<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689</atom:id><lastBuildDate>Mon, 16 Nov 2009 09:00:51 +0000</lastBuildDate><title>Lintang Fajar</title><description>karena malam pasti akan berganti fajar</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/QRPH" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">blogspot/QRPH</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-2927759535949765351</guid><pubDate>Fri, 21 Aug 2009 08:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-21T03:40:44.367-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mutiara berserak</category><title>Karena Malam Pasti Kan Berganti Fajar</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/So54OAEaI-I/AAAAAAAAAHw/1dN-YWw0sX4/s1600-h/dewi+fajar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/So54OAEaI-I/AAAAAAAAAHw/1dN-YWw0sX4/s320/dewi+fajar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372363587431572450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Ass. O, apa karena kami mendzalimimu sehingga hidup kami susah. Maafkan kami….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak saya tertegun membaca pesan pendek yang dikirim salah satu teman. Begitu berat beban yang dipikulnya. Bahkan ketika saya sudah menganggap apa yang terjadi sebagai satu bentuk kewajaran hidup, dia masih membawa beban itu sepanjang hari-harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus jawab apa ya. Akhirnya jawaban inilah yang terkirim, “Berdoalah yang terbaik. Malam tak kan selamanya kan. Fajar pasti datang. Sttttt, kita sedang digembleng biar segera naik kelas…..”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya fikir jawaban itu mampu menghentikannya. Ternyata dia menyambung ceritanya dengan deretan peristiwa yang membuat saya bergidik. Masya Allah, andai saya di dekatnya akan saya nyanyikan keras-keras Jangan Menyerah-nya D’Masiv.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Insya Allah selalu ada doa terbaik untuk kalian. Saya yakin kalian bisa bangkit cepat. Just believe it”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu saja akhirnya yang terkirim. Karena saya tak tau lagi harus berkata apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, amiiin. Semoga ALLAH bahagiakanmu…WE miss u…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum semenit saya bernapas lega, tiba-tiba satu pesan masuk lagi. Ah, semoga kabar baik…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jeng Ona, maafkan. Aku nggak jadi ikut ya. Ada masalah yang harus kuselesaikan dengan suamiku. Lagi tegangan tinggi nih. Semoga lancar acaranya. Doakan juga, semoga segera adem keluarga kecilku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, lagi-lagi masalah. Heran, dua hari ini topic yang sering masuk adalah masalah keluarga. Mulai dari yang sekedar cerita, sampai yang minta bantuan solusi. Yang sudah nikah sebenarnya siapa coba. Mestinya mereka kan yang lebih pengalaman. Lha wong sudah menjalani. Alasan mereka pun sering klasik ketika saya coba mengelak dengan alasan rung duwe pengalaman. “Justru kami membutuhkan side opinion dari yang fresh, Jeng. Yang belum terkontaminasi….” Halah……………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia, dunia. Seumpama panggung sandiwara yang penuh dengan cerita. Senang, sedih, silih berganti tiada henti. Lantas, mestikah kita menyerah ketika kita ada di masa menguras airmata? Semestinya tidak. Jika menyerah pilihan kita, tak kan pernah kita lihat indah fajar pagi menjelang setelah pekatnya malam. Ya kan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah. Tak kan pernah habis ketika kita bicara masalah. Begitu pandai kita mengurai masalah. Mulai dari yang benar-benar ada, tampak nyata, yang samar, tersembunyi, sampai yang sebenarnya nihil tapi kemudian diada-adakan untuk kepentingan tertentu. Apapun itu, tetap saja masalah akan menimbulkan dampak bagi siapapun yang mendapat sampur kehormatan atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, iseng saya “memaksa” beberapa teman bicara tentang masalah. Penyemangat apa yang membuat mereka bangkit. Nah, beberapa teman menuliskan kata-kata yang seringkali mereka gunakan untuk menyemangati diri untuk bangkit. Yuk kita intip apa kata mereka….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah, jangan ditaruh di punggung hingga jadi beban yang memberatkan. Masalah, taruhlah di bawah sebagai pijakan ( A dari Aa’ Gym)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah seperti bamboo. Jika ditimpa angin keras, ia ikut kemana angin bertiup. Tapi itu dilakukan untuk kemudian tegak berdiri lagi. Batang bamboo tetap lurus walaupun ia sering meliukkan tubuhnya… (B dari Ustadz Syatori)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memberi pelangi di setiap badai, senyum di setiap air mata, lagu indah di setiap hembusan napas, berkah di setiap cobaan, dan jawaban indah di setiap doa (M entah dari mana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap masalah memiliki benih-benih dari solusinya sendiri. Kalau kita tidak memiliki masalah apapun, kita takkan mendapatkan benih apapun (Y entah dari mana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak punya pelajaran yang seharusnya dipelajari oleh orang dewasa. Agar tidak merasa malu bila gagal, melainkan bangun dan mencoba lagi (M dari Malcolm X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tanya kapan, tapi keajaiban akan datang menghampiri orang yang selalu melakukan yang terbaik, buat dirinya sendiri maupun orang lain (H dari Hellen Keller)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan antara hambatan dan kesempatan terletak pada sikap kita dalam memandangnya. Selalu ada kesulitan dalam kesempatan dan selalu ada kesempatan dalam setiap kesulitan (E entah dari mana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikan pelangi kehidupan lebih indah dengan menyempurnakan ikhtiar dan memanjangkan doa, menatap masa depan dengan langkah sempurna, memandang masalah dengan ketegaran, memetik kesempatan dengan kesungguhan, menyusuri tikungan perjalanan dengan lentera kesabaran. Sesungguhnya Allah telah menetapkan segala sesuatu untuk hambanya. Bekerjalah terus, maka Allah akan memudahkan (A entah dari mana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan terbesar yang pernah dibuat seseorang adalah takut membuat kesalahan. Just do what should you do (E entah dari mana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patient means we accept and submit in God willingness and keep do the best (A entah dari mana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki yang terbaik dari segala sesuatu. Mereka hanya mengoptimalkan segala sesuatu yang datang dalam perjalanan hidup mereka. Masa depan yang paling gemilang akan selalu dapat diraih dengan melupakan masa lalu yang kelabu. Engkau tidak akan dapat maju dalam hidup hingga engkau melepaskan segala kegagalan dan sakit hatimu (C entah dari mana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu beberapa kata-kata penyemangat teman-teman saya yang sempat saya catat. Intinya menurut saya, apapun masalahnya, siapapun Anda, jangan menyerah. Akan indah pada waktunya. I believe… Allah memberikan apa yang kita perlukan. Mungkin yang diberikan pada kita adalah ulat bulu., bukan kucing siam seperti yang kita minta. Tapi jika kita mampu bersabar, akan kita dapatkan kupu-kupu yang bukan saja cantik, tapi punya kemanfaatan besar untuk alam semesta... (hehe…ini nasehat untuk diri sendiri lebih tepatnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana dengan Anda..? Let’s share………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;add.&lt;br /&gt;marhaban ya ramadhan. semoga terlepas segala jerat masalah yang mengungkung jiwa. selamat berpuasa, mohon maaf untuk semua khilaf...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-2927759535949765351?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2009/08/karena-malam-pasti-kan-berganti-fajar.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/So54OAEaI-I/AAAAAAAAAHw/1dN-YWw0sX4/s72-c/dewi+fajar.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">28</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-5024987353883843081</guid><pubDate>Sun, 02 Aug 2009 15:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-02T11:21:40.696-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mutiara berserak</category><title>Creative Theme Day #3 : The Mahkota Dewa, 100% Creative Indonesia</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SnW_8aLEqbI/AAAAAAAAAHo/dWP18Cf1IoI/s1600-h/DSCF2272.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SnW_8aLEqbI/AAAAAAAAAHo/dWP18Cf1IoI/s200/DSCF2272.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365405575620635058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Apa kabar teman-teman. Seminggu sudah saya dan 74 rekan yang lain dikarantina di Wisma Batik Yogyakarta. Ceritanya, kami mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Disnakertrans Propinsi DIY yang bertajuk Bimbingan Teknis untuk “Tenaga Kerja Pemuda Mandiri Profesional”. Nah, tepat di hari ke-8 inilah kami diperbolehkan pulang. Hmm, dunia, I’m back……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang kami dapatkan selama seminggu ini. Salah satu moment paling berkesan adalah ketika kami berkunjung ke seorang pengusaha kreatif di Kulon Progo, yang telah berhasil membawa produk obat tradisional Indonesia ke dunia internasional. Cerita menarik tentang beliau, tersaji lengkap dalam rangka mendukung “Creative Theme Day : 100% Creative Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pukul 08.45, bus yang membawa rombongan anak-ana&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;k TKPMP ini meluncur meninggalkan Wisma Batik. Perjalanan 45 menit, sampailah kami ke tempat tujuan. Sempat saya tebak-tebakan dengan seorang teman, apa yang pertama kali akan kami lihat di rumah beliau. Teman saya mengatakan, “halah, paling yo sama aja dengan tempat pengrajin yang lain. Berantakan dan semrawut.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Kalau begitu, aku nebak sebaliknya. Kita akan melihat hal yang sensational”, saya memilih vis a vis, berseberangan dengan teman saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sampai di sana, mata kami terbelalak. Kami disuguhi &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;pemandangan ya&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ng tak pernah terlintas di otak kami. wow, ini mah sangat sensational. Harley Davidson di depan rumah nampak angkuh menyambut kami. Bukan hanya itu saja. Beberapa ekor kuda &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;cantik langsung merebut perhatian kami. Saya langsung teringat pada “Jimbron, Aray dan Ikal”, 3 tokoh dalam “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata. Mungkin reaksi kami tak seheboh reaksi mereka saat melihat Pangeran Mustika Raja Brana dan 6 kuda lain didatangkan Capo dari Australia. Tapi yakinlah, kami terlihat sangat “ndeso”. Mulut melongo seperti tak pernah melihat kuda sebelumnya. Padahal di Jogja kuda juga banyak berkeliaran. Tapi ini memang jenis kuda yang berbeda. So wonderful…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SnW4r64WjsI/AAAAAAAAAHQ/g7iPeD3f6FM/s1600-h/DSCF2255.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 208px; height: 158px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SnW4r64WjsI/AAAAAAAAAHQ/g7iPeD3f6FM/s320/DSCF2255.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365397595761315522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika kami masih terpaku mengagumi kuda-kuda cantik dan &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Harley Davidson, tiba-tiba muncul sosok sederhana bersunggingkan senyuman ramah. Dengan jabat tangan erat, disambutnya kami penuh kasih. Waduh, pikiran kami serasa dibalik-balik dengan cepat. Kuda dan Harley adalah lambang kemakmuran. Tapi sejurus kemudian, kesederhaanlah yang kami dapati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Maryono. Sosok sederhana inilah yang telah berhasil membawa produk obat tradisional Indonesia ke dunia internasional. Teh Mahkota Dew&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a. Ya, produk inilah yang dikembangkan oleh beliau. Di bawah bendera “Salama Nusantara” beliau menyebarkan produk obat tradisional ini ke berbagai belahan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SnW1VKYNEtI/AAAAAAAAAHI/5p1BNoJeMsM/s1600-h/DSCF2248.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 174px; height: 132px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SnW1VKYNEtI/AAAAAAAAAHI/5p1BNoJeMsM/s320/DSCF2248.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365393906249568978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semua berawal dari keinginan yang kuat. Ketika kau meng&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;inginkan sesuatu dengan segenap dirimu, maka seluruh alam semesta akan bersatu membantumu meraihnya. Dan Allah tinggal berkata, Kun fayakun. Mungkin seperti itulah gambarannya. Pak Maryono punya keinginan kuat mengembangkan kemandirian masyarakat berbasis potensi local. Keinginan kuat itu terus dikumandangkan ke semesta. Akhirnya, satu persatu jalanpun terbuka. Mulai dari gerakan penghijauan Bukit Menorah dengan Mahkota Dewa yang dilakukan oleh satu LSM, mendapat ilmu tentang khasiat mahkota dewa di Gramedia, bertemu professor yang memberikan landas teori, bertemu dengan lembaga pemberdayaan masyarakat yang mendampingi secara praksisnya, bertemu dengan orang-orang yang memberikan kepercayaan penuh pada beliau.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Singkat cerita, tangan kreatif itu terus bergerak. Menebarkan kesehatan pada banyak orang, menawarkan kesembuhan pada banyak penyakit. Bukan perkara mudah, karena beliau juga harus membayar harganya. Menerjemahkan ide-ide pemasaran liar yang berkecamuk di kepala ke dataran riil. Mengirim paket Mahkota Dewa pada Gus Dur dan berbagai tokoh yang lain, &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;artis, dan orang-orang berpengaruh yang lainnya adalah contoh keliaran ide beliau. Bisa dibayangkan, begitu pucuknya kena, maka tinggal tunggu waktu saja untuk memanen hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SnW8oNfThFI/AAAAAAAAAHg/GexcjEJtJW8/s1600-h/DSCF2260.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 188px; height: 125px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SnW8oNfThFI/AAAAAAAAAHg/GexcjEJtJW8/s320/DSCF2260.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365401930083566674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kegigihan, keuletan, keberanian, kesabaran dan kese&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;tiaan pada keyakinan akhirnya mengantar beliau pada kehidupan yang sebelumnya tak &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;pernah dibayangkan. Menyentuh tingginya langit, namun kaki tetap berpijak di bumi. Saya kira apa yang beliau lakukan adalah satu dari sekian banyak karya kreatif anak bangsa. Karya kreatif 100% Indonesia. Bagaimana menurut Anda….?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catt.&lt;br /&gt; Tribute to insan kreatif Indonesia&lt;br /&gt; Selamat untuk lahirnya PPMY&lt;br /&gt; 3 hari menjelang Jogja Fashion Week 2009&lt;br /&gt; Dipersembahkan untuk Creative Theme Day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://creativethemeday.com"&gt;&lt;img src="http://creativethemeday.com/images/banner_ctd125_01.gif" alt="Creative Theme Day" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-5024987353883843081?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2009/08/creative-theme-day-3-mahkota-dewa-100.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SnW_8aLEqbI/AAAAAAAAAHo/dWP18Cf1IoI/s72-c/DSCF2272.JPG" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">24</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-2648817871974958446</guid><pubDate>Sat, 25 Jul 2009 08:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-25T02:13:54.949-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mutiara berserak</category><title>Never Ending Learning</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SmrKG5qXl3I/AAAAAAAAAHA/828P8c4UAlA/s1600-h/nel.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 163px; height: 122px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SmrKG5qXl3I/AAAAAAAAAHA/828P8c4UAlA/s320/nel.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362320526244550514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Shelter Kridosono Bus Trans Jogja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kok lebar sekali Mas. Mosok saya harus lompat. Aman nggak”, tanya saya diliputi keheranan. Tidak biasanya posisi transit Bus Trans Jogja seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Mba, harap maklum. Sopir baru. Baru latihan. Saya jaga kok. Insya Allah aman”, sang pramugara berusaha meyakinkan saya. Terpaksa saya melompati jarak selebar hampir satu meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Trans Jogja juga ada PAW tho Mas. Seperti anggota DPR saja”, tanya saya asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Mbak itu ada-ada saja. Ini memang ada penambahan kru baru Mbak. Untuk persiapan penambahan jalur Trans Jogja”, jawab Mas Pramugara. Maka perjalanan selanjutnya adalah mengikuti asyiknya proses belajar Pak Sopir baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Shelter Mandala Krida&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih kurang dekat ya Di. Kurang berapa kira-kira”, tanya Pak Sopir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih kurang banyak Pak. Tiga puluh centi lagi kira-kira. Asal di awal dipaskan dengan jalur putih, biasanya pas kok Pak”, jawab Mas Pramugara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, aku masih takut Di. Takut malah kebablasen”, Pak Sopir beralasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak apa-apa Pak. Lama-lama nanti juga terbiasa kok. Di awal dulu sopir yang lain juga seperti itu. Takut terlampau mepet. Tapi lama-lama akhirnya bisa merasakan dengan sendirinya. Pasnya ada di mana”, Mas Pramugara berusaha membesarkan hati Pak Sopir baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum mendengar perbincangan mereka. Tidak salah perusahaan memilih Mas Pramugara itu untuk mendampingi proses belajar Pak Sopir Baru. Tidak mudah lho menemukan pelatih sesabar itu. Yang mendampingi tanpa menggurui. Yang memberi solusi tanpa mencaci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Sopir baru terus belajar menguasai medan. Mas Pramugara setia mendampingi. Saya, akhirnya memilih bergabung bersama mereka. Menyemangati Pak Sopir yang sedang belajar. Tertawa bersama, khawatir bersama, dan ternyata sangat mengasyikkan. Bus yang hanya berisikan lima penumpang membuat suasana justru menjadi semakin gayeng. Entah, sepertinya Sang Pengatur sengaja memberi kesempatan pada kami untuk menikmati perjalanan exlusive ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He, saya jadi ingat proses belajar ketika membangun blog ini. Tertawa sendiri ketika menemui jalan buntu, bertepuk tangan sendiri ketika berhasil memasang fasilitas read more (fasilitas pertama yang berhasil saya pasang), manyun sendiri ketika tak jua berhasil mencari kode html dan banyak kelucuan yang lain. Sayangnya saya sendirian saja menikmatinya. Tak ada Pak Sopir, Mas Pramugara dan empat penumpang lain yang memberi support (lho, apa hubungannya… ). Tapi, ketika akhirnya berhasil melewati prosesnya, rasanya exciting banget. Meski proses itu masih harus berlanjut, karena perjalanan belum berakhir. Bahkan baru saja dimulai….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sembilan shelter sudah kami lewati. Pelan tapi pasti Pak Sopir membuat kemajuan dalam proses belajarnya. Tepat di shelter ke-10, saya harus pamit undur dari proses belajar ini. Dan saya bahagia sekali, karena Pak Sopir baru memberikan hadiah indah. Beliau berhasil menempatkan bus di jalur transit dengan sempurna. Kami bertepuk tangan untuk capaian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, jalanan memang menyediakan banyak hal yang bisa diambil hikmahnya. Untuk siapa saja yang mau dan mampu mengambil peluangnya tentu saja. Karena tak semua orang mau dan mampu melakukannya. Meskipun peluang itu begitu besar terpampang di depan mata. Ada yang mau tapi tidak mampu. Ada pula yang mampu tapi tidak mau. Akhirnya kembali ke pilihan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, proses menarik apa yang Anda temukan di jalanan hari ini? Mari berbagi….