<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" gd:etag="W/&quot;D0AMQnw-eSp7ImA9WhdTEEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7774891767118200382</id><updated>2011-07-07T17:43:03.251-07:00</updated><title>AhlulBait Bawazir</title><subtitle type="html">Ini adalah wadah bagi siapa saja yang berminat lebih jauh untuk mengenal nasab keluarga Sayyid Bawazir Az Zainabi Al Abbasi Al Hasyimi, yang tersebar di seluruh dunia. Tulisan ini merupakan kajian nasab otentik berdasarkan literature dan catatan ilmiah.Selanjutnya informasi yang tersedia adalah bagian pemahaman sejarah keturunan Al Bawazir yang dapat dipergunakan bagi kajian-kajian ilmiah di lingkungan akademis ataupun umum dan untuk mempererat tali silaturahmi untuk semua umat.</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://ahlulbaitbawazir.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://ahlulbaitbawazir.blogspot.com/" /><author><name>politik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07087384323735452277</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/WRpYA" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="blogspot/wrpya" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;A0QBQHczfSp7ImA9WxFaEkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7774891767118200382.post-5877057399065556833</id><published>2009-02-20T23:12:00.000-08:00</published><updated>2010-07-16T09:55:51.985-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T09:55:51.985-07:00</app:edited><title>Pengantar Ahlul Bait Al Bawazir (Bawazier,Bauzir,Bawazeer, Sebelum hijrah dari Irak Ke Yaman di Kenal dengan Marga Az-Zainabi)</title><content type="html">Berkata Amirul Mukminin Sayyid Omar Bin Al-Khatab r.a.: "Pelajarilah nasab kamu supaya kamu dapat menjalin tali kekeluargaan diantara kamu, dan janganlah menjadi seperti kaum Nabat hitam yang jika ditanya salah seorang dari mereka: Dari keturunan siapa kamu? Lalu mereka menjawab: Kami dari kampung itu." Maka demi Allah kiranya ada berlaku sesuatu antara seseorang dengan saudaranya, andainya ia tahu hubungannya dengan saudaranya itu dari hubungan kerabat niscaya hal ini akan menghalanginya dari mencerobohkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukadimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَعُوْذُ بالله من الشَّيْطَان الرَّجيْم&lt;br /&gt;بِسْم الله الرَّحْمن الرَّحيْم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحَمْدُ لله وَحْدَه, وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلى مَنْ لا نبيَّ بَعْده, وَعَلى أله وَصَحْبه وَمَنْ وَالاه,&lt;br /&gt;أَمَّا بَعْدُ: رَب أَدْخلنيْ مُدْخَل صدق وَأَخْرِجْنِيْ مُخرَجَ صدْق وَاجْعَل ليْ منْ لدُنكَ سُلطانا نصيْرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita panjatkan puji syukur ke Hadirat Allah SWT yang telah dan senantiasa memberikan karunia-Nya kepada kita sekalian. Sholawat dan Salam kita haturkan kepada Junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya sekalian. Serta salam dan Rahmat kami haturkan pada junjungan nabi Ibrahim As beserta keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dan Tujuan diterbitkannya tulisan ini hanya semata-mata untuk mengenal nasab dari ahli bait khususnya ahlul Bawazir dari keturunan Ibnu Abbas guna meningkatkan akhlak yang mulia dan tetap memperjuangkan kebenaran Islam dan mengenal lebih jauh tali silaturahim diantara keluarga Al- Bawazir dengan seluruh umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah r.a. katanya, bersabda Rasulullah s.a.w.: "Pelajarilah olehmu tentang nasab-nasab kamu agar dapat terjalin dengannya tali persaudaraan kamu. Sesungguhnya menjalin tali persaudaraan itu akan membawa kecintaan terhadap keluarga, menambah harta, memanjangkan umur dan merelakan Allah". Diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnadnya, Tirmizi dan Al-Hakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari hadis diatas maka penulis menyusun tulisan ini kedalam bahasa Indonesia dan disarikan dari nasab Al Bawazir Al Abbasiah Al Hasyimiah yang berpusat di Saudi Arabiah ( www.bawazir.com) dan sumber kepustakaan terkait dari berbagai penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar utama mengapa Al Bawazir Al Abbasiah Al Hasimiyah dikatakan keturunan Ahlul Bait ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita memasuki detail terhadap jawaban diatas kita coba merujuk dari catatan hadist sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa keluarga Rasulullah SAW ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya Fath al-Bari, dan al-Syaukani dalam kitabnya Nail-al-Authar mengenai makna keluarga (al) Muhammad SAW. Para ulama berbeda pendapat mengenai makna keluarga (al) Muhammad SAW, sebagai berikut:&lt;br /&gt;Pendapat Imam Syafii, Ahmad, Abu Tsaur, Mujahid, Qatadah, Ibnu Juraij dan Muslim bin Kholid: “Sesungguhnya yang dimaksud dengan (al) Muhammad SAW adalah Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Hal itu dikarenakan Bani Mutholib dan Bani Hasyim berserikat dalam bagian dzawil qurba, dan Nabi SAW tidak memberi bagian tersebut kepada siapapun dari suku Quraisy, selain kepada mereka. Pemberian itu adalah sebagai ganti, karena mereka diharamkan untuk menerima sedekah. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Jubair bin Math’am: Saya berjalan bersama Usman bin affan ke tempat Nabi SAW, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah SAW, engkau telah memberi Bani Mutholib seperlima bagian dari harta rampasan Khaibar dan engkau tinggalkan kami, padahal kami dan mereka sama. Lalu Rasulullah bersabda: “Bani Mutholib dan Bani Hasyim adalah satu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Abu Hanifah, Malik dan Hadawiyah: mereka adalah Bani Hasyim saja. Dan yang dimaksud dengan Bani Hasyim adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, keluarga Abbas dan keluarga Harits. Keluarga Abu Lahab tidak termasuk didalamnya, hal tersebut disebabkan tidak ada satupun keluarga Abu Lahab yang beragama Islam pada masa Rasulullah SAW hidup. Akan tetapi dalam kitab Jami’ al-Ushul disebutkan bahwasanya anak Abu Lahab yang bernama Utbah dan Mu’tab masuk islam ketika penaklukan kota Makkah, mereka meninggal dalam perang Hunain dan Thaif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalangan &lt;a title="Sufi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sufi"&gt;Sufi&lt;/a&gt; dan sebagian kaum &lt;a title="Sunni" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunni"&gt;Sunni&lt;/a&gt; menyatakan bahwa Ahlul-Bait adalah anggota keluarga Muhammad yang dalam hadits disebutkan haram menerima &lt;a title="Zakat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Zakat"&gt;zakat&lt;/a&gt;, seperti keluarga &lt;a title="Ali bin Abi Thalib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib"&gt;Ali&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Fatimah az-Zahra" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fatimah_az-Zahra"&gt;Fatimah&lt;/a&gt; beserta putra-putra mereka (&lt;a title="Hasan bin Ali" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hasan_bin_Ali"&gt;Hasan&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Husain bin Ali" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Husain_bin_Ali"&gt;Husain&lt;/a&gt;) juga keluarga &lt;a title="Abbas bin Abdul-Muththalib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abbas_bin_Abdul-Muththalib"&gt;Abbas bin Abdul-Muththalib&lt;/a&gt;, serta keluarga-keluarga &lt;a title="Ja’far bin Abi Thalib (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ja%E2%80%99far_bin_Abi_Thalib&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Ja’far&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Aqil bin Abi Thalib (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Aqil_bin_Abi_Thalib&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Aqil&lt;/a&gt; yang bersama &lt;a title="Ali bin Abi Thalib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib"&gt;Ali&lt;/a&gt; merupakan putra-putra &lt;a title="Abu Thalib bin Syaibah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Thalib_bin_Syaibah"&gt;Abu Thalib&lt;/a&gt; serta keturunan mereka. Adapun risalah lengkap sebagaimana yang tercantum dalam &lt;a title="Shahih Muslim" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Shahih_Muslim"&gt;Shahih Muslim&lt;/a&gt; adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yazid bin Hayyan berkata, "Aku pergi ke Zaid bin Arqam bersama Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim. Setelah kami duduk, Husain berkata kepada Zaid bin Arqam, 'Hai Zaid, kau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Kau melihat &lt;a title="Muhammad" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt;, kau mendengar sabda beliau, kau bertempur menyertai beliau, dan kau telah shalat dengan diimami oleh beliau. Sungguh kau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Karena itu, sampaikan kepada kami hai Zaid, apa yang kau dengar dari &lt;a title="Muhammad" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt;!'"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kata Zaid bin Arqam, 'Hai kemenakanku, demi Allah, aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari &lt;a title="Muhammad" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt;. Apa yang bisa aku sampaikan kepadamu terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan kepadamu janganlah kamu memaksaku untuk menyampaikannya.'"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemudian Zaid bin Arqam mengatakan, 'Pada suatu hari &lt;a title="Muhammad" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt; berdiri dengan berpidato di suatu tempat air yang disebut Khumm antara &lt;a title="Mekkah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mekkah"&gt;Mekkah&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Madinah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Madinah"&gt;Madinah&lt;/a&gt;. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan, lalu beliau bersabda, Ketahuilah saudara-saudara bahwa aku adalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Tuhanku (malaikat pencabut nyawa) akan datang lalu dia diperkenankan. Aku akan meninggalkan untuk kalian dua hal yang berat, yaitu: 1) Al-Qur'an yang berisi petunjuk dan cahaya, karena itu laksanakanlah isi Al-Qur'an dan pegangilah. (Beliau mendorong dan mengimbau pengamalan Al-Qur'an). 2) Keluargaku. Aku ingatkan kalian agar berpedoman dengan hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku (tiga kali)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husain bertanya kepada Zaid bin Arqam, "Hai Zaid, siapa Ahlul Bait (keluarga) &lt;a title="Muhammad" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad"&gt;Rasulullah&lt;/a&gt; itu? Bukankah istri-istri beliau Ahlul Baitnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Zaid bin Arqam, "Istri-istri beliau adalah Ahlul Baitnya, tetapi Ahlul Bait beliau adalah orang yang diharamkan menerima zakat sampai sepeninggal beliau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Husain, "Siapa mereka itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Zaid bin Arqam, "Mereka adalah keluarga &lt;a title="Ali bin Abi Thalib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib"&gt;Ali&lt;/a&gt;, keluarga &lt;a title="Aqil bin Abi Thalib (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Aqil_bin_Abi_Thalib&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Aqil&lt;/a&gt;, keluarga &lt;a title="Ja'far bin Abi Thalib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ja%27far_bin_Abi_Thalib"&gt;Ja'far&lt;/a&gt; dan keluarga &lt;a title="Abbas bin Abdul-Muththalib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abbas_bin_Abdul-Muththalib"&gt;Abbas&lt;/a&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Husain, "Apakah mereka semua diharamkan menerima zakat?"&lt;br /&gt;Jawab Zaid, "Ya."&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain hadis-hadis diatas diperkuat oleh hadis –hadis lainnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Dalam Firman Allah Ta'ala dalam surat Al-Syura:23: "Katakanlah (Muhammad) untuk itu Aku tiada meminta upah (bayaran) kepada kamu, (yang Kuminta) hanya kasih sayang terhadap keluarga terdekat"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian kalimat AL-QURBA (keluarga dekat/kerabat) dalam ayat ini telah ditafsirkan&lt;br /&gt;dalam beberapa hadis seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Muslim Ahmad dan Nasa'i telah meriwayatkan dari Zaid Bin Arqam r.a. bahawa katanya: Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. sedang berdiri menyampaikan khutbahnya di hadapan kami di suatu tempat bernama Khom yang terletak di antara Mekah dan Madinah, setelah memuji Allah dan memberi peringatan dan nasihat, kemudian baginda bersabda: "Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya aku adalah basyar (manusia) dan aku tidak lama lagi akan menyahut seruan tuhanku, maka aku tinggalkan di tengah-tengah kamu dua perkara yang berat (As-Thaqalain); pertama kitab Allah Ta'ala yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah kitab Allah itu dan berpeganglah padanya". Lalu beliau menganjurkan supaya memberi perhatian kepada kitab Allah dan menggemarinya kemudian sabdanya: "Dan Ahli Baitku, aku peringatkan kamu terhadap Ahli Baitku, aku peringatkan kamu terhadap Ahli Baitku".&lt;br /&gt;Lalu Husain bertanya, "Siapakah gerangan Ahli Bait baginda wahai Zaid? Bukankah isteri-isteri baginda adalah Ahli Baitnya?" Jawab beliau, "Isteri-isterinya bukan dari Ahli Baitnya, tetapi Ahli Baitnya ialah mereka yang haram menerima sedekah (zakat) selepasnya. Siapa mereka, tanya mereka?" Jawabnya: "Mereka itu adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Jaafar dan keluarga Al Abbas ra. ."