<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567</atom:id><lastBuildDate>Thu, 19 Dec 2024 03:30:50 +0000</lastBuildDate><category>Sejarah</category><category>Novel</category><category>Spiritual</category><category>Sastra Sejarah</category><category>Komunitas Bambu</category><category>Sukarno</category><category>Agus Sunyoto</category><category>Biografi</category><category>Budaya</category><category>Lkis</category><category>Pengembangan Diri</category><category>Serambi</category><category>Soekarno</category><category>Sosial</category><category>Achmad Chodjim</category><category>Agama Jawa: Abangan</category><category>Agung Webe</category><category>Clifford Geertz</category><category>Colin Falconer</category><category>Damar Shashangka</category><category>Darmagandhul</category><category>Di Bawah Bendera Revolusi</category><category>Diary Pramugari</category><category>Dolphin</category><category>Filsafat</category><category>Harem Sang Sultan</category><category>Hari-hari Terakhir Soekarno</category><category>Imperia</category><category>JAKARTA Sejarah 400 Tahun</category><category>Kayla Pustaka</category><category>Kisah-kisah Memukau dari Swarna Dwipa</category><category>Layla Majnun</category><category>Martin Lings</category><category>Muhammad (Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik)</category><category>NLP: The Art of Enjoying Life</category><category>Penerbit Dolphin</category><category>Priyayi Dalam Kebudayaan Jawa</category><category>Rahuvana Tattwa</category><category>Resensi "Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu"</category><category>Santri</category><category>Shalahuddin Gh</category><category>Sosial Politik</category><category>Suluk Abdul Jalil</category><category>Sumatera Tempo Doeloe</category><category>Syekh Siti Jenar &amp; Suluk Nusantara</category><category>Syekh Siti Jenar: Makna Kematian</category><category>Taman Sunyi Sekala (Novel Filsafat)</category><title>Kumpulan Resensi Buku</title><description></description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:category text="Business"><itunes:category text="Shopping"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-3703688821532287597</guid><pubDate>Sat, 01 Mar 2014 19:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-03-02T02:42:29.958+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Budaya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">JAKARTA Sejarah 400 Tahun</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Komunitas Bambu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial</category><title>Jakarta Siapa yang Punya?</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="entry" style="background-color: white; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin: 0px; text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
&lt;a href="http://achmadsunjayadi.files.wordpress.com/2012/08/blackburn.jpg" sl-processed="1" style="border-bottom-color: silver; border-bottom-style: dotted; border-bottom-width: 1px; color: #515151; text-decoration: none;"&gt;&lt;img alt="" class="alignleft size-medium wp-image-95" src="http://achmadsunjayadi.files.wordpress.com/2012/08/blackburn.jpg?w=225&amp;amp;h=300" height="300" style="border: 0px none; clear: none; display: inline; float: left; margin: 0px 7px 2px 0px; padding: 4px;" title="blackburn" width="225" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Jakarta jadi ajang ‘pertempuran’ lagi. Setidaknya hal ini yang terlihat dari para kandidat gubernur dan wakilnya yang mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di ibukota negara. Pencalonan para kandidat tersebut memperlihatkan tabuhan ‘genderang perang’ pertama partai-partai politik yang akan bertarung pada Pemilu 2014 nanti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
&lt;span id="more-94"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Seberapa pentingkah Jakarta bagi partai-partai politik tersebut yang mencalonkan para kandidatnya? Jelas penting karena pilkada kali ini dapat menjadi ajang mengukur kekuatan mesin politik menghadapi Pemilu 2014. Namun, hal yang terpenting adalah apakah para kandidat tersebut kelak mampu mengatasi berbagai persoalan di Jakarta. Mulai dari kemacetan, kebakaran, hingga banjir.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Berbagai peneliti telah mengupas Jakarta serta persoalannya dari berbagai sisi. Hal yang menarik adalah bila kita membahas tentang Jakarta, seolah tidak akan ada habisnya. Satu nama yang kerap menjadi sumber para peneliti tentang Jakarta yaitu Frederik ‘si Jago’ de Haan. De Haan ini pula yang termasuk salah satu sumber dalam buku&amp;nbsp;&lt;em&gt;Jakarta: Sejarah 400 Tahun&lt;/em&gt;&amp;nbsp;karya&amp;nbsp; Susan Blackburn.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Buku ini merupakan terjemahan dari edisi revisi&amp;nbsp;&lt;em&gt;Jakarta: A History&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(1989) karya Susan Blackburn yang ketika itu masih bernama Susan Abayasekere. Ketika pertama kali terbit pada 1987 buku tersebut sempat dilarang beredar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Alasan yang dikemukakan oleh pemerintah ketika itu adalah pemerintah tidak suka dengan cara meneliti dan pengungkapan Susan mengenai Jakarta yang pernah dijuluki Ratu dari Timur (&lt;em&gt;Queen of the East&lt;/em&gt;). Hal tersebut tidak ada kaitannya dengan metode yang digunakannya melainkan tesis yang diajukan oleh Susan membuat pihak-pihak yang berkepentingan tidak berkenan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Susan mengajukan tesis bahwa Jakarta merupakan kota yang dibangun untuk memuaskan impian para penguasa dan pemilik modal serta tidak memerhatikan kelompok masyarakat lain yaitu masyarakat bawah alias&amp;nbsp;&lt;em&gt;wong cilik&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Dilihat dari sejarah perkembangan Jakarta, Jakarta memang mengalami perubahan serta kesinambungan seiring pergantian penguasanya. Mulai dari penguasa VOC (&lt;em&gt;Verenigde Oost Indische Compagnie&lt;/em&gt;), sebuah perusahaan dagang yang kerap disebut kompeni dan pada awalnya membangun benteng di salah satu wilayah bagian utara Jakarta sekarang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Hal ini dibahas pada bagian pertama: &amp;nbsp;‘Tuan-Tuan Lama’.&amp;nbsp; Bagian tersebut membahas Jakarta pada periode abad ke-17 (1619) hingga menjelang masuknya Jepang pada 1942.&amp;nbsp; Pada bagian ini terdiri dari tiga bab: ‘Kota Kompeni: Asal Mula Hingga 1800’, ‘Kota Kolonial: Batavia pada Abad ke-19’, dan ‘Batavia 1900-1942: Kota Kolonial Menghadapi Tantangan’.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Pada masa kolonial, pemerintah Hindia-Belanda berharap Jakarta menjadi salah satu kota yang menjadi kota bagi masyarakat kulit putih. Di sini kita mengenal istilah&lt;em&gt;benedenstad&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(kota lama) , kawasan Weltevreden hingga Menteng.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Pada bagian kedua ‘Masa Peralihan Pemerintahan’ yang membahas Jakarta pada periode perang hingga pasca kemerdekaan hanya terdiri dari satu bab ‘Pendudukan Jepang dan Perjuangan Meraih Kemerdekaan, 1942-1949’ .&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Setelah berada di bawah pemerintah Hindia-Belanda dan mengalami masa peralihan, &amp;nbsp;Jakarta berada di bawah kekuasaan pemerintah Republik Indonesia. Periode tersebut dibahas pada bagian ketiga. Pada bagian ini ‘Tuan-Tuan Baru’ membahas Jakarta di bawah Soekarno dan pemerintahan Orde Baru. Pada bagian ini terdiri dari dua bab: ‘Jakarta Masa Sukarno: 1950-1965’ dan ‘Jakarta di Bawah Pemerintahan Sadikin dan Para Penerusnya: 1966-1985’&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Pada masa Republik Indonesia, Jakarta dirancang untuk menjadi kota kebanggaan nasional di mana berbagai proyek dibangun dan pada masa Orde Baru, Jakarta menjadi kota pusat perekonomian negeri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Benang merah yang menjadi penghubung antar periode tersebut adalah Jakarta dibangun hanya untuk kepentingan kelompok tertentu bukan untuk seluruh masyarakat. Dalam setiap periode, Jakarta terus menghadapi permasalahan dan tak kunjung mampu mengatasinya. Sebut saja masalah banjir, air bersih, sampah, kemacetan yang akarnya sudah terlihat dari awal dan masih dirasakan hingga kini. Permasalahan itu pula yang menjadi pekerjaan rumah para kandidat gubernur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Sehubungan dengan periode yang dibahas (sampai 1985), khususnya dengan data yang mendukung buku ini, sepertinya membuat buku ini ketinggalan zaman.&amp;nbsp; Apalagi pasca peristiwa Reformasi 1998 juga memberikan pengaruh dan mengubah wajah Jakarta sekarang. Hal ini sebenarnya sudah dijawab oleh Susan Blackburn dalam kata pengantarnya bahwa diperlukan satu buku tersendiri untuk membahas periode tambahan tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Selain disusun secara kronologis buku ini dilengkapi peta dan ilustrasi yang membantu kita untuk membayangkan kembali situasi pada periode yang dibahas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Siapa pun yang kelak menjadi orang nomor satu di Jakarta, diharapkan juga dapat menyuarakan suara masyarakat, khususnya masyarakat kecil. Tidak hanya segelintir elite, baik penguasa dan pemilik modal. Oleh karena Jakarta adalah milik kita semua. Jakarta punya kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Resensi : &lt;a href="http://achmadsunjayadi.wordpress.com/2012/08/02/jakarta-siapa-yang-punya/#more-94"&gt;INI&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
.....................................................&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-top: 1em;"&gt;
Pesan Buku " JAKARTA Sejarah 400 Tahun " di &lt;a href="http://karavina.com/sejarah/371-jakarta-sejarah-400-tahun.html"&gt;&lt;b&gt;SINI&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/03/jakarta-siapa-yang-punya.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total><enclosure length="58490" type="image/jpeg" url="http://achmadsunjayadi.files.wordpress.com/2012/08/blackburn.jpg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Jakarta jadi ajang ‘pertempuran’ lagi. Setidaknya hal ini yang terlihat dari para kandidat gubernur dan wakilnya yang mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di ibukota negara. Pencalonan para kandidat tersebut memperlihatkan tabuhan ‘genderang perang’ pertama partai-partai politik yang akan bertarung pada Pemilu 2014 nanti. Seberapa pentingkah Jakarta bagi partai-partai politik tersebut yang mencalonkan para kandidatnya? Jelas penting karena pilkada kali ini dapat menjadi ajang mengukur kekuatan mesin politik menghadapi Pemilu 2014. Namun, hal yang terpenting adalah apakah para kandidat tersebut kelak mampu mengatasi berbagai persoalan di Jakarta. Mulai dari kemacetan, kebakaran, hingga banjir. Berbagai peneliti telah mengupas Jakarta serta persoalannya dari berbagai sisi. Hal yang menarik adalah bila kita membahas tentang Jakarta, seolah tidak akan ada habisnya. Satu nama yang kerap menjadi sumber para peneliti tentang Jakarta yaitu Frederik ‘si Jago’ de Haan. De Haan ini pula yang termasuk salah satu sumber dalam buku&amp;nbsp;Jakarta: Sejarah 400 Tahun&amp;nbsp;karya&amp;nbsp; Susan Blackburn. Buku ini merupakan terjemahan dari edisi revisi&amp;nbsp;Jakarta: A History&amp;nbsp;(1989) karya Susan Blackburn yang ketika itu masih bernama Susan Abayasekere. Ketika pertama kali terbit pada 1987 buku tersebut sempat dilarang beredar. Alasan yang dikemukakan oleh pemerintah ketika itu adalah pemerintah tidak suka dengan cara meneliti dan pengungkapan Susan mengenai Jakarta yang pernah dijuluki Ratu dari Timur (Queen of the East). Hal tersebut tidak ada kaitannya dengan metode yang digunakannya melainkan tesis yang diajukan oleh Susan membuat pihak-pihak yang berkepentingan tidak berkenan. Susan mengajukan tesis bahwa Jakarta merupakan kota yang dibangun untuk memuaskan impian para penguasa dan pemilik modal serta tidak memerhatikan kelompok masyarakat lain yaitu masyarakat bawah alias&amp;nbsp;wong cilik. Dilihat dari sejarah perkembangan Jakarta, Jakarta memang mengalami perubahan serta kesinambungan seiring pergantian penguasanya. Mulai dari penguasa VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie), sebuah perusahaan dagang yang kerap disebut kompeni dan pada awalnya membangun benteng di salah satu wilayah bagian utara Jakarta sekarang. Hal ini dibahas pada bagian pertama: &amp;nbsp;‘Tuan-Tuan Lama’.&amp;nbsp; Bagian tersebut membahas Jakarta pada periode abad ke-17 (1619) hingga menjelang masuknya Jepang pada 1942.&amp;nbsp; Pada bagian ini terdiri dari tiga bab: ‘Kota Kompeni: Asal Mula Hingga 1800’, ‘Kota Kolonial: Batavia pada Abad ke-19’, dan ‘Batavia 1900-1942: Kota Kolonial Menghadapi Tantangan’. Pada masa kolonial, pemerintah Hindia-Belanda berharap Jakarta menjadi salah satu kota yang menjadi kota bagi masyarakat kulit putih. Di sini kita mengenal istilahbenedenstad&amp;nbsp;(kota lama) , kawasan Weltevreden hingga Menteng. Pada bagian kedua ‘Masa Peralihan Pemerintahan’ yang membahas Jakarta pada periode perang hingga pasca kemerdekaan hanya terdiri dari satu bab ‘Pendudukan Jepang dan Perjuangan Meraih Kemerdekaan, 1942-1949’ . Setelah berada di bawah pemerintah Hindia-Belanda dan mengalami masa peralihan, &amp;nbsp;Jakarta berada di bawah kekuasaan pemerintah Republik Indonesia. Periode tersebut dibahas pada bagian ketiga. Pada bagian ini ‘Tuan-Tuan Baru’ membahas Jakarta di bawah Soekarno dan pemerintahan Orde Baru. Pada bagian ini terdiri dari dua bab: ‘Jakarta Masa Sukarno: 1950-1965’ dan ‘Jakarta di Bawah Pemerintahan Sadikin dan Para Penerusnya: 1966-1985’ Pada masa Republik Indonesia, Jakarta dirancang untuk menjadi kota kebanggaan nasional di mana berbagai proyek dibangun dan pada masa Orde Baru, Jakarta menjadi kota pusat perekonomian negeri. Benang merah yang menjadi penghubung antar periode tersebut adalah Jakarta dibangun hanya untuk kepentingan kelompok tertentu bukan untuk seluruh masyarakat. Dalam setiap periode, Jakarta terus menghadapi permasalahan dan tak kunjung mampu mengatasinya. Sebut saja masalah banjir, air bersih, sampah, kemacetan yang akarnya sudah terlihat dari awal dan masih dirasakan hingga kini. Permasalahan itu pula yang menjadi pekerjaan rumah para kandidat gubernur. Sehubungan dengan periode yang dibahas (sampai 1985), khususnya dengan data yang mendukung buku ini, sepertinya membuat buku ini ketinggalan zaman.&amp;nbsp; Apalagi pasca peristiwa Reformasi 1998 juga memberikan pengaruh dan mengubah wajah Jakarta sekarang. Hal ini sebenarnya sudah dijawab oleh Susan Blackburn dalam kata pengantarnya bahwa diperlukan satu buku tersendiri untuk membahas periode tambahan tersebut. Selain disusun secara kronologis buku ini dilengkapi peta dan ilustrasi yang membantu kita untuk membayangkan kembali situasi pada periode yang dibahas. Siapa pun yang kelak menjadi orang nomor satu di Jakarta, diharapkan juga dapat menyuarakan suara masyarakat, khususnya masyarakat kecil. Tidak hanya segelintir elite, baik penguasa dan pemilik modal. Oleh karena Jakarta adalah milik kita semua. Jakarta punya kita. Sumber Resensi : INI ..................................................... Pesan Buku " JAKARTA Sejarah 400 Tahun " di SINI.</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Jakarta jadi ajang ‘pertempuran’ lagi. Setidaknya hal ini yang terlihat dari para kandidat gubernur dan wakilnya yang mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di ibukota negara. Pencalonan para kandidat tersebut memperlihatkan tabuhan ‘genderang perang’ pertama partai-partai politik yang akan bertarung pada Pemilu 2014 nanti. Seberapa pentingkah Jakarta bagi partai-partai politik tersebut yang mencalonkan para kandidatnya? Jelas penting karena pilkada kali ini dapat menjadi ajang mengukur kekuatan mesin politik menghadapi Pemilu 2014. Namun, hal yang terpenting adalah apakah para kandidat tersebut kelak mampu mengatasi berbagai persoalan di Jakarta. Mulai dari kemacetan, kebakaran, hingga banjir. Berbagai peneliti telah mengupas Jakarta serta persoalannya dari berbagai sisi. Hal yang menarik adalah bila kita membahas tentang Jakarta, seolah tidak akan ada habisnya. Satu nama yang kerap menjadi sumber para peneliti tentang Jakarta yaitu Frederik ‘si Jago’ de Haan. De Haan ini pula yang termasuk salah satu sumber dalam buku&amp;nbsp;Jakarta: Sejarah 400 Tahun&amp;nbsp;karya&amp;nbsp; Susan Blackburn. Buku ini merupakan terjemahan dari edisi revisi&amp;nbsp;Jakarta: A History&amp;nbsp;(1989) karya Susan Blackburn yang ketika itu masih bernama Susan Abayasekere. Ketika pertama kali terbit pada 1987 buku tersebut sempat dilarang beredar. Alasan yang dikemukakan oleh pemerintah ketika itu adalah pemerintah tidak suka dengan cara meneliti dan pengungkapan Susan mengenai Jakarta yang pernah dijuluki Ratu dari Timur (Queen of the East). Hal tersebut tidak ada kaitannya dengan metode yang digunakannya melainkan tesis yang diajukan oleh Susan membuat pihak-pihak yang berkepentingan tidak berkenan. Susan mengajukan tesis bahwa Jakarta merupakan kota yang dibangun untuk memuaskan impian para penguasa dan pemilik modal serta tidak memerhatikan kelompok masyarakat lain yaitu masyarakat bawah alias&amp;nbsp;wong cilik. Dilihat dari sejarah perkembangan Jakarta, Jakarta memang mengalami perubahan serta kesinambungan seiring pergantian penguasanya. Mulai dari penguasa VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie), sebuah perusahaan dagang yang kerap disebut kompeni dan pada awalnya membangun benteng di salah satu wilayah bagian utara Jakarta sekarang. Hal ini dibahas pada bagian pertama: &amp;nbsp;‘Tuan-Tuan Lama’.&amp;nbsp; Bagian tersebut membahas Jakarta pada periode abad ke-17 (1619) hingga menjelang masuknya Jepang pada 1942.&amp;nbsp; Pada bagian ini terdiri dari tiga bab: ‘Kota Kompeni: Asal Mula Hingga 1800’, ‘Kota Kolonial: Batavia pada Abad ke-19’, dan ‘Batavia 1900-1942: Kota Kolonial Menghadapi Tantangan’. Pada masa kolonial, pemerintah Hindia-Belanda berharap Jakarta menjadi salah satu kota yang menjadi kota bagi masyarakat kulit putih. Di sini kita mengenal istilahbenedenstad&amp;nbsp;(kota lama) , kawasan Weltevreden hingga Menteng. Pada bagian kedua ‘Masa Peralihan Pemerintahan’ yang membahas Jakarta pada periode perang hingga pasca kemerdekaan hanya terdiri dari satu bab ‘Pendudukan Jepang dan Perjuangan Meraih Kemerdekaan, 1942-1949’ . Setelah berada di bawah pemerintah Hindia-Belanda dan mengalami masa peralihan, &amp;nbsp;Jakarta berada di bawah kekuasaan pemerintah Republik Indonesia. Periode tersebut dibahas pada bagian ketiga. Pada bagian ini ‘Tuan-Tuan Baru’ membahas Jakarta di bawah Soekarno dan pemerintahan Orde Baru. Pada bagian ini terdiri dari dua bab: ‘Jakarta Masa Sukarno: 1950-1965’ dan ‘Jakarta di Bawah Pemerintahan Sadikin dan Para Penerusnya: 1966-1985’ Pada masa Republik Indonesia, Jakarta dirancang untuk menjadi kota kebanggaan nasional di mana berbagai proyek dibangun dan pada masa Orde Baru, Jakarta menjadi kota pusat perekonomian negeri. Benang merah yang menjadi penghubung antar periode tersebut adalah Jakarta dibangun hanya untuk kepentingan kelompok tertentu bukan untuk seluruh masyarakat. Dalam setiap periode, Jakarta terus menghadapi permasalahan dan tak kunjung mampu mengatasinya. Sebut saja masalah banjir, air bersih, sampah, kemacetan yang akarnya sudah terlihat dari awal dan masih dirasakan hingga kini. Permasalahan itu pula yang menjadi pekerjaan rumah para kandidat gubernur. Sehubungan dengan periode yang dibahas (sampai 1985), khususnya dengan data yang mendukung buku ini, sepertinya membuat buku ini ketinggalan zaman.&amp;nbsp; Apalagi pasca peristiwa Reformasi 1998 juga memberikan pengaruh dan mengubah wajah Jakarta sekarang. Hal ini sebenarnya sudah dijawab oleh Susan Blackburn dalam kata pengantarnya bahwa diperlukan satu buku tersendiri untuk membahas periode tambahan tersebut. Selain disusun secara kronologis buku ini dilengkapi peta dan ilustrasi yang membantu kita untuk membayangkan kembali situasi pada periode yang dibahas. Siapa pun yang kelak menjadi orang nomor satu di Jakarta, diharapkan juga dapat menyuarakan suara masyarakat, khususnya masyarakat kecil. Tidak hanya segelintir elite, baik penguasa dan pemilik modal. Oleh karena Jakarta adalah milik kita semua. Jakarta punya kita. Sumber Resensi : INI ..................................................... Pesan Buku " JAKARTA Sejarah 400 Tahun " di SINI.</itunes:summary><itunes:keywords>Budaya, JAKARTA Sejarah 400 Tahun, Komunitas Bambu, Sejarah, Sosial</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-5531810701016536641</guid><pubDate>Sat, 01 Mar 2014 19:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-03-02T02:35:04.389+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Budaya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah-kisah Memukau dari Swarna Dwipa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Komunitas Bambu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sumatera Tempo Doeloe</category><title>Kisah-kisah Memukau dari Swarna Dwipa</title><description>&lt;header class="post-header" style="border: 0px; clear: both; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEieG8NyFCl5pp0gU_82u7r2BPp-yn4RQ6xR7ZqYVAK2G4_zTU9KCQfP0icYbfZSB2U8Tvhn0sjBM4d08PilTOovEzQQTRWtJiM1bcSUHr8XjuFcmd16ZvjnK4ZN0gd0LED_RevS9TiihEk/s1600/sumatera_tempo_doeloe.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEieG8NyFCl5pp0gU_82u7r2BPp-yn4RQ6xR7ZqYVAK2G4_zTU9KCQfP0icYbfZSB2U8Tvhn0sjBM4d08PilTOovEzQQTRWtJiM1bcSUHr8XjuFcmd16ZvjnK4ZN0gd0LED_RevS9TiihEk/s1600/sumatera_tempo_doeloe.gif" height="320" width="206" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h1 style="border: 0px; color: #090b0c; font-size: 1.618em; line-height: 1.387em; margin: 0px 0px 0.618em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Kisah-kisah Memukau dari Swarna Dwipa&lt;/h1&gt;
&lt;/header&gt;&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Sumatera sudah mendunia sejak berabad-abad lampau. Perdagangan rempah-rempah terutama pala membawa para pedagang dari berbagai tempat termasuk Eropa mulai dari Italia, Prancis, Portugal, Belanda, Jerman, dan Inggris serta datang dari Arab dan Persia untuk berkunjung ke Sumatera. Pasai, Baros, dan Sriwijaya adalah nama-nama pelabuhan besar yang didatangi oleh para saudagar ini. Sumatera pun dikenal sebagai pulau yang kaya dengan hasil alam dan memiliki nama Swarna Dwipa alias Pulau Emas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Para pendatang dari berlatar belakang profesi itu kemudian menuliskan catatan perjalanan dalam berbagai bentuk mulai dari memoar, jurnal, hingga tulisan semi fiksi. Beragam tulisan yang menjadi bagian penting dari rekam jejak sejarah Sumatera.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Marco Polo yang ternama dengan kisah Jalan Sutra-nya, penjelajah muslim Ibnu Battuta, Thomas Dias, gubernur jenderal Thomas Stamford Raffles, serta lain-lainnya pernah mampir dan tinggal di Sumatera. Lantas mereka menuliskan pengalamannya saat berada di Sumatera.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Cerita, kisah, dan penggambaran mereka perihal Sumatera pun begitu mencengangkan dan memukau. Bisa jadi tidak ada dalam buku sejarah pada umumnya. Para penulis dari luar ini berkisah soal apa saja mulai dari sosial, budaya, agama, hingga politik di Sumatera. Sementara hanya ada dua “penulis lokal Sumatera” yaitu Tan Malaka, salah satu founding father negeri ini dan juga Muhamad Radjab, seorang jurnalis di awal abad ke-20.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Adalah Anthony Reid, sejarawan dengan spesialisasi Asia Tenggara yang mengumpulkan sederetan tulisan-tulisan itu dan kemudian membaginya dalam delapan bab dalam buku Sumatera Tempo Doeloe : Dari Marco Polo sampai Tan Malaka. Buku yang diterjemahkan dari Witnesses to Sumatra : A Travelers’ Anthology yang terbit pada 1995 ini tidak menyuguhkan sejarah Sumatera secara runut. Reid mengelompokkan tulisan-tulisan itu dalam topik dan tema yang relevan dan sama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Para penulis ini tentunya “bebas” menuliskan apa saja. Mereka yang datang dan menetap di Sumatera saat itu pasti mengamati setiap sudut wilayah, polah tingkah masyarakat, dan lainnya. Sudah pasti para penulis memiliki sudut pandang yang bisa saja tidak adil, subyektif, dan terasa tidak simpati kepada masyarakat Sumatera. Apalagi mereka sering menganalogikan apa yang terjadi di Sumatera dengan negara asalnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Lantaran itu juga Reid memberikan semacam panduan dan catatan pada setiap tulisan. Rentang waktu yang lama dari kisah yang berusia sejak abad ke-9 hingga abad ke-20 ini tentu sangat berjarak dengan para pembaca yang berada di abad ke-21. Semua itu memang diberikan Reid agar orang yang membaca tulisan-tulisan itu mengenal para penulis yang memang banyak belum dikenal kecuali Marco Polo, Ibnu Battuta, atau Raffles. Selain itu, Reid juga ingin agar orang yang membaca buku ini memahami situasi, kondisi, dan konteks suasana saat itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Bisa jadi, apa yang tertulis dalam buku Sumatera Tempo Doeloe : Dari Marco Polo sampai Tan Malaka ini berbeda dengan teks-teks sejarah yang kita ketahui, hikayat sejarah, teks keagamaan, dan lainnya, tetapi tulisan-tulisan ini setidaknya memberikan sudut pandang baru tentang sejarah Sumatera.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
_______________________________&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
&lt;b style="border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Penulis: Dodiek Adyttya Dwiwanto&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Sumber: Jurnal Nasional, 16 Februari 2014&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
_______________________________&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Sumatra Tempo Doeloe&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Penyusun&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Anthony Reid&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Penerjemah&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Tim Komunitas Bambu&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Penyunting&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Dewi Anggraeni&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Komunitas Bambu&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Cetakan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Kedua, Januari 2014&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Tebal&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 424 halaman&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt; Pesan Buku "Sumatra Tempo Doeloe" di &lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/sumatera-tempo-doeloe.html" style="font-weight: bold;"&gt;SINI&lt;/a&gt;&amp;nbsp;atau di&lt;b&gt; &lt;a href="http://karavina.com/sejarah/472-sumatera-tempo-doeloe.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/03/kisah-kisah-memukau-dari-swarna-dwipa.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEieG8NyFCl5pp0gU_82u7r2BPp-yn4RQ6xR7ZqYVAK2G4_zTU9KCQfP0icYbfZSB2U8Tvhn0sjBM4d08PilTOovEzQQTRWtJiM1bcSUHr8XjuFcmd16ZvjnK4ZN0gd0LED_RevS9TiihEk/s72-c/sumatera_tempo_doeloe.gif" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="84098" type="image/gif" url="http://3.bp.blogspot.com/-bnrQDZ3YRGc/UvKNgfhIcjI/AAAAAAAABW4/sDu43qoqlI8/s1600/sumatera_tempo_doeloe.gif"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Kisah-kisah Memukau dari Swarna Dwipa Sumatera sudah mendunia sejak berabad-abad lampau. Perdagangan rempah-rempah terutama pala membawa para pedagang dari berbagai tempat termasuk Eropa mulai dari Italia, Prancis, Portugal, Belanda, Jerman, dan Inggris serta datang dari Arab dan Persia untuk berkunjung ke Sumatera. Pasai, Baros, dan Sriwijaya adalah nama-nama pelabuhan besar yang didatangi oleh para saudagar ini. Sumatera pun dikenal sebagai pulau yang kaya dengan hasil alam dan memiliki nama Swarna Dwipa alias Pulau Emas. Para pendatang dari berlatar belakang profesi itu kemudian menuliskan catatan perjalanan dalam berbagai bentuk mulai dari memoar, jurnal, hingga tulisan semi fiksi. Beragam tulisan yang menjadi bagian penting dari rekam jejak sejarah Sumatera. Marco Polo yang ternama dengan kisah Jalan Sutra-nya, penjelajah muslim Ibnu Battuta, Thomas Dias, gubernur jenderal Thomas Stamford Raffles, serta lain-lainnya pernah mampir dan tinggal di Sumatera. Lantas mereka menuliskan pengalamannya saat berada di Sumatera. Cerita, kisah, dan penggambaran mereka perihal Sumatera pun begitu mencengangkan dan memukau. Bisa jadi tidak ada dalam buku sejarah pada umumnya. Para penulis dari luar ini berkisah soal apa saja mulai dari sosial, budaya, agama, hingga politik di Sumatera. Sementara hanya ada dua “penulis lokal Sumatera” yaitu Tan Malaka, salah satu founding father negeri ini dan juga Muhamad Radjab, seorang jurnalis di awal abad ke-20. Adalah Anthony Reid, sejarawan dengan spesialisasi Asia Tenggara yang mengumpulkan sederetan tulisan-tulisan itu dan kemudian membaginya dalam delapan bab dalam buku Sumatera Tempo Doeloe : Dari Marco Polo sampai Tan Malaka. Buku yang diterjemahkan dari Witnesses to Sumatra : A Travelers’ Anthology yang terbit pada 1995 ini tidak menyuguhkan sejarah Sumatera secara runut. Reid mengelompokkan tulisan-tulisan itu dalam topik dan tema yang relevan dan sama. Para penulis ini tentunya “bebas” menuliskan apa saja. Mereka yang datang dan menetap di Sumatera saat itu pasti mengamati setiap sudut wilayah, polah tingkah masyarakat, dan lainnya. Sudah pasti para penulis memiliki sudut pandang yang bisa saja tidak adil, subyektif, dan terasa tidak simpati kepada masyarakat Sumatera. Apalagi mereka sering menganalogikan apa yang terjadi di Sumatera dengan negara asalnya. Lantaran itu juga Reid memberikan semacam panduan dan catatan pada setiap tulisan. Rentang waktu yang lama dari kisah yang berusia sejak abad ke-9 hingga abad ke-20 ini tentu sangat berjarak dengan para pembaca yang berada di abad ke-21. Semua itu memang diberikan Reid agar orang yang membaca tulisan-tulisan itu mengenal para penulis yang memang banyak belum dikenal kecuali Marco Polo, Ibnu Battuta, atau Raffles. Selain itu, Reid juga ingin agar orang yang membaca buku ini memahami situasi, kondisi, dan konteks suasana saat itu. Bisa jadi, apa yang tertulis dalam buku Sumatera Tempo Doeloe : Dari Marco Polo sampai Tan Malaka ini berbeda dengan teks-teks sejarah yang kita ketahui, hikayat sejarah, teks keagamaan, dan lainnya, tetapi tulisan-tulisan ini setidaknya memberikan sudut pandang baru tentang sejarah Sumatera. _______________________________ Penulis: Dodiek Adyttya Dwiwanto Sumber: Jurnal Nasional, 16 Februari 2014 _______________________________ Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Sumatra Tempo Doeloe Penyusun&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Anthony Reid Penerjemah&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Tim Komunitas Bambu Penyunting&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Dewi Anggraeni Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Komunitas Bambu Cetakan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Kedua, Januari 2014 Tebal&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 424 halaman &amp;gt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt; Pesan Buku "Sumatra Tempo Doeloe" di SINI&amp;nbsp;atau di SINI</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Kisah-kisah Memukau dari Swarna Dwipa Sumatera sudah mendunia sejak berabad-abad lampau. Perdagangan rempah-rempah terutama pala membawa para pedagang dari berbagai tempat termasuk Eropa mulai dari Italia, Prancis, Portugal, Belanda, Jerman, dan Inggris serta datang dari Arab dan Persia untuk berkunjung ke Sumatera. Pasai, Baros, dan Sriwijaya adalah nama-nama pelabuhan besar yang didatangi oleh para saudagar ini. Sumatera pun dikenal sebagai pulau yang kaya dengan hasil alam dan memiliki nama Swarna Dwipa alias Pulau Emas. Para pendatang dari berlatar belakang profesi itu kemudian menuliskan catatan perjalanan dalam berbagai bentuk mulai dari memoar, jurnal, hingga tulisan semi fiksi. Beragam tulisan yang menjadi bagian penting dari rekam jejak sejarah Sumatera. Marco Polo yang ternama dengan kisah Jalan Sutra-nya, penjelajah muslim Ibnu Battuta, Thomas Dias, gubernur jenderal Thomas Stamford Raffles, serta lain-lainnya pernah mampir dan tinggal di Sumatera. Lantas mereka menuliskan pengalamannya saat berada di Sumatera. Cerita, kisah, dan penggambaran mereka perihal Sumatera pun begitu mencengangkan dan memukau. Bisa jadi tidak ada dalam buku sejarah pada umumnya. Para penulis dari luar ini berkisah soal apa saja mulai dari sosial, budaya, agama, hingga politik di Sumatera. Sementara hanya ada dua “penulis lokal Sumatera” yaitu Tan Malaka, salah satu founding father negeri ini dan juga Muhamad Radjab, seorang jurnalis di awal abad ke-20. Adalah Anthony Reid, sejarawan dengan spesialisasi Asia Tenggara yang mengumpulkan sederetan tulisan-tulisan itu dan kemudian membaginya dalam delapan bab dalam buku Sumatera Tempo Doeloe : Dari Marco Polo sampai Tan Malaka. Buku yang diterjemahkan dari Witnesses to Sumatra : A Travelers’ Anthology yang terbit pada 1995 ini tidak menyuguhkan sejarah Sumatera secara runut. Reid mengelompokkan tulisan-tulisan itu dalam topik dan tema yang relevan dan sama. Para penulis ini tentunya “bebas” menuliskan apa saja. Mereka yang datang dan menetap di Sumatera saat itu pasti mengamati setiap sudut wilayah, polah tingkah masyarakat, dan lainnya. Sudah pasti para penulis memiliki sudut pandang yang bisa saja tidak adil, subyektif, dan terasa tidak simpati kepada masyarakat Sumatera. Apalagi mereka sering menganalogikan apa yang terjadi di Sumatera dengan negara asalnya. Lantaran itu juga Reid memberikan semacam panduan dan catatan pada setiap tulisan. Rentang waktu yang lama dari kisah yang berusia sejak abad ke-9 hingga abad ke-20 ini tentu sangat berjarak dengan para pembaca yang berada di abad ke-21. Semua itu memang diberikan Reid agar orang yang membaca tulisan-tulisan itu mengenal para penulis yang memang banyak belum dikenal kecuali Marco Polo, Ibnu Battuta, atau Raffles. Selain itu, Reid juga ingin agar orang yang membaca buku ini memahami situasi, kondisi, dan konteks suasana saat itu. Bisa jadi, apa yang tertulis dalam buku Sumatera Tempo Doeloe : Dari Marco Polo sampai Tan Malaka ini berbeda dengan teks-teks sejarah yang kita ketahui, hikayat sejarah, teks keagamaan, dan lainnya, tetapi tulisan-tulisan ini setidaknya memberikan sudut pandang baru tentang sejarah Sumatera. _______________________________ Penulis: Dodiek Adyttya Dwiwanto Sumber: Jurnal Nasional, 16 Februari 2014 _______________________________ Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Sumatra Tempo Doeloe Penyusun&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Anthony Reid Penerjemah&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Tim Komunitas Bambu Penyunting&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Dewi Anggraeni Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Komunitas Bambu Cetakan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Kedua, Januari 2014 Tebal&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 424 halaman &amp;gt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt; Pesan Buku "Sumatra Tempo Doeloe" di SINI&amp;nbsp;atau di SINI</itunes:summary><itunes:keywords>Budaya, Kisah-kisah Memukau dari Swarna Dwipa, Komunitas Bambu, Sejarah, Sosial, Sumatera Tempo Doeloe</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-6269597003806519374</guid><pubDate>Thu, 27 Feb 2014 15:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-27T22:26:23.950+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Filsafat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Novel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Taman Sunyi Sekala (Novel Filsafat)</category><title>Taman Sunyi Sekala (Novel Filsafat)</title><description>&lt;h3 class="post-title entry-title" itemprop="name" style="background-color: #f3f3f3; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 20px; font-weight: normal; margin: 0.75em 0px 0px; position: relative;"&gt;
Taman Sunyi Sekala (Novel Filsafat) by Aida Vyasa&lt;/h3&gt;
&lt;div class="post-header" style="background-color: #f3f3f3; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.6; margin: 0px 0px 1.5em;"&gt;
&lt;div class="post-header-line-1"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="post-body entry-content" id="post-body-3676900122040859746" itemprop="description articleBody" style="background-color: #f3f3f3; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 1.4; position: relative; width: 500px;"&gt;
&lt;div dir="ltr" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhk-xC8kb7dQndKR5rWcrD0_Twkj-1R-VTMRt5HVz9UoKvC2eDG48nJtWW_7umKHnIutDkZUFn_ORDw4vZvuosM1CX6Y05x14SqFYU_hqo6V9_TYqXqi16OEXPh8O8cLUI69gfohY3ZO3k/s1600/tss.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; color: #0b5394; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em; text-decoration: none;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhk-xC8kb7dQndKR5rWcrD0_Twkj-1R-VTMRt5HVz9UoKvC2eDG48nJtWW_7umKHnIutDkZUFn_ORDw4vZvuosM1CX6Y05x14SqFYU_hqo6V9_TYqXqi16OEXPh8O8cLUI69gfohY3ZO3k/s320/tss.jpg" height="320" style="-webkit-box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; background-color: white; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 1px solid transparent; box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0980392) 1px 1px 5px; padding: 5px; position: relative;" width="210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Taman Sunyi Sekala" ini berisi sebuah renungan spiritual perjalanan hidup seorang anak manusia. Dalam kesejatian ciptaan Rabb semesta sekalian alam bernama manusia, maka sesungguhnya ia tidaklah butuh nama. Dalam konteks ini maka benarlah lontaran " What's the name", apalah artinya sebuah nama. Jiwa menjadi lebih penting disini, teramat penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dimana-mana jiwa memiliki nama yang sama, yaitu : noname alias tak bernama. Orang-orang saja yang kemudian memberinya nama : ruh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Novel ini, yang sama sekali tak mirip Novel, sebenarnya hendak berkata bahwa kita adalah apa yang kita baca, kita serap, kita tulis, kita alami, kita saksikan, dan kita cintai. Bahwa kehidupan kekinian ternyata selalu tak bisa melepaskan diri dari kehidupan masa lalu. Sebuah 'blink' yang didapat di masa kecil melalui semacam Laura Ingals dalam "Little House on the Prairie" ternyata masih saja menjadi sebuah 'blink' dalam wujud lain di kehidupan kini bahkan juga diyakini di kehidupan masa datang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah inspirasi kebajikan tidak akan pernah mati. Boleh saja "The good always die young", bahwa pahlawan selalu mati muda, tapi "the goodness" atau "the kindness" itu sendiri bersifat abadi dan tak pernah mati. Al-Quran sendiri mengabadikannya, saat memberi jaminan kepada orang-orang hidup yang ditinggal mati para syuhadah (the good) dengan mengatakan&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&amp;nbsp;"janganlah mengira mereka mati? tidak! bahkan mereka itu hidup"&lt;/span&gt;&amp;nbsp;(QS. Ali Imran:169)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, beruntunglah anak-anak pada masa kini, yang memiliki (to belong) orang tua, guru, atau orang dewasa yang pernah hidup di masa lalu, dan menyadari hakikat kehidupan di masa sebelumnya adalah semata agar masa kini lebih baik. Sebab, banyak pula anak-anak yang berada di tengah-tengah orang dewasa ( to have), tapi tak banyak merasakan apa arti kedewasaan, karena mereka yang dewasa rupanya hanyalah 'anak-anak yang terkurung dalam tubuh dewasa'.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntunglah anak-anak itu, yang disodori &amp;nbsp;buku-buku dan bacaan sarat inspirasi, meski inspirasi itu baru bisa termaknai jauh tahunan ke depan. Beruntunglah juga anak-anak yang di beri kesempatan mengakses tontonan (akui saja dengan lapang dada) TV dan film yang membasuh jiwa, pun juga tontonan yang mengotori jiwa. Sebab yang 'kotor-kotor'itu sejatinya akan menguatkan kekuatan pembasuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Dan pihak yang bertanggungjawab dibalik semua itu adalah : kata (word). Dalam segala rupa kata, ia adalah dalang di segenap peradaban dan pemikiran dunia. Buku yang ditulis, komik yang digambar, koran yang diterbitkan, film yang diproduksi, iklan yang menipu, juga lirik dalam lagu bahkan rupa murni dalam kanvas, semuanya melahirkan kata. Kata adalah sumber kesejahteraan dan kata adalah sumber penderitaan. Selama kata itu ada, selama itu pula perang dan perpecahan antar manusia akan ada. Pula, selama kata itu ada kedamaian akan tercipta. Tak diragukan lagi,&amp;nbsp;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;The word is the &amp;nbsp;world's soulmate.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yang menarik buatku adalah, sepertinya buku ini mewakili kesunyian tamanku juga, meski tak simetris dan kongruen. Kaernanya, seperti kataku pada BU Pratmi, aku mau menjadi teman setianya, jika ia di sini. ^_^&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi setidaknya, aku tahu, Sekala ini adalah seorang perempuan, dua tahun lebih muda dariku, banyak menghabiskan umurnya di JOgja, pernah belajar Psikologi, dan yang terpenting pernah atau masih berinteraksi dalam dunia pergerakan Islam. Sudah pasti ia mahkluk asing dalam jagat 'bumi'. Dan taman sunyinya itu, bisa dipastikan pula tak bertaburan bunga-bunga dan kupu-kupu.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.doniriadi.com/2009/03/membaca-taman-sunyi-sekala.html" style="color: #0b5394; text-decoration: none;"&gt;http://www.doniriadi.com/2009/03/membaca-taman-sunyi-sekala.html&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr" trbidi="on"&gt;
Pesan buku ini : Tersisa 1 buku, Hub Eko Waluyo , SMS/WA : 081393725615.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;div id="fb-root"&gt;&lt;/div&gt; &lt;script&gt;(function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0]; if (d.getElementById(id)) return; js = d.createElement(s); js.id = id; js.src = "//connect.facebook.net/id_ID/all.js#xfbml=1"; fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs); }(document, 'script', 'facebook-jssdk'));&lt;/script&gt;
&lt;div class="fb-post" data-href="https://www.facebook.com/eko.waluyo.90281/posts/216777285179091" data-width="466"&gt;&lt;div class="fb-xfbml-parse-ignore"&gt;&lt;a href="https://www.facebook.com/eko.waluyo.90281/posts/216777285179091"&gt;Kiriman&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="https://www.facebook.com/eko.waluyo.90281"&gt;Eko Waluyo II&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;

</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/taman-sunyi-sekala-novel-filsafat.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhk-xC8kb7dQndKR5rWcrD0_Twkj-1R-VTMRt5HVz9UoKvC2eDG48nJtWW_7umKHnIutDkZUFn_ORDw4vZvuosM1CX6Y05x14SqFYU_hqo6V9_TYqXqi16OEXPh8O8cLUI69gfohY3ZO3k/s72-c/tss.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="12266" type="image/jpeg" url="http://2.bp.blogspot.com/-PEU32UnrfVA/UH1vrfZZwZI/AAAAAAAAFMs/awHUb-6cb-w/s1600/tss.jpg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Taman Sunyi Sekala (Novel Filsafat) by Aida Vyasa "Taman Sunyi Sekala" ini berisi sebuah renungan spiritual perjalanan hidup seorang anak manusia. Dalam kesejatian ciptaan Rabb semesta sekalian alam bernama manusia, maka sesungguhnya ia tidaklah butuh nama. Dalam konteks ini maka benarlah lontaran " What's the name", apalah artinya sebuah nama. Jiwa menjadi lebih penting disini, teramat penting. Dan dimana-mana jiwa memiliki nama yang sama, yaitu : noname alias tak bernama. Orang-orang saja yang kemudian memberinya nama : ruh. Novel ini, yang sama sekali tak mirip Novel, sebenarnya hendak berkata bahwa kita adalah apa yang kita baca, kita serap, kita tulis, kita alami, kita saksikan, dan kita cintai. Bahwa kehidupan kekinian ternyata selalu tak bisa melepaskan diri dari kehidupan masa lalu. Sebuah 'blink' yang didapat di masa kecil melalui semacam Laura Ingals dalam "Little House on the Prairie" ternyata masih saja menjadi sebuah 'blink' dalam wujud lain di kehidupan kini bahkan juga diyakini di kehidupan masa datang. Sebuah inspirasi kebajikan tidak akan pernah mati. Boleh saja "The good always die young", bahwa pahlawan selalu mati muda, tapi "the goodness" atau "the kindness" itu sendiri bersifat abadi dan tak pernah mati. Al-Quran sendiri mengabadikannya, saat memberi jaminan kepada orang-orang hidup yang ditinggal mati para syuhadah (the good) dengan mengatakan&amp;nbsp;"janganlah mengira mereka mati? tidak! bahkan mereka itu hidup"&amp;nbsp;(QS. Ali Imran:169) Maka, beruntunglah anak-anak pada masa kini, yang memiliki (to belong) orang tua, guru, atau orang dewasa yang pernah hidup di masa lalu, dan menyadari hakikat kehidupan di masa sebelumnya adalah semata agar masa kini lebih baik. Sebab, banyak pula anak-anak yang berada di tengah-tengah orang dewasa ( to have), tapi tak banyak merasakan apa arti kedewasaan, karena mereka yang dewasa rupanya hanyalah 'anak-anak yang terkurung dalam tubuh dewasa'. Beruntunglah anak-anak itu, yang disodori &amp;nbsp;buku-buku dan bacaan sarat inspirasi, meski inspirasi itu baru bisa termaknai jauh tahunan ke depan. Beruntunglah juga anak-anak yang di beri kesempatan mengakses tontonan (akui saja dengan lapang dada) TV dan film yang membasuh jiwa, pun juga tontonan yang mengotori jiwa. Sebab yang 'kotor-kotor'itu sejatinya akan menguatkan kekuatan pembasuhan. Dan pihak yang bertanggungjawab dibalik semua itu adalah : kata (word). Dalam segala rupa kata, ia adalah dalang di segenap peradaban dan pemikiran dunia. Buku yang ditulis, komik yang digambar, koran yang diterbitkan, film yang diproduksi, iklan yang menipu, juga lirik dalam lagu bahkan rupa murni dalam kanvas, semuanya melahirkan kata. Kata adalah sumber kesejahteraan dan kata adalah sumber penderitaan. Selama kata itu ada, selama itu pula perang dan perpecahan antar manusia akan ada. Pula, selama kata itu ada kedamaian akan tercipta. Tak diragukan lagi,&amp;nbsp;The word is the &amp;nbsp;world's soulmate. *** Yang menarik buatku adalah, sepertinya buku ini mewakili kesunyian tamanku juga, meski tak simetris dan kongruen. Kaernanya, seperti kataku pada BU Pratmi, aku mau menjadi teman setianya, jika ia di sini. ^_^ Tapi setidaknya, aku tahu, Sekala ini adalah seorang perempuan, dua tahun lebih muda dariku, banyak menghabiskan umurnya di JOgja, pernah belajar Psikologi, dan yang terpenting pernah atau masih berinteraksi dalam dunia pergerakan Islam. Sudah pasti ia mahkluk asing dalam jagat 'bumi'. Dan taman sunyinya itu, bisa dipastikan pula tak bertaburan bunga-bunga dan kupu-kupu. Sumber&amp;nbsp;http://www.doniriadi.com/2009/03/membaca-taman-sunyi-sekala.html&amp;nbsp; Pesan buku ini : Tersisa 1 buku, Hub Eko Waluyo , SMS/WA : 081393725615. (function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0]; if (d.getElementById(id)) return; js = d.createElement(s); js.id = id; js.src = "//connect.facebook.net/id_ID/all.js#xfbml=1"; fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs); }(document, 'script', 'facebook-jssdk')); Kiriman oleh Eko Waluyo II.</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Taman Sunyi Sekala (Novel Filsafat) by Aida Vyasa "Taman Sunyi Sekala" ini berisi sebuah renungan spiritual perjalanan hidup seorang anak manusia. Dalam kesejatian ciptaan Rabb semesta sekalian alam bernama manusia, maka sesungguhnya ia tidaklah butuh nama. Dalam konteks ini maka benarlah lontaran " What's the name", apalah artinya sebuah nama. Jiwa menjadi lebih penting disini, teramat penting. Dan dimana-mana jiwa memiliki nama yang sama, yaitu : noname alias tak bernama. Orang-orang saja yang kemudian memberinya nama : ruh. Novel ini, yang sama sekali tak mirip Novel, sebenarnya hendak berkata bahwa kita adalah apa yang kita baca, kita serap, kita tulis, kita alami, kita saksikan, dan kita cintai. Bahwa kehidupan kekinian ternyata selalu tak bisa melepaskan diri dari kehidupan masa lalu. Sebuah 'blink' yang didapat di masa kecil melalui semacam Laura Ingals dalam "Little House on the Prairie" ternyata masih saja menjadi sebuah 'blink' dalam wujud lain di kehidupan kini bahkan juga diyakini di kehidupan masa datang. Sebuah inspirasi kebajikan tidak akan pernah mati. Boleh saja "The good always die young", bahwa pahlawan selalu mati muda, tapi "the goodness" atau "the kindness" itu sendiri bersifat abadi dan tak pernah mati. Al-Quran sendiri mengabadikannya, saat memberi jaminan kepada orang-orang hidup yang ditinggal mati para syuhadah (the good) dengan mengatakan&amp;nbsp;"janganlah mengira mereka mati? tidak! bahkan mereka itu hidup"&amp;nbsp;(QS. Ali Imran:169) Maka, beruntunglah anak-anak pada masa kini, yang memiliki (to belong) orang tua, guru, atau orang dewasa yang pernah hidup di masa lalu, dan menyadari hakikat kehidupan di masa sebelumnya adalah semata agar masa kini lebih baik. Sebab, banyak pula anak-anak yang berada di tengah-tengah orang dewasa ( to have), tapi tak banyak merasakan apa arti kedewasaan, karena mereka yang dewasa rupanya hanyalah 'anak-anak yang terkurung dalam tubuh dewasa'. Beruntunglah anak-anak itu, yang disodori &amp;nbsp;buku-buku dan bacaan sarat inspirasi, meski inspirasi itu baru bisa termaknai jauh tahunan ke depan. Beruntunglah juga anak-anak yang di beri kesempatan mengakses tontonan (akui saja dengan lapang dada) TV dan film yang membasuh jiwa, pun juga tontonan yang mengotori jiwa. Sebab yang 'kotor-kotor'itu sejatinya akan menguatkan kekuatan pembasuhan. Dan pihak yang bertanggungjawab dibalik semua itu adalah : kata (word). Dalam segala rupa kata, ia adalah dalang di segenap peradaban dan pemikiran dunia. Buku yang ditulis, komik yang digambar, koran yang diterbitkan, film yang diproduksi, iklan yang menipu, juga lirik dalam lagu bahkan rupa murni dalam kanvas, semuanya melahirkan kata. Kata adalah sumber kesejahteraan dan kata adalah sumber penderitaan. Selama kata itu ada, selama itu pula perang dan perpecahan antar manusia akan ada. Pula, selama kata itu ada kedamaian akan tercipta. Tak diragukan lagi,&amp;nbsp;The word is the &amp;nbsp;world's soulmate. *** Yang menarik buatku adalah, sepertinya buku ini mewakili kesunyian tamanku juga, meski tak simetris dan kongruen. Kaernanya, seperti kataku pada BU Pratmi, aku mau menjadi teman setianya, jika ia di sini. ^_^ Tapi setidaknya, aku tahu, Sekala ini adalah seorang perempuan, dua tahun lebih muda dariku, banyak menghabiskan umurnya di JOgja, pernah belajar Psikologi, dan yang terpenting pernah atau masih berinteraksi dalam dunia pergerakan Islam. Sudah pasti ia mahkluk asing dalam jagat 'bumi'. Dan taman sunyinya itu, bisa dipastikan pula tak bertaburan bunga-bunga dan kupu-kupu. Sumber&amp;nbsp;http://www.doniriadi.com/2009/03/membaca-taman-sunyi-sekala.html&amp;nbsp; Pesan buku ini : Tersisa 1 buku, Hub Eko Waluyo , SMS/WA : 081393725615. (function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0]; if (d.getElementById(id)) return; js = d.createElement(s); js.id = id; js.src = "//connect.facebook.net/id_ID/all.js#xfbml=1"; fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs); }(document, 'script', 'facebook-jssdk')); Kiriman oleh Eko Waluyo II.</itunes:summary><itunes:keywords>Filsafat, Novel, Taman Sunyi Sekala (Novel Filsafat)</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-1197643913491859096</guid><pubDate>Fri, 21 Feb 2014 00:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-21T07:20:46.971+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Novel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Resensi "Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu"</category><title>Resensi "Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu"</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: #fefdfa; clear: left; color: #333333; float: left; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.5px; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkqiHhUpBvNSKWVuF0xQ97vONmlY66llfGyAzaE9CHOmmS4DS-fHEzynnqFPiRTuXQdHGTm_YjubJf-hy5T2PlGuof-h1wN3T_66Qt0Z3VqWGnizuD5nz7fOXvWSbqY2DqkKuG07UgHNA/s1600/sastrajendra.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkqiHhUpBvNSKWVuF0xQ97vONmlY66llfGyAzaE9CHOmmS4DS-fHEzynnqFPiRTuXQdHGTm_YjubJf-hy5T2PlGuof-h1wN3T_66Qt0Z3VqWGnizuD5nz7fOXvWSbqY2DqkKuG07UgHNA/s320/sastrajendra.jpg" style="background-color: transparent;" width="224" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 24px;"&gt;Novel ini menghadirkan bacaan yang liar, nakal, ganjil, namun tetap menyimpan daya vitalitas. Penulis telah melahirkan&amp;nbsp;&lt;i&gt;Suluk Abdul Jalil Syaikh Siti Jenar&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(Seri 1-7) dan&lt;i&gt;Rahuvana Tattwa&lt;/i&gt;. Dalam novel terbarunya ini, mantan wartawan yang dikenal gemar melawan arus pemahaman banyak orang tersebut berupaya menyodorkan perspektif baru perihal karya-karya teks kuno.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: #fefdfa; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.5px; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 24px;"&gt;Pembaca diajak memahami konsep&amp;nbsp;&lt;i&gt;"Sangkan Paraning Dumadi"&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(tempat berasal dan kembalinya segala makhluk). Dalam pandangan Jawa, segala yang berada di alam semesta berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Dengan memahami asal (&lt;i&gt;sangkan&lt;/i&gt;) dan tujuan (&lt;i&gt;paran&lt;/i&gt;) segala ciptaan (&lt;i&gt;dumadi&lt;/i&gt;), dengan sendirinya manusia bisa mencapai taraf kebenaran sejati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: #fefdfa; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.5px; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 24px;"&gt;Mengenai&amp;nbsp;&lt;i&gt;"Sangkan Paraning Dumadi"&lt;/i&gt;, Agus Sunyoto menggambarkannya dengan percakapan spiritualtransendental antara Saya Sudrun dengan Kiai Pusponegoro, di atas "watu gilang" yang teronggok seperti meja di luar gerbang suatu makam. Seusai mengalami peristiwa aneh dalam kondisi antara sadar dan tidak, Saya Sudrun-dalam dimensi yang menegangkan-mengetam wejangan dari Kiai Pusponegoro. "Ketahuilah, o anak, yang disebut Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebuah rangkaian makna perjalanan insan kembali ke mata air yang hakiki. Itulah yang disebut Ilmu Sangkan Paraning Dumadi," (halaman 88).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: #fefdfa; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.5px; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 24px;"&gt;"Sangkan Paraning Dumadi"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;sebenarnya kembali pada Tuhan, seperti dalam tembang Dhandhang Gula:&amp;nbsp;&lt;i&gt;Saking pundi kawitane nguni/ Manungsa kutu walang ataga/ Kang gumelar ngalam kiye/ Sayekti kabeh iku/ Mesthi ana ingkang nganani/ Yeku Kang Karya Jagad/ Ingkang Maha Agung/ Iku kang dadi sangkannya/ Iya iku kang dadi paranireki/ Sagunging kang dumadya/&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(Dari mana asal-mulanya dulu Manusia dan segala makhluk Segala yang ada di alam ini Sebenarnyalah semua itu Pasti ada yang mengadakan Yaitu Pencipta Alam Semesta Tuhan Yang Maha Agung Itulah asal-mula Dan itulah pula tujuan akhir Dari semua yang ada).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: #fefdfa; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.5px; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 24px;"&gt;Novel ini mengisahkan perjalanan seseorang dalam mencari kebenaran sejati, Sudrun, pemuda yang dianggap gila. Nama belakang Sudrun adalah gelar karena tingkah anehnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: #fefdfa; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.5px; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 24px;"&gt;Waktu sekolah SD, dia pernah disuruh menyelesaikan soal. Dia pun mengerjakan tanpa sedikit pun merasa kesulitan. Akan tetapi, murid-murid lain tertawa terbahak-bahak melihat garapannya yang dianggap langka. Ketika sang guru bertanya perihal rumusnya, dengan polos Sudrun mengatakan memakai rumus hitungan tukang nomer buntut togel.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: #fefdfa; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.5px; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 24px;"&gt;Contoh lain, anggapannya tentang sosok Ita Martina. Perempuan yang dicintai setengah mati itu diyakini sebagai makhluk lemah yang terbuat dari lilin. Jika dicubit tubuhnya rusak dan mengalirkan cairan kuning hangat. Sudrun kecewa ketika suatu hari mendapati Ita Martina ternyata manusia biasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: #fefdfa; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.5px; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 24px;"&gt;Romo Noyogenggong memberi kesejukan dengan mengatakan, "Saya tahu sampean bukan orang senewen, apalagi gendeng. Sampean hanya orang yang jujur dan menceritakan apa yang sampean rasakan dengan cara apa adanya. Tetapi kejujuran sampean itu justru tidak bisa diterima oleh masyarakat sebab masyarakat pada dasarnya sudah dicemari oleh kedustaan dan kebohongan" (halaman 68).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: #fefdfa; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.5px; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 24px;"&gt;Peristiwa-peristiwa spiritual juga sering dialami Sudrun. Misalnya, dia pernah melihat semacam cahaya merah dan biru berkilau-kilau. Setelah wangi mawar dan melati menyentuh penciumannya, dia menemukan bayangan dengan wajah cemerlang. Ternyata orang itu tiada lain adalah bapaknya yang telah meninggal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: #fefdfa; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.5px; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 24px;"&gt;Melewati berbagai peristiwaperistiwa yang sukar ditelan logika, akhirnya di pucuk cerita, Sudrun berhasil merengkuh tujuan. Dia mampu meresapi desau angin, nyanyian belalang, bunyi kodok, dan gemerisik dedaunan. Setiap gerak benda mengingatkannya kepada Yang Ilahi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: #fefdfa; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.5px; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: #fefdfa; color: #333333; font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 18.399999618530273px;"&gt;Yogyakarta, 2012&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: #fefdfa; color: #333333; font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 18.399999618530273px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="background-color: #fefdfa; color: #333333; font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 18.399999618530273px;"&gt;Sumber dari &lt;b&gt;&lt;a href="http://rizamultazamluthfy.blogspot.com/2012/10/mengejar-hakikat-kebenaran-lewat-alam.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/resensi-sastra-jendra-hayuningrat.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkqiHhUpBvNSKWVuF0xQ97vONmlY66llfGyAzaE9CHOmmS4DS-fHEzynnqFPiRTuXQdHGTm_YjubJf-hy5T2PlGuof-h1wN3T_66Qt0Z3VqWGnizuD5nz7fOXvWSbqY2DqkKuG07UgHNA/s72-c/sastrajendra.