsep, profesi insinyur memiliki perbedaan dengan profesi guru. Profesi guru diperoleh melalui sertifikasi formal yang dilegalkan oleh Institut Keguruan atau Universitas yang memegang paten keguruan. Sementara Insinyur pada saat ini tidak lagi diformalisasikan lewat institusi formal seperti Universitas tetapi lewat organisasi asosiasi profesi. Di Indonesia, sertifikasi insinyur disahkan oleh asosiasi PII dan setiap calon insinyur diharuskan untuk mengikuti kegiatan rutin yang dapat mendukung pemahaman dan kompetensi calon insinyur terhadap bidang kajiannya. Profesi dokter sebenarnya tidak berbeda jauh dengan profesi insinyur, pokok fondasi dari kedua profesi ini tidak jauh berbeda karena memegang teguh kode etik masing-masing yang dalam garis besar dibedakan atas etika kemanfaatan umum (utilitarianism ethics), etika kewajiban (duty ethics), etika kebenaran (right ethics), etika keunggulan/kebaikan (virtue ethics), dan etika sadar lingkungan (environmental ethics). Keseluruhan pokok etika ini harus diaplikasikan oleh seorang dokter dan atau insinyur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kesamaan lain dari keduanya (insinyur dan dokter) adalah sama-sama menuntut keahlian rasional-matematika (basic sciences) dan meramunya dengan permasalahan praktis di lapangan. Perbedaan yang cukup menonjol saat ini yaitu seorang insinyur harus dibekali dengan sedikit pengetahuan organisasi dan manajerial yang secara teoritik tidak diperoleh lewat bangku pembelajaran keguruan/kedokteran. Adapun kekurangan yang dihadapi oleh kalangan insinyur saat ini adalah anggapan minor terhadap terjadinya deteriorisasi kode etik dan atau kemampuan keinsinyuran yang berdampak terhadap brand profesionalitas insinyur itu sendiri. Pengakuan terhadap legalisasi profesi insinyur pada saat sekarang tidak sebaik pandangan masyarakat terhadap profesi lain, seperti dokter dan pengacara. Sebagai pandangan logis, setiap dokter atau pengacara dapat mengambil peruntungan legalisasi profesi dengan membuka praktik umum atau komersialisasi penyediaan jasa secara legal. Berbeda dengan saat ini, seorang insinyur yang telah bersertifikasi tidak dapat dengan segera membuka penyediaan jasa konsultan sebelum terlebih dahulu membuktikan striving on progressnya dalam jangka waktu panjang terhadap instansi swasta, industri dan atau pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan&lt;br /&gt; Dalam kenyataannya, penerapan kode etik profesi belum sepenuhnya dapat diterapkan secara baik oleh keseluruhan profesi (guru, dokter, insinyur). Pelaksanaan pedoman kode etik profesi seharusnya diimbangi dengan pemuatan sanksi hukum tertulis terhadap pelanggaran poin kode etik tersebut. Pelanggaran kode etik dapat saja terjadi untuk profesi apapun, dan sanksi hukum untuk tiap profesi adaptif terhadap pelanggaran yang dilakukan. Pelanggaran dalam etika profesi dapat berupa pelanggaran terhadap perbuatan yang tidak mencerminkan respek terhadap nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi oleh profesi atau pelanggaran perbuatan pelayanan jasa profesi yang kurang mencerminkan kualitas keahlian yang kurang dapat dipertanggung-jawabkan5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Profesi dokter dan insinyur adalah profesi yang tidak hanya berhubungan dengan individu atau sekelompok orang, tetapi berhubungan langsung dengan komunitas masyarakat dan menyangkut kepentingan publik. Seorang insinyur memiliki tanggung jawab sosial apabila pekerjaan yang diembannya berhubungan dengan lingkungan masyarakat. Seorang dokter juga memiliki tanggung jawab moral terhadap pasiennya karena menyangkut keselamatan hidup orang lain. Dengan demikian, organisasi profesi bersama pemerintah dan aparat hukum harus mencermati dan membuat perundangan yang tegas terhadap tiap pelanggaran yang berhubungan dengan pelanggaran kode etik profesi. Pemberian sanksi oleh asosiasi profesi saja tidak cukup tanpa adanya sanksi atau perundangan hukum yang dapat mengikat pelaku pelanggar kode etik profesi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Catatan Akhir :&lt;br /&gt;1Anonim. “Etika Profesional: Pengalaman dan Permasalahan”.   &lt;br /&gt;  (http://www.geocities.com//), diakses 24 Januari 2009.&lt;br /&gt;2 Lihat pedoman sertifikasi guru Universitas Negeri Padang. “Sertifikasi Guru”.  &lt;br /&gt;  (http://sertifikasi.profesi.blogspot.com//), diakses 24 Januari 2009.&lt;br /&gt;3Lihat catatan Pedoman Standar Pedoman Profesi Dokter. 2006. Konsil Kedokteran  &lt;br /&gt;  Indonesia. Indonesian Medical Council. Jakarta. (http://www.depkes.go.id//), diakses 24 Januari 2009.&lt;br /&gt;4Anonim. up cit. “Etika Profesional: Profesi, Profesional, Profesionalisme”.&lt;br /&gt;5Anonim. up cit. “Etika Profesi dan Kode Etik Profesi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Penulis :&lt;br /&gt;Insannul Kamil. Dosen Tetap Jurusan Teknik Industri Universitas Andalas Padang. Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah SUMBAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andhika Dinata. Mahasiswa Riset Jurusan Teknik Industri Universitas Andalas. Saat ini sedang menyelesaikan studi di almamternya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2009/03/profesi-insinyur-sebuah-tinjauan.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQpLiQZc3MrXZDZ8xwb9GCEkGM2pdK9UaZYAF4xh8wGuI-EWB-Pi6paHCDTrlT3HmSQTKlx_sJOZH4LlsVBSKA6XGqXNM_KkumXy3b3OhSy4HOJf2j5FZZ-ZBDOgfTVFggVkLNtVhTei4o/s72-c/tabel1.JPG" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-2888804759931890261</guid><pubDate>Wed, 28 Jan 2009 04:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-27T20:21:17.735-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>‘ayn al yaqin</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKq2dvqcyxPJL1EBRqnOQJiAUNIP2ExJoSfVU79SqVTELCja_uxtC5GxaJTqFIMfWpJsaF-07zdjCPD7RwMRxLUCQvXiMlVXohiVcCRv1bALU1HPK532sHNGfVBVketP3ZHnbvif_hRLFW/s1600-h/untitled.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 142px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKq2dvqcyxPJL1EBRqnOQJiAUNIP2ExJoSfVU79SqVTELCja_uxtC5GxaJTqFIMfWpJsaF-07zdjCPD7RwMRxLUCQvXiMlVXohiVcCRv1bALU1HPK532sHNGfVBVketP3ZHnbvif_hRLFW/s200/untitled.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296194848423283410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb telah membumbung&lt;br /&gt;qalbuku dalamMu, maka&lt;br /&gt;bukakan mataku yang lelap dari&lt;br /&gt;duka hari yang bengis&lt;br /&gt;jeritan saudaraku&lt;br /&gt;di Palestina&lt;br /&gt;di Khasmir&lt;br /&gt;di Iraq&lt;br /&gt;di Afghan&lt;br /&gt;di Chechnya&lt;br /&gt;di Bosnia&lt;br /&gt;di Moro&lt;br /&gt;di Ambon&lt;br /&gt;-dimana-manapun &lt;br /&gt;mereka berada, &lt;br /&gt;mendekam kemudian&lt;br /&gt;berpulang padaMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb telah membumbung&lt;br /&gt;nafsku dalamMu, maka&lt;br /&gt;lepaskan kekakuan lisanku dari&lt;br /&gt;konspirasi hitam yang bengis&lt;br /&gt;menusuk rongga ketakadilan&lt;br /&gt;oksigen saudaraku&lt;br /&gt;di Palestina&lt;br /&gt;di Khasmir&lt;br /&gt;di Iraq&lt;br /&gt;di Afghan&lt;br /&gt;di Chechnya&lt;br /&gt;di Bosnia&lt;br /&gt;di Moro&lt;br /&gt;di Ambon&lt;br /&gt;-dimana-manapun &lt;br /&gt;mereka berada,&lt;br /&gt;menjerit kemudian&lt;br /&gt;berpulang menujuMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb telah membumbung&lt;br /&gt;dzikirku dalamMu, maka&lt;br /&gt;gerakkanlah rangkaku yang diam dari&lt;br /&gt;kebohongan perang yang bengis:&lt;br /&gt;sepakat tanda kabung telah&lt;br /&gt;membasuh darah saudaraku&lt;br /&gt;di Palestina&lt;br /&gt;di Khasmir&lt;br /&gt;di Iraq&lt;br /&gt;di Afghan&lt;br /&gt;di Chechnya&lt;br /&gt;di Bosnia&lt;br /&gt;di Moro&lt;br /&gt;di Ambon&lt;br /&gt;-dimana-manapun &lt;br /&gt;mereka berada,&lt;br /&gt;diperkosa kemudian&lt;br /&gt;dipenggal menujuMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb telah membumbung&lt;br /&gt;kesadaran amarahku dalamMu, maka&lt;br /&gt;tabirkan gendang telingaku yang pekak dari&lt;br /&gt;jerit tangis ibu tak bertalu&lt;br /&gt;menyirami bendera perang&lt;br /&gt;saat bayi putih terkubur&lt;br /&gt;di Palestina&lt;br /&gt;di Khasmir&lt;br /&gt;di Iraq&lt;br /&gt;di Afghan&lt;br /&gt;di Chechnya&lt;br /&gt;di Bosnia&lt;br /&gt;di Moro&lt;br /&gt;di Ambon&lt;br /&gt;-dimana-manapun &lt;br /&gt;mereka berada,&lt;br /&gt;dihujani peluru kemudian&lt;br /&gt;dituba menujuMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb&lt;br /&gt;perkenankan aku berkabung sangat, dalam&lt;br /&gt;torehan tinta ini kuberharap sangat&lt;br /&gt;“Inna Nashrallahi qariib”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb&lt;br /&gt;perkenankan aku memenggal dan menghujami&lt;br /&gt;mereka hingga saat itu --&lt;br /&gt;saat-saat dan detik-detik penghabisan&lt;br /&gt;yang Kau janjikan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biar aku menghujamnya&lt;br /&gt;dengan pedangMu&lt;br /&gt;dengan lisanMu&lt;br /&gt;dengan buldozerMu&lt;br /&gt;dengan senapanMu&lt;br /&gt;dengan mesiuMu&lt;br /&gt;dengan takbirMu&lt;br /&gt;dengan tasbihMu&lt;br /&gt;dengan batuMu&lt;br /&gt;dengan do’aMu&lt;br /&gt;dengan murkaMu&lt;br /&gt;dengan sujudMu&lt;br /&gt;dengan hartaMu&lt;br /&gt;dengan batinMu&lt;br /&gt;dengan tanganMu&lt;br /&gt;dengan kakiMu&lt;br /&gt;dengan belengguMu&lt;br /&gt;dengan dzikirMu&lt;br /&gt;dengan kasihMu&lt;br /&gt;dengan nashMu&lt;br /&gt;dengan nashrMu&lt;br /&gt;dengan azaliMu&lt;br /&gt;dengan Qur’anMu&lt;br /&gt;dengan apapun:&lt;br /&gt;segala tempat&lt;br /&gt;segala wadah&lt;br /&gt;segala hujam&lt;br /&gt;segala rajam&lt;br /&gt;dalam&lt;br /&gt;kalimahMu&lt;br /&gt;Yang Satu :&lt;br /&gt;Allahu Akbaru!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenankan Ya Rabb..&lt;br /&gt;Perkenankan..&lt;br /&gt;AMIN.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2009/01/ayn-al-yaqin.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKq2dvqcyxPJL1EBRqnOQJiAUNIP2ExJoSfVU79SqVTELCja_uxtC5GxaJTqFIMfWpJsaF-07zdjCPD7RwMRxLUCQvXiMlVXohiVcCRv1bALU1HPK532sHNGfVBVketP3ZHnbvif_hRLFW/s72-c/untitled.JPG" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-948729667004958070</guid><pubDate>Tue, 20 Jan 2009 15:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-27T20:23:32.905-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>ALLAH YANG KURINDUKAN</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHAfPfvp9Ep5huytCIIABfjcLm5BNCWxdL0he7A6AnUg7bKcBv-j9P0wPEfptqAV56TSVPdYiuh2WPFiOWJO_suphrUogvuPq97hpGj6jv9VRIJr_H9ZeGmyAxfKMlkCNB-N6cJyR7ABpC/s1600-h/ALLAH.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 67px; height: 91px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHAfPfvp9Ep5huytCIIABfjcLm5BNCWxdL0he7A6AnUg7bKcBv-j9P0wPEfptqAV56TSVPdYiuh2WPFiOWJO_suphrUogvuPq97hpGj6jv9VRIJr_H9ZeGmyAxfKMlkCNB-N6cJyR7ABpC/s200/ALLAH.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296195432641595458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Man’arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu1&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Allah. kurindumu dalam denyut &lt;br /&gt;aku berbincang, dengan kesadaran&lt;br /&gt;aku bungkam.&lt;br /&gt;“Kau ciptakanku dalam satu waktu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah. kurindumu dalam sepi.&lt;br /&gt;sepi yang nian, darahku alir&lt;br /&gt;dengan kehangatan.&lt;br /&gt;“Kau anugerahiku sepanjang waktu”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah. kurindumu dalam puisi&lt;br /&gt;dimana kutoreh kembali Alif KasihMu,&lt;br /&gt;dalam denyut aku berbincang&lt;br /&gt;dengan kesadaran aku bungkam,&lt;br /&gt;dalam sepi yang nian, darahku alir&lt;br /&gt;     dengan kehangatan.&lt;br /&gt;                             -kutulisi puisi merinduMu–&lt;br /&gt;                                      Allahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinata, Andhika&lt;br /&gt;Padang “Nan Dalam”/ 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2009/01/allah-yang-kurindukan.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHAfPfvp9Ep5huytCIIABfjcLm5BNCWxdL0he7A6AnUg7bKcBv-j9P0wPEfptqAV56TSVPdYiuh2WPFiOWJO_suphrUogvuPq97hpGj6jv9VRIJr_H9ZeGmyAxfKMlkCNB-N6cJyR7ABpC/s72-c/ALLAH.JPG" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-125586014846971972</guid><pubDate>Wed, 07 Jan 2009 10:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-07T02:15:31.605-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel/essay</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tanmalaka</category><title>SUARA-SUARA SAYU (Untuk Tan Malaka)</title><description>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;blockquote&gt;”... Krakatau meletus menyemburkan batu dan lahar, merusakkan sekitarnya. Tetapi juga membagi bahagia kepada manusia, karena menyemburkan abu yang menambah subur dan makmurnya tanah. Tetapi sekarang bukan alam Indonesia yang meletus melainkan jiwa rakyatnya yang lama terhimpit dan tertindas itu...”&lt;br /&gt;    ( Tan Malaka )&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/1/&lt;br /&gt;Ada yang menghentak tatkala saya selesaikan untuk membaca teks pidato Tan Malaka. Pidato tersebut kemudian dikenal dengan ”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Membangun Dunia yang Adil untuk Semua Bangsa&lt;/span&gt;”1. Saya bisa bayangkan jika seandainya saya berada dalam dimensi yang sama ketika teks pidato tersebut pertama dibaca pengarangnya, maka pastilah saya terkagum hebat dibuatnya. Dalam ”Membangun Dunia yang Adil untuk Semua Bangsa”, Tan Malaka sekali lagi mengemukakan gagasan-gagasannya. Pertama, ia berbicara tentang revolusi politik. Kedua, ia berbicara tentang komparasi sejarah. Ketiga, ia berbicara tentang sistem ekonomi. Dan yang paling utama dari semuanya adalah pembicaraannya tentang kemerdekaan. Bagi Tan Malaka, kemerdekaan itu ialah buat ”kelak kemudian” hari. Gagasannya untuk melebur semangat revolusioner seringkali diiringi dengan figurasi yang meletup-letup, menunjukkan kedalamannya yang sangat -- akan kemerdekaan. Seperti disebutnya,” ... &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Demikianlah sejarah Indonesia berdiam diri, ratusan malah puluhan ratusan tahun sampai alam Indonesia bersuara&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disebut Indonesia ”berdiam diri” itu yang apabila kita bawakan pada dimensi sekarang tentu akan menjadi wujud yang ”multi-tafsir”. Sungguh, sebuah kepanikan luar biasa tengah menggoncang Tan Malaka, hingga ia menyebut Indonesia hanya akan ”seperti-seperti ini saja” jika ia berhenti untuk ”bersuara”. Ya, apa yang disebutnya ”bersuara” adalah sebuah  prinsip yang memiliki suatu determinasi, atau tepatnya cita-cita yang sentralistik. Tan Malaka, seperti halnya  tokoh revolusioner lainnya sangat prihatin melihat Indonesia semakin terkotak dalam pergerakan kemerdekaan. Daya kritisnya menyebutkan, orang Indonesia saat itu tak berinisiatif, lesu-malas dan biadab. Masyarakat lebih suka berteriak ramai-ramai tanpa unsur gerak dan perlakuan. Perjuangan dilakukan ”setengah hati” dengan memendam rasa sakit tanpa berupaya untuk menentang rasa sakit itu; berteriak dan menimpalinya. Tan Malaka adalah individu itu, individu yang lebih menyenangi aksi dan pergerakan revolusioner, meski terkadang militansi revolusioner yang dilekatkan pada dirinya terkesan agak berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangannya tentang kapitalis, ia lebih memandangnya sebagai teror. Tan Malaka, tercatat dalam sejarah, sangat tidak senang pada sistem ekonomi kapitalis Eropa Barat maupun Amerika. Amerika dan kroni disinggungnya sebagai musuh dan imperialis yang telah memukul mundur perekonomian Asia Timur Raya. Tan Malaka dengan semangat revolusionernya turut memposisikan diri sebagai ”ekonom” yang mau tidak mau harus tanggap terhadap politik dan perubahan ekonomi dunia saat itu. Tak dapat dipungkiri bahwa di lain sisi ia lebih terturut pada sistem ekonomi Eropa Timur (: Sovyet Rusia) yang dipujinya selangit. Tambahnya, dari dunia Eropa Timur itulah ia merasa mendapat ilham dan petunjuk yang perlu diterapkan dalam perjuangan politik, ekonomi dan sosial di tanah air. Tan Malaka menambahkan dalam teks pidato yang monumental itu, bahwa perjuangan persatuan buruh dan tani di Sovyet Rusia sangat revolusioner, tersusun dan terdisiplin. Pernyataan dan konsepsi Tan Malaka yang cenderung ke Sovyet membuatnya dicap sebagai komunis tulen. Tak dapat disangkal, tanggung jawab dan posisi sebagai Wakil Komunis Internasional (WaKomIntern) setidaknya menunjukkan keanggotaan aktifnya dalam Partai Komunis Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka dalam pandangannya memberikan bobot kemerdekaan penuh apabila kesetaraan politik dan ekonomi sepenuhnya dicapai. Konsep ini yang kemudian digagasnya sebagai ”Merdeka 100%”. Lain dari itu, bangsa belum bisa dikatakan merdeka. Konsepsi ”Merdeka 100%” itu sering dianggap berseberangan dengan gagasan Hatta maupun Syahrir yang dicapnya sebagai tokoh nasionalis ”lunak”. Bagi Tan Malaka, tidak ada kompromi atau diplomasi untuk Hindia Belanda atau campur tangan asing dalam sektor ekonomi. Konsep Marxis tentu saja tidak bisa dipisahkan dari dirinya. Bagi saya, pandangan positif sah-sah saja diberikan pada Tan Malaka yang menolak sistem imperialisme guna membebaskan diri dari tekanan politik, penjajahan ekonomi dan atau budaya. Namun suatu sikap yang mustahil apabila terlalu memaksakan kemerdekaan datang sekejap dalam tempo bersamaan: politik-ekonomi-sosial, saat gaung kemerdekaan belumlah mencapai kulminasi yang utuh. Dan pandangan ini pula yang ditolak mentah-mentah oleh Tan Malaka dalam tiap orasinya, bahwa kemerdekaan seratus persen mau tak mau harus dicapai sesegeranya; rakyat Indonesialah yang meletus melemparkan imperialis!!