<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Suara Warga</title><description>Kependudukan dan Kemasyarakatan</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><pubDate>Sun, 6 Oct 2024 20:29:39 -0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://suarawargakita.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Kependudukan dan Kemasyarakatan</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Pengangguran Muda di Indonesia Tertinggi di Asia</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/pengangguran-muda-di-indonesia.html</link><category>Akta Kelahiran Jumlah Penduduk</category><category>Jumlah Penduduk</category><category>Kepadatan Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Masalah Pendidikan Penduduk</category><category>Masalah Penduduk</category><category>pengangguran</category><category>Program KB</category><category>urbanisasi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 3 Jul 2013 06:18:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-1462822861639165981</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgT1sQiWdjFtg1A70fyeCnQunPXHLcEb5o0B46zrp3oJuNColEfRMjTiocreVvPTa-aYMNkIJAevgrnp4OWupIelBxTiIH6z4e7_U2GQtwIteO_qaEBAZ4ZU0Wz-3tIvisxFrxBlV6bhF39/s320/lowongan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="366" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgT1sQiWdjFtg1A70fyeCnQunPXHLcEb5o0B46zrp3oJuNColEfRMjTiocreVvPTa-aYMNkIJAevgrnp4OWupIelBxTiIH6z4e7_U2GQtwIteO_qaEBAZ4ZU0Wz-3tIvisxFrxBlV6bhF39/s640/lowongan.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Badan Kependudukan dan Keluarga 
Berencana (BKKBN) menyatakan kaum muda memiliki tingkat kesulitan 
mencari pekerjaan lima kali lebih besar daripada pekerja dewasa. "Itu 
terjadi karena ketersediaan lapangan kerja untuk angkatan muda semakin 
menurun," kata Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, Wendi 
Hartanto, dalam acara temu wartawan di kantornya Rabu, 11 April 2012.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut
 Wendi, kaum muda diperkirakan 4,6 kali lebih besar menjadi pengangguran
 dibanding pekerja dewasa. Padahal dalam skala global angkanya hanya 2,8
 kali lebih besar. Data tersebut ia kutip dari angka perkiraan 
International Labor Organization.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan data dari Badan 
Perencanaan Pembangunan Nasional mengungkapkan tingkat pengangguran 
terbuka usia muda antara 15 hingga 29 tahun di Indonesia mencapai 19,9 
persen. Sementara Srilangka 17,9 persen dan Filipina 16,2 persen. Data 
tersebut, kata dia, membuat Indonesia menyandang gelar sebagai negara 
dengan pengangguran usia muda tertinggi di Asia Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia 
mengatakan permasalahan tersebut akibat kualitas pekerjaan yang tersedia
 untuk anak muda semakin menurun. "Apa lagi biasanya mereka pilih-pilih 
pekerjaan. Karena tidak dapat, akhirnya menganggur," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan
 lain adalah kaum muda yang bekerja selama ini terkonsentrasi pada 
pekerjaan informal dan murah. Pekerjaan tersebut juga tanpa jaminan 
sosial dan tanpa pesangon ketika diberhentikan dari pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia
 khawatir jika pengangguran usia angkatan kerja tidak terserap pasar 
kerja dengan baik akan berisiko menimbulkan kemiskinan massal. Terlebih 
lagi jika pengangguran muda tersebut berasal dari mereka yang 
berpendidikan SD dan SLTP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika dirata-rata, lama masa tempuh 
pendidikan penduduk Indonesia baru 5,8 tahun," katanya. Ia mengatakan 
masih banyak anak usia sekolah tidak sekolah. Mereka diminta bekerja 
mencari uang oleh keluarganya. Akibatnya kualitas sumber daya manusianya
 juga ikut rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian ekonomi jangka pendek dari hal itu 
menurutnya berupa rendahnya produktivitas, hilangnya waktu produktif, 
biaya karyawan naik, dan kapasitas terpakai perusahaan rendah. Sementara
 kerugian jangka panjang adalah mutu tenaga kerja yang rendah, TKI hanya
 sebagai tenaga kasar, pertumbuhan ekonomi lamban, dan daya saing global
 rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian lain adalah terciptanya kemiskinan struktural 
karena orang yang putus sekolah sulit mendapatkan pekerjaan yang dapat 
meningkatkan kesejahteraannya. Jika orang tersebut memiliki anak, anak 
mereka juga tidak dapat mengenyam pendidikan karena tidak ada biaya.
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgT1sQiWdjFtg1A70fyeCnQunPXHLcEb5o0B46zrp3oJuNColEfRMjTiocreVvPTa-aYMNkIJAevgrnp4OWupIelBxTiIH6z4e7_U2GQtwIteO_qaEBAZ4ZU0Wz-3tIvisxFrxBlV6bhF39/s72-c/lowongan.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Indonesia Bisa Contoh Program KB Negara Maju </title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/indonesia-bisa-contoh-program-kb-negara_3.html</link><category>Akta Kelahiran Jumlah Penduduk</category><category>E-KTP</category><category>Jumlah Penduduk</category><category>Kepadatan Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Masalah Pendidikan Penduduk</category><category>Masalah Penduduk</category><category>Program KB</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 3 Jul 2013 05:58:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-4210763390797954566</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibVA2MZbP_Q56Obh0_OCHbkOylRWYpc0b_3vW9a-xMS-wkbf7vMm1k5sHENgyjpjy7yX5OIEKqeTFRx15i5sYqKPy4eDoDhoXHFDLZP5onU70RvUo-s-CFO_kVxTq0lx-sVM_KMY9Ibyc7/s780/1041158shutterstock-84089224780x390.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibVA2MZbP_Q56Obh0_OCHbkOylRWYpc0b_3vW9a-xMS-wkbf7vMm1k5sHENgyjpjy7yX5OIEKqeTFRx15i5sYqKPy4eDoDhoXHFDLZP5onU70RvUo-s-CFO_kVxTq0lx-sVM_KMY9Ibyc7/s640/1041158shutterstock-84089224780x390.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kompas.com&amp;nbsp;— Untuk menekan pertumbuhan jumlah penduduk,
 Indonesia seharusnya mencontoh negara-negara maju. Pasalnya, 
negara-negara tersebut punya riset yang memadai untuk kampanye 
penggunaan alat kontrasepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alat kontrasepsi adalah salah satu 
faktor utama untuk mengontrol angka kelahiran, oleh karena itu, 
sepantasnya Indonesia meniru kesuksesan dari negara-negara maju seperti 
Amerika Serikat dan Australia,” ungkap pakar kependudukan, Sugiri 
Syarief, Senin (1/7/2013).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara maju, jenis kontasepsi yang dipakai kebanyakan adalah kontrasepsi jangka panjang, seperti implan atau intrauterin device (IUD) yang lebih dikenal dengan KB spiral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu
 data National Survey of Family Growth yang dirilis beberapa waktu lalu,
 para peneliti menemukan, sekitar 60% wanita Amerika Serikat (AS) 
menggunakan metode kontrasepsi yang efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut dikuatkan oleh studi baru bertajuk “Effectiveness of Long-Acting Reversible Contraception” oleh Winner et al di New England Journal of Medicine.
 Studi tersebut menyebutkan, sekitar 50% dari kehamilan yang tidak 
diinginkan di AS akibat pemilihan kontrasepsi yang tidak konsisten dan 
tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peneliti mencatat bahwa penggunaan kontrasepsi jangka panjang reversible (Long-Acting Reversible Contraception/LARC), seperti spiral atau susuk jauh lebih umum di negara-negara maju selain AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara
 keseluruhan, peserta KB yang menggunakan metode jangka pendek seperti 
pil, koyo, atau cincin memiliki risiko kegagalan kontrasepsi 20 kali 
lebih tinggi dibandingkan mereka yang menggunakan kontrasepsi jangka 
panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hal tersebut dinilai lebih baik dibandingkan 
Indonesia yang masih mengandalkan kontrasepsi sederhana, seperti pil, 
kondom, dan suntik. Akibatnya, dalam 10 tahun terakhir, total fertility rate (TFR) masih stagnan sebesar 2,6 atau pasangan suami istri di Indonesia rata-rata memiliki hampir tiga anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugiri
 mengatakan, untuk memaksimalkan penggunaan alat kontrasepsi, Indonesia 
harus mempunyai lembaga riset yang kuat. "Kalau tidak, akan tertinggal 
karena selalu membeli hasil riset yang dihasilkan oleh negara maju,“ 
ungkapnya.&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibVA2MZbP_Q56Obh0_OCHbkOylRWYpc0b_3vW9a-xMS-wkbf7vMm1k5sHENgyjpjy7yX5OIEKqeTFRx15i5sYqKPy4eDoDhoXHFDLZP5onU70RvUo-s-CFO_kVxTq0lx-sVM_KMY9Ibyc7/s72-c/1041158shutterstock-84089224780x390.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pasca Putusan MK, MA Perintahkan Hakim Stop Adili Akta Kelahiran</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/pasca-putusan-mk-ma-perintahkan-hakim.html</link><category>Akta Kelahiran Jumlah Penduduk</category><category>Kepadatan Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Masalah Penduduk</category><category>Program KB</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 3 Jul 2013 05:19:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-7642192529715090259</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiq3kBWpx76UknIw211Zd06dRkPhbcNt4Z4ybTcppj9DTH2-YbQ1tqmM4vVMbzbcdomOgW7bD_qBQgbGBSgqIDElhajvutdpyM2DYATm2W2b95I9qq-3LNFYdrMxa6xjXLjBgZWy30k2Yva/s300/hattaaliarisaputra31-300x205.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="437" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiq3kBWpx76UknIw211Zd06dRkPhbcNt4Z4ybTcppj9DTH2-YbQ1tqmM4vVMbzbcdomOgW7bD_qBQgbGBSgqIDElhajvutdpyM2DYATm2W2b95I9qq-3LNFYdrMxa6xjXLjBgZWy30k2Yva/s640/hattaaliarisaputra31-300x205.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Jakarta – Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang 
menggugurkan kewenangan pengadilan negeri mengadili permohonan akta 
kelahiran yang telah lewat 1 tahun. Atas hal ini, Mahkamah Agung (MA) 
memerintahkan hakim di Indonesia menghentikan mengadili hal itu, kecuali
 yang sudah terdaftar sebelum putusan MK diucapkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Perintah ini dituangkan&lt;span id="more-408"&gt;&lt;/span&gt; dalam Surat Edaran
 MA No 1/2013. “Sejak 1 Mei 2013, pengadilan tidak lagi berwenang 
memeriksa permohonan penetapan akta kelahiran,” kata Ketua MA Dr Hatta 
Ali dalam surat edaran yang didapat detikcom, Kamis (2/4/2013).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Surat tersebut ditandatangani Ketua MA, kemarin. Surat Edaran ini 
otomatis mencabut Surat Edaran Nomor 6/2012 tentang Pedoman Penetapan 
Pencatatan Kelahiran yang Melampaui Batas Waktu Satu Tahun Secara 
Kolektif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Terhadap permohonan penetapan akta kelahiran yang telah diregister 
diselesaikan sesegera mungkin supaya masyarakat memperoleh haknya,” 
perintah Ketua MA.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dalam Pasal 32 ayat 2 UU No 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan berbunyi &lt;i&gt;pencatatan kelahiran yang melampaui batas waktu 1 tahun dilaksanakan berdasarkan penetapan pengadilan negeri&lt;/i&gt;.