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-2648817871974958446?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2009/07/never-ending-learning.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SmrKG5qXl3I/AAAAAAAAAHA/828P8c4UAlA/s72-c/nel.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">11</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-3564486955921283938</guid><pubDate>Tue, 14 Jul 2009 15:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-14T11:11:49.278-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mutiara berserak</category><title>Manajemen Stress Rasa Gado-gado</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/Sly7Uaq81BI/AAAAAAAAAGw/wzQVdcGEdok/s1600-h/stress.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 144px; height: 78px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/Sly7Uaq81BI/AAAAAAAAAGw/wzQVdcGEdok/s320/stress.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358363616095294482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Hmm, tekanan darah 125. Tensi 39. Agak tinggi tekanan darah dan tensinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tekanan darahnya kok tinggi, Dok. Saya biasanya di bawah 120. Selama ini lebih sering tekanan darahnya rendah. Kok tiba-tiba bisa tinggi. Ini baru pertama kalinya Dok”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak tahu Mbak sedang menghadapi masalah apa. Tapi saran saya, jangan terlalu dipikirkan. Karena itu yang membuat Mbak stress. Dan itu menyebabkan Mbak mudah sakit”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa? Jadi saya mudah ngedrop karena stress? Dokter sedang tidak bercanda kan? Lha saya stress mikir apa. Perasaan saya tidak sedang menghadapi masalah yang begitu berat. Tapi memang beberapa hari ini saya tidak bisa tidur. Saya juga ndak tahu kenapa. Saya tidak memikirkan apa-apa tapi saya seperti memikirkan sesuatu. Dan itu membuat saya tidak bisa tidur.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Kondisi seperti itu memang bisa memicu naiknya tekanan darah. Untuk sementara saya kasih resep ini dulu. Besok malam tolong kesini lagi. Kita cek lagi tekanan darahnya. Kalau sudah normal, silahkan beraktivitas lagi. Tapi ingat, perbanyak istirahat. Jangan diforsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Dok……”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;………………………………………………………………………………………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, stress. Satu kata yang sering sekali saya dengar saat berkumpul,  berbincang dengan teman-teman. Kata ini begitu mudah terlontar dari mulut mereka. Dan sekarang saya mengalaminya sendiri. Poor me….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stress. Apa sih sebenarnya stress itu. Jadi penasaran. Let’s see. Apa yang dikatakan wikipedia tentang stress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stres"&gt;Stres&lt;/a&gt; adalah suatu kondisi atau keadaan tubuh yang terganggu karena tekanan psikologis. Biasanya stres dikaitkan bukan karena penyakit fisik tetapi lebih mengenai kejiwaan. Akan tetapi karena pengaruh stres tersebut maka penyakit fisik bisa muncul akibat lemahnya dan rendahnya daya tahan tubuh pada saat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang bisa memicu stres muncul seperti rasa khawatir, perasaan kesal, kecapekan, frustasi, perasaan tertekan, kesedihan, pekerjaan yang berlebihan, Pre Menstrual Syndrome (PMS), terlalu fokus pada suatu hal, perasaan bingung, berduka cita dan juga rasa takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, kalau secara devinisi tepat banget tuh dengan kondisi saya. Tapi kalau tentang pemicunya… nah, ini yang membingungkan. Karena saya sendiri tidak tahu secara pasti apa penyebabnya. Hmm, dari pada bingung mencari penyebabnya, lebih baik focus ke solusi kan. Tapi karena saya juga bingung, akhirnya saya memilih bertanya pada beberapa teman. Nah, berikut ini adalah jawaban dari mereka. Beberapa hal yang biasa dilakukan ketika mereka stress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kalau Arie berenang Mbak. Habis berenang makan bakso hangat… (Arie).&lt;br /&gt;2. Ambil air  wudhu + baca Al Qur’an. Berdoa sesudahnya minta ketenangan batin dan mohon petunjuk. Bila malam hari bangun tahajud + shalat hajat minta bantuan (Mas Arief).&lt;br /&gt;3. Tenang, ambil wudlu kalau memungkinkan kemudian alihkan perhatian yang membuat happy. Beralih dari tempat yang membuat stress. Anda akan kembali besok dengan lebih baik (Mas Marsi).&lt;br /&gt;4. Tidur…..or ngaji….or jalan-jalan (Kak Mukhlis)&lt;br /&gt;5. Sharing ma teman dekat, banyakin doa, cari udara segar, refreshing kek kemana. Cari suasana lain (Non Yuli)&lt;br /&gt;6. Kalau lagi jutek/stress/bete, aku biasanya terus njalani kerjaan atau apapun yang menyebabkan stress dengan sekuat tenaga, pikiran dan psikis. Terkadang berdoa sampai nangis kalau berat banget (dengan kondisi berat badan turun, muka tidak cerah, kurus) sampai kelar dan tuntas. Habis semua selesai, dunia cerah lagi. Alhamdulillah…selalu ada karunia setelah masa cobaan (Mas Thres)&lt;br /&gt;7. Jika aku lagi stress yang aku lakukan biasanya pergi ke suatu tempat buat merenung, nenangin pikiran sekaligus cari hiburan.  Kalau nggak, aku cerita sama seseorang yang dekat alias curhat (Teh Eka)&lt;br /&gt;8. Wudhu…. Sholat……curhatlah sama Gusti Allah…. (Nifa)&lt;br /&gt;9. Cari sumber stress, kaji kenapa bikin stress, renungkan, jangan hindari tapi jadikan mitra. Insya Allah kau kan tertawakan diri yang stress tu (Mas Liek)&lt;br /&gt;10. The best way biasanya sholat sunat, ngaji. Kalau tidak memungkinkan, ya merubah, secara ekstrim jika perlu, our mind-body-soul. The best person always take the best way (Mas Cahyadi)&lt;br /&gt;11. Aku biasanya dan hampir pasti, jalan-jalan lihat sawah dan gunung di magelang di pagi hari habis subuh. Dahsyat penaruhnya…..(Kang Adib).&lt;br /&gt;12. Ada beberapa hal yang biasa saya lakukan : baca Qur’an dan maknanya. Bertemu dengan orang yang dekat secara perasaan tapi jarang ketemu secara fisik. Biasanya itu sudah cukup. Atau bertemu dengan orang sholeh dan bercakap dengannya. Biasanya itu untuk transfer energi. Nek kuwi susah to yu, njenengan teko neng ndalan. Ndeleng orang-orang miskin dan fakir. Atau orang-orang yang sangat tua tapi masih harus mencari rizqi sendiri. Orang stress itu karena terlalu focus pada diri sendiri. Maka alihkan hatimu…. Untuk memikirkan orang lain.. hehe…(Kang Huda)&lt;br /&gt;13. Kalau lagi stress, push up sampe jelek (Ka’ Rien).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, itu tadi cara ngatasin stress ala teman-teman saya. So, cara seperti apakah yang biasa Anda lakukan untuk atasi stress? Mari berbagi…………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;catt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*gambar diambil dari &lt;a href="http://www.madridteacher.com/English/stress/stress-wordle.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*terima kasih untuk teman-teman yang bersedia meluangkan waktu menjawab pertanyaan aneh di siang hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-3564486955921283938?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2009/07/hmm-tekanan-darah-125.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/Sly7Uaq81BI/AAAAAAAAAGw/wzQVdcGEdok/s72-c/stress.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">27</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-2491689765338834511</guid><pubDate>Wed, 01 Jul 2009 12:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-01T10:46:34.092-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mutiara berserak</category><title>Creative Theme Day #2 : Obral Obrol Janji</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SkugIoafD9I/AAAAAAAAAGQ/9ua1aWbBiw4/s1600-h/stop+obral+janji+5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 271px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SkugIoafD9I/AAAAAAAAAGQ/9ua1aWbBiw4/s400/stop+obral+janji+5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353548652207869906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Senja memerah di Kota Jogja. Kinanthi menyusuri “karpet merah” menuju Siti Hinggil Kraton Yogyakarta. Entah, sore ini dia ingin sekali membaur dengan barisan orang-orang yang bergegas menyeberangi Alun-Alun Utara itu. Berkali-kali dia hampir terjatuh, tersenggol orang-orang yang sepertinya tak mau kehilangan waktu sedetikpun. Jogja memiliki terlampau banyak tempat wisata yang sayang untuk dilewatkan. Padahal waktu mereka terbatas. Jadi beginilah mereka, jalan bergegas-gegas seperti prajurit yang mau maju ke medan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinanthi mencoba menegakkan langkahnya. Suara-suara berdengung di sekelilingnya seperti membaur dengan suara-suara di kepalanya. Dan ini memang saat-saat yang dia tunggu. Suara-suara itu jalin-menjalin, seperti berperang saling rebut kuasa atas dirinya. Kinanthi sangat berharap, suara-suara di kepalanya lah yang kalah. Suara-suara yang membuatnya lelah. Kinanthi berharap, suara-suara itu lenyap, berganti dengan dengung suara bernada gembira dari para wisatawan ini. Kinanthi sangat ingin seperti mereka. Riang, lepas tanpa beban.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi sepertinya Kinanthi terlalu berharap banyak. Seiring derap menjauh barisan itu, seiring itu pula suara-suara di kepalanya semakin keras berdengung. Ia benci suara itu. Karena ketika suara-suara itu muncul, berdengung di kepalanya, dengan kecepatan tinggi ia akan menarik suara-suara lain yang tak diinginkannya…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;STOP OBRAL JANJI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau belum menikah? Jangan membuatku semakin merasa bersalah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa harus merasa bersalah? Ini hidupku. Dan aku berhak membuat keputusan apapun atas hidupku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engkau tahu, aku berusaha menepati janjiku padamu untuk membahagiakannya. Tapi sepertinya aku takkan berhasil. Semakin keras usahaku membahagiakannya, semakin perih hatiku karena mengingatmu. Semestinya aku tak mengambil pilihan meninggalkanmu. Bisakah kita memperbaiki semuanya? Aku akan bicara baik-baik dengannya. Aku juga tak bisa terus-terusan menyakitinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah sejak awal sudah kukatakan, setiap pilihan melahirkan konsekuensi. Dan dulu engkau bilang siap menanggung konsekuensinya. Dan inilah konsekuensinya. Kenapa sekarang engkau ingin melarikan diri dari konsekuensi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku serius, aku akan segera memprosesnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa? Toh, hatiku juga sudah kutambatkan pada orang lain”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada orang yang nggak jelas itu… Kamu sendiri nggak yakin dengannya. Bukankah kau bilang kau perlu matahari? Aku siap menjadi mataharimu. Dia….., apa dia siap menjadi mataharimu? Seperti kau bilang, dia adalah jailangkung. Yang datang tak diundang, dan pergipun tak diantar. Seperti itukah matahari yang kau harapkan? Harimu akan berselimut mendung. Ijinkan aku menjadi mataharimu. Ayuhlah, katakan ya. Dan segera kuproses semuanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Stop, jangan menjanjikan apapun lagi untukku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…………………………………………………………………………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinanthi memutuskan untuk berbalik arah, pulang. “Cara ini takkan membantuku”, pikir Kinanthi. Disimpanginya langkah-langkah bergegas itu. Halte bus menjadi tujuannya sekarang. Sudah banyak orang di halte tak bernama itu. Sebagian wajah sudah sangat familiar dengannya. Ibu penjual tahu, Bapak tukang parkir, beberapa penjaga toko sepanjang malioboro, dan tentu saja para pengamen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus datang. Kinanthi mengambil tempat bersisihan dengan Bapak tukang parkir. Sebenarnya Kinanthi ingin “diam” sejenak. Tapi Bapak tukang parkir rupanya tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nduk, kok diam saja. Biasanya sumringah kalau pulang. Lha ini wajahnya kok ditekuk-tekuk kayak gitu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndak papa kok Pak. Hanya sedikit capek saja”, Kinanthi membalas tak bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Whe lah, cilaka iki. Lha kalau kamu mumet, aku takon karo sopo iki…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha wonten napa to Pak. Nggak papa, tanya saja. Kalau saya tau ya saya jawab”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iki lho Nduk, aku tu bingung. Calon presidene kok podho kakehan janji kuwi, terus sik tak pilih sik sopo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak Kinanthi termenung. Pikirannya melayang ke peristiwa siang tadi. Ah, kenapa orang suka sekali menebar janji. Padahal dia sendiri tak tahu mampu tidak memenuhi janji itu. Manusia, ketika sudah berbenturan dengan kepentingan, apapun jadilah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, Nduk…kok malah ngalamun. Piye, siapa yang harus tak contreng besok tanggal 8. Lha janjine apik kabeh je. Coba lihat ini. Sejumlah Janji dan Kontrak Politik Capres-Cawapres. Semua rak elok tho…”, Bapak tukang parkir mengangsurkan koran yang dipegangnya. Dan di sana memang tertulis dengan jelas janji-janji manis dari Capres-Cawapres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, kalau yang ini saya juga ndak tau Pak. Tapi menurut saya, yang bisa jawab ya Bapak sendiri. Hati Bapak paling sreg dengan yang mana. Insya Allah hati kita itu lebih jujur menilai sesuatu. Nggih tho Pak…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iyo yo Nduk. Wis, aku tak madep mantep melu atiku wae. Matur nuwun Nduk, kadang sik enom ki luwih iso maca tinimbang wong tuwo”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggih Pak, sami-sami. Namung ngepasi kok Pak. Di banyak waktu, yang muda yang memang harus ngangsu kawruh sama yang banyak pengalaman seperti Bapak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iyo. Iki wis meh tekan klithikan. Kamu turun sini tho….”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inggih Pak. Saya turun dulu nggih...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinanthi baru saja melangkahkan kaki masuk ke rumah ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah pesan nampak di layar. “Tante, tanggal 8 Juli nyontreng yang mana? Bundanya Husein bingung nih. Soalnya semua Capres berjanji manis. Nte, kapan main ke Tulungagung? Nenek juga kangen lho sama Tante…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, lagi-lagi soal janji. Membuat bingung orang saja. Begitu mudah orang mengobral janji. Kayak obral baju aja. Mending in….sat dengan obral obrolnya. Bisa ngirit dikitlah. Andainya mereka yang berjanji itu sadar dengan konsekuensi dari apa yang mereka janjikan, mungkin mereka akan berpikir ulang. Dan aku hanya bisa berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izinkanlah.... aku mengakhiri semua&lt;br /&gt;Izinkanlah.... aku mengakhiri dusta&lt;br /&gt;dan kepalsuan yang kau samarkan ……. (Nike Ardilla)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;STOP OBRAL JANJI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Thanx to seorang sahabat untuk cerita inspiratifnya. Sungguh, tepat pada waktunya…&lt;br /&gt;* Tulisan ini didedikasikan untuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://creativethemeday.com/"&gt;&lt;img src="http://creativethemeday.com/images/banner_ctd125_02.gif" alt="Creative Theme Day" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-2491689765338834511?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2009/07/creative-theme-day-2-obral-obrol-janji.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SkugIoafD9I/AAAAAAAAAGQ/9ua1aWbBiw4/s72-c/stop+obral+janji+5.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">22</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-782566964865437312</guid><pubDate>Thu, 18 Jun 2009 16:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-18T10:31:45.803-07:00</atom:updated><title>Rumah Sakit Penuh Cinta</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/Sjp49AP9kDI/AAAAAAAAAF4/-wXClVoxo7M/s1600-h/Slide1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/Sjp49AP9kDI/AAAAAAAAAF4/-wXClVoxo7M/s200/Slide1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348720496890187826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apa kabar teman-teman? Berapa tahun cahaya ya kita tak bersua.. Satu tahun? Hahaha… jelas belum ada lah. Berapa pun lamanya, yang jelas aku kangen tak terkira. Aku kan begitu menyayangi kalian. Hahaha….gombal abiiiizzzzzzzzzzz. Ndak pa pa lah, kubiarkan tanganku menarikan apa saja di atas keyboard. Itung-itung sebagai hadiah setelah sekian lama terpasung.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Terpasung? Iyalah, beberapa waktu tak boleh beraktifitas, kerjaannya hanya makan dan tidur, ndak boleh mikir yang berat-berat, ndak bisa ngangkat ini itu, kalau mau apa-apa tinggal bilang dan sekejap sudah ada di depan mata. Menyenangkan? Jelas tidak, meskipun serasa sedikit seperti putri raja. Sedikit karena banyak aktifitas putri raja yang lain yang tak bisa dilakukan. Ndak bisa ngajak dayang-dayang berburu di hutan (siapa tau ketemu tarzan ganteng…), ndak bisa mandi di kali (siapa tau kelelep trus ditolong arjuna baik hati…), ndak bisa banyak yang lain deh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya begini teman-teman. Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 8 Mei jam 8 malem, saya mendapat senggolan mesra dari sebuah motor tepat di depan pasar Klithikan Jogja. Kalau biasanya saya geleng-geleng kepala karena seringnya melihat kecelakaan terjadi di tempat itu, akhirnya saya sendiri harus mengalaminya sendiri. Alhasil beberapa hari harus ikhlas menerima perhatian ekstra dari banyak dokter dan perawat. Untungnya dokter dan perawat-perawatnya rata-rata masih muda. Jadi seger kan. Hehehe…. Dan inilah yang ingin kuceritakan. Tentang uniknya RS tempatku dirawat. Sebenarnya awal sempat dirawat di sebuah RS di Jogja. Tapi karna keluarga di Kulon Progo, akhirnya minta dirujuk ke RS ini biar tak repot bolak-balik Jogja-KP. Kebetulan pula dokter yang merawatku di Jogja kenal baik dari dokter kepala RS ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizki Amalia Medika. RS ini masih belia. Seperti halnya para perawat dan dokternya. Didirikan oleh seorang dokter muda yang punya idealisme tinggi. Dulu beliau mengawalinya dengan membuka praktik di rumah kontrakan mungil di barat RS tersebut. Waktu berjalan, semakin lama pasien beliau semakin banyak. Entahlah, banyak orang merasakan dokter muda ini bertangan dingin. Banyak yang cocok dengan dokter muda ini. Wejangan menyejukkan yang mengiringi tindakan medisnya memberikan sugesti luar biasa untuk sembuh rupanya. Tarif miring dan suasana kekeluargaan yang kental menjadi pelengkap daya tarik beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal keuletan dan kemauan keras, akhirnya mimpi beliau untuk memberikan layanan yang lebih baik pada para pasiennya pun terwujud. Sebuah RS kecil, dengan segudang idealisme pun berdiri. Setahap demi setahap RS ini terus berbenah. Aku tahu karena beberapa tahun terakhir ini sudah 5 orang dari keluargaku yang menjadi pasien di RS ini. Jadi aku bisa melihat perkembangan RS ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak perubahan yang sudah terjadi. Perbaikan kualitas di sana-sini tampak nyata. Penambahan layanan seiring semakin banyaknya para dokter muda idealis yang bergabung semakin menambah gayeng saja. Tapi ada yang dipertahankan tak berubah, yaitu nuansa kekeluargaan yang selalu dikedepankan. Salah satunya adalah tradisi pembebasan jam besuk dan jumlah orang yang menunggui pasien. Dan ini tentu saja yang paling disuka keluargaku. Karena di desaku masih kental nuansa kekeluargaan dan gotong royongnya. Semua sukanya dilakukan rame-rame. Termasuk ketika menjenguk. Seringkali niatnya bukanlah menjenguk, tapi menemani menunggui di RS. Jadi biasanya agak lama mereka di RS. Bahkan kalau datangnya habis maghrib, biasanya jam 9 malam mereka baru pulang ke rumah. Tidak semua memang. Biasanya anak-anak mudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, satu hal yang menyenangkan, sekaligus merepotkan. Tapi ini adalah pilihan yang dipilih. Tentu saja setiap pilihan mengandung konsekuensi. Tapi aku sangat percaya, justru kehadiran banyak orang itulah yang mempercepat proses kesembuhan (karena aku pernah merasakannya. Bahwa medis plus doa, dukungan moril kepada pasien adalah kolaborasi hebat yang akan mempercepat kesembuhan pasien).