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="42431" type="image/jpeg" url="http://1.bp.blogspot.com/-9071j67zSuI/UvGRAwAtyiI/AAAAAAAABQw/tcv4J-4ZdR8/s1600/sastrajendra.jpg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Novel ini menghadirkan bacaan yang liar, nakal, ganjil, namun tetap menyimpan daya vitalitas. Penulis telah melahirkan&amp;nbsp;Suluk Abdul Jalil Syaikh Siti Jenar&amp;nbsp;(Seri 1-7) danRahuvana Tattwa. Dalam novel terbarunya ini, mantan wartawan yang dikenal gemar melawan arus pemahaman banyak orang tersebut berupaya menyodorkan perspektif baru perihal karya-karya teks kuno. Pembaca diajak memahami konsep&amp;nbsp;"Sangkan Paraning Dumadi"&amp;nbsp;(tempat berasal dan kembalinya segala makhluk). Dalam pandangan Jawa, segala yang berada di alam semesta berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Dengan memahami asal (sangkan) dan tujuan (paran) segala ciptaan (dumadi), dengan sendirinya manusia bisa mencapai taraf kebenaran sejati. Mengenai&amp;nbsp;"Sangkan Paraning Dumadi", Agus Sunyoto menggambarkannya dengan percakapan spiritualtransendental antara Saya Sudrun dengan Kiai Pusponegoro, di atas "watu gilang" yang teronggok seperti meja di luar gerbang suatu makam. Seusai mengalami peristiwa aneh dalam kondisi antara sadar dan tidak, Saya Sudrun-dalam dimensi yang menegangkan-mengetam wejangan dari Kiai Pusponegoro. "Ketahuilah, o anak, yang disebut Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebuah rangkaian makna perjalanan insan kembali ke mata air yang hakiki. Itulah yang disebut Ilmu Sangkan Paraning Dumadi," (halaman 88). "Sangkan Paraning Dumadi"&amp;nbsp;sebenarnya kembali pada Tuhan, seperti dalam tembang Dhandhang Gula:&amp;nbsp;Saking pundi kawitane nguni/ Manungsa kutu walang ataga/ Kang gumelar ngalam kiye/ Sayekti kabeh iku/ Mesthi ana ingkang nganani/ Yeku Kang Karya Jagad/ Ingkang Maha Agung/ Iku kang dadi sangkannya/ Iya iku kang dadi paranireki/ Sagunging kang dumadya/&amp;nbsp;(Dari mana asal-mulanya dulu Manusia dan segala makhluk Segala yang ada di alam ini Sebenarnyalah semua itu Pasti ada yang mengadakan Yaitu Pencipta Alam Semesta Tuhan Yang Maha Agung Itulah asal-mula Dan itulah pula tujuan akhir Dari semua yang ada). Novel ini mengisahkan perjalanan seseorang dalam mencari kebenaran sejati, Sudrun, pemuda yang dianggap gila. Nama belakang Sudrun adalah gelar karena tingkah anehnya. Waktu sekolah SD, dia pernah disuruh menyelesaikan soal. Dia pun mengerjakan tanpa sedikit pun merasa kesulitan. Akan tetapi, murid-murid lain tertawa terbahak-bahak melihat garapannya yang dianggap langka. Ketika sang guru bertanya perihal rumusnya, dengan polos Sudrun mengatakan memakai rumus hitungan tukang nomer buntut togel. Contoh lain, anggapannya tentang sosok Ita Martina. Perempuan yang dicintai setengah mati itu diyakini sebagai makhluk lemah yang terbuat dari lilin. Jika dicubit tubuhnya rusak dan mengalirkan cairan kuning hangat. Sudrun kecewa ketika suatu hari mendapati Ita Martina ternyata manusia biasa. Romo Noyogenggong memberi kesejukan dengan mengatakan, "Saya tahu sampean bukan orang senewen, apalagi gendeng. Sampean hanya orang yang jujur dan menceritakan apa yang sampean rasakan dengan cara apa adanya. Tetapi kejujuran sampean itu justru tidak bisa diterima oleh masyarakat sebab masyarakat pada dasarnya sudah dicemari oleh kedustaan dan kebohongan" (halaman 68). Peristiwa-peristiwa spiritual juga sering dialami Sudrun. Misalnya, dia pernah melihat semacam cahaya merah dan biru berkilau-kilau. Setelah wangi mawar dan melati menyentuh penciumannya, dia menemukan bayangan dengan wajah cemerlang. Ternyata orang itu tiada lain adalah bapaknya yang telah meninggal. Melewati berbagai peristiwaperistiwa yang sukar ditelan logika, akhirnya di pucuk cerita, Sudrun berhasil merengkuh tujuan. Dia mampu meresapi desau angin, nyanyian belalang, bunyi kodok, dan gemerisik dedaunan. Setiap gerak benda mengingatkannya kepada Yang Ilahi. Yogyakarta, 2012 Sumber dari SINI</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Novel ini menghadirkan bacaan yang liar, nakal, ganjil, namun tetap menyimpan daya vitalitas. Penulis telah melahirkan&amp;nbsp;Suluk Abdul Jalil Syaikh Siti Jenar&amp;nbsp;(Seri 1-7) danRahuvana Tattwa. Dalam novel terbarunya ini, mantan wartawan yang dikenal gemar melawan arus pemahaman banyak orang tersebut berupaya menyodorkan perspektif baru perihal karya-karya teks kuno. Pembaca diajak memahami konsep&amp;nbsp;"Sangkan Paraning Dumadi"&amp;nbsp;(tempat berasal dan kembalinya segala makhluk). Dalam pandangan Jawa, segala yang berada di alam semesta berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Dengan memahami asal (sangkan) dan tujuan (paran) segala ciptaan (dumadi), dengan sendirinya manusia bisa mencapai taraf kebenaran sejati. Mengenai&amp;nbsp;"Sangkan Paraning Dumadi", Agus Sunyoto menggambarkannya dengan percakapan spiritualtransendental antara Saya Sudrun dengan Kiai Pusponegoro, di atas "watu gilang" yang teronggok seperti meja di luar gerbang suatu makam. Seusai mengalami peristiwa aneh dalam kondisi antara sadar dan tidak, Saya Sudrun-dalam dimensi yang menegangkan-mengetam wejangan dari Kiai Pusponegoro. "Ketahuilah, o anak, yang disebut Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebuah rangkaian makna perjalanan insan kembali ke mata air yang hakiki. Itulah yang disebut Ilmu Sangkan Paraning Dumadi," (halaman 88). "Sangkan Paraning Dumadi"&amp;nbsp;sebenarnya kembali pada Tuhan, seperti dalam tembang Dhandhang Gula:&amp;nbsp;Saking pundi kawitane nguni/ Manungsa kutu walang ataga/ Kang gumelar ngalam kiye/ Sayekti kabeh iku/ Mesthi ana ingkang nganani/ Yeku Kang Karya Jagad/ Ingkang Maha Agung/ Iku kang dadi sangkannya/ Iya iku kang dadi paranireki/ Sagunging kang dumadya/&amp;nbsp;(Dari mana asal-mulanya dulu Manusia dan segala makhluk Segala yang ada di alam ini Sebenarnyalah semua itu Pasti ada yang mengadakan Yaitu Pencipta Alam Semesta Tuhan Yang Maha Agung Itulah asal-mula Dan itulah pula tujuan akhir Dari semua yang ada). Novel ini mengisahkan perjalanan seseorang dalam mencari kebenaran sejati, Sudrun, pemuda yang dianggap gila. Nama belakang Sudrun adalah gelar karena tingkah anehnya. Waktu sekolah SD, dia pernah disuruh menyelesaikan soal. Dia pun mengerjakan tanpa sedikit pun merasa kesulitan. Akan tetapi, murid-murid lain tertawa terbahak-bahak melihat garapannya yang dianggap langka. Ketika sang guru bertanya perihal rumusnya, dengan polos Sudrun mengatakan memakai rumus hitungan tukang nomer buntut togel. Contoh lain, anggapannya tentang sosok Ita Martina. Perempuan yang dicintai setengah mati itu diyakini sebagai makhluk lemah yang terbuat dari lilin. Jika dicubit tubuhnya rusak dan mengalirkan cairan kuning hangat. Sudrun kecewa ketika suatu hari mendapati Ita Martina ternyata manusia biasa. Romo Noyogenggong memberi kesejukan dengan mengatakan, "Saya tahu sampean bukan orang senewen, apalagi gendeng. Sampean hanya orang yang jujur dan menceritakan apa yang sampean rasakan dengan cara apa adanya. Tetapi kejujuran sampean itu justru tidak bisa diterima oleh masyarakat sebab masyarakat pada dasarnya sudah dicemari oleh kedustaan dan kebohongan" (halaman 68). Peristiwa-peristiwa spiritual juga sering dialami Sudrun. Misalnya, dia pernah melihat semacam cahaya merah dan biru berkilau-kilau. Setelah wangi mawar dan melati menyentuh penciumannya, dia menemukan bayangan dengan wajah cemerlang. Ternyata orang itu tiada lain adalah bapaknya yang telah meninggal. Melewati berbagai peristiwaperistiwa yang sukar ditelan logika, akhirnya di pucuk cerita, Sudrun berhasil merengkuh tujuan. Dia mampu meresapi desau angin, nyanyian belalang, bunyi kodok, dan gemerisik dedaunan. Setiap gerak benda mengingatkannya kepada Yang Ilahi. Yogyakarta, 2012 Sumber dari SINI</itunes:summary><itunes:keywords>Novel, Resensi "Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu"</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-9048851283437751334</guid><pubDate>Thu, 20 Feb 2014 22:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-21T05:09:48.976+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Soekarno</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial Politik</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sukarno</category><title>Resensi Buku "Di Bawah Bendera Revolusi"</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimeXZjU_wSd9tf1IFpgZ1hlbdi2Gq5-MfZBYDQghDoTp08gu9dpJ0FBghi3f0TJJj2-pooV7583RNxGN_-1Ts_PHDTIkA-Db5Bl71vGdM_Epuq8x__KDvmPo-6e5Miw96qw4C2bCCuvQ0/s1600/DBR12.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimeXZjU_wSd9tf1IFpgZ1hlbdi2Gq5-MfZBYDQghDoTp08gu9dpJ0FBghi3f0TJJj2-pooV7583RNxGN_-1Ts_PHDTIkA-Db5Bl71vGdM_Epuq8x__KDvmPo-6e5Miw96qw4C2bCCuvQ0/s1600/DBR12.jpg" height="320" width="242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Gugatan dari Kaleng Rombeng demikianlah Majalah Tempo memberikan judul tulisan resensi mengenai Soekarno, yang bagi bangsa Indonesia familiar dengan sebutan Bung Karno. sebuah Panggilan yang menurutnya cukup mewakili semangat egalitarian jauh dari semangat feodalisme yang mengungkung bangsanya, seperti halnya panggilan "che" di Amerika Latin. Berikut tulisan sebagaimana hasil liputan Tempo:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...BAGI Soekarno, kaleng rombeng berbau pesing adalah alat buang hajat sekaligus sarana menuangkan pikiran. Di penjara Banceuy, Bandung, 1930, tiap malam lelaki itu menjadikan kaleng itu sebagai meja sekaligus tadah buang hajat. Jika pagi tiba, ketika ia diizinkan meninggalkan sel, dibawanya kaleng itu ke kamar mandi untuk dibersihkan. Setelah itu, dengan dilapisi beberapa lembar kertas, ia pakai lagi sebagai meja untuk menulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir setahun di Banceuy, berlembar-lembar tulisan lahir di atas kaleng pesing itu. Salah satunya adalah pembelaan yang kemudian disebut “Indonesia Menggugat”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pleidoinya itu, Soekarno berbicara tentang penderitaan rakyat setelah tiga setengah abad dihisap koloni Belanda. Ia juga berbicara mengenai pendirian Partai Nasional Indonesia dan pergerakan yang dipercayainya dapat membebaskan Indonesia dari kolonialisme dan imperialisme. Bahasanya lugas, tapi nadanya menyala-nyala. Ketika membacanya dalam 19 kali persidangan di Jalan Landraad, Bandung, gedung itu sesak oleh manusia. Naskah itu bahkan sempat diterbitkan dalam selusin bahasa di dataran Eropa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soekarno ditahan setelah ditangkap di Yogyakarta, ketika akan mengikuti pertemuan politik partainya di Solo. Hari itu, pagi 29 Desember 1929, setengah lusin polisi Indonesia yang dipimpin inspektur Belanda mencokoknya atas nama Sri Ratu. Ditahan semalam di penjara Mergangsan, Yogyakarta, Soekarno dan dua kawannya dibawa ke Banceuy, bui Bandung-penjara tingkat rendah, kotor, dan berbau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Divonis empat tahun penjara, Soekarno dibebaskan pada 31 Desember 1931. Gubernur Jenderal De Graeff saat itu agaknya tak tahan atas kritik pedas terhadap putusan membui Soekarno. Tapi tiga tahun kemudian Soekarno ditangkap lagi dan diasingkan ke Ende dan Bengkulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BANDUNG adalah tempat Soekarno muda membuat sejarahnya. Semula, ia hanya berniat kuliah di Bandoeng Technische Hoogeschool-sekarang Institut Teknologi Bandung-mengambil jurusan arsitektur. Tapi pergulatan batin dan pertemuannya dengan para tokoh di kota itu membuat Soekarno, setelah lulus pada 1926, berbelok ke jalur politik. Sebelumnya ia pernah mendirikan biro konsultan meski mandek karena tak ia urus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu Soekarno sudah mendirikan Algemeene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasionalis Indonesia (PNI), yang didirikannya bersama Mr Iskak, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, Mr Boediardjo, dan Mr Soenarjo, pada 1927.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan klub itu adalah mendiskusikan bacaan, terutama buku-buku “babon” berbahasa Belanda yang dipinjam dari perpustakaan. Bergantian mereka membacanya lalu berdiskusi dan membuat tulisan. Saat itu usia Soekarno baru 25 tahun. Ketika kawan-kawan seusianya sibuk bertemu kekasih, Soekarno memilih tenggelam dalam Das Kapital. “Aku ingin menyelam, menyelam dalam dan lebih dalam lagi,” katanya dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Klub ini lalu kebanjiran peminat dan tumbuh menjamur di berbagai kota. Belakangan Soekarno dan kawan-kawan pada 1926 menerbitkan majalah Suluh Indonesia sebagai sarana mensosialisasikan pikiran mereka. -Soekarno dan juga orang-orang sejamannya penuh kesadaran dalam memanfaatkan media, dan terbukti ia pun sebagai bagian dari aktifitas pers perjuangan kala itu, baik sebagai pendiri maupun pewartanya- (*tambahan dan saya: pen).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artikel pertama ditulis oleh Soekarno sendiri. Judulnya, Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Isinya tentang konflik antara Serikat Islam Putih pimpinan Agus Salim dan Serikat Islam Merah (Sarekat Rakyat) pimpinan Semaun dkk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soekarno melihat, pertikaian politik antarkelompok justru menghambat perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme Belanda. “Tetapi kita yakin, bahwa dengan terang-benderang menunjukkan, kemauan kita menjadi satu. Kita yakin, bahwa pemimpin Indonesia semuanya insaf, persatuanlah yang membawa kita ke arah kebesaran dan kemerdekaan,” demikian Soekarno menulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap politik Soekarno muda terbangun di rumah pendiri Syarikat Islam, H.O.S. Tjokroaminoto-kawan karib ayah Karno di Surabaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soekarno muda dititipkan di rumah tokoh pergerakan Islam itu, ketika saat masuk Hoogere Burger School (HBS). Di rumah inilah ia dapat berkenalan dengan tokoh Pergerakan Nasional seperti Wahidin Soedirohusodo dan Soetomo. Juga para tokoh Islam seperti Agoes Salim, Abdoel Moeis, Ahmad Dahlan, Hasjim Asj’ari, dan A. Hassan, seorang tokoh Persis Bandung yang belakangan menjadi kawan korespondensinya yang termasyhur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di rumah Tjokro pula, Soekarno berkenalan dengan tokoh dari Marxisme dan sosialisme, seperti Alimin, Semaun Darsono, dan Tan Malaka. Tiga terakhir awalnya adalah pengurus Sarekat Islam kemudian memisahkan diri untuk bergabung dengan kelompok Marxis. Mereka selanjutnya mendirikan Partai Komunis Indonesia pada 1920, sementara Soekarno dan kawan-kawan mendirikan Partai Nasionalis Indonesia di Bandung, 1927.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada lahirnya Partai Nasionalis Indonesia, Soekarno mencanangkan tahun itu sebagai tahun propaganda politik. Ia tak hanya turun ke daerah, menggalang dukungan, tapi juga menerbitkan majalah Persatuan Indonesia pada 1928sebagai ajang propanda. Majalah Fikiran Rakjat diterbitkan pada 1932 ketika Partai Nasionalis Indonesia pecah menjadi Partindo. -Disini nampak sekali bahwa Soekarno menjadikan partai hanya sebagai alat perjuangan, Partindo yang didirikan Soekarno selanjutnya memilih jalur non kooperasi terhadap penjajah- (*tambahan dan saya: pen).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENJARA, pengasingan di Ende dan Bengkulu, adalah tempat Soekarno lebih merenungi soal Islam. Penjara Sukamiskin, misalnya, melarang buku politik dan surat kabar masuk ke sel Soekarno. Sepanjang masa di penjara itu, satu-satunya hiburan Soekarno adalah belajar tentang agama dan menulis.&lt;br /&gt;
Penjara sesungguhnya memang di Ende, kampung nelayan di Flores, Nusa Tenggara Timur. Empat tahun lamanya, ia menjalani politik pengasingan akibat aktivitas politik non kooperasi melalui Partindo.&lt;br /&gt;
Di pulau itulah, Soekarno menghabiskan waktu dengan membaca buku Islam. Renungan-renungannya tentang Islam muncul dalam suasana intens, terutama surat-menyurat pribadi yang dikirimkannya kepada A. Hassan. Surat-surat itu kelak masyhur disebut sebagai “Surat-surat dari Ende”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah Soekarno menulis soal tabir atau hijab yang memisahkan perempuan dan laki-laki. Ia juga dengan cemerlang menulis tentang donor darah. Juga menjawab tudingan bahwa ia anggota Ahmadiyah.&lt;br /&gt;
Yang menarik, meski tak meyakini Ahmadiyah, ia tak menyinggung perlu-tidaknya Ahmadiyah hidup di bumi Indonesia. Tidak juga menuduhnya aliran sesat. Juga tidak merasa Islam yang dianutnya yang paling benar.&lt;br /&gt;
Di Ende dan Bengkulu, selain surat-suratnya ke A. Hassan dan artikelnya yang termashyur di Panji Islam, Soekarno meninggalkan ratusan karya tulis dan beberapa naskah drama. Beberapa di antaranya dipentaskan selama ia berada di Ende. Namun “temuan” penting sesungguhnya adalah konsepsinya yang kelak dinamai Pancasila.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DARI seluruh masa Soekarno muda, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, menilai periode 1926-1930 adalah puncak kreativitas pemikiran Soekarno akan nasionalisme dan sikap kerasnya menentang kolonialisme. Juga kegandrungannya pada persatuan. Karakter Soekarno sebagai pemersatu dan aktivis anti-imperialis yang militan terlihat jelas di era ini. Begitu pula era sesudahnya hingga menjelang kemerdekaan, 1945. “Selama masa itulah, kita dengan mudah mengenal siapa sesungguhnya Soekarno,” kata Eros Djarot, salah seorang politikus nasionalis. -Bekas aktivis GSNI atau Gerakan Siswa Nasional Indonesia yaitu organisasi under bouw PNI kala itu- (*tambahan dan saya: pen).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Boleh jadi, karena itu pula, Di Bawah Bendera Revolusi jilid I menjadi karya Soekarno yang paling populer. Buku ini diterbitkan pertama kali oleh sebuah panitia penerbitan resmi dari Departemen Penerangan yang dipimpin Mualiff Nasution, 17 Agustus 1959. Tebal 650 halaman, berisi 61 tulisan Soekarno antara 1926 dan 1941.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Asvi, butuh lima tahun bagi panitia itu untuk bekerja mengumpulkan tulisan yang tersebar di mana-mana. Semuanya masih dalam ejaan lama. Kabarnya, Soekarno sendiri yang membubuhkan judul, Di Bawah Bendera Revolusi. Soekarno pula yang menggandeng Tjio Wie Tjay alias Haji Masagung, pengusaha Toko Buku Gunung Agung, sebagai penerbit dan penyalur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada 1963, buku monumental ini dicetak ulang. Hanya dalam waktu dua minggu edisi pertama terjual habis. Pada 1965, buku itu dicetak yang keempat kalinya. Dan pada 2005, penerbitan buku itu dilakukan anak-anak Soekarno melalui Yayasan Bung Karno. -Yayasan ini kini bertempat di Gedung Pola, dekat tugu Proklamasi Jakarta Pusat, terdapat stan toko buku kecil disana yang melayani penjualan buku terbitan ulang Karya Bung Karno- (*tambahan dan saya: pen).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia era 1960 di Bandung, Siswono Yudohusodo dan Suko Sudarso, mengakui buku itu menjadi buku bacaan wajib bagi anak-anak muda masa itu. Suko mengaku mengagumi buku itu karena pemikiran Soekarno yang jauh ke depan. Suko menyebut tulisan yang digandrunginya dalam buku itu adalah artikel Soekarno di Suluh Indonesia, “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”. Tulisan ini sempat diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan diterbitkan Universitas Cornell dengan pengantar Ruth Mcvey. *jw&lt;br /&gt;
Sumber dari &lt;a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/05/19/LU/mbm.20080519.LU127199.id.html"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berminat koleksi buku ini? Pesan di &lt;span style="color: blue; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/p/penawaran-khusus-buku.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;.</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/resensi-buku-di-bawah-bendera-revolusi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimeXZjU_wSd9tf1IFpgZ1hlbdi2Gq5-MfZBYDQghDoTp08gu9dpJ0FBghi3f0TJJj2-pooV7583RNxGN_-1Ts_PHDTIkA-Db5Bl71vGdM_Epuq8x__KDvmPo-6e5Miw96qw4C2bCCuvQ0/s72-c/DBR12.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="105299" type="image/jpeg" url="http://1.bp.blogspot.com/-k58eNlw0HxQ/UwZ26rLd2kI/AAAAAAAACl8/CpEJgJHT5qs/s1600/DBR12.jpg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Gugatan dari Kaleng Rombeng demikianlah Majalah Tempo memberikan judul tulisan resensi mengenai Soekarno, yang bagi bangsa Indonesia familiar dengan sebutan Bung Karno. sebuah Panggilan yang menurutnya cukup mewakili semangat egalitarian jauh dari semangat feodalisme yang mengungkung bangsanya, seperti halnya panggilan "che" di Amerika Latin. Berikut tulisan sebagaimana hasil liputan Tempo: ...BAGI Soekarno, kaleng rombeng berbau pesing adalah alat buang hajat sekaligus sarana menuangkan pikiran. Di penjara Banceuy, Bandung, 1930, tiap malam lelaki itu menjadikan kaleng itu sebagai meja sekaligus tadah buang hajat. Jika pagi tiba, ketika ia diizinkan meninggalkan sel, dibawanya kaleng itu ke kamar mandi untuk dibersihkan. Setelah itu, dengan dilapisi beberapa lembar kertas, ia pakai lagi sebagai meja untuk menulis. Hampir setahun di Banceuy, berlembar-lembar tulisan lahir di atas kaleng pesing itu. Salah satunya adalah pembelaan yang kemudian disebut “Indonesia Menggugat”. Dalam pleidoinya itu, Soekarno berbicara tentang penderitaan rakyat setelah tiga setengah abad dihisap koloni Belanda. Ia juga berbicara mengenai pendirian Partai Nasional Indonesia dan pergerakan yang dipercayainya dapat membebaskan Indonesia dari kolonialisme dan imperialisme. Bahasanya lugas, tapi nadanya menyala-nyala. Ketika membacanya dalam 19 kali persidangan di Jalan Landraad, Bandung, gedung itu sesak oleh manusia. Naskah itu bahkan sempat diterbitkan dalam selusin bahasa di dataran Eropa. Soekarno ditahan setelah ditangkap di Yogyakarta, ketika akan mengikuti pertemuan politik partainya di Solo. Hari itu, pagi 29 Desember 1929, setengah lusin polisi Indonesia yang dipimpin inspektur Belanda mencokoknya atas nama Sri Ratu. Ditahan semalam di penjara Mergangsan, Yogyakarta, Soekarno dan dua kawannya dibawa ke Banceuy, bui Bandung-penjara tingkat rendah, kotor, dan berbau. Divonis empat tahun penjara, Soekarno dibebaskan pada 31 Desember 1931. Gubernur Jenderal De Graeff saat itu agaknya tak tahan atas kritik pedas terhadap putusan membui Soekarno. Tapi tiga tahun kemudian Soekarno ditangkap lagi dan diasingkan ke Ende dan Bengkulu. BANDUNG adalah tempat Soekarno muda membuat sejarahnya. Semula, ia hanya berniat kuliah di Bandoeng Technische Hoogeschool-sekarang Institut Teknologi Bandung-mengambil jurusan arsitektur. Tapi pergulatan batin dan pertemuannya dengan para tokoh di kota itu membuat Soekarno, setelah lulus pada 1926, berbelok ke jalur politik. Sebelumnya ia pernah mendirikan biro konsultan meski mandek karena tak ia urus. Saat itu Soekarno sudah mendirikan Algemeene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasionalis Indonesia (PNI), yang didirikannya bersama Mr Iskak, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, Mr Boediardjo, dan Mr Soenarjo, pada 1927. Kegiatan klub itu adalah mendiskusikan bacaan, terutama buku-buku “babon” berbahasa Belanda yang dipinjam dari perpustakaan. Bergantian mereka membacanya lalu berdiskusi dan membuat tulisan. Saat itu usia Soekarno baru 25 tahun. Ketika kawan-kawan seusianya sibuk bertemu kekasih, Soekarno memilih tenggelam dalam Das Kapital. “Aku ingin menyelam, menyelam dalam dan lebih dalam lagi,” katanya dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Klub ini lalu kebanjiran peminat dan tumbuh menjamur di berbagai kota. Belakangan Soekarno dan kawan-kawan pada 1926 menerbitkan majalah Suluh Indonesia sebagai sarana mensosialisasikan pikiran mereka. -Soekarno dan juga orang-orang sejamannya penuh kesadaran dalam memanfaatkan media, dan terbukti ia pun sebagai bagian dari aktifitas pers perjuangan kala itu, baik sebagai pendiri maupun pewartanya- (*tambahan dan saya: pen). Artikel pertama ditulis oleh Soekarno sendiri. Judulnya, Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Isinya tentang konflik antara Serikat Islam Putih pimpinan Agus Salim dan Serikat Islam Merah (Sarekat Rakyat) pimpinan Semaun dkk. Soekarno melihat, pertikaian politik antarkelompok justru menghambat perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme Belanda. “Tetapi kita yakin, bahwa dengan terang-benderang menunjukkan, kemauan kita menjadi satu. Kita yakin, bahwa pemimpin Indonesia semuanya insaf, persatuanlah yang membawa kita ke arah kebesaran dan kemerdekaan,” demikian Soekarno menulis. Sikap politik Soekarno muda terbangun di rumah pendiri Syarikat Islam, H.O.S. Tjokroaminoto-kawan karib ayah Karno di Surabaya. Soekarno muda dititipkan di rumah tokoh pergerakan Islam itu, ketika saat masuk Hoogere Burger School (HBS). Di rumah inilah ia dapat berkenalan dengan tokoh Pergerakan Nasional seperti Wahidin Soedirohusodo dan Soetomo. Juga para tokoh Islam seperti Agoes Salim, Abdoel Moeis, Ahmad Dahlan, Hasjim Asj’ari, dan A. Hassan, seorang tokoh Persis Bandung yang belakangan menjadi kawan korespondensinya yang termasyhur. Di rumah Tjokro pula, Soekarno berkenalan dengan tokoh dari Marxisme dan sosialisme, seperti Alimin, Semaun Darsono, dan Tan Malaka. Tiga terakhir awalnya adalah pengurus Sarekat Islam kemudian memisahkan diri untuk bergabung dengan kelompok Marxis. Mereka selanjutnya mendirikan Partai Komunis Indonesia pada 1920, sementara Soekarno dan kawan-kawan mendirikan Partai Nasionalis Indonesia di Bandung, 1927. Pada lahirnya Partai Nasionalis Indonesia, Soekarno mencanangkan tahun itu sebagai tahun propaganda politik. Ia tak hanya turun ke daerah, menggalang dukungan, tapi juga menerbitkan majalah Persatuan Indonesia pada 1928sebagai ajang propanda. Majalah Fikiran Rakjat diterbitkan pada 1932 ketika Partai Nasionalis Indonesia pecah menjadi Partindo. -Disini nampak sekali bahwa Soekarno menjadikan partai hanya sebagai alat perjuangan, Partindo yang didirikan Soekarno selanjutnya memilih jalur non kooperasi terhadap penjajah- (*tambahan dan saya: pen). PENJARA, pengasingan di Ende dan Bengkulu, adalah tempat Soekarno lebih merenungi soal Islam. Penjara Sukamiskin, misalnya, melarang buku politik dan surat kabar masuk ke sel Soekarno. Sepanjang masa di penjara itu, satu-satunya hiburan Soekarno adalah belajar tentang agama dan menulis. Penjara sesungguhnya memang di Ende, kampung nelayan di Flores, Nusa Tenggara Timur. Empat tahun lamanya, ia menjalani politik pengasingan akibat aktivitas politik non kooperasi melalui Partindo. Di pulau itulah, Soekarno menghabiskan waktu dengan membaca buku Islam. Renungan-renungannya tentang Islam muncul dalam suasana intens, terutama surat-menyurat pribadi yang dikirimkannya kepada A. Hassan. Surat-surat itu kelak masyhur disebut sebagai “Surat-surat dari Ende”. Pernah Soekarno menulis soal tabir atau hijab yang memisahkan perempuan dan laki-laki. Ia juga dengan cemerlang menulis tentang donor darah. Juga menjawab tudingan bahwa ia anggota Ahmadiyah. Yang menarik, meski tak meyakini Ahmadiyah, ia tak menyinggung perlu-tidaknya Ahmadiyah hidup di bumi Indonesia. Tidak juga menuduhnya aliran sesat. Juga tidak merasa Islam yang dianutnya yang paling benar. Di Ende dan Bengkulu, selain surat-suratnya ke A. Hassan dan artikelnya yang termashyur di Panji Islam, Soekarno meninggalkan ratusan karya tulis dan beberapa naskah drama. Beberapa di antaranya dipentaskan selama ia berada di Ende. Namun “temuan” penting sesungguhnya adalah konsepsinya yang kelak dinamai Pancasila. DARI seluruh masa Soekarno muda, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, menilai periode 1926-1930 adalah puncak kreativitas pemikiran Soekarno akan nasionalisme dan sikap kerasnya menentang kolonialisme. Juga kegandrungannya pada persatuan. Karakter Soekarno sebagai pemersatu dan aktivis anti-imperialis yang militan terlihat jelas di era ini. Begitu pula era sesudahnya hingga menjelang kemerdekaan, 1945. “Selama masa itulah, kita dengan mudah mengenal siapa sesungguhnya Soekarno,” kata Eros Djarot, salah seorang politikus nasionalis. -Bekas aktivis GSNI atau Gerakan Siswa Nasional Indonesia yaitu organisasi under bouw PNI kala itu- (*tambahan dan saya: pen). Boleh jadi, karena itu pula, Di Bawah Bendera Revolusi jilid I menjadi karya Soekarno yang paling populer. Buku ini diterbitkan pertama kali oleh sebuah panitia penerbitan resmi dari Departemen Penerangan yang dipimpin Mualiff Nasution, 17 Agustus 1959. Tebal 650 halaman, berisi 61 tulisan Soekarno antara 1926 dan 1941. Menurut Asvi, butuh lima tahun bagi panitia itu untuk bekerja mengumpulkan tulisan yang tersebar di mana-mana. Semuanya masih dalam ejaan lama. Kabarnya, Soekarno sendiri yang membubuhkan judul, Di Bawah Bendera Revolusi. Soekarno pula yang menggandeng Tjio Wie Tjay alias Haji Masagung, pengusaha Toko Buku Gunung Agung, sebagai penerbit dan penyalur. Pada 1963, buku monumental ini dicetak ulang. Hanya dalam waktu dua minggu edisi pertama terjual habis. Pada 1965, buku itu dicetak yang keempat kalinya. Dan pada 2005, penerbitan buku itu dilakukan anak-anak Soekarno melalui Yayasan Bung Karno. -Yayasan ini kini bertempat di Gedung Pola, dekat tugu Proklamasi Jakarta Pusat, terdapat stan toko buku kecil disana yang melayani penjualan buku terbitan ulang Karya Bung Karno- (*tambahan dan saya: pen). Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia era 1960 di Bandung, Siswono Yudohusodo dan Suko Sudarso, mengakui buku itu menjadi buku bacaan wajib bagi anak-anak muda masa itu. Suko mengaku mengagumi buku itu karena pemikiran Soekarno yang jauh ke depan. Suko menyebut tulisan yang digandrunginya dalam buku itu adalah artikel Soekarno di Suluh Indonesia, “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”. Tulisan ini sempat diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan diterbitkan Universitas Cornell dengan pengantar Ruth Mcvey. *jw Sumber dari sini. Berminat koleksi buku ini? Pesan di SINI.</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Gugatan dari Kaleng Rombeng demikianlah Majalah Tempo memberikan judul tulisan resensi mengenai Soekarno, yang bagi bangsa Indonesia familiar dengan sebutan Bung Karno. sebuah Panggilan yang menurutnya cukup mewakili semangat egalitarian jauh dari semangat feodalisme yang mengungkung bangsanya, seperti halnya panggilan "che" di Amerika Latin. Berikut tulisan sebagaimana hasil liputan Tempo: ...BAGI Soekarno, kaleng rombeng berbau pesing adalah alat buang hajat sekaligus sarana menuangkan pikiran. Di penjara Banceuy, Bandung, 1930, tiap malam lelaki itu menjadikan kaleng itu sebagai meja sekaligus tadah buang hajat. Jika pagi tiba, ketika ia diizinkan meninggalkan sel, dibawanya kaleng itu ke kamar mandi untuk dibersihkan. Setelah itu, dengan dilapisi beberapa lembar kertas, ia pakai lagi sebagai meja untuk menulis. Hampir setahun di Banceuy, berlembar-lembar tulisan lahir di atas kaleng pesing itu. Salah satunya adalah pembelaan yang kemudian disebut “Indonesia Menggugat”. Dalam pleidoinya itu, Soekarno berbicara tentang penderitaan rakyat setelah tiga setengah abad dihisap koloni Belanda. Ia juga berbicara mengenai pendirian Partai Nasional Indonesia dan pergerakan yang dipercayainya dapat membebaskan Indonesia dari kolonialisme dan imperialisme. Bahasanya lugas, tapi nadanya menyala-nyala. Ketika membacanya dalam 19 kali persidangan di Jalan Landraad, Bandung, gedung itu sesak oleh manusia. Naskah itu bahkan sempat diterbitkan dalam selusin bahasa di dataran Eropa. Soekarno ditahan setelah ditangkap di Yogyakarta, ketika akan mengikuti pertemuan politik partainya di Solo. Hari itu, pagi 29 Desember 1929, setengah lusin polisi Indonesia yang dipimpin inspektur Belanda mencokoknya atas nama Sri Ratu. Ditahan semalam di penjara Mergangsan, Yogyakarta, Soekarno dan dua kawannya dibawa ke Banceuy, bui Bandung-penjara tingkat rendah, kotor, dan berbau. Divonis empat tahun penjara, Soekarno dibebaskan pada 31 Desember 1931. Gubernur Jenderal De Graeff saat itu agaknya tak tahan atas kritik pedas terhadap putusan membui Soekarno. Tapi tiga tahun kemudian Soekarno ditangkap lagi dan diasingkan ke Ende dan Bengkulu. BANDUNG adalah tempat Soekarno muda membuat sejarahnya. Semula, ia hanya berniat kuliah di Bandoeng Technische Hoogeschool-sekarang Institut Teknologi Bandung-mengambil jurusan arsitektur. Tapi pergulatan batin dan pertemuannya dengan para tokoh di kota itu membuat Soekarno, setelah lulus pada 1926, berbelok ke jalur politik. Sebelumnya ia pernah mendirikan biro konsultan meski mandek karena tak ia urus. Saat itu Soekarno sudah mendirikan Algemeene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasionalis Indonesia (PNI), yang didirikannya bersama Mr Iskak, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, Mr Boediardjo, dan Mr Soenarjo, pada 1927. Kegiatan klub itu adalah mendiskusikan bacaan, terutama buku-buku “babon” berbahasa Belanda yang dipinjam dari perpustakaan. Bergantian mereka membacanya lalu berdiskusi dan membuat tulisan. Saat itu usia Soekarno baru 25 tahun. Ketika kawan-kawan seusianya sibuk bertemu kekasih, Soekarno memilih tenggelam dalam Das Kapital. “Aku ingin menyelam, menyelam dalam dan lebih dalam lagi,” katanya dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Klub ini lalu kebanjiran peminat dan tumbuh menjamur di berbagai kota. Belakangan Soekarno dan kawan-kawan pada 1926 menerbitkan majalah Suluh Indonesia sebagai sarana mensosialisasikan pikiran mereka. -Soekarno dan juga orang-orang sejamannya penuh kesadaran dalam memanfaatkan media, dan terbukti ia pun sebagai bagian dari aktifitas pers perjuangan kala itu, baik sebagai pendiri maupun pewartanya- (*tambahan dan saya: pen). Artikel pertama ditulis oleh Soekarno sendiri. Judulnya, Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Isinya tentang konflik antara Serikat Islam Putih pimpinan Agus Salim dan Serikat Islam Merah (Sarekat Rakyat) pimpinan Semaun dkk. Soekarno melihat, pertikaian politik antarkelompok justru menghambat perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme Belanda. “Tetapi kita yakin, bahwa dengan terang-benderang menunjukkan, kemauan kita menjadi satu. Kita yakin, bahwa pemimpin Indonesia semuanya insaf, persatuanlah yang membawa kita ke arah kebesaran dan kemerdekaan,” demikian Soekarno menulis. Sikap politik Soekarno muda terbangun di rumah pendiri Syarikat Islam, H.O.S. Tjokroaminoto-kawan karib ayah Karno di Surabaya. Soekarno muda dititipkan di rumah tokoh pergerakan Islam itu, ketika saat masuk Hoogere Burger School (HBS). Di rumah inilah ia dapat berkenalan dengan tokoh Pergerakan Nasional seperti Wahidin Soedirohusodo dan Soetomo. Juga para tokoh Islam seperti Agoes Salim, Abdoel Moeis, Ahmad Dahlan, Hasjim Asj’ari, dan A. Hassan, seorang tokoh Persis Bandung yang belakangan menjadi kawan korespondensinya yang termasyhur. Di rumah Tjokro pula, Soekarno berkenalan dengan tokoh dari Marxisme dan sosialisme, seperti Alimin, Semaun Darsono, dan Tan Malaka. Tiga terakhir awalnya adalah pengurus Sarekat Islam kemudian memisahkan diri untuk bergabung dengan kelompok Marxis. Mereka selanjutnya mendirikan Partai Komunis Indonesia pada 1920, sementara Soekarno dan kawan-kawan mendirikan Partai Nasionalis Indonesia di Bandung, 1927. Pada lahirnya Partai Nasionalis Indonesia, Soekarno mencanangkan tahun itu sebagai tahun propaganda politik. Ia tak hanya turun ke daerah, menggalang dukungan, tapi juga menerbitkan majalah Persatuan Indonesia pada 1928sebagai ajang propanda. Majalah Fikiran Rakjat diterbitkan pada 1932 ketika Partai Nasionalis Indonesia pecah menjadi Partindo. -Disini nampak sekali bahwa Soekarno menjadikan partai hanya sebagai alat perjuangan, Partindo yang didirikan Soekarno selanjutnya memilih jalur non kooperasi terhadap penjajah- (*tambahan dan saya: pen). PENJARA, pengasingan di Ende dan Bengkulu, adalah tempat Soekarno lebih merenungi soal Islam. Penjara Sukamiskin, misalnya, melarang buku politik dan surat kabar masuk ke sel Soekarno. Sepanjang masa di penjara itu, satu-satunya hiburan Soekarno adalah belajar tentang agama dan menulis. Penjara sesungguhnya memang di Ende, kampung nelayan di Flores, Nusa Tenggara Timur. Empat tahun lamanya, ia menjalani politik pengasingan akibat aktivitas politik non kooperasi melalui Partindo. Di pulau itulah, Soekarno menghabiskan waktu dengan membaca buku Islam. Renungan-renungannya tentang Islam muncul dalam suasana intens, terutama surat-menyurat pribadi yang dikirimkannya kepada A. Hassan. Surat-surat itu kelak masyhur disebut sebagai “Surat-surat dari Ende”. Pernah Soekarno menulis soal tabir atau hijab yang memisahkan perempuan dan laki-laki. Ia juga dengan cemerlang menulis tentang donor darah. Juga menjawab tudingan bahwa ia anggota Ahmadiyah. Yang menarik, meski tak meyakini Ahmadiyah, ia tak menyinggung perlu-tidaknya Ahmadiyah hidup di bumi Indonesia. Tidak juga menuduhnya aliran sesat. Juga tidak merasa Islam yang dianutnya yang paling benar. Di Ende dan Bengkulu, selain surat-suratnya ke A. Hassan dan artikelnya yang termashyur di Panji Islam, Soekarno meninggalkan ratusan karya tulis dan beberapa naskah drama. Beberapa di antaranya dipentaskan selama ia berada di Ende. Namun “temuan” penting sesungguhnya adalah konsepsinya yang kelak dinamai Pancasila. DARI seluruh masa Soekarno muda, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, menilai periode 1926-1930 adalah puncak kreativitas pemikiran Soekarno akan nasionalisme dan sikap kerasnya menentang kolonialisme. Juga kegandrungannya pada persatuan. Karakter Soekarno sebagai pemersatu dan aktivis anti-imperialis yang militan terlihat jelas di era ini. Begitu pula era sesudahnya hingga menjelang kemerdekaan, 1945. “Selama masa itulah, kita dengan mudah mengenal siapa sesungguhnya Soekarno,” kata Eros Djarot, salah seorang politikus nasionalis. -Bekas aktivis GSNI atau Gerakan Siswa Nasional Indonesia yaitu organisasi under bouw PNI kala itu- (*tambahan dan saya: pen). Boleh jadi, karena itu pula, Di Bawah Bendera Revolusi jilid I menjadi karya Soekarno yang paling populer. Buku ini diterbitkan pertama kali oleh sebuah panitia penerbitan resmi dari Departemen Penerangan yang dipimpin Mualiff Nasution, 17 Agustus 1959. Tebal 650 halaman, berisi 61 tulisan Soekarno antara 1926 dan 1941. Menurut Asvi, butuh lima tahun bagi panitia itu untuk bekerja mengumpulkan tulisan yang tersebar di mana-mana. Semuanya masih dalam ejaan lama. Kabarnya, Soekarno sendiri yang membubuhkan judul, Di Bawah Bendera Revolusi. Soekarno pula yang menggandeng Tjio Wie Tjay alias Haji Masagung, pengusaha Toko Buku Gunung Agung, sebagai penerbit dan penyalur. Pada 1963, buku monumental ini dicetak ulang. Hanya dalam waktu dua minggu edisi pertama terjual habis. Pada 1965, buku itu dicetak yang keempat kalinya. Dan pada 2005, penerbitan buku itu dilakukan anak-anak Soekarno melalui Yayasan Bung Karno. -Yayasan ini kini bertempat di Gedung Pola, dekat tugu Proklamasi Jakarta Pusat, terdapat stan toko buku kecil disana yang melayani penjualan buku terbitan ulang Karya Bung Karno- (*tambahan dan saya: pen). Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia era 1960 di Bandung, Siswono Yudohusodo dan Suko Sudarso, mengakui buku itu menjadi buku bacaan wajib bagi anak-anak muda masa itu. Suko mengaku mengagumi buku itu karena pemikiran Soekarno yang jauh ke depan. Suko menyebut tulisan yang digandrunginya dalam buku itu adalah artikel Soekarno di Suluh Indonesia, “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”. Tulisan ini sempat diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan diterbitkan Universitas Cornell dengan pengantar Ruth Mcvey. *jw Sumber dari sini. Berminat koleksi buku ini? Pesan di SINI.</itunes:summary><itunes:keywords>Sejarah, Soekarno, Sosial Politik, Sukarno</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-8378510754990015467</guid><pubDate>Thu, 20 Feb 2014 20:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-21T03:07:57.207+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Agama Jawa: Abangan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Clifford Geertz</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Priyayi Dalam Kebudayaan Jawa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Santri</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Resume Buku Abangan, Santri, Priyai Dalam Masyarakat Jawa Karya Clifford Geertz</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3MGuJ7nTcNIkU0OV-dDy4obhiigUER2aP-N02XGpcwHuW4AURnkOGZfvCl_y70KLPTJgn0FI6nZ7xIIEto9YC0D2w9e5qc_9ubR17YGV8kSfiuaUmoluFqYh9LbseDNkxF4yKbYsIFTw/s1600/agama_jawa-clifford_geertz.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3MGuJ7nTcNIkU0OV-dDy4obhiigUER2aP-N02XGpcwHuW4AURnkOGZfvCl_y70KLPTJgn0FI6nZ7xIIEto9YC0D2w9e5qc_9ubR17YGV8kSfiuaUmoluFqYh9LbseDNkxF4yKbYsIFTw/s1600/agama_jawa-clifford_geertz.gif" height="320" width="206" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Buku ini merupakan hasil studi penelitian Clifford Geertz dalam rentang waktu mei 1953-september 1954, di daerah Mojokuto Jawa Tengah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;a href="" name="more" style="-webkit-transition: all 0.4s ease-in-out; background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px; transition: all 0.4s ease-in-out;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Karya ini menjadi menarik karena bagi ahli-ahli dalam bidang antropologi, sosiologi, dan orang-orang yang sedang memperdalam pengetahuan mereka tentang agama islam dan Indonesia. Demikian pula untuk para ahli politik yang berminat tentang hubungan amtara agama dan perilaku politik di jawa.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Pada bagian pendahuluan buku ini, dijelaskan mengenai deskripsi geografis dan demografis daerah mojokuto yang menjadi tempat dimana penelitian ini dilangsungkan. Wilayah ini merupakan wilayah yang kompleks, memiliki populasi penduduk sekitar 20.000 orang, terdiri dari 18.000 orang jawa, 1.800 orang china dan selebihnya terdiri atas etnis arab, India dan minoritas lainnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Lalu Geertz mengemukakan urgensi dari tiga struktur social di jawa yaitu Desa, Pasa dan birokrasi pemerintahan.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Sebenarnya buku yang ditulis oleh Geertz ini tidak membahas mengenai definisi agama, hal ini sudah barang tentu membawa pembaca sedikit kebingungan, karena sebenarnya jelas dari judulnya Geertz seolah menulis mengenai santri, abangan dan priyai yang jelas sekali berkaitan dengan kehidupan dalam umat islam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Ketiga elemen yang dibahs merupakan suatu fenomena keagamaan yang sedikit atau banyak tergantung kepada pemahaman seseorang tentang apa itu agama dalam manifestasi empirisnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Kekurang cermatan dalam mengangkat definisi keagamaan akan berakibat kepada karakteristik tipologi-tipologi sehingga memberikan gambaran yang keliru tentang fakta-faktanya. Seperti yang ditunjukkan dalam bagian-bagian di bawah ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Sistem keagamaan yang umum di ajwa diperkenalkan tanpa disertai penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan apa yang dimasksud mengenai sistem keagamaan tersebut. Hal ini dengan sendirinya membawa kepada pemahaman bahwa studi ini tidak membahas agama di jawa, akan tetapi mengenai agama di Mojokuto yang meliputi kurang lebih dari 0,05% dari seluruh penduduk jawa.. Maka jelaslah apakah sistem keagamaan yang dimaksud oleh Geertz di jawa itu dengan mengacu kepada sistem keagamaan pada penduduk asli di mojokuto, maka jika demikian akan muncul suatu deskripsi mengenai agama-agama dengan versi yang ada di daerah setempat, yaitu islam, protestan (di mojokuto terdapat jemaat protestan yang kecila), khatolitk (di mojokuto kebanyakan khatolik adalah orang china, namun ada jua sebagian kecil khatolik jawa), agama jawa, animisme, dan mungkin pula dengan hindu dan budha, walau tidak dijumpai dalam bentuk-bentuk yang asli. Studi ini tidak menyebutkan tentang agama-agama selain islam, sehingga ini bisa dianggap sebagai petunjuk bahwa sistem keagamaan yang umum di jawa itu tidaklah dimaksudkan kepada semua agama yang dianut oleh semua orang jawa. Akan tetapi sebagai manifestasi dari agama islam dalam penduduk jawa yang tidak semuanya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Varian Agama dalam Studi Clifford Geertz&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Konsep yang diperkenalkan oleh Geertz untuk melukiskan dan menganalisa tipe budaya utama sesuai dengan menurut keparcayaan agama, preferensi etis dan ideology politik mereka maka dapat dijelaskan sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Varian abangan, yang menekankan aspek-aspek animism sinkretisme jawa secara keseluruhan dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsure petani desa penduduk.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Varian santri, yang menekankan aspek-aspek islam sinkretisme itu dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsure pedagang (dan juga unsure-unsur tertentu pada kaum tani).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Varian priyai, yang menekankan aspek-aspek hindu dan diasosiasikan dengan unsure birokrasi. (Geertz 1960: 6)&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Menurut Geertz pembagian ini merupakan pembagian yang dibuat oleh orang-orang jawa sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Namun demikian, meskipun memang benar dalam amsyarakat mojokuto sebagian dari penduduk dianggap sebagai abangan, sntri dan priyai, hanya saja ini tidak berarti bahwa ketiga golongan itu merupakan kategori-kategori dari satu tipe klasifikasi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Kemudian penulis membatasi klasifikasinya dengan menyatakan bahwa istilah-istilah abangan, santri, dan priyai menunjukkan dimensi-dimensi variasi kebudayaan, bukan kategori absolute (Geertz: 347).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Geertz tidak menegaskan apakah ia hendak melukiskan kompleks-kompleks kepercayaan dan ritual keagamaan tertentu ataukah kepercayaan–kepercayaan dan ritual-ritual keagamaan kategori-kategori tertentu dalam masyarakat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Agama Harus dibedakan Dengan Adat&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Dalam mempelajari gejala agama dalam masyarakat Indonesia, maka harus menyadari bahwa ada perbedaan antara adat, ataupun sistem normative tradisional, dan agama dalam artinya yang luas sekalipun. Pola perilaku penduduk di Indonesia sangat ditentukan oleh norma-norma tradisional yang diakui dan dipatuhi, inilah yang dikenal dengan sebutan adat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Adat suatu msyarakat setempat biasanya diteruskan secara lisan kepada anggota-anggotanya oleh generasi terdahulu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Di mojokuto adat penduduknya adalah adat jawa, dengan beberapa variasi setempat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Perbedaan antara adat dan agama apabila tidak disadari oleh orang yang sedang memperdalam pengetahuannya tentang agama, mengakibatkan penafsiran-penfasiran yang keliru terhadap fenomena-fenomena empiris tertentu. Kenyataan bahwa seseorang memperlihatkan sikap menahan diri, menguasai diri, tidak menunjukkan emosi, mungkin ditafsirkan dengan mengacu kepada agama sebagai petunjuk adanya kekuatan batin. Meskipun penafsiran ini kemungkinan benar, namun ada pula kemungkinan bahwa orang yang bersangkutan hanya mematuhi adat yang berlaku di situasi dimana ia berada dan dengan statusnya sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Agama yang berbeda dengan adat dapat diartikan sebagaai suatu sistem kepercayaan saja. Kompleks-kompleks nilai dan norma tertentu dapat mempunyai kaitan dengan satu agama tertentu, akan tetapi tidak merupakan inti dari agama itu yang adalah kepercayaan terhadap hal yang gaib.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Sebagain besar dari studi Geertz merupakan satu laporan mengenai deskripsi tentang adat dan bukan mengenai agama.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Ritual selametan misalnya dijelaskan dalam empat bab informative. Jenis-jenis selametan ini dijelaskan secara terperinci dalam kaitannya dalam maksud dan ritual tertentu. Hanya saja bentuk antara adat dengan agama tidak dibendakan padahal selametan tidak harus melibatkan agama sebagai kepercayaan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Geertz dalam menjelaskan laporannya hanya untuk memenuhi ketentuan adata oleh karena dalam keadaan-keadaan tertentu orang diharapkan untuk mengadakan upacara-upacara tertentu.Dengan cara itu beberapa selametan yang tadinya bersifat keagamaan telah menajdi selametan adat. Sebagai upacara adat ia dapat diselenggarakan dengan berbagai tujuan seperti untuk mempererat kesetiakawanan kelompok, untuk menyebarkan kabar gembira, untuk memperoleh legitimasi bagi usaha-usaha tertentu, untuk menggunakan pengaruh, atau hanya memamerkan kekayaan untuk menambah gengsi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Selametan yang dilukiskan oelh Geertz dijelaskan secara rinci tanpa ada tekanan yang memadai kepada makna keagamaannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Misalnya dalam selametan sunatan dapat dikemukakan sebagai contoh. Peristiwa itu Geertz lukiskan sebagai ritus pubertas. padahal seharusnya, di pulau jawa, sunatan dianggas sebagai suatu pengukuhan seorang muslim yang sah. Sunatan bisa dilangsungkan dengan atau tanpa selametan, akan tetapi selama seseorang belum disunat dia tidak dianggap tergolong dalam umat atau komunitas orang-orang yang percaya. Ketentuan ini juga berlaku bagi orang-orang dewasa yang masuk islam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Varian Agama Abangan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Tradisi agama abangan yang pada pokoknya terdiri dari pesta ritual yang dinamakan selametan, satu kompleks kepercayaan yang luas dan rumit tentang roh-roh, dan seperangkat teori dan praktek penyembuhan, ilmu tenung, dan ilmu gaib Diasosiasikan dengan cara yang luas dan umum dengan desa jawa (Geertz 1960: 5)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Varian abangan menurut Geertz adalah masyarakat kaum tani di jawa.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Yang abangan itu adalah kaum tani jawa. Agama abangan menggambarkan sintesa petani antara hal-hal yang berasal dari kota dan warisan kesukuan, satu sinkretisme sisa-sisa lama daris elusin sumber yang tersusun menjadi satu konglomerat untuk memenuhi kebutuhan rakyat yang berjiwa sederhana. Yang menanam pad di teras-teras yang diairi (Geertz 1960: 229).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Varian Agama Santri&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Deskripsi yang terperinci mengenai varian sanrti menurut Geertz adalah sebagai berikut:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Ia dimanifestaikan dalam pelaksanaan yang cermat dan teratur, ritual-ritual pokok agama islam, seperti kewajiban shalat lima kali sehari, shalat jumat di mesjid, berpuasa selama bulan ramadhan, dan menunaikan haji ke mekah. Ia dimanifestasikan dalam satu kompleks organisasi-organsisasi sosial, amal, dan politik seperti Muhammadiyah, Msyumi, dan Nahdlatul Ulama. Nilai-nilainya bersifat antibirokratik, bebas dan egaliter. Orang-orang santri sendiri hidup berkelompok-kelompok, sekarang hal itu sudah berkurang dibandingkan dengan sebelum perang, namun masih Nampak juga pengelompokan-pengelompokan mereka. Dan akhirnya ketaatan melakukan ibadah salatlah yang pada s\tingkat tertentu merupakan ukuran santri. Priyai dan abangan hampir tidak pernah melakukannya. (Geertz 1960: 215)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Varian santri ini dimanifestasikan sebagai pedagang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Di desa terdapat unsure santri yang kuat, yang seringkali dipimpin oleh petani-petani kaya yang telah naik haji ke mekah dan setelah kembali mendirikan pesantren-pesantern (Geertz 1960: 5)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Kemudian, menurt geertz untuk santri di kota diidentifikasikan sebagai berikut:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Di kota kebanyakan santri adalah pedagang atau tukang, terutama penjahit (Geertz 1960: 222)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Varian Agama Priyai&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Geertz berasumsi nahwa kaum priyai kaum elit yang sah memanifestasikan satu tradisi agama yang disebut sebagai varian agama priyai daris istem keagamaan pada umumnya di jawa.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Geertz melukiskan mereka sebagai satu golongan pegawai birokrasi yang menurut tempat tinggal mereka, merupakan penduduk kota. Mereka memiliki gelar-gelar kehormatan yang merupakan bagian dari birokrasi aristokrasi kraton.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;`&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Kritik terhadap Geertz&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; box-sizing: border-box; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Clifford Geertz dalam deskripsinya seakan menjustifikasi bahwa kaum abangan, santri maupun priyai adalah golongan-golongan dari apa yang telah disebutkan sebelumnya. Padahal dalam kehidupan realitas sehari-hari tidak selalu semuanya demikian. Seharusnya dilakikan deskripsi secara menyeluruh. Selain itu deskripsi agama yang dilakukan oleh Geertz cenderung untuk menjelaskan realita keagamaan dalam masyarakat Mojokuto dan bukan merupakan cerminan keseluruhan dalam tradisi keagamaan maupun adat masyarakat jawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;Sumber dari &lt;a href="http://cerminsejarah.blogspot.com/2009/07/resume-buku-abangan-santri-priyai-dalam.html"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17.600000381469727px;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px;"&gt;Buku ini dapat dipesan di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/agama-jawa-abangan-santri-priyayi-dalam.html"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;"&gt;SINI&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, Geneva, sans-serif; font-size: 11px;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/resume-buku-abangan-santri-priyai-dalam.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3MGuJ7nTcNIkU0OV-dDy4obhiigUER2aP-N02XGpcwHuW4AURnkOGZfvCl_y70KLPTJgn0FI6nZ7xIIEto9YC0D2w9e5qc_9ubR17YGV8kSfiuaUmoluFqYh9LbseDNkxF4yKbYsIFTw/s72-c/agama_jawa-clifford_geertz.gif" width="72"/><thr:total>1</thr:total><enclosure length="115039" type="image/gif" url="http://4.bp.blogspot.com/-UONlSjMPRaw/UvKdOy3rtQI/AAAAAAAABXY/o3QNDtmlO_M/s1600/agama_jawa-clifford_geertz.gif"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Buku ini merupakan hasil studi penelitian Clifford Geertz dalam rentang waktu mei 1953-september 1954, di daerah Mojokuto Jawa Tengah.&amp;nbsp;Karya ini menjadi menarik karena bagi ahli-ahli dalam bidang antropologi, sosiologi, dan orang-orang yang sedang memperdalam pengetahuan mereka tentang agama islam dan Indonesia. Demikian pula untuk para ahli politik yang berminat tentang hubungan amtara agama dan perilaku politik di jawa.&amp;nbsp;Pada bagian pendahuluan buku ini, dijelaskan mengenai deskripsi geografis dan demografis daerah mojokuto yang menjadi tempat dimana penelitian ini dilangsungkan. Wilayah ini merupakan wilayah yang kompleks, memiliki populasi penduduk sekitar 20.000 orang, terdiri dari 18.000 orang jawa, 1.800 orang china dan selebihnya terdiri atas etnis arab, India dan minoritas lainnya.&amp;nbsp;Lalu Geertz mengemukakan urgensi dari tiga struktur social di jawa yaitu Desa, Pasa dan birokrasi pemerintahan.Sebenarnya buku yang ditulis oleh Geertz ini tidak membahas mengenai definisi agama, hal ini sudah barang tentu membawa pembaca sedikit kebingungan, karena sebenarnya jelas dari judulnya Geertz seolah menulis mengenai santri, abangan dan priyai yang jelas sekali berkaitan dengan kehidupan dalam umat islam.&amp;nbsp;Ketiga elemen yang dibahs merupakan suatu fenomena keagamaan yang sedikit atau banyak tergantung kepada pemahaman seseorang tentang apa itu agama dalam manifestasi empirisnya.&amp;nbsp;Kekurang cermatan dalam mengangkat definisi keagamaan akan berakibat kepada karakteristik tipologi-tipologi sehingga memberikan gambaran yang keliru tentang fakta-faktanya. Seperti yang ditunjukkan dalam bagian-bagian di bawah ini.&amp;nbsp;Sistem keagamaan yang umum di ajwa diperkenalkan tanpa disertai penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan apa yang dimasksud mengenai sistem keagamaan tersebut. Hal ini dengan sendirinya membawa kepada pemahaman bahwa studi ini tidak membahas agama di jawa, akan tetapi mengenai agama di Mojokuto yang meliputi kurang lebih dari 0,05% dari seluruh penduduk jawa.. Maka jelaslah apakah sistem keagamaan yang dimaksud oleh Geertz di jawa itu dengan mengacu kepada sistem keagamaan pada penduduk asli di mojokuto, maka jika demikian akan muncul suatu deskripsi mengenai agama-agama dengan versi yang ada di daerah setempat, yaitu islam, protestan (di mojokuto terdapat jemaat protestan yang kecila), khatolitk (di mojokuto kebanyakan khatolik adalah orang china, namun ada jua sebagian kecil khatolik jawa), agama jawa, animisme, dan mungkin pula dengan hindu dan budha, walau tidak dijumpai dalam bentuk-bentuk yang asli. Studi ini tidak menyebutkan tentang agama-agama selain islam, sehingga ini bisa dianggap sebagai petunjuk bahwa sistem keagamaan yang umum di jawa itu tidaklah dimaksudkan kepada semua agama yang dianut oleh semua orang jawa. Akan tetapi sebagai manifestasi dari agama islam dalam penduduk jawa yang tidak semuanya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.&amp;nbsp;Varian Agama dalam Studi Clifford Geertz&amp;nbsp;Konsep yang diperkenalkan oleh Geertz untuk melukiskan dan menganalisa tipe budaya utama sesuai dengan menurut keparcayaan agama, preferensi etis dan ideology politik mereka maka dapat dijelaskan sebagai berikut:Varian abangan, yang menekankan aspek-aspek animism sinkretisme jawa secara keseluruhan dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsure petani desa penduduk.&amp;nbsp;Varian santri, yang menekankan aspek-aspek islam sinkretisme itu dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsure pedagang (dan juga unsure-unsur tertentu pada kaum tani).&amp;nbsp;Varian priyai, yang menekankan aspek-aspek hindu dan diasosiasikan dengan unsure birokrasi. (Geertz 1960: 6)Menurut Geertz pembagian ini merupakan pembagian yang dibuat oleh orang-orang jawa sendiri.&amp;nbsp;Namun demikian, meskipun memang benar dalam amsyarakat mojokuto sebagian dari penduduk dianggap sebagai abangan, sntri dan priyai, hanya saja ini tidak berarti bahwa ketiga golongan itu merupakan kategori-kategori dari satu tipe klasifikasi.&amp;nbsp;Kemudian penulis membatasi klasifikasinya dengan menyatakan bahwa istilah-istilah abangan, santri, dan priyai menunjukkan dimensi-dimensi variasi kebudayaan, bukan kategori absolute (Geertz: 347).&amp;nbsp;Geertz tidak menegaskan apakah ia hendak melukiskan kompleks-kompleks kepercayaan dan ritual keagamaan tertentu ataukah kepercayaan–kepercayaan dan ritual-ritual keagamaan kategori-kategori tertentu dalam masyarakat.&amp;nbsp;Agama Harus dibedakan Dengan Adat&amp;nbsp;Dalam mempelajari gejala agama dalam masyarakat Indonesia, maka harus menyadari bahwa ada perbedaan antara adat, ataupun sistem normative tradisional, dan agama dalam artinya yang luas sekalipun. Pola perilaku penduduk di Indonesia sangat ditentukan oleh norma-norma tradisional yang diakui dan dipatuhi, inilah yang dikenal dengan sebutan adat.&amp;nbsp;Adat suatu msyarakat setempat biasanya diteruskan secara lisan kepada anggota-anggotanya oleh generasi terdahulu.&amp;nbsp;Di mojokuto adat penduduknya adalah adat jawa, dengan beberapa variasi setempat.&amp;nbsp;Perbedaan antara adat dan agama apabila tidak disadari oleh orang yang sedang memperdalam pengetahuannya tentang agama, mengakibatkan penafsiran-penfasiran yang keliru terhadap fenomena-fenomena empiris tertentu. Kenyataan bahwa seseorang memperlihatkan sikap menahan diri, menguasai diri, tidak menunjukkan emosi, mungkin ditafsirkan dengan mengacu kepada agama sebagai petunjuk adanya kekuatan batin. Meskipun penafsiran ini kemungkinan benar, namun ada pula kemungkinan bahwa orang yang bersangkutan hanya mematuhi adat yang berlaku di situasi dimana ia berada dan dengan statusnya sendiri.&amp;nbsp;Agama yang berbeda dengan adat dapat diartikan sebagaai suatu sistem kepercayaan saja. Kompleks-kompleks nilai dan norma tertentu dapat mempunyai kaitan dengan satu agama tertentu, akan tetapi tidak merupakan inti dari agama itu yang adalah kepercayaan terhadap hal yang gaib.&amp;nbsp;Sebagain besar dari studi Geertz merupakan satu laporan mengenai deskripsi tentang adat dan bukan mengenai agama.