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafiz Ibnu Kathir berkata tentang tafsiran ayat ini: "Dan kami tidak mengingkari adanya wasiat terhadap Ahlul Bait dan suruhan berbuat baik kepada mereka, menghormati dan memuliakannya, kerana mereka itu berasal dari zuriat yang suci dari keluarga yang paling suci dan datuk yang paling mulia di atas permukaan bumi dari segala ketinggian, kehormatan dan keturunan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Syafi'e, Baihaqi dan sahabat-sahabat dari mazhab Syafi'e berpendapat bahawa Aali itu adalah Bani Hashim dan Bani Abdul Muttalib kerana sabda Rasulullah s.a.w.: "Sesungguh menerima zakat diharamkan kepada Muhammad dan juga kepada Aali Muhammad", diriwayatkan oleh Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Zaid Bin Arqam r.a. katanya: Telah bersabda Rasulullah s.a.w.: "Sesungguhnya aku meninggalkan di tengah-tengah kamu dua perkara yang berat, selagi kamu berpegang padanya kamu tidak akan sesat sepeninggalan aku, yang satu lebih besar dair yang lain; Kitab Allah yang merupakan tali yang terhulur menjunam dari langit ke bumi dan itrahku (keturunan) dari Ahli Baitku, keduanya tidak akan berpisah sehingga datang padaku di Telaga Haudh, maka perhatikanlah bagaimana sikap kamu terhdap keduanya itu", diriwayatkan oleh Muslim, Tirmizi dan Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari Abi Said Al-Khudri r.a. katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w berkhutbah di atas mimbar: "Mengapa masih ada sebilangan kaum yang mengatakan bahawa tali kekeluargaan Rasulullah s.a.w tidak menguntungkan kaumnya pada hari kiamat. Sungguh demi Allah bahawasanya tali kekeluargaan akan tetap tersambung di dunia mahupun di akhirat. Wahai sekelian manusia! Sesungguhnya aku akan mendahului kamu sampai di Telaga Haudh" diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hakim dalam sahihnya, dan Al-Baihaqi dan Tabarani dalam kitab Al-Kabir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Al-Bazzar meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. katanya: Telah meninggal dunia seorang puteri Safiah binti Abdul Muttalib r.a. kemudian beliau bercerita yang kesudahannya beliau katakan: Kemudian Rasulullah s.a.w. berdiri, setelah mengucapkan hamdalah dan memuji kepada Allah lalu bersabda: "Mengapa masih ada sebilangan kaum yang menuduh bahawa hubungan kerabatku tidak akan memberi manfaat, ketahuilah bahawa semua kemuliaan dan keturunan akan terputus pada hari kiamat kecuali kemuliaan dan keturunanku dan sesungguhnya tali kekeluargaanku akan tetap bersambung di dunia mahupun di akhirat", hadis ini disahihkan oleh Al-Hafiz As-Sakhawi dan Ibnu Hajar dan disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari tiga jalur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hanya Ahli Bait Nabi s.a.w. saja yang diwajibkan kepada umat Islam mencintainya kerana Allah dan Rasul-Nya. Para ulama telah menetapkan hukum ini dalam kitab-kitab dan karangan-karangan mereka dalam bab itu berdasarkan sabda Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Abdul Muttalib Bin Rabi'ah Bin Al-Harith Bin Abdul Muttalib bahawa Al-Abbas Bin Abdul Muttalib r.a. mendatangi Rasulullah s.a.w. dalam keadaan marah sedang saya berada di sisi baginda maka Rasulullah bertanya: "Apa gerangan yang menjadikan kamu marah?". Dijawab, "Ya Rasulullah apa salah kami, mengapa orang-orang Quraish bila bertemu dengan sesama mereka dengan muka manis dan bila bertemu dengan kami tidak demikian?". Lalu marahlah Rasulullah s.a.w. sehingga merah wajahnya kemudian bersabda: "Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya, iman itu tidak akan masuk ke dalam hati seseorang sehingga ia mencintai kamu kerana Allah dan Rasul-Nya", seterusnya sabda baginda: Wahai sekelian manusia, siapa mengganggu bapa saudaraku maka telah menggangguku kerana bapa saudara seseorang itu setaraf dengan ayahnya". Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmizi dan Al-Hakim yang mengatakan hadis hasan sahih riwayat Ahmad dan Al-Hakim serta riwayat yang serupa dari Ibnu Majah dari jalur Muhammad Bin Ka'ab Al-Qardhi dari Al-Abbas r.a. Kemudian Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berhujah dengan hadis ini yang sengaja tidak kami sebut supaya tidak terlalu panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Al-Abbas Bin Abdul Muttalib berkata: Telah bersabda s.a.w.: "Mengapa kaum-kaum yang berbincang itu tiba-tiba menghentikan pembicaraannya bila melihat salah seorang dari Ahli Baitku? Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya sesungguhnya iman tidak akan masuk ke dalam hati seseorang sehingga ia mencintainya (Ahli Baitku) kerana Allah dan kerana mereka itu kerabat aku", riwayat Ibnu Majah, Al-Hakim, Ar-Rawiyani, At-Tabarani dan Ibnu Asakir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dia mengatakan kepada al-Abbas,"Demi Yang jiwaku ditangan-Nya, iman tidak akan masuk ke dalam dada seseorang hingga dia mencintai Allah dan Rasulnya. Barangsiapa merugikan pamanku berarti telah merugikanku. Paman seseorang adalah seperti ayahnya" (At-Tirmidhi dan Ibn Majah.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga mengatakan kepada al-Abbas, "Masukkan Ali dengan anakmu, pamanku". Kemudian dia mengumpulkan mereka dan menutupi mereka dengan jubahnya, dan berkata, "Ini pamanku ayah dari keduanya dan inilah ahl baitku, maka jagalah mereka dari neraka sebagaimana aku menjaga mereka". Malaikat di pintu dan tembok berkata, "Amien!Amien!" (Al-Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pengantar terminology gelar Sayyid , sebenarnya gelar ini adalah consensus Quraish mereka yang masih keturunan Bani Hasyim mempunyai hak atas gelar tersebut. Beberapa kalangan muslim hingga kini masih sepakat dalam penetapan penggunakan gelar Sayyid untuk orang-orang yang masih keturunan Paman Nabi Muhammad SAW yaitu &lt;a title="Abu Thalib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Thalib"&gt;Abu Thalib&lt;/a&gt; (Ali, Ja’far,Agil dan Thalib) dan paman Nabi Al &lt;a title="Abbas bin Abdul-Muththalib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abbas_bin_Abdul-Muththalib"&gt;Abbas&lt;/a&gt;. Dan paman yang lain yaitu Hamzah (syahid pada pertempuran uhud) dan Harits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibawah ini adalah Nasab dari Al Bawazir dan menjadi dasar dari pemahaman dari keluarga besar Bawazir dimanapun berada dengan gelar yang disandangnya yaitu berupa Sayyid , Syarif, Syeikh, Wan, Sultan, Amir dan berbagai gelar yang diasimilasikan dengan budaya local namun demikian penamaan dan gelar ini menjadi larut dan banyak tidak digunakan pada generasi belakangan semata-mata hanya karena kesederhanaan dan ketakwaan dimata Allah Swt. Dan semoga Allah TaAllah senantiasa menjaga keturunan dari keluarga Al Bawazir dan selalu membawa kebaikan dan persatuan Umat dan Kejayaan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; AL-ALBANI, M. Nashiruddin; Ringkasan Shahih Muslim. &lt;a title="Jakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta"&gt;Jakarta&lt;/a&gt;: Gema Insani Press, &lt;a title="2005" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2005"&gt;2005&lt;/a&gt;. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Istimewa:Sumber_buku/9795619675"&gt;ISBN 979-561-967-5&lt;/a&gt;. Hadist no. 1657&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7774891767118200382-5877057399065556833?l=ahlulbaitbawazir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_08IlbBsdeYvbELCcN6Hc9Y0UGw/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_08IlbBsdeYvbELCcN6Hc9Y0UGw/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_08IlbBsdeYvbELCcN6Hc9Y0UGw/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_08IlbBsdeYvbELCcN6Hc9Y0UGw/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/5877057399065556833?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/5877057399065556833?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://ahlulbaitbawazir.blogspot.com/2009/02/pengantar-ahlul-bait-al-bawazir.html" title="Pengantar Ahlul Bait Al Bawazir (Bawazier,Bauzir,Bawazeer, Sebelum hijrah dari Irak Ke Yaman di Kenal dengan Marga Az-Zainabi)" /><author><name>politik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07087384323735452277</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkUGR3c_cCp7ImA9WxVWEk0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7774891767118200382.post-8571354959936044134</id><published>2009-02-20T23:05:00.001-08:00</published><updated>2009-02-20T23:10:26.948-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-20T23:10:26.948-08:00</app:edited><title>Sayyid Abbas bin Abdul-Muththalib</title><content type="html">Sayyid Abbas bin Abdul-Muththalib (&lt;a title="Bahasa Arab" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Arab"&gt;Arab&lt;/a&gt;: العباس بن عبد المطلب) (lahir &lt;a title="566" href="http://id.wikipedia.org/wiki/566"&gt;566&lt;/a&gt; – wafat &lt;a title="653" href="http://id.wikipedia.org/wiki/653"&gt;653&lt;/a&gt;) adalah paman dan &lt;a title="Sahabat Nabi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sahabat_Nabi"&gt;Sahabat&lt;/a&gt; dari Nabi &lt;a title="Muhammad" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad"&gt;Muhammad&lt;/a&gt;. Keturunan dari Abbas-lah yang menjadi golongan khalifah yang dikenal dengan nama &lt;a title="Bani Abbasiyah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bani_Abbasiyah"&gt;Bani Abbasiyah&lt;/a&gt; yang pernah berkuasa di &lt;a title="Baghdad" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Baghdad"&gt;Baghdad&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abbas memiliki 5 orang keturunan, diantaranya adalah&lt;br /&gt;1. &lt;a title="Abdullah bin Abbas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Abbas"&gt;Abdullah bin Abbas&lt;/a&gt;, yang kerap disebut pula Ibnu Abbas. Dia pernah menjadi gubernur di &lt;a title="Basrah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Basrah"&gt;Basrah&lt;/a&gt; pada masa kekuasaan Khalifah &lt;a title="Ali bin Abi Thalib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib"&gt;Ali bin Abi Thalib&lt;/a&gt;. Dia meninggal dan dikuburkan di Thaif, &lt;a title="Arab Saudi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arab_Saudi"&gt;Arab Saudi&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;2. &lt;a title="Ubaidillah bin Abbas (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ubaidillah_bin_Abbas&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Ubaidillah bin Abbas&lt;/a&gt;, pernah menjadi gubernur di &lt;a title="Yaman" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yaman"&gt;Yaman&lt;/a&gt; pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di &lt;a title="Madinah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Madinah"&gt;Madinah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;3. &lt;a title="Fahdl bin Abbas (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fahdl_bin_Abbas&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Fahdl bin Abbas&lt;/a&gt;, dikuburkan di Syam.&lt;br /&gt;4. &lt;a title="Qutsam bin Abbas (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Qutsam_bin_Abbas&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Qutsam bin Abbas&lt;/a&gt;, pernah menjadi gubernur di &lt;a title="Bahrain" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahrain"&gt;Bahrain&lt;/a&gt; pada masa &lt;a title="Ali bin Abi Thalib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib"&gt;Ali bin Abi Thalib&lt;/a&gt; dan dikuburkan di &lt;a title="Samarkand" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Samarkand"&gt;Samarkand&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;a title="Ma'bad bin Abbas (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ma%27bad_bin_Abbas&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Ma'bad bin Abbas&lt;/a&gt;, pernah menjadi gubernur di &lt;a title="Mekkah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mekkah"&gt;Mekkah&lt;/a&gt; pada masa kekuasaan Khalifah &lt;a title="Ali bin Abi Thalib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib"&gt;Ali bin Abi Thalib&lt;/a&gt; dan dikuburkan di &lt;a title="Afrika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika"&gt;Afrika&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta Penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menikah dengan Ummu al-Fadhl Lubab dan ayah dari &lt;a title="Abdullah bin Abbas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Abbas"&gt;Abdullah bin Abbas&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Fadl bin Abbas (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fadl_bin_Abbas&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Fadl bin Abbas&lt;/a&gt;. Ia dilahirkan hanya beberapa tahun sebelum keponakannya &lt;a title="Muhammad" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad"&gt;Muhammad&lt;/a&gt;, dan merupakan saudara termuda &lt;a title="Abdullah bin Syaibah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Syaibah"&gt;ayahnya Muhammad&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Imam Bukhori : Riwayat Bukhari: dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Abbas berkata:"Ya Tuhanku sesungguhkan kami bertawassul (berperantara) kepadamu melalui nabi kami maka turunkanlah hujan dan kami bertawassul dengan paman nabi kami maka turunkanlah hujan kepada, lalu turunlah hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali r.a. bertanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai Rasulullah saw, siapakah yang akan memandikan baginda dan siapakah yang akan mengafaninya?"Rasulullah menjawab:"Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Syurga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khattab awalnya mengingkari berita kematian Nabi itu, Utsman bin Affan pura-pura tuli sedang Ali bin Abi Thalib jatuh lemas. Dan sahabat yang lain menangis tertunduk lemah. Sungguh tidak ada yang lebih kuat menahan diri pada saat itu kecuali 'Abbas, paman Nabi dan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara jasad beliau yang mulia masih tetap membujur di atas tempat tidur dengan diselubungi kain hitam. Pintu rumah ditutup dan hanya boleh dimasuki keluarga beliau. Pada hari Selasa para sanak keluarga memandikan jasad beliau tanpa melepaskan kain yang menyelubungi. Adapun yang memandikan adalah Al-Abbas, Ali, Al-Fadhl, Qatsam (keduanya anak Al-Abbas), Syaqran (pembantu Rasulullah), Usamah bin Zaid dan Aus bin Khaily. Al-Abbas, Al-Fadhl dan Qatsam bertugas membalik-balikkan jasad, Syaqran mengguyurkan air, Ali membersihkannya dan Aus mendekap jasad beliau di dadanya&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa penting lainnya adalah ketika Abu Dzar segera menemui Rasulullah SAW, melihat ajarannya yang sejalan dengan sikap hidupnya selama ini, akhirnya ia pun masuk Islam. Tanpa ragu-ragu, ia memproklamirkan keislamannya di depan Ka’bah, saat semua orang masih merahasiakan karena khawatir akan akibatnya. Tentu saja pernyataan ini menimbulkan amarah warga Mekkah. Ia pun dipukuli dan hampir saja terbunuh bila Abbas ra, paman Rasulullah SAW, tidak melerai dan mengingatkan warga Mekkah bahwa Abu Dzar adalah warga Ghiffar yang akan menuntut balas jika mereka membunuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Al Abbas dimakamkan di Pemakaman al-Baqi di &lt;a title="Madinah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Madinah"&gt;Madinah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Ummu Fadl diklaim sebagai wanita kedua yang memeluk Islam, pada hari yang sama dengan sahabatnya &lt;a title="Khadijah binti Khuwailid" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Khadijah_binti_Khuwailid"&gt;Khadijah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Dari buku „Sirah Nabawiyah“, Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, penerjemah : Kathur Suhardi, pustaka Al-Kautsar, 2001&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; &lt;a title="http://www.themodernreligion.com/family/m-past.html" href="http://www.themodernreligion.com/family/m-past.html"&gt;http://www.themodernreligion.com/family/m-past.