<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910</id><updated>2026-03-26T02:27:48.892+07:00</updated><category term="Sex Party"/><category term="Andani Citra"/><category term="Sesama Wanita"/><category term="Sedarah"/><category term="Penyiksaan"/><category term="Pemerkosaan"/><category term="Setengah Baya"/><category term="Tukar Pasangan"/><category term="Fiction"/><category term="Umum"/><category term="Fan Fiction"/><category term="Masturbasi"/><category term="Game"/><category term="Humor Panas"/><category term="softcore"/><title type='text'>Cerita Dewasa Indonesia</title><subtitle type='html'>Kumpulan cerita dewasa indonesia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>99</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-8693132707803107301</id><published>2010-09-25T08:12:00.006+07:00</published><updated>2010-09-25T08:51:08.583+07:00</updated><title type='text'>Akibat Berenang Bugil</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://tulisandewasa.blogspot.com/2010/09/akibat-berenang-bugil.html&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrvyJUKALdK1vzoyoyYhg63cU_eQIf4V_QxxLW7ssWQhOydYhsA2Zf_SnKNYB75DGbOVJlgLyLyTrQlZJ5J5_r-oI_lAbqQ81da2IL2NsSKNvIvNxPu7ZfaYmcvXcaEA4CbOIwBjhQ20wQ/s200/Thumb.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5520655666398793218&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Hari itu, sekitar jam 12 siang, aku baru saja tiba di vilaku di puncak. Pak Joko, penjaga vilaku membukakan pintu garasi agar aku bisa memarkirkan mobilku. Pheew.. akhirnya aku bisa melepaskan kepenatan setelah seminggu lebih menempuh UAS. Aku ingin mengambil saat tenang sejenak, tanpa ditemani siapapun, aku ingin menikmatinya sendirian di tempat yang jauh dari hiruk pikuk ibukota. Agar aku lebih menikmati privacy-ku maka kusuruh Pak Joko pulang ke rumahnya yang memang di desa sekitar sini. Pak Joko sudah bekerja di tempat ini sejak papaku membeli vila ini sekitar 7 tahun yang lalu, dengan keberadaannya, vila kami terawat baik dan belum pernah kemalingan. Usianya hampir seperti ayahku, 50-an lebih, tubuhnya tinggi kurus dengan kulit hitam terbakar matahari. Aku daridulu sebenarnya berniat mengerjainya, tapi mengingat dia cukup loyal pada ayahku dan terlalu jujur, maka kuurungkan niatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Punten Neng, kalau misalnya ada perlu, Bapak pasti ada di rumah kok, tinggal dateng aja&quot; pamitnya.&lt;br /&gt;Setelah Pak Joko meninggalkanku, aku membereskan semua bawaanku. Kulempar tubuhku ke atas kasur sambil menarik nafas panjang, lega sekali rasanya lepas dari buku-buku kuliah itu. Cuaca hari itu sangat cerah, matahari bersinar dengan diiringi embusan angin sepoi-sepoi sehingga membuat suasana rileks ini lebih terasa. Aku jadi ingin berenang rasanya, apalagi setelah kulihat kolam renang di belakang airnya bersih sekali, Pak Joko memang telaten merawat vila ini. Segera kuambil perlengkapan renangku dan menuju ke kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya disana kurasakan suasanya enak sekali, begitu tenang, yang terdengar hanya kicauan burung dan desiran air ditiup angin. Tiba-tiba muncul kegilaanku, mumpung sepi-sepi begini, bagimana kalau aku berenang tanpa busana saja, toh tidak ada siapa-siapa lagi disini selain aku lagipula aku senang orang mengagumi keindahan tubuhku. Maka tanpa pikir panjang lagi, aku pun melepas satu-persatu semua yang menempel di tubuhku termasuk arloji dan segala perhiasan sampai benar-benar bugil seperti waktu baru dilahirkan. Setelah melepas anting yang terakhir menempel di tubuhku, aku langsung terjun ke kolam. Aahh.. enak sekali rasanya berenang bugil seperti ini, tubuh serasa lebih ringan. Beberapa kali aku bolak-balik dengan beberapa gaya kecuali gaya kupu-kupu (karena aku tidak bisa, hehe..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 menit lamanya aku berada di kolam, akupun merasa haus dan ingin istirahat sebentar dengan berjemur di pinggir kolam. Aku lalu naik dan mengeringkan tubuhku dengan handuk, setelah kuambil sekaleng coca-cola dari kulkas, aku kembali lagi ke kolam. Kurebahkan tubuhku pada kursi santai disana dan kupakai kacamata hitamku sambil menikmati minumku. Agar kulitku yang putih mulus ini tidak terbakar matahari, kuambil suntan oilku dan kuoleskan di sekujur tubuhku hingga nampak berkilauan. Saking enaknya cuaca di sini membuatku mengantuk, hingga tak terasa aku pun pelan-pelan tertidur. Di tepi kolam itu aku berbaring tanpa sesuatu apapun yang melekat di tubuhku, kecuali sebuah kacamata hitam. Kalau saja saat itu ada maling masuk dan melihat keadaanku seperti itu, tentu aku sudah diperkosanya habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh bibir kemaluanku tiba-tiba mataku terbuka dan aku langsung terkejut karena yang kurasakan barusan ternyata bukan sekedar mimpi. Aku melihat seseorang sedang menggerayangi tubuhku dan begitu aku bangun orang itu dengan sigapnya mencengkram bahuku dan membekap mulutku dengan tangannya, mencegah agar aku tidak menjerit. Aku mulai dapat mengenali orang itu, dia adalah Taryo, si penjaga vila tetangga, usianya sekitar 30-an, wajahnya jelek sekali dengan gigi agak tonggos, pipinya yang cekung dan matanya yang lebar itu tepat di depan wajahku.&lt;br /&gt;&quot;Sstt.. mendingan Neng nurut aja, di sini udah ga ada siapa-siapa lagi, jadi jangan macam-macam!&quot; ancamnya&lt;br /&gt;Aku mengangguk saja walau masih agak terkejut, lalu dia pelan-pelan melepaskan bekapannya pada mulutku&lt;br /&gt;&quot;Hehehe.. udah lama saya pengen ngerasain ngentot sama Neng!&quot; katanya sambil matanya menatapi dadaku&lt;br /&gt;&quot;Ngentot ya ngentot, tapi yang sopan dong mintanya, gak usah kaya maling gitu!&quot; kataku sewot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tanpa kusadari sejak berenang dia sudah memperhatikanku dari loteng vila majikannya dan itu sering dia lakukan daridulu kalau ada wanita berenang di sini. Mengetahui Pak Joko sedang tidak di sini dan aku tertidur, dia nekad memanjat tembok untuk masuk ke sini. Sebenarnya aku sedang tidak mood untuk ngeseks karena masih ingin istirahat, namun elusannya pada daerah sensitifku membuatku BT (birahi tinggi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Heh, katanya mau merkosa gua, kok belum buka baju juga, dari tadi pegang-pegang doang beraninya!&quot; tantangku.&lt;br /&gt;&quot;Hehe, iya Neng abis tetek Neng ini loh, montok banget sampe lupa deh&quot; jawabnya seraya melepas baju lusuhnya.&lt;br /&gt;Badannya lumayan jadi juga, walaupun agak kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar, seukuran sama punyanya si Wahyu, tukang air yang pernah main denganku (baca Tukang Air, Listrik, dan Bangunan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia duduk di pinggir kursi santai dan mulai menyedot payudaraku yang paling dikaguminya, sementara aku meraih penisnya dengan tanganku serta kukocok hingga kurasakan penis itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai vaginaku dan menggosok-gosok bibirnya.&lt;br /&gt;&quot;Eenghh.. terus Tar.. oohh!&quot; desahku sambil meremasi rambut Taryo yang sedang mengisap payudaraku.&lt;br /&gt;Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di kemaluanku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk. Aku sampai meremas-remas payudara dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan vaginaku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut si Taryo yang sedang menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah Taryo melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalahnya nafasnya agak bau, entah bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku yang halus tanpa jerawat sampai wajahku basah oleh liurnya.&lt;br /&gt;&quot;Gua ga tahan lagi Tar, sini gua emut yang punya lu&quot; kataku.&lt;br /&gt;Si Taryo langsung bangkit dan berdiri di sampingku menyodorkan penisnya. Masih dalam posisi berbaring di kursi santai, kugenggam benda itu, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutku terisi penuh oleh penisnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala penisnya yang mirip helm itu, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga tubuh pemiliknya bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.&lt;br /&gt;&quot;Eemmpp.. emmphh.. nngg..!&quot; aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala penis itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan cairan itu, tapi karena banyaknya cairan itu meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar penisnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku, kacamata hitamku juga basah kecipratan maninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulepaskan kacamata hitam itu, lalu kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa sperma yang menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu terbuka dan Pak Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil. Aku sendiri sempat kaget dengan kehadirannya, aku takut dia membocorkan semua ini pada ortuku.&lt;br /&gt;&quot;Eehh.. maaf Neng, Bapak cuma mau ngambil uang Bapak di kamar, ga tau kalo Neng lagi gituan&quot; katanya terbata-bata.&lt;br /&gt;Karena sudah tanggung, akupun nekad menawarkan diriku dan berjalan ke arahnya.&lt;br /&gt;&quot;Ah.. ga apa-apa Pak, mending Bapak ikutan aja yuk!&quot; godaku.&lt;br /&gt;Jakunnya turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke payudaraku. Aku mengelus-elus batangnya dari luar membuatnya terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dia mulai berani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.&lt;br /&gt;&quot;Neng, tetek Neng gede juga yah.. enak yah diginiin sama Bapak?&quot; Sambil tangannya terus meremasi payudaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana panjangnya, setelah itu saya turunkan juga celana kolornya. Nampaklah kemaluannya yang hitam menggantung, jari-jariku pun mulai menggenggamnya. Dalam genggamanku kurasakan benda itu bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan batang di genggamanku itu ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga pemiliknya mengerang keenakan.&lt;br /&gt;&quot;Wah, Pak Joko sama majikan sendiri aja malu-malu!&quot; seru si Taryo yang memperhatikan Pak Joko agak grogi menikmati oral seks-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taryo lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kemaluannya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua penis yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian Taryo pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku mulai merasakan ada benda yang menyeruak masuk ke dalam vaginaku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci penisnya memasuki vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada penis Pak Joko makin bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya aku telah membuat Pak Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Perasaan ini sungguh sulit dilukiskan, ketika penis si Taryo menyentuh bagian terdalam dari rahimku dan ketika penis Pak Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan payudara atau meremasi pantatku. Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Joko. Bersamaan dengan itu pula genjotan si Taryo terasa makin bertenaga. Kami pun mencapai orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya.&lt;br /&gt;&quot;Neng, boleh ga Bapak masukin anu Bapak ke itunya Neng?&quot; tanya Pak Joko lembut.&lt;br /&gt;Saya cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi, &quot;Tapi Neng istirahat aja dulu, kayanya Neng masih cape sih&quot;.&lt;br /&gt;Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, Taryo duduk di sebelah kiriku dan Pak Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya. Yang satu ditepis yang lain hinggap di bagian lainnya, lama-lama ya aku biarkan saja, lagipula aku menikmatinya kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Neng, Bapak masukin sekarang aja yah, udah ga tahan daritadi belum rasain itunya Neng&quot; kata Pak Joko mengambil posisi berlutut di depanku.&lt;br /&gt;Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala merestuinya, dia arahkan penisnya yang panjang dan keras itu ke vaginaku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir kemaluanku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas penis Taryo yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.&lt;br /&gt;&quot;Aahh.. Pak cepet masukin dong, udah kebelet nih!&quot; desahku tak tertahankan.&lt;br /&gt;Aku meringis saat dia mulai menekan masuk penisnya. Kini vaginaku telah terisi oleh benda hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk memberi sensasi nikmat ke seluruh tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Wah.. seret banget memeknya Neng, kalo tau gini udah dari dulu Bapak entotin&quot; ceracaunya.&lt;br /&gt;&quot;Brengsek juga lu, udah bercucu juga masih piktor, gua kira lu alim&quot; kataku dalam hati.&lt;br /&gt;Setelah 15 menit dia genjot aku dalam posisi itu, dia melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke penisnya. Dengan refleks akupun menggenggam penis itu sambil menurunkan tubuhku hingga benda itu amblas ke dalamku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku yang padat berisi itu, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua payudaraku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Pak Joko memperhatikan penisnya sedang keluar masuk di vagina seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tak habis pikir betapa untungnya berkesempatan mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah lama tidak dirasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goyangan kami terhenti sejenak ketika Taryo tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan payudaraku makin tertekan ke wajah Pak Joko. Taryo membuka pantatku dan mengarahkan penisnya ke sana&lt;br /&gt;&quot;Aduuh.. pelan-pelan Tar, sakit tau.. aww!&quot; rintihku waktu dia mendorong masuk penisnya.&lt;br /&gt;Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua batang penis besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari tubuhku. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika Taryo menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, Taryo malah makin buas menggenjotku. Pak Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Pak Joko. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Joko, dan Taryo menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku, di air nampak sedikit cairan putih susu itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Eh.. ternyata mereka mengikutiku dan memaksa ikut mandi bersama. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. Bagian kemaluan dan payudaraku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir&lt;br /&gt;&quot;Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih&quot; disambut gelak tawa kami.&lt;br /&gt;Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun kembali digarap di kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu aku dikerjai terus-menerus oleh mereka sampai mereka menginap dan tidur denganku di ranjang spring bed-ku. Sejak itu kalau ada sex party di vila ini, mereka berdua selalu diajak dengan syarat jangan sampai rahasia ini bocor. Aku senang karena ada alat pemuas hasratku, mereka pun senang karena bisa merasakan tubuhku dan teman-teman kuliahku yang masih muda dan cantik. Jadi ada variasi dalam kehidupan seks kami, tidak selalu main sama teman-teman cowok di kampus. Lain hari aku akan menceritakan bagaimana jahilnya aku mengerjai teman-teman kuliahku sehingga mereka jatuh ke tangan Pak Joko dan Taryo dan juga pengalaman-pengalamanku lainnya, harap sabar yah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E N D&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/8693132707803107301/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/8693132707803107301?isPopup=true' title='14 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/8693132707803107301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/8693132707803107301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2010/09/akibat-berenang-bugil.html' title='Akibat Berenang Bugil'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrvyJUKALdK1vzoyoyYhg63cU_eQIf4V_QxxLW7ssWQhOydYhsA2Zf_SnKNYB75DGbOVJlgLyLyTrQlZJ5J5_r-oI_lAbqQ81da2IL2NsSKNvIvNxPu7ZfaYmcvXcaEA4CbOIwBjhQ20wQ/s72-c/Thumb.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-5803503981036936428</id><published>2010-09-25T07:58:00.007+07:00</published><updated>2010-09-25T08:52:43.996+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Game"/><title type='text'>Cool Game that I Play &quot;Caesary (Lekool)&quot;</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://forum.lekool.com/?fromuid=182421&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 146px; height: 200px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-5g3Q5_teT8E-MQ6bfEyOSUoCcGW6hVBzh7rE6ya6XgK3tQ5VWi915yoaXMeOtKTOO6bGDZDaKer5iURcubSVHU5wPHpDyaSnWtHBmxooKts3cPwdYP7VjiAccurgZcssSX3FF5B5lTaK/s200/cewe+caesary.png&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5520651160416845762&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Introduction&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Caesary is a web based strategy game with a Roman theme. Start as a Consul of the Roman Empire and rewrite history, bringing order back to Rome. Expand your city, recruit heroes, train devastating armies, conquer land and forge your empire. Battle other players and monsters with immersive real-time strategic combat as you rampage your way across a massive world map.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feature&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;li&gt;Battle Replay. You can simulate the grandeur of past combat in graphical animation and the detailed statistics of the fight in text log. It pleasures your eyes as well as educates your mind.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dogfight. Traditional strategic battles involve just you and your opponents. Now, Caesary allows you to join other players&#39; battle in the middle or have someone else&#39;s join your own battle. Any time! (In theory, the entire server&#39;s players can jump in one battle in progress!)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Six types of Hero with 255 levels. Heroes with 6 types of Potential appear randomly for you to recruit and capture. Your heroes will serve you well if you treat them right. Broaden their Experience (EXP) and develop their Traits on your path to victory!&lt;/li&gt;&lt;li&gt;iPod-Touch-like Smooth Interface. Browse World map with mouse drag as if you&#39;re scrolling your iPod screen.  Transfer and exchange troops by drag-and-drop! No more boring scroll down menu!&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Personalized Identity. Player (lord) avatar is freely changeable with dozens of images to choose from. League Emblem (league&#39;s symbol) is customizable to a degree that it&#39;s unlikely you&#39;d see another league using the same set of design as yours.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Historical Context. Caesary is committed to recreate the Roman Empire with reference to buildings, quests, items, and the use of tactics! Players get total immersion into the era of Roman glory.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Unprecedented Colonization System. Caesary brings forth the original concept of Sovereign-Tributary relationship! As sovereign city lord, one can own as many Tributary cities as their power and diplomatic charm can allow. You are able to take 20% tax rate from each one of your Tributary cities. But watch out! Before you get too comfortable, make sure your dominance won&#39;t be compromised by any potential mutiny (War of Independence)!&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Inter-city Resource Supply Line. Transportation system in Caesary is powerful. You don&#39;t wait for resource supply. Supply Line turnaround is 6 minutes away at most. Turn your mind to expand your city. Worry less about running the transportation errands...&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;This game is free, so why don&#39;t you try? &lt;a href=&quot;http://forum.lekool.com/?fromuid=182421&quot;&gt;Play Caesary (lekool) and Have Fun&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/5803503981036936428/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/5803503981036936428?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/5803503981036936428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/5803503981036936428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2010/09/caesary-lekool.html' title='Cool Game that I Play &quot;Caesary (Lekool)&quot;'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-5g3Q5_teT8E-MQ6bfEyOSUoCcGW6hVBzh7rE6ya6XgK3tQ5VWi915yoaXMeOtKTOO6bGDZDaKer5iURcubSVHU5wPHpDyaSnWtHBmxooKts3cPwdYP7VjiAccurgZcssSX3FF5B5lTaK/s72-c/cewe+caesary.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-1743149867118242122</id><published>2009-02-15T23:18:00.002+07:00</published><updated>2010-09-23T11:32:48.703+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sex Party"/><title type='text'>Mencoba Kejantanan 5 Prajurit</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHI1IBTUpPJM7bmZGsdVx7PO0T7LHhpP4DsvKZ9XW1SJc6ZbhcpOFOhh6A4KFWdARDoWtEe217-V-77uy4zeoGYg5HQiVZxx0nAxW9a6x6EunwGTuV3yNZyzyvNrlPTqyO48wdW5hyOzQz/s1600/diabetes.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 154px; height: 200px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHI1IBTUpPJM7bmZGsdVx7PO0T7LHhpP4DsvKZ9XW1SJc6ZbhcpOFOhh6A4KFWdARDoWtEe217-V-77uy4zeoGYg5HQiVZxx0nAxW9a6x6EunwGTuV3yNZyzyvNrlPTqyO48wdW5hyOzQz/s200/diabetes.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5519961930944370322&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Pada suatu sore saat aku dengan Dewi temanku dalam perjalanan di jalan bebas hambatan, waktu itu hujan cukup deras sehingga jalanan kurang nampak jelas dari kaca mobil kami. Dewi yang memegang setir pada waktu itu sebenarnya juga mengendarai dengan hati-hati, tapi karena sedang apes mobil yang kami naiki itu keluar jalur dan mobilnya terperosok ke dalam parit. Untung Dewi tidak ngebut sehingga kami berdua selamat dan tidak mengalami lecet sedikit pun. Karena mobilnya terperosok ke dalam parit, maka kami tidak bisa langsung membawa mobil ke jalur yang semestinya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Waduh.. Sus! Nggak bisa keluar nih bannya, mana HP-ku habis batterainya, wah! Gimana nih?&quot; Dewi panik dan sepertinya kehabisan akal.&lt;br /&gt;&quot;HP-ku juga nih, mana hujan lagi, sepi kendaraan lagi, kalau gini sich! Meski ada orang yang memperkosa kita nggak pa-pa deh! Asal kita diantar pulang saja&quot;, aku ngomong sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;Gila kau Sus, tapi benar juga asal jangan kasar-kasar kali ya, hehehe..!&quot;&lt;br /&gt;&quot;Loh! Semakin kasar semakin nikmat lagi, hahaha..!&quot; kami tertawa seakan-akan kami sudah terlepas dari masalah.&lt;br /&gt;&quot;Sus, kalau kita di dalam mobil saja, kita akan di sini sampai mampus&quot;, gerutu Dewi.&lt;br /&gt;&quot;Habis gimana lagi, di luar kan hujan gitu.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Yah kamu, nggak takut diperkosa, masak takut sama hujan, ya sudah aku saja yang keluar, kucoba dorong mobil ini keluar dari lubang&quot;, Dewi nekat dengan semangat empat lima dia keluar dan mulai mendorong moncong depan mobil sialan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat Dewi berusaha dengan keras dan mengerahkan seluruh tenaganya, tapi mobil sialan ini tidak bergerak sedikit pun.&lt;br /&gt;&quot;Sus! Hidupin mesinnya!&quot; Dewi teriak-teriak, kuhidupkan mesin lalu giginya kuganti gigi mundur, ternyata mobil hanya bergeming sedikit saja. Lalu aku ikut keluar dan juga mencoba mendorong sama-sama dan ternyata tidak membawa perubahan yang berarti.&lt;br /&gt;&quot;Ya.. nggak bisa juga Wik&quot;, keluhku.&lt;br /&gt;&quot;Iyah, tapi bodimu cukup bagus basah-basah gini Sus..&quot;&lt;br /&gt;&quot;Kamu itu mabok ya? Tapi bodimu juga terlihat bagus&quot;, lalu kami tertawa-tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Hei..! Sus itu ada mobil, kita cegat yuk&quot;, sambil Dewi menunjuk ke arah mobil truk yang semakin mendekat, dan kemudian kami bergegas berlari sampai ke tengah jalan dan melambai-lambaikan kedua tangan kami. Dan kami berhasil, truk itu ternyata adalah truknya tentara.&lt;br /&gt;&quot;Kenapa kalian? Kenapa dengan mobilnya?&quot; Teriak supir truk, dan kami menghampirinya, &quot;Itu Pak mobil kami masuk parit, jadi mobil kami tidak bisa jalan lagi nih Pak!&quot; kujawab dengan nada yang mesra.&lt;br /&gt;&quot;O iya! Hei! Anak-anak bantu nyonya-nyonya ini ayo cepat.&quot; Kemudian turun empat orang dari belakang truk itu.&lt;br /&gt;&quot;Mari Nyonya, anda yang pegang kemudi&quot;, kata salah satunya dengan tegas kepadaku, lalu kujawab, &quot;Loh, kok Nyonya sih, kan aku masih muda dan single lagi&quot;, sambil kugoda dia, huh badannya tegap, tampangnya nggak jelek-jelek amat, tapi yang penting kan bodinya kekar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucoba menghidupkan mesin lagi beberapa kali tapi tak mau hidup-hidup, waduh kenapa ya?, dan kulihat ternyata bensinnya sudah habis.&lt;br /&gt;&quot;Waduh Mas bensinnya habis, ada cadangan ngak mas-mas ini&quot;, teriakku.&lt;br /&gt;&quot;Waduh maaf Nona kami tak punya..&quot;&lt;br /&gt;&quot;Yah sudah, kalau gitu kami ikut kalian saja&quot;, setelah kami mengambil tas, kami langsung naik truk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masuk, dengan santainya aku melepas bajuku yang basah di hadapan keempat prajurit yang tidak jelas pangkatnya itu, kulihat mereka menatap kami tanpa berkedip sedikit pun, lalu kudekati salah satu dari mereka setelah pakaianku terlepas semua. &quot;Kenapa? suka dengan bodiku hmm..&quot; godaku. Kulihat jakunnya naik turun dan matanya tak henti-hentinya melihat payudaraku yang boleh dibilang montok dan seksi cukup mengoda pokoknya. Lalu kupegang tangannya, kudekatkan ke bongkahan payudaraku, &quot;Gruungg!&quot; suara itu tiba-tiba merusak suasana hening, &quot;Hei! Jangan berangkat dulu&quot;, mereka berempat bergegas mendekati jendela sopir, entah apa yang mereka bicarakan.&lt;br /&gt;&quot;Sus, kamu sudah gila ya?&quot; tegur Dewi yang terlihat agak malu-malu tapi mau.&lt;br /&gt;&quot;Sudahlah, lagian kita kan kedinginan butuh penghangat dong&quot;, sambil kucubit susu kirinya dan Dewi pun tersenyum dan mulai melepas bajunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin truk tak lama kemudian mati lagi dan keempat prajurit itu dengan cepat melucuti bajunya masing-masing. &quot;Nona jangan salahkan kami, karena kami sudah empat bulan tidak pernah menyentuh wanita, mungkin nanti agak kasar&quot;, kata salah seorang prajurit yang hanya tinggal celana dalamnya saja yang menempel di tubuhnya. Kemudian dia mendekap tubuhku lalu langsung melumat halus bibirku, ternyata dia mahir memainkan lidahnya, nafasku habis rasanya, dan sekilas kulihat prajurit yang lain menggelar terpal dalam tuk yang cukup luas itu dan kulihat Dewi sudah mulai dikerjai seorang prajurit yang mulai membelai, mencium dan mengulum dada montok milik Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat berciuman, prajurit yang berhadapan denganku mulai mencium leher di bawah telingaku sambil mendesah-desah merasakan kenikmatan, setelah itu dia merambat mengerjai susu sebelah kiriku dengan liar dan ganas. Ssst! Sunguh nikmat sekali. Dengan tiba-tiba badanku ditarik lalu dibaringkan ke atas terpal kasar di lantai truk itu. Sekilas kulihat supir tadi juga mulai naik, kemudian dengan tergesa-gesa melepas pakaiannya sampai polos, lalu mendekatiku dan menuju selangkanganku, kemudian dia menjilati liang kewanitaanku, langsung aku mendesis dan mengeram, dengan tiba-tiba prajurit yang tadi membaringkanku langsung menghimpit kepalaku dengan selangkangannya, kemudian dengan cepat kulepas celana dalamnya. Setelah keluar batang kemaluannya kemudian langsung kulahap batang kemaluan yang lumayan besar itu. Kukulum-kulum dan kusedot kuat-kuat hingga prajurit itu mengeram-ngeram sambil menekan-nekan kepalaku sampai aku sesak nafas. Sesekali aku mendengus dan mendesis akibat ulah supir truk yang mejilat dan menggigit lembut klitorisku, sampai tubuhku mengejang lalu tak lama kemudian sepertinya tumpah semua cairan dalam liang kewanitaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap sibuk dengan batang kemaluan yang ada dalam mulutku lalu kurasakan payudaraku ada yang meremas dan sesekali dikulum-kulum. Sungguh kewalahan aku melayani mereka. Dengan tiba-tiba aku mendengar erangan Dewi tepat di sebelah kiri kupingku, ternyata dia sedang dalam keadaan tengkurap di antara kedua prajurit. &quot;Gilaa Suss.. ughh.. sst!&quot; Dewi mulutnya ngomel-ngomel nggak karuan sambil merem-melek tak berdaya. Gila, Dewi dikerjai depan belakang. Lalu prajurit-prajurit yang mengerjaiku berusaha membimbingku untuk nungging, setelah nungging di atas salah seorang dari mereka dan setelah batang kemaluan prajurit di bawahku tepat di antara bibir kewanitaanku, pantatku ditarik dengan keras-keras hingga masuk semua betang kemaluan prajurit itu dengan lancar karena liang kewanitaanku sudah licin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali genjotan prajurit yang lain berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. &quot;Ssst.. aah.. aah!&quot; Gila sakit banget, baru kali ini anusku digarap orang. &quot;Aaakkh..!&quot; aku menjerit sekuat tenaga begitu batang kemaluan prajurit yang besar itu masuk ke dalam anusku. Selang beberapa saat, terasa juga nikmatnya gesekan dari dua lubangku yang sebelumnya tidak terbayang, meski rasa sakit masih menyertai. Kemudian tubuhku mengejang dan sampailah aku pada klimaks kedua, tapi kuperhatikan kedua prajurit itu masih sibuk menggenjotku. Pelir besar tiba-tiba berada di wajahku, kemudian peler itu didorongnya ke mulutku yang kemudian kukulum dan kusedot, di sela-sela desisan dan eranganku. &quot;Ayo Nona sedot yang kuat!&quot; kata prajurit itu sambil menekan-nekan kepalaku. &quot;Uuugh.. aakh.. esst!&quot; suara geraman dan desisan silih berganti saling sahut menyahut dalam truk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kulihat di sebelah, Dewi terkapar dan lemas, sesekali dia mengeram karena prajurit itu masih getol menyetubuhi Dewi. Gila rasanya aku mau keluar untuk ketiga kalinya sebentar lagi, beberapa saat kemudian kurasakan kedua prajurit yang menyetubuhiku depan belakang mengeram serta merangkul kuat-kuat tubuhku dan kemudian kurasakan liang kewanitaan dan duburku tersembur cairan yang hangat hampir bersamaan, aku pun mencapai klimaks yang ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku mencapai klimaks, aku semakin bersemangat mengulum dan menyedot batang kemaluan di hadapanku sampai pada akhirnya cairan hangat itu menyembur memenuhi rongga tenggorokanku. Lalu prajurit itu melepaskanku dan bergerak menjauhiku. Dan kulihat Dewi pun mulai di tinggal sendirian, kemudian kelima prajurit itu mendekat. &quot;Ayo sini kita gantian, aku pingin rasain juga dia&quot;, kata salah satu dari mereka sambil tertawa-tawa, waduh habis aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua prajurit yang menyetubuhi Dewi mendekat, lalu satu dari mereka menggendongku dan kemudian setelah pelernya tepat di tengah-tengah liang kewanitaanku, aku sedikit diturunkan dan amblas sudah batang kemaluannya tertelan liang kewanitaanku tanpa halangan. Aku disetubuhinya sambil berdiri, sambil tangannya tak henti-hentinya naik turun dengan posisi aku merangkul erat tubuhnya, kemudian dari belakang duburku disodok peler dari belakang, aku menjerit dan mengeram kesakitan, buah dadaku digerayanginya dengan brutal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat aku dikerjain berdiri, aku diturunkan kemudian aku disuruh mengangkangi seorang prajurit, dan setelah pas masuklah kembali peler besar itu dalam liang kewanitaanku, dan yang lain menyusul menimpaku dari belakang, dan bukannya masuk ke duburku melainkan juga masuk ke dalam liang kewanitaanku, gila ini prajurit, dengan kasar dan brutal akhirnya masuk juga pelernya meski hanya setengahnya, tapi sakitnya bukan main aku menjerit-jerit minta ampun tapi tidak di gubrisnya. Karena mungkin tidak memuaskan dia, maka peler yang masuk hanya setengah itu dicabutnya kemudian dengan serta-merta menyodokkan ke duburku dengan keras, lalu mengosoknya dengan brutal, tak lama kemudian dia mencapai klimaks, setelah beberapa saat lalu batang kemaluannya dicabutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku berkonsentrasi pada satu orang saja, aku merubah posisiku dengan posisi nangkring di atas selangkangannya, kemudian aku mulai naik turun dan sedikit goyang kanan kiri, hingga tak lama kemudian pertahanannya terlihat sedikit goyang, begitu pula aku sepertinya aku akan mencapai klimaks keempat kalinya. Setelah beberapa saat kurasakan liang kewanitaanku di sembur cairan hangat dan kemudian aku pun mencapai klimaks yang keempat kalinya, kami pun saling menggeram, lalu aku menggulirkan tubuhku di samping prajurit yang terlihat lemas. Kulihat Dewi masih di kerjai tiga orang prajurit, Dewi meringis-ringis sambil terus dijejali batang kemaluan prajurit yang besar itu. Karena aku merasa kasihan dengan Dewi dengan sedikit sempoyongan kuhampiri mereka kemudian kutarik salah satu dari mereka yang sedang getol-getolnya ngerjai dubur Dewi lalu kukangkangi dia, setelah tepat posisi pelernya diantara bibir kewanitaanku, kududuki dan langsung masuk seluruh batang kemaluan prajurit itu. Kugoyang-goyang dengan gencar hingga prajurit itu kewalahan menghadapi seranganku, membuatnya tak kuasa menahan lahar spermanya, menyemburlah spermanya dalam liang kewanitaanku. Karena aku belum mencapai klimaks lagi kepalang tanggung sehinga aku tetap menggoyang pinggulku sampai aku mencapai klimaks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai prajurit-prajurit itu mengerjaiku dan Dewi mereka terlihat lelah. Aku menghampiri Dewi, kulihat wajahnya sudah lelah, &quot;Gimana Wik?&quot; bisikku. &quot;Wah! habis aku, sampai aku klimaks lima kali Sus&quot;, Dewi menjawab pertanyaanku dengan sisa-sisa tenaganya. Setelah itu kami minta diantar ke rumah kontrakanku dan kemudian aku menghubungi jasa mobil derek kemudian kami istirahat setelah kami mandi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/1743149867118242122/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/1743149867118242122?isPopup=true' title='18 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/1743149867118242122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/1743149867118242122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/mencoba-kejantanan-5-prajurit.html' title='Mencoba Kejantanan 5 Prajurit'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHI1IBTUpPJM7bmZGsdVx7PO0T7LHhpP4DsvKZ9XW1SJc6ZbhcpOFOhh6A4KFWdARDoWtEe217-V-77uy4zeoGYg5HQiVZxx0nAxW9a6x6EunwGTuV3yNZyzyvNrlPTqyO48wdW5hyOzQz/s72-c/diabetes.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-4928610501823530017</id><published>2009-02-15T23:15:00.001+07:00</published><updated>2009-02-15T23:18:08.905+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fiction"/><title type='text'>Warisan Leluhur</title><content type='html'>Pada abad pertengahan di tanah Jawa, terlihatlah berpuluh-puluh tentara Manchuria dari kerajaan Qing (nama kerajaan di China). Mereka membawa obor dan masuk ke dalam sebuah goa. Setelah lama berjalan didalam goa mereka mendengar suara aneh, lalu mereka semua mengeluarkan pedang mereka. Tiba-tiba mereka melihat sebuah sinar besar yang menyilaukan mata. Mereka lalu berteriak kesakitan dan terbantai tanpa mengetahui apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ratus tahun kemudian, didataran Mongolia, terlihat sebuah desa. Desa itu dikelilingi oleh padang gurun. Beberapa kilometer dari desa itu terlihat beberapa truk dan beberapa orang asing menggali tanah didaerah itu. Salah seorang dari mereka berteriak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Berhasil!! Kita menemukannya&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang langsung berlari ke arahnya dan menemukan sebuah batu kuno berukiran bahasa Mongolia kuno. Seorang wanita asal Prancis memberikan pria itu sebuah kunci berbentuk kotak dan pria itu memasukan kunci itu ke lobang dari ukiran di batu itu. Tiba-tiba tanah disekitar pria itu terbuka dan ia sendiri jatuh ke dalam tanah. Wanita itu langsung mengeluarkan teleponnya dan menghubungi seseorang, lalu ia pun loncat masuk ke dalam lubang itu. Dengan berbekal lampu senter beberapa orang asing lainnya pun ikut masuk.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Ternyata di dalam tanah itu terbangun sebuah bangunan besar seperti makam untuk raja atau bangsawan. Mereka akhirnya menelusuri lubang itu. Setelah setengah jam berjalan mereka menemukan sebuah peti mati. Seorang pria gendut berasal dari Amerika langsung melempar dinamit dan meledakan peti mati kuno itu. Tengkorak dari peti mati berceceran keluar. Tak lama kemudian terlihatlah peti kecil didalam peti mati itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria tinggi dan kekar asal Amerika memerintah agar bawahannya mengambil peti itu. Beberapa bawahannya menyentuh peti itu dan tiba-tiba ratusan anak panah melesat keluar dari dindng dan membunuh mereka semua. Setelah anak panah itu habis pria tinggi itu membuka peti itu dan tampaklah sebuah gulungan kertas kuno. Ia lalu mengambil kertas itu dan segera keluar dari lubang itu bersama bawahan lainnya. Sesampainya ia diatas, terlihat ratusan warga membawa kapak dan cangkul menyerangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kami tidak akan membiarkan barang pusaka kami dirampas oleh orang asing sepertimu&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga asing itu langsung kabur. Beberapa lama kemudian datanglah helikopter dan menjemput pria tinggi dan wanita Prancis itu. Sedangkan semua bawahan lainnya mati terbunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian itu tersebar dimana-mana dari televisi hingga ke radio dan polisi tidak sanggup melacak siapa dan dimana pria itu. Begitu mendengar berita di televisi, aku menutup televisi dan pergi mandi. Namaku adalah Adi Santoso. Aku adalah sejarahwan yang mempelajari bahasa kuno seperti bahasa Sansekerta. Aku bekerja di musium Fatahillah di Jakarta. Gajiku kecil dan pekerjaanku hanyalah sebagai satpam. Pihak musium tidak memerlukan penterjemah bahasa kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam aku pulang kerumah tiba-tiba terlihat seorang wanita bule berdiri di depan pintu rumahku. Tetanggaku semua tersenyum dan saling berbisik-bisik. Aku pun turun dari bajaj dan berkata kepada wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Sorry, I don&#39;t need hooker. Please leave my house&quot;.&lt;br /&gt;Lalu wanita itu menamparku, &quot;I&#39;m here for giving you a new job&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar bahwa ada pekerjaan baru maka hatiku menjadi senang dan berterima kasih serta meminta maaf sebanyak mungkin. Namun cewek bule itu masih marah dan menyuruhku mengikutinya ke dalam mobilnya. Aku tidak peduli gosip apa yang akan dibuat oleh tetanggaku, demi uang aku masuk ke mobil itu dan diantar sampai ke restoran di hotel Borobudur. Saat aku masuk terlihat seorang bule menantiku. Badannya kekar dan terlihat seperti berumur 40-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Hai, namaku John Wolfgang dari Amerika, senang berkenalan denganmu.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi kaget karena ia dapat berbicara bahasa Indonesia seperti layaknya saya berbicara. Ia pun berbincang-bincang dan menawarkan aku pekerjaan dengan gaji setengah juta per hari. Aku langsung kaget karena gaji itu jauh lebih besar dari gaji lamaku. Ia lalu mengatakan bahwa ia perlu penerjemah bahasa kuno seperti Sansekerta. Aku langsung kaget darimana ia tahu semua hal itu. Lalu akupun menyetujuinya dan ia menyuruhku untuk langsung ikut dia pergi. Aku tidak diijinkan pulang untuk bersiap-siap. Ia hanya berkata bahwa aku mulai kerja dari malam itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu dibawa ke Ancol dan naik ke sebuah kapal besarnya. Baju, makanan semua telah dipersiapkan untukku. Aku langsung bergabung dengan tim yang telah dipersiapkan. Tim ku terdiri dari lima orang. Aku sendiri, seorang pria gendut asal Amerika bernama Tom yang ahli dalam bahan peledak, seorang pria asal korea bernama Sung Yong yang ahli dalam bagian telekomunikasi, seorang wanita asal rusia ber-rambut jabrik dan dicat putih. Ia bernama Nataly. Dan yang terakhir adalah wanita asal Amerika berketurunan Prancis yang menamparku. Ia adalah supervisor dari tim dan tugasnya adalah mengatur tim. Namanya adalah Kelly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah makan malam kami semua kembali kekamar untuk tidur. Kamarku berada tepat disamping kamar Kelly dan saat aku masuk kamar ia melototiku dan masuk ke kamarnya dengan membanting pintu. Aku lalu berpikir, &quot;Kerja dengan supervisor yang membenciku, nasibku memang selalu sial&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku masuk kekamar dan tidur. Pada pagi berikutnya kapal pun mendarat dan timku mulai bergerak. Saya baru sadar bahwa saya sudah berada di Jawa Timur. Setelah John memberikan surat perjalanan kepada polisi setempat akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya kita berjalan sampai ke sebuah hutan. Lalu terlihatlah sebuah candi besar. Lalu kami masuk ke dalam candi itu. Aku menjadi heran karena John hampir tahu semua jalan masuk ke dalam candi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama ia melihat sebuah obor, lalu ia menuangkan minyak dan menyalakannya. Setelah itu ia mematikan obor itu lalu menyalakannya lagi. Aku menjadi heran apa yang sedang ia lakukan. Setelah ia melakukannya berulang-ulang sebanyak lima kali. Ia mematikan api obor dan memutar obor itu ke bawah. Tiba-tiba dinding rahasia terbuka. Lalu Kelly masuk ke dalam dan mengambil sebuah kotak. Tiba-tiba saat kotak diambil candi itu bergetar dan kami semua lari keluar. Lantai candi itu roboh dan Kelly jatuh ke dalam, namun ia berhasil melempar kotak itu ke Tom dan diselamatkan. Tangan Kelly berusaha memegang erat batu disekitar agar tidak jatuh kebawah lubang, namun gempa yang kuat membuatnya makin terperosot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat hal itu aku langsung terjun kebawah dan menolongnya. Aku menariknya kuat-kuat ke atas dan berhasil. Pada saat ia naik, tanpa sengaja ia memelukku dan dadanya yang besar montok menekan di dadaku. Otomatis penisku berdiri dan nonjol menyentuh celana jeansnya. Ia merasa sadar dan melihatku. Wajahku langsung berubah merah. Tiba-tiba lantai yang kuinjak roboh dan kami jatuh. Tanganku tanpa sengaja memegang akar tanaman yang kuat. Aku lalu mengendong Kelly dan memanjat akar itu sampai ke atas. Setelah sampai diatas akar tanaman putus dan aku mulai terjatuh bersama Kelly, tapi tiba-tiba tangan John berhasil memegang erat tanganku dan menarik aku dan Kelly ke atas. Kami semua langsung lari dan seluruh Candi itu roboh tenggelam ke dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu John membuka kotak itu dan didalamnya terdapat banyak batu berbentuk persegi panjang dan tipis. Dari batu-batu itu terukir bahasa Sansekerta. Ia lalu menyodorkan batu itu kepadaku. Aku lalu membacanya. Batu itu bertulis bahwa tim kami harus pergi ke Candi Borobudur, maka John tanpa basa-basi memerintah tim kami untuk bergerak ke Borobudur menggunakan jip yang sudah disediakan. Kami pun segera berangkat dan sampai disana hari sudah sore. John lalu menyogok petugas disana agar membiarkan kami masuk. Lalu kami semua masuk ke dalam dan berjalan sampai ke puncak candi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku kembali membaca bahasa Sansekerta dari batu yang kubawa. Dari batu itu tertulis bahwa pintu akan terbuka apabila rambut patung Budha didalam stupa di pegang. John langsung memanjat ke atas stupa besar dan memasukan tangannya ke dalam. Ia berhasil memencet tombol batu dikepala patung dan kemudian sebuah pintu batu terbuka. Lalu kami semua masuk ke dalam dengan seluruh peralatan yang kita bawa. Saat kita masuk pintu batu tertutup kembali. Semakin lama kita masuk semakin besar dan lebar jalan yang kita tempuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam kemudian John memerintah kita untuk beristirahat dan membangun kemah. Kami pun membangunnya dan menyiapkan makan malam. Beberapa lampu minyak dan api unggun pun dinyalakan. Kami hampir tidak percaya dengan lubang besar yang dibangun ini. Setelah kami selesai makan malam John menyuruhku membaca lanjutan dari batu kuno itu. Aku membacanya dan ternyata batu itu juga menceritakan kisah jaman Majapahit dimana Raden Wijaya membangun lorong bawah tanah yang besar untuk menyimpan harta dan rahasianya. Batu itu juga menjelaskan bahwa lorong itu sangat panjang dan didirikan selama lebih dari 30 tahun. Semua tim menjadi kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Sampai kapan kita harus berjalan&quot; tanya Nataly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sung Yong pun berkata bahwa gelombang komunikasi terputus karena goa yang dalam ini, sehingga apabila ada bahaya, maka sangatlah tidak mungkin untuk mendapat bantuan dari atas. John berkata bahwa ia tidak akan mundur dan memerintahkan kita untuk beristirahat agar kita bisa melanjutkan perjalanan di esok hari. Maka aku pun masuk ke dalam tendaku. Tak lama kemudian Kelly pun datang dan masuk ke tendaku serta mengagetkanku dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Terima kasih telah menolongku, maaf aku terlalu kasar padamu beberapa hari sebelumnya&quot; katanya.