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/2/&lt;br /&gt;Munculnya polemik bahwa gagasan Tan Malaka dianggap terlalu ”rumit” dan cenderung menyamarkan gerakan kemerdekaan yang semula diemban. Pemahaman MADILOG (Materialisme-Dialektika-Logika) adalah salah satu dari gagasannya yang dianggap “rumit” itu. Katanya, logika dan dialektika bergantung pada materialisme, sebaliknya materialisme bersangkut paut dengan dialektika dan logika2. MADILOG setidaknya dapat saja bermula dari pemahamannya tentang Marxis yang hipotesanya dikembangkan sendiri oleh Tan Malaka. Terlepas dari benar atau tidaknya dugaan ini, yang jelas pemahaman MADILOG mengedepankan bukti empirik meski bukti tersebut belum berhasil diterangkan secara rasional atau logika pengetahuan. Baginya, kekuatan besar adalah kekuatan ideologi yang menggunakan pola pikir penyelesaian tanpa dogma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang ideologi berarti berbicara tentang doktrin pemahaman. Pemahaman itu pula yang menjadi polemik soal ketokohan Tan Malaka, seorang nasionalis kah atau komunis kah?. Kontroversi tentang polemik ini melahirkan ide untuk mengkaji kembali biografi historis dari Tan Malaka guna meluruskan penulisan teks sejarah atasnya, barangkali pula untuk mengapresiasi pergerakan Tan Malaka sebagai sesuatu yang memang layak untuk diapresiasi. Ketika tabir dibuka, pelbagai pendapat dan argumen pun bermunculan. Ada yang mencoba mengaitkan sisi historis Tan Malaka dengan tanah kelahirannya Minangkabau*, sehingga muncul pedoman; ”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mungkinkah seorang Tan Malaka komunis sementara ia dibesarkan di tanah kelahiran yang memiliki kultur keislaman yang kuat?&lt;/span&gt;”. Untuk sementara ini, bahkan hingga tuntasnya esai ini, saya lagi tak berani menduga atau menjawab pertanyaan tersebut. Akan tetapi, bagi saya, korelasi antara karakter individu belum tentu sepenuhnya dipengaruhi oleh kultur alam bahkan lingkungan yang mengitarinya. Tak ada yang menyebutkan atau menguak sisi agamis Tan Malaka itu, meski ada yang mencoba mengaitkan dirinya dengan partai lain yang bercitrakan Islam saat itu. Tak ada informasi yang dapat dijadikan referensi apakah ia benar seorang ”muslim” hingga akhir hayatnya, dan hal ini tak tercatat tegas dalam sejarah. Namun, hubungan keakrabannya dengan ISDV dan PKI lebih memungkinkan dirinya memang tertarik dengan sistem organisasi atau gerakan politik dari kedua perhimpunan tersebut. Tentu saja, hubungannya dengan SI tak dapat dipandang sebelah mata, namun tak dapat pula dipastikan bahwa Tan Malaka memiliki ketertarikan terhadap organisasi islam itu. Terlebih lagi muncul desus sesudahnya bahwa terjadi infiltrasi sayap kiri komunis ke dalam tubuh kepartaian SI sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, peranan PKI dan pemuda-pemuda PKI dalam latar pergerakan kemerdekaan Indonesia adalah satu dari sekian deret realitas yang tak dapat untuk tidak kita pandang. Gerakan revolusioner komunis beserta militansinya itu telah melahirkan kaderisasi politik yang menghujam mentah-mentah jantung pertahanan Hindia Belanda – kaum imperialis umumnya. Tan Malaka dalam pergerakannya sangat aktif mensiasati aksi pemogokan umum dalam upaya menentang ketidakadilan dan perbedaan strata ekonomi. Pelaksananya adalah buruh pabrik dan rakyat kecil yang menerima imbas dari ketidakadilan sistem ekonomi kapitalis saat itu. Aksi pemogokan diawali dengan orasi hebat dari Tan Malaka, kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi dengan menggunakan selebaran-selebaran yang diasungkan sebagai sarana kritik sosial. Beliau seorang pemikir, penulis, kritikus politik, dan orator. Apabila Tan Malaka berorasi, tentu semangat rakyat kecil itu turut ”berorasi”, tergugah dan terkobar. Orasinya sangat luar biasa, jika orang tak serta membandingnya segera dengan Bung Karno, sang orator wahid itu. Sebagai seorang penulis, selain MADILOG, Tan Malaka juga banyak menulis karya fenomenal meliputi bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran yang kemudian dikenal dengan GERPOLEK (Gerilya, Politik dan Ekonomi, 1948)3. Pemikiran-pemikiran bernasnya tentunya lahir dari latar belakang dan situasional politik yang mendorongnya ”memeta”, berfikir dan menggagas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/3/&lt;br /&gt;Mengenai kemerdekaan, ada yang menarik dari ”Membangun Dunia yang Adil untuk Semua Bangsa” itu :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;”Apakah pengalaman 350 tahun belum cukup lagi buat kita rakyat Indonesia yang 70 juta ini akan sekali lagi diserahkan kepada macan kalah, kelak akan kembali dipimpin oleh kruneider dari Belanda?”.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Orasi tersebut terkesan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rhetorics&lt;/span&gt;, namun menunjukkan bagaimana Tan Malaka menolak tegas bentuk penindasan, apapun namanya, dan apapun bangsanya yang kelak hanya akan menjadikan Indonesia dan rakyatnya sebagai kuli jajahan belaka. Tiga abad lebih adalah ketertindasan yang sangat, dan rakyat harus bergerak maju dan bersatu padu untuk menghirup bebas oksigen kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai sistem ekonomi, ia membandingkan perekonomian Bumi Putera dengan perekonomian Tata di Hindustan (India). Beliau mempertanyakan stagnasi perekonomian Bumi Putera saat itu yang tidak banyak memengaruhi kas nasional dan tak lagi mampu menyentuh kesejahteraan rakyat kecil. Maskapai Tata Hindustan, katanya, sudah mampu membuat baja, besi bahkan kereta dam mesin kala itu. Maskapai-Tata juga meliputi perusahaan listrik seantero Hindustan. Semua perusahaan di Hindustan telah dipusatkan pada Bank Tata yang kokoh dan kuat. Sementara di Indonesia, kondisi kontras diketemukan. Orang Indonesia saja belum mampu mengolah baja dan besi secara otodidak, apalagi membuat kereta dam mesin. Semua perusahaan tersebar di seantero nusantara namun belum sepenuhnya terpusat pada kas Bumi Putera (Bank Nasional), sehingga ”gaung ekonomi” masih begitu-begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koreksi ekonomi itu yang disinggung Tan Malaka dalam pidatonya itu :&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;”Kita di Indonesia sudah bangga dengan pabrik rokok kretek. Memang pabrik rokok kretek itu sudah mempunyai modal besar. Pekerjanya sudah sampai ribuan. Pabrik rokok itu baik buat mengepul-ngepulkan asap ke udara. Tetapi letaknya terpencar-pencar belum disatukan oleh Bank Nasional. Pabrik atau perindustrian bumi-putera yang meliputi seluruhnya Indonesia, seperti Maskapai Tata di Hindustan itu, belum kelihatan tunasnya.”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah wajar jika Tan Malaka berbicara lantang tentang perekonomian nasional yang ambruk saat itu. Sebenarnya, krisis ekonomi yang melanda Asia Timur juga dirasai oleh negara-negara Eropa hingga Amerika. Di Amerika saja, pada tahun 1929 hingga 1930an telah terjadi ”Great Depression” akibat inflasi yang superlatif. Negara besar seperti Amerika yang telah memproduksi lebih kurang 70% barang modal dan industri berat telah dicekik krisis yang tak terbendung. Pengangguran akibat PHK menjadi-jadi, yang mengakibatkan lebih kurang1/4 penduduk Amerika kehilangan pekerjaan; 33 juta kurang lebih orang Amerika harus jatuh ke lembah kesengsaraan. Di Inggris, raksasa industrialis Eropa bersama Jerman, harus merasai duka yang sama hebatnya pada rentang 1929-1932. Penduduk Inggris saat itu tak sebanyak penduduk Amerika, namun efek dari krisis global juga memengaruhi sektor paling vital, yaitu industri. Pengangguran merajalela dan krisis mengamuk kiri-kanan, demikian Tan Malaka menyebutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis ekonomi akibat ”Great Depression” ternyata membawa efek sangat besar bagi Indonesia saat itu. Bangsa harus hati-hati terhadap gerak langkah kolonial Belanda. Sifat dan bentuk perekonomian Belanda lebih kurang juga memengaruhi sifat dan bentuk perekonomian Indonesia**. Sistem kapitalis adalah sistem yang melumpuhkan bangsa-bangsa di dunia. Arus industrialisasi dan pasar modal masuk sana-sini hingga melewati celah-celah hidup masyarakat berkembang. Rakyat didikte untuk memiliki semangat industri dan pemesinan; di lain sisi mereka dirampas hak-haknya, dijajah tanahnya dan diperlakukan sebagai kuli di tanah sendiri. Tan Malaka memberi fragmen yang meletup-letup untuk membakar semangat rakyat saat itu. Namun, lagi, ia memuji politik Sovyet yang dianggapnya saat itu melangkahi sejarah dengan kecepatan raksasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini,&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;”...Dengan mulut dunia kapitalisme mencela politik dan sistem Sovyet. Tetapi dalam kalbunya mereka cemburu akan keamanan dan kemajuan di Rusia. Mereka sama tertarik oleh rencana ekonomi. Baik negara fasis atau pun demokrasi mencoba mengadakan rencana dan menjalankan rencana ekonomi”.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka merasa mendapat ”ilham” dan petunjuk dari Sovyet, yang secara tidak langsung disebutnya sebagai petunjuk yang patut ditiru. Dan untuk mencapainya rakyat Indonesia harus menunjukkan sikap antipati terhadap segala bentuk imperialisme dan kolonialisme lewat aksi-aksi brilian. Demikian, lahirlah aksi pemogokan buruh di tanah air yang cukup membuat Hindia Belanda tersintak. Sikap antipati itu juga yang melahirkan karya-karya Tan Malaka berupa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Naar Republiek Indonesia&lt;/span&gt; (1924) yang mendahului Hatta dan Soekarno (Mencapai Indonesia Merdeka (1930) dan Ke Arah Indonesia Merdeka (1932)), MADILOG, GERPOLEK, Merdeka 100%, Dari Penjara ke Penjara, Massa Aksi, Uraian Mendadak, dan puluhan tulisan lainnya, bertumpu pada bagaimana membebaskan bangsanya dari kolonialisme4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/4/&lt;br /&gt;”Kita harus kembali ke masa 2500 lampau saja”, Tan Malaka berontak. Menurutnya, rakyat Indonesia tak lagi berinisiatif, lesu-malas, biadab. Ahli barat saja mengakui bahwa pada masa lampau, nenek Moyang Indonesia mampu mengarungi Samudera Hindia, sampai ke Afrika. Ke Timur ia mengarungi Samudera Teduh sampai Amerika Tengah. Benar sejarahnya, bangsa Indonesia masa itu tak berteriak keras, tetapi berlaku: berjuang, berdagang, bersawah-ladang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan lewat gerak laku adalah perjuangan sebenarnya. Perjuangan lewat teriakan adalah semu. Perjuangan lewat gerak laku dan teriakan adalah perjuangan yang penuh semangat. Inilah definisi perjuangan kiranya bagi Tan Malaka, dan definisi ini menghela nafas kita untuk tidak serta membantah perjuangan yang dilakukannya. Ya, Tan Malaka memiliki nafas pejuang. Geraknya, orasinya, adalah masa depan Indonesia yang digambarinya secara metafor sebagai perahu cadik. Perahu itu memiliki sayap kiri-kanan yang ramping untuk menjamin keamanan penumpangnya dari arus gelombang setinggi bukit. Hanya kerlap-kerlip bintang dan pengetahuan atas peredaran musim yang dapat dijadikan pedoman oleh nakhodanya. Dan itulah yang disebut sebagai petunjuk hakiki. Perjuangan tanpa pedoman adalah nihil, perjuangan tanpa petunjuk dan pengetahuan juga nihil. Dan kita tak menghendaki perjuangan yang semacam itu, tak ada bayang-bayang petunjuk di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya teringat saya akan Judul sebuah esai tentang marxis yang ditulisi      Prof. Taufiq Abdullah itu ”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan Hanya Bangsa yang Bisa Membebaskan Dirinya dari Rasa Dendam Yang Akan Menjadi Besar&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;”5. Biarlah waktu berlalu dalam sejarah mengalir dari telaga membasuhi bumi sekitar, hingga berlabuh ke tengah samudera yang sejuk dan dalam. Tan Malaka dan sejarah kebenarannya memang tak seratus persen hilang terbasuh waktu. Suara sayunya masih mengelepak dan bersiulan sana-sini, meski tak senyaring Soekarno, Hatta maupun Syahrir. Dan kita tetap berharap namanya tetap menjadi bagian dari ketokohan penting Indonesia yang tak kabur oleh sejarah. Namun pastinya, Keppres RI No.53 tahun 1963 itu telah melekatkan selempang kepahlawanan di pundak Tan Malaka. Betapapun ia disebut: begini dan begitu. Kita berharap biografinya turut menghiasi lembaran bacaan di dinding Kepustakaan Nasional yang beberapa puluh tahun namanya kian menghilang. Dan kita bangsa Indonesia yang menghirupi oksigen bebas ini tentu tak ingin dikritisi sebagai bangsa yang berdiam diri terhadap sejarah, membiarkan ia gosong oleh abu selama puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun lamanya sampai Indonesia Raya kembali ”bersuara”. Krakatau meletus menyemburkan batu dan lahar, merusakkan sekitarnya. Tetapi juga membagi bahagia kepada manusia, karena menyemburkan abu yang menambah subur dan makmurnya tanah. Tetapi sekarang bukan alam Indonesia yang meletus melainkan jiwa rakyatnya yang lama terhimpit dan tertindas itu, demikian katanya. Sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang, Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*    Tan Malaka dilahirkan 2 Juni 1897 di desa Pandang Gadang-Sumatera Barat&lt;br /&gt;**   God schep den mens naar Zijn evenbeeld (Tuhan menjadikan manusia menyerupai diriNya); &lt;br /&gt;       Upaya belanda mematangkan koloninya dengan memegang konsep dirinya sebagai Tuhan.&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Akhir :&lt;br /&gt;1 Lihat Appendiks Pidato Tan Malaka, ”Membangun Dunia yang Adil Untuk   &lt;br /&gt;  Semua Bangsa”, dalam Roeslan Abdulgani dkk. 2004. Soedirman-Tan Malaka  &lt;br /&gt;  dan Persatuan Perjuangan. Restu Agung : Jakarta.&lt;br /&gt;2 Zulhasril Nasir. Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional (Online),   &lt;br /&gt;(http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/07/00194311/tan.malaka.dan.kebangkitan.nasional, diakses 23 Desember 2008) &lt;br /&gt;3 Anonim. Gerilyawan Revolusioner yang Legendaris (Online),  &lt;br /&gt;  (http://eh.web.id/tan-malaka/, diakses 23 Desember 2008)&lt;br /&gt;4 Zulhasril Nasir. up cit.&lt;br /&gt;5 Judul Kata Pengantar Taufiq Abdullah, dalam Taufiq Ismail. 2004. Katastrofi   &lt;br /&gt;  Mendunia. Yayasan Titik Infinitum: Jakarta.</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2009/01/suara-suara-sayu-untuk-tan-malaka.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-4254917501152018368</guid><pubDate>Tue, 30 Dec 2008 14:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-30T06:39:57.242-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel/essay</category><title>TERAS UTAMA LENSA</title><description>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM opini kali ini saya mencoba mengutip pendapat dari the founding father H. Agus Salim : “Sekiranya Angkatan Muda tidak dipersenjatai dengan jiwa agamis akan hancurlah akhlak angkatan dan bangsanya”. Pendapat tersebut benar adanya jika kita bawakan pada konteks saat ini dimana pembangunan dan peradaban fisik saja tidak akan berarti banyak tanpa diimbangi dengan pembangunan mentalitas dan spiritualitas. H. Agus Salim adalah tokoh historis yang mencoba menorehkan pemikiran moderat agar generasi sesudahnya mampu belajar dari keluhuran akhlak tokoh-tokoh terdahulu. Dalam kutipan pendapat di atas beliau berharap agar generasi penerus memiliki keluhuran akhlak yang baik. Keluhuran akhlak akan membawa bangsa ini menjadi lebih maju dan bermartabat, dimana setiap orang dapat mencicipi harga kemerdekaan dan kesejahteraan hakiki. Dengan fondasi agamis (mental-spiritual) yang diimbangi dengan vitalitas pikiran akan lahir generasi bernas yang mampu membawa bangsa ini menuju gerbang kemajuan. &lt;br /&gt;Betapa tidak, saat ini saja banyak orang Indonesia yang “mumpuni” kadar intelektualitasnya tetapi justru menyeret bangsa ke gudang permasalahan yang kian kompleks. Betapa tidak, saat ini saja tidak terhitung penyelewengan yang terjadi akibat permainan “orang-orang pintar” bangsa ini. Untuk itu, tidak salah, jika harga sebuah kebebasan akal mesti diimbangi pula dengan penaklukan “akal” untuk berbuat sebagaimana ia (:akal) harus difungsikan ke jalan yang benar saja. Penaklukan “akal” hanya bisa dilakukan jika tiap insan memiliki kesadaran yang dalam akan kehadiran penciptaNya. Sebab, Albert Enstein sendiri pada akhirnya menyadari bahwa “Pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa pengetahuan adalah buta (kosong)”. Agaknya benar juga jika pemimpin revolusioner Perancis, Napoleon Bonaparte menyatakan: “Hanya ada dua hal yang menyebabkan seseorang segan melakukan perbuatan-perbuatan tercela, yaitu agama dan rasa harga diri”. Ijinkan saya untuk mengutip satu pendapat lagi dari Prof. Hamka yaitu “Semiskin-miskinnya seseorang, adalah orang yang miskin akan budi pekerti”. Demikian pembaca untuk kita renungi dan hayati dalam refleksi keseharian kita. Wassalam</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/12/teras-utama-lensa.