<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Mitra Kreativa</title><description>Mengaranglah sebelum pikiran tergoda untuk belajar menjadi penulis dengan mudah!</description><managingEditor>noreply@blogger.com (MitraKreativa)</managingEditor><pubDate>Mon, 30 Mar 2026 23:27:49 -0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>https://mitrakreativa.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Mengaranglah sebelum pikiran tergoda untuk belajar menjadi penulis dengan mudah!</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Selamat Idul Fitri 1438 H</title><link>https://mitrakreativa.blogspot.com/2017/06/selamat-idul-fitri-1438-h.html</link><category>IDUL FITRI</category><author>noreply@blogger.com (Yanto Musthofa)</author><pubDate>Sat, 24 Jun 2017 08:21:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6995873092421891910.post-477184901207228052</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRjC5VYBC_YltqfIcZOfhQN25Rbkr_G7YsLFEUXwG61_jeaZII1gSAweUm5GrF1etzVrrQw5s-HrdV9yNErLZHh-ucyIPbLbDIJ5Bg7gv_IHIk_XBPhMCkELqnUSnw4zy7xvrroh9qvoCO/s1600/kartu+lebaran.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1132" data-original-width="1600" height="226" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRjC5VYBC_YltqfIcZOfhQN25Rbkr_G7YsLFEUXwG61_jeaZII1gSAweUm5GrF1etzVrrQw5s-HrdV9yNErLZHh-ucyIPbLbDIJ5Bg7gv_IHIk_XBPhMCkELqnUSnw4zy7xvrroh9qvoCO/s320/kartu+lebaran.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;html&gt;
&lt;body&gt;

&lt;div style="background-color: green; color: yellow; padding: 20px;"&gt;
  &lt;h1&gt;
Ied Mubarak&lt;/h1&gt;
Taqbbalallahu minna wa minkum&lt;br /&gt;

  Yang pulang kampung maupun tidak pulang kampung sama-sama berhak mudik menuju perbaikan.&lt;br /&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;&lt;br /&gt;
kabarkan kemenangan setiap jiwa&lt;br /&gt;
yang terbebas dari kuasa nafsu&lt;br /&gt;
bersama-sama kita mudik menuju fitrah kemanusiaan&lt;br /&gt;
tak harus yang putih sempurna,&lt;br /&gt;
cukuplah terjaga ketika alpa&lt;br /&gt;
selalu punya kasih untuk sesama&lt;br /&gt;
selalu ada cinta  dalam rindu yang fana ....&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;i&gt;SELAMAT IDUL FITRI  1438 H&lt;/i&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/h2&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRjC5VYBC_YltqfIcZOfhQN25Rbkr_G7YsLFEUXwG61_jeaZII1gSAweUm5GrF1etzVrrQw5s-HrdV9yNErLZHh-ucyIPbLbDIJ5Bg7gv_IHIk_XBPhMCkELqnUSnw4zy7xvrroh9qvoCO/s72-c/kartu+lebaran.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pelatihan Jurnalistik di Lumbung Data Pendidikan</title><link>https://mitrakreativa.blogspot.com/2017/06/pelatihan-jurnalistik-di-lumbung-data.html</link><category>INSPIRASI</category><author>noreply@blogger.com (Yanto Musthofa)</author><pubDate>Fri, 16 Jun 2017 23:18:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6995873092421891910.post-6490651211964742916</guid><description>&lt;h3&gt;
Tiga hari dua malam saya "mengungsi" ke fasilitas penginapan Pusdiklat Kemdikbud di Sawangan Depok. Tak begitu jauh dari rumah, memang. Tak sampai 15 kilometer. Tapi, susunan jadwal pelatihan jurnalistik dan penulisan kreatif kali ini terbilang padat. Dan, ternyata sajian buka puasa dan makan sahur di penginapan itu benar-benar nikmat.&lt;/h3&gt;
&lt;br /&gt;
Meski demikian, bagi fasilitator pelatihan, tak ada yang lebih nikmat dari pancaran semangat dan antusiasme peserta. Dan, itulah yang saya rasakan dari para personel Publikasi Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi DKI Jakarta. Mereka berlatih dari pukul delapan pagi sampai sembilan malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus terang, saat datang sebelum "bel" acara pembukaan pukul 08.00 WIB Rabu lalu, kami para fasilitator sempat dihinggapi rasa pesimistis. Jangan-jangan, pelatihan ini hanya semacam pengisi waktu senggang atau yang sejenis itu. Terlebih lagi, setengah jam berlalu dari jadwal dimulainya acara pembukaan, yang datang baru lima atau enam dari 25 peserta. Pembukaan akhirnya lancar dilaksanakan setengah sepuluh pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami mulai terhibur saat Kepala LPMP DKI Surya Fitri Nurulhuda, SE, M.Si, menyampaikan pesan dalam kata sambutan. "...jangan mengikuti pelatihan ini hanya karena mendapat tugas dari saya. Jadikanlah pelatihan ini sebagai kesempatan untuk belajar menulis." Begitu antara lain pesan Kepala kepada para peserta. Kepala LPMP DKI juga bercerita masa remajanya, ketika mengenal novel-novel Yudhistira ANM Massardi, imam kami dalam tim fasilitator empat sekawan yang efisien.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai orang luar, saya merasakan pesan itu memancarkan sesuatu yang lebih dari sekadar amanat seorang kepala instansi pemerintahan. Pesan itu lebih merupakan inspirasi untuk belajar sesuatu yang bermakna bagi kehidupan. Artinya, peserta diajak untuk tidak sekadar menjalankan tugas dari atasan, melainkan mengembangkan diri agar dapat memberi kontribusi yang lebih bermakna bagi diri, lembaga dan bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Target Pengaktivan Website&lt;/h3&gt;
&lt;br /&gt;
Selain pesan inspiratif itu, sebetulnya ada juga pesan bernada instruksi yang tidak main-main. Tidak hanya menyodok para peserta selaku bawahan Kepala LPMP DKI, tapi juga menohok kami tim fasilitator. "Saya akan lihat hasil pelatihan ini dalam satu dua bulan ke depan di &lt;i&gt;website&lt;/i&gt;." Nah, lho.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karenanya, dalam sambutan pada acara pembukaan, Master Trainer Yudhistira mengajak para peserta menyatukan tekad mewujudkan harapan Kepala LPMP DKI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walhasil, entah karena "ancaman" Kepala LPMP atau karena daya tarik materi pelatihan, yang bagi hampir seluruh peserta merupakan hal baru, semangat berlatih membara dan menyala hingga akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengharukan bagi tim fasilitator adalah tumbuhnya relasi interpersonal yang lebih dalam dari sekadar relasi klien-bisnis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di luar urusan belajar teknik penulisan dan segala pernak-perniknya, yang tentu tak akan selesai hanya dalam tiga hari pelatihan, hubungan itu memudahkan eksplorasi problem dan kebutuhan kontekstual tim publikasi. Sebaliknya, dari pelatihan ini para fasilitator menjadi &lt;i&gt;ngeh&lt;/i&gt; bahwa LPMP sejatinya adalah instansi dengan "harta" tak ternilaikan bagi pendidikan Indonesia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Tim fasilitator sudah lama berkutat dengan isu-isu pendidikan. Yudhistira sudah 12 tahun bersama istri, Siska Yudhistira Massardi, mengelola Sekolah Batutis Al-Ilmi. Sekolah gratis untuk kaum dhu'afa di Pekayon Bekasi itu merupakan laboratorium pelatihan guru Metode Sentra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sendiri pada Januari lalu menerbitkan buku &lt;i&gt;Bahasa Mencerdaskan Bangsa, Panduan Berbahasa Berbasis Metode Sentra untuk Guru dan Orangtua&lt;/i&gt;. Buku itu adalah hasil belajar saya tentang Metode Sentra di Sekolah Batutis selama hampir sewindu. Adlil Umarat, adalah "orang RCTI" yang kini mantap mengabdikan diri dalam dunia pendidikan anak usia dini sebagai &lt;i&gt;child optimizer trainer&lt;/i&gt;. Kami beruntung punya Raditya Patria Adhigama, jurnalis foto yang memiliki jaringan relasi dan persahabatan luas dengan berbagai kalangan, termasuk instansi-instansi pemerintahan di bidang pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgql9wrtmjDeki7EuOXsRkHpaw8zVIbl3rQh45Y3x54tpxr-Sbh7QvlJrBqmcUCPXYf6pO-q-5ixeEbRp3xvzsxDmmfhjxulNsr5kSWejX6lQDrTu_h51ujjd3-I2NtHFWInr70YNAycb73/s1600/Jurnalistik+LPMP+DKI.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="960" data-original-width="960" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgql9wrtmjDeki7EuOXsRkHpaw8zVIbl3rQh45Y3x54tpxr-Sbh7QvlJrBqmcUCPXYf6pO-q-5ixeEbRp3xvzsxDmmfhjxulNsr5kSWejX6lQDrTu_h51ujjd3-I2NtHFWInr70YNAycb73/s320/Jurnalistik+LPMP+DKI.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4 style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;Pelatihan Jurnalistik dan Penulisan Kreatif untuk Tim Publikasi LPMP DKI Jakarta&lt;/i&gt;&lt;/h4&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan semua itu, komunikasi kami (fasilitator dan para peserta pelatihan) menjadi sangat lancar. Puncaknya adalah pada malam kedua, saat para peserta melakukan diskusi dalam tiga kelompok (sesuai bidang tugas dan pekerjaan masing-masing) selama sekitar satu jam. Mereka menghasilkan &lt;i&gt;action plan &lt;/i&gt;yang lengkap dan terperinci. Dari keluhan "tak punya ide untuk ditulis", mereka kini telah siap dengan sebuah agenda besar untuk mengisi halaman-halaman website LPMP DKI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada para sahabat saya yang peduli pada masalah pendidikan, rasanya tak berlebihan kalau saya mengajak untuk mengarahkan perhatian (syukur-syukur kalau sudi membantu dengan doa) kepada upaya tim Publikasi LPMPK DKI tersebut. Mengapa? Karena mereka para staf dan pimpinan LPMP bekerja di lumbung data yang dibutuhkan guru, kepala sekolah, kepala dinas, walikota, gubernur, bahkan menteri. Juga, tentu saja, para walimurid dan pengamat pendidikan. Berdasarkan data dari merekalah seyogyanya pendidikan kita bergerak dan digerakkan.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3LPDKLSGXoePrLgXf9R1z6CF_PkDzL5I3hZTOgbKRFROCdLzMNskzy4FI-Xa5SOTfgxLwjbxCZj3WuZbClFHh1ZMQbWOn-5PmTgYhLyJxmB2pijIlu8j-8uBogOL9ne5OSyGiWXmibpS-/s1600/Presentasi+di+LPMP+DKI.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1303" data-original-width="1600" height="260" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3LPDKLSGXoePrLgXf9R1z6CF_PkDzL5I3hZTOgbKRFROCdLzMNskzy4FI-Xa5SOTfgxLwjbxCZj3WuZbClFHh1ZMQbWOn-5PmTgYhLyJxmB2pijIlu8j-8uBogOL9ne5OSyGiWXmibpS-/s320/Presentasi+di+LPMP+DKI.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;h4&gt;
&lt;i&gt;Saya kebagian &lt;b&gt;menyampaikan &lt;/b&gt;materi Pragraphing dan Pengelolaan Website&lt;/i&gt;&lt;/h4&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai langkah pertama (mungkin bahkan yang pertama di Indonesia), ikhtiar itu tentu tidak mudah, apalagi diharap menghasilkan produk yang memuaskan dalam sekejap. Tapi, setidak-tidaknya ikhtiar sudah dimulai. </description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgql9wrtmjDeki7EuOXsRkHpaw8zVIbl3rQh45Y3x54tpxr-Sbh7QvlJrBqmcUCPXYf6pO-q-5ixeEbRp3xvzsxDmmfhjxulNsr5kSWejX6lQDrTu_h51ujjd3-I2NtHFWInr70YNAycb73/s72-c/Jurnalistik+LPMP+DKI.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Jangan Percaya Resep Menjadi Penulis yang Baik</title><link>https://mitrakreativa.blogspot.com/2017/05/jangan-percaya-resep-menjadi-penulis.html</link><category>INSPIRASI</category><author>noreply@blogger.com (Yanto Musthofa)</author><pubDate>Fri, 19 May 2017 18:39:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6995873092421891910.post-5955327898137915847</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxm5Luxnkp3ofIgzHGIY-kTUMJpqWtk2jw2fdVguzFuQPstzCIuIvD9uP02DFoKH5jz5JB_NCL-91OMpXIW1yeafDc_ASzg6TcHlK_CD46nf8PGbU1lHjXs4-Pi29HTiLQMGUcZzlyHXGN/s1600/Somerset.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1132" data-original-width="1600" height="226" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxm5Luxnkp3ofIgzHGIY-kTUMJpqWtk2jw2fdVguzFuQPstzCIuIvD9uP02DFoKH5jz5JB_NCL-91OMpXIW1yeafDc_ASzg6TcHlK_CD46nf8PGbU1lHjXs4-Pi29HTiLQMGUcZzlyHXGN/s320/Somerset.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Jika saya&amp;nbsp; coba kumpulkan resep teknik menulis yang baik, mungkin saya bisa menemukan puluhan, mungkin ratusan langkah yang hebat-hebat. Tapi, ternyata pengarang besar menempuh cara yang berbeda dari semua itu. Jadi, jangan percaya dengan resep jitu, ampuh, efektif&amp;nbsp; untuk menjadi penulis yang baik. Jika sudah punya niat mengarang, lakukanlah segera sebelum pikiran tergoda untuk belajar mengarang.&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
Menurut William Somerset Maugham, pengarang Inggris yang popular di dekade 1930-an, sesungguhnya ada tiga aturan dalam menulis novel. Masalanya, kata&amp;nbsp; novelis, pengarang naskah darama dan penulis cerita pendek itu, tak seorang pun tahu apa tiga aturan itu.&lt;/h4&gt;