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi yang tak berubah. Komitmen pemberdayaan ekonomi untuk orang-orang di sekitar RS terus dijaga. Beberapa pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian khusus memang ditawarkan pada penduduk setempat. Maka Simbah ramah tetap bekerja membantu bersih-bersih sambil melayani jasa penyediaan air panas. Berbekal termos-termosnya, tambahan rezeki pun mengalir ke kantongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Mbak rambut panjang pun masih menjadi penyedia konsumsi untuk para karyawan RS. Warung si Mbak di belakang RS itupun semakin ramai dengan pesanan dari para keluarga pasien. Dan RS sengaja membuka pintu belakangnya sampai malam, sehingga bisa menjadi jalan tol untuk transaksi. Parade mas-mas yang bersih-bersih sampai yang jaga parker pun diambil dari penduduk sekitar. Pak dokter muda memang menginginkan RS ini memberikan kemanfaatan untuk banyak fihak, terutama untuk lingkungan terdekat. Dan betul saja, roda ekonomi pun berdenyut di sekeliling RS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya ketika harus tinggal beberapa saat di RS ini, wajah-wajah ramah inipun kembali menyapa. Dan tawapun menderai mengiringi canda kami, meski tentu saja aku sambil meringis. “Mbak, kalau kangen padaku saja, kenapa harus pakai menabrakkan diri sih. Cukup datang saja sambil bawa snack teman melek, kami sudah senang”, Mas perawat yang rambutnya tetep saja plonthos sejak dulu masih saja khas dengan banyolannya. Hmm, keluarga kami memang punya kebiasaan berbagi snack dan buah yang biasanya dibawakan oleh para pembesuk ketika malam tiba. Untuk teman melek, begitu selalu kami bilang. Rupanya itu selalu mereka ingat. Hehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke-3 di RS. Wah, sudah mulai bosen nih. Kenapa muntahnya ndak berhenti juga ya. sudah berkurang sih frekuensinya. Saat masih sibuk menghitung berapa hal yang susah kuingat, tiba-tiba parade paramedic datang. Ada seorang yang tampak aneh dibanding barisan yang mengiringinya. Para pengiring begitu mudah dikenali dengan seragamnya. Tapi siapa sosok modis dan gaul abis yang begitu mereka hormati ini. Baju dan celana bermerk terkenal, aroma harum yang tiba-tiba menyeruak, gaya kocak abis. Beda banget…..Olala, ternyata Pak dokter gaul yang tentu saja masih muda ini adalah dokter ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu jurus-jurusnyapun dikeluarkan. Dan enteng saja beliau bicara. Gegar otak ringan dan memar di bagian dalam. Hmm, ya sabar ya Mbak. Harus banyak istirahat. Pusingnya perlu waktu agak lama untuk hilang. Jangan berat-berat dulu mikirnya… Hoho, memangnya hidup bisa diatur semudah itu apa. Tapi gaya kocaknya memaksaku tertawa meski pusing berat selepas ditreatment. Dan kuhadiahi beliau satu muntahan. Haha, ya maaf lah Pak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, akhirnya waktu tlah tiba. Boleh pulang ke rumah dengan segudang syarat. Haha, tak apalah. Bukankah aturan dibuat untuk dilanggar. Ya toh…(walau akhirnya kena batunya sendiri. Hihi…). Apapun itu, terima kasih banyak untuk semua. Good job pokoknya… jangan khawatir, di rumah sudah menunggu perawat cantik berperut serupa balon….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Hati-hati dengan ucap dan pikir kita. Setelah saya pikir-pikir, apa yang terjadi bisa jadi adalah cara Allah menjawab pinta saya. Beberapa waktu sebelumnya memang sempat terucap lelah. Ingin “istirahat” sejenak. Dan inilah jawabannya. Diberi-Nya saya alasan tepat untuk “beristirahat”. Hmm, hukum ketertarikan bekerja dengan sangat baik…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Special thanx untuk dr Agus, Kepala RS Rizki Amalia Medika. Saya sudah keluyuran lagi Pak di jalanan Jogja. Tapi masih tetap dengarkan nasehat Bapak kok. Langsung tidur tiap alarm otomatisnya nyala. Semoga saya cukup bersabar untuk tidak melanggarnya. hehe….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Postingan ini adalah seri pertama oleh-oleh selama semedi beberapa waktu. Nantikan  seri selanjutnya di jam dan hari yang sama. Halah, bak sinetron saja….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Pst…saya nonton debat capres putaran pertama sampai dua kali. Serius mendengarkan, isi penyampaian mereka dan…ini yang penting. Mencermati gaya bicara Bu Mega. Karena kata teman saya, gaya bicara saya mirip beliau. Lebih di tekanan intonasinya. Tentu saja saya penasaran setengah mati. Nah, saya masih mencari letak kemiripannya. Siapa tau mirip beneran. Siapa tau nasibnya juga mirip. Menjadi salah satu manusia berpengaruh di negeri ini. Hehe…siapa tau kan. Ndak usah cemberut gitu lah. Bagus juga ikut mendoakan. Ya…ya…ya…..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-782566964865437312?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2009/06/rumah-sakit-penuh-cinta.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/Sjp49AP9kDI/AAAAAAAAAF4/-wXClVoxo7M/s72-c/Slide1.JPG" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">19</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-4454443075774928764</guid><pubDate>Thu, 09 Apr 2009 14:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-09T07:41:20.906-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mutiara berserak</category><title>Antara Dua Pilihan</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/Sd4HhfWHhLI/AAAAAAAAAFg/qR0FDAIC_fw/s1600-h/dilema.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 104px; height: 124px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/Sd4HhfWHhLI/AAAAAAAAAFg/qR0FDAIC_fw/s200/dilema.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322700081529849010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kali ini tak ingin ku bercerita yang berat-berat pada kalian, wahai sahabatku. Hanya ingin berbagi bingungku. Harapku, ada diantara kalian yang berbaik hati memberi saran. Siapa tahu ada terbersit ide brilian di sana. Mengubah nasi yang telah menjadi bubur menjadi sajian super lezat. Okey…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya begini. Salah satu pot di kantorku sekarang sedang merana. Karena dia menjadi ajang pertarungan dua jenis tanaman. Awalnya yang kutanam adalah Aglonema. Aglonema cantik yang kubawa dari rumah. Mencuri koleksi Ibu’ku. Hehe..bercanda. jelas sudah ijinlah. Kalau pun nggak ijin, niatku baik kok. Menyebarkan keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haha.., jadi ingat sweet memories dengan teman-teman se-geng. Kami dulu suka mengambil tanaman di tempat-tempat tak bertuan yang kami kunjungi dengan menggunakan mantra ini, “Ijinkan kami mengambil bagianmu. Niat kami baik. Biarkan kami sebarkan indahmu ke penjuru dunia.” Ah, konyol ya. Jelas mereka tak bisa melarang. Lha wong mereka nggak punya mulut dan tangan. Tapi anehnya justru tanaman-tanaman yang kami dapatkan dengan cara seperti itulah yang tumbuh subur di kost kami. Padahal kami tak pernah membeda-bedakan perlakuan. Entahlah, mungkin berarti mereka mengijinkan kali ya.  Lah, kok malah ngelantur. Kembali ke laptop, eh, ke permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seperti kuceritakan tadi. Pot berwarna kuning semburat merah bata itu sungguh-sungguh merana. Awalnya baik-baik saja. Aglonema yang kubawa dari rumah mulai bertunas. Semakin lama semakin suburlah dia. Nah, tepat ketika daunnya sudah mulai melebihi tinggi pot di situlah permasalahan dimulai. Kucing-kucing kecil punya Ibuk yang menjaga kantor mulai menyukainya. Aglonema cantik mulai sering ditarik-tarik. Daunnya yang melambai-lambai semakin menggoda kucing-kucing kecil itu. Maka bisa ditebaklah hasilnya. Aglonema cantik meradang. Dia ngambek tak mau meneruskan tumbuhnya. Sebab, setiap kali dia mengeluarkan daun cantiknya, sekejap kemudian daun cantiknya dicabik-cabik kucing-kucing kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, aku yang tak mau tau apa yang terjadi langsung main hakim sendiri. Kuberikan ultimatum pada Aglonema cantik. Mau terus tumbuh atau kugantikan dengan yang lain yang lebih menarik? Aglonema cantik diam saja. Dia semakin meradang dan memutuskan untuk mogok tumbuh. Akhirnya kubiarkan saja dia. Jika dia seperti itu terus, pelan namun pasti dia membunuh dirinya sendiri. Kenapa harus kupusingkan. Tapi untuk sementara kubiarkan saja dia di sana. Toh, aku juga belum punya tanaman baru untuk menggantikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu waktu aku menemukan tunas Ginger. Kasihan sekali, dia tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Sungguh tak sampai hati kutinggalkan dia. Akhirnya kupungut dan kubawa ke kantor. Karena aku tak punya pot cadangan, kutitipkan Ginger kecil pada pot tempat Aglonema cantik tinggal. Kubilang padanya, “tolong beri dia tempat untuk tumbuh.” Pot berwarna kuning semburat merah bata itu sempat protes. “Bagaimana kalau Aglonema cantik marah?”. “Biarkan saja, toh dia tak mau kompromi denganku,” jawabku sambil berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari terus berganti, tak terasa 3 purnama berlalu. Dan Ginger kecil telah menjelma menjadi Ginger yang anggun dan kuat. Bahkan dia telah mendominasi seluruh pot itu. Aku senang melihat perkembangannya. Aglonema cantik tertutup sudah di balik rimbun Ginger. Dia hanya mampu sesekali menunjukkan diri ketika angin menggoyang Ginger. Tapi dia tak menyerah. Sekuat tenaga dia bertumbuh. Dan akhirnya pelan namun pasti dia mampu unjuk gigi. Meski tetap saja dia harus pintar-pintar mencuri waktu. Ginger sudah terlalu besar kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pot berwarna kuning semburat merah bata itulah yang akhirnya kewalahan. Setiap saat dia harus melihat dua makhluk cantik itu berperang. Berebut tempat, berebut kuasa. Aku jadi ikut-ikutan memperhatikan mereka. Tapi setiap kali kuperhatikan, aku seperti melihat mereka semakin ganas. Mereka berusaha menarik perhatianku dengan berbagai cara. Aglonema sebagai penghuni lama, dan Ginger sebagai penghuni baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Putri, bukankah dulu engkau yang membawaku datang kemari dengan penuh kasih sayang? Kau tanam aku, kau rawat aku sepenuh hatimu. Tolong, jangan perlakukan aku seperti ini. Enyahkan dia dari tempatku. Lagian, kalau dibandingkan jelas aku lebih cantik, lebih menarik. Dia, apa yang bisa dibanggakan darinya,” Aglonema mencoba menarik hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Putri, aku juga tidak pernah memintamu untuk membawaku ke sini. Engkau juga yang memutuskan menolongku, merawatku, menjauhkanku dari tangan-tangan tak bertanggung jawab. Engkau membiarkanku tumbuh dan berkembang di sini. Hingga aku menjelma menjadi sosok yang kuat. Adilkah jika  tiba-tiba engkau mencerabutku dari sini? Bukankah dulu engkau memutuskan menaruhku di sini karena dia telah kau anggap tak berguna lagi?” Ginger berseru tak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Putri, engkau harus segera membuat keputusan. Yang mana yang akan kau pilih. Engkau tak bisa terus mempertahankan dua-duanya seperti ini. Kasihan mereka jika terus begini. Ayolah, buat keputusan. Sebelum engkau semakin sulit untuk memutuskan. Sebelum engkau melihat kerusakan. Jika cantik yang kau lihat sekarang, bisa kupastikan  dua tiga bulan lagi kerusakanlah yang akan kau saksikan. Kasihani juga aku. Tak mampu aku terus menerus mendamaikan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku pusing mendengar seruan-seruan mereka. Yang manakah yang harus kupilih. Aglonema, dialah yang pertama tinggal di situ. Ginger, meski dia baru tapi dia telah menguasai tempat itu. Akar-akarnya telah menghunjam kuat di pot berwarna kuning semburat merah bata itu. Umbinya-pun sudah mulai terlihat. Sebentar lagi bisa untuk membuat wedang jahe. Tapi Aglonema, kasihan kalau dia kupindahkan. Pasti dia sakit hati. Perjuangannya untuk mempertahankan diri juga luar biasa. Aduh, semakin bingung jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman, bisa membantuku? Yang manakah yang harus kupertahankan. Aglonema atau Ginger. Aku tahu, bagaimanapun aku harus mengambil keputusan. Betul kata pot berwarna kuning semburat merah bata itu. Mempertahankan dua-duanya hanya akan merusak mereka. Jadi ingat nasehat salah satu guru. Beliau pernah berkata, lebih baik meletakkan dua telur di keranjang berbeda. Jangan dalam satu keranjang. Kalau dalam satu keranjang, begitu bergesekan, pecah dua-duanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku tak ingin mereka pecah, mereka rusak. Aku ingin dua-duanya terus hidup,, tumbuh dan berkembang. Memberikan bakti terbaik mereka pada dunia. Bukan hanya padaku saja. Meski untuk itu aku harus rela melepas salah satunya, dan memindahkannya ke pot lain. Tapi yang mana yang harus kupindah…………..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catt.&lt;br /&gt;Begitu terasa dekat kan kisahnya? Aglonema vs Ginger hanyalah satu kisah dari sekian kisah senada. Bahwa dalam hidup, kita harus mampu membuat pilihan-pilihan. Pilihan terbaik bukan saja hanya untuk kita, tapi juga untuk orang-orang di sekitar kita, untuk kehidupan semesta. Karena satu pilihan kita, sudah pasti akan mempengaruhi jalinan cerita dari seluruh cerita kehidupan semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, dunia yang selalu dipenuhi hal-hal tak terduga ini memang mensyaratkan hadirnya orang-orang yang senantiasa siap mengambil keputusan. Laksana Arjuna dan Srikandi dalam perang Bharatayuda. Andai Arjuna lebih memilih rasa dan tak mau menjadi panglima menghadapi Karna, mungkin Bharatayuda menjadi lain ceritanya. Andai Srikandi memilih untuk tetap menjadi wanita di balik layar, mungkin Pandawa tak meraih kemenangan. Sesulit apapun, tetap saja keputusan harus ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* untuk yang sedang harus membuat pilihan, sesulit apapun keputusan harus ada. Semoga diberi bening hati, jernih fikir, hingga terambil keputusan terbaik. Untukmu, untuknya, untuk kita.&lt;br /&gt;* gambar diambil dari &lt;a href="http://www.cartoonstock.com/.../sra/lowres/sran311l.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-4454443075774928764?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2009/04/kali-ini-tak-ingin-ku-bercerita-yang.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/Sd4HhfWHhLI/AAAAAAAAAFg/qR0FDAIC_fw/s72-c/dilema.jpeg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">40</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-2894292529586815427</guid><pubDate>Tue, 24 Mar 2009 08:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-24T02:02:40.625-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dunia Bisnis</category><title>Kolaborasi Antara</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/Scid9eTkZ5I/AAAAAAAAAFI/56QcOK5Xn8k/s1600-h/Canoe+24040014.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 217px; height: 162px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/Scid9eTkZ5I/AAAAAAAAAFI/56QcOK5Xn8k/s320/Canoe+24040014.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316673039543592850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ngisor ringin di rembang senja. Warna merah lembayung sudah mulai membayang di langit Jogja. Dua pemuda bersemangat baja, seorang bapak muda, digenapi seorang gadis berderai tawa cemara. Berempat mereka melingkari meja segi panjang berlapis kaca. Empat gelas teh panas melengkapi hangat diskusi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mas, dua teman kita ini sedang ingin merintis usaha. Sebenarnya bukan hanya dua orang, tapi lima orang. Kebetulan yang bisa datang hanya berdua saja. Nah, mereka kebingungan mau menentukan bisnis apa yang cocok untuk mereka. Cocok di fikir, cocok di rasa dan tentu saja cocok di kantong. Saya sudah menawarkan untuk mengikuti program coaching kita. Dan mereka sepakat. Kemarin kami sudah mencoba memetakan daya dukung apa saja yang dimiliki, tapi belum selesai. Dan akhirnya itu menjadi pe-er mereka. Nah, hari ini kita akan mencoba mempertajam diskusinya,” Gadis berderai tawa cemara mulai mengarahkan diskusi, setelah obrolan ngalor-ngidul dirasa telah cukup menghangatkan suasana.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya diskusipun dimulai dari sini. Dua pemuda bersemangat baja menceritakan ide-ide mereka, idealisme mereka, bacaan mereka terhadap dunia usaha di sekitar mereka, juga alasan-alasan mereka mau terjun ke dunia bisnis. Heboh sekali cara mereka bercerita. Bapak muda dan gadis berderai tawa cemara mendengar seksama, terkadang tersenyum simpul, juga menderai tawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak muda mengulum senyum. Melihat semangat dua pemuda di depannya, binar cemerlang di mata mereka, dia melihat pantulan semangat mudanya. Beruntung sekali mereka, pikir bapak muda. Dulu dia harus memulai sendirian, tak ada yang mendampingi. Jatuh bangun, tertatih, merangkak, berjalan lambat, dan akhirnya pelan tapi pasti melangkah mantap, sampai akhirnya bisa berlari. Dan untuk melewati proses itu, dia bertaruh dengan waktu. Dan bapak muda senang bisa bertemu dua pemuda itu sekarang. ”Semoga aku bisa mempercepat proses,”pikir bapak muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis berderai tawa cemara mengangguk-anggukkan kepala, seakan memahami apa yang ada di pikiran bapak muda. Ah, senangnya mempertemukan dua generasi, dua semangat yang meski berbeda cara pengungkapannya, tetap berenergi sama. Paling tidak itulah yang dilihat gadis berderai tawa cemara. Semoga kolaborasi ini akan melahirkan tim yang tangguh. Ah, ya... kolaborasi antara.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalian berlima ya. Berarti ada lima kepala, dan tentu saja saya yakin ada banyak ide, banyak kemauan di sana. Jika kalian ingin berbisnis bersama, paling tidak lakukan empat hal ini dulu. Pertama, samakan visi. Tanpa visi yang sama, kalian tak akan pernah bisa melangkahkan kaki di jalur yang sama. Alih-alih saling mendukung, bisa-bisa energi kalian habis untuk tarik ulur menentukan arah jalan. Visi yang kalian sepakati itulah yang akan menjadi &lt;i style=""&gt;guidence&lt;/i&gt;, arah kemana kalian harus melangkah,” bapak muda memulai wejangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kedua,tentukan nilai-nilai yang mendasari bisnis. Nilai apa yang akan diusung dalam menjalankan bisnis. Bisnis yang berlandaskan pada nilai tak akan mudah goyah ketika angin datang menerpa. Cari nilai yang kalian sepakati untuk diusung. Misal, nilai-nilai syariah, nilai-nilai pemberdayaan dll. Pernah melihat iklan seperti ini, ”Satu gigitan produk yang Anda makan akan membantu 1 anak menghafal Al Quran.” Ini adalah salah satu contoh aplikasi nilai-nilai dalam bisnis. Nilai-nilai yang melandasi bisnis membantu kita meneguhkan langkah, memompa semangat untuk terus maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ketiga, beri kesempatan pada semua anggota tim untuk menyampaikan ide bisnisnya, sehingga terkumpul banyak alternatif ide. Harus ada independensi dalam share ide. Ini perlu agar kita bisa memperluas ide. Jangan sampai ide satu orang mengkooptasi yang lain. Nah, tugas untuk masing-masing person adalah membuat ide minimal 5 jenis. Pada pertemuan selanjutnya kita akan mendapatkan 25 jenis ide. Nanti kita akan analisa bersama-sama, mana yang paling berpeluang untuk dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Keempat, identifikasi kekuatan yang kita punya. Dari sisi jaringan, expertise, dan komunitas. Daya dukung apa saja yang kita miliki. Daya dukung ini juga akan membantu menginspirasi ide yang muncul. Lakukan &lt;i style=""&gt;mind map&lt;/i&gt; untuk mengeksplorasi ide-ide di sekitar kita. Jangan heran ketika kalian nanti akan mendapati begitu banyak ide yang bisa kalian explor. Karena pada dasarnya ide-ide tersebut sudah ada, tinggal memanggil file-nya dari folder di otak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak muda mengakhiri monolog panjangnya. Dua pemuda bersemangat baja memberondong bapak muda dengan berbagai pertanyaan. Mereka nampak seperti musafir yang kehausan dan menemukan sebuah mata air. Gadis berderai tawa cemara begitu menikmati suasana tersebut. Dirasakannya energi tiga lelaki beda generasi itu tumpah ruah memenuhi ruangan. Dihirupnya pelan. Ingin sekali dihirupnya semua energi, agar nanti bisa dia sebarkan ke semesta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis berderai tawa cemara meraih map, mengambil berkas berisi data masing-masing anggota kelompok. Ditelusurinya masing-masing, mencoba memetakan karakter dan potensi masing-masing. How great, semuanya memiliki kekhasan. Baik karakter, skill, latar ekonomi, background pendidikan. Mengkolaborasikan lima orang ini dalam kolaborasi yang indah tentu tidak mudah. Jelas perlu waktu. Ada proses yang harus dijalani, ada harga yang harus dibayar. Tapi jika mereka siap dengan konsekuensinya, mengapa tidak. Jika pun mereka belum siap dengan konsekuensinya, justru tugas terbesar adalah untuk menyiapkannya. Ah, lagi-lagi tentang kolaborasi......