<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995</atom:id><lastBuildDate>Fri, 01 Nov 2024 12:11:35 +0000</lastBuildDate><category>Sejarah Perang Aceh</category><category>Aceh-Malaysia</category><category>Sakit</category><category>Dunia Islam</category><category>Jihad</category><category>Tauhid</category><category>pattani</category><category>Berita</category><category>Demokrasi</category><category>Murtad</category><category>sejarah</category><category>Akhwat</category><category>Al-Qur'an</category><category>Halal dan Haram</category><category>Ikhwan</category><category>Jodoh</category><category>Musik</category><category>Nigeria</category><category>Novel</category><category>Obama</category><category>Palestina</category><category>Pluralisme</category><category>Software</category><category>Taghut</category><category>Ukhwah</category><category>Yahudi</category><category>nikah</category><category>pornografi</category><title>Coretan Sang Penentang Demokrasi</title><description></description><link>http://prangaceh.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (razi)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>86</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-4692190439771854007</guid><pubDate>Mon, 14 May 2012 08:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-14T15:26:38.710+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Aceh-Malaysia</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dunia Islam</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah Perang Aceh</category><title>Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft</title><description>&lt;div style="color: black;"&gt;
Sebuah&amp;nbsp; bus memasuki terminal Lhokseumawe 
pada suatu pagi buta sekitar tiga tahun lalu. Terminal masih &lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRsasPI1BMmRCbU_nCWAnAFCyOGz6YQdKe45zGOWVdf_puzog8uZ_q_K2Ku4u5gbBR-3UHakOZEmnLJaKe_HH35OBy3BMfndrpzUfxC-DX3V0ZLSLx_TOb2t1GdQqoYamc5xMX3kcLnapi/s1600/tragedi-simpang-kka-aceh-utara.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="190" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRsasPI1BMmRCbU_nCWAnAFCyOGz6YQdKe45zGOWVdf_puzog8uZ_q_K2Ku4u5gbBR-3UHakOZEmnLJaKe_HH35OBy3BMfndrpzUfxC-DX3V0ZLSLx_TOb2t1GdQqoYamc5xMX3kcLnapi/s320/tragedi-simpang-kka-aceh-utara.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;sibuk. 
Warung kopi dan rumah makan masih buka. Agen tiket bus masih melayani 
belasan penumpang, yang hendak berangkat ke Banda Aceh atau Medan. 
Barisan becak mesin juga masih parkir depan terminal. Pengemudinya 
menunggu penumpang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div id="isi_berita"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRsasPI1BMmRCbU_nCWAnAFCyOGz6YQdKe45zGOWVdf_puzog8uZ_q_K2Ku4u5gbBR-3UHakOZEmnLJaKe_HH35OBy3BMfndrpzUfxC-DX3V0ZLSLx_TOb2t1GdQqoYamc5xMX3kcLnapi/s1600/tragedi-simpang-kka-aceh-utara.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;Angin malam sekilas membawa bau amis yang 
berasal dari hamparan empang yang terletak di seberang terminal. Sejurus
 di kejauhan, di atas belukar hutan bakau, langit tampak merah membara 
oleh cahaya api. Semburan api raksasa itu keluar dari beberapa tower 
yang ada di ladang penyulingan gas alam cair milik PT Arun LNG.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lhokseumawe
 memang pusat industri Aceh. Ia kota kedua terbesar di Aceh sesudah 
ibukota Banda Aceh. Dalam perut bumi daerah ini terdapat kandungan gas 
alam terbesar di Indonesia. Sejak Exxon Mobil, sebuah perusahaan 
Amerika, menemukan sumur-sumur gas di Aceh Utara pada 1970-an, daerah 
ini dengan cepat melihat pertumbuhan industri hasil alam. Di bagian 
barat Lhokseumawe, terdapat kilang penyulingan gas alam cair PT Arun 
LNG, pabrik pupuk PT Pupuk Iskandar Muda, pabrik pupuk PT Asean Aceh 
Fertilizer, dan pabrik kertas PT Kertas Kraft Aceh. Sedang di bagian 
timur kota itu, terdapat ladang sumur gas milik Exxon Mobil.&lt;br /&gt;
Ironisnya,
 Lhokseumawe bukan kota yang makmur. Orang Aceh banyak yang miskin, 
hidup di pinggiran pabrik-pabrik. Jakarta hanya memberi sedikit 
keuntungan penjualan gas alam, pupuk, dan kertas ke daerah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di
 Lhokseumawe ada ketidakadilan. Di sana juga mulai timbul perlawanan 
bersenjata oleh Gerakan Aceh Merdeka, biasa disebut GAM, untuk 
memerdekakan Aceh dari ketidakadilan itu. Tapi dominasi militer 
Indonesia sangat kuat. Selama 10 tahun, antara 1989 dan 1998, daerah 
Lhokseumawe jadi sasaran utama operasi militer Indonesia, bersama Aceh 
Timur dan Pidie. Setidaknya 1.321 mati terbunuh, 1.958 hilang dan 3.430 
mengalami penganiayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada dini hari 3 Mei 1999 itu, di antara 
penumpang bus yang turun di Lhokseumawe, ada tiga pria yang membawa tas 
baju, kamera Betacam, dan peti berisi kabel, mikropon, dan perlengkapan 
penyuntingan video. Mereka wartawan RCTI, sebuah stasiun televisi 
Jakarta yang sebagian besar sahamnya dimiliki anak Presiden Soeharto, 
Bambang Trihatmodjo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Oke, sekarang kita ke mana?" tanya Umar HN.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pak Umar, tolong carikan hotel di sini yang aman," jawab Imam Wahyudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fipin
 Kurniawan, orang ketiga dalam rombongan ini, diam saja dan sibuk 
mengecek alat-alat yang dibawanya dari Jakarta. Dia menenteng kamera 
Betacam yang beratnya hampir 20 kilogram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar H. Nurdin, populer
 sebagai Umar H.N., adalah koresponden RCTI di Lhokseumawe sejak 1995. 
Umar boleh dibilang wartawan senior. Jadi wartawan sejak 1970-an dan 
pernah jadi wartawan harian Waspada terbitan Medan selama 14 tahun. Umar
 juga mengambil gambar video maupun foto yang acapkali dijualnya kepada 
organisasi berita internasional Reuters dan Associated Press biro 
Jakarta. Umurnya sudah kepala empat. Tubuhnya tegap. Wajah sangat khas 
Aceh, rahang keras, berkumis tebal, rambut keriting, dan berkulit hitam.
 Perokok berat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Wahyudi adalah koordinator liputan daerah 
RCTI Jakarta. Tugasnya mengatur koresponden-koresponden daerah. Pria 
berumur 34 tahun ini sudah bekerja di RCTI sejak 1994. Kariernya 
termasuk cepat. Dia reporter andalan RCTI untuk daerah-daerah konflik 
Indonesia. Imam bertubuh kecil, tapi sangat gesit di lapangan. Imam 
orang ramah. Tapi dia cerewet terhadap para korespondennya kalau mereka 
salah dalam mengambil gambar atau reportase. Imam sudah bolak-balik ke 
Papua dan Timor Timur di mana juga ada perlawanan bersenjata terhadap 
Jakarta. Datang ke Aceh adalah keinginannya sejak lama, karena belum 
sekali pun dia menginjakkan kakinya ke daerah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ide meliput 
datang ketika Imam ikut pelatihan jurnalisme televisi di Medan, tiga 
hari sebelum kedatangannya ke Lhokseumawe. Di pelatihan itu ada Umar dan
 mereka diskusi banyak tentang Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu di Aceh ada 
perlawanan terhadap pemilihan umum yang akan berlangsung pada Juli 1999.
 Kampanye di Aceh tak berjalan. Seruan boikot pemilihan umum gencar 
dilakukan oleh berbagai organisasi massa di Aceh. Mereka lebih suka 
mencuatkan ide referendum untuk menentukan nasib Aceh. Referendum untuk 
memilih merdeka atau tetap dalam negara Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aceh memang 
makin memanas sesudah runtuhnya rezim Soeharto di Jakarta pada Mei 1998.
 Presiden B.J. Habibie, pengganti Soeharto, memutuskan mencabut status 
Daerah Operasi Militer untuk Aceh pada Agustus 1998. Ironisnya, 
kekerasan masih berlangsung. GAM, kelompok separatis yang 
memproklamasikan kemerdekaan bangsa Aceh sejak 4 Desember 1978, juga 
makin meningkatkan perang gerilya, dari kota maupun di daerah pedesaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekerasan
 militer Indonesia menimbulkan dendam dan luka di hati orang Aceh. Orang
 Aceh banyak yang tak suka militer Indonesia. Mereka mengungkapkannya 
lewat beberapa demonstrasi atau huru-hara. Kerusuhan massal pertama 
meletus saat terjadi penarikan pasukan Kopassus pada Agustus 1998. 
Kopassus dianggap pasukan elit yang banyak melakukan kekejaman di Aceh. 
Orang-orang menyerang dan melempari truk-truk Kopassus dengan batu. Pada
 November 1998, ada konvoi bersenjata oleh seratusan orang di Geudong, 
sebuah kota kecil dekat Lhokseumawe. Pada Januari 1999, massa membakar 
tiga kantor polisi dan delapan kantor pemerintah di Lhokseumawe. Aksi 
ini muncul sesudah militer Indonesia menyerang basis pertahanan Ahmad 
Kandang. Buntutnya, sembilan orang Aceh mati, 23 luka-luka, dan 132 
ditangkap. Ahmad Kandang seorang pentolan GAM yang berbasis di kecamatan
 Kandang, tiga kilometer arah timur Lhokseumawe. Tak lama berselang, 
polisi menangkap 40 orang simpatisan Ahmad Kandang. Penahanan ini jadi 
tragis setelah mereka dipindahkan ke gedung milik sebuah organisasi 
kepemudaan. Di tempat itu secara brutal, para tahanan dianiaya 50-an 
tentara Indonesia. Empat tahanan tewas dan 22 luka-luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar 
banyak mengirim gambar kekerasan Aceh ke RCTI. Tapi Imam Wahyudi ingin 
sesuatu yang dianggapnya belum diberikan Umar. Imam mengatakan di antara
 sisi kekerasan Aceh, seharusnya ada sisi damai dalam masyarakatnya. 
Imam ingin gambaran itu kepada penonton RCTI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Medan, Imam 
menelepon dan minta redaksi RCTI di Jakarta mengirim satu kame-rawan 
yang akan mendampinginya pergi ke Aceh. Fipin Kurniawan menyusulnya ke 
Medan. Fipin seorang pria yang agak pendiam. Tubuhnya jangkung, kurus, 
berhidung mancung, dan berkulit putih. Dia suka memakai kacamata hitam 
sehingga ada orang-orang yang menduganya kamerawan televisi luar negeri.
 Fipin sudah sembilan tahun jadi kamerawan RCTI. Dulu dia pernah ke Aceh
 ketika bekerja di salah satu rumah produksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka bertiga naik
 dua becak mesin dari terminal Lhokseumawe. Suaranya yang berisik 
memecah keheningan malam. Jalan sepi sekali. Imam duduk satu becak 
dengan Umar. Imam membaca beberapa grafiti bertuliskan kata "referendum"
 di badan jalan. Grafiti-grafiti ini bertebaran tak hanya di badan 
jalan, tapi juga di tembok pasar dan papan reklame.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar membawa 
Imam dan Fipin ke sebuah hotel. Umar meninggalkan kedua tamunya dan 
pulang ke rumahnya sendiri di Lhokseumawe. Dia sudah berada di Medan 
hampir seminggu dan rindu keluarganya. Imam dan Fipin tak banyak 
mengobrol karena sudah mengantuk. Tapi mereka sempat berkoordinasi untuk
 liputan esok, sebelum keduanya terlelap kelelahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TUJUHBELAS
 kilometer dari hotel, pada waktu yang hampir bersamaan, dini hari itu 
juga, di kota kecil Krueng Geukeuh, kecamatan Dewantara, ada sekitar 
300-an orang Aceh berkumpul dekat sebuah gardu jaga. Gardu itu mirip 
rumah panggung kecil tanpa dinding berukuran 2x1,5 meter. Orang Aceh 
biasa menyebutnya bale-bale.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bale-bale itu berdiri hanya 10 meter
 dari gerbang pabrik pupuk PT Asean Aceh Fertilizer. Di samping pabrik 
ada jalan masuk ke perkampungan Bangka Jaya. Keduanya dipisahkan oleh 
tembok setinggi satu meter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bale-bale itu ada sejak masa Daerah 
Operasi Militer. Orang-orang Bangka Jaya biasa berjaga malam di situ. 
Tapi malam itu jumlahnya sangat banyak. Semua laki-laki. Suara mereka 
ramai. Semua bicara dengan bahasa Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sudah, ambil saja truk itu. Kalau tidak dikasih bakar saja," seorang laki-laki berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang
 ribut lagi. Ada yang setuju ada yang tidak. Rencananya, mereka akan 
melakukan demonstrasi ke markas Komando Rayon Militer (Koramil) Krueng 
Geukeuh dekat pasar Krueng Geukeuh. Mereka perlu truk untuk mengangkut 
orang dari kampung-kampung sekitar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka memang sedang resah. 
Sejak lepas magrib ada beberapa laki-laki keliling kampung Bangka Jaya 
menyampaikan pengumuman. Laki-laki itu memerintahkan para perempuan 
keluar dari rumahnya untuk jaga malam. Perempuan yang kebanyakan ibu-ibu
 rumah tangga, disuruh bawa kayu atau parang, untuk jaga keselamatan. 
Mereka berkumpul dekat meunasah (masjid).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tentara mau menyerang kampung," kata seorang pria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di
 kampung lain, pengumuman diserukan dari pengeras suara meunasah. Siapa 
yang mengumumkannya tak jelas. Seorang pria yang tak dikenal warga masuk
 ke meunasah dan mengambil mik pengeras suara. Dia mengumandangkan azan.
 lalu membuat pengumuman. "Meunasah di Simpang Kraft sudah dibakar. 
Teungku Imeum Cik (ulama) kita sudah tewas dibunuh."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang 
kampung mendengar itu. Seperti angin, informasi yang tak jelas 
kebenarannya itu, dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut. Malam itu 
kebanyakan desa di kecamatan Dewantara mulai grasak-grusuk. Mereka 
merasa khawatir sehingga berjaga-jaga sepanjang malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di jalan 
lintas Banda Aceh-Medan, sekitaran Cot Murong, belasan laki-laki 
melakukan sweeping sejak lepas salat Isya. Cot Murong adalah sebuah 
pemukiman, empat kilometer arah barat Krueng Geukeuh. Di pemukiman itu 
terdapat tiga desa: Lancang Barat, Glumpang Sulu Timur, dan Glumpang 
Sulu Barat. Mereka menghentikan setiap kendaraan untuk mencari "anggota 
ABRI" -yang berasal dari singkatan Angkatan Bersenjata Republik 
Indonesia, nama resmi institusi militer Indonesia, sebelum diganti jadi 
Tentara Nasional Indonesia karena kata "ABRI" dianggap punya reputasi 
buruk zaman rezim Orde Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian orang mendengar informasi 
bahwa ada warga desa Lancang Barat dipukuli dan ditangkap tentara. Dua 
hari terakhir tentara dari satuan Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) 
Peluru Kendali (Rudal) 001/Pulo Rungkom Aceh Utara, masuk ke wilayah Cot
 Murong. Tentara-tentara itu mencari seorang rekan mereka, anggota 
Arhanud Rudal yang hilang beberapa hari sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Detasemen 
Arhanud Rudal merupakan sebuah instalasi militer yang berfungsi 
melakukan pengamanan wilayah Indonesia, setidaknya Pulau Sumatera bagian
 utara, dari serangan udara negara lain. Markasnya sudah ada di sini 
sejak 1987. Selain dekat dengan perairan Selat Malaka, lokasi Krueng 
Geukeuh ini strategis karena di sana ada proyek-proyek vital yang perlu 
dijaga keamanannya. Markas Arhanud Rudal terletak di sebuah perbukitan 
kecil dan menyimpan senjata-senjata berat termasuk peluru kendali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KEJADIAN
 dengan anggota Arhanud Rudal bermula beberapa hari sebelumnya. Pada 
Kamis malam, 30 April 1999, ada perayaan Maulid Nabi Muhammad di 
lapangan sepak bola Cot Murong. Acara itu diisi dengan pengajian dan 
dakwah. Banyak orang datang. Di Aceh, setiap ada kegiatan keagamaan, 
selalu dibanjiri orang. Orang Aceh kebanyakan beragama Islam dengan 
fanatik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara kerumunan orang yang berdiri di lapangan, 
menyelinap Sersan Dua Aditia. Dia anggota bintara Arhanud Rudal yang 
markasnya hanya berjarak sekitar lima kilometer dari Cot Murong. Kabar 
dari mulut ke mulut menyebutkan Aditia sedang melakukan kegiatan 
mata-mata. Dia membawa radio komunikasi handy talky dan pistol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aditia
 sering terlihat di sekitaran Krueng Geukeuh. Aditia banyak bergaul dan 
memiliki banyak akses dengan masyarakat di situ. Malam itu dia 
ditugaskan komandannya untuk memantau keramaian di Cot Murong. Arhanud 
Rudal merasa perlu mengawasi wilayah dalam radius lima kilometer dari 
markas mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isi dakwah malam itu sangat panas. Militer Indonesia biasa menyebutnya sebagai "dakwah GAM." Dakwah itu berbau politik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa
 bulan terakhir di kampung-kampung Aceh Utara memang kerap dilaksanakan 
dakwah GAM. Acara itu selalu dihadiri oleh banyak orang. Biasanya 
dilaksanakan pada sore atau malam hari. Tempatnya bisa di lapangan 
ataupun meunasah. Dibuka dengan pengajian, lantas ada tengku (ulama) 
yang ceramah. Yang menarik, terkadang acara itu menghadirkan para korban
 militer Indonesia, yang berkisah tentang kekerasan militer terhadap 
keluarganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isi dakwahnya semacam pendidikan politik dan 
sejarah. Si penceramah bercerita sejarah Kesultanan Aceh, kisah heroik 
para pahlawan Aceh ketika berperang dengan Belanda pada periode 1884 
hingga 1915, dan juga tentang makna jihad fisabilillah atau berjuang di 
jalan Allah. Lantas diungkapkan pula perlakuan-perlakuan kejam dan tak 
adil dari "pemerintah Indonesia Jawa" sehingga orang tahu kenapa ada 
Aceh Merdeka dan kenapa mereka berjuang melepaskan diri dari Jakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aditia
 sendirian. Tak banyak orang kampung yang memperhatikannya karena tak 
kenal. Tapi sejak malam itu Aditia hilang dan tak kembali ke markasnya. 
Padahal empat hari lagi dia akan dilantik sebagai sersan satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan
 harinya, Jumat 31 April 1999 pagi. Tiga truk militer dan lima minibus 
Toyota Kijang dan Isuzu Panther, yang membawa puluhan tentara bersenjata
 lengkap, masuk ke Cot Murong. Mereka dari Arhanud Rudal. Mereka masuk 
ke kampung Cot Murong untuk mencari Sersan Aditia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang 
kampung resah melihat patroli tentara. Mereka trauma melihat orang 
berbaju loreng hijau membawa senjata. Itu pemandangan yang menakutkan. 
Kekerasan oleh militer selama 1989 dan 1998 menciptakan citra bahwa 
tentara jahat dan suka menyakiti rakyat. Mereka takut akan ada orang 
ditangkap, dipukuli, atau ditembak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentara-tentara itu menanyai 
setiap orang yang dijumpai tentang keberadaan Aditia. Tapi tak seorang 
pun mengaku melihat Aditia malam itu di kampung mereka. Apalagi 
tahu-menahu tentang hilangnya Aditia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang Cot Murong tak senang
 tentara masuk ke kampung mereka. Mereka kumpul di sepanjang jalan yang 
dilalui patroli tentara. Puluhan perempuan sempat mencoba berbaris 
menghalangi patroli tentara di jalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang marah melakukan 
protes ke Camat Dewantara Marzuki Muhammad Amin minta tentara agar tak 
masuk ke kampung mereka lagi. Mereka tak tahu tentang hilangnya Aditia. 
Jadi tak ada alasan tentara menanyai dan bikin takut penduduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sorenya
 komandan Arhanud Rudal Mayor Santun Pakpahan menelepon Camat Marzuki 
untuk minta izin masuk kampung mencari sersan yang hilang. Tapi Marzuki 
minta tentara jangan dulu masuk kampung, karena orang mulai ribut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan
 harinya, Sabtu, 1 Mei 1999, diadakan pertemuan antara perwakilan warga 
Cot Murong, ulama, tentara, polisi, dan camat di kantor polisi 
Dewantara. Mereka menandatangani kesepakatan bahwa tentara tak akan 
masuk kampung lagi. Pencarian Sersan Aditia diteruskan oleh tokoh-tokoh 
kampung. Teungku Hanafiah, seorang ulama setempat, diutus ke Cot Murong 
untuk mencari si sersan hilang. Tapi seharian itu, dia gagal mendapat 
kabar keberadaan Aditia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika tahu ketidakberhasilan Teungku 
Hanafiah, secara diam-diam tentara masuk ke kampung lagi pada Minggu 2 
Mei 1999. Tak begitu banyak jumlahnya dan mereka hanya naik satu Toyota 
Kijang. Mereka tampaknya khawatir Aditia diculik gerilyawan GAM. Mereka 
kembali menanyai orang-orang kampung. Orang-orang kembali resah. 
Beberapa laki-laki yang sedang duduk minum kopi di warung, lari 
tunggang-langgang melihat tentara. Mereka dibentak. Tentara bahkan 
sempat menampar seorang pemuda yang sedang menghitung nener (bibit 
ikan), karena mengatakan tak tahu tentang penculikan Aditia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar
 penempelengan itu segera beredar. Orang-orang marah. Sebab sudah 
disepakati tentara tak masuk ke kampung mereka lagi. Apalagi ada bumbu 
informasi, yang tak jelas kebenarannya, ada penduduk desa Lancang Barat 
ditangkap dan dibawa pergi patroli tentara. Suasana memanas. Isu-isu 
yang tak jelas siapa sumbernya menyebar hingga ke kecamatan tetangga. 
Senin direncanakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pelepasan 
orang kampung yang ditangkap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SENIN pagi-pagi sekitar pukul 
09:00. Azhari biasa mangkal di warung kopi langganannya dekat kantor 
polisi Lhokseumawe. Sebagai bujangan, tak ada yang menyiapkan sarapan 
pagi untuk dirinya. Dia sarapan sepiring nasi gurih dan secangkir kopi. 
Azhari adalah asisten koresponden kantor berita Antara di Aceh. Dia baru
 tujuh bulan bekerja sebagai wartawan. Umurnya 32 tahun. Azhari orang 
yang selalu berhati-hati dan cenderung penakut. Sebagai wartawan baru, 
dia ditugaskan di tempat berbahaya. Dia harus bekerja keras membuat 
laporan sebanyak mungkin, karena dia dibayar berdasarkan jumlah berita 
yang dibuatnya. Beberapa bulan terakhir dia bolak-balik Banda Aceh dan 
Lhokseumawe akibat situasi kota gas itu yang panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Aceh, 
warung kopi jadi tempat yang sangat ramai dikunjungi orang laki-laki. 
Dari yang sekadar minum kopi, membaca koran gratis, nonton televisi, 
maupun mengobrol. Selagi minum kopi, Azhari menangkap pembicaraan 
beberapa orang yang duduk dekat mejanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hai, kaa rame that ureueng di Krueng Geukeuh (Hei, ramai sekali orang di Krueng Geukeuh)."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Peu acara (Acara apa)?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Naa
 awak geutanyou jidrop lee si Pa'i. Ramee ureueng jak demo ke Koramil 
(Ada orang kita ditangkap si Pa'i. Ramai orang pergi demo ke Koramil)."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari
 tertarik. Cepat dia kembali ke kantornya yang tak jauh dari warung 
kopi. Kantor Antara hanya sebuah rumah kontrakan. Kantor itu juga jadi 
tempat tinggal Azhari. Dia sendirian bekerja di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari 
menelepon beberapa wartawan di kota itu untuk mencari kebenarannya. 
Azhari pun memutuskan ke Krueng Geukeuh. Disambarnya kamera di atas 
meja. Sudah terisi film, tinggal dipakai saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sabtu sebelumnya, 
Azhari sudah mendengar kabar ada intel tentara hilang di Cot Murong. 
Azhari memutuskan meliput. Biasanya kalau massa sudah berkumpul akan ada
 buntut peristiwa yang bisa diberitakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kilometer dari 
tempat Azhari, Imam Wahyudi dan Fipin masih bermalas-malasan di atas 
kasur. Imam menelepon Umar minta dia menemani mereka melakukan liputan 
suasana kota Lhokseumawe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan mobil Isuzu Panther merah milik 
Umar, mereka keliling Lhokseumawe. Fipin mengambil gambar suasana kota. 
Spanduk tentang tuntutan referendum dan penolakan terhadap rencana 
pembentukan Komando Daerah Militer Aceh tergantung, melintang di atas 
jalan menuju pusat pasar. Pagi itu pasar ramai dengan orang dan 
kendaraan lalu lalang. Dari kota, Umar membawa Imam dan Fipin ke arah 
Kandang, di pinggiran Lhokseumawe. Mereka akan ambil gambar bendera GAM 
berlambang bulan bintang yang dipasang di tower RRI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Saya masih 
trauma kalau memasuki daerah ini," kata Umar. Ia pernah terjebak dalam 
kontak senjata antara tentara Indonesia dan kelompok Ahmad Kandang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari
 Kandang mereka kembali ke Lhokseumawe. Mereka bertemu dengan Ali Raban 
yang menunggu dekat pasar. Ali Raban adalah kamerawan yang bekerja untuk
 Umar. Ali tak punya ikatan kerja langsung dengan RCTI. Ali membantu 
Umar sejak 1995 ketika RCTI mengudara pertama kali di Lhokseumawe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ali
 Raban kamerawan yang nekat kalau di lapangan, sering mengabaikan 
keselamatan jiwa dan kurang perhitungan. Ali seorang yang berpenampilan 
sederhana. Umurnya sekitar 25 tahun. Dia ayah seorang bayi yang baru dua
 bulan lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba penyeranta yang bergantung di pinggang 
Umar berbunyi. Pesan masuk dari seseorang. "Ada pemblokiran di Krueng 
Geukeuh," kata Umar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ayo cepat kita ke sana," sambut Imam, bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar
 belum berniat secepatnya ke Krueng Geukeuh. Tapi Ali mendesak. Sejak 
setengah jam lalu, Ali juga mendapat pesan serupa di penyerantanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar
 dan Ali mempunyai orang-orang yang bisa jadi sumber informasi mereka 
hampir di tiap kota kecamatan. Terkadang Umar membayar orang-orang yang 
membantunya sebagai informan. "Channel" itulah yang jadi ujung tombak 
kecepatan mereka mengejar berita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terpaksa pulang dulu ke 
rumah Umar karena dia lupa membawa kamera foto. Di jalan mereka bertemu 
dengan sopir labi-labi (angkutan kota) trayek Krueng Geukeuh. Dari si 
sopir mereka melakukan verifikasi kalau memang ada pencegatan massa di 
sana dan kejadiannya masih baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka sepakat ke sana. Tapi tiba-tiba Umar bilang, "Kita cari makanan dulu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar
 mempunyai kebiasaan membawa makanan lebih kalau mau meliput jauh. 
Pengalamannya, kalau sudah masuk ke tempat konflik, akan susah cari 
makan. Dia termasuk orang yang susah kalau lapar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Udah, kita jalan saja. Nanti terlambat dapat gambar," bantah Raban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar
 dan Ali berdebat soal jadi tidaknya mereka beli makanan. Imam dan Fipin
 tak banyak komentar, walau sebenarnya mereka juga butuh makan. Imam dan
 Fipin belum sempat sarapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam setuju dengan Raban. Imam 
adalah wartawan televisi tulen. Jika tak segera mengambil momentum 
pertama, maka mereka tak akan pernah mendapat momentum kedua. Waktu 
sudah terbuang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sepanjang jalan Ali merepet dengan bahasa Aceh
 pada Umar. Dia kesal karena Umar dianggapnya membuang waktu hanya 
karena membeli makanan. Itu peristiwa penting, dan mereka seharusnya 
mengejar waktu secepat mungkin menuju ke Krueng Geukeuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Uh, dasar yang dipikirin makan melulu," gerutu Raban. Mereka membeli nasi Padang di pasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
JAM
 sudah menunjukkan angka 10. Azhari berjalan kaki sejauh 100 meter sejak
 dia diturunkan dari sepeda motor temannya dekat tugu depan perumahan PT
 Pupuk Iskandar Muda. Temannya disuruhnya kembali ke Lhokseumawe, karena
 jalan sudah diblokir. Pemblokiran jalan dilakukan massa sepanjang lima 
kilometer dari depan pabrik pupuk hingga ke desa Bungkah, dekat bandar 
udara Malikul Saleh. Di Bungkah, kendaraan umum yang hendak menuju 
Lhokseumawe, melintasi Krueng Geukeuh, juga dilarang lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari
 berhenti di pinggir jalan depan sebuah pemakaman dan melihat sebuah bus
 kecil penuh penumpang berhenti. Beberapa pria, tak sampai 10 orang, 
menghadang bus yang datang dari arah Lhokseumawe. Bus itu hendak menuju 
ke Bireuen, sebuah kota 45 kilometer barat Lhokseumawe. Penumpangnya 
disuruh turun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau mau lanjutkan perjalanan, lewat Simpang 
Kraft bisa sambung bus lain," kata para penghadang. Mereka yang merasa 
harus sampai ke tempat tujuannya secepat mungkin, memutuskan jalan kaki 
ke Simpang Kraft, yang berjarak dua kilometer dari situ, dengan harapan 
bisa menyambung kendaraan lainnya. Banyak kendaraan yang terpaksa 
kembali ke Lhokseumawe karena tak diizinkan lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, 
sebuah mobil Toyota Kijang berkaca gelap menepi tak jauh dari tempat 
Azhari berdiri. Dari dalamnya keluar delapan orang pasukan Gegana, 
pasukan elit polisi Indonesia khusus antipeledakan. Mereka berseragam 
kaos hitam berlambang burung walet dan memegang senjata jenis Styer. 
Wajah mereka tampak kebingungan melihat ramai orang di tengah jalan dan 
kendaraan banyak yang berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang yang menghadang bus 
tak peduli ada Gegana dekat mereka. Jalanan telah dikuasai warga. Mereka
 membuat barikade dari tumpukan ban bekas, dahan kayu, dan drum kosong. 
Yang ingin ke Krueng Geukeuh harus minta izin dulu kepada penghadang. 
Krueng Geukeuh berada di lintasan jalan Banda Aceh-Medan. Kawasan itu 
termasuk salah satu pusat industri Lhokseumawe sebab di sana berdiri 
pabrik pupuk PT Pupuk Iskandar Muda dan PT Asean Aceh Fertilizer serta 
pabrik kertas PT Kertas Kraft Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari berjalan pelan menuju 
persimpangan Krueng Geukeuh. Tak ada satu pun kendaraan berseliweran di 
jalanan. Yang ramai hanya orang-orang, yang ketika itu sudah berkeluaran
 dari rumah mereka. Mereka tertarik menonton keramaian. Beberapa 
laki-laki terlihat membawa senjata tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada orang yang 
menanyai identitas Azhari. Di dompet dalam saku celananya, hanya ada 
selembar kertas surat tugas dari Antara. Kamera yang dibawanya disimpan 
dalam tas pinggang. Azhari berpikir lebih baik tak ada yang tahu dia 
wartawan. Itu mungkin lebih aman baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari menemukan massa 
sudah menumpuk di simpang empat Krueng Geukeuh. Simpang itu terletak 
dekat komplek perumahan karyawan PT Asean Aceh Fertilizer. Pusat kota 
Krueng Geukeuh masuk dari persimpangan jalan tersebut sekitar 500 meter 
ke arah dalam. Di sana terletak pasar, markas Koramil Krueng Geukeuh, 
kantor polisi, klinik kesehatan, kantor camat dan lapangan sepak bola. 
Bersebelahan berdiri pabrik pupuk PT Asean Aceh Fertilizer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Toko 
dan warung yang berderet sekitar persimpangan kebanyakan telah ditutup 
pemiliknya. Massa berdiri di sepanjang emperan toko. Tapi lebih banyak 
menumpuk di persimpangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara ratusan orang itu, Azhari 
berjumpa dengan Sabri, temannya yang sekolah di sebuah akademi di Banda 
Aceh. Sabri tak sempat bercakap lama dengan Azhari. Sabri sedang sibuk. 
Sabri dan beberapa pria sedang melakukan sweeping. Mereka naik ke sebuah
 bus besar yang berhenti dekat simpang empat. Kartu identitas penumpang 
diperiksa satu per satu. Mereka mencari kalau ada tentara Indonesia di 
dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari berdiri diam di emperan toko dan memperhatikan 
keadaan. Sekitar pukul 11.00 Azhari melihat ada iringan mobil datang 
dari Lhokseumawe. Dengan kecepatan sedang sebuah Taft hijau tua dan 
Toyota Kijang penuh orang di dalamnya berusaha menerobos massa yang 
mengumpul di tengah jalan. Di belakang kedua mobil itu mengekor sebuah 
truk tanki minyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari kenal orang yang duduk di bangku depan 
mobil Taft. Itu komandan Komando Distrik Militer Aceh Utara Letnan 
Kolonel Sugiono. Penumpang dalam Kijang sepertinya tentara berpakaian 
preman, pengawal Sugiono. Massa menghentikan mobil. "Tidak bisa lewat, 
Pak."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penumpang mobil memaksa pergi ke Simpang Kraft. Alasannya, 
kedatangan mereka telah ditunggu. Massa tetap tak mengizinkan mobil 
lewat. Apalagi setelah tahu di dalamnya tentara. Terjadi perdebatan. 
Entah siapa yang duluan bergerak, mendadak puluhan massa mendekat ke 
mobil itu dengan marah. Melihat situasi tak menguntungkan, mobil itu 
tancap gas, lari dari massa yang mengejar dengan parang. "Kejar! Kejar!"
 teriak orang-orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunyi decitan ban terdengar cukup keras. 
Kedua mobil itu dengan cepat memutar balik, lari kencang kembali ke arah
 Lhokseumawe. Truk tangki minyak yang sedari tadi mengekor hampir 
terbalik karena sopirnya terkejut dan hampir tak bisa mengendalikan 
setir. Truk itu secepatnya juga kembali ke arah Lhokseumawe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
UMAR
 HN membawa mobilnya mengebut ke arah Krueng Geukeuh. Sudah pukul 11.00.
 Mereka sudah kehilangan banyak waktu, karena sibuk dengan hal-hal yang 
tak penting di Lhokseumawe. Ali sesekali masih merepet, mengeluarkan 
kedongkolannya terhadap Umar. Imam dan Fipin banyak tak mengerti dengan 
bahasa Aceh yang diucapkan Raban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lewat pabrik Pupuk Iskandar 
Muda, mobil mereka tak boleh lewat. Umar menyimpan mobilnya di halaman 
sebuah tempat usaha sablon. Mereka pun berjalan kaki melewati banyak 
orang yang berkumpul di sepanjang jalan. Kedatangan mereka menarik 
perhatian orang-orang. Mereka dengan mudah dikenali sebagai wartawan. 
Imam membawa kaset dan mikrofon berlogo RCTI. Fipin dan Ali memanggul 
kamera berlambang RCTI. Umar dan Imam memakai rompi wartawan berwarna 
krem berlogo RCTI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka melihat banyak laki-laki dengan parang,
 kayu dan batu besar di tangan. Wajah para laki-laki itu seperti marah, 
gusar dan tak sedikit yang beringas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di simpang empat Krueng 
Geukeuh, massa sudah mencapai jumlah 1.000-an, memadati jalan dan 
emperan toko. Kebanyakan laki-laki dewasa dan anak-anak. Sekumpulan anak
 kecil berlari, mendekat ke arah Fipin dan Ali yang sedang mengambil 
gambar massa. Di depan kamera, mereka bersorak sambil meloncat-loncat, 
dan berteriak-teriak hingga memekakkan telinga. Anak-anak itu senang 
direkam gambarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Merdeka! Merdeka!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hidup referendum!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"RCTI oke!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suasana
 yang tadinya biasa saja jadi ribut, karena orang-orang dewasa turut 
berteriak-teriak seperti kelakuan anak-anak kecil di situ. Yang tadinya 
berdiri di emperan toko, mulai turun ke jalan sambil bersorak-sorak. 
Yang membawa kayu dan parang mengacungkannya ke udara. Mereka overacting
 karena ada liputan televisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar mencium gelagat tak bagus. 
Jantungnya berdenyut keras. Ada yang mencegat dan menanyai identitas 
mereka berempat. Umar dan Ali yang bisa bahasa Aceh menjelaskan bahwa 
mereka wartawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar tahu kalau tak bicara baik-baik akan susah 
dapat izin lewat. Walau banyak yang senang aksi mereka diliput wartawan 
televisi, tapi tak sedikit juga yang memandang curiga pada mereka. Orang
 menyamakan posisi mereka dengan tentara yang harus dimusuhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Itu Pa'i juga," ada yang menyeletuk di belakang. Pa'i sebutan kasar dalam bahasa Aceh untuk tentara atau polisi Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambutan
 tak ramah itu membuat Umar khawatir. Dengan berkata pelan, Umar 
mengingatkan Imam dan Fipin agar tak mengaku sebagai orang Jawa. Ada 
sikap anti orang Jawa di Aceh. Imam terkadang sulit menyembunyikan aksen
 Jawa dalam ucapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pria mendekati Imam, "Kamu siapa?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Wartawan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Wartawan dari mana?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"RCTI."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Orang mana?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Melayu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Melayu mana?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Melayu Riau."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang
 itu menarik kartu identitas Imam dan Fipin yang menggantung di leher, 
melihatnya untuk memastikan apa betul mereka wartawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syukur, 
datang bantuan. Salah seorang tokoh yang jadi pengatur massa di situ, 
menghampiri Imam dan Umar. Dia kenal Umar sebagai wartawan. Mereka 
bersalaman. "Ini wartawan RCTI. Tidak apa-apa. Biarkan lewat," pria itu 
memberi instruksi pada orang-orang yang berkerumun dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang
 yang tadinya sempat tak senang mendadak berubah sikap jadi baik. Mereka
 bilang, massa yang jumlahnya lebih besar lagi sudah berkumpul di 
Simpang Kraft. Mereka menawarkan diri untuk mengantar wartawan ke sana, 
karena jarak Simpang Kraft sekitar satu setengah kilometer dari situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raban sempat bertanya pada seorang pria muda yang dilihatnya membawa senjata tajam. "Kenapa bawa parang?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kami mau mengamankan kampung kami. Tentara mau serang kampung," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mereka cari anggota dia. Kami tidak tahu," kata yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat
 wartawan itu diantar ke Simpang Kraft dengan sepeda motor milik warga 
di situ. Tak ada kendaraan yang melintas di jalanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepeda motor
 yang ditumpangi para wartawan itu harus berjalan zigzag, dengan 
kecepatan sedang. Tiap jarak yang dekat ada barikade yang dibuat dengan 
tumpukan ban bekas, kursi, kayu, dan drum. Bahkan menjelang Simpang 
Kraft jalan sepenuhnya telah ditutup, sehingga mereka harus minta izin 
dulu kepada orang-orang yang berjaga agar bisa lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SIMPANG
 Kraft adalah nama sebuah pertigaan yang terletak di sebelah kiri jalan 
lintas Medan-Banda Aceh. Dari Lhokseumawe jaraknya sekitar 19 kilometer.
 Simpang itu adalah jalan masuk utama ke pabrik kertas PT Kertas Kraft 
Aceh, yang jaraknya 10,5 kilometer masuk ke dalam. Di lintasan jalan 
menuju pabrik KKA, ada markas Arhanud Rudal yang cuma berjarak dua 
setengah kilometer dari persimpangan. Markas ini menyimpan peluru 
kendali buat perlindungan daerah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Simpang Kraft ada 
traffic light, yang cuma punya satu lampu kuning, yang terus 
berkedap-kedip. Itu lampu peringatan, agar para pengendara kendaraan 
yang melaju di lintasan Banda Aceh-Medan berhati-hati. Simpang itu 
merupakan jalur keluar masuk truk-truk tronton besar yang membawa 
gulungan-gulungan kertas raksasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar 10 meter dari simpang, 
jalan dibuat melebar 10 meter dengan pembatas median, membagi jalan 
dalam dua jalur. Di sebelah kiri dan kanannya, sekitaran pojok simpang, 
terdapat deretan toko dan warung. Di kiri, ada tiga pintu toko 
bertingkat terbuat dari kayu, menjual barang-barang kelontong dan 
makanan ternak. Di sebelahnya ada tiga deret warung kecil, salah satunya
 warung kopi. Di antara toko dan warung ada bale-bale yang berfungsi 
sebagai gardu jaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sebelah kanan, berderet lima warung yang 
di antaranya berjualan rokok, warung kopi, bengkel, dan tukang jahit. Di
 depan deretan warung itu tumbuh beberapa pohon buah seri dan pohon ubi 
gadung. Lewat dari warung itu terdapat tanah kosong, kebun dan satu dua 
rumah sederhana. Lima ratus meter kemudian terdapat hamparan sawah di 
kiri kanan jalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumah-rumah orang lebih banyak berada di 
pinggiran jalan Banda Aceh-Medan. Orang di situ sudah terbiasa melihat 
truk-truk mengangkut sepasukan tentara melintas keluar masuk Simpang 
Kraft, karena di situ ada markas Arhanud Rudal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi-pagi sekali,
 beberapa laki-laki melakukan sweeping di sekitaran Simpang Kraft. 
Mereka memeriksa setiap kendaraan yang lewat, memeriksa apakah ada 
tentara yang melintas. Pukul 08.00 empat truk militer membawa sepasukan 
tentara berbaju loreng hijau, bertopi rimba dan bersenjata masuk ke 
kecamatan Dewantara. Tentara itu datang dari Batalyon 113 Korem 
Lilawangsa yang markasnya terletak di Bireuen, 45 kilometer barat 
Lhokseumawe. Pasukan Batalyon 113 itu biasanya bertugas sebagai pasukan 
pengaman proyek-proyek vital di sekitaran Lhokseumawe. Tapi pagi itu 
mereka didatangkan sebagai pasukan bala bantuan untuk pengamanan jalan 
masuk ke Arhanud Rudal. Jumlah tentara di Arhanud Rudal cuma ada satu 
kompi. Mereka bersiaga di Simpang Kraft. Bersamaan masuknya 
tentara-tentara itu, orang-orang di desa Lancang Barat, mengumandangkan 
azan di meunasah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejam kemudian gelombang massa pun berdatangan 
ke Krueng Geukeuh. Mulanya, 10 truk membawa ratusan laki-laki datang 
dari kampung-kampung. Mereka berkumpul di lapangan sepak bola, tak jauh 
dari kantor camat. Di kantornya, Camat Marzuki Muhammad Amin sedang 
melakukan rapat persiapan pemilihan umum. Rapat itu bubar, karena massa 
berdatangan ke kantor. Mereka menjemput Marzuki untuk dibawa ke Simpang 
Kraft. Di sana, orang Cot Murong dan tentara sudah saling 
berhadap-hadapan. Marzuki diminta datang untuk mendinginkan suasana yang
 memanas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga pukul 11.00, ada dua konsentrasi massa di Krueng
 Geukeuh. Massa pertama ada di depan Koramil Dewantara, dekat pasar 
Krueng Geukeuh. Ratusan orang kebanyakan wanita, berkumpul melakukan 
demontrasi. Banyak yang membawa anaknya. Mereka datang dari 
kampung-kampung sekitar Krueng Geukeuh, dijemput dengan truk. 
Wanita-wanita itu bergerombol, ada yang berteriak-teriak. Tak ada 
tentara yang menghadapi demonstran. Mereka berdiam diri di dalam kantor 
Koramil Krueng Geukeuh yang tertutup rapat. Komandannya ada di Simpang 
Kraft.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjelang pukul 12.00 massa mulai melempari kaca jendela 
koramil. Sebuah sepeda motor milik tentara yang diparkir di sekitar situ
 dibakar hingga hangus. Tentara memberi tembakan peringatan beberapa 
kali ke udara. Massa sempat lari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa depan koramil tidak 
banyak diketahui oleh massa kedua di Simpang Kraft. Simpang Kraft bagai 
lautan manusia. Massa menumpuk dalam radius 300 meter. Jumlahnya terus 
bertambah dan tak kurang dari 10 ribu orang. Laki-laki, perempuan, dan 
anak-anak terus berdatangan secara bergelombang sejak pagi. Orang-orang 
itu tak hanya datang dari Dewantara, tapi juga dari kecamatan sekitar 
seperti Nisam, Muara Dua dan Sawang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka tergerak ke sana 
karena spontanitas, merasa harus bersolidaritas terhadap sesama orang 
Aceh. Tak sedikit yang panas hatinya mendengar kabar tentara akan 
menyerang kampung sehingga mereka merasa perlu membawa senjata tajam 
untuk bela diri. Ada semacam pengerahan massa ke Simpang Kraft, karena 
sebagian besar orang yang datang ke situ dikoordinasi oleh sekelompok 
orang. Sejak pagi sejumlah truk masuk ke kampung-kampung menjemput orang
 diajak berdemonstrasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian lagi, datang ke Simpang Kraft 
karena tertarik menonton keramaian yang tak biasa itu. Pemandangan itu 
jadi hal menarik bagi anak-anak kecil, perempuan, dan pelajar yang 
bersekolah di sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak sedikit juga yang terjebak di 
Simpang Kraft. Yang terjebak adalah para penumpang yang tadinya berharap
 bisa menyambung perjalanan dengan naik bus di Simpang Kraft. Mereka 
berjalan kaki sejauh dua kilometer sejak dari simpang PT Pupuk Iskandar 
Muda di mana rombongan RCTI menyimpan mobil. Ternyata tak ada bus yang 
menunggu di Simpang Kraft seperti yang dibilang para penghadang di 
simpang Pupuk Iskandar Muda. Akhirnya, mereka hanya bisa menunggu, 
bergabung dengan massa di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat wartawan RCTI yang baru 
datang segera masuk di antara kerumunan massa. Mereka menyebar. Dua 
kamerawan, Ali dan Fipin, merekam gambar dari sudut yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di
 sebelah jalur kanan jalan, ada empat truk militer diparkir berjejer. 
Tentara-tentaranya sudah turun. Mereka berjaga di sekitar kawasan itu. 
Tentara-tentara itu berkelompok-kelompok, berdiri dekat sebuah tanah 
kosong, di depan warung dan dekat truk mereka. Ada banyak wanita dan 
anak-anak berdiri sangat dekat dengan tentara-tentara dari Batalyon 113.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
AGAK
 terpisah dari massa, di bawah sebuah pohon asam dekat sawah, 500 meter 
dari simpang, ada 20 tentara lain yang berjaga. Mereka dari Arhanud 
Rudal. Antara kelompok tentara ini dan massa hanya berjarak 20-an meter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat
 wartawan itu melihat tentara yang berdiri dekat truk militer sudah 
terkepung massa. Tapi tak terlihat ketegangan serius antara tentara dan 
massa. Tentara-tentara itu tak bereaksi terhadap orang-orang yang 
bersorak-sorak di dekatnya. Dan massa pun tak mempedulikan kehadiran 
tentara-tentara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tadinya massa bersikap biasa saja. Tapi suasana 
berubah menjadi sangat riuh ketika tahu ada kamera televisi merekam aksi
 mereka. Mereka jadi ribut sekali. Mereka berteriak-teriak sambil 
mengacungkan apa saja yang mereka bawa. Cangkul, tombak, kayu, dan 
parang menyembul di antara ribuan kepala manusia. Anak-anak kecil 
melompat-lompat kegirangan setiap kamera menyorot mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Allah Akbar, Allah Akbar, Allah Akbar," seruan itu bersahut-sahutan dari ujung ke ujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka juga berteriak-teriak, "Merdeka! Merdeka!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hidup referendum!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam
 dan Fipin naik ke atas salah satu truk tentara yang diparkir di pinggir
 jalan. Truk itu pun sudah penuh, dinaiki massa. Dari atas truk itu, 
Fipin kembali mengambil gambar lautan massa. Mereka makin ramai 
bersorak. Bunyinya bagai suara dengungan puluhan ribu lebah. "Allah 
Akbar!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah pukul 12.00 siang. Langit biru cerah tanpa awan. 
Matahari tepat di atas kepala. Panasnya bagai membakar apa saja yang ada
 di permukaan bumi. Panas matahari juga dirasakan oleh massa. Tapi 
mereka seakan tak peduli. Panas matahari justru makin memanaskan 
suasana. Mereka makin ribut, bersorak dan loncat-loncat. Peluh mengucur 
deras dari tiap senti tubuh mereka. Mereka berteriak-teriak minta air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa
 tentara dekat truk tersenyum memperhatikan tingkah massa yang dianggap 
lucu, melompat-lompat seperti anak kecil. Tentara-tentara itu tak 
bergeming, kendati sesekali terdengar makian dari massa, "Pa'i" tapi 
mereka berdiri santai, sesekali bertukar api rokok dengan beberapa 
demonstran. Moncong senjata mereka jatuh ke tanah. Salah seorang, 
mungkin komandannya, sibuk berbicara melalui handy talky.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian
 wanita berkerudung berteduh di pinggiran warung, bale-bale dan di bawah
 pohon. Lima orang wanita, ibu-ibu, dan anak gadis yang duduk di 
bale-bale, tertawa ceria sambil turut bersorak-sorak, ketika Fipin 
Kurniawan mengarahkan kameranya ke mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Wahyudi melihat 
seorang pemuda berkemeja putih, memakai ikat kepala dari kain putih yang
 disobek, dielu-elukan massa yang mengangkat-angkat tangannya. Mungkin 
dia salah satu pemimpin di situ. Dia agak malu karena kamera Fipin lama 
menyorot ke arahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari tiba di Simpang Kraft. Dia tadi jalan
 kaki mengikuti serombongan orang dari simpang empat Krueng Geukeuh. 
Azhari masuk dalam kerumunan massa. Tubuhnya yang pendek seakan 
tenggelam di sana. Dia agak sulit bernafas, karena massa demikian padat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari
 melihat Umar di antara kerumunan orang. Tubuh Umar tampak agak lebih 
tinggi dari orang-orang sekitarnya. Azhari tak berusaha menghampiri 
Umar. Dia menganggap Umar wartawan yang tidak ingin disaingi dalam 
perolehan gambar dan berita. Selain itu, Azhari merasa lebih baik tak 
begitu masuk ke dalam arena. Di sana banyak tentara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ali Raban 
sendirian, terpisah dari teman-temannya. Ali naik ke atas sebuah drum 
yang diletakkan massa tepat di tengah jalan. Dia mengambil gambar 
tentara yang terkepung di antara massa yang menyemut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raban turun
 dari drum dan bergerak masuk lebih jauh ke dalam kerumunan. Ali melihat
 camat Marzuki. Dia mengambil gambar Marzuki yang terduduk lemas di 
sebuah kursi depan warung kopi yang tutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Marzuki ada dalam 
tekanan orang-orang sekitarnya. Lencana camatnya dicopot paksa oleh 
seseorang. Marzuki harus menanggalkan baju dinas camatnya, dan menjadi 
pusat perhatian orang karena cuma berkaos dalam dan bercelana pendek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Camat
 Marzuki, beberapa kali naik ke atas truk dan berbicara kepada massa di 
situ. Seorang pemuda berkulit hitam memegang megafone ada dekatnya. 
Namanya Faisal. Tampaknya Faisal koordinator lapangan. Marzuki dan 
Faisal bernegosiasi. Massa menuntut Marzuki segera menghadirkan 
perwakilan tentara, ulama, dan pemerintah di Simpang Kraft.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raban
 berlalu dari tempat Camat Marzuki. Dia menyeberang ke arah jalur kanan 
jalan. Mengambil gambar orang-orang yang berdiri di pinggir warung. 