 Atas berbagai pertimbangan matang, MK menghapus pasal itu. Kini 
pengurusan akta sepenuhnya di tangan pemerintah lewat petugas catatan 
sipil.&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiq3kBWpx76UknIw211Zd06dRkPhbcNt4Z4ybTcppj9DTH2-YbQ1tqmM4vVMbzbcdomOgW7bD_qBQgbGBSgqIDElhajvutdpyM2DYATm2W2b95I9qq-3LNFYdrMxa6xjXLjBgZWy30k2Yva/s72-c/hattaaliarisaputra31-300x205.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Soal Larangan Fotokopi e-KTP, Mendagri Nilai Ada Salah Paham</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/soal-larangan-fotokopi-e-ktp-mendagri.html</link><category>E-KTP</category><category>Jumlah Penduduk</category><category>Kepadatan Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Masalah Penduduk</category><category>Program KB</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 3 Jul 2013 05:14:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-3179966620702769973</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQ4362vZO3yWIzSMTG8gF35YIv5PTVoYsCHiIH4xEeg2MHyBNmV84kfya6AZJo7c5U1JZ0TRc9GPTjjk7Iw5_KB4RCkIPXOCZnLM0_EDBGFzuqNAbCbTRVrHr4H_ThRrBGrCQNgHHKoW5Y/s300/1504037-mendagri-gamawan-4-620X310-300x150.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQ4362vZO3yWIzSMTG8gF35YIv5PTVoYsCHiIH4xEeg2MHyBNmV84kfya6AZJo7c5U1JZ0TRc9GPTjjk7Iw5_KB4RCkIPXOCZnLM0_EDBGFzuqNAbCbTRVrHr4H_ThRrBGrCQNgHHKoW5Y/s640/1504037-mendagri-gamawan-4-620X310-300x150.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;JAKARTA, KOMPAS.com – Kehebohan terkait e-KTP tak 
boleh difotokopi beberapa waktu terakhir, ditanggapi Menteri Dalam 
Negeri Gamawan Fauzi. Ia mengatakan, ada kesalahan pemahaman tentang 
surat edaran itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Surat edaran saya bukan untuk masyarakat, tapi untuk instansi 
pemerintah, supaya tidak memerintahkan masyarakat memotokopi e-KTP,” 
ujarnya kepada wartawan di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Rabu (8/5/2013) 
siang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Gamawan mengatakan, &lt;span id="more-413"&gt;&lt;/span&gt;Kementerian Dalam 
Negeri telah meneruskan imbauan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2013 
kepada setiap instansi pemerintah, 11 Maret 2013, agar mengadakan mesin 
pembaca e-KTP segera mungkin. Untuk batas waktu pengadaan mesin pembaca 
e-KTP, Gamawan mengaku tidak memiliki target. Sebab, pengadaan mesin 
yang disebut &lt;em&gt;card reader&lt;/em&gt; tersebut diserahkan kepada tiap instansi pemerintah sehingga disesuaikan dengan kebutuhan tiap-tiap instansi pemerintah itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Ini imbauan kepada instansi pemerintah, wali kota, gubernur, jangan menyuruh masyarakat fotokopi, tapi sediakan &lt;em&gt;card reader&lt;/em&gt;. Karena sesuai Perpres, untuk menguji ketunggalan e-KTP pakai &lt;em&gt;card reader&lt;/em&gt;,” ujar Gamawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Bagaimana menjamin bahwa itu KTP saya, yang menjamin itu &lt;em&gt;chip&lt;/em&gt;-nya. Begitu ditempel sidik jari, keluar nama kita, kan begitu caranya,” lanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sejauh ini, lanjut Gamawan, tercatat telah 137 juta penduduk di 
seluruh indonesia yang sudah mendaftarkan dirinya mendapatkan e-KTP. 
Adapun dari jumlah tersebut, sebanyak 5,7 juta penduduk di antaranya ada
 di DKI Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Gamawan berharap Peraturan Presiden Nomor 67 tersebut disambut 
positif oleh instansi pemerintah. Dengan demikian, pelayanan akses 
terhadap suatu program pun semakin mudah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sebelumnya, Surat Edaran Mendagri Nomor 471.12/1826/SJ yang 
dikeluarkan 11 April 2013 menjelaskan bahwa e-KTP tidak boleh 
difotokopi, distapler, dan diperlakukan buruk, hingga merusak fisik 
kartu. Sebagai pengganti, cukup dicatat Nomor Induk Kependudukan (NIK) 
serta nama lengkap warga yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Hal tersebut pun menimbulkan kekecewaan di masyarakat. Ada beberapa 
warga yang kecewa lantaran informasi tersebut tidak diberitahu sejak 
awal. Pasalnya, ada warga yang telah memotokopi e-KTP sehingga 
menyebabkan fisik kartu tersebut sedikit rusak.&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQ4362vZO3yWIzSMTG8gF35YIv5PTVoYsCHiIH4xEeg2MHyBNmV84kfya6AZJo7c5U1JZ0TRc9GPTjjk7Iw5_KB4RCkIPXOCZnLM0_EDBGFzuqNAbCbTRVrHr4H_ThRrBGrCQNgHHKoW5Y/s72-c/1504037-mendagri-gamawan-4-620X310-300x150.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Membaca Fakta Kependudukan Indonesia</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/membaca-fakta-kependudukan-indonesia.html</link><category>Jumlah Penduduk</category><category>Kepadatan Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Masalah Penduduk</category><category>Program KB</category><category>urbanisasi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 3 Jul 2013 05:06:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-8490390484748355721</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihn5vC3Z4njoQDR9pWC1gc_tKAsU8pm7QMkxvSVv0UrlOk9tk20bI2uY6-j0VNePpjE-ON0Y6EmUkAeGsu1xWeeJcmzfI9S65byb_xzapdPhc2HUo_-r0RAbzJF18apZwHTwGr8_OrNon2/s600/1896899.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihn5vC3Z4njoQDR9pWC1gc_tKAsU8pm7QMkxvSVv0UrlOk9tk20bI2uY6-j0VNePpjE-ON0Y6EmUkAeGsu1xWeeJcmzfI9S65byb_xzapdPhc2HUo_-r0RAbzJF18apZwHTwGr8_OrNon2/s640/1896899.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dalam beberapa tahun terakhir ini, rata-rata pertambahan penduduk 
Indonesia tiap tahunnya mencapai 3,5 juta jiwa. Pertambahan ini dalam 
dua tahun, sudah lebih besar dari seluruh jumlah penduduk negara 
Singapura (tahun 2010 sekitar 5 juta jiwa). Setiap bulan, di Indonesia 
rata-rata bertambah 291.000 jiwa, atau bertambah sekitar 9.700 jiwa 
setiap harinya. Bila dihitung dalam satuan yang lebih kecil, maka di 
Indonesia bertambah 404 jiwa setiap jam, atau sekitar 7 jiwa setiap 
menitnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Agustus 2010 kemarin melaporkan, 
jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 mencapai 237.556.363 jiwa, dengan 
jumlah penduduk laki-laki sebanyak 119.507.580 jiwa dan jumlah penduduk 
perempuan sebanyak 118.048.783 jiwa. Jumlah ini menjadikan Indonesia 
adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar ke empat dunia, setelah 
Cina (sekitar 1,3 milyar jiwa), India (sekitar 1,1 milyar jiwa), dan 
Amerika Serikat (sekitar 310 juta jiwa). Jumlah penduduk seluruh dunia 
saat ini mencapai 6,6 milyar jiwa, dimana negara dengan penduduk paling 
sedikit adalah Montserrat, yang total penduduknya &amp;nbsp;5.118 jiwa saja.&lt;span id="more-260"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Provinsi dengan jumlah penduduk laki-laki hampir sama dengan 
perempuan adalah Aceh dan Sumatera Utara dengan rasio 100 yang artinya 
jumlah laki-laki dan perempuan hampir sama. Provinsi dengan jumlah 
laki-laki lebih banyak adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, 
Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, 
Banten, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, 
Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, 
Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua.
 Adapun provinsi dengan penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki 
adalah Sumatera Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa 
Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Rasio jumlah penduduk laki-laki dan perempuan terkecil terjadi di 
provinsi Nusa Tenggara Barat dengan jumlah laki-laki sebanyak 2.180.168 
jiwa dan perempuannya sebanyak 2.316.687 jiwa. Adapun di Provinsi Papua 
rasionya paling besar dengan jumlah laki-lakinya 1.510.285 jiwa 
sedangkan perempuannya sebanyak 1.341.714 jiwa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Laju pertumbuhan penduduk nasional pada 2010 tercatat sebesar 1,49 
persen dengan laju pertumbuhan tertinggi terjadi di Provinsi Papua yaitu
 5,45 persen dengan total jumlah penduduk mencapai 2.851.999 jiwa. Laju 
pertumbuhan terendah terjadi di Jawa Tengah yaitu 0,37 persen dengan 
jumlah penduduk sebanyak 32.380.687 jiwa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Setengah lebih penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa (57,49 
persen) yang tersebar di Provinsi Jawa Barat terbanyak (18,11 persen), 
Jawa Timur (15,78 persen), dan Jawa Tengah (13,63 persen).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;Mau Kita Apakan Penduduk Yang Besar Ini ?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Problem pertama yang langsung terbayang oleh kita adalah kualitas 
sumber daya manusia Indonesia. Dalam tatanan internasional, kemampuan 
bangsa Indonesia telah mengukir banyak prestasi yang membanggakan. 
Temuan-temuan aplikatif teknologi DNA, temuan bibit padi unggul, temuan 
vector medan laju percepatan gerakan lempeng tektonik, rancang bangun 
pesawat remotely piloted vehicle, merupakan karya cipta anak bangsa yang
 mengharumkan dan mengangkat derjat bangsa Indonesia. 
Penghargaan-penghargaan &lt;em&gt;Fellowship L’Oreal – Unesco for Women in Sicence&lt;/em&gt; pada &lt;em&gt;International Exhibition of Invention New Technique and Product&lt;/em&gt; dapat meraih medali emas, di bidang fisika tingkat SMA memperoleh &lt;em&gt;The First Step to Nobel Prize&lt;/em&gt;. Masih banyak deretan prestasi lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Namun di sisi yang lain, Human Development Report 2009 yang dibuat 
United Nations Development Programme (UNDP), dari penelitian terhadap 
182 negara, Indonesia masih menunjukkan capaian yang belum 
menggembirakan. Peringkat Indonesia berada di urutan 111, kalah jauh 
dari negara-negara tetangga seperti Singapura (urutan 23), Brunei 
Darussalam (urutan 30), Malaysia (urutan 66), Thailand (urutan 87), dan 
Philipina (urutan 105).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kemajuan suatu negara dalam tata kehidupan global diukur dari 
kualitas SDM negara tersebut. United Nations Development Programme 
(UNDP) setelah melakukan penelitian di 182 negara mengklasifikasikan 
negara ke dalam empat kelas, yaitu: negara sangat maju, negara 
berkembang, dan negara terbelakang.&amp;nbsp; Indikator yang digunakan dalam 
mengklasifikasikan kemajuan negara tersebut adalah Human Development 
Index (HDI) yang meliputi tiga dimensi pembangunan manusia:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pertama, hidup yang sehat dan panjang umur yang diukur dengan angka 
harapan hidup saat kelahiran. Kedua, pengetahuan yang diukur dengan 
angka tingkat baca tulis pada orang dewasa (bobotnya dua pertiga) dan 
kombinasi pendidikan dasar, menengah, atas gross enrollment ratio (bobot
 sepertiga). Ketiga, standar kehidupan yang layak diukur dengan GDP per 
kapita gross diomestic product / produk domestik bruto dalam paritas 
kekuatan beli (purchasing power parity) dalam dolar AS.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dengan menggunakan indikator tersebut, HDI menetapkan rangking 
sebagai berikut. Urutan 1 sampai 38 termasuk negara sangat maju, dimana 
urutan 1 adalah Norwegia dan urutan 38 adalah Malta. Urutan 39 sampai 
dengan 83 termasuk negara maju, dimana urutan 39 adalah Bahrein dan 
urutan 83 adalah Lebanon. Urutan 84 sampai 158 termasuk negara 
berkembang, dimana urutan 84 adalah Armenia dan urutan 158 adalah 
Nigeria. Urutan 159 sampai 182 termasuk negara terbelakang, dimana 
urutan 159 adalah Togo dan urutan 182 adalah Nigeria. Indonesia berada 
di urutan 111, masuk kategori negara berkembang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Salah satu fakta mencengangkan lagi di Indonesia, berdasarkan data yang diterima k&lt;em&gt;ompas.com&lt;/em&gt;
 dari Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Kementerian 
Sosial RI, jumlah anak penyandang masalah kesejahteraan sosial (usia 
0-18 tahun) di Indonesia per Desember 2009 mencapai 4.656.913 jiwa atau 
hampir setara dengan jumlah penduduk negeri jiran, Singapura (data tahun
 2009, penduduk Singapura berjumlah 4,75 juta jiwa).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Bertolak dari data di atas, maka dalam meningkatkan kualitas SDM 
diperlukan kebijakan-kebijakan yang selaras dan terintegrasi di berbagai
 bidang, baik moral, ideologi, sosial, pendidikan, kesehatan, budaya, 
politik, ekonomi, untuk mengejar ketertinggalan serta mengangkat harkat 
dan martabat bangsa. Sumber daya manusia adalah modal utama sebuah 
bangsa dan negara, juga merupakan faktor dominan dan modal utama untuk 
mendinamisasi bangsa dan negara dalam mencapai tujuannya. Peningkatan 
kualitas SDM membawa implikasi terhadap peningkatan kinerja, makin 
besarnya partisipasi masyarakat terhadap pembangunan, dan makin 
bertumbuhnya keunggulan kompetitif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada sebuah seminar yang diadakan oleh Pusat Penelitian Teknologi ITB
 tahun 1992 di Bandung, seorang tenaga ahli dari Korea yang menjadi 
konsultan IPTN, setelah bertugas di Indonesia dan mengamati keadaan di 
Indonesia, mengatakan bahwa Indonesia menghadapi tiga masalah besar 
dalam pembangunan; masalah besar pertama adalah pendidikan, masalah 
besar kedua adalah pendidikan, dan masalah besar ketiga adalah 
pendidikan. Pernyataan tersebut sampai sekarang, 18 tahun sesudahnya, 
sepertinya masih &lt;em&gt;valid. &lt;/em&gt;Kini, membangun, mengembangkan dan memperbaiki pendidikan masih tetap menjadi tantangan besar yang dihadapi bangsa ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Indonesia dikenal sebagai sebuah negara yang melimpah ruah kekayaan 
alamnya. Namun harus disadari, bangsa Indonesia tidak bisa 
menggantungkan harapan kepada kekayaan alam yang ada. Pada suatu hari 
kandungan minyak bumi yang ada di Indonesia akan habis terkuras. 
