<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547</atom:id><lastBuildDate>Fri, 01 Nov 2024 10:33:43 +0000</lastBuildDate><category>Sejarah</category><category>Location</category><category>Militer</category><category>Seks dan Kesehatan</category><category>Puisi</category><category>Hukum</category><category>Aktivitas</category><category>Hotel</category><category>Bali</category><category>Fauna</category><category>Gunung</category><category>Makanan</category><category>Minuman</category><category>Provinsi</category><title>I Love Indonesia</title><description>Sarana berbagi dan belajar</description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Unknown)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>50</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Sarana berbagi dan belajar</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-1181619166676936801</guid><pubDate>Tue, 25 Jan 2011 20:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-26T03:37:15.406+07:00</atom:updated><title>Cara Mudah Mendapatkan Uang dari Blog dan Adsense, Benarkah Ada?</title><description>&lt;a href="http://gnupi.com/mendapatkan-uang-dari-blog-ppc-indonesia/"&gt;Mendapatkan uang dari blog&lt;/a&gt; saat ini seperti sudah menjadi tren baru di kalangan pengguna internet. Kalo dahulu buku-buku tutorial mendapatkan uang di internet, baik melalui penjualan ebook dan afiliasi, masih sering dipandang sebelah mata, sekarang semua buku yang berhubungan dengan making money online seolah menjadi bacaan wajib pengguna internet yang mendambakan sebuah kebebasan finansial. Lebih jauhnya lagi, untuk melengkapi sisi marketing penjualan buku-buku &lt;a href="http://gnupi.com/mendapatkan-uang-dari-weblog/"&gt;mendapatkan uang dengan blog&lt;/a&gt; tersebut, seringkali judul yang mereka gunakan untuk buku-buku tersebut terkesan terlalu bombastis seperti “Cara Mudah mendapatkan uang di Internet” , “Cara Mudah Meraup Dolar dari Blog”, atau “Mendapatkan Ribuan Dolar dari Blog dengan Adsense” dsb.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Sekalipun hal ini sudah berlangsung cukup lama, namun hal itu tidaklah cukup mengganggu saya sampai ketika saya beberapa hari lalu bersama teman saya (yang menjadi mahasiswa MM UGM) “menjajal” ganasnya koneksi internet MM UGM. Ketika sedang asik browsing dengan koneksi internet dengan downstream 3 MBps, teman dari teman saya yang juga kuliah di sana tiba-tiba melontarkan pertanyaan seperti ini:&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Eh, bener ga sih kalo kita bisa dapetin dolar dari internet?&lt;/blockquote&gt;&lt;span id="more-92"&gt;&lt;/span&gt;Teman saya tiba-tiba langsung melirik pada saya untuk menjelaskan mengenai hal tersebut. Saya kemudian berusaha menjelaskan peluang mendapatkan uang dengan blog, semampu saya. Kebetulan orang tersebut sebelumnya sudah sering bermain saham, dan cukup sering mendapat keuntungan Rp. 400.000,- setiap transaksi saham short time. Setelah saya selesai bercerita sekilas mengenai making money online, tanggapannya adalah:&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Berarti, masih gedean penghasilan dari main saham ya ketimbang AdSense. Aku sudah ngira kalo mendapatkan uang dari internet itu ga segampang yang mereka bilang, apalagi bukunya aja tipis-tipis gitu.&lt;/blockquote&gt;Mendengar jawabannya yang sangat logis tersebut, saya hanya bisa bilang.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Bermain AdSense itu lebih mirip dengan investasi, kalo &lt;a href="http://gnupi.com/sponsored-review-job-aneh/"&gt;paid review&lt;/a&gt; itu sama kaya jual barang, afiliasi itu ga jauh beda kaya makelar dan domain parking itu sejenis ngejual saham yang kamu punya.&lt;/blockquote&gt;Yang saya senangi dari pembicaraan tadi adalah, bahwa teman dari teman saya tersebut memiliki pandangan yang logis dalam menilai sebuah bisnis, bukan sebuah pandangan yang mudah terbuai oleh kata-kata manis.&lt;br /&gt;
Dari beberapa buku tentang panduan AdSense dan mendapatkan uang dari blog yang sempat saya beli, kebanyakan dari buku-buku tersebut hanyalah menjelaskan mengenai cara membuat blog, cara mendaftar Adsense, cara memasang kode adsense, cara mensubmit situs anda ke ratusan search engine, article directory dan link exchange. Hal yang hilang dari sebuah buku yang menjanjikan aliran uang kepada pembaca yang menerapkan panduan itu adalah, peluang pendapatan atau dolar yang bisa diraih dengan hanya menerapkan teknik-teknik &lt;a href="http://gnupi.com/"&gt;SEO&lt;/a&gt; yang mereka berikan.&lt;br /&gt;
Bagi mereka yang sudah mencoba menggeluti dunia per-AdSense-an, &lt;a href="http://gnupi.com/mencari-uang-di-blog-dengan-adspeedy-ppc-indonesia/"&gt;PPC Indonesia&lt;/a&gt;, maupun paid review pasti telah merasakan bagaimana keringnya kantong mereka di bulan-bulan pertama mereka ngeblog untuk mendapatkan dolar. Hal ini membuat saya miris, ternyata &lt;a href="http://www.ekonurhuda.com/2008/10/tolong-ppc-lokal-dibanjiri-penjual.html"&gt;penjual mimpi&lt;/a&gt; bukan hanya ada di slot iklan PPC Indonesia, tapi juga di toko buku, tempat mereka yang memiliki minat belajar menimba ilmu.&lt;br /&gt;
Jadi, melalui postingan ini, saya hanya mau mengatakan,&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Tidak ada cara mudah dan halal (ga pake trik curang) untuk mendapatkan uang dari Blog dan AdSense&lt;/blockquote&gt;&lt;a href="http://gnupi.com/cara-membuat-artikel-blog-berkualitas/"&gt;Mengembangkan blog&lt;/a&gt; yang bagus, &lt;a href="http://gnupi.com/belajar-tutorial-seo-keyword-3/"&gt;menentukan keyword&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://gnupi.com/wordpress-seo/"&gt;mengoptimasi SEO&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://gnupi.com/tips-seo-menggunakan-internal-link-pada-artikel-blog/"&gt;link building&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://gnupi.com/meningkatkan-traffic-blog-komentar/"&gt;mendatangkan traffic&lt;/a&gt; yang cukup untuk kita konversi menjadi dolar yang cukup buat foya-foya bukanlah pekerjaan semalam, sebulan, atau bahkan setahun (bagi yang belum beruntung). Dan itu bukanlah pekerjaan mudah, karena kreativitas, kegigihan, etika dan semangat belajar yang tinggi amat sangat diperlukan untuk bisa berkembang dalam dunia &lt;a href="http://www.zalukhu.com/bisnis-di-internet/berbagi-informasi-bisnis-online-bagai-pisau-bermata-2"&gt;bisnis online&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;So let’s be creative, determined, ethical dan full spirited. The dollars is always there for us to take, we just need to make many step forward to reach it.&lt;/blockquote&gt;Kesalahan penulisan bahasa inggris bukanlah tanggung jawab dari blog ini dan pemiliknya hehehe &lt;img alt=":P" class="wp-smiley" src="http://gnupi.com/wp-content/plugins/smilies-themer/kopete/tongue.png" /&gt;</description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2011/01/cara-mudah-mendapatkan-uang-dari-blog.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-4710981385032624167</guid><pubDate>Fri, 07 Jan 2011 17:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-29T11:50:11.745+07:00</atom:updated><title>Meraup Dolar dari Aw Survey</title><description>Hallo bloggers,&lt;br /&gt;
Apakah ada ingin menghasilkan 75 $ dari AW Survey dalam waktu sehari dan itu berarti anda dapat merequestnya saat itu juga? &lt;br /&gt;
Pertama-tama perkenankanlah saya untuk berbagi peluang bisnis untuk anda. Memperkenalkan sebuah program survey berbasis online yang menawarkan bayaran yang terbilang cukup tinggi dengan hanya memberikan pendapat anda. AW Survey adalah perusahaan penyelenggara survey secara online yang bebas diikuti oleh siapapun dari berbagai negara selama anda bisa berbahasa Inggris (eit…..ga usah kawatir mudah kok nanti saya pandu bagaimana caranya&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;, silahkan lanjutkan baca dulu) . Perusahaan ini menawarkan bayaran yang sangat tinggi untuk mereview tampilan website - website yang ingin memperbaiki tampilan website mereka. Ketika kita mendaftar pada program ini kita langsung dihadapkan kepada beberapa buah survey yang nilainya 27 dolar. Waooooow lumayan, tapi………..)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
AW Survey memberikan bayaran bernilai 1-25 dolar untuk setiap survey yang anda isi. Mereka juga memberi bonus 6 dolar untuk survey pembuka dan yang menyertainya 4 dolar per survey. Mereka juga membayar anda 1.25 dolar per account yang mendaftar melalui anda. Ditambah lagi ada bonus 500 dolar yang diundi setiap bulan. AW Survey mengirim bayaran anda ke rekening Paypal. Minimum pencairan adalah sebesar $75. Pembayaran membutuhkan waktu 3-5 hari untuk direview oleh tim AWSurveys.Jika ada website yang tidak bisa diakses / error / limited access dari Indonesia, tetap isi review anda dengan menuliskan perasaan / kesan / tanggapan / kritik/ saran anda dalam bahasa Inggris agar anda tidak kehilangan potensi penghasilan dolar anda.Setiap awal bulan akan ada survey baru yang bisa anda isi&lt;br /&gt;
Sehingga dalam artian mudahnya anda mendapatkan bonus 6 $ untuk sig-up di tambah beberapa survey yang harganya 4 $ per survey. Al-hasil, setelah anda menyelesaikan semuanya silahkan anda lihat account balance anda , alhamdulillah, dana sekitar 27 $ sudah berada genggaman. Namun……..&lt;br /&gt;
Setelah beerapa hari anda login ke website AW Survey anda tidak mendapati ada website yang diriview, bagaimana nich? Bahkan menurut sharing yang dilakukan oleh sobat-sobat netter di berbagai forum diketahui bahwa setelah anda sign-up sampai satu bulan anda tidak akan ada kerjaan yang diriview paling hanya satu website dan nilainya pun kecil sekali hanya sekitar 1 $. Bagaimanan nich jika dalam satu bulan hanya 1 $ kapan nyampainya 75 $ (karena minimum cash out atau requesh adalah 75 $) jadi kapan bias-bisa 10 tahun baru bias requesh itupun hanya 75 $. Bagaimana nich……….? &lt;br /&gt;
Tapi tunggu dulu…………….&lt;br /&gt;
Kami dari tim gudang trik mempersembahkan sebuah trik yang dapat membuat anda merequesh dana anda setiap hari, itu berarti setiap harinya nada dapat menghasilkan 75 $, lantas bagaimanan caranya? &lt;br /&gt;
Kami akan memberikan anda tipsnya bila anda mau mendaftar menjadi referral kami caranya: &lt;br /&gt;
1. Buka dulu rekening anda di Amerika yaitu di Paypal. Cara daftarnya baca disini.&lt;br /&gt;
Daftar di www.paypal.com&lt;br /&gt;
2. Trus daftar di AW-Survey. Silahkan anda Daftar disini: &lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.awsurveys.com/HomeMain.cfm?RefID=handry86"&gt;http://www.AWSurveys.com/HomeMain.cfm?RefID=handry86&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Pas daftar jangan lupa masukin nama email yang sama seperti waktu anda daftar Paypal.&lt;br /&gt;
3. setelah berhasil anda langsung login dan melakukan survey. &lt;br /&gt;
Setelah itu silahkan anda konfirmasikan kepada kami kalo anda telah mendaftar sebagai referral kami caraya: &lt;br /&gt;
Kirimkan username anda waktu mendaftar AW Survey, nama, alamat, no. HP kirim ke alamat email: &lt;br /&gt;
iwan_tamba@yahoo.com &lt;br /&gt;
Setelah kami klarifikasi ternyata anda memang benar mejadi refferal kami, maka kami akan segera mengirimkan e-mail balasan ke alamat email anda yg berisi e-book panduan mengeruk dolar dari AW SURVEY.&lt;br /&gt;
Dan setelah itu silahkan anda mendulang dollar dari AW survey sepuasnya.&lt;br /&gt;
Untuk informasi lebih lanjut silakan kirim email ke alamat di atas&lt;br /&gt;
mail anda pasti akan kami balas. Maksimal 1 X 24 Jam. &lt;br /&gt;
Catetan-catetan penting:&lt;br /&gt;
1. Waktu isi jawaban jangan lupa anda harus tulis pake bahasa inggris kalo ngak   nanti duitnya hangus.&lt;br /&gt;
2. Pembayaran akan sampai ke rekening Paypal anda kira-kira 3-5 hari kerja setelah tanggal request.&lt;br /&gt;
3. Setiap awal bulan akan ada survey baru yang bisa anda isi, jadi rajin-rajin login tiap awal bulan yah. :)&lt;br /&gt;
4. Kalo sewaktu jawab survey ada website yg ngak bisa diakses / error / limited access dari Indonesia, anda tetap isi saja review yang diminta dengan menuliskan perasaan / kesan / tanggapan / kritik / saran anda (tentunya pake Inggris juga yah). Cara ini sudah saya coba dan hasilnya sangat ampuh, semua review saya diluluskan &amp;amp; akhirnya saya dibayar :)</description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2011/01/mengeruk-dolar-dari-aw-survey.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-4500458483273431132</guid><pubDate>Mon, 20 Jul 2009 07:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-20T14:37:19.569+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Puisi</category><title>Ketika</title><description>&lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;ketika semua kesedihan itu sudah berlalu      &lt;br /&gt;dan ketika hanya kebahagiaan yang kurasakan       &lt;br /&gt;aku pun bertanya sampai kapan       &lt;br /&gt;sampai kapan kebahagiaan itu singgah       &lt;br /&gt;kebahagiaan itu cepat berlalu       &lt;br /&gt;namun kesedihan itu lama hilang       &lt;br /&gt;kini 1 kata yang kurasakan       &lt;br /&gt;Bahagia...........       &lt;br /&gt;namun sampai kpn ia tetap singgah       &lt;br /&gt;dan ku pun bertanya       &lt;br /&gt;adakah seseorang itu yang mampu menjamin rasa itu tetap ada?       &lt;br /&gt;seseorang yang dapat memberikan rasa itu       &lt;br /&gt;dan mampu membuatku merasa seperti itu selamany       &lt;br /&gt;dan ku hanya berharap semoga saja       &lt;br /&gt;doaku, aku hanya ingin seseorang yang selalu menemaniku       &lt;br /&gt;dalam suka dan dukaku       &lt;br /&gt;mampu mendengarkan semua ceritaku       &lt;br /&gt;melebur dalam perasaan yang dinamakan &amp;quot;cinta&amp;quot;       &lt;br /&gt;ku ingin seseorang membangunkanku       &lt;br /&gt;mengerti tentangku tanpa diminta       &lt;br /&gt;selalu mengawasiku       &lt;br /&gt;seseorang yang selalu membuatku tertawa       &lt;br /&gt;seseorang yang menerimaku apa adanya       &lt;br /&gt;hanya mampu berharap dan menunggu orang itu tiba depan mataku       &lt;br /&gt;seseorang yang dapat membuatku selalu memikirkanny       &lt;br /&gt;selalu rindu akan kehadirannya       &lt;br /&gt;selalu ingin membuat ia bahagia......       &lt;br /&gt;ehm perasaan jatuh cinta yang ingin ku rasakan kembali.......       &lt;br /&gt;manis,asamnya........&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/07/ketika.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-8373030442942398842</guid><pubDate>Sat, 11 Jul 2009 04:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-29T10:54:59.195+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Puisi</category><title>My words</title><description>I was young but I wasn’t naive &lt;br /&gt;
I watched helpless as you turned around to leave &lt;br /&gt;
And still I have the pain I have to carry &lt;br /&gt;
A past so deep that even you could not bury if you tried&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
After all this time &lt;br /&gt;
I never thought we’d be here &lt;br /&gt;
Never thought we’d be here &lt;br /&gt;
When my love for you was blind &lt;br /&gt;
But I couldn’t make you see it &lt;br /&gt;
Couldn’t make you see it &lt;br /&gt;
That I loved you more than you’ll ever know &lt;br /&gt;
A part of me died when I let you go&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I would fall asleep &lt;br /&gt;
Only in hopes of dreaming &lt;br /&gt;
That everything would be like is was before &lt;br /&gt;
But nights like this it seems are slowly fleeting &lt;br /&gt;
They disappear as reality is crashing to the floor&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
After all this time &lt;br /&gt;
I never thought we’d be here &lt;br /&gt;
Never thought we’d be here &lt;br /&gt;
When my love for you was blind &lt;br /&gt;
But I couldn’t make you see it &lt;br /&gt;
Couldn’t make you see it &lt;br /&gt;
That I loved you more than you’ll ever know &lt;br /&gt;
A part of me died when I let you go&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
After all this time &lt;br /&gt;
Would you ever wanna leave it &lt;br /&gt;
Maybe you could not believe it &lt;br /&gt;
That my love for you was blind &lt;br /&gt;
But I couldn’t make you see it &lt;br /&gt;
Couldn’t make you see it &lt;br /&gt;
That I loved you more than you will ever know &lt;br /&gt;
A part of me died when I let you go &lt;br /&gt;
And I loved you more than you’ll ever know &lt;br /&gt;
A part of me dies when I let you go</description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/07/my-words.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-6977119236072935868</guid><pubDate>Sat, 11 Jul 2009 04:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-29T11:51:57.720+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Legenda Kue Bulan</title><description>&lt;div style="color: #444444;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Masyarakat Cina menyantap dan membagikan kue ini sebagai tanda syukur     &lt;br /&gt;
terhadap rejeki yang mereka terima sepanjang tahun ini. Dibalik rasa dan      &lt;br /&gt;
penampilannya yang manis, kue ini ternyata menyimpan cerita yang      &lt;br /&gt;
menarik. Versinya pun banyak sekali, hampir semuanya mengandung nilai      &lt;br /&gt;
filsafat yang tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #444444;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;      &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Versi Raja Ho Le         :&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;        &lt;br /&gt;
Raja Ho Le adalah seorang raja yang tamak dan senang memperkaya diri        &lt;br /&gt;
sendiri. Rakyatnya sangat menderita, apalagi saat sang raja        &lt;br /&gt;
memerintahkan tabib istana agar membuatkan dia obat untuk memperpanjang        &lt;br /&gt;
umur. Ratu Jango sang permaisuri tidak setuju dengan permintaan sang        &lt;br /&gt;
suami, maka dicurilah ramuan obat tersebut kemudian diminumnya. Beberapa        &lt;br /&gt;
saat setelah meminum ramuan tersebut, ratu Jango menghilang dan muncul        &lt;br /&gt;
dalam mimpi seorang suhu. Lewat mimpi tersebut sang ratu mengatakan        &lt;br /&gt;
bahwa dirinya sekarang telah bersemayam di bulan dan menyebut dirinya        &lt;br /&gt;
Dewi Bulan. Sejak saat itu setiap tahun menurut kalendar Cina,        &lt;br /&gt;
masyarakat Cina selalu memperingati perjuangan ratu Jango dalam        &lt;br /&gt;
menyelamatkan masyarakat dari ketamakan Raja Ho Le.        &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Versi perjuangan prajurit Cina         &lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;        &lt;br /&gt;
Kue bulan bermula ketika cina dibawah penjajahan Mongolia. Pada akhir        &lt;br /&gt;
rejim mereka, pemerintahan sangatlah buruk. Raja hidup berhura-hura,        &lt;br /&gt;
padahal rakyat mereka penuh penderitaan. Saat keadaan ekonomi negara        &lt;br /&gt;
kacau, ada beberapa aktivis menyerukan revolusi. Sebuah revolusi        &lt;br /&gt;
direncanakan. Namum, karena pengawasan yang ketat dari pemerintahan        &lt;br /&gt;
mongolia, pesan dan surat dari para pemberontak tidak mungkin        &lt;br /&gt;
disebarkan. Akhirnya seorang aktivis bernama Chu Yuen-chang, dan deputi        &lt;br /&gt;
seniornya, Liu Po-wen memperkenalkan sejenis makanan yang disebut "kue        &lt;br /&gt;
bulan". Ia mengatakan dengan memakan kue bulan saat festival terang        &lt;br /&gt;
bulan (Chung Chiu festival) akan menjaga mereka dari penyakit dan segera        &lt;br /&gt;
terbebas dari krisis. Liu berpakaian sebagai pendeta Tao membawa dan        &lt;br /&gt;
membagikan kue bulan penduduk-penduduk kota.        &lt;br /&gt;
Saat Chung Chiu festival tiba, rakyat membuka kue bulan dan mereka        &lt;br /&gt;
menemukan secarik kertas dalam kue, "habisi orang-orang tartar tanggal        &lt;br /&gt;
15 pada bulan ke delapan". Sebagai hasilnya semua rakyat bangkit        &lt;br /&gt;
berevolusi melawan pemerintahan Mongolia dan mereka berhasil !!!. Sejak        &lt;br /&gt;
saat itu kue bulan menjadi salah satu makanan tradisional saat terang        &lt;br /&gt;
bulan.        &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Versi Hou Yi dan Chang-E&lt;/b&gt;        &lt;br /&gt;
Jaman dahulu kala, dilangit terdapat 10 matahari menghangatkan langit.        &lt;br /&gt;
Selama musim panas, Kesepuluh matahari bersinar sangat terik, yang        &lt;br /&gt;
mengakibatkan kekeringan dimana-mana. Pohon-pohon pada mati. Kehidupan        &lt;br /&gt;
menjadi sangat sulit untuk kaisar dan rakyatnya        &lt;br /&gt;
Sang Kaisar kemudian memanggil pemanah terkenal yang dapat memanah        &lt;br /&gt;
sangat jauh dengan ketepatan tinggi. Kaisar memerintahkan Hou Yi untuk        &lt;br /&gt;
memanah sembilan dari sepuluh matahari dari langit. Dengan menggunakan        &lt;br /&gt;
kesembilan panah saktinya, pemanah ini berhasil memanah kesembilan        &lt;br /&gt;
matahari dan musim panas menjadi normal kembali. Rakyat menjadi        &lt;br /&gt;
sejahtera kembali.        &lt;br /&gt;
Kaisar menghadiahkan Hou Yi dengan uang dan perhiasan yang banyak. Hou        &lt;br /&gt;
Yi menggambil uang tersebut untuk menikahi wanita yang sangat ia cintai        &lt;br /&gt;
Chang Oh. Pernikahan ini sangat meriah dan keluarga dari Hou Yi dan        &lt;br /&gt;
Chang Oh sangat bahagia. Kemudian Kaisar memanggil kembali Hou Yi untuk        &lt;br /&gt;
membangun sebuah istana baru. Hou Yi bukan saja seorang pemanah        &lt;br /&gt;
terhebat, ia juga arsitek terbaik kaisar. Istana yang paling indah dan        &lt;br /&gt;
besar dibangun, didekorasi penuh emas permata dan diisi dengan sutra dan        &lt;br /&gt;
kerajinan tangan yang sangat indah.        &lt;br /&gt;
Kaisar sangat kagum dengan Kehebatan Hou Yi. Kali ini, Kaisar memilih        &lt;br /&gt;
untuk tidak menghadiahkan Hou Yi emas permata, melainkan ia        &lt;br /&gt;
menghadiahkan Hou Yi botol kecil yang berisi elixir keabadian. Kaisar        &lt;br /&gt;
memperingatkan Hou Yi agar berhati-hati untuk tidak meminum keseluruhan        &lt;br /&gt;
isi botol, melainkan dibagi bersama istrinya Chang Oh.        &lt;br /&gt;
Hou Yi berlari segera kerumah untuk membagi hadiahnya bersama Chang Oh.        &lt;br /&gt;
Chang Oh begitu gembira, dan langsung meminum keseluruh isi elixir        &lt;br /&gt;
keabadian. Setelah menelan elixir tersebut, kepalanya berputar dengan        &lt;br /&gt;
cepat dan iapun terjatuh. Tiba-tiba badannya menjadi sangat ringan dan        &lt;br /&gt;
ia mulai melayang kelangit! iapun menjadi sangat frustasi dan        &lt;br /&gt;
berpeganggan terhadap apa saja yang ia dapat raih, kursi, tumbuhan,        &lt;br /&gt;
bahkan suaminya yang dapat mencegahnya melayang. Terakhir ia memegang        &lt;br /&gt;
kandang kelinci yang berisi kelinci putihnya. Hou Yi berteriak dengan        &lt;br /&gt;
putus asa melihat istrinya yang cantik Chang Oh melayang kebulan.        &lt;br /&gt;
Chang Oh terjebak dibulan untuk hidup selamanya tanpa suaminya, ia hanya        &lt;br /&gt;
ditemani kelinci putihnya. Hanya satu keajaiban muncul yaitu jembatan        &lt;br /&gt;
bulan muncul malam hari, setahun sekali, saat bulan kedelapan lunar        &lt;br /&gt;
kalender, yaitu sekitar bulan September dan Oktober. Jembatan itu        &lt;br /&gt;
menghubungkan Bulan dan Bumi. Selama malam itu Chang Oh dan Hou Yi        &lt;br /&gt;
kembali bersama untuk waktu yang singkat akan kebahagiaan. (This history        &lt;br /&gt;
is came from Colette Chooey)        &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sebagai lambang kerja keras&lt;/b&gt;        &lt;br /&gt;
Biasanya dirayakan oleh keluarga petani pada pertengahan musim gugur.        &lt;br /&gt;
Selain sebagai perayaan yang melambangkan hasil akhir dari kerja keras        &lt;br /&gt;
selama setahun di ladang, perayaan ini juga bertepatan dengan hari ulang        &lt;br /&gt;
tahun Dewa Bumi. Para keluarga petani menunjukkan rasa terima kasih        &lt;br /&gt;
mereka pada Dewa Bumi dan Tuhan yang dilambangkan dengan bulan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: lime; font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/07/legenda-kue-bulan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-4844356397777013413</guid><pubDate>Wed, 01 Jul 2009 05:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-29T11:53:02.218+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Fairytale of Roro Jongrang</title><description>&lt;a href="" name="1095656369574601570"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;img alt="clip_image001" border="0" height="120" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXG-Rt87wKVhuM9zOpngnLIs3rKC9Hdc6id1jkaBhvSM-rn-tZEcw8Bolc7Oi5AiX8SwOPhv9z_T6dvWPE6rrplfRtD4fG9gmx_OK-ZFcDTFUuO0_xT0vYPzdyADu3je_AYR2WidDrtZoU/?imgmax=800" style="border-width: 0px; display: inline;" title="clip_image001" width="90" /&gt;       &lt;br /&gt;
In the ancients, there is a large kingdom called Prambanan. People living tenteran and peaceful. But, what happens then? Prambanan Kingdom attacked by land occupation and Pengging. Prambanan Kingdom will not be safe. The army is not able to attack troops Pengging. Finally, a kingdom dominated by Pengging Prambanan, Bandung and led by Bondowoso.       &lt;br /&gt;
Bandung Bondowoso like a man who ruled with tyrannical. "Anyone who does not obey the order, will get a heavy punishment", said the people in Bandung Bondowoso. Bondowoso Bandung is a magic genie and have troops. Not how long in power, like the Bandung Bondowoso gestures Loro Jonggrang, daughter of King Prambanan is pretty sweet. "Beautiful girls really that. I want him to be my consort," said Bandung Bondowoso hearts.       &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Next day, near Bondowoso Roro Jonggrang. "You wrap, Shall you be my empress?", Bandung Bondowoso to Ask Roro Jonggrang. Roro Jonggrang startled, to hear questions Bondowoso. "Men's cheek this once, with not immediately know I want to be her consort," said Loro Jongrang in the heart. "What should I do?". Roro Jonggrang into confusion. If he refused, they will make a big Bandung Bondowoso angry and dangerous to his family and the people of Prambanan. To say yes, but also may not, as Loro Jonggrang really do not like the Bandung Bondowoso.       &lt;br /&gt;
"How, Roro Jonggrang?" wedged Bondowoso. Roro Jonggrang eventually get the idea. "I am willing to be his wife's master, but no condition," said. "What condition? Want to abundant wealth, or a magnificent palace?". "Not that, my lord, said Roro Jonggrang. I have made temples, the number should be 1000 temples." Temple in 1000? "Bondowoso screaming." Yes, and the temple is to be completed in time for the night. "Bandung Jonggrang Roro Bondowoso stare, lips vibrate holding anger. Since then Bandung Bondowoso thinking how to make 1000 temples. Finally he said to the penasehatnya. "I believe my master is created with the help of temples Jin!", said the advisers. "Yes, nature is also true for you, prepare the equipment that I need "       &lt;br /&gt;
After the equipment at the ready. Bandung Bondowoso standing in front of the altar stone. Both wide-arm dibentang wide. "Jinn troops, help me!" teriaknya with a jarring sound. Not long after, the sky became dark. Wind roar. Right then, troops have overrun jin Bondowoso Bandung. "What should we do Lord?", A goblin leader. "Help me build a thousand temples," Bandung Bondowoso fate. The genie immediately move to it here, perform each task. In a short period of time in which the temple is almost reached a thousand pieces.       &lt;br /&gt;
Meanwhile, the quiet Roro Jonggrang observe from afar. He was anxious, to know Bondowoso troops assisted by the jinn. "Wah, how do this?", Said Roro Jonggrang in the heart. He was looking for understanding. The lady-in-waiting disuruhnya kingdom was assigned to gather and collect straw. "Quick burn all the straw!" Roro Jonggrang command. Some other lady-in-waiting mortar pestle. Dung ... dung ... dung! Red tinge to the sky with a jet sound accompanied the bustle, so similar like the morning dawn.       &lt;br /&gt;
Troops jin think dawn is dawn. "Wow, the sun will rise!" invoke jinn. "We have to go immediately before our bodies were the sun," speed demon the other. The genie is trickle leave that place. Bandung Bondowoso was astonished to see panic troops jinn.       &lt;br /&gt;
The same morning, Bandung Bondowoso Roro Jonggrang to invite the temple. "The temple which you have already established". Roro Jonggrang immediately calculate the number of the temple. In fact the number is only 999 pieces!. "The amount is less than one!" Loro Jonggrang exciting. "That means that masters have failed to meet the requirements that I ask." Bandung Bondowoso shortfall surprised to know that. He became very angry. "There may be a word Bondowoso ...", while the sharp stare Jonggrang Roro. "Then you are complete!" he said while driving on the fingers Roro Jonggrang. Wonderful! Roro Jonggrang immediately changed into a stone statue. To this temple-temple is still there, and located in the area of Prambanan, Central Java and called Roro Jonggrang temple.       &lt;br /&gt;
Versi Indonesia :       &lt;br /&gt;
Alkisah, pada dahulu kala terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama Prambanan. Rakyatnya hidup tenteran dan damai. Tetapi, apa yang terjadi kemudian? Kerajaan Prambanan diserang dan dijajah oleh negeri Pengging. Ketentraman Kerajaan Prambanan menjadi terusik. Para tentara tidak mampu menghadapi serangan pasukan Pengging. Akhirnya, kerajaan Prambanan dikuasai oleh Pengging, dan dipimpin oleh Bandung Bondowoso.       &lt;br /&gt;
Bandung Bondowoso seorang yang suka memerintah dengan kejam. "Siapapun yang tidak menuruti perintahku, akan dijatuhi hukuman berat!", ujar Bandung Bondowoso pada rakyatnya. Bandung Bondowoso adalah seorang yang sakti dan mempunyai pasukan jin. Tidak berapa lama berkuasa, Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Loro Jonggrang, putri Raja Prambanan yang cantik jelita. "Cantik nian putri itu. Aku ingin dia menjadi permaisuriku," pikir Bandung Bondowoso.       &lt;br /&gt;
Esok harinya, Bondowoso mendekati Roro Jonggrang. "Kamu cantik sekali, maukah kau menjadi permaisuriku ?", Tanya Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang. Roro Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan Bondowoso. "Laki-laki ini lancang sekali, belum kenal denganku langsung menginginkanku menjadi permaisurinya", ujar Loro Jongrang dalam hati. "Apa yang harus aku lakukan ?". Roro Jonggrang menjadi kebingungan. Pikirannya berputar-putar. Jika ia menolak, maka Bandung Bondowoso akan marah besar dan membahayakan keluarganya serta rakyat Prambanan. Untuk mengiyakannya pun tidak mungkin, karena Loro Jonggrang memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso.       &lt;br /&gt;