&lt;br /&gt;Aku pun menjawab, &quot;Ah tidak kok, dulu memang kesalahanku&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami pun berbincang-bincang dalam tenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia pun berkata, &quot;Pada saat aku memelukmu, aku merasa penismu berdiri tegang dan menusukku&quot;.&lt;br /&gt;Aku menjadi malu dan berkata, &quot;Ah, itu hanya ketidak sengajaan.&quot;&lt;br /&gt;Lalu ia merangkak ke depanku dan berkata, &quot;Apakah kau suka padaku&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang duduk dan bersender ke belakang tidak bisa berkata apa-apa. Lalu wajah Kelly makin dekat ke wajahku dan melihat mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kau mempunyai mata yang indah katanya&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya hanya 1 cm di depanku. Lalu dia mencium bibirku dan memelukku. Aku pun merangkulnya dan membalas ciuman hangatnya. Dadanya yang montok menempel di dadaku dan ia berbaring di badanku sambil ciuman. Penisku otomatis menegang dan menonjol menusuk celana jeansnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu tersenyum dan berkata, &quot;Nah kan, nonjol lagi&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung ke &lt;a href=&quot;http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/warisan-leluhur-2.html&quot;&gt;Bagian 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/4928610501823530017/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/4928610501823530017?isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/4928610501823530017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/4928610501823530017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/warisan-leluhur.html' title='Warisan Leluhur'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-6199918468559823814</id><published>2009-02-15T23:13:00.001+07:00</published><updated>2009-02-15T23:20:38.237+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fiction"/><title type='text'>Warisan Leluhur 2</title><content type='html'>Sambungan dari &lt;a href=&quot;http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/warisan-leluhur.html&quot;&gt;Bagian 1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia membuka celanaku dan menelanjangiku. Ia sendiri juga membuka celana jeansnya dan terlihat celana dalam yang tipis dan kecil berwarna pink. Penisku bertambah berdiri dan dipegang olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Wah kecil sekali, aku mau lihat yang lebih besar&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia membuka bajunya dan kutangnya. Lalu ia merangkulku dan kedua payudara montoknya menempel didadaku. Aku merasa hangat dan nikmat karena aku belum pernah melakukan seks sebelumnya, dan seks pertamaku langsung dengan wanita bule ini. Penisku berdiri dan melebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Nah begitu dong&quot; katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu mengulum dan menjilati penisku. Aku merasa nikmat sekali dan memegang rambut panjangnya. Setelah itu aku berbaring dan ia merangkak ke depanku. Payudaranya yang besar menyentuh wajahku dan langsung saja kujilati dan kukunyah. Setelah 20 menit ia berbalik badan dan duduk didadaku. Pantatnya menghadap wajahku, lalu ia membuka celana dalamnya secara pelan-pelan. Penisku langsung bertambah besar.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;Yeah, I know you like it&quot; katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah celana dalamnya dilepaskan ia langsung mengangkat pantatnya dan duduk diwajahku. Vaginanya licin karena ia sering memotong bulu vaginanya sampai ludes. Aku menjilati vagina dan lubang pantatnya tanpa henti. Setelah lama kemudian ia mengalami kejang dan vaginanya terbuka lebar seperti pintu bendungan, dan air ovumnya pun mengalir deras ke dalam mulutku lalu kuhisap dan kutelan semuanya. Setelah itu ia membalikan badannya dan duduk diselangkaanku. Ia lalu memasukkan penisku ke dalam vaginanya dan bergerak liar bagaikan menunggang kuda liar di texas. Penisku terpijat dan tertarik kesana kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mendesah keras, &quot;Ah.. Ah.. Uh.. Uh..&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu memerintahkan agar aku ikut bergoyang agar percumbuan itu terasa lebih nikmat. Aku pun menggoyangkan pantat ku dan kedua tanganku memeras payudara montoknya. Ia lalu bergerak lebih liar lagi dan menamparku berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Come on, Why are you so weak? You can do it better.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku mencapai tahap orgasme dan spermaku muncrat semuanya. Ia lalu menjilati dan menghisap semua spermaku. Setelah itu pipiku semua merah akibat tamparan sadisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami memakai baju dan ia merangkak keluar dari tenda. Tiba-tiba terdengarlah suara tepuk tangan dan sorak sorai dari luar tenda. Ternyata semua timku menyaksikan bayangan ku dan Kelly dalam bercinta. Kelly pun bersorak, &quot;Hore.. Yey..&quot; lalu ia menarikku keluar, namun aku enggan karena malu. Akhirnya setelah lama aku pun keluar dan semua orang bersorak padaku. Aku menjadi malu dan mukaku semua merah. Aku hanya bisa tersenyum saja, dan semua timku tertawa melihat gayaku. Lalu kami semua kembali tidur untuk perjalanan di esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam kemudian aku dibangunkan oleh John, atasanku. Aku melihat langit masih gelap, namun John berkata bahwa hari sudah pagi. Ternyata aku lupa kalau kami berada didalam goa. Jam alarm John berbunyi mempertandakan hari sudah jam 8 pagi. Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan sampai jam 8 malam. Tiba-tiba Tom menginjak sebuah tulang, lalu kami meneliti tulang tengkorak itu, dan terlihatlah bendera dan perlengkapan baju besi dari kerajaan Manchuria di China. Ternyata pada jaman dulu raja Manchuria dari China mengetahui rahasia Raden Wijaya dari Majapahit sehingga menugaskan tentaranya untuk merampas harta itu. Namun malang dan semua tentara terbunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelly yang memiliki pengetahuan kedokteran meneliti tulang-tulang itu dan terlihat tulang berwarna unggu disetiap tentara yang berarti mereka semua keracunan. Tiba-tiba terdengar suara aneh ke arah mereka dari belakang. Saat disenter terlihat ratusan kalajenking berwarna biru kehijauan menyerbu ke arah kami dengan sangat cepat. Timku langsung lari terbirit-birit namun badan Tom kegendutan sehingga ia tidak bisa berlari cepat dan menjadi target utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekejap badan dia diselimuti kalajengking. Ia lalu memerintah kami untuk kabur dan ia menyalakan semua dinamitnya sekaligus. Lalu terjadilah ledakan besar dan meruntuhkan dinding goa. Dinding goa itu runtuh semua dan memblokir jalan kita untuk kembali, namun hal itu ada baiknya juga karena kalajengking beracun itu juga tidak bisa lewat. Maka kami meneruskan perjalanan dan menghargai keberanian Tom. Lalu kami berjalan beberapa jam dan mendirikan tenda untuk beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam harinya setelah kami merasa kenyang dan tidur, aku berjalan keluar tenda sendirian untuk kencing. Setelah selesai kencing aku melihat sebuah sinar dari balik batu, maka aku pergi kesana dan mengintip. Terlihatlah Kelly dan Nataly melakukan seks. Ternyata mereka juga sanggup melakukan lesbian. Saat aku ke mengintip mereka berdua sudah telanjang semua. Terlihat Nataly sedang menjilati vagina dan pantat Kelly. Mereka melakukan posisi 69. Kelly juga menjilat vagina dan pantat Nataly dengan tidak kalah ganasnya. Setelah agak lama melakukan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka langsung duduk dan saling berhadapan. Lalu mereka saling memeluk dan berciuman secara ganas. Dada mereka berdua saling beradu dan bergesek. Setelah hal itu dilakukan selama setengah jam lalu Kelly tiduran dilantai dan Nataly menduduki vaginanya. Lalu vagina Nataly digesek-gesekan ke vagina Kelly, dan mereka berdua mendesah keras. Lalu Nataly merangkak ke depan dan mengesek-gesekan payudaranya ke payudara Kelly. Kedua wanita itu saling mengesek-gesekan payudara dan vagina mereka ke lawannya masing-masing. Aku tidak tahan lagi melihat hal itu dan terselip jatuh dari atas batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua kaget dan mempelototiku, setelah itu mereka saling berpandangan dan tersenyum. Setelah itu mereka lalu berjalan ke arahku dan menelanjangiku. Kelly langsung menciumku dan lidahnya mengaduk-aduk lidahku. Sedangkan Nataly menjilati penisku tanpa ampun. Dada Kelly menempel erat didadaku. Setelah itu Nataly bangun dan duduk diwajahku. Aku lalu menjilati vaginanya yang sudah basah itu. Kelly langsung mencumbui penisku dan mereka berdua duduk diatas badanku yang terbaring dilantai. Setelah itu Mereka berdua bangun dan ganti posisi. Pantat Nataly dinunggingkan dan penisku masuk mencumbui pantatnya. Kelly tiduran terlentang di punggung Nataly dan menyodorkan pantatnya agar kujilat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 20 menit Kelly bangun dari punggung Nataly, dan giliranku yang tiduran dipunggungnya. Lalu aku meremas payudara Nataly. Penisku masih mencumbui pantat Nataly. Kepala Nataly-pun dimiringkan setengah ke atas agar kami bisa berciuman. Kelly tidur diatas punggungku dan kedua buah payudaranya menempel dipunggungku. Aku benar-benar merasa nikmat karena dipijit seperti roti hamburger. Kami bertiga berdesah keras dan akhirnya mengalami orgasme keras. Spermaku disemprotkan ke dalam pantat Nataly. Setelah itu kami semua berpakaian dan Nataly duduk diatas batu dan merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sebuah benda tajam besar datang menembus perut Nataly dan mengangkatnya ke atas. Kelly langsung berteriak dan aku menyenter batu itu. Ternyata Nataly duduk diatas seekor kalajengking berukuran raksasa berwarna biru kehijauan. Ternyata itu adalah ratu kalajengking beracun. Nataly pun mati kesakitan. Aku membawa Kelly kabur bersama John dan Sung Yung. Kalajengking itu tidak mengejar kami karena ia sudah mempunyai makanan sendiri. Setelah lama kami berlari akhirnya kami kelelahan dan beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikeesokan harinya kami melanjutkan perjalanan dan kali ini kami menemukan sebuah batu dan ada kotak kecil diatasnya. Aku membaca batu bertulisan Sansekerta yang kubawa dan ternyata kami sudah sampai ditempat tujuan. John langsung mengeluarkan pistol dan membunuh Sung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Terima kasih sekarang tugas kalian sudah habis&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata aku baru sadar bahwa John lebih mengetahui rahasia harta itu dari siapapun. Harta itu adalah sebuah keris keramat yang digunakan oleh Raden Wijaya sepanjang hidupnya. Barang siapa yang memiliki keris itu akan menjadi penguasa dan negaranya akan kuat dan hebat. John berusaha untuk memiliki keris itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjadi marah karena aku tidak mau barang warisan dari leluhurku dirampas oleh orang munafik dan serakah. Maka aku melempar batu dan mengenai kepala John. Kelly lari ke arah John dan menusuk perutnya. John kesakitan dan menembaki Kelly tepat dikepalanya. Kelly pun meninggal. Aku langsung menyerang dan mendorong John hingga jatuh, namun badannya yang besar melemparku dan tanpa sengaja aku menabrak tombol batu yang besar didinding. Tiba-tiba langit dinding goa terbuka dan terlihatlah jalan keluar. Aku segera lari ke arah itu dan John melepaskan tembakan. Beberapa saat kemudian John berpaling kebelakang dan terlihatlah kalanjengking raksasa yang kemarin malam. John ketakutan dan tidak bisa kabur. Ia dimakan oleh kalajengking itu. Sedangkan aku berhasil lari. Namun kalajengking itu mengejarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian aku melihat ada air bah datang dari depan. Kalajengking raksasa itu ketakutan dan kabur. Aku menahan air itu dan berusaha berenang menyelusurinya. Setelah sekian lama aku menemukan jalan keluar, namun aku berada didalam laut. Lalu akupun berenang keluar. Aku berusaha menahan napas dan berenang sekuat tenaga untuk keluar dari air, telingaku sakit sekali dan hampir mengeluarkan darah. Aku berusaha memejam mataku dan berenang terus-terusan ke atas. Akhirnya aku muncul dipelabuhan dan para nelayan memarahiku karena ikan mereka semua kabur karenaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu naik ke atas dan berdiri. Terlihat tulisan besar perkampungan Nelayan di depanku. Lalu aku melihat ke sebelah kanan, dan dari jauh ada gerbang besar bertulisan, &#39;Selamat datang di Pantai indah Kapuk&#39;. Ternyata aku telah kembali berada di Jakarta Utara. Lalu aku mengeringkan badanku dan naik bajaj pulang ke rumah. Beberapa tetangga menanyaiku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Pergi kemana selama beberapa hari ini? Enak enggak pergi sama wanita bule?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru sadar kalau tidak ada orang yang tahu apa yang terjadi. Aku lalu kembali ke kamarku dan melamun. Aku hampir tidak percaya pengalaman yang ke alami. Namun aku akan merahasiakan hal ini agar warisan leluhurku tidak jatuh ke tangan yang salah. Tetangga dan teman-temanku boleh melecehkanku namun mereka juga tidak akan percaya kalau aku baru saja menyelamatkan warisan nenek moyang kita dari tangan orang asing. Dalam hati aku kagum pada nenek moyang kita yang membangun jalan rahasia itu dari candi borobudur sampai ke pelabuhan Tanjung Priok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E N D&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/6199918468559823814/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/6199918468559823814?isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/6199918468559823814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/6199918468559823814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/warisan-leluhur-2.html' title='Warisan Leluhur 2'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-2187346822989382048</id><published>2009-02-15T23:12:00.000+07:00</published><updated>2009-02-15T23:13:19.554+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pemerkosaan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sedarah"/><title type='text'>Seluruh Lelaki Ingin Memperkosaku</title><content type='html'>Kalau ada orang yang benci pada dirinya sendiri, barangkali aku adalah orangnya. Aku sungguh benci pada tubuhku, wajahku, rambutku dan semuanya. Ya.., perasaan itu semua timbul karena segala kelebihan yang kumiliki justru mengancam diriku sendiri. Berkali-kali jiwaku terancam karena mereka ingin memperkosaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Jebih mengherankan adalah mereka bukanlah orang lain, melainkan orang-orang yang aku kenal. Orang yang sangat dekat dengan diriku. Sungguh memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang aku masih terus memikirkan mengapa orang-orang di sekelilingku ingin memperkosaku. Ya ayah kandung, ayah tiriku, dan paman. Entah mengapa mereka begitu bernafsu melihatku. Padahal mestinya mereka jadi pelindungku. Aku hampir tak percaya akan semua ini. Begitu berat beban yang harus kupikul sehingga aku hampir bunuh diri. Kupikir hanya itu jalan satu-satunya untuk keluar dan persoalan ini.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah saat aku mengambil pisau dapur ketahuan paman. Saat itu juga aku dicegah untuk tidak melanjutkan niatku. Aku terksiap begitu dibentak paman, &quot;Apa kamu sudah gila ya?&quot; Mendengar itu aku cuma bisa menangis, tak kuasa berbuat apa-apa. Rasanya segala yang kuperbuat serba salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu aku memang ikut paman, setelah ayah dan ibu bercerai. Aku berpikir dengan ikut paman akan lebih aman. Tidak berpihak kepada ayah maupun ibu. Biarlah paman Sebagai pengganti orang tuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah itu aku diberi kamar sendiri. Kebetulan paman dan bibi tidak punya anak. Hitungannya aku ini sebagai anak angkatnya. Mugkin karena itu aku sangat diperhatikannya, meski aku diambilnya ketika usiaku sudah menginjak remaja, 16 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari pertamaku tinggal bersamanya dengan penuh keceriaan. Akupun mulai lupa dengan persoalan ayah dan ibu. Kupikir tak ada gunanya aku ikut memikirkan persoalan mereka, toh aku sudah dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sehari-hari aku memang tergolong gadis yang lincah. Dalam berbusana aku paling suka dengan rok mini. Mungkin karena aku senang menampakkan kelebihanku pada paha dan kaki yang putih mulus. Ditambah tubuhku yang ramping dan padat berisi. Dengan tinggi badan 167 cm dan berat 48 kg, ditunjang dengan kesempurnaan payudaraku yang berukuran 36C memang membuat banyak pria yang tertarik bahkan tergila-gila pada diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aku tak menyangka jika kesempurnaan penampilanku yang seperti itu malah menjadi bumerang. Memang banyak pria kemudian tergoda melirikku. Tapi yang tidak kusangka sama sekali kalau bahkan pamankupun ikut tergoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku tidur tanpa sempat ganti baju. Tidak biasanya aku memang ganti baju. Hanya kalau ingin saja, aku ganti baju tidur. Saat tidur itulah rupanya aku lupa mengunci pintu kamar. Aku baru terbangun ketika kurasa ada tangan nakal mengusap-usap pahaku. Betapa aku terkejut, ternyata yang ada di sisi tempat tidurku adalah pamanku sendiri. Aku terpekik, tapi seketika itu juga tangan paman membekap mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh harap aku memohon agar paman tak melanjutkan niatnya. Pamanpun memohon maaf dan menyatakan kehilafannya. Kuakui istri paman memang tidak begitu cantik. Ia juga tak begitu pintar merawat diri, sehingga tubuhnya yang gemuk dibiarkan begitu saja. Dalam berpakaian sekenanya, paling banter pakai daster lusuh atau kaos oblong. Kupikir-pikir memang, kok mau-maunya paman sama bibi. Apa tidak ada wanita lain, kata batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menyalahkan kalau kemudian paman melirik wanita lain, yang tidak kumengerti karena wanita yang dipilih adalah aku, kemenakannya sendiri. Untuk beberapa hari aku masih terus berpikir, jangan-jangan paman akan mengulangi perbuatannya lagi. Itu makanya setiap tidur aku tak bisa nyenyak. Kadang-kadang tengah malam aku terbangun, hanya khawatir paman tiba-tiba masuk kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kupikir-pikir, akhirnya kuputuskan untuk keluar dari rumah paman. Daripada tiap hari hatiku tak tenang. Sebenarnya bibi sempat bertanya-tanya tentang keinginanku itu. Apalagi aku masih sekolah, saat itu kelas 2 di sebuah SMU Negeri di Surabaya. Tapi dengan alasan aku kangen pada ayah, dia pun melepaskanku. Pamanku sendiri memaklumi, bahkan masih sempat minta maaf berkali-kali padaku. Rupanya dia sangat menyesali perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya aku memang pergi ke rumah ayah di Bali. Aku sudah tak ingat dengan sekolahku. Pikirku yang penting bagaimana bisa terbebas dari rasa takut. Aku berharap dengan ikut ayah hatiku bisa tentram. Sejak pisah dengan Ibu, ayah memang tinggal di sana karena alasan dagang. Ternyata ayahku sudah menikah lagi dengan seorang gadis asal Kalimantan. Ayahku sendiri berasal dari Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lebih memilih tinggal bersama ayah karena ibuku telah menikah lagi Bahkan ibu telah menikah untuk kedua kalinya. Yang terakhir dia menikah dengan seorang pegawai negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melihat aku datang, ayah sangat senang. Kebetulan dari pernikahan dengan gadis Kalimantan itu, ayah belum juga dikaruniai anak. Jadilah aku dijadikan anak yang manja. Bagi ibu tiriku juga tak masalah. Dia menganggapku sebagai adiknya, kebetulan dia masih sangat muda, usianya sekitar 30 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah ini pun aku mendapatkan sebuah kamar. Hari-hariku boleh dikata lebih banyak bersama ibu tiri. Itu karena ayah terlalu sibuk dengan usahanya di luar. Aku hanya bertemu ayah ketika terlambat tidur, atau pagi sekali sebelum dia berangkat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu aku sudah tertidur pulas ketika ayah datang. Saat itulah ayah masuk ke kamarku yang hanya ditutup kain gorden. Lagi-lagi kejadian serupa yang dilakukan paman terjadi. Aku terbangun ketika ayah sedang asyik mengusap-usap pahaku. Saat itu aku memang sedang mengenakan rok mini. Mungkin ayah sangat terangsang saat menatap rokku yang tersingkap. Aku tak menyangka sama sekali jika ayah bisa berbuat seperti itu. Tidakkah ia ingat bahwa aku ini anaknya, darah dagingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa dia mesti berbuat seperti itu kepadaku. Toh dia sudah punya istri. Apalagi istrinya juga tidak jelek-jelek amat dan masih muda. Tapi itulah manusia, ketika sudah dikuasai nafsu, akal sehatnya pun hilang. Andai saja aku tak terbangun, entah apa yang terjadi. Mungkin aku sudah ditindihnya. Rupanya Tuhan masib menyayangi diriku. Sejak kejadian itu pikiranku kembali kalut. Kadang-kadang aku berpikir betulkah aku ini anak kandungnya. Jangan-jangan aku cuma anak angkatnya, Sebab kalau memang aku anak kandungnya, mengapa ayah, paman tak melihat aku sebagai bagian dari dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ketika paman hendak memperkosaku, akupun berkali-kali menyadarkan ayahku. Aku meminta agar ayah sadar. &quot;Sadarlab pak! Ingat aku ini anakmu masak tega menodai..&quot;, kataku setengah berbisik karena takut terdengar ibu tiriku. Untunglah ayah tak memaksa, dan dia pun minta maaf atas apa yang baru ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya kami berusaha bersikap seperti biasa, seakan tak terjadi apa-apa. Ayah pun segera berangkat, sepertinya dia sangat malu atas kejadian semalam. Tinggalah aku merenung. Aku lebih banyak berdiam di kamar dengan pura-pura membaca majalah. Padahal hatiku sangat gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama setelah kejadian itu, akhirnya kuputuskan kembali ke Surabaya. Kupikir biarlah aku hidup bersama ibu dan ketiga adik-adikku Selama ini, tiga adik-adikku itu, 2 laki-laki dan seorang perempuan, memang ikut ibu. Barangkali dengan hidup di rumah yang banyak orang aku terhindar dan tangan-tangan jahil. Aku yakin bahwa di rumah ibu lebih aman, apalagi ayah tiriku usianya sudah 50 tahun. Jadi tak mungkin dia macam-macam. Aku juga sekamar dengan adik-adikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu aku juga mulai menjaga penampilanku. Aku tak lagi senang memakai rok mini meski itu menjadi busana favoritku. Tapi barangkali sudah suratan nasibku harus jadi korban kebiadaban. Aku tak habis pikir ada apa sebenarnya ditubuhku sehingga bisa memancing hasrat para lelaki untuk memperkosaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, siang hari, ketika adik-adikku pada sekolah dan ibu ke pasar. Tiba-tiba saja ayah tiriku yang biasa kupanggil abah sudah mendekapku dari belakang. Belum sempat aku bertanya, dia sudah membalikkan tubuhku dan mendorongku ke tempat tidur. Dalam posisi berhadap-hadapan, akhirnya aku berusaha lepas sambil mengingatkannya. Aku memohon pada abah agar dia tak melakukannya. Pada saat-saat genting itulah ibu datang dan menyelamatkan diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung keluar dan mengadu pada ibu. Di pangkuannya aku menangis sejadi-jadinya. Mengetahui kejadian itu, ibu sangat marah. Tapi rupanya abah sudah pergi meninggalkan rumah. Sejak saat itu ibu mewanti-wanti. Ia bilang kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan mengatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sudah berapa hari abah tidak pulang, tapi yang kutahu kemudian Ibu mencaci maki abah ketika kembali ke rumah. Abah rupanya sadar dan minta maaf berkali-kali kepada Ibu. Ia juga memanggilku kemudian minta maaf atas perbuatannya. Aku dan Ibu akhirnya berangkulan dan bertangis-tangisan. Kulihat abah hanya menunduk lesu di kursi. Barangkali juga menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kejadian itu aku betul-betul dibuat bingung. Mau pergi, tapi mau kemana lagi. Sepertinya aku lolos dan mulut singa, tapi masuk mulut buaya. Akibat kejadian demi kejadian, aku jadi takut dekat laki-laki. Setiap ada laki-laki yang ingin mendekat, aku jadi curiga. Aku betul-betul trauma, tak tahu harus bagaimana menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhari-hari aku merenung, tapi ibu terus membesarkan hatiku agar tabah menghadapi cobaan ini. Yang penting belum terjadi kan? Percayalah untuk kedua kalinya takkan terulang lagi. Imi akan menjagamu Nak&quot;, kata ibuku memberi keyakinan. Untuk tidak menambah kalut pikiran ibu, akupun mengurungkan niatku untuk menceritakan kejadian sebelumnya. Sampai sekarang dia tak tahu kalau sebenarnya percobaan perkosaan ini sudah untuk ketiga kalinya menimpa anak gadisnya. Pikirku biarlah masalah ini kupendam sendiri, yang penting kegadisanku masih utuh. Aku hanya berharap jangan sampai terulang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari selanjutnya kucoba menenangkan diri sambil terus memperbaiki sikapku. Aku juga mulai mengisi hari-hariku dengan kesibukan. Daripada tidak Sekolah, aku ikut kursus komputer dan Bahasa Inggris. Bukan itu saja, diwaktu-waktu senggang aku masih sempatkan ikut fitnes, meski hanya sekali atau dua kali seminggu. Sungguh, dengan ikut fitnes itu tubuhku makin tampak padat berisi dan kata teman-teman aku tambah cantik. Tapi walaupun begitu aku jarang sekali memakai rok, apalagi rok mini. Aku lebih suka memaka celana panjang dengan baju yang tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abahku juga rupanya sudah menyadari kesalahannya dan tak pernah lagi melirik-lirik diriku. Mungkin takut sama ibu. Mereka berdua tampak lebih sibuk mengurusi tokonya yang selalu ramai dengan pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat-saat aku mulai tenang, timbul masalah-masalah baru dalam hidupku. Dua orang paman tiriku, saudara abah tiriku sama-sama mencintaiku. Pamanku itu kakak beradik, tapi hatiku berkata lebih senang adiknya. Bukan saja usianya yang lebih pas dengan usisiaku, tapi juga wajah adiknya lebih ganteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya mereka berdua, sebut saja Paman A dan Paman B saling bersaing ketat untuk merebut hatiku, meski di antara mereka tak saling tahu. Entah mengapa aku begitu sulit menolak ajakan mereka. Makanya ketika A membelikan cincin atau keperluan lainnya, akupun menerimanya saja. Padahal Jujur kukatakan aku tak begitu suka dengannya. Kepada B aku suka, tapi sayang terlalu pecemburu. Aku khawatir terjadi apa-apa di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat bersamaan aku berkenalan dengan Kus, seorang rnahasiswa sebuah PTS di Surabaya. Pemuda ini cukup terpelajar, akupun senang. Herannya, yang mengenalkan Kus kepadaku adalah paman B. Mereka adalah teman akrab. Aku betul-betul dibuat bingung oleh ketiga laki-laki ini. Semuanya punya kelebihan dan kekurangan. Kus sendiri mengaku telah punya tunangan. Tapi katanya dia lebih mencintai aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usia 19 tanun sekarang sebenarnya aku juga sudah kepingin kawin. Tapi siapa di antara ketiga laki-laki itu yang layak kupilih? Dengan A atau B tidak mungkin, sebab bagaimanapun dia adalah pamanku, meski hanya paman tiri. Dengan Kus aku masih ragu, walaupun seandainya disuruh memilih aku pilih dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kebingunan, rasanya aku ingin pergi jauh untuk menenangkan diri. Aku ingin kerja, meski itu di luar negeri sekalipun. Tentu pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan yang kumiliki. Tapi dimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/2187346822989382048/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/2187346822989382048?isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/2187346822989382048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/2187346822989382048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/seluruh-lelaki-ingin-memperkosaku.html' title='Seluruh Lelaki Ingin Memperkosaku'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-2328409902305632039</id><published>2009-02-15T23:10:00.000+07:00</published><updated>2009-02-15T23:12:04.565+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sedarah"/><title type='text'>Penyesalanku</title><content type='html'>Saya memiliki seorang adik yang bernama Lionel. Dia berusia 12 tahun dan bersekolah di salah satu SMP di Jakarta Timur. Beberapa bulan yang lalu, Lionel datang mengunjungiku karena dia sedang dalam liburan selama 1 bulan dan saya tidak begitu tahu liburan apa, yang pasti saya senang sekali karena adikku datang dari Jakarta. Di saat itu, Lionel datang bersama temannya yang bernama Lyndon. Lionel berkata bahwa dia sempat singgah 1 hari di Singapura karena dia mesti menjemput Lyndon yang sedang sekolah SMP juga di Singapura dan bersama-sama pergi ke Roma, Italy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat adikku dan temannya datang, Erick kebetulan sedang tugas di luar negeri sehingga saya bisa menyempatkan untuk pergi berjalan-jalan bersama adikku dan temannya. Setelah seharian saya menemani Lionel dan Lyndon, saya merasa lelah sekali sehingga saya memutuskan untuk beristirahat setelah kami bertiga selesai mengelilingi kota Roma.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Di saat saya sedang terlelap tidur, tiba-tiba saya merasakan ada 2 orang laki-laki yang sedang menggerayangi tubuh saya dan membuat saya terbangun dari tidur dan melihat apa yang sedang terjadi. Saya sempat kaget karena saya menemukan tubuh saya dalam keadaan telanjang total dan saya melihat Lionel sedang mengulum payudara saya yang sebelah kiri sedangkan Lyndon, temannya sedang mengemut payudara saya yang sebelah kanan sambil tangannya mulai nakal karena mulai menggerayangi bagian sensitif saya yaitu di sekitar kelamin dan klitoris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya teringat sekali bahwa ada 2 pikiran yang berlainan berkecamuk di dalam diri saya. Di satu pihak, saya tidak mau bercinta dengan adik saya sendiri sedangkan di lain pihak, saya semakin terangsang dengan permainan mereka apalagi Lyndon semakin liar memainkan tangannya di bagian klitorisku sehingga membuat saya mendesah-desah sambil mengelus-elus leherku yang cukup jenjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku mulai menghentikan aksinya dan mulai mendekati kelaminku dan dia mulai menjilati liang kenikmatanku dengan lidahnya yang masih kecil. Saya merasakan kenikmatan yang belum pernah kudapatkan dari seorang bocah kecil dan saya mengetahui bahwa mereka sedang mempelajari cara memuaskan seorang wanita karena Lionel menjilati liang kewanitaan saya sambil kadang-kadang melihat ke buku pornonya yang memperlihatkan gambar seorang wanita telanjang dan sekali-kali memperlihatkan ke temannya. Saya kurang mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh mereka karena saya mulai merasakan getaran-getaran hasrat yang membuatku ingin bercinta dengan adikku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung berkata kepada Lionel, &quot;De, kamu entotin Cici ya.. Cici udah nggak tahan nih&quot;. Dengan polos, Lionel menjawab, &quot;Gimana caranya, Ci?&quot;. Dengan tenang kemudian, saya menyuruh Lionel untuk berbaring dan saya menyuruh temannya untuk pindah tempat sebentar. Saya mulai mengarahkan batang kemaluan Lionel yang masih kecil tetapi sudah menegang dan mulai memasukkannya ke dalam lubang kelaminku. Saya melihat Lionel mulai meringis merasakan sensasi dan ketika dia mendesah-desah karena kenikmatannya berada di dalam liang kenikmatanku, saya mulai menggoyangkan tubuhku sehingga Lionel mulai menggelinjang merasakan kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat saya sedang berada di atas Lionel, Lyndon kemudian mendekati saya dan memasukkan batang kemaluannya yang juga telah menegang ke dalam mulutku. Dengan lahapnya, saya terus mengulum batang kemaluan Lyndon sementara saya masih menaik-turunkan badan saya yang berada di atas tubuh Lionel sehingga secara nafsu, Lionel langsung mengelus-elus payudara saya sehingga saya merasakan sesuatu kenikmatan yang pernah saya dapatkan dengan Erick, Polly dan Herman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak beberapa lama, mungkin karena Lionel baru pertama kali, tiba-tiba dia mempercepat gerakannya dan dia memeluk saya erat sekali dan saya telah dapat merasakan cipratan sperma yang keluar membasahi liang kenikmatan saya dan di saat yang bersamaan saya juga mengalami nikmatnya surga dunia sambil terus mengulum batang kemaluan Lyndon yang masih berada di dalam mulut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, tiba-tiba Lyndon meminta gilirannya dan dia langsung berbaring di sebelah saya. Dengan cara yang sama, saya mulai berada di atas Lyndon dan mulai memasukkan batang kemaluan yang sudah tegak berdiri ke dalam selangkangan saya yang masih memerah dan masih ada cairan kenikmatan dari adik kandung saya. Saya memasukkan batang kemaluan Lyndon perlahan-lahan dan saya telah dapat melihat perbedaan ekspresi wajah Lyndon ketika batang kemaluannya telah memasuki goa kenikmatan saya. Lyndon meringis kenikmatan dan dia memeluk saya dan mengulum bibir saya. Dengan nafsunya, Lyndon menggenjot tubuh saya yang berada di atasnya sambil sekali-kali memainkan payudara saya yang cukup besar. Saya masih terus bercinta dengan Lyndon sampai titik kenikmatan penghabisan yang dia muncratkan ke dalam liang kewanitaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku dan temannya telah KO karena kehabisan tenaga tetapi saya masih belum puas karena sejujurnya saya termasuk cewek hiperseks. Saya dapat mengerti mereka cepat klimaks karena mereka masih belajar dan saya senang mereka cepat belajar. Saya sempat menanyakan ke mereka berdua kenapa mereka nekad menggauli saya padahal saya tidak menyuruhnya. Rupanya, mereka sama persis seperti Herman Irwanto karena mereka mengetahui bahwa saya gila seks ketika mereka membaca situs favorit mereka yang beralamat di http://www.17tahun.com dan saya sempat kaget mendengar alamat URL yang mereka sebutkan karena saya selalu mengirimkan pengalaman-pengalaman gila saya ke alamat tersebut dan sekarang mereka telah mengorbankan keperjakaan mereka karena mereka ingin mencicipi kelamin Florence Kim yang sangat menyukai seks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengharapkan saya dapat mengenal banyak orang-orang Indonesia yang tinggal di Roma dan tentunya mereka mesti menyukai permainan seks bebas. Kisah ini terjadi secara nyata dan beberapa minggu setelah kejadian saya bercinta dengan adik saya dan temannya, saya merasakan mual-mual dan saya sempat kaget karena saya dinyatakan hamil oleh dokter. Saya tidak tahu mesti berkata apa kepada Erick karena bayi yang saya kandung belum tentu adalah milik Erick karena saya pernah bercinta dengan banyak orang dan mudah-mudahan ini bukan bayi Polly atau saya bisa menjadi gila jika ini beneran bayi Polly. Saya sangat menyesal tetapi semuanya telah terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/2328409902305632039/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/2328409902305632039?isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/2328409902305632039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/2328409902305632039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/penyesalanku.html' title='Penyesalanku'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-7780407991491306195</id><published>2009-02-15T23:09:00.000+07:00</published><updated>2009-02-15T23:10:20.147+07:00</updated><title type='text'>Pelajaran Bercinta</title><content type='html'>Aku Sony, berumur 23 tahun. Ini cerita mengenai pengalamanku. Pertama-tama aku mau cerita soal diriku. Aku saat ini kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Malang. Di Malang aku tinggal dengan tanteku. Tanteku orangnya masih muda, umurnya hanya selisih 3 tahun denganku. Itulah mengenai diriku, dan selanjutnya silakan ikuti pengalamanku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku baru saja pulang kuliah, langsung saja kumasuk ke kamar. Ketika baru sampai di depan pintu kamar, samar-samar kudengar tante sedang bicara dengan temannya di telpon. Aku orangnya memang suka jahil, kucoba menguping dari balik pintu yang memang sedikit terbuka. Kudengar tante mau mengadakan pesta seks di rumah ini pada hari Sabtu. Aku gembira sekali mendengarnya. Untuk memastikan berita itu, langsung saja aku masuk ke kamar tante. Setelah selesai telpon, tante kaget melihatku sudah masuk ke kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;Lho Son, Kamu udah pulang rupanya. Kamu ada perlu ama Tante, ya..?&quot; katanya.&lt;br /&gt;Aku langsung saja to the point, &quot;Tante, Sony mau nanya.., boleh khan..?&quot; kataku.&lt;br /&gt;&quot;Boleh aja keponakanku sayang, Kamu mau nanya apa..?&quot; sambungnya sambil menyubit pipiku.&lt;br /&gt;&quot;Tapi sebelumnya Sony minta maaf Tante, soalnya Sony tadi nggak sengaja nguping pembicaraan Tante di telpon.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Aduhh.. Kamu nakal ya Son, awas nanti Aku bilangin ama Mama Kamu lho. Tapi.. Oke dech nggak apa-apa. Terus apa yang mau Kamu tanyakan, ayo bilang..!&quot; katanya agak jengkel.&lt;br /&gt;&quot;Sony tadi dengar Tante ama teman Tante mau ngadain pesta seks disini, benar itu Tante..?&quot; kataku pelan.&lt;br /&gt;&quot;Idihh.. jorok ach Kamu. Masak Tante mau ngadain pesta seks disini, itu nggak benar Son.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Tapi tadi Sony dengar sendiri Tante bicara ama teman Tante, please donk Tante, jangan bohongin Sony. Nanti Sony bilangin ama Om kalau Tante mau ngadain pesta disini.&quot; kataku agak mengancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Apaa..! Aduhh.., Son, please jangan bilang ama Om Kamu. Iya dech Tante ngaku.&quot; katanya agak memohon.&lt;br /&gt;&quot;Nah, khan ketahuan Tante bohongin Sony.&quot; kataku senang.&lt;br /&gt;&quot;Terus Kamu mau apa kalau Tante ngadain pesta..?&quot; katanya penasaran.&lt;br /&gt;&quot;Gini Tante, anuu.., anuu.., Sony.., pengen.. anuu..&quot;&lt;br /&gt;&quot;Anu apa sih Son..? Ngomong donk terus terang..!&quot; katanya tambah penasaran.&lt;br /&gt;&quot;Boleh nggak, Sony ikutan pestanya Tante..?&quot;&lt;br /&gt;Aduh tante melotot lagi sambil berkata, &quot;Udah, ah, Kamu ini kayak orang kurang kerjaan aja.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus kurayu lagi, &quot;Yaa.. Tante.. ya.. please..!&quot;&lt;br /&gt;&quot;Tapi ini khan untuk orang dewasa lagi, Kamu ngaco dech. Lagian khan Kamu masih kecil.&quot; katanya agak kesal.&lt;br /&gt;&quot;Tapi Tante, Sony khan udah gede, masak nggak boleh ikut. Kalau nggak percaya, Tante boleh lihat punya Sony..!&quot;&lt;br /&gt;Lalu kulepaskan celana dan CD-ku. Lalu terlihatlah batang kemaluanku yang lumayan besar, kira-kira panjangnya 17 cm dengan diameter 10 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante kaget sekali melihat ulahku lalu, &quot;Wowww.., Sony sayang.., punya Kamu besar dan panjang sekali. Punya Kamu lebih besar dari Om Kamu. Hhhmm.., boleh nggak Tante pegang kepala yang besar itu Sayang..?&quot; katanya dengan genit.&lt;br /&gt;&quot;Tante boleh ngobok-ngobok kontolku, tapi Tante harus ngijinin Sony ikut pesta nanti..!&quot; kataku agak mengancam.&lt;br /&gt;&quot;Ya dech, Sony nanti boleh ikut. Tapi Tante mau nanya ama kamu, Sony udah pernah ngeseks belom..?&quot; tanyanya.&lt;br /&gt;Lalu kukatakan saja kalau aku belum pernah melakukan seks dengan cewek, tapi kalau raba sana, raba sini, cium sana, cium sini sih aku pernah melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Mau nggak Tante ajarin..?&quot; katanya dengan genit.&lt;br /&gt;Aku hanya terdiam. Lalu tiba-tiba tante meletakkan tangannya di pahaku. Aku begitu terkejut.&lt;br /&gt;&quot;Kenapa Kamu terkejut..? Tante hanya memegang paha Kamu aja kok..!&quot;&lt;br /&gt;Kemudian tante mengambil tanganku, lalu dia mulai menciumi tanganku. Aku merasakan barangku mulai bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanteku mulai menciumi leherku, kemudian bibirku dilumat juga. Dia masukkan lidahnya ke dalam mulutku, tanpa kusadari aku mengulum lidahnya. Nafasnya mulai tidak beraturan kudengar. Sementara kami asyik berciuman, tangannya mulai meraba-raba batang kemaluanku. Dia meremas-remas pelan. Aku pun jadi mulai berani. Kumasuki tanganku ke dalam bajunya untuk meraba payudaranya. Kumasukkan tanganku ke dalam bra-nya, terus kuremas-remas.&lt;br /&gt;&quot;Aaahh..&quot; dia mulai mendesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama aku disuruh duduk di tepi ranjang, sementara tante melepaskan bajunya step-by-step. Mataku tidak berkedip sedetik pun. Aku tidak mau melepaskan pemandangan yang indah itu dari mataku. Kelihatan bra-nya yang berwarna hitam transparan, sehingga payudaranya yang putih dengan putingnya yang merah kecoklatan samar terlihat. CD-nya ternyata berwarna hitam transparan berenda. Kulihat belahan vaginanya yang tidak ada bulunya itu. Lalu dia melepaskan bra-nya, payudaranya yang lumayan besar itu seperti loncat keluar dan mulai berayun-ayun, membuatku tambah tegang saja. Kemudian dia melepaskan CD-nya. Kelihatan vaginanya begitu menarik, agak kecoklatan warnanya. Lalu tante jalan menghampiriku yang duduk di tepi ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Tante buka baju Kamu yaa.., Son..?&quot; katanya genit.&lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk. Setelah aku telanjang total, tante langsung jongkok di depanku dan menyuruhku membuka kaki lebar-lebar. Batang kejantananku yang sudah tegang itu tepat di depan wajahnya. Lalu dia mulai menjilati kakiku mulai dari jempol kakiku dan yang lainnya. Dia naik ke betisku yang berbulu lebat, persis hutan di Kalimantan. Kemudian dia naik lagi ke pahaku, dielusnya dan dijilatinya, setelah itu dia berpindah ke lubang anusku yang juga dicium dan dijilatinya. Tidak hanya itu, ternyata dia memasukkan jari tengahnya ke lubang anusku. Ohh.., nikmatnya. Lalu dia mulai mengelus-elus batang kejantananku dan tangan satunya memijat-mijat my twins egg-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Aaahh..!&quot; aku mengerang kenikmatan.&lt;br /&gt;Kemudian dia memasukkan batang kejantananku ke mulutnya, dia hisap penisku, terus diemut-emutnya senjata kejantananku. Dia gerakkan kepalanya naik-turun dengan batang kejantananku masih di dalam mulutnya. Terasa penis saya menyentuh tenggorokannya dan masih terus dia tekan. Masih dia tekan terus sampai bibirnya menyentuh badanku. Semua batang penisku ditelan oleh tanteku, lidahnya menjilat bagian bawah penisku dan bibirnya dibesar-kecilkan, sebuah rasa yang tidak pernah kubayangkan. Penisku kemudian dikeluar-masukkan, tapi tetap masuk seluruhnya ke tenggorokannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama dihisap dan dikeluar-masukkan, terasa batang penisku sudah mau mengeluarkan cairan.&lt;br /&gt;Sambil memeras biji kemaluanku dan tangan yang satu lagi dimasukkannya ke dalam lubang pantatku, kubilang sama tante, &quot;Tante.., Aku mau keluar, ohh..!&quot;&lt;br /&gt;Dia keluarkan penisku dan bilang, &quot;Go on come in My mouth. I want to taste and drink your cum, Sony. Hhhmm..&quot;&lt;br /&gt;Penisku dimasukkan lagi, dan sekarang dia memasukkan dengan lebih dalam dan dihisap lebih keras lagi. Setelah beberapa kali keluar masuk, kukeluarkan spermaku di dalam mulut tante, dan langsung ke dalam tenggorokannya. Terasa tengorokannya mengecil dan jari di lubang pantatku lebih ditekan ke dalam lagi sampai semuanya masuk. Aku benar-benar merasakan nikmat yang sulit dikatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan dia mengeluarkan batang penisku sambil berkata, &quot;Punya Kamu enak Son.., Tante suka,&quot; katanya, &quot;Sekarang giliran Kamu yaahh..!&quot; pintanya.&lt;br /&gt;Kemudian dia berbaring di tempat tidur dan kakinya dikangkanginya lebar-lebar. Tante menyuruhku menjilat vaginanya yang kelihatan sudah basah. Baru pertama kali itu kulihat vagina secara langsung. Dengan agak ragu-ragu, kupegang bibir vaginanya.&lt;br /&gt;&quot;Jangan malu-malu..!&quot; katanya.&lt;br /&gt;Kugosok-gosok tanganku di bibir kemaluannya itu. Mmmhh.., dia mulai mengerang. Lama-lama klitorisnya mulai mengeras dan menebal.&lt;br /&gt;&quot;Kamu jilat dong..!&quot; pintanya.&lt;br /&gt;Kemudian aku menunduk dan mulai menjilati liang senggamanya yang sudah merah itu.&lt;br /&gt;&quot;Mmmhh.., enak juga..&quot; kupikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin bersemangat menjilati vagina tanteku sendiri. Sedang asyik-asyiknya aku menjilati liang senggama, tiba-tiba badan tanteku mengejang.&lt;br /&gt;Desahannya semakin keras, &quot;Aaahh.., aahh..!