Lha, terus apa gunanya blog ini? Nah, di situlah inti masalahnya. Karena blog ini memang untuk urusan tulis-menulis, maka wajarlah kalau saya menyajikan bermacam-macam tulisan tentang bagaimana cara mengarang. Biar ada yang berkunjung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, semakin pembaca percaya dan berusaha mengikuti dengan benar resep-resep yang saya sajikan, maka secara teoretis, pembaca mestinya semakin tidak butuh resep-resep itu. Juga resep-resep yang dibuat orang lain, tentunya. Pembaca akan semakin tahu keunggulan diri sebagai pengarang. Mau bukti? Coba baca ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam berbagai kesempatan menjadi fasilitator pelatihan penulisan, dalam hati saya sebetulnya ingin mengatakan kepada para peserta, bahwa sebetulnya Anda-anda para peserta tidak sedang belajar kepada saya. Sebagai fasilitator, saya sesungguhnya hanyalah pelayan yang membantu para tuan-tuan pengarang. Membantu apa? Membantu menyadarkan bahwa mereka semua adalah pengarang yang sudah siap berkarya. Buktinya, begitu sesi praktik dimulai, mereka mengarang dengan lancar, dan sangat mungkin sebagian besar saat mengarang lupa apa yang sudah saya sampaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalahnya, umumnya suasana psikologis peserta pelatihan penulisan secara naluriah adalah suasana “second-class” yang mengharap pembicara di depannya memberitahu, mengajari dan membimbing. Ya saya pun perlu memberitahu, mengajari dan membimbing. Padahal, sebagai penulis saya pun tak pernah berhenti diberitahu, diajari, dan dibimbing. Oleh siapa? Oleh pengalaman, kesalahan, baca-baca, diskusi, dan bahkan oleh pelatihan yang saya fasilitasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah hakikatnya. Tapi dengan terpeliharanya suasana psikologis itu, pelatihan penulisan menjadi sesuatu yang selalu dibutuhkan, dan saya taermasuk yang punya peluang menjadi pembicara di depan peserta pelatihan penulisan. Ssssst.... soal yang ini jangan kasih tahu siapa-siapa, apalagi diviralkan. Kelarlah saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, buat Anda yang sudah baca tulisan ini, tak apa kalau ingin ngajak ngopi dan pura-pura diskusi tentang penulisan. Siapa tahu bisa sama-sama mengikuti jejak Somerset, menghasilkan novel hebat tanpa tahu apa tiga aturan dalam menulis novel. Mau?</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxm5Luxnkp3ofIgzHGIY-kTUMJpqWtk2jw2fdVguzFuQPstzCIuIvD9uP02DFoKH5jz5JB_NCL-91OMpXIW1yeafDc_ASzg6TcHlK_CD46nf8PGbU1lHjXs4-Pi29HTiLQMGUcZzlyHXGN/s72-c/Somerset.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">6</thr:total></item><item><title>Paragraf Pertama, Buat Mesin Google atau ... Pembaca?</title><link>https://mitrakreativa.blogspot.com/2017/05/paragraf-pertama-buat-mesin-google-atau-pembaca.html</link><category>TIPS MENGARANG</category><author>noreply@blogger.com (Yanto Musthofa)</author><pubDate>Wed, 17 May 2017 08:18:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6995873092421891910.post-4269596044915054398</guid><description>&lt;h3&gt;
Artikel ini membahas tentang bagaimana cara menulis paragraf pertama yang efektif. Disclaimer: saya bukan ahli urusan SEO, digital marketing atau apapun namanya. Jadi, kalau urusan menulis dalam rangka merayu Mbak Google agar meraba-raba laman kita, nyerah saya. Namun, dari petunjuk banyak suhu yang sudah malang melintang di dunia persilatan internet, ternyata keterampilan mencipta konten andal tetap penting, termasuk buat urusan SEO.&lt;/h3&gt;
Logikanya begini, kata mereka: dengan mengandalkan keyword yang cespleng, mesin pencari seperti Google memang akan cepat mengenali posting kita, yang berarti banyak tamu datang. Tapi, masih menurut para ahli itu, mesin pencari sekarang kian pintar. Kalau keyword overdosis, perut mesin juga bisa begah, dan muntah. Semuak perasaan pembacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kalau posting mengandalkan kualitas tulisan, maka tamu yang datang betah berlama-lama, dan akan ketagihan untuk datang lagi. Mengapa? Karena tamunya&amp;nbsp; manusia yang punya perasaan dan selera. Kalau banyak tamu yang datang, mesin pun akan ikut-ikutan datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
OK, saya tak punya bahan lebih banyak lagi untuk bicara soal yang itu. Mumpung ajaran para suhu SEO belum berubah sampai detik ini, ya saya tulis saja soal bagaimana membuat paragraf pertama yang efektif. Tentu saja, ini berdasarkan pengalaman off-line saya dalam dunia tulis-menulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam menulis paragraf pertama, yang akan menentukan berhasil-tidaknya paragraf memberi kesan pertama yang prima. Prima maksudnya memikat dan langsung mengikat pembaca agar mau terus membaca sampai akhir.&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
#1 Hindari NNJT alias &lt;i&gt;Common Sense&lt;/i&gt;&lt;/h4&gt;
Apa itu NNJT? Nenek-nenek juga tahu. Maksudnya begini: paragraf pertama jangan dihabiskan untuk menampilkan sesuatu yang&amp;nbsp; sudah menjadi pengetahuan umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya:&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Abad teknologi informasi digital membawa perubahan sangat besar dalam kehidupan masyarkat Indonesia, baik di kota-kota besar maupun di desa-desa. Dari kalangan aanak-anak, remaja, sampai orang dewasa. Perubahan itu sebagian bersifat positif, tapi banyak sekali akibat negatif yang ditimbulkannya. Karena itu diperlukan upaya serius yang nyata dalam rangka mencegah ekses-ekses negatif dari kemajuan teknologi informasi.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba rasakan. Paragraf empat kalimat itu seakan-akan berwibawa dengan kosakata "berkualitas tinggi" --ndakik-ndakik, kalau istilah orang Jawa-- dengan susunan kalimat yang rapi. Tapi, pembaca yang suka membaca buku dan berita, tentu akan segera berkerut keningnya dan bertanya, "&lt;i&gt;Kowe iki arep ngomong opo, to, le&lt;/i&gt;? Kamu ini mau bicara apa, sih, Nak?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa? Karena keempat kalimat pertama itu tidak menawarkan sesuatu yang baru, sudah umum, tidak unik, dan tak perlu diceritakan. Semua orang sudah tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, ya, terkait dengan NNJT ini, tak perlu lagi, ya menggunakan frasa pembuka sejuta umat, "Pada suatu hari...." Biasanya bikin ngantuk.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAmLtpvtf1B7sgjDhwk19SCF66KdLCuPgaXKctAXus5OiArBnBOpzLdBIFi9g4EgGA3P8mHBGsaP7H-7sSeUo5BCd5i31gDxN8zhPlmN3DPv4LUn_wUFu5UO1ae8N2nHe4UOi_aL5dwwwF/s1600/Paragraf+pertama.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1224" data-original-width="1600" height="244" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAmLtpvtf1B7sgjDhwk19SCF66KdLCuPgaXKctAXus5OiArBnBOpzLdBIFi9g4EgGA3P8mHBGsaP7H-7sSeUo5BCd5i31gDxN8zhPlmN3DPv4LUn_wUFu5UO1ae8N2nHe4UOi_aL5dwwwF/s320/Paragraf+pertama.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
#2 Efek Ledakan&lt;/h4&gt;
Sebagaimana digambarkan di atas, paragraf pertama ibarat etalase yang harus memikat dan mengikat calon pembeli, eh, pembaca. Maka, jika bahan tulisan yang kita pegang mengandung sesuatu yang dahsyat, jangan tunda-tunda memberi tempat (apalagi sampai paragraf kedelapan atau kesepuluh). Usahakan sudah bisa diendus pembaca sebelum paragraf pertama berakhir. Berilah semacam efek ledakan di paragraf pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebentar. Efek ledakan ini jangan diartikan terlalu harfiah, sehingga memaksakan sesuatu yang superheboh harus ada di paragraf pertama. Tidak. Efek ledakan itu bisa juga dalam praktiknya justru sesuatu yang sangat halus, sesuatu yang nayris tak terasa mengikat pelan-pelan pembaca melalui aliran kata-kata yang kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tulisan fiksi, seperti cerpen atau novel, efek ledakan biasanya ditampilkan oleh penulis pada sosok tokoh utama (protagonis). Kekuatannya biasanya bertumpu pada rincian atau detil deskripsi fisik tokoh, atau tempat atau kejadian, yang membuat pembaca menahan nafas. Bisa berupa dialog lancar dan asyik antara dua orang. Apa saja, yang penting membuat pembaca terpaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang mari coba bandingkan paragraf pada contoh pertama di atas dengan informasi yang langsung menggebrak di bawah ini. Informasi yang banyak orang belum tahu. [Ingat, ya, ini contoh karangan, bukan kejadian yang sebenarnya. Jadi, jangan disebarkan, nanti saya diprotes.]&lt;br /&gt;
Bogor Kota Hujan? Itu dulu. Sekarang, Bogor kota gadget. Lho, koq bisa? Iya. Sembilan dari sepuluh anak SMP di kota Bogor menghabiskan waktu tujuh jam sehari dengan gadget. Itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan di lima sekolah favorit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, kalau baca paragraf pertama model begini, akan banyak sekali orang dari bermacam-macam latar belakang langsung kucek-kucek mata dan menahan beribu pertanyaan di kepala, mencerna kalimat demi kalimat selanjutnya. Seorang ustadz akan segera beristighfar dan berdoa, 'Ya Allah, lindungilah anak-anak kami remaja Kota Bogor. Seorang pakar pendidikan akan membuka data tentang prestasi belajar para murid di Bogor. Dan, tak ketinggalan, pedagang pulsa dan aksesoris segera menghitung besarnya investasi buat buka lapak baru, "peluang besar, ini!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kira-kira begitulah semestinya paragraf pertama sebuah tulisan yang ditujukan buat khalayak. Kalau model paragraf pembuka dengan isi yang umum-umum dan teori-teori, serahkan, kasih saja buat para mahasiswa-mahasiswi yang bikin makalah. Ntar dosen yang memberi tugas pasti akan membacanya dan memberinya nilai.&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
#3&amp;nbsp; Magnet Misteri&lt;/h4&gt;
Walau ukuran paragraf yang efektif tidak mungkin memuat segala hal, tapi paragraf pertama membutuhakan suatu clue sekaligus glue. Maksudnya, efek yang diharapkan paragraf pertama adalah pembaca lengket, penasaran dan bertanya dengan pertanyaan sejenis: "Apa yang terjadi, koq sampai begitu?" "Apa maksudnya dia berkata-kata seperti itu." "Sungguh menarik, di mana kejadiannya?" dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena penasaran, maka pembaca berharap dia temukan jawabannya pada paragraf-paragraf selanjutnya, bahkan sampai halaman-halaman selanjutnya (kalau novel). Inilah yang dalam dunai perbukuan orang menyebut istilah "page-turning." Maksudnya, pembaca serasa digiring untuk terus memembaca, membalik halaman demi halaman karena kekuatan tulisan. Itu tidak akan terjadi, jika di paragraf pertama, pembaca sudah merasa seperti kegerahan dan segera pergi.&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
#4 Jangan "Paksa" Pembaca&lt;/h4&gt;
Sekarang banyak sekali penulis berita pemalas yang menggunakan judul gaya-gaya "paksaan" seperti ini: "Penting, Ini Imbauan Walikota Soal Banjir." Atau, "Hebat, Siswa SMA ini Juara Olimpiade Fisika." Atau, "Ngakak abis, Seorang Suami Kepergok Istri...."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penting? Hebat? Ngakak abis? Kalau kata orang Surabaya, "Iku lak jaremu." [Itu, kan, menurut kamu.]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula dalam menulis paragraf pertama. Kalau kita ingin pembaca mengakui informasi kita penting, hebat dan lucu, tunjukkan melalui fakta-fakta, jangan main paksa atau suruh pembaca langsung mengakui itu penting, hebat, atau lucu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam salah satu "ayat suci" jurnalistik, seorang wartawan yang baik mematuhi kaidah "&lt;i&gt;Show, don't tell&lt;/i&gt;." Tunjukkan dengan deskripsi, jangan gunakan kesimpulanmu. Misalnya, jangan gunakan kata sifat "sangat jauh", tapi sampaikan pada pembaca, misalnya, jaraknya 70 kilometer. Sedapat mungkin, hindarkan kata sifat (adjective), ganti dengan data atau fakta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan begitu, dengan sendirinya, pembaca akan mengakui secara ikhlas dan rela, "Ooo, memang penting." "Wah, hebat juga." "Gila, lucu banget." Berarti, untaian kalimat-kalimat yang kita buat berhasil mencapai tujuannya, tanpa dibantu oleh penggiringan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Poin terakhir ini, menurut hemat saya, sangat selaras dengan kepentingan SEO. Sebab, informasi dan data mestinya lebih berkualitas ketimbang kesimpulan subjektif semacam penting, hebat, lucu, dan lain-lain. Kalau tidak setuju, mohon maaf, karena saya memang bukan ahli SEO.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cuma, saya membayangkan suatu saat nanti mesin pencari seperti Google akan benar-benar pintar. Sehingga, situs yang mengandalkan trik-trik mekanistis SEO dalam mengakali kekakuan kerja mesin akan semakin tersingkir. Atau, jangan-jangan malah diberantas tuntas dari percaturan mesin pencari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, situs-situs yang bertahan adalah situs yang benar-benar valuable.&amp;nbsp; Paling tidak, trend meningkatnya kejelian dan efektivitas kerja algoritma mesin pencari semakin menuju ke arah sana. Bayangan dan harapan. &lt;i&gt;Who knows&lt;/i&gt;.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAmLtpvtf1B7sgjDhwk19SCF66KdLCuPgaXKctAXus5OiArBnBOpzLdBIFi9g4EgGA3P8mHBGsaP7H-7sSeUo5BCd5i31gDxN8zhPlmN3DPv4LUn_wUFu5UO1ae8N2nHe4UOi_aL5dwwwF/s72-c/Paragraf+pertama.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>#2 Irama Penuh Teka-Teki</title><link>https://mitrakreativa.blogspot.com/2017/05/2-irama-penuh-teka-teki.html</link><category>CERBUNG</category><author>noreply@blogger.com (Yanto Musthofa)</author><pubDate>Tue, 16 May 2017 21:26:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6995873092421891910.post-8417346272078110738</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdNJZ-7uITXntbr9u_s8onkpCF-YptJLz42fwZl5MnPY-H0EQbITrCDQ30rmsTVx7Np8frUgBS7kiB_ciZXJVUFgGDAV9-hOWNsyerfborCjRIeSUjUJa-AF9sAjWbQmaC3TOzkEonZnfd/s1600/aisyah1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1271" data-original-width="1600" height="254" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdNJZ-7uITXntbr9u_s8onkpCF-YptJLz42fwZl5MnPY-H0EQbITrCDQ30rmsTVx7Np8frUgBS7kiB_ciZXJVUFgGDAV9-hOWNsyerfborCjRIeSUjUJa-AF9sAjWbQmaC3TOzkEonZnfd/s320/aisyah1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sukarto adalah satu dari beratus-ratus ribu pewaris kehidupan hilir yang akrab dengan langgam liris aliran sungai penuh teka-teki. Musim kemarau bukan hanya berarti tak seberapa air tersedia, seperti dilukiskan pada lagu legendaris ciptaan Gesang. Puncak musim kemarau baginya berarti terlalu berat untuk bertahan dalam rutinitas tepian Bengawan Solo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Mardi sedang berkelimpahan nasib baik, Sukarto bisa pergi bersama sepupunya itu menjadi bagian dari kafilah-kafilah musiman. Bermukim, biasanya berlima, selama 70 sampai 100 harian di bedeng darurat di tepi jalan raya, di pinggiran sawah padi yang berubah sesaat menjadi larik-larik tanaman timun suri, semangka, atau blewah. Terkadang tempatnya tak begitu jauh, hanya di tetangga kecamatan. Terkadang jauh di lain kabupaten.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, belakangan ini Mardi semakin kesulitan mendapat harga sewa yang layak. Peluang pasarnya memang bertambah besar, tapi persaingan pun semakin besar. Ia tak terlalu kuat bersaing dengan&lt;br /&gt;