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; HR. Tirmidzi dalam Tuhfatul Ahwadzi Juz X No. 40077.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; HR. Ahmad dalam Fathu Rabbani dan A-Thabrani dengan sanad shahih&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; HR. Thabrani dengan sanad dan rijal kuat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7774891767118200382-8571354959936044134?l=ahlulbaitbawazir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ReZqV4BDmO7ZBaECbCA2-rUlpQ8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ReZqV4BDmO7ZBaECbCA2-rUlpQ8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ReZqV4BDmO7ZBaECbCA2-rUlpQ8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ReZqV4BDmO7ZBaECbCA2-rUlpQ8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/8571354959936044134?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/8571354959936044134?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://ahlulbaitbawazir.blogspot.com/2009/02/sayyid-abbas-bin-abdul-muththalib_20.html" title="Sayyid Abbas bin Abdul-Muththalib" /><author><name>politik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07087384323735452277</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkQDSHc8eip7ImA9WxVVGE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7774891767118200382.post-2865401491305304671</id><published>2009-02-20T22:59:00.000-08:00</published><updated>2009-03-11T20:59:39.972-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-11T20:59:39.972-07:00</app:edited><title>Sayyid Abdullah Bin Abbas (Ibnu Abbas)</title><content type="html">Sayyid Abdullah bin Abbas (dikenal juga dengan nama Ibnu Abbas, &lt;a title="619" href="http://id.wikipedia.org/wiki/619"&gt;619&lt;/a&gt; - &lt;a title="Thaif (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Thaif&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Thaif&lt;/a&gt;, &lt;a title="687" href="http://id.wikipedia.org/wiki/687"&gt;687&lt;/a&gt;/68H) adalah seorang &lt;a title="Sahabat Nabi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sahabat_Nabi"&gt;Sahabat Nabi&lt;/a&gt;, dan merupakan anak dari &lt;a title="Abbas bin Abdul-Muththalib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abbas_bin_Abdul-Muththalib"&gt;Abbas bin Abdul-Muththalib&lt;/a&gt;, paman dari Rasulullah &lt;a title="Muhammad" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad"&gt;Muhammad&lt;/a&gt; SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas merupakan salah satu sahabat yang berpengetahuan luas, dan banyak &lt;a title="Hadits" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadits"&gt;hadits&lt;/a&gt; sahih yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas, serta beliau juga menurunkan seluruh &lt;a title="Khalifah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Khalifah"&gt;Khalifah&lt;/a&gt; dari &lt;a title="Bani Abbasiyah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bani_Abbasiyah"&gt;Bani Abbasiyah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia merupakan anak dari keluarga yang kaya dari perdagangan bernama &lt;a title="Abbas bin Abdul-Muththalib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abbas_bin_Abdul-Muththalib"&gt;Abbas bin Abdul-Muththalib&lt;/a&gt;, maka dari itu dia dipanggil Ibnu Abbas, anak dari Abbas. Ibu dari Ibnu Abbas adalah &lt;a title="Ummu al-Fadli Lubaba (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ummu_al-Fadli_Lubaba&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Ummu al-Fadli Lubaba&lt;/a&gt;, yang merupakan wanita kedua yang masuk Islam, melakukan hal yang sama dengan teman dekatnya &lt;a title="Khadijah binti Khuwailid" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Khadijah_binti_Khuwailid"&gt;Khadijah binti Khuwailid&lt;/a&gt;, istri Rasululah.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah dari Ibnu Abbas dan ayah dari &lt;a title="Muhammad" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad"&gt;Muhammad&lt;/a&gt; merupakan anak dari orang yang sama, &lt;a title="Syaibah bin Hâsyim" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Syaibah_bin_H%C3%A2syim"&gt;Syaibah bin Hâsyim&lt;/a&gt;, lebih dikenal dengan nama &lt;a title="Abdul-Muththalib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abdul-Muththalib"&gt;Abdul-Muththalib&lt;/a&gt;. Ayah orang itu adalah &lt;a title="Hasyim bin Abdulmanaf" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hasyim_bin_Abdulmanaf"&gt;Hasyim bin Abdulmanaf&lt;/a&gt;, penerus dari &lt;a title="Bani Hasyim" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bani_Hasyim"&gt;Bani Hasyim&lt;/a&gt; klan dari &lt;a title="Quraisy" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Quraisy"&gt;Quraisy&lt;/a&gt; yang terkenal di &lt;a title="Mekkah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mekkah"&gt;Mekkah&lt;/a&gt;. Ibnu Abbas juga memiliki seorang saudara bernama &lt;a title="Fadl bin Abbas (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fadl_bin_Abbas&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Fadl bin Abbas&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis Tentang Beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   Ibnu Abbas pernah didekap Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah SAW berkata, Ya Allah, ajarkanlah kepadanya hikmah. Yang dimaksud hikmah adalah pemahaman terhadap Al-Qur'an.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas pernah melihat &lt;a title="Malaikat Jibril" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Malaikat_Jibril"&gt;Malaikat Jibril&lt;/a&gt; dalam dua kesempatan, Ibnu Abbas berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Aku bersama bapakku di sisi Rasulullah dan di samping Rasulullah ada seorang laki-laki yang membisikinya. Maka seakan-akan beliau berpaling dari bapakku. Kemudian kami beranjak dari sisi Rasulullah seraya bapakku berkata, Wahai anakku, tahukah engkau kenapa anak laki-laki pamanmu (Rasulullah) seperti berpaling (menghindari aku)? Maka aku menjawab, Wahai bapakku, sesungguhnya di sisi Rasulullah ada seorang laki-laki yang membisikinya. Ibnu Abbas berkata, Kemudian kami kembali ke hadapan Rasulullah lantas bapakku berkata, Ya Rasulullah aku berkata kepada Abdullah seperti ini dan seperti itu, kemudian Abdullah menceritakan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki di sampingmu yang berbisik-bisik kepadamu. Apakah benar memang ada seseorang di sampingmu? Rasulullah balik bertanya, Apakah engkau melihatnya ya Abdullah? Kami menjawab, Ya. Rasulullah bersabda, Sesungguhnya ia adalah Jibril alaihiwassalam. Dialah yang menyibukkan kami dari kamu sekalian.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;       Abbas mengutus Ibnu Abbas kepada Rasulullah dalam suatu keperluan, dan Ibnu Abbas menjumpai Rasulullah bersama seorang laki-laki. Maka tatkala ia kembali dan tidak bicara kepada Rasulullah, maka Rasulullah bersabda, Engkau melihatnya ? Abdullah (Ibnu Abbas) menjawab, Ya, Rasulullah bersabda, Ia adalah Jibril. Iangatlah sesungguhnya ia tidak akan mati sehingga hilang pandangannya (buta) dan diberi (didatangkan ilmu).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beliau pernah di doakan Nabi dua kali, saat didekap beliau dan saat ia melayani Rasulullah dengan mengambil air wudlu, Rasululah berdoa, Ya Allah fahamkanlah (faqihkanlah) ia. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas wafat pada tahun 78 hijriyah, dalam usia 75 tahun, diriwayat lain 81 tahun. Dari Ibnu Jubair menceritakan, bahwa Ibnu Abbas wafat di Thaif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Ali bin Abdullah bin Abbas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau dikenal dengan Imam Ali As-Sajad dilahirkan pada tanggal 24 Ramadhan 40 H di Basroh, ketika ayahnya menjadi penguasa di Basroh dari pihak khalifah Ali bin Abi Tholib Radiyallohu ‘anhum jamiian, sesudah ayahnya meninggal di  Thaif Ali bin Abdullah pergi ke Hamimah sesuai wasiat ayahnya. Beliau tinggal di daerah Hamimah bersama anak-anaknya sampai berdirinya Daulah Abasiyah pada tahun 132 H. Beliau berpostur tinggi dan berbadan besar, orang-orang Quraisy memberikan tempat kepada beliau untuk bermajlis ta’lim di dalam Majidil Haram, mereka meninggalkan aktivitas ibadah dan kegiatan mereka untuk berkumpul menghadiri majlis ta’limnya Ali bin Abdullah sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada beliau. Tidak ada satupun orang Quraisy yang melakukan aktivitas dzikir apapun di Masjidil Haram sampai Ali bin Abdullah keluar dari Masjidil Haram .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali bin Abdullah mempunyai anak yaitu Muhammad (yang dikenal dengan Abu Ibrahim Al–Imam yang merupakan leluhur keluarga Bawazir – Abu al – Khulafaa yang memulai da’wah), Daud dan Isa, Sulaiman dan Sholeh, Isma’il, Abdussomad, Ya’kub, Abdullah Al-Akbar, ‘Ubaidillah, Abdulmuluk, Utsman, Abdurrahman dan seterusnya. Abdullah Al-Ashgar yang pergi ke Syam, sebagian orang menyebut Abdullah al-Ashgar dengan asy-Syamakh (orang yang bertubuh tinggi) ia juga mempunyai penerus. Yahya, Ishak, Ya’qub, Abdul Aziz, Ismail al-Asghar, Abdullah al – Ausath atau disebut juga Ahnaf, dst.  Kemudian Aminah, Ummu Isa yang menikah dengan Ibnu Hasan bin Abdullah bin Ubaidillah bin Abbas. Labbabah yang menikah Ibnu Qotsam bin Abbas bin Ubaidillah bin Abbas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali bin Abdullah tinggal di Syarrah suatu wilayah bagi di daerah Damsyik, beliau selalu memakmurkan masjid dengan dan shalat sehari semalam 500 rakaat, tampat sujud beliau terbuat dari hamparan yang didatangkan dari zam-zam, beliau juga orang yang gemar menjamu musafir, sehingga setiap orang yang lewat dalam rangka pergi ke syam dari Hijaz atau sebaliknya beliau selalu menjamunya dan beliau juga menjadi penghubung bagi orang-orang yang membutuhkan sampai ada orang yang berkata :”Kesungguhnya pertolongan yang engkau berikan akan memulyakan dirimu”, sebagaimana tergambar dalam perkataan Saluli :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang patut kami berikan tatkala panasnya  masalah kami&lt;br /&gt;Di selesaikan oleh orang yang berhati mulya dan berbuat luhur&lt;br /&gt;Maka diberitahu kami apa sangat beliau inginkan&lt;br /&gt;Walau wajah kami akan rusak kamiakan berusaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari seroang wanita tua dari Quraisy menemui Ali bin Abdullah bin Abbas, lalu dia menceritakan permasalahan yang sedang ia hadapi maka Ali menyuruh pembantunya untuk memberi wanita tersebut 200 dinar, lalu ia berkata ”semoga Allah menjadikan aku  tameng bagimu”, seperti apa yang dikatakan oleh Ummu Jamil binti Harb bin Ummayyah ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau adalah dari golongan terbaik&lt;br /&gt;Baik di daerah desa atapun kota&lt;br /&gt;Yang paling mulya tatkala banyak kesulitan&lt;br /&gt;Bagi yang melakukan perjalanan dekat atau jauh&lt;br /&gt;Benar belas kasih dan sangat dermawan&lt;br /&gt;Memberikan apa yang dimiliki tanpa pamrih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang mengatakan: sesudah Muslim bin ’Uqbah selesai dari perjalanan mengurus masalah yang ada di daerah Huroh. Rakyat memba’iat Yazid bin Muawiyah menjadi khalifah dan mereka bersedia loyal kepada Yazid bin Muawiyah.  Muslim bin ’Uqbah  diutus menemui Ali bin Abdullah yang kala itu berada di Madinah.  Hal itu terjadi 4 tahun menjelang meninggalnya ayah Ali yaitu Abdullah bin Abbas.  Ketika sampai di barak tentara  yang ada di daerah Fusthath, beliau melihat sekelompok tentara di depan pintunya kemudian Muslim bertanya tentang pemimpin kelompok itu dan dijawab bahwa pemimpin kelompok itu adalah  Al-Hashin bin  Namir as-Sukuni.  Muslim itu berkata: ”sampaikan pada pimpinanmu akan kedatanganku”, lalu yang  disuruh kembali dan berkata sesungguhnya anak saudara perempuanmu Ali bin Abdullah telah dipaksa keluar dari rumahnya (diculik) padahal beliau ingin bertemu dengan Muslimin bin ’Uqbah. Kemudian Muslim mengutus pasukan yang dipimpin oleh  al-Hashin untuk membebaskan Ali bin Abdullah dari tangan para penculik. Ketika akan menyergap para penculik al-Hashin berkata: pukulah para penculik itu dengan cambuk! Maka dipukulah para penculik itu dengan cambuk sehingga mereka kabur. Al-Hashin berhasil membawa Ali bin Abdullah kehadapan Muslim bin ’Uqbah dan berbai’at kepada Yazid bin Mu’awiyah seperti bai’at kepada sultan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali bin Abullah meninggal di Hamimah suatu daerah di wilayah Damsiq pada tahun 117 H dalam usia 78 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Dikenal dengan Imam Muhamad al-Kamil yang memulai dakwah abasiyyah, ayah dari Ibrahim Al-Imam yang merupakan leluhur keturunan Bawazir. Pendahulu para Khalifah. Mempunyai kening bekas sujud dijuluki Abu Abdulloh, Ibunya Aliyah binti Ubaidillah bin Abbas. Muhammad bin Ali tumbuh dan besar di daerah Hina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muhammad meninggal pada tahun 122 H dan di makamkan di samping makam ayahnya di daerah Hamimah. Dan menurut Waqidi : “Yang pasti Imam Muhammad meninggal tahun 125 H ketika berumur 70 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Ali adalah seorang Tabi’in yang ‘alim dan zuhud. Ketika menjelang ajalnya ia berwasiat  pada tahun 124 H, beliau berkata : “Janganlah melupakan aku setelah aku meninggal, aku merasa umurku hanya tinggal 2 tahun kedepan, dan sahabat kamu sekalian sesudahku adalah anakku Ibrahim, dan sesudah meninggalnya Ibrahim maka sahabatmu adalah Abdullah Ibnul Haritsah Assaffah, Imam Muhammad dari Ibrahim (Yang merupakan leluhur keturunan Bawazir) mempunyai anak Abdullah As-saffah, Abu Ja’far al-Mansur, Musa Ismail Yahya. Abbas adalah anaknya yang paling kecil, dia dilahirkan 2 tahun sebelum ayahnya meninggal. Dan Imam Muhammad mempunyai anak perempuan bernama “Aliyah, Labbabah dan Fatimah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan amirul mu’minin Mahdi dilahirkan pada tahun meninggalnya Muhammad bin Ali, Mahdi dinamai dengan nama Imam Muhammad, dan dijuluki Abu Abdulloh, Mahdi meninggal pada tahun 169 H dan