&quot;&lt;br /&gt;Lalu muncratlah air maninya dari lubang senggamanya banyak sekali. Langsung saja kutelan habis cairan itu. Mmmhh.., enak juga rasanya.&lt;br /&gt;Kemudian dia bilang, &quot;Ohh.., God.. bener-bener hebat Kamu Son.. lemes Tante.. nggak kuat lagi dech untuk berdiri.., ohh..!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dengan perlahan kutarik kedua kakinya ke tepi ranjang, kubuka pahanya lebar-lebar dan kujatuhkan kakinya ke lantai. Vaginanya sekarang sudah terbuka agak lebar. Nampaknya dia masih terbayang-bayang atas peristiwa tadi dan belum sadar atas apa yang kulakukan sekarang padanya. Begitu tante sadar, batang kejantananku sudah menempel di bibir kemaluannya.&lt;br /&gt;&quot;Tante, Sony udah nggak tahan nich..!&quot; kataku memohon.&lt;br /&gt;Dia mengangguk lemas, lalu, &quot;Ohh..!&quot; dia hanya bisa menjerit tertahan.&lt;br /&gt;Lalu selanjutnya aku tak tahu bagaimana cara memasukkan penisku ke dalam liang senggamanya. Lubangnya agak kecil dan rapat. Tiba-tiba kurasakan tangan tante memegang batang kejantananku dan membimbing senjataku ke liang kenikmatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Tekan disini Son..! Pelan-pelan yaa.., punya Kamu gede buanget sih..!&quot; katanya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;Lalu dengan perlahan dia membantuku memasukkan penisku ke dalam lubang kemaluannya. Belum sampai setengah bagian yang masuk, dia sudah menjerit kesakitan.&lt;br /&gt;&quot;Aaa.., sakit.. oohh.., pelan-pelan Son, aduhh..!&quot; tangan kirinya masih menggenggam batang kemaluanku, menahan laju masuknya agar tidak terlalu keras.&lt;br /&gt;Sementara tangan kanannya meremas-remas rambutku. Aku merasakan batang kejantananku diurut-urut di dalam liang kenikmatannya. Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tapi tangan tante membuat penisku susah untuk memasukkan lebih dalam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menarik tangannya dari penisku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya. Kemudian kudorong batang kejantananku masuk sedikit lagi.&lt;br /&gt;&quot;Aduhh.., sakitt.., ohh.. sshh.. aacchh..&quot; kembali tante mengerang dan meronta.&lt;br /&gt;Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tak sabar lagi kupegang erat-erat pinggulnya supaya dia berhenti meronta, lalu kudorong sekuatnya batang kemaluanku ke dalam lagi. Kembali tante menjerit dan meronta dengan buasnya.&lt;br /&gt;Aku berhenti sejenak, menunggu dia tenang dulu lalu, &quot;Lho kok berhenti, ayo goyang lagi donk Son..,&quot; dia sudah bisa tersenyum sekarang.&lt;br /&gt;Lalu aku menggoyang batang kejantananku keluar masuk di dalam liang kenikmatannya. Tante terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama juga kami bertahan di posisi seperti itu. Kulihat dia hanya mendesis, sambil memejamkan mata. Tiba-tiba kurasakan bibir kemaluannya menjepit batang kejantananku dengan sangat kuat, tubuh tante mulai menggelinjang, nafasnya mulai tak karuan dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.&lt;br /&gt;&quot;Ohh.., ohh.., Tante udah mo keluar nich.., sshh.. aahh..&quot; goyangan pinggulnya sekarang sudah tidak beraturan, &quot;Kamu masih lama nggak, Son..? Kita keluarin bareng-bareng aja yuk.. aahh..!&quot;&lt;br /&gt;Tidak menjawab, aku semakin mempercepat goyanganku.&lt;br /&gt;&quot;Aaahh.., Tante keluar Son..! Ohh ennaakk..!&quot; dia mengelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin bersemangat menggenjot. Aku juga merasa bahwa aku juga akan keluar tidak lama lagi.&lt;br /&gt;Dan akhirnya, &quot;Ahh.., sshh.. ohh..!&quot; kusemprotkan cairanku ke dalam liang kewanitaannya.&lt;br /&gt;Lalu kucabut batang kejantananku dan terduduk di lantai.&lt;br /&gt;&quot;Kamu hebat..! Sudah lama Tante nggak pernah klimaks.., oohh..!&quot; katanya girang.&lt;br /&gt;&quot;Ohh.., Sony cape.., Tante!&quot; kataku sambil tersenyum kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak lama kemudian tertidur dalam posisi kaki tante melingkar di pinggangku sambil memeluk dan berciuman. Aku sudah tidak ingat jam berapa kami tertidur. Yang kutahu, ada yang membersihkan penisku dengan lap basah tapi hangat. Ternyata tante yang membersihkan batang kejantananku dan dia sudah terlihat bersih lagi. Setelah selesai membersihkan penisku, dia langsung menjilatinya lagi. Dengan tetap semangat, batang kejantananku dihisap dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Yang ini terasa lebih dalam dan lebih enak, mungkin posisi mulut lebih cocok dibandingkan waktu aku berdiri.&lt;br /&gt;Dengan cepat batang keperkasaanku menjadi keras lagi dan dia bilang, &quot;Son, sekarang Kamu kerjain Tante dari belakang ya..!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kemudian membelakangiku, pantat serta vaginanya terlihat merekah dan basah, tapi bekas-bekas spermaku sudah tidak ada. Sebelum kumasukkan batang kejantananku, kujilat dulu bibir vaginanya dan lubang pantatnya. Tercium bau sabun di kedua lubangnya dan sangat bersih. Cairan dari liang senggamanya mulai membasahi bibir kemaluannya, ditambah dengan ludahku. Di ujung kemaluanku terlihat cairan menetes dari lubang kepala kejantananku. Kuarahkan batang kemaluanku ke lubang vaginanya dan menekan ke dalam dengan pelan-pelan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari batang kejantananku dan vaginanya, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante kemudian berdiri dan bersandar ke dinding di atas tempat tidur sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas. Dari bawah, kemaluannya terlihat sangat merah dan basah.&lt;br /&gt;&quot;Ayo masukin lagi sekarang, Son..!&quot; pintanya tak sabar.&lt;br /&gt;Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan batang kejantananku ke liang senggamanya. Dengan posisi ini, kumasuk-keluarkan batang kejantananku. Setiap kali aku mendorong batang penisku ke liang senggamanya, badan tante membentur dinding.&lt;br /&gt;Sambil memelukku dan sambil berciuman, dia bilang, &quot;Son, Tante mo keluar nich..!&quot;&lt;br /&gt;Kemudian kurasakan lubang senggamanya diperkecil dan memijat batang keperkasaanku dan bersamaan kami keluar dan orgasme. Aku masih bisa juga keluar, walaupun tadi sudah keluar dua kali. Dan yang kali ini sama enaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terus rebahan di kasur sambil berpelukan. Kepala tante di dadaku dan tangannya memainkan penisku yang masih basah oleh sperma dan cairan vaginanya. Dengan nakal tante menaruh jari-jarinya ke wajahku dan mengusap ke seluruh wajahku. Bau sperma dan vaginanya menempel di wajahku. Dia tertawa waktu aku pura-pura mau muntah. Untuk membalasnya, kuraba-raba vaginanya yang masih banyak sisa spermaku dan seluruh telapak tanganku basah oleh sperma dan cairan dia. Pelan-pelan kutaruh di wajahnya, dan wajahnya kuolesi dengan cairan itu. Dia tidak mengeluh tapi justru jari-jariku dijilat satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah jari dan tanganku bersih, dia mulai menjilati wajahku, semua bekas sperma dan cairannya dibersihkan dengan lidahnya.&lt;br /&gt;Selesai dengan kerjaannya, dia bilang, &quot;Son, sekarang giliran Kamu yaahh..!&quot;&lt;br /&gt;Wow, tidak disangka aku harus menjilat spermaku sendiri. Karena tidak punya pilihan, aku mulai menjilati cairan di wajahnya, dimulai dari bibirnya sambil kukulum keras-keras. Nafas tante terasa naik lagi dan tangannya mulai memainkan batang kejantananku. Tidak disangka kalau aku bisa juga membersihkan wajahnya dan menjilat spermaku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku diarahkan ke liang senggamanya dan digosok-gosokkan ke klit-nya. Kami saling memegang kira-kira 30 menit. Terus kami berdua mandi untuk membersihkan badan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/7780407991491306195/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/7780407991491306195?isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/7780407991491306195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/7780407991491306195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/pelajaran-bercinta.html' title='Pelajaran Bercinta'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-5739692702303934328</id><published>2009-02-15T23:08:00.000+07:00</published><updated>2009-02-15T23:09:12.525+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sedarah"/><title type='text'>Menantu Perempuan</title><content type='html'>Frans, 56 tahun, dengan perutnya yang gendut yang kebanyakan minum bir, kepalanya mulai botak dan sudah menduda selama 10 tahun. Setelah rumahnya dijual untuk membayar hutang judinya, dia terpaksa datang dan menginap di rumah putranya yang berumur 28 beserta menantu perempuannya. Sekarang dia harus menghabiskan waktunya dengan pasangan muda tersebut sampai dia dapat menemukan sebuah rumah kontrakan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diketuknya pintu depan dan Ester, menantu perempuannya yang berumur 24 tahun, muncul dengan memakai celana pendek putih dan kemeja biru dengan hanya tiga kancing atasnya yang terpasang, memperlihatkan perutnya yang rata. Rambutnya yang berombak tergerai sampai bahunya dan mata indahnya terbelalak menatapnya.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;Papi, aku pikir Papi baru datang besok, mari masuk&quot;, katanya sambil berbalik memberi Frans sebuah pemandangan yang indah dari pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tingginya yang 175 itu, dia terlihat sangat cantik. Dia mempunyai figur sempurna yang membuat lelaki mana pun akan bersedia mati untuk dapat bercinta dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Johan masih di kantor, sebentar lagi pasti pulang.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Kupikir aku hanya tidak mau ketinggalan bus&quot;, kata Frans sambil duduk.&lt;br /&gt;&quot;Tidak apa-apa&quot;, jawab Ester sambil membungkuk ke depan untuk mengambil sebuah mug di atas meja kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hanya tiga kancing yang terpasang, itu memberi Frans sebuah pemandangan yang bagus akan payudaranya, kelihatan sempurna. Memperhatikan hal tersebut menjadikan Frans ereksi dengan cepat, dan dia harus lebih berhati-hati untuk menyembunyikan reaksi tubuhnnya. Ester duduk di sofa di depan Frans dan menyilangkan kakinya, memperlihatkan pahanya yang indah. Posisi duduknya yang demikian membuat pusarnya terlihat jelas ketika dia mulai bertanya pada Frans tentang perjalanannya dan bagaimana keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Perjalanan yang melelahkan&quot;, Frans menjawab sambil matanya menjelajahi dari kepala hingga kaki pada keindahan yang sedang duduk di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lebih dari 5 tahun sejak Frans berhubungan seks untuk terakhir kalinya. Setelah isterinya meninggal, Frans sering mencari wanita panggilan. Tetapi hal itu semakin membuat hutangnya menumpuk, dan dia tidak mampu lagi untuk membayarnya. Ester menyadari kalau kemejanya memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya pada mertuanya, maka dia dengan cepat segera membetulkan kancing kemejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Aku harus ke atas, mandi dan segera menyiapkan makan malam. Anggap saja rumah sendiri&quot;, katanya sambil berjalan naik ke tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Frans mengikuti pantat kencangnya yang bergoyang saat berjalan di atas tangga dan dia tahu bahwa dia memerlukan beberapa &#39;format pelepasan&#39; dengan segera. Kemudian telepon berbunyi. Frans mengangkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Halo&quot;&lt;br /&gt;&quot;Hallo, ini Papi ya?&quot;, itu Johan.&lt;br /&gt;&quot;Ya Jo&quot;, jawab Frans.&lt;br /&gt;&quot;Pi, aku khawatir harus meninggalkan Papi untuk urusan bisnis dan mungkin nggak akan kembali sampai Senin. Ada keadaan darurat. Maafkan aku soal, ini tapi Papi bisa kan bilang ini ke Ester, aku harus mengejar pesawat sekarang. Maafkan aku tapi aku akan telepon lagi nanti&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka saling mengucapkan salam lalu menutup teleponnya. Lalu Frans memutuskan untuk menaruh koper-kopernya. Dia berjalan ke atas, melewati kamar tidur utama, terdengar suara orang yang sedang mandi. Frans menaruh koper-kopernya dan pelan-pelan membuka pintu kamar tidur itu lalu menyelinap masuk. Ada sepasang celana jeans berwarna biru di atas tempat tidur, dan sebuah atasan katun berwarna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans mengambil atasan itu dan menemukan sebuah pakaian dalam wanita di bawahnya. Ini sudah cukup. Diambilnya celana dalam itu, membuka resluiting celananya, dan mulai menggosok kemaluannya dengan itu. Jantungnya berdebar mengetahui bahwa menantu perempuannya sedang berada di kamar mandi di sebelahnya selagi dia sedang menggunakan celana dalamnya untuk &#39;sarana pelepasan&#39; dirinya. Dipercepatnya gerakannya sambil mencoba membayangkan seperti apa Ester saat di atas tempat tidur, dan bagaimana rasanya mendapatkan Ester bergerak naik turun pada penisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans hampir dekat dengan klimaksnya ketika dia mendengar suara dari kamar mandi berhenti. Dengan cepat Frans meletakkan pakaian itu ke tempatnya semula dan keluar dari kamar itu. Dia menutup pintunya, tapi masih membiarkannya sedikit terbuka. Baru saja dia keluar, Ester muncul dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang membungkus tubuhnya. Frans bisa langsung orgasme hanya dengan melihatnya dalam balutan handuk itu, lalu dia tahu dia akan mendapatkan yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ester melepas handuknya, membiarkannya jatuh ke lantai, tidak mengetahui kalau mertuanya yang terangsang sedang mengintip tiap geraknya. Dia mendekat ke pintu, saat dia pertama kali melihatnya Frans memperoleh sebuah pemandangan yang sempurna dari pantat yang sangat indah itu. Kemudian Ester memutar tubuhnya yang semakin mempertunjukkan keindahannya. Vaginanya terlihat cantik sekali dihiasi sedikit rambut dan payudaranya kencang dan sempurna, seperti yang dibayangkan Frans. Dia mulai mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk, membuat payudaranya sedikit tergoncang dari sisi ke sisi. Frans menurunkan salah satu kopernya dan menggunakan tangannya untuk mulai mengocok penisnya lagi. Ester yang selesai mengeringkan rambutnya, mengambil celana dalamnya dan membungkuk ke depan untuk memakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melakukannya, Frans mendapatkan sebuah pemandangan yang jauh lebih baik dari pantatnya, dan dia tidak lagi mampu mengendalikan dirinya, dia bisa langsung masuk ke dalam sana dan menyetubuhinya dari belakang. Lubang anusnya yang berwarna merah muda terlihat sangat mengundang ketika pikiran Frans membayangkan apa Ester mengijinkan putranya memasukkan penisnya ke dalam lubang itu. Ketika dia membungkuk untuk memakai jeansnya, gravitasi mulai berpengaruh pada payudaranya. Penglihatan ini mengirim Frans ke garis akhir, saat dia menembakkan spermanya ke seluruh celana dalamnya. Pelan-pelan Frans mengemasi baarang-barangnya dan dengan cepat memasuki kamarnya sendiri untuk berganti pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah makan malam, mereka berdua pergi ke ruang keluarga untuk bersantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kenapa tidak kita buka sebotol wine. Aku menyimpannya untuk malam ini buat Johan tapi karena sekarang dia tidak pulang sampai hari Senin, kita bisa membukanya&quot;, kata Ester sambil berjalan ke lemari es.&lt;br /&gt;&quot;Ide yang bagus&quot;, jawab Frans memperhatikan Ester membungkuk ke depan untuk mengambil botol wine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ester mengambil gelas di atas rak, atasan putihnya tersingkap ke atas, memberi sebuah pandangan yang bagus dari tubuhnya. Atasannya menjadikan payudaranya terlihat lebih besar dan jeansnya menjadi sangat ketat, memperlihatkan lekukan tubuhnya. Frans tidak bisa menahannya lagi. Dia harus bisa mendapatkannya. Sebuah rencana mulai tersusun dalam otak mesumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam berbicara dan mulai mabuk saat alkohol mulai menunjukkan efeknya pada Ester. Dengan cepat topik pembicaraan mengarah pada pekerjaan dan bagaimana Ester sedang mengalami stress belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kenapa kamu tidak mendekat kemari dan aku akan memijatmu&quot;, tawar Frans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ester dengan malas berkata ya dan pelan-pelan mendekat pada Frans dan berbalik pada punggungnya lalu tangan Frans mulai bekerja pada bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Oohh, ini sudah terasa agak baikan&quot;, dia merintih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans tetap memijat bahunya ketika perasaan mendapatkan Ester mulai mengaliri tubuhnya, membuat penisnya mengeras. Mata Ester kini terpejam saat dia benar-benar mulai menikmati apa yang sedang dilakukan Frans pada bahunya. Pantatnya kini berada di atas penis Frans, membuat Frans ereksi penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Oohh, aku tidak bisa percaya bagaimana leganya perasaan ini, Papi sungguh baik&quot;.&lt;br /&gt;&quot;Ini keahlianku&quot;, jawab Frans saat dia pelan-pelan mulai menggosokkan penisnya ke pantat Ester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ester menyadari apa yang sedang terjadi. Dia tidak menghiraukan apa yang Frans lakukan dengan pijatannya yang mulai &#39;salah&#39; itu. Dia sangat mencintai suaminya dan tidak pernah akan mengkhianati dia. Dan bayangan tidur dengan mertuanya sangat menjijikkannya. Dia meletakkan kedua tangannya pada kaki Frans saat mencoba untuk melepaskan dirinya dari penis Frans. Tapi dengan gerakan malasnya, hanya menyebabkannya menggerakkan pantatnya naik turun selagi dia menggunakan tangannya untuk menggosok paha Frans. Tahu-tahu dia merasa sangat bergairah, dan dia ingin Johan ada di sini agar dia bisa segera bercinta dengannya. Frans tahu bahwa dia telah mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ini mulai terasa tidak nyaman untuk aku, kenapa kita tidak pergi saja ke atas&quot;, ajak Frans.&lt;br /&gt;&quot;Baiklah, aku belum merasa lega benar, tapi sebentar saja ya, sebab aku tidak mau membuat Papi lelah&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka memasuki kamar tidur, Frans memintanya untuk membuka atasannya agar dia bisa menggosokkan lotion ke punggungnya. Dia setuju melepasnya dan dia memperlihatkan bra putihnya yang menahan payudaranya yang sekal. Gairahnya terlihat dengan puting susunya yang mengeras yang dengan jelas terlihat dari bahan bra itu. Apa yang Ester kenakan sekarang hanya bra dan jeans ketatnya, yang hampir tidak muat di pinggangnya. Ester rebah pada perutnya ketika Frans menempatkan dirinya di atas pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Begini jadi lebih mudah untukku&quot;, kata Frans saat dia dengan cepat melepaskan kemejanya dan mulai untuk menggosok pinggang dan punggung Ester bagian bawah. Alkohol telah berefek penuh pada Ester ketika dia memejamkan matanya dan mulai jatuh tertidur.&lt;br /&gt;&quot;Oohh Johan&quot;, dia mulai merintih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans tidak bisa mempercayainya. Di sinilah dia, setelah 5 tahun tanpa seks, di atas tubuh menantu perempuannya yang cantik dan masih muda dan yang dipikirnya dia adalah suaminya. Pelan-pelan dilepasnya celananya sendiri, dan membalikkan tubuh Ester. Frans pelan-pelan mencium perutnya yang rata saat dia mulai melepaskan jeans Ester dengan perlahan. Vagina Ester kini mulai basah saat dia bermimpi Johan menciumi tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hati-hati Frans melepas jeansnya dan mulai menjalankan ciumannya ke atas pahanya. Ketika dia mencapai celana dalam yang menutupi vaginanya, dia menghirup bau harumnya, dan kemudian sedikit menarik ke samping kain celana dalam yang kecil itu dan mencium bibir vagina merah mudanya. Vaginanya lebih basah dari apa yang pernah Frans bayangkan. Ester menggerakkan salah satu tangannya untuk membelai payudaranya sendiri, sedang tangan yang lainnya membelai rambut Frans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Oohh Johan&quot;, dia merintih ketika sekarang Frans menggunakan lidahnya untuk menyelidiki vaginanya. Penisnya akan meledak saat dia mulai menjalankan ciumannya ke atas tubuhnya.&lt;br /&gt;&quot;Jangan berhenti&quot;, bisik Ester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sekarang menggerakkan penisnya naik turun di gundukannya, merangsangnya. Hanya celana dalam putih kecil yang menghalanginya memasuki vaginanya. Frans lebih melebarkan paha Ester, dan kemudian mendorong celana dalam itu ke samping saat dia menempatkan ujung penisnya pada pintu masuknya. Pelan-pelan, di dorongnya masuk sedikit demi sedikit ketika Ester kembali mengeluarkan sebuah rintihan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sekian lama dia menantikan sebuah persetubuhan yang panas, dan sekarang dia sedang dalam perjalanan &#39;memasuki&#39; menantu perempuannya yang cantik. Dia menciumi lehernya saat menusukkan penisnya keluar masuk. Dia mulai meningkatkan kecepatannya, saat dia melepaskan branya. Frans mencengkeram kedua payudara itu dan menghisap puting susunya seperti bayi. Perasaan ini tiba-tiba membawa Ester kembali pada kenyataan saat dia membuka matanya. Dia tidak bisa percaya apa yang dia lihat. Mertuanya sedang berada di atas tubuhnya, mendorong keluar masuk ke vaginanya dengan gerakan yang mantap, dan yang paling buruk dari semua itu, dia membiarkannya terjadi begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans melihat matanya terbuka, maka dia memegang kaki Ester dan meletakkannya di atas bahunya dengan jari kakinya yang menunjuk lurus ke atas. Kini dia menyetubuhinya untuk segala miliknya yang berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Oh tidak.. Hentikan.. Oh.. Tuhan.. Kita tidak boleh.. Tolong.. Oohh&quot;, Ester berteriak. Payudaranya terguncang seperti sebuah gempa bumi ketika Frans menyetubuhinya layaknya seekor binatang.&lt;br /&gt;&quot;Hentikan Pi.. Ini tidak benar.. Oohh Tuhan&quot;, Ester berteriak dengan pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans melambat, dia menunduk untuk mencium bibir Ester. Lutut Ester kini berada di sebelah kepalanya sendiri saat dia menemukan dirinya malah membalas ciuman Frans. Sesuatu telah mengambil alihnya. Lidah mereka kini mengembara di dalam mulut masing-masing ketika mereka saling memeluk dengan erat. Frans menambah lagi kecepatannya dan keluar masuk lebih cepat dari sebelumnya, Ester semakin menekan punggungnya. Frans berguling dan Ester kini berada di atas, &#39;menunggangi&#39; penis Frans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Oh Tuhan, Papi merobekku&quot;, kata Ester ketika dia meningkat gerakannya.&lt;br /&gt;&quot;Kamu sangat rapat, aku bertaruh Johan pasti kesulitan mengerjai kamu&quot;, jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah vagina paling rapat yang pernah Frans &#39;kerjai&#39; setelah dia mengambil keperawanan isterinya. Dia meraih ke atas dan memegang payudaranya, meremasnya bersamaan lalu menghisap puting susunya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Tolong jangan keluar di dalam.. Oohh.. Papi tidak boleh keluar di dalam&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ester kini menghempaskan Frans jadi gila. Mereka terus seperti ini sampai Frans merasa dia akan orgasme. Dia mulai menggosok beberapa cairan di lubang pantat Ester. Dia kemudian menyuruh Ester untuk berdiri pada lututnya saat dia bergerak ke belakangnya, dengan penisnya mengarah pada lubang pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Tidak, punya Papi terlalu besar, aku belum pernah melakukan ini, Tolong Pi jangan&quot;, Ester mengiba berusaha untuk lolos.&lt;br /&gt;Tetapi itu tidak cukup untuk Frans. Sambil memegangi pinggulnya, dengan satu dorongan besar dia melesakkan semuanya ke dalam pantat Ester.&lt;br /&gt;&quot;Oohh Tuhan&quot;, Ester menjerit, dia mencengkeram ujung tempat tidur dengan kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans mencabut pelan-pelan dan kemudian mendorong lagi dengan cepat. Payudaranya tergantung bebas, tergguncang ketika Frans mengayun dengan irama mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Oohh Papi bangsat&quot;.&lt;br /&gt;&quot;Aku tahu kamu suka ini&quot;, jawab Frans, dia mempercepat gerakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ester tidak bisa percaya dia sedang menikmati sedang &#39;dikerjai&#39; pantatnya oleh mertuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Lebih keras&quot;, Ester berteriak, Frans memegang payudaranya dan mulai menyetubuhinya sekeras yang dia mampu. Ditariknya bahu Ester ke atas mendekat dengannya dan menghisapi lehernya.&lt;br /&gt;&quot;Aku akan keluar&quot;, teriak Frans.&lt;br /&gt;&quot;Tunggu aku &quot;, jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans menggunakan salah satu tangannya untuk menggosok vaginanya, dan kemudian dia memasukkan dua jari dan mulai mengerjai vaginanya. Ester menjerit dengan perasaan nikmat sekarang saat dalam waktu yang bersamaan telepon berbunyi. Ester menjatuhkan kepalanya ke bantal ketika Frans mengangkat telepon, dengan satu tangan masih menggosok vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Halo.. Johan.. Ya dia menyambutku dengan sangat baik.. Ya aku akan memanggilnya, tunggu&quot;, katanya saat dia menutup gagang telepon supaya Johan tidak bisa dengar suara jeritan orgasme istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bisa merasakan jarinya dilumuri cairan Ester. Dengan satu dorongan terakhir dia mulai menembakkan benihnya di dalam lubang pantat Ester. Semprotan demi semprotan menembak di dalam lubang pantat rapat Ester. Mereka berdua roboh ke tempat tidur, Frans di atas punggung Ester. Penisnya masih di dalam, satu tangan masih menggosok pelan vagina Ester yang terasa sakit, tangan yang lain meremas ringan payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Halo Johan&quot;, kata Ester mengangkat telepon.&lt;br /&gt;&quot;Tidak, kita belum banyak melakukan kegiatan.. Jangan cemaskan kami, hanya tolong usahakan pulang cepat.. Aku mencintaimu&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menutup dan menjatuhkan telepon itu. Mereka berbaring di sana selama lima menitan, Frans masih di atas, nafas keduanya berangsur reda. Frans mencabut jarinya yang berlumuran sperma dan meletakkannya ke mulut Ester. Dia menghisapnya hingga kering, dan kemudian bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Aku pikir lebih baik Papi keluar&quot;, dia berkata dengan mata yang berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berjalan sempoyongan ke arah kamar mandi itu. Rambutnya berantakan. Frans bisa melihat cairannya yang pelan-pelan menetes turun di pantatnya, dan menurun ke pahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E N D&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/5739692702303934328/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/5739692702303934328?isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/5739692702303934328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/5739692702303934328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/menantu-perempuan.html' title='Menantu Perempuan'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-3551789186889560876</id><published>2009-02-15T23:06:00.000+07:00</published><updated>2009-02-15T23:08:01.892+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sedarah"/><title type='text'>Kakak Iparku</title><content type='html'>Kejadian ini berlangsung kira-kira 2 tahun yang lalu, waktu itu aku diminta oleh ibu mertua untuk mengambil suatu barang di rumah kakak ipar perempuanku sekalian menengok dia karena sudah lama tidak ketemu. Kakak iparku ini (sebut saja namanya Ina) memang tinggal sendirian, walaupun sudah kawin tetapi belum punya anak dan saat ini sudah pisah ranjang dengan suaminya yang kerja di kota lain. Aku sampai di rumahnya sekitar jam 19:00 dan langsung mengetuk pintu pagarnya yang sudah terkunci. Tak lama kemudian Ina muncul dari dalam dan sudah tahu bahwa aku akan datang malam ini.&lt;br /&gt;&quot;Ayo Yan, masuk.., langsung dari kantor?, Sorry pintunya sudah digembok, soalnya Ina tinggal sendiri jadi harus hati-hati&quot;, Sambutnya.&lt;br /&gt;Ina malam itu sudah memakai daster tidur karena toh yang bakalan datang juga masih terhitung adiknya, daster yang dia pakai mempunyai potongan leher yang lebar dengan model tangan &#39;you can see&#39;.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kami kemudian ngobrol dan nonton TV sambil duduk bersebelahan di sofa ruang tengah. Selama ngobrol, Ina sering bolak-balik mengambil minuman dan snack buat kita berdua. Setiap dia menyajikan makanan atau minuman di meja, secara tidak sengaja aku mendapat kesempatan melihat kedalam dasternya yang menampilkan kedua payudaranya secara utuh karena Ina tidak memakai BH lagi dibalik dasternya. Ina memang lebih cantik dari istriku, tubuhnya mungil dengan kulit yang putih dan rambut yang panjang tergerai. Walaupun sudah kawin cukup lama tapi karena tidak punya anak tubuhnya masih terlihat langsing dan ramping. Payudaranya yang kelihatan olehku, walaupun tidak terlalu besar tetapi tetap padat dan membulat. Melihat pemandangan begini terus-menerus aku mulai tidak bisa berpikir jernih lagi dan puncaknya tiba-tiba kusergap dan tindih Ina di sofa sambil berusaha menciumi bibirnya dan meremas-remas payudaranya.&lt;br /&gt;Ina kaget dan menjerit, &quot;Yan, apa-apaan kamu ini!&quot;.&lt;br /&gt;Dengan sekuat tenaga dia mencoba berontak, menampar, mencakar dan menendang-nendang. Tapi perlawanannya membuat birahiku semakin tinggi apalagi akibat gerakannya itu pakaiannya menjadi makin tidak karuan dan semakin merangsang.&lt;br /&gt;&quot;Breett..&quot;, daster bagian atas kurobek ke bawah sehingga sekarang kedua payudaranya terpampang dengan jelas. Putingnya yang berwarna coklat tua terlihat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.&lt;br /&gt;Ina terlihat shock dengan kekasaranku, perlawanannya mulai melemah dan kedua tangannya berusaha menutup dadanya yang terbuka.&lt;br /&gt;&quot;Yan.., ingat, kamu itu adikku..&quot;, rintihnya memelas.&lt;br /&gt;Aku tidak mempedulikan rintihannya dan terus kutarik daster yang sudah robek itu ke bawah sekaligus dengan celana dalamnya yang sudah aku tidak ingat lagi warnanya. Sekarang dengan jelas dapat kulihat vaginanya yang ditumbuhi dengan bulu-bulu hitam yang terawat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil menelanjangi Ina, kulepaskan pegangan pada dia dan berdiri di sampingnya sambil mulai melepaskan bajuku satu persatu dengan tenang. Ina mulai menangis sambil meringkuk di atas sofa sambil sebisa mungkin mencoba menutupi badannya dengan kedua tangannya. Saat itu pikiranku mulai jernih kembali menyadari apa yang telah kulakukan tapi pada titik itu, aku merasa tidak bisa mundur lagi dan aku putuskan untuk berlaku lebih halus.&lt;br /&gt;Setelah aku sendiri telanjang, kubopong tubuh mungil Ina ke kamarnya dan kuletakkan dengan lembut di atas ranjang. Dengan halus kutepiskan tangannya yang masih menutupi payudara dan vaginanya, kemudian aku mulai menindih badannya. Ina tidak melawan. Ina memalingkan muka dengan mata terpejam dan berurai air mata setiap kali aku mencoba mencium bibirnya. Gagal mencium bibirnya, aku teruskan menciumi telinga, leher dada dan berhenti untuk mengulum puting dan meremas-remas payudara satunya lagi. Ina tidak bereaksi. Aku lanjutkan petualangan bibirku lebih ke bawah, perut dan vaginanya sambil merentangkan pahanya lebar-lebar terlebih dahulu. Aku mulai dengan menjilati dan menghisap clitorisnya yang cukup kecil karena sudah disunat (sama dengan istriku). Ina mulai bereaksi. Setiap kuhisap clitorisnya Ina mulai mengangkat pantatnya mengikuti arah hisapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dengan lidah, kucoba membuka labia minoranya dan memainkan lidahku pada bagian dalam liang senggamanya. Tangan Ina mulai meremas-remas kain sprei sambil menggigit bibir. Ketika vaginanya mulai basah kumasukkan jari menggantikan lidahku yang kembali berpindah ke puting payudaranya. Mula-mula hanya satu jari kemudian disusul dua jari yang bergerak keluar masuk liang senggamanya. Ina mulai berdesah dan memalingkan mukanya ke kiri dan ke kanan. Sekitar dua atau tiga menit kemudian aku tarik tanganku dari vaginanya. Merasakan ini, Ina membuka matanya (yang selama ini selalu tertutup) dan menatapku dengan pandangan penuh harap seakan ingin diberi sesuatu yang sangat berharga tapi tidak berani ngomong. Aku segera merubah posisi badanku untuk segera menyetubuhinya. Melihat posisi &#39;tempur&#39; seperti itu, pandangan matanya berubah menjadi tenang dan kembali menutup matanya. Kuarahkan penisku ke bibir vaginanya yang sudah berwarna merah matang dan sangat becek itu. Secara perlahan penisku masuk ke liang senggamanya dan Ina hanya mengigit bibirnya. Tiba-tiba tangan Ina bergerak memegang sisa batang penisku yang belum sempat masuk, sehingga penetrasiku tertahan.&lt;br /&gt;&quot;Yan, kita tidak boleh melakukan hal ini..&quot;, Kata Ina setengah berbisik sambil memandangku.&lt;br /&gt;Tapi waktu kulihat matanya, sama sekali tidak ada penolakkan bahkan lebih terlihat adanya birahi yang tertahan. Aku tahu dia berkata begitu untuk berusaha memperoleh pembenaran atas perbuatan yang sekarang jadi sangat diinginkannya.&lt;br /&gt;&quot;Tidak apa-apa &#39;Na, kita kan bukan saudara kandung, jadi ini bukan incest&quot;, Jawabku.&lt;br /&gt;&quot;Nikmati saja dan lupakan yang lainnya&quot;.&lt;br /&gt;Mendengar perkataanku itu, Ina melepaskan pegangannya pada penisku yang sekaligus aku tangkap sebagai instruksi untuk melanjutkan &#39;perkosaannya&#39;. Dalam &#39;posisi standard&#39; itu aku mulai memompa Ina dengan gerakan perlahan, setiap kali penisku masuk, aku ambil sisi liang senggama yang berbeda sambil mengamati reaksinya. Dari eksperimen awal ini aku tahu bahwa bagian paling sensitif dia terletak pada dinding dalam bagian atas yang kemudian menjadi titik sasaran penisku selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi ini ternyata cukup efektif karena belum sampai dua menit Ina sudah orgasme, tangannya yang asalnya hanya meremas-remas sprei tiba-tiba berpindah ke pantatku. Ina dengan kedua tangannya berusaha menekan pantatku supaya penisku masuk semakin dalam, sedangkan dia sendiri mengangkat dan menggoyangkan pantatnya untuk membantu semakin membenamnya penisku itu. Untuk sementara kubiarkan dia mengambil alih.&lt;br /&gt;&quot;sshh.., aahh&quot;, rintihnya berulang-ulang setiap kali penisku terbenam.&lt;br /&gt;Setelah Ina mulai reda, inisiatif aku ambil kembali dengan merubah posisi badanku untuk style &#39;pumping flesh&#39; untuk mulai memanaskan kembali birahinya yang dilanjutkan dengan style &#39;stand hard&#39; (kedua kaki Ina dirapatkan, kakiku terbuka dan dikaitkan ke betisnya). Style ini kuambil karena cocok dengan cewek yang bagian sensitifnya seperti Ina dimana vagina Ina tertarik ke atas oleh gerakan penis yang cenderung vertikal. Ina mengalami dua kali orgasme dalam posisi ini.&lt;br /&gt;Ketika gerakan Ina semakin liar dan juga aku mulai merasa akan ejakulasi aku rubah stylenya lagi menjadi &#39;frogwalk&#39; (kedua kaki Ina tetap rapat dan aku setengah berlutut/berjongkok). Dalam posisi ini setiap kali aku tusukkan penisku, otomatis vagina sampai pantat Ina akan terangkat sedikit dari permukaan kasur menimbulkan sensasi yang luar biasa sampai pupil mata Ina hanya terlihat setengahnya dan mulutnya mengeluarkan erangan bukan rintihan lagi.&lt;br /&gt;&quot;Na, aku sudah mau keluar. Di mana keluarinnya?&quot;, Kataku sambil terus memompa secara pelan tapi dalam.&lt;br /&gt;&quot;ddi dalam saja.., di dalam saja, aahh.., jangan pedulikan&quot;, Ina mejawab ditengah erangan kenikmatannya.&lt;br /&gt;&quot;Aku keluar sekarraang..&quot;, teriakku.&lt;br /&gt;Aku tekan vaginanya keras-keras sampai terangkat sekitar 10 cm dari kasurnya dan cairan kenikmatan tersemprot dengan kerasnya yang menyebabkan untuk sesaat aku lupa akan dunia.&lt;br /&gt;&quot;Jangan di cabut dulu Yan..&quot;, bisik Ina.&lt;br /&gt;Sambil mengatur napas lagi, aku rentangkan kembali kedua paha Ina dan aku pompa penisku pelan-pelan dengan menekan permukaan bawah vagina pada waktu ditarik. Dengan cara ini sebagian sperma yang tadi disemprotkan bisa dikeluarkan lagi sambil tetap dapat menikmati sisa-sisa birahi. Ina menjawabnya dengan hisapan-hisapan kecil pada penisku dari vaginanya&lt;br /&gt;&quot;Yan, kenapa kamu lakukan ini ke Ina?&quot;, tanyanya sambil memeluk pinggangku.&lt;br /&gt;&quot;Kamu sendiri rasanya gimana?&quot;, aku balik bertanya.&lt;br /&gt;&quot;Mulanya kaget dan takut, tapi setelah kamu berubah memperlakukan Ina dengan lembut tiba-tiba birahi Ina terpancing dan akhirnya turut menikmati apa yang belum pernah Ina rasakan selama ini termasuk dari suami Ina&quot;, Jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kemudian mengobrol seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa dan sebelum pulang kusetubuhi Ina sekali lagi, kali ini dengan sukarela. Sejak malam itu, aku &#39;memelihara&#39; kakak iparku dengan memberinya nafkah lahir dan batin menggantikan suaminya yang sudah tidak mempedulikannya lagi. Ina tidak pernah menuntut lebih karena istriku adalah adiknya dan aku membalasnya dengan menjadikan &#39;pendamping tetap&#39; setiap aku pergi ke luar kota atau ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/3551789186889560876/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/3551789186889560876?isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/3551789186889560876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/3551789186889560876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/kakak-iparku.html' title='Kakak Iparku'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-627321103287423338</id><published>2009-02-08T10:25:00.002+07:00</published><updated>2009-02-08T10:30:39.606+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sedarah"/><title type='text'>Papaku yang Nakal</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwccGlvi4nGfYCtQP2XdYfP-j-GH-ajERpnkNoPIM_ZJ5B8ODha_QVlNg3HzzaA6zRA0rqgHXoLjXa-iJEc839fRjjDms9X1Zy8fLpjTxQKieFc528F0Ym59LA3YoSs-I1eQ1cUz5WzebT/s1600-h/cewek+idaman.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 143px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwccGlvi4nGfYCtQP2XdYfP-j-GH-ajERpnkNoPIM_ZJ5B8ODha_QVlNg3HzzaA6zRA0rqgHXoLjXa-iJEc839fRjjDms9X1Zy8fLpjTxQKieFc528F0Ym59LA3YoSs-I1eQ1cUz5WzebT/s200/cewek+idaman.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5300263548406697650&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Perkenalkan namaku Vina, usiaku 16 tahun. Aku sekarang duduk di kelas II SMU di Medan. Aku punya pengalaman pertama merengkuh surga dunia. Tetapi semua itu kulakukan dengan papa tiriku. Pengalamanku ini sebagai referensi buat teman-teman yang lain. Aku tahu kalau perbuatan ini salah, tetapi aku tidak tahu bagaimana menghentikannya. Baiklah, ceritaku begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari aku mendapat pengalaman yang tentunya baru untuk gadis seukuranku. Oya, aku gadis keturunan Cina dan Pakistan. Sehingga wajar saja kulitku terlihat putih bersih dan satu lagi, ditaburi dengan bulu-bulu halus di sekujur tubuh yang tentu saja sangat disukai lelaki. Kata teman-teman, aku ini cantik lho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang siang ini cuacanya cukup panas, satu persatu pakaian yang menempel di tubuhku kulepas. Kuakui, kendati masih ABG tetapi aku memiliki tubuh yang lumayan montok. Bila melihat lekuk-lekuk tubuh ini tentu saja mengundang jakun pria manapun untuk tersedak. Dengan rambut kemerah-merahan dan tinggi 167 cm, aku tampak dewasa. Sekilas, siapapun mungkin tidak percaya kalau akuadalah seorang pelajar. Apalagi bila memakai pakaian casual kegemaranku. Mungkin karena pertumbuhan yang begitu cepat atau memang sudah keturunan, entahlah. Tetapi yang jelas cukup mempesona, wajah oval dengan leher jenjang, uh.. entahlah.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pagi tadi sebelum berangkat ke sekolah, seperti biasanya aku berpamitan dengan kedua orangtuaku. Cium pipi kiri dan kanan adalah rutinitas dan menjadi tradisi di keluarga ini. Tetapi yang menjadi perhatianku siang ini adalah ciuman Papa. Seusai sarapan pagi, ketika Mama beranjak menuju dapur, aku terlebih dahulu mencium pipi Papa. Papa Robi (begitu namanya) bukan mencium pipiku saja, tetapi bibirku juga. Seketika itu, aku sempat terpaku sejenak. Entah karena terkejut untuk menolak atau menerima perlakukan itu, aku sendiri tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa Robi sudah setahun ini menjadi Papa tiriku. Sebelumnya, Mama sempat menjanda tiga tahun. Karena aku dan kedua adikku masih butuh seorang ayah, Mama akhirnya menikah lagi. Papa Robi memang termasuk pria tampan. Usianya pun baru 38 tahun. Teman-teman sekolahku banyak yang cerita kalau aku bersukur punya Papa Robi.&lt;br /&gt;&quot;Salam ya sama Papa kamu..&quot; ledek teman-temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri sebenarnya sedikit grogi kalau berdua dengan Papa. Tetapi dengan kasih sayang dan pengertian layaknya seorang teman, Papa pandai mengambil hatiku. Hingga akhirnya aku sangat akrab dengan Papa, bahkan terkadang kelewat manja. Tetapi Mama tidak pernah protes, malah dia tampak bahagia melihat keakraban kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ciuman Papa tadi pagi sungguh diluar dugaanku. Aku memang terkadang sering melendot sama Papa atau duduk sangat dekat ketika menonton TV. Tetapi ciumannya itu lho. Aku masih ingat ketika bibir Papa menyentuh bibir tipisku. Walau hanya sekejab, tetapi cukup membuat bulu kudukku merinding bila membayangkannya. Mungkin karena aku belum pernah memiliki pengalaman dicium lawan jenis, sehingga aku begitu terkesima.&lt;br /&gt;&quot;Ah, mungkin Papa nggak sengaja..&quot; pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok paginya seusai sarapan, aku mencoba untuk melupakan kejadian kemarin. Tetapi ketika aku memberikan ciuman ke Mama, Papa beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar. Mau tidak mau kuikuti Papa ke kamar. Aku pun segera berjinjit untuk mencium pipi Papa. Respon Papa pun kulihat biasa saja. Dengan sedikit membungkukkan tubuh atletisnya, Papa menerima ciumanku. Tetapi setelah kucium kedua pipinya, tiba-tiba Papa mendaratkan bibirnya ke bibirku. Serr.., darahku seketika berdesir. Apalagi bulu-bulu kasarnya bergesekan dengan bibir atasku. Tetapi entah kenapa aku menerimanya, kubiarkan Papa mengulum lembut bibirku. Hembusan nafas Papa Robi menerpa wajahku. Hampir satu menit kubiarkan Papa menikmati bibirku.&lt;br /&gt;&quot;Baik-baik di sekolah ya.., pulang sekolah jangan keluyuran..!&quot; begitu yang kudengar dari Papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kejadian itu, hubungan kami malah semakin dekat saja. Keakraban ini kunikmati sekali. Aku sudah dapat merasakan nikmatnya ciuman seorang lelaki, kendati itu dilakukan Papa tiriku, begitu yang tersirat dalam pikiranku. Darahku berdesir hangat bila kulit kami bersentuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, setiap berangkat sekolah, ciuman ala Papa menjadi tradisi. Tetapi itu rahasia kami berdua saja. Bahkan pernah satu hari, ketika Mama di dapur, aku dan Papa berciuman di meja makan. Malah aku sudah berani memberikan perlawanan. Lidah Papa yang masuk ke rongga mulutku langsung kuhisap. Papa juga begitu. Kalau tidak memikirkan Mama yang berada di dapur, mungkin kami akan melakukannya lebih panas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini cuaca cukup panas. Aku mengambil inisiatif untuk mandi. Kebetulan aku hanya sendirian di rumah. Mama membawa kedua adikku liburan ke luar kota karena lagi liburan sekolah. Dengan hanya mengenakan handuk putih, aku sekenanya menuju kamar mandi. Setelah membersihkan tubuh, aku merasakan segar di tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu hendak masuk kamar, tiba-tiba satu suara yang cukup akrab di telingaku menyebut namaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Vin.. Vin.., Papa pulang..&quot; ujar lelaki yang ternyata Papaku.&lt;br /&gt;&quot;Kok cepat pulangnya Pa..?&quot; tanyaku heran sambil mengambil baju dari lemari.&lt;br /&gt;&quot;Iya nih, Papa capek..&quot; jawab papa dari luar.&lt;br /&gt;&quot;Kamu masak apa..?&quot; tanya papa sambil masuk ke kamarku.&lt;br /&gt;Aku sempat kaget juga. Ternyata pintu belum dikunci. Tetapi aku coba tenang-tenang saja. Handuk yang melilit di tubuhku tadinya kedodoran, aku ketatkan lagi. Kemudian membalikkan tubuh. Papa rupanya sudah tiduran di ranjangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ada deh..,&quot; ucapku sambil memandang Papa dengan senyuman.&lt;br /&gt;&quot;Ada deh itu apa..?&quot; tanya Papa lagi sambil membetulkan posisi tubuhnya dan memandang ke arahku.&lt;br /&gt;&quot;Memangnya kenapa Pa..?&quot; tanyaku lagi sedikit bercanda.&lt;br /&gt;&quot;Nggak ada racunnya kan..?&quot; candanya.&lt;br /&gt;&quot;Ada, tapi kecil-kecil..&quot; ujarku menyambut canda Papa.&lt;br /&gt;&quot;Kalau gitu, Papa bisa mati dong..&quot; ujarnya sambil berdiri menghadap ke arahku.&lt;br /&gt;Aku sedikit gelagapan, karena posisi Papa tepat di depanku.