kafilah-kafilah musiman lain yang punya perencanaan lebih bagus dengan modal yang lebih bagus pula. Tanpa rumus matematika yang rumit, Mardi bisa menghitung harga sewa terlalu besar mengiris harapan buat sekadar membawa pulang tambahan penyambung hidup sampai tiba musim tanam padi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan bayangkan musim tanam padi yang penuh sukacita dalam irama merdu mendayu. Tepian Bengawan Solo adalah sebuah irama dengan rentang oktaf yang tak terkira. Di musim hujan air bisa meluap sampai jauh dalam tempo cepat, bukan hanya mengejar kesigap-disiplinan petani kecil seperti Sukarto dan Mardi, tapi juga melumat tuntas&amp;nbsp; padi sebelum tiba waktu panen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sukarto sejenak melepas beban pikiran soal obrolannya pagi tadi bersama Mardi.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Limolas ewu, Kang. Aku ora wani.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
[Lima ribu (lima belas juta), Kang. Aku tak berani.]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mardi memulai obrolan tentang sesuau yang sebenarnya sudah sama-sama mereka ketahui itu di teras. Dua gelas putih bermotif timbul satu tangkai bunga warna ungu, masing-masing berada di atas tatakan dengan warna dan motif senada, mengepulkan asap kopi. Masing-masing tutupnya tergeletak terbalik, tersangga bulatan artistik di bagian atas yang kini menyentuh tikar pandan penutup amben tempat kedua lelaki itu bercengkerama. Di antara kedua gelas, beberapa pisang rebus tersaji di sebuah piring seng bermotif daun kelor warna hijau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat di belakang Mardi, kisi-kisi silinder kayu jati yang sudah menghitam berbaris dalam bingkai jendela. Sepasang daun pintunya tersibak. Suparto yang bersandar pada dinding bambu di sebelahnya sama-sama menghadap ke sepetak halaman tanah lempung yang mulai bercelah-celah di depannya. Satu pucuk tanaman terong tampak berjuang bertahan hidup dengan beberapa dahan lunglai mengering, dekat pokok randu yang menjulang setinggi enam meter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Lha, iyo, to. Nak semono modale, piro sing arep iso digowo mulih?”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
[Lha, iya, toh. Kalau modalnya sebesar itu, berapa yang kita harap untuk bisa dibawa pulang.]&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Lha iyo, Kang. Senajan rego melon sak iki sakjane tambah apik.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
[Lha, iya, Kang. Sekalipun harga melon sekarang sebenarnya tambah bagus.]&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Wis ora usah dipikir nemen-nemen. Gusti Allah ora bakal kleru olehe ngatur rejeki, Di. Sing penting akas golek rejeki, ora ngoyo, triman ing pandum.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
[Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan. Gusti Allah tidak akan keliru mengatur rejeki, Di. Yang penting rajin cari rejeki. Tidak terlalu memaksakan. Ikhlas menerima rejeki-Nya.]&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Iyo, Kang. Sesuk awak dhewe sida budhal ring Kedungkunir, ya Kang?”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
[Iya, Kang. Besok kita jadi berangkat ke Kedungpring, ya Kang?]&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Iyo, iyo. Insya Allah kasil.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
[Iya, iya, Insya Allah berhasil.”&lt;br /&gt;
“Amin, amin, amin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matahari siang cukup terik menerpa. Tapi, hati Sukarto terasa sejuk menikmati keceriaan Jamilah, adik Samsul, yang kemarin pulang membawa sebuah tas ransel warna hijau-merah bergambar barbie. Mereka menonton pertunjukan seni tradisional Sandur, aksi akrobatik semacam debus di Banten, yang diiringi tari-tarian.Menurut cerita Samsul, semua anak yang kemarin datang ke festival dikumpulkan di sebuah tanah lapang dekat arena pertunjukan Sandur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ono ibu kudhungan soko jonegoro andhum tas iki, Pak-e,” kata Samsul [Ada ibu berkerudung dari Kota Bojonegoro membagi tas ini, Ayah.].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-masing dalam tas yang diterima Samsul dan Jamilah&amp;nbsp; berisi sebundel 12 buku tulis, satu kotak pensil berikit isi dua pensil, satu peraut pensil dan satu penggaris. Tas hitam Samsul bergambar hero Batman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Pak-e, aku wingi dik-poto mbak ayu jenenge Aisy.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
[Ayah, aku kemarin difoto mbak cantik bernama Aisy.]&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Ayu ndi mbek kowe, Nduk?”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
[Cantik mana dengan kamu, Nak.?”&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Yo, ayu Mbak Aisy, to, Pak-e. Klambine iku lho anyar, kudhungan lurik-lurik. Pak-e, aku njuk tuku kudhung putih, yo.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
[Ya, lebih cantik Mbak Aisy, Ayah. Bajunya baru, berkerudung lurik-lurik. Ayah, belikan aku kerudung putih, ya.”&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Iyo, Nduk. Insya Allah, nggo sekolahmu.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
[Iya, Nak. Insya Allah, buat kamu sekolah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jamilah setelah musim liburan tahun ini masuk Madrasah Ibtidaiyah Al-Anwar, menyusul Samsul yang akan naik ke kelas empat. Madrasah di kampung dhuwur berjarak enam ratusan meter dari rumah Suparto itu satu-satunya sekolah dasar di Desa Ngrakal. Sukarto menatap Jamilah yang berhambur ke luar rumah dengan senyum mengembang indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Sukarto, senyum Jamilah, tindak-tanduk Samsul, ketabahan dan kesabaran Musri, isterinya, celoteh kenes Musanah yang baru berusia tiga tahun, dan segala ketenteraman dalam rumah bilik bambunya adalah harta yang tak terkirakan Semua itu selalu menjadi kekuatan yang tak pernah bisa dihitung oleh rumus kemiskinan dalam data statistik. Kekuatan yang lentur menyerap arus ketidakpastian pasang-surut irama Bengawan Solo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerudung buat Jamilah dan baju-baju seragamnya, juga baju-baju seragam pengganti buat Samsul yang tubuhnya sudah mekar tak tertampung lagi oleh baju-baju lama, walaupun masih cukup bersih terawat...&amp;nbsp; Sukarto berusaha menghitung tiga ekor ayam pejantan di kandang belakang rumah yang sudah bisa ditawarkan ke Pak Dulah. Fitri, putri sulung Pak Dulah yang baru tamat SMA, bulan Syawal akan dipersunting Mamad, perantau yang sudah lumayan sukses mengelola empat tenda pecel lele bersama ketiga adiknya di Jakarta. Harga tiga ekor ayam itu sepertinya sudah cukup untuk dua setel baju seragam buat Jamilah dan Samsul. Masing-masing kurang kurang satu setel. Tak apa-apa. Mugo-mugo Kedungkunir....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum tuntas lamunan Sukarto, suara nyaring Jamilah mengagetkannya.&lt;br /&gt;
“Pak-e, Pak-e, ono Mbak Aisy!”&lt;br /&gt;
[Ayah, ayah, ada Mbak Aisy!”&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Aisy sopo toh, Nduk?”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
[Aisy siapa, Nak?”&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Iku, sing moto aku.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
[Itu, yang memotret aku.]&lt;br /&gt;
“Assalamu’alaikum .”&lt;br /&gt;
“Wa’alaikum salam,”&amp;nbsp; Sukarto dengan penuh tanda tanya menjawab salam Ustadz Hamid yang berjalan ke arahnya, ditemani istrinya, Bu Dewi, dan seorang perempuan muda kira-kira enam atau tujuh tahunan di atas usia Fitri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Pak Sukarto, meniko Mbak Aisy saking Jonegoro. Piyambak-e&amp;nbsp; nggadah maksud silaturahim kaleh Pak Sukarto.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
[Pak Sukarto, ini Mbak Aisy dari Bojonegoro. Dia bermaksud silaturahim ke Pak Sukarto.]&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Monggo, monggo, pinarak mlebet. Ngapunten gubuke tiyang ndeso nggih kados mekaten. Sri.... Musri.....”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
[Silakan, silakan masuk. Mohon maaf, gubuk orang desa ya seperti ini. Sri.... Musrii....]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sukarto kikuk mempersilakan para tetamu menuju kursi-kursi berangka kayu jati dengan alas duduk rotan yang sebagian anyamannya putus di sani-sini, menyembulkan ujung-ujung anyaman seperti batang ilalang kering. Pak Hamid adalah ketua pengurus Madrasah Al-Anwar, tempat sekolah Samsul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musri tergopoh-gopoh memenuhi panggilan suaminya ke luar menuju ruang tamu, mengenakan kebaya cokelat tua bermotif kembang-kembang dan penutup kepala kuning muda polos. Ia menyalami dengan takzim Bu Dewi yang tampak anggun dengan jubah khaki dan jilbab cokelat tua, dan Aisy yang mengenakan celana panjang abu-abu tua, blus biru donker dan jilbab modis putih bergaris-garis zebra warna hitam.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aisy menutup file-file berisi catatan hasil perburuan saat menyiapkan proposal yang kini sudah ada di tangan Wawan. Sebagian besar isi catatan itu tentu saja tidak masuk dalam proposal. Sebagian menjadi pemikat istimewa ribuan pengunjung blog-nya dalam dua pekan terakhir. Tapi, mayoritas komentar malah tertuju pada “maklumat”-nya tentang kepergian selama beberapa hari ke Jakarta. Mereka mendoakan, menyemangati, dan.... “Mbak Aisy, tunggu, ya. Saya akan ambil oleh-olehnya di rumah.” Aisy terkikik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emang kamu tahu, kapan aku pulang? Traveler, traveler... masbro. Kehebatan traveler terletak pada jadwal dan tempatnya yang tak bisa ditebak orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibukanya lagi file powerpoint, yang sangat rapi dibuatkan Agus, kakak semata wayang yang sering menyebalkan dengan watak serius dan cueknya, tapi juga sering menyenangkan, terutama dalam urusan beginian. Entah belajar dari mana, sarjana peternakan, kini asyik dengan toko dan sanggar batik tradisional bersama 17 pekerja, termasuk tiga seniman batik, bisa melengkapi slide-slide powerpoint dengan diagram-diagram artistik yang dibuat dengan Photoshop.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, Mas Agus itu memang pinter. Masalahnya, aku lebih sering males mikir tentang dia. Apa dia pinter karena dia belum punya pacar? Upps... bisa kualat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aisy meralat jelajah pikirannya yang ngelantur. Bagaimanapun, Agus adalah kakak yang istimewa. Cuma nyambung kalau dipancing dengan diskusi soal-soal berat macam demografi, era keterbukaan informasi, kualitas pendidikan. Tak banyak yang bisa dibawa ke blog, memang. Begitu Aisy mulai pasang kosakata sejenis “kondisi sosio-ekonomi”, ada saja komentar tamu blog, yang minta jangan berat-berat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diam-diam Aisy mengakui betapa besar artinya Agus sebagai sosok pengganti almarhum ayah. Mas Agus-lah yang membuat belanja bukunya kini nyaris seimbang antara novel dan buku-buku non-fiksi popular. Buku-buku yang jauh urusannya dari matakuliah akunting dan perencanaan bisnis. Benar-benar terbalik, kata ibunya. Aguslah yang kini jutru menikmati &lt;i&gt;passion &lt;/i&gt;wirausaha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau selalu terbersit segaris goresan rasa gelisah di sudut wajah setiap kali ia berpamitan kepadanya, Aisy selalu berhasil meluluhkan hati sang ibu, yang mendekati masa purnabakti di Dinas Perencanaan. Doa dan wanti-wanti agar tak lupa beribadah, lalu Aisy selalu menyertai pelukan dengan ungkapan kepatuhan yang menenteramkan, “&lt;i&gt;Njih, Bu. Dungak-aken Gusti Allah paringi lancar lan ridho.&lt;/i&gt;” [Ya, Bu. Doakan Gusti Allah memberi kelancaran dan ridho.] Dan, ibunya selalu tercekat beberapa detik dalam rasa haru, berjuang sekuat tenaga menahan bulir bening jauh dari kedua kelopak matanya. Tidak. Bukan kecemasan. Tapi, lebih karena kedalaman, kematangan dan ketulusan nada dan kata-kata Aisy yang memberi rasa aman di hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aisy cukup puas dengan ringkasan dalam file powerpoint buatan Agus. Sangat memudahkan buat presentasi besok. Dan, untuk lebih meyakinkan perasaan kesiapannya, klik. Tombol power laptop ditekan dan layar monitor berangsur-angsur menghitam. Sekarang saatnya mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penginapan ini memang bukan kamar hotel. Tapi, sangat nyaman. Dia buka pelan-pelan pintu kamar mandi. Sangat bersih. Kepala keran shower yang mengkilap menunduk ke arah lantai keramik marun, senada dengan warna kloset duduk. Satu handuk tebal putih terlipat di rak di atas wastafel. Dalam posisi menyiku terhadap wastafel, sejajar dengan pintu, satu set gantungan baju tertempel di tembok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aisy keluar lagi ke samping tempat tidur double berbalut bedcover warna putih yang lipatan ujung atasnya masih kencang tersangkut ke kedua sisi bawah matras. Bekas duduknya saat membuka laptop tadi terlihat di atas bedcover.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Rebahan lagi? Tidak. Sore ini mandi, berdandan dan wangi. Sudah semestinya begitu seorang profesional. Nanti malam akan kubuktikan apa pempek di Pasar Minggu sehebat kata teman-teman. Mandi, mandi, mandi.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