dia berumur 43 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata-kata : orang-orang Syiah juga meriwayatkan Imam Muhammad bin Ali, mereka menyangka bahwa Imam Muhammad bin Ali adalah Ibnu Hanafiyyah, Ketika Ibnu Al-Hanafiyah meninggal mereka berkata : Sang Imam adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali. Ia adalah Abu Hasyim. Suatu ketika Abu Hasyim ingin pergi, ia menginginkan pergi ke Hijaz tapi kemudian berubah pikiran menjadi mengunjungi Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas di daerah Hamimah, Ia berwasiat kepada Muhammad bin Ali dan memberikan beberapa kitab serta mengumpulkan beberapa orang dari kaum Syiah seraya berkata, kita berharap sesungguhnya Imamah dan Amir dari kalangan kita, maka telah hilang keragu-raguan dan jelas keyakinan karena sesungguhnya anda adalah Imam dan Khalifah serta pada diri anak Anda, orang-orang pun mengamini perkataanya, mereka menetapkan kepemimpinannya dan kepemimpinan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Ali pernah berkata : seseorang tidak akan mencapai puncak kedewasaan sehingga dia dianggap orang yang hina, dan ia pun pernah berkata : Merupakan bagian dari kedewasaan, kamu berkata kemudian memahami, kamu bercerita kemudian mengambil kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Muhammad bin Ali : Tidak tercapai kedewasaan dengan hanya tumbuh kembang, tidak tercapai kecukupan dengan angan-angan, tidak pula ilmu dengan hanya pengakuan. Berkata pula Muhammad bin Ali : “Sejelek-jeleknya Ayah adalah yang memalingkan anaknya dari kebaikan kearah kesia-siaan, dan sejelek-jeleknya anak yang durhaka kepada orang tuanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Ali mengunjungi Madinah setiap tahun, dan bermukim satu atau dua bulan, ketika diberikan harta(hadiah) ia menolaknya. Disebutkan bahwa Muhammad bin Ali di daerah Hamimah mempunyai 500 pohon kurma, dan ia sholat di setiap bawah pohon kurmanya 2 rakaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Dari buku „Sirah Nabawiyah“, Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, penerjemah : Kathur Suhardi, pustaka Al-Kautsar, 2001&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; &lt;a title="http://www.themodernreligion.com/family/m-past.html" href="http://www.themodernreligion.com/family/m-past.html"&gt;http://www.themodernreligion.com/family/m-past.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; HR. Tirmidzi dalam Tuhfatul Ahwadzi Juz X No. 40077.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; HR. Ahmad dalam Fathu Rabbani dan A-Thabrani dengan sanad shahih&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; HR. Thabrani dengan sanad dan rijal kuat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7774891767118200382-2865401491305304671?l=ahlulbaitbawazir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kWMp0zjwwfF8xwb8EsEqd8qaIrM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kWMp0zjwwfF8xwb8EsEqd8qaIrM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kWMp0zjwwfF8xwb8EsEqd8qaIrM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kWMp0zjwwfF8xwb8EsEqd8qaIrM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/2865401491305304671?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/2865401491305304671?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://ahlulbaitbawazir.blogspot.com/2009/02/sayyid-abdullah-bin-abbas-ibnu-abbas_20.html" title="Sayyid Abdullah Bin Abbas (Ibnu Abbas)" /><author><name>politik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07087384323735452277</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0MMRHs_fip7ImA9WxVWEUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7774891767118200382.post-2106417404174470952</id><published>2009-02-20T22:52:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T22:58:05.546-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-20T22:58:05.546-08:00</app:edited><title>Sayyid Ibrahim bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas</title><content type="html">Sayyid Ibrahim bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau terkenal dengan Ibrahim al Imam saudaranya As – Saffah dan al-Mansur, dijuluki Abu Ishak. Beliau diba’iat ayahnya secara diam-diam, ketika sampai kabar tersebut kepada Marwan Al-Himar, maka Marwan menangkapnya dan memenjarakannya selama 2 perjalanan laut. Kemudian Marwan membunuhnya secara diam-diam, Ibrahim memba’iat saudaranya Assaffah, ketika Ibrahim terbunuh para kerabatnya memakai pakaian hitam karena sedih, inilah awal dipakainya pakaian hitam ketika ada yang meninggal, maka jadilah perbuatan tersebut syiar bagi mereka. Imam ‘Askariy menuturkan hal ini dalam kitab Awail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim Al Imam telah menceritakan hal ini dari ayahnya dari kakeknya dari Abdullah bin Muhammad bin Hanafiyah. Menceritakan pula darinya 2 saudaranya, dan Abu Muslim al-kharasan yang mempunyai daulah. Ibrahim menetapkan Abu Muslim menjadi Da’i ke daerah Khurasan. Ibrahim adalah seorang yang dermawan, berbudi luhur dan pantas untuk mempimpin. Ia terbunuh pada tahun 131 H, ada yang mengatakan pada bulan Shofar tahun 132 H dan ia berumur 42 tahun&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim Al Imam dilahirkan di daerah Hamimah dekat gunung Syarrah merupakan bagian dari daerah Damsiq pada tahun 82 H. Ia menikahi Umi Ja’far binti Ali bin Husain bin Ali bin Abi Tholib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan Ibnu Harmah dalam syairnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha sabar saat masalah          &lt;br /&gt;mengguncangku&lt;br /&gt;Dikuburan  Bahran di semayamkan benteng &lt;br /&gt;agama.&lt;br /&gt;Disanalah Imam yang kesedihannya merata&lt;br /&gt;kesedihan bagi yang miskin atau kaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim bin Muhammad mempunyai anak Abdul Wahhab (Ia menjadi Gubernur didaerah Syam dan meninggal disana) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Muhammad (Ia menjadi Gubernur di Mekkah, Madinah, Jazirah Yaman. Dan meninggal di Baghdad)&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kepada Ibrahim Al-Imam Melalui Muhammad Bin Ibrahim Al Imam kembali nasabnya Syaikh Sayyid Muhammad bin Salim (Wali / Penguasa ‘Urf) dikenal sebagai leluhur keluarga Bawazir, yaitu Muhammad bin Salim bin Abdullah bin Ya’kub bin Yusuf bin Ali al-Wazir bin Thirad bin Ali Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman bin Muhammad bin Sulaiman bin Abdulla az-zainabi bin Muhammad bin Ibrahim Al-Imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;  &lt;a href="http://www.bawazir.com/Rafa-albas/rafa-albas-book.htm"&gt;كتاب رفع البأس عن بني العباس&lt;/a&gt; تأليف : جلال الدين عبدالرحمن بن أبي بكر السيوطي (ت 911هـ)&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.bawazir.com/al-asas-cover.htm"&gt;الأساس في انساب بني العباس&lt;/a&gt; -  &lt;a href="http://www.bawazir.com/Husni-al-abbassi-bio.htm"&gt;للسيد حسني بن أحمد بن علي العباسي&lt;/a&gt; - الطبعة الأولى&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7774891767118200382-2106417404174470952?l=ahlulbaitbawazir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/AwUzAeRvTFKRgh06oJ06-hoADZo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/AwUzAeRvTFKRgh06oJ06-hoADZo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/AwUzAeRvTFKRgh06oJ06-hoADZo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/AwUzAeRvTFKRgh06oJ06-hoADZo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/2106417404174470952?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/2106417404174470952?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://ahlulbaitbawazir.blogspot.com/2009/02/sayyid-ibrahim-bin-muhammad-bin-ali-bin_20.html" title="Sayyid Ibrahim bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas" /><author><name>politik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07087384323735452277</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUYHQ3gzfSp7ImA9WxVWEk4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7774891767118200382.post-1936991810712416347</id><published>2009-02-20T22:44:00.000-08:00</published><updated>2009-02-21T09:25:32.685-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-21T09:25:32.685-08:00</app:edited><title>Keluarga Az Zainabi Di Irak - Keturunan Sayyid Abbas</title><content type="html">Biografi Para Ilmuwan Keluarga Zainab dari Keturunan Sayyid Abbas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata A.D. Yahya Mahmud bin Junaid yang telah mentahqiq tulisan yang berjudul ”Mengungkap kedzaliman terhadap Bani Abbas”, bahwa sesungguhnya keturunan Zainab adalah keturunan Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim al-Imam yang disandarkan nasabnya kepada ibunya Zainab binti Sulaiman bin Ali bin Abdullah bin Abbas, selanjutnya dikenal dengan keturunan nasab ini. Mereka adalah keluarga istimewa dari keturunan Al – Abbas selain keturunan para khalifah. Diantaranya ada yang menjadi menteri, ulama dan qodhi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan juga dengan judul – Orang-orang terhormat keturunan Abasiyah. – Sesungguhnya keluarga Bawazir sebelum kedatangan mereka ke Yaman mereka dikenal dengan sebutan Az Zainabi (keturunan / keluarga besar al-Wazir) Kemudian pada saat di Hadromaut berubah lagi menjadi (keturunan / keluarga besar Bawazir). Perbedaan penyebutkan keluarga ini hanya dalam segi lapadz saja yang berpulang pada perbedaan lahjah Arab yang tidak begitu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Ali bin Thirod&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau salah seorang Abasiyah az – Zainabi, nasabnya berlanjut kebiografi paman dan bapaknya, dikenal dengan al – Wazir (menteri) Abu al – Qosim anak pembesar dari salah satu pembesar Abu al – Fawaris, lahir pada bulan Syawal 462 H. Beliau meriwayatkan dari ayahnya, dari pemannya Abu Nashr, dari Abu al – Qosim bin Al – Busri dan sekelompok orang. Telah memberikan izin (mengijazahkan) kepadanya Abu Ja’far bin Maslamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meriwayatkan dari beliau Ismar bin Thabarzad, Ibnu Sakinah dan sekelompok orang. Beliau menjadi Menteri bagi Khalifah Al – Mustarsyid dan Al – Muqtafa, beliau seorang yang gagah pemberani, berwibawa terpandang, tajam pemikirannya, sangat teliti serta mempunyai visi dan misi.Al – Muqtafa pernah marah kepada beliau sehingga di copot dari jembatan menteri, diisolasi di rumahnya sampai beliau tepat wafat pada bulan Ramadhan tahun 538 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Tiraad bin Muhammad bin Ali Abu al – Fawaris bin Abu al –Hasan bin Abu Tamam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau salah seorang Abasiyah Az-Zainabi, pembesar dari salah satu pembesar. Sebagian nasabnya berlanjut dalam biografi saudaranya yaitu Husain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Sam’ani : Pada masanya beliau (Thirod bin Muhammad) mempunyai posisi yang tinggi, memiliki banyak keutamaan, pendapat dan perkataannya di dengar. Beliau juga memegang jabatan terpandang dari kalangan Abasiyah, pengajar di Jaami’ al – Mansur, sehingga pada saat itu banyak penuntut ilmu yang mendatangi beliau untuk belajar / menuntut ilmu karena ketinggian ilmu beliau. Banyak ahli ilmu yang menghadiri majlis ta’lim beliau dari berbagai golongan di Baghdad, ada ahli hadist dan ahli fiqih, sehingga majelis ilmu beliau paling banyak didatangi setelah majelis ilmunya Abu Bakar al – Qothi’i. Banyak penuntut ilmu dari kelangan tua muda, teristimewa ilmu riwayat. Sebagian penutut ilmu di Majlis ilmu beliau adalah : Hilal al-Huffar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara guru-guru beliau adalah : Abu al-Husain bin Basyron, Abu Al – Faraj bin Maslamah, Ali dan Yahya bin Tsabit al – Baqal, Syahdah binti al – Abriy dan beberapa ulama lain. Beliau termasuk salah satu keturunan Abasiyah yang tinggi tingkatannya diantara para khalifah. Beliau bermadzhab Hanafi, terpercaya dan berakhlak mulya. Lahir pada bulan Syawal 398 H. Meninggal pada Syawal 491 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Muhammad bin Abi Tamam Ali bin Hasan bin Muhammad (bin) Abdul Wahhab&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah salah satu pembesar dari para pembesar, Abu Al Hasan Nurul Huda al – Abasiy az – Zainabi, salah satu pembesar keturunan Abasiyah, ayah dari Thirad az-Zainabi. Nasabnya berlanjut dalam biografi anaknya al-Husain. Lahir pada tahun 364 H. Beliau meriwayatkan dari Abu Bakar bin Syadzdzan dan yang lainnya. Menjadi penguasa dari pembesar Abasiyah di Iraq setelah ayahnya meninggal, ketika beliau berumur 20 tahun Meriwayatkan dari Beliau Abu al-Fadl Muhammad bin Abdulaziz al – Muhtadi dan selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin muhammad binu Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim al – Imam bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kenal dengan nama Abu Nashr al-Abasiy az-Zainabi, beliau adalah ahli sanad Iraq pada masanya. Orang terakhir yang terakhir beliau ambil riwayatnya adalah al-Mukhlis.Beliau seorang yang zuhud, sholeh, beragama kuat, ahli ibadah, beliau tinggalkan kenikmatan dunia sejak usia remaja demi belajar hadist. Sampai kepada beliau sanad Baghawi dan beliau menjadi pusat bagi para penuntut ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau banyak belajar kepada al-Mukhlish, Abu Bakar al-Waraqi dan Abu al-Hasan al – Hamami. Meriwayatkan dari beliau 2 putra saudaranya yaitu Muhamamd dan Ali yang merupakan 2 anak Thirad, al-Farawi, Wahid Asy-Syahami dan sekelompok jamaah. Yang terakhir meriwayatkan dari beliau adalah Habbutullah Asy-Syibli al-Qishari, dan yang mengijazahi beliau adalah Abu al-Fath Ibnu al-Buthi. Abu Nashr lahir pada bulan Shafar tahun 387 H dan beliau meninggal pada tanggal 11 Jumadil akhir tahun 479 H .