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-6352621112188495461</guid><pubDate>Mon, 08 Dec 2008 14:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-08T06:13:26.958-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel/essay</category><title>Islam : Konteks Kekinian dan Wacana Global</title><description>Ada yang senantiasa melekat dalam diri seorang penulis ketika ia mencoba menulis suatu esai kemudian dihadapkan pula ia pada pertanyaan, yaitu seberapa pentingkah sebuah esai dibuat jika esai itu hanya akan mengulas wacana dengan kriteria paling “umum”. Kriteria “umum” yang dimaksud, yaitu ketika seorang penulis dihadapkan pada satu atau dua pilihan saja, yaitu membuat tulisan yang menarik atau tidak sama sekali. Terkadang seorang penulis juga harus dibenturkan oleh persoalan dimana wacana haruslah “updates” dan “segar” untuk dibicarakan. Pemberlakuan itu tidak berlaku bagi saya sehingga selama menuntaskan esai ini saya harus siap sedia dalam kurun waktu tertentu untuk membuka biografi, internet, serta melakukan studi komparasi yang “agak ilmiah” guna menanggapi esai argumentatif tentang Islam yang dibuat dan ditulisi oleh kaum orientalis Barat. Sehingga esai “Islam : Konteks Kekinian dan Wacana Global” ini siap dirampungkan, dengan Hamdallah tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kekinian seringkali terjadi pergeseran makna “Islam” oleh orientalis Barat sehingga Islam secara holistik dipandang sebagai agama yang kaku dan konservatif. Tudingan itu kian berlanjut dengan meningkatnya wacana war against terorism yang kian memuncak pada abad ke-20 ini. Isu terorisme dikaitkan pada satu agama meski terkadang pelaku terorisme belum tentu memiliki korelasi yang kuat terhadap pemahaman (understanding) ajaran agama yang dianutnya. Saat ini hampir tidak bisa dibedakan antara terorism crimes dengan perlawanan terhadap penjajahan dan kesewenangan. Setiap perlawanan yang merupakan hukum aksi-reaksi (kendati itu wajar) acapkali terjebak pada satu wacana, yaitu teror, meski tepatnya teror dan HAM terkadang dibatas dalam satu “garis pinggir” saja. Sampai-sampai jika seorang melakukan perlawanan terhadap penindasan dan kemerdekaan dalam melindungi hak-haknya dapat saja “terhukum” oleh satu pasal saja, yaitu terorisme atau HAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum orientalis telah menyusun draft dan strategi perlawanan guna melumpuhkan semangat dan nama besar Islam. Strategi tersebut menurut hemat saya hanya dirancang dalam dua (2) konsepsi saja, yaitu strategi pemikiran frontal dan strategi inkonservatif. Strategi pemikiran frontal, yaitu strategi yang dibuat secara ofensif (terang-terangan) lewat bantuan media, seperti media massa dan elektronik. Strategi ini biasanya memanfaatkan sumbangan pemikiran, pendapat dan tulisan dari ilmuwan orientalis (Barat) untuk menundukkan kebenaran Islam. Salah satu contoh dari strategi ini yaitu dengan :      (1) mendalihkan yang haq (true things) menjadi bathil (bad things), demikian sebaliknya,   (2) memangkas kitab suci (Quran) untuk kepentingan yang tidak pada tempatnya, (3) melakukan pencelaan terang-terangan terhadap nabi dan rasul lewat wacana (dongeng Israilliyat) / tampilan kartunis sebagai dampak deklarasi pers dan kebebasan, (4) mempublikasikan secara ekstensif tulisan ilmiah yang lemah “kadar keislamannya” untuk kemudian dilegalkan sebagai produk Islam, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun strategi inkonservatif yang saya maksud, yaitu strategi untuk menutupi setiap keunggulan, kelebihan dan kejayaan yang pernah dicapai oleh umat muslim selama selang peradaban (civilization) masa lampau, sehingga fokus sentral dari strategi ini, yaitu melebarkan tiap celah negatif dan perpecahan yang terjadi di sebagaian kecil kalangan Islam. Bagian dari strategi ini yaitu melebarkan isu gender di kalangan Muslimah, melebarkan perbedaan ijtihad tentang konvensi perang (jihad), perpecahan aliran-aliran baru, serta perbedaan pandangan yang kecil disulut menjadi perbedaan besar yang mutlak dipersoalkan. Strategi inkonservatif memojokkan muslim dalam dua celah saja, yaitu anarkisme dan terorisme. Tak satupun media Barat yang berkenan mempublikasikan kemajuan toleransi beragama di negara Islam, penemuan ilmiah oleh insinyur muslim, kebenaran Quran dari sisi sain dan aturan hukum ekonomi (muamalah), peran serta Islam dalam pengentasan kemiskinan, serta keberhasilan Islam dalam memerangi diskriminasi ras, warna kulit, dan strata ekonomi yang sering dipersoalkan oleh bangsa Eropa, Asia Selatan dan Afrika pada abad ke-19, hingga saat ini.  Semua yang ditonjolkan jauh dari pandangan netral intelektual Barat sehingga seringkali menyudutkan Islam dari pandangan global. Penonjolan sisi negatif yang berlebihan diharapkan akan mengikis potensi positif yang dimiliki oleh generasi muda muslim sehingga generasi menjadi lemah iman dan hilang kepercayaan terhadap ajaran agamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kekinian, kaum orientalis menggunakan pedang konsepsi untuk mengaburkan makna perang (jihad) dalam Islam. Sehingga muncul image yang merujuk pada state, yaitu dakwah Islam dimulai dengan “pedang” dan diakhiri pula dengan “pedang” dan state tersebut mereka rancang untuk mengaburkan kebenaran risalah yang dibawa oleh Rasululullah SAW. Jika umat muslim dilemparkan pada state tersebut, maka sebutkanlah bahwa Rasul memulai dakwahnya dengan iman dan kesabaran bagi seluruh umat (baca: QS Al Anbiya : 107). Dakwah tersebut kian jelas pada pandangan &lt;blockquote&gt;“Berimanlah orang yang beriman dengan penuh kerelaan dan kesabaran, dan matilah orang yang mati dengan penuh kerelaan dan ketenangan”. atau “Bagi siapa yang beriman hendaklah ia beriman, dan bagi siapa yang kafir biarlah ia kafir”&lt;/blockquote&gt;. Merujuk pada dakwah tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Rasulullah SAW tidak akan memerangi orang tanpa dasar (meski ia adalah kafir). Rasul tidak akan mencucuri keringat mengangkat pedang terkecuali ada marabahaya yang mengancam keselamatan dan kemaslahatan umat, adanya kecaman dan tantangan dari pihak luar, serta adanya rintangan dari pihak lain sehingga kaum muslim dihalangi beribadah dan dijauhkan dari keimanannya. Setelah itu, tiada perang di kamus Islam, tidak ada pedang di tangan Rasulullah SAW kecuali dibenarkan untuk membedah organ manusia demi kesembuhan rasa sakit, sebagai ungkapan kasih sayang sesama manusia. Selain mukjizat Quran dan Isra’Mikraj, tidak ada mukjizat lain yang lebih besar dimilikinya kecuali pembebasan akal manusia di hadapan TuhanNya. Tidak ada peristiwa yang luar biasa bagi Rasul selain kebebasan dalam berpikir. Tidak ada dalil pemikiran terkecuali jika manusia melakukan pembacaan dan penelusuran terhadap ayat-ayatNya. Jika Nabi  Isa AS memiliki mukjizat menghidupkan orang mati dari kuburnya, maka Rasulullah SAW telah menghidupkan umat dari kematian yang tidak mereka sadari, dan itu adalah kematian yang paling keras1. Rasul telah bersedia mengeluarkan umat manusia dari kezaliman, kebodohan, kemusyrikan, kegilaan infinit, dan kekufuran menuju pengetahuan tauhid, persaudaraan yang humanis, pembelaan terhadap kaum lemah, serta perang (jihad) melawan penindasan dan kesewenang-wenangan. Hal itu beliau laukan tatkala beban hidupnya mencekik ketika ia harus mengemban pengorbanan dan penderitaan yang besar dari duka cita, ejekan, fitnah, dan kekasaran semasa hidupnya (: baca QS: Al Furqan : 41, QS: Shad : 4 s.d 5). Penderitaan lahiriah telah ditanggung rasul ketika ia menjadi yatim-piatu pada usia kecil (6 tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya tudingan yang dilakukan oleh kaum orientalis adalah tudingan tak bermotif dan tidak berdasar. Namun satu hal yang perlu kita pelajari dari kaum orientalis tersebut adalah kemauan dan kesanggupannya dalam menghimpun pemikiran dan waktu untuk melakukan studi terhadap Islam (kendati studi empiris mereka tersebut lemah argumennya). Tidak jarang kaum orientalis menghimpun pendapat politikus, dan ilmuwan dalam menyusun hipotesa dan strategi untuk menyerang Islam. Sebaliknya, hal tersebut tidak disadari secara langsung ataupun tidak langsung oleh kalangan muslim dan generasinya, sehingga pembantahan argumen terhadap Barat tidak banyak dilakukan, terkecuali oleh negara dengan sistem pemerintahan Islam. Simpulan dari tulisan ini saya kutip dari Ahmat Bahjat (dalam teks Al Anbiya Allah), yaitu inti dan hakekat Islam adalah sebuah seruan untuk membaca (QS Al Alaq: 1-5), menggali ilmu pengetahuan, menegakkan kebebasan dan memerangi kezaliman2. Islam adalah seruan bagi seluruh alam yang mengintegrasikan universalitas dan persamaan hak-hak manusia, keadilan, kebebasan dan jihad. Kebebasan yang dimaksud, yaitu kebebasan akal dari sifat penolakan dan keragu-raguan terhadap penciptaNya. Ilmu pengetahuan terkadang tidak mampu menjawab pengetahuan dan fenomena non materi seperti penciptaan ruh, alam gaib dan sebagainya dan untuk kasus semacam ini pengetahuan dan agama tidak lagi berkorelasi secara kuat. Ilmu manusia tidak akan pernah menyamai bahkan melampaui kadar penciptanya, oleh sebab itu manusia harus menyadarinya dengan baik, seperti kadar pengetahuan kaum orientalis yang selalu saja melakukan penyanggahan terhadap kebenaran Islam. Demikian. Wassalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-[1], [2] Dikutip dari Ahmat Bahjat (2006). Al Anbiya Allah.&lt;br /&gt;-dikutip dari berbagai sumber dan observasi.&lt;br /&gt;-sources : Al Qurannul Karim (Al Anbiya, Al Furqan, Shaad, Al Alaq etc).&lt;/span&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/12/islam-konteks-kekinian-dan-wacana.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-7591755060792467198</guid><pubDate>Sun, 05 Oct 2008 11:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-05T04:17:15.080-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel/essay</category><title>TERAS SYAWAL</title><description>Jelang Hari Raya Idul Fitri 1429 H ini, saya terkenang dengan sebuah sajak yang diungkapkan oleh Bung Sitor Situmorang, yaitu sajak berjudul “Malam Lebaran”. Uniknya sajak itu ditulis Bung Sitor cukup dengan satu bait saja. Terkesan menyampaikan sajak minikata nan minimalis, setidaknya penyair Sitor Situmorang telah mampu menyindir saya dan kita yang tengah merayakan hari raya tersebut dengan berlapang dada. Betapa tidak, bait yang ditulisnya itu kira-kira sebagai berikut: / bulan di atas kuburan /. Demikian isi sajak Sitor yang ringkas, namun cukup mengernyitkan isi kepala orang awam yang membacanya. Satu sisi, bait tersebut terkesan lepas atau mutually exclusive terhadap tematik judul “Malam Lebaran” yang diangkatnya. Di sisi lain bait tersebut memang satu jiwa, satu ruh dengan penamaan judul; jika kita mampu merenungi makna dalamnya. Pertanyaannya adalah jika kita amati hal tersebut secara tekstual, maka anda dan saya tidak akan pernah dapati sinar bulan yang benderang tepat pada 1 Syawal, terkadang malam awal Syawal biasanya diliputi oleh cuaca mendung, berawan bahkan hujan, dan yang pasti tidak akan ada bulan. Saya teringat beberapa waktu lalu saya berjalan sore hari di pasar raya kota Padang, maka sedemikian mudah saya mendapati beberapa pengemis (bahkan mungkin banyak lagi) yang masih duduk menggopoh-gopoh di jalan, depan toko, bahkan memohon belas kasihan masuk ke toko-toko dan restoran-restoran. Mereka hadir dan nyata di tengah-tengah kita yang notabenenya akan merayakan pesta akbar dihari raya itu. Kita disibukkan dengan aktivitas mudik, sementara pengemis-pengemis dan anak-anak jalanan masih berkeliaraan di sana-sini, ditengah-tengah kita.  Seharusnya bahan perenungan tersebut yang dimaksud Bung Sitor. Barangkali adalah berkah bila kita mampu sedikit berbagi rasa dan belas kasih dengan saudara-saudara kita itu. Mari kita sambut tangan mereka dan mari berbagi kebahagiaan dengannya. Untuk itu, belum terlambat bagi kita untuk menyalurkan bantuan, santunan sosial, zakat fitrah, dan yang pasti jangan sampai ada diantara mereka yang kelaparan ditengah-tengah hadirnya bulan suci ini dan Hari Raya tentunya. Jika itu jadi, maka saya dengan percaya diri membalasi sajak “Malam Lebaran”nya Bung Sitor itu dengan bait :  / pelita  membasuh kuburan /. Yang pasti, ini tak sekadar harapan. AMIN. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/10/teras-syawal.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-3982632511869818505</guid><pubDate>Mon, 25 Aug 2008 06:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-25T00:06:02.442-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel/essay</category><title>AGUS SALIM : TEROPONG KEMERDEKAAN  DAN POLITIK</title><description>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang atau bertepatan peringatan kemerdekaan RI 17 Agustus, kita kembali diingatkan dengan figur kebangsaan kita. Penelusuran atau pengingatan itu menjadi medium bagi kita untuk kembali mengangkat semangat nasionalisme dan mentalitas berbangsa. Pencarian figur Bapak Bangsa atau “the founding father” sering dilakukan guna menggali informasi dari perjalanan patriotik ketokohan Bapak Bangsa tersebut. Berbicara tentang siapa figur Bapak Bangsa barangkali perhatian akan tertuju pada nama-nama, seperti sosok Dwi Tunggal Sukarno-Hatta, Syahrir, Supomo atau M.Yamin. Sukarno-Hatta terpilih jadi figur Bapak Bangsa itu wajar karena selain berperan sebagai proklamator juga menjadi pemimpin pertama Negara RI. Sutan Syahrir adalah tokoh kepartaian yang handal, sementara Supomo dan M.Yamin sangat menonjol peranannya dalam Panitia Sembilan sidang BPUPKI tanggal 29 April 1945. Ada satu tokoh lagi yang terkadang luput dari perhatian publik, yaitu sosok &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the grand old man&lt;/span&gt;1, H. Agus Salim (1884-1954). Agus Salim termasuk pada 68 Tokoh Bapak Bangsa terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Tokoh tua (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oude Heer&lt;/span&gt;) ini adalah sosok paling berjasa sekaligus sering dilupa (peranannya) dalam sejarah bangsa. Dalam Panitia Sembilan misalnya, Agus Salim tidak hanya dihormati karena faktor usia tetapi juga karena wibawa dan kepiawaiannya dalam berdebat mengemukakan pendapat di depan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Agus Salim adalah sosok yang komplit. Ya, negarawan. Ya, politikus, agamawan, budayawan, sastrawan dan lain sebagainya. Kita bayangkan, Indonesia dahulu tanpa sesosok Agus Salim. Perjuangan Sukarno Hatta barangkali akan jauh “tersandung” tanpa ada peran Agus Salim dalamnya. Beliau dikenal sebagai lobbyst dan diplomator terbaik yang dimiliki bangsa saat itu. Jika Sukarno dikenal dunia sebagai orator, maka Agus Salim akan dikenang sebagai diplomator. Tercatat karir diplomasi politiknya gemilang dalam forum internasional terutama sepanjang tahun 1947 hingga 1953. Sebagaimana catatan Salam (1996), bahwa dalam suatu pertemuan Yogya tahun 1948, Belanda kembali bersikeras menegaskan pendirian negaranya. Agus Salim, tercatat dalam sejarah, bereaksi spontan : “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kalau Tuan-tuan menganggap usaha kami untuk mendapatkan pengakuan de jure2 dari negara-negara Arab atas Republik ini bertentangan dengan perjanjian Linggarjati, apakah aksi militer yang Tuan lancarkan terhadap kami sesuai dengan perjanjian Linggarjati?....&lt;/span&gt;” (disampaikan kembali oleh Mestika Zed : 2004). Publik kembali terperangah, lontaran pikiran dan kata-kata Agus Salim mampu menggugah forum Internasional berpihak ke Indonesia dan memaksa Belanda berunding kembali hingga penghujung 1949.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Agus Salim : Politik dan Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diceritakan Emil Salim, kemenakan Agus Salim, komitmen terhadap demokrasi dicontohkannya dengan gamblang, Agus Salim menolak mentah-mentah permintaan jadi Ketua Umum Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Maret 1950. Alasannya, tercantum dalam surat kepada M.Zein Arief 26 Maret 1950, ngeri menyaksikan partai politik menggunakan jumlah anggota untuk memperoleh kursi kabinet. Lanjutnya, anggota partai dituntut lebih proaktif memberi dukungan di DPR tanpa memandang kecakapan dan pengalaman mereka. Nah, kondisi itu bertolak belakang dengan sekarang dimana ambisiusitas personal mengalahkan segalanya. Tiap personal dalam partai saling berebut jatah jadi pimpinan umum partai. Disamping itu, pemilihan anggota partai tidak lagi merujuk pada kenyataan bahwa kecakapan dan pengalaman jadi konsiderasi primer lebih dari faktor-faktor lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjutnya, Simanungkalit (2004), mengutip pendapat Agus Salim, dalam negara demokratis, paham politik mesti disiarkan di kalangan rakyat. Saat itu, Indonesia baru mengembangkan demokrasi, rakyat sangat perlu memperoleh penerangan dan pencerahan yang dapat menstimulus jalannya demokrasi yang sehat. Artinya, “pencerahan” yang dimaksud tidak hanya menjadi tugas individu yang tergabung partai, tetapi menjadi tugas semua kalangan untuk memberi pemahaman semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca menolak permintaan PSII untuk jadi Ketua Umum partai, Agus Salim malah membentuk Partai Penyadar (1936). Kali ini Agus Salim mengorientasikan diri pada misii sosial, religi dan kemanusiaan. Sebagai ulama besar, Salim tetap kentara dengan tradisi luhur keislaman, sebagaimana tersurat dan tersirat pada misi partainya, yaitu menyadarkan umat manusia agar berpegang pada Al Qur’an dan Sunah. Dalam misi sosial kemanusiaan, Salim mencurahkan perhatian bagi pemberdayaan kelompok masyarakat kecil melalui Persatuan Pedagang Pasar, Persatuan Sopir Oplet, Perkumpulan Buruh Batik, dan seterusnya. Suatu hal menarik, tidak ada label partai dan persatuan bernuansa Islam dalamnya, tetapi Agus Salim justru mampu memberikan ruh organisasi dalam semangat Islam humanis, yang dihayati dan diterapkan secara integral dalam pengimplementasian, bukan simbol belaka.