&amp;nbsp;Ritual selametan misalnya dijelaskan dalam empat bab informative. Jenis-jenis selametan ini dijelaskan secara terperinci dalam kaitannya dalam maksud dan ritual tertentu. Hanya saja bentuk antara adat dengan agama tidak dibendakan padahal selametan tidak harus melibatkan agama sebagai kepercayaan.&amp;nbsp;Geertz dalam menjelaskan laporannya hanya untuk memenuhi ketentuan adata oleh karena dalam keadaan-keadaan tertentu orang diharapkan untuk mengadakan upacara-upacara tertentu.Dengan cara itu beberapa selametan yang tadinya bersifat keagamaan telah menajdi selametan adat. Sebagai upacara adat ia dapat diselenggarakan dengan berbagai tujuan seperti untuk mempererat kesetiakawanan kelompok, untuk menyebarkan kabar gembira, untuk memperoleh legitimasi bagi usaha-usaha tertentu, untuk menggunakan pengaruh, atau hanya memamerkan kekayaan untuk menambah gengsi.&amp;nbsp;Selametan yang dilukiskan oelh Geertz dijelaskan secara rinci tanpa ada tekanan yang memadai kepada makna keagamaannya.&amp;nbsp;Misalnya dalam selametan sunatan dapat dikemukakan sebagai contoh. Peristiwa itu Geertz lukiskan sebagai ritus pubertas. padahal seharusnya, di pulau jawa, sunatan dianggas sebagai suatu pengukuhan seorang muslim yang sah. Sunatan bisa dilangsungkan dengan atau tanpa selametan, akan tetapi selama seseorang belum disunat dia tidak dianggap tergolong dalam umat atau komunitas orang-orang yang percaya. Ketentuan ini juga berlaku bagi orang-orang dewasa yang masuk islam.&amp;nbsp;Varian Agama Abangan&amp;nbsp;Tradisi agama abangan yang pada pokoknya terdiri dari pesta ritual yang dinamakan selametan, satu kompleks kepercayaan yang luas dan rumit tentang roh-roh, dan seperangkat teori dan praktek penyembuhan, ilmu tenung, dan ilmu gaib Diasosiasikan dengan cara yang luas dan umum dengan desa jawa (Geertz 1960: 5)&amp;nbsp;Varian abangan menurut Geertz adalah masyarakat kaum tani di jawa.&amp;nbsp;Yang abangan itu adalah kaum tani jawa. Agama abangan menggambarkan sintesa petani antara hal-hal yang berasal dari kota dan warisan kesukuan, satu sinkretisme sisa-sisa lama daris elusin sumber yang tersusun menjadi satu konglomerat untuk memenuhi kebutuhan rakyat yang berjiwa sederhana. Yang menanam pad di teras-teras yang diairi (Geertz 1960: 229).&amp;nbsp;Varian Agama Santri&amp;nbsp;Deskripsi yang terperinci mengenai varian sanrti menurut Geertz adalah sebagai berikut:&amp;nbsp;Ia dimanifestaikan dalam pelaksanaan yang cermat dan teratur, ritual-ritual pokok agama islam, seperti kewajiban shalat lima kali sehari, shalat jumat di mesjid, berpuasa selama bulan ramadhan, dan menunaikan haji ke mekah. Ia dimanifestasikan dalam satu kompleks organisasi-organsisasi sosial, amal, dan politik seperti Muhammadiyah, Msyumi, dan Nahdlatul Ulama. Nilai-nilainya bersifat antibirokratik, bebas dan egaliter. Orang-orang santri sendiri hidup berkelompok-kelompok, sekarang hal itu sudah berkurang dibandingkan dengan sebelum perang, namun masih Nampak juga pengelompokan-pengelompokan mereka. Dan akhirnya ketaatan melakukan ibadah salatlah yang pada s\tingkat tertentu merupakan ukuran santri. Priyai dan abangan hampir tidak pernah melakukannya. (Geertz 1960: 215)&amp;nbsp;Varian santri ini dimanifestasikan sebagai pedagang.&amp;nbsp;Di desa terdapat unsure santri yang kuat, yang seringkali dipimpin oleh petani-petani kaya yang telah naik haji ke mekah dan setelah kembali mendirikan pesantren-pesantern (Geertz 1960: 5)&amp;nbsp;Kemudian, menurt geertz untuk santri di kota diidentifikasikan sebagai berikut:&amp;nbsp;Di kota kebanyakan santri adalah pedagang atau tukang, terutama penjahit (Geertz 1960: 222)&amp;nbsp;Varian Agama Priyai&amp;nbsp;Geertz berasumsi nahwa kaum priyai kaum elit yang sah memanifestasikan satu tradisi agama yang disebut sebagai varian agama priyai daris istem keagamaan pada umumnya di jawa.&amp;nbsp;Geertz melukiskan mereka sebagai satu golongan pegawai birokrasi yang menurut tempat tinggal mereka, merupakan penduduk kota. Mereka memiliki gelar-gelar kehormatan yang merupakan bagian dari birokrasi aristokrasi kraton.&amp;nbsp;`&amp;nbsp;Kritik terhadap Geertz&amp;nbsp;Clifford Geertz dalam deskripsinya seakan menjustifikasi bahwa kaum abangan, santri maupun priyai adalah golongan-golongan dari apa yang telah disebutkan sebelumnya. Padahal dalam kehidupan realitas sehari-hari tidak selalu semuanya demikian. Seharusnya dilakikan deskripsi secara menyeluruh. Selain itu deskripsi agama yang dilakukan oleh Geertz cenderung untuk menjelaskan realita keagamaan dalam masyarakat Mojokuto dan bukan merupakan cerminan keseluruhan dalam tradisi keagamaan maupun adat masyarakat jawa. Sumber dari sini. Buku ini dapat dipesan di SINI.</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Buku ini merupakan hasil studi penelitian Clifford Geertz dalam rentang waktu mei 1953-september 1954, di daerah Mojokuto Jawa Tengah.&amp;nbsp;Karya ini menjadi menarik karena bagi ahli-ahli dalam bidang antropologi, sosiologi, dan orang-orang yang sedang memperdalam pengetahuan mereka tentang agama islam dan Indonesia. Demikian pula untuk para ahli politik yang berminat tentang hubungan amtara agama dan perilaku politik di jawa.&amp;nbsp;Pada bagian pendahuluan buku ini, dijelaskan mengenai deskripsi geografis dan demografis daerah mojokuto yang menjadi tempat dimana penelitian ini dilangsungkan. Wilayah ini merupakan wilayah yang kompleks, memiliki populasi penduduk sekitar 20.000 orang, terdiri dari 18.000 orang jawa, 1.800 orang china dan selebihnya terdiri atas etnis arab, India dan minoritas lainnya.&amp;nbsp;Lalu Geertz mengemukakan urgensi dari tiga struktur social di jawa yaitu Desa, Pasa dan birokrasi pemerintahan.Sebenarnya buku yang ditulis oleh Geertz ini tidak membahas mengenai definisi agama, hal ini sudah barang tentu membawa pembaca sedikit kebingungan, karena sebenarnya jelas dari judulnya Geertz seolah menulis mengenai santri, abangan dan priyai yang jelas sekali berkaitan dengan kehidupan dalam umat islam.&amp;nbsp;Ketiga elemen yang dibahs merupakan suatu fenomena keagamaan yang sedikit atau banyak tergantung kepada pemahaman seseorang tentang apa itu agama dalam manifestasi empirisnya.&amp;nbsp;Kekurang cermatan dalam mengangkat definisi keagamaan akan berakibat kepada karakteristik tipologi-tipologi sehingga memberikan gambaran yang keliru tentang fakta-faktanya. Seperti yang ditunjukkan dalam bagian-bagian di bawah ini.&amp;nbsp;Sistem keagamaan yang umum di ajwa diperkenalkan tanpa disertai penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan apa yang dimasksud mengenai sistem keagamaan tersebut. Hal ini dengan sendirinya membawa kepada pemahaman bahwa studi ini tidak membahas agama di jawa, akan tetapi mengenai agama di Mojokuto yang meliputi kurang lebih dari 0,05% dari seluruh penduduk jawa.. Maka jelaslah apakah sistem keagamaan yang dimaksud oleh Geertz di jawa itu dengan mengacu kepada sistem keagamaan pada penduduk asli di mojokuto, maka jika demikian akan muncul suatu deskripsi mengenai agama-agama dengan versi yang ada di daerah setempat, yaitu islam, protestan (di mojokuto terdapat jemaat protestan yang kecila), khatolitk (di mojokuto kebanyakan khatolik adalah orang china, namun ada jua sebagian kecil khatolik jawa), agama jawa, animisme, dan mungkin pula dengan hindu dan budha, walau tidak dijumpai dalam bentuk-bentuk yang asli. Studi ini tidak menyebutkan tentang agama-agama selain islam, sehingga ini bisa dianggap sebagai petunjuk bahwa sistem keagamaan yang umum di jawa itu tidaklah dimaksudkan kepada semua agama yang dianut oleh semua orang jawa. Akan tetapi sebagai manifestasi dari agama islam dalam penduduk jawa yang tidak semuanya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.&amp;nbsp;Varian Agama dalam Studi Clifford Geertz&amp;nbsp;Konsep yang diperkenalkan oleh Geertz untuk melukiskan dan menganalisa tipe budaya utama sesuai dengan menurut keparcayaan agama, preferensi etis dan ideology politik mereka maka dapat dijelaskan sebagai berikut:Varian abangan, yang menekankan aspek-aspek animism sinkretisme jawa secara keseluruhan dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsure petani desa penduduk.&amp;nbsp;Varian santri, yang menekankan aspek-aspek islam sinkretisme itu dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsure pedagang (dan juga unsure-unsur tertentu pada kaum tani).&amp;nbsp;Varian priyai, yang menekankan aspek-aspek hindu dan diasosiasikan dengan unsure birokrasi. (Geertz 1960: 6)Menurut Geertz pembagian ini merupakan pembagian yang dibuat oleh orang-orang jawa sendiri.&amp;nbsp;Namun demikian, meskipun memang benar dalam amsyarakat mojokuto sebagian dari penduduk dianggap sebagai abangan, sntri dan priyai, hanya saja ini tidak berarti bahwa ketiga golongan itu merupakan kategori-kategori dari satu tipe klasifikasi.&amp;nbsp;Kemudian penulis membatasi klasifikasinya dengan menyatakan bahwa istilah-istilah abangan, santri, dan priyai menunjukkan dimensi-dimensi variasi kebudayaan, bukan kategori absolute (Geertz: 347).&amp;nbsp;Geertz tidak menegaskan apakah ia hendak melukiskan kompleks-kompleks kepercayaan dan ritual keagamaan tertentu ataukah kepercayaan–kepercayaan dan ritual-ritual keagamaan kategori-kategori tertentu dalam masyarakat.&amp;nbsp;Agama Harus dibedakan Dengan Adat&amp;nbsp;Dalam mempelajari gejala agama dalam masyarakat Indonesia, maka harus menyadari bahwa ada perbedaan antara adat, ataupun sistem normative tradisional, dan agama dalam artinya yang luas sekalipun. Pola perilaku penduduk di Indonesia sangat ditentukan oleh norma-norma tradisional yang diakui dan dipatuhi, inilah yang dikenal dengan sebutan adat.&amp;nbsp;Adat suatu msyarakat setempat biasanya diteruskan secara lisan kepada anggota-anggotanya oleh generasi terdahulu.&amp;nbsp;Di mojokuto adat penduduknya adalah adat jawa, dengan beberapa variasi setempat.&amp;nbsp;Perbedaan antara adat dan agama apabila tidak disadari oleh orang yang sedang memperdalam pengetahuannya tentang agama, mengakibatkan penafsiran-penfasiran yang keliru terhadap fenomena-fenomena empiris tertentu. Kenyataan bahwa seseorang memperlihatkan sikap menahan diri, menguasai diri, tidak menunjukkan emosi, mungkin ditafsirkan dengan mengacu kepada agama sebagai petunjuk adanya kekuatan batin. Meskipun penafsiran ini kemungkinan benar, namun ada pula kemungkinan bahwa orang yang bersangkutan hanya mematuhi adat yang berlaku di situasi dimana ia berada dan dengan statusnya sendiri.&amp;nbsp;Agama yang berbeda dengan adat dapat diartikan sebagaai suatu sistem kepercayaan saja. Kompleks-kompleks nilai dan norma tertentu dapat mempunyai kaitan dengan satu agama tertentu, akan tetapi tidak merupakan inti dari agama itu yang adalah kepercayaan terhadap hal yang gaib.&amp;nbsp;Sebagain besar dari studi Geertz merupakan satu laporan mengenai deskripsi tentang adat dan bukan mengenai agama.&amp;nbsp;Ritual selametan misalnya dijelaskan dalam empat bab informative. Jenis-jenis selametan ini dijelaskan secara terperinci dalam kaitannya dalam maksud dan ritual tertentu. Hanya saja bentuk antara adat dengan agama tidak dibendakan padahal selametan tidak harus melibatkan agama sebagai kepercayaan.&amp;nbsp;Geertz dalam menjelaskan laporannya hanya untuk memenuhi ketentuan adata oleh karena dalam keadaan-keadaan tertentu orang diharapkan untuk mengadakan upacara-upacara tertentu.Dengan cara itu beberapa selametan yang tadinya bersifat keagamaan telah menajdi selametan adat. Sebagai upacara adat ia dapat diselenggarakan dengan berbagai tujuan seperti untuk mempererat kesetiakawanan kelompok, untuk menyebarkan kabar gembira, untuk memperoleh legitimasi bagi usaha-usaha tertentu, untuk menggunakan pengaruh, atau hanya memamerkan kekayaan untuk menambah gengsi.&amp;nbsp;Selametan yang dilukiskan oelh Geertz dijelaskan secara rinci tanpa ada tekanan yang memadai kepada makna keagamaannya.&amp;nbsp;Misalnya dalam selametan sunatan dapat dikemukakan sebagai contoh. Peristiwa itu Geertz lukiskan sebagai ritus pubertas. padahal seharusnya, di pulau jawa, sunatan dianggas sebagai suatu pengukuhan seorang muslim yang sah. Sunatan bisa dilangsungkan dengan atau tanpa selametan, akan tetapi selama seseorang belum disunat dia tidak dianggap tergolong dalam umat atau komunitas orang-orang yang percaya. Ketentuan ini juga berlaku bagi orang-orang dewasa yang masuk islam.&amp;nbsp;Varian Agama Abangan&amp;nbsp;Tradisi agama abangan yang pada pokoknya terdiri dari pesta ritual yang dinamakan selametan, satu kompleks kepercayaan yang luas dan rumit tentang roh-roh, dan seperangkat teori dan praktek penyembuhan, ilmu tenung, dan ilmu gaib Diasosiasikan dengan cara yang luas dan umum dengan desa jawa (Geertz 1960: 5)&amp;nbsp;Varian abangan menurut Geertz adalah masyarakat kaum tani di jawa.&amp;nbsp;Yang abangan itu adalah kaum tani jawa. Agama abangan menggambarkan sintesa petani antara hal-hal yang berasal dari kota dan warisan kesukuan, satu sinkretisme sisa-sisa lama daris elusin sumber yang tersusun menjadi satu konglomerat untuk memenuhi kebutuhan rakyat yang berjiwa sederhana. Yang menanam pad di teras-teras yang diairi (Geertz 1960: 229).&amp;nbsp;Varian Agama Santri&amp;nbsp;Deskripsi yang terperinci mengenai varian sanrti menurut Geertz adalah sebagai berikut:&amp;nbsp;Ia dimanifestaikan dalam pelaksanaan yang cermat dan teratur, ritual-ritual pokok agama islam, seperti kewajiban shalat lima kali sehari, shalat jumat di mesjid, berpuasa selama bulan ramadhan, dan menunaikan haji ke mekah. Ia dimanifestasikan dalam satu kompleks organisasi-organsisasi sosial, amal, dan politik seperti Muhammadiyah, Msyumi, dan Nahdlatul Ulama. Nilai-nilainya bersifat antibirokratik, bebas dan egaliter. Orang-orang santri sendiri hidup berkelompok-kelompok, sekarang hal itu sudah berkurang dibandingkan dengan sebelum perang, namun masih Nampak juga pengelompokan-pengelompokan mereka. Dan akhirnya ketaatan melakukan ibadah salatlah yang pada s\tingkat tertentu merupakan ukuran santri. Priyai dan abangan hampir tidak pernah melakukannya. (Geertz 1960: 215)&amp;nbsp;Varian santri ini dimanifestasikan sebagai pedagang.&amp;nbsp;Di desa terdapat unsure santri yang kuat, yang seringkali dipimpin oleh petani-petani kaya yang telah naik haji ke mekah dan setelah kembali mendirikan pesantren-pesantern (Geertz 1960: 5)&amp;nbsp;Kemudian, menurt geertz untuk santri di kota diidentifikasikan sebagai berikut:&amp;nbsp;Di kota kebanyakan santri adalah pedagang atau tukang, terutama penjahit (Geertz 1960: 222)&amp;nbsp;Varian Agama Priyai&amp;nbsp;Geertz berasumsi nahwa kaum priyai kaum elit yang sah memanifestasikan satu tradisi agama yang disebut sebagai varian agama priyai daris istem keagamaan pada umumnya di jawa.&amp;nbsp;Geertz melukiskan mereka sebagai satu golongan pegawai birokrasi yang menurut tempat tinggal mereka, merupakan penduduk kota. Mereka memiliki gelar-gelar kehormatan yang merupakan bagian dari birokrasi aristokrasi kraton.&amp;nbsp;`&amp;nbsp;Kritik terhadap Geertz&amp;nbsp;Clifford Geertz dalam deskripsinya seakan menjustifikasi bahwa kaum abangan, santri maupun priyai adalah golongan-golongan dari apa yang telah disebutkan sebelumnya. Padahal dalam kehidupan realitas sehari-hari tidak selalu semuanya demikian. Seharusnya dilakikan deskripsi secara menyeluruh. Selain itu deskripsi agama yang dilakukan oleh Geertz cenderung untuk menjelaskan realita keagamaan dalam masyarakat Mojokuto dan bukan merupakan cerminan keseluruhan dalam tradisi keagamaan maupun adat masyarakat jawa. Sumber dari sini. Buku ini dapat dipesan di SINI.</itunes:summary><itunes:keywords>Agama Jawa: Abangan, Clifford Geertz, Priyayi Dalam Kebudayaan Jawa, Santri, Sejarah</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-1869761100093854724</guid><pubDate>Thu, 20 Feb 2014 19:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-21T03:00:19.935+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Damar Shashangka</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Darmagandhul</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dolphin</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sastra Sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Spiritual</category><title>Resensi buku "DARMAGANDHUL"</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj_ZaFuRjH4JB3fWTXz3pvLZbKLXsXRqOnOoOhIojlA8fzDlkYtn_CI4QGn4UiNBuAhMknv2svUNNckWMQ9hs4JSe85qwxCbroaV-_O2WGBIh0EcHr9r_ejiQog5E_J2cw-sXTIXsXVyaY/s1600/dharmagandul.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj_ZaFuRjH4JB3fWTXz3pvLZbKLXsXRqOnOoOhIojlA8fzDlkYtn_CI4QGn4UiNBuAhMknv2svUNNckWMQ9hs4JSe85qwxCbroaV-_O2WGBIh0EcHr9r_ejiQog5E_J2cw-sXTIXsXVyaY/s1600/dharmagandul.jpg" height="320" width="211" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sebuah buku sejarah yang diterjemahkan oleh penulis dari Serat Darmagandhul dengan bahasa yang disesuaikan dengan jaman. Semenjak terbit, Dharmagandhul telah menuai kontroversi , karena ceritanya dicintai kaum Kejawen dan Islam abangan tapi dibencikaum Islam radikal. Kitab ini hadir dalam versi prosa dan tembang, yang sudah sangat jarang ditemukan. Yang menjadi keistimewaan buku ini adalah penulis memberikan ulasan tentang runtuhnya Majapahit serta ajaran Islam, Buda dan Kejawen, demi mencari titik temu, intisari spiritual dari tiga kepercayaan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MANUSIA TIDAK MEMILIKI KEKUATAN APAPUN. MANUSIA SEKEDAR MENJALANI. BUDI / KESADARANLAH YANG MENGGERAKKANNYA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menceritakan awal mula orang Jawa meninggalkan agama Buda, lalu berganti agama Rasul. Sesungguhnya Majapahit bernama asli Majalengka, sedangkan nama Majapahit itu hanyalah perlambang. Yang bertahta terakhir adalah Prabu Brawijaya. Prabu yang tergila-gila kepada Putri Campa yang beragama Islam. Setiap memadu asmara sang Putri selalu bercerita tentang keluhuran agama Islam, sehingga hati sang Prabu tertarik pada agama Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keponakan sang Putri yang bernama Sayid Rakhmat berkunjung ke Majalengka, dan memohon kepada sang Prabu agar diijinkan menyebarkan ajaran Rasul, dan sang Prabu mengijinkan. Sayid kemudian menetap di daerah Ampel, yang sekarang masuk wilayah kecamatan Semampir, Surabaya. Lama kelamaan banyak ulama yang dating dan tinggal di pesisir utara, penduduk Jawa lantas banyak yang memeluk agama Islam. Padahal agama Buda telah ada di tanah Jawa selama kurang lebih seribu tahun, dan pengikutnya menyembah kesadaran sejati tanpa paksaan siapa pun (Budi Hawa).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prabu Brawijaya memiliki seorang putra hasil perkawinannya dengan seorang putri Cina yang lahir di Palembang, namanya Raden Patah, beragama Islam dan menikah dengan putri Ngampel, cucu Sunan Ampel. Diangkat sang Prabu menjadi Bupati Demak, kelak sang putra inilah yang akan menghancurkan kerajaan ayahnya, Majalengka (Majapahit).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Sunan Benang hendak mengunjungi Kediri dan berniat mencari air bersih untuk wudhu, ternyata air sungai Brantas banjir dan kotor, sehinga muridnya diminta mencari ke desa terdekat. Di jalan, muridnya melihat seorang gadis yang sedang menenun. Sang gadis kaget dan menyangka murid ini berniat jelek padanya, sehingga permintaan murid Sunan untuk meminta air bersih dijawab dengan kasar. Sunan sangat marah mendapat laporan muridnya, sehingga bersumpah bahwa penduduk wilayah itu akan sulit mencari air dan setiap gadis serta perjaka yang tinggal disana tidak akan bisa menikah sebelum usianya tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini menimbulkan kemarahan jin di wilayah Tanjung Tani karena aliran sungai merusak desa, hutan, lading dan sawah yang terlanggar. Hal ini disampaikan kepada raja mereka, yaitu Butalocaya yang berada di kaki Gunung Wilis. &amp;nbsp;Butalocaya dahulunya (semasa masih menjadi manusia) adalah patih Prabu Jayabaya yang bernama Kiai Daka. Saat Prabu Jayabaya moksa (bersatu dengan Tuhan), putrinya Ni Mas Ratu Pagedhogan, Butalocaya dan Kiai Tunggul Wulung ikut berpindah alam. Putrinya menjadi ratu makhluk halus di laut selatan, sedangkan Kiai Tunggu Wulung menjadi raja makhluk halus di Gunung Kelud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butalocaya sangat marah mendengar perbuatan Sunan Benang, lalu mencegat &amp;nbsp;perjalanannya. Beberapa teguran Butalocaya kepada Sunan Benang yang layak diingat adalah :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“JANGANLAH KARENA MERASA MENJADI KEKASIH TUHAN, MERASA BANYAK TEMAN MALAIKAT, LANTAS BERBUAT SEENAKNYA, MENGANIAYA MEREKA YANG TANPA DOSA, INILAH JALAN MENUJU CELAKA”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ORANG JAWA TAHU ARCA TIDAK MEMILIKI DAYA KUASA APAPUN. MENGAPA ARCA INI DILAYANI DENGAN KEMENYAN DAN SAJEN ? AGAR SEMUA MAKHLUK HALUS TIDAK BERTEMPAT TINGGAL SEMBARANGAN &amp;nbsp;DI ATAS TANAH DAN DI POHON. SEBAB TANAH DAN POHON BISA MENGHASILKAN SESUATU.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“SELURUH MANUSIA SEYOGYANYA MENGETAHUI RUMAH – ALLAHNYA SENDIRI. TUBUH MANUSIA INILAH SESUNGGUHNYA BUATAN TUHAN SENDIRI YANG HARUS DIJAGA BETUL-BETUL.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain Butalocaya, Prabu Brawijaya juga sangat marah akan perbuatan Sunan Benang sehingga mengeluarkan perintah untuk mengusir semua ulama dari Arab kecuali di daeran Ampel dan Demak. Akhirnya Sunan Benang dan Sunan Giri melarikan diri ke Demak. Mereka menghasut Adipati Demak, yaitu Raden Patah untuk menyerang ayahnya sendiri, Prabu Brawijaya dan menghancurkan kerajaan Majalengka, kemudian mengangkat sang Pangeran menjadi Raja Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Sang Prabu sangat terkejut dan heran dengan perilaku ulama dan putranya yang tidak ingat budi baik sang Prabu, malah membalas dengan hal yang tidak sepatutnya. Dalam kemarahannya, Sang Prabu mengeluarkan kutuk “ semoga terbalaskan kesedihan yang aku alami ini, semoga orang Islam Jawa kelak terbalik dalam menjalankan agamanya, berubah menjadi orang berkuncir (maksudnya berkuncir dua, disisi lain kelihatan alim, tapi disisi lain materialistic, gampang terpengaruh hal-hal dunia, meremehkan spiritualitas, hanya kedok belaka untuk diperdagangkan, spiritualitas ditukar dengan materi, mempunyai kepribadian yang bertolak belakang).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Prabu meloloskan diri dari kerajaan diiringi dua Patih yang setia, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
GUSTI ALLAH TIDAK AKAN MENYIKSA MANUSIA KAFIR YANG TAK BERSALAH DAN TAK AKAN MEMBERIKAN PAHALA KEPADA ORANG ISLAM YANG PERBUATANNYA TIDAK BENAR. HANYA PERBUATANNYA YANG AKAN DIADILI SECARA ADIL, BUKAN KARENA AGAMANYA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sunan Kalijaga berusaha melacak jejak sang Prabu, Perjalanan sang Prabu sendiri sudah sampai di Blambangan. Niatnya adalah meminta sang Prabu kembali ke Majapahit, tapi sang Prabu berniat untuk menyeberang ke Bali, menggalang kekuatan untuk menghancurkan Demak. Karena tidak bisa mencegah niat sang Prabu, Sunan Kalijaga menyembah kaki sang Prabu dan meminta sang Prabu untuk membunuhnya dengan kerisnya sendiri, daripada hidup melihat perang antara Ayah dan anak. Sunan meminta sang Prabu untuk berganti agama Rasul agar tidak disia-siakan putranya. Banyak yang dihaturkan / diajarkan Sunan Kalijaga, sehingga akhirnya sang Prabu tertarik dan berkenan untuk memeluk agama Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Prabu juga meminta dua abdinya, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong untuk memeluk agama Islam, tapi mereka menolak, dan berkata :&lt;br /&gt;
“HAMBA TIDAK TEGA MELIHAT PERILAKU MEREKA YANG SIA-SIA, SUKA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI SEMUA YANG BERBADAN, MEMBUAT TAK BERGUNA TUJUAN MOKSA HAMBA KELAK. LEBIH BAIK TIDAK MENGURUSI TETANGGA, PERBUATAN MENGHAKIMI AGAMA LAIN HANYA AKAN MENUNJUKKAN RENDAHNYA PEMAHAMAN DIRI”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber dari &lt;a href="http://putuwidhi.blogspot.com/2012/03/resensi-buku_31.html"&gt;sini.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Judul buku : DARMAGANDHUL Kisah Kehancuran Jawa dan ajaran – ajaran rahasia.&lt;br /&gt;
Penulis : DAMAR SHASHANGKA&lt;br /&gt;
Penerbit : DOLPHIN&lt;br /&gt;
Tahun Terbit : 2011&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku ini dapat di pesan di &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/darmagandhul-kisah-kehancuran-jawa-dan.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/resensi-buku-darmagandhul.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj_ZaFuRjH4JB3fWTXz3pvLZbKLXsXRqOnOoOhIojlA8fzDlkYtn_CI4QGn4UiNBuAhMknv2svUNNckWMQ9hs4JSe85qwxCbroaV-_O2WGBIh0EcHr9r_ejiQog5E_J2cw-sXTIXsXVyaY/s72-c/dharmagandul.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="79326" type="image/jpeg" url="http://1.bp.blogspot.com/-fHZebNKuZXg/UvFXPaQVBYI/AAAAAAAABK8/NaStgD_qrUw/s1600/dharmagandul.jpg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Sebuah buku sejarah yang diterjemahkan oleh penulis dari Serat Darmagandhul dengan bahasa yang disesuaikan dengan jaman. Semenjak terbit, Dharmagandhul telah menuai kontroversi , karena ceritanya dicintai kaum Kejawen dan Islam abangan tapi dibencikaum Islam radikal. Kitab ini hadir dalam versi prosa dan tembang, yang sudah sangat jarang ditemukan. Yang menjadi keistimewaan buku ini adalah penulis memberikan ulasan tentang runtuhnya Majapahit serta ajaran Islam, Buda dan Kejawen, demi mencari titik temu, intisari spiritual dari tiga kepercayaan tersebut. MANUSIA TIDAK MEMILIKI KEKUATAN APAPUN. MANUSIA SEKEDAR MENJALANI. BUDI / KESADARANLAH YANG MENGGERAKKANNYA Menceritakan awal mula orang Jawa meninggalkan agama Buda, lalu berganti agama Rasul. Sesungguhnya Majapahit bernama asli Majalengka, sedangkan nama Majapahit itu hanyalah perlambang. Yang bertahta terakhir adalah Prabu Brawijaya. Prabu yang tergila-gila kepada Putri Campa yang beragama Islam. Setiap memadu asmara sang Putri selalu bercerita tentang keluhuran agama Islam, sehingga hati sang Prabu tertarik pada agama Islam. Keponakan sang Putri yang bernama Sayid Rakhmat berkunjung ke Majalengka, dan memohon kepada sang Prabu agar diijinkan menyebarkan ajaran Rasul, dan sang Prabu mengijinkan. Sayid kemudian menetap di daerah Ampel, yang sekarang masuk wilayah kecamatan Semampir, Surabaya. Lama kelamaan banyak ulama yang dating dan tinggal di pesisir utara, penduduk Jawa lantas banyak yang memeluk agama Islam. Padahal agama Buda telah ada di tanah Jawa selama kurang lebih seribu tahun, dan pengikutnya menyembah kesadaran sejati tanpa paksaan siapa pun (Budi Hawa). Prabu Brawijaya memiliki seorang putra hasil perkawinannya dengan seorang putri Cina yang lahir di Palembang, namanya Raden Patah, beragama Islam dan menikah dengan putri Ngampel, cucu Sunan Ampel. Diangkat sang Prabu menjadi Bupati Demak, kelak sang putra inilah yang akan menghancurkan kerajaan ayahnya, Majalengka (Majapahit). Saat Sunan Benang hendak mengunjungi Kediri dan berniat mencari air bersih untuk wudhu, ternyata air sungai Brantas banjir dan kotor, sehinga muridnya diminta mencari ke desa terdekat. Di jalan, muridnya melihat seorang gadis yang sedang menenun. Sang gadis kaget dan menyangka murid ini berniat jelek padanya, sehingga permintaan murid Sunan untuk meminta air bersih dijawab dengan kasar. Sunan sangat marah mendapat laporan muridnya, sehingga bersumpah bahwa penduduk wilayah itu akan sulit mencari air dan setiap gadis serta perjaka yang tinggal disana tidak akan bisa menikah sebelum usianya tua. Hal ini menimbulkan kemarahan jin di wilayah Tanjung Tani karena aliran sungai merusak desa, hutan, lading dan sawah yang terlanggar. Hal ini disampaikan kepada raja mereka, yaitu Butalocaya yang berada di kaki Gunung Wilis. &amp;nbsp;Butalocaya dahulunya (semasa masih menjadi manusia) adalah patih Prabu Jayabaya yang bernama Kiai Daka. Saat Prabu Jayabaya moksa (bersatu dengan Tuhan), putrinya Ni Mas Ratu Pagedhogan, Butalocaya dan Kiai Tunggul Wulung ikut berpindah alam. Putrinya menjadi ratu makhluk halus di laut selatan, sedangkan Kiai Tunggu Wulung menjadi raja makhluk halus di Gunung Kelud. Butalocaya sangat marah mendengar perbuatan Sunan Benang, lalu mencegat &amp;nbsp;perjalanannya. Beberapa teguran Butalocaya kepada Sunan Benang yang layak diingat adalah : “JANGANLAH KARENA MERASA MENJADI KEKASIH TUHAN, MERASA BANYAK TEMAN MALAIKAT, LANTAS BERBUAT SEENAKNYA, MENGANIAYA MEREKA YANG TANPA DOSA, INILAH JALAN MENUJU CELAKA”. ORANG JAWA TAHU ARCA TIDAK MEMILIKI DAYA KUASA APAPUN. MENGAPA ARCA INI DILAYANI DENGAN KEMENYAN DAN SAJEN ? AGAR SEMUA MAKHLUK HALUS TIDAK BERTEMPAT TINGGAL SEMBARANGAN &amp;nbsp;DI ATAS TANAH DAN DI POHON. SEBAB TANAH DAN POHON BISA MENGHASILKAN SESUATU. “SELURUH MANUSIA SEYOGYANYA MENGETAHUI RUMAH – ALLAHNYA SENDIRI. TUBUH MANUSIA INILAH SESUNGGUHNYA BUATAN TUHAN SENDIRI YANG HARUS DIJAGA BETUL-BETUL. Selain Butalocaya, Prabu Brawijaya juga sangat marah akan perbuatan Sunan Benang sehingga mengeluarkan perintah untuk mengusir semua ulama dari Arab kecuali di daeran Ampel dan Demak. Akhirnya Sunan Benang dan Sunan Giri melarikan diri ke Demak. Mereka menghasut Adipati Demak, yaitu Raden Patah untuk menyerang ayahnya sendiri, Prabu Brawijaya dan menghancurkan kerajaan Majalengka, kemudian mengangkat sang Pangeran menjadi Raja Baru. &amp;nbsp;Sang Prabu sangat terkejut dan heran dengan perilaku ulama dan putranya yang tidak ingat budi baik sang Prabu, malah membalas dengan hal yang tidak sepatutnya. Dalam kemarahannya, Sang Prabu mengeluarkan kutuk “ semoga terbalaskan kesedihan yang aku alami ini, semoga orang Islam Jawa kelak terbalik dalam menjalankan agamanya, berubah menjadi orang berkuncir (maksudnya berkuncir dua, disisi lain kelihatan alim, tapi disisi lain materialistic, gampang terpengaruh hal-hal dunia, meremehkan spiritualitas, hanya kedok belaka untuk diperdagangkan, spiritualitas ditukar dengan materi, mempunyai kepribadian yang bertolak belakang). Sang Prabu meloloskan diri dari kerajaan diiringi dua Patih yang setia, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong. GUSTI ALLAH TIDAK AKAN MENYIKSA MANUSIA KAFIR YANG TAK BERSALAH DAN TAK AKAN MEMBERIKAN PAHALA KEPADA ORANG ISLAM YANG PERBUATANNYA TIDAK BENAR. HANYA PERBUATANNYA YANG AKAN DIADILI SECARA ADIL, BUKAN KARENA AGAMANYA. Sunan Kalijaga berusaha melacak jejak sang Prabu, Perjalanan sang Prabu sendiri sudah sampai di Blambangan. Niatnya adalah meminta sang Prabu kembali ke Majapahit, tapi sang Prabu berniat untuk menyeberang ke Bali, menggalang kekuatan untuk menghancurkan Demak. Karena tidak bisa mencegah niat sang Prabu, Sunan Kalijaga menyembah kaki sang Prabu dan meminta sang Prabu untuk membunuhnya dengan kerisnya sendiri, daripada hidup melihat perang antara Ayah dan anak. Sunan meminta sang Prabu untuk berganti agama Rasul agar tidak disia-siakan putranya. Banyak yang dihaturkan / diajarkan Sunan Kalijaga, sehingga akhirnya sang Prabu tertarik dan berkenan untuk memeluk agama Islam. Sang Prabu juga meminta dua abdinya, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong untuk memeluk agama Islam, tapi mereka menolak, dan berkata : “HAMBA TIDAK TEGA MELIHAT PERILAKU MEREKA YANG SIA-SIA, SUKA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI SEMUA YANG BERBADAN, MEMBUAT TAK BERGUNA TUJUAN MOKSA HAMBA KELAK. LEBIH BAIK TIDAK MENGURUSI TETANGGA, PERBUATAN MENGHAKIMI AGAMA LAIN HANYA AKAN MENUNJUKKAN RENDAHNYA PEMAHAMAN DIRI” Sumber dari sini. Judul buku : DARMAGANDHUL Kisah Kehancuran Jawa dan ajaran – ajaran rahasia. Penulis : DAMAR SHASHANGKA Penerbit : DOLPHIN Tahun Terbit : 2011 Buku ini dapat di pesan di SINI</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Sebuah buku sejarah yang diterjemahkan oleh penulis dari Serat Darmagandhul dengan bahasa yang disesuaikan dengan jaman. Semenjak terbit, Dharmagandhul telah menuai kontroversi , karena ceritanya dicintai kaum Kejawen dan Islam abangan tapi dibencikaum Islam radikal. Kitab ini hadir dalam versi prosa dan tembang, yang sudah sangat jarang ditemukan. Yang menjadi keistimewaan buku ini adalah penulis memberikan ulasan tentang runtuhnya Majapahit serta ajaran Islam, Buda dan Kejawen, demi mencari titik temu, intisari spiritual dari tiga kepercayaan tersebut. MANUSIA TIDAK MEMILIKI KEKUATAN APAPUN. MANUSIA SEKEDAR MENJALANI. BUDI / KESADARANLAH YANG MENGGERAKKANNYA Menceritakan awal mula orang Jawa meninggalkan agama Buda, lalu berganti agama Rasul. Sesungguhnya Majapahit bernama asli Majalengka, sedangkan nama Majapahit itu hanyalah perlambang. Yang bertahta terakhir adalah Prabu Brawijaya. Prabu yang tergila-gila kepada Putri Campa yang beragama Islam. Setiap memadu asmara sang Putri selalu bercerita tentang keluhuran agama Islam, sehingga hati sang Prabu tertarik pada agama Islam. Keponakan sang Putri yang bernama Sayid Rakhmat berkunjung ke Majalengka, dan memohon kepada sang Prabu agar diijinkan menyebarkan ajaran Rasul, dan sang Prabu mengijinkan. Sayid kemudian menetap di daerah Ampel, yang sekarang masuk wilayah kecamatan Semampir, Surabaya. Lama kelamaan banyak ulama yang dating dan tinggal di pesisir utara, penduduk Jawa lantas banyak yang memeluk agama Islam. Padahal agama Buda telah ada di tanah Jawa selama kurang lebih seribu tahun, dan pengikutnya menyembah kesadaran sejati tanpa paksaan siapa pun (Budi Hawa). Prabu Brawijaya memiliki seorang putra hasil perkawinannya dengan seorang putri Cina yang lahir di Palembang, namanya Raden Patah, beragama Islam dan menikah dengan putri Ngampel, cucu Sunan Ampel. Diangkat sang Prabu menjadi Bupati Demak, kelak sang putra inilah yang akan menghancurkan kerajaan ayahnya, Majalengka (Majapahit). Saat Sunan Benang hendak mengunjungi Kediri dan berniat mencari air bersih untuk wudhu, ternyata air sungai Brantas banjir dan kotor, sehinga muridnya diminta mencari ke desa terdekat. Di jalan, muridnya melihat seorang gadis yang sedang menenun. Sang gadis kaget dan menyangka murid ini berniat jelek padanya, sehingga permintaan murid Sunan untuk meminta air bersih dijawab dengan kasar. Sunan sangat marah mendapat laporan muridnya, sehingga bersumpah bahwa penduduk wilayah itu akan sulit mencari air dan setiap gadis serta perjaka yang tinggal disana tidak akan bisa menikah sebelum usianya tua. Hal ini menimbulkan kemarahan jin di wilayah Tanjung Tani karena aliran sungai merusak desa, hutan, lading dan sawah yang terlanggar. Hal ini disampaikan kepada raja mereka, yaitu Butalocaya yang berada di kaki Gunung Wilis. &amp;nbsp;Butalocaya dahulunya (semasa masih menjadi manusia) adalah patih Prabu Jayabaya yang bernama Kiai Daka. Saat Prabu Jayabaya moksa (bersatu dengan Tuhan), putrinya Ni Mas Ratu Pagedhogan, Butalocaya dan Kiai Tunggul Wulung ikut berpindah alam. Putrinya menjadi ratu makhluk halus di laut selatan, sedangkan Kiai Tunggu Wulung menjadi raja makhluk halus di Gunung Kelud. Butalocaya sangat marah mendengar perbuatan Sunan Benang, lalu mencegat &amp;nbsp;perjalanannya. Beberapa teguran Butalocaya kepada Sunan Benang yang layak diingat adalah : “JANGANLAH KARENA MERASA MENJADI KEKASIH TUHAN, MERASA BANYAK TEMAN MALAIKAT, LANTAS BERBUAT SEENAKNYA, MENGANIAYA MEREKA YANG TANPA DOSA, INILAH JALAN MENUJU CELAKA”. ORANG JAWA TAHU ARCA TIDAK MEMILIKI DAYA KUASA APAPUN. MENGAPA ARCA INI DILAYANI DENGAN KEMENYAN DAN SAJEN ? AGAR SEMUA MAKHLUK HALUS TIDAK BERTEMPAT TINGGAL SEMBARANGAN &amp;nbsp;DI ATAS TANAH DAN DI POHON. SEBAB TANAH DAN POHON BISA MENGHASILKAN SESUATU. “SELURUH MANUSIA SEYOGYANYA MENGETAHUI RUMAH – ALLAHNYA SENDIRI. TUBUH MANUSIA INILAH SESUNGGUHNYA BUATAN TUHAN SENDIRI YANG HARUS DIJAGA BETUL-BETUL. Selain Butalocaya, Prabu Brawijaya juga sangat marah akan perbuatan Sunan Benang sehingga mengeluarkan perintah untuk mengusir semua ulama dari Arab kecuali di daeran Ampel dan Demak. Akhirnya Sunan Benang dan Sunan Giri melarikan diri ke Demak. Mereka menghasut Adipati Demak, yaitu Raden Patah untuk menyerang ayahnya sendiri, Prabu Brawijaya dan menghancurkan kerajaan Majalengka, kemudian mengangkat sang Pangeran menjadi Raja Baru. &amp;nbsp;Sang Prabu sangat terkejut dan heran dengan perilaku ulama dan putranya yang tidak ingat budi baik sang Prabu, malah membalas dengan hal yang tidak sepatutnya. Dalam kemarahannya, Sang Prabu mengeluarkan kutuk “ semoga terbalaskan kesedihan yang aku alami ini, semoga orang Islam Jawa kelak terbalik dalam menjalankan agamanya, berubah menjadi orang berkuncir (maksudnya berkuncir dua, disisi lain kelihatan alim, tapi disisi lain materialistic, gampang terpengaruh hal-hal dunia, meremehkan spiritualitas, hanya kedok belaka untuk diperdagangkan, spiritualitas ditukar dengan materi, mempunyai kepribadian yang bertolak belakang). Sang Prabu meloloskan diri dari kerajaan diiringi dua Patih yang setia, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong. GUSTI ALLAH TIDAK AKAN MENYIKSA MANUSIA KAFIR YANG TAK BERSALAH DAN TAK AKAN MEMBERIKAN PAHALA KEPADA ORANG ISLAM YANG PERBUATANNYA TIDAK BENAR. HANYA PERBUATANNYA YANG AKAN DIADILI SECARA ADIL, BUKAN KARENA AGAMANYA. Sunan Kalijaga berusaha melacak jejak sang Prabu, Perjalanan sang Prabu sendiri sudah sampai di Blambangan. Niatnya adalah meminta sang Prabu kembali ke Majapahit, tapi sang Prabu berniat untuk menyeberang ke Bali, menggalang kekuatan untuk menghancurkan Demak. Karena tidak bisa mencegah niat sang Prabu, Sunan Kalijaga menyembah kaki sang Prabu dan meminta sang Prabu untuk membunuhnya dengan kerisnya sendiri, daripada hidup melihat perang antara Ayah dan anak. Sunan meminta sang Prabu untuk berganti agama Rasul agar tidak disia-siakan putranya. Banyak yang dihaturkan / diajarkan Sunan Kalijaga, sehingga akhirnya sang Prabu tertarik dan berkenan untuk memeluk agama Islam. Sang Prabu juga meminta dua abdinya, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong untuk memeluk agama Islam, tapi mereka menolak, dan berkata : “HAMBA TIDAK TEGA MELIHAT PERILAKU MEREKA YANG SIA-SIA, SUKA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI SEMUA YANG BERBADAN, MEMBUAT TAK BERGUNA TUJUAN MOKSA HAMBA KELAK. LEBIH BAIK TIDAK MENGURUSI TETANGGA, PERBUATAN MENGHAKIMI AGAMA LAIN HANYA AKAN MENUNJUKKAN RENDAHNYA PEMAHAMAN DIRI” Sumber dari sini. Judul buku : DARMAGANDHUL Kisah Kehancuran Jawa dan ajaran – ajaran rahasia. Penulis : DAMAR SHASHANGKA Penerbit : DOLPHIN Tahun Terbit : 2011 Buku ini dapat di pesan di SINI</itunes:summary><itunes:keywords>Damar Shashangka, Darmagandhul, Dolphin, Sastra Sejarah, Sejarah, Spiritual</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-13852651593205788</guid><pubDate>Thu, 20 Feb 2014 14:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-20T21:14:12.439+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Achmad Chodjim</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Spiritual</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Syekh Siti Jenar: Makna Kematian</category><title>Resensi : Syekh Siti Jenar: Makna Kematian</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiaEC1QzJTdV_mtCV7h2r5cEtkLqoTTIun0_MakzCD9Za6b7nLJ9CSAsK4tjEPf53iGzWFF8gfdjFadV03zZ49JJ6zdGcrSntombKH5cg7gfgNar6pxn1t47s95uV68orr8m8-Iu4PnZxY/s1600/buku_Siti_Jenar_MaknaKematian.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiaEC1QzJTdV_mtCV7h2r5cEtkLqoTTIun0_MakzCD9Za6b7nLJ9CSAsK4tjEPf53iGzWFF8gfdjFadV03zZ49JJ6zdGcrSntombKH5cg7gfgNar6pxn1t47s95uV68orr8m8-Iu4PnZxY/s1600/buku_Siti_Jenar_MaknaKematian.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;Sebenarnya, buku ini sudah lama selesai dibaca. tertarik mereview karena melihat tayangan kick andy yang membahas tentang kematian (based on book yang berjudul the last lecturer dan psikologi kematian). dua buku terakhir ini belum saya baca. adalagi buku yang menyita perhatian saya sebenarnya. buku al ghozali -nabi tanpa wahyu- metode menjemput kematian.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;kenapa kematian?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;seyem&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;ya. saya sendiri tertarik untuk 'mati' setelah beberapa tahun terakhir ini mendalami&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;dunia sunyi sufi&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;. meski saya tak berusaha seperti seorang salik sufi yang mencoba berbagai cara untuk mati. tapi saya memang penasaran untuk 'mati'. ada apa dengan 'mati'. benarkah kita akan mengalami siksa kubur. benarkah kita akan menuju surga atau neraka. jangan-jangan surga dan neraka itu tidak ada. belum ada bukti. semua cuma kata kitab suci. bukan saya meragukan kitab suci. tapi saya adalah tipe yang membutuhkan 'bukti' untuk sebuah kebenaran. kitab suci sekedar pengantar. kebenaran sejati ada di hati. jika tidak ada kitab suci, apakah anda masih percaya adanya Tuhan? inilah yang saya 'cari'.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;pikiran ini membawa saya ke sebuah gua yang bernama gua pamijahan. gua ini terletak di kaki bukit gunung mujarod (tempat penenangan) di daerah tasikmalaya. gua ini adalah tempat di mana syaikh abdul qodir jaelani menerima ilmu agama dari syaikh imam sanusi. konon, gua ini juga menjadi tempat 'meeting' para wali songo dengan syaikh abdul qodir jaelani -saya sempat berdiam lama di tempat 'meeting' ini-. entah apa yang mereka 'meeting'-kan. tidak usah dibahas di sini.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;ketika sampai di ujung gua -tempatnya cukup lebar-, kebetulan pas tidak ada orang. saya mencoba mematikan obor saya. dan seketika gelap hinggap. segelap-gelapnya. sesunyi-sunyinya. apakah ini mati. sunyi. tidak ada bunyi. tidak ada cahaya. hitam. sehitam-hitamnya. pikiran saya lari kemana-mana. ingat ibu saya. bapak saya. adik-adik saya. kawan-kawan saya. mhh.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;kok seyem gini sih&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;. saya jadi takut. hati saya tak henti-hentinya dzikir. mengingat segala dosa dan khilaf. (dan kenapa juga saya ingat dosa dan khilaf. sementara ketika saya 'hidup', saya tak memusingkan hal itu. cuek.) akhirnya tak kuasa juga saya menahan airmata. dia menetes tanpa saya perintah. entah apa yang saya pikirkan. cuma saya merasa 'takut' jika mati dimaknai dengan gelap dan sunyi seperti ini. (saya pernah berkhayal, bahwa kematian tidak ada bedanya dengan kehidupan. kita masih bisa&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;dugem&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;atau menyantap soto ceker kesukaan). tapi kalau gelap dan sunyi begini. doh. saya ogah deh.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;nah, pandangan saya tentang kematian 'berubah' saat saya mulai baca buku ini. dengan bahasa yang mengalir dan sederhana, achmad chodjim berusaha menjelaskan makna kematian bagi seorang mbah jenar -duh. saya jadi kangen panjenengan-. bagi mbah jenar, kematian itu ya hari ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;dimana kita (baca: saya) masih bisa menghirup udara bebas. masih bisa makan soto ceker dan minum coca cola. masih sempat ngopi di phoenam. masih senang chatting di sela kerja. masih bermimpi untuk menjadi orang sukses dan banyak duit sehingga bisa beli banyak buku dan membangun perpustakaan. masih sempat menulis puisi dan cerpen. masih baca buku dan menulis review.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;tapi begitulah. itu hanya contoh aktivitas yang kita kerjakan saat kita berada di 'alam kematian'. banyak aktivitas lain yang tidak usah dibahas di sini.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;menurut mbah jenar, kehidupan sejati adalah hidup bersama sang pemberi hidup. bukan alam materi seperti yang kita alami dan rasakan seperti ini. sesungguhnya kita sudah berada di alam kematian hari ini -tanpa nisan dan kain kafan-. sesungguhnya kita sudah berada di alam surga dan neraka hari ini. tergantung parameter anda tentang surga dan neraka itu. sungguh. betapa setiap hari kita selalu berhadapan dengan hal-hal yang tidak masuk akal. hal-hal ini akan masuk akal jika kita berada di alam kematian. ayah memperkosa anaknya. anak membunuh ibunya. orang saling membunuh cuma karena beda.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;nggak masuk akal kan&lt;/em&gt;&lt;span style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;mbah jenar menampar saya. mengingatkan saya untuk 'hidup'. kenapa saya harus memikirkan kematian. saya sudah mati sejak pertama saya melihat dunia ini. yang saya butuhkan adalah 'hidup'. sehidup-hidupnya. hidup dengan sang pemberi hidup. siapa pun dia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.600000381469727px; text-align: justify;"&gt;Sumber resensi dari &lt;a href="http://racauanbuku.blogspot.com/2012/05/syekh-siti-jenar-makna-kematian.html"&gt;SINI.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pesan Buku ini di &lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/syekh-siti-jenar-makna-kematian.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;atau SMS/WA 081393725615. ( Eko Waluyo )&lt;/b&gt;</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/resensi-syekh-siti-jenar-makna-kematian.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiaEC1QzJTdV_mtCV7h2r5cEtkLqoTTIun0_MakzCD9Za6b7nLJ9CSAsK4tjEPf53iGzWFF8gfdjFadV03zZ49JJ6zdGcrSntombKH5cg7gfgNar6pxn1t47s95uV68orr8m8-Iu4PnZxY/s72-c/buku_Siti_Jenar_MaknaKematian.gif" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="12029" type="image/gif" url="http://1.bp.blogspot.com/-ZiBZlONUyOQ/UwYNRjhSVRI/AAAAAAAACjc/QhTpMceCLZ0/s1600/buku_Siti_Jenar_MaknaKematian.gif"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Sebenarnya, buku ini sudah lama selesai dibaca. tertarik mereview karena melihat tayangan kick andy yang membahas tentang kematian (based on book yang berjudul the last lecturer dan psikologi kematian). dua buku terakhir ini belum saya baca. adalagi buku yang menyita perhatian saya sebenarnya. buku al ghozali -nabi tanpa wahyu- metode menjemput kematian.kenapa kematian?&amp;nbsp;seyem&amp;nbsp;ya. saya sendiri tertarik untuk 'mati' setelah beberapa tahun terakhir ini mendalami&amp;nbsp;dunia sunyi sufi. meski saya tak berusaha seperti seorang salik sufi yang mencoba berbagai cara untuk mati. tapi saya memang penasaran untuk 'mati'. ada apa dengan 'mati'. benarkah kita akan mengalami siksa kubur. benarkah kita akan menuju surga atau neraka. jangan-jangan surga dan neraka itu tidak ada. belum ada bukti. semua cuma kata kitab suci. bukan saya meragukan kitab suci. tapi saya adalah tipe yang membutuhkan 'bukti' untuk sebuah kebenaran. kitab suci sekedar pengantar. kebenaran sejati ada di hati. jika tidak ada kitab suci, apakah anda masih percaya adanya Tuhan? inilah yang saya 'cari'.pikiran ini membawa saya ke sebuah gua yang bernama gua pamijahan. gua ini terletak di kaki bukit gunung mujarod (tempat penenangan) di daerah tasikmalaya. gua ini adalah tempat di mana syaikh abdul qodir jaelani menerima ilmu agama dari syaikh imam sanusi. konon, gua ini juga menjadi tempat 'meeting' para wali songo dengan syaikh abdul qodir jaelani -saya sempat berdiam lama di tempat 'meeting' ini-. entah apa yang mereka 'meeting'-kan. tidak usah dibahas di sini.ketika sampai di ujung gua -tempatnya cukup lebar-, kebetulan pas tidak ada orang. saya mencoba mematikan obor saya. dan seketika gelap hinggap. segelap-gelapnya. sesunyi-sunyinya. apakah ini mati. sunyi. tidak ada bunyi. tidak ada cahaya. hitam. sehitam-hitamnya. pikiran saya lari kemana-mana. ingat ibu saya. bapak saya. adik-adik saya. kawan-kawan saya. mhh.&amp;nbsp;kok seyem gini sih. saya jadi takut. hati saya tak henti-hentinya dzikir. mengingat segala dosa dan khilaf. (dan kenapa juga saya ingat dosa dan khilaf. sementara ketika saya 'hidup', saya tak memusingkan hal itu. cuek.) akhirnya tak kuasa juga saya menahan airmata. dia menetes tanpa saya perintah. entah apa yang saya pikirkan. cuma saya merasa 'takut' jika mati dimaknai dengan gelap dan sunyi seperti ini. (saya pernah berkhayal, bahwa kematian tidak ada bedanya dengan kehidupan. kita masih bisa&amp;nbsp;dugem&amp;nbsp;atau menyantap soto ceker kesukaan). tapi kalau gelap dan sunyi begini. doh. saya ogah deh.nah, pandangan saya tentang kematian 'berubah' saat saya mulai baca buku ini. dengan bahasa yang mengalir dan sederhana, achmad chodjim berusaha menjelaskan makna kematian bagi seorang mbah jenar -duh. saya jadi kangen panjenengan-. bagi mbah jenar, kematian itu ya hari ini.&amp;nbsp;dimana kita (baca: saya) masih bisa menghirup udara bebas. masih bisa makan soto ceker dan minum coca cola. masih sempat ngopi di phoenam. masih senang chatting di sela kerja. masih bermimpi untuk menjadi orang sukses dan banyak duit sehingga bisa beli banyak buku dan membangun perpustakaan. masih sempat menulis puisi dan cerpen. masih baca buku dan menulis review.&amp;nbsp;tapi begitulah. itu hanya contoh aktivitas yang kita kerjakan saat kita berada di 'alam kematian'. banyak aktivitas lain yang tidak usah dibahas di sini.menurut mbah jenar, kehidupan sejati adalah hidup bersama sang pemberi hidup. bukan alam materi seperti yang kita alami dan rasakan seperti ini. sesungguhnya kita sudah berada di alam kematian hari ini -tanpa nisan dan kain kafan-. sesungguhnya kita sudah berada di alam surga dan neraka hari ini. tergantung parameter anda tentang surga dan neraka itu. sungguh. betapa setiap hari kita selalu berhadapan dengan hal-hal yang tidak masuk akal. hal-hal ini akan masuk akal jika kita berada di alam kematian. ayah memperkosa anaknya. anak membunuh ibunya. orang saling membunuh cuma karena beda.&amp;nbsp;nggak masuk akal kan.mbah jenar menampar saya. mengingatkan saya untuk 'hidup'. kenapa saya harus memikirkan kematian. saya sudah mati sejak pertama saya melihat dunia ini. yang saya butuhkan adalah 'hidup'. sehidup-hidupnya. hidup dengan sang pemberi hidup. siapa pun dia. Sumber resensi dari SINI. Pesan Buku ini di SINI atau SMS/WA 081393725615. ( Eko Waluyo )</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Sebenarnya, buku ini sudah lama selesai dibaca. tertarik mereview karena melihat tayangan kick andy yang membahas tentang kematian (based on book yang berjudul the last lecturer dan psikologi kematian). dua buku terakhir ini belum saya baca. adalagi buku yang menyita perhatian saya sebenarnya. buku al ghozali -nabi tanpa wahyu- metode menjemput kematian.kenapa kematian?&amp;nbsp;seyem&amp;nbsp;ya. saya sendiri tertarik untuk 'mati' setelah beberapa tahun terakhir ini mendalami&amp;nbsp;dunia sunyi sufi. meski saya tak berusaha seperti seorang salik sufi yang mencoba berbagai cara untuk mati. tapi saya memang penasaran untuk 'mati'. ada apa dengan 'mati'. benarkah kita akan mengalami siksa kubur. benarkah kita akan menuju surga atau neraka. jangan-jangan surga dan neraka itu tidak ada. belum ada bukti. semua cuma kata kitab suci. bukan saya meragukan kitab suci. tapi saya adalah tipe yang membutuhkan 'bukti' untuk sebuah kebenaran. kitab suci sekedar pengantar. kebenaran sejati ada di hati. jika tidak ada kitab suci, apakah anda masih percaya adanya Tuhan? inilah yang saya 'cari'.pikiran ini membawa saya ke sebuah gua yang bernama gua pamijahan. gua ini terletak di kaki bukit gunung mujarod (tempat penenangan) di daerah tasikmalaya. gua ini adalah tempat di mana syaikh abdul qodir jaelani menerima ilmu agama dari syaikh imam sanusi. konon, gua ini juga menjadi tempat 'meeting' para wali songo dengan syaikh abdul qodir jaelani -saya sempat berdiam lama di tempat 'meeting' ini-. entah apa yang mereka 'meeting'-kan. tidak usah dibahas di sini.ketika sampai di ujung gua -tempatnya cukup lebar-, kebetulan pas tidak ada orang. saya mencoba mematikan obor saya. dan seketika gelap hinggap. segelap-gelapnya. sesunyi-sunyinya. apakah ini mati. sunyi. tidak ada bunyi. tidak ada cahaya. hitam. sehitam-hitamnya. pikiran saya lari kemana-mana. ingat ibu saya. bapak saya. adik-adik saya. kawan-kawan saya. mhh.&amp;nbsp;kok seyem gini sih. saya jadi takut. hati saya tak henti-hentinya dzikir. mengingat segala dosa dan khilaf. (dan kenapa juga saya ingat dosa dan khilaf. sementara ketika saya 'hidup', saya tak memusingkan hal itu. cuek.) akhirnya tak kuasa juga saya menahan airmata. dia menetes tanpa saya perintah. entah apa yang saya pikirkan. cuma saya merasa 'takut' jika mati dimaknai dengan gelap dan sunyi seperti ini. (saya pernah berkhayal, bahwa kematian tidak ada bedanya dengan kehidupan. kita masih bisa&amp;nbsp;dugem&amp;nbsp;atau menyantap soto ceker kesukaan). tapi kalau gelap dan sunyi begini. doh. saya ogah deh.nah, pandangan saya tentang kematian 'berubah' saat saya mulai baca buku ini. dengan bahasa yang mengalir dan sederhana, achmad chodjim berusaha menjelaskan makna kematian bagi seorang mbah jenar -duh. saya jadi kangen panjenengan-. bagi mbah jenar, kematian itu ya hari ini.&amp;nbsp;dimana kita (baca: saya) masih bisa menghirup udara bebas. masih bisa makan soto ceker dan minum coca cola. masih sempat ngopi di phoenam. masih senang chatting di sela kerja. masih bermimpi untuk menjadi orang sukses dan banyak duit sehingga bisa beli banyak buku dan membangun perpustakaan. masih sempat menulis puisi dan cerpen. masih baca buku dan menulis review.&amp;nbsp;tapi begitulah. itu hanya contoh aktivitas yang kita kerjakan saat kita berada di 'alam kematian'. banyak aktivitas lain yang tidak usah dibahas di sini.menurut mbah jenar, kehidupan sejati adalah hidup bersama sang pemberi hidup. bukan alam materi seperti yang kita alami dan rasakan seperti ini. sesungguhnya kita sudah berada di alam kematian hari ini -tanpa nisan dan kain kafan-. sesungguhnya kita sudah berada di alam surga dan neraka hari ini. tergantung parameter anda tentang surga dan neraka itu. sungguh. betapa setiap hari kita selalu berhadapan dengan hal-hal yang tidak masuk akal. hal-hal ini akan masuk akal jika kita berada di alam kematian. ayah memperkosa anaknya. anak membunuh ibunya. orang saling membunuh cuma karena beda.&amp;nbsp;nggak masuk akal kan.mbah jenar menampar saya. mengingatkan saya untuk 'hidup'. kenapa saya harus memikirkan kematian. saya sudah mati sejak pertama saya melihat dunia ini. yang saya butuhkan adalah 'hidup'. sehidup-hidupnya. hidup dengan sang pemberi hidup. siapa pun dia. Sumber resensi dari SINI. Pesan Buku ini di SINI atau SMS/WA 081393725615. ( Eko Waluyo )</itunes:summary><itunes:keywords>Achmad Chodjim, Spiritual, Syekh Siti Jenar: Makna Kematian</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-5757430219526531568</guid><pubDate>Thu, 20 Feb 2014 12:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-20T19:40:35.050+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">NLP: The Art of Enjoying Life</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengembangan Diri</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Serambi</category><title>Curhat-nya penulis buku NLP: The Art of Enjoying Life</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;header class="entry-header" style="border: 0px; color: #333333; font-family: 'Open Sans', sans-serif; font-size: 13px; line-height: 21.059999465942383px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;h1 class="entry-title" style="border: 0px; font-family: Oswald, sans-serif; font-size: 36px; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: 300; letter-spacing: 1px; line-height: 1.62em; margin: 0px 0px 24px; overflow: hidden; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;/h1&gt;