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Al – Husain bin Muhammad bin Ali bin al-Hasan, Ibnu Muhamamd bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Muhammad bin Sulaiman bin Abdullah bin Muhamad bin Ibrahim al – Imam bin Muhamad bin Ali bin Abdullah ibnu Abbas&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikenal dengan nama Nurul Huda, Abu Thalib al-Hasyimi al-Abasiy az-Zainabi seorang ahli fiqih madzhab Hanafi, saudara dari Thirad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau seorang imam yang disegani, mempunyai pengaruh luas, pimpinan kelompok ulama Hanafiyah pada masanya, berilmu yang kuat tentang Madzhab. Lahir pada tahun 420 H, beliau banyak belajar kepada Abu Thalib bin Ghilan, Abu al-Qasim al – Azhari dan Karimah al – Marwaniyah. Meriwayatkan dari beliau Abdu al-Mun’im bin Kalib, adl-dliyaa Ibnu ’Asakir, anak saudaranya Thirad, yaitu Ali bin Thirad al – Wazir. Beliau bernah membaca al – Qur’an di hadapan seorang ahli Zuhud Abi al-Hasan al-Qazwani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau belajar fiqih kepada seorang Qadhi terbaik yaitu Abu Abdullah al-Damaghani. Beliau kepala pengajar di Madrasah Syarfu al-mulk, tetapi kemudian mengundurkan diri dan dilanjutkan oleh saudaranya Thirad, beliau adalah salah seorang pembesar Abasiyah. Meninggal pada bulan Shafar tahun 512 H ketikaberumur 92 tahun. Imam ad-Dzahabi berkata : Nurul Huda dan 2 saudaranya yaitu Abu Nashr dan Thirad berumur hampir 100 tahun, mereka menyibukkan waktunya untuk belajar ilmu sanad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Hamzah&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah saudara dari Nurul Huda seperti yang telah disebutkan diatas, beliau dikenal dengan nama Abu Ya’la. Beliau seorang yang bermartabat mulia. Beliau lahir pada tahun 407 H meriwayatkan dari Abu al-’Ala al-Wasithi, Abi Muhamad al-Khilal dan Ali bin Isa ar-Rub’i, an-Nahwi (seorang ahli ilmu Nahwu). Beliau (Hamzah) pernah membaca kitab Fashinu Tsa’lab dihadapan Ali bin Isa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meriwayatkan dari beliau as-salafi dan yang lainnya. Beliau meninggal pada tahun 504 HSelanjutnya akan diceritakan tentang 2 saudaranya yang terakhir yaitu Thirad dan abu Nashr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Al-Hasan&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau dikenal dengan Abu Tamam az-Zainabi, saudara dari Thirad juga hasan, Abu Nashr dan Abi Manshur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pemimpin keturunan abasiyah sesudah ayahnya. Beliau meriwayatkan dari al-Mukhlish dan yang lainnya. Beliau belajar agama sebentar. Meninggal pada tanggal 25 Rabiul Awwal 445 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Muhammad bin Muhammad bin Abi Tamam Ali&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikenal dengan Abu Manshur al – Abasiy az-Zainabi, merupakan saudara dari Thirad dan saudaranya yang lain, telah berlalu tentang nasabnya pada biografi saudaranya al-Husain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau meriwayatkan dari Isa bin al-Jarrah.Meriwayatkan dari beliau yaitu al-Khatib dan penduduk Wasith. Beliau meninggal di Wasith pada tahun 451 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ali Ibnu Sakrah berkata : Abu Manshur bergelar Kamaluddin, tetapi gelar ini asing / tidak dikenal di kalangan keluarganya, karena sesungguhnya sedikit sekali orang yang disandingkan gelarnya dengan kata ”ad-din” terutama orang-orang terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Abdullah bin al-Mudzaffar Ibnu al – Wazir Ali Ibnu Thirad&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikenal dengan nama Abu thalib az-Zainabi al – Baghdadi. Lahir pada bulan Sya’ban tahun 559 H, beliau meriwayatkan dari Ibnu al-Buthi, Abu Bakar bin an-Naqur, Syahdah dan sekelompok ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meriwayatkan dari Abu Thalib al- Jamal Abu Bakar asy-Syuraisyi, Al-Izal – Farutsi dan beliau mendapat ijazah dari al-Fakhru bin ’Asakir, Isa al-Math’am, al-Hijaz dan Fathimam binti Sulaiman. Meninggal pada tanggal 16 Ramadhan tahun 635H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Ali bin al – Hasan bin Muhamad bin Ali bin al – Hasan bin Muhammad bin Abdulwahhab bin Sulaiman bin Muhamamd bin Sulaiman bin Abdullah bin Muhamad bin Ibnu Ibrahim bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Qadhi tertinggi, dikenal dengan nama Abu Al – Qasim, al – akmal bin Nurul Huda Abu Thalib al – Abasiy az-Zainabi al-Bahdadi, telah berlalu nasabnya pada biografi ayahnya. Lahir pada tahun 487 H. Beliau meriwayatkan dari ayahnya, pamannya Thirad, Ibnu al – Bathar dan sekelompok ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau seorang yang banyak keutamannya, sempurna pemikirannya, tenang dan berwibawa. Menjadi wali tertinggi di Iraq, oleh karena itu beliau mendapat perhatian lebih dari al – Mustarsyid, sehingga beliau dijanjikan jabatan tinggi oleh al-Mustarsyid. Janji ini ditepati ketika Qadhi al-Dimaghani wafat, sehingga beliau diangkat menjadi Qodhi di Iraq. Jabatan beliau berlanjut sampai masa pemerintahan al – Muqtafa. Semua orang mengetahui beliau adalah seorang pemurah dan senang meringankan urusan, sampai masalah istrinya dan masalah penyakit yang membuat beliau meninggal. Beliau meninggal pada hari raya Dzulhijjah tahun 543 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Muhammad bin Thirad Az-Zainabi&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikenal dengan nama Abu Al – Hasan, pembesar keturunan Hasyim di Baghdad dan telah berlalu jalur nasabnya. Beliau meriwayatkan sanad dari bapaknya. Pamannya Abu Nashr dan Abu al-Qosim Ibnu al-Bisri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau seorang yang kuat hapalan, pemimpin dan ahli ilmu sanad. Meriwayatkan dari beliau Ibnu As’-Sam’ani, Ibnu Sakinah, Ibnu Thabarzad dengan Ijazah dari Abu al – Qasim ash – Shashri. Lahir tahun 462 H dan meninggal pada bulan Sya’ban 541 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Muhammad Ibnu al-Wazir Ali bin Thirad&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikenal dengan nama Abu al-Abbas az-Zainabi, juga dikenal dengan Amir at-Turki karena beliau anak dari perempuan yang berkebangsaan Turki. Beliau seorang yang berkemauan kuat menuntut ilmu, belajar kitab-kitab Faraid (ilmu waris) dan sastra. Meriwayatkan dari Ibnu al-Buthi dan Hibatullah Asy-Syibhi meninggal pada tahun 571 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; المصدر : &lt;a href="http://www.bawazir.com/Rafa-albas/rafa-albas-book.htm"&gt;مخطوطة رفع البأس عن بني العباس&lt;/a&gt; تأليف : جلال الدين عبدالرحمن بن أبي بكر السيوطي (ت 911هـ) page 180&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Ibid page 234-235&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Ibid page 248&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Ibid page 91&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Ibid, page 95&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Ibid page 238&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Ibid page 239&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Ibid page 142&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Ibid page 181&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Ibid page 263&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7774891767118200382#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Ibid page 260&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7774891767118200382-1936991810712416347?l=ahlulbaitbawazir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Perlp1SfwN3NpfM_o_lhhVEz9WI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Perlp1SfwN3NpfM_o_lhhVEz9WI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Perlp1SfwN3NpfM_o_lhhVEz9WI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Perlp1SfwN3NpfM_o_lhhVEz9WI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/1936991810712416347?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/1936991810712416347?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://ahlulbaitbawazir.blogspot.com/2009/02/keluarga-az-zainabi-di-irak-keturunan.html" title="Keluarga Az Zainabi Di Irak - Keturunan Sayyid Abbas" /><author><name>politik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07087384323735452277</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkEBRHoyeip7ImA9WxVWEUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7774891767118200382.post-1271696481683829323</id><published>2009-02-20T22:41:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T22:44:15.492-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-20T22:44:15.492-08:00</app:edited><title>Sayyid Ya’qub bin Yusuf bin Ali bin Thirad Al-Abbasiyi Az – Zainabi</title><content type="html">Sayyid Ya’qub bin Yusuf bin Ali bin Thirad Al-Abbasiyi Az – Zainabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir abad ke – 5 Hijriyah atau awal abad ke 6 Yakub bin Yusuf bin Ali bin Thirad lahir di Baghdad. Ayahnya yusuf meninggal pada saat Yakub masih kecil. Oleh sebab itu Yakub rirawat dan di didik oleh kakeknya Ali bin Thirad pemimpin Bani Abasiyah dan menjadi menteri pada 2 masa khalifah yaitu Al-Mustarsyid dan Al –Muqtafa. Kakeknya sangat mengawasi masalah pendidikan dan pelajaran sehingga Ya’qub memperoleh banyak ilmu dan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diantara para guru Ya’qub adalah Abu al- Fatuh Al-Ghozali saudara dari Hujjatul – Islam pengarang kitab Ihya’ulumuddin, Imam Sahruwirdi, Ahmad Ar-rifa’i dan lain-lain dari para pembesar ulama Ilmu dan pengetahuan. Kemudian Ya’qub meminta izin kakeknya untuk pergi ke daerah Bashroh, Kuffah dan Hijaz untuk menuntut ilmu setelah itu diapun kembali ke Iraq dan menetap di Baghdad baru untuk mengajar dan menyebarkan ilmu menjauhi megahnya istana dan kekuasaan. Karena beliau tidak suka dengan keadaan pemerintahan yang mengalami kerusakan akhlak, kegoncangan politik, dan semakin bertambah ketidaksukaan beliau dan semakin tertekan manakala pemerintah saat itu yaitu Al-Mustarsyid menangkap dan memenjarakan kakeknya, maka dia pun pergi ke Baghdad lama dan bersembunyi di sana. Pada saat itu kakeknya dibebaskan dan sebelum menjadi menteri pada khilafah Al-Muqtafa tahun 531 H, Ya’qub mendatangi kakeknya menasehati dan mengingatkan tentang akibat terlalu loyal dengan pemerintahan yang berakhlak buruk, menyibukkan diri dengan kelezatan dunia sehingga lalai akan tugas dan kewajibannya sebagai Kholifah tetapi kakeknya tidak memperdulikan nasehat Yakub, maka Yakub pun meninggalkan kakeknya dan membiarkannya. Ternyata apa yang diperkirakan cucunya itu benar, pada suatu waktu Al-Muqtafa berbeda pendapat dengan menteri Ali bin Thirad sehingga beliau di tangkap dan dipenjarakan. Setelah dibebaskan beliau berlindung kapada sulthan Mas’ud bin Muhammad. Oleh Sulthan Mas’ud bin Muhammad, Ali diparlakukan dengan baik, boleh diperbolehkan tinggal ditempatnya sulthan sampai beliau wafat pada tahun 538 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Yakub merasa sedih dan tertekan setelah kakeknya meninggal dan tidak sanggup untuk tinggal di Bagdad, ia sepakat bersama ketiga anaknya untuk meninggalkan Bagdad, anaknya Umar pergi ke daerah Bukhara yang berada di Turkistan, Abdullah pergi ke daerah Syiroz yang merupakan bagian dari daerah Persia hingga ia menikah dengan seorang wanita terpandang dari kalangan Abasiyah, di daerah Syiroz dan memperoleh anak bernama Salim, sementara Ya’qub dan anaknya yang ketiga Yusuf pergi ke daerah Khuratan, tetapi karena perasaan rindu akan negeri Iraq setelah menetap di daerah ‘ajam mereka sepakat kembali ke Iraq pada tahun 549 H. Tetapi mereka tidak tahan menetap di Baghdad dan menyadari tidak cocok menetap disana dikarenakan keadaan politik dan keamanan yang tidak stabil serta keadaan aparatur penegak hukum yang buruk. Banyak terjadi fitnah sehingga semakin kuat tekad Yakub untuk hijrah dari Baghdad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian pendapat mengatakan sebagian sahabat Ya’qub memberi saran untuk hijrah ke daerah Yaman. Diantara sahabatnya adalah Al-Allamah Syaikh Abdulqodir Al-Jailani salah seorang pemuka Tasawuf dimasa itu. Beliau berkata kepada mereka : “Sesungguhnya negeri Yaman tempat yang lebih baik untuk agama, lebih jauh dari fitnah, lebih mudah mencari penghidupan.” Oleh karena itu keluarga ini disebut keluarga menteri. Karena leluhur keluarga ini Ali bin Thirad menjadi menteri bagi 2 khalifah yaitu Al-Mustarsyid dan Al-Muqtafa, berkata Hamdani : Tidak ada menteri dari kalangan Bani Abasiyah selain dia. Berkata Ibnu Katsir : Tidak dikenal seorangpun dari kalangan Abasiyah yang menjadi / mencari selain dia (Ali bin Thirod). Berkata Adz – Dahabi : Ali bin Thirad kuat hapalannya, berakhlak mulya, sahabat yang setia, dalam pemahamannya, pandangannya jauh kedepan, mempunyai visi dan misi oleh karena itu dikenal keluarga ini dengan keluarga Al-Wazir seperti yang pernah dijelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Al-Wazir hijrah dari Baghdad secara sembunyi – sembunyi yaitu dengan cara menyamar, mereka bermaksud menuju hijaz untuk melaksanakan haji, ketika selesai melaksanakan ibadah haji dan ziarah ke Madinah Munawaroh mereka melanjutkan perjalanan dari Jeddah menggunakan perahu layar mengarungi samudra Hindia dan Laut Arab. Pada saat perahu telah sampai ke pantai Hadromaut, maka Ya’qub dan ketiga anaknya memutuskan untuk tinggal dan menetap di daerah Mukalla (sekarang menjadi bagian dari distrik Hadromaut Republik Yaman disamping Katsib Abyad, pada saat itu daerah tersebut masih merupakan kampung kecil, tidak ditemukan selain pondok kayu para nelayan di daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Yakub merasa ajal sudah semakin dekat, diapun mengumpulkan ketiga anaknya dan cucunya Salim dia berbicara banyak dan berwasiat agar berpegang teguh pada taqwa dan zuhud, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menyebarkannya, sabar dalam menghadapi kesulitan-kesulitan kehidupan serta tetap istiqomah. Ia juga meperingatkan dari sifat – sifat malas, sombong, ujub dan mencari ketenaran. Beliau wafat pada tahun 553 H dan dimakamkan di daerah Katrib, yang terkenal sekarang di daerah Ashimah dengan Turbah Ya’kub, kuburannya terkenal dengan tempat ziarah sampai sekarang, dan kuburannya memiliki kubbah yang tinggi. Mukalla pada saat itu bukan tempat yang layak huni bagi keluarga Al-Wazir, merekapun berpindah dari Mukalla ke daerah Syihr. Syihr merupakan tempat yang luas dan layak untuk ditempati juga sebuah kota di daerah pantai. Mereka pun tinggal dan menetap disana sambil mengajar dan menyebarkan ilmu serta memberi manfaat bagi manusia, sehingga penduduk daerah tersebut berdatangan untuk belajar dan memuliakan keluarga Al-Wazir, pada saat mereka tahu akan kemuliaan akhlak dan bagusnya jalan hidup mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7774891767118200382-1271696481683829323?l=ahlulbaitbawazir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Mxrdh_Z2OIs712fgM0QtzJ1sBg8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Mxrdh_Z2OIs712fgM0QtzJ1sBg8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Mxrdh_Z2OIs712fgM0QtzJ1sBg8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Mxrdh_Z2OIs712fgM0QtzJ1sBg8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/1271696481683829323?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/1271696481683829323?