_.o0o._</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdNJZ-7uITXntbr9u_s8onkpCF-YptJLz42fwZl5MnPY-H0EQbITrCDQ30rmsTVx7Np8frUgBS7kiB_ciZXJVUFgGDAV9-hOWNsyerfborCjRIeSUjUJa-AF9sAjWbQmaC3TOzkEonZnfd/s72-c/aisyah1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Trik Menulis Opini di Media Massa</title><link>https://mitrakreativa.blogspot.com/2017/05/trik-menulis-opini-di-media-massa.html</link><category>TIPS MENGARANG</category><author>noreply@blogger.com (Yanto Musthofa)</author><pubDate>Mon, 15 May 2017 09:35:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6995873092421891910.post-8355946018484316366</guid><description>&lt;h3&gt;
Menulis artikel opini yang bisa tampil di media massa, skala nasional maupun lokal, itu nikmat. Umumnya, kenikmatan itu lebih bersifat non-material ketimbang material. Cukup terasa nendang barangkali buat anak kos tertentu, tapi honorarium tulisan di suratkabar tak bakal bikin penulisnya kaya raya seperti tukang bubur yang bisa naik haji. Salah satu kenikmatan non-materialnya adalah sebuah pengakuan, bahwa isi pikiran pantas diketahui (dibaca) khalayak.&lt;/h3&gt;
Masalahnya, ruang opini di media massa sangatlah terbatas. Satu suratkabar dalam satu hari rata-rata hanya memuat dua atau tiga artikel opini. Jadi, kompetisinya memang ketat. Selain itu, media massa memerlukan portofolio kepakaran atau otoritas keahlian tertentu sebagai pertimbangan memuat atau tidak sebuah opini. Tapi, itu&amp;nbsp; tidak mutlak? Media besar nasional juga sangat terbiasa menampilkan tulisan-tulisan menarik dari penulis tidak ternama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, apa kriterianya? Soal kriteria opini di media massa sebetulnya sudah tersedia berton-ton tulisan yang mengulasnya. Silakan menghadap ke Mbah Google. Tapi tak apa, sekadar buat diingat-ingat saya uraikan sekilas empat hal yang paling pokok berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
Aktualitas.&lt;/h4&gt;
Sedapat mungkin opini memiliki cantelan berita (newspeg) yang sedang ramai atau hangat. Akan lebih afdhol kalau opini sudah disiapkan untuk suatu momen tertentu yang sudah bisa diantisipasi, misalnya Hari Ibu, Hari Pendidikan Nasional, Awal Puasa dan lain-lain. Atau, jika kita punya sebuah gagasan yang sudah sangat matang, namun tidak punya newspeg yang kuat, simpanlah baik-baik. Suatu saat ketika terjadi peristiwa besar yang terkait dengan opini kita, maka cantelan berita itu tinggal dibubuhkan di bagian awal tulisan.&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
Magnitude&lt;/h4&gt;
Opini berhubungan dengan masalah yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
Kualitas isi&lt;/h4&gt;
Masalah kualitas ini mencakup antara lain kepatuhan pada kaidah tatabahasa, sistematis (runtut), punya daya tarik, logis, kredibel dan seterusnya). Kredibel artinya memiliki basis kajian keilmuwan yang kuat, atau informasi yang ditampilkan berdasarkan sumber-sumber terpercaya. Poin ketiga ini, meminjam istilah Thukul Arwana, lebih banyak berhubungan dengan urusan flying watch atau&amp;nbsp; jam terbang, maksudnya . Semakin sering menulis, akan kian lancar memenuhi kriteria ini.&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
Orisinalitas&lt;/h4&gt;
Tentu saja, redaktur opini media massa akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak kecolongan tulisan plagiat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
OK, keempat kriteria itu mestinya sudah bukan hal yang asing lagi, karena sangat sering dibahas orang.&amp;nbsp; Tapi, dalam tulisan ini, saya ingin membahas lebih khusus tentang trik mendisiplinkan diri saat menulis, agar tidak terbawa arus kepada hal-hal yang tidak relevan dengan ide pokok yang ada dalam pikiran kita. Sebab, sering ketidakdisiplinan membuat tulisan kita terlalu melebar, tidak fokus, dan akibatnya menjadi tidak terlihat utuh, sekalipun di dalamnya terdapat sesuatu yang bernilai sangat tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akan memberi sebuah contoh dengan ilustrasi dalam gambar di bawah ini. Misalnya, kita ditantang saat ini untuk menulis tentang PASAR TRADISIONAL. Secara refleks alamiah, di dalam otak kita akan segera berdesak-desakan puluhan, mungkin ratusan hal yang terkait dengan PASAR TRADISIONAL dalam bentuk kata atau frasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik, sebelum membahas lebih jauh, saya berikan alasan kenapa saya pilih contoh PASAR TRADISIONAL. Pertama, saya anggap mayoritas pembaca sudah sering pergi ke pasar tradisional, kecuali bapak-bapak yang malas mengantar isteri berbelanja ke pasar tradisional. Itu artinya, “isu” PASAR TRADISIONAL memiliki potensi orisinalitas yang besar, karena pengalaman orang berbeda-beda. Kedua, jika ngeh, kita tahu pasar tradisional beberapa hari lagi akan menjadi topik pembicaraan hangat banyak orang, menjelang bulan Ramadhan. Berarti aktual. Ketiga, jika beruntung menemukan sudut amatan (angle) yang tepat, kita bisa mengajukan kritik brilian kepada pemerintahan Presiden Joko Widodo. Berarti magnitude-nya besar, kan? Keempat, karena saya ingin makan lontong sayur pakis Padang. OK, yang keempat lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata atau frasa yang ada dalam gambar itu tentu saja tidak mewakili isi pikiran semua orang. Tapi, sangat mungkin itu muncul. Misalnya, kita teringat debat kusir disertai saling lempar link tentang isu penimbulan gula di Facebook. Atau, kita jadi teringat paparan berbusa-busa pakar ekonomi tentang persaingan tak seimbang antara pasar tradisional dan toko swalayan. Atau, kita teringat berita lama tentang impor ikan lele, bawang putih dan garam. Dan lain-lain, yang sebenarnya bukan muncul secara orisinal dari pikiran kita. Jika kita memulai penuangan ide dari hal-hal yang “jauh” itu, maka sangat mungkin tulisan kita akan terseret arus ke tempat yang tidak kita kenal. Akibatnya, tulisan kita menjadi kabur, tidak runtut dan membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba, misalnya, berangkatlah dari pengalaman tadi belanja ke kios beras Pak Haji Mail. Lalu meneruskan ke kios di depannya, beli bumbu siap cemplung terkenal buatan Koh Li Peg. Wow, kelakar-kelakar akrab Pak Haji Mail dan Koh Li Peg pasti menjadi ilustrasi yang seksi dan sangat kekinian untuk sebuah opini yang menarik. Atau coba zoom in ingatan kita saat tidak tega menawar sayur labu yang dijual seorang kakek di lapak non-kios.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang ingin saya sampaikan dengan contoh-contoh di atas adalah, jangan meremehkan sudut pandang orisinal yang kita dapatkan. Dari sudut pandang orisinal itu, kita bisa mengembangkannya menjadi bagian-bagian yang menarik (silakan baca tulisan sebelumnya tentang mengembangkan ide penulisan). Jika disiplin dengan jalur ini, maka kita menjadi lebih mudah untuk tertib, baik dalam hal memilah-milih dan memasukkan bagian-bagian yang relevan, maupun saat melakukan riset untuk penguatan opini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses pendisiplinan itu, sebagai satu contoh, kurang lebih akan terlihat seperti infografis di bawah ini.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSc-L80_3O80L8HFJbph1GJzAywVC5MC846n4PikLQ5fV0QiPs1_LY6xe0lAAtGpNba_r-lNxH8RR9H-OwoD-BP6CJK-m6weSWSXVMJHq97E9nxcvXppFx7__fuggT3Niid0SnzAceVybG/s1600/Pasar+tradisional1.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1510" data-original-width="1600" height="301" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSc-L80_3O80L8HFJbph1GJzAywVC5MC846n4PikLQ5fV0QiPs1_LY6xe0lAAtGpNba_r-lNxH8RR9H-OwoD-BP6CJK-m6weSWSXVMJHq97E9nxcvXppFx7__fuggT3Niid0SnzAceVybG/s320/Pasar+tradisional1.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam contoh di atas, topik PASAR TRADISIONAL dikerucutkan melalui pengamatan atas penjual bumbu siap pakai. Pengerucutan ini bisa mengarah kepada pembahasan tentang harmoni masyarakat, misalnya. Namun, jika mengikuti pola pengembangan ide seperti pada artikel sebelumnya, tema PASAR TRADISIONAL sebetulnya bisa dituangkan dalam bermacam-macam kalimat pertama, tergantung sisi mana yang ingin kita tampilkan sebagai inti persoalan. Bisa tentang posisi pasar tradisional dalam dinamika ekonomi masyarakat di era toko swalayan. Bisa tentang representasi harmoni kultural&amp;nbsp; di pasar tradisional. Bisa tentang daya tahan ekonomi para pedagang tradisional. Apa saja, yang penting dekat dengan daya jangkau pengetahuan dan minat kita. Pilihan-pilihan sudut pandang ini akan menentukan sekaligus membantu kita dalam melakukan riset untuk mendapatkan bahan-bahan informasi pendukung opini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun perlu diingat, dalam menulis opini, kalimat penunjuk pada &lt;i&gt;newspeg &lt;/i&gt;tidak boleh terlalu lambat muncul. Sebisa mungkin sebelum akhir paragraf kedua. Sehingga pembaca tak akan segera berlalu dari tulisan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, kedisiplinan mengurai ide, tanpa terbawa arus hal-hal yang jauh dan tak terjangkau oleh pengetahuan serta minat kita. Maka, proses akan menjaga sekaligus mengarahkan orisinalitas sudut pandang kita kepada sesuatu yang menarik. Sehingga artikel opini yang kita tulis pun pantas dibaca orang lain. Selamat mencoba.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSc-L80_3O80L8HFJbph1GJzAywVC5MC846n4PikLQ5fV0QiPs1_LY6xe0lAAtGpNba_r-lNxH8RR9H-OwoD-BP6CJK-m6weSWSXVMJHq97E9nxcvXppFx7__fuggT3Niid0SnzAceVybG/s72-c/Pasar+tradisional1.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Laura Ingalls, Novel Pertama di Usia 60-an Tahun </title><link>https://mitrakreativa.blogspot.com/2017/05/laura-elizabeth-ingalls-wilder.html</link><category>INSPIRASI</category><author>noreply@blogger.com (Yanto Musthofa)</author><pubDate>Sat, 13 May 2017 19:21:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6995873092421891910.post-5217990763711251645</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;h3&gt;
Banyak pengarang memberi motivasi “Tidak ada kata terlambat untuk mengarang.”&lt;/h3&gt;
&lt;h3&gt;
‘Iya, sih,... mungkin demikian sebagian di antara kita akan merespons, ...tapi kalau lihat anak-anak SD atau SMP sudah punya karya yang diterbitkan penerbit terkenal macam Mizan, malulah kita, sudah punya anak SD dan SMP belum pernah menulis.’&lt;/h3&gt;
Sepertinya apologi itu benar, dan seakan-akan membenarkan, bahkan memperkuat asumsi bahwa menulis itu persoalan bakat yang tak bisa diganggu-gugat. Silakan, terus dipegang erat-erat kesimpulan itu. Penerbit Mizan sudah menerbitkan puluhan, mungkin ratusan (saya belum mencari angka pastinya) buku karya anak-anak belia dalam bendera Kecil-kecil Punya Karya (KKPK). Itu alasan yang sudah lebih dari cukup untuk menolak motivasi yang tertulis di awal tulisan ini.&lt;br /&gt;
Tidak apa-apa. Saya pun mungkin tidak punya argumentasi yang bisa mengalahkan kesimpulan itu. Tulisan ini hanya catatan kecil tentang kenangan di masa kecil. Hanya kenangan biasa yang tidak eksklusif. Siapa saja yang seusia dengan saya sangat mungkin mengalami hal yang sama.&lt;br /&gt;
Semasa SD sampai SMP, saya suka “bertandang” ke rumah orang yang punya televisi di Hari Minggu. Terkadang harus berjalan sampai satu setengah kilometer, tergantung televisi mana yang tersedia, menyala dengan energi aki (akumulator). Untuk menonton rangkaian siaran stasiun televisi tunggal, TVRI.&lt;br /&gt;