Seorang anak kecil dengan wajah gembira minta ibunya mengangkat dirinya 
lebih ke atas, biar wajahnya terlihat jelas di kamera. Berkali-kali anak
 itu bersorak-sorak agar Ali melihat dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raban sangat 
kehausan. Dia melihat anak kecil tadi. Anak itu bercelana pendek dan 
memakai sandal jepit. Ibunya sudah tak terlihat lagi. Dia memegang botol
 Aqua ukuran 600 mililiter. Isinya tak sampai seperempat botol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raban mencoba memintanya. "Dik, boleh minta airnya?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak
 itu memberi Ali botol air yang dibawanya. Ali meneguknya. Botol yang 
masih menyisakan sedikit air, diserahkan lagi ke anak itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar 
berdiri di tengah massa. Beberapa orang yang melihatnya, datang dan 
minta Umar dan kawan-kawannya mewawancarai mereka. Umar tak menolaknya. 
Lebih baik menuruti orang-orang itu. Dia yakin di antara sekian banyak 
orang, banyak yang berpikiran kalut dan di luar kendali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar 
memanggil Ali yang jaraknya hanya belasan meter darinya. Imam dan Fipin 
sudah turun dari truk. Mereka berempat berkumpul di sebelah jalur kiri 
jalan. Mereka akan mewawancarai Faisal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faisal masih muda, 
berhidung mancung dan berkulit hitam. Dia memakai jaket parasut hitam 
sepanjang lutut yang warnanya telah kusam. Faisal memakai topi hitam 
dililit pita putih. Dia memegang megafone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemuda-pemuda yang 
berada di sekelilingnya berteriak, "Hoi, hoi," berebutan mau bicara dan 
ingin masuk televisi. Faisal menolak memakai bahasa Indonesia. "Hana 
meuphoum lon." Dia tak bisa berbahasa Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam 
mewawancarai Faisal. Umar menterjemahkannya. Banyak orang yang tertarik 
melihat Faisal diwawancarai televisi. Keributan seketika berkurang, 
karena Faisal berteriak agar massa diam. Sejenak agak senyap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si 
Faisal menjelaskan, "Rakyat bangsa Aceh yang ada di Lancang Barat dan 
Krueng Geukeuh ke luar ke lapangan, ke jalanan. Karena kami melihat 
banyak tentara Jawa, si Pa'i sudah masuk ke desa Teupin, menganiaya 
rakyat dan ada saksi mata."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faisal berkata lagi, semalam ada provokator yang menyusup ke kampung mereka, yang ditudingnya sebagai tentara yang menyamar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pa'i, pa'i," orang-orang di sekitar Faisal berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dan si pa'i itu memancing kami masyarakat, sehingga kami menjadi berkelahi," sambungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut
 Faisal, pagi itu ada empat truk tentara masuk ke desa Lancang Barat, 
bertujuan memancing emosi orang sehingga jadi ribut. "Padahal sudah 
janji sebelumnya tidak boleh masuk tentara lagi."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si pemuda 
mengatakan mereka saat ini sedang menunggu datangnya bupati, komandan 
korem, komandan kodim, komandan rudal, Palang Merah Internasional, ketua
 parlemen setempat, untuk menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faisal mengeluh capek, "Kami minta mobil pemadam kebakaran. Tapi sampai sekarang belum sampai. Kami sudah gerah sekali."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matahari
 memancarkan sinar yang cukup panas. Faisal dan massanya masih bertahan 
di tengah jalan, tak beranjak. Faisal membuka lembaran buku tulis yang 
sudah lecek oleh keringat dan memperlihatkannya kepada wartawan yang 
mewawancarainya. Di situ ada kesepakatan tertulis antara massa yang 
diwakilinya dengan Camat Marzuki, bahwa Marzuki telah menyatakan 
meletakkan jabatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kami dituduh awak AM (Aceh Merdeka). Kami
 dituduh menculik orang Rudal, sedangkan kami tidak tahu menahu masalah 
itu," teriaknya dengan emosi dari megafone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Massa menyambut teriakan Faisal dengan gemuruh. Ribut lagi. Wawancara itu segera diakhiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat
 wartawan RCTI itu sepakat kembali ke Lhokseumawe untuk memburu 
pengiriman kaset ke Jakarta. Ali dan Fipin secara terpisah mengambil 
gambar terakhir kalinya. Umar masih tak beranjak dari posisi semula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam
 dan Fipin bergerak beberapa meter. Dekat mereka ada sebuah sepeda motor
 merek Honda keluaran 1970-an. Pemiliknya mengizinkan Fipin naik ke atas
 sadel belakang. Imam memegang sepeda motor itu agar Fipin tak jatuh. 
Imam memegang kaset baru, bersiap hendak menukarnya dengan kaset dalam 
kamera Fipin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fipin berdiri di atas sepeda motor dengan agak 
gemetar. Dia masih bisa memanggul kamera yang berat walau tubuhnya sudah
 terasa lemas. Tadi pagi tak sempat sarapan. Dan kini dia sangat haus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari
 berdiri dekat sebuah tembok kecil di sudut kiri jalan. Sedari tadi dia 
tak melakukan apapun, hanya menonton keramaian. Azhari tak berusaha 
mewawancarai orang-orang di situ, bahkan tak pula ingat mengeluarkan 
kameranya untuk memotret. Nalurinya sebagai wartawan sama sekali tak 
jalan. Padahal dia bisa memperoleh foto berita di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada 
yang tahu persis siapa yang memulai. Massa makin tak terkendali. Mulai 
saling dorong-dorongan. Tentara Batalyon 113 yang sedari tadi berdiri di
 tengah massa, mulai terjepit. Ada lemparan batu jatuh di depan deretan 
anak-anak dan ibu-ibu. Dua puluh meter dari barisan massa terdepan itu, 
berdiri pasukan Arhanud Rudal, jumlahnya berkisar 20-an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak-anak yang melihat ada batu jatuh di depan mereka, spontan mengambil batu dan melemparnya ke arah tentara Arhanud Rudal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suasana memanas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah
 truk militer datang dari kejauhan. Truk itu datang dari markas Arhanud 
Rudal. Banyak tentara di dalamnya. Ali dan Fipin dalam posisi berbeda 
merekam kedatangan truk itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan mata massa semuanya sudah 
terkonsentrasi ke arah truk yang datang itu. Mereka merasa ada sesuatu 
yang terjadi. Sebab beberapa orang ribut, "Ada truk datang, ada truk 
datang."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentara mulai membentuk dua lapis barisan. Mereka seperti sedang bersiap-siap, karena ada keributan di tengah massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba
 ... trat .... trat .... trat .... suara senjata meletus dengan keras. 
Trat, trat, trat .... dengan cepat suara senjata susulan terdengar 
bersahut-sahutan. Suara itu bagaikan geledek yang menyambar. Semua 
terkejut. Orang-orang yang tadi berdiri menyemut di jalan, secara reflek
 tiarap. Tapi dengan cepat pula, banyak yang berlari berhamburan. Mereka
 lari tunggang-langgang menjauhi tentara-tentara yang mulai melepaskan 
peluru-peluru tajam dari moncong senjata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tembakan ini 
datang dari tentara Arhanud Rudal yang berdiri di kejauhan. Mereka yang 
pertama kali melepaskan tembakan itu. Mereka menembak ke atas dengan 
maksud membubarkan massa. Sejumlah tentara berteriak, "Bubar kalian! 
Bubar!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi beberapa tentara mendadak seperti kesetanan mengejar
 orang-orang yang berlarian. Menembaknya dengan serabutan. Sementara, 
tentara-tentara dari Batalyon 113, yang tadi berdiri di antara massa 
dengan cepat menyebar, menyusup ke parit-parit. Mereka juga turut 
melepaskan tembakan. Mereka menembaki pohon kelapa yang tumbuh di 
sekitar lokasi, hingga daun dan buahnya berjatuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepanikan 
muncul di mana-mana. Laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak, lari 
berhamburan menghindari peluru yang mereka tak bisa terka datangnya dari
 arah mana. Yang mereka tahu mereka harus menjauh dari tentara-tentara 
itu yang mendadak brutal menembaki mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka ada yang 
berteriak ketakutan minta tolong. Perempuan dan anak-anak menjerit. Tapi
 kebanyakan tak mampu lagi bersuara. Suara rentetan senjata yang 
memekakkan telinga membuat semuanya tak berkutik. Banyak yang tiarap di 
jalanan. Yang lainnya bersembunyi di balik dinding warung. Ada juga yang
 memperosokkan diri ke parit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Amin ya Allah, Allah Akbar,"seorang laki-laki berteriak dengan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Allah
 Akbar, Allah Akbar," orang-orang mulai berseru. Korban mulai 
berjatuhan. Satu, dua, tiga, delapan orang rubuh di jalur kanan jalan. 
Yang lain, satu per satu jatuh, terutama yang jaraknya dekat dengan 
tentara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Massa menubruk apa saja. Fipin yang berdiri di atas 
sepeda motor jatuh terjengkang. Si empunya sepeda motor tanpa memberi 
aba-aba kepada Fipin, membawa lari sepeda motornya secepat kilat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fipin
 jatuh tertidur di badan jalan bersebelahan dengan Imam yang tiarap. 
Dekat mereka ada beberapa orang yang juga melakukan hal yang sama. Fipin
 makin lemas saat melihat darah mulai keluar dari tubuh-tubuh orang yang
 rebah tak jauh darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fipin mengangkat kameranya tinggi dan 
mengarahkannya ke tentara-tentara dekatnya yang sedang menembaki 
pohon-pohon kelapa, hingga buahnya berjatuhan dan daunnya rontok. Di 
kejauhan beberapa tentara lainnya sedang melepaskan tembakan secara 
brutal ke arah massa yang berlarian. Dia sudah tidak bisa berpikir 
apapun. Dia hanya merasa kameranya akan merekam semua adegan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam
 sejak tembakan pertama secara reflek merebahkan tubuhnya ke atas aspal.
 Dia berada di belakang Fipin. Kaset di tangan Imam terjatuh, 
tersepak-sepak oleh massa yang berlarian panik, melompati badan Imam 
yang jatuh. Berkali-kali Imam berusaha mengambil kaset itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir
 10 menit berlalu, saat Imam berusaha memasukkan kabel mikrofon ke 
kamera yang dipegang Fipin. Imam ingin merekam dan membuat laporan 
langsung di tengah ributnya suara letusan senjata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mas, 
kameranya mati," mendadak Imam berteriak kepada Fipin. Imam melihat 
lampu kecil berwarna merah di kamera Fipin tak menyala. Seharusnya lampu
 itu berkedip-kedip jika kamera merekam gambar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fipin tersadar. 
Dengan cepat dia menghidupkan tombol record kamera. Kamera itu tanpa 
diketahui mati ketika Fipin terjatuh dari sepeda motor. Selama 10 menit 
pertama ketika tembakan mulai Fipin tak merekam apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentara-tentara
 itu masih melepaskan tembakan, ketika seorang anak kecil, merayap dekat
 Imam. Ada seorang perempuan dekatnya, juga merayap. Mungkin itu 
bibinya. Anak itu kebingungan mencari perlindungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sana kamu," Imam mendorong pantat anak itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ke mana Bang?" tanyanya, bingung ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam
 menyuruhnya pergi ke arah deretan warung tak jauh dari situ. Paling 
tidak anak itu bisa berlindung di balik dinding. Dengan cepat anak 
laki-laki itu, bersama bibinya merangkak, dan menghilang ke samping 
warung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam kembali melihat ke arah tentara-tentara itu. 
Jaraknya kini hanya lima meter dari tempat Imam dan Fipin rebah. 
Perasaannya campur aduk saat melihat tentara melepaskan tembakan 
bertubi-tubi, mengarahkan muntahan peluru ke arah orang-orang yang 
sebagian masih berusaha lari dari tempat itu. Imam terpaku dan belum 
berpikir apa pun tentang peristiwa itu. Semua serba cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika
 dia melihat ada tumpukan orang rebah di seberang jalan. "Ah, 
orang-orang itu cuma bersandiwara saja," kata Imam dalam hati. Dia sudah
 pernah mengalami situasi, di mana ada demontrasi dibubarkan aparat 
dengan tembakan. Tapi dia tak pernah melihat darah dalam 
peristiwa-peristiwa seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat tembakan agak mereda, Imam 
tergerak mendekat ke tumpukan manusia itu. Sambil berjongkok dia dan 
Fipin jalan ke sana. Fipin merekam semua gambar dengan baik. Sebagian 
tentara masih terus melepaskan tembakan. Tapi ada juga satu dua tentara 
yang masih berbaik hati, berusaha mengamankan beberapa wanita yang 
menggendong anak mereka yang sedang bersembunyi di balik sebuah gerobak.
 Mereka disuruh pergi cepat-cepat dari situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam melihat seorang
 pemuda merangkak di depannya. Imam ingat, itu pemuda yang tadi 
dielu-elukan massa. Pemuda berikat kepala itu merangkak pelan bagai tak 
bertenaga. Dia berusaha menuju ke emperan warung. Dia terluka, celana 
putihnya penuh darah. Pemuda itu bersandar lemas di dinding warung yang 
dengan susah payah dicapainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam menegurnya, "Apanya yang kena?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemuda itu tak menjawab. Wajahnya pucat. Ada seorang wanita berjilbab kuning di dekatnya, memperhatikannya dengan rasa khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cairan
 warna merah mengalir pelan ke arah Imam. Cairan itu keluar dari sela 
kaki pemuda itu. Imam mengambilnya sedikit di tangan. Menciumnya. "Tidak
 amis," pikirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam mengambil lagi. Tidak amis. Dia pikir darah pasti baunya amis. "Orang ini mau mendramatisasi," kata Imam dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam
 bergerak lagi, ke arah tumpukan orang yang sedari tadi mengusiknya. 
Tadi ada sekitar 10 orang rebah di situ. Tapi dengan cepat sebagian 
bangun dan lari saat Imam dan Fipin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jauh, Imam 
seperti melihat sebuah boneka tergeletak di antara tumpukan orang itu. 
Imam mendekat, melihat lebih jelas. Imam terkejut bagai disambar petir. 
Itu seorang anak kecil yang bagian atas kuping kirinya sudah bolong 
setengah. Air otaknya terlihat jelas. Imam shock.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak benar 
ini. Masya Allah. Ini gila," Imam berteriak dalam hati. Perasaan marah, 
benci tak percaya, bercampur aduk dalam diri Imam. "Ini tidak boleh 
terjadi, tak masuk akal."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan boneka. Itu anak kecil yang 
telah tak bernyawa. Peluru tentara telah menghancurkan kepala kirinya. 
Imam tak tahan dan menangis melihat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fipin sendiri tak tega 
ketika mengarahkan kameranya ke arah anak kecil yang kepalanya telah 
bolong itu. Saking tak tahan melihat kesadisan itu, Fipin menutup 
matanya ketika kameranya mengambil gambar anak itu dari dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fipin
 menjalankan tugasnya sebagai kamerawan dengan baik. Dia merekam semua 
yang dilihatnya. Dia terus berada bersama Imam. Dia merekam seorang 
pemuda yang sekarat, tersentak saat nyawanya hendak diambil malaikat 
pencabut nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar dengan panik berlari ke depan sebuah toko 
penjual makanan ternak, ketika bunyi letusan senjata terdengar. Di depan
 toko yang ditutup pemiliknya itu, ada tumpukan karung berisi dedak 
makanan bebek. Umar bersembunyi di balik tumpukan karung. Tak hanya dia 
seorang di situ, karena ada beberapa orang lain yang berebutan tempat 
bersamanya. Umar terjepit di antara orang-orang yang takut itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar
 juga sangat ketakutan. Bahkan dia seperti mau kencing dalam celana. 
Tapi dia berpikir cepat untuk segera memotret peristiwa itu. Umar 
menjepret apa pun yang dilihatnya, tentara yang menembak dan juga 
tumpukan orang yang rebah di jalan. Umar melihat Fipin dan Imam ada di 
sana juga. Tapi jepretan Umar banyak yang meleset tak tentu arah, ke 
langit dan ke atas pohon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Trat .... trat .... trat .... 
berondongan senjata terus terdengar. Umar memotret tanpa berpikir banyak
 apakah dia mendapat angle yang bagus atau tidak. Umar sangat terkejut 
ketika kameranya secara tak sengaja membidik seorang anak kecil di 
seberang jalan yang terjatuh. Kamera Umar mengabadikannya, tepat saat 
peluru menghantam kepalanya dan isi otaknya berhamburan. Umar terkejut 
luar biasa, hingga kameranya terjatuh dari pegangannya. Umar merasa 
kasihan terhadap anak itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ali Raban dalam posisi merekam gambar 
di sudut kanan Simpang Kraft, ketika tiba-tiba meletus suara senjata. Di
 depannya, massa secara reflek tiarap. Ali melihat tentara di depan 
warung, tak jauh darinya mulai berpencar. Massa kemudian dengan cepat 
bangun dan berlarian tak tentu arah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raban tidak lari. Dia 
berdiri dengan tegap dan merekam orang-orang yang berlarian itu. Mereka 
panik dan berusaha mencari tempat perlindungan terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba
 ada yang mendorongnya dari belakang. Ali terjatuh. Tapi dia masih mampu
 mempertahankan kameranya tetap hidup. Ali jatuh tiarap dengan siku 
tertumpu di tanah. Di depannya wanita, pria dan anak-anak mulai 
berjatuhan. Mereka kena tembak. Jaraknya hanya sekian meter dari Raban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa
 menit berlalu. Tentara-tentara masih menembak. Sambil jongkok Ali lari 
ke tengah pertigaan jalan. Dia ingin mengambil gambar tentara. Dia 
merasa pengambilan gambar terhalang oleh truk-truk militer yang berderet
 di pinggir jalan. Ban-ban truk itu telah kempes, kena peluru nyasar. 
Dinding warung penuh lubang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari kebingungan ketika mendengar 
suara letusan senjata. Dia berusaha melihat lebih jelas ke arah 
tentara-tentara yang jauh. Orang-orang sudah berlarian. Seruan "Allah 
Akbar," muncul dari antara orang-orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari kaget. Dia 
melihat ke arah tentara yang ada sekian puluh meter darinya. Tentara itu
 menembaki orang-orang yang berlarian. Suasana sangat kacau. Tadinya 
Azhari belum berpikir untuk lari. Rasa takutnya timbul ketika melihat di
 antara orang-orang yang berlarian, seorang pria jatuh tersungkur. 
Azhari melihat darah membasahi belakang bajunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia pun dengan 
cepat lari, mengikuti orang-orang yang lari menyelamatkan diri ke arah 
Krueng Geukeuh. Melihat ada massa yang lari ke sebuah gang kecil, dia 
pun ikut ke sana, menganggap tempat itu pasti aman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari merasa
 tentara itu bagai mengejar dirinya karena rentetan tembakan masih terus
 terdengar. Orang-orang berteriak histeris. "Tulong, ureung kaa 
ditimbak, kaa plung mandum (Tolong, orang sudah ditembaki, sudah lari 
semua)."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari berlari sepanjang satu kilometer, menyusup ke 
kebun, dan menerobos pagar berduri rumah penduduk tanpa sadar. Ada 
ratusan orang lain berlarian seperti dirinya. Azhari menemukan sebuah 
riol tak berair. Lalu bersembunyi di situ. Ada tiga orang lain melihat 
Azhari bersembunyi. Mereka ikut menyusup dekat Azhari. Suara tembakan 
masih terdengar. Orang-orang melompati riol yang disusupi Azhari. Mereka
 berlarian susul menyusul. Selesai istirahat untuk sekadar tarik nafas, 
Azhari keluar dari riol itu dan kembali lari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah lebih dari 
setengah jam ketika tembakan mulai mereda. Fipin mengeluh ke Imam. Dia 
mulai limbung karena dia tak tahan dengan rasa haus. Mereka mencari 
minum ke sebuah warung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat wartawan itu kembali berkumpul. 
Mereka tak banyak berbicara. Mereka masih tegang karena masih ada 
tentara di situ. Tapi Imam dan Umar tak bisa menyembunyikan kesedihan 
mereka. Mata mereka berair. Menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tempat itu tidak ada 
lagi massa. Lengang sekali. Yang tersisa di situ hanya para korban yang 
terkapar dan keempat wartawan itu. Sepeda kecil, sandal, kayu, batu, 
parang, berserakan di jalanan, ditinggal oleh pemiliknya yang tadi panik
 berlarian. Mungkin mereka sudah tewas dan mungkin ada yang selamat. 
Jerit kesakitan dari orang-orang yang kena tembak mulai terdengar 
sayup-sayup. Tapi suara-suara itu jauh, tak jelas dari mana saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentara-tentara
 datang mendekat. Mereka melakukan penyisiran, hingga ke persimpangan. 
Ada yang naik truk, ada yang jalan kaki. Keempat wartawan RCTI itu 
berkumpul di pojok kiri simpang. Mereka belum tahu mau berbuat apa, 
karena masih ada tentara yang kalap dekat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendadak dua 
tentara bertopi rimba datang mendekati wartawan dengan berlari. Wajah 
kedua tentara itu sangat marah. Entah disengaja atau tidak, moncong 
senjata keduanya terarah kepada keempat wartawan itu. Mereka memaki-maki
 keempat wartawan yang terdiam itu. Umar, Raban, dan Imam berdiri, 
sedang Fipin berjongkok, melindungi kameranya seperti dia melindungi 
bayinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentara itu berteriak dengan marah kepada 
wartawan-wartawan itu, "Ini kan yang kalian inginkan?" Ia mencecar 
mereka dengan marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satunya lagi menimpali. "Apa shooting-shooting. Memangnya kita cover boy?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam
 berbisik pada Fipin, "Record, Mas." Imam ingin tentara yang marah itu 
terekam dalam kamera. Tapi Fipin tak mengerjakannya. Dia berpikir akan 
ketahuan kalau dia merekam sebab lampu merah akan berkedip-kedip. Ali 
juga sudah mengingatkan agar dia menutup kameranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua tentara 
itu masih marah-marah, saat komandannya, seorang perwira berpangkat 
letnan datang mendekati. Dia berusaha mendinginkan kedua anak buahnya. 
"Sudah. Sudah sana," dia mendorong pergi kedua anak buahnya itu kembali 
ke pasukan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hati-hati, Dik. Ada tembakan dari luar," katanya memperingatkan keempat wartawan itu. Lalu dia pergi kembali ke pasukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam
 merasa begitu sangat tolol karena sedari tadi tak segera menyimpan 
kaset video yang masih tersimpan di kamera. Imam merasa ajaib bahwa 
tentara-tentara itu tak merampas kaset rekaman mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepeninggal
 tentara-tentara itu, Umar dan Imam berlari ke arah bale-bale. Di sana 
ada seorang ibu mengerang. Pinggang kirinya tertembak. Dekatnya seorang 
anak laki berseragam sekolah menengah pertama tergeletak. Anak itu 
mengaduh kesakitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tulong Pak," anak itu mengerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu dua orang mulai berdatangan, mencoba menolong korban. Imam berteriak, "Pak Umar, telepon ambulans."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar
 juga sedang panik menelepon istrinya di rumah lewat telepon seluler. 
Umar menyuruh istrinya menelepon ambulans dari Palang Merah Indonesia. 
Di Lhokseumawe, istri Umar, Rusni, juga berusaha menelepon Umar karena 
mendengar ada keributan di Krueng Geukeuh. Berita peristiwa itu cepat 
menyebar ke Lhokseumawe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Evakuasi korban pertama terjadi pukul 
13.05. Yang datang pertama kali adalah sebuah labi-labi yang datang dari
 arah Krueng Geukeuh. Labi-labi itu datang dengan kecepatan tinggi, 
menikung dan berhenti. Semula orang-orang mau mengangkat mayat, tapi 
Imam mencegahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Selamatkan dulu yang masih hidup," katanya. 
Imam memimpin evakuasi itu dengan cepat. Syukur orang-orang di situ 
menuruti perintahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain beberapa labi-labi dari Krueng 
Geukeuh, beberapa mobil milik orang dekat lokasi juga dikerahkan untuk 
mengangkat korban. Orang sudah mulai ramai datang ke Simpang Kraft. 
Korban satu per satu dievakuasi. Para korban diangkat dari jalan, parit,
 sawah, kebun, halaman dan dalam rumah penduduk. Mereka kritis. 
Anak-anak dan wanita merintih kesakitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang mengerubungi
 mayat anak kecil yang tertembak kepalanya. Tangannya sudah dilipat ke 
dada, seperti seharusnya orang meninggal. Orang-orang di situ hanya 
mampu berseru, "Laillahaillah."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raban masih merekam gambar 
korban-korban yang tergeletak di jalan, dan di parit-parit. Saat itu dia
 melihat seorang anak kecil di tengah jalan, merangkak karena kakinya 
tertembak. Ali mengambil gambarnya. Tapi dia tak tahan membiarkan anak 
itu terus merangkak sementara dia merekam adegan itu. Ali mengambilnya 
dan membopong anak itu ke mobil bak terbuka yang dipakai untuk 
mengevakuasi korban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama datang ambulans. Sirenenya 
mengaung-aung serasa menyayat hati orang-orang yang ada di lokasi 
penembakan. Di kejauhan puluhan tentara bergerak perlahan pulang ke 
markas Arhanud Rudal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam dan Umar turut mengangkat korban. Imam
 mengangkat korban ke dalam ambulans. Umar memotretnya. Foto itu 
kemudian yang jadi headline di media massa Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara 
orang-orang yang datang menolong, Imam melihat seorang pria yang seperti
 sok jagoan. Belum lagi mengangkat korban, pria itu membuka bajunya dan 
melumuri dadanya dengan darah korban. Beberapa pemuda, sibuk 
mengumpulkan selongsong peluru yang berserak di jalan. Mereka datang ke 
Imam dan Fipin, untuk memperlihatkannya. Tapi Imam sudah tidak peduli 
lagi. Dia masih terbawa emosi. Bahkan dia harus menenangkan dirinya 
sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah suara sirene ambulans yang mengaung-ngaung, 
Imam berbicara di depan kamera. "Pemirsa, jatuhnya korban di simpang 
Kraft ini barang kali bisa dihindari seandainya perdamaian di bumi Aceh 
bisa dilakukan lebih dini. Saya Imam Wahyudi, Fipin Kurniawan dan Umar 
HN melaporkan dari Lhokseumawe."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SIANG itu, bagai ada perang 
besar di Aceh Utara. Korban-korban penembakan di Simpang Kraft, 
dievakuasi ke beberapa rumah sakit dan klinik sekitar Krueng Geukeuh, 
Batuphat, dan Lhokseumawe. Mobil-mobil yang membawa korban lari kencang 
melintasi jalan antara Krueng Geukeuh-Lhokseumawe. Sirene 
mengaung-ngaung, menarik perhatian orang. Ruang gawat darurat rumah 
sakit penuh sesak oleh korban-korban yang kritis. Mereka harus antre 
untuk mendapat pertolongan. Sebagian korban terpaksa dijejer di lantai 
karena tempat tidur tak cukup. Kejadian itu mendadak. Para medis 
kewalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat wartawan itu berada di rumah sakit PT Arun 
LNG. Mereka mengambil gambar dan data korban. Dokter dan perawat tampak 
sangat sibuk. Mereka sempat melarang wartawan mengambil gambar. Tapi 
Fipin merekamnya diam-diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di lantai rumah sakit itu, beberapa 
korban yang sudah tak bernyawa digeletakkan berjejer di lantai sebuah 
ruangan. Darah mengotori lantai dan bau amisnya tercium sangat kuat, 
bercampur dengan bau keringat dan debu yang lengket di tubuh korban. 
Perempuan, anak-anak, laki-laki tua, anak muda tewas dengan kondisi 
mengenaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rintihan kesakitan terdengar di mana-mana, ditambah 
jerit tangis keluarga korban yang mulai berdatangan ke rumah sakit. 
Suasana agak kacau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para wartawan itu mulai merasa ada kenal satu
 per satu dengan korban. Ali terpaku, saat melihat anak kecil yang 
kepalanya bolong itu, ternyata yang tadi memberi air padanya. Imam baru 
tahu, kalau ibu yang tadi tergeletak di gardu, ternyata kena tembak 
ginjalnya. Padahal baru beberapa jam lalu si ibu masih tertawa gembira, 
bersorak-sorak bersama massa. Imam lagi-lagi mengangis melihat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluar
 dari rumah sakit, mereka berhenti di masjid Batu Phat. Istirahat 
sekalian makan nasi bungkus. Mereka sudah sangat lemas. Imam menelepon 
RCTI Jakarta. Beritanya cuma satu. "Ada kejadian mirip Santa Cruz di 
Aceh dan kalian harus segera follow-up. Aku akan segera mengirim 
materinya. Tapi situasi sangat berbahaya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Santa Cruz adalah nama
 sebuah kuburan di Dili, Timor Timur, di mana pada 12 November 1991, 
pasukan Indonesia menembaki orang-orang Timor yang berdemonstrasi di 
pemakaman itu, memperingati empat puluh hari terbunuhnya seorang aktifis
 pro kemerdekaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam merasa ada bahaya yang menunggunya. Dia 
menyempatkan menelepon seorang temannya untuk memberi kabar ke istrinya.
 Dia ingin istrinya tahu bahwa keadaannya baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah seorang anggota redaksi RCTI mengingatkan Imam, "Kau harus segera pergi dari Lhokseumawe."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka
 merasa harus segera mengamankan kaset rekaman Fipin dan Raban. Sebab 
itu merupakan gambar yang ekslusif yang pasti jadi incaran militer. Umar
 kemudian menitipkan kaset rekaman mereka ke salah seorang saudaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam
 terus bergerak mencari data korban ke rumah sakit Cut Mutia di 
Lhokseumawe. Di sana situasinya lebih dahsyat. Korban lebih banyak. 
Hampir tak bisa tertampung. Mereka ditidurkan di lantai lorong rumah 
sakit. Ironisnya, rumah sakit Kesrem milik Tentara Nasional Indonesia, 
yang bersebelahan dengan rumah sakit Cut Mutia, justru sunyi. Pintu 
pagarnya tertutup dan tampak beberapa pasukan marinir berjaga di gardu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari
 masih sedikit tegang ketika dia tiba di Lhokseumawe pukul tiga siang. 
Dia tadi menumpang sebuah mobil sedan yang hendak ke Lhokseumawe. Dia 
mendatangi rumah sakit Cut Mutia untuk mencari data korban. Berita 
pertamanya di Antara telah naik. Berita itu berjudul, "Tentara 
Membubarkan Demonstran di Simpang Kraft dengan Tembakan." Azhari 
menyebutkan, belasan orang meninggal dan puluhan lain luka-luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga
 malam, Azhari masih bekerja sendiri di kantornya. Dia melaporkan jumlah
 korban yang terus bertambah. Paling tidak, sudah 24 orang diketahuinya 
tewas dan puluhan lainnya luka berat dalam peristiwa penembakan tadi 
siang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari seperti orang linglung setelah kerja maraton, 
mencari data berulang-ulang ke rumah sakit. Dia tersentak ketika kepala 
biro Antara Banda Aceh menelepon menanyakan foto peristiwa itu. Di situ 
baru disadarinya, ternyata tustelnya masih tersimpan di tas yang masih 
menggantung di pinggangnya. Dia bahkan lupa memotret korban di rumah 
sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu suasana Lhokseumawe terasa mencekam. Hanya suara
 sirene ambulans terdengar sampai pukul 10 malam. Jalanan sepi. Tak ada 
mobilitas tentara. Markas polisi dan tentara di Lhokseumawe dijaga ketat
 aparat keamanan. Keramaian malam itu terkonsentrasi di rumah sakit. 
Keluarga korban dan orang-orang terus berdatangan, untuk menyumbangkan 
darah, memberikan bantuan uang, atau sekadar menunjukkan rasa simpati. 
Persediaan darah di palang merah kosong. Hingga tengah malam, dokter dan
 paramedis masih melakukan operasi mengeluarkan butir-butir peluru dari 
tubuh korban yang kritis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang di Lhokseumawe terus 
menunggu perkembangan berita. Mereka menunggunya di televisi dan radio. 
Berita pertama muncul di acara Seputar Indonesia RCTI pukul 18.30. 
Peristiwa itu muncul sebagai headline. Redaksi RCTI melakukan telewicara
 dengan Komandan Korem 011/Lilawangsa Kolonel Jhonny Wahab dan juga 
laporan telepon dari Imam Wahyudi langsung dari Lhokseumawe. Sampai di 
situ para petinggi militer di Lhokseumawe belum mengetahui bahwa ada 
wartawan RCTI jadi saksi mata peristiwa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu banyak 
orang di Lhokseumawe menonton siaran RCTI. Mereka kembali mendengar 
berita tentang penembakan orang-orang di Simpang Kraft. Pukul 21.00 RCTI
 dan semua stasiun televisi merelai siaran Dunia Dalam Berita milik 
TVRI. Isi berita itu ditekankan pada pernyataan resmi militer Indonesia.
 Juru bicara militer Mayor Jenderal Syamsul Muarif mengatakan tentara 
terpaksa menembak karena massa hendak menyerang markas Arhanud Rudal, 
sehingga mereka bentrok dengan tentara yang berjaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang 
yang menonton berita itu melalui RCTI marah. Mereka menganggap RCTI 
mengeluarkan berita bohong. Tak ada satu pun orang yang menyerang 
Arhanud Rudal. Mereka tidak mengerti, kalau sebenarnya itu berita TVRI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegusaran
 orang itu tidak diketahui Imam, Umar dan Fipin. Malam itu, mereka 
sedang menikmati ikan panggang di pantai Ujung Blang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pukul 22.00
 kaset rekaman yang berharga itu dikirim melalui bus ke Medan untuk 
dikargokan dengan pesawat ke Jakarta. Imam menitipkan kaset yang direkam
 Fipin. Ada tiga kaset dengan alamat yang berbeda yang dikirim Umar. 
Satu untuk RCTI, satu untuk Associated Press dan satu untuk Reuters. 
Umar menggandakan rekaman milik Ali untuk dikirimnya ke dua kantor 
berita internasional. Ali sempat protes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SELASA 4 Mei 1999 
pukul 06.00 berita Nuansa Pagi RCTI kembali menyiarkan laporan langsung 
Imam dari Lhokseumawe. Wawancara telepon dengan Kolonel Jhonny Wahab 
juga dimunculkan. Jhonny Wahab mengatakan tentara bertindak sesuai 
prosedur dalam peristiwa Simpang Kraft siang kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar 
tergopoh-gopoh datang bersama Ali ke hotel. Dia mengabarkan kepada Imam 
dan Fipin, bahwa orang-orang di Lhokseumawe marah pada RCTI karena 
pemberitaan semalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mereka berada di rumah sakit Cut 
Mutia semua itu jadi jelas. Imam merasa dr. Mulya Hasjmy, pemimpin rumah
 sakit, tak bebas bicara ketika Imam mewawancarainya. Ada yang mengikuti
 mereka sejak di rumah sakit. Seorang pemuda bertopi taliban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemuda
 itu terus mengekor keempat wartawan itu. Di pelataran rumah sakit, Imam
 dicerca seorang aktivis mahasiswi yang membuka pos kemanusiaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"RCTI pembohong," tuding gadis berjilbab itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang
 mulai mengerubungi Imam. Imam seperti dikeroyok, oleh si gadis, pemuda 
bertopi taliban, dan seorang bapak. Umar, Raban, dan Fipin berdiri 
memisah, menonton Imam yang mulai dikecam dengan berbagai tudingan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"RCTI pembohong," kata bapak itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Itu bukan kami, itu TVRI," kata Imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau begitu saya mau diwawancara."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Wawancara soal apa?" tanya Imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Soal Simpang Kraft."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kemarin Bapak di mana? Saya ada di sana. Tidak perlu mewawancarai Bapak. Saya tahu kejadiannya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya, tapi berita RCTI itu bohong."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Itu bukan berita kami. Berita kami menyebutkan berapa korbannya. Saya punya data dari rumah sakit," sahut Imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau begitu saya mau diwawancara soal Aceh," bapak itu masih berkeras juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau
 soal Aceh, kalau saya wawancara bapak, saya punya kewajiban untuk 
mewawancarai pihak lain yang menjadi lawan bapak. Mungkin ini militer," 
kata Imam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya, tapi RCTI ....."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam cepat memotong,
 "Begini Pak. Saya menghadapi situasi seperti ini bukan yang pertama. 
Sebelumnya saya sudah mengalami kejadian serupa, termasuk di Timor 
Timur. Bapak tahu Timor Timur? Di sana orangnya Kristen. Tapi di sana 
saya memberitakan apa adanya. Kemudian saya menjadi tidak disukai oleh 
kalangan militer, saya tempuh risiko itu. Itu orang Kristen, Pak. Ini 
Aceh, Islam. Saya Islam."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya tapi kan berita itu bohong. Tidak perlu takut."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pak,
 saya kasih tahu. Bahwa wartawan itu harus berpijak pada kebenaran, pada
 apa yang terjadi. Apa yang terjadi itulah kebenaran. Dan bagi saya 
menyuarakan kebenaran itu jihad," Imam berkata sambil mendorong 
telunjuknya ke dada bapak itu. Orang-orang yang semula mencecar Imam 
terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebanyakan keluarga korban yang memenuhi rumah sakit 
bereaksi keras terhadap media. Tidak hanya televisi tapi juga koran yang
 terbit pagi itu. Mereka protes karena menganggap jumlah korban lebih 
banyak dari yang diberitakan media. Tak semua korban tewas dibawa ke 
rumah sakit. Beberapa anggota keluarga yang tewas ada yang membawa 
pulang langsung mayat karena ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah korban masih 
simpang siur. Berbagai versi berkembang, baik di Simpang Kraft, maupun 
di rumah sakit. Bahkan para mahasiswa yang membuka pos kemanusiaan, 
mengklaim jumlah yang tewas sampai seratus orang. Tapi data lengkap dari
 tim pencari fakta menyebutkan 46 orang tewas, 156 orang luka, dan 
sepuluh orang hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sempat muncul rasa tidak senang terhadap 
wartawan, sehingga siapa pun wartawan yang datang ke rumah sakit, 
diperiksa identitasnya dengan ketat. Sejumlah wartawan dari Jakarta, 
sudah berdatangan ke Lhokseumawe untuk meliput peristiwa penembakan 
Simpang Kraft. Umar sempat berdebat dengan beberapa orang yang 
mencurigai seorang wartawan radio lokal. "Itu wartawan juga. Saya kenal 
mereka," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari dan seorang temannya yang juga wartawan 
lokal, baru sampai di ruang gawat darurat dan sedang mencatat data 
korban, saat dua pria menghampirinya. Salah satunya, seorang pria 
bertubuh tinggi, berkulit hitam dan memakai jaket panjang hingga ke mata
 kaki. Dia mengintrograsi Azhari. "Dari mana?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Wartawan Antara."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Coba tulis sedikit," dia menyodorkan kertas ke Azhari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Abang dari mana kok tanya identitas saya?" Azhari mengira orang itu intel polisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Saya
 dari Angkatan Aceh Merdeka," lelaki itu menyibak belahan jaketnya. 
Tampak senjata laras panjang jenis AK 47 yang gagangnya terlipat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azhari
 sempat terpelongo karena baru kali itu dia melihat ada orang dari Aceh 
Merdeka. Azhari merasa perlu bicara baik-baik dengan mereka. Di koridor 
rumah sakit belasan laki-laki lainnya datang mendekat. Pria dari Aceh 
Merdeka itu marah. "Wartawan kenapa buat berita begini. Orang yang mati 
banyak sekali, kenapa ditulis cuma 20?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Begini, Teungku. Jangan salahkan wartawan, data ini dari rumah sakit."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Enggak, korban banyak lebih dari 40 orang."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Oke,
 sekarang kita buat perjanjian. Kami menulis apa adanya. Sebab 
seandainya kami menulis lebih, orang bisa menuntut kami. Kami enggak 
punya apa-apa. Gaji kami tak seberapa. Kami hanya mengabdi untuk 
masyarakat," Azhari melawan argumentasi orang-orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar 
sendiri panik ketika istrinya melaporkan sambil menangis bahwa ada 
beberapa orang yang terus menelepon ke rumah mereka sejak siang. Orang 
itu mengancam akan membakar rumah, karena Umar dianggap membuat berita 
bohong di RCTI. Umar resah dan dia sampai terpikir untuk membuat 
selebaran bahwa RCTI bukan TVRI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa tidak aman setelah 
peristiwa itu dirasakan oleh keempat wartawan RCTI tersebut. Orang dari 
Korem Lilawangsa berkali-kali menelepon Umar, ingin bertemu Imam Wahyudi
 untuk minta rekaman gambar peristiwa. "Dia sudah pulang ke Jakarta dan 
terus ke Singapura untuk berlibur," Umar berbohong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ray Wijaya, 
produser Seputar Indonesia di Jakarta berkali-kali mengingatkan Imam, 
"Kau harus segera pergi dari situ." Sore itu juga, Imam dan Fipin 
berangkat ke Banda Aceh dengan bus. Mereka berusaha menyamarkan atribut 
RCTI agar orang-orang tidak tahu keberadaan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kantornya 
Azhari mulai menerima telepon-telepon misterius dengan nada mengancam 
dirinya. Tidak jelas siapa mereka. Azhari selalu berangkat tidur dengan 
rasa takut yang tinggi. Sehingga dia terpaksa minta seorang saudaranya 
menemaninya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rabu, 5 Mei 1999, setelah mencapai Jakarta, gambar 
video penembakan orang-orang sipil di Simpang Kraft muncul di 
televisi-televisi nasional. Itu gambar Ali Raban yang disiarkan Reuters 
ke pelanggannya di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pemandangan saat 
ratusan orang berhamburan dengan panik saat tentara menembak sungguh 
membangkitkan emosi siapa saja yang menontonnya. Tragedi ini kemudian 
lebih dikenal sebagai Peristiwa Simpang Kraft.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RCTI ketinggalan 
satu setengah jam dari berita pukul 17.00 di Anteve yang menyiarkan 
gambar Reuters. Gambar Fipin Kurniawan naik pada siaran berita Seputar 
Indonesia pukul 18.30. Imam dan Fipin kecapekan di Jakarta tapi 
Indonesia melihat bagaimana sebuah drama berdarah sekali lagi terkelupas
 dengan brutal dari Aceh. Peristiwa Simpang Kraft sudah diberitakan. 
Sisanya sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Epilog&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPERISTIWA itu Imam 
Wahyudi mengalami trauma. Hampir setahun dia merasa dikejar-kejar 
bayangan orang-orang yang ditembak di depan matanya. Setiap datang ke 
Lhokseumawe, Imam menyempatkan diri datang ke Simpang Kraft. Di situ, 
dia bisa lama menghabiskan waktunya, duduk, berdiri, diam, seakan hendak
 mengulang kembali semua yang dilihat dan dirasakannya ketika peristiwa 
itu berlangsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam tak pernah bisa menyembunyikan emosinya 
ketika menceritakan peristiwa penembakan itu kepada saya dalam dua kali 
pertemuan bersama Fipin Kurniawan di Jakarta pada November 2001. Saat 
saya menonton rekaman video Simpang Kraft, mulanya Imam menemani saya di
 ruang editing. Tapi ketika layar monitor mulai memperlihatkan 
gambar-gambar penembakan itu, Imam menghilang keluar ruangan tanpa saya 
ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fipin Kurniawan mendapat IJTI Award dari Ikatan Jurnalis
 Televisi Indonesia sebagai kamerawan terbaik pada 1999. Ali Raban 
kurang beruntung tak mendapatkan penghargaan walau Ali lebih berhasil 
merekam dalam adegan penembakan. Ali merasa kecewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ali Raban dan
 Umar HN telah pecah kongsi. Ali jadi kamerawan Metro TV Lhokseumawe. 
Umar jadi koresponden Lativi. Saya mewawancarai mereka secara terpisah 
di Lhokseumawe pada Desember 2001.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar dan Ali Raban sering 
mengalami intimidasi bahkan kekerasan oleh aparat keamanan Indonesia 
ketika meliput di lapangan. Tak mudah jadi wartawan di Aceh. Sangat 
tidak mudah. Umar berkali-kali minta saya agar menulis cerita ini secara
 hati-hati. Dia dan keluarganya tak mau diteror lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Simpang 
Kraft masih seperti tiga tahun lalu. Bale-bale di sudut kiri simpang 
masih berdiri. Toko dan warung berdinding papan, yang berdiri di 
sepanjang kiri kanan simpang, masih membuka usahanya. Tanah kosong di 
samping warung belum berubah fungsi. Dulu di sana ada sebuah rumah 
panggung sederhana. Tapi sudah dibongkar si empunya rumah, setelah anak 
gadisnya turut tewas dalam penembakan. Gadis malang itu, baru pulang 
sekolah, dan hendak menukar baju di kamarnya, ketika mendadak peluru 
nyasar menembus dinding rumah dan menerjang tubuh si gadis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada 
suatu siang berudara mendung Januari lalu, saya duduk persis menghadap 
Simpang Kraft. Di bawah pohon rindang, saya bersama Muhajir, anak muda 
yang jadi pemandu saya. Mei berdarah itu Muhajir masih murid sekolah 
menengah. Dia baru pulang ujian ketika ikut membaur dengan ribuan orang 
di Simpang Kraft. Ketika tentara menembak, Muhajir tiarap bersama ribuan
 orang. Beberapa kawan baiknya tewas dan luka-luka. Muhajir yang 
menemani saya mewawancara orang-orang kampung dan beberapa korban yang 
dikenalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasca Peristiwa Simpang Kraft, hampir semua prajurit 
dan komandan di institusi militer setempat dipindahtugaskan dari Aceh. 
Kini prajurit-prajurit Arhanud Rudal dan Bataliyon 113 semuanya sudah 
wajah baru. Orang-orang militer yang bertanggung jawab dalam peristiwa 
itu, entah di mana kini bertugas. Mereka tak tersentuh hukum. Tapi 
Sersan Dua Aditia juga tak ketahuan rimbanya. Dia dinyatakan hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pihak
 militer Indonesia secara resmi mengatakan Gerakan Aceh Merdeka berada 
di balik aksi provokasi massa. Tentara menembak karena ada tembakan yang
 ditujukan kepada mereka. Peristiwa itu bermula ketika muncul tembakan 
ke arah massa dari sebuah bukit kecil di kiri jalan. Akibatnya, sebagian
 massa lari ke arah aparat untuk mencari perlindungan. Suasana kacau dan
 memanas. Di tengah kerumunan massa yang mulai panik, tentara melihat 
ada orang yang membawa senjata AK 47, yang umum dipakai GAM. Orang ini 
melepaskan tembakan ke arah tentara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena diserang, tentara 
membalas tembakan yang ditujukan ke tengah massa. Maka terjadilah 
korban. Tentara menganggap mereka sudah bertindak sesuai prosedur, 
karena ada upaya Aceh Merdeka memprovokasi massa untuk menyerang markas 
Detasemen Arhanud Rudal. Berbahaya jika terjadi penyerangan karena 
markas itu menyimpan senjata berat dan amunisi termasuk peluru kendali. 
Jika meledak, akan terjadi bencana besar yang memakan korban dalam 
radius lima kilometer dari markas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Camat Dewantara Marzuki 
Muhammad Amin, saya jumpai seminggu sebelum keberangkatannya ke tanah 
suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. "Tembakan pertama itu datang 
dari pasukan Arhanud Rudal yang berdiri dekat pohon asam. Mungkin mereka
 panik karena dilempari batu oleh massa," kata Marzuki. Marzuki selamat,
 karena dia berlindung di balik sebuah pohon. Pohon itu berlubang 
sembilan dihantam peluru tentara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Marzuki bertemu Faisal, si 
koordinator lapangan, di ruang gawat darurat rumah sakit PT Arun LNG. 
Mereka sama-sama dalam pengobatan. Faisal tertembak kakinya. "Di situ 
Faisal memperlihatkan pada saya segenggam peluru yang ternyata disimpan 
dalam kantong jaketnya," kata Marzuki. Kepada Marzuki, Faisal mengaku 
dari Gerakan Aceh Merdeka. Faisal menghilang dari rumah sakit sebelum 
orang-orang mendatanya. Selang beberapa bulan, Faisal menemui Marzuki di
 kantornya. Faisal minta maaf kepada Marzuki. Sejak itu Marzuki tak 
pernah lagi melihat Faisal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kasus peristiwa Simpang Kraft bagai 
tenggelam oleh berbagai kasus kekerasan lain yang terus bermunculan di 
Aceh selama tiga tahun terakhir. Kasus pembantaian itu rupanya bukan 
akhir dari cerita sedih yang menimpa orang Aceh. Tak lama, giliran 
Teungku Bantaqiah, seorang ulama di Beutong Ateuh, sebuah wilayah 
pegunungan terpencil di Aceh Barat, ditembak mati tentara bersama 51 
murid pesantrennya pada Juli 1999. Walau banyak yang tak puas, 24 
prajurit lapangan yang terlibat dalam kasus Bataqiah akhirnya dihukum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir
 tiga tahun lebih para korban Peristiwa Simpang Kraft mencari keadilan. 