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://ahlulbaitbawazir.blogspot.com/2009/02/sayyid-yaqub-bin-yusuf-bin-ali-bin.html" title="Sayyid Ya’qub bin Yusuf bin Ali bin Thirad Al-Abbasiyi Az – Zainabi" /><author><name>politik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07087384323735452277</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkAAQ385cCp7ImA9WxVWFEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7774891767118200382.post-5799916287949846043</id><published>2009-02-20T22:37:00.000-08:00</published><updated>2009-02-23T20:45:42.128-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-23T20:45:42.128-08:00</app:edited><title>Sayyid Muhammad bin Salim bin Abdullah bin Ya’qub bin Yusuf bin Ali bin Thirad Al-Abasi Az – Zainabi wali (penguasa) daerah Urf.</title><content type="html">Sayyid Muhammad bin Salim bin Abdullah bin Ya’qub bin Yusuf bin Ali bin Thirad Al-Abasi Az – Zainabi wali (penguasa) daerah Urf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah kami katakan bahwa Abdullah bin Ya’qub pada saat berada di daerah Syiroz menikahi wanita terpandang dari salah seorang anak pamannya dari kalangan bani Abasiyah dan dikaruniai seorang putra bernama Salim bin Abdullah yang ditakdirkan dilahirkan di daerah Syiroz (pinggiran) daerah Baghdad. Ia menghabiskan masa mudanya dan sebagian hidupnya tidak di daerah Iraq dan tidak pula di daerah Persia tetapi di daerah Hadromaut tanah air kaum ‘Ad dan negara Hamir serta Kandah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Salim bin Abdullah menyelesaikan pendidikannya di daerah Syihr di bawah arahan orang tuannya, atas saran ayahnya Salim berpindah dari satu negeri pegunungan ke negeri pegunungan yang lain untuk mengajarkan ilmu dan melakukan rekonsilisasi damai diantara kabilah yang bertikai. Hal ini mendorong Salim untuk berinteraksi dengan penduduk suku tersebut sehingga ia menikah dengan seorang putri kepala Kabilah di daerah ‘Urf yang bernama Jamilah binti Ahmad bin Ali kepala Kabilah Musailiyin, dan dikaruniai seorang putra bernama Muhammad bin Salim yang merupakan leluhur keluarga Bawazir yang terkenal sekarang dengan nama wali (penguasa) ‘Urf, karena ia hidup dan meninggal di daerah ‘Urf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad (penguasa / wali) merupakan salah satunya ahli waris di Hadromaut dari keluarga Al Wazir (Menteri) yang hijrah dari Iraq dan merupakan Bani Abasyiah pertama yang dilahirkan pertama di Hadromaut. Dua saudara kakeknya yaitu Yusuf dan Umar telah meninggal dan tidak mempunyai keturunan. Kakeknya Abdullah telah meninggal di daerah Syihr dan mempunyai seorang anak yaitu Salim dan dimakamkan di daerah Juwaib sebelah barat Huroh oleh karena itu Muhammad bin Salim merupakan leluhur bagi keluarga Bawazir. Beliau merupakan salah satu pemuka Ulama Tasawuf pada abad ke 7 hijriah. Diantara sahabat Beliau adalah Al-Faqih Muhammad bin Ali Ba’lawi dan Syeih Said bin Isa Al-‘Amudi. Dengan keduanya beliau mempunyai hubungan yang sangat erat. Muhammad bin Salim meninggalkan tiga orang anak yaitu Abu Bakar, Said dan Umar. Umar adalah ayah dari Syaikh Sayyid Abdurohim bin Umar pendiri kota Ghil Bawazir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian salah satu tulisan tangan kuno milik salah seorang Syaikh di Huroh, Bahwa diantara guru, Syaikh Sayyid Muhammad bin Salim (Penguasa / Wali ‘Urf) adalah Al-Allamah Al-Imam Muhammad bin Ali pengarang kitab Mirbath, Syaikh Ahmad Al-Hudhudi, Syaikh Ahmad al-Bathini, Al-Allamah Al-Faqih Muhammad bin Ismail Al-Hadromiyi di daerah Zabidi, yang semuanya merupakan ulama-ulama Yaman selain itu beliau juga belajar kepada Ayahnya Salim dan kakeknya Abdullah bin Ya’qub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang-orang yang belajar kepada Syaikh Sayyid Muhammad bin Salim sangat banyak, diantaranya: Syaikh Ali bin Salam Al-Hadromiyi, Imam Al-Faqih Al-Allamah Muhammad bin Ahmad bin Yahya bin Abil Hubb Al - Tarimi, Syaikh Sa’id bin Ali Adz – Dzafari, Al-Faqih Al Mukadam Muhammad bin Ali Ba’lawi. Syaikh Sufyan Al-Yamani, Syaikh Ahmad bin Al-Ja’adi Syaikh Sa’id bin Isa Al-Amudi, Syaikh Sa’id bin Umur Balhaf, Syaikh Abdullah bin Muhammad Ba’ibadi dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan pula bahwa Syaikh Sayyid Muhammad bin Salim menikah dengan putri Syaikh Achmad Al-Bathini Bamuzahim Bajabir dan mempunyai seorang anak yaitu Abu Bakar. Adapun 2 anaknya yang lain terlahir dari istri beliau yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ahlulbaitbawazir.blogspot.com/search?updated-max=2009-02-20T22%3A37%3A00-08%3A00&amp;amp;max-results=7"&gt;SILAHKAN LANJUT TERUS&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.salvida.com"&gt;Salvida Directory&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a href="http://www.submitexpress.com/"&gt;&lt;img SRC="http://www.submitexpress.com/submitexpress.gif" BORDER=0 height=31 width=88&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://www.submitexpress.com/"&gt;Search Engine Optimization and SEO Tools&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7774891767118200382-5799916287949846043?l=ahlulbaitbawazir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/R37dSeLAjg5wPWUMOiZYdHSU6Rw/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/R37dSeLAjg5wPWUMOiZYdHSU6Rw/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/R37dSeLAjg5wPWUMOiZYdHSU6Rw/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/R37dSeLAjg5wPWUMOiZYdHSU6Rw/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/5799916287949846043?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/5799916287949846043?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://ahlulbaitbawazir.blogspot.com/2009/02/sayyid-muhammad-bin-salim-bin-abdullah_20.html" title="Sayyid Muhammad bin Salim bin Abdullah bin Ya’qub bin Yusuf bin Ali bin Thirad Al-Abasi Az – Zainabi wali (penguasa) daerah Urf." /><author><name>politik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07087384323735452277</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0QNQnY_eip7ImA9WxVWE0w.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7774891767118200382.post-8931770573803388171</id><published>2009-02-20T22:36:00.000-08:00</published><updated>2009-02-22T08:16:33.842-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-22T08:16:33.842-08:00</app:edited><title>Sayyid Abu Bakar bin Muhammad bin Salim Bawazir</title><content type="html">Sayyid Abu Bakar bin Muhammad bin Salim bin Abdullah bin Ya’kub bin Yusuf bin Ali bin Thirad Al-Abasi az – Zainabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau di lahirkan dan dibesarkan di daerah Huroh, hidup bersama paman-paman dari ibunya keluarga Bajabir, Beliau belajar banyak ilmu (Syariat &amp;amp; Thariqat) kepada ayahnya Sayyid Muhammad bin Salim (Wali / Penguasa ‘Urf). Kemudian beliau pergi ke Yaman untuk belajar kepada guru, diantaranya Syaikh Muhammad bin Husain Al-Bajali dan Syaikh Muhammad bin Abu Bakar al-Hukma, dengan keduanya beliau mempunyai hubungan yang sangat erat. Beliau juga pergi ke Mekah dan Madinah untuk mengerjakan kewajiban berhaji kemudian beliau menuntut ilmu kepada para ulama Mekah dan Madinah. Disebutkan bahwa Beliau tinggal dan bolak – balik antara Mekah dan Madinah untuk belajar selama hampir 34 tahun sehingga beliau mampu menyerap semua ilmu dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada saat kembali ke tanah airnya beliau menyibukkan diri dengan, ibadah, menyebarkan ilmu, mengajar dzikir kepada Allah dan berda’wah ke jalan Allah, dan apa yang beliau lakukan ini mendapat sambutan baik dari manusia sehingga banyak yang mengambil manfaat / belajar dengan apa yang beliau lakukan. Disamping aktivitas keilmuan dan keagamaan beliau juga sibuk dalam memanfaatkan harta benda yang beliau miliki dalam jalan kebaikan seperti menyantuni fakir miskin, membantu orang-orang yang membutuhkan, menjamu / menghormati tamu dan menyambung silaturahmi. Beliau membeli tanah yang luas kemudian dibuat kebun kurma dan lahan pertanian. Dibangun rumah-rumah singgah, menggali sumur yang banyak untuk dimanfaatkan airnya oleh manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga membangun mesjidnya yang terkenal sekarang dengan nama Masjid Jami’ Hurroh. Beliau menshodaqohkan seluruh harta bendanya yang Beliau miliki dengan mewakafkan sebagian tanahnya untuk kepentingan Masjid dan sebagian lagi untuk menjamu tamu dan perawatan sumur-sumur. Oleh karena itu setiap orang yang singgah di daerah Hurroh akan mendapatkan penghormatan dengan apa yang diwakafkan Syaikh Abu Bakar, mulai dari tempat menginap, makanan pembuka dan lain sebagainya. Penghormatan terhadap tamu seperti ini masih ada sampai sekarang meskipun membutuhkan tambahan perawatan dan perhatian. Suatu waktu paman-paman beliau (dari pihak Ibu) dari keluarga Bajabir bertanya : “Mengapa anda menshadaqohkan seluruh harta anda ? apakah anda ingin meninggalkan ahli waris menjadi peminta – minta ? tidakkah anda mensisakan sedikit harta anda untuk ahli waris ?” Beliau menjawab :”Aku telah meninggalkan bagi mereka (sedikit hartaku, sepetak kebunku dan beberapa kain yang cukup untuk menutupi aurat mereka) Menurutku ini juga sudah cukup apabila mereka bertaqwa kepada Allah dan jujur dalam bermu’amalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Sayyid  Abu Bakar senantiasa merawat perpustakaan besar yang beliau miliki yang penuh dengan kitab-kitab ilmu pengetahuan dan seni. Perawatan perpustakaan ini diteruskan oleh anaknya Abdurrahman dan cucunya. Abdurrahman bin Abu Bakar adalah seorang yang kuat ingatan, cepat hafalan, beliau mampu menghafal kitab Al-Muharrir karya Imam Ar – Rofii dan banyak kitab hadits, beliau juga ikut berperan dalam mengembangkan ilmu sastra, tafsir, mantiq. Sehingga ayah beliau pernah berkata : “Kalau saja Abdurrahman berumur panjang maka dia akan menjadi salah satu pendiri Madzhab”. Abdurrahman rahimahulloh meninggal pada saat ayahnya masih hidup, pada saat itu juga istrinya sedang mengandung, dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama sama seperti nama ayahnya yaitu Abdurrahman bin Abdurrahman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7774891767118200382-8931770573803388171?l=ahlulbaitbawazir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Y_ZlSQIUHzUuBiGA075bJnUTtc8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Y_ZlSQIUHzUuBiGA075bJnUTtc8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Y_ZlSQIUHzUuBiGA075bJnUTtc8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Y_ZlSQIUHzUuBiGA075bJnUTtc8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/8931770573803388171?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/8931770573803388171?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://ahlulbaitbawazir.blogspot.com/2009/02/sayyid-abu-bakar-bin-muhammad-bin-salim.html" title="Sayyid Abu Bakar bin Muhammad bin Salim Bawazir" /><author><name>politik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07087384323735452277</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0MMQHk-fCp7ImA9WxVWE0w.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7774891767118200382.post-9084565626386503182</id><published>2009-02-20T22:28:00.000-08:00</published><updated>2009-02-22T08:18:01.754-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-22T08:18:01.754-08:00</app:edited><title>Sayyid Abdurrahim bin Umar bin Muhammad bin Salim bin Abdullah bin Yakub bin Yusuf bin Ali bin Thirad Al Abasi Az – Zainabi</title><content type="html">Sayyid Abdurrahim bin Umar bin Muhammad bin Salim bin Abdullah bin Yakub bin Yusuf bin Ali bin Thirad Al Abasi Az – Zainabi (Pendiri Kota Ghil Bawazir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sumber – sumber yang kami terima bahwa Syaikh Sayyid Abdurrahim bin Umar (bin Muhammad – Wali (penguasa) ‘Urf) datang ke daerah Sahil pada tahun 706 H untuk mencari daerah yang layak dijadikan tempat tinggal, kemudian diikuti oleh orang sesudah beliau. Pilihan beliau jatuh pada daerah Baq’ah yang sekarang disebut Ghil Bawazir. Kemudian beliau membangun rumah pertamanya disana, terletak di sebelah barat Masjid Jami’ Al Masyhur, beliau juga menggali sumur sebelah utara Masjid yang letaknya tidak jauh. Sumur tersebut mengeluarkan mata air yang sangat banyak. Selain itu beliau juga memiliki tanah yang luas yang terdiri dari kebun kurma dan lahan pertanian lain yang terletak disebelah selatan kota al-Ghil. Hasil dari kebun kurma dan pertanian yang beliau kelola digunakan untuk membeli tanah yang luas di daerah Khorbah, Baqarain dan tempat lain didaerah Mukalla. Semua harta yang beliau miliki, beliau shodaqohkan di daerah Ghil, seperti untuk kemaslahatan masjid, menjamu tamu, dibagikan pada acara-acara keagamaan dan hari raya tertentu (khusus) dan bentuk-bentuk lain yang sekiranya sesuai dengan apa yang beliau inginkan untuk shodaqoh. Kegiatan – kegiatan ini diikuti oleh anak-anak beliau dengan menambah waqaf-waqaf yang beliau lakukan sehingga kalau ditaksir jumlahnya bisa mencapai 15.000 Syalan per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk kegiatan yang dilakukan Syaikh Sayyid Abdurrahim bin Umar Bawazir tidak itu saja, beliau juga membangun madrasah untuk mendidik anak cucu beliau dan siapa saja yang ingin belajar, mendatangkan Ustadz-ustadz yang kompeten dalam mengajar, memerintahkan anak-anak beliau belajar ilmu ditempat lain seperti ke Yaman, Hijaz dan tempat lainnya. Sehingga anak cucu beliau dikenal sangat luas ilmunya, dalam pentelaahannya, senang berbuat kebaikan dan konsisten dalam memberi manfaat kepada manusia selain itu juga terkenal gigih dalam mengajak / dakwah di daerah pantai, mengutus juru damai guna mendamaikan kabilah-kabilah / suku yang bertikai. Contoh lain kedermawanan beliau adalah kepekaan beliau terhadap musafir dan peziarah, ini tercermin dari sikap memulyakan beliau terhadap tamu asing yang singgah, dan ini merupakan sifat baik yang terkenal dan keistimewaan dari anggota keluarga ini di daerah pantai Hadromaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau dan keluarga banyak menyiapkan rumah singgah baik di kota ataupun di desa-desa untuk menjamu musafir pada hari-hari tertentu dan senantiasa melanjutkan tradisi ini. Sebagai contoh kami (penulis) sebutkan rumah-rumah singgah yang ada di daerah Ghil Bawazir, Naq’ah, Roidah Al-Jarhiyain, Rihbah Ibnu Janid, Wadi ‘Adm Wusah, Hauroh, Wadi Al-‘In, Ja’imah, ‘Urf dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berlalu 40 tahun sejak Syaikh Sayyid Abdurrahim bin Umar meletakkan batu pertama kota ini, banyak ahli ibadah yang datang ketika menjelang malam. Pengajar yang aktif mengajar ketika siang. Urusan agama di masjid tidak terlalu berlebihan sehingga merusak tatanan kehidupan dunia. Sebaliknya tatanan kehidupan dunia tidak terlalu berlebihan sehingga merusak urusan agama, antara kehidupan agama dan kehidupan dunia seimbang. Di setiap waktunya beliau bagi untuk mengawas madarasah, menyebar ilmu, melayani masyarakat umum dan menyambut tamu-tamu yang tidak henti-hentinya datang, Mendamaikan kabilah yang bertikai dan masih banyak lagi kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan sosial kemasyarakatan. Disamping itu beliau mengajak masyarakat agar mau menempati tempat ini. Oleh karena itu beliau menggali banyak sumur, membuat saluran air untuk mengairi lahan pertanian agar menjadi subur. Jejak balik beliau ini diikuti oleh anak pamannya Muhammad bin Sa’id dimana ia dan anak-anaknya menggali sumur di daerah Naq’ah, Wadikah dan tempat lainnya. Sehingga daerah ini menjadi daerah yang hijau penuh dengan pohon kurma dan lahan pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah peran serta Syaikh Sayyid Abdurrohim bin Umar bagi lingkungan sekitarnya baik dibidang agama khususnya pendidikan ataupun ekonomi sosial. Beliau menghabiskan sisa umurnya untuk beribadah sampai akhir hidupnya. Beliau meninggal pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 747 H dan dimakamkan di samping masjid dekat dinding sebelah timur (sekarang terletak di dalam mesjid). Beliau meninggalkan 3 orang anak yaitu Said, Utsman dan Ahmad, mereka semua termasuk anggota keluarga Bawazir di daerah Al-Ghil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7774891767118200382-9084565626386503182?l=ahlulbaitbawazir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hoIdXkqVV9QNjz83oHkYIK-4bsk/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hoIdXkqVV9QNjz83oHkYIK-4bsk/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hoIdXkqVV9QNjz83oHkYIK-4bsk/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hoIdXkqVV9QNjz83oHkYIK-4bsk/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/9084565626386503182?