&lt;br /&gt;&quot;Kalau Papa mati, gimana..?&quot; tanya Papa lagi.&lt;br /&gt;Aku sempat terdiam mendengar pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&quot;Lho.., kok kamu diam, jawab dong..!&quot; tanya Papa sambil menggenggam kedua tanganku yang sedang memegang handuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali terdiam. Aku tidak tahu harus bagaimana. Bukan jawabannya yang membuatku diam, tetapi keberadaan kami di kamar ini. Apalagi kondisiku setengah bugil. Belum lagi terjawab, tangan kanan Papa memegang daguku, sementara sebelah lagi tetap menggenggam tanganku dengan hangat. Ia angkat daguku dan aku menengadah ke wajahnya. Aku diam saja diperlakukan begini. Kulihat pancaran mata Papa begitu tenangnya. Lalu kepalanya perlahan turun dan mengecup bibirku. Cukup lama Papa mengulum bibir merahku. Perlahan tetapi pasti, aku mulai gelisah. Birahiku mulai terusik. Tanpa kusadari kuikuti saja keindahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu remajaku mulai keluar ketika tangan kiri Papa menyentuh payudaraku dan melakukan remasan kecil. Tidak hanya bibirku yang dijamah bibir tebal Papa. Leher jenjang yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu pun tidak luput dari sentuhan Papa. Bibir itu kemudian berpindah ke telingaku.&lt;br /&gt;&quot;Pa..&quot; kataku ketika lidah Papa masuk dan menggelitik telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa kemudian membaringkan tubuhku di atas kasur empuk.&lt;br /&gt;&quot;Pa.. nanti ketahuan Mama..&quot; sebutku mencoba mengingatkan Mama.&lt;br /&gt;Tetapi Papa diam saja, sambil menindih tubuhku, bibirku dikecupnya lagi. Tidak lama, handuk yang melilit di tubuhku disingkapkannya.&lt;br /&gt;&quot;Vina, tubuh kamu sangat harum..&quot; bisik Papa lembut sambil mencampakkan guling ke bawah.&lt;br /&gt;Dalam posisi ini, Papa tidak puas-puasnya memandang tubuhku. Bulu halus yang membalut kulitku semakin meningkatkan nafsunya. Apalagi begitu pandangannya mengarah ke payudaraku.&lt;br /&gt;&quot;Kamu udah punya pacar, Vin..?&quot; tanya Papa di telingaku.&lt;br /&gt;Aku hanya menggeleng pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa kemudian membelai dadaku dengan lembut sekali. Seolah-olah menemukan mainan baru, Papa mencium pinggiran payudaraku.&lt;br /&gt;&quot;Uuhh..,&quot; desahku ketika bulu kumis yang dipotong pendek itu menyentuh dadaku, sementara tangan Papa mengelus pahaku yang putih. Puting susu yang masih merah itu kemudian dikulum.&lt;br /&gt;&quot;Pa.. oohh..&quot; desahku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Pa.. nanti Mamm..&quot; belum selesai kubicara, bibir Papa dengan sigap kembali mengulum bibirku.&lt;br /&gt;&quot;Papa sayang Vina..&quot; kata Papa sambil memandangku.&lt;br /&gt;Sekali lagi aku hanya terdiam. Tetapi sewaktu Papa mencium bibirku, aku tidak diam. Dengan panasnya kami saling memagut. Saat ini kami sudah tidak memikirkan status lagi. Puas mengecup putingku, bibir Papa pun turun ke perut dan berlabuh di selangkangan. Papa memang pintar membuatku terlena. Aku semakin terhanyut ketika bibir itu mencium kemaluanku. Lidahnya kemudian mencoba menerobos masuk. Nikmat sekali rasanya. Tubuhku pun mengejang dan merasakan ada sesuatu yang mengalir cepat, siap untuk dimuntahkan.&lt;br /&gt;&quot;Ohh, ohh..&quot; desahku panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa rupanya tahu maniku keluar, lalu dia mengambil posisi bersimpuh di sebelahku. Lalu mengarahkan tanganku ke batang kemaluannya. Kaget juga aku melihat batang kemaluannya Papa, besar dan tegang. Dengan mata yang sedikit tertutup, aku menggenggamnya dengan kedua tanganku. Setan yang ada di tubuh kami seakan-akan kompromi. Tanpa sungkan aku pun mengulum benda itu ketika Papa mengarahkannya ke mulutku.&lt;br /&gt;&quot;Terus Vin.., oh.. nikmatnya..&quot; gumamnya.&lt;br /&gt;Seperti berpengalaman, aku pun menikmati permainan ini. Benda itu keluar masuk dalam mulutku. Sesekali kuhisap dengan kuat dan menggigitnya lembut. Tidak hanya Papa yang merasakan kenikmatan, aku pun merasakan hal serupa. Tangan Papa mempermainkan kedua putingku dengan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena birahi yang tidak tertahankan, Papa akhirnya mengambil posisi di atas tubuhku sambil mencium bibirku dengan ganas. Kemudian kejantanannya Papa menempel lembut di selangkanganku dan mencoba menekan. Kedua kakiku direntangkannya untuk mempermudah batang kemaluannya masuk. Perlahan-lahan kepala penis itu menyeruak masuk menembus selaput dinding vaginaku.&lt;br /&gt;&quot;Sakit.. pa..&quot; ujarku.&lt;br /&gt;&quot;Tenang Sayang, kita nikmati saja..&quot; jawabnya.&lt;br /&gt;Pantat Papa dengan lembut menekan, sehingga penis yang berukuran 17 cm dan berdiameter 3 cm itu mulai tenggelam keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa melakukan ayunan-ayunan lagi. Kuakui, Papa memang cukup lihai. Perasaan sakit akhirnya berganti nikmat. Baru kali ini aku merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Pantas orang bilang surga dunia. Aku mengimbangi kenikmatan ini dengan menggoyang-goyangkan pantatku.&lt;br /&gt;&quot;Terus Vin, ya.. seperti itu..&quot; sebut Papa sambil mempercepat dorongan penisnya.&lt;br /&gt;&quot;Papa.. ohh.., ohh..&quot; renguhku karena sudah tidak tahan lagi.&lt;br /&gt;Seketika itu juga darahku mengalir cepat, segumpal cairan putih meleleh di bibir vaginaku. Kutarik leher Papa hingga pundaknya kugigit keras. Papa semakin terangsang rupanya. Dengan perkasa dikuasainya diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vagina yang sudah basah berulangkali diterobos penis papa. Tidak jarang payudaraku diremas dan putingku dihisap. Rambutku pun dijambak Papa. Birahiku kembali memuncak. Selama tiga menit kami melakukan gaya konvensional ini. Tidak banyak variasi yang dilakukan Papa. Mungkin karena baru pertama kali, dia takut menyakitiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenikmatan ini semakin tidak tertahankan ketika kami berganti gaya. Dengan posisi 69, Papa masih perkasa. Penis Papa dengan tanpa kendali keluar masuk vaginaku.&lt;br /&gt;&quot;Nikmat Vin..? Ohh.. uhh..&quot; tanyanya.&lt;br /&gt;Terus terang, gaya ini lebih nikmat dari sebelumnya. Berulangkali aku melenguh dan mendesah dibuatnya.&lt;br /&gt;&quot;Pa.. Vina nggak tahan..&quot; katakuku ditengah terjangan Papa.&lt;br /&gt;&quot;Sa.. sa.. bar Sayang.., ta.. ta.. han dulu..&quot; ucap Papa terpatah-patah.&lt;br /&gt;Tetapi aku sudah tidak kuat lagi, dan untuk ketiga kalinya aku mengeluarkan mani kembali.&lt;br /&gt;&quot;Okhh.. Ohkk.. hh..!&quot; teriakku.&lt;br /&gt;Lututku seketika lemas dan aku tertelungkup di ranjang. Dengan posisi telungkup di ranjang membuat Papa semakin belingsatan. Papa semakin kuat menekan penisnya. Aku memberikan ruang dengan mengangkat pantatku sedikit ke atas. Tidak berapa lama dia pun keluar juga.&lt;br /&gt;&quot;Okhh.. Ohh.. Ohk..&quot; erang Papa.&lt;br /&gt;Hangat rasanya ketika mani Papa menyiram lubang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan peluh di tubuh, Papa menindih tubuhku. Nafas kami berdua tersengal-sengal. Sekian lama Papa memelukku dari belakang, sementara mataku masih terpejam merasakan kenikmatan yang baru pertama kali kualami. Dengan penis yang masih bersarang di vaginaku, dia mencium lembut leherku dari belakang.&lt;br /&gt;&quot;Vin, Papa sayang Vina. Sebelum menikahi Mamamu, Papa sudah tertarik sama Vina..&quot; ucap Papa sambil mengelus rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama dan adikku, tiga hari di rumah nenek. Selama tiga hari itu pula, aku dan Papa mencari kepuasan bersama. Entah setan mana yang merasuki kami, dan juga tidak tahu sudah berapa kali kami lakukannya. Terkadang malam hari juga, walaupun Mama ada di rumah. Dengan alasan menonton bola di TV, Papa membangunkanku, yang jelas perbuatan ini kulakukan hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/627321103287423338/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/627321103287423338?isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/627321103287423338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/627321103287423338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/papaku-yang-nakal.html' title='Papaku yang Nakal'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwccGlvi4nGfYCtQP2XdYfP-j-GH-ajERpnkNoPIM_ZJ5B8ODha_QVlNg3HzzaA6zRA0rqgHXoLjXa-iJEc839fRjjDms9X1Zy8fLpjTxQKieFc528F0Ym59LA3YoSs-I1eQ1cUz5WzebT/s72-c/cewek+idaman.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-7050819363436232546</id><published>2009-02-08T10:20:00.001+07:00</published><updated>2009-02-08T10:25:01.732+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sedarah"/><title type='text'>Fenty Sayang Papa</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCo8J56Hm7Hu9GsNnpr6ABUoVHD7FTxgeWz3UvyeElWQHM953-atrsZOuk3RY1BlO67OU0k_m1GGTb586Q_VgG5G6EkIWXuHXZ5RSlFGJcE3PV9QEFLkzLyZ3Zs6rpe3X5q63Ywatf7Nf_/s1600-h/tulisandewasa.blogspot2.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCo8J56Hm7Hu9GsNnpr6ABUoVHD7FTxgeWz3UvyeElWQHM953-atrsZOuk3RY1BlO67OU0k_m1GGTb586Q_VgG5G6EkIWXuHXZ5RSlFGJcE3PV9QEFLkzLyZ3Zs6rpe3X5q63Ywatf7Nf_/s200/tulisandewasa.blogspot2.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5300262248407554642&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Selepas SMA, Fenti, waktu itu 20 tahun, melanjutkan studinya ke Akademi Sekretaris ternama di Bandung. Dengan wajah sangat cantik, tubuh tinggi semampai, dan kemampuan akademis yang cukup baik, pantaslah kalau Fenti memasuki akademi tersebut. Pacar Fenti sejak SMA, Ganjar, tetap setia dan semakin serius dalam menjalin hubungan dengan Fenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Mau kemana lagi, Fen?&quot; tanya Ganjar sambil melirik ke Fenti.&lt;br /&gt;&quot;Pulang, ah.. Aku capek sehabis ujian tadi,&quot; jawab Fenti sambil bersandar pada jok mobil, matanya terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganjar sekilas melirik pada paha Fenti yang putih mulus. Rok mini yang dipakai Fenti naik tersingkap dengan posisi duduk Fenti tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Fen, kita ke motel dulu, ya..?&quot; ajak Ganjar.&lt;br /&gt;&quot;Yee, kamu horny ya?&quot; kata Fenti melirik Ganjar sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&quot;Habisnya aku tidak tahan melihat kamu...&quot; kata Ganjar sambil tersenyum pula.&lt;br /&gt;&quot;Ya sudah, mau dimana?&quot; tanya Fenti sambil tangannya mengelus paha Ganjar yang sedang mengemudi.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Ganjar tak menjawab. Hanya senyuman saja yang tampak di wajahnya sementara mobil diarahkannya menuju sebuah motel..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Buka dong semua pakaian kamu,&quot; kata Ganjar sementara dia sendiri melucuti semua pakaiannya.&lt;br /&gt;&quot;Ih dasar otak horny!&quot; kata Fenty tersenyum sambil melepas seragam kuliahnya.&lt;br /&gt;&quot;Aku cinta kamu..&quot; kata Ganjar sambil memeluk tubuh telanjang Fenti dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tangan meremas buah dada Fenty, sementara satu tangan mengelus dan mengusap memeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Mmhh...&quot; desah Fenty sambil terpejam. Tangan Fenty menggenggam kontol Ganjar yang sudah tegak dan sesekali mengenai belahan pantatnya.&lt;br /&gt;&quot;Mmhh.. Enak sayang...&quot; bisik Ganjar ketika Fenty mengocok kontolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenty tersenyum dan langsung membalikkan badannya menghadap Ganjar lalu mengecup bibirnya. Ganjar membalas kecupan bibir Fenty dengan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Hisap, dong...&quot; bisik Ganjar di telingan Fenty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenty tersenyum sambil merendahkan badannya dan langsung berjongkok. Wajahnya tepat di depan kontol Ganjar yang sudah berdiri tegak. Lidah Fenty mulai menjilati kepala kontol Ganjar sementara tangannya tetap mengocok batangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ohh.. Enak sayang...&quot; bisik Ganjar sambil memompa kontolnya pelan ketika Fenty mulai mengulum batang kontolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilatan, hisapan serta kocokan tangan Fenty pada kontolnya membuat Ganjar mengejang menahan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Gantian dong...&quot; kata Fenty sambil bangkit setelah beberapa waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenty bersandar ke dinding sambil berdiri. Ganjar jongkok lalu diciumnya bulu kemaluan Fenty. Fenty memejamkan matanya dan melebarkan kakinya ketika lidah ganjar mulai menelusuri belahan memeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Oww.. Enak banget, sayang,&quot; kata Fenty sambil memegang kepala Ganjar dan mendesakan ke memeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggulnya bergerak naik turun ketika lidah Ganjar bermain di lubang memek dan kelentitnya bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ohh.. Sshh...&quot; desis Fenty merasakan kenikmatan yang tak terhingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenty terpejam dan mendongak sambil mendesakkan kepala Ganjar lebih keras ke memeknya ketika ada sesuatu yang sangat nikmat tiada tara yang mau keluar..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ohh.. Ohh.. Ohh...&quot; Fenty menjerit pelan tertahan ketika mencapai puncak orgasmenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa ada yang menyembur hangat enak di dalam memeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Mmhh.. Enak sekali sayang,&quot; kata Fenty sambil agak membungkuk lalu mencium bibir Ganjar yang masih basah oleh cairan memeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganjar sepertinya sudah tidak tahan lagi. Setelah membalas ciuman Fenty sesaat, segera ditariknya tubuh Fenty ke atas ranjang. Fenty telentang sambil membuka kakinya lebar. Dengan tak sabar Ganjar segera menaiki tubuhnya lalu mengarahkan kontolnya ke memek Fenty. Tangan Fenty segera menggenggam dan membimbing kontol Ganjar ke lubang memeknya. Dengan sekali desakan, kontol Ganjar sudah masuk ke memek Fenty. Kontol Ganjar keluar masuk memek Fenty disertai bunyi khas..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Mmhh...&quot; Fenty mendesah sambil terpejam sementara pinggulnya bergoyang mengimbangi gerakan Ganjar.&lt;br /&gt;&quot;Enak sekali, sayangghh...&quot; desah Ganjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa waktu dan beberapa posisi bersetubuh mereka lakukan, Ganjar hampir mencapai puncak kenikmatannya. Kontol Ganjar semakin cepat keluar masuk memek Fenty. Ketika puncaknya, Ganjar segera mencabut kontolnya lalu turun dan berdiri di pinggir ranjang. Fenty yang sudah terbiasa, langsung mengerti. Kontol Ganjar yang masih basah oleh cairan memeknya segera dikulum han dihisap kuat sambil dikocok pelan. Ganjar terpejam sambil memegang kepala Fenty dan mendesakkan kontolnya agak dalam ke mulut Fenty. Tak lama, crott! Crott! Crott! Air mani Ganjar tumpah di dalam mulut Fenty yang terus menghisap kontolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Wohh.. Enak sekali, sayang,&quot; ujar Ganjar dengan nafas berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenty tersenyum sambil menjilati batang dan kepala kontol Ganjar dari sisa air maninya yang masih menempel. Lalu mereka berciuman..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Cepat pulang ah...&quot; kata Fenty setelah mereka selesai berpakaian dan merapikan diri.&lt;br /&gt;&quot;Ya sayang...&quot; kata Ganjar sambil menggandeng Fenty keluar kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumah, Ganjar segera pulang setelah berpamitan kepada Papa dan mama Fenty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Lama amat sih, Fen?&quot; tanya mamanya.&lt;br /&gt;&quot;Iya, mam.. Tadi kami nyimpang dulu ke tempat makan,&quot; kata Fenty ringan sambil segera ke kamarnya untuk ganti pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya, ketika mereka sedang nonton TV, Papa dan Mama Fenty segera bangkit dari tempat duduk karena sudah waktunya jam tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kamu jangan terlalu malam begadang, nanti sakit kepala,&quot; kata mamanya kepada Fenty.&lt;br /&gt;&quot;Iya, Mam.. Tanggung nih film sedang seru-serunya,&quot; kata Fenty sambil matanya terus melihat TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mereka segera masuk kamar. Setelah beberapa menit, telinga Fenty menangkap suara ranjang berderit berulang-ulang. Sebetulnya Fenty sudah mengerti apa yang sedang terjadi di kamar orang tuanya. Fenty bersikap cuek saja awalnya. Tapi rasa penasaran dihatinya membuat Fenty ingin mengintip mereka. Segera fenty bangkit lalu mengendap mengintip dari lubang kunci. Walaupun tidak terlalu jelas tapi Fenty dapat melihat Papa Mamanya sedang bersetubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah Fenty berdesir karenanya. Ketika mata Fenty melihat buah zakar dan kontol papanya yang keluar masuk memek Mamanya, darahnya makin berdesir. Matanya lebih jelas lagi melihat kontol papanya ketika mereka telah selesai bersetubuh, papanya bangkit dan mengelap kontolnya yang basah. Tampak jelas di mata Fenty betapa kontol papanya lebih besar dari kontol Ganjar. Fenty segera berdiri, mematikan TV lalu segera bergegas masuk kamarnya. Di atas ranjang, Fenty tidak bisa memejamkan matanya. Terbayang terus persetubuhan Papa Mamanya tadi, terlebih ketika terbayang kontol Papanya yang besar.. Perasaan Fenty jadi gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Fenty secara sadar arau tidak selalu memperhatikan gerak gerik Papanya. Apalagi bila Papanya hanya memakai kolor saja. Mata Fenty selalu mencuri pandang ke paha dan selangkangan Papanya. Papa Fenty waktu itu berumur 43 tahun. Badannya bersih dan tegap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Pijitin pundak Papa, Fen.. Pegal amat,&quot; kata Papa Fenty waktu mereka nonton TV.&lt;br /&gt;&quot;Kalau begitu Papa duduk di bawah biar Fenty gampang mijitnya,&quot; kata Fenty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papanya segera turun dari kursi lalu duduk di lantai. Fenty segera memijit pundak Papanya sambil nonton TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Mama ngantuk ah.. Mau tidur duluan, Pa...&quot; kata Mamanya sambil bangkit dan menuju kamarnya.&lt;br /&gt;&quot;Fenty sayang Papa,&quot; bisik Fenty sambil merangkulkan tangannya ke leher Papanya.&lt;br /&gt;&quot;Nah, biasanya suka ada maunya kalau kamu sudah begini,&quot; kata Papanya sambil tersenyum dan menoleh ke Fenty.&lt;br /&gt;&quot;Mm.. Fenty tidak minta apa-apa kok, Pa...&quot; bisik Fenty lagi manja.&lt;br /&gt;&quot;Fenty hanya mau bilang kalau Fenty sayang Papa,&quot; kata Fenty sambil mencium pipi Papanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papanya diam sambil tersenyum sambil tanganya memegang tangan Fenty yang sedang memeluk dirinya dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Tumben kamu manja begini,&quot; kata Papanya sambil menoleh dan menatap Fenty lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenty tersenyum lalu mencium pipi Papanya lagi berkali-kali. Darah Fenty mulai berdesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ada apa sih, Fen?&quot; kata Papanya lagi sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Papanya tidak bisa terus ketika bibir mungil Fenty mengecup bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Fenty sangat sayang Papa,&quot; bisik Fenty lirih sambil bibirnya melumat hangat bibir Papanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa Fenty pada awalnya kaget atas tindakan putrinya ini, tapi lama kelamaan sentuhan hangat bibir Fenty bisa menghangatkan perasaan dan gairahnya. Dibalasnya ciuman Fenty dengan hangat pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Mm...&quot; suara Fenty terdengar pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa Fenty bangkit lalu duduk berhadapan dengan Fenty. Kembali dilumat bibir Fenty dengan agak panas. Fentypun membalasnya dengan agak panas pula. Tangan Fenty bergerak ke arah selangkangan Papanya. Sambil tetap berciuman diremasnya pelan kontol Papanya. Terasa kontol Papanya mulai bergerak tegak dan tegang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Fenty sayang Papa,&quot; kembali Fenty berbisik.&lt;br /&gt;&quot;Papa juga sama...&quot; kata Papanya dengan nafas memburu.&lt;br /&gt;&quot;Jangan disini, Pa.. Nanti Mama tahu,&quot; kata Fenty sambil bangkit dan menarik tangan Papanya ke kamar belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papanya menurut mengikuti Fenty. Fenty langsung memeluk dan melumat bibir Papanya dengan liar, Papanyapun membalasnya semakin panas. Tangan Fenty mulai berani disusupkan dan masuk ke celana kolor Papanya, lalu tanpa ragu menggenggam dan meremasnya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Mmhh...&quot; suara Papanya tertahan karena masih berciuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenty kemudian melepaskan pelukannya lalu merendahkan tubuhnya hingga jongkok. Diperosotkan celana kolor Papanya sampai lutut hingga kontol besarnya yang tegak tampak di depan wajahnya. Fenty mengocok pelan kontol Papanya lalu segera mengulumnya. Papanya terpejam sambil memegang kepala Fenty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ohh...&quot; desah Papanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimaju mundurkan kontolnya di dalam mulut Fenty. Setelah beberapa lama, tubuh Papanya bergetar lalu... Crott! Crott! Crott! Air mani Papanya muncrat di dalam mulut Fenty. Fenty dengan tenang menelannya habis. Fenty lalu berdiri sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Fenty pengen, Pa..&quot; pinta Fenty berbisik.&lt;br /&gt;&quot;Tidak bisa sekarang sayang,&quot; kata Papanya sambil membetulkan celananya.&lt;br /&gt;&quot;Kapan, Pa?&quot; kata Fenty sambil memeluk dan mengecup bibir Papanya.&lt;br /&gt;&quot;Kamu pulang kuliah jam berapa?&quot; tanya Papanya.&lt;br /&gt;&quot;Jam 11, Pa...&quot;&lt;br /&gt;&quot;Kalau begitu Papa jemput kamu di kampus jam 12 untuk makan siang, lalu kita cari tempat...&quot; kata Papanya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&quot;Iya, Pa...&quot; kata Fenty sambil tersenyum pula.&lt;br /&gt;&quot;Kasih tahu pacar kamu untuk tidak jemput, ya?&quot; kata Papanya. Fenty mengangguk.&lt;br /&gt;&quot;Sekarang tidurlah,&quot; kata Papanya sambil mencium bibir Fenty mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok harinya sesuai dengan rencana, Fenty dijemput di kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Mau makan siang dimana?&quot; tanya Papanya.&lt;br /&gt;&quot;Tidak usah makan siang, Pa...&quot; kata Fenty manja.&lt;br /&gt;&quot;Langsung saja...&quot; kata Fenty tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa Fentypun tersenyum. Mobil langsung di arahkan ke hotel. Di dalam kamar, mereka langsung berciuman. Fenty menatap mata Papanya lalu melepas kancing kemeja Papanya satu demi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Biar Papa buka sendiri biar cepat. Waktu kita sedikit sayang. Papa harus segera ke kantor lagi,&quot; kata Papanya sambil tersenyum lalau melepas semua pakaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenty juga sama. Tubuh Fenty telentang di atas ranjang. Papanya segera duduk di pinggir ranjang. Tangannya mulai mengelus dan meremas buah dada Fenty. Fenty terpejam menikmati belaian Papanya itu. Sementara tangannya dengan segera meraih kontol Papanya yang sudah tegang besar. Diremas dan dikocoknya pelan. Tangan Papanya mulai turun ke memek Fenty. Diusap dan di gosoknya memek Fenty dengan mesra. Lalu salah satu jarinya mulai memainkan kelentit dan lubang memeknya bergantian. Fenty terpejam sambil menggigit bibir sementara tangannya tak henti mengocok kontol Papanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Cepat masukkan, Pa...&quot; pinta Fenty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papanya tersenyum lalu bangkit dan segera menaiki tubuh anaknya. Disentuhkan kontolnya ke memek ke belahan memek Fenty. Fenty menatap mata Papanya sambil tangannya segera meraih kontol dan mengarahkan ke lubang memeknya. Dengan sedikit desakan, kontol Papanya perlahan masuk ke memek Fenty. Fenty terpejam merasakan rasa nikmat dari orang yang sangat disayanginya. Tak terasa air matanya mengalir di pipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ada apa sayang?&quot; tanya Papanya sambil terus memompa kontolnya.&lt;br /&gt;&quot;Fenty sangat bahagia bisa bersama Papa saat ini,&quot; kata Fenty sambil memeluk erat Papanya.&lt;br /&gt;&quot;Fenty sangat sayang Papa,&quot; bisik Fenty.&lt;br /&gt;&quot;Papa juga sangat sayang kamu,&quot; kata Papanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenty tersenyum sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan pinggul Papanya. Kenikamatan dan sensasi yang sangat luar biasa dirasakan oleh Fenty saat itu. Siang itu Fenty dan Papanya dengan liar bersetubuh bermandi peluh dan desahan serta jeritan kenikmatan. Sampai akhirnya terasa kontol Papanya berdenyut tanda akan mencapai orgasme. Dicabutnya kontol dari memek Fenty lalu digesek-gesekan ke belahan memeknya. Tapi Fenty dengan segera bangkit dan langsung menghisap serta mengocok kontol Papanya sampai akhirnya.. Crott! Crott! Air mani Papanya menyembur banyak di dalam mulut Fenty. Fenty menelannya dengan tenang lalu tersenyum. Papanya lalu mencium bibir Fenty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kamu hebat sayang...&quot; bisik Papanya.&lt;br /&gt;&quot;Lebih hebat dari Mama kamu,&quot; kata Papanya lagi.&lt;br /&gt;&quot;Fenty sayang Papa...&quot; bisik Fenty sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berpelukan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan penuturan Fenty, sejak saat itu hampir tiap hari Fenty dan Papanya bersetubuh pada jam istirahat siang. Sesekali mereka bersetubuh di hotel bila ada waktu. Juga dengan Ganjarpun, Fenty tetap melayaninya setiap ada kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Fenty sudah menikah dengan Ganjar, dikaruniai anak 2. Masih tinggal di Bandung. Ketika masih mempunyai anak 1, Fenty masih berhubungan badan dengan Papanya. Tapi setelah punya anak 2 sekarang ini, aktifitas itu berhenti karena usia Papanya yang sudah uzur. Fenty sangat menyayangi Papanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E N D&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/7050819363436232546/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/7050819363436232546?isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/7050819363436232546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/7050819363436232546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/fenty-sayang-papa.html' title='Fenty Sayang Papa'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCo8J56Hm7Hu9GsNnpr6ABUoVHD7FTxgeWz3UvyeElWQHM953-atrsZOuk3RY1BlO67OU0k_m1GGTb586Q_VgG5G6EkIWXuHXZ5RSlFGJcE3PV9QEFLkzLyZ3Zs6rpe3X5q63Ywatf7Nf_/s72-c/tulisandewasa.blogspot2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-637095590334332984</id><published>2009-02-08T10:15:00.001+07:00</published><updated>2009-02-08T10:19:17.047+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sex Party"/><title type='text'>Pembalasan Verna</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJlaVU1s-URcgonMtKYmQq82Gt-gPRgnYaIeHa9QbmpW0w6CKzACHAqX4wpQJRicPlI59JNOewDdohbGiXnCiVZU_XN2EVj2exlqUboNW3IaPK6VLJUqEYqwbmmKp1I1o5jXYbpQZLte11/s1600-h/tulisandewasa.blogspot3.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJlaVU1s-URcgonMtKYmQq82Gt-gPRgnYaIeHa9QbmpW0w6CKzACHAqX4wpQJRicPlI59JNOewDdohbGiXnCiVZU_XN2EVj2exlqUboNW3IaPK6VLJUqEYqwbmmKp1I1o5jXYbpQZLte11/s200/tulisandewasa.blogspot3.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5300260649969289474&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Hari itu langit sudah menguning saat aku dan Verna tiba di rumahnya seusai main tenis bersama. Berhubung jalan ke rumahku masih macet karena jam bubar, maka Verna mengajakku untuk singgah di rumahnya dulu daripada terjebak macet. Di pekarangan rumah Verna yang cukup luas itu nampak beberapa kuli bangunan sedang sibuk bekerja, kata Verna disana akan dibangun kolam ikan lengkap dengan paviliunnya. Perhatian mereka tersita sejenak oleh dua gadis yang baru turun dari mobil, yang terbalut pakaian tenis dan memperlihatkan sepasang paha mereka yang mulus dan ramping. Verna dengan ramah melemparkan senyum pada mereka, aku juga nyengir membalas tatapan nakal mereka. Mama Verna mempersilakanku masuk dan menyuguhi kue-kue kecil plus minumannya. Aku langsung menghempaskan pantatku ke sofa dan menyandarkan raketku di sampingnya, minuman yang disuguhkan pun langsung kusambar karena letih dan haus.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam pertama kami lewati dengan ngerumpi tentang masalah kuliah, cowok, dan seks sambil menikmati snack dan menonton TV. Lalu Mama Verna keluar dari kamarnya dengan dandanan rapi menandakan dia akan keluar rumah.&lt;br /&gt;&quot;Ver, Mama titip bayarannya tukang-tukang itu ke kamu ya, Mama sekarang mau ke arisan,&quot; katanya seraya menyerahkan amplop pada Verna.&lt;br /&gt;&quot;Yah Mama jangan lama-lama, ntar kalau Citra pulang, Verna sendirian dong, kan takut,&quot; ujarnya dengan manja (waktu itu papanya sedang di luar kota, adik laki-lakinya, Very sudah 2 tahun kuliah di US dan pembantunya, Mbok Par masih mudik).&lt;br /&gt;Akhirnya kami ditinggal berdua di rumah Verna yang besar itu. Aku sih sebenarnya sudah mau pulang dan mandi sehabis bermain tenis, tapi Verna masih menahanku untuk menemaninya. Sebagai sobat dekat terpaksa deh aku menurutinya, lagian aku kan tidak bawa mobil. Di halaman depan tampak para tukang itu sudah beres-beres, ada pula yang sudah membersihkan badan di kamar mandi belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat mereka sudah bersih-bersih, akupun jadi kepingin menyegarkan badanku yang sudah tidak nyaman ini. Akupun mengajak Verna mandi bareng, tapi dia menyuruhku mandi saja duluan di kamar mandi di kamarnya, nanti dia akan menyusul sesudah para tukang selesai dan membayar uang titipan Mamanya pada mereka, sekalian menghabiskan rokoknya yang tinggal setengah. Akupun meninggalkannya dia yang sedang menonton TV di ruang tengah menuju ke kamarnya. Di kamar mandi aku langsung menanggalkan pakaianku lalu kuputar kran shower yang langsung mengucurkan airnya mengguyur tubuh bugilku. Air hangat memberiku kesegaran kembali setelah seharian berkeringat karena olahraga, rasa nyaman itu kuekspresikan dengan bersenandung kecil sambil menggosokkan sabun ke sekujur tubuhku. 15 menit kemudian aku sudah selesai mandi, kukeringkan tubuhku lalu kulilitkan handuk di tubuhku. Aku sudah beres, tapi anehnya Verna kok belum muncul juga, bahkan pintu kamarpun tidak terdengar dibuka, padahal dia bilang sebentar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin meminjam bajunya, karena bajuku sudah kotor dan bau keringat, maka aku harus bilang dulu padanya.&lt;br /&gt;&quot;Ver..Ver, sudah belum, saya mau pinjam baju kamu nih!!,&quot; teriakku dari kamar.&lt;br /&gt;Tidak terdengar jawaban dari seruanku itu, ada apa ya pikirku, apakah dia sedang di luar meninjau para tukang jadi suaraku tidak terdengar? Waktu aku lagi bingung sendirian begitu terdengarlah pintu diketuk.&lt;br /&gt;&quot;Nah, ini dia baru datang,&quot; kataku dalam hati.&lt;br /&gt;Akupun menuju ke pintu dan membukanya sambil berkata&lt;br /&gt;&quot;Huuh.. lama banget sih Ver, lagian ngapain pake ngetok..!!,&quot; rasa kaget memotong kata-kataku begitu melihat beberapa orang pria sudah berdiri diambang pintu. Dua diantaranya langsung menangkap lenganku dan yang sebelah kanan membekap mulutku dengan tangannya yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum hilang rasa kagetku mereka dengan sigap menyeretku kembali ke dalam kamar. Aku mulai dapat mengenali wajah-wajah mereka, ternyata mereka adalah para kuli bangunan di bawah tadi, semuanya ada 4 orang.&lt;br /&gt;&quot;Apa-apaan ini, lepasin saya.. tolong..!!,&quot; teriakku dengan meronta-ronta.&lt;br /&gt;Tapi salah seorang dari mereka yang lengannya bertato dengan tenangnya berkata, &quot;Teriak aja sepuasnya neng, di rumah ini sudah nggak bakal ada yang denger kok.&quot;&lt;br /&gt;Mendengar itu dalam pikiranku langsung terbesit &#39;Verna&#39;, ya mana dia, jangan-jangan terjadi hal yang tidak diinginkan padanya sehingga aku pun makin meronta dan menjerit memanggil namanya. Tak lama kemudian masuklah Verna, tangannya memegang sebuah handycam Sony model terbaru. Sejenak aku merasa lega karena dia baik-baik saja, tapi perasaanku lalu menjadi aneh melihat Verna menyeringai seram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ver.. apa-apaan nih, mau ngapain sih kamu?,&quot; tanyaku padanya.&lt;br /&gt;Tanpa mempedulikan pertanyaanku, dia berkata pada para kuli bangunan itu,&lt;br /&gt;&quot;Nah, bapak-bapak kenalin ini temen saya Citra namanya, dia seneng banget dientot, apalagi kalau dikeroyok, jadi silakan dinikmati tanpa malu-malu, gratis kok!,&quot;&lt;br /&gt;Dia juga memperkenalkan para kuli itu padaku satu-persatu. Yang lengannya bertato adalah mandornya bernama Imron, usianya sekitar 40-an, dia dipanggil bos oleh teman-temannya. Di sebelah kiriku yang berambut gondrong sebahu dan kurus tinggi bernama Kirno, usianya sekitar 30-an. Yang berbadan paling besar diantara mereka sedang memegangi lengan kananku bernama Tarman, sebaya dengan Imron, sedangkan yang paling muda kira-kira 25-an bernama Dodo, wajahnya paling jelek diantara mereka dengan bibir agak monyong dan mata besar. Keempatnya berbicara dengan logat daerah Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Gila kamu Ver.. lepasin saya ah, edan ini sih!,&quot; aku berontak tapi dalam hatiku aku justru ingin melanjutkan kegilaan ini.&lt;br /&gt;&quot;Tenang Ci, ini baru namanya surprise, sekali-kali coba produk kampung dong,&quot; katanya menirukan ucapanku waktu mengerjainya di vila dulu. Habis berkata bibirnya dengan cepat memagut bibirku, kami berciuman beberapa detik sebelum dia menarik lepas mulutnya yang bersamaan dengan menghentakkan handuk yang melilit tubuhku. Mereka bersorak kegirangan melihat tubuh telanjangku, mereka sudah tidak sabar lagi untuk menikmatiku&lt;br /&gt;&quot;Wah.. nih tetek montok banget, bikin gemes aja!,&quot; seru si Tarman sambil meremas payudara kananku.&lt;br /&gt;&quot;Ini jembut nggak pernah dicukur yah lebat banget!,&quot; timpal si Kirno yang mengelusi kemaluanku yang ditumbuhi bulu-bulu lebat itu, dengan terus mengelus Kirno lalu merundukkan kepalanya untuk melumat payudaraku yang kiri. Sementara di belakangku, si Dodo berjongkok dan asyik menciumi pantatku yang sekal, tangannya yang tadinya cuma merabai paha mulus dan bongkahan pantatku mulai menyusup ke belahan pantatku dan mencucuk-cucukkan jarinya di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapanku Pak Imron melepaskan pakaiannya, kulihat tubuhnya cukup berisi tapi perutnya agak berlemak, penisnya sudah mengacung tegak karena nafsunya. Dia meraba-raba kemaluanku, si Kirno yang sebelumnya menguasai daerah itu bersikap mengalah, dia melepaskan tangannya dari sana agar mandornya itu lebih leluasa. Wajahnya mendekati wajahku, dia menghirup bau harum dari tubuhku.&lt;br /&gt;&quot;Hhmmhh.. si non ini sudah wangi, cantik lagi!,&quot; pujinya sambil membelai wajahku.&lt;br /&gt;&quot;Iya bos, emang di sini juga wangi loh!,&quot; timpal si Dodo di tengah aktivitasnya menciumi daerah pantatku.&lt;br /&gt;Diperlakukan seperti itu bulu kudukku merinding, sentuhan-sentuhan nakal pada bagian-bagian terlarangku membuatku serasa hilang kendali. Gerak tubuhku seolah-olah mau berontak namun walau dilepas sekalipun saya tidak akan berusaha melarikan diri karena tanggung sudah terangsang berat. Merasa sudah menaklukkanku, kedua kuli di samping melonggarkan pegangannya pada lenganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan panas ini terus direkam Verna dengan handycamnya sambil menyoraki kami.&lt;br /&gt;&quot;Aahh.. jangan.. Ver, jangan disyuting.. ngghh.. matiin handy.. hhmmhh..!!,&quot; kata-kataku terpotong oleh Pak Imron yang melumat bibirku dengan bernafsu. Aku yang sudah horny membalas ciumannya dengan penuh gairah.&lt;br /&gt;&quot;Acchh.. ahhkk.. cckk&quot; bunyi mulut dan lidah kami beradu. Aku makin menggeliat kegelian ketika si Kirno menaikkan lenganku dan menciumi ketiakku yang tak berbulu.&lt;br /&gt;&quot;Ayo Ci, gaya kamu ok banget, pasti lebih heboh dari bokepnya Itenas nih,&quot; Verna menyemangati sambil mencari sudut-sudut pengambilan gambar yang bagus. Dia fokuskan kameranya ketika aku sedang diciumi Pak Imron, saat bersilat lidah hingga liur kami menetes-netes. Badanku bergetar sepeti kesetrum dan tanpa sadar kubuka kedua pahaku lebih lebar sehingga membuka lahan lebih luas bagi lidah Dodo bermain main di lubang anusku, juga jari-jari yang mengocok-ngocok vaginaku, aku tidak dapat melihat jelas lagi jari-jari siapa yang mengelus ataupun keluar-masuk di sana saking hanyutnya dalam birahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menggiring dan mendudukkanku di tepi ranjang. Kirno dan Tarman mulai melepas pakaian mereka, sedangkan Dodo entah sejak kapan dia melepaskan pakaiannya, karena begitu kulihat dia sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kini mereka berempat yang sudah bugil berdiri mengerubungiku dengan keempat senjatanya ditodongkan di depan wajahku. Aku sempat terperangah melihat penis mereka yang sudah mengeras itu, semuanya hitam dan besar, rata-rata berukuran 17-20cm.&lt;br /&gt;&quot;Ayo non, tinggal pilih mau yang mana duluan,&quot; kata Pak Imron.&lt;br /&gt;Aku meraih penis Pak Tarman yang paling panjang, kubelai dan kujilati sekujur permukaannya termasuk pelirnya, kemudian kumasukkan ke mulut dan kuemut-emut.&lt;br /&gt;&quot;Heh, jangan cuma si Tarman aja dong non, saya kan juga mau nih,&quot; tegur si Kirno seraya menarik tanganku dan menempelkannya pada penisnya .&lt;br /&gt;&quot;Iya nih, saya juga,&quot; sambung si Dodo menarik tanganku yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Mmhh.. eenngg..!,&quot; gumamku saat menyepong Pak Tarman sambil kedua tanganku menggenggam dan mengocok penis Dodo dan Kirno. Sambil menikmati penis-penis itu, mendadak kurasakan kakiku direnggangkan dan ada sesuatu di bawah sana. Oh, ternyata Pak Imron berjongkok di hadapan selangakanku. Tangannya membelai paha mulusku dan berhenti di vaginaku dimana dia membuka bibirnya lalu mendekatkan wajahnya kesana. Kurasakan lidahnya mulai menyentuh dinding vaginaku dan menari-nari disana. Sungguh luar biasa kenikmatan itu, aku pun semakin liar, aku membuka pahaku lebih lebar agar Pak Imron lebih leluasa menikmati vaginaku. Hal itu juga berpengaruh pada kocokan dan kulumanku yang makin intens terhadap ketiga pria yang sedang kulayani penisnya. Mereka mengerang-ngerang merasakan nikmatnya pelayanan mulutku secara bergantian. Saking sibuknya aku sampai tidak tahu lagi tangan-tangan siapa saja yang tak henti-hentinya menggerayangi payudaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup dengan pemanasan, mereka membaringkan tubuhku di tengah ranjang. Pak Imron langsung mengambil posisi diantara kedua pahaku siap untuk memasukkan penisnya kepadaku, tanpa ba-bi-bu lagi dia mulai menancapkan miliknya padaku. Ukurannya sih tidak sebesar milik Pak Tarman, tapi diameternya cukup lebar sesuai bentuk tubuhnya sehingga vaginaku terkuak lebar-lebar dan agak perih. Verna mendekatkan kameranya pada daerah itu saat proses penetrasi yang membuatku merintih-rintih. Pak Imron mulai menghentak-hentakkan pinggulnya, mulanya pelan tapi semakin lama goyangannya semakin kencang membuat tubuhku tersentak-sentak. Teman-temannya juga tidak tinggal diam, mereka menjilati, mengulum, dan menggerayangi sekujur tubuhku. Si Dodo sedang asyik menjilat dan mengeyot payudaraku, terkadang dia juga menggigit putingku. Pak Tarman menggelikitik telingaku dengan lidahnya sambil tangannya meremasi payudaraku yang satunya. Sementara tangan kananku sedang mengocok penis si Kirno. Pokoknya bener-bener rame rasanya deh, ya geli, ya nikmat, ya perih, semua bercampur jadi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerang-ngerang sambil mengomeli Verna yang terus merekamku&lt;br /&gt;&quot;Awww.. awas kamu Ver ntar.. saya.. aahh.. liat aja.. oohh.. ntar!,&quot;&lt;br /&gt;&quot;Yaah, kamu masa kalah sama Indah Ci, dia aja sudah ada bokepnya, sekarang saya juga mo bikin yang kamu nih,&quot; ujarnya dengan santai &quot;Hmm.. judulnya apa yah, Citra cewek A*****, wah pasti seru deh!&quot;&lt;br /&gt;Kini sampailah aku pada saat yang menentukan, tubuhku mengejang hebat sampai menekuk ke atas disusul dengan mengucurnya cairan cintaku seperti pipis. Si Kirno juga jadi ikut mengerang karena genggamanku pada penisnya jadi mengencang dan kocokanku makin bersemangat. Pak Imron sendiri belum memperlihatkan tanda-tanda akan klimaks, kini dia malah membalikkan tubuhku dalam posisi dogy tanpa melepas penisnya. Dia melanjutkan genjotannya dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu aku masih lemas dan kepalaku tertunduk, tiba-tiba si Dodo menarik rambutku dan penisnya sudah mengacung di depan wajahku. Akupun melakukan apa yang harus kulakukan, benda itu kumasukkan dalam mulutku. Kumulai dengan mengitari kepalanya yang seperti jamur itu dengan lidahku, serta menyapukan ujung lidahku di lubang kencingnya, selanjutnya kumasukkan benda itu lebih dalam lagi ke mulut dan kukulum dengan nikmatnya. Tentu saja hal ini membuat si Dodo blingsatan keenakan, penisnya ditekan makin dalam sampai menyentuh kerongkonganku, bukan cuma itu dia juga memaju-mundurkan penisnya sehingga aku agak kelabakan. Setiap kali Pak Imron menghujamkan penisnya penis Dodo semakin masuk ke mulutku sampai wajahku terbenam di selangkangannya, begitupun sebaliknya ketika Dodo menyentakkan penisnya di mulutku, penis Pak Imron semakin melesak ke dalamku. Pak Tarman yang menunggu giliran berlutut di sampingku sambil meremas payudaraku yang menggantung. Pak Imron mendekati puncak, dia mencengkam pinggulku erat-erat sambil melenguh nikmat, genjotannya semakin cepat sampai akhirnya menyemburkan cairan putih pekat di rahimku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah Pak Imron mencabut penisnya, si Dodo mengambil alih posisinya. Namun sebelum sempat memulai, si Kirno menyela:&lt;br /&gt;&quot;Kamu dari bawah aja Do, masak dari tadi aku ngerasain tangannya aja sih, aku pengen ininya nih!,&quot; katanya sambil mencucukkan jarinya ke anusku sehingga aku menjerit kecil.&lt;br /&gt;Merekapun sepakat, akhirnya aku menaiki penis si Dodo yang berbaring telentang, benda itu masuk dengan lancarnya karena vaginaku sudah licin oleh cairan kewanitaanku ditambah lagi mani Pak Imron yang banyak itu. Kemudian dari belakang Kirno mendorong punggungku ke depan sehingga pinggulku terangkat. Aku merintih-rintih ketika penisnya melakukan penetrasi pada anusku.&lt;br /&gt;&quot;Uuhh.. waduhh.. sempit banget nih lubang!,&quot; desahnya menikmati sempitnya anusku.&lt;br /&gt;Kedua penis ini mulai berpacu keluar-masuk vagina dan anusku seperti mesin. Dodo yang berada dibawah menciumi leher depanku dan meninggalkan bekas merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ooohh.. aahh.. eenngghh,&quot; suara lirih keluar dari mulutku setiap kali kedua penis itu menekan kedua liang senggamaku dengan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebelahku kulihat Verna sudah mulai dikerjai Pak Imron dan Tarman yang sudah tidak sabar karena penisnya belum kebagian jatah lubang dari tadi. Verna terus mensyutingku walaupun tangan-tangan jahil itu terus menggerayanginya, sesekali dia mendesah. Tangan Pak Tarman menyusup lewat bawah rok tenisnya dan kaos putihnya sudah disingkap oleh Pak Imron. Dengan cekatan, Pak Imron membuka kait BH-nya menyebabkan BH yang melingkar di dadanya itu jatuh, dan terlihatlah buah dada Verna yang montok dengan puting kemerahan yang mencuat. Pak Tarman langsung melumat yang sebelah kiri sambil tangannya menggosok-gosok kemaluannya dari luar, yang sebelah kiri diremas Pak Imron sambil menciumi lehernya. Ikat rambut Verna ditariknya hingga rambut indahnya tergerai sampai punggung.&lt;br /&gt;&quot;Aaahh.. jangan sekarang Pak.. sshh,&quot; desah Verna dengan suara bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke &lt;a href=&quot;http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/pembalasan-verna-2.html&quot;&gt;bagian 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/637095590334332984/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/637095590334332984?isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/637095590334332984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/637095590334332984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/pembalasan-verna.html' title='Pembalasan Verna'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJlaVU1s-URcgonMtKYmQq82Gt-gPRgnYaIeHa9QbmpW0w6CKzACHAqX4wpQJRicPlI59JNOewDdohbGiXnCiVZU_XN2EVj2exlqUboNW3IaPK6VLJUqEYqwbmmKp1I1o5jXYbpQZLte11/s72-c/tulisandewasa.blogspot3.