"Bagaimana, Roro Jonggrang ?" desak Bondowoso. Akhirnya Roro Jonggrang mendapatkan ide. "Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi ada syaratnya," Katanya. "Apa syaratnya? Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?". "Bukan itu, tuanku, kata Roro Jonggrang. Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah. "Seribu buah?" teriak Bondowoso. "Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam." Bandung Bondowoso menatap Roro Jonggrang, bibirnya bergetar menahan amarah. Sejak saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya membuat 1000 candi. Akhirnya ia bertanya kepada penasehatnya. "Saya percaya tuanku bias membuat candi tersebut dengan bantuan Jin!", kata penasehat. "Ya, benar juga usulmu, siapkan peralatan yang kubutuhkan!"       &lt;br /&gt;
Setelah perlengkapan di siapkan. Bandung Bondowoso berdiri di depan altar batu. Kedua lengannya dibentangkan lebar-lebar. "Pasukan jin, Bantulah aku!" teriaknya dengan suara menggelegar. Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin menderu-deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso. "Apa yang harus kami lakukan Tuan ?", tanya pemimpin jin. "Bantu aku membangun seribu candi," pinta Bandung Bondowoso. Para jin segera bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas masing-masing. Dalam waktu singkat bangunan candi sudah tersusun hampir mencapai seribu buah.       &lt;br /&gt;
Sementara itu, diam-diam Roro Jonggrang mengamati dari kejauhan. Ia cemas, mengetahui Bondowoso dibantu oleh pasukan jin. "Wah, bagaimana ini?", ujar Roro Jonggrang dalam hati. Ia mencari akal. Para dayang kerajaan disuruhnya berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami. "Cepat bakar semua jerami itu!" perintah Roro Jonggrang. Sebagian dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung. Dung... dung...dung! Semburat warna merah memancar ke langit dengan diiringi suara hiruk pikuk, sehingga mirip seperti fajar yang menyingsing.       &lt;br /&gt;
Pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing. "Wah, matahari akan terbit!" seru jin. "Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari," sambung jin yang lain. Para jin tersebut berhamburan pergi meninggalkan tempat itu. Bandung Bondowoso sempat heran melihat kepanikan pasukan jin.       &lt;br /&gt;
Paginya, Bandung Bondowoso mengajak Roro Jonggrang ke tempat candi. "Candi yang kau minta sudah berdiri!". Roro Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu. Ternyata jumlahnya hanya 999 buah!. "Jumlahnya kurang satu!" seru Loro Jonggrang. "Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat yang saya ajukan". Bandung Bondowoso terkejut mengetahui kekurangan itu. Ia menjadi sangat murka. "Tidak mungkin...", kata Bondowoso sambil menatap tajam pada Roro Jonggrang. "Kalau begitu kau saja yang melengkapinya!" katanya sambil mengarahkan jarinya pada Roro Jonggrang. Ajaib! Roro Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sampai saat ini candi-candi tersebut masih ada dan terletak di wilayah Prambanan, Jawa Tengah dan disebut Candi Roro Jonggrang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/07/fairytale-of-roro-jongrang.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXG-Rt87wKVhuM9zOpngnLIs3rKC9Hdc6id1jkaBhvSM-rn-tZEcw8Bolc7Oi5AiX8SwOPhv9z_T6dvWPE6rrplfRtD4fG9gmx_OK-ZFcDTFUuO0_xT0vYPzdyADu3je_AYR2WidDrtZoU/s72-c?imgmax=800" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-8048502444146554912</guid><pubDate>Wed, 01 Jul 2009 04:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-29T11:53:48.047+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Sejarah Asal Usul Orang Melayu</title><description>&lt;b&gt;&lt;a href="http://piposiahaan.blogspot.com/2009/05/sejarah-asal-usul-orang-melayu.html"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dalam buku Sejarah Melayu disebut bahwa Melayu adalah nama sungai di Sumatera Selatan yang mengalir disekitar bukit Si Guntang dekat Palembang. Si Guntang merupakan tempat pemunculan pertama tiga orang raja yang datang ke alam Melayu. Mereka adalah asal dari keturunan raja-raja Melayu di Palembang (Singapura, Malaka dan Johor), Minangkabau dan Tanjung Pura.      &lt;br /&gt;
Sejarah Melayu (Malay Annals) merupakan karya tulis yang paling penting dalam bahasa Melayu yang merupakan sumber yang otentik untuk informasi mengenai ke-Melayu-an. Disusun sekitar tahun 1612 tetapi didasarkan catatan-catatan yang lebih tua.       &lt;br /&gt;
Disebut juga bahwa anggota kerajaan Malaka menyebut diri mereka keturunan Melayu dari daerah Palembang. Seperti keluarga raja-raja di Negeri Sembilan yaitu: Yang Dipertuan Ali Alamsyah yang dianggap keturunan langsung dari Raja Minangkabau terakhir.       &lt;br /&gt;
Pada waktu itu sebutan Melayu merujuk pada keturunan sekelompok kecil orang Sumatera pilihan. Seiring dengan berjalannya waktu definisi Melayu berdasarkan ras ini mulai ditinggalkan.       &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Definisi Melayu menjadi berdasarkan budaya dan adat, dimana orang Melayu adalah orang yang mempunyai etika, tingkah laku dan adat Melayu. Pada waktu Islam mulai dianut didaerah Sumatera dan Semenanjung Malaka, keyakinan dan ketaatan terhadap agama islam menjadi salah satu ciri khas dari orang Melayu.       &lt;br /&gt;
Pada abad ke-18, William Marsden menyebutkan bahwa dalam percakapan sehari-hari, penyebutan bangsa Melayu adalah sama dengan sebutan bangsa Moor di India dalam artian ketaatannya terhadap agama Islam.&lt;/span&gt;</description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/07/sejarah-asal-usul-orang-melayu.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-4879804964031093859</guid><pubDate>Wed, 01 Jul 2009 04:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-29T11:56:26.072+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Sejarah Bahasa Indonesia</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://ksupointer.com/wp-content/uploads/2009/06/indonesia.jpg"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;img alt="clip_image002" border="0" height="149" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTmlaT0_i6b87Vrjh-HeNrP6M0guYImOLYr5z76fJeVL8DSPzY1ejMCXvpNRblgsIjV9ln22i6WWUQ_8wWSpj9zwRGeFShXtvxTySGyj_KJOb9kpzt0qZztPejkGn1Vavz7J75omA17Vln/?imgmax=800" style="border-width: 0px; display: inline;" title="clip_image002" width="212" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Bahasa Indonesia&lt;/b&gt; adalah bahasa resmi Republik Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36. Ia juga merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Meski demikian, hanya sebagian kecil dari penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakannya sebagai bahasa ibu, karena dalam percakapan sehari-hari yang tidak resmi masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan bahasa daerahnya masing-masing sebagai bahasa ibu, seperti bahasa Melayu pasar, bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan lain sebagainya. Untuk sebagian besar masyarakat Indonesia lainnya, bahasa Indonesia adalah bahasa kedua dan untuk taraf resmi bahasa Indonesia adalah bahasa pertama. Bahasa Indonesia merupakan sebuah dialek bahasa Melayu yang menjadi bahasa resmi Republik Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bahasa Indonesia diresmikan pada kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Bahasa Indonesia merupakan bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan asing. Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa Melayu yang pokoknya dari bahasa Melayu Riau sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, &lt;i&gt;“Jang dinamakan ‘Bahasa Indonesia’ jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari ‘Melajoe Riaoe’, akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia; pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia.”&lt;/i&gt; atau sebagaimana diungkapkan dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di Medan, Sumatra Utara, &lt;i&gt;“…bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju jang disesuaikan dengan pertumbuhannja dalam masjarakat Indonesia.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Secara sejarah, bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporal dari bahasa Melayu yang struktur maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;. Secara sosiologis, bolehlah kita katakan bahwa bahasa Indonesia baru dianggap “lahir” atau diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928. Secara yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Fonologi dan tata bahasa dari bahasa Indonesia cukuplah mudah. Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan sebagai penghantar pendidikan di perguruan-perguruan di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Sejarah&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai &lt;i&gt;lingua franca&lt;/i&gt; (bahasa pergaulan) di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern. Bentuk bahasa sehari-hari ini sering dinamai dengan istilah &lt;i&gt;Melayu Pasar&lt;/i&gt;. Jenis ini sangat lentur, sebab sangat mudah dimengerti dan ekspresif, dengan toleransi kesalahan sangat besar dan mudah menyerap istilah-istilah lain dari berbagai bahasa yang digunakan para penggunanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bentuk yang lebih resmi, disebut &lt;i&gt;Melayu Tinggi&lt;/i&gt; yang pada masa lalu digunakan oleh kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Bentuk bahasa ini lebih sulit karena penggunaannya sangat halus, penuh sindiran, dan tidak seekspresif Bahasa Melayu Pasar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pemerintah kolonial Belanda melihat kelenturan Melayu Pasar dapat mengancam keberadaan bahasa dan budaya. Belanda berusaha meredamnya dengan mempromosikan Bahasa Melayu Tinggi, diantaranya dengan penerbitan karya sastra dalam Bahasa Melayu Tinggi oleh Balai Pustaka. Tetapi Bahasa Melayu Pasar sudah digunakan oleh banyak pedagang dalam berkomunikasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Melayu Kuno&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Penyebutan pertama istilah “Bahasa Melayu” sudah dilakukan pada masa sekitar 683-686 M, yaitu angka tahun yang tercantum pada beberapa prasasti berbahasa Melayu Kuno dari Palembang dan Bangka. Prasasti-prasasti ini ditulis dengan aksara Pallawa atas perintah raja Sriwijaya, kerajaan maritim yang berjaya pada abad ke-7 sampai ke-12. Wangsa Syailendra juga meninggalkan beberapa prasasti Melayu Kuno di Jawa Tengah. Keping Tembaga Laguna yang ditemukan di dekat Manila juga menunjukkan keterkaitan wilayah itu dengan Sriwijaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Berbagai batu bertulis (prasasti) yang ditemukan itu seperti:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, tahun 683.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Prasasti Talang Tuo di Palembang, tahun 684.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Prasasti Kota Kapur di Bangka Barat, tahun 686.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Prasasti Karang Brahi antara Jambi dan Sungai Musi, tahun 688.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Yang kesemuanya beraksara Pallawa dan bahasanya bahasa Melayu Kuno memberi petunjuk bahwa bahasa Melayu dalam bentuk bahasa Melayu Kuno sudah dipakai sebagai alat komunikasi pada zaman Sriwijaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Prasasti-prasasti lain yang bertulis dalam bahasa Melayu Kuno juga terdapat di:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jawa Tengah: Prasasti Gandasuli, tahun 832, dan Prasasti Manjucrigrha.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bogor: Prasasti Bogor, tahun 942.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kedua prasasti di pulau Jawa itu memperkuat pula dugaan bahwa bahasa Melayu Kuno pada saat itu bukan saja dipakai di Sumatra, melainkan juga dipakai di Jawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Penelitian linguistik terhadap sejumlah teks menunjukkan bahwa paling sedikit terdapat dua dialek bahasa Melayu Kuno yang digunakan pada masa yang berdekatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Melayu Klasik&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Karena terputusnya bukti-bukti tertulis pada abad ke-9 hingga abad ke-13, ahli bahasa tidak dapat menyimpulkan apakah bahasa Melayu Klasik merupakan kelanjutan dari Melayu Kuno. Catatan berbahasa Melayu Klasik pertama berasal dari Prasasti Terengganu berangka tahun 1303.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Seiring dengan berkembangnya agama Islam yang dimulai dari Aceh pada abad ke-14, bahasa Melayu klasik lebih berkembang dan mendominasi sampai pada tahap di mana ekspresi “Masuk Melayu” berarti masuk agama Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Bahasa Indonesia&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai &lt;i&gt;lingua franca&lt;/i&gt;, namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu. Bahasa ibu masih menggunakan bahasa daerah yang jumlahnya mencapai 360 bahasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada pertengahan 1800-an, Alfred Russel Wallace menuliskan di bukunya &lt;i&gt;Malay Archipelago&lt;/i&gt; bahwa, “Penghuni Malaka telah memiliki suatu bahasa tersendiri yang bersumber dari cara berbicara yang paling elegan dari negara-negara lain, sehingga bahasa orang Melayu adalah yang paling indah, tepat, dan dipuji di seluruh dunia Timur. Bahasa mereka adalah bahasa yang digunakan di seluruh Hindia Belanda.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jan Huyghen van Linschoten di dalam bukunya &lt;i&gt;Itinerario&lt;/i&gt; menuliskan bahwa, “Malaka adalah tempat berkumpulnya nelayan dari berbagai negara. Mereka lalu membuat sebuah kota dan mengembangkan bahasa mereka sendiri, dengan mengambil kata-kata yang terbaik dari segala bahasa di sekitar mereka. Kota Malaka, karena posisinya yang menguntungkan, menjadi bandar yang utama di kawasan tenggara Asia, bahasanya yang disebut dengan Melayu menjadi bahasa yang paling sopan dan paling pas di antara bahasa-bahasa di Timur Jauh.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bahasa Indonesia modern dapat dilacak sejarahnya dari literatur Melayu Kuno. Pada awal abad ke-20, bahasa Melayu pecah menjadi dua. Di tahun 1901, Indonesia di bawah Belanda mengadopsi ejaan Van Ophuijsen, sedangkan pada tahun 1904 Malaysia di bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai bahasa nasional pada saat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan bahwa, “&lt;i&gt;Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan.&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti: Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;By :Sri Budhi Utami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/07/sejarah-bahasa-indonesia.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTmlaT0_i6b87Vrjh-HeNrP6M0guYImOLYr5z76fJeVL8DSPzY1ejMCXvpNRblgsIjV9ln22i6WWUQ_8wWSpj9zwRGeFShXtvxTySGyj_KJOb9kpzt0qZztPejkGn1Vavz7J75omA17Vln/s72-c?imgmax=800" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-9111655371862374847</guid><pubDate>Wed, 01 Jul 2009 04:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-29T11:57:05.551+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Sejarah Danau Bandung</title><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgT7a-aEg7dNKKK0n7pEFjW3oFnFIN4Y48lxyK0YLkrUiq2jg2Qb5viw0mYM59YIwI3ukFvT_pmQbByKGk1FZ15sL_Jy7uKNOlz6c7iZVa7aGsEA2rwIzuBoy1uPA2xLWG5tqaKfkN13nlT/s1600-h/clip_image0013.jpg"&gt;&lt;span style="color: #d1cbc1; font-size: small;"&gt;&lt;img alt="clip_image001" border="0" height="205" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3DEfjuqf_lDKlXsZc9AvL1GBirhrUHtCSu9Ct1X0cQwMGjvVPlRZcdTRFStyaQRz7pE3837smcvrZo1aSNzfPpHCxcyuCFANR1tfGBn4NL_fxDJVGXnltjNboiNxnEjFXwmjDVA4L5J9h/?imgmax=800" style="border: 0px none; display: inline;" title="clip_image001" width="244" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bandung kota dan sekitarnya, pada masa lampau merupakan danau yang dikenal dengan Danau Bandung. Keadaan yang sekarang terlihat merupakan pedataran yang biasa disebut dengan istilah “Cekungan Bandung” (Bandung Basin). Daerah sekitar cekungan tersebut, diperkirakan dahulu merupakan tepian danau sehingga banyak diperoleh sisa-sisa aktivitas manusia masa lampau (Koesoemadinata, 2001).      &lt;br /&gt;
Van Bemmelen, 1935, meneliti sejarah geologi Bandung. Pengamatan dilakukan terhadap singkapan batuan dan bentuk morfologi dari gunung api-gunung api di sekitar Bandung. Penelitian yang dilakukan berhasil mengetahui bahwa danau Bandung terbentuk karena pembendungan Sungai Citarum purba. Pembendungan ini disebabkan oleh pengaliran debu gunung api masal dari letusan dasyat Gunung Tangkuban Parahu yang didahului oleh runtuhnya Gunung Sunda Purba di sebelah baratlaut Bandung dan pembentukan kaldera di mana di dalamnya Gunung Tangkuban Parahu tumbuh.       &lt;br /&gt;
Van Bemmelen secara rinci menjelaskan, sejarah geologi Bandung dimulai pada zaman Miosen (sekitar 20 juta tahun yang lalu). Saat itu daerah Bandung utara merupakan laut, terbukti dengan banyaknya fosil koral yang membentuk terumbu karang sepanjang punggungan bukit Rajamandala. Kondisi sekarang, terumbu tersebut menjadi batukapur dan ditambang sebagai marmer yang berpolakan fauna purba.       &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Bukit pegunungan api diyakini masih berada di daerah sekitar Pegunungan Selatan Jawa. Sekitar 14 juta sampai 2 juta tahun yang lalu, laut diangkat secara tektonik dan menjadi daerah pegunungan yang kemudian 4 juta tahun yang lalu dilanda dengan aktivitas gunung api yang menghasilkan bukit-bukit yang menjurus utara selatan antara Bandung dan Cimahi, antara lain Pasir Selacau. Pada 2 juta tahun yang lalu aktivitas volkanik ini bergeser ke utara dan membentuk gunung api purba yang dinamai Gunung Sunda, yang diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 3000 m di atas permukaaan air laut. Sisa gunung purba raksasa ini sekarang adalah punggung bukit.       &lt;br /&gt;
Sekitar Situ Lembang (salah satu kerucut sampingan sekarang disebut Gunung Sunda) dan Gunung Burangrang diyakini sebagai salah satu kerucut sampingan dari Gunung Sunda Purba ini. Sisa lain dari lereng Gunung Sunda Purba ini terdapat di sebelah utara Bandung, khususnya sebelah timur Sungai Cikapundung sampai Gunung Malangyang, yang oleh van Bemmelen (1935, 1949) disebut sebagai Blok Pulasari. Pada lereng ini terutama ditemukan situs-situs artefak ini, yang diteliti lebih lanjut oleh Rothpletz pada zaman Jepang dan pendudukan Belanda di Masa Perang Kemerdekaaan. Sisa lain dari Gunung Sunda Purba ini adalah Bukit Putri di sebelah timur laut Lembang (Koesoemadinata, 2001).       &lt;br /&gt;
Gunung Sunda Purba itu kemudian runtuh, dan membentuk suatu kaldera (kawah besar yang berukuran 5-10 km) yang ditengahnya lahir Gunung Tangkuban Parahu, yang disebutnya dari Erupsi A dari Tangkuban Parahu, bersamaan pula dengan terjadinya patahan Lembang sampai Gunung Malangyang, dan memisahkan dataran tinggi Lembang dari dataran tinggi Bandung. Kejadian ini diperkirakan van Bemmelen (1949) terjadi sekitar 11.000 tahun yang lalu.       &lt;br /&gt;
Suatu erupsi cataclysmic kedua terjadi sekitar 6000 tahun yang lalu berupa suatu banjir abu panas yang melanda bagian utara Bandung (lereng Gunung Sunda Purba) sebelah barat Sungai Cikapundung samapai sekitar Padalarang di mana Sungai Citarum Purba mengalir ke luar dataran tinggi Bandung. Banjir abu volkanik ini menyebabkan terbendungnya Sungai Citarum Purba, dan terbentuklah Danau Bandung.       &lt;br /&gt;
Tahun 90-an, Dam dan Suparan (1992) dari Direktorat Tata Lingkungan Departemen Pertambangan mengungkapkan sejarah geologi dataran tinggi Bandung. Penelitian ini menggunakan teknologi canggih seperti metoda penanggalan pentarikhan radiometri dengan isotop C-14 dan metode U/Th disequilibirum. Dam melakukan pengamatan terhadap perlapisan endapan sedimen Danau Bandung dari 2 lubang bor masing-masing sedalam 60 m di Bojongsoang dan sedalam 104 m di Sukamanah; melakukan pentarikhan dengan metoda isotop C-14 dan 1 metoda U/Th disequilibirum; dan pengamatan singkap dan bentuk morfologi di sekitar Bandung. Berbeda dengan Sunardi (1997) yang mendasarkan penelitiannnya atas pengamatan paleomagnetisme dan pentarikhan radiometri dengan metode K-Ar.       &lt;br /&gt;
Simpulan penting adalah bahwa pentarikhan kejadian-kejadian ini jauh lebih tua daripada diperkirakan oleh van Bemmelen (1949), kecuali periode pembentukan Gunung Sunda Purba serta kejadian-kejadian sebelumnya. Keberadaan danau purba Bandung dapat dipastikan, bahkan turun naiknya muka air danau, pergantian iklim serta jenis floranya dapat direkam lebih baik (van der Krass dan Dam, 1994).       &lt;br /&gt;
Hasil yang diperoleh, pembentukan danau Bandung bukan disebabkan oleh suatu peristiwa ledakan Gunung Sunda atau Tangkuban Parahu, tetapi mungkin karena penurunan tektonik dan peristiwa denudasi dan terjadi pada 125 KA (kilo-annum/ribu tahun) yang lalu (Dam et al, 1996).       &lt;br /&gt;
Keberadaan Gunung Sunda Purba dipastikan antara 2 juta sampai 100 juta tahun yang lalu berdasarkan pentarikhan batuan beku aliran lava, antara lain di Batunyusun timur laut Dago Pakar di Pulasari Schol (1200 juta tahun), Batugantung Lembang 506 kA (ribu tahun) dan di Maribaya (182 dan 222 kA). Memang suatu erupsi besar kataklismik (cataclysmic) terjadi pada 105 ribu tahun yang lalu, berupa erupsi Plinian yang menghasilkan aliran besar dari debu panas yang melanda bagian baratlaut Bandung dan membentuk penghalang topografi yang baru di Padalarang, yang mempertajam pembentukan danau Bandung. Erupsi besar ini diikuti dengan pembentukan kaldera atau runtuhnya Gunung Sunda yang diikuti lahirnya Gunung Tangkuban Parahu beberapa ratus atau ribu kemudian, yang menghasilkan aliran lava di Curug Panganten 62 ribu tahun yang lalu, sedangkan sedimentasi di danau Bandung berjalan terus.       &lt;br /&gt;
Suatu ledakan gunung api cataclysmic kedua terjadi anatara 55 dan 50 ribu tahun yang lalu, juga berupa erupsi Plinian dan melanda Bandung barat laut, sedangkan aliran-aliran lava di Curug Dago dan Kasomalang (Subang), terjadi masing-masing 41 dan 39 ribu tahun yang lalu. Sementara itu, sedimentasi di Danau Bandung berjalan terus, antara lain pembentukan suatu kipas delta purba yang kini ditempati oleh Kota Bandung pada permukaan danau tertinggi. Akhir dari Danau Bandung pun dapat ditentukan pentarikhannya yaitu 16 ribu tahun yang lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/07/sejarah-danau-bandung.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3DEfjuqf_lDKlXsZc9AvL1GBirhrUHtCSu9Ct1X0cQwMGjvVPlRZcdTRFStyaQRz7pE3837smcvrZo1aSNzfPpHCxcyuCFANR1tfGBn4NL_fxDJVGXnltjNboiNxnEjFXwmjDVA4L5J9h/s72-c?imgmax=800" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-3490357507874394842</guid><pubDate>Wed, 01 Jul 2009 04:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-01T11:58:15.225+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Sejarah Bandung</title><description>&lt;p&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCjn_gw7ZOfzj_0g3RSC8wLnfQfWePSfpbE2Bh4jBpJQjV3p9gxHyjuP14-FZWn3usevfxMU4Pnx5sI6cbPYyFaCV07la4v7BnO_LJF7SKKawPpDzLROzEM0NXZzn3um01T2DLBVZ2ITE/s1600-h/bandung003"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;img title="clip_image001" style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: inline; border-left: 0px; border-bottom: 0px" height="169" alt="clip_image001" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWmsYTogtM6ewWv_Q23HswwVqdaBNVCsa1YlQkj622-_5ZiQMpi_Ee0byDRwelGOm3o5BKLAobvoFafksBTm2_88ndIkFve0vxJZ2Y0fRTITaYn2c0-4WLj-D9sLWuS4LofWp0-reIHINp/?imgmax=800" width="244" border="0" /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;     &lt;br /&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgcjZD1u2RXlNNKg_57tWNVCkRM3PqzUpukqOv1DvrQnTV8FIfJf-JHfHfNXlwlwJZ8jPgatVtsniKRg1mIKBatlzHkmdvd83i0B1_49mrkZlBXIX00u5rPTyNlV9wlskuYoCE1bJzDLlI/s1600-h/bandung001"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;img title="clip_image002" style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: inline; border-left: 0px; border-bottom: 0px" height="175" alt="clip_image002" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSsoJBerHofDM5tHts_tprnq1uiEHuvFlVbiTS8lDihyZa6HDXr29ApNLNzD-DImo5JNe5JUbUd6_2hs304Ms-_DJ2zRq5JofhM6-OLvRQptKaGg6dzXa73WtR8rSgcQV5irxYPCHagUrS/?imgmax=800" width="244" border="0" /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;     &lt;br /&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Oleh: A. Sobana Hardjasaputra &lt;/b&gt;      &lt;br /&gt;Mengenai asal-usul nama &amp;quot;Bandung&amp;quot;, dikemukakan berbagai pendapat. Sebagian mengatakan bahwa, kata &amp;quot;Bandung&amp;quot; dalam bahasa Sunda, identik dengan kata &amp;quot;banding&amp;quot; dalam Bahasa Indonesia, berarti berdampingan. Ngabanding (Sunda) berarti berdampingan atau berdekatan. Hal ini antara lain dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (1994) dan Kamus Sunda-Indonesia terbitan Pustaka Setia (1996), bahwa kata bandung berarti berpasangan dan berarti pula berdampingan.       &lt;br /&gt;Pendapat lain mengatakan, bahwa kata &amp;quot;bandung&amp;quot; mengandung arti besar atau luas. Kata itu berasal dari kata bandeng. Dalam bahasa Sunda, ngabandeng berarti genangan air yang luas dan tampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Diduga kata bandeng itu kemudian berubah bunyi menjadi Bandung. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa kata Bandung berasal dari kata bendung.       &lt;br /&gt;Pendapat-pendapat tentang asal dan arti kata Bandung, rupanya berkaitan dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa holosen (± 6000 tahun yang lalu).       &lt;br /&gt;Akibatnya, daerah antara Padalarang sampai Cicalengka (± 30 kilometer) dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu sampai Soreang (± 50 kilometer) terendam menjadi sebuah danau besar yang kemudian dikenal dengan sebutan Danau Bandung atau Danau Bandung Purba. Berdasarkan hasil penelitian geologi, air Danau Bandung diperkirakan mulai surut pada masa neolitikum (± 8000 - 7000 sebelum Masehi). Proses surutnya air danau itu berlangsung secara bertahap dalam waktu berabad-abad.       &lt;br /&gt;Secara historis, kata atau nama Bandung mulai dikenal sejak di daerah bekas danau tersebut berdiri pemerintah Kabupaten bandung (sekitar decade ketiga abad ke-17). Dengan demikian, sebutan Danau Bandung terhadap danau besar itu pun terjadi setelah berdirinya Kabupaten Bandung.       &lt;br /&gt;Berdirinya Kabupaten Bandung       &lt;br /&gt;Sebelum Kabupaten Bandung berdiri, daerah Bandung dikenal dengan sebutan &amp;quot;Tatar Ukur&amp;quot;. Menurut naskah Sadjarah Bandung, sebelum Kabupaten Bandung berdiri, Tatar Ukur adalah termasuk daerah Kerajaan Timbanganten dengan ibukota Tegalluar. Kerajaan itu berada dibawah dominasi Kerajaan Sunda-Pajajaran. Sejak pertengahan abad ke-15, Kerajaan Timbanganten diperintah secara turun temurun oleh Prabu Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Ukur. Pada masa pemerintahan Dipati Ukur, Tatar Ukur merupakan suatu wilayah yang cukup luas, mencakup sebagian besar wilayah Jawa Barat, terdiri atas sembilan daerah yang disebut &amp;quot;Ukur Sasanga&amp;quot;.       &lt;br /&gt;Setelah Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh (1579/1580) akibat gerakan Pasukan banten dalam usaha menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, Tatar Ukur menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, penerus Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Sumedanglarang didirikan dan diperintah pertama kali oleh Prabu Geusan Ulun pada (1580-1608), dengan ibukota di Kutamaya, suatu tempat yang terletak sebelah Barat kota Sumedang sekarang. Wilayah kekuasaan kerajaan itu meliputi daerah yang kemudian disebut Priangan, kecuali daerah Galuh (sekarang bernama Ciamis).       &lt;br /&gt;Ketika Kerajaan Sumedang Larang diperintah oleh Raden Suriadiwangsa, anak tiri Geusan Ulun dari rtu Harisbaya, Sumedanglarang menjadi daerah kekuasaan Mataram sejak tahun 1620. Sejak itu status Sumedanglarang pun berubah dari kerajaan menjadi kabupaten dengan nama Kabupaten Sumedang. Mataram menjadikan Priangan sebagai daerah pertahanannya di bagian Barat terhadap kemungkinan serangan Pasukan Banten dan atau Kompeni yang berkedudukan di Batavia, karena Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung (1613-1645) bermusuhan dengan Kompeni dan konflik dengan Kesultanan Banten.       &lt;br /&gt;Untuk mengawasi wilayah Priangan, Sultan Agung mengangkat Raden Aria Suradiwangsa menjadi Bupati Wedana (Bupati Kepala) di Priangan (1620-1624), dengan gelar Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata, terkenal dengan sebutan Rangga Gempol I.       &lt;br /&gt;Tahun 1624 Sultan agung memerintahkan Rangga Gempol I untuk menaklukkan daerah Sampang (Madura). Karenanya, jabatan Bupati Wedana Priangan diwakilkan kepada adik Rangga Gempol I pangeran Dipati Rangga Gede. Tidak lama setelah Pangeran Dipati Rangga Gede menjabat sebagai Bupati Wedana, Sumedang diserang oleh Pasukan Banten. Karena sebagian Pasukan Sumedang berangkat ke Sampang, Pangeran Dipati Rangga Gede tidak dapat mengatasi serangan tersebut. Akibatnya, ia menerima sanksi politis dari Sultan Agung. Pangeran Dipati Rangga Gede ditahan di Mataram. Jabatan Bupati Wedana Priangan diserahkan kepada Dipati Ukur, dengan syarat ia harus dapat merebut Batavia dari kekuasaan Kompeni.       &lt;br /&gt;Tahun 1628 Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur untuk membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia. Akan tetapi serangan itu mengalami kegagalan. Dipati Ukur menyadari bahwa sebagai konsekwensi dari kegagalan itu ia akan mendapat hukuman seperti yang diterima oleh Pangeran Dipati Rangga gede, atau hukuman yang lebih berat lagi. Oleh karena itu Dipati Ukur beserta para pengikutnya membangkang terhadap Mataram. Setelah penyerangan terhadap Kompeni gagal, mereka tidak datang ke Mataram melaporkan kegagalan tugasnya. Tindakan Dipati Ukur itu dianggap oleh pihak Mataram sebagai pemberontakan terhadap penguasa Kerajaan Mataram.       &lt;br /&gt;Terjadinya pembangkangan Dipati Ukur beserta para pengikutnya dimungkinkan, antara lain karena pihak Mataram sulit untuk mengawasi daerah Priangan secara langsung, akibat jauhnya jarak antara Pusat Kerajaan Mataram dengan daerah Priangan. Secara teoritis, bila daerah tersebut sangat jauh dari pusat kekuasaan, maka kekuasaan pusat di daerah itu sangat lemah. Walaupun demikian, berkat bantuan beberapa Kepala daerah di Priangan, pihak Mataram akhirnya dapat memadamkan pemberontakan Dipati Ukur. Menurut Sejarah Sumedang (babad), Dipati Ukur tertangkap di Gunung Lumbung (daerah Bandung) pada tahun 1632.       &lt;br /&gt;Setelah &amp;quot;pemberontakan&amp;quot; Dipati Ukur dianggap berakhir, Sultan Agung menyerahkan kembali jabatan Bupati Wedana Priangan kepada Pangeran Dipati Rangga Gede yang telah bebas dari hukumannya. Selain itu juga dilakukan reorganisasi pemerintahan di Priangan untuk menstabilkan situasi dan kondisi daerah tersebut. Daerah Priangan di luar Sumedang dan Galuh dibagi menjadi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Parakanmuncang dan Kabupaten Sukapura dengan cara mengangkat tiga kepala daerah dari Priangan yang dianggap telah berjasa menumpas pemberontakan Dipati Ukur.       &lt;br /&gt;Ketiga orang kepala daerah dimaksud adalah Ki Astamanggala, umbul Cihaurbeuti diangkat menjadi mantri agung (bupati) Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, Tanubaya sebagai bupati Parakanmuncang dan Ngabehi Wirawangsa menjadi bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha. Ketiga orang itu dilantik secara bersamaan berdasarkan &amp;quot;Piagem Sultan Agung&amp;quot;, yang dikeluarkan pada hari Sabtu tanggal 9 Muharam Tahun Alip (penanggalan Jawa). Dengan demikian, tanggal 9 Muharam Taun Alip bukan hanya merupakan hari jadi Kabupagten Bandung tetapi sekaligus sebagai hari jadi Kabupaten Sukapura dan Kabupaten Parakanmuncang.       &lt;br /&gt;Berdirinya Kabupaten Bandung, berarti di daerah Bandung terjadi perubahan terutama dalam bidang pemerintahan. Daerah yang semula merupakan bagian (bawahan) dari pemerintah kerajaan (Kerajaan Sunda-Pajararan kemudian Sumedanglarang) dengan status yang tidak jelas, berubah menjadi daerah dengan sttus administrative yang jelas, yaitu kabupaten.       &lt;br /&gt;Setelah ketiga bupati tersebut dilantik di pusat pemerintahan Mataram, mereka kembali ke daerah masing-masing. Sadjarah Bandung (naskah) menyebutkan bahwa Bupati Bandung Tumeggung Wiraangunangun beserta pengikutnya dari Mataram kembali ke Tatar Ukur. Pertama kali mereka dating ke Timbanganten. Di sana bupati Bandung mendapatkan 200 cacah. Selanjutnya Tumenanggung Wiraangunangun bersama rakyatnya membangun Krapyak, sebuah tempat yang terletak di tepi Sungat Citarum dekat muara Sungai Cikapundung, (daerah pinggiran Kabupaten Bandung bagian Selatan) sebagai ibukota kabupaten. Sebagai daerah pusat kabupaten Bandung, Krapyak dan daerah sekitarnya disebut Bumi kur Gede.       &lt;br /&gt;Wilayah administrative Kabupaten Bandung di bawah pengaruh Mataram (hingga akhir abad ke-17), belum diketahui secara pasti, karena sumber akurat yang memuat data tentang hal itu tidak/belum ditemukan. Menurut sumber pribumi, data tahap awal Kabupaten Bandung meliputi beberapa daerah antara lain Tatar Ukur, termasuk daerah Timbanganten, Kuripan, Sagaraherang, dan sebagian Tanahmedang.       &lt;br /&gt;Boleh jadi, daerah Priangan di luar Wilayah Kabupaten Sumedang, Parakanmuncang, Sukapura dan Galuh, yang semula merupakan wilayah Tatar Ukur (Ukur Sasanga) pada masa pemerintahan Dipati Ukur, merupakan wilayah administrative Kabupaten Bandung waktu itu. Bila dugaan ini benar, maka Kabupaten Bandung dengan ibukota Krapyak, wilayahnya mencakup daerah Timbanganten, Gandasoli, Adiarsa, Cabangbungin, Banjaran, Cipeujeuh, Majalaya, Cisondari, Rongga, Kopo, Ujungberung dan lain-lain, termasuk daerah Kuripan, Sagaraherang dan Tanahmedang.       &lt;br /&gt;Kabupaten Bandung sebagai salah satu Kabupaten yang dibentuk Pemerintah Kerajaan Mataram, dan berada di bawah pengaruh penguasa kerajaan tersebut, maka sistem pemerintahan Kabupaten Bandung memiliki sistem pemerintahan Mataram. Bupati memiliki berbagai jenis symbol kebesaran, pengawal khusus dan prajurit bersenjata. Simbol dan atribut itu menambah besar dan kuatnya kekuasaan serta pengaruh Bupti atas rakyatnya.       &lt;br /&gt;Besarnya kekuasaan dan pengaruh bupati, antara lain ditunjukkan oleh pemilikan hak-hak istimewa yang biasa dmiliki oleh raja. Hak-hak dimaksud adalah hak mewariskan jabatan, ha memungut pajak dalam bentuk uang dan barang, ha memperoleh tenaga kerja (ngawula), hak berburu dan menangkap ikan dan hak mengadili.       &lt;br /&gt;Dengan sangat terbatasnya pengawasan langsung dari penguasa Mataram, maka tidaklah heran apabila waktu itu Bupati Bandung khususnya dan Bupati Priangan umumnya berkuasa seperti raja. Ia berkuasa penuh atas rakyat dan daerahnya. Sistem pemerinatahn dan gaya hidup bupati merupakan miniatur dari kehidupan keraton. Dalam menjalankan tugasnya, bupati dibantu oleh pejabat-pejabat bawahannya, seperti patih, jaksa, penghulu, demang atau kepala cutak (kepala distrik), camat (pembantu kepala distrik), patinggi (lurah atau kepala desa) dan lain-lain.       &lt;br /&gt;Kabupaten Bandung berada dibawah pengaruh Mataram sampai akhir tahun 1677. Kemudian Kabupaten Bandung jatuh ketangan Kompeni. Hal itu terjadi akibat perjanjian Mataram-Kompeni (perjanjian pertama) tanggal 19-20 Oktober 1677. Di bawah kekuasaan Kompeni (1677-1799), Bupati Bandung dan Bupati lainnya di Priangan tetap berkedudukan sebagai penguasa tertinggi di kabupaten, tanpa ikatan birokrasi dengan Kompeni.       &lt;br /&gt;Sistem pemerintahan kabupaten pada dasarnya tidak mengalami perubahan, karena Kompeni hanya menuntut agar bupati mengakui kekuasaan Kompeni, dengan jaminan menjual hasil-hasil bumi tertentu kepada VOC. Dalam hal ini bupati tidak boleh mengadakan hubungan politik dan dagang dengan pihak lain. Satu hal yang berubah adalah jabatan bupati wedana dihilangkan. Sebagai gantinya, Kompeni mengangkat Pangeran Aria Cirebon sebagai pengawas (opzigter) daerah Cirebon-Priangan (Cheribonsche Preangerlandan).       &lt;br /&gt;Salah satu kewajiban utama bupati terhadap kompeni adalah melaksanakan penanaman wajib tanaman tertentu, terutama kopi, dan menyerahkan hasilnya. Sistem penanaman wajib itu disebut Preangerstelsel. Sementara itu bupati wajib memelihara keamanan dan ketertiban daerah kekuasaannya. Bupati juga tidak boleh mengangkat atau memecat pegawai bawahan bupati tanpa pertimbangan Bupati Kompeni atau penguasa Kompeni di Cirebon. Agar bupati dapat melaksanakan kewajiban yang disebut terakhir dengan baik, pengaruh bupati dalam bidang keagamaan, termasuk penghasilan dari bidang itu, seperti bagian zakar fitrah, tidak diganggu baik bupati maupun rakyat (petani) mendapat bayaran atas penyerahan kopi yang besarnya ditentukan oleh Kompeni.       &lt;br /&gt;Hingga berakhirnya kekuasaan Kompeni-VOC akhir tahun 1779, Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak. Selama itu Kabupaten Bandung diperintah secara turun temurun oleh enam orang bupati. Tumenggung Wiraangunangun (merupakan bupati pertama) ankatan Mataram yang memerintah sampai tahun 1681. Lima bupati lainnya adalah bupati angkatan Kompeni yakni Tumenggung Ardikusumah yang memerintah tahun 1681-1704, Tumenggung Anggadireja I (1704-1747), Tumenggung Anggadireja II (1747-1763), R. Anggadireja III dengan gelar R.A. Wiranatakusumah I (1763-1794) dan R.A. Wiranatakusumah II yang memerintah dari tahun 1794 hingga tahun 1829. Pada masa pemerintahan bupati R.A. Wiranatakusumah II, ibukota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Karapyak ke Kota Bandung.       &lt;br /&gt;Berdirinya Kota Bandung       &lt;br /&gt;Ketika Kabupaten Bandung dipimpin oleh Bupati RA Wiranatakusumah II, kekuasaan Kompeni di Nusantara berakhir akibat VOC bangkrut (Desember 1799). Kekuasaan di Nusantara selanjutnya diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan Gubernur Jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811).       &lt;br /&gt;Sejalan dengan perubahan kekuasaan di Hindia Belanda, situasi dan kondisi Kabupaten Bandung mengalami perubahan. Perubahan yang pertama kali terjadi adalah pemindahan ibukota kabupaten dari Krapyak di bagian Selatan daerah Bandung ke Kota Bandung yang ter;etak di bagian tengah wilayah kabupaten tersebut.       &lt;br /&gt;Antara Januari 1800 sampai akhir Desember 1807 di Nusantara umumnya dan di Pulau Jawa khususnya, terjadi vakum kekuasaan asing (penjajah), karena walaupun Gubernur Jenderal Kompeni masih ada, tetapi ia sudah tidak memiliki kekuasaan. Bagi para bupati, selama vakum kekuasaan itu berarti hilangnya beban berupa kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi bagi kepentingan penguasa asing (penjajah). Dengan demikian, mereka dapat mencurahkan perhatian bagi kepentingan pemerintahan daerah masing-masing. Hal ini kiranya terjadi pula di Kabupaten Bandung.       &lt;br /&gt;Menurut naskah Sadjarah Bandung, pada tahun 1809 Bupati Bandung Wiranatakusumah II beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Karapyak ke daerah sebelah Utara dari lahan bakal ibukota. Pada waktu itu lahan bakal Kota Bandung masih berupa hutan, tetapi di sebelah utaranya sudah ada pemukiman, yaitu Kampung Cikapundung Kolot, Kampung Cikalintu, dan Kampung Bogor. Menurut naskah tersebut, Bupati R.A. Wiranatakusumah II pindah ke Kota Bandung setelah ia menetap di tempat tinggal sementara selama dua setengah tahun.       &lt;br /&gt;Semula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti) kemudian ia pindah Balubur Hilir. Ketika Deandels meresmikan pembangunan jembatan Cikapundung (jembatan di Jl. Asia Afrika dekat Gedung PLN sekarang), Bupati Bandung berada disana. Deandels bersama Bupati melewati jembatan itu kemudian mereka berjalan ke arah timur sampai disuatu tempat (depan Kantor Dinas PU Jl. Asia Afrika sekarang). Di tempat itu deandels menancapkan tongkat seraya berkata: &amp;quot;Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!&amp;quot; (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!&amp;quot;. Rupanya Deandels menghendaki pusat kota Bandung dibangun di tempat itu.       &lt;br /&gt;Sebagai tindak lanjut dari ucapannya itu, Deandels meminta Bupati Bandung dan Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten masing-masing ke dekat Jalan Raya Pos. Permintaan Deandels itu disampaikan melalui surat tertanggal 25 Mei 1810.       &lt;br /&gt;Pindahnya Kabupaten Bandung ke Kota Bandung bersamaan dengan pengangkatan Raden Suria menjadi Patih Parakanmuncang. Kedua momentum tersebut dikukuhkan dengan besluit (surat keputusan) tanggal 25 September 1810. Tanggal ini juga merupakan tanggal Surat Keputusan (besluit), maka secara yuridis formal (dejure) ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Bandung.       &lt;br /&gt;Boleh jadi bupati mulai berkedudukan di Kota Bandung setelah di sana terlebih dahulu berdiri bangunan pendopo kabupaten. Dapat dipastikan pendopo kabupaten merupakan bangunan pertama yang dibangun untuk pusat kegiatan pemerintahan Kabupaten Bandung.       &lt;br /&gt;Berdasarkan data dari berbagai sumber, pembangunan Kota Bandung sepenuhnya dilakukan oleh sejumlah rakyat Bandung dibawah pimpinan Bupati R.A. Wiranatakusumah II. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa bupati R.A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) kota Bandung.       &lt;br /&gt;Berkembangnya Kota Bandung dan letaknya yang strategis yang berada di bagian tengah Priangan, telah mendorong timbulnya gagasan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1856 untuk memindahkan Ibukota Keresiden priangan dari Cianjur ke Bandung. Gagasan tersebut karena berbagai hal baru direalisasikan pada tahun 1864. Berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal tanggal 7 Agustus 1864 No.18, Kota Bandung ditetapkan sebagai pusat pemerintahan Keresidenan Priangan. Dengan demikian, sejak saat itu Kota Bandung memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai Ibukota Kabupaten Bandung sekaligus sebagai ibukota Keresidenan Priangan. Pada waktu itu yang menjadi Bupati Bandung adalah R.A. Wiranatakusumah IV (1846-1874).       &lt;br /&gt;Sejalan dengan perkembangan fungsinya, di Kota Bandung dibangun gedung keresidenan di daerah Cicendo (sekarang menjadi Rumah Dinas Gubernur Jawa Barat) dan sebuah hotel pemerintah. Gedung keresidenan selesai dibangun tahun 1867.       &lt;br /&gt;Perkembangan Kota Bandung terjadi setelah beroperasi transportasi kereta api dari dan ke kota Bandung sejak tahun 1884. Karena Kota Bandung berfungsi sebagai pusat kegiatan transportasi kereta api &amp;quot;Lin Barat&amp;quot;, maka telah mendorong berkembangnya kehidupan di Kota Bandung dengan meningkatnya penduduk dari tahun ke tahun.       &lt;br /&gt;Di penghujung abad ke-19, penduduk golongan Eropa jumlahnya sudah mencapai ribuan orang dan menuntut adanya lembaga otonom yang dapat mengurus kepentingan mereka. Sementara itu pemerintah pusat menyadari kegagalan pelaksanaan sistem pemerintahan sentralistis berikut dampaknya. Karenanya, pemerintah sampai pada kebijakan untuk mengganti sistem pemerintahan dengan sistem desentralisasi, bukan hanya desentralisasi dalam bidang keuangan, tetapi juga desentralisasi dalam pemberian hak otonomi bidang pemerintahan (zelfbestuur)       &lt;br /&gt;Dalam hal ini, pemerintah Kabupaten Bandung di bawah pimpinan Bupati RAA Martanagara (1893-1918) menyambut baik gagasan pemerintah kolonial tersebut. Berlangsungnya pemerintahan otonomi di Kota Bandung, berarti pemerintah kabupaten mendapat dana budget khusus dari pemerintah kolonial yang sebelumnya tidak pernah ada.       &lt;br /&gt;Berdasarkan Undang-undang Desentralisasi (Decentralisatiewet) yang dikeluarkan tahun 1903 dan Surat Keputusan tentang desentralisasi (Decentralisasi Besluit) serta Ordonansi Dewan Lokal (Locale Raden Ordonantie) sejak tanggal 1 April 1906 ditetapkan sebagai gemeente (kotapraja) yang berpemerintahan otonomom. Ketetapan itu semakin memperkuat fungsi Kota Bandung sebagai pusat pemerintahan, terutama pemerintahan Kolonial Belanda di Kota Bandung. Semula Gemeente Bandung       &lt;br /&gt;Dipimpin oleh Asisten Residen priangan selaku Ketua Dewan Kota (Gemeenteraad), tetapi sejak tahun 1913 gemeente dipimpin oleh burgemeester (walikota).       &lt;br /&gt;Sumber: Kota-kota Lama di Jawa Barat       &lt;br /&gt;Penerbit: Alqaprint Jatinangor       &lt;br /&gt;**sundanet.com**       &lt;br /&gt;Sumber :       &lt;br /&gt;http://gerbang.jabar.go.id/kabbandung/index.php?index=15&amp;amp;idartikel=2       &lt;br /&gt;10 Mei 2009&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/07/sejarah-bandung.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWmsYTogtM6ewWv_Q23HswwVqdaBNVCsa1YlQkj622-_5ZiQMpi_Ee0byDRwelGOm3o5BKLAobvoFafksBTm2_88ndIkFve0vxJZ2Y0fRTITaYn2c0-4WLj-D9sLWuS4LofWp0-reIHINp/s72-c?imgmax=800" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-789988026875333269</guid><pubDate>Wed, 01 Jul 2009 04:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-01T11:50:22.802+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Sejarah Kota Palembang</title><description>&lt;p&gt;&lt;font color="#00ff00"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Dari&lt;/b&gt; seluruh pelabuhan di wilayah orang-orang Melayu, Palembang telah membuktikan dan terus secara seksama menjadi pelabuhan yang paling aman dan peraturan paling baik, seperti dinyatakan orang-orang pribumi dan orang-orang Eropa. Begitu memasuki memasuki perairan sungai, perahu-perahu kecil, dengan kewaspadaan yang biasa siaga dengan tindakan-tindakan perampasan. Kemungkinan perahu perampok yang bersembunyi akan memangsa perahu-perahu dagang kecil yang memasuki sungai, jarang terjadi, karena ketatnya penjagaan oleh kekuatan Sultan dengan segala peralatannya. Selain kekayaan yang melimpah dari baiknya pelayanan pelabuhan dan perdagangan, membuat Palembang mempunyai kesempatan memperkuat pertahanannya. Ini dibuktikannya oleh Sultan Muhammad Bahauddin mendirikan keraton Kuto Besak pada tahun 1780. Di dalam melawan penjajahan Belanda dan Inggris, Sultan Mahmud Badaruddin II berhasil mengatasi politik diplomasi dan peperangan kedua bangsa tersebut. Sebelum jatuhnya Palembang dalam peperangan besar di tahun 1821, Sultan Mahmud Badaruddin II secara beruntun pada tahun 1819 telah dua kali menghajar pasukan-pasukan Belanda keluar dari perairan Palembang. Keperkasaan Sultan Mahmud Badaruddin II ini dinilai oleh Pemerintah Republik Indonesia adalah wajar untuk dianugrahi sebagai Pahlawan Nasional.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="4"&gt;Masa Belanda&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font color="#ff0080" size="3"&gt;Palembang sebagai ibukota Kesultanan Palembang Darussalam pada saat dibawah pemerintahan kolonial Belanda dirombak secara total dari sisi penggolongan kotanya. Pada awalnya wilayah pemukiman penduduk kota Palembang, dizaman Kesultanan lebih dari sekedar pemukiman yang terorganisir. Pemukiman pada waktu itu adalah suatu lembaga persekutuan dimana patronage dan paternalis terbentuk akibat struktur masyarakat tradisional dan feodalistis. Keseluruhan sistem ini berada dalam satu lingkungan dan lokasi. Sistem ini dikenal dengan nama gugu(k). Kosakata gugu berasal dari Jawa – Kawi yang berarti: barang katanya, diturut, diindahkan. Setiap guguk mempunyai sifat sektoral ataupun aspiratip. Sekedar untuk pengertian meskipun tidak sama, bentuk guguk ini dapat dilihat dengan sistem gilda pada abad pertengahan di Eropa. Contoh nama wilayah pemukiman yang dikenal sebagai Sayangan, adalah wilayah dimana paramiji dan alingan (struktur bawa dari golongan penduduk kesultanan) yang memproduksi hasil-hasil dari bahan tembaga. Sayangan artinya pengerajin tembaga (Jawa Kawi). Produksi ini dilakukan atas perintah dari bangsawan yang menjadi pemimpin (guguk) yang menjadi pelindung terhadap kedua golongan baik miji maupun alingan (orang yang di-alingi/dilindungi). Hasil produksi ini merupakan pula income bagi sultan dan kesultanan. Contoh lain dalam adalah wilayah pemukiman mengindikasikan wilayah guguk, yaitu: Kepandean adalah rajin atau pandai besi, pelampitan adalah pengrajin lampit, demikian juga dengan kuningan adalah perajin pembuat bahan-bahan dari kuningan. Pemukiman ini dapat pula bersifat aspiratif, yaitu satu guguk yang mempunyai satu profesi atau kedudukan yang sama, seperti guguk Pengulon, pemukiman para pendahulu dan alim ulama disekitar Mesjid Agung. Demikian pula dengan kedemangan, wilayah dimana tokoh demang tinggal, ataupun kebumen yaitu tempat-tempat dimana Mangkubumi menetap. Disamping ada wilayah-wilayah dimana kelompok tertentu bermukim, seperti Kebangkan adalah pemukiman orang-orang dari Bangka, Kebalen adalah pemukiman orang-orang dari Bali. Setelah Palembang dibawah adminstrasi kolonial, maka oleh Regering Commisaris J.I Van Sevenhoven sistem perwilayahan guguk harus dipecah belah. Pemecahan ini bukan saja memecah belah kekuatan kesultanan, juga sekaligus memecah masyarakat yang tadinya tunduk kepada sistem monarki, menjadi tunduk pada adminstrasi kolonial. Guguk dijadikan beberapa kampung. Sebagai kepala diangkat menjadi Kepala Kampung, dan di Palembang dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Untuk mengepalai wilayah tersebut diangkat menjadi Demang. Demang adalah pamongraja pribumi yang tunduk kepada controleur. Kota Palembang pada waktu itu terdiri dari 52 kampung, yaitu 36 kampung berada di Seberang Ilir dan 16 kampung di Seberang Ulu. Kampung-kampung ini diberi nomor yaitu dari nomor 1 sampai 36 untuk Seberang Ilir, sedangkan Seberang Ulu dari 1 sampai 16 Ulu. Pemberian nomor-nomor kampung ini penuh semangat pada awal pelaksanaannya, tetapi kemudian pembagian tidak berkembang malah menyusut. Pada tahun 1939 kampung tersebut menjadi 43 buah, dimana 29 kampung berada di Seberang Ilir dan 14 kampung berada di Seberang Ulu.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font color="#00ffff"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Dapat&lt;/b&gt; diperkirakan penciutan adminstratif kampung ini karena yang diperlukan bukanlah wilayahnya, tetapi cacah jiwanya yang ada kaitan dengan pajak perkepalanya. Sehingga untuk itu digabungkanlah beberapa kampung yang cacah jiwanya minim, dan cukup dikepalai oleh seorang Kepala Kampung. Oleh karena Kepala Kampung hanya mengurus penduduk pribumi, maka untuk golongan orang Timur Asing, mereka mempunyai Kepala dan wijk tersendiri. Untuk golongan Cina, kepalanya diangkat dengan kependudukan seperti kepangkatan militer, yaitu Letnan, Kapten dan Mayor. Demikian pula dengan golongan Arab dan Keling (India/Pakistan) dengan kepalanya seorang Kapten. Untuk kedudukan kepala Bangsa Timur Asing, biasanya dipilih berdasarkan atas pernyataan jumlah pajak yang akan mereka pungut dan diserahkan bagi pemerintah disertai pula jaminan dana bagi kedudukannya.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font color="#00ffff" size="3"&gt;Pemerintah Kota Palembang pada 1 April 1906 menjadi satu Stadgemeente. Satu pemerintahan kota yang otonom, dimana dewan kota yang mengatur pemerintahan. Penduduk menyebut pemerintah kota ini adalah Haminte. Ketua Dewan Kota adalah Burgemeester (Walikota), dia dipilih oleh anggota Dewan Kota. Anggota Dewan Kota dipilih oleh penduduk. Sebenarnya pemerintah kota bukanlah dibentuk untuk tujuan utama memenuhi kepentingan pribumi, akan tetapi lebih kepada kepentingan para pengusaha Barat yang sedang menikmati liberalisasi. Karena dampak liberalisasi menjadikan kota sebagai pusat atau konsentrasi ekonomi, baik sebagai pelabuhan ekspor, industri, jasa-jasa perdagangan dan menjadi markas para pengusaha.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="4"&gt;Di Era Zaman Jepang&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font color="#408080" size="3"&gt;Dizaman pendudukan Jepang (1942 – 1945), secara struktural tidak ada perubahan kedudukan kepala kampung. Hanya gelarnya saja yang berubah, yaitu menjadi Ku – Co dan mereka dibawah koordinasi Gun – Co. Tugasnya dititik beratkan pada pembangunan ekonomi peperangan Jepang. Untuk merapatkan barisan dikalangan penduduk, diperkenalkan suatu sistem lingkungan Jepang, Tonari – Gumi, yaitu Rukun Tetangga yang meliputi setiap 10 rumah di suatu kampung. Tonari – Gumi dipimpin oleh seorang Ku – Mi – Co (Ketua RT).&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="4"&gt;Kegiatan Pembangunan yang Menonjol&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Pusat pemerintahan dan pemukiman terletak di bagian barat kota Palembang. Bentuk pembangunan yang dilakukan berupa :&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;1. Tata ruang dan saluran air serta pengurukan dan penimbunan daerah rawa (di Kelurahan Karang Anyar, Kelurahan Bukit Lama dan Kecamatan Seberang Ulu I), baik bentuk istana, pemukiman warga maupun tempat ibadah.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;2. Bangunan tempat ibadah berupa Vihara dan kelengkapannya.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;3. Pembangunan pelabuhan, serta sarana Transportasi.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;4. Pembangunan Istana serta rumah-rumah tempat tinggal penduduk, baik diatas daratan, maupun di atas sungai berupa rakit dan rumah bertiang di atas rawa.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;5. Pembangunan industri antara lain industri manik-manik di Ilir Barat.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;6. Pembangunan Taman Srisetra dibagian barat kota (Prasasti Karang Tuo).&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;Masa Penjajahan Belanda&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Berdasarkan catatan pelaksanaan pembangunan kota yang berencana baru di mulai pada awal terbentuknya pemerintahan kota di tahun 1900-an, seperti dibawah ini :&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;1&lt;/b&gt;. 30 September 1918 Pemerintah Kota menetapkan tentang pendirian dan pembongkaran bangunan, yaitu Verordening op het bouwen en sloopen in de Gemeente Palembang.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;2&lt;/b&gt;. 1935 diterbitkan Bouwverording der Gemeente Palembang berupa Standsplan (Rencana Tehnik Ruang Kota), yang kemudian dengan diterbitkannya peta rencana, peta situasi atau peta penggunaan tanah (detail plan).&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;1906 – 1935&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgoN5woxnOzR6YGLs0nEs3xs75xzHjW6lynjnN97i1kPJzP4Fao7FF1lcEB_l8BrWyqR3TU4jGc78iSeZIn1LzUXFYig6oceWE77MUO3yx0cnIyNHpPXjkm4g0Bei79-YW2fDPpkYijWmc_/s1600-h/clip_image0013.jpg"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;img title="clip_image001" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" height="162" alt="clip_image001" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRwoonvEh-iOvENugVuO5gGMSCMjIy0TQhw7oOnhaOqOyd5o-CKC42f0pLw1IvnPll1SQ-wwmOokGvtV27Pg7FUtvSARxG5YuHAt9tS_FlmVurOeT2CHq4loYJC78PAuxBctMF_Q5BF_60/?imgmax=800" width="212" border="0" /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Perencanaan dan pelaksanaan pembangunan Kota Palembang antara 1906 – 1935 adalah sebagai berikut :&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Pembelian lapangan-lapangan untuk menimbun bahan bangunan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Pembuatan Jembatan Sungai Ogan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Perbaikan Jalan Seberang Ulu dari Ogan ke Plaju melalui 10 Ulu (Jl. KH. Azhari).&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Pembuatan medan lalu lintas dekat 10 Ulu dan Tengkuruk.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Menyediakan lapangan-lapangan untuk lanjutan jalan kereta api Sum-Sel dari Kertapati ke Seberang.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Menyediakan Lapangan pelabuhan di Seberang Ulu.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Pendalaman alur Sungai Musi.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Perbaikan jalan dengan pembuatan jalan-jalan tembus dan pelebaran jalan antara Pelabuhan Tengkuruk – Talang Jawa; Jl. Gevangenis (Jl. Lembaga Pemasyarakatan) – Boom Baru.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Perbaikan tempat-tempat berlabuh untuk kapal-kapal sungai di 19 Ilir (Pelabuhan/ponton).&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Penyediaan tempat transit yang mendesak dari Kertapati (titik ujung jalan kereta api Sum-Sel) yang dapat dicapai oleh kapal-kapal laut, yang mengambil batubara dari tambang bukit asam.      &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;b&gt;     &lt;br /&gt;&lt;font size="3"&gt;3&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;font size="3"&gt;. Realisasi stands plan (Master Plan Kota) Kota Palembang. Ini adalah penetapan lokasi-lokasi : &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;a&lt;/b&gt;. Industrial estate di daerah Sungai Gerong dan Plaju.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;b&lt;/b&gt;. Real Estate di Talang Semut.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;c&lt;/b&gt;. Sistem Ring and Radial bangunan jalan kota (yang saat itu baru sampai di Talang Grunik sebagai lingkar II) Jl. Kapten Arivai dan Jl. Veteran sekarang).&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;1935 – 1950&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhifqz15UTe2kjs7deuNkwsxeNlMbzGl0j441mhGlacGqtsZcQ_FQeTmziA09kgtHStM7_8hl3sbf0a6jSTvAiJerWTV7-eLtXImD46lS452X4AkIf5ipxS1pnO92_3OtMC1GCgIz-GXIHU/s1600-h/clip_image0023.jpg"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;img title="clip_image002" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" height="162" alt="clip_image002" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7XJfkmTGuBUTK8MmITcqDLqGij2yQJwp-4fxKnjnsWzUPU3WAM1F-sAQZiV0koiUYbRLg-UPi8Ucii2TXaXtQgC7z_xcYMr_pc_yqpM8Qs1gI6Ny03KRI3S7ADGmJzx30jIkq6jW9prE5/?imgmax=800" width="212" border="0" /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;Jepang&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;a&lt;/b&gt;. Perubahan bayas kota dengan memasukkan pelabuhan udara Talang Betutu ke dalam Administrasi Kotapraja.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;b&lt;/b&gt;. Pembangunan jalan By Pass dengan nama jalan Miaji (Jl. Jend. Sudirman).&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;c&lt;/b&gt;. Pembangunan landasan pesawat udara :&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Pembangunan Pelabuhan Udara di Betung.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Lapangan terbang di Talang Balai.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Perbaikan pelabuhan laut di Kota Palembang.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Pembangunan lapangan Pesawat Udara di Sungai Buah.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Perluasan lapangan udara Talang Betutu (SMB II)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Pembukaan jalan yang dimulai dari Simpang Mesjid (Simp. Jl. TP. Rustam Effendi) sampai ke simpang Charitas (Jl. Jend. Sudirman).&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Perbaikan dan pelebaran serta pelurusan Jl. ke Talang Betutu (Jl. Kol. H. Berlian).&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Sejarah Kota Palembang&lt;/b&gt;       &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbA4RzWwzetYZIZeoYPXMpMTPRAosovlH6TFXU3dhM8S9zYaxNcFbW5Lai2_L3gE8eq2IwnDpwu2fmKQF3voHjuS9bRcWHgVXvRQAHsFTSBeM103-yuxYnnFAdjtkC7DVqDu7WF31pad_N/?imgmax=800"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;img title="clip_image003" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" height="162" alt="clip_image003" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4cHAYG9tZumBIMq65DrqqsIOdCzd8ZY0f5ifoofVAc7VRfvuX32MGy7qEbzJi2TQpFHn0KkEZBuWZt8zkzXlO2g12HjLVL2qerxRc7SB-6HxSCG5wlEBALLY2EEMVmpDKkANb9gHm4IyB/?imgmax=800" width="212" border="0" /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;1950 – 1960&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;1.&lt;/b&gt; Pembangunan Pasar :&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Lingkis (Cinde)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Kertapati&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Lemabang&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Buah (Jl. Kol. Atmo/Tp. Rustam Effendi)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Kuto.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;2.&lt;/b&gt; Perumahan Rakyat :&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Sungai Buah dan Talang Betutu.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;3.&lt;/b&gt; Air Bersih :&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Perluasan Penyaringan Pemasangan pipa induk, dari penyaringan ke Jl. Jend. Sudirman Pipa Suro, Tangga Buntung – Ladang Plaju – Rimab Seru Pemasangan pipa 270 Km peningkatan produksi menjadi 23.000 m3/hari&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;4.&lt;/b&gt; Pembangunan jalan Lingkar I, Jl. Jend. Sudirman ke Simpang Cinde Welan&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;5. Panjang jalan dalam kota 225 km&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;6.&lt;/b&gt; Penimbunan Musi Boulevart&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;7.&lt;/b&gt; Perumahan Proyek Khusus Kebangkan (PCK)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;8.&lt;/b&gt; Pembebasan tanah peruntukan :&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Daerah Industri PT. Pusri&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Universitas Sriwijaya&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Traffic Garden di Bukit Besar&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;9.