Demikian juga halnya dengan batubara, tembaga, mas, dan sumberdaya alam 
lain yang sama sekali tidak terbarukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pada saat itu, kalau kualitas manusia dan masyarakat Indonesia masih 
seperti sekarang ini, dalam arti masih menggantungkan diri dari sumber 
daya alam, masih jauh tertinggal dari bangsa lain dari tingkat 
kecerdasan atau penguasaaan ilmu pengetahuan, masih puas dengan semangat
 kerja yang rendah, maka sudah dapat dipastikan bangsa Indonesia akan 
menjadi salah satu bangsa yang akan dipandang sebelah mata dalam 
pergaulan internasional. Bahkan mungkin bisa lebih buruk lagi, bangsa 
Indonesia akan menjadi salah satu beban besar bagi bangsa-bangsa lain 
yang hanya bisa menghidupi rakyatnya kalau ada belas kasihan dari bangsa
 lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Apabila pertumbuhan penduduk tetap berjalan seperti sekarang, 15 
tahun dari sekarang penduduk Indonesia sudah akan mencapai lebih dari 
300 juta orang. Pengalaman selama 35 tahun terakhir ini menunjukkan 
bahwa Indonesia tidak memanfaatkan pendapatan yang berasal dari 
sumberdaya alam dengan baik, khususnya pendapatan yang besar ini tidak 
dipakai dengan cepat untuk meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat,
 khususnya memperbaiki tingkat kecerdasan masyarakat melalui pendidikan 
dalam arti luas. Kecerdasan masyarakat inilah yang menjadi salah satu 
sumber utama kesejahteraan masyarakat dalam ekonomi modern, dan 
kecerdasan ini selalu bisa diperbaharui.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tiga ratus juta rakyat yang tidak cerdas akan menjadi beban besar, 
tidak hanya bagi Indonesia namun juga bagi masyarakat dunia. Namun 300 
juta rakyat yang cerdas akan menjadi sumber kesejahteraan. Jadi, inilah 
tantangan besar dunia pendidikan di Indonesia, mengubah beban menjadi 
sumber kekayaan, membangun masyarakat Indonesia yang siap mengahadapi 
keadaan yang paling buruk karena sudah habisnya sumberdaya alam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Waktu yang tersedia sebenarnya tidak banyak. Dalam 25 tahun cadangan 
minyak bumi Indonesia sudah akan menyusut drastis (untuk tidak 
mengatakan habis). Kalau Indonesia masih memperlakukan dunia pendidikan 
seperti di masa lalu untuk 25 tahun yang akan datang, maka Indonesia 
hanya akan menjadi bangsa kuli rendahan, dan kesempatan untuk menjadi 
bangsa yang terpandang di dunia nampaknya akan tertutup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia membutuhkan sinergi 
antar komponen dan membutuhkan kesepahaman visi seluruh stake holder 
yang terlibat. UNESCO merumuskan enam pilar pendidikan yang merupakan 
dasar-dasar dalam dunia pembelajaran, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;em&gt;Learning to Know&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Yaitu belajar untuk mengetahui dan menjadi memiliki informasi tentang
 berbagai hal yang bermanfaat, termasuk memahami makna di balik materi 
pembelajaran yang diterima.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;b.&lt;em&gt; Learning to Do&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Yaitu belajar untuk melakukan sesuatu, bukan semata berteori atau 
retorika. Peserta didik dikembangkan kemampuan aktualisasi potensinya 
dalam bentuk perbuatan nyata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;c. &lt;em&gt; Learning to Be&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Peserta didik diajak belajar menemukan dan memperkuat jati dirinya, 
tidak mudah hanyut terbawa arus negatif globalisasi. Problem sebagian 
masyarakat modern adalah kehilangan jati diri, sehingga menjadi korban 
invasi pemikiran dan budaya asing yang negatif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;d.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;em&gt; Learning to Live Together&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Peserta didik diajak hidup bersama orang lain, dalam komunitas, dalam
 masyarakat, dalam suatu kesetiakawanan sosial. Mengajarkan bahwa 
manusia tidak bisa hidup sendirian, selalu memerlukan orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;e. &lt;em&gt; Learning How to Learn&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Masyarakat yang diharapkan muncul adalah learning society atau 
knowledge society, sehingga peserta didik diajak mengetahui bagaimana 
terus menjadi pembelajar, tidak hanya di bangku sekolah dan kuliah.&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihn5vC3Z4njoQDR9pWC1gc_tKAsU8pm7QMkxvSVv0UrlOk9tk20bI2uY6-j0VNePpjE-ON0Y6EmUkAeGsu1xWeeJcmzfI9S65byb_xzapdPhc2HUo_-r0RAbzJF18apZwHTwGr8_OrNon2/s72-c/1896899.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Arus Urbanisasi Tidak Boleh Dilawan</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/arus-urbanisasi-tidak-boleh-dilawan.html</link><category>E-KTP</category><category>Jumlah Penduduk</category><category>Kepadatan Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Masalah Pendidikan Penduduk</category><category>Masalah Penduduk</category><category>Program KB</category><category>urbanisasi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 3 Jul 2013 04:49:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-6673864186083628707</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2i5iVkpFYb1oL7tQQ42bNi47yQYsm7397TSRHOvGYpjV98aynoKDwzQP4KFHrvl0eENuz1Q8H5fod8cDpiT5VSftjp-AL_FpW8rzI_nQ5oPyvmBPjwEA0EWT40_CHL9L3DMNvy-8x3z9Q/s271/kl.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="439" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2i5iVkpFYb1oL7tQQ42bNi47yQYsm7397TSRHOvGYpjV98aynoKDwzQP4KFHrvl0eENuz1Q8H5fod8cDpiT5VSftjp-AL_FpW8rzI_nQ5oPyvmBPjwEA0EWT40_CHL9L3DMNvy-8x3z9Q/s640/kl.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Singapura, Kompas - Arus urbanisasi yang semakin deras 
tidak bisa dan tidak boleh dilawan. Urbanisasi bisa menjadi kekuatan 
bagi kota asalkan dikelola dengan benar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Demikian intisari dari World Cities Summit Southeast Asia In Focus, di Marina Bay Sands, seperti dilaporkan wartawan Kompas M Clara Wresti dari Singapura, Selasa (3/7).&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Di
 China dan India, arus urbanisasi bisa dikelola dengan baik sehingga 
setiap 1 persen peningkatan urbanisasi produk domestik bruto (PDB) 
negara tersebut meningkat sekitar 6-8 persen. Di Indonesia, setiap 1 
persen peningkatan urbanisasi, kenaikan PDB hanya 2 persen. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;”Jika
 melihat urbanisasi sebagai masalah, dia akan menjadi masalah. Tetapi 
jika melihat urbanisasi sebagai peluang,  dia akan menjadi peluang. 
Sektor informal bisa bergerak maju karena adanya urbanisasi,” kata Prof 
Komara Djaja, Kepala Studi Perkotaan Program Pascasarjana Universitas 
Indonesia, yang menjadi narasumber dalam forum internasional tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Operasi yustisi sia-sia&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Menurut
 Komara, upaya pemerintah dalam menekan arus urbanisasi, seperti operasi
 yustisi, adalah upaya yang sia-sia dan tidak membuahkan hasil. 
Urbanisasi tidak bisa dicegah, tetapi harus dikelola. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pengelolaan
 urbanisasi harus berorientasi pada warga. Kebutuhan warga dipenuhi 
sekaligus mendorong sektor informal agar pendatang yang berketerampilan 
rendah bisa bekerja dan mempunyai penghasilan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kebutuhan dasar 
warga juga harus dipenuhi, yakni mempunyai kehidupan  layak karena tidak
 terkena banjir, bebas macet, aman, bersih, dan sebagainya. Kebutuhan 
dasar ini harus dipenuhi dulu baru memikirkan kebutuhan-kebutuhan yang 
besar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;”Kita memang butuh infrastruktur yang bagus, gedung yang 
menjulang tinggi, tetapi itu membutuhkan dana yang tidak sedikit. 
Bagaimana mau memenuhi kebutuhan yang besar kalau yang kecil saja tidak 
terpenuhi. Padahal, jika kebutuhan dasarnya terpenuhi,  warga akan 
mendukung pemerintah,” jelas Komara. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Untuk mengelola urbanisasi 
menjadi kekuatan, perlu diciptakan lapangan kerja baru, seperti ekonomi 
kreatif, pusat kuliner, pertunjukan musik, bengkel, dan salon. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Transparansi, antikorupsi&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dalam
 kesempatan itu, Komara juga menyorot masalah pendidikan. Saat ini 
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan anggaran  cukup besar (28 
persen) bagi pendidikan di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 
 2012. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Namun, anggaran itu tidak hanya dipakai untuk memberikan 
bantuan operasional pendidikan, tetapi juga  untuk meningkatkan gaji 
guru dan memberikan tunjangan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;”Apakah dengan meningkatkan gaji 
guru, maka kualitas pendidikan kita jadi semakin baik? Mengapa masih 
banyak LSM yang memberikan pelajaran kepada warga miskin? Mengapa masih 
sering terjadi gedung sekolah ambruk?” ujarnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Menurut Komara, 
harus dilakukan evaluasi mengenai hal ini. Dia berkeyakinan, kunci dari 
persoalan di Jakarta adalah tata kelola pemerintahan, seperti 
transparansi, antikorupsi, dan keterbukaan.&amp;nbsp;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Industri pertanian&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Menteri
 Pertanahan, Perumahan dan Pengembangan Kota Nigeria Ama Pepple 
mengatakan, negaranya mengembangkan industri pertanian di seluruh negeri
 untuk membuka lapangan kerja. Dengan demikian, pekerjaan tidak hanya 
ditemukan di kota, tetapi juga di daerah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dia juga mengatakan, 
perumahan murah di dalam kota juga harus dikembangkan agar tidak ada 
kawasan kumuh dan miskin di dalam kota. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sementara itu, Budiarsa 
Sastrawinata, Direktur Ciputra mengatakan, masalah urbanisasi dialami  
semua kota di dunia. Masalah ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, 
melainkan juga sektor swasta. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Banyak yang bisa dilakukan pihak 
swasta untuk membantu mengelola urbanisasi, seperti membangun perumahan 
dan penyediaan infrastruktur. Namun,  pihak swasta sering  menemui 
kendala berupa peraturan yang sering berubah-ubah atau aturan yang belum
 ada. &lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2i5iVkpFYb1oL7tQQ42bNi47yQYsm7397TSRHOvGYpjV98aynoKDwzQP4KFHrvl0eENuz1Q8H5fod8cDpiT5VSftjp-AL_FpW8rzI_nQ5oPyvmBPjwEA0EWT40_CHL9L3DMNvy-8x3z9Q/s72-c/kl.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bentuk Pendidikan Kependudukan Belum Jelas</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/bentuk-pendidikan-kependudukan-belum.html</link><category>Jumlah Penduduk</category><category>Kepadatan Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Masalah Pendidikan Penduduk</category><category>Masalah Penduduk</category><category>Program KB</category><category>urbanisasi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 3 Jul 2013 04:46:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-2906459503237603525</guid><description>&lt;div class="uiStreamMessage userContentWrapper" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1,&amp;quot;tn&amp;quot;:&amp;quot;K&amp;quot;}"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirhuDtPqin3QQ-xw8d2X37XDvaPxwcrnqKTtXxOr-KSWt_TtPB8k0h2H5KKhPk8qXImwGyWc0QJ3zUB90ZbafNGO8E0101pv6H6cR7FL8QcGcqNGSXduNvHsuiuL7cARjF3gTIybf68xuo/s259/images.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="479" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirhuDtPqin3QQ-xw8d2X37XDvaPxwcrnqKTtXxOr-KSWt_TtPB8k0h2H5KKhPk8qXImwGyWc0QJ3zUB90ZbafNGO8E0101pv6H6cR7FL8QcGcqNGSXduNvHsuiuL7cARjF3gTIybf68xuo/s640/images.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="uiStreamMessage userContentWrapper" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1,&amp;quot;tn&amp;quot;:&amp;quot;K&amp;quot;}"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="userContent"&gt;BANDUNG,
 KOMPAS.com -- Kebutuhan akan materi kependudukan dan keluarga berencana
 dalam pendidikan mendesak. Ini mengingat jumlah penduduk Indonesia yang
 mencapai 237,64 juta jiwa dan tingkat kelahiran 2,6 dengan pertumbuhan 
1,49 persen per tahun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pendidikan kependudukan belum 
memasyarakat dan tidak mendapat perhatian pemerintah. Akibatnya, sampai 
sekarang bentuk pelaksanaan pendidikan kependudukan belum jelas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Hal ini mengemuka dalam pertemuan koordinasi lintas sektor pelaksanaan 
program pendidikan kependudukan antara Badan Kependudukan dan Keluarga 
Berencana (BKKBN) dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta 
Kementerian Agama, Rabu hingga Kamis (10/11/2011) di Bandung, Jawa 
Barat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Implementasi pendidikan kependudukan dan KB diusulkan 
masuk kurikulum pendidikan dan kegiatan ekstrakurikuler mulai tahun 
ajaran baru mendatang. Harapannya, akan bisa mengubah pola pikir 
generasi muda. Meski masuk kurikulum, pendidikan kependudukan tidak 
menjadi mata pelajaran tersendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kepala Bidang Fasilitasi 
Sumberdaya Kemendikbud Dadang Sudarman mengatakan, implementasinya bisa 
berupa sinergitas program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Posyandu, 
atau Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah. "Di sekolah, bisa 
diintegrasikan dalam mata pelajaran, masuk sebagai muatan lokal, atau 
sebagai kegiatan pengembangan diri," kata Dadang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Direktur 
Pendidikan Tinggi Islam, Kemenag Dede Rosada menambahkan, pendidikan 
kependudukan bisa diterapkan juga di jenjang pendidikan tinggi sebagai 
mata kuliah umum dasar. "Ini bisa menjadi entry point masuknya 
pendidikan kependudukan di perndidikan tinggi. Atau bisa juga diselipkan
 melalui program di forum kerukunan umat beragama," kata Dede.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 
Sebelumnya, Rabu malam, BKKBN meluncurkan Gerakan Perilaku Hidup 
Berwawasan Kependudukan (PHBK) bekerja sama dengan Kemendikbud dan 
Kemenag. Keikutsertaan masyarakat untuk menjaga keseimbangan 
perkembangan penduduk dengan daya dukung lingkungan menjadi inti gerakan
 PHBK. "Kepedulian pada isu kependudukan ini harus menjadi gerakan 
kesadaran masyarakat," kata Kepala BKKBN Sugiri Syarief.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Isu 
kependudukan bukan hanya milik BKKBN tetapi seluruh masyarakat. Direktur
 Kependudukan BKKBN Lalu Burhan menekankan pentingnya semua pihak untuk 
berbagi tugas terutama dalam hal pendampingan pendidikan kependudukan. 