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/9084565626386503182?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://ahlulbaitbawazir.blogspot.com/2009/02/sayyid-abdurrahim-bin-umar-bin-muhammad_20.html" title="Sayyid Abdurrahim bin Umar bin Muhammad bin Salim bin Abdullah bin Yakub bin Yusuf bin Ali bin Thirad Al Abasi Az – Zainabi" /><author><name>politik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07087384323735452277</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkECRn8yeyp7ImA9WxVWE08.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7774891767118200382.post-4539284473409575321</id><published>2009-02-20T22:23:00.000-08:00</published><updated>2009-02-22T08:37:47.193-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-22T08:37:47.193-08:00</app:edited><title>Sayyid Abdullah bin Abdurrahman bin Abdurrahman bin Abu Bakar bin Muhamad bin Salim Bawazir.</title><content type="html">Sayyid Abdullah bin Abdurrahman bin Abdurrahman bin Abu Bakar bin Muhamad bin Salim Bawazir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau lahir di daerah Hurah, pada akhir abad ke 8 awal abad ke 9 Hijriah. Dan telah diketahui bahwa beliau mempunyai hubungan yang erat dengan banyak ulama besar yang hidup pada masa akhir abad 8 dan awal abad 9. Beliau mulai belajar agama dan bahasa di Huroh di bawah bimbingan ayahnya dan paman-pamannya. Kemudian beliau pergi untuk menambah ilmunya ke Yaman ke Mekah dan Madinah, sampai beliau bertemu dan belajar kepada sejumlah ulama besar dan masyhur dari ulama – ulama Yaman dan Hijaz, beliau juga belajar di berbagai pusat pendidikan Islam benua Arab dari orang-orang yang pergi ke Hijaz pada pertengahan musim haji. Disebutkan dalam risalah / tulisan yang menjadi pegangan saya (penulis) disebagian biografi tokoh-tokoh ini diantara guru – guru beliau adalah Syaikh Sayyid Abdullah bin Abdurrahman di Hijaz, Imam Abdullah bin As’ad al – Yafi’i al-Yamani al-Makki, Imam al-Marabba bin Ahmad bin Abdulwahhab dan saudaranya Abdulwahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga belajar kepada ahli fiqih dan ahli hadist kota Madinah yaitu Abu Bakar al-Maraghi, Hafidz Makkah al – Imam Muhammad bin Dzahirah, disebutkan pula dalam tulisan tersebut diantara guru – guru beliau adalah Syihab ibnu al – Arabi, Tajuddin as – Subki, Jalal al-Balkini, Jalal al-Asnawi dan ini terjadi pada saat muslim haji. Guru – guru beliau yang lain adalah al – Allamah Taqiyuddin al-Hashuni persyarah kitabnya Abu Syuja, Asy-Syamsu al-Barmawi, Imam Ahman bin al-’Imad, Syaikh al-Kazuruni dan yang lainnya dari ahli ilmu Madinah dan daerah lainnya yang berilmu luas. Adapun orang – orang yang belajar kepada beliau dari ulama Yaman diantaranya : Syarifuddin bin Ash – Shaif al-Yamani, Syarifuddin al-Muqarri pengarang kitab ”Unwanuasy – Syarfu”, Jamaluddin an – Nasyiri, al-’Allamah Mas’ud bin Sa’ad Basyakil dan yang lainnya. Sayyid Abdullah bin Abdurrahman Bawazir mempunyai risalah / tulisan mengenai seluruh guru-guru beliau, dimana beliau belajar kepada mereka dan sanadnya terhubung kepada al-Imam asy-Syafi’i, juga tentang guru-guru ilmu hadist beliau yang mempunyai sanad sampai kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan panjang beliau keluar dari tanah kelahiran untuk bertemu dengan ulama-ulama besar di berbagai negeri dan belajar berbagai macam disiplin ilmu sastra yang ditunjang dengan ketersediaannya berbagai kitab – kitab di perpustakaan kakeknya di Huroh menyebabkan beliau dikenal dengan keluasan dan kedalaman ilmu pengetahuannya khususnya dalam syari’ah, sastra, sejarah, tata bahasa, manthiq dan lain sebagainya. Disebutkan juga dalam risalah yang menjadi pedoman saya (penulis) sejumlah kitab – kitab yang beliau baca, terutama kitab – kitab para imam terkenal, diantaranya kitab Abu Ishak, kitab Imam Rafi’i, Imam Nawawi, Al – Ghazali, Sahruwirdi dalam bidang fiqih dan tasawuf dan juga kitab – kitab yang lain dalam bidang tafsir, hadist dan lain-lain yang tidak perlu disebutkan disini. Ketika beliau kembali ke Huroh dari perjalanan menuntut ilmu, beliau menyibukkan diri dengan menyebarkan / mengajarkan ilmu, da’wah di jalan Allah dan menjalin silaturahim dengan para ulama di daerah Hadromaut. Beliau juga mengunjungi Tarim, Syahr, Ghil Bawazir dan daerah lainnya bagian kota dan perkampungan daerah Hadromaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu beliau juga memiliki hubungan perkawinan dengan al-’Allamah al-Kabir Imam Umar al-Muhdhar Ibnu Abdurrahman as-Saqof. Al Muhdhar menikah dengan salah satu saudara perempuan beliau yaitu Syarifah Fathimah binti Abdurrahman dan hidup di daerah Tarim. Sayyid Abdullah bin Abdurrahman Bawazir juga memiliki hubungan yang erat dengan al-’Allamah al-Imam Abdullah bin Abu Bakar al-Idrus. Beliau (Syaikh Sayyid Abdurrahman) mengarang kitab tentang biografi Abdullah al-Idrus yang berjudul ”Tuhfatunnufus Fimanaqib al-Idrus”. Pengarang ”al-masyu’ ar-Rowa” telah mengisyaratkan dalam biografi para pemuka keluarga Ba’lawi tentang eratnya hubungan antara al-Idrus dan Sayyid Abdullah bin Abdurrahman Bawazir, ia (pengarang Kitab al-Masyru) berkata hubungan erat antara keduanya di nashkan dengan satu huruf. Al – Imam al – ’Arif billah Muhammad bin Ali Sahabat dari Aidid dan Taju al-’abidin Sa’ad bin Ali serta Syaikh Sayyid Abdullah bin Abdurrahman Bawazir sama tingkatan kemulyaan dan tinggi nasab mereka dari pada orang-orang yang menyertainya dalam belajar serta menerapkan metode – metode mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Ali bin Abu Bakar as-Sakran adalah termasuk dari salah satu guru beliau dan disebutkan juga Sayyid Ali telah mengijazah beliau pada tahun 843 H. Sayyid Abdullah bin Abdurrahman Bawazir telah menyebutkan dalam kitabnya yang berjudul ”Tuffatunnufus” bahwa sesungguhnya Syaikh Sayyid Abdullah bin Abu Bakar al – Idrus datang ke Huroh ketika itu beliau (Al – Idrus) berumur 9 tahun (karena Syaikh al-Idrus lahir apda tahun 811 H) dan singgah sebagai tamu kepada Syaikh Sayyid Abdullah bin Abdurrahman, beliau juga berkata : sesungguhnya Sayyid al-Idrus membaca beberapa kitab dihadapan Syaikh Sayyid Abdullah bin Abdurrahman Bawazir dan mengadakan ikatan bersahabatan dan persaduaraan menurut thariqah ahli tasawuf terdahulu dan Syaikh Sayyid Abdullah bin Abdurrahman Bawazir pun menerimanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Abdullah bin Aburrahman Bawazir wafat setelah mempengaruhi kehidupan yang mulya dan penuh dengan keutamaan, akhlak mulya, menyebarkan ilmu, dermawan kepada manusia, mengajak kepada jalan Allah. Meninggalkan banyak anak-anak, yang paling terkenal dan mulia adalah Umar bin Abbdulah, dinamai Umar karena ayahnya mendapat isyarat dari Imam Umar al-Muhdhar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kami (penulis) menukil ini menyadur dari Biografi yang dikemukakan dalam risalah tulisan yang jadi pedoman kami, sehingga kami merasa perlu menuliskan hal tersebut dalam tulisan ini. Risalah yang jadi pedoman kami menyebutkan Syaikh Sayyid Umar bin Abdullah Bawazir lahir di Huroh dan tumbuh disana, belajar Al-Qur’an kepada al-Mu’allim Muhammad Bashadiq. Beliau menghapal al-Qur’an dan mendalami Al-Qur’an dengan metode 7 bacaan (Qiro’ah Sab’ah) dibawah bimbingan orang tuanya dan sekelompok orang-orang sholeh dan para penghapal Al-Qur’an, sehingga beliau dipanggil dengan sebutan Muqarri (pembaca Al-Qur’an). Beliau belajar ilmu syariat kepada ayahnya, pamannya dan yang lainnya dari para ulama besar ahli ma’rifat. Beliau pernah membaca berbagai kitab dihadapan ayahnya, diantaranya al-Minhaj Imam Nawawi, at-Tanbih Imam Abu Ishaq, Umdah Ibnu an-Naqib, Al-Muharrir Imam Rafii dan sejumlah tulisan tentang ilmu tasawuf. Beliau juga membaca Ihya ’Ulumuddin karya Imam al-Ghazali, ’Awarif al-ma’arif Sahruwardi, Qutul Qulub Abu Thalib al-Makki. Beliau juga membaca Ihya dihadapan Imam Umar al-Muhdhar dan kitab al-Maqshad al-Asna Fisyahri Asmaul Husna serta kimia as-Sa’adah karya Al-Ghazali juga. Kitab Bidayah Al-Hidayah dihadapan Imam Abu Bakar bin Abdurrahman as-Saqafi. Kitab ar-risalah al-Qusyairi dihadapan Sayyid Abdullah bin Abu Bakar seluruh ilmu dan dzikir. Beliau juga diizinkan untuk mengajar dan berfatwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Allamah Sayyid Umar Bawazir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Umar Bawazir banyak mentela’ah kitab-kitab tafsir dan hadist. Beliau juga banyak mentela’ah kitab tasawuf dan ilmu lainnya. Beliau adalah seorang penyabar, erat persahabatan dan lapang dada. Apabila ada orang yang memutuskan silaturahim dengan beliau, maka beliau menyambungnya kembali, apabila ada orang yang dzalim maka beliau berbuat adil. Apabila memberi nasihat pasti dengan cara yang sangat baik, apabila memberi peringatan (Mau’idzah) bisa membuat orang menangis dan sedih. Beliau juga mendapat berbagai macam ujian dari orang – orang yang hasad tetapi beliau tetap sabar dengan perbuatan hasad mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas kesabaran beliau salah seorang murid beliau al-Alamah asy-syair ash-Shufi al-Kabir Syaikh Umar Bamakhramah dalam awal qasidah yang menetapkan sifat terpuji Syaikh Sayyid Umar bin Abdullah Bawazir dengan bait-bait syair : Keluarga Bawazir ketika orang berbuat buruk Justru beliau datang dengan kebaikan Sampai akhir bait syairnya. Dan pada awal Qasidah yang lain : Keluarga Bawazir jika orang lain menuduhmu Memaafkan dan berlapang dada atas perbuatan dzalimnya. Syaikh Umar Bamakhramah menunjukkan dalam dua bait syair tadi tentang apa yang dihadapi oleh Sayyid Umar Bawazir dari permusuhan orang-orang hasad dan sifat sabar beliau menghadapi mereka. Syaikh Umar Bamakhramah juga menanggap Sayyid Umar Bawazir sebagai salah seorang ulama besar yang menjadi panutan dalam rangka ibadah kepada allah, menurut beliau ada 4 orang ulama yang masyhur dengan taqwa dan kewaliannya, setelah menyebutkan 3 orang dari mereka dalam salah satu bait-bait syairnya beliau menyebutkan tentang orang yang keempat : Dan yang keempat adalah yang berkata Janganlah engkau sebutkan namaku. Maksud beliau adalah Sayyid Umar bin Abdullah Bawazir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menonjol dari beliau adalah kemulyaan dan kedermawanannya. Beliau senang memberi kepada orang lain selalu mengajak untuk memberikan (menginfakkan) harta dalam berbagai bentuk kebaikan, khususnya pada waktu-waktu utama, seperti bulan Ramadhan, hari-hari raya dan pada masa-masa paceklik. Beliau sangat gembar berinfak terutama kepada orang-orang fakir, anak-anak yatim, janda-janda dan karib kerabat yang butuh pertolongan. Apabila beliau kebetulan mendapat rizki yang banyak maka beliau langsung infakkan waktu itu juga. Kalau waktu sore beliau mendapat rizki lalu diinfakkan sehingga tidak tersisa harta untuk makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari pembantu beliau Ahmad bin Shaleh Baziyad, ia berkata : suatu waktu saya bersama orang tua saya pergi ingin bertemu dengan Sayyid Umar Bawazir, kebetulan pada waktu itu lagi musim kelaparan, gandum sulit untuk didapatkan. Ketika kami datang, rumah beliau penuh oleh para tamu dan peziarah. Saya mengajak ayah lebih baik pulang karena rumah Syaikh penuh sesak (waktu makan telah datang dan makanan tidak ada) saya membujuk ayah sebaiknya pulang memang kami sedang kesusahan. Namun tiba-tiba Sayyid Umar mengajak masuk dan berkata ”Kemarilah ikutlah bersama di Majlis yang tercinta ini, jangan terlalu memikirkan masalah yang sedang engkau hadapi, karena semuanya akan baik-baik saja”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami masuk kerumah beliau, dan beliau berbincang-bincang dengan temu-tamunya dalam keadaan gembira dan berseri-seri. Aku bergumam : Subhanallah ! meskipun dalam keadaan sulit seperti ini Syaikh masih bisa tertawa gembira padahal saya tahu keadaannya. Dan Syaikh membaca syair untuk kami : Tak pantas para tamu mengangkat kepala dirumah kami Kecuali untuk tetawa dan tersenyum kepada kami. Aku berkata : ”Tambah lagi syairnya, tuanku”. Beliau berkata ”Apakah engkau tidak pernah mendengar syair? Aku berkata ”Apa yang dikatakan syair selanjutnya?” beliau menjawab ”Aku akan menulis syair dalam kertas agar orang lain tidak mendengar”. Kemudian beliau menulis : Aku mengajak tamuku tertawa sebelum beranjak pergi Walau tempat sekitar saya sedang kering kerontang Kesuburan yang dimaksud para tamu bukan banyak jamuan Tetapi wajah yang berseri-seri adalah simbol kesuburan Tak lama kemudian berbagai hidangan datang berupa bubur gandum, jagung, nasi dan daging lalu kami bersama-sama tamu menyantap hidangan tersebut sampai kenyang. Aku berkata kepada Syaikh : ”Tempat disektar kita tidak kering, tetapi ternyata subur dan wajah anda yang lebih subur”, beliau berkata : ”Segala puji milik Allah yang telah