&lt;/b&gt; Pembangunan Balai Pertemuan di Jl. Sekanak.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;10.&lt;/b&gt; Pembangunan Stasion Kamboja.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;11.&lt;/b&gt; Pembuatan Kanal (terusan) Sungai Bendung.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;12.&lt;/b&gt; Pembangunan Penyeberangan Tangga Buntung – Kertapati.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;13.&lt;/b&gt; Pembukaan jalan Tangga Buntung ke Gandus.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhn5EMcI6qeZwjgUSryK3CUFsA_8QCh-3YdADi_H9DlIBlS0q0xATBrMe6ByuimqZGtOeVRmeWPW32aTXH-R_RVZkpDAFXxLXKbBYs0MDpiJg_OraTTc3C-YnevCReJvakWvVIidFu3bh77/s1600-h/clip_image0043.jpg"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;img title="clip_image004" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" height="162" alt="clip_image004" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1xKQMgMrQt7XWQUguIARPutjodCgE44wMQrtCxefAqtRVhy2ptxOc2tubv3Y09YUwi1jSn_v2eyMvBJC46XwZudH5PCOZzbjQpJUsfzz7ycDmstX-GH54GTMYch_A21E10LdjUe6xqQRn/?imgmax=800" width="212" border="0" /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;1960 – 1970&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;1.&lt;/b&gt; Pembangunan Jembatan Musi (Jembatan Ampera) April 1962 – Mei 1965&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;2.&lt;/b&gt; Perbaikan Kampung&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;3.&lt;/b&gt; Pembangunan Sekolah Dasar&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;4.&lt;/b&gt; Pembangunan Perumahan Pegawai di Jalan Duku (Sumur Batu), Jl. Makrayu dan PCK&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;5.&lt;/b&gt; Pemugaran Makam Raja-raja Palembang, Rumah Bari&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;6.&lt;/b&gt; Peningkatan Kebersihan&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;7.&lt;/b&gt; Terminal Bawah Jembatan Ampera&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;8.&lt;/b&gt; Pertokoan Tengkuruk By Pass (Permai)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;9.&lt;/b&gt; Pasar 10 Ulu&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;10.&lt;/b&gt; Pemekaran Kampung 20 Ilir jadi 4, 26 Ilir jadi 2, Sungai Batang dibagi dengan Sungai Selincah&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFIr4jn-Lm9DVIexY_Z8qBJLtrdgY6xrrx4xY1gZmUS0ZToec5eEGi1z6E66UJRy_UNQ3YtahHRYboTpoPH1TdaX2SO77ymKZxcATJ_djnqrzvcEMgijI5yx2F1Dj-0lVgrYR7afLtanLE/s1600-h/clip_image0053.jpg"&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;img title="clip_image005" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" height="162" alt="clip_image005" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCp70MunVguoSxqbdUtWfV84_P1a4grpsYzuZhTjbIvSQ014xRWjRxPsb_DCObHOPWEtfwbeH7oSyOavhDPa3D9SqosWjA2gqTgdFb04lhRLwJWin21ugMX7KoGy7nclNpSlFe-Tb8cL-b/?imgmax=800" width="212" border="0" /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;1970 – 1980&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Sasaran&lt;/b&gt; pembangunan : Jalan, Air Bersih, Listrik, dan Kebersihan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Pembangunan Proyek Non Bujeter :&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;1.&lt;/b&gt; Sumbangan Pertamina Upgrading Jalan Dalam Kota :&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– 1969 – 1970 Jalan Utama Veteran, Harapan, Jl. Jend. Sudirman dan Jl. Jend. A. Yani (aspal beton)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– 1970 – 1971 Jalan-jalan dalam kota di lebarkan menjadi lebar rata-rata 8 m.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– 1973 – 1974 Upgrading jalan dalam kota.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– 1975 – 1976 Jalan-jalan di sekitar Pasar 16 Ilir.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;2.&lt;/b&gt; Sumbangan dari PT. PUSRI 3 buah jembatan penyeberangan pejalan kaki di jalan Jend. Sudirman.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;3.&lt;/b&gt; Makmur Store menyumbang 1 buah jembatan penyeberangan jalan di Jl. Jend. Sudirman.       &lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. 1975 – 1978 Perusahaan-perusahaan industri menyumbang 16 buah Shelter Bus.&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;5. Pembangunan petak-petak pasar secara swadaya masyarakat, peremajaan dan modernisasi pasar atau pusat perbelanjaan.&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;6. 1974 Pembangunan gedung pusat pemerintahan Kotamadya. Penetapan Hari Jadi Kota Palembang.&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;7. Sasaran pembangunan diarahkan pada pembangunan sistem drainage (Pengeringan Kota)&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;Pembangunan Sistem Makro dan Sistem Mikro&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;Sistem Makro : Meliputi saluran induk dengan memanfaatkan sungai-sungai dan kolam-kolam (Retention Basin).&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;Sistem Mikro : Meliputi saluran-saluran pengumpul dari daerah-daerah aliran ke saluran-saluran utama dan kesaluran induk.&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;Tahap Pelaksanaan :&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;1. Program mendesak&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;– Pembersihan Sungai Bendung dan Sungai Rendang.&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;– Peningkatan/pembuatan saluran primer dan saluran sekunder antara kedua sungai tersebut.&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;3. Program Jangka Menengah&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;– Perancangan detail dan pelaksanaan di wilayah lingkar II.&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;– Normalisasi sungai-sungai, peningkatan/pembuatan saluran-saluran primer dan sekunder.&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;4. Jangka Panjang&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;– Lanjutan Studi dan perancangan sistem drainage secara keseluruhan.&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;– Perbaikan dan normalisasi Sungai Rendang.&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;– Survey design sungai-sungai di daerah Seberang Ilir.&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;– Rehabilitasi anak Sungai Bayas.&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;– Program Perbaikan Kampung (Kampong Improvment Program).&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;1979 – 1980&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Untuk&lt;/b&gt; Kampung 9, 10, 11, 13, 14 Ilir dan 1 Ulu, dengan luas areal 40 ha untuk penduduk 30.210 jiwa.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;1981 – 1982&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Untuk Kampung 1,2 Ulu, 13, 14, 19, 22, 26, 27 dan 28 Ilir, dengan luas areal 80 ha untuk penduduk 41.654 jiwa.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;1982 – 1983&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Untuk Kampung 8, 9, 10, 11, 24, 26, 29, 30 dan 32 Ilir, dengan luas areal 125 ha untuk penduduk 75.358 jiwa.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;1983 – 1984&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Diusulkan untuk Kampung 35 Ilir, 3, 4, 5, 7 Ulu, Kertapati dan Ogan Baru dengan luas areal 75 ha untuk penduduk 99.126 jiwa.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Dalam realisasinya perbaikan kampung dilakukan pada Kelurahan 29, 30, 32, 35 Ilir, 3/4, 5, 7 dan 8 Ulu.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;1984 – 1985&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Untuk Kelurahan 3/4, 5, 7, 11, 12 Ulu, Kertapati dan Ogan Baru&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;1986 – 1987&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Untuk Kelurahan Karang Anyar, 36, 35, 32 Ilir, 8, 11, 12, 13, 14 Ulu, dan Tangga Takat.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3"&gt;1987 – 1988&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Untuk Kelurahan 2, 3, 5 Ilir dan 13, 14 Ulu. Bentuk pembangunan KIP ini antara lain :&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Jalan Lingkungan (aspal), Kontruksi Ris Beton, Kontruksi jembatan beton, kran air minum, MCK, bak sampah. Gerobak sampah, Buis Beton, SD Bertingkat, puskesmas.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;1981&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Pembangunan kembali daerah yang terbakar dikampung 22, 23, 24 dan 26 Ilir dengan areal site seluas 236.078 M2 dengan bangunan rumah flat 4 lantai, pelbagai tipe sebanyak 3.584 Unit lengkap dengan prasarana dan fasilitas lingkungan dan 214 kapling tanah siap bangun.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Pembebasan tanah untuk rencana pemindahan terminal bawah Jembatan Ampera Seberang Ilir ke wilayah Seberang Ulu baik untuk terminal penumpang maupun untuk barang 8 ha.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Pembangunan taman-taman kota.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Pembangunan jalan dengan sistem Ring dan Radial sesuai Peta 1930.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Peningkatan Kebersihan dengan pemantapan Program &lt;b&gt;PALEMBANG KOTA BARI&lt;/b&gt;.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;– Panjang Jalan dalam kota = 282.290 Km, terdiri dari :      &lt;br /&gt;Jl Arteri = 61.220 Km       &lt;br /&gt;Jalan Arteri Sekunder = 58.752 Km       &lt;br /&gt;Jalan Kolektor dan lokal = 162.418 Km&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Penambahan dan Pembukaan Ring dan Radial&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;a.&lt;/b&gt; Jalan Radial Soak Bato ke Jalan Kapten A Rivai.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;b.&lt;/b&gt; Jalan Lingkungan II dari Jl. Letkol Iskandar tembus ke Jalan Segaran.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;c.&lt;/b&gt; Jalan Radial dari Lingkaran I tembus ke Jalan Veteran.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;d.&lt;/b&gt; Jalan Lingkaran Luar dari Gandus ke Macan Lindungan, Jl. Demang Lebar Daun.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;b&gt;Jumlah&lt;/b&gt; jembatan yang ada di Kota Palembang sebanyak 116 buah, terdiri dari :&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;a. Jembatan beton 80 buah.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;b. Jembatan Besi 7 buah.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;c. Jembatan kayu 29 buah.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Pembangunan pemukiman Kenten Sako, Polygon dan rumah susun. Drainage.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Sejak 1980 – 1987 dibangun saluran sepanjang 333.671 Km, tersebar dari jalan Kapten A. Rivai ke arah Sungai Musi dan Daerah Seberang Ulu.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- 1987 – 1988 dibangun proyek pengeringan kota sepanjang 7.740 Km untuk lokasi di Kecamatan Ilir Barat I dan Ilir Timur I.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- 1988 Sumatera Selatan ditetapkan sebagai Daerah Tujuan Wisata ke -17. Kota Palembang sebagai ibukota Provinsi menjadi Daerah Utama yang dijadikan sasaran pembangunan kepariwisataan. Obyek wisata yang ditonjolkan adalah wisata air dan budaya.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;1990 – 1999&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Pembangunan RSUD dan Jalan Menuju Ke RSUD.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Jalan Keramasan – Musi II – Macan Lindungan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Jembatan Musi II.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Jalan Mas Krebet.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Jalan Kebun Bunga.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Jalan Tembus Jalan Sudirman ke Sako.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Reklamasi Seberang Ulu I.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Jalan Menuju Tanjung Api-Api.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Jalan tembus Jalan Jend. A. Yani ke Dusun Rambutan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Jalan Lingkar Selatan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Jalan Gandus ke Jalan raya Palembang – Betung.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Jalan Musi II ke Pembuangan sampah Kelurahan Keramasan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Jalan Tembus Jalan Macan Lindungan ke Jalan Haji Burlian.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Pembangunan Pemakaman Kebun Bunga (Silk Air).&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;- Pembangunan Retaining Wall depan Benteng Kuto Besak.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/07/sejarah-kota-palembang.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRwoonvEh-iOvENugVuO5gGMSCMjIy0TQhw7oOnhaOqOyd5o-CKC42f0pLw1IvnPll1SQ-wwmOokGvtV27Pg7FUtvSARxG5YuHAt9tS_FlmVurOeT2CHq4loYJC78PAuxBctMF_Q5BF_60/s72-c?imgmax=800" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-102633299411385271</guid><pubDate>Wed, 01 Jul 2009 04:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-01T11:41:06.157+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Sejarah Ringkas Kerajaan Majapahit</title><description>&lt;table cellpadding="0" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td width="97%"&gt;         &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;table cellpadding="0" border="0"&gt;&lt;tbody&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="70%"&gt;         &lt;p&gt;By : Junus Satrio&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160; &lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top"&gt;         &lt;p&gt;Setelah raja Śri Kĕrtānegara gugur, kerajaan Singhasāri berada di bawah kekuasaan raja Jayakatwang dari Kadiri. Salah satu keturunan penguasa Singhasāri, yaitu Raden Wijaya, kemudian berusaha merebut kembali kekuasaan nenek moyangnya. Ia adalah keturunan Ken Angrok, raja Singhāsāri pertama dan anak dari Dyah Lěmbu Tal. Ia juga dikenal dengan nama lain, yaitu Nararyya Sanggramawijaya. Menurut sumber sejarah, Raden Wijaya sebenarnya adalah mantu Kĕrtanāgara yang masih terhitung keponakan. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa ia mengawini dua anak sang raja sekaligus, tetapi kitab Nāgarakertāgama menyebutkan bukannya dua melainkan keempat anak perempuan Kěrtanāgara dinikahinya semua. Pada waktu Jayakatwang menyerang Singhasāri, Raden Wijaya diperintahkan untuk mempertahankan ibukota di arah utara. Kekalahan yang diderita Singhasāri menyebabkan Raden Wijaya mencari perlindungan ke sebuah desa bernama Kudadu, lelah dikejar-kejar musuh dengan sisa pasukan tinggal duabelas orang. Berkat pertolongan Kepala Desa Kudadu, rombongan Raden Wijaya dapat menyeberang laut ke Madura dan di sana memperoleh perlindungan dari Aryya Wiraraja, seorang bupati di pulau ini. Berkat bantuan Aryya Wiraraja, Raden Wijaya kemudian dapat kembali ke Jawa dan diterima oleh raja Jayakatwang. Tidak lama kemudian ia diberi sebuah daerah di hutan Těrik untuk dibuka menjadi desa, dengan dalih untuk mengantisipasi serangan musuh dari arah utara sungai Brantas. Berkat bantuan Aryya Wiraraja ia kemudian mendirikan desa baru yang diberi nama &lt;b&gt;Majapahit&lt;/b&gt;. Di desa inilah Raden Wijaya kemudian memimpin dan menghimpun kekuatan, khususnya rakyat yang loyal terhadap almarhum Kertanegara yang berasal dari daerah Daha dan Tumapel. Aryya Wiraraja sendiri menyiapkan pasukannya di Madura untuk membantu Raden Wijaya bila saatnya diperlukan. Rupaya ia pun kurang menyukai raja Jayakatwang.             &lt;br /&gt;Tidak terduga sebelumnya bahwa pada tahun 1293 Jawa kedatangan pasukan dari Cina yang diutus oleh Kubhilai Khan untuk menghukum Singhasāri atas penghinaan yang pernah diterima utusannya pada tahun 1289. Pasukan berjumlah besar ini setelah berhenti di Pulau Belitung untuk beberapa bulan dan kemudian memasuki Jawa melalui sungai Brantas langsung menuju ke Daha. Kedatangan ini diketahui oleh Raden Wijaya, ia meminta izin untuk bergabung dengan pasukan Cina yang diterima dengan sukacita. Serbuan ke Daha dilakukan dari darat maupun sungai yang berjalan sengit sepanjang pagi hingga siang hari. Gabungan pasukan Cina dan Raden Wijaya berhasil membinasakan 5.000 tentara Daha. Dengan kekuatan yang tinggal setengah, Jayakatwang mundur untuk berlindung di dalam benteng. Sore hari, menyadari bahwa ia tidak mungkin mempertahankan lagi Daha, Jayakatwang keluar dari benteng dan menyerahkan diri untuk kemudian ditawan oleh pasukan Cina.             &lt;br /&gt;Dengan dikawal dua perwira dan 200 pasukan Cina, Raden Wijaya minta izin kembali ke Majapahit untuk menyiapkan upeti bagi kaisar Khubilai Khan. Namun dengan menggunakan tipu muslihat kedua perwira dan para pengawalnya berhasil dibinasakan oleh Raden Wijaya. Bahkan ia berbalik memimpin pasukan Majapahit menyerbu pasukan Cina yang masih tersisa yang tidak menyadari bahwa Raden Wijaya akan bertindak demikian. Tiga ribu anggota pasukan kerajaan Yuan dari Cina ini dapat dibinasakan oleh pasukan Majapahit, selebihnya melarikan dari keluar Jawa dengan meninggalkan banyak korban. Akhirnya cita-cita Raden Wijaya untuk menjatuhkan Daha dan membalas sakit hatinya kepada Jayakatwang dapat diwujudkan dengan memanfaatkan tentara asing. Ia kemudian memproklamasikan berdirinya sebuah kerajaan baru yang dinamakan &lt;b&gt;Majapahit&lt;/b&gt;. Pada tahun 1215 Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama dengan gelar Śri Kĕrtarājasa Jayawardhana. Keempat anak Kertanegara dijadikan permaisuri dengan gelar Śri Parameśwari Dyah Dewi Tribhūwaneśwari, Śri Mahādewi Dyah Dewi Narendraduhitā, Śri Jayendradewi Dyah Dewi Prajnyāparamitā, dan Śri Rājendradewi Dyah Dewi Gayatri. Dari Tribhūwaneśwari ia memperoleh seorang anak laki bernama Jayanagara sebagai putera mahkota yang memerintah di Kadiri. Dari Gayatri ia memperoleh dua anak perempuan, Tribhūwanottunggadewi Jayawisnuwardhani yang berkedudukan di Jiwana (Kahuripan) dan Rājadewi Mahārājasa di Daha. Raden Wijaya masih menikah dengan seorang isteri lagi, kali ini berasal dari Jambi di Sumatera bernama Dara Petak dan memiliki anak darinya yang diberi nama Kalagěmět. Seorang perempuan lain yang juga datang bersama Dara Petak yaitu Dara Jingga, diperisteri oleh kerabat raja bergelar 'dewa' dan memiliki anak bernama Tuhan Janaka, yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai Adhityawarman, raja kerajaan Malayu di Sumatera. Kedatangan kedua orang perempuan dari Jambi ini adalah hasil diplomasi persahabatan yaang dilakukan oleh Kěrtanāgara kepada raja Malayu di Jambi untuk bersama-sama membendung pengaruh Kubhilai Khan. Atas dasar rasa persahabatan inilah raja Malayu, Śrimat Tribhūwanarāja Mauliwarmadewa, mengirimkan dua kerabatnya untuk dinikahkan dengan raja Singhasāri. Dari catatan sejarah diketahui bahwa Dara Jingga tidak betah tinggal di Majapahit dan akhirnya pulang kembali ke kampung halamannya.             &lt;br /&gt;Raden Wijaya wafat pada tahun 1309 digantikan oleh Jayanāgara. Seperti pada masa akhir pemerintahan ayahnya, masa pemerintahan raja Jayanāgara banyak dirongrong oleh pemberontakan orang-orang yang sebelumnya membantu Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit. Perebutan pengaruh dan penghianatan menyebabkan banyak pahlawan yang berjasa besar akhirnya dicap sebagai musuh kerajaan. Pada mulanya Jayanāgara juga terpengaruh oleh hasutan Mahāpati yang menjadi biang keladi perselisihan tersebut, namun kemudian ia menyadari kesalahan ini dan memerintahkan pengawalnya untuk menghukum mati orang kepercayaannya itu. Dalam situasi yang demikian muncul seorang prajurit yang cerdas dan gagah berani bernama &lt;b&gt;Gajah Mada&lt;/b&gt;. Ia muncul sebagai tokoh yang berhasil mamadamkan pemberontakan Kuti, padahal kedudukannya pada waktu itu hanya berstatus sebagai pengawal raja (&lt;i&gt;běkěl bhayangkāri&lt;/i&gt;). Kemahirannya mengatur siasat dan berdiplomasi dikemudian hari akan membawa Gajah Mada pada posisi yang sangat tinggi di jajaran pemerintahan kerajaan Majapahit, yaitu sebagai Mahamantri kerajaan.             &lt;br /&gt;Pada masa Jayanāgara hubungan dengan Cina kembali pulih. Perdagangan antara kedua negara meningkat dan banyak orang Cina yang menetap di Majapahit. Jayanāgara memerintah sekitar 11 tahun, pada tahun 1328 ia dibunuh oleh tabibnya yang bernama Tanca karena berbuat serong dengan isterinya. Tanca kemudian dihukum mati oleh Gajah Mada.             &lt;br /&gt;Karena tidak memiliki putera, tampuk pimpinan Majapahit akhirnya diambil alih oleh adik perempuan Jayanāgara bernama Jayawisnuwarddhani, atau dikenal sebagai Bhre Kahuripan sesuai dengan wilayah yang diperintah olehnya sebelum menjadi ratu. Namun pemberontakan di dalam negeri yang terus berlangsung menyebabkan Majapahit selalu dalam keadaan berperang. Salah satunya adalah pemberontakan Sadĕng dan Keta tahun 1331 memunculkan kembali nama Gajah Mada ke permukaan. Keduanya dapat dipadamkan dengan kemenangan mutlak pada pihak Majapahit. Setelah persitiwa ini, Mahapatih Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal, bahwa ia tidak akan &lt;b&gt;amukti palapa&lt;/b&gt; sebelum menundukkan daerah-daerah di Nusantara, seperti Gurun (di Kalimantan), Seran (?), Tanjungpura (Kalimantan), Haru (Maluku?), Pahang (Malaysia), Dompo (Sumbawa), Bali, Sunda (Jawa Barat), Palembang (Sumatera), dan Tumasik (Singapura). Untuk membuktikan sumpahnya, pada tahun 1343 Bali berhasil ia ditundukan.             &lt;br /&gt;Ratu Jayawisnuwaddhani memerintah cukup lama, 22 tahun sebelum mengundurkan diri dan digantikan oleh anaknya yang bernama Hayam wuruk dari perkawinannya dengan Cakradhara, penguasa wilayah Singhāsari. Hayam Wuruk dinobatkan sebagai raja tahun 1350 dengan gelar Śri Rajasanāgara. Gajah Mada tetap mengabdi sebagai Patih Hamangkubhūmi (mahāpatih) yang sudah diperolehnya ketika mengabdi kepada ibunda sang raja. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk inilah Majapahit mencapai puncak kebesarannya. Ambisi Gajah Mada untuk menundukkan nusantara mencapai hasilnya di masa ini sehingga pengaruh kekuasaan Majapahit dirasakan sampai ke Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Maluku, hingga Papua. Tetapi Jawa Barat baru dapat ditaklukkan pada tahun 1357 melalui sebuah peperangan yang dikenal dengan &lt;b&gt;peristiwa Bubat&lt;/b&gt;, yaitu ketika rencana pernikahan antara Dyah Pitalokā, puteri raja Pajajaran, dengan Hayam Wuruk berubah menjadi peperangan terbuka di lapangan Bubat, yaitu sebuah lapangan di ibukota kerajaan yang menjadi lokasi perkemahan rombongan kerajaan tersebut. Akibat peperangan itu Dyah Pitalokā bunuh diri yang menyebabkan perkawinan politik dua kerajaan di Pulau Jawa ini gagal. Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa setelah peristiwa itu Hayam Wuruk menyelenggarakan upacara besar untuk menghormati orang-orang Sunda yang tewas dalam peristiwa tersebut. Perlu dicatat bawa pada waktu yang bersamaan sebenarnya kerajaan Majapahit juga tengah melakukan eskpedisi ke Dompo (Padompo) dipimpin oleh seorang petinggi bernama Nala.             &lt;br /&gt;Setelah peristiwa Bubat, Mahāpatih Gajah Mada mengundurkan diri dari jabatannya karena usia lanjut, sedangkan Hayam Wuruk akhirnya menikah dengan sepupunya sendiri bernama Pāduka Śori, anak dari Bhre Wĕngkĕr yang masih terhitung bibinya.             &lt;br /&gt;Di bawah kekuasaan Hayam Wuruk kerajaan Majapahit menjadi sebuah kerajaan besar yang kuat, baik di bidang ekonomi maupun politik. Hayam Wuruk memerintahkan pembuatan bendungan-bendungan dan saluran-saluran air untuk kepentingan irigasi dan mengendalikan banjir. Sejumlah pelabuhan sungai pun dibuat untuk memudahkan transportasi dan bongkar muat barang. Empat belas tahun setelah ia memerintah, Mahāpatih Gajah Mada meninggal dunia di tahun 1364. Jabatan patih Hamangkubhūmi tidak terisi selama tiga tahun sebelum akhirnya Gajah Enggon ditunjuk Hayam Wuruk mengisi jabatan itu. Sayangnya tidak banyak informasi tentang Gajah Enggon di dalam prasasti atau pun naskah-naskah masa Majapahit yang dapat mengungkap sepak terjangnya.             &lt;br /&gt;Raja Hayam Wuruk wafat tahun 1389. Menantu yang sekaligus merupakan keponakannya sendiri yang bernama Wikramawarddhana naik tahta sebagai raja, justru bukan Kusumawarddhani yang merupakan garis keturunan langsung dari Hayam Wuruk. Ia memerintah selama duabelas tahun sebelum mengundurkan diri sebagai pendeta. Sebelum turun tahta ia menujuk puterinya, Suhita menjadi ratu. Hal ini tidak disetujui oleh Bhre Wirabhūmi, anak Hayam Wuruk dari seorang selir yang menghendaki tahta itu dari keponakannya. Perebutan kekuasaan ini membuahkan sebuah perang saudara yang dikenal dengan Perang Parěgrěg. Bhre Wirabhumi yang semula memperoleh kemenanggan akhirnya harus melarikan diri setelah Bhre Tumapĕl ikut campur membantu pihak Suhita. Bhre Wirabhūmi kalah bahkan akhirnya terbunuh oleh Raden Gajah. Perselisihan keluarga ini membawa dendam yang tidak berkesudahan. Beberapa tahun setelah terbunuhnya Bhre Wirabhūmi kini giliran Raden Gajah yang dihukum mati karena dianggap bersalah membunuh bangsawan tersebut.             &lt;br /&gt;Suhita wafat tahun 1477, dan karena tidak mempunyai anak maka kedudukannya digantikan oleh adiknya, Bhre Tumapĕl Dyah Kĕrtawijaya. Tidak lama ia memerintah digantikan oleh Bhre Pamotan bergelar Śri Rājasawardhana yang juga hanya tiga tahun memegang tampuk pemerintahan. Bahkan antara tahun 1453-1456 kerajaan Majapahit tidak memiliki seorang raja pun karena pertentangan di dalam keluarga yang semakin meruncing. Situasi sedikit mereda ketika Dyah Sūryawikrama Giriśawardhana naik tahta. Ia pun tidak lama memegang kendali kerajaan karena setelah itu perebutan kekuasaan kembali berkecambuk. Demikianlah kekuasaan silih berganti beberapa kali dari tahun 1466 sampai menjelang tahun 1500. Berita-berita Cina, Italia, dan Portugis masih menyebutkan nama Majapahit di tahun 1499 tanpa menyebutkan nama rajanya. Semakin meluasnya pengaruh kerajaan kecil Demak di pesisir utara Jawa yang menganut agama Islam, merupakan salah satu penyebab runtuhnya kerajaan Majapahit. Tahun 1522 Majapahit tidak lagi disebut sebagai sebuah kerajaan melainkan hanya sebuah kota. Pemerintahan di Pulau Jawa telah beralih ke Demak di bawah kekuasaan Adipati Unus, anak Raden Patah, pendiri kerajaan Demak yang masih keturunan Bhre Kertabhūmi. Ia menghancurkan Majapahit karena ingin membalas sakit hati neneknya yang pernah dikalahkan raja Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya. Demikianlah maka pada tahun 1478 hancurlah Majapahit sebagai sebuah kerajaan penguasa nusantara dan berubah satusnya sebagai daerah taklukan raja Demak. Berakhir pula rangkaian penguasaan raja-raja Hindu di Jawa Timur yang dimulai oleh Keng Angrok saat mendirikan kerajaan Singhāsari, digantikan oleh sebuah bentuk kerajaan baru bercorak agama Islam.             &lt;br /&gt;Ironisnya, pertikaian keluarga dan dendam yang berkelanjutan menyebabkan ambruknya kerajaan ini, bukan disebabkan oleh serbuan dari bangsa lain yang menduduki Pulau Jawa.             &lt;br /&gt;(Disarikan dari &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sejarah Nasional Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Jilid II, 1984, halaman 420-445, terbitan PP Balai Pustaka, Jakarta) &lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/07/sejarah-ringkas-kerajaan-majapahit.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-737943932417708445</guid><pubDate>Wed, 01 Jul 2009 04:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-01T11:41:06.157+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Sejarah Universitas Pattimura</title><description>&lt;p&gt;Sejarah berdirinya Universitas Pattimura bermula pada saat beberapa tokoh masyarakat mengambil prakarsa untuk mendirikan suatu lembaga Pendidikan Tinggi di Maluku yang dimulai oleh seorang tokoh pendidikan yaitu Dr. J. B. Sitanala (almarhum). Dr. J. B. Sitanala adalah seorang dokter, tokoh di Maluku yang berjasa dalam bidang kemasyarakatan pada urnumnya dan bidang pendidikan pada khususnya. Prakarsa diambil untuk mewujudkan aspirasi rakyat yang berpartisipasi dalam pembangunan Bangsa dan Negara terutama dalam bidang Pendidikan Tinggi dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Untuk mewujudkan cita-cita yang luhur itu dibentuk suatu Yayasan Perguruan Tinggi Maluku Irian Barat pada tanggal 20 Juli 1955 yang diketuai oleh Bapak Cornelis Loppies. Pada tanggal 3 Oktober 1956 Yayasan tersebut berhasil mendirikan Fakultas Hukum, yang kemudian tanggal ditetapkan sebagai hari lahir Universitas Pattimura. Selanjutnya berturut-turut didirikan Fakultas Sosial dan Politik pada tanggal 6 Oktober 1959, dan tanggal 10 September 1961 dibuka Fakultas Keguruan dan llmu Pendidikan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untuk menjadi sebuah Universitas Negeri, syaratnya harus ada sekurang-kurangnya dua Fakultas Eksakta. Itulah sebabnya maka pemerintah memutuskan membuka dua Fakultas Eksakta, masing-masing Fakultas Pertanian Kehutanan dan Fakultas Peternakan yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 1 September 1963. Dengan bertambahnya dua Fakultas Eksakta tersebut, maka pada tanggal 1 Agustus 1962 Yayasan Perguruan Tinggi Maluku Irian Barat diresmikan menjadi Universitas Negeri dengan Surat Keputusan Menteri PTIP Nomor 99 tahun 1962 tanggal 8 Agustus 1962 yang meliputi lima Fakultas yakni:&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;Fakultas Hukum &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Fakultas Sosial Politik &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Fakultas Pertanian Kehutanan &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Fakultas Peternakan &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Kemudian dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 66 Tahun 1963, tanggal 23 April 1963 mengesahkan pendirian Universitas di Ambon dan diberi nama Universitas Pattimura. Universitas tersebut dipimpin oleh presidium yang terdiri dari:&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;   &lt;li&gt;Soemitro Hamidjoyo, S.H. (&lt;i&gt;Ketua&lt;/i&gt;) &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Kolonel Boesiri (&lt;i&gt;Anggota&lt;/i&gt;) &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Drs. Soehardjo (&lt;i&gt;Anggota&lt;/i&gt;) &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Dr. M. Haulussy (&lt;i&gt;Anggota&lt;/i&gt;) &lt;/li&gt; &lt;/ul&gt;  &lt;p&gt;Selanjutnya pada tanggal 15 September 1965 dibuka Fakultas Ekonomi dan pada tanggal 16 April 1970 dibuka Fakultas Teknik yang memanfaatkan bangunan-bangunan eks proyek Fakultas Teknologi Ambon (FTA). Pada bulan Agustus 1964 Fakultas Keguruan dan llmu Pendidikan beralih status menjadi IKIP Jakarta Cabang Ambon dengan Rektornya Drs. F.F.H. Matruty. Kemudian pada tanggal 16 September 1969 IKIP Jakarta Cabang Ambon diintegrasikan kembali ke dalam Universitas Pattimura menjadi dua fakultas yaitu Fakultas Keguruan dan Fakultas Ilmu Pendidikan. Pada tahun 1974 Fakultas Petemakan dilengkapi dengan jurusan Perikanan dan sekaligus mengalami perubahan nama menjadi Fakultas Peternakan/Perikanan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berdasarkan Keputusan Presiden Rl Nomor 73 Tahun 1982 tentang susunan organisasi Universitas Pattimura, maka pada saat ini Universitas Pattimura memiliki tujuh Fakultas, yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Fakultas Hukum &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Fakultas Ekonomi &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Fakultas Pertanian &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Fakultas Perikanan &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Fakultas Teknik &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 40/M Tahun 1971, Ir. L. Nanlohy (Dekan Fakultas Teknik) ditetapkan sebagai Rektor Universitas Pattimura yang pertama. Kemudian dengan SK Presiden Nomor 69/M Tahun 1976, M.R. Lestaluhu, S.H. diangkat sebagai Rektor Unpatti yang kedua, yang selanjutnya dengan SK Presiden RI Nomor 43/M Tahun 1981 beliau ditetapkan untuk masa jabatan kedua. Setelah itu dengan SK Presiden Nomor 89/M Tahun 1985 DR. Ir. J. Ch. Lawalatta, M.Sc. ditetapkan sebagai Rektor Universitas Pattimura. Sebagai Rektor yang berikut yaitu Prof. DR. Ir. J. L. Nanere, M.Sc. ditetapkan dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 247/M Tahun 1989. Selanjutnya dengan SK Presiden Nomor 207/M Tahun 1994 ditetapkan DR. M. Huliselan sebagai Rektor Universitas Pattimura, selanjutnya Prof. DR. H.B. Tetelepta, MPd sejak Tahun 2004 sampai sekarang diangkat sebagai rektor Unpatti..