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolaborasi antara.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika merah adalah nada&lt;br /&gt;Dan biru adalah irama&lt;br /&gt;Akankah ungu menjalin rasa......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andainya pelangi adalah abadi&lt;br /&gt;Kan kusunting asa dalam tautan janji.............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-2894292529586815427?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2009/03/kolaborasi-antara.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/Scid9eTkZ5I/AAAAAAAAAFI/56QcOK5Xn8k/s72-c/Canoe+24040014.JPG" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">31</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-4365991471349597057</guid><pubDate>Sun, 08 Mar 2009 13:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-08T07:04:27.658-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">wanita-wanita perkasa</category><title>Wanita-wanita Perkasa Spesial : Mereka Yang Tak Menyerah</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SbPQK7xKiXI/AAAAAAAAAE4/dvgdFp4Ny7o/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 128px; height: 115px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SbPQK7xKiXI/AAAAAAAAAE4/dvgdFp4Ny7o/s200/images.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310817271861119346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa tepat satu bulan sudah saya menyepi. Dan saatnya untuk kembali. Pa kabar teman-teman..? Maaf untuk menghilang tanpa kabar. Ada kalanya hidup tidak memberi kita kesempatan bahkan untuk sekedar say goodbye. Halah, apa lagi ini… yang jelas saya baik-baik saja. Hanya perlu waktu untuk berkonsentrasi pada beberapa hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya bermain layang-layang, ada kalanya kita perlu mengulur tali, tapi di lain waktu kita juga perlu menariknya pelan, atau bahkan menyentak talinya keras. Nah, beberapa waktu ini saya memilih mengkandangkan layang-layang. Ada beberapa bagian yang perlu direparasi. Plus memberi nyawa baru. Karena tampaknya begitu banyak energi yang terkeluarkan. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dalam proses ini. Satu oleh-oleh saya persembahkan untuk Anda sekalian……….&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medio Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak, maaf mengganggu. Saya harus ketemu dengan Mbak. Saya tau Mbak lagi banyak masalah. Tapi saya sudah tidak tau lagi harus minta bantuan siapa. Saya tunggu nanti sore di tempat biasa ya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan singkat dari salah satu anggota komunitas kecil yang sedang saya bangun itu membuat saya tersentak. Masya Allah, beberapa waktu ini saya tanpa sadar mengabaikan mereka. Beberapa masalah yang datang bersamaan memaksa saya mengeluarkan energi lebih. Dampaknya bisa ditebak, beberapa hal jelas terabai. Ini tentu saja tak bisa dibiarkan. Saya harus segera beranjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas kecil ini tak bernama. Kami bertemu karena kesamaan visi. Mengubah hidup menjadi lebih baik. Mendorong semua anggota menjadi manusia yang lebih baik, mandiri, dan tangguh. Tak mudah menyerah pada keadaan yang seringkali memarginalkan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemandirian ekonomi menjadi prioritas komunitas ini. Wanita seringkali berada pada posisi lemah sebagian besar karena factor ekonomi. Pada banyak kasus, wanita mengalami kesulitan mempertahankan haknya ketika ia lemah secara ekonomi. Maka di komunitas ini kami merangkai mimpi. Wanita harus mandiri secara ekonomi. Agar ia mampu menolong dirinya sendiri dan lebih jauh mampu menolong orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas kecil ini berlandas pada asas manfaat. Ketika kau merasakan manfaat dari keberadaan komunitas ini maka mari bergandeng tangan dan menyebarkan nilai-nilainya dimanapun engkau berada. Jika tak merasakan manfaatnya, engkau boleh pergi meninggalkannya. Jika satu saat ingin kembali, engkau tau harus kemana. Ya, sesimple itulah aturan main yang kami buat. Dan ternyata justru itulah yang membuat komunitas ini mampu bertahan dan pelan namun pasti semakin membesar jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di komunitas ini kami tidak pernah mempermasalahkan latar belakang seseorang. Apa kasus yang sedang menimpa yang bersangkutan tidak pernah kami bahas secara detail, kecuali ada yang meminta bantuan. Kami belajar untuk tidak focus pada permasalahan yang melingkupi. Kami lebih focus pada upaya meningkatkan kapasitas dan kapabilitas masing-masing anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di komunitas ini saya belajar banyak hal. Tentang makna perjuangan, ketulusan, kesetiaan, pengorbanan, dan keagungan cinta. Maka saya berkhidmat pada Mbak Nisa, seorang yang ditinggal calon suaminya menikah dengan orang lain. Pada caranya memaafkan sang calon suami, pada keikhlasannya menyerahkan sang calon suami pada orang lain demi tak mau melukai hati wanita lain, pada keteguhannya menghadapi calon suaminya yang ingin kembali padanya karena tak mampu menumbuhkan cinta pada istrinya, pada kesabarannya menghadapi teror dari istri calon suaminya, juga pada perjuangannya untuk belajar membuka hatinya kembali untuk lelaki lain. Saya tau, tak mudah untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga belajar pada Mbak Mary yang dipaksa menikah oleh ayahnya untuk menyelamatkan ekonomi keluarga. Ayah yang telah meninggalkannya sejak kecil karena menikah lagi. Ayah yang tak pernah memperhatikannya sejak kecil, dan baru datang setelah mengetahui Mbak Mary mewarisi kekayaan tak seberapa dari neneknya. Pada perjuangannya yang luar biasa, saya sungguh berkhidmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun berkhidmat pada Mbak Ai’ yang dikhianati suaminya dan harus berjibaku menghidupi 4 orang anaknya. Karena suaminya “lupa” menafkahi keluarganya sejak bertemu dengan wanita lain yang jauh lebih muda, lebih cantik, dan lebih kaya. Sungguh, cinta agungnyalah yang akhirnya membuat suaminya kembali padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Mbak Ning saya belajar arti kesetiaan. Kemiskinan membuatnya rela terpisah dari kekasihnya. Keinginan mereka menikah terpaksa ditunda untuk waktu yang mereka sendiri tak mampu menebaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Mbak Mulia saya belajar pengorbanan. Beliau rela menunda untuk belum menikah demi berjibaku mencari nafkah untuk keluarganya. Demi sekolah adik-adiknya. Demi kepul asap dari dapur keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Mbak Tuti saya belajar memaafkan masa lalu. Pengkhianatan calon suaminya tepat di saat ia keguguran membuatnya hampir bunuh diri. Hanya kemauan kerasnya saja yang mampu membuatnya bangkit dari keterpurukan selama bertahun-tahun, dan membuka hatinya untuk orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Mbak Nana saya belajar menghapus dendam. Dendam yang tak sengaja dia tanam pada sang ayah karena melihat sang ibu diperlakukan kasar. Dendam yang membuatnya terobsesi mempecundangi laki-laki. Dendam yang membuatnya sulit menerima kehadiran laki-laki di hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Mbak Amik saya belajar berani menantang hidup. Meninggalkan keluarga yang selalu menyudutkannya karena beliau hanyalah anak tiri. Berbekal tekad saja, beliau menjejakkan kaki di Jakarta. Menantang Jakarta justru dengan ketidakberdayaannya. Jika kini justru peer group-nya lah yang paling berkembang, saya tidak heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada batas dari apa yang dapat Anda lakukan. Sesungguhnya batasan itu hanya ada di pikiran Anda. Tetap berpikir dan berjiwa besar. Sesungguhnya Tuhan bergantung bagaimana kamu berprasangka. Bukan begitu Mbak?” Itu jawaban beliau ketika ditanya anggota komunitas yang lain. Saya pun hanya mengangguk, mengamini apa yang dikatakannya. Saya jadi teringat perbincangan dengan seorang teman. Dia bilang akan menaklukkan Jakarta dengan keahliannya. Saya pun akan menaklukkan Jakarta dengan cara saya sendiri. He…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, komunitas yang dulu hanya bertiga itu sekarang sudah mulai besar lingkarannya. Senang, tentu saja. Berarti semakin banyak wanita yang ingin mengubah kualitas hidupnya. Dengan semakin banyak wanita yang “baik” maka semakin terbuka kemungkinan untuk semakin membaikkan dunia kan. Karena wanita adalah tonggak penegak negara bangsa. Karena wanita adalah madrasah untuk anak-anaknya. Karena wanita adalah tempat kembali bagi suaminya untuk mencharge energi. Jika energi positif yang terberikan, semoga energi itulah yang mewarnai dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa pada satu saat tertentu dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada diri kita, dan hidup kita lalu dikendalikan oleh nasib. Itulah dusta terbesar di dunia (Paulo Coelho dalam Sang Alkemis). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun yang terjadi, kitalah yang harus mengendalikan hidup, bukan hidup yang mengendalikan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Tribute to all woman in the world. “Selamat Hari Perempuan Sedunia”&lt;br /&gt;•Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.hot-screensaver.com/.../never-give-up.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-4365991471349597057?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2009/03/wanita-wanita-perkasa-spesial-mereka.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SbPQK7xKiXI/AAAAAAAAAE4/dvgdFp4Ny7o/s72-c/images.jpeg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">33</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-175744085092963285</guid><pubDate>Sun, 08 Feb 2009 06:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-07T23:45:10.474-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mutiara berserak</category><title>Mengubah Indonesia dari Pojok Angkringan</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SY6NDAIOmTI/AAAAAAAAAEo/8rDadKdYgfE/s1600-h/ANGKRINGAN+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 148px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SY6NDAIOmTI/AAAAAAAAAEo/8rDadKdYgfE/s200/ANGKRINGAN+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300328894175287602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Angkringan"&gt;Angkringan&lt;/a&gt; Ngisor Ringin di rembang senja. Kang Paidi, juragan angkringan sibuk menyiapkan dagangan. Terlihat tiga orang pembeli dengan setia menunggu Kang Paidi selesai beres-beres. Siapa mereka, tentu saja Gombloh, Joko dan Glundung. Mereka adalah pembeli setia Kang Paidi. Gombloh juru parkir, Joko sang office boy di sebuah perusahaan periklanan, dan Glundung pekerja di pabrik furniture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih lama, Kang? Aku haus tenan. Dari tadi disuruh Bos kesana kemari,” Glundung melongokkan kepala ke seberang meja. Kang Paidi sedang menjerang air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar Ndung. Ini sudah mendidih kok,” jawab Kang Paidi kalem.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Yo sabar to Ndung, lha kamu kan datang belakangan tadi. Aku dulu yang dibuatin yo Kang,” Gombloh tidak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wis, nggak usah rebutan. Kalian ini seperti partai yang sedang rebutan massa saja. Semuanya ngakunya nomor satu. Nanti kalau ada pembagian kuasa mintanya juga dijatah nomor satu. Giliran disambati rakyatnya larinya juga nomor satu. Uuuh..,” Joko yang sedari tadi diam tiba-tiba bersuara panjang lebar. Glundung dan Gombloh bengong melihat Joko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kenapa Jok, nggak ada angin nggak ada hujan kok marah-marah. Wuih, panas tenan,” Gombloh menempelkan tangannya di dahi Joko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana nggak panas, tadi barusan aku ketiban bendera parpol di jalan. Untung nggak jatuh,” sungut Joko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha, kamu ketiban sampur itu namanya. Wis, dimaklumi saja. Mereka itu kan sedang berusaha sebaik mungkin agar dikenal orang. Ngomong-ngomong besok kamu mau milih nggak Jok. Apa mutung karena ketiban bendera parpol,” giliran Glundung yang menggoda Joko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maunya aku nggak usah milih. Bukan karena mutung ketiban bendera tadi, tapi aku sudah bosan dengan janji-janji manis parpol. Tapi MUI katanya sudah memfatwakan haram kalau golput. Lha gimana dong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, kalau golput berarti kamu tidak membantu negeri ini. Kamu kan hidup di Indonesia tho? Kalau bukan kita yang membantu negeri kita sendiri terus siapa?” kata Gombloh sok bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Weh, kamu bisa bicara seperti itu nyontek darimana Mbloh? Apa di MLM-mu juga diajarin kata-kata seperti itu?” Glundung menggoda Gombloh. Beberapa waktu ini Gombloh memang bergabung dengan sebuah perusahaan MLM. Sejak itu Gombloh mengalami peningkatan dalam berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alah, kamu iri tho. Ngaku aja. Aku gabung di MLM untuk mengubah hidupku. Biar tidak menambah beban pemerintah. Kata up line-ku, jumlah penduduk miskin Indonesia itu banyak sekali. Jutaan. Nah, salah satu cara membantu negeri ini adalah mengurangi jumlah orang miskin yang semestinya menjadi tanggungan pemerintah. Paling tidak kita sendiri jangan sampai menjadi bagian dari mereka. Makanya kita harus berjuang untuk menjadi kaya. Begitu Ndung,” Gombloh menjelaskan berapi-api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Mbloh. Kata Mas Bosku juga seperti itu. Makanya sekarang aku sedang belajar sama Mas Bos bagaimana caranya aku bisa pinter dan menghasilkan banyak uang. Aku kemarin diajari nyari duit lewat internet,” Joko juga tidak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha iso po? Pantesan kamu jadi keranjingan ke warnet. Tapi beneran nggak itu. kalau MLM-e Gombloh aku sudah diajak ketemu sama up line-nya. Aku sudah ngerti cara sama itung-itungannya kenapa bisa mendapatkan uang di sana. Tapi aku nggak punya waktu kalau disuruh mengerjakan seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halah, kamu itu sok sibuk tenan. Bener kok. Mas Bosku kemarin cerita dia mendapatkan banyak pelanggan itu dari internet. Mas Bos juga cerita kalau teman-temannya banyak yang sukses dan mensukseskan orang lain dari internet juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang paling aku seneng ketika Mas Bos cerita tentang temannya, namanya Mas Agus. Dia mempromosikan pariwisata Jogja lewat internet. Kalau nggak salah nama tokonya di internet itu &lt;a href="http://www.yogyes.com/"&gt;yogyes.com&lt;/a&gt;. Dan ternyata dia sukses. Banyak sekali yang terbantu. Pemerintah, karyawan-karyawannya, keluarganya, pedagang pasar Malioboro, pedagang Alun-alun Utara,  tukang-tukang becak, sopir angkutan, sopir taksi, hotel dan seluruh karyawannya, bahkan tukang ngamen dan tukang copet juga. Lha itu mulia banget tho,” Joko semakin bersemangat cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kok semua disebut. Ngarang kamu itu,” sanggah Glundung tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dibilangin malah ngeyel. Bahkan bosmu itu juga termasuk yang terbantu. Bosnya Gombloh juga. Termasuk Kang Paidi juga. Lha banyak orang setelah melihat yogyes.com trus jadi tertarik. Terus mereka datang berkunjung ke sini. Termasuk bule-bule itu. Lha wong tokonya itu bisa dilihat sampai luar negeri sana,” Joko meneruskan penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya aku juga mau belajar. Aku kan juga mau menyelamatkan negeriku. Mas bosku sudah janji mau membantuku kok. Nah, Gombloh mau membantu negeri ini lewat MLM-nya. Aku mau meneruskan jejak Mas bosku dan Mas Agus. Lha kalau kamu mau lewat apa Ndung,” Joko balik bertanya yang membuat Glundung tampak bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndung, bosmu kan sedang ndaftar jadi caleg. Berarti nggak ada waktu ngurusi bisnisnya tho. Sudah, kamu embat saja,” ujar Gombloh memanas-manasi Glundung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Embat, embat, emangnya tempe gorengnya Kang Paidi po. Yo aku sebenarnya juga sedang belajar sama bosku juga. Bagaimana caranya mencari order, menangani order, sampai mengirim barang ke pemesan. Kalau untuk membuat barangnya aku wis canggih. Lha wong aku wis diangkat jadi supervisor je,” Glundung menyeruput teh panas yang baru saja disodorkan Kang Paidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya aku juga pengen mendirikan usaha sendiri. Tapi aku masih takut. Aku bisa membuat produknya. Aku juga sudah tahu kemana harus mencari bahan bakunya. Bahkan supplier bahan bakunya Bosku sudah bilang kalau aku mau mendirikan sendiri, dia akan membantuku. Tapi aku takut tidak bisa memasarkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening sejenak. Gombloh dan Joko bingung harus berkata apa. Tiba-tiba Joko menjentikkan jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndung, aku ada ide. Bagaimana kalau produkmu diiklankan lewat internet saja. Nanti biar aku yang ngurusin. Aku kan sudah bisa membuat blog. Nanti aku akan minta Mas Bos ngajari bagaimana caranya menampilkan produk-produkmu di blog.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O iya, bosku kan juga memasarkan produknya juga lewat internet. Tapi Mbak Fitri yang ngurusin, jadi aku nggak tahu bagaimana caranya. Wah, boleh Jok. Kamu memang best friend tenan,” Glundung bersemangat mendengar tawaran Joko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, Gombloh, Joko dan kamu Ndung, semua sudah ketemu bagaimana mau membantu negeri ini. Lha kalau aku terus bagaimana?” Kang Paidi yang sedari tadi diam mendengarkan perbincangan tiga sekawan itu angkat suara. Tiga sekawan saling pandang satu dengan yang lain. Gombloh-lah yang kemudian angkat bicara dengan gayanya yang sok bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kang, dengan tetap berjualan di sini berarti Njenengan sudah membantu menyelamatkan negeri ini. Kang Paidi kan menyelamatkan orang-orang kelaparan seperti kami. lha kalau kami kenyang kan kami bisa bekerja. Berjuang menyelamatkan negeri ini. Apalagi kalau Kang Paidi tidak ikut-ikutan menaikkan harga. Wah, benar-benar menyelamatkan kami itu. Begitu tho kawan-kawan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uh, dasar. Bilang saja kalau nggak mau kunaikkan harganya. Pake bawa-bawa menyelamatkan negeri segala. Tapi tak pikir-pikir benar juga kalian. Daripada pusing memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan negeri ini, mending kita bekerja sebaik-baiknya. Lha aku bisanya ngangkring ya ngangkring tho,” Kang Paidi menyerah tapi tak kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul Kang, tapi kita perlu kreatif biar ada peningkatan hidup. Kemarin di internet aku sempat melihat ada angkringan yang dilengkapi dengan fasilitas internet gratis. Bahkan mereka juga punya blog untuk menjaga hubungan dengan konsumen lama dan  menjaring konsumen baru. Kalau nggak salah namanya &lt;a href="http://wetiga.com/"&gt;wetiga.com&lt;/a&gt;. Nah, Kang Paidi bisa melakukan hal yang sama atau bahkan lebih,” Joko membuat Kang Paidi terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Weh, iya tho Jok. Lha mbok kamu membantuku. Biar bisa seperti mereka. Nanti setiap kamu ke sini minumnya tak gratisin wis. Lha aku kan ndak ada duit untuk mbayar kamu,” Kang Paidi mencoba merayu Joko. Yang dirayu senyum-senyum nggak jelas. Karena semakin nggak jelas, Gombloh dan Glundung pun bersepakat menjewer kuping Joko. Gombloh kuping kiri, Glundung kuping kanan. Alhasil Joko mengganti senyumnya dengan jeritan panjang. Dan tawapun meledak dari Angkringan Ngisor Ringin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja makin merah. Perlahan namun pasti mentari menyusup ke dekap malam. Namun dia telah menjadi saksi atas mimpi-mimpi indah empat orang di angkringan ngisor ringin, pojok alun-alun utara. Dia berjanji esok hari akan membangunkan mereka dengan sinar paling lembut. Mengiringi langkah-langkah mereka untuk mewujudkan mimpi mulia. Mengubah cerita kehidupan mereka. Mengubah cerita tentang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Selarik rindu untuk Kang Paidi. Asli, kurindukan sensasi kemepyar teh jahenya. Pindah kemanakah Njenengan?