Koalisi NGO HAM Aceh adalah organisasi nonpemerintah di Banda Aceh yang 
selama ini berupaya melakukan advokasi terhadap para korban. Upaya hukum
 pertama dilakukan pada September 1999 bersama Lembaga Studi Advokasi 
Masyarakat Jakarta. Mereka mendaftarkan gugatan perdata terhadap 
Presiden, Menteri Pertahanan, Panglima TNI, Panglima Kodam Bukit 
Barisan, Komandan Korem Lilawangsa, dan Komandan Kodim Aceh Utara, 
dengan tuntutan Rp 83 miliar. Peradilan itu belum pernah berlangsung 
karena pengadilan Banda Aceh beralasan ketiadaan hakim setelah hampir 
seluruh perangkat hukum di Aceh lumpuh total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak Januari 2002,
 sidang gugatan perdata Peristiwa Simpang Kraft berlangsung di 
pengadilan Jakarta Pusat. "Ini bukan masalah uang, tapi lebih dari upaya
 kita untuk memberikan keadilan untuk para korban. Tapi sayang, 
pemerintah tampaknya tidak serius menegakkan keadilan untuk rakyat 
Aceh," kata ketua Koalisi NGO HAM Aceh Maimul Fidar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sebenarnya 
para korban sudah pesimis untuk mencari keadilan. Selain itu mereka juga
 takut karena jika memberi kesaksian akan ada tekanan dari pihak-pihak 
yang terlibat dalam kasus itu," kata Maimul Fidar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa curiga 
itulah yang saya tangkap pada seorang anak muda. Dia teman Muhajir. Kami
 menemuinya sedang duduk bersama sejumlah anak muda lain di sebuah 
warung rokok tak jauh dari Simpang Kraft. Kata Muhajir, anak muda itu 
ikut tertembak. Ajaib dia selamat, padahal sejumlah peluru bersarang di 
punggungnya. Tapi dia menolak bicara dengan saya. "Kami sudah terlalu 
banyak bicara sama LSM (lembaga swadaya masyarakat) dan wartawan. Tapi 
tak ada gunanya. Pa'i-pa'i itu tidak kena hukum. Padahal mereka sudah 
tembak kami orang Aceh."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya terpaku dan tak banyak berkata. Saya bahkan tak sempat menanyakan namanya, karena secara halus dia mengusir saya pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;oleh :&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="penulis" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Chik Rini [Mantan Wartawan Analisa Terbitan Medan]&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="kecil" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
[sumber: www.chikrini.blogspot.com, Publish by pantau Mei 2002]&lt;br /&gt;
[Photo Ihwanasia]&lt;/div&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2012/05/sebuah-kegilaan-di-simpang-kraft.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRsasPI1BMmRCbU_nCWAnAFCyOGz6YQdKe45zGOWVdf_puzog8uZ_q_K2Ku4u5gbBR-3UHakOZEmnLJaKe_HH35OBy3BMfndrpzUfxC-DX3V0ZLSLx_TOb2t1GdQqoYamc5xMX3kcLnapi/s72-c/tragedi-simpang-kka-aceh-utara.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-848833716077237909</guid><pubDate>Mon, 05 Mar 2012 04:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-05T11:30:46.332+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Akhwat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ikhwan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Jodoh</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">nikah</category><title>Cara Mempersulit Jodoh</title><description>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2Lx-7XaJhkrLx3ejmEmnVXfmcGlnItUjhLNWaQqK8X4RD7ua_tV0_VXaLJKA263LgwWEVCKw0wH0tiWzzqdWJrUwYuL6xj99MFQkKRyQQI8AdZ-75-XpuamqEHNzSOyogIkUSb9eeSo5O/s1600/kartun-islami1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="243" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2Lx-7XaJhkrLx3ejmEmnVXfmcGlnItUjhLNWaQqK8X4RD7ua_tV0_VXaLJKA263LgwWEVCKw0wH0tiWzzqdWJrUwYuL6xj99MFQkKRyQQI8AdZ-75-XpuamqEHNzSOyogIkUSb9eeSo5O/s320/kartun-islami1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dari begitu banyak data, akan dihasilkan sedikit data tersaring bila terlalu banyak pasang kriteria,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Begitu pula dalam menyaring calon pendamping hidup.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;Banyak orang mempersulit pilihan dengan terlalu banyak banyak kriteria&lt;/b&gt;&amp;nbsp; di dalam filter Jodohnya, contoh: kriteria calon yang diinginkan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;Perjaka/gadis&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;Duda/janda tanpa anak&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;usia sekian s/d sekian&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;Pekerjaan pns, pegawai swasta tetap&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;Tinggi sekian&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;Berat sekian&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;Kulit warna tertentu&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;pendidikan minimal sekian&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;Hapal surah Arrahman&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;Suka Travelling&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;Ganteng atau Cantik&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Wow...  secara logika (bahasa kerennya, hukum sunnatullah), Kriteria atau  syarat menjelimet itu akan sangat hampir mustahil ada calon yang  memenuhi semua kriteria di atas, kalaupun ada, kemungkinan hanya ada 1  atau 2 orang, tapi&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;apakah si doi (calon) juga tertarik dan suka pada orang yang pasang banyak kriteria&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;tersebut?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Padahal  kalau kita mau merujuk teladan dari nabi, Nabi kita saja hanya memasang  1 kriteria&amp;nbsp; dari empat kriteria yaitu agama. 3 kriteria lainnya hanya  bonus saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tetapi...,&amp;nbsp; sayangnya banyak Manusia biasa, minta terlalu banyak kriteria, hhh...kasihan filter databasenya....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mari  renungkan banyak orang yang memasang sedikit kriteria saja, seringkali  jodohnya sulit datang, apalagi bila mereka memasang banyak&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;kriteria? Lebih sulit lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Jalan Keluar:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bila kita mau memasang kriteria ikuti cara dari hadits nabi:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;Yang bagus pengamalan agama islamnya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;yang bagus&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;fisiknya (cantik/ganteng)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;yang bagus kedudukan/keturunan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;yang bagus hartanya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Atau 2 Kriteria saja (1 agama, 1 kriteria di antara 3 (cakep, keturunan atau harta) misal:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;Yang bagus pengamalan agama islamnya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;yang bagus fisiknya (cantik/ganteng)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;atau misal:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;   &lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Yang bagus pengamalan agama islamnya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;   &lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;yang bagus hartanya atau tajir :)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk embel-embel lain misalnya,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin: 0.5em 0px 1em; padding: 0px;"&gt;&lt;li style="margin: 0.4em 0px 0.4em 1.5em;"&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;umur,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0.4em 0px 0.4em 1.5em;"&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;pendidikan,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0.4em 0px 0.4em 1.5em;"&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;pekerjaan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0.4em 0px 0.4em 1.5em;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;   Hoby&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0.4em 0px 0.4em 1.5em;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;   Status Duda Janda&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0.4em 0px 0.4em 1.5em;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;   Status Gadis Perjaka&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0.4em 0px 0.4em 1.5em;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;   dan hal-hal lainnya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;insya Allah, nanti kita bisa  mempertimbangkannya saat perkenalan (atau taaruf), bila ada sedikit  kekurangan, insya Allah bisa tertutupi oleh kelebihan-kelebihannya dan  rasa sreg di hati saat berjumpa, (karena mustahil ada manusia sempurna  tanpa kekurangan). Lalu dilanjutkan dengan Istikharah sebelum mengambil  keputusan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dengan demikian, mudah-mudahan dengan  doa dan&amp;nbsp; dengan memasang sedikit syarat saja (maks 4 kriteria) maka&amp;nbsp;  Allah akan mempermudah jodoh kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;, aamiin...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;*-*-*-*-*-*-*-*&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Rujukan Hadits Nabi&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-converted-space" style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;*-**-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Wanita dinikahi karena&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;empat kriteria&lt;/b&gt;, yakni&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin: 0.5em 0px 1em; padding: 0px;"&gt;&lt;li style="margin: 0.4em 0px 0.4em 1.5em;"&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;karena harta kekayaannya,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0.4em 0px 0.4em 1.5em;"&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;karena kedudukannya,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0.4em 0px 0.4em 1.5em;"&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;karena kecantikannya, dan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0.4em 0px 0.4em 1.5em;"&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;karena agamanya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hendaknya&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu&lt;/b&gt;. (HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;*berlaku sebaliknya (pria juga dinikahi karena&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;empat kriteria&lt;/b&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;*-*-*-*-*-*-*-*&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Rujukan Hadits Nabi&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-converted-space" style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;*-**-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Wanita dinikahi karena&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;empat kriteria&lt;/b&gt;, yakni&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin: 0.5em 0px 1em; padding: 0px;"&gt;&lt;li style="margin: 0.4em 0px 0.4em 1.5em;"&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;karena harta kekayaannya,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0.4em 0px 0.4em 1.5em;"&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;karena kedudukannya,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0.4em 0px 0.4em 1.5em;"&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;karena kecantikannya, dan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="margin: 0.4em 0px 0.4em 1.5em;"&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;karena agamanya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hendaknya&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu&lt;/b&gt;. (HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;*berlaku sebaliknya (pria juga dinikahi karena&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;empat kriteria&lt;/b&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dipetik dari ;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://ayahara.abatasa.com/"&gt;http://ayahara.abatasa.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0.6em 0px 1.2em; padding: 0px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2012/03/cara-mempersulit-jodoh.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2Lx-7XaJhkrLx3ejmEmnVXfmcGlnItUjhLNWaQqK8X4RD7ua_tV0_VXaLJKA263LgwWEVCKw0wH0tiWzzqdWJrUwYuL6xj99MFQkKRyQQI8AdZ-75-XpuamqEHNzSOyogIkUSb9eeSo5O/s72-c/kartun-islami1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-322162784454337161</guid><pubDate>Thu, 01 Mar 2012 07:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-05T11:27:38.770+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Al-Qur'an</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejarah</category><title>Ilmu Rasm dan Dhabth Al-quran</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6xB_TqfHmJLRVFDYDu8O87WY_NSTkCZrhquOJBGLhRescWp11XDhyaKYOXt-QlpbmtkgqpBP9Qj1cPDNhncDJicw6UwPPkSLbRRKgB5FUMvuX7D_acRZ__ezQHHAkfLv9ta8B6FXpoO8L/s1600/Qur'anic_Manuscript_-_3_-_Hijazi_script.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6xB_TqfHmJLRVFDYDu8O87WY_NSTkCZrhquOJBGLhRescWp11XDhyaKYOXt-QlpbmtkgqpBP9Qj1cPDNhncDJicw6UwPPkSLbRRKgB5FUMvuX7D_acRZ__ezQHHAkfLv9ta8B6FXpoO8L/s320/Qur'anic_Manuscript_-_3_-_Hijazi_script.jpg" width="262" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;USAHA menjaga kemurnian penulisan huruf-huruf Alquran telah dilakukan  sejak pertama kali Alquran diturunkan. Setiap kali wahyu turun, Rasullah  memanggil para penulis wahyu untuk segera menuliskannya di atas tempat  yang memungkinkan, batu, pelepah kurma, tulang dsb. Keadaan ini  berlanjut sampai wahyu selesai diturunkan dan Rasulullah SAW wafat pada  tahun 12 H/654 M. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Di masa pemerintahan para khalifah, Abu Bakar,  Umar, dan Usman, usaha ke arah itu lebih ditingkatkan lagi dengan  mengumpulkan tulisan Alquran yang terserak, yang ditulis pada masa  Rasulullah dan disalin kembali oleh Zaid ibn Tsabit, seorang di antara  penulis wahyu, dalam lembaran-lembaran yang kemudian disatukan dalam  sebuah ikatan yang disebut dengan “Mushhaf Abu Bakar” atas persetujuan  para sahabat Rasulullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mushhaf inilah yang kemudian disalin  kembali di masa Khalifah Usman dan diperbanyak menjadi enam eksemplar  dan dikirim ke wilayah-wilayah dalam kekuasaan Islam seperti Kufah,  Basrah, Syam, Mekkah, Madinah dan sebuah pertinggal di tangan Usman.  Inilah yang disebut Mushhaf Usmani yang menjadi pedoman bagi bacaan dan  dibutuhkan, karena wilayah kekuasaan Islam yang semakin luas, tidak lagi  hanya di wilayah yang didiami oleh orang-orang yang berbahasa Arab,  tetapi juga bangsa-bangsa lain yang memiliki bahasa dan dialek yang  berbeda-beda. &lt;br /&gt;
Karena itulah pengiriman Mushhaf Usmani ke  berbagai wilayah disertai dengan para qari yang mengajarkannya agar  tidak terjadi penyimpangan dalam bacaan dan penulisannya. Alquran atau  Mushhaf Usmani yang dikirimkan itu dalam bentuk huruf yang tidak  bertitik dan tidak berbaris, di samping banyak bentuk-bentuk huruf yang  sama, seperti “ba”, “ta”, “tsa” dan sebagainya, yang dalam masa-masa  selanjutnya menimbulkan kesulitan ketika membacanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Memberi tanda baca&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dari  itulah, ketika masalah ini sampai ke telinga penguasa di awal Dinasti  Bani Umayyah (661 M-750 M), Gubernur Bashrah segera memanggil seorang  sahabat ahli nahwu, murid Ali ibn Abi Thalib yang bernama Abu al-Aswad  al-Duwali yang kemudian berinisiatif memberi tanda baca (al-dhabth)  berupa titik pada akhir huruf setiap kosa kata. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Titik di atas  menunjukkan baris atas yang berbunyi “a”, titik di bawah huruf berbunyi  “i” dan titik di depan huruf berbunyi “u”. Usaha yang ditempuh al-Duwali  ini dilanjutkan oleh ulama yang kemudian, Nashir ibn `Ashim dan Yahya  ibn Ma’mur, dengan memberikan tanda baca titik pada huruf-huruf yang  serupa bentuknya. Misalnya titik satu di atas pada huruf “ba”, titik dua  di atas pada huruf “ta”, titik tiga di atas pada huruf “tsa” dan  seterusnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usaha penulisan dan tanda baca Alquran ini mencapai  kesempurnaannya pada masa Dinasti Abbasiyah (750-1258 M) dengan  tampilnya seorang ulama Imam mazhab ilmu nahwu yang bernama Khalil ibn  Ahmad al-Farahidi (w. 170 H), dengan mengganti tanda titik di atas yang  dibubuhkan oleh al-Duwali dengan alif yang dilintangkan di atas huruf,  titik di depan diganti dengan “waw” kecil dan seterusnya, sehingga  sempurnalah pemberian tanda baca Mushhaf Usmani seperti yang ada pada  kita sekarang ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menjaga dan melestarikan bentuk-bentuk  huruf Alquran, murid-murid para qari yang mengajarkan Mushhaf Usmani  (Alquran) di daerah-daerah mencatat setiap bentuk huruf Alquran yang  diajarkan pada mereka. Catatan-catatan ini kemudian dikumpulkan dan  dijadikan dasar periwayatan dalam penulisan buku yang berjudul Al-Muqni’  fi Ma’rifat Marsumi Mashahif Ahl al-Amshar yang ditulis oleh seorang  ulama yang bernama Abu Amrin al-Dani (w. 444 H). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku ini berisi  tuntunan (pedoman) dalam penulisan huruf-huruf Alquran yang ditulis  berdasarkan catatan-catatan periwayatan dan hasil penelitian Abu Amrin  al-Dani sendiri yang dilakukannya di beberapa kota, pusat pengkajian  Alquran sejak masa awal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pedoman pemberian tanda baca  Alquran, seorang murid Abu Amrin yang bernama Abu Daud Sulaiman al-Najah  (w. 496 H) menulis buku Ushul al-Dhabth yang berisi pedoman pemberian  tanda baca Alquran yang ditulisnya bukan hanya berdasarkan riwayat,  tetapi juga berdasarkan penelitian seperti yang dilakukan oleh gurunya  al-Dani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usaha-usaha yang mereka tempuh kemudian dilanjutkan oleh  beberapa ulama yang datang kemudian, sehingga Ilmu Rasm dan Dhabth  Alquran berdiri sebagai sebuah bidang ilmu yang tersendiri pada abad  pertama Hijriyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu ini kemudian berkembang di antara para  murid sahabat, tabi’in,dan para imam mujtahidin. Dikatakan, tidak  seorang pun di antara mereka yang mengubah tulisan rasm Usmani tersebut  dengan tulisan lainnya. Keadaan ini terus berlanjut sampai dunia Islam  mengalami kemunduran sekitar pertengahan abad ke 13 M. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum  terlacak sepenuhnya apakah ilmu ini mulai terlupakan sejak abad abad  itu, atau sesudahnya. Yang pasti, seperti kata pengarang&amp;nbsp; kitab Iqazh  al-A’lam, ilmu ini (Ilmu Rasm Alquran dan Ilmu Dhabth Alquran) termasuk  ilmu yang terlupakan (Muhammad Habibullah, 72:12) dan lebih kurang abad  16 Masehi mulai timbul penyalinan Alquran dan selanjutnya percetakan  Alquran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tidak dikenal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Di Indonesia ilmu ini  hampir-hampir tidak dikenal. Belum ditemukan ulama yang mengembangkan  ilmu ini di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Karena itulah ilmu ini  hampir-hampir tidak dikenal di negeri ini. Penulisan Alquran di  Indonesia tidak sepenuhnya berpedoman kepada ilmu ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyalinan  Alquran dari masa ke masa mengakibatkan banyak terdapat penulisan yang  tidak sesuai dan menyimpang dari rasm Usmani, pada hal mengikuti tulisan  rasm Usmani “wajib” hukumnya menurut mayoritas ulama (jumhur ulama),  dan tidak dibolehkan menulisnya dengan yang selainnya (Muhammad  Habibullah, 1972:12), (`Ali Isma’l al-Sayyid Handawi, 1410 H:22), (Ahmad  Muhammad Abu Zaituhar, 1970:7) dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari itu dihimbau  kepada semua pihak, pribadi maupun lembaga pemerintahan dan sebagainya,  yang berkeinginan menulis, mencetak, memperbanyak Alquran, alangkah  baiknya jika berpedoman atau merujuk kepada dua ilmu yang sangat penting  ini, yaitu Ilmu Rasm Alquran dan Ilmu Dhabth Alquran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu Rasm  Alquran adalah ilmu yang membicarakan tentang tata cara penulisan  al-Quran yang benar, sesuai dengan tulisan Mushhaf Usmani yang ditulis  oleh para sahabat Rasulullah. Sedangkan Ilmu Dhabth Alquran adalah ilmu  yang membicarakan tentang pemberian tanda baca Alquran, seperti  meletakkan titik, baris dsb. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan berpedoman kepada keduanya  penulisan Mushhaf Alquran yang dihasilkan akan lebih ilmiah, dan lebih  dapat&amp;nbsp; dipertanggungjawabkan kebenarannya di negeri mana pun dan sampai  kapan pun. Wallahu a’lam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Oleh Hisyami Yazid&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penulis adalah Dosen Jurusan Tafsir/Hadis, Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sumber ;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://aceh.tribunnews.com/2012/02/03/ilmu-rasm-dan-dhabth-alquran"&gt;Serambi Indonesia&lt;/a&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2012/03/ilmu-rasm-dan-dhabth-al-quran.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6xB_TqfHmJLRVFDYDu8O87WY_NSTkCZrhquOJBGLhRescWp11XDhyaKYOXt-QlpbmtkgqpBP9Qj1cPDNhncDJicw6UwPPkSLbRRKgB5FUMvuX7D_acRZ__ezQHHAkfLv9ta8B6FXpoO8L/s72-c/Qur'anic_Manuscript_-_3_-_Hijazi_script.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-553263201226420140</guid><pubDate>Sat, 15 Oct 2011 03:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-15T10:18:52.740+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Aceh-Malaysia</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Musik</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tauhid</category><title>Simbol Merpati Putih Dalam Album Maher Zain</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="" height="320" src="http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/aksiHT/nasyid_maher_zain_freedom_lyric_video.jpg" width="320" /&gt; &lt;/div&gt;&lt;b&gt;Siapakah Maher Zain?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lahir 16 Maret 1981 di Swedia, Maher Zain adalah seorang munsyid,  penulis dan produser nasyid kenamaan asal Lebanon. Mengusung nafas  Islami yang dibalut musik modern, Maher membawa misi untuk menghibur dan  menginspirasikan banyak orang, serta membawa pesan perdamaian dan  harapan untuk dunia.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Maher bernyanyi terutama dalam bahasa Inggris, namun sejatinya ia  juga turut menguasai bahasa Prancis, Arab, Urdu, Turki dan Melayu. Dalam  rekam jejak keluarga, Maher berayahkan seorang penyanyi lokal di kota  kelahirannya di Lebanon, Mustafa Maher. Keluarganya pindah ke Swedia  ketika Maher baru saja berusia delapan tahun. Meski aktif dalam dunia  musik, sebenarnya  mayor akademis Maher adalah Aeronautical Engineering  dimana ia meraih gelar sarjana untuk bidang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski demikian, Bakat bermusik Maher sudah terlihat sejak masih  kecil. Saat remaja, pria yang kerap bertopi ini banyak menghabiskan  waktu dengan teman-teman sekolahnya.  Mereka menyanyi, menulis, dan  bereksperimen dengan musik. Setelah terlibat di dunia musik sebagai  produser, Maher kemudian berkenalan dengan RedOne, seorang produser  musik asal Maroko di Swedia. Disana pula ia mulai bekerja dengan RedOne  dalam beberapa proyek terakhir dan kemudian pindah ke New York setelah  kembali ke Swedia. Saat itulah ia mulai fokus dalam dunia musik reliji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Malaysia dan Brunei, nama Maher Zain sangat terkenal. Ia sempat  menduduki peringkat pertama nama yang ada di Google di Malaysia. Sony  Music Indonesia (SMI) sebagai salah satu perusahan musik terbesar di  Indonesia, tahun 2011 ini menaungi karir Maher di Indonesia. Ia dinilai  merupakan sosok yang membawa nafas baru dalam dunia musik, khususnya di  tanah air. Maka tak heran, ia diduetkan dengan Fadly 'Padi' untuk  membawakan hits kenamaannya yang berjudul Insya Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Simbol Merpati Putih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anda bertanya mengenai simbol Awakening Record yang similar  dengan Illuminati, saya sudah pernah menjawab ini sebelumnya di rubric  konsultasi yang sama. Silahkan bisa anda cek lebih jauh di judul  sebelumnya &lt;i&gt;"Logo Perusahaan Album Maher Zain (Awakening Records) Adalah Piramida Illuminati?&lt;/i&gt;" &lt;a href="http://www.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/logo-awakening-records.htm"&gt;klik disini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang mari kita bahas simbol burung merpati putih yang digunakan  Maher dalam promo Album Freedom-nya. Ini sebenarnya agak wajar karena  merpati putih identik dengan pembebasan dan kedamaian dalam tradisi  Eropa. Pertanyaannya darimanakah simbol ini muncul?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Simbol burung merpati putih sama sekali tidak pernah ditemukan dalam  tradisi Islam. Terlebih jika kita bicara arti kebebasan. Rasulullah SAW  hanya mendelegasikan arti kebebasan sejati dengan kalimat singkat: &lt;i&gt;“Laa ilaaha Illallah Muhammadarosulullah&lt;/i&gt;”.  Dimana umat muslim hanya menghamba kepada Allah semata dan menjauhi  ilah-ilah lainnya. Umat muslim juga mengikuti hadis Rasulullah sebagai  panduan hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka tak heran, Sayyid Quthb dalam &lt;i&gt;Dirosah Islamiyah&lt;/i&gt;  mengatakan bahwa orang yang bebas adalah orang yang tidak terikat dengan  ideologi (buatan manusia) apapun kecuali ideologi Islam. Lalu jika  bukan Islam, dari agama manakah simbol ini muncul?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tulisannya, &lt;i&gt;Penuntun Simbol-simbol Ibadah Kristen: Sebuah Ensiklopedi Dasar&lt;/i&gt;,  Markus Hildebrandt menyatakan bahwa simbol Burung merpati dalam tradisi  Kristen terutama dipahami sebagai simbol kehadiran Roh Kudus yang  mengingatkan kita pada peristiwa baptisan Yesus oleh Yohanis Pembaptis  (Mat 3:16 bdk Mrk, Luk dan Yoh).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti &lt;u&gt;burung merpati&lt;/u&gt; turun ke atas-Nya.&lt;/i&gt; (Matius 3: 16)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seekor burung merpati dengan sebuah ranting zaitun juga telah menjadi  simbol universal untuk perdamaian dan mengingatkan pada kisah Nuh (Kej  8:11), di mana sehelai daun zaitun menjadi tanda bahwa air bah telah  surut dan simbol untuk perjanjian Allah dengan umat manusia dan segala  ciptaan-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Menjelang waktu senja pulanglah &lt;u&gt;burung merpati&lt;/u&gt; itu  mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang  segar. Dari situlah diketahui Nuh, bahwa air itu telah berkurang dari  atas bumi&lt;/i&gt;.” (Kejadian 8: 11)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya itu saja, orang Kristen dan Katolik saat menikah di  gereja pun menggunakan simbol merpati putih. Hal itu dimaksudkan agar  kebersamaan pasangan tersebut dapat terjalin langgeng dan awet selamanya  seperti sepasang burung merpati. Mereka juga menggunakan simbol merpati  putih karena burung merpati adalah burung yang selalu setia dan tidak  pernah ingkar janji terhadap pasangannya.&lt;br /&gt;
Lagi-lagi opini ini berkembang ketika Tuhan Yesus diurapi oleh Roh  Kudus di sungai Yordan, maka Roh Kudus datang seperti burung merpati.  Roh Kudus kemudian mengurapi Yesus, ia datang sebagai burung merpati  yang menandakan bahwa dalam diri Yesus tidak ada satupun yang perlu  dibakar atau disucikan, sebab Yesus sebagai Anak Allah kudus tanpa cela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;img alt="" src="http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/aksiHT/raja-damai.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;
Sifat-sifat merpati yang tulus, penuh kasih, lemah-lembut, tidak  membalas, tidak menyakiti, selalu berdamai, inilah yang kemudian  dinisbatkan pada Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, Roh Kudus dilambangkan  sebagai burung merpati.'&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karenanya kita harus berhati-hati dalam memakai simbol, karena simbol dalam padanan iman Kristen, bukan sekedar gambar &lt;i&gt;an sich&lt;/i&gt;, tapi juga keniscayaan teologis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Theolog protestan, Paul Tillich, misalnya yang menjadi peletak dasar  kajian Simbol mengatakan bahwa simbol adalah konsep yang tersirat dalam  sebuah perspektif keagamaan. Seperti dikutip F.W. Dillistone, dalam  bukunya &lt;i&gt;Daya Kekuatan Simbol&lt;/i&gt; (Yogyakarta: Kanisius 2002), Tillich mendefinisikan: &lt;i&gt;“Simbol  keagamaan dibedakan dari simbol-simbol yang lain oleh kenyataan bahwa  simbol keagamaan merupakan representasi dari sesuatu yang sama sekali  ada di luar bidang konseptual; simbol keagamaan menunjuk kepada realitas  tertinggi yang tersirat dalam tindak keagamaan, kepada apa yang  menyangkut diri kita pada akhirnya”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allahua'lam.&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber ;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/siapakah-maher-zain-sebenarnya.htm"&gt;Eramuslim.com&lt;/a&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/10/simbol-merpati-putih-dalam-album-maher.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-1930090485023456296</guid><pubDate>Tue, 16 Aug 2011 04:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-16T11:45:29.865+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Murtad</category><title>Gereja Murtad</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEix5mzEvpn3SNdsdeVAJ8qcprAk8vQwr-lwCHhPJUyc5EiwTH7m5am-1Ri1FmNrJms_jh-ugOFQuQbqtAH33-L4H7Cv47Ac6PAKPNIVjG2UE_Kz2yAX0IPQIGfDSdz0XDpN7Rh7EHY-lUL8/s1600/IMG_0821.JPG" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="150" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5639165784433082082" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEix5mzEvpn3SNdsdeVAJ8qcprAk8vQwr-lwCHhPJUyc5EiwTH7m5am-1Ri1FmNrJms_jh-ugOFQuQbqtAH33-L4H7Cv47Ac6PAKPNIVjG2UE_Kz2yAX0IPQIGfDSdz0XDpN7Rh7EHY-lUL8/s200/IMG_0821.JPG" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sijil  Baptism Azlina Jailani oleh Church of Our Lady Fatima, Brickfield bukti  jelas pembabitan gereja memurtadkan umat Islam di Malaysia&lt;/span&gt;) &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Salam 2 all. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teman melihat ada golongan yang  cuba menafikan penglibatan pihak gereja dalam gejala memurtadkan umat  Islam khususnya bangsa Melayu didalam negara ini. Sehingga ada  dikalangan pimpinan PAS sendiri mempersoalkan tindakan JAIS menyiasat  Methodist Church Damansara Utama yang &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;dipercayai menjalankan kegiatan  dakyah keristian dikalangan orang Melayu Muslim pada 03 Ramadhan 1432/  03.08.20011 lepas. Dikala umat Islam sedang menjalani 'ibadah puasa,  kita dihina sekali lagi dengan isu murtad!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa yang sama berlaku pada tahun 1997, lebih tepat Ramadhan  1997. Dihari pertama umat Islam sedang berpuasa, segelintir kristian  la'natullah telah menculik dan melarikan Aishah Bukhori sedang ayahanda  Aishah, Tuan Haji Bukhori mengimamkan solat tarawih di Masjid Taman  Rimba Terjun, Pontian. Dalam sekelip mata mereka berjaya membawa Aishah  menyeberangi Selat Johor memasuki Singapura tanpa paspot, dan kemudian  terus diterbangkan ke Australia sehelai sepinggang. Ini menimbulkan syak  dikalangan umat Islam bahawa terdapat konspirasi terancang untuk  menculik dan membawa Aishah Bukhori, macam mana seorang rakyat Malaysia  beragama Islam boleh dibawa lari tanpa sebarang paspot? &lt;br /&gt;
Cuma bezanya pada masa itu, PAS menjadi juara kompang kampung  mencanang kes murtadnya Aishah Bukhori. Teman yang menjadi peguam kes  tersebut diarak kehulu kehilir berceramah diatas pentas PAS menceritakan  kisah murtad Aishah Bukhori. Puluhan ribu poster ditampal oleh para  mujahidin dan bakal syuhada PAS, atas pokok, tiang letrik, bus-stop dan  macam-macam tempat. Ada penceramah PAS yang mengambil kesempatan  menumpang semangkuk pentas bersama teman. Kalau tengok ceramah dema yop  lagi ganas dan brutal dari teman. Siap rimbok meja, air liur  bersepai-sepai terhambur dengan maki-hamun terhadap  kristian, kafir,  UMNO dan Kerajaan. Dan tak lupa derma jihad juga dikutip konon untuk  perjuangan jihad menentang murtad. Mana pergi duit derma jihad tu jangan  tanya teman yop; walaupun teman tengok ada antara mereka yang boleh  bertukar kereta beli rumah hasil jual kaset ceramah teman! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi hari ini, kaum yang rimbok meja bersembur airliur berjihad  menentang murtad tu yop dah tukar qiblat. Hari ni dema rimbok meja marah  kalau ada orang ganggu gereja yang nak murtadkan umat Islam. Pejuang  tulin saperti Dr. Hasan Ali yang ikhlas mahu mencegah gejala murtad  mereka tuduh sebagai agen UMNO yang dibayar oleh oleh PM untuk  merosakkan ukhwah dan perpaduan PAS dengan biaDAP dan para kafir harbi  la'natullah. Sampai tugas Dr. Hasan Ali sebagai Exco Agama dema nak  hijack yop, dema nak JAIS jumpa dema terus tanpa melalui Dr. Hasan Ali,  Exco yang jaga JAIS! Malah kaum Anwarinas ni siap nak pecat Dr. Hasan  Ali lagi yop. Dulu dema maki-hamun UMNO kerana kononnya membiarkan  gejala murtad, hari ini dema maki-hamun UMNO konon membayar Dr. Hasan  Ali untuk mencegah murtad! Tak ke gila punya kerja namanya ni yop. Yang  konsisten dalam perangai itu ialah maki-hamun! Yang penting kot mana pun  UMNO dan PM mesti dimaki-hamun. Rasanya kaum Anwarinas ni kalau tak  maki-hamun UMNO dan PM sehari dema boleh kena demam kura yop! &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbalik kepada cerita gereja  terlibat dalam gejala murtad, banyak bukti yang teman ada yop. Pertama  kes Aishah Bukhori sendiri. Aishah semasa mengisytiharkan diri dia  murtad kepada ayah dia  Hj Bukhori melalui telefon pada 19.10.1997  sedang berada disebuah gereja di Panchor Jaya, Rasah, Negeri Sembilan.  Apabila Haji Bukhori dan keluarganya pergi ke gereja tersebut, berlaku  pertengkaran kerana mereka tidak benarkan Aishah diambil oleh  keluarganya. Keluarga Aishah terpaksa balik hampa kerana tidak mampu  berbuat apa-apa. &lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKTHCwlbJH5ALm84k4qdNKjPqx0HTcgTDICEU9RoHp-l5EZBVN-ZR_8vI13qMsH8cTNK-s7DMVAl3WHbu2LA4CjJzxnsAJTdu9AyZsjq63sfHiWEHNQvEsS8PYsLuR-AIMvee3VUCWPvxf/s1600/Aishah+Bukhori.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5639543558445009618" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKTHCwlbJH5ALm84k4qdNKjPqx0HTcgTDICEU9RoHp-l5EZBVN-ZR_8vI13qMsH8cTNK-s7DMVAl3WHbu2LA4CjJzxnsAJTdu9AyZsjq63sfHiWEHNQvEsS8PYsLuR-AIMvee3VUCWPvxf/s400/Aishah+Bukhori.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 268px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 188px;" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
Kita jangan lupa peranan aktif yang dimainkan oleh Bar Council dalam  isu murtad Aishah Bukhori. Malahan sebenarnya murtadnya Aishah Bukhori  membabitkan penglibatan secara langsung seorang peguam kafir ahli  Malaysian Bar iaitu Leornard Teoh Hooi Leong. Beliaulah orang yang  membuat permohonan ke Mahkamah untuk perintah habeas corpus untuk  membebaskan Aishah daripada jagaan keluarga beliau. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam permohonan bertarikh 28.11.1997 itu, secara jelas Leornard  Teoh menyebut pada perenggan 6, bahawa dia dilantik "untuk memberi  nasihat kepada Aishah berkenaan dengan pertukaran agamanya kepada  Kristian dan elah menyediakan surat  Akuan Sumpah untuk Aishah menolak  dan meninggalkan agama Islam." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada perenggan 23 Leonard Teoh berkata bahawa "Aishah sedang  dikurung secara salah oleh keluarganya. Dan Leornard mendakwa tindakan  ibubapa, abang dan bapa saudara Aishah telah melanggar hak kebebasan  Aishah menganut agama pilihannya iaitu Kristian Khatolik". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan inilah Majlis Peguam yang sama yang Ambeega Sreenavasan pernah  menjadi Presidennya yang kemudiannya ditabal oleh PAS menjadi kalipah  dalam himpunan haram 09.07.2011!!! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu juga kita jangan lupa rekod pertama penglibatan gereja  didalam kes murtad orang Melayu beragama Islam pada tahun 1987. Disebuah  gereja di Petaling Jaya, seorang anak Melayu beragama Islam ditabalkan  buat pertama kalinya dalam sejarah Malaysia sebagai paderi Melayu dibumi  orang Islam ini. Jamaluddin Osman, mengikut rekod adalah anak Melayu  pertama diisytihar sebagai paderi secara terbuka disebuah gereja di  Petaling Jaya. Beliau juga terlibat secara langsung dan aktif untuk  memurtadkan anak-anak Melayu ke agama kristian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jamaluddin Osman, atau nama kristiannya Padre Joshua Jamaluddin,  telah ditahan oleh polis dibawah Akta Keselamatan Negeri kerana  kegiatannya cuba mengkristiankan anak-anak orang Islam dianggap  mengancam keselamatan dalam negara. Namun sekali lagi Majlis Peguam dan  beberapa NGO memainkan peranan aktif mencabar penahanan Jamaluddin Osman  dibawah ISA. Mahkamah Persekutuan tiada pilihan selain daripada  membebaskan Jamaluddin Osman kerana peruntukkan ISA tidak membenarkan  seseorang ditahan kerana memurtadkan orang Islam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah dia Majlis Peguam yang sama yang Ambeega Sreenavasan menjadi  Presidennya, yang kemudian diangkat oleh PAS menajdi kalipah mereka  dalam himpunan haram 09.07.2011!!! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan gereja yang terlibat secara langsung dalam kegiatan  memurtadkan umat Islam di Malaysia paling jelas berlaku dalam kes  murtadnya Azlina Jailani. Teman kemukakan bukti dokumen diatas, iaitu  sijil membaptiskan (atau mengkristiankan) Azlina Jailani. Ini adalah  dokumen Mahkamah, bukan rekaan. Pada masa itu, PAS terima dokumen ini  sebagai bukti, dan antara yang terlibat secara langsung dengan teman  membantah murtadnya Azlina Jailani. Tak tahulah sekarang, takut nanti  Ustad Hadi mintak teman kemukakan 4 orang saksi. Ialah, semenjak  berukhwah dengan biaDAP ni, serban pun boleh longgar yop! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman perturunkan apa yang disebut didalam sijil tersebut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: red; font-weight: bold; text-align: center;"&gt;Certificate of Baptism: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is to certify that AZLINA BT JAILANI (LINA) child of JAILANI  BIN SHARIFF and his wife KALTHUM BIN OMAR born at Selangor date of Birth  08 January 1964 was baptized in CHURCH OF OUR LADY FATIMA-BRICKFIELDS  KL on the 11 May in the year of our Lord 1998. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In the Name of the Father &lt;br /&gt;
and the Son &lt;br /&gt;
and of the Holy Spirit &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;Duty of Parents &amp;amp; Godparents&lt;/span&gt; &lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;You  are responsible that this child be educated in the Faith, furthermore,  it is your duty to bring up this child to live the Faith by observing  God's Commandment as Christ taught us, namely loving God and your  neighbor.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;Godparents are to help parents in their duty as Christian mothers and fathers. &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt; &lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;Godfather: S.S. Santiago &lt;/span&gt; &lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;Godmother: Rosy Doraisamy &lt;/span&gt; &lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;Minister of Baptism: Joseph A. Pereira &lt;/span&gt; &lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt; &lt;br /&gt;
Stamp of Church:&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;Church of Our Lady Fatima, &lt;br /&gt;
Jalan Sultan Abdul Samad, &lt;br /&gt;
Brickfields, 50470 KL&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jelas daripada sijil diatas pembabitan secara langsung sebuah  gereja, iaitu Church of our Lady Fatima di Brickfields dalam kes murtad  seorang Melayu Muslim bernama Azlina Jailani. Dan kes Azlina Jailani,  atau nama kristiannya Lina Joy (KP No: 640108-10-5038) telah dibawa ke  Mahkamah Tinggi (MTKL No: R2-24-30-2000), kemudiannya dirayu ke Mahkamah  Rayuan (RS No: W-01-29-2001) dan  akhirnya dibicarakan sehingga ke  Mahkamah Persekutuan (RS No. 01-02-2006W). Akhirnya Mahkamah Persekutuan  dengan beraninya membuat keputusan bahawa seseorang Islam itu tidak  boleh murtad melainkan dengan, dan hanya jika diizinkan oleh, sebuah  Mahkamah Syariah yang berbidang kuasa. Maka mengamuk sakanlah kaum  kaafirun dan yang sewaktu dengannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegagalan mereka dalam kes Azlina Jailani, diikuti pula dengan kes  perebutan jenazah Mohamed Moorthy Abdullah, dan kes perebutan anak S.  Shamala menyebabkan mereka bergabung bersatu tenaga beberapa NGO  termasuk Bar Council, Majlis Perunding Agama Hindu, Kristian, Budha  &amp;amp; Sikh, Suaram, Hakam, Sisters in Islam, AWAM, WAO, WCC, WDC dan  beberapa lagi NGO mencadangkan penubuhan Suruhanjaya Antara Agama @ IFC  dengan 17 tuntutan yang kesannya akan menjadikan murtad itu halal dan  sah, serta Islam sebaris dengan agama lain dalam negara ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Strategi kafirun ahzab ini ditentang oleh umat Islam yang bersatu  dibawah berpuluh NGO diketuai oleh PPI, Peguam Pembela Islam dan  Pertubuhan Pembela Islam. Himpunan Sejuta Umat diadakan di Masjid  Wilayah Persekutuan dengan kehadiran puluhan ribu umat Islam. Kempen  tandatangan Sejuta Umat dilancarkan dan alhamdulillah lebih sejuta  tandatangan berjaya dikutip dan dipersembahkan kepada Majlis Raja-Raja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesatuan umat Islam itu menjadi kegerunan kepada kaum kaafirun ahzab  ini, maka mereka juga mengatur strategi untuk memecah-belahkan umat  Islam. Sejak tahun 2006, mereka melakukan tusukan jarum halus  melaga-lagakan umat Islam. Akhirnya mereka berjaya mempergunakan  himpunan haram Hindraf untuk mencetuskan gelombang pemecahan itu,  bilamana Anwar Ibrahim mengambil sikap menyokong pertubuhan haram  tersebut. Ini membawa kepada beberapa insiden selepas itu dan Anwar  berjaya mempengaruhi beberapa orang pimpinan PAS untuk bersama beliau  yang akhirnya membawa kepada munculnya kaum Anwarinas didalam PAS yang  qiblat mereka adalah kepada Anwar Ibrahim, bukan kepimpinan Haji Hadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan pilihanraya 2008 menyaksikan buat pertama kalinya umat Islam  berpecah. Perpecahan ini memberi ruang kepada kaum kafir melaui parti  cauvinis dan rasis biaDAP untuk menjalankan peranan yang akhirnya umat  Islam kehilangan cengkaman kuasa politik Melayu-Muslim. Kelesuan,  kedayusan dan kebaculan umat makin menjadi-jadi. Ini terbukti bila  berlaku beberapa insiden dan isu, yang kemuncaknya ialah tuntutan  penggunaan kalimah ALLAH oleh kristian dalam bentuk triniti mendapat  sokongan Anwar Ibrahim dan kaum Anwarinas, yang berhempas pulas  menyokongnya. Dan kaum kafir khususnya parti cauvinis biaDAP tahu bahawa  perpecahan umat Islam sudah parah, kerana ada dikalangan mereka  bersedia menjual agama mereka, termasuk kalimah ALLAH demi untuk  memenuhi impian rakus politikus kalkatus ke Putrajaya! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mutakhir bila isu bible versi Bahasa Indonesia muncul, tanpa perlu  puak kafir kristian bersusah payah, kaum Awarinas yang beriya-iya  menyokong dan mendesak supaya kebenaran dan kebebasan diberi kepada  kristian untuk mengimpot masuk bible dan risalah dan penerbitan dalam  bahasa indonesia. Sehingga akhirnya kerajaan yang dipimpin oleh umat  Islam terpaksa tunduk dan memberi kebenaran tersebut, kerana pihak kafir  kristian dan sekutu mereka menyatakan kalau PAS dan PKR benarkan,  kenapa UMNO nak halang pulak! Sehingga berita palsu dibawa ke peringkat  Pop&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuCRUUXZd3gI_7eNYSh9s2-j_cDt7t47PAhD8wz9rShYHSooswW9voaZRVVS488BOpr9XV7IixMA8sHj6Mn4YW6JV01dCEwU0ih8rXH9vj3Wl5OwSXs3XvXoJzJKRMCKxmt1CzN73gePoO/s1600/Bible+Al+Kitab.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5639544001833745314" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuCRUUXZd3gI_7eNYSh9s2-j_cDt7t47PAhD8wz9rShYHSooswW9voaZRVVS488BOpr9XV7IixMA8sHj6Mn4YW6JV01dCEwU0ih8rXH9vj3Wl5OwSXs3XvXoJzJKRMCKxmt1CzN73gePoO/s400/Bible+Al+Kitab.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 280px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;e  di Vatican bahawa kaum kristian dizalimi dan dianiaya serta  di"persecute" oleh Kerajaan Islam Malaysia! Maka kaum kafir tahu bahawa  cengkaman mereka keatas segelintir umat Islam sudah sempurna; hanya  tinggal masa untu dilaksanakan agenda syaitan mereka menumbangkan  kerajaan pemerintahan umat Islam dalam negara ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelesuan, kebaculan, dan kebisuan segelintir umat Islam terbukti  bila isu murtad Nor Azman Beginda terbongkar baru-baru ini. Nor Azman  Beginda, adalah saksi untuk Anwar Ibrahim dalam kes liwat Anwar . Beliau  juga adalah calon PKR dalam PRN Negeri Sarawak. Kisah murtadnya Nor  Azman terbongkar apabila timbul isu anaknya membawa sosej babi ke  sekolah. Kalau murtadnya Aishah pada tahun 1997 menjadi isu besar  sehingga ramai yang bertakbeer mahu berjihad, namun terbongkarnya isu  murtad Azman dipandang sepi, malah ramai yang dahulunya mujahidin  tiba-tiba menjadi syaitan PBB - pekak, bisu &amp;amp; buta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, perancangan ALLAH pun bermula. Tanpa disangka-sangka,  sedang umat Islam menjalani 'ibadah puasa tahun ini, tercetus isu Gereja  Methodist Damansara Utama menjalankan kegiatan dakyah terhadap umat  Islam pada hari ketiga Ramadhan. Kegiatan yang diselimuti dengan program  bantuan kemanusiaan dan makan-makan, secara halus mereka memasukkan  dakyah mereka. Tindakan JAIS melakukan siasatan terhadap kegiatan itu  dihebohkan sebagai satu "serbuan keatas satu majlis muhibbah dan  kemasyarakatan didalam sebuah gereja". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan menggunakan perkataan-perkataan yang bombastik dan  menggemparkan, isu itu diputar sebagai satu tindakan mencampuri urusan  gereja dan melanggar hak asasi manusia dan kebebasan beragama. Tekanan  dikenakan terhadap Menteri Besar yang dengan bangangnya telah mengambil  sikap apologetik dan menuntut maaf kepada kaum kafir ini walaupun belum  mendapat lapuran penuh insiden tersebut. Dikalangan kaum Anwarinas  muncul jaguh-jaguh kampung merimbuk meja memaki tindakan JAIS. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhamdulillah, ALLAH membuka hati YB Exco Hal Ehwal Islam Selangor,  Datuk Hasan Ali untuk bangkit mempertahankan tindakan JAIS dan membela  maruah Islam. Tindakan berani Datuk Hasan Ali telah menukar habis  spektrum isu ini. Pendedahan berani Datuk Hasan Ali bahawa memang  terdapat bukti kegiatan mendakyahkan umat Islam oleh gereja Methodist  tersebut mengejutkan umat Islam. Walaupun dimaki-hamun oleh kaum  Anwarinas, walaupun Presiden yang besar serbannya tidak menyokongnya,  walaupun diserang bertubi-tubi oleh kaum kafir, Datuk Hasan Ali langsung  tidak gentar, malah mengeluarkan kenyataan tegas dan jelas: saya rela  dipecat demi mempertahankan aqidah umat Islam!!! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenyataan itu disambut oleh umat Islam. Sokongan kepada Datuk Hasan  Ali dan JAIS bertambah hari demi hari. Akaun facebook yang dibuka untuk  membela Datuk Hasan Ali mencapai jumlah mengejutkan, sudah hampir 20,000  orang menyatakan sokongan terhadap Datuk Hasan Ali hanya dalam beberapa  hari. Sokongan yang melangkaui batasan politik kepartian. Dan berita  mengejutkan apabila Ketua Dewan Ulama' PAS, Ketua Pemuda PAS dan  beberapa tokoh ulama' menyatakan sokongan terbuka kepada Datuk Hasan  Ali. Insyallah Ramadhan ini akan membawa semangat Badar kepada umat  Islam yang semakin lesu dan layu akibat mainan politiking melampau  segelintir politikus kalkatus yang rakus ke Putrajaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini terbukti memang benar terdapat kegiatan cuba mendakyahkan  umat Islam dalam acara di Gereja Methodist itu. Bukan itu sahaja,  terkini terbongkar kisah rupanya gereja Methodist itu adalah gereja  haram. Ianya tiada kelulusan daripada pihak Majlis Bandaraya Petaling  Jaya, yang hanya meluluskan pembinaan sebuah pusat komuniti bukannya  gereja. Kita mendesak supaya MBPJ dan Kerajaan Selangor mengambil  tindakan segera menyita dan menutup gereja tersebut tanpa sebarang dolak  dalik lagi!!! Teman semakin yakin janji ALLAH itu benar, dan ALLAH akan  memenangkan umat Islam akhirnya! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingatlah, isu dakyah gereja Methodist ini bukan isu politik, bukan  isu kepartian, bukan isu UMNO-PAS. Tetapi ini adalah isu umat Islam, dan  umat Islam mesti bersatu. Ketepikan semua sentimen politik, buang semua  assobiyah kepartian. Kita umat Satu Tuhan, Satu Nabi, Satu Kitab, Satu  Qiblat. Marilah kita bersatu dibawah ukhwah Islam berdasarkan Al Quran  &amp;amp; Sunnah!!! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #009900; font-weight: bold;"&gt;Diatas rakusan melapah aqidah&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #009900; font-weight: bold;"&gt;umat bangkit bersatu wadah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #009900; font-weight: bold;"&gt;semangat Badar mari diserlah&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #009900; font-weight: bold;"&gt;sinar Ramadhan membawa barakah &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #330099;"&gt;Tiada  Tuhan melainkan ALLAH Yang Satu, kami ikhlas beragama kepada ALLAH,  walaupun kafir ahzab tidak menyukainya. ALLAH itu Benar, ALLAH akan  mebantu kita menghancurkan kafir ahzab yang bersatu, dan meletakkan  musuh-musuh Islam dibawah tapak kaki umat Islam. ALLAHUAKBAR  WALILLAHHILHAMD!&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MEMPERTAHANKAN AQIDAH ITU JIHAD!!! &lt;br /&gt;
MENCEGAH MURTAD ITU JUGA JIHAD!!! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallahua'alam &amp;amp; Wassalam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zulkifli Bin Noordin &lt;br /&gt;
Khamis &lt;br /&gt;
11 Ramadhan 1432 &lt;br /&gt;