&lt;span id="goog_467270868"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_467270869"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyWl2K1Fe0X1U3WyBY9NsVa_UUjmJ9LitjycP1Y-pMulSBrwimBFBCWVe4pB19AVyOGK7odmSyOYQcx1sXzF0dqYowMdT2CMjlOeatSUx1naRKe3N-WynDrgFZ6qkqcDivRRV0SWsQ8wAQ/s1600/little+house+on+the+prairie.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="960" data-original-width="1600" height="191" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyWl2K1Fe0X1U3WyBY9NsVa_UUjmJ9LitjycP1Y-pMulSBrwimBFBCWVe4pB19AVyOGK7odmSyOYQcx1sXzF0dqYowMdT2CMjlOeatSUx1naRKe3N-WynDrgFZ6qkqcDivRRV0SWsQ8wAQ/s320/little+house+on+the+prairie.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4 style="text-align: center;"&gt;
SCREENSHOT WEBSITE RESMI LITTLE HOUSE ON THE PRAIRIE&lt;/h4&gt;
Sasaran kesukaan saya adalah acara Album Minggu dan Film Minggu Siang,&amp;nbsp; yang biasanya menayangkan film laga selain beberapa serial yang terkenal seperti Land of Giants. Sesekali Dari Gelanggang ke Gelanggang bisa memikat perhatian saya dengan penuh minat. Yang paling menyebalkan untuk anak-anak seperti saya adalah acara talk show. Rasanya seperti berabad-abad menunggu acara seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, kalau aksi safari Minggu saya dimulai cukup pagi, saya biasanya kebagian nonton serial film anak-anak. Scene introduksinya seorang gadis kecil jatuh bangun berlarian di rerumputan bersama anjing lucu. Saya tidak peduli pada deretan huruf italik besar yang kemudian membelakangi scene itu. (Ternyata itu judulnya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus terang, saya juga tidak terlalu mengerti jalan cerita film serial itu. Maklum, model&amp;nbsp; subtitle film jaman dulu sangat panjang, terlalu wordy untuk&amp;nbsp; bisa diikuti anak kampung seperti saya. Jadi, saya hanya menikmati keindahan desa dan rumah-rumah dalam film itu, dan ekspresi senyum dalam percakapan ramah anak-anak, kakak beradik, teman-temannya, ibu, ayah, tetangga, guru, dokter dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpuluh-puluh tahun kemudian, saya baru tahu kalau Little House on the Prairie itu adalah serial tentang hidup seorang pengarang besar, Laura Elizabeth Ingalls Wilder (1867-1957). Silakan, kalau tertarik, berselancar di Internet, banyak yang menulis tentangnya. Saya hanya ingin menukil sekilas saja, bahwa materi kepengarangan Laura Ingalls bersumber dan terdorong oleh keterpaksaan dalam perjalanan hidupnya yang sangat berat di masa sebelum dan sesudah Depresi Besar dekade 1930-an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laura, yang masa kecilnya biasa disapa Bess (Elizabeth), melewati beberapa bidang karier, dimulai dari guru (dia mengaku sebenarnya tidak suka jadi guru). Belakangan, dengan kepandaiannya sebagai bertani dan berternak, dia kerap diundang menjadi pembicara berbagi ilmu. Suatu hari di tahun 1911 (di usia 44 tahun), dia diundang menulis artikel di koran Missouri Ruralist. Ternyata tulisannya dianggap menarik, dan dia pun didapuk menjadi editor-kolumnis. Dia jalani pekerjaan itu sampai sekitar pertengahan dekade 1920-an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kurun waktu setengah dekade kemudian, dia seperti menemukan cintanya pada dunia kepengarangan. Dia terus menulis, mengasah kemampuannya bertutur. Di tahun 1929-1930, atau sudah memasuki usia kepala enam, dia mulai menulis otobiografi. Tahu apa yang terjadi? Biografi dengan berjudul The Pioneer Girl itu terus mental, ditolak penerbit. Baru pada tahun 2014, atau 57 tahun setelah kematiannya, otobiografi itu diterbitkan oleh South Dakota State Historical Society dalam versi anotasi berjudul The Pioneer Giril: An Annotated Biography.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laura menerima royalti pada tahun 1932 (usia 65 tahun) dari novel pertama yang berhasil diterbitkan, Little House in the Big Woods. Harper &amp;amp; Brothers, penerbit, memberinya cek $500. Itulah royalti pertama dan paling kecil yang pernah diterima Laura. Tentu saja untuk masa itu, jumlah tersebut amat sangat besar. Kalau disetarakan dengan masa sekarang, kira-kira sama dengan $8.780 (lebih dari Rp. 117 juta). Sejak itu, novel-novel Laura (tujuh novel plus biografi anotasi) terus mengalir di mesin-mesin percetakan di seluruh dunia, diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya, saya tidak bisa menyusun kesimpulan yang bagus untuk kisah tentang Laura Ingalls. Paling-paling begini: kalau kita merasa sebagai orang yang palin merana-menderita-sengara di seluruh dunia, berarti kita menganggap diri punya modal untuk menjadi pengarang paling terkenal di dunia. Berlebihan, ya? Yah, sekurang-kurangnya kisah Laura bisa jadi cermin untuk tidak terlalu kaku menghukum diri sebagai orang yang tidak berbakat menulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tentu saja nasihat bijak di bagian awal tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyetujui perasaan “Hari ini belum siap mengarang.” Sebab, kesiapan untuk mengarang bukanlah sesuatu yang bisa dipilih waktunya.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyWl2K1Fe0X1U3WyBY9NsVa_UUjmJ9LitjycP1Y-pMulSBrwimBFBCWVe4pB19AVyOGK7odmSyOYQcx1sXzF0dqYowMdT2CMjlOeatSUx1naRKe3N-WynDrgFZ6qkqcDivRRV0SWsQ8wAQ/s72-c/little+house+on+the+prairie.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Panggil Saja Aku Aisy</title><link>https://mitrakreativa.blogspot.com/2017/05/panggil-saja-aku-aisy.html</link><category>CERBUNG</category><author>noreply@blogger.com (Yanto Musthofa)</author><pubDate>Sat, 13 May 2017 01:05:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6995873092421891910.post-6373193753771614550</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmRl418LYMTrfrYPt4ilUK5-btQ3cpo5Ct-KhcH7vj7KnB0Gui5BY2YJpRWj_XO_ro2ucyjuRtfGG6xFv0iBHI3j8ePwdzBSWJnDY3XdXuV3lfj_rqofhUFW3EgJKlVAWecTSik8otwuN1/s1600/aisyah1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1271" data-original-width="1600" height="254" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmRl418LYMTrfrYPt4ilUK5-btQ3cpo5Ct-KhcH7vj7KnB0Gui5BY2YJpRWj_XO_ro2ucyjuRtfGG6xFv0iBHI3j8ePwdzBSWJnDY3XdXuV3lfj_rqofhUFW3EgJKlVAWecTSik8otwuN1/s320/aisyah1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
"Sudah berapa lama, Aisy?"&lt;br /&gt;
"Baru satu jam."&lt;br /&gt;
"Oh, maafkan aku... ak..."&lt;br /&gt;
"Tak apa-apa, Mas. Cukup nyaman berada di ruang tunggu."&lt;br /&gt;
"Syukurlah. Aku tak mengira kamu bisa begitu cepat menembus kemacetan jalanan Jakarta."&lt;br /&gt;
"Hmm... tadinya aku mau pesan voorijder, tapi petugas busway bilang tak perlu."&lt;br /&gt;
"Boleh-boleh... nice try.... kamu punya peluang karier bagus untuk monolog."&lt;br /&gt;
"Sudah tahu." Aisyah membuka tas ransel, mengeluarkan boks file. "Ini, Mas Wawan. Semua ada di sini."&lt;br /&gt;
"Baik, boleh aku buka?"&lt;br /&gt;
"Silakan. Cover letter-nya tertuju ke Bapak Ir. Gunawan Mahardika."&lt;br /&gt;
"Ya. Aku baru saja baca."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aisyah meraih gagang gelas bening di atas meja kaca. Teh manis yang tersisa sudah tidak hangat lagi. Tak ingin minum, tapi dia minum. Efek menahan dengus yang nyaris meletup. Ia mulai gelisah menebak-nebak antara Wawan jutek, jabatannya terlalu serius, atau ia sendiri yang tak pandai baca situasi dan membawa diri. Apakah lontaran-lontarannya tadi kurang pas, terlalu garing, atau....?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, kata "aku" yang digunakan Wawan, "nice try...." semua itu informal, selevel dengan bahasa dalam&amp;nbsp; WA chat mereka selama ini. OK, aku sudah di sini, sudah bertemu Program Director Ir. Gunawan Mahardika, dan sudah menyerahkan berkas yang diminta. Aisyah berhasil menenangkan pikirannya kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menatap sekilas muka Wawan yang masih serius memeriksa lembar-lembar print-out berkas. Lalu ia geser 15 derajat searah jarum jam pandangannya ke poster artistik berbingkai kontras dengan warna tembok di belakangnya. Gambar dua bocah berusia lima tahunan, dari wilayah timur Indonesia, dengan senyum lepas nan sangat elok. "Education for All."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Huruf-huruf dalam semboyan itu seperti berbaris merayap keluar dari kaca pigura, merambati tembok cokelat tua, terus turun ke lantai keramik putih, menjalar di kedua kakinya, naik sampai ke dada, dan mendentumkan degup keharuan. Lamunannya terbang jauh ke Samsul dan teman-teman sebayanya yang bermain di tepian Bengawan Solo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Samsul dan teman-temannya, merekalah pembuat gara-gara ia terlibat perkenalan dan komunikasi akrab dengan Wawan sampai mengantarkannya kemari, ke Jakarta. Lucu juga, batin Aisyah, mengingat pertemuan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dari media mana, Mbak?" itu kalimat pertanyaan pembuka Wawan, yang lebih mirip modal kosakata paspasan berbalut keraguan seorang cowok yang hendak menembak cewek.&lt;br /&gt;
"Aku, Aisyah, bukan wartawati, kok Mas. Cuma senang motret-motret saja. Masnya siapa?"&lt;br /&gt;
"Aku Wawan. Senang berkenalan dengan Mbak Aisyah."&lt;br /&gt;
"Panggil Aisy, saja. Aku yakin aku lebih muda, deh. Maaf, bercanda?"&lt;br /&gt;
"OK, Aisy."&lt;br /&gt;
"Sepertinya dari penampilan, Mas Wawan bukan orang sini, dan bukan orang pemerintah."&lt;br /&gt;
"Betul, aku tinggal di Jakarta. Acara festival budaya lokal ini, menurutku punya daya tarik istimewa dan penting."&lt;br /&gt;
"Ya iyalah, kalau tak menarik tak mungkin ada turis dari Jakarta, ada dari mancanegara juga, lho."&lt;br /&gt;
"Aku bukan turis, aku bekerja."&lt;br /&gt;
"Oh, pantes tadi nanya aku dari media mana. Mas Wawan wartawan?"&lt;br /&gt;
"Bukan."&lt;br /&gt;
"Hmm... sebentar, aku tebak. LSM?"&lt;br /&gt;
"Kurang lebih seperti itu."&lt;br /&gt;
"Wah, menarik ini."&lt;br /&gt;
"Lho, koq, menarik? Oh, ya, pertanyaan-pertanyaanmu ke sekumpulan anak-anak tadi cukup detil, bahkan terlalu detil untuk ukuran hobi fotografi."&lt;br /&gt;
"Aku bukan ahli fotografi juga. Lebih tepatnya, tukang jalan-jalan. Bahasa Bojonegoronya traveler, gitu, Mas."&lt;br /&gt;
"Hahaha....trus, buat apa?"&lt;br /&gt;
"Blog."&lt;br /&gt;
"Wow, keren juga Bojonegoro punya blogger."&lt;br /&gt;
"Menghina."&lt;br /&gt;
"Peace. Maaf. Ampun. Berarti Aisy pintar menulis juga."&lt;br /&gt;
"Cuma hobi aja, Mas. Tapi menyenangkan ada yang mau baca."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti air Bengawan Solo yang krem dan misterius, percakapan terus mengalir sampai menjadi sebuah kesepakatan. Kesepakatan untuk menjalin hubungan istimewa, chatting lewat WA, sampai membuat Aisyah datang di depan poster itu. Poster dengan semboyan yang mengharukan hatinya. Semboyan itu sangat bagus untuk Samsul dan teman-temannya, pikir Aisyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sangat bagus. Lengkap. &lt;i&gt;Very well-prepared&lt;/i&gt;."&lt;br /&gt;
Aisyah sedikit gelagapan. Tapi seketika darah serasa berdesir mengaliri segenap tubuhnya melihat senyum Wawan yang begitu otentik, asli, bukan basa-basi yang dibuat-buat, apalagi bercanda.&lt;br /&gt;
"Oh, terimakasih, Mas Wawan."&lt;br /&gt;
"Kita makan siang prasmanan di sini. Masakan rumahan orang Jakarta. Setelah itu, Hendi baru bisa mengantarmu ke penginapan untuk istirahat."&lt;br /&gt;
"Terimakasih, Mas."&lt;br /&gt;
"Seperti yang aku informasikan via WA, kita sudah jadwalkan presentasimu di depan konsorsium besok mulai pukul sembilan pagi. Akan ada Country Director kami. It's gonna be your great moment."&lt;br /&gt;
"Thank you, Mas Wawan."&lt;br /&gt;
"Yuk, ke dalam."&lt;br /&gt;
Aisyah menggendong tas punggungnya, ikut masuk di belakang Wawan.&lt;br /&gt;
"Ini Mas Hatta, tukang huruf-huruf kriting Java."&lt;br /&gt;
"Hallo Mas Hatta, saya Aisyah."&lt;br /&gt;
"Ini Mas Steve, pinter bahasa Jawa."&lt;br /&gt;
"Njiiih.....gkhulow thiyang yewgjo."&lt;br /&gt;
"Wow.... gkhulow Aisyah."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan Aisyah begitu berbunga-bunga, sehingga bukan hanya spontanitasnya yang ceria mengalir kembali saat menyalami satu per satu awak Grow2Future di ruangan itu, tapi ia benar-benar sudah lupa dengan rasa gelisah dan jengkel beberapa saat sebelumnya di ruang tamu. Tidak terasa letih lagi. Ini perjalanan yang sangat luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Yuk, silakan makan yang sudah siap. Teman-teman yang lain akan menyusul."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
_.oOo._&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://mitrakreativa.blogspot.co.id/2017/05/2-irama-penuh-teka-teki.html" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Bersambung ke #2 Irama Penuh Teka-teki&lt;/a&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmRl418LYMTrfrYPt4ilUK5-btQ3cpo5Ct-KhcH7vj7KnB0Gui5BY2YJpRWj_XO_ro2ucyjuRtfGG6xFv0iBHI3j8ePwdzBSWJnDY3XdXuV3lfj_rqofhUFW3EgJKlVAWecTSik8otwuN1/s72-c/aisyah1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cara Efektif Mengembangkan Ide Penulisan (3)</title><link>https://mitrakreativa.blogspot.com/2017/05/cara-efektif-mengembangkan-ide.html</link><category>TIPS MENGARANG</category><author>noreply@blogger.com (MitraKreativa)</author><pubDate>Mon, 8 May 2017 07:46:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6995873092421891910.post-1745420530678197512</guid><description>&lt;h3&gt;