&lt;/header&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="entry-content" style="border: 0px; color: #333333; line-height: 1.62em; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;a class="cboxElement" href="http://teddiprasetya.com/wp-content/uploads/2012/02/buku_NLP.jpg" style="-webkit-transition: color 0.25s ease, margin 0.25s ease; border: 0px; clear: left; color: #21759b; float: left; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; margin-top: 0px; padding: 0px; text-decoration: none; transition: color 0.25s ease, margin 0.25s ease; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;img alt="buku_NLP" class="alignleft  wp-image-1077" src="http://teddiprasetya.com/wp-content/uploads/2012/02/buku_NLP-195x300.jpg" height="240" style="background-color: white; border: 1px solid rgb(238, 238, 238); box-shadow: rgb(238, 238, 238) 0px 0px 3px; float: left; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; height: auto; line-height: inherit; margin: 10px 20px 10px 0px; max-width: 98.5%; padding: 4.390625px; vertical-align: baseline;" width="156" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 24px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Ini adalah buku pertama saya.&amp;nbsp;&lt;span style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: 600; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;“NLP: The Art of Enjoying Life”&lt;/span&gt;, judulnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 24px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Ditulis pertama kali tahun 2007, selesai di September 2009. Mengirim email ke 10 penerbit tidak direspon. Sekalinya ada yang merespon, “Mas, tulisannya lumayan. Tapi, ada naskah yang lebih tipis nggak? Yang ini ketebelan.” Hehe…&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 24px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Mungkin demikianlah jalan yang digariskan untuk saya. Teringatlah saya pada Guru Para Penulis, Pak Andrias Harefa. Yang ketika saya kontak segera meminta saya untuk hadir pada acara&amp;nbsp;&lt;em style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;gathering&lt;/em&gt;&amp;nbsp;para lulusan sekolah menulis beliau. Ujungnya, saya diperkenalkan dengan Pak Wandi S. Brata, Direktur Redaksi PT. Gramedia Pustaka Utama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 24px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Singkat cerita, saya yang sehari sebelumnya tergerak untuk mencetak naskah saya dalam bentuk&amp;nbsp;&lt;em style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;hardcopy&lt;/em&gt;, pun segera memberikan naskah tersebut pada beliau. “Nomor HP-nya berapa Mas? Dua hari lagi saya kabari,” kata beliau.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 24px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Dan, dua hari kemudian, saya di-add sebagai&amp;nbsp;&lt;em style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;friend&lt;/em&gt;&amp;nbsp;di Facebook. Segera saya&lt;em style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;accept&lt;/em&gt;. Tak lama kemudian, muncullah sebuah pesan dalam&amp;nbsp;&lt;em style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;inbox&lt;/em&gt;&amp;nbsp;saya, “OK Mas, kita terbitin.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 24px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Wuidih!&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 24px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;a class="cboxElement" href="http://teddiprasetya.com/wp-content/uploads/2012/02/COV-NLP_enjoying-Life_FULL.jpg" style="-webkit-transition: color 0.25s ease, margin 0.25s ease; border: 0px; color: #21759b; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; text-decoration: none; transition: color 0.25s ease, margin 0.25s ease; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;img alt="COV-NLP_enjoying-Life_FULL" class="alignleft size-medium wp-image-6" src="http://teddiprasetya.com/wp-content/uploads/2012/02/COV-NLP_enjoying-Life_FULL-300x212.jpg" height="212" style="background-color: white; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 1px solid rgb(238, 238, 238); box-shadow: rgb(238, 238, 238) 0px 0px 3px; float: left; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; height: auto; line-height: inherit; margin: 10px 20px 10px 0px; max-width: 98.5%; padding: 4.390625px; vertical-align: baseline;" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;Sisanya adalah perjalanan panjang menunggu antrian edit dan lain-lain, hingga tepat pada tanggal 26 Mei 2010, saya pun resmi jadi penulis. Hehehe…&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 24px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Beberapa kawan mengatakan ini adalah NLP&amp;nbsp;&lt;em style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;handbook&lt;/em&gt;pertama berbahasa Indonesia, sekaligus yang terlengkap. Beberapa toko buku mencatat ia pernah menjadi buku laris di sana.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 24px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Ya, saya hanya berharap buku ini ada manfaatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 24px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Desember 2012, stok buku ini habis di gudang penerbit. Tapi alhamdulillah, tepat 14 Februari 2014 ini, buku ini terbit kembali, bersama&amp;nbsp;Penerbit Serambi. Tentunya dengan revisi di sana sini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; font-family: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 24px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;div style="font-size: inherit;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;Buku kedua? Insya Allah sedang dalam tahap penulisan. Mohon doanya ya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&amp;gt;&amp;gt; Copas dari &lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;a href="http://teddiprasetya.com/buku"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 24px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-size: inherit; font-weight: inherit;"&gt;&amp;gt;&amp;gt; Buku ini bisa di pesan di &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/nlp-art-of-enjoying-life.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin-bottom: 24px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;b&gt;Atau langsung kontak : Eko Waluyo, SMS/WA : 081393725615.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/curhat-nya-penulis-buku-nlp-art-of.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total><enclosure length="27653" type="image/jpeg" url="http://teddiprasetya.com/wp-content/uploads/2012/02/buku_NLP.jpg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Ini adalah buku pertama saya.&amp;nbsp;“NLP: The Art of Enjoying Life”, judulnya. Ditulis pertama kali tahun 2007, selesai di September 2009. Mengirim email ke 10 penerbit tidak direspon. Sekalinya ada yang merespon, “Mas, tulisannya lumayan. Tapi, ada naskah yang lebih tipis nggak? Yang ini ketebelan.” Hehe… Mungkin demikianlah jalan yang digariskan untuk saya. Teringatlah saya pada Guru Para Penulis, Pak Andrias Harefa. Yang ketika saya kontak segera meminta saya untuk hadir pada acara&amp;nbsp;gathering&amp;nbsp;para lulusan sekolah menulis beliau. Ujungnya, saya diperkenalkan dengan Pak Wandi S. Brata, Direktur Redaksi PT. Gramedia Pustaka Utama. Singkat cerita, saya yang sehari sebelumnya tergerak untuk mencetak naskah saya dalam bentuk&amp;nbsp;hardcopy, pun segera memberikan naskah tersebut pada beliau. “Nomor HP-nya berapa Mas? Dua hari lagi saya kabari,” kata beliau. Dan, dua hari kemudian, saya di-add sebagai&amp;nbsp;friend&amp;nbsp;di Facebook. Segera sayaaccept. Tak lama kemudian, muncullah sebuah pesan dalam&amp;nbsp;inbox&amp;nbsp;saya, “OK Mas, kita terbitin.” Wuidih! Sisanya adalah perjalanan panjang menunggu antrian edit dan lain-lain, hingga tepat pada tanggal 26 Mei 2010, saya pun resmi jadi penulis. Hehehe… Beberapa kawan mengatakan ini adalah NLP&amp;nbsp;handbookpertama berbahasa Indonesia, sekaligus yang terlengkap. Beberapa toko buku mencatat ia pernah menjadi buku laris di sana. Ya, saya hanya berharap buku ini ada manfaatnya. Desember 2012, stok buku ini habis di gudang penerbit. Tapi alhamdulillah, tepat 14 Februari 2014 ini, buku ini terbit kembali, bersama&amp;nbsp;Penerbit Serambi. Tentunya dengan revisi di sana sini. Buku kedua? Insya Allah sedang dalam tahap penulisan. Mohon doanya ya. &amp;gt;&amp;gt; Copas dari sini. &amp;gt;&amp;gt; Buku ini bisa di pesan di SINI Atau langsung kontak : Eko Waluyo, SMS/WA : 081393725615.</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Ini adalah buku pertama saya.&amp;nbsp;“NLP: The Art of Enjoying Life”, judulnya. Ditulis pertama kali tahun 2007, selesai di September 2009. Mengirim email ke 10 penerbit tidak direspon. Sekalinya ada yang merespon, “Mas, tulisannya lumayan. Tapi, ada naskah yang lebih tipis nggak? Yang ini ketebelan.” Hehe… Mungkin demikianlah jalan yang digariskan untuk saya. Teringatlah saya pada Guru Para Penulis, Pak Andrias Harefa. Yang ketika saya kontak segera meminta saya untuk hadir pada acara&amp;nbsp;gathering&amp;nbsp;para lulusan sekolah menulis beliau. Ujungnya, saya diperkenalkan dengan Pak Wandi S. Brata, Direktur Redaksi PT. Gramedia Pustaka Utama. Singkat cerita, saya yang sehari sebelumnya tergerak untuk mencetak naskah saya dalam bentuk&amp;nbsp;hardcopy, pun segera memberikan naskah tersebut pada beliau. “Nomor HP-nya berapa Mas? Dua hari lagi saya kabari,” kata beliau. Dan, dua hari kemudian, saya di-add sebagai&amp;nbsp;friend&amp;nbsp;di Facebook. Segera sayaaccept. Tak lama kemudian, muncullah sebuah pesan dalam&amp;nbsp;inbox&amp;nbsp;saya, “OK Mas, kita terbitin.” Wuidih! Sisanya adalah perjalanan panjang menunggu antrian edit dan lain-lain, hingga tepat pada tanggal 26 Mei 2010, saya pun resmi jadi penulis. Hehehe… Beberapa kawan mengatakan ini adalah NLP&amp;nbsp;handbookpertama berbahasa Indonesia, sekaligus yang terlengkap. Beberapa toko buku mencatat ia pernah menjadi buku laris di sana. Ya, saya hanya berharap buku ini ada manfaatnya. Desember 2012, stok buku ini habis di gudang penerbit. Tapi alhamdulillah, tepat 14 Februari 2014 ini, buku ini terbit kembali, bersama&amp;nbsp;Penerbit Serambi. Tentunya dengan revisi di sana sini. Buku kedua? Insya Allah sedang dalam tahap penulisan. Mohon doanya ya. &amp;gt;&amp;gt; Copas dari sini. &amp;gt;&amp;gt; Buku ini bisa di pesan di SINI Atau langsung kontak : Eko Waluyo, SMS/WA : 081393725615.</itunes:summary><itunes:keywords>NLP: The Art of Enjoying Life, Pengembangan Diri, Serambi</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-4125407420715754374</guid><pubDate>Thu, 20 Feb 2014 04:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-20T11:51:50.675+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Agung Webe</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Diary Pramugari</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Novel</category><title>Diary atau Catatan Motivasi (teman) Seorang Pramugari? Novel Khusus DEWASA!</title><description>&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
&lt;a href="http://www.kutukutubuku.com/2008/_res/picture/22635-diary_pramugari_seks.jpg" sl-processed="1" style="border-bottom-color: rgb(153, 153, 204); border-bottom-style: dotted; border-bottom-width: 1px; clear: left; color: #333333; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; margin-top: 0px; padding: 0px; text-decoration: none;"&gt;&lt;img alt="" class="alignleft" src="http://www.kutukutubuku.com/2008/_res/picture/22635-diary_pramugari_seks.jpg" height="240" style="border: none; display: inline; float: left; margin: 20px 7px 20px 0px; padding: 4px;" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;Apakah Anda mengenal seorang motivator luar biasa&amp;nbsp;&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;a href="http://www.inspirasiagungwebe.blogspot.com/" sl-processed="1" style="border-bottom-color: rgb(153, 153, 204); border-bottom-style: dotted; border-bottom-width: 1px; color: #333333; margin: 0px; padding: 0px; text-decoration: none;" target="_blank"&gt;Agung Webe&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;? Alhamdulillah saya sempat berkenalan dan bersahabat dengan beliau hingga saat ini. Dan syukur alhamdulillah sempat membaca novel beliau “&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Diary Pramugari: Seks, Cinta dan Kehidupan&lt;/strong&gt;” yang pernah dalam satu bulan dicetak ulang hingga 5 kali! Sungguh sebuah prestasi luar biasa dari seorang sahabat&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.inspirasiagungwebe.blogspot.com/" sl-processed="1" style="border-bottom-color: rgb(153, 153, 204); border-bottom-style: dotted; border-bottom-width: 1px; color: #333333; margin: 0px; padding: 0px; text-decoration: none;" target="_blank"&gt;&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Agung Webe&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;!&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Novel ini merupakan hasil curahatan seorang pramugari, sebut saja namanya JINGGA, kepada&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.inspirasiagungwebe.blogspot.com/" sl-processed="1" style="border-bottom-color: rgb(153, 153, 204); border-bottom-style: dotted; border-bottom-width: 1px; color: #333333; margin: 0px; padding: 0px; text-decoration: none;" target="_blank"&gt;&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Agung Webe&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;(sebut saja AW). Yang kemudian dikemas dalam alur cerita yang bisa membuat emosi Anda naik turun, dan bahkan sejak awal, Agung Webe sudah mengajak kita berkhayal tentang aktivitas seksual… Sungguh novel yang hanya khusus untuk dewasa!&lt;/div&gt;
&lt;blockquote style="background-color: #eeeeff; background-image: url(http://s2.wp.com/wp-content/themes/pub/regulus/images/bg_blockquote.gif); background-position: 0% 0%; background-repeat: no-repeat no-repeat; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; margin: 20px; padding: 1px 10px 1px 70px;"&gt;
&lt;div style="color: #666666; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
“Jingga,” bisik Anya di telingaku. “Nanti kalau kamu sudah merasakan seks, aku yakin kamu juga akan merasakan ketagihan dengan itu.”&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Sebelum saya mengulas lebih lanjut, perlu saya kenalkan beberapa tokoh utama dalam novel ini: yang pertama adalah si pramugari itu sendiri, namanya&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;JINGGA&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(samaran), kemudian ada sahabat Jingga, seorang penganut paham bahwa DOSA adalah jika suatu perbuatan merugikan orang laen, jadi berhubungan seks dengan pacar adalah perbuatan yang tidak berdosa, dan ia lakukan berkali-kali dengan pacarnya, namanya&amp;nbsp;&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;ANYA&lt;/strong&gt;. Kemudian ada juga&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;PURI&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;, seorang maniak seks… Apa? Maniak seks? Oke jika Anda penasaran, silahkan ikuti dulu ulasan saya berikut ini…&lt;/div&gt;
&lt;blockquote style="background-color: #eeeeff; background-image: url(http://s2.wp.com/wp-content/themes/pub/regulus/images/bg_blockquote.gif); background-position: 0% 0%; background-repeat: no-repeat no-repeat; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; margin: 20px; padding: 1px 10px 1px 70px;"&gt;
&lt;div style="color: #666666; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
“Jingga, bagiku dosa itu terjadi kalau aku berbuat yang merugikan orang lain. Merusak lingkungan atau sesuatu yang menyebabkan orang lain sengsaran” – penjelasan ANYA kepada JINGGA tentang dosa.&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span id="more-172" style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;Terus terang, saya suka cara penuturan AW dalam novel ini. Pembaca sedari awal diajak untuk langsung terlibat secara emosional pada novel ini. Bagaimana tidak, kalo Anda cowok tentu akan suka dengan beberapa cerita ANYA di awal novel. Apa yang terjadi antara ANYA dengan pacarnya ANDRE, hmmm…. I don’t want to spoil the surpize….he he…&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Novel ini memang bercerita tentang JINGGA mulai dari sebelum dia menjadi pramugari hingga menjadi seorang pramugari resmi. Yang menarik, menurut saya, bukan perjalanan JINGGA dalam karirnya sebagai pramugari, namun lebih ke arah gejolak kehidupan dan berbagai pertanyaan dalam kehidupannya. Bagaimana tidak, JINGGA termasuk muslimah yang taat dan rajin beribadah, namun dia merasakan adanya ‘kekosongan’. Nah peran ANYA sebagai sahabatnya menjadi hal yang aneh… mengapa seorang ANYA yang punya definisi sendiri tentang dosa bisa memberikan berbagai macam ‘petuah’ bagi seorang JINGGA. Dan tentu saja JINGGA menjadi keheranan juga (saya juga heran, he he), walau akhirnya JINGGA bisa menerima beberapa ‘petuah’ tersebut…&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Di sisi laen, AW juga mengangkat peran besar seorang ibu dalam membesarkan dan mendidik anaknya, JINGGA, hingga mau tidak mau JINGGA harus berani menghadapi kerasnya kehidupan… Peran ibu JINGGA ini hampir sampe separo novel tersebut dan saya kira kita semua setuju, bahwa sosok IBU adalah yang tidak mungkin kita lupakan sepanjang hayat hidup kita…&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Kita juga bisa belajar dari ibu JINGGA ini, tentu saja salah satunya dengan memberikan petuah atau nasehat yang sangat berharga kepada JINGGA melalui budaya jawa. Ingat bahwa JINGGA itu asalnya Solo atau Surakarta.&lt;/div&gt;
&lt;blockquote style="background-color: #eeeeff; background-image: url(http://s2.wp.com/wp-content/themes/pub/regulus/images/bg_blockquote.gif); background-position: 0% 0%; background-repeat: no-repeat no-repeat; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; margin: 20px; padding: 1px 10px 1px 70px;"&gt;
&lt;div style="color: #666666; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
“Baik dan salah itu relatif. Kalau kamu ingat serat Wulang Reh karya Pakubuwono IV, ada tertulis …bener luput, ala becik lawan begja cilaka mapan saking badan priyangga, dudu saking wong liya, pramila den ngati-ngati, sakeh dirgama singgahan den eling” – nasehat dari ibu JINGGA.&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Lantas bagaimana dengan ayah JINGGA, wow kalo yang satu ini JINGGA sangat membencinya… sangat membencinya sehingga berperan dalam menguatkan kebencian JINGGA kepada cowok, hmmm apa iya? Apakah kebencian JINGGA kepada cowok itu sepenuhnya benar atau hanya ungkapan emosi permukaan saja? Artinya dalam lubuk hatinya, JINGGA tidak benar-benar benci dengan cowok… inilah di sepanjang cerita AW menuturkan dan membuat kita menemukan jawabannya… bukankah dalam kehidupan kita juga pernah mengalami? Bilang benci tapi rindu… bilang cinta tapi tak suka… dan seterusnya…&lt;/div&gt;
&lt;blockquote style="background-color: #eeeeff; background-image: url(http://s2.wp.com/wp-content/themes/pub/regulus/images/bg_blockquote.gif); background-position: 0% 0%; background-repeat: no-repeat no-repeat; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; margin: 20px; padding: 1px 10px 1px 70px;"&gt;
&lt;div style="color: #666666; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Mulai saat itu aku benci kepada laki-laki. Aku tidak mau dekat dengan laki-laki. Bagiku semua laki-laku sama saja, hanya ingin tubuh dari seorang wanita. Aku juga mulai hati-hati terhadap siapa saja. [ungkapan emosi JINGGA]&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Terus mengapa JINGGA sampe membenci ayahnya? Karena menikahi wanita laen atas saran dan ijin dari istrinya alias ibu JINGGA itu sendiri, lha kok bisa… ha ha tentu saja Anda bisa baca alasan dan apa yang terjadi sebenarnya di novel tersebut….&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Oke, saat sesekali JINGGA mengungkapkan masa lalu-nya pada waktu SMP, saya sudah menduga apa yang telah terjadi, walaupun akhirnya setelah pengakuan JINGGA hal yang saya duga tersebut tidak sepenuhnya benar, tapi pada prinsipnya sama saja, pelecehan seksual! Namun pelecehan seksual yang mungkin tidak seperti yang Anda duga saat membaca tulisan ini…&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Lantas bagaimana dengan PURI (pacar IGO), dia juga sahabat dari JINGGA, hanya saja lebih parah daripada ANYA. Apanya yang lebih parah? Tentu saja Anda saya minta untuk membacanya langsung… he he… Namun JINGGA juga banyak belajar dari PURI, walaupun harus mengalami suatu peristiwa yang sama sekali tidak mengenakkan… PURI berpikir bahwa apa yang dilakukannya merupakan bentuk ekspresi atau emosi yang bisa memuaskan hasratnya…&lt;/div&gt;
&lt;blockquote style="background-color: #eeeeff; background-image: url(http://s2.wp.com/wp-content/themes/pub/regulus/images/bg_blockquote.gif); background-position: 0% 0%; background-repeat: no-repeat no-repeat; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; margin: 20px; padding: 1px 10px 1px 70px;"&gt;
&lt;div style="color: #666666; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
“Aku juga tidak tahu yang terjadi pada diriku. Semula Igo memang hanya mainanku. Ia hanya alat pemuasku. Tapi…, kini aku yang tidak bisa lepas darinya. Aku… Aku benar-benar jatuh cinta… Ia benar-benar sudah masuk dalam hidupku.” Ungkap Puri…&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Ada juga seorang ALVIN, kenalan baru JINGGA, seorang pramugara senior… yang akhirnya juga menjadi bagian dari curhat atau kehidupan JINGGA itu sendiri… dan endingnya sangat menarik serta kontroversial dengan paradigma kehidupan JINGGA itu sendiri… Hmmm mungkin Anda sudah bisa menebak-nebak apa yang terjadi antara JINGGA dan ALVIN, dan maaf jika tebakan Anda bisa jadi keliru…. ha ha…&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Oya hadir juga mas Gede, seorang paranormal… menjadikan alur cerita semakin menarik diikuti, walaupun kemunculan-nya ada di bagian-bagian menjelang akhir…&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Dari segi alur cerita, wajar dan natural, namun ada sesuatu yang luar biasa dalam alur cerita yang wajar dan natural tersebut. Novel ini memang novel DEWASA! Anda yang terbiasa dengan paradigma kehidupan yang biasa-biasa saja akan dibuat mengernyitkan dahi dan mulai berpikir lantaran pertanyaan-pertanyaan kehidupan JINGGA dan beberapa penjelasan dari ANYA! Dan bisa jadi Anda akan mengatakan… INI NOVEL SESAT! atau barangkali INI BENAR-BENAR NOVEL KHUSUS DEWASA atau barangkali INI NOVEL EDAN! Apapun itu, saya pribadi sangat menikmati cerita (nyata) yang dituturkan mas Agung Webe, sahabat saya…&lt;/div&gt;
&lt;blockquote style="background-color: #eeeeff; background-image: url(http://s2.wp.com/wp-content/themes/pub/regulus/images/bg_blockquote.gif); background-position: 0% 0%; background-repeat: no-repeat no-repeat; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; margin: 20px; padding: 1px 10px 1px 70px;"&gt;
&lt;div style="color: #666666; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
“Cinta memang harus buta. Yang belum buta bukan cinta. Cinta itu tidak mengenal pertimbangan, tidak mengenal untung rugi. Ia mau melakukan apa saja untuk cintanya. Tidak memikirkan lagi siapa yang dicintainya, tetapi yang dituju adalah rasa cinta itu sendiri. Itulah cinta.” Jelas Anya.&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Saya berharap jika Anda membaca novel ini, nantinya akan Anda dapatkan sebuah pencerahan dalam kehidupan, walaupun harus dengan cara yang mungkin tidak Anda sukai, atau bahkan memang Anda sukai dan harapkan…&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Diperlukan kedewasaan dalam membaca dan mengikut alur cerita novel “Diary Pramugari” ini… Dan saya bersyukur sekali bisa mendapatkan sahabat seperti mas&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.inspirasiagungwebe.blogspot.com/" sl-processed="1" style="border-bottom-color: rgb(153, 153, 204); border-bottom-style: dotted; border-bottom-width: 1px; color: #333333; margin: 0px; padding: 0px; text-decoration: none;" target="_blank"&gt;&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Agung Webe&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;dan juga berterimakasih sudah mau-maunya menulis novel khusus dewasa ini dengan berbagai macam resiko yang akan beliau hadapi… termasuk menjadi novel BEST SELLER!! Terima kasih… dan selamat membaca…!&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12px;"&gt;Buku-buku Agung Webe lainnya bisa&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;a href="http://www.agungwebe.net/buku.html" sl-processed="1" style="border-bottom-color: rgb(153, 153, 204); border-bottom-style: dotted; border-bottom-width: 1px; color: #333333; margin: 0px; padding: 0px; text-decoration: none;" target="_blank"&gt;klik disini&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;
Diary Pramugari bisa dipesan di &lt;a href="http://karavina.com/novel/704-diary-pramugari-seks-cinta-kehidupan-.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-bottom: 12px; margin-top: 12px; padding: 0px;"&gt;
Sumber resensi dari &lt;a href="http://agfianto.wordpress.com/2012/01/08/diary-atau-catatan-motivasi-teman-seorang-pramugari-novel-khusus-dewasa/"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/diary-atau-catatan-motivasi-teman.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-682695027961926791</guid><pubDate>Wed, 19 Feb 2014 19:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-21T02:50:38.576+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Biografi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Martin Lings</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Muhammad (Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik)</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Serambi</category><title>Mendekati Muhamad SAW dengan Nikmat</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGHJrPLPCwyyvIO-AuDtfAxhVX6FLYrCF2zvDuggqZvpdWgHQgzzmgso7gAzpnzjHo255i2mKhRBLKuvxpcrLLoV4DZQLyeQK3XG_sUhHCa3l2T6osIc66JpuoRnFrrjwm0vpdPQTDJbw/s1600/Muhammad+SC+New.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGHJrPLPCwyyvIO-AuDtfAxhVX6FLYrCF2zvDuggqZvpdWgHQgzzmgso7gAzpnzjHo255i2mKhRBLKuvxpcrLLoV4DZQLyeQK3XG_sUhHCa3l2T6osIc66JpuoRnFrrjwm0vpdPQTDJbw/s1600/Muhammad+SC+New.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Muhammad SAW memang tokoh fenomenal. Bukan saja bagi kaum muslimin, tetapi juga untuk nonmuslim. Ia sosok multidimensi. Nabi, rasul, negarawan, politisi, panglima perang, bapak rumah tangga, dan sebagainya. Tak salah bila kehidupannya selalu relevan untuk dikagumi, dikaji, atau bahkan dikritik. Sudah ribuan judul buku dalam berbagai bahasa terbit dan beredar. Baik yang membela maupun yang mencacinya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Adalah Ibnu Ishaq yang pertama kali membuat biografi Muhammad SAW dalam bukunya Sirah Muhammad. Karya ini pula yang sampai saat ini menjadi rujukan penulis-penulis biografi Muhammad SAW sesudahnya. Buku lain yang momental adalah Hayat al Muhammad (Sejarah Hidup Muhammad) buah karya Husein Haikal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Kini hadir buku yang tak kalah menawan. Muhammad; Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik karya Martin Lings (Abu Bakar Siraj al Din) yang merupakan edisi Bahasa Indonesia dari Muhammad; His Life Based on the Earlist Sources. Salah satu kelebihan buku ini adalah gaya bahasanya yang memikat. Sebagai seorang penyair, Lings berhasil memaparkan kehidupan Muhammad SAW dengan indah. Meski bukan tulisan sastra, Lings berhasil memikat pembaca untuk menyelesaikan buku setebal 671 halaman ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Tentu saja pembaca bakal menemukan banyak informasi baru dan mengagetkan yang tidak ada pada buku lain. Misalnya, kakek Rasulullah SAW, yang bernama Abdul Muthalib, dalam penemuan Lings bukan langsung keturunan dari Nabi Ibrahim yang berada di Mekah. Namun, ia berasal dari Madinah yang aslinya bernama Syaibah. Ia merupakan anak Hisyam (kakek buyut Muhammad SAW) dari istri keempatnya bernama Salma yang tinggal di Madinah. Tepatnya, Salma merupakan wanita berpengaruh di suku Khazraj, salah satu suku besar bersama suku Aus di Madinah (halaman 16-23). Sedangkan Muthalib (Abdul Muthalib) merupakan saudara kandung dari Hasyim. Temuan Lings ini sangat berbeda dengan buku-buku sejarah Muhammad SAW yang saat ini beredar, bahwa Abdul Muthalib adalah kakek langsung atau ayah dari Abdullah, bapak Muhammad SAW.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Masih banyak temuan penulis yang meninggal 12 Mei 2005 lalu ini menyimpang dari “kebenaran umum”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Melalui buku ini, Lings meletakkan tokoh Muhammad SAW benar-benar unik. Didasarkan kepada sumber-sumber berbahasa Arab dari abad ke-8 dan 9 masehi, Lings mendekati dan mereportase kata-kata dari orang-orang yang mendengar dari Muhammad SAW dan menyaksikan langsung peristiwa-peristiwa dalam hidupnya. Penulis mampu menghadirkan Muhammad SAW dalam kesederhanaan dan keagungannya. Karena itu, pembaca, baik yang sudah akrab atau belum dengan sosok Muhammad, akan merasakan kenikmatan ketika membaca karya ini.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Buku ini terpilih sebagai biografi terbaik dalam Bahasa Inggris pada Sirah Nasional di Islamabad, Pakistan, 1983. Sejak itu, karya ini diterjemahkan ke berbagai bahasa. Italia, Jerman, Prancis, Spanyol, Turki, Belanda, Urdu, Tamil, dan sekarang Indonesia. Bahkan, Presiden Mesir Hosni Mubarak begitu terpesona dengan buku ini. Ia pun menganugerahkan Lings sebuah bintang kehormatan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Lahir di Lancashire, Amerika Serikat, 24 Januari 1909. Ketertarikan terhadap Islam bermula ketika berkunjung ke Mesir di 1940 untuk menemui temannya yang menjadi dosen di Universitas Kairo. Sayangnya, ia tidak bertemu temannya itu sebab temannya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Lings ditawari mengganti posisi temannya. Ia pun menerimanya. Setelah mempelajari Islam melalui tasawuf Syadhliliyyah, dia menetapkan hati untuk memeluk Islam. Ia pun mengganti namanya menjadi Abu Bakar Siraj al Din.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;“Ketika membaca buku ini, kita akan merasakan semacam efek kimia pada narasi dan komposisi bahasa yang terkombinasi dengan keakuratan serta gairah sastrawi. Martin Lings adalah cendikiawan-penyair,” kata islamolog Columbia University, Amerika Serikat, Hamid Dabashi. (Dudi Sabil Iskandar/Koran Jakarta).&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;KUTIPAN:&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;"Ketika membaca buku ini, kita akan merasakan semacam efek kimia pada narasi dan komposisi bahasa yang terkombinasi dengan keakuratan serta gairah sastrawi. Martin Lings adalah cendikiawan-penyair," kata islamolog Columbia University, Amerika Serikat, Hamid Dabashi.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Ditulis oleh: Dudi Iskandar (Koran Jakarta)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku ini bisa dipesan di&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt; &lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/muhammad-kisah-hidup-nabi-berdasarkan.html"&gt;SINI.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/muhammad-kisah-hidup-nabi-berdasarkan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGHJrPLPCwyyvIO-AuDtfAxhVX6FLYrCF2zvDuggqZvpdWgHQgzzmgso7gAzpnzjHo255i2mKhRBLKuvxpcrLLoV4DZQLyeQK3XG_sUhHCa3l2T6osIc66JpuoRnFrrjwm0vpdPQTDJbw/s72-c/Muhammad+SC+New.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="11059" type="image/jpeg" url="http://2.bp.blogspot.com/-KOk13DJ0U4M/UvHCxzT-DOI/AAAAAAAABSM/OYHbPOG6DvI/s1600/Muhammad+SC+New.jpg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Muhammad SAW memang tokoh fenomenal. Bukan saja bagi kaum muslimin, tetapi juga untuk nonmuslim. Ia sosok multidimensi. Nabi, rasul, negarawan, politisi, panglima perang, bapak rumah tangga, dan sebagainya. Tak salah bila kehidupannya selalu relevan untuk dikagumi, dikaji, atau bahkan dikritik. Sudah ribuan judul buku dalam berbagai bahasa terbit dan beredar. Baik yang membela maupun yang mencacinya.&amp;nbsp;Adalah Ibnu Ishaq yang pertama kali membuat biografi Muhammad SAW dalam bukunya Sirah Muhammad. Karya ini pula yang sampai saat ini menjadi rujukan penulis-penulis biografi Muhammad SAW sesudahnya. Buku lain yang momental adalah Hayat al Muhammad (Sejarah Hidup Muhammad) buah karya Husein Haikal.&amp;nbsp;Kini hadir buku yang tak kalah menawan. Muhammad; Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik karya Martin Lings (Abu Bakar Siraj al Din) yang merupakan edisi Bahasa Indonesia dari Muhammad; His Life Based on the Earlist Sources. Salah satu kelebihan buku ini adalah gaya bahasanya yang memikat. Sebagai seorang penyair, Lings berhasil memaparkan kehidupan Muhammad SAW dengan indah. Meski bukan tulisan sastra, Lings berhasil memikat pembaca untuk menyelesaikan buku setebal 671 halaman ini.&amp;nbsp;Tentu saja pembaca bakal menemukan banyak informasi baru dan mengagetkan yang tidak ada pada buku lain. Misalnya, kakek Rasulullah SAW, yang bernama Abdul Muthalib, dalam penemuan Lings bukan langsung keturunan dari Nabi Ibrahim yang berada di Mekah. Namun, ia berasal dari Madinah yang aslinya bernama Syaibah. Ia merupakan anak Hisyam (kakek buyut Muhammad SAW) dari istri keempatnya bernama Salma yang tinggal di Madinah. Tepatnya, Salma merupakan wanita berpengaruh di suku Khazraj, salah satu suku besar bersama suku Aus di Madinah (halaman 16-23). Sedangkan Muthalib (Abdul Muthalib) merupakan saudara kandung dari Hasyim. Temuan Lings ini sangat berbeda dengan buku-buku sejarah Muhammad SAW yang saat ini beredar, bahwa Abdul Muthalib adalah kakek langsung atau ayah dari Abdullah, bapak Muhammad SAW.Masih banyak temuan penulis yang meninggal 12 Mei 2005 lalu ini menyimpang dari “kebenaran umum”.&amp;nbsp;Melalui buku ini, Lings meletakkan tokoh Muhammad SAW benar-benar unik. Didasarkan kepada sumber-sumber berbahasa Arab dari abad ke-8 dan 9 masehi, Lings mendekati dan mereportase kata-kata dari orang-orang yang mendengar dari Muhammad SAW dan menyaksikan langsung peristiwa-peristiwa dalam hidupnya. Penulis mampu menghadirkan Muhammad SAW dalam kesederhanaan dan keagungannya. Karena itu, pembaca, baik yang sudah akrab atau belum dengan sosok Muhammad, akan merasakan kenikmatan ketika membaca karya ini.Buku ini terpilih sebagai biografi terbaik dalam Bahasa Inggris pada Sirah Nasional di Islamabad, Pakistan, 1983. Sejak itu, karya ini diterjemahkan ke berbagai bahasa. Italia, Jerman, Prancis, Spanyol, Turki, Belanda, Urdu, Tamil, dan sekarang Indonesia. Bahkan, Presiden Mesir Hosni Mubarak begitu terpesona dengan buku ini. Ia pun menganugerahkan Lings sebuah bintang kehormatan.&amp;nbsp;Lahir di Lancashire, Amerika Serikat, 24 Januari 1909. Ketertarikan terhadap Islam bermula ketika berkunjung ke Mesir di 1940 untuk menemui temannya yang menjadi dosen di Universitas Kairo. Sayangnya, ia tidak bertemu temannya itu sebab temannya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Lings ditawari mengganti posisi temannya. Ia pun menerimanya. Setelah mempelajari Islam melalui tasawuf Syadhliliyyah, dia menetapkan hati untuk memeluk Islam. Ia pun mengganti namanya menjadi Abu Bakar Siraj al Din.“Ketika membaca buku ini, kita akan merasakan semacam efek kimia pada narasi dan komposisi bahasa yang terkombinasi dengan keakuratan serta gairah sastrawi. Martin Lings adalah cendikiawan-penyair,” kata islamolog Columbia University, Amerika Serikat, Hamid Dabashi. (Dudi Sabil Iskandar/Koran Jakarta).KUTIPAN:"Ketika membaca buku ini, kita akan merasakan semacam efek kimia pada narasi dan komposisi bahasa yang terkombinasi dengan keakuratan serta gairah sastrawi. Martin Lings adalah cendikiawan-penyair," kata islamolog Columbia University, Amerika Serikat, Hamid Dabashi.Ditulis oleh: Dudi Iskandar (Koran Jakarta) Buku ini bisa dipesan di SINI.</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Muhammad SAW memang tokoh fenomenal. Bukan saja bagi kaum muslimin, tetapi juga untuk nonmuslim. Ia sosok multidimensi. Nabi, rasul, negarawan, politisi, panglima perang, bapak rumah tangga, dan sebagainya. Tak salah bila kehidupannya selalu relevan untuk dikagumi, dikaji, atau bahkan dikritik. Sudah ribuan judul buku dalam berbagai bahasa terbit dan beredar. Baik yang membela maupun yang mencacinya.&amp;nbsp;Adalah Ibnu Ishaq yang pertama kali membuat biografi Muhammad SAW dalam bukunya Sirah Muhammad. Karya ini pula yang sampai saat ini menjadi rujukan penulis-penulis biografi Muhammad SAW sesudahnya. Buku lain yang momental adalah Hayat al Muhammad (Sejarah Hidup Muhammad) buah karya Husein Haikal.&amp;nbsp;Kini hadir buku yang tak kalah menawan. Muhammad; Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik karya Martin Lings (Abu Bakar Siraj al Din) yang merupakan edisi Bahasa Indonesia dari Muhammad; His Life Based on the Earlist Sources. Salah satu kelebihan buku ini adalah gaya bahasanya yang memikat. Sebagai seorang penyair, Lings berhasil memaparkan kehidupan Muhammad SAW dengan indah. Meski bukan tulisan sastra, Lings berhasil memikat pembaca untuk menyelesaikan buku setebal 671 halaman ini.&amp;nbsp;Tentu saja pembaca bakal menemukan banyak informasi baru dan mengagetkan yang tidak ada pada buku lain. Misalnya, kakek Rasulullah SAW, yang bernama Abdul Muthalib, dalam penemuan Lings bukan langsung keturunan dari Nabi Ibrahim yang berada di Mekah. Namun, ia berasal dari Madinah yang aslinya bernama Syaibah. Ia merupakan anak Hisyam (kakek buyut Muhammad SAW) dari istri keempatnya bernama Salma yang tinggal di Madinah. Tepatnya, Salma merupakan wanita berpengaruh di suku Khazraj, salah satu suku besar bersama suku Aus di Madinah (halaman 16-23). Sedangkan Muthalib (Abdul Muthalib) merupakan saudara kandung dari Hasyim. Temuan Lings ini sangat berbeda dengan buku-buku sejarah Muhammad SAW yang saat ini beredar, bahwa Abdul Muthalib adalah kakek langsung atau ayah dari Abdullah, bapak Muhammad SAW.Masih banyak temuan penulis yang meninggal 12 Mei 2005 lalu ini menyimpang dari “kebenaran umum”.&amp;nbsp;Melalui buku ini, Lings meletakkan tokoh Muhammad SAW benar-benar unik. Didasarkan kepada sumber-sumber berbahasa Arab dari abad ke-8 dan 9 masehi, Lings mendekati dan mereportase kata-kata dari orang-orang yang mendengar dari Muhammad SAW dan menyaksikan langsung peristiwa-peristiwa dalam hidupnya. Penulis mampu menghadirkan Muhammad SAW dalam kesederhanaan dan keagungannya. Karena itu, pembaca, baik yang sudah akrab atau belum dengan sosok Muhammad, akan merasakan kenikmatan ketika membaca karya ini.Buku ini terpilih sebagai biografi terbaik dalam Bahasa Inggris pada Sirah Nasional di Islamabad, Pakistan, 1983. Sejak itu, karya ini diterjemahkan ke berbagai bahasa. Italia, Jerman, Prancis, Spanyol, Turki, Belanda, Urdu, Tamil, dan sekarang Indonesia. Bahkan, Presiden Mesir Hosni Mubarak begitu terpesona dengan buku ini. Ia pun menganugerahkan Lings sebuah bintang kehormatan.&amp;nbsp;Lahir di Lancashire, Amerika Serikat, 24 Januari 1909. Ketertarikan terhadap Islam bermula ketika berkunjung ke Mesir di 1940 untuk menemui temannya yang menjadi dosen di Universitas Kairo. Sayangnya, ia tidak bertemu temannya itu sebab temannya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Lings ditawari mengganti posisi temannya. Ia pun menerimanya. Setelah mempelajari Islam melalui tasawuf Syadhliliyyah, dia menetapkan hati untuk memeluk Islam. Ia pun mengganti namanya menjadi Abu Bakar Siraj al Din.“Ketika membaca buku ini, kita akan merasakan semacam efek kimia pada narasi dan komposisi bahasa yang terkombinasi dengan keakuratan serta gairah sastrawi. Martin Lings adalah cendikiawan-penyair,” kata islamolog Columbia University, Amerika Serikat, Hamid Dabashi. (Dudi Sabil Iskandar/Koran Jakarta).KUTIPAN:"Ketika membaca buku ini, kita akan merasakan semacam efek kimia pada narasi dan komposisi bahasa yang terkombinasi dengan keakuratan serta gairah sastrawi. Martin Lings adalah cendikiawan-penyair," kata islamolog Columbia University, Amerika Serikat, Hamid Dabashi.Ditulis oleh: Dudi Iskandar (Koran Jakarta) Buku ini bisa dipesan di SINI.</itunes:summary><itunes:keywords>Biografi, Martin Lings, Muhammad (Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik), Serambi</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-1604201701933705107</guid><pubDate>Wed, 19 Feb 2014 19:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-20T02:40:39.315+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Di Bawah Bendera Revolusi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Soekarno</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sukarno</category><title>Apa kata para pembaca buku "Di Bawah Bendera Revolusi"?</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFikdDfcg0xLogBu77N6M-tIqYS9LhgAve3MdbvjcQ7kcg5AALwyFvYgamE6THfpyxRqbCAG_Bj1Un_e_gCKCg0YzPzs57Dc2LlNbvTHoYe8tV5582mqASU14fVSnrxuV7AIEq8N8lJGQ/s1600/Dibawah+Bendera+Revolusi+I+Lengkap+.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFikdDfcg0xLogBu77N6M-tIqYS9LhgAve3MdbvjcQ7kcg5AALwyFvYgamE6THfpyxRqbCAG_Bj1Un_e_gCKCg0YzPzs57Dc2LlNbvTHoYe8tV5582mqASU14fVSnrxuV7AIEq8N8lJGQ/s1600/Dibawah+Bendera+Revolusi+I+Lengkap+.jpg" height="317" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;"Sungguh sebuah ironi bahwa buku ini lebih sering ditemukan di pasar buku bekas untuk diperjualbelikan dengan harga selangit ketimbang dibicarakan di ruang-ruang kelas kita. Pemikiran Soekarno, satu dari sekian bapak bangsa yang harus kita revitalisasi ulang pemikirannya, yang penuh dengan agitasi dan ajakan untuk bergerak (dulu bahkan ada istilah "Djakarta di Djaman Bergerak") sungguh terlalu besar untuk dikesampingkan." -&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="https://www.goodreads.com/review/list/1212004-theresia?shelf=read" style="color: #666600; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 20px; line-height: 18px; text-decoration: none;"&gt;Theresia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Kumpulan artikel tulisan Soekarno dari masa mudanya hingga dekade 40'an sebelum proklamasi.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Buku ini banyak memuat idealisme dan pemikiran Soekarno mengenai berbagai macam hal, agama, ideologi marhaenisme.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Menurut saya bangsa Indonesia harus bangga memiliki presiden pertama dengan pemikiran sekaliber Soekarno, yang pada tahun 30'an sudah melihat apa itu modern-imperialisme, yang pikirannya luas dan jernih mengenai agama. Disaat tahun 60'an Maurice Bucaille menulis dalam bukunya mengenai kebenaran Qur'an bisa dilihat secara lebih jelas oleh orang yang berpengetahuan luas, Soekarno muda sudah menulisnya dalam salah satu artikelnya, bahwa untuk menafsirkan kitab-suci, dibutuhkan pengetahuan yang luas, sejarah, sains, dsb.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Disaat kita yang muda2 baru mendengar ttg neo-imperialisme, Soekarno sudah mengenalnya dengan istilah modern-imperialisme, yang ternyata sudah dimulai sejah akhir abad 19.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Pemikiran-pemikiran serta pengetahuan Soekarno jauh melampaui jamannya. Kita bisa bangga sebagai, disamping juga menyadari kekurangan-kekurangannya sebagai pribadi, bangsa Indonesia memiliki founding fathers seperti Soekarno. -&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="https://www.goodreads.com/review/list/19255315-abieffendi?shelf=read" style="color: #666600; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 20px; line-height: 18px; text-decoration: none;"&gt;Abieffendi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3 class="post-title entry-title" itemprop="name" style="background-color: #e6cd95; color: #0e3f70; font-family: Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 24px; font-weight: normal; margin: 0px; position: relative;"&gt;
Ir. Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi: Barang Murah China&lt;/h3&gt;
&lt;div class="post-header" style="background-color: #e6cd95; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 1.6; margin: 0px 0px 1.5em;"&gt;
&lt;div class="post-header-line-1"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="post-body entry-content" id="post-body-317902553778281781" itemprop="description articleBody" style="font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px; width: 570px;"&gt;
&lt;div dir="ltr" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="background-color: #e6cd95; text-align: justify;"&gt;
Di kota kecil tempat saya tinggal, Sukabumi, beberapa saat yang lalu berdiri toko yang menjual hampir seluruhnya barang barang (murah) dari China. Kini toko tersebut luar biasa ramai. Mungkin karena bertemunya tiga faktor sekaligus: barang barang murah dengan kualitas bagus dan dibutuhkan masyarakat. Saya kira fenomena ini juga sedang terjadi di hampir seluruh pelosok Indonesia. Tanah air kita kebanjiran produk murah&amp;nbsp;&lt;i&gt;made in China.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: #e6cd95; text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: #e6cd95; text-align: justify;"&gt;
Rupanya sejarah memang selalu berulang. Fenomena banjir produk murah ini bukan terjadi kali ini saja. Melalui harian&amp;nbsp;&lt;i&gt;Fikiran Ra'jat&lt;/i&gt;&amp;nbsp;tahun 1933, Bung Karno pernah mengingatkan kesadaran publik tentang adanya&amp;nbsp;&lt;i&gt;imperialisme baru.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Beliau waktu itu prihatin dengan kondisi masyarakat&amp;nbsp;&lt;i&gt;Marhaen&lt;/i&gt;yang gandrung dengan produk murah&amp;nbsp;&lt;i&gt;made in Japan:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: #e6cd95; text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: #e6cd95; text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;.....Memang terlihat dengan sambil-lalu sahadja Marhaen pantas membakar kemenjan untuk mengeramatkan impor dari Japan itu, - sebagai tanda terima kasih (237).&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: #e6cd95; text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: #e6cd95; text-align: justify;"&gt;
Sindirin yang teramat tajam itu disampaikan karena berkembang sikap puja puji yang berlebihan terhadap Jepang yang dianggap dewa penolong di jaman susah. Bung Besar kembali mengingatkan bahwa dulu sebelum era produk Jepang, pernah juga terjadi era Twente. Merujuk pada era membanjirnya produk produk kain berkualitas dengan harga murah dari kota Twente Belanda. Orang Indonesia yang sebelumnya mencukupi kebutuhan bahan sandangnya sendiri, tiba tiba di gelontori barang barang impor dengan kualitas lebih baik dan harga lebih murah. Akibatnya industri kain dalam negeri waktu itu banyak yang mengalami kebangkrutan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: #e6cd95; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: #e6cd95; text-align: justify;"&gt;
Inilah yang mencuatkan keprihatinan Ir. Soekarno. Beliau mengingatkan bila kelak bangsa ini begitu bergantung pada produk luar, bagaimana kalau suatu saat mereka menaikkan harga barang sementara industri kita sudah kadung babak belur. Tak salah bila beliau waktu itu bilang:&amp;nbsp;&lt;i&gt;ini imperialisme model baru!&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: #e6cd95; text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: #e6cd95; text-align: justify;"&gt;
Kalau memang demikian sikap Soekarno saat itu, banyak pula yang bertanya: lantas bagaimana kaum Marhaen harus bersikap? si Bung memang menyadari tidak mungkin untuk melakukan aksi boikot. Pun tidak bijaksana melarang Marhaen membeli produk Jepang. Yang ingin beliau sampaikan adalah:&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: #e6cd95; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: #e6cd95; text-align: justify;"&gt;
....&lt;i&gt;&amp;nbsp;Belilah barang mana sahadja jang lebih murah dan lebih baik, belilah barang mana sahadja yang bisa meringankan nasibmu jang maha-sengsara itu! Tetapi dalam pada itu, awas awaslah, bahwa barang barang itu adalah barangnja stelsel jang sebenarnja musuh kamu, barangnja stelsel-sjaitan jang di dalam hakekatnja tiada maksud lain melainkan mengeksploitasi tiap tiap sen jang kini masih ada di dalam kantongmu, mengeksploitasi tiap tiap tenaga jang kini masih ada di dalam bahu dan tubuhmu. awaslah awas di dalam bathin kamu, di dalam politik kamu, di dalam aksi kamu, imperialisme Twente dan imperialisme Jepang haruslah tetap mendjadi musuh kamu, harus tetap kamu persjaitankan, harus tetap kamu kutuk! (242).&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: #e6cd95; text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: #e6cd95;"&gt;Kembali ke jaman kita: siapa yang akan mengingatkan kita akan imperialisme model baru dengan membanjirnya produk buatan China. Kita hanya bisa tersenyum kecut. Rasanya tak satu pemimpin pun hari ini pernah mengingatkan kita akan bahayanya bergantung pada produk orang.&lt;/span&gt;&lt;i style="background-color: #e6cd95;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style="background-color: #e6cd95;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="background-color: #e6cd95;"&gt;&amp;gt;&amp;gt; Dapatkan penawaran khusus buku '&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b style="background-color: #e6cd95;"&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt;Di Bawah Bendera Revolusi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="background-color: #e6cd95;"&gt;&amp;nbsp;' jilid pertama dan jilid kedua. Hub :&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #fff2cc;"&gt; &lt;span style="background-color: red;"&gt;Eko Waluyo, SMS/WA : 081393725615&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/apa-kata-para-pembaca-buku-di-bawah.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFikdDfcg0xLogBu77N6M-tIqYS9LhgAve3MdbvjcQ7kcg5AALwyFvYgamE6THfpyxRqbCAG_Bj1Un_e_gCKCg0YzPzs57Dc2LlNbvTHoYe8tV5582mqASU14fVSnrxuV7AIEq8N8lJGQ/s72-c/Dibawah+Bendera+Revolusi+I+Lengkap+.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="39684" type="image/jpeg" url="http://3.bp.blogspot.com/-vJ1366WLEow/UwUIqjpnYbI/AAAAAAAACf8/IyPkMSCNjZ8/s1600/Dibawah+Bendera+Revolusi+I+Lengkap+.jpg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>"Sungguh sebuah ironi bahwa buku ini lebih sering ditemukan di pasar buku bekas untuk diperjualbelikan dengan harga selangit ketimbang dibicarakan di ruang-ruang kelas kita. Pemikiran Soekarno, satu dari sekian bapak bangsa yang harus kita revitalisasi ulang pemikirannya, yang penuh dengan agitasi dan ajakan untuk bergerak (dulu bahkan ada istilah "Djakarta di Djaman Bergerak") sungguh terlalu besar untuk dikesampingkan." -&amp;nbsp;Theresia Kumpulan artikel tulisan Soekarno dari masa mudanya hingga dekade 40'an sebelum proklamasi.Buku ini banyak memuat idealisme dan pemikiran Soekarno mengenai berbagai macam hal, agama, ideologi marhaenisme. Menurut saya bangsa Indonesia harus bangga memiliki presiden pertama dengan pemikiran sekaliber Soekarno, yang pada tahun 30'an sudah melihat apa itu modern-imperialisme, yang pikirannya luas dan jernih mengenai agama. Disaat tahun 60'an Maurice Bucaille menulis dalam bukunya mengenai kebenaran Qur'an bisa dilihat secara lebih jelas oleh orang yang berpengetahuan luas, Soekarno muda sudah menulisnya dalam salah satu artikelnya, bahwa untuk menafsirkan kitab-suci, dibutuhkan pengetahuan yang luas, sejarah, sains, dsb.Disaat kita yang muda2 baru mendengar ttg neo-imperialisme, Soekarno sudah mengenalnya dengan istilah modern-imperialisme, yang ternyata sudah dimulai sejah akhir abad 19.Pemikiran-pemikiran serta pengetahuan Soekarno jauh melampaui jamannya. Kita bisa bangga sebagai, disamping juga menyadari kekurangan-kekurangannya sebagai pribadi, bangsa Indonesia memiliki founding fathers seperti Soekarno. -&amp;nbsp;Abieffendi Ir. Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi: Barang Murah China Di kota kecil tempat saya tinggal, Sukabumi, beberapa saat yang lalu berdiri toko yang menjual hampir seluruhnya barang barang (murah) dari China. Kini toko tersebut luar biasa ramai. Mungkin karena bertemunya tiga faktor sekaligus: barang barang murah dengan kualitas bagus dan dibutuhkan masyarakat. Saya kira fenomena ini juga sedang terjadi di hampir seluruh pelosok Indonesia. Tanah air kita kebanjiran produk murah&amp;nbsp;made in China. Rupanya sejarah memang selalu berulang. Fenomena banjir produk murah ini bukan terjadi kali ini saja. Melalui harian&amp;nbsp;Fikiran Ra'jat&amp;nbsp;tahun 1933, Bung Karno pernah mengingatkan kesadaran publik tentang adanya&amp;nbsp;imperialisme baru.&amp;nbsp;Beliau waktu itu prihatin dengan kondisi masyarakat&amp;nbsp;Marhaenyang gandrung dengan produk murah&amp;nbsp;made in Japan: .....Memang terlihat dengan sambil-lalu sahadja Marhaen pantas membakar kemenjan untuk mengeramatkan impor dari Japan itu, - sebagai tanda terima kasih (237). Sindirin yang teramat tajam itu disampaikan karena berkembang sikap puja puji yang berlebihan terhadap Jepang yang dianggap dewa penolong di jaman susah. Bung Besar kembali mengingatkan bahwa dulu sebelum era produk Jepang, pernah juga terjadi era Twente. Merujuk pada era membanjirnya produk produk kain berkualitas dengan harga murah dari kota Twente Belanda. Orang Indonesia yang sebelumnya mencukupi kebutuhan bahan sandangnya sendiri, tiba tiba di gelontori barang barang impor dengan kualitas lebih baik dan harga lebih murah. Akibatnya industri kain dalam negeri waktu itu banyak yang mengalami kebangkrutan.&amp;nbsp; Inilah yang mencuatkan keprihatinan Ir. Soekarno. Beliau mengingatkan bila kelak bangsa ini begitu bergantung pada produk luar, bagaimana kalau suatu saat mereka menaikkan harga barang sementara industri kita sudah kadung babak belur. Tak salah bila beliau waktu itu bilang:&amp;nbsp;ini imperialisme model baru! Kalau memang demikian sikap Soekarno saat itu, banyak pula yang bertanya: lantas bagaimana kaum Marhaen harus bersikap? si Bung memang menyadari tidak mungkin untuk melakukan aksi boikot. Pun tidak bijaksana melarang Marhaen membeli produk Jepang. Yang ingin beliau sampaikan adalah: ....&amp;nbsp;Belilah barang mana sahadja jang lebih murah dan lebih baik, belilah barang mana sahadja yang bisa meringankan nasibmu jang maha-sengsara itu! Tetapi dalam pada itu, awas awaslah, bahwa barang barang itu adalah barangnja stelsel jang sebenarnja musuh kamu, barangnja stelsel-sjaitan jang di dalam hakekatnja tiada maksud lain melainkan mengeksploitasi tiap tiap sen jang kini masih ada di dalam kantongmu, mengeksploitasi tiap tiap tenaga jang kini masih ada di dalam bahu dan tubuhmu. awaslah awas di dalam bathin kamu, di dalam politik kamu, di dalam aksi kamu, imperialisme Twente dan imperialisme Jepang haruslah tetap mendjadi musuh kamu, harus tetap kamu persjaitankan, harus tetap kamu kutuk! (242). Kembali ke jaman kita: siapa yang akan mengingatkan kita akan imperialisme model baru dengan membanjirnya produk buatan China. Kita hanya bisa tersenyum kecut. Rasanya tak satu pemimpin pun hari ini pernah mengingatkan kita akan bahayanya bergantung pada produk orang.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;gt;&amp;gt; Dapatkan penawaran khusus buku '&amp;nbsp;Di Bawah Bendera Revolusi&amp;nbsp;' jilid pertama dan jilid kedua. Hub : Eko Waluyo, SMS/WA : 081393725615</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>"Sungguh sebuah ironi bahwa buku ini lebih sering ditemukan di pasar buku bekas untuk diperjualbelikan dengan harga selangit ketimbang dibicarakan di ruang-ruang kelas kita. Pemikiran Soekarno, satu dari sekian bapak bangsa yang harus kita revitalisasi ulang pemikirannya, yang penuh dengan agitasi dan ajakan untuk bergerak (dulu bahkan ada istilah "Djakarta di Djaman Bergerak") sungguh terlalu besar untuk dikesampingkan." -&amp;nbsp;Theresia Kumpulan artikel tulisan Soekarno dari masa mudanya hingga dekade 40'an sebelum proklamasi.Buku ini banyak memuat idealisme dan pemikiran Soekarno mengenai berbagai macam hal, agama, ideologi marhaenisme. Menurut saya bangsa Indonesia harus bangga memiliki presiden pertama dengan pemikiran sekaliber Soekarno, yang pada tahun 30'an sudah melihat apa itu modern-imperialisme, yang pikirannya luas dan jernih mengenai agama. Disaat tahun 60'an Maurice Bucaille menulis dalam bukunya mengenai kebenaran Qur'an bisa dilihat secara lebih jelas oleh orang yang berpengetahuan luas, Soekarno muda sudah menulisnya dalam salah satu artikelnya, bahwa untuk menafsirkan kitab-suci, dibutuhkan pengetahuan yang luas, sejarah, sains, dsb.Disaat kita yang muda2 baru mendengar ttg neo-imperialisme, Soekarno sudah mengenalnya dengan istilah modern-imperialisme, yang ternyata sudah dimulai sejah akhir abad 19.Pemikiran-pemikiran serta pengetahuan Soekarno jauh melampaui jamannya. Kita bisa bangga sebagai, disamping juga menyadari kekurangan-kekurangannya sebagai pribadi, bangsa Indonesia memiliki founding fathers seperti Soekarno. -&amp;nbsp;Abieffendi Ir. Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi: Barang Murah China Di kota kecil tempat saya tinggal, Sukabumi, beberapa saat yang lalu berdiri toko yang menjual hampir seluruhnya barang barang (murah) dari China. Kini toko tersebut luar biasa ramai. Mungkin karena bertemunya tiga faktor sekaligus: barang barang murah dengan kualitas bagus dan dibutuhkan masyarakat. Saya kira fenomena ini juga sedang terjadi di hampir seluruh pelosok Indonesia. Tanah air kita kebanjiran produk murah&amp;nbsp;made in China. Rupanya sejarah memang selalu berulang. Fenomena banjir produk murah ini bukan terjadi kali ini saja. Melalui harian&amp;nbsp;Fikiran Ra'jat&amp;nbsp;tahun 1933, Bung Karno pernah mengingatkan kesadaran publik tentang adanya&amp;nbsp;imperialisme baru.&amp;nbsp;Beliau waktu itu prihatin dengan kondisi masyarakat&amp;nbsp;Marhaenyang gandrung dengan produk murah&amp;nbsp;made in Japan: .....Memang terlihat dengan sambil-lalu sahadja Marhaen pantas membakar kemenjan untuk mengeramatkan impor dari Japan itu, - sebagai tanda terima kasih (237). Sindirin yang teramat tajam itu disampaikan karena berkembang sikap puja puji yang berlebihan terhadap Jepang yang dianggap dewa penolong di jaman susah. Bung Besar kembali mengingatkan bahwa dulu sebelum era produk Jepang, pernah juga terjadi era Twente. Merujuk pada era membanjirnya produk produk kain berkualitas dengan harga murah dari kota Twente Belanda. Orang Indonesia yang sebelumnya mencukupi kebutuhan bahan sandangnya sendiri, tiba tiba di gelontori barang barang impor dengan kualitas lebih baik dan harga lebih murah. Akibatnya industri kain dalam negeri waktu itu banyak yang mengalami kebangkrutan.&amp;nbsp; Inilah yang mencuatkan keprihatinan Ir. Soekarno. Beliau mengingatkan bila kelak bangsa ini begitu bergantung pada produk luar, bagaimana kalau suatu saat mereka menaikkan harga barang sementara industri kita sudah kadung babak belur. Tak salah bila beliau waktu itu bilang:&amp;nbsp;ini imperialisme model baru! Kalau memang demikian sikap Soekarno saat itu, banyak pula yang bertanya: lantas bagaimana kaum Marhaen harus bersikap? si Bung memang menyadari tidak mungkin untuk melakukan aksi boikot. Pun tidak bijaksana melarang Marhaen membeli produk Jepang. Yang ingin beliau sampaikan adalah: ....&amp;nbsp;Belilah barang mana sahadja jang lebih murah dan lebih baik, belilah barang mana sahadja yang bisa meringankan nasibmu jang maha-sengsara itu! Tetapi dalam pada itu, awas awaslah, bahwa barang barang itu adalah barangnja stelsel jang sebenarnja musuh kamu, barangnja stelsel-sjaitan jang di dalam hakekatnja tiada maksud lain melainkan mengeksploitasi tiap tiap sen jang kini masih ada di dalam kantongmu, mengeksploitasi tiap tiap tenaga jang kini masih ada di dalam bahu dan tubuhmu. awaslah awas di dalam bathin kamu, di dalam politik kamu, di dalam aksi kamu, imperialisme Twente dan imperialisme Jepang haruslah tetap mendjadi musuh kamu, harus tetap kamu persjaitankan, harus tetap kamu kutuk! (242). Kembali ke jaman kita: siapa yang akan mengingatkan kita akan imperialisme model baru dengan membanjirnya produk buatan China. Kita hanya bisa tersenyum kecut. Rasanya tak satu pemimpin pun hari ini pernah mengingatkan kita akan bahayanya bergantung pada produk orang.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;gt;&amp;gt; Dapatkan penawaran khusus buku '&amp;nbsp;Di Bawah Bendera Revolusi&amp;nbsp;' jilid pertama dan jilid kedua. Hub : Eko Waluyo, SMS/WA : 081393725615</itunes:summary><itunes:keywords>Di Bawah Bendera Revolusi, Sejarah, Soekarno, Sukarno</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-3845446153803722732</guid><pubDate>Wed, 19 Feb 2014 17:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-20T00:09:53.830+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Agus Sunyoto</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Lkis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Novel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Rahuvana Tattwa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sastra Sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Spiritual</category><title>Rahuvana Tattwa, Membaca Epik Ramayana Dengan Sudut Pandang Terbalik.</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYks_iK4_0b7xx2KoOk385q0MDEu463vXft2_Ku7pYEzx2cWx2I78Nwj-5jY4XNgs60XpdePqgnPvL2FFhIZpC6FPOeJT1wjeG8gbJJhwQLXoWhE11Hc0Zam01gLEoyPhuhdInnSTUdfU/s1600/Rahuvana+Tattwa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYks_iK4_0b7xx2KoOk385q0MDEu463vXft2_Ku7pYEzx2cWx2I78Nwj-5jY4XNgs60XpdePqgnPvL2FFhIZpC6FPOeJT1wjeG8gbJJhwQLXoWhE11Hc0Zam01gLEoyPhuhdInnSTUdfU/s1600/Rahuvana+Tattwa.jpg" height="320" width="213" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.00800132751465px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;
Ketika masku memilih membeli buku ini di pameran buku di Gedung KONI beberapa waktu lalu, agak males melihat ketebalannya yang hampir 600 halaman. Apalagi ketika sekilas membukanya langsung berhadapan dengan kamus yang mengartikan kata-kata yang sedikit bikin puyeng. Buku ini menceritakan tentang Epik Ramayana, cerita pewayangan yang sudah masyhur itu.&amp;nbsp;&lt;span id="more-44"&gt;&lt;/span&gt;Cerita asli Ramayana dikarang oleh Valmiki. Menceritakan perjalanan Ravana (Rahwana), atau kita mengenalnya dengan Prabu Dasamuka, Raja dengan Sepuluh Wajah.&lt;br /&gt;Saya memang sejak kecil sedikit banyak mengenal cerita pewayangan. Karena Abah saya dulu langganan Jayabaya dan Panyebar Semangat, Majalah mingguan berbahasa Jawa. Bahkan nilai STTB saya mendapat nilai 9 untuk mata pelajaran Bahasa Daerah. Hanya bedanya jika Rahuvana Tattwa menceritakan asal-usul sampai Ravana gugur sementara cerita pewayangan di kedua majalah tersebut biasanya menceritakan setahap demi setahap atau penggalan seri Ramayana ini. Jadi sangat menarik juga membaca cerita pewayangan dengan versi lengkap dan silsilah yang cukup bikin mumet.&lt;br /&gt;Karya-karya Mas Agus Sunyoto sendiri lebih bergaya novel, namun hebatnya novel yang dihasilkan selalu melalui studi empiris. Pada Rahuvana Tattwa ini ada kurang lebih 30 puluhan referensi yang dia gunakan. Jadi walaupun berbentuk novel namun seakan-akan nyata, bahkan seperti jurnal yang berbentuk novel, saking validnya. Dan sejujurnya sangat mengasyikkan membaca Novel Mas Agus Sunyoto ini, selain ceritanya mudah diikuti walaupun dibaca oleh orang yang awam tentang cerita pewayangan sekalipun, namun yang lebih asyik bahwa novel ini mengambil sudut pandang yang berbeda dari cerita aslinya. Jadi kalau pada versi aslinya, Valmiki menggambarkan betapa kejamnya si Ravana (setelah menjadi raja ia bergelar Rahuvana), betapa biadabnya bangsa raksasha, dan Rama digambarkan sebagai ksatriya keturunan Dewa, atau bagaimana si Hanuman kera sakti ksatriya pembantu Sri Rama yang gagah berani tanpa tandingan. Namun pada versi Mas Agus Sunyoto keadaan itu benar-benar dibalik 180 derajat. Ia ceritakan bahwa si Ravana adalah keturunan bangsa yang lebih beradab, daripada keturunan Indra Raja para Dewa. Sungguh apik penggambarannya dan mengalir seakan kita dipaksa untuk tidak bisa protes dengan pendapatnya tersebut, bahkan asyik-asyik saja membaca novel dengan sudut pandang terbalik.&lt;br /&gt;Satu lagi ciri khas yang tak bisa hilang dari karya Mas Agus Sunyoto, dia berusaha menyelipkan pendapat yang melangit namun tak berkesan menggurui. Lihatlah dialog ketika Sri Rama berbuat culas dengan memanah Bali, Raja Kiskindha dari belakang ketika Bali sedang berhadapan dengan adiknya Sugriva yang mengkhianati kakaknya dengan merebut tahta Kiskindha dengan bantuan Sri Rama. Begitu Bali tahu bahwa yang membokongnya dari belakang adalah Rama yang dikenal sebagai ksatriya, dia sangat kecewa dan menangis, lihatlah dialog indah ini,&lt;br /&gt;“Aku menangis bukan karena kesakitan terkena panah saktimu wahai Rama, jika aku ditakdirkan mati maka memang itulah jalanku untuk kembali, namun aku menangis karena engkau sebagai ksatriya telah melakukan tindakan yang jauh dari sifat ksatriya. Bahkan sangat menjijikkan.”&lt;br /&gt;Demi mendengar kalimat Bali seorang raja yang terkenal arif itu Rama hanya bisa klincutan.&lt;br /&gt;Atau bagian ini yang paling kusuka, ketika Rahuvana akhirnya gugur membela tanah airnya. Rahuvana yang terkenal dengan kesaktianyan tiada tanding, bahkan karena ketekunan dan kesungguhannya dalam semedi untuk menyempurnakan ilmunya ia dianugerahi ilmu yang bisa mempengaruhi tiga dunia. Itu ilmu yang sangat tinggi, yang tak sembarangan orang mampu mempelajarinya. Ketika dikisahkan, akhirnya ia harus gugur dan kalah oleh ilmu yang justru meniadakan segalanya. Ilmu yang hanya bisa dicapai oleh Rama jika ia bermunajat dan mencapai derajat Yang Tak Terbayangkan. Jadi segala kesaktian dan tetek bengek ilmu yang dimiliki Rahuvana hanya bisa dikalahkan oleh Yang Tak Terbayangkan.&lt;br /&gt;Atau ketika Rahuvana mempelajari ilmu Pancasuna, ia tak bisa mencapai level tertinggi ilmu tersebut karena dalam hatinya masih ada semacam keinginan bahwa ilmunya akan digunakan untuk membangun peradaban dan membalaskan dendam pada Dewa Indra. Dan ternyata yang bisa mencapai kesempurnaan ilmu tersebut adalah Kumbhakarna, adik dari Rahuvana, karena Kumbakharna tidak mempunyai ambisi apapun dalam mendalami ilmu tersebut, sehingga Sang Brahma pun menganugerahinya 2 ilmu Brahma tingkat tertinggi dimana ia tak akan terluka dan terbunuh oleh senjata apapun dan oleh siapapun jika ia masih berpijak ditanah.&lt;br /&gt;Juga digambarkan bagaimana sebenarnya Rahuvana lebih romantis dan sopan sikapnya terhadap Sita dibanding Rama yang notabene adalah suaminya sendiri, bahkan Rama mencurigai Sita telah berselingkuh dengan Rahuvana, dan membiarkan Sita Obong, atau membakar dirinya kedalam api. Alih-alih menerima istrinya kembali setelah bela pati obong tersebut, Rama bahkan semakin cuek dengan istrinya.&lt;br /&gt;Novel diakhiri dengan sangat manis dan heroik. Satu persatu keturunan dan saudara Rahuvana akhirnya gugur sebagai pahlawan yang membela tanah air dan bangsanya. Keruntuhan Rahuvana karena pengkhianatan adiknya lain ibu, bernama Bhibisana. Karena semua saudara Rahuvana dididik oleh Ayah (Visrava) dan kakek (Sumali) sehingga mereka semua tahu kelemahan dan kelebihan masing-masing. Dan pada akhirnya semua gugur karena kelemahan mereka satu persatu ditunjukkan oleh Bhibisana si pengkhianat kepada Rama. Walaupun pada akhirnya ia menjadi Raja di Alengka menggantikan Rahuvana yang telah parastra, namun ia sudah tak memiliki prajurit ataupun bangsa rakhsasa pilihan yang mendampinginya, sehingga dia merasa kesepian dan merasakan hidup yang hampa hingga akhir hayatnya. Tidak seperti Rahuvana yang sangat di puja-puja dan sangat dihormati dan dicintai oleh rakyat dan bangsanya. Sehingga semua rakyatnya bersedia bela pati untuk mempertahankan kehormatan tanah air dan bangsanya.&lt;br /&gt;Yang jelas sangat asyik membaca Novel ini, terbukti novel tebal tersebut dapat kuselesaikan dalam tempo 2 hari. Untuk menambah khasanah pengetahuan kita tentang Pewayangan, tentunya dengan versi lain rasanya tidak rugi membaca novel ini. Asyik, itu satu kata yang bisa saya ungkapkan. Terima kasih buat Mas Agus Sunyoto, saya akan selalu menunggu karya-karya sampeyan. Semoga Allah membarakahi sampeyan dan keluarga sehingga akan lebih banyak karya-karya yang sampeyan hasilkan. Bi barakatillah.Ujung, 05.06.07 (tanggal yang bagus tuh)&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer" style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.00800132751465px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;