11 Ogos 2011&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : http://zul4kulim.blogspot.com</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/08/gereja-murtad.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEix5mzEvpn3SNdsdeVAJ8qcprAk8vQwr-lwCHhPJUyc5EiwTH7m5am-1Ri1FmNrJms_jh-ugOFQuQbqtAH33-L4H7Cv47Ac6PAKPNIVjG2UE_Kz2yAX0IPQIGfDSdz0XDpN7Rh7EHY-lUL8/s72-c/IMG_0821.JPG" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-7144693320280519760</guid><pubDate>Mon, 18 Jul 2011 15:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-18T22:21:46.158+07:00</atom:updated><title>Bagaimana Islam Memandang Demokrasi</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Sejarah Kemunculan Ide Demokrasi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Sewaktu  duduk di bangku sekolah sejak tentu kita sudah mendapatkan penjelasan  umum tentang demokrasi. Yakni sebuah ide yang muncul di Yunani kuno  yakni sekitar abad ke 5 SM. Kata "demokrasi" berasal dari dua kata,  yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti  pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau  yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan  untuk rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlkHco1qE-E9tpml-mpeQHBPLqTQOvyBpLikw6blXlEaT9W3yhU9agxCAHE_ACYiXZvcHuTCVqQsXQf0WAEPpvj6GwrZZxbTaGF2RmnMCnzJyQXOFIh6U4cyDdKQ1X_zPdg5RqqIMPDu7f/s1600/islam-demokrasi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlkHco1qE-E9tpml-mpeQHBPLqTQOvyBpLikw6blXlEaT9W3yhU9agxCAHE_ACYiXZvcHuTCVqQsXQf0WAEPpvj6GwrZZxbTaGF2RmnMCnzJyQXOFIh6U4cyDdKQ1X_zPdg5RqqIMPDu7f/s1600/islam-demokrasi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Secara kelahiran demokrasi, saya  akui memang pada abad ke 5 SM, namun ini demokrasi yang memiliki  pengertian bahwa sebuah system pemerintahan dimana yang dikenal sebagai  pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;Namun  kemudian, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan  definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan  perkembangan sistem "demokrasi" di banyak negara. Atau ketika terjadi  nya pertentangan antara para filosof dan pemikir di Eropa, yang muncul  tatkala berlangsung pertarungan sengit antara para kaisar dan raja di  Eropa dengan rakyat mereka. Sehingga akhirnya munculah jalan tengah yang  diambil oleh mereka yakni bahwa agama tidak boleh ikut campur dalam  urusan pemeriantahan atau yang kemudian dikenal dengan sekulerisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;Nah,  dalam ide sekulerisme itulah kemudian akhirnya memuat ide demokrasi  dengan definisi yang berbeda, yakni system pemerintahan yang kedaulatan  dan kekuasaan berada di tangan rakyat, ini sebenarnya hampir sama dengan  definisi sebelumnya yakni system pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat  dan untuk rakyat, namun definisi sebelumnya tidak setegas definisi yang  sekarang, dimana definisi kedaulatan dan kekuasaan berada di tangan  rakyat adalah buah dari sekulerisme itu sendiri, ketika kedaulatan  berada ditangan rakyat maka itu selaras dengan prinsip dari sekulerisme  itu sendiri, itulah kenapa dikatakan bahwa aqidah yang melahirkan ide  demokrasi, adalah aqidah pemisahan agama dari kehidupan dan negara  (sekularisme). Aqidah ini dibangun di atas prinsip jalan tengah  (kompromi) antara para rohaniwan Kristen –yang diperalat oleh para raja  dan kaisar dan dijadikan perisai untuk mengeksploitir dan menzhalimi  rakyat atas nama agama, serta menghendaki agar segala urusan tunduk di  bawah peraturan agama– dengan para filosof dan pemikir yang mengingkari  eksistensi agama dan menolak otoritas para rohaniwan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Jadi  ketika saya katakan bahwa demokrasi berasal atau lahir dari rahim ide  kufur sekulerisme maka ini adalah demokrasi yang berdefiniskan sebagai  sebuah pemerintahan yang kedaulatan dan kekuasaanya berada di tangan  rakyat, bukan definisi sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan  untuk rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; Karena sebagaimana yang saya kemukakan di atas bahwa&amp;nbsp; arti  dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi  modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan  sistem "demokrasi" di banyak negara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Artinya,  system demokrasi yang dijadikan aturan oleh bebarapa Negara di dunia ini  memang demokrasi yang telah mengalami perubahan istilah atau makna. Dan  inilah yang dikritik oleh para pejuang Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;Sebagaimana yang juga dikatakan oleh &lt;strong&gt;Utsman Khalil&lt;/strong&gt; dalam kitab Ad Dimuqrathiyah Al Islamiyah halaman 8, beliau berkata :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Sesungguhnyan  egara-sistem demokrasi modern yang diimpor dari Barat, di egara-negara  Barat sendiri dianggap sebagai hal baru yang diada-adakan pada abad  ke-20 ini.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Atau sebagai mana yang dikatakan olehMuhammad Yusuf Musa dalam kitabnya Nizham Al Hukm fi Al Islam halaman 245 berkata : &lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya  sistem pemerintahan Islam bukanlah sistem demokrasi, baik dalam  pengertiannya menurut kaum Yunani kuno maupun dalam pengertiannya yang  moderen.”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Itulah kenapa, ketika kami  mengkritisi demokrasi, kami selalu juga mendefinisikan demokrasi itu  sendiri sebagai sebuah system yang kekuasan dan kedaulatan berada di  tangan rakyat, yang jelas ini menyalahi akidah seorang yang beragama  Islam, dimana kedaulatan itu bukan berada ditangan rakyat,melainkan sang  pembuat hokum yakni Allah swt.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;Islam menyatakan  bahwa kedaulatan adalah di tangan syara’, bukan di tangan umat. Sebab,  Allah SWT sajalah yang layak bertindak sebagai &lt;em&gt;Musyarri’&lt;/em&gt; (pembuat hukum). Umat secara keseluruhan tidak berhak membuat hukum, walau pun hanya satu hukum. Allah SWT berfirman :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;إِنِ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;الحُكْمُ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;إلاّ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;للهِ&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; &lt;strong&gt;(QS. Al An’aam: 57)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Dalam  hal kekuasaan, Islam menetapkan bahwa kekuasaan itu ada di tangan umat  Islam. Artinya, bahwa umat memiliki hak memilih penguasa, agar penguasa  itu dapat menegakkan pelaksanaan perintah dan larangan Allah atas umat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Prinsip  ini diambil dari hadits-hadits mengenai bai’at, yang menetapkan adanya  hak mengangkat Khalifah di tangan kaum muslimin dengan jalan bai’at  untuk mengamalkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Rasulullah saw  bersabda :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;مَنْ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;مَاتَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;وَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;لَيْسَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;فِي&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;عُنُقِهِ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;بَيْعَةٌ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;مَاتَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;مِيْتَةً&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;جَاهِلِيَّةً&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Barangsiapa mati sedang di lehernya tak ada bai’at (kepada Khalifah) maka dia mati jahiliyah.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; (HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Demokrasi Memiliki Makna Yang Khas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Sebagai  sebuah ide asing yang datangnya bukan dari Islam, Demokrasi memiliki  makna yang khas, yakni tentang pandangan tentang kedaulatan dan  kekuasaan itu sendiri. Dewasa ini ketika kita berdiskusi tentang  demokrasi maka bukan lagi membahas &amp;nbsp;system pemerintahan dari rakyat,  untuk rakyat dan oleh rakyat, namun lebih ke arah pandangan tentang  kedaulatan dan kekuasaan itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;Nah, ketika  demokrasi kita sepakati adalah sebuah ide yang memiliki makna yang  khas,maka kita tidak boleh keluar dari makna itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Menurut Taqiyuddin An-Nabhani,&lt;/strong&gt;  jika suatu istilah asing mempunyai makna yang bertentangan dengan  Islam, istilah itu tidak boleh digunakan. Sebaliknya jika maknanya  terdapat dalam khazanah pemikiran Islam, istilah tersebut boleh  digunakan. Dalam hal ini, Islam telah melarang umatnya untuk menggunakan  istilah-istilah yang menimbulkan kerancuan, apalagi kerancuan yang  menghasilkan pengertian-pengertian yang bertolak belakang antara  pengertian yang Islami dan yang tidak Islami. Allah SWT berfirman : “Hai  orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada  Muhammad),’Raa’ina’, tetapi katakanlah ‘Unzhurna’ dan ‘dengarlah’. Dan  bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” (QS Al Baqarah : 104)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;“Raa’ina”  artinya adalah “sudilah kiranya Anda memperhatikan kami.” Di kala para  shahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudi pun  memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut “Raa’ina”, padahal  yang mereka katakan adalah “Ru’uunah” yang artinya “kebodohan yang  sangat.” Itulah sebabnya Allah menyuruh supaya para shahabat menukar  perkataan “Raa’ina” dengan “Unzhurna” yang sama artinya dengan  “Raa’ina”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Kontradiksi Demokrasi dengan Islam&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Syekh Abdul Qadim Zallum menguraikan 5 (lima) segi kontradiksi Islam dengan demokrasi, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;1. Sumber kemunculan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;2. Aqidah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;3. Pandangan tentang kedaulatan dan kekuasaan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;4. Prinsip Mayoritas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;5. Kebebasan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;(1). Sumber Kemunculan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Sumber kemunculan demokrasi adalah manusia. Dalam demokrasi, yang menjadi pemutus (&lt;em&gt;al haakim&lt;/em&gt;)  untuk memberikan penilaian terpuji atau tercelanya benda yang digunakan  manusia dan perbuatan-perbuatannya, adalah akal. Para pencetus  demokrasi adalah para filosof dan pemikir di Eropa, yang muncul tatkala  berlangsung pertarungan sengit antara para kaisar dan raja di Eropa  dengan rakyat mereka. Dengan demikian, jelas bahwa demokrasi adalah  buatan manusia, dan bahwa pemutus segala sesuatu adalah akal manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Sedangkan  Islam sangat bertolak belakang dengan demokrasi dalam hal ini. Islam  berasal dari Allah, yang telah diwahyukan-Nya kepada rasul-Nya Muhammad  bin Abdullah SAW. Dalam hal ini Allah SWT berfirman :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;وَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;مَا&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;يَنْطِقُ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;عَنِ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;الْهَوَى&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;إِنْ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;هُوَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;إِلاَّ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;وَحْيٌ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;يُوْحَى&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanya berupa wahyu yang diwahyukan.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; (QS. An-Najm : 3-4)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;(2). Aqidah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Adapun  aqidah yang melahirkan ide demokrasi, adalah aqidah pemisahan agama  dari kehidupan dan negara (sekularisme). Aqidah ini dibangun di atas  prinsip jalan tengah (kompromi) antara para rohaniwan Kristen –yang  diperalat oleh para raja dan kaisar dan dijadikan perisai untuk  mengeksploitir dan menzhalimi rakyat atas nama agama, serta menghendaki  agar segala urusan tunduk di bawah peraturan agama– dengan para filosof  dan pemikir yang mengingkari eksistensi agama dan menolak otoritas para  rohaniwan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;Aqidah ini tidak mengingkari eksistensi  agama, tetapi hanya menghapuskan perannya untuk mengatur kehidupan  bernegara. Dengan sendirinya konsekuensi aqidah ini ialah memberikan  kewenangan kepada manusia untuk membuat peraturan hidupnya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;Sedangkan  Islam, sangatlah berbeda dengan Barat dalam hal aqidahnya. Islam  dibangun di atas landasan Aqidah Islamiyah, yang mewajibkan pelaksanaan  perintah dan larangan Allah –yakni hukum-hukum syara’ yang lahir dari  Aqidah Islamiyah– dalam seluruh urusan kehidupan dan kenegaraan. Aqidah  ini menerangkan bahwa manusia tidak berhak membuat peraturan hidupnya  sendiri. Manusia hanya berkewajiban menjalani kehidupan menurut  peraturan yang ditetapkan Allah SWT untuk manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;(3). Pandangan Tentang Kedaulatan dan Kekuasaan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Demokrasi  menetapkan bahwa rakyatlah yang memiliki dan melaksanakan kehendaknya,  bukan para raja dan kaisar. Rakyatlah yang menjalankan kehendaknya  sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;Berdasarkan prinsip bahwa rakyat adalah  pemilik kedaulatan, pemilik dan pelaksana kehendak, maka rakyat berhak  membuat hukum yang merupakan ungkapan dari pelaksanaan kehendak rakyat  dan ungkapan kehendak umum dari mayoritas rakyat. Rakyat membuat hukum  melalui para wakilnya yang mereka pilih untuk membuat hukum sebagai  wakil rakyat. Kekuasaan juga bersumber dari rakyat, baik kekuasaan  legislatif, eksekutif, maupun yudikatif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Sementara  itu, Islam menyatakan bahwa kedaulatan adalah di tangan syara’, bukan di  tangan umat. Sebab, Allah SWT sajalah yang layak bertindak sebagai &lt;em&gt;Musyarri’&lt;/em&gt; (pembuat hukum). Umat secara keseluruhan tidak berhak membuat hukum, walau pun hanya satu hukum. Allah SWT berfirman :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;إِنِ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;الحُكْمُ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;إلاّ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;لله&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; &lt;strong&gt;(QS. Al An’aam: 57)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Dalam  hal kekuasaan, Islam menetapkan bahwa kekuasaan itu ada di tangan umat  Islam. Artinya, bahwa umat memiliki hak memilih penguasa, agar penguasa  itu dapat menegakkan pelaksanaan perintah dan larangan Allah atas umat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;Prinsip  ini diambil dari hadits-hadits mengenai bai’at, yang menetapkan adanya  hak mengangkat Khalifah di tangan kaum muslimin dengan jalan bai’at  untuk mengamalkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Rasulullah saw  bersabda :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;مَنْ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;مَاتَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;وَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;لَيْسَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;فِي&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;عُنُقِهِ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;بَيْعَةٌ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;مَاتَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;مِيْتَةً&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;جَاهِلِيَّةً&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Barangsiapa mati sedang di lehernya tak ada bai’at (kepada Khalifah) maka dia mati jahiliyah.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; (HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;(4). Prinsip Mayoritas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Demokrasi  memutuskan segala sesuatunya berdasarkan suara terbanyak (mayoritas).  Sedang dalam Islam, tidaklah demikian. Rinsiannya adalah sebagai berikut  :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;(1) Untuk masalah yang berkaitan dengan hukum  syara’, yang menjadi kriteria adalah kekuatan dalil, bukan mayoritas.  Dalilnya adalah peristiwa pada Perjanjian Hudaibiyah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;(2)  Untuk masalah yang menyangkut keahlian, kriterianya adalah ketepatan  atau kebenarannya, bukan suara mayoritas. Peristiwa pada perang Badar  merupakan dalil untuk ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;(3) Sedang untuk masalah  teknis yang langsung berhubungan dengan amal (tidak memerlukan  keahlian), kriterianya adalah suara mayoritas. Peristiwa pada Perang  Uhud menjadi dalilnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;(5). Kebebasan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Dalam demokrasi dikenal ada empat kebebasan, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;a. Kebebasan beragama (&lt;em&gt;freedom of religion&lt;/em&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Kebebasan berpendapat (&lt;em&gt;fredom of speech&lt;/em&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Kebebasan kepemilikan (&lt;em&gt;freedom of ownership&lt;/em&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;d. Kebebasan bertingkah laku (&lt;em&gt;personal freedom&lt;/em&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Ini  bertentangan dengan Islam, sebab dalam Islam seorang muslim wajib  terikat dengan hukum syara’ dalam segala perbuatannya. Tidak bisa bebas  dan seenaknya. Terikat dengan hukum syara’ bagi seorang muslim adalah  wajib dan sekaligus merupakan pertanda adanya iman padanya. Allah SWT  berfirman :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;فَلاَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;وَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;رَبِّكَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;لاَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;يُؤْمِنُونَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;حَتَّى&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;يُحَكِّمُكَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;فِيمَا&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;شَجَرَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;بَيْنَهُمْ&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Maka  demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka  menjadikan kamu (Muham- mad) hakim (pemutus) terhadap perkara yang  mereka perselisihkan.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; &lt;strong&gt;(QS. An Nisaa’: 65)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Banyak para ‘ulama yang telah membuat buku untuk menunjukan kesalahan ide kufur demokrasi itu sendiri. Diantaranya :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;em&gt;1. Al-Hamlah Al-Amirikiyyah Li Al-Qadha` ‘Ala Al-Islam, &lt;/em&gt;Bab &lt;em&gt;Ad Dimuqrathiyyah&lt;/em&gt; (Serangan Amerika Untuk Menghancurkan Islam, bab Demokrasi), dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir tahun 1996;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;2. Afkar Siyasiyah &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt;(Bab &lt;em&gt;An-Niham ad-Dimuqrathiy Nizham Kufur min Wadh’i al-Basyar&lt;/em&gt;,&lt;em&gt; &lt;/em&gt;h.135-140), dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir tahun 1994;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;3. Ad-Damghah Al-Qawiyyah li Nasfi Aqidah Ad-Dimuqrathiyyah &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt;(Menghancurkan Demokrasi)&lt;em&gt;,&lt;/em&gt; karya Syekh Ali Belhaj (tokoh FIS Aljazair);&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;4. Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah Juz I&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; (Bab &lt;em&gt;Asy-Syura &lt;/em&gt;h. 246-261) karya Syekh Taqiyyuddin An-Nabhani (pendiri Hizbut Tahrir);&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;5. Qawaid Nizham Al-Hukmi fi Al- Islam&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt; (Bab &lt;em&gt;Naqdh Ad-Dimuqrathiyyah&lt;/em&gt;, h. 38-95) karya Mahmud Al-Khalidi (ulama Hizbut Tahrir);&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;6. Ad-Dimuqratiyyah fi Dhaw’i as-Syari’ah al-Islamiyyah &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt;(Demokrasi dalam Sorotan Syariah Islam)&lt;em&gt;,&lt;/em&gt; karya Mahmud Al- Khalidi;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;7. Ad-Dimuqratiyyah wa Hukmul Islam fiiha&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt;, karya Hafizh Shalih (ulama Hizbut Tahrir);&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;8. Ad-Da’wah Ila Al-Islam &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt;(Bab &lt;em&gt;Ad-Dimuqrathiyah Laisat Asy-Syura,&lt;/em&gt; h. 237-239) karya Ahmad Al-Mahmud (ulama Hizbut Tahrir);&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;9. Syura Bukan Demokrasi (Fiqh asy-Syura wa al-Istisyarat)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt;, karya Dr. Taufik Syawi, terbitan GIP Jakarta, tahun 1997;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;10. &lt;em&gt;Naqdh al-Judzur Al-Fikriyah li Ad-Dimuqrathiyah Al-Gharbiyah&lt;/em&gt;, karya Prof. Dr. Muhammad Ahmad Mufti (ulama Hizbut Tahrir) (2002);&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;11. &lt;em&gt;Haqiqah Ad-Dimuqrathiyah&lt;/em&gt;, karya Syaikh Muhammad Syakir Asy-Syarif (1411 H);&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;12. &lt;em&gt;Ad-Dimuqrathiyah wa Akhowatuha&lt;/em&gt;, karya Abu Saif Al-Iraqi (1427 H);&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;13.&lt;em&gt;Ad-Dimuqrathiyah Diin &lt;/em&gt;(Agama Demokrasi), karya Syekh Abu Muhammad Al-Maqdisi, terbitan Kafayeh Klaten, 2008 (cet II).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Bahkan, para ‘ulama lain pun mengkritik konsep demokrasi itu sendiri :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;antara  lain adalah Dr. Fathi Ad Darini, salah seorang ulama besar dalam fiqih  siyasah. Dalam kitabnya Khasha`ish At Tasyri’ Al Islami fi As Siyasah wa  Al Hukm halaman 370 Dr. Fathi Ad Darini berkata :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;”Sesungguhnya  sistem-sistem demokrasi Barat, dalam substansinya hanyalah merupakan  ungkapan dari politik tersebut (sekularisme—penerj.) dan sudah diketahui  bahwa demokrasi –pada asalnya— bersifat individualistis dan  etnosentris.Bahwa demokrasi bersifat individualistis, dikarenakan tujuan  tertinggi demokrasi adalah individu dan pengutamaan kepentingan  individu di atas kepentingan masyarakat. Sudah banyak koreksi-koreksi  yang diberikan pada prinsip ini pada abad XX M.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Syaikh Abul A’la Al Maududi &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;dalam kitabnya Al Islam wa Al Madaniyah Al Haditsah halaman 36 mengatakan :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Telah  saya katakan sebelumnya bahwa pengertian demokrasi dalam peradaban  moderen adalah memberikan wewenang membuat hukum kepada mayoritas rakyat  (hakimiyah al jamahir). Artinya, individu-individu suatu negeri dapat  secara bebas mewujudkan kepentingan-kepentingan masyarakat dan bahwa  undang-undang negeri ini mengikuti hawa nafsu mereka. Demikian juga  tujuan dari pembentukan pemerintahan –dengan bantuan struktur  organisasinya dan potensi-potensi materilnya— bukanlah untuk mewujudkan  kepentingan-kepentingan masyarakat, berkebalikan dengan apa yang  seharusnya diwujudkan. Maka dari itu, kita menentang sistem sekuler yang  nasionalistis-demokratis baik yang ditegakkan oleh orang-orang Barat  maupun Timur, muslim ataupun non muslim. Setiap kali bencana ini turun  dan di mana pun dia ada, maka kita akan mencoba untuk menyadarkan  hamba-hamba Allah akan bahayanya yang besar dan akan mengajak mereka  untuk memeranginya.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Salah satu ‘ulama gerakan  Islam FIS (Front Islamic du Salut) pengarang buku Ad Damghah Al  Qawwiyah li Nasfi Aqidah Ad Dimuqrathiyah . di dalam buku itu dengan  sangat jelas beliau menggambarkan ide kufur demokrasi. Beliau mengatakab  bahwa STANDAR KEBENARAN DEMOKRASI : SUARA MAYORITAS padahal di dalam  Islam Kebenaran Tidak Ditentukan Oleh Banyaknya Pelakunya, Tetapi Oleh  Dalil-Dalil Syar’i.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;Kemudian ada Muhammad Yusuf  Musa dalam kitabnya Nizham Al Hukm fi Al Islam halaman 245 berkata :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;“Sesungguhnya sistem pemerintahan Islam bukanlah sistem demokrasi, baik  dalam pengertiannya menurut kaum Yunani kuno maupun dalam pengertiannya  yang moderen.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Muhammad Asad &lt;/strong&gt;dalam kitabnya Minhaj Al Islam fi Al Hukm halaman 52 mengatakan :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Adalah  merupakan penyesatan yang sangat luar biasa, jika ada orang yang  mencoba menerapkan istilah-istilah yang tidak ada hubungannya dengan  Islam pada pemikiran dan peraturan/sistem Islam.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Utsman Khalil&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt; berkata dalam kitab Ad Dimuqrathiyah Al Islamiyah halaman 8 :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;“Sesungguhnya  sistem-sistem demokrasi modern yang diimpor dari Barat, di  negara-negara Barat sendiri dianggap sebagai hal baru yang diada-adakan  pada abad ke-20 ini.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;‘Adnan ‘Aly Ridha An-Nahwy&lt;/strong&gt; telah mengatakan dalam kitabnya Syura Laa Ad-Dimuqrathiyah halaman 103 :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;“Dalam  kehidupan dunia, kebenaran (pendapat) tidaklah diukur dan ditetapkan  oleh sedikit atau banyaknya jumlah orang yang melakukannya. Tetapi  kebenaran itu harus diukur dan ditetapkan oleh kaidah-kaidah,  prinsip-prinsip, dan manhaj rabbani yang diturunkan dari langit. Firman  Allah SWT :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;“Sesungguhnya (Al-Qur`an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS.Huud [11] : 17)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;selanjutnya &lt;strong&gt;‘Adnan ‘Aly Ridha An-Nahwy &lt;/strong&gt;berkata :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;“Kebenaran  bukan ditetapkan oleh suara mayoritas, sekalipun yang menang tersebut  kaum muslimin. Juga, ukuran kebenaran bukan ditentukan oleh kongres atau  parlemen yang mengacungkan dan menurunkan tangan berdasarkan hawa nafsu  yang mengakibatkan kehancuran bangsa tersebut. Islam telah memiliki  manhaj rabbani, satunya-satunya pelindung bagi manusia walau dalam  keadaan berbeda dan saling silang pendapat.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Bahkan,  orang-orang kafir penganut ide demokrasi di dinegara asalnya sana saja  tidak meyakini ide kedaulatan demokrasi bisa diterapkan. Coba kita simak  penuturan mereka :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Benjamin Constan berkata :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;”Demokrasi membawa kita menuju jalan yang menakutkan, yaitu kediktatoran parlemen.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Barchmi berkata :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Prinsip  kedaulatan di tangan rakyat sebenarnya tidak pernah ada, yaitu bahwa  kedaulatan rakyat dianggap selalu mewujudkan kebenaran dan keadilan.  Paham ini mengklaim bahwa kekuasaan menjadi legal dengan melihat  sumbernya. Atas dasar ini maka setiap aspirasi yang muncul dari kehendak  rakyat, dianggap telah memenuhi parameter kebenaran dan keadilan.  Aspirasi rakyat itu juga dianggap tak perlu diragukan dan diperdebatkan  lagi dari segi ini (memenuhi kebenaran dan keadilan-penerj.), bukan  karena argumentasinya kuat, melainkan karena ia muncul dari kehendak  rakyat. Jadi prinsip kedaulatan rakyat ini memberikan sifat maksum  (mustahil keliru/dosa) kepada rakyat. Oleh karena itu, prinsip  kedaulatan rakyat akan membawa rakyat (atau para wakilnya) berpeluang  melahirkan kekuasaan absolut, yaitu kesewenang-wenangan (kediktatoran).  Karena apabila kehendak rakyat dianggap kehendak yang legal hanya karena  muncul dari rakyat, maka dengan demikian dari segi legislasi  undang-undang, rakyat akan dapat berbuat apa saja. Jadi rakyat pada  dasarnya tidak perlu lagi mendatangkan justifikasi-justifikasi terhadap  apa yang diinginkannya.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Dougey berkata :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;”Sesungguhnya  teori kedaulatan rakyat, meskipun ia adalah teori buatan, ia telah  menjadi teori yang layak didukung andaikata ia dapat menafsirkan  hakikat-hakikat dan fakta-fakta politik pada masa modern, dan andaikata  hasil-hasilnya praktisnya cukup baik. Akan tetapi kenyataannya ternyata  bertolak belakang dengan apa yang kita ramalkan.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Orientalis Polandia bernama Boogena Giyanah Stchijfska mengatakan :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;“Hukum-hukum  positif buatan manusia yang lahir dari konsensus-konsensus demokratis  tidaklah bersifat tetap. Teks-teksnya tidak membolehkan atau melarang  sesuatu secara mutlak, khususnya yang berkaitan dengan hak-hak dan  kewajiban-kewajiban individu dan tanggung jawab pribadi. Semua itu  didasarkan pada kepentingan dan kebutuhan yang selalu berkembang.  Padahal sudah diketahui bahwa kepentingan dan kebutuhan itu selalu  berganti dan berubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Bukan suatu hal  yang aneh dalam sejarah hukum-hukum positif buatan manusia, bahwa hukum  yang terakhir akan bertentangan dengan hukum yang pertama dalam  rincian-rinciannya. Demikian pula yang dibenci dapat berubah menjadi  disukai, yang dilarang dapat berubah menjadi boleh, dan yang ganjil  dapat berubah menjadi wajar.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Jadi,  siapakah yang sebenarnya tidak faham? apaakh para pengusung dan pembela  demokrasi itu belum sadar akan fakta dari sistem kufur demokrasi yang di  buat olehy manusia tersebut? Wallahu A’lam.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Adi Victoria&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span&gt;Al_ikhwan1924@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;sumber :&lt;a href="http://www.muslimdaily.net/artikel/ringan/7895/aktivis-************tidak-faham-demokrasi"&gt;http://www.muslimdaily.net&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;p/s: Judul artikel telah saya ubah,tanpa merubah isi dan tulisannya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/07/bagaimana-islam-memandang-demokrasi.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlkHco1qE-E9tpml-mpeQHBPLqTQOvyBpLikw6blXlEaT9W3yhU9agxCAHE_ACYiXZvcHuTCVqQsXQf0WAEPpvj6GwrZZxbTaGF2RmnMCnzJyQXOFIh6U4cyDdKQ1X_zPdg5RqqIMPDu7f/s72-c/islam-demokrasi.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-3733973000854272995</guid><pubDate>Sun, 15 May 2011 12:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-15T19:32:30.685+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tauhid</category><title>Dialog antara anshar tauhid dengan anshar thaghut di dalam sijn (penjara)</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="excerpt"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEje02z2o3luu-OkulAxWAqyS4N_HRwVokPc1HtCGzQfce2jEueHuk02TiKlQLwYn3HOBc_VXMnBTtSwKI0g8thnnxLW0l-LPTXi4Mwmg25vU2DWj5ODlSwYupvF2QxoiG5s2ljModCZvitb/s1600/Dialog-di-Penjara.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="excerpt"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="excerpt"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEje02z2o3luu-OkulAxWAqyS4N_HRwVokPc1HtCGzQfce2jEueHuk02TiKlQLwYn3HOBc_VXMnBTtSwKI0g8thnnxLW0l-LPTXi4Mwmg25vU2DWj5ODlSwYupvF2QxoiG5s2ljModCZvitb/s1600/Dialog-di-Penjara.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEje02z2o3luu-OkulAxWAqyS4N_HRwVokPc1HtCGzQfce2jEueHuk02TiKlQLwYn3HOBc_VXMnBTtSwKI0g8thnnxLW0l-LPTXi4Mwmg25vU2DWj5ODlSwYupvF2QxoiG5s2ljModCZvitb/s200/Dialog-di-Penjara.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="excerpt"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="excerpt"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ini adalah dialog antara saya dengan 2 anshar thaghut Densus 88  Bagian Deradikalisasi… Ini adalah dialog yang kedua antara saya dengan  kedua orang itu… Saya tulis global apa yang berlangsung sebagai  mudzakarah ilmu bagi saya disaat tidak ada orang yang bisa diajak  bermudzakarah…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Mereka berkata : Kami datang kepada ustadz untuk berdiskusi dengan ustadz…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="excerpt"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span class="excerpt"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="excerpt"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEje02z2o3luu-OkulAxWAqyS4N_HRwVokPc1HtCGzQfce2jEueHuk02TiKlQLwYn3HOBc_VXMnBTtSwKI0g8thnnxLW0l-LPTXi4Mwmg25vU2DWj5ODlSwYupvF2QxoiG5s2ljModCZvitb/s1600/Dialog-di-Penjara.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya berkata : Diskusi itu harus memiliki tujuan dalam mencari  kebenaran, bukan formalitas menjalankan tugas dari pimpinan bapak,  apalagi dalam rangka membahayakan orang muslim. Semestinya bapak keluar&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;saja dari pekerjaan bapak, karena di akhirat kelak pimpinan yang bapak  taati sekarang tidak akan menolong bapak, bahkan akan saling menghujat  dan berlepas diri… Allah berfirman :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikan dalam  neraka, mereka berkata : “Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah  dan taat (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata : “Ya Tuhan kami,  sesungguhnya kami telah mentaati para pemimpin dan para pembesar kami,  lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami,  timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka  dengan laknat yang besar.”&lt;/i&gt; (Al Ahzab : 66-68).&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan  dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, dan (ketika)  segala hubungan anatara mereka terputus. Dan orang-orang yang mengikuti  berkata : “Sekiranya kami mendapat kesempatan (kembali ke dunia), tentu  kami akan berlepas tangan dari mereka, sebagaimana mereka berlepas  tangan dari kami”. Demikian Allah memperlihatkan kepada mereka amal  perbuatan mereka yang menjadi penyesalan mereka, dan mereka tidak akn  keluar dari api neraka.”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Al Baqarah : 166-167).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segala hubungan nanti putus, baik itu hubungan kedinasan maupun yang  lainnya, dan bahkan para pengikut dan para bawahan itu kelak ingin  kembali ke dunia, bukan untuk shalat, zakat, shaum atau yang lainnya,  tetapi untuk berlepas diri dari pimpinannya dan dari hukum perbuatan  yang dahulu dijunjung tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita ini tidak akan selamanya di dunia ini, pasti nanti akan datang  kepada Allah. Sekarang pemerintah sedang berkuasa di dunia dan merasa  benar, tetapi kelak semua itu akan sirna dan di sana hanya Allah-lah  Yang Berkuasa…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya pada kondisi lemah ini yang mana bapak bisa membunuh saya atau  memotong-motong tubuh saya sesuka bapak, tetapi jujur dan tidak ingin  menipu diri saya dan menipu bapak, saya juga bukan penjilat, saya tidak  peduli sama bapak, maka saya menyampaikan hal itu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka menimpal : Ustdz, kan kita ini sama… Tidak ada perbedaan… Kami juga bersyahadat &lt;i&gt;laa ilaaha illallaah muhammad rasulullah&lt;/i&gt;, shalat, zakat, shaum, haji, dan yang lainnya… Jadi kenapa dikatakan beda…?!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya berkata : Kita berbeda pak, saya berbeda dengan bapak dan pemerintah ini…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka berkata : Apa yang berbeda ?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya berkata : Perbedaan di antara kita bukan pada sholat, zakat,  shaum, dan haji, karena bapak dan pemerintah tidak melarang dari hal-hal  itu… Tapi perbedaan di antara kita adalah pada laa ilaaha illallaah…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka berkata : Tidak beda, kami juga mengikrarkan laa ilaaha  illallaah muhammad rasulullah… Tidak ada tuhan selain Allah… Jadi kenapa  beda ???&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya berkata : Laa ilaaha illallaah itu bukan hanya pengucapan, akan  tetapi ia mengandung makna dan konsekwensi, yang intinya ibadah kepada  Allah dan menjauhi thaghut, sebagaimana firman-Nya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap  umat, (para rasul itu menyerukan) “beribadahlah kalian kepada Allah dan  jauhilah thaghut itu.” &lt;/i&gt; (An Nahl : 36).&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi makna laa ilaaha illallaah itu adalah &lt;b&gt;ibadah kepada Allah dan menjauhi thaghut&lt;/b&gt;, sedangkan bapak dan pemerintah ini malah menjungjung hukum thaghut dan loyalitas kepadanya…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka betanya : Apakah di ayat itu disebut kata “thaghut” ?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya menjawab : Ya, disebutkan “beribadahlah kepada Allah dan jauhilah thaghut itu !”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka bertanya : Tadi surat apa dan ayat berapa ?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya jawab : An Nahl 36… Supaya jelas saya jabarkan, Allah berfirman :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelummu  (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya : “Bahwa tidak ada ilah  (yang haq) kecuali Aku, maka beribadahlah kalian kepada-Ku” &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Al Anbiyaa : 25).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ayat ini menjelaskan bahwa setiap rasul diwahyukan laa ilaaha  illallaah sehingga kalimat ini adalah inti ajaran Allah yang mereka  (para rasul) dakwahkan…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian laa ilaaha illallaah Allah jelaskan makna kandungannya di dalam surat An Nahl 36:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat,  (para rasul itu menyerukan) : “Ibadahlah kalian kepada Allah dan jauhi  thaghut itu.”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi bukan sekedar pengucapan dan pengikraran lisan, tapi  konsekwensinya adalah menjauhi dari loyal atau ibadah kepada thaghut dan  beribadah hanya kepada Allah…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahkan Allah juga berfirman dalam surat Al Baqarah 256 :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;“Barangsiapa kafir (ingkar) kepada thaghut dan beriman kepada  Allah, maka dia sungguh telah memegang ikatan tali yang sangat kokoh  yang tidak mungkin putus.”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di sini Allah menjelaskan bahwa orang disebut telah memegang laa  ilaaha illallaah yang merupakan ikatan tali yang sangat kokoh adalah  bila dia kafir atau ingkar kepada tahghut dan iman kepada Allah…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallaah dan dia  ingkar terhadap segala yang ibadati selain Allah, maka terjagalah darah  dan hartanya…”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (HR. Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di sini juga beliau menetapkan status keislaman seseorag terhadap  pengucapan laa ilaaha illallaah yang disertai sikap ingkar terhadap  segala yang diibadati selain Allah, yaitu ingkar kepada thaghut…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan para ulama juga telah ijma (sepakat) bahwa ikrar syahadat tidak manfaat tanpa ingkar kepada thaghut. &lt;b&gt;Al Imam Sulaiman Ibnu Abdillah Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab&lt;/b&gt; rahimahullah berkata dalam kitab &lt;b&gt;Taisir Al Aziz Al Hamid&lt;/b&gt; yang dinukil oleh &lt;b&gt;Syaikh Ali Al Khudlair&lt;/b&gt;, berkata :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;“Sekedar pengucapan kalimat syahadat tanpa mengetahui  maknanya dan tanpa mengamalkan konsekwensinya berupa komitmen dengan  tauhid, meninggalkan syirik akbar dan ingkar kepada thaghut, maka  sesungguhnya (pengucapan syahadat) itu tidak bermanfaat berdasarkan  ijma.”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Coba perhatikan Al Baqarah 256, hadits shahih Muslim dan juga ijma  ulama, semua menyatakan bahwa ingkar kepada thaghut itu adalah syarat  keislaman di hadapan Allah yang merupakan separuh makna laa ilaaha  illallaah…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah seorangnya bertanya : Apa thaghut itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya berkata : Di antara thaghut itu adalah hukum buatan dan para pembuatnya, sebagaimana firman-Nya dalam surat An Nisa 60 :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang  yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan  kepadamu dan (beriman) kepada apa yang diturunkan sebelummu ? Tetapi  mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada thaghut, padahal mereka  telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud  menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di dalam ayat ini Allah menyebutkan hukum atau undang-undang yang  dijadikan acuan hukum selain apa yang Allah turunkan adalah sebagai  thaghut yang diharuskan untuk diingkari, sedangkan pemerintah ini malah  menerapkannya dan bapak sebagai perangkat penegaknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padahal bila orang berpaling dari hukum yang diturunkan kepada  Rasulullah dan malah merujuk kepada hukum-hukum Allah yang asli yang  sudah dihapus yang ada di dalam Taurat dan Injil, maka dia divonis  kafir, maka bagaimana dengan orang yang malah menerapkan hukum buatan  manusia ??? &lt;b&gt;Ibnu Katsir&lt;/b&gt; rahimahullah berkata di dalam Al Bidayah Wan Nihayah juz 13 hal 119 :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;“Barangsiapa meninggalkan hukum yang baku yang diturunkan  kepada Muhammad Ibnu Abdillah, dan dia malah mengacu hukum kepada yang  lainnya berupa ajaran-ajaran (Allah) yang sudah dinasakh, maka dia  kafir. Maka bagaimana gerangan dengan orang yang merujuk hukum kepada  ALYASA dan dia mengedepankannya terhadap hukum (Allah) itu, maka dia  kafir berdasarkan ijma kaum muslimin.”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Alyasa&lt;/b&gt; itu adalah &lt;b&gt;Yasiq&lt;/b&gt;, yaitu  kitab undang-undang hukum yang dibuat oleh Jengis Khan, yang dia rangkum  sebagian dari Islam, sebagian dari Nashrani, sebagian dari Yahudi,  sebagian dari ahli bid’ah dan sebagian dari buah pikirannya. Ini sama  seperti yang dipakai pemerintah ini, di mana sebagiannya dari Islam  seperti yang di pakai di Pengadilan Agama, sebagiannya dari Nashrani  (Belanda) yaitu KUHP, sebagiannya dari hasil buatan Parlemen. Dan itu  yang bapak pakai…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satunya bertanya : Kalau syirik itu apa ?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya jawab : Syirik itu adalah penyekutuan Allah, dan dalam kaitan diskusi ini adalah syirik hukum. Allah berfirman :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Ingatlah, hanya milik Allah penciptaan dan perintah itu.”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Al A’raf : 54).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa menciptakan dan memerintah  (mengatur) itu hanya hak khusus Allah, karena manusia adalah ciptaan  Allah, maka hukum aturan yang diberlakukan kepada mereka pun harus  aturan Allah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila seseorang meyakini bahwa ada pencipta selain Allah, maka itu  adalah musyrik kafir, maka begitu juga bila seseorang meyakini ada yang  berwenang membuat hukum selain Allah maka dia musyrik kafir juga, karena  Allah tidak memperkenankan penyekutuan di dalam hak hukum-Nya. Ini  sebagaimana firman-Nya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Dan Dia tidak menyertakan seorangpun di dalam hukum-Nya.” &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Al Kahfi : 26).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan bila seseorang memberikan loyalitas kepada hukum buatan itu, maka  dia telah menyekutukan Allah, sedangkan pembuat hukum itu telah  memposisikan dirinya sebagai tuhan, sebagaimana dalam firman-Nya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahibnya  sebagai tuhan selain Allah, dan jugaAl Masih putra Maryam, padahal  mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan  selain Dia, Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(At Taubah : 31)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di dalam ayat ini Allah mencap Nashrani dengan banyak vonis :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Mereka mempertuhankan alim ulama dan pendeta mereka&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mereka beribadah kepada alim ulama dan pendeta mereka&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mereka musyrik&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Alim ulama dan pendeta mereka telah mempertuhankan diri.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di dalam hadits hasan riwayat At Tirmidzi, Rasulullah membacakan ayat  (At Taubah : 31) ini di hadapan ‘Adiy Ibnu Hatim -yang saat itu  Nashrani lalu masuk Islam-, dan ketika mendengar ayat itu dengan  vonis-vonis tersebut, maka ‘Adiy Ibnu Hatim berkata :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;“Kami tidak mengibadati mereka”, Rasulullah bersabda :  “Bukankah mereka itu menghalalkan apa yang Allah haramkan kemudian  kalian ikut menghalalkannya ?, dan bukankah mereka mengharamkan apa yang  telah Allah halalkan terus kalian ikut mengharamkannya ??. Maka ‘Adi  Ibnu Hatim menjawab : “Ya…”, maka Rasulullah bersabda : &lt;i&gt;“Itulah peribadatan kepada mereka.”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi, kesetiaan kepada hukum buatan itu adalah peribadatan kepada  pembuat hukum dan merupakan kemusyrikan. Dan itu adalah pekerjaan bapak…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah seorang berkata : Berarti yang masuk di sini adalah parlemen,  hakim, jaksa, polisi, tentara… dan tentunya presiden tertinggi… Kalau  begitu Tifatul Sembiring masuk juga karena ikut membuat hukum…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya jawab : Ya begitu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia berkata : Yang ustadz katakan itu benar, tapi kita kan di Indonesia… Umat agama yang lain bagaimana…??&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya berkata : Kalau sudah mengetahui benar, maka seharusnya diikuti,  karena kalau sekedar yakin atau mengetahui maka tidak ada gunanya,  karena Abu Thalib juga meyakini bahwa ajaran Rasulullah adalah benar,  namun tidak mau mengikutinya…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau masalah umat agama yang lain… Islam itu tidak memaksa orang kafir untuk masuk Islam, kan di Islam ada yang namanya &lt;b&gt;kafir dzimmi&lt;/b&gt;,  yaitu orang kafir yang mau tunduk hidup di bawah naungan kekuasaan  dengan kewajiban membayar jizyah atas pria dewasa setahun sekali  seukuran kurang lebih 1 dinar (4,25 gram mas) dengan jaminan jiwa, harta  dan keluarga. Nilai yang jauh lebih kecil dibandingkan segala pajak  yang diambil pemerintah ini darinya sekarang, motor, mobil, tanah,  rumah, dan lain sebagainya…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagi pula saya tidak mengajak kepada hal yang saya sendiri belum  mampu karena hal itu bukan kewajiban kepada individu tertentu, tapi  kewajiban umat secara kolektif. Namun saya ajak bapak kepadanya adalah  minimal merealisasikan tauhid dengan keluar dari pekerjaan bapak… Sumber  rezeki masih banyak…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang satu menimpali : Sebenarnya di antara kita ada kesamaan… Coba lihat aturan lalu lintas… Lampu merah… Bagaimana di Islam ?!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya jawab : Berbeda pak… Kami tidak sama dengan pemerintah ini, kami  ingin Allah sebagai rujukan hukum, sedangkan pemerintah ini punya  rujukan yang lain… Kitabnya saja berbeda… Perlu diketahui, bahwa di  dalam islam ini ada hukum-hukum yang baku yang sudah ditentukan yang  disebut &lt;b&gt;hukum syar’iy&lt;/b&gt; dan ada pula &lt;b&gt;hukum idariy&lt;/b&gt;  (tata tertib), yaitu permasalahan-permasalahan yang berkembang dengan  zaman yang tidak diatur secara khusus, namun Islam memberikan  kaidah-kaidah umum sebagai panduan yang nanti penetapannya tergantung  kepada pemimpin dengan mempertimbangkan maslahat kaum muslimin…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah, masalah lampu merah ini masuk dalam hukum idariy… Andai pun ada  kesamaan pada hasilnya, namun sumber rujukannya berbeda…&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukankah ketika  orang Nashrani berbuat jujur karena -umpamanya- agamanya mengajarkan  untuk jujur, bukankah dengan jujurnya itu dia tidak disebut muslim  walaupun ada kesamaan dalam anjuran berbuat jujur, ini karena bedanya  rujukan dan ketundukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terus, dalam hal-hal yang baku, pemerintah ini merujuk kepada hukum buatan…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam islam, masalah pencurian bila memenuhi syarat maka akan  dipotong tangan, tapi di sini merujuk kepada pasal 362 dan 363 KUHP,  yaitu penjara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perampokan di islam adalah dikenakan hukuman hirabah, bisa disalib  atau dibunuh, atau dipotong tangan dan kaki secara silang atau  diasingkan, akan tetapi di sini dikarenakan pasal 365 KUHP maka  hukumannya yaitu penjara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembunuhan di islam ada hukum tersendiri, tapi di sini dikenakan  pasal 340 KUHP, bila pembunuhan tersebut terbukti direncankan diancam  seumur hidup atau hukuman mati, bila tidak direncanakan maka dikenakan  pasal yang lebih ringan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Zina di islam ada hukumannya walaupun sama-sama ridla dan dewasa dan  si wanita tidak punya suami, tapi di sini kalau sama-sama ridla dan  dewasa dan si wanita tidak punya suami maka itu legal lagi tidak ada  sanksi, bahkan kalau di lokasi khusus maka ada pajaknya…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini kan beda pak… Belum hukum lainnya, karena segala permasalahan di  islam putusannya harus mengacu kepada hukum Allah, sebagaimana  firman-Nya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt; “Dan apapun yang kalian perselisihkan di dalamnya, maka putusannya diserahkan kepada Allah.” &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Asy Syuraa : 10).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka berkata : Karena kami tidak begitu menguasai, maka kami tidak  bisa mengoreksi, tapi mungkin kalau kami bawa orang yang selevel dengan  ustadz, mungkin dia bisa menanggapi, karena bisa jadi itu hanya  penafsiran ustadz, tapi orang lain bisa jadi penafsirannya beda…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya berkata : Yang jelas saya sudah menjelaskan prinsip saya, di  atas itu saya hidup dan mati, tapi saya tetap mengajak bapak untuk  keluar dari polisi karena itu kemusyrikan yang membatalkan amalan…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka berkata : Kami selalu ingat ajakan ustadz itu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;*Dialog ini sebenarnya panjang, tapi itu ringkasannya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Polres Jakarta Barat&lt;br /&gt;
Aman Abdurrahman&lt;br /&gt;