Upaya pendampingan dilakukan segera setelah pendidik mendapat pelatihan 
pendidikan kependudukan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; "Semua harus sharing baik tenaga 
maupun biaya karena BKKBN tidak bisa bekerja sendiri. Langkah awalnya 
guru dan dosen harus dilatih agar bisa dimengerti dan dipraktikkan 
siswa," kata Burhan.&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirhuDtPqin3QQ-xw8d2X37XDvaPxwcrnqKTtXxOr-KSWt_TtPB8k0h2H5KKhPk8qXImwGyWc0QJ3zUB90ZbafNGO8E0101pv6H6cR7FL8QcGcqNGSXduNvHsuiuL7cARjF3gTIybf68xuo/s72-c/images.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Indonesia Hadapi Ancaman Besar Kependudukan</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/indonesia-hadapi-ancaman-besar.html</link><category>E-KTP</category><category>Jumlah Penduduk</category><category>Kepadatan Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Masalah Penduduk</category><category>Program KB</category><category>urbanisasi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 3 Jul 2013 04:37:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-4285844300919450807</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg_hSD8SnaoBfZ6xX4Eg2GiAifNYLpSAqV9uU0_UOvdN2g3FKxS1u8q0xvE3QSCX4tggFaEX1E9R55kYE3MroqBZUudXRFhSpV1WoFzTVHkj3D03C41raV3TCMPLlkaxPmaA7ihwPuugDHE/s410/Kb.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="298" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg_hSD8SnaoBfZ6xX4Eg2GiAifNYLpSAqV9uU0_UOvdN2g3FKxS1u8q0xvE3QSCX4tggFaEX1E9R55kYE3MroqBZUudXRFhSpV1WoFzTVHkj3D03C41raV3TCMPLlkaxPmaA7ihwPuugDHE/s400/Kb.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Indonesia yang dulu dikenal berhasil dalam menjalankan program 
keluarga berencana, kini menghadapi ancaman besar di bidang 
kependudukan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Laju pertumbuhan yang masih tinggi di kisaran 1,49% atau 4-4,5 juta 
jiwa per tahun tanpa diimbangi peningkatan kualitas penduduk akan 
berdampak pada proses kemajuan bangsa di masa depan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Badan Kependudukan dan Keluarga 
Berencana Nasional (BKKBN), Wendy Hartanto mengemukakan hal itu seusai 
membuka seminar kependudukan di Universitas Sebelas Maret (UNS), 
Surakarta, Jawa Tengah, Senin (20/5).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Jumlah penduduk kita saat ini 250 juta, menempati urutan ke-4 dunia.
 Akan tetapi kualitas penduduk kita berada di urutan 124 dari 187 
negara,” kata Wendy.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Selain masalah laju pertumbuhan dan kualitas, persoalan serius 
lainnya adalah penyebaran yang belum merata, serta data dan informasi 
kependudukan yang minim. Saat ini 59% penduduk masih terkonsentrasi di 
Pulau Jawa, sebuah kondisi yang kurang menguntungkan untuk pembangunan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kemudian dalam hal ketersediaan data, antara daerah yang satu dengan 
yang lain belum sama. Hal itu merupakan imbas dari desentralisasi urusan
 kependudukan dan keluarga berencana yang diterapkan sejak tahun 2000.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Kami tidak menyalahkan otonomi daerah, tapi harus diakui sejak itu penggarapan dan penganggaran menjadi kurang,” kata Wendy.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk mengatasi hal BKKBN kini memperluas kerja sama kemitraan dengan
 berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi. Salah satunya adalah UNS 
melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik yang akan dimulai 
Agustus tahun ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Ada 5.000 mahasiswa yang akan diterjunkan untuk membantu 
menyosialisasikan soal kependudukan dan keluarga bencana itu,” jelas 
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS, 
Darsono.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kini &amp;nbsp;Metode Ovulasi Billings (MOB), salah satu metode Keluarga 
Berencana (KB) alamiah, ternyata tidak pernah popular dan tidak pernah 
disosialisasikan. MOB dianggap masih rumit dijalankan, dan sulit 
dikenalkan kepada masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Memang tidak pernah disosialisasikan. Itu karena lebih sulit 
dipahami masyarakat yang sudah terbiasa dengan metode KB lainnya. Dalam 
penerapannya, MOB juga butuh ketekunan,” Wiyatie, Kepala Kantor 
Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana Kabupaten Berau, Kalimantan 
Timur, Senin (20/5/2013).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut Wiyatie, MOB sebenarnya aman dan nyaman, dan lebih 
pro-perempuan. Sebab tidak diperlukan obat dan peralatan, dengan kata 
lain murah dan mudah. Dalam leaflet-leaflet mengenai KB, MOB juga tak 
pernah dicantumkan. Di Indonesia metode KB yang dikenalkan pemerintah 
hanya metode KB yang menggunakan alat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;
MOB sudah diterima Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 
(BKKBN) tahun 1990 sebagai metode KB yang sah. Metode ini ditemukan ahli
 syaraf Australia, John Billings, tahun 1963. Metode yang berdasarkan 
pengamatan terhadap lendir leher rahim wanita ini diklaim berhasil 99 
persen, jika dijalankan secara tepat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg_hSD8SnaoBfZ6xX4Eg2GiAifNYLpSAqV9uU0_UOvdN2g3FKxS1u8q0xvE3QSCX4tggFaEX1E9R55kYE3MroqBZUudXRFhSpV1WoFzTVHkj3D03C41raV3TCMPLlkaxPmaA7ihwPuugDHE/s72-c/Kb.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kualitas Penduduk Indonesia Yang Semakin Menurun</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/kualitas-penduduk-indonesia-yang.html</link><category>E-KTP</category><category>Jumlah Penduduk</category><category>Kepadatan Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Masalah Penduduk</category><category>Program KB</category><category>urbanisasi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 3 Jul 2013 04:34:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-7442982496975944742</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijuFhe78rvxdVnYej1BGEGMM50sKUSSQdKp-6ihx5nvw6jVZIqEWpql2lEJslSSPdnx00DAuUuxJY-3fe7XbIEzHlHwGx-ayXfxX6QqHHpUBKKlKNLm3zryYTAwLDqduPAGiW_Guo9wZjG/s1600/13701101501089007699.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijuFhe78rvxdVnYej1BGEGMM50sKUSSQdKp-6ihx5nvw6jVZIqEWpql2lEJslSSPdnx00DAuUuxJY-3fe7XbIEzHlHwGx-ayXfxX6QqHHpUBKKlKNLm3zryYTAwLDqduPAGiW_Guo9wZjG/s640/13701101501089007699.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span&gt;Masalah kependudukan Indonesia dalam hal 
kualitas adalah masalah kependudukan dalam hal mutu kehidupan dan 
kemampuan sumber daya manusianya. Di Indonesia, masalah kualitas 
penduduk yang terjadi, antara lain, dipengaruhi oleh masih rendahnya 
tingkat pendidikan dan kualitas sumber daya manusia, rendahnya taraf 
kesehatan sehingga kesemuanya itu pada akhirnya mengarah pada rendahnya 
pendapatan perkapita masyarakatnya. Masalah-maslah yang menyebabkan 
menurunnya kualitas penduduk Indonesia:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span&gt;a. Masalah Pendidikan&lt;br /&gt;
Pendidikan merupakan salah satu indikator kualitas penduduk. Semakin 
tinggi tingkat pendidikan yang dicapai, maka semakin tinggi pula 
kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Secara umum, tingkat 
pendidikan penduduk Indonesia masih tergolong relatif rendah. Akan 
tetapi, tingkat pendidikan masyarakat tersebut senantiasa diupayakan 
untuk selalu ditingkatkan dari tahun ke tahun. Contohnya pada zaman 
sekarang banyak anak tidak bersekolah bahkan banyak anak yang lebih 
memilih bekerja dari pada bersekolah. Kurangnya perhatian pemerintah 
terhadap pendidikan. Dan juga kurangnya kesadaran untuk bersekolah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span&gt;b . Masalah Kesehatan&lt;br /&gt;
Tingkat kesehatan merupakan salah satu indikator kualitas penduduk suatu
 negara. Dalam hal ini, tingkat kesehatan dapat diindikasikan dari angka
 kematian bayi, angka kematian ibu melahirkan, ketercukupan gizi 
makanan, dan usia harapan hidup.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span&gt;&lt;br /&gt;
c . Rendahnya Pendapatan Perkapita&lt;br /&gt;
Pendapatan perkapita adalah banyaknya pendapatan kotor nasional dalam 
satu tahun dibagi jumlah penduduk. Pendapatan perkapita mencerminkan 
tingkat kemakmuran suatu negara. Pendapatan perkapita negara Indonesia 
masih tergolong rendah, data tahun 2002 menyebutkan pendapatan perkapita
 Indonesia mencapai 2.800 dollar Amerika Serikat. Di antara 
negara-negara anggota ASEAN saja, Indonesia menempati urutan keenam 
setelah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, dan Filipina. 