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-8756861936697811015</id><published>2009-02-08T10:10:00.002+07:00</published><updated>2009-02-08T10:20:51.813+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sex Party"/><title type='text'>Pembalasan Verna-2</title><content type='html'>Dari &lt;a href=&quot;http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/pembalasan-verna.html&quot;&gt;bagian 1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Imron mengambil handycam dari tangan Verna dan meletakkannya di rak kecil pada ujung ranjang, diaturnya sedemikian rupa agar alat itu menangkap gambar kami semua. Desahan Verna makin seru saat jari-jari Pak Tarman keluar masuk vaginanya lewat samping celana dalamnya. Kedua payudaranya menjadi bulan-bulanan mereka berdua, keduanya dengan gemas meremas, menjilat, mengulum, juga memain-mainkan putingnya, seperti yang pernah kukatakan, payudara Verna memang paling menggemaskan diantara kami berempat. Pak Imron duduk berselonjor dengan bersandar pada ujung ranjang, disuruhnya Verna melakukan oral seks. Tanpa disuruh lagi Verna pun menunduk hingga pantatnya nungging. Digenggamnya penis yang hitam berurat itu, dikocok sejenak lalu dimasukkan ke mulutnya. Dari belakang, Pak Tarman menarik lepas celana dalamnya, lalu dia sendiri mulai menjilati kemaluan Verna yang sudah becek, posisi Verna yang menungging membuatnya sangat leluasa menjelajahi kemaluannya sampai anusnya dengan lidah. Mereka melakukan oral seks berantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Imron memegang handycam dan mengarahkannya pada Verna yang sedang mengulum penisnya, terkadang alat itu juga diarahkan padaku yang sedang disenggamai Kirno dan Dodo. Sudah cukup lama aku bertahan dalam posisi ini, payudaraku rasanya panas dan memerah karena terus dikenyot dan diremas Dodo yang di bawahku, lalu Dodo menarik wajahku, bibir mungilku bertemu mulutnya yang monyong, lidahnya bermain liar dalam mulutku, wajahku juga dijilati sampai basah oleh ludahnya. Si Kirno yang sedang menyodomiku tangannya bergerilya mengelusi punggung dan pantatku. Mungkin karena sempitnya, Kirno orgasme duluan, dia mengerang dan mempercepat genjotannya hingga akhirnya dia melepas penisnya lalu buru-buru pindah ke depan untuk menyiramkan spermanya di wajahku. Pak Imron mendekatkan handycam itu saat sperma Kirno muncrat membasahi wajahku. Wajahku basah bukan saja oleh keringat, juga oleh ludah Dodo dan sperma Kirno yang kental dan banyak itu. Si Dodo bilang aku jadi lebih cantik dan menggairahkan dengan kondisi demikian, maka aku biarkan saja wajahku belepotan seperti itu, bahkan kujilati cairan yang menempel di pinggiran mulutku.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari Kirno, aku masih harus bergumul dengan Dodo dalam posisi woman on top. Aku menggoyangkan pinggulku dengan liar diatas penisnya, aku makin terangsang melihat ekspresi kenikmatan di wajahnya, dia meringis dan mengerang, terutama saat aku membuat gerakan meliuk yang membuat penisnya seolah-olah dipelintir. Kamar ini bertambah gaduh dengan desahan Verna yang sedang disodoki Pak Tarman dari belakang, dari depannya Pak Imron menopang tubuhnya sambil menyusu dari payudaranya. Si Kirno yang sedang beristirahat diserahi tugas mensyuting adegan kami dengan handycam itu. Gila memang, kalau dilihat sekilas seperti sedang terjadi perkosaan massal di rumah ini, karena kalau dilihat dari fisik, mereka kasar dan hitam, selain itu mereka cuma kuli bangunan. Sedangkan tubuh kami terawat dan putih mulus bak pualam dengan wajah yang sedap dipandang karena kami dari golongan borju dan terpelajar. Pasti mereka ibarat kejatuhan bintang berkesempatan menikmati tubuh mulus kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai 10 menit setelah Kirno melepaskanku, tubuhku pun mulai mengejang dan kugoyangkan tubuhku lebih gencar. Akhirnya akupun kembali mencapai orgasme bersamaan dengan Dodo. Tubuhku ambruk telentang, si Dodo menyiramkan spermanya bukan hanya di wajahku, tapi juga di leher dan dadaku.&lt;br /&gt;&quot;Hei.. sialan lu, aku belum ngentot sama tuh cewek, udah lu mandiin pakai peju lu,&quot; tegur Pak Tarman yang sedang menggenjot Verna dalam logat daerah yang kental.&lt;br /&gt;&quot;Huehehe.. tenang dong bos, suruh aja si non ini yang bersihin,&quot; jawab Dodo sambil menarik kepala Verna mendekati wajahku, &quot;Ayo non, minum tuh peju!&quot;&lt;br /&gt;Tanpa merasa jijik, Verna yang sudah setengah sadar itu mulai menjilati wajahku yang basah, lidahnya terus menyapu cairan putih itu hingga mulut kami bertemu. Beberapa saat kami berpagutan lalu lidah Verna merambat turun lagi, ke leher dan payudara, selain menjilati ceceran spema, dia juga mengulum buah dadaku, putingku digigitnya pelan dan diemut. Sebuah tangan lain mendarat di payudaraku yang satu. Aku melihat si Kirno sudah berlutut di sebelahku mengarahkan handycam ke arah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan kedua pahaku dibuka, lalu kemaluanku yang sudah basah dilap dengan tisu. Si Dodo telah memposisikan kepalanya diantara pangkal pahaku dan lidahnya mulai menjilati pahaku. Diperlakukan demikian aku jadi kegelian sehingga paha mulusku makin mengapit kepala si Dodo. Lidahnya semakin mengarah ke vaginaku dan badanku menggeliat diiringi desahan ketika lidahnya yang basah itu bersentuhan dengan bibir vaginaku lalu menyapunya dengan jilatan panjang menyusuri belahannya. Lidah itu juga memasuki vaginaku lebih dalam lagi menyentuh klitorisku. Ooohh.. aku serasa terbang tinggi dengan perlakuan mereka, belum lagi si Kirno yang terus memilin-milin putingku dan Verna yang menjilati tubuhku. Dalam waktu singkat selangkanganku mulai basah lagi. Dodo mengisap vaginaku dalam-dalam sehingga mulutnya terlihat semakin monyong saja, sesekali dia mengapitkan klitorisku dengan bibirnya. Aku mengerang keras, kakiku mengapit erat kepalanya melampiaskan perasaan yang tak terlukiskan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar Pak Tarman menjerit tertahan, tubuhnya mengejang dan genjotannya terhadap Verna makin kencang, ranjang ini semakin bergetar karenanya. Verna sendiri tidak kalah serunya, dia menjerit-jerit seperti hewan mau disembelih karena payudaranya yang montok itu digerayangi dengan brutal oleh Pak Tarman, selain itu agaknya dia pun sudah mau orgasme. Akhirnya jeritan panjang mereka membahana di kamar ini, mereka mengejang hebat selama beberapa saat. Keringat di wajah Verna menetes-netes di dada dan perutku dan dia jatuhkan kepalanya di perutku setelah Pak Tarman melepasnya. Pak Imron yang menunggu giliran mencicipi Verna langsung meraih tubuhnya yang masih lemas itu dan dinaikkan ke pangkuannya dengan posisi membelakangi. Tangannya yang kekar itu membentangkan lebar-lebar paha Verna dan menurunkannya hingga penis yang terarah ke vagina Verna tertancap. Penis itu melesak masuk disertai lelehan sperma Pak Tarman yang tertampung di rongga itu. Sejenak kemudian tubuh Verna sudah naik turun di pangkuan Pak Imron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas menjilati vaginaku, kini si Dodo membalik tubuhku dalam posisi doggy. Penisnya diarahkan ke vaginaku dan dengan sekali hentakkan masuklah penis itu ke dalamku. Dodo memompakan penisnya padaku dengan cepat sekali sampai aku kesulitan mengambil nafas, kenikmatan yang luar biasa ini kuekspresikan dengan erangan dan geliat tubuhku. Kemudian Pak Tarman yang sudah pulih menarik kepalaku yang tertunduk lantas menjejali mulutku dengan penisnya. Jadilah aku disenggamai dari dua arah, selain itu payudaraku pun tidak lepas dari tangan-tangan kasar mereka, putingku dipencet, ditarik, dan dipelintir. Selama 15 menit diigempur dari belakang-depan akhirnya aku tidak tahan lagi, lolongan panjang keluar dari mulutku bersamaan dengan Verna yang juga telah orgasme di pangkuan Pak Imron, tak sampai 5 menit Dodo juga menyemburkan maninya di dalam rahimku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Tarman menggantikan posisi Dodo, aku dibaringkan menyamping dan diangkatnya kaki kananku ke bahunya. Dia mendorong penisnya ke vaginaku, oucchh.. rasanya sedikit nyeri karena ukurannya yang besar itu aku sampai merintih dan meremas kain sprei, padahal itu belum masuk sepenuhnya. Beberapa kali dia melakukan gerakan tarik-dorong untuk melicinkan jalan masuk bagi penisnya, hingga dorongan yang kesekian kali akhirnya benda itu masuk seluruhnya.&lt;br /&gt;&quot;Aakkhh.. sakit Pak.. aduh,&quot; aku mengerang kesakitan karena dia melakukannya dengan agak paksa.&lt;br /&gt;Dia berhenti sejenak untuk membiarkanku beradaptasi, baru kemudian dia mulai menggenjotku, frekuensinya terasa semakin meningkat sedikit demi sedikit. Urat-urat penisnya terasa sekali bergesekan dengan dinding vaginaku. Aku dibuatnya mengerang-ngerang tak karuan, mataku menatap kosong ke arah handycam yang sekarang sudah berpindah ke tangan Pak Imron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Verna kini sedang digumuli oleh Kirno dalam posisi yang sama dan saling berhadapan denganku. Kuraih tangannya sehingga telapak tangan kami saling genggam. Kucoba berbicara dengannya dengan nafas tersenggal-senggal,&lt;br /&gt;&quot;Ahh.. Ver, yang ini.. ngghh.. gede.. amat&quot;&lt;br /&gt;&quot;Iyah.. yang ini juga.. ahh.. gila.. nyodoknya mantap!&quot; jawabnya&lt;br /&gt;Kemudian aku merasa sebuah lidah menggelitik telingaku, ternyata itu si Dodo, tangannya tidak tinggal diam ikut bergerilya di payudaraku. Bulu kudukku merinding ketika lidahnya menyapu telak tenguk dan belakang telingaku yang cukup sensitif. Pak Tarman menyodokku demikian keras sambil tangannya meremasi pantatku, untung saja aku sudah terbiasa dengan permainan kasar seperti ini, kalau tidak tentu aku sudah pingsan sejak tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Verna mendesah lebih panjang dan menggenggam tanganku lebih erat, tubuhnya bergetar hebat, nampaknya dia mau orgasme.&lt;br /&gt;&quot;Iyah.. terus mas.. ahh.. ahh.. Ci.. gua keluar.. akkhh!&quot; desahnya bersamaan dengan tubuhnya menegang selama beberapa saat lalu melemas kembali.&lt;br /&gt;Ternyata Kirno masih belum selesai dengan Verna, kini dia telentangkan tubuhnya, kaos tenisnya yang tersingkap dilepaskan dan dilemparnya, maka yang tersisa di tubuh Verna tinggal rok tenis yang mini, seuntai kalung di lehernya, dan sebuah arloji &#39;Guess&#39; di lengannya. Kemudian dia menaiki dada Verna dan menyelipkan penisnya diantara kedua gunung itu dan mengocoknya dengan himpitan daging kenyal itu. Tak lama spermanya berhamburan ke wajah dan dada Verna, lalu Kirno mengusap sperma di dadanya sampai merata sehingga payudara Verna jadi basah dan berkilauan oleh sperma. Si Dodo yang sebelumnya menggerayangiku sekarang sudah pindah ke selangkangan Verna dimana dia memasukkan dua jari untuk mengobok-obok vaginanya dan mengelus-elus paha dan pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tinggal melayani Pak Tarman seorang saja, tapi tenaganya seperti tiga orang, bagaimana tidak sudah tiga kali aku dengan dia ganti posisi tapi masih saja belum menunjukkan tanda-tanda sudahan, padahal badanku sudah basah kuyup baik oleh keringat maupun sperma, suaraku juga sudah mau habis untuk mengerang. Sekarang dia sedang genjot aku dengan posisi selangkangan terangkat ke atas dan dia menyodokiku dari atas dengan setengah berdiri. Belasan menit dalam posisi ini barulah dia mencabut penisnya dan badanku langsung ambruk ke ranjang. Belum sempat aku mengatur nafas, dia sudah menempelkan penisnya ke bibirku dan menyuruhku membuka mulut, cairan putih kental langsung menyembur ke wajahku, tapi karena semprotannya kuat cairan itu bukan cuma muncrat ke mulut, tapi juga hidung, pipi, dan sekujur wajahku. Yang masuk mulut langsung kutelan agar tidak terlalu berasa karena baunya cukup menyengat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Verna masih sibuk menggoyang-goyangkan tubuhnya diatas penis Dodo, kedua tangannya menggenggam penis Pak Imron dan Kirno yang masing-masing berdiri di sebelah kiri dan kanannya. Secara bergantian dia mengocok dan menjilati penis-penis di genggamannya itu. Kedua pria itu dalam waktu hampir bersamaan menyemburkan spermanya ke tubuh Verna. Seperti shower, cairan putih itu menyemprot dengan derasnya membasahi muka, rambut, leher dan dada Verna. Mereka nampak puas sekali melihat keadaan temanku seperti itu, Pak Imron yang memegang handycam mendekatkan benda itu ke arahnya.&lt;br /&gt;&quot;Mandi peju, tengah malam.. aahh..!&quot; demikian senandung Pak Tarman menirukan irama sebuah lagu dangdut saat mengomentari adegan itu.&lt;br /&gt;Setelah orang terakhir yaitu si Dodo orgasme, kami semua terbaring di ranjang spring bed itu. Kamar ini hening sejenak, yang terdengar hanya deru nafas terengah-engah. Verna telentang di atas badan Dodo, wajahnya nampak lelah dengan tubuh bersimbah peluh dan sperma, namun tangannya masih dapat menggosok-gosokkan sperma di tubuhnya serta menjilati yang menempel di jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Tarman yang pulih paling awal, melepaskan dekapannya padaku dan berjalan ke kamar mandi, sebentar saja dia sudah keluar dengan muka basah lalu memunguti bajunya. Ketika kuli lainnya pun mulai beres-beres untuk pulang. Mereka mengomentari bahwa kami hebat dan berterima kasih diberi kesempatan menikmati &#39;hidangan&#39; seperti ini dengan gratis. Verna memakai kembali bajunya untuk mengantar mereka ke pintu gerbang. Mereka berpamitan padaku dengan mencium atau meremas organ-organ kewanitaanku. Verna baru kembali ke sini 15 menit kemudian karena katanya dia diperkosa lagi di taman sebelum mereka pulang. Terpaksa deh aku harus mandi lagi, habis badanku jadi keringatan dan lengket lagi sih. Kami berendam bersama di bathtub Verna yang indah sambil menonton &#39;film porno&#39; yang kami bintangi sendiri melalui handycam itu. Lumayan juga hasilnya meskipun kadang gambarnya goyang karena yang men-syuting ikut berpartisipasi. Rekaman itu kami transfer menjadi VCD hanya untuk koleksi pribadi geng kami. Kami sempat beradegan sesama wanita sebentar di bathtub karena terangsang dengan rekaman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku menginap di rumah Verna karena sudah kemalaman dan juga lelah. Kami terlebih dulu mengganti sprei yang bekas bersenggama itu dengan yang baru agar enak tidur. Pagi harinya setelah sarapan dan pamitan pada mamanya Verna, kami menuju ke halaman depan dan naik ke mobil. Di sana kami berpapasan dengan keempat tukang bangunan yang senyum-senyum ke arah kami, kami pun membalas tersenyum, lalu Verna mulai menjalankan mobil. Kami keluar dari rumahnya dengan kenangan gila dan mengasyikkan. Beberapa hari ke depan sampai pembangunan selesai, mereka beberapa kali memperkosa Verna kalau ada waktu dan kesempatan, kadang kalau sedang tidak mood Verna keluar rumah sampai jam kerja mereka berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E N D&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/8756861936697811015/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/8756861936697811015?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/8756861936697811015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/8756861936697811015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/pembalasan-verna-2.html' title='Pembalasan Verna-2'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-6796881754925480660</id><published>2009-02-01T15:38:00.003+07:00</published><updated>2009-02-01T15:42:01.266+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sex Party"/><title type='text'>Berawal dari Chatting</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://ufreelook.blogspot.com/2009/02/yahoo-messenger-10.html&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 79px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCqzwAIXZBzLEQBkzSsRBvOu0yvrjb_lUh3ZbTt1uulrWLISH4DBaL2Kv6t29FcF5CRKMWwadLB24IeRZoauowBhmRyXX2R0cc0HRtNjR0K9tymG0SAQSXluBE069vAYCQoRdwhyoJtwV5/s200/yahoo_messenger.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5297746345383121090&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Aku adalah seorang mahasiswa yang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta. Namaku Valentino dan saat ini usiaku 22 tahun. Menurut temanku meski wajah Chinese-ku ini biasa-biasa saja tapi aku punya daya tarik seks yang cukup tinggi. Tinggi badanku hanya 173 cm dengan berat 71 kg. Aku juga suka olahraga dan wajar saja jika fisikku cukup prima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini terjadi pada waktu liburan natal 2000 yang lalu. Waktu itu untuk melepaskan kesuntukan karena tidak ada aktivitas, aku memutuskan untuk chatting di warnet di dekat kost. Aku masuk ke channel favoritku yaitu Bawel. Selang beberapa lama ada nick yang invite aku masuk ke channel dia. Dan aku pun masuk aja, cuek.. siapa takut. Ternyata setelah kami ngobrol beberapa lama, dia adalah seorang cewek kampus yang gaul banget. Dari pembicaraannya sepertinya dia bukan orang yang kuper. Namanya Michelle, dan kuliah di PTS juga dan usianya pun sama denganku. Dia mengaku sedang ditinggal pacarnya dan dia masih merasa sedih. Aku berusaha menghiburnya, dan aku pun minta no teleponnya. Dan akhirnya kami saling tukar no telepon.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya, aku bangun siang sekali karena kemarin aku chatting sampai jam 1 pagi. Tiba-tiba di kost-ku ada yang manggil, katanya ada telepon untukku. Aku juga bingung siapa yang menelepon, dan setelah kuangkat. Oh, rupanya Michelle yang meneleponku. Hari itu sih hari minggu, dan kebetulan aku lagi tidak ada acara. Michelle mengajakku untuk janjian bertemu dan aku pun menyanggupinya. Kami bertemu di Mall Ciputra, tepatnya di Pizza Hut. Rupanya di sana dia tidak sendirian, dia ditemani tantenya yang cantiknya aduhai dan teman satu kampusnya yang juga tidak kalah cakepnya. Ternyata Michelle ini cantik sekali, tingginya kira-kira 170 cm dan kutebak ukuran branya pasti 36B, sama seperti tantenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun berkenalan. Michelle menyapaku, &quot;Kenalin ini Tante gue.. Ratna dan ini temen gue Shinta..&quot; Kami pun saling berjabat tangan dan terasa tangan mereka sungguh lembut. Setelah itu kami memesan pizza ukuran besar dan sambil menunggu aku terus menatap Michelle, dan dia agak membungkuk sehingga aku bisa melihat belahan dadanya yang membuat kemaluanku mulai menegang ditambah lagi melihat pahanya yang mulus tanpa cacat juga bibirnya yang ranum dan merekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kamu lagi liburan kan Val?&quot; tanya Tante Ratna.&lt;br /&gt;&quot;Iya nih.. lagi suntuk, abis gak ada yang bisa dikerjain waktu liburan.&quot; jawabku sekenanya.&lt;br /&gt;&quot;Mmm, gimana kalau kita bertiga ngerjain kamu, kan katanya kamu gak ada kerjaan?&quot; kata Shinta sambil tertawa menggoda.&lt;br /&gt;&quot;Iya nih, mau gak.. kita bermain-main sedikit?&quot; sambung Michelle.&lt;br /&gt;&quot;Ah kalian bisa aja, bukannya aku yang ngerjain kalian ntar?&quot; godaku.&lt;br /&gt;&quot;Ihh.. kamu bisa aja deh..&quot; bisik Tante Ratna.&lt;br /&gt;&quot;Ya udah, daripada banyak omong, gimana kalau malam ini kita nginap di hotel aja, tuch di seberang resepsionis hotel sudah nunggu kita tuch..&quot; ajak Shinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami sepakat untuk membooking kamar di Hotel Ciputra dan Tante Ratna yang bayar. Kami masuk ke kamar dan aku pun merebahkan badanku ke ranjang, untuk melepas lelah. Aku sempat memejamkan mata sesaat, dan tiba-tiba kurasakan ada yang mengelus-elus sekitar selangkanganku dan ternyata itu si Michelle yang sudah tidak sabar lagi. Dipelorotkannya reitsleting-ku dan dia pun mulai membedah CD-ku yang isinya sudah membengkak karena adikku yang sudah tidak tahan lagi untuk menerobos. &quot;Val, aku mau dong nyobain ngulumin pisang kamu yang cakep ini, boleh kan?&quot; pinta Michelle manja. Tanpa komando langsung dijilatnya ujung kepala kemaluanku. &quot;Ahh.. nikmat sekali..&quot; Belum sepuluh menit, tiba-tiba Tante Ratna sudah telanjang bulat dan mengarahkan kemaluannya ke wajahku. Dan tanpa ragu-ragu kujilat vaginanya yang masih cakep itu. Sementara itu Shanti yang dengan luwesnya setelah selesai mandi mulai naik ke ranjang juga dan meraih kedua bukit Tante Ratna yang sudah menegang putingnya itu karena terangsang oleh jilatanku pada area kewanitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ahh.. enak sekali rasanya bisa dikerjain mereka bertiga. Michelle dan Tante Ratna dengan buah dada 36B, serta Shanti dengan buah dada 34D, sungguh membuatku tidak bisa berkata-kata selain, &quot;Uh.. oh.. uh.. oh..&quot; Aduh sungguh nikmat. Penisku yang panjangnya 16 cm ini rasanya sudah nikmat sekali dan panas sekali dihisap secara bergantian oleh mereka bertiga. Dan aku pun keluar setelah 20 menit, dikocok dan dijilat secara bergantian. Aku mengeluarkannya di mulut Michelle yang mungil sedangkan Tante Ratna dan Shanti juga tidak ketinggalan membersihkan cairan spermaku yang cukup banyak ini. Setelah itu Tante Ratna datang dan memijat penisku yang sudah mulai loyo hingga berdiri lagi. Ah, belum 2 menit adikku sudah naik lagi akibat pijatan lembut Tante Ratna, sementara itu Shanti dan Michelle bermain berdua, karena mereka ternyata lesbian dan juga biseks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Ratna kemudian memasukan penisku ke dalam lubang kemaluannya yang sudah penuh cairan cinta itu. Memang sih awalnya agak susah, dan rupanya meski sudah punya suami, Tante Ratna ini kemaluannya tetap sempit dan membuat adikku seolah dipijat dan diremas-remas oleh dinding kemaluannya yang kuat sekali. Sementara itu selang waktu 15 menit, Michelle menghampiriku lagi dan menempatkan vaginanya di atas wajahku untuk dijilat. Dengan posisi berhadapan dengan Tante Ratna, Michelle membantu menjilat puting susu Tante Ratna yang berwarna pink itu. Sementara itu Shanti juga tidak tinggal diam, diarahkannya jariku ke dalam lubang kemaluannya kemudian aku pun mulai tahu maksudnya. Kuobrak-abrik kemaluannya dengan kedua jariku, hingga Shanti menjerit-jerit keenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya 10 menit kemudian Tante Ratna berteriak, &quot;Val.. oh.. enak Val.. Tante mau keluar nih..&quot;&lt;br /&gt;&quot;Tunggu Tante aku juga mau keluar, aku keluarin di dalem aja yah? Abis masih ada Mich!Michelle sama Shanti sih, gak bisa bergerak nih..&quot; erangku.&lt;br /&gt;&quot;Ya udah, keluarin di dalem aja.. ohh.. Tante keluar..&quot; desah Tante Ratna.&lt;br /&gt;Akhirnya kami pun keluar bersama-sama. Dan kemudian kami terus mencoba gaya lainnya lagi sampai kurang lebih sudah setengah dua pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya jam tujuh pagi aku terbangun dan ternyata mereka sudah membuatkan sarapan untukku. Wah tanpa pakaian mereka menyuapiku untuk sarapan dan minum susu. Tapi aku lebih tertarik pada susu mereka. Dengan nafsu mereka menyuapiku dalam keadaan telanjang. Serasa dunia ini seperti di sorga. Michelle mulai menatapku penuh nafsu. &quot;Val, aku pengen lagi nih, habis kemarin belum puas sih.. boleh gak?&quot; tanya Michelle. &quot;Oh.. why not, my soul is your mine.. just do it..&quot; balasku mesra. Akhirnya Michelle mulai menjilati putingku sembari menciumku dan membelaiku. Aku sungguh merasakan kenikmatan dan kelembutan tangannya. Dan di adik kecilku sudah ada Tante Ratna dan Shanti yang tangannya bergerilya dengan penuh nafsu dan membuatku merem melek. Oh.. betapa indahnya dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Tante Ratna memijat adik kecilku dengan kedua bukit susunya yang sungguh menakjubkan. Aduh enak sekali dipijat dengan tetek ini rasanya. Aku tidak sanggup lagi untuk menahan semua gairahku. Sementara itu Michelle juga tidak mau tinggal diam lagi. Segera diarahkannya vaginanya ke wajahku dan aku pun menjilat vaginanya yang sudah memerah itu. Dan mulailah suara desahan terdengar dan berpadu membentuk suatu paduan suara yang menggairahkan, birahiku semakin tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selang 15 menit aku mulai mencoba merubah posisiku dan Michelle kubaringkan sementara Tante Ratna dan Shanti asyik bermain berduaan. Kutumpahkan susu sarapanku ke mulut vagina Michelle dan kujilat-jilat vaginanya yang kini sudah menjadi rasa susu itu. Dan Michelle pun mengerang keenakan, &quot;Val, masukin dong.. aku udah basah nih.&quot; Dan tanpa ragu-ragu lagi kuhujamkan dengan keras penisku yang 16 cm ini sedalam-dalamnya ke lubang keperawanan Michelle yang merah merekah itu. Aku terus-menerus memompa tanpa henti meski tubuhku dan tubuh Michelle sudah berkeringat semua. Suara desahan demi desahan terus saja keluar dan semakin menggelora semangat dan nafsuku di pagi itu. &quot;Uh.. uh.. uh..&quot; suara-suara itu terus mendesah dan keringat kami terus menetes membuat tubuh kami seperti berkilat keemasan ditimpa seberkas sinar matahari. Tante Ratna pun yang meski sudah cukup berumur tapi tetap saja bugar dan segar. Mungkin semakin tua semakin berpengalaman kali yah? Sedangkan Michelle yang masih muda terus saja menampakkan semangat mudanya dengan jeritan-jeritan orgasme yang sungguh semakin membuatku merasa beruntung, sepertinya sekali mendayung 3 gunung kembar terlampaui. Aku benar-benar dibuat kecapekan. Sungguh liburan yang semula membuat bete menjadi liburan yang penuh kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para cewek, atau tante yang mau melampiaskan nafsunya hubungi saja aku via e-mail. Aku sangat senang bisa membantu kalian agar terpuaskan, mau mengalami seperti cerita tadi lewat permainan group juga kuterima. Mau 2 cowok dan 4 cewek juga tidak masalah. Aku sangat terobsesi sekali akan seks sejak pengalamanku. So, sekarang siapa yang selanjutnya mau mendapatkan pengalaman seks yang indah dan tak terlupakan bersamaku, jangan ragu-ragu hubungi e-mailku. Aku senang bisa memuaskan teman-teman cewek sekalian. Bagi yang belum berpengalaman, setelah kita bersama pasti akan menjadi suatu pengalaman yang mengesankan selama hidup. So tunggu apa lagi, kalau ada yang tertarik silakan hubungi aku via e-mail dan segera dapatkan pengalaman menarik bersamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/6796881754925480660/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/6796881754925480660?isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/6796881754925480660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/6796881754925480660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/02/berawal-dari-chatting.html' title='Berawal dari Chatting'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCqzwAIXZBzLEQBkzSsRBvOu0yvrjb_lUh3ZbTt1uulrWLISH4DBaL2Kv6t29FcF5CRKMWwadLB24IeRZoauowBhmRyXX2R0cc0HRtNjR0K9tymG0SAQSXluBE069vAYCQoRdwhyoJtwV5/s72-c/yahoo_messenger.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-5650345839000224031</id><published>2009-01-31T17:02:00.004+07:00</published><updated>2009-01-31T17:11:13.902+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Andani Citra"/><title type='text'>Para Peronda Malam</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgFlbBCvIoxyO-2s9ooRIbq7jZysGUiU7_Ep-ip2fUjjq4JOSeAp9l0A3qiCHZ90qSLsU25qrQbVT5KqAfOdJECveLO-90xXOQ6FjJnuVpV5aY1GraXcY7RkAsc9rIYWI4mGgc_BEfnNsa/s1600-h/GPB.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 138px; height: 200px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgFlbBCvIoxyO-2s9ooRIbq7jZysGUiU7_Ep-ip2fUjjq4JOSeAp9l0A3qiCHZ90qSLsU25qrQbVT5KqAfOdJECveLO-90xXOQ6FjJnuVpV5aY1GraXcY7RkAsc9rIYWI4mGgc_BEfnNsa/s200/GPB.jpeg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5297397227640910418&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Hai, aku kembali menceritakan pengalaman seksku. Sebelumnya saya pernah menceritakan pengalamanku dalam kisah &#39;&lt;a href=&quot;http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/tukang-air-listrik-dan-bangunan_03.html&quot;&gt;Tukang Air, Listrik, dan Bangunan&lt;/a&gt;&#39; dan &#39;&lt;a href=&quot;http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/gairah-pengemis-buta.html&quot;&gt;Gairah Pengemis Buta&lt;/a&gt;&#39;. Aku adalah seorang mahasiswi yang memiliki nafsu seks yang cukup tinggi. Sejak keperawananku hilang di SMA aku selalu ingin melakukannya lagi dan lagi. Kalau dipikir-pikir, entah sudah berapa orang yang menikmati tubuhku ini, sudah berapa penis yang pernah masuk ke vaginaku ini, aku juga menikmati sekali nge-seks dengan orang yang belum pernah aku kenal dan namanya pun belum aku tahu seperti para tukang yang pernah aku ceritakan pada kisah terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah ceritanya begini, aku baru saja pulang dari rumah temanku seusai mengerjakan tugas kelompok salah satu mata kuliah. Tugas yang benar-benar melelahkan itu akhirnya selesai juga hari itu. Ketika aku meninggalkan rumah temanku langit sudah gelap, arlojiku menunjukkan pukul 8 lebih. Yang kutakutkan adalah bensinku tinggal sedikit sekali, padahal rumahku cukup jauh dari daerah ini lagipula aku agak asing dengan daerah ini karena aku jarang berkunjung ke temanku yang satu ini. Di perjalanan aku melihat sebuah pom bensin, tapi harapanku langsung sirna karena begitu mau membelokkan mobilku ternyata pom bensin itu sudah tutup, aku jadi kesal sampai menggebrak setirku, terpaksa kuteruskan perjalanan sambil berharap menemukan pom bensin yang masih buka atau segera sampai ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Ketika sedang berada di sebuah kompleks perumahan yang cukup sepi dan gelap, tiba-tiba mobilku mulai kehilangan tenaga, aku agak panik hingga kutepikan mobilku dan kucoba menstarternya, namun walupun kucoba berulang-ulang tetap saja tidak berhasil, menyesal sekali aku gara-gara tadi siang terlambat kuliah jadi aku tidak sempat mengisi bensin terjebak tidak tahu harus bagaimana, kedua orang tuaku sedang di luar kota, di rumah cuma ada pembantu yang tidak bisa diharapkan bantuannya. Tidak jauh dari mobilku nampak sebuah pos ronda yang lampunya menyala remang-remang. Aku segera turun dan menuju ke sana untuk meminta bantuan, setibanya di sana aku melihat 5 orang di sana sedang ngobrol-ngobrol, juga ada 2 motor diparkir di sana, mereka adalah yang mendapat giliran ronda malam itu dan juga 2 tukang ojek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ada apa Non, malam-malam begini? Nyasar ya?&quot;, tanya salah seorang yang berpakaian hansip.&lt;br /&gt;&quot;Eeh.. itu Pak, Bapak tau nggak pom bensin yang paling dekat dari sini tapi masih buka, soalnya mobil saya kehabisan bensin&quot;, kujawab sambil menunjuk ke arah mobilku.&lt;br /&gt;&quot;Wah, kalo pom bensin jam segini sudah tutup semua Non, ada yang buka terus tapi agak jauh dari sini&quot;, timpal seorang Bapak berkumis tebal yang ternyata tukang ojek di daerah itu.&lt;br /&gt;&quot;Aduuhh.. gimana ya! Atau gini aja deh Pak, Bapak kan punya motor, mau nggak Bapak beliin bensin buat saya, ntar saya bayar kok&quot;, tawarku.&lt;br /&gt;Untung mereka berbaik hati menyetujuinya, si Bapak yang berkumis tebal itu mengambil jaketnya dan segera berangkat dengan motornya. Tinggallah aku bersama 4 orang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Mari Non duduk dulu di sini sambil nunggu&quot;.&lt;br /&gt;Seorang pemuda berumur kira-kira 18 tahunan menggeser duduknya untuk memberiku tempat di kursi panjang itu. Seorang Bapak setengah baya yang memakai sarung menawariku segelas air hangat, mereka tampak ramah sekali sampai-sampai aku harus terus tersenyum dan berterima kasih karena merasa merepotkan. Kami akhirnya ngobrol-ngobrol dengan akrab, aku juga merasakan kalau mereka sedang memandangi tubuhku, hari itu aku memakai celana jeans ketat dan setelan luar berlengan panjang dari bahan jeans, di dalamnya aku memakai tanktop merah yang potongan dadanya rendah sehingga belahan dadaku agak terlihat. Jadi tidak heran si pemuda di sampingku selalu berusaha mencuri pandang ingin melihat daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleks itu sudah sepi sekali saat itu, sehingga mulai timbul niat isengku dan membayangkan bagaimana seandainya kuberikan tubuhku untuk dinikmati mereka sekalian juga sebagai balas budi. Sehubungan dengan cuaca di Jakarta yang cukup panas akhir-akhir ini, aku iseng-iseng berkata, &quot;Wah.. panas banget yah belakangan ini Pak, sampai malam gini aja masih panas&quot;. Aku mengatakan hal tersebut sambil mengibas-ngibaskan leher bajuku kemudian dengan santainya kulepaskan setelan luarku, sehingga nampaklah lenganku yang putih mulus. Mereka menatapku dengan tidak berkedip, agaknya umpanku sudah mengena, aku yakin mereka pasti terangsang dan tidak sabar ingin menikmati tubuhku. Si pemuda di sampingku sepertinya sudah tak tahan lagi, dia mulai memberanikan diri membelai lenganku, aku diam saja diperlakukan begitu. Salah satu dari mereka, seorang tukang ojek berusia 30 tahunan mengambil tempat di sebelahku, tangannya diletakkan diatas pahaku, melihat tidak ada penolakan dariku, perlahan-lahan tangan itu merambat ke atas hingga sampai ke payudaraku. Aku mengeluarkan desahan lembut menggoda ketika si tukang ojek itu meremas payudaraku, tanganku meraba kemaluan pemuda di sampingku yang sudah terasa mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat hal ini kedua Bapak yang dari tadi hanya tertegun serentak maju ikut menggerayangi tubuhku. Mereka berebutan menyusupkan tangannya ke leher tanktop-ku yang rendah untuk mengerjai dadaku, sebentar saja aku sudah merasakan kedua buah dadaku sudah digerayangi tangan-tangan hitam kasar. Aku mengerang-ngerang keenakan menikmati keempat orang itu menikmatiku.&lt;br /&gt;&quot;Eh.. kita bawa ke dalam pos aja biar aman!&quot;, usul si hansip.&lt;br /&gt;Mereka pun setuju dan aku dibawa masuk ke pos yang berukuran 3x3 m itu, penerangannya hanya sebuah bohlam 40 watt. Mereka dengan tidak sabaran langsung melepas tank top dan bra-ku yang sudah tersingkap. Aku sendiri membuka kancing celana jeansku dan menariknya ke bawah. Keempat orang ini terpesona melihat tubuhku yang tinggal terbalut celana dalam pink yang minim, payudaraku yang montok dengan puting kemerahan itu membusung tegak. Ini merupakan hal yang menyenangkan dengan membuat pria tergiur dengan kemolekan tubuhku, untuk lebih merangsang mereka, kubuka ikat rambutku sehingga rambutku terurai sampai menyentuh bahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si hansip menyuruh seseorang untuk berjaga dulu di luar khawatir kalau ada yang memergoki, akhirnya yang paling muda diantara mereka yaitu si pemuda itu yang mereka panggil Mat itulah yang diberi giliran jaga, Mat dengan bersungut-sungut meninggalkan ruangan itu. Si hansip mendekapku dari belakang dan tangannya merogoh-rogoh celana dalamku, terasa benar jari-jarinya merayap masuk dan menyentuh dinding kewanitaanku, sementara di tukang ojek membungkuk untuk bisa mengenyot payudaraku, putingku yang sudah menegang itu disedot dan digigit kecil. Kemudian aku dibaringkan pada tikar yang mereka gelar disitu. Mereka bertiga sudah membuka celananya sehingga terlihatlah tiga batang yang sudah mengeras, aku sampai terpana melihat batang mereka yang besar-besar itu, terutama punya si hansip, penisnya paling besar diantara ketiganya, hitam dan dipenuhi urat-urat menonjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celana dalamku mereka lucuti jadi sekarang aku sudah telanjang bulat. Aku langsung meraih penisnya, kukocok lalu kumasukkan ke mulutku untuk dijilat dan dikulum, selain itu tangan lembutku meremas-remas buah zakarnya, sungguh besar penisnya ini sampai tidak muat seluruhnya di mulutku yang mungil, paling cuma masuk tiga perempatnya. Si tukang ojek mengangkat sedikit pinggulku dan menyelipkan kepalanya di antara kedua belah paha mulusku, dengan kedua jarinya dia sibakkan kemaluanku sehingga terlihatlah vagina pink-ku di antara bulu-bulu hitam. Lidahnya mulai menyentuh bagian dalam vaginaku, dia juga melakukan jilatan-jilatan dan menyedotnya, tubuhku menggelinjang merasakan birahi yang memuncak, kedua pahaku mengapit kencang kepalanya karena merasa geli dan nikmat di bawah sana. Bapak bersarung menikmati payudaraku sambil penisnya kukocok dengan tanganku dan payudaraku yang satunya diremasi si hansip yang sedang ku-karaoke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering melihat sebentar-sebentar Mat nongol di jendela mengintipku diperkosa teman-temannya, nampaknya dia sudah gelisah karena tidak sabaran lagi untuk bisa menikmati tubuhku. Tak lama kemudian aku mencapai orgasme pertamaku melalui permainan mulut si tukang ojek pada kemaluanku, tubuhku mengejang sesaat, dari mulutku terdengar erangan tertahan karena mulutku penuh oleh penis si hansip. Cairanku yang mengalir dengan deras itu dilahap olehnya dengan rakus sampai terdengar bunyi, &quot;Slurrpp.., sluupp..&quot;. Puas menjilati vaginaku, si tukang ojek meneruskannya dengan memasukkan penisnya ke vaginaku, eranganku mengiringi masuknya penis itu, cairan cintaku menyebabkan penis itu lebih leluasa menancap ke dalam. Aku merasakan nikmatnya setiap gesekannya dengan melipat kakiku menjepit pantatnya agar tusukannya semakin dalam. Bapak bersarung menggeram-geram keenakan saat penisnya kujilati dan kuemut, sedangkan si hansip sekarang sedang meremas-remas payudaraku sambil menjilati leher jenjangku. Aku dibuatnya kegelian nikmat oleh jilatan-jilatannya, selain leher dia jilati juga telingaku lalu turun lagi ke payudaraku yang langsung dia caplok dengan mulutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat lamanya si tukang ojek menggenjotku, tiba-tiba genjotannya makin cepat dan pinggulku dipegang makin erat, akhirnya tumpahlah maninya di dalam kemaluanku diiringi dengan erangannya, lalu dia lepaskan penisnya dari vaginaku. Posisinya segera digantikan oleh si hansip yang mengatur tubuhku dengan posisi bertumpu pada kedua tangan dan lututku. Kembali vaginaku dimasuki penis, penis yang besar sampai aku meringis dan mengerang menahan sakit ketika penis itu.&lt;br /&gt;&quot;Wuah.. memek Non ini sempit banget, untung banget gua hari ini bisa ngentot sama anak kuliahan.. emmhh.. ohh..&quot;, komentar si hansip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sodokan-sodokannya benar-benar mantap sehingga aku merintih keras setiap penis itu menghujam ke dalam, kegaduhanku diredam oleh Bapak bersarung yang duduk mekangkang di depanku dan menjejali mulutku dengan penisnya, penis itu ditekan-tekankan ke dalam mulutku hingga wajahku hampir terbenam pada bulu-bulu kemaluannya. Aku sangat menikmati menyepong penisnya, kedua buah zakarnya kupijati dengan tanganku, sementara di belakang si hansip mengakangkan pahaku lebih lebar lagi sambil terus menyodokku, si tukang ojek beristirahat sambil memain-mainkan payudaraku yang menggantung. Si Bapak bersarung akhirnya ejakulasi lebih dulu di mulutku, dia melenguh panjang dan meremas-remas rambutku saat aku mengeluarkan teknik mengisapku, kuminum semua air maninya, tapi saking banyaknya ada sedikit yang menetes di bibirku.&lt;br /&gt;&quot;Wah, si Non ini.. cantik-cantik demen nenggak peju!&quot;, komentar si tukang ojek melihatku dengan rakus membersihkan penis si Bapak bersarung dengan jilatanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba pintu terbuka, aku sedikit terkejut, di depan pintu muncul si Mat dan si tukang ojek berkumis tebal yang sudah kembali dari membeli bensin.&lt;br /&gt;&quot;Wah.. ngapain nih, ngentot kok gak ngajak-ngajak&quot;, katanya.&lt;br /&gt;&quot;Iya nih, cepetan dong, masa gua dari tadi cuma disuruh jaga, udah kebelet nih!&quot;, sambung si Mat.&lt;br /&gt;&quot;Ya udah, lu dua-an ngentot dulu sana, gua yang jaga sekarang&quot;, kata si tukang ojek yang satu sambil merapikan lagi celananya.&lt;br /&gt;Segera setelah si tukang ojek keluar dan menutup pintu, mereka berdua langsung melucuti pakaiannya, si Mat juga membuka kaosnya sampai telanjang bulat, tubuhnya agak kurus tapi penisnya lumayan juga, pas si tukang ojek berkumis melepas celananya barulah aku menatapnya takjub karena penisnya ternyata lebih besar daripada punya si hansip, diameternya lebih tebal pula.&lt;br /&gt;&quot;Gile, bisa mati kepuasan gua, keluar satu datang dua, mana kontolnya gede lagi!&quot;, kataku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si hansip yang masih belum keluar masih menggenjotku dari belakang, kali ini dia memegangi kedua lenganku sehingga posisiku setengah berlutut. Si Mat langsung melumat bibirku sambil meremas-remas dadaku, dan payudaraku yang lain dilumat si tukang ojek itu. Nampak Mat begitu buasnya mencium dan memain-mainkan lidahnya dalam mulutku, pelampiasan dari hajat yang dari tadi ditahan-tahan, aku pun membalas perlakuannya dengan mengadukan lidahku dengannya. Kumis si tukang ojek yang lebat itu terasa sekali menyapu-nyapu payudaraku memberikan sensasi geli dan nikmat yang luar biasa. Si Bapak bersarung sekarang mengistirahatkan penisnya sambil mencupangi leher jenjangku membuat darahku makin bergolak saja memberi perasaan nikmat ke seluruh tubuhku. Ketika aku merasa sudah mau keluar lagi, sodokan si hansip pun terasa makin keras dan pegangannya pada lenganku juga makin erat. &quot;Aaahh..!&quot;, aku mendesah panjang saat tidak kuasa menahan orgasmeku yang hampir bersamaan dengan si hansip, vaginaku terasa hangat oleh semburan maninya, selangkanganku yang sudah becek semakin banjir saja sampai cairan itu meleleh di salah satu pahaku. Tubuhku sudah basah berkeringat, ditambah lagi cuaca yang cukup gerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mencapai klimaks panjang mereka melepaskanku, lalu si Bapak bersarung berbaring di tikar dan menyuruhku menaiki penisnya. Baru saja aku menduduki dan menancapkan penis itu, si tukang ojek menindihku dari belakang dan kurasakan ada sesuatu yang menyeruak ke dalam anusku. Edan memang si tukang ojek ini, sudah batangnya paling besar minta main sodomi lagi. Untung daerah selanganku sudah penuh lendir sehingga melicinkan jalan bagi benda hitam besar itu untuk menerobosnya, tapi tetap saja sakitnya terasa sekali sampai aku menjerit-jerit kesakitan, kalau saja ada orang lewat dan mendengarku pasti disangkanya sedang terjadi pemerkosaan. Dua penis besar mengaduk-aduk kedua liang senggamaku, si Bapak bersarung asyik menikmati payudaraku yang menggantung tepat di depan wajahnya. Si Mat berlutut di depan wajahku, tanpa disuruh lagi kuraih penisnya dan kukocok dalam mulutku, tidak terlalu besar memang, tapi cukup keras. Kulihat wajahnya merah padam sambil mendesah-desah, sepertinya dia grogi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Enak gak Mat? Kamu udah pernah ngentot belum?&quot;, tanyaku di tengah desahan.&lt;br /&gt;&quot;Aduh.. enak banget Non, baru pernah saya ngerasain ngentot&quot;, katanya dengan bergetar.&lt;br /&gt;Aku terus mengemut penis si Mat sambil tanganku yang satu lagi mengocok penis supernya si hansip. Si Mat memaju-mundurkan pantatnya di mulutku sampai akhirnya menyemprotkan maninya dengan deras yang langsung kuhisap dan kutelan dengan rakus. Tidak sampai dua menit si tukang ojek menyusul orgasme, dia melepas penisnya dari duburku lalu menyemprotkan spermanya ke punggungku. Si Bapak bersarung juga sepertinya sudah mau orgasme, tampak dari erangannya dan cengkeramannya yang makin erat pada payudaraku. Maka kugoyang pinggulku lebih cepat sampai kurasakan cairan hangat memenuhi vaginaku. Karena aku masih belum klimaks, aku tetap menaik-turunkan tubuhku sampai 3 menit kemudian aku pun mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu si Bapak bersarung itu keluar dan si tukang ojek yang tadi berjaga itu kembali masuk.&lt;br /&gt;&quot;Aduh, belum puas juga nih orang.. bisa pingsan gua lama-lama nih!&quot;, pikirku&lt;br /&gt;Tubuhku kembali ditelentangkan di atas tikar. Kali ini giliran si Mat, dasar perjaka.. dia masih terlihat agak canggung saat ke mau mulai sehingga harus kubimbing penisnya untuk menusuk vaginaku dan kurangsang dengan kata-kata&lt;br /&gt;&quot;Ayo Mat, kapan lagi lu bisa ngerasain ngentot sama cewek kampus, puasin Mbak dong kalo lu laki-laki!&quot;.&lt;br /&gt;Setelah masuk setengah kusuruh dia gerakkan pinggulnya maju-mundur. Tidak sampai lima menit dia nampak sudah terbiasa dan menikmatinya. Si hansip sekarang naik ke dadaku dan menjepitkan penisnya di antara kedua payudaraku, lalu dia kocok penisnya disitu. Aku melihat jelas sekali kepala penis itu maju mundur di bawah wajahku. Si tukang ojek berkumis menarik wajahku ke samping dan menyodorkan penisnya. Kugenggam dan kujilati kepalanya sehingga pemiliknya mendesah nikmat, mulutku tidak muat menampung penisnya yang paling besar di antara mereka berlima. Aku sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi, tubuhku dikuasai sepenuhnya oleh mereka, aku hanya bisa menggerakkan tangan kiriku, itupun untuk mengocok penis si tukang ojek yang satu lagi. Tubuhku basah kuyup oleh keringat dan juga sperma yang disemburkan oleh mereka yang menggauliku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mereka semua kebagian jatah, aku membersihkan tubuhku dengan handuk basah yang diberikan si hansip lalu memakai kembali pakaianku. Mereka berpamitan padaku dengan meneput pantatku atau meremas dadaku. Si tukang ojek berkumis mengantarku ke mobil sambil membawa sejerigen bensin yang tadi dibelinya. Setelah membantuku menuangkan bensin ternyata dia masih belum puas, dengan paksa dilepaskannya celanaku dan menyodokkan penisnya ke vaginaku. Kami melakukannya dalam posisi berdiri sambil berpegangan pada mobilku selama 10 menit. Untung saja tidak ada orang atau mobil yang lewat disini. Setibanya di rumah aku langsung mengguyur tubuhku yang bau sperma itu di bawah shower lalu tidur dengan perasaan puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh pengalaman yang memuaskan, dan aku suka dengan seks liar seperti ini. Pada kesempatan lain akan kuceritakan pengalamanku ngeseks dengan pelatih mengemudiku, 2 orang pengamen, dosenku, satpam kampusku, tukang becak yang mangkal di kompleksku, Pak RT, karyawan di kampusku, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/5650345839000224031/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/5650345839000224031?isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/5650345839000224031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/5650345839000224031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/para-peronda-malam.html' title='Para Peronda Malam'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgFlbBCvIoxyO-2s9ooRIbq7jZysGUiU7_Ep-ip2fUjjq4JOSeAp9l0A3qiCHZ90qSLsU25qrQbVT5KqAfOdJECveLO-90xXOQ6FjJnuVpV5aY1GraXcY7RkAsc9rIYWI4mGgc_BEfnNsa/s72-c/GPB.