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Negarawan Kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Agus Salim adalah sosok negarawan tangguh. Beliau tidak hanya politikus ulung tapi sudah menjelma jadi the &lt;span style="font-style:italic;"&gt;founding father&lt;/span&gt; yang barangkali langka ditemukan saat ini. Agus Salim hidup dalam kesederhanaan, bahkan mungkin “melarat”. Beliau mengorbankan jiwa demi kepentingan bangsa dan negara. Benar, jika beliau tidak sebijak itu, sudah tentu beliau lebih diuntungkan ikut Belanda saja yang menjanjikan harta dan kekayaan buat orang-orang berpengaruh saat itu. Benar, analogi terbalik seratus delapan puluh derajat, bila dibanding saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Ranah Minang, Koto Gadang Bukittinggi (8 Oktober 1884), beliau telah menorehkan garis sejarah dikening kita semua, yang notabene orang Minang ini. Beliau telah menjelma jadi Bapak Bangsa sekaligus figur tangguh yang berani menantang dunia. Satu lagi peran yang beliau tunjukkan, yaitu perjuangan dalam pencantuman “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Republik Indonesia berdiri atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa&lt;/span&gt;”, hingga butir ini termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Kemerdekaan hakikatnya adalah rahmat dan karunia Allah SWT, jika kita bawa pada dimensi saat ini, bagaimana kita sebagai bangsa tak lagi terjajah dapat mensyukuri dan mempertanggungjawabkan semua itu?. Sementara kita tetap berbaris dan “berjalan” di tempat itu ke itu juga. Ibarat memutar lagu lama yang selalu terseot tatkala dimainkan. Katakanlah, percaturan politik yang “kurang rasa” terhadap rakyat, praktik suap-korupsi, kolusi, penyelewengan dan konspirasi telah menodai catatan rasa syukur kita yang termaktub itu. Kemerdekaan ini kah yang kita maksud?. Sebuah kesia-siaan yang barangkali Agus Salim sendiri (bila masih hidup) akan terbatuk-batuk mual dibuatnya. Moga nurani kita bisa menjawabnya...&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; *Disarikan kembali dari Mestika Zed (2004).&lt;br /&gt; “The Founding Fatherdari Negeri Kata-Kata”, dan dari &lt;br /&gt;Salomo Simanungkalit (2004). ”Demokrasi,&lt;br /&gt;Dinamika Islam, serta Islam dan Negara”&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Catatan :&lt;br /&gt;1 gelar tersebut diberikan langsung oleh Bung Karno&lt;br /&gt;2 Republik tak hanya diakui de facto tapi de jure&lt;/blockquote&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/08/agus-salim-teropong-kemerdekaan-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-4136791410984403000</guid><pubDate>Sat, 23 Aug 2008 04:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-22T21:36:39.568-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel/essay</category><title>SASTRA : PERSPEKTIF SEJARAH  DAN KEMERDEKAAN</title><description>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Peran sastra dalam kemerdekaan mampu mengimbangi vitalitas gerakan kebangkitan yang ekstrim dengan digantikan dengan pola perjuangan moderat. Domain sastra mampu menyentuh, dan meresapi nurani pembaca bahkan “meresahi” publik yang jadi penafsir makna saat itu, yaitu kaum kolonialis.&lt;/blockquote&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Partha Chatterjee (pemikir India) dan Reynaldo Ileto (pemikir Filipina) mengakarkan nasionalisme bukan hanya pada mesiu, perundingan, kognisi barat, dan kapitalisme percetakan (print capitalism), melainkan pada emosi Dionysian (passion) yang dipancarkan puisi dan daya kata (Latif :2008). Sebuah retorika dan daya kata itu menjelma dan berdaya dorong kuat jadi sarana pergerakan (:perjuangan) yang dapat menyamai bahkan melebihi konfrontasi, diplomasi, dan kognisi politik. Bila menilik ke belakang (:sejarah), maka akan kita temukan beberapa catatan yang memuat posisi sastra dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebagai contoh, sosok Chairil Anwar tampil menonjol sebagai sosok yang penuh semangat hidup dan sikap kepahlawanan. Sebagaimana catatan Sapardi Djoko Damono (1985), dalam larik “Krawang Bekasi”, sajak saduran Chairil itu ditulisnya tahun 1948 ketika semua menyadari kesulitan yang dihadapi kebanyakan pemimpin bangsa saat itu (baca: Sukarno, Hatta, Syahrir). Tiga larik yang ditulis Chairil : //Menjaga Bung Karno/ Menjaga Bung Hatta/ Menjaga Syahrir// menjadi larik monumental yang mampu menggugah nurani publik saat itu. Lanjut Sapardi, seorang Chairil tidak pernah secara eksplisit menyatakan keterlibatannya pada kegiatan politik, tetapi setidaknya dalam sajak “Persetujuan dengan Bung Karno” (1948) menjadi sajak politik orisinilnya yang dianggap “paling berhasil” mengobarkan semangat generasi saat itu. Chairil dalam lariknya menyatakan bahwa sejak Proklamasi ia “melangkah ke depan berada rapat di sisi” dan merasa bahwa ia dan Bung Karno “satu zat satu urat”.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketika Politikus Bersastra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum Chairil berkarya, peran sastra dan kesusatraan umumnya sudah mengakar rambat dalam nadi pejuang politik Indonesia saat itu semenjak era 1920 an. Seperti dikemukakan Yudi Latif (2008) bahwa perjuangan kebangkitan selalu dimulai dari kerja wacana. Tanpa kata, perjuangan kehilangan arah. Sepakat dengan Latif, praktisnya, perjuangan mesti harus dimulai dan dikerahkan dari tiap dimensi termasuk dimensi kultural dan lintas bahasa (kesusastraan). Faktanya, sejak 1924, Muhammad Hatta telah terlibat aktif di Perhimpunan Indonesia (PI) seraya tak lupa Hatta menulis puisi-puisi patriotik (: dua yang terkenal Beranta Indera dan Hindania). Pada tahun 1926, Sukarno juga secara aktif menulis di Jurnal Indonesia Moeda dan dalam waktu bersamaan, ia menjadi editor majalah SI, dan Bendera Islam (1924-1927). Tidak banyak yang tahu, Sukarno, politikus dan negarawan kelas wahid Indonesia itu, juga sempat menulis naskah drama selama masa pembuangan. Sutan Syahrir, disamping aktif di PI, kelak ia juga berperan aktif mengisi Jurnal Daulat Rakyat. Tak banyak yang tahu pula, Syahrir juga dikenal sebagai pemain sandiwara dan sering menekuni kelompok diskusi dan kerja jurnalistik sastra sesama koleganya ko-editor Jurnal Pembela Islam (1929). Hamka tak asing lagi dimata publik karena tersyohor kepiawaiannya menulis roman fenomenal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Artinya, negarawan dan politikus saat itu tak dapat tidak melepaskan diri dari torehan pena, lewat sastra, jalur jurnalistik dan kesenian mereka turut andil berjuang.&lt;br /&gt;Hakikatnya, “keberaksaraan” sastra_meminjam istilah Latif_telah bertransformasi positif jadi medium penyampaian kognitif, ide dan aspirasi dengan derajat literasi dan nilai (value) yang tinggi. Peran sastra dalam kemerdekaan mampu mengimbangi vitalitas gerakan kebangkitan yang ekstrim dengan digantikan dengan pola perjuangan moderat. Domain sastra mampu menyentuh, dan meresapi nurani pembaca bahkan “meresahi” publik yang jadi penafsir makna saat itu, yaitu kaum kolonialis. Maka tak jarang di era pencapaian kemerdekaan, pejuang dan pemimpin bangsa yang menguasai retorika, mahir menulis esai dan juga sastra berulang kali       “dipeti-eskan” oleh kaum kolonial. Sebut saja, Sukarno, Hatta, Hamka, Syahrir (terlepas dari posisi politik) berulang kali jadi ‘bulan-bulanan” penguasa ditangkap, dibuang dan diasingkan. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sastra dan Hegemoni Politik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Antonio Skarmeta, sastrawan Chile, mengatakan, jika modernitas bukan sekadar budaya efisiensi, dan jika demokrasi bukan hanya pesta pemilihan dan penjelimetan prosedur politik, akan selalu ada intelektual-sastrawan di seberang struktur politik-berhadapan dengan mereka yang memburu kekuasaan-di luar institusionalisasi akademik dan negara. Pendapat ini mencerminkan bahwa sastrawan dasarnya berada pada posisi masyarakat awam yang merindukan demokrasi yang murni. Ia turut mengambil peran menentang ketidakadilan dan turut menelanjangi peta politik yang tiran. Pada zaman kolonial, sastra dan esai patriotik, dicap sebagai “bacaan liar” dan harus dilenyapkan. Oleh karena urgensi sastra dan esai kala itu telah menjadi konsepsi tajam yang mampu menggugah dan menggerakkan nurani orang banyak. Kesadaran nasional salah satunya terbentuk lewat medium ini. Dalam usahanya, pemerintah kolonial saat itu menggelar larangan terhadap bacaan yang dianggap dapat merusak kekuasaan pemerintah saat itu lewat pendirian Komisi Bacaan Rakyat atau Commisie Voor de Inlandsche School en Volkslectuur tahun 1917 (Rosidi: 1968). Sejak abad 19, sastra, khususnya kesustraan Melayu saat itu telah berkembang hingga mengalahkan peranan bahasa Belanda yang saat itu hendak dikukuhkan jadi bahasa resmi negara. Keberadaan sastra Melayu yang juga beriringan dengan penyeruan penggunaannya oleh tokoh nasional sangat membantu perkembangan lahirnya Bahasa Indonesia (Sumpah Pemuda 1928). &lt;br /&gt;Keberadaan sastra pada periode kelahiran diawali dengan gebrakan sastra oleh M.Yamin, Rustam Efendi, Sutan Takdir Alisyahbana, Armijn Pane, Amir Hamzah, JE Tatengkeng dan seterusnya. Pada dekade 1920 an, M.Yamin, Sanusi Pane, Hatta dan Rustam Efendi banyak menulis soneta yaitu bentuk puisi yang berasal dari Italia. Soneta yang mereka buat tidak hanya bermotif romantik tetapi juga kebanyakan bersentral pada nilai perjuangan. Sastrawan pada periode kelahiran telah menggoreskan tinta emas dalam posisi kesusatraan Indonesia jauh seblaum periode perkembangan yang dipelopori Chairil Anwar lahir. Budi Darma (2008) mengemukakan bahwa retorika (:sastra) berkaitan dengan aspirasi politik, dan aspirasi politik sangat mungkin berkaitan dengan protes, misalnya protes terhadap penjajahan, rasisme, ketidakadilan sosial, dan lain sebagainya. Bung Karno adalah orator sekaligus pencinta sastra, dengan kelihaian retorika bahasa (: jika retorika identik orasi), beliau mampu membakar semangat revolusioner dan menyerukan persatuan bangsa. Demikian juga dengan peranan sastra sebagai dulce et utile (: keindahan dan manfaat), merupakan hakikat moral yang salah satunya tercermin dalam puisi Hatta, M.Yamin, Rustam Efendi, roman Hamka, serta sajak Chairil juga. Demikian, sastra akan tetap berperan menyerukan protes aspirasi yang konon berlanjut “sedu sedan”nya_ meminjam istilah Chairil _hingga saat ini. (Sebuah Kado Kemerdekaan Indonesia Agustus 2008)&lt;br /&gt;  ***</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/08/sastra-perspektif-sejarah-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-2212100702583323789</guid><pubDate>Fri, 08 Aug 2008 07:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-08T02:56:01.645-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>DI LORONG ALIF IA MEMBACA</title><description>Inspirasi Q.S Al Alaq : 1-5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siapa bilang ia buta ?&lt;br /&gt;mereka saja tak paham makna&lt;br /&gt;ia bisa membaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siapa bilang ia buta ?&lt;br /&gt;kau saja tak hiraukannya&lt;br /&gt;ia sanggup berirama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ?&lt;br /&gt;“aku bilang ia buta ?”,&lt;br /&gt;“Tidak”.&lt;br /&gt;Ia mampu melelehkan&lt;br /&gt;tetes air mata dalam&lt;br /&gt;Luka&lt;br /&gt;AlifNya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/08/di-lorong-alif-ia-membaca.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-5680936326635377207</guid><pubDate>Mon, 04 Aug 2008 09:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-04T03:15:21.202-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel/essay</category><title>PENYAKIT KRONIS ITU, BERNAMA KORUPSI</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiF3WaoSUxnrCZ3Dn-01-Ydy5CeoE0wWxrnMVbZ1q_t-51fsKwGMa9O50YmeJssg_EGzOW8yougkoEpiGmv1T-Vbjz_9zmMYCSLMCBzXt_b9JW9bK0EL6gJ914RkbchN4l6cim8USFQ898/s1600-h/tikus.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiF3WaoSUxnrCZ3Dn-01-Ydy5CeoE0wWxrnMVbZ1q_t-51fsKwGMa9O50YmeJssg_EGzOW8yougkoEpiGmv1T-Vbjz_9zmMYCSLMCBzXt_b9JW9bK0EL6gJ914RkbchN4l6cim8USFQ898/s200/tikus.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230604031903041170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BARU-baru ini kita dikabarkan dengan headlines di media massa yang santer memberitakan kasus korupsi yang melibatkan oknum legislatif. Kasus tersebut memang menjadi realitas pahit bagi bangsa ini, tatkala masyarakat Indonesia seantero negeri belum bisa menghela nafas dalam-dalam pasca kenaikan BBM. Satu wacana belum tuntas “diredam”, wacana lain siap sedia antri “mengunyam”, bahkan siap menggilas rating wacana sebelumnya. Satu wacana disambari kilat oleh wacana lain yang datangnya silih berganti, sebut saja wacana kenaikan BBM, skandal korupsi, kasus suap, hingga yang teraktual kasus pemadaman listrik. Namun, barangkali, saya dalam kesempatan ini lebih tertarik untuk memfokuskan diri pada satu wacana saja, yaitu K-O-R-U-P-S-I. Tujuh penggalan huruf itu pula yang kemudian membentuk satu kata yang barangkali sangat lazim dikenal oleh masyarakat republik ini. Sebagai seorang mahasiswa, tentu saja wacana ini menjadi menarik buat saya, dengan tidak bermaksud untuk menyebut wacana lain kurang “istimewa”, namun setidaknya wacana ini beranjak dari catatan kritis saya dalam domain latar belakang yang tentunya mengharuskan saya “tanggap” dalam menyikapi persoalan tersebut di atas.&lt;br /&gt;Barangkali, wacana ini sudah menjadi wacana yang umum dibahas, dan barangkali pula wacana ini telah menjadi wacana kesekian dari sekian banyak wacana lain yang telah turut serta mengulas tajam persoalan yang sama. Namun, saya tak bermaksud sekadar membuat catatan ringkas untuk “menggenapkan” atau “menyempurnakan” bahasa (language) dan bahasan (contents) wacana terdahulu yang kurang lebih akan bernada sama, dan wacana ini saya buat dari sebuah epos nurani. Epos nurani bagi seorang penulis (:saya tentunya), yaitu dorongan yang terus “memaksa” dan “menghantui” saya untuk segera berbuat dengan menuangkan pikiran dan nurani apa adanya dari realitas apa adanya pula.&lt;br /&gt;Berbicara tentang fokus masalah bernama KORUPSI, tentu telah menjadi polemik umum yang tiada habis-habis dikuak, terutama saat rezim Orde Baru nyata lengser pada era reformasi 1998. Wujud penyakit kronis korupsi sudah menunjukkan gejala yang amat kritis, sulit dicarikan antibiotik dan resep penyembuhannya. Gejala kronis korupsi diindikasikan dahulu dengan gejala “batuk-batuk” yang berpuluh tahun lamanya, kemudian “meradang” dalam kanker tenggorokan dan paru yang kian menyesakkan bangsa ini. Radang itu pula yang membuat bangsa ini kesulitan “bernafas”, karena paru dan tenggorok sudah dipenuhi oleh “lendir” dan “kuman” yang teramat banyak. Realitas itu pula yang kemudian “mengakar rambat” dalam  arteri dan nadi, kemudian “mendarah daging” mulai rezim terdahulu hingga sekarang. Kebohongan publik bahkan konspirasi politik yang dahulunya dengan rapi “dipetak umpeti”, “diselubungi” dalam-dalam kian terkuak dan muncul ke permukaan bak terbang roket berkecepatan tinggi menembus langit yang menjulang. &lt;br /&gt;Sungguh, kasus korupsi dewasa ini telah menjadi “medan catur” yang siap menyuguhkan area permainan yang serba “wah” dan menggiurkan bagi tiap pemainnya. Dalam permainan semacam itu, para oknum birokrat, pejabat legislatif, penegak hukum dan elit politik  turut berperan jadi “bidak catur” yang warna bidaknya hitam. Ada bidak yang warnanya putih, namun tentu saja bidak tersebut tak bertahan lama karena terus digilas bidak-bidak lainnya, kemudian diseret ke dalam medan untuk segera bertukar “rupa” dan warna. Kebohongan dan permainan semacam itulah yang kemudian menjadi beban berkepanjangan yang harus ditanggung dan dipikul oleh rakyat kecil, petani, peladang dan pedagang kecil yang bekerja mencucuri keringat siang dan malam. Oleh karena perbuatan terkutuk dan laknat dari oknum tak bertanggung jawab, maka rakyat kecil ini pula yang harus menanggung pilu dalam gubuk penderitaan sekian lamanya.&lt;br /&gt;Berangkat dari wacana korupsi pasca Orde Baru dikuak tuntas dan “diberangus”, sepeninggal itu “gudang masalah” tak cukup berhenti sampai di situ saja. Berharap kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme diusut dan digilas, setali dua tali dengan sebelumnya, kasus itu justru mewabah dalam siklus berulang berkepanjangan. Siklus berulang itu tentunya telah terancang dalam “skenario sistem” yang sangat mapan.  