Keadaan ini menggambarkan bahwa tingkat kehidupan masyarakat Indonesia 
masih didominasi masyarakat miskin atau masyarakat prasejahtera dengan 
tingkat penghasilan yang relatif rendah. Kondisi semacam ini dapat 
disebabkan keadaan sumber daya alam yang tidak merata di tiap daerah, 
ataupun karena ketidakseimbangan sumber daya manusia yang ada di tiap 
daerah.&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span&gt;Dengan jumlah penduduk yang besar tanpa ada 
peningkatan kualitas penduduk maka ini akan menimbulkan masalah besar 
dalam negara dan akhirnya menjadi beban di kemudian hari. Kualitas 
penduduk Indonesia masih jauh dari apa yang kita harapkan. Tidak seperti
 negara-negara lain yang kuliatas penduduknya mulai meningkat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span&gt;Kualitas penduduk Indonesia sekarang ini sangat memprihatinkan. P&lt;/span&gt;&lt;span&gt;ada
 tahun 1996 Indonesia menempati urutan ke 102 untuk kualitas 
penduduknya. Tetapi tidak menunjukkan peningkatan di tahun berikutnya, 
karena pada tahun 200, Indonesia malah melorot ke urutan 109. Ini 
menunjukkan betapa parahnya kualitas penduduk di Indonesia yang notabene
 mempunyai sumber daya yang sangat melimpah ruah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span&gt;Solusi yang tepat untuk mengatasi kualitas 
penduduk adalah dengan program Keluarga Berencana (KB). Dengan program 
ini maka akan menekan angka kelahiran. Dengan demikian maka Pemerintah 
akan fokus untuk meningkat sumber daya manusia. Seharusnya pemerintah 
harus lebih memperkenalkan program KB ke masyarakat agar masyarakat mau 
menjalankan program ini&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijuFhe78rvxdVnYej1BGEGMM50sKUSSQdKp-6ihx5nvw6jVZIqEWpql2lEJslSSPdnx00DAuUuxJY-3fe7XbIEzHlHwGx-ayXfxX6QqHHpUBKKlKNLm3zryYTAwLDqduPAGiW_Guo9wZjG/s72-c/13701101501089007699.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>"Boarding Pass" KA Tekan Urbanisasi Pasca-Lebaran</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/boarding-pass-ka-tekan-urbanisasi-pasca.html</link><category>Jumlah Penduduk</category><category>Kepadatan Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>urbanisasi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 3 Jul 2013 04:29:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-6480226944018556678</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjsqm_A3FfV1rFmTgN1FFPaVBGYfLHHso52NPd-5B5RfyORVVDYKf4wosO18vGcMGKX4ukPbN04Xpekc5da0wmKuH4BzSystIDQ2XoyRxJoqGVcF1xnDRt3I2DQ5pXj-zYFVERpHf2T7hq/s464/1306274620X310.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="426" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjsqm_A3FfV1rFmTgN1FFPaVBGYfLHHso52NPd-5B5RfyORVVDYKf4wosO18vGcMGKX4ukPbN04Xpekc5da0wmKuH4BzSystIDQ2XoyRxJoqGVcF1xnDRt3I2DQ5pXj-zYFVERpHf2T7hq/s640/1306274620X310.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Arus pendatang baru ke Jakarta pasca-Lebaran selalu terjadi dari 
tahun ke tahun, meskipun operasi yustisi kependudukan (OYK) yang digelar
 Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) DKI menunjukkan angka 
urbanisasi terus menurun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut Kepala Humas PT Kereta Api Daerah Operasi I Mateta Rizalulhaq, sistem  &lt;em&gt;boarding pass &lt;/em&gt;kepada
 setiap penumpang kereta diharapkan mampu membantu program pemerintah 
untuk menekan angka urbanisasi ke Jakarta. Dengan sistem ini, orang yang
 tidak memiliki kartu identitas yang jelas tentu tidak bisa menggunakan 
kereta api ke Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;"&lt;em&gt;Boarding pass&lt;/em&gt; juga salah satu 
bentuk partisipasi perusahaan kereta untuk menekan laju urbanisasi ke 
Jakarta, walaupun bukan itu tujuan utamanya.  Tujuan utama kami untuk 
meningkatkan keamanan dan kenyamanan angkutan Lebaran pada tahun ini,"  
ujar  Mateta di Stasiun Senen pada Rabu (22/8/2012).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurutnya, 
masalah yang timbul adalah, pendatang yang hendak ke Jakarta pada saat 
arus balik tidak semuanya menggunakan kereta. Mereka banyak yang naik 
bus maupun kapal laut ke Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;"Kalau naik kereta harus punya kartu identitas, masalahnya ke Jakarta tidak cuma dengan kereta," jelas Mateta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sementara
 itu, arus balik penumpang dengan menggunakan kereta api pada Lebaran 
tahun 2012 mulai berlangsung dalam dua hari ini. Puncak arus balik 
penumpang diperkirakan terjadi pada Sabtu (25/8/2012).  PT KAI mencatat 
jumlah penumpang yang tiba di Stasiun Pasar Senen pada Selasa 
(21/8/2012) mencapai 10.750 orang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mulai pukul 00.21 hingga pukul 
09.22 hari ini, delapan rangkaian KA telah tiba di Stasiun Senen dengan 
jumlah penumpang 4.977 orang.
  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjsqm_A3FfV1rFmTgN1FFPaVBGYfLHHso52NPd-5B5RfyORVVDYKf4wosO18vGcMGKX4ukPbN04Xpekc5da0wmKuH4BzSystIDQ2XoyRxJoqGVcF1xnDRt3I2DQ5pXj-zYFVERpHf2T7hq/s72-c/1306274620X310.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hampir 54 Persen Penduduk Indonesia Tinggal di Kota</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/hampir-54-persen-penduduk-indonesia.html</link><category>E-KTP</category><category>Jumlah Penduduk</category><category>Kepadatan Penduduk</category><category>kependudukan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 3 Jul 2013 04:26:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-7653284019033304990</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCmnebLk-9vdMBRXAOUuWHbeBNUJe3Oog8ZFQ5l8SuVSj3D3sDQevJKjFJ7fpz4D-SS93UhVefZYTmTpwNcVSClilO0xb37rd1LzEVxsJZfuzHni7Rp8izLHframpwF-tPk_W1su08gN2r/s620/1649143620X310.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCmnebLk-9vdMBRXAOUuWHbeBNUJe3Oog8ZFQ5l8SuVSj3D3sDQevJKjFJ7fpz4D-SS93UhVefZYTmTpwNcVSClilO0xb37rd1LzEVxsJZfuzHni7Rp8izLHframpwF-tPk_W1su08gN2r/s640/1649143620X310.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com&lt;/strong&gt;- Tahun ini, jumlah penduduk 
Indonesia yang tinggal di  perkotaan diperkirakan telah mencapai 54 
persen. Jika saat ini penduduk  Indonesia sudah lebih dari 240 juta, 
artinya paling sedikit ada 129,6 juta  orang yang menyesaki perkotaan.
			
    		&lt;br /&gt;
&lt;div class="quotes c_left"&gt;
    			&lt;div&gt;
    				
    			&lt;/div&gt;
&lt;div class="quotes-text"&gt;
"Makin banyak penduduk tinggal perkotaan
 berarti bertambah warga yang berpeluang menikmati infrastruktur yang 
baik," Sonny Harry B Harmadi.&lt;/div&gt;
&lt;div align="right"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
Angka ini melambung tinggi dibandingkan hasil sensus penduduk 
2010. Saat  itu, sebanyak 49,8 persen dari 237,6 juta penduduk Indonesia
 tinggal di  kota.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Ketua Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi 
Universitas Indonesia Sonny Harry B  Harmadi, Kamis (23/8/2012) 
mengatakan, meningkatnya proporsi penduduk kota dipicu  oleh urbanisasi 
dan perubahan desa menjadi kota.&lt;br /&gt;
Urbanisasi merupakan persoalan 
Indonesia yang terjadi sejak Orde Baru dan  hingga kini belum menemukan 
solusinya. Sedangkan perubahan desa menjadi kota  disebabkan banyak hal,
 mulai dari meningkatnya jumlah dan kepadatan  penduduk, aktivitas 
ekonomi yang tak lagi bertumpu pada sektor pertanian,  hingga membaiknya
 infrastruktur.&lt;br /&gt;
"Makin banyak penduduk perkotaan berarti makin 
banyak penduduk yang  berpeluang menikmati infrastruktur yang baik," 
katanya. Kesejahteraan  masyarakat pun meningkat karena mereka yang di 
kota memiliki peluang  ekonomi, pendidikan dan kesehatan yang lebih baik
 dibanding yang tinggal di  desa. Namun, banyak pemerintah kota yang tak
 siap dengan perkembangan kotanya.  Kurangnya kesiapan sumberdaya 
manusia dan ketersediaan infrastruktur yang  memadai membuat banyaknya 
jumlah penduduk kota justru menjadi tekanan  pembangunan.&lt;br /&gt;
Menurut 
Sonny, perkembangan kota-kota di Indonesia yang dibarengi dengan  
peningkatan jumlah penduduk terbukti meningkatkan kualitas hidup 
masyarakat.  Tetapi, kondisi ini tidak terjadi di Jakarta karena 
perkembangan Jakarta  sudah mencapai titik jenuh.&lt;br /&gt;
"Sulitnya 
mengakses lahan permukiman, air bersih, hingga lingkungan yang  baik 
membuat produktivitas warga Jakarta justru turun," katanya.&lt;br /&gt;
Bertambahnya
 penduduk kota sebenarnya bisa memberi dampak positif bagi kota  maupun 
bagi daerah tempat asal mereka. Namun, banyak pemerintah kota tidak  
mengantisipasi hal itu dengan infrastruktur yang memadai sehingga dampak
  positif dari makin besarnya jumlah penduduk justru menjadi bencana.&lt;br /&gt;
Urbanisasi
 merupakan hal umum yang terjadi di negara-negara berkembang di  Asia 
maupun Amerika Selatan. Namun urbanisasi yang terjadi di Indonesia  
lebih komplek karena melibatkan kultur yang lebih beragam. Ini menuntut 
 kesiapan pemerintah kota yang lebih baik karena penanganan urbanisasi 
tidak  hanya melibatkan aspek ekonomi semata, tapi juga sosial dan 
budaya.
  </description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCmnebLk-9vdMBRXAOUuWHbeBNUJe3Oog8ZFQ5l8SuVSj3D3sDQevJKjFJ7fpz4D-SS93UhVefZYTmTpwNcVSClilO0xb37rd1LzEVxsJZfuzHni7Rp8izLHframpwF-tPk_W1su08gN2r/s72-c/1649143620X310.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Dampak Pertumbuhan Penduduk terhadap Kualitas Hidup</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/dampak-pertumbuhan-penduduk-terhadap.html</link><category>E-KTP</category><category>Jumlah Penduduk</category><category>Kepadatan Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Program KB</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 2 Jul 2013 06:40:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-4835877836071602625</guid><description>&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-LXAYD_k1ihYqVWo5oOFypeJ3v72xa_yS9qjiXO9FdxCe5RmzuJOmjYSocQ3leNb1_Puykqt5T0LxcmU-iJw0GX30WzaKLgIdB74HrJmTsOs_2D9zJ01ABuJff3c2JTokmM8xEJpoSIwm/s300/1371712917535374665_300x225.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-LXAYD_k1ihYqVWo5oOFypeJ3v72xa_yS9qjiXO9FdxCe5RmzuJOmjYSocQ3leNb1_Puykqt5T0LxcmU-iJw0GX30WzaKLgIdB74HrJmTsOs_2D9zJ01ABuJff3c2JTokmM8xEJpoSIwm/s640/1371712917535374665_300x225.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Dalam kesempatan kopi darat para Bloggers komunitas terkemuka di Jakarta
 bersama BKKBN &amp;nbsp;disalah satu Cafe - fx Sudirman kemaren yang membahas 
masalah “Problematika Kependudukan ” turut hadir Bapak Kepala BKKBN 
Fasli Jalal. Beliau yang baru saja dilantik pada tanggal 13 Juni 2013 
lalu , begitu antusias memberikan data dan fakta terbaru tentang 
kependudukan baik sekala Nasional maupun global Internasional.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
”Dunia sedang gelisah, karena penduduk dibumi saat ini sudah mencapai 
7,2 Milyar jiwa dan akan terus bertambah. Diperkirakan akan menembus 
angka 9 Milyar jiwa pada tahun 2050 ” jelas Bapak Fasli . “Ini akan 
menjadi permasalahan serius , bukan masalah akan terjadi ledakan 
pertumbuhan jumlah penduduk saja, tapi juga akan berdampak pada kualitas
 pendidikan, kesehatan dan gizi, kebutuhan akan pangan. Ini harus cepat 
diatasi. ” tambahnya kemudian.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="wp-caption aligncenter" id="attachment_250196" style="background-color: #f3f3f3; border-bottom-left-radius: 3px; border-bottom-right-radius: 3px; border-top-left-radius: 3px; border-top-right-radius: 3px; border: 1px solid rgb(221, 221, 221); font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; margin: 10px auto; max-width: 600px; padding-top: 4px; text-align: center; width: 310px;"&gt;
&lt;span style="background-color: white; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Salah
 satu program yang dari dulu sudah dicanangkan adalah Keluarga 
Berencana. Dengan slogannya BKKBN yang pernah sukses yaitu &amp;nbsp;” Dua anak 
cukup, laki perempuan sama saja”. &amp;nbsp;Kemudian diganti, untuk menghormati 
hak asasi manusia menjadi ” Dua anak cukup “. Salah satu teman Blogger, 
Bpk. Pangeran, menyampaikan bahwa saat ini, KB untuk Keluarga Berencana 
sudah tidak tepat guna lagi , karena memang setiap orang yang menikah 
pasti merencanakan untuk mempunyai keturunan. Lebih baik, KB itu adalah 
Keluarga Bermutu . Pendapat yang disampaikan dalam forum diskusi 
tersebut disambut tepuk tangan dan tawa para hadirin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
Kemudian, menurut Ibu Ninuk Mardiana , salah satu wakil pemimpin redaksi
 harian besar di Indonesia, yang juga hadir dalam acara itu mengutarakan
 " Sedikit kekhawatiran angka data kependudukan Indonesia yang 
dipaparkan dalam forum kemaren. Takutnya angka itu bisa saja lebih 
tinggi dari yang disampaikan. Mungkin&amp;nbsp;&lt;i&gt;sample&lt;/i&gt;&amp;nbsp;pengambilan data 
yang dilakukan kurang cocok." Keraguan akan data tersebut juga 
disampaikan oleh beberapa Bloggers yang hadir sore itu. Permasalahan ini
 dijawab lugas oleh Pak Fasli, selaku Kepala BKKBN yang baru ” Data ini 
kami peroleh dari BPS , mereka tidak mungkin berani mengeluarkan angka- 
angka yang tidak ada kebenarannya. ” Sensus penduduk dilakukan setiap 10
 tahun sekali. Survei data penduduk ini meliputi :&amp;nbsp;kelahiran, kematian ,
 KB dan kesehatan reproduksi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
Sisi lain, masalah kependudukan juga terkait erat dengan masalah pergaulan bebas dan&amp;nbsp;&lt;i&gt;sex&amp;nbsp;&lt;/i&gt;bebas
 , susahnya mendapatkan alat kontrasepsi , kurangnya penyuluhan - 
penyuluhan terutama didaerah- daerah . Akibat dari itu semua, per 
tahunnya, setiap 15 juta jiwa putri, 600 ribu jiwa dari mereka HAMIL, 
baik secara sah maupun sex bebas . Hal ini juga berdampak negatif 
terhadap kesehatan secara biologis para remaja putri belum siap untuk 
hamil dan melahirkan. Fenomena ini banyak sekali terjadi dikalangan anak
 muda masa kini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
“Parahnya, untuk perempuan di daerah, masih mengadaptasi pemikiran kuno,
 mereka, para perempuan, harus cepat- cepat menikah dan mempunyai anak. 