&lt;br /&gt;* Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.geocities.com/tarbenjo/ANGKRINGAN.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-175744085092963285?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2009/02/mengubah-indonesia-dari-pojok.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SY6NDAIOmTI/AAAAAAAAAEo/8rDadKdYgfE/s72-c/ANGKRINGAN+2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">40</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-3256084390052313774</guid><pubDate>Sun, 01 Feb 2009 09:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-01T02:49:32.999-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mutiara berserak</category><title>Dian Sastro for President ?</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SYV9UbEB3GI/AAAAAAAAAEY/z84vqWZhdTQ/s1600-h/dian+sastro.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 74px; height: 88px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SYV9UbEB3GI/AAAAAAAAAEY/z84vqWZhdTQ/s200/dian+sastro.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297778326486768738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Genderang perang pemilu sudah ditabuh jauh-jauh hari. Adu strategi antar capres tak terelakkan lagi. Saya dalam peperangan ini memilih menjadi penonton saja. Lha mau ikut jadi pemain nggak punya bekal …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menarik dari proses ini menurut saya. Munculnya tokoh-tokoh muda menjadikan proses ini terasa segar. Strategi-strategi kreatif bin unik dalam mengenalkan diri dan menjaring simpati pun bermunculan. Perang antar capres bukan lagi sekedar perang content. Perang ini sudah melebar ke adu kreatifitas antar tim kreatif masing-masing capres. Dan saya sebagai penonton tentu saja menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara kreatif yang digunakan oleh para capres adalah memanfaatkan media online untuk mempertajam gerak mereka. Ambil contoh, &lt;a href="http://bugiakso.com/lomba/"&gt;lomba blog “Aku untuk Negeriku”&lt;/a&gt; yang digelar oleh &lt;a href="http://bugiakso.com/"&gt;Bugiakso&lt;/a&gt;. Terlepas dari mengaku tidaknya beliau atas niatan di balik lomba ini, nuansa kepentingan politik ini kental terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebetulnya tidak terlalu peduli dengan niatan di balik gelaran lomba itu. Apapun niatannya, yang jelas Bugiakso sudah memberikan apresiasi besar untuk dunia perbloggingan. Nah, tak ada salahnya kan kalau kita membalas apresiasi tersebut. Atau kalaupun niatnya bukan untuk membalas apresiasi, ada hadiah menarik yang bisa dijadikan sebagai niatan. Saya kira Netbook, HP 3G, dan kamera digital adalah hadiah yang lumayan menarik. Plus, Anda bisa memberi sumbang ide untuk Kang Bugi cs. Tentang langkah-langkah inspiratif yang bisa Anda lakukan sebagai anak negeri untuk Indonesia. Eits, jangan tuduh saya sebagai tim iklannya Kang Bugi ya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By the way, cara yang dilakukan Kang Bugi ini mengingatkan saya pada fase kampanye Obama dulu. Pertanyaannya adalah mampukah tim kreatif Bugiakso menyamakan jejak dengan tim kreatif Obama? Kita lihat saja ke depan, ide kreatif apalagi yang bisa disuguhkan pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbincang tentang Kang Bugi dan capres lain, saya jadi teringat pada &lt;a href="http://blog.diansastrowardoyo.net/"&gt;Mbakyu Dian Sastro&lt;/a&gt;. Beberapa tahun yang lalu saya menerima hadiah sebuah buku antologi puisi berjudul “Dian Sastro fo President”. Buku itu saya terima dari teman seperjuangan yang kebetulan salah satu puisinya nangkring di chart ke-entah di buku tersebut. Pihak penerbit memberinya dua buku sebagai imbalan. Dan saya ketiban hadiah itu karena saya dinobatkannya sebagai teman paling cerewet dan paling bawel se-Indonesia raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada puisi tentang Dian Sastro di buku tersebut. Yang jelas terasa adalah nuansa kental kegerahan atas apa yang terjadi di republik ini dan dunia secara umum. Kegerahan yang bermuara pada harapan untuk munculnya kehidupan yang lebih ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin muncul pertanyaan di benak Anda, kenapa Dian Sastro dijadikan sebagai icon perlawanan? Saya juga tidak tahu pasti. Tapi menurut saya Mbakyu saya yang cantek luar biasa itu memang pantas dijadikan sebagai icon. Kepiawaiannya bermain lakon tak perlu diragukan lagi. Dia berhasil mengharmonisasikan seluruh potensi dirinya menjadi sajian indah dan bernyawa. Melihat Dian bermain film tak hanya melihat seorang Dian Sastro yang menjadi sosok lain karena menghafal teks cerita dan gerak tubuh. Kecerdasan, kecantikan, dan seluruh potensi manusia yang lain lebur di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata bukan hanya saya yang mengakui potensi Mbakyu Dian. Lenovo, pemimpin global dalam pasar PC (personal computer) juga mengakui kapasitasnya. Mbakyu Dian dipilih sebagai pembawa obor dari Indonesia untuk berpartipasi dalam Beijing 2008 Olympic Torch Relay. Mbakyu Dian dipilih karena kemampuannya  sebagai seorang duta, membawa kebudayaan dan film Indonesia ke Asia Pasific sekaligus meningkatkan kesadaran dan pengetahuan akan kreatifitas dan kesenian Indonesia. &lt;a href="http://www.entry-indonesia.com/index.php?show=news_detail&amp;amp;berita=205"&gt;Dia dikategorikan sebagai Imaginative dari kriteria New Thinker Lenovo.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda dan saya mungkin mempunyai persepsi yang berbeda. Tapi itu tidak menyurutkan niat saya untuk menawarkan kepada Anda, bagaimana kalau Mbakyu Dian kita calonkan sebagai capres. Saya lihat Mbakyu Dian bisa merangkul semua fihak. Plus, dia punya bekal imaginative yang akan sangat membantu Indonesia keluar dari krisis. Masalah pengalaman dan kemampuan, pinter-pinter tim kreatifnya lah untuk merancang ca-kabinet yang bisa menutupi kekurangan dan mempertajam kelebihan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana? Apakah Anda setuju? Kalau Anda tetap tidak setuju mungkin saya akan menawarkan ke teman saya saja. Beliau sedang menggagas kemunculan &lt;a href="http://republikkreatif.com/republik-kreatif/kabinet-blogger-kreatif-2009/#more-27"&gt;Republik Kreatif&lt;/a&gt;. Dan sekarang sedang menyusun calon kabinetnya. Tapi saya belum melihat siapa calon presiden dan calon wapresnya. Kalaupun capresnya sudah ada, paling tidak saya bisa mencalonkan Mbakyu Dian sebagai cawapresnya. Seperti Mcain-Sarah Palin tho? Lha saya mau mencalonkan Mbakyu Dian sebagai menteri yang membidangi per-film-an sudah ada nama &lt;a href="http://hanungbramantyo.multiply.com/"&gt;Kangmas Hanung Bramantyo&lt;/a&gt;. Untuk yang ini saya harap Anda sependapat dengan saya. Bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* gambar diambil dari &lt;a href="http://www.entry-indonesia.com/news/dian%20sastro-20080412-202708.JPG"&gt;sini.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-3256084390052313774?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2009/02/dian-sastro-for-president.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SYV9UbEB3GI/AAAAAAAAAEY/z84vqWZhdTQ/s72-c/dian+sastro.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">26</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-3358921563988168360</guid><pubDate>Fri, 23 Jan 2009 10:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-23T03:28:39.394-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">wanita-wanita perkasa</category><title>Wanita-wanita Perkasa : Simbok Ponijah dalam “Ketika Mas Brigadir Apris Pergi”</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SXmowmC7-aI/AAAAAAAAAEI/88KbmER4-rg/s1600-h/strong+women.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 351px; height: 221px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SXmowmC7-aI/AAAAAAAAAEI/88KbmER4-rg/s200/strong+women.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294448389750782370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Simbok Ponijah. Sosoknya tinggi besar untuk ukuran wanita pada umumnya dengan suara yang “kung”. Ramah, suka menolong, dan enteng saja ketika memberikan sesuatu ke orang lain. Di desaku, Beliau dikenal sebagai pembuat tempe benguk yang maknyuss rasanya. Anda tahu tempe benguk kan? Kalau tidak tahu sekali-kali mainlah ke Jogja. Dan nikmatilah rasa sensasional dari makanan tradisional ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selain sebagai pembuat tempe benguk, beliau juga dikenal sebagai ahli menanak nasi dalam jumlah besar. Keahlian beliau inilah yang sering menyelamatkan orang-orang yang sedang punya gawe.  Siapapun mungkin bisa menanak nasi. Tapi, menanak nasi untuk ratusan orang bahkan ribuan? Nanti dulu, yang jelas perlu keahlian khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu lagi yang nampak jelas dari beliau. Beliau dikenal sebagai wanita yang tangguh. Beliau membesarkan 8 orang anaknya sendirian. Anda tahu, ke-8 anaknya itu laki-laki. Yup, tak satupun terselip wanita di sana. Suaminya sudah meninggal ketika anak-anaknya belum beranjak dewasa. Dan berdasarkan keahlian beliau tadi plus menggarap sawah tinggalan suaminya, beliau membesarkan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada keluh, tak ada kesah yang terucap dari beliau. Beliau mendidik anak-anak dengan keras. Beliau menjelma seumpama Pandu Dewanata sekaligus &lt;a href="http://www.chicagogamelan.org/wayang/&amp;amp;usg=__2tmy_ya6iZaOWH6dMyypxadrj58=&amp;amp;h=160&amp;amp;w=104&amp;amp;sz=8&amp;amp;hl=id&amp;amp;start=4&amp;amp;tbnid=94LqcPLvXW6zcM:&amp;amp;tbnh=98&amp;amp;tbnw=64&amp;amp;prev=/images%3Fq%3Dkunthi%26gbv%3D2%26ndsp%3D20%26hl%3Did%26sa%3DN"&gt;Kunthi&lt;/a&gt;. Rumah dijadikan kawah candradimuka bagi anak-anaknya. Dan terbukti, menjelmalah Pandawa Delapan, bukan hanya Pandawa Lima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan beliau tidak sia-sia. Lima dari delapan anaknya berhasil masuk ke jajaran TNI/Polri. Salah satunya adalah Brigadir Apris SW, anak paling penurut dari sekian anak beliau (ini cerita yang beliau tuturkan sendiri). Sedang tiga anak beliau yang lain bekerja di sector swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=189116&amp;amp;actmenu=35"&gt;Brigadir Apris SW almarhum&lt;/a&gt;, ada banyak memori terekam di benak Simbok bersamanya. Kepergiannya yang begitu tiba-tiba dan tak disangka-sangka membuat Simbok dan seluruh keluarga shock. Meski akhirnya merelakan, tetap saja tak mampu mengingkari bahwa ada rasa berat menelisik di hati. Dua luka tembak di dada yang menghantarnya pergi menyisakan gamang di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan pelayat yang memberikan penghormatan terakhir menjadi saksi hancurnya seorang ibu ditinggal anaknya. Tapi di malam tahlil kedua, mereka juga menjadi saksi betapa tangguhnya Simbok. Beliau menjelma Srikandi dalam perang Bharatayuda. Aba-aba khas beliau sudah memenuhi ruangan ketika persiapan tak kunjung usai padahal warga sudah berdatangan. Senyum pun mengembang pasti dari bibir beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiga hari sebelum meninggal, Apris terlihat putih dan wangi. Kami sampai heran, kok tiba-tiba dia bisa putih seperti itu,” cerita Simbok terbata-bata. Aku memang baru bisa datang malam ini. Diare hebat selama tiga hari ternyata cukup mampu memaksaku untuk berdiam di kos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai hari ini, dua hari setelah dia meninggal, kamarnya masih wangi. Mbakmu saja sampai tidak berani masuk ke kamarnya untuk mengambil baju. Semoga ini pertanda dia diterima yo Nduk.”  Aku hanya menganggukkan kepala sambil menggenggam tangan Simbok erat. Mbakku adalah kakak ipar Mas Apris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia itu mau pulang Jum’atan. Memang sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu kalau Jum’atan pasti di rumah. Kecuali kalau sedang tugas jauh. Waktu jam meninggalnya, Simbok seperti melihat Apris berkelebat masuk rumah. Simbok tidak menyangka kalau itu terakhir kalinya Simbok melihat dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemarin sebelum berangkat dia sempat menitipkan Faisal ke Yani. Faisal memang dekat dengan kakak iparnya itu. Tapi ketika itu kami menganggapnya biasa saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga terus berdatangan memenuhi aula dan halaman rumah Simbok. Terlihat beberapa polisi di sudut halaman. Beberapa wartawan mondar-mandir mengabadikan momen ini. Dan Simbok, dengan senyum teduhnya terus menyapa tamu yang berdatangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbok, wanita tangguh ini benar-benar luar biasa. Faisal, putra almarhum, terlihat menggelendot manja pada simbahnya. Faisal memang dekat dengan Simbok. Mungkin karena Faisal juga yang menyebabkan Simbok segera bangkit. Jalan Faisal ke depan masih panjang. Dan Simbok, tentu saja akan menjadi garda depan untuk membukakan jalan bagi Faisal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Add&lt;br /&gt;* Teriring doa untuk Mas Apris. Semoga Allah menerima semua amal Mas Apris. Saya percaya, Allah telah menentukan yang terbaik bagi kita semua.&lt;br /&gt;* gambar diambil dari &lt;a href="http://i166.photobucket.com/albums/u113/Berutti63/strongwoman.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-3358921563988168360?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2009/01/wanita-wanita-perkasa-simbok-ponijah.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SXmowmC7-aI/AAAAAAAAAEI/88KbmER4-rg/s72-c/strong+women.jpeg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">23</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-4512003238198479231</guid><pubDate>Thu, 15 Jan 2009 03:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-14T19:54:28.353-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mutiara berserak</category><title>Dua Sopir, Dua Gaya Menyetir</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SW6wow52aFI/AAAAAAAAAEA/MTk1QvFj0X4/s1600-h/driver.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 118px; height: 104px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SW6wow52aFI/AAAAAAAAAEA/MTk1QvFj0X4/s200/driver.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291360826575710290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Senja Jogja, Pukul 17.30.&lt;br /&gt;Bus Kopata no 10x. “Depan kiri Pak”, seorang ibu muda memberi aba-aba pada sopir bus. “Ya Bu, kaki kiri dulu Bu”, Pak Sopir membalas dengan sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndung, ada yang mau turun. Kamu turun dulu. Lihat dari belakang ada motor nggak. Jangan lupa ingatkan ibunya kaki kiri dulu yang turun”.  Pak Saridi, sang sopir bus, berteriak mengingatkan Gandung, kernetnya. “Nggih, Pak”, Gandung balas teriak. Aku yang duduk di samping Pak Sopir tersenyum melihat adegan ini. Perhatian sekali Bapak ini. Tak banyak kutemukan sopir bus seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya Pak Sopir sadar kalau kuperhatikan. “Kernet baru Mba. Jadi saya harus ngajari dulu. Keselamatan penumpang jadi taruhannya”, Pak Sopir menjelaskan tanpa kuminta. “Lho, kernet yang lama kemana Pak”, tanyaku kemudian. “Saya pecat Mbak. Dia sering sembarangan saja menurunkan penumpang. Kasus terakhir, dia menaikkan tarif tanpa sepersetujuan saya. Alasannya tak ada uang kembalian. Saya tidak mau mengambil resiko Mbak. Daripada saya tidak tenang, mending saya ngajari orang baru”, Pak Sopir menjelaskan panjang lebar.  Saya tersenyum simpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus kembali melaju tenang. Elegan sekali cara menyetir Pak Saridi. Saya serasa naik taksi raksasa. Perbincangan terus berlanjut ke banyak hal yang lain. Lebih banyak tentang  anak sulung beliau yang beranjak remaja. Ada binar bahagia ketika beliau menceritakan anak-anaknya. Perbincangan sering terputus, karena Pak Saridi harus mengingatkan Mas Gandung banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiba waktu turun, Mas Gandung sempat berbisik. “Mbak, nilai saya banyak merahnya ya”. Saya tersenyum mendengar gurauannya. “Terus belajar Mas. Njenengan beruntung dapat orang seperti Bapak”, balas saya. “Sip Mbak. Jangan lupa kaki kiri dulu”, Mas Gandung menirukan gaya Pak Saridi. “Sesuai perintah”, saya membalas dengan gaya hormat Jepang. Mas Gandung tertawa renyah. Sempat kulihat Pak Saridi melambaikan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus kembali melaju, meninggalkanku yang tersenyum sendirian. “Ada apa Mbak, kok tersenyum sendiri”, Pak Panji tukang becak menegurku. “Oh, itu Pak. Kernetnya lucu. Monggo Pak”, pamitku sebelum Pak Panji mengajakku berbincang. Beliau susah dipotong kalau sudah cerita. Saya sudah punya janji sama guling untuk segera memeluknya… :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja pagi hari, pukul 07.45.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus Kopata no 3x. “Pak, kiri Pak. Eh, kiri, kiri….”, gadis berbaju putih memberi aba-aba pada kernet. “Kok nggak sekalian tadi to Mbak pas macet. Setelah lampu merah saja sekalian”, sopir bus menggerutu. Gadis berbaju putih itu terlihat kesal. Ya memang cukup jauh dia harus berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suruh cepat Nang. Kejar setoran nih”, teriak sopir bus itu pada kernetnya.  “Mbak, cepat-cepat. Lelet banget”, sang kernet setengah mendorong tubuh gadis berbaju putih. Hampir saja gadis itu terjatuh. Saya dan tiga penumpang tersisa mengelus dada. Tiba-tiba saya merindukan sosok Pak Saridi, sopir bus kopata no 10x. Andai semua sopir bus kopata seperti beliau........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Add.&lt;br /&gt;* Semua nama disamarkan demi kebaikan bersama…&lt;br /&gt;* Untuk sopir kantorku, gaya menyetir seperti apakah yang akan ditawarkan untuk 2009? Apapun pilihan gayanya, mematuhi rambu-rambu lalu lintas adalah pilihan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Bukan begitu…(jangan jawab bukan ya… :)).&lt;br /&gt;*gambar diambil dari &lt;a href="http://legofishlabs.com/legofish/sketchpad/driver2.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-4512003238198479231?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2009/01/dua-sopir-dua-gaya-menyetir.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SW6wow52aFI/AAAAAAAAAEA/MTk1QvFj0X4/s72-c/driver.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">17</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-4950270989190812981</guid><pubDate>Sun, 11 Jan 2009 10:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-11T20:53:46.548-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mutiara berserak</category><title>Saya Sedang Bahagia</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SWnTSJgOqJI/AAAAAAAAADI/dwBIQMO6hY8/s1600-h/award-cute.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 102px; height: 63px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SWnTSJgOqJI/AAAAAAAAADI/dwBIQMO6hY8/s200/award-cute.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289991546065561746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;    &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SWnT9h8n2JI/AAAAAAAAADg/E3BAn1NCnxY/s1600-h/kreativblogger.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 67px; height: 49px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SWnT9h8n2JI/AAAAAAAAADg/E3BAn1NCnxY/s200/kreativblogger.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289992291361478802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SWnRsd4VdTI/AAAAAAAAACw/lyZrtehxLCc/s1600-h/fave_blog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 68px; height: 49px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SWnRsd4VdTI/AAAAAAAAACw/lyZrtehxLCc/s200/fave_blog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289989799188722994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SWnQSa9U73I/AAAAAAAAACo/XZA5axEtjrY/s1600-h/award.jpg"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 61px; height: 47px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SWnQSa9U73I/AAAAAAAAACo/XZA5axEtjrY/s200/award.