Era reformasi yang hebat dalam meneriakkan slogan anti korup dan suap menyuap akhirnya berbalik menghadapi realitas pahit kemudiannya. Elit politik kala itu tak henti-hentinya meneriakkan slogan yang sama jelang kursi kepemimpinan didapatkan, alhasil semua hanyalah spanduk retorika untuk “mengambil hati” publik. Akhirnya, rakyat kecil kembali yang jadi tumbal kata-kata dan pengorbanan dari aktuasi slogan yang selama ini disemboyankan. &lt;br /&gt;Alhasil, saat ini, kasus korupsi kian padu lebur dalam rumusan fasa yang kian rumit. Selalu ada “celah” untuk mencacah dan menenggak habis harta kekayaan rakyat dan negara, yang seyogyanya diperuntukkan untuk kesejahteraan rakyat. Wakil rakyat kembali berteriak “ini adil” dan “ini tak adil”, sementara tangan kirinya sempat-sempatnya “bermain mata” dengan tangan kanan hingga kasus kebobrokan ini terjadi berulang kali. Tak hanya legislatif (:oknum) yang berbuat keliru, tak tanggung-tanggung, lembaga supremasi macam kejaksaan agung juga tak luput dari jamahan penyakit kronis ini (:korupsi). Korupsi, suap, amplop pelicin, apapun namanya, merupakan “payung istilah” yang bersaudara tiri, bahkan kandung, satu dengan lainnya. Penyakit kronis itu pula yang mencemari otoritas pimpinan pusat, daerah, legislatif, birokrat hingga kejaksaan, hingga kehilangan martabat dan kepercayaan     di mata rakyat. Bila kita cermati secara detail, maka lebih akan kita temukan ketimpangan-ketimpangan lain yang muncul dari mekanisme struktur dan hirarki jabatan dilembaga pemerintahan bangsa ini. Penyakit kronis KORUPSI ini telah menjalar jadi penyakit warisan yang sulit disembuhkan dan ditemukan “penawar” manjurnya.&lt;br /&gt;Semoga saja, KPK, LSM, dan lembaga pemerhati korupsi, serta masyarakat umumnya dapat bekerjasama dan bahu-membahu dalam menyikapi persoalan ini hingga bentuk ketidakadilan semacam ini bisa diusut Tuntas, Tegas, dan Bernas (TTB). Semoga saja, para elit politik nanti tidak terlalu sibuk mengkampanyekan diri anti korupsi, seperti halnya kampanye dokter paru pada pasien-pasiennya yang menyarankan tiap pasien berhenti merokok demi kesehatan. Sementara, sepeninggal pasien, si dokter seenaknya “mengembul asapi” rokok dalam ruangan, sembari bergumam dalam hati : “biarkan saya berbuat dengan tenang, yang penting nasihat tak akan pernah berlaku buat diri saya”. Semoga saja analog demikian “salah”. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/08/penyakit-kronis-itu-bernama-korupsi.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiF3WaoSUxnrCZ3Dn-01-Ydy5CeoE0wWxrnMVbZ1q_t-51fsKwGMa9O50YmeJssg_EGzOW8yougkoEpiGmv1T-Vbjz_9zmMYCSLMCBzXt_b9JW9bK0EL6gJ914RkbchN4l6cim8USFQ898/s72-c/tikus.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-5980299014228607457</guid><pubDate>Sat, 26 Jul 2008 04:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-25T21:09:39.676-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>KOSAKATA MINI</title><description>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KOSAKATA MINI 1&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Catatan kecilku :&lt;br /&gt; biografi, prosa, puisi &amp; esai.&lt;br /&gt;“ dimana aku dan kuburku ?”&lt;br /&gt;                   **&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KOSAKATA MINI 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;aku tak ingin libatkan diri&lt;br /&gt; dalam sunyi yang syahdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jeruji aku dalam palung&lt;br /&gt; kerinduan dalam&lt;br /&gt;  lagu AlifMu&lt;br /&gt;                   **&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KOSAKATA MINI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alif&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekatlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/07/kosakata-mini.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-5635360740032832520</guid><pubDate>Sat, 26 Jul 2008 03:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-25T21:04:46.951-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>PETANI DALAM HUJAN</title><description>berikan aku suara hujan&lt;br /&gt;suara katak pesawahan malam&lt;br /&gt;menyanyi riang sahut-sahutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sawah. Aku.&lt;br /&gt;Adalah satu;&lt;br /&gt;(: satu pematang&lt;br /&gt;   satu arteri, dalam&lt;br /&gt;   hujan dan bayang )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;taburi bunga-bunga kehidupan&lt;br /&gt;romansa malam ruang-riang.&lt;br /&gt;Mari Menyanyi !&lt;br /&gt;Mari berparodi !&lt;br /&gt;Mari.. Mari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/07/petani-dalam-hujan.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-6226701475710949281</guid><pubDate>Wed, 23 Jul 2008 12:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-23T05:27:14.425-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel/essay</category><title>WAJAH INDUSTRI KECIL DI SUMBAR</title><description>&lt;blockquote&gt;Dalam peranannya sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi nasional, perusahaan kecil (termasuk dalamnya sektor informal), menjadi lahan strategis untuk ditumbuh kembangkan, seperti yang dikemukakan Swasono (1986) bahwa dalam kenyataannya sektor informal merupakan bagian tak terpisahkan dari kerangka perekonomian nasional.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMATERA Barat  menuju era industri?. Kenapa tidak, jawabnya. Sekilas pintas SUMBAR memang masih dipandang sebelah mata sebagai wilayah industri berkompeten di Indonesia. Hal tersebut memang beralasan, karena di SUMBAR sendiri sektor industri dengan largest investment masih dapat dihitung jari. Beberapa industri kompetitif di SUMBAR, diantaranya yaitu industri semen, tambang, tekstil, dan industri pangan. Beberapa diantara industri tersebut ada yang masih eksis dan ada pula yang ‘gulung tikar’, khususnya pasca krisis moneter 1998. Bila dibandingkan dengan daerah lain, seperti Sumatera Utara (SUMUT), Kepulauan Riau, terutama Jawa, maka jumlah dan perkembangan industri berkapital besar di SUMBAR masih belum menunjukkan taraf pertumbuhan yang signifikan. Artinya, jika pandangan umum berlaku bahwa kategori industrialisasi wilayah ditentukan oleh kuantitas, tepatnya, seberapa banyak industri largest investment menanamkan modal di suatu daerah/wilayah, maka tentu saja SUMBAR tidak diperhitungkan masuk ke dalam rating statistik. Namun, ada poin penting di sini, jika kita merujuk pada realitas bahwa kerangka industri tidak semata largest scale industries saja, tapi juga melibatkan small scale industries yang dikenal dengan sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM). Sektor industri juga melibatkan peranan dan fungsi sektor IKM. &lt;br /&gt;Di Indonesia, Jumlah unit usaha sektor industri kecil tahun 2003 sebanyak tiga juta unit usaha, industri menengah 16.411 unit, dan industri besar 7.593 unit. Jumlah tersebut meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 2002. Jumlah unit usaha sektor industri kecil tahun 2002 sebanyak 2,55 juta unit usaha, industri menengah 15.952 unit, dan industri besar 6.735 unit. Dari data Departemen Perindustrian (Depperin), output sektor industri kecil tahun 2003 mencapai Rp 23,08 triliun. Sementara itu, output sektor industri menengah Rp 17,57 triliun dan output sektor industri besar Rp 63,83 triliun [Dikutip: Kompas: 2004]. Untuk itu diperlukan sinergitas antara pemberdayaan industri besar, menengah dan kecil dalam satu tatanan perekonomian nasional. Stayle dan Morse (Hasan:2002), menyatakan bahwa struktur ekonomi paling produktif adalah integrasi antara industri besar, menengah, dan kecil, yang akan saling mengisi satu sama lain. Karena itu, industri kecil menjadi komplemen yang tak dapat ditinggalkan dalam kerangka ekonomi nasional. Dalam peranannya sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi nasional, perusahaan kecil (termasuk dalamnya sektor informal), menjadi lahan strategis untuk ditumbuh kembangkan, seperti yang dikemukakan Swasono (1986) bahwa dalam kenyataannya sektor informal merupakan bagian tak terpisahkan dari kerangka perekonomian nasional. Adanya sektor informal (: juga IKM) bukan sekedar karena terbatasnya lapangan pekerjaan, apalagi sekedar penampung lapangan kerja inkompeten, sebaliknya sektor informal telah menjadi pilar bagi ekonomi nasional. Pandangan tersebut, masih menurut Swasono, dikuatkan lagi oleh kenyataan bahwa perusahaan kecil dapat menyerap sekitar 71% jumlah tenaga kerja, sementara perusahaan besar hanya dapat menyerap sekitar 1,5% saja.&lt;br /&gt;Bila melihat pada faktor jumlah (kuantitas), SUMBAR memiliki jumlah unit industri sebanyak 47.819 unit, terdiri dari 47.585 unit industri kecil dan 234 unit industri besar menengah, dengan perbandingan 203 : 1. Pada tahun 2001 investasi industri besar menengah mencapai Rp 3.052 milyar, atau 95,60% dari total investasi, sedangkan industri kecil memiliki investasi Rp. 1.412 milyar atau 4,40% dari total investasi. Nilai produksi industri besar menengah tahun 2001 mencapai Rp. 1.623 milyar, yaitu 60 % dari total nilai produksi, dan nilai produksi industri kecil mampu mencapai Rp. 1.090 milyar, atau 40% dari total nilai produksi [Dikutip: http://padanginfo.wordpress.com/]. Angka tersebut masih dapat ditingkatkan jika pihak industri kecil dan menengah (IKM) serta stakeholder lainnya mampu mengoptimalisasikan kerangka dan program pembinaan IKM yang bernas dan komprehensif.&lt;br /&gt;Secara umum, perusahaan kecil dan menengah di SUMBAR bergerak pada industri pengolahan pangan, sandang dan kulit, kerajinan, serta industri serat dan mebel. Kuantitas tersebut cenderung bergerak linear sejalan dengan perkembangan penduduk dan dimensi strategis teknologi. Oleh karenanya, pemerintah tidak dapat menutup mata terhadap realitas ini. Besarnya jumlah IMKM di Indonesia umumnya, yang hakikatnya industri padat karya, telah menjadi fokus perhatian pemerintah pusat hingga daerah. Demikian juga di SUMBAR, fokus perhatian terhadap IKM sejalan bergulir dengan program pembinaan dan pengembangan usaha kecil yang dicanangkan sejak berdirinya Direktorat Jendral Industri Kecil (DJIK) pada tahun 1978. Program DJIK direalisasikan dengan bantuan perangkat keras (hardware) terwujud dalam bentuk penyediaan alokasi usaha, bantuan permodalan, penyediaan fasilitas layanan bersama (common service facilities) pada sentra industri kecil. Bantuan perangkat lunak (software) terlihat dalam penyelenggaraan pendidikan dan diklat untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bagi pengusaha kecil, konsultasi peningkatan/pembinaan usaha, pengadaan Gugus Kendali Mutu (GKM), bantuan promosi dagang serta pelbagai kemudahan lain yang dapat menstimulus enterpreneur usaha kecil dalam mengembangkan usahanya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Persoalan Klasik&lt;br /&gt;SEBAGAI pendorong gerak pembangunan dan perekonomian, seyogyanya industri kecil mendapat fokus perhatian dan pembinaan yang serius. Industri kecil memiliki pola karakter yang tidak dimiliki oleh perusahaan menengah atau besar, seperti biaya organisasi lebih rendah, keuntungan dari segi lokasi, kebebasan bergerak serta rendahnya biaya investasi. Namun, sisi lainnya, sektor IKM juga tak luput dari sentra masalah, terutama bila dilihat dari segi prioritas permasalahannya. Mengenai persoalan klasik atau tepatnya kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan kecil di SUMBAR khususnya, Said (1991) menyimpulkan pelbagai permasalahan berikut : kurangnya kemampuan wirausaha di bidang administrasi, lemahnya kemampuan pemasaran, kekurangan modal dan kesulitan untuk akses dengan sumber-sumber modal, serta kurangnya kemampuan untuk mendapatkan informasi dan teknologi yang diperlukan guna pengembangan usaha. Sedangkan Anwar (1991), menambahkan problem kelompok perusahaan kecil di SUMBAR (Kotamadya Padang khususnya) juga dihadapkan dengan persoalan rendahnya tingkat keuntungan usaha. Lanjutnya, perusahaan kecil hanya beroperasi pada posisi Break Event Point (BEP) di sekitar titik impas saja. Tentu saja, kondisi ini dipicu dari rendahnya tingkat pendidikan, pengalaman usaha dan faktor kritis lainnya. &lt;br /&gt;Persoalan klasik lainnya yang seringkali dikeluhkan oleh kalangan pengusaha industri kecil umumnya dan masyarakat konsumen khususnya, yaitu ketatnya persaingan antara produk lokal dan non lokal. Sehingga, muncul polemik bahwa produk lokal tidak akan mampu bersaing dengan kompetitor (importir) di pasaran, belum lagi jika masalah dikerucutkan dengan tajamnya ongkos produksi yang membuat harga produk lokal melambung tinggi. Adakalanya pengusaha industri kecil yang ‘tanggap situasi’ tidak terlalu dipusingkan dengan hal ini karena adanya kecendrungan mereka untuk mengorientasikan usaha pada aspek pasar (: new paradigm). Setidaknya sikap tersebut berimplikasi positif bagi kemajuan usaha bila dibandingkan pengusaha yang “getol-getolan” berorientasi pada produk semata dibanding pasar (: old paradigm). &lt;br /&gt;Persaingan produk dengan pihak importir merupakan hal yang tak dapat dihindarkan. Produk yang memiliki keunggulan, taste dan karakter kuat yang pada akhirnya akan memenangkan bursa persaingan. Demikian sebaliknya. Akan tetapi, persoalan di atas dapat disikapi jika pengusaha industri kecil di SUMBAR khususnya, dapat memainkan peranan pada strategi pasar dan penjualan. Tentu saja upaya ini diiringi dengan “penguatan karakter” produk atau penonjolan kekhasan atribut dari produk yang dipasarkan. Pengelolaan manajerial dan teknis tak dapat pula untuk diabaikan guna meminimalisir pemborosan akibat produksi (waste) yang berujung pada peningkatan produktifitas dan efisiensi perusahaan.&lt;br /&gt;Modal menjadi persoalan klasik yang juga sering dimunculkan. Menilik pada sumber modal, sebagian besar modal industri kecil SUMBAR berasal dari lumbung modal pemilik perusahaan sendiri, hanya sebagian kecil yang berasal dari lembaga keuangan atau pihak ketiga. Pembatasan pemilikan modal dari industri kecil terutama disebabkan bentuk usaha dan sistem pengelolaan keuangan belum sepenuhnya meyakinkan perhatian luar atau lembaga perbankan. Persoalan ini salah satunya dipengaruhi oleh faktor intern dari mental wirausaha (enterpreneurship mentality) dari pengusaha kecil itu sendiri. Kemampuan untuk melakukan lobi usaha, pengajuan proposal usaha, pengelolaan manajemen organisasi secara baik menjadi substansi yang mutlak diperhatikan. Dewasanya, saat ini, pemerintah lewat Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah telah menyediakan pelbagai kredit usaha melalui Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (KUKM), yang idealnya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pemilik dan penggalang usaha kecil, SUMBAR khususnya.&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Pokok Pembinaan&lt;br /&gt;INDUSTRI kecil harus dibina dan ditumbuhkembangkan. Pola pergeseran metode diterapkan lewat transformasi fungsi tradisional ke tingkat fungsi yang lebih modern (sophisticated) ; baik bila ditinjau dari penyediaan peralatan (equipment) ataupun dari segi penerapan pola manajemen (methods). Pola pergeseran tersebut dilakukan seiring dengan perkembangan teknologi dan knowledge management yang dimiliki dengan tanpa mengabaikan unsur-unsur dan substansi khas yang dimiliki. Di SUMBAR, misalnya, keberadaan sektor industri harus disesuaikan dengan kultur alam dan potensi masyarakat. Dengan demikian, tidak diinginkan munculnya konflik makro akibat kontaminasi lingkungan oleh industri, penelusuran bahan baku ilegal, pengalokasian SDM lokal yang inproporsional, dan lain sebagainya. Idealnya, pembinaan industri kecil harus diselaraskan dengan arah pengembangan dan potensi daerah. SUMBAR dasarnya adalah daerah bertekstur agraris, dimana sektor pertanian memegang peranan vital dalam perekonomian masyarakat. Dengan demikian, perlu diupayakan pertumbuhan yang komplementer antara sektor industri dengan sektor pertanian guna melahirkan sektor agroindustri yang sehat. Di beberapa daerah SUMBAR, seperti daerah Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Dharmas Raya, Kabupaten Solok telah diberdayakan agroindustri yang berawal dari sektor IKM, seperti pengadaan industri penghasil produk pertanian (: hydrotyller dan tresser), industri pengolahan kelapa sawit, serta industri perkebunan teh. Keberadaan agroindustri turut mencerminkan corak dan kultur masyarakat Minang yang ada di SUMBAR itu sendiri.&lt;br /&gt;Prinsip pokok yang harus dipakai dalam pembinaan industri kecil harus diarahkan pada sentra-sentra industri. Dasarnya, daerah SUMBAR telah mendapat skala prioritas sentra industri, pada range sentra utama hingga range sentra berkembang. Di Kotamadya Padang, industri kecil telah berada pada sentra utama dimana industri kecil telah berkembang dengan baik dan sarana pembinaan yang telah dapat difungsionalisasikan keberadaannya. Pengelolaan Balai Latihan Kerja (BLK) salah satunya contoh sarana pembinaan pekerja yang penting untuk diberdayakan. Namun, persoalan terpulang pada seberapa efektifkah pengelolaan yang telah dilakukan sehingga dapat mengakomodir kepentingan industri dalam menjalankan usahanya. Begitu juga, dengan program Gugus Kendali Mutu harus dioptimalisasikan keberadaannya merujuk kenyataan program ini beberapa tahun terakhir belum sepenuhnya dapat memuaskan masyarakat dan sentra industri.