Mari kita lanjutkan membahas tentang bagaimana cara efektif menulis artikel atau cerita fiksi melalui pengembangan ide penulisan. Dengan mengembangkan cara ini, maka ide-ide yang berlimpah dalam pikiran atau memori kita menjadi tertuang dengan lancar... dan terstruktur.&lt;/h3&gt;
Sebagaimana dibahas pada dua tulisan sebelumnya, sebuah ide penulisan yang bermula hanya dari satu kata atau satu frasa (kumpulan dua kata atau lebih) dapat dikembangkan menjadi sebuah kalimat. Satu kalimat itu lalu dimekarkan menjadi sebuah alenia atau paragraf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingat, kan, lima langkah dalam pengembangan ide awal pada tulisan sebelumnya:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Pilihlah kata kunci ide yang ingin Anda tulis.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tuangkan kata kunci itu dalam sebuah kalimat utuh.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Uraikan kalimat pertama itu dengan beberapa kalimat penjelas.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jadikan itu sebagai sebuah paragraf atau alinea.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Selanjutnya, jika paragraf itu mengandung poin-poin ide yang kuat, maka paragraf-paragraf penjelas sampai paragraf penutup akan menalir dengan lancar.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Misalnya, sebagai contoh kita akan gunakan sebuah frasa "Kampung Nelayan". Kita tempatkan frasa itu dalam sebuah kalimat berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah 16 tahun kutinggalkan, hari ini aku berada kembali di sini, &lt;span style="background-color: yellow;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;kampung nelayan&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;, tempat aku tumbuh besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan, dalam kalimat tersebut ada beberapa kata yang mesti diuji atau dipertanyakan kejelasannya, termasuk frasa kampung nelayan itu sendiri. Ada kata frasa "16 tahun"; ada kata "kutinggalkan"; ada frasa "hari ini"; ada kata "aku." Semua itu bisa dipertanyakan kejelasannya dan menjadi sumber pengembangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua bisa dan perlu dijelaskan, baik segera maupun belakangan. Penjelasan untuk satu kata atau satu frasa bisa hanya satu kalimat saja, namun bisa juga menjadi satu paragraf, bisa dua paragraf, bisa tiga, empat dan seterusnya, selama penjelasannya relevan menurut kita. Inilah yang disebut proses membuat deskripsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, untuk membuat paragraf "produksi pertama", terserah pilih kata mana saja atau frasa mana saja. Saya sebut "produksi pertama", karena paragraf yang dihasilkan pertama ini tidak mesti ditempatkan di awal karangan. Bisa di awal, bisa di tengah, bisa di mana saja. Tapi, ini adalah alur awal dalam mengembangkan sebuah ide penulisan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam contoh sebagaimana terlihat pada diagram di bawah ini, kita pilih frasa "hari ini" untuk menghasilkan paragraf "produksi pertama". Sedangkan kata-kata atau frasa lain yang menurut kita kuat untuk dibuatkan deskripsinya, akan menjadi paragraf-paragraf lain.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPlkjEaIB0IVJraNJm3O7WmsaE_iY9bu0scfv5BXkm7q0J_z4GpvyaTtLpNeICRkT2W45TOCMY3aF2Z8Tb14sgivVna-cfm0Ksr9FASy3dP0NJeAu5wOD6sccrZ7Fw0ZTU_C5kyyHrFGEF/s1600/paragraphing.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1600" data-original-width="1132" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPlkjEaIB0IVJraNJm3O7WmsaE_iY9bu0scfv5BXkm7q0J_z4GpvyaTtLpNeICRkT2W45TOCMY3aF2Z8Tb14sgivVna-cfm0Ksr9FASy3dP0NJeAu5wOD6sccrZ7Fw0ZTU_C5kyyHrFGEF/s320/paragraphing.jpg" width="226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;h4&gt;
&lt;i&gt;Proses pengembangan ide penulisan yang efektif&lt;/i&gt;&lt;/h4&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan cara itu, pada tahap awal, sebuah ide yang berupa satu frasa "Kampung Nelayan" sudah bisa kita kembangkan sekurang-kurangnya menjadi enam paragraf, termasuk paragraf "produksi pertama". Ada dua hal yang kita capai sekaligus dari proses tersebut: yakni pengembangan ide menjadi paragraf (paragraphing) dan patokan pengembangan karangan atau outline.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh di atas adalah bentuk karangan fiksi atau rekaan, yang pengembangannya berdasarakn rekaan atau imajinasi kita. Sunggupun begitu, sebuah karangan fiksi memerlukan dukungan pengetahuan riil yang dihasilkan dari pengamatan atau riset. Mengapa? Karena salah satu kekuatan karangan fiksi adalah kemampuan membawa pembaca seakan-akan melihat dunia nyata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga, misalnya saat kita bercerita tentang "aku" si anak nelayan, imajinasi kita tidak "tersesat" memasukkan cerita masa kecilnya di tahun 1980-an bermain gadget. Ikan kembung makan kedondong.Tak nyambung, dong. Maka, perlu riset, kira-kira mainan apa sih yang usum di kalangan anak-anak nelayan masa itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan selanjutnya, apakah pola pengembangan ide seperti di atas juga berlaku untuk karangan non-fiksi, misalnya artikel opini untuk suratkabar? Sama. Cara itu juga bisa efektif membantu pengembangan ide dalam bentuk-bentuk karangan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkatnya, setiap kata atau frasa yang kita gunakan perlu kita uji: apakah sudah cukup jelas bagi pembaca? Kalau belum jelas, itulah jalan kita mengembangkan ide menjadi kalimat, menjadi paragraf, dan paragraf-paragraf selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, ya, hampir lupa. Sebaiknya lupakan semua isi tulisan ini, dan mulailah mengarang sebelum belajar mengarang. Menulislah sebelum belajar menulis. Soalnya, spontanitas aliran ide itu sangat mahal harganya. Menulislah sebelum terjebak dalam dalam pusaran pencarian cara menulis yang jitu, cara menulis yang efektif, cara menulis yang lancar dan sebagainya. Selamat mengarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://mitrakreativa.blogspot.co.id/2017/04/cara-efektif-mengembangkan-ide.html" rel="nofollow" target="_blank"&gt;ARTIKEL KE-1 DARI TIGA TULISAN&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://mitrakreativa.blogspot.co.id/2017/04/cara-efektif-mengembangkan-ide_21.html" rel="nofollow" target="_blank"&gt;ARTIKEL KE-2 DARI TIGA TULISAN&lt;/a&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPlkjEaIB0IVJraNJm3O7WmsaE_iY9bu0scfv5BXkm7q0J_z4GpvyaTtLpNeICRkT2W45TOCMY3aF2Z8Tb14sgivVna-cfm0Ksr9FASy3dP0NJeAu5wOD6sccrZ7Fw0ZTU_C5kyyHrFGEF/s72-c/paragraphing.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>5 Hambatan Terbesar dalam Mengarang</title><link>https://mitrakreativa.blogspot.com/2017/05/5-hambatan-terbesar-dalam-mengarang_5.html</link><category>TIPS MENGARANG</category><author>noreply@blogger.com (MitraKreativa)</author><pubDate>Fri, 5 May 2017 00:06:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6995873092421891910.post-5292445451568294102</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBEvMGF7Qqv_Ks9FQO9I0gexxChfbk5kBnBDhj8X0AwTpU6qORpyFNAIKbRyxiAkqKTddWQhYtT4KZhiXQ-z3v9q2VPPrKYGVrKW9AtKLjcoRJwkUoJmnmYI198TIc1Xqo8vrx2Bd3aGCT/s1600/Hambatan+Mengarang.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="867" data-original-width="1600" height="173" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBEvMGF7Qqv_Ks9FQO9I0gexxChfbk5kBnBDhj8X0AwTpU6qORpyFNAIKbRyxiAkqKTddWQhYtT4KZhiXQ-z3v9q2VPPrKYGVrKW9AtKLjcoRJwkUoJmnmYI198TIc1Xqo8vrx2Bd3aGCT/s320/Hambatan+Mengarang.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h4&gt;
[CATATAN: Sebelum lanjut membahas materi paragraphing sebagai lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang cara efektif mengembangkan ide penulisan, kita selingi dulu dengan satu artikel tentang mengatasi hambatan-hambatan terbesar dalam mengarang.]&lt;/h4&gt;
&lt;h4&gt;
&amp;nbsp;&lt;/h4&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Saya cukup terkesima ketika iseng-iseng membuka satu dua situs layanan freelance online job. Rasa-rasanya setiap detik muncul iklan baru mencari penulis atau pengarang. Ya, di seluruh dunia ada jutaan orang punya blog atau website, tapi banyak dari mereka tak bisa mengisi sendiri blog atau situsnya.&lt;/h3&gt;
Mereka butuh penulis atau pengarang freelance agar blog atau website mereka lancar terisi. Sebab, keteraturan pengisian atau posting ibarat nyawa penggerak agar blog atau website bisa menjadi mesin penambang uang dari iklan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau sudah lebih dari tujuh tahun bekerja menjadi penulis lepas dan penerjemah buku lepas, saya belum pernah sekalipun terpakai dalam online job seperti itu. Maklum, saya terbilang spesies purba yang kurang gesit mengikuti kecepatan gerak abad teknologi informasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali ke soal pengarang atau penulis. Fenomena banyaknya lowongan penulis online itu&amp;nbsp; paradoks. Dalam pendidikan atau persekolahan di seluruh dunia, isi kegiatan terbanyaknya adalah mendengarkan, membaca, menulis dan berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi faktanya, pendidikan atau sekolah tidak membuat pesertanya otomatis menjadi pendengar, pembaca, penulis dan pembiar ayang baik. Bahkan untuk masalah yang sudah mereka tekuni selama bertahun-tahun. Jadi, pasti ada suatu masalah dalam persekolahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
OK, blog ini bukan untuk diskusi soal persekolahan atau pendidikan, dan artikel ini hanya sebuah ajakan mengenali apa, sih, sebetulnya penghambat terbesar dalam mengarang. Nah, kalau kelima hambatan terbesar ini bisa dikalahkan, maka mestinya mengarang itu seleluasa anak usia dini yang sudah mulai lancar berbicara untuk mengungkapkan atau mengekspresikan apa yang ada dalam pikirannya.Itu dari sisi keleluasaan kemauannya. Namun, dari sisi kemampuan tentu saja kita sudah tidak lagi menghadapi kendalah bahasa dan berbahasa (language and language speech).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kita bukan anak usia dini lagi, maka mestinya saat kita mengarang, karangan kita tak terkirakan banyaknya. Kenapa begitu? Sebab, mengarang adalah menuangkan isi pikiran dan perasaan yang kita sendiri pemiliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isi pikiran dan perasaan bisa berupa pengetahuan yang sudah kita pelajari. Bisa juga, pemahaman yang kita serap dan kita bangun dari membaca buku. Atau, pemahaman yang kita susun dari melihat keadaan, peristiwa, termasuk apa yang kita rasakan. Bahkan, hanya angan-angan tentang sebuah rumah mungil di dekat sungai jernih, dikelilingi aneka tanaman kolam ikan dan kandang ternak, adalah "bahan" yang tidak pernah habis untuk dituangkan dalam mengarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, apa yang terjadi? Semua "bahan" itu tumpas sebelum muncul, apalagi tumbuh, ketika kita DISURUH mengarang. Sengaja saya memakai huruf kapital untuk kata "disuruh". Soalnya, dengan DISURUH, mengarang menjadi tidak bebas-leluasa lagi karena tidak digerakkan oleh dorongan dari dalam diri kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah hambatan pertama:&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
#1 Paksaan Faktor Eksternal&lt;/h4&gt;
Ada banyak sekali faktor eksternal yang "memaksakan" agar karangan kita mengikuti ketentuan-ketentuan faktor eksternal itu. Bukan kebetulan bahwa dalam pengalaman saya menjadi fasilitator pelatihan penulisan, semakin rendah jenjang pendidikan semakin tinggi spontanitas kepengarangannya. Ini disebabkan semakin tinggi jenjang pendidikan semakin banyak faktor eksternal yang menyusup ke alam bawah sadar, sehingga semakin banyak pertimbangan dan alasan untuk tidak mengarang saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kenali sebagian faktor eksternal yang umum berlaku. Pertama, pelajaran mengarang. Sewaktu kita menerima dan membiarkan diri kita menjadi peserta pelajaran mengarang, maka pertama-tama yang segera muncul sebelum kita menulis satu huruf pun adalah bayangan tentang Guru Bahasa Indonesia, tatabahasa, dan ponten yang akan kita dapatkan. Ini berlaku juga dalam banyak pelatihan penulisan. Ibaratnya, kalau kita mengarang dengan menggunakan alat tulis berupa pensil, semua hal itu menjadi besi pemberat yang terikat kencang ke pensil yang sedang kita gunakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana cara mengatasinya? Ya lupakan saja semua itu sebelum kita mengambil alat tulis atau komputer untuk memulai mengarang. Biarkan isi pikiran atau perasaan kita tumpah tanpa khawatir soal penilai guru atau tutor, tentang tatabahasa, tentang penilaian orang pada karangan kita.&lt;br /&gt;
Kalau tidak bisa melupakan, berarti kita memiliki hambatan terbesar kedua:&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
#2 Kerelaan Mengikuti Paksaan Faktor Eksternal&lt;/h4&gt;