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289988252216127346" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SWnThbr-d_I/AAAAAAAAADQ/ZSHKwrVBptE/s1600-h/200px-Mondhalo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 57px; height: 50px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SWnThbr-d_I/AAAAAAAAADQ/ZSHKwrVBptE/s200/200px-Mondhalo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289991808644708338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Apa yang Anda rasakan ketika Anda mendapat hadiah. Apalagi jika itu adalah hadiah special dan&lt;br /&gt;diberikan khusus untuk &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Anda. Plus hadiah itu diberikan pada saat Anda membutuhkannya. Bahagia, jelaslah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Serasa dunia menjadi milik kita seorang. Itulah yang saya rasakan tadi malam. Hmmm, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;sampai bi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;ngung mendeskripsikan rasanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Singkatnya seperti ini. Beberapa waktu terakhir,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mood saya berubah-ubah dalam kurun waktu cepat. Sampai salah satu teman protes. Aura saya berubah-ubah terus katanya. Pagi berwarna coklat, siang tiba-tiba berubah menjadi perak sampai sore, malamnya bisa kembali lagi ke warna coklat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Saya tidak faham apa maksudnya kata-kata teman saya tadi. Yang jelas, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;itu semua saya &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;sadari dan memang ada penyebabnya. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; masalah yang cukup menguras &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;energi. Sudah dapat trik untuk mengatasi sebenarnya. Tapi karena akar &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;masalahnya belum terselesaikan, jadinya seperti itu. Mirip kondisi langit akhir-akhir ini. Pagi sampai siang cerah, tiba-tiba datang mendung menggelayut. Terkadang hujan datang menyertai, terkadang hanya gerimis menyapa. Tapi bisa juga mendung tiba-tiba menghilang, menampilkan wajah manis langit dalam balutan biru teduhnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p&gt;Nah, tadi malam terasa betul dampaknya. Saya seperti mentok, nggak tahu harus berbuat apa. Sudah bisa ditebak, saya jadi cengeng (kalau ini asli cengeng, bukan gembeng.. &lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;). Saya jadi rindu pelangi. Tapi mana mungkin dia hadir. Dari kemarin langit cerah. Dari pada bengong nggak karuan di kamar, saya memilih mengambil pakaian kotor&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;walau jam telah menunjuk pada angka 22.30. Mencuci sepertinya akan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Siapa tahu datang keajaiban. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; kurcaci dari negeri dongeng datang misalnya, menemani dengan tingkah lucu mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu keluar kamar, saya disambut pemandangan luar biasa di langit. Langit cerah, tersapu awan sedikit saja, berhias bulan dan bintang. Yang paling menakjubkan adalah, ada lingkaran warna-warni mengelilingi sang rembulan. Mungkin pelangi mendengar pinta saya. Walau tak mungkin hadir dalam bentuk aslinya, dia menampakkan diri dalam rupa &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Halo_%28optical_phenomenon%29"&gt;senada&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SWnPBNnxPaI/AAAAAAAAACg/cnepyGUn48E/s1600-h/200px-Mondhalo.jpg"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Yang membuat saya heran adalah biasanya peristiwa seperti ini hanya sebentar saja bisa saya nikmati. Tapi ini menyalahi kebiasaan. Dia bertahan lama dalam bentuk lingkaran besar. Setelah itu memang memudar dan berganti lingkaran kecil warna-warni mengelilingi sang rembulan. Tapi yang lebih menakjubkan adalah lingkaran yang terbentuk bukan hanya satu lapis warna-warni. Lapis yang terbentuk mirip sekali dengan lapis pelangi. Wow, how great. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kondisi ini bertahan sampai saya selesai mencuci. Meskipun sesekali memudar, tapi setelah itu dia terlihat berusaha kembali ke bentuk terindahnya. Hmm, saya sampai berkesimpulan kalau dia sengaja hadir menemani saya mencuci malam ini. Karena setelah selesai mencuci, awan berarak tiba-tiba hadir dan langsung menutup wajah langit. Begitu cepat perubahannya. Dan saya-pun mengucapkan terima kasih sebelum menutup kamar dan tidur dengan bersunggingkan senyuman. Terima kasih Allah untuk hadiah indahnya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Nah, berhubung saya sedang bahagia, saya ingin menularkan kebahagiaan saya pada yang lain. Bukan dengan cara yang sama. Saya nggak punya kemampuan untuk itu. Saya berbagi hadiah yang lain saja. Beberapa waktu lalu saya mendapat hadiah dari Mas Arief Maulana, Mbak Linggawati dan Mas Aruta. Hadiah dari merekalah yang akan saya bagi-bagi. Hadiahnya berupa award. Sementara ini saya ingin berbagi pada 10 blogger dulu. Mereka yang ketiban sampur (layak mendapat award) adalah :&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mas Guru Yainal, orang pertama yang menyadarkan saya keajaiban dunia maya&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;a href="http://www.jokosusilo.com/"&gt;Pak Guru Joko, orang yang berhasil memaksa saya mengambil pilihan untuk bertindak.&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;a href="http://ariefmaulana.com/"&gt;Mas Guru Arief Maulana, orang yang setia menemani, menyemangati dan menunjukkan how to-nya.&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pak Guru Sawali, tempat berguru ilmu kasusastran.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mas Guru GerRilyawan, tempat bergerilya kala resah melanda ( halah...). blog gaya nyentriknya bikin mumet ilang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mbak Guru Icha, sementara ini menjadi blogger wanita terbaik versi saya. blognya dinominasikan sebagai &lt;strong&gt;salah satu &lt;a href="http://www.bubu.com/pestablogger/blogContest.php" target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/www.bubu.com');"&gt;BLOG PENDATANG BARU TERBAIK&lt;/a&gt; versi PESTA BLOGGER 2007&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;a href="http://isnaini.com/"&gt;Mas Guru Isnaini 'n the geng, tempat berguru all about blogging.&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;a href="http://kolom-tutorial.blogspot.com/"&gt;Pak Guru Rohman, tempat berguru otak-atik tampilan blog.&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;a href="http://mashengky.com/"&gt;Mas Guru Hengky, dunia nggak cerah tanpanya.&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;10.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;a href="http://agunawanika.com/"&gt;Mas Guru Agung Jatnika, tempat diam-diam mencuri ilmu. diikhlaskan ilmunya ya bos..&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saya ketika mendapat award dibekali pe-er. Nah, khusus mereka saya tidak akan memberi pe-er apapun. Saya hanya ingin memberikan saja. Karena mereka memang layak mendapatkannya. Mereka adalah guru-guru saya di dunia online. Dengan keilmuan dan keunikan masing-masing, mereka menjadi top teacher saya. Masih ada beberapa nama yang menjadi tempat saya berguru. Tapi karena jatah hadiahnya terbatas, lain kali mungkin bisa diberikan lagi… &lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selamat untuk para penerima award. Sebelum berpisah, saya ingin mengerjakan pe-er yang diberikan oleh Mas Arief dan Mbak Lingga. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;1.  Dari  mana   blog  kalian  berasal&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari blogger, pengembangan dari blog wp gratisan yang kena suspend sesaat setelah lahir… &lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;2. kapan dilahirkannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dilahirkan di 6 desember 2008, diiringi rintik hujan yang perlahan menetes di bumi Jogja. Plus sedekah air mata untuk seorang wanita yang sedang terluka hatinya. Makanya postingan pertamanya adalah "Menjadilah Wanita" &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;3. Kesulitan apa saja saat membuat blog ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kesulitannya banyak karena saya belum pernah buat blog sendiri. Tapi meyenangkan kok. asli..... mengikuti proses belajar yang setengah dipaksa. haha.. dan rasanya exciting banget ketika berhasil lahir blognya. Semakin asyik ketika terpaksa belajar ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kemari untuk maintenance blog. Saat paling mendebarkan, saat berhasil membuat fasilitas read more. Itu fasilitas tambahan pertama yang berhasil saya pasang. Rasanya pengen teriak, tapi takut digebukin orang banyak. He, waktu itu bikinnya di area hotspot satu bisnis centre di Jogja… &lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;4. Mengapa membahas topik yang kalian bahas sekarang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karena dari dulu soulnya di situ. plus memenuhi kewajiban untuk menyebarkan ilmu yang didapatkan.... &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;5. Kenapa tampilan blog menggunakan template ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Feel-nya dapet. Saya suka hal-hal yang berbau klasik. Dan kebetulan bersama beberapa teman sedang dalam gerakan memamerkan batik dan lurik. so.... &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;6. Apa yang pertama kalian lakukan saat blog ini baru jadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menyiapkan 8 artikel awal untuk launching, promosi plus belajar ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kemari untuk memperbaiki tampilan dan menambah fasilitas. seru deh.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, karena pe-er sudah selesai, saya pun pamit undur. Sampai jumpa di postingan selanjutnya………….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Add : &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;*To Mas Arief, Mbak Lingga dan Mas Aruta : Mas, Mbak, akhirnya pe-ernya tergarap. Walau  semaunya sendiri nggarapnya.….. :)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;*gambar halo diambil dari &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Halo_%28optical_phenomenon%29"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-4950270989190812981?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2009/01/saya-sedang-bahagia.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SWnTSJgOqJI/AAAAAAAAADI/dwBIQMO6hY8/s72-c/award-cute.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">9</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-4637943611480560995</guid><pubDate>Fri, 02 Jan 2009 11:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-02T04:53:47.191-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mutiara berserak</category><title>Menyetiai mimpi 2: Kreatif meski Kondisi Sulit</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SV4NtO3QgiI/AAAAAAAAACY/X2H4D9DsG_E/s1600-h/Dark.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 290px; height: 217px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SV4NtO3QgiI/AAAAAAAAACY/X2H4D9DsG_E/s320/Dark.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286678083314680354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pagi ini sebuah sms masuk ke hp saya. “Mbak, tolong carikan kerjaan untuk saya ya. Saya baru saja di-PHK. Mbak tahu kan kondisi keluarga saya. Tolong ya. Matur nuwun…”. Beberapa saat saya hanya mampu termangu. Sejurus kemudian otak saya pun berputar. Jawaban apa yang mesti saya sampaikan. Akhirnya kalimat sakti-lah yang tertulis di layar hp, “saya usahakan semampu saya nggih……..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama waktu yang saya butuhkan untuk mengambil keputusan mengirim pesan tersebut. Konsekuensinya panjang saudara-saudara. Saya tahu persis kapasitas, sifat dan sikap yang bersangkutan. Perlu waktu yang tidak sebentar untuk menjadikannya sosok yang cukup kompetitif-menurut saya. Apalagi dengan banyaknya kasus PHK akhir-akhir ini. Persaingan menjadi semakin ketat. Jika tak ada skill yang bisa ditawarkan, jangan harap.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang skill, saya teringat perbincangan dengan satu teman. Saya cukup tertarik dengan cara beliau “mendidik” anak buahnya untuk memenuhi tuntutan skill yang harus dikuasai. Tidak secara langsung, tapi beliau memilih untuk memberi pancingan-pancingan yang “memaksa” anak buahnya untuk belajar. Terbukti, cara beliau cukup efektif untuk mengubah “aura” dan pola kerja mereka. “Perlu waktu lama memang untuk mengenali karakter masing-masing, sehingga tahu sentuhan seperti apa yang paling tepat.  Plus jeli memilih waktu yang tepat untuk menyentuh”, tutur beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menarik dari cara beliau adalah, beliau mendidik anak buahnya untuk tidak terjebak dengan keterbatasan. Kreatif walau dalam kondisi yang sulit sekalipun. Walau dengan fasilitas yang minim sekalipun. Justru kesulitan dijadikan pemacu dan pemicu untuk kreatif. Jeli memanfaatkan apa yang ada untuk “dikreatifi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat satu teman saya yang lain. Dulu kami tergabung dalam satu “geng” yang beranggotakan 5 orang. Kami punya impian yang sama. Pergi ke Jepang. Dan kami punya kesulitan yang sama. Tak ada biaya, tak bisa bahasa Jepang, tak punya akses ke Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari anggota geng yang lain, dia memang yang paling serius. Dia mati-matian belajar bahasa Jepang, mempelajari budaya Jepang dan rajin nyambangin turis Jepang ketika yang lain berkeyakinan tak perlu bisa bahasa Jepang untuk sampai ke Jepang. Sampai-sampai kami merasa begitu dekat dengan Jepang kalau ada di dekatnya. Lha hampir semua atribut yang dia pakai berbau Jepang. Bahkan dia menjelma menjadi “pengusaha” pernak-pernik bergaya Jepang (Betul-betul, dari kere-aktif menjadi kreatif. Dan tentu saja anggota geng yang lain yang menjadi sasaran tembak sebagai pembeli pertama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, perjuangannya memang tidak sia-sia. Terbukti, dia sudah dua kali ke Jepang. Sedangkan kami masih saja membayangkan apa rasanya duduk beralaskan tebaran bunga sakura. Terakhir, dia menghadiahi saya sebuah sarung hp (yang mirip dengan yang dibuatnya dulu). Tapi kalau yang ini asli dari Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, tetap saja yang mau kreatif-lah yang menuai hasil. Kreatif belajar, kreatif melihat peluang, kreatif memanfaatkan peluang, kreatif memperjuangkan peluang menjelma nyata. Saya jadi tergoda untuk memberikan tawaran yang berbeda pada sang pengirim sms. Mumpung teman saya yang lainnya sedang kebingungan mencari orang untuk mengelola usahanya, karna dia harus hijrah ke daerah lain. Saya ingat sang pengirim sms itu punya satu kelebihan yang diakui banyak teman. Dia pandai menjaga relasi. Nah, teman saya yang mau pindah itu membutuhkan orang dengan keahlian seperti itu. Plus sedikit menguasai jahit-menjahit. Bukan untuk dijadikan penjahit, tapi biar mengerti kemauan pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira kalau dia mau belajar, bisalah. Dia dulu kerjanya juga di pabrik konveksi. Walaupun tugasnya hanya membuat lubang kancing. Jadi, bukan dunia yang betul-betul asing kan? Toh, targetnya hanya untuk mempertahankan pelanggan lama. Syukur-syukur kalau bisa mengembangkan. Bagaimana menurut Anda. Ada pandangan lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ada dua tipe orang yang akan gagal :&lt;br /&gt;Orang yang berfikir tapi tidak melakukan sesuatu dan orang yang melakukan sesuatu tapi tidak berfikir ………….(John Charles S)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;* gambar ngopy dari seorang teman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Add.&lt;br /&gt;Terima kasih untuk seorang teman. Cerita yang indah…&lt;br /&gt;Hmm, setiap orang memiliki proses belajar yang berbeda-beda. Terima kasih   untuk tidak memanjakanku, dan membiarkanku menikmati indahnya terbentur-bentur…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-4637943611480560995?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2009/01/menyetiai-mimpi-2-kreatif-meski-kondisi.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SV4NtO3QgiI/AAAAAAAAACY/X2H4D9DsG_E/s72-c/Dark.JPG" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">33</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-2444278823899634044</guid><pubDate>Thu, 25 Dec 2008 10:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-03T02:18:10.033-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mutiara berserak</category><title>Setitik Kabut Selaksa Cinta</title><description>Itu adalah judul novel yang dikarang Asma Nadia. Seorang penulis muda yang cukup produktif menelurkan karya bergenre Islam pop. Seorang teman menghadiahi saya novel tersebut ketika saya terbaring di RS Sardjito beberapa tahun lalu. Saya tidak tahu pasti, niatan di balik pemberian novel itu apa. Yang jelas saya sangat suka dengan judul novel tersebut. Isinya, boleh juga. Cukup mampu menghibur saya yang sedang terbaring di RS waktu itu. Alurnya relative mudah ditebak. Sebenarnya saya lebih suka novel yang alurnya susah ditebak. Novel dengan alur yang susah ditebak memberi kita banyak kesempatan untuk terkejut-kejut dan tentu saja penasaran untuk terus membacanya. Novel jenis inipun juga membangkitkan selera untuk membacanya berulang-ulang tanpa rasa bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di sini saya tak ingin mengajak Anda untuk membahas tentang berbagai jenis novel. Saya juga tak ingin menceritakan isi novel tersebut pada Anda sekalian. Saya hanya ingin berbagi dengan Anda, sahabat-sahabat kehidupan. Satu fragmen kehidupan yang baru saja saya nikmati. Life, tanpa sensor. Judulnya “Setitik Kabut Selaksa Cinta-nya Mbak Tri-Mas Joko”. Judulnya sengaja meminjam judul novelnya Mbak Asma Nadia (dengan sedikit sentuhan).  Alasannya simple seeh. Begitu peristiwanya terjadi, saya langsung teringat judul novel tersebut. Anda penasaran…??? Yuk, kita nikmati bersama…..&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Senja memerah di Pasar Milir, tempat aku turun dari bus jurusan Jogja-Wates. Genap dua minggu sudah tak ku jenguk desa dengan segala pernak-perniknya. Sejujurnya berat untuk pulang, seberat untuk tidak pulang. Nah, bingung kan? Alasannya adalah, kalau aku tidak pulang, kasihan Bapak dan Ibu yang merindukanku (ih, sok dirindukan. Narsis deh…). Kalau pulang, ada banyak pertanyaan yang harus kujawab. Dan jawabanku, aku tahu, akan mengecewakan mereka. Jadi begitulah, acara pulang menjadi acara yang rumit buatku (aku juga heran, kenapa aku membuatnya rumit ya. Mungkin karena aku suka novel yang rumit kali ya. Eh, nggak nyambung ya…Kalau dipikir-pikir, jalan hidupku memang relative berbeda dari saudara-saudaraku. Ribet kalau kata adikku. Entahlah…, yang jelas aku enjoy menjalaninya. Dan satu yang kuyakini, jika ingin mendapatkan hidup yang berkualitas, hidup yang di atas rata-rata, memang harus mau membayar harganya. That’s it.). Lho, kok malah jadi curhat. Kembali ke laptop, eh ke cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu adikku yang berjanji akan menjemput, iseng kuhitung jumlah burung gereja yang bertengger manis di kabel listrik. Jadi teringat burung-burung kecil di seputaran Titik 0 Jogjakarta. Senja mendung seperti ini biasanya mereka sudah bermanuver cantik di atas gedung bank BNI, kantor pos besar, dan tentu saja beringin besar istana mereka. Jangan bayangkan bisa menghitung jumlahnya. Ribuan bahkan mungkin puluhan ribu kali ya. Langit seperti tertutup gulungan hitam yang meliuk-liuk menarikan tarian mistis. Setiap kali melihat mereka, ku bayangkan aku sedang melihat burung-burung ababil yang dikirim Allah untuk menghancurkan pasukan Abrahah yang sedang menyerang ka’bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat anganku masih mengembara ke Jogja, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundakku. “Nunggu jemputan ya”, sapa pemilik tangan. Ehm, ternyata aku mengenalinya. Mbak Tri namanya, tetanggaku yang menjadi guru di sebuah SMA di Wates. “Iya Mbak, adikku belum datang. Katanya 10 menit lagi baru bisa datang”, jawabku berbasa-basi. Sebenarnya aku lebih memilih meneruskan kembara anganku dari pada berbasa-basi untuk saat ini.  