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-8933355666288344178</id><published>2009-01-31T16:54:00.002+07:00</published><updated>2009-01-31T17:01:14.440+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sesama Wanita"/><title type='text'>Jenny Wanita Mafia</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjW3ynH3SUCxmJkDnj8Uk8_yVrkv4G0F3YEe2YW-g1r_rd5oBVQ6ZKry-74KbNGzDuDUYe1iBGzH1cmhrqvrFNMdUHd-KeGWPiK8nGRObmODPxaWfLBQiVsI0U7dP7V2XhtLJCVX28Qzxrm/s1600-h/ivon.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 154px; height: 200px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjW3ynH3SUCxmJkDnj8Uk8_yVrkv4G0F3YEe2YW-g1r_rd5oBVQ6ZKry-74KbNGzDuDUYe1iBGzH1cmhrqvrFNMdUHd-KeGWPiK8nGRObmODPxaWfLBQiVsI0U7dP7V2XhtLJCVX28Qzxrm/s200/ivon.jpeg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5297395687090881106&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Nama saya, sebut saja Ivon, saya tinggal dan bekerja di London, Inggris, di bagian administrasi sebuah perusahaan trading. Waktu itu, saya berusia 28 tahun, tinggi/berat 164 cm/41 kg, dan bentuk badan saya biasa saja, cenderung agak langsing dan tidak bertonjolan di dada dan pinggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat, malam itu saya sedang berada di kantor untuk menyelesaikan sisa-sisa kerjaan. Sebentar lagi akan libur musim panas selama lebih kurang 2 minggu, jadi saya tidak ingin liburan saya terganggu oleh pikiran tentang kerjaan yang belum kelar. Beberapa yang berpamitan dan mengucapkan happy holidays hanya saya jawab dengan senyum manis dan jawaban pendek &quot;You too!&quot; di sela-sela kesibukan saya menghadap ke layar monitor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua berlangsung begitu saja, sampai akhirnya di kantor kecil itu hanya ada saya, beberapa penjaga malam, dan si pemilik kantor, sebut saja namanya Pak Smith. Agak lama kemudian, saya mendengar ribut-ribut di lantai bawah, suara orang membentak, suara kegaduhan dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa agak takut dan mengintip dari jendela ke arah jalanan di bawah sana. Terlihat sebuah mobil mewah berwarna hitam sedang terparkir di depan kantor. Celaka! Pikir saya. Itu pasti segerombolan preman kasar pegawai perusahaan Italia yang menagih uang keamanan. Benar-benar menjengkelkan sekali, karena penyebab ketidakamanan itu adalah mereka sendiri. Tapi jika kantor-kantor kecil seperti kantor saya ini telat membayar tagihan, mereka akan melakukan hal-hal yang diluar perikemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memberanikan diri menuruni tangga untuk mengintip apa yang terjadi di ruang bawah. Saya lihat boss saya, Pak Smith sedang menghitung sejumlah uang dengan tangan gemetar. Di hadapannya, tampak dua orang pria bertubuh tinggi besar. Yang satu berkulit hitam legam dan berkepala gundul, sementara yang satunya lagi berwajah ganteng khas Italia, namun tampangnya juga tampak seram saat itu, dengan memasukkan tangan ke kantong, yang mungkin saja ada pistolnya. Namun ada seseorang lagi bersama dua orang centeng itu. Seorang wanita berkebangsaan Asia yang kurus tinggi berpakaian mahal. Sebenarnya ia cantik di balik kaca mata biru yang dipakainya, namun gayanya berdiri di depan Pak Smith sambil berkacak pinggang itu benar-benar menyebalkan dan menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ivon! Tolong ambilkan dua puluh pound dari ruanganmu!&quot; tiba-tiba Pak Smith memekik karena uang yang harus dibayarnya agak kurang.&lt;br /&gt;Dengan tergopoh-gopoh saya berlari ke kantor saya, mengambil dua puluh pound dari laci, lalu berlari kembali menuruni tangga.&lt;br /&gt;&quot;Berikan langsung pada mereka!&quot; ujar Pak Smith yang masih berdiri dengan gemetaran.&lt;br /&gt;Saya menyodorkan dua lembar sepuluh pound itu ke arah mereka, dan si wanita Asia langsung menyambarnya dari tangan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, tapi wanita itu tidak segera mengalihkan pandangannya, ia menatap saya dari balik kaca mata birunya. Mungkin karena kurang puas, ia melepaskan kacamatanya, dan terus menatap saya. Sepasang mata paling mengerikan dan paling tajam yang pernah saya lihat sepanjang hidup saya. Saya hanya diam terpaku sambil melangkah mundur perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Jangan mundur!&quot; bentak wanita itu dengan dialek British yang kental.&lt;br /&gt;Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah saya, membuat saya menundukkan pandangan karena gemetar.&lt;br /&gt;&quot;Lihat ke arah saya!&quot; bentaknya lagi, masih dengan bahasa Inggris beraksen British yang sangat kental.&lt;br /&gt;Saya melihat ke arah matanya, dan sepasang mata itu tidak lagi setajam tadi.&lt;br /&gt;Ia menunjuk name-tag di dada saya dan berkata, &quot;Ivon. Hmm, Indonesian name, isn&#39;t it?&quot; tanyanya lagi, dengan nada datar.&lt;br /&gt;&quot;Y-Yes, It is.&quot; jawab saya agak terbata-bata, khawatir kalau-kalau ia menyakiti saya.&lt;br /&gt;Pak Smith juga tak kuasa melakukan apa-apa untuk menolong saya, karena dua orang preman tinggi besar itu memperhatikannya terus.&lt;br /&gt;&quot;Kalau gitu, diskon sepuluh pound deh!&quot; ujar wanita Asia itu, benar-benar dengan bahasa Indonesia yang fasih dan lancar.&lt;br /&gt;Ia menyodorkan pada saya lembaran sepuluh pound yang tadi saya berikan padanya, dengan agak gemetar saya menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu tersenyum dingin, dan berkata lirih, &quot;Maaf Ivon, aku cuma mengerjakan tugas, demi keselamatanku sendiri.&quot;&lt;br /&gt;Lalu ia berpaling ke arah dua rekannya sambil memberi kode mengajak pergi. Pak Smith dan saya hanya diam terpaku melihat ketiga manusia sangar itu meninggalkan ruangan dan membanting pintu dengan keras. Sejenak sebelum menutup pintu, si wanita sempat melirik ke arah saya dan mengerdipkan mata kanannya, seolah memberikan satu isyarat yang saya tidak pernah mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah malam yang menegangkan itu usai, liburan tiba, dan semuanya berjalan biasa-biasa saja. Saya pergi ke Paris bersama keluarga saya selama seminggu, lalu kembali ke London untuk menghabiskan sisa liburan di sini. Rasanya, saya sudah lupa akan kejadian dengan para debt collector seminggu sebelumnya. Namun apa yang terjadi siang ini seperti membuat saya tidak mungkin melupakan kejadian malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya sedang menemani tante dan om saya dari Indonesia mengunjungi museum Madame Tussaud. Usai melihat-lihat patung lilin di museum itu, tante dan om saya naik kereta kembali ke hotel mereka, sementara saya masih berjalan-jalan di Bakerstreet (tempat museum tadi berada), karena banyak teman asal Indoneisa yang menginap di apartemen-apartemen sekitar situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu saya sedang berjalan cepat di trotoar, saya merasa ada yang berjalan di sebelah kiri saya dengan kecepatan yang sama. Saya tidak terlalu memperdulikan, dan mempercepat jalan saya, namun ia juga mempercepat jalannya hingga terus sejajar dengan saya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia mencolek bahu saya, &quot;Hi Ivon, lupa sama saya ya?&quot; sapanya dengan bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;Saya menengok ke arahnya dan kaget setengah mati. Wanita Asia yang kerja untuk Mafia itu! Saya sempat berniat kabur, namun ia memegangi lengan saya.&lt;br /&gt;&quot;Hey, jangan kabur dong!&quot; ujarnya ramah, meski mengenggam kuat lengan saya.&lt;br /&gt;Akhirnya saya pasrah saja diajaknya minum di sebuah kafe pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya waswas melihat ke kiri kanan, kalau-kalau dia ditemani dua orang centengnya tempo hari. Tapi ia tampak tenang saja sambil tertawa-tawa mengatakan bahwa dia sedang diluar jam kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, kami mengobrol panjang lebar di kafe itu. Lambat laun, rasa takut saya mulai hilang, berubah jadi rasa persahabatan. Maklum, di negeri orang, siapapun yang sebangsa dengan kita akan menjadi sahabat yang sangat baik, siapapun dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya, sebut saja Jenny. Ia menceritakan sejarah kedatangannya ke Inggris untuk menyelesaikan S2-nya, juga tentang keterlibatannya dengan para Mafia itu, yang disebabkan karena ia sedang kesulitan ekonomi. Ia berencana untuk mengumpulkan uang dulu sebelum meninggalkan Inggris. Ia bercita-cita untuk pulang ke Indonesia, dan bekerja memanfaatkan gelar MBA-nya selama beberapa tahun, lalu membuka usaha sendiri berbekal pengalaman dan manajemen Italia yang dipelajarinya di lingkungan Mafia ini. Saya bersimpati padanya, sekaligus mengagumi keberaniannya menceburkan diri ke lingkaran yang begitu &#39;hitam&#39; dan berbahaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kamu nggak punya boyfriend kan?&quot; tebak Jenny di sela obrolan.&lt;br /&gt;&quot;Kok kamu tahu?&quot; tanya saya balik.&lt;br /&gt;&quot;Old Fashioned dan pendiam, kalau nggak dijodohin mana mungkin dapat pacar?&quot; katanya sambil tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersipu malu, menyadari bahwa &#39;tongkrongan&#39; saya memang terkesan tertutup, saya juga pendiam dan tidak banyak bicara. Beda dengan Jenny yang tampaknya ceplas-ceplos dan tidak kenal takut atau malu. Dia dapat berkelakar dalam bahasa Indonesia maupun Inggris dengan sangat lancar, bahkan dengan para waiter di kafe itu, yang baru saja dikenalnya. Diam-diam, saya bersyukur dapat berkenalan dengan seorang &#39;putri mafia&#39; (nama ejekan saya untuknya) seperti dia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa hari mulai malam, dan Jenny mengajak saya meninggalkan kafe. Karena apartemen saya agak jauh, ia menyarankan saya untuk tinggal di apartemennya. Saya menurut saja karena sudah terlanjur percaya. Ia mengajak saya berjalan kaki melewati jalan-jalan yang saya belum pernah lewati, daerah-daerah lampu merah, daerah kumuh, dan daerah pusat hiburan malam. Benar-benar sisi lain dari London yang tidak pernah saya lihat, meski saya sudah menetap disini selama 3 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Nggak usah takut, Von.&quot; katanya sambil melangkah cepat, &quot;Kita aman di daerah sini.&quot;&lt;br /&gt;Saya berusaha untuk tetap tenang, meski di kiri kanan saya melihat pria-pria bertubuh besar sedang mabuk atau teler karena narkoba. Wanita-wanita jalang juga tampak berkeliaran di daerah yang saya tidak tahu namanya itu. Namun Jenny berjalan dengan cuek, sambil sesekali menyapa orang di sekitar situ dengan akrab. Saya sempat heran, orang macam apa sebenarnya teman saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami sampai di apartemennya. Sebuah apartemen yang dari luar tampak kumuh dan jelek. Namun begitu saya masuk ke kamarnya, semuanya terasa berbeda. Meski tidak besar, ruangannya tertata rapih dan dipenuhi perabotan kelas menengah, penghangat listrik, seperangkat laptop, juga ponsel (yang pada tahun itu belum begitu populer). Satu hal yang membuat saya bergidik adalah sepucuk pistol kecil berwarna perak tergeletak di samping ponselnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mempersilakan saya duduk di ranjang, lalu membuatkan saya segelas teh hangat. Darjeeling tea, teh yang tergolong mahal. Ketika saya bertanya tentang teh itu, Jenny menjawab bahwa teh itu diambilnya dari sebuah hotel kecil tempat ia menagih hutang. Tanpa rasa risih, Jenny menanggalkan celana panjang dan raincoat-nya. Sambil hanya mengenakan kaos oblong dan celana dalam, ia mondar mandir di situ. Mencuci muka, sikat gigi, dan menyisir rambut, seolah-olah sudah sangat akrab dengan saya. Diam-diam saya iri melihat tubuhnya yang ramping dan cukup jangkung untuk ukuran Indo, sangat menarik. Saya kira tidak akan ada pria ataupun wanita yang tidak mencuri pandang ke arahnya saat berada di tempat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ngeliatin apa, Von?&quot; tanyanya membuat saya tersipu.&lt;br /&gt;&quot;Ngeliatin badan kamu.&quot; jawab saya mencoba untuk tidak malu, &quot;Bagus banget.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Hihihi.&quot; ia tertawa kecil, &quot;Kamu juga sexy kok.&quot;&lt;br /&gt;Terus terang, saya kege-eran juga mendengar pujiannya. Apalagi setelah ia mengatakan itu, ia menatap saya dalam-dalam sambil menyunggingkan senyum aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu melangkah mendekati saya. Saya terpaku di bibir ranjang sambil memegangi cangkir teh yang sudah kosong, seolah tidak tahu harus berbuat apa. Dengan was-was saya melirik ke arah buffet tempat pistolnya berada, dan merasa agak tenang karena pistol itu masih ada di situ. Tiba-tiba dia sudah ada di hadapan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Mana gelasnya?&quot; bisiknya sambil meraih cangkir dari tangan saya dan meletakkannya di karpet.&lt;br /&gt;&quot;Kamu manis sekali, Von.&quot; bisiknya lagi, sambil melepaskan kacamata saya yang minus tujuh.&lt;br /&gt;Lalu ia naik ke ranjang dan memeluk saya dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula saya gemetar dan takut mengingat bahwa Jenny adalah seorang anggota mafia, ditambah juga perasaan rikuh karena dipeluk sesama wanita. Saya mencoba untuk berontak secara halus.&lt;br /&gt;Namun ia tetap memeluk pinggang saya dan berbisik di kuping kiri, &quot;Jangan takut, Von. Nikmati saja.&quot;&lt;br /&gt;Saya hanya bisa diam dan mencoba menikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu membuka satu persatu kancing baju saya yang terletak di bagian belakang, sampai punggung saya benar-benar terbuka di hadapannya. Dengan lembut juga ia melepaskan kaitan BH di punggung saya. Lalu terasa tangannya yang halus memijat dan mengelus punggung saya. Hangat dan lembut.&lt;br /&gt;&quot;Punggung kamu halus sekali, Von.&quot; bisiknya, &quot;Pasti kamu rawat dengan baik, ya? Hmm?&quot;&lt;br /&gt;Ia lalu membelai rambut saya yang lurus dan panjang sebahu, disibakkannya ke samping, lalu lagi-lagi ia memuji saya, &quot;Tengkuk kamu bagus, aku terangsang banget ngeliatnya, boleh aku cium?&quot;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu jawaban saya, ia langsung menciumi leher dan tengkuk saya. Saya memejamkan mata merasakan kehangatan itu. Kehangatan yang belum pernah saya rasakan selama hidup, karena saya belum pernah sekalipun berpacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciumannya menjalar kemana-mana, ke dagu saya, rahang, telinga, aahh rasanya geli sekali, namun membuat saya jadi lupa daratan, dan menyerahkan diri padanya. Tangannya mulai meraba-raba ke balik baju saya, mengelus-elus perut saya, sambil mulutnya terus membisikkan kata-kata indah memuji keindahan tubuh saya. Kata-katanya membuat perasaan saya jadi PD (percaya diri), karena selama ini saya minder dengan tubuh saya yang kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidahnya menjilat-jilat punggung saya, tengkuk saya, dan bahu saya. Kulit saya terasa merinding dan badan saya menggelinjang kecil. Hal itu membuat Jenny makin bersemangat. Ia melucuti baju dan BH saya hingga tubuh bagian atas saya benar-benar telanjang. Ia menyuruh saya berdiri dan menjauh dari ranjang. Saya menurut saja, meski merasa agak gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung ke &lt;a href=&quot;http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/jenny-wanita-mafia-2.html&quot;&gt;bagian 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/8933355666288344178/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/8933355666288344178?isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/8933355666288344178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/8933355666288344178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/jenny-wanita-mafia.html' title='Jenny Wanita Mafia'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjW3ynH3SUCxmJkDnj8Uk8_yVrkv4G0F3YEe2YW-g1r_rd5oBVQ6ZKry-74KbNGzDuDUYe1iBGzH1cmhrqvrFNMdUHd-KeGWPiK8nGRObmODPxaWfLBQiVsI0U7dP7V2XhtLJCVX28Qzxrm/s72-c/ivon.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-8263878031968548623</id><published>2009-01-31T16:51:00.001+07:00</published><updated>2009-01-31T17:02:02.858+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sesama Wanita"/><title type='text'>Jenny Wanita Mafia-2</title><content type='html'>Sambungan dari &lt;a href=&quot;http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/jenny-wanita-mafia.html&quot;&gt;bagian 1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah sinar lampu yang terang benderang, saya berdiri setengah telanjang di hadapan seorang wanita yang baru saja saya kenal tadi siang. Wanita mafia pula! Namun entah kenapa, saya menikmati permainannya, saya menikmati tatapannya yang lekat ke sekujur tubuh saya. Bola matanya tampak tajam menatap dua buah dada saya. Seharusnya saya merasa malu, namun saya malah menegakkan tubuh, membusungkan dada, hingga Jenny bebas menikmati keindahan dua susu saya yang berwarna lebih terang dibandingkan tubuh saya yang sawomatang, lengkap dengan dua putingnya yang coklat tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenny terbaring miring di ranjangnya dengan pose yang amat merangsang. Garis pinggulnya tampak begitu indah, pahanya yang mulus dan putih bersih begitu panjang dan menggoda. Kaosnya oblongnya agak tersingkap ke atas, membuat perutnya yang indah mengintip nakal. Celana dalam yang dipakainya pun hitam transparan menunjukkan rambut-rambut halus di selangkangannya. Matanya meredup dan bibir basahnya berbisik agar saya kembali naik ke ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kamu cantik sekali Von.&quot; bisiknya lagi saat saya menelentangkan diri di ranjang.&lt;br /&gt;&quot;Kamu juga, Jen.&quot; saya sudah mulai berani menjawab.&lt;br /&gt;Ia lalu mendekatkan wajahnya, lalu mulut-mulut kami berciuman dengan mesra. Saat itulah saya pertama kali berciuman, merasakan lidahnya masuk ke mulut saya, menjilat dan menghisap-hisap bibir bawah saya, mm, nyaman sekali.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Bibirnya lalu melepaskan bibir saya dan beranjak menuruni rahang dan leher saya. Lidahnya yang hangat berputar-putar di pangkal susu saya, membuat saya kegelian. Tangan saya membelai-belai rambutnya yang lurus dan pendek seleher. Entah kenapa, tapi saya merasakan hal yang berbeda. Saya merasa dikagumi, diperhatikan, dan dicintai. Sebuah perasaan yang tidak pernah saya dapatkan dari siapapun kecuali orang tua saya. Namun kali ini rasanya benar-benar lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Von, susu kamu indah sekali.&quot; bisiknya dengan suara setengah merintih.&lt;br /&gt;&quot;Ciumin dong Jen.&quot; pinta saya tidak sabar.&lt;br /&gt;&quot;Haa, kamu udah pengen ya?&quot; godanya.&lt;br /&gt;&quot;Kok tau sih?&quot; jawab saya kembali menggoda.&lt;br /&gt;&quot;Pentil kamu udah tegang gini.&quot; jawabnya cuek sambil menatap ke dua puting susu saya.&lt;br /&gt;Saya mengangkat kepala untuk melihat ke susu saya, dan benar, kedua puting ini tampak berdiri meruncing. Saya tersipu malu. Namun Jenny segera menangkap puting susu saya dengan mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Engghh..&quot; saya langsung mengerang sambil menggelinjang ketika puting susu saya dihisapnya.&lt;br /&gt;Saya mendongakkan kepala, merem melek dan mengerang-ngerang. Aduhh, puting susu saya rasanya begitu nikmat. Saya tidak tahu apa yang Jenny lakukan, namun kedua puting saya tidak henti merasakan belaian lembut dan hisapan-hisapan halus. Rasa nikmatnya mengalir ke seluruh badan sampai rasanya seperti lemas dan pasrah padanya. Ohh, benar-benar mabuk kepayang. Betapa tidak, rasanya nikmaat sekali. (Mengetikkan cerita ini saja membuat dua puting susu saya terangsang lagi mengingat rasanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa lama Jenny memainkan susu saya, tapi rasanya seperti bertahun-tahun terperangkap dalam rasa nikmat. Sampai-sampai vagina saya terasa gatal dan mengeluarkan cairannya. Padahal hanya susu saya saja yang dimainkannya. Aduhh, Jenny benar-benar mengerti bagaimana menaklukkan seorang wanita innocent seperti saya ini. Ia terus mengulum, menjilat, dan menghisap, dan entah ngapain lagi di kedua puting saya ini, yang jelas saya begitu menikmatinya. Sampai saya mencengkeram tengkuknya agar mulutnya tidak lari dari puting saya. Mata saya &#39;kiar-kier&#39; menahan nikmat, mulut saya terus mengerang-ngerang keenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Uhh, Ohh.. Ahh.. Jennyy.. Aduhh.. enaknyaa.. Ohh..&quot;&lt;br /&gt;Jenny seperti tidak perduli, ia terus saja membuat kedua puting ini merasakan rangsangan luar biasa. Badan saya menggelinjang-gelinjang hebat, punggung saya terangkat-angkat dari ranjang karena tidak kuat menahan enaknya permainan ini. Tiba-tiba Jenny berhenti. Saya terengah-engah lemas, dua susu saya terasa menyesak dan berat.&lt;br /&gt;&quot;Von.. Oi, buka mata kamu, Von..!&quot; ujar Jenny sambil masih memilin-milin puting saya.&lt;br /&gt;Saya membuka mata dan susah payah mengangkat kepala melihat ke arah dada saya. Astaga! Puting-puting saya yang selama ini coklat tua, kini jadi berwarna merah daging, dan begitu besar. Tidak pernah saya melihat puting saya sendiri berdiri begitu tingginya. Dua susu saya pun terasa agak membengkak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ohh, Jenny.. kamu apain susuku..?&quot; desah saya naif.&lt;br /&gt;&quot;Belum pernah ya?&quot; bisiknya menggoda, &quot;Tapi enak kan?&quot;&lt;br /&gt;Saya mengangguk lemah sambil berusaha tersenyum. Tangan saya meraih susunya dari balik kaos, tapi ia menepiskannya.&lt;br /&gt;&quot;Eits, mau balas dendam ya? Nggak boleh!&quot; godanya nakal.&lt;br /&gt;God, saya merasa jatuh cinta padanya, pada kenakalannya, pada kedewasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak bicara, Jenny lalu melucuti celana dan celana dalam saya. Sudah tidak ada lagi rasa takut, malu, atau risih di hadapannya, malah saya merasa tidak sabar menanti permainan berikutnya. Dilemparkannya celana panjang saya jauh-jauh. Lalu ia menciumi paha saya.&lt;br /&gt;&quot;Wow, paha kamu halus banget! Aku jadi iri!&quot; ujarnya sambil menciumi.&lt;br /&gt;Saya agak malu, karena paha dan kakinya jelas-jelas lebih panjang dan lebih indah.&lt;br /&gt;&quot;Kangkangin dong, aku pengen lihat lebih jauh!&quot; katanya lagi.&lt;br /&gt;Saya mengangkangkan paha saya lebar-lebar, membiarkannya melihat jelas-jelas kemaluan saya. Saya agak heran melihatnya menggeleng-gelengkan wajah cantiknya sambil menatap kemaluan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kenapa, Jen?&quot; tanya saya ragu.&lt;br /&gt;&quot;Aghh..&quot; saya terhenyak sedikit ketika ia mencolek kemaluan saya.&lt;br /&gt;&quot;Lihat nih!&quot; Jenny menunjukkan jarinya yang dibasahi oleh lendir kental bening, banyak sekali, &quot;Kamu udah terangsang banget ya, Von?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Gimana nggak terangsang?&quot; tanya saya balik, &quot;Abis kamu gituin sih.&quot;&lt;br /&gt;Jenny tersenyum sekilas, lalu membenamkan wajahnya di selangkangan saya. Dan saat itulah saya merasakan hal terindah dalam hidup saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ngghh.. Jennyy..&quot; saya memekik keras menyebutkan namanya saat Jenny mulai menggerakkan lidah dan bibirnya di kemaluan saya.&lt;br /&gt;Ohh, saya tidak tahu apa yang dilakukannya di bawah sana, tapi rasanya sungguh nikmat. Saya terhentak-hentak merasakannya, wajah saya meringis keenakan, menggeliat-geliat untuk menahan rasa nikmat yang luar biasa ini. Saya seperti bingung, berusaha meraih dan mencengkeram apapun yang dapat saya raih, sprei, bantal, tiang ranjang, apapun. Sementara mulut Jenny di bawah sana mengeluarkan bunyi berkecipak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemaluan saya terasa seperti digosok keras-keras oleh benda lunak dan lembab, enak sekali. Tiap gesekannya terasa nyetrum ke seluruh badan ini. Kepala saya terangkat-angkat dari ranjang, paha saya menghimpit kepala Jenny. Tiak lama kemudian, Jenny memasukkan jarinya ke lubang kemaluan saya. Uhh, pada saat yang sama, saya mencapai klimaks kenikmatan.&lt;br /&gt;&quot;Aduhh Jennyy.. Oughh..&quot; serasa ada yang menyembur keluar dari kemaluan saya, begitu deras dan nikmat.&lt;br /&gt;Saya sampai meremas sendiri dua susu saya untuk menambah kenikmatan, hingga semuanya sempurna. Lalu saya merasa lemas sekali. Terkulai dan terengah-engah kelelahan. Saya memejamkan mata, menikmati sisa-sisa orgasme pertama yang saya rasakan. Terasa Jenny meninggalkan ranjang, mengecup kening saya, lalu saya tertidur di tengah kenikmatan maha dahsyat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi berikutnya, saya baru terbangun dari tidur panjang saya yang begitu nikmat. Badan terasa segar dan nyaman, meski kedua kaki saya terasa agak pegal. Saya bangkit duduk, dan cepat-cepat menarik selimut untuk menutupi badan telanjang saya. Betapa tidak, di ruangan itu, Jenny tidak sendiri bersama saya. Wanita itu tampak sedang berbicara dengan seorang pria berwajah Italia. Bukan salah satu dari centengnya kemarin, tapi seorang pemuda ganteng berkaca mata, dengan dandanan yang rapih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Wah, pacarmu sudah bangun rupanya.&quot; ujar si pria Italia saat melihat saya terjaga.&lt;br /&gt;&quot;Ya, dan itu berarti waktumu untuk pergi.&quot; jawab Jenny dengan dialek British yang amat sempurna.&lt;br /&gt;&quot;Oke, aku pergi.&quot; jawab pria Italia itu sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&quot;Hey, suatu saat aku ingin bertukar tempat denganmu!&quot; seru pria itu sambil menatap ke arah saya dengan senyuman ramah.&lt;br /&gt;&quot;Kalau aku mau, nanti malam juga bisa!&quot; canda Jenny sambil menepuk bahu pria itu, mengantarkannya keluar kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku agak tertegun setengah marah mengetahui Jenny membiarkan orang lain masuk ruangan saat aku masih tertidur dalam kondisi telanjang bulat. Namun aku seperti tidak tega mengutarakan perasaan itu. Aku melihat Jenny membawa nampan berisi sarapan pagi ke dekat ranjang dan mempersilakanku makan. Aku menurut saja, karena memang permainan semalam membuatku kelaparan pagi ini. Jenny berdiri bersandar di dinding sambil melihatku makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu ia tampak segar dan cantik. Rambutnya yang pendek seleher diikat ke belakang hingga tengkuknya yang jenjang terlihat begitu indah. Ia mengenakan kaos T-Shirt hijau tua dan celana pendek putih, memamerkan kaki-kakinya yang bagus itu. Ia melihatku makan dengan tatapan bahagia. Sejujurnya, aku amat terharu dengan sikap manisnya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Von..&quot; ujarnya lirih.&lt;br /&gt;&quot;Kenapa, Jen?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Maaf ya, semalam aku kurang ajar sama kamu.&quot; sambungnya, &quot;Maaf juga soalnya aku biarin temanku tadi masuk.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Nggak apa-apa Jen.&quot; jawab saya berusaha maklum, &quot;Semalam itu.. indah sekali.&quot;&lt;br /&gt;Jenny tersenyum. Senyum yang ramah, hangat, dan bersahabat. Namun.., hanya itu. Senyuman seorang sahabat, bukannya senyuman mesra seorang kekasih. Melihat senyumnya, saya merasa agak patah hati juga, karena sudah merasa jatuh cinta kepadanya. Saya terdiam, dan tanpa sadar air mata mengalir di pipi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Aku tahu apa yang ada di hati kamu, Von.&quot; ujar Jenny membaca situasi.&lt;br /&gt;&quot;Tapi aku juga ngerti, kamu nggak mungkin bisa hidup bareng aku.&quot; lanjutnya lagi.&lt;br /&gt;Ia lalu melangkah menghampiri saya dan mengangkat nampan sarapan pagi dari pangkuan saya. Setelah meletakkan nampan itu di meja, ia kembali naik ke ranjang di sisi saya.&lt;br /&gt;&quot;Aku sayang sama kamu, kok!&quot; ujarnya sambil mengecup kening saya, &quot;Itu sebabnya aku nggak ingin kamu terlibat jauh di hidupku.&quot;&lt;br /&gt;Saya memeluknya erat-erat, tanpa tahu harus berkata apa pada seorang yang baru saja &#39;memerawani&#39; saya ini.&lt;br /&gt;&quot;Kamu ngerti maksudku kan?&quot; tanyanya lagi dengan penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula saya merasa sedih. Saya benar-benar ingin melewatkan hidup saya bersamanya terus. Tidak pernah ada orang yang membuat saya merasa begitu aman, tenang, nyaman, dan membuat saya merasa begitu dicintai dan dikagumi. Hanya dia, Jenny, yang memberikan semuanya pada saya. Namun saya melihat sekeliling, lemari pakaiannya kebetulan terbuka, memamerkan gaun-gaunnya yang mahal dan berwarna warni, sederet sepatu yang menjadi impian tiap wanita, laptop dan ponsel yang menunjukkan tingkat kemapanan hidupnya, lalu.. ah.. pistol keperakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana saya dapat hidup damai dan bermesraan dengan seorang yang berkeliaran di lorong-lorong gelap London dengan menenteng pistol kemana-mana? Yang bergaul dengan preman-preman dan penjahat? Yang dengan entengnya mengobrak-abrik kantor atau toko seseorang karena telat membayar tagihan? Semuanya berkecamuk dalam otak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hey. Ivon sekarang sudah dewasa! Pikir saya. Sekarang saya lebih percaya diri, dan sadar bahwa hidup ini indah dan tidak menakutkan. Mungkin saya bisa setegar Jenny, atau lebih dari dia? Mungkin juga saya dapat menemukan peluang lain yang membuat hidup saya lebih berarti daripada sekedar karyawan admin di sebuah perusahaan kecil? Rasa cinta dan kagum bercampur dengan haru dan terimakasih berkecamuk di dada saya. Namun saya juga sadar, jika saya harus melanjutkan kehidupan saya tanpa Jenny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Hey, cool dong!&quot; hiburnya, &quot;Kita bisa ketemu lagi kapan-kapan kalau kamu mau. Saat liburan kayak gini kan bisa juga?&quot;&lt;br /&gt;Saya mencoba tersenyum nakal. Ia membalas senyuman saya dengan nakal juga. Iseng-iseng saya meraih dan meremas susunya yang kanan, sambil menjentik-jentik putingnya dari balik bajunya. Jenny menatap saya. Pelan-pelan matanya meredup, lalu setengah memejam. Saya melepaskan susunya dari tangan saya.&lt;br /&gt;&quot;Kok berhenti?&quot; tanyanya sambil kembali membuka mata.&lt;br /&gt;&quot;Emang boleh?&quot; tanya saya.&lt;br /&gt;&quot;Kenapa enggak?&quot; tanya Jenny balik sambil melucuti pakaiannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenny segera telanjang bulat berdiri di samping ranjang. Indah sekali tubuhnya, kulitnya halus mulus dan putih bersih. Kakinya panjang indah, begitupula lehernya. Wajahnya amat cantik, berkesan cerdas namun dingin. Kedua buah susunya tidak besar, namun kencang dan indah. Puting-putingnya berwarna merah jambu kecoklatan, dan tampak agak terangsang oleh sentuhan saya tadi. Saya duduk di sisi ranjang, wajah saya tepat menghadap ke dua putingnya. Tanpa banyak basa-basi, saya mendekap pinggangnya, dan mengisap puting susunya. Mmm.., puting susu hangat itu terasa lucu dalam mulut saya. Saya jilati, saya hisap-hisap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar rintih erangan Jenny setiap kali lidah saya menyentuh puting itu. Terasa sekali puting itu mengencang, membengkak dalam mulut saya. Kami berbagi kehangatan dengan sangat mesra pagi itu, dan kejadian itu sempat terulang beberapa kali lagi di hari-hari setelahnya, sampai kemudian saya mendapati apartemennya kosong dan teleponnya tidak diangkat. Ia benar-benar telah pergi jauh dari kehidupan saya. Mungkinkah ia telah mencapai cita-citanya? Mungkinkah ia sudah berada 2 meter di bawah tanah? Saya tidak tahu. Saya tetap akan mengenangnya, karena dia adalah yang pertama bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/8263878031968548623/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/8263878031968548623?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/8263878031968548623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/8263878031968548623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/jenny-wanita-mafia-2.html' title='Jenny Wanita Mafia-2'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-680303513675595386</id><published>2009-01-30T14:44:00.001+07:00</published><updated>2009-01-30T14:46:32.834+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Masturbasi"/><title type='text'>Makan Sperma Dari Kondom Majikanku</title><content type='html'>Keinginan sekolah yang lebih tinggi kandas karena orang tuaku tak sanggup membiayai. Pada usiaku yang 16 tahun ini aku sudah jadi penganggur. Sejak selesai sekolah di desaku hingga hari ini aku belum dapat pekerjaan apapun. Aku pusing mikirnya. Jaman sekarang lulusan SMP macam saya ini mau jadi apa? Jadi ketika saudaraku yang telah lebih 5 tahun tinggal di Jakarta bilang bahwa ada keluarga muda di Jakarta yang mau menerima aku sebagai pelayan, yaa.. Aku sangat girang banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya, sesudah aku minta ongkos pakdeku, aku berangkat ke Jakarta menyusul saudaraku itu. Sesudah sekedarnya menyesuaikan diri dengan udara Jakarta selama 2 hari di rumah saudaraku, dia mengantarkan aku ke rumah keluarga muda yang diceritakannya itu. Mereka sangat gembira menyambut kedatanganku. Mereka bilang sangat memerlukan bantuanku. Kalau aku mau mereka juga akan membantu aku melanjutkan sekolahku. Wah, wah, wah.. Mereka demikian baik padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya aku menyebutnya Pak dan Bu pada pasangan muda itu, namun mereka ingin aku menyebut atau memanggilnya dengan Oom Bonny, yang usianya baru 28 tahun dan Tante Indri yang baru 24 tahun. Rumahnya kecil sesuai dengan keluarga mudanya yang memang baru menikah dan belum punya anak. Hanya ada 1 kamar tidur, ruang tamu dan ruang makan jadi 1 dan dapur kecil yang diatur di emperannya.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Oom Bonny menunjukkan dimana tas pakaianku bisa ditaruh. Untuk tidur aku diberi kasur matras yang bisa digelar dimana aku suka di seputar ruang tamu itu. Aku senang dengan pengaturan itu karena aku bisa nonton televisi setiap saat. Bagiku TV adalah hiburan yang sangat menyenangkan. Maklum dirumahku nggak ada TV. Aku lega, merasa beruntung dan senang. Setidaknya, kini aku memiliki harapan. Setiap bulan aku akan ngantongi upahku yang Rp. 200.000, secara utuh karena untuk makan dan tidur aku tidak perlu mengeluarkan uang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang juga membuatku senang adalah keluraga muda yang kuikuti ini. Bayangkan saja, Oom Bonny orangnya ngganteng dan ramah dan Tante Indri, duh.. Cantik banget. Mereka benar-benar pasangan yang harmonis macam raden Arjuna dengan Dewi Subadra. Tugasku membersihkan rumah termasuk menyapu dan mengepel lantai, merapikan tempat tidur, cuci piring dan cuci pakaian. Aku sangat bersemangat untuk bisa memenuhi apa yang diharapkan Oom Bonny dan Tante Indri. Aku merasa sangat senang bisa berada di tengah keluarga muda ini. Aku merasa nikmat melakukan apapun yang diperintahkan oleh Oom Bonny maupun Tante Indri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan ada semacam rangsangan yang hangat dan menyentuh kalbuku. Ah, lebih dari itu.. Rangsangan yang membuat hatiku jadi berdesir, kemudian detak jantungku menjadi lebih cepat. Suatu rasa yang nikmat seperti yang kurasakan saat aku melihat anak-anak laki atau perempuan mandi telanjang di kali desaku. Penisku ngaceng melihat mereka. Salahkah aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah hari-hariku telah berjalan sesuai apa yang seharusnya berjalan. Dan aku semakin merasakan kerasan bekerja pada Oom Bonny dan Tante Indri. Aku semakin merasakan mereka itulah bentuk idolaku. Kalau lelaki ngganteng seperti Oom Bonny, kalau perempuan cantik seperti Tante Indri. Aku menjadi semakin &#39;kesengsem&#39; (terpesona hingga ke lubuk hati) pada mereka berdua. Dan kini aku mempunyai cara untuk menyalurkan &#39;kesengsem&#39;-ku. Pada pagi hari sesaat sesudah Oom Bonny dan Tante Indri berangkat kerja aku mendekat ke meja makan dengan hatiku yang berdesir-desir. Kulihat piring-piring dan gelas-gelas kotor sisa makanan mereka. Sendok dan garpu bekas makan Oom Bonny dan Tante Indri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubayangkan mulut, bibir, lidah atau ludah suami istri yang ngganteng dan cantik itu telah menyentuhi cangkir atau gelas, sendok garpu serta piring sisa sarapan itu. Penisku mulai tegang saat hasratku mendorong untuk membersihkan sisa makan dan minum Oom Bonny dan Tante Indri. Saat bibirku menyentuh pinggiran gelas itu aku merasakan seakan bibirku bersentuhan dengan bibir Bu Indri. Pinggiran gelasnya pasti telah bernoda bibirnya yang cantik banget itu. Aku seakan merasakan betapa harum mulut Tante Indri dan betapa manis ludahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mulutku menyuap sendok atau garpu bekas Oom Bonny seakan aku merasakan aku melumat apa yang ada dalam mulutnya. Aku mencium aroma mulut yang ngganteng itu. Aku juga juga merasakan manis ludahnya. Kuhabiskan minuman dan makanan di meja untuk bisa merasai secara ber-ulang-ulang apa yang bisa menjadi ungkapan diriku dalam menyalurkan hasrat &#39;kesengsem&#39;-ku pada pasangan suami istri yang ngganteng dan cantik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu kulakukan bukan semata-mata karena haus dan lapar. Hal itu kulakukan karena adanya dorongan yang membuat hatiku berdesir-desir. Desir-desir yang begitu nikmat seperti yang kurasakan saat melihati teman-teman desaku mandi telanjang di kali. Desir nikmat yang timbul disebabkan jiwaku &#39;kesengsem&#39; oleh lekuk liku tubuh-tubuh telanjang mereka yang membangkitkan hasrat syahwatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh.. Aku mulai menyadari bahwa &#39;kesengsem&#39;-ku ini memang telah merebak dan menjangkit pada nafsu birahiku. Aku menekan lembut penis dalam celanaku yang semakin membengkak kalau memikirkan &#39;kesengsem&#39;-ku itu. Aku membayangkan betapa indahnya lekuk liku tubuh Oom Bonny dan Tante Indri apabila mereka telanjang. Pasti aku akan 1000 kali lebih &#39;kesengsem&#39;. Kalau sudah begini, &#39;kesengsem&#39;-ku hanya akan pupus kalau aku meneruskan elusan tangan pada penisku menjadi kocokkan. Aku segera duduk atau bersandar ke sofa ruang tamu, melepas atau mengendorkan celana dan mengeluarkan kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengkhayal, seolah-olah aku berkesempatan untuk rebah di selangkangan Oom Bonny dan menciumi pahanya yang indah banget itu. Atau aku nyungsep ke selangkangan Tante Indri, meng-&#39;usel-usel&#39;-kan hidung atau mulutku ke lembah dan lekukan indah di wilayah pertemuan antara paha dan pinggulnya itu. Tanganku akan terus meningkatkan kocokkan dan pijitannya hingga orgasmeku datang dan &#39;pejuh&#39;-ku muncrat membasahi jok sofa dan meleleh ke lantai. Legaa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi rupanya hidup di dunia ini tidak bisa terlepas dari perkembangan. &quot;Kesengsem&#39;-kupun juga terdesak untuk berkembang. Yang terjadi selanjutnya adalah, rasa &#39;kesengsem&#39;-ku itu terus melebar dan meninggi. Kini aku sudah mulai memperhatikan benda-benda pemicu syahwat lainnya. Saat aku membersihkan dan menyikat sepatu atau sandal Oom Bonny dan Tante Indri aku merasakan adanya getaran. Bau sepatu. Bau dalamnya sepatu itu. Duuhh.. Nikmat banget rasanya. Aku perhatikan betapa kaki Oom Bonny yang bersih dengan bulu-bulu halusnya berkeringat saat memekai sepatu itu. Dan keringatnya kini tinggal nempel dalam sepatunya, dalam bagian telapaknya. Saat birahiku menuntut, aku coba menjilati sepatu Oom Bonny. Kujilati dari luarnya. Kulit luar yang hitam mengkilat itu betapa telah mendukung ketampanan Oom Bonny. Aku merasa pantas untuk mengagumi melalui jilatan lidahku. Kemudian bagian telapak kakinya. Aku berusaha untuk bisa menjilat habis keringat-keringat telapak kaki Oom Bonny yang tertinggal di permukaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula saat aku membersihkan sepatu Tante Indri. Aku sangat terpesona dengan sepatu hak tingginya. Sepatu itu demikian indahnya saat membungkus kaki-kaki Tante cantik itu. Kini seolah-olah kaki Tante Indri menginjak-injak wajahku. Hak sepatunya itu kulumat-lumat. Aku akan membiarkan haknya untuk meruyak ke mulutku. Aku membayangkan Tante Indri duduk melipat kakinya di sofa sambil menunujukkan keindahan betisnya. Dan aku merangkak di lantai untuk menjilati sepatunya itu. Aku sering memilih menyalurkan birahiku kemudian merasakan orgasme dan ejakulasiku melalui sepatu-sepatu majikanku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga punya kewajiban untuk mencuci pakaian kotor Oom Bonny dan Tante Indri. Duuhh.. Aku sangat menikmati tugas ini. Mencuci tidak lagi aku anggap sebagai tugas berat. Aku bisa mencuci dengan hati senang seakan-akan mendapat mainan yang sangat menggembirakan aku. Aku suka sekali menciumi baju atau celana kotor Oom Bonny dan Tante Indri. Bau asem keringat mereka yang tertinggal di baju-baju itu benar-benar bisa membuat aku melayang-layang dalam langit nikmat yang tak terhingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian macam pakaian kotor yang paling mendebarkan jantungku adalah celana dalam, kutang dan singlet mereka. Aku menciumi dan bahkan menjilat atau mengunyah-kunyah dalam mulutku bagian-bagian yang nampak paling dekil dan bau asem. Untuk jenis kemeja atau blus aku menciumi sambungan lengan yang banyak menyerapi keringat dari ketiak-ketiak mereka. Tidak jarang sepanjang mencuci celana dalam Oom Bonny atau milik Tante Indri kujadikan masker. Bau asem celana dalam mereka membekap hidungku. Celana dalam itu memberi aku semangat dan hasrat seksualku selalu menyala. Penisku terasa selalu hangat karena tegang oleh hasrat yang selalu menyala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat birahiku tak lagi bisa kubendung, tanpa ragu aku akan naik keranjang majikanku itu, memeluki bantal atau gulingnya sambil terus mengunyahi atau menciumi benda-benda penuh syahwat itu. Tanpa ragu pula kukeluarkan penisku dari celana dan mengocoknya hingga pejuhku muncrat keluar. Wwoowww.. Aku benar-benar menyenangi pekerjaanku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu pagi Tante Indri kedatangan Bu Nunik teman akrabnya yang adalah tetangga satu RT yang tidak jauh dari rumah. Biasa, mereka suka saling bertandang dan ngobrol atau gosip berbagai macam hal. Aku sedang mengepel lantai ruang tamu saat pada celah-celah ngobrol mereka aku mendengar omongan Tante Indri. Dia dengan suaminya Oom Bonny telah sepakat untuk ikut program KB sejak awal pernikahan. Mereka belum mau punya anak sementara karir hidupnya belum benar-benar mapan. Yang menarik hatiku adalah, Tante Indri tidak suka minum pel KB dan juga nggak mau pasang spiral. Mereka memilih Oom Bonny memakai kondom saat berhubungan badan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Sejak menikah yang telah berlangsung lebih dari 1 tahun, Mas Bonny selalu memakai kondom saja, mbakyu. Jadinya aku lebih senang dan nggak perlu khawatir soal alergi atau hal-hal lain yang menyangkut kesehatan. Lagian lebih nikmat, loh&quot;, cerita Tante Indri yang diakhiri ketawa cekikikkan dari kedua orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nggak lagi tertarik pada apa yang diomongin mereka selanjutnya. Yang menjadi perhatian dan kemudian sangat membuat aku tertarik dan gelisah adalah Oom Bonny yang selalu memakai kondom saat berhubungan kelamin dengan Tante Indri. Yang membuat pikiranku melayang-layang adalah, dimana kondom-kondom yang bekas dipakai Oom Bonny itu. Dibuang ke mana?&lt;br /&gt;Apakah ada di keranjang sampah yang ada di kamarnya? Atau pada buntelan plastik kecil yang setiap pagi dilempar ke bak sampah di depan rumah oleh Tante Indri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haahh.., kenapa tak pernah terlintas pada pikiranku mengenai kondom itu?! Pundak bahuku terasa merinding. Aku sudah mengkhayal jauh. Seandainya aku dapatkan kondom bekas pakai majikanku itu. Aku membayangkan isinya yang kental. Air mani Oom Bonny yang kental telah tumpah dalam kondom itu saat orgasmenya disusul dengan ejakulasinya ketika berasyik masyuk dengan Tante Indri. Aku tampar pipiku agar tidak terus melamun. Aku khawatir Tante Indri melihat aku saat melamun itu. Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran tentang kondom Oom Bonny sangat menggelisahkan syahwatku. Aku bertekad untuk mendapatkan kondom-kondom bekas Oom Bonny itu. Aku bertekad untuk bisa meneguk isi kondom-kondom itu. Aku bertekad untuk bisa merasakan sperma Oom Bonny dalam lumatan mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok paginya, aku sudah punya 3 acara pokok untuk hari itu. Pertama, membersihkan sisa makanan majikanku. Kedua, mencuci pakaian mereka. Dan ketiga, mencari kondom yang dipakai semalam oleh Oom Bonny. Pasti kondom yang penuh lendir yang keluar dari kemaluan Ooom Bonny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu Oom Bonny bersama Tante Indri meninggalkan rumah menuju tempat kerja masing-masing aku langsung bergerilya. Ternyata urutan programku terbalik-balik. Aku sudah sangat diburu oleh hasrat syahwatku yang siap meledak. Aku sudah ingin mendapatkan kondom bekas itu. Darahku sudah demikian mendidih dan jantungku yang tak lagi berirama teratur. Seluruh saraf-saraf libidoku tampil dominan menguasai denyut saraf-saraf lain dalam tubuhku. Yang terus memburuku adalah bayangan cairan kental sperma Oom Bonny meleleh dari kondom bekasnya dan tumpah ke mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung ke &lt;a href=&quot;http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/makan-sperma-dari-kondom-majikanku-2.html&quot;&gt;bagian 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/680303513675595386/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/680303513675595386?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/680303513675595386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/680303513675595386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/makan-sperma-dari-kondom-majikanku.html' title='Makan Sperma Dari Kondom Majikanku'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-3614409087670336177</id><published>2009-01-30T14:41:00.000+07:00</published><updated>2009-01-30T14:44:24.494+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Masturbasi"/><title type='text'>Makan Sperma Dari Kondom Majikanku-2</title><content type='html'>Sabungan dari bagian 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu birahiku demikian mendorong aku untuk selekasnya bisa menikmati apa yang ditinggalkan Oom Bonny pada kondomnya. Aku langsung bergegas menuju kamar tidur majikanku. Kuaduk-aduk keranjang sampah plastik di kamarnya. Kudapatkan tisue bekas, ada kertas-kertas buangan, ada beberapa serpihan plastik bekas makanan dan lainnya yang tidak punya arti bagiku. Aku tidak mendapatkan kondom-kondom bekas dalam keranjang plastik itu. Aku tinggal punya satu kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergegas ke halaman depan rumah. Seperti pemulung aku mengorek-orek bak sampah yang berada di depan rumah itu. Dan, aahh.. tuh.. ada bingkisan plastik kecil bergaris dengan warna kebiruan. Bukankah itu yang tadi pagi dilemparkan Tante Indri dari jendelanya?! Mudah-mudahan kudapatkan apa yang kucari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kedua jariku kusepit bingkisan kecil itu. Aku khawatir ada orang lain yang melihat aku saat mengambil kembali bingkisan itu. Kuamati sesaat dan.. Yah, sebaiknya cepat kubawa masuk ke rumah. Hatiku berdesir saat jariku sempat merabai bingkisan itu. Aku rasakan ada yang lunak dan licin. Aku tak sabar. Dengan lekas aku urai ikatannya. Aku tengok isinya. Wwoowww.. Aku melihatnya. Aku temukan bukan hanya satu. Aku temukan beberapa benda semacam balon karet mainan anak dengan ring-ring karet yang melingkar disamping beberapa remasan kertas tissue.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Aku belum pernah melihat kondom, tetapi aku tahu yang dimaksud. Aku sudah sering melihat gambarnya dalam iklan-iklan. Aku yakin inilah kondom bekas yang dipakai majikanku. Aku yakin air mani yang lendir dari kontol Oom Bonny ada dalam kondom-kondom itu. Wwoocchh.. Aku tak kuasa menahan gejolak nafsuku. Aku nanar memandang isi bingkisan di tanganku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku mencoba merabai kondom-kondom itu. Aku masukkan jari-jariku untuk menjepit keluar satu kondom yang bisa kuraih. Nampak basah dan mestinya &#39;menjijikkan&#39;, tetapi sangat mempesona mataku. Rasanya aku tak ingin melepaskan pandanganku pada apa yang kini dalam jepitan tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dekatkan kondom itu ke mukaku. Aku ingin membaui-nya. Terbersit rasa amis putih telor. Aku bergerak ke dapur. Ku ambil piring kecil tatakan cangkir teh dari tumpukkan piring bersih lainnya. Kutaruh kondom itu di atasnya. Kemudian kukeluarkan yang lain. Semuanya ada 5 kondom. Uuhh.. Bukan main. Adakah Oom Bonny telah berhubungan badan dengan Tante sebanyak 5 kali semalaman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kutaruh bingkisan bekas kondom ke lantai, aku memberikan perhatian sepenuhnya ke piring tatakan cangkir teh itu. Ada 5 kondom terkulai di atasnya. Kondom-kondom itu berwarna putih transparan sehingga isinya nampak membayang. Nampak ada lendir yang meleleh bening ketatakan. Aku berhitung bahwa tadi malam Oom Bonny menggauli Tante Indri hingga 5 kali. Bukan main. Mungkin karena mereka itu pasangan muda yang selalu sangat bergairah untuk berasyik masyuk. Dan itu artinya 5 kondom yang ada di depanku kini berisi 5 kali air mani Oom Bonny yany muncrat dan tumpah di dalamnya. Tanganku melurus-luruskan arah penisku yang ngacengnya semakin bengkak di dalam celanaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendekatkan seluruh wajahku ke piring tatakan itu. Kini baunya terasa makin nyata. Aku pikir ini bau campuran antara cairan birahi yang dikeluarkan dari vagina Tante Indri dengan spermanya Oom Bonny. Tiba-tiba gelora syahwatku menerpa dan menerjang sanubariku. Aku ingin menjilatkan lidahku pada kondom-kondom itu. Aku ingin selekasnya bisa &#39;nyeruput&#39; sperma yang meleleh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba mengangkat satu dengan tangan kananku. Kuambil pada lingkaran cincinnya agar isinya tidak tercecer. Setelah menggelantung pada peganganku kusaksikan bentuk utuh kondom itu. Makin nyata bentuknya yang mirip balon yang belum tertiup. Mungkin sepanjang 12 atau 13 cm dengan ujung bawah membentuk seperti dot bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat air mani Oom Bonny ngumpul mengendap nge-gelantung pada dot itu. Oohh.. Aku gemetar. Tangan yang memegang kondom ini bergetar. Aku merinding menahan desir hati ini. Aku sangat haus untuk bisa menjilati atau menumpahkan isi kondom itu ke mulutku. Ampuunn.. Hhh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya seperti ada yang menuntun, tanganku bergerak sedikit ke atas mengikuti wajahku yang juga tertuntun untuk mulai mendongak. Bibirku membuka kecil, menganga kemudian semakin melebar. Aku pengin mulutku me-ngedot-ngedot dulu sebelum kemudian melumati kondom itu dari luarnya. Aku bayangkan lendir-lendir kewanitaan Tante Indri nempel pada dinding luar kondom itu. Aku ingin melarutkannya dalam ludahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin merasakan cairan amis birahi Tante Indri dalam mulutku. Aku ingin bisa menelan larutannya dan mengaliri tenggorokanku. Aku ingin meminumnya. Aku mencaplok kondom itu. Aku merasakan aroma amis dan rasa asin. Aku melumatinya. Khayalanku mengangkat aku dari bumi. Aku mengambang dalam bayangan seakan Tante Indri sedang menyemprotkan cairan birahinya ke mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucoba melarutkan rasa asin itu sebanyak yang aku bisa. Aku berusaha menelan lumatanku. Berkali-kali kuulangi. Setelah puas kuangkat kembali keluar dari mulutku. Kini tangan kiriku mengambil alih apa yang dipegang tangan kanan. Dan tangan kananku yang sangat bergetar saat meraih ujung dot itu mengangkatnya ke atas sambil pelan-pelan mengarahkan lubang cincin kondom di tangan kiri untuk menumpahkan isinya ke mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan ada aliran dingin kental meleleh ke mulutku. Aku yakini yang telah meleleh tertumpah masuk ke rongga mulutku adalah sperma Oom Bonny. Hhoocchh.. Apa yang mesti kulakukan.. Hhoohh.. Nikmat macam mana yang kurasakan.. Hhoohh.. Jiwa terbang meretas khayal.. Nikmat yang tak ter-ampunkaann.. Oaachh.. Oocchh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbang dalam nikmatnya puncak birahi.. Aku meraih apa yang kuinginkan.., Air mani Oom Bonny telah kukecapi dan kulumat. Air mani Oom Bonny telah larut dalam ludah mulutku.. Amppuunn.. Jangan tanya nikmatnyaa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah meracau tak keruan. Akan kukeringkan isi kondom itu. Dengan jempol dan jari kiriku aku menjepit bawah dotnya dan mengurutnya ke bawah. Gumpalan lendir kental yang besar jatuh kemulutku. Aku berkesempatan mengunyah-kunyah sebelum menelannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah kering kondom pertama, kuraih kondom ke dua dan seterusnya. Kulakukan apa yang pernah kulakukan. Gumpalan demi gumpalan sperma Oom Bonny kembali meleleh dalam mulutku, mengaliri tenggorokanku. Aku meminum seluruh sperma Oom Bonny yang ditinggalkan dalam kondom-kondomnya. Untuk meyakinkan bahwa benar-benar seluruhnya, kondom-kondom itu kubalik, basah lengketnya kembali kukenyoti hingga ludas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin aku untuk melanjutkan nikmat dengan menyelesaikannya melalui ejakulasiku, namun masih banyak cadangan kenikmatan yang akan dan harus kutempuh. Kini aku cenderung menggantung ejakulasiku dan biar kubersihkan dulu meja makan. Aku terdorong ingin merasai kembali bekas bibir dan lidah majikanku pada sisa-sisa sarapan pagi mereka, pada tepian cangkir minum ataupu pada sendok atau garpu yang dilahapnya. Aku bangkit dari kondom-kondom yang masih terserak menuju meja makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan setengah telanjang sesudah membuka baju dan menyisakan celana dalamku, aku duduk di kursi dan mulai melahap sisa sarapan majikanku. Khayalanku terbang jauh mengajak lidahku menjilati ludah di bibir Oom Bonny. Aku mencoba untuk menyeruak kerongga mulutnya. Aku mencium aroma mulutnya dari sendok bekas makannya. Saat kudapatkan aku mengelusi dan memijat kemaluan di balik celana dalamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai sudah membersihkan sisa sarapan. Pada kesempatan ini aku berusaha untuk tetap tenang. Aku ingin menjemput kenikmatan syahwatiku secara maksimal. Aku akan melewati seluruh acara pokokku sebelum aku menapaki orgasmeku. Aku berdiri membersihkan meja makan dan membawa piring serta perabotan lainnya ke dapur. Kemudian aku melangkah menuju tempat pakaian kotor. Tetapi setelah melihat tumpukkan yang menggunung, aku pikir biarlah aku mencuci nanti saja sesudah hari siang. Aku sudah tak tahan untuk selekasnya menyelesaikan desakkan syahwatku. Kini aku hanya mengaduk pakaian-pakaian itu untuk mencari celana dalam, kutang dan singlet kotor yang bekas pakai majikanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah &#39;keindahan eksotik&#39;-ku. Barang-barang itu kukumpulkan kemudian kuamati satu-satu. Aku merasakan ada &#39;cinta&#39; pada barang-barang itu. Aku sepertinya sedang menghadapi Tante Indri yang cantik itu. Aku disuruhnya menciumi kakinya. Kemudian dia meludahi mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku disuruhnya melumat celana dalam kotornya. Dan kulakukan. Aku kini menunggu larutnya keringat yang asem dari celana dalamnya untuk larut ke ludahku. Aku telah siap melahapnya. Kemudian Oom Bonny juga menjejalkan celana dalam kotornya ke mulutku pula. Aku mengikatkan celana dalam Tante Indri untuk membekap hidungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini hasrat syahwatku siap meledak. Aku ingin cari pelabuhan yang nyaman untuk melepaskan birahiku. Pakaian-pakaian kotor kubawa ke ranjang majikanku. Aku cepat rebah ke atasnya. Kuraih bantal atau guling. Aku mengkhayalkan seakan sedang menggauli Tante Indri atau Oom Bonny. Tanganku menjepiti penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba mengayun-ayunkan pinggulku pada bantal itu. Aku hirup dalam-dalam celana dalam Tante Indri yang jadi penutup hidungku. Tanganku semakin cepat mengocok dan mengelusi penisku. Aku mendesah-desah. Aku berguling-guling di kasur itu. Rasanya pandangan mataku mulai nanar. Aku melihat lagit-langit kamar yang berputar-putar dan semakin menjauh. Spermaku semakin mendesak ingin keluar. Aku percepat kocokkanku. Aku ingat kondom di lantai. Cepat kuraih. Tanganku buru-buru memasukkan kondom itu ke penisku. Aku membayangkan mengocoki kontol Oom Bonny. Yyyee.. Aaacchh.. Yaahh.. Yaahh.. Aacchh.. Yyoowwuujj.. Hhh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu lagi. Aku terlempar ke awang gelap nikmat. Aku melotot terbuka tetapi tak ada yang kupandang dari mataku. Aku terbang mengawang.. Yang kurasakan kini spermaku yang merembet mendekati pintunya.. Dan aku beteriak.. Aku melolong.. Aku mengaduk kasur.. Tanganku menyobek celana dalam Oom Bonny.. Juga celana dalam Tante Indri.. Kuputuskan tali-tali kutang Tante Indri.. Mulutku berbusa menggigiti kondom bekas itu.. Aku ingin menelan kondom itu.. Hhoocchh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang terperangkap dalam pusaran syahwat yang sangat luar biasa. Semestinya aku pingsan. Ataukah sudah sadar? Aku terbangun. Aku ngompol? Ah.. Kenapa begini banyak cairan lendir keluar dari penisku. Celana dalamku sangat kuyup. Kuperhatikan. Rupanya aku juga terkencing bersamaan dengan ejakulasiku. Mungkinkah? Aku telah mengalaminya. Puncak kenikmatan birahi yang baru kulalui. Puncak semacam itu tak pernah kulalui untuk kedua kalinya. Aku tak pernah mengalaminya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhari-hari sesudahnya, kemudian berminggu-minggu berikutnya, bahkan kemudian berbulan-bulan dan seterusnya, setiap hari aku mengulangi apa yang kulakukan pada hari itu. Entah berapa galon sperma majikanku yang telah kutelan. Entah berapa liter keringat kering di celana dalam ataupun kutang yang larut dalam ludahku. Yang kutemui akhirnya hanyalah kenikmatan rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat saudaraku yang tempo hari membawaku ke majikanku ini datang menjengukku dengan gembira dia berkomentar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ah, gemuk badanmu kini, No&quot;, dia panggil aku Kusno. &quot;Ya, sukurlah, kamu sehat. Banyak senang dan makan vitamin rupanya, ya?&quot;,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaa.. Begitulah, Mas. Majikanku banyak memberi aku vitamin. Pagi sisa sarapannya, agak siang membersihkan sperma dari kondom-kondomnya, siangnya dapat vitamin C dari asem celana dalam, kutang dan singlet mereka, begitu jawaban dalam hatiku dengan penuh geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu pagi aku dipanggil Oom Bonny. Dia telah mengurus sekolahku. Aku disuruh memilih, sekolah pagi atau sekolah siang. Kalau aku pilih pagi, aku mesti menyelesaikan tugas rumahku di siang harinya dan sebaliknya. Aku senang sekali tetapi mulutku terdiam. Aku sedang melamunkan berapa galon sperma Oom Bonny di depanku ini telah masuk ke perutku. Aku juga membayangkan bau celana dalamnya, asin keringatnya. Aku tak mau melewatkan kenikmatan-kenikmatan gratis yang selama ini aku dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bilang sama Oom Bonny,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Aku pilih yang siang saja, Oom&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai besok siang aku akan kembali ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Mei 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E N D&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/3614409087670336177/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/3614409087670336177?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/3614409087670336177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/3614409087670336177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/makan-sperma-dari-kondom-majikanku-2.html' title='Makan Sperma Dari Kondom Majikanku-2'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-4111381129343189737</id><published>2009-01-29T22:28:00.001+07:00</published><updated>2009-01-29T22:30:55.522+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tukar Pasangan"/><title type='text'>Selingkuh dengan Ketua RT</title><content type='html'>Aku tinggal di kompleks perumahan BTN di Jakarta. Suamiku termasuk orang yang selalu sibuk. Sebagai arsitek swasta, tugasnya boleh dibilang tidak kenal waktu. Walaupun dia sangat mencintaiku, bahkan mungkin memujaku, aku sering kesepian. Aku sering sendirian dan banyak melamun membayangkan betapa hangatnya dalam sepi itu Mas Adit, begitu nama suamiku, ngeloni aku. Saat-saat seperti itu membuat libidoku naik. Dan apabila aku nggak mampu menahan gairah seksualku, aku ambil buah ketimun yang selalu tersedia di dapur. Aku melakukan masturbasi membayangkan dientot oleh seorang lelaki, yang tidak selalu suamiku sendiri, hingga meraih kepuasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sering hadir dalam khayalan seksualku justru Pak Parno, Pak RT di kompleks itu. Walaupun usianya sudah diatas 55 tahun, 20 tahun di atas suamiku dan 27 tahun di atas umurku, kalau membayangkan Pak Parno ini, aku bisa cepat meraih orgasmeku. Bahkan saat-saat aku bersebadan dengan Mas Aditpun, tidak jarang khayalan seksku membayangkan seakan Pak Parnolah yang sedang menggeluti aku. Aku nggak tahu kenapa. Tetapi memang aku akui, selama ini aku selalu membayangkan kemaluan lelaki yang gedee banget. Nafsuku langsung melonjak kalau khayalanku nyampai ke sana. Dari tampilan tubuhnya yang tetap kekar walaupun tua, aku bayangkan kontol Pak Parno juga kekar. Gede, panjang dan pasti tegar dilingkari dengan urat-urat di sekeliling batangnya. Ooohh.., betapa nikmatnya dientot kontol macam itu ..&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Di kompleks itu, di antara ibu-ibu atau istri-istri, aku merasa akulah yang paling cantik. Dengan usiaku yang 28 tahun, tinggi 158 cm dan berat 46 kg, orang-orang bilang tubuhku sintal banget. Mereka bilang aku seperti Sarah Ashari, selebrity cantik yang binal adik dari Ayu Ashari bintang sinetron. Apalagi kalau aku sedang memakai celana jeans dengan blus tipis yang membuat buah dadaku yang cukup besar membayang. Hatiku selangit mendengar pujian mereka ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, tetangga kami punya hajatan, menyunatkan anaknya. Biasa, kalau ada tetangga yang punya kerepotan, kami se-RT rame-rame membantu. Apa saja, ada yang di dapur, ada yang ngurus pelaminan, ada yang bikin hiasan atau menata makanan dan sebagainya. Aku biasanya selalu kebagian bikin pelaminan. Mereka tahu aku cukup berbakat seni untuk membuat dekorasi pelaminan itu. Mereka selalu puas dengan hasil karyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggunakan bahan-bahan dekorasi yang biasanya aku beli di Pasar Senen. Pagi itu ada beberapa bahan yang aku butuhkan belum tersedia. Di tengah banyak orang yang pada sibuk macam-macam itu, aku bilang pada Mbak Surti, yang punya hajatan, untuk membeli kekurangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;Kebetulan Bu Mar, tuh Pak Parno mau ke Senen, mbonceng saja sama dia&#39;, Bu Kasno nyampaikan padaku sambil nunjuk Pak Parno yang nampak paling sibuk di antara bapak-bapak yang lain.&lt;br /&gt;&#39;Emangnya Pak Parno mau cari apaan?, aku nanya.&lt;br /&gt;&#39;Inii, mau ke tukang tenda, milih bentuk tenda yang mau dipasang nanti sore. Sama sekalian sound systemnya&#39;, Pak Parno yang terus sibuk menjawab tanpa menengok padaku.&lt;br /&gt;&#39;Iyaa deh, aku pulang bentar ya Pak Parno, biar aku titip kunci rumah buat Mas Adit kalau pulang nanti&#39;. Segalanya berjalan seperti air mengalir tanpa menjadikan perhatian pada orang-orang sibuk yang hadir disitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10 menit kemudian, dengan celana jeans dan blus kesukaanku, aku sudah duduk di bangku depan, mendampingi Pak Parno yang nyopirin Kijangnya. Udara AC di mobil Pak Parno nyaman banget sesudah sepagi itu diterpa panasnya udara Jakarta. Pelan-pelan terdengar alunan dangdut dari radio Mara yang terdapat di mobil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku jadi ingat kebiasaanku mengkhayal. Dan sekarang ini aku berada dalam mobil hanya berdua dengan Pak Parno yang sering hadir sebagai obyek khayalanku dalam hubungan seksual. Tak bisa kutahan, mataku melirik ke arah selangkangan di bawah kemudi mobilnya. Dia pakai celana drill coklat muda. Aku lihat di arah pandanganku itu nampak menggunung. Aku nggak tahu apakah hal itu biasa. Tetapi khayalanku membayangkan itu mungkin kontolnya yang gede dan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku menelan ludahku membayangkan apa di balik celana itu, tiba-tiba tangan Pak Parno nyelonong menepuk pahaku. &#39;Dik Marini mau beli apaan? Di Senen sebelah mana?&#39;, sambil dia sertai pertanyaan ini dengan nada ke-bapak-an.&lt;br /&gt;Dan aku bener-bener kaget lho. Aku nggak pernah membayangkan Pak RT ini kalau ngomong sambil meraba yang di ajak ngomong.&lt;br /&gt;&#39;Kertas emas dan hiasan dinding, Pak. Di sebelah toko mainan di pasar inpress ituu..&#39;, walaupun jantungku langsung berdegup kencang dan nafasku terasa sesak memburu, aku masih berusaha se-akan-akan tangan Pak Parno di pahaku ini bukan hal yang aneh.&lt;br /&gt;Tetapi rupanya Pak Parno nggak berniat mengangkat lagi tangannya dari pahaku, bahkan ketika dia jawab balik, &#39;Ooo, yyaa.. aku tahu ..&#39;, tangannya kembali menepuk-nepuk dan digosok-gosokkanya pada pahaku seakan sentuhan bapak yang melindungi anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ooouuiihh.. aku merasakan kegelian yang sangat, aku merasakan desakan erotik, mengingat dia selalu menjadi obyek khayalan seksualku. Dan saat Pak Parno merabakan tangannya lebih ke atas menuju pangkal pahaku, reaksi spontanku adalah menurunkan kembali ke bawah. Dia ulangi lagi, dan aku kembali menurunkan. Dia ulangi lagi dan aku kembali menurunkan. Anehnya aku hanya menurunkan, bukan menepisnya. Yang aku rasakan adalah aku ingin tangan itu memang tidak diangkat dari pahaku. Hanya aku masih belum siap untuk lebih jauh. Nafasku yang langsung tersengal dan jantungku yang berdegap-degup kencang belum siap menghadapi kemungkinan yang lebih menjurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Parno mengalah. Tetapi bukan mengalah bener-bener. Dia tidak lagi memaksakan tangannya untuk menggapai ke pangkal pahaku, tetapi dia rubah. Tangan itu kini meremasi pahaku. Gelombang nikmat erotik langsung menyergap aku. Aku mendesah tertahan. Aku lemes, tak punya daya apa-apa kecuali membiarkan tangan Pak Parno meremas pahaku. &#39;Dik Maarr..&#39;, dia berbisik sambil menengok ke aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba di depan melintas bajaj, memotong jalan. Pak Parno sedikit kaget. Otomatis tangannya melepas pahaku, meraih presnelling dan melepas injakan gas. Kijang ini seperti terangguk. Sedikit badanku terdorong ke depan. Selepas itu tangan Pak Parno dikonsentrasikan pada kemudi. Jalanan ke arah Senen yang macet membuat sopir harus sering memindah presnelling, mengerem, menginjak gas dan mengatur kemudi. Aku senderkan tubuhku ke jok. Aku nggak banyak ngomong. Aku kepingin tangan Pak Parno itu kembali ke pahaku. Kembali meremasi. Dan seandainya tangan itu merangkak ke pangkal pahaku akan kubiarkan. Aku menjadi penuh disesaki dengan birahi. Mataku kututup untuk bisa lebih menikmati apa yang barusan terjadi dan membiarkan pikiranku mengkhayal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar. Sesudah jalanan agak lancar, tangan Pak Parno kembali ke pahaku. Aku benar-benar mendiamkannya. Aku merasakan kenikmatan jantungku yang terpacu dan nafasku yang menyesak dipenuhi rangsangan birahi. Langsung tangan Pak Parno meremasi pahaku. Dan juga naik-naik ke pangkal pahaku. Tanganku menahan tangannya. Eeeii malahan ditangkapnya dan diremasinya. Dan aku pasrah. Aku merespon remasannya. Rasanya nikmat untuk menyerah pada kemauan Pak Parno. Aku hanya menutup mata dengan tetap bersender di jok sambil remasan di tangan terus berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali aku nyeletuk,&lt;br /&gt;&#39;N&#39;tar dilihat orang Pak&#39;,&lt;br /&gt;&#39;Ah, nggaakk mungkin, kacanya khan gelap. Orang nggak bisa melihat ke dalam&#39;, aku percaya dia.&lt;br /&gt;Sesudah beberapa saat rupanya desakan birahi pada Pak Parno juga menggelora,&lt;br /&gt;&#39;Dik Mar.. kita jalan-jalan dulu mau nggak?&#39;, dia berbisik ..&lt;br /&gt;&#39;Kemana..?&#39;, pertanyaanku yang aku sertai harapan hatiku ..&lt;br /&gt;&#39;Ada deh.. Pokoknya Dik Mar mau khan..&#39;.&lt;br /&gt;&#39;Terserah Pak Parno.., Tapinya n&#39;tar ditungguin orang-orang .., n&#39;tar orang-orang curiga .. lho&#39;.&lt;br /&gt;&#39;Iyaa, jangan khawatirr.., paling lama sejamlah.&#39;, sambil Pak Parno mengarahkan kemudinya ke tepi kanan mencari belokan ke arah balik. Aku nggak mau bertanya, mau ngapain &#39;sejam&#39;??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis di bawah jembatan penyeberangan dekat daerah Galur, Pak Parno membalikkan mobilnya kembali menuju arah Cempaka Putih. Ah.. Pak Parno ini pasti sudah biasa begini. Mungkin sama ibu-ibu atau istri-istri lainnya. Aku tetap bersandar di jok sambil menutup mataku pura-pura tiduran. Dengan penuh gelora dan deg-degan jantungku, aku menghadapi kenyataan bahwa beberapa saat lagi, mungkin hanya dalam hitungan menit, akan mengalami saat-saat yang sangat menggetarkan. Saat-saat seperti yang sering aku khayalkan. Aku nggak bisa lagi berpikir jernih. Edan juga aku ini.., apa kekurangan Mas Adit, kenapa demikian mudah aku menerima ajakan Pak Parno ini. Bahkan sebelumnya khan belum pernah sekalipun selama 8 tahun pernikahan aku disentuh apalagi digauli lelaki lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku rasakan sekarang ini hanyalah aku merasa aman dekat Pak Parno. Pasti dia akan menjagaku, melindungiku. Pasti dia akan mengahadpi aku dengan halus dan lembut. Bagaimanapun dia adalah Pak RT kami yang selama ini selalu mengayomi warganya. Pasti dia nggak akan merusak citranya dengan perbuatan yang membuat aku sakit atau terluka. Dan rasanya aku ingin banget bisa melayani dia yang selama ini selalu jadi obyek khayalan seksualku. Biarlah dia bertindak sesuatu padaku sepuasnya. Dan juga aku ingin merasakan bagaimana dia memuaskan aku pula sesuai khayalanku.&lt;br /&gt;Agu gemetar hebat. Tangan-tanganku gemetar. Lututku gemetar. Kepalaku terasa panas. Darah yang naik ke kekepalaku membuat seakan wajahku bengap. Dan semakin kesana, semakin aku nggak bisa mencabut persetujuanku atas ajakan &#39;jalan-jalan dulu&#39; Pak Parno ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba mobil terasa membelok ke sebuah tempat. Ketika aku membuka mata, aku lihat halaman yang asri penuh pepohonan. Di depan mobil nampak seorang petugas berlarian menuntun Pak Parno menuju ke sebuah garasi yang terbuka. Dia acungkan tangannya agar Pak Parno langsung memasuki garasi berpintu rolling door itu, yang langsung ditutupnya ketika mobil telah yakin berada di dalam garasi itu dengan benar. Sedikit gelap. Ada cahaya kecil di depan. Ternyata lampu di atas sebuah pintu yang tertutup. Woo.. aku agak panik sesaat. Tak ada jalan untuk mundur. Kemudian kudengar Pak Parno mematikan mesin mobilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;Nyampai Dik Mar ..&#39;,&lt;br /&gt;&#39;Di mana ini Pak ..?&#39;, terus terang aku nggak tahu di mana tempat yang Pak Parno mengajak aku ini. Tetapi aku yakin inilah jenis &#39;motel&#39; yang sering aku dengar dari temen-temen dalam obrolan-obrolan porno dalam arisan yang diselenggarakan ibu-ibu kompleks itu.&lt;br /&gt;Pak Parno tidak menjawab pertanyaanku, tetapi tangannya langsung menyeberang melewati pinggulku untuk meraih setelan jok tempat dudukku. Jok itu langsung bergerak ke bawah dengan aku tergolek di atasnya. Dan yang kurasakan berikutnya adalah bibir Pak Parno yang langsung mencium mulutku dan melumat. Uh uh uh .. Aku tergagap sesaat.. sebelum aku membalas lumatannya. Kami saling melepas birahi. Aku merasakan lidahnya menyeruak ke rongga mulutku. Dan reflekku adalah mengisapnya. Lidah itu menari-nari di mulutku. Bau lelaki Pak Parno menyergap hidungku. Beginilah rasanya bau lelaki macam Pak Parno ini. Bau alami tanpa parfum sebagaimana yang sering dipakai Mas Adit. Bau Pak RT yang telah 55 tahun tetapi tetap memancarkan kelelakian yang selama ini selalu menyertai khayalanku saat masturbasi maupun saat aku disebadani Mas Adit. Bau yang bisa langsung menggebrak libidoku, sehingga nafsu birahiku lepas dengan liarnya saat ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil melumat, tangan-tangan Pak Parno juga merambah tubuhku. Jari-jarinya melepasi kancing-kancing blusku. Kemudian kurasakan remasan jari kasar pada buah dadaku. Uuiihh .. tak tertahankan. Aku menggelinjang. Menggeliat-geliat hingga pantatku naik-naik dari jok yang aku dudukin disebabkan gelinjang nikmat yang dahsyat. Sekali lagi aku merasa edaann .. aku digeluti Pak RT ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibir Pak Parno melumatku, dan aku menyambutnya dengan penuh kerelaan yang total. Akulah yang sesungguhnya menantikan kesempatan macam ini dalam banyak khayalan-khayalan erotikku. Ohh .. Pak Parnoo .. Tolongin akuu Pakee .. Puaskanlah menikmati tubuhkuu ..Paak, .. semua ini untuk kamu Paak .. Aku hauss .. Paak .. Tulungi akuu Paakk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;Kita turun yok Dik Mar .., kita masuk dulu ..&#39;, Pak Parno menghentikan lumatannya dan mengajak aku memasuki motel ini.&lt;br /&gt;Begitu masuk kudengar telpon berdering. Rupanya dari kantor motel itu. Pak Parno menanyakan aku mau minum apa, atau makanan apa yang aku inginkan yang bisa diantar oleh petugas motel ke kamar. Aku terserah Pak Parno saja. Aku sendiri buru-buru ke kamar kecil yang tersedia. Aku kebelet pengin kencing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung ke &lt;a href=&quot;http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/selingkuh-dengan-ketua-rt-2.html&quot;&gt;Bagian 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/4111381129343189737/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/4111381129343189737?isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/4111381129343189737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/4111381129343189737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/selingkuh-dengan-ketua-rt.html' title='Selingkuh dengan Ketua RT'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-1117598894196519714</id><published>2009-01-29T22:25:00.001+07:00</published><updated>2009-01-29T22:39:35.919+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tukar Pasangan"/><title type='text'>Selingkuh dengan Ketua RT-2</title><content type='html'>Saat kembali ke peraduan kulihat Pak Parno sudah telentang di ranjang. Agak malu-malu aku masuk ke kamar tidur ini, apalagi setelah melihat sosok tubuh Pak Parno itu. Dia menatapku dari ekor matanya, kemudian memanggil, &#39;Sini Dik Mar .. &#39;, uh uh .. Omongan seperti itu .. masuk ketelingaku pada saat macam begini ..aku merasakan betapa sangat terangsang seluruh syaraf-syaraf libidoku. Aku, istri yang sama sekali belum pernah disentuh lelaki lain kecuali suamiku, hari ini dengan edannya berada di kamar motel dengan seseorang, yaitu Pak Parno, yang Pak RT kompleks rumahku, yang bahkan jauh lebih tua dari suamiku, bahkan hampir 2 kali usiaku sendiri. Dan panggilanya yang ..&#39;Sini Dik Mar&#39;, itu .. terasa sangat erotis di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku inilah yang disebut istri nyeleweng. Aku inilah istri yang selingkuh..uh uh uh .. Kenapa begitu dahsyat birahi yang melandaku kini. Birahi yang didongkrak oleh pengertiannya akan makna selingkuh dan aku tetap melangkah ke dalamnya. Birahi yang dibakar oleh pengertian nyeleweng dan aku terus saja melanggarnya. Uhh .. aku nggak mampu menjawab semuanya kecuali rasa pasrah yang menjalar .. Dan saat aku rubuh ke ranjang itu, yang kemudian dengan serta merta Pak Parno menjemputku dengan dekapan dan rengkuhan di dadanya, aku sudah benar-benar tenggelam dalam pesona dahsyatnya istri yang nyeleweng dan selingkuh, yang menunggu saat-saat lanjutannya yang akan dipenuhi kenikmatan dan gelinjang yang pasti sangat hebat bagi istri penyeleweng pemula macam aku ini.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&#39;Dik Mar .. Aku sudah lama merindukan Dik Mar ini. Setiap kali aku lihat itu gambar bintang film Sarah Ashari yang sangat mirip Dik Mar .. Hatiku selalu terbakar .. Kapann aku bisa merangkul Dik Mar macam ini ..&#39;.&lt;br /&gt;Bukan main ucapan Pak Parno. Telingaku merasakan seperti tersiram air sejuk pegunungan. Berbunga-bunga mendengar pujian macam itu. Dan semakin membuat aku rela dan pasrah untuk digeluti Pak Parno yang gagah ini. Pak Parnoo ..Kekasihkuu.. Dia balik dan tindih tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia langsung melahap mulutku yang gelagapan kesulitan bernafas. Dia masukkan tangannya ke blusku. Dirangkulinya tubuhku, ditekankannya bibirnya lebih menekan lagi. Disedotnya lidahku. Disedotnya sekaligus juga ludahku. Sepertinya aku dijadikan minumannya. Dan sungguh aku menikmati kegilaannya ini. Kemudian tangannya dia alihkan, meremasi kedua susuku yang kemudian dilepaskannya pula. Ganti bibirnyalah yang menjemput susuku dan puting-putingnya. Dia jilat dan sedotin habis-habisan. Dan yang datang padaku adalah gelinjang dari saraf-sarafku yang meronta. Aku nggak mampu menahan gelinjang ini kecuali dengan rintihan yang keluar dari mulutku ..Pakee ..Pakee .. Pakee ..ampun nikmattnya Pakee..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya yang lepas dari susuku turun untuk meraih celana jeansku. Dilepasi kancing celanaku dan dibuka resluitingnya. Tangannya yang besar dan kasar itu mendorongnya hingga celanaku merosot ke paha. Kemudian tangan itu merogoh celana dalamku. Aaaiiuuhh.. tak terperikan kenikmatan yang mendatangi aku. Aku tak mampu menahan getaran jiwa dan ragaku. Saat-saat jari-jari kasar itu merabai bibir kemaluanku dan kemudian meremasi kelentitku ..aku langsung melayang ke ruang angkasa tak bertepi. Kenikmatan .. sejuta kenikmatan .. ah .. Selaksa juta kenikmatan Pak Parno berikan padaku lewat jari-jari kasarnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jari-jari itu juga berusaha menusuk lubang vaginaku. Aku rasakan ujungnya-unjungnya bermain di bibir lubang itu. Cairan birahiku yang sudah menjalar sejak tadi dia toreh-toreh sebagai pelumas untuk memudahkan masuknya jari-jarinya menembusi lubang itu. Dengan bibir yang terus melumati susuku dan tangannya merangsek kemaluanku dengan jari-jarinya yang terus dimainkan di bibir lubang vaginaku ..Ohh.. kenapa aku ini ..Ooohh.. Mas Adit .. maafkanlah akuu .. Ampunilahh .. istrimu yang nggak mampu mengelak dari kenikmatan tak bertara ini .. ampunilah Mas Adit .. aku telah menyelewengg .. aku nggak mampuu maass ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Parno terus menggumuli tubuhku. Blusku yang sudah berantakan memudahkan dia merangsek ke ketiakku. Dia jilati dan sedoti ketiakku. Dia nampak sekali menikmati rintihan yang terus keluar dari bibirku. Dia nampaknya ingin memberikan sesuatu yang nggak pernah aku dapatkan dari suamiku. Sementara jari-jarinya terus menusuki lubang vaginaku. Dinding-dindingnya yang penuh saraf-saraf peka birahi dia kutik-kutik, hingga aku serasa kelenger kenikmatan. Dan tak terbendung lagi, cairan birahiku mengalir dengan derasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang semula satu jari, kini disusulkan lagi jari lainnya. Kenikmatan yang aku terimapun bertambah. Pak Parno tahu persis titik-titik kelemahan wanita. Jari-jarinya mengarah pada G-spotku. Dan tak ayal lagi. Hanya dengan jilatan di ketiak dan kobokan jari-jari di lubang vagina aku tergiring sampai titik dimana aku nggak mampu lagi membendungnya. Untuk pertama kali disentuh lelaki yang bukan suamiku, Pak Parno berhasil membuatku orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat orgasme itu datang, kurangsek balik Pak Parno. Kepalanya kuraih dan kuremasi rambutnya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan kuhunjamkan kukuku ke punggungnya. Aku nggak lagi memperhitungkan bagaimana luka dan rasa sakit yang ditanggung Pak Parno. Pahaku menjepit tangannya, sementara pantatku mengangkat-angkat menjemputi tangan-tangan itu agar jarinya lebih meruyak ke lubang vaginaku yang sedang menanggung kegatalan birahi yang amat sangat. Tingkahku itu semua terus menerus diiringi racau mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat orgasme itu memuncratkan cairan birahiku aku berteriak histeris. Tangan-tanganku menjambret apa saja yang bisa kuraih. Bantalan ranjang itu teraduk. Selimut tempat tidur itu terangkat lepas dan terlempar ke lantai. Kakiku mengejang menahan kedutan vaginaku yang memuntahkan spermaku. &quot;Sperma&quot; perempuan yang berupa cairan-cairan bening yang keluar dari kemaluannya. Keringatku yang mengucur deras mengalir ke mataku, ke pipiku, kebibirku. Kusibakkan rambutku untuk mengurangi gerahnya tubuhku dalam kamar ber AC ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat telah reda, kurasakan tangan Pak Parno mengusap-usap rambutku yang basah sambil meniup-niup dengan penuh kasih sayang. Uh .. Dia yang ngayomi aku. Dia eluskan tangannya, dia sisir rambutku dengan jari-jarinya. Hawa dingin merasuki kepalaku. Dan akhirnya tubuhku juga mulai merasai kembali sejuknya AC kamar motel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;Dik Mar, Dik Mar hebat banget yaa hh.. Istirahat dulu yaa..?!, Saya ambilkan minum dulu yaahh ..&#39;, suara Pak Parno itu terasa menimbulkan rasa yang teduh. Aku nggak kuasa menjawabnya. Nafasku masih ngos-ngosan. Aku nggak pernah menduga bahwa aku akan mendapatkan kenikmatan sehebat ini. Kamar motel ini telah menyaksikan bagaimana aku mendapatkan kenikmatan yang pertama kalinya saat aku menyeleweng dari kesetiaanku pada Mas Adit suamiku untuk disentuhi dan digumuli oleh Pak Parno, Pak RT kampungku, yang bahkan juga sering jadi lawan main catur suamiku di saat-saat senggang. Mas Adit .. Ooohh .. maass ..maafkanlah aakuu .. maass..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aku masih terlena di ranjang dan menarik nafas panjang sesudah orgasmeku tadi, Pak Parno terus menciumi dan ngusel-uselkan hidungnya ke pinggulku, perutku. Bahkan lidah dan bibirnya menjilati dan menyedoti keringatku. Tangannya tak henti-hentinya merabai selangkanganku. Aku terdiam. Aku perlu mengembalikan staminaku. Mataku memandangi langit-langit kamar motel itu. Menembusi atapnya hingga ke awang-awang. Kulihat Mas Adit sedang sibuk di depan meja gambarnya, sebentar-sebentar stip Staedler-nya menghapus garis-garis potlod yang mungkin disebabkan salah tarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin semua ini hanyalah soal perlakuan. Hanyalah perlakuan Mas Adit yang sepanjang perkawinan kami tidak sungguh-sungguh memperhatikan kebutuhan biologisku. Lihat saja Pak Parno barusan, hanya dengan lumatan bibirnya pada ketiakku dan kobokkan jari-jarinya yang menari-nari di kemaluanku, telah mampu memberikan padaku kesempatan meraih orgasmeku. Sementara kamu Mas, setiap kali kamu menggumuliku segalanya berjalan terlampau cepat, seakan kamu diburu-buru oleh pekerjaanmu semata. Kamu peroleh kepuasanmu demikian cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara saat nafsuku tiba dengan menggelegak, Mas Adit sudah turun dari ranjang dengan alasan ada yang harus diselesaikan, si anu sudang menunggu, atau si anu besok mau pergi dan sebagainya. Kamu ternyata sekali sangat egois. Kamu biarkan aku tergeletak menunggu sesuatu yang tak pernah datang. Menunggu Mas Adit yang hanya memikirkan kebutuhannya sendiri. Yang aku nggak tahu kapan itu datangnya .. Sepertinya aku menunggu Godotku .., menunggu sesuatu yang aku tahu nggak akan pernah datang padaku ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;Dik Marni capek ya ..&#39;, bisikkan Pak Parno membangunkan aku dari lamunan.&lt;br /&gt;&#39;Nggak Pak. Lagi narik napas saja .. Tadi koq nikmat banget yaa .., sedangkan Pak Parno belum ngapa-apain padaku .. Pakee .. Pak Parno juga hebat lhoo .. Baru di utik-utik saja aku sudah kelabakkan .. Hi hi hi ..&#39;, aku berusaha membesarkan hati Pak Parno yang telah memberikan kepuasan tak terhingga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Pak Parno hanya ingin nge-cek bahwa aku nggak tertidur. Dengan jawabanku tadi dengan penuh semangat dia turun dari ranjang. Dia lepasin sendiri kemejanya, celana panjangnya dan kemudian celana dalamnya. Baru pertama kali ini aku melihat lelaki lain telanjang bulat di depanku selain Mas Adit suamiku. Wuuiihh .. aku sangat tergetar menyaksikan tubuh Pak Parno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usianya yang lebih dari 55 tahun itu, sungguh Pak Parno memiliki tubuh yang sangat seksi bagi para wanita yang memandangnya. Perutnya nggak nampak membesar, dengan otot-otot perut yang kencang. Bukit dadanya yang sangat menantang menunggu gigitan dan jilatan perempuan-perempuan binal. Dan yang paling membuatku serasa pingsan adalah .. kontolnya .. Aku belum pernah melihat kontol lelaki lain .. Kontol Pak Parno sungguh-sungguh merupakan kontol yang sangat mempesona dalam pandanganku saat ini. Kontol itu besar, panjang, keras hingga nampak kepalanya berkilatan dan sangat indah. Kepalanya yang tumpul seperti helm tentara Nazi, sungguh merupakan paduan erotis dan powerful. Sangat menantang. Dengan sobekan lubang kencing yang gede, kontol itu seakan menunggu mulut atau kemaluan para perempuan yang ingin melahapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah telanjang Pak Parno juga menarik pakaianku, celana jeansku yang sedari tadi masih di separoh kakiku, kemudian blus serta kutangku dilepasnya. Kini aku dan Pak Parno sama-sama telanjang bulat. Pak Parno rebah di antara pahaku. Dia langsung nyungsep di selangkanganku. Lidahnya menjilati kemaluanku. Waduuiihh .. Ampunn .. Kenapa cara begini ini nggak pernah aku dapatkan dari Mas Aditt ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah kasar Pak Parno menusuk dan menjilati vaginaku. Bibir-bibir kemaluanku disedotinya. Ujung lidahnya berusaha menembusi lubang vaginaku. Pelan-pelan nafsuku terpancing kembali. Lidah yang menusuk lubang vaginaku itu membuat aku merasakan kegatalan yang hebat. Tanpa kusadari tanganku menyambar kepala Pak Parno dan jariku meremasi kembali rambutnya sambil mengerang dan mendesah-desah untuk kenikmatan yang terus mengalir. Tanganku juga menekan-nekan kepala itu agar tenggelam lebih dalam ke selangkanganku yang makin dilanda kegatalan birahi yang sangat. Pantatku juga ikut naik-naik menjemput lidah di lubang vaginaku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Pak Parno memindahkan dan mengangkat kakiku untuk ditumpangkan pada bahunya. Posisi seperti itu merupakan posisi yang paling mudah bagi Pak Parno maupun bagi aku. Dengan sedikit tenaga aku bisa mendesak-desakkan kemaluanku ke mulut Pak Parno, dan sebaliknya Pak Parno tidak kelelahan untuk terus menciumi kemaluanku. Terdengar suara kecipak mulut Pak yang beradu dengan bibir kemaluanku. Dan desahan Pak Parno dalam merasakan nikmatnya kemaluanku tak bisa disembunyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi ini membuat kegatalan birahiku semakin tak terhingga hingga membuat aku menggeliat-geliat tak tertahankan. Pak Parno sibuk memegang erat-erat kedua pahaku yang dia panggul. Aku tidak mampu berontak dari pegangannya. Dan sampai pada akhirnya dimana Pak Parno sendiri juga tidak tahan. Rintihan serta desahan nikmat yang keluar dari mulutku merangsang nafsu birahi Pak Parno tidak bisa terbendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah menurunkan kakiku, Pak Parno langsung merangkaki tubuhku. Digenggamnya kontolnya, diarahkan secara tepat ke lubang kemaluanku. Aku sungguh sangat menunggu detik-detik ini. Detik-detik dimana bagiku untuk pertama kalinya aku mengijinkan kontol orang lain selain suamiku merambah dan menembus memekku. Seluruh tubuhku kembali bergetar, seakan terlempar ke-awang-awang. Sendi-sendiku bergetar .. menunggu kontol Pak Parno menembus kemaluanku .. Aku hanya bisa pasrah .. Aku nggak mampu lagi menghindar dari penyelewengan penuh nikmat ini .. Maafin aku Mas Adit ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung ke &lt;a href=&quot;http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/selingkuh-dengan-ketua-rt-3.html&quot;&gt;Bagian 3&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/1117598894196519714/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/1117598894196519714?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/1117598894196519714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/1117598894196519714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/selingkuh-dengan-ketua-rt-2.html' title='Selingkuh dengan Ketua RT-2'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-481305192468131387</id><published>2009-01-29T22:15:00.002+07:00</published><updated>2009-01-29T22:25:23.943+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tukar Pasangan"/><title type='text'>Selingkuh dengan Ketua RT-3</title><content type='html'>Aku menjerit kecil saat kepala tumpul yang bulat gede itu menyentuh dan langsung mendorong bibir vaginaku. Rasa kejut saraf-saraf di bibir vaginaku langsung bereaksi. Saraf-saraf itu menegang dan membuat lubang vaginaku menjadi menyempit. Dan akibatnya seakan tidak mengijinkan kontol Pak Parno itu menembusnya. Dan itu membuat aku penasaran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;Santai saja Mar, biar lemesan..