Ini sudah masuk ke kategori faktor internal yang kita hadapi sebagai penghambat dalam mengarang. Dalam keadaan seperti ini, kita membiarkan ketentuan-ketentuan faktor eksternal berkuasa atas penuangan ide, pikiran, perasaan ke dalam karangan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan hanya membatasi karangan kita, ketentuan-ketentuan faktor eksternal itu dalam banyak kasus membuat kita bahkan tidak pernah mulai mengarang sama sekali. Tidak ada orang lain yang bisa membantu untuk mengalahkan hambatan internal ini selain diri kita. Kita tidak membutuhkan guru, tutor, pembimbing, pelatih, konsultan.... apapun namanya untuk mengatasi hambatan internal ini.&lt;br /&gt;
Bagaimana cara mengatasinya? Katakan pada diri sendiri: "Saya sedang mengarang. Saya sedang menuangkan isi pikiran atau perasaan saya sendiri. Bukan mengerjakan pesanan orang lain yang tidak mengerti isi pikiran atau perasaan saya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cobalah lakukan hal sederhana berikut ini:&lt;br /&gt;
Di pagi hari setelah bangun tidur, atau setelah shalat subuh, rekatkan kedua telapak tangan, selang selingkan jemari tangan kanan dan kiri, kemudian tangkupkan jemari, dan buka kembali telapak tangan. Perhatikan beberapa detik, lalu balik dan perhatikan punggungnya selama beberapa detik. Sekarang, mulai tulis tentang kedua tangan berikut jemarinya sebanyak mungkin yang kita tahu dan kita rasakan. Jika diperlukan, misalnya untuk mengetahui anatomi, ruas-ruas tulang, urat-urat nadi, otot-otot, fungsi fungsi dan lain-lain, tanya sama Mbah Google. Terus tuliskan sebanyak mungkin. Lalu, ceritakan apa saja yang kita ingat selama sehari sebelumnya yang berkaitan dengan jemari dan tangan kita. Dan, katakan apa yang ingin kita katakan kepada Allah yang menciptakan tangan dan jemari kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya yakin seandainya ada sepuluh orang yang sudi menulis untuk blog saya ini, maka saya punya sepuluh tulisan menarik dan unik tentang tangan dan jemari. Dengan penuh kebahagiaan saya akan muat tulisan-tulisan itu di blog saya, dan dengan rasa terimakasih yang tak terkirakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Intinya, yang ingin saya sampaikan dari poin ini, mengarang adalah menuangkan sesuatu yang bersumber dari pikiran dan perasaan kita, sesuatu yang terjangkau dan dekat dengan diri kita, dan karena itu selalu eksklusif serta unik. Dan, tentu saja, sesuatu yang sangat dekat dengan kita, dan kita sangat mengenal, pasti bukan hanya tangan dan jemari saja. Ambil satu, uraikan satu-satu bagiannya, jelaskan pelan-pelan.&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
#3 Perasaan Takut Salah&lt;/h4&gt;
Penghambat terbesar ketiga adalah rasa takut salah. Kalau kita setuju bahwa mengarang adalah menuangkan sesuatu dari pikiran dan perasaan kita, maka sesungguhnya yang kita hasilkan adalah sesuatu yang punya dasar: kita melihat, membaca, mendengar, mengalami, merasakan, berpikir, merenung, mengkhayal dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama kita menyadari bahwa karangan kita adalah pandangan pribadi yang punya "dasar-dasar otentik" sebagaimana saya sebutkan di atas, maka mestinya tidak ada perasaan takut salah yang menghadang kita untuk memulai mengarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ada yang bertanya, "tapi, kan, karangan kita akan dibaca orang?" Nah, itu adalah bagian lanjut dari proses mengarang yang masuk ke dalam kategori urusan teknis. Problemnya, yang sering terjadi urusan teknis, sudah datang terlebih dulu mengganggu sebelum sepotong pun isi pikiran kita tertuang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Urusan teknis itu sejenis memilih judul yang baik; ejaan yang benar; tatabahasa yang benar; komposisi dan susunan paragraf yang baik dan benar; menambahkan unsur pemikat; cara memikat pembaca di paragraf pertama; dan banyak lagi yang lainnya termasuk menghindari kesalahan. Sudah pasti, semua itu kita butuhkan saat kita mempublikasikan karangan. Tapi, itu nanti, setelah kita lancar mengarang layaknya refleks berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, proses-proses yang saya sebutkan di atas, yaitu melihat, membaca, mendengar, merasakan dan seterusnya pada hakikatnya proses yang akan terakumulasi menjadi pembelajaran sepanjang hidup kita. Sehingga, sesungguhnya setiap kita memiliki mekanisme otomatis untuk menghindari kesalahan, memperbaiki kesalahan, melakukan kebaikan, memperbaiki kebaikan dan seterusnya. Itu proses alamiah manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini belum bicara tentang prestasi akademik istimewa, bahkan otoritas keahlian atau spesialisasi yang dicapai melalui jalur pendidikan formal tertentu. Mestinya lebih hebat lagi karangannya. Mungkin (ini hanya dugaan sumir) rasa takut salah dipupuk oleh pengalaman yang ditumpuk bertahun-tahun di sekolah yang mengukur prestasi dari salah-benar menjawab soal ujian. Entahlah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, saya cenderung mengatakan bahwa salah dan benar tidak relevan dalam memulai dan menjalankan proses kreatif mengarang. Salah dan benar akan menjadi relevan dalam proses pengemasan, dan itu dilakukan setelah proses kreatif mengarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana cara mengatasi hambatan rasa takut salah? Katakan pada diri sendiri, "Saya mengarang dengan kejujuran atas apa yang saya ketahui, saya lihat, saya dengar, saya rasakan, saya pikirkan, saya renungkan, saya impikan, saya imajinasikan........ salahnya di mana?" &lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
#4 Perasaan Takut Jelek&lt;/h4&gt;
Sama seperti hambatan nomor 3, ini adalah faktor internal yang kuat untuk menghalangi kita mengarang, bahkan memulai mengarang. Bukan satu dua, tapi sangat-sangat sering saya membaca tulisan teman di media sosial (yang mengaku bukan pengarang), dan saya terkesima, hanyut, terpesona dan kagum. Mengapa? Karena tulisan itu lahir dihasilkan dari kemurnian atau kejujuran atas apa yang dipikirkan, diketahui, dirasakan.... dan seterusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah dalam satu pelatihan di sebuah sekolah di Jawa Timur, seorang anak kelas I SMP, kami minta membacakan hasil tulisan spontan-nya dalam waktu sekitar satu jam. Pelan-pelan suasana seisi ruangan yang dihadiri para peserta, para guru dan para orangtua murid menjadi sendu. Hening, senyap. Semua larut dalam haru oleh kisah kehidupannya yang nyata, dan saya cukup malu juga karena airmata saya ikut meleleh, seperti para hadirin yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, seorang temannya mendapat giliran membacakan karya. Waktu itu kami memang pilih secara instan dua peserta yang mengarang setelah pemberian materi hanya sekitar satu jam. Kebalikannya, dengan kelincahan bertutur yang mulus, peserta itu membuat seisi ruangan larut bersama letupan-letupan tawa. Lucu, menggemaskan dan mengagumkan bagusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua peserta itu benar-benar lepas dalam menuangkan isi pikirannya, lepas berkomunikasi, seperti berbicara, tak terbebani rasa takut tulisannya akan jelek, sehingga tidak menarik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana cara mengatasi perasaan takut jelek? Katakan pada diri sendiri, "Cara saya memandang sesuatu, menyerapnya, mencampurnya dengan pengalaman yang tersimpan dalam memori saya, dan cara mengekspresikannya, pasti berbeda dari orang lain, bahkan untuk objek yang sama."&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
#5 Semangat Menghasilkan Karya Hebat dan Cepat&lt;/h4&gt;
Semangat yang menggebu-gebu untuk mengarang adalah satu hal. Itu bagus dan sangat bagus. Tapi semangat menggebu-gebu untuk menghasilkan karya hebat dalam waktu cepat adalah hal lain. Dalam banyak kasus, semangat seperti ini justru punya efek yang sama buruknya dengan penghambat nomor 3 dan 4, alias membuat orang tidak pernah mengarang sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan bagi seorang penulis berpengalaman, penghambat jenis ini juga kerap muncul. Itu terjadi ketika kita kehilangan hasrat untuk menikmati setiap proses yang dibutuhkan dalam mengarang. Proses yang mengalir, satu-satu, dan tidak terburu-buru. Mengarang, seperti halnya berbicara, menjahit, menganyam, main tenis meja, main bola basket, adalah keterampilan, yang semakin sering dilakukan semakin bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkadang sebuah ide sederhana yang tiba-tiba muncul, jika ditekuni dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh bisa menghasilkan karangan yang sangat hebat. Namun, ide itu bisa pupus manakala kita tergoda oleh sebuah ide lain yang terasa "lebih hebat" tapi tak kunjung berbuah karena terlalu "jauh" dari kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah 5 hambatan terbesar dalam mengarang. Ingin tahu salah satu indikasi kuat saat kita berhasil mengalahkan kelima hambatan tersebut? Jawabannya: lupakan semua seluruh isi tulisan saya ini, dan mulai mengarang sekarang!&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
Mengaranglah sebelum belajar mengarang! &lt;/h4&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBEvMGF7Qqv_Ks9FQO9I0gexxChfbk5kBnBDhj8X0AwTpU6qORpyFNAIKbRyxiAkqKTddWQhYtT4KZhiXQ-z3v9q2VPPrKYGVrKW9AtKLjcoRJwkUoJmnmYI198TIc1Xqo8vrx2Bd3aGCT/s72-c/Hambatan+Mengarang.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Cara Efektif Mengembangkan Ide Penulisan (2)</title><link>https://mitrakreativa.blogspot.com/2017/04/cara-efektif-mengembangkan-ide_21.html</link><category>TIPS MENGARANG</category><author>noreply@blogger.com (MitraKreativa)</author><pubDate>Fri, 21 Apr 2017 20:10:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6995873092421891910.post-6400236473252273971</guid><description>&lt;h3&gt;
Tulisan bagian satu menggambarkan betapa masalah "mencari ide"&amp;nbsp; dalam menulis itu paradoks. Kenapa? Setiap orang punya kehidupan dan jalan hidup yang unik. Sehingga, mestinya tidak ada alasan "tidak punya ide" untuk menulis. Dalam artikel bagian kedua ini, saya akan menguraikan cara dan teknik yang efektif dalam mengembangkan ide, sehingga proses penulisan menjadi lancar.&lt;/h3&gt;
Dua orang teman sekantor, satu divisi, satu ruang kerja, dan dengan pangkat atau golongan setara masing-masing selalu punya peluang untuk memiliki keunggulan atau keistimewaan khusus yang tak dimiliki temannya. Begitu pula, murid-murid satu sekolah, satu jurusan, satu kelas, dengan guru yang sama, buku yang sama, waktu belajar yang sama, selalu peluang untuk memiliki keunggulan atau keistimwaan khusus yang tak dimiliki sesama murid lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bahan keunikannya. Sekarang tentang akses informasi untuk melengkapi atau memperkaya ide.&lt;br /&gt;
Saat ini, di abad informasi digital, seperti diuraikan&amp;nbsp; di tulisan pertama, bisa mengakses informasi nyaris tanpa batas (kecuali kuota internet, barangkali). Bahkan dalam hal informasi digital ini pun masih mengandung keunikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa? Sistem algoritma mesin pencari seperti Google membuat layanan internet semakin personal. Google seakan-akan tahu (mungkin sok tahu) apa yang sebetulnya kita cari ketika kita mengetik satu kata kunci. Akibatnya, dengan kata kunci sama di Google, pencarian saya dan pencarian kita akan menghasilkan daftar hasil pencarian yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, terlepas dari soal keunikan itu, intinya adalah bahwa abad informasi digital memungkinkan kita nyaris tanpa batas mendapatkan apapun informasi yang kita butuhkan. Kita ingin belajar dasar-dasar elektronika, tersedia banyak guru baik hati yang siap mengajari tanpa pungut biaya seperak pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita ingin belajar berocok tanam sayur organik, ada "sekolah" virtual yang tidak menuntut Anda lulus ujian tengah semester, ujian akhir semester, dan dapat nilai rapor 10. Kita ingin belajar bahasa Inggris dari simple present sampai panduan baca literatur berbahasa Ingris, jangan khawatir, ada. Dan, tentu saja, buku elektroni, atau e-book, berlimpah sesuai dengan bidang minat kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, soal keunikan setiap orang punya. Bahan tulisan atau referensi tersedia. Tidak seperti dua puluh atau tiga puluh tahun lalu, harus punya kartu anggota perpustakaan British Council atau American Cultural Center, atau memfotokopi literatur di Perupustakan CSIS, misalnya. Lalu, kenapa masih ada pertanyaan 'Saya mau menulis apa?' Atau pasrah, 'Saya tak punya ide untuk ditulis'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keputus-asaan seperti itu bersumber dari satu kata saja: belenggu. Belenggu tidak mau menulis. Belenggu takut menulis. Belenggu ingin cepat menulis. Bahkan, belenggu ingin menghasilkan tulisan luar biasa yang mengguncang dunia. Semua itu belenggu yang membuat orang tidak pernah mulai menulis.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHdLc_UUOtQp1ksEsLIUAVNTV0G_ef2i1lBEaw-drc4MbBaS9X-PUHGeaODS2AkU0ZNcUOj6C4vLHIfq-A04Yw7pG6ZwV9HDYGDWaktmEBUWAm-K0lYiVauiiBy7TyASU1TCx_K1E0Mtja/s1600/C-News.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="640" data-original-width="480" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHdLc_UUOtQp1ksEsLIUAVNTV0G_ef2i1lBEaw-drc4MbBaS9X-PUHGeaODS2AkU0ZNcUOj6C4vLHIfq-A04Yw7pG6ZwV9HDYGDWaktmEBUWAm-K0lYiVauiiBy7TyASU1TCx_K1E0Mtja/s320/C-News.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Cara seperti yang sudah dibuktikan para peserta pelatihan penulisan (sebagaimana diceritakan di tulisan pertama) terbukti efektif. Sehingga kalau dibuat road-map dari ide menjadi tulisan, bentuknya akan seperti ini:&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