&lt;br /&gt;Sementara pada tingkat daerah/kabupaten, sentra industri baru berada pada range sentra berkembang, yaitu sentra yang baru dimonitor tetapi masih diperlukan pokok pembinaan yang intensif. Disadari atau tidak, pertumbuhan sektor industri kecil akan dapat membantu beban pemerintah dalam mengatasi masalah pengangguran. Disamping itu juga turut menunjang tercapainya pemerataan kesempatan kerja dan pemerataan pendapatan. Dalam pelaksanaannya, tentu saja wirausaha industri kecil dan menengah tidak dapat bergerak sendiri dan independen tanpa adanya bantuan dari pihak lain (stakeholders). Peran pemerintah secara konkrit maupun pemerintah dalam wadah instansi sangat dibutuhkan. Sebut saja peran stakeholders dalam wadah instansi maupun lembaga, seperti Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Departemen Tenaga Kerja, Kamar Dagang dan Industri (KADIN), Pemerintah Daerah, Balai Latihan Kerja (BLK), Perbankan, Perguruan Tinggi serta instansi lainnya yang berperan penting dalam pengembangan industri kecil tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/07/wajah-industri-kecil-di-sumbar.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-7402289957376050048</guid><pubDate>Sat, 19 Jul 2008 05:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-18T23:02:41.090-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel/essay</category><title>MASA LALU &amp; MASA DEPAN</title><description>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Time present and time past&lt;br /&gt;Are both perhaps present in time future,&lt;br /&gt;And time future was present in time past&lt;br /&gt;    (TS. Eliot)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu adalah Pedang. Demikian untaian indah yang saya petik dari pepatah Arab termasyhur. Pepatah tersebut memiliki makna filosofis yang dalam bila kita renungkan. Dalam meniti sebuah kehidupan, maka kita tidak akan pernah lepas dari dimensi waktu. Hidup adalah perputaran waktu. Waktu, adalah satuan yang dinamis, tak mengenal lelah untuk berhenti berjalan dan berputar meniti detik kehidupan yang juga dinamis. Waktu relatif berubah sesuai dengan zamannya. Sebagai satuan yang dinamis, perihal waktu tak akan dapat diputarbalikkan, diubah alurnya, dihentikan keberadaannya; meski sejenak (terkecuali satuan itu sudah berada dalam kulminasi akhir dari ‘tetapan’ yang termaktub).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rentang waktu yang telah kita lalui terdapat suatu rekaman realitas yang menjadi blueprint kehidupan kita. Kehidupan adalah bentukan realitas yang memiliki warna dan rasa tersendiri. Warna dan rasa itu kita peroleh setelah melewati perspektif masa lalu yang panjang hingga saat ini. Perspektif masa lalu itu yang kemudian membawa kita ke dalam rekaman memori yang indah, “pahit”, bahkan “asin”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks global, masa lalu dapat juga disebut sebagai sejarah (:jika telah berbaur dengan tajam dalam tatanan sistem kebangsaan). Perihal masa lalu (:konteks global) tidak akan pernah lepas dari sejarah. Sejarah adalah wujud kondisi masa lalu yang terekam kuat lewat realitas empirik yang dalam. Sejarah telah memuat dengan kompleks catatan ringkas, hingga catatan panjang tiap kondisi heroik, humanis, sosial, politik, heterokultural, religi dan lain sebagainya dalam pandangan kebangsaan yang kuat dan holistik. Konon, orang bilang, bangsa yang maju peradabannya, tinggi apresiasi dan hegemoni kebangsaannya adalah bangsa yang nyata-nyata tidak mau “melepaskan” diri dari unsur sejarah. Sebagaimana yang diungkapkan di awal, sejarah adalah bagian integral dari perihal waktu masa lalu (time past) yang kini kita tinjau dan petakan lewat masa sekarang (time present).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, sejarah adalah blueprint peristiwa yang tidak semata menjadi snapshot masa lalu. Sebagai blueprint peristiwa, tentunya sejarah tidak semata menjadi “bingkai” yang dimuseumkan; tetapi ia (:sejarah) telah menjadi padanan penting untuk dimunculkan dan dilakukan penggalian mendalam terhadapnya. Sejarah juga menjadi padanan penting sebagai tolak ukur “pengejawantahan” di masa datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narasinya kira-kira begini: Jika saya pernah kejatuhan sepeda Federal 2x dahulunya, maka di masa ini saya berniat untuk tidak jatuh lagi untuk kesekian kalinya. Bisa saja, kasus “kejatuhan sepeda” itu saya eliminir dengan jalan mengganti “sepeda Federal” dengan “mobil”, hingga saya tidak lagi mengalami kasus “jatuh”, terkecuali kecelakaan hebat menimpali saya hingga jatuh ke tanah. Lalu bagaimana jika narasinya saya ganti, dengan mengganti objek “sepeda Federal” dengan “sepeda motor”, apakah kasus “kejatuhan” dapat saya eliminir; barangkali tidak jawabnya.  Kasus “kejatuhan” pada “sepeda motor”  prinsipnya akan sama dengan kasus “kejatuhan” pada “sepeda Federal”. Hanya saja, keterangan situasi dan objeknya dipertukarkan satu dengan lainnya. Tentu saja, kasus “kejatuhan” pada sepeda motor akan menjadi sangat berbeda jika kita mencoba memandangnya dari kondisi kausalitas             (:resiko) yang mungkin ditimbulkan. Lagi-lagi, dalam kasus ini, tidak cukup bagi saya untuk mengganti objek dan keterangan saja, untuk mengantisipasi kasus “kejatuhan” yang saya maksudkan.  Pada dasarnya, kasus “kejatuhan” itu, dapat saja eliminir lewat pendekatan yang berbeda (saya turut percaya Tak hanya satu jalan ke Roma). Misalnya, dengan membuat semacam strategi penanggulangan agar hal yang sama tidak terulang lagi, seperti dengan meningkatkan kewaspadaan, peningkatan kontrol kendali, dan training yang maksimal. Dengan demikian, resiko kasus dapat saya eliminir, setidaknya dapat saya reduksi, lebih dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali narasi itu yang akan membawa kita pada sebuah kontemplasi ringan, Apakah benar kita sudah seutuhnya dan sepenuhnya belajar dari masa lalu hingga kita dapat melepaskan diri dari kenangan “pahit’ bahkan “asin” menuju realitas yang indah dan     manis?. Masa lalu adalah realitas yang dapat dipertahankan, digapai kembali, bahkan dapat pula lenyap menjadi ruang snapshot yang sempit. Masa lalu adalah cermin pembelajaran. Tidak sepenuhnya sejarah masa lalu berkelebat dalam kelam, namun tak seutuhnya pula masa lalu berkilau dalam cahaya kebenderangan. Namun, yang pasti sejarah dan memori adalah bagian penting dari perspektif masa lalu yang universal. Masa lalu tak butuh lagi direka, karena ia telah menjadi saksi “hidup” yang monumental. Masa lalu harus digali dalam-dalam sebagai buah pembelajaran. Masa sekarang tak perlu dielakkan, tetapi ia harus dilalui dan dihadapi dengan tegar. Masa sekarang adalah cermin realitas. Cermin realitas masa sekarang adalah realitas itu sendiri. Realitas tak dapat menjauh, dibenturkan, bahkan dielakkan; terkecuali realitas itu sendiri yang “berontak” dan datang menyanggupi diri untuk dijauhi, dibenturkan, bahkan dielakkan (dalam konteks ini, realitas telah berubah sakral menjadi buah kebohongan dan konspirasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan masa depan?. Masa depan adalah target pencapaian yang berada antara domain kepastian (certainty) dan ketidakpastian (uncertainty). Masa depan, tentu perlu direka, direncanakan, dipetakan. Namun, sekali lagi, ia (:masa depan) tak dapat pula dielakkan. Perekaan masa depan berwujud pada konstruksi konsep dan gagasan untuk diterapkan di masa datang. Pemetaan masa depan adalah buah imaji untuk “merasa” dan “memandang” masa depan sebagai satuan waktu yang teramat dekat, untuk digapai. Masa lalu, sekarang, dan masa depan adalah realitas yang tak dapat dielakkan, namun kita tak kan pernah kehilangan kesempatan untuk memperbaiki dan menggapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang, In Memoriam, Juli, 2008. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/07/masa-lalu-masa-depan.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-7609043266174038022</guid><pubDate>Mon, 14 Jul 2008 12:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-14T05:46:41.546-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>SYAIR</title><description>bagiku alam adalah nafas kosakata.&lt;br /&gt;kosong dalam lamunan hujan. &lt;br /&gt;bertuba dalam lorong-lorong malam.&lt;br /&gt;Ku sibuk menggasak makna;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(: makna utuh dalam diri,&lt;br /&gt;   sekerat lidah terpalu ? )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak sekedar”, sahutku, dalam&lt;br /&gt;bayang hujan.&lt;br /&gt;terkadang di sini (dalam syair) &lt;br /&gt;hati yang gosong bisa berdenyut&lt;br /&gt;oleh parfum estetika. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;estetika alam-mini-kata&lt;br /&gt;begitu ku menyebutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah yang dalam&lt;br /&gt;Allah yang nian,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;( penggal tiap kata yang kueja dalam &lt;br /&gt;  diriku, namun ku tetap utuh mengenangMu )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/07/syair.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-3716964103697322662</guid><pubDate>Thu, 19 Jun 2008 07:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-19T01:32:01.038-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>SURAT TERAKHIR</title><description>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                                                                                  buat Gus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak lagi mengerti, Gus”&lt;br /&gt; sudah sangsai uratku dalam&lt;br /&gt;   sunyi-lagu-sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sini. dedaunan musim gugur&lt;br /&gt; ranggas satu per satu&lt;br /&gt;              pada kolam kerinduanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak lagi ada berita, berkabar akan&lt;br /&gt; nafas hujan, sahutmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Gus,&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ada duka dalam diri&lt;br /&gt;  terselimuti, namun&lt;br /&gt;                            tak terberitakan&lt;/span&gt;),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/06/surat-terakhir.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-66887370523424343</guid><pubDate>Wed, 18 Jun 2008 03:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-17T21:06:40.387-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>AKSIOMA</title><description>(Inspirasi QS Al Hajj : 46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah kita punya nyawa diizinkan Tuhan untuk&lt;br /&gt;mengintip walau hanya sekilas tampak ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah kita punya mata diizinkan Tuhan untuk&lt;br /&gt;melihat wajah kita seutuhnya tanpa harus &lt;br /&gt; berkelebat di cermin ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah kita punya telinga diizinkan Tuhan untuk&lt;br /&gt;mendengar sepetik perihal di alam sana ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sungguh, matapun tak diizinkan terbuka&lt;br /&gt; tatkala nadi henti berdetak kelak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sungguh, telinga pun tak diizinkan mendengar&lt;br /&gt; sayup suara dinding saat ruh berpisah kelak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tuan, tentu tak diberi berkah satupun tuk&lt;br /&gt;   pertimbangan lumrah terhadap perdebatan&lt;br /&gt;   yang sering kita simposiumkan ?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan hanya berjingkat ketika mentari menghampiri&lt;br /&gt;    lantas tuan menari-nari,&lt;br /&gt;Jangan hanya murung tatkala kegelapan menutup bintang&lt;br /&gt;    lantas tuan tertegun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; sedetiknya, tuan bertanya :&lt;br /&gt;  “Adakah Kita punya Tuhan diizinkanNya tuk&lt;br /&gt;    mengintip walau hanya sekilas tampak ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ....&lt;br /&gt;air mata berderai&lt;br /&gt;pantas tuan bawa hingga&lt;br /&gt;balik lagi ke&lt;br /&gt;        Rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bungo (2005)&lt;br /&gt;Revisi 2008</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/06/aksioma.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-1537217424448389282</guid><pubDate>Tue, 17 Jun 2008 04:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-16T21:35:13.574-07:00</atom:updated><title>CINTA DALAM SAJAK</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeAfA1ceNvSqro4dlLoClHcG5tAOxCTvyoWkzEhC5k4ntJgC3g2GtiZzal8DYybXyiyrE1wB2STBOPOkJkuTTWgxMMMOecFrSXrvPwJWkNax6pr0QK2R4fNXW-TTs2XG7plTg407zBTdrY/s1600-h/heart-allah1.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeAfA1ceNvSqro4dlLoClHcG5tAOxCTvyoWkzEhC5k4ntJgC3g2GtiZzal8DYybXyiyrE1wB2STBOPOkJkuTTWgxMMMOecFrSXrvPwJWkNax6pr0QK2R4fNXW-TTs2XG7plTg407zBTdrY/s320/heart-allah1.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212703166419197698" /&gt;&lt;/a&gt;Cintaku yang di langit biru itu&lt;br /&gt; tidak sama dengan cinta sepasang merpati&lt;br /&gt;    mencoba iseng terbang mengepak, sementara&lt;br /&gt;       kanannya patah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintaku yang di langit biru itu&lt;br /&gt;tidak sama dengan cinta sepasang unggas&lt;br /&gt;  sepasang berdua, namun teratai tak&lt;br /&gt;     mekar tumbuh bersamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintaku yang di langit biru itu&lt;br /&gt; tidak sama dengan cinta dua kelopak melati yang&lt;br /&gt;   tumbuh semerbak mewangi, lantas&lt;br /&gt;                 raib sekejap dalam&lt;br /&gt;         tetes embun di sepertiga malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintaku yang di langit biru itu&lt;br /&gt; adalah sama dengan cinta Rama kepada Sita&lt;br /&gt;    tetap terukir abadi dalam kisah Ramayana.&lt;br /&gt;       Apapun adanya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/06/cinta-dalam-sajak.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeAfA1ceNvSqro4dlLoClHcG5tAOxCTvyoWkzEhC5k4ntJgC3g2GtiZzal8DYybXyiyrE1wB2STBOPOkJkuTTWgxMMMOecFrSXrvPwJWkNax6pr0QK2R4fNXW-TTs2XG7plTg407zBTdrY/s72-c/heart-allah1.gif" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-2725083328114725320</guid><pubDate>Tue, 17 Jun 2008 03:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-16T21:40:01.700-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>SECERCAH RINDU DALAM  ANGGUR PERCAKAPAN</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJw18GyFKSfqOJpce5k_sPTLx9c2WEp3ZGr7Q1VNbP78sDQXoYWDd5iv1i2F25uc29DIcojjInKoyw_RzBUHyWpY7cULCbcDvFcThtXfqyOliKZfFbKR6MIzZC9g8l5Ns5A_M7yD8FUymJ/s1600-h/anggur.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJw18GyFKSfqOJpce5k_sPTLx9c2WEp3ZGr7Q1VNbP78sDQXoYWDd5iv1i2F25uc29DIcojjInKoyw_RzBUHyWpY7cULCbcDvFcThtXfqyOliKZfFbKR6MIzZC9g8l5Ns5A_M7yD8FUymJ/s200/anggur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212704572078587762" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hormat untuk&lt;br /&gt;Sapardi Djoko Damono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( i )&lt;br /&gt;biarkan ku bercakap&lt;br /&gt;        pada :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rerumputan&lt;br /&gt;ilalang&lt;br /&gt;bijih padi beterbangan&lt;br /&gt;telaga hujan&lt;br /&gt;pohon jambu&lt;br /&gt;pondokan kecil&lt;br /&gt;pinang&lt;br /&gt;hujan&lt;br /&gt;awan&lt;br /&gt;bocah-bocah bermain layangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;          di sawah&lt;/p&gt;&lt;p&gt;surau menggemakan suaraNya&lt;br /&gt;ikan bersembunyi di kali&lt;br /&gt;gerbong kereta berasap&lt;br /&gt;tikus bermain di sawah&lt;br /&gt;bunga mekar aneka warna,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          kemudian menguncup&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;( ii )&lt;br /&gt;biarkan ku berdiam&lt;br /&gt;pada :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menara&lt;br /&gt;state building&lt;br /&gt;dasi-dasi tersenyum manis&lt;br /&gt;tanjuk rencana ibukota&lt;br /&gt;bis-bis tiga tingkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          mendesak penuh padat penumpang&lt;br /&gt;bocah bermain umpet&lt;br /&gt;         di lorong-lorong jalan&lt;br /&gt;pantai yang hanya&lt;br /&gt;        landai se-malam&lt;br /&gt;rona lampu warna-warni&lt;br /&gt;kalkulator bising&lt;br /&gt;suara gema kendaraan &amp;amp; pabrik&lt;br /&gt;tikus tak lagi di sawah&lt;br /&gt;bunga satu warna yang&lt;br /&gt;        tak lagi mekar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(**)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;2005&lt;br /&gt;(Revisi 2008)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/06/secercah-rindu-dalam-anggur-percakapan.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJw18GyFKSfqOJpce5k_sPTLx9c2WEp3ZGr7Q1VNbP78sDQXoYWDd5iv1i2F25uc29DIcojjInKoyw_RzBUHyWpY7cULCbcDvFcThtXfqyOliKZfFbKR6MIzZC9g8l5Ns5A_M7yD8FUymJ/s72-c/anggur.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-3792057533807036005</guid><pubDate>Wed, 11 Jun 2008 14:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-11T08:00:26.130-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel/essay</category><title>“QUALITY IMPROVEMENT dan STATISTICAL QUALITY  CONTROL”</title><description>Oleh&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Andhika Dinata, Yusra Syam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.1 Quality Improvement&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quality Improvement didefinisikan sebagai upaya mereduksi variabilitas&lt;br /&gt;dalam proses dan produk* [Montgomery, 1991, hal. 3]. Metode-metode statistik&lt;br /&gt;seringkali digunakan dalam upaya perbaikan kualitas secara berkesinambungan.