memberikan keutamaan kepada makhluknya dengan berbagai nikmat dan dia menghendak hamba-hamba bersyukur kemudian beliau memberi nasihat sampai menangis dan membuat orang lain menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Syaikh Sayyid Umar Bawazir mempunyai pengaruh yang luas bagi banyak kebilah di daerah Hadromaut. Ucapan beliau sangat didengar oleh para penguasa Hadromaut yang berkuasa pada abad ke 10 H yaitu Sultan Badr Abu Thuwaiq al – Katsiri, terjadi pada tahun 937 H ada sekelompok orang dari suku Hilal di kota Hunain berpusat di daerah Musammah (Farhah), mereka dikenal dengan kelaurga an-Namir, keluarga Fasyr, keluarga Baqar, keluarga. Amari dan yang lainnya dari daerah Madzhaj dan Nahd. Mereka merampok dan merampas harta rakyat Sultan Abu Thuwairiq, menyebar teror di berbagai tempat. Kemudian Sultan Abu Tuwairiq mengirim pasukan besar untuk menumpas mereka yang berjumlah 1.000 orang dari pasukan kavaleri, artileri dan infanteri. terjadilah pertempuran yang berakhir dengan kekalahan musuh Sultan sehingga mereka bercerai berai. Mereka yang kalah lalu kabur dan minta perlindungan kepada Sayyid Umar bin Abdullah Bawazir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka meminta Beliau untuk menjadi perantara bagi mereka untuk mengadakan perjanjian damai dengan Sultan Abu Tuwairiq, dimana mereka bersedia taat dan loyal kepada Sultan asal mereka dibolehkan tinggal dan hidup di wilayah mereka. Syaikh Umar mengabulkan keinginan mereka dan Sultan pun setuju untuk memberi jaminan keamanan kepada mereka. Tetapi Sultan berpendapat keberadaan mereka yang berkelompok-kelompok disatu tempat bisa mengancam keamanan dan eksistensi kesultanan Katsiriyah, Sultan usul kepada Syaikh Umar supaya mereka pergi dari daerah Hunain ke daerah lain dan beroisah-pisah, mereka setuju dengan permintaan sultan. Akhirnya kesepakatan damai pun tercapai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Abu Tuwairiq bermaksud memberikan penghargaan kepada Sayyid Umar Bawazir atas peranan dan kerja keras beliau dalam perjanjian damai tersebut, berupa materi, tetapi Syaikh menolaknya. Syaikh meminta sultan membuat peraturan yang berisi pencabutan seluruh kesulitan-kesulitan birokrasi dan tidak ada pungutan zakat, sehingga Syaikh Umar diberi wewenang untuk mengelola zakat secara pribadi. Beliau juga meminta sultan agar Syaikh dan anak-anaknya di beri kewenangan untuk memberikan pengampunan dan membebaskan orang yang dipenjara dalam peristiwa Hunain dan sultan pun mengabulkan apa yang menjadi permintaan Syaikh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sultan menulis semua ketetapan tersebut, dalam tulisan yang berbunyi : بسم الله الرحمن الرحيم (Dengan nama Allah yang maha Pengasih dan Maha Penyanyang) الا ان اولياء الله لاخوف عليهم ولاهم يحزنون. لهم البشرى في الحياة الدنيا و في الاخرة لاتبديل لكلمات الله ذلك هو الفوز العظيم Amma ba’du,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; untuk diketahui oleh setiap orang yang hidup di atas bumi yang merdeka. Bahwa sesungguhnya tuanku, tempat berteduhku, tempat berlindungku dan saudaraku Asy-Syaikh Asy-Sayyid al-ajl al-fadil al-wali al-kamil al-’alim al-’amil asy-Syaikh asy-Sayyid Umar bin Abdurrahman Ibnu Syaikh al-Kabir Sayyid Abu Bakar bin Muhammad bin Salim Bawazir pantas mendapatkan penghormatan, kemulyaan pengagungan yang berlaku dikerajaan kami baik didaratan maupun dilautan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau dan seluruh anak keturunannya mulai hari ini dan sampai hari akhir / qiyamat. Mereka tidak ada kewajiban untuk membayar pajak, zakat dan hal-hal lainnya dari peraturan yang diatur oleh aparatur pemerintahan dalam hal interogasi dan pemeriksaan baik di daratan maupun di lautan. Tidak boleh ada yang memecah mereka, tidak ada peraturan yang mengikat mereka, tidak boleh ada yang memata-matai mereka. Hal-hal diatas berlaku diseluruh negeri baik didaratan maupun di lautan dari setiap perkara yang diatur oleh peraturan dan undang-undang. Begitu juga mereka berhak memberikan pengampunan bagi setiap orang yang dipenjara akibat peristiwa Hunain dan pengampunan mereka tidak tertolak. Barang siapa melanggar ketentuan diatas maka jangan menyesal apabila mendapat hukuman yang setimpal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah peraturan ini dibuat dan ditetapkan oleh orang yang sangat butuh kepada Rahmat Allah. Badr bin Abdullah bin Ja’far al-Katsiri Allah menjadi saksi terhadap ucapanku dan akan menghisabnya. Ditulis dengan tangan beliau. Ketetapan ini ditandatangani 7 saksi yaitu : Umar bin Abdullah Bamakhramah, Abdushshamad Bakatsir, Ahmad bin Abdullah Bakatsir, Ahmad Shal bin Ishak, Mahsun bin Amir bin Ishak, Abdullah bin Ahmad Bajasir dan Ahmad bin Laits Bajabir. Syaikh Sayyid Umar mempunyai syair yang indah yang ditulis dengan bahasa darijah qaribah dari arab fusha, bait-bait qashidah beliau yang panjang pernah di bacakan pada acara pertemuan antara wali/penguasa daerah Al-Makhiniq yaitu Ali bin Dzafar dengan penduduk Sur dan penduduk Maqarim serta penduduk didaerah Huroh Madjarim serta penduduk Dzulfan dalam rangka menentang pembangunan Dhamir (Dhamir menurut kebiasaan penduduk Hadromaut adalah bendungan yang didirikan disungai untuk mengatur arah aliran air ke daerah yang diinginkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu pertempuran didaerah Nahd yang dimenangkan oleh Syaikh Sayyid Umar beliau bersayir : Di hari kami bangkit dan bediri dilembah itu Mereka berbuat melampaui batas kepada kami Yaitu penduduk Makhanik dan Suur Yang melakukan pencurian dan perampokan menakut-nakuti penduduk huroh Daerah Adu penuh air yang bisa diminum Dan terasa daerah Huroh yang kehausan Ali bin Dzaffar berdiri bersama para sahabatnya Semoga Allah melemparkan kehindaan kepada mereka Sampai beliau berkata : Dan keturunan Amir bersama saya bangkit dan berdiri Dengan niat yang benar bersama bani Qahthan Lalu Tsabit dan Mas’ar serta Ibnu Ma’ar Ibnu Maza’za’ dan Abu Al-Hukman Keluarga Ath – Thawil yang memberikan bantuan terus menerus Mereka dan anak keturunan Kel.Abdullah Sahabat – sahabat mereka keluarga Ibnu Mudrik Yang pemimpinnya Tsabit Abu Ridwan Dan Kelaurga Ijaj yang ikut membantu Dari anak-anaknya dan para pemudanya. Mereka bangkit dan bediri bersama saya dengan niat yang benar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7774891767118200382-4539284473409575321?l=ahlulbaitbawazir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/msfBZUgQvwBZ7hl5nhU5sn51OaQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/msfBZUgQvwBZ7hl5nhU5sn51OaQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/msfBZUgQvwBZ7hl5nhU5sn51OaQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/msfBZUgQvwBZ7hl5nhU5sn51OaQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/4539284473409575321?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/4539284473409575321?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://ahlulbaitbawazir.blogspot.com/2009/02/sayyid-abdullah-bin-abdurrahman-bin_20.html" title="Sayyid Abdullah bin Abdurrahman bin Abdurrahman bin Abu Bakar bin Muhamad bin Salim Bawazir." /><author><name>politik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07087384323735452277</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUYEQHc-eSp7ImA9WxVWEUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7774891767118200382.post-6070851891939407250</id><published>2009-02-20T22:16:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T22:18:21.951-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-20T22:18:21.951-08:00</app:edited><title>Daftar Pustaka</title><content type="html">Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://www.bawazir.com/al-asas-bawazir.htm"&gt;&lt;/a&gt;نسب آل باوزير كما جاء في كتاب : الأساس في أنساب بني العباس - تأليف السيد الشريف حسني بن أحمد بن علي العباسي الهاشمي ، الطبعة الأولى . 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.bawazir.com/Bawazir_Sattam_tree_overall.htm"&gt;&lt;/a&gt;مشجر اتحاف البرية في نسب أسرة آل باوزير العباسية للسيد الشريف سطام بن زكي بن حسين العباسي الهاشمي 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.bawazir.com/Bawazir-overall-history-bamatraf.htm"&gt;آل باوزير كما ذكروا في كتاب : المختصر في تاريخ حضرموت العام&lt;/a&gt;- &lt;a href="http://www.bawazir.com/bamatraf-book-cover-back.htm"&gt;تأليف محمد عبد القادر بامطرف&lt;/a&gt; 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.bawazir.com/Bawazir_tree_Albdr_almuneer.htm"&gt;صورة الشجرة&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.bawazir.com/Bawazir_family_branches.htm"&gt;على صفة جدول يبين فروع اسرة آل باوزير&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.bawazir.com/bawazir-lineage-poetry-BM-80.htm"&gt;قصيدة عن أجداد آل باوزير باللهجة الحضرمية الدارجة&lt;/a&gt; 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مخطوطة &lt;a href="http://www.bawazir.com/tagreed-albadr-almuneer-1.htm"&gt;" من قرض على البدر المنير و النسب الشريف ممن أدرك هذا العصر الرابع عشر من أهل الفضل و الشرف" لجامع البدر المنير رحمه الله تعالى .&lt;/a&gt; 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مخطوطة "&lt;a href="http://www.bawazir.com/bologh_Alosool_1.htm"&gt;بلوغ الوصول بمن ظفرت به من آل أبي وزير ألحقته بالأصول لجامع بدر المنير رحمه الله تعالى&lt;/a&gt;". 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نسب آل باوزير كما جاء في كتاب &lt;a href="http://www.bawazir.com/bawazir-ghalib-alquaaiti.htm"&gt;تأملات عن تاريخ حضرموت قبل الإسلام و في فجره&lt;/a&gt;، تأليف السلطان غالب بن عوض القعيطي ، الطبعة الأولى&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7774891767118200382-6070851891939407250?l=ahlulbaitbawazir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/3vbZ12Dbnrlkx--yTmznbu2hdIw/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/3vbZ12Dbnrlkx--yTmznbu2hdIw/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/3vbZ12Dbnrlkx--yTmznbu2hdIw/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/3vbZ12Dbnrlkx--yTmznbu2hdIw/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/6070851891939407250?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/6070851891939407250?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://ahlulbaitbawazir.blogspot.com/2009/02/daftar-pustaka.html" title="Daftar Pustaka" /><author><name>politik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07087384323735452277</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE8ER3g5cCp7ImA9WxVWEUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7774891767118200382.post-4716615703736745875</id><published>2009-02-20T22:11:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T22:13:26.628-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-20T22:13:26.628-08:00</app:edited><title>Lampiran Nasab Al Bawazir</title><content type="html">Lampiran Susunan Beberapa Cabang Keturunan Al Allamah Sayyid Syeikh Muhammad Bin Salim (Wali Urf) Kakek Dari Semua Marga Al Bawazir.(mempunyai 3 Anak yaitu Sayyid Abubakar, Sayyid Said, dan Sayyid Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Abubakar Dimakamkan di Huroh Mempunyai 3 Anak Sayyid Abdurrahman, Ahmad, dan Muhammad sbb: SayyidAbdurrahman : Menurunkan keluarga Al Khatib, Kel. At – Taqi, Kel. Al Dhom, mereka adalah Kel. Al Bamuhammad, Kel. Al Abdul Ma’bud, Kel. Al Abdul Basith, Kel. Al Achmad, Kel. Al Abdullatif dan Kel. Al Balfaqih SayyidAhmad : Menurunkan keluarga yang berpencar yaitu Kel. Al Utsman dan Kel. Al Baithi di Negeri ‘Inat, Kel. Bin Yasin yang tinggal di lembah Sah disebut juga kel.Al Baithi, Kel. Al Tohir Balhadiah, Keluarga yang tinggal di pantai negara Siyyun, Kel. Al Syaibah di Lembah Al-‘ain. Kebanyakan kel. Abubakar bin Muhammad tinggal di lembah Al-‘ain arah hadromaut. Sayyid Muhammad Meninggal waktu Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sayyid Said dimakamkan di Huroh, mempunyai 7 anak yaitu Sayyid Muhammad, Abubakar, Ahmad, Ali, Abdullah,Hasan dan Umar Sayyid Muhammad :Leluhur kel. Naqiah dan sekelompok masyarakat di daerah Ghil Bawazir, diantara keturunannya yaitu Achmad Al – Majrubi dan Kel. Al – ‘Athiyasi. Sayyid Abubakar Leluhur Kel. Mofous (Movas), Kel. Robiyah dan sekelompok Masyarakat di negeri Hurroh. Sayyid Ahmad : Penguasa / Wali Roha , Leluhur Kel. Mu’thi, Kel. Sya’roh, kel. Musajadah, Kel. Abdul Qoyyun, Kel. Abdul Haq, Kel. Aun, Kel. Hamid, Kel Al-Junaid ,Kel. Burhadi dan Kel. Rohbah. Sayyid Ali :Leluhur Kel. Ad – Diidu Sayyid Abdullah :Leluhur Kel. Syaikh di daerah Sah Sayyid Hassan: Leluhur Kel. Bin Hasan Sayyid Umar: Leluhur Kel. Abdul Qowi, Kel. Malah, Kel. Warud, Kel. Fargog, Kel. Abdush-shomad dari keturunannya adalah Abdush-Shomad penguasa / wali daerah Tsagir, Kel. Utsman di daerah Dij, Kel. Al – ‘Ain, Kel. An – Nahim, Kel. Said bin Syaikh, Kel. Abdul Qowi yang ada di pinggiran negeri Siyyun. Suatu tempat yang disebut Basyayikh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Anak ke 3 dari Wali Urf adalah Sayyid Umar Meninggal tahun 713 H, di Makamkan di lembah Sah menurunkan Satu Anak yaitu Sayyid Abdurrahim (pendiri kota Ghil Bawazir) Sayyid Abdurrahim Meninggal pada malam pertengahan Nisfu Sya’ban tahun 737 H. dikaruniai 3 putra yaitu Achmad, Abdurrahman dan Said. Dan diantara keturunannya yaitu Syaikh Abdurrohim bin Said bin Abdurrohim bin Umar bin Muhammad (wali / penguasa ‘Urf) Dikenal sebagai pendiri Thorikot. Meninggal pada abad ke-8 H dan diantara keturunan Abdurrohim bin Umar adalah Kel. Balhid, Kel. Habros, Kel. Bin ‘Aqil di daerah Al-Ghil bawah, Kel. Syaikhon, Kel. Ba’iwadl, Kel. Bin Ya’qub, Kel. Habr sekarang mereka tinggal di daerah Somal negeri Ankoziya dan Kel. Bakiron. Melalui zuriya ketiga anak Maula Urf Sayyid Muhammad bin Salim berkembang keturunannya dengan membentuk cabang nama keluarga lain yang tersebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7774891767118200382-4716615703736745875?l=ahlulbaitbawazir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/J0G33EkrURkrZJrdmEwe8vvCtYc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/J0G33EkrURkrZJrdmEwe8vvCtYc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/J0G33EkrURkrZJrdmEwe8vvCtYc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/J0G33EkrURkrZJrdmEwe8vvCtYc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/4716615703736745875?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/7774891767118200382/posts/default/4716615703736745875?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://ahlulbaitbawazir.blogspot.com/2009/02/lampiran-nasab-al-bawazir.html" title="Lampiran Nasab Al Bawazir" /><author><name>politik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07087384323735452277</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author></entry></feed>