PENGEMBANGAN IDE AWAL&lt;/h3&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;h4&gt;
&amp;nbsp;Pilihlah kata kunci ide yang ingin Anda tulis.&lt;/h4&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;h4&gt;
Tuangkan kata kunci itu dalam sebuah kalimat utuh.&lt;/h4&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;h4&gt;
Uraikan kalimat pertama itu dengan beberapa kalimat penjelas.&lt;/h4&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;h4&gt;
Jadikan itu sebagai sebuah paragraf atau alinea.&lt;/h4&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;h4&gt;
Selanjutnya, jika paragraf itu mengandung poin-poin ide yang kuat, maka paragraf-paragraf penjelas sampai paragraf penutup akan menalir dengan lancar.&lt;/h4&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Paragraf pertama yang dihasilkan tidak dengan sendirinya akan menjadi paragraf pembuka. Bisa jadi, paragraf produksi pertama itu baru muncul di bagian tengah atau mendekati akhir tulisan. Soal itu merupakan seni mengatur irama tulisan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paragraf produksi pertama berkemungkinan menjadi paragraf utuh yang tak perlu disisipi kata atau frase, kalimat tambahan, atau bahkan beberapa kalimat tambahan. Tapi, bisa juga terjadi, paragraf itu baru merupakan kumpulan poin-poin ide, yang masing-masing membutuhkan kalimat-kalimat penjelas, bahkan paragraf-paragraf penjelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sering terjadi pada proses penulisan, terutama yang menyangkut bidang spesialis: kita menganggap setiap pembaca pasti sudah tahu apa yang dimaksud kata-kata tertentu yang tertulis dalam paragraf. Yang tidak menyangkut bidang spesialis pun, sebuah kalimat tidak boleh meninggalkan lubang-lubang informasi sehingga menimbulkan pertanyaan di benak pembaca, 'maksudnya apa'?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh:&lt;br /&gt;
Masyarakat merasakan kekecewaan yang mendalam terhadap kinerja pemerintah. Keadaan serba tidak menentu dan kacau, sehingga muncul gerakan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Banyak tokoh nasional menyatakan keprihatinan dan mendukung gerakan mahasiswa. Harus ada revolusi.&lt;br /&gt;
Paragraf di atas membawa ide pokok: revolusi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ide pokok itu dinyatakan dengan sebuah kalimat: Harus ada revolusi. Untuk sampai pada kalimat kesimpulan itu, dibeberkan beberapa poin-poin ide sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;masyarakat&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;kekecewaan mendalam&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;kinerja pemerintah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;keadaan kacau&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;gerakan mahasiswa&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;tokoh nasional&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;keprihatinan&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Bukan tidak mungkin, misalnya, orang menulis paragraf seperti itu sesungguhnya memiliki informasi atau data yang bisa digunakan untuk sampai pada kalimat kesimpulan di atas. Namun, informasi atau data yang dimiliki ditinggal di dalam kepalanya tidak digunakan dalam tulisan, seakan-akan setiap pembaca sudah punya informasi dan data yang persis sama dengan yang ada dalam kepalnya sendiri. Akibatnya, sebagai tulisan, paragraf itu lemah karena semua poin ide yang tersaji praktis meninggalkan lubang informasi.&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Masyarakat, yang mana? Siapa saja? dst.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kekecewaan mendalam, apa penyebabnya? Seperti apa? Bagaimana bentuk kekecewaan itu? dst.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kinerja pemerintah, di bidang apa? Seberapa parah? Datanya seperti apa? dst.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Keadaan kacau, seperti apa? dst.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Gerakan mahasiswa, di mana? Berapa? Universitas apa? dst.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tokoh nasional, siapa saja? Apa latar belakangnya? dst&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Keprihatinan, apa rasionalisasinya? apa poin-poin yang menjadi keprihatinan?&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Pada tulisan berikutnya akan kita bahas tindak lanjut bagaimana menguji paragraf pertama yang dihasilkan (saya sebut ini sebagai pragraf produksi pertama), dan mengembangkannya menjadi paragraf-paragraf penjelas sampai paragraf penutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[&lt;a href="https://mitrakreativa.blogspot.co.id/2017/05/cara-efektif-mengembangkan-ide.html" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Bersambung&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://mitrakreativa.blogspot.co.id/2017/04/cara-efektif-mengembangkan-ide.html" target="_blank"&gt;ARTIKEL SEBELUMNYA&lt;/a&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHdLc_UUOtQp1ksEsLIUAVNTV0G_ef2i1lBEaw-drc4MbBaS9X-PUHGeaODS2AkU0ZNcUOj6C4vLHIfq-A04Yw7pG6ZwV9HDYGDWaktmEBUWAm-K0lYiVauiiBy7TyASU1TCx_K1E0Mtja/s72-c/C-News.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cara Efektif Mengembangkan Ide Penulisan (1)</title><link>https://mitrakreativa.blogspot.com/2017/04/cara-efektif-mengembangkan-ide.html</link><category>TIPS MENGARANG</category><author>noreply@blogger.com (MitraKreativa)</author><pubDate>Sat, 8 Apr 2017 23:28:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6995873092421891910.post-5058040088869145417</guid><description>&lt;h3&gt;
Setiap orang memiliki modal gagasan berlimpah untuk mengarang atau menuangkannya menjadi tulisan. Baik itu menulis artikel/kolom; tulisan ringan sampai yang berat, menulis makalah, paper, cerita pendek, bahkan sampai novel dan buku. Namun anehnya, sebelum sampai kepada soal cara dan langkah-langkah mengarang atau teknik menulis, orang justru sering menghadapi kendala besar dalam hal yang berkaitan dengan modal utama yang sudah dimilikinya.&lt;/h3&gt;
Ya, salah satu kendala besar yang kerap menghambat orang untuk menulis, bahkan membuat orang tidak pernah mau mencoba menulis adalah pertanyaan "Saya mau menulis&amp;nbsp; apa?" Atau ringkasnya, orang sering merasa seakan-akan "tidak punya ide" untuk ditulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ironis, di abad teknologi informasi yang memungkinkan tersedianya referensi digital nyaris tanpa batas (selain kuota internet, mungkin), belenggu itu tetap besar. Problemnya tidak seperti, misalnya, menulis skripsi dua puluh tahun yang lalu. Ketika menemukan ide tema atau judul, seorang mahasiswa akan menghadapi masalah, 'apakah bahannya cukup? di mana saya harus&amp;nbsp; dapatkan bahan itu? apakah mungkin bahan itu saya dapatkan?'&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang situasinya nyaris berbalik. 'Mana bahan yang relevan dengan ide skripsi saya? Mana yang harus saja yang harus&amp;nbsp; saya kesampingkan, biar tidak terlalu&amp;nbsp; melebar?' Tapi, entah kenapa,&amp;nbsp; dalam keadaan terjepit seperti menyusun skripsi, atau dalam keadaan leluasa tapi ingin cara mudah, orang mudah tergoda untuk melakukan hal tak terpuji, yakni plagiarisme atau&amp;nbsp; penjiplakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap detik yang dialami setiap orang dari bangun pagi sampai waktu bersiap-iap untuk tidur di malam hari sesungguhnya adalah sumber ide. Bukan hanya sekadar ide, tapi ide yang orisinal, otentik dan eksklusif. Eksklusif artinya tidak akan sama dengan ide orang lain. Ini berlaku untuk kebutuhan jenis penulisan apa saja, fiksi maupun non-fiksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat mendengarkan ceramah, khutbah, paparan seminar, membaca buku, artikel, berita, atau bahkan sekadar melihat atau menguping pembicaraan dua anak kecil... semua itu bahkan selalu menyediakan ruang untuk munculnya ide yang orisinal dalam benak kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa demikian? Sebab, apa yang kita lihat, kita dengar, atau kita baca sesungguhnya mengalami proses penyerapan dan kemudian perpaduan dengan "referensi" yang sudah terhimpun dalam memori kita. Sedangkan memori itu sendiri&amp;nbsp; mengandung unsur sudut pandang atau persepsi subyektif. Maka yang dibutuhkan sebetulnya adalah 'sedikit' kesabaran untuk mengembangkan ide penulisan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut ini contoh sederhana bagaimana sebuah ide yang "umum" membutuhkan hanya sedikit saja kesabaran untuk mengembangkannya. Dalam pelatihan menulis untuk anak-anak SD, SMP sampai SMA yang disponsori Kementerian Pendidikan di tahun 2011, ditetapkan tema umum untuk ditulis anak-anak dalam koran yang akan mereka buat. Temanya seputar problem sosial remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya ajak para peserta membuat pertanyaan-pertanyaan. Tapi, sebelum itu saya ajukan pertanyaan kepada mereka, "Kalau kalian mendengar kata 'problem sosial', apa sih yang&amp;nbsp; segera muncul dalam pikiran kalian?" Satu persatu anak menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;perkelahian pelajar&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;minuman keras&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;narkoba&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;kecanduan main game komputer&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;pergaulan bebas....&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Frasa-rasa itu saya tuliskan di komputer yang diproyeksikan ke layar, dan saya minta tiap anak memilih salah satu yang paling menarik buat mereka. Dari tema yang dipilih itulah para peserta saya ajak membuat pertanyaan-pertanyaan. Tidak banyak, antara lima sampai enam untuk masing-masing tema.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak butuh waktu&amp;nbsp; lama, anak-anak menghasilkan pertanyaan-pertanyaan orisinal mereka, hanya dengan pertanyaan pemicu, misalnya, "kalau kamu akan bercerita tentang perkelahian pelajar" apa saja yang ingin kamu ceritakan. Jawaban-jawaban anak kembali saya tampilkan di layar proyeksi, tapi dalam bentuk pertanyaan:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Seperti apa perkelahian pelajar?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Apa penyebab perkelahian pelajar?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Apa akibat perkelahian pelajar?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bagaimana cara mencegah perkelahian pelajar?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Apa saja kegiatan positif yang bisa menghindarkan pelajar dari perkelahian?&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Saya kembalikan lagi&amp;nbsp; pertanyaan itu kepada peserta. "Silakan dijawab. Satu pertanyaan boleh dijawab sepanjang-panjangnya, satu paragraf, dua, tiga... Tidak usah diberi nomor, tak harus berurutan, mana pertanyaan yang ingin dijawab dulu, silakan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3OTzRaOvnguIzIQqbwlE7h0TEwMns_l1F37xTLflOppZLzo8RGKwHeMMcL1lXCBCClb0_fiMcGc4hOZOegJEBgzbUyEAplcO86zapCh2fwJswTJJ0bTyqPEoyWV9D61DEBDShl5Jk5LiR/s1600/C-News.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="640" data-original-width="480" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3OTzRaOvnguIzIQqbwlE7h0TEwMns_l1F37xTLflOppZLzo8RGKwHeMMcL1lXCBCClb0_fiMcGc4hOZOegJEBgzbUyEAplcO86zapCh2fwJswTJJ0bTyqPEoyWV9D61DEBDShl5Jk5LiR/s320/C-News.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h4 style="text-align: center;"&gt;
Koran-News dalam Program Peningkatan Budaya Melalui Koran Anak Yayasan Insan Nahlah Semesta, Bogor, Tahun 2011&lt;/h4&gt;
Hasilnya adalah tulisan-tulisan orisinil berdasarkan memori nonton televisi, membaca koran atau majalah, dan imajinasi. Sebagian tulisan panjangnya cukup untuk mengisi satu kolom di suratkabar nasional. Soal kualitas hanyalah soal jam terbang, karena ternyata kreatif itu bukan bakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ada yang protes, 'Ah, kalau cuma dengan tema seperti&amp;nbsp; itu, sih, iya, bisa. Beda, dong, sama menulis skripsi.' Nah, kalau belenggunya masih sebesar itu, mungkin memang tidak ada cara lain selain menjiplak. Tapi intinya, cara pertama dan yang utama dalam mengarang atau menulis apapun, entah itu artikel pendek maupun buku tebal, adalah menyadari ide yang sudah dimilikinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(&lt;a href="https://mitrakreativa.blogspot.co.id/2017/04/cara-efektif-mengembangkan-ide_21.html" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Bersambung&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3OTzRaOvnguIzIQqbwlE7h0TEwMns_l1F37xTLflOppZLzo8RGKwHeMMcL1lXCBCClb0_fiMcGc4hOZOegJEBgzbUyEAplcO86zapCh2fwJswTJJ0bTyqPEoyWV9D61DEBDShl5Jk5LiR/s72-c/C-News.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item></channel></rss>