ditulis oleh bunda Gangga-Gautama-…&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer" style="background-color: white; color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19.00800132751465px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;
SUmber dari &lt;a href="http://cahayabintang.wordpress.com/2007/06/05/rahuvana-tattwa-membaca-epik-ramayana-dengan-sudut-pandang-terbalik/"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer" style="background-color: white; color: #444444; line-height: 19.00800132751465px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 13px;"&gt;Buku ini dapat di pesan di : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/search?q=Rahuvana+Tattwa&amp;amp;x=20&amp;amp;y=5"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/rahuvana-tattwa-membaca-epik-ramayana.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYks_iK4_0b7xx2KoOk385q0MDEu463vXft2_Ku7pYEzx2cWx2I78Nwj-5jY4XNgs60XpdePqgnPvL2FFhIZpC6FPOeJT1wjeG8gbJJhwQLXoWhE11Hc0Zam01gLEoyPhuhdInnSTUdfU/s72-c/Rahuvana+Tattwa.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="32182" type="image/jpeg" url="http://4.bp.blogspot.com/-g3zI9Ze50uk/UvGSAw0bbhI/AAAAAAAABQ4/Nh2V5_ST1BM/s1600/Rahuvana+Tattwa.jpg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Ketika masku memilih membeli buku ini di pameran buku di Gedung KONI beberapa waktu lalu, agak males melihat ketebalannya yang hampir 600 halaman. Apalagi ketika sekilas membukanya langsung berhadapan dengan kamus yang mengartikan kata-kata yang sedikit bikin puyeng. Buku ini menceritakan tentang Epik Ramayana, cerita pewayangan yang sudah masyhur itu.&amp;nbsp;Cerita asli Ramayana dikarang oleh Valmiki. Menceritakan perjalanan Ravana (Rahwana), atau kita mengenalnya dengan Prabu Dasamuka, Raja dengan Sepuluh Wajah. Saya memang sejak kecil sedikit banyak mengenal cerita pewayangan. Karena Abah saya dulu langganan Jayabaya dan Panyebar Semangat, Majalah mingguan berbahasa Jawa. Bahkan nilai STTB saya mendapat nilai 9 untuk mata pelajaran Bahasa Daerah. Hanya bedanya jika Rahuvana Tattwa menceritakan asal-usul sampai Ravana gugur sementara cerita pewayangan di kedua majalah tersebut biasanya menceritakan setahap demi setahap atau penggalan seri Ramayana ini. Jadi sangat menarik juga membaca cerita pewayangan dengan versi lengkap dan silsilah yang cukup bikin mumet. Karya-karya Mas Agus Sunyoto sendiri lebih bergaya novel, namun hebatnya novel yang dihasilkan selalu melalui studi empiris. Pada Rahuvana Tattwa ini ada kurang lebih 30 puluhan referensi yang dia gunakan. Jadi walaupun berbentuk novel namun seakan-akan nyata, bahkan seperti jurnal yang berbentuk novel, saking validnya. Dan sejujurnya sangat mengasyikkan membaca Novel Mas Agus Sunyoto ini, selain ceritanya mudah diikuti walaupun dibaca oleh orang yang awam tentang cerita pewayangan sekalipun, namun yang lebih asyik bahwa novel ini mengambil sudut pandang yang berbeda dari cerita aslinya. Jadi kalau pada versi aslinya, Valmiki menggambarkan betapa kejamnya si Ravana (setelah menjadi raja ia bergelar Rahuvana), betapa biadabnya bangsa raksasha, dan Rama digambarkan sebagai ksatriya keturunan Dewa, atau bagaimana si Hanuman kera sakti ksatriya pembantu Sri Rama yang gagah berani tanpa tandingan. Namun pada versi Mas Agus Sunyoto keadaan itu benar-benar dibalik 180 derajat. Ia ceritakan bahwa si Ravana adalah keturunan bangsa yang lebih beradab, daripada keturunan Indra Raja para Dewa. Sungguh apik penggambarannya dan mengalir seakan kita dipaksa untuk tidak bisa protes dengan pendapatnya tersebut, bahkan asyik-asyik saja membaca novel dengan sudut pandang terbalik. Satu lagi ciri khas yang tak bisa hilang dari karya Mas Agus Sunyoto, dia berusaha menyelipkan pendapat yang melangit namun tak berkesan menggurui. Lihatlah dialog ketika Sri Rama berbuat culas dengan memanah Bali, Raja Kiskindha dari belakang ketika Bali sedang berhadapan dengan adiknya Sugriva yang mengkhianati kakaknya dengan merebut tahta Kiskindha dengan bantuan Sri Rama. Begitu Bali tahu bahwa yang membokongnya dari belakang adalah Rama yang dikenal sebagai ksatriya, dia sangat kecewa dan menangis, lihatlah dialog indah ini, “Aku menangis bukan karena kesakitan terkena panah saktimu wahai Rama, jika aku ditakdirkan mati maka memang itulah jalanku untuk kembali, namun aku menangis karena engkau sebagai ksatriya telah melakukan tindakan yang jauh dari sifat ksatriya. Bahkan sangat menjijikkan.” Demi mendengar kalimat Bali seorang raja yang terkenal arif itu Rama hanya bisa klincutan. Atau bagian ini yang paling kusuka, ketika Rahuvana akhirnya gugur membela tanah airnya. Rahuvana yang terkenal dengan kesaktianyan tiada tanding, bahkan karena ketekunan dan kesungguhannya dalam semedi untuk menyempurnakan ilmunya ia dianugerahi ilmu yang bisa mempengaruhi tiga dunia. Itu ilmu yang sangat tinggi, yang tak sembarangan orang mampu mempelajarinya. Ketika dikisahkan, akhirnya ia harus gugur dan kalah oleh ilmu yang justru meniadakan segalanya. Ilmu yang hanya bisa dicapai oleh Rama jika ia bermunajat dan mencapai derajat Yang Tak Terbayangkan. Jadi segala kesaktian dan tetek bengek ilmu yang dimiliki Rahuvana hanya bisa dikalahkan oleh Yang Tak Terbayangkan. Atau ketika Rahuvana mempelajari ilmu Pancasuna, ia tak bisa mencapai level tertinggi ilmu tersebut karena dalam hatinya masih ada semacam keinginan bahwa ilmunya akan digunakan untuk membangun peradaban dan membalaskan dendam pada Dewa Indra. Dan ternyata yang bisa mencapai kesempurnaan ilmu tersebut adalah Kumbhakarna, adik dari Rahuvana, karena Kumbakharna tidak mempunyai ambisi apapun dalam mendalami ilmu tersebut, sehingga Sang Brahma pun menganugerahinya 2 ilmu Brahma tingkat tertinggi dimana ia tak akan terluka dan terbunuh oleh senjata apapun dan oleh siapapun jika ia masih berpijak ditanah. Juga digambarkan bagaimana sebenarnya Rahuvana lebih romantis dan sopan sikapnya terhadap Sita dibanding Rama yang notabene adalah suaminya sendiri, bahkan Rama mencurigai Sita telah berselingkuh dengan Rahuvana, dan membiarkan Sita Obong, atau membakar dirinya kedalam api. Alih-alih menerima istrinya kembali setelah bela pati obong tersebut, Rama bahkan semakin cuek dengan istrinya. Novel diakhiri dengan sangat manis dan heroik. Satu persatu keturunan dan saudara Rahuvana akhirnya gugur sebagai pahlawan yang membela tanah air dan bangsanya. Keruntuhan Rahuvana karena pengkhianatan adiknya lain ibu, bernama Bhibisana. Karena semua saudara Rahuvana dididik oleh Ayah (Visrava) dan kakek (Sumali) sehingga mereka semua tahu kelemahan dan kelebihan masing-masing. Dan pada akhirnya semua gugur karena kelemahan mereka satu persatu ditunjukkan oleh Bhibisana si pengkhianat kepada Rama. Walaupun pada akhirnya ia menjadi Raja di Alengka menggantikan Rahuvana yang telah parastra, namun ia sudah tak memiliki prajurit ataupun bangsa rakhsasa pilihan yang mendampinginya, sehingga dia merasa kesepian dan merasakan hidup yang hampa hingga akhir hayatnya. Tidak seperti Rahuvana yang sangat di puja-puja dan sangat dihormati dan dicintai oleh rakyat dan bangsanya. Sehingga semua rakyatnya bersedia bela pati untuk mempertahankan kehormatan tanah air dan bangsanya. Yang jelas sangat asyik membaca Novel ini, terbukti novel tebal tersebut dapat kuselesaikan dalam tempo 2 hari. Untuk menambah khasanah pengetahuan kita tentang Pewayangan, tentunya dengan versi lain rasanya tidak rugi membaca novel ini. Asyik, itu satu kata yang bisa saya ungkapkan. Terima kasih buat Mas Agus Sunyoto, saya akan selalu menunggu karya-karya sampeyan. Semoga Allah membarakahi sampeyan dan keluarga sehingga akan lebih banyak karya-karya yang sampeyan hasilkan. Bi barakatillah.Ujung, 05.06.07 (tanggal yang bagus tuh) ditulis oleh bunda Gangga-Gautama-… SUmber dari sini. Buku ini dapat di pesan di : SINI</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Ketika masku memilih membeli buku ini di pameran buku di Gedung KONI beberapa waktu lalu, agak males melihat ketebalannya yang hampir 600 halaman. Apalagi ketika sekilas membukanya langsung berhadapan dengan kamus yang mengartikan kata-kata yang sedikit bikin puyeng. Buku ini menceritakan tentang Epik Ramayana, cerita pewayangan yang sudah masyhur itu.&amp;nbsp;Cerita asli Ramayana dikarang oleh Valmiki. Menceritakan perjalanan Ravana (Rahwana), atau kita mengenalnya dengan Prabu Dasamuka, Raja dengan Sepuluh Wajah. Saya memang sejak kecil sedikit banyak mengenal cerita pewayangan. Karena Abah saya dulu langganan Jayabaya dan Panyebar Semangat, Majalah mingguan berbahasa Jawa. Bahkan nilai STTB saya mendapat nilai 9 untuk mata pelajaran Bahasa Daerah. Hanya bedanya jika Rahuvana Tattwa menceritakan asal-usul sampai Ravana gugur sementara cerita pewayangan di kedua majalah tersebut biasanya menceritakan setahap demi setahap atau penggalan seri Ramayana ini. Jadi sangat menarik juga membaca cerita pewayangan dengan versi lengkap dan silsilah yang cukup bikin mumet. Karya-karya Mas Agus Sunyoto sendiri lebih bergaya novel, namun hebatnya novel yang dihasilkan selalu melalui studi empiris. Pada Rahuvana Tattwa ini ada kurang lebih 30 puluhan referensi yang dia gunakan. Jadi walaupun berbentuk novel namun seakan-akan nyata, bahkan seperti jurnal yang berbentuk novel, saking validnya. Dan sejujurnya sangat mengasyikkan membaca Novel Mas Agus Sunyoto ini, selain ceritanya mudah diikuti walaupun dibaca oleh orang yang awam tentang cerita pewayangan sekalipun, namun yang lebih asyik bahwa novel ini mengambil sudut pandang yang berbeda dari cerita aslinya. Jadi kalau pada versi aslinya, Valmiki menggambarkan betapa kejamnya si Ravana (setelah menjadi raja ia bergelar Rahuvana), betapa biadabnya bangsa raksasha, dan Rama digambarkan sebagai ksatriya keturunan Dewa, atau bagaimana si Hanuman kera sakti ksatriya pembantu Sri Rama yang gagah berani tanpa tandingan. Namun pada versi Mas Agus Sunyoto keadaan itu benar-benar dibalik 180 derajat. Ia ceritakan bahwa si Ravana adalah keturunan bangsa yang lebih beradab, daripada keturunan Indra Raja para Dewa. Sungguh apik penggambarannya dan mengalir seakan kita dipaksa untuk tidak bisa protes dengan pendapatnya tersebut, bahkan asyik-asyik saja membaca novel dengan sudut pandang terbalik. Satu lagi ciri khas yang tak bisa hilang dari karya Mas Agus Sunyoto, dia berusaha menyelipkan pendapat yang melangit namun tak berkesan menggurui. Lihatlah dialog ketika Sri Rama berbuat culas dengan memanah Bali, Raja Kiskindha dari belakang ketika Bali sedang berhadapan dengan adiknya Sugriva yang mengkhianati kakaknya dengan merebut tahta Kiskindha dengan bantuan Sri Rama. Begitu Bali tahu bahwa yang membokongnya dari belakang adalah Rama yang dikenal sebagai ksatriya, dia sangat kecewa dan menangis, lihatlah dialog indah ini, “Aku menangis bukan karena kesakitan terkena panah saktimu wahai Rama, jika aku ditakdirkan mati maka memang itulah jalanku untuk kembali, namun aku menangis karena engkau sebagai ksatriya telah melakukan tindakan yang jauh dari sifat ksatriya. Bahkan sangat menjijikkan.” Demi mendengar kalimat Bali seorang raja yang terkenal arif itu Rama hanya bisa klincutan. Atau bagian ini yang paling kusuka, ketika Rahuvana akhirnya gugur membela tanah airnya. Rahuvana yang terkenal dengan kesaktianyan tiada tanding, bahkan karena ketekunan dan kesungguhannya dalam semedi untuk menyempurnakan ilmunya ia dianugerahi ilmu yang bisa mempengaruhi tiga dunia. Itu ilmu yang sangat tinggi, yang tak sembarangan orang mampu mempelajarinya. Ketika dikisahkan, akhirnya ia harus gugur dan kalah oleh ilmu yang justru meniadakan segalanya. Ilmu yang hanya bisa dicapai oleh Rama jika ia bermunajat dan mencapai derajat Yang Tak Terbayangkan. Jadi segala kesaktian dan tetek bengek ilmu yang dimiliki Rahuvana hanya bisa dikalahkan oleh Yang Tak Terbayangkan. Atau ketika Rahuvana mempelajari ilmu Pancasuna, ia tak bisa mencapai level tertinggi ilmu tersebut karena dalam hatinya masih ada semacam keinginan bahwa ilmunya akan digunakan untuk membangun peradaban dan membalaskan dendam pada Dewa Indra. Dan ternyata yang bisa mencapai kesempurnaan ilmu tersebut adalah Kumbhakarna, adik dari Rahuvana, karena Kumbakharna tidak mempunyai ambisi apapun dalam mendalami ilmu tersebut, sehingga Sang Brahma pun menganugerahinya 2 ilmu Brahma tingkat tertinggi dimana ia tak akan terluka dan terbunuh oleh senjata apapun dan oleh siapapun jika ia masih berpijak ditanah. Juga digambarkan bagaimana sebenarnya Rahuvana lebih romantis dan sopan sikapnya terhadap Sita dibanding Rama yang notabene adalah suaminya sendiri, bahkan Rama mencurigai Sita telah berselingkuh dengan Rahuvana, dan membiarkan Sita Obong, atau membakar dirinya kedalam api. Alih-alih menerima istrinya kembali setelah bela pati obong tersebut, Rama bahkan semakin cuek dengan istrinya. Novel diakhiri dengan sangat manis dan heroik. Satu persatu keturunan dan saudara Rahuvana akhirnya gugur sebagai pahlawan yang membela tanah air dan bangsanya. Keruntuhan Rahuvana karena pengkhianatan adiknya lain ibu, bernama Bhibisana. Karena semua saudara Rahuvana dididik oleh Ayah (Visrava) dan kakek (Sumali) sehingga mereka semua tahu kelemahan dan kelebihan masing-masing. Dan pada akhirnya semua gugur karena kelemahan mereka satu persatu ditunjukkan oleh Bhibisana si pengkhianat kepada Rama. Walaupun pada akhirnya ia menjadi Raja di Alengka menggantikan Rahuvana yang telah parastra, namun ia sudah tak memiliki prajurit ataupun bangsa rakhsasa pilihan yang mendampinginya, sehingga dia merasa kesepian dan merasakan hidup yang hampa hingga akhir hayatnya. Tidak seperti Rahuvana yang sangat di puja-puja dan sangat dihormati dan dicintai oleh rakyat dan bangsanya. Sehingga semua rakyatnya bersedia bela pati untuk mempertahankan kehormatan tanah air dan bangsanya. Yang jelas sangat asyik membaca Novel ini, terbukti novel tebal tersebut dapat kuselesaikan dalam tempo 2 hari. Untuk menambah khasanah pengetahuan kita tentang Pewayangan, tentunya dengan versi lain rasanya tidak rugi membaca novel ini. Asyik, itu satu kata yang bisa saya ungkapkan. Terima kasih buat Mas Agus Sunyoto, saya akan selalu menunggu karya-karya sampeyan. Semoga Allah membarakahi sampeyan dan keluarga sehingga akan lebih banyak karya-karya yang sampeyan hasilkan. Bi barakatillah.Ujung, 05.06.07 (tanggal yang bagus tuh) ditulis oleh bunda Gangga-Gautama-… SUmber dari sini. Buku ini dapat di pesan di : SINI</itunes:summary><itunes:keywords>Agus Sunyoto, Lkis, Novel, Rahuvana Tattwa, Sastra Sejarah, Spiritual</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-7094701972113023375</guid><pubDate>Wed, 19 Feb 2014 16:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-19T23:56:11.319+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kayla Pustaka</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Layla Majnun</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Novel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Penerbit Dolphin</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Shalahuddin Gh</category><title>Layla Majnun, Sebuah Kitab yang Tak Biasa (Muhammad Al-Fayyadl, Penulis Derrida, LKis 2005)</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4K342pgP8aeEm5qiPbgxNhOiECzm84az-kCRABQwJruKaBGOFjxUlpkoFjX4_Q-2R7lJwIoCfjK6dcQqw2vVlfq8auLDH8-3Y0s9Hd32KwETPiQLvxp66KJh6XCGEHl_Fllk_0rUAK0o/s1600/LaylaMajnun.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4K342pgP8aeEm5qiPbgxNhOiECzm84az-kCRABQwJruKaBGOFjxUlpkoFjX4_Q-2R7lJwIoCfjK6dcQqw2vVlfq8auLDH8-3Y0s9Hd32KwETPiQLvxp66KJh6XCGEHl_Fllk_0rUAK0o/s1600/LaylaMajnun.jpg" height="320" width="213" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
Aku baru saja berdiri dari tempat duduk ketika kusadari gagang kacamataku basah oleh sedikit rembesan air mata. Sebuah buku telah menghisapku sedemikian dalam ke seluruh pori-pori katanya, membuat apa yang terkatakan menjadi tak terkatakan, dan menjadikan waktu dan detak jantung seperti sepakat untuk berhenti bersama. Aku tahu ini hanyalah fiksi, cerita yang telah menjadi sebuah legenda dari masa ke masa, namun bagi otak bawah sadarku ini adalah fakta yang nyata. Toh, apalah arti fakta dan fiksi di bawah dunia fana ini—yang barangkali hanyalah “rekaan” bagi pikiran Dia Sang Maha di langit sana?&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
Layla Majnun bukan sebuah buku biasa. Tadi sore tanpa sengaja aku memilihnya, lalu membelinya, dan membawanya ke ruang baca. Tak terpikirkan olehku bahwa aku akan membaca novel yang judulnya sudah lama kutahu itu, dan bagiku tampak klise. Aku menyadari bahwa sangkaanku salah: buku ini—jika kau pernah membacanya, sebaiknya kau tak beranjak sedikit pun sampai kau benar-benar mengkhatamkannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
Terpujilah untuk penerjemah dan penyunting buku ini, yang berhasil menyuguhkan suatu bacaan yang sangat hidup dan “sempurna” ke sidang pembacanya. Kalian berdua adalah pasangan serasi, ibarat Majnun dan Layla. Terpujilah untuk penerbit buku ini, yang mau menerbitkan buku yang akan memperkaya khazanah kata. Terpujilah Nizami sang pengarang, seorang pujangga Persia abad ke-12, yang mau menggubah kisah ini dengan kecemerlangan yang sulit ditandingi. Dan tentu saja, tak akan pernah lupa, terpujilah untuk Dia yang menciptakan Layla dan Majnun ke dunia ini, yang untuk cinta-Nya Nizami dan para pengarang-sufi lainnya berkarya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
Perlukah bagiku untuk menceritakan kembali isi buku yang tak biasa ini? Jika kau membaca sendiri buku ini, kau akan mengerti kenapa kata-kata seperti harus meluap-luap untuk menggambarkan nuansanya. Aku yang baru membacanya sekali, seperti ingin berteriak kegirangan dan menari sejenak walau cuma dalam imajinasi. Bagaimana dengan William Shakespeare, yang tergerak menulis Romeo and Juliet untuk meniru keindahan buku ini? Bagaimana dengan Jalaluddin Rumi, yang menjadikan karya ini inspirasi terpenting bagi Matsnawi-nya? Terbayangkankah betapa mereka tak cuma girang dan menangis, tapi juga menari? Seperti al-Hallaj yang berteriak sempoyongan karena ketergilaannya pada Tuhan, sang Mawlana—Rumi—pastilah ekstase setelah membaca karya ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
Sejatinya Layla Majnun adalah kisah “tragis” tentang cinta yang tak sampai antara dua orang manusia. Seseorang bernama Qays, dan seseorang lagi bernama Layla. Mereka bertemu, saling jatuh cinta, namun hubungan mereka tak direstui. Mereka kemudian berpisah secara menyakitkan, ketika cinta mereka sedang di puncak baranya. Qays begitu tergila-gila pada Layla hingga menyebutnya sepanjang waktu, menyanyikan sajak-sajak cinta di mana pun ia berada-hingga orang mencapnya “Majnun” alias sinting. Ia menelantarkan studinya karena cintanya pada Layla, ia merendahkan harga dirinya karena cinta, dan menggelandang kesana kemari hanya untuk mengungkapkan cintanya kepada Layla.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
Padahal Qays adalah anak bangsawan kaya. Dan ayahnya, tahu dan sedih dengan kondisi Qays, berminat melamar Layla, namun lamaran itu ditolak mentah-mentah oleh ayah Layla. Qays semakin majnun, semakin tenggelam dia dalam kegilaannya, dan orang-orang terus mencemooh dan mencacinya karena ketidakwarasan itu, hingga kemudian ada seorang kesatria Arab bernama Naufal membantu ingin merebut Layla dari sukunya dan mempertemukan Layla dengan Qays&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
Terjadi perang besar, suku Layla kalah, namun ayah Layla tak mau menyerahkan Layla kepada Naufal. Qays tetap merana dalam kesendiriannya. Ia berkelana ke gurun-gurun pasir tanpa kejelasan nasib, pikirannya terlalap api cinta, dan tubuhnya semakin menderita, kurus ceking dan tinggal tulang belulang. Sementara, Layla diincar oleh seorang pemuda Arab bernama Ibnu Salam yang datang melamar ke keluarga Layla dan diterima. Layla pun dinikahkan dengan Ibnu Salam, walaupun lelaki itu tak pernah dicintainya. Dan benar, selama bersama dengan Ibnu Salam, kesucian Layla tetap terjaga; lelaki itu, meski jadi suaminya, tak pernah bisa menyentuhnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
Selama masa-masa perpisahan itu, Qays si Majnun hidup di hutan, berkawan dengan rimba, dengan binatang-binatang, dan kehilangan akal kemanusiaannya. Terasing dari keluarganya, dari sukunya, dan bahkan dari manusia, dia memilih hidup untuk merawat cinta, sendiri di ganasnya hutan belantara. Sementara Layla berhari-hari memendam rindunya pada Qays, Qays membalas rindunya pada Layla dengan sajak-sajak cinta yang dititipkannya pada alam raya. Hingga keduanya mati, mereka hanya bertemu sekali di ujung perpisahan panjang itu. Layla mati, dan Qays pun menyusul kekasihnya ke gerbang kematian. Demikianlah, seseorang kemudian bermimpi melihat keduanya bercengkerama bersama dan saling bermesra ria di surga…&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
Tak ada yang pernah dapat menceritakan kembali keanggunan Layla Majnun hanya dalam satu-dua halaman, kecuali kau menjelma Nizami, dan kalaupun ada yang mau meringkasnya, jangan pernah percaya sebelum kau membacanya dengan mata kepala. Layla Majnun bagiku bukan untuk diceritakan ulang; karya ini untuk dibaca dan dihayati, terutama jika kau pernah mencecap apa yang disebut “cinta”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
Layla Majnun bukan kisah cinta biasa. Cinta antara jantan dan betina, antara dua jiwa yang sekadar ingin bersama. Ia bukan cinta yang sering kali berselubung nafsu dan berahi. Jika saja kau benar-benar merasakannya, mencecapnya hingga kata-kata terakhir di dalamnya, kau akan tahu betapa karya ini sebenarnya berbicara tentang cinta yang lebih hakiki, cinta seorang hamba pada Tuhannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
Majnun adalah tipikal seorang hamba yang diperbudak oleh cintanya. Sedangkan Layla adalah tipikal seorang kekasih yang mendamba untuk dicintai. Majnun adalah seorang pencari cinta, sedangkan Layla adalah penunggu cinta. Majnun adalah budak cinta yang menghamba untuk diizinkan mencintai, sedangkan Layla adalah majikan yang tak sabar untuk segera dicintai. Bukankah semua ini cukup menggambarkan hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya?&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
Tuhan, seperti pernah dikatakannya dalam sebuah hadis Qudsi, adalah Khazanah Tersembunyi. Ia ingin dikenal, maka ia ciptakan semesta dan seisinya. Ia mencipta bukan karena Ia butuh kepada ciptaannya, tapi agar Ia kelak dikenal dan dirindu—serta dicumbu—oleh ciptaannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
Layla Majnun memberi kita ruang untuk menafsiri cinta sesuka hati kita, seturut nurani pembacanya. Namun, pembaca yang satu ini lebih memilih menafsiri dengan kegilaan yang sudah lama tak dirasakannya—kegilaan yang dulu membuatnya begitu gandrung pada al-Hallaj dan sufi-sufi sinting lainnya. Dalam kegilaannya, yang hanya sepersekian persen dari kegilaan Majnun, pembaca yang satu ini menuliskan satu pasase di halaman pertama buku yang baru dibelinya: sebuah tanda tangan dan sebuah doa “Semoga Allah selalu merahmati Nizami dengan keluhuran karyanya…”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
(*Persembahan untuk edisi Layla Majnun [yang sementara ini tampaknya merupakan edisi terbaik dalam bahasa Indonesia] karya Nizami, diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Ali Noer Zaman dan disunting oleh Salahuddien Gz, Kayla Pustaka, Jakarta, cet. I Februari 2009… dan juga persembahan untuk Layla-ku, “masihkah kau selalu jadi Layla bagi Majnun-mu?”)&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; line-height: 20px;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px;"&gt;Pesan buku ini di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/search?q=layla&amp;amp;x=0&amp;amp;y=0"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/layla-majnun-sebuah-kitab-yang-tak.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4K342pgP8aeEm5qiPbgxNhOiECzm84az-kCRABQwJruKaBGOFjxUlpkoFjX4_Q-2R7lJwIoCfjK6dcQqw2vVlfq8auLDH8-3Y0s9Hd32KwETPiQLvxp66KJh6XCGEHl_Fllk_0rUAK0o/s72-c/LaylaMajnun.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="145944" type="image/jpeg" url="http://3.bp.blogspot.com/-9uZHb70c2dg/UvN4YMN7V1I/AAAAAAAABdk/SKTVjkbuHqQ/s1600/LaylaMajnun.jpg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Aku baru saja berdiri dari tempat duduk ketika kusadari gagang kacamataku basah oleh sedikit rembesan air mata. Sebuah buku telah menghisapku sedemikian dalam ke seluruh pori-pori katanya, membuat apa yang terkatakan menjadi tak terkatakan, dan menjadikan waktu dan detak jantung seperti sepakat untuk berhenti bersama. Aku tahu ini hanyalah fiksi, cerita yang telah menjadi sebuah legenda dari masa ke masa, namun bagi otak bawah sadarku ini adalah fakta yang nyata. Toh, apalah arti fakta dan fiksi di bawah dunia fana ini—yang barangkali hanyalah “rekaan” bagi pikiran Dia Sang Maha di langit sana? Layla Majnun bukan sebuah buku biasa. Tadi sore tanpa sengaja aku memilihnya, lalu membelinya, dan membawanya ke ruang baca. Tak terpikirkan olehku bahwa aku akan membaca novel yang judulnya sudah lama kutahu itu, dan bagiku tampak klise. Aku menyadari bahwa sangkaanku salah: buku ini—jika kau pernah membacanya, sebaiknya kau tak beranjak sedikit pun sampai kau benar-benar mengkhatamkannya. Terpujilah untuk penerjemah dan penyunting buku ini, yang berhasil menyuguhkan suatu bacaan yang sangat hidup dan “sempurna” ke sidang pembacanya. Kalian berdua adalah pasangan serasi, ibarat Majnun dan Layla. Terpujilah untuk penerbit buku ini, yang mau menerbitkan buku yang akan memperkaya khazanah kata. Terpujilah Nizami sang pengarang, seorang pujangga Persia abad ke-12, yang mau menggubah kisah ini dengan kecemerlangan yang sulit ditandingi. Dan tentu saja, tak akan pernah lupa, terpujilah untuk Dia yang menciptakan Layla dan Majnun ke dunia ini, yang untuk cinta-Nya Nizami dan para pengarang-sufi lainnya berkarya. Perlukah bagiku untuk menceritakan kembali isi buku yang tak biasa ini? Jika kau membaca sendiri buku ini, kau akan mengerti kenapa kata-kata seperti harus meluap-luap untuk menggambarkan nuansanya. Aku yang baru membacanya sekali, seperti ingin berteriak kegirangan dan menari sejenak walau cuma dalam imajinasi. Bagaimana dengan William Shakespeare, yang tergerak menulis Romeo and Juliet untuk meniru keindahan buku ini? Bagaimana dengan Jalaluddin Rumi, yang menjadikan karya ini inspirasi terpenting bagi Matsnawi-nya? Terbayangkankah betapa mereka tak cuma girang dan menangis, tapi juga menari? Seperti al-Hallaj yang berteriak sempoyongan karena ketergilaannya pada Tuhan, sang Mawlana—Rumi—pastilah ekstase setelah membaca karya ini. Sejatinya Layla Majnun adalah kisah “tragis” tentang cinta yang tak sampai antara dua orang manusia. Seseorang bernama Qays, dan seseorang lagi bernama Layla. Mereka bertemu, saling jatuh cinta, namun hubungan mereka tak direstui. Mereka kemudian berpisah secara menyakitkan, ketika cinta mereka sedang di puncak baranya. Qays begitu tergila-gila pada Layla hingga menyebutnya sepanjang waktu, menyanyikan sajak-sajak cinta di mana pun ia berada-hingga orang mencapnya “Majnun” alias sinting. Ia menelantarkan studinya karena cintanya pada Layla, ia merendahkan harga dirinya karena cinta, dan menggelandang kesana kemari hanya untuk mengungkapkan cintanya kepada Layla. Padahal Qays adalah anak bangsawan kaya. Dan ayahnya, tahu dan sedih dengan kondisi Qays, berminat melamar Layla, namun lamaran itu ditolak mentah-mentah oleh ayah Layla. Qays semakin majnun, semakin tenggelam dia dalam kegilaannya, dan orang-orang terus mencemooh dan mencacinya karena ketidakwarasan itu, hingga kemudian ada seorang kesatria Arab bernama Naufal membantu ingin merebut Layla dari sukunya dan mempertemukan Layla dengan Qays Terjadi perang besar, suku Layla kalah, namun ayah Layla tak mau menyerahkan Layla kepada Naufal. Qays tetap merana dalam kesendiriannya. Ia berkelana ke gurun-gurun pasir tanpa kejelasan nasib, pikirannya terlalap api cinta, dan tubuhnya semakin menderita, kurus ceking dan tinggal tulang belulang. Sementara, Layla diincar oleh seorang pemuda Arab bernama Ibnu Salam yang datang melamar ke keluarga Layla dan diterima. Layla pun dinikahkan dengan Ibnu Salam, walaupun lelaki itu tak pernah dicintainya. Dan benar, selama bersama dengan Ibnu Salam, kesucian Layla tetap terjaga; lelaki itu, meski jadi suaminya, tak pernah bisa menyentuhnya. Selama masa-masa perpisahan itu, Qays si Majnun hidup di hutan, berkawan dengan rimba, dengan binatang-binatang, dan kehilangan akal kemanusiaannya. Terasing dari keluarganya, dari sukunya, dan bahkan dari manusia, dia memilih hidup untuk merawat cinta, sendiri di ganasnya hutan belantara. Sementara Layla berhari-hari memendam rindunya pada Qays, Qays membalas rindunya pada Layla dengan sajak-sajak cinta yang dititipkannya pada alam raya. Hingga keduanya mati, mereka hanya bertemu sekali di ujung perpisahan panjang itu. Layla mati, dan Qays pun menyusul kekasihnya ke gerbang kematian. Demikianlah, seseorang kemudian bermimpi melihat keduanya bercengkerama bersama dan saling bermesra ria di surga… Tak ada yang pernah dapat menceritakan kembali keanggunan Layla Majnun hanya dalam satu-dua halaman, kecuali kau menjelma Nizami, dan kalaupun ada yang mau meringkasnya, jangan pernah percaya sebelum kau membacanya dengan mata kepala. Layla Majnun bagiku bukan untuk diceritakan ulang; karya ini untuk dibaca dan dihayati, terutama jika kau pernah mencecap apa yang disebut “cinta”. Layla Majnun bukan kisah cinta biasa. Cinta antara jantan dan betina, antara dua jiwa yang sekadar ingin bersama. Ia bukan cinta yang sering kali berselubung nafsu dan berahi. Jika saja kau benar-benar merasakannya, mencecapnya hingga kata-kata terakhir di dalamnya, kau akan tahu betapa karya ini sebenarnya berbicara tentang cinta yang lebih hakiki, cinta seorang hamba pada Tuhannya. Majnun adalah tipikal seorang hamba yang diperbudak oleh cintanya. Sedangkan Layla adalah tipikal seorang kekasih yang mendamba untuk dicintai. Majnun adalah seorang pencari cinta, sedangkan Layla adalah penunggu cinta. Majnun adalah budak cinta yang menghamba untuk diizinkan mencintai, sedangkan Layla adalah majikan yang tak sabar untuk segera dicintai. Bukankah semua ini cukup menggambarkan hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya? Tuhan, seperti pernah dikatakannya dalam sebuah hadis Qudsi, adalah Khazanah Tersembunyi. Ia ingin dikenal, maka ia ciptakan semesta dan seisinya. Ia mencipta bukan karena Ia butuh kepada ciptaannya, tapi agar Ia kelak dikenal dan dirindu—serta dicumbu—oleh ciptaannya. Layla Majnun memberi kita ruang untuk menafsiri cinta sesuka hati kita, seturut nurani pembacanya. Namun, pembaca yang satu ini lebih memilih menafsiri dengan kegilaan yang sudah lama tak dirasakannya—kegilaan yang dulu membuatnya begitu gandrung pada al-Hallaj dan sufi-sufi sinting lainnya. Dalam kegilaannya, yang hanya sepersekian persen dari kegilaan Majnun, pembaca yang satu ini menuliskan satu pasase di halaman pertama buku yang baru dibelinya: sebuah tanda tangan dan sebuah doa “Semoga Allah selalu merahmati Nizami dengan keluhuran karyanya…”. (*Persembahan untuk edisi Layla Majnun [yang sementara ini tampaknya merupakan edisi terbaik dalam bahasa Indonesia] karya Nizami, diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Ali Noer Zaman dan disunting oleh Salahuddien Gz, Kayla Pustaka, Jakarta, cet. I Februari 2009… dan juga persembahan untuk Layla-ku, “masihkah kau selalu jadi Layla bagi Majnun-mu?”) Pesan buku ini di SINI</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Aku baru saja berdiri dari tempat duduk ketika kusadari gagang kacamataku basah oleh sedikit rembesan air mata. Sebuah buku telah menghisapku sedemikian dalam ke seluruh pori-pori katanya, membuat apa yang terkatakan menjadi tak terkatakan, dan menjadikan waktu dan detak jantung seperti sepakat untuk berhenti bersama. Aku tahu ini hanyalah fiksi, cerita yang telah menjadi sebuah legenda dari masa ke masa, namun bagi otak bawah sadarku ini adalah fakta yang nyata. Toh, apalah arti fakta dan fiksi di bawah dunia fana ini—yang barangkali hanyalah “rekaan” bagi pikiran Dia Sang Maha di langit sana? Layla Majnun bukan sebuah buku biasa. Tadi sore tanpa sengaja aku memilihnya, lalu membelinya, dan membawanya ke ruang baca. Tak terpikirkan olehku bahwa aku akan membaca novel yang judulnya sudah lama kutahu itu, dan bagiku tampak klise. Aku menyadari bahwa sangkaanku salah: buku ini—jika kau pernah membacanya, sebaiknya kau tak beranjak sedikit pun sampai kau benar-benar mengkhatamkannya. Terpujilah untuk penerjemah dan penyunting buku ini, yang berhasil menyuguhkan suatu bacaan yang sangat hidup dan “sempurna” ke sidang pembacanya. Kalian berdua adalah pasangan serasi, ibarat Majnun dan Layla. Terpujilah untuk penerbit buku ini, yang mau menerbitkan buku yang akan memperkaya khazanah kata. Terpujilah Nizami sang pengarang, seorang pujangga Persia abad ke-12, yang mau menggubah kisah ini dengan kecemerlangan yang sulit ditandingi. Dan tentu saja, tak akan pernah lupa, terpujilah untuk Dia yang menciptakan Layla dan Majnun ke dunia ini, yang untuk cinta-Nya Nizami dan para pengarang-sufi lainnya berkarya. Perlukah bagiku untuk menceritakan kembali isi buku yang tak biasa ini? Jika kau membaca sendiri buku ini, kau akan mengerti kenapa kata-kata seperti harus meluap-luap untuk menggambarkan nuansanya. Aku yang baru membacanya sekali, seperti ingin berteriak kegirangan dan menari sejenak walau cuma dalam imajinasi. Bagaimana dengan William Shakespeare, yang tergerak menulis Romeo and Juliet untuk meniru keindahan buku ini? Bagaimana dengan Jalaluddin Rumi, yang menjadikan karya ini inspirasi terpenting bagi Matsnawi-nya? Terbayangkankah betapa mereka tak cuma girang dan menangis, tapi juga menari? Seperti al-Hallaj yang berteriak sempoyongan karena ketergilaannya pada Tuhan, sang Mawlana—Rumi—pastilah ekstase setelah membaca karya ini. Sejatinya Layla Majnun adalah kisah “tragis” tentang cinta yang tak sampai antara dua orang manusia. Seseorang bernama Qays, dan seseorang lagi bernama Layla. Mereka bertemu, saling jatuh cinta, namun hubungan mereka tak direstui. Mereka kemudian berpisah secara menyakitkan, ketika cinta mereka sedang di puncak baranya. Qays begitu tergila-gila pada Layla hingga menyebutnya sepanjang waktu, menyanyikan sajak-sajak cinta di mana pun ia berada-hingga orang mencapnya “Majnun” alias sinting. Ia menelantarkan studinya karena cintanya pada Layla, ia merendahkan harga dirinya karena cinta, dan menggelandang kesana kemari hanya untuk mengungkapkan cintanya kepada Layla. Padahal Qays adalah anak bangsawan kaya. Dan ayahnya, tahu dan sedih dengan kondisi Qays, berminat melamar Layla, namun lamaran itu ditolak mentah-mentah oleh ayah Layla. Qays semakin majnun, semakin tenggelam dia dalam kegilaannya, dan orang-orang terus mencemooh dan mencacinya karena ketidakwarasan itu, hingga kemudian ada seorang kesatria Arab bernama Naufal membantu ingin merebut Layla dari sukunya dan mempertemukan Layla dengan Qays Terjadi perang besar, suku Layla kalah, namun ayah Layla tak mau menyerahkan Layla kepada Naufal. Qays tetap merana dalam kesendiriannya. Ia berkelana ke gurun-gurun pasir tanpa kejelasan nasib, pikirannya terlalap api cinta, dan tubuhnya semakin menderita, kurus ceking dan tinggal tulang belulang. Sementara, Layla diincar oleh seorang pemuda Arab bernama Ibnu Salam yang datang melamar ke keluarga Layla dan diterima. Layla pun dinikahkan dengan Ibnu Salam, walaupun lelaki itu tak pernah dicintainya. Dan benar, selama bersama dengan Ibnu Salam, kesucian Layla tetap terjaga; lelaki itu, meski jadi suaminya, tak pernah bisa menyentuhnya. Selama masa-masa perpisahan itu, Qays si Majnun hidup di hutan, berkawan dengan rimba, dengan binatang-binatang, dan kehilangan akal kemanusiaannya. Terasing dari keluarganya, dari sukunya, dan bahkan dari manusia, dia memilih hidup untuk merawat cinta, sendiri di ganasnya hutan belantara. Sementara Layla berhari-hari memendam rindunya pada Qays, Qays membalas rindunya pada Layla dengan sajak-sajak cinta yang dititipkannya pada alam raya. Hingga keduanya mati, mereka hanya bertemu sekali di ujung perpisahan panjang itu. Layla mati, dan Qays pun menyusul kekasihnya ke gerbang kematian. Demikianlah, seseorang kemudian bermimpi melihat keduanya bercengkerama bersama dan saling bermesra ria di surga… Tak ada yang pernah dapat menceritakan kembali keanggunan Layla Majnun hanya dalam satu-dua halaman, kecuali kau menjelma Nizami, dan kalaupun ada yang mau meringkasnya, jangan pernah percaya sebelum kau membacanya dengan mata kepala. Layla Majnun bagiku bukan untuk diceritakan ulang; karya ini untuk dibaca dan dihayati, terutama jika kau pernah mencecap apa yang disebut “cinta”. Layla Majnun bukan kisah cinta biasa. Cinta antara jantan dan betina, antara dua jiwa yang sekadar ingin bersama. Ia bukan cinta yang sering kali berselubung nafsu dan berahi. Jika saja kau benar-benar merasakannya, mencecapnya hingga kata-kata terakhir di dalamnya, kau akan tahu betapa karya ini sebenarnya berbicara tentang cinta yang lebih hakiki, cinta seorang hamba pada Tuhannya. Majnun adalah tipikal seorang hamba yang diperbudak oleh cintanya. Sedangkan Layla adalah tipikal seorang kekasih yang mendamba untuk dicintai. Majnun adalah seorang pencari cinta, sedangkan Layla adalah penunggu cinta. Majnun adalah budak cinta yang menghamba untuk diizinkan mencintai, sedangkan Layla adalah majikan yang tak sabar untuk segera dicintai. Bukankah semua ini cukup menggambarkan hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya? Tuhan, seperti pernah dikatakannya dalam sebuah hadis Qudsi, adalah Khazanah Tersembunyi. Ia ingin dikenal, maka ia ciptakan semesta dan seisinya. Ia mencipta bukan karena Ia butuh kepada ciptaannya, tapi agar Ia kelak dikenal dan dirindu—serta dicumbu—oleh ciptaannya. Layla Majnun memberi kita ruang untuk menafsiri cinta sesuka hati kita, seturut nurani pembacanya. Namun, pembaca yang satu ini lebih memilih menafsiri dengan kegilaan yang sudah lama tak dirasakannya—kegilaan yang dulu membuatnya begitu gandrung pada al-Hallaj dan sufi-sufi sinting lainnya. Dalam kegilaannya, yang hanya sepersekian persen dari kegilaan Majnun, pembaca yang satu ini menuliskan satu pasase di halaman pertama buku yang baru dibelinya: sebuah tanda tangan dan sebuah doa “Semoga Allah selalu merahmati Nizami dengan keluhuran karyanya…”. (*Persembahan untuk edisi Layla Majnun [yang sementara ini tampaknya merupakan edisi terbaik dalam bahasa Indonesia] karya Nizami, diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Ali Noer Zaman dan disunting oleh Salahuddien Gz, Kayla Pustaka, Jakarta, cet. I Februari 2009… dan juga persembahan untuk Layla-ku, “masihkah kau selalu jadi Layla bagi Majnun-mu?”) Pesan buku ini di SINI</itunes:summary><itunes:keywords>Kayla Pustaka, Layla Majnun, Novel, Penerbit Dolphin, Shalahuddin Gh</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-4692829150065386509</guid><pubDate>Wed, 19 Feb 2014 11:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-19T18:27:59.751+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Colin Falconer</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Harem Sang Sultan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Imperia</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sastra Sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Adi_Toha's Reviews &gt; Harem Sang Sultan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.serambi.co.id/images/katalog/buku_Harem-sang-Sultan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://www.serambi.co.id/images/katalog/buku_Harem-sang-Sultan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Sultan Sulaiman I, khalifah ke-10 Kekhalifahan Turki Utsmani, berkuasa sejak 1520 hingga 1566. Orang Barat mengenalnya sebagai Sulaiman yang Luar Biasa (Suleyman the Magnificent) karena kekuasan dan pengaruhnya terhadap peta perpolitikan, perekonomian dan militer di Eropa pada abad keenam belas. Di kalangan muslim, ia berjuluk Sulaiman al-Qanuni, karena pencapaiannya dalam menyusun kembali sistem undang-undang Utsmani. Sulaiman adalah salah satu pemimpin tersukses dalam sejarah Islam. Ia memimpin tentara Turki Utsmani menaklukkan Belgrade, Rhodesia, dan sebagian besar Hongaria sebelum berhasil dipukul mundur dalam Pengepungan Wina pada 1529. Ia menganeksasi sebagian besar Timur Tengah dan Afrika Utara (hingga sejauh Aljazair di barat). Di bawah kekuasaannya, armada Turki Utsmani menguasai laut Tengah, Merah, dan teluk Persia.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Roxelana, atau Haseki Hürrem Sultan, adalah seorang putri dari pendeta ortodok Ukrainia, yang diculik kemudian diperdagangkan di pasar budak. Nasib baik membuatnya terpilih untuk masuk ke dalam Harem. Lewat kerja keras, intrik dan kecerdikannya, Hürrem berhasil menarik perhatian Sultan Sulaiman, hingga akhirnya, Sulaiman memperistrinya secara sah. Dengan memperistri secara sah seorang gadis dari Harem, Sulaiman sebenarnya telah melanggar tradisi Turki. Pernikahan Sulaiman dan Hürrem menghasilkan beberapa keturunan, salah satunya adalah Selim II, yang menggantikan Sulaiman setelah dirinya wafat pada 1566.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Gülbehar, adalah istri pertama Sulaiman, sekaligus wanita favorit Sulaiman di dalam Harem, sebelum kedatangan Hürrem. Dari Gülbehar, Sulaiman mendapatkan seorang keturunan bernama Mustafa. Secara urutan, Mustafa-lah yang berhak meneruskan takhta Sulaiman. Namun, demi memuluskan jalan bagi Selim untuk menjadi pewaris Sulaiman, Hürrem, lewat intrik dan kecerdikannya, berhasil membuat Mustafa dieksekusi oleh ayahnya sendiri atas tuduhan makar.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Secara hukum, Hürrem tidak memiliki kekuasaan apa-apa terhadap pemerintahan Sulaiman. Namun, berkat pesona dan kecerdikannya, ia mampu memengaruhi setiap kebijakan Sultan Sulaiman, termasuk dalam melenyapkan Ibrahim Pasha, Wazir Agung, yang juga sahabat karib Sulaiman lewat serangkaian intrik, dan menempatkan Rustem Pasha, menantunya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Nah. Novel Harem karya Colin Falconer ini adalah fiksionalisasi sejarah seputar intrik dan kompetisi antara Hürrem dan Gülbehar dalam berebut pengaruh terhadap diri Sulaiman. Hürrem mendapatkan porsi penceritaan yang lebih banyak daripada Gülbehar. Hürrem digambarkan sebagai seorang wanita yang ambisius, penuh dendam, cerdik, licik dan culas dalam mengatur plot-plot demi melancarkan rencananya dalam melenyapkan satu per satu orang yang menghalangi jalannya menuju orang nomor satu dalam kehidupan Sulaiman, dan demi menempatkan putranya, Selim untuk menduduki kursi putra mahkota, menggeser Mustafa, putra dari Gülbehar. Sementara Gülbehar digambarkan sebagai sosok yang tenang, kalem dan cenderung nrimo atas segala kehendak Sulaiman atas dirinya dan putranya.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Demi memperumit intrik yang dilakukan oleh Hürrem, diperkenalkan pula tokoh Julia, putri seorang bangsawan Italia, yang diculik dalam upaya pelariannya bersama kekasihnya. Julia kemudian dipersembahkan kepada Sulaiman untuk menghuni Harem. Merasa posisinya terancam oleh kedatangan Julia, yang usianya lebih muda, dan lebih cantik jelita daripada Hürrem, maka wanita cerdik itu kembali melancarkan intrik-intriknya demi melenyapkan Julia, sekaligus menjadikan Julia sebagai salah satu simpul dalam kelindan rencananya.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Novel ini menggambarkan dengan cukup detail peristiwa-peristiwa keseharian yang terjadi di dalam Harem, interaksi para wanita penghuni Harem, bagaimana mereka setiap harinya mempercantik diri demi bersiap-siap jika suatu ketika sang Sultan berniat untuk memilih salah satu di antara mereka untuk diajak tidur ataupun jika beruntung, dipilih sebagai seorang istri. Harem seolah menjadi etalase wanita-wanita cantik yang diambil dari seluruh penjuru kekhalifahan, dikarantina dari pengaruh luar, dan dijaga oleh para petugas khusus yang telah dikebiri.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Pada awalnya, sebelum kedatangan Hürrem, Sulaiman tidak pernah memilih salah satu di antara mereka, karena dia sudah cukup puas dan bangga dengan Gülbehar. Setelah Hürrem menjadi salah satu gadis Harem dan mulai menyadari bahwa nasibnya akan sama dengan para penghuni Harem lainnya (mempercantik diri dengan segala keistimewaan pelayanan yang diberikan oleh Harem, tanpa bisa mempergunakan kecantikan dan keistimewaan itu untuk mendapatkan kesempatan ‘melayani’ sang Sultan), Hürrem memulai rencananya untuk menarik perhatian sang Sultan dan rencana-rencana lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Penggambaran beberapa adegan keseharian di antara para gadis Harem terbilang cukup vulgar, bagaimana mereka mandi dan dirawat sekujur tubuhnya oleh seorang perawat khusus yang ditugaskan untuk masing-masing gadis. Ketelanjangan menjadi sesuatu yang wajar di dalam Harem, karena di sana semuanya wanita, satu-satunya lelaki adalah budak penjaga Harem yang sudah dikebiri. Dengan ketelanjangan itu masing-masing gadis berusaha memamerkan dirinya kepada gadis yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Selain plot yang berkisah tentang Sulaiman, Hürrem, dan Gülbehar beserta putra-putra mereka, terdapat juga plot minor yang berkisah tentang perjalanan cinta Julia dan kekasihnya, Abbas. Abbas berniat melarikan diri bersama Julia, karena cinta mereka dihalangi oleh ayah Julia, bangsawan Gonzaga. Sayangnya, Abbas tertangkap, dianiaya dan mengalami penderitaan fisik dan batin yang tak terperikan, dijual di pasar budak, sampai akhirnya diangkat menjadi Kapi Aga, penjaga tertinggi di Harem … dan kembali bertemu dengan Julia. Sayangnya, cinta mereka sudah tidak mungkin dipertahankan. Satu hal, karena Abbas sudah dikebiri, dan Julia kini telah menjadi gadis Harem, dalam perlindungan dan kekuasaan sang Sultan yang dilayaninya. Bersama Ludovico, sahabat karib Abbas dan sepupu Julia, ia mengatur pelarian Julia dari Harem. Seiring cerita berkembang, Ludovico malah merasakan hasrat untuk memiliki Julia. Sementara itu, Julia, yang digambarkan sebagai gadis muda yang sangat cantik jelita tetapi polos, justru merasa tertarik (bahkan secara seksual) kepada Sirhane, pelayan wanitanya semasa di Harem.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Masing-masing tokoh dan peristiwa, baik fakta maupun fiktif, saling berjalin berkelindan membentuk jalinan cerita yang kompleks dan rumit. Kita seolah dibawa untuk membenci sekaligus mengagumi kecerdikan Hürrem dalam memainkan peranannya dalam kehidupan pribadi Sulaiman, sekaligus kebijakan-kebijakannya. Sulaiman menjadi sosok pahlawan yang tragis. Obsesinya terhadap Hürrem membuatnya harus mengorbankan banyak hal, termasuk putranya sendiri, Mustafa, yang digadang-gadang untuk menggantikannya sebagai pewaris takhta. Secara kualitas, Mustafa jauh lebih tinggi daripada Selim, putra Hürrem. Ia pun harus kehilangan Ibrahin Pasha, sahabat karibnya. Secara bertahap, Sulaiman diasingkan dari orang-orang terdekatnya sehingga hanya Hürrem-lah yang ia miliki, sehingga hanya kepada wanita itulah Sulaiman bersandar dalam menghadapi pasang surut pemerintahannya, hanya kepada wanita itulah Sulaiman berkonsultasi tentang kampanye-kampanye militer yang akan dilakukannya.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Novel ini secara gamblang mengungkapkan bagaimana peran dan pengaruh wanita bagi seorang lelaki, baik dan buruknya. Di balik segala kemasyhuran dan kewibawaan Sulaiman bagi dunia luar, ada sosok Hürrem yang bisa dibilang menjadi sosok pengendali. Sulaiman dengan segala ke-Luar-Biasa-annya tidak mampu menyadari setiap intrik dan manuver yang dilakukan oleh Hürrem, karena terbutakan oleh obsesi dan cintanya terhadap wanita licik itu. Terkadang kita dibuat geram oleh kebodohan Sulaiman. Meski demikian, penggambaran Sulaiman tetap tidak kehilangan sosok bijaksananya. Seolah-olah, ia hanya seorang suami yang tidak tahu harus berbuat apa di tengah perseteruan dua orang istrinya untuk berebut perhatian. Di sisi lain, ia harus menjadi penguasa kekhalifahan yang mahaluas. Sungguh tidak tidak gampang menjadi Sulaiman.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Tokoh-tokoh sejarah lainnya di seputar Sulaiman dihidupkan dalam novel yang sensual sekaligus sensasional ini. Dengan masing-masing jalan hidupnya, mereka menyumbangkan kompleksitas novel yang eksotis sekaligus erotis ini. Seluk-beluk Harem, sudut-sudut Istana Topkapi, semuanya menjadi unsur yang melengkapi sebuah versi sejarah alternatif dari sebuah masa kejayaan kekhalifahan Islam abad ke-16. Dramatis sekaligus menggugah rasa ingin tahu untuk semakin mendalami apa yang sebenarnya terjadi pada masa itu, di balik kegemilangan peradabannya, nyatanya terdapat sebuah kebobrokan moral oleh lingkaran penguasa, yang menggunakan segala cara demi melanggengkan pengaruh dan kekuasaannya. Wallahualam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div&gt;
&lt;ul style="background-color: white; border: 0px; line-height: 12px; list-style: none; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;li style="border: 0px; color: #b5b5b5; display: block; font-family: inherit; font-size: 11px; font-style: italic; font-variant: inherit; font-weight: bold; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="-webkit-transition: color, opacity 0.2s linear; border: 0px; color: black; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: normal; line-height: inherit; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; transition: color, opacity 0.2s linear; vertical-align: baseline;"&gt;udul : Harem sang Sultan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="border: 0px; color: #b5b5b5; display: block; font-family: inherit; font-size: 11px; font-style: italic; font-variant: inherit; font-weight: bold; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="-webkit-transition: color, opacity 0.2s linear; border: 0px; color: black; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: normal; line-height: inherit; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; transition: color, opacity 0.2s linear; vertical-align: baseline;"&gt;ISBN : 978-979-024-387-3&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="border: 0px; color: #b5b5b5; display: block; font-family: inherit; font-size: 11px; font-style: italic; font-variant: inherit; font-weight: bold; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="-webkit-transition: color, opacity 0.2s linear; border: 0px; color: black; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: normal; line-height: inherit; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; transition: color, opacity 0.2s linear; vertical-align: baseline;"&gt;Author :&amp;nbsp;&lt;uya style="color: #003366;"&gt;Colin Falconer&lt;/uya&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="border: 0px; color: #b5b5b5; display: block; font-family: inherit; font-size: 11px; font-style: italic; font-variant: inherit; font-weight: bold; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="-webkit-transition: color, opacity 0.2s linear; border: 0px; color: black; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: normal; line-height: inherit; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; transition: color, opacity 0.2s linear; vertical-align: baseline;"&gt;Terbit : Agustus 2012&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="border: 0px; color: #b5b5b5; display: block; font-family: inherit; font-size: 11px; font-style: italic; font-variant: inherit; font-weight: bold; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="-webkit-transition: color, opacity 0.2s linear; border: 0px; color: black; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: normal; line-height: inherit; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; transition: color, opacity 0.2s linear; vertical-align: baseline;"&gt;Halaman : 720 hlm&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="border: 0px; color: #b5b5b5; display: block; font-family: inherit; font-size: 11px; font-style: italic; font-variant: inherit; font-weight: bold; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="-webkit-transition: color, opacity 0.2s linear; border: 0px; color: black; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: normal; line-height: inherit; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; transition: color, opacity 0.2s linear; vertical-align: baseline;"&gt;Kertas : Imperia&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="border: 0px; color: #b5b5b5; display: block; font-family: inherit; font-size: 11px; font-style: italic; font-variant: inherit; font-weight: bold; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="-webkit-transition: color, opacity 0.2s linear; border: 0px; color: black; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; font-weight: normal; line-height: inherit; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; transition: color, opacity 0.2s linear; vertical-align: baseline;"&gt;Ukuran : 14 x 20,5 cm&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="border: 0px; display: block; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Courier New, Courier, monospace;"&gt;Pesan buku ini di &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/harem-sang-sultan.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/aditohas-reviews-harem-sang-sultan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-4806415248001485352</guid><pubDate>Wed, 19 Feb 2014 11:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-20T02:52:35.950+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Biografi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Komunitas Bambu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sukarno</category><title>Biografi Cinta Soekarno-Yurike</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;header class="post-header" style="border: 0px; clear: both; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNAud8sH4_WCowX4f-3_pWq7tx9Um0AdVlvDea5msD0paTusn6IGmv85gXwpxwR_qEpZRJNQPOG-Pias483c0InQDj9ukDvLFTnfEqbeJmEXksAiyC3jkfMNeVkMUS5jBr3VC6qHB7vTE/s1600/percintaan_bung_karno.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNAud8sH4_WCowX4f-3_pWq7tx9Um0AdVlvDea5msD0paTusn6IGmv85gXwpxwR_qEpZRJNQPOG-Pias483c0InQDj9ukDvLFTnfEqbeJmEXksAiyC3jkfMNeVkMUS5jBr3VC6qHB7vTE/s1600/percintaan_bung_karno.gif" height="320" width="207" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h1 style="border: 0px; color: #090b0c; font-size: 1.618em; line-height: 1.387em; margin: 0px 0px 0.618em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Biografi Cinta Soekarno-Yurike&lt;/h1&gt;
&lt;/header&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Sepucuk surat Bung Karno kepada istrinya, Yurike Sanger, tertanggal 7 Oktober 1966, ditulis di atas kertas berkop Sekretariat Negara Kabinet Presiden (tapi kop itu dicoret). Surat itu singkat tapi sangat mendalam.Surat itu pun menggambarkan rindu dan cinta Bung Karno pada Yuri, sang istri. Dinamika politik setahun pasca Gerakan 30 September 1965 juga sangat mengemuka. Surat tulisan tangan Bung Karno itu dimuat di halaman 356 dan di halaman belakang buku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Cinta, romantisme, dan perempuan cantik selalu mengiringi perjalanan dan perjuangan Bung Karno. Bahkan ketika masih sekolah di tingkat SMP, dia sudah berani menggandeng sinyo Belanda. Putra Sang Fajar, demikian sebutan untuk Bung Karno, ini bahkan menikah ketika masih muda belia, 20 tahun. Istri pertamanya adalah Oetari, putri HOS Tjokroaminoto, guru politik Bung Karno. Di rumah guru politik yang ketika itu disebut Ratu Adil, Bung Karno tinggal sebagai anak kos sambil menyelesaikan pendidikan di HBS (SMA) di Surabaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Dalam buku Isteri-Isteri Bung Karno karya Reni Nuryanti (Ombak, 2007), disebutkan bahwa setelah pisah dengan Oetari, Bung Karno menikah dengan mantan ibu kos yang lebih tua darinya, Inggit Garnasih, di Bandung, 1923. Ketika itu, dia masih kuliah di ITB. Istri ketiga Bung Karno yang kemudian menurunkan trah politik adalah Fatmawati, 1943, lalu Hartini, 1952.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Di puncak kekuasaan, Bung Karno masih memperistri wanita-wanita belia yang semuanya cantik. Pertama wanita Jepang bernama Naoko Nemoto yang berganti nama menjadi Ratna Sari Dewi. Naoko dinikahi pada 1962. Belum cukup, Bung Karno masih melirik Haryati, yang dinikahi 1963. Setahun kemudian, sang proklamator ini jatuh cinta pada gadis Manado yang masih duduk SMA VII Jalan Batu Jakarta, Yurike Sanger, yang dinikahi pada 1964.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Buku yang ditulis Kadjat Adra’i, mantan wartawan yang dekat dengan keluarga Bung Karno. mengungkap kisah cinta Bung Karno dan Yurike. Sang istri yang masih sekolah tidak mampu menolak cinta sang presiden. Bukan karena dia sangat berkuasa dan mampu memaksa, tapi dalam buku ini Yurike mengakui bahwa tatapan, rayuan, dan cinta yang tulus dari seorang manusia bernama Bung Karno yang diperlihatkan dengan sopan, santun, dan penuh tanggung jawab yang tak mampu ditolaknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Intinya, keduanya saling jatuh cinta dan akhirnya kedua orang tua Yuri pun setuju. Kisah cinta layaknya pemuda dan pemudi, meski jarak usia Yurike-Bung Karno terpaut puluhan tahun, menarik untuk dibaca. Bung Karno di dalam buku ini benar-benar tampil sebagai manusia biasa yang penuh gelora cinta, romantis, kadang cemburu. Kala pacaran, Bung Karno sering mengantar pulang Yurike ke Tebet Barat, Jakarta Selatan, rumah orang tua Yurike.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Seusai pernikahan pun, Bung Karno menyempatkan diri menginap di rumah sang mertua, yang tentu sangat sederhana untuk seorang presiden/ panglima besar revolusi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