Walau harus terjadi di usia muda mereka. Jika tidak, akan menjadi aib 
bagi keluarga. Bahkan ada kalimat berikut ,&amp;nbsp;lebih baik janda dan 
mempunyai anak , daripada tidak menikah. ” begitu yang disampaikan Ibu 
Ninuk.&amp;nbsp;Ini adalah salah satu tantangan berat buat BKKBN . Harus bisa 
merubah pola pemikiran seperti itu&amp;nbsp;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
BKKBN sedang mensosialisasikan program Genre untuk para anak muda Indonesia , yang meliputi :&lt;/div&gt;
&lt;ul style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;
&lt;li&gt;Promosi penundaan usia kawin, utamakan sekolah dan berkarya&lt;/li&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;li&gt;Penyediaan informasi kesehatan reproduksi seluas-luasnya melalui PIK Remaja&lt;/li&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;li&gt;promosi rencanakan kehidupan berkeluarga dengan sebaiknya( kapan menikah, kapan punya anak, berapa jumlah anak)&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
Dampak negatif lain yang timbul dalam masalah ini adalah tingginya angka
 aborsi. Aborsi bukan saja dilakukan oleh remaja putri yang belum 
menikah , tapi juga dilakukan oleh ibu- ibu yang sudah berkeluarga. Ini 
bisa terjadi karena minimnya akses untuk mendapatkan alat kontrasepsi 
terutama di daerah, takut dan patuh pada suami , atau kebobolan 
kehamilan yang terjadi tapi tidak diinginkan. Sehingga relasi gender ini
 tidak bisa diabaikan begitu saja. Para kaum pria juga harus memakai 
alat kontrasepsi, bukan sepihak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
Untuk itu, perlu adanya penyuluhan- penyuluhan ke berbagai lapisan 
masyarakat, ke daerah- daerah, anak &amp;nbsp; muda dengan menggunakan metode dan
 bahasa yang lebih ringan dan sesuai dengan segmen, supaya lebih bisa 
dimengerti dan dipahami. Peningkatan kualitas pendidikan, perubahan pola
 pikir dan melakukan sesuatu yang positif, semoga bisa membantu mencegah
 dan mengatasi permasalahan ini. Bukan hanya menjadi tanggung jawab 
Pemerintah saja, tapi juga menjadi bagian dari tugas dan tanggung jawab 
kita sebagai warga di bumi ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
Informasi penting yang harus dicatat adalah usia 25 tahun untuk pria dan
 usia 21 tahun untuk perempuan adalah usia yang ideal untuk menikah. 
Karena bagi pria, dengan umur itu, pria dinilai sudah mapan secara 
ekonomi dan untuk perempuan, secara biologisnya sudah matang.&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-LXAYD_k1ihYqVWo5oOFypeJ3v72xa_yS9qjiXO9FdxCe5RmzuJOmjYSocQ3leNb1_Puykqt5T0LxcmU-iJw0GX30WzaKLgIdB74HrJmTsOs_2D9zJ01ABuJff3c2JTokmM8xEJpoSIwm/s72-c/1371712917535374665_300x225.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>10 Tahun Penduduk Indonesia Tambah 32 Juta</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/10-tahun-penduduk-indonesia-tambah-32.html</link><category>E-KTP</category><category>Jumlah Penduduk</category><category>Kepadatan Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Program KB</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 2 Jul 2013 06:33:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-7644322783442567191</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEigC-s334GXjBxhSHOYt9gkBe_inQkVTscs7Lxbo5m_HX1YGy41fQ8hAbaYkFrpCxjq0F7lPwkhl9ON6ZTJxRnXdl-JjUwTqgQVQ4L55VRdO7Ht-Jg0rS1PbyMQYWN-WxLvc1c09JqyTiuX/s663/75220_pidato_kenegaraan_presiden_sby_663_382.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="368" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEigC-s334GXjBxhSHOYt9gkBe_inQkVTscs7Lxbo5m_HX1YGy41fQ8hAbaYkFrpCxjq0F7lPwkhl9ON6ZTJxRnXdl-JjUwTqgQVQ4L55VRdO7Ht-Jg0rS1PbyMQYWN-WxLvc1c09JqyTiuX/s640/75220_pidato_kenegaraan_presiden_sby_663_382.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 21px;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 21px;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;VIVAnews
 - Dalam pidato kenegaraan di gedung kura-kura DPR RI, Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono (SBY) mengumumkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style="line-height: 21px;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut orang nomor satu 
di Indonesia ini, jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah sebesar 
237,6 juta jiwa. "Jumlah ini bertambah 32,5 juta dari jumlah penduduk 
tahun 2000," kata Yudhoyono di DPR, Senin 16 Agustus 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden
 menambahkan, dengan jumlah tersebut, Indonesia adalah negara dengan 
jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia, setelah Tiongkok, India, 
dan Amerika Serikat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah penduduk yang semakin besar ini, kata
 SBY, tentu membawa tantangan bagi Indonesia untuk bekerja lebih keras 
dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, menciptakan kesempatan kerja, 
menghilangkan kemiskinan, meningkatkan pendidikan dan kesehatan, 
meningkatkan infrastruktur, dan memberikan pelayanan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pemerintah berjanji akan bekerja lebih keras lagi untuk mencapai sasaran &lt;i&gt;Millennium Development Goals&lt;/i&gt; (MDGs) yang telah sepakati. Bahkan, pemerintah berkomitmen akan mengelola pertumbuhan penduduk Indonesia secara baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style="line-height: 21px;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;"Program Keluarga Berencana untuk menciptakan keluarga sehat dan sejahtera harus benar-benar berhasil," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden
 melanjutkan, dalam rangka memperluas dan memperdalam cakupan 
pembangunan di bidang kesejahteraan, program-program Pro-Rakyat akan 
terus dialirkan dengan jumlah yang lebih besar dan persebaran yang lebih
 luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh itu, kata dia, misalnya Program Nasional 
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) 
sebagai program yang menyentuh langsung masyarakat kelas bawah terus 
akan diperluas. "Jangkauan pelayanan kita tambah, utamanya bagi para 
pelaku Usaha Mikro dan Kecil," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut presiden, melalui
 anggaran yang berkelanjutan, dalam lima tahun ke depan sampai 2014, 
pemerintah masih akan menyediakan dana Rp100 triliun atau Rp20 triliun 
setiap tahunnya bagi kepentingan KUR.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;
"Pemerintah berharap, 
kebijakan ini dapat menjadi langkah terobosan yang secara fundamental 
dapat&amp;nbsp; menurunkan kemiskinan," tutur Yudhoyono. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEigC-s334GXjBxhSHOYt9gkBe_inQkVTscs7Lxbo5m_HX1YGy41fQ8hAbaYkFrpCxjq0F7lPwkhl9ON6ZTJxRnXdl-JjUwTqgQVQ4L55VRdO7Ht-Jg0rS1PbyMQYWN-WxLvc1c09JqyTiuX/s72-c/75220_pidato_kenegaraan_presiden_sby_663_382.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Penduduk 237,6 Juta Jiwa, Perlu KB Lagi?</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/penduduk-2376-juta-jiwa-perlu-kb-lagi.html</link><category>Jumlah Penduduk</category><category>Kepadatan Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Program KB</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 2 Jul 2013 06:28:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-5639844005343508049</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjU8hp_Fk5ZFKtq-43gY06zbqPuFnZm_Kp2arr26tnJBG3ry10R2oOwQIr31af2IIMdRON0hEz6MF5OxgvU5WvMPGHy25FAQKfHKjX_q4VgYB-s-33XIP8slfNttw4MYaKdlDrdRZF2xJ4v/s663/86897_sensus_penduduk_663_382.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="368" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjU8hp_Fk5ZFKtq-43gY06zbqPuFnZm_Kp2arr26tnJBG3ry10R2oOwQIr31af2IIMdRON0hEz6MF5OxgvU5WvMPGHy25FAQKfHKjX_q4VgYB-s-33XIP8slfNttw4MYaKdlDrdRZF2xJ4v/s640/86897_sensus_penduduk_663_382.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
VIVAnews - Menko Perekonomian Hatta Rajasa menilai 
jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 237,6 juta jiwa masih wajar. 
Namun, Hatta memberi catatan untuk jumlah penduduk tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kita
 harus kerja keras bagaimana KB (keluarga berencana) itu dikerjakan," 
ujar Hatta di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, Senin 16 
Agustus 2010.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hatta melanjutkan, yang menjadi perhatian 
pemerintah adalah bagaimana jumlah penduduk yang mencapai 237,6 juta 
jiwa itu bisa sejahtera. Karena tujuan dari penyelenggaraan pemerintah 
ini adalah bagaimana bisa menyejahterakan kehidupan bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah KB perlu dikendalikan? "Barangkali perlu lagi," kata Hatta sembari tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam
 pidato kenegaraan di gedung DPR RI hari ini, Presiden RI Susilo Bambang
 Yudhoyono (SBY) mengumumkan hasil Sensus Penduduk 2010. Menurut 
Presiden, jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah sebesar 237, 6 juta 
jiwa. "Jumlah ini bertambah 32,5 juta dari tahun 2000," kata Presiden.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut
 Presiden, dengan jumlah penduduk tersebut, Indonesia adalah negara 
dengan jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia, setelah Tiongkok, 
India, dan Amerika Serikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah penduduk yang semakin besar 
itu membawa tantangan bagi Indonesia untuk bekerja lebih keras dalam 
meningkatkan kesejahteraan rakyat, menciptakan kesempatan kerja, 
menghilangkan kemiskinan, meningkatkan pendidikan dan kesehatan, 
infrastruktur, dan memberikan pelayanan publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemerintah berjanji akan bekerja lebih keras untuk mencapai sasaran Millennium Development Goals (MDGs) yang telah sepakati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemerintah
 berkomitmen akan mengelola pertumbuhan penduduk Indonesia secara baik. 