18 Jumada Ula 1432 H&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Petikan dari :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://arrahmah.com/read/2011/05/12/12474-dialog-antara-anshar-tauhid-dengan-anshar-thaghut-di-dalam-sijn-penjara.html"&gt;Arrahmah.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/05/dialog-antara-anshar-tauhid-dengan.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEje02z2o3luu-OkulAxWAqyS4N_HRwVokPc1HtCGzQfce2jEueHuk02TiKlQLwYn3HOBc_VXMnBTtSwKI0g8thnnxLW0l-LPTXi4Mwmg25vU2DWj5ODlSwYupvF2QxoiG5s2ljModCZvitb/s72-c/Dialog-di-Penjara.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-5994616426212312712</guid><pubDate>Mon, 18 Apr 2011 02:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-18T23:21:39.104+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Aceh-Malaysia</category><title>TV Al Hijriah Malaysia Telusuri Jejak Campa di Aceh</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bireun&lt;/span&gt;,&lt;b&gt;Aceh&lt;/b&gt; - Tim TV Islam Al-Hijrah  Malaysia bersama pemerhati sejarah dan budaya Aceh, M Adli Abdullah,  Kamis (14/4/2011) menelusuri jejak Kerajaan Islam Campa di lokasi bekas  Kerajaan Jeumpa di Desa Blang Sepeung, Kecamatan Jeumpa, Bireuen.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiDNQDcif6oCh1QsRgYJM50tTKur2aD4IPMk__YuhkWaJKdH8MvXAoeXgZelkGuwMMFhamyVzWu52FqAdCG4vi_FvY40mmHf0zskUNglyw8It7AMuQgGfW6IrNkbYIi9Op4_sTGW1J0x9jh/s1600/tv+al+hijrah.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="199" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiDNQDcif6oCh1QsRgYJM50tTKur2aD4IPMk__YuhkWaJKdH8MvXAoeXgZelkGuwMMFhamyVzWu52FqAdCG4vi_FvY40mmHf0zskUNglyw8It7AMuQgGfW6IrNkbYIi9Op4_sTGW1J0x9jh/s200/tv+al+hijrah.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Adli  kepada Serambi, kemarin, mengatakan, kegiatan itu dilakukan dalam  rangka program titian ombak yang direncanakan 13 episode. Program ini  menelusuri peranan Aceh dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Salah  satu episodenya adalah menelusuri jejak kerajaan Melayu Islam Campa di  Vietnam yang sudah hilang dan menurut catatan sejarah sebagian besar  penduduk dan rajanya hijrah ke Aceh pada abad Ke-13 dan kemudian  mendirikan kerajaan Jeumpa yang ibu kotanya berada di Blang Seupeung,  Kecamatan Jeumpa, Bireuen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Sementara pengarah TV Hijrah Malaysia,  Ustad Wan Ilyas mengatakan, penelusuran jejak kerajaan Islam Campa di  Bireuen itu dilakukan pihaknya dalam rangka memelihara jejak warisan  peradabaan Islam di Asia Tenggara. Hasil penelusuran itu nantinya akan  dibuat dalam seri dokumenter yang akan disiarkan di seluruh dunia.  “Sebelumnya kami juga telah berhasil membuat dokumenter seri jejak Rasul  yang selama ini diputar di seluruh dunia,” katanya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sumber; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://aceh.tribunnews.com/news/view/54064/tv-malaysia-telusuri-jejak-campa-di-aceh"&gt;Serambi Indonesia&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/04/tv-al-hijriah-malaysia-telusuri-jejak.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiDNQDcif6oCh1QsRgYJM50tTKur2aD4IPMk__YuhkWaJKdH8MvXAoeXgZelkGuwMMFhamyVzWu52FqAdCG4vi_FvY40mmHf0zskUNglyw8It7AMuQgGfW6IrNkbYIi9Op4_sTGW1J0x9jh/s72-c/tv+al+hijrah.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-2618894976789586423</guid><pubDate>Thu, 24 Mar 2011 03:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-04-18T09:02:56.329+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sakit</category><title>Sakit Itu Datang Lagi</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;itRasanya sudah begitu lama tidak update blog ini. Malas ada juga, kesibukan begitu juga dan bermacam-macam lainnya. Sekali lagi di coba dengan ujian yaitu sakit. Seperti yang sebelumnya, bukan sakit medis, tapi sihir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj41RcDleETnmyffC99xFjcu65YbS8hL1a76PecWzQGjqmd0u1hhGctoeFY-K64jHGTp6MQM4iAQ5DHxu97y5RMJUWbLQ7zCDv9WhK6FWFEHjHIPhRxnVRIWZQTSN6A8SLoG5SugmKiDVu3/s1600/Photo+0429.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj41RcDleETnmyffC99xFjcu65YbS8hL1a76PecWzQGjqmd0u1hhGctoeFY-K64jHGTp6MQM4iAQ5DHxu97y5RMJUWbLQ7zCDv9WhK6FWFEHjHIPhRxnVRIWZQTSN6A8SLoG5SugmKiDVu3/s400/Photo+0429.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Alhamdulillah, di beri kekuatan untuk dapat melewati penderitaan ini. Kurang lebih 2 bulan yang silam, ketika sedang mengikuti prajab sebagai persyaratan menjadi guru PNS (Goverment Officer). Baru saja menjalani kegiatan 3 selama hari, sudah nampak gejala demam,badan panas dingin. Aku kira itu hanya demam biasa. Jadi aku mengkomsumsi obat demam biasa, nyatanya tidak ada perubahan yang berarti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;selanjutnya aku mendatangi dokter, di periksa tensi darah normal, cuma badan saja yg panas dingin, stamina pun agak lemah. Oleh Dokter tersebut di berikan obat imun tubuh dan obat-obat demam.setelah menggunakan obat yang di berikan dokter selama 2 hari tidak ada juga perkembangan yang lumayan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keesokan harinya, setelah meminta izin dari panitia Prajaba. Lalu aku mengambil inisiatif untuk pergi ke Rumah Sakit (Hospital) dr. H. Yuliddin Away, Tapaktuan, Aceh Selatan. Untuk mendapat hasil Laboratorium yang sempat saya menuju keruang UGD. Setelah beberapa lama, akhir darah di ambil oleh petugas. 2 jam setelah darah di ambil untuk di analis, hasil pun keluar.DBD, malaria hasil negatif. padahal muka aku sudah mulai bengkak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepatnya malamnya. "ya Allah Muka aku dah bernanah, ukuran hidung membesar dan muka bengkak!".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan foto-foto. &lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj41RcDleETnmyffC99xFjcu65YbS8hL1a76PecWzQGjqmd0u1hhGctoeFY-K64jHGTp6MQM4iAQ5DHxu97y5RMJUWbLQ7zCDv9WhK6FWFEHjHIPhRxnVRIWZQTSN6A8SLoG5SugmKiDVu3/s1600/Photo+0429.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLJ3IH2WXgPvVkxI6oZGe167D5sDr5RqGh4YFEweSRScjK9ecA-4kD7CjBikBUvsYFUytGqsmOcKngFHqsPTpcHgAP58C-9AyBhfMSwW8bWKL7aDj0aDK2hj6ta1r9sUWZG8H5GRHKuqLQ/s1600/Photo+0430.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLJ3IH2WXgPvVkxI6oZGe167D5sDr5RqGh4YFEweSRScjK9ecA-4kD7CjBikBUvsYFUytGqsmOcKngFHqsPTpcHgAP58C-9AyBhfMSwW8bWKL7aDj0aDK2hj6ta1r9sUWZG8H5GRHKuqLQ/s400/Photo+0430.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXkw6O5wnWBY-OwsWVJl_MMAW1QSOr6Cb52gsLGakBL_gayTYYMsGXEobdKH6aGVatQpKjSDIyj2BJoRRnZizILtgFEcAZUYLUdpR_nhZxoR91bKXvZSOIrkxNclBncMp5RJly2CnIcn7c/s1600/Photo+0432.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXkw6O5wnWBY-OwsWVJl_MMAW1QSOr6Cb52gsLGakBL_gayTYYMsGXEobdKH6aGVatQpKjSDIyj2BJoRRnZizILtgFEcAZUYLUdpR_nhZxoR91bKXvZSOIrkxNclBncMp5RJly2CnIcn7c/s400/Photo+0432.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEoyuuQwtoPiAQj4EWUBaupPp3VVWBXB734eFYoK0kFnYbBnAihG28WIzh4fjIqsZEZdJe_q1-JDrviA_JRCnBUeGIpqeq4R45ehxt6O3Wp2Wo5Ku2muNlo8HYN9zXsByUP4GTchr_NhLO/s1600/Photo+0435.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEoyuuQwtoPiAQj4EWUBaupPp3VVWBXB734eFYoK0kFnYbBnAihG28WIzh4fjIqsZEZdJe_q1-JDrviA_JRCnBUeGIpqeq4R45ehxt6O3Wp2Wo5Ku2muNlo8HYN9zXsByUP4GTchr_NhLO/s400/Photo+0435.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwBjuWiA2WXrX_FHWmUIeJ_M0U7gScd-lnztwD8vH0ihAFLU0XysE4yNdN-I7lx2LK-_sPBSjaPbavN8Ei_VnY0apG8XjgF3eIj10lxFgi40yOUBnlnmefkixTfheezpYtDLclZGaTRX5B/s1600/Photo+0437.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwBjuWiA2WXrX_FHWmUIeJ_M0U7gScd-lnztwD8vH0ihAFLU0XysE4yNdN-I7lx2LK-_sPBSjaPbavN8Ei_VnY0apG8XjgF3eIj10lxFgi40yOUBnlnmefkixTfheezpYtDLclZGaTRX5B/s400/Photo+0437.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara inilah tulisan, kalau panjang umur, Insya Allah akan di sambung lagi kelanjutan tulisan ini&lt;/div&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/03/sakit-itu-datang-lagi.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj41RcDleETnmyffC99xFjcu65YbS8hL1a76PecWzQGjqmd0u1hhGctoeFY-K64jHGTp6MQM4iAQ5DHxu97y5RMJUWbLQ7zCDv9WhK6FWFEHjHIPhRxnVRIWZQTSN6A8SLoG5SugmKiDVu3/s72-c/Photo+0429.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-8844752944389048899</guid><pubDate>Sun, 16 Jan 2011 04:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-16T11:49:20.175+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah Perang Aceh</category><title>Sumpah Kerajaan Aceh (3)</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWFJSPIy3GdrlOmlZOK18xsymzK0GBD8BLPFZc4qPtR6Q0UK86EHXrJnx4MlJQ0Jsr5nECHTRsBuNwfo6FQ0xZUNDmfn4YjYeAn53RIBVMTuwHKi2uj_fi4ipmO_BQFPevJdDsvGQNFVpD/s1600/tuhoe-3-g.rayek-cap-sikuereung-300x296.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="196" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWFJSPIy3GdrlOmlZOK18xsymzK0GBD8BLPFZc4qPtR6Q0UK86EHXrJnx4MlJQ0Jsr5nECHTRsBuNwfo6FQ0xZUNDmfn4YjYeAn53RIBVMTuwHKi2uj_fi4ipmO_BQFPevJdDsvGQNFVpD/s200/tuhoe-3-g.rayek-cap-sikuereung-300x296.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Cucuku Keumalahayati, Untuk menghadapi ancaman Belanda yang kian nyata menyerang kedaulatan Aceh, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah bersama kabinet perangnya terus mengadakan berbagai persiapan untuk menghadapi kemungkinan penyerangan Belanda tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sultan mengemukakan ancaman Belanda tersebut kepada Majelis Mahkamah Rakyat yang beranggotakan 73 orang wakil rakyat. Hal ini sebagaimana tersirat dalam Kanun Meukuta Alam halaman 90-91, naskah lama bertulis tangan dengan huruf Arab.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dalam dokumen lama kerajaan Aceh disebutkan, ketika pada masa-masa tegang menghadapi ancaman Belanda, Pada Jumat 30 Zulhijjah 1289 Hijriah (1872 Masehi) Kerajaan Aceh kembali menggelar sidang istimewa di dalam Mesjid Baiturrahman Bandar Aceh Darussalam. Sidang istimewa itu disebut sebagai sidang istimewa Balai Majelis Mahkamah Rakyat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sidang itu disampaikan khutbah kerajaan yang dibacakan oleh Said Abdullah Teungku Di Meulek dalam kedudukannya sebagai Wazir Rama Setia (Sekretaris Kerajaan) dan sebagai Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Aceh dengan pangkat Letnan Jendral.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sidang istimewa itu selain dihadiri oleh 73 orang anggota Balai majelis Mahkamah Rakyat juga diundang para uleebalang, para ulama, pimpinan rakyat dan para perwira angkatan perang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khutbah kerajaan yang dibacakan Said Abdullah Teungku Di Meulek dalam sidang istimewa itu diantaranya berisi perintah dari keputusan mufakat kerajaan untuk menghadapi Belanda. Salah satu bagian isi khutbah itu berbunyi:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…dengan keputusan sabda mufakat Kerjaaan Aceh Bandar Darussalam beserta ijma mufakat alim ulama yang guru-guru hamba dan payung hamba, maka di sini sekarang ini hingga akan datang turun menurun salin-malin masing-masing terus menerus, hamba amanahkan dan hamba wasiatkan, bahwa kita semua akan menghadapi maut, yang hendak menyerang negeri kita ini oleh Holanda dan beserta kaum kerabat ahli warisnya Holanda yang tidak jauh dengan kita yaitu sahabat karib Holanda, yaitu yang khianat pada agama Islam, dan khianat pada negeri, dan khianat pada bangsa, dan khianat pada kerajaan Aceh…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada bagian lainnya surat itu Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menekankan kewajiban bagi rakyat Aceh untuk berperang melawan Belanda sebagai perang fi sabilillah, serta jangan pernah menyerah kepada jajahan negeri tersebut. Dalam khutbah itu ia kembali menegaskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Wahai sekalian tuan-tuan yang hamba Allah semua! Bahwa kita semua akan menghadapi maut fi sabilillah yaitu dua perkara: pertama menang perang, kedua syahid, ketiga tak ada sekali-kali yaitu menyerah kepada Holanda…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sulthan Alaiddin Mahmud Syah di bagian tengah khutbah kerjaan yang dibacakan Said Abdullah Teungku Di Meulek itu juga menegaskan tentang pentingnya persatuan dan kesatuan rakyat dalam menghadapi ancaman agresi militer Belanda yang saat itu semakin nyata saja akan menyerang kedaulatan Kerajaan Aceh. Ia juga meminta untuk tidak mengampuni para pengkhianat yang membantu Belanda masuk ke Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Holanda itu musuh kita dan musuh anak cucu kita. Tuan-tuan jangan takut, jangan ngeri tuan-tuan menghantam Holanda dan sekalian kaum sahabat karib Holanda, bunuhlah pengkhianat negeri walau siapa sekalipun. Ingat yang musuh tetap musuh…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam khutbah itu Sulthan Alaiddin Mahmud Syah juga menyinggung tentang nasib masyarakat Jawa yang saat itu sudah 250 tahun di jajah oleh Belanda. Ia menyebutnya sebagai negeri di bawah angin yang berpusat di Jawakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sultan menjelaskan tentang penderitaan rakyat Jawa yang sudah dua setengah abad dikuasai Belanda waktu itu. Ia tidak ingin rakyat Aceh mengalami nasib yang sama seperti Jawa yang telah dikuasai Belanda dan diperas hasil buminya.&amp;nbsp; Ia mengambarkan jajahan Belanda terhadap Jawa itu sebagai tragedi penghisab darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ingat tuan-tuan, bahwa Holanda berkulit delima putih sudah dua ratus lima puluh tahun menjajah Negeri Bawah Angin yang berpusat di Jawakarta, menganiaya rakyat bawah angin dengan merampas harta rakyat bawah angin, mengazab dan menghisap darah rakyat bawah angin. Turun temurun rakyat bawah angin dalam azab sengsara yang diperbuat oleh Holanda atas rakyat bawah angin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sulthan juga menyinggung tentang akan munculnya golongan dan orang-orang yang akan membantu Belanda di Aceh. Mereka merupakan para pengkhianat yang akan membantu Belanda masuk Aceh. Mereka yang menjadi duri dalam daging yang menggunting dalam lipatan itu oleh Sulthan Alaiddin Mahmud Syah disebut sebagai Belanda kulit hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka inilah&amp;nbsp; yang digolongkan dalam musuh besar agama dan musuh kerajaan Aceh. Analisa Sulthan Alaiddin Mahmud Syah terhadap kemungkinan munculnya golongan ini sangat jelas dalam khutbahnya itu. Sebelum Belanda benar-benar masuk dan menyerang Aceh, ia yakin akan muncul golongan pengkhianat yang kemudian dikenal sebagai cuak, golongan yang selalu muncul dalam sejarah perang Aceh. Analisa ini disampaikannya berdasarkan laporan dari Peutua Balei Sisasah Keurajeun yakni kepala intelijen kerajaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Badan intelijen kerajaan menangkap adanya orang-orang dari Jawa yang menjadi kaki tangan Belanda, mulai masuk ke Aceh untuk mempengaruhi para uleebalang agar menerima kedatangan Belanda. Karena itu Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menyerukan kepada rakyat untuk tidak terpengaruh dan tetap bahu membahu melawan Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada rakyat Aceh ia sampaikan seruannya. &lt;br /&gt;
“…hendaklah kita bersatu, bahu membahu berpegang alat senjata apa saja yang ada, kita lawan, kita hantam, kita hancurkan musuh kita, yaitu Holanda kulit delima putih dan Holanda hitam warna kulit, yang dekat dengan kita. Maka hendaklah tuan-tuan sapu bersih dua macam Holanda, yaitu satu Holanda luar negeri dan satu lagi Holanda dalam negeri Aceh sendiri..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isi khutbah kerajaan Aceh dari Sulthan Alaiddin Mahmud Syah itu dicatat dalam sara kata kerajaan, naskahnya bertulis tangan dengan mengunakan huruf Arab. Naskah-naskah tersebut disimpan oleh selaku Wazir Rama Setia Kerajaan Aceh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, kalau kamu ingin melihat dokumen itu ada pada ketrurunan Said Abdullah Teungu Di Meulek yang menyimpannya secara turun temurun sebagai dokumen penting kerajaan Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;Dikutip dari :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;http://iskandarnorman.blogspot.com&lt;/span&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/01/sumpah-kerajaan-aceh-3.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWFJSPIy3GdrlOmlZOK18xsymzK0GBD8BLPFZc4qPtR6Q0UK86EHXrJnx4MlJQ0Jsr5nECHTRsBuNwfo6FQ0xZUNDmfn4YjYeAn53RIBVMTuwHKi2uj_fi4ipmO_BQFPevJdDsvGQNFVpD/s72-c/tuhoe-3-g.rayek-cap-sikuereung-300x296.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-6379806184694088446</guid><pubDate>Sun, 16 Jan 2011 04:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-16T11:40:31.651+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah Perang Aceh</category><title>Sumpah Kerajaan Aceh  (2)</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhd2GChz11R4JT0vSU6kDnu1AeyhXDtcrIlT7UUGKlme3mCDeG7VfMfkK-o7OVAzTSwt67pvKk3peww8LYyubLmMSkPj3FBHs6YJ4yyqIr1iy2u8cLop2Ab061pa8_b9yAodT8sGWuGNxzq/s1600/PETA+KERAJAAN+ACEH+DULU+SEKALI.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="155" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhd2GChz11R4JT0vSU6kDnu1AeyhXDtcrIlT7UUGKlme3mCDeG7VfMfkK-o7OVAzTSwt67pvKk3peww8LYyubLmMSkPj3FBHs6YJ4yyqIr1iy2u8cLop2Ab061pa8_b9yAodT8sGWuGNxzq/s200/PETA+KERAJAAN+ACEH+DULU+SEKALI.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Cucuku Keumalahayati, setelah rapat kerajaan dan pengambilan sumpah dilakukan, seorang pria berbadan tegap dan kulit agak hitam, masuk ke aula pertemuan. Tak ramai yang mengenalnya, karena ia orang yang bekerja di dinas rahasia. Lelaki yang tampak klimis itu penampilannya agak berbeda dengan para pejabat kerajaan. Awalnya ia dikira salah seorang uleebalang dari satu wilayah di Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ia masuk memberi salam kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Sulthan. Keduanya kemudian menuju ruang kerja Sulthan, sementara para wazir dan uleebalang dipersilahkan ke ruang penjamuan. Para wazir dan uleebalang penasaran dengan tingkah pria misterius itu. Sambil menikmati makan siang, mereka membicarakan tentang lelaki tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama kemudian Sulthan Alaiddin Mahmud Syah keluar dari ruang kerjanya bergabung kembali dengan para wazir dan uleebalang di ruang jamuan. Usai shalat dhuhur berjamaah di mesjid Baiturrahim dalam komplek istana, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah kembali melanjutkan pertemuan. Para wazir dan uleebalang merasa ada yang tidak beres, karena sebelumnya rapat kerajaan direncakanan hanya pagi saja, dan dianggap telah selesai setelah sumpah kerajaan diucapkan. Mereka pun kembali bertanya-tanya, tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan dihadapi. Kehadiran lelaki misterius di ruang kerja Sulthan tadi mereka kait-kaitkan dengan rapat susulan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hadapan para wazir dan uleebalang, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah berujar.&lt;br /&gt;
“Saya sudah dapat laporan dari Peutua Balei Sisasah Keurajeun bahwa Holanda sudah dapat dipastikan menyerang kerajaan kita ini,” katanya dengan suara nyaring dan tegas. Ternyata pria misterius yang masuk ke ruang kerja sulthan tadi adalah Peutua Balei Sisasah Keurajeun yakni kepala intelijen kerajaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rapat susulan itu jadi riuh, ada yang cemas ada pula yang terlihat santai, namun kebanyakan terlihat tegang.&lt;br /&gt;
“Untuk menghadapi Holanda itu, maka hari ini dalam rapat ini saya akan membentuk kabinet perang,” lanjut Sulthan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sulthan benar-benar mempersiapkan peperangan besar untuk menghadapi Belanda. Ia meminta kepada para menterinya (wazir) untuk menyusun kabinet perang yang efektif dan efisien tanpa banyak birokrasi. Alasannya, urusan perang harus disegerakan, tidak boleh berbelit-belit dengan birokrasi pemerintahan. Atas dasar itu pula, para birokrat kerjaan harus terlibat dalam kabinet tersebut agar lebih mudah menjalankan roda pemerintahan dan peperagangan sekaligus dalam suasana genting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menerima berbagai masukan dalam rapat itu, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menunjuk tiga wazir (menteri) untuk memimpin kabinet perang. Sulthan tetap bertindak sebagai kepala pemerintahan. Sementara untuk kabinet perang Sulthan menunjuk Tuanku Hasyim Banta Muda Kadir Syah sebagai Wazirul Harb (Menteri Peperangan) merangkap sebagai panglima besar angkatan perang dengan pangkat Jenderal Tentara Aceh. Kemudian Tuanku Mahmud Banta Kecil Kadir Syah diangkat sebagai Wazirul Mizan Wazirul Dakhiliyah-Wazirul Kharijiah (Menteri Kehakiman merangkap Menteri dalam dan luar negeri) merangkap Wakil Kepala Pemerintahan. Sementara satu lagi Said Abdullah Teungku Di Meulek diangkat sebagai Wazir Rama Setia (Sekretaris Negara) merangkap Wakil Panglima Besar Angkatan Perang dengan pangkat Letnan Jenderal Tentara Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabinet perang ini dilantik oleh sulthan pada Minggu 1 Muharram 1290 Hijriah (1873 masehi). Mereka dilantik dan disumpahkan di dalam Mesjid Istana Baiturrahim. Upacara pengambilan sumpah dipimpin oleh Kadli Mu’adhdham Syeh Marhaban bin Haji Lambhuk. Ia berdiri menghadap ketiga pemimpin kabinet perang itu, mengangkat kitab suci Al Quran ke atas kepala mereka. Kadli Mu’adhdham Syeh Marhaban bin Haji Lambhuk kemudian membaca sumpah yang diikuti oleh ketiga pemimpin kabinet perang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isi sumpah itu.&lt;br /&gt;
“Kami bersumpah, bahwasanya kami tiga orang sekali-kali tidak mau tunduk di bawah kekuasaan Holanda, dengan menyerah diri takluk di bawah kekuasaan siteru. Maka barang siapa dalam tiga orang yang tersebut namanya dalam surat istimewa ini tunduk dan takluk ke bawah kekuasaan Holanda, maka ke atasnya kutuk Allah sampai pada anak cucunya masing-masing.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Naskah sumpah itu kemudian dicatat dalam sarakata Baiat Kerajaan, bertulis tangan dengan huruf Arab dan disimpan oleh Wazir Rama Setia sebagai dokumen baiat Kerajaan Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai pengambilan sumpah, maka kabinet perang mengeluarkan maklumat kepada seluruh Uleebalang dan rakyat Aceh. Maklumat itu disampaikan oleh Wakil Panglima Perang Said Abdulah tanggal 1 Muharram 1290 H (1873 M). Maklumat itu berjudul “Surat Nasehat Istimewa Keputusan Kerajaan Melawan Holanda.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maklumat tersebut dicatat dalam sarakata nasehat kerajaan. Isinya.&lt;br /&gt;
“Bismillahir Rahmaanir Rahiim. Bahwa hamba memberi nasehati tuan-tuan atas nama Kerajaan Aceh beserta ahli waris kerajaan, dengan alim ulama dan rakyat Aceh khususnya, dan rakyat bawah angin umumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai tuan-tuan sekalian, hamba memberi perintah hari ini, bahwa sekalian tuan-tuan kita semuanya, bersiap siap dengan apa senjata saja yang ada pada kita masing-masing, karena kita semuanya akan menghadap bahaya maut yaitu dua perkara: pertama menang, kedua syahit, ketiga tidak ada sekali-kali yaitu menyerah kalah kepada Holanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingatlah tuan-tuan, di sini hamba beri pernyataan dengan sahih sah muktamad, bahwa bangsa Holanda sudah duaratus limapuluh tahun menjajah negeri bawah angin di luar kita Aceh, sejengkal tanah Aceh jangan kita beri kepada musuh kita bersama, yaitu Holanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka barang siapa yang menyerah kepada Holanda dengan sebab tidak ada masyakkah, maka Holandalah ia. Maka orang seperti itu telah menjadi musuh Allah dan musuh Rasul dan musuh negeri dan musuh kerajaan. Maka tiap-tiap musuh seperti yang hamba sebut itu walau siapa-siapa, berhak kita bunuh sidurhaka itu, jangan kita sayang pada sibangsat itu. Kalau kita sayang pada sibangsat itu, negeri kita Aceh alamat binasa, sengsara, huruhara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersatulah kita semuanya, melawan Holanda bangsa barat yang hendak merebut menjajah negeri kita Aceh. Jangan tuan-tuan ngeri dan takut, kita orang Islam wajib berperang melawan musuh dengan apa senjata yang ada pada kita masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka barang siapa yang tuan-tuan dan hulubalang-hulubalang memihak berdiri kepada Holanda dengan sengaja, yang tidak ada masyakkah, maka Insya Allah Ta’ala akan datang pada suatu zaman yang kebili keubilui anak cucu tuan-tuan muntah darah dan dimandikan dengan darah oleh rakyat sendiri masing-masing, walau besar walau kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingatlah wahai sekalian tuan-tuan Hulubalang yang khadam negeri, mulai dahulu sampai sekarang hingga akan datang, bahwa tiap-tiap orang ada jabatan mengurus negeri dan mengurus rakyat, yaitu memelihara rakyat dengan menyuruh makruf dan mencegah mungkar, dan sekalian rakyat jangan tuan-tuan perbudakkan, dan sekalian rakyat bukan buat tuan-tuan hulubalang, tapi tuan-tuan yang hulubalang semuanya, timur barat tunong baroh, buat rakyat, yaitu menjaga mengurus dengan sempurna, supaya rakyat cinta kasih lahir batin pada sekalian tuan-tuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai sekalian tuan-tuan, bahwa rakyat itu seperti air sungai yang sangat luas lagi dalam, dan pucuknya dalam rimba gunung yang bercabang-cabang. Jika satu kali turun hujan besar, semua turun air ke dalam sungai, maka jadi banjirlah mengamuk air ke mana-mana, maka binasalah sekalian tanaman, apa-apa yang ada semuanya sudah tenggelam dengan air…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku Keumalahayati, begitu tegas dan patriotiknya isi sumpah dan maklumat itu. Kabinet perang menyerukan semangat jihat fi sabilillah untuk melawan Belanda. Pun juga cucuku, kabinet perang menegaskan kepada para uleebalang agar tetap bersama rakyat bahu membahu melawan Belanda. Bila ada uleebalang yang memihak Belanda atau membantunya masuk ke Aceh, maka uleebalang itu adalah musuh bersama, musuh rakyat Aceh, keturunannya kelak akan kacau balau dan mati bersimbah darah bila ingkar terhadap sumpah kerajaan dan mangkir dari kewajiban jihat melawan Belanda. Ini pula yang kelak terjadi cucuku, yang membuat Aceh tak pernah aman dari konflik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah maklumat kabinet perang itu disampaikan ke seluruh pelosok negeri, rakyat berduyun-duyun menuju pantai untuk menghadapi kedatangan Belanda. Para panglima perang di setiap wilayah menyiapkan kader-kadernya untuk menghadapi ancaman perang dari Belanda. Para pemuda direkrut dan dengan suka rela memperkuat barisan tentara kerajaan. Dalam tempo singkat angkatan perang Aceh bertambah banyak. Dan perang besar tak lama lagi memang akan terjadi, perang yang memberi tamparan bagi kecongkakan Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada pada Senin 10 Muharram 1290 Hijriah (1873 Masehi) Sultan Alaiddin Mahmud Syah kembali memimpin musyawarah penting di dalam mesjid Istana Baiturrahim. Musyawarah itu dihadiri oleh para uleebalang dan para panglima. Dalam musyawarah tersebut sultan menjelaskan bahwa keadaan Aceh sudah sangat genting, surat menyurat dengan pemerintah Hindia Belanda semakin tegang. Mungkin dalam satu dua bulan ke depan Belanda akan menyerang Aceh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendapat penjelasan seperti itu, maka para uleebalang dan para panglima diminta untuk mempersiapkan pasukan di wilayah masing-masing untuk menghadapi serangan Belanda yang sewaktu-waktu bisa datang untuk memerangi Aceh. Perang yang akan digelorakan kali ini bukanlah sembarangan perang cucuku, perang kali ini adalah perang demi martabat Aceh. Ini resmi perang kerajaan yang ditandai dengan surat Sulthan Alaiddin Mahmud Syah yang berisi perintah untuk melawan Belanda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat perintah itu dikeluarkan pada 1 Muharram 1290 Hijriah (1873 Masehi) setelah melantik kabinet perang yang dikepalai oleh Tuanku Hasyim Banta Muda sebagai Panglima Besar Angkatan Perang Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sultan menyadari akan bahaya yang ditimbulkan dari ancaman perang oleh Belanda. Ia pun memberi penjelasan tentang hal itu kepada kabinet perang bentukannya. Setelah penjelasan itu diberikan, maka Wazir Rama Setia/ Wakil Panglima Besar, Letnan Jendral Said Abdullah Teungku Di Meulek membacakan surat perintah yang berisi pemberitahuan kepada uleebalang seluruh Aceh untuk menjaga pantai Aceh dari serangan Belanda, mulai dari Kuala Gigieng dan Ladong, Kampung Pande Meunasah Kandang, Kuta Reuntang, Kuta Aceh, Pante Pirak, Babah Krueng dari Beurawe dan Gunung Kesumba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tiap tempat tersebut jangan tuan-tuan tinggalkan. Kalau tuan tinggalkan tempat tersebut, salah satu tempat itu, maka musuh Holanda senang saja menyerang kita Aceh,” Perintah Sultan Alaiddin Mahmud Syah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam surat itu Sultan juga meminta kepada rakyat Aceh untuk saling bantu membantu dalam usaha melawan Belanda yang akan menyerang Aceh. &lt;br /&gt;
“Jangan tuan-tuan berkhianat kepada Agama Islam, durhaka kepada Allah dan Rasul, durhaka kepada kerajaan dan tidak setia kepada neger dan bangsa,” lanjut Sultan dalam suratnya. Sultan juga memerintahkan untuk menghukum mati siapa saja yang memihak atau membantu Belanda (Holanda) dalam usahanya untuk menaklukkan Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian cucuku, setelah memastikan bahwa Belanda akan benar-benar menyerang Aceh, maka Sulthan kembali mengadakan musyawarah besar di Mesjid Baiturrahman yang terletak di tengah-tengah ibu kota kerajaan Aceh. Hadir dalam musyawarah itu para ulama besar seluruh Aceh, para uleebalang, para panglima, para imam, para imum mukim, keujruen dan pembesar kerajaan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Sulthan mejelaskan bahwa kerajaan telah bertekat bulat tidak akan tunduk pada Belanda, maka Wazir Rama Setia yang merangkap Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Aceh, Letnan Jendral Said Abdullah Teungku Di Meulek membacakan sarakata pernyataan perang. Sarakata tersebut bertanggal Kamis 20 Muharram 1290 Hijriah (1873 Masehi).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu bagian isi sara kata tersebut adalah: &lt;br /&gt;
“…Dan sampaikan amanah hamba kepada seluruh rakyat Aceh, timu barat, tunong baroh, tuha muda, kaya dan miskin hendaklah melawan Holanda, jangan berhenti-henti dengan apa saja, yaitu perkataan, perbuatan, senjata, khusus rakyat Aceh dan umumnya rakyat bawah angin, jangan takut, jangan ngeri. Kita berperang dua menghadap maut, yaitu syahid, kedua menang, ketiga tidak ada sekali-kali yaitu kalah dengan menyerah diri kepada Holanda…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada bagian surat lainnya Sultan Aceh kembali meminta dengan tegas agar terus melawan Belanda dan tidak pernah tunduk apalagi menyerah kepada Belanda. &lt;br /&gt;
“…Maka itulah wahai sekalian hulubalang Pidie semuanya, dan sekalian hulubalang Pase semuanya, Aceh Timu semuanya dan sekalian hulubalang Aceh Tengah semuanya dan sekalian hulubalang Aceh Barat semuanya, dan sekalian hulubalang Aceh Selatan semuanya, datok dan keujruen dan sekalian rakyat pada masing-masing tempat daerah tersebut, hendaklah pada sekalian tuan-tuan mengikuti menurut melawan Holanda berganti-ganti sehingga berhenti Holanda musuh kita, tidak lagi duduk di atas bumi negeri Aceh khususnya dan bumi bawah angin umumnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku Keumalahayati, dari surat-surat yang dikelurakan oleh Sultan Alaiddin Mahmud Syah itu jelas bahwa kerajaan Aceh telah mengadakan persiapan yang matang untuk menghadapi Belanda. Rakyat Aceh diajak untuk menyumbangkan harta benda, tenaga dan nyawa untuk menghalau Belanda masuk ke Aceh. Untuk memberikan contoh pada rakyat, maka para petinggi Kerajaan Aceh terlebih dahulu menyumbangkan hartanya untuk digunakan dalam perang melawan Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu, Wazir Rama Setia/Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Aceh, Letnan Jendral Said Abdullah Teungku Di Meulek menyumbang 16 kilogram emas dan 4.700 riyal untuk biaya perang. Sumbangan itu diberikan pada bulan Rabiul Awal 1290 Hijriah (1873 Masehi) dan dicatat dalam sarakata risalah sedekah bertulis tangan huruf Arab, yang kemudian menjadi dokumen kerajaan peninggalan Wazir Rama Setia Kerajaan Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;Dikutip dari :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;http://iskandarnorman.blogspot.com&lt;/span&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/01/sumpah-kerajaan-aceh-2.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhd2GChz11R4JT0vSU6kDnu1AeyhXDtcrIlT7UUGKlme3mCDeG7VfMfkK-o7OVAzTSwt67pvKk3peww8LYyubLmMSkPj3FBHs6YJ4yyqIr1iy2u8cLop2Ab061pa8_b9yAodT8sGWuGNxzq/s72-c/PETA+KERAJAAN+ACEH+DULU+SEKALI.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-4683674487187264639</guid><pubDate>Sun, 16 Jan 2011 04:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-16T11:41:53.391+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah Perang Aceh</category><title>Sumpah Kerajaan Aceh (1)</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6jffM3OXSy_3ohLDx_Uv4JdWGyv6MpP9KMqGxG8Yb_1gRnClvJccZNXmfBzCvES-iYl2NHtVfquO2HjaRlY6gGQf1qNdqEUutNFJ-KpVBxPRTE9vuXzk2bpioJ7a8T4S_9Qv4MmAuxzQq/s1600/s1.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="146" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6jffM3OXSy_3ohLDx_Uv4JdWGyv6MpP9KMqGxG8Yb_1gRnClvJccZNXmfBzCvES-iYl2NHtVfquO2HjaRlY6gGQf1qNdqEUutNFJ-KpVBxPRTE9vuXzk2bpioJ7a8T4S_9Qv4MmAuxzQq/s200/s1.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Raja boleh berganti dan kabinetnya boleh dirombak, tapi keteguhan sikap Kerjaan Aceh terhadap Belanda tidak pernah berubah. Aceh benar-benar seperti karang yang kekar dihantam gelombang. Hempasannya boleh saja membasahi, tapi ombak itu akan pecah menjadi buih dan terseret kembali ke tempatnya, tanpa mampu mengoyahkan kekokohan karang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah Aceh yang dulu bersikap damai dalam diplomasinya dengan Belanda, kini Belanda datang sebagai gelombang yang ingin menghempas&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
dan membuat Aceh basah kuyup dengan hempasannya. Tapi bagi Aceh yang sudah kepalang basah mengambil sikap penolakan terhadap Belanda, akan menghadapinya dengan jantan. Gelombang tak akan mampu menakutkan orang yang sudah basah kuyup.&lt;br /&gt;
Gelombang itu adalah Belanda yang akan siap-siap masuk ke Aceh dengan angkatan perangnya. Namun sebelum serangan itu dilakukan Belanda beberapa kali menggertak Aceh dengan surat-surat ancamannya. Surat yang kemudian dijawab dengan santun namun tegas oleh Sulthan Aceh, Alaiddin Mahmud Syah. Cucuku Keumalahayati, kamu boleh cek surat-surat itu mungkin di arsip lama surat menyurat Gubernemen Hindia Belanda, itu mungkin tersimpan di Leiden atau bisa jadi di pusat dokumen nasional Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada 1 April 1873, ribuan rakyat Aceh sudah mengasah pedang dan rencong, mereka berjaga-jaga di sepanjang pantai mulai dari Ulee Lheue sampai Kuala Tari. Sementara di kejauhan di tengah Selat Malaka, beberapa kapal berbendera Belanda melepaskan jangkar. Namun mereka tak berani merapat ke daratan. Hanya setengah lusin pria berseragam militer yang turun ke darat dengan sebuah sekoci dayung. Mereka membawa bendera putih, dan terus mendayung hingga sekocinya mencium pasir di Pante Ceureumen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekelompok pemuda Aceh dengan bertelanjang dada dan hanya menggenakan celana panjang hitam yang berbalut kain selutut, menghampirinya. Mereka tampak sangar dengan pedang dan siwah&amp;nbsp; di tangan. Mereka menangkap sekoci dan penumpangnya itu. Mendapat perlakukan seperti itu, si Belanda hanya angkat tangan sambil mengangkat tinggi-tinggi bendera putih seukuran kain sarung. Seorang lagi memperlihatkan selembar kertas tebal dan kasar bergulung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat gelagat seperti itu, seorang pemuda keluar dari bawah rimbun pohon cemara dan menghampiri mereka.&lt;br /&gt;
“Mereka mau berdamai, tanya sama si Belanda itu apa maksudnya?” kata pemuda itu.&lt;br /&gt;
Belum sempat ditanya, si Belanda menyerahkan kertas berbalut yang dibawanya. Ia hanya berkata singkat.&lt;br /&gt;
‘Sulthaan..sulthaann,..sulthaann,” katanya dengan logat sengaunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pemuda itu pun mengerti bahwa itu surat untuk Sulthan Aceh. Keenam Belanda itu dibawa berteduh di bawah pohon kelapa dan cemara. Mereka diawasi dengan senjata terhunus oleh pemuda-pemuda Aceh di pantai itu. Seorang pria lebih tua kemudian mengambil surat itu. Ia bergegas menunggangi kuda, membelah semak dan jalan setapak. Dua pria lainnya yang juga menunggang kuda mengikutinya dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penduduk sepanjang kampung pantai itu memperhatikan laju kuda yang tak biasa itu. Kalau pun ada patroli tentara kerajaan derap kuda tak sekencang itu. Pasti ada yang tidak beres. Penduduk sepanjang panta mulai cemas, apa lagi setelah desas-desus kedatangan Belanda jadi pembicaraan sejak sepekan sebelumnya. Melihat tingkah para pemuda yang siap-siap dengan pedang terhunus menuju pinggiran pantai, warga sudah mahfum, bahwa petaka itu sudah datang, dan perang akan berkecamuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga kuda itu terus melaju kencang, derap kakinya meninggalkan debu yang berterbangan di jalan masuk ke pusat kerajaan. Sampai di gerbang istana Darud Donya mereka memarkirkan kudanya dan dengan langkah cepat masuk ke alun-alun kerajaan. Surat itu diserahkan kepada seorang perempuan bertubuh tegap. Ia Laksamana dari divisi keumala cahaya yang bertugas sebagai komandan pasukan perempuan penjaga istana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga pemuda dari pantai itu istirahat di balai-balai di bawah pohon rindang di perkarangan istana sambil menikmati suguhan air kelapa dan buah-buah segar dari pengawal istana. Mereka benar-benar kelelahan, butir-butir peluh mengalir di dahinya. Sementara belasan perempuan pengawal istana hilir mudik di sudut-sudut taman, mereka nampak banyak diam dan berada di ring pertama istana, sementara pria-pria terlatih berbadan kekar ada di ring kedua di alun-alun istana terus sampai ring tiga di gerbang. Begitulah seterusnya pengamanan berlapis dilakukan untuk menghadapi ancaman terburuk dari kedatangan Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara di dalam istana, Sultan Alaiddin Mahmud Syah sedang memimpin rapat bersama para wazirnya (menteri). Melihat kedatangan laksamana divisi keumala cahaya itu, ia menghentikan sejenak rapatnya. Setelah membungkuk memberi salam dan hormat, laksamana itu menyerahkan surat yang dibawa dari pantai setelah oleh tiga pria berkuda kepada Sultan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menggangam erat-erat surat ujung surat itu dan membacanya dalam hati. Ia kemudian meremasnya. Para wazir penasaran dengan sikap Sulthan, mereka bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi.&lt;br /&gt;
“Holanda kembali mengancam kita,” katanya singkat. Orang Aceh menyebut Belanda dengan sebutan Holanda.&lt;br /&gt;
Sulthan bangun dan berdiri di hadapan para wazirnya itu.&lt;br /&gt;
“Mereka terlalu congkak, sebelum Holanda itu sampai ke pesisir, siapkan penyambutan dengan meriam dan kelewang. Biar mereka tahu bahwa kita tidak sama dengan Jawa yang bisa dipermainkannya. Atas nama Allah dan nabi-Nya kita akan hadapi Holanda itu.” tegas Sultan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sulthan Alaiddin Mahmud Syah benar-benar marah dengan surat ancaman Belanda itu, tapi seorang wazir yang bijaksana kemudian meminta Sulthan agar menjawab surat itu dengan santun. Sulthan menerima saran wazirnya itu. Ia pun meminta Wazir Rama Setia selaku Sekretaris Kerajaan untuk menulis konsep surat balasan kepada Belanda. Setelah beberapa kali perbaikan naskah, Sulthan menyetujui dan menerakan cap stempel kerajaan di surat itu atas namanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bagian akhir surat balasan itu Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menulis.&lt;br /&gt;
“…kita hanya seorang miskin dan muda, dan kita sebagai juga Gubernemen Hindia Belanda berada di bawah perlindungan Tuhan yang maha kuasa. (Sulthan Alaiddin Mahmud Syah—1 Safar 1290 Hijriah / 1 April 1873 Masehi)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat itu diserahkan kembali kepada laksamana&amp;nbsp; selaku kepala divisi keumala cahaya, yang kemudian diteruskan kepada tiga pemuda berkuda untuk membawanya ke pantai sebagai balasan kepada Belanda. Tiga pemuda itu terus memacu kudanya menuju pantai. Sepanjang jalan terdengar terikan “Allahu Akbar..” dari para penduduk yang dilewatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat itu kemudian diberikan kepada seorang panglima yang memimpin ratusan pemuda di pantai itu. Ia membawanya kepada setengah lusin Belanda yang ketakutan di bawah pohon cemara. Setelah diberikan surat itu, kawanan Belanda itu berlayar kembali dengan sekoci dayungnya kembali ke kapal yang berlabuh jauh di lepas pantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat menyurat antara Belanda dan Sultah Aceh itu sudah berulang kali terjadi. Pihak Aceh tetap menolak untuk tunduk pada kekuasaan Belanda dengan segala risikonya. Bahkan dalam surat jawabannya, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menegaskan bahwa Aceh statusnya sebagai kerajaan berdaulat sama juga dengan Gubernemen Hindia Belanda, yang sama-sama berada di bawah perlindungan tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penolakan halus Sulthan Aceh itu membuat Belanda berang dan berencana untuk melancarkan serangannya ke Aceh. Menyadari bahaya semakin dekat, Sultan Alaiddin Mahmud Syah menggelar musyawarah kerajaan pada 10 Zulkaidah 1288 Hijriah (1872 Masehi) di dalam Mesjid Baiturrahim Darud Dunia. Dalam musyawarah itu hadir para ulama besar, menteri dan uleebalang seluruh Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada para wazir, ulama dan uleebalang, Sulthan Alauddin Mahmud Syah menjelaskan tentang bahaya yang sedang mengancam Aceh, yakni armada militer Belanda yang sudah berada di Selat Malaka. &lt;br /&gt;
“Holanda, imperialis itu akan datang menyerang kita, maka ini hari saya permaklumkan rapat kerajaan membahas sikap penentangan kita dan mengatur siasat untuk menghadapinya,” kata Sulthan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rapat itu berjalan alot, para ulama dengan tegas mendukung sikap sulthan yang akan melawan Belanda, sikap yang sama juga ditunjukkan pada wazir selaku menteri kerajaan. Hanya kelompok uleebalang yang agak ragu, namun karena ulama bersama wazir sudah sependapatan, mereka akhirnya juga menyetujui untuk berperang melawan Belanda. Namun, kelak para uleebalang itu ada yang ingkar dengan membuka pintu dialog dengan Belanda, tentang itu cucuku Keumalahayati, akan kuceritakan nanti ketika sampai pada kisah pengkhianatan yang sampai sekarang belum mau diungkapkan oleh sejarawan manapun. Hasymi mengaku tahu tentang itu, tapi ia juga tak berani mengungkapkan pengkhianatan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, rapat kerajaan yang dipimpin Sulthan Alaiddin Mahmud Syah itu melahirkan keputusan akan melakukan perang total kalau Belanda menyerang Aceh. Sebagai tanda kesepakatan tekat tersebut, mereka yang mengikuti rapat kerajaan itu mengucapkan sumpah. Sumpah itu dipimpin oleh seorang ulama besar, Kadli Mu’adhham Mufti Besar Kerajaan Aceh, Syekh Marhabab bin Haji Muhammad Saleh Lambhuk dan disaksikan oleh para alim ulama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para wazir kerajaan bersama uleebalang dan petinggi kerajaan berbaris dalam aula kerjaan, mereka berdiri sejajar dalam beberapa barisan. Syeh Marhaban berdiri agak ke depan di ujung kanan menghadap mereka sambil mengangkat kitab suci Al Quran dengan kedua tangannya&amp;nbsp; melewati kepala. Sumpah kerjaaan Aceh pun diucapkannya dan diikuti dengan suara gemuruh oleh para wazir dan uleebalang. Sumpah itu berbunyi:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Demi Allah, kami sekalian hulubalang khadam Negeri Aceh, dan sekalian kami yang ada jabatan masing-masing kadar mertabat, besar kecil, timur barat, tunong baroh, sekalian kami ini semuanya, kami thaat setia kepada Allah dan Rasul, dan kami semua ini thaat setia kepada Agama Islam, mengikuti Syariat Nabi Muhammad Saw, dan kami semua ini thaat setia kepada raja kami dengan mengikuti perintahnya atas yang hak, dan kami semuanya cinta pada Negeri Aceh, mempertahankan dari pada serangan musuh, kecuali ada masyakkah, dan kami semua ini cinta kasih pada sekalian rakyat dengan memegang amanah harta orang yang telah dipercayakan oleh empunya milik. Maka jika semua kami yang telah bersumpah ini berkhianat dengan mengubah janji seperti yang telah kami ikral dalam sumpah kami semua ini, demi Allah kami semua dapat kutuk Allah dan Rasul, mulai dari kami semua sampai pada anak cucu kami dan cicit kami turun temurun, dapat cerai berai berkelahi, bantah dakwa-dakwi dan dicari oleh senjata mana-mana berupa apa-apa sekalipun. Wassalam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, isi sumpah ini kemudian dicatat dan dimasukkan dalam sarakata Baiat Kerajaan, bertulis tangan dengan huruf Arab. Dokumen sumpah itu kemudian disimpan oleh Wazir Rama Setia selaku Sekretaris Kerajaan Aceh, Said Abdullah Di Meuleuk, yang kemudian disimpan secara turun temurun oleh keturunannya. Cucuku, kalau kamu ingin melihat foto kopi naskah sumpah kerajaan Aceh itu, pulanglah kamu ke Aceh sayang, kakek akan membawamu ke Pustaka Hasjmy, karena di sana ada foto kopinya. Tapi sebelumnya, kusarankan padamu untuk belajar bahasa Arab, karena naskahnya ditulis dengan aksara Arab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, Keumalahayati, begitu tegasnya sumpah kerajaan Aceh itu. Dari isi sumpah itu, kakek bisa melihat bahwa benih-benih pengkhianatan terhadap Kerajaan Aceh dari pihak dalam sudah tumbuh. Coba kamu baca kembali penegasan dari sumpah itu. Sulthan Aceh menyadari akan adanya pembelot di jajarannya, maka ia mengikat sumpah itu, jika ada yang berkhianat terhadap sumpah tersebut, mereka akan dikutuk oleh Allah dan Rasul sampai kepada cucunya turun temurun. Dan itulah yang kemudian terjadi sampai hari ini di Aceh. Karena segolongan orang mengkhianati sumpah itu, generasi mereka di Aceh tercerai berai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;Dikutip dari &lt;/u&gt;:&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;http://iskandarnorman.blogspot.com&lt;/span&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/01/sumpah-kerajaan-aceh-1.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6jffM3OXSy_3ohLDx_Uv4JdWGyv6MpP9KMqGxG8Yb_1gRnClvJccZNXmfBzCvES-iYl2NHtVfquO2HjaRlY6gGQf1qNdqEUutNFJ-KpVBxPRTE9vuXzk2bpioJ7a8T4S_9Qv4MmAuxzQq/s72-c/s1.JPG" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-8410602274928601053</guid><pubDate>Sun, 16 Jan 2011 04:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-16T11:43:05.902+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah Perang Aceh</category><title>Ketegangan di Selat Malaka (2)</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjF1O1v7jPPMgY7SScWF_wDHB_rBOnN53j9fxW43rMXk6YDQJwkeC6AwQ99THABxNF_EQeGBhCszgFwUewoA0MlK6HW1dN83r0mk0I0kr8pdpaKqdZp8zlmGrIqWiw3YDkpjNQrXtjVN4X-/s1600/dalamplattegrond+%2528Floor+plan+of+the+dalam%252C+directly+after+the+conquest+by+the+Dutch+forces+in+1873%2529.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjF1O1v7jPPMgY7SScWF_wDHB_rBOnN53j9fxW43rMXk6YDQJwkeC6AwQ99THABxNF_EQeGBhCszgFwUewoA0MlK6HW1dN83r0mk0I0kr8pdpaKqdZp8zlmGrIqWiw3YDkpjNQrXtjVN4X-/s1600/dalamplattegrond+%2528Floor+plan+of+the+dalam%252C+directly+after+the+conquest+by+the+Dutch+forces+in+1873%2529.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Cucuku Keumalahayati, ketegangan di laut itu juga pernah dialami Aceh di bagian barat selatan, ketika Kuala Batu digempur oleh angkatan laut Amerika. Ya.. Amerika negeri adi daya itu juga pernah berurusan dengan Aceh. Sejak tahun 1789, Aceh sudah menjalin hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Kapal-kapal dari Amerika datang untuk memuat lada yang kemudia diangkut ke Amerika Serikat, Eropa dan Cina. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu, setiap tahun rempat-rempah dari Aceh diangkut oleh maskapai dagang Amerika sekitar 42.000 pikul setara dengan 3.000 ton. Namun Amerika tidak melakukannya di pelabuhan Aceh sebelah Selat Malaka, mereka melakukan kontak dagang di Pelabuhan Kuala Batu Susoh di sebelah barat selatan Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Tapi lama kelamaan, karena harga lada di pasar internasional merosot, jumlah kapal Amerika yang datang ke pelabuhan Aceh mulai menurun. Di antara kapal yang datang dalam masa kemerosotan ekonomi itu adalah kapal Friendship milik Silsbee, Pickman, dan Stone di bawah pimpinan nakhoda Charles Moore Endicot, seorang mualim yang&amp;nbsp; sering membawa kapalnya ke Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada 7 Februari&amp;nbsp; 1831 kapal tersebut berlabuh di pelabuhan Kuala Batu, Aceh Selatan. Ketika Endicot dan anak buahnya berada di daratan, tiba-tiba kapal tersebut dibajak oleh sekelompok penduduk Kuala Batu. Akan tetapi, dapat dirampas kembali oleh kapal-kapal Amerika yang kebetulan saat itu berada di perairan Kuala dengan kerugian sebesar US $ 50.000 dan tiga anak buahnya terbunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, peristiwa itu kemudian menimbulkan sejumlah tanda tanya. Pasalnya, selama setengah abat menjalin hubungan dagang belum pernah terjadi perompakan seperti itu. Pirasat poltik bangsa Aceh menilai ada beberapa hal yang ganjil dari peristiwa itu. pertama, bangsa kita sudah pandai dan tak mau ditipu oleh pihak Amerika. Ya…cucuku, Amerika mencoba mengelabui timbangan dalam perdagangan lada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu diketahui suatu ketika berat lada yang dibeli dari Aceh 3.986 pikul tapi ketika dijual kembali oleh Amerika beratnya menjadi 4.583 pikul. Hal itu dilakukan melalui pemalsuan takaran timbangan. Mereka melakukannya melalui sebuah sekrup yang dapat dibuka di dasar timbangan yang berbohot 56 lbs., diisi 10 atau 15 pon timah sehingga dalam satu pikul lada orang Aceh dikecoh sebanyak 30 kati. Begitu liciknya Amerika itu cucuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun itu satu sebeb, tapi ada sebab lain yang ingin kuungkapkan padamu cucuku, supaya nanti ketika kakek sudah tak lagi mampu menceritakaannya, kakek bisa tenang karena sudah menyampaikannya padamu, untuk kemudian kamu sampaikan lagi kepada generasi kita agar mereka tak lupa pada sejarah pahit bangsanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, perompakan kapal Amerika itu terjadi juga akibat provokasi Belanda. Mereka iri pada Amerika yang telah berhasil menguasai perdagangan lada di pantai barat – selatan Aceh, sementara Belanda di Selat Malaka tidak pernah mampu masuk ke Aceh secara penuh untuk tujuan dagang dan penjajahannya. Politik Belanda itu kotor, mereka ingin merusak nama baik kerajaan Aceh di mata dunia dengan tuduhan bajak laut, mereka ingin menyampaikan pada dunia bahwa Aceh tidak lagi mampu melindungi kapal-kapal asing yang berlabuh di perairannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun kerjaan Aceh membantah hal itu kepada para pedagang asing dan dunia internasional dengan memberi penjelasan bahwa perompakan itu ditunggangi Belanda. Belanda sengaja mempersenjatai sebuah kapal Aceh yang dirampasnya. Kapal itu dinahkodai oleh seorang suruhan Belanda yang bernama Lahuda Langkap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat merompak kapal Friendship milik Amerika di Kuala Batu pada 7 Februari 1831, Lahuda Langkap dan anak buahnya yang dibayar Belanda dalam perampokan itu menggunakan bendera Kerajaan Aceh. Itulah Lahuda Langkap, orang Aceh pertama yang menjadi boneka Belanda di Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, peristiwa itu kemudian tersiar luas di Amerika Serikat. Dan menjadi semakin jelas ketika kapal tersebut tiba kembali di pelabuhan Salem pada tanggal 16 Juli 1831. Senator Nathanian Silsbee, salah seorang pemilik kapal Friendship dan Partai Whip (Partai Republiken) yang beroposisi terhadap pemerintahan Presiden Jackson, sekaligus seorang politikus yang sangat berpengaruh pada masa itu, langsung menyurati Presiden Jackson pada tanggal 20 Juli 1831. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Silsbee&amp;nbsp; meminta agar Pemerintah Amerika menuntut ganti rugi atas pelanggaran yang dilakukan oleh penduduk Kuala Batu terhadap kapal Friendship. Ia juga menyampaikan petisi yang ditandatangani oleh seluruh pedagang Salem kepada Pemerintah Amerika Serikat. Isinya, meminta agar dikirimkan&amp;nbsp; kapal perang ke perairan Aceh untuk menuntut ganti rugi dan penguasa yang bertanggung jawab atas Kota Pelabuhan Kuala Batu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu cucuku, pemilik kapal Friendship yang lain, Robert Stones, bersarna dengan Andrew Dunlop dan salah seorang sahabatnya yang dekat dengan Presiden Jackson, meminta kepada Menteri Angkatan Laut, Levy Woodbury, agar mendesak Presiden Jackson mengirim kapal perang ke Kuala Batu. Silsbee sendiri secara pribadi menulis surat kepada Woodbury, menggambarkan betapa besar keresahan yang ditimbulkan oleh peristiwa Kuala Batu di kalangan pedagang-pedagang Salem.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Pemerintah Amerika sebelum menerima imbauan dari Senator Silsbee telah memutuskan akan mengambil tindakan terhadap pelanggaran atas kapal Friendship di Kuala Baru itu. Setelah membaca peristiwa itu dalam surat-surat kabar, Woodbury segera memerintahkan agar disiapkan segala keperluan untuk menuntut ganti rugi atas pelanggaran tersebut. Inilah petaka bagi Aceh cucuku, dari ulah provokasi Belanda, Amerika akan datang ke Aceh dengan kapal perannya untuk menuntut balas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum menerima surat dar Silsbee, Woodbury telah mengadakan konsultasi dengan Presiden Jackson pada tanggal 21 Juli 1831. Tujuannya, mendapatkan persetujuan Presiden atas surat yang akan dikirim kepada Silsbee. Isi surat ini meminta informasi mengenai peristiwa Kuala Batu. Selain itu, juga dalam rangka memberi tahu Presiden bahwa dia sedang mempersiapkan eskader Pasifik untuk melaksanakan suatu tugas di Sumatra.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Ketika Presiden Jackson menerima imbauan Silsbee, tanpa ragu-ragu segera mendukung dengan membubuhi disposisi singkat dalam surat tersebut, isinya, meminta agar kasus Kuala Batu menjadi perhatian, serta kalau diangap perlu pemerintah Amerika melalui Menteri Angkatan Laut harus mengeluarkan surat perintah kepada Kapten kapal Potomac.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aceh benar-benar akan digempur oleh Amerika cucuku. Tahukah kamu bahwa Potomac itu merupakan kapal perang terbaik dalam armada Amerika Serikat waktu itu. Ketika kasus Kuala Batu jadi pembicaraan di Amerika, kapal tersebut sedang dalam persiapan membawa Menteri Luar Negeri Amerika Van Buren ke Inggris. Akan tetapi atas perintah Presiden Jackson kapal itu dialihtugaskan untuk berangkat ke Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tanggal 9 Agustus 1831, Komodor John Downes, selaku kapten Potomac diberi instruksi yang lengkap mengenai segala tindakan yang harus dilakukan sesampainya di Kuala Batu. Pertama-tama dia harus mencari informasi lebih dahulu mengenai insiden di Kuala Batu. Apabila informasi yang diperoleh sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh kapten kapal Friendship di Washington maka dia harus menuntut ganti rugi atas kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang Aceh terhadap kapal Friendship. Kalau tuntutan itu tidak dipenuhi, dia harus menangkap pelaku-pelaku kejahatan tersebut dan membawa mereka ke Amerika Serikat untuk diadili sebagai bajak laut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perintah lainnya, benteng-benteng di Kuala Batu harus dimusnahkan. Sebaliknya, bila informasi yang diperoleh di Kuala Batu berbeda dengan keterangan Kapten Kapal Friendship, maka Amerika hanya meminta ganti rugi serta menghukum pelakunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, Pada 29 Agustus 1831, kapal Potomac berangka dari New York ke Aceh dengan membawa 260 marinir. Sebelum sampai di Kuala Batu Komodor John Downes kapten kapal tersebut melakukan penyimpangan terhadap instruksi Menteri Angkatan Laut Amerika yang diterimanya. Ia terpengaruh dengan cerita yang didengarnya dan kapten kapal Friendship, Endicot, dan orang-orang Inggris yang dijumpainya di Tanjung Harapan dalam pelayarannya ke Kuala Batu, yaitu bahwa harapan untuk mendapat ganti rugi dan penguasa Kuala Batu tidak mungkin terpenuhi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mengirim Letnan Marinir Shubrick untuk mengamati keadaan di darat, tapi penduduk Kuala Batu tidak terkecob oleh penyamaran yang dilakukan Downes. Mereka lalu berkumpul di pantai untuk menghadapi sesuatu kemungkinan. Mendengar laporan yang demikian dan Shubrick, Downes memerintahkan untuk mendarat dengan kekuatan seluruh anak buah Potomac dan mengepung benteng-benteng yang berada di pantai Kuala Batu serta menangkap pemimpin-pemimpinnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, petaka itu benar-benar terjadi pada subuh 6 Februari 1832, sebanyak 260 orang marinir Amerika di bawah pimpinan Shubrick mendarat di Kuala Batu dan mengepung benteng-benteng yang ada di sana. Namun, karena ada perlawanan maka marinir Amerika membunuh semua yang berada di dalam benteng-benteng, termasuk wanita dan anak-anak serta merampas segala sesuatu yang berharga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melakukan pembunuhan itu, marinir Amerika mengundurkan diri dengan dua orang diantara mereka tewas dan sembilan luka-luka. Downes kemudian memerintahkan menembaki kota pelahuhan Kuala Batu melalui meriam-meriam dari kapal Potomac. Seketika itu pula Pelabuhan Kuala Batu menjadi abu. Amerika benar-benar beringas waktu itu cucuku, sementara pihak Aceh yang merasa tidak bersalah atas perompakan yang memicu perang itu, tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi Amerika. Sulthan Aceh benar-benar tak menyangkan Amerika akan datang dengan armada perangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak juga semua orang Amerika setuju dengan tindakan penyerangan itu. Apa yang dilakukan Downes itu dikecam oleh sebagian politikus Amerika, di antaranya George Bencroft, yang pada waktu penembakan Kuala Batu berada di atas kapal Potomac. Sebagian harian Amerika yang terbit di Washington, seperti harian dagang yang sangat berpengaruh, Nile’s Weekly Register juga mengecam tindakan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakek sudah meminta sahabat kakek di Amerika untuk mencari klipingan koran itu sebagai bukti sejarah cucuku, namun sampai setahun lebih kakek belum mendapatkan jawabannya. Mungkin jika kamu Keumalahayati cucuku punya jaringan ke sana, kamu bisa meminta bantu untuk mencarinya di pusat arsip Amerika. Ini penting cucuku, karena tak banyak yang tahu dengan sejarah serangan Amerika ke Kuala Batu itu, kita harus mengungkapnya demi generasi Aceh kelak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, pada tanggal 23 Juli 1832 seorang anggota DPR Amerika, Henry AS Dearborn dari Partai Republik Massachusetts yang beroposisi, mengajukan sebuah mosi yang meminta agar Presiden Jackson menyampaikan kepada kongres mengenai Instruksi Downes untuk menggempur Kuala Batu, dan laporan tentang peristiwa tersebut. Mosi ini diterima oleh sidang. Pada hari itu juga, Presiden Jackson memenuhi permintaan kongres, tetapi minta agar hal tersebut jangan dipublikasikan sebelum laporan lebih lanjut diterima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sidang Sabtu malam, tanggal 24 Juli 1832, permintaan Presiden itu diperdebatkan. Anggota Dearborn berpendapat bahwa hal tersebut harus dipublikasikan karena bila menutup-nutupi peristiwa tersebut, Downes akan mendapatkan sorotan jelek dari khalayak ramai. Sebaliknya, Ketua Komisi Urusan Angkatan Laut, Michael Hoffman dan Partai Dernokrat New York, menentang pendapat Dearborn dengan suatu amandemen bahwa peristiwa tersebut dapat dipublikasikan, tetapi harus menunggu laporan lebih lanjut.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Tapi kemudian cucuku, dalam amanat tahunannya, Presiden Jackson tidak menyinggung sama sekali peristiwa penggempuran Kuala Batu oleh Potomac yang dipimpin Downes. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa pembakaran Kuala Batu dan pernbantaian penduduknya oleh marinir Amerika telah dipeti-eskan. Namun kita sebagai Bangsa Aceh harus mengungkitnya, agar peristiwa tragis itu dikenang oleh generasi Aceh kelak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi cucuku Keumalahayati, kakek ingin kamu berusaha mendapatkan dokumen lama dari surat kabar Amerika yang memberitakan tentang peristiwa itu yang telah membuat kehebohan di parlemen Amerika. Mungkin kelak dengan apa yang kita ungkapkan hari ini, generasi Aceh masa yang akan datang bisa meminta pertanggungjawaban Amerika Serikat atas peristiwa di Kuala Batu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;Dikutip dari :&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;http://iskandarnorman.blogspot.com&lt;/span&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/01/ketegangan-di-selat-malaka-2.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjF1O1v7jPPMgY7SScWF_wDHB_rBOnN53j9fxW43rMXk6YDQJwkeC6AwQ99THABxNF_EQeGBhCszgFwUewoA0MlK6HW1dN83r0mk0I0kr8pdpaKqdZp8zlmGrIqWiw3YDkpjNQrXtjVN4X-/s72-c/dalamplattegrond+%2528Floor+plan+of+the+dalam%252C+directly+after+the+conquest+by+the+Dutch+forces+in+1873%2529.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-1424891652820904155</guid><pubDate>Sun, 16 Jan 2011 04:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-16T11:25:52.231+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah Perang Aceh</category><title>Ketegangan di Selat Malaka (1)</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiW6jfXWPhn8jSAod3YW_MzRTqfl7o0EAXyQJljSIpy16Nj0SwXZ3sAPWyraTRXM6s7ARjThY4oi3PHJEnECXW-NFfDd59hlD38qkYs-UP2Jp187BhqWJiBflnK3FLpSYggZZmrmdKnhwmY/s1600/grootatjeh.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiW6jfXWPhn8jSAod3YW_MzRTqfl7o0EAXyQJljSIpy16Nj0SwXZ3sAPWyraTRXM6s7ARjThY4oi3PHJEnECXW-NFfDd59hlD38qkYs-UP2Jp187BhqWJiBflnK3FLpSYggZZmrmdKnhwmY/s1600/grootatjeh.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Cucuku Keumalahayati, setelah izin berkunjungmu ke Aceh habis. Dan kau kembali ke Belanda, negeri penjajah itu. Aku masih tak lelap tidur, sebelum semua yang ingin kau ketahui kuceritakan. Ini surat pertamaku untukmu setelah kau meninggalkan Aceh. Sampaikan salamku untuk Ummi Salamah, ibumu. Ucapkan terimakasihku karena selama Hasan hilang dari pendanganku, ibumu telah menjaganya sebagai istri yang baik, yang telah memberikanku dirimu sebagai cucu yang sangat kusayangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keumalahayati, surat ini kutulis pas setelah aku selesai membacakan wirid yasin untuk almarhum ayahmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Semoga Allah menyampaikan pahalanya kepada ayahmu itu, anakku yang hilang yang kemudian kembali dalam sosokmu cucuku. Kali aku ingin menyambung cerita yang terpenggal setelah Inggris merestui Belanda berkuasa di Sumatera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bagian yang krusial dari babak awal jelang meletusnya perang Aceh cucuku. Sejak mengetahui tingkah Inggris seperti itu, Aceh memperketat pengawasan di Selat Malaka dengan armadanya. Hal itu dilakukan karena Belanda ingin merongrong kedaulatan Aceh. Belanda sering mengganggu kapal-kapal niaga yang akan berlabuh dan berangkat dari pelabuhan Aceh. Alasan mereka, memberantas pembajakan dan lalu lintas perdagangan budak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu alasan yang sangat mengada-ngada cucuku. Kita orang Aceh bangsa yang beradap yang tak mengenal istilah perbudakan. Kita orang Islam yang taat pada ajaran nabi, yang ratusan tahun sebelumnya telah menghapuskan perbudakan kaum Jahiliyah. Islam datang untuk pembebasan dan memerdekaan perbudakan. Jadi alasan Belanda itu hanya topeng untuk mengganggu Aceh. Belanda itu belum puas sebelum mereka benar-benar mampu menaklukkan dan mengusai Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu liciknya Belanda itu cucuku, mereka ingin mengganggu perdagangan di pelabuhan Aceh. Sebelum maksud mereka untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah di Selat Malaka terwujud, mereka akan terus mengganggu Aceh. Aceh waktu itu ibarat kata pepatah endatu kita, Aceh rimueng tingoh eh, bangsa nyang areh peunoh agama, meunyo han ek gesaba le, geu tem meumate geubila bangsa. Kamu tentu tahu artinya, Aceh itu harimau tidur, bangsa yang arif dan bijaksana, kalau kesabarannya hilang, dia akan menerkam mangsanya demi harga diri dan agama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, Belanda mengirimkan surat-surat ancamannya kepada Sultan Aceh. Tapi surat-surat itu dengan tegas dijawab, Kerajaan Aceh menolak campur tangan Belanda dalam urusan perdagangan di Aceh. Makanya cucuku, ketegangan di Selat Malaka semakin memuncak. Aceh tak mau urusan niaga dan kedaulatannya diganggu gugat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kapal-kapal asing yang melanggar perairan Aceh dikejar dan ditangkap. Armada laut Aceh menangkap kapal Inggris, Belanda, Italia dan Amerika yang melewati Selat Malaka, karena membeli barang dagangan secara illegal di berbagai pelabuhan di pantai Aceh bagian barat dan utara. Alasan lainnya kapal-kapal asing itu juga membawa barang seludupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penangkapan kapal-kapal asing tersebut di Selat Malaka merupakan tamparan pertama bagi Belanda dan jawaban tegas Kerajaan Aceh terhadap upaya Belanda merongrong Aceh. Sikap Aceh dengan Belanda waktu semakin bermusuhan. Sebagai sebuah kerajaan yang berdaulat Aceh terus mengumpul kekuatan dan dukungan internasional untuk mempertahankan daerahnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti pada tahun 1868, utusan kerajaan Aceh menuju Turki, melakukan perundingan rahasia di sana untuk membantu Aceh. Turki yang sebelumnya pernah membantu Aceh secara terang-terangan, kali ini membantu dari balik layar karena Turki waktu itu sangat terikat dengan Inggris yang membutuhkan bantuan untuk melawan Rusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu hebatnya endatu kita cucuku, saat bangsa-bangsa lain di nusantara masih tertidur pulas dalam keluguannya di ketiak penjajah. Kita bangsa Aceh sudah menjalin hubungan internasional dengan berbagai negara di Eropa, termasuk Belanda itu sendiri yang tak tahu balas budi terhadap Aceh. Aku katakan demikian, karena Kerajaan Aceh lah yang pertama-tama di Asia yang mengakui kedaulatan Belanda dan menjalin diplomasi dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sulthan Aceh juga pernah menerima kunjungan diplomat Kerajaan Perancis. Utusan Raja Perancis saat itu membawa hadiah cermin yang sangat berharga bagi Sulthan Aceh. Namun dalam perjalanannya cermin tersebut pecah. Akhirnya mereka mempersembahkan pecahan cermin itu sebagai hadiah bagi Sulthan Aceh. Tentang ini ada ditulis oleh Denys Lombard. Katanya, Sultan Iskandar Muda amat menggemari benda-benda berharga. Pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan Melayu yang memiliki Balee Ceureumen yakni aula kaca dalam istananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kamu nanti kembali ke Aceh cucuku, aku akan membawamu ke bekas istana Kerajaan Aceh itu, yang oleh Lombar disebtkan luas areal istana tak kurang dari dua kilometar dalam komplek istana Darud Donya. Di dalam komplek itu ada Medan Khayali dan Medan Khaerani yang menampung 300 ekor pasukan gajah. Sulthan Iskandar Muda pula yang membuka aliran sungai Krueng Aceh agar mengaliri komplek istananya, tempat di mana ia sering mandi, bersenang-senang dan menerima tamu di taman buah yang luas sepanjang aliran sungai itu. Ada sekitar 500 jenis tanaman di sana cucuku, tanaman aneka buah sejauh mata memandang. Tentang ini pula nanti akan kuceritakan padamu. Maka cepat-cepatlah kau cucuku Keumalahayati kembali lagi ke Aceh, karena banyak hal yang ingin kuperkenalkan padamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oya…cucuku, sekali waktu kamu mungkin bisa berjalan ke gereja St Pieter di Middelburg, Zeelan. Di perkarangan gereja itu dulu diplomat Aceh, Abdul Hamid dimakamkan pada 9 Agustus 1602. Abdul Hamid merupakan duta besar (ambasador) Aceh pertama untuk Belanda. Ia dikirim oleh Sultan Alauddin Al Mukamil. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu romantisnya hubungan Aceh dengan Belanda waktu itu, tapi karena kepentingan ekonomi dan bermaksud memonopoli rempah-rempah di nusantara, Belanda mengabaikan hubungan baik itu dan mencari permusuhan dengan Aceh. Tak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik cucuku, yang ada hanya kepentingan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, sejak dulu Aceh sudah memiliki diplomat-diplomat ulung yang menjalin hubungan dengan luar negeri. Kisah ambasador Abdul Hamid salah satunya. Jika kamu nanti ke gereja St Pieter di Middelburg, berfotolah untukku di kuburan endatu kita Abdul Hamid. Aku sangat ingin mengoleksi bukti-bukti kebesaran Aceh itu cucuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu cucuku, Pangeran Murist selaku pendiri dinasti Oranye di Belanda menyambut baik kedatangan ambasasor Aceh, Abdul Hamid. Duta Aceh dan rombongannya itu diambut sebagai tamu agung. Namun dalam kunjungan itu, beberapa hari setelah tiba di Belanda, Abdul Hamid sakit-sakitan dan meninggal dunia. Di perkarangan gereja itu ia dimakamkan melalui upacara pemakaman kerajaan secara bersar-besaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi cucuku, yang membuat kakekmu ini bersedih hati, endatu kita Abdul Hamid itu dimakamkan secara nasrani, karena Belanda belum pernah memakamkan orang Islam. Nanti kamu bisa berfoto di prasasti makam itu cucuku, prasasti yang diresmikan oleh mendiang pangeran Bernhard suami dari ratu Julianan dan ayahnya Ratu Beatrix. Kalau kamu jumpa sekali waktu dengan keluar besar Belanda itu, katakan kamu Keumalahayati dari Aceh, dan Abdul Hamid itu adalah endatunya kamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, tahukah kamu mengapa Aceh begitu cepat berkembang dan memiliki diplomat-diplomat ulung seperti Abdul Hamid? Itu semua karena pengaruh Islam. Dunia orang Aceh berubah cepat karena pengaruh agama Islam yang dianutnya. Kerajaan Aceh juga sudah menjalin hubungan dagang dengan berbagai negara Eropa sejak abad ke-14, ketika bangsa-bangsa lain di nusantara masih lelap dalam tahyul-tahyulnya. Endatu kita Aceh pula cucuku yang meng-Islam-kan Jawa. Apa yang mereka kenal dengan Walisongo itu, sembilan orang wali yang mengislamkan Jawa, empat di antaranya merupakan orang Aceh. Dan pemimpin para wali sembilan itu, Maulana Malik Ibrahim merupakan orang Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku Keumalahayati, ketegangan di Selat Malaka sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum Belanda datang. Hal ini sudah terjadi sejak Portugis menduduki Malaka pada 18 Agustus 1511. Sejak itu pula Portugis menjadi ancaman bagi perdagangan rempah-rempah. Sultan Aceh yang sudah membangun kerja sama perdagangan dengan kerjaan-kerajaan Islam di India, Persia, Mesir, Turki dan bandar-bandar dagang di Laut Merah, menyadari ancaman Portugis tersebut. Meski demikian, Sultan Aceh tetap menjaga hubungan dengan Portugis selama bangsa itu tidak mengganggu kedaulatan Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun persaingan dagang kemudian membuat hubungan Aceh dengan Portugis di Selat Malaka merenggang. Portugis yang ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah berusaha menghentikan semua pengangkutan rempah-rempah dari Pelabuhan Aceh. Portugis mulai bermain api cucuku. Malah pada tahun 1520, Laksamana dan Raja Muda Portugis di Goa, Dirgo Lopez De Sequeire mengancam dan mengultimatum akan menyerang kapal-kapal yang melakukan kontak dangan dengan Aceh. Sejak itulah Aceh menjadi musuh bubuyutan Portugis di Selat Malaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembilan tahun kemudian, pada 1529, Portugis benar-benar menyerang Aceh. Pertempuran besar-besaran terjadi di Pelabuhan Pidie dan Pase. Dua pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah di Aceh. Portugis gagal total cucuku, armada perang mereka di Selat Malaka dihalau oleh angkatan perang Aceh. Malah pada Desember 1529 kapal-kapal perang Aceh berlayar ke Canannore di Pantai Barat India untuk membantu armada Raja Kalicut yang bertempur melawan angkatan laut Portugis di Goa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan hebatnya lagi cucuku, laksamana yang memimpin perang di laut itu adalah Keumalahayati, nama yang kini diberikan Hasan anakku untukmu. Berbagalah cucuku kamu menyandang nama laksamana perempuan pertama di dunia itu. Cucuku, kau harus mewarisi semangat Keumalahayati itu. Bila sekarang bangsa-bangsa barat sibuk dengan urusan jender, kesetaraan antara pria dan wanita. Katakan pada mereka bahwa Aceh sudah melakukan persamaan hak laki dan perempuan itu berabad-abad yang lalu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katakan juga pada mereka, empat perempuan pernah memimpin kerajaan Aceh ketika perempuan lainnya di nusantara bahkan dunia masih menjadi budak para suaminya. Keempat perempuan pilihan itu adalah: Ratu Nihrasiyah Chadiyn, Sri Ratu Tadjul Alam Syafiatuddin Syahbaz, Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah, serta Sri Ratu Keumalat Syah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, sejarah Aceh juga mewariskan banyak cerita khas tentang keterlibatan perempuan, tidak hanya dalam urusan pemerintahan, tapi juga angkatan perang. Korp tentara wanita sudah sejak dahulu ada di Aceh, mereka dikenal sebagai si pai inong, yakni korp prajurit wanita. Mereka ada yang langsung terjun ke medan perang, ada juga yang bertugas sebagai pengawal istana. Resimen tentara wanita pengawal istana itu disebut sebagai sukee kawai istana. Berbanggalah kamu cucuku menjadi perempuan Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, kamu harus menceritakan itu pada bangsa Eropa, yang kini sibuk mengkampanyekan gender ke Aceh. Kalau mereka tahu apa yang kuceritakan padamu ini, mungki para perempuan Eropa itu datang ke Aceh tidak sebagai orang yang mengkampanyekan gender, tapi peneliti yang akan meneliti tentang kesetaraan jender di Aceh dan kiprah para wanitanya yang mampu bertindak setara dengan kaum pria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katakan pada mereka, korp tentara wanita di Kerajaan Aceh itu dibentuk pada masa Aceh diperintah oleh Sultan Ali Riayat Syah V (1604 – 1607 M). Para tentara wanita itu dipimpin oleh dua Laksamana wanita yaitu Laksamana Meurah Ganti dan Laksamana Tjut Meurah Inseuen. Dua wanita itu pula yang dicatat sejarah sebagai sosok yang membebsakan Iskandar Muda ketika ditahan oleh Sultan Alaidin Riayat Syah V.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan cucuku, Iskandar Muda itu raja yang paling tersohor di Aceh yang mampu membawa Aceh kepada zaman kegemilangannya, seandainya dua laksamana perempuan itu tidak membebaskan Iskandar Muda dari dalam penjara mungkin sejarah Aceh akan lain cucuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai balas budi Iskandar Muda terhadap resimen tentara wanita, ketika ia menjadi sulthan Aceh (1607 -1636), korp tentara wanita itu diperbesar. Sulthan Iskandar Muda membentuk Divisi Keumala Cahaya, yang merupakan divisi pengawan istana yang dipimpin oleh seorang laksamana wanita. Para prajurit wanita yang cantik-cantik ditugaskan untuk menerima tamu-tamu agung dengan barisan kehormatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oya…cucuku, sebelumnya pada masa pemerintahan Sulthan Alaudin Riayat Syah IV (1589-1604) juga pernah dibentuk Armada Inong Balee, yang prajuritnya terdiri dari janda-janda yang suaminya tewas dalam perang. Armada inilah yang dipimpin oleh Laksamana Keumalahayati. Nanti kalau kamu kembali lagi ke Aceh cucuku, kamu akan kubawa ke benteng inong balee dan kuburan Laksamana Keumalahayati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, Laksamana Keumala Hayati bukanlah sembarang perempuan. Kamu harus menjadi seperti dia, kamu harus menjiwai semangatnya. Tahukah kamu, Laksamana Keumalahayati mampu menggagalkan percobaan pengacauan oleh angkatan laut Belanda di Selat Malaka. Itu terjadi pada tahun 1599 ketika armada Belanda di bawah pimpinan Cournelis de Houtman dan Frederich de Houtman. Dua bersaudara itu ditangkap oleh Laksamana Keumalahayati dan dipenjarakan, mereka ingin mengacaukan perairan Aceh dengan dalih perdagangan. Itu juga yang membuat hubungan Aceh dengan Belanda semakin meruncing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mengetahui kejelasan tentang peristiwa itu cucuku, kamu mungkin bisa ke Universitas Leiden, kamu bisa mencarinya di buku Vrouwelijke Admiral Malahayati karangan Marie van Zuchtelen. Itu orang Belanda tulen yang menulis dan mengakui kehebatan perempuan Aceh. Ia mengagumi dan memuji Keumalahayati yang disebutnya sebagai perempuan cantik, cerdik, bijaksana dan berani dalam memimpin 2.000 prajurit wanita. Ingat cucuku, 2.000 prajurit wanita, jadi ia bukan sembarang panglima dari kalangan perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laksamana Keumalahayati memang wanita yang hebat cucuku, ia pula yang disuruh oleh Sulthan Alauddin Riayat Syah IV untuk menerima dan menghadap utusan Ratu Inggris, Sir James Lancester pada 16 Juni 1606, ketika diplomat Inggris itu melakukan kunjungannya ke Aceh dan membawa langsung surat dari Ratu Inggris untuk Sulthan Aceh. Di bagian pembuka surat itu Ratu Inggris menulis “Kepada Saudara Hamba, Raja Aceh Darussalam” bersama surat itu dikirim seperangkat perhiasan sebagai cendra mata dari Ratu Inggris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sulthan Alauddin Riayat Syah IV menyambut baik diplomasi Kerajaan Inggris itu dan mengizinkan kapal-kapal Inggris untuk berlabuh dan berdagang di wilayah kekuasaan Aceh. Membalas surat itu, Sulthan Aceh mengirim hadiah-hadiah yang berharga kepada Ratu Inggris sebagai balasan. Hadiah yang dikirim berupa sepasang gelang dari batu rubi dan surat yang ditulis di atas kertas yang halus dengan tinta emas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pembuka surat itu oleh Sulthan Aceh menulis, “Sayalah sang penguasa perkasa negeri-negeri di bawah angin yang terhimpun di atas tanah Aceh dan atas tanah Sumatera dan atas seluruh wilayah-wilayah yang tunduk kepada Aceh yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan mesra Inggris dengan Aceh itu dilanjutkan pada masa Raja James I. Raja Inggris itu mengirim sebuah meriam sebagai hadiah untuk Sulthan Aceh. Meriam itu hingga kini masih terawat dengan baik dalam koleksi peninggalan Kerajaan Aceh yang dikenal dengan nama Meriam Raja James.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagu cucuku, katakan kepada bangsa Eropa itu, bahwa sebelum mereka berkoar-koar tentang jender. Wanita Aceh sudah berabad-abad lalu melakukannya. Wanita-wanita Aceh juga dikenal sebagai politisi untuk memperjuangkan hak-hak kaumnya di parlemen. Peranan perempuan di parlemen yang dalam istilah Kerajaan Aceh disebut sebagai Balai Majelis Mahkamah Rakyat diatur dalam qanun Meukuta Alam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hebatnya lagi cucuku, ketika Aceh dipimpin oleh perempuan yakni&amp;nbsp; Sri Ratu Tadjul Alam Syafiatuddin Syahbaz dilakukan perubahan terhadap susunan anggota badan legislatif yang terdiri dari 73 orang wakil rakyat yang 16 di antaranya merupakan perempuan. Dari 73 anggota parlemen itu, 9 orang berfungsi sebagai wazir atau menteri, sisanya 64 orang sebagai anggota parlemen biasa. Daftar nama-nama anggota parlemen itu tertera dalam Qabub Al Asyu Darussalam, undang-undang tata negara Kerajaan Aceh.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oya cucuku, tentang si Cournelis dan Freerick de Houtman yang ditangkap oleh Laksamana Keumalahayati itu belum habis kuceritakan padamu dalam surat ini. Mereka ingin mengacaukan jalur perdagangan di Selat Malaka. Untuk menutup kedoknya itu sebagai utusan negeri penjajah, mereka berpura-pura membawa misi dagang. Inilah yang menyulutkan ketegangan di Selat Malaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua bersaudara itu mendompleng maskapai perdagangan Zeewsche Reeder Balthazar de Moecheron. Dengan dua kapal besar dari perusahaan itu berlayar di Selat Malaka dan masuk ke perairan Aceh. Portugis mengetahui hal itu dan menghasul pihak Aceh untuk mengusir misi dagang tersebut. Portugis ingin monoplinya tidak diganggu oleh Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Utusan Belanda itu ditahan, karena negosiasi ekonomi yang gagal salah satu di antaranya dibunuh yakni si Cournelis de Houtman, sementara Frederick de Houtman&amp;nbsp; ditahan. Lalu dua kapal Belanda itu dilepaskan dan diminta kembali kepada tuannya. Tahukah kamu cucuku mengapa kapal itu dilepaskan? Sulthan Aceh ingin menyampaikan pesan kepada pihak Belanda untuk tidak main-main dengan Aceh. Itu pesan yang sangat tegas bahwa Belanda yang ingin mengganggu kedaulatan Aceh mati di ujung pedang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kamu sudah ke Leiden, kamu bisa membaca hal itu dalam buku “Atjhe”&amp;nbsp; yang ditulis J Kreemer. Kamu bisa baca bagaimana tak berdayanya Belanda itu menghadapi Aceh, hingga pada November 1600 mencoba kembali untuk masuk ke Aceh. Waktu itu Belanda mengutus Paulus van Caerden bersama teman sepelayarannya Pieter Both. Mereka ingin masuk ke Aceh dengan dua buah kapal dari perusahaan dagang Brabantsche Compagnie. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam suasana yang tegang seperti itu, Paulus van Caerden memang bisa masuk dan berlabuh di pelabuhan Aceh, tapi niat untuk membangun kerjasama perdagangan itu pupus akibat hasutan Portugis yang bermusuhan dengan Belanda. Muatan rempah-rempat dari dua kapal itu dibongkar, mereka kembali ke Belanda tanpa hasil apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oya cucuku, saat itu kita orang Aceh masih berbaik hati, si Federick de Houtman yang ditahan itu dilepaskan dan dizinkan untuk kembali ke Belanda bersama paulus van Caerden, tapi ia menolaknya dan tetap ingin berada di Aceh, meski sebagai tawanan kerajaan. Sejarah tentang apa yang kuceritakan ini, kamu bisa membacanya dalam De Europeers in den Maleshen Archipel&amp;nbsp; dan het Handelsverdrag vab V Caerden&amp;nbsp; dalam bukunya J E Heeres Corpus Diplomaticum. Sebuah catatan tentang diplomasi Belanda ke Malaka. Karena kamu sudah hidup di Belanda dan fasih dengan bahasa mereka kuminta sekali waktu agar kamu Keumalahayati cucuku mau menerjemahkan catatan-catatan itu untukku, agar kakekmu ini mengetahui seutuhnya tidak sepenggal-sepenggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, meski Belanda sudah dua kali gagal, mereka terus berupaya untuk masuk ke Aceh. Dan itu baru bisa dilakukan dengan damai pada tahun 1601. Ketika itu Raja Belanda , Print Maurist mengirim utusannya ke Aceh, ia juga mengirim sepucuk surat persahabatan dengan berbagai hadiahnya kepada Sulthan Aceh. Mereka datang dengan misi dagang Gerard le Roy dan Laurens Bicker dengan beberapa buah kapal dari perusahaan Zeeuw yang merupakan sebuah eskader dari Middelburg.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misi dagang Belanda itu diterima, mereka diizinkan untuk memberli rempah-rempah di berbagai pelabuhan di Aceh. Saat itulah Frederick de Houtman benar-benar dilepaskan. Ia bersama kawan-kawannya kembali ke Belanda. Saat itu sebagai upaya untuk membangun diplomasi dan kerja sama yang baik, Sulthan Aceh Alauddin Riayatsyah al Mukamil, mengirim utusannya ke Belanda. Rombongan diplomat Aceh itu antara lain, Duta Besar Abdul Hamid, Laksamana Sri Muhammad, Mir Hasan dan seorang bangsawan Aceh bersama penerjeman Leonard Werner.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah ambasador Abdul Hamid yang kuceritakan padamu sebelumnya cucuku. Mereka tiba di Belanda pada Agustus 1602 dan disambut secara besar-besaran. Tapi pada 9 Agustus 1602 itu, Abdul Hamid meninggal di sana karena sakit. Ia dimakamkan di perkarangan gereja St Pieter Middelburg, Zeeland. Jangan lupa pesanku padamu ya cucuku, kunjungilah makam endatumu itu nanti. Dan, untuk lebih mengetahui tentang hal tersebut, kamu bisa mencari bukunya Dr J J F Wap, Het Gezantschap Van Den Sulthan Van Achin (1602) aat Print Maurist van Nassau en de Oud-Nederlandsche Republiek. Buku ini diterbitkan pada tahun 1862, jauh sebelum kakekmu ini dilahirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;&amp;nbsp;Dikutip dari :&lt;/u&gt; &lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;http://iskandarnorman.blogspot.com&lt;/span&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/01/ketegangan-di-selat-malaka-1.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiW6jfXWPhn8jSAod3YW_MzRTqfl7o0EAXyQJljSIpy16Nj0SwXZ3sAPWyraTRXM6s7ARjThY4oi3PHJEnECXW-NFfDd59hlD38qkYs-UP2Jp187BhqWJiBflnK3FLpSYggZZmrmdKnhwmY/s72-c/grootatjeh.gif" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-1385279205566336229</guid><pubDate>Sun, 16 Jan 2011 04:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-16T11:21:15.108+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah Perang Aceh</category><title>Lobi di Taman Haagsche Boch</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikxO747ZJb2Bose7nKoYH9qtAkp5zqD_JIOcEAhdiSiavCAv7i7TwAbmTQ8Yp6OY1Fn1I_Cyoo04TD89wBErguz13SusA3kiyKaU20riAfWEnlNBegK4EH-mxIJVmojDjfZpg_gdGZuVwn/s1600/taman+haggsche+bosch.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikxO747ZJb2Bose7nKoYH9qtAkp5zqD_JIOcEAhdiSiavCAv7i7TwAbmTQ8Yp6OY1Fn1I_Cyoo04TD89wBErguz13SusA3kiyKaU20riAfWEnlNBegK4EH-mxIJVmojDjfZpg_gdGZuVwn/s1600/taman+haggsche+bosch.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Keumalahayati benar-benar menagih janjiku untuk bercerita lebih banyak padanya. Lusinan buku yang kuberikan tak cukup baginya untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di tanah moyangnya. Ia benar-benar cucuku yang sangat menyukai sejarah. Dan kali ini ia ingin mengetahui kebenaran sejarah bangsanya sendiri dari kakeknya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yang sudah terlanjur berjanji harus menepatinya. Namun, aku tak mau sepenggal-sepenggal. Aku ingin bercerita jauh sejak awal hingga akhir, sampai muncunya pengkhianatan yang meruntuhkan Aceh sebagai sebuah kerajaan.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Baiklah Keumalahayati, dengarlah cucuku, kali ini kuceritakan padamu tentang upaya Belanda untuk masuk ke Aceh. Sudah lama Belanda ingin memperluas kekuasaannya di nusantara. Sebelum Belanda menjajah nusantara, jauh-jauh hari kerajaan Aceh sudah menjalin kerja sama dengan Inggris. Dan satu-satunya cara bagi Belanda untuk masuk ke Aceh adalah mempengaruhi Inggris untuk membatalkan perjanjiannya dengan Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan cucuku, bagaimana liciknya Belanda memainkan diplomasinya. Sesama bangsa Eropa mereka berebut dan berupaya mempermainkan kedaulatan Aceh. Perjanjian bilateral antara Kerjaaan Aceh dengan Inggris dengan sepihak ingin diputuskan oleh Inggris. Letak negeri kita yang strategis di pintu Selat Malaka membuat banyak negara ingin menguasainya. Aceh pintu masuk ke nusantara, pintu jalur perdagangan rempah-rempah yang sangat diminati oleh bangsa Eropa. Karena itu pula mereka ingin menaklukkan Aceh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belanda melalui maskapai dagangnya di nusantara, perserikatan perusahaan Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie)&amp;nbsp; alias VOC sangat bernafsu untuk mengusai jalur dagang di Selat Malaka. Dan melobi Inggris merupakan satu-satunya cara bagi Belanda untuk menundukkan Aceh yang dinilai keras kepala dan tak mau tunduk pada Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belanda itu bangsa penakluk cucuku. Melalui VOC mereka ingin menguasai seluruh daerah penghasil rempah di nusantara. Tapi Aceh bukanlah Jawa yang mau dengan serta merta ditaklukkan Beanda dengan politik dagangnya. Aceh tetaplah Aceh sebagai sebuah kerajaan berdaulat yang mempunyai maskapai perdagangan sendiri, yang bisa sesuka hati menjulah hasil alamnya kepada siapapun, kepada pedagang dari negara manapun yang berlabuh di pelabuhan Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belanda tak ingin membiarkan itu terus terjadi. Mereka benar-benar ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah di nusantara untuk dibawanya ke pasar Eropa. Kalau Aceh tetap menjual ke pihak lain, maka itu alamat ancaman bagi monopoli VOC. Menghadapi kerajaan Aceh benar-benar membuat Belanda harus berpikir ekstra. Belum pernah mereka menemukan sikap penentangan di nusantara sebagaimana yang ditunjukkan oleh Kerajaan Aceh. Kali ini mereka menghadapi sebuah bangsa yang berdiri teguh dengan prinsipnya. Bangsa yang tak mudah dirayu dengan iming-iming kerja sama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan satu-satunya cara bagi Belanda adalah dengan peperangan. Mereka ingin menggelorakan perang di Aceh, tapi endatu kita orang Aceh juga sudah siap dengan semangat yang tak kalah hebat untuk menyambut “tamunya” itu dengan meriam dan mocong senapan. Rakyat Aceh telah mengasan pedang, siwah dan menyiapkan rencong untuk di tusukkan ke dada penjajah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, VOC itu merupakan badan dagang istimewa yang diberikan hak-hak istimewa oleh pemerintah Belanda. Mereka diberikan hak untuk berdagang dan berlayar, serta menguasai perdagangan untuk kepentingan sendiri. Mereka juga diberikan hak kedaulatan yang dapat bertindak layaknya sebuah negara yang dikenal dengan sebutan soevereiniteit. Dengan hak istimewa itu mereka ingin bertindak sesuka mereka terhadap Aceh. Namun yang mereka hadapi kali ini bukanlah sembarang kerajaan. Hak istimewa mereka hanya berlaku di negaranya saja. Aceh tidak menerima itu. Tak boleh ada sejengkal pun tanah Aceh untuk koloni Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya… cucuku, VOC itu penjajah. Mereka diberi hak untuk membentuk angkatan perang, memaklumkan perang dan mengadakan perdamaian dengan suatu negara atau kerajaan, merebut dan menduduki daerah-daerah asing di luar Belanda. Mereka juga diberi hak istimewa memerintah daerah-daerah tertentu, mengeluarkan mata uang sendiri, serta menarik pajak dari daerah taklukannya. Jawa sudah dua ratus tahun lebih mengalami hal itu cucuku. Jawa diperas dan ditindas oleh Belanda. Hanya Aceh yang tak mampu mereka jajah selama 200 tahun lebih dominasi mereka di Pulau Jawa dan sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi cucuku, sangat wajar ketika endatu kita Bangsa Aceh menolak takluk pada Belanda itu. Bangsa kita Aceh menyebut Belanda sebagai Holanda dan VOC-nya itu sebagai kompeni. Kita Bangsa Aceh sudah tahu bagaimana seluk beluk dan tindakan Belanda di Jawa yang sudah lama dijajahnya. Mereka datang awalnya sebagai pedagang, kemudian mendirikan pemukiman sebagai upaya kolonialisasi untuk kemudian menjajah bangsa tempat ia membangun koloni itu sendiri. Aceh tidak mau itu terjadi. Aceh harus diwariskan kepada cucunya sebagai sebuah bangsa yang beradab, yang masih bisa berjalan dengan kepala tegak ketika daerah-daerah lain di Jawa sudah menunduk menyembah Belanda sebagai tuan besarnya. Kita orang Aceh pantang melakukan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, Aceh sebagai sebuah kerajaan berhak menjalin kerja sama dengan siapa pun, juga berhak menolak kerja sama dengan siapapun. Aceh punya prinsip dan harga diri ketika daerah-daerah lain di nusantara terutama Jawa sudah menggadaikan harga dirinya di ketiak Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, Belanda yang saat itu mulai kesulitan membiayai perang dan usaha perluasan kekuasaannya di nusantara, sangat ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah di nusantara untuk menambahkan pundi-pundinya. Dan Aceh adalah batu ganjalan yang harus ditaklukkan oleh mereka. Ya, Aceh bantu ganjalan. Aceh dianggap keras kepala karena tidak mau bekerja sama dengan Belanda ketika daerah lainnya di nusantara sudah sujud dan menyembah mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aceh tetaplah Aceh yang teguh pada prinsipnya untuk mempertahankan kedaulatannya sebagai sebuah bangsa. Dan Aceh akan melawan setiap usaha yang ditujukan untuk merongrong kedaulatannya. Tahukan kamu mengapa bangsa kita begitu keras cucuku? Karena watak bangsa kita tidak mudah pecah, sesuai dengan namanya “a” yang bermakna tidak dan “ceh” pecah. Aceh itu tidak mudah pecah wataknya. Makin ditekan ia akan semakin keras. Dan Belanda akan menghadapi hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu tentu juga pernah mendengar ungkapan kita orang Aceh, daripada crah bah beukah, daripada meutunggeng bah keuh ro. Itu wataknya kita orang Aceh yang tak mau main-main, dari pada retak lebih baik pecah, dari pada miring lebih baik tumpah isinya. Bangsa kita tidak mau main-main, tidak ingin setengah-setengah dalam bertindak. Dari pada takluk pada keinginan Belanda, lebih mati di medan perang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aceh satu-satunya daerah yang belum mampu ditaklukkan Belanda waktu itu. Tahukah kamu mengapa? Karena Aceh berlindung di balik perjanjian dengan Inggris melalui Traktat London sejak tahun 1819. Dalam perjanjian itu, Inggris menyatakan menghormati kemerdekaan Aceh dan melindungi pelayaran di Selat Malaka. Karena itu pula Aceh berlindung di balik perjanjian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Belanda tak berhenti untuk mengupayakan penaklukannya ke Aceh. Mereka ingin agar Inggris membatalkan perjanjiannya dengan Aceh. Usaha ini dilakukan melalui diplomasi oleh Menteri Jajahan Belanda, De Waal pada 1869. Kala itu De Waal berjalan di taman Haagshe Boch di Belanda bersama Duta Besar Inggris, Harris. Ia meminta kepada Inggris melalui Harris agar membatalkan perjanjiannya dengan Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sebuah petaka bagi Aceh cucuku. Sebuah lobi di taman kota itu membuat Inggris benar-benar merestui Belanda menginvansi Aceh. Harris menjawab permintaan De Waal itu pada 9 Desember 1869, yang mengatakan bahwa penaklukan Aceh oleh Belanda akan disetujui bila mendatangkan keuntungan bagi perniagaan Inggris di Selat Malaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangsa-bangsa Eropa memang sangat tertarik pada perdagangan rempah-rempah di nusantara. Selama abad ke-16 Portugis memonopolinya yang melakukan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan dagang di Jerman, Spanyol dan Italia. Namun Portugis tidak mampu memenuhi tingginya kebutuhan dan permintaan rempah-rempah dari negara-negara di Eropa. Karena itu pula cucuku, Belanda mendirikan VOC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usaha Belanda itu untuk masuk ke Aceh semakin mulus, setelah secara resmi pada 2 November 1872, Inggris memberi kekuasaan kepada Belanda untuk berkuasa di Sumatera. Dan Inggris menyatakan tidak akan ikut campur dengan urusan Sumatera, maka sejak itulah traktar London tidak punya arti apa-apa lagi bagi Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah awal pertama terbukanya pintu bagi Belanda untuk memerangi Aceh. dukungan Inggris itu sangat penting bagi Belanda. Jika sekarang kita bertanya siapa sebenarnya yang pertama kali harus bertanggungjawab terhadap perang Aceh, maka jawaban saya cucuku adalah Inggris yang tak menghormati dan mengingkari perjanjiannya dengan Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendapat dukungan Inggris, Belanda juga melancarkan propagandanya melalui media massa. Tapi cucuku, lebih banyak media di Belanda waktu itu menentang upaya perluasan kekuasaan Belanda ke Aceh dengan cara peperangan. Mereka mengkritik cara-cara Belanda yang tidak beradap. Untuk menghadapi kecaman dari dalam seperti itu, Belada memanfaatkan media massa untuk membantah dan menyampaikan propagandanya, agar upayanya masuk ke Aceh disetujui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku Keumalahayati, kalau kamu nanti kembali ke Belanda kamu bisa melihat hal itu di koran harian Algemeen Dagblad van Nederland Indie&amp;nbsp; dan De Gids Itu koran diasuh oleh C Busken Huet waktu itu. Sebagai redaktur kepala koran tersebut Busket Huet melalui provokasinya mengatakan Aceh harus dikuasai untuk kepentingan ekonomi Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Busket Huet yang pro pada penaklukan itu kemudian di kirim ke Batavia pada 1866 setelah mengalami kesulitan dengan korannya. Ia jurnalis yang mengkhianati profesinya sendiri, yang menyetujui pemberangusan kebebasan media. Ia memberi keyakinan kepada pemerintah Hindia Belanda di Batavia bahwa di daerah jajahan tidak perlu sama sekali kebebasan pers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu liciknya si Busket Huet itu, hingga ia mengkhianati profesinya sendiri hanya untuk kepentingan ingin dekat dengan kekuasaan. Setidaknya ia ingin menjadi bagian dari pemerintahan Hindia Belanda. Ia mengejar jabatan paling kecil sebagai staff penerangan. Cucuku, upaya si Busket Huet itu memang berhasil. Ia mampu meyakinkan Menteri Jajahan Belanda JJ Hanselman yang menjabat antara 1867 sampai 1868 menggantikan pendahulunya, De Waal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah propaganda pertama yang dilakukan mereka untuk masuk ke Aceh. Mereka membungkam media agar tidak menyorotnya. Saat itu ada tiga koran terbit dua minggu sekali di Batavia. Koran-koran dwimingguan itu diberangusnya. Sementara mereka sendiri terus melancarkan propagandanya terhadap Aceh melalui koran yang pro mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Belanda memang koran tak bisa dibungkam karena kekuatan yang seimbang antara kaum liberal dan konservatif di parlemen, tapi di Batavia koran harus dinetralkan sesuai dengan tujuan pendudukan Belanda. Begitu seriusnya Belanda waktu itu untuk menduduki tanah Aceh, Sampai-sampai mantan Gubernur Jenderal Rocchussen Hasselman menunjuk Busket Huet untuk menjadi redaktur koran Java Bode di Batavia. Maka sahlah media dibola-bolai demi kepentingan Belanda yang sedang mempersiapkan invansinya ke Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihatlah cucuku, begitu berharganya Aceh. Begitu pentingnya Aceh bagi Belanda hingga sampai media massa diatur dan diarahkan. Intinya cucuku, Belanda ingin membangun wacana melalui media bahwa penaklukan terhadap Aceh itu penting dilakukan untuk kepentingan ekonomi Belanda. Tulisan pertama Busket Huet di Java Bode&amp;nbsp; yang berjudul Wenschen entegenstrijdigheden antara keinginan dan pertentangan, jelas-jelas memperlihatkan hal itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, jika kau tanya apakah tidak ada yang menentang upaya mereka itu? Sesungguhnya ada, malah dari bangsanya sendiri. Kamu tentu pernah mendengar nama Paul Van T Veer yang menilai sikap Busket Huet itu sebagai pandangan aneh seorang wartawan. Ya.., memang aneh, dia yang seorang redaktur media, seharusnya memperjuangkan kebebasan media dalam menyampaikan pemberitaan. Bukan sebaliknya, membungkam media yang menyorot kepicikan Belanda yang ingin menginvansi Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paul Van T Veer mengupas habis kiprah si Busket Huet itu. Katanya, Busket Huet hanyalah orang yang gagal secara ekonomi setelah bermasalah dengan korannya De Gids, ia ingin memperoleh ketajiran dari kedekatannya dengan kekuasaan. Tulisan Busket Huet di De Gids&amp;nbsp; pada tahun 1865 yang berjudul Ean avond aan het hof (Semalam di Istana) dikupas habis oleh Paul Van T Veer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tak banyak orang seperti Paul Van T Veer yang mau membela Aceh dari rongrongan Belanda. Ia pula yang mengungkapkan bahwa Busket Huet itu orang yang disusupkan untuk kepentingan penaklukan Belanda. Cucuku, ini politik tingkat tinggi yang dimainkan Belanda waktu itu. Paul Van T Veer tahu hal itu dan mengungkapkannya di kemudian hari. Ia membocorkan batuan keuangan yang diperoleh Busket Huet dari Belanda ke Batavia. Ia juga membongkar rahasia pemerintah konservatif Belanda yang secara terang-terangan ditentang dan digagalkan oleh kelompok liberal di parlemen Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cucuku, kamu harus tahu hal ini. Hal yang terlupakan banyak orang. Si Busket Huet itu sikap politiknya jelas-jelas sangat mendukung penaklukan Aceh. Sikap dukungannya dituangkan dalam tulisan-tulisannya seperti Het Land van Rembrandt (negeri Rembrad) dan Het land van Rubens (negeri Rubens). Nanti kalau kamu pulang ke Belanda, coba kamu cari kliping surat kabar itu di badan arsip nasional Belanda, aku ingin kamu mengirimkannya untukku sebagai bukti sejarah cucuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oya…cucuku, ada lagi orang yang menentang rencana penaklukan Aceh oleh Belanda itu,&amp;nbsp; dialah Multatuli. Pada Oktober 1872, demi melihat nasib Aceh yang akan dihantam oleh Belanda itu, ia berkeras hati mengirim surat kepada raja Belanda. Itulah dia orang yang memahami Aceh cucuku. Dalam surat Brief aan Koning, ia menulis banyak hal untuk membantu Aceh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kau Keumalahayati cucuku ingin membaca isi dari surat Multatuli itu, baiklah akan kucari dalam laman-laman buku ini untukmu. Ini lihatlah, bacalahlah apa yang ditulisnya itu kepada Raja Belanda; “Tuanku, Gubernur Jenderal tuanku dengan dalih yang dicari-cari, sekurang-kurangnya dengan alasan-alasan provokasi yang dibuat-buat, kini hendak memaklumkan perang kepada Sultan Aceh dengan maksud hendak merampas kedaulatan tanah pusakanya. Tuanku, perbuatan ini bukan saja tidak tahu berterima kasih, tidak satria ataupun tidak jujur, melainkan juga tidak bijaksana.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan Keumalahayati, cucuku, bagaimana beraninya si Multatuli berbicara seperti itu dalam suratnya kepada rajanya. Ia bermaksud membela Aceh di hadapan rajanya. Ia benar-benar orang yang mengerti tentang Aceh dengan seluk beluk diplomasinya. Aceh di matanya sama seperti Belanda sebagai sebuah kerajaan yang memiliki perjanjian-perjanjian internasional yang mengikat, yang kedaulatannya diakui sebagai salah satu yang disegani. Cucuku, keberanian Multatuli bukan hanya sebatas itu. Ia dengan lantang menyatakan peran agen provokator yang ingin menaklukkan Aceh itu dimainkan oleh Sir Max Haveelaar yang saat itu berkuasa di Bogor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aceh tak gentar dengan upaya Belanda itu. Aceh, endatu kita cucuku, masih punya harga diri dan semangat untuk melawan dan menampar keponggahan Belanda itu dengan semangat jihatnya yang lila meulila seperti baja membara. Saudara-saudara kita di Semenanjung Melayu juga mendukung kita. Mereka membalas propaganda-propaganda yang disampaikan surat kabar pro Belanda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi cucuku, sebelum perang Aceh dengan Belanda meletus di Pante Ceureumen, Ulee Lheu, pada Maret 1873, sebenarnya sudah jauh-jauh hari perang itu meletus di media. Isu Aceh menjadi editorial media-media baik di Belanda, Batavia, maupun di Semenanjung Melayu. Tapi sayangnya hanya sedikit media yang pro pada Aceh, seperti Penang Gazette.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu bisa baca cucuku, pada 10 November 1871 Penang Gazette menulis. “Semakin cepat suatu kekuasaan Eropa mengintervensi Aceh, semakin cepat pula daerah-daerah yang terkenal subur untuk tanaman timur berkembang dan jaya lagi dari keruntuhannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan apa yang ditulis Penang Gazette&amp;nbsp; itu benar adanya cucuku. Bangsa kita semakin kuat menentang Belanda dengan semangat jihat di jalan agama. Kamu tentu sudah membaca banyak cerita di balik perang Aceh itu cucuku. Kamu juga tentu tahu bagaimana seorang Jenderal Belanda, J H R Kohler tewas di mocong senapan pejuang Aceh, ketika mereka pertama kali melancarkan perang dengan Aceh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang hal itu akan kuceritakan nanti padamu. Sekarang istirahatlah, karena besok aku akan membawamu pada bukti-bukti kebesaran Aceh yang runtuh akhibat khianat yang laknat dari orang-orang dungu yang mampu dibeli oleh Belanda, baik Belanda kulit putih, maupun Belanda kulit hitam, yaitu bangsa Jawa yang menjadi serdadu-serdadunya Belanda di Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;Dikutip Dari &lt;/u&gt;:&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;http://iskandarnorman.blogspot.com&lt;/span&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/01/lobi-di-taman-haagsche-boch.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikxO747ZJb2Bose7nKoYH9qtAkp5zqD_JIOcEAhdiSiavCAv7i7TwAbmTQ8Yp6OY1Fn1I_Cyoo04TD89wBErguz13SusA3kiyKaU20riAfWEnlNBegK4EH-mxIJVmojDjfZpg_gdGZuVwn/s72-c/taman+haggsche+bosch.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-2009515218338085125</guid><pubDate>Sun, 16 Jan 2011 04:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-16T11:18:08.368+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah Perang Aceh</category><title>Surat dari Den Haag (2)</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTKoUD2rY3ye2MeAhJoocIEC0MI_5Ybhy-MtlKHAkMCKStO5atxdlGDHmFbOicThP5NR85GlL7squU4vE0Wwtiz2ylYu4QromDvce_xVU-13O_qo27EWur396DrPar_SshCy4R360SzOtp/s1600/ufuk.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTKoUD2rY3ye2MeAhJoocIEC0MI_5Ybhy-MtlKHAkMCKStO5atxdlGDHmFbOicThP5NR85GlL7squU4vE0Wwtiz2ylYu4QromDvce_xVU-13O_qo27EWur396DrPar_SshCy4R360SzOtp/s1600/ufuk.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku benar-benar membalas surat Keumalahayati. Meski masih diselimuti keraguan, aku berharap ia benar-benar cucuku. Dan ia memberi jawaban terhadap keraguan itu dengan mendatangiku ke Aceh. Hari ini aku harus menjemputnya di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lama juga aku duduk di terminal kedatangan bandara itu. Dalam suratnya kemarin Keumalahayati memberitahuku pesawatnya transit dulu di Singapura.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sana ia harus ke Malaysia untuk menjemput seorang pria yang akan membawanya ke Aceh. Setiap pesawat yang mendarat kuperhatikan satu persatu. Pandanganku kemudian tertuju pada pintu kedatangan, tapi wajah dalam foto yang kupegang tak juga muncul di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menunggu memang usaha yang membosankan, tapi kali ini aku harus mengisi kebosanan itu dengan harapan, dengan teka-teki dan sejumlah tanya yang menjuntai dalam benakku tentang Hasan dan Keumalahayati. Waktu terasa berlalu begitu lama, detik layaknya berjalan bagai jam saja. Tapi aku harus tetap menunggu Keumalahayati untuk membawaku pada cerita Hasan yang kini terbujur&amp;nbsp; dihimpit tanah Nezerland.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pesawat dari Malaysia yang membawa Keumalahayati bersama temannya akhirnya mendarat juga, tepat ketika aku sudah menunggu satu jam sepuluh menit. Mataku terus mengamati satu persatu orang yang keluar di pintu kedatangan. Keumalahayati tentu tak mengenalku. Ia belum sekalipun melihat wajahku. Satu-satunya harapan adalah pada fotonya yang aku pegang. Sambil bersandar di tiang depan pintu aku mengangkat foto itu tinggi-tinggi. Jarakku dengan pintu kedatangan hanya sekitar duapuluh meter. Keumalahayati pasti melihat aku dengan fotonya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Upayaku itu memang berhasil. Seorang perempuan langsing dengan hidung agak mancung mendekatiku. Ia sedikit lebih tinggi dariku. Ia segera memelukku hingga aku terdorong ke belakang menyentuh tiang bangunan bandara. Ia menangis. Aku tak dapat berkata-kata. Tanganku kemudian mengelus pundaknya.&lt;br /&gt;