Entah, biasanya aku yang cerewet tak bisa diam ketika dalam situasi seperti ini. Tapi begitu melihat rona yang membayang di wajah beliau, sontak kuberubah pikiran. Sepertinya ada yang perlu curhat nih. O la la, dan betul tebakanku saudara-saudara. Tak menunggu berapa lama, mengalirlah cerita beliau. Aku juga heran, kami kan jarang bertemu. Kenapa beliau bisa begitu saja percaya padaku ya. Atau jangan-jangan di jidatku ini sudah menempel emblem bertuliskan “Terima curhatan, kapanpun dan dimanapun. Free…”. Tapi tadi pagi saat aku berkaca aku yakin tidak melihatnya. Dan anehnya, peristiwa seperti ini bukan satu dua kali terjadi. Ya, kuanggap saja ini cara Tuhan mendidikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku lagi bingung dengan suamiku, Dik”, Mbak Tri memulai cerita. Demi mendengar prolog ceritanya, aku langsung meringis. Heran, aku kan belum menikah. Kenapa juga orang-orang sudah bersuami itu lebih mempercayakan curhatnya pada orang yang belum punya pengalaman. Tapi nggak mungkin kan aku menyetop ceritanya dan memintanya curhat ke Ibu’ku misalnya. Sudahlah, kudengarkan saja ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah satu bulan ini kami banyak berdiam diri. Ada yang salah kurasa. Mas Joko tak lagi seperti Mas Joko yang dulu kukenal. Mas Joko yang ulet, pantang menyerah dan bertanggung jawab. Padahal kami akan segera punya anak. Kewajiban mencari nafkah kan ada di pundak suami ya. Kalaupun istri bekerja, itu adalah sedekah dari sang istri. Iya kan, Dik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, kasus ini lagi. Kenapa ya beberapa waktu ini aku menemui kasus mirip-mirip seperti ini? Fenomena yang wajarkah? Aku baru saja akan membuka mulut menanggapi, tapi kuurungkan. Aku mau bicara apa? Pakai landasan apa? Lha beliau sudah lebih berpengalaman je. Aku, pertama belum menikah, kedua bukan lulusan psikologi. Ketiga , kalaupun aku punya ilmunya, aku tidak ingin menggurui. Lha wong beliau seorang guru. Jadi, kuputuskan untuk menjadi pendengar yang baik saja. Di salah satu buku yang kubaca mengatakan bahwa sebagian besar wanita yang curhat sebenarnya hanya ingin didengar saja. Memang tidak semuanya seperti itu. Ada sebagian kecil yang ketika curhat memang untuk mencari pemecahan atas permasalahan yang terjadi. Dan kalau kulihat, Mbak Tri dalam kasus ini sepertinya hanya butuh seorang teman yang mau mendengar keluh kesahnya. Terbukti, beliau meneruskan lagi ceritanya tanpa memintaku berpendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya aku ingin menyampaikan ketidaksukaanku ini pada Mas Joko. Tapi aku khawatir akan semakin menambah parah keadaan. Sejak aku diterima jadi PNS, sikapnya semakin aneh. Aku tahu, walaupun Mas Joko senang aku diterima jadi PNS, di sisi yang lain Mas Joko berat untuk menerimanya. Sepertinya Mas Joko semakin minder. Padahal aku sudah berusaha bersikap sewajarnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha kalau Mbak sendiri inginnya Mas Joko seperti apa, Mbak”, tanyaku memecah kebisuan yang tiba-tiba tercipta. “Aku tu maunya Mas Joko berbuat apa kek. Aku nggak menuntut banyak. Kalau untuk mencukupi kebutuhan, dari gaji sebenarnya sudah cukup. Toh kami belum membutuhkan dana besar untuk anak. Tapi paling tidak, aku juga pengen merasakan seperti wanita-wanita lain. Aku iri melihat kebahagiaan teman-temanku saat mereka menerima uang dari suaminya (aku juga… lho, emangnya aku sudah bersuami? Ngayal deh…). Ini lagi, katanya mau jemput jam lima. Ini sudah jam berapa? Jam enam kurang kan? (duh, kalau hati lagi panas, pemicu sekecil apapun sudah cukup untuk membakar hati ya)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba memberikan senyum yang paling meneduhkan. Berbicara sepertinya bukan pilihan tepat. Saat-saat jeda yang terasa panjang itulah tiba-tiba seorang laki-laki serasa pendekar datang menghampiri. Berselempang penyesalan, berpedang keikhlasan. Dengan sikap tawadhu tapi bukan tunduk, beliau meminta maaf. “Maaf Dik, tadi baru saja menyiapkan kandang. Hari ini aku resmi joinan dengan temanku. Kami bersepakat menghidupkan  lagi peternakan ayam petelur yang dulu kami bangun”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat Mbak Tri terperangah. Perlahan tapi pasti, kabut itu mulai memudar dari wajahnya. Berganti dengan binar yang sulit kulukiskan dengan kata-kata. Mbak Tri mendekatiku dan berbisik, “Dik, aku sudah mendapatkan jagoanku kembali. Ternyata aku yang kurang sabar mengikuti prosesnya. Terima kasih ya sudah mau mendengarku. Aku pulang dulu ya”. Senyum dan anggukanlah yang kuberikan sebagai jawaban. Karna aku tahu, Mbak Tri tak membutuhkan apapun lagi kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ternyata. Kabut itu hanya setitik. Tetap saja cinta mampu menemukan jalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Add. Salam penghormatan untuk siapapun Anda yang telah memutuskan untuk berjuang, memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang Anda cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-2444278823899634044?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2008/12/setitik-kabut-selaksa-cinta.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">18</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-9075465046393169335</guid><pubDate>Mon, 22 Dec 2008 10:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-23T07:00:49.592-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">wanita-wanita perkasa</category><title>Wanita-wanita Perkasa : Bu Prapto, Penjual Gorengan Keliling</title><description>Duduk di hadapanku, seorang ibu&lt;br /&gt;Dengan wajah sendu, sendu kelabu&lt;br /&gt;Penuh rasa haru dia menatapku&lt;br /&gt;Penuh rasa haru dia menatapku&lt;br /&gt;Seakan ingin memeluk diriku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu bercerita tentang &lt;br /&gt;Anak gadisnya yang tlah lama tiada&lt;br /&gt;Karna sakit dan tak terobati&lt;br /&gt;Yang wajahnya mirip denganku&lt;br /&gt;Yang wajahnya mirip denganku…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu itu, yang entah dinyanyikan oleh siapa, terasa begitu pas dengan yang kualami. Ini bukan sekedar lagu. Tapi ini adalah kisah nyata yang kualami, karna tepat di hadapanku memang tengah duduk bersimpuh seorang ibu. Namanya Bu Prapto. Sudah sejak lama beliau mengamatiku, begitu beliau mengakui. Tapi beliau tak pernah punya keberanian untuk menemuiku. Dengan menahan sesak di dada, beliau memilih mengamatiku dari balik pagar. Padahal sebenarnya mudah bagi beliau untuk mendekatiku, karena pintu kantor selalu terbuka. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, satu waktu beliau tidak mampu menahan diri. Sambil menahan debaran di dada, beliau memberanikan diri untuk mendekatiku. “Jajanan Jeng, krupuk, gorengan….”, begitulah cara beliau mendekatiku. Bu Prapto adalah penjual gorengan keliling yang beroperasi di seputaran alun-alun utara. Sebenarnya aku awalnya tak begitu berminat. Tapi seperti biasa, aku selalu saja susah untuk mengatakan tidak. Kubayangkan beliau sejak pagi sudah susah payah memilih dagangan, tiba-tiba dengan mudahnya kukatakan tidak. Uh, tentu ini akan membuyarkan impian-impian kecil yang dibangunnya hari ini. Mungkin membelikan cucunya es krim, atau sekedar membelikan anak lelakinya makanan kesukaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan itu aku jadi tidak tega (Adikku selalu memprotes sikapku ini. “cepet abis duitnya kalau setiap ada yang meminta dikasih, setiap ada yang jualan dibeli”, begitu protesnya. He…., aku meyakini bahwa setiap orang sudah diatur rejekinya. Dan menurut hukum keseimbangan, semakin banyak kita memberi, semakin banyak kita dapatkan. Bahkan menurut hukum sedekahnya Yusuf Mansyur, semakin banyak kita memberi, akan semakin bertambah banyak lagi yang akan kita terima. Jadi, kenapa harus pusing…He, kata temanku ini hanya apologiku saja karena belum berhasil menghilangkan kebiasaan “tidak bisa mengatakan tidak”). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kubeli seplastik penuh krupuk yang kata beliau rasanya maknyuss… plus beberapa gorengan. Ternyata memang benar, krupuk itu akhirnya menjadi krupuk favorit kami. Sebenarnya di luaran sana juga ada, tapi rasanya berbeda. Entah apa penyebabnya. Mungkin karena Bu Prapto menjualnya dengan cinta. Bukankah apapun yang dilakukan jika dilandasi dengan cinta akan berbuah kemukjizatan? Itu kata teman saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari krupuk itulah akhirnya beliau sering datang. Biasanya dua hari sekali. Dan akhirnya meluncur jua cerita dari beliau, tentang putrinya yang telah meninggal dunia. Lulusan salah satu pesantren terkenal di Jogja. Bu Prapto menggantungkan banyak harapan dari putrinya tersebut. Karena dari sekian anaknya, putrinyalah yang paling pandai dan paling tahu bagaimana memperlakukan orang tua. Sayangnya, putri beliau tak berumur panjang. Dia sakit tanpa terketahui jenis penyakitnya. Dokter di RS tempat dia sempat dirawat angkat tangan dan menyarankan untuk dibawa pulang saja. Ada yang bilang dia diguna-guna oleh orang yang sakit hati karena ditolak cintanya.  Entahlah, sampai sekarang Bu Prapto tidak tahu. Yang jelas beliau begitu terpukul ketika putrinya meninggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia sangat baik Jeng. Kata orang cantik juga. Walaupun tetap lebih cantik njenengan (ku tersandung….gubrak….). padahal ketika itu hampir menikah. Begitu lulus disunting santri sana juga. Sampai sekarang calon suaminya masih baik pada Ibu. Sayang dia sudah menikah. Kalau belum mau saya kenalkan dengan njenengan. Dia belum lama nikahnya. Baru 3 bulan yang lalu. Katanya sulit melupakan anak saya..( he..kalau belum jodoh, tetep aja kelewat..ups, kok jadi ngarep…). Tapi saya akan mendoakan njenengan, biar dapat yang lebih bagus (amieeen…Bu…)”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sudah menganggap njenengan sebagai pengganti anak saya. Setiap kali melihat sosok njenengan, saya seperti melihat sosok anak saya. Saya pasti berdoa yang terbaik”, begitu tutur Bu Prapto sambil menyeka air matanya. Saya, yang memang mudah menangis, tentu saja mengikuti tanpa dikomando. Ini bukan cengeng lho ya, tapi gembeng. Cengeng itu rapuh. Kalau gembeng itu dia menangis karena memang harus menangis. Dia tau kapan harus menangis dan kenapa harus menangis. Itu kata Kang Arief, salah satu kakang saya (Jadi ingat dulu. Satu ketika kang Arief  datang ke kos saya dalam keadaan basah kuyup. Saat itu hujan deras. Petir menyambar-nyambar di seputaran UGM. Setelah saya buatkan secangkir Nescafe, beliau kemudian cerita. “Sebenarnya aku cuma mau nganter ini. Beliau mengulurkan sebuah stiker bertuliskan “Gembeng” di sana. Tadi ada penjual stiker ikut berteduh di emperan JS. Dia manawari aku stiker. Sebenarnya aku tidak tertarik. Tapi tadi aku melihat stiker ini dan langsung inget kamu. Makanya aku beli. Biar bisa mengingatkan terus. Aku kan tidak tau sampai kapan bisa menemanimu. Ingat, jangan cengeng. Aku tidak punya adik cengeng”. Tau, seketika mataku terasa panas sekali. Tetes air mataku mengiringi tetes hujan yang justru semakin deras. Kang Arief memang salah satu kakang terbaik yang pernah kumiliki. Stiker “gembeng”nya masih setia menempel di kaca hiasku Kang….)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Prapto. Dua tahun waktu yang dibutuhkan beliau untuk bangkit dari keterpurukan. Akhirnya beliau memutuskan untuk berjualan keliling di Alun-alun Utara Jogjakarta. Beliau bilang ini dilakukannya untuk menjauh dari makam putrinya. Sebab, jika tetap di kampungnya di Gunungkidul, beliau selalu tak bisa menahan diri untuk tidak mendekati makam putrinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Bu Prapto. Umurnya sudah mendekati 70 tahun. Tapi beliau masih saja setia menyusuri seputaran Alun-alun Utara untuk mempertahankan hidup. Suaminya sudah meninggal. Putrinya sudah meninggal. Anak laki-lakinya (si sulung) belum bisa diandalkan. “Dia masih harus belajar hidup, Jeng”, begitu tutur beliau. Maka tak ada pilihan. Tenggok besar berisi jajanan itulah yang jadi penopang hidupnya. Dan atas nama kemanusiaan, setia jualah aku menunggunya. Membawakan krupuk dan apel hijau pesenanku. Memang, aku akhirnya mengakali beliau. Kupesan apel hijau sebagai pengganti gorengan. karena aku juga tak mau mengorban tubuhku atas nama kemanusiaan. Toh kalau aku sakit, tak kan ada lagi yang menunggu Bu Prapto di pojok Alun-alun Utara ini kan? Dan bos kecil tak kan bisa bilang, “tu mbokmu dah datang…”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Prapto, salam penghormatan kusampaikan untukmu Ibu. Semoga di Hari Ibu ini, ada banyak keajaiban yang datang. Sehingga masa tua yang semestinya bisa lebih ramah terasakan bisa Ibu nikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tanya kapan, tapi keajaiban akan datang menghampiri orang yang selalu melakukan yang terbaik, buat dirinya sendiri maupun orang lain…(Helen Keller)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-9075465046393169335?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2008/12/wanita-wanita-perkasa-bu-prapto-penjual.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">14</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-1434260006761944558</guid><pubDate>Mon, 22 Dec 2008 10:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-22T02:46:01.118-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kata hati</category><title>Ibunda</title><description>Mengingatmu, adalah melayari kesabaran tak bertepi&lt;br /&gt;Mengenangmu, adalah menelusuri jejak kepahlawanan Kartini&lt;br /&gt;Merindumu, adalah menyesapi keajaiban-keajaiban kecil penuh arti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenang, tapi tatapmu meruntuhkan keangkuhan&lt;br /&gt;Diam, tapi sentuhmu meredakan gejolak yang menggetarkan dinding hati&lt;br /&gt;Melabuhkannya pada damai tak bertepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunda, &lt;br /&gt;tak kan pernah cukup kata untuk menyanjungmu&lt;br /&gt;karna memang tak kau perlu kata sanjungku&lt;br /&gt;untuk mempertegas keagungan yang memancar darimu&lt;br /&gt;tapi ijinkanlah untuk kuakui (dalam angkuhku)&lt;br /&gt;bahwa aku cinta……………. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catt. Satu persembahan untuk Ibunda....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-1434260006761944558?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2008/12/ibunda.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-6182492361387101802</guid><pubDate>Fri, 19 Dec 2008 02:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-18T18:33:55.678-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mutiara berserak</category><title>Belajar dari Alam : Garam</title><description>Padepokan Ngisor Ringin di suatu pagi. Sang Guru duduk dikelilingi para muridnya. Kali ini Sang Guru memulai pelajaran hidup hari ini dengan cerita tentang “Garam vs Manusia”. Dan mengalirlah tutur singkat ini, runtut seperti alir air di sungai kecil yang membelah padepokan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garam, ketika tidak ada hadirnya di masakan, ia mampu menghilangkan rasa dari bahan-bahan lain yang harganya mahal. Semua terasa hampa. Daging yang mahal, sayuran yang mahal, tak terlihat adanya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Begitu besar arti keberadaan garam. Walau begitu, manusia begitu rendah menghargai garam. Berapakah harga 1 kg garam? Coba bandingkan dengan harga 1 kg daging. Jauh sekali bedanya. Tapi garam tidak pernah protes. Garam tidak pernah mendemo manusia. Garam tidak pernah boikot dengan mengurangi kadar keasinannya. Garam tetap memberikan yang terbaik dari dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tau kenapa? Karena garam tidak mengejar harga diri. Garam lebih mengejar nilai diri. Beda dengan manusia. Kebanyakan manusia orientasi hidupnya untuk mengangkat harga diri, bukan nilai diri. Ini adalah salah satu penyebab susahnya mencari kedamaian di dunia ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Guru mengakhiri cerita. Para murid tercenung, sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba salah satu murid mengacungkan tangan. Murid yang lain bingung dengan tingkah temannya. Sang Guru dengan senyum teduhnya mempersilahkan murid tersebut untuk bicara. “Guru, mohon maaf. Saya mau pamit ke dapur sebentar. Saya lupa, tadi sayurnya belum saya beri garam”, ujar sang murid polos. Tawa pun meledak di Padepokan Ngisor Ringin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah lelah untuk mencintai. Terus…...berikan yang terbaik, apapun yang kita terima. Seperti garam yang terus memberikan yang terbaik dari dirinya…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catt. Persembahan untuk satu Guru. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-6182492361387101802?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2008/12/belajar-dari-alam-garam.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">11</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-8036401572136658462</guid><pubDate>Wed, 17 Dec 2008 03:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-16T19:23:21.171-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kata hati</category><title>Istirahatlah sejenak</title><description>Istirahatlah sejenak,&lt;br /&gt;Karena lelah telah melingkupimu, mengundang rasa tak nyaman menelisik ke tubuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istirahatlah sejenak,&lt;br /&gt;Walau kau tak mau mengatakan, bukankah tlah kau paksa aku belajar mengerti pertanda alam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istirahatlah sejenak,&lt;br /&gt;Agar terurai laktat yang menyelimuti fikir dan rasamu, memberati mata dan langkahmu.&lt;br /&gt;Aku tak kan sanggup melihat mata tajam itu meredup kelelahan. Aku tak sanggup melihat langkah itu berayun dalam bimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka istirahatlah sejenak,&lt;br /&gt;Sandarkanlah resah di pundak mungilku.&lt;br /&gt;Engkau tau, terkadang aku bisa menjelma sekuat sembadra&lt;br /&gt;Meski di banyak waktu, akulah yang lebih sering meminjam punggungmu untuk menuntaskan tangisku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan istirahatlah sejenak,&lt;br /&gt;Bukan, bukan untuk berhenti sayang,&lt;br /&gt;Tapi justru untuk kembali berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kau harus memenangkan setiap langkah dan setiap perjuangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(karena apapun rasamu, begitulah rasaku…………)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-8036401572136658462?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2008/12/istirahatlah-sejenak.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">6</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-4514310431307650703</guid><pubDate>Tue, 16 Dec 2008 10:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-16T02:26:46.812-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dunia Bisnis</category><title>3 Alasan Kenapa harus punya guru</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SUeBPufosGI/AAAAAAAAAB4/ElzKTfofXhw/s1600-h/guru+batik.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 198px; height: 132px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SUeBPufosGI/AAAAAAAAAB4/ElzKTfofXhw/s320/guru+batik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280331195293937762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setiap manusia hidup pasti tidak terlepas dari yang namanya masalah. Kata teman saya, jika tidak ada masalah, hidup menjadi tidak hidup. Benar juga seeh. Hidup menjadi lebih berwarna dan punya makna ketika masalah datang dan kita mampu melewatinya dengan manis. Tapi ketika masalah datang bertubi-tubi dan kita menjadi senewen karenanya, masihkah masalah akan membuat hidup menjadi lebih berwarna? Tetap iya, tapi didominasi warna gelap kali ya. Pasalnya, kemana-mana kita membawa tampang jutek gak karu-karuan itu. Dan the law of attraction pun bekerja. Sadar atau tidak sadar kita telah menarik semakin banyak aura negative dalam hidup kita (salah satu guru saya menerangkan cara kerja hukum ini dengan apik &lt;a href="http://ariefmaulana.com/pelajaran-hidup/hukum-daya-tarik#more-80"&gt;di sini&lt;/a&gt;).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teman pernah bertanya pada saya. Ada nggak seeh trik untuk meminimalisir datangnya masalah yang bertubi-tubi pada kita.  