"Program Keluarga Berencana untuk menciptakan keluarga sehat dan 
sejahtera harus benar-benar berhasil," kata dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guna memperluas 
dan memperdalam cakupan pembangunan di bidang kesejahteraan, 
program-program pro Rakyat akan terus dialirkan dengan jumlah yang lebih
 besar dan persebaran meluas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program itu misalnya Program 
Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dan Kredit Usaha Rakyat 
(KUR) sebagai program yang menyentuh langsung masyarakat kelas bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jangkauan pelayanan kita tambah, utamanya bagi para pelaku usaha mikro dan kecil," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut
 Presiden, melalui anggaran yang berkelanjutan, dalam lima tahun ke 
depan hingga 2014, pemerintah masih akan menyediakan dana Rp100 triliun,
 atau Rp20 triliun setiap tahunnya bagi kepentingan KUR. Pemerintah 
berharap, kebijakan ini dapat menjadi langkah terobosan yang secara 
fundamental dapat menurunkan kemiskinan.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjU8hp_Fk5ZFKtq-43gY06zbqPuFnZm_Kp2arr26tnJBG3ry10R2oOwQIr31af2IIMdRON0hEz6MF5OxgvU5WvMPGHy25FAQKfHKjX_q4VgYB-s-33XIP8slfNttw4MYaKdlDrdRZF2xJ4v/s72-c/86897_sensus_penduduk_663_382.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Program KB Jadi Strategi Mencapai Target MDGs</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/program-kb-jadi-strategi-mencapai.html</link><category>Jumlah Penduduk</category><category>Kepadatan Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Program KB</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 2 Jul 2013 06:21:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-7895722752339847812</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTtL92tKoKnRBBnRtKdx63ygDBa68AlbkWq2LeyOCF9-23Aw6Kxs3luJ2LNuLm9ieQiGEm96weraOBJrpEVn0b2jxJMzzGHcwM9oSnh23mWuLmW5RGOqWLI0iCWjDBIL5kgyf0Gm67-uwK/s476/kb.PNG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="402" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTtL92tKoKnRBBnRtKdx63ygDBa68AlbkWq2LeyOCF9-23Aw6Kxs3luJ2LNuLm9ieQiGEm96weraOBJrpEVn0b2jxJMzzGHcwM9oSnh23mWuLmW5RGOqWLI0iCWjDBIL5kgyf0Gm67-uwK/s640/kb.PNG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Badung, Kompas  - Badan Kependudukan dan Keluarga 
Berencana Nasional mendorong pemerintah daerah untuk memperhatikan dan 
tetap menjalankan program Keluarga Berencana. Hal itu karena Keluarga 
Berencana merupakan strategi dalam rekayasa kependudukan untuk mencapai 
sasaran Pembangunan Milenium.&lt;br /&gt;
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional 
 (BKKBN) Sudibyo Alimoeso mengatakan, rekayasa kependudukan meliputi 
kelahiran, kematian, dan migrasi. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Rekayasa kependudukan melalui program 
Keluarga Berencana (KB) menjadi isu penting dalam capaian sasaran 
Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/MDGs) karena 
berhubungan dengan pencapaian target bidang kesehatan ibu dan anak serta
 penanggulangan kemiskinan dan kelaparan.&lt;br /&gt;
”Tanpa rekayasa 
kependudukan, target MDGs sulit tercapai,” kata Sudibyo, di sela-sela 
forum Pertemuan Kelompok Ahli tentang Dinamika Penduduk dan Agenda 
Pembangunan Pasca 2015,  di Nusa Dua,  Bali, Sabtu (23/3). Pertemuan 
kelompok ahli  difasilitasi BKKBN, Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan
 dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), serta Badan Kependudukan 
Perserikatan Bangsa- Bangsa (UNFPA).&lt;br /&gt;
Sudibyo menambahkan, peran 
dan komitmen pemerintah daerah (pemda) untuk menggalakkan kembali 
program KB  sangat penting untuk mengendalikan  laju 
pertambahan penduduk secara nasional. Ini karena KB juga bertujuan 
meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup,  khususnya perempuan dan 
remaja.&lt;br /&gt;
Pakar kependudukan, yang menjadi peserta, Emil Salim, 
menyatakan, kalangan pemda di Indonesia harus memahami pentingnya 
pengendalian laju pertambahan penduduk secara nasional dengan 
menjalankan program KB di daerahnya masing-masing.&lt;br /&gt;
”Program KB di
 Indonesia masih berjalan, tetapi mengalami stagnasi karena 
desentralisasi,” ujar Emil yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Presiden. 
Persoalan dinamika kependudukan bakal menjadi agenda pembangunan 
pasca-MDGs tahun 2015.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTtL92tKoKnRBBnRtKdx63ygDBa68AlbkWq2LeyOCF9-23Aw6Kxs3luJ2LNuLm9ieQiGEm96weraOBJrpEVn0b2jxJMzzGHcwM9oSnh23mWuLmW5RGOqWLI0iCWjDBIL5kgyf0Gm67-uwK/s72-c/kb.PNG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Jumlah Penyuluh KB Terus Berkurang</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/jumlah-penyuluh-kb-terus-berkurang.html</link><category>E-KTP</category><category>Jumlah Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Program KB</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 2 Jul 2013 06:17:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-4045195749002560484</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1Gp6IdsvrHbPlYwXewhDGzcafTEqKCCyCMZJa6EmgjRL_IGwC_6NxDAw_Xa_qh4KtTMw5jP5DWJedg_8sunCbWQYwH-Js09IXwozOe4_JcAvj7pDo2H4jZ9gK3p4Dz8fC-mQDHz4JVDUG/s400/1507392p.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="328" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1Gp6IdsvrHbPlYwXewhDGzcafTEqKCCyCMZJa6EmgjRL_IGwC_6NxDAw_Xa_qh4KtTMw5jP5DWJedg_8sunCbWQYwH-Js09IXwozOe4_JcAvj7pDo2H4jZ9gK3p4Dz8fC-mQDHz4JVDUG/s640/1507392p.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
BANJARMASIN, KOMPAS - Jumlah penyuluh program keluarga 
berencana di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan
 terus berkurang dalam sepuluh tahun terakhir. Sebagian penyuluh 
diangkat menjadi pejabat oleh bupati atau wali kota dan belum diganti 
sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi itu diperoleh dalam ekspedisi mobil unit
 penerangan (Mupen) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional 
(BKKBN) yang dimulai dari Kota Pontianak, Selasa (11/6), dan berakhir di
 Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Senin 
(17/6). Ekspedisi bertajuk ”Borneo Mupen on The Road” itu menyusuri 
jalan trans-Kalimantan. Peserta dari Kalimantan Timur melaksanakan 
ekspedisi dari daerahnya dan bertemu peserta ekspedisi dari tiga 
provinsi lain di Barabai.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala BKKBN Perwakilan Kalimantan 
Selatan Sunarto menjelaskan, saat ini hanya terdapat 606 penyuluh KB di 
daerahnya yang melayani 1.998 desa. Idealnya, satu penyuluh KB melayani 
maksimal dua desa. ”Untuk daerah-daerah sulit, satu penyuluh hanya mampu
 melayani satu desa,” katanya, akhir pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kalimantan 
Barat, saat ini tersisa 202 penyuluh KB yang harus melayani 1.900 desa. 
”Di salah satu kabupaten, jumlah penyuluh KB yang semula 15 orang, saat 
ini tak ada sama sekali karena diangkat menjadi pejabat. Di kabupaten 
lain, ada 8 dari 15 penyuluh KB diangkat menjadi camat. Posisi yang 
mereka tinggalkan tak pernah diisi lagi sehingga tugas penyuluh KB 
tersisa semakin berat,” kata Kepala BKKBN Perwakilan Kalbar Dwi 
Listyawardani, Minggu (16/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan terbatasnya jumlah penyuluh
 KB itu juga diungkapkan Kepala BKKBN Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng, 
Sopiah dan Kepala BKKBN Kabupaten Landak, Kalbar, B Darmo CL. Di Pulang 
Pisau, hanya ada 8 penyuluh KB yang melayani 46 desa. Di Landak, 15 
penyuluh KB melayani 156 desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbatasan jumlah penyuluh KB 
yang juga menjadi fenomena umum di sejumlah daerah di Indonesia itu 
berkontribusi besar terhadap angka kelahiran yang cenderung tinggi dan 
angka fertilitas total (TFR) yang juga meningkat. Ini semacam bukti 
bahwa era Reformasi tak bisa mengulang sukses Orde Baru dalam program 
KB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak era reformasi 
dan penerapan sistem otonomi daerah, para penyuluh KB yang ditempatkan 
di kota dan kabupaten menjadi tanggung jawab bupati dan wali kota. 
Pemekaran daerah otonom baru juga menyebabkan persoalan KB kian rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di
 daerah pemekaran, jabatan fungsional harus diisi pegawai negeri sipil 
(PNS) yang memenuhi kualifikasi kepangkatan. Para penyuluh KB umumnya 
sarjana sehingga tak perlu waktu lama untuk memenuhi kualifikasi 
kepangkatan untuk mengisi jabatan fungsional di daerah otonom baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlunya
 penyuluh KB baru itu sudah berulang kali disuarakan, tetapi belum ada 
respons yang signifikan. ”Bisa dikatakan, program KB itu adalah korban 
otonomi daerah dan pemekaran karena penyuluh yang diangkat menjadi 
pejabat oleh bupati atau wali kota sampai sekarang tidak diganti,” kata 
Dwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu respons pemerintah pusat yang lebih nyata, 
BKKBN Perwakilan Kalsel dan Kepolisian Daerah Kalsel membuat terobosan. 
Mereka bekerja sama melatih para bayangkara pembina keamanan dan 
ketertiban masyarakat menyosialisasikan program KB di desa-desa, 
terutama desa yang tak terlayani penyuluh KB.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1Gp6IdsvrHbPlYwXewhDGzcafTEqKCCyCMZJa6EmgjRL_IGwC_6NxDAw_Xa_qh4KtTMw5jP5DWJedg_8sunCbWQYwH-Js09IXwozOe4_JcAvj7pDo2H4jZ9gK3p4Dz8fC-mQDHz4JVDUG/s72-c/1507392p.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>E-KTP Seumur Hidup Mulai Terwujud</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/e-ktp-seumur-hidup-mulai-terwujud.html</link><category>E-KTP</category><category>Jumlah Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Program KB</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 2 Jul 2013 06:12:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-2242984193096819735</guid><description>&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEih_zz9U8m830IHh5XT7oHijDB-8ZDxmry6Gda7V6gb156Jnbirgs6kiUiN_6a4rdMhRqOl4H26509PFSqLZOncP3O6AOx0fDYJjxNnnqcQEbbUpp9X_4KVheEGWKFtUTLIBfwB5zWjIYdj/s780/1900295-gamawan-fauzi-mendagri-780x390.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEih_zz9U8m830IHh5XT7oHijDB-8ZDxmry6Gda7V6gb156Jnbirgs6kiUiN_6a4rdMhRqOl4H26509PFSqLZOncP3O6AOx0fDYJjxNnnqcQEbbUpp9X_4KVheEGWKFtUTLIBfwB5zWjIYdj/s640/1900295-gamawan-fauzi-mendagri-780x390.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana memberlakukan KTP 
elektronik (e-KTP) seumur hidup mulai terwujud. Komisi II DPR menerima 
usulan pemerintah untuk membahas Rancangan Undang-Undang tentang 
Perubahan UU No 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal 
itu disampaikan perwakilan sembilan fraksi dalam Rapat Kerja Komisi II 
DPR bersama Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi di Jakarta, Rabu (19/6). 