———————————————————–&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Penulis: Suradi SS&lt;br /&gt;
Sumber:&amp;nbsp;&lt;em style="border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Koran Jakarta&lt;/em&gt;, 12 Mei 2010&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13.333333015441895px; line-height: 18px; orphans: auto; widows: auto;"&gt;Judul lengkap&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13.333333015441895px; line-height: 18px; orphans: auto; widows: auto;"&gt;Percintaan Bung Karno dengan anak SMA : biografi cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13.333333015441895px; line-height: 18px; orphans: auto; widows: auto;"&gt;ISBN&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13.333333015441895px; line-height: 18px; orphans: auto; widows: auto;"&gt;9793731745&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13.333333015441895px; line-height: 18px; orphans: auto; widows: auto;"&gt;Jenis Sampul&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13.333333015441895px; line-height: 18px; orphans: auto; widows: auto;"&gt;Hard Cover, Soft Cover&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13.333333015441895px; line-height: 18px; orphans: auto; widows: auto;"&gt;Waktu Terbit 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13.333333015441895px; line-height: 18px; orphans: auto; widows: auto;"&gt;Penulis Kadjat Adra’i&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13.333333015441895px; line-height: 18px; orphans: auto; widows: auto;"&gt;Penerbit Komunitas Bambu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13.333333015441895px; line-height: 18px; orphans: auto; widows: auto;"&gt;Jumlah Halaman xviii, 426 hal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px;"&gt;Pesan buku ini di &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Courier New, Courier, monospace; font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/percintaan-bung-karno-dengan-anak-sma.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/biografi-cinta-soekarno-yurike.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNAud8sH4_WCowX4f-3_pWq7tx9Um0AdVlvDea5msD0paTusn6IGmv85gXwpxwR_qEpZRJNQPOG-Pias483c0InQDj9ukDvLFTnfEqbeJmEXksAiyC3jkfMNeVkMUS5jBr3VC6qHB7vTE/s72-c/percintaan_bung_karno.gif" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="70863" type="image/gif" url="http://1.bp.blogspot.com/-OJvR9UYmh5c/UvLUg8mft_I/AAAAAAAABbs/GhCyHeuuzPY/s1600/percintaan_bung_karno.gif"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Biografi Cinta Soekarno-Yurike Sepucuk surat Bung Karno kepada istrinya, Yurike Sanger, tertanggal 7 Oktober 1966, ditulis di atas kertas berkop Sekretariat Negara Kabinet Presiden (tapi kop itu dicoret). Surat itu singkat tapi sangat mendalam.Surat itu pun menggambarkan rindu dan cinta Bung Karno pada Yuri, sang istri. Dinamika politik setahun pasca Gerakan 30 September 1965 juga sangat mengemuka. Surat tulisan tangan Bung Karno itu dimuat di halaman 356 dan di halaman belakang buku. Cinta, romantisme, dan perempuan cantik selalu mengiringi perjalanan dan perjuangan Bung Karno. Bahkan ketika masih sekolah di tingkat SMP, dia sudah berani menggandeng sinyo Belanda. Putra Sang Fajar, demikian sebutan untuk Bung Karno, ini bahkan menikah ketika masih muda belia, 20 tahun. Istri pertamanya adalah Oetari, putri HOS Tjokroaminoto, guru politik Bung Karno. Di rumah guru politik yang ketika itu disebut Ratu Adil, Bung Karno tinggal sebagai anak kos sambil menyelesaikan pendidikan di HBS (SMA) di Surabaya. Dalam buku Isteri-Isteri Bung Karno karya Reni Nuryanti (Ombak, 2007), disebutkan bahwa setelah pisah dengan Oetari, Bung Karno menikah dengan mantan ibu kos yang lebih tua darinya, Inggit Garnasih, di Bandung, 1923. Ketika itu, dia masih kuliah di ITB. Istri ketiga Bung Karno yang kemudian menurunkan trah politik adalah Fatmawati, 1943, lalu Hartini, 1952. Di puncak kekuasaan, Bung Karno masih memperistri wanita-wanita belia yang semuanya cantik. Pertama wanita Jepang bernama Naoko Nemoto yang berganti nama menjadi Ratna Sari Dewi. Naoko dinikahi pada 1962. Belum cukup, Bung Karno masih melirik Haryati, yang dinikahi 1963. Setahun kemudian, sang proklamator ini jatuh cinta pada gadis Manado yang masih duduk SMA VII Jalan Batu Jakarta, Yurike Sanger, yang dinikahi pada 1964. Buku yang ditulis Kadjat Adra’i, mantan wartawan yang dekat dengan keluarga Bung Karno. mengungkap kisah cinta Bung Karno dan Yurike. Sang istri yang masih sekolah tidak mampu menolak cinta sang presiden. Bukan karena dia sangat berkuasa dan mampu memaksa, tapi dalam buku ini Yurike mengakui bahwa tatapan, rayuan, dan cinta yang tulus dari seorang manusia bernama Bung Karno yang diperlihatkan dengan sopan, santun, dan penuh tanggung jawab yang tak mampu ditolaknya. Intinya, keduanya saling jatuh cinta dan akhirnya kedua orang tua Yuri pun setuju. Kisah cinta layaknya pemuda dan pemudi, meski jarak usia Yurike-Bung Karno terpaut puluhan tahun, menarik untuk dibaca. Bung Karno di dalam buku ini benar-benar tampil sebagai manusia biasa yang penuh gelora cinta, romantis, kadang cemburu. Kala pacaran, Bung Karno sering mengantar pulang Yurike ke Tebet Barat, Jakarta Selatan, rumah orang tua Yurike. Seusai pernikahan pun, Bung Karno menyempatkan diri menginap di rumah sang mertua, yang tentu sangat sederhana untuk seorang presiden/ panglima besar revolusi. ———————————————————– Penulis: Suradi SS Sumber:&amp;nbsp;Koran Jakarta, 12 Mei 2010 Judul lengkap&amp;nbsp; Percintaan Bung Karno dengan anak SMA : biografi cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger ISBN&amp;nbsp; 9793731745 Jenis Sampul&amp;nbsp; Hard Cover, Soft Cover Waktu Terbit 2010 Penulis Kadjat Adra’i Penerbit Komunitas Bambu Jumlah Halaman xviii, 426 hal. Pesan buku ini di SINI</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Biografi Cinta Soekarno-Yurike Sepucuk surat Bung Karno kepada istrinya, Yurike Sanger, tertanggal 7 Oktober 1966, ditulis di atas kertas berkop Sekretariat Negara Kabinet Presiden (tapi kop itu dicoret). Surat itu singkat tapi sangat mendalam.Surat itu pun menggambarkan rindu dan cinta Bung Karno pada Yuri, sang istri. Dinamika politik setahun pasca Gerakan 30 September 1965 juga sangat mengemuka. Surat tulisan tangan Bung Karno itu dimuat di halaman 356 dan di halaman belakang buku. Cinta, romantisme, dan perempuan cantik selalu mengiringi perjalanan dan perjuangan Bung Karno. Bahkan ketika masih sekolah di tingkat SMP, dia sudah berani menggandeng sinyo Belanda. Putra Sang Fajar, demikian sebutan untuk Bung Karno, ini bahkan menikah ketika masih muda belia, 20 tahun. Istri pertamanya adalah Oetari, putri HOS Tjokroaminoto, guru politik Bung Karno. Di rumah guru politik yang ketika itu disebut Ratu Adil, Bung Karno tinggal sebagai anak kos sambil menyelesaikan pendidikan di HBS (SMA) di Surabaya. Dalam buku Isteri-Isteri Bung Karno karya Reni Nuryanti (Ombak, 2007), disebutkan bahwa setelah pisah dengan Oetari, Bung Karno menikah dengan mantan ibu kos yang lebih tua darinya, Inggit Garnasih, di Bandung, 1923. Ketika itu, dia masih kuliah di ITB. Istri ketiga Bung Karno yang kemudian menurunkan trah politik adalah Fatmawati, 1943, lalu Hartini, 1952. Di puncak kekuasaan, Bung Karno masih memperistri wanita-wanita belia yang semuanya cantik. Pertama wanita Jepang bernama Naoko Nemoto yang berganti nama menjadi Ratna Sari Dewi. Naoko dinikahi pada 1962. Belum cukup, Bung Karno masih melirik Haryati, yang dinikahi 1963. Setahun kemudian, sang proklamator ini jatuh cinta pada gadis Manado yang masih duduk SMA VII Jalan Batu Jakarta, Yurike Sanger, yang dinikahi pada 1964. Buku yang ditulis Kadjat Adra’i, mantan wartawan yang dekat dengan keluarga Bung Karno. mengungkap kisah cinta Bung Karno dan Yurike. Sang istri yang masih sekolah tidak mampu menolak cinta sang presiden. Bukan karena dia sangat berkuasa dan mampu memaksa, tapi dalam buku ini Yurike mengakui bahwa tatapan, rayuan, dan cinta yang tulus dari seorang manusia bernama Bung Karno yang diperlihatkan dengan sopan, santun, dan penuh tanggung jawab yang tak mampu ditolaknya. Intinya, keduanya saling jatuh cinta dan akhirnya kedua orang tua Yuri pun setuju. Kisah cinta layaknya pemuda dan pemudi, meski jarak usia Yurike-Bung Karno terpaut puluhan tahun, menarik untuk dibaca. Bung Karno di dalam buku ini benar-benar tampil sebagai manusia biasa yang penuh gelora cinta, romantis, kadang cemburu. Kala pacaran, Bung Karno sering mengantar pulang Yurike ke Tebet Barat, Jakarta Selatan, rumah orang tua Yurike. Seusai pernikahan pun, Bung Karno menyempatkan diri menginap di rumah sang mertua, yang tentu sangat sederhana untuk seorang presiden/ panglima besar revolusi. ———————————————————– Penulis: Suradi SS Sumber:&amp;nbsp;Koran Jakarta, 12 Mei 2010 Judul lengkap&amp;nbsp; Percintaan Bung Karno dengan anak SMA : biografi cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger ISBN&amp;nbsp; 9793731745 Jenis Sampul&amp;nbsp; Hard Cover, Soft Cover Waktu Terbit 2010 Penulis Kadjat Adra’i Penerbit Komunitas Bambu Jumlah Halaman xviii, 426 hal. Pesan buku ini di SINI</itunes:summary><itunes:keywords>Biografi, Komunitas Bambu, Sukarno</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-280619068537703858</guid><pubDate>Tue, 18 Feb 2014 23:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-19T06:43:16.817+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hari-hari Terakhir Soekarno</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Surat Pembaca Kompas mengenai buku “HARI-HARI TERAKHIR SOEKARNO”</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;header class="post-header" style="border: 0px; clear: both; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://pena.komunitasbambu.com/direktori/uploads/2013/05/hari_terakhir_sukarno.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://pena.komunitasbambu.com/direktori/uploads/2013/05/hari_terakhir_sukarno.gif" height="320" width="213" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h1 style="border: 0px; color: #090b0c; font-size: 1.618em; line-height: 1.387em; margin: 0px 0px 0.618em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="color: #364245; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; orphans: 3; widows: 3;"&gt;Kompas, Selasa, 24 September 2013&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;/header&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
&lt;strong style="border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Koreksi untuk “Hari-hari Terakhir Soekarno”&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Saya, Siti Hadjijah Suroyo, berusia 73 tahun. Suami saya dr SAK Soerojo (almarhum). Saya ingin mengoreksi buku yang dijual di beberapa toko&amp;nbsp; buku di Indonesia, Hari-hari Terakhir Soekarno oleh Peter Kasenda, Penerbit Komunitas Bambu (2013).&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Di halaman 227 alinea terakhir buku itu tertulis bahwa dr Soerojo seorang dokter hewan. Untuk meluruskan sejarah agar tak terjadi kesalahan sejarah pada anak cucu kita nanti, saya merasa perlu memberitahukan bahwa dr Soerojo bukan seorang dokter hewan. Ia lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1961). Karena itu, Soekarno, presiden pertama RI, pada tahun-tahun akhir hayatnya, tak pernah dirawat seorang dokter hewan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Dokter Soerojo mengenal Presiden Soekarno sejak masih menjadi dokter di Resimen Cakrabirawa. Kemudian ia diangkat Presiden Soekarno jadi anggota tim dokter pribadi presiden melalui Keppres Nomor 210 Tahun 1966. Setelah tim dokter kepresidenan yang dibentuk Presiden Soekarno dibubarkan Presiden Soeharto, dr Soerojo ditugaskan Presiden Soeharto masuk ke dalam tim dokter ysng menangani Soekarno melalui Keppress No 127/1967.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
“Luar biasa”: suami saya dipercaya dua pihak yang sqaling berlawanan. Sebagai tambahan, perlu saya ceritakan sedikit mengenai kondisi saat itu sebagai dokter yang merawat seorang mantan presiden yang baru saja dijatuhkan dari kekuasaannya, berstatus sebagai tahanan, dan sangat dimusuhi penguasa saat itu. Semua sangat terbatas dan sulit.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Hal itu juga dirasakan anggota tim dokter lain. Saat itu memang dr Soerojo yang lebih sering bertemu langsung dengan Soekarno dan kemudian dr Soerojo memberikan laporan hasilnya kepada tim dokter.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Kemungkinan penulis menyebutkan bahwa dr Soerojo ialah seorang dokter hewan karena saat Soekarno masih di Bogor, dr Soerojo sering menggunakan fasilitas Laboratorium Bakteriologi Kedokteran Hewan IPB di Bogor. Pada saat itu, di Bogor, laboratorium ini memiliki kapasitas memadai untuk analisis yang diperlukan. Mengenai penulis yang menyebutkan bahwa dr Soerojo sembrono menangani Soekarno (halaman 228), sebaiknya perlu ada pembahasannya secara medis yang lebih mendalam melalui tim yan kompeten.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Demikian koreksi dari saya, semoga penulis dan penerbit dapat memperbaiki secepatnya karena telah terjadi kesalahan sejarah: pada tahun-tahun terakhir hayatnya, Dr Ir Soekarno tidak pernah dirawat dan ditangani seorang&lt;span style="border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dokter&lt;span style="border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;hewan .&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; text-align: right; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
SITI HADIDJAH SUROYO&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; text-align: right; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Villa Bogor Indah, Bogor&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
Kompas, Sabtu, 12 Oktober 2013&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;h2 align="center" style="border: 0px; color: #090b0c; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 1.387em; line-height: 1.387em; margin: 0px 0px 0.618em; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;"&gt;
Bukan Hal Baru&lt;/h2&gt;
&lt;h2 align="center" style="border: 0px; color: #090b0c; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 1.387em; line-height: 1.387em; margin: 0px 0px 0.618em; padding: 0px; text-align: center; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;strong style="border: 0px; font-size: 19px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;(Tanggapan atas koreksi&amp;nbsp; “Hari-Hari Terakhir Sukarno”)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
&lt;span style="border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; line-height: 22px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Bersama ini saya sampaikan tanggapan atas surat kepada redaksi harian&lt;i style="border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Kompas&lt;/i&gt;, tertanggal 24 September 2013, yang disampaikan Ibu Siti Hadidjah Suroyo. Buku&amp;nbsp;&lt;i style="border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Hari-Hari Terakhir Sukarno&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang saya tulis, menyatakan bahwa dr. Soerojo, suami Ibu Siti Hadidjah Suroyo, adalah seorang dokter hewan. Pernyataan saya tersebut dinyatakan yang bersangkutan sebagai kesalahan sejarah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
&lt;span style="border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; line-height: 22px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Sebenarnya tulisan saya yang mengatakan bahwa dr. Soerojo adalah seorang dokter hewan, bukan hal yang baru. Seorang sejarawan muda telah menyatakan dalam bukunya,&amp;nbsp;&lt;i style="border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Tragedi Sukarno. Dari Kudeta Sampai&lt;/i&gt;&lt;i style="border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Kematiannya&lt;/i&gt;, terbitan Penerbit Buku OMBAK tahun 2008, pada halaman 135–137. Tulisan saya yang disanggah sebenarnya merujuk buku tersebut. Kutipan telah saya sebutkan pada halaman 228, alinea terakhir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
&lt;span style="border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; line-height: 22px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Di dalam buku yang sama, halaman 92, sejarawan muda tersebut menulis bahwa Rachmawati menjelaskan “Bung Karno justru dirawat dokter hewan”. Di halaman 92–93, sejarawan muda tersebut menulis bahwa Rachmawati juga berkisah mengenai dr. Soerojo yang biasanya merawat hewan-hewan yang ada di Istana Merdeka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
&lt;span style="border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; line-height: 22px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Pernyataan Rachmawati yang disebut terakhir, bisa dibaca dalam buku sejarawan terkenal,&amp;nbsp;&lt;i style="border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Bung Karno Dibunuh Tiga Kali&lt;/i&gt;&lt;span style="border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;karya&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Asvi Warman Adam, terbitan Penerbit Buku KOMPAS 2010, halaman 188.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
&lt;span style="border: 0px; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; line-height: 22px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Kendati demikian, keberatan yang disampaikan Ibu Siti Hadidjah Suroyo menjadi pertimbangan bagi saya untuk menilai kembali, tulisan saya&lt;span style="border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;mengenai dr. Soerojo. Sejumlah informasi sedang saya kumpulkan pada saat ini. Seandainya informasi tersebut ternyata menunjukkan bahwa saya telah salah dalam menampilkan fakta sejarah, saya segera memperbaiki kesalahan saya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; text-align: right; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
&amp;nbsp; PETER KASENDA&lt;/div&gt;
&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="border: 0px; color: #364245; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; text-align: right; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
&lt;div style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;span style="border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Pondok Gede&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px;"&gt;Pesan buku Ini di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/hari-hari-terakhir-sukarno_19.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia, Times New Roman, serif; font-size: large;"&gt;SINI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; text-align: left;"&gt;
atau SMS/WA : 081393725615 ( Eko Waluyo )&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 0px; color: #364245; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, 'Lucida Grande', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22.652000427246094px; margin-bottom: 1.618em; orphans: 3; padding: 0px; vertical-align: baseline; widows: 3;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/surat-pembaca-kompas-mengenai-buku-hari.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-862292761796952759</guid><pubDate>Tue, 18 Feb 2014 20:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-19T08:20:07.068+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengembangan Diri</category><title>KEAJAIBAN KEKUATAN PIKIRAN</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7O0r5p7TjqERthmYBWLN7tp0xgBb36NxkU1UxhWg_REsYerAQegbLapj_uXK0ASDgarhmVDNSHN1cA5Ms9P9rHuK5NsyOrL7WsMBOelzgstvVas7fVL19bFmXI2a1qdetDUcY9xE3Bt0/s1600/keajaiban+kekuatan+pikiran.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7O0r5p7TjqERthmYBWLN7tp0xgBb36NxkU1UxhWg_REsYerAQegbLapj_uXK0ASDgarhmVDNSHN1cA5Ms9P9rHuK5NsyOrL7WsMBOelzgstvVas7fVL19bFmXI2a1qdetDUcY9xE3Bt0/s1600/keajaiban+kekuatan+pikiran.jpg" height="320" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;"Semua hal dalam kehidupan Anda adalah perwujudan iman Anda kepada apa yang tidak terlihat."—Dr. Joseph Murphy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Apakah keajaiban? Apakah ia merupakan sesuatu yang jarang kita alami? Ataukah sebenarnya kita dilingkupi olehnya setiap hari? Dr. Joseph Murphy (1898–1981) mengatakan, keajaiban adalah segala sesuatu yang terjadi di luar kendali diri kita. Dalam bukunya ini, ia menyebut sang pengendali keajaiban yang tidak terlihat itu sebagai "Kecerdasan Tak Terhingga".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Buku ini terbagi ke dalam 15 bab yang mengandung 96 kisah nyata. Sebagian besar cerita itu berasal dari orang-orang yang berkonsultasi dengan Joseph Murphy dalam kurun waktu 50 tahun perjalanan hidupnya menggeluti spiritualitas. Buku ini sendiri terbit pada 1965. Artinya ketika itu Murphy berumur 67, usia yang matang bagi seorang "petualang spiritual" untuk menulis buku. Jadi, tidak berlebihan jika dia mengatakan, "Aku telah melihat banyak keajaiban terjadi pada lelaki dan perempuan dari segala latar belakang kehidupan di seluruh dunia."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Joseph Murphy termasuk ke dalam angkatan awal Gerakan Pemikiran Baru yang muncul pada akhir abad ke-19 di Amerika Serikat. Setelah meraih gelar PhD Psikologi dari University of Southern California, dia berpetualang untuk mempelajari agama-agama besar di dunia. Salah satu bukunya yang paling dikenal berjudul The Power Of Your Subconscious Mind.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Penceramah agama, (maha)siswa, tentara, ibu rumah tangga, pengusaha, atlet, penulis, agen real estate, dan penjahat adalah sebagian orang yang kisahnya bisa dibaca dalam buku ini. Mereka mendatangi (atau dikunjungi oleh) Murphy atau berhubungan melalui surat. Mereka mengeluhkan masalah yang sebagian besar disebabkan oleh racun spiritual yang mereka pupuk baik secara sadar atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;"Ini mustahil. Saya melihat tidak ada jalan keluar (bukan "saya tidak melihat jalan keluar"). Tidak ada harapan lagi," kata seorang gadis putus asa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Joseph Murphy sering mendengar keluhan seperti yang dilontarkan gadis itu dengan masalah yang beragam: mulai dari persoalan akademis yang sederhana sampai kesehatan yang divonis tak dapat disembuhkan. Menurutnya, jutaan orang buta secara psikologis dan spiritual karena terus-menerus mengatakan bahwa tidak ada jalan untuk memecahkan masalah mereka. Selain itu, rasa benci, sakit hati, iri, dan takut dapat menyebabkan kebutaan spiritual.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Namun, tidak semua orang yang diceritakan dalam buku ini memiliki masalah. Misalnya, seorang pemuda yang memiliki metode tersendiri untuk mengenali racun spiritual dalam pikirannya. Dia menyebutnya "foto mental". Sang pemuda memaparkan cara melakukannya: Perhatikan dengan saksama segala lintasan pikiran, sensasi, suasana hati, reaksi, dan nada bicara kita. Kemudian, untuk segala, katakanlah, "Semua ini bukan dari Tuhan. Semua ini merusak dan menyesatkan. Aku akan berpaling kepada Tuhan dan berpikir menurut pandangan hikmah, kebenaran, dan keindahan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Joseph Murphy menekankan pentingnya bagi kita untuk mengenal cara kerja pikiran alam bawah sadar yang menurutnya bisa dipengaruhi oleh pikiran sadar kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;"Penyembuhan pikiran spiritual adalah kinerja gabungan yang selaras dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar Anda, yang diarahkan secara ilmiah untuk tujuan tertentu." (Hal. 61)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;"Pusatkan mental dan emosi pada jawaban yang tepat, dan Anda akan mendapatkan sebuah respons (dari Kecerdasan Tak Terhingga)." (Hal. 95)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Untuk membantu orang-orang yang berkonsultasi padanya, Murphy hampir selalu menyarankan jalan keluar yang sama. Dia memerintahkan orang itu berdoa, mengingat sifat-sifat Tuhan yang ada dalam dirinya, dan membayangkan tujuan apa yang dicapai sampai terasa nyata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Penulis buku ini menceritakan dia pernah mengunjungi seorang penjahat yang kecanduan alkohol sampai titik kronis. Si penjahat itu meyakini ajalnya sudah dekat dan akan dihukum oleh Tuhan. Dengan cara di atas, Murphy menyembuhkan orang itu dan tidak lama setelah itu, berdasarkan diagnosis medis, ia dinyatakan akan tetap hidup. Dan sepuluh hari kemudian, ia meninggalkan rumah sakit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Bagi saya pribadi, membaca buku-buku spiritual selalu memberikan kesan berbeda. Karena, setiap penulis buku jenis ini pasti memiliki jalan tersendiri dalam pencariannya mengenal Yang Tak Terhingga. Sebagaimana lahir, batin senantiasa membutuhkan nutrisi yang salah satu cara untuk mendapatkannya adalah dengan membaca buku seperti ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Selamat membaca&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Salam keajaiban,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Moh. Sidik Nugraha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Identitas Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Judul: KEAJAIBAN KEKUATAN PIKIRAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Penulis: Dr. Joseph Murphy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Penerbit: Serambi Ilmu Semesta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Tebal: 249 HVS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Terbit: November 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="line-height: 20px;"&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 12px;"&gt;&lt;b style="background-color: blue;"&gt;&lt;span style="color: yellow;"&gt;Buku dapat dipesan di&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;b style="background-color: white; color: #6d6d6d;"&gt;&lt;span style="font-family: Courier New, Courier, monospace; font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/keajaiban-kekuatan-pikiran.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/keajaiban-kekuatan-pikiran.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7O0r5p7TjqERthmYBWLN7tp0xgBb36NxkU1UxhWg_REsYerAQegbLapj_uXK0ASDgarhmVDNSHN1cA5Ms9P9rHuK5NsyOrL7WsMBOelzgstvVas7fVL19bFmXI2a1qdetDUcY9xE3Bt0/s72-c/keajaiban+kekuatan+pikiran.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="17820" type="image/jpeg" url="http://3.bp.blogspot.com/-FFegqYh2wu0/UwQGu-U2qcI/AAAAAAAACac/YL72OEOuZQg/s1600/keajaiban+kekuatan+pikiran.jpg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>"Semua hal dalam kehidupan Anda adalah perwujudan iman Anda kepada apa yang tidak terlihat."—Dr. Joseph Murphy Apakah keajaiban? Apakah ia merupakan sesuatu yang jarang kita alami? Ataukah sebenarnya kita dilingkupi olehnya setiap hari? Dr. Joseph Murphy (1898–1981) mengatakan, keajaiban adalah segala sesuatu yang terjadi di luar kendali diri kita. Dalam bukunya ini, ia menyebut sang pengendali keajaiban yang tidak terlihat itu sebagai "Kecerdasan Tak Terhingga". Buku ini terbagi ke dalam 15 bab yang mengandung 96 kisah nyata. Sebagian besar cerita itu berasal dari orang-orang yang berkonsultasi dengan Joseph Murphy dalam kurun waktu 50 tahun perjalanan hidupnya menggeluti spiritualitas. Buku ini sendiri terbit pada 1965. Artinya ketika itu Murphy berumur 67, usia yang matang bagi seorang "petualang spiritual" untuk menulis buku. Jadi, tidak berlebihan jika dia mengatakan, "Aku telah melihat banyak keajaiban terjadi pada lelaki dan perempuan dari segala latar belakang kehidupan di seluruh dunia." Joseph Murphy termasuk ke dalam angkatan awal Gerakan Pemikiran Baru yang muncul pada akhir abad ke-19 di Amerika Serikat. Setelah meraih gelar PhD Psikologi dari University of Southern California, dia berpetualang untuk mempelajari agama-agama besar di dunia. Salah satu bukunya yang paling dikenal berjudul The Power Of Your Subconscious Mind. Penceramah agama, (maha)siswa, tentara, ibu rumah tangga, pengusaha, atlet, penulis, agen real estate, dan penjahat adalah sebagian orang yang kisahnya bisa dibaca dalam buku ini. Mereka mendatangi (atau dikunjungi oleh) Murphy atau berhubungan melalui surat. Mereka mengeluhkan masalah yang sebagian besar disebabkan oleh racun spiritual yang mereka pupuk baik secara sadar atau tidak. "Ini mustahil. Saya melihat tidak ada jalan keluar (bukan "saya tidak melihat jalan keluar"). Tidak ada harapan lagi," kata seorang gadis putus asa. Joseph Murphy sering mendengar keluhan seperti yang dilontarkan gadis itu dengan masalah yang beragam: mulai dari persoalan akademis yang sederhana sampai kesehatan yang divonis tak dapat disembuhkan. Menurutnya, jutaan orang buta secara psikologis dan spiritual karena terus-menerus mengatakan bahwa tidak ada jalan untuk memecahkan masalah mereka. Selain itu, rasa benci, sakit hati, iri, dan takut dapat menyebabkan kebutaan spiritual. Namun, tidak semua orang yang diceritakan dalam buku ini memiliki masalah. Misalnya, seorang pemuda yang memiliki metode tersendiri untuk mengenali racun spiritual dalam pikirannya. Dia menyebutnya "foto mental". Sang pemuda memaparkan cara melakukannya: Perhatikan dengan saksama segala lintasan pikiran, sensasi, suasana hati, reaksi, dan nada bicara kita. Kemudian, untuk segala, katakanlah, "Semua ini bukan dari Tuhan. Semua ini merusak dan menyesatkan. Aku akan berpaling kepada Tuhan dan berpikir menurut pandangan hikmah, kebenaran, dan keindahan." Joseph Murphy menekankan pentingnya bagi kita untuk mengenal cara kerja pikiran alam bawah sadar yang menurutnya bisa dipengaruhi oleh pikiran sadar kita. "Penyembuhan pikiran spiritual adalah kinerja gabungan yang selaras dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar Anda, yang diarahkan secara ilmiah untuk tujuan tertentu." (Hal. 61) "Pusatkan mental dan emosi pada jawaban yang tepat, dan Anda akan mendapatkan sebuah respons (dari Kecerdasan Tak Terhingga)." (Hal. 95) Untuk membantu orang-orang yang berkonsultasi padanya, Murphy hampir selalu menyarankan jalan keluar yang sama. Dia memerintahkan orang itu berdoa, mengingat sifat-sifat Tuhan yang ada dalam dirinya, dan membayangkan tujuan apa yang dicapai sampai terasa nyata. Penulis buku ini menceritakan dia pernah mengunjungi seorang penjahat yang kecanduan alkohol sampai titik kronis. Si penjahat itu meyakini ajalnya sudah dekat dan akan dihukum oleh Tuhan. Dengan cara di atas, Murphy menyembuhkan orang itu dan tidak lama setelah itu, berdasarkan diagnosis medis, ia dinyatakan akan tetap hidup. Dan sepuluh hari kemudian, ia meninggalkan rumah sakit. Bagi saya pribadi, membaca buku-buku spiritual selalu memberikan kesan berbeda. Karena, setiap penulis buku jenis ini pasti memiliki jalan tersendiri dalam pencariannya mengenal Yang Tak Terhingga. Sebagaimana lahir, batin senantiasa membutuhkan nutrisi yang salah satu cara untuk mendapatkannya adalah dengan membaca buku seperti ini. Selamat membaca Salam keajaiban, Moh. Sidik Nugraha Identitas Buku Judul: KEAJAIBAN KEKUATAN PIKIRAN Penulis: Dr. Joseph Murphy Penerbit: Serambi Ilmu Semesta Tebal: 249 HVS Terbit: November 2009 Buku dapat dipesan di SINI</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>"Semua hal dalam kehidupan Anda adalah perwujudan iman Anda kepada apa yang tidak terlihat."—Dr. Joseph Murphy Apakah keajaiban? Apakah ia merupakan sesuatu yang jarang kita alami? Ataukah sebenarnya kita dilingkupi olehnya setiap hari? Dr. Joseph Murphy (1898–1981) mengatakan, keajaiban adalah segala sesuatu yang terjadi di luar kendali diri kita. Dalam bukunya ini, ia menyebut sang pengendali keajaiban yang tidak terlihat itu sebagai "Kecerdasan Tak Terhingga". Buku ini terbagi ke dalam 15 bab yang mengandung 96 kisah nyata. Sebagian besar cerita itu berasal dari orang-orang yang berkonsultasi dengan Joseph Murphy dalam kurun waktu 50 tahun perjalanan hidupnya menggeluti spiritualitas. Buku ini sendiri terbit pada 1965. Artinya ketika itu Murphy berumur 67, usia yang matang bagi seorang "petualang spiritual" untuk menulis buku. Jadi, tidak berlebihan jika dia mengatakan, "Aku telah melihat banyak keajaiban terjadi pada lelaki dan perempuan dari segala latar belakang kehidupan di seluruh dunia." Joseph Murphy termasuk ke dalam angkatan awal Gerakan Pemikiran Baru yang muncul pada akhir abad ke-19 di Amerika Serikat. Setelah meraih gelar PhD Psikologi dari University of Southern California, dia berpetualang untuk mempelajari agama-agama besar di dunia. Salah satu bukunya yang paling dikenal berjudul The Power Of Your Subconscious Mind. Penceramah agama, (maha)siswa, tentara, ibu rumah tangga, pengusaha, atlet, penulis, agen real estate, dan penjahat adalah sebagian orang yang kisahnya bisa dibaca dalam buku ini. Mereka mendatangi (atau dikunjungi oleh) Murphy atau berhubungan melalui surat. Mereka mengeluhkan masalah yang sebagian besar disebabkan oleh racun spiritual yang mereka pupuk baik secara sadar atau tidak. "Ini mustahil. Saya melihat tidak ada jalan keluar (bukan "saya tidak melihat jalan keluar"). Tidak ada harapan lagi," kata seorang gadis putus asa. Joseph Murphy sering mendengar keluhan seperti yang dilontarkan gadis itu dengan masalah yang beragam: mulai dari persoalan akademis yang sederhana sampai kesehatan yang divonis tak dapat disembuhkan. Menurutnya, jutaan orang buta secara psikologis dan spiritual karena terus-menerus mengatakan bahwa tidak ada jalan untuk memecahkan masalah mereka. Selain itu, rasa benci, sakit hati, iri, dan takut dapat menyebabkan kebutaan spiritual. Namun, tidak semua orang yang diceritakan dalam buku ini memiliki masalah. Misalnya, seorang pemuda yang memiliki metode tersendiri untuk mengenali racun spiritual dalam pikirannya. Dia menyebutnya "foto mental". Sang pemuda memaparkan cara melakukannya: Perhatikan dengan saksama segala lintasan pikiran, sensasi, suasana hati, reaksi, dan nada bicara kita. Kemudian, untuk segala, katakanlah, "Semua ini bukan dari Tuhan. Semua ini merusak dan menyesatkan. Aku akan berpaling kepada Tuhan dan berpikir menurut pandangan hikmah, kebenaran, dan keindahan." Joseph Murphy menekankan pentingnya bagi kita untuk mengenal cara kerja pikiran alam bawah sadar yang menurutnya bisa dipengaruhi oleh pikiran sadar kita. "Penyembuhan pikiran spiritual adalah kinerja gabungan yang selaras dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar Anda, yang diarahkan secara ilmiah untuk tujuan tertentu." (Hal. 61) "Pusatkan mental dan emosi pada jawaban yang tepat, dan Anda akan mendapatkan sebuah respons (dari Kecerdasan Tak Terhingga)." (Hal. 95) Untuk membantu orang-orang yang berkonsultasi padanya, Murphy hampir selalu menyarankan jalan keluar yang sama. Dia memerintahkan orang itu berdoa, mengingat sifat-sifat Tuhan yang ada dalam dirinya, dan membayangkan tujuan apa yang dicapai sampai terasa nyata. Penulis buku ini menceritakan dia pernah mengunjungi seorang penjahat yang kecanduan alkohol sampai titik kronis. Si penjahat itu meyakini ajalnya sudah dekat dan akan dihukum oleh Tuhan. Dengan cara di atas, Murphy menyembuhkan orang itu dan tidak lama setelah itu, berdasarkan diagnosis medis, ia dinyatakan akan tetap hidup. Dan sepuluh hari kemudian, ia meninggalkan rumah sakit. Bagi saya pribadi, membaca buku-buku spiritual selalu memberikan kesan berbeda. Karena, setiap penulis buku jenis ini pasti memiliki jalan tersendiri dalam pencariannya mengenal Yang Tak Terhingga. Sebagaimana lahir, batin senantiasa membutuhkan nutrisi yang salah satu cara untuk mendapatkannya adalah dengan membaca buku seperti ini. Selamat membaca Salam keajaiban, Moh. Sidik Nugraha Identitas Buku Judul: KEAJAIBAN KEKUATAN PIKIRAN Penulis: Dr. Joseph Murphy Penerbit: Serambi Ilmu Semesta Tebal: 249 HVS Terbit: November 2009 Buku dapat dipesan di SINI</itunes:summary><itunes:keywords>Pengembangan Diri</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-2531147582496488855</guid><pubDate>Tue, 18 Feb 2014 20:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-19T03:13:32.634+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Novel</category><title>Vandaria Saga: NEDERA</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwqagThUZD2Wc14cot0IZ7R2AKfLTO9E1tXu36evDySsVOJNRBan1mEUN_6MOJK61zfPe6IQzcqAmx_HB5qKk78Dsm5jTBZRPwvsdLZ2NeOxPNquJEs3jBGg2NJYfEEa56OEDUhd0Zqhd/s320/FA-Nedera-crop.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwqagThUZD2Wc14cot0IZ7R2AKfLTO9E1tXu36evDySsVOJNRBan1mEUN_6MOJK61zfPe6IQzcqAmx_HB5qKk78Dsm5jTBZRPwvsdLZ2NeOxPNquJEs3jBGg2NJYfEEa56OEDUhd0Zqhd/s320/FA-Nedera-crop.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Setelah sekian lama akhirnya saya berhasil juga mendapatkan novel Vandaria terbaru, NEDERA, karya mbak Alexia Chen. Jujur saja, saya mungkin&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;merasa lebih senang lagi karena saya mendapat novel ini gratisan cuma karena iseng ikut nge-tweet waktu sedang mengerjakan proposal skripsi di&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;perpustakaan (^_^). Yah, rezeki memang tidak hilang kemana-mana. Jadi, saya merasa bertanggung jawab untuk mereviewnya di&amp;nbsp;&lt;a href="http://bukumaniak.blogspot.com/" style="color: #4f48a0; text-decoration: none;" target="_blank"&gt;blogku ini.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;(Jujur saja, mbak Melody. Saya sempat khawatir nggak jadi dapat novel ini karena sudah lama ditungguin kok belum sampai juga di pondokan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;KKN saya)&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Nedera adalah salah satu novel yang merupakan bagian dari Vandaria Saga,&amp;nbsp;&lt;i&gt;franchise&amp;nbsp;&lt;/i&gt;fantasi karya anak bangsa terbaik dan terbesar saat ini. Semua orang dapat berkontribusi ke dunia Vandaria, baik apakah Anda menyukai novelnya, c&lt;i&gt;ard game&lt;/i&gt;-nya (Vandaria Arkana!), atau sektor lainnya. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Nedera bersetting di Provinsi Valta, Kerajaan Blackmoon. Yup, jika anda adalah seorang Vandarian mungkin Anda akan berpendapat, "Oke, B&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;lackmoon lagi. Kurang-lebih jelaslah apa seting cerita utamanya." Untuk Anda yang belum mengetahuinya, yakinlah bahwa kisah Vandaria yang&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;bersetting di Blackmoon (baca: menuju masa Invasi Kegelapan) menjanjikan kisah yang penuh aksi, misteri, cerita yang keren, (mungkin) horor, dan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;DEIMOS!!&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Buku ini bercerita tentang sepasang kakak-beradik separuh frameless, Lyse dan Leofric. Lyse adalah seorang gadis yang menyenangkan. Awalnya,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;ia, kakaknya, dan kedua orantuanya tinggal dengan damai di desa Haven, provinsi Valta. Akan tetapi, setahun yang lalu kedua orangtuanya pergi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;secara mendadak dan belum kembali hingga saat ini. Sejak kepergian kedua orangtuanya, sifat kakak Lyse, Leofric, berubah. Sejak kepergian&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;orangtua mereka Leofric menjadi lebih pendiam, dingin, dan keras. Leofric juga sangat protektif terhadap Lyse. Lyse merasa terasing dan kesepian.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Mereka jarang memiliki waktu untuk bicara berdua. Leofric selalu menghindari pembicaraan tentang orang tua mereka.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Namun, permasalahan yang lebih mengerikan telah menanti. Sudah beberapa tahun terakhir ini Lyse dan Leofric merasakan semacam aura gelap&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;yang menggantung di udara. Ini adalah hal yang aneh karena tidak ada manusia dan frameless biasa yang mampu merasakan aura gelap itu. Ibu&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;mereka berpendapat bahwa itu adalah hal yang wajar sebagai separuh frameless yang mewarisi darah marga Tordynn, tetapi ia tidak menjelaskan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;apa yang menjadi penyebab aura itu. Rasa penasaran Lyse semakin menjadi karena aura itu menjadi semakin kuat sejak kepergian orang tua mereka&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;dan karena Leofric menolak untuk membicarakannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Akhirnya, pada suatu hari Lyse bertemu dengan seorang pemuda bernama Skys. Pemuda itu menarik perhatian Lyse karena banyak alasan. Akan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;tetapi, betapa kagetnya Lyse saat Skys meminta bantuannya untuk menyelamatkan adik dan desanya, Nedera, dari cengkeraman makhluk yang&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;selama ini hanya dianggap sebagai legenda, Deimos. Deimos adalah makhluk kegelapan yang merupakan perwujudan kengerian dan berbagai aura&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;negatif di Vandaria. Deimos dianggap sebagai lawan dari Vanadis, para pencipta dan pengatur. Deimos adalah penghancur dan perwujudan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;kekacauan. Konon, jauh di masa awal penciptaan, terjadi perang besar dimana Vanadis berhasil mengurung deimos di alam neraka, Reigner.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;a href="" name="more" style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Menurut cerita Skys, entah bagaimana caranya deimos telah berhasil menginjakkan kaki di Vandaria dan menyebar kengerian di banyak tempat,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;termasuk desa Nedera. Konon, para deimos telah merasuki penduduk Nedera, termasuk Faye, adik perempuan Skys. Skys berhasil&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;menyelamatkan diri dari Nedera dan mengurung para deimos di dalam Nedera agar mereka tidak keluar dan mencari mangsa. Setiap senja berakhir,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;para deimos yang merasuki penduduk desa akan menunjukkan sosok asli mereka dan berusaha untuk keluar dari pelindung yang dibuat oleh Skys.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Skys menolak untuk meninggalkan Nedera dan adiknya. Untuk itu ia meminta bantuan Lyse dan Leofric yang ia yakini mampu membantunya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Leofric tidak menyukai Skys dan awalnya tidak ingin berurusan dengan masalah ini. Akan tetapi, akhirnya Lyse dan Leofric tidak dapat duduk diam&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;ketika ancaman deimos tidak hanya berhenti di Nedera, tetapi telah menjalar ke berbagai daerah termasuk desa mereka juga. Mereka menyadari&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;bahwa di Masa Kegelapan ini mereka harus berjuang bersama untuk tetap selamat, dan oleh karena itu mereka pun membantu Skys untuk&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;membebaskan Nedera dan adiknya.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Oke, langsung saja saya masuk review buku ini. Nedera sama sekali tidak mengecewakan. Lho, kenapa saya memilih kata-kata ini? Alasannya&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;sederhana saja sih, karena para Vandarian terutama sudah terbiasa 'menelan' novel-Vandaria-bertema-deimos tulisan abang Fachrul. Jujur saja saya&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;merasa ini merupakan sebuah sarana refreshing agar jajaran novel Road to Pandora tidak didominasi bukunya abang Fachrul (Wew, saya jelas masih&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;menunggu Winterflame, bang!). Anda tidak perlu khawatir karena buku ini tetap memiliki unsur ketegangan, cerita keren, dan DEIMOS yang&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;(menurut saya) jelas wajib ada di semua novel Road to Pandora. Saya bahkan dapat mengatakan dengan cukup lugas bahwa ini adalah buku yang&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;paling penuh aksi setelah Hailstorm, dan memiliki karakter yang berkesan bagi pembaca. Lalu salah satu hal utama bagi saya; akhirnya Vandaria&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;punya&lt;i&gt;strong lead female character&lt;/i&gt;&amp;nbsp;lagi setelah Ratu Seribu Tahun.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Aku benar-benar 'menempel' dengan karakter Lyse. Ia seakan merupakan sebuah sosok gadis yang biasa, tipe anak perempuan ceria dan disukai&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;banyak orang, tipe yang dapat kau temui di banyak tempat. Akan tetapi, di saat yang bersamaan ia juga menunjukkan ketangguhan dan keberanian&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;yang luar biasa, sikap yang membuatnya terasa sangat spesial di saat yang bersamaan. Karakter Leofric juga sangat menggugah. Kita dapat&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;merasakan sekali sikap protektifnya yang berlebihan kepada Lyse, disertai dengan rasa kekhawatirannya yang mendalam. Ia juga sangat keren,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;terutama sebagai cowok. Eh, maksudku sikap menyebalkannya kepada Skys sangat menarik bagiku, dan juga dengan ditambah dengan berbagai&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;sihir dan kemampuan keren yang dimilikinya (kemampuan memerintah deimos? pedang darah? Keren banget!).&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Karakter yang kurang terasa 'pas' bagiku adalah karakter Skys. Mungkin karena kita membaca cerita ini dari sudut pandang Lyse, aku jadi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;memandang Skys sebagai karakter yang terlalu sempurna. Coba kita data apa saja yang kita ketahui tentang ia; cowok cakep, memiliki keahlian&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;yang luar biasa, selalu datang di saat yang paling dibutuhkan, dengan sangat&amp;nbsp;&lt;i&gt;gentle&lt;/i&gt;&amp;nbsp;menawarkan bantuan saat Lyse membutuhkannya, tetapi di saat&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;yang bersamaan karakternya terasa (agak) kosong. Mungkin memang wajar saya ia bersikap begitu, sesuai pendapat Lyse tentang bagaimana&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;setelah bertahun-tahun ia telah melihat seluruh desanya dibantai, ditinggal mati kedua orangtuanya, dan dipaksa untuk melindungi diri. Akan tetapi,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;aku merasa ia hanya ..... begitu saja. Hmm, mungkin perbandingannya seperti ini: karakter Leofric terasa sangat 'berisi' seperti Jacob, tetapi karakter&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Skys terasa 'begitu saja' seperti Edward (eh, kenapa aku membandingkannya dengan Twilight?).&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Cerita novel ini memang benar-benar penuh aksi, dari awal hingga akhir. Akan tetapi, tetap saja kita dapat merasakan konflik antara para&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;karakternya. Sudah lama kita tidak membaca novel Vandaria sepenuh aksi itu sejak Hailstorm, sangat pantas untuk sebuah novel yang masuk jajaran&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Road to Pandora. Walaupun begitu aku merasa ada beberapa hal detail yang mengganjal dari segi detail cerita. SPOILER ALERT!!!&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Pertama, tentang kebencian dan kengerian terhadap marga Raganwald. Sialnya, aku seorang newbie Vandaria sehingga walaupun aku (tentu saja)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;tahu tentang marga terkutuk, aku belum mendapatkan feel teror dan kebencian yang sedapat mungkin digambarkan oleh buku. Kedua, aku merasa&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;agak kecewa karena visi Leofric tentang Lyse hanya berakhir seperti itu. Alangkah hebatnya jika visi Leofric ini baru terjadi di konflik yang akan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;datang nanti (dengan kata lain, kita akan bertemu Lyse dan Leofric lagi!). Ketiga, aku sebenarnya agak kecewa karena isi cerita NEDERA ternyata&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;tidak 'semistis' dan 'sehoror' yang aku harapkan. Maksudnya? Hmm, aku agak berharap masalah deimos yang merasuki manusia itu lebih menjadi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;fokus dan misteri macam yoma di manga Claymore (lah, nggak nyambung!!).&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Akhir kata, aku benar-benar sangat menikmati novel ini. Benar-benar senang berhasil mendapatkan novel ini ketika sedang terkurung di tengah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;kegiatan KKN. Jadi, saya tidak perlu menunggu 2 bulan deh untuk baca novel Vandaria terbaru ini. Dan, tentu saja semakin penasaran untuk&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;membaca flagship title Vandaria tahun ini, Pandora (apapun judul finalnya nanti!). Apa Anda dengar bang Fachrul??? Yah, walau saya bingung judul&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;novel Vandaria mana yang lebih saya tunggu, Sang Raja Tunggal atau Pandora (^_^).&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;Bisa dipesan di :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/nedera-negeri-kegelapan.html"&gt;http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/nedera-negeri-kegelapan.html&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18.200000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/vandaria-saga-nedera.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwqagThUZD2Wc14cot0IZ7R2AKfLTO9E1tXu36evDySsVOJNRBan1mEUN_6MOJK61zfPe6IQzcqAmx_HB5qKk78Dsm5jTBZRPwvsdLZ2NeOxPNquJEs3jBGg2NJYfEEa56OEDUhd0Zqhd/s72-c/FA-Nedera-crop.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="37916" type="image/jpeg" url="http://4.bp.blogspot.com/-ivmOlyeiChQ/UeGHgjcUKjI/AAAAAAAAAY4/pCGLXHIc0sY/s320/FA-Nedera-crop.jpg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Setelah sekian lama akhirnya saya berhasil juga mendapatkan novel Vandaria terbaru, NEDERA, karya mbak Alexia Chen. Jujur saja, saya mungkin&amp;nbsp;merasa lebih senang lagi karena saya mendapat novel ini gratisan cuma karena iseng ikut nge-tweet waktu sedang mengerjakan proposal skripsi di&amp;nbsp;perpustakaan (^_^). Yah, rezeki memang tidak hilang kemana-mana. Jadi, saya merasa bertanggung jawab untuk mereviewnya di&amp;nbsp;blogku ini. (Jujur saja, mbak Melody. Saya sempat khawatir nggak jadi dapat novel ini karena sudah lama ditungguin kok belum sampai juga di pondokan&amp;nbsp;KKN saya) Nedera adalah salah satu novel yang merupakan bagian dari Vandaria Saga,&amp;nbsp;franchise&amp;nbsp;fantasi karya anak bangsa terbaik dan terbesar saat ini. Semua orang dapat berkontribusi ke dunia Vandaria, baik apakah Anda menyukai novelnya, card game-nya (Vandaria Arkana!), atau sektor lainnya. &amp;nbsp; Nedera bersetting di Provinsi Valta, Kerajaan Blackmoon. Yup, jika anda adalah seorang Vandarian mungkin Anda akan berpendapat, "Oke, Blackmoon lagi. Kurang-lebih jelaslah apa seting cerita utamanya." Untuk Anda yang belum mengetahuinya, yakinlah bahwa kisah Vandaria yang&amp;nbsp;bersetting di Blackmoon (baca: menuju masa Invasi Kegelapan) menjanjikan kisah yang penuh aksi, misteri, cerita yang keren, (mungkin) horor, dan&amp;nbsp;DEIMOS!! Buku ini bercerita tentang sepasang kakak-beradik separuh frameless, Lyse dan Leofric. Lyse adalah seorang gadis yang menyenangkan. Awalnya,&amp;nbsp;ia, kakaknya, dan kedua orantuanya tinggal dengan damai di desa Haven, provinsi Valta. Akan tetapi, setahun yang lalu kedua orangtuanya pergi&amp;nbsp;secara mendadak dan belum kembali hingga saat ini. Sejak kepergian kedua orangtuanya, sifat kakak Lyse, Leofric, berubah. Sejak kepergian&amp;nbsp;orangtua mereka Leofric menjadi lebih pendiam, dingin, dan keras. Leofric juga sangat protektif terhadap Lyse. Lyse merasa terasing dan kesepian.&amp;nbsp;Mereka jarang memiliki waktu untuk bicara berdua. Leofric selalu menghindari pembicaraan tentang orang tua mereka. Namun, permasalahan yang lebih mengerikan telah menanti. Sudah beberapa tahun terakhir ini Lyse dan Leofric merasakan semacam aura gelap&amp;nbsp;yang menggantung di udara. Ini adalah hal yang aneh karena tidak ada manusia dan frameless biasa yang mampu merasakan aura gelap itu. Ibu&amp;nbsp;mereka berpendapat bahwa itu adalah hal yang wajar sebagai separuh frameless yang mewarisi darah marga Tordynn, tetapi ia tidak menjelaskan&amp;nbsp;apa yang menjadi penyebab aura itu. Rasa penasaran Lyse semakin menjadi karena aura itu menjadi semakin kuat sejak kepergian orang tua mereka&amp;nbsp;dan karena Leofric menolak untuk membicarakannya.&amp;nbsp; Akhirnya, pada suatu hari Lyse bertemu dengan seorang pemuda bernama Skys. Pemuda itu menarik perhatian Lyse karena banyak alasan. Akan&amp;nbsp;tetapi, betapa kagetnya Lyse saat Skys meminta bantuannya untuk menyelamatkan adik dan desanya, Nedera, dari cengkeraman makhluk yang&amp;nbsp;selama ini hanya dianggap sebagai legenda, Deimos. Deimos adalah makhluk kegelapan yang merupakan perwujudan kengerian dan berbagai aura&amp;nbsp;negatif di Vandaria. Deimos dianggap sebagai lawan dari Vanadis, para pencipta dan pengatur. Deimos adalah penghancur dan perwujudan&amp;nbsp;kekacauan. Konon, jauh di masa awal penciptaan, terjadi perang besar dimana Vanadis berhasil mengurung deimos di alam neraka, Reigner.&amp;nbsp; Menurut cerita Skys, entah bagaimana caranya deimos telah berhasil menginjakkan kaki di Vandaria dan menyebar kengerian di banyak tempat,&amp;nbsp;termasuk desa Nedera. Konon, para deimos telah merasuki penduduk Nedera, termasuk Faye, adik perempuan Skys. Skys berhasil&amp;nbsp;menyelamatkan diri dari Nedera dan mengurung para deimos di dalam Nedera agar mereka tidak keluar dan mencari mangsa. Setiap senja berakhir,&amp;nbsp;para deimos yang merasuki penduduk desa akan menunjukkan sosok asli mereka dan berusaha untuk keluar dari pelindung yang dibuat oleh Skys.&amp;nbsp; Skys menolak untuk meninggalkan Nedera dan adiknya. Untuk itu ia meminta bantuan Lyse dan Leofric yang ia yakini mampu membantunya.&amp;nbsp;Leofric tidak menyukai Skys dan awalnya tidak ingin berurusan dengan masalah ini. Akan tetapi, akhirnya Lyse dan Leofric tidak dapat duduk diam&amp;nbsp;ketika ancaman deimos tidak hanya berhenti di Nedera, tetapi telah menjalar ke berbagai daerah termasuk desa mereka juga. Mereka menyadari&amp;nbsp;bahwa di Masa Kegelapan ini mereka harus berjuang bersama untuk tetap selamat, dan oleh karena itu mereka pun membantu Skys untuk&amp;nbsp;membebaskan Nedera dan adiknya. Oke, langsung saja saya masuk review buku ini. Nedera sama sekali tidak mengecewakan. Lho, kenapa saya memilih kata-kata ini? Alasannya&amp;nbsp;sederhana saja sih, karena para Vandarian terutama sudah terbiasa 'menelan' novel-Vandaria-bertema-deimos tulisan abang Fachrul. Jujur saja saya&amp;nbsp;merasa ini merupakan sebuah sarana refreshing agar jajaran novel Road to Pandora tidak didominasi bukunya abang Fachrul (Wew, saya jelas masih&amp;nbsp;menunggu Winterflame, bang!). Anda tidak perlu khawatir karena buku ini tetap memiliki unsur ketegangan, cerita keren, dan DEIMOS yang&amp;nbsp;(menurut saya) jelas wajib ada di semua novel Road to Pandora. Saya bahkan dapat mengatakan dengan cukup lugas bahwa ini adalah buku yang&amp;nbsp;paling penuh aksi setelah Hailstorm, dan memiliki karakter yang berkesan bagi pembaca. Lalu salah satu hal utama bagi saya; akhirnya Vandaria&amp;nbsp;punyastrong lead female character&amp;nbsp;lagi setelah Ratu Seribu Tahun.&amp;nbsp; Aku benar-benar 'menempel' dengan karakter Lyse. Ia seakan merupakan sebuah sosok gadis yang biasa, tipe anak perempuan ceria dan disukai&amp;nbsp;banyak orang, tipe yang dapat kau temui di banyak tempat. Akan tetapi, di saat yang bersamaan ia juga menunjukkan ketangguhan dan keberanian&amp;nbsp;yang luar biasa, sikap yang membuatnya terasa sangat spesial di saat yang bersamaan. Karakter Leofric juga sangat menggugah. Kita dapat&amp;nbsp;merasakan sekali sikap protektifnya yang berlebihan kepada Lyse, disertai dengan rasa kekhawatirannya yang mendalam. Ia juga sangat keren,&amp;nbsp;terutama sebagai cowok. Eh, maksudku sikap menyebalkannya kepada Skys sangat menarik bagiku, dan juga dengan ditambah dengan berbagai&amp;nbsp;sihir dan kemampuan keren yang dimilikinya (kemampuan memerintah deimos? pedang darah? Keren banget!). Karakter yang kurang terasa 'pas' bagiku adalah karakter Skys. Mungkin karena kita membaca cerita ini dari sudut pandang Lyse, aku jadi&amp;nbsp;memandang Skys sebagai karakter yang terlalu sempurna. Coba kita data apa saja yang kita ketahui tentang ia; cowok cakep, memiliki keahlian&amp;nbsp;yang luar biasa, selalu datang di saat yang paling dibutuhkan, dengan sangat&amp;nbsp;gentle&amp;nbsp;menawarkan bantuan saat Lyse membutuhkannya, tetapi di saat&amp;nbsp;yang bersamaan karakternya terasa (agak) kosong. Mungkin memang wajar saya ia bersikap begitu, sesuai pendapat Lyse tentang bagaimana&amp;nbsp;setelah bertahun-tahun ia telah melihat seluruh desanya dibantai, ditinggal mati kedua orangtuanya, dan dipaksa untuk melindungi diri. Akan tetapi,&amp;nbsp;aku merasa ia hanya ..... begitu saja. Hmm, mungkin perbandingannya seperti ini: karakter Leofric terasa sangat 'berisi' seperti Jacob, tetapi karakter&amp;nbsp;Skys terasa 'begitu saja' seperti Edward (eh, kenapa aku membandingkannya dengan Twilight?). Cerita novel ini memang benar-benar penuh aksi, dari awal hingga akhir. Akan tetapi, tetap saja kita dapat merasakan konflik antara para&amp;nbsp;karakternya. Sudah lama kita tidak membaca novel Vandaria sepenuh aksi itu sejak Hailstorm, sangat pantas untuk sebuah novel yang masuk jajaran&amp;nbsp;Road to Pandora. Walaupun begitu aku merasa ada beberapa hal detail yang mengganjal dari segi detail cerita. SPOILER ALERT!!! Pertama, tentang kebencian dan kengerian terhadap marga Raganwald. Sialnya, aku seorang newbie Vandaria sehingga walaupun aku (tentu saja)&amp;nbsp;tahu tentang marga terkutuk, aku belum mendapatkan feel teror dan kebencian yang sedapat mungkin digambarkan oleh buku. Kedua, aku merasaagak kecewa karena visi Leofric tentang Lyse hanya berakhir seperti itu. Alangkah hebatnya jika visi Leofric ini baru terjadi di konflik yang akan&amp;nbsp;datang nanti (dengan kata lain, kita akan bertemu Lyse dan Leofric lagi!). Ketiga, aku sebenarnya agak kecewa karena isi cerita NEDERA ternyata&amp;nbsp;tidak 'semistis' dan 'sehoror' yang aku harapkan. Maksudnya? Hmm, aku agak berharap masalah deimos yang merasuki manusia itu lebih menjadi&amp;nbsp;fokus dan misteri macam yoma di manga Claymore (lah, nggak nyambung!!). Akhir kata, aku benar-benar sangat menikmati novel ini. Benar-benar senang berhasil mendapatkan novel ini ketika sedang terkurung di tengah&amp;nbsp;kegiatan KKN. Jadi, saya tidak perlu menunggu 2 bulan deh untuk baca novel Vandaria terbaru ini. Dan, tentu saja semakin penasaran untuk&amp;nbsp;membaca flagship title Vandaria tahun ini, Pandora (apapun judul finalnya nanti!). Apa Anda dengar bang Fachrul??? Yah, walau saya bingung judul&amp;nbsp;novel Vandaria mana yang lebih saya tunggu, Sang Raja Tunggal atau Pandora (^_^). Bisa dipesan di :&amp;nbsp;http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/nedera-negeri-kegelapan.html</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Setelah sekian lama akhirnya saya berhasil juga mendapatkan novel Vandaria terbaru, NEDERA, karya mbak Alexia Chen. Jujur saja, saya mungkin&amp;nbsp;merasa lebih senang lagi karena saya mendapat novel ini gratisan cuma karena iseng ikut nge-tweet waktu sedang mengerjakan proposal skripsi di&amp;nbsp;perpustakaan (^_^). Yah, rezeki memang tidak hilang kemana-mana. Jadi, saya merasa bertanggung jawab untuk mereviewnya di&amp;nbsp;blogku ini. (Jujur saja, mbak Melody. Saya sempat khawatir nggak jadi dapat novel ini karena sudah lama ditungguin kok belum sampai juga di pondokan&amp;nbsp;KKN saya) Nedera adalah salah satu novel yang merupakan bagian dari Vandaria Saga,&amp;nbsp;franchise&amp;nbsp;fantasi karya anak bangsa terbaik dan terbesar saat ini. Semua orang dapat berkontribusi ke dunia Vandaria, baik apakah Anda menyukai novelnya, card game-nya (Vandaria Arkana!), atau sektor lainnya. &amp;nbsp; Nedera bersetting di Provinsi Valta, Kerajaan Blackmoon. Yup, jika anda adalah seorang Vandarian mungkin Anda akan berpendapat, "Oke, Blackmoon lagi. Kurang-lebih jelaslah apa seting cerita utamanya." Untuk Anda yang belum mengetahuinya, yakinlah bahwa kisah Vandaria yang&amp;nbsp;bersetting di Blackmoon (baca: menuju masa Invasi Kegelapan) menjanjikan kisah yang penuh aksi, misteri, cerita yang keren, (mungkin) horor, dan&amp;nbsp;DEIMOS!! Buku ini bercerita tentang sepasang kakak-beradik separuh frameless, Lyse dan Leofric. Lyse adalah seorang gadis yang menyenangkan. Awalnya,&amp;nbsp;ia, kakaknya, dan kedua orantuanya tinggal dengan damai di desa Haven, provinsi Valta. Akan tetapi, setahun yang lalu kedua orangtuanya pergi&amp;nbsp;secara mendadak dan belum kembali hingga saat ini. Sejak kepergian kedua orangtuanya, sifat kakak Lyse, Leofric, berubah. Sejak kepergian&amp;nbsp;orangtua mereka Leofric menjadi lebih pendiam, dingin, dan keras. Leofric juga sangat protektif terhadap Lyse. Lyse merasa terasing dan kesepian.