“Aku pulang kek,” katanya setelah melepaskan pelukan.&lt;br /&gt;
Kulihat matanya basah. Sementara seorang anak muda yang sedari tadi memperhatikan kami, menyodorkan tangannya padaku. “Akmal,” katanya memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akmal merupakan kenalan Keumalahayati di dunia maya. Dia juga yang memberikan alamatku padanya, setelah memperoleh dari kawannya di kampungku. Ia terlihat sebagai anak muda berpendidikan. Dan dugaanku itu benar, ia sedang menyelesaikan study S3 di salah satu Universitas di Malaysia.&lt;br /&gt;
“Bang Hasan anak kakek itu kawan sekolah ayah saya,” katanya memulai cerita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang perjalanan pulang, Akmal lebih banyak bercerita tentang kenangan antara ayahnya dan Hasan anakku. Ayahnya juga seorang pemberontak, seorang gubernur wilayah yang berulangkali masuk penjara. Meski ketika Aceh sudah damai, ayahnya tidak diakuai dalam golongan para gerilyawan perebut kekuasaan.&lt;br /&gt;
“Kata orang, ayah saya ketika ditangkap dan disiksa tentara, membocorkan lokasi persembunyian seorang panglima. Aku yakin ayah tidak melakukan hal itu, karena ayah itu orang yang sangat militan. Beliau sudah bergabung dalam gerakan sejak masa DI/TII.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita Akmal langsung mengingatkanku pada Tgk Arief. Lelaki renta yang kini menghabiskan waktunya di pesantren di kampungnya di pedalaman Pidie. Aku punya banyak cerita tentang militansi lelaki itu. Cerita yang harus kusampaikan pada Akmal, tapi tidak sekarang, karena aku terlebih dahulu harus mendengar cerita tentang Hasan dari mulut cucuku, Keumalahayati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami memilih pulang melalui jalan pintas, melewati perkampungan yang rindang.&lt;br /&gt;
“Ini yang aku mau kek, desa yang teduh dan rindang,” kata Keumalahayati.&lt;br /&gt;
“Pohon asam sepanjang jalan ini peninggalan Belanda. Usianya sudah lebih seratus tahun. Ini dulu jalan utama yang dibangun Belanda dengan tenaga para pekerja paksa. Konon kabarnya, di setiap satu batang pohon asam itu terkubur satu jasad pekerja yang mati kelelahan dan kelaparan,” jelasku pada Keumalahayati.&lt;br /&gt;
“Banyak juga orang Aceh yang mati dipaksa bekerja ya kek?” tanya Keumalahanyati.&lt;br /&gt;
“Banyak, tapi mereka mati bukan karena kerja paksa, melainkan gugur di ujung senapan marsose, tentara elit Belanda di nusantara. Para pekerja paksa itu merupakan orang-orang dari Jawa yang ditahan sebagai orang hukuman dan dibawa ke Aceh untuk bekerja. Sementara orang Aceh lebih banyak mati dalam perjuangan melawan Belanda.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku bercerita padanya tentang budak Jawa di Aceh. Ribuan pekerja paksa yang dirantai ketika diturunkan dari kapal perang Belanda untuk bekerja di Aceh. Belanda menyebut mereka sebagai beer&amp;nbsp; atau beeren, sementara orang Aceh menyebutnya simeurante, yakni orang-orang yang dirantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keumalahayati tampak semangat mendengar ceritaku.&lt;br /&gt;
“Ini sejarah yang belum terungkap kek, ceritakan padaku tentang mereka?” pintanya.&lt;br /&gt;
Aku pun bercerita tentang kedatangan pertama armada perang Belanda ke Aceh. Untuk menaklukkan Aceh Belanda membawa 2.100 tentara pribumi dari Jawa bersama 1.000 orang hukuman sebagai pekerja, 220 di antaranya merupakan wanita yang menjadi penghibur dan pemuas birahi para pewira.&lt;br /&gt;
“Kok kakek tahu semua itu?” tanya Akmal.&lt;br /&gt;
“Itu hanya sebagian, nanti di rumah kakek, kalian bisa membaca semuanya. Orang Belanda sendiri yang menulis tentang kekejaman bangsanya di Aceh. Mungkin kamu pernah mendengar nama H C Zentgraaff, pensiunan tentara Belanda yang menjadi wartawan perang dan membongkan sedikit banyak kekejian bangsanya sendiri,” kataku pada Keumalahayati.&lt;br /&gt;
“Ya…jadi tak sabar ni kek,” sela Akmal.&lt;br /&gt;
“Pulang ke Meureudu kampung kita, kakek juga punya cerita kegilaan pekerja paksa asal Jawa di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum ceritaku itu berakhir, kami berhenti di pertigaan untuk makan siang. Sebuah warung khas Aceh Rayeuk menjadi pilihan kami. Aku sudah lama tak merasakan enaknya eungkot paya&amp;nbsp; dan sie kameng masak ala Aceh Rayeuk. Sekali-kali aku perlu ‘membakar’ tubuhku dengan aromanya.&lt;br /&gt;
“Kamu makan itu saja, asam udang dan sambal belacan agar lidahmu tidak tiloe kalau berbicara dalam bahasa Aceh,” kataku mencandai Keumalahayati yang masih terlihat logat asing ketika berbicara dalam bahasa Aceh. Maklumlah, ia lahir dan besar di Belanda. Mengerti bahasan Aceh saja sudah luar biasa. Tapi memang Hasan, anakku selalu mengajaknya berbicara dalam bahasa Aceh meski mereka hidup di Belanda.&lt;br /&gt;
“Kakek ini ada-ada saja, jeut long hai bahsa Aceh,” jawabnya membantah ucapanku. Kalimat terakhirnya ingin ditujunjukkan sebagai bukti padaku bahwa dia bisa berbahasa Aceh meski belum begitu fasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami makan dengan lahap. Keumalahayati nampak kwalahan dengan menu yang masih baru bagi lidanya. Ia kepedesan. Akmal kemudian menyodorkan padanya segelas timun kerok.&lt;br /&gt;
“Ni minum untuk menetralkan rasa di lidahmu,” katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulihat keduanya tampak serasi. Andai Hasan masih hidup, aku akan memintanya untuk menjodohkan cucuku itu dengan anak Arief kawan seangkatanku dalam pergerakan menentang Jakarta.&lt;br /&gt;
“Kek cerita lagi dong tentang budak Jawa itu,” pinta Keumalahayati.&lt;br /&gt;
“Nanti di rumah kamu bisa baca buku Atjeh yang ditulis Zentgraaff semua ada di situ.”&lt;br /&gt;
“Gak bisa kek, Mala ingin dengar dari kakek sekarang. Kalau gak ngapain juga kakek cerita tadi, jangan sepenggal-sepenggal lah kek ceritanya.” Keumalahayati menarik tanganku. Tingkahnya yang mulai bermanja-manja denganku membuatku agak kaget. Tapi aku senang, cucuku itu mau mencari dan menjengukku di sini padahal ia bisa hidup senang di Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menyenangkan cucuku itu, akupun bercerita padanya tentang apa yang pernah kubaca dari tentang budak-budak Jawa itu. Keberadaan mereka di Aceh selain sebagai pekerja paksa yang membangun rel kereta api, juga pengangkut logistik. Sebagian mereka meninggal karena letih dan lapar. Kuburan para pekerja paksa itu dibuat seadanya. Malah tak jarang mayat-mayat orang hukuman itu dibiarkan tergeletak begitu saja. Mayat-mayat itu ada yang menjadi makanan binatang buas.&lt;br /&gt;
“Masa sesadis itu Belanda kek, gak mungkin. Itu karangan kakek saja,” kata Keumalahayati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kaget mendengar bantahannya, hingga kemudian bercerita lebih banyak untuk menguatkan ceritaku. Dan saat itu aku baru sadar, ketika melihat Keumalahayati tersenyum, ternyata bantahannya hanya untuk memancingku bercerita lebih banyak. Aku tanpa sadar masuk dalam perangkapnya. Ia benar-benar cucuku yang cerdik.&lt;br /&gt;
“Kakek tidak sembarang cerita. Media-media di Belanda waktu itu juga mengakui tentang orang-orang hukuman dari Jawa itu,” kataku.&lt;br /&gt;
“Masa Belanda mau mengakui hal itu kek?” Keumalahayati kembali memancingku. Aku tersenyum dan kemudian melanjutkan ceritaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya…sebuah koran di Belanda, De Nieuve Rotterdamsche Couran pada edisi Januari 1883 menulis tentang usaha Belanda mendatangkan pekerja paksa dari Jawa ke Aceh. “Usaha yang lainnya adalah usaha-usaha dalam pekerjaan umum, membangun dinas-dinas angkutan dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan ekspedisi di wilayah yang akan memberikan saham bagi sejarah pekerja-pekerja paksa (kettingbereb) dalam pekerjaan menentramkan daerah-daerah dan membuka berbagai daerah.” tulis koran itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyarankan Keumalahayati untuk mencari koran itu ketika dia kembali ke Belanda. Mungkin klipingannya masih ada. Kulihat Keumalahayati kembali tersenyum. Kali ini aku menang, ia tak lagi membantahku.&lt;br /&gt;
“Tugasmu untuk mencari koran itu dan membawa pulang ke sini untuk kakek,” &lt;br /&gt;
“Yaahhh kek, itu kan koran dua abad lalu, susah mencarinya,” jawab Keumala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami kemudian tertawa. Keumalahayati semakin menampakkan sikap manjanya padaku. Sementara Akmal lebih banyak diam ketika aku menceritakan tentang sejarah budak-budak Jawa itu.&lt;br /&gt;
“Lanjutkan ceritanya kek, tapi ceritakan juga tentang pekerja paksa di Meureudu yang kakek bilang tadi,” kali ini Akmal yang memintaku untuk bercerita.&lt;br /&gt;
Aku tak dapat menolak permintaan Akmal. Aku menghargainya sebagai anak dari sahabatku dan kawan cucuku. Maka sebelum kami beranjak dari rumah makan itu, akupun menuntaskan ceritaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pekerja paksa itu selain mengakut logistik tentara Belanda, juga sering dijadikan tameng saat perang dengan gerilyawan Aceh. Malah ada pekerja paksa yang ikut berperang dengan harapan diberi upah keringanan hukuman atau malah dibebaskan dari status budak bila mereka mampu menunjukkan pekerjaan baiknya dalam perang, seperti menyelamatkan nyawa perwira.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang kala, para pekerja paksa itu berperang hanya untuk mengharapkan imbalan sebatang rokok dengan risiko yang sangat besar. Mereka rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk sebuah imbalan yang tak setara. Lebih beruntung bila mereka diberikan baju bekas milik tentara Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika tentara Belanda (Indiche Leger) di Aceh baru memiliki 18 batalion infantri. Para pekerja paksa itu dianggap sebagai batalion ke-19. Kumpulan para pekerja paksa itu sering disebut batalion merah, sesuai dengan baju yang mereka pakai.&lt;br /&gt;
“Apa mereka juga ada di Meureudu?” tanya Akmal.&lt;br /&gt;
“Ya, ada,” jawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kemudian bercerita padanya tentang sebuah peristiwa di tahun 1899. Kala itu, pos Belanda di Meureudu dikepung oleh pejuang Aceh. Komandan Belanda sangat khawatir karena tidak mampu menghadapi peperangan itu. Padahal dalam pos itu terdapat 150 pasukan Belanda yang segar bugar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pekerja paksa asal Madura diminta untuk mengantarkan surat mohon bantuan tambahan pasukan dari pos Belanda di Panteraja. Pekerja paksa itu berlari seorang diri menerobos semak belukar dan menyebrangi tiga sungai (krueng), mulai dari Krueng Beuracan, Krueng Trienggadeng dan Krueng Panteraja. Esoknya ia berhasil tiba di pos Panteraja dengan wajah letih dan badan penuh goresan duri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para marsose di Panteraja ketika itu sedang mandi. Mereka terkejut melihat beer pengantar sura itu keluar dari sungai.&lt;br /&gt;
“Di mana kapten pasukan Panteraja,” tanyanya dengan nafas putus-putus.&lt;br /&gt;
“Ada apa tanya seorang marsose,”&lt;br /&gt;
Pekerja paksa itu tidak segera menjawab. Ia duduk di tanah sambil bersandar di batang kelapa. Disorongnya tangan kanannya ke arah marsose.&lt;br /&gt;
“Ini dari komandan Mardu kepada tuan komandan marsose,” katanya menyerahkan surat itu. Ia menyebut Meureudu dengan sebutan Mardu. Setelah menyerahkan surat itu beer&amp;nbsp; asal Madura itu pingsan karena kelelahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat itu kemudian ditersukan kepada Komandan Marsose di Pos Panteraja. Saat itu sang komandan sedang merapikan jenggotnya di depan cermin yang digantung pada batang kelapa di belakang tendanya. Mendapat surat itu, ia menancapkan ujung pisau cukurnya di batang kelapa di atas gantungan cermin, kemudian membersihkan pipi dan dagunya dengan handuk kecil. Ia segera membuka surat itu dan membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam surat itu Komandan Marsose di Meureudu memberitahukan bahwa ia sudah tidak mempunyai opsir-opsir lagi, dan serdadu-serdadu dalam pos tersebut sudah lentur semangatnya akibat digempur gerilyawan Aceh. Ia meremas surat itu dan memerintahkan opsir-opsirnya untuk siap-siap menuju Meureudu. Seorang perwira penghubung diperintahkan untuk meneruskan kabar itu ke Pos di Pidie.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam keadaan gawat seperti itu, Belanda kemudian mengirim delapan brigade marsose dari Pidie menuju Meureudu. Ketika mereka sampai perang sudah berkecamuk. Lebih dari setengah marsose dalam Pos Meureudu tewas. Sebagain dari gerilyawan Aceh juga terkapar. Mereka mundur ke perbukitan antara Seunong dan Beuracan ketika marsose dari Penteraja dan Pidie tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekerja paksa yang membawa surat ke Pos Panteraja itu baru sadar dari pingsannya sehari kemudian. Ketika sadar kepadanya diberikan semangkuk coklat, roti dan sepotong daging tebal sebagai imbalan. Seorang pekerja paksa maklum bahwa dengan berhasil melaksanakan tugas yang berani seperti itu, sudah dipastikan mereka mendapat kebebasan penuh dan tak lagi berstatus sebagai budak pekerja paksa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Madura itu sudah bisa menanggalkan pekerjaannya sebagai beer&amp;nbsp; ia menjadi orang yang bebas dan bisa bekerja di dapur atau menjadi pelayanan di rumah perwira Belanda, tidak lagi harus menentang maut dalam kecamuk perang. Namun hanya sedikit dari mereka yang berhasil dalam tugas-tugas berat seperti itu. banyak di antara mereka yang tidak kembali dari menjalankan perintah seperti itu. Dan tak ada yang tahu bagaimana cara kematian mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar ceritaku itu, Keumalahayati dan Akmal tampak diam. Mereka seolah tak percaya dengan semua itu. &lt;br /&gt;
“Kasihan juga orang Madura itu ya kek,” kata Keumalahayati.&lt;br /&gt;
“Bukan kasihan, tapi beruntung ia bisa sampai ke Panteraja dengan selamat. Ada banyak pekerja paksa yang memiliki nasib tak sebaik dia,” kataku.&lt;br /&gt;
“O..yaa…cerita lagi dong kek,” pinta Keumalahayati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menjawab rasa penasaran Keumalahayati dan Akmal. Kulanjutkan ceritaku tentang para pekerja paksa yang diadu sesama pekerja paksa oleh Belanda. Mereka mengangapnya sebagai hiburan penanggal lelah usai pulang patroli. Karena itu tak jarang para pekerja paksa yang menangkut logistik marsose membuang satu persatu barang bawaannya untuk mengurangi berat beban yang ia pikul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lama-lama hal itu diketahui juga karena banyaknya barang yang hilang. Untuk mencegah hal itu terulang, komandan marsose kemudian mengangkat salah seorang pekerja paksa sebagai mandor untuk mengawasi pekerja paksa lainnya. Untuk membuktikan ia bisa bekerja dengan baik, mandor itu tak segan-segang menghukum kawannya sendiri. Mereka dua kali dijajah, oleh Belandan dan oleh mandor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini juga terjadi pada pekerja paksa rombongan transport yang membawa perbekalan dan barang kebutuhan marsose ke suatu wilayah. Seperti dialami rombongan transport pimpinan Letnan Jenae yang dikenal sebagai komandan kecil, si tuan cabe rawit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenae merupakan seorang letnan muda. Pada tahun 1905 dengan kekuatan dua pasukan infantri bersenjata 40 karaben dengan bayonet, mereka mengawasi 400 pekerja paksa dari Kuala Simpang ke Penampaan Blangkejeren. Barisan pekerja paksa yang mengangkut barang-barang tersebut panjangnya melebihi satu kilometer. Mereka diawasi oleh 40 marsose. Jenae membuat peraturan setiap sepuluh pekerja paksa diawasi oleh satu tentara bersenjata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pekerja paksa itu mengangkut minuman keras (jenever) untuk para marsose di medan perang. Mereka juga mengangkut berkaleng-kaleng minyak tanah untuk pasukan di bivak-bivak. Barang bawaan itu sangat memberatkan pekerja paksa. Dengan mendaki gunung dan menuruni lembah, mereka memikul beban berat itu. Di punggung mereka barang-barang tersebut diikatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun para pekerja paksa yang licik dengan segala cara membuat agar barang yang dibawanya itu berkurang sedikit demi sedikit. Kaleng-kaleng minyak dibuatnya menjadi bocor dengan cara menumbukkan benda keras dan tajam, sehingga sedikit demi sedikit minyak itu tumpah. Begitu juga dengan minuman keras, poci-poci jenever dibuat berkurang isinya sedikit demi sedikit. Sementara tenda-tenda perkemahan yang mereka angkut, yang merupakan barang bawaan yang paling dibenci para beer&amp;nbsp; karena besar dan berat, sering dihanyutkan saat menyebrang sungai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menghadapi kelicikan pekerja paksa itulah Letnan Jeane membuat peraturan mengangkat mandor untuk mengawasi para pekerja paksa. Kepada mandor diberi tanggungjawab menjaga agar barang bawaan tak berkurang satu pun. Setelah berjalan beberapa hari, pasukan Jenae yang mengawasi 400 pekerja paksa itu tiba&amp;nbsp; Brawang Tingkeum, suatu daerah yang dianggap angker waktu itu. Di sana mereka harus menyebrangi sungai Wih Ni Oreng. Dan dari seberang sungai mereka ditembaki oleh para pejuang Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pekerja paksa yang terjebak dalam sungai saling berpegangan agar tidak hanyut. Sementara 40 tentara yang mengawasi pekerja paksa itu membalas tembakan pejuang Aceh. Namun peluru pejuang Aceh dari atas tebing lebih cepat menerpa tubuh tentara Belanda itu. Lusinan tentara Belanda tewas dan hanyut dalam sungai itu. Sementara para pekerja paksa yang membawa barang yang berada paling belakang tidak mendapat pengamanan. Sekitar 20 pejuang Aceh dari Gayo keluar menyerang dari semak-semak dan merampas barang bawaan pekerja paksa itu, setelah menebas lehernya dengan kelewang. Letnan Jeane benar-benar panik dan prustasi. Ia selamat karena berlindung di punggung empat anak buahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Usai bercerita tentang pekerja paksa itu, aku mengajak Keumalahayati dan Akmal ke rumahku di sudut kota Banda Aceh. Mobil terus merangkak di jalan kampung. Pada belokan kedua di depan kampus swasta milik pengusaha Aceh di Jakarta, Keumalahayati kembali menagih cerita lanjutan tentang pekerja paksa itu. Terlihat raut wajahnya menyimpan penasaran yang dalam. Sementara Akmal mulai akrab dengan Kasem, cucuku yang meminjamkan&amp;nbsp; mobilnya untuk menjemput Keumalahayati. Sambil menyetir ia berbicara dengan Akmal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap jengkal tanah Aceh memang penuh dengan sejarah. Aku pun rela menghabiskan waktuku untuk mempelajari satu persatu kepingan sejarah itu. Dan tentu akan suka rela pula menceritakannya pada siapapun. Seperti cerita pekerja paksa itu yang memberikan kisah penuh warga di balik perang Aceh dengan Belanda. Dan kini kumelanjutkan ceritaku itu pada Keumalahayati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengutip sebuah cerita tentang pekerja paksa bernama Kimun yang tempramen. Ceritanya kutemukan dalam catatan Zentgraaff. Ia mengisahkan, Kimun dibawa ke Aceh pada tahun 1896 sebagai pekerja paksa. Ia harus menjalani hukumannya di Aceh selama 20 tahun. Kimun&amp;nbsp; berada di Aceh pada masa pengkhianatan Teuku Umar yang pura-pura membelot pada Belanda, kemudian melarikan puluhan pucuk senjata untuk kembali memerangi Belanda. Kisah Teuku Umar ini dikenal sampai sekarang sebagai taktik tipu Aceh yang terkenal sepanjang masa. Sebuah penipuan yang memberikan tamparan keras bagi Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukuman sebagai pekerja paksa di Aceh selama 20 tahun sangatlah lama bagi Kimun. Karena itu ia menawarkan diri untuk menembus daerah kepungan pasukan Aceh. Ia bersedia mengantarkan surat kepada pasukan Belanda di daerah lain. Tujuannya hanya satu, ingin memperoleh pengurangan hukuman atau bisa jadi dibebaskan bila berhasil. Ia sangat ingin segera pulang ke Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ia ditangkap oleh gerilyawan Teuku Umar. Surat dari tangannya dirampas. Untuk membuktikan pada Belanda bahwa surat itu tidak sampai, Teuku Umar tidak membunuh Kimun tapi mencabik cabik tubuhnya dengan sabetan pedang. Ia kemudian dibuang dalam sungai. Dalam keadaan hampir tak bernyawa lagi, Kimun ditemukan oleh Belanda terapung di pinggir sungai di daerah Lambaro, Aceh Besar. Belanda kemudian merawat dan mengobatinya, meski ia gagal, ia dibebaskan dari hukuman kerja paksa dan diperbolehkan untuk kembali ke Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Kimun menolak pembebasannya. Ia sangat dendam dengan orang Aceh setelah apa yang dialaminya itu. Ia tetap tinggal di Aceh dan bekerja sebagai jongos pada Grasfland, seorang opsir Belanda. Ketika tuannya itu meninggal, ia pindah ke rumah opsir lainnya dan bekerja sebagai jongos di Lhokseumawe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari ia berjalan-jalan di Keude Cina, membeli sebotol limun di sana. Seorang polisi datang hendak menangkapnya, karena mengira ia pekerja paksa yang lari dari tugas. Kimun kemudian memukul polisi itu dengan botol limun tersebut. Atas perbuatannya itu Kimun dihukum sepuluh tahun. Ia dikirim ke Jambi sebagai pekerja paksa. Di sana ia juga membuat ulah hingga dikirim ke Menado. Tak lama di sana ia dibebaskan dari sisa hukumannya dan dikembalikan ke kampungnya di Surabaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anehnya, ia tidak betah di kampungnya. Ia ingin kembali ke Aceh untuk membalaskan dendamnya. Ia meminta kepada Veltman, opsir Belanda yang akan bertugas di Aceh. Veltman menyanggupinya dan mempekerjanya sebagai jongos masak memasak di Tapaktuan. Tapi karena sifatnya yang terlalu agresif, Kimun tidak lama berada di Tapaktuan. Ia mengalami gangguan mental akibat traumanya dengan orang-orang Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia diambil oleh Hein Meijer seorang Belanda kadet perang di Aceh. Namun di sana Kimun juga membuat masalah hingga Meijer menghukumnya. Kimun tak tahu harus ke mana. Ia nekat meretas pegunungan dari Tapaktuan menuju Sigli. Tak jelas bagaimana nasibnya dalam perjalanan itu.&lt;br /&gt;
“Mungkin dia ditangkap orang Aceh dan dibunuh,” kata Keumalahayati.&lt;br /&gt;
“Tapi bisa jadi juga dia dimangsa binatang buas dalam hutan,” sambung Akmal. &lt;br /&gt;
Aku hanya tersenyum menanggapi keduanya. Karena memang tak ada yang tahu bagaimana nasib Kimun dalam pelariannya dari Tapaktuan ke Sigli itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soal pekerja paksa yang mati dimangsa binatang buas sebagaimana dugaan Akmal itu memang ada kejadiannya. Sekelompok pekerja paksa yang oleh Belanda disebut sebagai si babi lanang itu ada yang mati menengenaskan dalam rimba Aceh. Mayat mereka dibiarkan tergeletak begitu saja di jurang-jurang bebatuan, menjadi santapan binatang buas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang, para pekerja paksa yang kelaparan dan dahaga mencuri sedikit makanan. Namun mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya itu dengan diikat di batang kelapa dan dicambuk sampai 25 kali dengan rotan. Peristiwa seperti ini sering dialami oleh pekerja paksa yang membangun rel. Meski ada yang mati dalam cambukan itu, tak juga menyurutkan niat para pekerja paksa lainnya untuk mencuri lagi bila ada kesempatan. Malah ada yang mencuri senjata untuk dijual kepada gerilyawan Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Belanda menerapkan taktik perang terpusat, para pekerja paksa itu mendapat tugas untuk mengamati rel kereta api yang longgar dan memperbaikinya. Sebuah peritiwa di luar Aceh Besar membuat sekawanan pekerja paksa itu tewas dengan tubuh tercabik-cabik saat memperbaiki bantalan rel. Sekrup yang mereka pakai untuk memperbaiki ganjalan-ganjaan rel menarik seutas kabel yang membuat sebuah bom meledak. Tubuh mereka tercabik-cabik dengan mengenaskan. Sejak peristiwa itu tak ada tentara Belanda yang berani memperbaiki rel. Itu selalu menjadi tugas yang harus dilakukan oleh para pekerja paksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk membersihkan bahan peledak di rel trem, setiap malam para pekerja paksa harus menjaga lampu yang terdapat di luar benteng pertahanan. Sering juga mereka mengantarkan surat dari satu pos ke pos lainnya melalui daerah-daerah berbahaya yang dikuasai gerilyawan Aceh.&lt;br /&gt;
“Tragis juga nasib mereka ya kek?” tanya Keumalahayati menanggapi ceritaku itu.&lt;br /&gt;
“Ya..itu hanya secuil kisah, tapi ada yang lebih menarik tentang pengkhianatan dari orang-orang Aceh sendiri sehingga Belanda bisa masuk ke Aceh, juga tentang pengkhianatan diplomat Aceh di Singapura, kamu harus mengetahui tentang hal itu,” kataku pada Keumalahayati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjalanan pulang itu terasa begitu singkat. Tanpa sadar kami sudah sampai ke rumah. Aku baru mengetahuinya ketika Kasem menghentikan mobil. Kami semua masuk untuk istirahat.&lt;br /&gt;
“Suatu saat cerita pengkhianatan itu akan kuceritakan padamu,” janjiku pada Keumalahayati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;Dikutip Dari&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;http://iskandarnorman.blogspot.com&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/01/surat-dari-den-haag-2.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTKoUD2rY3ye2MeAhJoocIEC0MI_5Ybhy-MtlKHAkMCKStO5atxdlGDHmFbOicThP5NR85GlL7squU4vE0Wwtiz2ylYu4QromDvce_xVU-13O_qo27EWur396DrPar_SshCy4R360SzOtp/s72-c/ufuk.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-1609498226560403873</guid><pubDate>Sun, 16 Jan 2011 04:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-16T11:15:07.137+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah Perang Aceh</category><title>Surat dari Den Haag (1)</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbyvrbUbe7xKZv0_PhqjtSU_rMtOQunhSQNKocjZadaBB00i39dnCKBr7Rvl6j4PYBoJ779fF5VXGzL69M2MaNbvQOtbaOPBhtrQ8wD8kgoFkoVB71qsQgVhS3i670r61rIPsNfsC_GMI9/s1600/surat1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbyvrbUbe7xKZv0_PhqjtSU_rMtOQunhSQNKocjZadaBB00i39dnCKBr7Rvl6j4PYBoJ779fF5VXGzL69M2MaNbvQOtbaOPBhtrQ8wD8kgoFkoVB71qsQgVhS3i670r61rIPsNfsC_GMI9/s1600/surat1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pagi masih dhuha. Seorang pria mengetuk pintu rumahku. Ia seperti terhesa-gesa. Belum selesai kubuka pintu, kulihat ia merogoh isi tasnya. Sebuah amplop sebesar buku tulis berwarna krem disodornya padaku.&lt;br /&gt;
“Hebat. Sekarang kakek punya saudara di luar negeri,” katanya tanpa melihat ke wajahku. Ia masih sibuk membetulkan letak lusinan amplop dalam tasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar tercengang. Siapa gerangan yang mengirimkanku surat. Cucu-cucuku yang kuliah di luar kota tak pernah mengirimiku surat. Paling hanya telepon ke telepon genggam milik Asmimara tetanggaku, yang kemudian akan mengantarkannya padaku untuk bercakap-cakap dengan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ini benar-benar kejutan di pagi hari.&lt;br /&gt;
“Sudah ya Kek, Asslamualaikom.” Tukang pos itu pamit. Salamnya membuyarkan lamunanku. Aku masih penasaran dengan amplop krem itu. Kutimang-timang beberapa saat. Sampulnya berbalut plastik menandakan isi amplop ini sangat penting. Kugerak-gerakkan isi dalam amplop itu, terasa ada beberapa lembar kertas tebal di dalamnya.&lt;br /&gt;
“Mungkin ini surat dari pustakawan Belanda di Amsterdam,” batinku. &lt;br /&gt;
Ya… sekitar tiga bulan lalu aku memang mengirim surat ke negeri kincir angin itu, menanyakan keberadaan Atjeh Institute, lembaga yang didirikan oleh Pemerintah Belanda pada 31 Juli 1914 melalui surat keputusan KB nomor 61. Lembaga yang mengkaji Aceh ini didirikan atas prakarsa Profesor Doktor Cristian Snouck Hurgronje. Ia juga yang menjadi ketua di lembaga tersebut, dengan Doktor C Jansen sebagai sekretaris dan Profesor J V Van Werde C J Haselman sebagai bendara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di lembaga itu terhimpun tulisan-tulisan kaum orientalis barat tentang Aceh. Aku akan sangat bahagia jika memang amplop yang kupegang ini berisi jawaban terdahap sejumlah tanya yang selama ini menjuntai dalam benakku. &lt;br /&gt;
“Isi amplop ini mungkin kopian bagian buku Encyopedie Van Ned Indie karya Kreemer yan pernah kuminta dalam suratku tempo dulu.” Aku mencoba menerka-nerka isinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bisa jadi juga ini informasi tentang karya beberapa penulis barat yang menulis tentang Aceh yang juga kupertanyakan dalam surat itu, seperti Van Veer, Van Graaff, Van De Plass, Van Den Nomensen. Kalau benar, maka ini adalah sebuah berkah di pagi hari. Aku hanya tinggal menunggu jawaban berbagai negara lainnya soal karya-karya penulis mereka tentang Aceh. Akan lengkap pemahamanku jika pihak Pustaka Nasional Inggris mau mengirimkanku karya Profesor Doktor Griff yang pernah meneliti Aceh. Begitu juga dengan catatan Marcopolo dari Spanyol, dan tulisan Profesor Doktor Wit Shing dari China.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka semua adalah orang-orang yang menulis tentang Aceh. Tulisan mereka masih orisinil dan objektif, kecuali dari Atjeh Institute yang memboncengi kepentingan Belanda untuk penaklukan Aceh. Namun sebagai bahan pembanding dengan tulisan-tulisan lain, karya-karya mereka sangat berharga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali menimang-nimang amplop itu. Sambil duduk melipat kedua kaki di atas tikar pandan, kurobek sampul plastik bening itu. Namun, mataku kemudian terbelalak ketika melihat tulisan di sudut kanan amplop itu. “Dari Keumalahayati di Den Haag” Aku tambah bingung. Itu nama orang Aceh, mungkinkan ada orang Aceh yang bekerja di sana. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat aku urung membukanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sudut amplop lainnya tertera tulisan yang tak kalah mengangetkanku. “Kepada Kakek Nyak Oebiet Kaoey di Meureudu.”&amp;nbsp; Ia tahu lengkap namaku. Ia juga menambah panggilan kakek di sana. Siapa gerangan Keumalahayati ini. Orang Belanda tak mungkin punya nama seperti itu. Itu namanya laksamana perempuan Aceh yang memimpin armada perang Aceh di Selat Malaka ketika berperang dengan Portugis.&lt;br /&gt;
“Ah…bisa jadi itu orang Belanda yang kagum dengan kehebatan laksamana perempuan pertama di dunia itu, hingga ia menggunakan nama Keumalahayati,” aku membatin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beragam tanya menjuntai di benakku. Melihat sampul amplop dan nama pengirimnya, aku menduga ini bukan surat resmi dari pustaka Belanda, karena tak ada kop dan logo apa-apa di sana. Ini pasti surat pribadi. Tapi siapa gerangan Keumalahayati itu yang mengirimkan surat pribadinya untukku. Dengan sejuta tanya, segera kubuka sampul amplop itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memang harus kecewa di pagi itu. Surat yang kuterima memang bukan jawaban dari suratku tiga bulan lalu. Mimpi akan menemukan tulisan-tulisan kaum orientalis barat tentang Aceh buyar sudah. Namun di balik kekecewaan itu, aku kembali dikagetkan dengan dua lembar foto perempuan berjilbab di dalam amplop itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis tersenyum dalam foto itu. Ia mengenakan blezer warga abu-abu dengan rok sewarna sampai tumit. Di belakangnya tertera tulisan tangan. “Keumalahayati di depan Balai Kota ‘Het Ijspaleis’&amp;nbsp; Istana esnya Den Haag”. Foto lainnya dengan pakaian yang hampir senada, ia berdiri di Malieveld yang disebutnya sebagai alun-alun kota Den Haag.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tambah penasaran degan Keumalahayati. Kubaca dua lembar suratnya. Karena tergesa-gesa aku tak bisa membedakan bagian pertama dan kedua surat itu. Namun kubaca juga. Keumalahayati banyak bercerita tentang Kota Den Haag, mulai dari pengeboman kota itu oleh angkatan udara Britania Raya di daerah perkampungan Bezuidenhout&amp;nbsp; pada 3 Maret 1945 yang menewaskan 510 penduduk. Sampai tentang Koferensi Meja Bundar antara Indonesia dan Belanda di Den Haag pada 23 Agustus dan 2 Noverber 1945.&lt;br /&gt;
“Gadis ini penyuka sejarah,” kataku dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku semakin bersemangat membaca suratnya. Paling tidak, bila suratku benar-benar tak dibalas oleh pihak Pustaka Belanda, aku telah menemukan Keumalahayati yang bisa membantuku untuk memndapat berbagai hal yang kuinginkan. Apalagi Keulahayati jelas-jelas terkesan dalam suranya itu sebagai gadis penyuka sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada baris-baris selanjutnya ia bercerita tentang penduduk Indobelanda. Mereka adalah orang-orang dari Indonesia yang dibawa oleh Belanda ke sana. Mereka banyak menetap di Den Haag yang kemudian menjadikan kota itu sebagai kota Indisch. “Sering juga disebut sebagai weduwe van Indie, karena di sini banyak janda Hindia Belanda, orang-orang dari Indonesia yang dipeistrikan oleh Belanda ketika di Indonesia,” jelasnya dalam surat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika aku menduga bahwa Keumalahayati mungkin anak salah satu janda itu. &lt;br /&gt;
“Tapi pada zaman penaklukan Belanda di nusantara, sangat jarang malah bisa dikatakan tidak ada perempuan Aceh yang mau disunting Belanda,” aku membantah dugaanku sendiri. Dengan bantahan itu, maka semakin besar rasa penasaranku terhadap Keumalahayati. Ia tak mungkin anak janda Belanda, raut wajahnya tak mencerminkan ia keturunan Indo. Wajahnya benar-benar wajah khas Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai membaca satu bagian surat itu, kulanjutkan pada bagian lainnya. Ternyata tadi aku membaca surat halaman ke dua. Dan yang kupegang ini adalah bagian pertama dari surat itu. “Saya cucu kakek…” tulisnya. Membaca itu aku tambah terkejut. Anakku yang mana yang memberiku cucu secantik itu. “Bukan….bukan…bukan..,” kataku dalam hati sambil melempar lembaran surat itu ke tikar pandan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak mungkin memiliki cucu di Belanda. Aku sangat benci Belanda. Mendengar nama Belanda saja aku teringat berbagai fakta sejarah Aceh yang hilang, yang kepingan-kepingannya ingin kukumpulkan. Karena itu pula aku mengirimkan beberapa surat ke sana. Surat yang sampai sekarang tak berbalas, kecuali surat Keumalahayati yang datang tanpa kuminta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengusap muka dengan kedua telapak tangan. Kulanjutkan membaca surat itu. Aku ingin membunuh penasaran dan mencari jawaban dari pengakuannya sebagai cucuku. Perasaanku semakin tak menentu membaca kalimat-kalimat surat Keumalahayati. “Ayahku Hasan, anak kakek.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat itu jatuh dari tanganku. Bagaimana seorang gadis di Belanda mengetahui nama putra pertamaku. Itu tidak mungkin, gadis itu hanya mengada-ngada. Pikiranku tambah galau. Seandainya di rumah masih ada istriku, aku akan meminta pendapatnya tentang surat itu. Tapi aku memang sudah lama sendirian di rumah ini. Aku menyendiri, menolak tinggal di rumah anak-anakku, karena di rumah ini aku bisa leluasa membaca apa saja yang ingin kubaca tentang Aceh tanpa ada yang mengusiknya. Meski kadang-kadang kerinduan pada cucu-cucuku membuatku harus meninggalkan rumah ini dua tiga hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutatap kembali lembar surat itu. Pikiranku semakin jauh menerawang. Jangan-jangan surat itu dikirim oleh seseorang yang bukan keumalahayati dalam foto itu. Bukankah banyak sudah sejarah pencurian identitas untuk tujuan propaganda dan sejenisnya. Bisa jadi pengirim surat itu seorang mata-mata yang ingin mengorek informasi tentang Aceh setelah damai dari perang. Anggapan-anggapan seperti itu membuatku semakin penasaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pengirim surat itu, siapa pun dia, terlalu gegabah mengaku sebagai cucuku dari anakku Hasan. Putra tertuaku itu sudah meninggal dalam kecamuk perang&amp;nbsp; antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Republik Indonesia pada tahun 1999. Ia tewas bersama empat temannya di Glee Beuracan. Wajahnya remuk hingga kami tak mengenalnya sama sekali. Namun, kawan gerilyanya membenarkan itu Hasan, anakku. Karena Hasan yang memimpin kawan-kawannya senja itu menghadang iring-iringan truk tentara. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan galau kulanjutkan juga membaca surat itu. Aku menduga ini hanya orang iseng yang mendompleng identitas anakku. Aku segera teringat Donald Heathfield dan&amp;nbsp; Anna Chapman yang dituduh Amerika sebagai mata-mata Rusia yang memata-matai Amerika untuk kepentingan Rusia. Bisa jadi pengirim surat ini mata-mata Belanda yang ingin memata-matai Aceh setelah mereka gagal menaklukkan Aceh dalam perang termahal mereka di Indonesia. Aceh dulu adalah sebuah tamparan bagi Belanda, daerah terakhir yang coba dikuasainya, tapi daerah pertama yang ditinggalkan karena kekalahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian pertama suratnya ini benar-benar mencengangkanku. Siapun dia, aku harus membaca keseluruhan suratnya. Ia banyak bercerita tentang Hasan anakku. Aku tak habis pikir, ia mengetahui segalanya tentang keluargaku. “Ayah telah bercerita banyak,” tulisnya. Tapi bagaimana seorang yang sudah meninggal di Aceh bisa menikah dan punya anak di Belanda. Ini benar-benar mustahil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemustahilan itu sedikit demi sedikit berkurang, ketika ia menceritakan kepergian Hasan ke Belanda. Katanya, ia tidak tewas dalam pertempuran itu. Empat mayat itu adalah kawannya. Salah satunya menengenakan baju milik Hasan karena mereka memang sahabat dekat dari kecil. Yang tewas itu katanya Husein, anaknya Pawang Raman. Setelah peristiwa itu, Hasan katanya lari ke Batam, terus menyebrang ke Singapura, sampai akhirnya mendapat perlindungan orang-orang Aceh di Malaysia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak terasa bulir-bulir bening mengalir dari pelupuk mataku membasahi pipi yang keriputan. Kalau benar Hasan masih hidup kenapa selama duapuluh tahun lebih ia tak memberi kabar. &lt;br /&gt;
“Dari Malaysia ayah berjuang untuk mendapat suaka. Dan akhirnya dibawa ke Denmark, tak lama di sana ia memutuskan untuk merantau ke Belanda. Dan di Den Haag ayah menemukan Ummi Salamah sebagai pendamping hidupnya yang telah melahirkanku sebagai putri satu-satunya,” tulis Keumalahayati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar menangis. Ketika melanjutkan membaca kalimat surat itu. “Tahun lalu ayah meninggal. Aku mendapat alamat kakek dari kawanku di jejaring sosial dunia maya. Kalau benar yang membaca surat ini adalah kakekku, balas surat ini, karena aku ingin menjengukmu setelah mendengar kabar Aceh tanah ayahku telah aman dari nestapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuraih kembali amplop surat itu untuk melihat sisa isinya. Di dalamnya kutemukan foto Hasan bersama dua orang perempuan. “Ini aku Ummi dan Ayah,” tulis Keumalahayati di balik foto itu. Itu benar-benar Hasan, wajahnya belum berubah, ia hanya tambah putih sedikit. Foto lainnya memperlihatkan Keumalahayati dan Salamah menziarahi kuburan Hasan. Aku benar-benar ingin ke sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika aku tak dapat menahan luapan emosiku. Aku terus menangis. Seorang pemberontak yang tertawa ketika kuku kakinya dicabut tentara, kini menangis dalam kesendiriannya. Seorang pemberontak yang masih mampu meludahi muka tentara ketika badannya disetrum listrik, kini sendu di ruang tamu rumah kecilnya. Seorang pemberontak yang kalah perang dengan nasibnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber:&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;http://iskandarnorman.blogspot.com&lt;/span&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/01/surat-dari-den-haag-1.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbyvrbUbe7xKZv0_PhqjtSU_rMtOQunhSQNKocjZadaBB00i39dnCKBr7Rvl6j4PYBoJ779fF5VXGzL69M2MaNbvQOtbaOPBhtrQ8wD8kgoFkoVB71qsQgVhS3i670r61rIPsNfsC_GMI9/s72-c/surat1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-8622001319062834714</guid><pubDate>Fri, 14 Jan 2011 15:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-14T22:14:26.530+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dunia Islam</category><title>Azan: Pekida, Perkasa mahu ‘peguam’ MCA ditahan ISA</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KUALA LUMPUR, 14 Jan — Sekitar 100 orang berhimpun di pekarangan Masjid  Al-Ikhlasiah, Kampung Kerinchi di sini, mengadakan tunjuk perasaan  petang ini mendesak agar seorang peguam, yang didakwa menggesa  penggunaan pembesar suara dihentikan, ditahan di bawah Akta Keselamatan  Dalam Negeri (ISA).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfNGsc4mOqBRDycEY_61jL71tYMYJ9wy2B-W-uaX-UI2GOO8dCKK5AtAO4drSV_PKTyTCo4XHoXhHbsAV1KGYixn7lgKuZIWLkBr9DZaU6DPmp4PUqZpltuKoRhW6CG1IAlbd0KzIwUnZ7/s1600/azan-protest-jan14.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfNGsc4mOqBRDycEY_61jL71tYMYJ9wy2B-W-uaX-UI2GOO8dCKK5AtAO4drSV_PKTyTCo4XHoXhHbsAV1KGYixn7lgKuZIWLkBr9DZaU6DPmp4PUqZpltuKoRhW6CG1IAlbd0KzIwUnZ7/s1600/azan-protest-jan14.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kumpulan itu terdiri daripada anggota kumpulan NGO Pekida dan Perkasa  mendakwa peguam terbabit menuntut agar masjid tersebut menghentikan  penggunaan pembesar suara bagi tujuan azan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Penunjuk-penunjuk perasaan berkenaan menamakan peguam terbabit, malah  mempamerkan alamat rumah dan nombor telefonnya pada kain rentang ketika  berdemonstrasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengerusi Pekida Lembah Pantai, Zakaria Awang mendesak individu itu ditahan kerana menghasut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kami mahu dia ditahan di bawah ISA kerana mengancam keharmonian negara,” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Katanya, dia boleh mengubah kewarganegaraan jika mahu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malah kata beliau, peguam itu juga harus membuat permohonan maaf secara terbuka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kumpulan itu juga mengedarkan salinan surat yang didakwa dihantar ke  Pejabat Perdana Menteri meminta nada laungan azan menggunakan pembesar  suara dikurangkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam suratnya bertarikh 20 Disember 2010, peguam tersebut berkata dia ahli MCA sejak 1998.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Katanya, dia tinggal di Pantai Hill Park sejak lima tahun lalu dan terjaga daripada tidur kerana laungan azan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam salinan surat yang diperoleh dari Internet, peguam itu berkata,  “sebagai seorang peguam dan ahli seumur hidup MCA sejak 1998, saya  merasa amat kesal kerana sehingga kini belum menerima sebarang maklum  balas dari pihak Jabatan Perdana Menteri walaupun berkali-kali saya  telah menulis surat menyuarakan masalah saya termasuk kepada JPA, MCA  dan Gerakan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sebagai seorang penghuni yang telah lebih daripada lima tahun  menghuni di Pantai Hill Park, saya sudah biasa kedengaran bunyi  sembahyang subuh dari Masjid Al-Ikhlasiah yang berdekatan dan tidak  menghadapi apa-apa masalah,” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimanapun kata peguam itu, sejak beberapa bulan lalu dia mendapati  bunyi laungan azan tiba-tiba menjadi “amat lantang sehingga mengejutkan  saya pada setiap pagi 5.45 pagi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ambil perhatian bahawa saya tinggal di tingkat paling tinggi iaitu  tingkat 21, dan jarak Pantai Hill Park dari masjid tersebut adalah lebih  kurang satu kilometer.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Menurut khabar angin, imam yang baru telah ditukar ke masjid ini,” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia seterusnya menulis, “saya juga pernah menelefon pejabat polis  Kuala Lumpur dan menurut pegawai atasan di sana, tiada sebarang  peraturan atau undang-undang yang mengawal bunyi sembahyang masjid dan  lagi kuat bunyi itu lagi baik, untuk mengingatkan lebih banyak Muslim  tempatan bangun bersembahyang.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Saya menghormati kedudukan Islam sebagai agama rasmi di bawah  Perlembagaan Persekutuan tetapi hak saya untuk tidur dan rehat serta  bersembahyang agama sendiri dengan aman dalam permis persendirian juga  harus dihormati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Saya berpandangan kekuatan pembesar di mana-mana tempat sembahyang  tanpa mengira agama, mesti dikawal oleh pihak-pihak berkuasa tertentu,  melalui peraturan yang saintifik dan rapi seperti pengiraan decibel  (dB), tidak boleh mengatasi undang-undang,” katanya sambil menambah,  “seperti di rumah kampung saya di Seremban, didapati bunyi masjid itu  adalah lebih rendah dan terkawal.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Difahamkan peguam itu pernah berkhidmat di pejabat bekas presiden MCA, yang ketika itu anggota Kabinet.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peguam itu juga gagal dihubungi untuk mendapatkan pengesahan sama ada menulis surat tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengerusi Persatuan Penduduk Kampung Kerinchi Fauzi Che Ahmad berkata  peguam tersebut mesti menghormati sensitiviti masyarakat Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Timbalan Pengerusi Pekida Lembah Pantai Sallehudin Yakob juga berkata  perhimpunan hari ini bukan bermotifkan politik, tetapi mahu  mempertahankan kesucian Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kami tidak pernah mengadu apabila orang Cina membakar mercun di tengah malam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kami tidak pernah bising apabila ia dibakar berjam-jama lamanya. Jangan bermain dengan api,” kata beliau.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekumpulan penunjuk perasaan minoriti menggesa kepala peguam itu dipenggal dan rumahnya dibakar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malah kumpulan itu juga menggesa Ahli Parlimen Lembah Pantai Nurul Izzah Anwar menjelaskan pendirannya dalam isu ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian kumpulan itu mengibarkan bendera Pekida dan mula membakar  beberapa patung sebelum tindakan mereka dihentikan oleh polis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;sumber:&lt;/div&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;http://www.themalaysianinsider.com&lt;/span&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/01/azan-pekida-perkasa-mahu-peguam-mca.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfNGsc4mOqBRDycEY_61jL71tYMYJ9wy2B-W-uaX-UI2GOO8dCKK5AtAO4drSV_PKTyTCo4XHoXhHbsAV1KGYixn7lgKuZIWLkBr9DZaU6DPmp4PUqZpltuKoRhW6CG1IAlbd0KzIwUnZ7/s72-c/azan-protest-jan14.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-3971441539364856927</guid><pubDate>Fri, 14 Jan 2011 14:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-14T21:32:10.823+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dunia Islam</category><title>Inilah Surat Keberatan Adzan;Si Kafir Cina Malaysia</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="postbody"&gt;Pihak pengurusan Majid Al-Ikhlasiah, Kampung  Kerinci mengambil pendekatan memperlahankan bunyi pembesar suara ketika  laungan azan termasuk ketika solat Jumaat, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ekoran aduan seorang peguam bukan Islam&lt;/span&gt; yang mendakwa bunyi solat di masjid itu "amat lantang". &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9FUBVn8vNHCl5vL3Y3-yeDHqyquE_j0mHGuHUFpm-s-3vk6_ji0zHMFx3HBvpckiFleSfRd-vmUgplSRkIihxZc2WdVB2hhx3Sli-gxNokSg7CiN8cOQdb63OK3jf4wsS_20NWKrFaqeE/s1600/masjidpd.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9FUBVn8vNHCl5vL3Y3-yeDHqyquE_j0mHGuHUFpm-s-3vk6_ji0zHMFx3HBvpckiFleSfRd-vmUgplSRkIihxZc2WdVB2hhx3Sli-gxNokSg7CiN8cOQdb63OK3jf4wsS_20NWKrFaqeE/s1600/masjidpd.jpg" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="postbody"&gt;Ketua imam masjid berkenaan Mahadi Abdullah  berkata pihaknya mengurangkan kadar laungan azan itu selepas mengadakan  perbincangan dengan Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan (JAWI) akhir  Disember lalu. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; "Selepas berjumpa dengan JAWI, kita memperlahankan sedikit laungan azan (pembesar suara) pada setiap waktu solat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ketika khutbah Jumaat, kita menggunakan pembesar suara dalam dewan  solat sahaja," katanya ketika ditemui Malaysiakini petang ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mahadi yang mula bertugas di masjid berkenaan sejak Mac tahun lalu  berkata keputusan pihak masjid itu menimbulkan 'rasa tidak puashati' di  kalangan penduduk yang majoritinya orang Melayu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size: 15px; line-height: normal;"&gt;Arahan pihak atasan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, Mahadi berkata beliau "tidak boleh buat apa-apa kerana ia adalah arahan pihak atasan". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kita terpaksa ikut," katanya sambil menambah pertemuan beliau dengan pihak JAWI berlangsung pada akhir Disember lalu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mahadi berkata beliau difahamkan aduan peguam tersebut yang tinggal di  Pantai Hill Park - dimajukan terus kepada perdana menteri sebelum  dipanjangkan kepada menteri di Jabatan Perdana Menteri dan JAWI serta  akhirnya dimaklumkan kepada pihak masjid. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katanya, dalam surat tersebut - yang salinannya diberi oleh JAWI kepada  pihak masjid - peguam itu mendakwa bunyi solat Subuh di masjid itu "amat  lantang" sehingga mengejutnya dari tidur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Difahamkan peguam tersebut tinggal di pangsapuri berkenaan - yang terletak lebih kurang satu kilometer dari situ. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mahadi berkata, pihaknya dimaklumkan oleh JAWI bahawa beberapa hari  sebelum ini, peguam berkenaan ada menelefon jabatan itu, merungut bahawa  bunyi azan "masih lagi kuat". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehubungan itu, Mahadi meminta peguam berkenaan bertemu dengan pihak pengurusan masjid untuk menyelesaikan perkara tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai rungutan penduduk yang mereka tidak lagi mendengar bacaan  al-Quran dan pengajian kuliah Maghrib manakala laungan azan Jumaat yang  perlahan sekarang, Mahadi sekali lagi berkata: "Saya tidak boleh berbuat  apa-apa, kita hanya terima arahan dari pihak atasan". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ganggu tidur &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