&lt;br /&gt;Kualitas diartikan secara sederhana sebagai kesesuaian kegunaan produk atau jasa&lt;br /&gt;dengan keinginan konsumen (fitness for use). Metode perbaikan kualitas bisa&lt;br /&gt;diterapkan ke dalam berbagai aspek organisasi perusahaan seperti proses produksi&lt;br /&gt;(manufaktur), pengembangan proses, perancangan teknis, akutansi-keuangan dan&lt;br /&gt;layanan jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum aspek kualitas terbagi atas dua :&lt;br /&gt;1. Quality Design&lt;br /&gt;Quality Design adalah teknik sistemik untuk menghasilkan produk&lt;br /&gt;(barang) dalam level kualitas tertentu dan tingkat (grades) yang berbedabeda&lt;br /&gt;sesuai dengan kepentingan perancang (designer).&lt;br /&gt;2. Quality Conformances&lt;br /&gt;Quality Conformances yaitu seberapa baik produk dibuat sesuai dengan&lt;br /&gt;spesifikasi dan tingkat toleransi yang diinginkan oleh perancang.&lt;br /&gt;Quality Conformances sangat dipengaruhi oleh :&lt;br /&gt;a. Pemilihan proses manufaktur yang digunakan.&lt;br /&gt;b. Pelatihan dan supervisi kerja.&lt;br /&gt;c. Tipe kualitas dan sistem QA (Quality Assurances) yang berhubungan&lt;br /&gt;dengan pengendalian proses, pengujian, aktivitas inspeksi dan&lt;br /&gt;sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.2 Hubungan Quality Improvement dengan Produktivitas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagian dari pencapaian strategi bisnis selalu melibatkan perencanaan&lt;br /&gt;kualitas, pengendalian dan analisis untuk memastikan bahwa kualitas&lt;br /&gt;berkontribusi besar terhadap cashflow, Return on Investment (ROI) dan business&lt;br /&gt;profit secara umum.&lt;br /&gt;Quality Improvement bisa merangsang pertumbuhan ekonomi bisnis dan&lt;br /&gt;membukakan iklim kompetitif pada perusahaan yang menerapkannya. Pada saat&lt;br /&gt;yang bersamaan, dilakukan perbaikan kualitas sebagai upaya untuk meminimasi&lt;br /&gt;ongkos produksi.&lt;br /&gt;Quality Improvement juga berarti upaya untuk mengeliminir waste. Waste&lt;br /&gt;yang dimaksudkan dapat berupa sekrap dan rework dalam proses produksi, tes dan&lt;br /&gt;inspeksi yang tidak terorganisir, kesalahan pencatatan (dokumentasi) dalam hal&lt;br /&gt;checking, purchasing orders dan gambar teknik, serta pemborosan dari segi waktu&lt;br /&gt;penyelesaian proyek dan sebagainya.&lt;br /&gt;Quality Improvement dewasa ini telah muncul dan berkembang sebagai&lt;br /&gt;salah satu aspek pengembangan strategi bisnis yang terarah, sistematis dan&lt;br /&gt;terpadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunculan tersebut dipengaruhi oleh beberapa alasan [Montgomery,&lt;br /&gt;1991, hal. 4] diantaranya :&lt;br /&gt;1. Meningkatnya kesadaran konsumen dalam hal pengembangan kualitas dan&lt;br /&gt;keinginan kuat konsumen yang berorientasikan pada kualitas dan&lt;br /&gt;performansi kualitas.&lt;br /&gt;2. Keandalan/ketahanan produk yang ingin dihasilkan.&lt;br /&gt;3. Peningkatan ongkos produksi termasuk ongkos tenaga kerja, energi dan&lt;br /&gt;material.&lt;br /&gt;4. Kompetisi bisnis yang semakin tajam.&lt;br /&gt;5. Perbaikan kualitas ternyata membawa pengaruh ‘dramatis’ terhadap&lt;br /&gt;kinerja (produktivitas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa alasan yang mendorong perhatian manajer terhadap ongkos&lt;br /&gt;pengembangan kualitas dalam suatu organisasi industri diberikan sebagai berikut&lt;br /&gt;[Montgomery, 1991, hal. 4] :&lt;br /&gt;a. Kenaikan ongkos pengembangan kualitas relevan dengan peningkatan&lt;br /&gt;(kompleksitas) produk yang disebabkan oleh perkembangan teknologi&lt;br /&gt;informasi.&lt;br /&gt;b. Meningkatnya kesadaran (awareness) terhadap daur hidup biaya (life cycle&lt;br /&gt;tests), termasuk perawatan (maintenance), tenaga kerja, suku cadang serta&lt;br /&gt;ongkos kehilangan (cost of field failures).&lt;br /&gt;c. Diperlukannya keberadaan manajer QC untuk mengkomunikasikan hal&lt;br /&gt;tersebut di atas (yang juga melibatkan ongkos/biaya/uang) kepada general&lt;br /&gt;managers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.3 Metode Quality Improvement&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik Rancang Percobaan (Design Experiment) sangat membantu&lt;br /&gt;perancang (engineer) dalam membuat dan menemukan variabel berpengaruh yang&lt;br /&gt;turut mempengaruhi karakteristik kualitas selama proses dilakukan. Design&lt;br /&gt;Experiment merupakan salah satu bentuk pengendalian kualitas secara Off-Line&lt;br /&gt;yang sering digunakan sepanjang aktivitas pengembangan dan sebagai tahap awal&lt;br /&gt;dalam merancang aktivitas manufaktur. Hal berbeda ditemukan pada&lt;br /&gt;pengendalian On-Line yang merupakan tahap dalam proses yang lebih cenderung&lt;br /&gt;bersifat prosedural [Montgomery, 1991, hal. 11].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model hubungan Input-Output dan Proses Produksi :&lt;br /&gt;&lt;img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipsKRTUXd6NAKn_GeRdndEZSJdoJoekwtaoHF2r91HsRrEnXG_tbuSw3DWC6xHl3flMdshw9aOmB_rOsSHO4740OCuGF5gnENJ5XFV31knCI4KIqL1czyczWsQ518M8vMOWH2do4N90dL1/s320/gbr+artikel+dika,+yusra.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5210638045613692386" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Gambar 1. Production Process Inputs &amp;amp; Outputs [Montgomery, 1991, hal. 12]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.4 Fungsi Peta Kontrol (Control Chart)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta kontrol adalah tampilan grafis yang sering digunakan dalam&lt;br /&gt;pengendalian proses produksi secara statistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta kontrol memiliki beberapa fungsi diantaranya [Montgomery, 1991,&lt;br /&gt;hal. 108] :&lt;br /&gt;1. Peta kontrol memuat teknik yang mampu mengendalikan/memperbaiki&lt;br /&gt;produktivitas.&lt;br /&gt;Suatu peta kontrol yang baik akan mampu mereduksi jumlah sekrap dan&lt;br /&gt;rework seminimal mungkin. Jika sekrap dan rework dapat dikurangi maka&lt;br /&gt;sangat berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas, penurunan ongkos&lt;br /&gt;produksi dan peningkatan volume dan laju produksi.&lt;br /&gt;2. Peta kontrol sangat efektif digunakan dalam pencegahan defects.&lt;br /&gt;Peta kontrol sangat membantu pengendalian proses dan hal ini relevan&lt;br /&gt;dengan prinsip kualitas “do it right the first time”.&lt;br /&gt;3. Peta kontrol mencegah penerapan proses yang tidak andal (unnecessary&lt;br /&gt;process)&lt;br /&gt;Suatu peta kontrol dapat membedakan variasi produksi yang tidak normal,&lt;br /&gt;ketidaksesuaian dengan spesifikasi dan sebagainya.&lt;br /&gt;4. Peta kontrol menyediakan informasi yang akurat (diagnostic information)&lt;br /&gt;Dalam peta kontrol disediakan informasi penting sebagai bahan analisis&lt;br /&gt;bagi manajemen operasi atau bagi perancang (engineer). Informasi yang&lt;br /&gt;diperoleh tersebut diinterpretasikan dengan baik dan berdasarkan&lt;br /&gt;informasi tersebut dapat diterapkan perubahan atau tidak dalam tahap&lt;br /&gt;implementasi proses sehingga dapat mempengaruhi kriteria performansi.&lt;br /&gt;5. Peta kontrol memuat informasi keandalan proses (process capability)&lt;br /&gt;Peta kontrol menyediakan informasi tentang arti penting parameter proses&lt;br /&gt;dalam aktivitas manufaktur dan menggambarkan kestabilan proses yang&lt;br /&gt;dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEim4MViI5Qr4AmRSQagMYpoqENIaD4s3lG70VkhrkwwFZs60gpH7SFd9EouBjX5-IObB2cv6Z0F4P4pYIQYqySPyKM5e3Hkw5QrpWig6OZ1OE_IlopBxfpBZKdPlq4EqVQw9hFh_OxDh_rx/s320/gbr+artikel+dika,+yusra2.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5210638550553279602" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Gambar 2. Bentuk Peta Kontrol&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.5 Penggunaan Peta Kontrol&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta kontrol menjadi alat yang memiliki peran penting dalam pengendalian&lt;br /&gt;kualitas. Kegunaan peta kontrol** dijelaskan dalam item aplikasi berikut [Banks,&lt;br /&gt;1989, hal. 135] :&lt;br /&gt;1. On-line Control.&lt;br /&gt;Data sampel dikumpulkan secara kolektif dan diplotkan ke dalam peta&lt;br /&gt;kontrol. Apabila data jatuh dalam limit (batas) yang diizinkan dan hal&lt;br /&gt;tersebut tidak berpengaruh terhadap respon sistem, maka proses tersebut&lt;br /&gt;dikatakan berada dalam rentang kendali (in control). Prosedur tersebut sangat berguna untuk menentukan apakah proses yang dijalankan sudah&lt;br /&gt;berada dalam rentang kendali pada masa lalu atau dimasa datang.&lt;br /&gt;2. Perolehan Nilai Standar (Standard Values Given).&lt;br /&gt;Salah satu tujuan penting dalam membuat peta kontrol adalah penentuan&lt;br /&gt;apakah proses yang dijalankan mendekati tetapan standar yang diinginkan&lt;br /&gt;oleh pihak manajemen atau perancang produk. Sebagai contoh, pihak&lt;br /&gt;manejemen memberikan nilai standar untuk panjang material sebesar&lt;br /&gt;0.125 in (mean value) dengan deviasi sebesar 0.008 in. Hal tersebut&lt;br /&gt;berarti, satu titik atau lebih yang melewati batas kontrol yang diizinkan&lt;br /&gt;maka berpengaruh terhadap pencapaian nilai standar, atau dengan kata lain&lt;br /&gt;Standard Value tidak dapat dicapai dalam implementasi proses.&lt;br /&gt;3. Keandalan Proses (Process Capability)&lt;br /&gt;Suatu proses yang dapat dan bisa saja dilakukan dalam spesifikasi yang&lt;br /&gt;diinginkan atau tidak. Jika proses menggunakan teknik statistik dalam&lt;br /&gt;pengendalian kualitas, maka dapat ditentukan nilai means dan standard&lt;br /&gt;deviation, nilai tersebut dapat digunakan untuk mengukur keandalan&lt;br /&gt;proses untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan spesifikasi yang&lt;br /&gt;diinginkan. Proses tersebut sangat mempengaruhi beberapa keputusan&lt;br /&gt;diantaranya keputusan investasi untuk mengurangi variabilitas proses dan&lt;br /&gt;persetujuan kontrak dengan pihak pelanggan (customers).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa variabel penting dalam Peta Kontrol :&lt;br /&gt;a. X chart untuk means (tendency central)&lt;br /&gt;b. R chart untuk ranges&lt;br /&gt;c. S chart untuk standard deviation (dispersion)&lt;br /&gt;d. Atribut-atribut lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.6 Jenis-jenis Pengendalian Mutu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian mutu ditujukan untuk mempertahankan standar kualitas&lt;br /&gt;produk yang dijanjikan oleh perusahaan kepada konsumen [Nasution, 2006, hal.&lt;br /&gt;301]. Tindakan pengendalian dapat membantu mempertahankan kinerja proses&lt;br /&gt;produksi dalam batas toleransi yang diizinkan. Dalam pengendalian mutu statistik,&lt;br /&gt;dikenal dua jenis metode statistik yang berbeda yaitu pengambilan sampel&lt;br /&gt;penerimaan dan pengendalian proses. Pengambilan sampel penerimaan bertujuan&lt;br /&gt;untuk menghemat waktu dan biaya pemeriksaan, sedangkan pengendalian proses&lt;br /&gt;ditujukan untuk mencegah kerugian lebih besar akibat produk cacat dengan&lt;br /&gt;mengamati output yang dihasilkan pada tahapan proses produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis pengendalian mutu, diantaranya :&lt;br /&gt;a. Off line Quality control&lt;br /&gt;Pengendalian mutu di saat proses perancangan produk dilakukan untuk&lt;br /&gt;memenuhi standar mutu yang diinginkan.&lt;br /&gt;Off line Quality control terdiri atas :&lt;br /&gt;1. Design eksperiment&lt;br /&gt;Merupakan pengendalian mutu yang dilakukan dengan cara melakukan&lt;br /&gt;riset atau rancang percobaan terhadap produk yang akan di uji. Rancang&lt;br /&gt;percobaan juga dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar&lt;br /&gt;pengaruh atau respon pengujian terhadap hasil yang diinginkan. Metode&lt;br /&gt;ini menggunakan tools statistik diantaranya dengan menggunakan&lt;br /&gt;beberapa metode seperti uji 1 faktorial, 2 faktorial ataupun nested&lt;br /&gt;experiment.&lt;br /&gt;2. Taguchi methode&lt;br /&gt;Pengendalian mutu yang dilakukan dengan menggunakan beberapa&lt;br /&gt;metode yang dikemukakan oleh Taguchi ohno yang dinamakan dengan&lt;br /&gt;Taguchi methode. Metode Taguchi sangat umum digunakan dalam riset&lt;br /&gt;pengendalian kualitas.&lt;br /&gt;b. On line Quality Control&lt;br /&gt;Merupakan pengendalian mutu yang dilakukan pada phase operasional&lt;br /&gt;pada tahap proses produksi, sehingga produk yang dihasilkan memenuhi standar&lt;br /&gt;yang ditentukan. Salah satu bentuk On line Quality Control yang umum&lt;br /&gt;digunakan yaitu Statistical Quality Control (SPC).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Referensi :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Douglas C. Montgomery . 1991. “&lt;strong&gt;&lt;i&gt;Introduction Statistical Control&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;”. John Wiley &amp;amp; Sons.&lt;br /&gt;Jerry Banks. 1989. “&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Principles of Quality Control&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;”. John Wiley &amp;amp; Sons.&lt;br /&gt;Nasution, Arman Hakim. 2006. Manajemen Industri : “&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Pengendalian Mutu&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;”. PT.&lt;br /&gt;ANDI Yogyakarta : Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Douglas C. Montgomery . 1991. “Introduction Statistical Control”. John Wiley &amp;amp; Sons.&lt;br /&gt;** Jerry Banks. 1989. “Principles of Quality Control”. John Wiley &amp;amp; Sons.&lt;/span&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/06/quality-improvement-dan-statistical.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin blog)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipsKRTUXd6NAKn_GeRdndEZSJdoJoekwtaoHF2r91HsRrEnXG_tbuSw3DWC6xHl3flMdshw9aOmB_rOsSHO4740OCuGF5gnENJ5XFV31knCI4KIqL1czyczWsQ518M8vMOWH2do4N90dL1/s72-c/gbr+artikel+dika,+yusra.JPG" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-6305234280566600120</guid><pubDate>Fri, 06 Jun 2008 02:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-12T01:41:48.666-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>SECERCAH RINDU DI DANAU SINGKARAK</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh005EuyakbEN4JhDjKDkaC1E8Eh5Ko3JRBZkLlgZx84eXJsn4saQInBolEWcphFyqY6KOO1B_WvdMjRm7OhFTl89B9Rz9k5WHS20wey6OHTWyqePa2YNB8TmllbUbcM62Td-WTaCKhyphenhyphen0eO/s1600-h/lake.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh005EuyakbEN4JhDjKDkaC1E8Eh5Ko3JRBZkLlgZx84eXJsn4saQInBolEWcphFyqY6KOO1B_WvdMjRm7OhFTl89B9Rz9k5WHS20wey6OHTWyqePa2YNB8TmllbUbcM62Td-WTaCKhyphenhyphen0eO/s200/lake.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208585634292166146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Singkarak dalam imaji &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Singkarak dalam hakiki&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Singkarak dalam geraman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Singkarak dalam kedamaian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;O....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Singkarak,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sudah terbakar rinduku dalam pelataran pulaumu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sudah melebur jiwaku dalam gelombang riakmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sudah sangsai uratku dalam terbenam senjamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sudah gagu ucapku dalam semerbak getarmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sudah terbit anganku dalam fajar cayamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Siapa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;O...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Siapa ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;terdiam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;terpana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sunyi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;bisu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;semedi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;renyai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;sangsai &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;gagu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;bosan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;rindumu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;jiwamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;uratmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ucapmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;darahmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;nafasmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;bukan kepunyaan-ku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Singkarak-Padang, Agustus 2005&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/06/secercah-rindu-di-danau-singkarak.html</link><author>noreply@blogger.com (Andhika)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh005EuyakbEN4JhDjKDkaC1E8Eh5Ko3JRBZkLlgZx84eXJsn4saQInBolEWcphFyqY6KOO1B_WvdMjRm7OhFTl89B9Rz9k5WHS20wey6OHTWyqePa2YNB8TmllbUbcM62Td-WTaCKhyphenhyphen0eO/s72-c/lake.jpg" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-5762676528403241454</guid><pubDate>Thu, 05 Jun 2008 09:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-05T03:00:52.318-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">jurnal</category><title>“Job Shop Schedulling Problems (JSSP)”</title><description>&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Scientific Journal. Published by LENSA : 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah penjadwalan job shop merupakan salah satu masalah optimasi kombinatorial non deterministik dengan waktu polinomial (NP-complete) yang paling rumit. Waktu komputasi untuk mencari solusi optimal yang meningkat secara exponensial seiring dengan membesarnya nilai parameter masalah (jumlah mesin dan jumlah job) [Panggabean: 2002].