&#39;, terdengar samar-samar suara Pak Parno di tengah deru hawa nafsuku yang menyala-nyala.&lt;br /&gt;&#39;Pakee .. Pakee .. ayyoo .. Pakee tulungi saya Pakee .. Puas-puasin ya Pakee.. Saya serahin seluruh tubuh saya untuk Pakee ..&#39;, kedengerannya aku mengemis minta dikasihani.&lt;br /&gt;&#39;Iyaa Dik Marr .. Sebentar yaa Dik Marr ..&#39;, suara Pak Parno yang juga diburu oleh nafsu birahinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala helm tentara itu akhirnya berhasil menguak gerbangnya. Bibir vaginaku menyerah dan merekah. Menyilahkan kontol Pak Parno menembusnya. Bahkan kini vaginakulah yang aktif menyedotnya, agar seluruh batang kontol gede itu bisa dilahapnya.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Uuhh .. aku merasakan nikmat desakan batang yang hangat panas memasuki lubang kemaluanku. Sesak. Penuh. Tak ada ruang dan celah yang tersisa. Daging panas itu terus mendesak masuk. Rahimku terasa disodok-sodoknya. Kontol itu akhirnya mentok di mulut rahimku. Terus terang belum pernah se-umur-umurku rahimku ngrasain disentuh kontol Mas Adit. Dengan sisa ruang yang longgar, kontol suamiku itu paling-paling menembus ke vaginaku sampai tengahnya saja. Saat dia tarik maupun dia dorong aku tidak merasakan sesak atau penuh seperti sesak dan penuhnya kontol Pak Parno mengisi rongga vaginaku saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Pak Parno mulai melakukan pemompaan. Ditariknya pelan kemudian didorongnya. Ditariknya pelan kembali dan kembali didorongnya. Begitu dia ulang-ulangi dengan frekewnsi yang makin sering dan makin cepat. Dan aku mengimbangi secara reflek. Pantatku langsung pintar. Saat Pak Parno menarik kontolnya, pantatku juga menarik kecil sambil sedikit ngebor. Dan saat Pak Parno menusukkan kontolnya, pantatku cepat menjemputnya disertai goyangan igelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian secara beruntun, semakin cepat, semakin cepat, cepat, cepat, cepat, cepat, cepaatt ..ceppaatt. Payudaraku bergoncang-goncang, rambutku terburai, keringatku, keringat Pak Parno mengalir dan berjatuhan di tubuh masing-masing, mataku dan mata Pak Parno sama-sama melihat keatas dengan menyisakan sedikit putih matanya. Goncangan makin cepat itu juga membuat ranjang kokoh itu ikut berderak-derak. Lampu-lampu nampak bergoyang, semakin kabur, kabur, kabur. Sementara rasa nikmat semakin dominan. Seluruh gerak, suara, nafas, bunyi, desah dan rintih hanyalah nikmat saja isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;Mirnaa .. Ayyoo.. Enakk nggak kontol padee Mirr, enak yaa.. enak Mirr .. ayyoo bilangg enak mana sama kontol si Adit .. Ayoo Mirr enak mana sama kontol suamimu ayoo bilangg ayyoo enakan manaa ..&#39;, Pak Parno meracau.&lt;br /&gt;&#39;Pakee .. enhaakk.. pakee.. Enhakk kontol pakee .. Panjangg .. Uhh gedhee bangett .. pakee.. Enakan kontol Pak Parnoo ..&#39;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya aku mendapat orgasmeku 2 kali secara berturut-turut. Itu yang ibu-ibu sering sebut sebagai multi orgasme. Bukan mainn .. hanya dari Pak Parno aku bisa meraih multi orgasmeku inii .. Oohh Pak Parnoo.. terima kasihh .. Pak Parno mau memuaskan akuu.. Sekarangg ayoo .. Pakee biar aku yang memuaskan kamuu ..&lt;br /&gt;Dan kontol Pak Parno aku rasakan berdenyut keras dan kuat sekali.. Kemudian menyusul denyut-denyut berikutnya. Pada setiap denyutan aku rasakan vaginaku sepertinya disemprot air kawah yang panas. Sperma Pak Parno berkali-kali muntah di dalam vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uhh .. Aku jadi lemess bangett .. Nggak pernah sebelumnya aku capek bersanggama. Kali ini seluruh urat-urat tubuhku serasa di lolosi. Dengan telanjang bulat kami sama telentang di ranjang motel ini. Di sinilah akhirnya terjadi untuk pertama kalinya aku serahkan nonokku beserta seluruh tubuhku kepada lelaki bukan suamiku, Pak Parno. Dan aku heran .. pada akhirnya.. tak ada rasa sesal sama sekali dari hatiku pada Mas Adit. Aku sangat ikhlaskan apa yang telah aku serahkan pada Pak Parno tadi. Dan dalam kenyataan aku mendapatkan imbalan kepuasan dari Pak Parno yang sangat hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di motel ini aku mengalami 3 kali orgasme. Dua kali beruntun aku mengalami orgasme dalam satu kali persetubuhan dan yang pertama sebelumnya, yang hanya dengan gumulan, ciuman dan jilatan Pak Parno di ketiakku sembari tangannya ngobok-obok kemaluanku aku bisa mendapatkan orgasme yang sangat memberikan kepuasan pada libidoku. Hal itu mungkin disebabkan karena adanya sensasi-sensasi yang timbul dari sikap penyelewengan yang baru sekali ini aku lakukan. Yaa.. pada akirnya aku toh berhak mendapatkannya .. tanpa menunggu Mas Adit yang sangat egois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku ingin tinggal lebih lama lagi di tempat birahi ini, namun Pak Parno mengingatkan bahwa waktu bernikmat-nikmat yang pertama kali kami lakukan ini sudah cukup lama. Pak Parno khawatir orang-orang rumah menunggu dan bertanya-tanya. Pak Parno mengajak selekasnya kami meninggalkan tempat ini dan kembali menyelesaikan pekerjaan yang telah kami sanggupi pada Mbak Surti dalam rangka membantu hajatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami mandi dan membersihkan tanda-tanda yang kemungkinan mencurigakan, kami kembali ke jalanan. Ternyata kemacetan jalan menuju ke Senen ini sangat parah di siang hari ini. Dengan adanya pembangunan jembatan layang pada belokan jalan di Galur, antrean mobil macet sudah terasa mulai dari pasar Cempaka Putih. Mobil Pak Parno serasa merangkak. Untung AC mobilnya cukup dingin sehingga panasnya Jakarta tidak perlu kami rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang kemacetan ini pikiranku selalu kembali pada peristiwa yang barusan aku alami bersama Pak Parno tadi. Lelaki tua ini memang hebat. Dia sangat kalem dan tangguh. Dia sangat sabar dan berpengalaman menguasai perempuan. Dialah yang terbukti telah memberikan padaku kepuasan seksual. Paduan kesabaran, tampilan yang tegap tubuhnya serta kontol gedenya yang indah membuat aku langsung takluk secara iklas padanya. Aku telah serahkan seluruh tubuhku padanya. Dan Pak Parno tidak sekedar menerimanya untuk kepentingannya sendiri, tetapi dia sekaligus membuktikan bahwa kenikmatan hubungan seksual yang sebenar-benarnya adalah apabila pihak lelaki dan pihak perempuannya bisa mendapatkan kepuasannya secara adil dan setara. Dan aku merasakannya .. tapi .. Benar adilkah ..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah .. pertanyaan itu tiba-tiba mengganguku. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku bahwa dari hubungan badan tadi, aku berhasil merasakan orgasmeku hingga 3 kali. Sementara Pak Parno hanya mengeluarkan spermanya sekali saja. Artinya dia meraih kepuasan dalam hubungan seksual dengan aku tadi hanya sekali. Ahh ..adakah hal ini menjadi masalah untuk hubunganku dengan Pak Parno selanjutnya ..? Kenapa dia banyak diam sejak keluar dari motel tadi ..?&lt;br /&gt;Aku menjadi gelisah, aku kasihan pada Pak Parno apabila dia masih menyimpan dorongan birahinya. Apabila belum seluruh cairan birahinya secara tuntas tertumpah. Bukankah hal demikian itu bagi lelaki akan menimbulkan semacam kegelisahan ..? Apa yang harus aku lakukan ..??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;Pak, tadi puas nggak Pak..?&#39;, aku memberanikan diri untuk bertanya.&lt;br /&gt;&#39;Bukan main Dik Mar, aku sungguh sangat puas&#39;, begitu jawabnya.&lt;br /&gt;Suatu jawaban yang sangat santun yang justru semakin besar kekhawatiranku. Jawaban macam itu pasti akan keluar dari setiap &#39;gentlemen&#39;. Aku harus amati dari sudut yang lain. Kulihat dibawah kemudi Kijangnya. Nampak celananya masih menggunung. Artinya kontolnya masih ngaceng. Aku nekat. Kuraba saja tonjolan celananya itu.&lt;br /&gt;&#39;Ininya koq masih ngaceng Pak? Masih pengin yaa?? Tadi masih mau lagi yaa??&#39;, sambil tanganku terus memijiti gundukkan itu. Dan terbukti semakin membesar dan mengeras.&lt;br /&gt;Pak Parno diam saja. Aku tahu pasti dia menikmati pijatanku ini. Aku teruskan. Tanganku meremasi, mengurut-urut.&lt;br /&gt;&#39;Hheehh ..dik Marr .. enak sekali tangan Dik Marr yaa..&#39;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah, biarlah aku akan selalu memberikan yang aku bisa. Dengan berbagai style, tanganku terus meremasi dan mijit gundukkan kontol itu. Tetapi lama kelamaan justru tanganku sendiri makin menikmati kenikmatan memijit-mijit itu. Dan semakin lama justru aku yang nyata semakin kelimpungan. Aku kenang kembali kontol gede ini yang 40 menit yang lalu masih menyesaki kemaluanku. Yang tanpa meninggalkan celah sedikitpun memenuhi rongga vaginaku. Dan ujungnya ini yang untuk pertama kalinya bisa mentok ke dinding rahimku.. ah nikmatnya ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;Pakee.. Aku pengin lagii ..&#39;, aku berbisik dengan setengah merintih.&lt;br /&gt;&#39;Kita cari waktu lagi Dik Mar .., gampang.., Dik Mar khan bisa bilang pada Mas Adit, mau ke Carrefour atau ke Mangga Dua cari barang apa.. gitu&#39;.&lt;br /&gt;&#39;Iyaa siihh.. Boleh dibuka ya Pak. Aku pengin lihat lagi nih jagoan Pak ..&#39;, sambil aku melempar senyum serta melirikkan mataku ke Pak Parno melihat reaksinya.&lt;br /&gt;&#39;Boleehh ..&#39;, dia jawab tanpa melihat ke aku, karena keramaian lalu lintas yang mengharuskan Pak Parno berkonsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku sigap. Pertama-tama kukendorkan dulu ikat pinggangnya. Kemudian kubuka kancing utamanya. Selanjutnya kuraih resluitingnya hingga nampak celana dalamya yang kebiruan. Di belakang celana dalam itu membayang alur daging sebesar pisang tanduk yang mengarah ke kanan. Oouu.. ini kali yang namanya stir kanan.. Kalau stir kiri, mengarahnya kekiri tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tidak sabar kubetot kontol Pak Parno dari sarangnya. Melalui pinggiran kanan celana dalamnya, kontol Pak Parno mencuat keluar. Gede, panjang, kepalanya yang bulat berkilatan. Dan pada ujung kepala itu ada secercah titik bening. Oooww ..baru sekarang aku berkesempatan memperhatikan kontol ini dari jarak yang sangat dekat, bahkan dalam genggamanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya precum Pak Parno telah terbit di ujung kepalanya. Precum itu muncul dari lubang kencingnya. Uuuhh .. indahnyaa .. bisakah aku nggak bisa menahan diri ..??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;Pak Parno pengin khan..??&#39;, kembali aku berbisik.&lt;br /&gt;&#39;Heehh .. Dik Mar mau bantu Pak Parno nih ..??&#39;, jawaban yang disertai pertanyaan balik.&lt;br /&gt;&#39;Gimana bantunya Pak.., berhenti duluu .. Cari tempat lagii .. Hayoo..&#39;, jawabanku enteng.&lt;br /&gt;&#39;Nggak begitu Dik Mar, kita nggak mungkin berhenti lagi. Ya ini khan macet nih jalanan. Maksudku, apakah .. eehh .. Dik Mar marah nggak kalau aku bilang ini ..??&#39;.&lt;br /&gt;&#39;Nggak pa pa Pak, saya rela koq, dan saya pengin bantu bener-bener, Pak&#39;.&lt;br /&gt;&#39;Dik Mar pernah mengisep punya Mas Adit khan?&#39;.&lt;br /&gt;&#39;Ooo.. Kk.. kaalau ii.. ttuu terus terang aku belum pernah Pak.., kalau lihat punya Mas Adit rasanya aku geli gituu.. jijikk gituu ..&#39;.&lt;br /&gt;&#39;Kalau lihat punya saya inii.?&#39;, dia terus mendesak dengan pertanyaan yang terus terang aku nggak bisa menjawab secara cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya aku dihadapkan pada sesuatu hal yang bener-bener belum pernah aku lakukan, bahkan pun dalam khayalan seksualku. Pasti yang Pak Parno inginkan adalah aku mau mengisep-isep kontolnya itu, yaa khan? Tapi aku juga berpikir cepat .. Tadi sewaktu di motel, Pak Parno membenamkan wajahnya ke selangkanganku tanpa risah-risih. Kemudian dijilatinya vaginaku, kelentitku, lubang kemaluanku. Dia juga menelan cairan-cairan birahiku. Aku jadi ingat prinsip adil dan setara yang aku sebutkan di atas tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya aku yaa.. nggak usah ragu-ragu untuk berlaku mengimbangi apa yang telah dilakukan Pak Parno padanya. Dia telah menjilati, menyedoti kemaluanku. Dan aku sangat menikmati jilatan dahsyatnya. Dan sekarang Pak Parno seakan menguji padaku. Bisakah aku bertindak adil dan setara juga pada dia. Aku membayangkan kontol itu di mulutku ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;Dik Mar, sperma itu sehat lhoo, bersih, steril.. dan banyak vitaminnya. Itu dokter ahli lho yang ngomong. Cobalah, kontol Pak Parno ini pasti sedap kalau Dik Mar mengulumnya.. &#39;, aku sepertinya mendengar sebuah permohonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kasihan juga pada Pak Parno. Mungkin dia sudah mengharapkan sejak awal jalan bersama dari rumah tadi. Mungkin bahkan dia sudah mengharapkan jauh beberapa waktu yang lalu. Dan kini saat aku sudah berada disampingnya harapan itu nggak terkabul. Ah, aku jadi iba .. Kulihat kembali kontol indah Pak Parno. Yaa.. benar-benar indah..apa artinya indah itu .. Kalau memang itu indah ..sudah semestinya kalau aku menyukainya ..dan kalau aku menyukainya .. mestinya aku nggak jijik ataupun geli .. Dan lihat precum itu.. Juga indah khan, bening, murni, dan mungkin juga wangi ..dan asin .. Dan.. Banyak lho yang sangat menyukainya .., menjilatinya, meminumnya ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu-tahu aku sudah merunduk, mendekatkan wajahku, mendekatkan bibirku ke kontol Pak Parno yang indah itu. Dan tanpa banyak tanya lagi aku telah mengambil keputusan .. Ah,.. ujung lidahku kini menyentuh, menjilat dan merasakan lendir lembut dan bening milik Pak Parno. Yaahh .. asinnya yang begitu lembutt..&lt;br /&gt;&#39;Dik Maarr .. Uhh enakk bangett sihh ..&#39;, kepalaku dielus-elusnya. Dan dia sibakkan rambutku agar tidak menggangu keasyikanku. Dan selanjutnya dengan penuh semangat aku mengkulum kontol Pak Parno di mobil yang sempit itu. Kemudian Pak Parno sedikit memundurkan tempat duduknya.&lt;br /&gt;&#39;Dik Marr .. Terus Dik Marr .. Kamu pinter banget siihh .. uuhh Dik Marr..&#39;, aku terus memompa dengan lembut. Banyak kali aku mengeluarkan kepala itu dari mulutku.. Aku menjilati tepi-tepinya .. Pada pangkal kepala ada alur semacam cincin atau bingkai yang mengelilingi kepala itu. Dan sobekan lubang kencingnya itu .. kujilati habis-habisan ..&lt;br /&gt;&#39;Marr.. enak bangett .. akau mau keluar nihh Dik Marr .. Aku mau keluar nihh ..&#39;, aku tidak menghiraukan kata-katanya, mungkin maksudnya peringatan untukku, jangan sampai air maninya tumpah di mulutku. Dia masih khawatir bahwa mungkin aku belum bisa menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apa yang terjadi padaku kini sudah langsung berbalik 180 derajat. Rasanya justru aku kini yang merindukannya. Dan aku memang merindukannya. Aku pengin banget merasakan sperma seorang lelaki langsung tumpah dari kontolnya langsung ke mulutku. Dan lelaki itu adalah Pak Parno, yang bukan suamiku sendiri. Aku terus menjilati, menyedoti. Batangnya, pangkalnya, pelernya, sejauh bisa bibir atau lidahku meraihnya, disebabkan tempat yang sempit ini, semua bagian kontolnya itu aku rambah dengan mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pengalaman pertama itu akhirnya hadir. Saat mulutku mengkulum batangan gede panjang milik Pak Parno itu, aku rasakan kembali ada kedutan besar dan kuat. Kedutan itu kemudian disusul dengan kedutan-kedutan berikutnya. Kalau yang aku rasakan di motel tadi kedutan-kedutan kontol Pak Parno dalam lubang vaginaku, sekarang hal itu aku rasakan di rongga mulutku. Kontol Pak Parno memuntahkan laharnya. Cairan, atau tepatnya lendir yang hangat panas nyemprot langit-langit rongga mulutku. Sperma Pak Parno tumpah memenuhi mulutku. Entah berapa kali kedutan tadi. Tetapi sperma dalam mulutku ini nggak sempat aku telan seluruhnya karena saking banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sperma Pak Parno berleleran di pipiku, daguku, bahkan juga ke kening dan rambut panjangku. Kontol Pak Parno masih berkedut-kedut saat kukeluarkan dari mulutku. Dan aku raih kembali untuk kuurut-urut agar semua sperma yang tersisa bisa terkuras keluar. Mulutku langsung menyedotinya. Sekali lagi, pengalaman pertama nyeleweng ini benar-benar memberiku daftar panjang hal-hal baru yang sangat sensasional bagiku. Dan aku makin merasa pasti, hal-hal itu nggak mungkin aku dapatkan dari Mas Adit, suamiku tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai rencana, aku diturunkan di Pasar Senen oleh Pak Parno. Sungguh aku keberatan untuk perpisahan ini. Kugenggam tangannya erat-erat, untuk menunjukkan betapa besarnya arti Pak Parno bagiku. Aku berjalan dengan gontai saat menuju toko kertas dekorasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku turun dari taksi sesampai di rumah, Mbak Surti nampak cemberut. Aku biarkan. Pada temen yang lain aku bilang banyak bahan yang aku cari stoknya habis sehingga aku menunggu cukup lama. Di ujung jalan sana kulihat mobil Kijang Pak Parno. Mungkin sudah lama lebih dahulu nyampai di kompleks. Orang-orang pemasang tenda dan pengatur sound system sudah mulai melaksanakan tugasnya. 2 jam lagi acara akan dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pamit pulang sebentar, untuk menengok rumah. Mas Adit belum pulang. Aku mandi lagi sambil mengenang peristiwa indah yang kualami sekitar 2,5 jam yang lalu. Saat sabunku menyentuh kemaluanku, masih tersisa rasa pedih pada bibirnya. Mungkin jembut Pak Parno tersangkut saat kontolnya keluar masuk menembus memekku. Dan itu biasanya menimbulkan luka kecil yang terasa pedih pada bibir vaginaku saat terkena sabun seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/481305192468131387/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/481305192468131387?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/481305192468131387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/481305192468131387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/selingkuh-dengan-ketua-rt-3.html' title='Selingkuh dengan Ketua RT-3'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-1063446677219049987</id><published>2009-01-26T22:56:00.002+07:00</published><updated>2009-01-26T23:00:22.958+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Andani Citra"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sex Party"/><title type='text'>Kejutan untuk Teman-temanku</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5Gn3rn41wO6L3loROSdBQQJFlnIg4x6jfMbtLTY6ZeGG0YAd3EbniXQIJzlFNMm16WyQL5TveLDsb9vYrkdI2v6ltFFLEpLudItJ5StR8FhJzIfopQl913c0-XV7wzNStXQfEpihyxO6V/s1600-h/17.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 184px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5Gn3rn41wO6L3loROSdBQQJFlnIg4x6jfMbtLTY6ZeGG0YAd3EbniXQIJzlFNMm16WyQL5TveLDsb9vYrkdI2v6ltFFLEpLudItJ5StR8FhJzIfopQl913c0-XV7wzNStXQfEpihyxO6V/s200/17.jpeg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5295632732042938050&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;3 Episode&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu adalah hari Minggu sebulan setelah peristiwaku di vila bersama Pak Joko dan Taryo (baca: Akibat Berenang Bugil), selama ini aku belum ke sana lagi akibat kesibukan kuliahku. Hari Minggu itu aku pergi ke sana untuk refreshing seperti biasa karena Seninnya tanggal merah atau libur. Kali ini aku tidak sendiri tapi bersama 2 orang teman cewekku yaitu Verna dan Indah, kami semua adalah teman akrab di kampus, sebenarnya geng kami ini ada 4 orang, satu lagi si Ratna yang hari ini tidak bisa ikut karena ada acara dengan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sama-sama terbuka tentang seks dan sama-sama penggemar seks, Verna dikaruniai tubuh tinggi semampai dengan buah dada yang bulat montok yang membuat pikiran kotor para cowok melayang-layang, beruntunglah mereka karena Verna tidak sulit diajak &#39;naik ranjang&#39; karena dia sudah ketagihan seks sejak SMP. Sedangkan Indah mempunyai wajah yang imut dengan rambut panjang yang indah, bodynya pun tidak kalah dari Verna walaupun payudaranya lebih kecil, namun dibalik wajah imutnya ternyata Indah termasuk cewek yang lihai memanfaatkan cowok, sudah berkali-kali dia ganti pacar gara-gara sifat materenya. Sedangkan aku sendiri sepertinya kalian sudah tahulah cewek seperti apa aku ini dari cerita-ceritaku dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, sekarang kita kembali ke kejadian hari itu yang rencananya mau mengadakan orgy party setelah sekian lama otak kami dijejali bahan-bahan kuliah dan urusan sehari-hari. Waktu itu Verna protes karena aku tidak memperbolehkannya mengajak teman-teman cowok yang biasa diajak, begitu juga Indah yang ikut mendukung Verna karena pacarnya juga tidak boleh diajak.&lt;br /&gt;&quot;Emangnya lu ngundang siapa aja sih Ci, masa si Chevy aja ga boleh ikutan?&quot; kata Indah.&lt;br /&gt;&quot;Iya nih, emangnya kita mau pesta lesbian apa, wah gua kan cewek normal nih&quot; timpal Verna.&lt;br /&gt;&quot;Udahlah, lu orang tenang aja, cowok-cowoknya nanti nyusul, pokoknya yang kali ini surprise deh! dijamin kalian puas sampe ga bisa bangun lagi deh&quot;.&lt;br /&gt;Aku ingin sedikit membuat kejutan agar acara kali ini lain dari yang lain, karena itulah aku merahasiakan siapa pejantannya yang tidak lain adalah penjaga vilaku dan vila tetanggaku, Pak Joko dan Taryo.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kemarinnya aku memang sudah mengabari Pak Joko lewat telepon bahwa aku besok akan ke sana dengan teman-temanku yang pernah kujanjikan pada mereka dulu. Pak Joko tentu antusias sekali dengan acara kali ini, kami telah mengatur skenario acaranya agar seru. Beberapa jam kemudian kami sampai di villaku, Pak Joko seperti biasa membukakan pintu garasi, bola matanya melihat jelalatan pada kami terutama Verna yang hari itu pakaiannya seksi berupa sebuah tank top merah berdada rendah dengan rok mini. Dia kusuruh keluar dulu sampai aku memberi syarat padanya, dia menunggunya di villa tetangga yang tidak lain vila yang dijaga si Taryo. Setelah membereskan barang bawaan, kami menyantap makan siang, lalu ngobrol-ngobrol dan istirahat. Indah yang daritadi kelihatan letih terlelap lebih dulu. Kami bangun sore hari sekitar jam 4 sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Eh.. sambil nunggu cowok-cowoknya mendingan kita berenang dulu yuk&quot; ajakku pada mereka.&lt;br /&gt;Aku melepaskan semua bajuku tanpa tersisa dan berjalan ke arah kolam dengan santainya.&lt;br /&gt;&quot;Wei.. gila lo Ci, masa mau berenang ga pake apa-apa gitu, kalo keliatan orang gimana?&quot; tegur Indah.&lt;br /&gt;&quot;Iya Ci, lagian kan kalo si tua Joko itu dateng gimana tuh&quot; sambung Verna.&lt;br /&gt;&quot;Yah kalian, katanya mo party, masa berenang bugil aja ga berani, tenang aja Pak Joko udah gua suruh jangan ke sini sampai kita pulang nanti&quot; bujukku sambil menarik tangan Verna.&lt;br /&gt;Di tepi kolam mereka masih agak ragu melepas pakaiannya, alasannya takut kepergok tetangga, setelah kutantang Verna baru mulai berani melepas satu demi satu yang melekat di tubuhnya, aku membantu Indah yang masih agak malu mempreteli pakaiannya. Akhirnya kami bertiga nyebur ke kolam tanpa memakai apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan rasa risih mereka pun mulai berkurang, kami tertawa-tawa, main siram-siraman air, dan balapan renang kesana kemari dengan bebasnya. Mungkin seperti inilah kira-kira gambaran tempat pemandian di istana haremnya para raja. Sesudah agak lama bermain di air aku naik ke atas dan mengelap tubuhku yang basah, lalu membalut tubuhku dengan kimono.&lt;br /&gt;&quot;Ci, sekalian ambilin kita minum yah&quot; pinta Verna.&lt;br /&gt;Akupun berjalan ke dalam dan meminum segelas air.&lt;br /&gt;&quot;Ok, it&#39;s the showtime&quot; gumamku dalam hati, inilah saat yang tepat untuk menjalankan skenario ini. Aku segera menelepon vila sebelah menyuruh Pak Joko dan Taryo segera kesini karena pesta akan segera dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Iya neng, kita segera ke sana&quot; sahut Taryo sambil menutup gagang telepon.&lt;br /&gt;Hanya dalam hitungan menit mereka sudah nampak di pekarangan depan vilaku. Aku yang sudah menunggu membukakan pintu untuk mereka.&lt;br /&gt;&quot;Wah udah ga sabaran nih, daritadi cuma ngintipin neng sama temen-temen neng dari loteng&quot; kata Pak Joko.&lt;br /&gt;&quot;Pokoknya yang rambutnya dikuncir itu buat saya dulu yah neng&quot; ujar Taryo merujuk pada Indah.&lt;br /&gt;&quot;Iya tenang, sabar, Pokoknya semua kebagian, ok&quot; kataku &quot;yang penting sekarang surprise buat mereka dulu&quot;.&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat berbicara kasak-kusuk, akhirnya operasipun siap dilaksanakan. Pertama-tama dimulai dari Verna. Aku berjalan ke arah kolam membawakan mereka dua gelas air, disana Indah sedang tiduran di kursi santai tanpa busana, sementara Verna masih berendam di air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ver, lu bisa ke kamar gua sebentar ga, gua mo minta tolong dikit nih&quot; pintaku padanya.&lt;br /&gt;&quot;Lu lap badan dulu gih, gua tunggu di sana&quot;.&lt;br /&gt;Aku masuk ke dalam terlebih dahulu dan duduk di pingir ranjang menunggunya. Di balik pintu itu Pak Joko dan Taryo yang sudah kusuruh bugil telah siap memangsa temanku itu, kemaluan mereka sudah mengeras dan berdiri tegak seperti pedang yang terhunus. Tak lama kemudian Verna memasuki kamarku sambil mengelap rambutnya yang masih basah.&lt;br /&gt;&quot;Kenapa Ci, ada perlu apa emang?&quot; tanyanya.&lt;br /&gt;&quot;Ngga, cuma mau ngasih surprise dikit kok&quot; jawabku dengan menyeringai dan memberi aba-aba pada mereka.&lt;br /&gt;Sebelum Verna sempat membalikkan badan, sepasang lengan hitam sudah memeluknya dari belakang dan tangan yang satunya dengan sigap membekap mulutnya agar tidak berteriak. Verna yang terkejut tentu saja meronta-ronta, namun pemberontakan itu justru makin membakar nafsu kedua orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Joko dengan gemas meremas payudara kirinya dan memilin-milin putingnya. Si Taryo berhasil menangkap kedua pergelangan kakinya yang menendang-nendang. Dibentangkannya kedua tungkai itu, lalu dia berjongkok dengan wajah tepat di hadapan kemaluan Verna.&lt;br /&gt;&quot;Wah jembutnya lebat juga yah, kaya si neng&quot; komentar Taryo sambil menyentuhkan lidahnya ke liang vagina Verna, diperlakukan seperti itu Verna cuma bisa merem melek dan mengeluarkan desahan tertahan karena bekapan Pak Joko begitu kokoh.&lt;br /&gt;&quot;Hei, jangan rakus dong Tar, dia kan buat Pak Joko, tuh jatahlu masih nunggu di luar sana&quot; kataku padanya.&lt;br /&gt;Mengingat kembali sasarannya semula, Taryo menurunkan kembali kaki Verna dan bergegas menuju ke kolam.&lt;br /&gt;&quot;Jangan terlalu kasar yah ke dia, bisa-bisa pingsan gara-gara lu&quot; godaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Taryo keluar tinggallah kami bertiga di kamarku. Pak Joko langsung menghempaskan dirinya bersama Verna ke ranjang spring bed-ku. Tak berapa lama terdengarlah jeritan Indah dari kolam, aku melihat dari jendela kamarku apa yang terjadi antara mereka. Indah terpelanting dari kursi santai dan berusaha melepaskan diri dari Taryo. Dia berhasil berdiri dan mendapat kesempatan menghindar, tapi kalah cepat dari Taryo, tukang kebun itu berhasil mendekapnya dari belakang lalu mengangkat badannya.&lt;br /&gt;&quot;Jangan.. tolong!&quot; jeritnya sambil meronta-ronta dalam gendongan Taryo.&lt;br /&gt;Taryo dengan santai membawa Indah ke tepi kolam, lalu dilemparnya ke air, setelah itu dia ikutan nyebur. Dia air Indah terus berontak saat Taryo menggerayangi tubuhnya dalam himpitannya. Sekuat apapun Indah tentu saja bukan tandingan Taryo yang sudah kesurupan itu. Perlawanan Indah mengendur setelah Taryo mendesaknya di sudut kolam, riak di kolam juga mulai berkurang. Tidak terlalu jelas detilnya Taryo menggerayangi tubuh Indah, tapi aku dapat melihat Taryo memeluk erat Indah sambil melumat bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutinggalkan mereka menikmati saat-saat nikmatnya untuk kembali lagi pada situasi di kamarku. Aku lalu menghampiri Pak Joko dan Verna untuk bergabung dalam kenikmatan ini. Sama seperti Indah, Verna juga menjerit-jerit, namun jeritannya juga pelan-pelan berubah menjadi erangan nikmat akibat rangsangan-rangsangan yang dilakukan Pak Joko. Waktu aku menghampiri mereka Pak Joko sedang menjilati paha mulus Verna sambil kedua tangannya masing-masing bergerilya pada payudara dan kemaluan Verna.&lt;br /&gt;&quot;Aduh Ci.. tega-teganya lu nyerahin kita ke orang-orang kaya gini.. ahh!&quot; kata Verna ditengah desahannya.&lt;br /&gt;&quot;Tenang Ver, ini baru namanya surprise, sekali kali coba produk kampung dong&quot; kataku seraya melumat bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpagutan dengan Verna beberapa menit lamanya. Jilatan Pak Joko mulai merambat naik hingga dia melumat dan meremas payudara Verna secara bergantian, sementara tangannya masih saja mengobok-obok vaginanya. Desahan Verna tertahan karena sedang berciuman denganku, tubuhnya menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tiada tara.&lt;br /&gt;&quot;Hhhmmhh.. tetek Neng Verna ini gede juga ya, lebih gede dari punya Neng&quot; kata Pak Joko disela aktivitasnya.&lt;br /&gt;Memang sih diantara kami bereempat, payudara Verna termasuk yang paling montok. Menurut pengakuannya, cowok-cowok yang pernah ML dengannya paling tergila-gila mengeyot benda itu atau mengocok penis mereka diantara himpitannya. Pak Joko pun tidak terkecuali, dia dengan gemas mengemut susunya, seluruh susu kanan Verna ditelan olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas menetek pada Verna, Pak Joko bersiap memasuki vagina Verna dengan penisnya. Kulihat dalam posisinya diantara kedua belah paha Verna dia memegang penisnya untuk diarahkan ke liang itu.&lt;br /&gt;&quot;Ouch.. sakit Ver, duh kasar banget sih babu lu&quot; Verna meringis dan mencengkram lenganku waktu penis super Pak Joko mendorong-dorongkan penisnya dengan bernafsu.&lt;br /&gt;&quot;Tahan Ver, ntar juga lu keenakan kok, pokoknya enjoy aja&quot; kataku sambil meremasi kedua payudaranya yang sudah basah dan merah akibat disedot Pak Joko.&lt;br /&gt;Pak Joko menyodokkan penisnya dengan keras sehingga Verna pun tidak bisa menahan jeritannya, Verna kelihatan mau menangis nampak dari matanya yang sedikit berair.Pak Joko mulai menggarap Verna dengan genjotannya. Aku merasakan tangan Verna menyelinap ke bawah kimonoku menuju selangkangan, eennghh..aku mendesah merasakan jari-jari Verna menggerayangi kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu naik ke wajah Verna berhadapan dengan Pak Joko yang sedang menggenjotnya. Verna langsung menjilati kemaluanku dan Pak Joko menarik tali pinggang kimonoku sehingga tubuhku tersingkap. Dengan terus menyodoki Verna, dia meraih payudaraku yang kiri, mula-mula dibelainya dengan lembut tapi lama-lama tangannya semakin keras mencengkramnya sampai aku meringis menahan sakit. Dia juga menyorongkan kepalanya berusaha mencaplok payudara yang satunya. Aku yang mengerti apa maunya segera mencondongkan badanku ke depan sehingga dadaku pun makin membusung indah. Ternyata dia tidak langsung mencaplok payudaraku, tetapi hanya menjulurkan lidahnya untuk menjilati putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja. Aku merasakan sensasi yang luar biasa, geli bercampur nikmat. Sapuan-sapuan lidah Verna pada vaginaku membuat daerah itu semakin becek, bukan cuma itu saja Verna juga mengorek-ngoreknya dengan jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke &lt;a href=&quot;http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/kejutan-untuk-teman-temanku-2.html&quot;&gt;bagian 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/1063446677219049987/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/1063446677219049987?isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/1063446677219049987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/1063446677219049987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/kejutan-untuk-teman-temanku.html' title='Kejutan untuk Teman-temanku'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5Gn3rn41wO6L3loROSdBQQJFlnIg4x6jfMbtLTY6ZeGG0YAd3EbniXQIJzlFNMm16WyQL5TveLDsb9vYrkdI2v6ltFFLEpLudItJ5StR8FhJzIfopQl913c0-XV7wzNStXQfEpihyxO6V/s72-c/17.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7475457836250261910.post-9163928126447843221</id><published>2009-01-26T22:54:00.000+07:00</published><updated>2009-01-26T22:56:29.901+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Andani Citra"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sex Party"/><title type='text'>Kejutan untuk Teman-temanku-2</title><content type='html'>Dari bagian 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendesah tak karuan merasakan jilatan dan sedotan pada klistoris dan putingku. Ciuman Pak Joko merambat naik dari dadaku hingga hinggap di bibirku, kami berciuman dengan penuh nafsu. Tidak kuhiraukan nafasnya yang bau rokok, lidah kami beradu dengan liar sampai ludah kami bercampur baur.&lt;br /&gt;&quot;Aahh.. oohh.. gua dah mau.. Pak!&quot; erang Verna bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang dan membusur ke atas.&lt;br /&gt;Melihat reaksi Verna, Pak Joko semakin memperdahsyat sodokannya dan semakin ganas meremas dadanya. Aku sendiri tidak merasa akan segera menyusul Verna, dibawah sana seperti mau meledak rasanya. Dalam waktu yang hampir bersamaan aku dan Verna mencapai klimaks, tubuh kami mengejang hebat dan cairan kewanitaanku tumpah ke wajah Verna. Erangan kami memenuhi kamar ini membuat Pak Joko semakin liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku ambruk ke samping, Pak Joko menindih Verna dan mulai menciuminya, dijilatinya cairan cintaku yang blepotan di sekitar mulut Verna, tangannya tak henti-hentinya menggerayangi payudara montok itu, seolah-oleh tak ingin lepas darinya.&lt;br /&gt;&quot;Hhmmpphh.. sluurrpp.. cup.. cup..&quot; demikian bunyinya saat mereka bercipokan, lidah mereka saling membelit dan bermain di rongga mulut masing-masing. Pak Joko cukup pengertian akan kondisi Verna yang mulai kepayahan, jadi setelah puas berciuman dia membiarkannya memulihkan tenaga dulu. Dan kini disambarnya tubuhku, padahal gairahku baru naik setengahnya setelah orgasme barusan. Tubuhku yang dalam posisi tengkurap diangkatnya pada bagian pinggul sehingga menungging. Dia membuka lebar bibir vaginaku dan menyentuhkan kepala penisnya disitu. Benda itu pelan-pelan mendesak masuk ke vaginaku. Aku mendesah sambil meremas-remas sprei menghayati proses pencoblosan itu.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Permainan Pak Joko sungguh membuatku terhanyut, dia memulainya dengan genjotan-genjotan pelan, tapi lama-kelamaan sodokannya terasa makin keras dan kasar sampai tubuhku berguncang dengan hebatnya. Aku meraih tangannya untuk meremasi payudaraku yang berayun-ayun. Tiba-tiba suara desahan Verna terdengar lagi menjari sahut menyahut dengan desahanku. Gila, penjaga vilaku ini mengerjai kami berdua dalam waktu bersamaan, bedanya aku dikocok dengan penis sedangkan Verna dikocok dengan jari-jarinya. Verna membuka pahanya lebih lebar lagi agar jari-jari Pak Joko bermain lebih leluasa.&lt;br /&gt;&quot;Aduhh.. aahh.. gila Ver.. enak banget!&quot; ceracauku sambil merem-melek.&lt;br /&gt;&quot;Oohh.. terus Pak.. kocok terus&quot; Verna terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking terangsangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Yak.. dikit lagi.. aahh.. Pak.. udah mau&quot; aku mempercepat iramaku karena merasa sudah hampir klimaks.&lt;br /&gt;&quot;Neng Citra.. Neng Verna.. bapak juga.. mau keluar.. eerrhh&quot; geramnya dengan mempercepat gerakkannya.&lt;br /&gt;Penis itu terasa menyodok semakin dalam bahkan sepertinya menyentuh dasar rahimku. Sebuah rintihan panjang menandai orgasmeku, tubuhku berkelejotan seperti kesetrum. Kemudian dia lepaskan penisnya dari vaginaku dan berdiri di ranjang. Disuruhnya Verna berlutut dan mengoral penisnya yang berlumuran cairan cintaku. Verna berlutut mengemut penis basah itu sambil tangan kanannya mengocok vaginanya sendiri yang tanggung belum tuntas. Aku bangkit perlahan dan ikut bergabung dengan Verna menikmati penis Pak Joko. Verna mengemut batangnya, aku mengemut buah zakarnya, kami saling berbagi menikmati &#39;sosis&#39; itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kulumannya mendadak Verna merintih tertahan, tubuhnya seperti menggigil, dan kulihat ke bawah ternyata dari vaginanya mengucur cairan bening hasil masturbasinya sendiri. Disusul beberapa detik kemudian, Pak Joko mencabut penisnya dari mulutku lalu mengerang panjang. Cairan kental berbau khas memancar dengan derasnya membasahi wajah kami. Kami berebutan menelan cairan itu, penis itu kupompa dalam genggamanku agar semuanya keluar, nampak pemiliknya mendesah-desah dan kelabakan&lt;br /&gt;&quot;Sabar, sabar dong neng, bisa putus kontol bapak kalo rebutan gini&quot; katanya terbata-bata.&lt;br /&gt;Setelah tidak ada yang keluar lagi Verna menjilati sisanya di wajahku, demikian pula sebaliknya. Mereka berdua akhirnya ambruk kecapaian, wajah Pak Joko jatuh tepat di dada Verna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mereka ambruk, sebaliknya gairahku mulai timbul lagi. Maka kutinggalkan mereka untuk melihat keadaan Indah dan Taryo. Aku tiba di kolam melihat Taryo sedang menggarap tubuh mungil Indah. Di daerah dangkal Indah dalam posisi berpegangan pada tangga kolam, Taryo dari bawahnya juga dalam posisi berdiri sedang asyik menggenjot penisnya pada vagina Indah. Kedua payudara Indah bergoyang naik turun seirama goyang tubuhnya. Pasti adegan ini membuat para cowok di kampusku sirik pada Taryo yang buruk rupa tapi bisa ngentot dengan gadis seimut itu.&lt;br /&gt;&quot;Belum selesai juga lu orang, udah berapa ronde nih?&quot; sapaku.&lt;br /&gt;&quot;Edan Ci.. gua sampe klimaks tiga kali.. aahh!&quot; desah Indah tak karuan.&lt;br /&gt;&quot;Neng.. temennya enak banget, udah cantik, memeknya seret lagi&quot; komentar Taryo sambil terus menggenjot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indah tak kuasa menahan rintihannya setiap Taryo menusukkan penisnya, tubuhnya bergetar hebat akibat tarikan dan dorongan penis penjaga vila itu pada kemaluannya. Kepala Taryo menyelinap lewat ketiak sebelah kirinya lalu mulutnya mencaplok buah dadanya. Pinggul Indah naik turun berkali kali mengikuti gerakan Taryo. Jeritannya makin menjadi-jadi hingga akhirnya satu lenguhan panjang membuatnya terlarut dalam orgasme, beberapa saat tubuhnya menegang sebelum akhirnya terkulai lemas di tangga kolam. Setelah menaklukkan Indah, Taryo memanggilku yang mengelus-ngelus kemaluanku sendiri menonton adegan mereka.&lt;br /&gt;&quot;Sini neng, mendingan dipuasin pake kontol saya aja daripada ngocok sendiri&quot; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun turun ke air yang merendam sebatas lutut kami, disambutnya aku dengan pelukannya, tangannya mengelusi punggungku terus turun hingga meremas bongkahan pantatku. Sementara tanganku juga turun meraih kemaluannya.&lt;br /&gt;&quot;Gila nih kontol, masih keras juga..udah keluar berapa kali tadi?&quot; tanyaku waktu menggenggam batangnya yang masih &#39;lapar&#39; itu.&lt;br /&gt;&quot;Baru sekali tadi.. abis saya masih nungguin neng sih&quot; godanya saambil nyengir.&lt;br /&gt;Kemudian diangkatnya badanku dengan posisi kakiku dipinggangnya, aku melingkarkan tangan pada lehernya agar tidak jatuh. Diletakkannya aku pada lantai di tepi kolam, disebelah Indah yang terkapar, dia merapatkan badannya diantara kedua kakiku yang tergantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mulai menciumiku dari telinga, lidah itu menelusuri belakang telingaku juga bermain-main di lubangnya. Dengusan nafas dan lidahnya membuatku merasa geli dan menggeliat-geliat. Mulutnya berpindah melumat bibirku dengan ganas, lidahnya menyapu langit-langit mulutku, kurespon dengan mengulum lidahnya. Tanganku meraba-raba kebawah mencari kemaluannya karena birahiku telah demikian tingginya, tak sabar lagi untuk dientot. Ketika kuraih benda itu kutuntun memasuki kemaluanku, tangan kanan Taryo ikut menuntun senjatanya menembaki sasaran. Saat kepala penisnya menyentuh bibir kemaluanku, dia menekannya ke dalam, mulutku menggumam tertahan karena sedang berciuman dengannya. Ciuman kami baru terlepas disertai jeritan kecil ketika Taryo mengehentakkan pinggulnya hingga penisnya tertanam semua dalam vaginaku. Pinggulnya bergerak cepat diantara kedua pahaku sementara mulutnya mencupangi pundak dan leher jenjangku. Aku hanya bisa menengadahkan kepala menatap langit dan mendesah sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dibandingkan dengan Pak Joko, memang sodokan Taryo lebih mantap selain karena usianya masih 30-an, badannya juga lebih berisi daripada Pak Joko yang tinggi kurus seperti Datuk Maringgih itu. Di tengah badai kenikmatan itu sekonyong-konyong aku melihat sesuatu yang bergerak-gerak di jendela kamarku. Kufokuskan pandanganku dan astaga.. ternyata si Verna, dia sedang disetubuhi dari belakang dengan posisi menghadap jendela, tubuhnya terlonjak-lonjak dan terdorong ke depan sampai payudaranya menempel pada kaca jendela, mulutnya tampak mengap-mengap atau terkadang meringis, sungguh suatu pemandangan yang erotis. Adegan itu ditambah serangan Taryo yang makin gencar membuatku makin tak terkontrol, pelukanku semakin erat sehingga dadaku tertekan di dadanya, kedua kakiku menggelepar-gelepar menepuk permukaan air. Aku merasa detik-detik orgasme sudah dekat, maka kuberitahu dia tentang hal ini. Taryo memintaku bertahan sebentar lagi karena dia juga sudah mau keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susah payah aku bertahan agar bisa klimaks bersama, setelah kurasakan ada cairan hangat menyemprot di rahimku, akupun melepas sesuatu yang daritadi ditahan-tahan. Perasaan itu mengalir dengan deras di sekujur tubuhku, otot-ototku mengejang, tak terasa kukuku menggores punggungnya. Beberapa detik kemudian badanku terkulai lemas seolah mati rasa, begitu juga Taryo yang jatuh bersandar di pinggir kolam. Aku berbaring di pinggir kolam di atas lantai marmer, kedua payudaraku nampak bergerak naik turun seiring desah nafasku. Kugerakkan mataku, di jendela Verna dan Pak Joko sudah tak nampak lagi, di sisi lain Indah yang sudah pulih merendam dirinya di air dangkal untuk membasuh tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami beristirahat sebentar, bahkan beberapa diantara kami tertidur. Pesta dimulai lagi sekitar pukul 8 malam setelah makan. Kami mengadakan permainan gila, ceritanya kami bertiga bermain poker dengan taruhan yang kalah paling awal harus rela dikeroyok kedua penjaga villa itu dan diabadikan dalam video klip dengan HP Nokia model terbaru milik Verna, filenya akan disimpan dalam komputer Verna untuk koleksi dan tidak akan boleh dicopy atau dilihat orang lain selain geng kami, mengingat kasus bokep Itenas. Kami duduk melingkar di ranjang, Pak Joko dan Taryo kusuruh menjauh dan kularang menyentuh siapapun sebelum ada yang kalah, mereka menunggu hanya dengan memakai kolor, sambil sebentar-sebentar mengocok anunya sendiri Aku mulai membagikan kartu dan permainan dimulai. Suasana tegang menyelimuti kami bertiga, setelah akhirnya Indah melempar kartunya yang buruk sambil menepuk jidatnya, dia kalah. Kedua orang yang sudah tak sabar menunggu itu segera maju mengeksekusi Indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indah sempat berontak, tapi berhasil dilumpuhkan mereka dengan dipegangi erat-erat dan digerayangi bagian-bagian sensitifnya. Taryo menyusupkan tangannya ke kimono Indah meraih payudaranya yang tak memakai apa-apa di baliknya. Pak Joko menyerang dari bawah dengan merentangkan lebar-lebar kedua paha Indah dan langsung membenamkan kepalanya pada kemaluannya yang terawat dan berbulu lebat itu. Perlakuan ini membuat rontaan Indah terhenti, kini dia malah mengelus-elus penis Taryo yang menegang sambil memejamkan mata menikmati vaginanya dijilati Pak Joko dan dadanya diremas Mulkas. Aku melihat lidah Pak Joko menjalar jari belahan bawah hingga puncak kemaluan Indah, lalu disentil-sentilkan pada klistorisnya. Indah tidak tahan lagi, dia merundukkan badan untuk memasukkan penis Taryo ke mulutnya, benda itu dikulumnya dengan rakus seperti sedang makan es krim. Event menarik itu tidak dilewatkan Verna dengan kamera-HP nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke &lt;a href=&quot;http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/kejutan-untuk-teman-temanku-3.html&quot;&gt;bagian 3&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/feeds/9163928126447843221/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/7475457836250261910/9163928126447843221?isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/9163928126447843221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7475457836250261910/posts/default/9163928126447843221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tulisandewasa.blogspot.com/2009/01/kejutan-untuk-teman-temanku-2.html' title='Kejutan untuk Teman-temanku-2'/><author><name>Fika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14193046451709457348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig5B-ipY6JlKPHYSMzIEM_tAPypoNb1g9BWADKrhg1AqujMGeCg8x57bP4Fv49bPB87oS8ySpivRw5AMw-uiuB6OnhvlwX5c2-RvfS0wyZ8-7blLkzLqIkQHeJ2Llwgw/s220/mypic.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>