Menurut saya seeh ada (ini hasil meguru pada satu guru). Kata guru saya tadi, apa yang terjadi pada hidup sebenarnya adalah perulangan-perulangan dari berbagai permasalahan yang sudah ada sebelumnya. Tentu saja dengan varian wajah baru, dan sangat mungkin tingkat kompleksitasnya juga lebih tinggi. Makanya beliau menyarankan untuk punya guru di masing-masing lini hidup yang kita masuki. Di ranah apapun itu. Misalnya kita mau masuk di dunia bisnis (&lt;a href="http://formulabisnis.com/?id=onabunga"&gt;dunia maya&lt;/a&gt; maupun &lt;a href="http://kkbdiy.com/"&gt;dunia nyata&lt;/a&gt;) sangat disarankan kita punya guru yang akan memandu kita di dunia baru tersebut. Sehingga kita tidak terlampau menghabiskan waktu untuk trial and error. Pun ketika kita mau menata langkah di kehidupan yang baru. Seorang guru bisa memberi kita tinjauan dari arah yang berbeda, yang mungkin selama ini kita tidak pernah melihat dari sudut pandang tersebut (&lt;a href="http://yainal.web.id/"&gt;thanx to satu guru&lt;/a&gt;). Pengalaman adalah guru terbaik. Tapi pengalaman orang lain adalah guru terbaik bagi kita. Begitu satu guru yang lain pernah menasehati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mencoba resep dari guru saya tersebut, akhirnya saya menemukan jawaban kenapa kita harus punya guru. Berikut tiga alasan yang ingin saya sharingkan dengan Anda semua :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Guru adalah kunci dari padepokan ilmu. Begitu kita berhasil memasuki padepokannya, ada segudang ilmu yang bisa kita dapatkan dari sana. Percaya saja, bukan hanya padepokan sang guru yang bisa kita masuki. Tapi beliau akan mengenalkan kita pada berbagai padepokan lainnya. Langsung ataupun tidak langsung. Sengaja ataupun tidak sengaja. Di balik sosok satu guru, ada ribuan guru yang ada di belakangnya. See…..???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Saya sudah membuktikannya. Begitu berhasil memasuki padepokan &lt;a href="http://www.jokosusilo.com/"&gt;satu guru&lt;/a&gt;, saya seperti dituntun untuk bertemu dengan banyak guru yang lain. Tentu saja semua kembali ke kita, mau memilih guru yang manakah yang akan kita jadikan sebagai sosok guru selanjutnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Guru adalah pemandu, yang akan menunjukkan arah yang benar pada kita. Guru yang akan menunjukkan dimana pijak kaki pertama mesti ditapakkan. Masalah terbesar bagi seorang pemula, di bidang apapun, adalah bingung bagaimana harus memulainya. Jika ada seseorang yang menunjukkan caranya, tentu lebih mudah kan? Guru juga yang akan mengarahkan kemana langkah selanjutnya harus diayunkan. Karena terkadang begitu kaki pertama sudah ditapakkan, kita kebingungan untuk menapak lebih jauh. Takut salah adalah masalah klasik yang dialami banyak orang. Jika ada pemandu, kenapa harus takut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Guru adalah penjaga, yang akan menjaga agar kita tetap di rel yang telah ditetapkan. Ini sangat penting untuk kita. Karena seringkali berbagai permasalahan yang datang membuat kita lupa pada arah tujuan yang telah kita tetapkan. Coba bayangkan, seandainya ada sepuluh masalah sekaligus yang datang pada kita dan semuanya menuntut untuk segera diselesaikan, masihkah kita ingat pada impian kita? Di saat seperti inilah peran guru menjadi sangat penting. Sangat beruntung jika kita berhasil menemukan guru yang cerewet mengingatkan kita. Ada kalanya memang kita merasa terganggu dengan kecerewetan tersebut. Tapi percaya saja, satu ketika kita akan mengucapkan terima kasih atas kecerewetan Sang guru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira masing-masing kita punya alasan. Anda mau menambahkan alasan lain? Monggo, dipersilahkan…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catt : terima kasih untuk Para Guru…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-4514310431307650703?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2008/12/3-alasan-kenapa-harus-punya-guru.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_ZGvz5nAKxZA/SUeBPufosGI/AAAAAAAAAB4/ElzKTfofXhw/s72-c/guru+batik.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-8118714351558187403</guid><pubDate>Sun, 14 Dec 2008 10:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-14T03:00:37.369-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dunia Bisnis</category><title>Menyetiai Mimpi</title><description>&lt;em&gt;Mimpi adalah kunci&lt;br /&gt;untuk kita menaklukkan dunia&lt;br /&gt;Berlarilah tanpa lelah&lt;br /&gt;sampai engkau meraihnya……..( Nidji “Laskar Pelangi”)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah merasakan rindu menyesak menanti hadirnya pelangi? Saya pernah. Serasa menahan beban begitu berat di dada. Saat itu hanya pelangi yang saya kira bisa mencerahkan dunia saya (pelangi adalah senjata pamungkas ketika senjata lain tak lagi mampu membunuh perih untuk menghantar hadirnya senyuman). Dan ketika pelangi muncul, rasanya exciting banget…. Karena untuk menunggu munculnya, itu adalah perjuangan tersendiri. Seorang teman pernah mengirim sms seperti ini, &lt;em&gt;“when you want the rainbow, you first learn to put the rain”&lt;/em&gt;. Ketika kita menginginkan hadirnya pelangi, kita mesti mau berpayah-payah mengakrabkan diri dengan hujan. Saya fikir, kata teman saya tadi benar juga. Tak kan kita lihat pelangi jika tak mau berpayah-payah mengakrabkan diri dengan hujan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Proses menanti hadirnya pelangi saya kira mirip-mirip dengan saat kita berusaha membuat mimpi-mimpi indah kita mewujud nyata. Ada proses yang harus dijalani. Kabar buruknya, untuk bisa membuatnya terwujud kita perlu membuktikan kesetiaan kita pada mimpi-mimpi kita tersebut. Dan tak mudah memang menyetiai mimpi. Godaannya banyak. Tapi mosok kita menyerah sebelum bertanding (baca : menjadi seorang looser). Kata satu teman, ada beda kualitas yang jelas antara seorang climber, seorang pejuang sejati dan seorang looser. Masalahnya, apakah kita mau dikatakan sebagai seorang looser. Nggak kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam kerangka menyetiai mimpi itulah saya berkenalan dengan mereka. Satu komunitas yang mengajarkan banyak hal. Dunia baru yang semula begitu asing bagi saya. Dunia yang menawarkan banyak hal tak terduga. Internet Marketing. Yup… sejatinya sudah lama pengen belajar, tapi dulu melihatnya sangat ribet. Sekarang, ya karena mereka, terasa begitu menyenangkan. So, thanx untuk &lt;a href="http://jokosusilo.com"&gt;Suhu&lt;/a&gt;. Njenengan berhasil menyederhanakan cara untuk berkenalan dengan internet marketing. Sehingga bahkan orang yang sebelumnya tak pernah bersentuhan dengannya pun mudah mengikutinya. Njenengan membukakan kran untuk mengakses berbagai manfaat yang ditawarkan internet marketing dengan cara sederhana. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa Njenengan berhasil membuat &lt;a href="http://formulabisnis.com/?id=onabunga"&gt;formula sukses &lt;/a&gt;dengan formula yang cukup sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tau, ada proses yang mesti dilewati untuk meraih mimpi lewat jalur ini. Akan ada uji yang menghadang. Itu hukum alam kan….tapi berlarilah tanpa lelah. Sampai engkau meraihnya…..(pinjam istilahnya Nidji).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mewujudkan mimpi, legenda pribadi, adalah misi suci kita di dunia ini. Memang tak mudah. Ada harga yang harus dibayar.. Tapi ketika mimpi bisa mewujud nyata, segala payah yang hadir di perjalanannya serasa menguap begitu saja. Kalaupun sekarang di fase berpayah-payahlah posisi kita, jangan menyerah. Akan indah pada waktunya, I believe………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-8118714351558187403?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2008/12/menyetiai-mimpi.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-2453769660149732736</guid><pubDate>Sun, 14 Dec 2008 10:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-16T02:03:23.094-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dunia Bisnis</category><title>5 Tips Mensistematiskan Langkah Menuju Kaya</title><description>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Anda memilih untuk menjadi kaya? Langkah-langkah berikut ini mungkin bisa membantu Anda. Tapi tunggu dulu. Anda penasaran kenapa saya menggunakan kata “memilih”? Alasannya simple. Bagi saya, hidup itu pilihan. Mau menjadi seperti apa kita dalam hidup, itu tergantung pilihan kita.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menjadi kaya bagi saya juga pilihan. Karena tidak semua orang mau menjadi kaya. Ada teman saya yang memilih untuk hidup pas-pasan dalam arti yang sesungguhnya. Bukan ketika pas butuh rumah ada, pas butuh mobil ada, pas mau beli ini itu juga ada (kalau ini mah maunya saya…..  :p). Ada juga teman saya yang terlahir kaya juga memilih kehidupan yang sederhana. Tapi ada teman saya yang terlahir dari keluarga miskin yang memilih menjadi kaya. Dia berjuang habis-habisan untuk mewujudkannya. Dan sekarang dia telah mewujudkan sebagian besar mimpi-mimpinya dulu. “Sekarang saya sedang buat mimpi baru. Lha yang kemarin sudah terwujud”, bisiknya beberapa waktu lalu. Selamat bro….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sekali lagi menurut saya untuk menjadi kaya itu pilihan kita. Dan saya termasuk orang yang mempercayai bahwa untuk menjadi kaya kita perlu memperjuangkannya. Kita bahkan dituntut untuk menyetiai pilihan kita tersebut. Memilih menjadi kaya juga mengandung konsekuensi bahwa Anda harus mau melakukan berbagai hal untuk mendukung terwujudnya impian Anda tersebut. Nah, langkah-langkah berikut ini mungkin bisa membantu untuk mensistematiskan langkah Anda. Ini saya sarikan dari petuah salah satu guru, ditambah hasil semedi….. :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Perbaiki paradigma/cara pandang kita tentang kekayaan. Berbagai permasalahan yang ada di kehidupan kita, sadar atau tidak sadar, sangat mempengaruhi cara pandang kita. Seringkali kita mendapati banyak orang mempersepsikan orang kaya sebagai fihak yang jahat dan orang miskin di fihak yang benar. Saya sih punya pendapat lain. Jahat atau tidak jahat bukan ditentukan oleh kekayaannya. Tapi ditentukan oleh siapa yang pegang uangnya. Semakin banyak orang baik yang kaya, semakin besar kemungkinan untuk membaikkan dunia. Begitu kan semestinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin sebenarnya banyak orang berpemikiran sama dengan saya. Permasalahannya adalah kita tiap hari dijejali dengan berita dan cerita yang mempersepsikan orang kaya adalah orang jahat. Atau paling tidak sebagai fihak yang tidak menyenangkan hati kita. Orang miskin, dengan segala penderitaannya, sebagai fihak yang perlu dikasihani. Dan tentu saja tidak jahat. Kalaupun dia menjadi jahat, itu adalah efek domino dari kemiskinannya (ini pendapat teman saya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah bombardir pemikiran yang merasuki kita setiap hari. Tanpa sadar kita bisa jadi mengamininya. Nah, kalau Anda ingin menjadi orang kaya, secepatnya koreksi diri. Adakah fikiran-fikiran yang mempersepsikan negative orang kaya itu masih ada. Jika ada, Anda harus segera mendeletnya. Jika tidak, dia akan menjadi musuh terbesar Anda untuk mewujudkan kehidupan yang kaya. Anda sudah pernah baca atau nonton The Secret? Buku dan film ini akan membantu Anda memahami apa yang saya maksudkan di atas. Buku “Berfikir dan Berjiwa Besar” adalah buku lain yang saya rekomendasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.       Menyiapkan diri untuk menjadi kaya. Ada sebuah nasehat bagus dari orang-orang yang telah memilih menjadi kaya. “Sebelum Anda menjadi kaya latihanlah terlebih dahulu menjadi kaya”. Jadi, kalau kita juga mengambil keputusan untuk menjadi kaya, kita harus belajar menjadi orang kaya. Hidup dengan cara hidup orang kaya. Orang kaya itu optimis. Bagi mereka semuanya mungkin. Orang kaya juga berpendapat bahwa mereka berhak mendapatkan semua hal terbaik yang bisa ditawarkan oleh kehidupan. Karena itu mereka selalu optimis. Jadi, kalau kita memilih untuk menjadi kaya, yang harus dihilangkan dari kita itu adalah pesimis. Ehm, susah ya. Saya juga berfikiran seperti itu. Lha  itu adalah sifat yang sudah mendarah daging sejak lahir je. Tapi, mau bagaimana lagi. Syaratnya seperti itu. Mau nggak mau belajar juga. Tapi saya baca di Alkemis, kalau kita menginginkan sesuatu dengan keseluruhan diri kita, segenap alam semesta akan bersatu untuk membantu kita meraihnya. Dan saya percaya itu. Pstt, jangan iri ya. Saya sedang bahagia karena dianugerahi orang-orang yang mengajari saya untuk optimis menatap hidup. Terima kasih, Allah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Bergaullah dengan orang-orang kaya. Perbanyak teman-teman Anda dari kalangan tersebut. Anda tidak sedang tamak ke hartanya, tetapi Anda sedang belajar kepada mereka. Kata salah satu guru, pengalaman adalah guru yang baik. Tapi pengalaman orang lain adalah guru terbaik jika kita mau mempercepat proses. Kalau kita melihat orang jatuh di satu lubang, kenapa kita juga harus ikut-ikutan jatuh di lubang yang sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.       Rajin-rajinlah bersedekah. Gunanya apa? Supaya Anda tetap mengganggap uang itu kecil dan supaya tidak ada angka besar dalam fikiran kita. Misalnya kita punya tabungan 5 juta, sedekahkan. Hal ini akan meneguhkan kita bahwa pasti ada yang lebih besar dari sekedar 5 juta. Cara ini bisa membantu kita memperbaiki cita rasa kita tentang angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.       Mulailah membangun kerajaan bisnis Anda. Dalam buku The Cashflow Quadrant karangan Robert T Kiyosaki, satu-satunya cara untuk membangun aset (pohon uang dalam bahasa teman saya) yang bisa menghantar kita menjadi kaya adalah dengan membangun bisnis. Saya sangat merekomendasikan buku ini jika Anda memang memilih menjadi kaya. Di sana Anda akan mendapatkan penjelasan lebih gamblang bagaimana caranya untuk membangun aset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, saatnya terjun ke dalam bisnis secara langsung. Belajar menjadi seorang pebisnis.  Toh sekarang ini ada banyak sekali model bisnis yang bisa Anda pilih. Mulai dari yang konvensional, model franchise, &lt;a href="http://formulabisnis.com/?id=onabunga"&gt;internet marketing&lt;/a&gt;, network marketing dan berbagai model yang lain. Anda tinggal memilih sesuai dengan kemauan dan kemampuan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan lupa, untuk memilih berbagai model bisnis tersebut, Anda perlu berhati-hati. Teliti sebelum membeli. Akan lebih baik jika Anda punya seseorang yang bisa memandu Anda. Ibaratnya Anda mau mencari harta karun di hutan, tentu lebih mudah jika Anda sudah punya peta untuk memandu Anda. Resiko tersasarnya bisa diminimalisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana, Anda punya keinginan yang sama dengan saya? Jika ya, mari bergandengan tangan mewujudkannya. Kata Pak SBY, bersama kita bisa kan….. :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Add : Terima kasih untuk Para Pemandu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-2453769660149732736?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2008/12/5-tips-mensistematiskan-langkah-menuju.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-461948143397515384</guid><pubDate>Fri, 12 Dec 2008 13:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-12T05:58:55.356-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mutiara berserak</category><title>Belajar dari Alam : Gema</title><description>Suatu ketika ada seorang ayah dan anak yang pergi mendaki gunung. Mereka terus mendaki dan akhirnya mereka tiba di tempat yang indah. Tinggi, berhiaskan tebing di samping mereka. Di tempat itu si anak terjatuh dan kemudian berteriak, “Aduh….”. Sesaat kemudian ada suara serupa yang mengiringi suaranya. Si anak bingung, siapa gerangan yang telah menirukan suaranya. Karena penasaran, dia kemudian berteriak. “Siapa kamu….???”. Dan ternyata dia mendengar suara yang menirukannya lagi. “Siapa kamu……???”. Si anak merasa tertantang. Maka diapun berteriak, “Kurang ajar, kamu menantang ya?”. Suara itupun kembali terdengar. Si anak tambah bingung. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kebingungannya, dia kemudian bertanya pada ayahnya. “Ayah, apa yang terjadi?”. Ayahnya hanya tersenyum, kemudian mengajak anaknya menghadap ke tebing. Sang ayah kemudian berteriak, “Aku menyukaimu….”. Ternyata ada suara yang juga menirukan sang ayah. “Aku menyukaimu…”. Ketika sang ayah meneriakkan, “Aku mencintaimu…”. Suara itupun membalas dengan kata-kata yang sama, “Aku mencintaimu…”. Sekali lagi sang ayah berteriak, “Aku ingin bertemu denganmu…”. Kembali suara itupun mengatakan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si anak semakin bingung, kenapa ayahnya mendapat jawaban yang begitu lembut dan menyenangkan. Sedang dia dijawab dengan kata-kata yang kasar. “Ayah, apa sebenarnya yang terjadi? Siapa itu?”, tanya si anak. Ayahnya kemudian berkata, “Anakku, banyak orang mengatakan bahwa itulah yang dinamakan gema”. Sang ayah berusaha memberikan penjelasan tentang gema dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anaknya. Kemudian beliau melanjutkan, “Kehidupan itu laksana gema. Ketika kita berbuat baik dalam hidup, kebaikan pulalah yang akan kita terima. Apa yang kita berikan, itulah yang kita terima. Maka berbuatlah yang terbaik dalam hidup ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa hidup kita, sangat tergantung pada cara kita memperlakukan diri kita. Jika kita berlaku baik, baik pulalah kehidupan pada kita. Seperti apa kita memperlakukan orang lain, seperti itulah orang akan memperlakukan kita. Maka berbuatlah yang terbaik, berikanlah yang terbaik. Dan biarkanlah kehidupan menentukan sendiri, balasan seperti apakah yang layak kita terima. Semoga bermanfaat……………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catt : Persembahan untuk salah satu Guru.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-461948143397515384?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2008/12/suatu-ketika-ada-seorang-ayah-dan-anak.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1701894023773834689.post-2525152361091025088</guid><pubDate>Tue, 09 Dec 2008 13:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-12T06:02:19.110-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kata hati</category><title>Selamat Menempuh Hidup Baru</title><description>Kagem Pak Hery &amp;Tunjung, Pak Sais &amp; Mbak Sais-nya, Ulfa &amp; Mas Ulfa-nya, K@ Rafie &amp; Mbak Rafie-nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya masih banyak yang ingin disampaikan.....&lt;br /&gt;tapi waktu terus berbilang&lt;br /&gt;Maka kupercayakan pada kalian untuk merengkuh hidup dalam balutan janji agung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang mengatakan bahwa hidup hanyalah sekedar memenuhi takdir.&lt;br /&gt;Tapi kuyakini hidup adalah pilihan&lt;br /&gt;Dan kini pilihan telah ditetapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjuanglah kalian....berusahalah untuk memenangkan setiap langkah dan setiap perjuangan.. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Satu persembahan untuk kalian........... (anggap saja saya sedang konser di hadapan kalian ya. He..........)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbi, hati ini telah bertemu,&lt;br /&gt;Rabbi, hati ini telah bersatu,&lt;br /&gt;Rabbi, hati ini telah terhimpun,&lt;br /&gt;Satukan, padukan, hanya karena-Mu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah, cinta tlah hadir karena-Mu,&lt;br /&gt;Allah, kasih tlah tumbuh karena-Mu,&lt;br /&gt;Allah, sayang tlah bersatu karna-Mu,&lt;br /&gt;Eratkan, kekalkan, hanya karena-Mu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahtera hidup tlah mulai dibina,&lt;br /&gt;Janji tlah diikat karena-Mu,&lt;br /&gt;Hidup tlah diazzamkan buat-Mu,&lt;br /&gt;Terangkan, lapangkan hati dengan cahaya-Mu ............(Seismic)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baarakallahu laka wabaraka alaika wajama’a bainakuma fii khoir.........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepenuh doa&lt;br /&gt;Ona &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1701894023773834689-2525152361091025088?l=lintangfajar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangfajar.blogspot.com/2008/12/selamat-menempuh-hidup-baru.html</link><author>noreply@blogger.com (Lintang Fajar)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>