&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sumber : UNPATTI HISTORYA &lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/07/sejarah-universitas-pattimura.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-9065296999084216155</guid><pubDate>Wed, 01 Jul 2009 04:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-01T11:40:02.480+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Militer</category><title>Korps Brimob dan Densus 88</title><description>&lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5DpFaOowSPzYgGxEy-m7yEu1gBnu8nao0vbnUeseGnd4tIIzpaM4nztB5k1YCPLlm2NuQY4LQvhLxymhLXeQw6QpvsWFYzCLNLrBS-Ko4Tz_MFw6cypFHLKKBksW5CETF64KLC5axwCE0/?imgmax=800"&gt;&lt;img title="image" style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: inline; border-left: 0px; border-bottom: 0px" height="190" alt="image" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6pKpnSOLuJr6UzUPKi_BH_TF0S4XT8UBL_LAQe6vItHQdlongB9Bg4QFj9SdJxwQSUdcYRJ6l2jEGxa7PrdgZcH_Y22p7kO-oOlteL8HzwsixlZOVqc5eJP7LjxqU2xq3RYmwmbNRtE0A/?imgmax=800" width="154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&amp;#160;&amp;#160; &lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-aXzwSIdGgE5m8FK2FbcCM-cOvRAZt6QdgBS2ASq3300j_4nz0LUrMafm-PxKXKfBBms-f-TKmzfzvjvWA-2vo3ZAgq4rBY-lx6OeFn59WvnuxasCM_jj2GVBbu_uIwv0tp9MlA-onPZz/s1600-h/image%5B5%5D.png"&gt;&lt;img title="image" style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: inline; border-left: 0px; border-bottom: 0px" height="154" alt="image" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh25KnMZ4vagMyo0CY-OyX4xuDOp2iR1fuJTsoSaxxRT2b9pdcEo2YAgn-0cFsxExi9xVjvkiw9YCnmMh7ILFq66_anYGEz8nneWVMG_IL-QNr1jmSIFv2CHnl7YoDLyXhe1IgmVFkOSHTY/?imgmax=800" width="154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Korps Brigade Mobil merupakan satuan tertua di jajaran Polri.Satuan ini sewaktu masih bernama Pasukan Koalisi Istimewa (PPI) jadi cikal bakal kesatuan kepolisian Indonesia di tahun 1945.Tugas PPI melucuti senjata tentara Jepang,melindungi kepala Negara,dan mempertahankan ibukota.Dibawah pimpinan Inspektoer Polisi Tingkat Satoe M.Jasin dan Inspektoer Polisi Tingkat Satoe Soetjipto Danoekoesoemo,PPI mempelopori pecahnya pertempuran melawan tantara Inggris di Surabaya (10/11/45).Selanjutnya oleh PM Soetan Sjahrir,PPI dilebur menjadi Mobile Brigade ( Mobrig) (14/11/45), dan tanggal 14 November ditetapkan sebagai hari jadi Korps Brimob.Uniknya,tujuan awal pembentukan Mobrig adalah sebagai perangkat politik PM Sutan Sjahrir menghadapi tekanan politik dari TKR dan berbagai satuan lascar perjuangan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada 1 Agustus 1947,Mobrig dimiliterisasi.Sejak itu Mobrig terlibat dalam berbagai pertempuran melawan Belanda dan sejumlah operasi militer guna meredam berbagai aksi maker di Tanah Air.Setelah menerima Pataka “Nugraha Sakanti Yana Utama” dari Presiden Soekarno,nama Mobrig berubah menjadi korps Brimob (14/11/61).Brimob juga terlibat dalam berbagai operasi militer dalam rangka Trikora,Dwikora,dan pemulihan keamanan dan ketertiban masyarakat dibekas wilayah Timor Portugis.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jumlah personel Brimob saat ini diperkirakan sekitar 30.000 orang,yang berada dibawah kendali Polda tiap provinsi.Pada 1981 Brimob membentuk sub unit baru yang disebut Unit Penjinak Bahan Peledak (Jihandak).Fungsi utama satuan ini adalah menanggulangi situasi darurat terkait tugas kepolisian kewilayahan dan secara cepat menangani tindak kejahatan berintensitas tinggi yang melibatkan senjata api dan bahan peledak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Satuan Brimob juga dilatih menangani demonstrasi massa dan melakukan operasi lintas udara serta &lt;i&gt;SAR &lt;/i&gt;(Search and Rescue).Didalam tubuh Brimob terdapat satun khusus anti terror Gegana yang dibentuk tahun 1974.Dengan semakin mengglobalnya ancaman tindak pidana terorisme,Mabes Polri membentuk satuan anti terror baru,Detasemen Khusus (Densus) 88.Unit super khusus nan rahasia ini dibentuk pada 2002 dan kabarnya mendapat “bantuan penuh” dari pemerintah AS.Selain Mabes Polri,setiap Polda juga membentuk Densus 88 nya sendiri.Di tingkat pusat Densus 88 berada dibawah kendali Kapolri sedangkan di tingkat kewilayahan oleh Kapolda.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160; Defender : Januari 2008&lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/07/korps-brimob-dan-densus-88.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6pKpnSOLuJr6UzUPKi_BH_TF0S4XT8UBL_LAQe6vItHQdlongB9Bg4QFj9SdJxwQSUdcYRJ6l2jEGxa7PrdgZcH_Y22p7kO-oOlteL8HzwsixlZOVqc5eJP7LjxqU2xq3RYmwmbNRtE0A/s72-c?imgmax=800" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-5792336954625113790</guid><pubDate>Wed, 01 Jul 2009 04:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-01T11:40:09.515+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Silang Sengkarut Sejarah RMS</title><description>&lt;p&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsCD_CvL3ScAHZ7GU4u0g_BqrKOuizq_FIUz095c3-N0thXif82TLvjcjvDmp53X5DZgL6rXmbD-x1qHtLfdwT98IeuPkwHFFaRmRzxvFDbbbh371wTLAZxRMj6NKVCv71NDFViQP4v04k/s1600-h/image%5B5%5D.png"&gt;&lt;img title="image" style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: inline; border-left: 0px; border-bottom: 0px" height="62" alt="image" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMUWRWGHv4t2r8bfIS9uTV3_ORBiOWWMZ9Isrr0G-sFvgIi4FynaChlVSAiCkzjQK2iqdoT0rk5yZgwgEpDoqEdkGuk8Rb9XiPh20myQHL0WkP0z7at6lb7T9f5sxEO_-dWBI03_hcrrqU/?imgmax=800" width="90" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Generasi yang lahir setelah pemberontakan bersenjata dan proklamasi Republik Maluku Selatan (RMS), 25 April 1950, mendapatkan informasi yang simpang siur. Bukan saja tentang kronologis kejadiannya, juga setting sosial dan iklim politik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional ketika itu. Jika dibiarkan, kesimpangsiuran ini akan bermuara pada terciptanya kontradiksi permanen untuk memancing konflik berkelanjutan, bahkan disintegrasi sosial, khususnya di kalangan masyarakat Maluku. Sejarah RMS perlu ditulis kembali sekalipun bisa memancing reaksi dari berbagai alur pemikiran maupun kepentingan.     &lt;br /&gt;Yang mengklaim diri sebagai kaum republikan militan akan menganggap hal ini sebagai upaya menghidupkan kembali semangat juang RMS. Sebaliknya, pendukung fanatik RMS bersikap was-was karena dengan terbukanya kedok mereka akan melemahkan barisan dan cita-cita ''Bangsa Maluku''. Sementara, lapisan intelektual berpandangan bahwa penulisan ulang dengan metode historiografi yang ilmiah akan banyak membantu. Bukan sekadar memahami sejarah, juga menjadi bahan untuk merumuskan solusi penyelesaian.     &lt;br /&gt;Salah Kaprah     &lt;br /&gt;Ada beberapa titik prinsipiil yang harus dilihat dalam upaya penulisan ulang tersebut. Pertama, tentang kebenaran maupun manipulasi fakta sejarah yang telah menimbulkan asumsi liar di tengah masyarakat. Kedua, mengenai aspek hukum dan legalitas dari gerakan separatisme yang digunakan. Ketiga, upaya menemukan aspek sentripetal untuk proses reintegrasi masyarakat. Timbulnya hasrat mendirikan negara sendiri yang bernama RMS ini selalu dikaitkan dengan mitos soliditas etnik Maluku.     &lt;br /&gt;Seakan-akan etnik Maluku tersebut bersumber dari nenek moyang yang satu di Nunusaku (pedalaman Pulau Seram). Padahal, interpretasi terhadap eksistensi dan migrasi dari Nunusaku juga sangat beragam. Dalam kenyataannya secara antropologi, sosiologis, maupun kultural, hampir setiap negeri (desa) di Maluku yang dalam literatur Belanda disebut dorps republiken (republik desa) memiliki bahasa dan adat istiadat yang berbeda, satu dengan lainnya.     &lt;br /&gt;Hal itu juga bisa ditelusuri pada sumber-sumber kebudayaan seperti kapata (sastra bertutur), yang menceritakan asalusul setiap komunitas. Ketika kolonialisme datang dengan menerapkan prinsip devide et impera, lebih memperkuat jarak yang sudah tercipta. Hanya untuk kepentingan politik RMS sajalah kemudian etnik Maluku dicoba dipersatukan, tetapi sia-sia. Dominasi pemeluk salah satu agama dalam RMS membuat penganut agama lain bereaksi.     &lt;br /&gt;Begitu juga dominasi dan superioritas ''Orang Ambon'' menciptakan jarak dengan ''Orang Lain'' di Maluku, baik di daerah tenggara, lebih-lebih di utara (Richard Chauvel: 1990 dan Sam Pormes: 2004). Secara politik RMS juga tidak pernah berdaulat di Maluku, dilihat dari konstelasi partai yang memenangkan pemilihan anggota Parlemen Negara Indonesia Timur (NIT) di mana Dewan Maluku Selatan bergabung menjelang proklamasi RMS.     &lt;br /&gt;Partai Indonesia Merdeka (PIM) yang dipimpin EU Pupella seorang Kristen Nasionalis bersama Hamid bin Hamid yang Islam modernis memenangkan kursi di parlemen NIT mengalahkan Gabungan Sembilan Serangkai (GSS) maupun Persatuan Timur Besar (PTB) onderbouw RMS (Richard Z Leirisa: 1975). Argumentasi yang selalu digunakan RMS untuk membenarkan tindakan mereka melepaskan diri dari Republik Indonesia tersebut ialah RMS telah diakui Belanda dan PBB.     &lt;br /&gt;Sebaliknya, dikatakan bahwa Republik Indonesia adalah ilegal dan merampok Maluku ke dalam jajahannya. Gerakan RMS di Belanda pun masih menggunakan argumentasi klasik tersebut, seperti yang dilakukan dedengkot RMS J H Werinussa, John Watilette, dan Daan Sahalessy (radio Nederland dan berbagai situs: 2007).Padahal, jika saja Belanda dan PBB telah mengakui keberadaan RMS dan Republik Indonesia adalah ilegal, tentu tidak perlu menunggu waktu yang begini lama untuk mewujudkan cita-cita mereka.     &lt;br /&gt;Mulai Retak     &lt;br /&gt;Isu provokatif seperti ini memang dengan mudah diserap lapisan akar rumput RMS di Maluku. Sebagaimana ''penari Cakalele'' berpendidikan rendah yang menyambut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada HUT Harganas, 29 Juni 2007. Walhasil, yang terlihat ialah apa yang mereka perjuangkan sekadar menjadi alasan untuk mempertahankan ketokohan di kalangan masyarakat Maluku di Belanda. Di tengah kenyataan bahwa Presiden RMS Tutuhatunewa sudah memasuki masa uzur dan organisasi RMS terpecah belah dalam banyak faksi yang tidak sependapat.     &lt;br /&gt;Dengan demikian, sangat tidak masuk akal kalau RMS dikatakan mendapat dukungan luas di kalangan masyarakat Maluku. Dari paparan selintas atas silang sengkarut sejarah RMS tersebut, sebenarnya bisa ditarik kesimpulan bahwa dukungan separatisme di Maluku tidak sebanding dengan kekuatan nasionalisme Indonesia yang ada pada orang Maluku sendiri. Hanya karena publikasi yang sangat gencar dari gerakan RMS, terutama di era teknologi informasi yang mendunia, terbentuk opini seakan-akan RMS adalah ancaman serius yang membuat kita pontang-panting untuk menghadangnya. (*)     &lt;br /&gt;THAMRIN ELY     &lt;br /&gt;Anggota Dewan Pembina Institut Perdamaian Indonesia (IPI) (//mbs) &lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/07/silang-sengkarut-sejarah-rms.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMUWRWGHv4t2r8bfIS9uTV3_ORBiOWWMZ9Isrr0G-sFvgIi4FynaChlVSAiCkzjQK2iqdoT0rk5yZgwgEpDoqEdkGuk8Rb9XiPh20myQHL0WkP0z7at6lb7T9f5sxEO_-dWBI03_hcrrqU/s72-c?imgmax=800" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-6256552601398609851</guid><pubDate>Wed, 01 Jul 2009 04:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-01T11:28:49.929+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Asal Mula Selat Bali</title><description>&lt;p&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRD0gag6XV-Hn1BY2m9nROdqSDAweaburspnkT74JwnL4St_IE2A-TRYri6rGs7G0l91lF8m43d5Iake0dI3GT7kZxq4Bveo1Ah4vKIzS7bToY4uC85vhInviDFLoM8v9CmZMNW35N474/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img title="clip_image001" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" height="122" alt="clip_image001" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjDCBf85WyBG47CvPGAEJRgWpDz26uj5MqZLUcYhCfJ226f80l-f3YS5NtiLOCbhldpNxaWKTvCC1Gxuewskvr8ZuXKOOfxKryiDRhVKdHo56spL8ECbj3J_lLsDDQhqVb56UvGtmzyrIH/?imgmax=800" width="113" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;     &lt;br /&gt;&lt;font size="3"&gt;Pada jaman dulu di kerajaan Daha hiduplah seorang Brahmana yang benama Sidi Mantra yang sangat terkenal kesaktiannya. Sanghyang Widya atau Batara Guru menghadiahinya harta benda dan seorang istri yang cantik. Sesudah bertahun-tahun kawin, mereka mendapat seorang anak yang mereka namai Manik Angkeran.      &lt;br /&gt;Meskipun Manik Angkeran seorang pemuda yang gagah dan pandai namun dia mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu suka berjudi. Dia sering kalah sehingga dia terpaksa mempertaruhkan harta kekayaan orang tuanya, malahan berhutang pada orang lain. Karena tidak dapat membayar hutang, Manik Angkeran meminta bantuan ayahnya untuk berbuat sesuatu. Sidi Mantra berpuasa dan berdoa untuk memohon pertolongan dewa-dewa. Tiba-tiba dia mendengar suara, “Hai, Sidi Mantra, di kawah Gunung Agung ada harta karun yang dijaga seekor naga yang bernarna Naga Besukih. Pergilah ke sana dan mintalah supaya dia mau memberi sedikit hartanya.”       &lt;br /&gt;Sidi Mantra pergi ke Gunung Agung dengan mengatasi segala rintangan. Sesampainya di tepi kawah Gunung Agung, dia duduk bersila. Sambil membunyikan genta dia membaca mantra dan memanggil nama Naga Besukih. Tidak lama kernudian sang Naga keluar. Setelah mendengar maksud kedatangan Sidi Mantra, Naga Besukih menggeliat dan dari sisiknya keluar emas dan intan. Setelah mengucapkan terima kasih, Sidi Mantra mohon diri. Semua harta benda yang didapatnya diberikan kepada Manik Angkeran dengan harapan dia tidak akan berjudi lagi. Tentu saja tidak lama kemudian, harta itu habis untuk taruhan. Manik Angkeran sekali lagi minta bantuan ayahnya. Tentu saja Sidi Mantra menolak untuk membantu anakya.       &lt;br /&gt;Manik Angkeran mendengar dari temannya bahwa harta itu didapat dari Gunung Agung. Manik Angkeran tahu untuk sampai ke sana dia harus membaca mantra tetapi dia tidak pernah belajar mengenai doa dan mantra. Jadi, dia hanya membawa genta yang dicuri dari ayahnya waktu ayahnya tidur.       &lt;br /&gt;Setelah sampai di kawah Gunung Agung, Manik Angkeran membunyikan gentanya. Bukan main takutnya ia waktu ia melihat Naga Besukih. Setelah Naga mendengar maksud kedatangan Manik Angkeran, dia berkata, “Akan kuberikan harta yang kau minta, tetapi kamu harus berjanji untuk mengubah kelakuanmu. Jangan berjudi lagi. Ingatlah akan hukum karma.”       &lt;br /&gt;Manik Angkeran terpesona melihat emas, intan, dan permata di hadapannya. Tiba-tiba ada niat jahat yang timbul dalam hatinya. Karena ingin mendapat harta lebih banyak, dengan secepat kilat dipotongnya ekor Naga Besukih ketika Naga beputar kembali ke sarangnya. Manik Angkeran segera melarikan diri dan tidak terkejar oleh Naga. Tetapi karena kesaktian Naga itu, Manik Angkeran terbakar menjadi abu sewaktu jejaknya dijilat sang Naga.       &lt;br /&gt;Mendengar kematian anaknya, kesedihan hati Sidi Mantra tidak terkatakan. Segera dia mengunjungi Naga Besukih dan memohon supaya anaknya dihidupkan kembali. Naga menyanggupinya asal ekornya dapat kembali seperti sediakala. Dengan kesaktiannya, Sidi Mantra dapat memulihkan ekor Naga. Setelah Manik Angkeran dihidupkan, dia minta maaf dan berjanji akan menjadi orang baik. Sidi Mantra tahu bahwa anaknya sudah bertobat tetapi dia juga mengerti bahwa mereka tidak lagi dapat hidup bersama.       &lt;br /&gt;“Kamu harus mulai hidup baru tetapi tidak di sini,” katanya. Dalam sekejap mata dia lenyap. Di tempat dia berdiri timbul sebuah sumber air yang makin lama makin besar sehingga menjadi laut. Dengan tongkatnya, Sidi Mantra membuat garis yang mernisahkan dia dengan anaknya. Sekarang tempat itu menjadi selat Bali yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Bali.&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/07/asal-mula-selat-bali.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjDCBf85WyBG47CvPGAEJRgWpDz26uj5MqZLUcYhCfJ226f80l-f3YS5NtiLOCbhldpNxaWKTvCC1Gxuewskvr8ZuXKOOfxKryiDRhVKdHo56spL8ECbj3J_lLsDDQhqVb56UvGtmzyrIH/s72-c?imgmax=800" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-291342350840090523</guid><pubDate>Sun, 28 Jun 2009 09:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-28T16:05:50.285+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Seks dan Kesehatan</category><title>Perilaku Menyebalkan Pria di Ranjang</title><description>&lt;p&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlGLy0bZTMeNCtPHxzCw_mPNsnWFmTN6ADL95ILnhNCepeIzudE4PSVmJyzCyc3A84mvg4TnxHVi42pFHTceVWWvOwpJb3kklxRUKX6N9E_LF02NljtbcCM92Sd3FfoC2QPZ_bafD79bg/s1600-h/gagal.jpg"&gt;&lt;img title="clip_image001" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" height="117" alt="clip_image001" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFlEFCfb6VVcLldZdeZ7Cy8Bi0ZLTXJX3Rov_pua-UgnrI3t618DVzvbH_8gUQf5MXjGhSNz2blYPjQ1DFiueN47XgnTOzDhiMDqoSBthpKTZ-kJ3izo4uWPbhyf9tZUMlmooRZw_uULDy/?imgmax=800" width="117" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;     &lt;br /&gt;Selalu ada saja hal yang membuat wanita merasa tak nyaman saat berhubungan seks, berikut ini empat tingkah laku seksual pria yang tak nyaman bagi wanita versi Jane Magazine.     &lt;br /&gt;Meniup Miss     &lt;br /&gt;Banyak wanita mengeluh tak menyukai pasangan mereka meniup area genital mereka, pria berpikir meniup area vagina saat berhubungan seks akan meningkatkan rangsangan, frankly it's wrong!     &lt;br /&gt;You know men, sebenarnya wanita tak menyukai perilaku seperti itu, meniup area pribadi wanita bukanlah hal yang nyaman, bahkan beberapa wanita merasa jengah dengan perilaku ini.     &lt;br /&gt;Bayangkan jika seseorang meniup telinga Anda dalam keadaan basah, bukan hal yang enak bukan? dan Anda akan mengerti kenapa wanita tak menyukainya. Mengapa pria melakukan hal itu? karena mereka berpikir hal tersebut akan menggelitik wanita, membuatnya terangsang bahkan beberapa pria mengaku meniup miss V agar area tersebut cepat kering.     &lt;br /&gt;So, jika ingin membuat pasangan Anda senang dan nyaman kenapa tak mencoba menggelitik area lain, misalnya kaki atau ketiak, karena tak semua wanita menyukai area clitoris mereka ditiup.     &lt;br /&gt;Bertanya Sesuatu yang Tak Nyaman     &lt;br /&gt;Hal lain yang sangat mengganggu wanita adalah saat pria bertanya: &amp;quot;apakah kau sudah mencapai klimaks? seorang wanita mengetahui apakah pria telah meraih klimaks atau menikmati dirinya sendiri, jadi mengapa pria tak mencoba melakukan hal yang sama?     &lt;br /&gt;Pengalaman meraih orgasme wanita sangat berbeda dibandingkan pria. Seorang wanita harus menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk meraih orgasme penuh. Pertanyaan, &amp;quot;Kau sudah puas?&amp;quot; disaat waktu berhubungan seks, sebuah hal yang sangat menggangu dan tak nyaman untuk beberapa wanita.     &lt;br /&gt;Mendorong kepala ke bawah     &lt;br /&gt;Lelaki sangat menyukai oral seks, mereka menyukai submissive position (posisi patuh) dimana seorang wanita melakukan oral seks. Tak semua wanita menyukai melakukan oral seks, meskipun banyak juga yang menyukainya, namun jangan pernah sekalipun memaksa pasangan Anda melakukan oral seks, seperti yang dilakukan Joe Pesci pada Sharon Stone di film CASINO, menyorongkan kepalanya ke area genital Anda bukan sebuah hal yang menyenangkan bukan? Hal paling memalukan yang dilakukan seorang pria. Hanya sekitar 0,5% dari populasi wanita yang menyukai hal tersebut.     &lt;br /&gt;Kebiasaan buruk lain yang menggangu wanita adalah meninggalkan kondom bekas setelah berhubungan, kondom memiliki pembungkus yang dapat Anda gunakan kembali untuk membungkus dan membuangnya.     &lt;br /&gt;Kondom bekas harus segera dibuang setelah pakai, bukan hal yang berat bukan? Selain juga menunjukkan respek pada pasangan Anda dan juga diri Anda sendiri. Tunjukkan perilaku bijak dan sembunyikan aktivitas seksual buruk Anda dari orang lain.     &lt;br /&gt;Memakai kaos kaki saat bercinta     &lt;br /&gt;Wanita tak menyukai seorang pria mengenakan kaos kaki saat mereka diranjang, memberi kesan jika mereka tak peduli dengan apa yang mereka kenakan, meskipun hanya sepasang kaos kaki. Bayangkan, tentu tak enak bukan bercinta dengan wanita yang masih mengenakan pakaian, kaos kaki, aksesori rambut, so begitu juga dengan wanita.     &lt;br /&gt;Bercinta akan semakin menggetarkan jika Anda dan pasangan sama-sama telanjang bulat, melepasakan diri secara total. Dan kaos kaki? sepele memang, tapi wanita merasakan perbedaan dengan hal itu. So, tak ada salahnya melepas kaos kaki saat bercinta, mudah bukan?.&lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/06/perilaku-menyebalkan-pria-di-ranjang.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFlEFCfb6VVcLldZdeZ7Cy8Bi0ZLTXJX3Rov_pua-UgnrI3t618DVzvbH_8gUQf5MXjGhSNz2blYPjQ1DFiueN47XgnTOzDhiMDqoSBthpKTZ-kJ3izo4uWPbhyf9tZUMlmooRZw_uULDy/s72-c?imgmax=800" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-474579205416533115</guid><pubDate>Sun, 28 Jun 2009 09:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-28T16:01:07.919+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Seks dan Kesehatan</category><title>15 Istilah Seks yang Patut Diketahui</title><description>&lt;p&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJOuJjzFoeKnmN4OgR0DldXOLJ67NyEOaOKuCarE6bBbB6eXsro4KBBxo6Qe6x6P6o6wVysTcajiFjjqB8vc_eSRUq0EknbjxtMr43BPnz1xgH7s8vGLpFVs9poM484iT0jCxKspZwy9k/s1600-h/sex.jpg"&gt;&lt;img title="clip_image001" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" height="112" alt="clip_image001" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTXfLXm1FzwRLWtvJc40w2eBhgvlEv0bDSjU-kJymsoBhC-JKbOuoWq0WKZ2xlf_cv28VuVX5KLYPFnHk49TRDNq7SGutfujOdP1kmbyxwRnLqIM3PB7ITIk2ZEyQXag99HKtNtlCbGsuJ/?imgmax=800" width="120" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;     &lt;br /&gt;&lt;font size="3"&gt;Pernahkan saat hang out dengan teman-teman dan membahas tentang masalah seputar seks dan pola bercinta, Anda tak mengetahui apa yang mereka bicarakan atau merasa kurang familiar dengan istilah yang mereka lontarkan?      &lt;br /&gt;Bahkan mungkin saat Anda ngobrol dengan kekasih dan dia meminta sesuatu dengan istilah seks yang terasa asing bagi Anda. Mau bertanya tapi malu ditertawain dan dibilang telmi? So, don't worry, berikut ini ada beberapa istilah seks yang patut Anda ketahui.       &lt;br /&gt;1. Anilingus       &lt;br /&gt;Istilah ini berhubungan dengan oral seks di seputar anus. Namun tetap harus Anda ingat anilingus sangat beresiko, karena berhubungan seks melalui anus sangat rentan terhadap bakteri dan mudah menyebarkan infeksi.       &lt;br /&gt;2. Barebacking       &lt;br /&gt;Barebacking melibatkan sexual penetration tanpa menggunakan alat pengaman (kondom). Istilah ini biasanya berhubungan dengan hubungan seks anal dan vaginal seks.       &lt;br /&gt;3. BDSM       &lt;br /&gt;BDSM adalah akronim dari Bondage and Discipline, Sadism and Masochism. Istilah ini berkaitan dengan penggabungan praktek seksual yang melibatkan rasa sakit dan unsur-unsur kekerasan saat berhubungan seks, melukai pasangan atau diri sendiri untuk mencapai kepuasan saat berhubungan seks.       &lt;br /&gt;4. Bukkake       &lt;br /&gt;Bukkake berhubungan dengan facial, istilah ini berkait dengan ejakulasi pada wajah wanita. Bukkake merupakan tindakan dimana pria berejakulasi di wajah pasangannya, aksi seperti ini banyak kita jumpai di film-film blue produksi Jepang.       &lt;br /&gt;5. Dental dam       &lt;br /&gt;Istilah ini biasanya sering kita jumpai pada oral seks wanita, sebuah dental dam biasanya terbuat dari sheer latex dan digunakan sebagai sebuah pelindung seks cunnilingus. Cunnilingus ialah memberikan perangsangan pada alat kelamin wanita dengan menggunakan lidah pada Miss. V.       &lt;br /&gt;6. Dirty Sanchez       &lt;br /&gt;Istilah yang merujuk pada praktek seks yang jarang sekali bisa membuat seseorang berselera untuk melakukannya.       &lt;br /&gt;1. berhubungan seks dimana seorang wanita mengoral organ seks pasangannya setelah terlebih dahulu melakukan anal seks.       &lt;br /&gt;2. Melap Mr. P atau tangan Anda dengan 'miliiknya' setelah sebelumnya dimasukkan di anusnya. Seperti halnya anilingus, Dirty Sanchez beresiko tinggi dan dengan mudah menyebarkan infeksi karena bakteri yang terdapat di anus.       &lt;br /&gt;7. Edgeplay       &lt;br /&gt;Edgeplay, sesuatu yang diasumsikan sebagi sebuah perilaku seksual yang berbahaya dan beresiko.       &lt;br /&gt;8. Felching       &lt;br /&gt;Felching yaitu ejakulasi secara tiba-tiba ke anus wanita dan menghisap dan menjilat air mani yang keluar.       &lt;br /&gt;9. Frottage       &lt;br /&gt;Sebuah istilah yang mewakili perilaku seksual yang lebih halus dibanding perilaku seksual sebelumnya. Frottage merujuk pada sebuah gerakan saling menggosok untuk meraih kenimatan seksual tanpa sekalipun melakukan penetrasi. Frottage juga disebut dry humping.       &lt;br /&gt;10. Pearl necklace       &lt;br /&gt;Istilah yang diberikan saat seorang pria berejakulasi disekitar atau didekat leher wanita dan membentuknya menyerupai kalung mutiara pearl necklace.       &lt;br /&gt;11. Pudendum (pudenda)       &lt;br /&gt;Istilah yang digunakan untuk menyebut organ genital luar wanita: vulva       &lt;br /&gt;12. Queef       &lt;br /&gt;Queef berhubungan dengan kentut pada vagina. Kadang, saat Mr. P menjelajah keluar masuk Ms V secara berkala, udara akan terjebak dalam dinding Ms. V yang memicu udara keluar, bisanya dikenal dengan kentut. Tak seperti model anal seks, Queef tak menyebabkan bau, dan tidak terlalu beresiko menyebarkan bakteri.       &lt;br /&gt;13. Shrimping       &lt;br /&gt;Tak semua orang menyukai atau menyertakan gaya bercinta model ini, shrimping. merujuk pada tindakan menghisap dan menjilat jari-jari kaki pasangan sebelum atau sesudah berhubungan seks. Memang tak semua pasangan menyukai hal ini, namun wanita menyukai kaki mereka disentuh, dipijat, bahkan dihisap ataupun dijilat. Beranggapan bahwa kaki mereka benar-benar bersih, para wanita mengaku jika mereka menyukai pasangan mereka lebih memperhatikan telapak kaki, tumit maupun jari-jari kaki mereka, menggelitiknya dan membuatnya kegirangan, karena rasa sensitif pada jari-jari dan telapak kaki.       &lt;br /&gt;14. Smegma       &lt;br /&gt;Substansi yang menyerupai dadih berwarna putih yang keluar melalui kelenjar sebaceous pada Mr. P yang terkumpul dibawah kulup zakar penis pria yang tak sunat. Sedikit sekali jumlah dari susbtasi tersebut yang berguna untuk penis, biasanya substansi ini terdapat pada Mr. P yang jarang dibersihkan.       &lt;br /&gt;15. Snowballing       &lt;br /&gt;Seringkali seks oral disebut sebagai bagian proses foreplay. Dimana melibatkan alat kelamin dan mulut. Seks oral bagi wanita disebut dengan cunnilingus. Cunnilingus ialah memberikan perangsangan pada alat kelamin wanita dengan menggunakan lidah pada Ms. V. Sementara seks oral bagi pria disebut dengan fellatio. Fellatio adalah memberikan perangsangan pad Mr.P dengan cara diisap, dijilat dan dicium.       &lt;br /&gt;Snowballing, sebuah istilah dimana wanita melakukan fellatio pada pria dan dia berejakulasi, wanita akan menjaga cairan yang keluar saat ejakulasi dalam mulutnya dan mulai menciumnya. Saat berciuman, cairan akan saling berpindah dari mulut wanita ke pria, sampai salah satu menelan cairan tersebut.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/06/15-istilah-seks-yang-patut-diketahui.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTXfLXm1FzwRLWtvJc40w2eBhgvlEv0bDSjU-kJymsoBhC-JKbOuoWq0WKZ2xlf_cv28VuVX5KLYPFnHk49TRDNq7SGutfujOdP1kmbyxwRnLqIM3PB7ITIk2ZEyQXag99HKtNtlCbGsuJ/s72-c?imgmax=800" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-5413307202142237477</guid><pubDate>Sun, 28 Jun 2009 08:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-28T16:00:07.635+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Seks dan Kesehatan</category><title>Makanan Pembangkit Gairah Seks</title><description>&lt;p&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUBa3xAJmqL3HX1_7VUj9maetbG_WdWIYiM2f7W0lBz1bfMzQpHEGJZj-9ml1F8o2Ex_9bqtGa89s2xZGJbgQL8yNmQGawLXmibNfymfj83TYtdACuZsYGUkKx21vaSobSTv3-8h-R3R0/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img title="clip_image001" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" height="94" alt="clip_image001" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjC8_KIejUfY49w277M4hCF62UbqkPrRa62EtpgSBgJlffkAlKktY1KMwPbdeSw_6BRaMMdjk5Zah2y2s4bMY46FQYQpdsPmt7H37mOuuEVo2IJVTv6ELjP_ISnJ7lBLh4j1W_y-X24QUQ/?imgmax=800" width="136" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;     &lt;br /&gt;Bagaimana agar berhubungan seks tak hanya mengandalkan apa yang Anda lakukan di tempat tidur, pasti Anda membutuhkan 'kekuatan'untuk bekal 'bertempur' bukan? nah, supaya hubungan seks Anda lebih lama dan lebih uhuy coba deh mulai membiasakan diri mengkonsumsi makanan untuk pembangkit libido. Berikut ini ada beberapa jenis makanan yang esensinya diyakini bisa menaikkan gairah seksual anda:     &lt;br /&gt;1. Seledri     &lt;br /&gt;Seledri, ini sayuran yang bisa kita jumpai sebagai pelengkap hidangan, merupakan sumber makanan yang bisa meningkatkan rangsang seksual karena seledri mengandung senyawa androsterone, hormon tanpa bau yang keluar melalui keringat pria. Hormon ini diyakini bisa membuat wanita terangsang.     &lt;br /&gt;2. Tiram Mentah     &lt;br /&gt;Tiram adalah makanan laut yang kaya akan zat besi, bisa menaikkan jumlah sperma dan produksi testosteron, selain mengandung dopamine, hormon yang diyakini bisa menaikkan gairah seksual. Cobalah menghisap tiram bersama pasangan sebagai bagian dari foreplay seks Anda, saling menyuapi akan membuat permainan seks Anda semakin hangat dan erotis. Cuci bersih bagian luarnya (cangkang) untuk menghilangkan bakteri dan kotoran yang menempel. Buka cangkangnya dan taruh dalam di sebuah wadah berisi es batu, jika Anda suka Anda bisa menambahkan perasan air jeruk lemon.     &lt;br /&gt;3. Pisang     &lt;br /&gt;Pisang mengandung enzim bromelain, yang dipercaya bisa menaikkan dan memperbaiki libido lelaki. Sebagai buah tropis pisang merupakan sumber potassium dan vitamin B seperti riboflavin, yang bisa meningkatkan energi tubuh. Cara menikmati: taruh pisang yang sudah terkelupas sebagian dalam sebuah wadah. Minta pasangan Anda memakannya pada bagian ujungnya Anda melahapnya di bagian ujung lainnya, just try it.     &lt;br /&gt;4. Alpukat     &lt;br /&gt;Penduduk Aztecs (penduduk asli Nahuati, yang membangun pemerintahan Mexico, sebelum di rebut Cortes pada 1519), menyebut buah apukat sebagi &amp;quot;testicle tree.&amp;quot; Apukat mampu menurunkan risiko stroke dan serangan jantung, karena alpukat merupakan satu-satunya buah yang kaya lemak, bahkan kadarnya lebih dari dua kali kandungan lemak dalam durian. Kemampuan ini diperkuat oleh kandungan betakaroten, klorofil, vitamin E, dan vitamin B-kompleks yang berlimpah dalam alpukat.     &lt;br /&gt;Tak hanya bagus buat kesehatan tubuh, buah yang menyerupai lekuk tubuh wanita ini juga memiliki esensi yang membantu meningkatkan stamina seks. Kandungan folic acid-nya melancarkan metabolisme protein, dan menaikkan energi tubuh. Penggabungan dua unsur esensial alpukat, vitamin B6 (nutrisi yang membantu menaikkan produksi hormon pria) dan potassium (membantu memperlancar kelenjar thyroid), diyakini bisa meningkatkan libido pria dan wanita.     &lt;br /&gt;5. Almond     &lt;br /&gt;Almond merupakan sumber esensial asam lemak yang kaya akan senyawa yang sangat vital bagi kesehatan hormon reproduksi pria. Aroma yang dikeluarkan almond membantu membangkitkan hasrat wanita. Menyalakan beberapa lilin aroma terapi beramoma almond bisa membantu membangkitkan gairah seksual Anda dan pasangan. Anda bisa memakan biji almond langsung tanpa menambahkan garam atau pemanis atau mungkin menaburkan cacahan almond kering sebagai pelengkap salad favorit Anda.     &lt;br /&gt;6. Mangga, peach, strawberri     &lt;br /&gt;Mangga, peach, dan strawberri, buah segar kaya vitamin C yang selalu mengundang liur. Tak ada salahnya melibatkan peranan ketiga buah tersebut dalam foreplay bercinta Anda. Lumurkan jus campuran ketiga buah tersebut keseluruh tubuh Anda dan minta pasangan menjilatinya, bukan hanya saling mengeksplorasi tubuh pasangan namun seks eksotik bakal Anda alami.     &lt;br /&gt;7. Telur     &lt;br /&gt;Meskipun telur bukan makanan sensual, telur masih merupakan sumber utama vitamin B6 dan B5 yang membantu meningkatkan tingkat keseimbangan hormon dan memerangi stress, dua hal utama yang penting bagi kesehatan libido. Telur juga dikenal sebagai simbol kesuburan dan kelahiran kembali. Telur ayam mentah (baik telur ayam maupun telur burung) sering dikonsumsi untuk menaikkan energi dan memaksimalkan tingkat energi.     &lt;br /&gt;8. Hati (liver)     &lt;br /&gt;Hati merupkan sumber hewani yang kaya akan glutamine -- jaringan peningkat sistem kekebalan tubuh -- mengkonsumsi hati secara rutin bisa meningkatkan libido yang mulai turun. Pastikan selalu memasukkan hati dalam menu diet harian Anda. Anda bisa mengolah hati dan menggorengnya dengan campuran irisan bawang putih, rempah-rempah dan menggorengnya dengan minyak wijen.     &lt;br /&gt;9. Buah Kurma (buah ara)     &lt;br /&gt;Buah legit yang sering dijumpai di bulan puasa ini memiliki kandungn asam amino yang dipercaya bisa menaikkan libido dan menaikkan stamina seksual. Bentuk dan aroma manis buah kurma yang masih segar bisa merangsang indra seksual Anda dan pasangan.     &lt;br /&gt;10. Bawang Putih     &lt;br /&gt;Salah satu rempah dapur ini memang memiliki sejuta khasiat, meskipun cenderung beraroma menyengat. Bawang putih mengandung allicin yang bisa melancarkan peredaran darah ke organ seksual, selain juga meningkatkan libido. Saat ini banyak ekstrak bawang putih yang dikemas dalam bentuk kapsul di pasaran, so Anda dan pasangan tak perlu repot lagi bukan dan coba rasakan khasiatnya.     &lt;br /&gt;11. Coklat     &lt;br /&gt;Coklat makanan sensual yang banyak mengandung theobromine (alkaloid) yang khasiatnya sebanding dengan kafein. Coklat kaya akan phenylethylamine, senyawa kimia yang diyakini bisa menumbuhkan perasaan cinta dan rileks, banyak kalangan selalu mengkonsumsi coklat saat dalam keadaan tertekan. Dark chocolate banyak mengandung anti-oxidants dalam jumlah besar yang sangat berguna bagi sistem kekebalan tubuh. Mengkonsumsi coklat sebelum bercinta bakal membuat seks Anda semakin hangat.&lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/06/makanan-pembangkit-gairah-seks.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjC8_KIejUfY49w277M4hCF62UbqkPrRa62EtpgSBgJlffkAlKktY1KMwPbdeSw_6BRaMMdjk5Zah2y2s4bMY46FQYQpdsPmt7H37mOuuEVo2IJVTv6ELjP_ISnJ7lBLh4j1W_y-X24QUQ/s72-c?imgmax=800" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-3798211156984601538</guid><pubDate>Sun, 28 Jun 2009 08:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-28T15:58:29.105+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Seks dan Kesehatan</category><title>Tips Agar Cinta Tetap Hangat</title><description>&lt;p&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6yZaEQKXmjLH7zF2pGuEGxC8-aaLuEKCJARtWdnxs-wdscBRUc3n9mYmQvSbmvtHzFV19PRqSFruJrQRZAVkQVzqRrDXi2YdPTXyMm-KXIM3ehQANgXE-5M6cA2FCx7zCXJ5RI7kdpqM/s1600-h/addemoticons63.gif"&gt;&lt;img title="clip_image002" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" height="95" alt="clip_image002" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTpTs94vKL6Gm7yEE3OwohTXuNUd2tyxCtNEfAMUHExTnL9_FK-VM8rEsa9mlhJoZBcHEUDDdPczdmBaXvlU0rIckmlGcprBoAJF5lezjFcWuWtFg2IqylM0wgdnvy3-1Rxl87TkozD7Hd/?imgmax=800" width="77" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;     &lt;br /&gt;1. Mengungkapkan Cinta     &lt;br /&gt;Jangan takut mengatakan cinta, kadang kita merasa bahwa hal tersebut tidak penting dan gombal, kadang kita berdalih bahwa kata-kata cinta tidak penting untuk diucapkan secara verbal tapi cukup dibuktikan dengan perbuatan. Tetapi coba kita tengok bagaimana Rasulullah mengajarkan kepada para shahabatnya ketika ada seseorang yang mengatakan kepada Rasul &amp;quot;Ya Nabiyullah, sesungguhnya aku sangat mencintai si fulan&amp;quot; sambil menunjuk kepada seorang lelaki yang sedang lewat dihadapannya. &amp;quot;Apakah kamu pernah mengatakan perasaanmu kepadanya ?&amp;quot; Tanya Rasul. &amp;quot;Belum ya Rasul&amp;quot;. Jawab shahabat. &amp;quot;Sekarang, katakanlah padanya&amp;quot;. Jadi mengatakan cinta itu bukan hal yang tabu, tapi sunnah hukumnya. Dan mulai sekarang, katakanlah cinta pada istri tercinta.     &lt;br /&gt;&amp;quot;I love u, I love u, I love u &amp;quot;     &lt;br /&gt;2. Efek Sentuhan     &lt;br /&gt;Berjabat tangan ketika bertemu, memeluk atau mencium, adalah kiat2 penghangat cinta, jangan sampai satu haripun anda tidak menyentuhnya. Apakah hanya sekedar mencubit, menjewer mesra, dan sebagainya. Menurut ahli psikologi, efek sentuhan dapat memberi kenyamanan, kesenangan dan ketentraman dan menciptakan rasa kedekatan antar individu.     &lt;br /&gt;3. Memberi Bantuan     &lt;br /&gt;Memberi bantuan kepadanya diminta atau tidak, ketika ia sibuk didapur, kita yang memandikan anak. Ketika ia sedang menyuapi anak, kita ngelap meja. Kamu bunga yang jadi tangkainya.. suit suiit¡¦ kamu tarzan.. aku yang jadi ¡¦¡¦¡¦     &lt;br /&gt;4. Siap Dengan Dukungan     &lt;br /&gt;Memberi dukungan harus dilakukan, terutama jika istri kita mengalami tekanan psikologis. Tetapi memberi dukungan juga harus proporsional, jangan sampai berlebihan. Ini yang perlu diperhatikan. Dukungan moril sangat dibutuhkan disaat2 tertentu. Misalnya istri sakit, jangan malah di takut2in &amp;quot;Mi' tetangga diseberang sana sakitnya juga sama kayak umi¡¦. Sekarang dia udah pulang ke Rahmatulloh lho..&amp;quot;     &lt;br /&gt;5. Jangan Pelit Dengan Pujian     &lt;br /&gt;Kalau ada suami yang pelit pujian, bisa dipastikan ia juga pelit dengan hartanya, kalau pujian yang gratis aja pelit, gimana dengan harta yang dicari dengan susah payah ? suami yang pemurah adalah suami yang senang memuji. Memuji yang baik tidak dilakukan didepan khalayak ramai, tetapi disaat berdua, misalnya memuji kecantikannya, enak masakannya, dll.     &lt;br /&gt;6. Munculkan segala Kebaikan     &lt;br /&gt;&amp;quot;Jika cinta sudah melekat, tempe goreng terasa coklat&amp;quot; begitu pepatah mengatakan. Tanda cinta adalah kita senantiasa mengingat kebaikan-kebaikannya, jika ada permasalah yang membuat renggang hubungan. Segera ingat kebaikan yang pernah ia lakukan kepada kita.     &lt;br /&gt;7. Sisihkan waktu Untuk berdua     &lt;br /&gt;Kadang kesibukan membuat suami istri jarang punya waktu untuk mereka berdua, maka perlu disiasati supaya punya waktu untuk berbicara dari hati kehati, tanpa ada yang mengganggu. Just me and u ¡¦ cieee.     &lt;br /&gt;8. Membuat panggilan khusus     &lt;br /&gt;Panggil namanya dengan nama nama yang ia senangi misalnya &amp;quot;Mawar&amp;quot;, &amp;quot;Darling&amp;quot;, &amp;quot;Yayang&amp;quot;, &amp;quot;My Love&amp;quot; jangan sebut nama panggilan yang ia tidak senangi &amp;quot;Ndut,.. sini ndut&amp;quot; (karena istrinya gendut) atau &amp;quot;Tuyul¡¦ sini yul&amp;quot; (karena namanya Yuli).     &lt;br /&gt;9. mendengarkan     &lt;br /&gt;menjadi pendengar yang baik perlu kiat tersendiri, kadang kala ada rasa emosi, saat pulang kerja,lelah dan suntuk.. istri menyambut dengan cerita2 horor dan teror. Yah sabar sedikit, usahakan tersenyum. Dengarkan sampai ia selesai bicara. Setelah ia selesai baru bilang &amp;quot;umi tadi certain apa sih ?&amp;quot; (gubraks)     &lt;br /&gt;10. Lazimkan Tiga kata ajaib :     &lt;br /&gt;- Tolong : jika meminta bantuan     &lt;br /&gt;- Terima kasih : jika selesai dibantu     &lt;br /&gt;- Maaf : jika membuat kesalahan&lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/06/tips-agar-cinta-tetap-hangat.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTpTs94vKL6Gm7yEE3OwohTXuNUd2tyxCtNEfAMUHExTnL9_FK-VM8rEsa9mlhJoZBcHEUDDdPczdmBaXvlU0rIckmlGcprBoAJF5lezjFcWuWtFg2IqylM0wgdnvy3-1Rxl87TkozD7Hd/s72-c?imgmax=800" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-7376784916423598167</guid><pubDate>Fri, 26 Jun 2009 03:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-01T11:26:51.780+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sejarah</category><title>Sejarah Marga Batak</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a name="BLOGGER_PHOTO_ID_5281609051905197954"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1HAdMP_IO5mBNfj2OZ6fbsFL-FEnIulV7mEdW4GiZryOowSSKsNnTITylHVYJC7MjbTqZ7zqWB7RyJnuTEQw5lerJ6ombIWQ9bh6xc0hlUwvmBCSTdUKX6tiQ5JPJt2vNFrHExAa9DkI/s1600-h/sd.jpeg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;img title="clip_image001" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" height="138" alt="clip_image001" hspace="5" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0UumtLSE_j_yCMIH0ftMx2shPyAyTymLFz-7wCYDnCmln1OGLWZ0ZPrmCvneeXAUsiK1cddLaCFLOYxw8hI2_CMufOhVCs2zPYQl309HtG4XUQ67C48D4D5AMALmca2fYCzIaM_8vbHdt/?imgmax=800" width="120" vspace="5" border="0" /&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1HAdMP_IO5mBNfj2OZ6fbsFL-FEnIulV7mEdW4GiZryOowSSKsNnTITylHVYJC7MjbTqZ7zqWB7RyJnuTEQw5lerJ6ombIWQ9bh6xc0hlUwvmBCSTdUKX6tiQ5JPJt2vNFrHExAa9DkI/s1600-h/sd.jpeg"&gt;&lt;/a&gt;     &lt;br /&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;font color="#00ff00"&gt;SILSILAH ATAU TAROMBO BATAK&lt;/font&gt;       &lt;br /&gt;SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu:       &lt;br /&gt;1. Guru Tatea Bulan       &lt;br /&gt;2. Raja Isombaon       &lt;br /&gt;GURU TATEA BULAN       &lt;br /&gt;Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Burning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :       &lt;br /&gt;* Putra (sesuai urutan):       &lt;br /&gt;1. Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng), tanpa keturunan       &lt;br /&gt;2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu)       &lt;br /&gt;3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong).       &lt;br /&gt;4. Sagala Raja (keturunannya Sagala)       &lt;br /&gt;5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)       &lt;br /&gt;*Putri:       &lt;br /&gt;1. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona)       &lt;br /&gt;2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon       &lt;br /&gt;3. Si Boru Biding Laut, (Diyakini sebagai Nyi Roro Kidul)       &lt;br /&gt;4. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin).       &lt;br /&gt;Tatea Bulan artinya &amp;quot;Tertayang Bulan&amp;quot; = &amp;quot;Tertatang Bulan&amp;quot;. Raja Isombaon (Raja Isumbaon)       &lt;br /&gt;Raja Isombaon artinya raja yang disembah. Isombaon kata dasarnya somba (sembah). Semua keturunan Si Raja Batak dapat dibagi atas 2 golongan besar:       &lt;br /&gt;1. Golongan Tatea Bulan = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga golongan Hula-hula = Marga Lontung.       &lt;br /&gt;2. Golongan Isombaon = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga Golongan Boru = Marga Sumba.       &lt;br /&gt;Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera Si Singamangaraja, para orangtua menyebut Sisimangaraja, artinya maha raja), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan Si Raja Batak.       &lt;br /&gt;PENJABARAN       &lt;br /&gt;* &lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;font color="#ff8000"&gt;RAJA UTI        &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng). Raja Uti terkenal sakti dan serba bisa. Satu kesempatan berada berbaur dengan laki-laki, pada kesempatan lain membaur dengan peremuan, orang tua atau anak-anak. Beliau memiliki ilmu yang cukup tinggi, namun secara fisik tidak sempurna. Karena itu, dalam memimpin Tanah Batak, secara kemanusiaan Beliau memandatkan atau bersepakat dengan ponakannya/Bere Sisimangaraja, namun dalam kekuatan spiritual etap berpusat pada Raja Uti.       &lt;br /&gt;* SARIBURAJA       &lt;br /&gt;Sariburaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis, satu peremuan satunya lagi laki-laki).       &lt;br /&gt;Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Saribu Raja mengawini adiknya, Si Boru Pareme, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.       &lt;br /&gt;Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Rraja, dan Silau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk mengusir Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, tetapi di hutan tersebut Sariburaja kebetulan bertemu dengan dia.       &lt;br /&gt;Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi &amp;quot;istrinya&amp;quot; di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan Si Boru Pareme di dalam hutan. Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.       &lt;br /&gt;Dari istrinya sang harimau, Sariburaja memperoleh seorang putra yang diberi nama Si Raja Babiat. Di kemudian hari Si Raja Babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga Bayoangin.       &lt;br /&gt;Karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya, Sariburaja berkelana ke daerah Angkola dan seterusnya ke Barus.       &lt;br /&gt;SI RAJA LONTUNG       &lt;br /&gt;Putra pertama dari Tuan Sariburaja. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu:       &lt;br /&gt;* Putra:       &lt;br /&gt;1.. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.       &lt;br /&gt;2. Sinaga Raja, keturunannya bermarga Sinaga.       &lt;br /&gt;3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.       &lt;br /&gt;4. Toga Nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.       &lt;br /&gt;5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.       &lt;br /&gt;6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.       &lt;br /&gt;7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.       &lt;br /&gt;* Putri :       &lt;br /&gt;1. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing.       &lt;br /&gt;2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.       &lt;br /&gt;Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina, Pasia Boruna Sihombing Simamora.       &lt;br /&gt;Si Sia Marina = Sembilan Satu Ibu.       &lt;br /&gt;Dari keturunan Situmorang, lahir marga-marga cabang Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta, Siringoringo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.       &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;font color="#ff0080"&gt;SINAGA        &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;Dari Sinaga lahir marga-marga cabang Simanjorang, Simandalahi, Barutu.       &lt;br /&gt;PANDIANGAN       &lt;br /&gt;Lahir marga-marga cabang Samosir, Pakpahan, Gultom, Sidari, Sitinjak, Harianja.       &lt;br /&gt;NAINGGOLAN       &lt;br /&gt;Lahir marga-marga cabang Rumahombar, Parhusip, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.       &lt;br /&gt;SIMATUPANG       &lt;br /&gt;Lahir marga-marga cabang Togatorop (Sitogatorop), Sianturi, Siburian.       &lt;br /&gt;ARITONANG       &lt;br /&gt;Lahir marga-marga cabang Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare.       &lt;br /&gt;SIREGAR       &lt;br /&gt;Llahir marga-marga cabang Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.       &lt;br /&gt;* SI RAJA BORBOR       &lt;br /&gt;Putra kedua dari Tuan Sariburaja, dilahirkan oleh Nai Margiring Laut. Semua keturunannya disebut Marga Borbor.       &lt;br /&gt;Cucu Raja Borbor yang bernama Datu Taladibabana (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :       &lt;br /&gt;1. Datu Dalu (Sahangmaima).       &lt;br /&gt;2. Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar.       &lt;br /&gt;3. Harahap, keturunannya bermarga Harahap.       &lt;br /&gt;4. Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung.       &lt;br /&gt;5. Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan.       &lt;br /&gt;6. Simargolang, keturunannya bermarga Imargolang.       &lt;br /&gt;Keturunan Datu Dalu melahirkan marga-marga berikut :       &lt;br /&gt;1. Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat.       &lt;br /&gt;2. Tinendang, Tangkar.       &lt;br /&gt;3. Matondang.       &lt;br /&gt;4. Saruksuk.       &lt;br /&gt;5. Tarihoran.       &lt;br /&gt;6. Parapat.       &lt;br /&gt;7. Rangkuti.       &lt;br /&gt;Keturunan Datu Pulungan melahirkan marga-marga Lubis dan Hutasuhut.       &lt;br /&gt;Limbong Mulana dan marga-marga keturunannya       &lt;br /&gt;Limbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong yang mempunyai dua orang putra, yaitu Palu Onggang, dan Langgat Limbong. Putra dari Langgat Limbong ada tiga orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga Sihole, dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga Habeahan. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu Limbong.       &lt;br /&gt;SAGALA RAJA       &lt;br /&gt;Putra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga Sagala.       &lt;br /&gt;SILAU RAJA       &lt;br /&gt;Silau Raja adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan yang mempunyai empat orang putra, yaitu:       &lt;br /&gt;1. Malau       &lt;br /&gt;2. Manik       &lt;br /&gt;3. Ambarita       &lt;br /&gt;4. Gurning       &lt;br /&gt;TUAN SORIMANGARAJA       &lt;br /&gt;Tuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :       &lt;br /&gt;1. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan.       &lt;br /&gt;2. Si Boru Biding Laut (nai ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan.       &lt;br /&gt;c. Si Boru Sanggul Baomasan (nai suanon).       &lt;br /&gt;Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton.       &lt;br /&gt;Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon.       &lt;br /&gt;Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.       &lt;br /&gt;Nai Ambaton (Tuan Sorba Djulu/Ompu Raja Nabolon)       &lt;br /&gt;Nama (gelar) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya yang bernama Nai Ambaton. Nama sebenarnya adalah Ompu Raja Nabolon, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga Nai Ambaton menurut nama ibu leluhurnya.       &lt;br /&gt;Nai Ambaton mempunyai empat orang putra, yaitu:       &lt;br /&gt;1. Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon.       &lt;br /&gt;2. Tamba Ttua, keturunannya bermarga Tamba.       &lt;br /&gt;3. Saragi Tua, keturunannya bermarga Saragi.       &lt;br /&gt;4. Munte Tua, keturunannya bermarga Munte (Munte, Nai Munte, atau Dalimunte).       &lt;br /&gt;Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku &amp;quot;Tarombo Marga Ni Suku Batak&amp;quot; karangan W. Hutagalung):       &lt;br /&gt;SIMBOLON       &lt;br /&gt;Lahir marga-marga Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Pinayungan. Juga marga-marga Berampu dan Pasi.       &lt;br /&gt;TAMBA       &lt;br /&gt;Lahir marga-marga Siallagan, Tomok, Sidabutar, Sijabat, Gusar, Siadari, Sidabolak, Rumahorbo, Napitu.       &lt;br /&gt;SARAGI       &lt;br /&gt;Lahir marga-marga Simalango, Saing, Simarmata, Nadeak, Sidabungke.       &lt;br /&gt;MUNTE       &lt;br /&gt;Lahir marga-marga Sitanggang, Manihuruk, Sidauruk, Turnip, Sitio, Sigalingging.       &lt;br /&gt;Keterangan lain mengatakan bahwa Nai Ambaton mempunyai dua orang putra, yaitu Simbolon Tua dan Sigalingging. Simbolon Tua mempunyai lima orang putra, yaitu Simbolon, Tamba, Saragi, Munte, dan Nahampun.       &lt;br /&gt;Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluh-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antarsesama marga keturunan Nai Ambaton.       &lt;br /&gt;Catatan mengenai Ompu Bada, menurut buku &amp;quot;Tarombo Marga Ni Suku Batak&amp;quot; karangan W Hutagalung, Ompu Bada tersebut adalah keturunan Nai Ambaton pada sundut kesepuluh.       &lt;br /&gt;Menurut keterangan dari salah seorang keturunan Ompu Bada (mpu bada) bermarga gajah, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut:       &lt;br /&gt;1. Ompu Bada ialah asal-usul dari marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, dan Barasa.       &lt;br /&gt;2. Keenam marga tersebut dinamai Sienemkodin (enem = enam, kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan Empu Bada, pun dinamai Sienemkodin.       &lt;br /&gt;3. Ompu Bada bukan keturunan Nai Ambaton, juga bukan keturunan si raja batak dari Pusuk Buhit.       &lt;br /&gt;4. Lama sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit, Ompu Bada telah ada di tanah dairi. Keturunan Ompu bada merupakan ahli-ahli yang terampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.       &lt;br /&gt;5. Keturunan Ompu Bada menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah dairi dan tapanuli bagian barat.       &lt;br /&gt;NAI RASAON (RAJA MANGARERAK)       &lt;br /&gt;Nama (gelar) putra kedua dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri kedua tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Rasaon. Nama sebenarnya ialah Raja Mangarerak, tetapi hingga sekarang semua keturunan Raja Mangarerak lebih sering dinamai orang Nai Rasaon.       &lt;br /&gt;Raja Mangarerak mempunyai dua orang putra, yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Ada empat marga pokok dari keturunan Raja Mangarerak:       &lt;br /&gt;Raja Mardopang       &lt;br /&gt;Menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga Sitorus, Sirait, dan Butar-butar.       &lt;br /&gt;Raja Mangatur       &lt;br /&gt;Menurut nama putranya, Toga Manurung, lahir marga Manurung. Marga pane adalah marga cabang dari sitorus.       &lt;br /&gt;NAI SUANON (tuan sorbadibanua)       &lt;br /&gt;Nama (gelar) putra ketiga dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri ketiga Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Suanon. Nama sebenarnya ialah Tuan Sorbadibanua, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai Ttuan Sorbadibanua.       &lt;br /&gt;Tuan Sorbadibanua, mempunyai dua orang istri dan memperoleh 8 orang putra.       &lt;br /&gt;Dari istri pertama (putri Sariburaja):       &lt;br /&gt;1. Si Bagot Ni Pohan, keturunannya bermarga Pohan.       &lt;br /&gt;2. Si Paet Tua.       &lt;br /&gt;3. Si Lahi Sabungan, keturunannya bermarga Silalahi.       &lt;br /&gt;4. Si Raja Oloan.       &lt;br /&gt;5. Si Raja Huta Lima.       &lt;br /&gt;Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) :       &lt;br /&gt;a. Si Raja Sumba.       &lt;br /&gt;b. Si Raja Sobu.       &lt;br /&gt;c. Toga Naipospos, keturunannya bermarga Naipospos.       &lt;br /&gt;Keluarga Tuan Sorbadibanua bermukim di Lobu Parserahan - Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, Tuan Sorbadibanua menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata Si Raja huta lima terkena oleh lembing Si Raja Sobu. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh Tuan Sorbadibanua. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang tiga orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki Gunung Dolok Tolong sebelah barat.       &lt;br /&gt;Keturunana Tuan Sorbadibanua berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.       &lt;br /&gt;Keturunan Si Bagot ni pohan melahirkan marga dan marga cabang berikut:       &lt;br /&gt;1. Tampubolon, Barimbing, Silaen.       &lt;br /&gt;2. Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Nasution.       &lt;br /&gt;3. Panjaitan, Siagian, Silitonga, Sianipar, Pardosi.       &lt;br /&gt;4. Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede.       &lt;br /&gt;Keturunan Si Paet Tua melahirkan marga dan marga cabang berikut:       &lt;br /&gt;1. Hutahaean, Hutajulu, Aruan.       &lt;br /&gt;2. Sibarani, Sibuea, Sarumpaet.       &lt;br /&gt;3. Pangaribuan, Hutapea.       &lt;br /&gt;Keturunan si Lahi sabungan melahirkan marga dan marga cabang berikut:       &lt;br /&gt;1. Sihaloho.       &lt;br /&gt;2. Situngkir, Sipangkar, Sipayung.       &lt;br /&gt;3. Sirumasondi, Rumasingap, Depari.       &lt;br /&gt;4. Sidabutar.       &lt;br /&gt;5. Sidabariba, Solia.       &lt;br /&gt;6. Sidebang, Boliala.       &lt;br /&gt;7. Pintubatu, Sigiro.       &lt;br /&gt;8. Tambun (Tambunan), Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, Nadapdap, Pagaraji, Sunge, Baruara, Lumban Pea, Lumban Gaol.       &lt;br /&gt;Keturunan Si Raja Oloan melahirkan marga dan marga cabang berikut:       &lt;br /&gt;1. Naibaho, Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa.       &lt;br /&gt;2. Sihotang, Hasugian, Mataniari, Lingga.       &lt;br /&gt;3. Bangkara.       &lt;br /&gt;4. Sinambela, Dairi.       &lt;br /&gt;5. Sihite, Sileang.       &lt;br /&gt;6. Simanullang.       &lt;br /&gt;Keturunan Si Raja Huta Lima melahirkan marga dan marga cabang berikut:       &lt;br /&gt;1. Maha.       &lt;br /&gt;2. Sambo.       &lt;br /&gt;3. Pardosi, Sembiring Meliala.       &lt;br /&gt;Keturunan Si Raja Sumba melahirkan marga dan marga cabang berikut:       &lt;br /&gt;1. Simamora, Rambe, Purba, Manalu, Debataraja, Girsang, Tambak, Siboro.       &lt;br /&gt;2. Sihombing, Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit, Sitindaon, Binjori.       &lt;br /&gt;Keturunan Si Raja Sobu melahirkan marga dan marga cabang berikut:       &lt;br /&gt;1. Sitompul.       &lt;br /&gt;2. Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Simorangkir, Hutapea, Lumban Tobing, Mismis.       &lt;br /&gt;Keturunan Toga Naipospos melahirkan marga dan marga cabang berikut:       &lt;br /&gt;1. Marbun, Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, Meha, Mungkur, Saraan.       &lt;br /&gt;2. Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang.       &lt;br /&gt;(Marbun marpadan dohot Sihotang, Banjar Nahor tu Manalu, Lumban Batu tu Purba, jala Lumban Gaol tu Debata Raja. Asing sian i, Toga Marbun dohot si Toga Sipaholon marpadan do tong) ima pomparan ni Naipospos, Marbun dohot Sipaholon. Termasuk do marga meha ima anak ni Ompu Toga sian Lumban Gaol Sianggasana.       &lt;br /&gt;***       &lt;br /&gt;&lt;font color="#ffff00"&gt;DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI) &lt;/font&gt;      &lt;br /&gt;Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga).       &lt;br /&gt;Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut:       &lt;br /&gt;&amp;quot;Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;       &lt;br /&gt;Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan&amp;quot;       &lt;br /&gt;artinya:       &lt;br /&gt;&amp;quot;Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput (berakar tunggang);       &lt;br /&gt;Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji&amp;quot;       &lt;br /&gt;Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:       &lt;br /&gt;1. Marbun dengan Sihotang       &lt;br /&gt;2. Panjaitan dengan Manullang       &lt;br /&gt;3. Tampubolon dengan Sitompul.       &lt;br /&gt;4. Sitorus dengan Hutajulu - Hutahaean - Aruan.       &lt;br /&gt;5. Nahampun dengan Situmorang.