Masa berlaku KTP dalam RUU Administrasi Kependudukan diusulkan tidak 
lagi lima tahun, tetapi seumur hidup. Sebab, data seperti sidik jari dan
 iris mata tidak berubah. Perubahan hanya diperlukan jika ada perubahan 
status kependudukan warga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revisi perundang-undangan ini juga 
berisi beberapa mekanisme pencatatan peristiwa kependudukan. Pembuatan 
akta kelahiran untuk bayi yang sudah berusia lebih dari 60 hari ataupun 
setahun tidak lagi memerlukan penetapan pengadilan. Hal itu mengikuti 
putusan Mahkamah Konstitusi pada 30 April lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggYwkxm6G4UTBetYEEobyMLveUGaTzMDq0QyW-QaBlrmtDMrW4nWBVmSJrSEH0T4X_Z0GgTfyj6Pqlhy00t2uxIscibf0mra2kAakhVaa33WCa5hocxt9CAVNxT8OogjfXeIpXd4ccWX8C/s780/1707242780x390.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggYwkxm6G4UTBetYEEobyMLveUGaTzMDq0QyW-QaBlrmtDMrW4nWBVmSJrSEH0T4X_Z0GgTfyj6Pqlhy00t2uxIscibf0mra2kAakhVaa33WCa5hocxt9CAVNxT8OogjfXeIpXd4ccWX8C/s640/1707242780x390.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ilustrasi: e-KTP yang telah selesai dicetak, Kamis (30/8/2012).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Warga juga diwajibkan melaporkan kematian anggota keluarga kepada 
pemerintah daerah setempat. Menurut Gamawan, hal itu menghindarkan warga
 yang sudah meninggal tetap terdata masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Ketua 
Komisi II DPR Arif Wibowo menambahkan, DPR mengusulkan dinas 
kependudukan dan pencatatan sipil menjadi instansi vertikal Kementerian 
Dalam Negeri. Dengan demikian, pemeliharaan dan pengamanan data 
kependudukan bisa dilakukan dengan stelsel aktif pemerintah. Peran aktif
 pemerintah dalam melayani langsung ke rumah penduduk diperlukan jika 
warga belum melaporkan peristiwa kependudukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai rapat, 
Gamawan mengatakan, pembuatan KTP akan dibiayai APBN. Pencetakan KTP 
elektronik ke depan dilakukan di daerah. (INA)
  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEih_zz9U8m830IHh5XT7oHijDB-8ZDxmry6Gda7V6gb156Jnbirgs6kiUiN_6a4rdMhRqOl4H26509PFSqLZOncP3O6AOx0fDYJjxNnnqcQEbbUpp9X_4KVheEGWKFtUTLIBfwB5zWjIYdj/s72-c/1900295-gamawan-fauzi-mendagri-780x390.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Indonesia Bisa Contoh Program KB Negara Maju</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/indonesia-bisa-contoh-program-kb-negara.html</link><category>E-KTP</category><category>Jumlah Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Program KB</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 2 Jul 2013 06:04:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-1949467762185913489</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-42m9BbLcVcX3eW5u8Pn4VhZ0CEPBkz7yYa0GxDcRbqqVba564Pe7j9oM70pASdz5NZX74R7odDQw1UMj6GQuiGWUeTbXTAG17KLm5yeMN9IOdekJeBpPdiuho6t1CDih9S6cNTmpiIAQ/s780/1041158shutterstock-84089224780x390.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-42m9BbLcVcX3eW5u8Pn4VhZ0CEPBkz7yYa0GxDcRbqqVba564Pe7j9oM70pASdz5NZX74R7odDQw1UMj6GQuiGWUeTbXTAG17KLm5yeMN9IOdekJeBpPdiuho6t1CDih9S6cNTmpiIAQ/s640/1041158shutterstock-84089224780x390.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Kompas.com&amp;nbsp;—&lt;/b&gt; Untuk menekan pertumbuhan jumlah penduduk,
 Indonesia seharusnya mencontoh negara-negara maju. Pasalnya, 
negara-negara tersebut punya riset yang memadai untuk kampanye 
penggunaan alat kontrasepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alat kontrasepsi adalah salah satu 
faktor utama untuk mengontrol angka kelahiran, oleh karena itu, 
sepantasnya Indonesia meniru kesuksesan dari negara-negara maju seperti 
Amerika Serikat dan Australia,” ungkap pakar kependudukan, Sugiri 
Syarief, Senin (1/7/2013).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara maju, jenis kontasepsi yang dipakai kebanyakan adalah kontrasepsi jangka panjang, seperti implan atau &lt;i&gt;intrauterin device&lt;/i&gt; (IUD) yang lebih dikenal dengan KB spiral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu
 data National Survey of Family Growth yang dirilis beberapa waktu lalu,
 para peneliti menemukan, sekitar 60% wanita Amerika Serikat (AS) 
menggunakan metode kontrasepsi yang efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut dikuatkan oleh studi baru bertajuk &lt;i&gt;“Effectiveness of Long-Acting Reversible Contraception”&lt;/i&gt; oleh Winner et al di &lt;i&gt;New England Journal of Medicine&lt;/i&gt;.
 Studi tersebut menyebutkan, sekitar 50% dari kehamilan yang tidak 
diinginkan di AS akibat pemilihan kontrasepsi yang tidak konsisten dan 
tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peneliti mencatat bahwa penggunaan kontrasepsi jangka panjang &lt;i&gt;reversible&lt;/i&gt; (Long-Acting Reversible Contraception/LARC), seperti spiral atau susuk jauh lebih umum di negara-negara maju selain AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara
 keseluruhan, peserta KB yang menggunakan metode jangka pendek seperti 
pil, koyo, atau cincin memiliki risiko kegagalan kontrasepsi 20 kali 
lebih tinggi dibandingkan mereka yang menggunakan kontrasepsi jangka 
panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hal tersebut dinilai lebih baik dibandingkan 
Indonesia yang masih mengandalkan kontrasepsi sederhana, seperti pil, 
kondom, dan suntik. Akibatnya, dalam 10 tahun terakhir, &lt;i&gt;total fertility rate&lt;/i&gt; (TFR) masih stagnan sebesar 2,6 atau pasangan suami istri di Indonesia rata-rata memiliki hampir tiga anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugiri
 mengatakan, untuk memaksimalkan penggunaan alat kontrasepsi, Indonesia 
harus mempunyai lembaga riset yang kuat. "Kalau tidak, akan tertinggal 
karena selalu membeli hasil riset yang dihasilkan oleh negara maju,“ 
ungkapnya.&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-42m9BbLcVcX3eW5u8Pn4VhZ0CEPBkz7yYa0GxDcRbqqVba564Pe7j9oM70pASdz5NZX74R7odDQw1UMj6GQuiGWUeTbXTAG17KLm5yeMN9IOdekJeBpPdiuho6t1CDih9S6cNTmpiIAQ/s72-c/1041158shutterstock-84089224780x390.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Jumlah Penduduk Indonesia Per Provinsi</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/jumlah-penduduk-indonesia-per-provinsi.html</link><category>E-KTP</category><category>Jumlah Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Program KB</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 2 Jul 2013 05:57:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-1011484568271334282</guid><description>&lt;div style="line-height: 21px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-8pIggfAIqmM9-ICAd4tsR9XdbE66KVwXdabydlvd3g1u0uw50N2Jay8kNJhvdU6N5WEkDhLIxe2HkF51afRgu95YYBsiP95XAtSOUNwkOOmj9nQ108YH3ED7xDMap849dF7pbmm0J8dZ/s663/62553_pemukiman_padat_penduduk_663_382.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="368" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-8pIggfAIqmM9-ICAd4tsR9XdbE66KVwXdabydlvd3g1u0uw50N2Jay8kNJhvdU6N5WEkDhLIxe2HkF51afRgu95YYBsiP95XAtSOUNwkOOmj9nQ108YH3ED7xDMap849dF7pbmm0J8dZ/s640/62553_pemukiman_padat_penduduk_663_382.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="line-height: 21px;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;VIVAnews&lt;/b&gt;
 - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis jumlah penduduk Indonesia terbaru
 tahun 2010. Totalnya penduduk RI sampai saat ini mencapai 237,56 juta 
jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 33 provinsi yang ada, di mana kah wilayah dengan 
penduduk terbanyak? Menurut survei BPS, provinsi Jawa Barat adalah 
daerah dengan penduduk terbanyak. Tercatat, total keseluruhannya 
mencapai 43,02 juta jiwa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini masing-masing jumlah penduduk per provinsi:&lt;br /&gt;1. Aceh 4,48 juta&lt;br /&gt;2. Sumatera Utara 12,98 juta&lt;br /&gt;3. Sumatera Barat 4,84 juta&lt;br /&gt;4. Riau 5,54 juta&lt;br /&gt;5. Kepulauan Riau 1,69 juta&lt;br /&gt;6. Jambi 3,09 juta&lt;br /&gt;7. Sumatera Selatan 7,44 juta&lt;br /&gt;8. Kepulauan Bangka Belitung 1,22 juta&lt;br /&gt;9. Bengkulu 1,71 juta&lt;br /&gt;10. Lampung 7,59 juta&lt;br /&gt;11. Banten 10,54 juta&lt;br /&gt;12. DKI Jakarta 9,59 juta&lt;br /&gt;13. Jawa Barat 43,02 juta&lt;br /&gt;14. Jawa Tengah 32,38 juta&lt;br /&gt;15. DIY 3,45 juta&lt;br /&gt;16. Jawa Timur 37,47 juta&lt;br /&gt;17. Bali 3,89 juta&lt;br /&gt;18. NTB 4,49 juta&lt;br /&gt;19. NTT 4,68 juta&lt;br /&gt;20. Kalimantan Barat 4,39 juta&lt;br /&gt;21. Kalimantan Tengah 2,2 juta&lt;br /&gt;22. Kalimantan Selatan 3,63 juta&lt;br /&gt;23. Kalimantan Timur 3,55 juta&lt;br /&gt;24. Sulawesi Utara 2,26 juta&lt;br /&gt;25. Gorontalo 1,04 juta&lt;br /&gt;26. Sulawesi Tengah 2,63 juta&lt;br /&gt;27. Sulawesi Barat 1,16 juta&lt;br /&gt;28. Sulawesi Selatan 8,03 juta&lt;br /&gt;29. Sulawesi Utara 2,23 juta&lt;br /&gt;30. Maluku 1,53 juta&lt;br /&gt;31. Maluku Utara 1,03 juta&lt;br /&gt;32. Papua Barat 0,76 juta&lt;br /&gt;33. Papua 2,85 juta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BPS
 juga mencatat, laju pertumbuhan penduduk RI terus menurun dibandingkan 
30 tahun lalu. Pertumbuhan penduduk pada tahun 2000-2010 hanya 1,49 
persen, naik dibandingkan tahun 1990-2000 yang sudah 1,45 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya,
 pada 30-20 tahun lalu pertumbuhan penduduk RI tercatat cukup tinggi 
yakni untuk periode 1930-1961 laju pertumbuhan 2,15 persen, tahun 
1961-1971 laju pertumbuhan 2,13 persen, tahun 1971-1980 dengan laju 
pertumbuhan penduduk 2,32 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deputi Bidang Statistis Sosial
 BPS Wynandin Imawan menuturkan, dengan banyaknya penduduk RI sampai 
berjumlah 237,56 juta ini membuat Indonesia berada di peringkat ke empat
 dunia untuk urusan penduduk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;
Diprediksi sampai dengan tahun 2050, jumlah penduduk RI akan mencapai 288 juta dan berada diperingkat ke enam.&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-8pIggfAIqmM9-ICAd4tsR9XdbE66KVwXdabydlvd3g1u0uw50N2Jay8kNJhvdU6N5WEkDhLIxe2HkF51afRgu95YYBsiP95XAtSOUNwkOOmj9nQ108YH3ED7xDMap849dF7pbmm0J8dZ/s72-c/62553_pemukiman_padat_penduduk_663_382.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ledakan Penduduk Bayangi Indonesia</title><link>http://suarawargakita.blogspot.com/2013/07/ledakan-penduduk-bayangi-indonesia.html</link><category>Jumlah Penduduk</category><category>kependudukan</category><category>Program KB</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 2 Jul 2013 05:48:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6583120618789409768.post-8898642742261431972</guid><description>&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjI7PfI_CjOrFnrqe0WskKDLIZh5mUgyZLZh2z-bc9slv9CRHqjp6XXBDSXQhSd0Oc7YkLM170WB_5gl3u5oYbHNaZZQ63t0F-pSyryudEY0EfMJ5scVI6jk5Rs4hen-D5UydsYjU3AoRje/s663/62554_pemukiman_padat_penduduk_663_382.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="368" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjI7PfI_CjOrFnrqe0WskKDLIZh5mUgyZLZh2z-bc9slv9CRHqjp6XXBDSXQhSd0Oc7YkLM170WB_5gl3u5oYbHNaZZQ63t0F-pSyryudEY0EfMJ5scVI6jk5Rs4hen-D5UydsYjU3AoRje/s640/62554_pemukiman_padat_penduduk_663_382.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Indonesia berpotensi 
mengalami ledakan penduduk. Pertambahan penduduk tidak dibarengi 
peningkatan kualitas sumberdaya serta daya tampung pekerjaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jumlah
 pertambahan penduduk tiap tahun mencapai 6 juta jiwa pertahun, lebih 
besar dari prediksi survei," kata Kepala Lembaga Demografi Universitas 
Indonesia, Sonny Harry B Harmadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 21px; text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut dia, ledakan 
penduduk dini sudah mulai terasa.&amp;nbsp; Berdasarkan survei 2010, pertumbuhan 
penduduk sebesar 1,49 persen. Namun hal itu belum memasukkan estimasi 
jumlah anak pada perempuan usia subur. Bila rata-rata&amp;nbsp; seorang perempuan
 usia subur memiliki anak rata 2-3 orang, jumlah penduduk lebih besar 
dari perkiraan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah paling nyata, menurutnya, pertambahan 
penduduk tidak dibarengi peningkatan kualitas sumberdaya serta daya 
tampung pekerjaan. "Populasi dengan pendidikan rendah rata-rata SD, 
kelahiran banyak yang masuk tenaga kerja namun penyerapannya rendah," 
ujar dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sony menilai, perlu ada intervensi kekuasaan untuk 
mencegah tragedi kependudukan terjadi. Misalnya, dari program persalinan
 gratis yang mewajibkan pelaksanaan KB. "Ada reward bagi akseptor KB 
seperti yang pernah sukses di masa lalu," tegasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut 
Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sugiri 
Syarif,&amp;nbsp; berdasarkan survei, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan 
mencapai 241-242 juta orang.&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjI7PfI_CjOrFnrqe0WskKDLIZh5mUgyZLZh2z-bc9slv9CRHqjp6XXBDSXQhSd0Oc7YkLM170WB_5gl3u5oYbHNaZZQ63t0F-pSyryudEY0EfMJ5scVI6jk5Rs4hen-D5UydsYjU3AoRje/s72-c/62554_pemukiman_padat_penduduk_663_382.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>