NONESelain memperlahankan kadar pembesar suara bagi laungan azan, Mahadi  berkata pihaknya turut mendapatkan maklum balas dari penghuni  pangsapuri Pantai Hill Park (kelihatan di belakang masjid). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kira-kira 10 orang yang ditanya, kebanyakanya berkata laungan (pembesar  suara) azan adalah biasa, tidak mengganggu tidur... tak ada apa-apa  (masalah), tak ganggu," katanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditanya mengenai rancangan sekumpulan individu untuk mengadakan  perhimpunan membantah tindakan peguam berkenaan, Mahadi berkata,  pihaknya ada mendengar mengenainya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tetapi kita (masjid) tidak terlibat apa-apa," katanya sambil menambah beliau tidak mengetahui identiti kumpulan berkenaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, Malaysiakini dimaklumkan perhimpunan memprotes aduan  peguam tersebut akan diadakan selepas solat Jumaat di masjid tersebut  esok, yang akan diketuai sebuah pertubuhan yang dikenali sebagai Majlis  Ayahanda Malaysia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dihubungi Malaysiakini, penolong setiausaha majlis tersebut, Amin  Rahim Harun berkata, kira-kira 500 orang akan menyertai perhimpunan  itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kita tidak mahu perkara ini berlarutan kerana ia menjadi isu sensitif kepada orang Melayu," katanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
============== &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ini ialah surat aduan oleh peguam terbabit : &lt;/span&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihX8RZ-BUm14snRQzwr-UByfC_73T4aJFPkvWrLbuQaY9vOKXMazi2JVCX2xmFh8gzYMtyhRvyUlOrOMDbIemeEZdQHRdIIrQMEJqJ2DzQ8OULmslVXgTdhVn0p1t-riOCNZyjd6_hRQY4/s1600/masjidpantaidalam_0001.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhli79PA3pP0iwrpr9Zgqy6ddjNOy58XHvx-xhgl1WqK1lwm6c2YUote55MfqQQSJA7gFAZvfL5Iwbl1FJT_UD3DNWsy_oX6NA_q2Yr1de1bfgWwcoyBSiL9GwtbbLTnUV2x6et78Ri73-6/s1600/masjidpantaidalam_0002.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhli79PA3pP0iwrpr9Zgqy6ddjNOy58XHvx-xhgl1WqK1lwm6c2YUote55MfqQQSJA7gFAZvfL5Iwbl1FJT_UD3DNWsy_oX6NA_q2Yr1de1bfgWwcoyBSiL9GwtbbLTnUV2x6et78Ri73-6/s1600/masjidpantaidalam_0002.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhli79PA3pP0iwrpr9Zgqy6ddjNOy58XHvx-xhgl1WqK1lwm6c2YUote55MfqQQSJA7gFAZvfL5Iwbl1FJT_UD3DNWsy_oX6NA_q2Yr1de1bfgWwcoyBSiL9GwtbbLTnUV2x6et78Ri73-6/s1600/masjidpantaidalam_0002.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhli79PA3pP0iwrpr9Zgqy6ddjNOy58XHvx-xhgl1WqK1lwm6c2YUote55MfqQQSJA7gFAZvfL5Iwbl1FJT_UD3DNWsy_oX6NA_q2Yr1de1bfgWwcoyBSiL9GwtbbLTnUV2x6et78Ri73-6/s1600/masjidpantaidalam_0002.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9FUBVn8vNHCl5vL3Y3-yeDHqyquE_j0mHGuHUFpm-s-3vk6_ji0zHMFx3HBvpckiFleSfRd-vmUgplSRkIihxZc2WdVB2hhx3Sli-gxNokSg7CiN8cOQdb63OK3jf4wsS_20NWKrFaqeE/s1600/masjidpd.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihX8RZ-BUm14snRQzwr-UByfC_73T4aJFPkvWrLbuQaY9vOKXMazi2JVCX2xmFh8gzYMtyhRvyUlOrOMDbIemeEZdQHRdIIrQMEJqJ2DzQ8OULmslVXgTdhVn0p1t-riOCNZyjd6_hRQY4/s1600/masjidpantaidalam_0001.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9FUBVn8vNHCl5vL3Y3-yeDHqyquE_j0mHGuHUFpm-s-3vk6_ji0zHMFx3HBvpckiFleSfRd-vmUgplSRkIihxZc2WdVB2hhx3Sli-gxNokSg7CiN8cOQdb63OK3jf4wsS_20NWKrFaqeE/s1600/masjidpd.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/01/inilah-surat-keberatan-adzansi-kafir.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9FUBVn8vNHCl5vL3Y3-yeDHqyquE_j0mHGuHUFpm-s-3vk6_ji0zHMFx3HBvpckiFleSfRd-vmUgplSRkIihxZc2WdVB2hhx3Sli-gxNokSg7CiN8cOQdb63OK3jf4wsS_20NWKrFaqeE/s72-c/masjidpd.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-7281504525723051704</guid><pubDate>Mon, 10 Jan 2011 08:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-14T21:39:32.162+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Halal dan Haram</category><title>Babi dan Turunannya</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyEIHetcG6kWc60sv0pkBmX_I7Y3p8iswFTpRAr2T8xxWEWnkclhyphenhyphen2KqRx8eRPJW6QTkkMqq3gyWVCv3YVNteFgcYHbQdh-cHlEJtYi-Fgb3yfC_omaTRum3JnWheTNrNZQ8mt5pVENyO1/s1600/khinzir.PNG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyEIHetcG6kWc60sv0pkBmX_I7Y3p8iswFTpRAr2T8xxWEWnkclhyphenhyphen2KqRx8eRPJW6QTkkMqq3gyWVCv3YVNteFgcYHbQdh-cHlEJtYi-Fgb3yfC_omaTRum3JnWheTNrNZQ8mt5pVENyO1/s400/khinzir.PNG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/01/babi-dan-turunannya.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyEIHetcG6kWc60sv0pkBmX_I7Y3p8iswFTpRAr2T8xxWEWnkclhyphenhyphen2KqRx8eRPJW6QTkkMqq3gyWVCv3YVNteFgcYHbQdh-cHlEJtYi-Fgb3yfC_omaTRum3JnWheTNrNZQ8mt5pVENyO1/s72-c/khinzir.PNG" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-8486449939695765219</guid><pubDate>Sat, 08 Jan 2011 08:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-08T16:30:16.879+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pattani</category><title>Koleksi Foto; Kekejaman Tentara Musyrik Thailand terhadap Muslim Patani</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhE92yLjaZIN1pPH1Pn1fTRyLB5UjzRJNidcFRYYjJB2dHgl3S8PNbdafyW6MowmddB5QahOIOxLbe95j1YE-Ew0h4MHWVw6EJNmhb4wjVUuHSHNrSFWC9COBW1KbCa9AB2m6OT0k29L6QO/s1600/pat1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhE92yLjaZIN1pPH1Pn1fTRyLB5UjzRJNidcFRYYjJB2dHgl3S8PNbdafyW6MowmddB5QahOIOxLbe95j1YE-Ew0h4MHWVw6EJNmhb4wjVUuHSHNrSFWC9COBW1KbCa9AB2m6OT0k29L6QO/s320/pat1.jpg" width="277" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhs7Y0RwBA5ZlGNPDqwQqXsnkcfd2IcMX4udsL77RIq8qfoTDKeE_KcgxKl_5CCnIMVq3Z5qNf_K5Ysrap4IyuWDT5lHqII3xpvTxVMpkpsljJKuslDRYuYbU75fKtCYCXfO36du2kUrBs4/s1600/pat2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="164" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhs7Y0RwBA5ZlGNPDqwQqXsnkcfd2IcMX4udsL77RIq8qfoTDKeE_KcgxKl_5CCnIMVq3Z5qNf_K5Ysrap4IyuWDT5lHqII3xpvTxVMpkpsljJKuslDRYuYbU75fKtCYCXfO36du2kUrBs4/s320/pat2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOhMcLVSaKDByNda8LYfWZ7ePS92EbnTr03LxN6BALTTheJ3Q01t5eEsgV8vR0EOKCOr1KGOV0UMnIYlc3kyfpUcDfCy0yyeycRohrcnKTiNdOftX0k5UzU404HSK8T1bcSPMBCNDRG58p/s1600/pat4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="261" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOhMcLVSaKDByNda8LYfWZ7ePS92EbnTr03LxN6BALTTheJ3Q01t5eEsgV8vR0EOKCOr1KGOV0UMnIYlc3kyfpUcDfCy0yyeycRohrcnKTiNdOftX0k5UzU404HSK8T1bcSPMBCNDRG58p/s320/pat4.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiC7-9iEgVGuYCY3QeAQgCcVEK1g2HLU8_3dvFgRuCYZnjGBtw6bV-H2bvOmhPjSvk1dLsLr07YdQnbaIXDtoWoXrwoWsoZX3fSj-PhMV2beTlgZdRohd6dta3AGIlzohtaquMraxNHz9pk/s1600/pat3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiC7-9iEgVGuYCY3QeAQgCcVEK1g2HLU8_3dvFgRuCYZnjGBtw6bV-H2bvOmhPjSvk1dLsLr07YdQnbaIXDtoWoXrwoWsoZX3fSj-PhMV2beTlgZdRohd6dta3AGIlzohtaquMraxNHz9pk/s320/pat3.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFfWxPKlHzGKcGiE-7bz0ssHXucCzpr69YpqiDYiZnr1uNtvl3iNE33Nu80fTp3AiYstcmc9jolpmKIzZSphK75vvhDP7L7Sucb4qp34sediCV0vixj8SZSHxQmElgj3m50KVa5AgitA3e/s1600/pat5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="261" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFfWxPKlHzGKcGiE-7bz0ssHXucCzpr69YpqiDYiZnr1uNtvl3iNE33Nu80fTp3AiYstcmc9jolpmKIzZSphK75vvhDP7L7Sucb4qp34sediCV0vixj8SZSHxQmElgj3m50KVa5AgitA3e/s320/pat5.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiISh2pR6x0AvBkUKKOh3NACbQ0AnRPDr2tE1B-ZVqpGN5z6QWnDHWZ3CCNysoi87ZhXhOD5kcneofcFkOkUWBXzaFZPsJegdr4iGWUzD-JaZ-JY-iD5aHVEKG04obNpwqFF14PDfAOzHzI/s1600/pat6.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiISh2pR6x0AvBkUKKOh3NACbQ0AnRPDr2tE1B-ZVqpGN5z6QWnDHWZ3CCNysoi87ZhXhOD5kcneofcFkOkUWBXzaFZPsJegdr4iGWUzD-JaZ-JY-iD5aHVEKG04obNpwqFF14PDfAOzHzI/s320/pat6.jpg" width="213" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjocl3u-9KCNUWD0i0I8hVIxd3LqZWq7tx2CIRhs-iVj0bNf-c5442Z9mmoNa6hX_bq2oPZ44vccftaoPb9wn3_IVi9PxjdjL3BfZp1z9moeJzw6x0LAyyinoFS4Clk2h_YOL7RjL79RTt/s1600/pat7.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjocl3u-9KCNUWD0i0I8hVIxd3LqZWq7tx2CIRhs-iVj0bNf-c5442Z9mmoNa6hX_bq2oPZ44vccftaoPb9wn3_IVi9PxjdjL3BfZp1z9moeJzw6x0LAyyinoFS4Clk2h_YOL7RjL79RTt/s320/pat7.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-DzlXjCwWs5WzRIfxV6_Dz8tjGFXo1VJ1vRhoIkPlB21uql5RBbGKY5GK4d0-Ov3WXLzuXid8ll5Yt5yL9jXePbp6CTy0tmvYgubASL9POeoDojbQPOV91nAYlX13XnZ5OAouqzygVxM4/s1600/pat8.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="181" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-DzlXjCwWs5WzRIfxV6_Dz8tjGFXo1VJ1vRhoIkPlB21uql5RBbGKY5GK4d0-Ov3WXLzuXid8ll5Yt5yL9jXePbp6CTy0tmvYgubASL9POeoDojbQPOV91nAYlX13XnZ5OAouqzygVxM4/s320/pat8.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLHOU6n_eeAbdnE98mP_C_A07mX9_b5gOyMQVmtdmwRcRJhqvlAXMnhP4xf2rmwEbJJCLo6OI03lnvV3NsNU6KelJKcPg2hLzUkPUWkHmo4NaHmbzLRBY21mwTeULcwwpKDceOYWR5ta3n/s1600/pat9.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLHOU6n_eeAbdnE98mP_C_A07mX9_b5gOyMQVmtdmwRcRJhqvlAXMnhP4xf2rmwEbJJCLo6OI03lnvV3NsNU6KelJKcPg2hLzUkPUWkHmo4NaHmbzLRBY21mwTeULcwwpKDceOYWR5ta3n/s320/pat9.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEfjX4CQkHOAFMz4YHvHrjAH_5WFnKEbhL8m7IQjz5KkJp1DdJYhLRan-fCo_Px1NSZ6CjrkmthOK7K4qEVhuJJcAC_ADaaa24CGXN_kd_AUZjkDS-ApHzLi7onrCYaCxzLqH0xNQ76MfI/s1600/pat10.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="261" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEfjX4CQkHOAFMz4YHvHrjAH_5WFnKEbhL8m7IQjz5KkJp1DdJYhLRan-fCo_Px1NSZ6CjrkmthOK7K4qEVhuJJcAC_ADaaa24CGXN_kd_AUZjkDS-ApHzLi7onrCYaCxzLqH0xNQ76MfI/s320/pat10.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5dFqadgytAzr4oxVQdKPmq_7RLh71juLHLcSVu6jCH0zd5r4lG-9HPRCwTJTCMWkqnhVWv7Rg-qLpng-gGzYkSh_wNmonOC0eWhfi2QjUPTQGoT8GD0VHj0An2as0XK1mAndqEmYDbqtM/s1600/pat12.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="261" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5dFqadgytAzr4oxVQdKPmq_7RLh71juLHLcSVu6jCH0zd5r4lG-9HPRCwTJTCMWkqnhVWv7Rg-qLpng-gGzYkSh_wNmonOC0eWhfi2QjUPTQGoT8GD0VHj0An2as0XK1mAndqEmYDbqtM/s320/pat12.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHo7iSJobbc6CLnsqPHzTAw8Ese1cnU7WgiIP-ZNd6bMgg-pRGbR1vbCkDTjHFOaAgbY_cT03J3ZMu1JnaOhHNq381mYyUfQ1gqThXWn9w_wOtZ23UvK-3uztmiknOSvPY0vzPjHmBIVsy/s1600/pat13.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="261" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHo7iSJobbc6CLnsqPHzTAw8Ese1cnU7WgiIP-ZNd6bMgg-pRGbR1vbCkDTjHFOaAgbY_cT03J3ZMu1JnaOhHNq381mYyUfQ1gqThXWn9w_wOtZ23UvK-3uztmiknOSvPY0vzPjHmBIVsy/s320/pat13.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQX1RMWbe-6NzExY36CO90Zojt-27J4Lyk2-bZHGKHh-QLKSnaT0DL0Hfb7MBhiNAMAP8YceNXBUlRejUUhJXejui0fUQDc5npPASpx9978LBjSuTgPChXhy843dBwEAHk54TCYNq3hOZ5/s1600/pat14.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="163" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQX1RMWbe-6NzExY36CO90Zojt-27J4Lyk2-bZHGKHh-QLKSnaT0DL0Hfb7MBhiNAMAP8YceNXBUlRejUUhJXejui0fUQDc5npPASpx9978LBjSuTgPChXhy843dBwEAHk54TCYNq3hOZ5/s320/pat14.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyNqRayfYjuJPuRBIEdVxgtLhXhEELqWCKIvVaYIftJquRC1MCOutCyeQ5vT-CpvNtvYIbj_SUtIO19-usMeskFSEXuY1VE0sGLVAhD-rUOwd1d9K4puasqrWpN5j7PqXO6Dz8-EYdNcKa/s1600/pat15.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyNqRayfYjuJPuRBIEdVxgtLhXhEELqWCKIvVaYIftJquRC1MCOutCyeQ5vT-CpvNtvYIbj_SUtIO19-usMeskFSEXuY1VE0sGLVAhD-rUOwd1d9K4puasqrWpN5j7PqXO6Dz8-EYdNcKa/s320/pat15.jpg" width="247" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzcKhDebXWNeBZK3XRDj03JjqD6rQspj4MqWvRAS66iT8RBFuHyQNn6wsOGz0JwMZbmLkTGhdF4o2tsjglJw0knFkLT9xeGlX0XO0XG0NziOzS6ffpt37x0Vix8arNSCaxOocccPdCfTPb/s1600/pat16.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzcKhDebXWNeBZK3XRDj03JjqD6rQspj4MqWvRAS66iT8RBFuHyQNn6wsOGz0JwMZbmLkTGhdF4o2tsjglJw0knFkLT9xeGlX0XO0XG0NziOzS6ffpt37x0Vix8arNSCaxOocccPdCfTPb/s320/pat16.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixOUFM5HuGOoa8ye7hXpvFMUNG25LdzkM6_QhXXFW4J4LGIlr6S3HmOi33hYOi-PQgWSLrhYWxMVbRvaLuXAIKcAwOuwgIuHDn1UBiPeUy8QA5KF7n5hd9mzp6q0dqIhx7OhToE12glbES/s1600/pat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="252" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixOUFM5HuGOoa8ye7hXpvFMUNG25LdzkM6_QhXXFW4J4LGIlr6S3HmOi33hYOi-PQgWSLrhYWxMVbRvaLuXAIKcAwOuwgIuHDn1UBiPeUy8QA5KF7n5hd9mzp6q0dqIhx7OhToE12glbES/s320/pat.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/01/koleksi-foto-kekejaman-tentara-musyrik.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhE92yLjaZIN1pPH1Pn1fTRyLB5UjzRJNidcFRYYjJB2dHgl3S8PNbdafyW6MowmddB5QahOIOxLbe95j1YE-Ew0h4MHWVw6EJNmhb4wjVUuHSHNrSFWC9COBW1KbCa9AB2m6OT0k29L6QO/s72-c/pat1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-4450728291003707456</guid><pubDate>Sat, 08 Jan 2011 07:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-15T19:35:24.456+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Murtad</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Yahudi</category><title>Yang satu ini, Yahudi- asli dari Indonesia</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;Inilah kisah si murtad Dari Indonesia,Sila baca!&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVAAXjfxXebEZCWfrpgrfSYuBtb4950tcS8UusvATwvIBSfeuB53eRCrW-sOCQiuQKQHL1BCtgUc3JPZJfWuhU2eY9eQ77NPpR5oay-9icVCaXqkrWJSJLaRHEDaL6A4JeuoPpzuJo8QyL/s1600/ben-ketang48.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVAAXjfxXebEZCWfrpgrfSYuBtb4950tcS8UusvATwvIBSfeuB53eRCrW-sOCQiuQKQHL1BCtgUc3JPZJfWuhU2eY9eQ77NPpR5oay-9icVCaXqkrWJSJLaRHEDaL6A4JeuoPpzuJo8QyL/s320/ben-ketang48.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah nyata orang yang kelewat kagum dengan Yahudi. Hanya dengan beasiswa, agama pun digadai.&lt;br /&gt;
Rumah bercat biru muda itu luasnya kira-kira 7 x 10 meter. Lantai dan  sebagian dindingnya berkeramik.  Sedianya, di Jalan Imam Bonjol No. 8,  Desa Tamansari, Wuluhan, Jember, Jawa Timur itu adalah kantor dari  &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Indonesia-Israel Public Affairs Committee (IIPAC).  Demikianlah yang  tertera pada surat keterangan domisili dari Kepala Desa Tamansari yang  ditampilkan di laman web IIPAC&amp;nbsp;&lt;a href="http://iipac.wordpress.com/"&gt;(Klik disini)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan dari Terminal Tawang Alun, Jember, ke lokasi memakan waktu  satu jam.  Setibanya di sana, tidak terlihat adanya papan nama ataupun  atribut IIPAC. Nurhidayati, sang penghuni rumah mengatakan, dirinya  tidak mengetahui ihwal keberadaan kantor IIPAC yang mencatut alamat  rumahnya itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ditanya soal Benjamin Ketang, direktur eksekutif IIPAC,  Nurhidayati mengenalnya. “Ketang adik saya. Tapi saya jarang tanya  banyak kepadanya. Dia sudah dewasa dan bisa memilih jalannya sendiri.  Jika ketemu, paling sekadar tanya kabar,” katanya kepada Suara  Hidayatullah yang bertandang ke rumahnya November lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Nurhidayati, Ketang memiliki jaringan yang luas, mulai dari  ulama, politisi hingga pejabat. Karena itu, tak heran jika Benjamin  Ketang jarang di rumah. “Dia sering pergi ke Jakarta, Surabaya dan Bali.  Jika pergi, kadang bisa sepuluh hari,” ucapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soal kepergian Ketang ke Israel juga diketahui Nurhidayati. “Ketika  itu Ketang kuliah di Israel. Ya, kami izinkan saja,” katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum ke Israel, pria kelahiran Jember, 22 September 1972 ini  dikenal dengan nama Nur Hamid Ketang. Ketang yang pernah aktif di  Persatuan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII) ini pernah membuat sensasi  dengan rencananya mengundang Shimon Peres, Menteri Luar Negeri Zionis  kala itu, untuk menjadi narasumber sebuah seminar di Jakarta pada April  2002 lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika itu Ketang aktif sebagai pengurus Barisan Muda Nahdlatul Ulama  (BMNU), sekaligus sebagai ketua panitia seminar bertajuk “Grand Design  NU, Antara Kultural dan Kepentingan Global, yang mengundang Peres  tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkatnya, Peres batal ke Jakarta karena kecaman dan protes dari  elemen-elemen umat Islam, termasuk NU. BMNU, sebagai penggagas seminar  bahkan didepak dari kantor PBNU karena dianggap telah membuat keresahan  dengan mencatut nama besar NU.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintu masuk Ketang ke Israel ketika saat Abdurrahman Wahid atau  Gusdur jadi presiden. Ketika itu, Ketang ditunjuk sebagai tim negosiasi  kerjasama Indonesia-Israel. Setelah itu, ia dapat beasiswa dan sepucuk  surat dari Gusdur. Ketang lantas ketemu Shimon Peres di Israel dan  menyampaikan keinginannya belajar di sana.&lt;br /&gt;
Di Israel, Ketang kuliah di Hebrew University of Jerusalem mengambil  jurusan Jewish Civilization selama dua tahun (2004-2006).  Selama  kuliah, ia mendalami bahasa Ibrani. Ia juga termasuk mahasiswa cerdas.  IPK-nya 3.48 dengan predikat Very Satisfactory dan resmi menyandang  gelar master of arts (MA).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengalaman kuliah di Israel ternyata membawa perubahan baginya. “Saya  yakin, ini adalah perjalan hidup yang tidak pernah terlupakan,” katanya  kepada Suara Hidayatullah. Ketang pun kemudian mengganti agamanya  menjadi Yahudi dan merubah namanya menjadi Benjamin Ketang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan Ketang mengaku sebagai generasi Yahudi kelima di Indonesia.  “Dari face (wajah) Israel ada. Pokoknya saya benar. Ternyata paklek dan  mbah-mbah saya Yahudi banget,” terangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Ketang, IIPAC didirikan 21 Januari 2002 setelah kunjungannya  ke Israel pada 2001. Melalui IIPAC, Ketang dan kawan-kawan mendirikan  Indonesia Business Lobby. Ketang mengaku IIPAC telah direstui dan  direkomendasi oleh American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) dan  Australia/Israel &amp;amp; Jewish Affairs Councils (AIJAC).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sejauh ini Suara Hidayatullah belum menemukan pengakuan  langsung dari AIPAC ataupun AIJAC tentang IIPAC selain pernyataan  sepihak dari Ketang sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti layaknya AIPAC yang menjadi penentu kebijakan politik  Amerika, IIPAC juga berambisi bisa bertindak demikian di Indonesia.  Ketang mengaku, IIPAC telah turut andil dalam pemilihan umum, pemilihan  kepala daerah, hingga pemilihan presiden di Indonesia sejak tahun 2004.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketang mengaku IIPAC telah bertindak sebagai pemberi rekomendasi  calon-calon kepala daerah kepada perusahaan dan organisasi pro-Yahudi  internasional. “Para calon kepala daerah akan mendapatkan dukungan dana  dari perusahaan organisasi internasional jika komitmen mendukung  realisasi hubungan diplomatik dengan Israel,” kata Ketang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis buku-buku konspirasi Zionisme, Rizki Ridyasmara, yang juga  mantan wartawan mengaku pernah mewawancarai Ketang saat kontroversi  rencana kedatangan Shimon Perez ke Jakarta. Katanya, diakhir wawancara  sempat menawarkan beasiswa penuh untuk kuliah di Israel.&lt;br /&gt;
Rizki menilai, orang seperti Ketang tidak layak untuk diperhatikan.  “Orang seperti itu sama sekali tidak berbahaya, manuvernya norak. Ibarat  pepatah, air beriak tanda tak dalam, air tenang banyak ikannya,”  pungkas Rizki. * SUARA HIDAYATULLAH, DESEMBER 2010&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Benjamin Ketang, Direktur Utama Indonesia-Israel Public Affair Committee (IIPAC)&lt;br /&gt;
“Hubungan Diplomatik Dengan Israel, Buat Indonesia Lebih Perkasa”&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Apa alasan Anda mendirikan IIPAC ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdirinya IIPAC ini adalah rentetan sejarah. Berkumpulnya orang-orang  yang selama ini memperjuangkan kerjasama Indonesia-Israel. Ada  teman-teman yang dari Manado, Bandung, dan itu mereka punya kedekatan  dengan orang-orang Yahudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sejauhmana kedekatan pendiri yang lain dengan Israel?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada yang kuliah di sana, ada yang kursus, ada yang memang keturunan dari  Yahudi. Ada yang pengusaha, jarang yang dari ormas. Sembilan puluh  persen pengusaha. Makanya kita bentuk Indonesia bisnis lobi itu dengan  harapan, apa yang kita pikirkan dan kerjakan untuk kepentingan bangsa  lebih luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa posisi Anda dan bagaimana perkembangan IIPAC sekarang?&lt;br /&gt;
Saya direktur eksekutif. Kita sudah jadi anggota World Jewish Congress  (WJC) di Eropa dan kita sudah jadi teman kerja AIJAC yang ada di  Australia.  Kita sudah berkomunikasi untuk ketemu Barrack Obama, karena  Barrack Obama adalah keturunan Yahudi yang ada di Amerika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Seberapa banyak investor Israel di Indonesia?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Investror yang berskala besar sudah ada. Kalau ada bisnis Freeport,  Newmont dan sebagainya mereka hanya pemegang saham. Tapi memakai lembaga  keuangan internasional, dari Amerika Latin, Hongkong dan Dubai. Jadi,  tidak bisa langsung, harus dari negera ketiga. Lewat beberapa pengusaha,  tapi komando tetap di Tel Aviv dan Jerusalem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Di sektor apa saja investasi mereka?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak. Seperti lembaga-lembaga yang sudah eksis. Di Kupang ada Merhav  Group. Itu bergerak di biofuels  (bahan bakar nabati). Investor yang ada  di telekomunikasi di Bakrie Group. Bakrie Group dapat sekitar 400  miliar dolar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi disayangkan kenapa mereka malu-malu kucing. Kalau mereka dapat  investasi dari Israel, bilang saja mereka dapat dari Israel. Jangan  disembuyi-sembunyikan. Selain itu, juga Telkom dapat dari Amdocs.  Coca-Cola dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Kenapa Anda bersikukuh ingin membuka hubungan Indonesia-Israel, sedangkan tak ada hubungan diplomatik?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjajahan itu adalah salah satu isi pembukaan Undang Undang Dasar. UU  diciptakan manusia. Tapi Torah itu, siapa yang berbicara dengan Nabi  Ya’qub, siapa yang berbicara dengan Nabi Ibrahim, dengan Nabi Musa.&lt;br /&gt;
Saya lebih percaya dengan Torah daripada UUD. Penjajahan itu definisinya  sangat kompleks sekali. Indonesia saja dibilang penjajah oleh orang  Maluku Selatan, orang Papua, dan orang Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Anda tidak takut jika umat Islam marah?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya kira, jika mereka tahu the tree of life (pohon kehidupan), mereka  akan memahami orang Israel. Tree of life, bahwa bangsa Arab itu masih  satu keturunan, dari satu pohon yaitu Ibrahim. Siapa yang mengajarkan  tentang keesaan Tuhan, Nabi Musa, kan? Nabi Musa berdiri di Sinai kepada  Israel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Apa pentingnya Indonesia memiliki hubungan dengan Israel?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Karena finansial siapa yang pegang? Database internasional siapa yang pegang? Perbankan siapa yang pegang?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya Indonesia punya kedutaan besar Israel, saya kira Indonesia  bisa lebih berperan dari sekarang. Kenapa dari Mavi Marmara tidak  diakui, itu karena tidak ada kedutaan. Kalau Indonesia punya kedutaan,  mereka welcome. Saya sebagai bagian dari teman orang Yahudi dan Israel,  saya kira lebih terhormat, lebih perkasa dan lebih punya kekuasaan kalau  punya kedutaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutipan Dari :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;* Suara Hidayatullah,Edisi Desember 2010&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/01/yang-satu-ini-yahudi-asli-dari.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVAAXjfxXebEZCWfrpgrfSYuBtb4950tcS8UusvATwvIBSfeuB53eRCrW-sOCQiuQKQHL1BCtgUc3JPZJfWuhU2eY9eQ77NPpR5oay-9icVCaXqkrWJSJLaRHEDaL6A4JeuoPpzuJo8QyL/s72-c/ben-ketang48.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-1090501731612011198</guid><pubDate>Sat, 08 Jan 2011 07:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-08T16:31:08.835+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Aceh-Malaysia</category><title>Malaysia Minta Situs Sejarah di Keudah Dilestarikan</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Mungkin generasi muda di Malaysia banyak yang tidak Tahu kaitan sejarah Negeri kedah, Malaysia dengan Aceh.Jangan heran,Di Aceh ada nama kampung "Keudah" tidak jauh dari Krueng Aceh.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwfChpOsdFBqHbjA9VKAdf_v-3PBNcRcHgKegklgPNZIdVwwCxQbFoBTq3LlGSUrsn9YEg23_VkFhNHMlLu_2Jekv_zAKtIxTI1VYRWufTqMGDqd8_W2yJjr1_Nz64iAJEfUTSlmu3RsYj/s1600/kota-banda-aceh.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="328" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwfChpOsdFBqHbjA9VKAdf_v-3PBNcRcHgKegklgPNZIdVwwCxQbFoBTq3LlGSUrsn9YEg23_VkFhNHMlLu_2Jekv_zAKtIxTI1VYRWufTqMGDqd8_W2yJjr1_Nz64iAJEfUTSlmu3RsYj/s400/kota-banda-aceh.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Baik sekarang kita simak berita dari Harian Serambi Indonesia Edisi 8 Januari 2010,Berikut ini ; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;Majlis Kebudayaan Negeri Kedah, Malaysia, meminta  Pemerintah Aceh dapat melestarikan situs-situs sejarah yang terdapat di  Gampong Keudah, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, termasuk sejarah yang  berhubungan dengan Malaysia. Hal itu disampaikan Pengurus Persatuan  Sejarah Kedah Darul Aman, Wan Shamsudin bin Mohd Yusof, dalam seminar  bertajuk “Hubungan Aceh-Kedah dalam Lintasan Sejarah”, Jumat (7/1).  Seminar itu berlangsung di Gedung Auditorium Fakultas Keguruan Ilmu  Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP-Unsyiah) Banda Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Menurut  Wan Shamsudin, masyarakat Kedah (Malaysia) punya hubungan khusus dengan  Aceh. Misalnya di Gampong Keudah, sebut Shamsudin, pernah terjadi  peperangan antara Kerajaan Aceh dan Kerajaan Kedah tahun 1619 M. Di  Gampong Keudah inilah 7.000 rakyat Kedah (Malaysia) ditahan. “Saat itu,  tentara Aceh dipimpin Sultan Iskandar Muda. Kerajaan Kedah kalah dan  Sultan Sulaiman Shah bersama permaisurinya ditahan di Gampong Keudah  bersama 7.000 rakyatnya. Karena itu, kami minta kepada pemerintah, jika  boleh, situs-situs sejarah di Gampong Keudah bisadilestarikan,” kata Wan  Shamsudin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia beharap pemerintah di Aceh dapat melestarikan  sejarah itu, sama seperti negeri Kedah menjaga bukti sejarah keberadaan  orang-orang Aceh di sana. “Di Malaysia, ada nama Kampung Aceh. Kami  sangat menjaga bukti-bukti sejarah di sana. Kami berharap, di Aceh juga  bisa dilakukan sebaliknya, agar ketika ditulis di dalam buku, buktinya  bisa ditemukan di sini,” ujarnya. Sementara itu, Direktur Pusat  Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB) Unsyiah, Dr Husaini  Ibrahim MA mengatakan, memang sepatutya situs-situs sejarah di Gampong  Keudah dilestarikan sebagai bukti sejarah keterkaitan antara Keudah di  Aceh dan orang-orang Aceh yang ada di Kedah Malaysia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Dengan penambahan dari Penulis &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sumber: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.serambinews.com/news/view/46557/malaysia-minta-situs-sejarah-di-keudah-dilestarikan"&gt;Serambi Indonesia,Edisi 8 Januari 2010&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2011/01/malaysia-minta-situs-sejarah-di-keudah.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwfChpOsdFBqHbjA9VKAdf_v-3PBNcRcHgKegklgPNZIdVwwCxQbFoBTq3LlGSUrsn9YEg23_VkFhNHMlLu_2Jekv_zAKtIxTI1VYRWufTqMGDqd8_W2yJjr1_Nz64iAJEfUTSlmu3RsYj/s72-c/kota-banda-aceh.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-4379425430437037074</guid><pubDate>Mon, 27 Dec 2010 17:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-12-28T01:07:32.386+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sakit</category><title>Wajah Ku  Sekarang-Setelah Sakit</title><description>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgiVrwISE2soCbNZPPn__UASNZa9I5EJzpdIR3GHNJsnYTRrvsWMqFgbNH8oSU0EGt9Q00n7zlUMmvYJE_xuCOjmpmrI1rE0uCDmPCQP68rAxZdHPpD_vGdLiiyMGwxxEjT0SdnJH7YnA_z/s1600/IMG_2918.JPG" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Alhamdulillah,kini wajahku hampir normal kembali seperti sebelum sakit,walau masih terasa gatal-gatal jika salah makan makanan-makanan tertentu.Obat medis pun sudah mampan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bandingkan dengan foto-foto di waktu sakit pada artikel sebelumnya!&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhH7Hruz1BtUBWdUNGtl-JDe2yRVD5Kb63FMMpvahSQVopCAIVLCmVjnl03bAgRHTVXUvcVCL3d5SloPS-6KQNwmH_V3FzjWYEP2YwGNXs9s7FmrifhTLYstFipQOc1vmBSuM7DO-WK4rd/s1600/IMG_2857.JPG" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhH7Hruz1BtUBWdUNGtl-JDe2yRVD5Kb63FMMpvahSQVopCAIVLCmVjnl03bAgRHTVXUvcVCL3d5SloPS-6KQNwmH_V3FzjWYEP2YwGNXs9s7FmrifhTLYstFipQOc1vmBSuM7DO-WK4rd/s400/IMG_2857.JPG" width="285" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgiVrwISE2soCbNZPPn__UASNZa9I5EJzpdIR3GHNJsnYTRrvsWMqFgbNH8oSU0EGt9Q00n7zlUMmvYJE_xuCOjmpmrI1rE0uCDmPCQP68rAxZdHPpD_vGdLiiyMGwxxEjT0SdnJH7YnA_z/s1600/IMG_2918.JPG" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgiVrwISE2soCbNZPPn__UASNZa9I5EJzpdIR3GHNJsnYTRrvsWMqFgbNH8oSU0EGt9Q00n7zlUMmvYJE_xuCOjmpmrI1rE0uCDmPCQP68rAxZdHPpD_vGdLiiyMGwxxEjT0SdnJH7YnA_z/s400/IMG_2918.JPG" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Hadist Berkaitan tentang sakit&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: “Rasulullah  shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya  bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir”.  Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu  datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan  menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan  masa hidupmu sebelum mati” (HR. Bukhari)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;Beberapa  hadits mengenai sakit : (sumber ; 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran  Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath - Gema Insani Press) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhH7Hruz1BtUBWdUNGtl-JDe2yRVD5Kb63FMMpvahSQVopCAIVLCmVjnl03bAgRHTVXUvcVCL3d5SloPS-6KQNwmH_V3FzjWYEP2YwGNXs9s7FmrifhTLYstFipQOc1vmBSuM7DO-WK4rd/s1600/IMG_2857.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mereka  bertanya, "Ya Rasulullah, apakah kami berobat?" Beliau menjawab, "Ya,  wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah meletakkan penyakit dan  diletakkan pula penyembuhannya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit  ketuaan (pikun)". (HR. Ashabussunnah)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;Allah menurunkan  penyakit dan menurunkan pula obatnya, diketahui oleh yang mengetahui dan  tidak akan diketahui oleh orang yang tidak mengerti. (HR. Bukhari dan  Muslim)&lt;/span&gt; &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Barangsiapa mengobati sedang dia tidak dikenal sebagai ahli pengobatan maka dia bertanggung jawab. (HR. Ibnu Majah) &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Apabila  terjadi dalam satu negeri suatu wabah penyakit dan kamu di situ  janganlah kamu ke luar meninggalkan negeri itu. Jika terjadi sedang kamu  di luar negeri itu janganlah kamu memasukinya. (HR. Bukhari) &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Wafat karena wabah adalah mati syahid. (HR. Bukhari)&amp;nbsp; &lt;i&gt;Penjelasan&lt;/i&gt;:       &lt;br /&gt;
Tentu tidak setingkat dengan gugur di jalan Allah. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Janganlah orang sakit mengunjungi orang sehat. (HR. Bukhari dan Muslim) &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebaik-baik  menjenguk orang sakit adalah berdiri sebentar (tidak berlama-lama) dan  ta'ziah (melayat ke rumah duka) cukup sekali saja. (HR. Ad-Dailami) &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Allah tidak menjadikan penyembuhanmu dengan apa yang diharamkan atas kamu. (HR. Al-Baihaqi)      &lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Penjelasan&lt;/i&gt;:       &lt;br /&gt;
Yang haram tidak dapat dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Apabila seorang yang sakit dari kamu menginginkan sesuatu makanan berikanlah. (HR. Ibnu Majah) &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mohonlah  kepada Allah keselamatan dan afiat (kesehatan). Sesungguhnya tiada  sesuatu pemberian Allah sesudah keyakinan (iman) lebih baik daripada  kesehatan. (HR. Ibnu Majah)&lt;/span&gt; &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Larilah dari penderita lepra sebagaimana kamu lari dari harimau. (HR. Bukhari) &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Apabila  seorang hamba sakit sedang dia biasa melakukan sesuatu kebaikan maka  Allah berfirman kepada malaikat: "Catatlah bagi hambaKu pahala seperti  yang biasa ia lakukan ketika sehat." (HR. Abu Hanifah) &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgiVrwISE2soCbNZPPn__UASNZa9I5EJzpdIR3GHNJsnYTRrvsWMqFgbNH8oSU0EGt9Q00n7zlUMmvYJE_xuCOjmpmrI1rE0uCDmPCQP68rAxZdHPpD_vGdLiiyMGwxxEjT0SdnJH7YnA_z/s1600/IMG_2918.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2010/12/wajahku-sekarang-setelah-sakit.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhH7Hruz1BtUBWdUNGtl-JDe2yRVD5Kb63FMMpvahSQVopCAIVLCmVjnl03bAgRHTVXUvcVCL3d5SloPS-6KQNwmH_V3FzjWYEP2YwGNXs9s7FmrifhTLYstFipQOc1vmBSuM7DO-WK4rd/s72-c/IMG_2857.JPG" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2192004637715284995.post-4530697169292716491</guid><pubDate>Fri, 24 Dec 2010 09:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-12-24T16:37:19.487+07:00</atom:updated><title>Perayaan Natal Bersama</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3kz9qeOHKseTSMjPhWyqXO7Agqua3AvEFyKmKQR6JFS_JtGLDPwaGopoFlodDs3isyJ4yn5FZzFxEO0QFkER8uXjhdPoCL-cZTHz1VHOdbKbdHaggilpcm-c-T0atMXQiKqCskuITwvyU/s1600/esbeje_natal.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="250" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3kz9qeOHKseTSMjPhWyqXO7Agqua3AvEFyKmKQR6JFS_JtGLDPwaGopoFlodDs3isyJ4yn5FZzFxEO0QFkER8uXjhdPoCL-cZTHz1VHOdbKbdHaggilpcm-c-T0atMXQiKqCskuITwvyU/s320/esbeje_natal.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="background-color: transparent; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;Berikut ini adalah &lt;span class="jossearchword"&gt;fatwa&lt;/span&gt; Majelis Ulama Indonesia (MUI)&amp;nbsp;tentang haramnya perayaan &lt;span class="jossearchword"&gt;natal&lt;/span&gt; &lt;span class="jossearchword"&gt;bersama&lt;/span&gt;.  Halaman ini di buat sebagaimana mestinya dalam bentuk yang bisa di  sajikan di halaman situs dengan isi yang sama dengan dokumen asli.   Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, setelah : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;Memperhatikan&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Perayaan &lt;span class="jossearchword"&gt;Natal&lt;/span&gt; &lt;span class="jossearchword"&gt;bersama&lt;/span&gt;  pada akhir-akhir ini disalah artikan oleh sebagian ummat Islam dan  disangka dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan &lt;span class="jossearchword"&gt;Natal&lt;/span&gt; dan duduk dalam kepanitiaan &lt;span class="jossearchword"&gt;Natal&lt;/span&gt;. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Perayaan &lt;span class="jossearchword"&gt;Natal&lt;/span&gt; bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;Menimbang :&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan &lt;span class="jossearchword"&gt;Natal&lt;/span&gt; &lt;span class="jossearchword"&gt;Bersama&lt;/span&gt;. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ummat Islam agar tidak mencampur adukkan aqiqah dan ibadahnya dengan aqiqah dan ibadah agama lain. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan Taqwanya kepada Allah SWT. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar Ummat Beragama di Indonesia.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;Meneliti kembali :&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain: &lt;br /&gt;
&lt;ol start="1" type="A"&gt;&lt;li&gt;Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul  dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan  dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas:   &lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3kz9qeOHKseTSMjPhWyqXO7Agqua3AvEFyKmKQR6JFS_JtGLDPwaGopoFlodDs3isyJ4yn5FZzFxEO0QFkER8uXjhdPoCL-cZTHz1VHOdbKbdHaggilpcm-c-T0atMXQiKqCskuITwvyU/s1600/esbeje_natal.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Al Qur`an surat Al-Hujurat ayat 13: &lt;i&gt;"Hai manusia, sesungguhnya  Kami menciptakan Kamu sekattan dari seorang laki-laki dan seorang  perempuan dan Kami menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku  supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia  diantara kamu disisi Allah adalah orang yang bertaqwa (kepada Allah),  sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."&lt;/i&gt; &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Al Qur`an surat Luqman ayat 15:&lt;i&gt;"Dan jika kedua orang tuamu  memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang kamu tidak ada  pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikutinya, dan  pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik. Dan ikutilah jalan orang  yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada-Ku lah kembalimu, maka akan  Ku-berikan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."&lt;/i&gt; &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Al Qur`an surat Mumtahanah ayat 8: &lt;i&gt;"Allah tidak melarang kamu  (ummat Islam) untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang  (beragama lain) yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula  mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang  yang berlaku adil."&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampuradukkan aqiqah dan  peribadatan agamanya dengan aqiqah dan peribadatan agama lain  berdasarkan :   &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Al Qur`an surat Al-Kafirun ayat 1-6:&lt;i&gt;"Katakanlah hai  orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan  kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi  penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi  penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah  agamaku."&lt;/i&gt; &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Al Qur`an surat Al Baqarah ayat 42: &lt;i&gt;"Dan jika kedua orang  tuamu memaksamu untuk mempersatukan dengan aku sesuatu yang kamu tidak  ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikutinya dan  pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik Dan ikutilah jalan orang  yang kembali kepada-Kita, kemudian kepada-Kulah kembalimu, maka akan  Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan Isa Al  Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi dan Rasul  yang lain, berdasarkan atas:   &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Al Qur`an surat Maryam ayat 30-32: &lt;i&gt;"Berkata Isa: Sesungguhnya  aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan  aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana  saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan  menunaikan zakat selama aku hidup. (Dan Dia memerintahkan aku) berbakti  kepada ibumu (Maryam) dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong  lagi celaka."&lt;/i&gt; &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Al Qur`an surat Al Maidah ayat 75:&lt;i&gt; "Al Masih putera Maryam itu  hanyalah seorang Rosul yang sesungguhnya telah lahir sebelumnya  beberapa Rosul dan ibunya seorang yang sangat benar. Kedua-duanya biasa  memakan makanan(sebagai manusia). Perhatikanlah bagaimana Kami  menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami),  kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan  ayat-ayat Kami itu)."&lt;/i&gt; &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Al Qur`an surat Al Baqarah ayat 285 : &lt;i&gt;"Rasul (Muhammad telah  beriman kepada Al Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya,  demikian pula orang-orang yang beriman) semuanya beriman kepada Allah,  Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-Nya. (Mereka  mengatakan) : Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan  yang lain) dari Rasul-rasulnya dan mereka mengatakan : Kami dengar dan  kami taat. (Mereka berdoa) Ampunilah Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah  tempat kembali."&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih daripada satu,  Tuhan itu mempunyai anak Isa Al Masih itu anaknya, bahwa orang itu  kafir dan musyrik, berdasarkan atas :   &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Al Qur`an surat Al Maidah ayat 72 :&lt;i&gt; "Sesungguhnya telah kafir  orang-orang yang berkata : Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera  Maryam. Padahal Al Masih sendiri berkata : Hai Bani Israil, sembahlah  Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan  (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga  dan tempatnya ialah neraka, tidak adalah bagi orang zhalim itu seorang  penolong pun."&lt;/i&gt; &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Al Qur`an surat Al Maidah ayat 73 :&lt;i&gt; "Sesungguhnya kafir  orang-orang yang mengatakan : Bahwa Allah itu adalah salah satu dari  yang tiga (Tuhan itu ada tiga), padahal sekali-kali tidak ada Tuhan  selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka  katakan itu pasti orang-orang kafir itu akan disentuh siksaan yang  pedih."&lt;/i&gt; &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Al Qur`an surat At Taubah ayat 30 :&lt;i&gt; "Orang-orang Yahudi  berkata Uzair itu anak Allah, dan orang-orang Nasrani berkata Al Masih  itu anak Allah. Demikianlah itulah ucapan dengan mulut mereka, mereka  meniru ucapan/perkataan orang-orang kafir yang terdahulu, dilaknati  Allah-lah mereka bagaimana mereka sampai berpaling."&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan Isa, apakan dia  pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar mereka mengakui Isa dan  Ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab "Tidak" : Hal itu  berdasarkan atas :&lt;br /&gt;
Al Qur`an surat Al Maidah ayat 116-118 :&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: Hai Isa putera Maryam  adakah kamu mengatakan kepada manusia (kaummu): Jadikanlah aku dan ibuku  dua orang Tuhan selain Allah, Isa menjawab : Maha Suci Engkau (Allah),  tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya).  Jika aku pernah mengatakannya tentu Engkau telah mengetahuinya, Engkau  mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha  Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka  kecuali apa yang engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya), yaitu :  sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu dan aku menjadi saksi terhadapa  mereka selama aku berada di antara mereka. Tetapi setelah Engkau  wafatkan aku, Engkau sendirilah yang menjadi pengawas mereka. Engkaulah  pengawas dan saksi atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka,  maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu dan Jika Engkau  mengampunkan mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Kuasa lagi Maha  Bijaksana."&lt;/i&gt; &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Islam mengajarkan Bahwa Allah SWT itu hanya satu, berdasarkan atas Al Qur`an surat Al Ikhlas :&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;"Katakanlah : Dia Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang  segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula  diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun / sesuatu pun yang setara dengan  Dia."&lt;/i&gt; &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri dari  hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT serta untuk  mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan,  berdasarkan atas :   &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Hadits Nabi dari Nu`man bin Basyir : &lt;i&gt;"Sesungguhnya apa apa  yang halal itu telah jelas dan apa apa yang haram itu pun telah jelas,  akan tetapi diantara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal,  seperti haram) kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu.  Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah  agamanya dan kehormatannya, tetapi barang siapa jatuh pada yang syubhat  maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, semacam orang yang  mengembalakan binatang makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa  setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah  apa-apa yang diharamkan-Nya (oleh karena itu hanya haram jangan  didekati)."&lt;/i&gt; &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kaidah Ushul Fiqih&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;"Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik  kemaslahatan-kemaslahatan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasidnya  yang diperoleh, sedangkan masholihnya tidak dihasilkan)."&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;Memutuskan&lt;/b&gt;  &lt;/div&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Mem&lt;span class="jossearchword"&gt;fatwa&lt;/span&gt;kan&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;   &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Perayaan &lt;span class="jossearchword"&gt;Natal&lt;/span&gt; di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi &lt;span class="jossearchword"&gt;Natal&lt;/span&gt; itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan diatas. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengikuti upacara &lt;span class="jossearchword"&gt;Natal&lt;/span&gt; &lt;span class="jossearchword"&gt;bersama&lt;/span&gt; bagi ummat Islam hukumnya haram. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan &lt;span class="jossearchword"&gt;Natal&lt;/span&gt;. &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="right"&gt;Jakarta, &lt;u&gt;1 Jumadil Awal 1401 H&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
7 Maret 1981  &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Komisi &lt;span class="jossearchword"&gt;Fatwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Majelis Ulama Indonesia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketua&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sekretaris &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
K.H.M SYUKRI. G &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Drs. H. MAS`UDI &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Source:  &lt;a href="http://arrahmah.com/index.php/blog/read/1405/fatwa-mui-tentang-keharaman-perayaan-natal-bersama#ixzz17K1Ef6Xn" style="color: #003399;"&gt;http://arrahmah.com/index.php/blog/read/1405/fatwa-mui-tentang-keharaman-perayaan-natal-bersama#ixzz17K1Ef6Xn&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://prangaceh.blogspot.com/2010/12/perayaan-natal-bersama.html</link><author>noreply@blogger.com (razi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3kz9qeOHKseTSMjPhWyqXO7Agqua3AvEFyKmKQR6JFS_JtGLDPwaGopoFlodDs3isyJ4yn5FZzFxEO0QFkER8uXjhdPoCL-cZTHz1VHOdbKbdHaggilpcm-c-T0atMXQiKqCskuITwvyU/s72-c/esbeje_natal.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>