&amp;nbsp;Mereka jarang memiliki waktu untuk bicara berdua. Leofric selalu menghindari pembicaraan tentang orang tua mereka. Namun, permasalahan yang lebih mengerikan telah menanti. Sudah beberapa tahun terakhir ini Lyse dan Leofric merasakan semacam aura gelap&amp;nbsp;yang menggantung di udara. Ini adalah hal yang aneh karena tidak ada manusia dan frameless biasa yang mampu merasakan aura gelap itu. Ibu&amp;nbsp;mereka berpendapat bahwa itu adalah hal yang wajar sebagai separuh frameless yang mewarisi darah marga Tordynn, tetapi ia tidak menjelaskan&amp;nbsp;apa yang menjadi penyebab aura itu. Rasa penasaran Lyse semakin menjadi karena aura itu menjadi semakin kuat sejak kepergian orang tua mereka&amp;nbsp;dan karena Leofric menolak untuk membicarakannya.&amp;nbsp; Akhirnya, pada suatu hari Lyse bertemu dengan seorang pemuda bernama Skys. Pemuda itu menarik perhatian Lyse karena banyak alasan. Akan&amp;nbsp;tetapi, betapa kagetnya Lyse saat Skys meminta bantuannya untuk menyelamatkan adik dan desanya, Nedera, dari cengkeraman makhluk yang&amp;nbsp;selama ini hanya dianggap sebagai legenda, Deimos. Deimos adalah makhluk kegelapan yang merupakan perwujudan kengerian dan berbagai aura&amp;nbsp;negatif di Vandaria. Deimos dianggap sebagai lawan dari Vanadis, para pencipta dan pengatur. Deimos adalah penghancur dan perwujudan&amp;nbsp;kekacauan. Konon, jauh di masa awal penciptaan, terjadi perang besar dimana Vanadis berhasil mengurung deimos di alam neraka, Reigner.&amp;nbsp; Menurut cerita Skys, entah bagaimana caranya deimos telah berhasil menginjakkan kaki di Vandaria dan menyebar kengerian di banyak tempat,&amp;nbsp;termasuk desa Nedera. Konon, para deimos telah merasuki penduduk Nedera, termasuk Faye, adik perempuan Skys. Skys berhasil&amp;nbsp;menyelamatkan diri dari Nedera dan mengurung para deimos di dalam Nedera agar mereka tidak keluar dan mencari mangsa. Setiap senja berakhir,&amp;nbsp;para deimos yang merasuki penduduk desa akan menunjukkan sosok asli mereka dan berusaha untuk keluar dari pelindung yang dibuat oleh Skys.&amp;nbsp; Skys menolak untuk meninggalkan Nedera dan adiknya. Untuk itu ia meminta bantuan Lyse dan Leofric yang ia yakini mampu membantunya.&amp;nbsp;Leofric tidak menyukai Skys dan awalnya tidak ingin berurusan dengan masalah ini. Akan tetapi, akhirnya Lyse dan Leofric tidak dapat duduk diam&amp;nbsp;ketika ancaman deimos tidak hanya berhenti di Nedera, tetapi telah menjalar ke berbagai daerah termasuk desa mereka juga. Mereka menyadari&amp;nbsp;bahwa di Masa Kegelapan ini mereka harus berjuang bersama untuk tetap selamat, dan oleh karena itu mereka pun membantu Skys untuk&amp;nbsp;membebaskan Nedera dan adiknya. Oke, langsung saja saya masuk review buku ini. Nedera sama sekali tidak mengecewakan. Lho, kenapa saya memilih kata-kata ini? Alasannya&amp;nbsp;sederhana saja sih, karena para Vandarian terutama sudah terbiasa 'menelan' novel-Vandaria-bertema-deimos tulisan abang Fachrul. Jujur saja saya&amp;nbsp;merasa ini merupakan sebuah sarana refreshing agar jajaran novel Road to Pandora tidak didominasi bukunya abang Fachrul (Wew, saya jelas masih&amp;nbsp;menunggu Winterflame, bang!). Anda tidak perlu khawatir karena buku ini tetap memiliki unsur ketegangan, cerita keren, dan DEIMOS yang&amp;nbsp;(menurut saya) jelas wajib ada di semua novel Road to Pandora. Saya bahkan dapat mengatakan dengan cukup lugas bahwa ini adalah buku yang&amp;nbsp;paling penuh aksi setelah Hailstorm, dan memiliki karakter yang berkesan bagi pembaca. Lalu salah satu hal utama bagi saya; akhirnya Vandaria&amp;nbsp;punyastrong lead female character&amp;nbsp;lagi setelah Ratu Seribu Tahun.&amp;nbsp; Aku benar-benar 'menempel' dengan karakter Lyse. Ia seakan merupakan sebuah sosok gadis yang biasa, tipe anak perempuan ceria dan disukai&amp;nbsp;banyak orang, tipe yang dapat kau temui di banyak tempat. Akan tetapi, di saat yang bersamaan ia juga menunjukkan ketangguhan dan keberanian&amp;nbsp;yang luar biasa, sikap yang membuatnya terasa sangat spesial di saat yang bersamaan. Karakter Leofric juga sangat menggugah. Kita dapat&amp;nbsp;merasakan sekali sikap protektifnya yang berlebihan kepada Lyse, disertai dengan rasa kekhawatirannya yang mendalam. Ia juga sangat keren,&amp;nbsp;terutama sebagai cowok. Eh, maksudku sikap menyebalkannya kepada Skys sangat menarik bagiku, dan juga dengan ditambah dengan berbagai&amp;nbsp;sihir dan kemampuan keren yang dimilikinya (kemampuan memerintah deimos? pedang darah? Keren banget!). Karakter yang kurang terasa 'pas' bagiku adalah karakter Skys. Mungkin karena kita membaca cerita ini dari sudut pandang Lyse, aku jadi&amp;nbsp;memandang Skys sebagai karakter yang terlalu sempurna. Coba kita data apa saja yang kita ketahui tentang ia; cowok cakep, memiliki keahlian&amp;nbsp;yang luar biasa, selalu datang di saat yang paling dibutuhkan, dengan sangat&amp;nbsp;gentle&amp;nbsp;menawarkan bantuan saat Lyse membutuhkannya, tetapi di saat&amp;nbsp;yang bersamaan karakternya terasa (agak) kosong. Mungkin memang wajar saya ia bersikap begitu, sesuai pendapat Lyse tentang bagaimana&amp;nbsp;setelah bertahun-tahun ia telah melihat seluruh desanya dibantai, ditinggal mati kedua orangtuanya, dan dipaksa untuk melindungi diri. Akan tetapi,&amp;nbsp;aku merasa ia hanya ..... begitu saja. Hmm, mungkin perbandingannya seperti ini: karakter Leofric terasa sangat 'berisi' seperti Jacob, tetapi karakter&amp;nbsp;Skys terasa 'begitu saja' seperti Edward (eh, kenapa aku membandingkannya dengan Twilight?). Cerita novel ini memang benar-benar penuh aksi, dari awal hingga akhir. Akan tetapi, tetap saja kita dapat merasakan konflik antara para&amp;nbsp;karakternya. Sudah lama kita tidak membaca novel Vandaria sepenuh aksi itu sejak Hailstorm, sangat pantas untuk sebuah novel yang masuk jajaran&amp;nbsp;Road to Pandora. Walaupun begitu aku merasa ada beberapa hal detail yang mengganjal dari segi detail cerita. SPOILER ALERT!!! Pertama, tentang kebencian dan kengerian terhadap marga Raganwald. Sialnya, aku seorang newbie Vandaria sehingga walaupun aku (tentu saja)&amp;nbsp;tahu tentang marga terkutuk, aku belum mendapatkan feel teror dan kebencian yang sedapat mungkin digambarkan oleh buku. Kedua, aku merasaagak kecewa karena visi Leofric tentang Lyse hanya berakhir seperti itu. Alangkah hebatnya jika visi Leofric ini baru terjadi di konflik yang akan&amp;nbsp;datang nanti (dengan kata lain, kita akan bertemu Lyse dan Leofric lagi!). Ketiga, aku sebenarnya agak kecewa karena isi cerita NEDERA ternyata&amp;nbsp;tidak 'semistis' dan 'sehoror' yang aku harapkan. Maksudnya? Hmm, aku agak berharap masalah deimos yang merasuki manusia itu lebih menjadi&amp;nbsp;fokus dan misteri macam yoma di manga Claymore (lah, nggak nyambung!!). Akhir kata, aku benar-benar sangat menikmati novel ini. Benar-benar senang berhasil mendapatkan novel ini ketika sedang terkurung di tengah&amp;nbsp;kegiatan KKN. Jadi, saya tidak perlu menunggu 2 bulan deh untuk baca novel Vandaria terbaru ini. Dan, tentu saja semakin penasaran untuk&amp;nbsp;membaca flagship title Vandaria tahun ini, Pandora (apapun judul finalnya nanti!). Apa Anda dengar bang Fachrul??? Yah, walau saya bingung judul&amp;nbsp;novel Vandaria mana yang lebih saya tunggu, Sang Raja Tunggal atau Pandora (^_^). Bisa dipesan di :&amp;nbsp;http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/nedera-negeri-kegelapan.html</itunes:summary><itunes:keywords>Novel</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-5590344745752078257</guid><pubDate>Tue, 18 Feb 2014 20:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-19T08:21:21.775+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sastra Sejarah</category><title>AZAZIl  Oleh Luckty Giyan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPMOP6r32G6M3s4HiV4PHYzh7wTQB5L7rgFELdXxOlitx8bSnqCCeTpcjj1KKx-Vrw9OnSveVu_p-QbXq17onKszX5IvBnKwAkn3FWNvCjv2MtXgjxSwvz498jcEbq44fl2jj9msJEiFQ/s1600/azazil.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPMOP6r32G6M3s4HiV4PHYzh7wTQB5L7rgFELdXxOlitx8bSnqCCeTpcjj1KKx-Vrw9OnSveVu_p-QbXq17onKszX5IvBnKwAkn3FWNvCjv2MtXgjxSwvz498jcEbq44fl2jj9msJEiFQ/s1600/azazil.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Azazil terlahir dari ilusi manusia pada era Sumaria kuno atau masa Persia kuno yang menyembah Api/Cahaya dan kegelapan secara bersamaan (Ahura-Mazda Dewa Cahaya dan Ahriman Dewa Kegelapan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Iblis, Setan, Ahriman, Azazil, Baalzebub, Baalzebul. Semuanya tetap sama saja, perbedaannya hanya ada dalam segala sesuatu mempunyai eksistensinya masing-masing maka kita pun membuat hipotesis bahwa eksistensi yang berlawanan sepenuhnya dengan Tuhan adalah sebuah “Keburukan yang Mutlak” pula.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;“Aku adalah eksistensi yang digunakan untuk memberikan justifikasi akan adanya kejahatan. Jadi lebih pantas kalau dikatakan bahwa semua kejahatan dan keburukan itulah yang menjadi asal-muasal eksistensiku.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;“Sejatinya aku adalah kamu dan aku adalah mereka.. Kamu akan mendapatkan aku ada setiap kali kamu mau, begitu juga aku aka nada setiap kali mereka mau. Aku selalu hadir di hadapan mereka untuk mengangkat dosa, melepaskan beban, dan membebaskan setipa orang yang disalahkan. Pendeka kata aku adalah alas an yang selalu dikemukakan setiap kali ada kesalahan dan dosa. Aku adalah sosok yang menginginkan dan diinginkan, bahkan aku adalah keinginan itu sendiri. Aku adalah pelayan bagi setiap hamba-Nya. Bahkan aku adalah orang yang selalu mendorong para ahli ibadah untuk terus mengejar ilusi-iusi mereka tentang makna kesalahan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Prof. Dr. Youssef Ziedan, adalah seorang guru Filsafat Islam di Fakultas Adab Universitas Alexandria dan Kepala Pusat Manuskrip dan Bagian Museum Perpustakaan Alexandria ini sekitar sepuluh tahun yang lalu menemukan lembaran manuskrip milik seorang Rahib bernama Hypa yang berkebangsaan Arab dari Gereja Edessa yang menganut mazhab Nestorian. Sebelumnya, ada seorang yang pertama kali menemukan manuskrip ini adalah Bapa William Kazary. Terlepas asli atau tidak kisah hidup yang dituliskan manuskrip yang diduga tidak pernah dibuka selama lima belas abad silam ini, penelitian panjang yang dilakukan penerjemah membuktikan bahwa semua tokoh gerejawi yang dia sebutkan benar-benar ada. Demikian juga semua kejadian historis yang disinggungnya memang pernah ada.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Perjalanan hidup yang ditulis saat Hypa berumur dua puluh tiga. Ketika dia menginjakkan kaki di Alexandria, seseorang menasehatinya bahwa ada banyak nama Tuhan dan Dewa di sana. Azazil selalu mengikutinya hingga akhir hayat. Segala tingkah laku dan kejadian yang dialami sedikit banyak dipengaruhi Azazil. Pergolakan hidupnya yang memiliki latar belakang trauma masa lalu hingga membawanya keimpian yang diidamkannya, yaitu mampu mengobati orang lain. Hypa menguasai empat bahasa, yakni bahasa Yunani, Ibrani,Koptik dan Aramaik. Hypa seorang pecinta buku sejati. Hanya buku yang bisa membuatnya berkeinginan untuk menyendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Kisah hidupnya juga dibalut skandal cinta tak hanya satu wanita, tapi dua. Yang pertama, dia menjalin cinta kilat bersama Oktavia seorang penyembah berhala, seorang janda dari seorang lelaki miskin yang bekerja bersamanya di dalam rumah megah. Memiliki tiga sikap yang menyatu; kasih sayang yang lembut, keberanian dan kebinalan. Oktavia memberi nama Hypa menjadi Theosorus Poseidonius, dalam bahasa Yunani yang artinya hadiah ilahiah dari Dewa Poseidon. Sebaliknya, Hypa memanggil Oktavia dengan sebutan Temasmoni, dalam kata Mesir kuno yang artinya anak kedelapan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Setelah Hypa berumur empat puluhan, dia kembali terlibat kisah percintaan bersama Martha, sang penyanyi gereja. Janda berumur dua puluh tahun ini meruntuhkan kembali iman Hypa yang sebelumnya telah menutup hati rapat-rapat. Kisah cinta terlarang ini pun kembali berakhir singkat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Garis lurus itu hakikatnya harus ada di dalam ilusi kita, sedangkan faktanya segala sesuatu itu bergerak dalam lingkaran yang saling berkelindan bagaikan orbit beberapa planet yang kadang kala bersinggungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Manusia diasumsikan berawal dari sebuah titik kehidupan, kemudian bergerak dalam lingkaran ketika mengulangi kembali apa yang sudah dan selalu dilakukan oleh para pendahulu mereka hingga kembali ke titik awal: dari tiada menjadi ada untuk kemudian menjadi tiada lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Sesungguhnya tidur adalah anugerah yang tiada terkira. Kalau manusia tidak pernah tidur, pasti mereka akan gila! Semua yang ada di dunia ini tidur, bangun dan kemudian tidur lagi, kecuali dosa-dosa dan kenangankenangan kita yang tidak pernah mengenal tidur sama sekali. Karena itu, kenangan-kenangan itu akan terus memburu kita ke mana pun dan di mana pun sehingga kita tidak pernah tenang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Keseriusan adalah lawan kata dari kelinglungan karena hilang ingatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Kau boleh bersedih sebentar karena itu sudah tabiat anak manusia. Namun kesedihanmu akan pergi bersama berlalunya waktunya karena keadaan anak manusia selalu berubah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Kehidupan ini sejatinya penuh maker yang bergerak diam-diam, membawa kita tanpa disadari melalui deretan ruang dan waktu, kemudian mengubah diri kita menjadi orang lain yang bisa jadi tidak akan dikenali lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Kita tahu bahwa sebuah kosakata – kalau dipahami hanya sebagai sebuah kosakata – adalah netral dari dosa dan kesalahan; dosa-dosa seperti itu baru akan muncul saat kata-kata itu disusun sedemikian rupa menjadi kalimat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Hypatia, putrid Mahaguru Theon, seorang filsuf besar ahli matematika beraliran Pythagoras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Apakah kalau Adam dan Hawa tetap bertahan dalam surga, mereka akan menjadi mahluk yang abadi di dalamnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Semua kenangan dan nostalgia masa lalu pasti menyakitkan meski itu kenangan manis dan nostalgia indah sekalipun. Kenangan manis pun akan menyakitkan karena kita sedih karena hal itu sudah lewat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Bagaimana kuatnya seorang manusia, tetap saja dia mahluk lemah. Kita semua mahluk lemah yang tidak mempunyai daya apa pun kecuali karena kasih sayang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Jatuh cinta memang menimbulkan situasi yang berat di dalam jiwa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Manusia dalam setiap masa selalu menciptakan sesosok tuhan sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya pada waktu itu. Jadi hakikat seorang tuhan bagi manusia adalah pola pandangnya, impian-impiannya yang mustahil terjadi dan juga harapan-harapannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Di covernya, tertulis bahwa buku ini dijuluki “The Arabic da Vinci Code” dan meraih The Arabic Booker Prize 2009, sebuah penghargaan bergengsi untuk novel yang terbit di Timur Tengah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;" /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Setiap orang mempunyai setan sendiri yang menyertainya ke mana pun, termasuk diriku hanya saja Allah membantuku mengalahkannya hingga dia menyerah. (Imam Al-Bukhari)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Pesan Buku di :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #6d6d6d; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/azazil-godaan-raja-iblis.html"&gt;http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/azazil-godaan-raja-iblis.html&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/azazil-oleh-luckty-giyan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPMOP6r32G6M3s4HiV4PHYzh7wTQB5L7rgFELdXxOlitx8bSnqCCeTpcjj1KKx-Vrw9OnSveVu_p-QbXq17onKszX5IvBnKwAkn3FWNvCjv2MtXgjxSwvz498jcEbq44fl2jj9msJEiFQ/s72-c/azazil.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="13218" type="image/jpeg" url="http://4.bp.blogspot.com/-cXhHq_znkf8/UwQHCPpu6GI/AAAAAAAACak/bqNYmkvuWL4/s1600/azazil.jpg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Azazil terlahir dari ilusi manusia pada era Sumaria kuno atau masa Persia kuno yang menyembah Api/Cahaya dan kegelapan secara bersamaan (Ahura-Mazda Dewa Cahaya dan Ahriman Dewa Kegelapan). Iblis, Setan, Ahriman, Azazil, Baalzebub, Baalzebul. Semuanya tetap sama saja, perbedaannya hanya ada dalam segala sesuatu mempunyai eksistensinya masing-masing maka kita pun membuat hipotesis bahwa eksistensi yang berlawanan sepenuhnya dengan Tuhan adalah sebuah “Keburukan yang Mutlak” pula.&amp;nbsp; “Aku adalah eksistensi yang digunakan untuk memberikan justifikasi akan adanya kejahatan. Jadi lebih pantas kalau dikatakan bahwa semua kejahatan dan keburukan itulah yang menjadi asal-muasal eksistensiku.” “Sejatinya aku adalah kamu dan aku adalah mereka.. Kamu akan mendapatkan aku ada setiap kali kamu mau, begitu juga aku aka nada setiap kali mereka mau. Aku selalu hadir di hadapan mereka untuk mengangkat dosa, melepaskan beban, dan membebaskan setipa orang yang disalahkan. Pendeka kata aku adalah alas an yang selalu dikemukakan setiap kali ada kesalahan dan dosa. Aku adalah sosok yang menginginkan dan diinginkan, bahkan aku adalah keinginan itu sendiri. Aku adalah pelayan bagi setiap hamba-Nya. Bahkan aku adalah orang yang selalu mendorong para ahli ibadah untuk terus mengejar ilusi-iusi mereka tentang makna kesalahan.” Prof. Dr. Youssef Ziedan, adalah seorang guru Filsafat Islam di Fakultas Adab Universitas Alexandria dan Kepala Pusat Manuskrip dan Bagian Museum Perpustakaan Alexandria ini sekitar sepuluh tahun yang lalu menemukan lembaran manuskrip milik seorang Rahib bernama Hypa yang berkebangsaan Arab dari Gereja Edessa yang menganut mazhab Nestorian. Sebelumnya, ada seorang yang pertama kali menemukan manuskrip ini adalah Bapa William Kazary. Terlepas asli atau tidak kisah hidup yang dituliskan manuskrip yang diduga tidak pernah dibuka selama lima belas abad silam ini, penelitian panjang yang dilakukan penerjemah membuktikan bahwa semua tokoh gerejawi yang dia sebutkan benar-benar ada. Demikian juga semua kejadian historis yang disinggungnya memang pernah ada.&amp;nbsp; Perjalanan hidup yang ditulis saat Hypa berumur dua puluh tiga. Ketika dia menginjakkan kaki di Alexandria, seseorang menasehatinya bahwa ada banyak nama Tuhan dan Dewa di sana. Azazil selalu mengikutinya hingga akhir hayat. Segala tingkah laku dan kejadian yang dialami sedikit banyak dipengaruhi Azazil. Pergolakan hidupnya yang memiliki latar belakang trauma masa lalu hingga membawanya keimpian yang diidamkannya, yaitu mampu mengobati orang lain. Hypa menguasai empat bahasa, yakni bahasa Yunani, Ibrani,Koptik dan Aramaik. Hypa seorang pecinta buku sejati. Hanya buku yang bisa membuatnya berkeinginan untuk menyendiri. Kisah hidupnya juga dibalut skandal cinta tak hanya satu wanita, tapi dua. Yang pertama, dia menjalin cinta kilat bersama Oktavia seorang penyembah berhala, seorang janda dari seorang lelaki miskin yang bekerja bersamanya di dalam rumah megah. Memiliki tiga sikap yang menyatu; kasih sayang yang lembut, keberanian dan kebinalan. Oktavia memberi nama Hypa menjadi Theosorus Poseidonius, dalam bahasa Yunani yang artinya hadiah ilahiah dari Dewa Poseidon. Sebaliknya, Hypa memanggil Oktavia dengan sebutan Temasmoni, dalam kata Mesir kuno yang artinya anak kedelapan. Setelah Hypa berumur empat puluhan, dia kembali terlibat kisah percintaan bersama Martha, sang penyanyi gereja. Janda berumur dua puluh tahun ini meruntuhkan kembali iman Hypa yang sebelumnya telah menutup hati rapat-rapat. Kisah cinta terlarang ini pun kembali berakhir singkat. Garis lurus itu hakikatnya harus ada di dalam ilusi kita, sedangkan faktanya segala sesuatu itu bergerak dalam lingkaran yang saling berkelindan bagaikan orbit beberapa planet yang kadang kala bersinggungan. Manusia diasumsikan berawal dari sebuah titik kehidupan, kemudian bergerak dalam lingkaran ketika mengulangi kembali apa yang sudah dan selalu dilakukan oleh para pendahulu mereka hingga kembali ke titik awal: dari tiada menjadi ada untuk kemudian menjadi tiada lagi. Sesungguhnya tidur adalah anugerah yang tiada terkira. Kalau manusia tidak pernah tidur, pasti mereka akan gila! Semua yang ada di dunia ini tidur, bangun dan kemudian tidur lagi, kecuali dosa-dosa dan kenangankenangan kita yang tidak pernah mengenal tidur sama sekali. Karena itu, kenangan-kenangan itu akan terus memburu kita ke mana pun dan di mana pun sehingga kita tidak pernah tenang. Keseriusan adalah lawan kata dari kelinglungan karena hilang ingatan. Kau boleh bersedih sebentar karena itu sudah tabiat anak manusia. Namun kesedihanmu akan pergi bersama berlalunya waktunya karena keadaan anak manusia selalu berubah. Kehidupan ini sejatinya penuh maker yang bergerak diam-diam, membawa kita tanpa disadari melalui deretan ruang dan waktu, kemudian mengubah diri kita menjadi orang lain yang bisa jadi tidak akan dikenali lagi. Kita tahu bahwa sebuah kosakata – kalau dipahami hanya sebagai sebuah kosakata – adalah netral dari dosa dan kesalahan; dosa-dosa seperti itu baru akan muncul saat kata-kata itu disusun sedemikian rupa menjadi kalimat. Hypatia, putrid Mahaguru Theon, seorang filsuf besar ahli matematika beraliran Pythagoras. Apakah kalau Adam dan Hawa tetap bertahan dalam surga, mereka akan menjadi mahluk yang abadi di dalamnya? Semua kenangan dan nostalgia masa lalu pasti menyakitkan meski itu kenangan manis dan nostalgia indah sekalipun. Kenangan manis pun akan menyakitkan karena kita sedih karena hal itu sudah lewat. Bagaimana kuatnya seorang manusia, tetap saja dia mahluk lemah. Kita semua mahluk lemah yang tidak mempunyai daya apa pun kecuali karena kasih sayang. Jatuh cinta memang menimbulkan situasi yang berat di dalam jiwa. Manusia dalam setiap masa selalu menciptakan sesosok tuhan sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya pada waktu itu. Jadi hakikat seorang tuhan bagi manusia adalah pola pandangnya, impian-impiannya yang mustahil terjadi dan juga harapan-harapannya. Di covernya, tertulis bahwa buku ini dijuluki “The Arabic da Vinci Code” dan meraih The Arabic Booker Prize 2009, sebuah penghargaan bergengsi untuk novel yang terbit di Timur Tengah. Setiap orang mempunyai setan sendiri yang menyertainya ke mana pun, termasuk diriku hanya saja Allah membantuku mengalahkannya hingga dia menyerah. (Imam Al-Bukhari) Pesan Buku di :&amp;nbsp;http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/azazil-godaan-raja-iblis.html</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Azazil terlahir dari ilusi manusia pada era Sumaria kuno atau masa Persia kuno yang menyembah Api/Cahaya dan kegelapan secara bersamaan (Ahura-Mazda Dewa Cahaya dan Ahriman Dewa Kegelapan). Iblis, Setan, Ahriman, Azazil, Baalzebub, Baalzebul. Semuanya tetap sama saja, perbedaannya hanya ada dalam segala sesuatu mempunyai eksistensinya masing-masing maka kita pun membuat hipotesis bahwa eksistensi yang berlawanan sepenuhnya dengan Tuhan adalah sebuah “Keburukan yang Mutlak” pula.&amp;nbsp; “Aku adalah eksistensi yang digunakan untuk memberikan justifikasi akan adanya kejahatan. Jadi lebih pantas kalau dikatakan bahwa semua kejahatan dan keburukan itulah yang menjadi asal-muasal eksistensiku.” “Sejatinya aku adalah kamu dan aku adalah mereka.. Kamu akan mendapatkan aku ada setiap kali kamu mau, begitu juga aku aka nada setiap kali mereka mau. Aku selalu hadir di hadapan mereka untuk mengangkat dosa, melepaskan beban, dan membebaskan setipa orang yang disalahkan. Pendeka kata aku adalah alas an yang selalu dikemukakan setiap kali ada kesalahan dan dosa. Aku adalah sosok yang menginginkan dan diinginkan, bahkan aku adalah keinginan itu sendiri. Aku adalah pelayan bagi setiap hamba-Nya. Bahkan aku adalah orang yang selalu mendorong para ahli ibadah untuk terus mengejar ilusi-iusi mereka tentang makna kesalahan.” Prof. Dr. Youssef Ziedan, adalah seorang guru Filsafat Islam di Fakultas Adab Universitas Alexandria dan Kepala Pusat Manuskrip dan Bagian Museum Perpustakaan Alexandria ini sekitar sepuluh tahun yang lalu menemukan lembaran manuskrip milik seorang Rahib bernama Hypa yang berkebangsaan Arab dari Gereja Edessa yang menganut mazhab Nestorian. Sebelumnya, ada seorang yang pertama kali menemukan manuskrip ini adalah Bapa William Kazary. Terlepas asli atau tidak kisah hidup yang dituliskan manuskrip yang diduga tidak pernah dibuka selama lima belas abad silam ini, penelitian panjang yang dilakukan penerjemah membuktikan bahwa semua tokoh gerejawi yang dia sebutkan benar-benar ada. Demikian juga semua kejadian historis yang disinggungnya memang pernah ada.&amp;nbsp; Perjalanan hidup yang ditulis saat Hypa berumur dua puluh tiga. Ketika dia menginjakkan kaki di Alexandria, seseorang menasehatinya bahwa ada banyak nama Tuhan dan Dewa di sana. Azazil selalu mengikutinya hingga akhir hayat. Segala tingkah laku dan kejadian yang dialami sedikit banyak dipengaruhi Azazil. Pergolakan hidupnya yang memiliki latar belakang trauma masa lalu hingga membawanya keimpian yang diidamkannya, yaitu mampu mengobati orang lain. Hypa menguasai empat bahasa, yakni bahasa Yunani, Ibrani,Koptik dan Aramaik. Hypa seorang pecinta buku sejati. Hanya buku yang bisa membuatnya berkeinginan untuk menyendiri. Kisah hidupnya juga dibalut skandal cinta tak hanya satu wanita, tapi dua. Yang pertama, dia menjalin cinta kilat bersama Oktavia seorang penyembah berhala, seorang janda dari seorang lelaki miskin yang bekerja bersamanya di dalam rumah megah. Memiliki tiga sikap yang menyatu; kasih sayang yang lembut, keberanian dan kebinalan. Oktavia memberi nama Hypa menjadi Theosorus Poseidonius, dalam bahasa Yunani yang artinya hadiah ilahiah dari Dewa Poseidon. Sebaliknya, Hypa memanggil Oktavia dengan sebutan Temasmoni, dalam kata Mesir kuno yang artinya anak kedelapan. Setelah Hypa berumur empat puluhan, dia kembali terlibat kisah percintaan bersama Martha, sang penyanyi gereja. Janda berumur dua puluh tahun ini meruntuhkan kembali iman Hypa yang sebelumnya telah menutup hati rapat-rapat. Kisah cinta terlarang ini pun kembali berakhir singkat. Garis lurus itu hakikatnya harus ada di dalam ilusi kita, sedangkan faktanya segala sesuatu itu bergerak dalam lingkaran yang saling berkelindan bagaikan orbit beberapa planet yang kadang kala bersinggungan. Manusia diasumsikan berawal dari sebuah titik kehidupan, kemudian bergerak dalam lingkaran ketika mengulangi kembali apa yang sudah dan selalu dilakukan oleh para pendahulu mereka hingga kembali ke titik awal: dari tiada menjadi ada untuk kemudian menjadi tiada lagi. Sesungguhnya tidur adalah anugerah yang tiada terkira. Kalau manusia tidak pernah tidur, pasti mereka akan gila! Semua yang ada di dunia ini tidur, bangun dan kemudian tidur lagi, kecuali dosa-dosa dan kenangankenangan kita yang tidak pernah mengenal tidur sama sekali. Karena itu, kenangan-kenangan itu akan terus memburu kita ke mana pun dan di mana pun sehingga kita tidak pernah tenang. Keseriusan adalah lawan kata dari kelinglungan karena hilang ingatan. Kau boleh bersedih sebentar karena itu sudah tabiat anak manusia. Namun kesedihanmu akan pergi bersama berlalunya waktunya karena keadaan anak manusia selalu berubah. Kehidupan ini sejatinya penuh maker yang bergerak diam-diam, membawa kita tanpa disadari melalui deretan ruang dan waktu, kemudian mengubah diri kita menjadi orang lain yang bisa jadi tidak akan dikenali lagi. Kita tahu bahwa sebuah kosakata – kalau dipahami hanya sebagai sebuah kosakata – adalah netral dari dosa dan kesalahan; dosa-dosa seperti itu baru akan muncul saat kata-kata itu disusun sedemikian rupa menjadi kalimat. Hypatia, putrid Mahaguru Theon, seorang filsuf besar ahli matematika beraliran Pythagoras. Apakah kalau Adam dan Hawa tetap bertahan dalam surga, mereka akan menjadi mahluk yang abadi di dalamnya? Semua kenangan dan nostalgia masa lalu pasti menyakitkan meski itu kenangan manis dan nostalgia indah sekalipun. Kenangan manis pun akan menyakitkan karena kita sedih karena hal itu sudah lewat. Bagaimana kuatnya seorang manusia, tetap saja dia mahluk lemah. Kita semua mahluk lemah yang tidak mempunyai daya apa pun kecuali karena kasih sayang. Jatuh cinta memang menimbulkan situasi yang berat di dalam jiwa. Manusia dalam setiap masa selalu menciptakan sesosok tuhan sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya pada waktu itu. Jadi hakikat seorang tuhan bagi manusia adalah pola pandangnya, impian-impiannya yang mustahil terjadi dan juga harapan-harapannya. Di covernya, tertulis bahwa buku ini dijuluki “The Arabic da Vinci Code” dan meraih The Arabic Booker Prize 2009, sebuah penghargaan bergengsi untuk novel yang terbit di Timur Tengah. Setiap orang mempunyai setan sendiri yang menyertainya ke mana pun, termasuk diriku hanya saja Allah membantuku mengalahkannya hingga dia menyerah. (Imam Al-Bukhari) Pesan Buku di :&amp;nbsp;http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/azazil-godaan-raja-iblis.html</itunes:summary><itunes:keywords>Sastra Sejarah</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-2888161859855446289</guid><pubDate>Tue, 18 Feb 2014 19:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-19T02:59:53.564+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Spiritual</category><title>Sutar Djohar's Reviews &gt; Gatholoco: Rahasia Ilmu Sejati dan Asmaragama</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://d202m5krfqbpi5.cloudfront.net/books/1362534348l/17559341.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://d202m5krfqbpi5.cloudfront.net/books/1362534348l/17559341.jpg" width="213" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h1 style="background-color: white; color: #382110; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 20px; font-weight: normal; line-height: 18px; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px 0px 2px;"&gt;
&lt;span style="color: #181818; font-size: 13.63636302947998px;"&gt;Sastra jawa dengan berbagai SERAT menyimpan Rahasia hidup manusia, tak luput dari pandangan penulis buku ini, yang mengungkap secara gamblang, secara keseluruhan dimana rahasia ilmu sejati di beberkan dengan lugas, serta yang satu ini asmaragama(yang berarti tentang asmara).&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Simbol Lelaki sejati dengan Filsafat Lingga dan Yoni, yang di kalangan umum nyaris hilang dari bumi pertiwi. Rahasia ajaran tentang asmara serta bagaimana ajian asmaragama yang dahsyat olah asmara, dan beberapa aji untuk memikat hati wanita serta memberikan kenikmatan kepadanya tanpa harus bersentuhan, serta sarana dan ramuan untuk meningkatkan kualitas hubungan badan dan metode spiritual untuk memperoleh keturunan sesuai yang diharapkan.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Penulis piawai dalam mengemas serta lugas menguraikan tahap demi tahap isi dari novel ini, apa dan bagaimana.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Teka-teki Gatholoco mengenai : wayang, dalang, blencong, dan kelir. Dari keempat itu manakah yang lebih tua ? perdebatan dimenangkan oleh Gatholoco. Ia menerangkan juga tentang hakikat : wayang, dalang, kelir, blencong dan gamelan. Ketiga guru mengaji itu akhirnya meninggalkan Gatholoco dan menuju Cepekan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Di Cepekan terdapat tiga orang guru mengaji, yaitu : Kasan Mustahal, Kasan Besari, dan Ki Duljalal. Mereka ini didatangi oleh ketiga ketiga orang guru mengaji yang kalah berdebat dengan Gatholoco. Mereka menceritakan tentang kekalahan dalam perdebatan. Gatholoco dicari dan diajaknya ke Pondok Cepekan untuk diajak berdebat tentang ilmu sejati. Perdebatan antara Gatholoco dengan ketiga orang guru mengaji di Pondok Cepekan berlanjut. Akhirnya dimenangkan oleh Gatholoco, karena mereka kalah (ketiga guru mengaji), maka diusirlah Gatholoco dari pondok tersebut. Pada mulanya Gatholoco tidak mau pergi kalau tidak diberi uang. Akhirnya, ia meninggalkan pondok tersebut untuk melanjutkan pengembaraannya.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Dalam Pupuh 3 dijabarkan&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Dalang, wayang, kelir dan Blencong dijadikan teka-teki mana yang paling tua diantara dalang, wayang, kelir dan blencong(pelita) manakah yang paling tua ?? Yang paling tua adalah yang nanggap wayang, sebab dia yang mengatur, kapan waktunya, serta apa ceritanya.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Kisah ini sarat dengan nasihat tentang asal muasal hidup, bagaimana manusia mengenal sang Pencipta serta pemahaman masalah proses kehidupan spiritual dari awal manusia hingga akhir.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Pemaparan kisah di awali membahas manusia dan kehidupan, serta bagaimana menuangkan asamaragama. lambang cinta kasih antara wanita dan pria.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Dalam buku Wirid hidayat Jati, dijelaskan bagaimana hidup manusia, dari mana asal dan akan kembali, apa itu sukma(ruh) raga, dan siapa Itu GUSTI.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Buku ini istimewa dalam hal pengungkapan rahasia budaya jawa dengan segala kelebihannya, sesuai dengan judul buku wirid hidayat jati, buku pengarngnya keluarga Keraton Surakarta, yang mana buku tersebut dalam kurun waktu tertentu hanya boleh dibaca dan diajarkan dalam lingkungan kraton. Hingga suatu saat buku itu diterbitkan dan dapat dibaca oleh kalangan umum.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Sedikit mengenai buku ini menurut pemahaman saya, ada beberapa kata yang di transliterasi dari bahasa jawa ke bahasa Indonesia yang agaku kurang tepat sebab kadang bahasa Jawa tidak bisa diserap oleh bahasa Indonesia, karena artinya akan berubah.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;em style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;Kekasih Puja jiwaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelumit kata menghantarkan tidur malammu, dan seuntaian kasih sayang menjadi lambaran tidur malammu beserta mimpi-mimpimu. Ku ingin setiap helaan nafasmu serta denyut nadimu, ada kasih yang selalu menyelimutimu, ada cinta yang selalu memancar untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doaku untuk mu kepada Gusti, semoga engkau selalu disehatkan, diberi kekuatan serta diberkan limpahan rizky, serta sehat jasmani dan ruhani, serta selalu diberi ketenangan dalam menjalani hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasih&lt;br /&gt;Tak banyak yang aku pinta, sebab aku tak layak meminta, karena aku hanya memberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah kenyamanan, serta engkau berlabuh di pantai harapanmu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;em style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #181818; font-family: Georgia, Times, 'Times New Roman', serif; font-size: 13.63636302947998px; line-height: 18px;"&gt;&lt;b&gt;Pesan buku ini di :&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #181818; font-family: Georgia, Times, Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/gatholoco-rahasia-ilmu-sejati-dan.html"&gt;http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/gatholoco-rahasia-ilmu-sejati-dan.html&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/sutar-djohars-reviews-gatholoco-rahasia.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total><enclosure length="28813" type="image/jpeg" url="https://d202m5krfqbpi5.cloudfront.net/books/1362534348l/17559341.jpg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Sastra jawa dengan berbagai SERAT menyimpan Rahasia hidup manusia, tak luput dari pandangan penulis buku ini, yang mengungkap secara gamblang, secara keseluruhan dimana rahasia ilmu sejati di beberkan dengan lugas, serta yang satu ini asmaragama(yang berarti tentang asmara). Simbol Lelaki sejati dengan Filsafat Lingga dan Yoni, yang di kalangan umum nyaris hilang dari bumi pertiwi. Rahasia ajaran tentang asmara serta bagaimana ajian asmaragama yang dahsyat olah asmara, dan beberapa aji untuk memikat hati wanita serta memberikan kenikmatan kepadanya tanpa harus bersentuhan, serta sarana dan ramuan untuk meningkatkan kualitas hubungan badan dan metode spiritual untuk memperoleh keturunan sesuai yang diharapkan.Penulis piawai dalam mengemas serta lugas menguraikan tahap demi tahap isi dari novel ini, apa dan bagaimana.Teka-teki Gatholoco mengenai : wayang, dalang, blencong, dan kelir. Dari keempat itu manakah yang lebih tua ? perdebatan dimenangkan oleh Gatholoco. Ia menerangkan juga tentang hakikat : wayang, dalang, kelir, blencong dan gamelan. Ketiga guru mengaji itu akhirnya meninggalkan Gatholoco dan menuju Cepekan.&amp;nbsp;Di Cepekan terdapat tiga orang guru mengaji, yaitu : Kasan Mustahal, Kasan Besari, dan Ki Duljalal. Mereka ini didatangi oleh ketiga ketiga orang guru mengaji yang kalah berdebat dengan Gatholoco. Mereka menceritakan tentang kekalahan dalam perdebatan. Gatholoco dicari dan diajaknya ke Pondok Cepekan untuk diajak berdebat tentang ilmu sejati. Perdebatan antara Gatholoco dengan ketiga orang guru mengaji di Pondok Cepekan berlanjut. Akhirnya dimenangkan oleh Gatholoco, karena mereka kalah (ketiga guru mengaji), maka diusirlah Gatholoco dari pondok tersebut. Pada mulanya Gatholoco tidak mau pergi kalau tidak diberi uang. Akhirnya, ia meninggalkan pondok tersebut untuk melanjutkan pengembaraannya.Dalam Pupuh 3 dijabarkanDalang, wayang, kelir dan Blencong dijadikan teka-teki mana yang paling tua diantara dalang, wayang, kelir dan blencong(pelita) manakah yang paling tua ?? Yang paling tua adalah yang nanggap wayang, sebab dia yang mengatur, kapan waktunya, serta apa ceritanya.Kisah ini sarat dengan nasihat tentang asal muasal hidup, bagaimana manusia mengenal sang Pencipta serta pemahaman masalah proses kehidupan spiritual dari awal manusia hingga akhir.Pemaparan kisah di awali membahas manusia dan kehidupan, serta bagaimana menuangkan asamaragama. lambang cinta kasih antara wanita dan pria.Dalam buku Wirid hidayat Jati, dijelaskan bagaimana hidup manusia, dari mana asal dan akan kembali, apa itu sukma(ruh) raga, dan siapa Itu GUSTI.Buku ini istimewa dalam hal pengungkapan rahasia budaya jawa dengan segala kelebihannya, sesuai dengan judul buku wirid hidayat jati, buku pengarngnya keluarga Keraton Surakarta, yang mana buku tersebut dalam kurun waktu tertentu hanya boleh dibaca dan diajarkan dalam lingkungan kraton. Hingga suatu saat buku itu diterbitkan dan dapat dibaca oleh kalangan umum.Sedikit mengenai buku ini menurut pemahaman saya, ada beberapa kata yang di transliterasi dari bahasa jawa ke bahasa Indonesia yang agaku kurang tepat sebab kadang bahasa Jawa tidak bisa diserap oleh bahasa Indonesia, karena artinya akan berubah.Kekasih Puja jiwaku Sekelumit kata menghantarkan tidur malammu, dan seuntaian kasih sayang menjadi lambaran tidur malammu beserta mimpi-mimpimu. Ku ingin setiap helaan nafasmu serta denyut nadimu, ada kasih yang selalu menyelimutimu, ada cinta yang selalu memancar untukmu. Doaku untuk mu kepada Gusti, semoga engkau selalu disehatkan, diberi kekuatan serta diberkan limpahan rizky, serta sehat jasmani dan ruhani, serta selalu diberi ketenangan dalam menjalani hidup. Kekasih Tak banyak yang aku pinta, sebab aku tak layak meminta, karena aku hanya memberi. sebuah kenyamanan, serta engkau berlabuh di pantai harapanmu Pesan buku ini di :&amp;nbsp;http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/gatholoco-rahasia-ilmu-sejati-dan.html</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Sastra jawa dengan berbagai SERAT menyimpan Rahasia hidup manusia, tak luput dari pandangan penulis buku ini, yang mengungkap secara gamblang, secara keseluruhan dimana rahasia ilmu sejati di beberkan dengan lugas, serta yang satu ini asmaragama(yang berarti tentang asmara). Simbol Lelaki sejati dengan Filsafat Lingga dan Yoni, yang di kalangan umum nyaris hilang dari bumi pertiwi. Rahasia ajaran tentang asmara serta bagaimana ajian asmaragama yang dahsyat olah asmara, dan beberapa aji untuk memikat hati wanita serta memberikan kenikmatan kepadanya tanpa harus bersentuhan, serta sarana dan ramuan untuk meningkatkan kualitas hubungan badan dan metode spiritual untuk memperoleh keturunan sesuai yang diharapkan.Penulis piawai dalam mengemas serta lugas menguraikan tahap demi tahap isi dari novel ini, apa dan bagaimana.Teka-teki Gatholoco mengenai : wayang, dalang, blencong, dan kelir. Dari keempat itu manakah yang lebih tua ? perdebatan dimenangkan oleh Gatholoco. Ia menerangkan juga tentang hakikat : wayang, dalang, kelir, blencong dan gamelan. Ketiga guru mengaji itu akhirnya meninggalkan Gatholoco dan menuju Cepekan.&amp;nbsp;Di Cepekan terdapat tiga orang guru mengaji, yaitu : Kasan Mustahal, Kasan Besari, dan Ki Duljalal. Mereka ini didatangi oleh ketiga ketiga orang guru mengaji yang kalah berdebat dengan Gatholoco. Mereka menceritakan tentang kekalahan dalam perdebatan. Gatholoco dicari dan diajaknya ke Pondok Cepekan untuk diajak berdebat tentang ilmu sejati. Perdebatan antara Gatholoco dengan ketiga orang guru mengaji di Pondok Cepekan berlanjut. Akhirnya dimenangkan oleh Gatholoco, karena mereka kalah (ketiga guru mengaji), maka diusirlah Gatholoco dari pondok tersebut. Pada mulanya Gatholoco tidak mau pergi kalau tidak diberi uang. Akhirnya, ia meninggalkan pondok tersebut untuk melanjutkan pengembaraannya.Dalam Pupuh 3 dijabarkanDalang, wayang, kelir dan Blencong dijadikan teka-teki mana yang paling tua diantara dalang, wayang, kelir dan blencong(pelita) manakah yang paling tua ?? Yang paling tua adalah yang nanggap wayang, sebab dia yang mengatur, kapan waktunya, serta apa ceritanya.Kisah ini sarat dengan nasihat tentang asal muasal hidup, bagaimana manusia mengenal sang Pencipta serta pemahaman masalah proses kehidupan spiritual dari awal manusia hingga akhir.Pemaparan kisah di awali membahas manusia dan kehidupan, serta bagaimana menuangkan asamaragama. lambang cinta kasih antara wanita dan pria.Dalam buku Wirid hidayat Jati, dijelaskan bagaimana hidup manusia, dari mana asal dan akan kembali, apa itu sukma(ruh) raga, dan siapa Itu GUSTI.Buku ini istimewa dalam hal pengungkapan rahasia budaya jawa dengan segala kelebihannya, sesuai dengan judul buku wirid hidayat jati, buku pengarngnya keluarga Keraton Surakarta, yang mana buku tersebut dalam kurun waktu tertentu hanya boleh dibaca dan diajarkan dalam lingkungan kraton. Hingga suatu saat buku itu diterbitkan dan dapat dibaca oleh kalangan umum.Sedikit mengenai buku ini menurut pemahaman saya, ada beberapa kata yang di transliterasi dari bahasa jawa ke bahasa Indonesia yang agaku kurang tepat sebab kadang bahasa Jawa tidak bisa diserap oleh bahasa Indonesia, karena artinya akan berubah.Kekasih Puja jiwaku Sekelumit kata menghantarkan tidur malammu, dan seuntaian kasih sayang menjadi lambaran tidur malammu beserta mimpi-mimpimu. Ku ingin setiap helaan nafasmu serta denyut nadimu, ada kasih yang selalu menyelimutimu, ada cinta yang selalu memancar untukmu. Doaku untuk mu kepada Gusti, semoga engkau selalu disehatkan, diberi kekuatan serta diberkan limpahan rizky, serta sehat jasmani dan ruhani, serta selalu diberi ketenangan dalam menjalani hidup. Kekasih Tak banyak yang aku pinta, sebab aku tak layak meminta, karena aku hanya memberi. sebuah kenyamanan, serta engkau berlabuh di pantai harapanmu Pesan buku ini di :&amp;nbsp;http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/gatholoco-rahasia-ilmu-sejati-dan.html</itunes:summary><itunes:keywords>Spiritual</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-7828806492446886293</guid><pubDate>Tue, 18 Feb 2014 19:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-19T08:22:58.675+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Semenanjung yang Membangunkan Eropa</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9JbhbLqCh31e634uPbEQpiRHAJ1u_6C8vDB3_6Q8J7l3qTyKdP4tN7XDgv2RR8k3Mp0Jypl3epfju-uw0_tJ6GxGONlLHSGnKDQHLuSMmfCWJxgTg9nXtFALe6oQUMhXOQpJxSCJQqMg/s1600/The+Greatness+of+Al-Andalus.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9JbhbLqCh31e634uPbEQpiRHAJ1u_6C8vDB3_6Q8J7l3qTyKdP4tN7XDgv2RR8k3Mp0Jypl3epfju-uw0_tJ6GxGONlLHSGnKDQHLuSMmfCWJxgTg9nXtFALe6oQUMhXOQpJxSCJQqMg/s1600/The+Greatness+of+Al-Andalus.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;Eropa berutang budi kepada Andalusia. Akan seperti apa Eropa jika ditaklukkan kaum muslim pada 711?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
DUA puluh satu tahun setelah Tariq ibn Ziyad mengarungi Selat Gibraltar dan menaklukkan Semenanjung Iberia (711 Masehi)—Spanyol kini—Abd al-Rahman al-Ghafiqi meneruskan derap langkah pendahulunya itu. la menuju Pyrenees, Francis sekarang, tapi geraknya dihentikan Charles Martel, yang memimpin kaum Frank, lewat pertempuran sengit di Poitiers.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Apa yang terjadi bila langkah Al-Ghariqi tak terbendung? Edward Gibbon, sejarawan abad ke-18, menulis, "Mungkin tafsir Al-Quran akan diajarkan di sekolah-sekolah Oxford." Kemungkinan itu tidak terwujud. Langkah Al-Ghafiqi terhenti dan sejarawan Barat menyanjung Martel sebagai penyelamat kekristenan serta penentu takdir Barat. Diikuti kemartiran Roland de Roncevaux hampir setengah abad kemudian, inilah momen awal pembentukan identitas yang disebut seorang imam Spanyol abad ke-8 sebagai "Europenses".&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Tak dapat disangkal, sebagian besar sejarah memang ditulis para pemenang, dan dalam pertempuran Poitiers, pemenang itu kaum "Europenses". Tapi, di mata David Lewis, dengan "menang" di Poitiers, Eropa kehilangan 300 tahun kesempatan untuk lebih awal mencapai tingkat ekonomi, ilmiah, dan budaya yang dicapainya pada abad ke-13. Pertempuran Poitiers malah menjadi momen penting bagi penciptaan Eropa yang terbelakang, terbalkanisasi, dan terpecah-pecah. Juga Eropa yang menarik garis pemisah tajam dengan Islam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Semenanjung Iberia, yang pesonanya membuat kaum muslim menyebutnya Al-Andalus, di mata Lewis, menawarkan kemungkinan bagi Eropa untuk ikut menikmati kemajuan peradaban lebih dini. Di bawah kepemimpinan Abd al-Rahman I—menjadi gubernur 24 tahun setelah Poitiers—Al-Andalus tumbuh menjadi negeri tempat seni, pertanian, sains, dan arsitektur bersemai sangat baik. la berhasil membangun negeri dengan spirit convivencia yang mendamaikan hidup orang Kristen, Islam, dan Yahudi, bahkan hingga empat abad kemudian.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Kaum muslim telah membawakan salah satu revolusi terbesar dalam kekuasaan, agama, budaya, dan kemakmuran ke Eropa Zaman Kegelapan. Andalusia pintunya. Begitu yakin Lewis menulis, "Pada malam kedatangan Islam di Benua Eropa lewat pendaratan Tariq ibn Ziyad di Iberia, per¬adaban Eropa hanya—dan, memang, tak lebih dari—sebuah kemungkinan."&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Institusi yang diperlukan untuk pembentukan budaya, stabilitas politik, dan vitalitas ekonomi belum tercipta atau telah terdegradasi sehingga tak dapat dihidupkan kembali. Bangsa Prancis dan kepausan, tonggak pendiri Eropa masa depan, menurut Lewis, adalah entitas in utero ketika fajar muslim merebak di Semenanjung Iberia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Ketika muslim Andalusia membangun kota yang indah, kaum Frank masih tinggal di hutan yang lebat. Tatkala kaum muslim sudah bertukar mata uang perak dan berdagang sutra, kaum Frank masih bertumpu pada barter. Di saat muslim mengunjungi salon, membaca puisi, dan memperbincangkan gagasan, Pippin si Pendek—anak Charles Martel—masih menerima duta kerajaan lain di tempat yang dipenuhi "kulit beruang, timbunan senjata, dengkur anjing, potongan tulang, dan teko anggur".&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
Andalusia mengembangkan pengetahuan yang jadi dasar bagi Eropa untuk bangun dari kegelapan. "Ini proses osmosis peniruan pada awalnya," tulis Lewis, "dan kemudian seperti sabuk berjalan." Pada abad ke-12, Ibn Rusyd menulis komentarnya atas Aristoteles, menjalankan tugas rekonsiliasi nalar dengan keyakinan untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Thomas Aquinas, yang karyanya menjadi basis filsafat Barat sejak abad ke-13, sangat berutang budi kepada pembacaan Ibn Rusyd. Dengan menulis The Greatness of Al-Andalus, Lewis menarik garis paralelitas historis. "Bagi sejarawan, berpikir tentang masa kini berarti berpikir tentang masa lalu di masa kini," ujarnya. Inilah buah renungan seorang sarjana Barat perihal sepotong sejarah yang barangkali tampak terlalu silam untuk dibicarakan sekaitan dengan kekhawatiran postmodern kita saat ini. Meskipun begitu, seperti kata Lewis, keterhubungan sebagian besar dunia muslim dengan Eropa dan Amerika Serikat saat ini dapat disejajarkan dengan keterhubungan dunia Kristen yang terbelakang pada masa silam dengan sebuah Islam yang sangat canggih pada zaman itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
The Greatness menawarkan pengisahan yang kaya, dengan cerita pergulatan kuasa yang memukau. Pembaca seyogianya berhati-hati agar tak tersesat dalam belantara detail dan kehilangan jejak narasi besar yang dituturkan Lewis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;strong style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;DIANBASUKI&lt;/strong&gt;. PENULIS BLOGDI TEMPO.CO&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #6d6d6d; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 20px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h3 class="widget-title khusus" style="background-color: #d91c03; border: 0px; color: white; font-family: arial; font-size: 17px; line-height: inherit; margin: -10px 0px 16px; padding: 8px; vertical-align: baseline;"&gt;
Detail Buku&lt;/h3&gt;
&lt;ul style="background-color: white; border: 0px; color: #666666; font-family: arial; font-size: 12px; line-height: 12px; list-style: none; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;li style="border: 0px; color: #b5b5b5; display: block; font-family: inherit; font-size: 11px; font-style: italic; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="-webkit-transition: color, opacity; border: 0px; color: black; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; transition: color, opacity; vertical-align: baseline;"&gt;Judul : The Greatness of Al-Andalus&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="border: 0px; color: #b5b5b5; display: block; font-family: inherit; font-size: 11px; font-style: italic; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="-webkit-transition: color, opacity 0.2s linear; border: 0px; color: black; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; transition: color, opacity 0.2s linear; vertical-align: baseline;"&gt;ISBN : 978-979-024-330-9&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="border: 0px; color: #b5b5b5; display: block; font-family: inherit; font-size: 11px; font-style: italic; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="border: 0px; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Author :&amp;nbsp;&lt;uya style="color: #003366;"&gt;David Levering Lewis&lt;/uya&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="border: 0px; color: #b5b5b5; display: block; font-family: inherit; font-size: 11px; font-style: italic; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="-webkit-transition: color, opacity 0.2s linear; border: 0px; color: black; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; transition: color, opacity 0.2s linear; vertical-align: baseline;"&gt;Terbit : Oktober 2012&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="border: 0px; color: #b5b5b5; display: block; font-family: inherit; font-size: 11px; font-style: italic; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="-webkit-transition: color, opacity 0.2s linear; border: 0px; color: black; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; transition: color, opacity 0.2s linear; vertical-align: baseline;"&gt;Halaman : 676&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="border: 0px; color: #b5b5b5; display: block; font-family: inherit; font-size: 11px; font-style: italic; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="-webkit-transition: color, opacity 0.2s linear; border: 0px; color: black; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; transition: color, opacity 0.2s linear; vertical-align: baseline;"&gt;Kertas : Bookpaper&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="border: 0px; color: #b5b5b5; display: block; font-family: inherit; font-size: 11px; font-style: italic; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="-webkit-transition: color, opacity; border: 0px; color: black; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; transition: color, opacity; vertical-align: baseline;"&gt;Ukuran : 15 x 23 cm&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="border: 0px; color: #b5b5b5; display: block; font-family: inherit; font-size: 11px; font-style: italic; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px 0px 15px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="-webkit-transition: color, opacity; border: 0px; color: black; font-family: inherit; font-size: inherit; font-style: inherit; font-variant: inherit; line-height: inherit; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; transition: color, opacity; vertical-align: baseline;"&gt;Pemesanan :&amp;nbsp;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/the-greatness-of-al-andalus.html"&gt;http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/the-greatness-of-al-andalus.html&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/semenanjung-yang-membangunkan-eropa.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9JbhbLqCh31e634uPbEQpiRHAJ1u_6C8vDB3_6Q8J7l3qTyKdP4tN7XDgv2RR8k3Mp0Jypl3epfju-uw0_tJ6GxGONlLHSGnKDQHLuSMmfCWJxgTg9nXtFALe6oQUMhXOQpJxSCJQqMg/s72-c/The+Greatness+of+Al-Andalus.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="16395" type="image/jpeg" url="http://4.bp.blogspot.com/-Np5p8XjdC04/UwQHammfwNI/AAAAAAAACas/I2HU7Lq-siE/s1600/The+Greatness+of+Al-Andalus.jpg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Eropa berutang budi kepada Andalusia. Akan seperti apa Eropa jika ditaklukkan kaum muslim pada 711? DUA puluh satu tahun setelah Tariq ibn Ziyad mengarungi Selat Gibraltar dan menaklukkan Semenanjung Iberia (711 Masehi)—Spanyol kini—Abd al-Rahman al-Ghafiqi meneruskan derap langkah pendahulunya itu. la menuju Pyrenees, Francis sekarang, tapi geraknya dihentikan Charles Martel, yang memimpin kaum Frank, lewat pertempuran sengit di Poitiers. Apa yang terjadi bila langkah Al-Ghariqi tak terbendung? Edward Gibbon, sejarawan abad ke-18, menulis, "Mungkin tafsir Al-Quran akan diajarkan di sekolah-sekolah Oxford." Kemungkinan itu tidak terwujud. Langkah Al-Ghafiqi terhenti dan sejarawan Barat menyanjung Martel sebagai penyelamat kekristenan serta penentu takdir Barat. Diikuti kemartiran Roland de Roncevaux hampir setengah abad kemudian, inilah momen awal pembentukan identitas yang disebut seorang imam Spanyol abad ke-8 sebagai "Europenses". Tak dapat disangkal, sebagian besar sejarah memang ditulis para pemenang, dan dalam pertempuran Poitiers, pemenang itu kaum "Europenses". Tapi, di mata David Lewis, dengan "menang" di Poitiers, Eropa kehilangan 300 tahun kesempatan untuk lebih awal mencapai tingkat ekonomi, ilmiah, dan budaya yang dicapainya pada abad ke-13. Pertempuran Poitiers malah menjadi momen penting bagi penciptaan Eropa yang terbelakang, terbalkanisasi, dan terpecah-pecah. Juga Eropa yang menarik garis pemisah tajam dengan Islam. Semenanjung Iberia, yang pesonanya membuat kaum muslim menyebutnya Al-Andalus, di mata Lewis, menawarkan kemungkinan bagi Eropa untuk ikut menikmati kemajuan peradaban lebih dini. Di bawah kepemimpinan Abd al-Rahman I—menjadi gubernur 24 tahun setelah Poitiers—Al-Andalus tumbuh menjadi negeri tempat seni, pertanian, sains, dan arsitektur bersemai sangat baik. la berhasil membangun negeri dengan spirit convivencia yang mendamaikan hidup orang Kristen, Islam, dan Yahudi, bahkan hingga empat abad kemudian. Kaum muslim telah membawakan salah satu revolusi terbesar dalam kekuasaan, agama, budaya, dan kemakmuran ke Eropa Zaman Kegelapan. Andalusia pintunya. Begitu yakin Lewis menulis, "Pada malam kedatangan Islam di Benua Eropa lewat pendaratan Tariq ibn Ziyad di Iberia, per¬adaban Eropa hanya—dan, memang, tak lebih dari—sebuah kemungkinan." Institusi yang diperlukan untuk pembentukan budaya, stabilitas politik, dan vitalitas ekonomi belum tercipta atau telah terdegradasi sehingga tak dapat dihidupkan kembali. Bangsa Prancis dan kepausan, tonggak pendiri Eropa masa depan, menurut Lewis, adalah entitas in utero ketika fajar muslim merebak di Semenanjung Iberia. Ketika muslim Andalusia membangun kota yang indah, kaum Frank masih tinggal di hutan yang lebat. Tatkala kaum muslim sudah bertukar mata uang perak dan berdagang sutra, kaum Frank masih bertumpu pada barter. Di saat muslim mengunjungi salon, membaca puisi, dan memperbincangkan gagasan, Pippin si Pendek—anak Charles Martel—masih menerima duta kerajaan lain di tempat yang dipenuhi "kulit beruang, timbunan senjata, dengkur anjing, potongan tulang, dan teko anggur". Andalusia mengembangkan pengetahuan yang jadi dasar bagi Eropa untuk bangun dari kegelapan. "Ini proses osmosis peniruan pada awalnya," tulis Lewis, "dan kemudian seperti sabuk berjalan." Pada abad ke-12, Ibn Rusyd menulis komentarnya atas Aristoteles, menjalankan tugas rekonsiliasi nalar dengan keyakinan untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Thomas Aquinas, yang karyanya menjadi basis filsafat Barat sejak abad ke-13, sangat berutang budi kepada pembacaan Ibn Rusyd. Dengan menulis The Greatness of Al-Andalus, Lewis menarik garis paralelitas historis. "Bagi sejarawan, berpikir tentang masa kini berarti berpikir tentang masa lalu di masa kini," ujarnya. Inilah buah renungan seorang sarjana Barat perihal sepotong sejarah yang barangkali tampak terlalu silam untuk dibicarakan sekaitan dengan kekhawatiran postmodern kita saat ini. Meskipun begitu, seperti kata Lewis, keterhubungan sebagian besar dunia muslim dengan Eropa dan Amerika Serikat saat ini dapat disejajarkan dengan keterhubungan dunia Kristen yang terbelakang pada masa silam dengan sebuah Islam yang sangat canggih pada zaman itu. The Greatness menawarkan pengisahan yang kaya, dengan cerita pergulatan kuasa yang memukau. Pembaca seyogianya berhati-hati agar tak tersesat dalam belantara detail dan kehilangan jejak narasi besar yang dituturkan Lewis. DIANBASUKI. PENULIS BLOGDI TEMPO.CO Detail Buku Judul : The Greatness of Al-Andalus ISBN : 978-979-024-330-9 Author :&amp;nbsp;David Levering Lewis Terbit : Oktober 2012 Halaman : 676 Kertas : Bookpaper Ukuran : 15 x 23 cm Pemesanan :&amp;nbsp;http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/the-greatness-of-al-andalus.html</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Eropa berutang budi kepada Andalusia. Akan seperti apa Eropa jika ditaklukkan kaum muslim pada 711? DUA puluh satu tahun setelah Tariq ibn Ziyad mengarungi Selat Gibraltar dan menaklukkan Semenanjung Iberia (711 Masehi)—Spanyol kini—Abd al-Rahman al-Ghafiqi meneruskan derap langkah pendahulunya itu. la menuju Pyrenees, Francis sekarang, tapi geraknya dihentikan Charles Martel, yang memimpin kaum Frank, lewat pertempuran sengit di Poitiers. Apa yang terjadi bila langkah Al-Ghariqi tak terbendung? Edward Gibbon, sejarawan abad ke-18, menulis, "Mungkin tafsir Al-Quran akan diajarkan di sekolah-sekolah Oxford." Kemungkinan itu tidak terwujud. Langkah Al-Ghafiqi terhenti dan sejarawan Barat menyanjung Martel sebagai penyelamat kekristenan serta penentu takdir Barat. Diikuti kemartiran Roland de Roncevaux hampir setengah abad kemudian, inilah momen awal pembentukan identitas yang disebut seorang imam Spanyol abad ke-8 sebagai "Europenses". Tak dapat disangkal, sebagian besar sejarah memang ditulis para pemenang, dan dalam pertempuran Poitiers, pemenang itu kaum "Europenses". Tapi, di mata David Lewis, dengan "menang" di Poitiers, Eropa kehilangan 300 tahun kesempatan untuk lebih awal mencapai tingkat ekonomi, ilmiah, dan budaya yang dicapainya pada abad ke-13. Pertempuran Poitiers malah menjadi momen penting bagi penciptaan Eropa yang terbelakang, terbalkanisasi, dan terpecah-pecah. Juga Eropa yang menarik garis pemisah tajam dengan Islam. Semenanjung Iberia, yang pesonanya membuat kaum muslim menyebutnya Al-Andalus, di mata Lewis, menawarkan kemungkinan bagi Eropa untuk ikut menikmati kemajuan peradaban lebih dini. Di bawah kepemimpinan Abd al-Rahman I—menjadi gubernur 24 tahun setelah Poitiers—Al-Andalus tumbuh menjadi negeri tempat seni, pertanian, sains, dan arsitektur bersemai sangat baik. la berhasil membangun negeri dengan spirit convivencia yang mendamaikan hidup orang Kristen, Islam, dan Yahudi, bahkan hingga empat abad kemudian. Kaum muslim telah membawakan salah satu revolusi terbesar dalam kekuasaan, agama, budaya, dan kemakmuran ke Eropa Zaman Kegelapan. Andalusia pintunya. Begitu yakin Lewis menulis, "Pada malam kedatangan Islam di Benua Eropa lewat pendaratan Tariq ibn Ziyad di Iberia, per¬adaban Eropa hanya—dan, memang, tak lebih dari—sebuah kemungkinan." Institusi yang diperlukan untuk pembentukan budaya, stabilitas politik, dan vitalitas ekonomi belum tercipta atau telah terdegradasi sehingga tak dapat dihidupkan kembali. Bangsa Prancis dan kepausan, tonggak pendiri Eropa masa depan, menurut Lewis, adalah entitas in utero ketika fajar muslim merebak di Semenanjung Iberia. Ketika muslim Andalusia membangun kota yang indah, kaum Frank masih tinggal di hutan yang lebat. Tatkala kaum muslim sudah bertukar mata uang perak dan berdagang sutra, kaum Frank masih bertumpu pada barter. Di saat muslim mengunjungi salon, membaca puisi, dan memperbincangkan gagasan, Pippin si Pendek—anak Charles Martel—masih menerima duta kerajaan lain di tempat yang dipenuhi "kulit beruang, timbunan senjata, dengkur anjing, potongan tulang, dan teko anggur". Andalusia mengembangkan pengetahuan yang jadi dasar bagi Eropa untuk bangun dari kegelapan. "Ini proses osmosis peniruan pada awalnya," tulis Lewis, "dan kemudian seperti sabuk berjalan." Pada abad ke-12, Ibn Rusyd menulis komentarnya atas Aristoteles, menjalankan tugas rekonsiliasi nalar dengan keyakinan untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Thomas Aquinas, yang karyanya menjadi basis filsafat Barat sejak abad ke-13, sangat berutang budi kepada pembacaan Ibn Rusyd. Dengan menulis The Greatness of Al-Andalus, Lewis menarik garis paralelitas historis. "Bagi sejarawan, berpikir tentang masa kini berarti berpikir tentang masa lalu di masa kini," ujarnya. Inilah buah renungan seorang sarjana Barat perihal sepotong sejarah yang barangkali tampak terlalu silam untuk dibicarakan sekaitan dengan kekhawatiran postmodern kita saat ini. Meskipun begitu, seperti kata Lewis, keterhubungan sebagian besar dunia muslim dengan Eropa dan Amerika Serikat saat ini dapat disejajarkan dengan keterhubungan dunia Kristen yang terbelakang pada masa silam dengan sebuah Islam yang sangat canggih pada zaman itu. The Greatness menawarkan pengisahan yang kaya, dengan cerita pergulatan kuasa yang memukau. Pembaca seyogianya berhati-hati agar tak tersesat dalam belantara detail dan kehilangan jejak narasi besar yang dituturkan Lewis. DIANBASUKI. PENULIS BLOGDI TEMPO.CO Detail Buku Judul : The Greatness of Al-Andalus ISBN : 978-979-024-330-9 Author :&amp;nbsp;David Levering Lewis Terbit : Oktober 2012 Halaman : 676 Kertas : Bookpaper Ukuran : 15 x 23 cm Pemesanan :&amp;nbsp;http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/the-greatness-of-al-andalus.html</itunes:summary><itunes:keywords>Sejarah</itunes:keywords></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2204089003186069567.post-1760928764978594948</guid><pubDate>Tue, 18 Feb 2014 12:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-02-19T05:19:51.591+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Agus Sunyoto</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Lkis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Spiritual</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suluk Abdul Jalil</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Syekh Siti Jenar &amp; Suluk Nusantara</category><title>Syekh Siti Jenar &amp; Suluk Nusantara</title><description>&lt;h1 class="contentheading clearfix" style="border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px 0px 5px;"&gt;