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu teknik penjadwalan yang paling banyak digunakan dalam pemecahan masalah optimasi, yaitu algoritma penjadwalan Simulated Annealing (SA). Algoritma tersebut merupakan teknik pencarian probabilistik yang umum digunakan untuk menemukan solusi yang optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elsayed dan Laarhoven et al. [dalam Panggabean] melakukan suatu penelitian bahwa algoritma SA dapat menghasilkan suatu solusi yang optimal atau mendekati optimal dengan waktu relatif singkat, sehingga dapat dikatakan lebih baik bila dibandingkan dengan metode heuristik. Liu et al. [dalam Panggabean] mengemukakan bahwa hasil yang diperoleh konvergen lebih baik menuju nilai global minimum seiring dengan bertambahnya jumlah iterasi ke arah tak hingga serta bersifat problem independent sehingga fleksibel diterapkan dalam berbagai masalah dan lebih mudah dikomputerisasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan tersebut memberi harapan bahwa algoritma SA dapat menghasilkan jadwal produksi job shop dengan kualitas jadwal yang baik dengan waktu komputasi yang masih dapat diterima. Panggabean [2002] melakukan suatu penelitian penjadwalan job shop statik dengan menggunakan algoritma SA. Penelitian yang dilakukannya bertujuan untuk membuktikan validitas hasil penjadwalan SA dengan mencoba membandingkan hasil perhitungan algoritma dengan hasil perhitungan pada perangkat lunak penjadwalan Quant system.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari serangkaian percobaan yang dilakukan diperoleh suatu simpulan bahwa kualitas solusi yang dihasilkan oleh algoritma SA lebih baik bila dibandingkan dengan hasil penjadwalan Quant system terutama untuk kasus job shop berukuran besar, meskipun untuk itu diperlukan waktu komputasi yang relatif lebih besar bila dibandingkan dengan Quant system.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Algoritma penjadwalan Simulated Annealing (SA) untuk kasus penjadwalan job shop pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh Metropolis et al. pada tahun 1953. Aplikasi SA dalam masalah optimasi dikerjakan pertama kali oleh kirpatrick et al. pada tahun 1983. Algoritma ini beranalogi pada proses annealing (pendinginan) yang diterapkan dalam pembuatan material glassy (terdiri atas butir kristal). Dalam konteks optimasi, temperatur adalah variabel kontrol yang berkurang nilai sisanya selama proses optimasi tersebut dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skenario pendinginan dianalogikan dengan prosedur search yang menggantikan satu state dengan state lainnya dengan memperbaiki nilai fungsi objektif. Sebagai contoh, masalah optimasi kombinatorial (S, F) dimana i adalah konfigurasi/solusi sekarang (current) dengan fungsi cost F(i) dan j adalah konfigurasi berikutnya dengan fungsi cost F(j).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria penerimaan yang mewakili kriteria Metropolis didefinisikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prob(menerima j)=&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Min [1, exp(-(F(i)-F(j)/c)],&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;dimana &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;c∈R&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;+&lt;/span&gt; adalah parameter kontrol, dan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;i,j ∈ S&lt;/span&gt; adalah dua konfigurasi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini, teknik penjadwalan job shop mengalami banyak perkembangan, diantaranya yang dikenal ialah metode program integer, metode branch and bound, serta metode heuristik.Metode pemrograman integer dan branch and bound pada dasarnya memiliki tingkat kesukaran yang tinggi dan belum tentu menghasilkan jadwal yang benar-benar optimal. Metode heuristik adalah suatu metode yang dapat menghasilkan solusi yang cukup baik tapi tidak menjamin perolehan jadwal yang benar-benar optimal [Kusuma:1999].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, berbagai perkembangan dari penjadwalan ditemukan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbagai macam pendekatan dengan model dan solusi dilakukan dengan meramu beberapa literatur keilmuan seperti operations research dan juga teknis matematis. Disamping itu terdapat beberapa metode penjadwalan yang umum dikenal, diantaranya dispatching rules, expert systems (AI agents), neural networks, tabu search, simulated annealing, genetic alghoritms, fuzzy logic, inductive learning dan lain sebagainya [Jones et al].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik optimasi penjadwalan sering digunakan dengan menggunakan teknik pemrograman matematis yang dewasa ini dikembangkan secara ekstensif untuk berbagai kasus penjadwalan. Pemecahahan persoalan penjadwalan dengan menggunakan teknik matematis seringkali didekati dengan menggunakan metode integer linear programmimg, mixed integer programming, dan dynamic programming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, penggunaan pendekatan matematis dengan teknik tersebut di atas semakin jarang digunakan seiring dengan kompleksitas persoalan penjadwalan yang mendekati tingkat kesukaran masing-masing [Jones et al].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode penjadwalan heuristik adalah salah satu teknik penjadwalan yang pertama kali ditemukan dan menjadi akar pengembangan dari metode penjadwalan lain yang bersifat non-heuristik. Teknik penjadwalan tersebut menggunakan algoritma yang lebih sederhana, meski tidak ‘reliable’ untuk kasus-kasus penjadwalan yang kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu metode heuristik yang cukup umum dikenal ialah metode priority dispatching yang dikemukakan oleh Giffler dan Thompson [Kusuma: 1999]. Metode tersebut berprinsip pada pembuatan jadwal secara parsial (bertahap), dan terdiri atas dua (2) macam algoritma, yaitu algoritma untuk pembuatan jadwal aktif dan penjadwalan non delay [Kusuma: 1999].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada persoalan penjadwalan job shop klasik, job dinotasikan dengan J, dan operasi dinotasikan dengan Oij operasi yang mengikuti sekuens operasi tertentu (struktur presedens operasi serial), dan setiap job (yang terdiri atas operasi-operasi) ditugaskan pada sebuah mesin Mj tertentu [Morton. et al].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Gambar 1.1 Skema Penjadwalan Job Shop&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[Unachak]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjO35ZNLG6E4rZKWvzEh7OIQmtFYfcQ7yzifS1HzQ0JLZtgMMJAPdZN2BZZjsH-SNhd_VlwDrlE4gfzlc3bKNh4X7bp5BUFbUjC0R3nCu3MHB4r3Ge01Yil5-IaDBHnE4I2dsT5ZnJFaNb3/s1600-h/11.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 120px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjO35ZNLG6E4rZKWvzEh7OIQmtFYfcQ7yzifS1HzQ0JLZtgMMJAPdZN2BZZjsH-SNhd_VlwDrlE4gfzlc3bKNh4X7bp5BUFbUjC0R3nCu3MHB4r3Ge01Yil5-IaDBHnE4I2dsT5ZnJFaNb3/s200/11.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208332510341931890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bedworth [1986] membagi aktivitas penjadwalan (scheduling activity) menjadi dilakukan melalui 2 (dua) tahapan (two stages) yaitu :&lt;br /&gt;(1) Alokasikan setiap task pada tiap mesin (first stages), dan&lt;br /&gt;(2) Memperhitungkan decision rules (second stages).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Decison rules yang dimaksud dalam tahap dua (2) yaitu aturan prioritas penjadwalan yang dapat berupa SPT (Shortest Processing Time), FIFO (First In First Out), Random, EDD (Earliest Due Date), MWKR (Most Work Remaining) yaitu memilih pekerjaan yang memiliki waktu proses keseluruhan yang masih tersisa paling besar, LWKR (Least Work Remaining) dengan jalan memilih pekerjaan yang memiliki waktu proses keseluruhan yang masih tersisa paling kecil, serta MONPR (Most Operation Remaining) [Bedworth :1986].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Gambar 1.2 Representasi Graph untuk&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masalah Job Shop&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg15ELHEMNPgM_w2ohKtIzZ4kQ6rkJ14NJplp8u8WCQ6tMkXej09tIm3Ct0Rd9-kcvMfnz-vwdPgJWp-wIlj_Z9wmkbw7AkvivUXI1pfVld6eQKUuw4KeBhPI56vMN8TBIopzYMIfWJm2v0/s1600-h/22.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 154px; height: 111px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg15ELHEMNPgM_w2ohKtIzZ4kQ6rkJ14NJplp8u8WCQ6tMkXej09tIm3Ct0Rd9-kcvMfnz-vwdPgJWp-wIlj_Z9wmkbw7AkvivUXI1pfVld6eQKUuw4KeBhPI56vMN8TBIopzYMIfWJm2v0/s200/22.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208333152008893842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Teknik lain yang digunakan dalam pemecahan masalah job shop yaitu teknik AI (Artificial Intelligences) yang melibatkan teknik intelligensi dengan merangkum berbagai pendapat dari para pakar penjadwalan [Jones et al]. Langkah awal dalam teknik ini yaitu : (1) Membangun studi empiris dengan menggunakan teknik-teknik dari kombinasi pengetahuan kuntitatif dan kualitatif dalam proses pengambilan keputusan, (2) Membuat penyelesaian persoalan penjadwalan heuristik yang sedikit lebih kompleks dari aturan priority dispatching, dan (3) Pemilihan solusi dari teknik heurustik terbaik yang dibuat sebelumnya, serta (4) Merumuskan keterkaitan hubungan antar struktur data untuk memudahkan manipulasi informasi yang terdapat pada struktur data tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjadwalan yang biasa diterapkan di lantai produksi secara umum dibedakan atas jumlah mesin atau kriteria lantai produksi, diantaranya sebagai berikut [Jones. et al] :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. One stage, one processor&lt;br /&gt;b. One stage, multiple processors&lt;br /&gt;c. Multistages, flow shop&lt;br /&gt;d. Multistages, job shop&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jones et al. mengemukakan bahwa pada tipikal penjadwalan one stage dan one processor, permasalahan cukup diselesaikan dalam satu tahap pemrosesan (one processing step) yang melewati satu sumber daya (mesin). Pada one stage, multiple processors tahapan pemrosesan melewati banyak sumber daya (mesin). Dalam kasus multistage pada persoalan penjadwalan flow shop, setiap pekerjaan (job) memiliki beberapa tugas (task) atau langkah kerja yang diproses oleh mesin yang spesifik namun melewati rute yang sama untuk setiap job tersebut. Pada kasus multistage job shop, sumber daya (mesin) diatur dan diset sedemikian rupa dengan rute operasi yang dipilih dan ditentukan sebelumnya namun memiliki berbagai macam variasi produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan literatur-literatur tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa penjadwalan job shop (JSSP) memiliki berbagai teknik penyelesaian dan algoritma penjadwalan. Diantara metode&lt;br /&gt;Scientific Journal. Published by LENSA : 2008&lt;br /&gt;yang umum digunakan dalam riset penelitian diantaranya dispatching rules, expert systems (AI agents), neural networks, neighborhood, tabu search, simulated annealing, integer programming, branch and bound genetic alghoritms, fuzzy logic, inductive learning dan lain sebagainya. Beberapa metode tersebut memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing apabila ditinjau dari kompleksitas masalah, pengetahuan peneliti, tujuan penelitian, batasan variabel dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simple Dispatching Rules merupakan teknik penjadwalan heuristik yang sangat sederhana dan umum digunakan tetapi tidak ‘reliable’ untuk kasus penjadwalan yang berukuran besar dengan tingkat kompleksitas yang rumit. Demikian sebaliknya teknik-teknik lain seperti , tabu search, simulated annealing, integer programming, branch and bound genetic alghoritms memiliki tingkat kesukaran yang lebih tinggi daripada metode Priority Dispatching, namun sangat cocok digunakan untuk kasus yang kompleks dengan jumlah variabel yang lebih banyak. Teknik AI agents dan inductive learning mengkombinasikan antara kemampuan kualitatif (intuitif) dengan kuantitatif (matematis) dengan merujuk pada pengalaman ‘meneliti’ dan studi empiris. Namun, demikian keseluruhan metode tersebut dapat digunakan untuk berbagai kalangan berdasarkan variabel dan karakteristik penelitian yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;                                                       Padan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;g, Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIClP9N95R_htqpsKtD62IORBknJJ_PeE-i5yb0-FFlQn3HhiZlxz-0fltMWmxR-T3Eq0FbyCAuDfJB_IsqkErvPuIsZ8lM9SkcjCm_CkmBTOg82iHWeOnUfPa4WbETKTM03Ia9Q7RRFpQ/s1600-h/33.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 62px; height: 60px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIClP9N95R_htqpsKtD62IORBknJJ_PeE-i5yb0-FFlQn3HhiZlxz-0fltMWmxR-T3Eq0FbyCAuDfJB_IsqkErvPuIsZ8lM9SkcjCm_CkmBTOg82iHWeOnUfPa4WbETKTM03Ia9Q7RRFpQ/s200/33.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208333588054932994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Refer&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(1) Albert Jones. et al. International Jounal :&lt;br /&gt;Survey of Job Shop Schedulling&lt;br /&gt;Techniques. jonesa@cme.nist.gov.&lt;br /&gt;(2) David D. Betworth. et al. 1986.&lt;br /&gt;”Integrated Production Control Systems”.&lt;br /&gt;Jhon Wiley &amp;amp; Sons.&lt;br /&gt;(3) Hendra Kusuma. 1999. ”Perencanaan&lt;br /&gt;dan Pengendalian Produksi”. PT. Andi&lt;br /&gt;Yogyakarta. Yogyakarta.&lt;br /&gt;(4) Henry Pantas Panggabean. 2002. Jurnal:&lt;br /&gt;Penjadwalan Job Shop Statik dengan&lt;br /&gt;Algoritma Simulated Annealing.&lt;br /&gt;Universitas Katolik Parahyangan :&lt;br /&gt;Bandung.&lt;br /&gt;(5) Thomas E.Morton. et al. 1993. “Heuristic&lt;br /&gt;Schedulling Systems: with applications to&lt;br /&gt;production systems &amp;amp; project&lt;br /&gt;management”. Jhon Wiley&amp;amp;Sons, Inc,&lt;br /&gt;Canada : USA.&lt;br /&gt;(6) Prakarn Unachak. International Jounal :&lt;br /&gt;Genetic Alghorithm in Job Shop Schedulling.&lt;br /&gt;(Power Point Presentation).&lt;/span&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/06/job-shop-schedulling-problems-jssp.html</link><author>noreply@blogger.com (Andhika)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjO35ZNLG6E4rZKWvzEh7OIQmtFYfcQ7yzifS1HzQ0JLZtgMMJAPdZN2BZZjsH-SNhd_VlwDrlE4gfzlc3bKNh4X7bp5BUFbUjC0R3nCu3MHB4r3Ge01Yil5-IaDBHnE4I2dsT5ZnJFaNb3/s72-c/11.JPG" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2852464818978330806.post-5198491377546415821</guid><pubDate>Tue, 03 Jun 2008 05:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-02T22:54:27.080-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>INNA...WA INNA...</title><description>&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Inna Lillahi&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;buat tikus ada di kursi sana&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Inna Lillahi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;buat kucing umpet di lemari situ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Inna Lillahi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;buat harimau mengaum di rimba sana&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Inna Lillahi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;buat siamang terkekeh di pohon situ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Inna Lillahi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;buat domba nyengir di kandang sana&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Inna Lillahi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;buat rayap mendesis di kayu situ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Inna Ilaihi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;kursi yang tinggal sana&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Inna Ilaihi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                    &lt;/span&gt;lemari yang kosong situ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Inna Ilaihi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;rimba yang sepi sana&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Inna Ilaihi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;pohon yang sunyi situ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Inna Ilaihi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;kandang yang risau sana&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Inna Ilaihi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;kayu yang renyau situ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;buat mereka semua&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;AMIN&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;**&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                        &lt;/span&gt;Padang, Agustus 2005&lt;/span&gt;</description><link>http://dunia-andhika.blogspot.com/2008/06/innawa-inna.html</link><author>noreply@blogger.com (Andhika)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>