&lt;/font&gt;     &lt;table cellspacing="3" cellpadding="0" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;       &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Ajartambun&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Harefa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Meha&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saragi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinurat&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Akarbejadi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Harianja&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Meliala&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saragih&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinuraya&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Ambarita&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Haro&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Mendrofa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saributua&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinusinga&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Angkat&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hasibuan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Mismis&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saruksuk&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sipahutar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Aritonang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hasugian&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Muham&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sarumpaet&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sipanggang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Aruan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hulu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Munthe&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Selangit&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sipangkar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Babiat&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hutabagas&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Nababan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sembiring&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sipayung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Babo&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hutabalian&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Nadapdap&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Seribu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sirait&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Baeha&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hutabangun&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Nadeak&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Siadari&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sirandos&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bako&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hutabarat&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Nahampun&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Siagian&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Siregar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bahorok&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hutagalung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Nahulae&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Siahaan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Siringkiron&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bakara&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hutagaol&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Naibaho&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Siallagan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Siringoringo&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Banjarnahor&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hutahaean&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Naiborhu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Siambaton&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sitanggang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Banjarkasi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hutajulu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Nainggolan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Siampapaga&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sitepu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bangkiang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hutapea&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Naipospos&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sianipar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sitindaon&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bangun&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hutasoit&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Nalu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sianturi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sitinjak&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bansin&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hutasuhut&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Namasuro&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sibabiat&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sitio&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Banuarea&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hutaurat&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Namohaji&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sibagariang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Togatorop&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Baringbing&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Hutauruk&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Napitu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sibangebange&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sitohang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Baruara&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Jadibata&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Napitupulu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sibarani&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sitompul&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Barus&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Jambe&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Nasution&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sibayang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sitorus&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Basilan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Jampang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Ndruru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sibero&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Situa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Basirun&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Jawak&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Ompusunggu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Siboro&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Situmeang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Batuara&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Jung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Ongkor&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Siburian&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Situmorang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Batubara&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Jurung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Padang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sibuaton&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Situngkir&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bawo&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kabak&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pakpahan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sibuea&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Solia&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Benjerang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kaban&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pandebayang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sidabalok&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Solin&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Beringin&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kacaribu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pandia&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sidabutar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sormin&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Berampu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kacinambun&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pandiangan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sidabungke&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sugihen&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Berasa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Karokaro&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pane&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sidahapintu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sukatendal&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Berutu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kasilan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pangaribuan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sidari&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Surbakti&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Binjori&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Keliat&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Panggabean&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sidauruk&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Tamba&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bintang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Keling&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Panjaitan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sidebang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Tambak&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Biru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Keloko&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Parapat&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sigalingging&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Tambunan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Boang_Manalu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kembaren&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Parbesi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sigiro&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Tampubolon&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bolahan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kemit&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pardede&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sihaloho&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Takar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Boliala&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Ketaren&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pardosi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sihite&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Tanjung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bondar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kian&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Parhusip&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sihombing&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Tarigan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bondong&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kombara&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Parinduri&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sihole&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Tarihoran&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Brahmana&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kudadiri&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Parmentin&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sihotang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Tegur&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bukit&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Laksa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pasaribu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sijabat&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Tekang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bunuhaji&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lambe&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pase&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Silaban&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Telaumbanua&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Butarbutar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lambosa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pasi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Silaen&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Telun&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bu'ulolo&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Larosa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pelawi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Silalahi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Tendang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Capah&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lase&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pekan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Silali&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Tinambunan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Cambo&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lausan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pencawan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Silitonga&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Tinendung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Cibero&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lembong&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Penggarun&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Silo&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Torong&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Colia&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Limbong&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Peranginangin&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Simaebang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Tumangger&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Daeli&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lingga&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Perbesi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Simalango&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Tumanggor&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Dalimunthe&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lubis&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pinayungan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Simamora&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Turnip&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Damanik&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lumbanbatu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pinem&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Simandalahi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Turutan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Daparik&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lumbangaol&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pintubatu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Simangunsong&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Ujung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Debataraja&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lumbannahor&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pohan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Simanjorang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Ulunjadi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Depari&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lumbanpea&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Porti&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Simanjuntak&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Uwir&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Daransi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lumbanraja&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pulungan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Simanungkalit&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Wuruwu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Dasopang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lumbansiantar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Purba&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Simaremare&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Zai&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Daulay&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lumban_Tobing&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Pusuk&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Simargolang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Zebua&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Doloksaribu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lumbantoruan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Rajagukguk&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Simarmata&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Zega&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Dongoran&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Lumbantungkup&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Rambe&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Simarsoit&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Zendrato&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Gaja&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Maha&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Ramu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Simatupang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Ganagana&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Maharaja&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Rangkuti&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Simbolon&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Garamata&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Malau&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Rea&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Simorangkir&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Gerneng&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Manalu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Rumahorbo&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinabalok&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Gersang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Manihuruk&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Rumapea&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinabutar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Ginting&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Manik&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Rumasingap&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinaga&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Girsang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Mano&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Rumasondi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinambela&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Gorat&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Manullang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sabab&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinamo&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Gulo&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Manurung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sagala&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Singarimbun&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Gultom&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Marbun&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saing&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinubulan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Gurning&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Marpaung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sambo&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinuhaji&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Gurupatih&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Martumpu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Samosir&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinulaki&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Gurusinga&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Masaro&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Samusra&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinulingga&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Habeahan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Matanari&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sapa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinukaban&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Halihi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Matondang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sapiam&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinukapar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td width="18%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Harahap&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="20%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Matung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="21%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saraan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="23%"&gt;           &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sinupayung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;         &lt;/td&gt;          &lt;td width="19%"&gt;&amp;#160;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/06/sejarah-marga-batak.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0UumtLSE_j_yCMIH0ftMx2shPyAyTymLFz-7wCYDnCmln1OGLWZ0ZPrmCvneeXAUsiK1cddLaCFLOYxw8hI2_CMufOhVCs2zPYQl309HtG4XUQ67C48D4D5AMALmca2fYCzIaM_8vbHdt/s72-c?imgmax=800" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-1553419909236853823</guid><pubDate>Thu, 25 Jun 2009 10:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-01T12:28:17.640+07:00</atom:updated><title>Sejarah Asal Mula Nama Daerah Glodok, Kwitang &amp;amp; Menteng, dan Senayan Jakarta</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&amp;#160;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhL1X0seWDe7ubu3ksCeEQcj8-8RGghjLWNgMqsWOAyXjIyUCTR4LtOeAjLNTtMMrPDVxV6MvFFfCVwfThyphenhyphenWY_8UJtMCSqSazwXVEzNwjizrQ3bY6eBgax61aeCYcptLdpnAeLAYhbMnBs/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img title="clip_image001" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" height="112" alt="clip_image001" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjY1A_fz65ocunT2sUa8CFmeS347VfGa6TEnDxxv0wbZXi6e-ciPk8pbeFxoE86TNeEyrZnwk2sdk1_ZqwtsPn39c-ofON34qpSj77x8RligpazTM_YJ1S7NYK_JquGiZnLWgXbQdfoLC3E/?imgmax=800" width="144" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;     &lt;br /&gt;&lt;font size="3"&gt;Kota Jakarta adalah jantung ibukota dari negara Republik Indonesia di mana pusat perekonomian beserta berjuta permasalahannya ada di kota kecil padat penduduk ini. Di balik nama beberapa daerah di Jakarta tersimpan kisah, cerita dan sejarah dari mana nama itu muncul.      &lt;br /&gt;Berikut di bawah ini adalah beberapa asal-muasal nama daerah terkenal       &lt;br /&gt;di DKI Jakarta :       &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;font color="#00ffff" size="3"&gt;A. Glodok:void(0)      &lt;br /&gt;Asalnya dari kata grojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh dari pancuran air. Di tempat itu dahulu kala ada semacam waduk penampungan air kali ciliwung. Orang tionghoa dan keturunan tionghoa menyebut grojok sebagai glodok karena orang tionghoa sulit mengucap kata grojok seperti layaknya orang pribumi.       &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;font color="#ffff00"&gt;B. Kwitang        &lt;br /&gt;Dulu di wilayah tersebut sebagian tanah dikuasai dan dimiliki oleh tuan tanah yang sangat kaya raya sekali bernama Kwik Tang Kiam. Orang Betawi jaman dulu menyebut daerah itu sebagai kampung si kwi tang dan akhirnya lama-lama tempat tersebut dinamai kwitang.&lt;/font&gt;       &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;font color="#80ff80"&gt;C. Senayan        &lt;br /&gt;Dulu daerah senayan adalah milik seseorang yang bernama wangsanaya yang berasal dari Bali. Tanah tersebut disebut orang-orang dengan sebutan wangsanayan yang berarti tanah tempat tinggal atan tanah milik wangsanaya. Lambat laun akhirnya orang menyingkat nama wangsanayan menjadi senayan.&lt;/font&gt;       &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;font color="#ff8000"&gt;D. Menteng        &lt;br /&gt;Daerah Menteng Jakarta Pusat pada zaman dahulu kala merupakan hutan yang banyak pohon buah-buahan. Karena banyak pohon buah menteng orang menyebut wilayah tersebut dengan nama kampung menteng. Setelah tanah itu dibeli oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1912 sebagai lokasi perumahan pegawai pemerintah Hindia Belanda maka daerah itu disebut menteng.         &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;Adalagi....       &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;font color="#00ffff" size="3"&gt;1. Karet Tengsin      &lt;br /&gt;Nama daerah yang kini termasuk kawasan segitiga emas kuningan ini berasal dari nama orang cina yang kaya raya dan baik hati. Orang itu bernama Tan Teng Sien. Karena baik hati dan selalu memberi bantuan kepada orang-orang sekitar kampung, maka Teng Sien cepat dikenal oleh masyarakat sekitar dan selalu menyebut daerah itu sebagai daerah Teng Sien. Karena pada waktu itu banyak pohon karet, maka daerah itu dikenal dengan nama Karet Tengsin.       &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;font color="#8000ff" size="3"&gt;2. Kebayoran      &lt;br /&gt;Kebayoran berasal dari kata kebayuran, yang artinya &amp;quot;tempat penimbunan kayu bayur&amp;quot;. Kayu bayur yang sangat baik untuk dijadikan kayu bangunan karena kekuatanya serta tahan terhadap rayap.       &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;font color="#00ff40"&gt;3. Lebak Bulus        &lt;br /&gt;Daerah yang terkenal dengan stadion dan terminalnya diambil dari kata &amp;quot;lebak&amp;quot; yang artinya lembah dan &amp;quot;bulus&amp;quot; yang berarti kura-kura. Jadi lebak bulus dapat disamakan dengan lembah kura-kura. Kawasan ini memang kontur tanahnya tidak rata seperti lembah dan di kali Grogol dan kali Pesanggrahan-dua kali yang mengalir di daerah tersebut-memang terdapat banyak sekali kura-kura alias bulus.&lt;/font&gt;       &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;font color="#ffff00" size="3"&gt;4. Kebagusan      &lt;br /&gt;Nama kebagusan-daerah yang menjadi tempat hunian mantan presiden megawati-berasal dari nama seorang gadis jelita, Tubagus Letak Lenang.       &lt;br /&gt;Konon, kecantikan gadis keturunan kesultanan banten ini membuat banyak pemuda ingin meminangnya. Agar tidak mengecewakan hati pemuda itu, ia akhirnya memilih bunuh diri. Sampai sekarang makam itu masih ada dan dikenal dengan nama ibu Bagus.       &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;font color="#ff8080" size="3"&gt;5. Ragunan      &lt;br /&gt;Berasal dari Wiraguna, yaitu gelaran yang di sandang tuan tanah pertama kawasan tersebut berna Hendrik Lucaasz Cardeel, yang diperolhnya dari sultan banten Abunasar Abdul Qahar, putra Sultan Ageng Tirtayasa.       &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;font color="#0000ff"&gt;6. Pasar Rumput        &lt;br /&gt;Dulu, tempat ini merupakan tempat berkumpulnya para pedagang pribumi yang menjual rumput. Para pedagang rumput terpaksa mangkal dilokasi ini karena mereka tidak diperbolehkan masuk ke permukiman elit menteng. Saat itu, sado adalah sarana transportasi bagi orang-orang kaya sehingga hampir sebagian besar penduduk menteng memelihara kuda.         &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;7. Paal Meriam       &lt;br /&gt;Asal usul nama daerah yang berada diperempatan Matraman dengan jatinegara ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang terjadi sekitar tahun 1813. Pada waktu itu pasukan artileri meriam inggris yang akan menyerang batavia, mengambil daerah itu untuk meletakan meriam yang sudah siap ditembakan. Peristiwa tersebut sangat       &lt;br /&gt;mengesankan bagi masyarakay sekitar dan menyebut nama daerah ini paal meriam (tempat meriam disiapkan)       &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;font color="#80ff00"&gt;8. Cawang        &lt;br /&gt;Dulu, ketika belanda berkuasa, ada seorang letnan melayu yang mengabdi pada kompeni, bernama Ende Awang. Letnan ini bersama anak buahnya bermukim di kawasan yang tak jauh dari jatinegara. Lama kelamaan sebutan Ence Awang berubah menjadi Cawang.&lt;/font&gt;       &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;font color="#0080ff" size="3"&gt;9. Pondok Gede      &lt;br /&gt;Sekitar Tahun1775, Lokasi ini merupakan lahan pertanian dan peternakan yang disebut dengan onderneming. Di sana terdapat sebuah rumah yang sangat besar milik tuan tanah yang bernama Johannes Hoojiman. Karena merupakan satu-satunya bangunan besar yang ada dilokasi tersebut, bangunan itu sangat terkenal. Masyarakat pribumi pun menjulukinya &amp;quot;Pondok Gede&amp;quot;       &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;font color="#ffff00"&gt;10. Condet Batu Ampar dan Balekambang        &lt;br /&gt;Pada jaman dahulu ada sepasang suami istri, namanya pangeran geger dan nyai polong, memiliki beberapa orang anak. Salah satu anaknya, perempuan, di beri nama Siti Maemunah, terkenal sangat cantik.         &lt;br /&gt;Pangeran Astawana, anak pangeran Tenggara atau Tonggara asal makassar pun tertarik melamarnya.         &lt;br /&gt;Siti Maemunah meminta dibangunkan sebuah rumah dan tempat peristirahatan diatas empang, dekat kali ciliwung, yang harus selesai dalam satu malam. Permintaan itu disanggupi dan menurut legenda, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale disebuah empang dipinggir kali ciliwung. Untuk menghubungkan rumah itu dengan kediaman keluarga pangeran tenggara , dibuat jalan yang diampari (dilapisi) Batu.         &lt;br /&gt;Demikian menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu itu selanjutnya disebut batu ampar, dan bale (balai) peristirahatan yang seolah-olah mengambang di atas air itu di sebut Balekambang.         &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;Buncit : dulunya di jalan buncit raya sekarang ada pedagang kelontong China berperut gendut (Buncit) yg terkenal.       &lt;br /&gt;Bangka : dulunya disana banyak ditemukan mayat (bangke/bangkai) orang yg dibuang di kali krukut.       &lt;br /&gt;Cilandak : konon di sana pernah ditemukan seekor landak raksasa       &lt;br /&gt;Tegal Parang : di sana banyak ditemukan alang2 tinggi (tegalan) yg dipotong dgn parang(golok).       &lt;br /&gt;Blok A/M/S : dulunya sekitar situ tempat pembukaan perumahan baru yg ditandai dgn blok, mulai A-S. Sayang yg tersisa tinggal 3 blok doang.&amp;#160; &lt;br /&gt;Kampung Ambon       &lt;br /&gt;Berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur, nama Kampung Ambon sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP Coen sebagai Gubernur Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang dengan Inggris.       &lt;br /&gt;Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon lalu merekrut masyarakat Ambon untuk dijadikan tentara. Pasukan dari Ambon yang dibawa Coen itu kemudian diberikan pemukiman di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Sejak itulah pemukiman tersebut dinamakan Kampung Ambon.       &lt;br /&gt;Sunda Kelapa.       &lt;br /&gt;Sunda Kelapa merupakan sebutan sebuah pelabuhan di teluk Jakarta. Nama kelapa diambil dari berita yang terdapat dalam tulisan perjalanan Tome Pires pada tahun 1513 yang berjudul Suma Oriental. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa nama pelabuhan itu adalah Kelapa. Karena pada waktu itu wilayah ini berada di bawah       &lt;br /&gt;kekuasaan kerajaan Sunda maka kemudian pelabuhan ini disebut Sunda Kelapa.       &lt;br /&gt;Pondok Gede.       &lt;br /&gt;Sekitar tahun 1775 daerah Pondok Gede merupakan lahan pertanian dan peternakan yang disebut onderneming. Di daerah pertanian dan peternakan milik tuan tanah bernama Johannes Hoojman yang kaya raya itu terdapat sebuah Landhuis, atau rumah besar tempat tinggal dan sekaligus tempat pengurus usaha pertanian dan       &lt;br /&gt;peternakan. Karena besarnya bangunan Landhuis itu, masyarakat pribumi sering menyebutnya Pondok Gede.       &lt;br /&gt;Pasar Senen.       &lt;br /&gt;Pasar Senen pertama kali dibangun oleh Justinus Vinck. Orang-orang Belanda menyebut pasar ini dengan sebutan Vinckpasser (pasar Vinck). Tetapi karena hari pada awalnya Vinckpasser dibuka hanya pada hari Senin, maka pasar itu disebut juga Pasar Senen (disesuaikan dengan kebiasaan orang-orang yang lebih sering menyebut       &lt;br /&gt;Senen ketimbang Senin). Namun seiring kemajuan dan pasar Senen semakin ramai, maka sejak tahun l766 pasar ini pun buka pada hari-hari lain.       &lt;br /&gt;Taman Anggrek berawal dr keinginan bu Tien untuk mengambil kebon anggrek milik juragan tanah sunda bernama Rasman, yg di kenal orang2 sekitar dengan nama H.Rasman karna dia memiliki tanah ber-hektar2 di Cipete. Jadi bu Tien mengambil bunga2 anggrek tersebut dgn niat membeli (tapi namun tidak di bayar) yg akhirnya di pindahkan ke daerah jakarta barat situh yg skrg jd Mall Taman Anggrek.       &lt;br /&gt;Kemudian di pindahkhan lagi ke yg skrg smua orang ketahui ada di Taman Mini Indonesia Indah.       &lt;br /&gt;Walopun bunga2 anggreknya dah gak ada, namun Jl Kebon Anggrek masih ada jg sampe skrg. Lokasinya di cipete (sbrang SMA Cendrawasih)       &lt;br /&gt;&lt;font color="#0000ff"&gt;Grogol.        &lt;br /&gt;Grogol berasal dari bahasa Sunda (g a r o g o l) yang artinya perangkap terdiri dari tombak-tombak yang digunakan untuk menangkap hewan liar yang banyak terdapat di hutan. Nama Garogol dipasang sebagai nama sebuah desa di Limo Depok.         &lt;br /&gt;Dahulu kawasan ini memang masih hutan liwang-liwung yang kata pak dalang &amp;quot;jalma mara-jalma mati&amp;quot; alias menyeramkan. Sudah barang tentu di kawasan ini banyak terdapat hewan liar dan buas sehingga penduduk setempat memburunya dengan memasang perangkap (garogol). Hewan yang masuk ke perangkap mirip ciptaan &amp;quot;geek&amp;quot; alias soldadu Vietnam dijamin akan mati tertembus ujung tombak yang menganga didasar lubang. Tapi belum jelas apakah jaman dulu ada keresahan masyarakat bahwa kambing mereka pada tewas karena darahnya dihisap oleh &amp;quot;mahluk misterius&amp;quot; yang sekarang kian marak di Depok.         &lt;br /&gt;Konsekwensinya kali yang melewati desa ini juga dinamai kali Garogol. Penduduk Betawi yang main gampang saja, setiap ada desa dilalui kali ini langsung di beri stempel desa Grogol, kampung Grogol.         &lt;br /&gt;Repotnya pada peta keluaran tahun 1903, ada kampung bernama Grogol di kawasan Pal Merah. Dari Pal Merah, kali Grogol meliwati Taman Anggrek untuk menuju ke kawasan Pluit (jalan Latumeten) dan tiba pada satu daerah yang kini disebut Grogol- Negeri Tanah Tumpah Darah Anak Beta.         &lt;br /&gt;Kalau yang memberi nama orang jaman sekarang bisa-bisa namanya &amp;quot;Grogol         &lt;br /&gt;Perjuangan.&amp;quot;         &lt;br /&gt;Pada 1928, sebagian Kali Grogol diuruk oleh Kumpeni. Pasalnya volume air yang mengalir di banding kapasitas kali sering tidak memadai. Dan ini bisa mengancam kehidupan kastil sehingga harus dialirkan keluar kawasan kastil.         &lt;br /&gt;Pada 1950-an kawasan Grogol menjadi populer. Karena tercatat terlanggar banjir bandang yang merendam kelurahan ini. Untuk pengendalian banjir di bangun pula waduk Grogol yang letaknya di jalan dr. Semeru (Sumeru) sekarang ini. Di tengah waduk ada air muncrat yang memang agak indah tetapi meresahkan masyarakat. Pasalnya air yang muncrat tadi kualitasnya kurang bagus sering ketika butiran air yang         &lt;br /&gt;menjulang tinggi lalu di tiup angin pantai, maka banyak baju penduduk yang sedang dijemur tiba-tiba saja diberi tambahan noda kuning dan berbau got. Bertepatan dengan alat pompa yang sering ngadat, maka pemandangan air muncrat sudah nyaris tidak dipertunjukkan.         &lt;br /&gt;Soal nama jalan juga unik. Nama jalan disini mengambil nama pahlawan seperti Latumeten, Sumeru, Mawardi, Susilo. Semeru adalah nama dari Dokter Sumeru salah satu tokoh pejuang bangsa Indonesia, disamping nama Dokter Mawardi, Dr. Susilo. Lalu lidah Jawa mulai mengubahnya menjadi Semeru dan seperti keahlian bangsa ini, nama inipun di utak-atik lagi sehingga menjadi suatu statement bahwa S(u)meru adalah nama Gunung. Nama dokter Mawardi cuma kepleset sedikit menjadi dr.         &lt;br /&gt;Muwardi.         &lt;br /&gt;Banyak surat pos datang kepada saya dengan alamat Jalan Gunung Semeru, Grogol (dulu). Untung saja pak pos paham akan kesalahan dimana lokasi daerah dengan Kode Pos 11400 (ini pentingnya menulis Kode Pos dalam setiap surat, kalau terjadi kebingungan nama bisa merujuk ke kode pos).         &lt;br /&gt;Tahun 1960, Grogol menjadi ngetop lagi sekalipun rada minir, sebab disana di bangun Rumah Sakit Jiwa sehingga konotasi &amp;quot;dasar Orang Grogol&amp;quot; sering berarti orang yang kurang satu strip lantaran kabel hijau (masa) di otaknya ada yang lepas.         &lt;br /&gt;Pada 1970, nama Grogol kembali menjadi buah bibir pembicaraan orang karena dibangun Terminal Bis yang besar di sana. Belakangan terminal yang sangat ramai ini di pindahkan ke KaliDeres yang bisnya sering menyingkat plang trayek sebagai &amp;quot;X-deres&amp;quot;. Sekali tempo ada orang mendapat kecelakaan dijalan raya sehingga napasnya sudah tinggal satu-satu saat dibawa ke RS Sumber Waras. Karena tidak ada keluarga yang menunggunya, seorang suster membisikkan kata &amp;quot;nyebut Bang&amp;quot; -         &lt;br /&gt;sebuah tradisi untuk melafalkan nama Tuhan ketika seseorang dalam keadaan koma. Si abang nampaknya mengerti, mulutnya lirih menyebut sesuatu sebelum meninggal &amp;quot;g a r o g o l, g a r o g o l&amp;quot; - Kernet bis rupanya dia.         &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;Utan Kayu       &lt;br /&gt;dulunya memang berbentuk hutan disamping basis prajurit Mataram mau menyerang Batavia. Hutan ini sumber kayu dari perumahan-perumahan maupun perkampungan para pengepung batavia maupun benteng belanda jaman dulu. Saking lebatnya hutan ini yang disertai rawa-rawa kemudian saat pembangunan daerah ini, mulai disebut Hutan Kayu yang kemudian dipersingkat menjadi Utan Kayu. Sisa kejayaan dari hutan ini masih dirasakan hingga saat ini dimana kawasan ini masih cukup hijau dan       &lt;br /&gt;sejuk meski bukan termasuk dalam kawasan mewah seperti halnya Menteng.       &lt;br /&gt;Rawamangun       &lt;br /&gt;Melanjutkan cerita mengenai Utan Kayu, hutan yang sangat lebat disertai yang didalamnya terdapat banyak rawa-rawa yang kemudian setelah masa perang dengan mataram selesai dan perluasan kota batavia, mulai diterabas untuk pembangunan wilayah perumahan. Struktur tanah yang sifatnya rawa-rawa asalnya, membuat banyak pembangunan yang menggunakan pondasi ekstra dalam untuk wilayah ini, dan seperti halnya sifat rawa-rawa yang selalu berada ditengah hutan dan mirip halnya       &lt;br /&gt;daerah Utan Kayu, Rawamangun juga masih relatif lebih hijau.       &lt;br /&gt;Hek       &lt;br /&gt;Tempat yang terletak antara Kantor Kecamatan Kramatjati dan kantor Polisi Resor Kramatjati, sekitar persimpangan dari jalan Raya Bogor ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terus ke Pondokgede, dikenal dengan nama Hek.       &lt;br /&gt;Rupanya, nama tersebut berasal dari bahasa Belanda. Menurut Kamus Umum Bahasa Belanda â€“ Indonesia (Wojowasito 1978:269), kata hek berarti pagar. Tetapi menurut Verklarend Handwoordenboek der Nederlandse Taal (Koenen- Endpols, 1946:388), kata hek dapat juga berarti pintu pagar (&amp;quot;..raam-of traliewerkâ€¦&amp;quot;). Dari seorang penduduk setempat yang sudah berumur lanjut, diperoleh keterangan, bahwa di tempat itu dahulu memang ada pintu pagar, terbuat dari kayu bulat, ujung â€“ ujungnya       &lt;br /&gt;diruncingkan, berengsel besi besar â€“ besar, bercat hitam. Pintu itu digunakan sebagai jalan keluar â€“ masuk kompleks peternakan sapi, yang sekelilingnya berpagar kayu bulat. Kompleks peternakan sapi itu dewasa ini menjadi kompleks Pemadam Kebakaran dan Kompleks polisi Resort Keramatjati. Sampai tahun tujuh puluhan kompleks tersebut masih biasa disebut budreh, ucapan penduduk umum untuk kata boerderij, yang berarti kompleks pertanian dan atau peternakan.       &lt;br /&gt;Kompleks peternakan tersebut merupakan salah satu bagian dari Tanah Partikelir Tanjoeng Oost, yang pada masa sebelum Perang Dunia Kedua terkenal akan hasil peternakannya, terutama susu segar untuk konsumsi orang â€“ orang Belanda di Batavia. (Sumber: De Haan 1935: Van Diesen 1989).       &lt;br /&gt;Jalan Cengkeh       &lt;br /&gt;Jalan Cengkeh terletak di Kota Tua Jakarta sebelah utara Kantor Pos, di samping sebelah timur Pasar Pisang.       &lt;br /&gt;Dahulu jaman penjajahan Belanda, Jalan itu bernama Princenstraat, tetapi umum juga disebut Jalan Batutumbuh, mungkin karena disana terdapat batu bertulis. Kawasan sekitar batu prasasti Purnawarman, di Tugu juga biasa disebut Kampung Batutumbuh.       &lt;br /&gt;Pada tahun 1918, di dekat tikungan Jalan Cengkeh ke Jalan Kalibesar Timur, yang waktu itu bernama Groenestraat, ditemukan batu bertulis peninggalan orang â€“ orang Portugis, yang biasa disebut padrao. Padrao itu dipancangkan oleh orang â€“ orang Portugis, menandai tempat akan dibangun sebuah benteng, sesuai dengan perjanjian yang dibuat antara Raja Sunda dengan perutusan Portugis yang dipimpin oleh Henriquez de Lemme, yang menurut Sukamto ditandatangani pada tanggal 21 Agustus       &lt;br /&gt;1522. Batu bertulis itu diberi ukiran berupa lencana. Raja Immanuel. Rupanya de Leme beserta rombongannya belum mengetahui bahwa raja Portugal tersebut telah meninggal tanggal 31 Desember 1521.       &lt;br /&gt;Dalam perjanjian tersebut disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barangâ€“barang keperluan yang diminta oleh pihak Sunda. Mulai saat benteng dibangun pihak Sunda akan menyerahkan 1.000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan barang â€“ barang yang dibutuhkan (Sumber:Hageman 1867: Soekamto 1956: Danasasmita 1983)       &lt;br /&gt;Japat       &lt;br /&gt;Japat terletak di sebelah tenggara Pelabuhan Sunda Kalapa, termasuk wilayah kelurahan Ancol Utara, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.       &lt;br /&gt;Nama kawasan tersebut berasal dari kata jaagpad. Ada yang mengatakan, kata jaagpad berarti &amp;quot;Jalan setapak yang biasa digunakan untuk berburu&amp;quot; . Katanya jaag, dari jagen, artinya &amp;quot;berburu&amp;quot; Pad, artinya &amp;quot;jalan setapak&amp;quot; padahal, kata jaagpad tidak ada sangkut pautnya dengan berburu, melainkan sebuah istilah dalam pelayaran perahu. Pada alur sungai atau terusan yang dangkal, perahu yang melaluinya baru dapat bergerak maju, kalo ditarik. Pada jaman Kompeni Belanda, bahkan       &lt;br /&gt;beberapa dasawarsa sebelum pelabuhan Tanjungpriuk dibuat, kapalâ€“kapal (layar) yang cukup besar bila berlabuh dipelabuhan Batavia, yang sekarang menjadi Pelabuhan Sunda Kalapa, tidak merapat seperti sekarang, melainkan biasa membuang sauh masih jauh dilaut lepas.       &lt;br /&gt;Pengangkutan orang dan barang dari kapal biasa dilakukan dengan perahu. Untuk mempermudah pendaratan, di sebelah rimur Pelabuhan Sunda Kalapa sekarang dibuat terusan khusus untuk perahu â€“ perahu pendarat.       &lt;br /&gt;Terutama di musim hujan, terusan tersebut biasa menjadi dangkal, dipenuhi lumpur dari darat bercampur pasir dari laut sehingga perahu kecil pun sulit melewatinya. Apalagi perahu besar, berlunas lebar, sarat muatan, agar bisa bergerak maju harus dihela beberapa kuda atau sejumlah orang yang berjalan di depan perahu, sebelah kiri dan kanan terusan.       &lt;br /&gt;Terusan tersebut diuruk pada abad ke- 19, sehingga sekarang sulit untuk melacaknya. Yang tersisa hanya sebutannya jaagpad yang berubah menjadi japat, sebagai nama dari kawasan tersebut.       &lt;br /&gt;Jatinegara       &lt;br /&gt;Jatinegara dewasa ini menjadi nama sebuah Kecamatan. Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur, salah satu pusat Kota Jakarta yang multipusat itu.       &lt;br /&gt;Nama Jatinehara baru muncul pada kawasan tersebut, sejak tahun 1942, yaitu pada awal masa pemerintahan pendudukan balatentara Jepang di Indonesia, sebagai pengganti nama Meester Cornelis yang berbau Belanda.       &lt;br /&gt;Sebutan Meester Cornelis mulai muncul ke pentas sejarah Kota Jakarta pada pertengahan abad ke-17, dengan diberikannya izin pembukaan hutan dikawasan itu kepada Cornelis Senen adalah seorang guru agama Kristen, berasal dari Lontor, pulau Banda. Setelah tanah tumpah â€“ darahnya dikuasai sepenuhnya oleh kompeni, pada tahun 1621 Senen mulai bermukim di Batavia, ditempatkan di kampung Bandan. Dengan tekun ia mempelajari agama Kristen sehingga kemudian mampu mengajarkannya kepada kaum sesukunya. Dia dikenal mampu berkhotbah baik dalam bahasa Melayu maupun dalam bahasa Portugis (kreol) Sebagai guru, ia biasa dipanggil       &lt;br /&gt;mester, yang berarti &amp;quot;tuan guru&amp;quot;. Hutan yang dibukanya juga dikenal dengan sebutan Mester Cornelis, yang oleh orang â€“ orang pribumi biasa disingkat menjadi Mester. Bahkan sampai dewasa ini nama itu nampaknya masih umum digunakan oleh penduduk Jakarta, termasuk oleh para pengemudi angkot (angkutan kota).       &lt;br /&gt;Kawasan hutan yang dibuka oleh Mester Cornelis Senen itu lambat laun berkembang menjadi satelit Kota Batavia. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah oleh Pemerintah Hindia Belanda dibentuklah Pemerintahan Gemeente (kotapraja) Meester Cornelis, bersamaan dengan dibentuknya Gemeente Batavia. Kemudian, mulai tanggal 1 Januari 1936 Gemeente Meester Cornelis digabungkan dengan Gemeente Batavia.       &lt;br /&gt;Disamping kedudukannya sebagai gemeente, pada tahun 1924 Meester Cornelis dijadikan nama kabupaten, Kabupaten Meester Cornelis, yang terbagi menjadi 4 kewedanaan, yaitu Kewedanaan Meester Cornelis, Kebayoran, Bekasi, dan Cikarang (Kolonial Tidschrifft, Maart 1933:1).       &lt;br /&gt;Pada jaman Jepang pemerintah pendudukan jepang, nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara, bersetatus sebagai sebuah Siku, setingkat kewedanaan, bersama â€“ sama dengan Penjaringan, Manggabesar, Tanjungpriuk, Tanahabang, Gambir, dan Pasar Senen.       &lt;br /&gt;Ketika secara administrative Jakarta ditetapkan sebagai Kotapraja Jakarta Raya, Jatinegara tidak lagi menjadi kewedanaan, karena kewedanaan dipindahkan ke Matraman, dengan sebutan Kewedanaan Matraman. Jatinegara menjadi salah satu wilayah Kecamatan Pulogadung, Kewedanaan Matraman (The Liang Gie 1958:144)       &lt;br /&gt;Jatinegara Kaum       &lt;br /&gt;Jatinegara Kaum dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung, Kotamadya Jakarta Timur. Disebut Jatinegara Kaum, karena di sana terdapat kaum, dalam hal ini rupanya kata kaum diambil dari bahasa Sunda, yang berarti &amp;quot;tempat tinggal penghulu agama beserta bawahannya&amp;quot; (Satjadibrata, 1949:149).       &lt;br /&gt;Sampai tahun tigapuluh abad yang lalu, penduduk Jatinegara Kaum umumnya berbahasa Sunda (Tideman 1933:10).       &lt;br /&gt;Dahulu Jatinegara Kaum merupakan bagian dari kawasan Jatinegara yang meliputi hamper seluruh wilayah Kecamatan Pulogadung sekarang. Bahkan di wilayah Kecamatan Cakung sekarang, terdapat sebuah kelurahan yang bernama Jatinegara, yaitu Kelurahan Jatinegara.       &lt;br /&gt;Dari mana asal nama Jatinegara serta kapan kawasan tersebut bernama demikian, belum dapat dinyatakan dengan pasti. Yang jelas nama kawasan tersebut baru disebut â€“ sebut pada tahun 1665 dalam catatan harian (Dagh Register) Kastil Batavia, waktu diserahkan kepada Pangeran Purbaya beserta para pengikutnya. Pangeran Purbaya adalah salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Banten yang digulingkan       &lt;br /&gt;dari tahtanya oleh putranya sendiri, Sultan Haji, dengan bantuan kompeni Belanda pada tahun 1682. Setelah tertawan, Pangeran Purbaya beserta saudara â€“ saudaranya yang lain, seperti Pangeran Sake dan Pangeran Sangiang, ditempatkan di dalam benteng Batavia. Kemudian, ditugaskan untuk memimpin para pengikutnya, yang ditempatkan dibeberapa tempat, seperti Kebantenan, Jatinegara, Cikeas, Citeurep,       &lt;br /&gt;Ciluwar, dan Cikalong.       &lt;br /&gt;Orang â€“ orang Banten yang bermukim di Jatinegara, awalnya dipimpin oleh Pangeran Sangiang. Karena dianggap terlibat dalam pemberontakan Kapten Jonker, kekuasaan Pangeran Sangiang di Jatinegara ditarik kembali, dan pada tahun 1680 diserahkan kepada Kiai Aria Surawinata, mantan bupati Sampora, kesultanan Banten (T.B.G. XXX:138) yang setelah menyerah kepada kompeni diangkat menjadi Letnan, di bawah Pangeran Sangiang. Sampai tahun 1689.Surawinata masih bermukim di Luarbatang .       &lt;br /&gt;Setelah Kiai Aria Surawinata wafat, berdasarkan putusan Pimpinan Kompeni Belanda di Batavia tertanggal 27 Oktober 1699, sebagai penggantinya adalah putranya, Mas Muhammad yang Panca wafat, sebagai penggantinya ditunjuk salah seorang putranya, Mas Ahmad. Pada waktu para bupati Kompeni diwajibkan untuk menanam kopi di wilayahnya masingâ€“masing, penyerahan hasil pertanian itu dari tahun 1721 sampai dengan tahun 1723. tercatat atas nama Mas Panca. Baru pada tahun 1724 tercatat atas nama Mas Ahmad. Pada tahun 1740 rupanya Mas Ahmad masih menjadi bupati Jatinegara atas nama Mas Ahmad berjumlah 2.372,5 pikul, kurang lebih 14.650 kg.       &lt;br /&gt;Kebantenan       &lt;br /&gt;Kawasan Kebantenan, atau kebantenan, dewasa ini termasuk wilayah Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara.       &lt;br /&gt;Dikenal dengan sebutan Kebantenan, karena kawasan itu sejak tahun 1685 dijadikan salah satu tempat pemukiman orang â€“ orang Banten, dibawah pimpinan Pangeran Purbaya, salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa. Tentang keberadaan orang â€“ orang Banten dikawasan tersebut, sekilas dapat diterangkan sebagai berikut.       &lt;br /&gt;Setelah Sultan Haji (Abu Nasir Abdul Qohar) mendapat bantuan kompeni yang antara lain melibatkan Kapten Jonker, Sultan Ageng Tirtayasa terdesak, sampai terpaksa meninggalkan Banten, bersama keluarga dan abdiâ€“abdinya yang masih setia kepadanya. Mereka berpencar, tetapi kemudian terpaksa mereka menyerahkan diri, Sultan Ageng di sekitar Ciampea, Pangeran Purbaya di Cikalong kepada Letnan Untung (Untung Surapati).       &lt;br /&gt;Di Batavia awalnya mereka ditempatkan didalam lingkungan benteng. Kemudian Pangeran Purbaya beserta keluarga dan abdiâ€“abdinya diberi tempat pemukiman, yaitu di Kebantenan, Jatinegara, Condet, Citeureup, dan Cikalong.       &lt;br /&gt;Karena dituduh terlibat dalam gerakan Kapten Jonker, Pangeran Purbaya dan adiknya. Pangeran Sake, pada tanggal 4 Mei 1716 diberangkatkan ke Srilangka, sebagai orang buangan. Baru pada tahun 1730 kedua kakak beradik itu diizinkan kembali ke Batavia. Pangeran Purbaya meninggal dunia di Batavia tanggal 18 Maret 1732.       &lt;br /&gt;Perlu dikemukakan, bahwa disamping Kabantenan di Jakarta Utara itu, ada pula Kabantenan yang terletak antara Cikeas dengan Kali Sunter, sebelah tenggara Jatinegara, atau sebelah barat daya Kota Bekasi. Disalah satu rumah tempat kediaman Pangeran Purbaya yang berada di barat daya Bekasi itu ditemukan lima buah prasasti berhuruf Sunda kuno, peninggalan jaman kerajaan Sunda, yang ternyata dapat sedikit membuka tabir kegelapan sejarah Jawa Barat.       &lt;br /&gt;Kampung Ambon       &lt;br /&gt;Merupakan penyebutan nama tempat yang ada di Rawamangun, Jakarta Timur. Nama ini sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP. Coen sebagai Gubernur Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon mencari bantuan dengan menambah pasukan dari masyarakat Ambon. Pasukan Ambon yang dibawa Coen dimukimkan orang Ambon itu lalu kita kenal sebagai kampung Ambon, terletak di daerah Rawamangun, Jakarta Timur.       &lt;br /&gt;Kampung Bali       &lt;br /&gt;Di wilayah Propinsi DKI Jakarta terdapat beberapa kampung yang menyandang nama Kampung Bali, karena pada abad ketujuhbelas atau kedelapanbelas dijadikan pemukiman orangâ€“orang Bali, yang masingâ€“masing dipimpin kelompok etnisnya. Untuk membedakan satu sama lainnya, dewasa ini biasa dilengkapi dengan nama kawasan tertentu yang berdekatan, yang cukup banyak dikenal. Seperti Kampung Bali dekat Jatinegara yang dulu bernama Meester Corornelis, disebut Balimester,       &lt;br /&gt;Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur.       &lt;br /&gt;Balimester tercatat sebagai perkampungan orangâ€“orang Bali sejak tahun 1667.       &lt;br /&gt;Kampung Bali Krukut, terletak di sebelah barat Jalan Gajahmada sekarang yang dahulu bernama Molenvliet West. Di sebelah selatan, perkampungan itu berbatasan dengan tanah milik Gubernur Reineir de Klerk (1777 â€“ 1780), dimana dibangun sebuah gedung peristirahatan, yang dewasa ini dijadikan Gedung Arsip Nasional.       &lt;br /&gt;Kampung Bali Angke sekarang menjadi kelurahan Angke, Kecamatan Tambora Jakarta Barat. Disana terdapat sebuah masjid tua, yang menurut prasasti yang terdapat di dalamnya, dibangun pada 25 Sya'ban 1174 atau 2 April 1761. Dihalaman depan masjid itu terdapat kuburan antara lain makam Pangeran Syarif Hamid dari Pontianak yang riwayat hidupnya ditulis di Koran Javabode tanggal 17 Juli 1858. Dewasa ini mesjid tersebut biasa disebut Masjid Al- Anwar atau Masjid Angke.       &lt;br /&gt;Pada tahun 1709 di kawasan itu mulai pula bermukim orang â€“ orang Bali di bawah pimpinan Gusti Ketut Badulu, yang pemukimannya berseberangan dengan pemukiman orang â€“ orang Bugis di sebelah utara Bacherachtsgrach, atau Jalan Pangeran Tubagus Angke sekarang.       &lt;br /&gt;Perkumpulan itu dahulu dikenal dengan sebutan Kampung Gusti (Bahan: De Haan 1935,(I), (II):Van Diesen 1989).       &lt;br /&gt;Kampung Bandan       &lt;br /&gt;Merupakan penyebutan nama Kampung yang berada dekat pelabuhan Sunda Kelapa atau masih dalam Kawasan Kota Lama Jakarta (Batavia) Berdasarkan informasi yang dapat dikumpulkan terdapat beberapa versi asalâ€“usul nama Kampung Bandan.       &lt;br /&gt;1-Bandan berasal dari kata Banda yang berarti nama pulau yang ada di daerah Maluku. Kemungkinan besar pada masa lalu (periode kota Batavia) daerah ini pernah dihuni oleh masyarakat yang berasal dari Banda. Penyebutan ini sangatlah lazim karena untuk kasus lain ada kemiripannya, seperti penyebutan nama kampung Cina disebut Pecinan.       &lt;br /&gt;Tempat memungut pajak atau cukai (bea) disebut Pabean dan Pekojan sebagai perkampungan orang Koja (arab), dan lain â€“ lain.       &lt;br /&gt;2-Banda berasal dari kata Banda ( bahasa Jawa) yang berarti ikatan Kata Banda dengan tambahan awalan di (dibanda) mempunyai arti pasif yaitu diikat. Hal ini dapat dihubungkan dengan adanya peristiwa yang sering dilihat masyarakat pada periode Jepang, yaitu pasukan Jepang membawa pemberontak dengan tangan terikat melewati kampung ini menuju Ancol untuk dilakukan eksekusi bagi pemberontak tersebut.       &lt;br /&gt;3-Banda merupakan perubahan ucapan dari kataPandan. Pada masa lalu di kampung ini banyak tumbuh pohon, sehingga masyarakat menyebutnya dengan nama Kampung Pandan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/06/sejarah-asal-mula-nama-daerah-glodok.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjY1A_fz65ocunT2sUa8CFmeS347VfGa6TEnDxxv0wbZXi6e-ciPk8pbeFxoE86TNeEyrZnwk2sdk1_ZqwtsPn39c-ofON34qpSj77x8RligpazTM_YJ1S7NYK_JquGiZnLWgXbQdfoLC3E/s72-c?imgmax=800" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-1679150241927629155</guid><pubDate>Tue, 23 Jun 2009 08:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-23T15:39:54.695+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hukum</category><title>Yurisprudensi</title><description>&lt;p align="center"&gt;&lt;font size="3"&gt;Yang dimaksud Yurisprudensi adalah ajaran hukum atau doktrin yang dimuat dalam putusan pengadilan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;font size="3"&gt;Yurisprudensi atau putusan pengadilan merupakan suatu produk yudikatif,yang mengandung kaedah atau peraturan hukum yang bersifat mengikat pihak-pihak yang bersangkutan atau terhukum. Jadi dengan kata lain,putusan pengadilan mengikat orang-orang tertentu saja dan tidak mengikat setiap orang secara umum seperti undang-undang.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;font size="3"&gt;Putusan pengadilan adalah hukum sejak dijatuhkan sampai dilaksanakan. Sejak dijatuhkan putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap yang mengikat bagi para pihak yang berperkara,mengikat para pihak untuk mengakui eksistensi putusan tersebut. Putusan pengadilan mempunyai kekuatan berlaku untuk dilaksanakan sejak putusan itu memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Setelah dilaksanakan putusan pengadilan itu hanyalah merupakan sumber hukum.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/06/yurisprudensi.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-7683132353017642457</guid><pubDate>Tue, 23 Jun 2009 07:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-23T15:23:46.004+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hukum</category><title>Defenisi Perbuatan Hukum</title><description>&lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Mungkin anda sebagai orang yang bukan sarjana hukum pernah mendengar kata ‘’perbuatan hukum’’,namun anda kurang memahami artinya,namun merasa familiar dengan kata itu. Baiklah saya akan menjelaskannya .&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;font color="#00ffff"&gt;Perbuatan Hukum&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; adalah suatu perbuatan subyek hukum yang ditujukan untuk menimbulkan akibat hukum yang sengaja dikehendaki oleh subyek hukum.Pada asasnya akibat hukum ini ditentukan juga oleh hukum.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Unsur-unsur perbuatan hukum adalah &lt;em&gt;kehendak&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;pernyataan kehendak&lt;/em&gt; yang sengaja ditujukan untuk menimbulkan akibat hukum tertentu.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;Perbuatan hukum dapat bersifat aktif dan pasif artinya meskipun seseorang tidak berbuat,tetapi kalau dari sikap pasif nya itu dapat ditafsirkan mengandung pernyataan kehendak untuk menimbulkan akibat hukum,maka perbuatan pasif itupun merupakan hukum. Perbuatan dapat menjadi perbuatan hukum,karena dalam keadaan tertentu mempunyai arti.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&amp;#160; &lt;font color="#00ff00"&gt;contoh :&lt;/font&gt;&amp;#160; Kalau seseorang masuk kedalam sebuah Mall maka dia dianggap&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160; sebagai seorang pengunjung Mall itu. Kalau seseorang datang ke tukang pangkas rambut dan kemudian duduk,maka akan dianggap ia menghendaki untuk dipangkas rambutnya.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160; Perbuatan Hukum dibagi menjadi dua,yaitu :&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;(1). Perbuatan Hukum Sepihak,hanya memerlukan kehendak&amp;#160; dan&amp;#160; pernyataan kehendak untuk menimbulkan akibat hukum dari satu subyek hukum saja. Dalam hal ini murni tidak perlu ada pihak yang menerima kehendak dan pernyataan kehendak itu secara langsung.&amp;#160; &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&lt;font color="#00ff00"&gt;contoh :&lt;/font&gt; penerimaan atau penolakan wasiat ( pasal 1048, 1057 BW )&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;(2). Perbuatan Hukum Ganda,memerlukan kehendak dan pernyataan kehendak dari sekurang-kurangnya dua subyek hukum yang ditujukan kepada akibat hukum yang sama. Termasuk perbuatan hukum ganda adalah perjanjian dan pendirian perseroan terbatas.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font size="3"&gt;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160; &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/06/defenisi-perbuatan-hukum.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9210109585152245547.post-8369668962012028539</guid><pubDate>Tue, 23 Jun 2009 06:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-23T15:24:57.131+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hukum</category><title>Hukum pada Umumnya</title><description>&lt;p align="left"&gt;&lt;font color="#ff0080" size="3"&gt;Pada saat kita berbicara tentang hukum pada umumnya yang mengandung arti keseluruhan peraturan-peraturan (kaedah-kaedah) dalam suatu kehidupan bersama yang artinya kumpulan peraturan tentang tingkah laku yang berlaku dalam suatu kehidupan bersama,yang bersifat memaksa dalam pelaksanaannya,dan apabila dilanggar akan dikenakan sanksi.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="left"&gt;&lt;font color="#00ffff" size="3"&gt;Pada umumnya para sarjana hukum melihat hukum adalah sebagai kumpulan-kumpulan peraturan.Umumnya orang yang awam hukum datang pada seorang sarjana hukum dengan masalah hukum untuk dipecahkan setiap permasalahan hukum nya. Sebagai seorang ahli hukum,para sarjana hukum dihadapkan pada masalah-masalah hukum dan diharapkan dapat memecahkan hukumnya. Hukumnya terdapat dalam berbagai peraturan-peraturan hukum. Jaksa,Pengacara,Hakim,dosen hukum,noteris,pegawai birokrasi hukum pelbagai instansi tidak dapat lepas dari peraturan-peraturan hukum dalam menemukan hukumnya.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="left"&gt;&lt;font color="#00ff00"&gt;‘&lt;font size="3"&gt;Hukum bukanlah merupakan suatu tujuan,tetapi lebih menitikberatkan pada sarana atau alat untuk mencapai tujuan yang sifatnya non-yuridis dan berkembang karena rangsangan dari luar hukum.Oleh karena itu faktor-faktor diluar hukum inilah yang membuat hukum itu dinamis dan slalu up to date dengan perkembangan dalam suatu masyarakat umum’ .&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="left"&gt;&lt;font size="3"&gt;&amp;#160;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://indonesiaohindonesia.blogspot.com/2009/06/hukum-pada-umumnya.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>