&lt;span style="background-color: white; border: 0px; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;div style="background-color: transparent; border: 0px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEir71fknsPj8pyd95iQ_aiNBl-DF2q5IW2noyx9-3j6liwehRdtvE6NakiOBI0Nhf3CtJrbwpwIFdMVNyjUXi2qwgQKr4S46XttcSBK0DTqH3nlCnqsXT1VquEGBThWCKqIEjrdUT9z_9M/s400/Gambar+Syekh+Siti+Jenar.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEir71fknsPj8pyd95iQ_aiNBl-DF2q5IW2noyx9-3j6liwehRdtvE6NakiOBI0Nhf3CtJrbwpwIFdMVNyjUXi2qwgQKr4S46XttcSBK0DTqH3nlCnqsXT1VquEGBThWCKqIEjrdUT9z_9M/s400/Gambar+Syekh+Siti+Jenar.jpeg" height="200" width="141" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Belakangan ini, banyak studi tentang Siti Jenar meramaikan semarak tasawuf di negeri kita. Salah satunya, Novel Suluk Abdul Jalil, Perjalanan Ruhani Syeh Siti Jenar (LKiS, 2003) karya Agus Sunyoto. Cover dari&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, Times New Roman, Times, serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&amp;nbsp;novel tujuh jilid tersebut cukup menarik. Ada seorang pakaian putih, berkerudung daun pisang. Kepalanya tak tampak karena tertutup kerudung daun itu. Sungguh mistik, semistik kandungan isinya. Ia menggambarkan sebuah perjalanan sunyi spiritual (suluk) yang tidak harus diketahui orang, atau bahkan disesatkan masyarakat sekalipun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
Yang menarik, novel hasil riset ini merujuk kepada teks Jawa-Baratan yang melihat Siti Jenar lebih manusiawi. Hal yang berbeda dengan mitos di Jawa-Tengahan. Di belahan ini, Siti Jenar dianggap evolusi mistis dari cacing yang "mencuri ilmu" pengajaran Sunan Bonang&amp;nbsp;atas Sunan Kalijaga. Menarik, karena Agus Sunyoto mampu menemukan aspek gerakan politik egalitarian yang mengobrak-abrik feodalisme Rajadewa di Jawa. Satu pembaruan politik yang mungkin sangat modern, karena wahdatul wujud kemudian melahirkan kontrak sosial selayak demokrasi klasik.&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both;" /&gt;
Apakah ini yang membuat ajaran Siti Jenar disesatkan? Betulkah ia melampaui syari'at? Kenapa harus bersitegang dengan Walisongo, dan benarkah ketegangan itu? Bukankah Dewan Wali juga sudah mencapai maqam manunggaling kawula gusti? Dan bagaimana aplikasi ajaran Siti Jenar terhadap kegersangan spiritual urban di era materialistik ini? Berikut ini wawancara Cahaya Sufi dengan salah satu pendekar peradaban Nusantara asal Surabaya, yang sangat hafal lekuk sejarah, bahasa, dan kebudayaan Hindu-Jawa tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Sejak kapan mas Agus melakukan riset tentang Siti Jenar, dan kenapa memilih tokoh ini sebagai objek riset? Adakah momen spiritual spesial, yang menggerakkan mas untuk menulis novel Siti Jenar?&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Saya mulai kenal nama Syaikh Siti Jenar (SSJ) sejak kakek saya bercerita tentang tokoh tersebut. Kakek orang asal desa Ploso, Jombang, santri Tebuireng angkatan pertama. Kakek saya cerita kalau ajaran SSJ beliau peroleh dari KH Hasyim Asy'ari. Sejak menulis cerbung Kyai Ageng Badar Wonosobo di Jawa Pos tahun 1987-1988, saya sudah ngumpulkan data tentang SSJ.&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both;" /&gt;
Penelitian intensif saya terhadap ajaran SSJ lewat Thariqat Akmaliyyah saya&amp;nbsp; mulai tahun 1999. Momentum saya nulis cerita&amp;nbsp; SSJ dipicu oleh&amp;nbsp; terjadinya peristiwa&amp;nbsp; 2 November 2001 yang 'melukai' jiwa saya. Saat itu saya diundang teman-teman aktivis NU di Jogja untuk bicara geopolitik-geostrategi pasca jatuhnya Gus Dur. Dalam acara itu, saya dapati sekulerisme dan rasionalisme yang empirik materialistik sangat menguasai cara pandang anak-anak muda NU. Mereka lebih yakin kebenaran gagasan Karl Marx, Georg Lukac, Antonio Gramsci, Jacques&amp;nbsp; Derrida dalam filsafat dan teori-teori&amp;nbsp; sosial daripada kebenaran&amp;nbsp; agama. Bahkan mereka anggap term-term iman dan taqwa dalam perubahan sosial sebagai 'takhayul' yang tidak bisa dijadikan pijakan analisis sosial.&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both;" /&gt;
Saat itu saya terilhami untuk memberi alternatif teoritik dalam filsafat dan perubahan sosial yang khas Nusantara kepada anak-anak muda NU ini, yaitu momentum sejarah di era Walisongo yang dimotori SSJ. Dari 7 jilid buku SSJ yang saya tulis, konsep filosofis dan sosiologi saya tuang di buku 3-4-5 dengan titel Sang Pembaharu. Jadi lewat buku SSJ saya memberi alternatif pilihan bagi kawan-kawan aktivis NU dalam penggunaan teori sosial dengan asumsi dasar, paradigma, dogma, doktrin, mitos yang khas Nusantara-Islam (maaf, selama ini orang Indonesia yang dididik di sekolah&amp;nbsp; selalu mengekor teori-teori Barat &amp;amp; tidak mampu membangun teori sendiri). &amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Jika ini riset, kenapa dituangkan dalam bentuk novel? Apakah penulisan ilmiah kognitif tidak memadai bagi pengalaman spiritual?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;Konsep penulisan ilmiah kognitif adalah hegemoni Barat dalam pengetahuan. Saya menolak itu. Sebab konsep itu hanya berpijak pada ilmu akal (rasio). Sementara pengetahuan Islam dan Timur, mengenal dua sistem pengetahuan:&lt;br /&gt;
1) Ilmu Akal/Nalar yang berpusat di otak manusia;&lt;br /&gt;
2) Ilmu Qalbu/ Kaweruh yang berpusat di qalbu manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both;" /&gt;
Sepanjang saya pelajari sejarah, hampir semua naskah dari era Kalingga sampai Majapahit menggunakan bahasa sastra seperti&lt;/div&gt;
&lt;ol style="background-color: white; border: 0px; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin: 15px 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;li style="background-color: transparent; border: 0px; line-height: 1.4; margin: 0px 0px 0px 30px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Perjalanan Hayam Wuruk dalam reportase Pu Prapanca yang diberi judul Negarakertagama ditulis dalam bahasa sastra;&lt;/li&gt;
&lt;li style="background-color: transparent; border: 0px; line-height: 1.4; margin: 0px 0px 0px 30px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Sejarah Perang Bubat ditulis dalam bahasa kidung;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li style="background-color: transparent; border: 0px; line-height: 1.4; margin: 0px 0px 0px 30px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Penegakan awal&amp;nbsp; Majapahit hingga pemberontakan Ranggalawe ditulis dalam sastra yaitu Kidung Panjiwijayakrama yang isinya identik dengan isi&amp;nbsp; prasasti2; di kitab ketatanegaraan seperti Nitipraja ditulis dalam bentuk sastra. Hanya KUHP seperti Kutara Manawa yang ditulis tidak dalam bahasa sastra.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
Lewat institusi&amp;nbsp; sekolah, Barat sudah menghegemoni pikiran kita, dengan asumsi dasar bahwa karya-karya sastra adalah karya imajiner yang tidak ilmiah. Ini sangat hegemonik dan konyol, karena karya-karya fiksi seperti Republic yang ditulis Plato, The Utopian Island yang ditulis Thomas Moore, City of The Sun yang ditulis Tomasso Campanella, Also Sprach Zaratushtra yang ditulis Nietzsche, bahkan teori Karl Marx yang imajiner tentang masyarakat komunis dianggap karya filsafat. Sementara kalau karya reportase, sejarah, tatanegara, filsafat, hukum&amp;nbsp; ditulis dalam bentuk sastra oleh bangsa kulit berwarna dinilai karya imajiner. Itu ras diskriminasi. Kita yang bodoh dan bermental inlander saja yang menerima dan mengekor pandangan Barat itu dengan membuta. Jadi sebagai seorang yang sadar akan eksistensi diri manusia merdeka,&amp;nbsp; saya tulis hasil penelitian saya dalam bentuk novel sebagai resistensi saya terhadap hegemoni Barat dan sekaligus membangkitkan budaya lama Nusantara. Lantaran itu karya-karya novel saya selalu disertai exegese dan daftar pustaka. Dan ternyata, masyarakat Nusantara&amp;nbsp; lebih mudah memahami penjelasan lewat bahasa sehari-hari yang saya sampaikan daripada jika saya gunakan bahasa ilmiah ala Barat (baca novel saya Rahuvana Tattwa).&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both;" /&gt;
&lt;span style="border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Apa penemuan baru yang mas temukan dalam riset tersebut, mengingat Siti Jenar merupakan simbol kontroversi dalam sejarah tasawuf kita? Apakah ia sebatas mitos, yang ditulis untuk menggambarkan pergulatan kebudayaan Islam Jawa, ataukah sebagai person sejarah, ia nyata ada?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Karena penelitian yang saya lakukan menggunakan pendekatan kualitatif yang sebenarnya sudah digunakan sarjana-sarjana muslim di masa silam, maka obyek-subyek yang saya teliti adalah tarikat-tarikat yang menisbatkan ajaran kepada SSJ. Itu berarti, SSJ bukan tokoh fiktif karena meninggalkan ajaran tarikat yang riil diikuti masyarakat hingga di jaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both;" /&gt;
Temuan saya yang unik tentang ajaran tarikat SSJ itu, sbb:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;ol style="background-color: white; border: 0px; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin: 15px 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;li style="background-color: transparent; border: 0px; line-height: 1.4; margin: 0px 0px 0px 30px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;tidak ada mursyid dalam wujud manusia karena mursyid ada di dalam ruhani manusia (seperti konsep Dewaruci dalam ajaran Sunan Kalijaga);&lt;/li&gt;
&lt;li style="background-color: transparent; border: 0px; line-height: 1.4; margin: 0px 0px 0px 30px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;menafikan semua pengkultusan terhadap manusia, benda-benda bertuah, makam-makam keramat,&amp;nbsp; dan makhluk gaib;&lt;/li&gt;
&lt;li style="background-color: transparent; border: 0px; line-height: 1.4; margin: 0px 0px 0px 30px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;tidak mengenal konsep jama'ah dalam mujahadah sehingga dilakukan sendiri-sendiri karena itu ajaran&amp;nbsp; jadi tertutup dan terrahasia;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li style="background-color: transparent; border: 0px; line-height: 1.4; margin: 0px 0px 0px 30px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;mengajarkan filsafat sebagai ilmu akal dalam memahami konsep Tauhid untuk memulai perjalanan ruhani sebagai pijakan awal dalam memasuki ajaran ruhani yang hanya menggunakan ilmu qalb;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li style="background-color: transparent; border: 0px; line-height: 1.4; margin: 0px 0px 0px 30px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;SSJ tidak mengajarkan cara menuju surga maupun menghindari neraka karena keduanya dianggap makhluk, sehingga inti ajarannya hanya terfokus pada bagaimana cara menuju Allah;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li style="background-color: transparent; border: 0px; line-height: 1.4; margin: 0px 0px 0px 30px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;tidak ada doa-doa dan wirid-wirid maupun hizb yang memberi peluang pamrih bagi manusia untuk meminta nikmat kepada Allah;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li style="background-color: transparent; border: 0px; line-height: 1.4; margin: 0px 0px 0px 30px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;SSJ hanya mengajarkan dzikir dan tanafus dalam rangka menuju Allah. Saya kira, dengan ciri-ciri ini, wajar jika ajaran SSJ jadi kontroversial dalam sejarah tasawuf di Nusantara.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
Mohon penjelasan tentang ajaran Siti Jenar, terkait sasahidan, sangkan paraning dumadi, awang-uwung, dan manuggaling kawula gusti.&lt;br /&gt;
Yang dimaksud Sasahidan adalah ajaran tentang&amp;nbsp; persaksian dalam perjalanan ruhani mendaki (taraqqi) menuju Allah. Persaksian al-murid menuju Al-Murid melalui maqam-maqam.&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both;" /&gt;
Puncak dari&amp;nbsp; persaksian adalah saat keakuan seseorang sudah lenyap (fana') tenggelam&amp;nbsp; dalam Allah.&amp;nbsp; Saat itulah&amp;nbsp;&amp;nbsp; seluruh makhluk mempersaksikan bahwa keakuan yang lenyap itu telah bersemayam di dalam Dzat Tuhan Yang Mahasuci dan karenanya memiliki sifat-sifat Ilahi. Itulah tahap penyatuan Ruh Ilahi&amp;nbsp; yang bersemayam di dalam diri manusia saat ditiupkan (nafakhtu)&amp;nbsp; pada waktu penciptaan dengan Allah yang meniupkan-Nya. Itulah tahap kembalinya Ruh al-Haqq kepada Al-Haqq.&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both;" /&gt;
Itulah tahap puncak kembalinya unsur Ilahiyyah di dalam diri manusia (Ruh al-Haqq) kepada Sang Pencipta (ini tidak bisa dijabarkan secara ilmiah karena merupakan pengalaman ruhani yang tak terwakili oleh bahasa manusia. Ini sama dengan peristiwa ruhani Isra' wa Mi'raj yang tidak bisa dijabarkan secara ilmiah).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
Yang dimaksud Sangkan Paraning Dumadi adalah ajaran yang memutlakkan Huwa sebagai Dzat Mutlak yang Azali yang menjadi Sumber segala sumber penciptaan. Huwa itu tak terjangkau akal. Tak terjabarkan konsep. Tak terbandingkan. Huwa adalah Huwa. Tan kena kinaya ngapa. Tidak bisa diapa-apakan. Laisa kamitslihi syai'un. Dia dilambangkan dengan Suwung. Hampa. Tetapi bukan hampa yang tidak ada melainkan Ada tetapi tak tergambarkan. Karena itu lambang Suwung itu disebut juga Awang-Uwung. Ada tetapi tidak ada. Tidak ada tetapi Ada. Huwa yang tak terjangkau itu kemudian muncul sebagai Pribadi Ilahi, Allah, yang&amp;nbsp; dikenal Sifat dan&amp;nbsp; Asma-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both;" /&gt;
Pribadi Ilahi yang disebut Allah itulah Yang menjadi Pusat segala ciptaan di mana segala ciptaan pada dasarnya adalah 'pemunculan' dari Dzat, Sifat, Asma, Af'al dari Sang Pencipta. Proses 'pemunculan' itu diyakini melalui tujuh tahap tanazzul : Haahuut - Laahuut - Jabaruut - Malakuut&amp;nbsp; - Asmaa' --&amp;nbsp; Nasuut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Apakah segenap ajaran tersebut merupakan elaborasi atas bentuk mistik Ibn 'Arabi (wahdatul wujud) dan martabat tujuh (al-maratib al-sab'ah) milik al-Burhanpuri? Apakah ia memang terkonstruk dalam terma tasawuf falsafi yang dekat dengan Syi'ah?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Saya belum meneliti hubungan ajaran SSJ dengan Ibnu Araby, Burhanpuri maupun Syi'ah. Namun merujuk silsilah Tarikat Akmaliyyah yang berpuncak pada Abu Bakar as-Shiddiq dan watak tarikatnya yang egaliter, saya tidak melihat hubungan tarikat SSJ dengan tasawuf&amp;nbsp; Syi'ah.&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both;" /&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Adakah proses akulturasi antara Islam dan mistik Hindu-Jawa dalam tasawuf Jenar?&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Sepanjang yang saya tahu, mistik Hindu-Jawa penuh dengan perangkat ritual dengan banyak simbol-simbol dalam upacara bersifat mistis. Sementara ajaran tarikat SSJ 'bersih' dari simbol dan upacara ritual bersifat mistis. Tarikat SSJ sangat ringkas. Aplikatif. Tidak dikenal dewa-dewa sebagai perantara menuju Sang Mahadewa. Tidak dikenal juga wasilah melalui&amp;nbsp; wali-wali keramat. Yang dikenal adalah hubungan langsung dari manusia sebagai individu menuju Allah dengan satu-satunya wasilah: Nur Muhammad.&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both;" /&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Kontroversi nyata yang mengiringi ajaran Siti Jenar adalah tuduhan "abai syari'at". Jika sudah manunggal, maka syari'at tak dibutuhkan lagi. Apakah betul? Mohon penjelasan hubungan antara syari'at dan hakikat dalam tasawuf Siti Jenar.&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Tuduhan "mengabaikan syariat" sangat lekat dengan ajaran SSJ. Itu terkait dengan prinsip disiplin keilmuan yang harus dipilahkan secara tegas. Maksudnya, disiplin syariat atau lebih spesifik ilmu fiqih tidak boleh digunakan memaknai dan&amp;nbsp; menilai ilmu tasawuf.&amp;nbsp; Sebab piranti pengetahuan, asumsi dasar, paradigma, dogma, doktrin, dan mitos&amp;nbsp; masing disiplin&amp;nbsp; sangat berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both;" /&gt;
Dalam disiplin ilmu tasawuf, misal, ajaran SSJ menganut faham wahdatul adyan (kesatuan agama-agama) di mana&amp;nbsp; semua&amp;nbsp; agama sejatinya adalah berasal dari Tuhan dan orang seorang menganut agama tertentu karena kehendak Tuhan semata. Dengan pandangan itu, murid-murid SSJ dalam agama formal tetap ada yang Hindu dan Buddha maupun Kapitayan. Kepada mereka tentu saja SSJ tidak memerintahkan untuk menjalankan syariat Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both;" /&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Jika ada yang tanya kenapa SSJ tidak mensyaratkan semua muridnya Islam?&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Itulah pandangan ulama sufi yang tidak sederhana untuk dinilai dengan kacamata fiqih. Selain itu,&amp;nbsp; para pengikut SSJ memandang bahwa ketentuan syariat yang diwajibkan atas manusia tidak bersifat mutlak. Semua hal yang bukan Tuhan selalu nisbi.&amp;nbsp; Demikian juga syariat. Orang gila, anak belum baligh, orang pingsan, orang tidur, orang tidak sempurna akalnya, orang idiot, orang hilang ingatan, orang linglung, misal,&amp;nbsp; pasti tidak kena hukum wajib syariat. Karena itu, pada saat seseorang dalam perjalanan ruhani tenggelam ke dalam Tauhid (fanaa fii Tauhid) yang berarti hilang kesadaran jati dirinya, lenyap keakuannya, tidak kena hukum syariat. Bagaimana dia bisa menjalankan syariat sedang dirinya sendiri saja dia tidak sadar. Tetapi manakala orang sudah sadar kembali dari keadaan lupa diri (karena hanya ingat Allah saja) dan hidup bermasyarakat, maka wajib bagi dia mengikuti&amp;nbsp; syariat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ.&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both;" /&gt;
Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur. Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 24px; line-height: 1.2;"&gt;
&lt;span style="border: 0px; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Terkait dengan pertanyaan diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati) oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih kepada kepentingan politik rezim Demak?&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px;"&gt;SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya,&amp;nbsp; lebih disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu jauhnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px;"&gt;Proses politisasi&amp;nbsp; itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan&amp;nbsp; skenario yang mirip. Apa bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti anjing. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px;" /&gt;
&lt;span style="border: 0px; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px;"&gt;Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px;" /&gt;
&lt;span style="border: 0px; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut "disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang paling terusik?&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px;"&gt;Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang&amp;nbsp; harus menggunakan kata ganti Kula atau&amp;nbsp; Kawula (Jawa), Abdi (Sunda), saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan&amp;nbsp; di hadapan raja, orang&amp;nbsp; harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing). Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah Arab musyarakah (orang sederajat&amp;nbsp; yang bekerja sama)menggantikan komunitas "kawula"&amp;nbsp; (budak)&amp;nbsp; di desa-desa Lemah Abang benar-benar membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px;" /&gt;
&lt;span style="font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px;"&gt;Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px;" /&gt;
&lt;span style="border: 0px; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat kota?&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px;"&gt;Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram&amp;nbsp; dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya&amp;nbsp; bisa diamalkan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style="clear: both; font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px;" /&gt;
&lt;span style="font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px;"&gt;Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam. Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung&amp;nbsp; yang meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena ia merasa selalu&amp;nbsp; diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 24px; line-height: 1.2;"&gt;
&lt;span style="font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; line-height: 1.2;"&gt;
&lt;span style="font-size: 14px; font-weight: normal; line-height: 20.700000762939453px;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small; line-height: 20.700000762939453px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small; line-height: 20.700000762939453px;"&gt;&lt;u&gt;www.sufinews.com&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: 24px; line-height: 1.2;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, 'Times New Roman', Times, serif; font-size: small; line-height: 1.2;"&gt;&lt;span style="background-color: white; font-weight: normal;"&gt;Bagi sahabat yang berminat pesan buku "&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Suluk Abdul&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; font-weight: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Jalil&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; font-weight: normal;"&gt; komplit seri 1-7, silakan SMS/WA : &lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: lime; font-weight: normal;"&gt;081393725615&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;. Atau Order online di &lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;a href="http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/suluk-abdul-jalil-perjalanan-ruhani.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, Cambria, Times New Roman, Times, serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small; line-height: 19.200000762939453px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/h1&gt;
</description><link>http://kumpulanresensibuku.blogspot.com/2014/02/syekh-siti-jenar-suluk-nusantara.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEir71fknsPj8pyd95iQ_aiNBl-DF2q5IW2noyx9-3j6liwehRdtvE6NakiOBI0Nhf3CtJrbwpwIFdMVNyjUXi2qwgQKr4S46XttcSBK0DTqH3nlCnqsXT1VquEGBThWCKqIEjrdUT9z_9M/s72-c/Gambar+Syekh+Siti+Jenar.jpeg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><enclosure length="21677" type="image/jpeg" url="http://2.bp.blogspot.com/-bGE1aKCN14w/T6mT8Fz3vMI/AAAAAAAAAAs/XMK99p62aGA/s400/Gambar+Syekh+Siti+Jenar.jpeg"/><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Belakangan ini, banyak studi tentang Siti Jenar meramaikan semarak tasawuf di negeri kita. Salah satunya, Novel Suluk Abdul Jalil, Perjalanan Ruhani Syeh Siti Jenar (LKiS, 2003) karya Agus Sunyoto. Cover dari &amp;nbsp;novel tujuh jilid tersebut cukup menarik. Ada seorang pakaian putih, berkerudung daun pisang. Kepalanya tak tampak karena tertutup kerudung daun itu. Sungguh mistik, semistik kandungan isinya. Ia menggambarkan sebuah perjalanan sunyi spiritual (suluk) yang tidak harus diketahui orang, atau bahkan disesatkan masyarakat sekalipun. Yang menarik, novel hasil riset ini merujuk kepada teks Jawa-Baratan yang melihat Siti Jenar lebih manusiawi. Hal yang berbeda dengan mitos di Jawa-Tengahan. Di belahan ini, Siti Jenar dianggap evolusi mistis dari cacing yang "mencuri ilmu" pengajaran Sunan Bonang&amp;nbsp;atas Sunan Kalijaga. Menarik, karena Agus Sunyoto mampu menemukan aspek gerakan politik egalitarian yang mengobrak-abrik feodalisme Rajadewa di Jawa. Satu pembaruan politik yang mungkin sangat modern, karena wahdatul wujud kemudian melahirkan kontrak sosial selayak demokrasi klasik. Apakah ini yang membuat ajaran Siti Jenar disesatkan? Betulkah ia melampaui syari'at? Kenapa harus bersitegang dengan Walisongo, dan benarkah ketegangan itu? Bukankah Dewan Wali juga sudah mencapai maqam manunggaling kawula gusti? Dan bagaimana aplikasi ajaran Siti Jenar terhadap kegersangan spiritual urban di era materialistik ini? Berikut ini wawancara Cahaya Sufi dengan salah satu pendekar peradaban Nusantara asal Surabaya, yang sangat hafal lekuk sejarah, bahasa, dan kebudayaan Hindu-Jawa tersebut. Sejak kapan mas Agus melakukan riset tentang Siti Jenar, dan kenapa memilih tokoh ini sebagai objek riset? Adakah momen spiritual spesial, yang menggerakkan mas untuk menulis novel Siti Jenar?&amp;nbsp; Saya mulai kenal nama Syaikh Siti Jenar (SSJ) sejak kakek saya bercerita tentang tokoh tersebut. Kakek orang asal desa Ploso, Jombang, santri Tebuireng angkatan pertama. Kakek saya cerita kalau ajaran SSJ beliau peroleh dari KH Hasyim Asy'ari. Sejak menulis cerbung Kyai Ageng Badar Wonosobo di Jawa Pos tahun 1987-1988, saya sudah ngumpulkan data tentang SSJ. Penelitian intensif saya terhadap ajaran SSJ lewat Thariqat Akmaliyyah saya&amp;nbsp; mulai tahun 1999. Momentum saya nulis cerita&amp;nbsp; SSJ dipicu oleh&amp;nbsp; terjadinya peristiwa&amp;nbsp; 2 November 2001 yang 'melukai' jiwa saya. Saat itu saya diundang teman-teman aktivis NU di Jogja untuk bicara geopolitik-geostrategi pasca jatuhnya Gus Dur. Dalam acara itu, saya dapati sekulerisme dan rasionalisme yang empirik materialistik sangat menguasai cara pandang anak-anak muda NU. Mereka lebih yakin kebenaran gagasan Karl Marx, Georg Lukac, Antonio Gramsci, Jacques&amp;nbsp; Derrida dalam filsafat dan teori-teori&amp;nbsp; sosial daripada kebenaran&amp;nbsp; agama. Bahkan mereka anggap term-term iman dan taqwa dalam perubahan sosial sebagai 'takhayul' yang tidak bisa dijadikan pijakan analisis sosial. Saat itu saya terilhami untuk memberi alternatif teoritik dalam filsafat dan perubahan sosial yang khas Nusantara kepada anak-anak muda NU ini, yaitu momentum sejarah di era Walisongo yang dimotori SSJ. Dari 7 jilid buku SSJ yang saya tulis, konsep filosofis dan sosiologi saya tuang di buku 3-4-5 dengan titel Sang Pembaharu. Jadi lewat buku SSJ saya memberi alternatif pilihan bagi kawan-kawan aktivis NU dalam penggunaan teori sosial dengan asumsi dasar, paradigma, dogma, doktrin, mitos yang khas Nusantara-Islam (maaf, selama ini orang Indonesia yang dididik di sekolah&amp;nbsp; selalu mengekor teori-teori Barat &amp;amp; tidak mampu membangun teori sendiri). &amp;nbsp; Jika ini riset, kenapa dituangkan dalam bentuk novel? Apakah penulisan ilmiah kognitif tidak memadai bagi pengalaman spiritual?&amp;nbsp;Konsep penulisan ilmiah kognitif adalah hegemoni Barat dalam pengetahuan. Saya menolak itu. Sebab konsep itu hanya berpijak pada ilmu akal (rasio). Sementara pengetahuan Islam dan Timur, mengenal dua sistem pengetahuan: 1) Ilmu Akal/Nalar yang berpusat di otak manusia; 2) Ilmu Qalbu/ Kaweruh yang berpusat di qalbu manusia. Sepanjang saya pelajari sejarah, hampir semua naskah dari era Kalingga sampai Majapahit menggunakan bahasa sastra seperti Perjalanan Hayam Wuruk dalam reportase Pu Prapanca yang diberi judul Negarakertagama ditulis dalam bahasa sastra; Sejarah Perang Bubat ditulis dalam bahasa kidung;&amp;nbsp; Penegakan awal&amp;nbsp; Majapahit hingga pemberontakan Ranggalawe ditulis dalam sastra yaitu Kidung Panjiwijayakrama yang isinya identik dengan isi&amp;nbsp; prasasti2; di kitab ketatanegaraan seperti Nitipraja ditulis dalam bentuk sastra. Hanya KUHP seperti Kutara Manawa yang ditulis tidak dalam bahasa sastra.&amp;nbsp; Lewat institusi&amp;nbsp; sekolah, Barat sudah menghegemoni pikiran kita, dengan asumsi dasar bahwa karya-karya sastra adalah karya imajiner yang tidak ilmiah. Ini sangat hegemonik dan konyol, karena karya-karya fiksi seperti Republic yang ditulis Plato, The Utopian Island yang ditulis Thomas Moore, City of The Sun yang ditulis Tomasso Campanella, Also Sprach Zaratushtra yang ditulis Nietzsche, bahkan teori Karl Marx yang imajiner tentang masyarakat komunis dianggap karya filsafat. Sementara kalau karya reportase, sejarah, tatanegara, filsafat, hukum&amp;nbsp; ditulis dalam bentuk sastra oleh bangsa kulit berwarna dinilai karya imajiner. Itu ras diskriminasi. Kita yang bodoh dan bermental inlander saja yang menerima dan mengekor pandangan Barat itu dengan membuta. Jadi sebagai seorang yang sadar akan eksistensi diri manusia merdeka,&amp;nbsp; saya tulis hasil penelitian saya dalam bentuk novel sebagai resistensi saya terhadap hegemoni Barat dan sekaligus membangkitkan budaya lama Nusantara. Lantaran itu karya-karya novel saya selalu disertai exegese dan daftar pustaka. Dan ternyata, masyarakat Nusantara&amp;nbsp; lebih mudah memahami penjelasan lewat bahasa sehari-hari yang saya sampaikan daripada jika saya gunakan bahasa ilmiah ala Barat (baca novel saya Rahuvana Tattwa). Apa penemuan baru yang mas temukan dalam riset tersebut, mengingat Siti Jenar merupakan simbol kontroversi dalam sejarah tasawuf kita? Apakah ia sebatas mitos, yang ditulis untuk menggambarkan pergulatan kebudayaan Islam Jawa, ataukah sebagai person sejarah, ia nyata ada? Karena penelitian yang saya lakukan menggunakan pendekatan kualitatif yang sebenarnya sudah digunakan sarjana-sarjana muslim di masa silam, maka obyek-subyek yang saya teliti adalah tarikat-tarikat yang menisbatkan ajaran kepada SSJ. Itu berarti, SSJ bukan tokoh fiktif karena meninggalkan ajaran tarikat yang riil diikuti masyarakat hingga di jaman ini. Temuan saya yang unik tentang ajaran tarikat SSJ itu, sbb:&amp;nbsp; tidak ada mursyid dalam wujud manusia karena mursyid ada di dalam ruhani manusia (seperti konsep Dewaruci dalam ajaran Sunan Kalijaga); menafikan semua pengkultusan terhadap manusia, benda-benda bertuah, makam-makam keramat,&amp;nbsp; dan makhluk gaib; tidak mengenal konsep jama'ah dalam mujahadah sehingga dilakukan sendiri-sendiri karena itu ajaran&amp;nbsp; jadi tertutup dan terrahasia;&amp;nbsp; mengajarkan filsafat sebagai ilmu akal dalam memahami konsep Tauhid untuk memulai perjalanan ruhani sebagai pijakan awal dalam memasuki ajaran ruhani yang hanya menggunakan ilmu qalb;&amp;nbsp; SSJ tidak mengajarkan cara menuju surga maupun menghindari neraka karena keduanya dianggap makhluk, sehingga inti ajarannya hanya terfokus pada bagaimana cara menuju Allah;&amp;nbsp; tidak ada doa-doa dan wirid-wirid maupun hizb yang memberi peluang pamrih bagi manusia untuk meminta nikmat kepada Allah;&amp;nbsp; SSJ hanya mengajarkan dzikir dan tanafus dalam rangka menuju Allah. Saya kira, dengan ciri-ciri ini, wajar jika ajaran SSJ jadi kontroversial dalam sejarah tasawuf di Nusantara. Mohon penjelasan tentang ajaran Siti Jenar, terkait sasahidan, sangkan paraning dumadi, awang-uwung, dan manuggaling kawula gusti. Yang dimaksud Sasahidan adalah ajaran tentang&amp;nbsp; persaksian dalam perjalanan ruhani mendaki (taraqqi) menuju Allah. Persaksian al-murid menuju Al-Murid melalui maqam-maqam. Puncak dari&amp;nbsp; persaksian adalah saat keakuan seseorang sudah lenyap (fana') tenggelam&amp;nbsp; dalam Allah.&amp;nbsp; Saat itulah&amp;nbsp;&amp;nbsp; seluruh makhluk mempersaksikan bahwa keakuan yang lenyap itu telah bersemayam di dalam Dzat Tuhan Yang Mahasuci dan karenanya memiliki sifat-sifat Ilahi. Itulah tahap penyatuan Ruh Ilahi&amp;nbsp; yang bersemayam di dalam diri manusia saat ditiupkan (nafakhtu)&amp;nbsp; pada waktu penciptaan dengan Allah yang meniupkan-Nya. Itulah tahap kembalinya Ruh al-Haqq kepada Al-Haqq. Itulah tahap puncak kembalinya unsur Ilahiyyah di dalam diri manusia (Ruh al-Haqq) kepada Sang Pencipta (ini tidak bisa dijabarkan secara ilmiah karena merupakan pengalaman ruhani yang tak terwakili oleh bahasa manusia. Ini sama dengan peristiwa ruhani Isra' wa Mi'raj yang tidak bisa dijabarkan secara ilmiah).&amp;nbsp; Yang dimaksud Sangkan Paraning Dumadi adalah ajaran yang memutlakkan Huwa sebagai Dzat Mutlak yang Azali yang menjadi Sumber segala sumber penciptaan. Huwa itu tak terjangkau akal. Tak terjabarkan konsep. Tak terbandingkan. Huwa adalah Huwa. Tan kena kinaya ngapa. Tidak bisa diapa-apakan. Laisa kamitslihi syai'un. Dia dilambangkan dengan Suwung. Hampa. Tetapi bukan hampa yang tidak ada melainkan Ada tetapi tak tergambarkan. Karena itu lambang Suwung itu disebut juga Awang-Uwung. Ada tetapi tidak ada. Tidak ada tetapi Ada. Huwa yang tak terjangkau itu kemudian muncul sebagai Pribadi Ilahi, Allah, yang&amp;nbsp; dikenal Sifat dan&amp;nbsp; Asma-Nya. Pribadi Ilahi yang disebut Allah itulah Yang menjadi Pusat segala ciptaan di mana segala ciptaan pada dasarnya adalah 'pemunculan' dari Dzat, Sifat, Asma, Af'al dari Sang Pencipta. Proses 'pemunculan' itu diyakini melalui tujuh tahap tanazzul : Haahuut - Laahuut - Jabaruut - Malakuut&amp;nbsp; - Asmaa' --&amp;nbsp; Nasuut. Apakah segenap ajaran tersebut merupakan elaborasi atas bentuk mistik Ibn 'Arabi (wahdatul wujud) dan martabat tujuh (al-maratib al-sab'ah) milik al-Burhanpuri? Apakah ia memang terkonstruk dalam terma tasawuf falsafi yang dekat dengan Syi'ah? Saya belum meneliti hubungan ajaran SSJ dengan Ibnu Araby, Burhanpuri maupun Syi'ah. Namun merujuk silsilah Tarikat Akmaliyyah yang berpuncak pada Abu Bakar as-Shiddiq dan watak tarikatnya yang egaliter, saya tidak melihat hubungan tarikat SSJ dengan tasawuf&amp;nbsp; Syi'ah. Adakah proses akulturasi antara Islam dan mistik Hindu-Jawa dalam tasawuf Jenar?&amp;nbsp; Sepanjang yang saya tahu, mistik Hindu-Jawa penuh dengan perangkat ritual dengan banyak simbol-simbol dalam upacara bersifat mistis. Sementara ajaran tarikat SSJ 'bersih' dari simbol dan upacara ritual bersifat mistis. Tarikat SSJ sangat ringkas. Aplikatif. Tidak dikenal dewa-dewa sebagai perantara menuju Sang Mahadewa. Tidak dikenal juga wasilah melalui&amp;nbsp; wali-wali keramat. Yang dikenal adalah hubungan langsung dari manusia sebagai individu menuju Allah dengan satu-satunya wasilah: Nur Muhammad. Kontroversi nyata yang mengiringi ajaran Siti Jenar adalah tuduhan "abai syari'at". Jika sudah manunggal, maka syari'at tak dibutuhkan lagi. Apakah betul? Mohon penjelasan hubungan antara syari'at dan hakikat dalam tasawuf Siti Jenar.&amp;nbsp; Tuduhan "mengabaikan syariat" sangat lekat dengan ajaran SSJ. Itu terkait dengan prinsip disiplin keilmuan yang harus dipilahkan secara tegas. Maksudnya, disiplin syariat atau lebih spesifik ilmu fiqih tidak boleh digunakan memaknai dan&amp;nbsp; menilai ilmu tasawuf.&amp;nbsp; Sebab piranti pengetahuan, asumsi dasar, paradigma, dogma, doktrin, dan mitos&amp;nbsp; masing disiplin&amp;nbsp; sangat berbeda. Dalam disiplin ilmu tasawuf, misal, ajaran SSJ menganut faham wahdatul adyan (kesatuan agama-agama) di mana&amp;nbsp; semua&amp;nbsp; agama sejatinya adalah berasal dari Tuhan dan orang seorang menganut agama tertentu karena kehendak Tuhan semata. Dengan pandangan itu, murid-murid SSJ dalam agama formal tetap ada yang Hindu dan Buddha maupun Kapitayan. Kepada mereka tentu saja SSJ tidak memerintahkan untuk menjalankan syariat Islam. Jika ada yang tanya kenapa SSJ tidak mensyaratkan semua muridnya Islam?&amp;nbsp;Itulah pandangan ulama sufi yang tidak sederhana untuk dinilai dengan kacamata fiqih. Selain itu,&amp;nbsp; para pengikut SSJ memandang bahwa ketentuan syariat yang diwajibkan atas manusia tidak bersifat mutlak. Semua hal yang bukan Tuhan selalu nisbi.&amp;nbsp; Demikian juga syariat. Orang gila, anak belum baligh, orang pingsan, orang tidur, orang tidak sempurna akalnya, orang idiot, orang hilang ingatan, orang linglung, misal,&amp;nbsp; pasti tidak kena hukum wajib syariat. Karena itu, pada saat seseorang dalam perjalanan ruhani tenggelam ke dalam Tauhid (fanaa fii Tauhid) yang berarti hilang kesadaran jati dirinya, lenyap keakuannya, tidak kena hukum syariat. Bagaimana dia bisa menjalankan syariat sedang dirinya sendiri saja dia tidak sadar. Tetapi manakala orang sudah sadar kembali dari keadaan lupa diri (karena hanya ingat Allah saja) dan hidup bermasyarakat, maka wajib bagi dia mengikuti&amp;nbsp; syariat. Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ. Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur. Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif). Terkait dengan pertanyaan diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati) oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih kepada kepentingan politik rezim Demak?&amp;nbsp; SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya,&amp;nbsp; lebih disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu jauhnya. Proses politisasi&amp;nbsp; itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan&amp;nbsp; skenario yang mirip. Apa bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti anjing. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.&amp;nbsp; Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?&amp;nbsp; Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo. Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut "disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang paling terusik?&amp;nbsp; Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang&amp;nbsp; harus menggunakan kata ganti Kula atau&amp;nbsp; Kawula (Jawa), Abdi (Sunda), saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan&amp;nbsp; di hadapan raja, orang&amp;nbsp; harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing). Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah Arab musyarakah (orang sederajat&amp;nbsp; yang bekerja sama)menggantikan komunitas "kawula"&amp;nbsp; (budak)&amp;nbsp; di desa-desa Lemah Abang benar-benar membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.&amp;nbsp; Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ. Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat kota?&amp;nbsp; Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram&amp;nbsp; dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya&amp;nbsp; bisa diamalkan.&amp;nbsp; Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam. Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung&amp;nbsp; yang meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena ia merasa selalu&amp;nbsp; diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya. Sumber :&amp;nbsp; www.sufinews.com Bagi sahabat yang berminat pesan buku "Suluk Abdul Jalil komplit seri 1-7, silakan SMS/WA : 081393725615. Atau Order online di SINI</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Belakangan ini, banyak studi tentang Siti Jenar meramaikan semarak tasawuf di negeri kita. Salah satunya, Novel Suluk Abdul Jalil, Perjalanan Ruhani Syeh Siti Jenar (LKiS, 2003) karya Agus Sunyoto. Cover dari &amp;nbsp;novel tujuh jilid tersebut cukup menarik. Ada seorang pakaian putih, berkerudung daun pisang. Kepalanya tak tampak karena tertutup kerudung daun itu. Sungguh mistik, semistik kandungan isinya. Ia menggambarkan sebuah perjalanan sunyi spiritual (suluk) yang tidak harus diketahui orang, atau bahkan disesatkan masyarakat sekalipun. Yang menarik, novel hasil riset ini merujuk kepada teks Jawa-Baratan yang melihat Siti Jenar lebih manusiawi. Hal yang berbeda dengan mitos di Jawa-Tengahan. Di belahan ini, Siti Jenar dianggap evolusi mistis dari cacing yang "mencuri ilmu" pengajaran Sunan Bonang&amp;nbsp;atas Sunan Kalijaga. Menarik, karena Agus Sunyoto mampu menemukan aspek gerakan politik egalitarian yang mengobrak-abrik feodalisme Rajadewa di Jawa. Satu pembaruan politik yang mungkin sangat modern, karena wahdatul wujud kemudian melahirkan kontrak sosial selayak demokrasi klasik. Apakah ini yang membuat ajaran Siti Jenar disesatkan? Betulkah ia melampaui syari'at? Kenapa harus bersitegang dengan Walisongo, dan benarkah ketegangan itu? Bukankah Dewan Wali juga sudah mencapai maqam manunggaling kawula gusti? Dan bagaimana aplikasi ajaran Siti Jenar terhadap kegersangan spiritual urban di era materialistik ini? Berikut ini wawancara Cahaya Sufi dengan salah satu pendekar peradaban Nusantara asal Surabaya, yang sangat hafal lekuk sejarah, bahasa, dan kebudayaan Hindu-Jawa tersebut. Sejak kapan mas Agus melakukan riset tentang Siti Jenar, dan kenapa memilih tokoh ini sebagai objek riset? Adakah momen spiritual spesial, yang menggerakkan mas untuk menulis novel Siti Jenar?&amp;nbsp; Saya mulai kenal nama Syaikh Siti Jenar (SSJ) sejak kakek saya bercerita tentang tokoh tersebut. Kakek orang asal desa Ploso, Jombang, santri Tebuireng angkatan pertama. Kakek saya cerita kalau ajaran SSJ beliau peroleh dari KH Hasyim Asy'ari. Sejak menulis cerbung Kyai Ageng Badar Wonosobo di Jawa Pos tahun 1987-1988, saya sudah ngumpulkan data tentang SSJ. Penelitian intensif saya terhadap ajaran SSJ lewat Thariqat Akmaliyyah saya&amp;nbsp; mulai tahun 1999. Momentum saya nulis cerita&amp;nbsp; SSJ dipicu oleh&amp;nbsp; terjadinya peristiwa&amp;nbsp; 2 November 2001 yang 'melukai' jiwa saya. Saat itu saya diundang teman-teman aktivis NU di Jogja untuk bicara geopolitik-geostrategi pasca jatuhnya Gus Dur. Dalam acara itu, saya dapati sekulerisme dan rasionalisme yang empirik materialistik sangat menguasai cara pandang anak-anak muda NU. Mereka lebih yakin kebenaran gagasan Karl Marx, Georg Lukac, Antonio Gramsci, Jacques&amp;nbsp; Derrida dalam filsafat dan teori-teori&amp;nbsp; sosial daripada kebenaran&amp;nbsp; agama. Bahkan mereka anggap term-term iman dan taqwa dalam perubahan sosial sebagai 'takhayul' yang tidak bisa dijadikan pijakan analisis sosial. Saat itu saya terilhami untuk memberi alternatif teoritik dalam filsafat dan perubahan sosial yang khas Nusantara kepada anak-anak muda NU ini, yaitu momentum sejarah di era Walisongo yang dimotori SSJ. Dari 7 jilid buku SSJ yang saya tulis, konsep filosofis dan sosiologi saya tuang di buku 3-4-5 dengan titel Sang Pembaharu. Jadi lewat buku SSJ saya memberi alternatif pilihan bagi kawan-kawan aktivis NU dalam penggunaan teori sosial dengan asumsi dasar, paradigma, dogma, doktrin, mitos yang khas Nusantara-Islam (maaf, selama ini orang Indonesia yang dididik di sekolah&amp;nbsp; selalu mengekor teori-teori Barat &amp;amp; tidak mampu membangun teori sendiri). &amp;nbsp; Jika ini riset, kenapa dituangkan dalam bentuk novel? Apakah penulisan ilmiah kognitif tidak memadai bagi pengalaman spiritual?&amp;nbsp;Konsep penulisan ilmiah kognitif adalah hegemoni Barat dalam pengetahuan. Saya menolak itu. Sebab konsep itu hanya berpijak pada ilmu akal (rasio). Sementara pengetahuan Islam dan Timur, mengenal dua sistem pengetahuan: 1) Ilmu Akal/Nalar yang berpusat di otak manusia; 2) Ilmu Qalbu/ Kaweruh yang berpusat di qalbu manusia. Sepanjang saya pelajari sejarah, hampir semua naskah dari era Kalingga sampai Majapahit menggunakan bahasa sastra seperti Perjalanan Hayam Wuruk dalam reportase Pu Prapanca yang diberi judul Negarakertagama ditulis dalam bahasa sastra; Sejarah Perang Bubat ditulis dalam bahasa kidung;&amp;nbsp; Penegakan awal&amp;nbsp; Majapahit hingga pemberontakan Ranggalawe ditulis dalam sastra yaitu Kidung Panjiwijayakrama yang isinya identik dengan isi&amp;nbsp; prasasti2; di kitab ketatanegaraan seperti Nitipraja ditulis dalam bentuk sastra. Hanya KUHP seperti Kutara Manawa yang ditulis tidak dalam bahasa sastra.&amp;nbsp; Lewat institusi&amp;nbsp; sekolah, Barat sudah menghegemoni pikiran kita, dengan asumsi dasar bahwa karya-karya sastra adalah karya imajiner yang tidak ilmiah. Ini sangat hegemonik dan konyol, karena karya-karya fiksi seperti Republic yang ditulis Plato, The Utopian Island yang ditulis Thomas Moore, City of The Sun yang ditulis Tomasso Campanella, Also Sprach Zaratushtra yang ditulis Nietzsche, bahkan teori Karl Marx yang imajiner tentang masyarakat komunis dianggap karya filsafat. Sementara kalau karya reportase, sejarah, tatanegara, filsafat, hukum&amp;nbsp; ditulis dalam bentuk sastra oleh bangsa kulit berwarna dinilai karya imajiner. Itu ras diskriminasi. Kita yang bodoh dan bermental inlander saja yang menerima dan mengekor pandangan Barat itu dengan membuta. Jadi sebagai seorang yang sadar akan eksistensi diri manusia merdeka,&amp;nbsp; saya tulis hasil penelitian saya dalam bentuk novel sebagai resistensi saya terhadap hegemoni Barat dan sekaligus membangkitkan budaya lama Nusantara. Lantaran itu karya-karya novel saya selalu disertai exegese dan daftar pustaka. Dan ternyata, masyarakat Nusantara&amp;nbsp; lebih mudah memahami penjelasan lewat bahasa sehari-hari yang saya sampaikan daripada jika saya gunakan bahasa ilmiah ala Barat (baca novel saya Rahuvana Tattwa). Apa penemuan baru yang mas temukan dalam riset tersebut, mengingat Siti Jenar merupakan simbol kontroversi dalam sejarah tasawuf kita? Apakah ia sebatas mitos, yang ditulis untuk menggambarkan pergulatan kebudayaan Islam Jawa, ataukah sebagai person sejarah, ia nyata ada? Karena penelitian yang saya lakukan menggunakan pendekatan kualitatif yang sebenarnya sudah digunakan sarjana-sarjana muslim di masa silam, maka obyek-subyek yang saya teliti adalah tarikat-tarikat yang menisbatkan ajaran kepada SSJ. Itu berarti, SSJ bukan tokoh fiktif karena meninggalkan ajaran tarikat yang riil diikuti masyarakat hingga di jaman ini. Temuan saya yang unik tentang ajaran tarikat SSJ itu, sbb:&amp;nbsp; tidak ada mursyid dalam wujud manusia karena mursyid ada di dalam ruhani manusia (seperti konsep Dewaruci dalam ajaran Sunan Kalijaga); menafikan semua pengkultusan terhadap manusia, benda-benda bertuah, makam-makam keramat,&amp;nbsp; dan makhluk gaib; tidak mengenal konsep jama'ah dalam mujahadah sehingga dilakukan sendiri-sendiri karena itu ajaran&amp;nbsp; jadi tertutup dan terrahasia;&amp;nbsp; mengajarkan filsafat sebagai ilmu akal dalam memahami konsep Tauhid untuk memulai perjalanan ruhani sebagai pijakan awal dalam memasuki ajaran ruhani yang hanya menggunakan ilmu qalb;&amp;nbsp; SSJ tidak mengajarkan cara menuju surga maupun menghindari neraka karena keduanya dianggap makhluk, sehingga inti ajarannya hanya terfokus pada bagaimana cara menuju Allah;&amp;nbsp; tidak ada doa-doa dan wirid-wirid maupun hizb yang memberi peluang pamrih bagi manusia untuk meminta nikmat kepada Allah;&amp;nbsp; SSJ hanya mengajarkan dzikir dan tanafus dalam rangka menuju Allah. Saya kira, dengan ciri-ciri ini, wajar jika ajaran SSJ jadi kontroversial dalam sejarah tasawuf di Nusantara. Mohon penjelasan tentang ajaran Siti Jenar, terkait sasahidan, sangkan paraning dumadi, awang-uwung, dan manuggaling kawula gusti. Yang dimaksud Sasahidan adalah ajaran tentang&amp;nbsp; persaksian dalam perjalanan ruhani mendaki (taraqqi) menuju Allah. Persaksian al-murid menuju Al-Murid melalui maqam-maqam. Puncak dari&amp;nbsp; persaksian adalah saat keakuan seseorang sudah lenyap (fana') tenggelam&amp;nbsp; dalam Allah.&amp;nbsp; Saat itulah&amp;nbsp;&amp;nbsp; seluruh makhluk mempersaksikan bahwa keakuan yang lenyap itu telah bersemayam di dalam Dzat Tuhan Yang Mahasuci dan karenanya memiliki sifat-sifat Ilahi. Itulah tahap penyatuan Ruh Ilahi&amp;nbsp; yang bersemayam di dalam diri manusia saat ditiupkan (nafakhtu)&amp;nbsp; pada waktu penciptaan dengan Allah yang meniupkan-Nya. Itulah tahap kembalinya Ruh al-Haqq kepada Al-Haqq. Itulah tahap puncak kembalinya unsur Ilahiyyah di dalam diri manusia (Ruh al-Haqq) kepada Sang Pencipta (ini tidak bisa dijabarkan secara ilmiah karena merupakan pengalaman ruhani yang tak terwakili oleh bahasa manusia. Ini sama dengan peristiwa ruhani Isra' wa Mi'raj yang tidak bisa dijabarkan secara ilmiah).&amp;nbsp; Yang dimaksud Sangkan Paraning Dumadi adalah ajaran yang memutlakkan Huwa sebagai Dzat Mutlak yang Azali yang menjadi Sumber segala sumber penciptaan. Huwa itu tak terjangkau akal. Tak terjabarkan konsep. Tak terbandingkan. Huwa adalah Huwa. Tan kena kinaya ngapa. Tidak bisa diapa-apakan. Laisa kamitslihi syai'un. Dia dilambangkan dengan Suwung. Hampa. Tetapi bukan hampa yang tidak ada melainkan Ada tetapi tak tergambarkan. Karena itu lambang Suwung itu disebut juga Awang-Uwung. Ada tetapi tidak ada. Tidak ada tetapi Ada. Huwa yang tak terjangkau itu kemudian muncul sebagai Pribadi Ilahi, Allah, yang&amp;nbsp; dikenal Sifat dan&amp;nbsp; Asma-Nya. Pribadi Ilahi yang disebut Allah itulah Yang menjadi Pusat segala ciptaan di mana segala ciptaan pada dasarnya adalah 'pemunculan' dari Dzat, Sifat, Asma, Af'al dari Sang Pencipta. Proses 'pemunculan' itu diyakini melalui tujuh tahap tanazzul : Haahuut - Laahuut - Jabaruut - Malakuut&amp;nbsp; - Asmaa' --&amp;nbsp; Nasuut. Apakah segenap ajaran tersebut merupakan elaborasi atas bentuk mistik Ibn 'Arabi (wahdatul wujud) dan martabat tujuh (al-maratib al-sab'ah) milik al-Burhanpuri? Apakah ia memang terkonstruk dalam terma tasawuf falsafi yang dekat dengan Syi'ah? Saya belum meneliti hubungan ajaran SSJ dengan Ibnu Araby, Burhanpuri maupun Syi'ah. Namun merujuk silsilah Tarikat Akmaliyyah yang berpuncak pada Abu Bakar as-Shiddiq dan watak tarikatnya yang egaliter, saya tidak melihat hubungan tarikat SSJ dengan tasawuf&amp;nbsp; Syi'ah. Adakah proses akulturasi antara Islam dan mistik Hindu-Jawa dalam tasawuf Jenar?&amp;nbsp; Sepanjang yang saya tahu, mistik Hindu-Jawa penuh dengan perangkat ritual dengan banyak simbol-simbol dalam upacara bersifat mistis. Sementara ajaran tarikat SSJ 'bersih' dari simbol dan upacara ritual bersifat mistis. Tarikat SSJ sangat ringkas. Aplikatif. Tidak dikenal dewa-dewa sebagai perantara menuju Sang Mahadewa. Tidak dikenal juga wasilah melalui&amp;nbsp; wali-wali keramat. Yang dikenal adalah hubungan langsung dari manusia sebagai individu menuju Allah dengan satu-satunya wasilah: Nur Muhammad. Kontroversi nyata yang mengiringi ajaran Siti Jenar adalah tuduhan "abai syari'at". Jika sudah manunggal, maka syari'at tak dibutuhkan lagi. Apakah betul? Mohon penjelasan hubungan antara syari'at dan hakikat dalam tasawuf Siti Jenar.&amp;nbsp; Tuduhan "mengabaikan syariat" sangat lekat dengan ajaran SSJ. Itu terkait dengan prinsip disiplin keilmuan yang harus dipilahkan secara tegas. Maksudnya, disiplin syariat atau lebih spesifik ilmu fiqih tidak boleh digunakan memaknai dan&amp;nbsp; menilai ilmu tasawuf.&amp;nbsp; Sebab piranti pengetahuan, asumsi dasar, paradigma, dogma, doktrin, dan mitos&amp;nbsp; masing disiplin&amp;nbsp; sangat berbeda. Dalam disiplin ilmu tasawuf, misal, ajaran SSJ menganut faham wahdatul adyan (kesatuan agama-agama) di mana&amp;nbsp; semua&amp;nbsp; agama sejatinya adalah berasal dari Tuhan dan orang seorang menganut agama tertentu karena kehendak Tuhan semata. Dengan pandangan itu, murid-murid SSJ dalam agama formal tetap ada yang Hindu dan Buddha maupun Kapitayan. Kepada mereka tentu saja SSJ tidak memerintahkan untuk menjalankan syariat Islam. Jika ada yang tanya kenapa SSJ tidak mensyaratkan semua muridnya Islam?&amp;nbsp;Itulah pandangan ulama sufi yang tidak sederhana untuk dinilai dengan kacamata fiqih. Selain itu,&amp;nbsp; para pengikut SSJ memandang bahwa ketentuan syariat yang diwajibkan atas manusia tidak bersifat mutlak. Semua hal yang bukan Tuhan selalu nisbi.&amp;nbsp; Demikian juga syariat. Orang gila, anak belum baligh, orang pingsan, orang tidur, orang tidak sempurna akalnya, orang idiot, orang hilang ingatan, orang linglung, misal,&amp;nbsp; pasti tidak kena hukum wajib syariat. Karena itu, pada saat seseorang dalam perjalanan ruhani tenggelam ke dalam Tauhid (fanaa fii Tauhid) yang berarti hilang kesadaran jati dirinya, lenyap keakuannya, tidak kena hukum syariat. Bagaimana dia bisa menjalankan syariat sedang dirinya sendiri saja dia tidak sadar. Tetapi manakala orang sudah sadar kembali dari keadaan lupa diri (karena hanya ingat Allah saja) dan hidup bermasyarakat, maka wajib bagi dia mengikuti&amp;nbsp; syariat. Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ. Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur. Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif). Terkait dengan pertanyaan diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati) oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih kepada kepentingan politik rezim Demak?&amp;nbsp; SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya,&amp;nbsp; lebih disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu jauhnya. Proses politisasi&amp;nbsp; itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan&amp;nbsp; skenario yang mirip. Apa bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti anjing. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.&amp;nbsp; Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?&amp;nbsp; Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo. Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut "disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang paling terusik?&amp;nbsp; Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang&amp;nbsp; harus menggunakan kata ganti Kula atau&amp;nbsp; Kawula (Jawa), Abdi (Sunda), saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan&amp;nbsp; di hadapan raja, orang&amp;nbsp; harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing). Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah Arab musyarakah (orang sederajat&amp;nbsp; yang bekerja sama)menggantikan komunitas "kawula"&amp;nbsp; (budak)&amp;nbsp; di desa-desa Lemah Abang benar-benar membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.&amp;nbsp; Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ. Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat kota?&amp;nbsp; Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram&amp;nbsp; dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya&amp;nbsp; bisa diamalkan.&amp;nbsp; Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam. Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung&amp;nbsp; yang meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena ia merasa selalu&amp;nbsp; diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya. Sumber :&amp;nbsp; www.sufinews.com Bagi sahabat yang berminat pesan buku "Suluk Abdul Jalil komplit seri 1-7, silakan SMS/WA : 081393725615. Atau Order online di SINI</itunes:summary><itunes:keywords>Agus Sunyoto, Lkis, Spiritual, Suluk Abdul Jalil, Syekh Siti Jenar &amp; Suluk Nusantara</itunes:keywords></item></channel></rss>